Ceritasilat Novel Online

Gelang Kemala 5

Eps 5 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.

"Memang benar demikian, Kongcu . Thian Lee merendahkan diri.

"Akan tetapi engkau dipuji-puji semua anak buah Kim-liong-pang dan sebaliknya aku diejek, seolah-olah engkau lebih lihai dariku, buktinya aku kalah dari Coat-beng-kwi dan engkau menang."

"Ah, jangan dengarkan, Kongcu. Itu hanya kebetulan saja."

"Tidak, aku harus membuktikan bahwa engkau memang lebih lihai dalam ilmu tongkat. Karena itu, engkau harus melayani aku berlatih ilmu tongkat, ingin aku melihat sampai di mana kehebatanmu bermain tongkat."

Dan pemuda itu ternyata telah membawa dua buah tongkat dan diserahkannya yang sebatang kepada Thlan Lee.

"Ah, tidak, Kongcu. Mana aku berani?"

"Twako, engkau harus menerima ajakannya. Suheng hanya ingin menguji ilmui tongkatmu, apa salahnya dengan itu?"

Kata Hwe Li mendesak.

"Akan tetapi...."

Thian Lee mencoba untuk membantah.

"Thian Lee, kalau engkau menolak berlatih dengan aku, itu berarti bahwa engkau memandang rendah kepadaku!"

Siong Ek berkata dengan tegas dan mendengar ini,, terpaksa Thian Lee menerimer sebatang tongkat itu.

Diam-diam dia merasa penasaran.

Pemuda bangsawan ini memang sombong dan dia pun teringat akan keluhan Ceng Ceng bahwa pemuda ini sering menggodanya.

Biarlah pemuda sombong ini menerima sedikit hajaran, pikir Thian Lee.

"Baiklah kalau engkau memaksa Kongcu. Akan tetapi kalau ada tongkat nyasar dan mengenai tubuh Kongcu, harap jangan marah."

"Tentu saja!"

Kata Siong Ek.

"Kalau kepalamu kena pukul olehku, juga engkau jangan marah. Marilah kita mulai!"

Setelah berkata demikian, Siong Ek sudah menerjang dengan serangannya.

Thian Lee malnkan llmu tongkat seperti yang diajarkan oleh Hwe Li.

Sebe-tulnya, Siong Ek tentu saja mengenal ilmu tongkat itu dan dia dapat memain-kannya jauh lebih baik dibandingkan Thian Lee.

Akan tetapi karena gerakan Thlan Lee bukan sewajarnya dan gerakan itu dldorong tenaga yang luar biasa, maka semua serangannya dapat ditangkis dengan baik oleh Thian Lee yang meng-gunakan ilinu tongkat itu sepenuhnya, tidak memasukkan gerakan lain.

Siong Ek merasa penasaran sekali.

Sudah belasan kali tongkatnya menyambar, akan tetapi selalu kena dihadang dan ditangkis oleh Thian Lee.

Setelah lewat delapan belas jurus dan semua jurus ilmu tongkat itu sudah dipergunakan, Thlan Lee merasa cukup.

Ketika tongkat Siong Ek menyambar lagi dengan amat dahsyatnya menghantam kepalanya, diam-diam dia mendongkol sekali.

Serangan yang dilakukan Siong Ek itu bukan berlatih lagi namanya, melainkan serangan sungguh-sungguh yang amat , berbahaya.

Kalau serangan itu mengenai kepala, dapat membahayakan nyawa.

Maka dia pun lalu menangkis sambil mengerahkan sediklt tenaganya.

"Dukkk... plak!"

Tongkat di tangan Siong Ek yang menghantam ke arah kepala itu membalik dan mengenai kepala Siong Ek sendiri membuat pemuda itu, terhuyung dan roboh dengan kepala benjut!

Hwe Li berseru dan cepat menolong suhengnya bangkit berdiri.

Siong Ek mengelus kepalanya yang benjut dan benjol.

"Maafkan aku, Kongcu,"

Kata Thiar Lee. Akan tetapi yang marah malah Hwe Li. Gadis ini mencabut pedangnya dan. membentak.

"Twako, engkau berani memukul Suheng? Baik, sekarang aku yang mengajak engkau berlatih. Aku menggunakan pedang dan engkau menggunakan? tongkatmu!"

"Tidak, Siauw-moi, aku tidak mau .

"Engkau harus mau! Bukankah tadi engkau sudah melayani suhengku? Nah, bersiaplah, aku ingin mencoba sampai dimana kelihaian tongkatmu!"

Berkata demikian, Hwe Li sudah mulai mernutar pedangnya dan menyerang.

Terpaksa Thian Lee menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.

Hwe Li menusuk lagi, ditangkis lagi, lalu membacok, ditangkis lagi.

Repot sekali nampaknya Thian Lee menangkisi semua serangan Hwe Li, akan tetapi makin lama Hwe Li menjadi semakin penasaran.

la yang mengajarkan ilmu tongkat itu kepada Thian Lee, akan tetapi sekarang pedangnya sama sekali tidak mampu menembus pertahanan tongkat pemuda itu!

la semakin penasaran dan bersemangat.

Thian Lee menjadi serbia salah.

Dia meloncat ke sana sini dan menangkis.

Gadis ini keras hati dar angkuh, pikirnya.

Sebelum dapat mengalahkannya tentu tidak mau sudah.

Apalagi dia tadi telah membuat Song Ek terpukul kepalanya dan agaknya hal ini membuat Hwe Li marah sekali.

Dia harus dapat memuaskan hati gadis ini kalau hendak menyudahl pertandingan itu.

Ketika pedang itu menusuk dada, Isengaja Thian Lee memperlambat elakan-inya dan pedang itu masuk ke bawah ketiaknya dan dijepit dengan lengan kiri-l^a cnembiarkan kulit lengan kirinya terluka pedang.

"Aduhh....!"

Teriaknya dan dia terhuyung ke belakang. Hwe Li terkejut sekali. Demikian cepat gerakan Thian Lee sehinga la mengira bahwa pedangnya benar-benar menembus dada pemuda itu.

"Twako....! Kau... kau tidak apa-apa....?"

Hwe Li meloncat mendekat.

"Tidak mengapa, Li-moi, hanya terluka sedikit pada lenganku,"

Kata Thian Lee, mennperlihatkan sebelah dalam le-ngan kirinya yang terluka berdarah.

Legalah hati Hwe Li, dan hati Thian Lee juga terhibur.

Bagaimanapun juga, Hwe Li bukan seorang gadis kejam yang suka membunuh.

Dan pada saat itu muncullah Souw Can.

Melihat tangan Thian Lee berdarah, dia terkejut, apalagi melihat kepala Siong Ek juga benjol.

"Eh, apa yang telah terjadi di sini? Siong Ek, mengapa kepalamu? Dan Thian Lee, kenapa pula lenganmu itu?"

Siong Ek tidak dapat menjawab dan Hwe Li juga takut kalau ayahnya marah. Thian Lee yang cepat menjawab.

"Ah, tidak apa-apa, Supek. Tadi saya mengajak Lai-kongcu untuk latihan. Dia menggunakan pedang dan aku menggunakan tongkat. Sungguh, tidak ada apa-apa."

"Benar, Ayah. Mereka tadi berlatih."

"Hemm, dan Siong Ek terpukul kepa; lanya dan Thian Lee terluka lengannya?"

"Be... benar, Ayah,"

Kata Hwe Li sambil melirik ke arah Thian Lee.

"Supek, Lai-kongcu melukai lenganku tanpa sengaja dan karena menyesal, dia mengalah dan membiarkan kepalanya sedikit terpukul tongkatku. Akan tetapi tentu saja aku kalah jauh. Kalau dia menghendaki, tentu bukan lenganku yang luka, akan tetapi pedang itu akan menembus dadaku."

"Sudahlah, mulai sekarang kalian tidak boleh bertanding lagi. Mengerti?"

"Mengerti, Suhu. Maafkan teecu,"

Kata Siong Ek yang merasa terpukul hatinya.

Bagaimanapun juga, tadi dia telah dikalahkan oleh Thian Lee!

Tentu saja dia merasa penasaran bukan main.

Setelah Souw Can pergi, Siong Ek sempat berkata kepada Thian Lee.

"Mungkin dalam hal ilmu tongkat aku kurang latihan, akan tetapi lain kali aku masih ingin mengujimu dengan ilmu pedang!"

"Sudahlah, Suheng. Kaiau Ayah mendengarnya tentu akan marah sekali kepada kita. Twako, jangan engkau mengatakan apa yang terjadi tadi kepada Ayah. Awas kau kalau menceritakan. Mari, Suheng, kuambilkan obat untuk kepalamu."

Dua orang itu lalu pergi meninggalkan Thian Lee dan pemuda ini termenung.

Hatinya merasa tidak enak sekali.

Kalau begini sikap Siong Ek dan Hwe Li, dia tidak mungkin dapat tinggal terus di situ.

Akan terjadi hal-hal yang tidak enak.

Dia harus pergi dari situ, mencari suasana baru.

Dia harus mencari alasan yang tepat untuk berpamit dari supeknya.

Supeknya terlalu memanjakan Hwe Li dan gadis itu agaknya saling mencinta dengan suhengnya.

Dia tidak ingin menn-buat mereka terus penasaran kepadanya.

Malam itu juga dia menghadap supek-nya dan menyatakan keinginannya untuk pergi merantau.

Souw Can terkejut mendengar ini.

"Apa? Engkau hendak pergi ke mana, Thian Lee?"

"Ke mana saja, Supek. Saya hendak mencari pengalaman hidup yang baru, saya ingin pergi ke... ke kota raja atau ke mana saja."

"Tidak mungkin. Engkau harus menga-takan yang sebenarnya kepadaku. Apa alasanmu hendak pergi meninggalkan kami? Apakah barangkali Lai Siong Ek sudah bersikap tidak pantas kepadamu? Ataukah puteriku yang mengganggumu?"

"Tidak, tidak, Supek. Sebetulnya... ah, terus terang saja setelah terjadi peris-tiwa pertempuran itu, hati saya merasa tidak enak selalu. Coat-beng-kwi dan su-hengnya itu tentu merasa dendam dan marah kepada saya dan tentu mereka akan datang lagi mencari saya. Saya... saya merasa takut tinggal di sini. Ijinkanlah saya pergi."

Souw Can mengerutkan alisnya. Takut? Tadinya begitu berani menentang bahaya, melawan musuh-musuh yang tangguh dan sekarang mengatakan takut? "Kenapa takut? Di sinl ada aku yang akan melindungimu."

"Saya tidak ingin karena saya maka Supek bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Biarkan saya pergi saja, saya ingin mengunjungi makam Ibu. Sejak Ibu meninggal dunia, saya belum pernah ber-kunjung ke makamnya. Ijinkanlah saya pergi, Supek."

Karena pemuda itu minta dengan sangat Souw Can tidak dapat menahan lagi. Dla menghela napas panjang.

"Sayang engkau hendak pergi, Thian Lee. Sebetulnya aku berniat untuk menurunkan ilmu-ilmuku kepadamu. Agaknya engkau berbakat baik sekali. Ah, kalau engkau ingin merantau, mengapa engkau tidak mengunjungi adikku? Dia tentu akan dapat menjadi guru yang amat baik untukmu."

"Siapa adik Supek?"

"Adikku bernama Souw Tek Bun. Dia bukan murid Kun-lun-pai seperti aku, akan tetapi dia telah merantau sejak kecil dan mempelajari banyak macam ilmu silat sehingga kini kepandaiannya jauh di atas tingkatku. Dan dia se-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Thian Lee. Dialah yang terpilih, menjadi bengcu, pimpinan dunia kang-ouw yang dipilih sendiri oleh Kaisar. Dia banyak berjasa untuk Kaisar dan dihormati semua orang kang-ouw. Pergilah engkau kepadanya, Thian Lee. Dia tinggai di puncak Hong-san. Kalau engkau mengatakan bahwa engkau murid keponaKanku dan aku yang menyuruhmu datang padanya, tentu dia akan menerimamu dengan baik."

"Terima kasth, Supek. Akan saya perhatikan pesan dan nasihat Supek."

Ketika hendak kembali ke kamarnya.

Thian Lee teringat akan kuda-kuda yang selama ini dipeliharanya, maka dia pun lalu keluar menuju ke belakang, ke istal kuda.

Tiba-tiba ia berhadapan dengan Hwe Li yang baru masuk dari taman.

"Li-moi, kebetulan sekali kita bertemu di sinl."

"Hemm, engkau mau apa?"

Tanya gadis itu sambil memandang tajam.

"Aku hendak berpamit kepadamu Siauw-moi."

Gadis itu membelalakkan matanya.

"Berpamit? Engkau hendak pergi ke manakah, Twako?"

"Besok pagi-pagi aku akan meninggalkan tempat ini, Li-moi."

"Ehh?"

Gadis itu berseru heran.

"Engkau hendak pergi ke manakah? Apakah Ayah telah mengetahui hal ini?"

"Aku sudah berpamit kepada Supek dan dia menyetujui, aku akan pergi merantau."

"Akan tetapi mengapa engkau hendak pergi? Twako, kalau ada kesalahanku selama ini terhadapmu, kau lupakan sajalah. Apakah karena itu engkau pergi?"

"Bukan, Li-moi."

"Ah, aku mengerti sekarang. Tentu karena peristiwa kedatangan musuh-musuh itu."

"Li-moi, aku telah membuat keributan. Aku tidak ingin Coat-beng-kwi dan suhengnya datang lagi mencariku. Aku harus pergi dari sini!"

"Eh-eh, engkau takut? Ada aku di sini, Twako, jangan takut. Dan ada pula Ayah."

"Bukan takut, Li-moi. Hanya aku tidak ingin karena untuk mellndungi aku, ayahmu dan engkau akan bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Aku akan pergi mengunjungi makam ibuku, aku akan mencari pengalaman di kota raja atau mana saja."

"Ah, aku menyesal sekali.

"Kenapa menyesal, adik yang baik? Bukankah engkau biasanya tidak suka kepadaku?"

"Ihh, kenapa engkau berkata begitu, Twako? Bukankah aku telah melatihmu ilmu silat dengan sungguh-sungguh? Aku sama sekali bukan tidak suka kepadannru. Dan... eh, bagaimana dengan luka dt lenganmu itu? Sudah sembuhkah?"

Gadis itu memandang ke arah lengan Thlan Lee yang pernah terluka oleh pedangnya tempo hari.

"Ah, hanya luka lecet, Li-moi. Sekarang sudah sembuh dan kering."

"Sekali lagi, Twako, engkau bukan pergi karena... marah kepadaku, bukan?"

"Sama sekali tidak. Selama ini engkau baik sekali kepadaku, Li-moi. Aku berterima kasih sekali kepadamu dan ingin mengucapkan selamat tlnggal."

"Kalau begitu, selamat jalan, Twako. Dan kalau engkau sudah bosan merantau, kembalilah ke sini. Ayah tentu akan menerimamu dengan senang. Aku tahu bahwa Ayah amat sayang kepadamu."

Terharu juga hati Thian Lee diingatkan begitu.

Dia pun tahu bahwa supek-nya sayang kepadanya dan mungkin ka-rena kesayangannya itu, gadis inl merasa iri dan biasanya bersikap tidak manis kepadanya?

"Terima kasih, Li-moi."

Hwe Li lalu melarijutkan langkahnya memasuki rumah dan Thian Lee pergi ke istal kuda.

Sampai lama dia berada di istal kuda mengelus setiap kuda yang biasa dia rawat dan beri makan.

Kemudian dia kembali ke kamarnya untuk mengambil keputusan bulat.

Dia akan pergi bersembahyang ke makam ibunya, setelah itu, dia akan merantau dan bekerja.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Lee sudah mandi lalu berkemas.

Dia telah diberi beberapa stel pakaian oleh supeknya dan semua pakaian itu dia bungkus dengan sehelai kain lebar.

Dia tidak lupa untuk mengambil pedangnya dari bawah atap lalu menyembunyikan pedang itu di dalam buntalan pakaiannya.

Dengan mengikatkan buntalan itu ke punggungnya, dia lalu mencari supeknya di ruangan dalam.

Dan supeknya yang agaknya sudah tahu bahwa dia akan berangkat pagi-pagi ternyata juga sudah bangun dan menantinya di situ.

"Ah, engkau sudah hendak berangkat, Thian Lee."

"Benar, Supek. Saya hendak berangkat pagi-pagi, menuju ke dusun Nam-kiang-jung untuk menyembahyangi makam ibu saya."

"Thian Lee, aku tidak dapat menahan keinginanmu merantau dan aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali ini. Ba-walah ini untuk bekal perjalananmu dan sebelum bekal ini habis, engkau bekerjalah, atau kalau tidak mendapatkan pekerjaan, engkau kembalilah ke sini."

Pangcu itu menyerahkan sekantung uang perak kepada Thian Lee. Pemuda itu merasa terharu sekali dan dia menjatuhkan dirinya berlutut dl depan Souw Can.

"Supek telah bersikap baik sekali kepada saya. Saya tidak akan melupakan budi kebaikan Supek ini,"

Katanya sambil memberi hormat. Souw Can mengangkat bangun.

"Aih, sudahlah. Apa yang kulakukan kepadamu belum cukup untuk membalas budi mendiang ayahmu kepadaku."

Setelah menerima sekantung uang perak dan menylmpannya dalam buntalannya, Thian Lee memberi hormat lagi lalu berpamit dan meninggalkan supeknya.

Hari masih terlalu pagi dan agaknya anggauta keluarga lainnya belum bangun.

Thian Lee lalu keluar dari rumah itu dan di pekarangan yang masih sepi itu tiba-tiba dia mendengar suara panggilan lirih, Dia menoleh dan melihat Lui Ceng yang memanggilnya.

Sepasang mata gadis itu merah seperti bekas menangis.

"Ah, engkau Ceng-moi? Sepagi ini engkau sudah di sini?"

"Setiap hari aku bangun pagi, Lee-ko. Aku... aku sudah mendengar bahwa engkau hendak pergi. Engkau... hendak pergi ke manakah, Lee-ko?"

"Aku hendak pergi merantau, Ceng-moi."

"Akan tetapi kenapakah, Lee-ko? B Sudah baik engkau berada di sini, kenapa hendak pergi? Kenapa, Lee-ko?"

Thian Lee merasa heran sekali mendengar suara yang menggetar itu, seperti suara orang menahan tangis!

"Aku hendak merantau mencari pengalaman hidup Ceng-moi.

Aku...

aku merasa tidak enak karena membikin ribut di sini dan menanamkan bibit permusuhan dengan orang-orang kangouw.

Aku tidak ingin melibatkan Supek dengan permusuhan itu."

"Ah, akan tetapi itu bukan salahmu! Tidak ada yang berhak menyalahkanmu dalam peristiwa itu!"

Kata Ceng Ceng dengan suara mengandung penasaran.

"Bukan hanya itu, Ceng-moi. Memang aku ingin merantau, ingin menengok makam ibuku, ingin meluaskan pengalaman hidupku. Aku tidak bisa ikut Supek terus, menjadi keenakan dan tidak akan merasakan bagaimana sukarnya hidup bekerja sendiri."

"Ah, Lee-ko, aku... aku iri kepada-mu,"

Dan gadis itu tidak dapat menahan mengalirnya air matanya.

"Aku pun sepertimu, aku yatim piatu... aku menggan-tungkan hidupku pada Paman... ah, kalau saja aku bisa seperti engkau, merantau dan hidup sendiri!"

"Mana mungkin, Ceng-moi? Engkau seorang gadis, dan pamanmu begitu baik kepadamu, juga Li-moi sudah menganggap, engkau seperti saudara sendiri."

"Aku tahu bahwa Adik Hwe Li tidak. bersikap baik kepadamu, bahkan ia sering mengejek dan menghinamu. Juga Suheng Siong Ek bersikap tidak baik dan som-bong kepadamu. Apakah hal itu yang membuatmu pergi dari sini, Lee-ko?"

"Ah, tidak sama sekali, Ceng-moi. Juga Li-moi tidaklah sejahat yang ia perlihatkan. Aku memang ingin merantau terbang bebas ke udara seperti burung bangau...."

"Aku... aku akan merasa kehilangan, , aku akan merasa kesepian, Lee-ko!"

Dan kini Ceng Ceng menangis! Thian Lee terbelalak bengong.

"Tapi, kenapa, Ceng-moi?"

"Entahlah, Lee-ko. Selama ini... di dalam hati aku merasa dekat sekali denganmu. Aku memandang engkau sebagai seorang yang senasib, ikut mondok di rumah Paman. Kalau melihat engkau, setidaknya hatiku terhibur karena ada kawan senasib. Akan tetapi mendadak engkau akan pergi Ah, aku rnerasa bersedih sekali, Lee-ko!"

Thian Lee merasa kasihan sekali.

"Sudahlah, ceng-moi, tenangkan hatimu. Engkau seorang anak yang baik sekali, pamanmu dan saudara misanmu amat mencintamu. Engkau akan hidup bahagia di sini."

"Akan tetapi kalau aku teringat akan sikap Suheng kepadaku, rasanya aku tidak betah lagi tinggal di sini, Lee-ko. Kalau saja aku dapat ikut bersamamu pergi merantau!"

"Husss, jangan bicara demikian. Tidak boleh sama sekali, Ceng-moi. Sedang aku mengurus diriku sendiri saja belum mam-pu, bagaimana engkau akan ikut? Juga pamanmu tentu akan melarang keras dan aku sendiri pun tidak berani. Tentu orang lain akan menyangka yang bukan-bukan. Sudahlah, tabahkan hatimu, Ceng-moi. Percayalah, nasibmu akan baik kelak ka-rena engkau seorang anak yang baik. Selamat tinggal, Ceng-moi."

"Lee-ko, engkau... engkau tidak akan lupa kepadaku, bukan?"

Tanya gadis Jutu memelas. Thian Lee tersenyum.

"Bagaimana mungkin cku dapat melupakan seorang gadis seperti engkau, Ceng-moi. Engkau cantik ielita, engkau baik hati dan engkau pandai. Sudahlah, aku pergi, Ceng-moi."

"Selamat jalan, Lee-ko. Semoga Thian akan menunjukkan jalan bagimu dan akan selalu membimbingmu."

"Terima kasih. Doamu itu amat ber-"harga bagiku."

Thian Lee lalu berangkat, melangkah diikuti pandang mata yang berlinang air.

Setelah rneninggalkan Pao-ting, Thian Lee langsung saja menuju ke dusun Nam-kiang-jung, sebuah dusun di sebelah se-latan sungai yang dulu menjadi tempat tinggal ibunya.

Perjalanan jauh itu di-tempuhnya dengan selamat dan lancar karena dia dibekali uang yang o-ikup oleh pamannya.

3uga penampilannya yang sederhana tidak menarik perhatian orang jahat sehingga dalam perjalanan tidak ada orang mau mengganggunya.

Siapa yang akan mengganggu seorang pemuda berpa-kaian sederhana mennbawa buntalan dan kain kasar yang agaknya tidak ada isinya yang berharga itu?

Jantung Thian Lee berdebar tegang ketika dia akhirnya memasuki dusun Nam-kiang-jung dan terbayanglah semua yane terjadi di dusun itu dalam benak-nya.

Ketika untuk pertama kali ibunya dan dia datang ke dusun itu, membeh tanah dan mendirikan rumah, berolah tani.

Kemudian kemunculan lurah yang biadab itu, yang mengakibatkan tewasnya ibunya.

Dia sengaja berjalan-jalan di dusun itu, melewati bekas rumah ibunya yang kini agaknya ditinggali orang lam.

3uea dia melewati rumah lurah yang kini telah mengalami perubahan, rumahnya kini nampak besar dan keadaannya lebih indah.

Memang dusun itu pada umumnya mengalami perubahan, walaupim ada beberapa rumah yang masih seperti sepuluh tahun yang lalu.

Ke mana dia harus mencari makan, ibunya?

Dia harus bertanya kepada seseorang yang dahulu mengetahui peristiwa itu.

Langkahnya membawanya menuju ke sebuah rumah yang terletak di belah kanan bekas rumah ibunya, karena rumah itu masih rumah lama dan dikenalnya benar sebagai rumah keluarga Cia.

Bahkan dahulu ketika peristiwa itu terjadi, Paman Cia yang menyuruhku agar cepat pergi, pikirnya.

Dia memasuki pekarangan rumah kuno yang cukup besar itu.

Ada dua orang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun bermain-main di halaman depan dari meceka memandang heran ketika rnelihat Thian Lee masuk.

"Adik yang baik, aku mencari Paman Cla. Apakah dia berada di rumah?"

Tanyanya kepada kedua orang anak itu. Dia mengingat-ingat. Dahulu yang tinggal di rumah itu adalah Paman Cia dan seorang puteranya bersama mantunya. Mungkin anak itu adalah cucunya, pikirnya.

"Kakekmu she Cia?"

Dia menambahkan, seperti membantu anak itu. Anak yang mukanya buiat mengangguk.

"Apakah engkau mencari kakekku? Dia berada di rumah, sedang mencangkul di kebun belakang."

"Benar, maukah engkau memanggilnya untukku. Katakan saja bahwa Kak Song datang berkunjung."

Kedua orang anak itu lalu berlari-lari memasuki rumah dan Thian Lee me-nanti dengan hati tegang.

Kalau benar Paman Cia yang muncul, tentu dia akan dengan mudah mendapatkan keterangan di mana makam ibunya.

Tak iama kemudian dua orang anak itu muncul lagi bersama seorang kakek berusia enam puluhan tahun.

Biarpun sudah lama iewat, sudah hampir sepuluh tahun, Thian Lee masih ingat benar kakek itu.

Seorang kakek yang kurus berkeriput akan tetapi tubuhnya masih sehat dan kuat berkat kerja keras di alam terbuka.

Kakek Cia yang dulu menasihati agar dia melarikan diri cepat-cepat.

Akan tetapi kakek itu tidak mengenai-nya.

Dengan baju yang masih kotor berlumur, dia memberi hormat kepada Thian Lee.

"Orang muda, engkau mencariku tanyanya ragu. Thian Lee tersenyum.

"Paman Cia, lupakah Paman kepadaku? Aku Song Thian Lee, anak dari tetangga sebelah yang sepuluh tahun lalu terpaksa melarikan diri itu. Sepasang mata itu terbelalak. Waktu sepuluh tahun bagi seorang tua tidak membawa banyak perubahan pada wajahnya, akan tetapi tidak demikian bagi seorang kanak-kanak. Thian Lee sepuluh tahun yang lalu tentu saja berbeda dengan yang sekarang. Dulu dia masih kanakkanak, sekarang telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tarnpan dan gagah.

"Ah engkau....? Engkau yang ibunya...."

"Benar, Paman. Akulah anak itu."

Orang itu lalu cepat berkata.

"Mari masuk ke dalam. Kita bicara di dalam saja, orang muda."

Thian Lee mengikuti kakek itu masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudlan mereka telah berhadapan duduk di kursi, dalam sebuah ruangan tertutup.

"Ah, Thian Lee. Sukurlah, aku khawatir kalau mengingatmu. Sukurlah engkau selamat dan kini menjadi seorang pemuda dewasa. Kau tahu, ibumu dianggap pemberontak, telah membunuh lurah, maka engkau kuajak masuk. Kalau pejabat mengetahui bahwa engkau putera ibumu yang dianggap pemberontak, tentu akan terjadi keributan, oleh karena itu engkau kuajak bicara di dalam. Sekarang, apa maksudmu kembali ke dusun ini? Sebaiknya kalau engkau menjauhkan diri dari dusun ini yang sudah mulai melupakan peristiwa rnasa lalu itu."

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, Paman, apa yang sebetulnya telah terjadi dengan ibuku pada waktu itu, dan di mana jenazah ibuku dimakamkan."

"Apa yang terjadi? Ah, ibumu terlalu keras hati dan Bouw-cungcu (Lurah Bouw) itu memang seorang yang mata keranjang. Lurah Bouw hendak memaksa ibumu yang janda untuk menjadi selirnya. Ibumu tidak mau dan bahkan telah memukul lurah itu. Maka Lurah Bouw lalu melaporkan kepada atasan bahwa ibumu seorang pemberontak yang berani melawan lurah. Pasukan datang, ibumu ditangkap dan akan diperkosa oleh lurah itu. Ibumu yang sudah diikat kaki tangarnya itu masih mampu menggigit leher lurah Bouw, sampai urat-urat leher putusputus dan Lurah Bouw tewas dalam keadaan mengerikan sekall. Akan tetapi ibumu juga dibunuh oleh pasukan yang mengawal lurah itu. Nah, itulah yang terjadi, Thian Lee. Ketika melihat engkau masih hidup dan menangisi jenazah ibumu, aku segera menasihatkan agar engkau cepat lari karena kalau tidak, mungkin saja engkau sebagai puteranya ditangkap."

"Terima kasih atas budi Paman itu. Karena peringatan Paman maka aku masih hidup sampai sekarang. Akan tetapi di mana jenazah ibuku dimakamkan, Paman? Aku ingin bersembahyang ke sana."

"Kami para tetangga beramai-ramai menguburkan jenazah ibumu, akan tetapi tidak di tanah kuburan umum, hal ini dilarang oleh para pimpinan dusun dan terpaksa kami menguburkannya di lereng bukit di luar dusun itu."

"Terima kasih, Paman. Sekarang juga aku akan pergi ke sana bersembahyang. Oya, ada sedikit lagi, Paman, bagaimana dengan rumah ibu sekarang? Siapa yang menempatinya?"

"Terus terang saja, aku yang mengurus rumah ibu. Aku menyewakannya kepada sebuah keluarga dan uang sewanya kupergunakan untuk merawat rumah itu. Kalau engkau membutuhkan rumah itu...."

"Tidak, Paman. Aku tidak akan mungkin tinggal di dusun inl. Mengingat semua kebaikan Paman, biarlah rumah itu kuberikan saja kepada Paman. Aku tidak membutuhkannya."

"Ah, terima kasih, Thian Lee Kakek itu berseru girang. Thian Lee lalu meninggalkan dusun itu dan mendaki bukit kecil di luar dusun. Karena memang hanya satu-satunya makam yang berada di lereng bukit itu maka mudah saja bagi Thian Lee menemukan makam ibunya dan dia mejatuhkan dirinya berlutut di depan makam itu. Ada sebuah rusan kayu di mana dituliskan nama ibunya dan kayu itu sudah mulai lapuk, namun nama yang dituiiskan di atas papan itu masih dapat terbaca. Nama itu adalah Kwa Siang, nama ibunya. Setelah memberi hormat dengan berlutut delapan kali, Thian Lee lalu duduk dl atas rumput depan makam, melamun. Teringatlah dia akan kehidupan di masa kanak-kanak, bersama ibunya yang amat menyayangnya, betapa dia dilatih ilmu silat oleh ibunya. Masih teringat dia akan cerita ibunya tentang ayahnya, dan pesan ibunya agar kelak dia menjadi seorang pendekar dan menentang semua pangeran! Bahkan kalau mungkin dia disuruh membunuh semua pangeran Mancu. Thian Lee menghela napas panjang.

"Tidak mungkin, Ibu. Tidak semua pangeran jahat, bagaimana aku harus membunuhi mereka? Kalau bertemu orang jahat, biar dia pangeran ataupun bukan, pasti akan kutentang. Pesan Ibu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan akan tetap kujunjung tinggi, Ibu. Ayah tewas di tangan pasukan, demikian pula Ibu. Tidak mungkin aku mendendam kepada semua pasukan pemerintah. Musuh pribadi Ibu adalah Lurah Bouw yang sudah Ibu bunuh sendiri. Musuh pribadi Ayah adalah seorang pangeran yang keadaannya sudah sakit-sakitan. Ayah dianggap pemberontak karena memukuli seorang pangeran. Sudahlah, Ibu. Tidak ada dendam pribadi lagi meracuni hatiku dan harap Ibu tenang di alam baka. Demikian hatinya bicara seorang diri. Akan tetapi tetap saja dia merasa tidak tenang seolah-olah membayangkan ibunya akan marah-marah kepadanya karena dia tidak membalaskan kematian ayahnya.

"Baiklah, Ibu...."

Akhirnya dia meng-hela napas panjang.

"Sekarang juga aku akan pergi ke kota raja. Akan tetapi aku tidak akan membunuh pangeran itu begitu saja. Akan kuselidiki dulu apakah dia masih melakukan kejahatan. Kalau tidak, tak mungkin aku membunuh orang yang sudah sadar dari kejahatannya. Tenang sajalah, Ibu."

Dia berlutut lagi dan memberi hormat sampai lama, baru kemudian dia meninggalkan makam itu setelah membabat rumput di sekltar makam sampai bersih.

Thlan Lee memasuki kota raja.

Dia mencari pekerjaan yang akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah makan sebagai pencucl mangkok piring!

Dia menerima pekerjaan kasar Ini sekedar untuk mendapatkan tempat tinggal dan makan.

Oi rumah makan terdapat banyak tamu dan dia dapat melakukan penyelidikannya dengan mendengar-dengar berita tentang Pangeran Bian Kun.

Di dalam hatinya, sebetulnya tidak ada semangat untuk membalas dendam kepada pangeran itu.

Pangeran itu membujuk-bujuk gadis dusun rnenjadi selirnya.

Orang tua si gadis sudah memberikannya, akan tetapi ayahnya mencampuri dan menghajar pangeran itu.

Agaknya ayahnya berdarah panas dan mudah marah.

Kemudian, karena memukuli pangeran, ayahnya dianggap pemberontak lalu dikeroyok pasukan.

Bagaimanapun juga, pangeran itu tidak langsung bertanggung jawab atas kematian ayahnya.

Andaikata ayahnya tidak mencampuri urusan pengambilan gadis, tentu ayahnya tidak dikeroyok tentara.

Akan tetapi dia ingin pula menyelidiki, bagaimana kelakuan pangeran itu sekarang.

Kalau masih seperti dulu, tentu dia akan memberi hajaran kepadanya, bukan karena kematian ayahnya, melainkan karena kejahatan pangeran itu.

Dia condong menaati pesan guru-gurunya bahwa perbuatan membalas dendam adalah perbuatan yang tidak benar.

Kalau dia menentang seseorang, maka kejahatan orang itulah yang ditentangnya, bukan karena dendam.

Baru saja bekerja sebulan lamanya, Thian Lee sudah diangkat menjadi pelayan.

Agaknya dia amat rajin dan majikannya menyukai pekerjaannya, maka dia diangkat menjadi pelayan.

Dan ini memang amat dikehendaki Thian Lee.

Dengan menjadi pelayan dia akan lebih mudah berhubungan dengan para tamu dan mendengar lebih banyak.

Pada suatu siang yang ramai.

Rumah makan itu penuh dengan tamu, terutama sekali dl ruangan dalam.

Para tamu leblh senang mendapatkan ruangan dalam ini karena selain lebih luas dan nyaman, juga kursi-kursinya lebih bagus dibandingkan dengan yang berada di ruangan luar.

Ketika itu, ruangan dalam yang hanya terdiri dari lima meja itu telan penuh dengan tamu.

Mendadak terdengar ribut-ribut di luar dan tak lama kemudian, pemilik rumah makan itu bersama dua orang yang berpakaian sebagai perwira memasuki ruangan dalam.

Setelah tiba di ruangan itu, pemilik rumah makan lalu memberi hormat kepada semua tamu dan berkata dengan suara terpaksa dan mengandung penyesalan.

"Harap Cuwi suka memaafkan kami kalau kami terpaksa mempersilakan Cuwi untuk pindah duduk di ruangan luar karena ruangan ini akan dipakai oleh rombongan Bian-kongcu, putera dari Pangeran Bian. Harap Cuwi rnaklum dan suka berpindah ke depan."

Mendengar ini, para tamu bangkit dari tempat duduknya dan berbondong pindah, pindah ke depan.

Mereka semua segan untuk membantah dan berurusan dengan Pangeran Bian!

Akan tetapi setelah semua orang berpindah, di situ masih terdapat seorang yang masih di kursinya menghadapi meja.

Pemillk rumah makan itu menghampiri orang ini, dan memandang penuh perhatian.

Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, nampak gagah walaupun pakaiannya sederhana, mukanya persegi empat dengan alis yang hitam lebat dan mata mencorong seperti mata harimau.

Lalu pemilik rumah makan i.tu berkata.

"Sobat, agaknya engkau bukan penduduk kota raja. Kami harap agar engkau suka berpindah ke bagian depan rumah makan itu karena ruangan ini akan dipakai oleh rombongan Bian-kongcu."

"Hemm, bukankah ini rumah makan yang dibuka untuk umum?"

Tanya orang itu dengan suaranya yang lantang.

"Benar."

"Nah, aku juga makan minum dengan membayar di sini. Bagaimana seenaknya saja orang boleh mengusir aku? Sebelum aku selesai makan minum, aku tidak akan meninggalkan tempat ini."

Melihat kekerasan dan kelihaian orang itu, pemilik rumah makan menjadi bingung dan serba salah. Dia lalu memberi hormat lagi.

"Sobat, harap suka mengalah. Biarlah engkau boleh makan minum di sini tanpa bayar asal engkau suka pindah ke bagian depan dan mengosongkan ruangan ini."

Orang itu bangkit dari kursinya dan matanya melotot.

"Eh, kaukira aku ini orang yang suka makan nijinum tanpa bayar? Tidak, aku akan tetdp duduk di sini, tidak peduli siapa pun yang akan menempati kursi-kursi yang lain."

Selagi pemilik rumah makan itu kebingungan, dua orang perwlra itu lalu menghampiri orang yang kukuh tadi dan sebrang di antara mereka membentak.

"Tempat ini akan dipakal Biankongcu dan para tamunya, bahkan ada pula putera Pangeran Tua yang akan hadir, dan engkau tetap tidak mau pergi?"

"Tidak, ini tempat umum. Biarpun siapa saja tldak dapat mengusir aku pergi dari sini!"

Kata orang tadi dengan sikap menantang.

Thian Lee yang mendengar ribut-ribut Segera menjenguk ke dalam dan dia kagum akan sikap orang itu walaupun dia tahu bahwa sikap keras itu pasti memancing timbulnya keributan.

Orang itu agaknya keras kepala dan pemarah, dan tidak menghormati para bangsawan.

"Kalau engkau tidak mau pergi, kami akan mpnggunakan kekerasan!"

Kata perwira ke dua.

"Terserah, aku tldak takut akan kekerasan!"

Jawab orang itu melotot. Dua perwira itu lalu memberi isyarat ke belakang mereka dan masuklah berserabutan belasan orang anak buah mereka.

"Tangkap orang ini dan seret dia keluar."

Perintah perwira-perwira itu dengan marah.

Belasan orang perajurit itu lalu maju dan hendak menangkap si orang bermuka persegi, akan tetapi segera mereka itu bergelimpangan terkena tamparan dan tendangan orang itu.

Thian Lee melihat bahwa orang itu cukup tangkas, dalam waktu singkat saja telah merobohkan tiga belas orang perajurit dengan tamparan dan tendangannya.

Melihat ini, dua orang perwira itu menjadi marah bukan main.

Mereka mencabut pedang masing-masing, lalu keduanya menyerbu ke arah orang itu dengan pedang mereka.

Thian Lee melihat gerakan dua orang perwira ini tidak merasa khawatir.

Orang itu jauh lebih tangguh, pikirnya.

Dan benar saja, orang itu menyambar sebuah kursi dan menghadapi dua batang pedang itu de-ngan kursi kayu.

Akan tetapi, amukannya demikian hebat sehingga dalam belasan jurus saja dua orang perwira itu pun terkapar seperti halnya belasan orang anak buahnya.

Mereka sepertl anak buah mereka, lalu melarikan dlri keluar dari ruangan itu.

Pada saat itu, mendadak kelihatan seorang pemuda yang berpakaian mewah memasuki ruangan itu.

Pemuda ini berusia masih muda sekali, paling banyak sembilan belas tahun, selain pakaiannya mewah juga wajahnya tampan sekali dengan mata yang sipit sehlngga kelihatannya seperti terpejam selalu.

"Hemm, orang hutan dari mana berani datang ke kota raja membuat kerusuhan?"

Bentak pemuda itu dengan sikapnya yang tenang.

"Ruangan ini kami yang akan pakai, mengapa engkau berkeras tidak mau pindah bahkan telah main pukul terhadap para pengawal kami?"

Orang itu laiu memandang pemuda itu lalu tersenyum mengejek.

"Aha, ini agaknya yang bernama Bian-kongcu dar yang memaksa orang pindah meninggalkan mejanya? Sombong benar engkau, Bian-kongcu. Aku tldak akan pindah dari situ sebelum makan minumku selesai Aku pun membayar di sini, tahu?"

SiKapnya sedikit pun tidak menghormat dan pemuda itu tidak menjadi marah, atau kalau marah pun tldak diperlihatkan karena dia tersenyum.

Pemuda ini bukan lain adalah Bian Hok, putera Pangeran Bian Kun dan murid Hek-tung Kai-pang.

Dia memegang sebatang tongkat, akan tetapi bukan tongkat hitam seperti yang dimiliKi oleh para anggauta Hek-tung Kai-pang, melainkan sebatang tongkat sepanjang lengannya yang lebih merupakan perhiasan karena terselaptit emas.

"Hemm, yang sombong adalah engkau! Agaknya engkau bukan orang kota raja sehingga tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan. Aku maslh suka memaafkanmu kalau engkau cepat pergi dari sini, akan tetapi kalau engkau masih membangkang, jangan salahkan aku kalau aku menggunakan kekerasan!"

"Aku tidak takut. Aku tidak bersalah maka aku tidak takut!"

Jawab orang itu. Bian Hok menyelipkan tongkatnya di pinggang, kemudian melangkah maju.

"Kalau begitu terpaksa aku akan melemparkan engkau keluar darl sini seperti seekor anjing.

"Bagus, coba lakukan kalau engkau mampu!"

Tantang orang itu sambil bertolak pinggang.

Thian Lee yang menonton merasa khawatir.

Pemuda ini memiliki pembawaan yang demikian tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

Agaknya bukan orang sembarangan dan dia mengkhawatirkan nasib orang jujur dan kasar pemberani itu.

Pemuda itu lalu maju memukul dengan tangan kirinya dan benar saja seperti dugaan Thian Lee.

Pemuda itu memiliki gerakan yang mantap sekali.

Pukulannya bukan saja kuat, akan tetapi juga amat cepat.

Orang yang dipukui segera menangkis dan balas memukul.

Segera terjadi pertandingan tangan kosong yang seru, akan tetapi seperti yang sudah diduga oleh Thian Lee, pertandingan itu tidak berlangsung lama.

Baru belasan jurus saja, dada orang yang bermuka persegi itu terkena tamparan keras sehingga dia terhuyung, kemudian Bian Hok menyusulkan sebuah tendangan yang keras sekali dan orang itu terlempar keluar dari ruangan itu!

Orang itu roboh terbanting dan tidak mampu bergerak karena ternyata pukulan Bian Hok tadi adalah sebuah totokan yang membuat tubuh orang itu menjadi lumpuh.

Kebetulan sekall jatuhnya orang itu di dekat Thian Lee menonton.

Thian Lee pura-pura menolong membangunkan orang itu, akan tetapl dlam-diam dia membebaskan totokannya dan berbisik.

"Cepat pergi menyelamatkan nyawamu!"

Orang itu terkejut sekali melihat betapa lihainya pemuda berpakaian mewah tadi.

Dia tahu bahwa dia tidak akan menang menandingi pemuda itu, dan mendengar bisikan Thian Lee, dia pun cepat mengangkat kaki dan melangkah lebar setengah berlari meninggalkan rumah makan, diikuti gelak tawa para perajurit yang tadi dia robohkan.

Bian Hok juga tidak menyuruh orang-orangnya melakukan pengejaran.

Dia lalu minta kepada pemilik rumah makan untuk membereskan ruangan itu dan mempersiapkan hidangan untuk para tamunya.

Thian Lee girang sekali mendapat tugas melayani para tamu agung itu bersama para pelayan lainnya.

Dia segera memasuki ruangan itu dan membereskan meja kursi yang berantakan.

Tak lama kemudian bermunculan ta-mu-tamu yang menjadi tamu Bian-kong-cu.

Mereka itu terdiri dari tujuh orang pemuda bangsawan yang rata-rata ber-pakaian serba mewah dan indah.

Begitu nnemasuki ruangan itu, seorang di antara mereka menegur.

"Eh, Bian-te, aku men-dengar engkau baru saja menghajar orang yang kasar dan tidak mau meninggalkan ruangan ini. Ah, sayang aku datang terlambat sehingga tidak dapat menyaksikan kelihaianmu!"

Yarig bicara ini seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun, jangkung dan bermuka kuning.

"Benar, Tang-twako. Dia seorang yang mungkin bukan penduduk, sini sehingga berani menolak pindah dari ruangan ini. Ah, hanya orang kasar biasa, dengan kepandaian yang biasa saja,"

Kata Bian Hok.

Mendengar ini, Thian Lee makin hati-hati.

Bian-kongcu ini seorang yang lihai sekali, plkirnya.

Orang yang me-ngamuk tadi sudah lihai, akan tetapi berhadapan dengan Bian-kongcu dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Diam-diam dia pun merasa heran bagaimana seorang pemuda bangsawan seperti ini dapat memiliki kepandaian silat yang demikian lihai.

Juga diam-diam dia berpikir apa hubungannya Biang-kongcu ini dengan Pangeran Bian Kun.

Setelah mendapat kesempatan ketika mengambil masakan dari dapur, dia bertanya kepada kepala dapur tentang hubungan antara Bian-kongcu dan Pangeran Bian Kun, dan jawaban kepala dapur itu sungguh mengejutkan hatinya.

Bian-kongcu ternyata adalah putera Pangeran Bian Kun!

Kemudian datang serombongan gadls-gadis muda yang cantik dan mereka ini adalah gadis-gadis penghibur yang sengaja dipesan dan didatangkan oieh Bian-kongcu untuk menghibur dan menemani merekak makan minum.

Suasana dalam ruangan itu lalu menjadi meriah dan gembira sekali.

Thian Lee memasang telinga un-tuk mendengarkan mereka, kalau-kalau ada sesuatu yang penting.

Akan tetapi ternyata mereka hanya bersenang-senang saja dan percakapan mereka tidak pen-ting bahkan condong ke arah ucapan-ucapan jorok untuk mengganggu para gadis penghibur.

Thian Lee merasa jemu dan segera sibuk di belakang, membiarkan para pelayan lain yang melayani para kongcu tukang pelesir itu.

Akan tetapi diam-diam dia mengenang laki-laki yang tadi membikin ribut.

Dia teringat kepada ayahnya.

Barangkali seperti itulah watak ayahnya, tidak mau mengalah dan menghormati para bangsawan sehlngga mengakibatkan kematian-nya.

Ingin dia mengetahui siapa orang itu, maka setelah selesai pekerjaannya, dia meninggalkan rumah makan untuk mencari laki-laki tadi.

Akan tetapi ke mana dia harus mencarinya?

Kota raja cukup besar dan dia tidak tahu ke mana laki-laki itu pergi.

Orang itu .sepertl a seorang kang-ouw dan melihat pakaiannya bukan seorang yang berduit, maka dia lalu pergi ke kuil tua di mana biasanya dipergunakan oleh orang-orang kang-ouw dan para pengemis untuk melewatkan malam tanpa membayar.

Akhirnya setelah keluar masuk kuil kosong, dia menemukan orang yang di-carinya.

Di sebuah ruangan kuil kosong, bertilamkan rumput kering, kuil yang berada di luar kota raja, dia melihat orang itu merebahkan diri dalam keadaan sakit!

Di situ terdapat dua batang lilin menyala sehingga cuaca cukup terang dan Thlan Lee dapat mengenal orang itu.

Keadaan di kuil itu sunyi, hanya ada be-berapa orang pengemis yang berada di ruangan lainnya.

Kuil-kuil kosong di da-lam kota lebih padat dijadikan tempat bermalam orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal ini.

"Engkau sakit....?"

Tanya Thian Lee sambil berjongkok dekat orang yang mukanya persegi itu. Orang itu membuka mata dan memandang. Lalu sambil meringis dia bangkit duduk.

"Engkau... bukankah engkau sebagai pelayan rumah makan itu?"

Tanyanya agaknya segera mengenal wajah Thian Lee orang yang rnembisiki agar dia cepat melarikan diri.

"Benar, aku sengaja mencarimu. Coba kuperiksa, aku pernah mempelajarl ilmu pengobatan,"

Katanya dan dia pun memerlksa bagian dada yang terpukul atau tertotok tadi.

Ternyata luka itu cukup hebat, luka dalam yang dapat berbahaya kalau tidak segera diobati.

Adapun lukanya di paha akibat tendangan itu tidaklah parah.

"Benar saja, engkau terluka dalam untung aku membawa obat luka dalarm yang manjur. Nah, telanlah tiga butir pel ini."

Thian Lee memang sengaja membawa bekal obat karena dia sudah menduga bahwa orang itu tentu luka berat.

Dia tadi melihat pukulan Biang-kongcu bukan pukulan atau totokan biasa, melainkan mengandung sin-kang yang kuat.

Orang itu menerima pel dan segera menelannya.

Dan benar saja, dia rnerasa ada hawa panas dari perutnya dan rasa nyeri di dada banyak berkurang.

"Sobat, siapakah engkau yang begitu mempedulikan diriku?"

"Engkau sudah mengenal diriku, Twa-ko. Aku pelayan rumah makan itu namaku Song Thian Lee. Aku tadi melihat engkau berani menentang Bian-kongcu, maka aku merasa tertarik dan kagum. Karena aku menduga bahwa engkau tentu terluka dan aku mempunyai obat manjur untuk luka dalam, maka aku mencarimu sampai di sini."

Orang itu menghela napas.

"Ahhhh, aku yang bodoh. Namaku Lauw Tek, dan aku seorang yang biasa malang-melintang dan merantau di dunia kang-ouw. Aku sudah mendengar bahwa putera Pangeran Bian Kun itu memillki ilmu silat yang tinggi. Tak kusangka selihai itu sehingga dengan mudah aku dapat dikalahkan oleh-nya. Aku memang sengaja bersikap melawan dan menentang agar orang-orang melihat bc.nwa ada orang yang berani menentang sikap sewenang-wenang para bangsawan itu. Akan tetapi aku mengecewakan."

"Ah, tidak, Twako' Engkau cukup gagah dan semua orang memujimu. Apakah engkau banyak tahu tentang Pangeran Bian Kun, Twako?"

"Kenapa tidak mengenal Pangeran Bian Kun? Dia seorang pangeran mata keranjang dan di waktu mudanya dia banyak merampas anak gadis, bahkan isteri orang. Aku heran sekali, seorang pria selemah dia mampu mernipunyai putera segagah itu,"

"Apakah sampai sekarang Pangeran Bian Kun masih suka merampas anak gadis dan isteri orang?"

"Ah, sekarang mana dia mampu? Dia sudah menjadi seorang yang berpenyakitan, tubuhnya hampir separuhnya lumpuh."

"Dan bagaimana dengan puteranya itu?"

"Puteranya yang tadi? Sepanjang pendengaranku, dia tidak pernah melakukan kejahatan, hanya kabarnya berwatak tinggi hati dan karena pandai ilmu silat tentu saja di.a sudah biasa memukul orang. Sebetulnya, aku datang ke kota raja ini untuk melakukan penyelidikan."

"Penyelidikan tentang apa, Lauw-twa-ko?"

Lauw Tek memandang ke sekellling.

"Ini rahasla.... tak boleh terdengar orang . Thian Lee memasang pendengarannya memperhatikan. Tidak terdengar ada orang dekat dengan mereka, maka dia berkata.

"Tidak akan ada yang mende-ngar, Twako. Apa yang akan kauselidiki itu?"

"Secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa ada seorang pangeran tua yang bermaksud untuk merebut kedudukan Kaisar."

"Ah, pemberontakan? "Semacam itulah. Hendak merebut kekuasaan dengan membunuh Kaisar dan para pangeran yang dekat dengan Kaisar."

"Akan tetapi, dia akan berhadapan dengan bala tentara!"

Kata Thian Lee.

"Tidak kalau pembunuhan inl dilakukan dengan rahasia. Pangeran itu mempergunakan orang-orang kang-ouw golongan sesat untuk melaksanakan rencananya Justeru itulah aku mendengar berita dan hendak melakukan penyelidikan."

"Mengapa engkau hendak menyelidiki, Lauw-twako? Bukankah engkau sendiri tidak suka kepada para bangsawan Kalau mereka saling membunuh, apa hubungannya denganmu?"

Lauw T'ek menghela napas panjang.

"Ahhh, bagaimanapun juga, aku menghormati Kaisar Kian Liong. Beliau adalah seorang kaisar yang baik, dan yang selalu menghormati orang kang-ouw. Juga, tidak semua pangeran atau bangsawan jahat belaka. Misalnya Pangeran Tang Gi Su, dia adalah seorang pangeran dan pejabat yang baik sekali, yang keras dan adil, yang bersikap keras terhadap para pejabat yang brengsek dan korup. Men-dengar ada orang hendak membunuh Kaisar dan para pangeran yang dekat dengannya, tentu saja aku menjadi penasaran dan hendak menyelidiki. Kalau sudah ada bukti, akan kulaporkan kepada Pangeran Tang Gi Su agar komplotan pem-bunuh itu dapat dibasmi. Akan tetapi sayang, belum apa-apa aku sudah terluka oleh Bian-kongcu, karena watakku yang keras dan tidak mau mengalah."

Thian Lee berpikir sebentar.

Tugas itu memang penting sekali.

Lauw-twako, mungkln aku dapat membantumu melakukan penyelidikan itu.

Sebagai pelayan rumah makan aku seringkali melayani para bangsawan dan mengenal banyak orang.

Mungkin aku bisa mendapatkan berita tentang usaha pemberontakan itu.

Katakan, siapakah pangeran yang hendak melakukan pembunuhan itu?"

"Hati-hati, jangan sampai ada orangt lain mengetahui, dapat berbahaya sekali bagi dirimu. Pangeran itu telah menyewa tenaga orang-orang kang-ouw, bahkan datuk-datuk kang-ouw yang lihai sekali. Dia adalah Pangeran Tua dan namanya adalah Tang Gi Lok. Pangeran Tang Gi Lok dan dia masih kakak sendiri dari Pangeran Tang Gi Su, seayah berlainan ibu. Karena itu kalau tidak ada buktinya, akan percuma saja melapor kepada Pa-ngeran Tang Gl Su karena Pangeran Tua adalah kakaknya sendiri.

"Tahukah engkau, Lauw-twako, siapa saja orang kang-ouw yang hendak dia pergunakan tenaganya untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?"

"Hal itu yang masih perlu kuselidiki, yang aku tahu hanya seorang saja di antara mereka, yang berjuluk Liok-te Lo-mo dan kabarnya lihai bukan main."

Berdebar jantung dalam dada Thian Lee mendengar disebutnya nama ini.

Liok-te Lo-mo, gurunya yang pertama!

Memang gurunya itu seorang datuk sesat seorang yang suka berbuat jahat!

"Jangan khawatir, Twako.

Aku akan membantumu melakukan penyelidikan, dan di mana kita selajutnya dapat bertemu?"

"Di slni saja, Song-te. Biarlah tempat inl menjadi tempat pertemuan kita. Setiap malam aku pasti berada di sini."

"Baiklah, dan sekarang aku harus kembali sebelum mereka semua kehilangan aku."

Thian Lee lalu kembali ke dalam kota raja dan kembali ke runnah makan di mana dia bekerja.

Dia bekerja biasa, akan tetapi setiap malam dia meninggalkan kamarnya tanpa ada yang mengetahui, mengenakan pakaian hitam dan juga menutupi mukanya dengan saputa-ngan hitam untuk melakukan penyelidikan.

Apa yang diceritakan Lauw Tek me-mang benar.

Secara tidak disengaja Lauw Tek mendengar bahwa banyak tokoh kang-ouw dihubungi Pangeran Tua dan diberi pekerjaan penting.

Dia merasa tertarik dan setelah dia melakukan penyelidikan, tahulah dia akan rencana pemberontakan itu.

Lauw Tek adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang berjiwa pendekar, akan tetapi wataknya jujur dan kaisar.

Dia ingin menyelidiki dan kalau mungkin mencegah pembunuhan itu karena dia merasa suka dan hormat kepada Kalsar Kian Liong.

Pangeran Tua adalah sebutan pangeran itu.

Pangeran Tang Gi Lok, rnemang sudah tua dan terhitung saudara sepupu Kaisar Kian Liong, putera dari Jwak Kalsar Kian Liong.

Akan tetapi kalau Kaisar Kian Liong memberl kedudukan tinggi kepada Pangeran Tang Gi Su yang dia tahu berwatak baik dan jujur, tidak demikian dengan Pangeran Tang Gi Lok.

Karena wataknya yang buruk, tukang pelesir dan berwatak palsu, Kaisar tidak nnemberi kedudukan apa pun.

Hal ini membuat Pangeran Tua menjadi marah dan membenci Kaisar, bahkan juga men-dendam dan iri hati.

Maka dia lalu merencanakan pemberontakan terselubung.

Bukan memberontak secara terang-te-rangan karena tentu saja dia tidak bera-ni menghadapi kekuatan balatentara yang setia kepada Kaisar.

Dia hendak melakukan pembersihan dengan membunuh Kai-sar dan para pangeran yang dekat dengan Kaisar.

3uga para pangeran putera Kaisar akan dibunuhnya semua.

Sehlngga kalau semua usaha ini berhasil, besar kemungkinan tentu kerajaan akan terjatuh ke tangannya sebagai saudara tertua!

Kalau Kaisar tewas dan semua yang terdekat dengannya tewas, maka dialah yang ber-hak mengambil-alih kekuasaan.

Tentu saja dia mengajak mereka yang sama-sama tidak mendapatkan kekuasaan dari Kaisar untuk bersekutu, yaitu para pangeran yang tidak mendapatkan kedudukan dan merasa iri dan sakit hati.

Memang selalu demikianlah keadaan se-orang kaisar atau seorang kepaia negara.

Betapa baik pun seorang kepala negara, tentu ada yang memusuhinya, yaitu mereka yang tidak mendapatkan bagian kekuasaan, tidak mendapatkan kedudukan dan mereka yang merasa berjasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa.

Dan tentu saja seorang pemimpin yang baik akan memilih pembantu-pembantu yang cakap dan jujur, dan menjauhkan mereka yang berwatak palsu dan curang.

Demikian pula Kaisar Kian Liong.

Biarpun saudaranya sendiri, kalau wataknya palsu dan curang, tidak dia beri kedudukan penting paling banyak hanya mendapatkan kedudukan biasa dan kecil yang tidak berarti saja.

Dan tidak mungkin bagi Kaisar Kian Liong untuk memberi kedudukan tinggi kepada semya keluarganya atau kawankawannya!

Salah seorang yang dipilih oleh pangeran Tua untuk menjadi sekutunya adalah Pangeran Bian Kun.

Seperti juga dla, pangeran ini tidak memperoleh kedudukan.

Akan tetapi Pangeran Bian Kun sudah menjadi seorang tua yang lemah dan cacat, maka puteranya yang maju dan puteranya, Bian Hok, yang mewakili ayahnya, bersekutu dengan Pangeran Tua.

Kebetulan sekali putera dari Pangeran Tua yang bernama Tang Boan, berusia dua puluh lima tahun, adalah sahabat sejak kecil dari Bian Hok.

Dua orang pemuda ini seringkali bersama-sama mengadakan pelesir bersenang-senang.

Hanya bedanya, kalau Bian Hok suka mempelajarl ilmu silat, bahkan menjadi murid Hek-tung Kai-ong sehingga dia menjadi seorang ahli silat yang tangguh, Tang Boan sebaliknya tidak suka mempelajari ilmu silat, akan tetapi mempelajari ilmu sastra sehingga dia menjadi seorang ahli politik yang pandal bersiasat.

Pada suatu malam, ketika Bian Hok berkunjung kepada paman tuanya, yaitu Pangeran Tang Gi Lok, pangeran ini antara lain membicarakan tentang adiknya sendiri, adik tirinya yang bernama Pangeran Tang Gi Su.

"Yang amat mengkhawatirkan hatiku adalah Tang Gi Su. Dia selalu menen-tang pendapatku tentang Kaisar dan dia kelak dapat menjadi penghalang yang amat berbahaya. Aku rasa orang yang paling' dulu harus disingkirkan adalah dia inilah!"

"Akan tetapi, ada jalan lain yang lebih baik, Paman,"

Kata Bian Hok.

"Hemm, jalan apakah itu?"

"Dengan menarik dia menjadi keluarga. Bukankah dia mempunyai seorang puteri yang bernama Cin Lan?"

"Ah, bagaimana sih engkau ini? Tidak mungkin puteraku menikah dengan puterinya! Kami masih satu margal"

"Jangan Paman salah mengerti. Maksud saya bukan dinikahkan dengan putera Paman, melainkan dengan saya. Nah, kalali puterinya sudah menjadi isteri saya, tentu akan mudah membujuknya kelak."

"Bagus! Suatu pikiran yang bagus sekali!"

"Sudah lama saya menginginkan Cin Lan menjadi isteri saya, Paman. Akan tetapi saya khawatir kalau-kalau lamarai saya akan ditolak, mengingat bahwa Ayah teiah menjadi lemah dan berpenyakitan. Maka, saya mengharapkan bantuan Paman. Kalau Paman yang menjadi jalan saya kira tidak ada masalahnya lagi dan tentu Paman Tang Gi Su akan menerima dengan balk."

"Baik, aku akan membantumu dan yang akan melamarkan puterinya untuk menjadi jodohmu, ha-ha-ha!"

Demikianlah, beberapa hari kemudian, Pangeran Tang Gi Lok datang berkun-jung, ke gedung adik tirinya.

Setelah saling menanyakan kesehatan sebagaimana lajimnya, Pangeran Tua langsung saja membicarakan maksud hatinya, yaitu mewakili Pangeran Bian Kun untuk meminang Tang Cin Lan wti^JcJApdRhkan dengan Bian Hok.

"Adikku, aku ditangisi oleh keponakan kita itu yang mengatakan telah jatuh cinta kepada puterimu. Karena itu, kuha tap kerelaanmu untuk menerima pinangan tini. Bian Hok adalah seorang pemuda yang baik. Dia tampan dan pintar dan engkau sendiri tahu bahwa dia seorang di iantara para pemuda bangsawan yang memiliki ilmu silat yang tinggi, cocok benar dengan puterimu yang kabarnya juga seorang ahli silat tinggi. Tidak ada pasangan yang lebih cocok lagi darlpada mereka berdua. Ha-ha-ha!"

Pangeran Tang Gi Su menjadi serba salah.

Memang dia pun tahu bahwa Bian Hok seorang pemuda yang cukup baik.

Akan tetapi kalau mengingat kehidupan ayahnya, tukang pelesir, tukang mencari dan mengumpulkan wanita, hatinya merasa ragu.

Akan tetapl, yang meminangkgin adalah kakak tirinya, Pangeran Tua.

"Terima kasih atas perhatian Kakanda,"

Akhirnya dia berkata.

"Akan tetapi urusan perjodohan anak merupakan masalah seluruh keluarga. Oleh karena itu, saya harus terlebih dahulu membicarakan dengan ibunya dan dengan anaknya pula. Setelah itu, barulah saya akan mengirim berita kepada Kakanda."

"Ha-ha, tentu saja. Akan tetapi aku percaya penuh bahwa isterimu tentu akan setuju. Mana ada perjaka yang lebih cocok dan lebih baik untuk menjadi suami Cin Lan? Dan anakmu tentu setuju pula. Nah, aku hanya menanti berlta baik darimu, Adinda!"

Setelah berpamlt, Pangeran Tua meninggalkan adiknya yang duduk bengong dan melamun sampai lama.

Akhirnya dia menghela napas panjang.

Tak ada lain jalan kecuali menerima pinangan itu.

Bagaimanapun juga, kalau menjadi isteri seorang pemuda seperti Bian Hok, puterinya itu akan tetap men-jadi seorang wanita bangsawan.

Bahkan andaikata orang mengetahui bahwa puterinya itu bukan anak kandungnya, kalau ia sudah menikah dengan Bian Hok, otomatis ia menjadi seorang wanita bangsawan.

Bagaimanapun juga, ayah pemuda itu, Bian Kun, hanya seorang laki-laki yang selalu mata keranjang, akan tetapi sepanjang yang dia ketahui, tidak pernah melakukan perbuatan yang jahat.

Karena sifatnya yang mata keranjang itulah maka dia tidak mendapatkan kedudukan dari Kaisar!

Dan tentang kakak tirinya, ah, walaupun dia tidak setuju dengan jalan pikiran kakak tirinya yang seringkali mencela politik pemerintahan Kaisar, namun kakak tirinya adalah seorang pa-ngeran yang disegani dan juga memiliki pengaruh yang cukup besar dl kalangan keluarga kerajaan.

Pangeran Tang Gi Su lalu menemui selirnya, Lu Bwe Si dan menyampaikan tentang pinangan itu kepadanya.

Mendengar ini Lu Bwe Si menjadi pucat mukanya dan ia memandang kepada suaminya dengan blngung.

Akan tetapi...

ia...

ia sejak kecil sudah dijodohkan!"

Akhirnya ia membantah. la memang pernah menceritakan tentang perjodohan dengan tanda ikatan jodoh sepasang gelang kemala itu kepada suaminya.

"Apa artinya perjodohan itu? Cin Lan tidak mengetahuinya dan tidak perlu mengetahuinya,"

Kata Sang Pangeran.

"Akan tetapi, ia sudah tahu!"

Jawab Lu Bwe Si dan ia lalu menceritakan tentang peristiwa gangguan para pengemis beberapa tahun yang lalu.

"Ada orang yang mengatakan bahwa Cin Lan hanya anak tirimu. Anak itu lalu bertanya kepadaku. Terpaksa aku menceritakannya karena aku tidak yakin hal itu akan dapat dirahasiakan lagi. Cin Lan sudah dewasa dan akhirnya ia akan mendengar juga. Nah, tiga tahun yang lalu itulah aku menceritakan kepadanya tentang ayah kandungnya, dan juga tentang geiang kemala.

"Ah, sayang sekali D&n bagairnana tanggapannya?"

La tidak setuju dan tidak senang bahwa sejak bayi ia sudah dijodohkan. Agaknya ia menentang perjodohan itu."

"Bagus! Kalau begitu ia harus menerima pinangan keluarga Bian. Kami sama-sama pangeran dan kalau Cin Lan menjadi isteri pemuda Bian, maka ia akan tetap menjadi seorang nyonya bangsawan."

Lu Bwe Si tidak dapat membantah kehendak suaminya.

la pasrah saja karena bagaimanapun juga ia tidak akan mampu memaksa puterinya untuk menikah dengan keluarga Song yang menjadi keputusan mendiang suaminya yang pertama.

Juga, ke mana ia harus mencari putera Song itu?

Ia sudah mendengar bahwa Song Tek Kwl juga dibunuh oleh pasukan dan tidak ada orang mengetahui ke mana perginya jandanya dan puteranya.

Mungkin puteranya sudah tewas pula.

"Di mana Cin Lan? Panggil ke sini. Aku ingin memberi tahu kepadanya sekarang juga,"

Kata Pangeran Tang Gi Su.

Lu Bwe Si masuk ke belakang dan tldak lama kemudian ia sudah kembali bersama Cin Lan yang memandang ayahnya dengan heran.

Tidak seperti biasanya ayahnya memanggilnya seperti ini, tentu ada urusan penting dan ibunya tadi tidak mau mengatakan urusan apa yang membuat ayahnya memanggilnya.

"Ayah memanggilku? Ada keperluan apakah, Ayah?"

Tanyanya.

"Cln Lan, eogkau sekarang bukan seorang kanak-kanak lagi. Engkau sudah menjadi seorang gadis dewasa yang mau tidak mau harus mengalami pernikahan, Ayahmu telah menerima pinangan untuk dirimu. Kami ingin menjodohkan engkau dengan Kongcu Bian Hok, putera Pangeran Bian Kun yang mengajukan pinangan Bahkan pinangan itu dilakukan sendiri oleh uwakmu, yaitu Pangeran Tang Gi Lok"

Wajah Cin Lan berubah pucat, lalu menjadi merah sekali.

"Bian Hok? Tidak, Ayah. Aku tidak mau menjadi jodoh Bian "Cin Lan....!"

Ayahnya membentak.

"Ayah, sejak dulu aku tldak suka kepada pemuda yang matanya kurang ajar itu. Aku benci padanya. Aku tidak sudi menjadi isterinya!"

"Cin Lan, berani engkau bersikap seperti ini? Seorang anak perempuan h.irus menurut apa yang dikatakan ayahnya! Terutama sekali dalam urusan perjodohan, harus menurut apa yang dipilih oleh ayahnya."

"Tidak, aku tidak sudi menjadi isteri Bian Hok!"

Kata pula Cin Lan sambil menangis. Ibunya merangkulnya.

"Cin Lan, engkau harus menaati kehendak ayahmu...."

"Tidak, Ibu. Aku tidak mau'."

Kata Cin Lan sambll merangkul ibunya.

"Cin Lan! Mau atau tidak engkau harus menerima pinangan itu! Engkau tidak boleh membantah apa yang sudah kuputuskan!"

Setelah berkata demikian, Pangeran Tang Gi Su bangkit berdiri.

"Apakah engkau hendak menjadi seorang anak yang durhaka dan tidak berbakfi kepada orang tua?"

Setelah itu dia meninggalkan ruangan itu, membiarkan is-terinya untuk membujuk anaknya. Setelah pangeran itu pergl keluar ruangan, Cin Lan menangis semakin keras.

"Tidak, Ibu, aku tidak sudi...."

La menangis.

"Engkau tidak tilsa menolak kehendak ayahmu, Cin Lan,"

Bujuk ibunya.

"Dia bukan ayahku. Aku bukan anak kandungnya.. Dla tidak bisa memaksakan kehendaknya kepadaku."

"Tapi, Cin Lan...."

"Ibu, Ibu pernah mengatakan bahwa ayah kandungku meninggalkan pesan mengenai perjodohanku. Itu saja aku sudah tidak dapat menerima, apalagi sekarang. Aku tidak mau dipaksa dalam hal perjodohan oleh siapapun juga. Kalau aku tidak suka, aku pun tidak mau dan aku tldak mau dipaksa. Kini Lu Bwe Si yang menangis sambil merangkul puterinya.

"Aihh, anakku, bagaimana mungkin kita akan menolak kehendak Pangeran untuk menjodohkan engkau? Kita telah berhutang budi kepadanya, hutang budi setinggi gunung. Sejak kecil engkau dipeliharanya seperti anak sendiri, dicinta dan dimanja. Bagai-mana sekarang engkau dapat menolaknya? Bagaimana aku dapat berkata kepadanya bahwa engkau tidak mau dinikahkan dengan pemuda yang dipilihnya?"

Cin Lan melepaskan rangkulan ibunya.

"Tidak, Ibu. Kalau aku dipaksa menikah dengan Bian Hok itu, aku akan lari minggat dari sini!"

Setelah berkata demikian, sambil menahan isak ia lalu lari keluar dari ruangan itu.

"Cin Lan....!"

Ibunya memanggil, akan tetapi Cin Lan tidak peduli dan berlari terus.

Ibunya hanya dapat menangis dengan hati khawatir.

la sendiri merasa heran mengapa puterinya begitu membenci Bian Hok, padahal kalau menurut penglihatannya, pemuda putera Pangeran Bian Kun itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Memang benar dia putera Pangeran Bian Kun, pangeran yang dahulu dipukuli oleh Bu Cian, bahkan kemudian yang menyebabkan Bu Cian tewas dikeroyok pasukan.

Apakah karena itu puterinya menjadi benci kepada Bian Hok?

La menjadi bingung sekali bagaimana harus menghadapi suaminya dalam urusan perjodohan ini.

Sejak jaman dahulu, urusan perjodohan memang selalu mendatangkan keributan.

Banyak orang muda yang merasa tidak suka dipilihkan jodohnya oleh orang tua dan menganggap bahwa perjodohan harus dipilihnya sendiri.

Menurut para orang muda, perjodohan bukan pilihan hati sendiri, yang tidatr berdasarkan cinta, tentu akan gagal.

Sebaliknya, para orang tua menilai bahwa pilihan anak sendiri tidak memakai perhitungan yang masak dan hanya tertarik oleh kecantikan atau ketampanan belaka sehingga perjodohan seperti itu tldak akan berakhir baik bagi mereka.

Harus diakui bahwa tidak semua perjodohan pilihan orang tua tidak berakhir bahagia dan tidak semua perjodohan pilihan hati sendiri berakhir bahagia.

Ba-nyak perjodohan pilihan orang tua yang dapat menjadi suami isteri bahagia, sebaliknya banyak pula perjodohan pilihan hati sendiri berakhir dengan kehancuran fumah tangga.

Akan tetapi satu hal sudah jelas.

Apa pun jadinya dengan perjodohan pilihan sendiri, maka kedua orang itu bertanggung jawab seridiri dan tidak akan menyalahkan orang tua yang tidak ikut memilihkan.

Pilihan orang tua memang lebih teliti.

Bukan hanya memilih berdasarkan wajah melainkan juga tabiat, keturunan dan sebagainya lagi.

Sedangkan pilihan hati selalu berdasarkan rasa suka atau tidak suka yang mereka namakan cinta, padahal cinta yang berdasarkan keindahan bentuk tubuh atau muka hanyalah cinta nafsu belaka dan mudah sekali cinta seperti itu menjadi luntur di lain waktu.

Penolakan Cin Lan bukan semata-mata karena dia menentang orang tua.

Sama sekali tidak.

Penolakannya terhadap Bian Hok memang didasari hati yang sudah merasa tidak suka kepada pemuda itu.

Adapun penolakannya terhadap perjodohan gelang kemala didasari karena pendapat yang sama sekali menolak d-jodohkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah dilihatnya bahkan tidak diketahui bagaimana orangnya.

la melarikan diri dari ruangan itu terus keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kudanya yang berbulu putih.

Kuburah itu selama belasan tahuh tidak pernah dikunjungi orang, apalagi dlsembahyangi.

Siapa yang berani mengunjungi kuburan seorang pemberontak?

Di batu nisan sederhana itu ditulis dengan huruf-huruf yang jelas.

"Kuburan pemberontak Bu Cian". Akan tetapi pada siang hari itu, seorang gadis berlutut di depan makam yang tidak terawat sehingga rumput alang-alang tumbuh dengan suburnya. Gadis itu adalah Cin Lan. Tidak sukar baginya untuk berkunjung ke dusun Teng-sia-bun yang tidak berapa jauh letaknya dari kota raja dan setelah tiba di dusun itu, juga tidak sukar untuk menemukan kuburan Bu Cian. Semua orang mengenal kuburan ini. Resminya kuburan pemberon-tak Bu Cian, akan tetapi bagi penduduk dusun itu, terutama kaum tuanya, kuburan itu mereka sebut kuburan Pendekar Bu Cian! Walaupun tidak ada orang yang berani merawat kuburan itu, akan tetapi mereka menganggap kuburan itu sebagai kuburan yang keramat. Cin Lan tidak tahu bahwa sejak ia keluar dari kota raja, ia telah dibayangi belasan orang dari jauh. Mereka ini ada-lah anak buah Pangeran Tua yang diam-diam menyuruh orang-orangnya memata-matai rumah Pangeran Tang Gi Su. Adik tirinya ini merupakan seorang di antara mereka yang dianggap musuh, yang menentang kehendaknya memusuhi Kaisar, maka dianggap berbahaya. Belasan ordng-orang itu membayangi Cin Lan segera memberi laporan bahwa Cin Lan berkunjung ke makam pemberontak Bu Cian. Mendengar ini Pangeran Tua terkejut dan juga girang, merasa mendapatkan kesem-patan untuk menekan Pangeran Tang Gi Su. Dia pun tahu bahwa Cin Lan adalah puteri pemberontak Bu Cian akan tetapi karena hal itu tidak pernah dikemukakan oleh adik tirinya, dia pun tidak dapat berbuat sesuatu. Kini, gadis itu berkunjung ke makam pemberontak itu.

"Cepat tangkap gadis itu yarig mengunjungi makam pemberontak Bu Cian!"

Perintahnya kepada dua orang perwira yang menjadi anak buahnya.

Seperti semua pangeran, biarpun dia tidak menduduki pangkat sesuatu, dia mempunyai pasukan pengawal.

Cin Lan beriutut di depan makam ayah kandungnya sambil menangis.

"Ayah mereka hendak menjodohkan aku dengan putera musuh besar Ayah!"

Ratapnya sambll menangis sedih.

Baru sekarang merasa berduka sekali.

Dan baru sekarang ia berkunjung ke makam ayah kandungnya.

la membayangkan ayahnya se-bagai seorang pria yang gagah perkasa, karena ibunya mengatakan bahwa ayah-nya adalah seorang pendekar!

Makin di-kenang dan dibayangkan, ia menjadi semakin sedih.

Duka.

Manusia manakah yahg lidak pernah berkenalan dengan duka?

Hidup ini sendiri adalah duka.

Sudah ditandai dengan kelahiran.

Sekali masuk ke dunia ini, manusia melakukan perbuatan yang pertama kali adalah menangis!

Dan tangis itu tanda duka.

Hidup adalah suatu kenyataan.

Tantangan datang dari mana-mana dan biasanya tantangan ini dianggap problem yang menimbulkan duka.

Padahal, tantangan hidup adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi dan diatasi, justeru romantikanya hidup adalah tantangan-tantangan inilah.

Bayangkan saja kalau kehidupan Ini tanpa tantangan, tanpa kesukaran dan kesulitan.

Tentu akan membosankan sekali.

Justeru adanya tantangan ini menimbulkan gairah dan semangat hidup karena timbul keinginan untuk melawan dan memenangkan tantangan yang datang itu.

Jangan sekali-kali menganggap bahwa tantangan kesulitan yang datang itu sebagai problema yang mendatangkan duka.

Namun ladapi sebagai suatu kenyataan yang wajar dan memang demikianlah hidup.

Hidup idalah saat ini, sekarang.

Adapun yang kita hadapi sekarang ini, hadapi dengan penuh kewaspadaan dan dari situ akan timbul kebijaksanaan bertindak.

Pikiran tidak perlu dikacau dengan soal yang telah lewat, sudah mati, tak perlu dikenang 'lagi.

Besok adalah suatu hal yang belum datang, bagaimana besok sajalah!

Dengan waspada setiap saat maka kehidupan akan rnaju terus selaras dengan keadaan yang wajar.

Setiap kali pikiran menyeret kita ke dalam duka, yang sebetulnya hanya merupakan permainan pikiran saja, kita kembalikan kepada kekuasaan Tuhan!

Kalau kita sudah mengembalikannya dan menganggap bahwa semua itu terjadi karena dikehendaki Tuhan, maka tidak ada rasa penasaran di hati dan kita bertindak sesuai dengan keadaan.

Tuhan akan memberi bimbingan sehingga kita akan dapat bertindak dengan bijaksana.

Karena Tuhan selalu mengasihi orang yang menyerah dan pasrah kepada-Nya.

Bukan berarti menyerah dan pasrah lalu tidak berbuat sesuatu.

Tidak sama sekali.

Kita harus berusaha sedapat mungkin menentang dan melawan tantangan itu, namun dengan dasar kepasrahan kepada Tuhan dan mohon petunjuknya.

Selagi Cin Lan menangis sambil berlutut, tiba-tiba ia dikejutkan oleh munculnya belasan orang!

Dua orang perwira yang memimpin belasan orang pengawal segera berlompatan ke depan sambil membentak.

"Pemberontak menyerahlah untuk'kami tangkap!"

Orang yang sedang berduka itu mudah menjadi marah dan nekat.

Ditegur seper-ti itu, Cin Lan menjadi marah sekali.

Ia tldak mau mengatakan bahwa ia puteri Pangeran Tang Gi Su.

Tidak, ia tidak perlu mengatakan itu.

la lalu bangkit berdiri dan berkata lantang.

"Anjing-an-jing keparat, boleh coba kalian tangkap aku kalau mampu'"

Dua orang perajurit itu lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menangkap Cin Lan.

Akan tetapi, bagaimana mungkin mereka itu mampu menangkap seorang gadis selihai Cin Lan.

Mereka bergerak maju, akan tetapi Cin Lan.

sudah mendahului mereka, meloncat ke depan dan begitu kaki tangannya bergerak, empat orang sudah berpelantingan roboh.

Hal ini mengejutkan semua orang dan mereka semua mencabut senjata melihat kelihaian gadis itu.

Akan tetapi, begitu mereka mencabut senjata, Cin Lan menjadi semakin marah.

Gadis ini menyambar sebatang kayu yang berada di dekat kuburan lalu mengamuk.

Tongkatnya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk dan dalam waktu sebentar saja belasan orang itu berikut dua orang perwiranya telah dihajar babak-belur dan jatuh-bangun!

Masih untung bagi mereka bahwa Cin Lan tidak bermaksud membunuh.

Kalau demikian halnya tentu mereka semua sudah tewas oleh amukan gadis ini.

Mereka hanya menderita kepala benjol-benjol, muka matang biru, patah tulang lengan dan akhirnya mereka melarikan diri terpincangpincang dan tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda mereka yang melarikan diri.

Cin Lan membuang tongkatnya dan duduk terpekur di depan makan ayahnya.

"Ayah, aku ingin sekali menjadi seperti Ayah, menjadi pendekar yang memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadiian. Aku ingin merantau seperti seekor burung di angkasa, bebas dari tekanan siapa pun. Akan tetapi, bagaimana aku tega meninggalkan Ibu?"

La menjadi sedih dan kembali ia menangis.

Kuburan itu berada di iuar dusun sehingga perke-lahian itu tidak menarik perhatian penduduk dusun yang tidak mengetahuinya, Ketika ia teringat akan penyerangan tadi, ia men]Bdi marah dan cepat ia meloncat ke atas kudanya dan melakukair g pengejaran!

Kuda itu cepat sekali larinya dan sebentar saja ia sudah dapat menyusul kuda rombongan pasukan itu yang larinya paling lambat.

Begitu dekat dengan perajurit itu, Cin Lan mendorongnya sehingga terguling roboh dari atas kuda.

Dl lain saat Cin Lan sudah ineng-injakkan kakinya pada dada orang itu,, Orang itu mengalami patah tulang lengan dia tadi tidak dapat cepat melarikan, kuda.

Kini dlinjak dadanya dla memandang dengan ketakutan.

"Ampunkan.,aku, Li-hiap...."

Dia memohon.

"Aku ampunkan engkau katau engkaa mau mengaku siapa yang menyuruh ka-lian mencoba untuk menangkapku tadi! Hayo katakan, kalau engkau tidak mengaku, akan kuinjak sampai hancur dadamu."

Cin Lan menambah tenaga pada injakannya sehingga orang itu rnenjadi semakin ketakutan.

"Kami hanya... hanya suruhan... kami diperintah oleh pangeran Tua...."

"Pangeran Tang Gi Lok?"

Cin Lan bertanya penuh keheranan. Pangeran Tua atau Pangeran Tang Gi Lok adalah uwaknya, kakak dari ayahnya. Kenapa pula hendak menangkapnya?"

"Be... benar, Nona...."

Kalian tahu bahwa aku puteri Pangeran Tang Gi Su?"

Tanyanya pula.

"Kami tahu, Nona. Akan tetapi kami disuruh menangkap Nona...."

"Des!"

Orang itu ditendang sampai terguling-guling, kemudian Cin Lan melompat ke atas kudanya lagi dan melarikan kudanya pulang ke kota raja.

Ibunya menyambut dengan girang pulangnya gadis itu, akan tetapi Cin Lan masih bersikap dingin dan tidak mau bicara tentang apa yang telah terjadi kepada ibunya.

la tahu bahwa kalau ibunya tahu tentang kunjungannya ke kuburan ayah kandungnya, ibunya tentu tidak setuju.

Apalagi kalau ayahnya mendengar, tentu akan marah sekali.

Malam itu langit tertutup mendung gelap sekali.

Hawa udara amat dingin dan agaknya akan turun hujan.

Karena itu, maka jalan-jalan menjadi sepi.

Orang-orang lebih senang tinggal di rumah daripada keluar.

Toko dan warung-warung juga sudah lebih siang menutup pintunya.

Sesosok bayangan berkelebat cepat.

Bayangan itu adalah Cin Lan.

la mengenakan pakaian serba biru tua sehingga tidak nampak dalam kegelapan malam itu.

Tangan kanannya membawa sebatang tongkat dan tak lama kemudian la sudah tiba di belakang pagar tembok gedung tempat tinggal Pangeran Tua Tang Gi Lok.

la merasa penasaran sekaii karena menurut pengakuan perajurit tadi, uwaki nya sendiri yang menyuruh pasukan me-nangkapnya.

la tidak mau terang-terangan berkunjung kepada uwaknya, karena hal ini tentu akan membikin marah ayahnya dan mungkin uwaknya tldak mau menemuinya.

Maka ia lalu pergi malam-malann untuk menyelundup dan menyelidiki kenapa uwaknya hendak menangkapku .

la sama sekali tidak tahu bahwa pada waktu itu, Pangeran Tua telah mengumpulkan beberapa orang kang-ouw untuk membantunya karena dia sudah mulai mengatur rencana untuk melakukan pem-bunuhan-pembunuhan sebagai langkah per-tama dari slasatnya untuk merebut tah-ta kekuasaan.

Bahkan datuk besar Liok-te Lo-mo itu berada di gedung itu, menjadi penasihat Pangeran Tua.

Cin Lan adalah seorang gadis yang berilmu tinggi.

Apalagi tubuhnya kini selain menjadi kebal terhadap segala macam racun berkat gigitan ular emas dan ular putlh juga telah timbul semacam tenaga sin-kang yang hebat akibat kedua racun yang bertentangan itu.

la seorang yang lihai bukan main yang telah menguasai ilmu tongkat Hok-mo-tung yang hebat.

Akan tetapi, ia seorang gadis muda, seorang gadis bangsawan yang sama sekali belum berpengalaman.

Kalau ia berpengalaman tentu ia sudah menaruh curiga ketika dengan amat mudahnya ia melompati pagar tembok yang sama sekali tidak terjaga itu.

la seharus-nya curiga karena tidak nampak penjagaan ketat di luar pagar tembok.

Ketika ia memasuki taman bunga lalu menyusup ke arah bangunan, ia melihat bahwa uwaknya itu sedang duduk di sebuah ruangan bersama seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, seorang kakek tua renta yang tinggi kurus dan berjenggot tipis.

la tidak tahu siapa kakek itu, akan tetapi melihat paman tuanya duduk di situ, dengan hati penasaran Cin Lan segera melompat dan tiba di ruangan itu.

"Pek-hu (Paman Tua), aku datang hendak bertanya kenapa Pek-hu menyuruh orang menangkapku!"

Katanya dengan lantang. Pangeran Tang Gi Lok tidak kelihatan kaget dan dia tersenyum.

"Nona, jangari sembarangan menyebut orang. Aku sama sekali bukan pek-humu. Engkau adalah anak seorang pemberontak, maka aku menyuruh orang menangkapmu! Dan sekarang engkau menyerahkan diri ke sini, bagus sekali!"

Pangeran itu lalu bertepuk tangan dan tiba-tiba belasan orang telah mengepung Cin Lan!

Barulah gadis itu tahu bahwa kedatangannya sudah diketahui dan pihak musuh sudah memasangi jebakan perangkap!

Akan tetapi ia tidak takut, ia lalu memutar tongkatnya dan menyerang ke kiri.

Dua orang di sebelah kirinya cepat menggerakkan pedang mereka dan ternyata mereka ini bukanlah pengawal-pengawal biasa, melainkan orang-orang kang-ouw yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Akan tetapl kedua orang itu berteriak kaget dan mereka terhuyung ke belakang ketika pedang mereka bertemu dengan tongkat di tangan Cin Lan.

Yang lain segera mengeroyok dan segera terjadi pertempuran yang seru.

Cin Lan mengamuk bagalkan seekor singa betina.

Tongkatnya bergerak menyambar-nyambar bagaikan seekor naga dan sudah tiga orang sudah roboh disambar tongkatnya.

Akan tetapi yang lain maju mengeroyok sehingga Cin Lan yang dikeroyok banyak orang pandai merasa kewalahan juga.

Sementara itu, ia melihat bahwa paman tuanya telah mengundurkan diri entah ke mana.

Dan selagi ia mengamuk, kakek tua renta itu bangkit berdiri.

Kakek itu menarik keluar sehelai sabuk rantai yang tadi dipakai di pinggangnya dan begitu kakek itu menyerang, Cin Lan terkejut sekali.

Kakek itu ternyata memiliki tenaga dahsyat dan serangannya amat cepat.

Sabuk itu menyambar ke arahnya dan ketika tongkatnya dipakai menangkis, rantai itu melibat tongkatnya!

Cin Lan menggetarkan tongkatnya sehingga libatan itu lepas, dan kakek itulah yang kaget.

Tidak sembarang orang mampu melepaskan tongkat dari libatan rantainya.

Tahulah dia bahwa gadis itu memang hebat sekali kepandai-annya.

Akan tetapi dia mendapat pesan dari Pangeran Tua agar dapat menangkap gadis itu hidup-hidup.

Maka dia pun ikut membantu pengeroyokan itu tanpa malu-malu lagi.

Padahal, kepandaian Liok-te Lo-mo amat hebat dan dia termasuk serangan datuk besar.

Sepatutnya dia malu harus menghadapi seorang gadis dengan keroyokan.

Akan tetapi, biarpun dia akan mampu mengatasi gadis itu, kalau disuruh menangkap hidup-hidup, akan sukar sekali karena ilmu tongkat gacis itu amat dahsyatnya.

Karena dikeroyak ramai-ramai, Cin Lan menjadi terdesak hebat dan ia tidak pula dapat meiarikan diri.

Terutama sekali permainan rantai Llok-te Lo-mo menutup semua jalan keluar untuk melarikan diri sehingga terpaksa Cin Lan melawan mati-matian.

"Kalian tidak tahu malu! Hanya berani melakukan pengeroyokan!"

La berteriak memaki, akan tetapi para pengeroyoknya tidak mempedullkannya dan pada suatu kesempatan yang baik, ujung rantal di tangan Liok-te Lo-mo telah menotok siku kanannya sehingga tongkatnya terlepas dan tahu-tahu rantai itu telah melibat tubuhnya.

la segera ditelikung dan dibelenggu.

Karena Liok-te Lo-mo sebelumnya sudah mendapat perintah dari Pangeran Tua.

maka tanpa banyak cakap lagi Cin Lan lalu dimasukkan ke dalam kamar tahanan.

Cin Lan didorbng masuk ke dalam kamar tahanan yang cukup bersih.

Akan tetapi kedua tangannya dibelenggu dan biarpun ia sudah mencoba untuk melepas-kan kedua tangannya, usahanya sia-sia belaka karena yang dipakai membelenggu adalah tali dari kulit yang amat kuat.

la pun duduk bersila di atas lantai yang ditilan rumput kering dan berusaha untuk menenangkan dirinya.

Heran sekali.

Ke-napa paman tuanya berusaha keras untuk menangkapnya?

Padahal menurut ayah-nya, paman tuanya ini yang melamarnya untuk putera Pangeran Bian Kun.

Apa maunya paman tuanya ini?

Sama sekali tidak terpikirkan olehnya bahwa pajTian tuanya akan memusuhi ayahnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Spkali ia mendengar suara orang menda-tangi tempat tahanannya.

Ketika mereka memasuki kamar tahanan, baru ia tahu bahwa mereka itu adalah Bian Hok dan Pangeran Tang Gi Lok.

"Akan tetapi ia adalah puteri pemberontak dan malam ini ia menyusup ke sini seperti pencuri."

Ia mendengar paman tuanya berkata dengan nada penasaran Bian Hok berkata.

"Paman Pangeran, biarlah Ayah dan saya yang mernintakan ampun untuknya. Paman tentu tahu bah-wa ia adalah calon isteri saya, bagai-mana mungkin dijadikan tahanan. Saya mohon dengan hormat dan sangat, agar supaya saya diperbolehkan membebaskannya dan membawanya pulang."

Pangeran Tang Gi Lok menghela napas panjang.

"Mengingat betapa aku sendiri yang meminangnya untukmu, Bian Hok. Dan ternyata ia bersembahyang dl makam seorang pemberontak, la puteri pemberontak!' "Paman, biar saya, yang menanggung."

"Sudahlah, kalau begitu kehendakmu, bawalah. Akan tetapi awas engkau, Cm Lan. Kalau engkau ulangi perbuatanmu ini, akan kuadukan ayahmu kepada Sn Baginda Kaisar bahwa dia melindungi puteri pemberontak'"

Sebenarnya Cin Lan ingin membantah, akan tetapi melihat keadaannya, ia diam saja.

Bahkan di waktu Bian Hok mele-paskan ikatan tangannya, ia merasa tidak senang sekali.

Akan tetapi ia pun tidak dapat menolak ketika belenggunya dilepas.

"Marilah, lan-moi. Mari kuantar eng-kau pulang,"

Kata Bian Hok setelah belenggu itu lepas. Akan tetapi Cin Lan berkata dengan nada ketus.

"Aku tidak minta kautolong! Aku tetap tidak mau menjadi jodohmu!"

Sete-lah berkata demikian, ia pun lari keluar dari kamar tahanan itu terus keluar dari rumah Pangeran Tang Gi Lok.

"Lan-moi....!"

Bian Hok berseru akan tetapi Cin Lan tidak mempedulikannya lagi dan terus berlari menuju pulang.

Thian Lee banyak mendengar tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota raja.

Bahkan dia mendertgar tentang sepak terjang puteri Pangeran Tang Gi Su yang kabarnya amat lihai dan berani menentang Pangeran Tua.

3uga dia mendengar bahwa gerak-gerik Pangeran Tang Gi Lok yang terkenal dengan sebutan Pangeran Tua itu aneh, mengum-pulkan orang-orang kang-ouw.

Bahkan ka-barnya para datuk sesat dikumpulkan di rumahnya termasuk Liok-te Lo-mo.

Mendengar hal ini tentu Thian Lee menjadi terkejut dan juga heran.

Dia tahu benar bahwa bekas gurunya itu, Liok-te Lo-mo, adaiah seorang datuk sesat yang amat lihai.

Dan sekarang agaknya Liok-te Lo-mo itu hendak diperalat oieh Pangeran Tua.

Apa maunya Pangeran Tua?

Dia amat tertarik dan ingin sekali dia menyelidiklnya dan juga kalau mungkin bertemu dengan bekas gurunya Itu.

Bagaimanapun juga, dla pernah ditolong oleh Liok-te Lo-mo.

Ketika dia masih kecll dan melarikan diri dlkejar para tukang pukul lurah dusun Bouw kemudian dipukuli hampir dibunuh, muncullah Liok-te Lo-mo yang menolongnya kemudian mengambilnya sebagai murid.

Biarpun datuk sesat, namun Liok-te Lo-mo pernah menyelamatkan nyawanya.

Malam itu Thian Lee berniat untuk melakukan penyelidikan dan kalau perlu dia ingin menjumpai Llok-te Lo-mo yang kabarnya di rumah Pangeran Tang Gi Lok.

Seperti blasa, agar tidak dikenal orang, dia mengenakan pakaian hitam dan juga mukanya ditutupi saputangan hitam.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dengan mudah saja dia melompati pagar tembok bagian belakang gedung.

Blarpun banyak penjaga berkeliaran, namuri dia dapat melompat tanpa diketahui seorang pun.

Akan tetapi ketika dia sedang menyelinap di balik semak-semak di kebun belakang, dia melihat bayangan lain berkelebat.

Gerakan orang itu pun cepat sekali ketika melompati pagar itembok sehingga Thian Lee menjadi tertarik sekali dan diam-diam dia mengikuti gerakan orang itu yang menyelinap di antara pohon-pohon menuju, ke bangunan besar.

Ketika orang itu beradadi bawah lampu gantung, Thian Lee semakin tertarik karena orang itu pun memakai kedok hitam seperti dia dan dia dapat menduga bahwa orang itu adalah seorang wanlta, melihat dari bentuk tubuhnya yang kecil ramping.

Dan wanita itu memegang sebatang tongkat sebagai senjatal Akan tetapi dia melihat bahwa waniW itu masih kurang pengalaman dan sama sekali tidak berhati-hati.

Di mana ada orang masuk sebagai seorang pencuri itu berhenti di bawah lampu gantung?

Sungguh kurang pengalarnan.

Dan tlba-tiba apa yang dikhawatirkannya terjadi.

Terdengar teriakan dan ada penjaga yang melihat wanita itu segera berterlak.

"Tangkap penjahat!"

Dan dari segala jurusan datang penjaga berlari-lari membawa senjata pedang atau golok dan tombak.

Sebentar sa)a waruta itu sudah dikepung oleh dua puluh orang leblh penjaga yang bertugas di tempat itu.

Akan tetapi wanlta itu agaknya sama sekali tldak takut!

"Kalian semua mundur!

Panggil saja kakek tua renta yang bersenjata rantal dan suruh dia bertanding dengan aku sampai seribu jurus!

Hendak kulihat sampai di mana ilmunya, jangan main keroyokan seperti anjing-anjing srigala!"

Akan tetapi mana para penjaga mau menurut perintahnya? Bahkan di antara mereka ada yang berteriak.

"Ini adalah nona yang tempo hari datang dan telah ditangkap!"

Dan mereka pun mengepung sambil berteriak-teriak.

Mendengar ini, orang bertopeng itu lalu membuka topengnya dan memang ia adalah Cin Lan!

"Aku datang untuk menantang kakek berantal untuk bertanding satu lawan satu, bukan keroyokan!"

Kembali ia membentak.

"Tangkap penjahat!"

Bentak seorang penjaga dan semua penjaga sudah mulai menggerakkan senjatanya mengeroyok Cin Lan.

Cin Lan menggerakkan tongkatnya dan memang gerakan gadis ini hebat sekali.

Tiga orang pengeroyok roboh di-hantam tongkat yang gerakannya amat hebat itu.

Diam-diam Thian Lee kagum akan tetapi juga kaget karena setelah topeng itu dibuka, dia mengenal gadis itu.

Gadis murid setia yang mencarikan obat untuk gurunya itu.

Gadis yang dilihatnya keracunan dan kemudian dibayanginya pergi ke Kuil Kwan-im-bio di luar kota.

Sudah lama dia serlng kali terkenang kepada gadis itu akan tetapi tidak pernah dia dapat bertemu lagi dengannya.

Dan kini tahu-tahu gadis itu telah berada di tempat ini dan menghadapl pengeroyokan.

Memang sepak terjang Cin Lan hebat bukan main.

Biarpun dikeroyok dua puluh orang, sama sekali ia tidak menjadi gen-tar dan bahkan ia mengamuk hebat.

Kembali empat orang sudah roboh oleh sambaran tongkatnya dan Thian Lee girang mellhat betapa setiap kali tongkat itu mengenai tubuh lawan, gadis itu me-ngurangl tenaganya sehingga tidak ada orang yang tewas terkena tongkatnya.

Bukan seorang gadis yang ganas dan kejam, piklrnya.

Karena dia melihat bahwa gadls itu dapat menguasai keadaan, sama sekali tidak terdesak bahkan mulal membuat para pengeroyoknya nampak jerih setelah sepuluh orang pengeroyok roboh, dia pun hanya rnenjadi penonton.

Dan dia mulai berplkir.

Inikah yang disebut-sebut orang sebagai puteri pangeran yang amat lihai itu?

Kalau begitUy gadis yang menarik hatinya itu, murid yang berbakti dan setia kepada gurunya, adalah puteri seorang pangeran?

Agaknya tldak mungkin.

Mana ada puteri pangeran demikian setia kepada gurunya, mencari-kan obat sampai jauh dan menempuh bahaya seorang diri?

Mendadak para pengeroyok itu mundur dan muncullah dua orang kakek di tempat itu.

Jantung di dada Thian Lee berdebar ketika dia mengenal seorang dari mereka.

Liok-te Lo-mo, bekas gurunya yang sekarang kelihatan sudah amat tua.

Orang ke dua tidak dikenalnya, akan tetapi orang itu kelihatan menyeramkan.

Usianya sudah enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, pakaiannya seperti seorang pejabat tinggi dan kepalanya botak.

Di pinggangnya nampak tergantung pedang yang indah, pedang seorang pejabat tinggi hadiah Kaisar!

Dia tidak tahu bahwa orang itu adalah Pak-thlan-ong Dorhai, seorang di antara datukdatuk besar yang kini telah menjadi seorang penasihat Kaisar.

Kebetulan pada malam hari itu Dorhal menjadi tamu dari Pangeran Tua maka dia dapat muncul bersama Liok-te Lo-mo ketika mendengar bahwa gadis Puteri Pangeran itu kembali datang mengacau.

Memang Cin Lan sengaja datang Ke tempat itu karena ia merasa penasaran.

Kedatangannya untuk menantang berkelahi kakek yang pernah mengalahkannya dengan pengeroyokan.

Kini ia hendak menantangnya berkelahi satu lawan satu.

Ketika melihat para pengeroyoknya mundur dan melihat munculnya Liok Te Lo mo.

Cin Lan segera menghadapinya dan menudingkan tongkatnya ke arah muka Liok Te Lo mo.

Kakek tua, tempo hari engkau secara curang menangkapku dengan mempergunakan pengeroyokan.

Sekarang aku menantangmu untuk bertanding satu lawan satu tanpa pengeroyokan.

Hayo majulah .

Ditantang seperti itu, Liok-te Lo mo tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau nona cilik sungguh bernyali besar. Tempo hari engkau sudah ditawan dan hanya karena pertolongan Bian-kongcu saja engkau di-bebaskan, sekarang masih berani datang lagi membuat gaduh. Engkau mengajak aku bermain-main? Balklah, kalau tidak kulayani engkau tidak akan tahu sampai di mana kelihaian Liok-te Lo-mo."

Baru sekarang Cin Lan mendengar nama julukan kakek itu dan diam-diam ia pun terkejut.

Gurunya pernah menyebut-kan beberapa nama para.

datuk dan satu di antara para datuk persilatan adalah Liok-te Lo-mo.

Maka, ia pun tidak berani memandang rendah dan la segera menggerakkan tongkatnya.

"Lihat seranganku!"

La menyerang dengan tongkatnya dan langsung saja ia mainkan Hok-mo-tung.

"Bagus!"

Liok-te Lo-mo melolos sabuk rantainya dan memutar senjata itu untuk menangkis.

"Trangg... trakkk....!"

Liok-te Lo-nno terkejut juga.

Tak disangkanya bahwa gadis itu benarbenar tangguh.

Selain hebat iimu tongkatnya, juga memiliki tenaga sln-kang yang kuat sekali sehingga dia sendiri merasakan jarl-jari tangannya tergetar hebat.

Dia lalu meloncat ke kiri dan rantainya menyambar ganas dari samplng menyerang ke arah pinggang Cin Lan.

Namun, gadis inl menangkis dengan tong-katnya.

Ketika ujung rantai membelit tongkatnya, ia mengirlm tendangan kilat ke arah tangan yang memegang rantai sehingga terpaksa kakek itu menarik kembali rantainya dan melepaskan libatan.

Thian Lee memandang kagum.

Bekas gurunya itu adalah seorang datuk yang sudah memiliki llmu sllat yang amat tangguh.

Akan tetapi gadis itu mampu mengimbanginya!

Kinl Cin Lan mengamuk.

Tongkatnya menyambar-nyambar mendatangkan anglh dan mengeluarkan suara berciutan.

Llok-te Lo-mo terpaksa juga rnengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya.

Dia sama sekali tidak berani memandang rendah dan bahkan dia menyerang dengan sungguh-sungguh.

Bagaimanapun juga, Cin Lan kaiah pengalaman dan kalah matang ilmunya.

Ilmu tongkat Hok-mo-tung adalah ilmu silat yang tinggl dan sulit.

Biarpun ia telah menguasal Hok-mo-tung dengan baik, akan tetapi ia jarang sekali menggunakannya dalam pertandingan yang sungguh-sungguh sehingga gerakannya kurang matang.

Apalagi di dalam hati-nya, Cin Lan adalah seorang yang tidak kejam.

la tidak ingin membunuh lawan-nya, maka setiap kali tongkatnya memukul, selalu la mengurangi tenaganya.

Seluruh tenaganya hanya dipergunakan apabila ia menangkis.

"Ho-ho, bukankah ini Hok-mo-tung? Nona, engkau tentu murid Pek I Lokai!"

Terdengar kakek raksasa yang sejak tadi nonton perkelahian itu berseru.

"Liok-te Lo-mo, biarkan aku mencobanya se-bentar, main-main dengan murid Pek I Lokai. Sudah lama aku ingin mencoba kehebatan Hok-mo-tung!"

Setelah berkata demikian, Pak-thian-ong Dorhai meloncat menghadapi gadis itu dan sambil tertawa Liok te Lo-mo rneloncat ke belakang membiarkan datuk besar itu melawan Cin Lan.

Cin Lan sudah marah dan penasaran sekali karena tadi ia tldak mampu mengalahkan Llok-te Lo-mo.

Kini melihat raksasa itu maju dengan tangan kosong saja, tidak meloloskan sabuk rantamya yang besar maupun pedangnya yang tergantung dl pinggang, ia menyambut lengan serangan tongkatnya.

"Bagus'. Hok-mo-tung ciarl Pek l Lo-kai memang hebat!"

Kata Pak-thion-ong sambil menangkis dengan tangannyr yang besar panjang dan sekaligus mencoba untuk menangkap dan merebut tongkat itu.

Akan tetapi Cin Lan menggunakan sin-kangnya untuk menggetarkan tongkat itu.

Dia mengerahkan sin-kang yang timbul dari racun ular emas dan raksasa itu merasa betapa telapak tangannya bertemu hawa yang amat panas sehingga dia terkejut sekali.

Ketika dia memaksa hen-dak menangkap tongkat itu dengan pengerahan sin-kang panas untuk rnengimbangi, tiba-tiba saja tongkat itu berubah dingln bukan main.

Dia semakin kaget dan melepaskan pegangannya dan saat itu dipergunakan oleh Cin Lan untuk menye-rang lagi dengan pukulan tongkat pada kepala raksasa itu.

"Bagus!"

Bentak Pak-thian-ong Dorhai dan cepat tubuhnya yang tinggi besar itu sudah mengelak ke belakang.

Namun tongkat yang menghantam itu tiba-tiba meluncur dan menyodok ke arah ulu hati dengan tusukan yang dahsyat sekali.

Pak-thian-ong menggerakkan kedua tangannya dari bawah ke atas diputar ke kanan hienangkis.

Tongkat terpental oleh tangkisan yang amat kuat itu, akan tetapi ketika Dorhai hendak menangkap tongkat itu, kembali Cin Lan sudah menarik tongkatnya sehingga tidak sampai tertangkap lawan.

Pakthian-ong Dorhai kini rnembalas dengan cengkeraman, tangkapan, dan tamparan kedua tangannya yang besar, kadang diseling tendangan kakinya yang panjang dan besar sehingga Cin Lan mulai terdesak!

Gadis itu terkejut sekali karena ternyata ilmu kepandaian kakek raksasa ini jauh lebih lihai dibandingkan Liok-te Lo-mo.

Biarpun kakek ini hanya bertangan kosong, jelas ia tidak akan mampu menandinginya.

Apalagi kalau kakek itu mencabut senjatanya.

Akan teta-pi Cln Lan tidak mengenal takut.

la memutar tongkatnya dengan cepat dan melawan terus, mati-matlan.

Pada saat itu terdengar suara melengking nyaring panjang, dan mendengar ini Pak-thian-ong Dorhai terkejut bukan main.

Dia mengenal lengkingan dahsyat dari tenaga khi-kang yang amat kuat, maka dia meiompat ke belakang.

Pada saat itu berkelebat bayangan hltam dan tahu-tahu tubuh gadis yang bertongkat itu sudah disambar orang dibawa meloncat seperti terbang cepatnya.

Peristiwa ini terjadi amat cepat dan tidak tersangka-sangka oleh Pak-thlanong maupun Liok-te Lo-mo sehlngga mereka berdua tidak sempat menghalangi dan tahu-tahu bayangan yang melarlkan Cin Lan itu sudah menghilang dalam kegelapan malam.

Cin Lan sendirl merasa terkejut bukan main ketika tiba-tiba tubuhnya diterbangkan orang, la berusaha meronta dan rnelepaskan diri, akan tetapi mendadak saja tubuhnya menjadi lemas tidak dapat digerakkan iagi.

Kiranya secara cepat dan aneh sekali orang berpakaian hltam itu telah menotoknya sehingga terpaksa ia mennbiarkan dirinya dilarikan sangat cepat melompatii pagar tembok gedung tempat tinggal Pangeran Tua.

Ia terus dibawa lari dan ketika orang itu akhirnya melepaskannya dan sekaligus membebaskan totokannya, ia telah berada di luar gedung ayahnya sendiri.

"Siapa engkau....?"

La bertanya, akah tetapi orang berpakaian hitam dan mukanya ditutup saputangan hitam itu telah meloncat pergi dan menghilang!

Cin Lan menyadari keadaannya.

Ia tahu benar bahwa Si Kedok Hitam tadi tel'ah menyelamatkannya.

Kalau orang Itu tidak melarikannya, tentu ia sudah menjadi tangkapan kembali di rumah Pangeran Tua.

Lawannya, raksasa tinggi besar itu lihal bukan rnain dan kalau pertandingan tadi dilanjutkan, agaknya ia akan kalah dan tertawan.

Apalagi kalau Llok-te Lo-mo maju mengeroyok, Kini ia menyadari bahwa Pangeran Tua adalah seorang yang memiliki banyak jagoan yang amat lihai dan kedudukannya kuat bukan main.

Tentu saja yang menyelamatkan Cln Lan tadi adalah Thian Lee.

Dia sudah menduga bahwa Cin Lan tentulah puteri Pangeran Tang Gi Su.

Kini ia teringat bahwa ketlka memperkenalkan namanya, Cin Lan dahulu menyebutkan dirinya she Tang.

la merasa heran bukan main.

Kalau Cin Lan puteri Pangeran Tang Gi Su, kenapa ia memusuhi Pangeran Tua yang bernama Pangeran Tang Gi Lok, saudara sendiri dari ayahnya?

Melihat gadis itu terancam oleh seorang raksasa yang dari ^erakannya dia tahu tentu seorang yang berilmu tinggi sekali, maka dia pun lalu menyelamatkan menotok dan membawa-nya lari dan baru dilepaskan setelah tiba .

di depan rumah Pangeran Tang Gi Su.

Thian Lee berkelebat pergi akan tetapi dia mengintai dari kegelapan.

Dia melihat betapa gadis itu akhirnya melompati pagar tembok gedung milik Pa-ngeran Tang Gi Su maka yakinlah hatinya bahwa Tang Cin Lan adalah puteri Pangeran Tua itu.

Dia pun lalu kembali ke rumah makan tanpa ada yang mengetahui.

Dia kini tahu bahwa Pangeran Tua yang dikabarkan mempergunakan orang-orang kang-ouw itu ternyata benar.

Bu-kan saja bekas gurunya, Liokte Lo-mo yang berada di istana, akan tetapi ada pula seorang raksasa yang lua biasa lihainya, dan yang belum dlke-ahuinya siapa.

Akan tetapi dia dapat menduganya siapa.

Seorang yang tingkat kepandaiannya melebihi Liok-te Lo-mo, hanya ada beberapa orang jumlahnya dan mereka adalah orang-orang yang disebut Datuk Besar.

Dia pernah mendengar dari guru-nya bahwa seorang di antara para datuk besar adalah yang berjuluk Pak-thlan-ong dan bernama Dorhai.

Tentu orang tadi yang bernama Dorhai, orang .Mancu.

Padahal dia sudah mendapat kabar bahwa Pak-thian-ong Dorhai telah menjadi penasihat Kaisar.

Akan tetapi mengapa malam itu berada di gedung Pangeran Tua?

Dia seperti mencium keadaan yang tidak beres di rumah Pangeran Tua.

Mengumpulkan para datuk kang-ouw dan Pak-thian-ong Dorhai berada di situ pula!

Pada keesokan harinya, selagi Thian Lee membersihkan meja dan bangku dalam rumah makan karena hari masih terlalu pagi sehingga belum ada tamu, men-dadak terdengar seruan wanita.

"Heh, malas benar kalian. Masa belum buka? Pagi ini aku lapar sekali! Hayo cepat sediakan bubur dan sayur, bak-pauw dan juga air teh wangi. Cepatan sedikit!"

Thian Lee cepat menghampirl gadis yang memesan.

dengan suaranya yang lantang itu dan setelah mereka berha-dapan, Thian Lee bengong terlongong.

Dia merasa tidak asing dengan gadis itu, seperti pernah bertemu bahkan pernah mengenalnya, akan tetapi dla lupa lagi di mana dan kapan.

Juga gadis itu ketika memandang Thian Lee, ia terbelalak, kemudian ia maju menghampiri.

"Kau pelayan di sini?"

Tanyanya.

"Benar, Nona,"

Jawab Souw Thian Lee sopan.

"Kalau begltu cepat sediakan pesananku. Air teh wangi hangat, bubur dan sayur, bak-pauw yang panas. Cepat!"

Siapa gadis itu, cara bicaranya, bentuk wajahnya yang bulat terlur, pakaiannya yang berkembang ramal dan cerah, semua itu begitu idak asing baginya.

"Baik, Nona. Harap tunggu sebentar agar bak-pauw dihangatkan dulu."

Setelah itu dia masuk ke dapur untuk mempersiapkan pesanan tamu pertama yang demikian lincah, bahkan galak itu.

Gadis!

Lincah.

la ingat sekarang akan tetapl mungkinkah?

la pernah bertemu dengan murid Ang-tok Mo-li yang bernafna...

Bu Lee Cin.

Ya benar, tak salah lagi.

Gadis itu tentu Bu Lee Cin.

Duiu baru berusia dua belas tahun dan sekarang teiah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan dewasa.

Akan tetapi ini baru dugaan, bisa saja dia keliru!

Ketika membawakan pesanan gadls itu, Thlan Lee memandang dengan penuh perhatlan sambil meletakkan semua.

pesanan ke atas meja.

Dan anehnya, gadis itu pun memandang padanya dengan penuh perhatian sehingga mau tidak mau, dua pasang mata mereka bertemu dan bertaut sampai lama dan...

keduanya hampir serentak berseru.

"Lee Cin....!"

"Thlan Lee! Ya, kamu Thian Lee....!"

Gadis itu kelihatan gembira bukan main dan demikian pula Thian Lee.

Dia gembira sekali bertemu dengan Lee Cin.

Beberapa tahun yang lalu gadis ini sudah ramah dan akrab dengannya, bahkan te-lah menolongnya ketika dia akan diserang harimau dan kemudian membebaskannya dari tali ikatan yang menggantungnya.

Bahkan guru gadis ini melindunginya dan bertanding melawan suhunya yang ke dua, yaitu Jeng-ciang-kwi.

"Lee Cin, sungguh tak kusangka akan bertemu denganmu di sinL Dan engkau sudah begini besar... .sudah dewasa... dan cantik jelita."

Lee Cin tertawa, tawanya lepas bebas tanpa dikendalikan lagi.

"Hi-hi-hik, benarkah aku cantik jelita, Thian Lee? Juga engkau telah menjadi seorang pemuda yang ganteng. Sayang engkau hanya menjadi pelayan rumah makan!"

"Pelayan rumah makan juga pekerjaan yang halal, Lee Cin."

"Ya sudahlah, mari duduk dl sini, kau makan bersamaku sambil mengobrol."

"Ah, mana bisa. Aku hanya pelayan di sini'"

"Eh, siapa yang melarang? Siapa berani melarangmu duduk bersamaku di sini, makan bersamaku sambll mengobrol?. Akan kupukul hidungnya sampai berdarah kalau ada yang berani melarangmu. Heu, kau pelayan di sana, ke sinilah kamu!"

Lee Cin memanggil seorang pelayan lain yang segera lari mendatangi.

"Katakan kepada majikanmu bahwa Thian Lee kuajak makan bersamaku. Kalau majlkan-mu merasa dirugikan, nantl berapa kerugiannya kubayar. Kalau dla melarang, akan kupukul hidungnya sampai berdarah. Cepat katakan'"

"Baik, baik, Noha,"

Kata pelayan Itu yang segera larl untuk melapor kepada majikannya.

"Nah, duduklah, Thian Lee. Bagaimana engkau dapat bekerja di sini? Di mana gurumu? Siapa namanya? Oh, ya, Jeng-ciang-kwi. Hebat juga kepandaiannya. Guruku sampai terluka parah. Dan bagaimana dengan gurumu itu? Aku tahu bahwa dia pun keracunan kena gigitan Anghwa-coa."

"Ssttt, Lee Cin. Di sini jangan engkau bicara soal itu,"

Kata Thian Lee berbisik.

"Di sini tidak ada yang tahu bahwa aku murid orang pandai, nant! saja di tempat lain kita bicara."

"Wah, engkau menyembunyikan diri, ya? Baiklah, sekarang mari kita makan. Aku senang sekali bertenhu dan makan denganrnu di sini. Nanti setelah kita makan, kita berjalan-jalan sambil mengo-brol. Jangan takut, aku yang akan memintakan kepada majikanmu agar engkau diperbolehkan berjalan-jalan bersamaku. Hayolah, kita makan! Eh, pelayan, minta tambah lagi buburnya, sayurnya dan bak-pauwnya!"

Lee Cin berteriak-teriak dan pelayan segera datang untuk memenuhi pesanannya.

Terpaksa Thian Lee ikut makan agar gadis itu tidak berteriak-terlak lagi.

Dia memang belum sarapan.

Diam-diam dia memperhatikan gadis itu.

Selain cantik, gadis ini agaknya masih bengal seperti dahulu, llncah jenaka dan pemberani.

Gadis sepertl inl sukar diduga akan berbuat apa, maka dia merasa lebih baik kalau segera diajak pergi dari rumah makan itu karena dapat saja membongkar rahasia dirinya!

Sehabis makan, Lee Cln bangkit berdiri.

"Eh, pelayan, panggil majikanmu ke sinl!"

Pelayan pergi dan tak lama kemudian majikan rumah makan itu datang menghampiri sambil tersenyum-senyumi.

"Engkau pemilik rumah makan ini.' Tanya Lee Cin.

"Benar, Nona,"

Jawab pemillk rumah makan.

"Kalau begitu, aku mintakan ijin untuk Thian Lee inl. Dia sahabatku yang sudah lama tidak bertemu dan sekarang aku ingin mengajak ia berjalan-jalan. Blar kubayar engkau kalau merasa rugi."

PemUik rumah roakan itu merasa tidak enak.

"Ah, tidak usah Nona. Kalau memang Thian Lee ini sahabatmu dan ingin kauajak dia jalan-jalan, silakan dan tidak perlu membayar kerugian akan tetapi sesudah berjalan-jalan, engkau cepat kembali ke sini, Thian Lee."

Lee Cin tersenyum dan setelah membayar harga makanan, dengan gaya yang bebas ia lalu menggandeng tangan Thian Lee dan ditariknya, diajak pergi dari situ seperti dua orang kanak-kanak saja.

Pemilik rumah makan dan para pelayan memandang dengan heran dan kagurn.

Mereka mengatakan betapa beruntungnya Thian Lee mempunyai seorang sahabat seperti nona itu.

Setelah tiba di luar rumah makan, Thian Lee melepaskan pegangan tangan Lee Cin dan mereka lalu berjalan menu-ju ke tempat sepi di pingglran kota.

"Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu semenjak kita berpisah, Thian Lee. Gurumu itu terluka parah digigit Ang-hwa-coa, bukan? Heran, kalau dia tidak mati karena itu."

"Tidak, dia tidak mati. Kami berdua bertemu dengan seorang tabib yang pandai dan tabib Itu telah mengobatinya sehingga dla sembuh."

"Ah, ada tabib yang dapat mengobati gigitan Ang-hoa-coa? Tabib seperti itu tidak banyak, mungkin hanya Klm-sun Yok-sian saja yang mampu!"

"Memang dia yang mengobati guruku Jeng-ciang-kwi."

"Ahh, bagairriaha begitu kebetulan bertemu Yok-sian? Lalu bagaimana, Thian Lee?"

"Memang sudah berjodoh barangkali. Setelah disembuhkan Yok-sian, Jeng-ciang-kwi malah akan membunuh Yok-sian."

"Wah, iblis keparat laknat!"

Teriak Lee Cin.

"Biarpun guruku juga tidak akan berkedip mata nriembunuh orang, akan tetapi tidak mungkin ia mau membunuh . orang yang telah menolong nyawanya. Kalau aku bertemu dengannya kelak, aku harus bunuh 3eng-ciang-kwi itu! Lalu bagaimana, Thian Lee?"

"Aku membela Yok-sian dan mengancam bahwa rohku dan roh Yok-sian akan terus mengganggunya kalau dia membu-nuh kami. Agaknya dia ketakutan dan dia tidak jadi membunuh kami, hanya melukai kami saja lalu pergi."

"Memang telur busuk Si J.eng-clang-kwi itu! Lalu?' "Yok-sian berhasil menyembyhkan kami berdua dan dia lalu membawaku kepada suhengnya di Hirnalaya dan aku menjadi murid suhengnya dalam ilmu silat, juga murid Yok-sian dalam ilmu pengobatan."

"Waduh, engkau hebat sekali, Thian Lee!"

"Dan bagaimana denganmu, Lee Cin? Bagaimana gurumu setelah terluka oleh pukulan Jengciang-kwi? Dan selama ini engkau berada di mana saja?"

"Aku? Ah, tidak ada yang menarik dengan pengalamanku,"

Kata Cin Lan dunia ia menyingkap lengan bajunya ke atas sehingga nampak kulit Jengannya yang putih mulus.

Akan tetapi Thlan Lee tidak memandang lengan yang mungil dan putih mulus itu, yang dipandangnya adalah sebuah gelang yang dipakai gadis itu.

Gelang kemala itu'.

Presls gelang yang dikalungkan di lehernya!

Jadi gadis itu tunangannya?

Lee Cin?

Tiba-tita dia menangkap lengan gadis itu sehingga Lee Cin menjadi terkejut bukan main.

"Eh, mengapa kau?"

Tanyanya.

"Lee Cin... gelang kemalamu ini. Suara Thian Lee tergetar dan wajahnya berubah sebentar pucat sebentar merah.

"Engkau.. apakah memiliki nama marga Bu?"

"Benar, mengapa?"

"Ahhh.... benar engkau rupanya! Lee Cin, tahukah engkau apa artinya gelang kemala ini untukmu?"

Lee Cin menggeleng kepalanya dan memandang dengan bengong. la lalu mengerutkan alisnya. Apakah Thian Lee tiba-tiba menjadi gila pikirnya. Wajah pemuda itu demikian tegang.

"Thian Lee, engkau ini kenapakah? Dan lepaskan lenganku, engkau menyaklti lenganku!"

"Ah, maafkan aku, Lee Cin. Aku begitu terkejut melihat gelang kemala yang kau pakai ini. Lee Cin, tentu ayahmu bernama Bu Cian, bukan?"

"Aku tidak tahu,"

Lee Cin menggeleng kepalanya.

"Ayah ibuku sudah meninggal dunia sejak aku kecil, dan aku tidak tahu siapa namanya. Subo yang memelihara aku sejak kecil."

"Tentu engkau orangnya. Tak salah lagi! Ya Tuhan, tak kusangka akan bertemu juga akhirnya!"

"Eh, eh, nanti dulu Thian Lee, jelas-kan dulu apa artinya sikapmu yang aneh ini."

Thian Lee merogoh ke balik bajuhya dan mengeluarkan gelang kemala yang dia beri tali dan dikalungkan di iehernya.

"Kaulihat ini!"

Lee Cin memegang kemala itu dan mengamatinya.

"Ehh? Serupa benar dengan gelangku! Seperti kembar saja!"

"Memang kembar. Memang gelang ini hanya ada sepasang. Di seluruh dunia, tidak ada lagi gelang kemala yang serupa benar dengan ini!"

Seru Thian Lee girang, Entah mengapa.

Hatinya terasa girang bukan main setelah bertemu calon jodohnya dalam diri Lee Cin, gadis yang baik dan yang dikagumi!

Biarpun tadinya dia condong untuk tidak setuju dengan perjodohan yang ditentukan mendiang ayah-nya sejak dia kecil itu, setelah kini men-dapat kenyataan bahwa jodohnya itu ada-lah Lee Cin, sama sekali tidak ada pe-rasaan tidak setuju itu malah dia merasa girang sekali.

"Apa artinya inl, Thian Lee? Mengapa engkau memakai gelang yang persis gelangku? Apa artinya semua ini?"

"Mari kita duduk di sana dan akan kujelaskan semua kepadamu, Lee Cin. Mari, di sana ada batu-batu untuk duduk dan di sana sunyi."

Mereka lalu pergi ke batu-batu besar itu dan timbullah kekhawatiran di hati Thian Lee. Bagaimana. kalau Lee Cin menolak perjodohan itu? Setelah mereka duduk di atas batu. Lee Cin bertanya.

"Nah, apakah yang hendak kaujelaskan kepadaku? Aku ingin sekali tahu, Thian Lee."

"Ketahuilah, sepasang gelang itti da-hulunya milik ibu kandungku, ketika aku berusia satu tahun, mendiang ayah kandungku menyerahkan sebuah dari sepa-sang gelang ini kepada seorang sahabat baiknya yang mempunyai seorang anak perempuan yang baru berusia beberapa bulan. Ayahku bernama Song Tek Kwi dan sahabatnya itu bernama Bu Cian. GeJang ini diberikan ayahku sebagai ikat-an jodoh antara aku dan anak perempuan dari Paman Bu Cian itu. Kemudian terjadi sesuatu yang hebat. Baik Paman Bu Cian maupun ayahku telah dianggap pemberontak karena melawan seorang pangeran dan mereka dikeroyok pasukan sehingga tewas. Sebelum ibuku meninggal dunia, ibuku memberikan gelang ini kepadaku dan mengatakan bahwa aku telah ditunangkan sejak kecil dengan seorang anak perempuan yang juga memiliki gelang seperti milikku ini. Nah, demikianlah ceritanya, Lee Cin. Tiba-tiba wajah Lee Cin berubah menjadi merah sekali.

"Jadi... jadi... aku ini tunanganmu....? "Begitulah kalau menurut keputusan kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia,"

Kata Thian Lee Pada saat ity . datang seorang laki-laki berlarl-lari.

"Ah, Thlan Lee. Susah payah aku mencarimu. Rumah makan itu hanya mengatakan bahwa engkau keluar jalan-jalan. Kiranya berada di sini!"

Thian Lee memandang dan dia me-ngenal orang itu. Seorang piauwsu dari Kim-liong-pang bernama Ouw Kiu.

"Paman Ouw, ada apakah engkau mencariku?' "Aku disuruh oleh supekmu, yaitu Souw-pangcu yang minta agar engkau suka datang ke sana. Supekmu terancam bahaya besar, Thian Lee. Kim-liong-pang mengalami malapetaka dan sebagian besar anak buahnya sudah terluka. Bahkan supekmu juga terluka. Dia minta agar engkau suka datang berkunjung, sekarang juga."

Thian Lee merasa terkejut sekali.

"Baik, aku akan ke sana!"

Katanya.

"Kalau supekmu mendapat malapetaka, aku pun akan ikut mernbantu, Thian Lee!"

Kata Lee Cin.

"Baik, Paman Ouv/, engkau berangkatlah lebih dulu. Aku menyusul beiakangan."

"Akan tetapi harap cepat-cepat, Thian Lee. Kami khawatir terlambat,"

Kata Ouw Kiu yang lalu berpamit. Setelah orang itu pergi, Thian Lee menceritakan dengan singkat hubungannya dengan keluarga Souw.

"Kalau begitu, kita harus cepat be-rangkat ke Pao-ting, Thian Lee. 3angan khawatir, kalau pamanmu itu banyak musuhnya yang lihai, aku akan memban-tunya mengusir musuh-musuh itu!"

"Tentang gelang...."

Kata Thian Lee.

"Untuk sementara kita tunda dulu urusan gelang kemala. Berita tentang itu terlalu tiba-tiba datangnya, aku masih bingung dibuatnya. Mari kita berangkat. Ah, biar aku mencari dua ekor kuda lebih dulu agar kita dapat melakukan perjalanan lebih cepat. Mari!"

Lee Cin lalu menggandeng tangan Thian Lee dan diajak pergi ke tempat penjualan kuda.

Thian Lee rnerasa jantungnya berdebar.

Lee Cin ini seperti kanak-kanak saja.

Sembarangan saja menggandeng tangannya.

Kalau tadi masih belum apa-apa, akan tetapi sekarang, setelah tahu bahwa Lee Cin tunangannya, calon isterlnya, digandeng seperti itu hatinya menjadi berdetak-detak, berdebardebar keras sekali sehingga dia khawatir detak jan-tungnya akan terdengar oieh Lee Cin.

Dengan royal sekali Lee Cin membeli dua ekor kuda yang baik dan tak lama kemudian mereka berangkat.

Lee Cin terpaksa menuruti permintaan Thian Lee untuk singgah di rumah makan lebih dulu selain mlnta ijin kepada majikannya untuk libur beberapa hari, juga untuk mengambil buntalan pakaian di mana tersembunyi pedangnya.

Kemudian mereka berdua membalapkan kuda, meninggalkan kota raja menuju ke kota Pao-ting.

Apa yang terjadi pada Kim-liong-pang di Pao-ting?

Ternyata masih ada hubungannya dengan kedatangan Coat-beng-kwi dan Thian-lo-kwi yang pernah dikalahkan oleh Thian Lee dahulu.

Kedua orang ini agaknya maklum bahwa kekalahan mere-ka tidaklah wajar, apalagl kekalahan Thian-lok-kwi yang perutnya disepak kuda yang mengamuk.

Setelah luka-luka mereka sembuh kembali, mereka lalu mencari bantuan toa-suheng (kakak seperguruan tertua) mereka yang berjuluk Bu-tek Lo-kwi (Setan Tua Tanpa Tanding) yang ber-tapa di Guha Siluman Bukit Setan Hitam.

Bu-tek Lo-kwi inl dahulunya juga meru-pakan perampok, akan tetapi kini telah mengundurkan dlri dan ilmu silatnya tinggi sekali.

Setelah mendapat bantuan toa-suheng ini, Coat-beng-kwi mengajak tiga puluh orang anak buahnya, menyerbu Kimliong-pang dan menantang Souw-pangcu!

Terjadi pertempuran hebat dan banyak anak buah Kim-liong-pang yang terluka parah.

Bahkan Souw-pangcu sendiri terlu-ka oleh senjata rahasla yang dilepas oleh Bu-tek Lo-kwi.

Akan tetapi Coat-beng-kwi menarik kembali anak buahnya meninggalkan Kim-liong-pang lalu pada keesokan harinya dia mengirim surat untuk melamar Souw Hwe Li dan Llu Ceng!

Kalau kedua orang itu tidak diberikan kepadanya, dia akan membawa anak buahnya menyerbu lagi dan akan membunuh semua orang di Kim-liong-pang dan membawa dua orang gadis itu dengan paksa!

Dia memberi waktu tiga hari agar kedua orang gadis itu diserahkan dengan sukarela.

Menerima surat ini, tentu saja Souw-pangcu menjadi marah bukan main.

Akan tetapi dia pun merasa khawatir karena mengetahui kekuatan pihak musul .

Lalu dia teringat kepada Thian Lee.

Murid keponakan itu adalah seorang yang kelihatannya saja tolol akan tetapi dii menduga bahwa muridnya itu adalah seorang pandai.

Maka, dia lalu mengutus Ouw !

Kiu untuk mencarinya di rumah makan di kota raja di mana dia bekerja.

Dia sudah mendengar dari anak buahnya yang per-nah melihat Thian Lee bekerja di rumah makan itu.

Demikianlah keadaan Kim-liong-pang yang sedang prihatin menderita ancaman dari para perampok itu.

Dengan menunggang dua ekor kuda yang baik, pada hari ke dua Thian Lee dan Lee Cin memasuki kota Pao-tlng dan langsung saja pergi ke Kim-liong-pang.

Kedatangan mereka disambut gembira oleh Souw Can, akan tetapi Souw Hwe Li dan Lai Siong Ek menyambut dengan alis berkerut.

Dalam keadaan gawat itu, ayahnya memanggil Thian Lee.

Mau bisa apakah pemuda tolol itu, pikir Hwe Li.

Akan tetapi tidak demikian dengan Liu Ceng.

Gadis ini girang dan merasa lega sekali karena ia merasa yakin bahwa Thian Lee akan mampu menolongnya dari cengkeraman kepala perampok.

Souw Can lalu menjamu kedua orang muda itu dan semua orang duduk di ruangan tengah, selain untuk menjamu tamu juga untuk membicarakan urusan nnereka.

Thian Lee bertanya kepada Souw-pangcu.

"Supek, aku mendengar bahwa Supek terkena senjata rahasia, bolehkah aku memeriksamu sebentar, barangkali Supek keracunan? Sedikit-sedikit aku pernah mempelajari ilmu pengobatan."

"Sedikit-sedikit? Aha, murid Kim-sim Yok-sian bagaimana mengaku hanya belajar sedikit-sedikit? Ilmu pengobatanmu tentu tinggi"

Dan hebar sekali, Thian Lee. Tak usah merendahkan diri secara keterlaluan"' tegur Lee Cin sambil tersenyum. Mendengar ini, bahkan Souw Can sendiri terkejut setengah mati.

"Engkau pernah beiajar ilmu pengobatan dari Kim-sim Yok-sian, Thian Lee?"

"Ah, hanya sedikit-sedi...."

"Sedikit-sedikit lagi Souw-pangcu cepat suruh memeriksa siapa tahu lukamu berbahaya,"

Kata Lee Cin.

Souw Can lalu menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan luka pada pangkal lengan kirinya.

Luka itu membiru dan memang ternyata senjata rahasia jarum itu mengandung racun yang cukup berbahaya.

Thian Lee lalu membuat ramuan obat dan setelah obat itu diminumkan, racun itu pun lenyap seketika.

"Sebetulnya, apa yang telah terjadi, Supek? Paman SoOuw tidak menceritakan secara jelas,"

Tanya Thian Lee kepada ketua itu. Souw-pangcu menghela napas panjang.

"Ini semua gara-gara Coat-beng-kwi itu...."

"Semua ini gara-gara engkau, Lee-twako!"

Tiba-tiba Souw Hwe Li berseru dengan alis berkerut dan mata memandang kepada Thian Lee dengan marah.

"Kalau engkau dahulu tidak menghina mereka, tentu mereka kini tidak datang rnembikin susah kami! "Hwe Li! jangan bicara lancang begitu!"

Bentak ayahnya.

"Beginilah ceritanya, Thian Lee. Dua hari yang lalu, Coat-beng-kwi dan Thian-lo-kwi itu, bersama seorang lain yang gendut dan lihai bukan main, membawa tiga puluh orang anak buah dan menyerbu Kim-liong-pang. Kami semua tentu saja mengadakan perlawanan akan tetapi mereka itu kuat sekali sehingga pihak kami menderita banyak yang terluka. Akan tetapi Coat-beng-kwi segera mundur dan mengirim surat kepadaku. Dia minta... agar kami menyerahkan adik-adikmu Hwe Li dan Ceng Ceng kepadanya. Kalau hal im tidak kami lakukan, mereka akan menyerbu lagi, membunuhi semua orang dan merampas kedua orang adikmu dengan kekerasan. Mereka memberi waktu tiga harl, jadi berarti besok adalah hari terakhir."

Suara ketua itu terdengar khawa-tir sekali.

"Karena mengingat bahwa engkau pernah menolong kami dari kesu-litan, siapa tahu sekarang pun engkau dapat menolong kami."

"Hi-hi-hik, urusan sekecil ini saja mengapa harus dibingungkan! Kalau mereka besok benarbenar berani muncul, aku akan membasmi mereka satu demi satu!"

Kata Lee Cin menyombongkan diri. Baru sekarang Souw-pangcu mernperhatikan gadis yang datang bersama keponakan itu.

"Thian Lee, siapakah Nona yang terhormat ini?"

"Supek, Nona ini bernarna Bu Lee Cin,"

Kata Thian Lee dengan suara agak bangga karena dia merasa seperti memperkenalkan calon isterinya! ,"la adalah murid dari Ang-tok Mo-li."

Sepasang mata Souw Can terbelalak, demikian pula dengan yang lain-lain terkeJut mendengar nama ini.

Nama Ang-Mo-li memang sudah mereka kenal sebagai nama seorang datuk wanita yang amat lihai, Hwe Li segera berseru.

"Sekarang mengerti aku mengapa Lee-twako begitu berani dan tabah, kiranya datang bersama murid Ang-tok Mo-li yang lihai'"

Souw Can mengerutkan alisnya dan melirik kepada puterinya yang dianggapnya lancang dan terlalu memandang remeh kepada Thian Lee. Kemudian dia berkata kepada Lee Cin.

"Harap Nona maafkan bahwa penyambutan kami kurang hormat karena kami tidak tahu bahwa Nona adalah murid Locianowe Ang tok Mo-li. Akan tetapi harap Nona ketahui bahwa pihak lawan amat berba-haya. Bukan saja tiga orang pimpinan itu Hhai, akan tetapi mereka juga membawa kurang lebih tiga puluh orang anak buah yang rata-rata tangguh."

"Souw-pangcu, urusan sekecil ini mengapa harus dlpikirkan sampai pusing? Tiga orang pimpinan itu hanyalah anjing-anjlng srigala yang hanya pandai menggonggong. Dengan adanya Thian Lee di sini, mereka itu dapat berbuat apakah? Adapun tlga puluh orang anak buahnya, mudah saja menghadapi mereka. Biarkan anak buahmu membuat barisan pendam dan siap dengan busur dan anak panah. Kalau mereka berani menyerbu, hujani mereka dengan anak panah, tentu mereka akan mampus semua. Dan para pimpinan mereka itu serahkan saja kepada aku dan Thian Lee. Nah, mudah, bukan?"

"Ayah, aku pun berani melawan mati-matian kepada mereka!"

Kata Hwe Li dengan lantang.

"Teecu juga akan melawan mereka dan teecu sudah memberitahu kepada Ayah agar mengirim pasukan untuk me-nangkap mereka semua!"

Kata Lai Siong Ek.

"Paman, meskipun akti tidak memiliki kepandaian tinggi, aku pun tidak takut rnelawan mereka. Dartpada ditawan mereka, lebih baik melawan sampai mati!"

Kata pula Ceng Ceng.

"Wah-wah, semua orang di sini gagah-gagah!"

Kata Lee Cin mengejek.

"Akan tetapi kalau pasukan pemerintah dikerahkan, aku tidak mau turut campur. Thian Lee, sebaiknya kita pergi saja dari sini karena sudah ada pasukan pemerintah yang turun tangan!"

Souw-pangcu berkata kepada murid-nya.

"Siong Ek, tidak perlu menggunakan pasukan. Urusan orang-orang kang-ouw tidak baik kalau dicampuri pasukan pemerintah, kalau begitu, kita hanya akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw saja."

"Baiklah, Suhu. Kalau begitu saya hanya akan memesan agar mereka itu melindungi Li-sumoi dan Ceng-sumoi kalau keadaan mendesak,"

Kata Lai Siong Ek.

"Thian Lee, bagaimana pendapatmu?"

Tanya Souw Can yang melihat pernuda itu sejak tadi hanya menundukkan kepalanya saja.

"Supek, aku setuju dengan pendapat Lee Cin. Kita siapkan barisan pendam untuk melawan anak buah mereka. Adapun tiga orang pimpinan itu kita ladapi secara jantan. Kita dapat mengandalkan kepandaian Lee Cin untuk membantu kita menghadapi mereka."

"Dan engkau sendiri?"

"Aku akan melihat dulu. Kalau kiranya aku dapat membantu, pasti aku akan bantu dengan taruhan nyawa, Supek."

"Bagus, dan Nona Bu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih atas bantuanmu yang amat berharga."

"Hi-hik, berkelahi memang hobbyku, mana ada bantuan-bantuan segala"

Asal sediakan anggur yang jangan terlalu keras dan manis, aku sudah senang. Eh, kedua Enci yang ingin dirampas perampok, kalian memang gagah dan manis, mari temani aku minum anggur, maukah?"

Melihat sikap Lee Cin yang begitu polos dan jujur, Ceng Ceng segera tertarik sekali.

Juga Hwe Li terpaksa menemaninya karena bagaimanapun juga, nama besar Ang-tok Mo-li membuatnya merasa segan.

Dua orang gadis ini lalu pindah duduk dekat Lee Cin dan segera mereka bertiga bercakap-cakap rfengan akrab.

Lee Cin memang seorang gadis yang terbuka dan jujur maka pandai sekali bergaul dengan siapa saja.

jujur maka pandai sekali bergaul dengan siapa saja.

Souw Can lalu mengajak Thian Lee untuk bicara berdua di dalam kamar sebelah dalam.

Setelah berada berdua saja, Souw-pangcu lalu berkata kepada pemuda itu.

"Thian Lee, antara mendiang ayahmu dan aku terdapat hubungan yang erat sekali, dan kami berdua dahulu sudah seperti saudara sendiri. Oleh karena itu, kuharap engkau pun memandang aku sebagai pamanmu dan tidak menyimpan rahasia apa-apa lagi. Thian Lee, sebetulnya engkau adalah murid seorang pandai yang menyembunyikan kepandaianmu, benarkah?"

Thian Lee merasa tidak tega untuk membohong supeknya yang amat baik kepadanya ini.

"Bagaimana Supek dapat menduga demikian?"

Balasnya bertanya. Souw-pangcu tertawa lirih.

"Ha-ha, supekmu ini biarpun bodoh akan tetapi bukanlah anak kecil seperti Hwe Li atau Siong Ek. Aku sudah mempunyai banyak pengalaman hidup, sudah pula berpengalaman dalam perkelahian. Karena itu, tidak mungkin kalau semua gerakanmu tempo hari karena kebetulan saja. Mengakulah, Thian Lee. Mengakui kepandaianmu sendiri bukan berarti menyombong-kan diri. Sebetulnya, selain ketika kecil dididik ilmu silat oleh mendiang ibumu, siapa lagi yang pernah mendidikmu dalam ilmu silat?"

"Sebetulnya, saya pernah dilatih ilmu silat oleh banyak orang, Supek. Sungguh memalukan bahwa sampai sekarang saya masih begini-begini saja."

"Hemm, dugaanku tepat. Coba katakan, siapakah guru-gurumu itu?"

"Setelah dulu diajar oleh ibuku, yaitu ilmu silat Kun-lun-pai, ketika berusia sepuluh tahun, saya lalu diangkat murid oleh guru yang pertama, yaitu Liok-tg Lo-mo."

Souw Can membelalakkan matahya. Liok-te Lo-mo adalah seorang datuk persilatan yang pandai, walaupun merupakan datuk sesat.

"Liok-te Lo-mo?"

Katanya kagum. Akan tetapi tidak lama saya menjadi murid Liok-te Lo-mo, hanya dua tahun saja, kemudian saya direbut dari tangan Liok-te Lo-mo oleh guru saya yang ke dua, yaitu Jeng-ciang-kwi."

"Jeng-ciang-kwi....??"

Souw Can berteriak karena nama ini adalah nama seorang datuk besar yang amat lihai.

"Wah, hebat sekali!'' "Akan tetapi sayapun tidak lama beiajar pada Jeng-ciang-kwi. Karena mencuri baca kitabnya, saya hampir saja dibunuhnya, akan tetapi ditolong oleh Ang-tok Mo-li, maka saya mengenal baik Lee Cin muridnya. Karena terluka, saya lalu ditolong oleh Kim-sim Yok-sian dan kemudian menjadi muridnya dalam ilmu pengobatan. Dan saya diajak oleh Kim-sim Yok-sian pergi ke Himalaya di mana saya belajar ilmu silat dari seorang suhengnya yang pertapa dan bernama Tan Jeng Kun. Nah, demikianlah, Supek. Ketika saya darang menghadap Supek minta pekerjaan, saya tidak berani memamerkan kepandaian saya maka berpura-pura tidak bisa silat."

Souw Can tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, sungguh mataku seperti buta! Memiiiki murid keponakan yang amat lihai akan tetapi tidak mengetahuinya! Akan tetapi aku sudah mulai bercuriga ketika engkau mengalahkan Coat-beng-kwi, oleh karena itulah maka aku menyuruh Ouw Kiu memanggilmu. Aku sudah sediklt rrienduga bahwa engkau tentu rnenyembunyikan kepandaian. Dan sekarang dugaanku benar. Ah, aku menjadi, lega sekali, Thlan Lee."

"Akan tetapi saya harap agar Supek tidak menceritakan kepada orang laln. Saya tidak ingin dianggap sombong dan pamer kepandaian."

Orang tua itu menghela napas pan-jang.

"Salahku itu. Aku tidak dapat mendidik anak, aku terlalu memanjakan Hwe Li sehingga ia suka memandanf rendah orang lain. Kau maafkanlah Hwe Li dan Siong Ek, Thian Lee. Aku tahu bahwa mereka itu memandang rendah kepadamu."

"Tidak mengapa, Supek. Saya kira haoya karena Li-moi masih terlalu muda saja. Saya tidak merasa menyesal, bah-kan Li-moi telah melatih Ilmu Tongkat Memukul Anjing kepadaku. Biarpun ia melatih dengan keras, akan, tetapi juga dengan sungguh-sungguh."

"Ha-ha, betapa lucu dan memalukah. Melatih ilmu tongkat kepadamu! Padahal, aku pun sudah tidak pantas untuk melatih ilmu silat kepadamu. Aihh, kalau saja...."

Mendengar orang tua itu tidak melanjutkan kata-katanya, Thian Lee meman-dang wajahnya dan bertanya.

"Ada,, apa-kah, Supek?"

"Ah, tidak apa-apa. Kalau saja ayah-mu masih hidup, alangkah akan senang hatinya. Mari kita keluar lagi menemani, mereka. Kulihat temanmu Lee Cin itu seorang gadis yang terbuka dan jujur, dan mudah akrab dengan siapa pun. Engkau memang akrab sekaii dengannya."

"Sebetulnya, sejak ia berusia dua belas tahun sampai sekarang, baru saja saya bertemu kembali dengannya, Supek. Selagi kami bicara, lalu datang Paman Quw Kiu dan mendengar di sini terancam bahaya, Lee Cin lalu menyatakan untuk ikut dan saya tidak dapat menolaknya,"

Jawab Thian Lee sejujurnya "Aku girang kalau engkau tidak akrab dengannya, Thian Lee. Betapapun juga, ia murid Angtok Mo-li dan engkau tahu sendiri orang inacam apa datuk wanita itu."

"Tapi, ia baik sekali, Supek,"

Kata Thian Lee, diam-diam merasa tidak se-nang supeknya memandang rendah orang lain.

"Sukurlah kalau ia baik tidak seperti gurunya,"

Kata pula Ketua Klm-liong-pang.

"Mari kita keluar,"

Mereka melanjutkan percakapan sam-pai jauh malam dan pada keesokan ha-rinya, Kim-liongpangcu sudah mengatur siasat seperti direncanakan Lee Cin, yaitu mengatur barisan pendam dengan sejumlah anggauta Kim-liong-pang ber-sembunyi dan siap dengan busur dan anak panah, berjaga-jaga di balik pintu ger-bang Kim-liong-pang.

Tak lama kernudian, musuh yang dl-tunggu-tunggu muncul.

Kurang lebih tiga puluh orang datang dipimpin oleh tiga orang yang nampak menyeramkan.

( oat-beng-kwi si raksasa muka bopeng, Thian-lo-kwi yang tinggi kurus, dan seorang yang pendek gendut bermuka seperti kanak-kanak.

Dia inilah yang berjuluk Bu-tek Lo-kwi (Iblis Tanpa Tanding), twa-suheng dari kedua orang kepala am-pok itu.

Dipunggung kakek pendek gendut itu terdapat sebatang pedang panjang.

Melihat musuh sudah datang, maka Souw-pangcu segera keluar menyanbut.

Dia ditemani Ciang Hoat dan Gan Bun Tek dua orang piauwsu andalannya, ke-mudian Hwe Li dan Siong Ek juga mendampinginya, barulah di belakang mereka berjalan Lee Cin dan Thian Lee.

Liu Ceng berjalan paling belakang, di belakang Thian Lee dan seperti yang lain, gadis ini pun sudah siap denean pedangnya di pinggang.

"Lee-ko, Si Gendut itulah yang amat lihai,"

Bisik Ceng Ceng kepada Thian Lee. Mendengar bisikan ini, Lee Cin tertawa kecil.

"Si Pendek Gendut seperti babi itu? Hi-hik, blar nanti aku yang membuntungi ekornya!"

Kata Lee Cin dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh semua orang.

Coat-beng-kwi mengerutkan alisnya ketika dia melihat Thian Lee.

Hatinya sudah menjadi panas sekali dan dia ingin sekali menuntut balas atas kekalahannya yang dahulu dan yang amat memalukan-nya itu.

Akan tetapi, dia lebih dulu berteriak kepada Souw Can.

"Souwpangcu, bagaimana jawabanmu atas lamaran kami tiga hari yang lalu? Apakah engkau sudah siap untuk menyerahkan kedua orahg Nona itu kepada kami?"

"Coat-beng-kwi, tanpa kaujawab sekalipun tentu kalian semua sudah dapat menduga bahwa tldak mungkin kami menyerahkan puteri dan keponakan kami kepada kepala-kepala perampok seperti kalian!"

"Kalau begitu, kami akan menghan-curkan K.im-liong-pang!"

"Waduh, gagahnya Si Raksasa Muka Bopeng ini!"

Tiba-tiba Lee Cin maju dan menudingkan telunjuknya kepada Coat beng-kwi.

"Engkau mengandalkan banyak orang untuk melakukan penyerangan. Apakah engkau tidak berani bertanding satu lawan satu?"

Melihat Lee Cin yang cantik jelita dan juga lincah itu. Coat-beng-kwi memandang kagum.

"Siapakah engkau, Nona? Dan apa urusanmu mencampun persoalan ini?"

"Siapa aku tidak perlu kau tahu. Aku hanya bertanya apakah engkau dan dua orang kawanmu ini memiliki nyali untuk bertanding satu lawan satu? Kalau pihak kami kalah, sudahlah, engkau boleh ber-tindak apa pun terhadap kami. Akan tetapi kalau kalian yang kalah, kalian harus cepat menggelinding pergi dari sini!"

"Siapa yang takut bertanding satu lawan satu? Baiklah, aku akan maju lebih dulu! Siapa yang akan menandingi aku? Bocah tolol itu?"

Dia menudingkan telun-)uknya kepada Thian Lee, akan tetapi sesuai dengan rencana yang sudah mereka atur sebelumnya, Souw-pangcu yang melangkah maju dan menghadapi Coat-beng-kwi.

"Coat-beng-kwi, akulah yang akan menandingimu!"

Katanya. Coat-beng-kwi terkejut, akan tetapi juga girang. Dia tahu bahwa di anlara semua yang berdiri di pihak musuh, Souw-pangcu adalah yang paling lihai.

"Souw-pangcu, kalau engkau nrtaju lebih dulu, lalu siapa nanti yang akan menandingi kedua orang suhengku?"

Kembali Lee Cin yang menjawab.

"Heh, muka bopeng. Kalau engkau tidak berani melawan Souw-pangcu, bilang saja, tidak berani, mengapa mesti pakai pem-bicaraan yang berputarputar? Tentang siapa yang akan menandingi Si Kurus dan babi gendut ini, jangan khawatir, kami masih mempunyai banyak sekah jagoan putar? Tentang siapa yang akan menandingi Si Kurus dan babi gendut ini, jangan khawatir, kami masih mempunyai banyak sekah jagoan Tentu saja pihak musuh merasa marah sekali dan mendongkol sekali mendengar ucapan gadis yang pandai berdebat itu, sedangkan di pihak Kim-liong-pang ada yang tertawa, akan tetapi juga ada yang khawatir karena mereka tahu bahwa pihak musuh sudah marah sekali.

"Baik, kalau begitu aku akan menandingi Souw-pangcu!"

Kata Coat-beng-kwi sambU mencabut goloknya yang besar dan berat.

Golok bergagang panjang itu memang merupakan senjatanya yang istimewa, sambil nnemalangkan goloknya di depan tubuh, Coat-beng-kwi siap menyerang Souw Can.

Ketua Kim-liong-pang ini pun sudah siap.

Malam tadi sudah jiatur siasat bahwa dia yang akan melayani Coat-beng-kwi karena dia sudah tahu sampai di mana tingkat kepandajannya dan dia merasa sanggup menandinginya.

Adapun dua orang suheng dari Coat-beng-kwi diserahkannya kepada Thian Lee dan Lee Cin.

"Engkau yang datahg menantang kami, aku sudah siap, Coat-beng-kwi majulah!"

Tantang Souw-pangcu sambU melintangkan pedangnya.

"Haiiiittt....!"

Coat-beng-kwi memibentak dan goloknya sudah menyambar dengan dahsyatnya.

"Tranggg....!"

Bunga apl berpijar ketika pedang di tangan Souw-pangcu menangkis golok, bergagang panjang itu.

Begitu terpental, golok itu membalik dan 'kini gagangnya menusuk ke arah dada Souw-pangcu.

Akan tetapi Ketua Kim-liong-pang ini sudah mengelak ke samping dan pedangnya menyambar dengan tusukan ke arah lambung lawan.

Coat-beng-kwi memutar goloknya menangkis dan segera kedua orang itu sudah saling serang dengan hebatnya.

Souw Can memainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang indah dan cepat dan pedangnya menjadi gulungan sinar yang bergulat dengan sinar golok.

Mereka saling serang dan mencoba untuk saling mendesak.

Akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, segera nampak bahwa Souwpangcu masih menang tangguh dan tingkat kepandaiannya lebih tinggi sehingga Coat-bengkui mulai terdesak mundur.

Sinar pedang menjadi semakin lebar sedangkan sinar golok kini terhimpit dan terdesak.

Sing Pedang meluncur dengan cepat sekali dan biarpun Coat-beng-kwi sudah memutar golok menangkis, tetap saja pedang itu menyerempet pundaknya, merobek baju dan kulit sehingga pundaknya berdarah.

Dia terhuyung ke belakang, akan tetapi Souw-pangcu tidak melahjutkan seranganrtya dan bahkan menarik pedangnya ialu melangkah mundur.

Sudah jelas bahwa dia keluar sebagai pemenang dalam pertandingan itu.

Melihat ini, Thian-lo-kwi marah dan dia sudah mencabut pedangnya dan menyerang Souwpangcu sambil berteriak.

"Souw-pangcu, akulah lawanmu."

Tranggg....!"

Souw-pangcu menangkis tusukan pedang itu dan melangkah ke belakang tangannya tergetar hebat ketika menangkisseranyan itu dan pada saat itu Lee Cin sudah maju menghadang.

Tikus kurus kau curang!

Temanmu sndah kalah dan kalau engkau rnaju haruslah menantang dahulu.

Souw-pangcu sudah memperoleh kernenangan, dia boleh beristirahat.

Kalau engkau hendak mencari lawan, akulah lawanmu!"

Thian-lo-kwi mengerutkan alisnya dan memandang kepada gadis cantik yang mulutnya dapat mengeluarkan kata-kata tajam itu dengan penuh perhatian.

Dia adalah seorang jagoan yang terkenal di .dunia persilatan.

Usianya sudah setengah abad, tentu saja dia merasa direndahkan sekali kalau harus melawan seorang gadis yang masih begini muda.

Gadis yang pantas menjadi cucunya.

Melawan gadis sernuda ini, kalau menang tidak akan terpuji sebaliknya kalan kalah dapat menghancurkan namanya!

"Bocah lancang mulut, siapakah engkau?

Anak kecil macam engkau tidak perlu mencampuri urusan ini'"

"Cacing kurus, nonamu ini bernama Bu Lee Cin dan tidak perlu banyak cakap lagi. Akulah yang menandingimu tentu saja kalau engkau berani. Katau engkau tidak berani, cepat rnerangkak pergi dari sini!"

Thian-lo-kwi marah sekali, akan tetapi dia rnasih memandang kepada Souw-pangcu lalu berkala.

"Souw-pangcu, majulah mengapa engkau berlindung kepada seorang anak kccil? Tidak bisa aku melawan seorang bocah lancang macam ini!"

"Thian-lo-kwi, Nona Bu ini memang jagoan kami. Hayo cepat lawan ia kalau memang engkau memiliki kemampuan!"

Thian -lo -kwi merasa tersudut dan tidak dapat mengelak atau mundur lagi.

Dia lalu memandang gadis itu dengan mata mencorong.

Aku harus dapat merobohkannya, kalau tidak, namaku menjadi taruhan, pikirnya.

"Baik, kalau begltu cepat keluarkan senjatamu, anak lancang."

Bentaknya.

Wajahnya nampak bengis sekali.

Hwe Li, Siong Ek dan Ceng Ceng menandang dengan jantung berdebar tegang.

Mereka bertiga sudah tahu betapa lihainya Si Tinggi Kurus ini.

Bahkan Souw-pangcu sendiri pernah terdesak olehnya, dan baru Souw-pangcu terlepas dari bahaya ketika kuda yang ditunggangi oleh Thian Lee itu mengamuk dan menyepak perutnya.

Tiga orang muda ini tentu saja meraSa sangsi apakah Lee Cin akan mampu menandingi kakek tinggi kurus itu.

Namun Lee Cin menghadapinya dengan senyumnya yang nakal.

"Aku mengeluarkan senjata kapan saja kusuka, tidak perlu menuruti perintahmu. Engkau sudah memegang pedang, mengapa tidak segera kaupergunakan untuk menyerangku? Kau takut ya?"

Diserang dengan kata-kata itu, wajah Thian-lo-kwi menjadi pucat lalu merah sekali saking marahnya.

Dia maklurri bahwa bertanding kata-kata melawan gadis ini dia tidak akan menang, maka dia tidak peduli lagi bahwa lawannya yang masih amat muda itu masih bertangan kosong.

Diangkatnya pedangnya ke atas kepala, diputarnya seperti gasing sehingga mengeluarkan suara berdesing, kemudian mulutnya membentak.

"Bocah, lancang, terimalah kematianmu'"

Dan pedang itu menyambar dengan dahsyatnya ke arah leher Lee Cin.

"Singggg....!"

Leher yang panjang dari rndah itu tentu akan terpenggal kalau saja pedang itu mengenainya.

Akan tetapi dengan gerakan yang manis namun lucu Lee Cin menundukkan kepala dan merendahkan tubuhnya sehingga sinar pedang itu menyambar beberapa sentimeter.

di atas kepalanya dan tiba-tiba saja tangan kiri Lee Cin sudah menyambar ke depan, menonjok ke arah perut lawan!

Gerakannya ini cepat dan tiba-tiba sekali sehingga Thian-lo-kwi terkejut sekali, namun tangan kirinya masih sempat menghadang dan menangkis tonjokan itu.

"Dukk....!"

Dan tubuh kakek itu terhuyung ke belakang.

Tadi ketika menyerang, saking marahnya dia telah menggunakan tenaga penuh sehingga ketika serangannya luput, tubuhnya agak condong dan ketika tangan rnereka bertemu, posisinya kalah baik sehingga dia terdorong dan terhuyung.

Apalagi karena gunakan tenaga sin-kang yang kuat sekali!

Dalam segebrakan saja gadis itu telah membuat lawan terhuyung.

Hal ini sama sekali tidak disangkasangka oleh semua pihak bahkan Souw-pangcu sendiri sampai tersenyum dan menganggukangguk saking kagumnya.

Gadis itu dengan tangan kosbng mampu membuat lawan terhuyung dalam satu gebrakan.

Apalagi Hwe Li, Siong Ek dan Ceng Ceng, tidak dapat menahan kegembiraan hati rnereka dan merekapun bertepuk tangan.

Mendengar tepuk tangan ini, Lee Cin memutar tubuh kepada mereka dan membungkuk sebagai tanda teriina kasih atas pujian itu, gayanya seperti seorang pemain panggung yang mendapat pujian penonton.

"Awas....!"

Hwe Ll berseru kaget, juga sernua orang terkejut karena selagi Lee Cin memutar tubuh membungkuk, lawannya sudah menyerang secara curang sekali dari belakang.

Serangannya sekali ini lebih hebat dari tadi karena dia marah bukan main.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 5

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert