Eps 2 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.
"Omito-hud, bukan semata-mata pinceng menolak, akan tetapi adalah karena alasan yang amat kuat. Cu-wi mengetahui bahwa pinceng adalah wakil ketua perkumpulan yang besar sekali, bukan saja mengurus urusan umum dengan dunia kang-ouw, akan tetapi juga urusan penyebaran agama. Menjadi bengci atau pemimpin naruslah seorang yang jujur, setia dan dapat mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk jabatannya itu. Dia tidak boleh memiliki kedudukan rangkap, karena dengan demikian dia tentu tidak akan dapat mencurahkan tenaga scluruhnya. Pinceng mempunyai seorang calon dan Cu-wi tentu akan se-tuju dengan calon yang pinceng usulkan itu. Mengenal ilmu silat, dia jauh lebih hebat dari pinceng. Mengenai pengalaman, dia sudah malang melintang di dunia kang-ouw selama puluhan tahun. Dan namanya yang besar juga bersih sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Pe-mimpin haruslah seorang yang tidak me-mentingkan diri sendiri dan calon pinceng ini memenuhi semua persyaratan itu. Dia masih muda, berpengalaman di dunia kang-ouw, selama ini sepak terjangnya sebagai seorang pendekar meyakinkan, dan namanya pun baik di mata pemerintah. Pinceng usulkan Taihiap (Pendekar Besar) Souw Tek Bun untuk menjadi ketua!"
Kini riuh rendah orang bersorak me-nyambut nama yang diusulkan oleh wakil Ketua Siauwlim-pai itu.
Siapa yang tidak mengenal pendekar Souw Tek Bun?
Dia berjuluk Sin-kiam Hok-mo (Pedang Sakti Penakluk Iblis), seorang pendekar yang memiliki ilmu pedang turunan dari keluarga Souw.
Nenek moyang Souw Tek Bun adalah Souw Cian, seorang pendekar sakti ratusan tahun yang lalu, yang telah merangkai ilmu pedang Hok-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Penakluk Iblis) yang hanya dipelajari oleh keturunannya.
Souw Tek Bun sudah terkenal sebagai seorang pendekar budiman, membantu pemerintah membasmi para.
penjahat sehingga lama-nya dihormati semua tokoh kang-ouw dan juga dihormati pemerintah.
Bahkan Kaisar sendiri berkenan memberi hadiah sebatang pedang kepadanya!
"Hidup Souw-taihiap!"
Terdengar sorakan mereka.
Di antara tamu yang duduk di panggung kehormatan, seorang pria bangkit berdiri dengan tenang.
Dia bertubuh tegap, berwajah tampan berwibawa, usianya sekitar empat puluh tahun dan pakaiannya yang sederhana itu ringkas.
Sebatang pedang tergantung di punggungnya.
Wajahnya yang segi empat itu gagah sekali, dengan sepasang alis tebal, mata mencorong dan mulut selalu tersenyum tenang dan sabar, namun lekuk di dagunya yang tidak berjenggot itu menunjukkan kekerasan hatinya.
Inilah dia Souw Tek Bun yang berjuluk Sin-kiam Hokmo.
Pedang di punggungnya itu adalah Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau), pedang pusaka hadiah dari Kaisar Kian Liong kepadanya karena jasanya membasmi banyak gerom-bolan penjahat.
Perjaka yang tinggal seorang diri di puncak Hong-san.
Souw Tek Bun memang hidup seba-tang kara, kedua orang tuanya telah tiada, ayahnya juga seorang pendekar tewas oleh pengeroyoknya banyak tokoh sesat.
Ibunya menyusul ayahnya setelah sakit berat sehingga Souw Tek Bun hidup sebatang kara.
Sampai berusia empat puluh tahun, dia tidak mau menikah dan tinggal seorang diri di puncak Hong-san, hanya ditemani oleh seorang pelayan pria yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Mendengar dirinya dipilih sebagai bengcu seperti diusulkan oleh wakil Ketua Siauw-lim-pai, Souw Tek Bun lalu bangkit berdiri dengan sikap tenang sambil tersenyum, mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isarat agar semua orang diam.
Setelah suara gaduh itu terhenti, terdengar suaranya yang mantap, lembut namun mengandung wibawa.
"Cu-wi yang terhormat! Saya tidak perlu berpura-pura. Memang sudah menjadi kewajiban kita semua untuk meng-galang persatuan di antara semua tokoh kang-ouw demi keamanan negara dan kesejahteraan rakyat. Dan kalau memang benar Cu-wi memilih saya, maka saya pun tidak akan berani menolak. Hanya perlu diingat bahwa saya yang muda , masih kurang pengalaman, oleh arena itu saya baru berani menjadi bengcu kalau dua orang Locianpwe yang saya sebutkan namanya ini suka menjad) penasehat sehingga dalam memutuskan semua perkara, saya lebih dulu mendapatkan nasihat mereka. Kedua Locianpwe yang saya mohon menjadi penasihat adalah pertama Locianpwe Pek Bi Lojin atau Im Yang Sengcu Ketua Kun-lun-pai, dan kedua adalah Locianpwe Hui Sian Hwesio dari Siauw-limpai. Bagaimana, apakah Cu-wi setuju dengan permintaan saya ini? Dan terutama sekali, apakah Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Gagah Perkasa) dapat menerima permohonan saya?'' Mendengar ucapan yang tegas itu, semua orang bersorak mendukungnya. Im Yang Sengcu tertawa ketika mendengar ucapan itu dan dia bangkit dari kursinya. Semua orang terdiam, ingin mendengarkan bagaimana pendapat tosu yang di-angkat menjadi penasihat itu.
"Siancai....! Kalau Souw-taihiap yang menjadi bengcu, tentu dengan gembira sekali pinto suka menjadi penasihatnya. Pinto yakin bahwa sepak terjang Souw-taihiap selalu menurut jalan kebenaran. Pinto setuju!"
"Omitohud, benar apa yang diucapkan oleh Im Yang Sengcu, pinceng juga setuju saja menjadi penasihat mendampingi Souw-taihiap yang menjadi bengcu!"
Semua orang menyambut dengan gem-bira. Mendengar semua ini, Gui-ciangkun tersenyum dan dia pun bangkit berdiri sambil mengacungkan tangan minta ke-pada semua orang untuk tenang.
"Kami sungguh merasa gembira sekali. Baru sekali ini pemilihan bengcu berjalan demikian lancar, mudah dan semua suara menyetujui, tidak ada pertentangan sama sekali. Oleh karena itu, kami, sebagai pimpinan pemilihan bengcu ini, dengan ini menyatakan bahwa Tai-hiap Souw Tek Bun, menurut hasil pemilihan yang sah, ditetapkan menjadi...."
"Ha-ha-ha-heh-heh, tunggu duiu! Tidak semudah itu orang menjadi bengcu, memimpin seluruh dunia kang-ouw. Tidak, semudah itu!"
Semua orang terkejut.
Suara itu lirih dan lembut, akan tetapi terdengar jelas dan nada suaranya mengandung ejekan.
Melihat bahwa yang mengeluarkan suara celaan menghentikan ucapan tadi adalah seorang kakek yang bongkok kurus ber-jenggot putih, Gui Tiong In atau Gui-ciangkun adalah seorang panglima yang dahulunya juga seorang pendekar yang terkenal, tentu saja pengalamannya sudah banyak di dunia kang-ouw dar banyak pula tokoh kang-ouw yang dikenalnya.
Akan tetapi dia merasa tidak mengenal kakek ini, maka dia segera memberi hormat, mengangkat tangan ke depan dada dan berkata dengan suara hormat.
"Locianpwe siapakah dan mengapa berkata demikian? Pemilihan ini dilakukan dengan sah dan sudah menurut keputusan rapat."
"Ha-ha-ha, rapat yang diputuskan hanya karena pemungutan suara terba-nyak bukanlah rapat orang gagah! Pemilihan bengcu biasanya dilakukan bukan dengan mengadu suara, melainkan mengadu senjata dan siapa yang paling gagah dan menang, dialah yang pantas menjadi bengcu. Apa jadinya kalau seorang beng-cu yang memlmpin orang-orang gagah hanya seorang yang lemah? Bisa menjadi tertawaan dunia'"
"Locianpwe, pandangan Locianpwe ini keliru sama sekali,"
Kata Gui-ciangkun.
"Tidak sesuai dengan pandangan pemerintah. Seorang bengcu haruslah seorang yang gagah perkasa, memang, akan tetapi bukan seorang jagoan yang menduduki jabatan bengcu karena kekerasan. Kalau demikian, dia akan memimpin dengan kekerasan pula. Seorang bengcu haruslah seorang yang bijaksana, berhati jujur dan bersih, menentang kejahatan dan kepalsuan, menegakkan kebenaran dan keadilan, selalu berusaha untuk mensejahterakan kehidupan rakyat, bukan sebaliknya menindas rakyat dan melakukan kejahatan mengganggu ketenteraman. Karena Souw-taihlap memilih semua syarat itu, maka kaml memilihnya sebagai bengcu."
"He-he-he, Ciangkun. Itu adalar pandanganmu sebagai seorang pejabat pemerintah. Akan tetapi pandangan seorang kang-ouw lain lagi. Seorang bengcu haruslah nomor satu di dunia, baru dia berhak menjadi bengcu! Tiba-tiba Hui San Hwesio bangkit dari kursinya dan menudingkan telunjukrya ke arah kakek bongkok yang memegang tong-kat bambu kuning itu.
"Omitohud, kalau pinceng tidak keliru, melihat tongkat bambu kuning itu, engkau adalah Jeng-ciang-kwi, benarkah? Apa maksudmu datang ke tempat pertemuan ini? Bengcu sudah terpilih, apa kehendakmu sekarang?"
"Ha-ha. Hui Sian Hwesio dari Siauw-lim-pai bersikap angkuh! Aku tidak menghendaki apa-apa, hanya aku ingin mengatakan bahwa aku baru mau mengakui adanya seorang bengcu dunia kang-ouw kalau bengcu itu mampu mengalahkanku!"
Semua orang yang hadir kini meman-dang dengan hati tegang.
Biarpun belum pernah bertemu dengan orangnya, akan tetapi mereka semua sudah mengenal nama Jeng-ciang-kwi, seorang datuk sesat yang namanya annat terkenal, akan tetapl jarang dapat ditemui orang itu.
Sementara itu, Thian Lee yang tadi datang dan berdiri di belakang gurunya mendengarkan dan memandang dengan penuh perhatian.
Dia dapat menduga bahwa orang-orang yang hadir di situ adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang tentu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi gurunya yang seorang diri itu agaknya hendak menentang mereka!
Dan mendengar perbantahan itu, dia mengang-gap gurunya benar.
Menjadi pemlmpin para tokoh persilatan tentu saja haruslah seorang yang ilmu silatnya tanpa tanding.
"Jeng-ciang-kwi, apakah maksudmu menantang bengcu baru terpilih ini untuk merampas kedudukan bengcu? Apakah engkau bermaksud ingin menjadi bengcu dengan jalan kekerasan, mengadu ilmu silat?"
"Ho-ho-ha-ha, siapa mau menjadi bengciu, mengikatkan kaki tangannya kepada kedudukan? Tidak, aku tidak ingin merampas kedudukan bengcu. Akan tetapl aku tetap berpendirian, bahwa siapa yang menjadi bengcu haruslah dapat mengalahkan aku, kalau tidak mana aku mau mengakuinya sebagai bengcu? Juga semua rekanku tidak akan sudi mengakuinya sebagai bengcu. Nah, aku tantang bengcu pilihan kalian itu. Ataukah dia tidak berani menyambut tantanganku mengadu ilmu? Seorang bengcu yang ketakutan menghadapi tantangan? Ha-haha, alangkah lucunya!"
Sejak tadi Souw Tek Bun sudah meff rasa penasaran sekali.
Dia pun pernah mendengar nama besar Jeng-ciang-kwi, akan tetapi belum pernah bertanding de-ngannya.
Tentu saja dia tidak menjadi gentar, hanya tadi menahan kesabaran agar jangan terjadi keributan.
Sekarang, mendengar tantangan dan ejekan bahwa dia takut menghadapi tantangan itu, dia tidak dapat menahan sabar lagi dan banekit dari tempat duduknya.
Kemudian dengan langkah lebar dia menuju ke te-ngah panggung dan memberi hormat ke arah Jeng-ciang-kwi yang masih berada di bawah panggung.
"Aku Souw Tek Bun bukanlah seorang pengecut. Aku sudah lama mendengar nama besar Jeng-ciang-kwi dan kalau Jene-ciang-kwi menantangku, sudah tentu akan kulayani untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang pengecut walaupun dalam ilmu silat tentu aku bukan lawan Jeng-ciang-kwi yang amat tersohor itu! "Bagus sekali, ini baru namanya se-orang calon bengcu yang gagah,"
Kata Jeng-ciang-kwi dan sekali tongkatnya me-notol tanah, tubuhnya sudah melayang naik ke atas panggung.
"Jeng-ciang-kwi, ketahuilah bahwa bukan aku yang minta menjadi bengcu melainkan para Locianpwe dan udara yang berada di sini yang mermlih aku untuk menjadi bengcu. Lalu apa kehendakmu sekarang?"
"Ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi. Engkau menjadi bengcu baik-baik saja, akan tetapi untuk dapat menerima pe-ngakuanku dan pengakuan orang-orang kang-ouw yang saat ini tidak ikut hadir, engkau harus lebih dulu mengalahkan aku."
"Aku tidak pernah menolak tantangan, apalagi di antara kita tidak pernah ada permusuhan, hanya merupakan tantangan mengadu ilmu saja. Silakan, Jeng-ciang-kwi, aku sudah siap untuk melayanimu!"
Kata Souw Tek Bun dan sekali tangan kanannya bergerak ke belakang tangan itu kini sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan mengeluarkan sinar hijau.
Itulah Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) pemberian Kaisar Kian Liong kepadanya.
"Ho-ho, pokiam (pedang pusaka) yang bagus!"
Kata kakek itu memuji.
"Ini adalah Ceng-liong-kiam, pemberi-an Sri Baginda Kaisar untuk membasmi kejahatan!"
Jawab Souw Tek Bun dengan gagah. jawab Souw Tek Bun dengan gagah.
"Ha-ha-ha, asal saja jangan anggap aku seorang penjahat yang patut dibasmi"
Kata kakek itu tertawa mengejek.
"Tergantung dari sepak terjangmu, Jeng-ciang-kwi. Nah, aku sudah siap menghadapi tantanganmu'."
Jawab Souw Tek Bun dengan suara tegas.
"Heh-heh, saudara sekalian menjadi saksi apakah dia pantas menjadi bengcu ataukah tidak. Sin-kiam Hok-mo, demi-kian julukanmu, bukan? Ha-ha, biarlah aku menjadi Lo-mo (Iblis Tua) apakah benar pedangmu itu dapat menundukkan iblis! Sambutlah seranganku ini!"
Kakek itu menggerakkan tongkatnya.
Dengan lambat saja tongkat itu menyambar, akan tetapi angin pukulannya terasa oleh mereka yang jarak duduknya tidak terlalu jauh sehingga semua orang terkejut.
Souw Tek Bun maklum akan kelihaian kakek itu, maka dia pun sudah memasang kuda-kuda yang kuat dan begitu tongkat bambu kuning itu menyambar, dia langsung saja menangkis dengan bacokan kuat untuk mematahkan tongkat itu.
Agaknya Jeng-ciang-kwi juga khawatir kalau tong-kat bambunya terpotong oleh pedang yang ampuh itu, maka sebelum tongkatnya bertemu pedang tiba-tiba saja tongkat itu ditarik kembali dan kini tongkat itu melanjutkan serangan dengan totokan bertubi-tubi ke arah jalan-jalan darah yang mematikan di sebelah depan tubuh lawan.
Souw Tek Bun cepat berlompaian untuk mengelak dan kadang menangkis serangkaian serangan yang berbahaya itu.
Dan dia pun berusaha untuk membcilas serangan.
Akan tetapi ilmu tongkat kakek itu memang aneh sekali dan luar biasa.
Daya serangan tongkat itu seperti bersambung-sambung tiada habisnya, setiap kali dielakkan atau ditangkis tongkat itu sudah melayang lagi dengan ujungnya yang lain sehingga serangan menjadi bertubi-tubi dan Souw Tek Bun sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas.
Maka, akhirnya Souw Tek Bun hanya dapat memutar pedangnya menjadi perisai gulungan sinar yang melindungi tubuhnya dari hujan serangan itu.
Melihat ini, kakek itu mengendurkan serangan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Souw Tek Bun untuk balas menyerang dengan tusukan kilat.
Kakek itu nampak lambat gerakannya menghindar sehingga pedang itu menyerempet dadanya dan merobek bajunya, akan tetapi pada saat itu tongkatnya sudah dua kali menotok, mengenai kedua paha Souw Tek Bun dan pendekar ini tak dapat dicegah lagi sudah jatuh berlutut!
Jeng-ciang-kwi menghentikan serangannya dan tertawa.
"Ha-ha-ha, kalian lihat. Belum apa-apa dla sudah bertekuk lutut kepadaku, apakah yang begini pan-tas menjadi bengcu dunia kang-ouw?"
Thian Lee merasa gembira sekali melihat gurunya dapat mengalahkan lawan dan ini membuktikan bahwa gurunya memang seorang yang lihai sekali.
Un-tunglah dia mempunyai seorang guru yang demikian tangguh, yang tentu akan mengajarkan ilmu-ilmu hebat kepadanya.
Tak terasa lagi saking gembiranya dia bertepuk tangan memuji.
Kakek itu menoleh dan tersenyum kepadanya.
Dalam keadaan itu, tak seorang pun memihak padanya kecuali muridnya dan hal ini menyenangkan hatinya.
"Omitohud, Jeng-ciang-kwi sungguh sombong. Biarpun Souw-taihiap kalah dalam ilmu silat olehmu, tetap saja dia seratus kali lebih pantas menjadi bengcu daripada kamu. Kalau pinceng tetap memilih dia sebagai bengcu, habis engkau mau apa?"
"Ha-ha-ha, bengcunya tidak bisa apa-apa, tentu pemilihnya tidak becus lagi. Hui Sian Hwesio, seharusnya engkau memilih bengcu yang cakap dan pantas, setidaknya yang dapat menandingi aku. Kalau tidak demikian, pilihanmu hanya menyatakan kebodohanmu dan akan menjadi bahan tertawaan dunia kang-ouw saja."
"Jeng-ciang-kwi, apakah ini berarti bahwa engkau juga menantang pinceng?"
"Engkau dan siapa saja boleh mencoba-coba menandingiku, agar kalian baru terbuka mata bahwa pilihan kalian itu sama sekali keliru. Carilah orang yang setidak-nya setingkat dengan kepandaianku."
"Kau sombong!"
Pendeta Siauw-lim-pai itu membentak dan tubuhnya sudah melayang ke depan Jeng-ciang-kwi, sementara itu Souw Tek Bun yang jelas sudah kalah itu terpaksa mundur sambil menyimpan pedangnya.
Wajahnya agak kemerahan karena merasa penasaran.
Hui Sian Hwesio sudah berdiri berhadapan dengan Jeng-ciang-kwi, tangan kanannya memegang sebatang tongkat pendeta setinggi tubuhnya.
"Hemm, wakil Ketua Siauw-lim-pai hendak turun tangan sendiri menguji kepandaianku?"
Kata Jeng-ciang-kwi dengan suara mengejek.
"Tidak perlu membawa-bawa nama Siauw-lim-pai dalam urusan ini. Karena semua memilih Souw-taihiap memang sebagai wakil dari perkumpulan masing-masing, akan tetapi kini pinceng meng-hadapimu sebagai Hui Sian Hwesio pribadi. Kalau sebagai wakil Ketua Siauw-lim-pai tentu pinceng tidak sudi berurusan dengan orang seperti engkau. Kita berdua berdiri berhadapan sebagai pribadi-pribadi yang saling membela kebenaran sendiri. Nah, pinceng sudah siap, mulailah!"
"Bagus, hendak kulihat sampai di mana kehebatan Lo-han-pang (Ilmu Tong-kat Orang Tua) darimu. Sambutlah!"
Jeng-cian-kwi sudah menggerakkan tong-kat bambu kuningnya melakukan serangan.
Hui Sian Hwesio menangkis dengan tongkatnya lalu membalas dan dalam beberapa menit keduanya sudah saling serang dengan hebatnya.
Tongkat dan batang bambu itu menyambar-nyambar bagaikan dua ekor naga yang bermain di angkasa.
Setiap kali bertemu mendatang-kan getaran yang terasa oleh semua yang hadir di situ, menandakan bahwa kedua orang itu memiliki tenaga Iwee-kang (tenaga dalam) yang amat dahsyat.
Dan kadang-kadang kedua tongkat itu kalau bertemu mengeluarkan bunyi nyaring, kadang-kadang tidak berbunyi sama sekali seolah kedua senjata itu terbuat dari bahan yang lunak.
Bukan main serunya pertandingan an-tara kedua orang tokoh tua yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi itu.
Bahkan sebagian besar para penonton tidak dapat mengikuti pertandingan itu dengan baik karena kadang gerakan ke-duanya demikian cepat sehingga yang nampak hanyalah gulungan sinar kuning dan putih yang panjang melingkar-lingkar.
Akan tetapi ada kalanya mereka bergerak lambat sekali dan mengadu tenaga sin-kang melalui tongkat mereka.
Setelah lewat seratus jurus lebih, tiba-tiba Jeng-ciang-kwi mengeluarkan suara bentakan melengking dan kedua tangannya memegang bambu kuning itu mendorong ke depan.
Hui Sian Hwesio menangkis dengan tongkatnya dan ter-dengar suara keras ketika tongkatnya patah menjadi dua potong!
Terpaksa dia melompat ke belakang.
"Omitohud....! Engkau memang tangguh sekali, Jeng-ciang-kwi!"
Terpaksa dia mengakui keunggulan lawan.
"Ha-ha-ha, siapa lagi yang hendak bertanding dengan aku? Kulihat Im Yang Sengcu berada di sini. Selain dia, kiranya tidak ada yang pantas menjadi lawanku, ha-ha-ha!"
Im Yang Sengcu adalah seorang ketua dari perkumpulan besar Kun-lun-pai.
Tentu saja dia merasa segan untuk bertanding begitu saja di depan umum melawan seorang yang tidak ada urusan apa-apa dengan dirinya pribadi atau dengan Kun-lun-pai, maka dia merasa serba salah.
Akan tetapi melihat Hui Sian Hwesio sudah dikalahkan, Im Yang Sengcu juga merasa tidak enak kalau diam saja.
Dia lalu bangkit berdiri menghampin Jeng-ciane-kwi dan setelah berhadapan, dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan dan berkata.
"Siancai, pinto Ketua Kun-lun-pai tidak mempunyai alasan untuk bertanding deneanmu. Akan tetapi pinto merasa kagum sekali atas kepandaianmu yang tinggi, Jeng-ciangkwi. Terimalah hormat pinto. Ketika tosu itu memberi hormat dengan mengacungkan kedua tangan depan dada, ada serangkum hawa yang menyambar dari kedua tangannya ke depan. Jeng-ciang-kwi segera maklum bahwa tosu itu hendak menguji kekuatan sin-kangnya, maka dia pun cepat membalas penehormatan itu dengan merangkap kedua tangan ke depan dada dan mendorongnya ke depan sambil mengerahkan sin-kang. Terjadi adu tenaga sakti yang amat dahsyat di udara. Mereka yang berada agak dekat dapat merasakan getaran itu dan otomatis mereka meiangkah mundur. Dan dalam adu tenaga sakti itu, Ketua Kun-lun-pai tergetar dan kedudukan kakinya berubah, akan tetapi sebaliknya Jeng-ciang-kwi melangkah mundur dua kali. Ini merupakan tanda bahwa dalam hal tenaga sin-kang, Iblis Tangan Seribu itu masih kalah setingkat. Dia terkejut sekali dan merasa beruntung bahwa Ketua Kun-lun-pai itu menjaga martabat dan tidak mau mengadu Imu kepandaian dengannya, karena kalau demikian halnya, besar kemungkinan dia akan katah melawan Ketua Kun-lun-pai itu. Sementara itu, Gui Tiong In s'idah bangkit dan melangkah maju menghadapi Jeng-ciang-kwi dan suaranya terdengar menggeledek ketika dia berkata.
"Jeng-ciang-kwi, kami minta engkau suka mun-dur dan jangan membikin kacau pemilihan bengcu yang sudah berjalan tertib ini. Kalau engkau tidak mau menghentikan pengacauanmu, engkau akan berhadapan dengan pemerintah!"
Jeng-ciang-kwi merasa jerih ditantang seperti itu.
Bagaimanapun juga, kalau sampai dia dianggap musuh oleh pemerintah dan harus menghadapi pasukan besar yang kokoh kuat, tentu dia tidak akan merasa aman lagi hidupnya.
Ke manapun dia pergi, dia akan menjadi orang buruan dan akhirnya tentu dia akan tertawan juga, atau terbunuh.
"Ha-ha-ha, siapa yang membikin kacau? Aku hanya ingin menguji kepandaian bengcu dan sekarang juga aku akan pergi. Hanya lucu sekali kalau pemerintah mulai mencampuri urusan dunia kang-ouw. Thian Lee, mari kita pergi!"
Dia lalu memutar tubuhnya, melompat turun dari panggung dan melangkah pergi diikuti oleh Thian Lee.
Ilmu merupakan alat bagi manusia untuk mengatasi kesukaran dalam kehi-dupan, untuk mencari kesejahteraan dan kebahagiaan, seperti alat-alat lain yang ada pada diri manusia.
Ilmu tidaklah jahat ataupun baik, semua itu tergantung kepada pemakainya, kepada manusia.
Baik dan buruknya ilmu sebagai alat manusia, tergantung kepada manusianya.
Kalau ilmu dipergunakan untuk berbuat jahat, tentu saja ilmu itu menjadi ilmu jahat, sebaliknya ilmu apa pun kalau di-pergunakan, untuk berbuat kebaikan, ilmu itu menjadi ilmu yang balk.
Yang baik atau jahat bukanlah ilmunya, bukanlah alatnya, melainkan manusianya.
Dan betapa pun tinggi ilmu, betapa pun baik-nya, apa artinya apabila ilmu tidak diamalkan untuk berbuat kebaikan?
ilmu yang dipergunakan untuk berbuat jahat, akhirnya akan menceiakakan manusianya sendiri.
Jahat ataupun baik, semua itu tergantung kepada pemakainya, kepada manusia.
Baik dan buruknya ilmu sebagai alat manusia, tergantung kepada manusianya.
Kalau ilmu dipergunakan untuk berbuat jahat, tentu saja ilmu itu menjadi ilmu jahat, sebaliknya ilmu apa pun kalau di-pergunakan, untuk berbuat kebaikan, ilmu itu menjadi ilmu yang balk.
Yang baik atau jahat bukanlah ilmunya, bukanlah alatnya, melainkan manusianya.
Dan betapa pun tinggi ilmu, betapa pun baik-nya, apa artinya apabila ilmu tidak diamalkan untuk berbuat kebaikan?
ilmu yang dipergunakan untuk berbuat jahat, akhirnya akan menceiakakan manusianya sendiri.
Orang seperti Jeng-ciang-kwi menganggap ilmu untuk menang-menangan, untuk bersaing dan menonjolkan diri sebagai jagoan tak terkaiahkan.
Dengan sendirinya pendapat seperti ini hanya mendatangkan permusuhan belaka.
Bagaimanapun juga, orang yang dikalahkan tentu akan mendendam dan akan mempelajari ilmu yang lebih tinggi untuk menebus kekalahannya.
Dan orang begini tentu selalu memandang diri sendiri yang terpandai, tak terkalahkan, merendahkan orang lain sehingga terpupuk kesombong-an dalam hatinya.
Setelah Jeng-ciang-kwi pergi, rapat pertemuan itu dilanjutkan dan akhirnya diambil keputusan bahwa yang menjadl bengcu adalah Souw Tek Bun.
Pendekar ini bertempat tinggal di puncak Hong-san, tinggal seorang diri karena dalam usianya yang empat puluh tahun itu dia masih membujang.
Biarpun tingkat ke-pandaian pendekar ini belum mencapai puncaknya dan masih dikalahkan Oleh Jeng-ciang-kwi, akan tetapi kedudukannya seba-gai bengcu cukup kuat karena dia men-dapat dukungan wakil-wakil partai besar, tokoh-tokoh kang-ouw ternama dan terutama sekali mendapat dukungan dari pemerintah Ceng.
Kerajaan Ceng, terutama ketika dipegang oleh Kaisar Kian Liong, memang pandai mengambil hati orang-orang pandai.
Karena dunia kang-ouw juga sudah dirangkulnya, maka tentu saja para pendekar tidak lagi memiliki semangat untuk memberontak, tidak ada pikiran untuk berjuang membebaskan rakyat dari penjajahan.
Apalagi karena sang penjajah mementingkan kebutuhan rakyat, tidak menekan, bahkan lebih baik daripada ketika rakyat diperintah oleh bangsa sendiri, maka rakyat pun merasa lega dan tidak mempunyai keinginan untuk memberontak.
Kalau pemerintah sudah mendapat dukungan rakyat terbanyak, tentu saja pemerintah itu menjadi kuat.
Jeng-ciang-kwi membawa muridnya ke tempat tinggalnya, yaitu di Bukit Kwi-san yang berada di utara.
Di Kwi-san ini terdapat sebuah lembah yang disebut Lembah Iblis dan di tengah lembah itu terdapat sebuah guha yang dari jauh bentuknya mirip tengkorak manusia, karena itu disebut Guha Tengkorak.
Di Lembah Iblis ini, Jeng-ciang-kwi tinggal sebagai majikannya dan dia mempunyai selosin anak buah yang selalu menjaga tempat itu.
Jalan masuk ke tempat tinggal Jeng-ciang-kwi hanya satu, yaitu melalui guha yang seperti tengkorak itu.
Ketika Thian Lee tiba di situ bersama gurunya, dia merasa ngeri melihat guha yang mirip tengkorak itu.
Kemudian ber-munculan dua belas orang yang berpakaian serba hitam dan mereka itu kelihatan bengis dan bertubuh kuat.
Mereka semua memberi hormat kepada Jeng-ciang-kwi sambil berlutut di kanan kiri guha.
"Terjadi apakah selama aku pergi?"
Tanya Jeng-ciang-kwi.
"Tidak terjadi sesuatu yang penting, Kokcu (Majikan Lembah),"
Seorang di antara mereka melapor.
"Bagus! Kalian lihat baik-baik, anak ini adalah Song Thian Lee, muridku yang baru. Kalian harus bersikap baik-baik kepadanya. Dan Thian Lee, mereka ini adalah para pelayanku, juga murid-muridku dan anak buahku. Engkau harus menghormati mereka."
"Baik, Suhu. Para suheng, kalian baik-baik sajakah?"
Tegur Thian Lee kepada mereka. Dua belas orang itu hanyai mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Aku ingin merayakan kepulanganku bersama Thian Lee, sediakan arak dan, makanan,"
Kata pula Jeng-ciang-kwi dan dia mengajak Thian Lee memasuki guha tengkorak.
Ternyata guha itu besar dan dalam.
Dan di sebelah dalamnya merupakan terowongan yang lebar dan panjang yang menembus ke sebuah taman yang luas pula.
Dan di tengah-tengah aman itu berdirilah sebuah bangunan yang megah dan besar.
Kiranya kakek itu memiliki tempat tinggal yang besar dan bagus, pikir Thian Lee terheran.
Mereka memasuki rumah itu dan Thian Lee mendapatkan sebuah kamar di tengah.
Dua belas orang itu memiliki kamar-kamar di ba-gian belakang rumah besar itu.
Demikianlah, mulai hari itu Thia Lee tinggal di rumah besar Jeng-ciang-kwi.
Dan mulai pula dia menerima pelajaran ilmu sMat dari gurunya.
Karena Thian Lee sudah memiliki pengetahuan dasar ilmu silat tinggi yang dipelajari selama dua tahun dari Liok-te Lo-mo, dan karena memang dia berbakat baik, maka dengan mudah dia dapat berlatih sesuai dengan pelajaran yang diberikan Jeng-ciang-kwi.
Juga Iwee-kang yang pernah dilatihnya dari Liok-te Lo-mo dengan cara merendam tangan di dalam es, lalu memanggang di atas api, telah mendatangkan sin-kang yang lumayan.
Selama setengah tahun menjadi murid Jeng-ciang-kwi, Thian Lee merasa bahwa apa yang diajarkan Jeng-ciang-kwi amat-lah lambat.
Dan selain menjadi mund dan belajar silat, waktunya dihabiskan untuk bekerja di dalam rumah itu.
Mem-bersihkan semua perabotan, menyapu lantai dan segala macam pekerjaan yang dia lakukan setiap hari.
Ada satu hal yang membuat Thian Lee merasa penasaran.
Di dalam rumah itu terdapat sebuah kamar yang pintunya selalu tertutup.
Gurunya melarang dia memasuki kamar itu, apalagi membersih-kannya.
Sudah lajim bagi siapa saja, hal yang dilarang itu bahkan menarik hati, Karena dilarang memasuki kamar itu, Thian Lee merasa penasaran dan ingin sekali dia melihat apa sebetulnya yang berada di kamar itu.
Pada suatu hari, Jeng-ciang-kwi memanggil Thian Lee.
"Thian Lee aku akan meninggalkan rumah barang tiga hari. Engkau jaga rumah baik-baik dan jangan lupa untuk melatih jurus yang baru ku-ajarkan kepadamu kemarin. Juga jangan lupa membersihkan rumah. Ingat, jangan keluar dari dalam guha kalau aku sedang tidak berada di rumah."
"Baik, Suhu."
Kata Thian Lee.
Setelah gurunya pergi, dia menyapu lantai rumah yang luas itu seperti biasa.
Ketika dia menyapu tiba di depan kamar yang terlarang itu, dia berhenti dan termenung memandangi pintu kamar.
Apa sih yang berada di dalam kamar ini, pikirnya ingin sekall tahu.
Gurunya sedang tidak berada di rumah dan para anak buah gurunya juga tidak berada di rumah itu.
Mereka itu selalu berada di luar rumah untuk bekerja mengurus keperluan sehari-hari dan juga untuk berjaga rumah di sebelah luar.
Kalau tidak dipanggil oleh Jeng-ciang-kwi, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani memasukl rumah.
Tidak ada orang lain di dalam rumah, pikir Thian Lee.
Kalau aku menjenguk ke dalam kamar, apa salahnya?
Karena keinginan tahu yang amat mendesak, yang timbul dari larangan suhunya, akhirnya Thian Lee mendorong daun pintu.
Daun pintu itu tidak dikunci dan biarpun agars' berat, dapat juga terbuka.
Dan ternyata, kamar itu penuh dengan kitab!
Berderet-deret di rak buku dan juga kotor ber-debu!
juga kotor ber-debu!
Thian Lee adalah seorang penggemar membaca kitab.
Maka melihat demikian banyaknya kitab, hatinya menjadi girang sekali.
Kalau hanya kitab-kitab isi kamar ini, mengapa dirahasiakan oleh gurunya?' Melihat kitab-kitab itu demikian kotor, Thian Lee segera membersihkannya dengan pengebut bulu.
Juga lantainya kotor?
bukan main.
Dia mengebut lalu menyapu lantainya sehingga kamar itu bersih.Akan tetapi selain itu, dia tidak dapat mehahan keinginan hatinya untuk melihat-lihat kitab itu.
Ada sebuah kitab yang kelihatan sudah tua sekali.
Dibukanya kitab itu dan ternyata itu adalah sebuah kitab pelajaran silat.
Judul kitab itu "Pat-kwa-sin-kun" (Ilmu Silat Sakti Delapan Segi) dan segera dibacanya.
Membaca satu bagian Thian Lee mengnafalnya di luar kepala, lalu dia mengernbalikan kitab itu dan keluar dari dalam kamar.
Malamnya, di dalam kamarnya, dia mengingat kembali apa yang telah dibacanya dan mencoba untuk memainkan jurus ilmu silat yang telah dibacanya.
Ternyata lebih mengasyikkan daripada apa yang telah dipejari dari gurunya.
Sekali membaca bagian pertama, Thian Lee .rnenjadi penasaran dan setiap kali terdapat kesempatan, dia selalu menyelinap masuk ke dalam kamar pustaka dan membaca kitab Patkwa-sin-kun.
Sedikit demi sedikit dia membaca dan menghafalkan lalu melatih dirinya di dalam kamar.
Sebetulnya ilmu silat Pak-kwa-sin-kun yang dipelajari Thian Lee itu hanyalah ilmu silat biasa saja, akan tetapi karena dia mempelajari sambil sembunyi-sembunyi, maka menarik sekali dan dia merasa seolah menemukan suatu ilmu rahasia yang hebat..Akan tetapi pada suatu hari, ketika dia sedang membaca kitab di dalam ka-mar tiba-tiba terdengar tindakan kaki di luar kamar!
Dan terdengar suara gurunya.
"Benarkah bahwa dia sering kali memasuki kamar ini?"
"Benar, Kokcu. Saya tidak berani berbohong!"
Terdengar suara seorang anak buah.
Mendadak kamar itu terbuka.
Gurunya sudah berdiri di ambang pintu dengan alis berkerut dan mata mencorong marah Thian Lee yang sedang membaca kitab itu menjadi demikian kaget sehingga kitab itu terjatuh ke atas lantai.
"Kau....! Berani engkau melanggar laranganku?"
Bentak Jeng-ciang-kwi. Karena sudah ketahuan, Thian Lee tidak dapat membela diri. Dia hanya menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Ampunkan teecu, Suhu!"
"Enak saja minta ampun. Hayo keluar!"
Bentak gurunya.
Thian Lee keluar dan pintu kamar itu kembali ditutup oleh Jeng-ciang-kwi.
Kemudian dia menarik Thian Lee diajak pergi keluar dan ru-mah, terus melalui terowongan dari keluar dari dalam guha tengkorak.
Seperti terbang kakek itu lari sambil menggandeng tangan Thian Lee yang tergantung | dan seperti diterbangkan saja.
Setelah tiba di kaki bukit, barulah kakek itu berhenti.
"Engkau tahu dosamu?"
"Teecu mengaku salah, Suhu,"
Kata Thian Lee dan dalam suaranya terkandung ketakutan melihat wajah gurunya yang demikian bengisnya.
"Engkau pantas dihukum mati! Belum pernah ada orang yang melanggar larang-anku!"
Dia mengeluarkan sehelai tali yang agaknya dibawanya sejak tadi dan , sekali dia melempar tali itu, tubuh Thian Lee sudah terlibat dan terikat tali.
"Maafkan teecu Suhu,"
Kata Thian Lee.
Akan tetapi kakek itu tidak menjawab, melainkan dengan satu hentakan tubuh Thian Lee yang sudah terikat tali ?itu melayang ke atas pohon dan di lain saat dia telah tergantung dari pohon dengan kedua tangan terikat pada tubuhnya.
Dia digantung di situ sehingga kepalanya berada di bawah kakinya di atas, sama sekali tidak mampu meronta karena kedua lengan dan kaki terbelit-belit tali yang kuat sekali.
Dia tergantung kira-kita satu meter dari tanah dan kakek itu mengikatkan ujung tali pada batang pohon.
"Aku akan membiarkan engkau di sini sampai ada harimau atau binatang buas lain memakanmu! Inilah hukumanmu!"
Kata kakek itu dan dia segera pergi dari situ meninggalkan Thian Lee tergantung dari pohon itu.
Thian Lee merasa ngeri.
Dia tahu bahwa di sekitar tempat ini memang banyak terdapat binatang buas sepepti harimau, ular dan semacam srigala yang buas.
"Suhu, lepaskan teecu...."
Berulang dia memohon akan tetapi tidak ada suara jawaban.
Agaknya kakek itu sudah meninggalkan dia dalam keadaan tidak berdaya.
Kalau benar muncul harimau atau binatang liar lainnya, tentu dia akan mudah dijadikan mangsa binatang itu tanpa dapat melawan atau melarikan diri sama sekali.
Suhuu"
Sampai serak tenggorokannya memanggil gurunya, akan tetapi sia-sia saja.
Bahkan yang muncul bukan gurunya, melainkan seekor harimau hitam!
Harimau itu mengendusendus dengan mulutnya, mencium bau manusia dan akhirnya dilihatnya pemuda remaja yang tergantung di situ.
Berindap-indap harimau itu menghampiri, mengeluarkan suara auman mengerikan.
Kemudian dia mendekam dan mengambil ancang-ancang untuk menubruk Thian Lee.
Tentu saja anak itu merasa ngeri bukan main.
"Suhu....! Tolonglah teecu...!"
Dia berteriak dan teriakannya mengejutkan harimau itu akan tetapi tidak menbuatnya takut, hanya agaknya menunda terkamannya.
Sejenak harimau itu menunggu, akan tetapi karena tidak terjadi sesuatu, dia lalu mengambil ancang-ancang lagi untuk melompat dan menerkam mangsa itu.
Thian Lee terbelalak memandang harimau itu.
Mati aku sekarang, pikirnya dan otomatis mulutnya berseru.
"Ibu, tolonglah aku....!"
Pada saat itu harimau melompat dan menerkam.
Thian Lee memejamkan matanya, menanti saat dia diterkam.
Akan tetapi terdengar suara gedebukan dan harimau itu menggereng keras.
Ketika dia membuka mata, dia melihat harimau itu bergulingan dan sebatang kayu sebe-sar lengan telah menancap di perut harimau itu.
Kemudian harimau itu melarikan diri sambil membawa kayu yang masih menancap di perutnya.
Agaknya ada yang menolongnya dan menyerang harimau itu dengan tombak kayu!
Tentu gurunya yang menolongnya.
Nampak Jeng-ciang-kwi muncul keluar entah dari mana dan dia pun marah-marah.
"Jahanam keparat! Siapa yang berani lancang membunuh harimau dan menolong anak setan ini?"
Tampak Jeng-ciang-kwi muncul keluar entah dari mana dan dia pun marah-marah.
"Jahanam keparat! Siapa yang berani lancang membunuh harimau dan menolong anak setan ini?"
Thian Lee masih tidak mengerti, mengira gurunya berpura-pura karena selain gurunya, siapa dapat menolongnya tadi dan membuat harinnau itu terluka dan melarikan diri?
Dia hanya dapat memandang sambil bergantung di tali itu.
"Jeng-ciang-kwi, engkau yang jahanam keparat! Kernbalikan jiwa suteku."
Terdengar bentakan nyaring suara wanita dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang wanita yang menyeramkan sekali.
Wanita itu sebetulnya tidak buruk wajahnya, bahkan dapat dibilang cantik akan tetapi muka itu pucat seperti muka mayat, akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata harimau.
Tubuhnya tinggi kurus, usianya kurang lebih empat puluh tahun dan bajunya serba merah!
Di tangan wanita itu terpegang seekor ular merah yang panjangnya hanya setengah meter dan besarnya seibu jari kaH.
Ular itu melingkar di lengan kanannya.
Melihat wanita itu, Jeng-ciang-kwi memandang tajam lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, tentu engkau yang bernama Ang-tok Mo-li (Iblis Wanita Racun Merah)."
Mungkin julukan itu karena ia berpakaian serba merah, dan melihat julukannya pakai racun dapat diduga bahwa ular yang berada di tangannya itu tentu juga beracun!
"Sudah mengenal namaku, engkau harus rnembayar hutangmu atas kematian suteku!"
"Hemm, sutemu itu tentu Hek-kak-liong, bukan? Ketahullah, Hek-kak-liong (Naga Tanduk Hitam) berani menentangku dan kanru berkelahi. Karena kepandaiannya yang belum seberapa berani menen-tangku, dan dalam perkelahian dia tewas, apa lagi yang harus diributkah?"
"Dia adalah suteku yang tercinta, sekarang telah kaubunuh, engkau harus mengganti nyawanya!"
Bentak wanita itu, suaranya nyaring melengking.
"Heh-heh-heh, adik seperguruanmu ataukah kekasihmu? Ha-ha, aku sudah mendengar bahwa Hek-kak-liong itu seorang mata keranjang dan engkau iblis betina ini juga tidak jelek."
"Keparat, engkau harus marasai tanganku!"
Bentak wanita itu marah dan ia pun sudah menubruk maju dan menyerang kakek itu dengan cakaran tangaf kirinya yang berkuku runcing.
Jeng-ciang-kwi terkejut juga melihat serangan ini yang mendatangkan angin keras dan dia mencium bau amis, tanda bahwa tangan wanita itu, mungkin kukunya, mengan-dung racun yang berbahaya.
Maka dia pun melompat ke belakang lalu mengayun tongkat bambunya menyerang.
Akan te-tapi wanlta itu dapat bergerak dengan gesit, mengelak dari sambaran tongkat bambu, lalu menyerang lagi, kini lebih hebat karena dia menggunakan tangan kanan dan ular yang tadi melingkar di lengan kanannya itu tiba-tiba terulur dan menggigit ke arah pundak Jeng-ciang-kwi.
Kakek ini mendengus dan mengelak sambil memutar tongkat bambunya.
Me-reka segera saling serang dengan seru dan hebatnya.
Sementara itu,thian Lee yang masih tergantung itu tiba-tiba melihat seorang artak perempuan menghampirinya.
Anak perempuan ini berusia kurang lebih dua belas tahun, cantik mams dengan Tarribut dikepang menjadi dua kuncir dan memakai pita merah.
Pakaiannya berkembang-kembang dan tangan kirinya juga mem-bawa seekor ular hitam.
Dia mendekati Thian Lee dan bertanya.
"Engkau ini kenapakah diikat dan digantung di sini? Hi-hik, kau lucu sekali, seperti seekor monyet yang tertangkap jebakan, hi-hik."
Thian Lee mengerutkan alisnya. Ucap-an anak perempuan itu menyakitkan hati-nya. Kalau tadinya dia ingin minta to-long agar dilepaskan, ketika mendengar ucapan itu, maksudnya minta tolong diibatalkan.
"Aku diikat di sini, apa pedulimu? Pergilah, tak perlu engkau mengejek aku!"
Kata Thian Lee. Anak perempuan ilu tertawa.
"Aku tahu, engkau tentu hendak dibunuh oleh kakek jahat itu. Tadi kalau tidak ada aku yang menyambitkan tombak kayu kepada harimau itu, engkau kini tentti sudah berada di dalam perut harimau dan tidak dapat bersikap angkuh seperti ini."
Thian Lee terkejut. Jadi bocah inikah yang tadi telah menyelamatkan nyawanya dari terkaman harimau? Dia menyesal telah bersikap tidak bersahabat.
"Ah, engkau yang tadi menolongku? Terima kasih kalau begitu,"
Katanya dan mukanya berubah merah.
"Engkau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa engkau terikat disini?"
"Suhu yang mengikat aku di sini."
"Suhumu? Siapa suhumu?"
"Jeng-ciang-kwi itulah suhuku."
"Dan dia mengikat muridnya sendiri untuk dimakan harimau? Bagaimana ini? Mana ada suhu mengancam begitu?"
"Aku yang bersalah. Aku mencuri baca kitab milik Suhu dan aku dihukum."
"Tidak pantas! Kalau murld membaca kitab gurunya, hal itu sudah semestinya. Menghukum boleh saja, akan tetapi se-ngaja mengorbankan murid untuk dimakan harimau? Itu sungguh mengerikan dan keji sekali. Mari kubebaskan engkau, maukah?"
"Tentu saja mau."
Bocah itu lalu mengalungkan ular hitam di lehernya sehingga kini kuncirnya bertambah satu karena seekor ular itu berjuntai seperti kuncir rambut.
Kemudi-an sepuluh jari tangannya yang kecil mungil mulai membuka ikatan pada tubuh Thian Lee sehingga akhirnya Thlan Lee terlepas dan jatuh ke atas tanah.
Dia merasa kaki tangannya bekas gigitan ikatan tali itu nyerinyeri dan kini dia bangkit memandang kepada gadis cilik itu.
Anak perempuan itu hanya setinggi pundaknya.
Diam-diam dia kaget sekali.
Masih begitu kecil sudah dapat membuat harimau tadi terluka parah dan melarikan diri, mungkin mati karena perutnya ter-tembus kayu.
Hebat sekali!
"Apakah engkau murid wanita yang bertempur melaWan guruku itu?"
"Benar, namaku Bu Lee Cin. Engkau siapa?"
"Namaku Song Thian Lee. Lee Cih, terima kasih atas pertolonganmu yang dua kali itu. Membunuh harimau dan mernbebaskan aku dari ikatan. Mudah-mudahan lain waktu aku dapat membalas pertolonganmu ini."
"Hemm, tidak bisa. Agaknya kita sekarang harus tertanding, saling serang. Hayo, mulailah anak perempuan itu sudah memasang kuda-kuda, siap untuk menyerang Thian Lee.
"Eh? Apa-apaan engkau ini? Mengapa kita harus saling serang?"
"Lihat gurumu dan guruku sudah bertanding. Kita sebagai murid-murid mereka harus membela guru, maka marilah kita bertanding."
"Tidak, engkau sudah menolongku, untuk apa aku bertanding? Kalau engkau tadi tidak mpnolongku, aku sudah mati diterkam harimau. Kalau kini engkau hendak menagih, ambillah nyawaku. Bunuhlah aku, aku tidak akan melawan."
Gadis itu tidak jadi memasang kuda-kuda.
"Lho, engkau ini bagaimana sih? Apakah engkau tidak hendak membantu gurumu?"
"Tidak, kalau pembelaan itu mengharuskan aku bertanding denganmu. Engkau seorang gadis yang baik, aku ingin bersahabat denganmu, bukan bermusuh."
"Kalau begitu, mari kita menonton saja. Kaukira siapa yang akan menang? Guruku atau gurumu?"
Tanya Lee Cin.
"Tongkat bambu kuning guruku lihai sekali, gurumu tidak akan menang,"
Kata Thian Lee sambil menonton pertempuran yang masih berlangsung seru itu.
"Belum tentu! Engkau tidak tahu. Ular yang dibawa guruku itu adalah ular merah yang racunnya ampuh sekali. Sekali terkena gigitan ular itu, gurumu akan mampus!"
Jawab Lee Cin tidak mau kalah.
Pertandingan itu memang hebat bukan main.
Baru sekarang Jeng-ciang-kwi ber-temu tanding yang setingkat.
Memang, permainan tongkat bambu kuning di tangannya membuat lawannya terdesak, akan tetapi Ang-tok Mo-li memiliki ge-rakan yang gesit sekali sehingga biarpun terdesak, tubuhnya berkelebatan di anta-ra gulungan sinar tongkat yang kekuning-kuningan.
Sementara itu, ,beberapa kali ularnya hampir dapat menggigit lengan kakek itu sehingga kakek itu rnenjadi lebih hati-hati memutar tongkatnya, tidak memberi lubang sama sekali bagi ular itu untuk mematuk.
Ular itu adalah Ang-hwa-coa (Ular Kembang Merah), bukan saja beracun hebat sekali, akan tetapi juga memiliki gerakan yang gesit.
Setiap kali ujung tongkat bambu mengancam kepalanya, ular itu dapat mengelak sendiri.
Ekornya membelit pergelangan tangan wanita tua itu dan kepalanya kadang meluncur untuk menyerang.
Biar-pun ada ular di lengannya, Ang-tok Mo"
Li masih dapat menggunakan tangan ka-nan itu untuk menyerang dan kedua ta"
Ngannya yang membentuk cakar itu juga mengandung racun yang hebat sehingga Jeng-ciang-kwi harus berhati-hati sekali karena sekali saja terkena goresan kuku atau gigitan ular, akibatnya akan berbahaya bagi dirinya.
Perkelahian itu sudah berlangsung hampir dua ratus jurus dan belum ada yang menang atau kalah.
Dua orang anak yang menonton itu duduk berdampingan seperti dua orang sahabat baik.
Katau ada orang melihatnya tentu sama sekali tidak akan mengira bahwa mereka adalah murid-murid dari dua orang yang berkelahi mati-matian nampak begitu akur!
"Bagaimana kalau gurumu nanti kalah dan mati, Thian, Lee?"
Tanya Bu Lee Cin. ''Hemm, aku akan pergi merantau dan hidup sebatang kara di kolong langit ini."
"Kau sudah tidak mempunyai ayah ibu dan saudara?"
"Tidak sama sekali, hanya seorang diri sebatang kara."
"Sama saja. Aku pun demikian. Hanya ada Subo disampingku."
"Hemm, bagaimana kalau, subomu yang kalah dan tewas?"
"Aku pun akan merantau' seorang diri. Aih, alangkah senangnya kalau kita dapat pergi merantau berdua, Thian Lee!"
"Ya, senang sekali. Hemm, bagaimana mungkin? Engkau murid subomu dan aku murid suhuku."' "Engkau tidak menyesai Walau suhumu kalah dan tewas?"
"Apa yang disesalkan? Suhu tadi juga hampir membunuhku. Kalau dia kalah dan tewas, adalah kesalahannya sendiri mengapa dia sampai kalah. Bagaimana kalau subomu yang tewas? Apakah engkau tidak menyesal?"
"Tentu saja. Aku akan Belajar lebih' tekun dan k^lak membalas kernatian suboku."
Terdengar suara melengking keras yang menghentikan percakapan mereka karena mereka kini memperhatikan lagi jalannya pertandingan yang terlalu cepat bagi mereka.
Kadang mereka tidak dapat membedakan mana guru masing-masing kalau kedua orang itu bergerak cepat.
Tiba-tiba Jeng-ciang-kwi mengeluarkan bentakan nyaring.
"Kena....!"
Dari ujung tongkatnya benar saja telah berhasil menotok pundak lawan.
Ang-tok Mo-li menjerit dan tangan kirinya bergerak, tiba-tiba ular merahnya meloncat dan seperti terbang meluncur ke depan, tahu-tahu sudah menempel di lengan Jeng-ciang-kwi dan menggigit sekali, lalu mencelat lagi kembali ke tangan Ang-tok Mo-li.
Ang-tok Mo-li terhuyung ke belakang dan rnuntah darah,, sebaliknya Jeng-ciang-kwi juga terhuyung lalu duduk bersila sambil memejamkan matanya rnengerah-kan sin-kang untuk melawan racun ular yang telah menggigit lengannya.
Ang-tok Mo-li juga ambruk dan bersila.
Ke-dua orang itu sama-sama telah terluka parah, entah siapa yang lebih parah.
Ang-tok Mo-li yang tertotok pundaknya ataukah jeng-ciang-kwi yang tergigit ular merah.
Ang-hwa-coa memang mempunyai racun yang hebat sekali dan orang yang terkena gigitannya akan sukar mendapatkan obatnya.
Ang-tok Mo-li juga terkena totokan di pundaknya yang membuatnya terluka hebat di sebelah dalam dadanya.
Jeng-ciang-kwi cepat menotok siku dan pangkal lengannya untuk menghentikan jalan darahnya agar racun tidak menjalar naik, akan tetapi dia menderita nyeri yang bukan main.
Lengannya seperti dibakar.
Thian Lee lari menghampiri gurunya, lalu memapahnya untuk diajak pergi dari situ, untuk kembali ke rumah di puncak Kwi-san.
Dan Lee Cin juga memapah gurunya, diajak pergi meninggalkan tempat itu.
Kedua orang yang sudah terluka itu menurut saja dipapah muridnya ka-rena mereka khawatir kalau tidak cepat pergi dan lawan dapat menyerang selagi mereka terluka, tentu mereka tidak akan dapat melawan lagi.
Thian Lee memapah gurunya yang bersandar kepadanya dan berjalan terta-tih-tatih.
"Jangan... jangan bawa aku pu-lang.... bawa ke sana, ke barat, ke hutan itu."
"Akan tetapi, Suhu, kenapa tidak pulang dan mau apa ke hutan itu?"
Tanya Thian Lee heran.
"Aku mendengar dari para suhengrrtu bahwa di sana terdapat seorang tabib sedang mengumpulkan daun-daun dan akar obat. Mungkin dia akan dapat menolong dan mengobatiku."
"Baik, Suhu."
Thian Lee lalu menuju ke hutan dan suhunya tetap berpegang pada pundaknya dan melangkah perlahan-lahan menahan nyeri.
"Thian Lee...."
"Ya, Suhu?"
"Kenapa engkau mau menolongku? Aku hampir saja membunuhmu, membiar-kanmu menjadi mangsa harimau."
"Teecu telah bersalah mencuri baca kitab dan Suhu telah menghukum teecu, itu sudah sepantasnya. Kini Suhu terluka dan teecu menolong Suhu, juga sudah sepatutnya."
"Thian Lee, engkau anak yang baik, terlalu baik. Kelak kebaikanmu malah akan menyusahkan dirimu sendiri."
Akani tetapi Thian Lee sudah tidak mau mem-j pedulikan lagi kepada suhunya dan me-langkah terus memasuki hutan.
Tak lama kemudian benar saja dia melihat seorang yang berpakaian longgar sedang mencari daun-daun di antara semak belukar.
"Locianpwe....!"
Thian Lee memanggil! dan orang itu menengok, melihat anak yang memapah seorang kakek bongkok kurus.
"Eh, .siapakah engkau, Nak? Ada urusan apa mencari dan memanggil pinto?"
Kiranya orang itu seorang tosu, maka Thian Lee cepat memberi hormat.
"To-tiang, kami datang mencari Totiang untuk memohon pertolongan Totiang."
"Pertolongan apa yang dapat pinto berikan?"
Kini Jeng-ciang-kwi yang berkata.
"Sobat, aku mohon pertolonganmu untuk mengobati aku. Seekor ular menggigit lenganku dan nyerinya bukan kepalang. Ular itu tentu berbisa sekali."
Tosu itu kelihatan kaget mendengar iifgK dan cepat dia menghampiri Jeng-ciang-kwi.
Dia menyuruh kakek itu duduk, kemudian diperiksanya luka di lengan itu.
Ketika dia melihat denyut nadinya, tahulah dia bahwa jalan darah telah dihentikan di bagian siku dan pangkal lengan.
"Untung jalan darahmu dihentikan, kalau tidak tentu sudah menjalar ke atas. Akan tetapi, racun ini hebat bukan main. Seperti apakah bentuk dan warna ular itu?"' "Ularnya berwafna reerah, sebesar jari dan panjangnya setengah meter."
Kata Jeng-cian-kwi.
"Siancai....! Sudah kuduga. Tentu ular itu Ang-hwa-coa yang racunnya luar biasa sekali hebatnya! Akan tetapi agak-nya Thian belum menghendaki engkau tewas maka engkau bertemu dengan pin-to. Sungguh kebetulan sekali baru kema-rin ini pinto menemukan buah Coa-cu (Mestika Ular) yang dapat memunahkan racun Ang-hwa-coa. Padahal buah seperti ini amat langka. Agaknya Thian mem-benkan kepada pinto justeru untuk menolongmu, sobat. Nah, kau makanlah buah itu, rasanya pahit dan getir dan merupakan obat mujarab untuk menolong nyawamu. Dengan penuh semangat Jeng-ciane-kwi menerima dan makan buah sebesar kepalan tangan itu. Rasanya amat pahit dan getir, akan tetapi sambil memejamkan matanya dimakannya semua buah itu sampai habis dan terasa perutnya panas.
"Sekarang pinto harus melukai lengan yang tergigit untuk mengeluarkan darah yang sudah keracunan,"
Kata tabib itu dan dia mengeluarkan sebilah pisau motong daun yang tajam lalu ditorehnya luka di lengan yang tergigit ular itu, selebar dua senti sampai mengenai uratnya.
Lalu dia mengurut-urut lengan itu dan darah bercucuran dari lukanya.
Darah yang menghitam!
Setelah beberapa saat lamanya, dia berkata.
"Nah, sekarang sudah selamat, engkau boleh mengalirkan darahmu kembali ke lengan yang terluka,"
Katanya sambil membubuhkan obat bubuk ke atas luka itu yang sebentar saja mengering.
Jeng-ciang-kwi lalu menggunakan jari tangan kiri untuk membebaskan totokan iengan kanannya sehingga darahnya berjalan lancar kembaii.
Rasa panas di perutnya makin lama makin menghilang dan dia tidak merasakan nyeri lagi pada lengannya.
Setelah menggerak-gerakkan lengannya yang sudah pulih kembali kekuatannya, Jeng-ciang-kwi memandang kepada tosu itu.
Tosu itu pun memandang kepadanya dan berkata.
"Siancai, engkau memiliki ilmu kepandaian tinggi akan tetapi masih saja dapat dikalahkan musuh. Entah sampai bagaimana hebatnya kepandaian mu-suhmu itu."
"Siapa kalah? Aku tidak kalah!"
Bentak Jeng-ciang-kwi.
"Engkau yang mengira bahwa aku dikalahkan orang harus kubunuh agar jangan menyebar berita bohong itu!"
Berkata demikian, Jeng-ciang-kwi sudah mengangkat tangan untuk menyerang tabib itu.
Melihat ini, Thian Lee menjadi penasaran sekali.
Dia meloncat ke depan gurunya untuk menghalangi gurunya menyerang tabib itu dan berteriak.
"Suhu , tidak boleh berbuat seperti itu!"
"Heh, engkau berani menghalangi kehendakku?"
"Tentu saja teecu berani karena Su-hu memang bertindak salah besar. To-tiang ini telah menyelamatkan nyawa Suhu, sepatutnya Suhu bersukur dan ber-terima kasih kepadanya, bukan malah hendak membunuhnya!"
"Kalau engkau beram menghalangi, aku tidak segan untuk membunuhmu pula!"
Bentak Jeng-ciang-kwi marah.
Setelah teecu bersusah payah menolong Suhu dan mencarikan tabib, Suhu malah hendak membunuhnya.
Me-mang kami berdua tidak dapat melawan Suhu, akan tetapi kalau Suhu membunuh kami, maka kami akan mati penasaran dan roh kami akan selalu mengutuk dan mengejar Suhu!"
Bantah Thian Lee dengan sikap menantang, sama sekali tidak takut, Anehnya, kini Jeng-ciang-kwi yang merasa ngeri.
Dia tidak takut melawan manusia yang mana pun, akan tetapi kalau benar nanti roh kedua orang itu akan selalu mengutuk dan mengganggunya, bagaimana dia akan dapat melawan roh yang penasaran?
"Huh, aku tidak sudi itiempunyai mu-rid sepertimu lagi.
Pergilah kalian!"
Mendadak dia mengamuk, kedua tangannya memukul dari jarak jauh ke arah Thian Lee dan tabib itu.
Kedua orang ini terjengkang karena dilanda hawa pukulan yang amat dahsyat, bahkan Thian Lee yang berdiri di depan, langsung pingsan sedangkan tosu itu muntah darah.
"Ha-ha-ha, kalian tidak perlu rnenjadi setan penasaran, kubiarkan hidup agar lain kali aku dapat memukul kalian lagi kalau berjumpa!"
Kata Jeng-ciang-kwi dan dia pun lalu pergi berkelebat dari situ.
Thian Lee siuman ketika rnerasa kepala dan mukanya diguyur air dingin.
Kiranya dia sudah berada di tepi sebuah anak sungai yang airnya jernih sekali dan tosu tabib itu sudah duduk di dekatnya, sedangkan dia rebah telentang di iatas rumput.
Thian Lee hendak bangkit duduk, akan tetapi dia merasa dadanya sesak dan rebah kembali.
"Jangan bangkit dulu, rebah sajalah. Engkau menderita luka dalam yang cukup parah."
Thlan Lee teringat akan perbuatan Jeng-ciang-kwi yang tadi memukul mereka dari jarak jauh.
"Dan Totiang sendiri....? Bukankah tadi juga terpukul....?"
"Pinto sudah menelan obat, luka pinto sydah hampir sembuh. Tinggal engkau yang harus menelan obat ini untuk me-nyembuhkan luka dalam di dadarnu. Nah, lima butir pel ini telanlah dan minumlah dengan air ini."
Tosu itu memasukkan lima pel ke dalam mulut Thian Lee lalu memberinya minum air dari daun yang lebar.
Setelah menelan lima butir pel itu, Thian Lee merasa dadanya hangat dan rasa nyeri banyak berkurang.
Dia lalu bangkit duduk dan memberi hormat kepada tabib itu.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Totiang."
"Tidak ada tolong menolong, tidak perlu berterima kasih. Perbuatan yang dianggap pertolongan, bukanlah perbuatan baik lagi. Perbuatan yang mengandung pamrih adalah perbuatan palsu dan buruk sekali."
Mereka duduk di tepi anak sungai.
Agaknya tosu itu membawa Thian Lee ke anak sungai.
Pemandangan di situ indah sekali, dan udaranya sejuk.
Suara air gemercik itu sungguh mendatangkan rasa tenang dan tenteram.
"Kalau begitu, apa yang dinamakan kebaikan itu, Totiang?"
Tanya Thian Lee tertarik.
Kalau perbuatan baik dianggap pertolongan bukan perbuatan baik lagi, lalu yang disebut kebaikan itu yang bagaimana?
"Orang yang melakukan sesuatu dengan kesadaran bahwa dia melakukan kebaikan, maka dia terjerumus ke dalam kepalsuan dan timbullah pamrih dalam batinnya untuk mendapatkan imbalan dari perbuatannya itu.
Kalau ada perbuatan yang disebut baik, maka hal ini akan mendorong orang untuk menjadi munafik, untuk berbuat yang baik-baik dengan menyembunyikan pamrih untuk kesenangan' diri pribadi.
Mungkin pamrih itu berupa keinginan agar dianggap atau disebut baik oleh orang lain, keinginan untuk mendapatkan imbalan jasa dari yang ditolongnya, atau bahkan keinginari untuk mendapatkan berkah atau pahala cari Tuhan karena perbuatan baik kita.
Semua keinginan itu, adalah pamrih yang tersembunyi dan apa pun macamnya pamrih itu, tiada lain hanya demi kesenangan diri pribadi.
Jadi perbuatannya itu hanya merupakan cara untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Bukankah perbuatan begini palsu adanya dan munafik?"
"Kalau begitu perbuatan yang baik itu bagaimana, Totiang?"
"Tidak ada perbuatan baik bagi si pelaku bijaksana. Yang ada hanyalah per-buatan yang benar dan ini dianggapnya sebagai suatu kewajiban dalam hidup. Hidup haruslah ada kasih sayang di antara manusia dan dari kasih sayang inilah timbul perasaan iba yang mendorong kita berbuat benar dan membantu siapa yang berada dalam kesukaran. Perbuatan yang didorong oleh kasih ini sama sekali tidak berpamrih, bahkan si pelaku tidak menya-dari bahwa perbuatannya itu baik atau ti-dak. Dia hanya yakin bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar karena menurutkan dorongan kasih sayang antara manusia."
"Kakau begitu, kita tidak perlu mem-balas kebaikan orang kepada kita, Totiang?"
"Hutang budi sama saja dengan hutang dendam. Keduanya menuntut balasan. Balas budi atau balas dendam. Ini dapat terjadi pada hati yang tidak me-ngenal kasih sayang. Bagi orang yang mengenal kasih sayang, tidak ada me-lepas budi atau hutang budi, tidak ada melepas hutang yang menimbulkan den-dam dan tidak ada pula dendam."
"Akan tetapi, Totiang, bagaimana mungkin kita hidup terbebas dari budi dan dendam?"
"Terserah kepada pribadi masing-ma-sing akan membiarkan dirinya terbebas ataukah tidak. Akan tetapi siapo masih terbelenggu budi dan dendam, pastilah dia akan mengalami duka sengsara. Kedua perasaan itu, budi dan dendam, adalah racun yang menggelapkan mata hati."
"Mengapa begitu, Totiang?"
"Contohnya. Orang yang berhutang budi pada seseorang dan ingin membalas budi itu, tentu menganggap orang yang dihutangi budi itu seorang yang benar dan baik walaupun semua orang meng-anggap dia seorang yang jahat. Sebaliknya, orang yang mendendam kepada seseorang dan ingin membalas dendam itu, tentu menganggap orang yang hutang den-dam itu seorang yang salah dan jahat walaupun semua orang menganggap dla seorang yang budiman. Sudahlah, engkau masih terlalu muda untuk dapat mengerti semua itu. Siapakah namamu, Nak?"
"Nama saya Song Thian Lee, Totiang. Oan bolehkah saya mengetahul nama Totiang?"
"Hemm, orang-orang menyebut pinto Kim-sim Yok-sian (Dewa Obat Berhati Emas), padahal pinto hanyalah seorang tukang obat biasa saja. Jadi engkau adalah murid orang tadi. Siapakah dia itu?"
"Dia berjuluk Jeng-ciang-kwi, Totiang."
"Siancai....! Kiranya datuk sesat itu. Pantas sikapnya seperti itu. Dan engkau muridnya? Aneh, mengapa dia malah hendak mebunuhmu? Dan mengapa eng-kau berbeda sekall dengan gurumu?"
"Saya belum lama menjadi muridnya dan ini pun karena dia memaksa saya, Totiang. Dia marah kepada saya karena saya mencuri baca kitab pelajaran silat miliknya, maka hendak membunuh saya."
Lalu Thian Lee menceritakan bagaimana dia digantung oleh gurunya itu akan tetapi ditolong oleh seorang anak perempuan murid Ang-tok Mo-li.
Kemudian betapa gurunya berkelahi dengan Ang-tok Mo-li dan tergigit ular merah.
"Dan sekarang, setelah gurumu meninggalkanmu, engkau hendak ke mana? Sebaiknya kalau engkau kembali kepada orang tuamu. Di mana mereka tinggal?"
"Totiang, kedua orang tuaku telah meninggal dunia. Saya hldup sebatang kara, tidak memiliki keluarga lagi, tidak memiliki tempat tinggal."
"Dan sekarang engkau hendak kemana? Sungguh kasihan, sekecil ini sudah hidup sebatang kara."
"Saya tidak mempunyai tujuan tetap, Totiang. Saya akan pergi merantau ke mana kaki saya membawa saya, dan saya ingin belajar silat agar kelak tidak akan tertekan oleh orang jahat, juga saya akan mampu mempergunakan ilmu silat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan!"
Kata Thian, Lee penuh semangat.
"Slancai....!"
Tosu itu menjadi semakin heran mendengar niat seperti itu diucapkan oleh murid seorang datuk seperti Jeng-ciang-kwi.
"Aku heran mendengar ucapanmu, Thian Lee. Coba kauceritakan riwayatmu."
Thian Lee tidak ragu lagi untuk men-ceritakan riwayatnya kepada kakek yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.
Diceritakannya betapa ibunya tewas oleh orang-orang jahat dan dia melarikan diri agar jangan dibunuh pula.
Betapa ayah-nya juga telah tewas ketika dia masih kecil.
"Bagaimana ayahmu tewas dalam usia muda itu?"
Tanya Yok-sian tertarik.
"Ayah saya tewas dikeroyok pasukan pemerintah dengan tuduhan memberontak karena Ayah berani menghajar seorang pangeran yang memaksa seorang gadis dusun, demikian menurut cerita mendiang Ibu."
Kemudian Thian Lee bercerita be-tapa dia bertemu Liok-te Lo-mo dan menjadi murid kakek itu selama dua tahun.
"Murid Liok-te Lo-mo?"
Tosu itU terbelalak.
"Hebat, bagaimana seorang anak seperti engkau menjadi murid datuk-datuk yang sesat dan sakti? Lalu bagaimana? Lanjutkan ceritamu."
Yoksian semakin tertarik.
Thian Lee lalu bercerita betapa dia diperebutkan antara Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi dan akhirnya perebutan itu dimenangkan oleh Jeng-ciang-kwi se-hingga dia dibawa kakek iblis itu untuk menjadi muridnya sampai mereka ber-temu dengan Ang-tok Mo-li yang menolongnya ketika dia digantung oleh Jeng-ciang-kwi.
"Demikianlah, Totiang. Guru saya yang ke dua itu memang lihai bukan main. Dia pernah mengajak saya untuk menga-caukan pemilihan bengcu dan tidak ada yang mampu menandinginya. Akan tetapi dia terluka keracunan ketika bertanding melawan Ang-tok Mo-li, walaupun dia juga melukai wanita itu. Bagaimanapun juga, dia adalah guruku maka saya memapahnya untuk mencari Totiang dan minta agar Totiang suka mengobatinya. Sungguh tidak saya sangka dia sedemikian jahatnya, setelah disembuhkan Totiang berbalik malah hendiik membunuh Totiang."
Yok-sian menghela napas panjang.
"Memang demikianlah sepak terjang para datuk sesat. Sungguh pengalamanmu hebat sekali, bertemu dengan mereka bah-kan dijadikan murid. Ahh, sedikit banyak engkau tentu telah mempelajari ilmu silat mereka. Apakah engkau benar ingin belajar ilmu silat, Thian Lee?"
"Benar, Totiang. Saya ingin belajar ilmu silat dengan sungguh-sungguh. Me-nurut pesan mendiang Ibu, saya harus menjadi seorang pendekar seperti juga mendiang ayahku. Kalau Totiang sudi menerima saya sebagai murid, saya akan berterima kasih sekali."
"Siancai....! Aku hanya tukang obat! Akan tetapi pinto mempunyai seorang suheng. Guru kami memang memiliki dua macam ilmu, yaitu ilmu silat dan Umu pengobatan dan beliau mengajarkan kepa-da kami sesuai dengan bakat karni. Pinto berbakat dalam ilmu pengobatan maka Suhu mengajarkan ilmu pengobatan, sebaliknya suheng pinto berbakat dalam ilmu silat dan dia digembleng ilmu silat tinggi. Kalau engkau suka, pinto akan mengajakmu menghadap Suheng, mudah-mudahan dia mau menerimamu sebagai murid."
"Saya akan senang sekali, Totiang."
"Baiklah. Mulai sekarang engkau mem-bantuku mencari daun obat sambil melakukan perjalanan ke barat. Suhengku itu kini menjadi seorang pertapa di Pegunungan Hlmalaya dan kita harus melakukan perjalanan jauh sekali untuk mencapai tempat tinggalnya."
"Saya akan melayani Totiang dengan baik dan saya sanggup melakukan perja-lanan jauh,"
Kata Thian Lee dengan girang dan tosu itu lalu mengajak dia meninggalkan tempat itu.
Thian Lee yang mengikuti Kim-sim Yok-sian merantau ke barat dan setelah lewat waktu hampir setahun, barulah keduanya tiba di Pegunungan Himalaya!
Akan tetapi perjalanan itu merupakan pengalaman yang amat berguna bagi Thian Lee.
Bukan saja membuka matanya melihat keadaan hidupnya suku-suku bangsa di barat, akan tetapi juga setiap harinya dia membantu Yok-sian yang se-ring kali berhenti di sebuah dusun yang dilanda wabah penyakit untuk menolong orang.
Dan sedikit demi sedikit dia men-dapat pula pengajaran pengobatan dari Dewa Obat itu, terutama sekali menge-nai pengobatan luka-luka dan penyakit biasa yang sering kali diderita manusia.
Suheng dari Kim-sim Yok-sian adalah seorang biasa, bukan pendeta, seorang laki-laki berpakaian siucai (sastrawan) berusia enam puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan sikapnya tenang penuh kesabaran.
Dia tinggal di sebuah puncak di antara sekian banyak puncak-puncak Pegunungan Himalaya, sebuah puncak yang tidak terlalu tinggi akan tetapi hawanya cukup dingin dan tempatnya sunyi.
Dia memiliki sebuah pondok sederhana dengan kebun yang luas.
Nama pendekar yang mengenakan jubah sastrawan ini adalah Tan Jeng Kun.
Berbeda dengan sutenya, Kim-sim Yok-sian yang me nper-oleh nama julukan karena dia berkecim-pung di dunia kang-ouw, Tan Jeng Kun ini tidak dikenal orang kang-ouw karena semenjak muda dia mengasingkan diri dan bertapa seperti seorang yang sudah menjauhkan diri dari dunia ramai.
Ketika Yok-sian dan Thian Lee tiba di tempat itu, mereka melihat tuan ru-mah yang hidup menyendiri itu sedang memasak air di atas api unggun yang dibuatnya di halaman depan rumahnya.
Ketika melihat Yok-sian, orang itu ter-belalak gembira, lalu bangkit berdiri dan kedua kakak beradik seperguruan ini lalu saling memberi hormat, kemudian saling merangkul.
"Sute, angin apakah yang meniupmu sampai ke sini? Sudah sepuluh tahun berpisah, baru harl ini tiba-tiba engkau muncul, betapa senangnya hatiku'"
Kata Tan Jeng Kun sambil tertawa gembira.
"Suheng, setelah berpisah sepuluh tahun kini engkau kelihatan makin muda dan gagah saja. Agaknya selama ini eng-kau tidak menyia-nyiakan ilmumu dan berlatih terus!"
Jawab Yoksian. Tan Jeng Kun menghela napas pan-jang mendengar ucapan sutenya itu.
"Nah, itulah tidak enaknya belajar silat, Sute. Aku sekarang merasa menyesal sekali mengapa dulu aku tidak mempela-jari saja llmu pengobatan seperti engkau. Sekali paham ilmu pengobatan, tidak usah berlatih setiap hari. Berbeda dengan ilmu silat, kalau tidak dilatih larna-lama akan lenyap atau berkurang tingkatnya. Juga, ilmu silat hanyalah untuk memukul orang, sedangkan ilmu pengobatan untuk menolong dan menyembuhkan orang. Aih, Sute, engkau jauh lebih beruntung daripada aku. Eh, siapakah anak ini? Engkau"
Malah sudah mempunyai seorang murid?"
"Anak ini bernama Song Thian Lee, seorang anak yatim piatu dan sebatang kara yang kebetulan bertemu dengan pinto di jalan. Sejak menjadi yatim piatu, berulang kali dia terjatuh ke tangan datuk sesat, bahkan pernah dipaksa men-jadi murid Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciangkwi! Akan tetapi karena pada da-sarnya dia berjiwa baik maka dia tidak suka menjadi murid mereka."
Yok-sian lalu menceritakan sedikit riwayat Thian Lee kepada sutenya itu.
"Kalau begitu engkau mendapatkan murid yang baik, Sute,"
Kata Tan Jeng Kun!
"Tidak, Suheng.
Dia saya bawa ke sini agar menjadi muridmu.
Anak ini kulihat memiliki dasar yang luar biasa, maka sudah sepatutnya kalau menjadi murid-mu.
Thian Lee, berilah hormat kepada suhengku."
Thian Lee segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada sastrawan itu. Akan tetapi sastrawan itu memandang dengan alis berkerut.
"Menjadi muridku? Ah, Sute, untuk apa menjadi muridku? Aku tidak suka mengajarkan ilmu kepada orang lain yang kelak hanya akan dia pergunakan untuk melukai atau membunuh orang saja. Engkau tahu kenapa aku bersembunyi di tempat sunyi ini? Agar jangan terpancing berkelahi dengan orang. Tidak aku tidak suka mengajarkan silat kepada siapa pun!"
"Suheng, kenapa berkata demikian? Semua ilmu ada manfaat masing-masing. Baik buruknya ilmu tergantung dari ma-nusia yang menggunakan ilmu itu. Bagai-mana andaikata ada orang jahat melaku-kan kejahatan kepada orang lain? Apa yang dapat kita lakukan kalau kita lemah dan tidak memiliki ilmu silat? Dan bagaimana mungkin orang dapat membasmi kejahatan, mempertahankan kebenaran dan keadilan tanpa memiliki kekuatan untuk itu?' ahat melaku-kan kejahatan kepada orang lain? Apa yang dapat kita lakukan kalau kita lemah dan tidak memiliki ilmu silat? Dan bagaimana mungkin orang dapat membasmi kejahatan, mempertahankan kebenaran dan keadilan tanpa memiliki kekuatan untuk itu?' "Hemmm, bicara memang mudah, Sute. Lihat aku ini. Jauh sekali aku ber-sembunyi, tetap saja ada orang-orang yang mencariku untuk mengajak bertanding! Kalau aku tidak mempunyai ilmu silat, tentu tidak ada orang akan mencari gara-gara mengajak berkelahi. Tidak, Sute, sekali lagi aku tidak mau meng-angkat murid."
"Tapi, Suheng. Anak ini sudah kuajak ke sini, melakukan perjalanan yang nne-makan waktu hampir satu tahun!"
"Itu adalah urusanmu sendiri, Sute. Aku tidak menyuruhmu. Sudahlah, mari kita bicarakan urusan lain saja. Akan halnya anak ini, biarlah dia menjadi muridmu saja. Kelak dia dapat mengamalkan ilmunya itu untuk menolong banyak orang seperti yang telah kaulakukan."
Pada saat itu, terdengar teriakan lantang sekali dari luar rumah.
Mereka cadi sudah memasuki rumah ketika Tan Jeng Kun menyambut kedatangan sutenya.
Suara dari luar itu terdengar nyaring sekali, membuat pondok itu seolah tergetar.
"Tan Jeng Kun, kalau engkau memang laki-laki keluarlah dan lawanlah aku!"
Tan Jeng Kun menghela napas.
"Nah,, kau lihat sendiri, Sute! Mereka adalah , orang-orang yang selalu mencariku untuk mengajak adu ilmu. Kalau yang satu kalah muncul yang lain dengan dalih menebus kekalahan saudara atau kawannya. Apakah ini tidak tolol? Apakah aku disuruh mengajarkan ilmu seperti ini ,kepada seorang murid agar kelak murid itu pun mengalami hal seperti aku? Tidak, Sute!"
"Haiii, Tan Jeng Kun, jangan sembu-nyi seperti perempuan! Keluarlah!"
Kem-bali terdengar teriakan itu dan Tan Jeng Kun melangkah keluar, diikuti oleh Kim-sim Yok-sian dan Thian Lee.
Setelah tiba di luar, mereka melihat seorang laki-laki berusia lima puluh ta-hun yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dengan perut gendut sekali, mukanya hitam dan tubuhnya nampak kokoh kuat seperti batu karang.
Orang ini segalanya serba bundar dan besar, kepalanya, matanya, hidungnya, mulutnya dan telinganya, serba besar.
Rambutnya diikat ke atas dengan semacam kain kuning dan bajunya berwarna biru.
Di punggungnya terdapat sebatang ruyung yang menggiriskan, besar dan berduri-duri.
Akan tetapi sebelum Tan Jeng Kun menghampirinya, tiba-tiba dari belakang batang-batang pohon bermunculan empat orang dan mereka ini segera mengepung Si Raksasa Hitam sambil berteriak marah.
"Hek-bin Mo-ko (Setan Bermuka Hitam), engkau harus membayar hutang nyawamu terhadap saudara kami!"
Raksasa yang disebut Hek-bin Mo-Ko itu memandang dan memutar tubuhnya untuk memandangi empat orang yang mengepungnya itu, lalu dia tertawa ber-gelak.
"Ha-ha-ha-ha, agaknya kalian ini adalah empat orang dari Toat-beng Ngo-houw (Lima Harimau Pencabut Nyawa)? Ha-ha-ha, saudaramu mampus di tanganku karena dia berani menentangku. Kalau kalian ingin sekali menyusulnya ke neraka, mari kalian boleh maju bersama!"
Empat orang itu sudah marah sekali. Mereka berempat mencabut golok masing-masing dan langsung saja mereka maju mengeroyok dengan golok mereka. Melihat ini, Thian Lee berseru pena-saran.
"Pengecut, tidak adil sekali empat orang mengeroyok seorang!"
Akan tetapi empat orang itu tidak peduli dan golok tnereka sudah menyambar-nyambar men-cari korban.
Namun ternyata raksasa muka hitam itu lihai bukan maln.
Biar-pun tubuhnya tinggi besar dan perutnya gendut, namun dia dapat bergerak dengan gesit dan beberapa kali kakinya melangkah dan tubuhnya berkelebatan, empat batang golok yang menyambar itu luput semua.
Di lain saat dla telah mencabut ruyung dan terdengar suara berdesing ketika ruyung itu dia gerakkan dengan kekuatan dahsyat.
Empat orang itu de-ngan nekat menyerbu dan ketika golok mereka bertemu ruyung, berturut-turut golok mereka terpentaJ dan terdengar bentakan Si Raksasa Hitam empat kal!
dan ruyungnya menyambar empat kali.
Nampak darah muncrat dan empat orang pengeroyok itu sudah terpelanting dan jatuh satu demi satu dengan kepala pe-cah dan tewas seketika!
"Siancai....!"
Kim-sim Yok-sia.h ber-seru ngeri dengan wajah agak pucat dan suaranya gemetar.
Akan tetapi Thian Lee memandang kagum.
Bukan main raksasa itu.
Empat orang pengeroyok yang demikian tangguhnya dibikin roboh dalam waktu beberapa gebrakan saja!
Dan kini raksasa yang berjuluk Hek-bin Mo-ko itu memanggul ruyungnya menghadapi Tan Jeng Kun.
"Ha'-ha-ha, Tan Jeng Kun. Engkau beruntung sekali, sebelum mampus telah ada yang mene-maninya, bahkan sekaligus empat orang. Hayo cepat ambil pedangmu dan lawan aku!"
"Hek-bin Mo-ko, di antara kita tidak ada permusuhan apa pun, mengapa hari ini engkau mencari dan menantangku berkelahi? Dan engkau malah telah membikin kotor tempatku dengan pembu-nuhan ini! Engkau seharusnya malu!"
"Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa Tan Jeng Kun adalah seorang jagoan yang mengasingkan diri. Lupakah engkau bah-wa tiga bulan yang laiu engkau telah mengalahkan seorang pengemis tua di sini? Dia adalah seorang sahabatku, se-telah mendengar bahwa sahabatku itu kalah olehmu, aku merasa penasaran dan ingin mencoba kepandalanmu! Hayo lawan aku kalau engkau bukan perempuan!"
Tan Jeng Kun melangkah maju meng-hadapi raksasa itu dan menarik napas panjang beberapa kali.
"Sobat, pengemis tua itu datang tanpa sebab dan langsung saja menantangku mengadu ilmu. Kalah atau menang dalam adu ilmu sudahlah wajar, kenapa engkau merasa penasaran?"
"Karena seorang sahabat baikku telah kalah, tentu saja aku merasa penasaran dan hari ini aku menantangmu untuk mengadu ilmu. Hayolah, majulah, atau aku akan hancurkan kepalamu dengan ruyung ini!"
Si Raksasa itu mengancam. Kini pandang mata Tan Jeng Kun mencorong marah.
"Hemm, Hek-bin Mo-ko, tidak usah engkau menantang. Baru perbuatanmu melakukan pembunuhan di pekaranganku ini saja sudah merupakan suatu pelanggaran besar. Aku bukan saja menerima tantanganmu, bahkan aku pun harus memberi hajaran kepadamu biar engkau bertaubat."
"Ha-ha-ha, sombong benar engkau . Jangan mengira bahwa setelah engkau mengalahkan sahabatku Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti), engkau akan mampu mengalahkan aku' Nah, cepat ambil pedangmu'"
"Seperti ketika aku melawan tongkat Sin-ciang Mo-kai, aku pun bertangan kosong. Maka aku akan menghadapimu dengan tangan kosong, Mo-ko. Aku tidak bernafsu membunuh seperti engkau yang kejam!"
"Engkau sendiri yang mengatakan hendak bertangan kosong. Jangan menyesal kalau kepalamu sudah hancur oleh ruyungku!"
Bentak raksasa hitam itu dan dia pun mengeluarkan terlakan meleng-king, lalu menyerang dengan dahsyatnya, Thian Lee sendiri merasakan sambaran angin yang telah menghancurkan kepala empat orang itu.
Ruyung itu masih berlumuran darah dan kini menghantam ke arah kepala Tan Jeng Kun.
Akan tetapi, suheng dari Kim-sim Yok-sian itu bersikap tenang saja.
Ketika ruyung sudah menyambar dekat, dla menundukkan kepala dan ruyung menyambar ke atas kepalanya.
Pada saat itu, dia sudah menggerakkan tangan meluncur ke depan, menotok ke arah siku kanan lawan.
Hek-bin Mo-ko tekejut sekali dan cepat-cepat dia meloncat ke belakang sambil menarik lengan kanannya, kemudian me-mutar pergelangan tangan sehingga ruyungnya menyambar balik ke arah dada lawan.
Tan Jeng Kun miringkan tubuhnya dan dengan lengan kanan menangkis ruyung yang terpental ketika bertemu lengan tangan siucai itu.
Hek-bin Mo-ko menjadi penasaran sekali dan dia sudah memutar ruyungnya dengan hebat sekali sambil mengeluarkan bentakanbentakan menyerang bertubi-tubi sambil berusaha mendesak lawan yang bertangan kosong.
Namun Tan Jeng Kun dapat bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Tubuhnya seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara sambaran ruyung dan tak pernah benda berat itu menyen-tuh tubuhnya.
Sebaliknya, totokan-totok-annya membuat Hek-bin Mo-ko sibuk sekali.
Dengan senjata berat itu, tentu saja gerakannya tidak dapat ringan dan cepat seperti lawannya sehingga dari mendesak, akhirnya dialah yang terdesak oleh lawan.
Setiap pukulan, totokan, dan tendangan lawan datangnya demikian cepat sehingga beberapa kali raksasa hitam itu terpaksa melempar tubuh belakang dan berjungkir balik untuk nnenghindarkan diri dari serangan yang demikian cepatnya.
Setelah lewat iima puluh jurus, Hek-bin Mo-ko menjadi terdesak hebat dan tiba-tiba dia melompat ke belakang, kernudian dia mengerahkan tenaga ke arah kedua tangannya, menjatuhkan ru-yungnya dan menggunakan kedua tangan yang terisi tenaga sin-kang dahsyat untuk memukul lawan dari jarak jauh!
Meng-hadapi serangan ini, Tan Jeng Kun juga memasang kuda-kuda dan mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Inilah kesalahan Hekbin Mo-ko.
Dalam mengadu kekuatan sin-kang, dia mempercepat ke-kalahannya karena tingkat kekuatan sin-kang lawannya masih lebih tinggi di atasnya.
Begitu kedua tangan yang mengandung sin-kang itu berseru, tubuh Hek-bin Mo-ko tergetar hebat dan tak lama kemudian dia terpental ke belakang dan jatuh terjengkang!
Masih untung bagi Hek-bin Mo-ko bahwa Tan Jeng Kun sania sekali tidak bermaksud untuk membunuhnya.
Maka dia hanya terpukul oleh tenaganya sendiri yang membalik dan mengalami luka da-lam yang membuat dia muntah darah.
Dia merasa bahwa dia tidak mampu melawan lagi, maka dia mengambil ruyung-nya, lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah pun kata, juga tanpa menoleh lagi kepada lawan.
Tan Jeng Kun menghela napas pan-jang dan memandang empat mayat yang berserakan dl situ.
"Nah, kaulihat seridiri apa yang kumaksudkan, Sute! Beginilah kalau orang mempelajari ilmu silat. Pertempuran dan kematian selalu membayanginya. Aku tidak ingin bocah ini kelak hanya akan mendatangkan musuh-musuh seperti yang kaulihat tadi."
"Akan tetapi, Locianpwe,"
Tiba-tiba Thian Lee berkata dengan suara mem-bantah penasaran.
"Kalau orang yang datang hendak menantang berkelahi dengan Locianpwe, itu bukan berarti Lo-cianpwe yang bersalah, melainkan kesa-lahan mereka sendiri. Untung Locianpwe memiliki ilmu silat yang lihai, tidak demikian, tentu Locianpwe yang menggeletak mati seperti mereka berem-pat. Ilmu silat ada gunanya untuk membela diri."
"Apa yang dikatakan Thian Lee ada benarnya, Suheng,"
Bujuk pula Kim-sim Yok-sian.
"Justeru dengan adanya para pendekar yang berkepandaian tinggi maka sepak terjang dan ulah orang-orang sesat itu dapat dibendung. Bayangkan saja, Suheng, andaikata di dunia kang-ouw ini tidak ada para pendekar, maka tentu orang-orang sesat akan semakin merajalela, dan mereka melaksanakan hukum nmba seenak perutnya sendlri. Thian Lee bercita-cita menjadi pendekar untuk me-nentang mereka yang menggunakan ilmu silat untuk berbuat kejahatan. Dengan demikian maka keadaan antara baik dan buruk dapat seimbang. Pinto kira keada-anmu tidak jauh bedanya dengan keadaan pinto. Pinto mempelajari ilmu pengobatan untuk menentang serangan penyakit terhadap manusia, dan Suheng mempelajari ilmu silat untuk menentang serangan orang jahat terhadap manusia pula. Apa bedanya? Karena itu, Suheng, biarpun Suheng menyia-nyiakan ilmu silat dengan mengasingkan diri di sini, biarlah Suheng mempunyai murid yang kelak akan memanfaatkan ilmu silat untuk menentang kaum penjahat."
Tan Jeng Kun menghela napas lagi.
Ucapan Thian Lee dan sutenya itu agak-nya membuka hatinya.
Dia lalu bekerja menggali lubang, dibantu oleh Thian Lee dan Kim-sim Yok-sian, dan menguburkan empat mayat itu dengan sepantasnya.
Kemudian mereka memasuki rumah kembali.
"Telah kupikirkan masak-masak ketika kita bekerja tadi,"
Katanya kepada Thian Lee dan sutenya.
"Baiklah, aku dapat menerima Thian Lee sebagai muridku, akan tetapi hanya dengan syarat-syarat yang harus dia janji dengan sumpah untuk kelak dia penuhi."
Kim-sim Yok-sian gembira sekali mendengar ini dan dia berkata kepada Thian Lee.
"Thian Lee, cepat memberi hormat kepada gurunnu dan katakan bahwa engkau siap menerima syarat apa pun darinya."
Thian Lee lalu maju berlutut dan memben hormat kepada Tan Jeng Kun. buhu, teecu akan menaati semua petunjuk Suhu dan berjanji akan melaksanakan semua syarat dari Suhu."
"Bagus, dan sekarang, disaksikan oleh susiokmu Kim-sim Yok-sian, ucapkan sumpahmu bahwa kelak engkau tidak boleh menonjolkan ilmu silatmu, engkau harus berpura-pura tidak mampu ilmu silat, menyembunyikan ilmu silatmu agar tidak ada yang tahu bahwa engkau pandai silat, dan hanya menggunakan ilmu silatmu dalam keadaan terpaksa saja untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan."
Dengan suara lantang Thian Lee mengucapkan sumpahnya.
"Teecu bersum-pah bahwa kelak teecu tidak menonjolkan. nmu silat dan menyembunyikan ilmu silat teecu dan hanya menggunakan dalam keadaan terpaksa saja!"
"Bagus, sekarang berl hormat kepada susiokmu!"
Thian Lee lalu berlutut di depan Dewa Obat dan menyebut.
"Susiok, terimalah hormat teecu."
Kim-sim Yok-sian menjadi girang sekali.
"Aku pun akan tinggal di sini barang setahun untuk memberi pelajaran ilmu pengobatan kepadamu agar kelak dapat kaupergunakan demi keselamatan orang-orang lain, Thian Lee,"
Katanya.
Demikianlah, mulal harl itu, Thian Le menerima pelajaran ilmu silat dar Tan Jeng Kun dan ilmu pengobatan dari Kim-sim Yok-sian.
Selain llmu sllat dan ilmu pengobatani Thian Lee juga memperdalam ilmu sastra dari kedua orang gurunya itu, dan mulai membaca kitab-kitab kuno tentang seja-rah dan Agama To dan Agama Buddha, juga tentang pelajaran Nabi Khong-cu.
Dari Dewa Obat, dia menerima banyak nasihat tentang kehidupan.
Hidup adalah belajar, demikian antara lain kata Kim-sim Yok-sian.
Siapa yang tidak mau belajar dari kehidupan, dia orang yang bodoh.
Dalam kehidupan se-hari-hari, kalau kita mau membuka nnata, maka terdapat pelajaran tentang hidup dan pengalaman merupakan guru terbaik.
Uhat di sekelilingmu dan engkau akan menemukan contoh-contoh yang jelas sekali.
Di samping mempelajari semua itu setiap hari Thian Lee juga bekerja dengan rajin.
Mencuci, membersihkan pondok, mencari kayu bakar dan segala pe-kerjaan Jain untuk melayani kedua orane tua itu.
Di waktu musim semi dan m"
Simpanas, dia mencangkul dan menanam sayur-sayuran dan segala macam tanaman yang dapat dimakan.
Kalau tiba musim rontok dan musim salju, dia pergi sampai Jauh untuk berburu dan memancing.
Pendeknya, Thian Lee rajin sekali sehingga kedua orang tua itu amat menyayangnya karena dalam pelajaran pun dia maju pesat.
Terutama dalam ilmu silat, Tan Jeng Kun percaya akan kebenaran sutenya bahwa Thian Lee adalah seorang anak yang memiliki bakat yang hebat.
Selama tiga tahun mempeiajari ilmu silat, Thian Lee telah matang dalam gerakan dasar dan, bahkan telah mempunyai sin-kang yang lumayan.
Tubuhnya memang kuat, apalagi setiap hari dipakai bekerja keras maka dia telah berhasil menghimpun tenaga yang kuat sekali.
Pada suatu hari di musim rontok, Thian Lee pergi meninggalkan pondok untuk berburu binatang.
Usianya kini sudah lima belas tahun dan tubuhnya tinggi tegap.
Biarpun usianya baru tingkat remaja, namun wajahnya sudah tampak dewasa karena sejak kecil dia sudah biasa berdikari, bahkan dia bekerja untuk keperluan mereka bertiga.
Dengan senjata sebatang busur dan beberapa batang anak panah, dia pergi berburu.
Akan tetapi sampai jauh meninggalkan pondok, dia belum bertemu binatang buruan seperti kelinci dan sebagainya.
Akhirnya terpaksa dia mendaki puncak yang lebih tinggi.
Padahal gurunya pernah menceritakan bahwa puncak itu berbahaya dan kabarnya ada semacam binatang ajaib di puncak itu yang amat ganas sehingga tidak pernah ada orang yang berani naik ke puncakitu.
Menurut penuturan Tan Jeng Kun, makhluk yang berada di puncak itu memang aneh, mirip manusia bagi yang pernah melihatnya dari jauh, berjalan dengan kedua kaki belakang akan tetapi tubuhnya berbulu abu abu kecoklatan mirip biruang.
Penduduk Tibet menyebutnya dengan Yeti dan menganggapnya sebagai manusia salju yang dikeramatkan dan dianggap sebagai dewa yang berada di puncak-puncak yang tinggi.
Thian Lee yang penah mendengar cerita itu tidak takut.
Kenapa takut kalau dia tidak mempunyai niat buruk ?
Dia hanya akan mencari binatang buruan untuk dimakan.
Kalau benar ada manusia salju, dia tidak akan mengganggunya.
Biarpun musin salju belum tiba, namun di puncak itu sudah tertutup oleh salju.
Bahkan di waktu musim panas sekalipun, puncak paling atas dari bukit itu sudah tertutup salju.
Sungguh sial hari itu bagi Thian Lee.
Setelah masuk keluar hutan, belum juga dia menemukan binatang buruan.
Dia mendaki terus sampai akhirnya dia tiba di bagian yang bersalju.
Tiba-tiba dia berhenti dan bertiarap.
Dia melihat beruang.
Biarpun selama ini dia belum pernah mendapatkan beruang, dan kadang timbul rasa ngeri melihat besarnya binatang itu, akan tetapi sekali ini dia bermaksud merobohkan seekor beruang yang tampak di depan itu.
Beruang itu sedang mendekam diatas salju dan menghadapi sebuah lubang.
Ternyata di depan beruang itu kalau musin panas menjadi sebuah telaga kecil dan kini sudah tertutup salju seluruhnya dan beruang itu membuat lubang, agaknya untuk mencari ikan.
Kadang-kadang tangannya menyambar ke lubang dan seekor ikan dapat ditangkapnya.
Dia sudah mendapatkan beberapa ekor ikan yang masih menggelepar-gelepar diatas salju.
Thian Lee memasang sebatang anak panah dan merayap mendekati.
Setelah jaraknya cukup dekat, tinggal belasan meter lagi dia lalu mementang busurnya dan melepaskan anak panah mengarah dada binatang yang mendekam itu.
Srrrt .
Cappp .
Panah itu tampaknya menancap di dada biruang itu dan binatang besar itu jatuh terjengkang.
Bukan main girangnya hati Thian Lee dan dia lalu berlari-lari menghampiri biruang yang sudah menggeletak miring di atas salju itu.
Akan tetapi, Thian Lee terbelalak dengan kaget bukan main ketika dia sudah tiba dekat, biruang itu meloncat berdiri dan berhadapan dengan dia.
Ternyata yang disangkanya biruang itu bukan biruang.
Makhluk itu tinggi sekali, dua kali lebih tinggi dari tubuhnya sendiri, dan mukanya seperti manusia, atau seperti kera, tubuhnya berbulu kelabu kecoklatan, matanya berkedip-kedip dan anak panah tadi sama sekali tidak menancap di dadanya melainkan dijepit di bawah lengannya atau terjepit ketiak.
Kini makhluk itu mengambil anak panah tadi dan sekali jari-jarinya menekuk, anak panah itu patah menjadi dua dan dibuang ke atas lantai bersalju.
Saking kagetnya Thian Lee sampai tidak dapat menggerakkan kedua kakinya.
Mulutnya lalu berkata gugup, Maafkan aku maafkan aku karena aku tadinya mengira bahwa engkau adalah seekor biruang.
Dia lalu teringat bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang manusia, dan teringat dia akan cerita gurunya tentang Yeti, Si Manusia Salju.
Dia dapat menduga bahwa cerita itu bukan dongeng belaka dan yang dihadapi kini tentulah Si Manusia Salju dalam dongeng itu.
Dan Yeti itu agaknya mengerti apa yang dia katakana, mengeluarkan suara seperti gerengan dan matanya mengamati Thian Lee dari kepada sampai ke kaki.
Thian Lee berpikir bahwa kalau makhluk itu menyerangnya, akan berbahayalah baginya.
Makhluk setinggi itu tentulah memiliki tenaga yang dahsyat.
Maka dia lalu membalikkan tubuhnya hendak melarikan diri.
Akan tetapi baru dua langkahdia pergi, tiba-tiba tubuhnya ditangkap dari belakang dan sekali Yeti itu menariknya, diapun roboh terjengkang.
Celaka, piker Thian Lee,.
Binatang atau makhluk ini menyerangku dan benar saja tenaganya luar biasa sekali.
Karena tidak ingin mati konyol tanpa melawan, Thian Lee lalu meloncat bangun berdiri dan memasang kuda-kuda , siap menghadapi serangan makhluk itu.
Akan tetapi tetap saja dia menanti pesan gurunya, antara lain bahwa dia sama sekali tidak boleh menyerang lebih dahulu.
Dia menanti sampai makhluk itu menyerangnya, dan siap menghadapinya dengan busur di tangan.
Tidak ada lain senjata kecuali busur dari kayu itu, dan menghadapi lawan yang begini kuatnya dia memerlukan senjata.
Maafkan aku, aku tidak sengaja memanahmu, kukira biruang dan kami membutuhkan daging binatang buruan.
Maafkan aku.
Entah mengerti atau tidak makhluk itu, akan tetapi tiba-tiba saja kedua tangannya menubruk ke depan!
Thian Lee menangkis dengan busurnya, akan tetapi sekali renggut, busur itu terampas dan dibuang jauh-jauh, kemudian kembali makhluk itu menubruk dan biarpun Thian Lee sudah mengelak cepat, tetap saja pinggangnya dapat dirangkul dan tubuhnya diangkat tinggi, dipanggul dan dibawa lari cepat sekali.
Thian Lee merasa ngeri.
Makhluk itu lari mendaki puncak yang penuh salju.
Kalau dia meronta atau memukul sehingga makhluk itu roboh, tentu ia akan ikut pula terjatuh, padahal di kanan kiri terdapat jurang menganga lebar!
Dia pun diam saja, bahkan tidak berani bergerak, membiarkan dirinya dibawa lari diatas pundak makhluk itu.
Akhirnya makhluk itu tiba di depan sebuah gua di antara puncak bukit bersalju dan masuk ke dalam gua.
Thian Lee lalu diturunkan dengan perlahan.
Jelas bahwa makhluk itu tidak berniat untuk melukainya.
Akan tetapi ketika tubuhnya berada di atas lantai yang berbatu, dia terkejut sekali karena didepannya terdapat kerangka manusia yang masih dusuk bersila.
Dia merasa serem sekali.
Kerangka itu masih utuh, dan mengapa ada kerangka tidak runtuh terlepas melainkan masih dalam keadaan bersila seolah antara tulang-tulangnya terdapat sambungan atau saling melekat?
Juga tengkorak itu masih utuh, hanya giginya sudah tidak ada lagi, mulut itu terbuka seolah tertawa.
Dia merasa ngeri akan tetapi juga menaruh hormat karena dapat menduga bahwa tentu kerangka ini milik seorang yang dahulunya sakti sekali.
Dan dia melihat makhluk Yeti itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut menghadap ke kerangka itu.
Melihat ini, tiba-tiba timbul rasa hormat dalam hati Thian Lee terhadap kerangka itu dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kerangka itu.
Karena merasa dirinya terancam dan tak ada yang dapat menolongnya dari tangan Yeti itu maka dia timbul niatnya minta tolong kepada kerangka itu yang jelas dihormati makhluk itu.
Locianpwe, mohon pertolongan locianpwe dan teecu suka menjadi murid locianpwe.
Katanya sambil membentur-benturkan dahinya ke atas lantai di depan kaki kerangka itu.
Dan terjadilah keanehan.
Ketika dia membenturkan dahinya sebanyak delapan kali untuk menghormati kerangka itu sebagai gurunya, mendadak lantai yang terbentur kepalanya itu bergerak dan runtuh ke bawah sehingga tubuhnya ikut pula terjatuh ke sebuah lubang.
Cepat Thian Lee mengerahkan tenaganya untuk melindungi tubuhnya dengan sinkang dan untung dia telah memiliki tenaga singkang yang cukup sehingga dia tidak terbanting keras dan tidak terluka.
Ternyata disitu muncul lubang dan terdapat anak tangga turun ke bawah dimana terdapat ruangan lain yang besar sama dengan besar gua diatas.
Dan sambil mengeluarkan suara menguik-nguik aneh makhluk itu pun menuruni tangga dan berdiri didekat Thian Lee.
Kini Thian Lee merasa yakin bahwa makhluk itu tidak bermaksud jahat.
Dia pun menoleh kepada makhluk itu dan bertanya Saudara yang baik, apa artinya semua ini?.
Makhluk itu mengulurkan tangannya dan mendorong-dorong tubuh Thian Lee pada punggungnya, menyuruh pemuda remaja itu untuk maju.
Thian Lee mengangkat muka memandang.
Ketika matanya sudah dapat menembus cuaca yang remeng-remang dalam ruangan bawah gua itu dan dia melihat sebuah meja berdiri di sudut ruangan.
Dan diatas meja itu terdapat sebatang pedang dan dua buah kitab diatas meja.
Jantungnya berdebar tegang.
Agaknya makhluk itu mendorongnya kea rah meja agar dia mengambil pedang dan kitabkitab itu.
Akan tetapi, sejak kecil Thian Lee sudah diajar sopan santun oleh ibunya dan kemudian oleh Tan Jeng Kun dan Kim Sim Yok Sian dia pun diajar bagaimana menjadi seorang pemuda yang baik dan bersusila.
Maka dia pun tidak berani lancing mengambil benda-benda bukan miliknya begitu saja dengan lancing.
Setelah berpikir sejenak, diapun menjatuhkan diri berlutut di depan meja itu untuk memberi hormat.
Ketika berlutut itulah dia melihat tulisan kecil-kecil terukir di lantai batu.
Kalau dia tidak berlutut, tidak mungkin tulisan itu dapat nampak dalam keadaan berdiri.
Dia lalu membacanya.
Aku menerimamu menjadi murid.
Engkau boleh mengambil kitab dan pedang, akan tetapi lebih dahulu tekan tombol ini sebanyak sembilan kali.
Tulisan ini tidak menyebutkan siapa penulisnya dan dibawah tulisan itu terdapat sebuah tombol besi.
Setelah menghaturkan terima kasihnya, Thian Lee menekan tombol besi itu.
Ditekan sekali tidak terjadi apa-apa.
Dua kali, tiga kali, tetap tidak terjadi sesuatu.
Akan tetapi ketika tekanan sampai ke sembilan kalinya, terdengar suara keras dan dari meja itu meluncur banyak sekali paku dan jarum yang menyerang ke berbagai penjuru, lalu menancap pada dinding batu.
Thian Lee terkejut dan ketika dia menengok, diapun melihat makhluk itu sudah pula berlutut seperti dia.
Untung makhluk itu melakukan itu, kalau tidak tentu sudah menjadi korban senjata rahasia yang berhamburan tadi.
Kini mengertilah Thian Lee.
Hanya orang yang berlutur didepan meja itu yang akan dapat mengambil pedang dan kitab.
Siapa yang lancing mengambilnya begitu saja, tak dapat dihinarkan lagi tentu akan tewas terkena senjata rahasia.
Dia bergidik ngeri kalau membayangkan itu.
Untung dia selalu ingat nasehat-nasehat ibunya dan kedua orang gurunya yang terakhir.
Kalau menurutkan watak dua orang gurunya yang pertama, Liok te Lomo atau Jeng ciang kwi, tentu mereka itu akan langsungsaja mengambil pedang dan kitab.
Setelah kembali memberi hormat untuk menghaturkan terima kasih, dia pun berkata, Locianpwe, harap maafkan teecu kalau teecu berani lancing mengambil pedang dan dua buah kitab itu .
Barulah dia bangkit berdiri dan ternyata makhluk itu pun sudah berdiri di belakangnya.
Makhluk itu mengeluarkan suara seperti orang kegirangan atau tertawa yang aneh ketika dia menjulurkan tangan mengambil sebuah kitab, lalu dibukanya kulit kitab itu.
Sebuah kitab yang kuno sekali dan di lembar pertama tertulis judulnya .
THIAN-TE SINKANG (Tenaga Sakti Langit Bumi) dan ketika dia membuka lembar berikutnya, ternyata banyak diantara huruf dalam kitab itu yang tidak diketahuinya.
Tanpa bantuan orang pandai, agaknya akan sulit sekali baginya mempelajari isi kitab itu.
Kitab kedua diambil dan dibukanya, ternyata merupakan kitab pelajaran ilmu pedang yang tertulis judulnya .
JIT-GOAT KIAM-SUT (Ilmu Pedang Matahari dan Bulan).
Seperti halnya dengan kitab pertama, kitab kedua inipun mengandung banyak huruf yang tidak diketahui, semacam huruf kuno.
Dia girang sekali dan dia lalu mengambil pedang itu.
Dicabutnya pedang itu dari sarungnya dan segera dimasukkanya kembali saking kagetnya karena begitu dicabut, nampak sinar seperti kilat menyambar.
Dia mencabut lagi perlahan-lahan dan ternyata pedang itu mengkilat, berkilauan padahal di ruangan itu hanya masuk sedikit saja sinar dari luar.
Dan dipangkal pedang itu terdapat ukiran huruf JIT-GOAT SIN-KIAM (Pedang Pusaka Matahari dan Bulan).
Setelah melihat ketiga benda pusaka itu, Thian Lee kembali menjatuhkan diri berlutut kepada meja itu untuk menghaturkan terima kasihnya.
Kemudian dia berkata kepada Yeti yang masih berdiri disampingnya, Saudara yang baik, semua ini adalah atas kebaikan budimu yang membawa aku ke tempat ini, maka aku menghaturkan terima kasih kepadamu .
Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat, akan tetapi tiba-tiba Yeti itu menjatuhkan diri berlutut kepadanya, memberi hormat seorang manusia memberi hormat kepada gurunya atau kepada majikannya.
Thian Lee terkejut dan bingung sekali.
Akan tetapi dia memegang kedua pundak Yeti itu dan membangunkannya.
Saudara tidak semestinya engkau berlutut kepadaku, akan tetapi akulah yang seharusnya berlutut kepadamu .
Dia mengajak makhluk itu keluar, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di depan kerangka, agak jauh di luar lubang.
Dan sungguh aneh sekali, begitu dia berlutut, agaknya terguncangketika lubang itu runtuh, tiba-tiba saja kerangka itupun runtuh terlepas dan menjadi setumpuk tulang dan tengkoraknya jatuh diatas tumpukan tulang.!
Melihat makhluk itu kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluarkan suara nguik-nguik seperti orang menangis kemudian dia memunguti tulan itu satu demi satu dengan hormat sekali dan membawanya turun ke bawah.
Melihat ini Thian Liong tidak tinggal diam diapun memunguti sisa tulang dan tengkorak, dan membawanya masuk ke dalam ruangan di bawah gua.
Mereka berdua menaruh tulang-tulang dan tengkorak itu diatas meja dimana kitab dan pedang tadi berada, kemudian setelah kembali memberi hormat, Thian Liong mengajak Yeti itu keluar.
Setiba di luar gua, diatas ruangan itu, Yeti lalu mengambil batu besar.
Sungguh hebat sekali tenaga Yeti itu.
Batu besar yang belum tentu dapat digerakkan oleh sepuluh orang itu dapat digulingkan oleh Yeti memasuki gua dan menutup lubang itu.
Saudara yang baik, sekarang aku harus kembali ke rumah guruku.
Mereka tentu akan cemas sekali menanti aku pulang .
Mendengar ini, Yeti itu lalu menjatuhkan diri lagi di depan kaki Thian Liong.
Thian Liong merasa terharu.
Kini dia mengerti mengapa makhluk itu begitu menghormatinya.
Ah, saudaraku yang baik.
Mendiang suhu tentu orang yang luar biasa bijaksananya sehingga engkau yang menjadi temannya begitu setia kepadanya.
Tentu engkau menganggap aku sebagai murid atau ahli warisnya maka engkau begitu menghormatiku, mengingat akan mendiang suhu.
Arwah suhu yang entah siapa namanya itu tentu akan tersenyum di dalam baka melihat kesetianmu.
Engkau bukan manusia, akan tetapi jarang sekali ada manusia yang memiliki kesetian seperti engkau.
Thian Liong lalu merangkul leher makhluk itu dengan kasih sayang sepenuh hatinya.
Dia merasa sayang sekali kepada makhluk itu dan merasa terharu melihat kesetiaan yang demikian besarnya.
Nah, saudaraku, sekarang aku harus pergi.
Atau maukah engkau ikut dengan aku?
Kedua orang guruku tentu akan senang sekali menerimamu .
Akan tetapi makhluk itu sekali ini menggelengkan kepala dan duduk diatas batu besar seolah dia hendak menjaga tempat itu selamanya.
Thian Liong maklum akan hal ini karena telah melihat kesetiaan makhluk itu yang demikian luar biasa.
Ketika Thian Liong hendak pergi, tiba-tiba makhluk itu melompat turun, memegang tangan Thian Liong dan diajaknya pergi kesamping gua.
Disitu banyak tumbuh jamur yang belang-belang, dan makhluk itu lalu mencabut beberapa batang jamur, lalu memakannya begitu saja dan dia menawarkan kepada Thian Liong untuk ikut makan jamur itu.
Thian Liong sudah mempelajari ilmu pengobatan, maka dia mencium jamur itu.
Tidak ada tanda beracun, akan tetapi dari baunya yang keras diatahu bahwa jamur itu mengandung obat yang keras sekali, entah untuk menyembuhkan penyakit apa, hal ini perlu diselidiki.akan tetapi karena dia melihat makhluk itu juga makan, untuk tidak membuat hati makhluk itu kecewa, diapun makan sebatang jamur.
Eh, rasanya manis dan gurih.
Karena perutnya memang lapar, dia lalu mencabut agak banyak dan makan dengan enaknya.
Anehnya melihat Thian Liong makan banyak jamur, makhluk itu berjingkrak-jingkrak seperti merasa kegirangan sekali.
Perut Thian Liong menjadi kenyang setelah menghabiskan banyak jamur.
Akan tetapi tiba-tiba ada rasa panas luar biasa pada perutnya.
Ada hawa panas yang berputar di perutnya.
Dia merasa dadanya sesak, terhimpit hawa dari perut itu dan cepat dia meletakkan kitab dan pedang diatas lantai dan dia menekan perutnya yang rasanya hendak meledak.
Makhluk itu lalu membimbing tangannya dan kemudian makhluk itu bersila.
Thian Lee maklum bahwa makhluk itu mgajarkan dia dusuk bersila, maka diapun duduk bersila lalu melatih pernapasan seperti kalau dia melatih ilmu menghimpun tenaga dalam dari gurunya, Tan Jeng Kun.
Dan perlahan-lahan dia dapat menguasai gejolak dalam perutnya itu, dapat menguasai hawa yang amat kuat dan yang hendak mecuat ke sana sini, kemudian menekan ke bawah perut untuk mengumpulkan hawa itu pada tan tian (titik empat cm dibawah pusar).
Akhirnya, setelah duduk bersila selam tiga jam, dapat juga dia menenangkan hawa panas yang amat kuat itu ke dalam tan tian.
Akhirnya dia dapat bangkit berdiri dan dia segera mencabut banyak jamur untk dibawa pulang.
Dibungkusnya jamur itu ke dalam bajunya dan dia sendiri bertelanjang baju karena tubuhnya masih terasa panas sekali yang timbul dari bawah perutnya.
Kemudian dia melambaikan tangan kepada Yeti dan sekali ini Yeti balas melambaikan tangan.
Sekali lagi terima kasih, saudara yang baik.
Lain kali aku pasti akan dating menjengukmu ke sini .
Setelah berkata demikian, pergilah dia.
Aneh sekali, ketika melangkah dia merasa tubuhnya demikian ringan seolah-olah tubuhnya terisi hawa yang membuat dia seperti hendak mengudara.
Setelah hari menjadi malam, akhirnya tibalah dia di pondok gurunya dan ternyata dua orang gurunya telah menanti di depan pondok dengan wajah agak gelisah.
Thian Lee, kemana saja engkau seharian ini?
, tegur Tan Jeng Kun, dengan suara yang agak keren dia merasa tidak senang muridnya telah membuat mereka berdua kawatir.
Eh, apa yang terjadi dengan dirimu, Thian Lee?.
Tanya Kim Sim Yok Sian yang melihat muridnya itu bertelanjang dada, membawa sesuatu yang dibuntal dengan pakaian, juga membawa dua buah kitab dan sebatang pedang.
Suhu dan Susiok, teecu mengalami hal yang luar biasa sekali.
Suhu dan Susiok mungkin tidak percaya akan apa yang teecu alami di puncak dimana tinggal makhluk manusia salju itu .
Engkau kesana?
Sudah kularang engkau kesana?
Tegur Tan Jeng Kun.
Apa yang telah terjadi?
Cepat ceritakan.
Mari kita semua masuk ke dalam kata Kim Sim Yok Sian yang lebih sabar daripada gurunya.
Mereka semua masuk dan Thian Lee meletakkan pedang dan dua buah kitab keatas meja, juga buntalan pakaian yang terisi jamur ajaib.
Dengan jelas dia menceritakan semua pengalamannya di puncak bukit itu, didengarkan oleh Tan Jeng Kun dan Kim Sim Yok Sian dengan mata terbelalak saking herannya.
Setelah Thian Lee selesai bercerita dengan jelasnya, dua orang itu segera sibuk memeriksa.
Tan Jeng Kun memeriksa pedang dan kitab, sedangkan Kim Sim Yok Sian memeriksa jamur belang dan keduanya mengeluarkan seruan kaget dan juga gembira.
Ya Tuhan, engkau memang berjodoh menjadi ahli waris perguruan kami, Thian Lee .
Tan Jeng Kun berseru girang setelah melihat pedang dan kedua buah kitab.
Siancai !
Jamur ini adalah jamur ular belang yang langka.
Nampaknya tidak beracun, akan tetapi mengandung racun yang halus sekali.
Dan engkau telah memakannya Thian Lee?.
Benar, Susiok.
Teecu makan banyak sekali.
Rasanya manis dan gurih.
Makhluk manusia salju itu yang menyuruhku makan dan teecu lalu mengalami gejolak hawa panas di perut teecu yang menyiksa.
Akan tetapi manusia salju itu mengajarkan agar teecu bersila dan lalu teecu melakukan latihan seperti yang diajarkan Suhu dan akhirnya teecu dapat menyimpan hawa itu ke dalam tan tian .
Siancai !
Ini luar biasa sekali.
Engkau telah memperoleh kekuatan yang luar biasa, Thian Lee.
Untung sekali ada manusia salju yang mengajarimu.
Andaikata ketika engkau diserang hawa panas bergejolak itu engkau tidak berdiam diri menghimpun tenaga dalam, dan kau pakai untuk lari atau menggunakan tenaga, mungkin engkau telah roboh dan tewas kalau hawa itu menyerang ke dalam kepalamu.
Sebaliknya, dengan menyimpannya ke dalam tan tian, engkau akan memperoleh kemajuan pesat dalam hal tenaga sin kang .
Kata Kim Sim Yok Sian setelah dia memegang pergelangan tangan pemuda remaja itu untuk memeriksa keadaan kesehatannya.
Dan kitab itu.
Sute, coba kau lihat kitab dan pedang ini.
Kata Tan Jeng Kun kepada sutenya.
Kim Sim Yok Siam membuka-buka kitab itu.
Wajahnya tampak tegang dan ketika dia mencabut pedang Jit goat Sin kiam, matanya terbelalak.
Siancai .
Bagaimana bisa terjadi suatu kebetulan seperti ini?
Tentu sudah dikehendaki oleh Thian.
Tahukah engkau siapa kerangka itu, Thian Lee?.
Teecu, tidak tahu Susiok .
Itu ..
adalah kerangka sucouwmu (buyut gurumu)!.
Ahhh !
Thian Lee berseru kaget sekali.
Tentu saja dia sama sekali tidak menduga bahwa kerangka itu adalah kerangka buyut gurunya!
Susiok dan Suhu, apa yang terjadi dengan sucouw?, Su kong (kakek guru) kami berjuluk Thian Te Seng jin (Orang Sakti Langit Bumi), dan ketika guru kami masih hidup, sukong kami itu menghilang dari dunia kang ouw.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui dimana sukong kami berada, bahwa suhu kami juga tidak mengetahui.
Dia dianggap lenyap dari permukaan bumi.
Siapa tahu, dia tidak berada jauh dari sini, bahkan berada di puncak yang dianggap menjadi tempat tinggal manusia salju dimana tidak ada orang beranidatang.
Dan lebih tidak terduga lagi, kiranya engkau yang menjadi ahli warisnya!
Dan betapa berbahayanya ketika engkau hendak mengambil kitab dan pedang itu.
Pinto yakin, setiap jarun dan paku itu mengandung racun yang akan mencabut nyawa siapa saja yang terkena olehnya.
Ini menunjukkan bahwa sudah ditakdirkan engkau yang berhak mempelajari ilmu baru yang ditinggalkannya itu dan memiliki pedang pusakanya .
Akan tetapi susiok.
Bagaimana teecu dapat mempelajari kitab itu?.
Ketika teecu memeriksanya, terdapat banyak huruf yang tidak teecu kenal.
Ha ha ha, apa percuma saja gurumu seorang sastrawan?
Memang tulisan itu memakai huruf kuno, akan tetapi suhumu tentu dapat membantumu.
Dan lebih beruntung lagi, engkau juga telah makan jamur ular belang sehingga engkau akan mendapatkan kekuatan yang hebat.
Dan masih ada sebanyak ini.
Engkau harus memakannya sedikit demi sedikit agar tidak membahayakan kesehatanmu .
Suhu dan Susiok, teecu telah makan banyak jamur.
Maka biarlah jamur ini untuk suhu dan susiok saja .
Heh heh heh, pinto ini tukang mengobati, untuk apa jamur yang mendatangkan tenaga sinkang?
Tidak, pinto tidak memerlukannya , kata si Tabib Dewa.
Kalau begitu, biar dimakan oleh suhu .
Kata Thian Lee.
Suhunya mengerutkan keningnya, Aku sudah tua, untuk apa segala macam obat kuat?
Biarlah engkau yang memakannya sampai habis, akan tetapi benar seperti kata susiokmu, harus dimakan sedikit demi sedikit.
Dan kitab pelajaran ilmu sin-kang Thian te Sin-kang ini tentu cocok dengan orang yang memakan jamur itu sehingga engkau akan dapat menguasai tenaga sakti itu dengan baik.
Tentang ilmu pedang Jit goat Kiam sut ini, dan isi kitab, jangan kawatir, aku akan menerangkan dan menjelaskan isi dan artinya.
Akan tetapi engkau harus berlatih sendiri karena aku tidak berhak mempelajarinya, juga aku sudah tua, tidak ingin mempelajari ilmu silat apapun lagi .
Demikianlah, mulai hari itu, selain menerima pelajaran ilmu silat tangan kosong dari gurunya, Thian Lee mulai berlatih sin-kang dari kitab Thian te Sin kang dan mempelajari ilmu pedang dari kitab Jit goat Kiam sut, mempergunakan pedang Jit goat Sin Kiam.
Memang pada dasarnya dia memiliki bakat yang amat baik, darah bersih dan tulang yang kuat, apalagi ditambah khasiat luar biasa dari jamur ular belang, maka Thian Lee mendapat kemajuan pesat sekali.
Kim Sim Yok Sian hanya tinggal setahun disitu, kemudian dia meninggalkan tempat itu untuk merantau dan melanjutkan tugasnya, yaitu melawan wabah penyakit dan mengobati orang-orang sakit.
Dalam waktu setahun itu, dia sudah mengajarkan ilmu pengobatan yang lumayan bagi Thian Lee.
Kita tinggalkan dulu Thian Lee yang dengan tekun digembleng oleh Tan Jeng Kun di sebuah puncak dari Pegunungan Himalaya dan marilah tengok keadaan ?
Tang Cin Lan dan ibunya, Lu Bwe Si.
Hidup sebagai selir pangeran yang tercinta, Lu Bwe Si merasa cukup bahagia.
Demikian pula Cin Lan yang dengan sendirinya mendapat nama marga Tang, yaitu marga pangeran yang menjadi ayahnya, anak itu hidup serba kecukupan dan terhormat.
Karena ibunya dan juga ayahnya, memanggilkan guru-guru silat untuk puteri ini, maka Cin Lan menjadi seorang gadis remaja yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.
Dara ini yang kini telah berusia lima belas tahun pandai menunggang kuda, menggunakan anak panah dan bersilat memainkan delapan belas macam senjata dengan baik!
Memang Lu Bwe Si yang diuruk ker mewahan dan kesenangan oleh suaminya, telah dapat melupakan suaminya yang dahulu.
Akan tetapi, jika melihat puterinya yang memiliki mata dan mulut rnirip ayah kandungnya, ia teringat kembali dan setiap kali teringat akan suaminya, membayangkan kematian suaminya, ia merasa kasihan dan untuk menebus rasa bersalahnya terhadap suami itu, sedikitnya tiga bulan sekali Lu Bwe Si mengajak anaknya untuk bersembahyang ke kuil terbesar, di kota raja yang dipimpin oleh Tiong Hwi Nikouw, karena kuil itu memang kuil wanita.
Di kuil inilah nyonya selir pangeran itu bersembahyang, menyembahyangi arwah mendiang Bu Cian isuaminya yang pertama, atau ayah kandung Cin Lan.
Tentu saja Cin Lan tidak tahu bahwa ibunya menyembahyangi ayah kandungnya, karena ibunya tidak pernah bicara tentang ini.
Juga kepada para nikouw, Lu Bwe Si berkata bahwa ia hendak menyembahyangi orang tua dan para leluhurnya.
Setelah berusia lima belas tahun, Ci Lan menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita.
Apalagi sebagai puteri pangeran, kesehatannya terawat sekali, pakaiannya serba indah, maka ia nampak makin menarik.
Setiap orang pria tentu akan menengok untuk memandang lagi kalau kebetulan melihat dara jelita inl.
Pada suatu pagi Cin Lan dan ibunya me-nunggang kereta pergi ke kuil.
Ketika naik kereta, tidak ada orang yang dapat melihat mereka.
Akan tetapi ketika turun dari kereta hendak memasuki kull banyak mata memandang dara semua orang merasa kagum bukan main.
Dara remaja itu mengenakan pakaian serba merah muda, rambutnya yang hitam panjang itu digelung seperti para puteri bangsawan, melingkar-lingkar tinggi di atas kepala, dihias tusuk rambut dari emas permata.
Anak rambut yang melingkarlingkar di dahi dan pelipis itu sungguh amat manis.
Anting-anting emas bermata Intan menghias telinganya.
Alisnya hitam kecil melengkung tanpa dicukur dan tan-pa ditambah penghitam alis.
Sepasang matanya amat tajam dan memandang berani, tidak malu-malu seperti mata gadis kebanyakan, bahkan mata itu kadang mencorong.
Hidungnya kecil mancung, dan di bawah hidungnya terdapat mulut yang menjadi bagian paling menari dari mukanya.
Bibirnya merah membasah tanpa gincu, dengan lekukan-lekukan manis di sekitar mulut dan kalau ia tersenyum nampak lesung pipit di pipi kirinya.
Kulitnya demikian putih mulus.
Tubuhnya masih belum matang benar, masih agak kekanakan, akan tetapi sudah kelihatan betapa pinggangnya amat ramping dan lehernya juga panjang.
Pangeran Tang Gi Su sendiri merasa amat bangga kepada puteri ini karena kecantikannya dan kepandaiannya bersilat, walaupun hanya puteri tiri.
Akan tetapi, karena Lu Bwe Si mem-bawa anak ketika untuk pertama kali ia dibawa masuk ke istana pangeran, tentu saja bukan merupakan rahasia lagi bahwa Cin Lan bukan puteri kandung Pangeran Tang Gi Su, melainkan anak tiri.
Dan hal ini tidak mungkin dapat ditutuptutupi Akan tetapi sampai berusia lima belas tahun Cin Lan belum mendengar akan rahasia itu, dan Sang Pangeran memperingatkan para pelayannya agar jangan membocorkan rahasia itu kepada Cin Lan dengan ancaman hukuman berat, Bwe Si sendiri juga tidak ingin membuka rahasia itu kepada puterinya.
Akan tetapi ia menyuruh Bwe Si memakai gelang kemala yang menjadi tanda ikatan perjodohan puterinya dengan putera Song Tek Kwi sebagai apa yang dipesankan mendiang suaminya.
Akan tetapi ia tidak menceritakan hal itu kepada Cin Lan, hanya mengatakan bahwa Cin Lan harus menjaga baik-baik gelang kemala itu karena walaupun harganya tidak terlalu mahal bagi keluarga pangeran, namun gelang itu adalah peninggalan ibunya.
"Ibuku atau nenekku juga menerima gelang ini dari ibunya, maka gelang yang sudah turun-temurun ini harus kaujaga baik-baik dan dapat dijadikan jimat penolak bencana,"
Demikian ia memberitahu anaknya dan Cin Lan selalu menjaga gelang yang melingkari lengan kirinya itu.
Ketika anak dan ibu ini turun dari kereta, terdapat dua orang pengemls muda yang berada di depan kuil dan mereka memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga menyaksikan kecan-tikan gadis remaja itu dan mereka lalu berbisik-bisik.
Memang di halaman kuil itu biasanya terdapat beberapa orang pengemis yang mengharapkan sedekah dari para pengunjung kuil.
Biasanya, orang-orang yang berkunjung ke kuil, suka lepas tangan dan murah hati dalam memberi sumbangan kepada para fakir miskin.
Demikianlah memang watak manusia.
Ketika memasuki kuil atau tempat pemujaan lainnya, manusia selalu meng-ajukan permohonan kepada Tuhan atau kepada kekuasaan lain agar mencapai apa yang dikehendaki.
Dan untuk memperkuat permohonan mereka itu, mereka suka "berbuat baik"
Dengan memberi sedekah agar permohonannya terkabul.
Betapa palsunya perbuatan baik semacam ini.
Bukan berbuat baik namanya, melainkan menyalah-gunakan apa yang dinamakan perbuatan baik dengan menjadikannya sebagai cara untuk memperoleh apa yang diharapkan, seolah merupakan penyuapan atau penyogokan!
Demikianlah, keinginan untuk memperoleh sesuatu biasanya menggelapkan pikiran, meniadakan pertirnbangan, membuat orang buta terhadap yang benar dan yang salah, dan meng-gunakan segala daya upaya demi tercapainya apa yang diinginkan itu.
Kalau perlu, manusia tidak segan menghalalkan segala cara yang busuk demi memperoleh keinginannya itu.
Namun, kita sudah lupa akan kenyata-an ini dan kita pun terbawa oleh kebiasaan umum, yaitu suka menderma sehabis keluar dari tempat-tempat pemujaan dan dengan pemberian sedekah itu kita mera-sa diri bersih, suci dan baik hati!
Tanpa ;merasa kita sudah terseret ke dalam kebiasaan yang salah namun dibenarkan oleh umum ini.
Dan para pengemis tahu akan hal ini, maka berderetlah mereka di tempat-tempat seperti itu, memancing ikan di air yang keruh atau lebih tepat mencari hasil selagi pikiran manusia dalam kekeruhan!
Lu Bwe Si bersembahyang dan Cin Lan Juga ikut, bersembahyang.
Mereka merupakan tamu agung, karena me, jad!
keluarga pangeran, maka dilayani sendiri oleh Tiong Hwi Nikouw, kepala nikouw di kuil itu.
Ini pun merupakan suatu kebiasaan yang sudah lajim.
Munekin sekali Tiong Hwi Nikouw bukan seorang yang mata duitan, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bahwa tamu-tamu terhormat biasanya meninggalkan dermaan yang besar jumlahnya kepada kuil, maka mereka juga disambut dan dilayani secara istimewa?
Kembali contoh dan kepalsuan manusia yang sudah menjadi kebiasaan!
Cin Lan bersembahyang untuk arwah ieluhur ibunya, tidak tahu bahwa ia bersembahyang pula untuk arwah ayah kandungnya!
Setelah selesai sembahyang dan bercakap-cakap sebentar dengan Tione Hwi Nikouw, seorang nlkouw tua berusia enam puluh tahun yang masih bertubuh sehat dan kuat, minum air teh yane di suguhkan, Lu Bwe Si berpamit setelah memberi uang sedekah kepada kuil itu bersama Cin Lan mereka melangkah keluar, diiringkan oleh Tiong Hwi Nikouw.
Baru saja mereka menuruni anak tangga, mereka dihadang oleh tiga orang pengemis muda yang tersenyum-senyum menjulurkan tangan minta sedekah.
Lu Bwe Si mengerutkan alisnya melihat sikap menyeringai rnereka dan ia pun memberi beberapa keping uang kepada mereka.
Akan tetapi tiga orang pengemis itu tidak mau pergi.
"Nona belum memberi,"
Kata mereka dan kini mereka menjulurkan tangan kepada CAn Lan sambil mendekati nona itu. Cin Lan merasa tidak senang.
"Pergi kalian! Bukankah Ibu sudah memberi kepada kalian?"
Bentaknya. Seorang di antara mereka berkata.
"Aih, jangan galak-galak, Nona. Berilah kami sedikit sedekah dari tangan Nona yang indah itu."
"Kurang ajar kalian! Tidak tahukah dengan siapa kalian berhadapan? Aku adalah puteri Pangeran Tang Gi Su!"
Bentak pula Cin Lan. Akan tetapi tiga orang pengemis it|U tertawa.
"Dengar, kawan-kawan. la bilang puteri Pangeran Tang Gi Su! Ha-ha-ha, sungguh lucu. Engkau hanya anak tirl pangeran itu, jangan berpura-pura menjual lagak, Nona!"
Pengemis itu lalu tiba-tiba menangkap lengan kiri Cin Lan dan sebelum Cin Lan sempat mengelak dia sudah merenggut gelang kemala dari lengan kiri itu.
Gelang itu memang agak terlalu besar untuk lengan Cin Lan yang kecil, maka dengan mudah dapat dirampas, dan telah dimasukkan saku oleh pengemis muka bopeng itu.
"Jahanam, kembalikan gelangku!"
Cin Lan kini melompat dan memukul.
Pengemis itu ternyata dapat bersilat juga.
Dia menangkis dan balas memukul.
Akan tetapi Cin Lan mengelak dan sekali kakinya mencuat, pengemis itu telah terten-dang perutnya dan jatuh terjengkang.
Dua orang pengemis yang lain lalu mengeroyok.
Mereka berani karena tahu bahwa gadis itu bukanlah puteri pangeran, melainkan hanya anak tiri.
Akan tetapi Cin Lan mengamuk.
la menggunakan semua ilmu silat yang selama ini la pelajari dan dalam beberapa gebrakan saja tiga orang pengemis itu telah menjadi bulan-bulan tamparan dan tendangan kakinya.
Tiga orang pengemis itu terkejut dan heran, akhirnya menjadi ketakutan dan melarikan diri sambll membawa gelang kemala.
Cin Lan hendak mengejar, akan tetapi tiga orang pengemis itu lari cerai-berai dan ibunya melarang ia mengejar.
"Sudahlah, jangan dikejar, Cm Lan, kata Lu Bwe Si dengan suara mengandung kegelisahan. Ia gelisah karena men-dengar perngemis itu tadi membuka rahasia anaknya.
"Benar, Siocia (Nona). Tidak perlu. iitanggapi pengemis-pengemis kurang ajar itu. Kalau mereka berani datang lagi ke sini akan pinni (aku) usir mereka,"
Kata Tiong Hwi Nikouw.
"Marilah kita pularrg, Cin Lan,"
Kata ibunya sambil menggandeng tangan anaknya menghampiri kereta. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Perlahan dulu!"
Dan muncullah seorang pengemis berusia lima puluh tahunan.
Orangnya pendek gendut dan dia memegang sebatang tongkat hitam.
Karena jelas bahwa dia menegur Lu Bwe Si, maka nyonya ini memandang dengan alis berkerut.
"Engkau mau apa?"
Bentaknya.
"Ha-ha-ha, perlahan dulu, Toanio. Tadi tiga orang muridku telah dihajar oleh nona ini, maka aku datang untuk membalaskan mereka. Hayo Nona, kalau memang engkau seorang yang berkepandaian, lawanlah tongkat hitamku!"
Dan dia memutar-mutar tongkatnya yang terbuat dari baja itu sehingga terdengar suara berngiukan.
"Slapa takut padamu?"
Bentak Cin Lan sambil melompat maju.
"Murid-muridmu pencuri kurang ajar, gurunya lentu lebih brengsek lagi! Majulah kalau engkau minta dihajar!"
Cin Lan memasang kuda-kuda, siap untuk bertanding melawan pengemis pendek gendut yang memegang tongkat hitam itu.
"Nah, rasakan kehebatan tongkatku!"
Bentak pengemis itu dan dia pun mulai menyerang dengan ganas.
Diam-diam Cin Lan terkejut.
Serangan orang ini tidak dapat disamakan dengan tlga orang pengemis tadi.
Serangan tongkatnya itu cepat dan mengandung tenaga yang kuat sekali.
Ia menggunakan kelincahannya untuk mengelak sambil membalas dengan tendangan, akan tetapi terpaksa ia me-narik kembali kakinya karena tongkat itu menangkis dengan kuat sekali.
Dan pe-ngemis itu pun tidak mau memberi hati, langsung menghujankan serangannya.
Untung bagi Cin Lan bahwa ia memiliki gerakan yang amat gesit sehingga ia dapat mengelak ke sana sini.
Akan tetapi segera ia terdesak hebat karena permainan tongkat pengemis itu memang sudah tinggi tingkatnya.
Suara angin berdesir menyambar-nyambar dan biarpun sampai belasan jurus Cin Lan mampu mengelak dan tubuhnya berkelebatan di antara sambaran tongkat, namun ia sudah terdesak mundur dan kalau pertandingan itu dilanjutkan bukan tidak mungkin ia akan terkena pukulan tongkat.
Ketika tongkat itu dengan dahsysatnya menyambar ke arah kepala Cin Lan dan gadis ini mengelak, terdengar bunyi keras dan tongkat itu ternyata telah ditangkis oleh sebatang tongkat lain, yaitu tongkat yang berada di tangan Tiong Hwi Ni-kouw!
Nikouw ini ketika melihat betapa Cin Lan terdesak, sudah mengambil tong-katnya dan kini ia maju menangkis tongkat pengemis itu.
"Tang-siocia, mundurlah, biarkan pinni yang menghajar pengemis tak tahu diri ini'"
Katanya dan Cin Lan yang merasa kewalahan segera mundur mendekati ibunya yang kelihatan khawatir sekali.
Kini terjadi pertandingan antara Tiong Hwi Nikouw dan pengemis pendek gendut itu.
Keduanya mempergunakan tongkat dan ternyata tongkat di tangan Tiong Hwi Nikouw itu lihai sekali gerakannya.
Nikouw inl pernah menjadi murid Siauw-lim-pai, maka tentu saja permainan tongkatnya juga tangguh sekali.
Dan perlahan-lahan ia mulai meridesak pengemis pendek itu dengan tongkatnya sehingga Si Pengemis kini hanya mampu menangkis tidak mampu balas menyerang.
Melihat ini, Cin Lan kagum dan girang sekali.
Akan tetapi pada saat itu, muncul seorang pengemis tinggi besar yang juga memegang sebatang tongkat hitam dan begitu tiba di situ, pengemis tinggi besar itu membentak.
"Siapa berani menentang Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam)?"
Dan tanpa banyak cakap lagi dia segera terjun ke dalam perkelahian itu, mengeroyok Tiong Hwi Nikouw!
Dan ilmu tongkat Si Tinggi Besar ini ternyata lebih hebat danpada ilmu tongkat Si Pendek Gendut.
Begitu Si Tinggi Besar ini menggerakkan tong-katnya menyerang, berbalik nenek itu yang terdesak hebat dan karena ia dikeroyok dua, maka kini Tiong Hwi Nikouw hanya mampu menangkis sambil berlon-catan mundur.
Cin Lan merasa khawatir sekali karena dara ini maklum bahwa nikouw itu tentu akan kalah dalam waktu singkat.
"Beginikah kelakuan orang-orang Hek-tung Kai-pang?"
Tiba-tiba terdengar seruan dan muncullah seorang pengemis lain.
Pengemis ini sudah tua, usianya tentu sudah mendekati tujuh puluh tahun, pakaiannya serba putih walaupun penuh tambalan namun nampak bersih.
Pengemis ini pun memegang sebatang tongkat bambu yang butut, akan tetapi begitu dia menggerakkan tongkat bambunya menangkis, dua orang pengemis itu terhuyung ke belakang.
Pengemis ttia berbaju putih itu lalu memberi hormat kepada Tiong Hwi Ni-kouw.
"Maafkan dua orang pengemis yang tidak tahu diri ini dan biarkan aku yang tua memberi hajaran kepada mereka!"
Adapun dua orang pengemis tongkat hitam menjadi marah sekali melihat munculnya pengemis baju putih yang sama sekali tidak mereka kenal. Si Ting-gi Besar maju dan menudingkan telunjuk kirinya.
"Engkau ini pengemis macam apa? Tidak setiakawan membantu sesama pengemis malah menentang kami? Apakah tidak tahu bahwa kami dari Hek-tung Kai-pang di kota raja dan sekitarnya menjadi pimpinan para pengemis?"
Pengemis tua itu tersenyum.
"Ingin aku melihat bagaimana sikap ketua kalian kalau melihat sikap dan mendengar suara kalian ini. Sebagai pengemis yang pekerjaannya meminta belas kasihan orang lain, kenapa kalian menggunakan kekerasan? Kalau pengemis menggunakan kekerasan, apa bedanya dengan perampok? Ketahuilah, hai pengemis yang tidak tahu diri. Penggunaan kekerasan tidak menguntungkan, bahkan akan mencelaka-kan diri kalian sendiri. Hayo cepat berlutut minta maaf kepada nikouw ini dan juga kepada Toanio dan Siocia itu!"
"Pengemis tua busuk! Kau tidak tahu siapa kami, ya? Kau pantas dihajar!"
Bentak Si Tinggi Besar dan bersama Si Pendek Gendut dia lalu menyerang kalang-kabut kepada pengemis baju putih.
Akan tetapi pengemis baju putih ini berdiri tegak saja dan ketika dua orang penyerangnya sudah menerjang dekat, per-lahan pula dia menggerakkan tongkatnya akan tetapi sungguh aneh, tongkatnya itu dapat mendorong kedua orang itu sehingga terjengkang!
Dua orang itu meloncat bangun dan menyerang lagi, akan tetapi kembali mereka terjengkang karena dari tongkat bambu itu keluar hawa yang amat kuat mendorong mereka.
Untuk ke tiga kalinya mereka bangkit dan menyerang, akan tetapi makin hebat serangan mereka, makin hebat pula mereka terlempar dan akhirnya mereka tidak berani lagi menyerang, maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang pandai.
Mereka hendak melarikan diri, akan tetapi kakek berpakaian putih itu menggerakkan tangan seperti menggapai dan mereka jatuh tergulingan lagi.
"Sebelum minta ampun kepada Ni-kouw, pinto dan Siocia, jangan harap kalian akan dapat meninggalkan tempat ini,"
Kata pengemis tua itu.
Akhirnya dua orang pengemis Hek-tung Kai-pang itu berlutut dan minta ampun kepada Tiong Hwi Nikouw, Lu Bwe Si dan Tang Cin Lan, mengangguk-anggukkan kepala seperti dua ekor ayam mematuk gabah padi.
"Nah, kalian berdua ingat baik-baik. Jangan membiarkan anak buah kalian melakukan perbuatan jahat, terutama sekali jangan menggunakan kekerasan. Lain hari aku akan bertemu dengan ketua kalian untuk menegurnya. Apakah kalian ingin dibasmi oleh pasukan pemerintah? Atau setidaknya dibasmi oleh para pendekar? Nah, pergilah dan jangan ulangi perbuatan kalian!"
Dua orang pengemis itu memberi hormat dan segera pergi tanpa banyak cakap lagi.
Orang-orang yang menonton pertandingan itu menjadi gembira dan kagum.
Para pengemis Hek-tung Kai-pang memang suka mengganggu orang, terutama para wanita.
Dan mereka itu agaknya tidak takut terhadap para petugas penjaga keamanan, karena mereka itu merupakan orang-orang kepercayaan dari Pangeran Bian Kun.
Karena adanya Pangeran Bian Kun yang selalu membela mereka, maka para anggauta Hek-tung kai-pang menjadi besar kepala dan setiap kali para petugas keamanan bertindak keras kepada mereka, tentu petugas keamanan ditegur keras oleh Pangeran Bian Kun.
Kini, melihat dua orang tokoh Hek-tung Kai-pang dihajar oleh seorang pengemis tua yang menasihati agar mereka tidak menggunakan kekerasan melakukan kejahatan, tentu saja para penonton ity menjadi gembira sekali.
Cin Lan juga kagum sekali melihat kesaktian pengemis tua baju putih itu.
Ia mendekati Tiong Hwi Nikouw yang sudah dikenalnya dengan baik.
"Su-kouw,"
Bisiknya.
"Aku ingin sekali belajar ilmu silat dari Locianpwe itu. Tanyakanlah kepadanya, Su-kouw, tolonglah...."
Nikouw itu tersenyum dan mengangguk, lalu ia menghampiri pengemis itu dain memberi hormat.
"Terima kasih banyak atas bantuan Locianpwe. Mohon tanya, siapakah Locianpwe dan datang dari mana?"
Pengemis itu tersenyum.
"orang menyebutku Pek I Lokai (Pengemis Tua Baju Putih). Aku sudah lupa akan namaku, maaf...."
"Locianpwe, karena Locianpwe sudah menyelamatkan pinni dan juga Toanio dan Siocia ini, maka pinni persilakan Lo-cianpwe untuk singgah sebentar dan bercakap-cakap di dalam."
Pengemis itu menoleh dan memandang kepada Lu Bwe Si dan Cin Lan, kemudian dia mengangguk dan berjalan perlahan mengikuti nikouw itu memasuki Kuil Kwan-im-bio.
Lu Bwe Si hendak mengajak puterinya pulang, akan tetapi dara itu malah menarik tangan ibunya diajak masuk kembali ke kuil.
Mereka duduk menghadapi meja de-ngan hidangan tanpa daging dan tanpa arak.
Pengemis itu tanpa malu-malu lagi menyantap hidangan yang disuguhkan kepadanya.
Setelah selesai makan, dia mengangguk-angguk dan tersenyum.
Pada saat itu, Lu Bwe Si dan Cin Lan memasuki ruangan itu.
Tiong Hwi Nikouw lalu bangkit berdiri dan berkata kepada pengemis itu.
"Locianpwe, toanio ini adalah isteri dari Pangeran Tang Gi Su dan nona ini adalah Tang-siocia. Nah, Tang-siocia tadi melihat kelihaian Locianpwe dan ingin sekali belajar Umu silat dari Locianpwe."
Pengemis itu tersenyum dan memandang kepada Cin Lan, memandang dari kepala sampai ke kaki dan diam-diam dia kagum. Gadis remaja inl memang berbakat baik sekali.
"Nona sudah pernah mempelajari ilmu silat sampai cukup baik, untuk apa ingin belajar lagi?"
"Locianpwe, biarpun sejak kecil aku sudah mempelajari ilmu silat, akan tetapi buktinya tadi ketika menghadapl pengemis .pendek gendut, aku tidak mampu mengalahkannya. Karena itu melihat ke-saktian Locianpwe, aku ingin sekali men-jadi murid Locianpwe. Harap engkau orang tua tidak menolak!"
Setelah berkata demikian, membuat kaget hati ibunya, gadis itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek pengemis itu!
Tentu saja Lu Bwe Si terkejut sekali, akan tetapi ia pun tidak dapat berbuat sesuatu.
Melihat puterinya, puteri pangeran, berlutut di depan kaki seorang kakek pengemis!
Bagaimana kalau hal seperti ini dilihat orang lain?
Untung di situ hanya ada ia dan Tiong Hwi Nikouw!
Pengemis itu mengangkat mukanya dan tertawa bergelak, kemudian dengan tongkat bambunya dia menusuk bawah ketiak kiri Cin Lan lalu mengangkatnya.
Cin Lah merasa ada tenaga raksasa tongkat itu yang mengangkatnya.
la hendak menguji dan mengerahkan tenaga sin-kang untuk melawannya akan tetapi tetap saja ia terangkat dalam keadaan masih berlutut!
Kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, sin-kangmu boleh juga, Nona. Cin Lan lalu menurunkan kakinya dan ia bertanya.
"Bagaimana, Locianpwe sudikah engkau menerimaku sebagai murid?"
"Aku seorang kakek pengemis perantau, bagaimana dapat menjadi gurumu, Nona? Dan aku pun tidak suka tinggal d! rumah pangeran yang seperti istana, terlalu mewah bagiku."
Tiba-tiba Tiong Hwi Nikouw berkata.
"Kalau Locianpwe menghendaki, dapat saja melatih Tang-slocia di kuil ini."
"Bagus, kalau begitu baru bagus do.ir aku setuju!"
Kata kakek itu gemblra.
"Terima kasih, Suhu!"
Kata Cin lan gembira.
"Eh, nanti dulu, Nona. Engkau harus memperoleh ijin dari Ibumu'"
Kata kakek itu, Lu Bwe Si segera berkata.
"Kami memang tahu akan kesukaan puteri kami dan kami tidak berkeberatan kalau Lo-cianpwe suka menjadi guru Cin Lan."
"Wah, semua beres kalau begitu. Nah, seminggu sekali Nona boleh datang ke sini. Selama sehari Nona akan kuajar ilmu silat, kemudian melatihnya di rumah Nona sendiri selama seminggu. Setiap seminggu sekali kita bertemu di sini dan dimulai dengan besok pagi-pagi sekali,"
Kata Pek I Lokai kepada Cin Lan.
"Baik Suhu. Besok pagi-pagi sekali teecu akan datang ke kuil ini,"
Kata Cin Lan.
Kemudian ia mengikuti ibunya naik kembali ke dalam kereta dan kembali ke rumah mereka Cin Lan dan ibunya tidak menceritakan tentang peristiwa tadi kepada Pangeran Tang Gi Su.
Akan tetapi begitu berada bedua saja di dalam kamarnya, Cin Lan berkata kepada ibunya dengan suara menuntut.
"Ibu, sejak tadi perasaan ini kutahan-tahan saja. Sekarang harap Ibu suka menceritakan tentang ucapan pengemis kurang ajar tadi. Apa artinya ucapannya itu, Ibu?"
"Ucapan yang bagaimana, Ariakku?"
Tanya ibu itu dengan hati gelisah, karena tentu saja ucapan pengemis muda tadi tak pernah ia lupakan.
"Pengemis tadi mengatakan bahwa. aku hanyalah anak tiri dari Ayah Pangeran. Apa artinya ini, Ibu? Kalau Ibu tidak mau berterus terang, aku akan melakukan penyelidikan sendiri dengan bertanya-tanya kepada orang luaran."
Sang Ibu menundukkan mukanya Rahasia itu bagaimanapun juga tidak mungkin disimpan terus.
Orang luar semua tahu belaka bahwa ketika menjadi selir pangeran, ia sudah membawa seorang anak.
Semua orang tahu belaka bahwa Cin Lan adalah puteri tiri Sang Pangeran.
"Baiklah, Cin Lan. Engkau sekarang sudah menjelang dewasa dan engkau perlu mengetahuinya. Lebih baik engkau mendengar dari mulutku sendiri daripada engkau mendengar darl mulut orang lain. Memang sebenarnyalah engkau bukan puteri kandung ayahmu Pangeran. Engkau adalah anak tirinya."
Cin Lan menekan perasaannya. la sudah siap menghadapi kenyataan ini, dan hanya wajahnya saja yang nampak agak pucat.
"Akan tetapi, Anakku, apakah engkau rnerasa dianaktirikan? Tidak, bukan? Ayahmu amat mencintamu, tidak berbeda dengan anak-anaknya sendiri. Juga saudara-saudaramu menyayangimu, tidak menganggapmu sebagai saudara tiri."
"Akan tetapi mengapa Ibu selama ini merahasiakannya?"
"Belum waktunya, Cin tan. Kalau engkau masih kecil dan mendengar kenyataan ini tentu amat tidak baik bagimu. Sekarang engkau sudah dewasa, maka tidak ada halangannya untuk kau dengar rahasia ini."
"Ibu, di mana ayah kandungku?"
"Ayah kandungmu sudah meninggal dunia sejak engkau masih kecil sekali,"
Baru berusia beberapa bulan, Cin Lan.
Kalau ayah kandungmu tidak meninggal dunia, tentu aku tidak akan menjadi isteri Pangeran Tang Gi Su.
Setelah ayahmu meninggal dunia, aku bertemu dengan Pangeran Tang Gi Su dan dia melamarku.
Demikianlah, aku menjadi isterinya dan engkau menjadi puterinya.
Dan kita harus mengakui bahwa dia baik sekali, Cin Lan.
Engkau juga dianggapnya sebagai puterinya sendiri."
Cin Lan berdiam diri sampai lama, termenung. Memang ia tidak perlu me-rasa penasaran. Pangeran Tang amat menyayangnya dan ia tidak pernah merasa dianaktirikan.
"Siapa nama ayah kandungku, Ibu?"
"Namanya Cian, she Bu."
"Hemm, Bu Cin Lan ..... gumam dara itu.
"Cln Lan, demi kebaikanmu sendiri dan kehormatan ayahmu pangeran, sebaiknya kalau engkau tetap memakai nama marga Tang. Tidak perlu orang lain tahu bahwa engkau anak seorang she Bu. Pula, apa yang dapat kita lakukan untuk membalas kebaikan keluarga Tang, kecuali kalau engkau menggunakan nama marga mereka? Penuhilah pesan ibumu ini, Anakku. Jangan memakai nama mar-ga Bu, melainkan pakailah terus she Tang. Kalau tidak, maka hubungan antara ibumu dan ayahmu pangeran tentu akan menjadi retak dan kita akan dianggap. tidak mengenal budi."
"Baiklah, Ibu."
"Masih ada sebuah rahasia lagi yang perlu sekarang juga kuceritakan kepadamu."
"Rahasia tentang apa, Ibu?"
"Tentang gelang kemala itu."
"Gelang kemala? Ah, yang dirampas oleh pengemis itu?"
Tanya Cin Lan ter-kejut dan juga menyesal mengingat bahwa gelang itu telah hilang.
"Bukankah itu gelang pemberian Nenek? Ada rahasia apakah dengan gelang itu?"
"Gelang itu bukan peninggalan nenekmu. Gelang itu adalah... tanda ikatan perjodohanmu!"
Sepasang mata yang tajam indah itu terbelalak memandang wajah ibunya penuh selidik.
"Ikatan perjodohan? Apa artinya ini, Ibu?"
"Dahulu, ketika ayahmu masih hidup, bahkan pada hari ayahmu akan meninggal dunia, kami kedatangan seorang sahabat baik ayahmu bernaina Song Tek Kwi. Song Tek Kwi mempunyai seorang anak laki-laki yang baru berusia satu tahun dan ayahmu menyetujui usul Song Tek Kwi untuk menjodohkan anak masing-masing. Song Tek Kwi lalu mengeluarkan sepasang gelang kemala yang serupa benar, tiada bedanya sedikitpun juga. Dia menyerahkan sebuah gelang kemala kami untukmu sebagai tanda ikatan perjodohan."
"Ah, baru berusia beberapa bulan sudah dijodohkan?"
Seru Cin Lan penasaran.
"Antara ayahmu dan Song Tek Kwi terjalin persahabatan yang erat sekali, Cin Lan. Mereka keduanya adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Karena mengingat bahwa ayah kandungmu se-orang pendekar yang mencita-citakan bahwa engkau juga harus menjadi seorang ahii silat yang pandai, maka aku sengaja memanggil guru-guru silat untuk mengajarmu dan ayahmu pangeran juga me-nyetujui. Nah, karena hubungan yang erat itulah maka ikatan perjodohanmu dibuat."
"Hemmm, jadi... laki-laki yang dijodohkan denganku itu pun memiliki sebuah gelang kemala presis kepunyaanku itu?"
"Benar, Cin Lan. Akan tetapi aku sudah lupa lagi siapa nama anak itu. Setelah berpisah, ayahmu meninggal dunia dan aku mengalami banyak penderitaan batin sehingga nama yang baru satu kali kudengar dari Song Tek Kwi itu kulupakan lagi."
"Tidak mengapa kaulupakan, Ibu. Ba-gaimanapun juga, tidak seharusnya aku menjadi jodohnya! Aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang selamanya belum pernah kulihat atau kukenal. Bagaimana kalau dia menjadi seorang yang jahat dan bagaimana kalau melihatnya aku merasa tidak suka kepadanya? Pula, gelang kemala milikku itu sudah hilang, tidak perlu dipikirkan lagi perjodohan kanak-kanak itu."
"Cin Lan, jangan bicara begitu Arwah ayah kandungmu akan merasa penasaran mendengar ucapanmu."
"Hemm, bagaimanapun juga, pernikahan adalah urusan orang yang menikah, harus ada persetujuan kedua pihak yang akan berjodoh barulah benar dan baik. Sudahlah, Ibu. Aku ingin tahu, bagaimana Ayah yang masih muda dan juga seorang pendekar yang tentu kuat tubuhnya itu sampai meninggal dunla? Di mana kuburannya? Aku ingin menengok dan bersembahyang di kuburannya... ah, sekarang aku mengerti mengapa Ibu sering bersembahyang di kuil. Tentu menyembahyangi arwah ayah kandungku, bukan?"
Dengan mata basah ibunya mengang-guk.
Diam-diam ibu ini menjadi bingung.
Kalau ia berbohong dan anaknya pergi bersembahyang ke dusunnya, tentu anak itu akan mendengar tentang kematian ayahnya.
Ah, Cin Lan sudah dewasa, menjadi seorang gadis yang gagah, tidak perlu menyimpan rahasia lagi.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 6
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 12