Eps 1 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.
Gelang Kemala (Seri ke 01 Serial Gelang Kemala).
Karya.
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo.
Bangsa Mancu merupakan bangsa yang gagah berani dan sepak terjang mereka ketika menaklukkan dan menguasai seluruh Cina sungguh menakjubkan.
Sulit untuk dapat dipercaya bahwa bangsa yang dibandingkan dengan jumlah rakyat bangsa yang dijajahnya itu amat kecil dapat berkembang sedemikian cepatnya.
Semua itu karena mereka memiliki pemimpinpemimpin yang pandai.
Dimulai dari Raja Nurhacu yang dalam tahun 1616 mulai bangkit, dalam beberapa tahun saja menguasai seluruh Mancuria.
Kemudian dalam tahun 1637, dengan bantuan bangsa Mongolia merebut Korea.
Penggantinya adalah Kaisar Abahai yang rnenggerakkan pasukannya ke selatan, menyerbu Shantung dan bahkan mendekati Peking.
Dalam usaha ini, Kaisar Abahai meninggal dan karena puteranya masih amat muda, maka kekuasaan dipegang oleh saudaranya, Pangeran Dorgan.
Kerajaan Beng waktu itu amat lemahnya dan biarpun ada beberapa orang panglimanya berusaha untuk menahan gelombang serangan bangsa Mancu, namun usaha itu sia-sia belaka.
Peking diduduki dan bangsa Mancu mendirikan dinasti Ceng.
Ketika Kaisar Kang Hsi (1663-1722) bertahta, Kaisar Mancu ini mengeluarkan peraturan-peraturan yang amat bijaksana sekali.
Bintang KeraJaan Ceng naik dengan pesat di bawah pemerintahannya.
Pemerintah Mancu berusaha keras untuk membaurkan diri dengan rakyat yang dijajahnya.
Memang, pemerintah ini memaksa rakyat untuk memelihara ram-but mereka menjadi panjang dan menguncir rambut itu seperti kebiasaan bangsa Mancu, bahkan juga mengharuskan penduduk pribumi berpakaian seperti mereka.
Akan tetapi di lain pihak mereka sendiri, mereka ipenyesuaikan diri dengan kebiasaan bangsa pribumi.
Bahkan dalam banyak hal bangsa Mancu bersikap .ebih Cina daripada bangsa pribumi Cina sendiri!
Di rumah pun mereka berbahasa Cina, mendidik anak-anak mereka dengan kebudayaan Cina.
Bukan itu saja, kaum cendekiawan, para cerdik pandai di seluruh Tiongkok diundang dan ditawari kedudukan di pemerintahan sehingga lima puluh persen dari para pejabat tingg.
dan menengah di Peking dan daerahnya terdiri dari bangsa pribumi.
Di selatan, jumlah pejabat pribumi ada dua puluh lima prosen dari jumlah seluruh pejabat.
Kaum terpelajar ahli sastra dan ahli silat semua dipersilakan menduduki jabatan penting.
Banyak kaum cerdik pandai berbondong datang memenuhi undangan dan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah itu.
Hal ini tidaklah mengherankan.
Sejak dipegang Kaisar Kang Hsi, pemerintah telah melakukan banyak hal yang menarik hati rakyat jelata yang dijajah.
Para penjahat dan pemberontak dibasmi bersih sehingga negara menjadi aman dan ini menyenangkan hati rakyat.
3uga pemerintah Mancu pandai mengambil hati para bangsawan Beng, dan para tuan tanah dan pedagang.
Tidak terjadi perampasan tanah.
Milik mereka sama sekali tidak diganggu dan ini menumbuhkan kepercayaan dari rakyat kepada pemerintah yang baru itu.
Juga korupsi dan penyuapan, suatu kebiasaan buruk yang sudah dikenal rakyat selama kekuasaan Beng memegang pemerintahan, diberantas.
Pemerintah menyusun pemerintahan yang sehat dan jujur di kota raja Peking, bebas dari pengaruh golongangolongan yang suka mencari keuntungan sendiri dan saling berebutan pengaruh dan kekuasaan.
Inilah yang dulu melemahkan pemerintah Beng.
Karena pandainya para pimpinan Mancu menyusun pemerintahan yang hebat dan jujur, juga memberantas kejahatan, mengundang dan memberi kedudukan kepada pribumi yang pandaipandai, maka sebentar saja rakyat mulai lupa bahwa mereka dijajah oleh bangsa Mancu!
Apalagi kebudayaan rakyat diserap oleh bangsa Mancu, bahkan para bangsawan Mancu mulai menggunakan nama Cina!
Semua ini mendapat sambutan hangat dan rakyat merasa puas.
Kaisar Kang Hsi berhasil menindas gerombolan-gerombolan bersenjata, mengembalikan keamanan.
Memang benar bahwa di antara gerombolan ini terdapat patriot-patriot yang berjuang untuk mengusir penjajah, yang menentang pemerintah Mancu demi cintanya pada tanah air dan bangsa, akan tetapi sebagian besar dari gerombolan-gerombolan itu terdiri dari kaum perampok.
Pada umurnnya mereka itu mengganggu keamanan dan merugikan kaum bangsawan, pedagang bahkan petani.
Karena itu, mereka menyambut dengan gembira ketika pemerintah Mancu menghancurkan mereka, dan hal ini memperkuat pemerintah Man-cu karena kebencian rakyat kepada pen-jah Mancu menghilang dengan munculnya kepercayaan bahwa Pemerintah Ceng menguntungkan dan memakmurkan kehidupan mereka.
Kaisar sendiri yang menganjurkan agar para pejabat menyesuaikan diri dan membaur dengan rakyat jelata, mempergunakan kebudayaan Cina yang lebih tinggi itu ke dalam kehidupan mereka sehari-hari, Anak-anak mereka berbicara berbahasa pribuml sehingga dalam waktu beberapa puluh tahun saja, anak-anak Mancu sudah tidak pandai berbicara bahasa Mancu lagi!
Pemimpin negara yang baik selalu memberi contoh dengan perbuatan, bukan sekedar mengeluarkan perintah saja.
Rakyat di manapun juga tidak mudah ditipu dengan slogan kosong, melainkan memperhatikan cara hidup para pemimpinnya.
Kalau ingin rakyat bekerja keras, para pemimpin harus bekerja keras.
Kalau ingin rakyat berhemat, para pemimpin harus lebih dulu berhemat.
Pemimpin menjadi contoh dan selalu dicontoh rakyat karena itu kalau para pemimpinnya melakukan penyelewengan, berkorupsi, bagaimana dapat mengharapkan rakyat tertib dan jujur?
Para pimpinan Kerajaan Ceng melakukan hal ini, memberi contoh yang baik maka tldak mengherankan apabila pemerintah mereka berjalan baik dan rakyat pun taat kepada mereka.
Setelah pemerintah dipegang oleh Kaisar Kang Hsi selama lima puluh sembilan tahun, Kerajaan Ceng mengalami masa gemilang dan jaya.
Walaupun para penggantlnya tidak secakap dia memegang pemerintahan, akan tetapi bintang Kerajaan Ceng naik kembali dengar cepatnya ketika pemerintah dikuasai oleh cucunya yang bernama Kian Liong (1736-1796).
Kaisar Kian Liong ini sejak kanak-kanak telah hidup sebagai seorang pemuda pribumi.
Pengetahuannya tentang sastra dan kebudayaan Cina amat mendalam dan sejak muda dia gemar berkeliling dan bergaul dengan para sastrawan dan para pendekar.
Maka tidak mengherankan setelah dia menjadi kaisar, para sastrawan dan para pendekar dengarn senang hati membantunya sehingga pemerintahannya menjadi semakin kuat.
Kisah ini terjadi ketika Kaisar Kian Liong berkuasa.
Biarpun keadaan dalam negeri aman, namun jauh di perbatasan terjadi pergerakan-pergerakan.
Daerah barat bergolak dan memberontak terha-dap kekuasaan Mancu.
Kaisar Kian Liong segera mengirim pasukan besar diperkuat oleh para panglimanya yang terdiri dari ahli silat dan ahli perang, dan daerah barat itu ditundukkan kembali, lalu diberi nama Sin-kiang (Daerah Baru) yang langsung dimasukkan dalam wilayah kerajaan.
Di Tibet juga timbul kerusuhan dengan adanya serbuan bangsa Gurkha dari Nepal.
Kaisar Kian Liong mengirim pasukan besar ke Tibet dan kerusuhan dapat dipadamkan.
Bahkan pasukan Mancu melintasi Pegunungan Himalaya dan menyerbu Nepal!
Bangsa Gurkha dapat ditundukkan dan dipaksa mengakui kekuasaan Kerajaan Ceng.
Bahkan ketika di Birma memasuki daerah Yunnan bagian barat-daya, Kaisar Kian Liong mengirim pasukan pula untuk menyerbu Birma.
Biarpun di perbatasari yang jauh terjadi pergolakan sehingga harus ditundukkan, namun di dalam negeri suasana aman dinikmati oleh rakyat jelata.
Biarpun demikian, masih banyak terdapat pribumi yang menganggap diri mereka bangsa Han dan Kerajaan Ceng adalah Kerajaan Mancu, kerajaan yang menjajah bangsa mereka.
Mereka ini diam-diam membenci Pemerintah Ceng.
Di dusun Teng-sia-bun terdapat seorang pendekar bernama Bu Cian.
Bu Cian seorang murid perguruan Bu-tong-pai, berusia tiga puluh tahun.
Pekerjaannya sebagai pemburu binatang hutan dan dia seorang yang berwatak keras, namun disegani oleh penduduk dusun karena dia bersikap baik sekali kepada semua orang, bahkan suka menolong.
Dan karena adanya pendekar inilah maka keadaan dusun Teng-sia-bun terasa aman, tidak ada penjahat yang berani sembarangan melakukan kejahatan di situ.
Kepala dusun juga amat menghormati Bu Cian.
Bu Cian sudah hampir dua tahun menikah dengan seorang gadis yang menjadi kembang dusun Teng-sia-bun.
Setelah menikah dengan gadis itu, Bu Cian lalu menetap di dusun itu, hidup berbahagia dengan isteri tercinta.
Kebahagiaannya bertambah ketika isterinya melahirkan seorang anak perempuan, tiga bulan yang lalu.
Anak itu diberi nama Cin Lan, Bu Cin Lan.
Pada suatu pagi, datanglah seorang laki-laki yang berusia tiga puluh tahun lebih ke rumah pendekar Bu Cian.
Kebetulan pendekar itu berada di rumah dan melihat kedatangan pria itu, dia melompat bangun dan dengan gembira menyambut.
Pria itu adalah seorang sa-habat baiknya, juga seorang pendekar murid Kun-lun-pai yang berdagang rempah-rempah di kota raja.
Dusun Teng-sia-bun juga terletak tidak jauh dari kota raja Peking.
Sahabatnya itu pun tinggal di dusun, yaitu dusun Tung-sin-bun yang letaknya di sebelah barat kota raja.
Dari dusunlah rempa-rempa itu dikumpulkan untuk dijual ke kota raja.
"Song-toako, apa kabar? Girang sekali engkau datang berkunjung!"
Kata Bu Cian setengah berteriak. Mereka saling memberi hormat, ialu saling rangkul.
"Bu-te, lama kita tidak berjumpa, sejak engkau menikah! Sudah dua tahun lebih, betapa cepatnya terbangnya waktu. Dan aku mendengar bahwa engkau mempunyai seorang anak perempuan, karena itu aku sengaja datang hari ini untuk menengokmu dan keluargamu!"
Kata Song Tek Kwi dengan girang.
Dengan gembira Bu Cian lalu meng-ajak isterl dan anak mereka keluar untuk menemui Song Tek Kwi.
Tek Kwi adalah seorang sahabat baik sekali dari Bu Cian, dan ketika mudanya mereka berdua suka berburu bersama.
Dan keduanya adalah orang-orang yang berjiwa patriot, yang merasa tidak suka kepada pemerintah penjajah Mancu.
3uga dalam hal ilmu silat keduanya memiliki tingkat yang seimbang, oleh karena itu keduanya dapat menjadi sahabat yang akrab.
Melihat anak perempuan Bu Cian, Song Tek Kwi merasa kagum.
"Anakmu sehat, mungil dan manis sekaii!"
Katanya memujir "Aih, engkau terlalu memuji. Dan aku mendengar engkau pun sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Berapa usianya sekarang dan mengapa tidak kauajak dia ke sini?"
"Anak kami sudah setahun usianya, terlalu kecil untuk diajak bepergian tanpa ibunya,"
Jawab Tek Kwi.
Karena girangnya menerima kunjungan sahabat karibnya, Bu Cian lalu menyuruh isterinya menyediakan masakan dan mengajak sahabatnya itu makan minum untuk merayakan pertemuan itu hamba makan minum dengan gembira, dan setelah minum arak cukup banyak, Song Tek Kwi tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, pertemuan ini mengingatkan aku akan persahabatan kita yang lalu. Penuh kegembiraan!"
Katanya.
"Engkau memang sahabatku yang baik, Song-toako,"
Kata Bu Cian.
"Kalau begitu, mengapa klta tidak mengekalkan persahabatan ini menjadi pertalian keluarga? Aku dan isteriku telah mengambil keputusan ketika kami nnendengar bahwa engkau mernpunyai seorang anak perempuan. Bu-te, bagaimana pendapatmu dan isterimu kalau kita ikatkan tali perjodohan antara anak kita? Dengan demikian, persahabatan kita tidak akan putus selamanya!"
"Bagus sekali! Aku akan memanggil isteriku untuk mendengarkan usulmu yang amat baik ini!"
Kata Bu Cian gembira dan dia segera inemanggll isterinya.
Karena sudah lama mendengar dari suaminya bahwa Song Tek Kwi adalah seorang sahabat yang amat baik, juga seorang saudagar rempa-rempa yang berhasil-maka mendengar usul perjodohan anaknya itu, isteri Bu Cian juga tidak merasa berkeberatan.
"Kalian setuju? Ha-ha-ha, bagus! Kedatanganku ternyata mendapat sambutan yang baik sekali. Anakku bernama Song Thian Lee, dan siapakah nama anak kalian?"
"Anakku bernama Bu Cin Lan"
Song Tek Kwi lalu mengeluarkan sepasang gelang kemala dari saku bajunya.
"Lihat, aku memang sudah mempersiapkan segalanya. Gelang kemala ini adalah milik isteriku. la menyuruh aku membawanya dengan pesan kalau kalian menyetujui usul perjodohan ini, agar yang sebuah diberikan kepada anak kalian. Gelang ini serupa benar tidak mungkin ada gelang lain di dunia ini yang serupa seperti sepasang gelang kemala ini. Nah, ini merupakan tanda pengikat. Biarlah yang sebuah dipakai anakmu, yang sebuah lagi disimpan anakku sebagai tanda bahwa mereka sudah terikat perjodohan."
"Bagus sekali, kami setuju!"
Kata Bu Cian yang segera menerima pemberian sebuah gelang itu. Gelang kemala itu merupakan gelang kembar, yang persis sama ukirannya dan bahkan warnanya yang hijau kecoklatan."
Bu Cian menyerahkan gelang itu kepa-da isterinya yang menerimanya sambU tersenyum girang. Pada saat itu terdengar teriakan suara kanak-kanak di luar rumah.
"Paman Bu, toloonggg....!"
Mendengar teriakan ini, Bu Cian dan isterinya berlari keluar, diikuti Song Tek Kwi.
Dari luar, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua belas tahun menerobos masuk dan begitu melihat Bu Cian dia segera menghamplri dan menangis.
"Paman Bu, tolonglah enciku....! Enci Kim dipaksa naik kereta, dibawa pergi orang... tolonglah Paman Bu....!"
Mendengar ini, Bu Cian lalu berlarl' keluar diikuti Song Tek Kwi.
Bu Cian mengenal anak itu dan mengenal pula encinya, seorang gadis manis puten te-tangga sebelah.
Begltu dia lari ke rumah $ebelah, dia melihat sebuah kereta dan dari dalam kereta itu jelas terdengar tangis seorang wanlta.
Cepat dia melompat dan membuka pintu kereta dengan paksa.
Dia melihat dua orang pengawal kereta hendak melarangnya, akan tetapi dua kali dia menggerakkan tangannya, dua orang itu terlempar dan dia membuka pintu kereta.
Di dalamnya duduk em-pat orang gadis dusun yang cantik-cantik.
Di antara mereka duduk Kim Hong yang menangis, dihibur oleh tiga orang gadis yang lain.
"Kim Hong, hayo keluarlah kalau engkau tldak mau dibawa'"
Kata Bu Cian sambil membantu gadis itu keluar dan turun dari kereta.
Pada saat itu muncul seorang yang berpakaian bangsawan.
Usianya sudah empat puluhan tahun dan bangsawan ini menudingkan telunjuknya kepada Bu Cian sambil membentak.
"Siapa engkau berani mencampuri urusanku? Hayo suruh naik kembali gadis itu!"
Pada dasarnya Bu Cian memang membenci bangsawan Mancu. Kini melihat bangsawan Mancu bersikap demikian sombong, dia pun menghardik.
"Siapapun juga tidak boleh membawa paksa gadis ini'"
"Bangsat, tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan?"
"Tidak peduli siapa. Biar raja iblis sekalipun aku tidak takut dan tetap akan melarang membawa pergi gadis ini de-ngan paksa!"
Jawab Bu Cian tegas. Bangsawan itu menjadi marah sekali. Dia menoleh ke belakangnya di mana terdapat selosin orang pengawalnya.
"Tangkap dan hajar orang kurang ajar ini!"
Teriaknya.
Dua belas orang pengawal itu lalu mengepung Bu Cian dan segera serentak menyerangnya dengan pukulan.
Akan tetapi Bu Cian melawan dan dalan beberapa menit dia sudah merobohkan empat orang pengawal.
Para pengawal itu menjadi marah dan mereka semua mencabut senjata golok mereka.
Melihat Bu Cian dikeroyok dua belas orang yang sudah mencabut senjata, Song Tek Kwi tidak tinggal diam.
Dia pun meloncat dan membantu sahabatnya mengamuk.
Amukan dua orang pendekar ini membuat para pengawal kocar-kacir.
Biarpun dua orang itu tidak memegang senjata, namun dengan kaki tangan mereka yang ampuh, mereka dapat membuat para pe-ngeroyok jatuh bangun dan sebagian golok mereka telempar!
Melihat ini bangsawan itu menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri, Bu Cian meninggalkan para pengeroyoknya dan sekali meloncat dia sudah dapat mengejar dan mencengkeram tengkuk bangsawan itu.
Sekali menampar dengan tangannya, bangsawan itu terpelanting dan bibirnya berdarah.
Bu Cian sudah akan memberi hajaran ketika seorang lakilaki berusia lirpa puluh tahun menarik bajunya dari belakang.
Dia membalik dan melihat bahwa yang menarik bajunya adalah tetangganya, yaitu ayah dari gadis Kim Hong itu.
"Bu-sicu, jangan... jangan pukuli dia....!"
"Akan tetapi dia yang hendak memaksa anak perempuanmu untuk ikut, paman!"
Bantah Bu Cian.
"Tidak ada paksaan, Sicu. Kami telah menyetujui anak kami dibawa ke kota raja, menjadi selir Pangeran."
Bu Cian tertegun.
"Paman sudah setuju....?"
"Tentu saja! Siapa tidak setuju anak perempuannya menjadi selir seorang pangeran? Martabat kami akan terangkat. Hayo, Kim Hong! Cepat naik kembali ke kereta!"
Orang itu membentak kepada anaknya dan gadis itu dengan sesengguk-an berjalan menghampiri kereta lalu naik tanpa mengeluarkan sepatah pun kata bantahan.
Melihat ini, Bu Cian hanya tertegun dan tidak dapat melarang lagi.
Sementara itu, mendengar percakapan antara sahabatnya dan ayah gadis itu, Song Tek Kwi juga menghentikan amukannya dan para pengawal yang babak belur itu pun mengundurkan diri, merasa jerih terhadap dua orang pendekar yang tangguh itu.
Sang bangsawan yang ternyata adalah seorang pangeran dari kota raja itu mengusap bibirnya yang berdarah dengan saputangan, nnemandang tajam kepada dua orang pendekar itu.
Dla lalu naik pula ke dalam kereta dan berkata kepada para pengawalnya.
"Hayo cepat berangkat!"
Kereta pun bergerak pergi dikawal dua belas orang perajurit itu.
Bu Cian dan Song Tek Kwi tidak dapat berbuat apa-apa, hanya di dalam hati mereka menyesal mengapa ada orang tua yang menjual anak gadisnya kepada pembesar Mancu!
"Paman, kenapa Paman menjual puteri Paman kepada bangsawan itu?"
Bu Cian masih penasaran bertanya kepada tetangganya. Tetangga itu menghela napas.
"Bukan menjual, Sicu, melainkan dengan sukarela kami berikan ketika pangeran itu memilih anak kami sebagai satu di antara para gadis yang terpilih untuk menjadi selir Pangeran. Orang tua mana yang tidak akan menyerahkan puterinya menjadi selir Pangeran? Cucu kami kelak akan menjadi putera dan puteri Pangeran, menjadi bangsawan! Hati siapa tidak akan senang? Sicu terburu nafsu memukuli para pengawal, bahkan memukul sang Pangeran!"
Song Tek Kwi menggandeng tangan sahabatnya diajak pulang.
"Sungguh penasaran sekali!"
Bu Cian mengomel.
"Bangsa kita sudah tidak memiliki harga diri lagi. Begitu saja menyerahkan anak gadisnya menjadi, selir seorang pangeran Mancu!"
"Aih, kenyataan ini memang pahit, akan tetapi apa yang dapat kita lakukan? Rakyat agaknya sudah lupa bahwa bangsawan itu adalah bangsa Mancu yang menjajah kita. Akan tetapi aku merasa khawatir, Bu-te. Kita telah melawan pasukan pengawal, bahkan engkau telah memukuli seorang pangeran."
"Aku tidak takut, Song-toako. Para bangsawan Mancu itu memang sudah sepantasnya dihajar!"
"Aku juga tidak takut, Bu-te. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan waspada. Siapa tahu Pangeran itu tidak akan tinggal diam menyudahi urusan itu sampai di sini saja."
"Biarkan dia mau apa! Akan kulayani dia!"
Kata Bu Cian dengan nada suara penasaran.
Peristiwa itu mendatangkan suasana yang tidak enak dan Song Tek Kwi segera berpamit kepada Bu Cian dan isterinya.
Apa yang dikhawatirkan Song Tek Kwi memang menjadi kenyataan.
Bahkan kepala dusun Teng-sia-bun yang mendengar akan peristiwa pemukulan terhadap seorang pangeran yang dilakukan oleh Bu Cian, mendatangi pendekar itu dan menyatakan kekhawatirannya.
"Bu-sicu, sebaikhya kalau engkau membawa keluarga meninggalkan dusun ini sebelum terjadi apa-apa. Kami merasa khawatir sekali kalau-kalau pangeran itu akan membalas dendam kepadamu,"
Bujuk Sang Kepala Dusun.
"Apa? Pergi melarikan diri dari anjing itu? Aku tidak akan lari, biar anjing itu menggonggong keras. Kalau dia berani menggigit akan kutendang moncongnya!"
Jawab Bu Cian yang masih merasa penasaran dan marah kepada pangeran itu.
Kepala dusun itu tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menghela napas dan pergi.
Hatinya merasa tidak enak sekali, khawatir kalau-kalau terjadi keributan di dusunnya yang biasanya tenteram dan aman.
Gara-gara Pangeran yang mencari gadis-gadis dusun yang manis-manis maka terjadilah keributan ini.
Dan tiga hari kemudian, seorang panglima dengan lima puluh orang perajuritnya, memasuki dusun Teng-sia-bun.
Pasukan itu mengepung rumah Bu Cian dan panglima itu, di depan pintu rumah berteriak, lantang.
"Atas perintah kejak-saan di kota raja, Bu Cian dinyatakan sebagai pemberontak dan diminta untuk menyerah! Kalau tidak mau menyerah, kami terpaksa menggunakan kekerasan!"
Di dalam rumah terdengar tangis bayi. Bu Cian berdiri dengan pedang di tangan, dirangkul isterinya yang menangis"
"Jangan melawan....! Suamiku, menyerahlah saja dan mintalah ampun kepada Pangeran agar engkau dibebaskan. Aku juga akan mintakan ampun untuku ....!"
Sang isteri menangis dengan gelisah sekali, tidak mempedulikan puterinya yang menjerit-jerit di atas pembaringan.
"Bwe Si, jangan bersikap pengecut! Engkau tahu, aku bukan seorang penakut. Lebih baik engkau pondong anak kita itu, dan kaurawatlah baik-baik anak kita. Aku harus menghajar pasukan itu!"
Dia me-maksa diri lepas dari rangkulan isterinya lalu melompat keluar dari pintu dan mengamuk dengan pedangnya!
Panglima itu terkena tendangan Bu Cian dan terlempar ke belakang.
Dia menjadi marah sekali.
"Bunuh pemberontak'"
Dan Bu Cian lalu dikeroyok, Pendekar ini memang gagah perkasa. Dia mengamuk bagaikan seekor harima dan pedangnya sudah merobohkan beberapa orang. Dengan ilmu pedang "Sin-Kiam-jip-pek-to"
Atau Pedang Sakti Menasuki Seratus Golok dia mengamuk dan setelah melalui suatu pertempuran yang amat seru, sedikitnya dua belas orang pengeroyok telah roboh mandi darah disambar pedangnya!
Akan tetapi pihak musuh terlampau banyak.
Apalagi, ilmu golok Panglima itu pun cukup lihai maka akhirnya Bu Cian terkena sambaran golok dan tubuhnya sudah penuh dengan luka-luka.
Akan tetapi dia tetap mengamuk.
Ketika golok Panglima itu menyambar dan tidak dapat dielakkan lagi, terpaksa dia menangkis dengan tangan kirinya.
Tangan kiri sebatas pergelangan menjadi putus disambar golok, akan tetapi pada saat itu, dengan jurus Burung Walet Keluar Guha, pedangnya sudah meluncur ke depan menembusi dada seorang pengeroyok dan kakinya mencuat ke samping menendang dada Panglima itu sehingga untuk kedua kalinya Panglima itu terjengkang.
Akan tetapi pada saat itu, tiga batang golok menyambar mengenai tubuh belakang Bu Cian dan robohlah pendekar itu dengan badan mandi darahnya sendiri.
"Suamiku....!!"
Lu Bwe Si, sambil menggendong anaknya, tanpa mempedulikan para perajurit, lari dan menubruk tubuh suaminya yang mandi darah. la merintih dan menjerit memanggil suaminya. Bu Cian membuka matanya.
"Bwe Si... jaga... anak kita... baik-baik...."
Katanya dan tubuh itu pun diam, matanya masih terbuka seolah pendekar itu mati dalam keadaan penasaran.
Lu Bwe Si menjerit dan terguling pingsan.
Anak dalam gendongannya juga menjerit-jerit dalam tangisnya.
"Bawa perempuan dan anaknya itu. Keluarga pemberontak harus dihadapkan ke pengadilan!"
Kata Sang Panglima dan tubuh Lu Bwe Si yang pingsan lalu diangkat dan dimasukkan dalam gerobak tahanan yang sedianya diperuntukkan suaminya.
Kepala dusun dipanggil dan oleh panglima diperintahkan untuk me-ngurus mayat-mayat yang bergelimpangan.
Kemudian, panglima itu membawa pasukannya yang mendorong gerobak tahanan meninggalkan dusun Teng-sia-bun, kembali ke kota raja.
Setibanya di luar kota raja, rombongan pasukan itu bertemu dengan rombongan lain, yaitu selosin pengawal yang mengiringkan sebuah kereta yang indah.
Yang berada di dalam kereta itu adalah Pangeran Tang Gi Su, yang hendak berburu binatang di luar kota raja.
Ketika Pangeran Tang Gi Su mendengar tangis wanita dari dalam gerobak tahanan yang dikawal puluhan orang perajurit, dia ter-tarik sekali dan menyuruh pengawal menghentikan pasukan itu.
Panglima pasukan lalu menghampiri kereta dan ketika dia mengetahui siapa yang berada dalam kereta, dia pun berdiri tegak menunggu dengan sikap hormat.
Seorang laki-laki yang jangkung kurus keluar dari dalam kereta.
Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya lembut dan tampan berwibawa, matanya bersinar tajam menunjukkan kecerdikannya.
Inilah Pangeran Tang Gi Su yang memegang jabatan sebagai seorang pengawas terhadap para pejabat, pembantu Kaisar.
Karena kedudukannya ini, Pangeran Tang Gi Su disegani oleh para pejabat tinggi.
Kalau ada pejabat tinggi, yang menyeleweng melakukan penyelewengan dalam tugasnya, maka pangeran inilah yang akan memeriksanya dan kalau bersalah, mengajukannya ke pengadilan di istana yang dipimpin Kaisar sendiri.
Panglima pasukan ini cepat memberi hormat kepada Pangeran Tang Gi Su.
"Siapa dalam gerobak tahanan itu dan mengapa ia ditahan?"
Tanya Sang Pangeran, sambil menghampiri gerobak itu. Dia melihat seorang wanita menggendong bayinya sedang menangis dan hatinya tergerak oleh pemandangan ini.
"la isteri seorang pemberohtak, Pangeran. Pemberontaknya sendiri telah berhasil kami bunuh dan kami menangkap isteri dan anaknya untuk dihadapkan ke pengadilan.
"Di mana ada pemberontak?"
"Di dusun Teng-sia-bun, Pangeran."
"Hemm, berapa banyak jumlah pemberontak?"
"Hanya satu orang, Pangeran."
"Apa? Hanya seorang dan kalian membawa pasukan sekian banyaknya?"
"Pemberontak itu lihai sekali dan kami kehilangan belasan orang perajurit, Pangeran."
"Bagaimana mungkin pemberontakan hanya dilakukan oleh seorang saja? Dalam hal apa dia memberontak?"
"Tiga hari yang lalu, ketika Pangeran Bian Kun mengambil beberapa orang gadis dusun itu untuk dijadikan selir, Pangeran Ban Kun dipukul oleh pemberontak itu, Pangeran. Dia melapor kepada jaksa dan kami diutus menangkap si pemberontak akan tetapi dia, melawan sehingga terjadi pertempuran dan dia tewas."
Mendengar nama Pangeran Bian Kun, Pangeran Tang Gi Su mengangguk-angguk.
Dia sudah mengenal watak Pangeran yang mata keranjang itu.
Hemm, pelanggaran itu belum dapat dinamakan pemberontakan.
Dan ketika terjadi pertempuran, apakah wanita ini pun ikut bertempur melawan pasukan?"
"Tidak, Pangeran."
"Kalau begitu, mengapa ia ditangkap? Apa kesalahannya? Suaminya itu hanya melawan seorang pangeran, bukan pemberontak. Bebaskan wanita ini dan anaknya!"
"Tetapi, Pangeran...."
"Jangan membantah. Bebaskan dan aku yang bertanggung jawab!"
"Baik, Pangeran."
Panglima itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuka gerobak tahanan dan membiarkan Bwe Si keluar menggendong anaknya.
Kemudian, atas perintah Sang Pangeran, panglima itu melanjutkan perjalanannya bersama ke kota.
Demikian baikkah hati Pangeran Tang Gi Su?
Memang pangeran ini terkenal sebagai seorang yang memegang kedilan dan tegas, akan tetapi dalam hal ini ada sesuatu yang mendorongnya menolong Lu Bwe Si.
Ketika dia melongok ke dalam gerobak tahanan, dia melihat wajah Bwee Si dan hatinya tergerak.
Timbul perasaan iba dan juga suka sekali kepada wanita yang menjadi ibu muda itu.
Dalam panjang matanya, wajah itu demikian elita dan patut disayang dan dikasihani; dan bentuk tubuh ibu muda itu dennikian menggairahkan hatinya sehingga dia mengambil keputusan untuk melindungi dan menolong wanita ini!
Kita menganggap bahwa sudah semestinya pertolongan itu berpamrih.
Akan tetapi, benarkah itu dapat dinamakan pertolongan kalau berpamrih?
Ataukah perbuatan yang dinamakan pertolongan itu bukan sekedar cara untuk mendapatkan pamrih yang diinginkannya?
Pada mulanya, Pangeran Tang Gi Su memang tidak mempunyai keinginan apa-apa sebagai pamrih atas perbuatannya.
Dia hanya terdorong rasa iba dan ingin menegakkan keadilan belaka seperti yang sering kali dilakukannya.
Akan tetapi begitu dia melihat wajah dan bentuk tubuh Lu Bwee Si timbul keinginan di hatinya untuk memilikl wanita itu dan keinginan itu menjadi pamrih pertolongannya.
"Nyonya, masuklah ke dalam keretaku. Jangan khawatir lagi, kalau ada aku di sampingmu, tak seorang pun akan berani mengganggu selembar rambutmu!"
Kata pangeran itu sambil menuntun Bwee Si memasuki keretanya. Setelah duduk di dalam kereta bersama pangeran itu, Bwe Si baru teringat untuk menghaturkan terima kasih.
"Hamba menghaturkan terima kasih "atas pertolongan Paduka, akan tetapi suami hamba... ahhh....!"
Bwe Si lalu menangis sambil memeluk puterinya.
"Jangan menangis, Nyonya. Suamimu telah meninggal dunia ditangisi pun tidak ada gunanya lagi. Engkau harus ingat kepada anakmu. Kalau sampai engkau tuh sakit, anakmu akan ikut sakit pula. Sekarang engkau ikutlah tinggal d! ru-mahku...."
"Saya... hamba... ingin pulang, mengurus jenazah suami hamba dan ber-kabung...."
Bwe Si terisak.
"Nyonya, kalau engkau kembali ke rumahmu, tentu engkau akan ditangkap lagi oleh perwira itu. Suamimu dituduh pemberontak dan ketahuilah, keluarga pemberontak harus ditangkap pula. Kalau tidak ada aku yang menanggung, apa kaukira dapat dibebaskan demikian mudahnya? Satu-satunya jalan agar engkau tidak ditangkap hanya ikut aku pulang."
Bwe Si menjadi bingung sekali.
"Akan tetapi... suamiku... rumahku...."
"Jangan khawatir, Nyonya. Aku akan mengutus orang-orangku untuk mengurus jenazah suamimu, memakamkannya dengan baik-baik dan aku akan menyuruh ambil semua milikmu dari rumahmu. Akan tetapi untuk sementara engkau harus tinggal di rumahku kalau engkau tidak ihgin ditangkap lagi."
Bwe Si masih meragu dan pangeran itu berkata.
"Ingat, Nyonya harus mengingat akan keselamatan anakmu andaikata Nyonya tidak mempedulikan keselamatan sendiri. Bagaimana nasib anakmi. kalau engkau dihukum? Alangkah sengsaranya, kasihan sekali...."
Bwe Si mendekap puterinya dan menangis.
Tidak ada jalan lain lagi baginya kecuali menurut saja diajak pergi ke rumah Pangeran Tang Gi Su.
la tidak tahu bahwa ia bagaikan seekor domba gemuk dan muda masuk ke dalam rumah Jagal!
Song Tek Kwi pulang dengan hati yang tidak enak sekali.
Dia mengkhawa-tirkan keselamatan sahabatnya.
Dan pada keesokan harinya baru dia mendengar berita menyedihkan itu, yaitu tentang diserbunya rumah Bu Cian oleh pasukan yang mengakibatkan matinya sahabatnya itu.
"Celaka, sudah kukhawatirkan hal itu akan terjadi. Kita harus cepat meninggalkan dusun ini, isteriku!"
Katanya kepada isterinya yang menggendong Song Thian Lee, putera mereka yang baru berusia setahun.
Isteri Song Tek Kwi bernama Kwa Siang dan wanita ini tidaklah lemah seperti Lu Bwe Si.
Kwa Siang sejak kecil mempelajari ilmu silat dan setelah menjadi isteri Song Tek Kwi, kepandaiannya bertambah cepat karena ajaran suaminya.
Kini ia merupakan seorang wanita yang gagah perkasa dan tangguh ilmu silatnya.
"Suamiku, kenapa kita harus pergi? Siapa yang akan mengancam kita?"
Tanyanya dengan tenang, sedikit pun tidak menjadi gugup.
"Kemarin Bu Cian menghajar para pengawal pangeran itu bersama aku. Sekarang Bu Cian dibunuh, tentu mereka akan mencari aku pula. Mari kita berkemas dan pergi secepatnya dari tempat ini!"
Suami isteri itu berkemas membawa harta mereka yang ringkas, lalu keduanya, pergi dari dusun itu.
Kwa Siang menggendong anaknya, dan suaminya menggendong buntalan besar.
Akan tetapi, baru saja mereka tiba di luar dusun, mereka telah berhadapan dengan pasukan yang mengepung mereka!
Kiranya sejak tadi sudah ada pasukan datang ke dusun Tung-sinbun, jumlah mereka lima puluh orang dipimpin oleh dua orang perwira yang bertubuh tinggi besar.
Melihat ini, Song Tek Kwi mencabut pedangnya, juga isterinya, Kwa Siang telah mencabut pedangnya dan memperkuat ikatan gendongan puteranya.
Suami isteri ini sudah bertekad untuk membela dirl.
"Pemberontak Sdng Tek Kwi! Lebih baik engkau dan isterimu menyerah untuk kami tangkap dan bawa ke kota raja daripada kami harus menggunakan kekerasan!"
Kata seorang di antara dua orang perwira itu.
"Aku bukan pemberontak, dan aku tidak akan menyerah!"
Kata Song Tek Kwi dengan suara lantang. Akan tetapi diam-diam pendekar ini, mengkhawatirkan keadaan puteranya dalam gendongan is-terinya, maka dia lalu berkata kepada isterinya.
"Lari! Cepat, selamatkan anak kita'"
Kwa Siang tidak takut menghadapi pasukan itu untuk membela suaminya, akan tetapi ia pun memikirkan keselamatan puteranya.
Oleh karena itu, seruan suaminya membuat ia bimbang.
La tidak tega meninggalkan suaminya seorang diri menghadapi pasukan itu, akan tetapi kalau ia tidak pergi, berarti ia mendatangkan bahaya maut bagi anaknya.
Mementingkan suaminya, atau anaknya?
Setelah ditimbang-timbang, ia memilih menyelamatkan anaknya.
Kalau ia meninggalkan suaminya belum tentu suaminya akan celaka.
Mungkin suaminya juga akan dapat membebaskan diri.
Akan tetapi kalau ia kukuh membantu suaminya, besar kemungkinan anak dalam gendongan itu akan celaka terkena senjata lawan yang demikian banyaknya.
Sementara itu, mendengar suami yang menganjurkan iste inya untuk melarikan diri itu, dua orang perwira itu lalu memberi aba-aba agar anak buahnya menyerang.
Mulailah pengeroyokan terjadi dan suami isteri itu menggerakkan pedangnya melawan mati-matian.
Kwa Siang yang berusaha melarikan diri, menyerang dengan dahsyat ke satu jurusan, membubarkan pengepung di jurusan itu dan merobohkan empat orang.
Suaminya juga mengamuk, pedangnya berkelebat seperti angin topan dan enam orang berpelantingan disambar pedangnya.
Melihat kehebatan pendekar yang mereka pandang sebagai pemberontak itu, dua orang perwira lalu mencabut pedang mereka dan keduanya mengeroyok Song Tek Kwi, dibantu pula oleh banyak anak buah.
Song Tek Kwi melawan dengan nekat karena yang terutama baginya adalah membiarkan isterinya lolos.
"Siang-mo, pergilah....!"
Teriaknya dan tiba-tiba dia meloncat dan menyerang mereka yang mengepung isterinya sehlngga terbuka jalan bagi Kwa Siang.
"Kwi-ko, jaga dirimu baik-baik!"
Kata Kwa Siang, lalu wanita ini memutar pe-dangnya dan ketika pengeroyoknya mundur, ia lalu meloncat jauh.
Di depannya sudah ada beberapa orang perajurit lagi dan ia mengamuk lagi.
Setelah mendapatkan kesempatan ia nnelompat lagi dan akhirnya ia berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri memasuki hutan.
Melihat ini, Song Tek Kwi menjadl lega sekali dan dia pun mengamuk lebih hebat lagi.
Namun, bagaimana mungkin satu orang melawan puluhar-orang pera-.jurit, apalagi di situ terdapat dua'orang perwira yang cukup lihai ilmu pedang-nya?
Setelah merobohkan belasan orang pengeroyok, akhirnya Song Tek Kwi roboh juga dengan tubuh penuh luka.
Dia tewas sebagai seorang gagah perkasa, hal yang selalu diidamkan oleh para pendekar.
Dua orang perwira lalu mengerahkan para perajuritnya untuk melakukan pengejaran terhadap Kwa Siang, akan tetapi ibu muda itu telah lenyap dan tidak berada lagi dalam hutan itu.
Tepaksa pasukan itu lalu kembali membawa teman-teman yang terluka dan menyuruh kepala dusun Tung-sin-bun agar mengerahkan pendu-duknya untuk mengubur semua jenazah para perajurit.
Jauh dari dusun Tung-sin-bun, dl dalam sebuah hutan di lereng bukit, Kwa Siang duduk memangku puteranya, dan ia menangis terisak-isak.
Setelah tadi ber-hasil melarikan diri, ia tidak segera pergi melainkan mengintai dari dalam hutan, melihat kalau-kalau suaminya akan dapat melarikan diri pula.
Akan tetapi apa yang dilihatnya?
Suaminya merobohkan belasan orang perajurit dan kemudian roboh dengan tubuh penuh luka dan tewas di bawah hujan senjata.
Terpaksa ia lalu melarikan diri dengan cepat.
Yang terngiang dalam telinganya hanyalah pesan terakhir suaminya agar ia menye-lamatkan anaknya.
Kini, setelah jauh dari tempat itu dan tidak ada lagi yang mengejarnya, wanita itu duduk di atas akar pohon dan menangis dengan sedih, menangisi kematian suaminya.
Baru saja ia masih bersama suaminya, dalam keadaan sehat dan hidup.
Dan kini, suaminya telah tewas tanpa ia dapat menolongnya!
Kaiau saja di situ tidak ada Thian Lee, tidak mungkin ia akan melarikan-diri.
la tentuakan membela suaminya dan kalau perlu mati bersama suaminya.
"Ohh, suamiku..., anakku....!"
La mendekap Thian Lee dan anak itu seolah mengerti kedukaan ibunya dan ikut menangis.
Khawatir kalau tangis puteranya yang nyaring itu akan terdengar orang, Kwa Siang menghentikan tangisnya dan meng-Nbur puterinya sehingga anak itu berhenti menangis.
Hancur luluh rasa hati Kwa Siang.
Mengapa nasib sedemikian buruknya menimpa dirinya?
Nasib berada di tangan Tuhan dan di-tentukan oleh kekuasaan Tuhan.
Memang benar.
Akan tetapi baik buruknya nasib tergantung dari si manusia sendiri.
Manusia diberi peralatan selengkapnya untuk berusaha memperbaiki keadaan dirinya.
Tidak mempergunakan segala daya yang ada padanya berarti menyia-nyiakan pemberian anugerah dari Tuhan berupa kehidupan sempurna itu.
Nasib yang rnenimpa seseorang pasti ada sebabnya dan sebab itu berada di tangan si manusia sendiri.
Setiap orang akan memetik bunuh dari hasil tanamannya sendiri.
Karena itu, orang yang mengerti benar akan nikmat ini, selalu menanam bibit yang baik, yaitu melakukan semua perbuatan yang baik sehingga buahnya kelak pun baik.
Sebaliknya, kalau tertimpa suatu peristiwa, menyenangkan atau menyusahkan, tidak akan menyesal karena maklum bahwa semua itu adalah hasil tanaman-nya sendiri.
Wajarlah kalau yang bersalah menerima hukumannya.
Mengapa menye-sal?
Penyesalan yang perlu kita .miltki adalah bertaubat atas kesalahannya dan tidak akan mengulang kembali.
Tidak akan menanam bibit yang buruk lagi, melainkan menanam bibit yang baik-baik saja tanpa pamrih, yaitu pamrih untuk kesenangan diri sendiri.
Pamrih adalah harapan mendapatkan sesuatu, dan hanya orang yang mengharapkan mendapat sesuatu sajalah yang akan merasa kecewa.
Kecewa kalau yang diharapkan itu tidak tercapai, kemudian menjadi bosan dan tidak puas kalau harapan itu terpenuhi, karena yang diharapkan itu kemudian setelah tercapai tidaklah seindah seperti yang dibayangkan semula.
Duka datang bersama perasaan iba diri.
Aku ditinggal, aku kehilangan, aku kesepian, aku dirugikan dan semua kenangan mengenai aku yang dirugikan itulah yang mendatangkan rasa iba diri dan menjurus kepada kedukaan.
Duka ini dapat pula memperbesar rasa benci terhadap sesuatu yang rnenjadi penyebab datangnya kerugian itu.
Demikian pula dengan Kwa Siang.
Ibu muda ini akhirnya menggendong putera-nya dan meninggalkan tempat itu, men-daki bukit dan hatinya penuh dengan duka, penuh dengan dendam.
Kalau bisa, ingin ia membunuh semua pangeran Man-cu yang ada!
Bahkan menghancurkan kekuasaan penjajah Mancu.
"Kau yang kelak akan melakukannya, Thian Lee. Kelak engkau yang akan membalaskan kcmatian ayahmu!"
Bisiknya kepada anak-pya sambil memeluk anak itu dan nieT lanjutkan perjalanannya.
Suaminya benar Kalau ia tidak lari, tentu ia akan tewas pula bersama Thian Lee.
Dan, kalau hal itu terjadi, siapa yang akan membalaskan sakit hati ini?
la harus merawat Thian Lee dan mendidiknya sampai dia kelak menjadi seorang pendekar yang berilmu tinggi dan dapat melaksanakan pembalasan dendam ini.
Dengan pikiran itu, langkahnya semakin tegap dan kedukaannya pun terhibur oleh harapan baru.
Biarpun harapan akhirnya mendatangkan kekecewaan atau ketidak-puasan, namun dalam keadaan hati direndam duka, harapan tu menjadi teramat penting.
Harapan bagaikan sepucuk obor yang menerangi batin yang sedang digelapkan duka.
Dengan adanya harapan, maka timbul semangat baru untuk meninggalkan duka dan menghadapi kehidupan selanjutnya.
Dalam pakaian wanita bangsawan, dengan dandanan rambut digelung ke atas dan dihias tusuk rambut dari emas memang Lu Bwe Si nampak cantik sekali.
Cantik lembut dan anggun, memang wanita ini pantas menjadi seorang wanita bangsawan.
la tidak dapat menolak semua pemberian Pangeran Tang Gi Su kepadanya berupa pakaian dan perhiasan.
"Engkau telah tinggal dl sini, harus Tnenyesuaikan dandananmu agar jangan membikin malu kepadaku, Bwe Si,"
Kata pangeran itu yang kini tidak menyebut nyonya kepadanya, melainkan nama kecilnya.
"Akan tetapi saya bukanlah anggauta keluarga,. saya hanyalah seorang tamu yang sementara tinggal di sini, Pangeran,"
Bantah Lu Bwe Si.
"Bukan hanya tamu sementara, Bwe Si. Ingatlah baik-baik, engkau dapat pergi ke mana kecuali tinggal di sini? Begitu engkau keluar darl perlindunganku, engkau akan ditangkap sebagai seorang keluarga pemberontak."
"Aduh, kalau begitu bagaimana baiknya, Pangeran? Bagaimana dengan diri saya dan anak saya? Apakah selamanya saya tidak dapat memperoleh kebebasan dan selalu menjadi buruan pemerintah?"
Keluh Lu Bwe Si sambil mendekap anaknya, tidak dapat menangis lagi karena air matanya telah habis ditumpahkan selama satu bulan berada di gedung pangeran itu.
"Tentu saja, selama engkau masih menjadi Nyonya Bu Cian, engkau akan selalu menjadi orang buruan. Kebebasan hanya bisa kaudapatkan di sini, Bwe Si. Dan pemerintah akan menghentikan buruan itu kalau engkau sudah menjadi selirku dan tinggal di sini, menjadi keluargaku."
Bwe Si terkejut sekali.
Tak disangkanya bahwa di balik pertolongan yang diberikan oleh pangeran yang baik hati ini kepadanya tersembunyi niat untuk memperisterinya, untuk mengambilnya sebagai selir!
"Akah tetapi, Pangeran.
Saya isteri Bu Cian....!"
"Dia sudah mati, Bwe Si."
"Ya, saya adalah seorang janda dan mempunyai seorang anak lagi."
"Apa salahnya. Engkau akan menjadi istenku, dan anak ini akan menjadi anakku. Namanya Cin Lan, bukan? la akan menjadi Tang Cin Lan, seorang isteri pangeran!"
"Tapi, Pangeran....
"Pikirkan baik-baik dan jangan ragu, Bwe Si. Aku cinta padamu. Sejak pertemuan pertama kali aku sudah tertarik sekali kepadamu, kecantikanmu, sikap dan kelembutanmu. Aku ingin engkau selamanya tinggal di sini bersama anakmu, engkau menjadi selirku dan Cin Lan menjadi anakku. Sekarang, aku beri waktu semalann ini. Pikirkanlah baik-baik. Engkau lebih suka keluar dari sini menjadi buruan pemerintah, kalau tertangkap menjadi orang hukuman, mungkin dihu-kum mati bersama anakmu, atau tinggal di sini menjadi selirku dan anakmu itu menjadi puteri pangeran. Nah, besok pagi-pagi engkau harus sudah mengambil keputusan, mau tinggal di sini atau keluar dari rumah ini!"
Setelah berkata demikian, Pangeran Tang Gi Su meninggal-kan wanita itu yang mulai menangis sesenggukan sambil mendekap anaknya.
Nah, besok pagi-pagi engkau harus sudah mengambil keputusan, mau tinggal di sini atau keluar dari rumah ini!"
Setelah berkata demikian, Pangeran Tang Gi Su meninggal-kan wanita itu yang mulai menangis sesenggukan sambil mendekap anaknya.
Malam itu teramat menyiksa bagi Bwe Si.
Terjadi perang dalam otaknya, dalam hatinya.
Baru saja ia ditinggal suaminya, mati dalam keadaan demikian sengsara.
Bahkan la tidak diberi kesempatan untuk berkabung atas kematian suami yang dicintanya itu, dan malah dilamar menjadi selir pangeran!
Hatinya berontak.
Tidak ingin la menjadi selir pangeran atau isteri siapapun juga.
Ia ingin bersetia kepada suaminya sampai matl.
Akan tetapi, bagaimana dengan anaknya.
Suaminya, dalam saat terakhir pesan kepadanya agar ia menyelamatkan anak mereka dan menjaganya baik-baik kalau ia nekat menolak lamaran llalu harus keluar dari rumah itu, pasti ia ditangkap dan dihukum.
Lalu bagaimana dengan anaknya?.
Cin Lan aahh, Cin Lan, apa yang harus ibu lakukan, Nak....?"
La memeluk, menciumi anaknya sambil menangis.
Ia meratapi suaminya seolah minta petunjuk, akan tetapi tiada jawaban.
Dan malam rasanya demikian cepat berlalu, tahu tahu sudah terdengar ayam jantan berkeruyuk tanda bahwa pagi telah menJelang tiba.
Dan pagi yang menakutkan itu pun tiba.
Dengan hati berdebar-debar Bwe Si menunggu, masih belum dapat mengambil keputusan.
Akan tetapi yang jelas, ia tidak ingm melihat anaknya ikut terhukum dan mat.
Tidak, ia sendiri tidak takut dihukum, tidak takut menyusul suaminya mati.
Akan tetapi, ia amat takut kalau membayangkan nasib Cin Lan puterinya.
Ia rela berbuat apa saja bahkan lebih dari kematian, demi menyelamatkan Cin Lan.
Dengan pakaian pagi yang indah, sudah nampak segar habis mandi, Pangeran Tang Gi Su memasuki kamar itu, seorang diri.
Biasanya, kalau pangeran itu datang, Bwe Si pasti menyambutnya dengan salam hormat.
Akan tetapi sekali ini Bwe Si tidak dapat bergerak, tidak pula dapat mengeluarkan sepatah pun kata.
la terdiam dan memandang pangeran itu bagaikan telah berubah menjadi putung' Pangeran Tang Gi Su memandangnya dan alisnya berkerut melihat wajah yang pucat, rambut yang kusut dan mata yang agak bengkak kemerahan bekas tangis itu.
Dia melangkah maju menghampiri lalu berkata.
"Bwe Si, kenapa engkau menyiksa dirimu sendiri begini rupa? Agaknya semalam engkau tidak tidur! Begitu sulitkah menerimaku sebagai suamimu, Bwe Si? Begitu burukkah rupaku atau kelakuanku bagimu sehingga engkau tidak sudi menjadi isteriku? Engkau memilih dihukum mati daripada hidupseba-gai isteriku7"
Akhirnya Bwe Si dapat menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Pangeran, saya tidak takut mati, akan tetapi saya tidak ingin melihat anak saya ikut mati...."
"Jadi... lalu apa jawabanmu terhadap lamaranku? Maukah engkau menjadi isteriku?"
Kembali Bwe Si menghela riapas panjang.
"Pangeran, demi keselamatan anakku, aku tidak dapat menolak....."
"Bapus! Untuk sementara engkau boleh menerimaku demi anakmu. Cinta datangnya perlahan-lahan bagi wanita yang berkeadaan sepertimu. Akan tetapi kelak aku mengharapkan cinta itu akan datang padamu terhadap diriku. Nah, mulai hari ini engkau adalah selirku dan Cin Lan adalah anakku. Dalam keadaan seperti sekarang, air susumu tidak sehat bagi Cin Lan. Aku tidak ingin melihat anakku menjadi sakit karena minum air susumu. Biarlah wanita pengasuh yang akan menyusuinya dan merawatnya, seperti anak-anakku yang lain. Cin Lan akan menjadi seorang anak yang sehat dan kuat."
Pangeran Tang Gi Su lalu bertepuk tangan memanggil pelayan, lalu mengutusnya memanggil inang pengasuh yang segera datang. Pangeran berkata.
"Rawat baik-baik anakku ini agar ia sehat dan kuat seperti kakak-kakaknya. Ia adalah anakku, mengerti?"
Tergopoh-gopoh inang pengasuh mene-runa anak.
itu dari tangan ibunya dan membawanya pergi.
Setelah mereka semua pergi, Pangeran Tang Gi Su lalu memegang kedua tangan Bwe Si, mendekatkan mukanya dan mencium dahi yang putih halus terhias anak rambut itu, lalu berkata.
"Nah, sayang. Sekarang engkau tidurlah. Engkau harus mengaso karena semalam engkau tidak tidur. jangan sampai engkau jatuh sakit."
Pangeran itu menuntunnya ke pembaringan, mendesaknya untuk rebah dan dia sendiri yang menutupi tubuh Bwe Si dengan sehelai selimut, dengan sikap dan gerakan menyayang sekali.
"Tidurlah, Bwe Si dan senangkan hatimu. Cin Lan berada di tangan pengasuh yang ahli. Engkau dan anakmu aman di sini dan kehidupan yang tenteram bahagia dan terhormat menanti kalian berdua. Tidurlah."
Pangeran itu lalu meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintunya dari luar.
Bwe Si menangis.
la merasa telah berkhianat terhadap almarhum suaminya.
Ia telah menyerahkan dirinya kepada pangeran itu.
Akan tetapi ini demi Cin Lan, anak kita, suamiku, demikian bisiknya berulang kali akhirnya ia lalu membayangkan kembal sikap pangeran itu yang demikian rrunyayang dan lembut.
Setelah ia menerima pinangan, pangeran itu tidak segera melampiaskan berahinya kepadanya melainkan bersikap baik dan sopan sekali, amat menyayangnya.
Hal ini mengharukan hatlnya dan sedikit menghiburnya.
la merasa terhormat setelah tadi merasa terhina karena merasa berkhianat terhadap suaminya.
Tidak, ia tidak berkhianat.
la melakukan demi keselamatan Cin Lan.
Dan pangeran itu pun bukan seorang yang kasar, tidak ingin mengambilnya sebagai selir hanya karena nafsunya, melainkan nampaknya pangeran itu benar-benar cinta kepadanya.
Akhirnya, ia pun tertidur nyenyak dan sampai siang hari baru terbangun.
Mulai hari itu, Lu Bwe Si menjadi selir Pangeran Tang Gi Su.
Tidak terlalu berat bagi Bwe Si untuk melayani suaml-nya yang baru karena Sang Pangeran , benar-benar bersikap lembut dan penuh kaslh sayang kepadanya.
Juga sikap suaminya terhadap Cin Lan nampak begitu menyayang, tidak berbeda dengan anak-anaknya yang lain.
Hal ini lebih-lebih menggembirakan hati Bwe Si sehingga tak lama kemudian, ia sudah melupakan bahwa Cin Lan adalah puteri suan inya yang dahulu.
Bahkan sudah Jarangteringat kepada mendiang Bu Cian.
Perasaan hati memang condong untuk berubah setiap waktu.
Karena itu, tidak mungkin hal itu dalam satu keadaanfl terus menerus tanpa perubahan.
Duka tidak dapat mengekang hati terlalu lama, apalagi suka.
Sebentar saja perasaan itu sudah terganti oleh perasaan lain.
Karena itu, tidak keliru kalau ada yang menga-takan bahwa pada saat suka menduduki hati, duka sudah antri di belakangnya dan demikian sebaliknya.
Suka dan duka lewat bagaikan angin lalu, semua akan tei-lena oleh Sang Waktu.
Pangeran Tang Gi Su memang men-cinta Bwe Si dan lambat laun, belum genap setahun, telah mulai tunnbuh perasaan cinta dalam hati Bwe Si terhadap suaminya yang baru itu.
Kini ia tidak lagi melayani suaminya karena terpaksa, demi keselamatan Cin Lan, melainkan dengan gairah yang menggelora karena api cinta kasih mulai menyala dalam dadanya terhadap pangeran yang menjadi suaminya dan yang memberinya segala-galanya itu.
Ia menjadi seorang wanita terhormat, bebas tidak diburu lagi, berkecukupan bahkan mewah.
Juga Cin Lan terawat dengan baik, sekarang nampak gemuk dan sehat dan sewaktu-waktu dapat saja memerintahkan pengasuh membawa anaknya kepadanya.
Bahagia, itulah yang dirasakan oleh Bwe Si.
Sa-lahkah sikap Bwe Si ini?
Kalau ada yang menyalahkannya dan menganggapnya rendah, anggapan seperti itu tidaklah adil.
Tidakkah sebagai seorang manusia, Bwe Si juga berhak untuk meraih kebahagiaannya?
Kalau ia mendapatkan itu sebagai isteri muda pangeran, apa salahnya?
5uarrunya sudah tiada, dan ia dapat pula membahagiakan puterinya, di sampine membahagiakan diri sendiri.
Roh suaminya tentu akan senang melihat orang-orang yang dikasihinya ity dalam keadaan bahagia!
Biarpun merasa amat berterima kasih kepada suaminya yang baru, Bwe Si tidak melupakan kenyataan bahwa puterinya itu adalah ariak seorang pendekar.
Karena itu, setelah Cin Lan berusia lima tahun, di samping memberi pelajaran baca tulis, ia pun memanggil seorang guru silat untuk puterinya.
Dan Pangeran Tang Gi Su juga tidak berkeberatan, apalagi ketika guru silat menyatakan kekagumannya akan bakat ilmu silat yang ada pada diri anak itu.
Pangeran Tang Gi Su bahkar mendorong dengan mengundang guru silat yang lebih pandai untuk mengajar puterinya.
Kwa Siang, atau nyonya janda Song Tek Kwi, adalah seorang wanita yang penuh semangat dan pemberani.
Biarpun ketika melarikan diri ia tidak membawa banyak bekal karena bekal itu kebanyakan berada daiam buntalan suaminya yang terpaksa ditinggalkan, namun ia tidak takut.
Ia mengembara sambil meiarikan diri.
khawatir kalau-kalau akan dikejar oleh pasukan.
Ia berpindah-pindah dari satu ke lain dusun, terus menjauhkan diri dari kota raja sampai jauh ke selatan.
Akhirnya, setahun kemudian ia sudah tiba di tepi Sungai Kuning.
la tinggal di sebuah dusun kecil yang dihunU beberapa ratus kepala keluarga yang bekerja sebagai petani dan nelayan.
la pun bekerja sebagai nelayan mencari ikan untuk menghidupi dirinya dan Thian Lee, puteranya.
Setelah Thian Lee berusia lima tahun, mulailah ibu muda ini menggembleng puteranya dengan ilmu silat dan betapa girang hatinya melihat bahwa Thian Lee memiliki bakat yang baik sekali.
Dalam hidupnya selama ini, banyak terjadi gangguan terhadap dirinya, dari para pria hidung belang dan mata keranjang, namun berkat ilmu silatnya, ia menghajar setiap orang laki-laki yang berani kurang ajar kepadanya.
Demikian puJa di dusun tepi sungai itu, setelah semua penduduk mengetahui bahwa janda muda beranak satu ini pandai ilmu silat, tidak ada se-orang pun berani mengganggunya.
Ketika Thian Lee berusia sepuluh tahun, terpaksa Kwa Siang rriengajak anaknya menyeberangi sungai dan melarikan diri ke selatan.
Pada suatu hari ia melihat serombongan pasukan lewat di dusun itu dan ia menjadi curiga.
Jangan-jangan mereka itu sudah mendengar bahwa ia tinggal di dusun itu!
Maka sebelum terjadi sesuatu, diam-diam ia lalu naik perahu menyeberangi sungai dan melarikan diri, membawa segala miliknya berupa pakaian dan sedikit uang yang berhasil ia kumpulkan selama bekerja sebagai nelayan di tepi sungai itu.
Akhirnya ia merasa suka dengan dusun Nan-kiang-jung, sebuah dusun yang makmur karena tanahnya subur dan berada di sebelah selatan Sungai Kuning, di luar kota Lok-yang.
Dengan uangnya, Kwa Sing membeli sebidang tanah dan mendirikan sebuah pondok sederhana, lalu mulai hidup bagai petani.
Thian Lee sudah berusia sepuluh tahun menjadi seorang anak yang tinggi tegap dan cerdas.
Pada suatu malam, Thian Lee bertanya kepada ibunya.
"Ibu, sejak dulu kalau aku bertanya kepada Ibu tentang Ayah, Ibu mengatakan bahwa Ayah telah meninggal dunia. Ha-tiku merasa penasaran sekali, Ibu. Ibu masih muda, tentu Ayah masih muda pula. Kenapa Ayah telah meninggal dunia di waktu masih muda? Penyakit apakah yang membuat Ayah meninggal dunia di dalam usia muda, Ibu?"
Ditanya demikian Kwa Siang menghela napas panjang, dan ia menarik tangan puteranya, lalu mengelus kepalanya dengan pehuh kasih sayang.
"Thian Lee, engkau sekarang sudah berusia sepuluh tahun, agaknya sudah pantas untuk me-ngetahui segalanya. Duduklah di sini, Anakku, dan dengarkan penuturanku tentang ayahmu."
Thian Lee dtiduk di depan ibunya, wajahnya diangkat dan sepasang mata yang jernih tajam itu friengannati wajah ibunya penuh perhatian.
"Ayahmu Song Tek Kwi, adalah seorang pendekar yang masih muda ketika dia meninggal dunia. Dia seorang pendekar, seorang patriot sejati yang tidak dapat tinggal diam kalau terjadi perbuat-ian sewenang-wenang dari pembesar atau siapapun juga. Ketika engkau berusia kurang lebih setahun, pada suatu hari ayahmu pergi berkunjung ke rumah sahabatnya yang bernama Bu Cian di dusun Teng-sia-bun dekat kota raja. Di sana ayahmu bersama Bu Cian telah menghajar seorang pangeran yang melakukan pe-maksaan terhadap seorang gadi? yang hendak dijadikan selir. Melihat ini, ayahmu dan sahabatnya itu tidak dapat tinggal diam dan menghajar pangeran itu dan para pengawalnya. Peristiwa itu berakibat panjang. Pada keesokan harinya, sejumlah pasukan menyerbu Teng-sia-bun dan membunuh Bu Cian sebagai pemberontak,"
Ibu muda itu berhenti dan menghela napas panjang.
"Lalu bagaimana Ibu? Apa yang terjadi kepada Ayah?"
Mendengar akan hal itu, ayahmu mengajakku untuk melarikan diri.
Aku menggendongmu dan kita melarikan diri dari dusun Tung-si-bun.
Akan tetapi di luar dusun itu, kita bertemu rombongan perajurit.
Aku dan ayahmu dikeroyok, ayahmu minta agar aku menyelamatkanmu, maka aku lalu melarikan diri sambil menggendongmu.
Aku sempat mengintai bagaimana keadaan ayahmu."
Dia mengamuk, merobohkan belasan orang akan tetapi dia sendiri roboh di bawah hujan senjata para pengeroyok dan tewas dengan gagah perkasa, Demikianlah, Thianlee, ayahmu tewas sebagai seorang pendekar sejati."
Thian Lee mengerutkan alisnya dan mengepal tinju yang kecil.
"Akan tetapi, Ibu. Kenapa mereka mengeroyok Ibu dan Ayah? Kenapa mereka membunuh Ayah?"
"Karena ayahmu membantu Bu Cian ketika menghajar pangeran dan para pengawalnya. Seperti juga Bu Cian, ayahmu dituduh sebagai pemberontak."
"Ah, akan tetapi Ayah tidak memberontak. Ayah hanya memberi hajaran kepada orang yang memaksa seorang gadis!"
"Benar, akan tetapi sungguh tidak kebetulan sekali, orang itu adalah seorang pangeran. Jadi, ayahmu dituduh memukul seorang pangeran, dianggap melawan pemerintah dan memberontak."
"Ayah mati penasaran, Ibu!"
"Memang penasaran sekali, dan engkau belajarlah baik-baik agar kelak menjadi seorang pendekar yang lihai untuk membalas dendam kematian ayahmu. Kalau bisa, basmi semua pangeran yang ada!"
Thian Lee mengerutkan alisnya.
Sekecil itu dia sudah pandai membaca dan ibunya sudah banyak memberi dia bacaan kitab sejarah orang-orang gagah, maka dia dapat mempertimbangkan bahwa pesan ibunya itu tidak adil.
"Akan tetapi, Ibu. Yang menjadi sebab kematian Ayah hanyalah satu orang pangeran. Pangeran yang memaksa gadis itulah yang bersalah, dan dia yang akan kucari, bukan semua pangeran."
"Semua pangeran adalah bangsawan Mancu, penjajah tanah air dan bangsa kita, Thian Lee. Semua pangeran harus dibasmi dan pemerintah penjajah Mancu harus dibasmi!"
Kata ibunya penuh semangat sehingga Thian Lee tidak membantah lagi. Thian Lee meraba gelang kemala yang diikatkan di lehernya dengan tali, yang sejak dia masih kecil selalu tergantung di lehernya.
"Dan gelang ini, Ibu. Kenapa aku harus selalu memakainya sebagai kalung? Ibu selalu hanya mengatakan bahwa ini merupakan pesan Ayah dan aku harus selalu memakainya. Akan tetapi mengapa seorang anak laki-laki diberi gelang kemala?"
"Hal itu pun engkau boleh mengetahui sekarang, Thian Lee. Biarpun usiamu baru sepuluh tahun, akan tetapi aku percaya bahwa engkau telah dapat memaklumi kehendak ayahmu. Ketahuilah bahwa gelang kemala ini adalah tanda ikatan perjodohanmu."
"Ehh? Bodoh, Ibu? Perjodohanku bagaimana maksud Ibu?"
"Thian Lee, sejak berusia satu tahuh engkau telah diikat dengan perjodohan oleh ayahmu dan sahabatnya, yaitu mendiang Bu Cian yang mempunyai seorang anak perempuan, ketika itu baru berusia tiga bulan. Atas persetujuan ayahmu dan Bu Cian, engkau dijodohkan dengan anak perempuan itu, namanya Bu Cin Lan. Aku rnemiliki sepasang gelang kemala peninggalan ibuku, sepasang gelang kemala yang serupa benar. Nah, sebuah di antara sepasang gelang itu oleh ayahmu diberikan kepada anak Bu Cian itu sebagai pengikatan perjodohan. Yang sebelah lagi adalah yang kaupakai itu, Thian Lee. Kelak, engkau harus mencari tunanganmu itu. Gadis yang mempunyai gelang kemala yang persis dengan gelang yang kaupakai sebagai kalung itulah tunanganmu."
Thian Lee tertegun.
"Aihh, baru berusia setahun sudah dijodohkan?"
Dia berkata lirih dan perlahan, seperti orang tidak percaya.
"Itu adalah kehendak ayahmu, Thian Lee. Dan sudah selayaknya engkau taat kepada pesan mendiang ayahmu kalau engkau ingin menjadi seorang anak yang berbakti. Karena itu gelang ini kuberi tali agar dapat engkau kalungkan di lehermu sampai tiba saatnya engkau bertemu dengan tunanganmu itu kelak setelah engkau dewasa."
Thian Lee tidak berani membantah biarpun di dalam hatinya dia merasa penasaran sekali.
Memang sudah semestinya dia mentaati pesan ayah ibunya, akan tetapi dalam hal perjodohan, suatu perkara yang dia sama sekali tidak tahu menahu, sama sekali belum terpikirkan olehnya, mengapa ayahnya telah memberl penentuan?
Dia pun tidak mempedulikan lagi dan melupakan urusan yang dlanggapnya tidak penting itu, Maklumlah, dia baru berusia sepuluh tahun sama sekali belum mengerti dan tidak mau memikirkan tentang perjodohan.
Biarpun Kaisar Kian Liong melanjutkan pimpinan kakeknya yang memegang keras peraturan dan bertindak keras ter-hadap pembesar yang menyalahgunakan kekuasaanmu, namun hal itu hanya dapat diawasi terhadap para pembesar di kota raja saja.
Terhadap perbuatan para pembesar di luar kotaraja, apalagi para pembesar daerah, tidak dapat dilakukan pengawasan ketat.
Karena itu, tetap saja banyak pembesar dan pejabat yang bertindak sewenang-wenang, mengandalkan kedudukan dan wewenang mereka.
Sudah menjadi kelemahan manusia pada umumnya terhadap harta kekayaan dan terhadap kekuasaan.
Mereka yang kebetulan memiliki kekuasaan, kebanyakan menjadi mabuk kekuasaan dan menyalahgunakan wewenang untuk bertindak menuruti hasrat hati sendiri.
Mereka mencari kepuasan dan kesenangan diri pribadi dan untuk mencapai itu, mereka tidak segan mempergunakan wewenang dan kekuasaan mereka.
Maka tidaklah mengherankan kalau seorang kepala dusun bertindak dan bersikap seperti seorang ma-haraja kecil yang melakukan tindakan sesuka hatinya terhadap rakyat di daerah kekuasaannya.
Seperti seorang raja lalim, apa yang dikehendaki sang kepala dusun harus terlaksana.
Memang ada pula pejabat yang jujur dan adil, yang benar-benar menjadi pemimpin rakyat yang baik, yang melakukan segala sesuatu demi kemajuan dusunnya, demi kepentingan rakyatnya.
Pamrihnya bukan untuk kesenangan diri pribadi, inelainkan memenuhi tugas sebaiknya, yaitu sebagai kepala dusun memperhatikan kepentingan dusun dan penduduknya.
Akan tetapi dibandingkan dengan mereka yang menyalahgunakan wewenang dan menyeleweng, jumlah mereka yang jujur dan adil sediklt sekali.
Kepala Dusun Nam-kiang-jung adalah seorang pejabat yang buruk itu.
Dia memerintah dusunnya seperti seorang raja lalim.
Dan sudah menjadi ciri seorang pembesar yang tidak baik bahwa dia selalu menjilat ke atas dan menginjak ke bawah.
Bermuka-muka kepada atasan, akan tetapi menekan dan menginjak bawahan untuk memperlihatkan kekuasaannya.
Bouw-cungcu (Lurah Bouw), demikian nama kepala dusun Nam-kiang-jung, mempunyai tukang-tukang pukul untuk membela kepentingannya dan untuk menegakkan kekuasaannya.
Dua losin tukang pukul ini disebutnya sebagai pasukan keamanan dusun dan sebagai orang yang berkuasa, dia mempunyai pula penjilat-penjilat yang bermuka-muka dan menjadi anteknya untuk menyenangkan hatinya.
Pada suatu hari, ketika Bouw-cungcu sedang duduk menghisap cangklong tembakau bercampur madat, datanglah A-keng, seorang anteknya, menghadap.
A-keng tersenyumsenyum gembira dan setelah memberi hormat dia berkata.
"Selamat, Taijin, selamat!"
Bouw-cungcu memang selalu menghendaki agar orang-orang menyebutnya taijin (orang besar), sebutan yang biasa dipakai orang terhadap seorang pembesar tinggi!
"He, apa engkau sudah gila?
Aku sedang menghisap cangklong, tidak mendapat keuntungan apa-apa dan engkau datang-datang memberi selamat.
Apa-apaan ini?"
"Saya menghaturkan selamat karena dusun ini kedatangan seorang bidadari, Taijin. Dan ia sekarang menjadi warga dusun ini. Apakah Taijin tidak menjadi girang mempunyai warga seorang bidadari?"
"Eh? Siapa maksudmu? Katakan cepat,"
Kata Sang Kepala Dusun penuh perhatian sampai dia lupa menghisap cangklongnya.
"Apakah Taijin belum mendengar bahwa di ujung barat dusun itu kini tinggal seorang penghuni baru? Seorang wanita dengan seorang anaknya?"
"Ahhh, seorang wanita dengan anaknya. Apa yang menarik? Tentu sudah tua dan ada suaminya!"
"Wah, keliru, Taijin! Ia adalah seorang janda"
"Ah, janda tua apa artinya? Sudah beranak pula."
"Eh, sama sekali tidak tua! Bahkan kelihatan seperti gadis dua puluh tahun saja. Dan cantiknya! Cantik, muda dan sudah janda pula! Apakah tidak menarik?"
Kini kepala dusun itu menjadi penuh perhatian dan meletakkan cangklongnya ke atas meja.
"Benarkah? Masih muda dan cantik janda itu?"
"Seperti bidadari! Tidak mungkin menemui seorang wanita secantik itu di dusun ini, bahkan di kota pun jarang terdapat. Anaknya laki-laki baru berusia sepuluh tahun dan melihat keadaan mereka yang sederhana, mereka tentu miskin dan mudah didapatkan, Taijin!"
"Benarkah? Ah, janda muda secantik bidadari! A-keng, cepat kau pergi kepadanya dan katakan bahwa aku, kepala dusun di sini, akan datang berkunjung karena sebagai kepala dusun, aku harus mengenal setiap orang penduduk baru!"
"Baik, Taijin!"
Kata A-keng dengan girang karena dia mengharapkan urusan ini berjalan dengan mulus sehingga dia akan memperoleh hadiah besar dari kepala dusun yang kaya raya itu.
"Eh, kalau sudah ke sana, cepat kembali ke sini untuk mengantar aku berkunjung .
"Baik, Taijin!"
Tak lama kemudian A-keng sudah tiba di rumah Kwa Siang. Melihat ada orang datang berkunjung, janda muda ini me-nyambutnya dengan ramah.
"Siapakah saudara dan ada keperluan apa denganku?"
Tanyanya sambil menyongsong di depan pintu, tanpa mempersilakan tamunya masuk karena merasa tidak enak memasukkan seorang tamu laki-laki yang tidak dikenalnya.
A-keng tersenyum dan membusungkan dadanya.
"Perkenalkan, Nyonya Aku bernama A-keng dan aku adalah pembantu kepala dusun. Bouw-taijin mengutus aku datang menemui nyonya dan memberi tahu bahwa sebentar lagi Bouw-taijin akan datang berkunjung ke sini."
"Bouw-taijin? Siapa itu?"
"Kepala dusun ini."
"Ah, kepala dusun. Ada keperluan apa dia hendak berkunjung ke rumah kami?"
"Aih, Nyonya. Bouw-taijin adalah kepala dusun kami yang bijaksana dan baik hati. Mendengar bahwa ada seorang penduduk baru, tentu saja beliau ingin sekali berkenalan dan mengetahui keadaan warga dusunnya yang baru."
"0, begitukah? Baiklah kalau begitu, kami akan menyambut kedatangannya dengan baik."
A-keng lalu berpamit dan tak lama kemudian dia datang lagi mengiringkari seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubut tinggi kurus dan matanya liar, senyumnya mengejek dan giginya menghitam karena terlalu banyak menghisap tembakau dan madat.
Orang ini mengenakan pakaian yang mewah dan lagaknya seperti se-orang bangsawan tinggi.
Baru melihat penampilannya saja Kwa Siang sudah me-rasa sebal, dan dari pengalamannya ia dapat menduga bahwa orang ini tidak memiliki watak yang baik.
"Inilah beliau, kepala dusun kami, Bouw-taijin."
A-keng memperkenalkan kepada Kwa Siang."
"Ah, Bouw-cungcu (kepala Dusuh Bouw), silakan masuk dan mari silakan duduk,"
Kata Kwa Siang. Bagaimanapun juga, ia tinggal di dusun itu dan sudah seharusnya ia menghormati kepala dusun.
"Heh-heh-heh, baik... baik....!"
Kepala dusun Bouw itu melangkah masuk sambil mengipasi dadanya dengan sebatang kipas yang indah? "Engkau tinggal di sini dengan siapa, Nona?"
"Bouw-cungcu, saya bukan nona."
Kata Kwa Siang.
"Heh-heh, engkau masih pantas dise-s but nona,"
Kata Sang Kepala Desa sambil meraba dagunya yang berjenggot hanya beberapa helai.
"Engkau masih muda dan cantik. Nah, dengan siapa engkau tinggal di sini?"
"Saya tinggal berdua dengan anak saya."
"Di mana anakmu itu? Aku ingin melihat dan mengenalnya."
"Dia berada di belakang. Biar kupanggil dia,"
Kwa Siang lalu berseru memanggil anaknya yang berada di belakang. Muncullah Thian Lee dan anak ini segera memberi hormat kepada Sang Kepala Dusun memenuhi perintah ibunya.
"Haa, anakmu sudah besar. Berapa usianya?"
"Sepuluh tahun,"
Jawab Kwa Siang.
"Heran, engkau nampak masih begini muda, tidak pantas mempunyai putera sebesar ini! Dan bagaimana semuda ini sudah menjanda? Di mana suamimu?"
Kwa Siang mengerutkan alisnya. Sudah diduga sebelumnya bahwa kepala dusun ini seorang laki-laki yang menyebalkan. Akan tetapi ia menjawab juga.
"Suami saya sudah meninggal dunia sembilan tahun yang lalu."
"Sembilan tahun menjanda?"
Kepala dusun Bouw menggeleng kepalanya dan memicingkan matanya.
"Aduh kasihan sekali....! Nona, siapakah namamu?"
"Nama saya Kwa Siang dan anak saya bernama Song Thian Lee,"
Kata ibu muda itu sambil mengerutkan alisnya.
"Kwa Siang, suruh anakmu kebelakang dulu. Aku ingin bicara penting padamu,"
Kata Sang Lurah dan dia pun memberi isarat kepada A-keng agar pembantunya itu keluar dari ruangan itu.
Biarpun merasa heran, Kwa Siang lalu menyuruh puteranya ke belakang sehingga kini mereka hanya berdua saja.
Begini, Kwa Siang.
Aku sungguh merasa kasihan sekali kepadamu.
Engkau seorang janda muda dengan seorang anak, hidupmu susah.
Begitu melihatmu, aku merasa suka dan kasihan kepadamu.
Engkau dan anakmu ikut saja denganku, engkau menjadi selirku dan anakmu itu akan menjadi anak tiriku.
Bagaimana manis?"
Ucapan ini saja sudah membuat hati Kwa Siang marah sekali, apalagi kini kepala dusun itu bangkit dari tempat du-duknya, lalu menghampirinya dan hendak merangkulnya!
Kwa Siang hampir tidak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi ia masih mengelak dan cepat mundur.
"Cung-cu, harap jangan begitu. Aku tidak mau menjadi selirmu atau menjadi isteri siapa pun. Aku tidak ingin menikah lagi. Harap engkau suka pergi meninggalkan rumah ini!"
Dengan marah Kwa Siang menudingkan teiunjuknya ke arah pintu. Akan tetapi kepala dusun Bouw yang tidak tahu diri itu tertawa menyeringai.
"Heh-heh, jangan menjual mahal, Kwa Siang. Aku tahu, seorang janda muda sepertimu ini tentu merindukan seorang laki-laki. Hayolah jangan banyak lagak, nanti kubikin hidupmu makmur dan senang!"
Dan kembali kepala dusun itu menubruk hendak merangkul wanita yang membuatnya bangkit gairahnya itu.
Sekali ini Kwa Siang tidak lagi dapat menahan kesabarannya.
Melihat lurah itu menubruk dan hendak merangkulnya, ia dengan gerakan kakinya yang mencuat ke depan.
"Dukk....!"
Tubuh kepala dusun itu terjengkang menubruk kursi dan dia pun roboh. Akan tetapi dia bangkit kembali dan kini matanya melotot, mukanya merah, telunjuknya menudingnuding.
"Kau... kau berani menolakku dan menendangku!"
Bentaknya dan kini dia nekat menerjang maju hendak merangkul. Kwa Siang menggerakkan kedua tangannya dengan cepat.
"Plak! Plak'."
Dan kepala dusun Bouw itu terhuyung ke belakang dua tangan memegangi kedua pipinya yang menjadi bengkak dan membiru, nyerinya bukan kepalang, giginya terasa seperti rontok semua.
"Aduhh... aduhhh... A-keng... tolong....!"
Dia berteriak-teriak.
A-keng yang tersenyumsenyurn di bagian depan rumah itu terkejut mendengar teriakan majikannya.
Dia cepat berlari masuk dan melihat kepala dusun itu memegangi mukanya sambil mengaduh-aduh.
"Kenapa, Taijin?"
"la... ia... berani memukulku...."
Kepala dusun itu berkata terengah-engah.
"Heii, kenapa engkau berani memukul Bouw-taijin?"
A-keng membentak dan menegur Kwa Siang.
"Engkau pun layak dipukul!"
Kata Kwa Siang yang tahu benar orang macam apa adanya penjilat ini dan tangannya sudah bergerak menampar.
"Plakk!"
Tamparan itu cukup keras, membuat bibir A-keng berdarah dan dia mengaduh-aduh.
Kemudian dia menyambar tangan majikannya dan dibawa lari keluar dari rumah itu.
Para tetangga yang mendengar suara ribut-ribut segera berdatangan dan bertanya kepada Kwa Siang apa yang telah terjadi, mengapa kepala dusun berlari keluar dari rumah itu sambil memegangi mukanya ya.Rg bengkak-bengkak.
"Aku telah menghajarnya. Jahanam itu hendak kurang ajar kepadaku!"
Kata Kwa Siang marah. Beberapa orang tetangga menyatakan kegembiraan hati mereka bahwa ada orang yang berani melawan kepala dusun itu. Akan tetapi seorang tetangga yang setengah tua segera berkata.
"Toanio, engkau berada dalam bahaya. Sebaiknya engkau bawa lari anakmu dari tempat ini. Kepala dusun tentu tidak akan ting-gal diam saja!"
"Aku tidak takut. Biar dia datang lagi kalau berani, akan kuhancurkan mulutnya yang busuk!"
Kwa Siang menantang.
Tiba-tiba tampak serombongan orang berlari ke tempat itu dan para tetangga segera kembali bersembunyi di rumah masing-masing karena mereka mengenal siapa rombongan yang datang itu.
Para tukang puku!
kepala dusun!
Dua losin orang tukang pukul itu telah berada di depan rumah Kwa Siang dan wanita itu pun berdiri di depan pintu dengan sikap gagah.
Thian Lee juga su-dah keluar dari belakang dan berdiri di belakang ibunya.
Anak ini memiliki keta-bahan seperti ibunya dan dia sediklt pun tidak kelihatan takut, biarpun berhadapan dengan dua losin orang laki-laki yang nampaknya bengis.
Kepala dusun Bouw sendiri berdiri di belakang gerombolan itu dan terdengar dia berteriak.
"orangnya! Tangkap perempuan itu!"
Mendengar teriakan ini, dua lusln orang tukang pukul seperti berlomba untuk meringkus Kwa Siang yang antik.
Akan tetapi wanita ini menyambur mereka dengan pukuian dan tendangar.
Melihat ibunya mengamuk dan dikeroyok, Thian Lee hanya berdiri di pintu sambil memandang dengan sepasang matanya terbelalak.
Ibunya rnerobohkan banyak pengeroyok dengan tamparan dar tendangan dan dia merasa bangga sekali kepada ibunya.
Ibunya seorang wanita yang gagah perkasa, pikirnya.
Akan tetapi, betapa pun lihainya Kwa Siang, menghadapi pengeroyokan dua losin orang lakilaki yang kuat-kuat, akhirnya ia dapat diringkus setelah me-robohkan delapan orang.
"Ikat kaki tangannya, dan bawa masuk ke sini!"
Kata Kepala Dusun Bouw yang mendahului masuk.
Thian Lee menyelinap ke belakang pintu, memandang dengan hati khawatir melihat ibunya kini sudah diikat kaki tangannya, lalu atas perintah kepala dusun, ibunya dilempar di atas pembaringan di dalam kamar.
Melihat ini, Thian Lee tidak dapat menahan diri lagi.
Sambil berteriak keras, dia lalu melompat maju hendak membebaskan ibunya dari ikatan.
Akan tetapi dia disambut tamparan seorang tukang pukul.
Tubuh anak itu terpelanting dan jatuh bergulingan, akan tetapi dia bangkit lagi dan kini Thian Lee mengamuk, menyerang para tukang pukul itu.
Repot juga para tukang pukul menghadapi anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang mengamuk seperti anak harimau itu, akan tetapi akhirnya mereka menggunakan kekerasan dan tubuh Thian Lee menerima tendangan dan pukulan keras, membuat anak itu terlempar ke sudut dan pingsan!
"Kalian keluarlah dan jaga di luar, aku mau membalas dendam kepada perempuan binal ini!"
Kata Kepala Dusun Bouw kepada anak buahnya. Para tukang pukul itu tersenyum-senyum dan mereka pun keluar. Semua orang melupakan Thian Lee yang sudah miring dan pingsan disudut ruangan.
"Ha-ha-ha, perempuan liar! Inilah jadinya kalau engkau tidak menuruti kehendakku. Engkau berani memukulku, ya? Hemm, sekarang rasakan. Aku tetap akan mendapatkan dirimu, walau dengan kekerasan!"
Setelah berkata demikian, kepala dusun itu menghampiri Kwa Siang dan terdengar kain robek ketika dia merenggut dan merobeki pakaian yang menutupi tubuh wanita itu.
Kwa Siang menyadari sepenuhnya bahaya apa yang mengancam dirinya.
la meronta dan berusaha melepaskan dirinya, akan tetapi ikatan pada keciua kaki tangannya itu terlampau kuat sehingga ia tidak dapat membebaskan kaki tangannya.
"Ha-ha-ha, engkau boleh meronta-ronta, ha-ha-ha!"
Kepala dusun itu mengejek dan kedua tangannya mulai menggerayangi tubuh Kwa Siang.
Wanita ini tahu benar bahwa ia akan diperkosa.
la tidak akan membiarkan kehormatannya dihina, maka ketika kepala dusun itu menundukkan mukanya untuk menciumnya, tiba-tiba ia menggerakkan kepalanya dan sebelum kepala dusun itu menyadari apa yang terjadi, Kwa Hong telah menggigit tenggorokannya.
Kepala Dusun Bouw meronta, akan tetapi gigitan itu makin dalam dan semakin kuat.
Dia mengeluarkan teriakan, akan tetapi karena tenggorokannya digigit, yang keluar dari mulutnya hanya suara aneh seperti kerbau disembelih.
Dia meronta dalam sekarat sehingga tubuh mereka berdua terguling dari pembaringan ke atas lantai.
Namun, gigitan Kwa Siang tidak pernah melepaskan tenggorokan itu.
Darah mulai mengycur dan tenggorokan itu robek.
Mendengar suara gedebukan dan teriakan aneh para tukang pukul menjadi curiga dan mereka mendorong pintu ka mar.
Mereka terbelalak melihat wanita yang terikat kaki tangannya itu kini dengan pakaian terlepas semua, menggigit leher kepala usun yang berkelojotan.
Seorang tukang pukul berusaha menarik tubuh Kwa Slang darl atas tubuh kepala dusun, namun tidak berhasil karena gigitan itu sama sekali tidak dapat dllepaskan lagi.
Dengan marah seorang tukang pukul mencabut pedangnya dan menikam Kwa Siang dari atas.
"Crapp....!"
Pedang itu menembus punggung Kwa Siang.
Wanita ini mengeluh, gigitannya terlepas dan ia terpelanting miring, tak bergerak lagi.
Akan tetapi ketika para tukang pukul memeriksa keadaan kepala dusun, mereka tekejut karena kepala dusun juga sudah tewas dengan kerongkongan remuk tergigit.
Sekali lagi ada pedang menusuk tubuh Kwa Siang, akan tetapi wanita ini sudah tidak bergerak lagi.
Para tukang pukul dengan cemas lalu membawa jenazah Kepala Dusun Bouw kembali ke rumah kepala dusun itu, meninggalkan jenazah Kwa Siang yang telanjang di dalam lantai kamarnya.
Setelah semua tukang pukul pergi, Thian Lee siuman dari pingsannya.
Dia bergerak dan merasa betapa tubuhnya sakit-sakit akibat tendangan dan pukulan tadi.
Akan tetapi begitu teringat kepada ibunya, dia dapat bangkit dan berseru.
"Ibu....!"
Dan dia lari ke dalam kamar mereka di mana tadi ibunya dilempar ke atas pembaringan.
Dan dia terbelalak!
Ibunya sudah menggeletak miring di atas lantai, mandi darah dan dengan tubuh tanpa pakaian, kaki tangan masih terikat.
"Ibuuuu....!"
Dia menjerit-jerit dan memeluki tubuh ibunya yang masih hangat.
Melihat ibunya telanjang bulat, dia lalu menyambar sehelai selimut dan menutupi tubuh itu dengan selimut sambil menangis.
Tetangga berdatangan dan mereka merasa ngeri melihat Kwa Siang sudah tewas mandi darah.
Akan tetapi di antara mereka tadi ada yang mengintai dari dalam rumah dan melihat betapa Kepala Dusun Bouw digotong oleh para tukang a pukulnya.
Tetangga tua yang tadi menganjurkan Kwa Siang melarikan diri, kini mendekati Thian Lee.
"Anak yang baik, percayalah nasihatku. Mereka tentu akan kembali dan nyawamu berada dalam bahaya. Kalau mereka melihat engkau masih hidup, tentu mereka akan mengejar dan membunuhmu. Mungkin ibumu telah membunuh kepala Dusun Bouw, dan mereka tentu tidak mau sudah begitu saja. Pergilah, Nak. Pergilah cepat meninggalkan dusun ini dan bersembunyilah."
"Tapi... tapi, Paman. Jenazah Ibuku..."
Thian Lee berkata dengan sedih sekali.
"Jangan khawatir, Nak. Jenazah ibumu akan kami urus dan kami kuburkan dengan baik. Sekarang pergilah cepat sebelum terlambat."
Para tetangga yang lain juga membujuk agar Thian Lee cepat melarikan diri.
Akhirnya anak itu membawa buntal-an pakaiannya dan setelah berulang kali dia menubruk dan menangisi ibunya, akhirnya mereka berhasil membujuknya pergi melarikan diri keluar dari dusun Namkiang-jung.
Dia keluar dari pintu gerbang dusun sebelah selatan dan terus memasuki sebuah hutan di luar dusun itu.
Bajunya sudah robek-robek dan sepatunya juga berlubang dipakal melarikan diri menyusupnyusup ke dalam hutan.
Napasnya terangah-engah, akan tetapi Thian Lee tidak berani berhenti.
Dia mendengar suara banyak orang mengejarnya!
Akhirnya dia menembus hutan itu a dan tiba di padang rumput, akan tetapi para pengejarnya masih terus berada di belakangnya.
Bahkan setelah kini dia keluar dari dalam hutan, dia dapat terlihat oleh para pengejarnya.
Belasan orang kelihatan mengejarnya dan rnereka itu adalah para tukang pukul tadi.
Benar seperti dikhawatirkan kakek yang tetang-ganya itu, tak lama setelah dia melarikan diri, para tukang pukul itu mendatangi rumah ibunya dan menanyakan di mana adanya anak laki-laki tadi.
Semua tetangga menyatakan tidak tahu dan mereka lalu melakukan pengejaran.
Thian Lee yang menggendong buntalan itu tiba-tiba kehilangan akal lagi ketika di depannya terhalang oleh sebuah anak sungai.
Dia tidak dapat lari lagi dan para pengejarnya sudah semakin dekat.
Biar aku melawan mereka, demikian dia me-ngambil keputusan nekat.
Biar aku mengamuk membalaskan kematian Ibu, dan kalau perlu aku mati menyusul Ibu!
Tujuh belas orang tukang pukul itu segera mengepung ketika melihat anak yang mereka kejar-kejar itu kini berdiri tegak dengan sikap gagah, sama sekali tidak kelihatan takut, pakaiannya robek-robek dan napasnya terengah-engah, kedua tangannya mengepal tinju!
"Nah, ini dia!
Ini anak siluman itu!"
Terdengar seorang di antara mereka berseru. Mendengar ibunya disebut siluman, Thian Lee marah.
"Ibuku bukan siluman! Kalian adalah iblis-iblis yang keji dan jahat!"
Katanya dan dia segera mengamuk, menyerang mereka yang terdekat dengan pukulan-pukulannya.
Biarpun baru berusia sepuluh tahun, akan tetapi sejak berusia lima tahun dia sudah mempelajari ilmu silat dari ibunya, maka biarpun baru berusia sepuluh tahun, gerakannya cukup gesit dan pukulannya juga mengan-dung tenaga.
Seorang di antara tukang-tukang pukul itu memandang rendah.
Ketika Thian Lee memukul, cepat dia menangkap lengan anak yang memukul itu.
Akan tetapi dengan cepat sekali Thian Lee memutar lengannya dan kaki-nya menendang, mengenal lutut orang itu.
Orang itu terkejut kesakitan dan membungkuk, akan tetapi dagunya.
bertemu dengan pukulan tangan Thian Lee sehingga dia terjengkang!
Teman-temannya menjadi marah dan mereka lalu mengeroyok anak itu tanpa malu-malu lagi dan tubuh Thian Lee menjadi semacam bola di antara mereka yang menendang dan memukulinya.
Pada saat itu, seorang di antara mereka sudah mengangkat goloknya ke atas.
"Lepaskan dia, biar kuhabiskan riwayatnya!"
Katanya sambil mengayun golok.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan dan Si Pemegang Golok itu terjengkang roboh jan tewas seketika dengan dahi ditembus sebatang ranting yang meluncur seperti anak panah!
Tentu saja para pengeroyok menjadi terkejut sekali.
Tiba-tiba terdengar suara orang.
"Siancai... belasan ekor anjing srigala mengeroyok seekor harimau yang masih kecil. Sungguh tidak tahu malu!"
Para pengeroyok cepat membalikkan tubuhnya dan mereka melihat seorang kakek yang usianya tentu sudah lewat enam puluh tahun berdiri dl situ.
Melihat pakaiannya dan rambutnya yang digelung ke atas, mudah diketahui bahwa kakek ini seorang tosu.
Pada waktu itu, para pendeta Agama To ini tidak dihargai oleh pemerintah.
Kaisar dan Pemerintah Mancu lebih menghargai para hwesio dan mengembangkan ajaran Nabi Khongcu, sehingga para tosu yang dianggap sebagai dukun klenik menjadi tersisih.
Karena itu, para tukang pukul juga tidak menghargai pendeta berjubah kuning itu, apa-lagi mereka melihat $eorang kawannya tewas.
"Siapa engkau? Berani engkau mem-bunuh seorang kawan kami!"
Bentak pemimpin rombongan tukang pukul itu.
"Kalian tidak cukup berharga untuk mengetahui siapa pinto, akan tetapi kalau kalian melanjutkan pengeroyokan terhadap anak itu, kalian semua akan mati di tangan pinto."
Ucapan tosu itu memandang rendah sekali dan mulutnya tersenyum mengejek, sikapnya angkuh sekali.
Jumlah para tukang pukul itu masih ada enam belas orang.
Tentu saja mereka tidak gentar menghadapi seorang tosu tua yang tubuhnya nampak loyo.
"Engkau yang sudah bosan hidup!"
Teriak seorang di antara mereka dan dengan golok di tangan dia menerjang ke arah tosu itu.
Akan tetapi, belum sempat golok dibacokkan, tosu itu menggerakkan tangannya mendorong dan orang itu ter-jengkang roboh dan tidak dapat bangkit kembali.
Kini para tukang pukul menjadi marah dan mereka serentak maju menghujankan senjata mereka.
Akan tetapi, begitu kakek itu menggerakkan kedua tangannya secarc berturut-turut, berja-tuhanlah para pe igeroyok.
Dalam waktu singkat saja enam orang telah roboh dan tidak mampu, bergerak lagi.
Melihat ini, sisanya menjadi gentar dan melarikan diri tunggang-langgang seperti melihat setan!
Thian Lee sudah setengah mati keadaannya.
Akan tetapi dia masih mampu merangkak menghampiri tosu itu dan menjatuhkan diri berlutut di depannya.
"Terima kasih, Locianpwe...."
Katanya lemah. Tosu itu menundukkan muka memandang anak itu. Sinar matanya menyatakan kekagumannya.
"Engkau mau ikut pinto?"
Thian Lee hampir tidak kuat bicara. Tubuhnya nyeri dari kepala sampai ke kaki dan tenaganya habis. Akan tetapi dia cepat memberi hormat sambil berlu-tut dan menganggukanggukkan kepalanya.
"Hayo ikuti pinto!"
Setelah berkata demikian, tosu itu lalu berjalan pergi.
Thian Lee mengerahkan seluruh tenaganya, bangkit berdiri dan mengikuti kakek itu.
Beberapa kali dia tersaruk dan terjungkal jatuh, akan tetapi dia mengeraskan hatinya, bangkit lagi dan melangkah lagi di belakang kakek itu.
Hanya dengan menggunakan kemauan yang nekat sajalah anak itu.
dapat bertahan untuk mengikuti tosu itu.
Dan tosu itu pun terus melangkah, menengok satu kali pun tidak, seolah dia sudah melupakan bahwa ada anak yang mengikutinya!
Thlan Lee melangkah terus, mengepal kedua tinju dan menggigit bibirnya agar tidak keluar keluhan dari mulutnya.
Akan tetapi ketahanan tubuh ada batasnya dan akhirnya dia pun terguling roboh dalam keadaan pingsan!
Thian Lee merasa betapa ada getaran hebat yang terasa hangat memasuki tubuhnya.
Dia membuka matanya dan men-dapatkan dirinya sedang rebah telentang dan tosu itu duduk bersila di dekatnya, tangan kanan tosu itu menempel di dadanya dan dari telapak tangan itulah masuknya getaran hangat itu.
Getaran itu berputar-putar di seluruh tubuhnya, lalu berkumpul di pusarnya dan menghilang ketika tosu itu mengangkat ta-ngannya.
Dia tersenyum ketika melihat anak itu sudah membuka matanya.
"Sudah hilang lelahmu?"
Tanyanya sambil bangkit berdiri.
Thian Lee merasakan tubuhnya segera dan biarpun kelelahan itu masih terasa, namun dia menguatkan dirinya dan bangkit berdiri.
Dipandangnya kakek itu dan tahulah dia bahwa kakek itu adalah seorang sakti seperti yang dia sering mendengar penu-turan ibunya tentang orang-orang sakti di dunia persilatan.
Maka, tanpa ragu lagi karena kakek itu juga sudah menyelarnat-kan nyawanya, dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki orang tua "Locianpwe, saya mohon diterima menjadi murid Locianpwe."
Orang tua itu tersenyum mengejek.
"Hemm, tidak mudah begitu saja untuk menjadi murid Liok-te Lo-mo (Iblis Bumi) yang selamanya belum pernah mernpunyai murid."
"Locianpwe, saya akan menaatisemua petunjuk Locianpwe, akan melakukan apa saja yang locianpwe perintahkan dan akan menjadi murid yang taat dan rajin."
"Siapa namamu?"
"Nama saya Song Thian Lee."
"Di mana orang tuamu?"
"Ayah meninggal dunia sembilan tahun yang lalu dan Ibu... Ibu... baru tadi pagi Ibu... meninggal dunia...."
Thian Lee menelan tangisnya ketika teringat akan ibunya.
Terbayang dalam benaknya tubuh ibunya yang terikat kaki tangannya, telanjang bulat, rebah miring mandi darah dan tak bernyawa lagi di lantai kamar mereka di pondok baru yang sederhaa itu.
"Bagaimana ibumu mati?"
"Dibunuh oleh jahanam-jahanam tadi Locianpwe,"
Kata Thian Lee sambil mengepal tinjunya.
"Baru tadi ibumu mati dan sekarang engkau hendak turut dengan pinto menjadi murid pinto? Bagus, bagus! Memang tidak perlu lagi menyusahkan yang sudah mati, apalagi matinya ibumu karena kesalahannya sendiri. Kalau ia pandai menjaga diri, tentu ia akan dapat melawan dan rnengalahkan semua anjing tadi. Orang hidup harus pandai menjage diri dan mengalahkan semua tantangan yang datang. Kalau kalah dan mati, yaitu sudah salahnya sendiri,"
Kata tosu itu tanpa perasaan kasihan sedikit pun.
"Dan kalau engkau ingin menjadi muridku, pertama kali engkau harus pantang menangis dan berduka. Mengerti?"
Bukan main girangnya hati Thian Lee. Biarpun dia harus menelan semua kedukaannya, akan tetapi jawaban kakek itu menunjukkan bahwa dia diterima menjadi murid. Dia lalu memberi hormat sambil berlutut.
"Teecu (murid) mengerti, Suhu, dan teecu akan menaatinya."
"Bagus, kalau begitu, ikuti pinto."
Kembali kakek itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Bergegas Thian Lee mengambil buntalan pakaiannya, menggendongnya dan mengikuti gurunya pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka tiba di tepi Sungai Kuning dan gurunya melihat seorang yang berperahu.
Perahu itu kecil saja dan orang itu agaknya seorang nelayan.
Gurunya berteriak memanggil dan menggapaikan tangannya.
Si Nelayan Tua mendayung perahunya ke tepi.
"Ada apakah, Totiang?"
Tanya nelayan itu setelah dia mendar'at dan menarik tali perahunya ke tepi. Tosu yang tadi mengaku bernama Liok-te Lo-mo itu berkata.
"Pinto ingin meminjam perahumu untuk menyeberangi sungai."
"Ah, mana bisa, Totiang? Aku akan mempergunakannya untuk mencari ikan!"
Bantah nelayan itu sambil menggeleng kepala.
"Kau tidak dapat membantah!"
Kata tosu itu sambil menghampiri dan sekali tangannya bergerak, nelayan tua itu roboh tertotok.
"Nanti kau boleh ambil kembali perahumu di seberang sana! Ha-yo Thian Lee, kita naik perahu."
Diam-diam Thian Lee.
merasa terkejut dan tidak senang melihat cara gurunya meminjam perahu, akan tetapi dia tidak berani membantah, hanya merasa kasihan kepada nelayan tua itu yang hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.
Guru dan muri itu naik perahu dan ketika tosu itu nienggerakkan dayungnya perahu meluncur cepat sekali.
Thian Lee duduk termenung di dalam perahunya, diam-diam memikirkan tentang gurunya.
Teringat olehnya betapa dengan mudahnya tosu itu merobohkan dan membunuhi tukang-tukang pukul dusun itu, kemudian betapa tosu itu dengan kejinya merampas perahu dari nelayan tua.
Tentu saja dia merasa tidak setuju sama sekali dan bertanya-tanya, orang macam apa gurunya ini.
Memang kesaktiannya tidak perlu disangsikan lagi, akan tetapi sikap dan tindakannya sungguh luar biasa, bahkan kejam.
Biarlah, kemudian dia mengambil keputusan, aku ikut dia untuk belajar ilmu silat, bukan mencontoh perbuatannya yang tidak benar.
Setelah tiba di seberang, tosu itu meninggalkan perahu begitu saja di daratan dan karena hari telah berganti malam, tosu itu mengajak Thian Lee untuk melewatkan malam di sebuah kuil , tua kosong yang berada di tepi sungai.
Tosu itu memberikan beberapa keping uang kepada Thian Lee sambil berkata lembut.
"Di sebelah utara, tak jauh dari sini terdapat sebuah dusun. Pergi kau ke sana dan cari makanan untuk makan malam. Dan ini tempat arakku sudah kosong, beli dan isilah sampai penuh."
Tosu itu menyerahkan sebuah guci arak yang kosong.
"Makanan apakah yang Suhu inginKan? Maksudku, apakah Suhu juga makan daging?"
"Tentu saja, aku tidak pantang makan apa pun!"
Kata tosu itu sambll tertawa.
Thian Lee membawa uang dan guci arak itu, lalu berjalan cepat menuju ke utara.
Benar saja, tak lama kemudian tibalah dia di sebuah dusun nelayan.
Dari para nelayan itu dia dapat membeli dua ekor ikan yang sebesar betisnya, juga garam dan bumbu, lalu dari sebuah kedai minuman kecil, dia membeli arak dan mengisi guci gurunya dengan arak sampai penuh.
Kemudian, bergegas dia kembali ke kuil itu.
Gurunya girang sekali melihat gucinya penuh arak.
Dia mencicipi araknya dan mengangguk-angguk.
"Arak yang cukup baik! Dan apa yang kau beli itu? Bagai-mana memasaknya Kita tidak mempunyai prabot masak Tosu itu mencela.
"Teecu sudah membeli garam dan bumbu, dan teecu akan membakar ikan ini menjadi ikan panggang."
"Bagus kalau begitu. Engkau pandai juga! Cepat, perutku sudah lapar."
Thian Lee mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun.
Kemudian Liok-te Lo-mo memberinya sebuah pisau belati dan dia lalu membersihkan dua ekor ikan itu, memberinya bumbu dan garam dan tak lama kemudian dia sudah memanggang ikan itu di atas api.
Bau sedap ikan panggang itu membuat perut Liok-te Lo-mo berkeruyuk dan diam-diam dia merasa sehang kepada Thian Lee.
Muridnya itu agaknya seorang anak yang pintar, rajin dan penuh akal.
Setelah dua ekor ikan itu matang, Liok-te Lo-mo makan daglng ikan sambil minum arak.
Dua ekor ikan itu cukup besar sehingga dagingnya cukup untuk dimakan mereka berdua.
Kemudian inereka mengaso.
Tosu itu tidak merebahkan diri, melainkan duduk bersila dan agaknya dia tidur sambil bersila.
Thian Lee tidur sannbil rebah miring, akan tetapi hanya setengah tidur karena dla harus menjaga agar api unggun tidak padam dengan selalu menambahkan kayu kering.
Udara amat dingin-nya dan hanya dengan adanya api unggun yang besar maka hawa menjadi hangat dan nyaman.
Lewat tengah malam, ketika Thian Lee kembali bangun untuk menambah kayu kering pada api unggun sehinggc api unggun membesar kembali, tiba-tiba dia melihat beberapa bayangan orang berkelebat di luar kuil.
Thlan Lee menjadi kaget dan heran sekali.
Apakah para jagoan itu mengejarnya sampai ke tempat ini?
Dia menoleh kepada suhunya.
Suhunya masih duduk bersila kembali memejamkan matanya.
Tidurkah suhunya?
Dia tldak berani mengganggunya walaupun ingin dia memberi tahu tentang bayangan-bayangan orang itu.
Dia tidak rebah tidur lagi melainkan duduk di dekat api unggun, memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Tiba-tiba sesosok bayangan hitam meloncat dan tahu-tahu di depan pintu kuil itu berdiri seorang yang berpakaiarrB serba hitam dan mengenakan kedok hitam dari kain pula.
Tangan kanannya memegang sebatang golok yang berkilauan.
Melihat ini, Thian Lee cepat mengambil sebatang kayu yang ujungnya sedang terbakar menyala, lalu dia melontarkan kayu berapi itu ke arah orang berpakaian serba hitam itu.
Akan tetapi orang itu menangkis dengan goloknya dan kayu berapi itu terbacok putus dan apinya padam.
Lalu orang itu menggerakkantangan kirinya.
Sinar-sinar hitam menyambar ke arah tubuh Liok-te Lo-mo yang masih duduk bersila.
Tosu itu yangt nampaknya tidur sambil bersila, tiba-tiba menggerakkan kedua tangan dan dia sudah menangkap empat batang paku dalam jepitan jari-jari tangannya!
Kemudian, tanpa menengok sedikit pun, dia menggerakkan kedua tangannya berulang kali.
Thian Lee melihat bayangan hitam di depan pintu itu terpelanti.ng dan ter-dengar suara gedobrakan dan mengaduh di jendela yang terbuka dan di pintu belakang.
Kiranya suhunya telah menyerang, bukan saja orang yang berada di depan pintu, akan tetapi agaknya ada pula orang-orang lain di pintu belakang dan jendela.
Setelah itu lalu sunyi, hanya terdengar langkah kaki yang berat meninggalkan kuil.
jendela yang terbuka dan di pintu belakang.
Kiranya suhunya telah menyerang, bukan saja orang yang berada di depan pintu, akan tetapi agaknya ada pula orang-orang lain di pintu belakang dan jendela.
Setelah itu lalu sunyi, hanya terdengar langkah kaki yang berat meninggalkan kuil.
Thian Lee menoleh dan melihat suhunya masih seperti tadi, bersila dengan kedua mata terpejam.
Bukan main rasa kagum dan heran rasa hati Thian Lee.
Dalam keadaan bersila dengan mata terpejam, tanpa menggerakkan kaki, hanya dengan gerakan tangan, suhunya telah berhasil mengusir beberapa orang musuh yang agaknya datang untuk melakukan pembunuhan!
Malam itu lewat tanpa ada peristiwa apa-apa lagi.
Liok-te Lo-mo membuka matanya dan bangkit berdiri, seperti tidak pernah terjadi sesuatu semalam.
"Di belakang kuil itu terdapat sebuah sumber mata air, kita dapat membersihkan tubuh di sana, Thian Lee,"
Kata Liok-te Lo-mo sambil melangkahkan kakinya menuju ke belakang kuil diikuti oleh Thian Lee.
Air itu jernih dan dinginnya bukan main.
Sampai menggigil Thian Lee ketika mencuci mukanya di situ.
Akan tetapi gurunya mandi dan membenamkan kepala di dalam air yang merupakan kolam kecil itu.
Sedikit pun gurunya tidak kelihatan kedinginan.
Mereka menlnggalkan mata air itu dalam keadaan segar.
Setelah mereka berjalan lagi, Thian Lee menggendong buntalan pakaiannya yang disatukan dengan pakaian bekal milik gurunya, anak itu memberanikan dirinya bertanya.
"Suhu peristiwa semalam itu...."
"Hemm, hanya beberapa ekor anjing yang mengganggu. Akan tetapi kepalanya tentu akan muncul. Engkau diam sajalah dan jangan melakukan sesuatu kalau mereka muncul nanti. Bagimu, nnereka itu berbahaya sekali."
Thian Lee tidak berani bertanya lagi akan tetapi jantunp'iya berdebar tegang.
Agaknya dengan menjadi murid tosu ini, dia telah terjun ke dalam keadaan yang penuh dengan pertentangan dan bahaya seperti yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Gurunya ini orang sakti yang aneh, wataknya sukar ditebak.
Yang jelas dia lihai sekali seperti telah dibuktikan ketika menghajar para tukang pukul dusun Nam-kiang-jung dan ketika semalam mengusir penyerang-penyerang gelap tanpa membuka mata dan tanpa menggerakkan tubuh, hanya kedua tangannya saja yang seperti menangkap sinar-sinar hitam lalu bergerak melontarkan sesuatu ke segala jurusan!
Diam-diam Thian Lee merasa gembira sekali.
Dia tentu akan banyak menyaksikan pertandingan yang seru dan menyaksikan lebih lanjut kelihaian gurunya itu.
Mereka mendaki sebuah bukit.
Ketika tiba di lereng bukit, di sebuah tanah datar penuh batu gunung yang besar-besar, tiba-tiba saja muncul dua puluh orang lebih yang dipimpin oleh seorang yang tubuhnya pendek gemuk sehingga nampaknya bulat.
Dua puluh lebih orang itu berpakaian serba hitam, akan tetapi tidak memakai kedok kain seperti orang semalaman.
Pemimpin mereka itu pun mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya yang dikuncir tebal itu digulung ke atas dan ditutup dengan topi kain, juga hitam.
Orang ini berusia kurang lebih lima puluh tahun dan semua ang-gauta tubuh orang ini nampaknya bulat.
Matanya, hidungnya, mukanya dan mulutnya, semua serba bundar dan tubuhnya yang pendek gemuk itu nampak kuat sekali.
Di punggungnya yang pendek tergantung sebatang pedang.
"Liok-te Lo-mo!"
Bentak Si Gemuk Pendek.
"Akhirnya kami dapat menemukan kau di sini. Tentu engkau tahu mengapa kami menghadangmu!"
"Siancai, kiranya kalian dari Hek-i-pang (Perkumpulan Baju Hitam) yang semalam mencoba untuk mengganggu pinto di kuil tua? Ha-ha-ha, agaknya kalian sudah bosan hidup."
"Liok-te Lo-mo, engkau telah mem-bunuh adikku dan merampas sekantung emas darinya. Aku, Hek-i-pangcu (Ketua Hek-i-pang) Lauw Ki Seng tidak dapat membiarkannya begitu saja. Engkau harus menyerahkan kembali sekantung emas itu berikut nyawamu!"
"Ha-ha-ha, seperti engkau tidak tahu saja peraturan di dunia kang-ouw. Dalam memperebutkan sesuatu, dia yang lebih kuat tentu yang menang dan berhak mendapatkan. Ha-ha-ha, engkau hendak merebut sekantung emas itu? Boleh, boleh!"
Liok-te Lo-mo lalu mengambil sebuah kantung dari dalam buntalan yang digendong Thian Lee lalu melemparkan kantung itu ke atas tanah.
"Inikah yang hendak kaurebut? Boleh, asal engkau dapat mengalahkan pinto, seperti peraturan dalam dunia kang-ouw kita. Nah, siapa yang berani mengambil kantung itu, ambillah!"
Melihat kantung yang dijadikan rebutan itu, Lauw Ki Seng terbelalak.
Lalu dia memberi isarat anggukan kepala kepada dua orang pembantunya.
Dua orang pembantu itu lalu menubruk maju untuk mengamil kantung itu sedangkan Lauw Ki Seng mencabut pedangnya lalu menyerang Liok-te Lo-mo!
Entah dari mana datangnya, mungkin diambilnya dari balik jubahnya yang pan-jang, tahu-tahu Liok-te Lo-mo telah memegang sebatang pedang dan pedang itu menangkis bacokan Lauw Ki Seng dengan amat kerasnya sehingga pedang Ketua Hek-i-pang itu terpental.
Dan pada saat itu juga, kaki Liok-te Lo-mo bergerak dua kali dan dua orang pembantu yang menubruk untuk merampas kantung emas itu terjengkang ke belakang.
"Ha-ha-ha, tidak mudah untuk merampas kantung ini dari tangan pinto!"
Kata Liok-te Lo-mo sambil tertawa dan dia sudah menyimpan kantung itu ke dalam saku jubahnya yang lebar, kemudian sekali tangannya bergerak, pedangnya juga sudah lenyap ke balik jubahnya.
Akan tetapi, Liok-te Lo-mo tidak memperhitungkan kecerdikan ketua Hek-i-pang itu.
Dengan isaratnya, tiba-tiba empat orang anak buahnya telah menu-bruk dan menangkap Thian Lee.
Bocah ini berusaha melawan, memukul dan menendang, akan tetapi dia tidak mampu melawan empat orang yang bertubuh kuat itu dan dia segera dapat diringkus.
Kini Si Pendek Gendut itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Liok-te Lo-mo Aku tidak percaya bahwa hanya untuk sekantung emas engkau akan nnembiarkan muridmu ini terbunuh. Serahkan kantung emas itu kalau engkau tidak menghendaki muridmu kupenggal lehernya'"
Thian Lee yang sudah diringkus mengharapkan agar suhunya menyerahkan?
sekantung emas itu untuk menyelamatkannya, demikian pula Lauw Ki Seng sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat memaksa musuhnya menyerahkan sekantung emas itu kembali kepadanya.
Kantung emas itu adalah hasil pencurian adiknya yang terkenal sebagai seorang pencuri yang pandai.
Akan tetapi pada malam itu, setelah berhasil mencuri emas, adiknya bertemu dengan Liok-te Lo-mo dan dalam perebutan emas itu adiknya terluka parah dan sebelum mati adiknya memberi tahu bahwa yang melu-kainya dan merampas kantung emasnya adalah Liok-te Lomo.
Kini dia yakin tosu itu akan mengembalikan emas itu demi menyelamatkan muridnya.
Akan tetapi baik Thian Lee maupun Ketua Hek-i-pang itu kecelik dan mereka memandang heran ketika melihat tosu itu tertawa mengejek.
"Heh-heh-heh, seratus kali kalian boleh membunuh anak itu, pinto tidak merasa rugi apa pun! Akan tetapi karena kalian telah berani mengancan pinto, kalau anak itu dibunuh, kaliar semua akan mampus di tanganku, tak seorang pun akan tinggal hidup! Hek-pangcu, engkau adalah seorang gagah, terkenal sebagai Ketua Hek-i-pang, apakah engkau tidak memiliki keberanian untuk mem-perebutkan kantung emas ini dengan pinto? Mari kita bertanding satu lawan satu dan pinto akan menghadapimu dengan tangan kosong. Kalau pinto kalah, pinto akan menyerahkan sekantung emas ini, sebaliknya kalau engkau yang kalah, engkau harus melepaskan anak itu. Nah, beranikah engkau menyambut tantanganku!"
Ditantang di depan para anak buahnya seperti itu, tentu saja Lauw Ki Seng sebagai Ketua Hek-i-pang merasa malu dan tidak enak kalau menolak.
Menolak beracti mengaku kalah dan menyatakan takut, padahal dla pun terkenal sebagai seorang jagoan yang selama beberapa tahun menjadi Ketua Hek-i-pang belum pernah bertemu tanding.
Apalagi tosu itu menantangnya untuk melawan dengan tangan kosong!
Betapa sombongnya!
Dan dia memiliki ilmu pedang yang disebut Liu-kong-kiam-sut (Ilmu Pedang Sinar Kilat)!
"Baik, dan engkau tidak akan mampu ingkar janji!"
Bentaknya dan tiba-tiba saja dia sudah menyerang dengan pedangnya.
Serangan ini saja sudah menunjukkan bahwa Ketua Hek-ipang itu ada-lah seorang yang licik.
Serangan men-dadak tanpa peringatan lagi seperti layaknya orang yang mengadu ilmu silat.
Biasanya dalam suatu pertandingan silat, dia yang mulal menyerang akan menge-luarkan ucapan yang sifatnya memper-ingatkan dan sebagai pembukaan serangan.
Akan tetapi Lauw Ki Seng langsung menyerang menyambung katakatanya dan serangannya memang dahsyat.
Sesuai dengan nama ilmu pedangnya "Sinar Kilat!"
Pedang itu menyambar dengan cepat sekali sehingga yang nampak hanya si-narnya saja yang berkilat.
Kilat itu me-nyambar ke arah dada Liok-te Lo-mo.
Akan tetapi jauh sebelum Ketua Hek-i-pang itu menyerang, Liok-te Lo-mo su-dah dapat menduganya dan sejak tadi dia sudah waspada.
Maka begitu sinar pedang itu menyambar dengan tusukan ke arah dadanya, dia dapat mengelak dengan miringkan tubuhnya dan dengan tangan terbuka dia menepiskan pedang itu se-hingga tusukan itu luput.
Tangan yang menepis pedang itu berputar menjadi cengkeraman ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, sedangkan ta-ngan kiri mencengkeram dari atas ke arah kepala Lauw Ki Seng.
Gerakan ini serba otomatis dan cepatnya bukan main.
Lauw Ki Seng merasa terkejut sekali.
Tadi dia menyerang, malah kini berbalik dia menghadapi serangan pada pergelangan tangan dan kepalanya!
"Heiiit....!"
Dia membentak sambil anelompat jauh ke belakang sambil memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya.
Kemudian, dia menerjang ke depan lagi dengan penyerangan yang lebih dahsyat.
Kini pedang itu menyambar-nyambar untuk membabat ke arah lawan.
Namun, dengan ringannya tubuh tosu itu bergerak dan berkelebatan di antara sambaran sinar pedang.
Gerakan tosu itu sedemikian cepatnya sehingga betapapun ketua Hek-i-pang itu mempercepat serangannya, pedangnya tldak pernah dapat menyentuh tubuh tosu itu.
Bahkan tosu itu dapat pula membalas serangan yang tidak kalah hebatnya.
Setiap tamparan atau tendangan tosu itu, kalau mengenai sasaran, tentu akan merobohkan lawan.
Namun, dengan ringannya tubuh tosu itu bergerak dan berkelebatan di antara sambaran sinar pedang.
Gerakan tosu itu sedemikian cepatnya sehingga betapapun ketua Hek-i-pang itu mempercepat serangannya, pedangnya tldak pernah dapat menyentuh tubuh tosu itu.
Bahkan tosu itu dapat pula membalas serangan yang tidak kalah hebatnya.
Setiap tamparan atau tendangan tosu itu, kalau mengenai sasaran, tentu akan merobohkan lawan.
Mulailah Ketua Hek-i-pang menjadi terkejut sekali.
Pantas saja adiknya tewas di tangan tosu ini, kiranya memang tosu ini seorang yang amat tangguh.
Dia mengeluarkan seruan keras lagi.
"Aaaattt...."
Dan tubuhnya merendah, pedangnya menyambar ke arah kedua kaki tosu itu, Liok-te Lo-mo meloncat ke atas membiarkan pedang lewat di bawah kakinya.
Ketika kedua kakinyaa turun, lawan telah menyerangnya dengantusukan pedang ke arah dadanya.
Dia mengelak ke samping sambil memutar tubuh dan tusukan itu kembali telah mengejarnya dengan tusukan berikutnya, demikian cepatnya pedang bergerak sehingga tosu itu tidak sempat lagi nam-paknya untuk menghindarkan diri.
Akan tetapi dia masih memiringkan tubuhnya dan pedang itu lewat di dekat dada.
Liok-te Lo-mo menggerakkan lengannya menJepit pedang itu di bawah ketiaknya dan tangannya terjulur ke depan seperti seekor ular, tahu-tahu jari tangannya mencengkeram ke arah tangan Jawan yang memegang pedang!
"Ahhh....!"
Lauw Ki Seng terkejutt sekali.
Tadi ketika pedangnya terjepit lengan dan dada, dia sudah girang sekal!
karena pedangnya yang tajam tentu dapat, dia gerakan untuk melukai dada dan lengan itu, akan tetapi tidak disangka-sangkanya tangan lawan telah menyan-cam tangannya yang memegang pedang.
Untuk menolong tangannya, tangan kirinya menangkisan tetapi pada saat itu, tangan kiri Liok-te Lo-mo telah memukulnya dengan tangan terbuka.
Desss....!"
Dorongan tangan kiri itu sempat mengenai dada Lauw Ki Seng.
Ketua Hek-i-pang ini merasa dadanya seperti dihantam palu godam yang amat kuat.
Dia terlempar ke belakang dan terpaksa melepaskan pedangnya yang tertinggal dalam jepitan ketiak lawan!
Dia jatuh terjengkang dengan keras dan dadanya terasa sesak sehingga napasnya terengah-engah.
Semua anak buahnya memandang terbelalak seolah tidak percaya akan pandang mata sendiri.
Pimpinan mereka yang mereka banggakan itu, dengan ber-senjata pedang, kalah sedemikian mudah-nya oleh tosu itu yang bertangan kosong!
Lauw Ki Seng juga tahu diri.
Dia maklum bahwa lawannya itu lihai sekali dan tosu itu pun tidak peduli kalau dia membunuh muridnya.
Akan tetapi kalau dia membunuh muridnya yang tidak ada gunanya itu, tentu mereka semua akan dibasmi dan dibunuh oleh tosu itu dan inl bukan sekedar gertakan kosong.
Dengan ilmu kepandaiannya yang setinggi itu, bukan hal yang mustahil kalau mereka semua akan dapat terbunuh olehnya.
"Lepaskan anak itu!"
Katanya dengan napas terengah. Para anak buahnya membebaskan Thian Lee yang segera menghampiri suhunya.
"Heh-heh-heh, engkau baru mengenal kelihaianku'"
Kata Liok-te Lo-mo sambil memegang pedang yang tadi terjepit di ketiaknya. Kemudian sambil melontarkan pedang itu kepada pemiliknya dia berkata.
"Nih, pinto kembalikan pedangmu!"
Lontaran itu kuat sekali dan pedang meluncur bagaikan anak panah cepatnya.
Lauw Ki Seng yang masih terengah-engah itu mencoba untuk menghindarkan diri-nya, namun tetap saja pahanya ter usuk pedangnya sendiri sampai tembus dan dia pun roboh lagi' Darah mengaJir dari pa-hanya membasahi celananya dan ketua itu merintih kesakitan.
"Heh-heh-ha-ha-ha!"
Liok-te Lo-mo tertawa bergelak, kemudian berkata kepada Thian Lee.
"Mari kita pergi!"
Dan dia pun melenggang seenaknya tanpa menengok lagi, diikuti oleh Thian Lee dan beiakang.
Anak ini merasa semakin tidak senang kepada gurunya.
Gurunya telah membunuhi banyak tukang pukul dusun dengan kejam, kemudian merampas perahu nelayan tua yang tidak berdaya.
Dan sekarang, setelah menang adu kepandalan, dia masih melukai Ketua Hek-i-pang yang sudah kalah.
Gurunya ini sungguh seorang yang kejam dan tidak mempedulikan penderitaan orang lain, terlalu mengandalkan kepandaian sendiri.
Padahal, sejak kecil dalam benak Thian Lee telah ditanamkan watak dan sifat pendekar oleh ibunya.
Dia tidak boleh membenci, dan menentang kejahatan bukan karena benci kepada orangnya.
Kebencian akan menimbulkan tindakan kejam.
Apalagi dia tidak boleh merampas hak milik lain orang.
Dan Liok-te Lo-mo ini sudah merampas perahu nelayan, bahkan merampas pula sekantung emas dari orang-orang Hek-i-pang.
Guru ma-cam apa yang dia temukan ini?
Akan tetapi karena tosu itu telah menyelamat-kan nyawanya, maka mau tidak mau dia haruslah menyatakan terima kasihnya de-ngan menaatinya.
Pula, dia ingin memetik ilmu-ilmu dari tosu ini, bukan mencontoh kejahatan dan kekejamannya.
Akhirnya perjalanan mereka sampai Nam-bun-tiang, sebuah kota di sebelah barat kota Pao-ting dan berada di kaki Pegunungan Tai-hang-san.
Tosu tu berhenti di kota ini untuk berbelanjd.
Beberapa guci besar arak, daging kering dan terigu, juga bumbu-bumbu masak.
Setelah itu, dia mengajak Thian Lee untuk mendaki Bukit Tai-hang-san melalui lereng-lereng yang terjal.
Thian Lee kelelahan karena dia diharuskan memikul barang-barang belanjaan tadi.
Setelah tiba di sebuah iereng yang rata, di mana terdapat sebuah bangunan yang menyendiri, tosu itu mengajaknya berhenti di depan rumah itu.
Liok-te Lo-mo membu-ka pintu rumah dan ternyata itulah ru-mah tinggalnya.
Sebuah pondok yang lumayan besarnya, dan ternyata lengkap dengan prabot rumah tangga yang serba baru.
Nah, itulah rumah pinto.
Thian Lee, rumah ini sudah lama pinto tinggalkan.
Lihat kotor sekali.
Hayo cepat bersihkan pymah ini agar enak ditempati."
Thian Lee menanti perintah gurunya.
Dari pagi itu sampai sore, sehari penuh ia membersihkan rumah itu, mengebut, menggosok dan menyapu sehingga rumah.
itu kini nampak bersih semua dinding dan lantainya, juga perabot-perabotnya.
Senanglah hati Liok-te Lo-mo melihat kerajinan muridnya yang tentu akan menjadi pembantu yang amat berguna baginya.
Dan memang demikianlah.
Setiap hari Thian Lee bekerja keras untuk keperluan suhunya.
Membersihkan rumah dan halaman, menyirami tanaman bunga dan tanaman obat, mencuci pakaian, memasak, pendeknya semua pekerjaan dia la-kukan.
Dan tak pernah dia mengeluh dalam mengerjakan semua itu.
Hal ini agaknya memuaskan hati Thian-te Lo-mo dan mulailah dia merasa suka kepada Thian Lee.
Dia mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat tinggi yang dikua-sainya dan lebih girang lagi hatinya melihat betapa anak berusia sepuluh tahun itu memiliki dasar yang kuat dan baik sekali.
Ketika musim salju tiba, Thian Lee melihat betapa suhunya suka merendam kedua lengan sampai ke siku ke dalam air yang membeku menjadi air es sampai berjam-jam!
Setelah itu, suhunya memanggang kedua lengannya itu di atas api unggun besar yang panas sekali!
Dan untuk permulaan, dia pun diharuskan merendam kedua lengannya ke dalam air membeku.
Tentu saja dia merasa tersiksa sekali.
Rasa dingin menyusup sampai ke tulang sumsum, sampai ke hatinya, dan setelah dia hampir tidak kuat bertahan, baru gurunya membolehkan dan membebaskan tangannya dari selimutan air es itu.
Akan tetapi setelah setiap hati di-latih, sebelum musim salju lewat, Thian Lee mulai dapat menahannya dengan me-nyalurkan hawa dari tian-tan (bawah pusar) ke kedua lengannya sehingga biarpun direndam es, kedua lengan terasa hangat dan dia dapat bertahan sampai berjam-jam!
Di luar tahunya, dia telah mulai melatih diri dengan sinkang yang amat kuat.
Pada tahun ke dua, dia mulai dilatih memanggang kedua lengan di atas api unggun.
Mula-mula memang tak tertahankan, kulit kedua lengannya sampai menjadi kemerahan.
Akan tetapi sebelum kulitnya melepuh, gurunya sudah menghentikannya dan memarami kedua lengannya dengan daun obat.
Setelah dilatih terus menerus, mulailah dia dapat melawan hawa panas itu dengan saluran sin-kang yang membuat kedua lengannya dingin seperti kalau direndam dalam es.
Dan mulailah dia dapat bertahan memanggang kedua lengannya sampai berjam-jam di atas api!
Selama dua tahun menjadi murid Liok-te Lo-mo, dia hanya diajar langkah-langkah dan kuda-kuda sebagai dasar ilmu silat, dan latihan sinkang menggunakan es dan api itu.
Sama sekali belum diajar ilmu silat.
Karena itu, apabila ingin melatih silat, Thian Lee melatih ilmu silat yang pernah diajarkan ibunya, yaitu ilmu silat mendiang ayahnya yang menjadi tokoh Kun-lun-pai.
Dan dia mendapat kenyataan betapa ilmu silat Kun-lun-pai ini sekarang dapat dia mainkan dengan lebih mantap.
Gerakannya mantap dan kuat.
Pada suatu sore setelah selesai semua pekerjaannya, seperti biasa Thian Lee berlatih silat di pekarangan belakang, bersilat dengan ilmu silat Kun-lun-pai.
Yang dimainkannya itu adalah Hui-eng-kun (Silat Elang Terbang) yang gerakannya gagah dan kedua lengan seolah men-jadi sayap burung elang, dipentang ke kanan kiri dan setiap pukulan seperti tamparan sayap burung itu, setiap tendangan seperti cakaran burung elang.
Ilmu silat ini hanya terdiri dari delapan belas jurus dan semua jurus telah di-malnkan Thian Lee dengan bersungguh-sungguh.
Pukulan dan tendangan anak berusia dua belas tahun ini mendatangkan angin menyambar-nyambar, dan ini adalah berkat sin-kang yang dimilikinya ketika melatih diri dengan air beku dan api.
Baru saja dia rnenyelesaikan jurus ter-akhir, tiba-tiba terdengar suara orang di belakangnya.
"Hemmm, bagus. Cuma herannya mengapa Liok-te mengajarkan silat Kun-lun-pai kepada muridnya? Tidak tahu malu sekali tosu kurus kering itu, mencuri ilmu Kun-lun-pai dan diajarkan kepada orang lain."
Thian Lee terkejut dan cepat memutar tubuhnya.
Ternyata di situ telah berdiri seorang kakek yang usianya tentu tidak lebih muda dari Liok-te Lo-mo.
Apalagi melihat kakek yang rambutnya dibiarkan panjang riap-riapan itu sudah tidak mempunyai gigi lagi dan juga rambut, jenggot dan kumisnya sudah putih semua.
Dan kakek itu memegang sebatang tongkat bambu kuning yang dipergu-nakannya untuk menopang tubuhnya yang agak bongkok.
"Saya tidak menerima ilmu silat Kun-lun-pai ini dari Suhu Liok-te Lo-mo,"
Kata Thian Lee.
"Locianpwe ini siapakah dan ada kepe.rluan apakah datang ke sini?"
Kakek itu tidak menjawab melainkan memandang Thian Lee dengan penuh per-hatian. Kemudian dia berkata.
"Anak baik, coba engkau pertahankan dirimu dari seranganku ini!"
Dan tanpa banyak cakap.
lagi tosu itu lalu menyerang de-ngan tongkat bambunya!
Tongkat itu menusuk ke arah mata Thian Lee.
Thian Lee terkejut sekali dan tentu saja dia tidak ingin matanya ditusuk.
Dia lalu menggerakkan tubuhnya dan otomatis dia bersilat dengan ilmu silat Elang Terbang yang dikuasainya.
Tangan kirinya menangkis tongkat.
Akan tetapi tongkat itu gerakannya cepat sekali, begitu ditangkis tangan kiri tahu-tahu sudah menyodok ke arah perut!
Thian Lee menangkis lagi berturut-turut tongkat itu menyerang bertubi-tubi, Thian Lee sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang karena tongkat itu bergerak cepat sekali.
Thian Lee tidak sempat mengelak, maka dia nnenggunakan kedua tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
Dan kakek itu memang agaknya hendak menguji tenaga anak itu karena setiap menyerang dia pun menambah tenaga dalam serangannya tongkatnya.
Serangan itu semakin cepat dan kuat dan akhirnya, tanpa dapat ditangkis lagi, sebuah totokan ujung tongkat mengenai pundak Thian Lee dan anak itu pun tidak mampu bergerak lagi!
"Ha-ha-ha, bagus, bagus sekali.
Engkau anak yang baik, tulang dan otot yang baik!"
Kakek itu berkata dan sekali tongkatnya bergerak, dia baskan Thian Lee dari totokan. Thian Lee memandang dengan matanya yang mencorong.
"Locianpwe siapa dan apa maksud Locianpwe menyerang saya? Ada keperluan apakah Locianpwe datang ke sini?"
"Aku hanya kebetulan lewat dan me-lihat engkau berlatih. Siapa namamu, Nak?"
"Nama saya Song Thian Lee."
"Engkau murid Liok-te Lo-mo?"
"Benar."
"Akan tetapi belum diajar silat. Sudah berapa lama engkau menjadi muridnya?"
"Baru dua tahun."
"Sudah dua tahun belum diajar silat, padahal engkau memiliki bakat yang baik sekali. Lebih baik engkau turut denganku saja, Thian Lee dan engkau akan kuajari ilmu silat yang lebih baik daripada yang dapat diajarkan Liok-te Lo-mo Kepadamu."
Thian Lee mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.
"Saya tidak ingin ikut Loclanpwe, saya lebih senang menjadi murid Suhu Liok-te Lo-mo."
"Ha-ha, sekali aku mengeluarkan keputusan, siapa dapat mengubahnya? Engkau harus menjadi muridku, Thian Lee."
"Hemm, perlahan dulu, Jeng-ciang-kwi (Setan Seribu Tangan)!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dan muncullah Liok-te Lo-mo di tempat itu.
"Berani engkau hendak merampas muridku?"
"Ha-ha, Liok-te Lo-mo. Tidak perlu' murid diperebutkan. Akan tetapi anak ini memiliki bakat yang baik, pantas menerima guru terpandai!"
"Jadi engkau anggap aku ini guru yang kurang pandai?"
"Aku melihat muridmu ini memainkan ilmu silat Kun-lun-pai. Itu membuktikan bahwa engkau tidak becus mengajarnya, inaka biarkan aku yang menjadi gurunya."
"Jeng-ciang-kwi, engkau menganggap dirimu lebih berharga menjadi guru daripada pinto?"
"Tentu saja! Boleh kau uji!"
"Baik. Sekarang begini saja. Kita mengadu llmu kepandaian dan siapa yang menang dialah yang berhak menjadi guru Thian Lee!"
Kata Liok-te Lo-mo yang memiliki watak tidak mau kalah oleh siapa pun, sungguhpun dia tahu bahwa kakek dl depannya ini adalah seorang sakti yang lihai sekali.
Sudah lama dia mengenal kakek yang berjuluk Setan Se-Cibu Tangan itu, akan tetapi belum pernah mencoba ilmu kepandaiannya, maka kini dia mendapatkan jalan untuk mencobanya.
"Bagus! Memang aku pun ingin mengusulkan demikian. Mari kita main-main sebentar, Liok-te Lo-mo!"
Kata kakek yang berambut putih itu sambil melin-tangkan tongkat bambunya di depan dada.
Llok-te Lo-mo menggerakkan tangan ke balik jubahnya dan nampaklah dia memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Begitu melihat Liok-te Lo-rno, memegang pedang, kakek yang berjuluk Jeng-ciang-kwi itu sudah menyerangkan tong-katnya dengan dahsyat sekali.
Tongkat itu menotok belasan jalan darah di sebelah depan tubuh Liok-tek Lo-mo secara bertubi-tubi.
Melihat serangan yang cepat dan dahsyat ini, Lo-mo memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya.
Berkah-kali tongkat bertemu pednng.
Anehnya, tongkat yang hanya terbuat dari bambu kuning itu tidak patah bertemu dengan pedang yang demikian tajamnya, walaupun mengeluarkan suara nyaring.
Ini saja sudah menunjukkan betapa lihainya Setan Seribu Tangan itu.
Thian Lee kini terbelalak menonton pertandingan itu.
Sekali ini gurunya bertemu tanding sehingga pertandingan itu tidak seperti yang pernah ditontonnya, di mana suhunya dengan amat mudahnya merobohkan lawan-lawannya.
Tongkat dan pedang itu seolah telah berubah menjadi banyak sekali sehingga pening dia yang menjadi penonton.
Bahkan tak lama kemudian, pedang dan tongkat lenyap bentuknya dan yang nampak olehnya hanya gulungan dua macam sinar, putih dan ku-ning, bagaikan dua ekor naga yang bermain-main di angkasa.
Bahkan tubuh dua orang itu pun tidak nampak lagl, terbungkus bleh dua gulungan sinar itu.
Pertandingan itu memang seru bukan main.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi.
Mereka itu saling serang dan mencoba untuk merobohkan lawan dengan serangan jurus-jurus terampuh.
Namun semua serangan dapat dihindarkan lawan sehingga pertandingan berjalan sampai dua ratus jurus belym Juga ada yang menang atau kalah.
Akan tetapi akhirnya ternyata bahwa kakek itu sedikit lebih unggul dalam hal kecepatan gerak dibandingkan Liok-te Lo-mo dan lewat dua ratus jurus, mulai-lah dia mendesak.
Bagi Thian Lee yang menonton pertandingan itu sebagai saksi tunggal, dia hanya melihat betapa gulungan sinar kuning tadi menjadi lebih lebar dan mnlai menggulung sinar putih.
Tiba-tiba sinar putih yang mengecil itu mencuat ke belakang dan narnpaklah gurunya berdiri dengan pedang dilintangkan depan dada.
Wajahnya nampcik agak pucat dan jubah di bagian dadanya terobek lebar.
Sinar kuning pun lenyap dan nampaklah kakek berambut putih itu berdiri sambil tersenyum.
"Bagaimana, Lo-mo?"
Tanya kakek itu sambil bertopang pada tortgkat bambunya.
"Jeng-ciang-kwi, engkau semakin tua semakin hebat saja. Hari ini terpaksa aku mengakui keungguianmu dan engkau boieh membawa Thian Lee bersamamu."
"Ha-ha-ha, bagus! Itu tandanya bahwa engkau benar-benar mengakui keunggul-anku. Hayo, Thian Lee, bawa pakaianmu. Engkau ikut bersamaku!"
"Tidak! Tadi sudah saya katakan ke-padamu, Locianpwe, bahwa saya tetap akan ikut Suhu dan tidak mau berguru kepadamu,"
Kata Thian Lee dan sikap anak ini mengejutkan kedua orang tua itu.
Mereka tidak tahu bahwa Thian Lee bersikap demikian sesuai dengan ajaran mendiang ibunya yang selalu berpesan agar dia menjadi seorang yang setia.
Kesetiaan adalah ciri khas seorang ga-gah, demikian pesan ibunya.
Tanpa kese-tiaan, maka orang akan menjadi pengecut.
Demi kesetiaan dia harus berani menghadapi apa pun, karena mati dalam kesetiaan lebih berharga daripada hidup tidak memiliki kesetiaan.
Inilah sebabnya dia menolak keras menjadi murid kakek rambut putih karena dengan demikian dia harus meninggalkan suhunya yang selama ini bersikap baik kepadanya.
Gurunya pernah menyelamatkan nyawanya, sudah mendidiknya, bagaimana mungkin dia meninggalkannya begitu saja.
untuk ikut Jeng-ciangkwi walaupun kakek rambut putih itu, menang berebutan dengan suhunya?
"Engkau tidak mau ikut?
Heh, sekali aku memutuskannya, engkau pun tidak bisa mengubahnya!"
Tiba-tiba tongkat itu meluncur dan tubuh Thian Lee sudah tidak mampu bergerak lagi.
Dia tentu sudah roboh dengan lemas kala kakek rambut putih itu tidak cepat me.iyambar tubuhnya dan memanggul di atas pundak-n.ya..
Kemudian dia pergi dengan langkah lebar tanpa menoleh lagi kepada Liok-te Lo-mo yang memandang dengan muka pucat.
Liok-te Lo-mo merasa kehilangan sekali setelah Thian Lee dibawa pergi.
Akan tetapi untuk mencegah tidak mungkin.
Selain dia sudah mengadakan perjanjian dengan Jeng-ciangkwi dan dia kalah, dia pun merasa tidak mampu merebut Thian Lee dari tangan kakek sakti itu.
Sementara itu, Thian Lee sama sekali tidak berdaya dalam pondongan kakek berambut putih.
Dan ia memejamkan mata ketika melihat betapa kakek itu berlari cepat bagaikan terbang saja.
Angin bertiup di mukanya dan rambut putih kakek itu pun menyapu-nyapu pipinya.
Tahulah dia bahwa dia tidak mungkin lagi menolak karena dalam tangan kakek rambut putih ini, dia tidak berdaya sama sekali.
Bagaimanapun juga dia tidak melanggar kesetiaannya, apalagi karena Liok-te Lo-mo juga tidak mencegahnya dibawa pergi Jeng-ciang-kwi.
"Locianpwe, ke mana engkau hendak membawa aku?"
Tanya Thian Lee ketika dia terbebas dari totokan. Mereka telah pergi jauh sekali dari tempat tinggal Liok-te Lo-mo.
"Eh, engkau telah terbebas? Bagus, ini menunjukkan bahwa tubuhmu memiliki kekuatan,"
Kata kakek itu lalu meni.runkan Thian Lee. Akan tetapi kakek itu nenge-rutkan alisnya.
"Wah, engkau sama sekali tidak membawa bekal pakaian. Salahmu sendiri, engkau tidak mau kubawa...."
"Locianpwe...."
"Tolol! Sebut aku Suhu! Aku adalah gurumu, engkau boleh mau atau tidak. Aku gurumu dan engkau harus menyebut aku suhu, atau aku akan menotokmu lagi sampai engkau tidak bisa bangkit kembali untuk selamanya."
Thian Lee seorang anak yang cerdik.
Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang lebih aneh, mungkin lebih kejam dibandlngkan Liok-te Lo-mo.
Dia belum ingin mati sedemikian mudahnya.
Oleh larena itu, dia mengalah.
"Suhu, mengapa Suhu berkeras mengambil murid padaku? Dan ke mana Suhu hendak membawaku?" .
"Pendeknya, ke manapun engkau ikut saja. Aku akan membawamu menonton keramaian di puncak Luliang-san. Semua tokoh kang-ouw akan hadir di sana untuk memilih seorang bengcu."
"Apakah bengcu itu, Suhu?"
Thian Lee tertarik mendengar bahwa tokoh-tokoh kang-ouw akan berkumpul dan dia akan diajak menonton keramain itu.
"Bengcu adalah pimpinan dunia kang-ouw, dan mungkin akan diadakan pertandingan silat di sana untuk menentukan siapa yang akan dipilih menjadi bengcu. Sudah, tidak perlu banyak bertanya, sekarang kita pergi mencari pakalan untuk-mu dan juga untukku."
Mereka memasuki sebuah kota dan kakek itu ternyata memiliki banyak uang emas dan perak.
Dia membeli beberapa potong pakaian untuk Thian Lee dan diri-nya sendiri, membungkus dalam sebuah buntalan dan menyuruh Thian Lee meng-gendong buntalan itu.
Thian Lee merasa agak lega hatinya.
Setidaknya, gurunya yang baru ini tidak mencuri seperti yang dilakukan Liok-te Lo-mo.
Setelah makan dan membeli pula makanan kering untuk bekal di perjalanan, Jeng-ciang-kwi mengajak Thian Lee mulai melakukan perjalanan ke barat, menuju Luliang-san.
Sudah menjadi kebiasaan di dunia kang-ouw pada waktu itu bahwa setiap lima tahun sekali diadakan pemilihan bengcu, yaitu seorang tokoh kang-ouw yang dihormati dan dipandang tinggi, oleh seluruh dunia kang-ouw.
Tokoh bengcu ini memang diperlukan oleh mereka, bukan saja untuk menjadi pemimpin dalam se-mua urusan yang terjadi mengenai tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan juga untuk mewakili seluruh tokoh kang-ouw dalam urusan menghadapi pemerintah.
Kalau pemerintah hendak mengumumkan sesuatu kepada para tokoh kang-ouw atau per-kumpulan persilatan, pemerintah hanya menghubungi bengcu ini saja dan bengcu ini yang akan menyebar-luaskan pengumuman itu.
Juga kalau ada persoalan timbul di antara warga dunia kang-ouw sendiri, untuk mendapatkan keadilan dan keputusan, maka orang-orang itu pergi melapor kepada bengcu.
Maka, teramat penting kedudukan bengcu ini bagi dunia kang-ouw.
Pada waktu itu, kedudukan bengcu lowong karena bengcu yang tadinya me-megang pimpinan, yaitu Ouw Hui Sian, seorang pendekar tua sakti yang terkenal dengan julukan Si Golok Sakti telah me-ninggal dunia karena usia tua.
Maka para tokoh kang-ouw lalu mengadakan perun-dingan untuk mengadakan pertemuan di puncak Luliang-san, untuk memilih seorang bengcu baru.
Pada hari yang ditentukan itu, ber-bondong-bondonR para wakll dari perkum-pulanperkumpulan silat, juga tokoh-tokoh perorangan, mendaki Gunung Luliang-san untuk menghadiri pemilihan bengcu.
Bahkan dari pihak pemerintah juga da-tang seorang wakil yang terkenal karena panglima yang datang ini dahulunya juga seorang pendekar dan terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang ahli pedang bernama Gui Tiong In yang berjuluk Hok-liongkiam (Pedang Penaluk Naga).
Gui-ciangkun datang bersama tiga orang pembantunya.
Karena pertemuan ini untuk memilih bengcu baru merupakan pertemuan amat penting, maka banyak sekali yang datang hadir.
Wakil dari Siauw-lim-pai, Go-bi-pai dan Khong-tong-pai juga hadir, belum lagi dari peirkumpulan-perkumpulan orang gagah dan perguruan-perguruan silat, namun diwakili tokoh-tokoh mereka.
Para pendekar perorangan juga banyak yang hadir sehingga jumlah mereka yang ber-kumpul di situ tidak kurang dari seratus orang!
Setelah semua orang berkumpuj, dengan suara bulat mereka menunjuk Gui-ciangkun untuk menjadi ketua pemilihan bengcu.
Semua orang setuju karena bia-sanya, dalam pemilihan bengcu, sering kali terjadi perebutan dan pertentangan.
Dengan adanya orang dari pemerintah yang memimpin pemilihan, diharapkan tidak akan terjadi pertentangan dan pe-milihan akan berjalan tertib tanpa tindak kekerasan dari pihak mana pun.
Gui-ciangkun yang mengerti akan pentingnya pemilihan ini bagi pemerintahnya, setuju dan demikianlah, Gui-ciangkun bersama para pimpinan perkumpulan yang diang-eap sebagai kaum tua yang berkedudukan lebih tinggi, duduk di panggung, sedang-kan para undangan lain duduk di bawah panggung.
Gui-ciangkun bangkit berdiri dan setelah memberi hormat kepada para locian-pwe yang duduk di panggung kehormatan, dia lalu berkata kepada hadirin dengan suara lantang.
"Cu-wi (Saudara Sekalian) yang hadir, terima kasih atas kepercaya-an yang diberikan kepada saya untuk memimpin pemilihan ini. Untuk memben kebebasan memilih kepada Cu-wi, seperti biasanya, sebaiknya kalau Cu-wi memilih calon masing-masing untuk kemudian dari sekian calon itu kini memilih bengcu berdasarkan suara terbanyak. Silakan Cu-wi mengajukan nama calon masing-masing."
Semua yang hadir kini sibuk bicara sendiri, agaknya untuk merundingkan de-ngan kelompok masing-masing siapa yang akan mereka angkat sebagai calon.
Akan tetapi wakil dari Bu-tongpai, yaitu Tong Bu Leng yang bertubuh tinggi besar bangkit berdiri dan terdengar suaranya yang lantang.
"Gui-ciangkun, kami dari Bu-tong-pai berpendapat bahwa kalau terlalu banyak diajukan calon merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Biasanya dalam pemilihan yang lalu, makin banyak calon, menjadi semakin kacau karena terjadi perebutan dan persaingan. Oleh karena itu, kami usulkan agar mengang-kat satu dua orang calon saja yang be-nar-benar pantas untuk menjadi bengcu, kemudian dilakukan pemilihan bengcu!"
"Saya setuju sekali dengan usul Tong-enghiong dari Bu-tong-pai. Bagaimana pendapat Cu-wi yang hadir? Setujukah dengan usul itu untuk mengangkat atau menunjuk satu dua orang calon saja agar pemilihan bengcu menjadi lebih sederhana dan cepat, tidak sampai menimbulkan perebutan dan persaingan?"
Serentak semua orang menyatakan pendapatoya.
"Setuju....!"
Kemudian terdengar suara nyaring seorang tosu yang bangkit berdiri dari tempat duduknya di panggung kehormat-an-"Pinto merasa setuju sekali.
Memang tidak semestinya kalau setiap golongan memilih calon bengcu dari kalangan sendiri sehingga terjadi perebutan dan persaingan.
Kita semua memilih bengcu bukan untuk kepentingan kelompok sen-diri, melainkan untuk kepentingang dunia kang-ouw pada umumnya.
Pinto mengu-sulkan agar Ina Yang Sengcu dari Kun-lun-pai ditunjuk sebagai calon.
Beliau pantas menjadi bengcu karena kedudukan beliau sebagai Ketua Kun-lun-pai yang merupakan partai besar dan kuat, juga mengingat pengalaman beliau yang sudah berusia lanjut serta kesaktian beliau yang tiada bandingannya.
Bagaimana pendapat Cu-wi?
Setujukah kalau kita ajukan Im Yang Sengcu sebagai calon?"
Yang bicara ini adalah seorang tosu yang bertubuh tinggi kurus.
Dia adalah Ciong Jin Tosu, berusia lima puluh tahun, tokoh Kong-thong-pai yang rnewakili perkumpulannya hadir di situ dan mendapat tempat duduk di panggung kehormatan pula.
Yang ditunjuk itu adalah Im Yang Sengcu, Ketua Kun-lun-pai yang kebetul-an hadir pula di situ.
Dia seorang tosu berusia enam puluh lima tahun, bertubuh sedang, bersikap tenang dan anggun de-ngan jenggot panjang putih.
Kumis dan rambutnya masih hitam akan tetapi yang mencolok adalah alisnya yang sudah putih semua.
Karena alisnya itulah dia men-dapat sebutan Pek-bi Lo-jin (Orang Tua Beralis Putih).
Ketua Kun-lun-pai ini ter-kenal sebagai seorang yang gagah perka-sa dan bijaksana, ilmu silatnya tinggi dan dia disegani oleh seluruh tokoh kang-ouw.
Mendengar dirinya ditunjuk sebagai calon bengcu, Im Yang Sengcu bangkit berdiri dari kursinya dan cepat dia mem-beri hormat kepada semua orang dengan mengangkat kedua tangan di depan dada-nya.
"Siancai, siancai....!"
Suaranya halus lembut namun dapat menembus kegaduh-an itu sehingga semua orang berdiam diri untuk mendengarkan.
Tadinya semua orang ribut menyatakan dukungan mereka dan persetujuan mereka dengan Jiangkat-nya Im Yang Sengcu menjadi calon.
Kini setelah tosu itu bicara, mereka semua diam mendengarkan penuh perhatian.
"Terlma kasih atas kepercayaan Cu-wi menunjuk pinto menjadi calon. Akan tetapi sungguh pinto merasa tidak sang-gup. Kedudukan bengcu adalah kedudukan yang istimewa pentingnya, sedangkan pinto adalah seorang ketua perkumpulan yang sudah sibuk sekali dengan tugas pinto dalam perkumpulan. Juga pinto merasa tidak sanggup mewakili dunia kang-ouw untuk menghadapi urusan besar. Karena itu, pinto usulkan agar mengang-kat sahabat pinto, yaitu Hui Sian Hwesio yang kini hadir di sini. Dia adalah wakil Ketua Siauwlim-pai, selain cakap dan memiliki tingkat kepandaian tinggi, juga kita semua mengetahui bahwa hubungan antara Siauw-lim-pai dan pemerintah amatlah dekatnya. Dengan mengangkat wakil Siauw-lim-pai sebagai bengcu, ma-ka semua urusan dengan pemerintah akan dapat diselesaikan dengan baik. Bagai-mana pendapat Cu-wi, setujukah dengan usul pinto ini?"
Hui Sian Hwesio yang tinggi gendut seperti Jilaihud itu juga seorang tokoh yang amat terkenal.
Biarpun dia hanya wakil ketua, akan tetapi untuk urusan luar, Ketua Siauw-lim-pai sendir., tidak pernah maju.
Hui Sian Hwesio inilah yang mewakili ketua maju dalam setiap urusan keluar, sehingga namanya lebih terkenal.
Dan pada waktu itu, memang Agama Buddha lebih diterima permerintah Mancu daripada Agama To, maka semua orang yang mendengar ucapan Im Yang Sengcu itu serentak menyatakan setuju.
Hui Sian kini bangkit berdiri dan mu-kanya yang penuh senyum lebar itu amat menyenangkan hati orang yang ikut-ikut tersenyum.
"Omitohud! Sungguh elok sekali. Lima tahun yang lalu, ketika diadakan pemilihan bengcu di Thai-san, masih terjadi persaingan dan perebutan, seolah kedudukan bengcu merupakan kedudukan yang berharga untuk dimiliki, seolah anenjadi sumber rejeki sarana nama besar. Akan tetapi apa yang pinceng lihat sekarang? Yang ditunjuk malah tidak mau menerima dan mengoperkan kepeda orang lain!"
Kalau begitu, harap Losuhu tidak mengoperkan pula kepada orang lain!"
Terdengar teriakan dan semua orang tertawa sambil berteriak-teriak menyetujui ucapan itu.
"Omitohud, bukan maksud pinceng untuk mengelak. Pinceng hanya menjelaskan keadaan saja. Keadaan yang berbeda sekarang ini di mana tidak mendapat perebutan dan persaingan, menunjukkan dengan jelas bahwa yang hadir semua ini adalah para pendekar yang tidak haus akan kedudukan. Dahulu, kalau diadakan pemilihan bengcu, golongan sesat selalu ikut mencampuri dan merekalah yahg berdaya upaya keras untuk merebut kedudukan bengcu agar kepentingan golongan mereka terjamin. Sekarang keadaan lain lagi karena itu kita harus memilih dengan bijaksana jangan sampai salah pilih. Apa yang diucapkan oleh sahabat Im Yang Sengcu tadi memang betul sekali. Kedudukan bengcu amat penting untuk kita semua, karena itu kita harus memilih seorang yang benar-benar tepatj untuk kedudukan itu."
Losuhu, yang paling tepat untuk menjadi bengcu!"
Terdengar seseorang berteriak dan teriakan ini diikuti pula suara setuju. Hui Sian Hwesio mengangkat tangan ke atas dan semua orang diam.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 17
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 4