Ceritasilat Novel Online

Naga Beracun 13

Eps 13 Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.

"Dengan adanya engkau di sini, apakah aku perlu takut akan kecurangannya? Pula, kita sudah mendengar akan kebijaksanaan Sribaginda Kaisar yang gagah perkasa, aku yakin beliau tida akan mengijinkan orang berbuat curang di hadapan beliau. Koko, setidaknya, berilah kesempatan kepadaku untuk memperlihatkan bahwa aku bersungguh-sungguh hendak membela adik Kui Eng untuk menghapus semua kesalah-pahaman yang lalu."

Thian Ki dapat memaklumi apa yang terkandung di dalam hati kekasihnya.

Cin Cin merasa tidak enak kepada Kui Eng, bukan saja karena dahulu pernah ia hendak membunuh ayah kandung gadis itu, juga sekarang, tanpa disengaja dan disadarinya, ia telah merampas pula Thian Ki darinya!

Maka, Thian Ki hanya mengangguk menyetujui, pula karena dia yakin akan kemampuan Cin Cin yang pasti akan mampu menandingi tosu itu.

Cin Cin benar.

Dia berada di situ dan kaisar te rkenal sebagai seorang yang menjunjung kegagahan, sehingga tidak ada kesempatan bagi Im Yang Sengcu untuk berbuat curang mengandalkan ilmu hitamnya.

Kaisar Tang Tai Cung sendiri ragu-ragu dan sangsi apakah gadis yang tangan kirinya buntung itu akan mampu menandingi lm Yang Sengcu, maka dia lalu berkata.

"Nona muda, sudah kaupertimbangkan baik-baik keinginanmu menantang Im Yang Sengcu? Ingat, pertandingan ini haruslah jujur dan tidak boleh keroyokan, juga kalau sampai ada yang te was atau te rluka parah dalam pertandingan ini, tidak boleh menuntut atau menyalahkan siapapun."

"Hamba mengerti, Sribaginda Yang Mulia, dan hamba siap menanggung segala akibatnya,"

Jawab Cin Cin dengan gagah.

"Bagus, kalau begitu, kalian berdua mulailah dan kami yang akan menjadi saksi dalam pertandingan ini!"

De ngan hati te gang namun sikapnya tenang saja Thian Ki mundur dan berdiri di pinggir.

Juga para anak buah lm Yang Sengcu tidak ada yang berani mendekat.

Kaisar Tang Tai Cung memberi is yarat dengan tangan ke atas dan muncullah belasan orang perajurit pengawal pribadinya.

Kaisar ini maklumi bahwa biarpun dia melakukan perjalanan seorang diri dan tidak memerintahkan pasukan pengawal untuk mengiringkannya, namun pasukan pengawal pribadinya selalu siap tidak jauh darinya sehingga sewaktu-waktu dia membutuhkan mereka, maka hanya dengan mengangkat tangan ke atas, mereka akan bermunculan!

Kaisar itu lalu memerintahkan agar para perajurit pengawal itu mengambilkan sebuah kursi untuknya dan menjaga tempat itu agar jangan diganggu orang luar.

Setelah Kaisar duduk menjadi penonton, Cin Cin dan Im Yang Sengcu sudah berdiri saling berhadapan.

Wajah Im Yang Sengcu nampak agak pucat, namun Cin Cin nampak tenang-tenang saja.

Melihat betapa lawannya tidak membawa senjata apapun, Im Yang Sengcu yang diam-diam merasa je rih itu melihat keuntungan baik baginya dan sekali kedua tangannya bergerak, tangan kirinya sudah membawa sebuah kebutan, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang berkilauan.

Melihat ini, Thian Ki lalu berkata lantang.

"Cin-moi, terimalah pedang ini !"

Dan begitu dia menggerakkan tangannya, sinar hitam menyambar ke arah Cin Cin yang mengangkat tangan kanannya dan ia sudah menerima sebatang pedang hitam yang tadi terbang meluncur ke arahnya.

Sebatang pedang hitam yang mengeluarkan sinar hitam yang aneh dan mengerikan.

Itulah Cui-mo He k-kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis), pedang pusaka milik Thian Ki yang dia terima dari ibunya.

Melihat pedang hitam itu, lm Yang Sengcu semakin gentar, akan tetapi dia menutupi dengan bentakan nyaring dan dia sudah mulai bergerak menyerang dengan pedangnya, disusul serangan kebutan di tangan kiri.

Cin Cin maklum bahwa dia menghadapi lawan tangguh, maka iapun segera mengeluarkan ilmu pedangnya yang te lah mengangkat nama gurunya menjadi seorang di antara para datuk persilatan yaitu Koai-1iong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman)!

Apa lagi kini ia mempergunakan Cui-mo He k-kiam, maka te rdengarlah suara mengaung-ngaung seolah-olah pedangnya te lah berubah menjadi seekor naga hitam yang buas.

Menghadapi serangan yang demikian ganasnya, Im Yang Sengcu segera memutar sepasang senjatanya, namun te tap saja gulungan hitam itu te rlampau kuat baginya dan dia segera terdesak hebat!

Melihat ini Kaisar Tang Tai Cung te rkejut dan kagum bukan main.

Kini mengertilah dia mengapa Thian Ki tenang-tenang saja membiarkan calon isterinya menandingi tosu itu.

Kiranya gadis buntung tangan kirinya itu memang benar-benar amat lihai.

Setelah lewat tigapuluh jurus, nampak jelas bahwa Im Yang Seng tidak akan menang Dia hanya berlompatan ke sana sini, main mundur dan sibuk sekali memutar kebutan dan pedangnya untuk melindungi dirinya.

Bulu kebutannya telah te rbabat putus sebagian dan ketika Cin Cin mengeluarkan bentakan nyaring, pedang hitam berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dari dalam gulungan sinar itu mencuat kilat hitam menyambar le her, Im Yang Sengcu melempar tubuh ke samping, namun tetap saja pundaknya te robek pedang.

Dia te rhuyung dan agaknya dia akan roboh tak lama Iagi.

Tiba-tiba te rdengar le dakan dan tampak asap hitam mengepul tebal.

Thian Ki cepat melompat dekat Kaisar untuk melindunginya dan berbisik.

"Yang Mulia, sebaiknya mundur, asap itu beracun!"

Kaisar Tang Tai Cung mengerutkan alisnya, tak senang melihat tosu itu menggunakan senjata rahasia seperti itu, dan diapun mundur diikuti para pengawalnya.

Thian Ki tidak khawatir walaupun dia s iap siaga melindungi kekasihnya.

Dan memang Cin Cin tidak perlu dikhawatirkan.

Asap itu adalah asap yang akan mencelakai orang kalau sampai te rhis ap atau te rsedot.

Dan Im Yang Sengcu menggunakan senjata pele dak itupun karena sudah tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan dirinja sehingga dia sendiri mempergunakan obat penawar.

Dia tidak tahu bahwa gadis yang menjadi lawannya itu adalah seorang ahli bermain dalam air sehingga daya tahan Cin Cin dalam menghentikan pernapasan jauh lebih kuat dari pada orang lain.

Gadis ini mampu bertahan sampai puluhan menit di dalam asap dengan menahan napas dan kini Cin Cin mengurung dan mendesak lawannya di dalam gumpalan asap hitam itu.

Im Yang Sengcu tidak dapat melarikan diri keluar dari gumpalan asap dan mereka berdua bertanding seru di dalam gumpalan asap beracun itu.

lm Yang Sengcu menjadi semakin panik melihat betapa gadis tu tidak roboh oleh asap beracunnya, sedangkan dia sendiri sudah hampir tidak kuat menahan nafas le bih lama lagi.

Dadanya serasa hampir meledak dan menggembung karena dia menahan pernapasannya.

Karena siksaan dari dalam ini, gerakannya menjadi lambat dan sebuah tendangan kaki Cin Cin mengenai perutnya.

"Dess ..... hukkk ...!"

Terpaksa Im Yang Sengcu menghisap udara bercampur asap hitam dan diapun te rhuyung lalu roboh.

Pedang dan kebutannya te rle mpar.

Melihat lawannya sudah roboh, Cin Cin juga cepat melompat keluar dari gumpalan asap dan berlari mendekati Thian Ki, lalu mulai menghirup udara segar dengan perasaan le ga.

Tanpa kata ia mengembalikan pedang hitam itu kepada kekasihnya.

Di antara gumpalan asap tadi Thian Ki dan Kaisar masih dapat mengikuti pertandingan itu dan mereka melihat Im Yang Sengcu roboh.

Kaisar semakin kagum.

"Engkau hebat, nona,"

Kata Kaisar kepada Cin Cin.

"Katakan, siapakah gurumu?"

De ngan sejujurnya Cin Cin menjawab.

"Hamba pernah menjadi murid Tung hai Mo-1i Bhok Sui Lan, Yang Mulia."

Kaisar terbelalak.

"Ahhh! Datuk di pantai timur itu? Pantas saja kalau begitu, dan sekarang kami mengerti mengapa engkau malah mendapat kemenangan setelah Im Yang Sengcu menggunakan asap beracun. Engkau seperti juga gurumu, ahli bermain dalam air, bukan? Dan karena itu engkau kuat sekali menahan napas."

Cin Cin mengangguk.

"Benar sekali apa yang Paduka katakan,. Yang Mulia."

Setelah asap membubung ke atas dan tidak nampak lagi.

Kaisar sendiri menghampiri tubuh Im Yang Sengcu yang menggeletak.

Mukanya membiru tanda keracunan dan ketika Kaisar meraba nadinya.

dia menghela napas.

"Dia tewas karena ulahnya sendiri!". Thian Ki juga mendekat dan meraba leher tosu yang rebah mati itu. Diapun yakin bahwa Im Yang Sengcu telah tewas, bukan karena tendangan Cin Cin tadi melainkan karena keracunan asap beracunnya sendiri. Ternyata senjata makan tuan, karena tidak menyangka bahwa lawannya kuat sekali menahan napas, maka dialah yang menjadi korban asap beracunnya. Kaisar lalu memerintahkan para murid dan anak buah Im Yang Sengcu untuk mengangkat dan merawat je nasah lm Yang Sengcu sebagaimana mestinya. Para anak buah itu dengan sikap hormat lalu mengangkat jenasah itu dan dibawa masuk ke kuil.

"Mari kalian ikut dengan kami ke istana sehubungan dengan surat pute ri kami Hong Lan itu,"

Kata Kaisar kepada Thian Ki dan Cin Cin.

Dua orang muda ini merasa gembira sekali.

Mereka mengikuti rombongan kaisar memasuki Istana dan di ruangan besar, mereka berdua dite rima menghadap kaisar yang segera mengutus pejabat yang berwenang mengambilkan dua macam pusaka is tana yang diminta pute rinya, yaitu obat penawar racun katak merah, dan pedang pusaka Liong-cu-kiam.

Kepada mereka, setelah menyerahkan dua macam pusaka itu, kaisar memesan agar disampaikan kepada Hong Lan bahwa dia merasa rindu kepada pute ri angkatnya itu dan mengharapkan pute rinya suka berkunjung ke istana bersama ayah ibunya.

Setelah menghaturkan te rima kasih, Thian Ki dan Cin Cin berpamit meninggalkan istana dan langsung mereka pergi ke gedung tempat tinggal Pangeran Li Cu Kiat.

o)0o-dw-o0(o "Suheng.....

ahhh..

suheng......"

Kui Eng merintih dan mengigau dengan kata-kata yang tidak jelas.

"Eng-moi, suhengmu sedang pergi untuk menghajar tosu iblis itu. Aku berada di sini, Eng-mo'l....."

Kata Pangeran Li Cu Kiat dengan hati seperti diremas rasanya.

Dia sejak tadi berjaga dekat situ, akan te tapi gadis yang di jaganya, dalam keadaan setengah sadar, memanggil-manggil pemuda lain!

Kini dia tahu mengapa Kui Eng ragu menerima cintanya.

Kiranya gadis ini sudah ditunangkan dengan suhengnya sendiri oleh ayahnya, akan tetapi ternyata bahwa suhengnya itu tidak mencintanya, dan agaknya Kui Eng mencinta suhengnya itu.

Kui Eng membuka mata, seperti mencari-cari laiu pandang matanya berte mu dengan wajah pangeran itu.

"Ahhh, paduka, pangeran......"

"Hushh...., engkau masih saja memanggil pangeran kepadaku, Eng-moi. Engkau mencari suhengmu, Coa Thian Ki?"

Dia memaksa bibirnya te rsenyum seolah pertanyaan itu tidak menunjukkan perasaan yang tertusuk.

"Di mana mereka, pangeran....eh..... Kiat-koko? Di mana suheng dan juga enci Kam Cin? Bukankah tadi mereka berada di sini atau mimpikah aku?"

"Me reka memang datang dan bahkan tadi membantumu melawan pengaruh jahat yang membuatmu sakit, Eng-moi. Dan sekarang mereka berdua pergi untuk memberi hajaran kepada tosu keparat yang membuatmu sakit itu."

Kui Eng te ringat akan semua peristiwa tadi, te ntang percakapannya dengan Thian Ki, tentang pengakuan Thian Ki bahwa Thian Ki saling mencinta dengan Kam Cin, bahwa Thian Ki hanya mencinta ia sebagai sumoi, sebagai adik dan bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk menjadi suami isteri.

Teringat akan semua itu, ditambah ingatan bahwa semua percakapan itu didengarkan olel Pangeran Li Cu Kiat dan ibu serta neneknya, Kui Eng tak dapat menahan diri lagi, ia menangis!

Pangeran Li Cu Kiat memandang penuh iba, tidak berani mengganggu, membiarkan saja gadis itu menangis karena dia tahu bahwa itulah pelepasan terbalik bagi gadis itu.

Setelah tangisnya mereda, Kui Eng mengangkat muka yang agak pucat dan matanya yang kemerahan memandang wajah sang pangeran.

"Pangeran..... Kiat-koko...... paduka .....engkau te ntu amat kecewa mengetahui semua keadaanku....."

Kini pangeran itu baru berani mengulurkan tangan dan memegang tangan gadis itu erat-erat.

"Sama sekali tidak kecewa, Eng-moi. Bahkan aku bergembira. Engkau dan suhengmu dan nona Kam Cin itu adalah pendekar-pendekar sejati yang jujur dan suka berte rus te rang. Aku kini mengerti semuanya, aku mengerti mengapa engkau tidak dapat mengambil keputusan, ragu untuk menerima cintaku. Kiranya engkau telah dijodohkan dengan suhengmu sendiri. Dan suhengmu begitu jujurnya! Dia mengakui bahwa dia menyayangmu sebaqai kakak, akan te tapi dia mencinta seorang gadis lain yang menjadi calon isterinya, yaitu nona Kam Cin. Dan nona itupun mencintainya walaupun tangannya dibuntungi ole h suhengmu. Sungguh luar.biasa! Semuanya luar biasa dan mengagumkan hatiku. Eng moi, kurasa..... dan kuharap......benar seperti yang dikatakan suhengmu bahwa cintamu te rhadap suhengmu itu sebenarnya juga merupakan kesayangan seorang adik terhadap kakaknya. Kuharap saja cintamu yang sesungguhnya akan kau jatuhkan kepadaku....."

Suara itu demikian le mbut dan mengharukan hati Kui Eng.

I a memang kagum dan suka kepada pangeran ini dan andaikata ia tadinya tidak berpikir bahwa ia adalah calon isteri suhengnya, kiranya tidak akan sukar menerima dan membalas cinta kasih seorang pemuda seperti pangeran itu.

o)0o-dw-o0(o

Jilid 34 Kui Eng bangkit duduk dan memberes kan sanggul rambutnya yang te rlepas dan terurai.

Ketika kedua tangannya di angkat ke atas membereskan rambutnya, gerakan itu sungguh penuh kelembutan, gerakan khas wanita dan sang pangeran te rpesona.

"Kiat-ko, engkau begini baik kepadaku..... rasanya aku sebagai' seorang hina yang tidak berharga sekali...., tidak berharga untuk menerima cinta seorang pangeran sepertimu. Ah, betapa kejamnya suheng .......!"

"Eng-moi, harap engkau jangan berpikir seperti itu. Sesungguhnya, suhengmu itu sama sekali bukan orang kejam, bahkan dia te lah bertindak bijaksana ketika bicara begitu te rus terang dan jujur. Bayangkan saja, Eng-moi, andaikata dia tidak sejujur itu, andaikata dia tidak berani melakukan pengakuan yang amat jujur dan te rdengar keras itu, dia akan merusak kehidupan empat orang sekaligus!"

Kui Eng te rbelalak.

"Merusak kehidupan empat orang? Siapa yang engkau maksudkan, koko? Dan mengapa merusak kehidupan mereka?"

"Orang pertama yang akan rusak hidupnya adalah engkau sendiri. Ingat perjodohan yang membuat dua orang hidup bersama selamanya, hanya akan membahagiakan kedua orang itu kalau mereka saling mencinta. Kalau.hanya clnta sebelah pihak, maka akhirnya perjodohan itu akan hancur dan kalau kelak engkau mendapat kenyataan bahwa suamimu tidak mencintamu, apakah hal itu bukan berarti menghancurkan hatimu? Orang ke dua te ntu saja kehidupan suhengmu sendiri. Dia akan hidup menderita batin karena dia harus hidup sebagai suami dari seorang isteri yang tidak diclnta ya sebagal Isteri, melainkan sebagal adik dan dia harus berjauhan dengan wanita yang sesungguhnya dia cinta. Orang ke tiga adalah nona Kam Cin karena nona itu terpaksa harus berpisah dari suhengmu, pria yang diclntanya. Orang ke empat tentu saja aku sediri, karena hidupku akan te rasa rusak apa bila engkau menjadi isteri suhengmu, berarti akan berpisah dariku. Nah, indakan suhengmu itu sama sekali bukan suatu kekejaman, melainkan suatu kebijaksanaan."

Kui Eng diam saja, menunduk dan dapat mulai memahami kebenaran ucapan pangeran itu.

Dan iapun teringat betapa cinta kasih Cin Cln terhadap suhengnya itu tentulah besar sekali sehingga biarpun tangannya dibuntungi Thian Ki, gadis Itu tetap mencintanya!

Pada hal ia sendiri, baru mendengar Thian Ki nencinta gadis lain saja sudah marah-marah dan tidak senang, menganggap Thian Ki kejam!

Dan Thian Ki bukan benci kepadanya, melainkan menyayangnya, sebagai seorang kakak, ia tidak akan kehilangan Thian Ki sebagai suheng dan sebagai kakaknya, dan ia bahkan mendapatkan seorang lain yang juga amat mencintanya, yaitu Pangeran Li Cu Kiat.

Pangeran itu telah membelanya, melindunginya, merawatnya, bahkan tidak menjadi marah ketika mengetahui bahwa pernah mencinta dan bahkan bertunangan dengan suhengnyal Melihat sikap Kui Eng yang diam saja dan kini wajah gadis itu tidak murung seperti tadi, diam-diam Pangeran Li Cu Kiat merasa lega.

"Sudahlah, Eng moi, jangan memikirkan hal itu lagi. Perlahan-lahan engkau akan mengerti dan engkau akan dapat mempertimbangkan semua ucapanku tadi, dan mudah-mudahan saja Tuhan te lah menentukan bahwa jodohku adalah engkau, karena hal itu akan membuat hidupku penuh kebahagiaan Sekarang, sebaiknya engkau rebah lagi dan beristirahat, engkau sudah duduk te rlalu lama....."

Dan baru sekarang pangeran itu menyadari bahwa gadis itu telah duduk te rlalu lama sekali, hal yang tidak wajar karena biasanya, duduj sebentar saja sudah merasa pening.

"Heii....!! Aku tidak merasa pening lagi, koko! Dan tubuhku te rasa ringan dan nyaman. Rasa berat dan panas di dalam dadaku le nyap ..... apakah ini barangkali....."

Mereka saling pandang dan Kui Eng meloncat turun dari atas pembaringan dan tentu akan roboh kalau tidak cepat ditangkap dan dirangkul pangeran itu. Akan te tapi Kui Eng tidak pening, dan tertawa.

"Heii, tubuhku sungguh menjadi ringan seperti tidak berte naga, akan tetapi te rasa nyaman."

Ia melepaskan rangkulan pangeran itu dan duduk di te pi pembaringan.

"Koko, aku sudah sembuh!"

Pangeran Li Cu Kiat memandang dengan wajah berseri.

"Tak salah lagi, tentu mereka telah berhasil menemukan dan menghajar tosu iblis itu!"

Teriak-nya, dan pada saat itu, ibu dan neneknya memasuki kamar.

"Kui Eng, kenapa engkau, duduklah is tirahat saja dulu----"

Kata Nyonya Li Seng Tek, ibu pangeran itu.

"I bu ! Nenek ! Eng-moi sudah sembuh, agaknya Coa-toako dan nona Kam telah berhasil menghajar tosu iblis itu!"

Teriak Pangeran Li Cu Kiai gembira.

"Sukurlah.....!"

Kata ibunya.

"Bagus! Mudah-mudahan saja tosu dukun le pus itu telah dibikin remuk kepalanya, dipenggal batang le hernya dan sekarang sudah mampus!"

Kata si nenek galak.

Kui Eng yang merasa sehat dan gembira, segera berganti pakaian, mandi dan kemudian dengan lahap ia makan hidangan yang disajikan, ditemani oleh keluarga itu yang te rtawa-tawa gembira melihat betapa Kui Eng makan dengan lahapnya.

Setelah selesai makan, Kui Eng mengajak Pangeran Li Cu Kiat untuk pergi menyusul suhengnya, akan tetapi baru mereka berada di beranda depan, muncullah Thian Ki dan Cin Cln.

Sebelum mereka bicara, kedua pihak sudah tahu apa yang te rjadi.

Kui Eng yakin bahwa te ntu suhengnya telah berhasil menghajar Im Yang Sengcu, Sebaliknya Thian Ki dan Cin Cin juga sudah dapat menduga .bahwa Kui Eng te lah sembuh sama sekali.

"Bagaimana, suheng? Apakah engkau sudah berhasil menghajar tosu siluman itu?"

Tanya Kui Eng dan dengan sikap manja seperti biasa sejak mereka masih kanak-kanak, ia menghampiri Thian Ki dan memegang tangan pemuda itu.

Melihat sikap gadis ini, Thian Ki tersenyum girang.

Jelas bahwa gadis itu memperlihatkan kasih sayang dan kemanjaan seorang adik, seperti dahulu sebelum mereka dltunangkan oleh ayah kandung gadis itu.

Diapun mengelus rambut adiknya itu dengan rasa sayang.

"Dan engkau te ntu telah sernbuh bukan? Ketahuilah, sumoi, Im Yang Sengcu telah terbunuh dalam pertandingan melawan ......."

"Melawan engkau, siapa lagi?"

Kui Eng memotong.

"Sayang, aku tidak dapat menyaksikannya, suheng."

"Dugaanmu keliru, bukan aku yang bertanding dengan dia."

"Ehh? Bukan engkau? Lalu s iapa?"

Thian Ki menoleh kepada Cin Cin yang menjadi kemerahan mukanya.

"Cin moi inilah yang tak dapat menahan kemarahannya dan mendahului aku menantang tosu itu. Mereka bertanding, disaksikan oleh Sri baginda Kaisar sendiri dan tosu itu tentu s aja kalah oleh Cin-moi yang Iihai."

"Ihh, engkau pandai memuji saja............"

Cin Cin tersipu.

"Enci Cin! Engkau yang membalaskan dendamku?"

Cin Cin mengangguk dan menghampiri gadis itu.

"Aku tidak dapat menahan kemarahanku melihat tosu siluman itu menggunakan ilmu sihir di meja sembahyang untuk mencelakaimu, adik Eng. Karena itu, ketika Sribaginda muncul dan mengusulkan pertandingan satu lawan satu, aku segera maju menantang tosu itu. Aku .... tidak tahu cara lain untuk membuktikan padamu bahwa aku tidak mempunyai perasaan permusuhan denganmu, adik Eng."

"Enci Cin ........!"

Kui Eng merangkulnya dan merekapun menjadi akrab. Meihat ini, Thian Ki saling pandang dengan Pangeran Li Cu Kiat dan keduanya merasa gembira sekali.

"Sribaglnda sendiri yang menjadi saksi dan mengadu kalian dengan dukun le pus itu?"

Nenek Song bertanya.

"Sungguh menarik sekali. Ceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi!' "Aih nenek, mari kita semua masuk ke dalam dan bicara di sana saja. Tidak baik bicara sambil berdiri di beranda,"

Kata Pangeran Li Cu Kiat yang lalu menggandeng nereknya yang tertawa-tawa dan merekapun semua masuk ke dalam dengan wajah gembira.

Setelah mereka berada di ruangan sebelah dalam, Thian Ki menceritakan pengalaman mereka di kuil Thian-Se ngcu, dan betapa Sri baginda Kaisar sendiri yang menghendaki agar perselisihan di antara mereka dan tosu itu diselesaikan melalui pertandingan.

Betapa kemudian Cin Cin berhasil menewaskan tosu itu yang agaknya keracunan oleh asap beracunnya sendiri dan diapun menceritakan dengan gembira bahwa dia telah berhasil mendapatkan pedang pusaka milik ayah tiri dan juga gurunya, mendapatkan pula obat penawar racun yang diberikan sendiri oleh Kaisar.

Mendengar ini, Kui Eng berseru gembira 'Aih, kalau begitu, engkau akan sembuh dan dapat menikah dengan enci Cin, suheng!!"

Semua orang te rheran mendengar ini, akan tetapi Cin Cin ter sipu dengan muka kemerahan.

"Hemm, Kui Eng, apa artinya ucapanmu tadi? Hayo ceritakan, jangan simpan rahasia-rahasiaan dariku'"

Kata ne nek Song tak sabar.

"Me mang tadinya merupakan rahasia pribadi suheng, Nenek, akan te tapi karena sekarang suheng telah mendapatkan obat dari Sri baginda Kaisar, maka tak perlu dirahasiakan lagi. Suhengku ini adalah seorang tok-tong (anak beracun) tubuhnya mengandung racun hebat dan sudah banyak tokoh sesat yang lihai tewas sendiri ketika memukulnya dan mereka keracunan sendiri. Bahkan enci Cin ini pernah menyerang suheng dan mencengkeram pundak suheng dan akibatnya, enci Cin keracunan tangan kirinya dan jalan satu-satunya untuk mennyelamatkannya hanyalah pemotongan tangan kirinya yang dilakukan pula oleh suheng. Tidak ada obat yang dapat memberslhkan hawa beracun dari tubuh suheng, dan kalau dia tidak te rbebas dari hawa beracun itu, dia tidak akan dapat menikah, karena wanita yang menjadi is terinya akan te was keracunan. Nah,sekarang dia telah menerima obat penawar dari Sribaglnda, maka aku perlu menghaturkan selamat kepada suheng dan enci Cin!"

Melihat Thian Ki dan Cin Cin tersipu malu, semua orang bergembira, terutama sekali Pangeran Li Cu Kiat merasa senang sekali karena sikap Kui Eng itu je las membuktikan bahwa gadis itu tidak lagi menderita patah hati melihat suhengnya berjodoh dengan gadis 1ain!

Dan Thian Ki sendiri, juga Cin Cin, merasa le ga dan berbahagia melihat sikap Kui Eng sepert itu.

"Kalau begitu, kami menghendaki agar engkau mempergunakan obat penawar itu di sini, di rumah kami agar kami dapat membantumu kalau membutuhkan sesuatu, Thian Ki,"

Kata Nenek Song yang kini sudah bersikap akrab dengan Thian Ki seolah-olah pemuda itu telah lama dikenalnya.

"Benar apa yang diminta oleh Nenek, suheng. Obat pusaka seperti itu te ntu manjur sekali dan daya kerjanya juga keras. Di sini engkau akan aman mempergunakannya, pula aku sendiri dapat menjagamu kalau-kalau te rjadi sesuatu setelah engkau menggunakan obat itu,"

Kata Kui Eng.

Juga Pangeran Li Cu Kiat membujuk dan ketika Thian Ki menoleh kepada kekasihnya, Cin Cin juga mengangguk menyetujui.

Memang le bih aman kalau kekasihnya itu mengobati dirinya di istana pangeran yang aman itu, dikelilingi orang-orang yang je las akan membelanya kalau sewaktu-waktu timbul bahaya.

"Baiklah, dan sebelumnya saya menghaturkan banyak te rima kasih kepada Pangeran dan keluarga di sini."

Thian Ki berulang-ulang menjura dengan penuh hormat.

"Aihh, twako, tidak perlu sungkan. Kita berada di antara keluarga sendiri, bukan?"

Kata pangeran itu sambil memandang wajah Kui Eng dan gadis inipun tersenyum manis.

Pada hari itu juga, dalam sebuah kamar yang diperuntukkan Thian Ki, pemuda ini, dibantu Cin Cin dan Kui Eng memasukkan obat yang bentuknya seperti telur merah itu, yang merupakan sari dari pada racun katak merah yang sudah dikeringkan, ke dalam sebuah panci tanah dan menuangkan anggur merah sebanyak dua cawan ke dalam panci, lalu meletakkan panci itu di atas perapian yang kecil nyalanya.

Obat itu dibiarkan mencair ketika anggur mulai mendidih, dan dibiarkan menguap sampai anggur itu tinggal setengahnya.

Tercium bau yang amis bercampur bau harum anggur.

Setelah anggur itu tinggal setengahnya, diangkat lalu campuran obat dan anggur itu dituangkan ke dalam cawan arak, presis tinggal secawan penuh dan dibiarkan agak mendingin.

Karena maklum bahwa yang akan diminumnya itu merupakan racun katak merah yang amat berbahaya, maka Thian Ki dipersilakan duduk bersila di atas pembaringan oleh Cin Cin.

Pemuda itu lalu mengatur pernapasan dan menghimpun te naga sakti dalam tubuhnya sambil menanti obat itu mendingin.

Setelah obat itu tidak begitu panas lagi, tinggal hangat-hangat, Cin Cin mengambil cawan itu dan menyerahkan kepada Thian Ki.

Semua keluarga dalam rumah itu menyaksikan pengobatan ini.

Thian Ki menerima cawan obat itu, memandang ke sekeliling sambil tersenyum.

Kalau s ampai obat I tu membunuhnya, dia ingin pandangan te rakhir kali bagi matanya wajah orang-orang yang di sayangnya dan dihormatinya.

Kemudian, dia memejamkan mata, menyerahkan jiwa raganya kepada Tuhan, lalu diminumnya obat itu dengan sekali teguk.

Cin Cin dan Kui Eng mengamati semua gerakan Thian Ki dengan hati was-was, juga Pangeran Li Cu Kiat, ibunya dan neneknya memandang dengan hati tegang.

Mereka semua tahu bahwa obat penawar racun pemberian kaisar itu merupakan obat yang amat keras.

Mereka semua sudah pernah mendengar bahwa katak merah adalah sejenis katak langka yang suka makan ular beracun dan bahwa sedikit saja bisa katak itu cukup untuk menewaskan orang yang bagaimana lihaipun.

Akan te tapi mereka juga mendengar bahwa bisa katak itu dapat menawarkan segala macam racun yang paling jahatpun.

Setelah mengembalikan cawan kosong kepada Cin Cin, Thian Ki yang masih duduk bersila itu memejamkan mata kembali, duduk diam menanti bekerjanya racun Katak Merah di tubuhnya.

Dan dia menanti tidak terlalu lama.

Perlahan-lahan mukanya berubah kemerahan Warna kemerahan ini menjalar terus sampai ke seluruh permukaan tubuhnya dan semua orang merasa betapa ada hawa panas keluar dari tubuh Thian Ki, terasa oleh mereka semua.

Dan perlahan-lahan, dari dalam tubuh itu mengepul uap hitam.

"Panas,,,,,, panas..... semua menjauh......!"

Te rdengan suara Thian Ki lirih dan semua orang menaati permintaannya karena mereka dapat menduga bahwa uap hitam yang keluar dari tubuh pemuda itu te ntu mengandung racun yang amat berbahaya.

Mereka menjauh keluar kamar dan hanya menjenguk dari.

luar pintu saja.

Belas an menit kemudian, terjadi perubahan pada tubuh Thian Ki yang tadinya te gang kepanasan dan berwarna kemerahan, kini tubuh itu mulai menggigil dan warna merah berubah menjadi putih pucat dan akhirnya tubuh itupun menggigil keras.

"Dingin .....dingin....."

Kembali terdengar Thian Ki merintih lirih akan tetapi dari tubuhnya tetap saja mengepul uap kehitaman.

Di luar kamar, semua orang menonton dengan hati tegang.

Kui Eng dan Cin Cin gelisah dan Kui Eng berbisik.

"Suheng kedinginan, dia menderita hebat apakah tidak lebih baik kalau kita menyelimutinya ......?"

"Jangan, adik Eng. Hal itu berbahaya, dapat menghambat keluarnya hawa beracun,"

Bisik Cin Cin kembali.

Hawa dingin yang menguasai tubuh Thian Ki juga tidak lama, berubah lagi menjadi panas.

Setelah menjadi permaian dua macam hawa yang berlawanan, sampai setengah hari lamanya, akhirnya uap menghitam itu semakin menipis dan akhirnya, setelah tidak ada lagi uap hitam mengepul keluar, tubuh Thian Ki terkulai di atas pembaringan.

Cin Cin dan Kui Eng meloncat ke dalam kamar dan menghampiri pembaringan, diikuti oleh Pangeran Li Cu Kiat, sedangkan Ibu dan nenek pangeran itu telah lama meninggalkan te mpat itu untuk beristirahat.

Cin Cin cepat memeriksa nadi tangan kekasihnya dan hatinya le ga.

Thian Ki hanya kelelahan dan pingsan.Ia lalu membetulkan letak tubuh Thian Ki, dibiarkan rebah telentang di atas pembaringan dan menyusut muka, le her dan dada kekasihnya yang basah oleh keringat.

Thian Ki seperti orang tidur saja, pernapasannya panjang dan sehat.

Tak lama kemudian, masih dijaga leh tiga orang itu, Thian Ki membuka kedua matanya.

Melihat mereka, dia tersenyum, kemudian dengan wajah berseri berkata kepada Cin Cin.

"Cin-moi......kita...... kita berhasil......"

Bukan main le ga rasa hati Cin Cin sehingga tak dapat ditahannya la gi, kedua matanya menjadi basah.

"Ah, terima kasih kepada Tuhan......"

Dan tangannya yang tinggal sebelah itu menangkap tangan Thian Ki.

Jari-jari tangan mereka saling cengkeram dan pandang mata mereka bertemu dan bertau penuh kebahagiaan.

Melihat ini, perlahan-lahan Pangeran Li Cu Kiat memegang tangan Kui Eng dan ditariknya gadis itu dengan lembut keluar kamar, meninggalkan sepasang kekasih yang sedang tenggelam dalam kebahagiaan itu.

Ketika tiba di luar kamar, Pangeran Li Cu Kiat menghentikan langkahnya, memegang kedua pundak Kui Eng dani menatap wajahnya.

Dia melihat sepasang mata Kui Eng juga basah air mata.

"Eng-moi, engkau sungguh seorang yang berhati mulia,"

Bisiknya.

"Dan engkau, koko, engkau le bih mulia lagi....."

Kata Kui Eng dan iapun memejamkan mata ketika pangeran itu menarik dan mendekap mukanya di dada pangeran itu.

Mereka tidak bergerak, tidak berkata-kata, seolah pada saat itu semua perasaan dan hati mereka telah menjadi satu dalam dekapan itu.

o)0o-dw-o0(o Bekas Pangeran Cian Bu Ong duduk di atas kursi dengan mukanya yang biasanya kemerahan itu kini menjadi lebih merah lagi seolah dia kebanyakan minum arak.

Jenggotnya yang panjang itu seperti menjadi kaku dan je las nampak bahwa dia marah sekali.

Di sebelah kirinya duduk isterinya.

Sim Lan Ci yang biarpun usianya sudah mendekati limapuluh tahun, masih nampak anggun dan segar.

N yonya ini mengerutkan alisnya dan pandang matanya membayangkan kekhawatiran melihat kemarahan suaminya.

Thian Ki dan Kui Eng nampak berlutut di depan kedua orang tua ini, sedangkan Cin Cin dan Pangeran Li Cu Kiat berdiri dengan menundukkan muka, di belakang kedua orang muda yang berlu-tut itu.

"Ucapan gila apakah yang kalian keluarkan tadi?"

Kakek yang usianya sudah enampuluh tujuh tahun namun masih nampak kekar dan kuat itu membentak.

Kalian membatalkan tali perjodohan di antara kalian?

Aku yang menjodohkan ka1ian, dan kalian berani mengatakan bahwa kalian tidak setuju dengan perjodohan itu?

Hayo katakan, mengapa kalian melakukan tindakan gila ini?

Mengapa?!

Thian Ki maklum bahwa ayah tirinya, juga gurunya, marah sekali.

Akan te tapi dia dan Kui Eng sudah mengambil keputusan tetap untuk berte rus terang, maka dengan suara tenang diapun berkata.

"Saya harap ayah sudi mengampuni saya. Bukan sekali-kali saya hendak membantah perintah ayah, akan te tapi, kalau saya menaati perintah ayah untuk berjodoh dengan Eng-moi, maka hal itu hanya akan menyengsarakan hidup kami berdua, ayah." '"Setan! Kau hendak mengatakan bahwa engkau te rlalu berharga untuk anakku? Apakah Kui Eng te rlalu rendah bagimu? Begitu?"

"Sama sekali tidak, ayah! Akan te tapi, di antara kami te rdapat kasih sayang antara kakak dan adik, bagaima na mungkin mengubah kasih-sayang antara kakak beradik ini menjadi cinta kasih suami isteri? Saya tidak akan pernah dapat melupakan bahwa Kui Eng adalah adik saya, bukan hanya sumoi. Ayah, bagaimana mungkin saya dapat mengawini adik sendiri ?"

"la bukan adikmu! Gila kau! Dan engkau bagaimana, Kui Eng? Apakah engkau merasa te rhina, merasa ditolak oleh Thian Ki? Katakan saja, aku akan menghancurkan kepalanya kalau dia berani menghinamu, berani menolakmu!"

"Tidak sama sekali, ayah. Aku setuju dengan pikiran suheng. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri dan sayangku kepadanya juga kesayangan seorang adik terhadap kakaknya. Akupun tidak dapat menjadi isterinya, ayah. Aku tidak mau menjadi isterinya, sama sekali bukan karena suheng menolakku."

"Anak durhaka! Apakah engkau juga ikut-ikutan seperti Thian Ki, hendak menentang kehendak ayahmu sendiri?"

Bekas pangeran itu membentak dan melotot.

"Ayah, sejak kecil aku sudah menganggap suheng seperti kakak sendiri, juga ibu kuanggap sebagai ibu kandungku. Bagaimana sekarang tiba-tiba aku harus menganggap suheng sebagai suami dan ibu sebagai ibu mertua?"

"Tidak aku tidak mau, ayah, dan pula. aku dan suheng sudah menentukan pilihan hati kami sendiri untuk menjadi jodoh kami."

"Ahh......?? Apa pula ini? Thian Ki, benarkah engkau te lah menentukan pilihanmu sendiri, dan siapa gadis yang kau pilih untuk menjadi calon jodohmu itu?"

Cian Bu Ong masih marah! dan suaranya terdengar keras.

"Ampunkan saya, ayah. Memang semua yang dikatakan Eng-moi tadi benar. Saya sudah saling mencinta dan mengambil keputusan untuk menjadi suami dari adik Kam Cin ini."

Dia menunjuk ke arah Cin Cin yang masih berdiri di belakang.

Bekas pangeran itu terbelalak.

Dia merasa te rheran-heran karena dia tahu benar bahwa gadis murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan itu menjadi buntung tangan kirinya karena keracunan ketika nyerang Thian Ki dan pemuda itu pula yang membuntungi tangan kirinya untuk menyelamatkan nyawanya.

Dan gadis itu masih juga dapat jatuh cinta dan mau menjadi calon jodoh Thian Ki?

Teringat dia akan bekas kekasihnya, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan yang agaknya juga amat setia dalam cintanya terhadap dirinya.

"Dan engkau, Kui Eng? Siapa pula pilihan hatimu? Pemuda itukah? Siapa dia?"

Matanya mencorong memandang ke arah Pangeran Li Cu Kiat.

'Benar, ayah.

Aku telah saling jatuh cinta dengan dia.

Dia adalah Pangeran Li Cu Kiat, keponakan Sribaginda Kaisar yang selama ini membelaku, menolongku, melindungiku bahkan menjagaku ketika aku jatuh sakit."

Pangeran Cian Bu Ong terbelalak memandang kepada Pangeran Li Cu Kiat dan isterinya yang duduk di sampingnya, yang sudah amat mengenal watak suaminya, maklum bahwa kalau di biarkan suaminya itu dapat melakukan hal-hal yang tidak baik.

Maka iapun bangkit berdiri dan menghalangi di depan suaminya, berkata dengan suara lembut namun tegas.

"Suamiku, kita harus merasa berbahagia sekali dengan peristiwa ini Kita telah mendapatkan kehormatan besar dengan peristiwa ini. Semenjak engkau menjodohkan Thian Ki dengan Kui Eng, hatiku juga merasa risau akan tetapi aku tidak membantah keinginanmu karena tidak ingin membuat engkau kecewa, apa lagi aku melihat kedua orang anak kita itu tidak membantah. Akan tetapi sekarang mereka berterus terang, bahkan kembali dengan membawa pilihan hati masing-masing. Thian Ki memilih Kam Cin. hal ini sungguh membanggakan hatiku. Semenjak peristiwa buntungnya tangan Kam Cin, Thian Ki merasa hancur hatinya dan aku sudah menduga bahwa dia mencinta Cin Cin. Sekarang, te rnyata mereka saling mencinta dan peristiwa buntungnya tangan itu tidak mendatangkan ganjalan dalam hati mereka, pertanda bahwa cinta mereka tulus dan aku yakin mereka akan dapat menjadi suami isteri yang saling mencinta dan saling setia, hidup berbahagia bersama membentuk keluarga. Dan te ntang anak kita Kui Eng. la saling mencinta dengan pemuda itu, seorang pangeran! Pandang pemuda itu baik-baik, suamiku. Dia tampan dan gagah, dan dia seorang pangeran! Bukan karena aku gila pangkat dan kedudukan, melainkan justeru karena dia pangeran, keponakan Kaisar, hal itu membuat aku yakin bahwa cintanya te rhadap anak kita pasti murni dan bersih. Kalau tidak demikian, tentu dia tidak sudi jatuh cinta kepada puterimu! Mengertikah engkau suamiku?"

Memang sejak tadi kemarahan Cian Bu Ong sudah mereda satelah mendengar alas an-alasan yang dikemukakan Thian Ki dan Kui Eng.

Sekarang, dia mernandang kepada Pangeran Li Cu Kiat.

Tadi memang te rkiias dalam pikirannya bahwa pangeran ini adalah keponakan dari musuh besar Kerajaan Sui.

Akan tetapi s"

Karang dia menyadari kebenaran omongan isterinya.

Hanya, apakah pangeran ini sudah tahu bahwa Cian Kui Eng adalah pute rinya, bekas Pangeran Cian Bu Ong yang pernah memberontak untuk mempertahankan Kerajaan Sui?

"Hemm, engkau Pangeran Li Cu Kiat?"

Kini dia bertanya kepada pemuda itu yang segera maju lalu memberi hormat dengan anggun kepada kakek itu.

"Benar, paman. Saya Li Cu Kiat. Ayah saya adalah mendiang Pangeran Li Seng Tek."

"Apakah engkau tahu siapa gadls yang kaucinta ini? Apakah engkau tahu anak siapa ia ini?"

Tanya pula Cian Bu Ong sambil mengamati wajah tampan itu dengan pandang mata menyelidik. Kembali pangeran itu menjawab tegas.

"Saya tahu, paman, la bernama Cian Kui Eng, puteri kandung paman yang dahulu adalah Pangeran Cian Bu Ong dari Kerajaan Sui."

"Hemm, aku menuang Pangeran Cian Bu Ong dari Kerajaan Sui, musuh besar Kerajaan Tang, bahkan aku dianggap pemberontak dan buronan pemerintah, dimusuhi pamanmu. Kaisar Tang Tai Cung. Tentu dia tidak akan menyetujui kalau engkau, keponakannya, menikah dengan pute riku."

"Paman, ada dua hal yang saya kira perlu paman ketahui benar. Pertama adalah bahwa saya tidak memerlukan ijin persetujuan Paman Kaisar untuk urusan perjodohan saya, karena itu adalah urusan pribadi saya. Ibu dan nenek saya sudah menyetujui, hal itu sudah lebih dari cukup, dan saya kira Paman Kais ar juga tidak akan mencampuri urusan itu. Adapun hal yang ke dua, keluarga kami tidak pernah menganggap paman sebagai pemberontak. Kami mengetahui dan memaklumi kalau paman melakukan perlawanan dan usaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui. Itu adalah persoalan perang, yang ada hanya menang atau kaiah dan tidak dapat dipersoalkan te ntang benar atau salah."

"Ayah, dia berkata benar. Sribaginda Kaisar tidak pernah mempunyai perasaan dendam kebencian kepada ayah. Buktinya, pedang pusaka Liong-cu-kiam milik ayah, dengan suka rela beliau kembalikan."

"Ah, benarkah itu, Thian Ki?"

Thian Ki mengeluarkan pedang pusaka itu dari buntalan pakaiannya dan menyerahkannya kepada Cian Bu Ong.

"Benar sekali, ayah. Sribaginda Kaisar mengembalikan pusaka ini kepada ayah."

Cian Bu Ong menyambut pedang itu dan menghunusnya, matanya bersinar-slnar, lalu meredup.

"Aihh, agaknya memang sudah dikehendaki Tuhan bahwa Kerajaan Sui diganti dan dilanjutkan oleh Kerajaan Tang. Li Cu Kiat, bagaima kami tahu bahwa Ibumu dan nenekmu menyetujui perjodohanmu dengan anak kami?"

"Ayah, Bibi Li dan Nenek Song amat baik. Apa lagi Nenek Song yang juga memuji-muji ayah sebagai seorang gagah. Nenek Song juga seorang yang amat lihai, ayah dan mereka semua amat baik kepadaku. Kalau tidak ada mereka, mungkin sekarang aku te lah tewas di tangan tosu iblis Im Yang Sengcu,"

Kata Kui Eng. Pangeran Li Cu Kiat mengeluarkan sesampul surat dan menyerahkannya kepada Cian Bu Ong.

"Paman, sebagai bukti bahwa ibu dan nenek menyetujuinya, ini saya membawa surat dari nenek untuk paman. Dan a pa bila paman menyetujuinya, kami akan mengirim utusan untuk mengajukan pinangan secara resmi."

"Ayah, harap ayah tidak lagi menganggap keluarga Kaisar Tang Tai Cung sebagai musuh, karena selain mengembalikan pedang pusaka Liong-cu-kiam milik ayah, juga Kaisar telah berkenan memberi obat penawar racun katak merah yang te lah diminum oleh suheng sehingga dia telah sembuh dari hawa beracun di tubuhnya,"

Kata pula Kui Eng.

Mendenoar ini, Cian Bu Ong semakin gembira.

Ah, kami juga te lah mendapatkan Rumput Merah Pencuci Darah akan tetapi khasiatnya tidak akan menandingi racun katak merah.

Sukurlah engkau telah sembuh, Thian Ki.

Memang aku sudah mendengar bahwa sebelum menjadi kaisar, ketika masih menjadi Pangeran, bahkan sebelum itu.

Li Si Bin te rkenal sebagai seorang yang gagah perkasa dan berilmu, maka dia pandai menghargai orang-orang gagah.

Baiklah!

kalau memang engkau sendiri menyetujui Kui Eng, dan juga Thian Ki tidak berkeberatan, kami akan menerima pinangan keluarga Pangeran Li Cu Kiat."

Mendengar Ini, langsung saja saking gembiranya, Pangeran Li Cu Kiat menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada calon ayah mertuanya.

Melihat seorang pangeran Kerajaan Tang berlutut di depan kakinya dan akan menjadi mantunya, suatu hal yang sama sekali tidak pernah dapat dia bayangkan, Cian Bu Ong menerima penghormatan itu sambil tertawa bergelak.

"Ayah, saya juga mohon doa restu dan persetujuan ayah dan ibu untuk berjodoh dengan Cin-moi!"

Tiba-tiba Thian Ki berkata, dan Kam Cin masih berdiri sambil menundukkan mukanya, merasa te gang dan risau, khawatir-kalau sampai perjodohan itu tidak disetujui orang yang pernah hendak dibunuhnya ketika ia menaati perintah subonya, yaitu Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan.

Kini Cian Bu Ong memandang kepada is terinya.

"Engkau yang paling berhak menyatakan pendapatmu tentang permintaan putera kita itu."

Sim Lan Ci balas memandang wajah suaminya dengan sinar mata bersukur dan berterima kasih.

Suaminya ini selalu menghargai dan menghormatinya, dan ini merupakan tanda cinta kasih yang paling nyata, la mengangguk.

"Cin Cin masih sanak dekat dengan ayah kandung Thian Ki, Ibunya sama-sama she Coa, keluarga pimpinan He k-bouw-pang.Kalau mereka berdua sudah saling mencinta, akupun hanya dapat menyetujui , tentu saja keputusannya te rserah kepadamu sebagai ayahnya."

De ngan ucapan ini, Sim Lam Ci juga membuktikan ketulusan hati dan penghormatannya te rhadap suaminya itu.

la yakin bahwa Cian Bu Ong amat menyayang Thian Ki seperti anak sendiri, bahkan te lah menurunkan semua ilmunya kepada anak tiri itu.

Mendengar ucapan is te rinya ini.

Cian Bu Ong kembali tertawa bergelak karena gembira.

"Kalau begitu, apa lagi yang perlu dipikirkan? Semua sudah setuju, akupun hanya setuju s aja. Se kaligus aku mendapatkan dua orang mantu, Li Cu Kiat dan Kam Cin, kedua-duanya merupakan pendekar yang hebat. Dari sikap dan gerakanmu saja aku dapat mengetahui bahwa engkaupun bukan pemuda le mah, Li Cu Kiat. Dan engkau, Kam Cin, ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana sikap Bhok Sui Lan kalau muridnya yang ia harapkan mau membunuhku itu kini bahkan menjadi mantuku, ha-ha-ha-ha! "

Cin Cin kini baru berani menjatuhkan diri berlutut menghadap suami isteri yang menjadi mertuanya itu dan saking gembira dan harunya, tak dapat ia menahan tangisnya.

Kui Eng yang berlutut di dekatnya, segera merangkul Cin Cin dan berbis ik.

"Enci Cin, engkau semestinya bergembira, kenapa malah menangis ? Aneh sekali !"

Dalam tangisnya, Cin Cin memandang kepadanya dan merangkul setelah mencoba untuk te rsenyum.

"Aku menangis saking bahagia dan te rharu, adik Eng "

"Li Cu Kiat, engkau harus segera mengirim utusan resmi untuk mengajukan pinangan sebagaimana mestinya, dan kami akan mengajukan pinangan atas diri Kam Cin kepada ayah tirinya dan ibunya,"

Kata Cian Bu Ong gembira.

Dia sudah tahu bahwa ayah tiri Kam Cin adalah Lie Koan Tek, pendekar Siau-lim-pai yang pernah menjadi pembantunya ketika dia mencoba menegakkan kembali kerajaan Sui yang te lah jatuh.

Semua orang bergembira, apa lagi ketika Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa ayah tiri dan ibu kandung Cin Cin menyatakan persetujuan mereka dan mene rima pinangan Cian Bu Ong.

De mikianlah, tanpa suatupun rintangan, pernikahan antara Coa Thian Ki dengan Kam Cin, juga Cian Kui Eng dengan Li Cu Kiat, dirayakan dengan meriah oleh keluarga Cian Bu Ong.

Bukan main bangganya rasa hati Cian Bu Ong ketika perayaan itu dihadiri pula oleh Pandekar Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng dan is terlnya, juga pute ri mereka.

Si Hong Lan yang bekas puteri kaisar itu.

Juga beberapa orang-pejabat tinggi dan pangeran ikut hadir sebagai pengantar mantunya, yaitu Pangeran Li Cu Kiat, dan Kaisar sendiri mengirim hadiah sumbangan yang indah.

Semua orang bergembira ria, hanya ada sebuah berita yang sempat membuat Thian Ki, Cin Cin, Li Cu Kiat dan Kui Eng saling pandang dengan alis berkerut, yaitu bahwa je nazah Im Yang Sengcu yang te lah diangkut oleh anak buahnya ke dalam kuil, tahu-tahu dikabarkan le nyap tanpa meninggalkan bekas!.

Kiranya, tosu yang pandai itu tidak mati seperti yang mereka kira, bahkan Kaisar sendiri dapat dikelabui.

Agaknya tosu itu mempergunakan suatu racun yang dapat membuat dia "mati"

Untuk sementara. Beberapa jam kemudian, sebelum jenazahnya diperabukan, dia bangkit dari "kematiannya"

Itu dan melarikan diri tanpa diketahui siapapun!

Namun, hanya sejenak saja merteka te rkejut.

Kebahagiaan dua pasang pengantin itu tidak te rganggu.

Untuk sementara.

Thian Ki dan isterinya, Kam Cin, tinggal bersama Cian Bu Ong di dusun Ke-cung te pi Sungai Kuning di kaki Kim-san, sedangkan Cian Kui Eng ikut suaminya tinggal di kota raja, di gedung te mpat tinggal keluarga Pangeran Li Cu Kiat.

Sampai di sini, selesailah sudah kisah SI N AGA BERACUN ini, mudah-mudahan kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca dan sampai jumpa di kisah lain.

TAMAT Solo, akhir April 1986.

o)0o-dw-o0(o

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/

Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 3

Baca Juga: Jodoh Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert