Eps 3 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.
"Dengarlah Anakku. Ibumu akan menceritakan segalanya. Tadi sudah kuceritakan bahwa Song Tek Kwi datang berkunjung, menyerahkan gelang kemala sebagai tanda ikatan perjodohan antara engkau dan puteranya. Selagi kami bercakap-cakap, terdengar suara ributribut dan datang laporan bahwa ada gadis dipaksa oleh seorang pangeran untuk menjadi isterinya. Ayahmu adalah seorang pendekar, mendengar ini dia lalu berlari keluar diikuti Song Tek Kwi yang juga seorang pendekar yang gagah perkasa. Setelah tiba di luar mereka melihat seorang gadis dipaksa naik kereta untuk dijadikan selir seorang pangeran. Ayahmu dan Song Tek Kwi menjadi marah dan Jnengamuk, merobohkan tukang-tukang pukul pange-ran itu bahkan memberi hajaran kepada pangeran mata keranjang yang suka me-maksa anak gadis orang."
"Wah, Ayah seorang pemberani yang gagah perkasa!"
Kata Cin Lan gembira.
"Akan tetapi peristiwa itu berekor panjang, Anakku. Pada lain harinya, datang pasukan untuk roenangkap kami karena ayahmu yang berani memukul seorang pangeran itu dianggap pemberontak. Ayahmu tidak mau menyerah dan terjadi perkelahian. Ayahmu dikeroyok banyak orang dan akhirnya ayahmu tewas. Aku yang sedang menggendongmu juga menjadi tawanan."
"Ahhh....! Mereka kejam sekali!"
Bentak Cin Lan sambil mengepal tinju.
"Sebetulnya ayahmu terlalu keras hati, Cln Lan. Tentu saja menghajar seorang pangeran dianggap sebagai pemberontak. Dan sudah menjadi peraturannya bahwa keiuarga seorang pemberontak harus ditangkap semua. Maka, aku pun ditangkap. Dan pada saat itu muncul Pangeran Tang Gi Su yang menolong kita. Berkat kekuasaan Pangeran Tang Gi Su maka aku dibebaskan dan diajak ke rumahnya. Kemudian dla... dia melamarku. Aku tidak melihat jalan lain. Kalau aku menolak dan aku berada di luar, tentu aku akan ditangkap sebagai keluarga pemberontak. Kalau aku menjadi selirnya, maka aku dan engkau akan selamat dan terlindung. Sungguh mati, pada waktu itu aku hanya ingat akan keselamatanmu, Cin Lan. Maka aku... aku rnenerima pinangannya. Begitulah ceritanya, Cin Lan.
"Hemm, siapakah pangeran yang suka memaksa gadis itu, Ibu?"
Bwe Si merasa lebih baik tidak menceritakan nama pangeran itu agar puterinya tidak rnelakukan tindakan yang gega-bah.
"Aku tidak tahu namanya, Cin Lan. Akan tetapi gadis-gadis yang dipilih itu kebanyakan adalah gadis dusun dan orang tua si gadis malah bangga menyerahkan gadisnya untuk diajak pergi seorang pangeran dan menjadi selirnya."
"Dan di mana Ayah dikubur, Ibu?"
"Kami dulu tinggal di dusun Teng-sia-bun tak jauh dari kota raja dan tentu ayahmu dikubur di sana pula oleh penduduk dusun. Aku sendiri tidak mengetahui karena aku terus ditangkap bersamamu."
"Dan Ibu tidak pernah berkunjung ke kuburan itu?"' "Bagaimana mungkin, Anakku? Tentu semua orang akan mengetahui. Tidak, ibu hanya bersembahyang di kuil untuk ayah kandungmu."
"Kalau begitu aku yang akan berkunjung ke sana, Ibu!"
"Cin Lan, ingat pesanku. Jangan sekali-kali engkau mengaku bukan putera Pangeran Tang Gi Su kalau engkau tidak ingin melihat hubungan antara ibumu dan ayahmu pangeran menjadi retak."
"Tidak, Ibu. Dan lagi, apa gunanya kalau aku mengaku she Bu. Lain halnya, kalau Ayah kandungku masih hidup."
Akan tetapi semenjak membuka rahasia itu kepada puterinya, Lu Bwe Sl sering kali merasa gelisah dan khawatir sekali.
Mengenai ikatan perjodohan puterinya itulah yang amat menggelisahkan hatinya.
Di dalam lubuk hatinya, ingin ia memenuhi kehendak mendiang suaminya untuk menjodohkan puterinya dengan putera Song Tek Kwi.
Akan tetapi bagaimana caranya?
Bahkan kepada suaminya yang sekarang pun ia tldak berani bicara tentang hal itu.
Dan sekarang, gelang kemala puterinya telah hilang, dan bahkan puterinya sendiri tidak setuju dengan ikatan perjodohan itu!
la hanya dapat menangis seorang diri dan mengeluh kepada mendiang suaminya yang pertama.
Duka timbul dari kenangan masa lalu, dan rasa khawatir atau takut timbul dari bayangan masa depan.
Kalau kita hanya menghadapi masa kini, saat ini dengan penuh penerimaan, kepasrahan, kesabaran dan ketawakalan kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih, maka segala macam kedukaan dan kegelisahan pasti dapat dilenyapkan oleh kekuasaan Tuhan.
Segala kehendak Tuhan pun jadilah!
Tidak ada kekuasaan lain yang mampu mengubahnya.
Kalau sudah pasrah seperti itu, maka kejadian apa pun yang menimpa diri kita, akan kita hadapi tanpa mengeluh karena kita tahu bahwa kejadian itu sudahlah wajar dan semestinya.
Bukan berarti bahwa kita menerima saja segala sesuatu dengan tidak berusaha, sama sekali bukan.
Kita berusaha sekuat tenaga namun dengan landasan kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.
Dengan iman yang kokoh kuat, mudah saja bagi, kita untuk melandasi semua daya upaya kita dengan kepasrahan yang mutlak dan lengkap.
Dan Tuhan Maha Bijaksana, Maha Murah.
Tuhan lebih dari mengerti apa yang terbaik untuk kita, walaupun bagi pikiran kita yang tidak sempurna akan nampak tidak baikl Dan Tuhan mengasihi orang yang pasrah dengan sepenuh jiwa raganya kepada kekuasaanNya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagl sekali, Cin Lan sudah meninggalkan gedung tempat tinggalnya.
la mengenakan pakaian yang ringkas dan menunggang seekor kuda yang bagus.
Sudah sering kali ia menunggang kuda dan pergi berbun binatang, maka orang-orang yang melihatnya di jalan tidak merasa heran, hanya memandang dengan kagum.
Dara remaja yang berusia lima belas tahun itu pandai sekali menunggang kuda.
Tubuhnya tegak dan demikian santainya ia menunggang kuda menuju ke Kwan-im-bio.
Setelah ia tiba di pekarangan kuil, ia menambatkan kudanya di batang pohon dan meloncat turun, Tiong Hwi Nikouw, yang sepagi itu sudah bangun dan habis sembahyang membaca doa, lalu keluar menyambutnya.
"Selamat pagi, Tang-siocia."
"Selamat pagi, Sukouw. Apakah Suhu sudah datang?"
"Sudah, dia sudah menanti di ruangan belakang. Mari engkau langsung saja menemuinya di sana,"
Kata nikouw itu dan Cin Lan segera memasuki kuil dan langsung menuju ke ruangan belakang. Pek I Lokai menyambutnya dengan senyum.
"Bagus, engkau datang pagi sekali, Nona."
"Suhu, harap jangan sebut teecu de-ngan sebutan nona. Nama saya teecu Tang Cin Lan dan sebagai guruku, Suhu sebaiknya menyebut nama teecu saja kata Cin Lan dengan akrab. Pek I Lokai tertawa.
"Sebagai seorang puteri pangeran, sikapmu sungguh rendah hati, Cin Lan. Baiklah, kalau sedang berdua, aku akan menyebutmu Cin Lan saja. Akan tetapi. pagi ini aku belum akan melatih ilmu silat kepadamu, karena aku harus pergi dulu menemui Ketua Hek tung Kai-pang, untuk menegurnya agar dia dapat mengatur anak buahnya agar jangan melakukan kejahatan."
"Kebetulan sekali kalau begitu, Suhu Teecu juga ingin mencari pengemis rnuda yang kemarin telah merampas gelang kemala teecu. Teecu harus mendapatkannya kembali karena gelang itu penting sekali bagi teecu."
Cin Lan sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan gelang itu kembali, dan kelak kalau ia dapat bertemu dengan orang yang dica-lonkan menjadi suaminya, gelang itu akart dikembalikannya sebagai pembatalac , ikatan perjodohan itu.
"Baik sekali kalau begitu, mari kita pergi bersama."
Pengemis tua itu bangkit berdiri dan membawa tongkat bambunya.
"Suhu, teecu membawa seekor kuda. Suhu pakailah kuda teecu itu."
"Tidak, kita berjalan kaki saja, Cin Lan. Bukankah tempat perkumpulan Hek-tung Kai-pang itu tidak terlalu jaun dari sini?"
Tidak, Suhu. Tempatnya berada di sudut kota."
"Nah, kita berjalan kaki saja. Marilah'"
Mereka berdua keluar dari kuil dan ketika bertemu dengan Tiong Hwi Ni-kouvy mereka berdua berpamit kepada nikouw itu.
Cin Lan tidak mempedulikan pandang mata orang-orang yang ditujukan kepadanya dengan heran melihat ia puteri seorang pangeran, berjalan bersama seorang kakek pengemis yang bertongkat bambu butut!
Rumah perkumpulan Hek-tung Kai-pang itu cukup besar, merupakan sebuah gedung yang besar.
Hal ini tidaklah mengherankan karena perkumpulan pengemis ini akhir-akhir ini berpengaruh dan terutama sekali semenjak Pangeran Bian Kun berhubungan dekat dengan ketuanya, maka pangeran itulah yang memperkuat perbendaharaannya sehingga perkumpulan itu dapat membangun sebuah rumah yang cukup besar.
Apakah sebenarnya hubungan antara Hek-tung Koai-ong (Raja Pengemis Tongkat Hitam), ketua dari perkumpulan itu dengan Pangeran Bian Kun yang besar kekuasaannya?
Sebetulnya, hubungan itu dimulai ketika Pangeran Bian Kun beberapa tahun yang lalu terancam bahaya ketika serombongan pendekar hendak membunuhnya karena pa-ngeran ini merebut puteri seorang pendekar sehingga puteri itu kemudian membunuh diri, memilih mati daripada ternoda oleh pangeran itu.
Ketika pangeran itu terancam bahaya maut, Hek-tung Kai-ong muncul dan menolongnya.
Karena pertolongan ini, Pangeran Bian Kun menghargainya, bahkan menganggap ketua itu sebagai seorang jagoannya.
Dan bukan hanya itu, dia juga menyerahkan puteranya yang bernama Bian Hok untuk menjadi murid Hek-tung Kai-ong.
Sebetulnya, Hek-tung Kai-ong bukanlah seorang jahat, walaupun wataknya kasar dan pemarah.
Kalaupun anak buahnya kini bertindak sewenang-wenang, itu terjadi di luar tahunya.
Para anak buahnya merasa sombong karena perkumpulan mereka seolah dilindungi oleh Pangeran Bian Kun, maka mereka bertindak sewenang-wenang.
Kalau ketua mereka mengetahui akan hal itu, tentu dia akan marah sekali karena Hek-tung Kai-ong adalah seorang yang tergolong datuk dan tidak pernah melakukan perbuatan sesat.
Ketika Cin Lan dan Pek I Lokai tiba di depan rumah gedung perkumpulan Hek-tung Kaipang, yang berjaga di depan segera mengenalnya.
Berita tentang dihajarnya tiga orang anggauta Hek-tung Kai-pang, bahkan kemudian dihajarnya dua orang pimpinan mereka, yaitu murid-murid dari ketua mereka, sudah mereka dengar dan kini mereka dapat menduga siapa adanya gadis cantik dan kakek pengemis berpakaian putih itu.
Maka, mereka mengambil sikap bermusuhan dan sudah siap dengan tongkat mereka mengepung.
Jumlah mereka ada belasan orang.
Pek I Lokai mengangkat tangan ke atas.
"Tenanglah, kami datang dengan maksud baik. Cepat panggilkan ketua kalian, kami ingin bicara dengan ketua kalian!"
Kata Pek I Lokai dengan suara tenang dan sabar.
Sementara itu Cin Lan memandangi mereka mencari-cari pengemis muda yang kemarin merampas gelangnya.
Akan tetapi ia tidak melihat orang itu di antara mereka.
Seorang di antara para anggauta Hek-tung Kai-pang sudah lari ke dalam untuk melaporkan kepada ketua mereka.
Hek-tung Kai-ong tentu saja tidak pernah dilapori tentang perkelahian kemarin, maka dia merasa heran ketika mendengar bahwa di luar ada seorang gadis dan seorang kakek pengemis berpakaian putih hendak menemuinya.
"Persilakan mereka mernasuki ruangan samping!"
Katanya singkat.
Hek-tung Kai-ong adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tinggi besar dan pada saat itu dia sedang melatih seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang tampan dan berpakaian indah.
Pemuda ini adalah Bian Hok, putera Pangeran Bian Kun yang menjadi murid ketua pengemis itu.
"Suhu, bolehkah aku ikut mendengarkan pertemuan itu?"
Tanya Bian Hok yang merasa tertarik juga mendengar bahwa ada seorang gadis dan seorang kakek hendak menemui gurunya.
"Tentu saja boleh, Bian-kongCu. Mari kita ke ruangan samping."
Ruangan samping itu merupakan ruangan tamu yang luas dan biasa juga suka dipakai untuk mengadakan perternuan besar dengan para anggauta.
Mereka berdua tiba lebih dulu di ruangan itu dan duduk menanti.
Setelah menanti sebentar, masuklah Cin Lan dan Pek I Lokai diiringkan beberapa orang anggauta Hek-tung Kai-pang.
Dan ketika Cin Lan melihat Bian Hok, ia mengerutkan alisnya diam-diam terkejut.
la sudah mengenal pemuda itu dan beberapa kali pernah bertemu karena ayah mereka keduanya adalah pangeran.
Sebaliknya, Bian Hok juga heran dan kaget melihat bahwa gadis itu bukan lain adalah Tang Cin Lan, gadis remaja yang sudah lama digandrunginya.
"Hai, Adik Tang Cin Lan! Kiranya engkau yang datang?"
Serunya dengan girang. Cin Lan menanggapi sambutan gembira itu dengan dingin. saja.
"Aku pun p tidak mengira bahwa engkau akan berada di sini, Bian-kongcu!"
La sengaja menyebut kongcu, sebutan yang menunjukkan bahwa ia tidak bersedia bersikap akrab dengan pemuda itu.
Memang, ayahnya dahulu pernah menganjurkan agar ia menyebut twako, akan tetapi karena menemukan pemuda ini di sarang pengemis-pengemis yang kurang ajar itu, hatinya tidak senang dia sengaja menyebut kongcu.
Akan tetapi, agaknya Bian Hok tidak merasakan ini dan dia berkata girang kepada gurunya.
"Suhu, nona ini adalah Tang Cin Lan-siocia, puteri dari Paman Pangeran Tang Gi Su!"
Mendengar ucapan ini, Hek-tung Kai-ong lalu memberi hormat kepada Cin Lan dan berkata.
"Maafkan karena tidak tahu akan kunjungan Siocia, kami terlambat nnenyambut. Silakan duduk Siocia."
Dengan sikap yang angkuh Cin Lan mengangguk, lalu duduk dan menarik ta-ngan Pek I Lokai sambil berkata.
"Duduklah, Suhu."
Kini tiba giliran Bian Hok yang memandang heran.
Dia tahu bahwa Cin Lan adalah seorang gadis yang gagah, yang diajar silat oleh para jagoan dar istana.
Akan tetapi dia tidak mengira bahwa gadis itu kini mempunyai guru aeorang kakek pengemis pula.
Pek I Lokai duduk pula walaupun belum dipersilakan tuan rumah.
Melihat sikap sederhana dari kakek berpakaian putih itu, Hek-tung Kai-ong tidak berani memandang rendah.
Sambil duduk dia pun memberi hormat dan berkata.
"Tidak tahu siapakah saudara tua ini? Dari golongan mana dan siapakah namanya? Ada keperluan apa datang berkunjung ke gubuk kami?"
Pek I Lokai tersenyum dan meman-dang ke sekeliling. Lucu juga rumah se-besar ini disebut gubuk! "Aku bukan dari golongan mana-mana dan orang menyebutku Pek I Lokai."
Hek-tung Kai-ong nampak terkejut. Dia pun pernah mendengar nama besar Pek I Lokai di selatan dan baru sekarang dia bertemu dengan orangnya.
"Ah, kiranya Pek I Lokai yang nama-nya terkenal di sepanjang Sungai Kuning? Selamat datang di tempat kami. Dan ada urusan penting apakah yang membawa Lokai datang berkunjung?"
Pek I Lokai memandang tajam.
"Engkau tentu Ketua Hek-tung Kai-pang, bukan?"
"Benar, orang menyebutku Hek-tung Kai-ong,"
Kata ketua itu dengan suara merendah, tanpa merasa bangga atau sombong. Agaknya dia seorang yang jujur.
"Pantas, seorang kai-ong (raja pengemis) menempati istana seperti ini! Begini, Kai-ong, kedatanganku ini untuk mernberi teguran kepadamu atas tindakan anak buahmu yang sungguh di luar kepantasan!"
Sepasang mata yang besar itu terbelalak, wajah yang keren itu menjadi kemerahan dan hidung yang besar itu kembang-kempis. Tentu saja Hek-tung Kai-ong marah sekali mendengar ucapan itu.
"Pek I Lokai, engkau hendak mengatakan bahwa aku telah mengajar kepada anak buahku untuk bertindak tidak pantas, begitu?"
"Beberapa orang murid dan anak buahmu memang bertindak tidak pantas sekali, habis Suhu harus berkata bagaimana?"
Tiba-tiba Cin Lan yang sejak tadi menahan kemarahannya berseru. Hek-tung Kai-ong kini nnemandang kepadanya.
"Siocia, perbuatan tidak pantas yang manakah dilakukan anak buahku? Pekerjaan mereka hanya minta sedekah dari orang-orang yang murah hati, apakah perbuatan itu dapat disebut tidak pantas?"
Cin Lan mendahului suhunya.
"Kalau hanya minta sedekah, hal itu adalah hal biasa dan kami tidak akan mempersoalkan lagi. Akan tetapi kemarin ketika aku , bersama ibuku pergi ke Kuil Kwan-im-bio, tiga orang anak buahmu yang masih muda-muda bersikap kurang ajar kepadaku. Mereka bukan hanya minta sedekah, bahkan berani mereka merampas gelang kemala yang kupakai, kemudian bahkan w berani mengeroyok aku. Apakah perbuatan ini pantas, Hek-tung Kai-pangcu? Hayo jawab, apakah ini pantas?"
Menghadapi serangan kata-kata dari Cin Lan, Hek-tung Kai-ong tertegun.
"Benarkah kejadian seperti itu?"
Tanyanya perlahan dan dengan nada suara khawatir kalau-kalau berita itu benar adanya.
"Apa kaukira aku berbohong kepada-mu? Tiga orang anak buahmu itu n-ienge-royokku, dan dapat kuhajar mereka lari tunggang-langgang, membawa lari getang kemalaku. Akan tetapi lalu datang Si Pendek Gendut yang menyerangku dengan tongkatnya!" _a "Ahh....!"
Hek-tung Kai-ong berseru kaget.
"Untung ada Tiong Hwi Nikouw yang membantuku. Kemudian datang lagi seorang muridmu yang tinggi besar mengeroyok Tiong Hwi Nikouw. Kalau saja Suhu tidak cepat datang dan mengusir mereka, tentu aku dan Tiong Hwi Ni-kouw telah celaka. Nah, Pangcu, katakan apakah perbuatan anak buahmu ini pantas? Merampas gelang dan menyerang wanita, juga nikouw?"
Melihat gurunya nampak bingung, Bian Hok lalu berkata.
"Siauw-moi, harap tenang dulu. Urusan ini harus diselidiki dulu kebenarannya, baru Suhu dapat mengambil keputusan."
Hek-tung Kai-ong sudah begitu marahnya sehingga dia mengeluarkan teriakan keras sekali memanggil anak buahnya yang berada di luar.
Dua orang anak buah tergopoh-gopoh lari berdatangan ke dalam ruangan itu.
"Tahu kalian siapa diantara dua orang muridku yahg berkelahi di depan Kuil Kwan-im-bio?"
Bentaknya. Dua orang anak buah itu ketakutan, dan seorang di antara mereka menjawab dengan suara gemetar,"
"Saya... saya hanya mendengar saja, Pangcu. Kabarnya Ciu-twako dan Thio-twako yang berkelahi."
"Cepat cari mereka dan panggil ke sini menghadap, sekarang juga."
"Baik... baik... Pangcu....!"
Dua orang itu lalu berlari keluar. Setelah mereka berdua keluar, Cin Lan berkata kepada Hek-tung Kai-ong.
"Pangcu, aku pun menuntut agar gelang kemalaku dikembalikan. Awas, kalau tidak dikembalikan, aku akan minta kepada Ayah agar mengerahkan pasukan untuk membasmi Hek-tung Kai-pang yang berkedok pengemis akan tetapi melakukan perbuatan seperti perampok!"
Pedas sekali ucapan gadis itu dan Hek-tung Kai-ong menjadi semakin gelagapan. Bian Hok lalu tersenyum dan sambil berkata.
"Aih, Siauw-moi, harap bersabar dulu. Apa yang dilakukan anak buah itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Suhu, yaitu Ketua Hek-tung Kai-pang. Dan kalau benar mereka berbuat kesalahan, percayalah, Suhu tentu akan, menghukum mereka. Urusan sekecil ini perlu apa harus memusingkan ayahmu, Paman Pangeran Tang? Bisa menjadi buah tertawaan orang banyak. Kalau benar gelangmu dirampas, tentu akan dapat kau terima kembali."
"Kalau benar, kalau benar! Engkau beberapa kali mengatakan kalau benar. Memangnya kauanggap omonganku semua itu bohong belaka?"
Bentak Cin Lan sambil melototkan matanya kepada Bian Hok.
"Cin Lan-siocia, bersabarlah. Urusan ini dapat diurus dengan sabar, bukan de-ngan kemarahan,"
Kata Pek I Lokai, menyebut siocia karena berada di depan orang lain.
"Biarlah kita melihat bagaimana Hek-tung Kai-pangcu menangani urusan ini. Dan kepadamu, Hektung Kai-ong, ini merupakan pelajaran yang amat berharga. Agaknya engkau kurang ketat mengamati kelakuan para muridmu hingga engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan di luar. Para pengemis hidup dari belas kasihan orang, belas kasihan masyarakat. Karena itu, sudah menjadi kewajiban setiap orang pengemis untuk membalas budi kebaikan masyarakat itu. Dengan cara apa? Dengan menjaga agar kehidupan masyarakat tenteram, membantu dengan menjaga agar jangan ada kejahatan terjadi di masyarakat. Kalau ada pengemis membuat keja-hatan di masyarakat, itu namanya tidak tahu diri, sudah ditolong malah membalas dengan kejahatan."
Bian Hok mengerutkan alisnya dan memandang kepada Pek I Lokai, lalu berkata angkuh.
"Pek I Lokai, sudah kukatakan tadi, perlu diselidiki lebih dulu duduknya perkara. Jangan terlalu mendesak Suhu yang sebetulnya tidak tahu apa-apa. Kalau memang ada anak buah Hek-tung Kai-pang yang bersalah, Suhu tentu akan menghukum mereka dan meminta maaf kepada Adik Tang Cin Lan."
Terdengar langkah-langkah kaki di luar lalu muncullah dua orang pengernis.
Cin Lan mengenal mereka sebagai Si Pendek Gendut dan Si Tinggi Besar yang lihai, yang kemarin mengeroyok Tiong Hwi Nikouw dan kemudian dikalahkan oleh Pek I Lokai.
Dua orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ketua mereka yang juga guru mereka dengan sikap takut.
Mata Hek-tung Kai-ong melotot ketika melihat dua orang murid ini berlutut di depannya.
Dengan suara mengguntur dia berkata.
"Apa yang kalian lakukan di depan Kuil Kwan-im-bio kemarin"
Hayo ceritakan yang sebenarnya, kalau oerbo-hong akan kuhancurkan kepala kalian!"
Ketua itu menggebrak meja dengan marah. Si Pendek Gendut dengan suara gemetar lalu berkata.
"Harap Suhu mengampuni teecu. Teecu tidak berani berbohong. Kemarin, selagi teecu berjalan melakukan tugas, datang tiga orang murid teecu yang melapor bahwa rnereka dihajar oleh seorang nona di depan Kuil Kwan-im-bio. Melihat tiga orang murid teecu luka-luka, teecu menjadi marah dan cepat teecu pergi ke depan kuil itu. Teecu melihat nona itu...."
"Akulah nona itu!"
Teriak Cin Lan. Pengemis itu menoleh dan kembali menundukkan mukanya.
"Nona ini berada di depan kuil dan teecu segera menantangnya, untuk membalaskan tiga orang murid teecu yang dipukuli. Nona ini menerima tantangan teecu dan kami berkelahi. Lalu nikouw dari kuil itu maju melawan teecu dan ketika teecu terdesak, lalu datang Thio-suheng membantu... hanya itulah kejadian yang sesungguhnya, Suhu."
"Hayo kau ceritakan hal yang sebenarnya bagaimana!"
Kata ketua itu kepada pengemis yang tinggi besar. Pengemis itu lalu menunduk dan bercerita, suaranya tidaklah takut seperti sutenya karena dia merasa tidak bersalah.
"Teecu kebetulan lewat di depan kuil dan melihat Ciu-sute sedang bertanding dan terdesak hebat oleh nikouw tua itu. Lalu teecu membantu Sute. Setelah kami berdua hampir mengalahkannya, muncul seorang kakek berpakaian putih...."
"Suhuku inilah orangnya!"
Kemball Cin Lan membentak. Si Tinggi Besar melirik ke arah Pek I Lokai lalu dia menunduk lagi.
"Teecu berdua lalu bertanding mela-wan kakek berpakaian putih itu dai kami mengalami kekalahan. Hanya itulat yang terjadi, Suhu. Teecu berani bersumpah."
"Hemm, tahukah kalian mengapa tiga orang anggauta itu dihajar oleh Tang-siocia? Dan tahukah kalian siapa Tang-siocia ini? la adalah puteri dari Pangeran Tang Gi Su. Engkau, Cui Sek, berani engkau menyerang puteri pangeran?"
Si Gendut itu menjadi pucat wajahnya.
"Sungguh mati... teecu tidak tahu, teecu hanya tahu bahwa tiga orang murid teecu dipukuli seorang nona..."
Suaranya seperti meratap.
"Dan engkau tahu mengapa rnurid-muridmu dipukuli?"
"Teecu tidak tahu...."
"Tidak kautanyakan kepada murid-muridmu?"
"Teecu keburu marah... eh, maaf teecu tidak sempat....
"Keparat! Cepat panggil murid-muridmu itu ke sini. Cepat! Ketiganya harus dihadapkan ke sini sekarang juga!"
"Baik, Suhu!"
Si Gendut Pendek lalu menggelinding dari tempat itu. Demikian cepat larinya seolah dia menggelinding saking gendutnya.
"Hemm, baru sekarang ketahuan ya. Ingin aku melihat, bagaimana caranya Ketua Hek-tung Kai-pang menghukum murid-muridnya yang brengsek!"
Kata Cin Lan dengan suara mengejek.
Tak lama kemudian terdengar suara bergedebukan dan tlga orang anggauta Hek-tung Kaipang itu berjatuhan ke dalam didorong oleh guru mereka sendiri.
Cin Lan segera mengenal mereka sebagai tiga orang yang kemarin dihajarnya.
Be-kas tangannya masih nampak, ada yang benjol kepalanya ada yang bengkak biru pipinya.
Ingin ia menghardik mereka, akan tetapi tangannya dipegang dengan halus oleh gurunya dan ia pun berdiam diri karena suhunya berkedip kepadanya.
Diam-diam Pek I Lokai merasa suka kepada Ketua Hek-tung Kai-pang itu yang agaknya dapat bersikap jujur dan adil.
"Hei, kalian bertiga. Apa yang kalian lakukan kemarin di depan Kuil Kwan-im-bio terhadap seorang nona?"
Tiga orang itu saling pandang dan mereka tidak berani mengeluarkar kata-kata! Karena mereka tahu telah berbuat suatu pelanggaran besar, maka mereka kini hanya menundukkan kepalanya.
"Ampunilah hamba, Pangcu , terdengar suara mereka lirih. Karena mereka tidak menjawab Hek-tung Kai-ong menjadi semakin marah. Dia lalu memandang kepada Cin Lan. Siocia, harap suka katakan tuduhan Siocia kepada mereka,"
Katanya. Dengan suara lantang Cih Lan berkata.
"Ketika aku dan ibuku berada di luar kuil, tiga orang jembel busuk ini minta sedekah. Ibu telah memberinya, akan tetapi secara kurang ajar mereka minta supaya aku juga memberi sedekah. Aku tidak mau karena ibu sudah memberi. Lalu yang kurus berbibir tebal berhidung pesek seperti monyet itu, tiba-tiba merenggut gelang kemalaku dan mengantonginya. Aku menjadi marah dan kami berkelahi. Kuhajar mereka dan akhirnya mereka melarikan diri."
Setelah Cin Lan berhenti bercerita, ketua itu membentak.
"Kalian sudah mendengar semua itu? Benarkah apa yang dituduhkan nona itu kepada kalian?"
Tiga orang itu lalu menelungkup di atas lantal.
"Ampunkan kami, Pangcu...., kami tidak berani berbuat demikian lagi.... Hek-tung Kai-ong melotot dan memandang kepada Ciu Sek yang menjadi pucat sekali wajahnya mendengar apa yang telah dilakukan oleh tiga orang murid rnereka, Merampas gelang, dari seorang puteri pangeran lagi! "Ciu Sek, engkau mendengar sendiri kelakuan tiga orang muridmu! Hayo kau-laksanakan hukumannya agar semua orang melihat bahwa Hek-tung Kai-pang bukan perkumpulan perampok dan penjahatl"
"Baik, SuhuJ"
Kata Si Gendut dan dia lalu memanggil tiga orang muridnya itu.
"Kalian ke sini, merangkak cepat!"
Dengan tubuh gemetaran tiga orang itu merangkak menghampiri guru -nereka. Si Gendut itu memandang kepadc murid yang kurus dan berhidung pesek yang merampas gelang kemala milik Cin Lan.
"Engkau yang merampas gelang kemala"
"Be... benar, Suhu... ampun, Suhu"
Kata Si Kurus.
"Di mana sekarang gelang itu? Kembalikan!"
"Tidak... tidak mungkin, Suhu... sudah dirampas orang lain"
"Bangsat! Julurkan tanganmu! Si Gendut mengambil sebatang golok dari punggungnya dan siap untuk membabat putus lengan tangan perampas gelang kemala itu. Akan tetapi sebelurm golok yang terayun itu mengenai pergc langan lengan tangan, nampak sinar hitam berkelebat.
"Tranggg...!"
Golok itu terpental. Ternyata yang menangkis golok itu adalah tongkat bainbu di tangan Pek I Lo-kai.
"Nanti dulu....!"
Kata Pek I Lokai.
"Aku melihat sesuatu yang tidak wajar pada wajah orang ini."
Semua orang memandang kepada perampas gelang itu dan tiba-tiba saja orang itu terkulai dan wajahnya berubah menghitam dan ketika diperlksa, ternyata dia telah tewas!
Tentu saja sennua orang merasa heran dan Hek-tung Kai-ong bertanya kepada dua orang anggauta yang lain.
"Kemarin setelah dia merampas gelang kemala, lalu apa yang terjadi dengan dia?"
"Pangcu, dia lari ke pasar untuk menjual gelang itu, akan tetapi dia bertemu dengan seorang siluman betina... yang, merampas gelang kemala itu...."
"Hayo cerita yang jelas. Siluman betina yang bagaimana dan apa yang telah terjadi?"
Bentak Sang Ketua yang tidak sabar.
Dia heran dan juga penasaran sekali melihat bahwa pundak anggauta yang tewas itu terdapat sebuah titik merah dan agaknya itulah yang membuatnya tewas seperti yang keracunan.
Dua orang itu, bantu-membantu, lalu bercerita.
Ketika mereka melarikan diri karena kalah oleh Cin Lan, mereka bertemu guru mereka, Ciu Sek dan mereka melapor bahwa mereka dipukuli seorang nona di depan Kuil Kwan-im-bio.
Setelah melapor dan guru mereka lari ke arah kuil, mereka bertiga lalu pergi ke pasar dengan maksud menjual gelang kemala dan membagi uang penjualannya.
Ketika mereka tiba di pasar dan sedang mena-warkan gelang kemala kepada seorang saudagar di tempat terbuka, tiba-tiba terdengar suara wanita dari atas!
"Ha-ha-ha, gelang curian, jangan di-beli.
Pembelinya bisa masuk penjara se-bagai tukang tadah!"
Demikian suara itu.
Tiga orang pengemis itu terkejut sekali dan saudagar itu pun pergi, tidak jadi membeli.
Ketika mereka melihat ke atas pohon di dekat situ, mereka melihat seorang gadis cantik duduk nongkrong di dahan pohon, mereka tadinya mengira gadis itu Cin Lan yang tadi menghajar mereka.
Mereka hendak lari dan gadis itu berseru.
"Heii, pencuri byslik, hendak lari ke mana engkau?"
Tiga orang itu berhentt dan karena mendengar suara gadis ity berbeda, seperti nada suara orang selatan, mereka segera mengenal bahwa gadis itu sama sekali bukan Cin Lan, biarpun gadis itu }uga cantik jelita.
Marahlah mereka, ter-utama sekali Si Perampas Gelang.
Mereka baru saja dihajar seorang gadis, maka kini melihat ada gadis lain berani mem-permainkan mereka, tentu saja kemarahan mereka ditumpahkan kepada gadis di atas pohon itu.
"Hei, siluman busuk, turun kau kalau berani!"
Bentak Si Pencuri Gelang.
"Baik, aku turun, hendak ku lihat engkau mau apa?"
Gadis itu melompat dengan ringan sekali ke depan Si Pencuri Gelang dan sekali ia menggerakkan ta-ngannya, ia telah dapat merampas gelang kemala itu dari tangan Si Hidung Pesek.
Pengemis ini marah, lalu menubruk dan berhasil merangkul pinggang Si Gadis, akan tetapi tiba-tiba dia berteriak dan roboh terpelanting.
Gadis itu tertawa dan mengambil seekor ular merah dari kalungan lehernya.
Ternyata ular itu telah menggigit pundak Si Hidung Pesek dan melihat gadis itu memegang ular, Si Hidung Pesek yang merasa kesakitan lalu rneloncat bangun dan melarikan dirl, dikejar oleh dua orang kawannya.
"Demikianlah, Pangcu, apa yang kami alami kemarin. Tadinya A-siong hanya merasa gatal-gatal di pundaknya saja dan sama sekali kami tidak menyangka akan begini hebat racun itu."
"Ciu Sek, A-siong sudah mendapatkan hukumannya sendiri atas perbuatannya yang jahat. Tinggal dua orang mundmu belum kauhukum,"
Kata Ketua Hek-tung Kai-pang dengan suara bengis.
Agaknya ketua ini belum merasa puas kalau semua yang bersalah belum dihukum.
Ciu Sek yang sudah kehilangan se-orang muridnya yang tewas secara me-ngerikan itu, lalu berkata kepada dua orang muridnya.
"Kalian tidak merampok, akan tetapi juga membantu perbuatan A-siong yang tidak baik, maka harus dihukum pula. Ulurkan tangan kiri kalian!"
Dua orang murid itu dengan takut-takut mengulur tangan kiri mereka dan tiba-tiba Ciu Sek menggerakkan tangannya membuat gerakan membacok dua kali.
Terdengar suara krek-krek dua kali dan tulang lengan kiri kedua orang murid itu patah!
"Bagus, dan sekarang kalian dua orang muridku yang lancang menyerang puteri pangeran, membela murid-murid yang bersalah, tidak lepas dari hukuman pula.
Ulurkan tanganmu, aku sendiri yang akan mematahkan lenganmu!"
Pada saat itu, Bian Hok bangkit ber-diri dan berkata kepada gurunya.
"Suhu, kesalahan Ciu-suheng dan Thio-suheng tidaklah seberat itu. Mereka tidak ber-buat jahat, hanya kurang teliti saja. Maka, harap Suhu suka melihat mukaku dan memberi ampun kepada mereka. Asalkan mereka sudah menampar muka sendiri tiga kali lalu minta maaf kepada Tang-siocia, kiranya sudah cukup untuk memberi peringatan kepada mereka."
Hek-tung Kai-ong menghela napas.
"Masih untung kalian ada Bian-kongcu vang mintakan maaf. Cepat laksanakan hukuman itu. Tampar muka kalian tiga kali dan minta maaf kepada Tang-siocia!"
Si Gendut dan Si Tinggi Besar itu diam-diam merasa lega karena hukuman mereka ringan saja. Mereka lalu menampari muka sendiri sampai biru, lalu keduanya menjura ke depan Cin Lan.
"Tang-siocia, mohon maaf sebanyaknya atas kesalahan kami,"
Kata mereka, Cin Lan merasa puas dengan cara hukuman itu.
"Nah, dengan begini barulah aku dapat mengatakan bahwa Hek-tung Kai-pang bukan perkumpulan perampok!"
Akan tetapi lalu dilanjutkan.
"Cuma sayang sekali gelang kemalaku lenyap dirampas orang lain yang tidak kita ketahui siapa yang membawanya.
"Maaf, Siocia. Kami berjanji akan melakukan penyelidikan dan kalai kami berhasil merampas kembali gelang kemala itu, pasti akan kami haturkan kepada Siocia."
"Baik, mari kita pergi, Suhu."
"Harap Pek I Lokai tunggu sebentar!"
Kata Ketua Hek-tung Kai-pang itu dan dla menyuruh para muridnya pergi sambil membawa mayat A-siong. Setelah mereka semua pergi, tinggal mereka berempat yang berada di situ, Cin Lan menegur.
"Pangcu, ada apa lagi? Kenapa Pang-cu menahan Suhu?"
Tanyanya penasaran. Hek-tung Kai-ong tersenyum melihat kegalakan puteri pangeran itu.
"Nona, urusan dengan Nona sudah selesai, bukan? Sekarang saya hendak bicara sebentar dengan Pek I Lokal."
"Hemm, kalau begitu silakan!"
Kata Cin Lan. Pek I Lokai tersenyum.
"Agaknya engkau masih merasa penasaran kepadaku yang telah mengalahkan dua orang muridmu itu. Benarkah demikian, Hek-tung Kai-ong?"
Wajah ketua itu menjadi kemerahan.
"Sungguh aku merupakan seorang yang tidak tahu diri. Kita berdua sama-sama golongan pengemis, dan sudah lama sekali aku mendengar nama Pek I Lokai yang terkenal lihai sekali. Maka, setelah kebetulan Lokai berada di sini, tentu aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mohon sedikit petunjuk dalam ilmu silat. Terutama sekali ilmu tongkat, yaitu ilmu yang diagungkan oleh kita golongan pengemis. Bagaimana, Lokai? Sukakah engkau bermurah hati untuk memberi petunjuk kepadaku dalam hal ilmu tongkat?"
Ketua itu sungguh seorang yang jujur akan tetapi juga cerdik.
Sudah terang bahwa dia menantang, akan tetapi kata tantangan itu disembunyikan di balik kata-kata "mohon petunjuk".
Kalau Pek I Lokai menolak, hal itu dapat dimaksudkan bahwa dia takut atau memandang rendah, keduanya mer pakan hal yang tidak enak baginya.
Maka, dia pun lalu tertawa.
"Tang-siocia, tuan rumah mengajak aku untuk menguji kepandaian, bagaimana menurut pendapat Siocia?"
Cin Lan yang mengetahui akan kehebatan ilmu kepandaian gurunya, dengan bangga menjawab.
"Kalau orang sudah menantang, maka tidak baik kalau ditolak, Suhu. Kadangkadang perasaan paling kuat mendorong orang untuk bersikap sewenang-wenang, maka perlu dibuka matanya bahwa ada orang-orang lain yang lebih kuat darinya."
"Ha-ha-ha, pandangan Siocia memang tepat sekali. Akan tetapi seorang seperti aku ini yang sudah tua dan lemah, bagaimana akan mampu menandingi seorang seperti Hek-tung Kaiong?"
Mendengar ucapan gadis itu, Hek-tung Kai-ong menjadi merah mukanya.
Biarpun dia sendiri tidak pernah menggu-nakan kepandaiannya, akan tetapi jelas murid-murid dan para anggautanya telah memamerkan kekuasaan dengan perbuatan yang sewenang-wenang maka dia pun tidak dapat menjawab apa-apa.
Melihat ini, Bian Hok segera tersenyum dan berkata.
"Suhu, Pek I Lokai sudah siap untuk rne-nandingi ilmu tongkat Suhu. Kalau kalian dua orang tua mau memperlihatkan ilmu tongkat masing-masing, hal itu akan membuka mata kami yang muda-muda bukankah demikian, Tang-siauw-moi?"
Hek-tung Kai-ong lalu bangkit berdiri dan menjura kepada Pek I Lokai.
"Marilah, Lokai, hitung-hitung kita memberi petunjuk kepada murid-murid kita bagai-mana seharusnya bermain tongkat."
Pek I Lokai juga bangkit dan menyeret tongkatnya menghampiri tuan rumah yang sudah berada di tengah ruangan yang luas ..itu.
"Baiklah, Kai-ong. Ingat bahwa engkaulah yang mengajak menguji ilmu tongkat, bukan aku. Aku hanya melayanimu saja."
Hek-tung Kai-ong melintangkan tong-katnya di depan dada dan berkata dengan suara lantang.
"Lokai, bersiaplah!"
Pek I Lokai berdiri dengan santai dan menjawab.
"Majulah, Kai-ong."
Hek-tung Kai-ong memutar tongkatnya dan berseru.
"Lokai, lihat seranganku!"
Dan dia pun menggerakkan tongkatnya menyerang dengan dahsyat sekali.
Akan tetapi dengan sikap masih tenang Pek I Lokai menangkis serangan itu dan membalas.
Kedua orang kakek itu segera saling serang dengan tongkat mereka.
Mula-mula kedua orang murid yang hadir di situ, yaitu Bian Hok dan Cin Lan, dapat mengikuti semua gerakan tongkat dengan baik dan dapat melihat bahwa kedua orang tua itu memiliki kepandaian yang setingkat.
Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, mereka berdua tidak lagi dapat mengikuti gerakan tongkat mereka.
Gerakan itu demikian cepatnya sehingga bentuk.
tongkat lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang lebar.
Mereka hanya melihat sinar hitam bergulung-gulung dengan sinar kehijauan, dan dapat menduga bahwa sinar hitam tentulah tongkat hitam di tangan Hek-tung Kai-ong sedangkan sinar hijau ada-lah sinar tongkat bambu di tangan Pek I Lokai.
Bahkan bayangan dua orang itu tidak dapat dilihat jelas karena mereka berkelebatan dan tertutup sinar tongkat.
Akan tetapi mereka dapat melihat beta-pa gulungan sinar hitam kini terdesak mundur dan semakin sempit.
Tiba-tiba sinar hitam itu meluncur keluar dari pertandingan dan nampak Hek-tung Kai-ong memegang tongkat hitamnya dengan muka agak pucat dan wajah serta lehernya penuh keringat.
Pek I Lokai juga nampak dan kakek itu masih kelihatan biasa saja, tenang dan santai, tidak terengah-engah seperti lawannya.
Hek-tung Kai-ong memberi hormat kepada Pek I Lokai.
"Nama besar Pek I Lokai bukanlah nama kosong belaka. Aku Hek-tung Kai-ong mengakui keunggulanmu, Lokai!"
"Aih, Hek-tung Kai-ong terlalu merendah. Ilmu tongkatmu yang hebat!"
Kata Pek I Lokai sambil tersenyum.
"Nah, sekarang kami minta diri, dan semoga mulai sekarang engkau lebih mengawasi sepak terjang para murid dan anggauta perkumpulanmu."
"Jangan khawatir, Lokai. Urusan seperti yang terjadi kemarin tidak akan terulang kembali."
"Selamat tinggal."
"Selamat jalan!"
Pek I Lokai lalu pergi bersama Lan yang merasa bangga karena gurunya mendapat kemenangan. Setelah tiba di luar, gadis itu berkata.
"Suhu, tadi Suhu telah mendapatkan kemenangan, mengapa tidak menghajar ketua sombong itu de-ngan satu dua kali gebukan?"
Pek I Lokai tersenyum.
"Cin Lan, tidak boleh bersikap kejam kepada se-orang yang telah mengakui kesalahannya. Dan ilmu tongkat dari Hek-tung Kai-ong bukanlah rendah. Dia jujur dan tahu diri, sebelum terkena gebukan dia sudah keluar dari pertempuran tadi dan mengakui kekalahannya. Maka engkau harus berhati-hati kalau kelak bertemu dengan ilmu tongkatnya itu. Mari, kita pulang dan mulai hari ini akan kuajarkan engkau ^ ilmu tongkatku."
"Sayang gelang kemalaku tidak kudapatkan kembali, Suhu."
"Amat berhargakah gelang itu?"
"Bukan harganya, Suhu. Akan tetapij gelang itu pemberian ibuku dan harus kusimpan baik-baik. Heran, siapakah yang telah mengambil gelangku itu?"
"Aku pun curiga sekali mendengar cerita mereka tadi. Seorang gadis yang membawa ular merah? Ular merah yang gigitannya dapat membunuh orang seperti itu amat langka. Ah, apakah itu Ang-hoa-coa (Ular Bunga Merah)? Kalau Ang-hoa-coa... ah, tidak mungkin ia...."
Kakek itu mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Siapa yang Suhu maksudkan?"
"Teringat akan Ang-hoa-coa, aku jadi ingat kepada seorang tokoh wanita yangi memiliki ular merah seperti itu. Akan tetapi tidak mungkin. la bukanlah se-orang gadis remaja, melainkan seorang wanita setengah tua. Bukan, tentu bukan ia. Tak mungkin seorang tokoh besar seperti ia itu akan merampas sebuah gelang kemala dan melukai seorang anggauta Hek-tung Kaipang rendahan."
"Siapa yang Suhu maksudkan dengan orang Itu?"
Sebelum menjawab, kakek itu memandang ke kanan kiri seperti seorang yang merasa jerih.
"la... Ang-tok Mo-!' (Iblis Betina Racun Merah)."
Lalu dilanjutkan dengan cepat.
"Sudahlah, tidak balk membicarakan orang dan aku tidak percaya bahwa ia yang mengambil gelang-mu. Biar para pengemis itu yang men-carinya. Mereka yang bertanggung jawab untuk mengembalikan gelangmu Itu. Mari kita pulang!"
Guru dan murid itu lalu berjalan cepat menuju ke Kuil Kwan-im-bio. Semen-tara itu, Bian Hok yang merasa penasaran bertanya kepada gurunya.
"Suhu, bagaimana pendapat Suhu dengan ilmu tongkat kakek berbaju putih tadi?"
Hek-tung Kai-ong menghela napas panjang lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas kursinya.
"Ahhh, memang bukan nama kosong belaka. Ilmu tongkatnya luar biasa sekali. Terus terang saja, selamanya baru ini hari aku melihat ilmu tongkat yang mampu menandingi ilmu tongkatku. Engkau harus berlatih dengan tekun dan rajin, Kongcu. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang yang lihai. Tergantung kepada kita sendiri untuk memperoleh ilmu yang tangguh."
Akan tetapi Bian Hok nampak termenung.
Dia memang sudah lama menaruh hati kepada Tang Cin Lan dan kini agaknya gadis itu telah menemukan seorang guru yang pandai.
Bagaimanapun juga, dia tidak boleh kalah oleh gadis itu.
Bagaimana mungkin seorang calon suami kalah oleh calon isterinya?
Dia mengharapkan kelak menjadi suami gadis yang amat menarik hatinya itu.
juga, dia tidak boleh kalah oleh gadis itu.
Bagaimana mungkin seorang calon suami kalah oleh calon isterinya?
Dia mengharapkan kelak menjadi suami gadis yang amat menarik hatinya itu.
Gadis itu berusia kurang lebih enam belas tahun, cantik jelita dan nampak wajahnya selalu riang gembira dengan sinar mata yang berkilat penuh gairah hidup dan mulutnya yang selalu tersung-ging senyuman di bibirnya.
Pakaiannya berkembang-kembang ramai dan cerah.
Di pinggangnya melingkar sebuah sabuk hitam.
Rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir dua dan ditekuk menjadi sanggul yang rapi di belakang kepalanya, diikat dengan pita merah.
Hidungnya yang mancung agak menjungat ke atas itu menambah kemanisan wajahnya dan nampak lucu dan menarik.
Kalau ia ter-senyum, hidung itu berkembang-kempis dan bagaikan menjungat lebih ke atas lagi, seperti yang menantang!
Manis sekali.
Dara remaja itu bersenandung sarnbil melangkah mendaki lereng bukit itu.
Tangannya mengenakan sebuah gelang kemala dan kedua tangannya memegang beberapa tangkai kembang mawar yang tadi dipetiknya di tepi jalan.
la berada di lereng bukit di luar kota raja, nampak bergembira sekali walaupun berjalan seorang diri di jalan yang sunyi itu.
Tiba-tiba dara itu berhenti di bawah sebatang pohon dan menundukkan mukanya.
Sejenak ia memperhatikan suara di sekelilingnya, lalu ia tersenyum sambil mengangkat mukanya dan terdengar ia berseru riang.
"Wah, di sini agaknya banyak anjing srigalanya!"
Baru saja dia berkata demikian, dari empat penjuru menyambar senjata-senjata rahasia yang banyak sekali, seperti jarum, paku dan piauw (semacam senjata rahasia runcing bentuk kerucut).
Senjata-senjata itu meluncur ke arah tubuh dara itu dan tiba-tiba saja tubu'h itu menghilang!
Kini bermunculan banyak sekali pengemis Hek-tung Kai-pang di tempat itu.
Jumlah mereka ada tlga puluh orang, mengepung pohon itu.
Dan mereka dipim-pin oleh Ciu Sek dan suhengnya, Thio Seng, pengemis yang pendek gendut dan tinggi besar itu.
Tadinya ada anggauta pengemis yang melihat gadis itu berjalan seorang diri keluar dari pintu gerbang kota raja.
Dia cepat lari melapor dan mendengar ini, Ciu Sek dan Thio Seng cepat mengerahkan tiga puluh orang anak buah dan melakukan pengejaran dan tadi mereka menyerang gadis itu dengar senjata rahasia.
Ketika gadis itu tiba-tiba lenyap, mereka terkejut sekali dan cepat mengurung tempat itu.
Kiranya gadis itu sudah berada di atas dahan pohon dengan kedua kaki terjulur ke bawah dan digoyang-goyang seperti seorang anak kecil sedang menon-ton keramaian di bawah pohon.
Tadi Thio Seng dan Cia Sek menyuruh anak buah mereka menyerang dengan senjata rahasia karena mereka sudah mendengar akan kelihaian gadis itu.
Apa-lagi gadis ini telah membunuh seorang anggauta perkumpulan, maka membunuh gadis ini pun tidak halangan bagi mereka!
Ketika Thio Seng melihat gadis itu duduk di atas dahan pohon, dia segera menyuruh orangorangnya mengepung pohon itu dengan ketat dan dia sendiri lalu memandang ke atas dan berseru ke-ras.
"Hei, kamu nona yang berada di pohon. Engkau telah mencurl gelang kemala kami. Cepat kembalikan kepada kami dan mari ikut kami menghadap ketua kami, baru kami dapat memberi ampun kepadamu!"
"Hi-hik, anjing-anjing srigala memang pandai menyalak dan menggonggong. Jembel-jembel pencuri dan perampok, kalau aku tidak mau menyerahkan gelang dan tidak mau turut dengan kalian, habis kalian mau apa?"
"Engkau tidak akan dapat terlepas dari tangan kami. Kau telah dikepung ketat. Turunlah dan menyerahlah. Engkau sudah membunuh seorang anggauta kami dan hanya ketua kami yang akan memu-tuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan kepadamu."
"Aaaah, itukah? Ahggauta kalian itli kurang ajar, berani memeluk pinggangku. Karena kekurangajarannya maka dia tergigit oleh ular peliharaanku. Bukankah dia mati karena kesalahannya sendiri? Mengapa menyalahkan aku? Dan gelang ini, aku tahu bahwa seorang pengennis seperti dia tidak mungkin memiliki gelang seindah ini. Tentu dia telah rnencuri, mencopet, atau merampok. Dan aku mengambil darinya karena benda itu bukan haknya. Mengapa kalian ribut-ri-but? Dia tadinya hendak menjual gelang ini. Nah, biarlah aku yang membelinya dan kalian boleh membagi-bagikan uang ini!"
Gadis itu mengambil segenggam beberapa keping uang receh dan melenmparkan uang receh itu ke bawah.
Melihat lagak dara itu, Ciu Sek dan Thio Seng menjadi semakin marah.
Gadis itu amat menghina mereka.
Biarpun me-reka itu golongan pengemis, akan tetapi bukan pengemis biasa, melainkan anggau-ta-anggauta dari Hek-tung Kai-pang.
"Nona, kalau engkau tidak segera turun dan menyerah, kami akan menyeretmu turun dan menggunakan kekerasan untuk menangkapmu!"
Bentak Ciu Seng si pendek gendut dengan marah.
"Hi-hi-hik! Engkau yang gendut seper-ti itu mana bisa memanjat pohon?"
Dara itu tertawa, kemudian mengeluarkan sebatang suling perak dan mulailah ia meniup suling.
Suling itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan menyanyikan sebuah lagu yang aneh namun merdu.
Thio Seng tak dapat menahan kesa-barannya lagi.
Dia memberi isarat kepa-da anak buahnya dan empat orang lalu berebutan memanjat pohon itu untuk menyeret Si Gadis yang bengal.
Akan tetapi sebelum mereka tiba di dahan yang diduduki gadis itu, yang berada agak tinggi, tiba-tiba mereka berteriak ketakutan dan berjatuhan dari atas pohon, berdebuk dan tanah mengebulkan debu.
Mereka berempat mengaduh-aduh dan ada kaki tangan yang salah urat karena terjatuh dari tempat setinggi itu.
"Ular hitam besar... Hhiiiiihh!"
Mereka bergidik.
Ternyata ketika mereka tadi sudah dekat dengan Si Gadis, dari pinggang gadis itu merayap seekor ular hitam yang panjang.
Kiranya sabuk hitam gadis itu adalah seekor ular hidup!
Dan di lehernya melingkar pula ular merah yang telah membunuh anggauta pengemis yang berani memeluk pinggangnya, yaitu A-siong yang telah tewas.
Setelah empat orang itu terjatuh, ular hitam lalu mera-yap kembali dan melingkar di pinggang yang ramping itu.
Melihat empat orang anak buahnya jatuh dari pohon, Thio Seng menjadi semakin marah.
Dia dan Ciu Sek saja yang memiliki kepandaian untuk ineloncat ke atas.
Dia memberi isarat kepada sutenya dan mereka berdua dengan tongkat di tangan lalu meloncat ke atas, ke arah dahan di mana dara itu duduk dengan kaki tergantung.
Mereka meloncat dan menggerakkan tongkat untuk menyerang.
Akan tetapi tiba-tiba gadis itu menggerakkan tangannya dan ular hitam itu telah dipegangnya dan dipergunakai un-tuk menangkis dua batang tongkat itu.
Ekor ular itu menangkap kedua tongkat dan sekali renggut kedua tongkat itu terlepas dari tangan kedua orang pengemis itu yang dengan terkejut sekali terpaksa melayang lagi ke bawah tanpa tongkat!
Gadis itu tertawa dan sekali dia menggerakkan tangan, kedua tongkat itu meluncur turun dan roenancap di atas tanah.
Thio Seng niarah sekali.
"Hayo "tebang pohon ini!"
Perintahnya dan semua pengemis beramai-ramai menghampiri batang pohon untuk menebangnya. Akan tetapi kini suara suling itu itu lengking-lengking dan segera terdengar teriakan para pengemis.
"hiiihhh, ular-ular, ular banyak sekall....!"
Benar saja, dari empat penjuru ber-datangan banyak sekali ular yang menuju ke arah pohon itu.
Itulah ular-ular yang datang terpanggil oleh suara suling!
Melihat baunya yang amis, dapat diduga bahwa di antara rombongan ular itu ter-dapat banyak ular berbisa.
Maka berserabutanlah para pengemis itu melarikan diri.
Bahkan Thio Seng juga terpaksa menjauhkan diri karena ngeri.
Sekali saja digigit uiar berbisa berarti nyawa melayang.
Dara itu terdengar tertawa lagi.
Kemudian nanipak ia meloncat turun melayang ke bawah, kemudian melanjutkan perjalanannya pergi sambil meninp suling dan ular-ular itu mengikutinya seperti serombongan domba yang jinak!
Tiga puluh orang pengemis yang dipimpin Thio Seng dan Ciu Sek itu hanya memandang dan sama sekali tidak berani mengejar.
Malah mereka segera pulang untuk me-laporkan peristiwa yang mengerikan itu kepada ketua mereka.
Mendengar laporan anak buahnya Hek-tung Kai-ong mengerutkan alisnya .
"Dara itu bersenjatakan ular dan dapat memanggil banyak ular dengan sulingnya? Aneh sekali! Sepanjang pendengaranku, yang memiliki ilmu kepandaian memanggil ular seperti itu hanyalah Ang-tok Mo-li. Akan tetapi ia bukan seorang gadis remaja, melainkan seorang wanita setengah tua."
Dia menjadi bingung.
Kembalinya gelang kemala itu merupakan tanggung jawabnya.
Kalau gelang kemala itu terjatuh ke tangan seorang dara yang demikian tangguhnya, dan yang mungkin sekali ada hubungannya dengan Ang-tok Mo-li, bagaimana mungkin dia dapat merampasnya kembali?
Dia tahu orang macam apa Ang-tok Mo-li itu, seorang datdk wanita yang berilmu tinggi dan ditakuti orang.
Mungkin dia dapat meng-hadap dan minta dengan baik-baik, akan tetapi bagaimana kalau wanita iblis itu menolaknya?
Apalagi dia belum pasti bahwa yang mengambil gelang kemala itu ada hubungannya dengan Ang-tok Mo-li.
Melihat suhunya bingung, kembali Bian Hok yang menghiburnya.
"Suhu, tidak usah Suhu bingung. Biarlah aku yang akan menemui Tang-siocia dan gurunya, lalu menceritakan bahwa gelang itu dirampas oleh Ang-tok Mo-li. Biar mereka sendiri yang melakukan permintaan kembali atau perampasan dari tangan iblis betina itu. Mendengar ini, Hek-tung Kai-ong merasa terhibur dan menghaturkan terima kasih kepada muridnya itu. Siapakah dara yang bengal dan aneh itu. Benar dugaan Hek-tung Kai-ong. la adalah murid Ang-tok Mo-li yang bernama Bu Lee Cin. Kita pernah bertemu dengan gadis itu ketika masih berusia dua belas tahun, yaitu ketika Ang-tok Mo-li ber-tanding melawan Jeng-ciang-kwi. Lee Cin yang menolong Thian Lee waktu akan disiksa oleh gurunya sendiri. Bu Lee Cin adalah seorang anak perempuan yang sejak kecil sekali celah dipelihara Ang-tok Mo-li. la sendiri tidak tahu siapa ayah bundanya. Menurut keterangan gurunya, ayah ibunya telah meninggal dunia dan sebagai anak yatim piatu yang sudah tidak memiliki keluarga lagi, ia dipungut dan dipelihara Ang-tok Mo-li sebagai niuridnya, digembleng de-ngan ilmu-ilmu silat yang tinggi, bahkan juga diberi pelajaran ilmu menguasai ular dan memainkan suling memanggil ular-ular. Sebagai seorang ahli racun yang pandai, Ang-tok Mo-li juga mengajarkan penggunaan segala macam racun dan obat pemunahnya kepada Lee Cin. Kini, dalam usianya yang enam belas tahun, Lee Cin telah menjadi seorang dara remaja yang bengal dan berkepandaian hebat. Ketika ite, Ang-tok Mo-li sedang bertapa dan mempelajari semacam ilmu baru dan kesempatan ini dipergunakan o!eh Lee Cin untuk pergi bermain-main ke kota raja karena tempat pertapaan gurunya itu di sebuah bukit yang tidak jauh dari kota raja. Setibanya di kota raja, di pasar ia melihat A-siong dan kawan-kawannya menjual gelang kemala. la tertarik, dapat menduga bahwa itu tentu gelang curian maka ia merampasnya. Tak disangkanya, Asiong berhasil memeluk, pinggangnya dan pengemis muda itu menjadi korban gigitan Anghwa-coa. Biarpun ia murid seorang datuk wanita sesat yang berjuluk Iblis Betina, namun Lee Cin bukanlah seorang anak yang berhati kejam. Melihat ada orang digigit Ang-hwa-coa, ia ingin memberikan obat penawarnya. Akan tetapi para pengemis itu sudah lari berhamburan dan ia tidak tahu harus ke mana mencari orane yang tergigit ular. Terpaksa ia pun membiarkannya saja dan menganggap bahwa salah A-siong sendiri yang merangkul pinggangnya sehingga tergigit oleh Ang-hwa-coa. Lee Cin bukan anak yang jahat hanya ia memang bengal dan suka menggoda orang. Setelah ia mendaki bukit dan tiba di puncak, melihat gurunya sudah selesai dengan pertapaannya dan gurunya mengajaknya melanjutkan perjalanan.
"Lee Cin, dahulu aku melawan Jeng-ciang-kwi aku terkena pukulan mautnya. Akan tetapi setelah aku menguasai ilmuku yang baru ini, lain kali kalau aku bertemu dengannya, aku pasti akan dapat membunuhnya. Kalau engkau rajin dan tekun belajar, kelak akan kuajarkan ilmu baru ini kepadamu,"
Kata Ang-tok Mo-Li yang memang amat sayang kepada muridnya itu.
Tentu saja Lee Cin merasa girang sekali dengan janji gurunya.
Ka-rena gurunya memelihara dan mendidiknya sejak ia masih kecil sekali, dan karena gurunya amat menyayangnya, timbul pula rasa sayang dalam hati Lee Cin terhadap gurunya, juga ia taat dan hor-mat kepada gurunya.
Ang-tok Mo-li adalah seorang datuk persilatan wanita yang datang dari barat.
Dahulu ia membuat nama besarnya di daerah Sin-kang di mana ia dianggap sebagai datuknya.
Ketika ia terjun ke dunia kang-ouw di timur, namanya rnenjadi semakin terkenal karena jarang ada orang yang mampu menandinginya.
la mempunyai seorang sute yang berjuluk Hek-kak-liong (Naga Bertanduk Hilam) yang kemudian tewas di tangan Jeng-ciang-kwi dalam sebuah pertandingan memperebutkan kekuasaan.
Inilah sebab-nya mengapa Ang-tok Mo-li mencari Jeng-ciang-kwi untuk membalas dendam atas kematian sutenya itu, namun ia gagal, bahkan ia sendiri terluka parah walaupun ia dapat pula melukai Jeng-ciang-kwi.
Kini datuk wanita itu memilih lembah Sungai Huang-ho sebagai tempat tinggal.
Di sebuah bukit, di lembah Huang-ho, ia mendirikan sebuah rumah besar dan tinggal di situ bersama muridnya.
Ia juga mempunyai sembilan orang anak buah atau pelayan yang dila-tih silat untuk melayaninya dan juga menjaga rumah.
Akan tetapi wanita petualang ini sering kali meninggalkan rumah untuk merantau bersama muridnya.
Kini ia juga sedang merantau dan bertapa di bukit dekat kota raja itu untuk mempelajari ilmu barunya.
Setelah ilmu itu dapat dikuasainya, baru ia mengajak muridnya untuk pulang ke Bukit Ular, sama sekali tidak tahu bahwa di kota raja, muridnya telah membuat ribut dengan orang-orang Hek-tung Kai-pang.
Lee Cin sama sekali tidak mau mengganggu gurunya dengan cerita tentang gelang kemala itu.
"Hemm, dari mana engkau memperoleh gelang kemala itu, Lee Cin?"
Gurunya bertanya ketika melihat gelang itu melingkar di lengan kiri muridnya.
"Ah, inikah, Subo? Ini saya dapat merampas dari tangan seorang pencuri,"
Jawab Lee Cin singkat dan subonya tidak bertanya lagi. Bagi datuk sesat ini, merampas atau mencuri bukanlah hal yang aneh dan patut untuk diselidiki atau dibicarakan.
"Lain kali, kalau merampas barang, haruslah yang berharga, bukan hanya gelang kemala seperti itu,"
Katanya singkat.
"Teecu suka sekali gelang ini, Subo,"
Jawab Lee Cin singkat pula dan gelang itu tidak lagi, dibicarakan.
Mereka lalu berangkat menuju ke selatan, kembali ke Bukit Ular yang sudah beberapa bulan lamanya mereka tinggalkan.
Betapa kuasanya Sang Waktu.
Segala sesuatu di alam mayapada ini, semua akhirnya tunduk kepada Sang Waktu.
Anak kecil menjadi orang tua, yang tua meninggal dunia, segala sesuatu berubah dan ditelan oleh Sang Waktu!
Tidak ada yang tidak tunduk di bawah kekuasaan Sang Waktu.
Semuanya berubah, berubah, dan berubah.
Tidak ada yang kekal di dunia ini.
Yang kekal hanyalah Yang Maha Kekal, Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak terpengaruh oleh waktu, karena waktu adalah alat belaka yang dipergunakan oleh Tuhan untuk mengubah segala sesuatu.
Tahun-tahun melesat seperti anak panah lepas dari busurnya.
Tanpa dirasa-kan, tiga tahun telah lewat sejak Cin Lan digembleng oleh Pek I Lokal.
Dara yang tadinya memang sudah mendapat bimbingan dari para jagoan istana itu, yang memiliki bakat yang baik, kini te-lah menjadi seorang gadis berusia dela-pan belas tahun yang berilmu tinggi.
la telah menguasai ilmu tongkat Hok-mo-tung (Tongkat Penaluk Iblis) yang diajarkan oleh Pek I Lokai di sampai cara menghimpun sin-kang yang cuku kuat , dan juga ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang membuat gadis itu dapat bergerak seringan burung.
Pada suatu pagi, seperti biasa seminggu sekali, Cin Lan pagi-pagi sekali telah datang ke Kuil Kwan-im-bio untuk menemui gurunya.
Akan tetapi tidak seperti biasanya, Pek I Lokai pagi itu menyambutnya dengan wajah agak muram.
"Cin Lan, engkau telah dapat menguasai Hok-mo-tung dengan baik dan semua ilmu yang kukuasai telah kuajarkan kepadamu. Engkau selama ini menjadi murid yang tekun dan rajin sehingga memuaskan hatiku. Akan tetapi, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah. Sudah tiga tahun aku berada di sini dan aku akan melanjutkan perjalananku."
"Suhu, mengapa begini tiba-tiba? Seminggu yang lalu Suhu beJum mengatakan sesuatu tentang keinginan Suhu untuk pergi!"
Kata Cin Lan terkejut. Gurunya tersenyum.
"Memang telah terjadi sesuatu. Telah datang seorang musuh lamaku yang hendak menantangku. Akan tetapi aku sudah jenuh untuk bertanding ilmu silat, muridku. Pertandingani seperti itu hanya menanamkan dendam saja bagi yang kalah. Musuh ini sudah dua kali kalah olehku, akan tetapi selalu saja dia mencariku untuk mengajak bertanding lagi, untuk menebus kekalahan-kekalahannya yang lalu. Aku jemu, Cin Lan."
"Akan tetapi, Suhu. Kalau dia memaksakan kehendaknya, memang harus dilawan dan diberi hajaran!"
Kata gadisi itu dengan penasaran. Watak Cin Lan memang pemberani.
"Kalau Suhu tidak menerima tantangan lalu melarikan diri tentu Suhu akart dianggap penakut dan pengecut. Suhu, kalau perlu biarlah aku yang mewakili Suhu menandinginya!"
Katanya lagi dengan sikap gagah. Pek I Lokai mengangkat telunjuk kanannya.
"Cin Lan, lupakah engkau akan semua pesanku. Ilmu silat bukan untuk mencari permusuhan, bukan untuk berke-lahi, melainkan untuk membela diri. Kalau tidak diserang orang, tidak perlu kita mendahului menonjolkan ilmu silat. Dan pula, jangan engkau memandang remeh musuh ini. Dia memiliki ilmu silat yang tinggi. Dulupun hanya kalah sedikit saja olehku. Sekarang dia tentu sudah menam-bah ilmu pengetahuannya dan belunn tentu aku sendiri dapat menangkan dia. Maka jangan kaucobacoba untuk melawannya."
"Ha-ha-ha-ha, engkau benar sekali, Pek I Lokai! Dan aku pun tidak sudi melawan muridmu, apa lagi kalau ia seorang anak perempuan yang masih kecil!"
Tiba-tiba terdengar suara yang lantang sekali, seolah yang bicara telah berada di dalam kuil itu. Akan tetapi suara itu terdengar dari tempat yang jauh.
"Ah, terlambat juga...."
Pek I Lokai mengeluh, bukan karena takut, melainkan karena menyesal bahwa sekali lagi dia harus melayani musuh.
"Ingat, Cin Lan. Kalau engkau melihat aku bertanding dengan orang itu, jangan sekali-kali engkau mencampurinya. Selain dia berbahaya sekali bagimu, juga aku tidak suka bertindak curang dengan melakukan pengeroyokan."
Setelah berkata demikian, kakek itu menyeret tongkat bambunya dan melangkah keluar dari kuil.
Cin Lan cepat mengikuti gurunya dan ternyata orang yang bicara tadi belum tiba di depan kuil.
Akan tetapi ada angin menyambar dan tiba-tiba di depan suhu-nya telah berdiri seorang kakek yang usianya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun.
Kakek itu tubuhnya kurus dan bongkok, rambut kumis dan jenggotnya sudah putih semua.
Seperti juga Pek t Lokai, kakek itu memegang sebatang tongkat bambu, akan tetapi bambu il,y adalah bambu kuning.
Itulah Jeng-ciang kwi, datuk dari Guha Tengkorak di Lembah Iblis Kwi-san!
Watak Jeng-ciang-kwi memang aneh.
Setiap kali mendengar ada seorang tokoh kang-ouw yang lihai, tentu tokoh itu dia a datangi untuk diajak bertanding ilmu silat.
Demikian pula, ketika dahulu mendengar akan nama.
besar Pek I Lokai, dia mencari kakek pengemis itu untuk diajak bertanding, apalagi mendengar bahwa kakek itu memiliki ilmu tongkat yang sukar dicari bandingannya.
Dalam pertan-dingan pertama kali itu, dia kalah!
Akan tetapi sudah menjadi watak Jeng-Ciang-kwi yang sukar menerima kekalahan dia melatih diri lagi, kemudian setelah lewat tiga tahun, dia mencari lagi Pek I Lokai dan menantang lagi.
Dan ternyata walaupun selisih ilmu tongkat mereka tidak banyak, akhirnya dia kalah lagi, bahkan menderita luka pada pahanya.
Dia bukannya jera dengan kekalahan ke dua ini, bahkan belajar lagi memperdalam ilmu tongkatnya dan ini hari, lima tahun setelah kekalahannya yang ke dua dia dapat mencari Pek I Lokai untuk menantang lagi.
Kini kedua orang kakek Itu sudah berhadapan lagi.
"Jeng-ciang-kwi, mau apa engkau datang mencariku?"
Tanya Pek I Lokai.
"Ha-ha-ha, bukankah kemarin sudah kukirim berita kepadamu?"
"Benar, aku sudah menerima berita darimu bahwa engkau hendak datang mencariku, akan tetapi dengan maksud apa?"
"Jangan seperti anak kecil, Pek I Lokai. Apa lagi maksudku kalau bukan menantang engkau untuk mengadu ilmu? Dan sekarang ini aku harus dapat menang!"
Pek I Lokai menghela napas panjang.
"Engkaulah yang seperti anak kecil, Jeng-ciang-kwi. Apakah tidak akan ada habisnya mengadu kepandaian? Apa perlunya? Kalau engkau irigin menang, biarlah sekarang juga aku mengakui kekalah-anku darimu."
"Tidak!"
Tiba-tiba suara Jeng-ciang-kwi menggelegar.
"Sudah dua kali engkau mengalahkan aku, sekarang aku datang untuk menebus kekalahan dan kau harus menandingi aku!"
"Kalau aku tidak mau melawanmu?"
"Aku tetap akan menyerangmu dengan tongkatku!"
"Kalau aku tidak mengelak atau menangkis?"
"Heh-heh, jangan memancingku dengan segala akal busukmu untuk menghindarkan diri dari pertandingan. Kalau engkau tidak mengelak atau menangkis engkau akan mati di bawah pukulan tongkatku!"
Pek I Lokai menghela napas lagi. Jeng-ciang-kwi. Engkau terlalu memaksaku, Baiklah, aku akan melayanimu, akan tetapi hanya dengan satu perjanjian."
"Perjanjian apakah?"
"Engkau harus berjanji bahwa pertadingan antara kita ini yang terakhir kalinya. Kalah atau menang, kali ini yang terakhir dan lain kali engkau tidak akan mencariku untuk menantang lagi."
"Ha-ha-ha, baik, aku berjanji tidak akan menantangmu lagi. Pertandingan ini yang terakhir bagiku. Ha-ha, bagaimana tidak akan menjadi pertandingan terakhir kalau sekali ini engkau yang kalah? Mari kita mulai!"
Jeng-ciang-kwi melintangkan tongkat bambu kuningnya di depan dada.
Pek I Lokai juga mempersiapkan tongkatnya karena dia tahu benar bahwa musuh yang dihadapinya ini adalah seorang yang sakti dan berilmu tinggi.
"Pek I Lokai, lihat seranganku!"
Tiba-tiba Jeng-ciang-kwi sudah menyerang. Serangannya dahsyat sekali, bukan saja cepat, akan tetapi juga mendatangkan angin pukulan yang hebat. Pek I Lokai menggerakkan tongkatnya menangkis.
"Desss....!"
Biarpun keduanya hanya tongkat bambu, akan tetapl ketika bertemu di udara, bukan main hebatnya, rnendatangkan getaran yang terasa oleh Cin Lan yang menonton pertandingan itu dengan hati cemas.
Kemudian muncul pula Tiong Hwi Nikouw, ketua Kuil Kwan-im-bio, yang berdiri di samping Cin Lan.
Juga wajah Nikouw ini narnpak gelisah karena agaknya ia tahu benar bahwa pertandingan yang terjadi di halaman kuil itu merupakan pertandingan antara dua orang ahli yang amat lihai sehingga dapat dibilang merupakan pertandlngan antara hidup dan mati, Kini pertandingan berjalan semakin cepat sehingga bagi orang lain tentu tidak akan mampu mengikutinya.
Bahkan Tiong Hwi Nikouw sendiri menJadi pusing mengikuti jalannya pertandingan.
la sudah tidak dapat membedakan mana kawan mana Jawan saking cepatnya dua orang kakek itu bergerak.
Mereka seoiah terbungkus dua gulungan sinar yang sama lebarnya.
Akan tetapi Cin Lan yang su-dah mewarisi ilmu yang tinggi dari gurunya, dapat mengikuti jalannya pertandingan itu.
la menjadi semakin cemas karena benar seperti yang dikatakan gurunya, musuh ini luar biasa tangguhnya.
Gerakan tongkatnya berisi tenaga sinkang yang kokoh kuat sehingga beberapa kali tongkat di fangan gurunya terpental.
Akan tetapi Pek I Lokai tidak sampai terdesak karena ilmu tongkat Hok-mo-tung itu memang memlliki keistimewaan, terutama sekaii kalau menghadapi ilmu tangguh dari lawan.
Pertandingan berjalan seru dan men-capai puncaknya setelah lewat dua ratus jurus!
Cin Lan menyesal sekali melihat gurunya beberapa kali mengalah.
la meli-hat beberapa kali Jengciang-kwi membuat lowongan yang bisa dimasuki, akan tetapi gurunya tidak menggunakan kesempatan ini dan itu hanya berarti bahwa gurunya tidak ingin mencari kemenangan, bahkan mengalah.
Ketika Jeng-ciang-kwi menusuk dengan tongkatnya dengan pengerahan tena-ga sepenuhnya, Pek I Lokai menangkis, juga dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
"Krakkk!"
Dua tongkat bambu itu bertemu dan keduanya hancur berkeping-keping.
Akan tetapi pada saat itu, Jeng-ciang-kwi melepaskan tongkatnya dan menghantam dengan tangan kanannya ke arah dada Pek I Lokal dengan kuat sekali.
"Plakkk!"
Tilbuh Pek I Lokai tidak bergeming, akan tetapi pada saat yang sama Pek I Lokai menolakkan tangan kanannya ke pundak Jeng-ciang-kwi dan tubuh kakek itu terpental sampai beberapa meter jauhnya!
Jeng-ciang-kwi terkejut sekali dan dia merangkak bangun, mukanya pucat sekali dan jelas bahwa dia telah terluka di bagian dalam tubuhnya.
"Pek I Lokai, kau... kau... memang hebat...."
Katanya terengah-engah, lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dengan cepat. Cin Lan merasa girang sekali. la lari mnghampiri gurunya dan berkata.
"Suhu, engkau menang!"
Akan tetapi tiba-tiba Pek I Lokai mendekap dadanya, mengeluh dan tentu roboh terguling karena pingsan kalau saja Cin Lan tidak cepat memeluknya.
Tiong Hwi Nikouw juga lari menghampiri dan melihat keadaan kakek itu, ia membantu Cin Lan membawa Pek I Lokai ke dalam kuil.
Kakek itu direbahkan di atas pembaringan, dan setelah memeriksa sejenak, Tiong Hwi Nikouw menghela napas panjang dan menggeleng kepala, nampak gelisah sekali.
"Bagaimana, Sukouw? Bagaimana keadaan Suhu7"
Tanya Cin Lan dengan khawatir.
Sambil menggeleng kepala perlahan Tiong Hwi Nikouw yang paham ilmu pengobatan itu berkatat "Wah, lukanya parah sekali.
Pukulan dari Jeng-ciang-kwi itu amat hebat.
Sukarlah mencari obat untuk dapat menyembuhkan luka seperti itu.
Obat kuat yang ada yang bisa didapatkan hanya akan memperingan penderitaannya saja, tidak akan dapat menyembuhkannya.
Akan tetapi aku akan memberinya obat peringan penderitaan itu."
"Ah, Sukouw. Apakah kalau begitu nyawa Suhu tidak dapat ditolong lagi?"
Tanya Cin Lan dan otomatis kedua matanya menjadi basah.
"Memang ada obatnya, akan tetapi alangkah sukarnya dan bahkan hampir tidak mungkin didapatkan!"
"Apa itu, Sukouw? Katakan, apa itu obat yang kiranya dapat menyembuhkan Suhu?"
"Ada semacam buah yang disebut sian-tho yang hanya tumbuh di Pulau Ular Emas. Kabarnya buah sian-tho itu dapat menyembuhkan luka dalam yang bagaimanapun hebatnya. Kabar itu seperti dongeng saja dan pinni sendiri belum pernah melihatnya. Juga tidak tahu apakah kabar itu hanya kabar bohong atau benar-benar."
"Pulau Ular Emas? Di mana itu?"
"Di tlmur terdapat Lautan Po-hai. di sanalah pulau itu, di antara pulau-pulau lainnya. Para nelayan tentu tahu di mana pulau itu. Akan tetapi perjalanan itu berbahaya sekali...."
"Tidak pedull bagaimana bahayanya aku akan pergi ke sana mencari buah sian-tho!"
Kata Cin Lan dengan suara tegas.
"Akan tetapi berbahaya sekali bagimu. Entah kalau engkau membawa pasukan ke sana...."
"Tidak! Ayah tentu melarang kalau aku menggunakan pasukan. Biar aku pergi sendlri!"
"Akan tetapi bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu, Siocia. Di sana terdapat sebuah pulau lain yang amat ditakuti orang, yaitu Pulau Naga. Semua orang di dunia kang-ouw juga segan melewati pulau itu karena takut bertemu dengan penghuni Pulau Naga. Sebaiknya kalau Siocia menyuruh saja seorang mencari ke sana."
"Tidak, aku sendiri yang harus mencarinya. Sukouw, tentu Sukouw mengetahui tentang kebaktian, bukan? Suhu telah demikian baik kepadaku. Selama tiga tahun Suhu melatih dan memberikan semua ilmunya kepadaku dan untuk itu, aku tidak pernah berbuat sesuatu untuknya. Kini Suhu berada dalam ancaman maut. Aku sebagai seorang yang mengenal budi harus menunjukkan kebaktianku kepada guruku. Akan tetapi Sukouw jangan mengatakan hal ini kepada siapapun juga. Kalau Ayah mengetahui, tentu dia melarangnya."
"Kalau Pangeran mengutus orang cari Nona ke sini?"
"Katakan saja tidak tahu ke mana aku pergi."
"Baiklah, Siocia."
Cin Lan lalu pulang ke rumahnya dan diam-diam berkemas, membawa buntalan pakaian dan uang untuk bekal, kemudian pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah pergi meninggalkan rumah orang tuanya dan langsung saja meninggalkan kota raja melalui pintu gerbang timur dan terus melakukan perjalanan cepat menuju ke timur, menunggang seekor kuda yang berbulu putih, kuda kesayangannya.
la membalapkan kudanya ke timur, dengan tekad di hati untuk mencarikan obat bagi gurunya ke Pulau Ular Emas.
Kebaktian timbul dari kasih sayang.
Kalau kebaktian tidak timbul dari kasih sayang, maka sangat boleh jadi kebaktian itu palsu adanya.
Ada kebaktian sebagai balas budi, ada pula kebaktian terhadap orang tua atau guru sebagai pelaksana kewajiban, atau bahkan ada yang agar supaya dikatakan orang bahwa dia se-orang yang berbakti, murid atau anak yang berbakti.
Akan tetapi semua itu palsu adanya.
Kebaktian yang sesungguh-nya timbul dari kasih sayang.
Kalau ada kasih sayang di hati, otomatis ada ke-baktian itu terhadap orang yang dikasihi.
Seorang anak yang benar-benar memiliki kasih sayang kepada orang tuanya, dia akan menjadi seorang anak yang benar-benar berbakti.
Kebaktian tidak dapat, diukur dengan benda atau harta, melainkan tercurah melalui sikap dan perbuat-an, dan pembelaan.
Biarpun ia seorang puteri pangeran yang semenjak kecilnya dimanja dan hidup berenang dalam kemewahan dan kecukupan, namun pada dasarnya Cin Lan adalah seorang anak yang berhati-baik, bahkan yang mewarisi jiwa kependekaran dari mendiang ayah kandungnya.
Maka, ia yang menyayang gurunya, melihat gurunya terancam maut, ia pun tidak ragu-ragu lagi untuk melakukan perjalanan berbahaya mencarikan obat bagi gurunya.
Seorang gadis sejelita Cin Lan, dalam usia delapan belas tahun, bagaikan bunga sedang mekarnya, tentu saja menarik perhatian banyak orang kalau melakukan perjalanan seorang diri.
Hampir setiap orang pria yang ditemuinya di jalan tentu memandangnya dengan mata penuh gairah dan kekaguman.
Namun Cin Lan tidak mempedulikan itu semua.
la membedal kudanya menuju ke timur.
Dengan cepat sekali kuda putih membawanya ke timur dan pada suatu hari tibalah ia di kota Tien-cin.
la menyewa sebuah kamar di rumah penginapan dan setelah makan malam, ia langsung tidur tidak pernah keluar lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia melanjutkan perjalanan, keluar dari kota Tien-cin menuju ke pantai lautan di timur.
Di pantai itu ternyata ramai, penuh dengan para pedagang dan tukang perahu yang menyewakan perahu untuk para pedagang.
Juga banyak terdapat nelayan.
Cin Lan berhenti di sebuah kedai makanan, menambatkan kudanya ke depan kedai lalu memasuki kedai itu, memesan nasi dan alr teh berikut bebe-rapa macam sayuran.
Semua tamu di kedai makan itu mengangkat muka memandang, namun Cin Lan tidak mempedulikan mereka.
Tak jauh dari tempat ia duduk, terdapat dua orang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan melihat keadaan mereka, agaknya mereka itu jagoan-jagoan atau orang-orang yang biasa bertindak ugal-ugalan mengandalkan kekuatan.
Mereka memang terkenal sebagai jagoan yang datang dari Tien-cin untuk pesiar ke pantai itu dan melihat seorang gadis demikian cantiknya memasuki rumah makan itu seorang diri, segera timbul maksud jahat mereka untuk menggoda.
Setelah saling berkedip kedua orang itu lalu bangkit dari tempat duduk me-reka.
Seorang di antara mereka bermata sipit sekali bermuka kuning sedang orang ke dua mukanya bopeng bekas penyakit cacar.
Mereka menyeringai ketika meng-hampiri meja Cin Lan.
Gadis ini masih tidak menyangka buruk ketika dua orang itu menghampiri mejanya, akan tetapi mereka menarik kursi dan duduk berhadapan dengan ia, semeja.
Barulah Cin Lan mengerutkan alisnya dan menegur.
"Kalian mau apa?"
"Heh-heh-heh, nona manis,"
Kata yang bopeng.
"Kami berdua merasa kasihan melihat Nona duduk sendin saja dan hendak menemani Nona makan minum . Benar, Nona. Nanti kami yang membayar harga makanannya. Begini lebih menggembirakan, bukan? . Tentu saja Cin Lan menjadi marah sekali mendengar ucapan itu, akan tetapi ia masih dapat menahan diri dan berkata dengan nada tegas dan kaku, Aku tidak ingin duduk makan bersama kalian dan tidak ingin kalian membayar harga makananku . Nona, jangan menjual mahal!"
Kata si Bopeng. Nona manis sendiri tentu kesepian,"
Kata si Mata Sipit. Kini Cin Lan menjadi marah. Ia bangkit berdiri.
"Pergilah kalian dan sini, jangan mencari gara-gara . Kalau kami mau duduk bersamamu, siapa yang berani melarang?"
Tantang Si bopeng. Hemmmm, boleh jadi aku masih bisa tinggal diam, akan tetapi empat orang kawanku tentu tidak mau menerima kalian,"
Kata Cin Lan dan mendengar ini, dua orang itu celingukan memandang ke kanan kiri, mencari-cari empat orang kawan itu.
"Mana itu empat orang kawanmu, kenapa engkau sendirian saja?"
Tanya Si Mata Sipit.
"Kedua pasang kaki dan tanganku inilah empat orang kawanku. Mereka tentu akan menghajar kalian berdua kalau tidak cepat meninggalkan aku!"
Bentak Cin Lan dan ketika itu banyak orang yang berada di rumah makan sudah tertarik dan rnenonton dari jarak jauh.
Mereka yang duduk dekat menjauh karena takut tersangkut.
Dua orang tukang pukul itu sudah terkenal di pantai itu sebagai orang-orang yang suka membuat ribut.
Mendengar jawaban gadis itu, dua orang itu tertawa bergelak.
"ha-ha-ha, engkau mengandalkan kaki tanganmu, Nona?"
Ejek Si Bopeng.
"Kaki dan tangan halus itu hanya layak untuk memijati tubuhku yang kelelahan!"
Kata Si Mata Sipit.
"Kalian tetap tidak mau pergi?"
Ancam Cin Lan dan melihat kedua orang itu tertawa semakin keras, Cin Lan menggerakkan kedua tangannya seperti kilat menyambar.
"Plok! Plok'"
Dua orang itu terpelanting keras karena pipi mereka sudah terkena tamparan tangan Cin Lan.
Mereka terkejut sekali, mengaduh dan cepat berloncatan bangun dengan marah.
Akan tetapi Cin Lan sudah menyambut mereka dengan dua kali tendangan yang menge-nal perut mereka.
Sekali ini mereka terjengkang menimpa meja kursi dan sampai lama baru mereka dapat bangun kembali.
"Masth kurang dan ingin dihajar lagi?"
Kata Cin Lan sambil menghampiri.
Akan tetapi dua orang itu sudah maklum bah-wa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang tangguh sekali, maka setelah dapat bangkit berdiri, mereka laiu mela-rikan diri keluar dari rumah makan itu duringi suara tawa banyak orang.
Peristiwa itu membuat Cin Lan kehilangan nafsu makannya, segala macam buaya darat rendahan datang mengganggu, pikirnya.
Pemilik rumah makan datang menghampirinya dan berbisik.
"Nona, mereka itu memiliki banyak kawan, aku khawatir mereka akan datang melakukan pembalasan dan bisa hancur rumah makan kami."
"Jangan khawatir, kalau mereka datang katakan kepadaku dan aku akan cepat keluar agar dapat menghajar mereka di luar rumah makan,"
Kata Cin Lan sambil melanjutkan makan minum dengan tenang. Setelah ia selesai makan perrulik rumah makan datang dengan muka keta-kutan.
"Nona, mereka datang belasan orang!"
Cin Lan cepat membayar harga rnakanan lalu melangkah lebar keluar dari rumah makan.
Benar saja, ia melihat dua orang tadi dengan muka masih bengkak karena tamparannya, datang bersama be-lasan orang yang kesemuanya kelihatan bengis dan kasar.
Cin Lan berhenti di dalam halaman depan rumah makan itu.
"Hemm, kalian mau apa? Mencari aku?"
Dua orang itu menuding kepadanya dan berkata kepada teman-temannya.
"Inilah setan perempuan itu!"
Mendengar ini, mereka semua mencabut golok dari pinggang dan mengepung Cin Lan yang menggendong buntalan pakaian.
Cin Lan tidak memegang senjata akan tetapi ia sama sekali tidak takut.
Begitu melihat sebelah kiri ada orang membuat gerakan pertama menyerangnya dengan golok, ia mengelak dan cepat sekali tangan kirinya menyambar dan sudah mengetuk ke arah siku kanan orang itu.
Seketika golok orang itu terlepas dan cepat ditangkap oleh Cin Lan.
Sekali kakinya menendang orang itu terlempar beberapa meter dan goloknya berada di tangan Cin Lan.
Gerakan itu demikian cepat dan seenaknya.
Orang-orang itu kelihatan penasaran dan marah sekali.
Sambil berteriak-teriak mereka ialu maju menyerang dan Cin Lan mengamuk dengan golok rampasannya.
Begitu tubuhnya berkelebat didahului sinar goloknya yang bergulung-gulung, terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan golok-golok beterbangan.
Setelah Cin Lan berhenti bergerak, tiga belas orang itu semua telah menderita luka di tangan dan pundak, dan golok mereka terlepas dari tangan.
Cin Lan berhenti di tengah-tengah dan memandang ke sekeliling.
Orang-orang itu kini melarikan diri, lupa untuk mengambil golok mereka.
Orang-orang yang menjadi penonton merasa kagum kepada Cin Lan akan tetapi gadis ini tidak peduli lagi, melainkan membuang golok rampasannya lalu menghampiri kudanya.
Dilepasnya tali yang ditambatkan ke batang pohon tadi dan dituntunnya kudanya menuju ke pesisir di mana ber-kumpul tukang-tukang perahu.
Para tukang perahu juga banyak yang rhenyaksikan ketika gadis itu mengamuk dan memberi hajaran kepada belasan orang penjahat tadi, maka kini mereka beramai-ramai menyambut gadis itu.
"Apakah Nona hendak menyewa perahu?"
Mereka menawarkan.
"Aku ingin menyewa perahu dari seorang yang berani mengantarkan aku ke Pulau Ular Emas. Siapa yang dapat dan berani?"
Tukang-tukang perahu itu terbelalak dan surut.
Mereka ketakutan mendengar disebutnya Pulau Ular Emas yang berada di belakang Pulau Naga.
Bukan Pulau Ular Emas yang mereka takuti, akan tetapi Pulau Naga.
Melihat mereka mundur ketakutan, Cin Lan mengerutkan alisnya.
"Harap jangah takut, aku akan melindungi tukang perahu yang berani mengantar aku ke sana!"
Akan tetapi tidak ada seorang pun yang berani menjawab.
"Aku akan memberi upah lima tail perak!"
Kata Cin Lan.
Upah ini besar sekali bagi para tukang perahu itu, akan tetapi tetap saja mereka hanya berbisik-bisik dan tidak berani.
Akhirnya seorang laki-laki berusia lirna puluhan tahun melangkah maju.
"Dengan upah lima puluh tall dan perlindungan Nona yang perkasa, saya berani mengantar Nona ke sana,"
Katanya, akan tetapi dengan wajah yang agak pucat karena sebetulnya dia pun merasa jerih.
Cin Lan memandang kakek itu.
Seorang yang tubuhnya maslh nampak kekar dalam usianya yang setengah tua itu, dan perahunya juga sebuah perahu yang masih baru dan utuh.
"Baiklah, Paman. Akan tetapi aku hendak menltipkan kudaku ini kepadamu. Di mana rumahmu dan adakah di sana orang yang akan mengurus kudaku sewak-tu kita pergi?"
"Ah, ada, Nona. Ada isteriku dan anakku yang akan merawat kudamu. Mari kita ke rumahku."
Mereka lalu pergi dan ternyata rumah itu tidak jauh dari situ.
Sebuah rumah nelayan sederhana dan melihat keadaan rumah yang miskin itu, Cin Lan segera mengeluarkan uang dan nnenyerahkan kepada isteri pelayan itu dengan pesan agar merawat kudanya baik-baik.
Atas nasihat nelayan itu, keberangkatan ke Pulau Ular Emas ditunda sampai besok pagi.
"Pelayaran ke pulau itu makan waktu sepertiga hari, Nona. Sebaiknya, klta berangkat besok pagl-pagi sehingga untuk pelayaran pulang pergi kita dapat kembali ke slni sore hari. Kalau berangkat sekarang kita akan kemalaman dan di waktu malam berbahaya sekali. Pada musim begini, kalau malam ombaknya besar."
Karena ia sendiri tidak mempunyai pengalaman naik perahu, terpaksa Cin Lan menurut dan malam itu"
Ia bermalam di rumah nelayan yang memberikan ka-marnya untuk tamu agung itu.
Biarpun kamar itu sederhana dan pembaringannya juga keras dan kasar, namun Cin Lan dapat tidur nyenyak karena ia telah melakukan perjalanan jauh dan tubuhnya terasa penat.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat.
Cin Lan meninggalkan semua bekal pakaian dan uang pada isteri neiayan dan untuk mem-bekali diri dengan senjata, ia mencari sebatang kayu dari pohon.
Batang kayu itu dibuatnya menjadi tongkat, senjata yang paling disenanginya karena dengan senjata tongkat itulah ia dapat melindungi diri paling baik karena ia sudah menguasai Hok-mo-tung-hoat.
Melihat semangat gadis yang perkasa itu, Si Tukang Perahu akhirnya juga berani dan dia melayarkan perahunya menuju ke tengah samudera.
Lautan Po-hai itu sebetulnya adalah sebuah teluk yang besar sekali.
Saking luasnya, sampai daratan di seberang tidak kelihatan sehingga nampaknya seperti lautan bebas saja.
Cin Lan yang tidak pernah naik perahu di lautan, segera menjadi agak mabuk ketika perahu diombang-ambingkan ombak.
Akan tetapi dengan duduk bersila di atas perahu, mengerahkan sin-kangnya, ia dapat menolak rasa mabuk itu.
Sudah dua jam perjalanan, di depan nampak sebuah pulau yang panjang dan hitam.
Melihat ini, tukang perahu kelihatan takut-takut dan berbisik.
"Nona, pulau itulah yang membuat semua tukang perahu ketakutan mendengar Nona hen-dak pergi ke Pulau Ular Emas."
"Itukah Pulau Ular Emas?"
Tanya Cin La^ samteU memandang ke arah pulau itu"
"Ah, bukan, Nona. Pulau Ular Emas M berada di belakang pulau itu. Itu adalah Pulau Naga yang ditakuti semua orang. Bahkan para nelayan juga tidak berani mencari ikan di dekat pulau itu."
"Kenapa, Paman? Apakah pulau ada setannya?"
"Lebih dari itu, Nona! Nona adalah seorang pendekar yang tentu mengenal dunia kang-ouw. Apakah Nona tidak tahu siapa majikan pulau itu?"
"Sungguh, aku tidak pernah mendengarnya, Paman. Coba ceritakan, siapa penghuni pulau itu? Siapa yang menjadi majikannya?"
"Mereka adalah keluarga Siangkoan yang amat terkenal, Nona. Bahkan majikan pulau itu disebut Raja Angin Timur. Semua bajak laut juga gemetar kalau mendengar namanya disebut. Keluarga Siangkoan itulah penghuni Pulau Naga itu. Sebaiknya kita mengambil jalan memutar saja, Nona. Agar aman."
"Tidak, Paman. Bahkan coba dekatkan perahu ke pantai Pulau Naga. Aku menjadi tertarik dan ingin sekali singgah di Pulau Naga yang aneh itu."
Mata pengemudi perahu itu terbelalak dan mukanya berubah pucat.
"Nona, saya belum ingin mati....!"
"Hush, siapa bicara tentang mati? Penghuni pulau itu bermarga Siangkoan, berarti mereka itu adalah manusia-manusia biasa. Kalau kita tidak melakukan suatu kejahatan, tentu mereka tidak akan marah kepada kita."
"Tapi, tanpa ijin mereka, tak seorang pun boleh melanggar wilayah mereka, Nona. Itu berarti kematian baei pelanggarnya!"
"Tidak mungkin! Kalau benar begitu, mereka itu orang-orang jahat yang pantas dibasmi dan aku akan membasmi mereka agar melenyapkan ancaman bagi para nelayan. Hayolah, jangan ragu, dekatkan perahu ini ke pulau itu!"
Dengan terpaksa sekali nelayan itu lalu melayarkan perahunya ke Pulau Naga.
Pulau itu pantas disebut Pulau Naga karena memang dari jauh kelihatan seperti seekor naga yang muncul di permukaan samudera.
Makin dekat, nelayan itu menjadi semakin ketakutan.
Setelah pulau itu dekat, tiba-tiba bermunculan lima buah perahu kecil yang didayung cepat sekali, tahu-tahu sudah mengepung perahu yang ditumpangi Cin Lan.
Tukang perahu menjadi semakin ketakutan dan bersembunyi di belakang Cin Lan sernentara gadis itu bangkit berdiri sambil memegang tongkatnya.
Sama sekali Cin Lan tidak merasa takut.
"Kalian mengepung perahu kami mau apakah?"
Bentaknya.
"Kami hanya kebetulan saja lewat di sini, tidak bermaksud jahat."
"Perahu Nona sudah melanggar perairan kami, maka Nona harus mendarat dan menghadap kongcu kami yang menunggu di pantai!"
Memang itu yang dikehendaki Cln Lan, yaitu mendarat dan melihat Pulau Naga.
Maka kepada nelayan itu dia memberi isarat supaya mendaratkan perahunya.
Dengan terpaksa sekali dan tubuh gemetar, nelayan itu menurunkan layar dan mendayung perahu ke darat, diiringkan lima buah perahu yang ditumpangi masing-masing dua orang yang kelihatan gagah dan kuat itu.
Setelah tiba di darat, Cin Lan melihat seorang pemuda berdiri di pantai sambil bertolak pinggang.
Seorang pemuda tampan gagah dan pakaiannya indah seperti pakaian seorang pemuda bangsawan saja!
la menjadi ter-tarik sekali dan sengaja ia memperlihatkan kepandaiannya.
Perahu itu terpisah dari darat masih beberapa meter jauhnya, akan tetapi Cin Lan mempergunakan keringanan tubuhnya, meloncat dan berjungkir balik lima kali baru tubuhnya turun ke depan pemuda itu dengan ringannya!
"Aha, kiranya Nona memiliki ilmu kepandaian yang lumayan juga.
Pantas berani mendekati pulau kami.
Apa perlunya Nona mendekati pulau kami?"
Tanya pemuda itu, suaranya terdengar halus akan tetapi mengandung teguran dan matanya seperti melahap wajah dan bentuk tubuh Cin Lan.
"Aku sengaja mendekati pulau ini untuk melihat apakah penghuninya manusia biasa ataukah iblis. Aku mendengar bahwa orang yang mendekati pulau ini tanpa ijin akan dibunuh, maka aku menjadi tertarik untuk mengunjunginya!"
Kata Cin Lan dengan sikap menantang.
"Nona, pulau ini adalah milik keluarga kami. Sebagai milik pribadi tentu saja kami melarang orang datang berkunjung tanpa ijin kami. Aku adalah Siangkoan Tek, putera majikan pulau ini. Siapakah Nona yang berani lancang nnelanggar wilayah kami?"
"Hemm, aku bernama Tang Cln Lan. Nah, aku sudah melanggar wilayah kalian, lalu engkau mau apa?"
Nada suarate Cin Lan menantang sekali karena ia merasa penasaran bahwa ada orang yang demikian sombongnya sehingga melarang orang berkunjung ke pulau itu, bahkan perairannya pun dibatasi.
"Kami mempunyai sebuah peraturan, Nona. Siapa yang berani melanggar wilayah kami, harus mengadu ilmu dengan kami. Melihat engkau masih muda dan| seorang wanita pula, maka tidak perlu Ayah yang maju menghadapimu, cukup aku yang akan menguji kepandaianmu!"
"Boleh! Boleh! Kaukira aku takut kepada majikan Pulau Naga? Pulau ini boleh jadi telah kalian beli, akan tetapi air laut adalah milik manusia pada umumnya, siapapun juga boleh saja berlayar. Kalian hendak menguasai pula lautan, itu sungguh tak masuk di akal. Kalau hendak menguji kepandaian, hayolah, aku telah siap menghajarmu!"
Gadis itu melintangkan tongkat kayunya di depan dada.
Pemuda itu bukan seorang tolol.
Melihat sikap dan cara gadis itu tadi meloncat dari perahunya, dia sudah dapat menduga bahwa Cin Lan merupakan lawan yang tangguh, maka dia tidak berani memandang rendah dan segera mencabut pedang dari punggungnya.
"Bagus, mari kita main-main sebentar, Nona. Hendak kulihat apakah kepandaianmu sama hebatnya dengan wajah dan sikapmu!"
"Jaga seranganku!"
Tanpa sungkan lagi Cin Lan sudah menyerang setelah membentakkan peringatan itu dan tongkatnya sudah menyambar dengan dahsyat sekali.
Pemuda itu terkejut.
Tidak salah dugaannya.
Gadis itu memang hebat.
Memiliki ilmu tongkat yang dahsyat sekali.
Dia pun lalu menggerakkan pedangnya menangkis dan balas menyerang.
Cin Lan mulai memainkan ilmu tongkat yang amat diandalkannya, yaitu Hok-mo-tung.
Dan begitu ia mainkan ilmu tongkat ini, pemuda itu segera terdesak hebat dan semakin terkejut.
Memang ilmu tongkat yang diajarkan oleh Pek I Lokai ini bukanlah ilmu tongkat biasa.
Di dalamnya mengandung segala gerakan untuk menghadapi senjata lawan yang bagaimanapun juga.
Daya serangannya amat hebat sehingga Siangkoan Tek yang sebetulnya juga lihai sekali itu segera terdesak dan main mundur.
Setelah lewat lima puluh jurus, Siangkoan Tek tidak lagi mampu membalas serangan Cin Lan, hanya berloncatan ke sana sini untuk mengelak sambil menangkis dengan pedangnya!
Kalau dilanjutkan beberapa jurus lagi, agaknya dla akan roboh oleh tongkat itu.
Tiba-tiba Siangkoan Tek meloncat ke belakang.
Cin Lan mengejar dan pemuda itu berloncatan ke belakang seperti orang merasa jerih dan menjauhkan diri.
Tentu saja Cin Lan mendapat hati dan merasa penasaran karena pemu-da itu belum kalah dan agaknya sengaja hendak menjauhkan diri agar jangan ter-desak.
la mengejar terus dan tiba-tiba kakinya terjeblos ke dalam lubang yang agaknya memang sengaja dibuat di pantai berpasir itu.
Ketika Cin Lan terjeblos jatuh, Siang-koan Tek cepat meloncat dekat dan sekali totok tubuh Cin Lan menjadi lemas tak mampu menggerakkan kaki tangan lagi.
Cin Lan yang sudah tidak berdaya itu melotot.
"Kau curang!"
Bentaknya.
"Engkau menggunakan jebakan. Engkau pengecut curang yang hina!"
"Dan engkau seorang dara yang can-tik jelita dan berkepandaian tinggi. Ha-ha, Tang Cin Lan, engkau pantas menjadi kekasihku!"
Siangkoan Tek menyentuh dagu Cin Lan dengan usapan mesra.
"Tidak sudi' Cuuh!"
Cin Lan meludah.
"Jangan sentuh aku!"
"Ha-ha-ha, engkau sudah terjatuh ke tanganku. Engkau tidak dapat berbuat apa-apa lagi, apa pula menolak, Nona manis, engkau seperti seekor kupu-kupu yang terjaring ke dalam sarang laba-laba, aku tinggal menghisapmu sampai kering, ha-ha-ha!"
"Jahanam keparat busuk tak tahu malu Pengecut hina dina yang curang. Hayo bebaskan aku dan kita bertanding lagi sampai salah seorang dari kita menggeletak mati di sini!"
Tantang Cin Lan dengan marah.
"Ha-ha-ha-ha!"
Siangkoan Tek tertawa dan wajahnya yang tampan itu kelihatan amat menyeramkan bagi Cin Lan yang mulai merasa takut.
Jangan-jangan pemuda ini orang gila dan akan melakukan hal yang amat mengerikan kepadanya, yang lebih hebat daripada maut sendiri!
Jangan-jangan pernuda ini akan memperkosanya dan kalau hal itu terjadi, ia tidak akan mampu membela diri!
Gadis itu mulai merasa ngeri.
Kembali Siangkoan Tek mengulurkan tangan, sekali ini henchak menggerayangi tubuh Cin Lan.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Siangkoan Tek!"
Pemuda itu terkejut dan menarik kembali tangannya yang tadi hendak menggerayangi dada Cin Lan dan dia memutar tubuhnya.
Cin Lan juga melihat bahwa yang muncul adalah seorang wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih nampak cantik dan anggun dengan pakaian seperti wanita bangsawan atau hartawan pula.
Biarpun cantik dan nampak lemah-lembut, namun ada sesuatu dalam sikap nyonya itu yang berwibawa sekali.
"Siangkoan Tek, apa yang kautakukan ini? Siapakah nona ini?"
"Ah, Ibu. la telah melanggar wilayah kita dengan perahunya, maka aku lalu menangkapnya!"
"Hemm, engkau menggunakan akal licik untuk menangkapnya. Sungguh memalukan!"
"Tapi ia lihai sekali, Ibu."
"Sudah, hayo cepat kaubebaskan ia sekarang juga!"
Blarpun agak bersungut-sungut karena ibunya dianggap mengganggu kesenangan-nya pemuda itu tidak berani membantah.
"Baik, Ibu."
Dia lalu menghampiri tubuh Cin Lan yang masih terperosok ke dalam lubang dan sekali dia menotok, tubuh Cin Lan mampu bergerak kembali.
Begitu dapat bergerak, Cin Lan melompat keluar dari dalam lubang, menggerakkan tongkatnya dan menyerang pemuda itu dengan marahnya.
"Plak!"
Tongkat itu bertemu dengan tangan yang halus dari nyonya itu yang menangkisnya.
"Cukup, Nona. Aku mintakan maaf untuk kesalahan puteraku'"
Melihat nyonya yang telah menolongnya itu mintakan maaf untuk puteranya, Cin Lan merasa tidak enak untuk menyerang terus, apalagi tangkisan tadi menunjukkan bahwa wanita ini lihai sekali, mungkin lebih lihai daripada puteranya!
"Bibi, engkau harus lebih keras menghajar puteramu!"
Ia berkata sebagai teguran.
"Akan kutegur dia keras-keras nanti. Akan tetapi engkau siapakah, Nona? Dan ada keperluan apa engkau sampai melanggar wilayah kami?"
"Namaku Tang Cin Lan dan aku ke-betulan menyewa perahu nelayah dan lewat di dekat pulau ini. Karena tertarik mendengar bahwa pulau ini dihuni oleh iblis-iblis kejam aku sengaja hendak men-jenguknya."
Wanita itu menghela napas.
"Bukan iblis kejam yang menghuni pulau ini, Nona, melainkan kami keluarga Siang-koan."
"Akan tetapi aku mendengar banyak orang dibunuh mati kalau mendekati tempat ini."
"Berita itu berlebihan. Memang kami banyak membunuh para bajak laut dan orang kang-ouw yang sengaja hendak mengganggu kami di pulau ini. Engkau seorang nona muda sungguh berani sekali mengunjurigi pulau ini. Sebaiknya, kalau engkau tidak mempunyai keperluan penting, jangan mendarat di pulau milik kami ini, Nona. Kami tidak ingin tempat kami ini menjadi tempat umurn dan dlkotori oleh orang-orang yang tidak tahu aturan. Nah, sekarang engkau boleh pergi dari sini dengan bebas, Nona."
Mendengar ini, nelayan yang tadinya ketakutan setengah mati melihat penumpangnya bertanding kemudian tertawan, segera berlari menghampiri Cin Lan dan membujuk.
"Marilah, Nona. Kita pergi. Sudah berulang kali saya peringatkan jangan mendekati pulau ini. Man, Nona! Cin Lan sekali lagi memandang tajam kepada wanita itu dan puteranya, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ, kembali ke perahunya yang segera didayung ke tengah oleh nelayan itu.
"Aduh, engkau berani sekali, Nona. Wah, kita mendapatkan kembali nyawa kita'"
Tukang perahu itu lalu memben hormat untuk menghaturkan terima kasih kepada Tuhan bahwa dia masih diperbo-lehkan hidup.
Tadi dia sudah menganggap bahwa dirinya dan nona itu pasti akan Cin Lan merasa geli juga.
"Sudahlah, Paman. Sekarang kita ke Pulau Ular Emas dan engkau boleh mengambil jalan memutar!"
Ternyata setelah dekat, Pulau Ular Emas itu tidaklah sebesar Pulau Naga, bahkan kecil saja, tidak ada sekilo meter persegi.
Akan tetapi ketika Cin Lan melompat ke darat, ia melihat beberapa orang berada di atas pulau itu dan mereka itu sedang bertempur!
Dan di tengahtengah pulau itu terdapat sebuah pohon dan agaknya itulah pohon sian-tho yang kini agaknya diperebutkan orang.
Setiap ada yang mendekati pohon itu, tentu diserang oleh orang lain sehingga terjadi perkelahian yang kacau balau antara enam orang yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi itu!
Matahari telah naik tinggi dan Cin Lan dapat melihat semua itu dengan jelas.
la berpikir bahwa kalau ia yang mendekati pohon itu, tentu juga ia akan diserang oleh mereka dan hal ini tidak menguntungkan.
Maka ia agak mendekat dan melihat bahwa di pohon itu hanya terdapat sebutir buah saja yang sudah masak.
Kiranya pohon itu hanya berbuah satu, maka pantas kalau dijadikan perebutan.
Dan buah itulah yang akan menyelamatkan suhunya.
Lalu ia mendapat akal dan berseru dengan nyaring karena la sengaja mengerahkan khi-kang untuk membuat suaranya menjadi lantang.
"Tahan dulu, para Locianpwe, tahan dulu sebentar!"
Enam orang itu berloncatan mundur, akan tetapi tetap waspada menJaga agar jangan ada orang yang mencoba untuk mengambil buah sian-tho yang diperebutkan.
"Mau apa engkau, Nona muda?"
Bentak seorang tinggl besar bermuka hitam.
"Aku tahu bahwa keenam Locianpwe sedang memperebutkan buah sian-tho di sana itu, bukan? Aku sendiri pun datang hendak mencari buah sian-tho. Sayang buah itu hanya sebutir dan yang menghendaki demikian banyak. Karena itu, daripada berebutan tanpa aturan seperti ini bagaimana kalau dipakai aturan yang adil Kita semua bertanding satu lawan satu dan yang terlihai di antara kita, yang menang, dialah yang berhak mendapatkan buah sian-tho. Dengan begini maka akan adil sekali, bukan?"
Enam orang itu saling pandang denean mata melotot, lalu Si Tinggi Besar muka rutam itu berkata.
"Aku setuju!"
"Aku pun setuju!"
"Aku juga setuju!"
Enam orang itu berseru menyatakan setuju akan usul yang diajukan Cin Lan. Bagus! Kalau begitu, silakan, siapa yang akan bertanding lebih dulu?"
Mereka semua mengajukan diri, akan tetapi pada saat itu ada angin berkesiur datang dan di situ sudah berdiri seorang wanita diikuti seorang pemuda.
Ketika Cin Lan memandang, ia mengenal bahwa mereka itu adalah Siangkoan Tek dan ibunya yang baru saja ia jumpai di Pulau Naga!
Enam orang itu pun memandane dan mereka nampak terkejut dan jerih.
"Kami adalah keluarga Siangkoan! Biarpun kami hanya menjadi penguasa pulau Naga, akan tetapi Pulau Ular Emas ini adalah tetangga kami dan kamilah yang terdekat dengan pohon sian-tho. Bahkan di waktu musim kering, kamilah yang menyirami pohon itu. Jadi, sebetulnya kami yang berhak memetik buah sian-tho yang sudah masak. Akan tetapi karena kalian semua sudah datang berebut, kami setuju dengan usul Nona Tang Cin Lan ini. Suatu usul yang baik sekali. Aku sendiri, Nyonya Slangkoan, akan maju mewakili keluarga Siangkoan dan kalian yang ingin merebut sian-tho boieh maju semua mengeroyokku! Kalau aku kalah, barulah kalian boleh saling berebutan. Nah, majulah!"
Nyonya itu lalu melepaskan sabuk suteranya yang berwarna merah.
Sukar dipercaya bahwa sabuk sutera seperti itu hendak dijadikan senjata melawan orang-orang yang nampaknya kuat-kuat dengan berbagai senjata tajam itu.
Akan tetapi sungguh aneh.
Enam orang itu, yang jelas merupakan orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi, kelihatan jerih sekali mendengar bahwa wanita itu adalah Nyonya Siangkoan yang mewakili keluarga Siangkoan.
Cin Lan dapat menduga bahwa nama besar keluarga Siangkoan tentu telah tersiar luas di dunia kang-ouw sehingga baru Sang Nyonya saja yang muncul, semua orang menjadi jerih!
Kemudian Cin Lan melihat bahwa dari pantai pulau itu muncul pula empat orang yang berpakai-an seperti pelayan dan agaknya mereka ini pelayan atau anak buah perahu yang ditumpangi Nyonya Siangkoan dan pu-teranya.
Mereka berempat itu berdiri saja seperti patung, seolah siap menanti perintah Sang Majikan.
Enam orang kang-ouw itu saling pandang, kemudian empat orang di antara mereka mundur dan berkata kepada nyonya itu.
"Kalau Toanio menghendaki buah sian-tho itu, terpaksa kami mengundurkan diri. Kami tidak ingin berebut dengan keluarga Siangkoan!"
Dan empat orang itu lalu melangkah pergi menuju pantai melayarkan perahu masing-masing pergi dari situ!
Hanya tinggal dua orang yang masih tetap berada di situ dan mereka berdua memandang kepada nyonya itu dengan penasaran.
Seorang di antara mereka berkepala besar seperti gentong dan dia yang berkata dengan suara yang mengguntur.
"Benarkah Toanio menantang kami maju berbareng?"
"Hemm, engkau yang berjuluk Ta-thouw-kwi (Setan Kepala Besar), bukan? Aku sudah mengatakan bahwa kalian semua yang hendak memperebutkan sian-tho, boleh maju bersama melawanku wakil dari keluarga Siangkoan,"
Jawab nyonya itu dengan suara yang halus dan teratur baik seperti ucapan seorang bangsawan terpelajar saja.
Orang ke dua adalah seorang yang demikian kurus seperti cecak kering.
Orang kurus ini lalu mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok yang punggungnya seperti gergaji dan golok itu besar dan berat sekali, sungguh tidak sesuai dengan tubuhnya yang seperti cecak kering itu.
Melihat golok ini saja sudah dapat diketahui bahwa orang yang kurus itu ternyata memiliki tenaga yang amat kuat.
Dia mengangkat goloknya dan berkata.
"Sesungguhnya aku merasa malu untuk mengeroyok seorang wanita, akan tetapi karena engkau sendiri yang menghendaki...."
"Engkau yang berjuluk Twa-to-kwi (Setan Golok Besar), bukan? Sudahlah, jangan banyak cakap lagi. Majulah kalian bertiga'"
Akan tetapi Cin Lan berkata.
"Tadi aku mengusulkan untuk pertandingan satu lawan satu. Aku tidak sudi melakukan pengeroyokan!"
Dan ia pun berdiri di pinggiran untuk menonton. la akan memperebutkan sian-tho itu dengan pertandingan yang adil. Mendengar ini, nyonya itu tersenyum manis kepadanya.
"Kalau begitu, Cin Lan, engkau lihatlah betapa aku meng-hajar kedua orang yang tidak tahu diri ini. Marilah, kalian boleh maju dan mulai menyerang!"
Tantang nyonya itu sambil menaruh sabuk di pundaknya.
Si Kepala Besar juga mencabut sebatang pedang dari punggungnya dan kedua orang itu lalu membentak dan mulai menyerang dari kanan kiri.
Serangan mereka ganas dan cepat sekali, akan tetapi tiba-tiba mereka kehilangan orang yang mereka serang.
Demikian cepat gerakan nyonya itu ketika meloncat dan tahu-tahu dua orang itu kehilangan lawannya yang sudah tiba di belakang mereka.
Cepat mereka membalik sambil mengayun senjata menyerang lagi.
Akan tetapi semua serangannya mengenai tempat kosong belaka.
Sampai belasan jurus mereka menyerang, namun mereka itu seperti menyerang sesosok bayangan saja.
Baru beberapa jurus saja maklumlah Cin Lan bahwa jangankan baru dua orang itu, biarpun tadi ditambah empat orang yang sudah pergi, belum tentu mereka dapat mengalahkan nyonya itu yang memiliki ginkang luar biasa sekali.
Akan tetapi la sendiri tidak khawatir.
Dengan Hok-mo-gg tung-hoat yang dikuasainya, kiranya akan mampu menandingi lawan yang memiliki sin-kang sedemikian hebatnya, karena tongkatnya dapat dibuat bergerak secepat angin.
Benar saja dugaannya.
Ketika nyonya itu mulai menggerakkan sabuknya, nampak sinar merah berkelebatan menyilaukan mata dan tak lama kemudian terdengar dua orang itu menjerit dan tubuh mereka roboh.
Ketika Cin Lan memandang, ia terkejut sekali melihat mereka itu telah tewas!
Agaknya jalan darah maut mereka telah tertotok secara lihai sekali oleh ujung sabuk sutera Nyonya itu dengan tenang lalu menggapaikan tangan kepada empat orang pelayan yang berlari-lari mendatangi.
Kemudian mere-ka tanpa diperintah agaknya tahu akan kewajiban mereka.
Mereka menggotong pergi dua mayat itu dan melemparkan mereka dari tebing tinggi ke dalam lautan!
berkelebatan menyilaukan mata dan tak lama kemudian terdengar dua orang itu menjerit dan tubuh mereka roboh.
Ketika Cin Lan memandang, ia terkejut sekali melihat mereka itu telah tewas!
Agaknya jalan darah maut mereka telah tertotok secara lihai sekali oleh ujung sabuk sutera Nyonya itu dengan tenang lalu menggapaikan tangan kepada empat orang pelayan yang berlari-lari mendatangi.
Kemudian mere-ka tanpa diperintah agaknya tahu akan kewajiban mereka.
Mereka menggotong pergi dua mayat itu dan melemparkan mereka dari tebing tinggi ke dalam lautan!
Nyonya itu kini menghampiri Cin Lan.
"Apakah engkau juga masih berniat untuk merebut buah sian-tho, Cin Lan?"
"Tentu saja! Bibi boleh jadi amat lihai dan belum tentu aku akan dapat menang. Akan tetapi aku harus mendapatkan buah sian-tho itu untuk menyela-matkan guruku yang terluka beracun!"
"Engkau tidak takut akan tewas pula dalam memperebutkan buah itu?"
"Kewajiban seorang murid untuk membela gurunya, mati pun tidak akan penasaran!"
Nyonya itu tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu menoleh kepada putera-nya.
"Siangkoan Tek, kau dengar sendiri ucapan Tang Cin Lan ini. Anak ini boleh kau contoh. la berbakti dan setia kepada gurunya, sampai tidak takut mempertaruhkan nyawanya. Cin Lan, siapa sih gurumu itu yang begitu kau bela?"
"Dia seorang pengemis tua."
Siangkoan Tek berseru heran.
"Hanya seorang pengemis tua dan engkau mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya? Luar biasa sekali!"
"Siapa nama atau julukan gurumu itu, Cin Lan?"
"Julukannya Pek I Lokai."
"Ah, ah....! Kiranya si tua Pek I Lokai itu gurumu? Pantas engkau begim gagah perkasa dan berani. Seorang guru yang baik tentu memiliki murid yang baik pula!"
Kata nyonya itu kagum.
"Di mana gurumu sekarang berada?"
"Di Kwan-im-bio di luar kota raja, kata Cin Lan terus terang karena memang ia tidak perlu menyembunyikan sesuatu, kecuali tentang dirinya, bahwa ia adalah puteri seorang pangeran! "Cin Lan, engkau murid yang hebat. Sikapmu mengingatkan aku di waktu muda. Berani dan bertanggung jawab. Nah, majulah, Cin Lan. Ingin aku berkenalan dengan ilmu tongkatmu yang menurut keterangan anakku tadi hebat sekali'"
Cin Lan menggerakkah tongkathya dan berkata.
"Aku harus mendapatkan sian-tho itu atau boleh Bibi membunuhku kalau bisa'"
La lalu berseru keras dan memasang kuda-kuda, tidak mau menyerang lebih dulu karena maklum bahwa ia tidak akan berhasil mengenai tubuh yang memiliki gin-kang hebat itu.
Satu-satunya cara adalah membiarkan nyonya itu menyerang lebih dulu sehingga ia dapat membarengi dengan serangan selagi nyonya itu menyerang.
Melihat ini, nyonya itu mengangguk-angguk lalu berseru keras dan sabuk sutera merahnya mencuat menotok ke arah dada Cin Lan.
Cin Lan menggerakkan tongkatnya menangkis dan sekaligus balas menyerang dengan pukulan ke arah leher lawan.
Nyonya Siangkoan mengelak dan mereka lalu saling serang dengan hebatnya.
Karena maklum bahwa lawannya lihai, maka Cin Lan segera memainkan Hok-mo Tung-hoat dan membuat gerakan tongkatnya secepat kilat sehingga nyonya itu tidak sempat menggunakan gin-kangnya.
Terjadi pertempuran yang seru bukan main dan berkali-kali nyonya itu mengeluarkan seruan kagum.
Sampai lewat lima puluh jurus belum ada pihak yang menang atau kalah dan tiba-tiba ketika Cin Lan memukulkan tongkatnya, ujung sabuk sutera itu melibat tongkatnya dan tongkat itu tidak dapat digerakkan lagi.
Akan tetapi nyonya itu pun tidak dapat menggunakan sabuk suteranya untuk menyerang dan mereka saling tarik menarik.
Ternyata dalam hal tenaga slnkang pun mereka seimbang.
Tiba-tiba nyonya itu tertawa.
"Bagus, engkau memang murid Pek I Lokai yang baik sekali."
Ia melepaskan libatan sabuk suteranya dan meloncat ke belakang.
"Engkau boleh memiliki sian-tho itu Cin Lan . Cin Lan membelalakkan matanya. la tahu bahwa nyonya itu belum kalah olehnya, akan tetapi sudah mau menyerahkan sian-tho itu kepadanya.
"Ah, Bibi baik sekali. Terima kasih Bibi."
"Engkau memang pantas mendapatkannya, Cin Lan. Dan aku suka padamu. Kalau saja engkau kelak menjadi mantuku....!"
Wajah Cin Lan berubah kemerahan ketika mendengar ini.
"Aih, Bibi!"
Serunya tersipu.
"Siangkoan Tek, cepat ambilkan sian-tho itu dari berikan kepada Cin Lan'"
Siangkoan Tek berlari ke arah pohon itu dan sekali meloncat tubuhnya sudah berada di atas pohon.
Dipetiknya buah yang hanya satu-satunya itu lalu dia meloncat turun lagi dan lari menghampiri Cin Lan.
Pemuda itu kini nampak ramah sekali dan tersenyum manis.
"Silakan terima buah sian-tho ini, Nona. Dan kalau nanti ada kesempatan, ingin sekali aku datang berkunjung ke tempatmu di Kuil Kwan-im-bio di luar kota raja!"
Cin Lan menjadi tidak senang di dalam hatinya kepada pemuda ini.
Tadi pemuda ini telah memperlihatkan sikap yang sama sekali tidak menyenangkan.
Akan tetapi karena ia diberi buah sian-tho, maka terpaksa ia pun menerimanya sambil berkata.
"Terima kasih!"
"Cepat bawa buah itu kembali, Cin Lan. Akan tetapi berhati-hatilah, karena banyak orang kang-ouw yang juga ingin sekali memiliki buah sian-tho ini yang dapat menyembuhkan segala macam pe-nyakit dalam. Dan sampaikan salam keluarga Siangkoan kepada suhumu,"
Kata Nyonya Siangkoan dengan sikap yang manis budi.
Akan tetapi Cin Lan tetap tidak dapat melupakan betapa nyonya ini tadi dengan kejamnya telah membunuh dua orang yang hendak memperebutkan buah sian-tho.
Padahal, meliihat kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, nyonya itu dapat mengalahkan dua orang lawannya tanpa harus membunuh mereka.
"Terima kasih, Bibi. Selamat tinggal!"
Katanya dan cepat ia berlari kembali ke perahunya setelah memasukkan buah sian-tho itu ke dalam kantung bajunya.
Tukang perahu yang selalu khawatir dan ketakutan melihat perkelahian di Pulau Ular Emas itu, merasa girang sekali melihat nona penyewa perahunya datang dalam keadaan selamat.
Begitu Cin Lan naik ke perahu, tanpa bicara lagi dia segera mendayung perahunya ke tengah lalu memasang layar sehingga perahu meluncur cepat meninggalkan pulau itu.
Akan tetapi tlba-tiba Cin Lan berkata.
"Nanti dulu, Paman. Kembali dulu!"
"Ada apakah, Nona?"
"Cepat kembalilah ke darat!"
Kata Cin Lan sambil memandang ke darat.
la melihat ada sinar-sinar emas di tepi pantai berloncat-loncatan.
Hal ini amat menarik hatinya karena ia teringat bahwa nama pulau itu adalah Pulau Ular Emas.
'Maka melihat ada sinar-sinar seperti emas berloncatan di pantai, ia tertarik sekali dan menyuruh tukang perahu untuk kembali.
Biarpun bersungut-sungut, nelayan itu tidak berani membantah dan segera mendayung perahunya ke tepi pantai!
Setelah dekat dengan sinar-sinar emas itu, hampir Cin Lan memekik girang dan kagum.
Ia melompat keluar dari dalam perahu dan mendekati tempat itu.
Terda-pat pemandangan yang menarik sekali.
Ternyata yang berloncatan itu adalah ular-ular yang berwarna keemasan.
Ada belasan ekor banyaknya.
Belasan ekor ular emas ini agaknya sedang mengeroyok seekor ular putih yang melingkar di tengah-tengah.
Gerakan ular-ular emas itu sungguh cekatan dan cepat sekali.
Mereka menyerang dari berbagai jurusan, akan tetapi dengan tenang ular putih yang melingkar ini menggerakkan kepalanya cepat menyambar ke arah ular-ular itu.
Sudah dua tiga ekor ular emas yang tewas dengan leher hampir putus tergigit ular putih yang tubuhnya sebesar lengan tangan dan panjangnya ada satu setengah meter.
Sebaliknya, ular-ular emas itu kecil hanya sebesar ibu jarinya dan juga panjangnya tidak lebih dari tiga putuh sentimeter.
Cin Lan adalah seorang gadis yang berwatak pendekar.
Melihat seekor ular dikeroyok demikian banyaknya ular emas g ia menjadi marah.
la lalu menggerakkan tongkatnya membantu ular putih.
Akan tetapi ular-ular emas itu bergerak cepat sehingga pukulannya dapat mereka elakkan.
Akan tetapi Cin Lan menyerang terus dan akhirnya, ia dapat membunuh beberapa efcor ular emas.
Tiba-tiba la berteriak.
Tanpa diketahuinya, seekor ular emas meloncat ke arah kakinya dan menggigit.
Gigitannya menembus celananya dan terasa panas bukan main.
Dan ketika ia hendak merenggut ular emas yang menggigit kakinya ternyata ular emas itu sudah mati.
Begitu menggigit terus mati, dan agaknya menumpahkan seluruh racunnya ke dalam kakinya!
la semakin marah dan mengamuk sehingga semua ular emas terkena hantaman tongkatnya dan mati semua.
Akan tetapi tiba-tiba ular putih itu mematuknya dan menggigit kaki yang sama.
la merasa seolah kakinya dimasuki es yang amat dinginnya sehingga ia menggigil dan ketika ia melihat ular putih yang tadi dibantunya dan yang kini menggigit kaki-nya juga telah mati lemas!
Cin Lan berdiri terhuyung.
Dalam tubuhnya terjadi perang yang hebat anta-ra hawa yang amat panas dengan hawa yang amat dingin.
Akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir.
Ketika Cin Lan siuman kembali, ternyata ia sudah rebah di atas perahu nelayan itu.
"Ah, engkau sudah siuman, Nona. Sukurlah! Engkau membuat aku ketakutan setengah mati!"
Kata tukang perahu itu.
Dialah yang tadi melihat gadis itu roboh dan dia mengangkatnya setengah menyeretnya ke atas perahunya dan melayarkan perahu itu meninggalkan Pulau Ular Emas.
Cin Lan yang membuka mata itu berkedip-kedip.
la merasa tubuhnya sehat dan segar hanya ada hawa yang tarik-menarik di dalam perutnya, kadang panas kadang dingin.
la bangkit duduk dan memandang kepida tukang perahu itu.
"Aku tadi pingsan, Paman?"
"Ya, kulihat Nona menggeletak pingsan di pantai dan banyak ular dl sekeliling Nona. Hlhh, mengerlkan sekali'."
Cin Lan teringat dan meraba kakinya. Bekas gigitan ular itu masih ada, hanya tidak lagi menimbulkan rasa nyeri Ia telah digigit seekor ular emas dan seekor ular putih.
"Paman yang mengangkatku ke perahu ini?"
"Benar, Nona. Melihat engkau menggeletak pingsan, aku lalu berusaha sedapat mungkin membawa Nona ke perahu ini, lalu cepat-cepat melayarkan perahunya karena aku takut lebih lama lagi tinggal di pulau itu."
"Terima kasih atas pertolonganmu, Paman."
Cin Lan bangkit berdiri, meng-gerakkan kaki tangannya dan ia merasa betapa ada hawa yang amat kuat yang membuat tubuhnya terasa ringan dan bertenaga dahsyat.
Tentu saja la menjadl girang sekali.
la tidak mati oleh gigitan ular bahkan mendapat tenaga yang kuat.
la sama sekali tidak tahu apa artinya ini dan mengapa ia tidak mati malah mendapatkan tenaga baru yang membuat tubuhnya terasa ringan.
la lalu duduk kembali dan mengenangkan semua peris-tiwa yang pernah terjadi.
la meraba benda di situ dan diambilnya buah.
itu, diamatamatinya.
Seperti buah biasa saja, tidak ada keanehannya.
Akan tetapi ketika diciumnya, bau buah itu harum dan agak keras menyengat hidungnya.
la cepat menyimpannya kembali, kini ia ma-sukkan ke balik bajunya di dada karena ia khawatir kalau-kalau akan ada orang yang hendak merampasnya.
Sementara itu, angin bertiup kencang.
Layar terkembang sepenuhnya dan perahu meluncur dengan amat cepatnya sehingga dapat diharapkan ia akan sampai di pantai sebelum hari menjadi gelap.
Akhirnya perahu itu mendarat di pantai.
Matahari telah condong ke barat akan tetapi cuaca masih terang.
Cin Lan merasa girang sekali.
la berhasil mendapatkan sian-tho.
Gurunya akan tertolong.
Setelah membantu tukang perahu itu menambatkan perahu yang diseret ke darat, Cin Lan bersama nelayan itu lalu berjalan menuju ke rumah nelayan itu.
Akan tetapi tiba-tiba mereka dikepung oleh empat orang yang memandang bengis kepada Cin Lan.
Tukang perahu menjadi ketakutan dan dia menundukkan diri.
Ternyata empat orang itu membiar-kan saja tukang perahu itu keluar dari kepungan mereka karena yang mereka kepung adalah Cin Lan.
"Hemm, mau apa kalian mengganggu-ku?"
Tanya Cin Lan, padahal tentu saja ia tahu bahwa empat orang ini menghendaki buah sian-tho yang sudah disimpannya karena empat orang itu bukan lain adalah mereka yang tadinya berada di Pulau Ular Emas, yaitu mereka yang tidak berani melawan Nyonya Siangkoan dan mengundurkan diri.
Klranya mereka masih berada di pantai ini dan agaknya memang menghadangnya!
"Nona, kami minta bagian buah sian-tho itu!"
"Buah sian-tho apa?"
Cin Lan pura-pura bertanya.
"Buah sian-tho itu milik keluarga Siangkoan."
Akan tetapi empat orang itu terse-nyum dan Cin Lan merasa tenang bahwa ia membawa dayung milik nelayan itu.
Tadi ketika ia turun dari perahu, ia mendapat kenyataan bahwa tongkatnya telah ditinggalkan tukang perahu ketika menariknya ke atas perahu dan ia melihat bahwa dayung itu pun dapat dipergunakan sebagai senjata, maka dayung itu dibawanya serta sebagai pelindung diri.
"Nona, harap jangan pelit. Kita semua membutuhkan buah sian-tho itu dan tentu buah siantho itu telah berada di tanganmu."
"Hemm, bagaimana engkau menduga begitu? Buah sian-tho itu milik keluarga Siangkoan."
"Tidak perlu membohongi kami. Kami mengenal siapa keluarga Siangkoan itu. Kalau Nona tidak mendapatkan buah itu, berarti Nona terbunuh oleh Nyonya Siangkoan. Buktinya dua orang kang-ouw yang lainnya juga tidak muncul, tentu mereka telah tewas di tangan nyonya itu. Akan tetapi Nona dapat mendarat, tentu buah sian-tho itu telah berada di tanganmu."
"Harap Nona jangan pelit, kita bagi sama buah sian-tho itu menjadi lima potong dan kita masing-masing mendapatkan sepotong,"
Kata yang lain. Cin Lan tidak dapat mengelak lagi, maka ia lalu melintangkan dayung di depan dadanya dan membentak.
"Aku tidak akan membaginya dengan siapa pun'"
Empat orang itu menjadi marah dan mencabut senjata masing-masing. Dua orang memegang pedang dan dua orang lagi memegang golok.
"Kalau Nona tidak mau membagi-bagi, kami akan merampas dengan kekerasan!"
Kata yang memegang pedang dan bertubuh tinggi besar.
"Majulah, aku tidak takut!"
Kata Cin Lan.
Empat orang itu menggerakkan senjata mereka dan maju mengeroyok.
Ketika Cin Lan menggerakkan tongkat dayung-nya, ia sendiri terkejut.
Gerakannya de-mikian kuat sehingga dayung itu mengeluarkan angin dahsyat!
Akan tetapi ia merasa dadanya agak sesak.
Ketika ia menerjang kepada empat orang itu, empat orang itu pun terkejut bukan main.
Golok dan pedang mereka terpental ham-pir terlepas dari tangan ketika bertemu dengan dayung!
Dalam beberapa gebrakan saja empat orang itu terdesak mundur karena gerakan dayung di tangan Cin Lan memang luar biasa kuatnya.
Dan Cin Lan juga bergerak amat cepat.
Ketika kakinya menendang, dua orang pengero-yok terkena tendangannya dan terlempar jauh!
Juga dalam tendangannya terkan-dung tenaga yang dahsyat bukan main.
Tentu saja para pengeroyok itu men-jadi terkejut dan merasa jerih.
Tak mereka sangka bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang demikian hebatnya.
Akan tetapi, selagi mereka hendak melarikan diri, mereka melihat Cin Lan terhuyung-huyung!
Ternyata ketika tadi sehabis melakukan tendangan, Cin Lan merasa betapa tenaga yang tarik menarik di tubuhnya makin menghebat dan kini terasa hawa sebentar panas sebentar dingln menyerangnya dan membuat dadanya terasa sesak sukar bernapas.
la terengah-engah dan terpaksa membungkuk sambil menekan dadanya.
Pada saat itu, empat orang pengeroyoknya maklum bahwa gadis itu menderlta luka dalam yang agaknya hebat sekali, maka timbul kembali keberanian mereka.
Mereka lalu menyerang selagi gadis itu menyeringai kesakitan dan terengah-engah.
Akan tetapi pada saat yang amat gawat bagi Cin Lan itu, empat buah kerikil berturut-turut menyambar ke arah tangan yang memegang golok dan pedang dan empat batang senjata itu berkerontangan jatuh ke atas tanah.
Empat orang itu terkejut bukan main karena tangan mereka terasa nyeri sekali.
Di situ tidak ada orang lain kecuali Si Tukang Perahu yang menonton dengan wajah pucat.
Maka mereka mengira bahwa gadis itu yang telah membuat mereka kehilangan senjata dan mereka lalu memutar tubuh dan melarikan diri dari situ dengan ketakutan.
Seorang pemuda muncul.
Pemuda ini berusia sekitar sembilan belas tahun, berpakaian sederhana dan kepalanya memakai sebuah caping lebar seperti caping yang dipakai para petani.
Wajah di balik caping itu tampan dan lembut., Pakaiannya juga sepertl pakaian petani dan pemuda itu lalu menghampiri Cin Lan.
"Nona, engkau sakitkah?"
Tanya pemuda itu dengan suara lembut dan ramah. Akan tetapi Cin Lan yang sudah mulai dapat mengatur pernapasannya yang tadi bergolak dan terengah, memutar tubuh memandang kepadanya dengan curiga.
"Siapa engkau? Mau apa engkau?"
La melintangkan dayungnya siap untuk menghantam pemuda itu yang dianggapnya tentu ora.ng yang hendak merampas sian-tho pula.
Pemuda itu mundur tiga langkah.
Dia kaget melihat sikap gadis itu, akan tetapi juga kagum melihat wajah yang jelita itu.
"Nona, aku seorang yang kebetulan lewat dan melihat Nona seperti yang sakit ...Aku tidak sakit! Dan jangan mendekat!"
Bentak pula Cin Lan dan kembah pemuda itu mundur beberapa langkah dan menggeleng kepalanya.
"Nona, aku tidak berniat buruk...."
"Diam! Aku tidak membutuhkan bantuanmu,"
Kata pula Cin Lan dan la lalu menoleh kepada tukang perahu. Mari, Paman, kita pulang."
Tukang perahu itu tergopoh-gopoh melangkah pergi menuju ke rumahnya bersama Cin Lan, diikuti pandang mata pemuda bercaping itu yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aneh...."
Kata pemuda itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Thian Lee.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Thian Lee secara kebetulan sekali beriemu dengan manusia salju Yeti yang membawanya menemukan sebatang pedang dan dua buah kitab kuno.
Dia mempelajari dua buah kitab yang tulisannya memakai huruf kuno itu, dibantu oleh Tan Jeng Kun dan Kim-sim Yok-sian yang menterjemahkan huruf-huruf itu kepadanya.
Selama tiga tahun lebih dla melatih diri dengan dua ilmu itu.
Kitab yang pertama adalah ilmu meng-himpun tenaga sinkang yang disebut Thian-te Sin-kang.
Dengan melatih diri dengan ilmu ini, Thian Lee dapat memiliki kekuatan sin-kang yang hebat sekali.
Kemudian kitab ke dua adalah pelajaran ilmu pedang Jit-goat Kiam-sut dan ilmu pedang ini dilatihnya dengan menggunakan pedang Jitgoat Sin-klam.
Ternyata bahwa ilmu pedang ini hebat bukan main.
Bahkan kedua orang gurunya itu pun menyatakan kekaguman mereka.
Akan tetapi, biarpun dia sendiri seorang ahli silat tingkat tinggi yang amat lihai Tang Jeng Kun tidak mau melatih diri dengan ilmu silat atau ilmu sin-kang itu.
Dia merasa dirinya sudah tua dan juga tidak berhak, karena agaknya kerangka itu, yaitu su-kongnya, nneninggalkan ilmu-ilmu dan pedangnya kepada Thian Lee sebagai ahli warisnya.
Demikianlah, setelah berlatih diri dengan tekun selama lebih dari tiga tahun, Thian Lee telah menguasai ilmu-ilmunya dengan baik.
Kim-sim Yok-sian telah lama meninggalkannya untuk merantau seperti biasa dan dia dibimbing oleh guru silatnya, yaitu Tan Jeng Kun.
Setelah melihat murid ini menguasai ilmu-ilmunya dengan baik, Tan Jeng Kun lalu memanggilnya.
"Thian Lee, sekarang sudah tidak ada ilmu apa-apa lagi yang dapat kuajarkan kepadamu. Engkau sudah menguasai ilmu yang hebat, dan sudah tiba saatnya engkau mengamalkan ilmuilmu itu. Pergilah engkau merantau dan jadilah seorang pendekar yang baik. Akan tetapi pesanku yang engkau harus taati, jangan menojolkan diri, jangan pamer kepandaian dan jauhkan diri dari permusuhan sedapat mungkin. Ingat, sepandai-pandainya seorang manusia, masih ada orang, lain yang lebih pandai lagi dan sehebat-hebatnya llmu, belum dapat dikatakan sempurna. Yang Maha Kuat, Maha Kuasa dan Maha Sempurna hanyalah Tuhan. Kalau engkau selalu menjaga sepak terjangmu tidak menyimpang dari kebenaran, engkau tentu akan mendapat bimbingan danperlindungan dari Tuhan dan kalau engkau sudah dibimbing dan dilindungi Tuhan, siapakahyang akan dapat melawanmu?"
"Suhu, teecu tidak memiliki sanak keluarga lagi, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Ke manakah teecu harus pergi?"
Tanya Thian Lee dengan suara memelas.
Dia menyadari keadaannya dan mau tidak mau hatinya menjadi sedih kalau harus meninggalkan suhunya, satu-satunya orang yang dekat dengannya setelah Kim-sim Yok-sian yang telah pergi merantau lebih dulu.
Thian Lee, kalau engkau bersikap baik dan menolong sesama, maka orang di seluruh dunia ini adalah anak keluargamu!
Sekarang ini kalau tidak salah, sudah tiba waktunya buah siantho yang berada di Pulau Ular Emas masak.
Kalau engkau bisa mendapatkan buah sian-tho itu, sungguh besar manfaatnya.
Buah itu dapat menyembuhkan segala macam luka dalam, juga yang mengandung racun betapa hebat pun.
Pergilah engkau ke Pulau Ular Emas di Lautan Po-hai dan kalau mungkin, dapatkan buah sian-tho itu.
Kalau engkau dapat menyerahkan buah sian-tho kepadanya, tidak ada hadiah yang lebih indah bagi Tabib Dewa itu kecuali buah itu.
Akan tetapi ingat, kalau engkau harus berebutan dengan orang-orang kang-ouw, jangan sampai engkau menanam permusuhan.
Dan peringatanku yang paling utama, jangan sekali-kali engkau membunuh orang dengan sengaja!"
"Teecu akan melaksanakan semua pesan Suhu."
"Dan kurasa, ayah atau ibumu tentu mempunyai keluarga. Engkau dapat melakukan penyelidikan di tempat asal orang tuamu, kukira engkau tentu akan menemukan keluarga ayahmu atau ibumu."
Demikianlah, setelah mendapat banyak nasihat dari gurunya, Thian Lee lalu meninggalkan Pegunungan Himalaya di mana gurunya tinggal sebagai seorang pertapa dan melakukan perjalanan ke timur menuju ke Lautan Pohai.
Akan tetapi kedatangannya terlambat.
Ketika tiba di pantai itu dia mendengar percakapan antara Cin Lan dan empat orang pengepungnya.
Dari perca-kapan itu tahulah dia bahwa siantho telah didapatkan oleh gadis cantik jelita itu yang kini dikepung dan hendak dirampas oleh empat orang kang-ouw yang kelihatannya bernapsu benar hendak merampas sian-tho.
Dia hanya menonton saja dari jauh.
Ketika Cin Lan mengamuk dengan dayungnya, diam-diam Thian Lee kagum bukan main.
Gadis itu lihai sekali!
Dan memiliki tenaga yang hebat.
Akan tetapi dia melihat pula betapa gadis itu terengah, seperti orang kesakitan dan melihat empat orang itu yang tadinya sudah merasa jerih itu kini men-desak maju untuk menyerang gadis yang sedang menderita kesakitan.
Maka diam-diam dia cepat memungut empat buah kerikil dan dengan kerikil itu dia me-nyambit ke arah tangan empat orang itu meruntuhkan senjata mereka.
Perbuatannya ini tidak ketahuan oleh siapa pun dan empat orang itu lalu melarikan diri, Demikianlah, Thian Lee lalu menghampiri Cln Lan untuk menolong karena dilihatnya gadis itu seperti kesakitan, akan tetapi malah dihardik dan dicurigai.
Dia memandang gadis itu pergi bersama Si Nelayan.
Thlan Lee merasa tidak puas.
Dia melihat sesuatu pada wajah gadis itu, sesuatu yang aneh, seperti ada cahaya yang luar biasa pada wajah gadis itu.
Dan melihat betapa gadis itu tadi seperti menderita panas dingin, dia menduga bahwa gadis itu agaknya tentu menderita luka dalam atau bahkan keracunan.
Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan kalau gadis itu demikian angkuhnya, bahkan agaknya mencurigainya?
Dia pun membatalkan niatnya pergi ke Pulau Ular Emas seperti dipesankan suhunya.
Bukankah buah sian-tho telah didapatkan oleh gadis itu?
Dan gadis itu agaknya luka parah, dan dia pun.
dapat menduga bahwa buah siantho itu diinginkan oleh banyak orang.
Sangat boleh jadi keselamatan gadis itu terancam.
Siapa tahu masih akan datang banyak orang kang-ouw untuk berusaha merampas buah sian-tho itu dari tangan si gadis yang menarik hatinya.
Karena mengandung kekhawatiran terhadap keselamatan gadis angkuh itu, diam-diam Thian Lee lalu membayanginya.
Setelah tahu di mana gadis itu menginap, dia lalu menginap di rumah yang berdekatan agar dia dapat diam-diam menjaga keselamatan gadis itu kalau-kalau ada orang yang hendak rnenyerangnya.
Dia sendiri merasa heran mengapa dia begitu mengkhawatirkan gadis yang sama sekali tidak pernah dikenalnya, bahkan gadis yang bersikap angkuh kepadanya.
Keahgkuhan sikap Cin Lan itu tidaklah aneh.
Sejak kecil ia hidup sebagai putera pangeran yang dihormati oleh semua orang.
Lingkungan ini sedikit ba-nyak membentuk dirinya memiliki keang-kuhan.
Kedudukan atau harta benda memang besar sekali pengaruhnya terhadap sikap seseorang.
Orang yang berkeduduk-an tinggi atau yang berharta banyak menganggap dirinya orang yang penting, atau setidaknya memiUki kelebihan dibandingkan orang lain, apalagi dibanding-kan orang kebanyakan, seperti misalnya kaum petani yang mereka anggap bodoh dan miskin.
Itulah sebabnya ketika didekati seorang pemuda yang berpakaian petani, tentu saja Cin Lan bersikap acuh dan angkuh.
Dan bahkan ia mencurigai pemuda itu yang dianggapnya hendak menginginkan pula buah sian-tho yang telah dimilikinya.
Setelah tiba di rumah nelayan itu, Cin Lan girang melihat kudanya terawat dengan baik.
Ia terpaksa bermalam di rumah nelayan itu karena maklum bahwa kalau ia melakukan perjalanan malam, amat berbahaya.
Bukan saja berbahaya karena perjalanan dilakukan dalam cuaca gelap, akan tetapi juga siapa tahu orang-orang kang-ouw itu akan menghadang perjalanannya.
la harus berhati-hati se-kali mulai sekarang, menjaga sian-tho itu agar jangan sampai dirampas orang.
Diam-diam ia merasa heran mengapa empat orang itu tadi tidak jadi menye-rangnya, bahkan melepaskan senjata me-reka dan melarikan diri.
Padahal ketika itu ia sedang menderita karena hawa panas dan dingin yang mengamuk dalam dirinya.
Malam ini ia pergunakan untuk beristirahat, dan sudah beristirahat, hawa yang bertentangan di dalam perutnya itu pun mereda dan tidak mengamuk lagi.
Maka keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Lan sudah berpamit kepada ne-layan itu setelah membayar sewa perahu bahkan memberi lebih dari yang dijanjikan.
Dengan cepat ia menunggang kuda putihnya meninggalkan tempat itu menuju ke barat.
la sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mengikutinya dengan ilmu berlari cepat yang luar biasa.
Bayangan itu tidak dapat tertinggal oleh larinya kuda putihnya.
Demikian cepat bayangan itu berlari sehingga yang nampak hanya bayangan berkelebat saja.
Bayangan itu bukan lain adalah Thian Lee!
Pemuda itu setelah menguasai Thian-te Sin-kang dapat menggunakan tenaga saktinya untuk berlari cepat bukan main.
Gurunya, Tan Jeng Kun adalah seorang ahli berlari cepat dan memiliki gin-kang yang hebat.
Setelah mengajarkan gin-kang kepada Thian Lee, kemudian Thian Lee menguasai Thian-te Sin-kang, gin-kang muridnya ini bahkan mengejar dan melampaui tingkat gurunya!
Setelah melewati sebuah bukit, ketika menuruni lereng bukit itu, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki yang bersenjata ruyung dan golok menghadang perjalanan Cin Lan.
Gadis itu terpaksa meloncat dari atas kudanya karena ia khawatir kalau dua orang itu menyerang kudanya, kuda itu bisa celaka.
Setelah meloncat turun dan membiarkan kudanya lepas, ia lalu menghadapl dua orang itu sambil melintangkan tongkatnya di depan dada.
Ia memang sudah siap siaga dan memba-wa tongkat dari rumah nelayan itu, tong-kat dari kayu yang amat kuat.
"Kalian menghadang perjalananku ada .maksud apakah?"
Bentaknya dengan suara keren.
Dua orang itu bertubuh tinggi besar dan nampaknya gagah sekali.
Yang seorang berkepala botak dan kuncirnya panjang besar dilingkarkan ke lehernya.
Dia tertawa dan berkata.
"Nona, sebetulnya kami berdua rnerasa malu untuk mengganggu seorang nona muda seperti engkau. Karena itu, biarlah kami melepaskan engkau lewat asal engkau rnenyerahkan buah sian-tho yang kaubawa kepadaku."
"Benar, Nona. Sebaiknya kita berdamai saja. Tidak ada gunanya engkau melawan Bu-tek Siang-liong (Sepasang Naga Tanpa Tanding) dan kami pun segan mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis remaja,"
Kata orang ke dua yang matanya lebar hidungnya pesek. Cin Lan tidak ingin banyak cakap lagi.
"Tidak ada sian-tho untuk kalian dan kalau kalian hendak menggunakan kekerasan, aku pun tidak takut!"
Kata Cin Lan sambil melintangkan tongkatnya memasang kuda-kuda.
"Ha-ha-ha, kami mendengar engkau memang lihai. Akan tetapi jangan harap akan dapat menang menandingi kami. Sekali lagi, serahkan sian-tho kepada kami kalau engkau ingin selamat!"
Kata Si Botak.
"Benar, Nona. Kami membutuhkan se-kali karena seorang paman kami mende-rita sakit, perlu obat itu!"
Kata Si Hi-dung Pesek.
"Biarlah kami mau menukar-nya dengan apa saja untuk sian-tho itu, Nona."
Hemm, mereka bukan sembarangan perampok, melainkan membutuhkan sian-tho untuk obat orang sakit.
"Enak saja,"
Kata Cin Lan.
"Apa kaukira hanya pa-manmu saja yang sakit? Kalau aku me-miliki sian-tho itu pun untuk mengobati orang sakit, maka tidak mungkin kuserahkan kepadamu."
"Kalau begitu, kami terpaksa akan menggunakan kekerasan,"
Kata Si Botak yang sudah menggerakkan ruyungnya untuk menyerang. Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali Cin Lan dapat mengelak. Si Hidung Pesek juga menggerakkan goloknya membacok.
"Tranggg ...!"
Golok itu terpental oleh tangkisan tongkat di tangan Cin Lan dan mulailah Cin Lan memutar tongkatnya memainkan Hok-mo-tung-hoat.
Tenaga dari dalam perutnya tiba-tiba bangkit dan menjalar ke seluruh tubuh sehingga gerakannya menjadi amat kuat dan cepat.
Dua orang itu terkejut bukan main.
Mereka adalah dua orang kang-ouw yang tinggi ilmu kepandaiannya dan keduanya, memiliki tenaga besar.
Akan tetapi menghadapi gadis remaja itu, mereka bukan saja kalah cepat, akan tetapi juga kalah kuat tenaganya!
Hampir mereka tidak dapat percaya dan Si Botak menggerakkan ruyungnya sepenuh tenaga menghantam ke arah kepala Cin Lan.
Gadis itu menerima hantaman itu dengan tongkatnya.
"Takkk!"
Ruyung terpental dan sekali Cin Lan menggerakkan kakinya, Si Botak itu terjengkang roboh.
Si Hidung Pesek menyambar dengan goloknya.
Cin Lan mengelak dan begitu tongkatnya menyambar dengan gerakan membalik, pundak Si Hidung Pesek dihantam tongkat dan dia pun terpelanting roboh.
Kedua orang itu merangkak bangun dan segera melarikan diri.
Cin Lan tidak mengejar karena tiba-tiba saja ia merasa kepalanya pening bukan main, dadanya sesak seperti kemarin ketika menghadapi pengeroyokan empat orang itu.
Melihat dua orang lawannya sudah melarikan diri, Cin Lan hendak melompat ke atas punggung kudanya, akan tetapi tiba-tiba ia terguling.
Tubuhnya diserang hawa panas dan dingin bergantian dan ia pun tidak kuat bertahan lagi dan roboh pingsan di dekat kudanya.
Bayangan yang sejak tadi membayanginya, yaitu Thian Lee, melihat ini semua dan segera dia lari menghamplri.
Diperiksanya nadi pergelangan tangan gadis itu dan dia terkejut bukan main.
Ada hawa yang amat kuat bergerak dalam tubuh gadis itu, hawa panas dan hawa dingin yang luar biasa kuatnya, seolah kedua hawa itu saling berebut menguasai tubuh si gadis itu, Thian Lee menduga bahwa gadis ini telah mempelajari ilmu sin-kang yang hebat akan tetapi saiah latih&n agaknya.
Maka, dia lalu mengulurkan kedua tangan dan menempelkan di bagian perut gadis itu.
Sambil menyalurkan sin-karignya dia membantu gadis itu agar hawa yang mengamuk di tubuhnya itu dapat dikendalikan dan di-kumpulkan ke dalam tan-tian.
Cin Lan siuman kembali.
Begitu membuka mata melihat seorang pemuda bercaping menempelkan kedua tangannya ke perutnya, ia terkejut selengah mati, mengira bahwa pemuda itu hendak berbuat kurang ajar kepadanya.
"Jahanam....!"
Teriaknya dan ia meloncat bangun, lalu menyerang Thian Lee kalang-kabut.
Thian Lee sudah siap siaga dan mengelak ke sana-sini, sama sekali tidak menangkis.
Setelah menyerang beberapa jurus, tiba-tiba dua hawa yang bertentangan itu mengamuk demikian hebatnya dalam tubuh Cin Lan sehingga ia terguling lagi.
"Nona, harap jangan salah mengerti. Aku hanya ingin menolongmu. Mungkin engkau keracunan. Ada dua unsur hawa panas dan dingin menguasai tubuhmu. Mungkin Nona salah latihan. Dua tenaga yang saling berlawanan itu tidak boleh menguasai dirimu pada saat yang sama. Ketika engkau menyerang, engkau mengerahkan tenaga dan kedua tenaga itu bangkit bersama, lalu mengamuk berbareng sehingga membuat engkau roboh sendiri."
Cin Lan sadar bahwa ia salah sangka.
"Kau... kau... siapakah? Kau pandai mengobati?"
"Aku hanya orang yang kebetulan lewat dan melihat keadaanmu, Nona. Aku pernah mempelajari ilmu pengobatan sedikit dan kalau Nona suka menurut nasihatku, mungkin engkau dapat menguasai dua tenaga yang berlawanan itu. Nah, duduklah bersila, Nona, seperti ini!"
Thian Lee lalu duduk berslla di depan gadis itu.
Cin Lan yang tahu benar bahwa keadaannya ini agaknya karena gigitan dua ekor ular emas dan ular putih, maka ia pun percaya akan ucapan pemuda itu dan ia pun menurut, lalu duduk bersila menirukan pemuda itu"
"Bernapaslah yang dalam, menggunakan pernapasan perut, tarik napas sampai ke tan-tian, tahan sebentar dan hembus-kan napas melalui mulut. Sama sekali jangan mengerahkan tenaga, biarkan te-naga yang bergolak itu tenang dan masuk kembali ke tan-tian bersama pernapasan. Nah, begitu baik. Sekarang bernapaslah terus seperti itu, sampai keadaanmu tenang kembali."
Cin Lan menuruti nasihat itu dan benar saja.
la merasa peningnya hilang dan dua tenaga yang mengandung hawa panas dan dingin itu tidak lagi menga-muk biarpun masih terasa tarikmenarik di dalam bawah pusar.
"Engkau harus menguasai dUa tenaga itu dan menyalurkan salah satu saja pada suatu saat, jangan keduanya. Akan tetapi hal ini membutuhkari latihan yang tekun, Nona."
Cin Lan mulai tertarik dan berterima kasih.
"Sobat, engkau ternyata seorang yang baik sekali. Engkau telah menolongku dan aku berterima kasih kepadamu. Bolehkah aku mengetahui namamu?"
"Aku bernama Song Thian Lee,"
Jawab Thian Lee singkat.
"Dan aku she Tang, bernama Cin Lan,"
Gadis itu memperkenalkan diri. Nama yang sama sekali asing bagi Thian Lee.
"Nona Tang, mulai sekarang engkau harus menjaga dirimu baik-baik. Dan sedapat mungkin jagalah jangan sampai engkau berkelahi karena kalau engkau salah menggunakan dua tenaga itu berbareng, engkau akan mencelakai dirimu sendiri."
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 11
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 2