Eps 4 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.
"Terima kasih, Sobat. Aku akan berhati-hati menjaga diri. Nah, selamat tinggal, aku harus segera pulang karena guruku sudah menanti. Dia sedang sakit keras!"
Tanpa keterangan lain tahulah kini Thian Lee mengapa nona itu mati-matian mempertahankan sian-tho, kiranya untuk mengobati gurunya.
Seorang gadis yang berbakti kepada gurunya!
Timbul rasa kagum dan tenangnya.
"Selamat jalan, Nona. Semoga gurumu cepat sembuh,"
Katanya dan dia melihat betapa gadis itu dengan hati-hati tanpa pengerahan tenaga menaiki kembali kudanya sambil membawa tongkat dan bun-talan pakaiannya.
Kuda itu lalu dibalapkan dan Thian Lee lalu diam-diam membayangi dari jauh.
Dia masih mengkhawa-tirkan kalau-kalau gadis itu akan diha-dang orang kang-ouw lagi di tengah perjalanan.
Maka dia harus inembayangi sampai akhirnya Cin Lan tiba di kuil Kwan-im-bio di luar kota raja.
Melihat gadis itu sudah tiba di tempat tujuan, Thian Lee lalu meninggalkannya dan dia segera memasuki kota raja.
Memang dia sendirl hendak pergi ke kota raja untuk bertanya-tanya kepada orang di sana di mana letaknya dusun Tung-sin-bun, tempat tinggal mendiang ayah dan ibunya ketika dia masih kecil, di mana ayahnya dikabarkan tewas dikeroyok pasukan karena dianggap pemberontak.
Cin Lan memasuki kuil, disambut dengan gembira sekali oleh Tiong Hwi Nikouw ketika mendengar bahwa gadis itu telah berhasil memperoleh buah sian-tho, Cin Lan segera memasuki kamar di mana Pek I Lokai beristirahat dan men-dapatkan gurunya tengah duduk bersila dengan napas yang lemah.
Pek I Lokai membuka matanya ketika gadis itu menyentuh tangannya dan dia tersenyum.
"Engkau sudah pulang, Cin Lan?"
"Benar, Suhu dan teecu telah berhasil mendapatkan buah sian-tho, sekarang sedang direbus oleh Tiong Hwi Nikouw."
"Hemm, engkau seorang murid yang baik dan berbakti, Cin Lan. Ayahmu Sang Pangeran sudah kebingungan dan beberapa kali bertanya ke kuil ini."
"Sebetulnya kebetulan saja teecu mendapatkan buah sian-tho, Suhu. Buah itu bahkan pemberian orang karena dija-dikan perebutan dan teecu tidak mungkin bisa mendapatkan kalau tidak diberi orang itu. Di sana banyak sekali orang kang-ouw yang hendak memperebutkannya, akan tetapi semua takut dan kalah terhadap orang ini. la bahkan rnengirim salam untuk Suhu."
"Siapakah orang itu, Cin Lan?"
"la adalah Nyonya Siangkoan. Ketika mendengar bahwa buah sian-tho itu teecu cari untuk mengobati Suhu, ia lalu memberikan buah itu kepadaku dan mengirim salam untuk Suhu."
"Ah, Hui Cu....!"
Pek I Lokai menghela napas.
Pada saat itu, Tiong Hwi Nikouw masuk membawa periuk obat dan menuangkan air rebusan sian-tho itu ke dalam mangkok dan menyerahkannya kepada Pek I Lokai.
Pengemis tua itu lalu meminumnya sampai habis.
Ternyata obat itu memang manjur bukan main.
Setelah direbus sampai tiga kali dan airnya diminumkan kepada Pek I Lokai, kakek itu segera sembuh kembali.
Pulih kembali kesehatannya dan setelah sehat benar, barulah dia memanggil Cm Lan dan disuruhnya murid itu menceritakan pengalamannya.
Cin Lan menceritakan semua pengalamannya, bahkan menceritakan pula tentang ia digigit ular emas dan ular putih yang menimbulkan tenaga panas dan dingin di dalam tubuhnya.
"Ah, digigit ular emas? Tak salah lagi, ular putih itu tentulah ular salju! Ular emas itu yang racunnya mendatangkan hawa panas di tubuhmu, sedangkan ular salju mendatangkan racun hawa dingin. Tentu kini tubuhmu penuh dengan kedua hawa itu. Engkau beruntung sekali Cin Lan karena kalau engkau hanya digigit seekor saja dari mereka, engkau tentu sudah mati! Agaknya racun kedua ekor ular itu bertemu dalam badanmu, bahkan saling memunahkan dan engkau selamat, bahkan menerima hawa yang amat kuat, akan tetapi yang saling bertentangan. Coba kaukerahkan hawa itu pada tanganku."
Pek I Lokai lalu menjulurkan kedua tangannya ke depan, disambut oleh kedua tangan Cin Lan.
Lalu gadis itu mengerahkan sin-kangnya dan seketika dua hawa yang berlawanan itu muncf dan mengamuk membuat Pek I Lokai terpen-tal ke belakang!
"Siancai...!
Engkau beruntung sekali, Cin Lan!"
Katanya, akan tetapi sementara itu Cin Lan sudah memegangi kepalanya yahg menjadi pening dan dadanya yang sesak.
la cepat bersila dan mengatur pernapasan seperti yang diajarkan oleh Thian Lee sehingga keadaannya pulih kembali.
Terkejut Pek I Lokai melihat ini.
"Dua tenaga itu berebutan untuk menguasai dirimu. Dari mana engkau dapat melatih diri mengatur mereka agar tenang kembali?"
Cin Lan menceritakan pertemuannya dengan Thian Lee dan Pek I Lokai berseru kagum.
"Pemuda itu tentulah seorang ahli pengobatan yang pandai sekali! Sekarang engkau akan kuberi pelajaran untuk menguasai dua tenaga yang berlawanan itu, Cin Lan. Tenaga yang panas itu boleh disebut. Ang-coa-kang dan yang dingin itU Pek-coa-kang dan kalau engkau sudah dapat memisahkan itu, mengguna-kannya secara terpisah, engkau akan memiliki kekuatan sin-kang yang hebat sekali."
"Baik, Suhu. Akan tetapi sekarang teecu harus pulang dulu ke kota raja agar ayah dan Ibu tidak merasa khawatir."
Gadis itu lalu pulang, disambut dengan girang oleh Pangeran Tang Gi Su dan isterinya, dan juga menerima teguran karena selama beberapa hari tidak pu-lang.
Cin Lan minta maaf dan menceritakan bahwa selama beberapa hari itu ia mencarikan obat untuk gurunya yang terancam maut karena luka dalam.
Demikianlah, mulai hari itu Cin Lan berlatih sin-kang di bawah bimbingan dan petunjuk Pek I Lokai sehingga setelah lewat dua bulan, ia mampu menguasai dan mengendalikan dua tenaga berhawa panas dan dingin yang berada dalam tubuhnya.
Akan tetapi, ia pun merasa bersedih karena setelah latihannya selesai, Pek I Lokai berpamit untuk melanjutkan perantauannya meninggalkan Kwan-im-blo.
"Tidak mungkin aku tinggal selamanya di sini, Cin Lan. Kalau selama ini aku berada di sini hanya karena aku harus mengajarmu sampai tamat. Sekarang, engkau sudah mempelajari Hok-mo-tung-hoat dengan baik. Aku sudah nnerasa puas, apalagi engkau memiliki Pek-coakang dan Ang-coa-kang. Aku tidak khawatir lagi karena engkau sudah mampu menjaga diri sendiri dengan baik. Nah, selamat tinggal, muridku. Jangan lupa semua nasihat dan pesanku. Biarpun eng-kau puteri pangeran, jadilah seorang pendekar wanita yang baik dan lindungi kepentingan orang-orang lemah yang tertindas."
Cin Lan menangis ditinggal suhunya.
la merasa sayang sekali kepada Pek I Lokai yang selama ini menjadi seorang guru yang baik dan yang menyayangnya.
Kasih sayang dapat menimbulkan ikatan batin dan kalau datang masa perpisahan, maka ikatan itu akan membuat batin tersiksa dan merasa sakit.
Ikatan seperti!
ini timbul dari pengaruh si.
aku yang ingin senang sendiri.
Kalau yang disayang pergi, maka tirnbullah rasa kecewa dan iba kepada dirinya sendiri yang direnggut dari kesenangannya, maka lalu menderita.
Dapatkah kita mencinta orang lain dengan bebas dari ikatan?
Hanya mungkin kalau si aku yang mementingkan diri sendiri tidak berkuasa atas batin kita.
Kalau kita benar-beriar menyayang, tentu yang dipentingkan dia yang kita sayang, bukan aku yang menyayang.
Kalau sudah begitu, maka penderitaan tidak akan muncul.
Cin Lan kini kembali ke dalam istana ayahnya dan jarang keluar dari rumah, kecuali kalau pergi berburu binatang seperti biasa.
la tekun melatih diri dengan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari Pek I Lokai dan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang luar biasa hebatnya.
Pada waktu itu, di dunia persilatan terdapat empat orang datuk besar yang dianggap sebagai orang-orang terpandai yang mewakili daerah masing-masing.
Yang berkuasa di timur, di sepanjang pantai bahkan di lautan adalah Si Raja Angin Timur Siangkoan Bhok.
Di barat terdapat Thian-tok (Racun Dunia) Gu Kiat Seng.
Di utara terdapat seorang datuk besar bangsa Mancu berjuluk Pak-thian-ong (Raja Dunia Utara) Durhai.
Adapun di selatan terdapat Thiante Mo-ong (Raja Iblis Langit Bumi) Koan Ek.
Empat orang datuk besar ini dianggap sebagai para datuk yang paling tinggi tingkatnya, walaupun masih banyak para datuk besar lainnya, namun nama mereka tidaklah sebesar yang empat orang ini.
Empat orang datuk besar.
ini, sesuai dengan tingkat masing-masing, tidak mau saling mengalah dan setiap lima tahun sekali i'nereka mengadakan pertemuan di suatu tempat untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling lihai.
Dengan cara ini mereka selalu menggembleng diri dan menggali ilmu baru untuk me-menangkan pertandingan yang diadakan lima tahun sekali itu.
Pada lima tahun terakhir, yang keluar sebagai pemenang adalah Pak-thian-ong Dorhai, walaupun hanya sedikit selisihnya dari yang lain.
Mereka telah sepakat untuk mengadakan pertemuan di Thai-san pada hars yang ditentukan.
Pada waktu itu, Thai-san merupakan pegunungan yang gawat dan jarang ada orang berani mendaki gunung itu.
Hal ini dikarenakan gunung itu dihuni dua orang datuk yang terkenal pandai dan juga ke-ras hati bersama para anak buahnya.
Datuk-datuk itu bukan lain adalah Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) dan sahabatnya, Hek-bin Mo-ko (Iblis Muka Hitam) yang pernah kita kenal ketika Hek-bin Mo-ko menantang Tan Jeng Kun beberapa tahun yang lalu.
Sin-ciang Mo-kai pernah dikalahkan oleh Tan Jeng Kun dan sahabatnya, Hek-bin Mo-ko hendak menuntut balas namun dia pun dikalahkan oleh Tan Jeng Kun.
Kini, kedua orang datuk itu tinggal di Thai-san bersama kurang lebih lima puluh orang anak buah mereka.
Pada hari yang ditentukan itu, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, tinggi besar bermuka a merah, nampak gagah sekali, memegang sebatang dayung baja yang dipergunakan sebagai tongkat, mendaki Bukit Thai-san seorang diri.
Langkahnya lebar dan pendakian yang berat itu terasa nngan saja baginya, langkahnya tegap seolah-olah jalan itu tidak mendaki.
Dia mendaki ke arah puncak gunung melalui timur.
Selagi dia mendaki dengan langkah tegap dan tenang, tiba-tiba terdengar gerengan yang menggetarkan gunung dan di depannya telah berdiri seekor biruang yang besarnya melebihi orang tinggi be-sar itu.
Biruang itu besar dan berat sekali, berdiri di atas kaki belakangnya dan kedua kaki depan bergerak-gerak seperti bertepuk tangan sambil menggereng-gereng.
Orang yang memegang dayung itu berhenti melangkah dan memandang bi-natang itu dengan sikap tenang, lalu bicara kepada diri sendiri.
"Hemm, pernah aku makan masakan kaki biruang dan enak sekali, akan tetapi entah bagaimana rasanya daging biruang yang dipanggang. Jangan-jangan alot dan keras. Pergilah, biruang, aku tidak ingin makan dagingmu!"
Akan tetapi biruang itu mana mengerti omongan manusia.
Dia bahkan nampak marah.
Binatang-binatang lain yang mendengar gerengan ini saja sudah bersembunyi ketakutan dan di kejauhan terdengar auman harlmau yang agaknya seperti-hendak menyambut gerengan tan-tangan ini.
Hanya harimau yang berani melawan biruang hitam ini, yang kuku kaki depannya panjang-panjang dan ketika menggereng, bibirnya tersingkap memperlihatkan taring yang tajam meruncing.
Namun, pria bermuka merah itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum mengejek dan berkata kepada dirinya sendiri.
"Agaknya biruang ini sudah bosan hidup!"
Biruang itu lalu menyerang dengan terkaman dahsyat ke arah Si Muka Merah.
Akan tetapi dengan mudahnya orang itu melangkah ke samping dan ketika tubrukan biruang itu luput, dia sudah menggerakkan dayungnya ke arah bela-kang kepala biruang itu.
"Prakkk!"
Biruang itu tersungkur dengan kepala pecah dan tidak bergerak lagi.
"Ha-ha-ha-ha!"
Pria itu tertawa ter-bahak dan dia kelihatan gagah perkasa sekali.
Tak lama kemudian dia sudah membuat api unggun dan mengambll sebuah kaki belakang biruang itu dan memanggang daging paha.
Ternyata dia membawa pula garam dan bumbu dan tak lama kemudian tercium bau sedap daging panggang yang dibumbui bubukan bawang kering, garam dan merica.
"Hemm, enak juga'"
Kata orang itu sambil menggigiti daging paha yang masih mengepulkan uap panas itu.
Perutnya memang sudah lapar maka tentu saja daging biruang itu disambut dengan girang.
Akan tetapi baru enak-enaknya dia makan, tiba-tiba muncul enam orang tinggi besar yang bersenjata golok.
Mereka ini adalah anak buah Hek-bin Mo-ko.
Tadi enam orang itu mendengar ge-rengan biruang dan cepat datang ke situ untuk menangkap biruang itu.
Siapa kira .setelah tiba di situ, mereka melihat ada orang sedang makan daging paha biruang panggang!
Mereka menjadi marah karena mereka menganggap bahwa semua binatang yang berada di Pegunungan Thai-san adalah hak milik mereka.
"Bangsat dari mana berani berburu binatang di sini tanpa seijin kami!"
Bentak seorang dari mereka.
Orang bermuka merah itu bukanlah ofang biasa.
Dia adalah seorang di antara empat datuk besar yang hendak mengadakan pertemuan di puncak Thai-san dan dia itu bukan lain adalah Majikan Pulau Naga yang bernama Siangkoan Bhok yang berjuluk Raja Angin Timur!
Mendengar dirinya dimaki, tentu saja Siangkoan Bhok merasa tidak senang.
Kalau menurutkan kebiasaannya, sekali orang memakinya, tentu orang itu menebusnya dengan nyawanya!
Akan tetapi dia sedang makan, maka katanya tak sabar.
"Aku sedang makan, tidak bernafsu membunuh. Pergilah kalian jauh-jauh dari sini!"
Akan tetapi enam orang itu tentu saja tidak takut dan mereka sudah mengepung sambil mengamang-amangkan golok mereka.
"Menyerahlah engkau untuk kuseret ke depan ketua kami!"
Kata mereka mengancam.
Bangkit amarah di hati Siangkoan Bhok.
Pandang matanya mulai mencorong dan makannya berhenti.
Dayungnya masih disandarkan kepada batang pohon dan dia kini memegang paha biruang yang tinggal sedikit dagingnya menempel pada tulang besar itu.
Dia bangkit berdiri perlahan-lahan dan berkata.
"Aku menyerah kepada kalian? Suruh datang ke sini ketuamu! Dia harus menyerah kepadaku!"
Enam orang itu menjadi semakin ma-rah dan serentak mereka maju menye-rang dengan golok mereka.
Akan tetapi, Siangkoan Bhok berkelebat dengan tulang kaki biruang di tangannya dan terdengar bunyi keras enam kali dan orang itu terlukai.
Lima orang yang terkena hantaman tulang pada kepalanya seketika tewas yang seorang lagi kebetulan hanya terkena pundaknya dan dia dapat melari-kan diri pontang-panting.
Tak lama kemudian orang yang berlari itu datang lagi dengan dua belas orang kawannya dan mereka segera maju me-ngeroyok Siangkoan Bhok.
Akan tetapi datuk ini tetap mempergunakan tulang kaki blruang mengannuk dan dalam waktu sing kat saja, sepuluh orang roboh dengan kepala remuk sedangkan tiga orang lainnya melarikan diri tunggang langgang!
Dapat dibayangkan hebatnya kepandaian Raja Angin Timur ini.
Hanya dengan tulang paha biruang, dalam beberapa gebrakan saja dia telah menewaskan lima belas orang pengeroyok yang sesungguhnya bukanlah orang-orang lemah.
Padahal dia sama sekali tidak menggunakan sen-jatanya, dayung baja yang masih disan-darkan di batang pohon!
Siangkoan Bhok melernpar tulang.paha itu dan meludah.
Selera makannya sudah lenyap dan dia bersungut-sungut.
"Orang-orang konyol yang sudah bosao hidup. Huh!"
Dia menyambar dayungnya, lalu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.
Sementara itu, dari arah yang berlawanan, yaitu dari barat seorang pendek gendut yang membawa kebutan kebutan pendeta, juga mendaki lereng Pegunungan Thai-san.
Orang itu bertubuh pendek gendut seperti bulat, akan tetapi ketika dia mendaki lereng, tubuhnya se-perti menggelundung naik.
Kedua kaki yang pendek itu ternyata dapat berlari cepat.
Pakaiannya seperti pertapa dan semua anggauta tubuh orang ini seolah bulat.
Kepalanya bulat, matanya, hidung-nya, mulutnya.
Melihat pakaiannya yang longgar dan tubuhnya yang bulat itu sungguh dia mirip seorang kanak-kanak yang besar.
Akan tetapi wajahnya jelas membayangkan usianya yang sedikitnya tentu ada lima puluh tahun.
Rambutnya juga sudah bercampur uban dan rambut itu disembunyikan di dalam sebuah topi batok.
Tentu tak seorang pun akan mengira bahwa Si Gendut Pendek ini adalah seorang datuk besar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw.
Julukannya adalah Thian-tok (Racun Dunia) dan namanya Gu Kiat Seng, datuk besar dari dunia barat.
Datuk ini puluhan tahun menjelajah daerah Sin-kiang dan Tibet dan namanya amat terkenal sebagai datuk yang jarang menemukan tandingan.
Selagi Thian-tok berjalan seperti menggeli.nding naik, tiba-tiba bermun-culan dua puluh orang tinggi besar yang bengis.
Mereka itu sebagian dari anak buah Hek-bin Mo-ko yang sedang berburu binatang.
Melihat seorang asing mendaki bukit, mereka segera menghadangnya dan seorang di antara mereka membentak.
"Heii, tak seorang pun boleh mer'asuki wilayah kami tanpa ijin. Engkau srang cebol cepat turun lagi dan menyingkir dari sini atau cepat menyerah untuk kami bawa menghadap pimpinan kami!"
"Heh-heh-heh, mana ada orang memi-liki gunung sebesar ini? Sepanjang yang kudengar, Gunung Thai-san ini tidak ada orang yang memilikinya, kecuali mungkin saja pemerintah. Sudahlah, pergi dari hadapanku, jangan membuat lelucon!"
Kata Racun Dunia Gu Kiat Seng, sikapnya acuh saja.
"Kami tidak bergurau, cepat pergi atau menyerah, atau kami akan rneng-gunakan kekerasan!"
Bentak seorang lain sambil menodongkan goloknya ke arah kepala yang bulat tertutup topi batok itu.
"Kalian mencari mati? Ingat, hari ini aku tidak bernafsu untuk membunuh orang. Pergilah!"
Kata pula Thian-tok. Tentu saja ancaman seorang yang cebol itu tidak berkesan, bahkan dua puluh orang itu tertawa bergelak dan menganggap Si Cebol itu gila.
"Bacok saja lengannya agar menjadi lebih pendek, kawan!"
Kata seorang dan orang yang menodongkan goloknya tadi benar-benar membacok ke arah tangan kanan yang memegang kebutan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba kebutan itu menyambar dan golok itu telah dilibat dan dirampas, kemudian secepat kilat kebutan itu digerakkan, golok rampasan meluncur ke depan dan tahu-tahu lengan kanan Si Pemilik Golok telah ditabas buntung!
Dia menjerit kesakitan dan semua orang menjadi terkejut, juga marah melihat lengan kawannya terbacok buntung.
Mereka itu lalu mengepung dan menyerbu dengan ganasnya.
Akan tetapi, mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan.
Si Pendek itu tidak berpindah dari tempat dia berdiri, akan tetapi kebutannya bergerak cepat membentuk lingkaran yang tahu-tahu semua orang itu berteriak-teriak, golok mereka terampas ke-butan dan banyak lengan yang terbabat buntung!
Sedikitnya empat belas orang buntung lengannya terbabat golok sendiri dan yang enam orang lainnya melarikan diri diikuti mereka yang terluka.
Si Pendek itu membuang golok yang masih terlibat kebutannya, memandang ke arah lengan-lengan yang berserakan di atas tanah, tertawa bergelak lalu melanjutkan pendakiannya ke puncakThai-san seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya.
Bukan lihainya Si Pendek Gendut ini yang membuntungi lengan sekian banyaknya orang dengan golok mereka sendiri.
Dasar nasib sial para anak buah datuk sesat Hek-bin Mo-ko mengancam dan akan membuntungi lengan seorang datuk besar seperti Thian-tok!
Sementara itu, ketika Hek-bin Mo-ko dan pembantunya, Sin-ciang Mo-kai men-dengar laporan anak buahnya bahwa banyak anak buahnya yang tewas dan buntung lengannya oleh orang-orang yang naik ke puncak, mereka menjadi marah bukan main.
Sambil membawa sisa anak buahnya yang tinggal sedikit, kurang lebih dua puluh orang saja lagi, mereka berdua lalu melakukan pengejaran ke puncak Thai-san.
Ketika tiba di pundak Thai-san yang rata dan merupakan puncak yang ditum-buhi pohonpohon, kedua orang datuk sesat itu bersama anak buahnya melihat dua orang duduk berhadapan dan bercakap-cakap di atas tanah bertilamkan daun-daun kering.
Mereka duduk bersila dan bercakap-cakap dengan santainya.
Seorang di antaranya bertubuh tinggi kurus dengan pakaian berwarna hitam putih dan di dadahya bergambar tanda Im-yang dan di punggungnya tergantung sepasang pedang.
Adapun orang ke dua, adalah seprang tinggi besar yang bertelanjang dada, bajunya tidak dikancingkan, tubuhnya kokoh kuat dan dia memakai sabuk rantai yang besar.
Si Tinggi Kuriis itu adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek, datuk besar selatan berusia lima puluh lima tahun.
Sedangkan yang tinggi besar kulitnya gelap bertelanjang dada itu ada-lah Pak-thian-ong Dorhai, datuk besar utara berusia enam puluh tahun.
Agaknya kedua orang datuk dari selatan dan utara ini datang lebih dahulu dari rekanrekan yang lain dan mereka berdua duduk sila berhadapan dan mengobrol.
Tentu saja mereka mengetahui akan munculnya Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai bersama dua puluh orang anak buah mereka, akan tetapi kedua orang datuk besar, itu enak-enak saja bercakap-cakap tanpa mempedulikan mereka yang datang mengepung tempat itu.
Sebetulnya, dua orang datuk yang telah membunuhi dan membuntungi para anggauta gerombolan anak buah Hek-bin Mo-ko bukanlah dua orang yang kini duduk di puncak.
Akan tetapi Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai sudah marah sekali, mereka tidak lagi bertanyatanya, langsung saja mereka meloncat ke dekat dua orang kakek itu.
"Siapa kalian berani mengacau di Thai-san kami?"
Bentak Hek-bin Mo-ko dengan marah sekali. Tangan kanannya memegang senjatanya yang menggiriskan, yaitu sebatang ruyung besar dan berat yang berduri.
"Hayo bangkit dan terima pembalasan kami'."
Bentak pula Sin-ciang Mo-kai yang sudah melintangkan tongkatnya di depan dada.
Tongkat pengemis iblis ini ujungnya memakai racun sehingga kalau memukul dan melukai lawan, lawan dapat keracunan.
Thian-te Mo-ong dan Pak-thian-ong saling pandang, lalu Thian-te Mo-ong tertawa.
"Setan Utara, bagaimana pendapatmu? Kauhadapi yang memegang ruyung dan aku menghadapi yang bertongkat, bagaimana?"
Pak-thian-ong Dorhai mengangguk.
"Baiklah, dua orang ini menjemukan se-kali!"
Katanya dan dia pun bangkit ber-diri dan menghadapi Hek-bin Mo-ko.
Dua orang yang sama-sama tinggi besar itu kini saling berhadapan dan Hek-bin Mo-ko yang sudah marah sekali karena banyak anak buahnya yang tewas dan buntung lengannya, sudah mehggerakkan ruyungnya ke atas kepala, memutar-mutar ruyungnya sehingga mengeluarkan bunyi bersuitan dan ada angin menyambar-nyambar dari putaran ruyungnya.
"Engkau yang membunuhi anak buahku?"
Bentaknya. Dorhai adalah seorang datuk besar yang aneh. Blarpun dia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu, akan tetapi dibentak dan ditantang begitu, dia tidak menyangkal.
"Kalau benar demikian, kau mau apa?"
Balasnya dengan benfakan yang memandang rendah.
"Hutang nyawa bayar nyawa! Belasan orang mati, engkau harus menebusnya dengan nyawamu!"
Setelah berkata demikian, ruyungnya lalu menyerang dengan dahsyatnya.
Pakthian-ong melangkah kesamping dengan tenangnya sehingga ruyung itu luput dan menyambar di samping tubuhnya.
Melihat betapa sambaran ruyungnya dapat dielakkan sedemikian mudahnya, Hek-bin Mo-ko menjadi penasaran dan ruyung itu sudah membalik dan menyambar lagi dengan cepat dan kuatnya, menyerang ke arah paha lawan.
Akan tetapi Pakthian-ong Dorhai dengan sikap yang tetap tenang, mengangkat kaki kanannya menangkis ruyung.
"Plakkk!"
Ruyung terpental oleh tangkisan telapak kaki itu sedangkan Pak-thian-ong sama sekali tidak terguncang.
Hal ini saja sudah membuktikan betapa kuatnya datuk besar ini.
Namun Hek-bin Mo-ko menjadi bertambah penasaran.
Di dunia kang-ouw namanya sudah terkenal sebagai seorang datuk yang sakti, dan jarang ada orang mampu menandingi ruyungnya.
Bagaimana sekarang orang menghadapi ruyungnya dengan tangan kosong dan menangkis begitu saja dengan kakinya?
Kembali ruyung menyambar dengan dahsyat dibarengi bentakannya.
"Hyaaaatttt....!"
Dan ruyung itu menyambar pula ke arah kepala Pak-thian-.ong.
Sekali lagi Pak-thian-ong menghadapil ruyung itu dengan tangkisan, kini ta-ngannya yang menerima ruyung itu.
Tangan kirinya, dengan telapak tangannya yang lebar, menyambut ruyung itu dengan tenang saja.
"Plakkkk!"
Kembali ruyung itu terpen-tal keras setelah Hek-bin Mo-kp merasakan betapa ruyungnya bertemu, dengan bendak lunak yang seolah menyedot semua tenaga serangannya, kemudian tiba-tiba ruyungnya terpental.
Telapak tangan lawan itu seperti terbuat dari karet yang kenyal saja!
Melihat bahwa lawan bukanlah seorang lemah dan ruyung itu cukup ber-bahaya, Pak-thianong Dorhai lalu meng-gerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu dia telah melolos sabuk rantainya dari pinggang!
Ketika ruyung menyambar kembali, rantai itu menangkis.
Terdengar suara keras dan ruyung itu terpental hampir terlepas dari tangan Hek-bin Mo-ko yang menjadi terkejut bukan main.
Akan tetapi dia menyerang terus dengan lebih ganas.
Pak-thian-ong menjadi marah.
Rantainya menyambar ke depan memapaki ruyung dan melibat ruyung itu.
Terjadi tarik menarik, akan tetapi tangan kiri Pak-thian-ong melakukan dorongan ke arah lawan dengan telapak tangan terbuka.
Hek-bin Mo-ko.
menge-luarkan suara kaget.
Dorongan itu men-datangkan hawa yang amat kuat, mem-buat dia terdorong mundur dan pada saat itu, rantai ditarik keras dan ruyung itu telah terlepas; dari tangan pemiliknya.
Sambil tertawa Pakthian-ong melemparkan ruyung rampasan itu jauh ke bela-kangnya, kemudian dia memasang kembali sabuk rantainya di pinggang.
Kalau saja Hek-bin Mo-ko seorang yang tahu diri, tentu dia sudah mengaku kalah.
Akan tetapi dia adalah seorang yang sudah biasa memaksakan kehendaknya dengarr kekerasan, maka melihat ruyung-nya sudah terampas, dia tidak mundur malah menyerang lagi dengan kedua tangannya!
Serangan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Pak-thian-ong dan pada saat berikutnya, Hek-bin Mo-ko mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu tendangan kilat!
Kedua kakinya menyambar bergantian ke arah tubuh lawan dengan kekuatan yang dahsyat sekali.
Akan tetapl dia tidak tahu bahwa Pak-thian-ong Dorhai adalah seorang Mancu yang ahli gulat.
Satu di antara kepandaiannya yang hebat adalah ilmu gulat.
Maka, melihat kedua kaki itu menyambar berulang-ulang, dia lalu menggerakkan kedua tangannya dan di lain saat kedua kaki Hek-bin Mo-ko sudah dapat ditangkapnya!
Dan dengan gerakan menekuk kedua kaki itu dengan jari-jari tangannya yang amat kuat, dia memutar kaki itu sehingga terdengar suara berkeretakan dan sambungan tulang-tulang lutut kedua kaki itu putus!
Hek-bin Mo-ko mengeluarkan gerengan kesakitan dan tubuhnya sudah dilemparkan sampai beberapa meter jauhnya, ke arah anak buahnya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
jauhnya, ke arah anak buahnya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Sementara itu, Sin-ciang Mo-kai dengan tongkat beracunnya juga sudah menyerang Thian-te Mo-ong yang tinggi kurus.
Diserang oleh tongkat beracun yang amat berbahaya itu, tadinya Thian-te Mo-ong juga hanya mengelak saja.
Akan tetapi melihat betapa tongkat itu cukup berbahaya dan Jawannya bukan seorang lemah, dia pun mengelak ke belakang sambil mencabut sepasang pedangnya.
Kemudian dengan gerakan yang, sangat cepat, sepasang pedang itu beru-bah menjadi dua gulungan sinar keperak-an dan setelah bergebrak beberapa jurus saja terdengar suara keras dan tongkat itu telah patah-patah disambar sepasang pedangnya!
Melihat tongkat orang sudah patah-patah, Thian-te Mo-ong dengan tenang juga menyarungkan kembali pedangnya.
Seperti juga rekannya, Sin-ciang Mo-kai tidak tahu diri, seolah lupa bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih tangguh darinya.
Dia berjuluk Sin-ciang (Tangan Sakti), maka kini dia me-lempar potongan tongkatnya dan menggu-nakan kedua tangannya untuk menyerang dengan hebat.
Dia masih belum mau melihat kenyataan bahwa tongkatnya patahpatah hanya dalam beberapa jurus saja dan menganggap hal itu terjadi ka-rena keampuhan pedang lawan.
Kini dia menyerang dengan tangan kosong karena melihat lawannya sudah menyimpan kembali pedangnya.
Thian-te Mo-ong mengeluarkan suara terkekeh mengejek dan melayani serang-an kedua tangan kosong itu.
Sejenak mereka saling serang, kemudian ketika Sin-ciang Mo-kai menyerang dengan pukulan kedua tangan, Thian-te Mo-ong menanti sampai kedua tangan itu datang dekat, kemudian tiba-tiba sekali dia menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya yang amat kuat.
"Krek, Krek!"
Dua kali kedua tangan itu ditangkis dan akibatnya, kedua lengan Sin-ciang Mokai patah tulangnya.
Kedua lengan itu tergantung lemas dan dia mengeluh kesakitan.
Pada saat itu, kaki Thian-te Mo-ong menendangnya dan tubuhnya terlempar jauh, hampir menimpa tubuh Hek-bin Mo-ko!
Melihat kawannya juga kalah dengan kedua tangan patah tulangnya, Hek-bin Mo-ko membelalakkan mata dan bertanya dengan suara penasaran.
"Siapakah kalian?"
Thian-te Mo-ong Koan Ek menjawab tenang.
"Aku tidak pernah menyembunyikan nama dan julukan. Orang menyebutku Thian-te Mo-ong Koan Ek Si Iblis Selatan."
"Dan aku datang dari utara, orang menyebutku Pak-thian-ong Dorhai,"
Kata raksasa tinggi besar yang bertelamane dada itu.
Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai terbelalak dan hampir mereka memukul kepala sendiri.
Bagaimana tolol mereka itu!
Tanpa bertanya dulu telah rnenyerang para datuk besar!
Mereka menjadi ketakutan dan juga menyesal sekali.
Ini namanya mencari penyakit.
Tentu saja mereka sudah pernah mendengar nama dua orang datuk besar ini, dan takut kalau-kalau mereka tidak diampuni, mereka lalu mengajak anak buah rnereka pergi dari situ dengan cepat.
Hek-bin Mo-ko digotong pergi dan mereka menuruni puncak.
Mulai hari itu, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai meninggalkan Thian-san, tidak berani lagi tinggal di situ, apalagi anak buahnya tinggal sedikit lagi.
Bahkan dia lalu membubarkan anak buahnya dan mencari jalan hidup masing-masing.
Baru saja rombongan itu pergi, ter-dengar suara bergelak dari timur dan muncullah Raja Angin Timur Siangkoan Bhok yang menyeret dayungnya.
"Bagus, kalian sudah membersihkan puncak ini'"
Katanya sambil menghampiri kedua orang datuk besar itu. Terdengar pula suara terkekeh dari barat dan muncul Thian-tok Gu Kiat Seng.
"Anjing-anjing itu memang menjemukan sekali, di mana-mana menggonggoog dan menyalak membikin bising!"
"Bagus, bagus,"
Kata Thian-te Mo-ong.
"Sekarang kita berempat sudah berkumpul semua. Kita segera dapat memulai!"
"Nanti dulu,"
Kata Pak-thian-ong Dor-hai.
"Masih ada seorang yang belum juga keluar!"
Berkata demikian, Pak-thian-ong menoleh ke belakang dan sekali dia menekuk lutut dan kedua tangannya mendorong, ada angin yang kuat sekali mendorong ke arah semak belukar di belakangnya.
Akan tetapi sambaran angin itu membalik dan dari belakang semak belukar terdengar suara orang tertawa halus dan muncullah seorang kakek tinggi kurus yang berpakaian serba putih penuh tambalan, pakaiannya yang amat seder-hana itu cukup bersih, tangannya meme-gang sebatang tongkat bambu.
Orang itu bukan lain adalah Pek I Lokai yang mun"
Cul sambil terkekeh.
"He-he-he, kiranya Pak-thian-ong masih tetap hebat dan lebih dahulu me-ngetahui kehadiranku. Ini saja sudah me-nunjukkan bahwa dia tetap menjadi orang yang patut disebut Datuk Besar."
"Pek I Lokai, apakah engkau datang hendak mengganggu pertemuan kami?"
Bentak Thian-tok yang berwatak berangasan.
"Aihh, Thian-tok! Sejak kapan aku menjadi manusia yang usil suka mencam-puri urusan orang lain? Kalian berempat hendak mengadu ilmu untuk menentukan sebutan Datuk Besar tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi lima tahun yang lalu aku terlambat datang menjadi penonton, sekali ini aku tidak mau terlambat lagi dan aku ingin menjadi penonton dan saksi. Apakah tidak boleh?"
Tiba-tiba Majikan Pulau Naga, Si Raja Angin Timur Siangkoan Bhok ber-kata.
"Pek I Lokai, tentu saja engkau boleh menjadi penonton. Bahkan kita me-merlukan seorang saksi yang dapat dipercaya agar dalam pertandingan ini tidak terjadi kecurangan."
"Bagus, bagus sekali! Engkau masih saja gagah perkasa seperti dulu, Siang-koan Bhok. Dan di sini sekaligus mengucapkan terima kasih kepadamu atas pemberian Sian-tho kepada muridku."
Mendengar ucapan itu, Siangkoan Bhok mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah.
"Isteriku memberikan Sian-tho itu ada maksudnya, tahu tidak engkau?"
Pek I Lokai mengangkat alisnya.
"Ada maksudnya? Apa maksud itu?"
"Putera kami tertarik kepada muriditiu. Isteriku memberikan Sian-tho karena ia ingin mengambil mantu muridmu itu!"
"Heiii, sudah cukup. Katakan maksud-mu datang ke sini, Pek I Lokai. Kami tidak mau diganggu oleh siapapun iuga! kata Thian-te Mo-ong.
"Apakah engkau hendak menantang seorang di antara kami?"
Pek I Lokai mengangkat tongkat bambunya dan berkata sambil tersenyunH cerah.
"Aih, Thian-te Mo-ong, engkau tetap galak, sudah kukatakan bahwa aku sengaja datang untuk menjadi penonton. Dan tadi Siangkoan Bhok mengatakan bahwa aku dapat menjadi saksi. Baiklah, aku akan menjadi saksi untuk melihat bahwa jalannya pertandingan haruslah adil. Kalau kalian berempat percaya kepadaku, aku akan mengaturnya supaya seadil-adilnya!"
"Bagus, aku terima usulmu dan engkau boleh menjadi saksi yang mengatur?"
Kata Pak-thianong.
"Bagaimana hendak kauatur pertandingan antara kami berempat ini?"
"Begini aturanku. Aku akan mengundi siapa yang akan bertanding melawan siapa sehingga akan ada dua partai pertandingan. Kemudian, yang menang akan dipertandingkan dengan yang menang antara partai satu dan partai dua. Dengan demikian, cukup dengan tiga kali pertandingan saja akan cukup dapat memilih siapa yang paling jagoan di antara kalian berempat."
Empat orang datuk itu mengangguk-angguk setuju.
"Nah, sekarang aku hen-dak mengundi. Akan kutulis nama masing-masing di atas sehelai daun, kemudian empat helai daun itu akan kulemparkan ke atas sampai ada dua daun yang jatuh menelungkup dan dUa yang telentang. Nah, dua yang tertelungkup itu akan saling bertanding, demikian pula dua yang telentang. Bagaimana, setujukah?"
"Setuju,"
Kata empat orang itu karena menganggap undian seperti itu cukup adil.
Pek I Lokai lalu menuliskan nama mereka masing-masing di atas sehelai gdaun.
Kemudian, disaksikan empat orang itu, dia melempar empat helai daun itu ke atas.
Mula-mula, jatuhnya daun tidak tepat, ada satu yang telentang tiga me-nelungkup, maka lalu diulang lagi.
Setelah diulang sampai empat kali, barulah jatuhnya tepat, yaitu dua daun menelungkup dan dua telentang.
Setelah di-periksa, yang telentang itu adalah nama Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong sedang yang menelungkup adalah nama Tung-hong-ong dan Thian-tok.
Ini berarti bahwa Pakthian-ong Dorhai akan bertanding melawan Thian-te Mo-ong Koan-Ek, sedangkan Tunghong-ong Siangkoan Bhok akan bertanding melawan Thian-tok Gu Kiat Seng.
Pemenang dari dua partai pertandingan ini kemudian akan dipertandingkan dan pemenangnya itulah yang juara!
"Thian-te Mo-ong, engkau mendapat-kan aku sebagai lawan pertama.
Mari kita segera mulai!"
Kata Pak-thian-ong Dorhai sambil melolos sabuk rantainya.
"Kita pun boleh mulai sekarang, Thian-tok!"
Kata Siangkoan Bhok sambil melintangkan dayungnya. Dua pasang pedang lawan itu sudah siap untuk saling serang. Akan tetapi Pek I Lokai menengahi dan berkata.
"Nanti dulu. Kalian berempat adalah datuk-datuk besar empat penjuru yang namanya terkenal di dunia persilatan. Kalau terjadi pertandingan mati-matian, tentu di antara kalian ada yang akan terluka parah dan mungkin tewas. Sungguh sayang kalau terjadi hal seperti itu, oleh karena itu sebelumnya aku minta kalian berjanji bahwa kalian hanya akan berusaha saling mengalahkan, tanpa melukai parah atau membunuh. Dengan ilmu kepandaian kalian yang sudah mencapai tingkat tinggi, tentu kallan mampu men-cegah terjadinya hal itu."
Akan tetapi Pak-thian-ong berkata.
"Pek I Lokai, jangan seperti anak kecil. Pertandingan silat tentu saja terdapat resiko terluka. Kaml yang sudah sengaja hendak mengadu ilmu, sudah tahu sepenuhnya akan hal itu dan tidak akan menyesal. Tentu kami tldak akan saling membunuh, akan tetapi kalau sampai ada yang kalah dan terluka, hal itu bagaimana dapat dicegah?"
Siangkoan Bhok juga berkata.
"Sudah-lah. Terluka dalam adu kepandaian meru-pakan hal biasa, siapa juga tidak akan menyesal. Akan tetapi jelas bahwa kita tidak akan saling membunuh. Sudah puaskah engkau dengan pernyataanku ini, Pek I Lokai?"
"Baik, baik, kalian boleh mulai, aku menjadi penonton. Ingat, tidak boleh menggunakan kecurangan dalam adu tenaga, tidak boleh menggunakan senjata rahasia dan sekali-kali tidak boleh menyerang untuk membunuh. Nah, mulailah!"
Pek I Lokai lalu berdiri di pinggir untuk menjadi penonton.
Dua pasang datuk besar itu sudah saling berhadapan dan Thian-te Mo-ong lebih dulu mencabut sepasang pedangnya dan mulai menyerang kepada Pak-thian-ong dengan sepasang pedangnya.
Pak-thian-ong memutar sabuk rantainya dan terdengarlah bunyi dencing nyaring dan nampak bunga api berpijar ketika pedang bertemu rantai.
Segera kedua orang itu sallng menyerang dengan hebatnya.
Sementara itu, Thian-tok Gu Kiat Seng juga sudah menggerakkan kebutan-nya, menyerang Siangkoan Bhok dengan gerakan yang amat cepat dan kuat, namun Siangkoan Bhok juga sudah menggerakkan dayungnya, menangkis dan balas menyerang.
Pek I Lokai menonton dengan hati senang.
Dia tahu bahwa keempat orang itu memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi sekali dan untuk keluar sebagai pemenang bukanlah hal yang mudah.Tentu pertandingan itu akan rnemakan waktu lama.
Dialah yang untung, karena dengan menonton itu dia dapat mengamati jurus-jurus yang hebat, cara-cara pemecahan jurus hebat itu dan sekali menonton sam& berharganya dengan pengalaman bertanding bertahuntahun, walaupun dia sendiri sudah tidak menghendaki pelajaran tambahan dalam ilmu silat.
Tingkat kepandaiannya sendiri kalau dibandingkan dengan tingkat empat orang itu, agaknya masih kalah sedikit.
Dan memang pertandlngan itu hebat bukan main.
Kini sudah lewat setengah jam, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah atau menang dalam dua partai pertandingan itu.
Pertandingan semakin berlangsung cepat sehlngga tubuh keempat orang itu tidak nampak lagi, terbungkus gulungan sinar senjata mereka.
Mendadak Pek I Lokai menengok ke kiri karena telinganya mendengarkan suara lain, mendengar akan munculnya banyak orang.
Tak lama kemudian muncullah sepasukan yang dipimpin oleh seorang panglima besar yang begitu tiba di situ lalu mengangkat sebuah lengki dan mengibar-ngibarkankan ke atas.
Lengki adalah sebuah bendera titah raja, tanda bahwa pemegang lengki adalah seorang yang menjadi utusan Kaisar.
"Atas nama dan perintah Yang Mulia Sri Baginda Kaisar, kami menyerukan agar pertandingan dihentikan!"
Suara panglima besar itu nyaring sekali, tanda bahwa dia memiliki khi-kang yang kuat dan memang dia sudah biasa memberi aba-aba kepada pasukan sehingga suara itu melengklng tinggi dan terdengar sampai jauh.
Mendengar bahwa teriakan itu me-nyinggung nama Yang Mulia Sri Baglnda Kaisar, empat orang yang sedang bertanding itu terkejut dan otomatis nnereka berlompatan ke belakang dan menghentikan pertandingan yang sedang berlangsung seru itu.
Mereka semua menghadap panglima itu dengan pandang mata bertanya-tanya.
Dan Pak-thian-ong Dorhai yang melihat lengki atau bendera titah raja itu, segera memberi hormat dan bertanya.
"Ciangkun, apa hubungannya Sri Baginda Kaisar dengan pertandingan di antara kami?"
Bagaimanapun juga, dla adalah seorang bangsa Mancu, maka tentu saja dia lebih mentaati dan menghormati Kaisar dan Pemerintah Mancu yang kini berkuasa di seluruh Cina.
Panglima besar itu dengan sikap tegak lalu berkata dengan suaranya yang lantang.
"Yang Mulia Sri Baginda Kaisar sudah mendengar akan diadakannya pertandingan di antara para datuk di sini dan Yang Mulia tidak menyetujui pertandingan yang dapat menimbulkan permusuhan itu. Yang Mulia menghendaki agar pertandingan dihentikan dan mengajak keempat Locianpwe untuk bersama-sama menegakkan kemakmuran rakyat dengan menjadi pembantu pemerintah. Maka, kami diutus untuk menjemput Su-wi-lo-cianpwe (Keempat Orang Gagah) untuk menghadap Yang Mulia dan menerima anugerah kedudukan."
Empat orang datuk itu terpaksa maju berlutut karena pembawa titah kaisar dianggap mewakili kehadiran kaisar dan mereka menghaturkan terima kasih.
"Hamba siap untuk menaati perintah Yang Mulia dan sekarang juga hamba hendak menghadap Yang Mulia,"
Kata Pak-thian-ong Dorhai. Akan tetapi tlga orang yang iain menolak untuk menerima kedudukan. Mereka juga berlutut menghaturkan terima kasih dan diwakili oleh Siangkoan Bhok, mereka berkata.
"Mohon beribu ampun bah-wa hamba tidak dapat menerima kedu-dukan walaupun kami selalu siap untuk membantu usaha pemerintah menegakkan kemakmuran rakyat."
Panglima besar itu tidak memaksa mereka yang tidak mau ikut, dan mereka segera meninggalkan tempat itu bersama Pak-thian-ong Dorhai yang sudah siap untuk menerima anugerah kedudukan i yang diberikan Kaisar kepadanya.
"Sudahlah, aku mau pergi saja dari sini, kembali ke selatan,"
Kata Thian-te Mo-ong Koan Ek dan sekali erkelebat, dia pun lenyap dari situ.
"Ha-ha-ha, Pak-thian-ong masih terpikat oleh kedudukan, ternyata dia masih lemah. Aku pun akan kembali ke barat!"
Kata Thian-tok Gu Kiat Seng dan dia pun melompat pergi. Kini tinggal Pek I Lokai dan Siang-koan Bhok yang berada di situ.
"Bagaimana pendapatmu dengan menyerahkan dirl Pak-thian-ong tadi, Pek I Lokai? Pek I Lokai tersenyum.
"Apa salahnya dengan keputusannya itu? Lupakah engkau, Siangkoan Bhok, siapa Pak-thian-ong itu? Dia adalah Dorhai, seorang tokoh Mancu, Tentu saja dia senang membantu Sri Baginda Kaisar."
"Kalau aku tidak mau membantu. Biarpun pemerintahan sekarang ini terhitung baik sekali, akan tetapi aku masih tidak sampai hati untuk membantu pemerintah Mancu,"
Kata Siangkoan Bhok dengan sikapnya yang agak angkuh.
"Sudahlah, Siangkoan Bhok. Tidak perlu kita lanjutkan pembicaraan seperti ini. Bagaimanapun juga, harus kita akui bahwa sejak beliau masih menjadi pangeran, Kaisar Kian Liong adalah seorang yang baik dan luas pergaulannya di dunia kang-ouw."
"Ya sudahlah, tidak perlu bicara tentang hal itu. Akan tetapi bagaimana dengan urusan kita?"
"Urusan kita yang mana?"
"Isteriku berpesan kepadaku kalau bertemu denganmu agar menyampaikan keinginannya menjodohkan putera kami dengan muridmu yang bernama Tang Cin Lan itu."
"Ah, bagaimana aku harus menjawabmu? Aku hanyalah seorang gurunya, dan Cin Lan masih mempunyai ayah bunda yang lengkap. Karena itu, kalau hendak meminangnya pinanglah kepada ayah bundanya. Aku tidak akan dapat berbuat sesuatu kalau gadis itu sendiri tidak mau atau ayah bundanya tidak setuju."
"Siapa ayahnya? Di mana tempat tinggalnya?"
"Ha-ha, tidak sukar untuk mencari ayahnya. Ayahnya adalah Pangeran Tang Gi Su, seorang pejabat tinggi yang berkuasa dan tinggal di kota raja!"
Setelah berkata demikian, Pek I Lokai membawa tongkat bambunya dan pergi dari tempat itu.
Siangkoan Bhok menjadi bengong.
Dia terkejut mendengar bahwa gadis yang diclnta puteranya dan diinginkan isterinya untuk menjadi mantu itu adalah puteri seorang pangeran!
Berarti seorang gadis bangsawan, keluarga kaisar, seorang gadis Mancu.
Dia mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya, kemudian dia pun pergi meninggalkan Thai-san yang kembali menjadi.
sunyi.
Thian Lee memasuki dusun Tung-sin-bun.
Tentu saja dusun ini sama sekali asing baginya karena ketika dia dibawa pergi meninggalkan dusun ini oleh mendiang ibunya, dia baru berusia satu tahun.
Dia berjalan-jalan di dusun itu dan akhirnya setelah bertanya-tanya, tibalah dia di tanah kuburan dusun itu.
Kuburan itu sunyi sekali, akan tetapi dia melihat seorang lakilaki berusia enam puluh tahunan sedang membabati rumput di sekitar kuburan.
Hatinya merasa girang.
Agaknya kakek itu adalah penjaga kubur-an yang bertugas merawat kuburan itu, maka dia segera menghampirinya.
"Selamat pagi, Paman,"
Katanya dengan hormat.
"Selamat pagi,"
Jawab kakek itu sambil memandang penuh perhatian karena dia berlum pernah melihat pemuda ini yang agaknya merupakan seorang pemuda asing di dusun itu.
"Paman, apakah ini kuburan umum dari dusun Tung-sin-bun sini?"
"Benar, orang muda. Siapakah engkau dan ada keperluan apakah mendatangi kuburan ini?"
"Aku seorang perantau, Paman. Akan tetapi aku mencari kuburan dari seorang yang namanya Song Tek Kwi yang dikuburkan di tempat ini."
Orang itu membelalakkan matanya.
"Apa? Kuburan siapa?"
Dia bertanya seolah tidak mendengar dengan jelas.
"Kuburan Song Tek Kwi yang kurang lebih delapan belas tahun dikubur di dusun ini."
Kini orang itu memandang Thian Lee penuh perhatian.
Dia mengingat-lngat, akan tetapi merasa belum pernah melihat pemuda ini.
Seorang pemuda yang berpakaian sederhana, memakai caping lebar, wajahnya berbentuk bundar dengan kulit berslh.
Alis matanya tebal berbentuk golok dengan sepasang mata yang lembut akan tetapi kadang dapat tajam mencorong, hidungnya mancung, muiutnya selalu senyum ramah dan telinganya lebar.
Pemuda yang tampan dan gagah, bahunya bidang dan bentuk tubuhnya tinggi tegap.
"Kau maksudkan... Song Tek Kwi si pemberontak itu?"
Berdebar jantung Thian Lee. Memang ayah kandungnya dianggap pemberontak, bahkan terbunuh sebagai seorang pemberontak.
"Ya... ya, benar, Paman. Di mana kuburannya?"
"Apakah hubunganmu dengan Song Tek Kwi?"
Thian Lee menahan debaran jantungnya.
"Ah, ayahku dahulu adalah kenalan lamanya dan Ayah berpesan agar aku bersembahyang di depan kuburannya kalau kebetulan lewat dusun ini."
"Ah begitukah? Kasihan kuburan itu sejak dahulu tidak pernah ada yang mengunjunginya, apalagi menyembahyanginya."
"Yang mana kuburannya, Paman?"
Kata Thian Lee sambil memandang ke sekian banyaknya kuburan itu.
"Kuburannya tidak di sinl, orang muda. Pemerintah melarang jenazahnya dikuburkan di kuburan umum."
"Lalu di mana dikuburnya Paman?"
"Di sana, dekat anak sungai yang sunyi, mari kutunjukkan tempatnya."
"Terima kasih, Paman, engkau baik sekali,"
Kata Thian Lee.
"Ah, tidak apa. Memang dahulu kami bertetangga dan Song Tek Kwi itu seorang yang baik, seorang yang gagah perkasa dan suka menolong orang. Sayang dia dituduh pemberontak, dan semua itu salahku...."
Thian Lee tertegun. Akan tetapi dia tidak mau mendesak, khawatir menimbulkan kecurigaan orang tua itu. Mereka telah tiba di tepi sungai dan benar saja nampak gundukan tanah kuburan yang tidak terawat.
"Inilah kuburan Song Tek Kwi orang muda."
Thian Lee merasa terharu sekali akan tetapi dia menguatkan hatinya, lalu dia menjatuhkan dirinya berlutut di depan makam itu, memberi hormat dan terpekur sampai beberapa lamanya sambil berlutut.
Dia memberi hormat kepada makam ayah kandungnya yang dia tidak tahu bagaimana rupanya.
Bahkan membayangkan rupa ayahnya saja dia tidak mampu.
Kemudian dia teringat kepada penjaga kuburan yang masih berdiri di situ.
Ketika dia menengok, dia melihat orang itu memandangnya dengan sinar mata penuh selidik.
"Orang muda, apakah engkau putera dari Song Tek Kwi? Thian Lee terkejut. Mengingat bahwa ayahnya dituduh pemberontak, maka dia merasa ragu untuk mengaku.
"Jangan curiga, orang muda. Ketahuilah bahwa dahulu aku adalah tetangga ayahmu. Aku mengenal baik ayahmu yang sering kali menolongku, aku tahu bahwa dia mempunyai seorang putera yang aku lupa lagi namanya. Ketika dia dibunuh, isteri dan anaknya itu dapat melarikan diri. Nah, karena aku melihat ada kemiripan antara wajahmu dengan wajahnya, maka aku menduga bahwa engkau puteranya. Kalau tidak begitu, masa kuantar engkau sampai di sini?"
Thian Lee bangkit dan memberi hormat kepada orang itu.
"Sebenarnyalah, Paman. Aku adalah puteranya yang bernama Song Thian Lee."
"Ah, engkau anak yang dahulu baru berusia setahun itu!"
Orang itu menarik napas panjang.
"Kasihan ayahmu, dia dituduh pemberontak karena kabarnya telah memukul seorang pangeran. Ketika pasukan itu memasuki dusun, kebetulan mereka bertanya kepadaku di mana rumah Song, Tek Kwi dan karena aku tidak mengetahui maksud mereka, lalu menunjukkan rumahnya. Itulah kesalahanku. Andaikata aku tahu niat mereka, tentu kukatakan tidak tahu dan siapa tahu ayahmu sempat melarikan diri. Ayahmu dikeroyok sampai mati akan tetapi ibumu dapat meloloskan diri sambil memondongmu, begitu yang kudengar. Kemana saja engkau selama ini, Nak? Dan bagaimana dengan ibumu?"
Kini Thian Lee yang menghela napas panjang.
"Ibuku telah meninggal dunia, Paman. Aku hidup seorang diri. Oh ya, Paman. Apakah Paman mengetahui, adakah keluarga dekat ayahku atau ibuku? Kalau ada keluarga mereka, aku ingin sekali menghubungi. Aku telah hidup sebatang kara tiada keluarga."'.
"Tidak ada yang mengetahui siapa keluarga ayahmu karena dia berasal dari jauh. Setahuku, dia datang dari Kun-lun-pai, sebagai murid partai persilatan Kun-kun-pai. Sedangkan ibumu yang berasal dari Tung-sin-bun ini, sudah yatim piatu dan ia tidak mempunyai keluarga lagi. Agaknya, kalau engkau hendak menyelidiki keluarga ayahmu, engkau harus pergi ke Kun-lun-pai, mungkin di sana akan bisa mendapatkan keterangan. Akan tetapi, nanti dulu!"
Orang itu mengingat-ingat.
"Ah, pernah ayahmu kedatangan seseorang yang kemudian menurut ayahmu adalah suhengnya. Aku hanya ingat nama marganya saja, yaitu marga Souw dan kabarnya tinggal di Paoting! Benar, kalau engkau mencari ke kota Paoting, mencari seorang she Souw yang menjadi murid Kun-lun-pai, tentu akan dapat kau ketemukan!"
Penjaga makam ini agaknya girang sekali telah mengingat urusan itu.
Thian Lee juga girang.
Paoting tidak begitu jauh dari kota raja, berada di sebelah selatan.
Biarpun bukan saudara ayahnya, akan tetapi kalau suheng ayahnya berarti masih saudara seperguruan dan mungkin suheng ayahnya itu akan dapat menceritakan siapa keluarga ayahnya.
Jauh dari kota raja, berada di sebelah selatan.
Biarpun bukan saudara ayahnya, akan tetapi kalau suheng ayahnya berarti masih saudara seperguruan dan mungkin suheng ayahnya itu akan dapat menceritakan siapa keluarga ayahnya.
Setelah sekali lagi memberi hormat sambil berlutut di depan makam ayahnya, dia lalu berpamit kepada orang itu dan meninggalkan beberapa potong uang perak kepadanya sebagai tanda terima kasih.
Ketika dia meninggalkan perguruan, gurunya memang memberi bekal beberapa potong uang perak dan bahkan sedikit emas kepadanya.
"Di sini aku tidak memerlukannya, Thian Lee. Engkau lebih memerlukan untuk bekal dalam perjalanan,"
Demikian kata gurunya.
Juga gurunya berpesan agar dla jangan sekali-kali mencuri uang, akan tetapi kalau membutuhkan biaya hidup harus bekerja, bekerja apa saja pun baik.
Setelah meninggalkan kuburan itu, Thian Lee melakukan perjalanan sambil melamun.
Teringat dia akan pesan ibunya.
Ibunya berpesan agar dia memusuhi dan kalau perlu membunuhi semua pangeran dl kota raja untuk membalaskan.
dendam ayahnyai Akan tetapi, tidak mungkin dia memenuhi pesan ibunya inl.
Sejak dahulu dia tidak setuju dengan pendapat ibunya.
Apalagi setelah dia berguru kepada Tan Jeng Kun dan Kim-sin Yok-sian, dan mendapatkan banyak nasihat dari mereka, sama sekali dia tidak ingin membunuh semua pangeran, dan memusuhi pemerintah.
Dia tidak ingin menjadi pemberontak walaupun dia juga tidak ingin membantu pemerintah penjajah.
Kini dia harus pergi ke dusun Teng-sia-bun.
Dia akan menyelidiki apa yang dulu terjadi.
Menurut ibunya, ayahnya membantu sahabatnya yang bernama Bu Cian, menghajar seorang pangeran yang merampas gadis dusun.
Dia harus mengetahui siapa pangeran itu dan kalau memang benar pangeran itu jahat, dia akan melanjutkan usaha ayahnya itu, memberi hajaran dan kalau perlu melenyapkan pangeran itu!
Bukan semata untuk membalas dendam, akan tetapi terutama sekali untuk menentang kejahatan.
Dia akan menyelidiki ke Teng-sia-bun, baru kemudian dia akan mencari supeknya yang she Souw itu di Pao-ting, Akan tetapi, belum lama dia pergi meninggalkan tanah kuburan itu, terbayanglah kuburan ayah kandungnya yang tidak terawat dan ditumbuhi ilalang dan rumput liar.
Hatinya menjadi sedih dan dia segera bergegas kembali ke tanah kuburan tadi.
Penjaga kuburan itu sudah tidak berada di situ dan dia berhadapan dengan kuburan tunggal di tepi sungai yang tidak terawat itu.
Kemudian Thian Lee mencabuti ilalang dan rumput liar itu sampai bersih.
Setelah itu, dia mencari batu kali yang cukup besar, diangkatnya batu kali itu ke depan makam ayahnya dan dia mengeluarkan pedangnya dari buntalan pakaian.
Dengan pedang Jit-goat Sin-kiam itu diukirnya nama ayahnya Song Tek Kwi, pendekar gagah perkasa!
Setelah itu, dia menancapkan batu itu di depan makam dan barulah puas hatinya.
Dia duduk di depan makam itu sambil melamun.
Berhadapan dengan makam itu, dia merasa betapa hidupnya sunyi, betapa dia kesepian, betapa dia hanya hidup sebatang kara di dunia ini.
Serumpun bambu yang tumbuh dl belakang makam itu, di tepi sungai, berdesir tertiup angin.
Dalam keadaan hati nelangsa dan resah itu, teringat akan kematian ibunya yang menyedihkan, kematian ayahnya yang tak sempat dikenalnya, Thian Lee termenung dan hatinya sepertl diremas-remas.
Hati yang nelangsa itu lalu bersajak.
Sirrrr...
sirrrr...
sirrrr desah daun-daun bambu berdesir ?
tertiup angin semilir daun-daun bambu bernyanyi daun-daun bambu menari batang-batang bambu bergesekan menjerit mencicit hati terjepit batang-batang bambu melambai jari-jari daun menggapai namun angin terbang lalu Menjenguk hati sendiri begitu sunyi begitu sepi resah gundah sedih pedih batang-batang bambu daun-daun bambu angin semilir bawalah aku serta bernyanyi menari .
Thian Lee hanyut dalam kesedihan dan timbul perasaan iri kepada batang-batang bambu, kepada daun-daun bambu.
Mereka itu demikian hidup dikala angin bertiup, gembira ria dan wajar.
Dan apabila angin berlalu, mereka berdiam demikian hening.
Akan tetapi mengapa hatinya demikian resah?
Hatinya tak pernah hening seperti daun-daun bambu ditinggal angin, hatinya tak pernah gembira seperti daun-daun bambu disentuh angin.
Di mana kebahagiaan?
Segala gairah hidup telah berlalu semenjak dia meninggalkan gurunya.
Demikian sengsara rasanya hidup seorang diri, tanpa kawan, tanpa tujuan, tanpa harapan masa depan.
Thian Lee terkejut sendiri ketika merasa ada air mata mengalir turun dari pipinya.
Dia tersentak kaget.
Menangis?
Dia?
Gurunya menggemblengnya untuk menjadi seorang pendekar dan kini dia termenung duduk di depan makam ayahnya sambil menangis!
Tidak!
Dia bangkit berdiri.
Bukan begini sikap seorang pendekar, seorang satria.
Pergilah tangis.
Pergilah segala perasaan duka nelangsa, pergilah iba diri.
Aku harus menghadapi kenyataan dengan senyum di bibir, dengan ketabahan di hati.
Thian Lee bangkit berdiri, memberi hormat sekali lagi kepada makam ayahnya yang kini mempunyai batu nisan, lalu dia membalikkan tubuhnya, meninggalkan kuburan itu tanpa menengok lagi.
Dusun Teng-sia-bun tidak jauh dari situ.
Setelah bertanya-tanya, akhirnya dia memasuki dusun Teng-sia-bun.
Dia harus menyelidiki tentang sahabat ayahnya yang bernama Bu Cian.
Akan tetapi ka-rena sahabat ayahnya itu mungkin juga dianggap pemberontak, dia harus berhati-hati kalau mencari keterangan.
Maka dia hanya berjalan di dusun itu dan akhirnya dia berhasil menemukan seorang laki-laki tua yang sedang bekerja di sawah seorang diri.
Tempat itu sunyi tidak nampak orang lain maka Thian Lee mengambil keputusan untuk mencari keterangan dari kakek itu.
Kebetulan kakek itu berhenti mencangkul.
Pinggangnya tidak kuat lagi untuk dipakai mencangkul terlalu lama.
Dia berhenti dan beristirahat sambil duduk di atas pensatang sawah.
Thian Lee segera menghampiri orang itu.
Seorang kakek petani yang usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya yang tidak berbaju sudah berkeringat dai terbakar matahari, dan di balik kulit yang keriput dan sedikit sekali dagingnya itu nampak otot-otot yang sudah mengendur akan tetapi masih besar akibat kerja keras.
"Selamat siang, Paman. Bolehkah aku mengganggu Paman sebentar?"
"Selamat siang, orang muda. sama sekali tidak mengganggu."
"Aku ingin mengajukan beberapa permintaan keterangan dari Paman, harap Paman sudi menjawabnya."
"Kalau aku dapat menjawab, tentu akan kujawab orang muda. Pertanyaan apa yang hendak kauajukan?"
"Paman tentu sudah lama tinggal dl Teng-sia-bun ini, bukan? Apakah sudah lebih dari dua puluh tahun?"
Petani itu tertawa dan nampak bahwa giginya banyak yang sudah ompong.
"Sejak kecil aku tinggal di dusun ini, orang muda. Kenapa engkau tanyakan hal ini? . Tentu saja Thian Lee girang sekali mendengar ini.
"Paman, kalau begitu tentu Paman dulu pernah mengenal seorang yang bernama Bu Cian."
Orang itu nampak terkejut dan memandang ke sekeliling dengan wajah ketakutan. Lalu dia memandang lagi kepada Thian Lee, agaknya lega bahwa di tem-pat itu sunyi, hanya ada mereka berdua.
"Orang muda, kenapa engkau menanyakan Bu Cian? Apakah engkau ada hubungan. Keluarga dengan dia?"
"Ah, tidak, Paman. Hanya ayahku dulu mengenalnya dan Ayah yang menyuruh aku menyelidiki apakah Paman Bu Cian masih tinggal di tempat ini."
"Dia sudah mati lama sekali!"
Thian Lee pura-pura kaget.
"Mati? Akan tetapi dla belum begitu tua. Bagaimana bisa mati?"
"Aih, agaknya engkau tidak tahu apa-apa, orang mudal"
Kakek itu kembali memandang sekeliling.
"Dia mati terbunuh oleh pasukan, dia dianggap pemberontak dan dihukum mati!"
"Ahhh....! Dan bagaimana dengan anak isterinya, Paman? Aku mendengar dari ayah dia mempunyai isteri dan seorang anak perernpuan."
"Isteri dan anaknya juga ditangkap dan dibawa ke kota raja, mungkin sudah dihukum mati semua. Siapa tahu?' Dan tiba-tiba saja Thian Lee melihat bahwa kedua rnata kakek itu basah air mata.
"Paman, agaknya engkau mengenal baik mereka itu. Engkau menangisi mereka?"
Petani itu menggunakan punggung tangannya untuk menghapus air matanya.
"Aku... aku merasa berdosa. Bu-taihiap itu tewas karena anakku! Semua itu karena kesalahan kami. Kalau saja aku menyembunyikan anakku. Kalau saja aku tidak memberikan anakku kepada pangeran itu! Ah, aku berdosa dan ternyata anakku juga mati...."
"Paman, harap tenanglah dan aku mohon dengan sangat Paman sudi menceritakan kepadaku semuanya yang terjadi."
Setelah melihat sekeliling yang sunyi, petani nu lalu bertanya.
"Siapa namamu orang muda? Aku harus tahu kepada siapa aku bercerita."
"Namaku Song Thian Lee, Paman. Aku tidak berniat buruk, harap Paman Jangan khawatir. Aku hanya ingin mengetahui apa yang telah terjadi dengan paman Bu Cian .
"Seorang pangeran mencari gadis-gadis dusun untuk menjadi selirnya. Siapa orangnya yang tidak ingin anak gadisnya diselir pangeran? Aku mengajukan anak gadisku dan dipilih. Akan tetapi anakku itu tidak mau dan menangis. Hal ini ter-dengar oleh Bu-taihiap. Bu-taihiap selalu menjadi pelindung dusun kami dan men-dengar bahwa anakku dipaksa seorane pangeran, Bu-taihiap marah. Para penga-wal pangeran itu dihaJ-arnya, bahkan pa-ngeran sendiri pun dihajar. Akan tetapi aku memaksa anakku ikut pangeran itu. Dan pada keesokan harinya... pasukan datang dan Bu-taihiap dikeroyok, dibunuh. Isteri dan puterinya ditangkap, dibawa kekota raja."
Kembali kakek itu menangis seolah menyesali perbuatannya.
"Akan tetapi, Paman. Itu bukan kesalahanmu."
"Aihh, aku yang bersalah. Anakku hanya menjadi selir selama dua tahun setelah itu... ia diserahkan oleh pangeran kepada seorang pengawalnya dan anak itu... ia membunuh diri. Ah, salahku, salahku....!"
Thian Lee menghela napas panjang.
"Paman, siapakah nama pangeran yang mengambil puteri Paman itu?"
"Pangeran itu bernama Bian Kun, sudah terkenal sebagai seorang yang mata keranjang dan hidung belang. Lihat saja aku ini, namanya mempunyai anak perempuan menjadi selir pangeran, akan tetapi hidupku tetap merana dan miskin, bahkan anakku kini telah mati. Lebih lagi, keluarga Bu-taihiap juga musna."
Kakek itu menghela napas panjang.
Thian Lee merasa girang sekali.
Tahulah dia sekarang pangeran yang pernah dihajar oleh Bu Cian dan ayahnya, dan tentu pangeran itu pula yang mengirim pasukan membunuh Bu Cian dan ayahnya.
"Terima kasih, Paman. Aku telah mendapatkan keterangan yang jelas dari Paman dan harap Paman jangan terlalu berduka. Sesungguhnya semua itu sudah nasib, dan sama sekali bukan salah Paman."
Dia lalu menyerahkan sekeping uang emas kepada petani itu sehingga Si Petani menerimanya dengan girang dan berterima kasih.
Thlan Lee lalu meninggalkan petani itu dan kini dia menujukan langkahnya ke kota raja!
Setelah tiba di kota raja dengan mudah dia mencari keterangan tentang Pangeran Bian Kun.
Malamnya, sesosok bayangan berkelebat bagaikan bayangan setan saja di atas atap rumah istana Pangeran Bian Kun.
Biarpun istana itu dijaga pengawal, namun tidak ach se-orang pun yang melihat berkelebatnya bayangan di atas atap itu.
Thian Lee mencari-cari dan akhirnya dia mengintai dari atas ke sebelah kamar.
Ketika mengintai ke bawah, dia melihat seorang laki-laki sedang rebah di kamar itu, dirubung beberapa orang wanita dan anak-anak.
Laki-laki itu ternyata sedang menderita sakit Usia pria itu sekitar lima puluh tahun akan tetapi tubuhnya kurus kering seperti kerangka hidup.
Seorang tabib sedang memeriksa tubuhnya dan setelah memeriksa dengan teliti, tabib itu lalu memberi tanda kepada yang hadir untuk keluar.
Sampai di luar kamar, tabib itu berkata dengan suara lirih.
"Pangeran terserang penyakit yang amat berat. Mulai sekarang harus dirawat baik-baik dan makannya hanya bubur saja, jangan diberi daging, hanya sayur-sayur yang lembut dan obat ini masak dan minumkan, sehari tiga kali. Harus dijaga baik-baik jangan sampai kaget karena jantungnya lemah sekali."
Mendengar ini, Thian Lee termenung.
Pangeran Bian Kun telah menjadi seorang yang tak berdaya, sakit berat.
Dan sebetulnya, mau apakah dia datang ke situ?
Hendak membunuhnya?
Dia pikir bahwa perbuatannya itu tidaklah tepat.
Ayahnya dan Bu Cian dahulu menghajar Sang Pangeran karena pangeran itu mengarnbil gadis-gadis dusun merijadi selir.
Akibat dari pemukulan ini, ayahnya dan Bu Cian dianggap pemberontak dan tewas karena melawan pasukan yang hendak menangkap mereka.
Bagaimanapun juga, tidak dapat dipersalahkan kepada pangeran ini tentang kematian ayahnya Dan untuk perbuatannya yang mata keranjang, pangeran itu kini sudah menerima hukumannya, sakit berat.
Thian Lee lalu meloncat pergi dari situ, tidak jadi turun tangan karena dia masih ragu-ragu apa yang harus dilakukannya terhadap seorang pangeran yang sakit sekali.
Pada keesokan harinya di menyelidiki dan mendapat kepastian bahwa memang benar yang sakit itu adalah Pangeran Bian Kun.
"Sudahlah, tidak perlu lagi aku memberi hajaran kepada Pangeran Bian Kun,"
Pikir Thian Lee.
Dia lalu mengambil keputusan untuk pergi saja ke Paoting untuk mencari supeknya yang bermarga Souw itu.
Thian Lee berjalan sambil melamun.
Uangnya sudah habis, tinggal sedikit lagi, paling-paling dapat dipakai membeli ma-kan selanma satu minggu lagi.
Setelah itu habis.
Dia harus bekerja untuk mendapatkan uang.
Siapa tahu, supeknya dapat memberi pekerjaan kepadanya.
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dari belakang.
Dia menengok dan nampak dua orang penunggang kuda sedang membalapkan kuda mereka dar!
belakang.
"Engkau kalah, Suheng!"
Terdengar Suara wanita, yaitu penunggang kuda terdepan sambil mencambuki kudanya.
"Belum tentu!" 'jawab suara pria, yaitu penunggang kuda di belakangnya. Thian Lee minggir agar jangan tertabrak kuda, akan tetapi wanita itu tetap saja membentak.
"Minggir kau! Mau mati ditabrak kuda? Tarrrr....!"
Pecutnya mencambuk dan ujung pecut itu menyentuh caping yang dipakai Thian Lee sehingga pinggir caping itu robek.
Kedua penunggang kuda itu lewat sambil tertawa-tawa.
Thian Lee meiihat bahwa penunggang kuda pertama adalah seorang gadis vang cantik manis berpakaian serba nierah muda, sedangkan di belakangnya adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian serba putih dari sutera.
Kedua orang itu memang cocok sekall.
Yang wanita cantik, yang pria tampan!
Thian Lee mengambil capingnya dan memeriksa capingnya yang robek.
Dia menarik napas panjang.
Bagaimanapun juga, gadis tadi angkuh dan juga kasar, tanpa sebab, hanya untuk menyuruhnya minggir, membikin robek capingnya.
Akan tetapi dia me-makai lagi capingnya dan sudah melupakan kedua orang penunggang kuda tadi.
Thian Lee memasuki kota Pao-ting.
Sebuah kota yang besar dan ramai.
Dia senang dengan kota ini.
Tidak sebesar dan seramai kota raja, akan tetapi kota ini cukup ramai, banyak toko-toko rumah makan dan rumah penginapan.
Mulailah dia bertanya-tanya tentang supeknya yang she Souw, seorang tokoh Kun-lun-pai.
Yang ditanya mengerutkan alisnya dan ketika Thian Lee bertanya di tempat yang ramai, beberapa orang merubungnya.
"Orang she Souw? Tokoh Kun-lun-pai? Ah, tentu ahli silat, ya? Jangan-jangan yang kaumaksudkan itu adalah Souw-pangcu (Ketua Souw)!"
"Souw-pangcu?"
Tanya Thian Lee herait karena dia tidak tahu apakah supeknya itu pangcu ataukah bukan.
"Tentu Souw-piauwsu (Pengawal Barang Souw)."
"Souw-piauwsu?"
Thian Lee menjadi semakin bingung.
"Begini, orang muda,"
Kata seorang laki-laki setengah tua.
"Kami semua tidak tahu apakah di sini ada seorang tokoh Kun-lun-pai she Souw, akan tetapi kami mengenal seorang yang ahli silat she Souw. Dia adalah Ketua Kim-liong-pang bernama Souw Can yang kita biasa sebut Souw-pangcu. Dia pun memiliki piauw-kok (perusahaan pengawalan barang) karena itu kita juga menyebutnya Souw-piauwsu. Entah itu atau bukan orang yang kau cari."
"Andaikata bukan dia, tentu dia juga dapat memberi petunjuk tentang tokoh Kun-lun-pai she Souw. Kau cobalah mencari keterangan ke Kim-liong-pang, orang muda,"
Kata seorang lain.
Thian Lee mengucapkan terima kasih lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan orang-orang itu, yaitu ke pusat perkumpulan Kim-liong-pang (Perkumpulan Naga Emas).
Kim-liong-pang adalah sebuah perkumpulan silat yang terkenal di Pao-ting.
Anggautanya tidak kurang dari seratus orang dan selain merupakan perkumpulan silat yang besar, juga Kim-liong-pang membuka perusahaan pengawal barang.
Hampir semua pedagang di Pao-ting mempercayakan pengiriman barang berharga dan dagangan mereka melalui perusahaan Kim-liong-pang ini karena semua pengiriman selalu tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Ketua Kim-liong-pang bernama Souw Can dan blasa disebut Souw-pangcu, juga karena dia kepala dari perusahaan piauw-kiok, dia pun disebut Souw-piauwsu.
Pangcu ini seorang yang lihai sekali, karena dia seorang tokoh Kun-lun-pai yang telah menamatkan pelajaran silatnya di Kun-lun-pai.
Sebagai Ketua Kim-liong-pang yang membuka perusahaan piauw-kiok, maka penghasilan keluarga Souw ini cukup besar sehingga dla dapat membiayai perkumpulannya dan juga hidup sebagai keluarga yang berkecukupan.
Souw Can mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Souw Hwe Li, seorang gadis cantik jelita yang kini telah berusia delapan belas tahun.
Selain itu, juga dia mempunyai seorang keponakan yang sudah yatim piatu dan keponakan perempuan ini bernama Liu Ceng, biasa dipanggil Ceng Ceng yang usianya juga delapan belas tahun dan ketika kecilnya menjadi teman bermain Hwe Li.
Souw Can menurunkan ilmu silatnya kepada puterinya, juga sedikit ilmu dia ajarkan kepada Liu Ceng.
Tidak seluruh ilmunya diajarkan kepada Liu Ceng karena dia tidak menghendaki kalau keponakannya ini kelak lebih lihai dari puterinya.
Sebetulnya maksud ini baik-baik saja, akan tetapi ternyata telah menanamkan kesombongan dalam diri Hwe Li yang selalu merasa lebih lihai daripada saudara misannya.
Selain dua orang gadis itu, di rumah keluarga Souw juga terdapat seorang pe-muda yang menjadi murid Souw Can.
Setiap hari pemuda itu berada di rumah itu dan baru pada malam harinya dia pulang ke rumahnya sendiri.
Pemuda tampan ini bernama Lai Siong Ek, putera dari jaksa yang bertugas di Pao-ting.
Terjalin perhubungan yang akrab antara Hwe Li dan Siong Ek, dan agaknya hubungan akrab ini direstui oleh Souw Can, karena guru ini setuju kalau muridnya kelak menjadi mantunya.
Siapa yang tidak suka berbesan dengan Jaksa Paoting, seorang pembesar yang amat kuasa di kota itu?
Kepada Lai Siong Ek ini, Souw juga mengajarkan semua ilmunya sehingga dibadingkan dengan Hwe Li, Siong Ek ini hanya berselisih sedikit saja dan mereka berdua merupakan teman berlatih, juga teman berburu.
Pada hari itu, sambil menunggang kuda, Siong Ek dan Hwe Li baru pulang berburu binatang.
Hwe Li adalah gadis yang tadi merobek caping Thian Lee dengan pecutnya.
Ketika di halaman rumah, mereka disambut oleh Lu Ceng atau Ceng Ceng.
"Ah, kalian sudah pulang?"
Tegur Teng Ceng. Hwe Li melemparkan tiga ekor kelinci hasil buruannya kepada Ceng Ceng.
"Enci Ceng, kuliti dan masak daging kelinci ini!"
Dilemparkan tiga ekor itu ke atas tanah dan sikapnya seperti meme-rintah seorang pelayan saja.
Akan tetapi Ceng Ceng tidak merasa tersinggung.
Sudah biasa adik misannya itu bersikap kasar kepadanya.
Pula, ia tahu diri karena ia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang mondok di situ, maka ia pun membantu pekerjaan para pelayan.
Siong Ek juga melompat turun dari kudanya dan menyerahkan dua ekor kelinci kepada Ceng Ceng.
"Ceng-sumoi, inl pun ada dua ekor. Mari kubantu engkau membawa ke dapur."
"Suheng, biarkan Enci Ceng membawa sendiri ke dapur. Membawa sebegitu saja dibantu segala!"
Kata Hwe Li dan mendengar teguran ini, Slong Ek tldak jadi membantu Ceng Ceng.
"Biarlah, Suheng. Biar kubawa sendiri lima ekor kelenci ini ke dapur."
"Suheng, mari kita berlatih pedangl"
Kata Hwe Li sambil melompat turun dari atas kudanya.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka dan menuntun dua ekor kuda itu ke istal.
Dua orangmuda mudi itu lalu berlari-lari kecil memasuki lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk berlatih ilmu pedang.
Mereka masing-masing mengambil pedang dari rak senjata dan Hwe Li ber-kata.
"Suheng, mari kita berlatih di pe-karangan saja. Di sana hawanya sejak, tidak pengap seperti di ruangan ini!"
"Akan tetapi di sana akan kelihatan dari luar, Sumoi!"
"Biar saja! Siapa peduli orang luar? Mereka mau nonton, juga tidak mengapa. Ilmu pedang kita tidak mengecewakan bukan?"
Sesungguhnya memang selain di pekarangan yang luas itu tidak pengap, juga gadis ini sengaja hendak memamerkan ilmu pedangnya kepada orang yang berlalu-lalang di jalan depan pekarangan mereka!
Siong Ek tidak membantah lagi.
Dia memang tldak berani membantah apa yang dikehendaki sumoinya yang manja itu.
Dan kalau sampai Hwe Li marah dla pun takut karena ilmu kepandaian sumoinya itu memang lebih tinggi sedikit dibandlngkan ilmunya.
Mereka lalu berlari keluar dan beriatih pedang di pekarangan depan.
Beberapa orang anggauta Kim-liongpang yang melihat ini, hanya menyaksikan dengan kagum saja.
Bagi mereka, kepandaian dua orang muda ini memang hebat.
Sebagaimana yang memang diharapkah oleh Hwe Li, tak lama kemudian banyak orang yang lewat di situ berhenti dan menonton latihan silat pedang itu dari luar pintu halaman.
Hal ini menambah semangat Hwe Li yang menggerakkan pedangnya lebih cepat lagi sehingga suhengnya terpaksa juga memutar pedang lebih cepat untuk melayaninya.
Mernang ilmu pedang Kun-lun amat indah dipandang.
Gerakan yang amat cepat itu membuat sepasang pedang lenyap, berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar ke sana-sini.
Orang-orang yang lewat mendapat tontonan gratis dan kedua orang muda itu pun mendapat pengagum yang banyak.
Kedua pihak sama-sama puasnya.
Akan tetapi, ketika keduanya scdang ramai-ramainya berlatih pedang, seorang anggauta Kim-liong-pang berseru.
"Siocia, harap berhenti dulu!"
Setelah anggauta itu berseru sampai tiga kali, barulah Hwe Li berhentl menggerakkan pedangnya dan keduanya menarlk kembali pedang mereka.
Hwe Li mengerutkan alis-nya memandang kepada anggauta yang menghentikannya berlatih pedang itu.
la melihat anggauta itu berdiri di pinggiran bersama seorang pemuda yang memakai caping lebar.
"Maaf, Nona. Ini ada seorang tamu yang hendak bertemu dengan Pangcu."
Kata anggauta Kim-liong-pang itu.
"Ahh, mengganggu saja!"
Kata Hwe Li dan anggauta Kim-liong-pang itu setelah menghadapkan Thian Lee segera pergi dari situ, takut kena marah oleh nona majikannya yang memang galak itu.
"Sia-pa engkau? Ada urusan apa hendak bertemu dengan ayahku?"
Tanya Hwe U dengan nada angkuh.
Thian Lee menundukkan mukanya, agar jangan dikenal bahwa dialah yang pernah hampir ditubruk oleh kuda nona itu.
Kini dia mengenal benar bahwa nona berpakaian serba merah muda inilah yang tadi hampir menubruknya, bersama pemuda yang berpakaian serba putih.
juga sudah tadi dia menyaksikan mereka berdua berlatih ilmu pedang.
Tadi dia menghampiri seorang di antara anggauta-anggauta Kinn-liong-pang yang ikut menonton dan menyatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Souw-pangcu.
Ketika ditanya ada urusan apa, dia mengatakan ada urusan pribadi penting sekall yang harus dibicarakannya sendiri dengan Souw-pangcu.
Karena itulah anggauta itu menghentikan latihan Hwe Li dan menghadapkan pemuda itu kepada Sang Nona yang galak, agar pemuda itu dimarahi!
"Nona, saya mempunyai urusan pribadi yang amat penting dengan Souw-pangcu, persoalan yang harus saya sampaikan sendiri kepada Souw-pangcu.
Harap Nona suka hadapkan saya dengan Souw-pangcu,"
"Souw-pangcu, Souw-pangcu....!"
Kata Hwe U marah.
"Kalau ada urusan bicarakan saja dengan para anggauta kasni. Atau setelah engkau menghadapku sekarang, kalau ada persoalan, katakan kepadaku!"
"Tidak mungkin, Nona. Harus saya sampaikan sendiri kepada Souw-pangcu tidak bisa kepada orang lain."
"Akan tetapi aku puterinya, tahu?"
"Tetap saja tidak bisa, Nona."
Tiba-tiba pedang itu bergerak cepat sekali ke arah muka Thian Lee akan tetapi pemuda itu tidak bergerak, seolah tidak mengerti bahwa ujung pedang sudah mengancam mukanya.
Dan sekali pedang itu menyontek ke atas, capingnya terbuka!
"Hemm, aku pernah melihat caping itu!"
Kata Hwe Li dan ia melihat pinggir caping yang robek itu, ia berseru.
"Benar, engkau adalah orang dusun yang tadi hampir ditubruk kudaku! Heii, mau apa engkau ke sini? Orang seperti engkau ini, seorang dusun tidak mungkin mengirim barang berharga untuk dikawal. Juga tidak mungkin datang untuk belajar silat, Habis, engkau mau apa? Hayo katakan!"
"Maaf, hanya bisa saya katakan kepa-, da Souw Pangcu seorang,"
Kata Thian Lee sambil membungkuk hendak mengambil capingnya. Akan tetapi ada sinar pedang mendahuluinya.
"Brettt....!"
Dan caping itu telah robek pecah menjadi dua potong! Ternyata pedang Hwe Li yang bergerak cepat membacok caping itu dengan marah.
"Kalau engkau tidak mau mengaku kepadaku, lebih baik engkau cepat pergi dari sini!"
Hwe Li menudingkan telunjuk kirinya ke arah pintu halaman.
Orang-orang yang menonton, juga para anak buah Kun-liong-pang, menganggap Thian Lee seorang muda lancang.
Saya tidak mau pergi sebelum bicara dengan Souw-pangcu,"
Kata Thian Lee dengan kukuh.
"Wuuuttt....!"
Tahu-tahu ada yang menyambar dan pedang di tangan gadis itu sudah menodong dadanya. Ujung pedang sudah menempel pada baju di dadanya, akan tetapi Thian Lee sama sekali tidak bergerak.
"Cepat mengaku, kalau tidak pedang ini akan menembus jantungmu!"
Bentak Hwe Li.
Thian Lee maklum bahwa gadis itu angkuh dan galak sekali, akan tetapi dia pun tahu bahwa itu hanya gertakan saja.
Pada saat itu muncul seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang tinggi tegap, mukanya merah dan sikapnya gagah sekali.
"Hwe Li!"
Laki-laki itu membentak. Tarik pedang itu!"
Mendengar bentakan ayahnya, Hwe Li lalu menarik pedangnya.
"Apa yang kaulakukan itu, Hwe li?"
Laki-laki itu menegur dengan suara marah.
"Habis, dia menjengkelkan hatiku, Ayah. Ditanya apa keperluannya datang tidak mau mengaku!"
Gadis itu membela diri.
"Benar, Suhu,"
Kata Lai Siong Ek membela sumoinya.
"Orang itu sungguh mencurigakan, dia datang dan kukuh minta bertemu Suhu. Ditanya keperluannya, tidak mau mengaku sehingga Sumoi menjadi marah sekali."
"Diam kalian! Lain kali tidak boleh engkau memperlakukan tamu seperti ini. Dengar kau, Hwe Li?"
Gadis itu mengangguk dan suaranya lirih sekali ketika menjawab.
"Baik Ayah, Mari, Suheng, kita berlatih di dalam,"
Lalu sambil bersungut-sungut gadis itu mengajak suhengnya untuk pindah ke lian-bu-thia. Souw Can, orang itu, menggeleng kepalanya dan menggumam.
"Manja....!"
Kemudian dia menghadapi Thian Lee dan bertanya.
"Orang muda, apakah engkaui hendak bertemu dengan aku?"
"Apakah Paman yang bernama Souw-pangcu?"
Kata Thian Lee sambil memberi hormat.
Souw Can tersenyum.
Pemuda ini memang aneh dan agak lancang, baru bertemu telah menyebut paman kepadanya, akan tetapi slkapnya hormat dan suaranya juga lembut, sebetulnya tidak pantas untuk membikin marah orang.
"Benar, aku bernama Souw Can, pangcu dari Kim-liong-pang. Siapa engkau, orang muda dan apa keperluanmu?"
Thian Lee melirik ke arah orang-orang yang masih menonton dan mendengarkan, dan dia menjawab lirih.
"Nama saya Song Thian Lee dan saya ingin sekali bicara denganmu, Paman."
Sepasang mata itu terbelalak ketika mendengar nama Thian Lee, terutama nama marganya yang Song itu.
"Begitukah? Mari, mari masuk dan bicara di dalam."
Dia mempersilakan pemuda itu mengikutinya dan membawanya masuk ke dalam ruangan tamu yang tertutup. Setelah mereka berdua duduk, Thian Lee segera saja mengajukan pertanyaan.
"Maaf, Paman, kalau saya mengganggu waktu Paman, bahkan telah membuat marah puteri Paman. Akan tetapi sebelum saya bicara, saya hendak bertanya, apakah Paman ini seorang murid Kun-lun-pai?"
Dia hanya ingin penjelasan Walaupun tidak ragu-ragu lagi setelah rnenyaksikan ilmu pedang tadi.
Dari gu-runya, dia mendapat keterangan tentang Ciri-ciri ilmu dari partai-partai besar sehingga tadi dia mengenal ilmu pedang Kun-lun-pai.
"Benar sekali. Apa hubungannya dengan kedatanganmu?"
"Dan apakah Paman mempunyai seorang sute yang bernama Song Tek Kwi?"
Souw Can memandang ke arah jendela dan pintu, kemudian mengangguk.
"Benar pula.?"' Mendengar ini, Thian Lee segera menjatuhkan dirinya berlutut didepan pangcu itu.
"Supek, saya Song Thian Lee adalah putera mendiang Ayah Song Tek Kwi."
Souw Can terkejut dan cepat membangunkan Thian Lee.
"Bangkitlah dan dudukiah. Siapa namamu tadi"? Thian Lee? Ah, mendiang ayahmu adalah seorang yang keras hati, terlalu menurutkan suara hati tidak suka mempergunakan pertimbangan dan akal budi sehingga dia tewas sebagai seorang pemberontak. Sayang sekali....! Coba ceritakan bagaimana engkau dan ibumu dapat lolos daril hukuman, Thian Lee. Aku hanya mendengar bahwa ayahmu tewas dan ibumu dapat meloloskan diri membawa puteranya yang baru setahun usianya. Engkaukah anak itu?"
"Benar, Supek. Ibu memang telah befhasil membawa lari saya dan kanru berpindah-pindah tempat sampai saya berusia sepuluh tahun. Akan tetapi, Ibu lalu mengalami malapetaka sehingga ia pun meninggal dunia."
Dengan suara berduka Thlan Lee menceritakan tentang perbuatan seorang lurah jahat sehingga ibunya tewas.
Souw Can mendengarkan dan menggeleng-geleng kepala dengan kagum.
Ibumu seorang wanita yang hebat.
Dapat menjaga kehormatannya sampai saat terakhir.
Engkau harus bangga dengan ayah dan ibumu, Thian Lee.
Dan sekarang engkau berhasil menemukan aku.
Apa kehendakmu datang kepadaku?"
"Begini, Supek. Saya sebatang kara, maka saya ingin sekali mencari keluarga Ayah atau Ibu. Kalau sekiranya Supek mengetahui ada keluarga mendiang ayah dan ibu, saya akan merasa senang sekali untuk mencari mereka. Souw Can menghela napas panjang.
"Sepanjang yang kuketahui, ayahmu sudah tidak mempunyai keluarga lagi, dan tentang ibumu aku tidak tahu ba-nyak. Akan tetapi, aku adalah suheng dari ayahmu, boleh kauanggap sebagai keluargamu sendiri, Thian Lee. Apakah ada yang dapat kutolong untukmu?"
"Terima kasih, Supek. Kalau Supek dapat memberi pekerjaan kepadaku, saya akan berterima kasih dan senang sekali."
Wajah Souw Can berseri.
"Pekerjaan? Tentu saja dapat! Engkau pernah belajar ilmu silat bukan?"
"Hanya belajar dari Ibu ketika saya masih kecil sampai berusia sepuluh tahun, Supek. Tidak ada artinya."
"Sayang, kalau engkau pandai silat engkau dapat menjadi piauwsu di sini mengawal barang. Akan tetapi kalau tidak pandai ilmu silat, tentu saja tidak bisa, karena pekerjaan piauwsu amat ber-bahaya, harus melindungi barang kirimari dari gangguan pencuri dan perampok. Akan tetapi, engkau dapat belajar ilmu silat di sini. Ya benar, engkau belajar silat dan sementara engkau belum pandai, engkau boleh menjadi kusir saja dulu. Membawa kereta yang dimuati barang yang dikawal. Sanggupkah engkau? "Terima kasih, Supek. Tentu saja saya sanggup!"
"Bagus! Dan maafkan kelakuan puteriku tadi. Mari kukenalkan engkau dengan keluargaku. Engkau tidak perlu mengaku sebagai putera Song Tek Kwi yang dikenal sebagai pemberontak. Hal itu akan berbahaya sekali kalau diketahui petugas negara. Engkau mengaku saja putera seorang sahabatku yang telah meninggal dunia. Mengenai nama marga Song, banyak terdapat yang bermarga Song, maka boleh saja kaupergunakan asal jangan menyebutkan nama mendiang ayahmu."
Thian Lee lalu dibawa masuk, dipekenalkan dengan Nyonya Souw yang manis budi. Kemudian dia diajak ke lian-bu-thia di mana Hwe Li dan Siong Ek sudah selesai latihan.
"Hwe Li, perkenalkan, ini adalah Song Thian Lee, putera seorang sahabat lama ayahmu!"
Kata Souw Can memperkenalkan.
"Thian Lee, puteriku yang manja ini bernama Souw Hwe Li. Hwe Li, engkau harus menyebut twako kepada Thian Lee. Mulai sekarang dia bekerja dengan kita, menjadi kusir kereta barang, dan dia akan mulai belajar silat di sini. Aku minta engkau banyak memberi petunjuk kepadanya."
Thian Lee saling memberi hormat dengan Hwe Li yang agaknya memandang rendah.
Kemudian Thian Lee juga diperkenalkan dengan Lai Siong Ek, putera jaksa di Pao-ting, Thian Lee memberi hormat kepada pemuda itu, dengan hati agak was-was.
Kalau jaksa tahu bahwa dia putera pemberontak Souw Tek Kwi, sekarang juga tentu dia menjadi buruan pemerintah!
"Ayah, Ayah tidak pernah bercerita tentang sahabat Ayah itu.
Siapakah ayahnya yang menjadi sahabat Jama Ayah itu?"
Tanya Hwe Li sambil memandangt wajah Thian Lee. Harus diakuinya sekarang bahwa wajah pemuda itu tampan, bahkan garis-garisnya lebih jantan dibanding Siong Ek.
"Aih, ayahnya adalah seorang sahabat baik yang dulu di waktu ayahmu ini masih muda banyak menolongku. Akan tetapi sekarang dia telah merunggal dunia, juga isterinya sehingga Thian Lee ini menjadi yatim piatu. Karena dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi maka aku memberi pekerjaan kepadanya. Mulai sekarang dla tinggal di sini dan bekerja sebagai kusir kereta. Kelak kalau dia sudah belajar silat sampai pandai, dia boleh menjadi seorang piauwsu."
Hwe Li menjebikan bibirnya yang merah.
"Sudah dewasa begini baru beiajar silat, mana bisa menjadi pandai, Ayah?"
"Kalau engkau dan Siong Ek suka membimbing dan membantu, tentu dia dapat lekas menjadi pandai. Aku sendiri tidak banyak waktu untuk rnendidik, maka kuserahkan kepada kalian berdua untuk memberi bimbingan,"
Kata Souw Can.
"Dan engkau jangan bersikap buruk kepadanya, Hwe Li. Sudah kukatakan bahwa dahulu ayahnya banyak menolongku, maka sekarang tiba giliran kita membalas kebaikan kepada puteranya."
"Baik, Ayah,"
Kata Hwe Li bersungut-sungut, sementara itu Siong Ek memandang dengan agak mengejek.
"Nah, sekarang tunjukkan kepada Thian Lee kamarnya. Beri sebuah kamar di samping, jangan kamar belakang bersama pelayan. Dia harus kita anggap sebagai keluarga sendiri,"
Kata ayahnya.
"Thian Lee mulai sekarang engkau boleh bertanya apa saja kepada Hwe Li, ia yang akan memberi tahu segala kepadamu dan membimbingmu belajar silat. Setelah tinggal di sini kira-kira sebulan, baru engkau boleh ikut mengirim barang kawalan sebagai kusir."
Souw Can lalu meninggalkan mereka.
Setelah orang tua itu pergi, Hwe memandang Thian Lee.
Pemuda itu juga memandangnya dan harus dia akui bahwa gadis itu cantik sekali.
Cantik dan man-ja terutama bibir itu yang dibiarkan berjebi seperti menantang.
Dan dia juga melihat sikap Siong Ek yang memandang rendah kepadanya dan bersikap angkuh, akan tetapi merendah terhadap gadis seperti mencari muka.
"Siapa namamu tadi?"
Hwe Li sambil menggerakkan dagunya dengan sikap angkuh.
"Song Thian Lee."
"Hemm, tahu-tahu aku menemukan seorang twako. Sungguh lucu!"
Kata Hwe Li. Seorang twako dari dusun,"
Sambung Siong Ek sambil menahan tawa. Hwe Li memandang ke arah pakaian Thian Lee. Memang dari kain kasar dan potongannya seperti pakaian petani.
"Hushh, Suheng. Engkau tidak boleh menghinanya, Ayah dapat marah kepadamu. Awas, nanti dia akan mengadu kepada Ayah. Eh, Thian Lee, ehh... Twako, apakah engkau tukang mengadu?"
Thian Lee tersenyum dan menggeleng kepala.
"Aku bukan seorang yang suka mengadu."
"Bagus! Kalau engkau mengadu, aku tidak segan-segan untuk memukulmu, biarpun harus menyebutmu twako. Nah, mari kutunjukkan kamarmu."
La mendahului pergi ke dalam diikuti oleh Thian Lee dan juga Siong Ek.
Thian Lee membawa buntalannya dan mengikuti gadis itu.
Untung pedangnya tidak kelihatan menonjol di dalam buntalan pakaian itu dan diam-diam dia merasa khawatir juga.
Bagaimana dia dapat menyembunyikah pedang itu?
Kalau sampai pedang itu terlihat, tentu akan timbul kecurigaan karena pedangnya bukan pedang biasa.
Dia harus menyembunyikannya!
Setelah di kamar itu, Hwe Li lalu meninggalkan, Thian Lee sambil berkata, Nah, inilah kamarmu.
Setiap hari harus kaubersihkan dan jaga baik-baik kamar ini.
Ini adalah kamar tamu, jangan membikin kotor.
Nanti setelah engkau selesai, engkau boleh ke dapur minta makan kepada pelayan.
Aku akan memesan kepada mereka untuk melayanimu."
Setelah berkata demikian, Hwe Li pergi bersama Siong Ek. Belum lama mereka pergi, Thian Lee masih dapat mendengarkan mereka itu membicarakan dia.
"Menjemukan sekali!"
Kata gadis itu.
"Akan tetapi ayahmu menyukainya,"
Kata Siong Ek.
"Harus mengajarkan silat kepadanya. Awas, akan kusiksa dia dengan latihan-latihan berat!"
Dan mereka berdus lalu tertawa-tawa.
Tentu mereka tidak menduga bahwa dari jarak sejauh itu Thian Lee dapat menangkap pembicaraan mereka dengan jelas.
Setelah mereka pergi, Thian Lee menutupkan jendela dan pintu, kemudian dia melihat keadaan kamar itu.
Tidak ada tempat yang aman untuk menyembunyikan pedangnya.
Kemudian dia memandang ke atas.
Ya benar, di bawah atap itulah tempat persembunyian yang baik sekali.
Dia lalu membawa pedangnya melompat ke langit-langit dan mehemukan tempat untuk menyembunyikan pedangnya di bawah atap.
Kemudian dia turun lagi dengan hati tenang.
Sekarang tidak ada apa-apa lagi yang dapat menimbulkan kecurigaan.
Dia tersenyum kalau teringat akan percakapan tadi.
Dia akan dilatih ilmu silat oleh Hwe Li.
Latihan berat sebagai siksaan!
Mengapa gadis itu bersikap demikian kepadanya, seolah-olah membencinya?
Demikianlah, mulai hari itu Thian Lee tinggal di rumah Ketua Kim-liong-pang dan dia pun mulai diberi pelajaran ilmu silat oleh Souw Hwe Li yang kadang dibantu oleh Lai Siong Ek.
Karena takut kepada ayahnya, maka Hwe Li benar-benar memberi pelajaran ilmu silat, akan tetapi agaknya ia memang memberi tugas yang berat-berat kepada Thian Lee.
Mula-mula Thian Lee diajari memasang kuda-kuda yang kuat dan untuk menguji sampai di mana kemajuan dan kekuatan kaki Thian Lee, tidak jarang Hwe Li menyapu kaki itu dengan tendangannya sehingga Thian Lee jatuh bangun!
Pada suatu hari Souw Hwe Li dengan ditemani Lai Siong Ek sudah berada di lian-bu-thia bersama Thian Lee.
Thian Lee sudah siap untuk menjadi bulan-bulan siksaan kedua orang itu seperti biasa ketika mengajarkan ilmu silat.
Akan tetapi sekali ini Hwe Li berkata dengan suara ketus.
"Ayah menghendaki agar engkau dapat menggunakan semacam senjata untuk membela diri kalau engkau menjadi kusir dan dihadang perampok. Nah, sekarang kaupilih sebuah di antara senjata-senjata di rak ini. Aku akan mengajarkan engkau memainkan senjata itu. Pilih salah satu!"
Katanya sambil menunjuk ke rak senjata di mana terdapat delapan belas rnacam, senjata. Thian Lee memandang ke arah sen-jata-senjata itu lalu berkata.
"Siauw-moi, aku ngeri melihat senjata yang tajam-tajam dan runcing-runcing itu. AkU takut kalau-kalau tubuhku terkena sendiri ketajaman dan keruncingannya. Maka, biarlah aku memilih senjata tongkat ini saja, dapat kupakai menggebuk kalau-kalau ada anjing hendak menggigit kakiku."
Siong Ek tertawa.
"Tongkat untuk menggebuk anjing? Akan tetapi tanpa memiliki tenaga sinkang yang kuat, apa artinya tongkat ini bagimu. Thian Lee? Sekali bertemu pedang atau golok lawan, tentu akan patah menjadi dua potong."
"Sudahlah, kalau itu yang dia pilih, biarkanlah,"
Kata Souw Hwe Li.
"Agaknya memang lebih cocok kalau seorang kusir membawa sebatang tongkat."
Tentu saja ucapan ini merupakan olok-olok. Thian Lee memandang kagum.
"Siauw-moi, apakah engkau dapat memainkan semua senjata ini?"
"Tentu saja. Dan tongkat itu pun dapat kumainkan dengan baik. Nah, lihat dan pelajarilah. Ini namanya Ta-kaw-tung (Tongkat Penggebuk Anjing) dan merupakan ilmu tongkat yang ampuh."
Gadis itu lalu mengambil tongkat dari rak senjata dan mulai bersilat dengan tongkat itu. Demikian cepat gerakannya sehingga Thian Lee berseru.
"Wah, jangan cepat-cepat, siauw-moi. Bagaimana aku dapat mengikuti dan mencontoh gerakanmu kalau begitu cepat?"
Hwe Li menghentikan gerakannya lalu mengajarkan jurus demi jurus kepada Thian Lee.
Dan setiap latihan, Thian Lee disuruh melawannya dan tentu pemuda itu terkena gebukan atau sapuan pada kakinya sehingga dia kembali harus jatuh bangun.
Akan tetapi karena ajaran yang keras ini, dalam waktu sebulan dia sudah dapat memainkan ilmu tongkat yang oleh Hlwe Li disebut Ta-kaw Tung-hoat itu.
Gerakannya memang masih kaku, akan tetapi dia sudah mampu mainkan jurus pertama sampai jurus ke delapan belas.
Setelah sebulan dia berada di situ, setiap hari berlatih silat dan juga me-ngurus kuda-kuda di istal, pada suatu hari Souw-pangcu memanggilnya.
"Thian Lee, kulihat engkau setiap hari tekun imempelajari ilmu silat dan menurut laporan Hwe Li, engkau sudah dapat memainkan senjata tongkat yang kaupilih sendiri. Aku ingin melihat engkau memainkan tongkat itu. Cobalah!"
Thian Lee lalu mengambil tongkat itu dan di depan Souw-pangcu dia pun nneng-gerakkan tongkat itu dari jurus pertama sampai selesai. Gerakannya masih kaku, akan tetapi sudah cukup memadai.
"Bagus, setidaknya engkau sudah da-pat membela diri sekarang. Nah, mulai besok engkau boleh ikut mengantarkan barang kawalan sebagai seorang kusir. Kebetulan besok ada kiriman barang ke Souw-ciu, tidak berapa jauh akan tetapi melewati Bukit Merak yang kadang-kadang suka terdapat perampok yang mengganggu. Beranikah engkau?"
"Kalau hanya mengusiri, kenapa tidak berani, Supek? Kalau ada perampok mengganggu, yang melawan tentu para piauwsu, bukan saya."
"Benar, akan tetapi engkau juga harus "melindungi kuda-kudamu dari serangan penjahat. Bagaimana kalau ada penjahat hendak merampas kuda? Apakah engkau akan diam saja? Harus kaulawan dengan tongkatmu."
Thian Lee mengerutkan alisnya, ke-lihatan khawatir.
"Baiklah, Supek. Mudah-mudahan saja tidak ada perampok!"
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Lee telah bersiap-siap.
Kini dia mendapatkan pakaian seperti seorang piauwsu yang gagah dan dia mengenakan pakaian itu.
Lalu dia mempersiapkan kereta dan memberi pakaian kepada dua ekor kuda yang akan menarik kereta.
Selagi dia sibuk membuat persiapan, muncullah Hwe Li.
"Selamat pagi, Siauw-moi. Sepagi ini engkau sudah bangun?"
"Twako, aku mendengar engkau akan mengusiri kereta yang membawa barang kawalan ke Souw-ciu? Hati-hati, Twako dan jaga kereta baik-baik, jangar mem-bikin malu aku yang selama ini memberi petunjuk kepadamu,"
Kata Hwe Li nadanya menggoda. Thian Lee memperlihatkan tongkatnya dengan bangga.
"Dengan tongkat ini aku akan menjaga kuda dan kereta, Siauw-moi. Jangan khawatir. Ajaranmu pasti berguna bagiku."
Gadis itu hanya tersenyum dan meninggalkannya.
Rombongan itu berangkat dengan dua kereta penuh muatan barang dan dikawal oleh dua belas orang anak buah Kim-liong-pang.
Yang menjadi piauwsunya adalah dua orang murid Kim-liong-pang yang sudah pandai, bernama Ciang Hoat dan Gan Bun Tek.
Dua orang itu membawa pedang di punggung mereka dan kelihatan gagah perkasa.
Di atas dua buah kereta itu dipasangi bendera yang bergambar seekor naga emas, sebagai tanda bahwa kereta itu dilindungi oleh Kim-liong-pang (Perkumpulan Naga Emas).
Karena Thian Lee merupakan seorang kusir baru yang belum berpengalaman dan belum mengenal jalan, maka kereta-nya berada di belakang, mengikuti kereta pertama.
Para anak buah Kim-liong-pang itu dibagi menjadi dua, enam orang di depan kereta dan enam orang pula di belakang, masing-masing dipimpin seorang piauwsu.
Ciang Hoat yang lebih tua ber-ada di depan sedangkan Gan Bun Tek berada di belakang kereta.
Mereka semua menunggang kuda dan rombongan itu segera berangkat.
Kalau hanya penjahat-penjahat kecil saja tentu tidak akan berani mengganggtt rombongan dua kereta ini.
Baru bendera yang berkibar di atas kereta itu saia sudah merupakan jaminan keamanan, apalagi dua orang piauwsu dan dua belas orang anak buahnya yang nampaknya demikian gagah perkasa.
Ciang Hoat adalah seorang murid Kim-liong-pang yang sudah pandai, berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi kurus.
Dia sudah memiliki banyak pengalaman karena sudah puluhan kali mengawal barang kiriman dan ilmu pedangnya juga amat lihai.
Barangkali hanya Hwe Li dan Siong Ek saja yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi darinya.
Adapun piauwsu ke dua, Gan Bun Tek berusia tiga puluh lima tahun dan tubuhnya sedang namun kokoh kekar karena dia bertenaga besar.
Dalam hal ilmu pedang, dia pun hanya sedikit di bawah tingkat Ciang Hoat tian dia pun sudah berpengalaman sebagai piauwsu.
Perjalanan dari Pao-ting sampai jauh keluar kota terjadi dengan aman dan lancar.
Ketika Bukit Merak nampak di depan, Ciang Hwat berseru kepada anak buahnya agar berhati-hati.
Akhir-akhir ini terdapat berita bahwa Bukit Merak tidak aman dan sering kali muncul orang-orang jahat di tempat itu.
Gan Bun Tek yang berada di belakang kereta juga memberi isarat kepada anak buahnya agar berhati-hati dan mereka menjalankan kuda di kanan kiri kereta ke dua untuk menjaga segala kemungkinan.
Ketika rombongan itu mendaki lereng bukit itu dan tiba di dalam hutan, tiba-tiba dari kanan kiri meluncur anak-anak panah yang menyerang mereka.
Akan tetapi, dua orang piauwsu dan anak buah-nya sudah siap, cepat mencabut pedang dan berhasil menangkis semua anak panah sehingga runtuh ke atas tanah.
Dan pada saat itu nampak belasan orang ber-lompatan keluar dari balik semak belukar dan batang-batang pohon.
Mereka adalah orang-orang yang nampaknya kasar dan bengis, memegang golok dan sikap mereka penuh ancaman.
Akan tetapi orang-orang itu tidak segera menyerang, melainkan hanya mengepung dua buah kereta itu bersama para pengawalnya.
Mereka agaknya menanti pimpinan mereka dan tak lama kemudian muncullah pimpinan mereka itu.
Dia seorang tinggi besar yang mukanya bopengbopeng.
Buruk sekali muka itu, akan tetapi menggiriskan dengan matanya yang besar dan bersinar-sinar, mulutnya yang cemberut dan tubuh yang tinggi besar itu penuh dengan otot yang melingkar-lingkar.
Tangan kanannya memegang sebatang golok gagang panjang yang lebar dar tajam berkilauan seperti Golok Naga Hijau yang biasa menjadi senjata dari pahlawan besar Kwan In Tiang di jaman Sam Kok.
Melihat tokoh yang kelihatan tangguh ini, Ciang Hoat segera maju dan nemberi hormat.
"Kami dari Kim-liong-pang hendak pergi ke Souw-ciu dan numpang lewat. Harap saudara yang budiman suka memberi jalan dan untuk itu kami siap untuk memberi sekedar sumbangan!"
Dia mengeluarkan sekantung uang dan mengangkat kantung itu ke atas.
Memang demikianlah kebiasaan di dunia kang-ouw.
Seorang piauwsu kadang-kadang harus bersikap bersahabat dengan golongan Lok-lim atau golongan rimba raya sebagai sebutan para perampok.
Kalau perlu para piauwsu itu tldak segan untuk memberi hadiah sebagai sogokan agar barang kawalannya jangan diganggu.
Akan tetapi, orang tinggi besar yang mukanya bopeng itu membelalakkan matanya dan suaranya terdengar meneeuntur ketika dia berteriak, Kalian menghina Coat-beng-kwi (Setan Pencabut Nyawa)?
Aku menghendaki dua buah kereta itu dan semua isinya untuk ditukar dengan nyawa kalian semua.
Bagaimana?
Kalau menolak, tetap saja dua buah kereta dan isinya akan menjadi milik kami dan kalian semua akan mampus disini .
Mendengar ini, semua piauwsu merasa tegang dan Gan Bun Tek mengerutkan alisnya ketika dia melihat Thian Lee merayap turun dari atas kereta dan pemuda itu segera masuk ke kolong kereta bersembunyi!
Celaka, pikirnya.
Kusir baru yang katanya masih sanak pangcu itu ternyata seorang pemuda pengecut dan penakut, akan tetapi karena semua perhatian ditujukan kepada kepala perampok yang julukannya menyeramkan itu, maka tidak ada yang mempedulikan sikap Thian Lee.
Ciang Hoat mencoba untuk menyabarkan kepala perampok itu.
"Sobat, sejak dahulu kami dari Kim-liong-pang tidak pernah ada permusuhan dengan para kerabat dari liok-lim dan kangouw, maka kami harap janganlah mengganggu kanru dan kami akan melaporkan kepada pang-cu kami atas kebaikanmu itu."
"Hemm, kalau memang bersahabat, tinggalkan kereta-kereta itu. Kalau hen-dak melanjutkan perjalanan, harus dapat lebih dulu mengalahkan golokku!"
Berkata demikian, dia melintangkan golok gagang panjang itu didepan dadanya dan dengan sikap menantang dia menghadapi Ciang Hoat.
Tentu saja Ciang Hoat menjadi marah.
Dia melompat turun dari atas kudanya sambil mencabut pedangnya dari punggung.
Semua anggauta Kim-liong-pang juga bersiap-siap, berloncatan turun dari atas kuda dan mencabut senjata.
Akan tetapi melihat anak buah perampok itu tidak turun tangan, mereka juga hanya berjaga-jaga sambil mengitari dua buah kereta.
Sementara itu, Gan Bun Tek juga menghampiri suhengnya untuk melihat bagaimana suhengnya melawan kepala perampok itu dan kalau perlu rnembantu.
Kepala perampok yang berjuluk Setan Pencabut Nyawa itu tertawa bergelak ketika melihat Ciang Hoat memegang pedang menghadapinya.
Tubuhnya yang seperti raksasa itu memang tidak sebanding dengan tUbuh Ciang Hoat yang tinggi kurus.
"Ha-ha-ha, apakah engkau hendak mengantar nyawa? Lebih baik serahkan dua kereta itu dan kalian boleh pulang dengan nyawa masih utuh!"
"Hemm, tidak periu banyak bicara lagi. Kami dari Kim-liong-pang tidak pernah takut menghadapi penjahat!"
"Kalau begitu mampuslah!"
Bentak raksasa itu sambil mengayun goloknya yang bergagang panjang itu, menyerang dengan bacokan dahsyat ke arah kepala Ciang Hoat.
Piauwsu ini mengelak dengan merendahkan tubuhnya dan pedang-nya mencuat untuk balas menyerang.
"Tranggg....!!"
Pedang bertemu golok dan pedang itu terpental.
Terdengar ke-pala perampok itu tertawa nyaring.
Dalam pertemuan pertama itu saja pedang telah terpental, tanda bahwa kepala perampok itu memiliki tenaga yang besar.
"Ha-ha-ha, serang! Rampas kedua buah kereta'"
Kepala perampok memberi aba-aba dan kini semua anak buahnya dengan golok diacungkan maju menyerang sambil mengeluarkan bentakan-bentakan menyeramkan.
Para anak buah Kim-liong-pang menyambut dan terjadilah pertempuran yang hebat.
Gan Bun Tek sudah mencabut pedangnya dan membantu suhengnya karena ternyata bahwa kepala perampok itu lihai bukan main.
Akan tetapi di tengah keributan itu terjadilah hal yang aneh sekali.
Tiba-tiba saja ketika kepala perampok itu memutar goloknya mendesak kedua orang piauwsu, setitik sinar hitam menyambar dan mengenai pergelangan tangannya.
Dia berteriak dan goloknya terlepas dari pegangannya!
Dia masih hendak menyambar golok yang terlepas itu, akan tetapi tiba-teytiba saja "Tukk!"
Perutnya terasa nyeri sekali karena ada sebuah kerikit menghantam perutnya, demikian kerasnya sehingga kerikil itu menembus celananya dan mengenai kulit perutnya, seperti disengat kelabang saja rasanya!
Kembali dia mengaduh, akan tetapi tiba-tiba "Tukkk'."
Sebutir kerikil mengenai dahinya dan timbullah sebutir telur di dahi itu.
Kini kepala perampok maklum bahwa ada orang pandai mempermainkannya, maka dia pun menjadi jerih.
Dia melompat jauh ke belakang sambil meneriaki anak buahnya agar mundur.
Para perampok yang mendapat perlawanan hebat dari anak buah Kim-liong-pang, ketika mendengar teriakan pemimpin mereka segera berloncatan dan sebentar saja semua perampok lenyap di balik semak belukar.
Tak ada seorang pun anggauta rombongan itu yang terluka dan dua orang piauwsu itu saling pandang dengan terheran-heran.
Mereka tidak melihat adanya kerikilkerikil yang tadi menyambar ke arah tubuh kepala perampok itu, hanya melihat kepala perampok yang kuat dan lihai itu melepaskan goloknya, kemudian berloncatan ke belakang sambil menerlaki anak buahnya seolah-olah tiba-tiba merasa takut sekali!
Bagaimanapun juga, hati mereka terasa lega sekali dan mengira bahwa tentu akhirnya kepala perampok agaknya jerih melihat bendera Kim-liong-pang maka mundur sendiri.
Ketika mereka mengumpulkan anak buah, mereka tidak melihat Thian Lee.
"Eh, di mana kusir barU itu?"
Tanya CAang Hoat dengan heran dan khawatir.
Gan Bun Tek tertawa sambil menuding ke kolong kereta.
Semua orang melongok ke bawah kereta dan benar saja, Thian Lee meringkuk di bawah kereta dengan ketakutan.
Semua orang tertawa dan Thian Lee dengan kemalu-maluan lalu merangkak keluar.
Perjalanan dilanjutkan dengan selamat dan setelah menyerahkan barang-barang kawalan itu di Souw-ciu, mereka lalu pulang ke Pao-ting.
Pada keesokan harinya barulah mereka tiba di Pao-ting dan ramailah rnereka bercerita tentang perampokan itu dan betapa mereka semua dapat rnengusir para perampok!
Dan tidak lupa mereka menceritakan betapa Thian Lee ketakutan bersembunyi di kolong kereta.
Wajah Souw Can menjadl marah mendengar ini.
Dia ikut nrierasa malu karena semua anggauta Kim-liong-pang tahu beiaka bahwa pemuda itu dianggap se-bagai keluarga Sang Ketua.
"Thian Lee, engkau bagaimana sih?"
Tegurnya ketika dia memanggil pemuda itu ke dalam.
"Ada perampok rnengganggu, engkau tidak membantu para piauwsu malah bersembunyi di kolong kereta. Memalukan!"
"Supek perampoknya amat galak dan menyeramkan. Aku menjadi takut. Dan pula, apa yang dapat saya lakukan?"
"Aihh, ingatlah. Engkau ini putera seorang pendekar besar! Mendiang ayahmu dahulu adalah seorang pendekar yang perkasa. Masa engkau anaknya menjadi penakut? Mulai sekarang akan kuajarkan sendiri ilmu tongkat itu kepadamu!"
"Baiklah, Supek."
Diam-diam Thian Lee merasa girang karena kalau supeknya yang mengajarnya sendiri berarti dia akan bebas darl gangguan Hwe Li yang bengal.
Demikianlah, mulai hari itu, Thian Lee dilatih sendiri oleh supeknya dan Sang Supek merasa girang karena dia mendapat kenyataan bahwa Thian Lee cukup cerdik dan mudah memahami ilmu tongkat itu.
Kini gerakan Thian Lee tidak kaku lagi dan dia pun diajarkan menghimpun tenaga dalam pukulan tongkatnya.
Sebulan telah lewat semenjak pens-tiwa perampokan itu.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, Siong Ek sudah berada di Kim-liong-pang dan sudah berlatih pedang dengan sumoinya.
Thian Lee menonton dari samping dan merasa kagum.
Setelah mereka selesai berlatih, Thian Lee bertepuk tangan memuji.
"Bagus, bagus! Kiam-hoat yang bagus sekali!"
Serunya girang.
"Hemm, Lee-twako engkau tahu apa tentang kiam-hoat? Baru memegang pe-dang saja engkau tidak berani, takut tanganmu terluka. Hayo, daripada bertepuk tangan memuji tidak karuan, aku ingin mencoba ilmu tongkat yang sudah kaupelajari dari Ayah!"
Kata Hwe Li.
"Mana aku berani, Siauw-moi."
"Hayo, Twako. Aku ingin memberi pe-tunjuk kepadamu!"
"Tidak, tidak, kalau berlatih denganmu aku hanya akan menerima gebukan dan akan jatuh bangun,"
Kata Thian Lee.
Pada saat itu, sebelum Hwe Li dapat memaksanya, Thian Lee sudah melangkah pergi menuju ke istala kuda.
Akan tetapi mereka semua mendengar suara ribut-ribut di pekarangan depan dan segera mereka semua pergi keluar untuk melihatnya.
Ternyata di halaman depan nampak berdiri dua orang yang sedang bertengkar mulut dengan para anak buah Kim-liong-pang.
"Aku ingin bertemu dengar Ketua Kim-liong-pang. Panggil dia keludr atau kami akan masuk mencarinya sendiri ke dalam rumah."
"Kalian takkan berani!"
Bentak lima orang anak buah Kim-liong-pang itu sambil maju untuk mendorong mundur dua orang itu, akan tetapi sekali dua orang itu menggerakkan tangan kaki, lima orang murid Kim-liong-pang ituterlempar dan terbanting jatuh.
"Ha-ha-ha-haa, beglni saja rriurid-mu-rid Kim-liong-pang?"
Seorang di antara kedua orang itu tertawa.
Dia adalah seorang tinggi besar bermuka bopeng dan Thian Lee segera mengenal bahwa dia itu adalah kepala perampok dari Bukit Merak!
Dan yang seorang lagi adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun yang tubuhnya tinggi kurus, membawa pedang di punggung dan nampaknya pendiam dan angkuh.
"Dia... dia adalah kepala perampok dari Bukit Merak itu!"
Kata Thian Lee dan mendengar ini, Hwe Li dan Siong Ek segera larl menghampiri.
Sementara itu, Souw Can juga sudah nnuncul dari dalam rumah, mendengar laporan dari anak buahnya.
Souw Can segera memberi hormat kepada dua orang tamunya.
"Apakah Ji-wi mencari aku? Aku adalah Kim-liong-pangcu dan ada keperluan apakah mencariku?"
Si Muka Bopeng memandang dengan mata mencorong, lalu sambil menggerakkan golok gagang panjang dia berkata, suaranya menggelegar.
"Sudah lama aku mendengar akan nama besar Ketua Kim-liong-pang, akan tetapi ternyata anak buah Kim-liong-pang hanyalah orang-orang yang curang dan pengecut. Kalau bertanding suka menyerang orang dengan sembunyi. Karena itu aku datang bersama suhengku untuk menantang orang-orang Kim-liong-pang rnengadu ilmu dengan jujur!"
Souw Can tersenyum. Dia pun sudah mendengar dari laporan anak buahnya tadi bahwa yang datang adalah kepala rampok dari Bukit Merah.
"Apakah Slcu ini yang berjuluk Coat-bengkwi?"
"Benar, akulah Coat-beng-kwi. Hayo suruh keluar murid Kim-llong-pang yang tempo hari melawanku, akan kutunjukkan bahwa aku tidak kalah oleh mereka. Atau kalau para murid tidak berani, gurunya boleh juga maju melawanku!" ; katanya dengan sikap sombong sekali. Melihat kesombongan orang itu, Lai Slong Ek menjadi marah sekali, Dia me-loncat ke depan dan berkata kepada suhunya.
"Suhu, biarlah teecu menghadapi manusia sombong ini!"
Katanya sambil mencabut pedangnya.
Souw Can sudah mendengar bahwa Ciang Hoat dan Gan Bun Tek berhasil mengusir perampok ini.
Tingkat kepandaian Siong Ek jauh lebih tinggi dari pada tingkat kedua orang piauwsu itu, maka dia pun mengangguk sambil berkata.
"Berhati-hatilah engkau!"
Siong Ek menghadapi Coat-beng-kwi sambil menyilangkan pedang di depan dada.
"Engkau berjuluk Coat-beng-kwi? Bukankah engkau ini kepala perampok dari Bukit Merak yang sudah berlari tunggang-langgang dipukul mundur oleh para piauwsu kami? Jangan bicara sombong, akulah murid Kim-liong-pang yang akan menghadapimu!"
"Bagus, sekarang kita bisa bertandi.ng satu lawan satu tanpa ada penyerang gelap berbuat curang!"
Kata Coat-beng-kwi, lalu dia menggerakkan golok gagang panjangnya sambil membentak.
"Lihat golok!"
Golok itu menyerang dengan dahsyatnya.
Akan tetapi dengan lincahnya Siong Ek mengelak dan balas menyerang.
Segera keduanya sudah saling serang dengan seru dan hebatnya.
Dengan jurus Pek-in-ci-tian (Awan Putih Keluarkan Kilat) Siong Ek menyerang.
Muia-mula pedangnya berputar di atas kepala, membentuk gulungan sinar putih, kemudian dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang yang meluncur dan menusuk ke arah leher lawan.
Akan tetapi raksasa muka bopeng itu memutar goloknya dan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Trang....""
Nampak buhga api berpijar menyilaukan mata ketika kedua senjata itu bertemu dan nampak Siong Ek terkejut karena pedangnya terpental ke-ras.
Dari pertemuan kedua senjata itu saja sudah jelas bahwa dia kalah kuat dalam hal tenaga.
Si Setan Pencabut Nyawa agaknya tahu pula akai hal itu dan dia tertawa bergelak.
GoloKnya lalu dlputar dengan cepat bukan main, menyapu kaki Siong Ek.
Pemuda ini meloncat dengan gerakan Lo-wan-teng-ki (Monyet tua Melompat Cabang) untuk menghindarkan diri dari sabetan golok pada kakinya dan langsung saja sambil melom-pat dia menyerang dengan jurus Sian-jin-sia-cok (Dewa Memanah Batu).
Pedangnya meluncur cepat sekali ke depan dan menusuk ke arah dada lawan bagaikan luncuran anak panah.
Akan tetapi Si Raksasa itu memang lihai sekall.
Blarpun tubuhnya besar, dia dapat bergerak cepat dan sudah berhasil mengelak ke kiri se-hingga tusukan itu pun luput.
Sementara itu, kini semua anak buah Kim-liong-pang sudah berada di situ menonton pertempuran dan siap-siaga me-nanti perintah Sang Ketua.
Sedangkan Souw Can sendiri menonton dengan alis berkerut.
Setelah pertandingan itu ber-langsung lima puluh jurus, tahulah dia bahwa muridnya itu tidak akan dapat nnenang melawan raksasa muka bopeng itu.
Selagi dia hendak menyuruh muridnya mundur, Siong Ek sudah menerjang lagi dan kini pemuda itu menggunakan jurus yang hebat sekali.
Tubuhnya membuat gerakan berputar dan pedangnya ikut berputar, kemudian sambil berputar itu dia lalu membacok ke arah ieher dan inilah jurus Sin-liong-tiauw-si (Naga Sakti Menyabetkan Ekornya).
Hampir saja leher Si Tinggi Besar terbabat pedang akan tetapi dia masih sempat menangkis sam-bil berbareng kakinya menendang ke depan.
"Bukk!"
Paha kanan Siong Ek terkena tendangan dan dia terlempar ke belakang dengan pedang masih di tangan.
Dia tidak terbanting jatuh karena dapat berjungkir balik, akan tetapi ketika kedua kakinya turun, dia agak terhuyung karena pahanya yang tertendang terasa nyeri.
"Ha-ha-ha-ha, cuma sebegitu saja kepandaian murid pilihan dari Kim-liong-pang?"
Si Tinggi Besar itu tertawa bergelak dengan sikap sombong dan mengejek.
"Jangan menghina Kim-liong-pang!"
Tiba-tiba Thian Lee maju sambll menyeret tongkat yang biasa dia pakai untuk berlatih silat.
"Aku adalah murid Kim-Hong-pang dan aku yang akan menandingimu . Melihat Thian Lee yang ketololan itu maju menantang, Hwe Li terbelalak dan menghampiri pemuda itu.
"Twako, jangan bermain gila. Apa-apaan engkau ini? Mundurlah!"
Katanya sambil mendorong dan dldorong begitu saja, Thian Lee terhuyung-huyung hampir jatuh, Akan tetapi dia nekat, menghampiri lagi Si Raksasa muka bopeng sambil mengejek.
"Hayo, muka bopeng buruk seperti monyet. Kenapa diam saja? Apa engkau takut melawan tongkatku ini? Hayo cepat berlutut agar aku dapat menggebuk pantatmu tujuh kali sebagai hajaran!"
Semua orang Kim-liong-pang memandang heran dan terkejut, juga khawatir sekali.
Mereka semua tahu siapa Thian Lee, seorang yang tolol dan sebagai kusir pernah bersembunyi ketakutan ketika dihadang perampok.
Kini berani maju menantang Si Raksasa yang telah mengalahkan Lai Siong Ek?
Gila!
Akan tetapi Souw Can memandang dengan terharu.
Dia tahu bahwa Thian Lee baru beberapa bulan saja belajar ilmu silat, tidak mungkin dapat menandingi raksasa itu.
Akan tetapi Thlan Lee berani!
Itu untuk membela nama baik Kim-liong-pang.
Sungguh pemuda ini tidak mengecewakan menjadi putera mendiang Siong Tek Kwi'.
Sl Raksasa menjadi marah bukan main.
Dia memelototkan matanya sampai nyaris terloncat keluar dari pelupuknya ketika memandang pemuda yang memegang torigkat itu.
Tadi saja didorong oleh "
Gadis itu sudah hampir jatuh, dan cara memegang tongkat begitu kaku, hendak menantangnya?
Sebetulnya dia ingin mentertawakan, akan tetapi ucapan Thian Lee itu membuat dia tidak mampu tertawa karena marahnya, apalagi melihat wajah orang-orang di situ yang terheran-heran juga nampak geli mendengar ucapan pemuda itu.
"Jahanam, apa engkau, sudah bosan hidup!"
Bentaknya.
"Tidak, aku masih suka hidup Engkau yang agaknya sudah bosan hidup."
"Kaukira akan dapat melawanku?"
Bentak lagi Si Raksasa yang merasa dipandang rendah.
Masa dia hendak diadu dengan badut ini?
Kini Thian Lee memegang tongkat dengan tangan kanan dan telunjuk kirinya menuding ke arah hidung raksasa itu tanpa berkata-kata.
Karena dituding hidungnya, raksasa itu otomatis memegang hidungnya.
Apa yang kaupandang itu?"
"Hidungmu penuh coreng-moreng!"
Dengan sendirinya raksasa itu menggosok-gosok hidungnya dan melihat tangannya, akan tetapi tidak ada apa-apanya.
"Jangan main gila kau!" '"Tidak, aku tahu bagaimana harus mengalahkanmu. Aku telah mempelajari ilmu tongkat Takaw-tung (Tongkat Pemukul Anjing) dan sekarang ilmu tongkatku itu akan berubah menjadi Ta-kwi-tung (Tongkat Pemukul Setan) dan setannya adalah engkau. Bukankah julukanmu Setan Pencabut Nyawa?"
Dapat dibayangkan bagaimana marahnya raksasa itu.
Dan para anak buah Kim-liong-pang kini tidak dapat menahan tawanya.
Mereka tadi merasa tidak se-nang dan penasaran sekali melihat Siong Ek dikalahkan, kini melihat raksasa itu dipermainkan dengan kata-kata oleh Thian Lee, mereka merasa gembira sekali sampai lupa bahwa Thian Lee meng-hadapi lawan yang amat tangguh dan dapat berbahaya sekali baginya.
Coat-beng-kwi hampir tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Akan tetapi sebagai seorang jagoan dia merasa malu kalau harus berurusan dengan seorang pemuda tolol ini, maka bentaknya kepada Souw Can.
"Souw-pangcu, majulah sendiri menghadapi aku, jangan mengajukan kacung tolol ini?"
"Tidak bisa, tidak bisa'."
Kata Thian Lee ngotot dan nekat.
"Sebelum engkau mengalahkan aku muridnya, tidak mungkin engkau melawan gurunya! Atau barangkali engkau takut menghadapi Ta-kwi-tung ini?"
Dia mengamangkan tongkatnya.
"Setan jahanam, mampus engkau di tanganku!"
Bentak Coat-beng-kwi sambil menggerakkan goloknya.
"Coat-beng-kwi, ingat, ini hanya adu kepandaian. Kalau sampai engkau membunuhnya aku tidak akan memberi ampun kepadamu!"
Souw Can berkata dengan nada mengancam.
"Ah, Supek. Mana mungkin setan seperti ini membunuhku?"
Kata Thian Lee dan kini raksasa itu sudah bergerak maju.
"Lihat golok!"
Goloknya menyambar dahsyat.
Thian Lee melompat mundur untuk mengelak.
Lompatannya kaku dan beberapa gebrakan saja dia sudah terdesak, lari ke sana-sini pontang-panting, dan berloncatan untuk menghindarkan serangan golok lawan.
Melihat inl, raksasa itu tertawa bergelak-gelak dan tahulah dia bahwa dia benar-benar berhadapan dengan seorang muda yang miring otaknya karena ternyata tidak pandai silat!
"Sungguh tolol!"
Omet Hwe Li sambil mengepal tinju dan Siong Ek yang berdiri di sampingnya juga merasa khawatir sekali.
Dla sudah merasakan betapa lihai lawan itu dan kini Thian Lee berani mati sekali mencoba untuk melawannya.
Akan tetapi, kalau bagi orang laln kelihatan Thlan Lee seperti orang tolol yang lari ke sana-sini, bergerak terhuyung dan mengelak sedapat mungkin, bagi Coat-beng-kwi makin lama suara tawanya semakin berkurang karena dia merasa aneh sekali.
Pemuda itu mengelak dengan kacau, akan tetapi goloknya tidak pernah mampu menyentuhnya dan ketika sekali dua kali ujung tongkat pe-muda itu menangkis dengan gerakan yang amat kaku, dia merasa betapa tangannya yang memegang golok tergetar hebat dan terasa amat panas!
Sementara itu, ketika Souw Can melihat betapa Thian Lee dapat mengelak dari sambaran golok itu, dia pun merasa heran.
Jelas sekali gerakan Thian Lee bukan gerakan silat, hanya berloncatan seperti kanak-kanak bermain tali, akan tetapi sampai belasan jurus dia dapat menghindarkan diri dari semua bacokan itu.
Dla lalu mencoba untuk memberi petunjuk berdasarkan ilmu tongkat yang selama beberapa bulan ini dilatih oleh Thian Lee.
Ketika meiihat lowongan, dia berteriak.
"Pukul kepalanya dari kiri'"
Mendengar bentakan Ketua Kim-liong-pang itu, otomatis Si Raksasa Bopeng menggerakkan golok menangkis ke arah sebelah kiri kepalanya.
Akan tetapi ternyata Thian Lee bukan menghantam ke kiri kepalanya melainkan menghantam ke bawah, ke arah kaki kanannya!
"Takk!"
Tulang kering raksasa itu bertemu dengan tongkat sehingga rnengeluarkan bunyi nyaring.
Dan aneh!
Bagi semua orang, tentu tenaga pukulan Thian Lee itu tidak ada artinya karena pemuda itu tidak memiliki tenaga sin-kang yang kuat, akan tetapi kenyataannya, Si Raksasa itu mengeluarkan suara mengaduh dan berloncatan dengan sebelah kakinya.
Karena kaki kanannya terasa seolah-olah remuk.
Nyerinya bukan alang-kepalang!
Terdengar sorakan.
Para anak buah Kim-liong-pang kini bersorak.
Biarpun mereka bingung bagaimana pemuda itur mampu menandingi Si Raksasa dengan gerakan ngawur, akan tetapi melihat kakii raksasa itu terkena pukulan sehingga dial mengaduh-aduh, tentu saja hati mereka semua menjadi gembira.
Hwe Li membelalakkan matanya, demikian pula Siong Ek.
Bahkan Souw Can memandang tanpa berkedip.
Apa yang terjadi?
Dia sendiri tidak mengerti mengapa begitu.
Apakah sebetulnya raksasa itu sama sekali tidak becus?
Akan tetapi muridnya Siong Ek, tadi dikalahkannya.
Dan ketika dia mem-beri petunjuk kepada Thian Lee, pemuda itu salah menggerakkan tongkatnya, ngawur tidak karuan.
Akan tetapi, kini raksasa itu memutar goloknya dengan sema-kin dahsyat karena dia sudah marah sekali.
Dan Thian Lee berloncatan seperti tadi.
Melihat lowongan lagi, Souw Can memberl aba-aba dengan cepat.
"Tiga kali totokan ke arah kaki!"
Memang dalam ilmu tongkat itu ada satu jurus yang menotok ke arah kedua kaki secara bergantian dan berturut-turut sebanyak tiga kali.
Thian Lee menurut anjuran supeknya, tongkatnya i-neluncur ke bawah.
Raksasa bermuka bopeng itu cepat meloncat ke atas sambil melintangkan gagang goloknya untuk menangkis.
Akan tetapi tiba-tiba tongkat itu membalik, bukan menyodok ke arah kaki melainkan menyodok ke arah kepala.
"Duk-duk-dukk!"
Kini dahi raksasa itu menjadi korban sodokan ujung tongkat dan seketika tumbuh tiga telur berjajar pada dahi itu, Kembali Coat-beng-kwi mengaduh dan tangan kirinya mengelus dahi yang bejol-benjol besar itu.
Tepuk sorak meledak menyambut hasil ini dan sejenak raksasa bermuka bopeng itu terhuyung ke belakang.
Thian Lee masih bersilat dengan tongkatnya, presis kalau dia berlatih.
Souw Can terheran-heran.
Jelas Thian Lee ngawur, akan tetapi mengapa malah berhasil?
Hwe Li bertanya kepada Siong Ek dengan heran.
"Suheng, apa yang terjadi?"
"Aku tidak mengerti, Sumoi. Mungkin hanya kebetulan saja!"
Kata pemuda itu dan dia menonton dengan mata tak per-nah berkedip, terheran-heran bagaimana kini raksasa itu mudah saja terkena pu-kulan Thian Lee sedangkan pedangnya tadi tidak pernah dapat mengenai lawan.
Akan tetapi Coat-beng-kwi sekarang mengerti.
Dia tahu akan kesalahannya.
Dia terlalu mendengarkan aba-aba yang dikeluarkan Souw Pangcu sehingga dia menjaga bagian yang disuruh serang, padahal murid yang ketololan itu menyerang sebaliknya.
Kalau tadi disuruh menyerang kepala, yang diserang kakinya, sebaliknya disuruh menyerang kaki yang diserang kepalanya.
Maka dia sampai kecurian.
Kini dengan kepalanya terasa berdenyut-denyut, kakinya masih ngilu, dia menyerang lagi dengan buasn a.
Saking buasnya serangan itu, Thian Lee sampai berloncatan, berguling dan jatuh bangun, akan tetapi anehnya, golok itu tidak pernah mengenai tubuhnya.
Seolah-olah raksasa itu merasa ragu dan setiap kali goloknya menyambar, selalu ditahannya di tengah jalan, Souw Can semakin heran.
Apakah raksasa itu merasa malu untuk melukai Thian Lee, atau-kah teringat akan ancamannya tadi sehingga tidak melanjutkan serangannya?
Sama sekali dia tidak tahu bahwa setiap kali golok itu menyambar dekat, ada semacam hawa yang menolaknya dari tangan Thian Lee ke arah senjata itu yang membuat gerakan golok itu menjadi tertahan.
Kini Thian Lee meloncat bangun lagi dan berusaha menyerang dengan tongkatnya.
Kembali Souw Can melihat lowongan dan berteriak.
"Serang kepalanya!"
Kini raksasa itu tidak mempedulikan teriakan Souw-pangcu. Dia membiarkan saja kepalanya terbuka dan menggunakan golok melindungi kakinya. Thian Lee menggerakkan tongkatnya dan....
"takk-takk-takkk""
Tiga kali berturut-turut tongkatnya menghantam kepala raksasa itu, mengenai ubun-ubunnya!
Raksasa itu terkulai dan roboh pingsan!
Tepuk sorak bergemuruh menyambut kemenangan ini.
Bahkan ada anak buah Kim-liong-pang yang berloncatan dan menari-nari, ada pula yang melontarkan topinya ke atas, ada yang saling berpelukan dengan kawan sendiri.
Sementara itu, suheng dari Coat-beng-kwi menjadi marah sekali.
Dia menghampiri sutenya yang pingsan, menepuk pundak dan tengkuknya dan raksa-sa itu siuman.
Dia bangun, menggtyang-goyang kepalanya yang pening, lalu bangkit berdiri dengan nanar.
Melihat suheng dari raksasa itu yang tinggi kurus me-mandang ke arah Thlan Lee yang masih berada di situ dengan pandang mata pe-nuh kemarahan, Souw Can lalu memang-gil Thian Lee.
"Thian Lee, ke sini engkau!"
Thian Lee menghampiri supeknya.
"Kebetulan sekali engkau menang. Engkau telah berjasa dan cepat pergilah ke belakang, jangan memperlihatkan dirimu!"
Bisik supek itu yang khawatir kalau-kalau dua orang itu marah dan mengancam keselamatan Thian Lee.
"Baik, Supek."
Thian Lee lalu menyeret tongkatnya masuk ke belakang rumah, disambut oleh anak buah Kim-liong-pang yang memuji-muji keberaniannya.
Tak seorang pun mengira bahwa kemenangan Thian Lee itu memang karena kepandaian, melainkan karena Kebetulan dan keberuntungan.
Akan tetapi me-reka harus mengakui keberanian Thian Lee yang luar biasa.
Sementara itu, suheng dari Coat-beng-kwi lalu berkata kepada Souw Can dan suaranya terdengar besar parau, tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus.
"Souw-pangcu, suteku telah dikalahkan secara tidak wajar oleh muridmu. Sungguh penasaran sekali!"
Souw Can maju menghampiri Si Tinggi Kurus dan dia berkata.
"Muridku memang bodoh, akan tetapi sudah jelas bahwa sutemu kalah, mengapa tidak wajar?"
"Hemm, jangan mengira kami bodoh, Pangcu. Engkau telah memberi petunjuk kepada muridmu, dan itulah yang tidak wajar. Kekalahan suteku adalah tidak adil dan sekarang aku mewakili sute untuk menantang Kim-liong-pang dan yang merasa memiliki kepandaian boleh maju."
"Sobat, sebelum kita bicara tentang pertandingan, boleh kami mengetahui siapakah sobat ini?"
"Aku seorang suheng dari Coat-beng-kwi, dan orang menyebut aku Thian-lo kwi (Setan Tua dari Langit). Kalau engkau sendlrl yang hendak maju, kebetulan sekali, Pangcu. Aku sudah lama men-dengar kebesaran nama Kim-liong-pang dan aku enggan untuk bertanding dengan murid-muridmu yang belum berpengalaman."
"Thian-lo-kwi, sebelum kita lanjutkan, aku hendak bertanya kepadamu, apakah engkau tahu apa sebabnya sutemu memusuhi kami?"
"Apalagi, untuk membalas kekalahan-nya yang pernah terjadi secara tidak wajar. Sekarang dia kalah lagi secara tidak wajar pula. Aku menjadi penasaran sekali. Kalau engkau mengatakan kekalahan itu wajar, suruh murid tololmu tadi maju melawanku!"
"Thian-io-kwi, ketahuilah bahwa kami mempunyai perusahaan pengawal barang. Ketika anak buah kami sedang mengawal barang, kami dihadang gerombolar perampok yang dikepalai oleh Coat Beng-kwi ini. Apakah engkau hendak membela para perampok?"
"Souw-pangcu!"
Bentak raksasa muka bopeng yang sudah agak pulih rasa nyeri di dahi dan kakinya.
"Kedatangan kami sekali ini tidak ada sangkut-pautnya de-ngan perampokan, melainkan dengan me-ngadu kepandaian secara jujur dan adil. Katakan saja engkau berani tidak mela-wan suhengku?"
"Ha-ha-ha, aku Kim-liong-pangcu tidak pernah menolak tantangan dari ma-napun juga datangnya. Tentu saja aku berani menghadapinya!" 'fKalau begitu, bersiaplah, Pangcu!"
Kata Thian-lo-kwi sambil mencabut pedangnya.
Sutenya lalu didorongnya supaya Bninggir dan kini kedua orang itu sudah saling berhadapan.
Souw Hwe Li menca-but pedangnya dan memberikan pedangnya itu kepada ayahnya yang keluar tidak membawa pedang.
Souw Can menerimanya dan kini kedua orang lawan itu saling berhadapan dengan pedang di tangan.
"Thian-lo-kwi, aku sudah siap melayanimu. Mulailah!"
Souw-pangcu, lihat pedang!"
Kakek tinggi kurus itu mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara berdesing nyaring.
Diam-diam Souw Can terkejut.
Hebat ilmu pedang orang ini, pikirnya.
Dapat menggerakkan pedang sehingga mengeluarkan suara berdesing seperti itu saja sudah membutuhkan tenaga sin-kang yang amat kuat.
Dia pun berhati-hati dan ketika pedang lawan datang menyambar, dia pun mengelak dan membalas dengan sabetan pedangnya yang juga dapat dielakkan lawan.
Kembali pedang Thian-io-kwi menyambar dan sekali ini, untuk mencoba tenaga lawan, Souw Can menangkis dengan pedangnya.
"Trangggg... trangggg....i"
Bunga api berpijar ketika dua pedang bertemu dua kali dan Souw Can semakin yakin bahwa lawannya memiliki tenaga yang dahsyat sekali.
Dia hanya dapat mengimbanginya.
Mereka segera terlibat dalam pertanding-an pedang yang seru.
Kalau tadi pertandingan antara raksasa muka bopeng melawan Thian Lee merupakan pertandingan yang lucu, sekarang pertandingan antara kedua orang ini sungguh menegangkan sekali.
Bahkan Hwe Li sendiri mengepal tinju karena ia pun mengenal ilmu pedang yang hebat dari Si Tinggi Kurus itu.
Mereka berdua bersilat dengan gerakan cepat sehingga yang nampak hanya gulungan dua sinar pedang yang saling melibat dan saling mendorong.
Sementara itu, Thian Lee tiba di istal kuda dan di situ telah berdiri Liu Ceng.
"Eh, Ceng-moi, engkau berada di sini?"
Tanya Thian Lee.
"Aku dilarang keluar oleh Paman, akan tetapi aku tadi mengintai dan melihat engkau menangkan pertandingan, Lee-ko. Engkau... engkau... hebat sekali! Aku bangga kepadamu, Lee-ko."
Wajah Thian Lee berubah merah dan ( jantungnya berdebar.
"Aih, aku menangt hanya kebetulan saja karena Supek membantu memberi petunjuk, Ceng-moi."
"Tidak, Lee-ko. Bukan itu yang mendatangkan kagum dalam hatiku dan bangga kepadamu. Akan tetapi keberanianmu! Bahkan Suheng Siong Ek saja kalah dalam waktu pendek, namun engkau berani maju. Itu berarti keberanian yang luar biasa. Sekarang barulah mereka tahu bahwa engkau lebih hebat dari suheng yang... ceriwis itu! "Ceriwis....? Apa maksudmu, Ceng-moi?"
"Dia serihgkali menggodaku kalau kami bertemu berdua. Ah, sungguh aku tidak suka akan sikapnya kepadaku, Lee-ko. Kalau sampai Li-moi melihatnya, tentu la akan marah dan bisa salah sangka terhadap diriku."
"Ssttt, sudahlah, jangan bicarakan lagi. Jauhkan saja dirimu darinya kalau begitu,"
Kata Thian Lee yang sibuk memakaikan pelana kuda yang paling besar di antara semua kuda yang dirawatnya.
"Engkau mau ke mana, Lee-ko?"
"Ceng-moi, sekali ini aku minta kepa-damu jangan kau bilang kepada siapapun juga. Aku akan mengacaukan tamu yang membikin ribut itu dengan kuda ini."
Setelah berkata demikian.
Thian Lee lalu meloncat ke atas pelana kuda dan tiba-tiba saja kuda itu mengeluarkan ringkik keras dan melonjak-lonjak.
Thian Lee memegang cambuk kuda, mencoba untuk menahan dan menenangkan kuda itu, akan tetapi makin lama kuda itu makin mengamuk dan berlarl keluar dari istal sambil berlompatan aneh.
Melihat inl, Liu Ceng menjadi khawatir dan ia pun melompat ke pinggir dan ketika kuda itu berlari keluar, la pun mengikutinya sam-bil memandang dengan mata terbelalak.
Kuda yang mengamuk itu kini tiba di pekarangan luar.
"Minggir....! Minggir....! Kuda mengamuk....!"
Berulang-ulang Thian Lee berteriak dan kudanya menuju ke arah tempat di mana Thian-lo-kwi masih bertanding pedang dengan serunya melawan Souw Can.
"Supek, minggir....! Kuda ini mengamuk, tak dapat dikendalikan!"
Teriak Thian Lee kepada Souw Can.
Mendengar seruan itu dan melihat betapa kuda itu menubruk ke arahnya, Souw Can melompat jauh dan menghentikan pertandingannya.
Akan tetapi tidak demikian dengan Thian-lo-kwi.
Si Tinggi Kurus ini agaknya marah sekali melihat ada seekor kuda mengganggu jalannya pertandingan di mana dia sudah mulai dapat mendesak lawannya.
Dia tidak mau menyingkir melainkan menggerakkan pedangnya menusuk ke arah leher kuda!
Akan tetapi Thian Lee yang mencoba menenangkan kuda itu menggerakkan cambuknya ke kanan kiri.
"Hiyooo, belang... hiyoooo... tenanglah, tar-tar-tar....!"
Cambuknya meledak-ledak dalam usahanya menenangkan kuda dan tanpa dlsengaja cambuknya itu menyambar ke arah tangan yang menusukkan pedang!
Thian-lo-kwi terkejut sekali merasa pergelangannya nyeri terpatuk ujung cambuk dan dengan sendirinya tusukannya ke arah leher kuda menjadi gagal!
Akan tetapi dia memang seorang yang pemurung dan pemarah.
la mempercepat gerakannya dan kembali menusuk, sekali inl ke arah perut kuda!
Kuda itu berputar-putar dan melonjaklonjak dan Thian Lee menggerakkan cambuknya ke sana kemari dan kembali pedang itu tertangkis cambuk dan Thian-lo-kwi merasa betapa tangannya yang memegang pedang panas.
Pedangnya terpental membalik ketika bertemu ujung cambuk yang rnenangkisnya.
Para anak buah Kim-liong-pang ikut sibuk melihat Thian Lee di atas kuda yang mengamuk itu dan mereka mencoba untuk menenangkan kuda.
Akan tetapl kuda yang seperti kesetanan itu malah makin ganas mengamuk.
Thian-lo-kwi yang merasa penasaran sekali kini menggunakan pedangnya untuk membacok kaki belakang kuda itu.
Thian Lee kembali menggerakkan cambuknya, diputar sedemikian rupa sehingga dapat menangkis pedang yang membacok ke arah kaki belakang kuda dan pada saat pedang lewat, kaki belakang kuda itu tiba-tiba menyepak ke belakang dan te-pat mengenai perut Thian-lo-kwi!
Kasihan sekali kakek tinggi kurus itu.
Hanya orang yang pernah disepak kuda saja dapat menceritakan betapa hebatnya tenaga kuda menyepak!
Tenaganya ratus-an kati, apalagi kuda itu sedang marah.
Biarpun Thian-lo-kwi sudah mengerahkan sin-kangnya untuk menjaga diri, tetap saja tubuhnya terpental jauh seperti sebuah bola dan dia terbanting jatuh sampai bergulingan jauh!
Kakek itu tidak terluka parah, akan tetapi perutnya mendadak terasa mulas dan wajahnya menjadi pucat sekali.
Dan semua anak buah Kim-liong-pang tertawa melihat kejadian yang lucu itu.
Jagoan yang tadi bertanding melawan ketua mereka kena disepak kuda sampai terguling-guling!
Merasa bahwa dia sudah tidak kuat melanjutkan perkelahian melawan Souw Pangcu yang tangguh itu, Thian-lo-kwi lalu mengajak sutenya dengan bersungut-sungut meninggalkan tempat itu!
Thian Lee masih dengan susah payah mencoba menenangkan kudanya.
Sepertl seorang penunggang rodeo, dia pun me-nahan agar tubuhnya jangan sampai di-lempar jauh oleh kuda yang kesetanan itu.
Pada saat itu, Souw Can meloncat ke depan kuda dan menyambar tali di hidung kuda sambil mengerahkan sin-kangnya sehingga kuda itu tidak mampu bergerak.
Pada saat itu Thian Lee berhasil melompat turun dan sungguh aneh, begitu Thian Lee melompat turun, kuda itu pun tidak menjadi binal lagi.
"Wah, terima kasih Supek!"
Kata Thian Lee sambil mengelus leher kuda menenangkan binatang yang masih terengah-engah dan berpeluh itu.
"Thian Lee, kenapa kuda ini?"
Tanya supeknya."
"Entahlah, Supek. Tadi ketika saya pasangi pelana dan saya tunggangi untuk dibawa ke anak sungai, dia mengamuk, kata Thlan Lee.
"Ha-ha-ha, Si Belang telah mampu mengusir musuh'"
Terdengar banyak anak buah Kim-liongpang tertawa memuji Thian Lee lalu menuntun kuda itu ke istal dan tanpa setahu orang, dia menyingkirkan sepotong batu runcing yang tadi dia sembunyikan dan selipkan di bawah pelana kuda.
Batu runcing itulah yang membuat kuda mengamuk karena ketika pelana diduduki, batu itu menusuk punggungnya dan menimbulkan rasa nyeri yang hebat!
Peristiwa Thian Lee mengalahkan Coat-beng-kwi dan Si Belang menyepak Thian-lo-kwi masih menjadi bahan percakapan para anak buah Kim-liong-pang dan sejak hari itu, semua orang memandang Thian Lee sebagai seorang pahlawan!
Bukail karena kepandaiannya, melainkan karena keberaniannya.
Akan tetapi Souw Can bukanlah seorang yang bodoh.
Dia memanggil Thian Lee ke kamarnya dan diajaknya pemuda itu bicara berdua saja.
"Thian Lee, katakan terus terang sekarang. Engkau adalah seorang pemuda yang menyembunyikan kepandaian, bukan? Mengakulah saja terus terang."
"Ah, tidak, tidak, Supek."
"Engkau telah menang melawan COat-beng-kwi!"
"Semua itu berkat petunjuk supek dalam ilmu Tongkat Penggebuk Anjing itu!"
"Hemm, mana ada Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing?"
"Adik Hwe Li yang mengatakan bahwa ilmu tongkat itu adalah Ta-kaw-tung."
"Hemm, ketika aku memberi petunjuk, engkau sama sekali tidak menurut petunjukku. Kusuruh memukul kepala malah memukul kaki dan sebaiiknya dan engkau berhasil! Itu berarti engkau memang telah memillki ilmu tongkat yang hebat."
"Tidak, Supek. Saya hanya menggunakan akal saja. Karena petunjuk Supek dl-lakukan dengan teriakan nyaring, saya piklr lawan tentu ikut mendengar pula dan tentu akan menjaga bagian yang Supek suruh pukui. Karena itu saya memukul baglan yang laln, yang tidak terjaga."
Souw Can memandang tajam.
"Thian Lee, Engkau bukan murid seorang sakti?"
"Bukan, Supek. Saya hanya mempela-jari ilmu silat dahulu ketika masih kecll dari Ibu."
"Ya sudahlah, akart tetapi mulai sekarang engkau ikut mengawal barang kiriman."
"Sebagai kusir, Supek?"
"Ya, ya... sebagai kusir."
Thian Lee lalu pergi ke istal dan setibanya di pekarangan belakang, Hwe Li dan Siong Ek telah menyongsongnya. Mereka berdua nampak penasaran sekali dan terutama sekali Siong Ek.
"Thian Lee, engkau menjadi besar kepala karena dapat mengalahkan Coat-beng-kwi, ya?"
"Ah, tidak, Kongcu."
Thian Lee memang selalu menyebut Siong Ek dengan sebutan kongcu seperti yang dituntut darinya oleh pemuda putera jaksa itu.
"Engkau menang secara kebetulan saja karena Suhu telah memberl petunjuk padamu."
Baca Juga: Petualang Asmara 4
Baca Juga: Pendekar Kelana 6