Ceritasilat Novel Online

Pendekar Tanpa Bayangan 1

Eps 1 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.

Pendekar Tanpa Bayangan (Seri ke 01 Pendekar Tanpa Bayangan) Karya .

Asmaraman S Kho Ping Hoo Semenjak sejarah berkembang, Tiongkok kenyang oleh pengalaman perang saudara yang timbul tiada hentinya dari masa ke masa.

Daerahnya yang amat luas, rakyatnya yang amat banyak, ditambah pula dengan perbedaan iklim dan taraf hidup antara satu dan lain daerah, terutama antara daerah utara dan selatan, selalu menimbulkan pertengkaran dan peperangan antara raja yang satu dengan raja yang lain.

Wangsa atau dinasti (kerajaan) timbul tenggelam dan tidak pernah ada kebangkitan suatu kerajaan yang tidak disambut pemberontakan-pemberontakan di sana sini.

Pemberontakan yang dilakukan oleh pihak yang tidak setuju dengan kerajaan baru atau oleh kerajaan sebelumnya yang dijatuhkan.

Akan tetapi setiap kali perang berkobar, rakyat kecillah yang paling menderita.

Tiap kali terjadi perang, berarti pemerintah yang berkuasa sibuk dengan pertahanan daerah dari serbuan musuh dari luar sehingga pemerintah kurang memperhatikan keadaan di dalam, di mana kekacauan selalu timbul tiap ada kesempatan.

Pasukan keamanan pemerintah dikerahkan untuk menghadapi musuh sehingga penjaga keamanan hanya sedikit atau lemah sekali.

Kesempatan ini dipergunakan orang-orang jahat, perampok-perampok dan maling untuk beraksi dengan beraninya dan di waktu seperti itu, hukum rimbalah yang berlaku.

Dalam keadaan seperti ini, para ahli silat yang lebih beruntung karena mereka memiliki kepandaian bela diri yang dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan keluarga dan harta benda mereka.

Penderitaan paling hebat yang dialami rakyat dalam waktu peralihan kekuasaan adalah dalam masa kebangkitan bangsa Mongol.

Semenjak bangsa Mongol bangkit dan menyerang Cina sampai hancurnya Kerajaan Sung dan berdirinya Kerajaan Goan pada tahun 1279, rakyat menderita hebat akibat kekejaman sepak terjang pasukan Mongol.

Tidak hanya penderitaan lahir saja yang dialami rakyat, siksaan, pembunuhan semena-mena, perampasan harta benda, akan tetapi juga penderitaan batin.

Sebelumnya, kaisar-kaisar yang jatuh bangun selama ini adalah kaisar bangsa sendiri atau paling banyak hanya suku bangsa yang berlainan, akan tetapi tetap bangsa Han juga.

Baru sekarang Cina diduduki oleh penjajah dari luar, oleh bangsa lain, yaitu bangsa Mongol yang tinggal jauh di sebelah utara dan hal ini tentu saja merupakan penderitaan batin yang amat menyakitkan bagi rakyat.

Oleh karena itu, perlawanan rakyat yang membantu sisa tentara Kerajaan Sung lama, tidak pernah berhenti dan peperangan tidak pernah padam.

Namun, bala tentara Mongol memang amat kuat, bahkan sempat menjelajah dan menalukkan negara-negara di Timur Tengah dan Europa!

Selain memiliki bala tentara yang amat kuat, juga celaka bagi rakyat, tidak sedikit jumlahnya para pengkhianat dan anjing-anjing penjilat penjajah yang mempergunakan kesempatan itu untuk menjual negara dan bangsa demi mengejar kesenangan dan kekayaan.

Dengan telunjuk mereka yang hitam, para pengkhianat rendah itu menunjuk para pejuang dan melapor kepada penjajah sehingga para patriot bangsa itu ditangkap, disiksa, digantung atau disembelih di hadapan rakyat untuk melemahkan semangat perlawanan mereka.

Dengan mulut mereka yang berbisa, para pengkhianat itu berbisik di telinga para pembesar Mongol dan di lain saat, keluarga para patriot ditangkap, dibunuh, bahkan para wanitanya diperkosa dan semua harta benda mereka dirampas.

Tidak dapat disangkal bahwa kaisar pertama dalam Kerajaan Goan, yaitu Kubilai Khan, telah berjasa memperindah kota raja yang baru, Peking.

Istana yang indah didirikan di atas pundak rakyat.

Terusan-terusan digali antara Sungai Yang-ce dan Sungai Huang-ho sehingga air sungai dapat dihubungkan untuk mengangkut segala keperluan yang diperlukan, akan tetapi air sungai semenjak itu pun mengalir bersama keringat dan darah rakyat.

Untuk dapat melaksanakan semua pekerjaan besar ini, rakyat Cina, terutama yang miskin tidak mampu menyogok pembesar, diperas dan ditindas, dikerja-paksakan dengan teramat kejam, melebihi kuda atau kerbau, sehingga akibatnya banyak sekali rakyat yang tewas karena penyakit atau karena kelaparan dalam kerja paksa yang kejam itu.

Tidak akan ada habisnya kalau diceritakan betapa hebat penderitaan rakyat di waktu tanah air berada dalam kekuasaan penjajah asing.

Sampai beberapa tahun semenjak pemerintahan Goan berdiri menguasai Cina, kekejaman dan kebuasan para pembesar Mongol terjadi setiap hari di seluruh negeri.

Kota So-couw terletak di perbatasan Propinsi Kiang-si dan An-hui, di sebelah barat terusan yang sedang digali oleh rakyat yang melakukan kerja paksa.

Karena penggalian terusan itu membutuhkan tenaga jutaan manusia, maka pemerintah menjulurkan tangannya sampai jauh ke pedalaman dan menyeret orang-orang kota dan dusun untuk dikerja-paksakan.

Kota So-couw tidak terkecuali.

Apalagi kota ini letaknya tidak jauh dari terusan, maka penduduk kota inilah yang lebih dulu terkena operasi atau garukan.

Di kota So-couw tinggal keluarga Pouw yang amat dikenal.

Semua orang di So-couw menghormati keluarga itu yang bukan saja merupakan keluarga tertua di So-couw, melainkan juga karena keluarga Pouw yang kaya raya selalu membantu rakyat jelata, menyumbangkan harta, tenaga, maupun pikiran.

Siapa tidak mengenal Pouw Goan Keng yang dahulu pernah menjadi Menteri Kesusastraan dari Kerajaan Sung?

Siapa tidak tahu.

bahwa adiknya, Pouw Cong Keng, telah gugur sebagai pahlawan ketika memimpin barisan Song menggempur Kerajaan Kin di utara?

Kemudian ada lagi, Pouw Bun yang sekarang telah menjadi seorang kakek tua dan tinggal di gedungnya yang terletak di kota So-couw, dahulu pernah menjabat pangkat Kok-hoa (Kepala Pengawas) yang amat jujur dan adil.

Pekerjaannya adalah menentukan lulus tidaknya seorang yang mengikuti ujian kesusastraan untuk mencapai gelar siucai (sastrawan) di kota raja.

Padahal pada waktu jaman Kerajaan Sung, seperti juga pada waktu kerajaan-kerajaan lain yang terdahulu, amat sukar menjadi pejabat pemerintah yang jujur.

Kebejatan akhlak para pejabat pemerintah, atau lebih tepat lagi para penguasa, membuat rakyat beranggapan bahwa mencari pejabat yang jujur dan adil, sama sukarnya dengan mencari intan, sedangkan menemukan penguasa yang korup dan sewenang-wenang, sama mudahnya dengan menemukan batu di sungai saking banyaknya!

Pendeknya, keluarga Pouw terkenal sebagai keluarga yang sejak dulu kaya raya, terpelajar, patriotik dan cinta tanah air dan bangsa, juga amat dermawan!

Pada waktu itu, di dalam rumah gedung besar yang bentuknya kuno dari keluarga Pouw di So-couw, yang menjadi penghuninya adalah Pouw Bun yang sudah berusia sekitar tujuhpuluh tahun, isterinya yang sudah tua pula, Pouw Keng In dan isterinya, lalu adiknya, Pouw Sui Hong yang cantik jelita berusia delapanbelas tahun dan belum menikah.

Pouw Keng In dan Pouw Sui Hong adalah cucu dari Pouw Bun.

Baru setahun Pouw Keng In menikah dengan Tan Bi Lian yang cantik dan yang pada waktu itu telah mengandung tua.

Ayah Keng In dan Sui Hong telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu karena sakit.

Pouw Seng Ki, ayah mereka itu, terlalu berduka dan sakit hatinya melihat serbuan orang-orang Mongol yang mengganas dengan kejam.

Batinnya tertekan hebat sehingga dia jatuh sakit dan meninggal.

Isterinya menyusul suaminya tiga tahun kemudian, meninggalkan dua orang anaknya, Keng In dan Sui Hong, dalam peliharaan kakek dan nenek mereka yang sudah tua.

Karena Kakek Pouw Bun adalah seorang yang terpelajar, ahli sastra yang banyak pengetahuannya, maka Keng In dan Sui Hong mendapat pendidikan kesusastraan yang cukup mendalam.

Mereka hidup dalam suasana yang damai dan tenteram.

Setiap hari kalau tidak menulis syair, membaca kitab, tentu bermain musik atau bercakap-cakap tentang sejarah kuno atau tentang agama.

Selain itu, Pouw Keng In juga mengurus sawah ladang milik kakeknya.

Pada waktu itu, harta kekayaan keluarga Pouw sudah banyak menyusut karena ketika terjadi perang penyerbuan barisan Mongol ke daerah itu, keluarga Pouw telah mempergunakan sebagian besar harta mereka untuk menolong para korban perang, menyumbang biaya pengobatan, makan, pakaian, bahkan mendirikan pondok-pondok sebagai pengganti mereka yang kehilangan rumah karena dibakar pasukan Mongol.

Biarpun kini tidak kaya raya, namun sebagian dari hasil sawah ladang itu masih mereka berikan kepada orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan agar tidak mati kelaparan.

Biarpun kini bukan hartawan yang hidup dalam kemewahan, namun Kakek dan Nenek Pouw, Pouw Keng In dan isterinya Tan Bi Lian, dan Pouw Sui Hong, hidup dalam keadaan tenang tenteram.

Akan tetapi segala apa pun di dunia ini tidak kekal keadaannya.

Apabila saatnya tiba, atau dengan lain perkataan apabila Tuhan menghendaki demikian, pasti akan terjadi perubahan, baik itu perubahan ke arah kesengsaraan maupun perubahan ke arah kebahagiaan.

Pouw Sui Hong adalah seorang gadis remaja berusia delapanbelas tahun yang cantik jelita dan menggairahkan.

Juga ia amat pandai menulis sajak, menulis huruf berkembang, melukis, memainkan alat musik yang-kim (kecapi) dan mengerjakan kerajinan tangan lain.

Suara nyanyiannya pun amat merdu, dan semua itu ditambah lagi sikapnya yang lemah lembut, tutur sapanya yang halus dan wajahnya yang cerah.

Maka, tidak aneh kalau ia dijadikan buah mimpi oleh semua pemuda di So-couw dan dijuluki Bunga So-couw.

Tidak hanya para pemuda bangsawan dan hartawan yang tergila-gila kepadanya, akan tetapi juga para pemuda petani, para pemuda miskin biarpun tidak mempunyai harapan sama sekali, tetap memujanya dan seringkali bermimpikan gadis itu.

Di antara mereka ini terdapat seorang pemuda yang menjadi pelayan rumah keluarga Pouw sendiri.

Pemuda ini bernama Can Sui dan sejak kecil dia sudah bekerja sebagai pelayan di rumah itu maka sejak kecil dia telah mengenal Sui Hong.

Akan tetapi sebagai seorang pelayan, dia tidak berani menyatakan cintanya kepada Sui Hong sungguhpun dalam hatinya dia sudah tergila-gila kepada gadis itu dan seringkali dia menyesali keadaan dirinya sendiri.

"Bukankah aku juga seorang manusia? Apa bedanya antara aku dan Siocia (Nona) sebagai manusia? Hanya kebetulan saja aku menjadi pelayannya, akan tetapi aku dilahirkan menjadi seorang miskin bukan atas kehendakku, seperti juga Siocia terlahir menjadi puteri keluarga kaya juga bukan atas kehendaknya."

Demikian pelayan itu mengeluh.

Setelah dewasa, cintanya terhadap Sui Hong menjadi berahi yang berkobar-kobar dan akhirnya dia tidak kuat lagi menahan desakan gelora nafsu berahinya dan dia menjadi mata gelap dan lupa diri.

Bagaikan seorang maling pada suatu saat, lewat tengah malam, dia membongkar daun pintu kamar Sui Hong dan memasuki kamar itu!

Ketika dia menjulurkan tangan meraba tubuh Sui Hong, gadis itu menjerit-jerit ketakutan dan seisi rumah terbangun.

Pouw Keng In yang berlari memasuki kamar adiknya, melihat Can Sui di situ dan Sui Hong yang duduk di atas pembaringannya, tampak pucat dan menggigil ketakutan.

Dia dapat menduga apa yang terjadi.

Akan tetapi Keng In memang cerdik sekali.

Dia harus dapat menjaga kehormatan nama adiknya, maka ketika semua pelayan bermunculan di situ sambil membawa lentera, dia cepat menampar pipi Can Sui sambil memaki.

"Bangsat rendah! Sejak kecil setiap hari engkau makan nasi di rumah keluarga kami, siapa kira selama ini kami memelihara seorang maling! Baiknya Pouw Siocia melihatmu, kalau tidak tentu engkau akan berhasil menggondol barang-barang berharga lalu minggat! Bangsat, kalau tidak ingat bahwa engkau sejak kecil bekerja di sini, tentu aku akan memukulmu sampai mati. Sekarang, bawa semua barangmu dan pergi dari saat ini, jangan engkau berani menginjakkan kaki di pekarangan kami lagi!"

Demikianlah, berkat kecerdikan Pouw Keng In, urusan itu dilupakan orang dan nama baik keluarga itu tidak ternoda.

Semua orang membicarakan peristiwa malam itu sebagai usaha pencurian yang hendak dilakukan Can Sui dan sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa pemuda itu memasuki kamar Pouw Siocia dengan niat lain sama sekali!

Tidak hanya para pelayan dan orang luar yang mengira bahwa perkara itu adalah kecil dan sudah habis sampai di situ saja, bahkan semua anggauta keluarga Pouw sendiri sudah melupakan urusan itu.

Akan tetapi siapa kira bahwa urusan yang dianggap sepele itu akan berekor panjang, bahkan akan menjadi sebab dari perubahan hebat yang akan terjadi pada keluarga Pouw.

Memang sudah mengalir dalam darah keturunan keluarga Pouw, juga Pouw Keng In biarpun sejak kecil hanya belajar sastra, ternyata dia pun memiliki darah patriot yang cukup kuat.

Dia merasa penasaran dan juga berduka kalau ingat betapa tanah air bangsanya dikangkangi oleh penjajah Mongol.

Perasaan ini mudah sekali dilihat dari percakapan sehari-hari, atau dari sajak-sajak yang ditulis Keng In dan digantungkan dalam kamarnya.

Tentu saja Keng In tidak berani berterang menyatakan kebenciannya terhadap pemerintah Kerajaan Goan, dan hanya menyatakan kebenciannya itu di depan para sahabat, anggauta keluarga, terkadang kepada para pelayan dalam rumah.

Bahkan ketika tidak jauh dari So-couw timbul pemberontakan terhadap pemerintah Mongol, Keng In menulis sajak banyak sekali dan dibagikan kepada para pejuang untuk membakar semangat mereka.

Hal ini dilakukannya dengan diam-diam.

Yang mengetahuinya hanyalah anggauta keluarga, sahabat baik dan para pelayan yang sudah dipercaya saja.

Sudah barang tentu Can Sui pelayan yang tergila-gila kepada Sui Hong itu pun tahu akan hal ini, bahkan dia dipercaya karena dahulu dia pun merupakan seorang di antara mereka yang kagum dan suka akan sajak tulisan Pouw Keng In dan menyimpannya pula beberapa helai.

Malapetaka itu datang tepat sepuluh hari sejak Can Sui diusir dari rumah keluarga Pouw.

Pada pagi hari itu, dua orang dengan muka pucat memasuki gedung keluarga Pouw lewat pintu belakang dan mereka berbisik-bisik kepada para pelayan.

Tidak lama kemudian Pouw Keng In muncul dan mengajak dua orang itu masuk.

Mereka adalah dua orang Han (pribumi) yang bekerja sebagai pelayan rumah dan kantor pembesar kota So-couw.

Mereka datang secara sembunyi dan setelah berada di dalam ruangan dalam gedung bersama Keng In, mereka berkata dengan lirih.

"Pouw Kongcu (Tuan Muda Pouw), celaka......! Lekas melarikan diri, cepat......! Ah, celaka sekali.......!"

Wajah Pouw Keng In yang tampan berubah agak cemas, akan tetapi dia masih dapat bersikap tenang dan bertanya lembut.

"Apakah yang telah terjadi? Tenanglah kalian dan ceritakan dengan jelas."

"Cepat lari! Bawa semua keluarga. Tak lama lagi tentu pasukan pemerintah datang untuk menangkap Pouw Kongcu sekeluarga!"

"Apa......?"

Keng In terbelalak.

"Mengapa? Apa alasannya?"

"Keluarga Pouw akan ditangkap, dituduh pemberontak!"

Kini Keng In mengerti bahwa hal ini bukanlah mustahil, maka segera dia bertanya.

"Siapa orangnya yang mengadukan kepada pemerintah?"

"Can Sui, dia membawa sajak-sajak buatan Kongcu beberapa bulan yang lalu. Harap lekas lari, Kongcu, kami berdua tidak dapat lama berada di sini......"

Dua orang itu lalu pergi meninggalkan gedung mengambil jalan dari pintu belakang.

Dapat dibayangkan betapa cemas dan bingung rasa hati Pouw Keng In.

Pada masa itu, semua orang, biar anak kecil sekalipun, tahu belaka apa artinya di-tangkap pasukan pemerintah, apalagi kalau dituduh sebagai pemberontak.

Siksa, hukum mati, rampas harta benda!

Ketika Keng In mengabarkan hal ini kepada keluarga Pouw, Tan Lian dan Sui Hong menangis dan tubuh mereka menggigil ketakutan.

Akan tetapi Kakek Pouw Bun dan isterinya, menerima berita itu dengan sikap tenang.

Sepasang mata kakek dan nenek itu mencorong penuh api kemarahan.

"Keng In, kau bawa isterimu dan adikmu pergi ke selatan, ke kota Nan-king. Cepat, di sana kau cari Liu Bok Eng atau keluarganya, mereka pasti akan menolongmu!"

Kata Pouw Bun.

"Akan tetapi bagaimana dengan Kong-kong (Kakek) sendiri dan Nenek......?"

"Kami sudah tua, Keng In. Aku bahkan akan merasa bangga kalau di samping kakekmu dapat menghadapi anjing-anjing Mongol itu dan mati di tangan mereka bagi kami lebih terhormat dan menyenangkan. Biarlah kami yang mengorbankan tubuh tua renta ini demi keselamatan anak cucu dan bangsa!"

Benar-benar ucapan yang gagah sekali yang keluar dari bibir nenek yang sudah ompong itu.

Memang, keluarga Pouw sejak dahulu berjiwa patriotik dan gagah berani.

Dengan hati pilu, karena keadaan mendesak dan dia pikir memang permintaan kakek dan neneknya ini tepat untuk menyelamatkan yang muda-muda, Keng In lalu mempersiapkan tiga ekor kuda, membawa pakaian sekadar pengganti dan uang bekal.

Kemudian dengan tergesa-gesa dan cepat, setelah mereka berlutut dan menangis di depan kaki Kakek Pouw Bun dan isterinya, Keng In, Bi Lian, dan Sui Hong menunggang kuda melarikan diri keluar kota menuju ke selatan.

Masih untung bahwa Bi Lian dan Sui Hong bukanlah wanita-wanita yang tidak biasa menunggang kuda.

Seringkali mereka belajar menunggang kuda dari Keng In, maka kini mereka tidak ragu-ragu lagi untuk membalapkan kuda melarikan diri.

Akan tetapi yang patut dikasihani adalah Bi Lian.

Nyonya muda ini sedang mengandung delapan bulan, maka dapat dibayangkan betapa sengsaranya melarikan diri seperti itu.

Tangan kanan memegang kendali kuda, tangan kiri menekan dan melindungi perut, wajahnya pucat sekali dan kadang-kadang ia menggigit bibir sendiri menahan rasa nyeri akibat guncangan-guncangan di atas kuda.

Pilu rasa hati Keng In melihat keadaan isterinya itu dan terpaksa dia memperlambat larinya kuda.

Dia melarikan kudanya berendeng dengan kuda isterinya dan melihat betapa keadaan isterinya semakin payah, dia menghentikan kudanya dan menyuruh isterinya dan adiknya berhenti pula.

Kemudian dia pindah ke atas kuda isterinya dan duduk di belakangnya.

Dengan memeluk tubuh isterinya yang duduk di depan, kini Keng In dapat membalapkan kuda itu lebih cepat.

Sui Hong memegang kendali kuda Keng In karena kuda itu perlu dibawa untuk menggantikan kuda yang membawa dua orang manusia itu, yang tentu saja tidak akan dapat bertahan lama.

Sampai matahari naik tinggi, tiga orang itu melarikan diri ke arah selatan.

Mereka sudah mulai merasa lega karena sejak tadi tidak kelihatan ada orang mengejar.

"In-ko, (Kakak In), kita secara membuta percaya omongan dua orang tadi. Bagaimana kalau mereka itu membohongi kita? Bagaimana kalau sebetulnya tidak ada apa-apa? Aku kasihan sekali melihat So-so (Kakak Ipar) harus melakukan perjalanan begini jauh dan sukar,"

Kata Sui Hong.

"Agaknya tidak mungkin mereka itu berbohong, Hong-moi. Apa sih perlunya dan untungnya bagi mereka kalau berbohong? Pula, memang hal seperti ini sudah lama kuduga pasti akan datang. Lambat-laun pasti anjing-anjing Mongol itu tahu bahwa kita keluarga Pouw sebetulnya adalah musuh-musuh mereka. Akan tetapi biarlah, Adikku, penderitaan seperti ini memang sudah sewajarnya dialami oleh keluarga Pouw!"

Ketika mengucapkan kata-kata itu, Keng In tampak bangga dan bersemangat.

"Bagi kita bertiga memang tidak mengapa,"

Bi Lian berkata lemah.

"akan tetapi....... anakku yang dalam kandungan ini...... ah, dia tidak berdosa...... aduh, ah, dia meronta...... kakinya menendang-nendang! Koko, apakah tidak sebaiknya kalau kita beristirahat dulu? Kasihan dia yang berada dalam perutku......"

"In-ko, sebaiknya kita istirahat dulu. Kasihan So-so,"

Kata Sui Hong.

"Tidak boleh kita istirahat sebelum malam tiba......"

Kata Keng In sambil memeluk isterinya semakin erat.

Tangan kirinya melingkari perut isterinya dan jari-jari tangan kirinya ikut menahan perut itu agar anak di dalamnya tidak terlalu terguncang.

Hatinya merasa pilu dan kasihan kepada isterinya, akan tetapi dia maklum betapa besar bahayanya kalau mereka berhenti.

"In-ko, mereka kan tidak mengejar, mengapa takut?"

Tanya Sui Hong.

Belum sempat Keng In menjawab, tiba-tiba terdengar derap kaki banyak datang dari belakang!

Keng In dan adiknya saling pandang.

Sui Hong menjadi pucat sekali dan tangannya yang memegang kendali kuda gemetar.

"Balapkan kuda!"

Seru Keng In sambil menggebrak kudanya. Sui Hong juga membedal kudanya sehingga debu mengebul dan tiga ekor kuda itu membalap lagi.

"Belok kiri, tinggalkan jalan besar!"

Kembali Keng In berseru setelah tiba di sebuah jalan simpangan, jalan yang kecil dan sukar.

Memang hal ini perlu sekali dilakukan.

Kalau mereka mengikuti jalan besar, pasti mereka akan dapat disusul oleh para pengejar.

Sebaliknya jalan simpangan yang kecil itu merupakan usaha untung-untungan.

Kalau tidak diketahui mereka bisa selamat, sebaliknya kalau diketahui dan para pengejar juga mengejar lewat jalan kecil itu, apa boleh buat!

Akan tetapi, alangkah cemas dan khawatir hati tiga orang buronan itu ketika mereka masih juga mendengar derap kaki kuda di belakang mereka.

Ternyata mereka tahu bahwa yang mereka kejar mengambil jalan kecil itu!

Bahkan kini derap kaki banyak kuda mengejar itu semakin dekat!

"Koko......

tidak nyana kita akan berpisah dalam.......

dalam......

keadaan begini......"

Isteri Keng In sudah mulai menangis perlahan.

"Sstt, mengapa putus asa? Thian (Tuhan) akan melindungi orang yang tidak bersalah, isteriku,"

Kata Keng In untuk menghibur hati isterinya, padahal dia sendiri sudah tidak dapat menemukan jalan keluar dari ancaman bahaya itu.

"In-ko, So-so, tidak usah takut!"

Kata Sui Hong gagah.

"Kalau kita tersusul, kita melawan mati-matian sampai saat penghabisan!"

Diam-diam Keng In bangga mendengar ucapan adiknya itu, seorang gadis berusia delapanbelas tahun yang lemah dan tidak menguasai ilmu silat, namun bersemangat gagah perkasa, seperti nenek moyang mereka di jaman dahulu!

Setelah membalapkan kuda beberapa lamanya, perjalanan mereka terhalang sebuah sungai yang cukup lebar.

Tiga orang itu segera turun dari atas punggung kuda.

"Kita cari sampan!"

Seru Keng In setelah membantu isterinya turun dari kuda. Lalu dia mencari-cari dengan pandang matanya ke sekitar tempat itu. Demikian pula Sui Hong dan Bi Lian ikut mencari-cari.

"Kita harus dapat menyeberang. Kalau dapat sampai di seberang sana, kita akan selamat!"

Kata Sui Hong.

Sudah terkenal di masa itu bahwa rakyat di daerah selatan Sungai Huai, yaitu di seberang sana merupakan pejuang-pejuang anti pemerintah Mongol yang gagah berani dan gigih.

Biarpun berulang kali balatentara Mongol melakukan aksi pembersihan, namun semangat rakyat di daerah ini tidak pernah padam.

Sebagai keturunan patriot bangsa, Sui Hong dan Keng In tentu saja sudah mendengar akan hal itu, maka timbul harapan mereka itu untuk mendapat pertolongan rakyat di seberang sana apabila mereka berhasil menyeberangi Sungai Huai ini.

Akan tetapi agaknya nasib baik sedang menjauhi mereka.

Mereka mencari-cari dengan sia-sia.

Tidak ada sebuah perahu pun tampak di situ, tidak ada tukang perahu dan tidak ada sampan untuk dipakai menyeberang.

Jalan satu-satunya untuk menyeberangi Sungai Huai yang airnya sedang pasang itu hanyalah berenang!

Sedangkan derap kaki kuda para pengejar semakin jelas terdengar, bahkan kini terdengar pula teriakan-teriakan mereka.

"Tangkap pemberontak!"

"Tawan Bunga So-couw!"

"Basmi keluarga Pouw!"

Teriakan-teriakan penuh ancaman yang terdengar oleh tiga buronan itu tentu saja membuat mereka menjadi panik.

Akan tetapi mereka mengambil keputusan bulat untuk menyeberangi sungai dengan berenang.

Di waktu kecil mereka, Keng In dan Sui Hong pernah tinggal bersama ayah bunda mereka di tepi Sungai Yang-ce, sedangkan Tan Bi Lian adalah puteri seorang pembesar Kerajaan Sung di kota Seng-hai-lian yang letaknya dekat laut, maka nyonya muda ini pun tidak takut air dan pandai berenang.

Keadaan sudah gawat dan mendesak sekali dan tidak ada jalan lain untuk meloloskan diri dari bahaya kecuali berenang ke seberang.

Ketika mereka menengok ke belakang, tampak seorang penunggang kuda mendahului pasukan kuda di belakangnya.

Orang itu jelas merupakan komandan pasukan karena pakaian perangnya sudah tampak nyata dari jauh, berkilauan tertimpa sinar matahari.

"Pouw Keng In, pemberontak rendah! Berhenti dan menyerah!"

Teriak perwira itu dan biarpun jaraknya masih jauh, namun suara orang itu menggeledek nyaring sekali.

Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa perwira itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

"Tidak ada jalan lain, mari kita berenang!"

Kata Pouw Keng In sambil menggandeng tangan isterinya dan membuang barang bawaan mereka ke dalam air karena tidak ada gunanya lagi.

Daripada ditinggal dan diambil oleh pasukan Mongol, lebih baik hilang dan hanyut terbawa air sungai, atau mungkin dapat ditemukan penduduk di hilir sungai sana.

Sui Hong mendahului kakaknya, melompat ke dalam air dengan gerakan loncatan indah.

Memang gadis ini pandai sekali berenang.

Keng In dan Bi Lian juga melompat ke dalam air.

Air hanya muncrat sedikit karena mereka melompat dan terjun ke air dengan kedua tangan lurus lebih dulu.

Bagaikan tiga ekor ikan yang aneh bentuknya, mereka mulai berenang ke tengah melawan arus yang datang dari arah kanan mereka menuju ke timur.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa aneh dan lantang di tepi sungai dan sehelai tali hitam meluncur bagaikan sinar hitam ke sungai.

Tali itu mengeluarkan suara bersiutan dan tahu-tahu tali hitam yang ternyata terbuat dari sutera halus yang amat kuat itu telah membelit tubuh Sui Hong!

Tali itu bagaikan seekor ular hidup, berputaran di atas kepala gadis itu, kemudian menyambar ke bawah dan tahu-tahu Sui Hong merasa betapa tubuhnya terbelit tali dan ia ditarik ke pinggir!

Sui Hong terkejut dan jijik karena mengira ada ular membelit tubuhnya.

Ia meronta-ronta sekuat tenaga namun libatan tali itu kuat bukan main, bahkan ketika ia meronta, libatannya menjadi semakin erat sehingga gadis itu tidak dapat berkutik, hanya dapat menggerak-gerakkan kedua kakinya untuk mencegah agar ia tidak tenggelam.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dengan kumis dan jenggot lebat, sikapnya gagah dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang panglima perang, berdiri di tepi sungai dengan kedua kaki terpentang.

Panglima perang inilah yang tadi melempar tali sutera hitam yang menangkap Sui Hong.

Ketika dua orang pembantunya yang baru turun dari kuda menghampirinya sambil tertawa-tawa dan menunjuk ke arah gadis yang tampak seperti seekor ikan terkait pancing itu, Sang Komandan lalu memberikan ujung tali sutera hitam dan memerintahkan mereka untuk menarik gadis yang sudah tak berdaya itu ke pantai.

"Jaga jangan sampai ikan tangkapanku itu terlepas,"

Katanya sambil tertawa.

"Dan lihat anak panahku menamatkan riwayat pemberontak Pouw!"

Setelah ber-kata demikian panglima perang yang bertubuh tinggi besar muka hitam ini mengambil busur dan anak panah yang tergantung di punggungnya dan sekali pasang dia menaruh dua batang anak panah pada busurnya.

Beberapa belas orang perajurit Mongol kini berada di belakangnya, menonton dengan kagum karena mereka semua yakin akan kehebatan panah komandan mereka ini.

Tali busur ditarik, busur melengkung lalu tali busur dilepas.

"Swingggg......!"

Busur menjepret diiringi suara sorak sorai para tentara Mongol yang tahu bahwa dua orang pelarian yang masih berenang di tengah sungai itu pasti akan tewas.

Memang hebat kepandaian memanah panglima muka hitam itu.

Begitu kedua batang anak panah itu meluncur, terdengar pekik kesakitan dari tengah sungai.

Sebatang anak panah tepat sekali menancap di belakang kepala Pouw Keng In sehingga Keng In tidak sempat menjerit dan seketika tewas.

Anak panah kedua dalam saat yang sama, menancap di pundak Bi Lian.

Nyonya muda itulah yang memekik, bukan karena rasa nyeri dan panas yang hebat pada pundaknya, melainkan terutama sekali melihat anak panah menancap di belakang kepala suaminya dan melihat suaminya tenggelam.

Semua ini hanya tampak dalam sekejap mata saja karena Bi Lian jatuh pingsan!

Tubuhnya hanyut di bawah permukaan air sungai, terbawa aliran sungai yang kuat.

Panglima perang itu adalah Kong Tek Kok, seorang panglima Mongol yang gagah perkasa.

Dia merupakan pemimpin barisan yang selalu berhasil melakukan operasinya sehingga dikagumi semua pembesar Mongol.

Bahkan Kaisar Kubilai Khan sendiri memujinya dan memberinya hadiah bintang kehormatan.

Dunia kangouw segera mengenalnya sebagai Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) dan dengan sepasang pedangnya yang terbuat dari kayu besi yang hanya tumbuh di dekat kutub, dia sudah menyebar maut di antara ribuan orang penduduk dari kota dan dusun yang diterjang pasukannya.

Selain lihai dan kejam, dia juga sombong sekali.

Kesombongannya itulah yang membuat dia lengah.

Dia merasa yakin bahwa sekali lepas dua batang anak panah, dia pasti menewaskan Pouw Keng In dan Tan Bi Lian, maka dia tidak lagi menyelidiki atau memperhatikan lebih lanjut hasil serangan anak panahnya tadi.

"Ha-ha-ha-ha! Sekali ini aku puas! Dapat membasmi seluruh keluarga Pouw dan dapat menangkap Kembang So-couw yang begini cantik jelita! Tidak sia-sia jerih payahku melakukan pengejaran jauh, ha-ha-ha!"

Panglima berusia sekitar tigapuluh tahun itu memandang kepada Sui Hong yang sudah ditarik ke pantai dan kini rebah miring dengan tubuh basah kuyup sehingga pakaiannya menempel ketat mencetak seluruh tubuhnya yang tampak lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan.

Gadis itu terengah-engah karena tadi menggunakan seluruh tenaga untuk meronta namun sia-sia, dan kini ia merasa takut dan maklum bahwa ia terjatuh ke tangan orang-orang yang berhati iblis.

Kong Tek Kok menelusuri wajah dan tubuh Sui Hong dengan pandang matanya dan dia merasa girang bukan main.

Dia memang sudah mendengar bahwa diantara keluarga Pouw yang hendak dibasminya itu terdapat Bunga So-couw yang kabarnya amat cantik jelita.

Kini setelah menyaksikan dengan mata sendiri, diam-diam dia merasa beruntung sekali.

"Cepat ambil pakaian pengganti! Kasihan sekali ia kedinginan!"

Perintahnya sambil menyingkap rambut hitam halus yang menutupi muka gadis itu.

Sui Hong yang sudah ketakutan dan kehabisan tenaga itu tak sadarkan diri ketika melihat muka hitam menyeramkan itu begitu dekat!

Setelah pembantunya memberikan pengganti pakaian, Kong Tek Kok lalu membawa gadis itu ke balik semak-semak, jauh dari penglihatan para perajurit, dan dia sendiri menukar pakaian basah yang menempel di tubuh Sui Hong dengan pakaian kering.

Biarpun dia melihat tubuh yang amat menggairahkan itu namun Kong Tek Kok bukanlah seorang laki-laki yang bodoh.

Dia telah memiliki banyak selir yang muda dan cantik, dan biarpun dia akan senang sekali kalau dapat mengambil gadis ini sebagai selir termudanya, namun dia mempunyai rencana yang jauh lebih menguntungkan baginya.

Kalau dia mengambil gadis itu sebagai selir, dia harus selalu waspada karena gadis she Pouw ini pasti akan merasa sakit hati dan dendam kepadanya, akan selalu menjadi ancaman baginya.

Kalau gadis itu menjadi selirnya, maka akan selalu dekat dengannya dan hal ini berbahaya sekali.

Sebagai seorang panglima dan ahli silat yang banyak pengalamannya, dia maklum bahwa kalau dia sampai memaksa gadis Pouw ini menjadi selirnya, kelak dia akan selalu terancam pula oleh orang-orang dunia kang-ouw yang pasti akan membalas dendam keluarga Pouw.

Selain ini, dia mempunyai rencana yang dianggapnya baik sekali.

Dia akan mempersembahkan gadis ini kepada seorang pangeran yang mempunyai kedudukan tinggi dan kuat di istana.

Dengan jalan menghadiahkan gadis cantik jelita ini kepada pangeran itu, dia dapat mengambil hatinya.

Kalau sudah demikian, soal naik pangkat baginya adalah soal mudah, karena pangeran itu mempunyai pengaruh besar dan dipercaya oleh kaisar yang masih terhitung paman dari pangeran itu.

Demikianlah, dengan amat girang dan bangga, Kong Tek Kok memimpin baris-annya kembali ke So-couw untuk kemudian kembali ke kota raja membuat laporan.

Sebelum dia melakukan pengejaran terhadap Pouw Keng In, Tan Bi Lian, dan Pouw Sui Hong, lebih dulu dia telah membasmi keluarga Pouw, membunuh Kakek dan Nenek Pouw Bun, membunuh pula seluruh pelayan yang berada dalam gedung itu.

Tidak hanya itu saja, bahkan dia membiarkan anak buahnya merampok semua harta benda dalam gedung, kemudian dia menyuruh anak buahnya menutup dan menyegel rumah itu sebagai rampasan.

Tidak lupa pula Kong Tek Kok memberi bagian kepada jaksa, memberi sebagian harta yang dirampoknya.

Dengan girang jaksa membuat laporan dalam bukunya sesuai dengan keinginan Kong Tek Kok, yaitu bahwa seluruh anggauta keluarga Pouw berikut para pelayannya, telah dibunuh.

Seluruh keluarga pemberontak itu telah dibasmi habis.

Tentang Pouw Sui Hong, sedikit pun tidak disebut-sebut dalam laporan itu, karena mengambil wanita keluarga pemberontak menjadi selir merupakan larangan kaisar yang tidak boleh dilanggar.

Sebetulnya jaksa juga merasa khawatir karena laporannya sama sekali tidak menyebut soal Pouw Sui Hong yang menjadi tawanan Kong Tek Kok.

Akan tetapi, selain dia takut kepada Kong-ciangkun (Panglima Kong), dia juga sudah menerima pembagian harta.

Baginya, Pouw Sui Hong hendak dibunuh atau diambil selir, masa bodoh!

Setelah barisan yang dipimpin Kong Tek Kok itu kembali ke kota raja, jaksa tidak melupakan jasa Can Sui yang melapor tentang sajak anti pemerintah yang ditulis Pouw Keng In.

Dipanggilnya bekas pelayan keluarga Pouw itu dan diberinya hadiah uang.

Biarpun di luarnya Can Sui menerima dengan terima kasih dan gembira, namun dalam hatinya dia menangis melihat betapa Nona Pouw Sui Hong yang dikasihaninya itu terjatuh ke dalam tangan panglima yang kejam seperti Kong Tek Kok.

Ngeri dia membayangkan nasib gadis itu, bagaikan seekor kelinci terjatuh ke dalam cengkeraman harimau yang ganas!

Dia mulai menyesal akan pengkhianatannya.

Akan tetapi semua telah terlanjur, telah terjadi, dan dia sama sekali tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong gadis yang dia cinta.

Dia telah melakukan pengkhianatan karena dorongan nafsu, dan kini dia menyesal sekali melihat akibat dari perbuatannya.

Dialah yang menyebabkan Kakek Nenek Pouw dan pelayan terbunuh, juga menyebabkan Pouw Keng In dan isterinya terbunuh, lalu menyebabkan Pouw Sui Hong terjatuh dalam cengkeraman Panglima Mongol itu!

Kini hatinya berdarah, penuh penyesalan.

Segala perbuatan jahat merupakan buah dari kekuasaan nafsu yang telah memperbudak manusia.

Nafsu adalah Setan yang selalu menggoda manusia dengan pikatan berupa kesenangan dan kenikmatan, dan kalau sampai kita ter-seret ke dalam lembah dosa dan melakukan kejahatan, bukanlah kesalahan Setan.

Memang sudah menjadi tugas kewajiban Setan untuk menggoda manusia.

Bukanlah Setan namanya kalau tidak jahat dan tidak menggoda manusia.

Memang pekerjaannyalah di dunia ini untuk membujuk sebanyak mungkin manusia agar masuk ke dalam kerajaan kegelapan.

Kalau sampai kita dikuasai dan melakukan kejahatan, semua itu dapat terjadi hanya karena kita lemah, hanya karena kita mau dikuasai, hanya karena kita tidak tahan uji dan tidak mampu menolak semua bujukan untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan jasmani.

Hanya orang yang teguh beriman kepada Thian (Tuhan) saja yang akan mendapat kekuatan dari Tuhan sehingga memiliki kemampuan untuk tetap tegar dan tidak terpikat oleh semua bujukan Setan yang serba menyenangkan.

Air Sungai Huai mengalir terus sepanjang masa.

Semenjak jaman sebelum ada catatan sejarah, sebelum jaman Sam Kok (Tiga Negara), jaman Kerajaan Sui, permulaan Kerajaan Tang, sejak jatuhnya Kerajaan Han sampai sekarang, air Su-ngai Huai tiada hentinya mengalir, menuju ke asalnya, yaitu Lautan.

Seperti juga kehidupan ini tiada hentinya mengalir menuju kematian, menuju ke asalnya, sumbernya.

Kalau saja riak air itu dapat bercerita, kita akan mendapatkan cerita sejarah yang tiada habisnya, yang hebat dan penuh dengan kengerian, penuh kepahitan dan sedikit saja kemanisan.

Air Sungai Huai dengan tenang dan sabarnya membawa segala apa yang jatuh ke dalamnya, membawa diam-diam tanpa banyak rewel, kalau perlu dibawa terus sampai ke permukaan laut.

Pada senja hari itu, di bawah langit yang hijau kemerahan tanda bahwa matahari mulai mengundurkan diri melaksanakan tugasnya menerangi belahan dunia yang lain, di atas air sungai yang mengalir tenang, meluncur sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang kakek kurus kering jangkung berambut dan berjenggot putih.

Sebetulnya orang ini belum tua benar, usianya baru sekitar empatpuluh tahun.

Rambut dan jenggotnya mendadak menjadi putih semua setelah bangsa Mongol menyerbu ke selatan dan mengalahkan Kerajaan Sung yang terpaksa mengungsi ke sebelah selatan Sungai Yang-ce.

Keadaan orang ini kalau dilihat wajah dan pakaiannya yang kuning itu, tidak menarik dan amat bersahaja, tidak ada bedanya dengan nelayan biasa.

Akan tetapi melihat gerak-geriknya di tempat sunyi itu, orang akan terheran-heran.

Tangan kiri kakek itu memegang dayung yang digerakkan secara aneh.

Kiranya tidak pernah ada nelayan mendayung sampan seperti itu, hanya menggerakkan dayung dengan tangan kiri secara sembarangan, didorong-pukulkan ke air, akan tetapi anehnya, sampan itu meluncur cepat melawan arus air sungai!

Lebih mengherankan lagi, tangan kanannya memegang sebuah kitab yang agaknya tengah dibacanya.

Membaca kitab pada senja hari hanya dengan penerangan sinar matahari senja yang hampir tenggelam, pasti membutuhkan sepasang mata yang awas sekali.

Pada masa itu memang terdapat banyak orang pandai yang hidup mengasingkan diri.

Mereka itu sebagian besar terdiri dari bekas pembesar Kerajaan Sung yang melarikan diri ke selatan setelah tidak mampu menahan serbuan bangsa Mongol.

Karena berduka mereka melarikan dan mengasingkan diri, tidak sudi bekerja di bawah perintah bangsa Mongol, walaupun kalau mereka mau mereka akan memperoleh kedudukan tinggi dan kemuliaan seperti yang dilakukan banyak pengkhianat bangsa di masa itu.

Para pendekar yang berjiwa patriot lebih suka hidup miskin dan sebagian dari mereka menggabungkan diri dengan para pemimpin pejuang rakyat yang menentang Kerajaan Goan dan membuat para pembesar Mongol tak dapat tidur nyenyak.

Ada pula yang seolah putus asa dan kehilangan semangat, sengaja tidak mau mencampuri urusan dunia lagi dan hidup di gunung-gunung atau di tempat sunyi dan ada pula yang hidup di pedusunan menjadi petani, nelayan atau pertapa.

Orang yang karena rambutnya sudah putih sehingga tampak seperti seorang kakek tua dan kini duduk di perahu sambil membaca kitab itu juga seorang pendekar yang mengasingkan diri.

Namanya Suma Tiang Bun dan pada jaman Kerajaan Sung masih jaya, namanya cukup terkenal.

Suma Tiang Bun adalah seorang Bun-bu-enghiong (Pendekar Sastra dan Silat), akan tetapi sejak dahulu tidak pernah mau terikat oleh kedudukan.

Biarpun tidak suka pangkat, dia adalah seorang patriot sejati yang setiap saat siap menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi negara dan bangsa.

Ketika terjadi perang melawan penyerbuan pasukan Mongol, dia membantu Kerajaan Sung melawan musuh.

Akan tetapi balatentara Mongol amat kuat, memiliki banyak panglima yang sakti dan pasukannya besar sekali dan lebih celaka lagi, banyak orang pandai yang menjadi pengkhianat bangsa mempergunakan kesempatan untuk menjual negara, membantu bangsa Mongol demi memperoleh kedudukan dan harta benda.

Suma Tiang Bun ikut dengan rombongan pahlawan yang menyelamatkan Pangeran Sung lari ke selatan setelah Kaisar Sung ditawan musuh.

Setelah merasa kecewa dan penasaran membuatnya berduka sehingga rambutnya berubah putih, Suma Tiang Bun lalu pergi mengasingkan diri.

Sebelum itu, dia membunuh banyak pengkhianat bangsa yang menghambakan diri kepada bangsa Mongol.

Bahkan di antara mereka, ada dua orang sutenya (adik seperguruannya) yang dia bunuh karena mereka juga merendahkan diri menjadi antek bangsa Mongol.

Demikianlah, laki-laki berambut putih di atas sampan itu bukan orang sembarangan.

Suma Tiang Bun adalah ahliwaris terakhir dari ilmu silat keluarga Suma yang semenjak jaman Sam Kok amat terkenal.

Setelah kini mengasingkan diri, kegiatannya hanyalah membaca kitab dan hidup sebagai seorang pendekar yang berkelana, setiap saat siap menjulurkan tangan menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas menentang yang kuat jahat.

Sejak siang tadi dia berperahu sambil membaca kitab dengan asyiknya.

Tiba-tiba Suma Tiang Bun terkejut dan menghentikan bacaannya.

Dia merasa betapa perahunya menyentuh sesuatu, tertumbuk sesuatu.

Dia cepat menjulurkan badannya keluar perahu, memandang ke air.

"Siancai (damai)""!"

Serunya ketika dia melihat bahwa yang menumbuk perahunya itu ternyata adalah tubuh seorang wanita yang agaknya dihanyutkan arus air sungai!

Dengan gerakan yang amat cepat, terlalu cepat dan tak mungkin rasanya dilakukan seorang kutu-buku yang tampak lemah itu, kitab yang tadi dibacanya sudah lenyap ke dalam saku bajunya dan dayung diletakkan dalam perahu.

Kemudian sekali kedua tangannya digerakkan ke samping perahu, tubuh wanita itu telah diangkatnya ke dalam perahu.

"Thian Yang Maha Agung......!"

Dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa orang itu adalah seorang wanita muda yang sedang mengandung! Cepat dirabanya pergelangan tangan dan leher wanita itu.

"Bagus, masih belum terlambat!"

Wajah Suma Tiang Bun berseri dan dengan hati-hati dia menjungkirkan tubuh wanita itu, menotok beberapa jalan darah dan menekan lambung.

Wanita itu muntahkan air.

Setelah itu, tubuh wanita itu dibaringkan telentang dan dia menotok dan mengurut kedua pundak, uluhati, telapak tangan dan tengkuk.

Kemudian dia meletakkan tangan kanannya di atas dada wanita itu dan mengerahkan tenaga sakti untuk membantu wanita itu mendapatkan kembali kekuatan dan kesadarannya.

Perlahan-lahan pernapasan wanita itu mulai membaik, muka yang tadinya pucat seperti mayat mulai merah kembali "Tertolong......!

Thian Yang Maha Kasih......!"

Suma Tiang Bun Inenarik napas panjang, hatinya lega.

Kini dia mulai memperhatikan wajah yang sebagian tertutup rambut yang hitam, halus, dan panjang itu.

Seorang wanita muda yang cantik sekali, dan melihat pakaian yang basah kuyup itu, Suma Tiang Bun dapat menduga bahwa ia tentu anggauta sebuah keluarga kaya atau bangsawan.

"Mengapa ia hanyut di sungai?"

Suma Tiang Bun bertanya dalam hatinya.

Setelah wanita itu terhindar dari maut, Suma Tiang Bun segera mendayung perahunya dengan cepat.

Dia tahu bahwa wanita itu perlu mendapatkan perawatan secepatnya.

Setelah tiba di sebuah dusun di tepi sungai, dia mendayung perahu ke tepian.

Dia lalu memondong tubuh wanita itu dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang ujung perahu, kemudian dia membuat gerakan melompat.

Bukan main hebatnya gerakan Suma Tiang Bun!

Dengan beban tubuh wanita dan perahu itu, dia dapat meloncat dengan ringan.

Setelah meletakkan perahunya di darat, dia lari memasuki dusun sambil memondong tubuh wanita itu.

Mudah diduga siapa adanya wanita muda itu.

Ia adalah Tan Bi Lian atau Nyonya Pouw Keng In yang pundaknya terluka oleh anak panah kemudian pingsan dan tubuhnya hanyut terbawa arus air.

Menurut penalaran manusia, ia tentu mati.

Akan tetapi penalaran manusia tidak mungkin dapat menembus mujijat Tuhan.

Kalau belum menghendaki seseorang mati, betapapun hebatnya maut mengancam, ia akan selamat juga.

Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, tidak ada kekuasaan apa pun yang dapat mengubahnya.

Ternyata Bi Lian tidak lama pingsan.

Ia siuman dengan cepat dan nyonya muda yang pandai berenang itu segera menggerakkan kaki tangannya agar jangan tenggelam.

Ia membiarkan dirinya dihanyutkan air dan melihat anak panah yang masih menancap di pundak kirinya dan terasa nyeri sekali apabila anak panah itu digerakkan air, ia lalu nekat mencabutnya dengan tangan kanan.

Ia menjerit gagang anak panah patah dan kepala anak panah masih tertinggal dalam daging pundaknya!

Beberapa kali dicobanya untuk berenang ke pinggir, namun tidak pernah berhasil, bahkan membuat ia semakin lemah dalam pergulatannya dengan arus air yang kuat.

Akhirnya ia menyerahkan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa dan menyimpan tenaga, membiarkan dirinya hanyut dan ia hanya menjaga agar jangan sampai tenggelam.

Ia kuat bertahan sampai senja.

Kalau saja rasa dingin tidak menggerogoti tulang-tulangnya dan membuat kulitnya kaku dan urat-uratnya seakan membeku, kiranya ia dapat bertahan lebih lama lagi.

Ia pergunakan tenaga terakhir untuk berenang ke tepi, karena maklum bahwa ia sudah tidak kuat bertahan lebih lama lagi.

Namun tenaganya habis dan ia pingsan untuk kedua kalinya.

Kita terbiasa menganggap hal yang terjadi secara aneh sebagai hal yang kebetulan saja.

Padahal, yang kebetulan itu adalah yang sesuai dengan rencana Tuhan!

Kebetulan sekali tidak terlalu lama setelah Bi Lian pingsan, tubuhnya bertumbuk dengan perahu yang ditunggangi Suma Tiang Bun sehingga ia tertolong dan kini dibawa lari ke dalam dusun.

Dusun itu sebuah dusun terpencil dan untuk sementara waktu Suma Tiang Bun tinggal di dusun itu, dalam sebuah pondok sederhana.

Begitu memasuki dusun, dia berseru memanggil beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya karena dia merasa kurang enak kalau harus merawat seorang wanita muda seorang diri dalam pondoknya.

Apalagi wanita yang sedang dipanggulnya ini sedang mengandung.

Melihat Suma Tiang Bun datang memanggul tubuh seorang wanita yang basah kuyup, tiga orang wanita tetangganya datang berlari-lari.

Para tetangga laki-laki hanya berdiri di depan pintu rumah dan ramai membicarakan kejadian itu.

Dusun kecil itu hanya dihuni belasan keluarga petani merangkap nelayan.

Suma Tiang Bun merebahkan tubuh Bi Lian di atas tempat tidur kayu sederhana.

Seorang wanita tetangga menyalakan lampu.

Terdengar mereka bertiga berseru heran dan kagum melihat kecantikan wajah dan keindahan pakaian Bi Lian.

Suma Tiang Bun minta kepada para wanita tetangga itu untuk memberi pinjam seperangkat pakaian kering dan mengganti pakaian Bi Lian yang basah kuyup.

Sementara permintaannya itu dilakukan, dia keluar dari kamar.

Melihat para tetangga sudah memenuhi ruangan depan pondoknya, dia menghampiri mereka dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Ramai penduduk dusun itu saling menyatakan dugaan mereka siapa adanya wanita muda cantik yang ditolong Suma Tiang Bun itu.

Seorang wanita tetangga keluar dari kamar memberitahu Suma Tiang Bun bahwa wanita muda itu sudah diganti pakaiannya dengan pakaian kering.

Suma Tiang Bun memasuki kamar dan wanita itu bercerita kepada para tetangga yang berkumpul di ruangan depan.

"Wah, Suma Lojin (Orang Tua Suma) telah menolong seorang puteri! Ia pasti puteri bangsawan agung dari kota. Wajahnya cantik seperti dewi dan pakaiannya terbuat dari sutera yang indah dan mahal!"

Suma Tiang Bun kini memeriksa dengan teliti dan dia menghela napas panjang sambil menggeleng kepalanya.

Baru sekarang dia melihat adanya sebuah kepala anak panah yang masih mengeram dalam pundak kiri nyonya muda itu.

Luka di pundak itu kini menghitam, menandakan bahwa anak panah itu mengandung racun!

"Jahanam rendah manakah yang begitu keji dan berhati iblis memanah seorang wanita yang mengandung tua!"

Hatinya berbisik penasaran.

Dia lalu minta kepada para wanita tetangga untuk menyiapkan air panas dan kain bersih, juga merebus rempah-rempah yang memang selalu dia sediakan.

Setelah semua itu dikerjakan dengan cepat dan sudah disiapkan, Suma Tiang Bun lalu menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas ketika dicabut dari sarungnya.

Kemudian dengan cekatan namun disambut dengan jerit tertahan karena ngeri melihatnya.

Suma Tiang Bun mencokel kepala anak panah itu dari pundak Bi Lian dengan ujung pedangnya.

Dia lalu menempelkan koyo (obat tempel) pada luka itu setelah luka dicucinya dengan air panas.

Akhirnya Bi Lian bergerak perlahan, pelupuk matanya dan bibirnya gemetar, kemudian kaki tangannya bergerak seperti orang berenang!

Suma Tiang Bun memegang pergelangan kedua tangan wanita itu dan memberinya minum air rebusan obat berwarna kecoklatan.

"Koko...... kau tunggulah aku......!"

Bi Lian mengigau dan Tiang Bun merasa betapa wanita itu makin lama terasa semakin panas.

"Hemm, ia terserang demam,"

Bisik Suma Tiang Bun dan alisnya berkerut karena dia merasa cemas.

"Keadaannya lemah dan buruk sekali......."

"Koko...... Hong-moi...... mari kita lawan anjing Mongol itu...... kita lawan sampai mati, nama keluarga Pouw harus dipertahankan......!"

Bi Lian mengigau.

Mendengar ini, berubah wajah Suma Tiang Bun dan dia memberi isyarat kepada para wanita tetangga itu untuk meninggalkan kamar.

Semua orang tidak ada yang membantah dan sambil ramai membicarakan wanita cantik itu mereka keluar dari kamar.

Mereka semua, seluruh penghuni dusun itu, menghormati Suma Tiang Bun yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan budiman, selalu siap menolong mereka.

Dengan tekun, penuh kesabaran Suma Tiang Bun menggunakan seluruh kepandaiannya tentang pengobatan untuk merawat dan menjaga Bi Lian semalam suntuk.

Dia duduk bersila dan mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), disalurkan ke dalam tubuh Bi Lian untuk membantu wanita itu memperkuat daya tahan tubuh dan mengusir hawa beracun yang ditinggalkan anak panah.

Luka itulah yang menimbulkan demam.

Akhirnya dia berhasil.

Menjelang pagi demam itu turun dan Bi Lan dapat tidur nyenyak.

Suma Tiang Bun turun dari pembaringan, membuka daun pintu dan keluar dari pondok memasuki kabut pagi yang dingin.

Dia berjalan-jalan di depan rumahnya, kadang-kadang memandang ke arah Sungai Huai, menghela napas panjang berulang-ulang dan melamun.

Ketika dia mendengar igauan nyonya muda tadi, dia menduga-duga siapa adanya wanita yang ditolongnya itu.

Jelas bahwa wanita itu adalah mantu dari keluarga Pouw, akan tetapi keluarga Pouw yang manakah?

Sebagai seorang pendekar pejuang, tentu saja dia mengenal riwayat keluarga Pouw yang tinggal di So-couw.

Apakah wanita itu mantu keluarga Pouw yang tinggal di So-couw itu?

Hatinya merasa bimbang.

Kalau saja dia tidak melihat bahwa keadaan nyonya muda itu gawat sekali, ingin rasanya dia lari ke So-couw untuk menyelidiki hal ini.

Tiba-tiba dia mendengar jeritan lirih dari dalam pondoknya.

Dengan cepat Suma Tiang Bun melompat dan memasuki kamarnya.

Dia melihat nyonya muda itu menggeliat-geliat dan meraba-raba perutnya, mengaduh-aduh dan merintih lemah.

Melihat Suma Tiang Bun memasuki kamar, Bi Lian berkata lirih memohon.

"...... aduh...... tolonglah...... panggilkan seorang bidan...... aku...... aku tidak kuat lagi...... akan melahirkan......"

Mendengar ini, Suma Tiang Bun untuk beberapa detik tertegun tak tahu harus berkata dan berbuat apa.

Baru sekali ini seumur hidupnya dia merasa bingung dan ngeri.

Dia pernah menghadapi keroyokan puluhan orang penjahat, pernah menghadapi perang dahsyat, melihat manusia bergelimpangan menjadi mayat, melihat banjir darah dalam pertempuran dan semua itu tidak membuat hatinya bingung dan ngeri.

Akan tetapi sekarang, melihat nyonya muda itu merintih dan menggeliat hendak melahirkan manusia baru, dia merasa bingung dan takut!

Suma Tiang Bun yang selama hidupnya tidak pernah menikah dan tidak pernah menjadi ayah itu, segera melompat dan berlari keluar seperti dikejar setan, lalu mengedor pintu rumah Thio-ma (Ibu Thio), seorang janda yang tinggal di ujung dusun kecil itu.

Seperti biasanya penduduk dusun itu, pagi-pagi sekali Thio-ma sudah bangun dan sedang menjarang air.

Mendengar pintunya digedor, ia terkejut dan berlari keluar.

"Eh, Suma Lojin, ada apakah.......?"

Akan tetapi pendekar itu tidak menjawab.

Dengan cepat dia menangkap tangan Thio-ma dan di lain saat wanita itu menjerit ketakutan ketika merasa tubuhnya melayang seperti burung terbang!

Para tetangga berlari keluar dan mereka bengong melihat tubuh Thio-ma berlari cepat sekali, dipegang lengannya oleh Suma Tiang Bun yang berlari seperti terbang menuju ke rumahnya.

Otomatis para tetangga ikut berlari mengejar, hendak melihat apa yang terjadi.

Setelah tiba di depan rumahnya, Suma Tiang Bun berhenti dan mendorong Thio-ma memasuki rumahnya.

"Cepat......, ia mau melahirkan, cepat tolong......"

Kata pendekar itu.

Thio-ma mengerti dan ia pun cepat memasuki kamar di mana masih terdengar suara Bi Lian merintih dengan lemah.

Ketika para tetangga datang dan mendengar bahwa nyonya muda dalam rumah Suma Tiang Bun itu hendak melahirkan, beberapa orang wanita segera memasuki rumah dan menyiapkan segala keperluan orang melahirkan dan membantu Thio-ma.

Thio-ma adalah seorang wanita berusia limapuluh tahun lebih.

Ia seorang janda yang sudah banyak pengalamannya dalam hal menolong kelahiran.

Ia sendiri mempunyai tiga belas orang anak yang sudah berumah tangga dan meninggalkan dusun itu.

Akan tetapi Thio-ma tetap tinggal di situ, hidup seorang diri dengan tenang.

Para penduduk pedusunan di sekitar situ selalu mengandalkan bantuan Thio-ma kalau ada ibu yang hendak melahirkan.

Akan tetapi sekali ini, Thio-ma sampai mandi keringat ketika menolong nyonya muda yang hendak melahirkan dalam kamar Suma Tiang Bun itu.

Ia mengalami kesulitan karena selain tubuh wanita muda itu amat lemah, juga kandungan itu baru delapan bulan dan bayi dalam kandungan itu tidak betul letaknya!

Suma Tiang Bun duduk di luar pintu kamar itu, diam tak bergerak seperti patung dan mukanya pucat sekali.

Selama hidupnya dia tidak menikah dan belum pernah dia mendekati orang melahirkan.

Bagi yang belum mengenal pendekar ini dengan baik, kegelisahan itu tidak sangat mengherankan.

Akan tetapi bagi mereka yang tahu siapa adanya Suma Tiang Bun, sastrawan pendekar yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi itu, yang tidak gentar menghadapi ancaman maut sekalipun, keadaannya itu tentu saja sangat aneh.

Orang akan merasa heran melihat pendekar itu kini duduk dengan muka pucat penuh kegelisahan seperti seorang calon ayah yang untuk pertama kalinya menunggu isterinya melahirkan anak pertama!

Apalagi pendekar ini memiliki pendengaran yang amat tajam, jauh lebih peka daripada pendengaran manusia biasa.

Semua suara dalam kamar itu terdengar jelas olehnya.

Keluhan dan rintihan nyonya muda itu memasuki telinganya, langsung menusuk-nusuk jantungnya sehingga kadang-kadang dia mempergunakan jari tangannya untuk menutupi telinga.

Setelah melewati waktu yang seolah tidak ada akhirnya itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Suma Tiang Bun melompat saking kagetnya.

"Bagaimana?"

Tanyanya cepat. Wanita janda itu menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut.

"Thio-ma, bagaimana?"

Suma Tiang Bun mengulang.

"Payah sekali, Suma Lojin. Kandungannya terbalik dan tubuhnya lemah sekali. Kalau dipaksa keluar, ibunya tidak akan kuat bertahan, sebaliknya kalau tidak dipaksa keluar, anaknya yang tidak akan tertolong. Bagaimana baiknya?"

Thio-ma menghadapi keadaan yang amat sulit.

Kalau anaknya tertolong, ibunya akan tewas, sebaliknya kalau ibunya ditolong, anaknya yang akan mati!

Suma Tiang Bun tidak perlu berpikir panjang, segera dia menjawab.

"Tolong anaknya! Kewajibanmu adalah menolong kelahiran. Engkau bukan ahli pengobatan dan keadaan ibunya memang sudah parah. Selamatkan anaknya!"

Kembali Thio-ma didorong masuk kamar oleh Suma Tiang Bun yang kemudian duduk sambil bersedakap.

Dia tampak letih dan prihatin sekali.

Para tetangga berkumpul dalam rumah Suma Tiang Bun.

Mereka hanya saling pandang, tidak berani bicara.

Keadaan amat menegangkan dan semua orang mencurahkan perhatian mendengarkan setiap suara yang keluar dari dalam kamar.

Semenit terasa sehari, sejam terasa sebulan bagi mereka yang berada di luar kamar.

Suma Tiang Bun sudah merasa tidak enak diam.

Dia berdiri lalu berjalan hilir mudik seperti seekor harimau dalam kerangkeng.

Setiap gerakannya diikuti oleh pandang mata para tetangga yang berkumpul di situ.

Tiba-tiba terdengar jerit tangis nyaring sekali.

Tangis seorang bayi, suara pertama yang murni dari seorang manusia begitu dia turun ke dunia ini.

Mengapa menangis dan tidak tertawa?

Apakah itu pertanda bahwa hidup sebagai manusia di dunia akan lebih banyak diisi tangis daripada tawa?

Hanya Tuhan yang mengetahui!

Suma Tiang Bun melompat ke pintu, akan tetapi undur kembali dan menjatuhkan diri di atas bangku, lemas seluruh tubuhnya, akan tetapi mulutnya tersenyum, wajahnya berseri.

Tangis biasanya menyeret orang lain untuk merasa terharu dan ikut menangis.

Akan tetapi tangis seorang bayi mendatangkan perasaan gembira bagi mereka yang mendengarnya.

Akan tetapi tangis bayi yang menggembirakan itu segera disusul tangis para wanita yang membantu kelahiran dalam kamar itu.

Alangkah jauh bedanya antara kedua tangis ini.

Isak tangis para wanita itu mendatangkan haru dan pilu, mendatangkan awan hitam menutup sinar matahari.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka.

Thio-ma keluar sambil memondong seorang bayi yang sudah dibungkus selimut.

Bayi merah itu membuka mulut lebar dalam tangisnya.

Thio-ma memberikan bayi itu kepada Suma Tiang Bun tampak wanita itu menangis.

Air mata bercucuran di kedua pipinya.

"Ia begitu muda...... begitu cantik...... ahh, sayang......."

Thio-ma terisak-isak lalu kembali ke dalam kamar.

Suma Tiang Bun memondong bayi itu dengan kedua tangan gemetar.

Dia melangkah masuk kamar dan sekilas pandang saja dia tahu bahwa nyonya muda yang baru saja melahirkan itu sudah tidak bernyawa lagi, menggeletak telentang di atas pembaringannya dengan muka putih pucat, kedua mata terpejam akan tetapi bibir yang manis dan indah bentuknya itu tersenyum.

Melihat senyum itu, Suma Tiang Bun menutup kedua matanya sejenak dan terbayanglah dia betapa nyonya muda itu bertemu dan berpelukan dengan suaminya di alam lain.

Tiba-tiba Suma Tiang Bun tertawa bergelak.

Suara tawanya bukan suara tawa biasa, melainkan suara tawa yang keluar dari dasar hatinya, yang disuarakan dengan pengerahan sin-kang sehingga semua orang yang berada di situ terkejut bukan main.

Pondok itu seolah-olah tergetar dan suara tawa itu terdengar sampai jauh, terdengar bergelombang dan mengerikan!

"Ha-ha-ha-ha!

Mati diantar tangis, lahir disambut tawa!

Ha-ha-ha, manusia memang buta.

Thio-ma, apakah hal ini tidak terbalik?

Bukankah seharusnya mati diantar tawa dan lahir disambut tangis?

Lihat, bayi menangis ketika dilahirkan, pertanda dia memasuki alam yang penuh pertentangan!

Yang mati itu tampak tersenyum dan tenang, pertanda ia memasuki alam yang penuh kedamaian!"

Entah mengapa, mungkin karena terkejut mendengar tawa yang dahsyat menggetarkan tadi, bayi yang tadinya menangis keras itu tiba-tiba saja berhenti menangis.

Suma Tiang Bun menundukkan mukanya sehingga jenggotnya yang putih menutupi dada bayi itu.

Dia tertawa lagi, kini tawanya biasa, dan dia berkata.

"Ha-ha-ha, anak yang baik! Orang lain terlahir disambut tawa gembira, akan tetapi engkau terlahir di tengah-tengah tangis. Begitu terlahir engkau sudah mengalami kepahitan hidup pertama, dengan meninggalnya ibumu! Biarlah, manis, terimalah saja. Siapa tahu kelak engkau akan menjadi seorang manusia yang berguna bagi Thian, bagi manusia dan dunia!"

Dengan wajah tampak gembira sekali, Suma Tiang Bun berjalan-jalan dalam ruangan itu sambil mengayun-ayun bayi dalam pondongannya.

"Thio-ma dan saudara-saudara sekalian, dengarlah. Bocah ini kuberi nama Cun Giok, Suma Cun Giok! Ya, dia memakai she (marga) Suma, seperti aku, dan dia menjadi anakku. Thio-ma menjadi ibu angkatnya, dan kalian menjadi saksinya!"

"Kasihan ibunya......"

Kembali Thio-ma berkata lirih.

"Suma Lojin, apakah engkau tidak merasa kasihan kepada ibunya? Mengapa engkau begitu tega minta kepadaku untuk menyelamatkan anaknya sehingga ibunya tewas?"

Suma Tiang Bun memberikan bayi itu kepada Thio-ma.

"Rawatlah dia baik-baik. Semua biaya aku yang menanggungnya. Engkau bertanya tentang ibunya? Thio-ma dan semua saudara, ketahuilah. Aku kasihan sekali kepada nyonya muda itu. Aku yang menolongnya dari Sungai Huai. Akan tetapi, sebagai seorang ahli pengobatan aku tahu bahwa nyawanya tidak akan dapat ditolong lagi, karena selain keracunan, ia kehilangan banyak darah dan batinnya terguncang hebat. Tahukah kalian apa artinya ini? Andaikata ia tertolong dalam kelahirannya ini dan anaknya yang tewas, hal itu tidak akan ada gunanya karena ia pun akan meninggal karena keadaannya itu. Maka ketika dihadapkan dua pilihan, aku minta agar anak ini yang diselamatkan. Dengan menolong anak ini berarti kita menolong kelanjutan keluarganya. Kalau anak ini tidak ditolong, berarti keduanya akan binasa! Tidak, lebih baik salah satu tewas dan berkorban untuk yang lain!"

Kini mengertilah semua orang dan mereka membenarkan tindakan yang diambil Suma Tiang Bun.

Memang, kalau sudah mengetahui bahwa nyonya muda itu terluka parah dan tidak dapat disembuhkan lagi, lebih baik menyelamatkan anaknya.

Tak seorang pun di antara mereka tahu bahwa pada saat itu, pada saat di dalam kamar Suma Tiang Bu banjir air mata, air mata gembira menyambut Suma Cun Giok dan air mata duka mengantar keberangkatan Tan Bi Lian ke alam baka, terdapat seorang gadis yang juga menangis dengan sedihnya.

Nun jauh di kota raja, dalam sebuah kamar yang indah sekali, kamar yang terletak di gedung dalam lingkungan istana, gadis itu menangis sedih dan pilu.

Gadis cantik jelita itu bukan lain adalah Pouw Sui Hong, adik mendiang Pouw Keng In, bibi dari bayi yang lahir di rumah Suma Tiang Bun itu.

Tangis sedih seorang gadis yang putus asa, seperti juga tangis yang ratusan kali terdengar di kamar-kamar seperti itu, tangis para gadis seperti Pouw Sui Hong, gadis-gadis cantik jelita yang terjatuh ke dalam tangan para pangeran dan bangsawan lain di dalam atau di luar istana kaisar!

"Pengantin......!

Pengantin......!"

Anak-anak bersorak dan tertawa-tawa mengikuti ronnbongan pengantin diarak.

Suara tambur, canang dan suling mengiringi rombongan arak-arakan ini.

Sudah menjadi kebiasaan para penduduk kota Lan-hui, apabila ada pernikahan, selain dirayakan di rumah, juga diadakan perayaan di kelenteng Kwan Im Bio yang letaknya di tengah kota.

Kini pengantin wanita yang duduk dalam tandu dan dipikul empat orang berpakaian seragam, juga dibawa ke kelenteng itu, di mana pengantin pria telah menanti untuk menyambutnya.

Dalam kelenteng itu akan diadakan upacara sembahyang oleh sepasang pengantin mohon berkat dari Kwan Im Pouwsat sebelum pengantin wanita diboyong ke rumah suaminya.

Para pengiring pengantin kelihatan gembira, tertawa-tawa dan mengucapkan kata-kata yang sifatnya menggoda ke arah joli (tandu) pengantin.

"A Liuk, kau lihat, pengantinnya sekarang tidak mengeluarkan suara. Kau pikir ia sedang apa?"

Bertanya seorang pengiring kepada kawannya, sengaja bicara di dekat tandu agar terdengar oleh pengantin wanita yang duduk di dalamnya.

Orang yang bernama A Liuk itu tertawa keras dengan sengaja, karena kalau percakapan itu tidak dilakukan keras-keras, tentu tidak akan terdengar oleh pengantin wanita, tertutup oleh bunyi canang dan tambur.

"Ha-ha-ha, A Sam, masa engkau tidak mendengarnya? Aku mendengar ia tertawa-tawa gembira dan kulihat ia tersenyum-senyum!"

"Bohong kau!"

Kata A Sam sambil menyeringai.

"Pengantin secantik dewi mana suaranya dapat terdengar? Dan tirai tandu demikian rapatnya, mana kau bisa melihatnya?"

Keduanya tertawa-tawa dan yang lain-lain juga ikut tertawa.

"A Liuk, A Sam, kalian jangan terlalu menggoda pengantin! Apa kalian ingin ia menangis lagi seperti tadi?"

Memang teguran yang diucapkan orang ketiga ini tidak bohong.

Sejak meninggalkan rumahnya di kota Ci-bun beberapa mil jauhnya dari kota Lan-hui dan sejak memasuki tandu, pengantin wanita itu terus-menerus menangis.

Akan tetapi setelah tiba di pintu gerbang kota Lan-hui, tangisnya terhenti dan tidak terdengar lagi pengantin mengeluarkan suara.

"Ha-ha, kau bodoh!"

A Liuk mencela orang yang menegur tadi.

"Tidak tahukah kau bahwa sudah sepatutnya bagi seorang pengantin yang muda dan cantik untuk menangis kalau diangkut dengan tandu? Agaknya kelak calon isterimu, kalau diangkut tandu dan menjadi pengantin, akan tertawa terbahak-bahak di sepanjang jalan!"

Kembali semua orang tertawa riuh mendengar kelakar ini, dan iring-iringan itu menjadi semakin gembira dengan adanya anak-anak dan penduduk Lan-hui yang menonton dan ikut mengiring di belakang rombongan menuju.

kelenteng Kwan Im Bio.

Setelah tiba dekat kelenteng, musik dibunyikan semakin gencar dan makin riuh pula teriakan dan sorakan para penonton.

Sambil menanti dimulainya upacara dan persiapan penyambutan, tandu diturunkan dari pundak empat orang pemikulnya dan diletakkan di atas tanah.

Menurut kebiasaan, pengantin wanita tidak boleh keluar dulu, tidak boleh terlihat mata orang lain sebelum bertemu dengan calon suaminya dan biasanya setelah persiapan selesai, tandu akan digotong terus ke dalam kelenteng di mana sudah dipersiapkan meja sembahyang bagi sepasang pengantin untuk melakukan sembahyang bersama.

Akan tetapi ketika rombongan pengantin pria keluar dari kelenteng menyambut, dan pengantin pria tampak gagah dan tampan dengan pakaiannya yang gemerlapan, pengantin pria ini tampaknya tidak sabar lagi untuk segera dapat memandang wajah calon isterinya yang cantik.

Sambil tersenyum-senyum dia melangkah ke depan, lalu tangan kanannya meraih dan menyingkap tirai hijau yang menutup joli.

"Hayaaaa......!"

Tiba-tiba dia menjerit dan melepaskan lagi tirai itu.

Matanya terbelalak lebar, mukanya berubah pucat sekali dan jelas tampak dia menggigil.

Semua orang terkejut, baik para pengiring pengantin wanita maupun para penyambut dan pengiring pengantin pria.

"Mengapa......?"

"Ada apakah......?"

Orang-orang bertanya heran. Pengantin pria menunjukkan telunjuknya ke arah tandu, bibirnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara, akhirnya dapat juga dia berkata gagap.

"I...... itu.. ia...... darah...... telah mati.......!"

Orang-orang terkejut.

Seorang yang agak tabah cepat menyingkap tirai hijau penutup tandu dan menggantungkan tirai itu di ujung tandu sehingga tidak turun lagi.

Kini semua mata memandang ke dalam tandu, ingin melihat apa gerangan yang membuat pengantin pria terkejut seperti itu.

Dan mereka sendiri terkejut bukan main melihat pengantin wanita yang duduk dalam tandu sudah terkulai lemas.

Sebuah pisau belati menancap di dadanya!

Darah membasahi pakaian dan bagian dalam tandu melihat keadaan tubuh gadis itu, mudah diduga bahwa ia sudah mati.

Suasana menjadi gempar.

Orang-orang bicara simpang siur dengan bermacam-macam komentar dan pendapat.

Jenazah pengantin wanita itu segera diangkat ke dalam kelenteng.

Pengantin pria tampak marah sekali.

"Ini penghinaan namanya!"

Ia berteriak sambil membanting-bantingkan kaki, lalu dia berteriak memanggil kepala pengawalnya.

"Theng-kauwsu, cepat bawa teman-teman pergi ke rumah keluarga Siok, beritahukan bahwa Ji-siocia (Nona Kedua) telah membunuh diri dalam tandu dan agar Sam-siocia (Nona Ketiga) menggantikan cicinya menjadi pengantin. Hanya dengan penggantian itu kita akan terhindar dari penghinaan dan upacara pernikahan dapat dilangsungkan. Bawa tandu baru, boyong Sam-siocia ke sini, sekarang juga!"

Setelah memberi perintah dan marah-marah, pengantin pria ini kembali masuk ke ruangan dalam kelenteng itu.

Yang dipanggil Theng-kauwsu (Guru Silat Theng) adalah seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh tahun, berperawakan tinggi besar dan tegap.

Begitu mendengar perintah dari pengantin pria, dia segera memimpin anak buahnya untuk membersihkan tandu dari noda darah.

Setelah joli itu bersih, rombongan yang tadi mengantar pengantin wanita segera melakukan perjalanan cepat, kembali ke kota Ci-bun.

Kini rombongan dikawal oleh Theng-kauwsu dan limabelas orang anak buahnya yang semua berpakaian seperti jago-jago silat.

Para penonton menjadi gempar.

Mereka membicarakan peristiwa aneh itu, akan tetapi tentu saja tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani mencela sikap pengantin pria secara berterang.

Pengantin pria itu adalah Bhong-kongcu (Tuan Muda Bhong) putera seorang hartawan besar di Lan-hui yang amat berpengaruh karena bukan saja dengan harta bendanya dia berhubungan erat dengan para pembesar, juga terutama sekali karena seorang pamannya menjabat kedudukan tinggi di kota raja!

"Kasihan sekali keluarga Siok, akan habislah bunga setaman, dipetik semua oleh tangan raja muda kota Lan-hui,"

Kata seorang penonton dengan berbisik kepada kawannya.

Di antara para penonton terdapat seorang kakek tua yang tadi datang bersama seorang pemuda.

Baik kakek maupun pemuda itu agaknya merupakan orang-orang yang biasa disebut dengan poyokan "kutu buku", yaitu orang-orang yang tekun menyenangi dan mempelajari kesusastraan di waktu itu.

Hal ini tidak saja tampak dari cara mereka berpakaian, akan tetapi juga dari sikap dan gerak-gerik mereka yang halus.

Seperti juga orang-orang lain yang berada di depan kelenteng, kakek dan pemuda itu tadi juga melihat pengantin wanita yang telah menjadi mayat di dalam tandu dari mereka saling pandang dengan sinar mata heran dan penasaran.

Kemudian, setelah mendengarkan ucapan-ucapan para penonton, lalu mendengar pula ucapan pengantin pria dan melihat sikapnya yang angkuh dan keras, diam-diam kakek itu menyentuh lengan pemuda itu, lalu keduanya meninggalkan tempat itu.

Kota Ci-bun hanya sembilan mil jauhnya dari kota Lan-hui, akan tetapi betapapun cepatnya orang berjalan, sedikitnya satu jam baru dapat sampai di kota itu.

Akan tetapi, suatu keanehan terjadi.

Lama sebelum rombongan Theng-kauwsu tiba di Ci-bun, kakek dan pemuda tadi telah lama berada di rumah keluarga Siok dan bercakap-cakap dengan Siok Kan, ayah pengantin wanita yang mati dalam tandu tadi!

Keluarga Siok terdiri dari Siok Kan yang berusia sekitar empatpuluh tahun lebih.

Dia sudah kehilangan isterinya yang meninggal dunia dua tahun lalu dan dia hidup bertiga dengan dua orang anak perempuannya, yaitu Siok Li yang telah membunuh diri dalam tandu dan Siok Eng.

Mereka ini merupakan anak kedua dan ketiga maka disebut Ji-siocia dan Sam-siocia.

Adapun puteri sulungnya telah menikah dengan seorang yang tinggal di sebuah kota di Propinsi San-thung.

Kedatangan kakek dan pemuda itu disambut oleh Siok Kan dan puteri bungsunya, Siok Eng.

Gadis berusia limabelas tahun itu menangis tersedu-sedu ketika mendengar bahwa encinya telah membunuh diri dalam tandu.

Siok Eng adalah seorang gadis remaja yang cantik manis, dan melihat gadis ini menangis tersedu-sedu, pemuda yang datang bersama kakek itu merasa terharu.

Siok Kan menjadi pucat sekali wajahnya mendengar akan kematian puterinya yang kedua, dan tidak tahulah dia apa yang harus dia lakukan ketika mendengar betapa Bhong-kongcu marah-marah dan hendak memaksa Siok Eng menjadi pengganti encinya yang membunuh diri.

"Harap jangan takut dan bingung, Siok-sianseng (Tuan Siok),"

Kata kakek itu dengan sikap tenang.

"Kami sengaja datang ke sini bukan hanya untuk menyampaikan berita duka ini, akan tetapi kami juga ingin menolong keluargamu. Sekarang masih banyak waktu karena mereka yang hendak menjemput puterimu masih jauh. Harap engkau suka menceritakan kepada kami mengapa engkau menyerahkan puterimu kepada Bhong-kongcu sehingga puterimu itu membunuh diri."

Siok Kan tidak dapat menahan kesedihannya dan bercucuranlah air matanya. Setelah dapat menenangkan diri dan menghentikan tangisnya, dia berkata.

"Apa yang dapat kami lakukan? Kami keluarga miskin, dan satu-satunya yang dapat kami andalkan, hanyalah anak sulung dan mantu kami yang berada jauh di Shan-tung. Apalagi ketika isteriku sakit, sebelum meninggal dua tahun yang lalu, ia membutuhkan perawatan selama beberapa tahun sehingga terpaksa aku tenggelam dalam lautan hutang. Sawah habis terjual, rumah pun digadaikan dan akhirnya kami terjatuh ke dalam cengkeraman Bhong-kongcu. Aku pasti akan dituntut dan masuk penjara kalau aku tidak mau menyerahkan Siok Li sebagai selirnya, karena hutangku amat banyak dan semua surat hutang itu sudah jatuh ke dalam tangannya. Kalau sampai aku dihukum, bagiku sendiri tidak apa-apa, akan tetapi bagaimana dengan anak-anakku yang tidak berdaya? Mereka tentu akan diganggu orang kalau tidak ada aku di samping mereka."

Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan pemuda yang pendiam dan tampan itu sebentar-sebentar melirik ke arah Siok Eng yang menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Karena itulah maka aku tidak berdaya menolak ketika Bhong-kongcu melamar Siok Li. Di depanku Siok Li menyatakan rela berkorban demi keselamatan keluarganya. Tidak tahunya anak itu...... anak itu mengambil jalan nekat...... dan sekarang...... sekarang Bhong-kongcu hendak merampas Siok Eng pula......"

Siok Kan menangis, kemudian tiba-tiba dia bangkit berdiri, mengepalkan tinjunya dan berseru.

"Tidak bisa! Tidak boleh dia bertindak sewenang-wenang. Aku akan mempertahankan puteri bungsuku dan akan melawan sampai mati!"

Kemudian dia menubruk dan merangkul puterinya yang tinggal seorang lagi itu. Ayah dan anak bertangisan dalam keadaan yang memilukan.

"Siok-sianseng, harap tenang dan jangan putus asa. Ada kami di sini yang akan menolong. Percayalah, si jahat itu pasti akan menemui kegagalan dan kehancuran, dan puterimu yang telah membunuh diri pasti akan dapat terbalas sakit hatinya,"

Kata kakek itu dengan suara lembut. Siok Kan memandang kepada tamunya dengan mata merah dan basah, akan tetapi muncul harapan dalam pandang matanya.

"Bagaimana kami dapat menghadapi Bhong-kongcu yang amat besar pengaruh dan kekuasaannya itu? Kaki-tangannya banyak dan terkenal kejam, semua pembesar setempat adalah sahabat baiknya dan......"

"Serahkan saja kepada kami,"

Kakek itu memotong.

"Nanti kalau mereka datang, sambutlah baik-baik dan terima saja permintaan mereka. Akan tetapi minta agar tandu dibawa masuk ke dalam kamar, katakan bahwa Sam-siocia masih terlalu muda dan pemalu sehingga tidak mau terlihat orang lain. Setelah puterimu memasuki tandu, baru boleh digotong keluar dengan tirai tertutup rapat."

Kakek itu lalu bicara panjang lebar mengatur siasat yang didengarkan oleh Siok Kan dan puterinya dengan hati berdebar tegang.

Dalam hatinya Siok Kan masih merasa ragu, akan tetapi karena semua itu dilakukan untuk menyelamatkan puteri bungsunya, dia menyatakan setuju.

Siasat telah diatur dan mereka sudah siap menyambut datangnya rombongan utusan Bhong-kongcu.

Rombongan itu tiba dibawah pimpinan Theng-kauwsu yang galak dan bersikap garang.

Kedatangannya disambut oleh Siok Kan yang sudah mengatur sikap dan pura-pura tidak tahu apa maksud kedatangan rombongan itu.

"Siok-sianseng, Bhong-kongcu mengutus kami untuk memboyong Sam-siocia ke Lan-hui Hendaknya Sianseng ketahui bahwa Ji-siocia telah melakukan perbuatan yang menghina Bhong-kongcu dan mengacaukan upacara pernikahan. Ji-siocia telah membunuh diri di tengah perjalanan di dalam jolinya."

Siok Kan mengeluarkan seruan kaget dan wajahnya menjadi pucat.

Ini bukan hanya aksi berpura-pura belaka, karena memang sewajarnya.

Mendengar ucapan tukang pukul she Theng itu, Siok Kan teringat kembali kepada Siok Li yang membunuh diri dan kedukaannya timbul kembali, membuat wajahnya tampak pucat dan sedih sekali.

"Anakku membunuh diri karena dipaksa menikah, bagaimana Bhong-kongcu bisa marah kepadaku? Apa orang mengira aku tidak sedih kehilangan seorang anak?"

Betapapun juga Theng-kauwsu dapat menerima dan mengerti perasaan ayah yang kematian anaknya ini, maka sikapnya yang keras menjadi agak lunak.

Bagaimanapun juga dia harus membela kepentingan Bhong-kongcu.

"Bhong-kongcu tidak marah kepadamu, Siok-sianseng. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa akan malunya Bhong-kongcu kalau pernikahannya dibatalkan. Semua tamu undangan sudah datang, tamu pembesar-pembesar berbagai kota. Oleh karena itu, untuk menolong dan menjaga nama baik Bhong-kongcu, dan untuk menjaga agar hubungan baik antara keluarga Siok dan keluarga Bhong tidak terganggu, Bhong-kongcu mengutus kami datang ke sini untuk memboyong Sam-siocia ke Lan-hui. Ia harus menggantikan kedudukan Ji-siocia dan melangsungkan pernikahan dengan Bhong-kongcu!"

Siok Kan mengangguk-angguk, kemudian berkata lirih.

"Kedatanganmu ini tentu sudah membawa pesan bahwa kalau kami menolak, engkau akan membawa puteri bungsuku itu dengan paksa, bukan?"

Wajah Theng-kauwsu memerah.

"Siok-sianseng, harap diingat bahwa aku hanyalah utusan yang menjalankan perintah majikanku. Dan harap diingat pula bahwa Bhong-kongcu pada saat ini sudah menunggu dengan tidak sabar lagi bersama para tamu yang memenuhi kelenteng Kwan Im Bio di Lan-hui, juga yang memenuhi ruangan gedung keluarga Bhong. Kuharap engkau tidak begitu bodoh untuk menolak yang hanya akan berakibat buruk bagi engkau dan puterimu."

Siok Kun mengangguk-angguk dan terbatuk-batuk, kemudian dia menghela napas panjang.

"Baiklah, baiklah, apa dayaku? Harap kalian suka menunggu sebentar. Biar aku memberitahu kepada puteri bungsuku supaya ia mempersiapkan diri untuk ikut ke Lan-hui dan membujuknya agar ia""

Agar ia menurut saja dan jangan....... mencontoh kenekatan encinya......"

Siok Kan meninggalkan tamu-tamunya memasuki ruangan belakang. Tidak lama kemudian dia keluar lagi dan berkata kepada Theng-kauwsu.

"Anakku yang bungsu terlalu sedih mendengar akan kematian encinya dan ia terus-terusan menangis. Baiknya aku dapat membujuknya dan ia bersedia menggantikan tempat encinya. Akan tetapi ia tidak mau diajak keluar dan minta supaya jolinya dibawa masuk ke dalam kamarnya. Setelah ia nanti siap dan masuk ke dalam joli yang tirainya tertutup rapat, barulah joli digotong keluar dan berangkat ke Lan-hui. Harap Kauwsu memenuhi permintaannya ini. Maklumlah, ia baru berusia limabelas tahun, belum dewasa benar dan ia sedang berduka. Ia malu kalau dilihat orang lain sebagai seorang pengantin."

Theng-kauwsu tidak menaruh curiga karena menganggap hal itu sudah sewajarnya, bahkan diam-diam dia merasa kasihan kepada keluarga Siok ini.

"Baiklah kalau begitu. Harap saja jangan terlalu lama berkemas."

Dia lalu menyuruh empat orang pemikul tandu membawa masuk tandu itu ke dalam rumah, langsung ke kamar calon pengantin wanita.

Empat orang pemikul tandu itu melihat Siok Eng masih menangis tersedu-sedu dalam kamarnya, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Diam-diam mereka kagum melihat kecantikan gadis remaja itu yang masih tampak walau kedua tangannya menutupi muka.

Mereka menurunkan joli dan meninggalkan kamar itu dan akan diberitahu setelah persiapan selesai dan pengantin sudah berada dalam joli.

Tidak lama kemudian, dengan wajah muram dan sedih Siok Kan keluar menemui para tamunya dan berkata.

"Anakku sudah siap di dalam joli. Theng-kauwsu, aku menyerahkan puteriku ke dalam tanganmu untuk kaubawa ke Lan-hui. Aku percaya bahwa engkau akan menjaganya baik-baik dan tidak memperkenankan siapapun juga membuka tirai joli. Biarlah tangan Bhong-kongcu sendiri yang akan membuka tirai joli."

Theng-kauwsu cepat menjura dan wajahnya gembira sekali.

"Tentu saja, Siok-sianseng, jangan khawatir."

Dia lalu menyuruh empat orang pemikul joli menggotong joli yang kini sudah terisi itu. Mereka masuk diantar oleh Siok Kan dan tak lama kemudian keluarlah mereka memikul joli pengantin.

"Theng-kauwsu, anakku tinggal yang seorang ini. Harap engkau menjaganya baik-baik. Aku rela anakku menjadi isteri Bhong-kongcu walaupun hanya selir, akan tetapi aku tidak rela kalau sampai anakku diganggu orang di tengah perjalanan."

Theng-kauwsu tertawa bergelak dan meraba gagang pedangnya, sikapnya sombong sekali.

"Ha-ha-ha, Siok-sianseng. Mengapa masih ragu? Andaikata ada orang yang begitu buta dan tuli sehingga berani mengganggu puterimu, kiranya dia tidak buta kalau berhadapan dengan aku dan mengenal siapa yang mengawal puterimu! Kepalan tanganku cukup besar dan pedangku cukup tajam. Kepalan tangan ini yang akan menghancurkan tangan yang berani menyentuh joli, dan pedangku akan memenggal leher orang yang berani mengganggu Sam-siocia, ha-ha-ha!"

"Syukurlah kalau begitu, Theng-kauwsu. Nah, selamat jalan, jagalah anakku baik-baik. Kelak kalau anakku mendapat tempat yang baik di gedung keluarga Bhong, kami tidak akan melupakan jasamu."

Bukan main girangnya Theng-kauwsu dan setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih, pengawal ini lalu mengiringkan joli pengantin yang digotong keluar.

Setelah rombongan pengantin pergi jauh, kira-kira sudah keluar dari pintu gerbang kota, Siok Kan lalu menemui pemuda tampan yang datang bersama kakek itu.

Sejak tadi pemuda itu memang berada di ruangan belakang.

"Bagaimana selanjutnya, Sicu (orang gagah)?"

Siok Kan bertanya.

"Sekarang marilah aku antarkan Paman Siok bersama Nona Siok keluar dari kota ini dan lari mengungsi ke Shan-tung mencari anak dan mantu Paman di sana,"

Jawab pemuda itu dengan sikap tenang.

"Akan tetapi, Sicu, bagaimana kalau mereka tahu? Bagaimana dengan nasib gurumu? Bagaimana pula kalau mereka mengejar dan menyusul kita? Bukankah itu berarti kita semua mencari mati?"

Pemuda itu tersenyum.

"Harap Paman jangan khawatir. Percayalah kepada Suhu. Adapun tentang keselamatan Paman dan Nona Siok Eng, akulah yang akan menjaga dan bertanggung-jawab kalau ada yang mengganggu."

"Bagaimana dengan rumah kami ini? Ditinggal begitu sajakah? Dan bagaimana dengan...... jenazah Siok Li anakku? Ah....... aku bingung sekali......."

"Paman, yang sudah meninggal tidak perlu dipikirkan. Yang lebih penting adalah menyelamatkan diri Paman sendiri dan puteri Paman. Cepatlah berkemas, dan Nona Siok Eng sebaiknya menyamar sebagai pria agar lebih leluasa melakukan perjalanan jauh. Bawa saja barang yang ringkas dan berharga, yang lain-lain titipkan dulu kepada tetangga yang baik. Akan tetapi jangan sekali-sekali mengatakan ke mana Paman hendak pergi."

Demikianlah, dalam keadaan tergesa-gesa Siok Kan dan Siok Eng berkemas, kemudian berangkatlah mereka bertiga meninggalkan kota Ci-bun.

Kita tinggalkan dulu perjalanan tiga orang itu dan marilah kita mengikuti rombongan pengantin wanita yang diarak dengan joli dari kota Ci-bun menuju kota Lan-hui.

Kalau Siok Eng ternyata masih berada di rumah, bahkan kemudian melarikan diri bersama ayahnya dan pemuda itu, lalu siapakah yang duduk di dalam joli?

Kita ikuti saja perjalanan rombongan itu.

Setelah tiba di kota Lan-hui, mereka disambut oleh rombongan pemain musik dan rombongan pengantin ini diarak dengan gembira menuju kelenteng Kwan Im Bio di kota Lan-hui.

Theng-kauwsu mendahului rombongan, berjalan dengan gagahnya, kemudian dia menemui Bhong-kongcu yang sudah menanti dengan tidak sabar.

Pemuda kaya raya ini beberapa kali menyeka keringat dingin membayangkan akan betapa malunya kalau sampai pernikahan itu dibatalkan.

Untuk mengaku bahwa pengantin wanita membunuh diri akan lebih memalukan lagi karena hal ini pasti akan mendatangkan kesan buruk bagi namanya.

Oleh karena itu, sejak tadi dia sudah menyuruh orang-orangnya menyebar berita bahwa pengantin wanita membunuh diri bukan karena dipaksa menikah, melainkan karena gadis itu menyimpan rahasia busuk dan ia membunuh diri karena takut dan malu kalau rahasianya diketahui suami setelah menikah nanti!

Kini harapan satu-satunya hanya tinggal mengharapkan agar Siok Eng, gadis bungsu keluarga Siok yang tidak kalah cantiknya dibandingkan encinya walaupun masih remaja, mau dengan suka rela menjadi selirnya, menggantikan encinya.

Bagi Bhong-kongcu tidak ada ruginya karena Siok Eng memang tidak kalah cantiknya dibandingkan mendiang Siok Li.

Maka, dapat dibayangkan betapa girang dan bangganya ketika Theng-kauwsu datang dan menjura kepadanya lalu berkata.

"Kiong-hi (selamat), Bhong-kongcu. Semua berjalan lancar sekali berkat keberhasilanku membujuk Siok-sianseng. Dia menyerahkan puterinya yang cantik molek itu kepada Kongcu dengan suka rela!"

Bhong-kongcu menepuk-nepuk pundak Theng-kauwsu dan memujinya, bahkan mengeluarkan kata-kata yang sifatnya menjanjikan hadiah besar.

Kemudian dengan langkah lebar dia keluar menyambut datangnya joli di pekarangan depan kelenteng Kwan Im Bio.

"Bhong-kongcu, sambutlah Nona Pengantin!"

Kata Theng-kauwsu yang lupa akan tata susila saking girang dan bangganya.

Bhong-kongcu terkenal seorang pemuda mata keranjang.

Tanpa mengenal malu, pemuda itu seperti tadi ketika menyambut Siok Li, melangkah lebar, cengar-cengir menjemukan dan tangannya menyingkap tirai joli.

Untuk kedua kalinya, pemuda kaya raya yang suka mempermainkan gadis-gadis miskin itu menjadi pucat sekali.

Akan tetapi kali ini tidak hanya pucat, bahkan tubuhnya tiba-tiba saja terlempar ke belakang dibarengi pekikannya.

"Aduuhhh......!"

Ketika orang-orang memandang ternyata pemuda mata keranjang itu sudah terbanting di atas lantai depan kelenteng dalam keadaan tidak bernyawa lagi!

Dari hidung dan mulutnya keluar darah!

Untuk kedua kalinya keadaan di situ menjadi geger.

Kini lebih hebat daripada tadi.

Banyak di antara para tamu dan penonton melarikan diri.

"Pembunuhan......! Pembunuhan.......!"

"Bhong-kongcu terbunuh!"

"Pengantin perempuan menjadi pembunuh!"

Demikianlah teriakan-teriakan yang simpang siur.

Memang tadi ketika Bhong-kongcu menyingkap tirai, orang-orang belum sempat melihat ke dalam joli, tahu-tahu tubuh Bhong-kongcu sudah terlempar ke belakang dan terus mati.

Akan tetapi, orang seperti Theng-kauwsu yang menjadi ahli silat dan sudah mempunyai banyak pengalaman, dalam sekelebatan saja tadi dapat melihat betapa sebuah tangan bergerak keluar dari tirai joli dan dengan amat cepatnya menghantam dada Bhong-kongcu.

"Keparat! Siapa berani main gila di sini?"

Theng-kauwsu membentak dan dia melompat maju sambil mencabut pedangnya.

Untuk kota Lan-hui, nama Theng-kauwsu sudah amat terkenal sebagai seorang jagoan yang tiada tandingnya, ilmu silatnya amat tinggi, terutama sekali ilmu pedangnya yang ditakuti semua orang di Lan-hui.

Banyak sudah jago silat yang roboh oleh pedang di tangan Theng-kauwsu.

Maka melihat jago silat itu mencabut pedangnya yang berkilauan, orang menduga bahwa pembunuh dalam joli itu pasti akan tertangkap.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa aneh dan tirai joli itu tersingkap dari dalam!

Semua orang berseru kaget dan heran ketika melihat siapa yang keluar dari dalam joli itu.

Sama sekali bukan seorang gadis cantik jelita berpakaian pengantin, melainkan seorang kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua!

Kakek ini menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan seperti seorang yang baru bangun tidur, lalu berkata.

"Aahh, enak-enak tidur di dalam joli dan diayun-ayun sepanjang jalan, tahu-tahu dihentikan di sini!"

Dia memandang ke depan dan melihat meja-meja yang penuh hidangan, matanya dilebarkan.

"Aha, ada perjamuan? Perayaan pernikahan? Wah, bagus. Aku harus mencicipi enaknya arak pengantin, ha-ha-ha!"

Dia melangkah maju ke arah ruangan yang dipenuhi tamu yang menghadap meja-meja di mana terdapat arak dan hidangan makanan.

"Bangsat! Pembunuh keparat, berani engkau main gila di sini? Tua bangka bosan hidup!"

Theng-kauwsu melompat dengan marah sekali.

Bhong-kongcu dibunuh kakek ini dan dia merasa bersalah karena tadi dia lengah dan tertipu, tidak memeriksa lebih dulu siapa yang berada di dalam joli sebelum diangkut ke kelenteng.

Maka kini dia menyerang dengan marah.

Pedangnya menyambar dengan jurus Hu-in-toan-san (Awan Melintang Memotong Bukit), berubah menjadi sinar meluncur ke arah leher kakek itu.

Kalau serangan dahsyat ini mengenai sasaran, tentu kepala kakek itu akan terpisah dari tubuhnya.

Akan tetapi kakek itu tampak tenang saja.

Biarpun dia diserang dari samping kiri, dia sama sekali tidak memutar tubuh, seakan-akan tidak melihat datangnya sambaran pedang.

Dia hanya menggerakkan tangan kirinya yang hampir tertutup oleh lengan baju yang panjang, digerakkan ke kiri menangkis pedang sambil berkata.

"Sayang banyak lalat di sini!"

Ucapan ini disusul bunyi nyaring berdentang ketika pedang yang menyerang kakek itu terlepas dari tangan Theng-kauwsu dan terlempar ke atas lantai!

Ketika ujung lengan baju kakek itu menangkis pedang, Theng-kauwsu merasa betapa tangannya tergetar hebat sehingga dia tidak mampu mempertahankan pedangnya yang terlepas dari tangannya dan dia sendiri terhuyung ke belakang sampai lima langkah.

Muka guru silat yang menjadi kepala pengawal Bhong-kongcu itu berubah pucat sekali.

Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat tangan kanannya yang tadi memegang pedang, kini telah rusak.

Ibu jarinya remuk dan buku-buku jari yang lain patah-patah.

Kiranya ujung lengan baju kakek itu tadi telah menghantam dan meremukkan tangan kanannya yang tadi memegang pedang!

Seolah tidak terjadi apa-apa, kakek itu berjalan terus menghampiri meja, duduk di atas bangku, menuangkan arak dari guci langsung ke mulutnya.

Terdengar suara menggelegak ketika arak yang banyak itu memasuki kerongkongan kakek itu.

Setelah guci menjadi kosong, kakek itu menaruh guci di atas meja dan dia mengangguk-angguk puas.

"Hemmm, arak yang enak!"

Diambilnya sepasang sumpit, lalu dia memilih masakan daging dan makan dengan enaknya, sama sekali tidak mempedulikan pandang mata para tamu yang masih belum pergi dari situ.

Melihat kelihaian kakek itu, para tamu menjadi semakin ketakutan.

Dengan perlahan dan tidak berani mengeluarkan suara, mereka lalu pergi meninggalkan ruangan kelenteng.

Kakek itu terus makan minum dengan asyiknya dan dia baru berhenti makan ketika dia mendengar suara ribut-ribut di luar dan dia melihat bahwa kelenteng itu kini telah dikurung oleh puluhan orang perajurit yang dipimpin dua orang perwira bangsa Mongol!

"Hei, kakek pembunuh dan pemberontak!

Menyerahlah daripada mampus kami cincang!"

Perwira Mongol yang bertubuh gemuk pendek memaki sambil menudingkan goloknya ke arah kakek yang masih minum sisa arak yang tinggal sedikit di dalam guci kedua.

Baru saja perwira Mongol itu menutup mulutnya, dia berseru.

"Celaka!"

Dan cepat merendahkan tubuhnya dengan gerakan cepat sekali.

Rupanya perwira gemuk ini memiliki kepandaian yang lumayan, kalau dia tidak cepat mengelak tentu guci arak kosong yang dilontarkan kakek itu akan mengenai kepalanya yang besar.

Guci itu meluncur lewat, menghantam tiang dan pecah berantakan.

"Bunuh dia!"

Perwira Mongol kedua yang bertubuh tinggi besar memberi aba-aba dan puluhan orang anak buahnya menyerbu ke dalam ruangan.

Kakek itu masih duduk dan tersenyum mengejek.

Ketika belasan ujung golok menyambar dan menyerangnya, barulah dia bergerak dengan cepat sekali, berkelebat dan lenyap dari pandang mata para pengeroyoknya!

"Hei, mana dia?"

"Eh, jangan serang kawan sendiri!"

"Aduh.......!"

Ramai dan kacaulah para pengeroyok di sekeliling meja di mana kakek tadi makan minum.

Belasan orang yang tadi menyerbu, tiba-tiba kehilangan lawan dan tahu-tahu kakek itu menghantam mereka dari belakang!

Beberapa orang tentara roboh malang melintang tak dapat bangun kembali.

"Tangkap dia! Bunuh.......!"

Akan tetapi aba-aba dari dua orang perwira Mongol itu berakibat hebat bagi mereka sendiri.

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga yang tampak hanya bayangan yang sukar diikuti pandang mata, kakek itu bergerak ke arah dua orang perwira Mongol dan tiba-tiba keduanya roboh dan tewas!

Hal ini membuat semua perajurit yang mengeroyok menjadi terkejut sekali dan gentar.

Kini kakek itu mengambil segenggam kacang dari atas meja, lalu dengan tertawa-tawa dia menyambit-nyambitkan kacang itu ke arah para perajurit sambil berkata.

"Kalian ini anjing-anjing peliharaan penjajah Mongol sungguh menjemukan!"

Kepandaian kakek itu sungguh hebat.

Biarpun yang dia sambitkan itu hanya kacang yang sudah digoreng, akan tetapi begitu mengenai para perajurit segera terdengar pekik kesakitan dan beberapa orang dari mereka roboh terguling.

Sambitan kacang itu tepat mengenai bagian tubuh yang lemah dan butir-butir kacang itu ketika disambitkan tangan yang memiliki tenaga sakti, meluncur seperti peluru besi!

Pasukan bantuan segera datang ke tempat itu, bahkan kini telah dipersiapkan pasukan panah untuk menangkap atau membunuh kakek yang amat Iihai itu.

Akan tetapi ketika pasukan baru itu tiba di pekarangan kelenteng, kakek itu sudah lenyap dan hebatnya, jenazah Siok Li yang tadinya masih berada di dalam kelenteng ikut lenyap bersama kakek itu!

Para pembesar di Lan-hui segera mengerahkan tenaga untuk memburu dan menangkap keluarga Siok di Ci-bun, akan tetapi mereka mendapatkan rumah keluarga Siok telah kosong dan tak seorang pun mengetahui ke mana perginya Kakek Siok beserta puteri bungsunya.

Juga kakek lihai yang mengamuk di kelenteng Kwan Im Bio di Lan-hui itu tidak muncul lagi dan tidak dapat ditemukan sungguhpun sudah dicari oleh pasukan yang dikerahkan para pembesar Mongol.

Beberapa pekan kemudian setelah terjadinya keributan di kelenteng Kwan Im Bio di Lan-hui itu, di sebuah dusun di Propinsi Shan-tung, dalam sebuah rumah sederhana, kakek aneh itu bersama muridnya, pemuda yang tampan gagah, sedang bercakap-cakap dengan Siok Kan.

Siok Eng, gadis remaja yang cantik manis itu, melayani mereka, menghidangkan minuman dan mukanya kemerahan ketika ia mengerling dan pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu.

Siok Kan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek berambut putih itu, akan tetapi kakek itu cepat memegang kedua pangkal lengannya dan menyuruhnya bangkit.

"Tidak perlu bersikap seperti ini, Saudara Siok. Di antara kita sesama manusia, setiap ada kesempatan dan kemampuan, harus saling menolong."

"Lo-enghiong, baru sekarang seolah terbuka mataku yang buta, tidak melihat bahwa Lo-enghiong berdua adalah pendekar budiman yang menjadi dewa penolong kami sekeluarga. Tidak hanya saya dan puteri saya yang masih hidup tertolong oleh Lo-enghiong berdua, bahkan anak saya Siok Li yang sudah mati, jenazahnya masih diselamatkan dan dirawat. Sungguh budi Lo-enghiong amat besar dan tidak mungkin kami dapat membalasnya. Karena itu, untuk membalas budi, saya ingin menyerahkan puteri saya Siok Eng kepada Lo-enghiong agar dijodohkan dengan murid Lo-enghiong. Dengan demikian anak saya ini dapat melayani ji-wi (Anda Berdua) sekadar membalas budi yang Lo-enghiong limpahkan kepada kami."

Ketika itu Siok Eng baru muncul dari dalam membawa baki berisi makanan.

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya itu, kedua tangan gadis ini menggigil, mukanya menjadi merah sekali dan nyaris baki itu jatuh kalau saja pemuda itu tidak cepat melompat dan menyambar baki yang sudah terlepas dari tangan Siok Eng.

Mereka berdiri saling pandang.

Pertemuan pandang yang hanya beberapa detik itu bagi mereka berdua mengandung arti yang mendalam dan membekas di hati masing-masing.

Siok Eng segera lari masuk dan meninggalkan baki itu di tangan Si Pemuda.

Kakek itu dan Siok Kan tertawa gembira dan pemuda itu menoleh, memandang mereka dan mukanya berubah merah.

"Cun Giok, engkau tentu tidak keberatan, bukan?"

Kata kakek itu. Suma Cun Giok, pemuda itu, tersipu dan sejenak dia tidak mampu menjawab. Kemudian, setelah menaruh baki itu di atas meja, dia berkata dengan gagap.

"Ini...... eh, hal ini terserah kepada...... yang menjadi guru dan ayah.......!"

"Ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang putih dan panjang.

"Gurumu tidak keberatan, dan ayahmu...... dia setuju sepenuhnya!"

Siok Kan merasa girang sekali sungguhpun dia merasa agak heran mendengar kakek itu mengatakan bahwa ayah pemuda itu juga menyetujui perjodohan itu.

Bagaimana dapat mengatakan setuju kalau orangnya tidak berada di situ?

Akan tetapi dia tidak peduli dan segera mengangkat cawan, mengajak tamu atau calon besannya itu mengeringkan secawan arak untuk merayakan ikatan jodoh itu.

Setelah itu baru dia bertanya.

"Bolehkah saya mengetahui siapa gerangan ayah dari Suma Sicu (Orang Gagah Suma) ini?"

Kakek itu menjawab, suaranya sungguh-sungguh.

"Ayahnya adalah Suma Tiang Bun, yaitu aku sendiri."

Siok Kan tertegun dan bengong. Akhirnya Suma Tiang Bun berkata.

"Harap Saudara Siok jangan mengherankan hal ini, biarlah kuceritakan riwayat Cun Giok yang akan menjadi mantumu."

Kakek itu lalu menceritakan pengalamannya ketika dulu dia menolong seorang nyonya muda dari air Sungai Huai seperti yang telah diceritakan di bagian depan kisah ini.

"Demikianlah, semenjak lahirnya, Cun Giok hidup bersamaku, maka sudah sepatutnya kalau dia juga menjadi anakku? Dia adalah anakku, juga muridku, dan sebelum kami dapat menemukan siapa sebetulnya ayah kandungnya, dia ini tetap sebagai puteraku, she (marga) Suma, Suma Cun Giok."

Ketika Suma Tiang Bun bercerita secara singkat di depan Siok Kan tentang riwayatnya, Cun Giok mengerutkan alisnya.

Dia sudah mendengar cerita itu dan tiap kali dia mengingat akan riwayatnya yang aneh, dia merasa penasaran sekali.

Menurut cerita gurunya, ibu kandungnya ditolong gurunya ketika hanyut di Sungai Huai dalam keadaan mengandung.

Siapakah ibu kandungnya?

Dan siapa pula ayah kandungnya?

Selama tujuhbelas tahun dia berada dalam asuhan Suma Tiang Bun, dibantu oleh Thio Ma, janda yang bekerja sebagai bidan itu.

Sejak berusia lima tahun, dia digembleng oleh Suma Tiang Bun, diberi pelajaran silat dan sastra.

Biarpun dalam hal kesusastraan dia masih jauh tertinggal kalau dibandingkan gurunya, namun dalam hal ilmu silat, Suma Tiang Bun sendiri sampai seringkali merasa heran.

Kemajuan Cun Giok pesat sekali.

Bocah itu memiliki bakat yang luar biasa sehingga kini, dalam usianya yang baru tujuhbelas tahun, boleh dikatakan kepandaiannya hampir seimbang dengan tingkat gurunya.

Siok Kan dan puterinya, Siok Eng, yang melakukan perjalanan jauh menuju Propinsi Shan-tung dikawal oleh Cun Giok, tadinya sama sekali tidak menduga bahwa pemuda itu adalah seorang ahli silat yang pandai.

Oleh karena itu, biarpun sudah dikawal Cun Giok, mereka masih merasa amat khawatir dan selalu merasa ketakutan.

Mereka khawatir kalau-kalau kaki-tangan keluarga Bhong yang didukung oleh pembesar-pembesar setempat itu akan melakukan pengejaran, juga takut kalau-kalau akan bertemu orang jahat dalam perjalanan.

Dua hari setelah melakukan perjalanan cepat dan tanpa henti sehingga mereka merasa kelelahan, terutama sekali Siok Kan dan Siok Eng, mereka tiba di kota Ceng-si-kwan.

Mereka berdua mengeluh kepada Cun Giok, menyatakan bahwa mereka lelah sekali, maka terpaksa mereka lalu menyewa kamar di sebuah rumah penginapan di kota itu.

Mereka bertiga tidak menarik perhatian karena Siok Eng menyamar sebagai pria dan ia tampak sebagai seorang pemuda remaja yang tampan.

Menjelang tengah malam, Cun Giok mendengar suara derap kaki banyak kuda di depan rumah penginapan, lalu terdengar orang bercakap-cakap lantang.

Dari percakapan itu, Cun Giok maklum bahwa mereka adalah pasukan yang datang dari Lan-hui, yang bertugas melakukan pengejaran terhadap Siok Kan dan Siok Eng.

Juga dia mendengar bahwa yang datang itu merupakan pasukan kecil terdiri dari enam orang jagoan yang hendak mencari bala bantuan dulu sebelum menangkap para buronan besok pagi-pagi.

Mendengar semua ini, Cun Giok tetap tenang.

Sama sekali dia tidak gentar menghadapi mereka.

Biarpun dikeroyok puluhan orang perajurit Mongol, dia tidak merasa gentar.

Akan tetapi, kalau dia teringat bahwa Siok Kan dan Siok Eng adalah orang-orang biasa yang lemah, dia merasa khawatir akan keselamatan mereka.

Kalau dia besok menghadapi pengeroyokan banyak musuh, bagaimana dia dapat melindungi dua orang itu?

Dia cepat mengambil keputusan.

Dikemasinya barang-barang bawaannya, kemudian dia keluar dari dalam kamarnya melalui jendela dan di lain saat dia sudah melompat ke atas genteng rumah penginapan itu.

Dia memperhitungkan bahwa dia berada tepat di atas kamar yang ditiduri Siok Kan yang bersebelahan dengan kamar Siok Eng.

Dibukanya genteng dan setelah mematahkan beberapa batang kayu penyangga genteng, dia melompat turun ke dalam kamar yang gelap itu.

Dengan pengerahan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dia dapat tiba di lantai kamar tanpa mengeluarkan suara.

Ketika dia melangkah, biarpun sudah berhati-hati, karena kamar itu gelap, kakinya tertumbuk bangku hingga menimbulkan suara, walaupun cepat dia memegang bangku itu sehingga tidak sampai terguling.

"Siapa......?"

Terdengar suara menegur.

Berdebar rasa jantung dalam dada Cun Giok ketika dia mendengar suara itu.

Suara Siok Eng!

Dia telah keliru memasuki kamar gadis itu!

Padahal sebetulnya dia ingin memasuki kamar Siok Kan.

Dia menjadi bingung dan malu sekali.

Akan tetapi mengingat akan pentingnya hal yang harus dia sampaikan kepada ayah dan anak itu, terpaksa dia memberanikan diri dan menjawab lirih.

"Sstt...... Nona Siok, harap jangan ribut......"

"Eh? Engkau....... Giok-ko (Kakak Giok)? Engkau...... mau apa dan...... bagaimana dapat masuk ke sini......?"

Gadis itu berbisik dengan suara gemetar. Di dalam kegelapan itu Cun Giok dapat membayangkan betapa gadis itu menggigil ketakutan. Dia tersenyum dan mukanya terasa panas saking malunya.

"Aku turun dari atas genteng. Nona, jangan salah sangka dan maafkan, aku kira ini kamar ayahmu. Ketahuilah, ada bahaya besar mengancam. Para pengejar dari Lan-hui datang hendak menangkap kita."

"Ahh.......!"

"Jangan takut, cepat engkau berkemas dan keluar dari kamar ini, jangan sampai terlambat."

Gadis ini bingung sekali. Ia hendak turun dari pembaringan, akan tetapi mengingat bahwa ia hanya memakai pakaian dalam, ia tidak jadi turun.

"Koko......."

"Ya, kenapa.......?"

"Engkau keluarlah dulu......"

"Keluar? Mengapa? Cepatlah berkemas, Nona, tiada waktu untuk menunda.. ......"

Cun Giok mendesak.

"Aku...... aku hendak memakai pakaian dulu...... kumaksud...... pakaian laki-laki......"

Sukar sekali bagi Siok Eng untuk mengatakan bahwa ia hanya mengenakan pakaian dalam sehingga ucapannya menjadi kacau tidak karuan. Cun Giok tersenyum dan merasa lucu.

"Aih, Nona, di tempat begini gelap, melihat hidungku sendiri pun tidak tampak, mengapa engkau takut? Biarpun aku berada di sini, aku tidak dapat melihatmu. Cepatlah!"

Terdengar gadis itu menghela napas berulang-ulang, kemudian terdengar berkereseknya pakaian yang dikenakan secara tergesa-gesa sehingga bahkan memperlambat karena beberapa kali ia salah pakai dan terbalik!

Akhirnya Siok Eng mengeluarkan napas lega.

"Sudah selesai, Giok-ko,"

Katanya lirih.

"Buntalan pakaian sudah dibawa?"

"Sudah."

"Nah, sekarang harap engkau tenang, Nona. Aku terpaksa akan memondongmu dan melompat keluar melalui jendela."

"Apa......?"

Siok Eng terlupa saking kagetnya sehingga suaranya keras dan terdengar suara berdebuk karena buntalan yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke atas lantai.

"Dengar baik-baik, Nona. Kita harus pergi dari tempat ini secara sembunyi dan jangan sampai ada yang tahu, Oleh karena itu, aku harus membawamu melompat naik ke atas genteng dan lari keluar kota secara diam-diam."

"Ahh". apa engkau...... bisa......?"

"Percayalah dan kaulihat saja nanti. Sudah siapkah engkau?"

"Tapi...... tapi, ah, bagaimana ini, Koko? Aku malu. Bagaimana kalau ada orang melihat.......?"

"Nona Siok Eng, ini bukan main-main, mengapa harus malu? Pula, siapa yang akan nrielihat di tengah malam begini? Apa engkau ingin kita terkepung dan tertangkap?"

"Baiklah, akan tetapi....... biar kunyalakan lilin dulu. Begini gelap......."

"Sstt, jangan! Kalau dinyalakan akan mendatangkan kecurigaan orang. Pula, bukankah kalau terang engkau menjadi lebih malu?"

Gadis itu menarik napas panjang, agaknya sukar sekali baginya untuk mengambil keputusan. Siapa orangnya yang tidak akan malu kalau hendak dipondong seorang pemuda! "Baiklah, Giok-ko,"

Katanya akan tetapi hampir ia menjerit dan cepat ia menarik kembali tangannya yang tadi digerakkan ke depan dan di dalam kegelapan itu, tangannya tanpa disengaja meraba......

muka Suma Cun Giok!

Pemuda ini juga hampir tidak dapat menahan kegelian hatinya, hampir dia tertawa.

Akan tetapi dia dapat menahan perasaannya menghadapi gadis yang dianggapnya lucu ini.

"Maaf, Nona Siok......"

"Eh, Giok-ko, mengapa engkau menyebut aku Nona? Kalau begitu, aku akan menyebutmu Tuan!"

Gadis itu mencela.

"Habis harus menyebut apa?"

"Aku menyebutmu Koko (Kakak), tentu engkau tahu sepatutnya menyebut aku apa."

"Ah, baiklah, Eng-moi (Adik Eng). Sekarang bersiaplah engkau, aku akan memondongmu!"

Katanya dan tiba-tiba Siok Eng merasa dirinya telah dipondong oleh lengan yang amat kuat.

Lebih hebat lagi, ia merasa tubuhnya terayun ketika pemuda itu melompat keluar dari jendela yang telah dibukanya.

Bagaimana di dalam kegelapan pemuda itu dapat bergerak demikian leluasa dan cepat?

Dan bagaimana pemuda yang kelihatannya begini lemah lembut, ternyata kini dapat memondongnya dengan mudah dan dapat melompat sedemikian cepatnya?

Siok Eng merasa heran bukan main, akan tetapi di samping keheranannya, juga timbul perasaan lain yang aneh dan membuatnya kagum, tersipu malu dan jantungnya berdebar.

Akan tetapi setelah Cun Giok melompat ke atas genteng dan membawanya berlari secepat terbang, gadis itu memejamkan matanya.

Berkali-kali ia berbisik.

"Koko, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Tidak mimpikah aku? Engkau melompat ke atas genteng! Engkau...... engkau bisa terbang......!"

Akan tetapi di dalam hatinya, gadis ini semakin kagum dan tertarik.

"Koko, engkau...... engkau hebat......."

Katanya setelah Cun Giok menurunkannya di luar kota, di bawah sebuah jembatan tinggi agar kalau kebetulan ada orang lewat di tengah malam itu, tidak akan kelihatan.

"Moi-moi, engkau tunggulah sebentar di sini. Aku akan pergi menjemput ayahmu."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah tubuh Cun Giok dari depan Siok Eng.

"Hebat...... dia hebat...... dia...... pendekar......"

Gadis itu duduk di atas sebuah batu dan melamun.

Kalau saja pikirannya tidak penuh oleh bayangan Cun Giok, tentu ia akan merasa takut dan ngeri ditinggal seorang diri di tempat yang sunyi dan gelap itu.

Seperti yang dialami Siok Eng, Siok Kan juga terheran-heran dan kagum bukan main ketika Cun Giok membawanya ke luar kota pada tengah malam itu.

Kini barulah ayah dan anak itu tahu bahwa pemuda lemah lembut yang tampaknya seperti seorang kutu buku itu ternyata memiliki kepandaian yang amat hebat.

Di dalam hatinya, Siok Kan merasa bahagia sekali karena kini dia membayangkan bahwa puterinya akan terlindung selama hidupnya sebagai isteri pemuda yang amat lihai ini.

Demikianlah, seperti telah diceritakan di bagian depan, Siok Kan menyampaikan keinginan hatinya menjodohkan Siok Eng dengan Cun Giok dan diterima baik oleh Suma Tiang Bun sebagai guru dan orang tua pemuda itu.

Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok tidak tinggal lama di rumah mantu Siok Kan di Shan-tung.

Mereka hanya tinggal sehari di situ.

Untuk tanda ikatan jodoh, Suma Cun Giok menyerahkan sebatang pedang yang biasanya dia sembunyikan di balik baju luarnya.

Sedangkan Siok Eng menyerahkan sebuah perhiasan tusuk sanggul perak berukir daun pohon Yang-liu (cemara) yang biasanya ia pakai di sanggul rambutnya.

Kemudian berangkatlah kakek dan pemuda itu meninggalkan Cin-yang, kota di Propinsi Shan-tung di mana kini Siok Kan tinggal menumpang di rumah mantunya, suami dari anak sulungnya.

Biarpun semenjak kecil Cun Giok sudah menganggap ayah kepadanya, namun Suma Tiang Bun bukanlah seorang yang mementingkan diri sendiri.

Setelah Cun Giok berusia limabelas tahun, dengan terus terang dia menceritakan riwayat anak itu.

"Tunggulah tiga tahun lagi, Anakku. Tiga tahun lagi, setelah semua kepandaianku kau kuasai, kita bersama akan menyelidiki siapa sebenarnya Ayahmu dan mengapa pula Ibumu yang malang nasibnya itu hanyut di Sungai Huai."

Kemudian, setelah tiba saat yang telah dijanjikan itu, Suma Tiang Bun mengajak Cun Giok pergi untuk mulai menyelidiki siapa ayah kandung pemuda itu.

Dalam perjalanan inilah mereka melihat peristiwa yang menimpa keluarga Siok sehingga guru dan murid itu selain membasmi kejahatan Bhong-kongcu dan kaki tangannya, juga menyelamatkan Siok Kan dan puterinya.

Ketika Siok Kan mengusulkan perjodohan, Suma Tiang Bun menyetujuinya.

Hal ini bukan hanya karena dalam penilaiannya, Siok Eng cukup cantik jelita dan baik budi pekertinya, melainkan juga dia dapat menduga bahwa anak angkatnya itu agaknya tertarik kepada Siok Eng.

Selain itu, dia ingin agar anak angkatnya itu tidak mudah terpikat oleh kecantikan wanita lain dan selalu ingat bahwa dia telah bertunangan dan kelak harus kembali ke Shan-tung menjemput calon isterinya.

Kakek ini khawatir kalau anak angkat atau murid yang amat dikasihinya itu kelak akan menjadi seperti ia, membujang seumur hidup!

Pula, dia diam-diam berharap untuk mendapat kesempatan menimang seorang cucu!

Sejak jaman dahulu, biarpun kerajaan demi kerajaan jatuh bangun dan berganti-ganti, sebuah hal yang agaknya sudah membudaya dan yang mencemaskan rakyat, selalu terjadi dan terulang.

Setelah balatentara Mongol menduduki Tiongkok, hal ini bahkan makin sering terjadi.

Peristiwa yang selalu mencemaskan hati rakyat itu adalah pengumpulan dan pemilihan Siu-li (Gadis Cantik) untuk dijadikan pelayan atau dayang istana yang sesungguhnya tiada lain adalah menjadi pengisi harem istana kaisar atau para pangeran.

Pasukan pengawal istana yang dipimpin seorang perwira tinggi ditugaskan untuk mengumpulkan Siu-li.

Mereka mencari gadis-gadis cantik di kota dan dusun.

Masih baik nasib gadis puteri orang kaya yang dapat menyelamatkan gadisnya dengan cara menyogok komandan pasukan.

Mereka yang tidak mampu menyogok, terutama gadis-gadis dusun, sama sekali tidak berdaya.

Mereka akan dibawa oleh pasukan itu entah ke mana!

Alasannya memang gadis itu dibutuhkan oleh Istana Kaisar, akan tetapi kenyataannya, banyak yang tidak sampai ke istana kaisar, melainkan "dijual"

Kepada para bangsawan, pangeran, atau hartawan yang mampu membelinya dengan harga tinggi!

Pasukan istana yang menerima tugas mengumpulkan Siu-li tentu saja tidak jalan sendiri mencari ke mana-mana.

Bagi mereka mudah saja.

Komandan pasukan, seorang perwira tinggi tinggal menghubungi para kepala daerah dan memesan kepada mereka.

Di kota A memesan sepuluh orang gadis cantik, di kota B sepuluh orang pula, demikian seterusnya di kota-kota dan dusun-dusun lainnya, seperti orang memesan domba-domba gemuk saja!

Dan bagaimana cara kerja para pembesar setempat yang menerima pesanan itu?

Tentu saja mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang amat baik ini, kesempatan untuk menambah simpanan selir muda yang cantik dan menambah isi peti uang mereka.

Mereka ini memeras uang, merampas gadis orang, semua dilakukan dengan dalih yang amat kuat, yaitu atas nama kaisar yang ingin mengambil gadis yang terpilih itu sebagai Siu-li!

Tidak dapat disangkal bahwa terdapat banyak di antara gadis-gadis itu maupun orang tua mereka, yang mengajukan diri secara sukarela.

Banyak gadis yang bahkan ingin sekali diterima menjadi Siu-li, karena memang harus diakui bahwa kedudukan Siu-li atau dayang istana bukanlah kedudukan yang tidak enak.

Kalau awak sedang mujur ada harapan mereka sebagai bunga-bunga yang sedang mekar itu "dipetik"

Oleh kaisar dan menjadi selir resmi yang tercinta. Atau setidaknya, oleh kaisar mereka akan "dihadiahkan"

Kepada seorang pembesar yang berjasa dan menjadi selir pembesar itu.

Bagi orang tua yang mata duitan tentu saja hal ini pun amat diharapkan dan disukai, karena anaknya mungkin akan menjadi sumber uang dan kehormatan.

Namun, banyak pula gadis yang tidak sudi dan hanya menurut karena dipaksa.

Gadis-gadis seperti ini terpaksa ikut dengan hati hancur dan air mata bercucuran di sepanjang perjalanan ketika mereka dibawa oleh pasukan istana.

Para ayah memukul-mukul dada sendiri dan para ibu menangis bergulingan seperti anak kecil.

Akan tetapi, bagi rakyat jelata di jaman itu, Kaisar adalah Cin Beng Thian-cu (Putera Allah)!

Siapa berani menentang kehendaknya?

Peristiwa pengumpulan gadis cantik ini, setelah Tiongkok berada dalam jajahan bangsa Mongol, menjadi semakin hebat.

Kalau pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan atau dinasti yang lalu yang memerintahkan pengumpulan Siu-li hanya kaisar saja, sekarang boleh dibilang setiap orang pembesar suka menggunakan wewenang atau kekuasannya untuk memaksa gadis-gadis itu berkumpul dan dibawa ke kota raja untuk mereka berikan sebagai "hadiah"

Atau semacam sogokan kepada para pembesar yang menjadi atasan mereka, atau kepada kaisar untuk menjilat atau mencari muka!

Pada suatu hari di kota Pao-ting sebelah selatan kota raja, pembesar setempat mencari duapuluh empat orang gadis dengan maksud untuk dipersembahkan kepada kaisar.

Pada masa itu, hampir sebagian besar pejabat tinggi adalah orang-orang berwatak rendah yang bisanya hanya melakukan korupsi dan mencekik rakyat dan kepandaiannya hanya dipergunakan untuk menjilat atasan agar pangkatnya dinaikkan.

Semua pembesar berebut untuk mendapatkan perhatian kaisar, maka seringkali kaisar menerima persembahan berupa barang-barang kuno yang indah berharga, atau barang-barang hidup, yaitu gadis-gadis cantik jelita untuk dijadikan Siu-li.

Di antara para gadis yang menjadi korban pemilihan kali ini, terdapat seorang gadis dari keluarga Cong yang miskin.

Cong Siu Hwa terkenal di kota Pao-ting sebagai seorang gadis yang amat pandai dan cantik jelita.

Pandai dalam hal pekerjaan wanita, menyulam dan pekerjaan tangan lainnya, adapun kecantikannya membuat ia dikenal sebagai Bunga kota Pao-ting.

Banyak pria, muda maupun tua, tergila-gila kepadanya.

Ayahnya bekerja sebagai seorang pedagang tahu dan sekeluarga Cong ini bekerja giat dalam perusahaan tahu mereka.

Tahu buatan keluarga Cong terkenal lezat dan langganannya terdiri dari orang-orang berpangkat.

Perusahaan ini membuat kehidupan mereka cukup berada, dan selain itu juga mereka dianggap terlindung karena mempunyai langganan para pembesar di kota Pao-ting.

Hari dan saat penyerahan gadis cantik Cong Siu Hwa telah ditetapkan dan diminta kepada Cong Kai untuk mengantarkan puterinya ke gedung Kui-thaijin (Pembesar Kui).

Cong Kai, isterinya, dan Cong Siu Hwa bertangis-tangisan dan sampai tiba saat yang ditentukan, Siu Hwa tidak mau pergi ke gedung Pembesar Kui itu.

Juga ayah ibunya tidak rela menyerahkan puteri mereka untuk dijadikan Siu-li.

Ayah, ibu, dan anak ini menanti akibat penolakan mereka itu dengan rasa takut dan penuh kekhawatiran.

Sudah tiga hari tiga malam sejak datang perintah untuk mengantarkan Siu Hwa, mereka tidak dapat tidur dan pada hari yang keempat mereka duduk dengan muka pucat dan hati bingung dan gelisah.

Tidak lama kemudian apa yang mereka khawatirkan terjadi.

Sepasukan perajurit, dipimpin seorang perwira yang bertubuh gemuk berkumis tebal, dengan garangnya mendatangi rumah keluarga Cong.

"Cong Kai, kami datang untuk mengambil puterimu. Suruh ia cepat berkemas. Kui-thaijin sudah tidak sabar lagi menunggu!"

Kata perwira itu tanpa memberi salam lagi.

Empatbelas orang anak buahnya menjenguk ke dalam rumah dan tersenyum-senyum ceriwis ketika melihat Siu Hwa yang biarpun mukanya pucat dan rambutnya awut-awutan pakaiannya kusut, tetap saja tampak cantik jelita menggairahkan hati mereka.

"Tidak, jangan sekarang! Harap beri waktu satu dua hari lagi,"

Jawab Cong Kai sambil berdiri dan menghadang di depan pintu, membentangkan kedua lengannya.

Penolakan Cong Kai ini adalah usaha penolakan orang yang sudah nekad.

Dia tidak dapat menemukan jalan untuk keluar dari musibah ini.

Sudah lelah dia pergi kepada beberapa orang pembesar langganannya untuk mohon bantuan agar anak perempuannya jangan menjadi korban pemilihan Siu-li.

Akan tetapi semua usahanya sia-sia.

Tidak ada seorang pun berani menentang Kui-thaijin yang hendak mempersembahkan Siu-li kepada kaisar."

"Ciang-kun (Perwira), ampuni dan kasihanilah kami! Jangan bawa anak kami yang hanya seorang ini......"

Nyonya Cong menangis sambil berlutut di depan komandan pasukan yang gemuk berkumis itu.

Sedangkan Cong Siu Hwa sendiri menangis terisak-isak dalam rangkulan ibunya.

Akan tetapi Si Gendut berkumis tebal itu menyeringai dan sepasang matanya berkedip-kedip, mulutnya mengejek.

"Huh, kalian ini bagaimana sih? Orang lain menyambut kedatangan kami dengan senyum bahagia dan menghidangkan arak dan makanan untuk menyatakan rasa terima kasih dan kegirangan mereka! Mengapa kalian menyambut kami dengan tangisan seolah-olah anakmu akan dihukum gantung? Menjadi Siu-li adalah hal yang amat baik dan menguntungkan, juga amat membanggakan. Kalau sampai puteri kalian ini menjadi Siu-li di istana, bukankah hal itu merupakan sebuah kehormatan besar sekali bagi kalian? Sudahlah, jangan banyak rewel agar kami tidak menjadi marah. Nona, lekas engkau berkemas, berdandan yang cantik dan keringkan air matamu. Sungguh tidak baik kalau nanti Kui-thaijin melihat engkau habis menangis."

"Tidak, aku tidak sudi menjadi Siu-li, lebih baik aku mati!"

Gadis itu berseru sambil menangis tersedu-sedu. Ibunya memeluknya dan berkata di antara isaknya.

"Tidak, Anakku, jangan takut. Aku melarang siapapun juga membawamu pergi."

Cong Kai yang tidak rela kalau puterinya dibawa pergi lalu berdiri menghadang di depan isteri dan anaknya. Melihat ini, perwira itu mulai marah.

"Kalian jangan main-main! Tidak tahukah engkau, Cong Kai, bahwa orang yang membantah perintah Sribaginda Kaisar berarti dia pemberontak dan akan dihukum mati seluruh keluarganya?"

Mendengar ancaman ini, Cong Kai gemetar ketakutan dan akhirnya dia menjatuhkan diri, menangis seperti isteri dan anaknya.

"Thai-ciangkun (Perwira Tinggi), kasihanilah kami. Kami tidak memberontak, kami hanya mohon dengan segala hormat dan kerendahan hati agar anak kami jangan dibawa pergi. Biarlah saya menebusnya dengan kepala saya, dengan nyawa saya......"

Melihat kekerasan kepala keluarga itu, Sang Perwira kehabisan kesabaran.

"Anjing busuk, menyingkir kau!"

Kakinya menendang dan Cong Kai mengaduh kesakitan, tubuhnya terlempar membentur tembok terkena tendangan kaki Sang Perwira.

Dia roboh dan tidak dapat bangkit lagi, hanya mencoba untuk merangkak namun dadanya yang tertendang terasa nyeri sekali sehingga dia hanya dapat merintih-rintih.

"Anakku tidak boleh dibawa! Tidak boleh! Kalian orang-orang jahat yang kejam!"

Nyonya Cong menjerit-jerit sambil menangis dan merangkul puterinya erat-erat.

Perwira gendut itu melangkah maju dan kaki tangannya sudah merasa gatal-gatal untuk menendang dan memukul wanita itu.

Akan tetapi agaknya dia merasa malu sebagai seorang perwira kalau memukul seorang perempuan setengah tua yang lemah, maka dia menoleh dan memberi perintah kepada anak buahnya.

"Lempar anjing betina itu, jangan biarkan ia menggonggong terus!"

Beberapa orang perajurit serentak maju dan mencoba untuk menarik lengan Nyonya Cong.

Akan tetapi wanita itu sudah nekat.

Betapapun kuatnya perajurit-perajurit itu menarik dan membetot, ia tidak mau melepaskan Siu Hwa yang dipeluknya erat-erat.

Ibu dan anaknya itu menangis sambil mengeluh dan menyebut-nyebut nama Thian (Allah).

"Goblok semua, masa melemparkan anjing betina tua ini saja tidak mampu?"

Perwira gemuk berkumis tebal itu marah sekali. Dia melompat ke depan lalu menggerakkan tangan menampar.

"Plakk!!"

Nyonya Cong menjerit dan tubuhnya terpental saking kuatnya tamparan itu dan rangkulannya pada Siu Hwa terlepas.

Perwira itu tertawa bergelak dan di lain saat dia sudah menyeret Siu Hwa keluar dari rumah itu.

Siu Hwa meronta-ronta, menjerit-jerit, namun sia-sia belaka.

"Kalau engkau bukan calon Siu-li, sudah kupukul kau!"

Perwira itu mengomel panjang pendek sambil terus menarik gadis itu dengan memegang pergelangan tangannya.

Semua orang di sepanjang jalan yang melihat peristiwa ini hanya dapat menghela napas panjang.

Siapakah yang berani melawan pasukan pemerintah?

Pasti akan dicap pemberontak dan bukan hanya si pelaku, bahkan seluruh keluarganya akan dibasmi habis!

Ketika rombongan pasukan itu tiba di sebuah jalan raya yang ramai, dari tengah-tengah orang banyak melompat keluar seorang gadis yang berpakaian mewah dan sikapnya lincah sekali.

Gadis ini masih remaja puteri, usianya paling banyak limabelas tahun.

Rambutnya dikepang model puteri-puteri bangsawan, dihias tusuk rambut yang indah sekali terbuat dari emas dan batu kemala berbentuk Burung Hong yang indah.

Pakaiannya dari sutera halus, celananya berwarna biru dan bajunya berkembang-kembang merah kuning.

Tidak ada yang tahu dari mana datangnya gadis remaja ini karena yang tampak tadi hanya bayangan berkelebat dan tahu-tahu ia telah berdiri di depan perwira gendut berkumis tebal yang sedang menarik lengan dan menyeret tubuh Siu Hwa.

"Kamu babi gemuk tak tahu malu!"

Tiba-tiba gadis itu memaki dan kedua tangannya bergerak cepat.

"Plak-plak-plak-plak!"

Kedua pipi perwira itu ditampar bertubi-tubi sehingga mukanya bergoyang ke kanan kiri dan menjadi matang biru!

Luar biasa sekali!

Kedua tangan yang mungil dan lembut itu dapat bergerak dengan cepat luar biasa dan ternyata mengandung tenaga yang dahsyat!

Untuk beberapa detik sepasang mata perwira itu melotot lebar seolah-olah hendak melompat keluar dari rongga mata saking marah dan herannya.

"Keparat......! Kau setan perempuan......."

"Wuuuttt...... crattt...... aduuuuhhh.......!"

Makian perwira itu disusul oleh jeritnya dan darah mengucur dari bawah hidungnya.

Ternyata kumisnya yang tebal itu telah copot disambar secepat kilat oleh lima jari tangan yang mungil dan runcing halus itu!

"Tidak pantas seekor babi gemuk macam engkau berkumis tebal,"

Gadis itu mengejek sambil melempar kumis itu dengan sikap jijik.

"Engkau menghina seorang gadis. Ia tidak mau menjadi Siu-li, mengapa engkau memaksanya? Kaisar tidak pernah menginginkan Siu-li paksaan, kau tahu?"

Perwira itu tampak lucu dan juga patut dikasihani.

Lucu karena dia tidak kelihatan garang lagi dan mukanya menjadi lucu dan jelek seperti seekor kucing tak berkumis.

Akan tetapi melihat darah menetes-netes dari atas bibirnya membuat orang merasa ngeri dan menaruh iba.

Akan tetapi perwira itu marah sekali.

Dia adalah seorang perwira dan biasanya dia amat dihormati dan ditakuti orang, juga ditaati, bukan saja oleh para perajurit bawahannya, melainkan juga oleh rakyat pada umumnya.

Kini dia mengalami penghinaan seperti itu, sungguh membuat dia hampir gila saking marahnya.

Dia mencabut goloknya dan hendak menyerang gadis remaja yang berdiri di depannya sambil bertolak pinggang menantang dan tersenyum mengejek.

Akan tetapi tiba-tiba seorang perajurit melompat ke depan dan membisikkan sesuatu dekat telinga Sang Perwira.

Wajah perwira tanpa kumis itu berubah pucat sekali dan otomatis goloknya kembali ke pinggangnya.

Dia tampak lemas dan kedua kakinya gemetar, lalu dia memberi hormat kepada gadis remaja itu sambil membungkuk-bungkuk.

"Mohon maaf sebesarnya karena saya tadi tidak mengenal Siocia (Nona). Akan tetapi...... tentang gadis ini".. saya...... saya hanya menjalankan tugas, saya hanya diperintah oleh Kui-thaijin......."

"Tidak peduli yang memerintahmu pembesar atau setan she Kui, tidak boleh engkau memaksa seorang gadis yang tidak suka menjadi Siu-li! Hayo engkau antarkan kembali Nona ini ke rumahnya dan selanjutnya kalau sampai dia diganggu, pengganggunya akan kubikin pecah kepalanya! Tentang si orang she Kui, biar sekarang juga aku yang akan bereskan!"

Aneh sekali!

Perwira itu sambil meringis menahan rasa nyeri dan malu, mengangguk-angguk lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengantarkan kembali Cong Siu Hwa pulang ke rumah orang tuanya.

Gadis remaja lincah dan galak itu setelah melihat perintahnya ditaati, tersenyum puas, mengangguk-angguk lalu pergi menuju ke gedung Kui-thaijin.

Tentu saja rakyat yang kebetulan melihat peristiwa itu, menjadi heran dan bertanya-tanya.

"Siapa ia?"

"Hebat betul gadis remaja itu. Siapakah ia?"

"Bagaimana mungkin perwira itu begitu takut kepadanya?"

Bagi semua orang yang melihat peristiwa tadi, memang terasa aneh sekali dan kalau mereka hanya mendengar cerita orang lain, pasti tidak akan percaya.

Seorang di antara mereka, yang berpakaian sebagai seorang pedagang keliling dan dia sudah menjelajah banyak tempat sampai ke kota raja, merasa bangga akan pengetahuannya dan dia menceritakan kepada mereka yang bergerombol dan mendengarkan ceritanya.

"Bagaimana perwira itu tidak akan takut? Nona tadi adalah Lu-siocia, puteri tunggal dari Pangeran Lu Kok Kong di kota raja. Pangeran Lu adalah keluarga Sribaginda Kaisar yang dekat dan besar sekali pengaruhnya, bahkan beliau merupakan seorang yang menjadi seorang di antara para penasehat Sribaginda Kaisar! Kukira sekarang Kui-thaijin juga menghadapi perkara yang amat tidak enak baginya. Syukurlah, pada musim pemilihan Siu-li di sini muncul Lu-siocia, benar-benar penduduk Pao-ting bernasib baik, pada waktu susah muncul bintang penolong."

Apa yang diceritakan pedagang itu memang benar.

Gadis remaja yang lincah dan cantik jelita itu adalah puteri tunggal Pangeran Lu Kok Kong, seorang keluarga istana yang memiliki kedudukan tinggi di kota raja dan memiliki pengaruh yang besar.

Gadis itu merupakan anak tunggal dan tentu saja amat disayang oleh ayahnya.

Lu Kok Kong adalah seorang pangeran yang sejak mudanya terkenal mata keranjang dan sudah puluhan kali berganti selir.

Bahkan sekarang juga, selain isteri pertama yang masih keluarga bangsawan besar, dia mempunyai sembilan orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik!

Mungkin karena sejak mudanya dia terlalu suka pelesir mengumbar nafsu berahinya sebagai seorang yang gila perempuan, maka di antara semua selirnya, hanya seorang saja yang melahirkan anak, yaitu selir terakhir atau termuda yang diambilnya sebagai selir sekitar tujuhbelas tahun yang lalu secara paksa.

Lebih tepat lagi dikatakan bahwa selir terakhir ini dia dapatkan sebagai "persembahan"

Atau hadiah dari seorang panglima besar bernama Kong Tek Kok, seorang panglima Mongol yang amat lihai dan terkenal sebagai seorang "jagoan"

Di kota raja.

Tentu mudah diduga siapa adanya selir ini kalau kita ingat akan peristiwa yang terjadi pada awal cerita ini.

Selir termuda itu bukan lain adalah Pouw Sui Hong, adik perempuan Pouw Keng In.

Seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, ketika keluarga Pouw dibasmi oleh pasukan yang dipimpin Panglima Kong Tek Kok di So-couw, Pouw Keng In bersama isterinya yang mengandung tua dan adiknya perempuan melarikan diri.

Akhirnya Pouw Keng In tewas oleh anak panah yang dilepas Panglima Kong Tek Kok, juga isterinya, Tan Bi Lian, terluka dan hanyut terbawa arus Sungai Huai.

Akan tetapi Pouw Sui Hong, adiknya yang menjadi kembang kota So-couw itu, ditawan Panglima Kong Tek Kok.

Sebetulnya, melihat kecantikan Pouw Sui Hong, Panglima Kong Tek Kok juga tergila-gila, akan tetapi nafsunya untuk mendapatkan kedudukan tinggi lebih besar daripada rasa cintanya terhadap gadis tawanannya itu.

Maka dia lalu membawa Pouw Sui Hong ke kota raja dan mempersembahkannya kepada seorang pangeran yang mempunyai kedudukan tinggi dan pengaruh besar di istana, yaitu Pangeran Lu Kok Kong.

Pangeran yang mata keranjang ini tentu saja menerima persembahan itu dengan girang karena memang kecantikan Sui Hong membuat jantungnya hampir copot.

Demikianlah, pada hari itu Pouw Sui Hong yang tidak berdaya terjatuh ke dalam tangan pangeran yang mata keranjang itu dan menjadi selirnya yang kesembilan!

Akan tetapi, Pouw Sui Hong yang tadinya berduka dan ingin sekali membunuh diri, lambat laun merasa betapa besar cinta kasih pangeran itu kepadanya.

Perlakuan yang amat baik dan manis, sikap yang amat mencinta, akhirnya menjatuhkan hatinya.

Kemudian Sui Hong berjanji dengan suka rela suka menjadi selir pangeran itu asalkan pangeran itu bersumpah bahwa selanjutnya tidak akan mengganggu gadis lain dan tidak akan menambah jumlah selirnya.

Memang aneh sekali kalau orang sudah jatuh cinta.

Kalau yang mengajukan syarat itu wanita lain, mungkin Pangeran Lu Kok Kong akan marah sekali dan setelah puas mempermainkannya dengan paksa, akan melemparkannya menjadi permainan anak buahnya!

Akan tetapi sebaliknya, Pangeran Lu Kok Kong mau bersumpah dan memenuhi keinginan selir terbarunya itu.

Ternyata kemudian bahwa pangeran itu memang benar-benar amat mencinta dan tunduk, bahkan menjadi lemah menghadapi Sui Hong yang bersikap wajar, tidak pernah bersikap genit bermuka-muka kepadanya seperti para selir lain yang seolah berlumba untuk menarik hatinya.

Lebih-lebih lagi setelah dia mendapat kenyataan bahwa Pouw Sui Hong mengandung!

Pangeran Lu menjadi girang sekali dan cintanya makin mendalam.

Kalau saja Sui Hong tidak mencegahnya, tentu Pangeran Lu Kok Kong sudah mengusir dan menceraikan semua selir yang lain, bahkan mau mengangkat Sui Hong sebagai Toa Hujin, sebagai isteri pertama.

Akan tetapi Sui Hong tidak membolehkannya.

Ia adalah seorang wanita dari keturunan baik-baik, keturunan orang-orang gagah yang tidak sudi membuat sengsara orang lain demi kesenangan diri sendiri.

Hubungannya dengan para madunya, yaitu selir-selir yang lain, amat baik, dan terhadap isteri pertama Pangeran Lu ia tetap menghormati sebagai saudara tua.

Oleh karena itu, baik isteri pertama maupun para selir Pangeran Lu, mereka semua suka dan berterima kasih kepada Sui Hong.

Sikap Pangeran Lu berubah banyak dan menjadi baik dan lembut sehingga kehidupan keluarga Lu selalu aman dan damai semenjak Sui Hong menjadi penghuni gedung itu.

Beberapa kali Pouw Sui Hong menyatakan rasa sakit hatinya yang mendalam terhadap Panglima Kong Tek Kok, bahkan pernah ia membujuk suaminya untuk membalaskan sakit hati keluarganya.

Ia membujuk suaminya agar suka mempergunakan pengaruh dan kekuasannya untuk menjatuhkan Kong Tek Kok.

Akan tetapi Pangeran Lu Kok Kong membujuknya dan menyabarkan hatinya, dengan halus menjawab.

"Sui Hong sayang, hal itu mudah dibicarakan akan tetapi sukar dilaksanakan. Kong Tek Kok adalah seorang panglima yang banyak jasanya terhadap negara dan Kaisar. Memusuhi seorang seperti dia, bagiku memang mudah, akan tetapi akibatnya juga akan hebat dan berbahaya. Sui Hong, mengapa engkau tidak mau melupakan hal-hal yang sudah lalu? Ingatlah bahwa Panglima Kong Tek Kok membasmi keluargamu bukan karena rasa benci atau permusuhan pribadi, melainkan karena dia harus menjalankan tugas dan memenuhi kewajibannya. Bagi seorang petugas, siapa saja yang menjadi musuh negara harus dibasminya, tidak peduli siapa orangnya."

"Pendapat Paduka ini memang tidak dapat saya bantah, akan tetapi saya yang melihat keluarga saya dibasmi orang, bagaimana mungkin tidak merasa sakit hati? Biarpun yang menyuruh pembasmian atas keluarga saya itu pemerintah, tetapi yang melaksanakannya adalah Panglima Kong. Kalau bukan kepada dia saya menaruh dendam, lalu kepada siapa?"

Sepasang mata Sui Hong mulai membasah, bibir yang halus lunak itu mulai gemetar, hendak menangis. Pangeran Lu Kok Kong memeluk selirnya itu dengan penuh kasih sayang dan menghiburnya.

"Sui Hong, engkau tidak melihat hikmat kebaikan yang tersembunyi di balik peristiwa yang buruk. Semua hal yang terjadi di dunia ini sudah dikehendaki Thian (Allah). Buktinya, kalau saja Panglima Kong Tek Kok tidak melakukan tugas itu, apakah kita dapat saling bertemu dan menjadi suami isteri? Betapapun juga, kita patut berterima kasih kepada Panglima Kong untuk dua hal. Pertama, dia menaruh kasihan kepadamu dan tidak membunuhmu dan yang kedua, dia mempertemukan kita. Kalau lain panglima yang melakukan tugas itu, mungkin sekali engkau sudah ikut tewas dan kita tidak dapat saling berjumpa! Nah, hentikan kesedihanmu dan kita lupakan saja semua yang telah lalu."

Dalam kesedihannya, hampir saja Sui Hong menjawab bahwa ia lebih suka mati bersama dengan keluarganya.

Akan tetapi ia menahan kata-katanya itu karena ia harus mengakui bahwa setelah menjadi isteri Pangeran Lu Kok Kong, timbul rasa cinta kepada suaminya yang selalu bersikap baik dan meruperlihatkan kasih sayangnya itu.

Setelah melahirkan puterinya, Sui Hong sudah tidak begitu ingat lagi akan hal itu dan ia juga tidak pernah mendesak lagi kepada suaminya untuk membalaskan dendam sakit hatinya kepada Panglima Kong Tek Kok.

Pangeran Lu Kok Kong yang cerdik juga diam saja, bahkan dia tidak memberitahu isterinya ketika secara diam-diam dia menyuruh puterinya yang diberi nama Lu Siang Ni berguru kepada Panglima Kong Tek Kok.

Dia hanya memberitahu bahwa Siang Ni di samping belajar ilmu sastra, juga belajar ilmu silat kepada guru silat yang pandai di istana.

Tadinya Sui Hong merasa keberatan puterinya disuruh belajar ilmu silat, akan tetapi Pangeran Lu Kok Kong dengan cerdik berkata.

"Sui Hong, ilmu silat adalah olah raga yang menyehatkan tubuh dan membesarkan semangat. Pula, biarpun anak kita seorang perempuan, kalau ia pandai ilmu silat, kelak tidak ada orang yang berani bermain gila dan mengganggunya. Coba saja pikir dan pertimbangkan, bukankah akan baik sekali bagi Siang Ni kalau ia pandai membela diri?"

Akhirnya Sui Hong mengalah dan membiarkan pendidikan puterinya diatur oleh suaminya.

Kehidupan yang serba kecukupan, terhormat dan penuh kesenangan membuat Sui Hong menjadi tidak acuh.

Baginya, asal ia melihat anaknya dan suaminya hidup berbahagia, ia pun merasa puas dan bahagia.

Demikianlah, Lu Siang Ni menjadi murid Panglima Kong Tek Kok, panglima yang menduduki tempat tinggi berkat bantuan Pangeran Lu Kok Kong yang merasa berhutang budi kepadanya karena panglima itu telah mempersembahkan Sui Hong yang kemudian menjadi selir tercinta, bahkan yang dapat melahirkan keturunannya.

Mula-mula Panglima Kong Tek Kok hanya menurunkan ilmu silat kepada Lu Siang Ni secara iseng-iseng saja, karena dia merasa sungkan kepada Pangeran Lu Kok Kong.

Kalau saja anak itu bukan puteri Pangeran Lu, pasti dia tidak sudi menerimanya sebagai muridnya.

Akan tetapi dia terkejut dan juga girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa Siang Ni memiliki bakat yang luar biasa baiknya dalam ilmu silat.

Bahkan puteranya yang lima tahun lebih tua daripada Siang Ni, yang bernama Kong Sek, biarpun juga berbakat, namun masih kalah cerdas oleh Siang Ni.

Setelah melihat bakat besar ini, timbul harapan dan kegembiraan dalam hati Panglima Kong dan beberapa tahun kemudian, Siang Ni telah menjadi muridnya yang amat dia sayang.

Dalam usia empatbelas tahun saja, kepandaian Siang Ni telah meningkat demikian cepatnya sehingga dalam latihan silat, ia dapat membuat suhengnya, yaitu Kong Sek, menjadi kewalahan dan terdesak.

Melihat ini, Panglima Kong menjadi semakin bersemangat memberi pelajaran kepada Siang Ni sehingga ketika ia berusia limabelas tahun, gadis remaja ini telah menjadi seorang ahli silat yang pandai dan lihai, terutama sekali ilmu pedangnya.

Siang Ni amat dimanja, baik oleh ayah bundanya yang amat mencintanya, maupun oleh semua ibu tirinya, yaitu isteri dan para selir ayahnya yang tidak mempunyai anak.

Selain orang serumah termasuk para pelayan yang mencintanya, juga gurunya, Panglima Kong amat sayang kepadanya.

Boleh dibilang semua orang yang dekat dengan keluarga Pangeran Lu, tentu memperlihatkan sikap sayang kepada Siang Ni, baik yang sungguh-sungguh sayang maupun yang hanya pura-pura, mengingat bahwa gadis remaja itu adalah puteri Pangeran Lu Kok Kong yang berkuasa.

Mereka yang benar-benar suka dan sayang disebabkan karena puteri pangeran itu memang lincah gembira dan ramah terhadap semua orang, tidak sombong dan suka mengulurkan tangan mereka yang membutuhkan.

Akan tetapi karena semua orang bersikap manis kepadanya dan merasa dimanja, Siang Ni menjadi lincah dan agak binal!

Andaikata ia bukan puteri seorang pangeran Mongol, tentu orang-orang akan menganggap ia seorang gadis "liar".

Sudah sering ibunya marah kepadanya, namun tetap saja Siang Ni melanggar larangan ibunya dan seringkali gadis remaja ini keluar dari rumah dan bermain-main sampai jauh, bukan hanya jauh dari rumah, terkadang bahkan keluar kota raja.

Dengan kudanya yang berbulu putih, gadis remaja ini seringkali tampak membalapkan kudanya keluar kota, meninggalkan debu mengebul tinggi di belakang kudanya.

Selain suka keluyuran keluar kota.

Siang Ni juga berbeda dari puteri-puteri bangsawan lainnya.

Kalau para puteri bangsawan berwatak tinggi hati dan tidak sudi mendekati rakyat kecil, apalagi bergaul, Siang Ni sudah biasa beramah-tamah dengan rakyat.

Bahkan tidak jarang terlihat gadis remaja ini dijamu makan di rumah sebuah keluarga petani miskin dan gadis ini makan masakan sederhana di dusun sambil bersenda-gurau, kemudian sebelum pergi ia meninggalkan sepotong uang emas kepada keluarga itu.

Inilah sebabnya maka Siang Ni amat dikenal rakyat di kota maupun di desa sekitar kota raja, dan diam-diam ia dikagumi dan disukai rakyat.

Setelah meninjau sepintas lalu riwayat gadis remaja aneh dari kota raja itu, maka tidak mengherankan kalau pedagang keliling itu segera mengenal Siang Ni ketika gadis itu mempermainkan perwira gemuk berkumis tebal dan menolong Cong Siu Hwa, gadis kota Pao-ting yang dipaksa untuk dijadikan Siu-li.

Mari sekarang kita ikuti perjalanan Lu Siang Ni.

Seperti kita ketahui, gadis remaja itu setelah memberi hajaran keras kepada perwira gemuk berkumis tebal dan memaksanya mengembalikan Cong Siu Hwa ke rumah orang tuanya, lalu pergi mengunjungi rumah Kui-thaijin, pembesar yang memberi perintah mengumpulkan para gadis cantik untuk dijadikan Siu-li.

Kui-thaijin adalah seorang pembesar angkatan baru.

Baru beberapa bulan dia diangkat menjadi kepala daerah di Pao-ting.

Setelah berusia limapuluh tahun baru dia dapat lulus ujian di kota raja.

Hal ini pun bukan berkat kepintarannya, melainkan karena dia menggunakan cara licik, yaitu memberi uang sogokan kepada Ko-khoa (Kepala Ujian) di kota raja.

Pada jaman itu, seperti juga terjadi dalam jaman-jaman sebelumnya dan jaman berikutnya sampai sekarang, sogok menyogok dan suap menyuap dilakukan manusia segala bangsa dan segala negara.

Kecurangan Kui-thaijin berhasil dan dia "dibikin"

Lulus oleh Ko-khoa dengan mendapat pujian.

Oleh karena itu, maka kaisar yang menganggap dia pandai melihat hasil ujiannya, orang she Kui ini diangkat menjadi Kepala Daerah di Pao-ting.

Sebetulnya, bukan Kaisar yang mengangkatnya, melainkan ada pembesar yang menangani urusan pengangkatan jabatan ini.

Kaisar hanya menyetujuinya saja.

Karena maklum bahwa apabila dia ingin memperoleh kedudukan baik, dia harus berani "menyogok"

Atasan, maka begitu tiba di Pao-ting, sebulan kemudian dia lalu memerintahkan perwira yang bertugas di bawah pangkatnya, untuk mengumpulkan duapuluh empat orang gadis tercantik di Pao-ting untuk "dipersembahkan"

Kepada kaisar.

Tentu saja dalam urusan ini dia berdalih bahwa kaisar yang menghendaki penambahan Siu-li dari Pao-ting dan dia hanya melaksanakan perintah.

Tentu saja hal ini tidak benar dan sesungguhnya semua itu adalah kehendaknya sendiri yang ingin mengambil hati kaisar, orang pertama dan terbesar di Cina waktu itu.

Para pembesar lainnya, termasuk perwira gemuk berkumis tebal itu, bukan tidak dapat menduga akan isi hati dan akal pembesar baru Kui ini, akan tetapi mereka pun tiada bedanya dengan Pembesar Kui.

Mereka pun hendak mempergunakan kesempatan ini untuk membantu dan mengambil hati Pembesar Kui yang menjadi atasan mereka, maka dengan senang hati perwira gemuk berkumis tebal itu pun melaksanakan perintah Kui-thaijin dengan senang hati.

Penguasa atasan seyogianya menjadi pemimpin dan tauladan bawahannya.

Kalau tangan para atasan kotor, bagaimana mungkin mengharapkan tangan bawahan mereka bersih?

Kalau tangan seorang penguasa atasan bersih, pasti dia akan bertindak dan menegur bawahannya yang bertangan kotor sehingga para bawahannya takut mengotori tangan mereka.

Akan tetapi kalau tangan atasan sendiri kotor, tentu dia akan merasa sungkan dan malu untuk menindak bawahannya yang bertangan kotor.

Sebagai hasil pengumpulan gadis-gadis cantik di Pao-ting, di rumah gedung Pembesar Kui sudah penuh dengan gadis-gadis cantik yang dikumpulkan dari berbagai dusun daerah Pao-ting, juga terdapat gadis-gadis kota Pao-ting sendiri.

Ada duapuluh tiga orang gadis muda berusia antara limabelas sampai tujuhbelas tahun dikumpulkan di ruangan tengah yang luas.

Menarik sekali untuk memperhatikan sikap dan gerak-gerik mereka ini.

Rata-rata mereka adalah gadis-gadis cantik yang memiliki kecantikan melebihi gadis pada umumnya.

Mereka merupakan gadis-gadis pilihan.

Sebagian besar di antara mereka mengenakan pakaian mereka yang paling indah.

Mereka pun mempersolek diri dengan bedak dan gincu, sikap mereka dibuat-buat sehingga tampak halus menarik dan kalau melenggang bagaikan pohon yang-liu (cemara) tertiup angin.

Sebagian besar dari duapuluh tiga orang gadis itu tampak gembira dan sengaja memamerkan kecantikan atau menonjolkan kelebihannya dengan maksud agar dapat terpilih, baik terpilih oleh pembesar yang mengumpulkan mereka, oleh atasannya, oleh Kaisar, atau oleh siapa saja yang kiranya berkedudukan tinggi!

Gadis-gadis itu tidak dapat terlalu disalahkan.

Pada masa itu, dan mungkin juga sampai masa kini, para orang tua siang malam menimang-nimang anak perempuan mereka dengan kata-kata harapan agar kelak anak mereka menjadi isteri atau selir pembesar tinggi yang kaya raya, kalau mungkin menjadi selir kaisar.

Karena sejak kecil dijejali harapan orang tua mereka seperti itulah maka di dalam hati mereka, para gadis itu membayangkan bahwa kebahagiaan hidup mereka hanya dapat diujudkan sesuai dengan harapan mereka, yaitu apabila mereka menjadi isteri atau selir orang-orang berpangkat tinggi yang kaya raya!

Akan tetapi, ada enam orang di antara duapuluh tiga orang gadis itu yang kelihatan berduka, bahkan ada yang sejak dibawa ke tempat itu menangis tersedu-sedu.

Mereka ini berkerumun di sudut ruangan, saling rangkul dan saling menghibur.

Akan tetapi apakah artinya hiburan orang senasib?

Pada saat itu, Pembesar Kui duduk di ruangan depan, bercakap-cakap dengan para pembesar bawahannya dan mereka tampak gembira sekali.

"Bagus, bagus!"

Kata Kui-thaijin setelah minum arak dari cawannya.

"Hong-siang (Kaisar) tentu akan senang sekali melihat semua gadis itu. Apalagi kalau melihat puteri keluarga Cong yang sudah terkenal cantik sebagai Bunga Pao-ting."

Seorang pembesar bawahannya yang belum begitu tua dan memiliki mata seperti mata burung, mengangguk-angguk dan mengacungkan ibu jarinya.

"Memang gadis keluarga Cong itu hebat sekali, Thaijin!"

Katanya.

"Semua gadis yang sudah dikumpulkan di sini sekarang, kalau dibandingkan dengan kecantikan Nona Cong, mereka hanya pantas menjadi pelayannya. Pendeknya, kalau Nona Cong itu diberi pakaian sutera putih, tiada ubahnya seperti Kwan Im Pouw-sat (Dewi Kwan Im)!"

Para pembesar lain yang berada di situ mengeluarkan pujian masing-masing, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan hati Kui-thaijin, atasan mereka.

"Saya setiap hari membeli tahu, bukan hanya karena tahu buatan keluarga Cong memang enak sekali, melainkan terutama sekali karena saya yakin bahwa tahu-tahu itu tentu bekas disentuh tangan Nona Cong maka menjadi begitu...... hmmm....... begitu lezat!"

Kembali mereka tertawa-tawa, kemudian seorang di antara empat orang pembesar bawahan Kui-thaijin itu berkata.

"Kui-thaijin sudah beristeri akan tetapi selir Thaijin belum cukup banyak, mengapa tidak menahan saja Nona Cong di sini untuk Thaijin sendiri? Hong-siang tidak akan tahu dan pula, bukankah gadis-gadis lain itu pun cukup cantik menggiurkan?"

Kui-thaijin tertawa, akan tetapi telunjuknya diangkat dan ditudingkan ke arah pembesar itu sambil berkata.

"Hemm, kalau saja ada telinga istana mendengar ucapanmu itu......"

Wajah pembesar yang mengajukan usul tadi berubah pucat sekali.

Dia maklum bahwa sekali saja Kui-thaijin melaporkan ucapannya itu ke istana, dia akan mendapat celaka besar!

Buru-buru dia bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada atasannya itu.

"Kui-thaijin, harap maafkan saya. Saya tadi hanya bicara main-main. Sebetulnya kalau memang Thaijin menginginkan tambahan selir, saya mempunyai simpanan beberapa bunga cantik yang belum dipetik di taman saya."

Dengan ucapan ini dia bermaksud bahwa dia pun mempunyai beberapa orang gadis simpanan di gedungnya yang hendak dipersembahkan kepada atasannya itu.

Kui-thaijin tertawa bergelak sambil minum araknya dari cawan.

"Ha-ha-ha, dan bagaimana dengan puterimu? Aku mendengar bahwa puterimu itu pun amat jelita......"

Wajah pembesar itu berubah merah sekali.

"Hal itu...... ah...... maksud saya anak saya itu...... ia amat buruk rupa dan bodoh......"

Tiba-tiba dari luar masuk seorang gadis remaja yang cantik dan berpakaian indah.

Gadis itu adalah Lu Siang Ni yang menerobos dengan nekat memasuki gedung itu.

Beberapa orang penjaga di depan pintu menghadangnya dan seorang di antara mereka menegur dengan kata-kata menggoda.

"Eh, Nona manis, engkau hendak mencari siapakah? Apakah engkau hendak mohon menjadi Siu-li?"

Siang Ni tersenyum manis sekali.

Ia tidak marah oleh teguran itu yang dianggapnya sebagai main-main yang tidak menyinggung perasaan.

Baginya, menjadi Siu-li adalah soal biasa yang sudah dihadapinya sehari-hari di lingkungan istana.

"Memang aku hendak bertemu dengan Pembesar Kui untuk bicara tentang pengiriman Siu-li ke istana,"

Jawabnya dengan ramah dan manis. Mendengar ucapan dan melihat sikap Siang Ni yang manis dan melihat kecantikannya yang menggiurkan, para penjaga itu menjadi ceriwis dan timbul kekurangajaran mereka.

"Aduh, Nona manis. Gadis secantik engkau sungguh sayang kalau menjadi Siu-li. Engkau akan menderita kedinginan di istana karena terlalu banyak sainganmu,"

Kata seorang.

"Eh, Nona manis. Daripada engkau menderita di sana, lebih baik engkau ikut saja dengan aku. Aku masih perjaka tulen dan belum menikah!"

Kata yang lain sambil cengar-cengir memasang aksi. Beberapa orang bahkan dengan lancang sekali mencoba untuk mencolek dan meraba tubuh gadis itu. Kini timbul kemarahan dalam hati Siang Ni.

"Hemm, kalian mulai kurang ajar!"

Bentaknya.

"Aduh galaknya! Akan tetapi makin galak malah makin cantik dan lucu. Bukankah begitu, kawan-kawan?"

Seru seorang penjaga lain.

"Betul sekali! Nona manis, mari bersenang-senang dengan kami saja kalau engkau ingin benar mendapatkan kawan pria,"

Kata mereka.

Saat itulah ditentukannya nasib para penjaga itu.

Memang benar kata-kata para bijak di jaman dahulu bahwa sikap dan kata-kata merupakan jembatan licin yang dapat menjebloskan manusia ke dalam jurang petaka.

Begitu mengeluarkan sikap dan kata-kata .yang tidak sopan dan kurang ajar, para penjaga itu sudah menentukan nasib yang akan mereka alami.

"Kalian anjing-anjing tak tahu malu!"

Bentak Siang Ni dan di lain saat kaki dan tangannya bergerak cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar.

Dalam sekejap mata saja, lima orang penjaga itu roboh tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

Mereka menggeliat-geliat di atas tanah seperti cacing terkena abu panas, sakit-sakit rasanya seluruh tubuh mereka akan tetapi mereka tidak dapat mengeluarkan suara!

Siang Ni tersenyum mengejek sambil menepuk-nepuk kedua tangan seperti orang membuang debu yang menempel di telapak tangan.

Kemudian ia melangkah masuk gedung itu tanpa mempedulikan lagi lima orang penjaga itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya Pembesar Kui dan empat orang bawahannya yang sedang duduk makan minum di ruangan depan sambil bercakap-cakap itu ketika mereka melihat masuknya seorang gadis remaja cantik jelita dari luar tanpa ada laporan dari para penjaga.

Akan tetapi saking kagumnya melihat kecantikan Siang Ni, Pembesar Kui terpesona dan berseru.

"Aduh, betapa cantik jelitanya gadis ini! Siapakah ia? Apakah termasuk seorang diantara calon Siu-li?"

Akan tetapi, tiga orang bawahannya yang sudah lama menjabat pangkat mereka dan sudah seringkali pergi ke kota raja dan mengenal Lu Siang Ni, menjadi pucat mendengar kata-kata Kui-thaijin.

Mereka memberi isyarat kepada atasan mereka dengan kedipan mata disertai suara "sstt......

sstt......"

Dengan maksud agar Kui-thaijin menutup mulutnya.

Akan tetapi Kui-thaijin tidak mengerti akan isyarat mereka, bahkan ketika melihat Siang Ni menghampiri ke tempat mereka dengan senyum manis sekali dan lenggang yang mengairahkan, dia segera bangkit berdiri dan mengucapkan kata-kata merayu.

"Nona manis, apakah engkau bidadari dari kahyangan? Siapakah namamu dan bantuan apakah yang dapat kulakukan untukmu? Katakanlah, manis!"

Siang Ni melihat bahwa pembesar itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih limapuluh tahun, matanya juling dan daun telinganya kecil seperti telinga tikus, dan pada muka dan sikapnya jelas sekali tampak ciri-ciri watak yang licik dan buruk.

"Apakah kamu yang bernama Kui Leng dan menjadi Kepala Daerah di Pao-ting ini?"

Tanya Siang Ni sambil menyipitkan mata kanannya.

Inilah kebiasaan yang lucu dari Siang Ni sejak kecil.

Kalau ia memikirkan sesuatu, atau sedang dikuasai perasaan marah atau malu, otomatis mata kanannya menyipit dan tampak lucu dan manis sekali!

Melihat wajah gadis remaja itu, Kui-thaijin semakin tertarik dan sambil menyeringai dia berkata lagi.

"Benar sekali, Nona manis. Aku adalah Kui-thaijin, Kepala Daerah yang baru di kota ini. Engkau siapakah, siapa orang tuamu dan ada keperluan apakah engkau datang berkunjung?"

Peristiwa apa yang menimpa lima orang penjaga di luar gedung tadi sama sekali tidak diketahuinya.

"Aku mendengar bahwa engkau mengumpulkan gadis-gadis di daerah ini. Untuk apakah itu?"

Siang Ni bertanya, suaranya masih biasa.

Pembesar Kui tertawa dan dia melirik kepada empat orang bawahannya dan bukan main herannya melihat empat orang pembesar itu menundukkan muka dan tampak seperti orang-orang yang ketakutan.

Akan tetapi hal ini belum menyadarkannya, maka dia berkata lagi dengan lagak dibuat-buat agar tampak gagah berwibawa dan menarik.

"Benar, Nona manis. Aku mengumpulkan dan membutuhkan duapuluh empat orang calon Siu-li untuk Sribaginda Kaisar. Apakah engkau ingin...... ah, jangan! Lebih baik engkau ikut saja dengan aku di sini dan hidup makmur bahagia. Bagaimana, engkau mau, bukan?"

Tiba-tiba Pembesar Kui terkejut sekali dan menjadi semakin terheran-heran ketika dia melihat empat orang pembesar bawahan itu bangkit dari kursi mereka dan mereka berempat menghadap gadis itu, menjura dan membungkuk dengan sikap hormat sekali kepada Siang Ni dan seorang dari mereka berkata dengan sikap hormat dan takut-takut.

"Lu-siocia, mohon maaf sebanyaknya kalau Kui-thaijin bicara main-main karena agaknya dia belum mengenal Siocia."

Kemudian pembesar itu menoleh kepada Kui-thaijin dan berkata.

"Kui-thaijin, ketahuilah bahwa Nona ini adalah Lu-siocia, puteri tunggal dari Pangeran Lu Kok Kong di kota raja."

Kalau ada petir menyambar kepalanya saat itu, agaknya Pembesar Kui tidak akan begitu kaget seperti ketika mendengar ucapan bawahannya ini.

Mukanya menjadi pucat sekali dan dia merasa mulutnya mendadak kering.

Dia bangkit dari kursinya dengan kedua kaki menggigil, lalu menjura dengan hormat dan berkata dengan lirih dan gagap.

"...... Saya...... eh, .......Nona, harap Nona maafkan...... mengapa Nona tidak memberitahu dari tadi? Eh...... Lu-siocia, bagaimana...... bagaimana kabarnya ayah Nona yang mulia? Saya harap dalam keadaan baik dan selamat, dan saya harap...... Nona sudi menyampaikan hormat saya yang setingginya kepada beliau......."

Melihat perubahan sikap pembesar itu, Siang Ni menggerakkan bibirnya dan tersenyum mengejek.

"Orang she Kui, baru saja menjabat pangkat di kota ini, engkau sudah memperlihatkan sikap sombong dan tengik! Kau tahu apa dosamu?"

Bentaknya.

Kui-thaijin merasa terkejut dan ketakutan karena dia sudah mendengar akan nama besar Pangeran Lu Kok Kong dan tahu bahwa pangeran itu mempunyai pengaruh besar di istana.

Akan tetapi kalau puteri pangeran itu sampai begini kurang ajar, dia sungguh tidak mengerti.

Apa yang diandalkan seorang gadis remaja yang lemah biarpun ia puteri bangsawan?

Bagaimana seorang gadis bangsaaan dapat bersikap begini liar dan kasar?

"Nona, harap suka maafkan sikap saya tadi.

Saya hanya main-main dan sungguh mati saya tidak tahu bahwa Nona adalah Lu-siocia yang terhormat,"

Kembali dia memberi hormat sambil membungkuk.

"Bukan itu, tikus!"

Siang Ni membentak marah.

"Untuk kesalahanmu yang itu, baik nanti aku bicarakan lagi. Sekarang yang kuurus dan kutanyakan, tahukah engkau akan dosamu dalam hal mengumpulkan calon Siu-li?"

"Dosa saya? Apakah yang Nona maksudkan? Saya mengumpulkan calon Siu-li untuk Yang Mulia Hong-siang, apakah salahnya dengan itu?"

Tanya Pembesar Kui dengan sikap setengah menantang.

Dia pikir bahwa mengumpulkan Siu-li untuk kaisar merupakan jasa besar dan dengan menggunakan nama kaisar, siapa berani menentang?

Dia tidak perlu takut akan gertakan seorang bocah perempuan yang manja!

"Tikus tua busuk!

Engkau mengumpulkan Siu-li, katamu?

Engkau tidak mengumpulkan, melainkan memaksa anak orang dengan kekerasan untuk menyerahkan anak perempuan mereka!

Sungguh kepalamu yang penuh kotoran itu harus dipukul!"

Pembesar Kui tampak marah dan hendak membantah, akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat dan terdengar suara "takk!", topi kebesaran di atas kepala Kui-thaijin terlempar jatuh dan kulit kepalanya terasa nyeri dan di situ timbul benjolan sebesar telur ayam!

Pembesar Kui menjadi pucat sekali dan meringis kesakitan, tangan kiri mengelus benjol kepalanya dan tangan kanan mencari topinya yang terjatuh.

Hampir saja dia memaki dan memanggil penjaga, akan tetapi empat orang bawahannya sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Siang Ni sambil memintakan ampun untuknya.

Kui-thaijin merasa heran sekali melihat empat orang bawahannya demikian takut terhadap gadis remaja itu.

Hal ini membuat dia merasa agak gentar pula, apalagi kalau dia mengingat betapa ketika menampar kepalanya tadi, gadis remaja itu bergerak sedemikian cepatnya.

Ini membuka matanya bahwa gadis itu bukan hanya galak dan liar, akan tetapi juga memiliki kecepatan gerakan dan kuat sekali.

Tadi tampak perlahan saja ia menampar, namun kepalanya menjadi benjol dan sakitnya bukan kepalang.

Merasa bahwa dia tidak bersalah, pembesar itu membela diri dan berkata dengan nada penasaran.

"Lu-siocia, sungguh saya tidak mengerti mengapa Nona marah dan memukul kepala saya, seorang tua. Memang benar saya yang menyuruh pasukan mengambil gadis-gadis yang dipilih untuk menjadi calon Siu-li. Ada di antara mereka yang tidak setuju, terpaksa harus dilakukan kekerasan. Nah, apakah salahnya dengan itu?"

"Memilih calon Siu-li boleh saja, akan tetapi harus gadis yang memang sukarela ingin menjadi Siu-li. Tidak boleh memaksa gadis yang memang tidak mau. Gaya dan lagakmu seperti kepala perampok saja, tidak pantas menjadi Kepala Daerah!"

Ku Thaijin menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, masih berusaha membela diri.

"Habis bagaimana baiknya, Nona? Gadis-gadis yang dikirim ke kota raja haruslah yang cantik dan bersih, maka diadakan pemilihan. Kalau yang dipilih tidak mau dan tidak dilakukan paksaan, saya khawatir tidak akan ada Siu-li yang dapat dikirim ke istana."

"Bohong! Engkau bilang sendiri bahwa di antara mereka ada yang tidak mau, ini berarti bahwa banyak pula di antara mereka yang mau, bukan? Nah, kau pilih saja yang mau dan dengan sukarela dikirim ke istana, yang tidak mau tidak boleh dipaksa. Gadis keluarga Cong dipaksa dan diseret-seret, baiknya aku melihat dan menolongnya. Engkau benar-benar tidak patut menjadi Kepala Daerah yang harus memimpin dan mengayomi rakyatnya! Hemm, ingin aku tahu apa kata ayah kalau kuceritakan hal ini kepadanya!"

Mendengar ini, Pembesar Kui makin ketakutan. Akan tetapi dia masih berpegang kepada pendapatnya bahwa mengumpulkan Siu-li untuk kaisar adalah jasa besar, maka dia mencoba untuk membantah.

"Nona, harap maafkan kalau pendapat saya keliru. Akan tetapi, semua ini saya lakukan agar dapat mengumpulkan calon Siu-li yang terbaik dan tercantik untuk Hong-siang, semua saya lakukan demi kesenangan Sribaginda Kaisar. Bukankah hal itu baik sekali?"

Siang Ni melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung Kui-thaijin sehingga pembesar itu melangkah mundur ketakutan, khawatir akan digampar lagi.

"Tikus goblok! Orang macam engkau ini bisa mendapatkan kedudukan Kepala Daerah? Sungguh menggelikan! Buka telingamu dan dengarkan baik-baik, Kaisar mengumpulkan Siu-li untuk menjadi pelayan istana, untuk menghibur hati Kaisar dan keluarga Kaisar. Untuk pekerjaan ini harus dipilih gadis-gadis yang selain cantik, juga yang dengan sukarela dan senang hati ingin melayani keluarga Kaisar di istana. Kalau engkau memilih secara paksa, memaksa gadis-gadis yang tidak suka menjadi Siu-li, bukankah itu sama halnya dengan engkau memasukkan musuh dan memancing timbulnya bahaya dalam istana? Apakah engkau berani bertanggung-jawab bahwa gadis-gadis yang kau paksa itu kelak tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan keluarga Kaisar untuk membalas dendam karena mereka dipaksa? Nah, coba engkau mau bicara apa lagi, kau tikus tua yang bodoh!"

Kui-thaijin tertegun.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis remaja ini demikian lincah dan pandai bicara.

Untuk menghadapi serangan kata-kata yang tidak dapat dielakkan lagi itu, dia dapat bicara apa lagi?

Dia hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya dan mendengar empat orang kawannya berkata dengan penuh hormat.

"Lu-siocia benar sekali!"

Siang Ni tidak mempedulikan mereka karena gadis yang besar di kota raja ini sudah hafal akan sikap menjilat para pembesar macam Kui-thaijin dan empat orang kawannya ini.

Orang-orang macam mereka merupakan orang-orang berwatak rendah yang biasanya suka menjilat atasan dan menginjak bawahan.

"Nah, sekarang perlihatkan kepadaku gadis-gadis yang telah dikumpulkan. Cepat!"

Pembesar Kui sudah mati kutu.

Tanpa berani bercuit lagi dia lalu mengiringi Siang Ni masuk ke ruangan dalam di mana para gadis calon Siu-li berkumpul.

Begitu Siang Ni memasuki ruangan itu, sebagian besar para gadis cantik menyambutnya dengan senyum manis dan terdengar mereka berkomentar.

"Ah, inilah orang terakhir. Kita segera diberangkatkan ke kota raja!"

"Ia cantik dan manis sekali!"

"Alangkah indah pakaiannya!"

"He, rambutnya model sanggul puteri bangsawan! Berani benar ia!"

Demikianlah, di antara para gadis yang dengan sukarela ingin menjadi Siu-li, terdengar sambutan-sambutan dan pendapat-pendapat tentang diri Siang Ni.

Akan tetapi alangkah kaget dan heran hati mereka ketika Pembesar Kui berkata dengan suara lantang.

"Nona sekalian, ketahuilah, Siocia ini adalah Lu-siocia, puteri Pangeran Lu di kota raja. Semua memberi hormat kepada Lu-siocia!"

Baca Juga: Suling Emas 15

Baca Juga: Gelang Kemala 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert