Ceritasilat Novel Online

Gelang Kemala 6

Eps 6 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi Lee Cin seolah memiliki mata di belakang tubuhnya dan ia melihat gerakan lawan ini.

la memutar tubuhnya membalik dan nampak sinar menyambar dari tangannya.

"Crlnggg... tranggg....!"

Dua kali pedang tipis di tangan Lee Cin, menangkis serangan yang bertubi-tubl itu.

Entah kapan gadis itu mencabut pedang, tidak ada yang dapat melihatnya.

Sebetulnya ia tidak pernah mencabut pedang karena pedangnya itu demikian tipis dan lentur sehingga tadi dilingkarkan di pinggangnya, tertutup oleh baju.

Bertubi-tubi Thian-lok-kwi menyerang dengan pedangnya, seolah tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bernapas.

Akan tetapi ternyata Lee Cin memiliki gerakan yang cepat bukan main seperti seekor burung walet tubuhnya menyelinap ke sana ke mari di antara gulungan sinar pedang lawan, mengelak dan kadang menangkis dengan pedang tipisnya.

Belasan jurus kakek itu menyerang, narnun semua serangannya tidak berhasil karena selain dapat dielakkan juga kadang dapat ditangkis oleh Lee Cin yang bergerak dengan lincah bukan main.

Sekarang barulah Thian-lo-kwi terke-jut.

Tadi ia memandang rendah gadis itu dan baru sekarang dia tahu bahwa gadis itu benar-benar lihai sekali.

Selain gerak-annya lincah, juga memiliki tenaga sin-kang yang mampu menandingi tenaganya, selain itu gerakan pedangnya juga aneh sekali, kadang pedang itu bergerak seperti seekor ular.

Setelah belasan jurus serangannya gagal, Thian-lo-kwi meloncat ke belakang untuk dapat melihat ilmu pedang gadis itu karena kalau dia sudah mengenal llmu pedangnya tentu akan lebih mudah menundukkannya.

Dengan pengalamannya yang banyak dalam dunia Kang-ouw, dia mengharapkan dapat mengenal ilmu pedang gadis itu.

Melihat lawannya melompat mundur, Lee Cin juga berhenti dan mengejek.

"Kenapa tikus kurus? Engkau sudah mulai takut, ya?"

"Keparat, siapa takut padamu? Dari tadi engkau hanya mengelak dan menangkis saja. Balaslah menyerang kalau engkau berani!"

Memang dalam ilmu pedang terdapat kenyataan bahwa siapa menyerang berarti membuka pertahanan-nya.

Dia menghendaki gadis itu menyerang, bukan saja untuk mengenal ilmu pedangnya, akan tetapi juga agar gadis itu membuka pertahanannya yang demikian kuat sehingga dia dapat "memasuki"

Pertahanan yang terbuka itu.

"Eh, engkau ingin diserang? Jangan salahkan aku kalau engkau menjadi repot kemudian roboh oleh rangkaian seranganku!"

"Jangan banyak cerewet. Maju dan seranglah!"

Tantang Thian-lo-kwi, dalam hatinya girang kalau gadis itu berani menyerangnya dan dia sudah bersiap-siap dengan pedangnya.

"Sambut seranganku!"

Bentak Lee Cin dan begitu ia menggerakkan pedang, nampak gulungan sinar merah!

Ternyata pedangnya itu memiliki warna dasar kemerahan dan ketika digerakkan, nampak sinar merah bergulung-gulung.

Akan tetapi sinar itu tidak menyerang ke atas, melainkan seperti seekor ular, gulungan sinar Itu menyerang dari bawah ke arah kedua kaki lawan!

Hal ini sama sekali tidak disangka-sangka oleh Thian-lo-kwi sehingga dia terkejut bukan main.

Gadis itu menyerangnya persis seekor ular yang menyerang kedua kakinya!

Dia tahu bahwa entah apa ilmu pedang gadis itu, akan tetapi tentu berdasarkan gerakan seekor ular.

Dan memang dugaannya benar.

Lee Cin memainkan ilmu pedangnya yang disebut Angcoa-kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Merah), yaitu ilmu pedang yang mengambil dasar dari gerakan Ang-hwa-coa milik gurunya.

Juga pedang yang tadi dililitkan ke perut itu adalah Ang-coa-kiam (Pedang Ular Merah).

Dan seperti Ang-hwa-coa, gerakan pedang itu dapat menyusur ke bawah tanah menyerang kaki, dan dapat pula melentik seperti terbang menyerang ke atas!

Thian-lo-kwi menjadi repot sekali menghadapi penyerangan ke arah kedua kakinya itu.

Dia melompat-lompat seperti monyet menari untuk menghindarkan kedua kakinya dari sabetan dan tusukan pedang.

Setelah lewat lirna jurus, tiba-tiba saja pedang merah itu melenting ke atas dan menusuk kearah perut!

"Tranggg....!"

Pedang di tangan Thian lo-kwi menangkis, akan tetapi pedang merah itu melentik lagi sekali ini menusuk lebih ke atas lagi mengarah tenggorokan lawan.

Thian-lokwi kembali menggerakkan pedang untuk menangkis akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang kiranya ketika pedangnya menusuk ke arah tenggorokan tadi, secepat kilat tangan kiri gadis itu sudah menyelonong ke bawah dan menotok ke arah dada Thian-lokwi.

Biarpun Thian-lo-kwi sudah melindungl dadanya dengan sin-kang dan dia tidak sampai terluka atau tertotok jalan darahnya, namun tetap saja dia terhuyung ke belakang.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Lee Cin untuk mengelebatkan pedangnya dan tahu-tahu pedang itu sudah menggores lengan kanan lawan sehingga berdarah dan pedangnya terlepas dari genggaman!

Tepuk tangan riuh terdengar dari tiga orang muda yang rnenonton pertandingan itu, menyambut kemenangan Lee Cin.

Gadis ini menggunakan pedangnya untuk mencokel pedang lawan dan sekali tangannya digerakkan, pedang Thian-lo-kwi itu terbang ke arah pemiliknya dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.

"Cringgg....!"

Sebatang pedang di ta-ngan Bu-tek Lo-kwi menangkis pedang itu, bukan sekedar menangkis karena pedang itu kini meluncur kembali ke arah Lee Cin dengan kecepatan yang lebih kuat lagi.

Lee Cin menangkis dengan pedangnya.

"Cringg... cappp!"

Pedang itu runtuh ke bawah dan menancap di tanah sannpai ke gagangnya dan bergoyang-goyang sedikit, tanda betapa kuatnya tenaga lontaran tadi.

Diam-dlam Lee Cin terkejut.

Tak disangkanya Si Pendek Gendut kayak katak itu sedemikian kuatnya sehingga ketika ia rnenangkis tadi, tangannya dirasakan tergetar hebat!

Akan tetapi gadis ini memang tidak pernah mengenal arti takut.

la menudingkan pedang merahnya ke arah muka Bu-tek Lo-kwi sambil memaki.

"Babi gendut, kau...."

Akan tetapi klni Thian Lee maju dan dia memotong makian Lee Cin tadi.

"Lee Cin, engkau sudah cukup bersenang-se-nang. Kini giliranku, jangan main borong sendiri'"

Lee Cin menoleh dan tertawa.

"Hik-hik, engkau juga ingin berpesta, Thiart Lee? Boleh, aku pun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kelihaianmu. Akan tetapi hati-hati, babi gendut itu lihai sekali. Kalau engkau kewalahan, berikan saja kepadaku'."

Ucapan Lee Cin ini nadanya seolah ia memastikan bahwa tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandalan Thian Lee. la lalu mundur dan disambut pujian oleh Hwe Li.

"Adik Lee Cin, engkau hebat sekali, aku kagum kepadamu!"

Kata Ceng Ceng memuji.

"Adik Lee Cin, kenapa engkau membiarkan Lee-twako menghadapi Si Gendut itu? Dia tentu akan mati konyol!"

Kata Hwe Li yang masih memandang rendah kepada Thian Lee.

"Ehm, engkau pikir begitu, Enci Hwe Li? .

"Ya, dia hu tidak becus apa-apa, hanya mengenal sedikit ilmu tongkat yang pernah kuajarkan,"

Kata pula Hwe Li.

"Hwe Li!"

Bentak Souw Can.

"Jangan banyak ribut, lebih baik cepat pinjamkan pedangmu kepada Thian Lee."

Akan tetapi Thian Lee tersenyum kepada Hwe Li dan Souw Can.

"Tidak perlu, Supek. Aku tidak berani mengotori pedang Li-moi, biarlah saya meminjam pedang ini saja . Thian Lee yang tidak membawa pedangnya sendiri karena merasa tidak perlu mempergunakan Jit-goat Sin-kiam, segera mencabut pedang milik Thian-lo-kwi yang tadi menancap di atas tanah sampai ke gagangnya. Dia menjepit gagang pedang itu dengan jafi telunjuk dan jari tengah tangan kirinya, lalu menarik pedang itu dengan mudah seperti menarik sebatang sumpit saja! Melihat ini, Hwe Li memandang terbelalak. Juga Siong Ek rnerasa heran sekali. Hanya Ceng Ceng yang tetap tenang karena sejak semula gadis ini memang sudah menduga bahwa Thian Lee nnenyembunyikan kepandaian yang tinggi. Dengan pedang itu di tangan, Thian Lee lalu menghadang Bu-tek Lo-kwl sambil berkata.

"Bu-tek Lo-kwi, aku sudah siap menghadapimu. Mulailah!"

"Bagus, lihat seranganku!"

Bu-tek Lo-kwi membentak.

Watak kakek gendut ini tidak seperti para sutenya.

Dia tidak berani memandang rendah walaupun lawannya hanya seorang pemuda.

Dia tahu bahwa kalau orang sudah berani rnelawannya, maka orang itu tentulah memiliki kepandaian yang berarti.

Maka begitu menyerang, dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

Diserang dengan bacokan pedang yang amat dahsyat sehingga terdengar bercuitan itu, Thian Lee cepat menangkis dengan pedang pinjamannya.

"Tranggg....!"

Terdengar suara nyaring sekali ketika kedua pedang bertemu dan ...

pedang di tangan Thian Lee menjadi patah ujungnya sepanjang sepertlga pedang.

Yang tinggal di tangannya hanya pedang buntung, tinggal dua pertiga saja panjangnya!

Melihat ini, Souw Can cepat berseru.

"Thian Lee, kaupakai pedangku!"

Juga Lee Cin berseru khawatir.

"Ini boleh kaupakai pedangku, Thian Lee."

Akan tetapi Thian Lee tersenyum menengok kepada mereka.

"Tidak usah, sisa pedang ini masih cukup untuk melayaninya,"

Katanya sambil mengacungkan pedang buntung itu.

Kini Bu-tek Lo-kwi tersenyum lebar sehingga mukanya yang bulat itu makin mirip muka kanak-kanak.

Dia menganggap pemuda itu sombong tidak mau mengganti pedang, dan menguntungkan baginya.

Pedangnya sendiri adalah sebatang pedang pusaka, dan pedang lawan kalah ampuh, bahkan sudah buntung tinggal dua pertiga lagi.

Akan tetapi pemuda itu tidak mau berganti pedang, berarti ingin mati konyol!

"Engkau tidak mau berganti pedang?

Bagus, kalau begitu bersiaplah untuk mati di tanganku!"

Bentaknya dan dia me-nyerang semakin ganas.

Sekali inl, Thian Lee memainkan Jit-goat Kiam-sut dan pedang buntungnya membuat lingkaran-lingkaran aneh yang membingungkan lawan.

Begitu banyak lingkaran bergulunggulung dan Bu-tek Lo-kwi tldak tahu lingkaran mana yang rnengandung pedang yang sebenarnya.

Dia begitu kaget sampai permainan pecang-nya menjadi kacau.

Selama hidupnya belum pernah dia melihat ilmu pedang yang seperti ini, padahal dia sudah me-ngenal semua ilmu pedang dari aliran persilatan yang mana pun.

Dalam bingungnya, Bu-tek Lo-kwi menyerang dengan dahsyat, akan tetapi Thian Lee selalu dapat menghindarkart diri dengan baik.

Kadang saja dia menangkis dan sekali inl, kalau dia menangkis, dia mengerahkan sin-kang pada pedangnya sehingga pedang lawan tergetar hebat dan pedang buntungnya tidak menjadi rusak.

Setelah beberapa kali beradu pedang, kakek gendut pendek itu menjadi semakin kaget.

Ternyata pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa sekali dan marripu menggetarkan seluruh tengan kanannya setiap kali pedang mereka bertemu Souw Can memandang dengan amat kagum.

Dia sendiri seorang ahli pedang Kun-lun-pai, akan tetapi dia pun tidak dapat mengenal ilmu pedang yang dimainkan Thian Lee, ilmu pedang yang membentuk lingkaran-lingkaran itu.

Yang makin membingungkan bagi Bu-tek Lo-kwi adalah betapa lingkaran-lingkaran sinar pedang itu terkadang membawa hawa yang amat panas, dan terkadang berubah menjadi dingin sejuk.

Dia tidak tahu bahwa memang begitulah pembawaan Jit-goat Kiam-sut (Ilmu Pedang Matahari Bulan), didorong oleh kekuatan Thian-te Sin-kang (Tenaga Sakti Langit Bumi).

Pertempuran itu menjadi semakin seru dan hebat, akan tetapi segera lingkaran-lingkaran itu menjadi semakin lebar, sedangkan sinar pedang yang dimainkan Bu-tek Lo-kwi menjadi semakin sempit.

Melihat Ini, biarpun Hwe Li dan Siong Ek tidak dapat mengikuti benar, mereka berdua menjadi semakin terheran-heran.

Tak terasa lagi, keduanya saling pandang dengan muka pucat.

Baru sekaranglah mereka mengetahui betapa selama ini mereka memandang rendah kepada Thian Lee yang sesungguhnya jauh lebih lihai dari mereka, bahkan leblh lihai dari ayah dan guru mereka!

Teringat apa yang pernah mereka katakan dan lakukan terhadap Thian Lee, ingin rasanya Hwe Li menangis saking menyesalnya.

Dan te telah melatih Thian Lee dengan sedikit ilmu tongkat yang tidak ada artinya sama sekali!

Dan betapa ia bersikap angkuh kepada pemuda itu yang liang-gapnya lemah dan bahkan tolol!

Tidak demikian dengan Ceng Ceng."

Gadis ini memandang dengan gembira bukan main.

Hal yang selama ini sudah diduganya ternyata benar adanya.

Thian toe seorang pendekar yang sakti!

Souw-pangcu sendiri sampai menggeleng-geleng kepala saking kagumnya, Biarpun dia sudah mendengar sendiri riwayat Thian Lee yang pernah dilatih oleh datuk-datuk yang sakti, akan tetapi tidak pernah disangkanya selihai itu.

Dia tahu benar bahwa ilmu pedang Bu-tek Lo-kwi itu hebat sekali.

Dia sendiri tidak rnungkin mampu menandinginya.

Akan p'tetapi Thian Lee hanya menghadapinya dengan pedang buntung dan belum sampai dua puluh jurus pedang buntung itu telah mengurung pedang kakek itu dan mendesaknya dengan hebat.

Mudah diduga bahwa tak lama kemudian kakek itu akan kalah!

Bu-tek Lo-kwi juga menyadari hal ini.

Makin lama, desakan pedang buntung itu terasa semakin berat saja.

Akhirnya dia menjadi nekat.

Ketika pedang buntung mendesak dengan bacokan ke arah lehernya, dia mengerahkan seluruh tenaganya menangkis.

Akan tetapi, ternyata tangkisan itu luput.

Dia lupa bahwa pedang itu telah buntung dan tangkisannya mengenai bagian yang sudah buntung se'hingga luput dan pedang lawan terus mengancam lehernya.

Dia sudah memejamkan matanya karena tidak mungkin dapat menghindarkan lagi dari bacokan pedang pada lehernya.

Akan tetapi pada detik terakhir, ketika pedang buntung sudah hampir menyentuh leher, pedang itu melenceng ke bawah dan tidak jadi membacok leher, melainkan membabat ke arah pinggang.

"Brettt....!"

Dan Bu-tek Lo-kw yang gendut itu menjadi kedodoran karena tali celananya putus! Dengan tangan kiri dia menahan celananya agar jangan sampai merosot turun dan terdengar Lee Cin tertawa terkekeh-kekeh.

"Heiii, babi gendut, jangan telanjang di sini! Tak tahu malu!"

Teriaknya sambil tertawa-tawa.

Mendengar ini, Hwe Li, Siong Ek dan Ceng Ceng ikut tertawa.

Juga para piauwsu ikut pula tertawa.

Thian Lee sudah mundur dan membuang pedang buntungnya ke atas tanah?

Bu-tek Lo-kwi maklum bahwa dia telah dikalahkan.

Kalau lawannya meng-hendaki, bukan kolor celananya yang putus, melainkan lehernya.

Pada saat itu, melihat betapa pihaknya kalah semua, Coat-beng-kwi yang menjadi penasaran dan marah, mengan-dalkan anak buahnya yang banyak dan dia berteriak.

"Serbuuuu....""

Tiga puluh lebih anak buahnya mencabut golok dan pedang dan menyerbu, akan tetapi pada saat itU, dari balik pintu gerbang menyambar puluhan batang anak panah seperti hujan!

Para anak buah perampok menjadi panik banyak yang terkena anak panah dan roboh.

Melihat ini, tanpa dapat dicegah lagi, para perampok dan pimpinan mereka lalu me-larikan diri tungganglanggang, disoraki oleh anak buah Kim-liong-pang.

Akan tetapi sampai di pintu gerbang kota Pao-ting, kawanan gerombolan perampok itu telah dihadang oleh pasukan pemerintah yang segera menangkapi me-reka.

Karena jumlah pasukan itu besar dan semangat para perampok itu sudah hilang, mereka lalu menyerahkan tiga orang pimpinan mereka menyerah, tidak berani melawan pasukan pemerintah.

Semua ini adalah berkat Lai Siong Ek yang telah melapor kepada ayahnya dan memesan agar selagi para perarnpok ber-tanding dengan Kim-liong-pang, pasukan tidak mencampuri.

Akan tetapi setelah para perampok hendak meninggalkan Pao-ting, barulah pasukan turun tangan menangkapi mereka.

Semua perampok lalu diseret ke pengadilan dan menerima hlst-kuman berat.

Sementara itu, di Kim-liong-pang, Song-pangcu mengadakan pesta kernenangan.

Pujian-pujian diberikan kepada Thian Lee dan Lee Cin sehingga Thian Lee merasa rikuh sekali.

Bahkan Hwe Li juga bersikap manis kepadanya.

"Aih, Lee-twako, kenapa sih engkau merupu kami semua? Pura-pura tidak pandai silat sehingga aku sempat rneng-ajarkan ilmu tongkat segala! Ah, kalau ingat, membikin kami semua merasa malu saja,"

Kata Hwe Li sambil tersenyum.

"Aku juga merasa malu!"

Kata Siong Ek.

"Pantas saja ketika tempo hari kita bertanding, engkau dengan mudah dapat mengalahkan aku, dan aku mengira hal itu kebetulan saja, Thian Lee! Ternyata engkau mempermainkan kami!"

"Adik Hwe Li, dan engkau Slong Ek, sebaiknya lain kali kalian tidak terlalu memandang rendah kepada orang lain,"

Kata Thian Lee singkat dan dua orahg itu mengangguk. Memang tidak perlu bicara panjang lebar karena mereka telah bersikap keterlaluan kepada Thian Lee ketika itu. Ceng Ceng berkata.

"Sebetulnya sudah lama aku menduga, sejak Lee-ko rnengalahkan Coat-beng-kwi tempo hari, bahwa Lee-ko memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi karena pandainya Lee-ko menyim-pan rahasia dan bersikap ketololan, aku sendiri sampai merasa ragu."

"Engkau memang cerdlk, Ceng-moi,"

Thian Lee memuji dan Ceng Ceng memandang dengan matanya yang bersinar-sinar dan wajahnya berubah agak kemerahan.

Setelah makan minum untuk meraya-kan kemenangan gemilang itu, Thian Lee dan Lee Cin lalu berpamit kepada Song-pangcu.

"Thian Lee, kuharap engkau suka kembali tinggal di sini. Biarlah piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) akan kuserahkan kepadamu untuk kau urus .

"Terima kasih, Supek. Aku masih suka merantau. Kelak kalau sudah kenyang merantau dan meluaskan pengalaman, tentu saya akan datang kepada Supek."

Souw Can tidak memaksa menahan Thian Lee, akan tetapi ketika dia memberi bekal uang kepada Thian Lee dan ditolak pemuda itu, dia memaksa.

"Thian Lee, dalam perjalananmu engkau tentu membutuhkan uang untuk biaya, karena itu aku tidak ingin engkau menolak pemberianku,"

Katanya.

Melihat ini Lee Cin tertawa, Hi-hik, aku sih tidak pernah membawa bekal uang.

Di mana-mana terdapat uang, di rumah hartawan atau bangsawan.

Berapa saja yang kuhendaki, dapat kuambil dari mereka."

Souw-pangcu mengerutkan alisnya.

Tentu saja dia tidak setuju dengar cara yang ditempuh gadis itu.

Akan tetapi mengingat bahwa gadis itu murid Ang-tok Mo-li, dia pun tidak berani mencela hanya berkata kepada Thian Lee.

"Terimalah, Thian Lee. Aku akan kecewa sekali kalau engkau menolaknya."

Terpaksa Thian Lee menerima pemberian uang itu sarnbil menghaturkan terima kasih.

Kemudian dia menggendong buntalannya dan menunggang kuda bersama Lee Cin, diantar oleh seluruh keluarga Song sampai di luar pintu Kim-liong-pang.

Jelas nampak wajah duka dari Ceng Ceng ketika Thian Lee berpamit kepadanya.

Setelah mereka meninggalkan Kim-liong-pang, Lee Cin berkata.

"Thian Lee, Ceng Ceng itu bersedih ketika kau tinggalkan."

"Eh, mengapa? Mengapa harus bersedih? Aku tidak melihatnya...."

"Mengapa? Hemm, mana ada pencuri mau mengaku?"

"Pencuri? Aku mencuri apa? Tanya Thian Lee bingung.

"Mencuri hati, tahu? Hati Ceng Ceng telah kaucuri dan engkau masih berpura-pura tidak tahu mengapa ia bersedih hati ketika kau meninggalkannya?"

"Ihh! Aku tidak mengerti maksudrnu? Apa sih yang kau maksudkan?"

Lee Cin tertawa.

"Ceng Ceng mencintamu, engkau telah menjatuhkan hatinya!"

"Ah, masa? Aku... aku tidak tahu dan aku tidak percaya. la hanya teman biasa bagiku."

"Mungkin bagimu, akan tetapi baginya tidak. Bukan sekedar teman biasa, melainkan teman istimewa. Heran orang ini, dicinta orang masih tidak merasa! Alangkah tololnya."

Wajah Thian Lee berubah merah.

"Aku sungguh tidak tahu, aku memang tolol!"

Dan dia membedal kudanya keluar dari kota Pao-ting menuju ke kota raja.

Lee Cin tertawa dan mengejarnya.

Mereka tiba di jalan yang sepi.

Thian Lee menghentikan kudanya.

Lee Cin juga menghentikan kudanya.

"Mengapa berhenti?"

"Aku ingin bicara denganmu. Mari kita berhenti dulu. Tempat ini sunyi. Kita tidak akan terganggu."

Dia lalu meloncat turun dari kudanya. Lee Cin juga meloncat turun. Mereka membiarkan kuda mereka beristirahat dan makan rumput.

"Engkau mau bicara apa denganku?"

"Tentang kita. Tentang gelang kemala itu, tetang pertunangan kita yang sudah ditentukan oleh orang tua kita masing-masing,"

Kata Thian Lee.

"Hemm,"

Lee Cin memandang dan tersenyum mengejek.

"Dan menurut pen-dapatmu sendiri bagaimana?"

"Aku tidak tahu. Dahulu, ketika aku nnendapat pesan dari Ibu, aku merasa tidak setuju sekali. Sejak kecil dijodohkan dan aku belum melihat dengan siapa aku dijodohkan. Akan tetapi sekarang aku telah bertemu-dengan prangnya dan aku...."

"Engkau bagaimana?"

"Aku menjadi bingung! Orang tua kita sudah tidak ada lagi, baik aku dan engkau keduanya sudah yatim piatu. Yang ada hanya sepasang gelang kemala ini yang menjadi saksi. Kalau pendapatmu bagaimana?"

"Thian Lee mengakulah terus terang. Andaikata-engkau mendapatkan bahwa pemilik gelang kemala, tunanganmu itu, seorang yang buruk rupa misalnya, dan engkau tidak suka, apakah engkau juga hendak mengawininya sesuai dengan pe-san orang tuamu?"

"Kalau aku tidak suka kepadanya, kurasa tidak!"

Jawab Thian Lee sejujurnya.

Memang dia harus jujur.

Kalau ternyata gadis yang ditunangkan dengannya itu buruk rupa atau buruk watak sehingga dia tidak suka kepadanya, tentu saja dia tidak mau menikah dengannya.

Tentu saja kalau orangnya Lee Cin lain lagi persoalannya.

Lee Cin cantik jelita, lihai ilmu silatnya, dan selama ini dia tahu gadis itu orang yang baik, walaupun murid seorang tokoh wanita sesat!

"Jadi engkau hanya mau berjodoh dengan orang yang kaucinta, begitu maksudmu?"

"Benar, dan tentu saja lebih baik lagi kalau ia juga menjadi gadis yang dijodohkan orang tuaku denganku."

"Hemm, kalau begitu. Baiklah aku berterus terang kepadamu, Thian Lee. Aku tidak mau disangka merebut tunangan orang! Ketahuilah, gelang kemala ini bukan milikku."

"Ahhh....?"

Thian Lee berseru dan ada nada kecewa dalam seruannya.

"Aku merampasnya dari tangan seorang pencuri, seorang pengemis yang hendak menjual gelang ini."

"Lalu siapa pemilik gelang itu?"

"Aku tidak tahu sama sekali."

"Kalau begitu, Lee Cin. Serahkan gelang kemala itu kembali kepadaku. Gelang itu tadinya memang milik ibuku."

Lee Cin bangkit dari duduknya, me-megang gelang di lengan kirinya sambil tersenyum mengejek.

"Enak saja kau bicara, Thian Lee. Gelang ini kurampas dari tangan pengemis itu dengan kepandaian dan kekerasan. Kalau engkau ingin memilikinya, engkau pun harus dapat merampas dari tanganku dengan kepan-daian dan kekerasan."

"Sudahlah, aku memang sejak tadi ingin sekali menguji kepandaianmu. Hayo kau rampaslah gelang ini dari tanganku, kalau dapat!"

Katanya.

Thian Lee memandang tajam.

Dia sudah mengenal watak gadis yang bengal ini.

Lee Cin tentu tidak akan mau menyerahkan gelang itu begitu saja.

Dan dia pun ingin menguji sampai di mana kemampuan Lee Cin, maka dia bersiap-siap merampas gelang itu.

"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik, aku akan menyerangmu dan merampas gelang!"

Setelah berkata demikian, Thian Lee menggerakkan tubuhnya, tangan kiri menampar ke arah kepala Lee Cin sedangkan tangan kanan menyambar ke arah tangan kiri Lee Cin untuk merampas gelang!

Tentu saja tamparan tangan itu hanya merupakan pancingan saja sedangkan yang sungguh-sungguh menyerang adalah tangan kanan yang menyambar gelang.

Namun agaknya gerakannya itu sudah diduga oieh Lee Cin yang menarik tangan kirinya sambil memutar tubuhnya dan tangan kanannya menangkis ke atas sambil berusaha mencengkeram pergelangan tangan yang menamparnya itu.

Thian Lee menarik kembali tangan kirinya kemudian dia sudah mencoba untuk menyambar gelang di tangan kiri Lee Cin.

Namun, gadis itu dapat bergerak dengan ringan dan lincah sekali sehingga beberapa kali tangan Thian Lee menyambar tanpa hasil karena Lee Cin selalu dapat mengelak atau menangkis.

Bahkan gadis itu membalas dengan serangan tamparan, pukulan dan tendangan yang membuat Thian Lee harus berhati-hati menjaga dan menghindarkan diri dari serangan balasan itu.

Kedua orang itu bergerak semakin cepat sehingga akhirnya tubuh mereka sukar dapat diikuti gerakannya dengan mata biasa, karena kedua tubuh itu sudah merupakan bayangan yang berkelebatan saja!

Lee Cin merasa kagum bukan main.

la sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Thian Lee, namun semua serangannya gagal, bahkan beberapa kali hampir saja Thian Lee dapat merampas gelangnya.

Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Thian Lee melakukan dorongan de-ngan kedua tangannya dan Lee Cin ter-kejut sekali karena tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung ke belakang, diterpa angin pukulan yang luar biasa kuatnya.

Dan selagi dia terhuyung itu, Thian Lee menubruk ke arah tangan kirinya.

Lengan kirinya dapat terpegang oleh Thian Lee!

Hampir Lee Cin menjerit karena lengan kirinya terasa lumpuh.

Akan tetapi sebelum Thian Lee dapat merampas gelang, dara itu menggunakan tangan kanannya untuk melolos gelang dari lengan kirinya, kemudian secepat kilat gelang itu telah ia masukkah ke balik baju di bagian dadanya!

Thian Lee menangkap pula targan kanan dara itu sehingga kedua tangar'nya tak dapat digerakkan lagi.

Akan terapi dia lalu menjadi bingung dan mukanya kemerahan.

Bagaimana mungkin dia bera-ni merogoh gelang yang disembunyikan di balik baju di dada itu?

Biarpun dia sudah jelas memenangkan pertandingan itu, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu merampas gelang kemala itu!

Dia masih memegang kedua lengan gadis itu dan akhirnya terpaksa dia melepaskan kedua tangan itu dan melangkah mundur.

"Lee Cin, tolong berikan gelang itu kepadaku."

"Kenapa tidak engkau ambil sendiri?"

Kata gadis itu dan kembali Lee Cin su-dah menyerang.

Karena ia berada dekat sekali dengan Thian Lee dan pemuda itu tidak menyangka akan diserang, naka biarpun dia sudah menggerakkan ubuh miring, tetap saja dadanya terserempet tamparan tangan Lee Cin.

Akan tetapi dia masih keburu mengerahkan Thian-te Sin-kang untuk melindungi tubuhnya.

"Plakk!"

Dan Lee Cin menyeringai kesakitan karena tangannya yang menampar itu rasanya seperti menampar besi panas!

Dan sebelum ia dapat bergerak lagi, secepat kilat jari tangan Thian Lee bergerak menotoknya dan Lee Cin tidak mampu bergerak lagi!

"Maaf, Lee Cin.

Akan tetapi engkair, harus mengembalikan gelang itu!"

Kata Thian Lee, tetap saja tidak berani mero-goh gelang yang berada di balik baju. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Jahanam! Berani engkau menghina muridku?"

Dan Ang-tok Mo-li sudah muncul di situ, talu secepat kilat tangannya menepuk pundak Lee Cin, rnembuat gadis itu seketika terbebas dari totokan.

Thian Lee memandang dengan kaget.

Wanita tinggi kurus yang berwajah cantik namun pucat seperti mayat, dengan pakaiannya yang merah menyala itu sudah berdirii di depannya dengan sikap marah.

"Maaf, bukan maksud saya menghina Lee Cin...."

Kata Thian Lee.

"Keparat, apakah mataku sudah buta? Engkau harus dihajar!"

Setelah berkata demikian, Ang-tok Mo-li segera menyerang Thian Lee dengan cakaran tangannya.

Setiap kuku jari tangan Ang-tok Mo-li mengandung racun maka cakaran itu berbahaya bukan main.

Thian Lee mengelak dengan mudah dan hal ini membuat Ang-tok Mo-li merasa penasaran.

Dengan api kemarahan berkobar ia sudah menerjang dan mengirim serangan secara bertubi-tubi, berupa cakaran, totokan dan tamparan.

Tak mungkin bagi Thian Lee kalau hanya menghindarkan diri dengan elakan saja dari serangkaian serangan maut yang hebat itu, terpaksa dia pun menggerakan tangan menangkis beberapa kali.

"Plak-plak-plak-dukkk!"

Tangkisan yang terakhir ini terjadi keras sekali karena keduanya mengerahkan tenaga sin-kang mereka dan akibatnya membuat Ang-tok Mo-li terhuyung ke belakang sedangkan Thian Lee melangkah mundur dua tindak.

Tentu saja iblis betina itu menjadi terkejut, heran dan semakin marah.

"Hemm, siapa engkau?"

Tanyanya sambil memandang pemuda itu penuh selidik.

"Subo, doa Thian Lee yang dulu jadi murid Jeng-ciang-kwi itu."

Mendengar bahwa pemuda itu murid Jeng-ciang-kwi musuh utamanya, Ang-tok Mo-li membentak.

"Panggil gurumu biar kami bertanding sampai seribu jurus'"

La masih marah karena dulu ketika bertanding melawan Jeng-ciang-kwi ia sampai terluka parah biarpun ularnya dapat menggigit datuk itu.

"Locianpwe, saya sudah bukan murid Jeng-ciang-kwi lagi,"

Kata Thian Lee menyabarkan hati Ang-tok Mo-Li.

"Kalau begitu, engkau saja yang meWakilinya. Terimalah ini!"

Ang-tok Mo-Li rnencabut sebatang kebutan dari ikat pinggangnya.

Kebutan itu gagangnya pendek saja akan tetapi bulu kebutan itu ada semeter panjangnya dan warnanya merah darah.

Begitu tangannya digerakkan, Ang-tok Mo-li sudah menyerang dengan kebutannya yang bulu-bulunya mendadak menjadi kaku seperti kawat dan menusuk ke arah muka Thian Lee!

Pemuda ini terkejut sekali.

Maklum bahwa dia berhadapan dengan senjata maut, maka dia lalu melempar tubuh ke belakang membuat poksai (salto) lima kali dan ketika dia turun lagi tangannya sudah memegang Jit-goat-sin-kiam.

Pedang lllu ketika dia berjungkir balik tadi dia lolos dari buntalan pakaian di punggung-nya.

Kini nampak pedang itu berkilauan di tangannya sehingga Ang-tok Mo-Li kini yang memandang kagum dan kaget.

"Baiklah, Locianpwe, kalau Locianpwe memaksa, terpaksa saya layani!"

Kata Thian Lee sambil membentangkan pedangnya di depan dada.

"Subo, hati-hati. Thian Lee telah menjadi seorang yang memiliki kelihaian yang luar biasa!"

Lee Cin memperingatkan gurunya.

"Hemm, bagus! Hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!"

Ang-tok Mo-li lalu menyerang dengan kecepatan kilat.

Thian Lee juga menggerakkan pedangnyar dan mereka sudah bertanding saling serang dengan seru dan dahsyat sekali.

Lee Cin berdiri menonton dengan mata terbelalak.

Baru sekarang ia yakin benar akan kelihaian Thian Lee.

Tadi ia harus mengakui keunggulan Thian Lee dan ketika subonya muncul, timbul keinginan hatinya untuk melihat bagaimana Thian Lee akan menghadapi subonya yang lihai.

Ketika melihat subonya mengeluarkan kebutannya, ia sudah terkejut.

Subonya jarang sekali mempergunakan kebutannya kalau tidak bertemu lawan yaag amat tangguh.

Dengan mengeluarkan kebutannya, berarti subonya menganggap Thian Lee musuh yang tangguh sekali.

Dan ketika pemuda itu mengeluarkan pedangnya, Lee Cin menjadi semakin kagum.

Akan tetapi begitu keduanya ber-gerak, keheranan dan kekaguman Lee Cin mencapai puncaknya.

Ternyata pemuda itu mampu menandingi gurunya dalam hal kecepatan maupun tenaga!

Pertandingan itu memang hebat.

Akan tetapi sesungguhnya Thian Lee mengalah.

Dia tidak ingin membikin malu kepada Ang-tok Mo-li, maka dia pun lebih banyak menjaga diri daripada menyerang.

Sampai seratus jurus mereka bertanding, belum juga ada yang kalah atau menang.

Akan tetapi, ketika Thian Lee mulai menggunakan jurus-jurus Jit-goat Kiam sut bagian menyerang yang ampuh, mulailah Ang-tok Mo-li terdesak!

Bukan main heran dan kagetnya hati Ang-tok Mo-li.

la sudah mengenal betul ilmu-ilmu dari musuh lamanya, Jengciang-kwi, akan tetapi belum pernah ia melihat ilmu pedang seperti yang dimainkan pemuda ini yang membuat gerakan kebutannya menjadi kacau dap membuat ia terdesak.

"Thian Lee, awas Ang-hoa-coa!"

Tiba-tiba Lee Cin berseru. Gadis itu meliha"

Betapa subonya mengeluarkan ular merah yang amat lihai itu dan ia mengkhawatirkan keselamatan Thian Lee.

Ular merah itu terlalu berbahaya dan biasanya sekali dikeluarkan sebagai senjata, tentu akan mencelakai lawan.

Dulu pun Jeng-ciang-kwi terluka hebat oleh gigitan Ang-hoa-coa.

Akan tetapi seruan Lee Cin itu terlambat.

Saat itu, pedang Thian Lee menusuk ke arah dada lawan.

Ang-tok Mo-li menangkis dengan kebutannya dan kini bulu-bulu kebutan itu menjadi lemas dan melilit pedahg.

Dan pada saat itulah Ang-tok Mo-li melontarkan ular merahnya dan binatang aneh itu meluncur cepat sekali menuju ke arah tenggorokan Thian Lee.

Pemuda itu mengelak dengan miringkan tubuhnya, akan tetapi ular merah itu dapat melejit dan masih tetap mengenai pundak kanannya dan menggigit!

Akan tetapi jari-jari tangan kiri Thian Lee juga cepat dapat menjepit leher ular itu.

Dia tidak membunuh ular itu dengarit jepitan tangannya melainkan melemparkan ular itu kembali kepada Ang-tok Mo Li sambil berseru.

"Mo-li, kukembalikan ularmu ini!"

Dan sekali dilontarkan, ular itu meluncur ke arah muka Ang-tok Mo-li yang menangkapnya dengan tangan kirinya.

la merasa heran juga mengapa pemuda itu tidak membunuh ularnya.

Pada saat itu, Thian Lee mengeluarkan bentakan melengking nyaring sambil mengerahkan Thian-te Sinkang, menarik pedangnya dan tiba-tiba bulu kebutan itu terbabat putus dan rontok berhamburan.

Ang-tok Mo-li terbelalak dan bukan main kagetnya.

Pemuda itu sudah digigit Ang-hwa-coa, akan tetapi masih mampu mengerahkan tenaga sedemikian hebatnya sehingga bulu-bulu kebutannya terbabat putus dan rontok tinggal gagangnya saja.

Rontoknya bulu kebutannya sudah menandakan bahwa ia kalah!

Boleh jadi Ang-tok Mo-li seorang wanita yang kejam dan suka membunuh orang tanpa berkedip mata, akan tetapi ia juga seorang gagah yang dapat menghargai kegagahan orang.

Melihat Thian Lee mengalahkannya dengan merontokan kebutannya dan tidak membunuh Ang-hoa-coa yang sudah berada dalam tangannya tadi, ia pun berkata.

"Orang muda, terimalah obat penawar racun Ang-hwa-coa kalau engkau tidak mau mati."

"Terima kasih, Locianpwe. Saya tidak perlu berobat dan racun Ang-hwa-coa tidak akan membunuh saya!"

Ang-tok Mo-li terbelalak. Akan tetapi ia tidak peduli lagi. la berkelebat dan hanya terdengar suaranya yang ditujukan kepada Lee Cin.

"Lee Cin, cepat menyusul aku!"

Kini tinggal Lee Cin berdua Thian Lee yang berdiri di situ, Lee Cin bediri dengan pandang mata hampir tidak percaya kepada Thian Lee.

Pemuda ini telah mengalahkan subonya!

ia menghampiri Thian Lee dan memegang kedua tangan pemuda itu dengan pandang mata penuh kemesraan.

"Thian Lee, engkau hebat Belum pernah aku bertemu dengan seorang pemuda sehebatengkau . Thian Lee melihat pandang mata Lee Cin menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar aneh karena pandang mata gadis itu demikian mesra dan jelas sekali menunjukkan cinta kasih! Lee Cin, aku mohon kepadamu. Berikanlah gelang kemala itu kepadaku,"

Pintanya dengan suara memohon.

"Thian Lee, kalau mungkin, aku ingin menjadi pemilik gelang kemala itu. Bukankah pemilik gelang kemala itu menjadi tunanganmu?"

Ucapan im saja Jelas menyatakan isi hati gadis itu kepadanya. Thian Lee menghela napas panjang.

"Lee Cin, sudah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak setuju dengan perjodohan yang dilakukan orang tuaku itu. Aku tidak menganggap pemilik gelang ini sebagai calon jodohku."

"Benarkah itu, Thiah Lee? Jadi engkau menganggap dirimu belum bertunangan?"

"Benar, aku belum bertunangan dengan siapa pun."

"Kalau begitu, aku mempunyai harapan? Engkau suka kepadaku, bukan? Biarpun hanya sedikit?"

Sepasang mata itu memandang penuh permohonan sehingga hati Thian Lee tergerak.

"Tentu saja aku suka kepadamu, Lee Cin. Engkau seorang gadis yang baik sekali."

"Benarkah itu, Thian Lee? Kauanggap aku baik?"

"Ya, engkau baik Sekali."

"Dan cantik?"

"Dan cantik sekali."

"Dan engkau... cinta kepadaku ,seperti aku... eh, cinta padamu?"

"Cinta? Ah, aku tidak tahu, Lee Cin. Aku tidak tahu...."

Lee Cin merangkul leher Thian Lee.

"Thian Lee, ingatlah selalu bahwa di sana ada seorang gadis yang mengharapkanmu, yang merindukanmu, yang mencintamu, yang mengharapkanmu menjadi jodohnya, dan gadis itu adalah aku!"

Thian Lee menghela napas panjang dsin memejamkan matanya. Rangkulan Lee Cin itu, terlalu menggoda baginya. Lee Cin lalu mengambil gelang kemala dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Thian Lee.

"Aku akan menanti siang malam sampai pada suatu hari engkau akan memberikan sepasang gelang kemala itu sebagai hadiah perkawinan untukku."

Setelah Thian Lee menerima gelang !tu, Lee Cin lalu berlari pergi meninggalkannya. Hanya suaranya saja yang terdengar dari jauh.

"Jaga dirimu baik-baik, Thian Lee!"

Thian Lee berdiri termenung, gelang itu di tangannya.

Dia memejamkan mata dan berusaha mengusir bayangan Lee Cin dari benaknya.

Gadis itu mencintanya.

Dan begitu jujur menyatakan cinta.

Kalau gadis itu bukan murid Ang-tok Mo-li tidak mungkin akan berani mengaku cinta demikian terbuka!

Dan memang Lee Cin seorang gadis yang baik, amat baik.

Gadis itu hanya mewarisi ilmu-ilmu silat dari Ang-tok Mo-li dan untungnya tidak memiliki wataknya yang kejam dan jahat, walaupun mendapatkan pula watak yang liar dan bengal dan aneh.

Thian Lee terpaksa meninggalkan rumah makan di mana dia bekerja.

Dia tidak mungkin lagi bekerja di situ setelah dia sering kali harus membolos dan tidak ingin orang menaruh curiga kepadanya.

Dia berpamit dari pemilih rumah makan dan meninggalkan rumah makan itu.

Dia ingin sekali menyelidiki keadaan Cin Lan, puteri pangeran itu.

Dia tertarik sekali dan dia merasa bahwa gadis itu tentu terancam bahaya karena sudah berani membikin kacau di rumah Pangeran Tua.

Malam itu Thiari Lee mengenakan pakaian hitam dan pergi ke rumah Pangeran Tang Gi Su.

Sekali ini dia tidak mengenakan topeng lagi.

Tidak, kalau bertemu dengan gadis itu, dia akan memperkenalkan diri secara berterang.

Bukankah mereka sudah pernah berkenal-an ketika gadis itu pulang dari Pulau Ular Emas membawa buah sian-tho dan dikeroyok orang yang ingin merampasnya.

Mereka sudah berkenalan, maka tidak perlu lagi dia menyembunyikan diri dari Cin Lan.

Malam itu sunyi sekali dan dingin.

Thian Lee meloncati pagar tembok dan tiba-tiba dia mendekam.

Dilihatnya bayangan hitam berkelebat melompati pagar tembok pula.

Mereka itu sungguh mencurigakan sekali.

Mereka juga berpakaian hitam dan memegang golok telanjang.

Ketika mereka tiba di pekarangan belakang di mana terdapat lampu penerangan, tiba-tiba saja rnuncul Cin Lan yang membawa senjata tongkatnya.

"Jahanam! Siapa kalian berani mengacau di sini?"

Bentak Cin Lan.

Akan tetapi dua orang di antara mereka segera menggerakkan golok mereka mengeroyok Cin Lan.

Gadis itu melawan dan segera terjadi perkelahian seru di antara mereka.

Thian Lee rnelihat bahwa Cin Lan cukup kuat untuk menandingi dua orang pengeroyok itu.

Dia melihat penjahat yang seorang lagi menyelinap masuk ke ruangan sebelah dalam.

Dia menjadi cu-riga dan cepat dia membayangi.

Agaknya suara ribut-ribut di belakang itu menarik perhatian para penghuni rumah itu.

Dia melihat seorang laki-laki setengah tua yang pakaiannya mewah berlari-lari bersama para pelayan menuju ke belakang, agaknya tertarik oleh suara perkelahian di pekarangan belakang itu.

Melihat orang setengah tua itu, penjahat yang ke tiga itu lalu menyerangnya de-ngan goloknya.

"Plakk!"

Tangan yang mengayun golok itu ditampar orang dan ternyata yang menolongnya adalah Thian Lee.

Si Pemegang Golok terkejut melihat goloknya tertahan karena tangannya ditangkis orang.

Dia menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian hitam-hitam pula orang menangkisnya.

Dia merasa marah sekali dan segera mengayun goloknya menyerang.

Akan tetapi, hanya dengan beberapa gebrakan saja Thian Lee dapat membuat orang itu terpelanting dan goloknya terlempar.

Orang itu bangkit berdiri dan melompat ke dalam gelap, melarikan diri.

Laki-laki setengah tua Ilu adatah Pangeran Tang Gi Su sendiri.

Tentu saja dia terkejut melihat dirinya tadi diserang orang dan ada yang menolongnya.

Akan tetapi penolong itu sudah melompat pergi lagi tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

Thian Lee kembali ke tempat di mana Cin Lan melawan dua orang penjahat.

Ternyata dua orang penjahat itu lihai juga sehingga sampai sekarang Cin Lan belum mampu mengalahkan mereka, walaupun kedua orang itu pun mengalami 'kesulitan untuk mengalahkan tongkat di tangan Cin Lan.

Melihat ini, Thian Lee lalu melompat dan berseru.

"Nona Tang, Jangan khawatir, aku datang membantumu . Seorang penjahat membacok Thian Lee, akan tetapi dengan mudahnya Thian Lee mengelak ke samping dan ketika kakinya mencuat dalam tendangan, orang itu terjengkang. Karena maklum bahwa gadis yang sudah lihai sekali itu mendapat bantuan, kedua orang ini pun berlompatan roenghilang dalam kegelapan malam.

"Hendak lari ke mana kalian! bentak Gin Lan yang hendak mengejarnya, akan tetapi Thian Lee mencegahnya.

"Nona, musuh yang sudah melarikan diri berbahaya dan tidak baik untuk dikejar."

"Akan tetapi aku harus tahu siapa mereka dan apa maksud mereka mengacau di sini!"

Kata Cin Lan yang tetap melakukan pengejaran.

Thian Lee juga terpaksa melakukan pengejaran.

Mereka melihat tiga orang itu berlari cepat sekali dan ketika dikejar, mereka menghilang di balik tembok rumah Pangeran Tua!

Cin Lan penasaran dan ingin terus mengejar, akan tetapi Thian Lee berkata, sambil memegang tangan Cin Lan.

"Cukup, Nona. Kalau dikejar terus ke dalam, berbalik Nona yang akan dituduh pengacau."

Cin Lan berhenti dan memandang Thian Lee, bertanya.

"Siapakah engkau? Bagaimana engkau bisa tahu ada pengacau di rumahku dan menolongku?"

"Aih, . Nona Tang. Apakah engkau sudah lupa kepadaku? Aku Thian Lee, Song Thian Lee. Aku pernah bertemu dengan Nona ketika Nona keracunan dahulu itu, di pantai...."

"Ah, engkaukah itu?"

"Tadi memang aku hendak berkunjung kepadamu, Nona. Aku sudah mendengar akan sepak terjangmu yang gagah perkasa, dan aku hendak berkunjung, lalu di luar aku melihat bayangan tiga orang tnelompati pagar tembok. Karena curiga aku lalu membayangi mereka. Kemudian, ketika yang dua orang itu mengeroyok-mu, aku melihat yang seorang lagi masuk ke dalam. Aku membayanginya dan dia menyerang orang di dalam. Aku mencegahnya dan dia melarikan diri."

Cin Lan terkejut.

"Ah, dia menyerang orang di dalam? Kalau begitu, mari kita cepat kembali ke sana!"

Gadis itu lalu berlari cepat, diikuti oleh Thian Lee.

Mereka melompati pagar tembok dan di pekarangan belakang mereka melihat sudah banyak orang berkumpul.

Agaknya mereka semua masih membicarakan ke-ributan yang terjadi akibat penyerbuan orang-orang jahat.

"Ah, sukur engkau datang, Cin Lan! kata orang setengah tua tadi yang bukan lain adalah Pangeran Tang Gi Su.

"Cin Lan, engkau tidak apa-apakah?"

Seorang wanita setengah tua yang cantik merangkul Cin Lan.

"Aku tidak apa-apa, Ibu. Ayah, tadi aku mengejar tiga orang penjahat yang melarikan diri dan...."

Cin Lan tidak melanjutkan kata-katanya karena di situ terdapat para penjaga dan pelayan.

"Ah, ya, ini adalah seorang sahabatku, Ayah."

"Aku sudah melihatnya. Orang muda, bukankah engkau yang tadi menolongku dari serangan penjahat?"

"Aih, jadi yang diserang penjahat adalah engkau, Ayah? Terima kasih, Lee-twako, engkau telah menyelamatkan Ayah .

"Ah, tidak perlu berterima kasih, Nona Tang."

Kata Thian Lee.

"Cin Lan, siapakah pemuda ini bagaimana engkau dapat berkenalan dengan dia?"

Tanya Pangeran Tang Gi Su dengan aiis berkerut.

"Dia bernama Song Thian Lee, Ayah, dan dia bekerja... eh, Lee-twako, engkau bekerja apa?"

Tanya Cin Lan yang kebingungan sendiri dalam memperkenalkan pemuda itu kepada ayahnya karena ia sendiri pun belum tahu akan keadaan Thian Lee.

"Ah, aku... eh, saya bekerja sebagai pelayan rumah makan Hok-an."

"Pelayan riimah makan?"

Pangeran Tang Gi Su berseru heran dan juga kaget bagaimana puterinya bersahabat dengan seorang pelayan rumah makan!

"Ah, orang muda, engkau sudah berjasa menolongku tadi.

Biar kuberi hadiah!

Dia hendak menyuruh isterinya untuk mengambilkan uang untuk memberi hadiah kepada Thian Lee, akan tetapi Thiian Lee cepat berkata.

"Tidak perlu, Taijin. Tidak perlu memberi hadiah .

"Cin Lan, mari kita bicara di dalam. Orang muda, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas bantuanmu tadi."

Lalu Pangeran Tang Gi Su menyuruh penjaga untuk mengantarkan Thian Lee keluar dari tempat itu.

"Taijin, biarlah saya pergi melalui dari mana saya tadi datang. Nona Tang, selamat tinggal! Thian Lee yang merasa dipandang rendah sekali oleh pangeran itu lalu melompat dan sekali melompat dia sudah berada di pagar tembok terus dia melompat keluar.

"Lee-ko....!"

Sesosok bayangan mengejarnya setelah dia tiba di luar dan ternyata yang mengejarnya adalah Cin Lan.

"Eh, engkau, Nona Tang? Ada apakah mengejarku?"

"Lee-ko, aku ingin rninta maaf kepadamu atas sikap ayahku tadi. Engkau telah menyelamatkan nyawanya, akan tetapi dia...."

"Ah, tidak mengapa, Nona. Tadinya aku pun hanya ingin bertemu denganmu, ingin memberi tahu kepadamu agar engkau berhati-hati menghadapi Pangeran Tua. Di sana banyak sekali orang pandai dan jangan Nona sembrono memasuki tempatnya seperti tempo hari...."

Thian Lee menahan kata-katanya yang terlanjur. Cin Lan adalah seorang gadis yang cerdik. Mendengar ucapan ini, ia lalu berseru.

"Ah, kalau begitu engkaulah orangnya yang dahulu itu menyelamatkan aku! Benarkah, Twako?"

Thian Lee merasa tidak perlu untuk menghindar lagi.

"Memang benar, Nona. Dan maafkan aku yang terpaksa rnelarikanmu karena engkau terancam bahaya besar."

"Aih, jangan sebut aku nona, Twako. Engkau sudah berulang kali menolongku. Dahulu, engkau menyelamatkan aku ketika aku keracunan karena gigitan ular emas dan ular putih. Kemudian engkau menyelamatkan aku ketika aku terancam bahaya di rumah Pangeran Tua, dan tadi baru saja engkau menyelamatkan Ayah dari serangan penjahat. Setelah berulangulang engkau menolongku, engkau adalah sahabatku yang baik. Jangan sebut aku nona, namaku Cin Lan."

"Baiklah, Adik Cin Lan. Dan terima kasih atas kebaikanmu."

"Baik apanya? Kami bahkan bersikap tidak pantas kepadamu, Twako. Terutama sekali Ayah. Ah, aku menyesal sekali dan aku mohon maaf kepadamu atas slkap yang merendahkanmu."

"Tidak mengapa, Lan-moi, tidak mengapa. Memang aku hanya seorang pemuda miskin dan papa, orang macam aku ini mana pantas untuk berkenalan dengan engkau, seorang puteri pangeran, seorang bangsawan tinggi? Ayahmu sudah semestinya bersikap demikian. Nah, selamat tinggal, Lan-moi, percayalah, aku tidak menyesal dan tidak perlu meminta maaf."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Thlan Lee telah pergi dari situ.

"Lee-ko....!"

Cin Lan hendak mengejar akan tetapi pemuda itu bergerak cepat sekali dan malam gelap telah menelan dirinya.

Sejenak Cin Lan berdiri termenung.

Hatinya terasa sepi dan menyesal bukan main.

Dia telah bertemu dengan seorang pemuda yang berilmu tinggi, dan yang sudah berulang kali menolongnya, akan tetapi pemuda itu malah diperlakukan dengan sikap menghina oleh ayahnya.

Memang ayahnya tidak bermaksud menghina, ingin memberi hadiah uang dan tentu saja ayahnya tidak senang melihat ia bergaul dengan seorang pemuda yang bekerja sebagai pelayan rumah makan.

Pelayan rumah makan.

Tak terasa lagi kedua Cin Lan menjadi basa air mata.

Ketika ia pulang, Cin Lan nnenegur ayahnya.

"Ayah, tadi sikap Ayah terlalu merendahkan Thian Lee. Dla tidak menjadi sakit hati, akan tetapi sungguh kasihan sekali dia. Dia menolong tanpa pamrih, akan tetapi Ayah hendak memberinya uang dan ayah tidak mernpersilakan dia masuk ke dalam rumah."

"Aih, Cin Lan. Bagaimana engkau dapat menyalahkan ayahmu? Aku ingin memberi dia hadiah uang karena dia hanya bekerja sebagai pembantu rumah ,makan, tentu keadaannya miskin. Hadiah apalagi yang lebih baik baginya? Kalau dia menolak, itu urusan lain lagi. Dan hari sudah malam, bagaimana aku dapat mempersilakan dia masuk? Tidak pantas itu!"

Bantah ayahnya.

"Sudahlah, Cin Lan. Sepatutnya kita bersyukur bahwa perbuatan para penjahat itu tidak sampai menjatuhkan korban. Kita semua masih daiam selamat. Sungguh mengherankan sekali, bagaimana ada penjahat masuk ke sini dan bahkan mennyerang ayahmu?"

Kata Lu Bwe Si.

"Oya, bagaimana ketika engkau. tadi mengejar para penjahat itu, Cin Lan? "

Apakah ada hasilnya?"

Tanya Pangeran Tang Gi Su yang hendak mengalihkan percakapan dan melupakan persoalannya dengan pemuda itu.

"Aku mengejarnya dan mereka bertiga itu menghilang di balik tembok rumah Paman Pangeran Tang Gi Lok,"

Kata Cin Lan.

"Sesungguhnya, ada beberapa peristiwa yang selama ini belum kuceritakan kepada Ayah. Sudah dua kali aku memasuki rumah Pangeran Tua pada malam hari . Pangeran Tang Gi Su terbelalak.

"Cin Lan! Apa yang kaulakukan itu? Dan mengapa engkau melakukan itu? Engkau masuk secara menggelap sebagai pencuri?"

Benar, Ayah. Tentu saja ada sebabnya mengapa aku melakukan hal itu. Pada suatu hari, aku berkunjung ke kuburan ayah kandungku di dusun Teng-sia-bun...."

"Cin Lan....! Engkau tidak memberi tahu kepadaku!"

Teriak ibunya dengan mata terbelalak.

"Memang aku tidak memberi tahu siapa pun, Ibu. Maafkan aku. Aku ingin sekali bersembahyang di kuburan itu. Dan ketika aku bersembahyang, muncul orang-orang hendak menangkap aku. Aku mengamuk dan dari seorang penyerang itu aku mendapat keterangan bahwi yang menyuruh tangkap aku adalah Pangeran Tua. Nah, aku menjadi penasaran sekali, Ayah dan Ibu. Malamnya, tanpa diketahui siapa pun, aku datang ke rumah Paman Pangeran Tua dan bertanya mengapa dia menyuruh orang-orang menangkap aku. Paman Pangeran Tua bahkan mengerahkan para jagoannya untuk menangkap aku, mengatakan bahwa aku adalah anak pemberontak yang harus ditangkap. Dan aku tidak dapat melawan para jagoannya yang banyak dan lihai. Aku tertawan di sana...."

"Cin Lan....!"

Ibunya menjerit, khawatir' "Lalu pada keesokan hatinya, datang Bian Hok yang minta kepada Pangeran Tua agar aku dibebaskan.

Setelah dibebaskan, aku lalu pergi, tidak sudi aku ditolong oleh pemuda putera Pangeran Bian Kun itu...."

"Cin Lan! Dia itu tunanganmu!"

Bentak ayahnya.

"Aku tidak pernah menganggap dia itu tunanganku, Ayah. Aku tidak suka kepadanya. Setelah aku bebas pada lain hari aku datang lagi malam-malam ke sana untuk menantang jagoan tua tanpa keroyokan. Aku merasa penasaran sekali karena tempo hari itu aku tertawan karena dikeroyok.

"Hemm, engkau sungguh nekat."

Aku tidak takut kepadanya, Ayah.

Akan tetapi lalu muncul jagoan lain yang lebih lihai pula dan selagi aku terdesak, muncul Thian Lee itu yang menolong dan melarikan aku darl bahaya.

Bahkan dahulu, ketika aku mencarikan obat untuk Suhu dan menderita keracunan karena gigitan ular, Thian Lee pula yang menyelamatkan nyawaku.

Dan tadi dia sudah menolong Ayah."

"Kalau begitu, penyerangan tadi tentu sebagai akibat dari ulahmu yang mengacau rumah kakanda Pangeran Tua!"

Kata Pangeran Tang Gi Su dengan penuh penyesalan.

"Belum tentu, Ayah."

Bantah Cin Lan.

"Kenapa belum tentu?"

"Kalau mereka itu sakit hati kepadaku, kenapa yang diserang Ayah? Tidak, pasti ada hal lain yang penuh rahasia. Baru hadirnya demikian banyaknya tokoh kang-ouw di rumah Paman Pangeran Tua itu saja sudah mencurigakan. Apakah Ayah bermusuhan dengannya?"

Pangeran Tang Gi Su menghela napas panjang.

"Bermusuhan secara langsung dan pribadi memang tidak ada sama sekali. Akan tetapi pendirian kami memang berbeda, bahkan berlawanan. Kalau aku setia kepada Sri Baginda K.aisar, kakanda Pangeran Tang Gi Lok Itu menentang kebijaksanaan Kaisar, bahkan sering mencela dan kelihatan membenci."

Pada keesokan harinya, mereka semua mendengar tentang pembunuhan atas diri dua orang menteri yang setia kepada Kaisar, dibunuh dalam kamarnya oleh penribunuh yang amat lihai dan tidak diketahui siapa karena selir dan para dayang pejabat tinggi ini hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali'.

Hal ini amat mengejutkan Pangeran Tang Gi Su dan dia pun bergerak pergi menghadap Kaisar untuk membicaraka.a peristiwa itu termasuk peristiwa penyerangan atas dirinya.

Kaisar menasihatkan agar Pangeran Tang Gi Su menjaga diri baik-baik dan melakukan penjagaan yang ketat, sementara itu dia malah menugaskan Pangeran Tang Gi Su untuk rnenyelidiki perkara pembunuhan dan penyerangan atas dirinya itu sampai tuntas.

Dan untuk keperluan itu.

Pangeran Tang Gi Su mendapat kekuasaan untuk menggunakan pasukan sebanyak mungkin, Setibanya di rumah, Pangeran Tang Gi Su merasa pusing karena tugas itu amat sukar dan berat.

Melihat keadaan ayahnya, Cin Lan lalu bertanya.

"Ada berita apakah, Ayah'? Ayah nampak begitu bingung setelah kembali dari istana."

Pangeran Tang Gi Su menceritakan tentang tugas yang dibebankan kepadanya oleh Kaisar.

"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan membantu Ayah dan aku akan melakukan penyelidikan sampai terbongkar rahasia ini."

"Hati-hati, engkau, Cin i-an., Musuh amat berbahaya, jangan engkau terlalu sembrono seperti yang sudah-sudah."

"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan minta bantuan Thian Lee untuk melakukan penyelidikan."

Ketika Cin Lan sedang duduk seorang diri di dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah ibunya, seorang diri.

la segera bangkit menyambut ibunya.

Biasanya kalau ada keperluan, ibunya yang menyuruh pelayan me-manggilnya dan jarang sekali ibunya memasuki kamarnya "Ibu, ada keperluan apakah Ibu?"

Tanyanya melihat wajah ibunya yang serius.

"Aku ingin bicara denganmu, Cin Lan,"

Kata ibunya yang lalu duduk di kursi menghadapi meja. Cin Lan juga lalu duduk di dekat ibunya.

"Bicara apakah, Ibu?"

"Tentang sahabatmu itu.

"Sahabatku? Yang mana, Ibu?"

"Yang menolong ayahmu itu."

"Ah, maksud Ibu, Song Thian Lee?"

"Benar, aku... aku merasa seolah wajah pemuda itu tidak asing bagiku. Dan engkau ingat, nama marganya Song!"

"Kalau begitu, kenapa Ibu?"

"Lupakah engkau? Mendiang ayahmu menjodohkan engkau dengan putera keluarga Song! Gelang kemalamu itu...."

"Ah, gelang kemala? Sudah dirampas penjahat ketika di kuil itu, Ibu."

"Sayang sekali."

"Ah, Ibu terlalu memikirkan perjodohan itu. Padahal, aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tidak suka dijodohkan sejak aku kecil. Aku tidak dapat menerima perjodohan itu, dan Ibu begitu memikirkan sehingga setiap orang she Song Ibu curigai."

"Ah, engkau selalu bicara dermkian anakku. Perjodohan yang diatur bleh ayah tirimu, engkau tidak mau menerimanya, dan perjodohan yang diatur oleh iayah kandungmu sendiri, engkau pun tidak suka!"

"Memang aku hanya suka berjodoh dengan orang yang berkenan di hatiku, Ibu, bukan dipaksakan, baik oleh mendiang ayah kandungku maupun oliete ayah tiriku,"

Kata Cin Lan dengan kukuh.

Ibunya hanya menghela napas panjang dan ;A,tidak mau membicarakan hal itu lagi.

Lee Cin berjalan seorang diri.

Ia sudah mendapat perkenan dari gurunya untuk melakukan perjalanan seorang diri, bahkan mendapat tugas yang berat dari gurunya, yaitu membunuh musuh besar gurunya yang tinggal di Hong-san.

Gurunya sendiri, Ang-tok Mo-li, kembali ke Bukit Ular di Lembah Huang-ho.

"Carilah dia sampai dapat. Kalau sudah bertemu, lawanlah ia. Kalau engkau kalah kembalilah ke Bukit Ular, aku sendiri yang akan menghadapinya,"

Demikian kata subonya.

Akan tetapi Lee Cin memang berwatak bebas dan liar.

la menggunakan kesempatan ini untuk berpesiar, bersenang-senang idaft tiaak langsung pergi ke Hong-san memenuhi pesan gurunya.

Selagi ia menyusuri tepi Sungai Kuning, di sebuah jalan yang sunyi mendadak ia bertemu dengan seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun yang tinggi besar, gagah perkasa bermuka merah yang memegang sebatang dayung baja sebagai tongkat.

Adapun di sisi kakek gagah perkasa ini melangkah seorang pemuda yang tampan dan juga bertubuh tinggi besar.

Lee Cin tidak mengenal siapa mereka, maka ia pun tidak memperhatikan.

Akan tetapi pemuda itu memperhatikannya.

Siapa orangnya yang tidak akan tertarik kepada gadis yang lincah dan cantik jelita ini?

Muka yang bulat telur itu manis sekali.

Hidungnya mancung agak berjungat ke atas, lucu sekali.

Mulutnya kecil mungil dengan sepasang bibir yang merah basah tanpa gincu, dihias lesung pipit di kanan kiri biblrn/a.

Sedang usianya baru delapan belas tahun, bagaikan bunga sedang mekar-mekarnya!

"Nona manis, engkau hendak pergi ke 'manakah?"

Tiba-tiba pemuda itu menegur dan berdiri menghadang di depan Lee Cin. Gadis itu mengerutkan alisnya, kemudian tertawa. Demikian manis ketika ia tertawa sehingga pemuda itu semakin terpesona.

"Hi-hik, ada monyet bercelana mau ganggu nonamu? Pergilah sebelum kuhajar engkau! Hayo pergi!"

"Nona, engkau sungguh cantik jelita. Heran aku, mendengar makianmu, aku tidak marah malah semakin tertarik. Marilah, Nona, kita bersahabat!"

Pemuda itu menjulurkan tangan hendak memegang tangan Lee Cin. Gadis ini mulai marah dan tiba-tiba tangannya bergerak rnenampar ke arah muka pemuda itu.

"Wuuuuttt... plakkk!"

Tamparan itu "tlapat ditangkis pemuda itu dan tahulah Lee Cln bahwa ia berhadapan dengan seorang yang cukup pandai.

Tentu saja pemuda itu pandai karena dia adalah Siangkoan Tek, sedangkan orang tua gagah perkasa itu adalah Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga!

Melihat ulah pu-teranya, Siangkoan Bhok mengambil sikap tidak peduli, bahkan lalu duduk di atas batu 'besar dan termenung.

Melihat tamparannya ditangkis, Lee Cin segera menyerang kembali, klni lebih hebat.

Dan ternyata pemuda itu mampu mengelak dan balas menyergap hendak merangkul!

Dan terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka.

Setelah mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar tangguh dan mampu menandinginya, Lee Cin menjadi marah dan ia pun mengerahkan sin-kang panas yang mengandung racun.

Perlu diketahui bahwa semenjak menjadi murid Ang-tok Mo li, tentu saja Lee Cin juga mempelajari.

penggunaan racun dalam pukulannya, yaitu suatu keahlian dari Ang-tok Mo-li yang membuat kuku jari datuk wanita itu menjadi beracun.

Lee Cin tldak sampai demikian hebat pengaruh racun dalam dirinya, akan tetapi ia dapat mengerahkan tenaga beracun panas.

Siangkoan Tek tidak tahu bahwa pu-kulan itu mengandung hawa beracun.

Dia menangkis dengan tenaga sin-kang pula.

"Dukkk....!"

Ketika kedua tangan bertemu, pemuda itu terhuyung dan menye-ringai kesakitan. Lengannya terasa panas t^seperti dibakar. Melihat lawannya terhuyung, Lee Cin mengejar dan mengirim pukulan lagi.

"Dukk!"

Sekali ini dara itulah yang terhuyung karena tangannya yang memukul bertemu dengan dayung yang menangkisnya.

Kakek itu yang menangkisnya dan kakek itu kini melihat tangan kanan Lee Cin yang berubah kemerahan.

"Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah)!"

Serunya.

"Apa hubunganmu dengan Ang-tok Mo-li?"

Bentaknya. Lee Cin adalah seorang yang tidak mengenal takut.

"Apa urusanmu bertanya tentang Subo?"

Hemm, jadi engkau murid Ang-tok Mo-li? Bagus, sebelum kubunuh la, lebih dulu kubunuh muridnya!"

Dan kakek itu lalu menyerang dengan dayungnya Melihat sambaran dayung yang dah-syat bukan main, Lee Cin meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Sinar merah nampak berkilat ketika ia mencabut pedangnya dan terjadilah pertandingan yang amat seru antara Lee Oin dan Siangkoan Bhok.

Akan tetapi segera ternyata bahwa gadis itu terdesak hebat.

Siangkoan Bhok adalah datuk besar dari timur dan dijuluki Tung-hong-ong (Raja Angin Timur).

Ilmu kepandaiannya sudah mencapai puncak yang tinggi sekali.

Biarpun Lee Cin mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun setelah berhasil bertahan sampai lima puluh jurus, akhirnya ia pun roboh tertotok gagang dayung dan tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat dlgerakkan lagi!

Siangkoan Bhok mengangkat dayungnya dan membentak.

"Sekarang mampuslah kau!"

"Jangan, Ayah!"

Siangkoan Tek berseru dan melompat maju menghalangi ayahnya.

"Hemm, mau apa engkau?"

Bentak ayahnya.

"Ayah, terus terang saja... ateu tergila-gila kepadanya. Aku menginginkan gadis ini, Ayah!"

"Hemmm, sesukamulah. Akan tetapi setelah itu, bunuhlah!"

Dan dia pun duduk kembali bersila di atas batu besar dan tidak mempedulikan lagi kepada puteranya.

Siangkoan Tek menjadi girang sekali dan dia lalu memondong tubuh yang hangat dan lemas itu, dibawanya pergi ke balik semak-sernak belukar!

Sudah jelas apa yang dikehendakinya.

Dia hendak memperkosa gadis yang cantik jelita itu.

Dan mengetahui hal ini, ayahnya sama sekali tidak mempedulikannya.

Dapat diketahui bagaimana watak kedua orang manusia ayah dan anak ini!

Setelah merebahkan tubuh Lee Cin ke atas rumput dl balik semak-semak Siang-koan Tek lalu menciumi wajah yang manis itu dan selagi dia hendak meraba pakaian Lee Cin, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Manusia keji!"

Dan seorang pemuda tiba-tiba menerjangnya dengan tendangan sehingga Siangkoan Tek yang sudah dikuasai nafsu berahi itu tidak dapat menghindar dan tubuhnya kena ditendang sampai terpental dan bergulingan!

Pemuda berpakaian serba biru itu lalu menepuk kedua pundak Lee Cin satu kali dan tiba-tiba Lee Cin sudah dapat bergerak kembali.

Gadis ini cepat meloncat dan menyambar pedangnya yang terletak di atas tanah, demikian pula pemuda itu sudah mencabut pedangnya.

Akan tetapi tlba-tiba Siangkoan Bhok sudah berdiri dl hadapan mereka dengan senjata dayungnya.

Sementara itu, Siangkoan Tek bangkit dan meraba-raba pahanya yang tertendang tadi.

Melihat ayahnya sudah menghadapi dua orang itu, dia pun diam saja karena yakin bahwa ayahnya sudah lebih dari cukup untuk menandingi dua orang itu.

Siangkoan Bhok marah melihat puteranya ditendang tadi dan dia sudah menggerakkan dayungnya menyerang kedua orang muda itu.

Pemuda baju biru itu bertubuh jangkung tegap dan usianya sekitar dua puluh dua tahun.

Dia rnenggerakkan pedangnya dengan mantap dan bersama Lee Cin, tanpa bersepakat lagi, mereka lalu mengeroyok kakek yang amat tangguh itu.

Akan tetapi, biarkan-pemuda itu pun cukup lihai, tetap saja dia dan Lee Cin bukanlah lawan Siangkoan Bhok yang terlampau lihai bagi mereka.

Lewat lima puluh jurus, senjata dayung itu telah mengenai tubuh mereka berdua dan membuat mereka terpental dan bergu-lingan.

Dengan langkah lebar Siangkoan Bhok mengejar dan tahu-tahu dayungnya sudah menodong di dada pemuda berbaju biru.

Pemuda itu sama sekali tidak nam-pak takut, melainkan memandang kepada kakek itu dengan mata melotot penuh kemarahan.

"Engkau agaknya yang disebut Raja Angin Timur Siangkoan Bhok, bukan? Nah, bunuhlah aku kalau hendak membunuh. Aku memang bukan lawanmu!"

Kata pemuda itu dengan tegas.

Mendengar disebutnya julukan Raja Angin Timur ini, baru Lee Cin tahu dan ia pun terkejut.

Sudah lama ia mendengar nama besar datuk ini dari subonya dan ia pun bangkit dan memandang de-ngan khawatir sekali.

Pinggangnya yang tadi kena pukul dayung terasa nyeri se-kali, akan tetapi tidak ada tulang yang patah.

Sementara itu, ketika Siangkoah Bhok mendengar ucapan pemuda itu, dia tidak segera memukulkan dayungnya dan berbalik lalu bertanya.

"Engkau jelas murid Siauw-lim-pai. Siapa gurumu?"

"Guruku adalah In Kong Thaisu,"

Kata pemuda itu dengan suara bangga. Mendengar disebutnya nama ini, wajah Siangkoan Bhok berubah, alisnya yang tebal itu berkerut.

"Hemmm, melihat muka In Kong Thaisu, biarlah aku sekali ini tidak membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, tangan kirinya bergerak dan jari-jari tangannya menotok ke arah dada kanan pemuda itu.

"Dukkk'."

Pemuda Itu mengeluarkan rintihan dan muntah darah.

"Nah, biarlah In Kong Thaisu meraba, apakah It-yang-ci yang dikuasainya itu mampu menyembuhkanmu! Dan engkau nona iblis, engkau kubebaskan agar dapat mengantarnya pulang ke Siauw-lim-si, kalau saja dia masih kuat!"

Katanya mengejek, lalu dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada puteranya.

"Mari kita pergi "Akan tetapi, Ayah Gadls itu .

"Diam! Mari ikut aku pergi. Sekali aku mengeluarkan kata-kata, tidak dapat ditarik kembali!"

Kata ayahnya dan pemuda itu bersungut-sungut, akan tetapi tidak berani membantah lagi dan dia hanya menoleh dan memandang kepada Lee Cin dengan sinar mata penuh penyesalan dan penuh kebencian!

Setelah kedua orang itu pergi, Lee Cin berlutut di dekat pemuda itu.

"Siapakah engkau dan di mana tempat tinggalmu? Mari kuantar engkau pulang."

"Sudah tidak ada gunanya. Lukaku hebat sekali... parah dan tidak dapat sembuh. Nona, tinggalkan saja aku. Kalau sampai mereka kembali, engkau akan celaka,"

Kata pemuda itu terengah-engah dan mencoba untuk bangkit berdiri. Lee Cin membantu dan memapahnya dan gadis ini menjadi marah.

"Kau kira aku ini orang macam apa? Engkau menderita begini karena tadi telah menolongku. Aku pun harus menolongmu, tidak peduli bahaya apa yang mengancamku. Katakan siapa namamu dan ke mana aku harus membawamu menemui gurumu. Melihat gadis itu bicara dengan nada marah, pemuda itu terkejut dan memandang heran dan kagum, lalu dia pun menjawab.

"Namaku Thio Hui San, kebetulan sekali guruku sedang berkunjung ke kuil yang diketual Susiok, tidak jauh dari sini. Aku tadi sedang berjalan-jalan ketika...."

"Sudah, jangan panjang-panjang. Keadaanmu payah, tidak boleh banyak bicara. Mari kita pergi, tunjukkan jalannya,"

Kata Lee Cin yang masih merangkul dan memapah pemuda itu.

Pinggangnya sendiri masih terasa nyeri maka mereka lalu tertatih-tatih berangkat.

Untung bahwa kuil itu memang tidak jauh dari situ, berada di tepi sungai dan di lereng sebuah bukit kecil.

Kuil itu cukup besar dan terdapat banyak murid Siauw-lim-pai berada di situ.

Ketika melihat Hui San datang dipapah seorang gadis, tentu saja semua orang merasa heran sekali.

Sebetulnya, kuil di mana terdapat murid-murid Siauw-lim-pai itu merupakan tempat terlarang bagi wanita.

Akan tetapi karena Hui San datang dalam keadaan terluka dan dipapah seorang wanita, para murid itu hanya memandang saja dan ada yang melaporkan ke dalam.

Setelah tiba di depan ruangan paling muka, keluarlah dua orang hwesio.

Seorang hwesio tinggi kurus dan seorang hwesio yang tingginya sedang akan tetapi perutnya gendut seperti patung Jai-hud.

Hwesio yang gendut itulah yang rnenegur.

"Hui San, engkau tahu bahwa tempat ini merupakan larangan bagi wa-nita. Mengapa engkau datang dengan se-orang gadis, dan engkau menderita luka parah kenapakah?"

"Suhu, teecu terluka oleh Siangkoan Bhok dan nona ini menolongku sampai ke sini karena teecu tidak kuat berjalan sendiri,"

Keluh Thio Hui San.

"Harap maafkan teecu dan nona ini...."

Ketika itu Lee Cin melepaskan rangkulannya dan Hui San segera jatvh terkulai dengan lemas. Lee Cin bertolak pinggang mengha-dapi dua orang hwesio itu, sama sekali tidak nampak takut.

"Muridmu terluka parah, mungkin akan mati dah engkaU masih meributkan soal peraturan segala macam. Biarpun aku seorang wanita, kalau aku masuk ke sini, aku rnerugikan apakah?"

Sekarang hwesio yang tinggi kurus yang mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata.

"Omitohud Sejak dahulu kuil kami ini memang merupakan larangan bagi wanita untuk memasukinya, dan larangan itu tidak pernah dilanggar oleh siapa pun. Akan tetapi karena engkau telah menolong murid keponakanku, kami mengucapkan terima kasih kepadamu dan sekarang, mari kuantar Nona keluar dari sini!"

Biarpun ucapan itu ter-dengar halus, akan tetapi jelas bahwa hwesio kurus itu telah mengusirnya! Lee Cin tersenyum mengejek.

"Kalian agaknya menjauhi wanita seolah wanita itu wabah menular, agaknya kalian semua sudah lupa bahwa kalian dahulu dilahirkan oleh seorang wanita! Tidak perlu diantar, aku bisa keluar sendiri!"

Setelah berkata demlkian, dara ini memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.

Para hwesio dan murid yang mendengar ucapan itu hanya menjadi bengong saja.

In Kong Thaisu sendiri, hwesio yang gendut itu tidak mempedulikan sikap Lee 'Cin tadi dan kini dia sudah memeriksa denyut nadi dan dada Hui San.

"Hemm, Siangkoan Bhok sungguh keji. Tangannya tetap memancarkan maut dan agaknya dia membalas kekalahannya dari pinceng dahulu kepada murid pinceng."

Dia menghela napas panjang dan menyuruh seorang hwesio di situ untuk membantu Hui San memasukl kuil.

"Apakah Si Angin Timur itu mendendam kepadamu, Suheng?"

Tanya hwesio kurus itu yang bernama In Tiong Hwesio, Sute dari In Kong Thaisu, ketika dia berjaian masuk bersama suhengnya.

"Ah, terjadinya sudah belasan tahun yang lalu. Pernah kami bentrok dan bertanding sampai ratusan jurus, tidak ada yang kalah atau menang. Akhirnya, dengan It-yang-ci aku dapat merobohkannya, walaupun aku juga mengalami luka dari tangannya, akan tetapi tidak separah lukanya. Agaknya dia mengetahul bahwa Hui San muridku, maka dia sengaja melukai Hui San agar aku mencoba menyembuhkannya dengan It-yang-ci."

Setelah merebahkan Hui San di pem-baringan, In Tiong Hwesio berkata kepada suhengnya.

"Sayang sekali kepandaianku belum mencapai tingkat untuk menggunakan It-yang-ci dalam penyembuhan. Akan tetapi, engkau akan menghamburkan banyak tenagamu untuk menyembuhkan itu, Suheng. Dan untuk memulihkan kembali tenagamu tentu rnembutuhkan waktu yang lama sekali."

Suhengnya mengangguk-angguk.

"Omi-tohud, semua sudah takdir. Pinceng tidak membutuhkan tenaga itu, sekarang yang membutuhkannya adalah Hui San, mengapa tidak pinceng gunakan? Nah, silakan keluar dulu, Sute dan harap pesan semua murid agar tidak mengganggu pinceng sewaktu melakukan pengobatan."

"Pinceng mengerti, Suheng,"

Kata In Tiong Hwesio yang segera keluar dari ruangan itu dan menutupkan pintunya, kemudian dia memesan kepada para muridnya agar tidak mendekati ruangan itu.

Watak Lee Cin memang aneh.

Makin dilarang, ia menjadi makin ingin tahu.

Kalau saja ia tidak dilarang memasuki kuil, bahkan andaikata diterima dengan ramah dan dipersilakan masuk, ia tidak akan mau dan akan pergi begitu saja setelah mengantar Hui San sampai di tempatnya.

Akan tetapi justeru karena dilarang, maka kini setelah tiba di luar kuil ia lalu menyelinap dan memasuki kuil kembali melalui tembok belakang!

la melompati pagar tembok di belakang, tiba di kebun belakang dan menyelinap masuk lagi secara sembunyi.

Tak lama kemudian ia sudah mendekam di atas ruangan di mana In Kong Thaisu sedang mengobati Hui San dan mengintai ke dalam!

la melihat Hui San duduk berdila di atas pembaringan dan In Kong Thaisu bersilat secara aneh, kadang menggunakan sebuah jari telunjuknya untuk menotok jalan darah di punggung Hui San yang tidak berbaju.

Diam-diam Lee Cin memperhatikan semua itu dan mencatat dalam ingatannya semua gerakan yang dilakukan .In Kong Thaisu.

Tanpa disadari, gadis ini telah mempelajari jurus-jurus dari Ityang-ci yang diperagakan In Kong Thaisu, juga ia melihat ke mana jari telunjuk itu menotok jalan darah.

In Kong Thaisu memainkan semua jurus It-yang-ci dengan menotok jalan darah di pundak, punggung, kemudian dada Hui San setelah memutar tubuh pemuda itu menghadapnya.

Setelah selesai, uap putih keluar dari ubun-ubun kepala yang gundul itu dan In Kong Fhaisu berhenti, lalu berkata.

"Bahaya telah lewat, akan tetapi engkau masih harus bersamadhl mengumpulkan hawa murni selama tiga jam."

Setelah berkata demikian, dengan tubuh lemas hwesio itu sendiri juga lalu duduk bersila.

Agaknya dia telah mengeluarkan tenaga terlalu banyak sehingga kehabisan tenaga.

Sementara itu, demikian asiknya Lee Cin mengintai sampai ia tidak tah bahwa ada seorang hwesio mendekatinya dari belakang.

Tiba-tiba saja hwesio itu membentak.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Lee Cin kaget seterigah mati dan saking kagetnya ia lalu meloncat turun ke dalam ruangan itu! Hwesio murid Siauw-lim-pai itu mengejarnya.

"Hendak lari ke mana kau?"

Bentaknya dan dia pun meloncat turun ke dalam ruangan di mana Hui San dan In Kong Thaisu masih duduk bersila.

Ketika hwesio itu sudah tiba di depan Lee Cin, secara otomatis Lee Cin lalu menggerakkan tangan dan karena pikirannya masih penuh dengan hafalan tentang jurus-jurus It-yang-ci yang tadi diperagakan In Kong Thaisu, maka kini ia pun menyerang dengan jurus It-yang-ci!

Lee Cin memang sudah memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali, maka gerakannya itu cukup hebat dan biarpun hwesio itu sudah mengelak, tetap saja dadanya tertotok.

Hanya karena Lee Cin belum dapat melakukan jurus itu dengan tepat sekali, maka totokan itu meleset dan hanya membuat hwesio itu terjengkang saja.

Pada saat itu, In Tiong Hwesio yang mendengar suara ribut-ribut memasuki ruangan itu dan alangkah heran dan kagetnya melihat Lee Cin berada di ruangan itu dan seorang muridnya terjengkang.

"Omitohud! Apa yang terjadi di sini?"

Katanya.

Akan tetapi melihat hwesio tinggi kurus ini, Lee Cin khawatir kalau ia diserang lebih dulu, maka ia melanjut-kan gerakannya, menyerang dengan It-yang-ci pula!

In Tiong Hwesio adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandaL Biarpun ilmunya belum setinggi In Kong Thaisu, akan tetapi dia mengenal lt-yang-ci dan cepat ia mengibaskan lengan bajunya yang lebar untuk menangkis dan melanjutkan dengan kibasan lengan baju untuk balas menyerang.

Akan tetaoi Lee Cin cukup lihai dan cepat menghindar.

"Tahan....!!"

Tiba-tiba In Kong Thaisu berteriak dan kedua orang itu pun ber-henti saling serang. Teriakan In Kong Thaisu itu berwibawa sekali dan Lee Cin berdiri sambil memandang, siap untuk menghadapi teguran.

"Nona, dari mana engkau mempelajari It-yang-ci?"

Tanya In Kong Thaisu sambil bangkit berdiri menghadapi Lee Cin, suaranya penuh tuntutan dan pandang matanya mencorong.

Sedangkan Thio Hui San juga hanya dapat memandang saja.

Dia bingung dan tidak mengerti mengapa Lee Cin memasuki ruangan itu bahkan merobohkan seorang hwesio dengan jurus Ityang-ci yang amat sukar.

"Maaf, Losuhu,"

Kata Lee Cin dengan sejujurnya.

"Ketika diusir dari sini, aku menjadi penasaran sekali dan ingin melihat kuil ini ada apanya maka melarang wanita memasukinya. Kalau aku tidak dilarang, tentu tidak ingin melihat. Tanpa sengaja aku melihat Losuhu mengobati muridnya. Karena tertarik melihat gerakan-gerakan totokan itu, maka aku men-jadi terpikat dan diam-diam aku memperhatikannya dari awal sampai akhir. Kemudian aku ketahuan dan karena khawatir diserang, aku lalu lebih dulu menyerangnya, dan tanpa kusadari aku me-mainkan jurus-jurus yang tadi aku lihat ketika mengintai."

"Omitohud.... kiranya pinceng sendiri yang mengajarimu It-yang-ci! Sungguh aneh dan agaknya memang sudah ditentukan Yang Maha Bijaksana bahwa engkau berjodoh dengan Ityang-ci, Nona muda. Baiklah, engkau sudah melihat dan menghafalkan jurus-jurus It-yang-ci, ini berbahaya sekali, baik bagimu maupun bagi orang lain. Maka pinceng akan mengajarkan It-yang-ci kepadamu agar engkau dapat menguasai dengan benar dan baik. Akan tetapi lebih dulu engkau harus bersumpah bahwa engkau tidak akan nengajarkannya kepada orang lain dan akan menggunakan It-yang-ci untuk berbuat kebaikan, bukan kejahatan."

Lee Cin menjadi girang bukan main. la tahu bahwa It-yang-ci itu merupakan ilmu simpanan dari hwesio sakti itu, mana cepat ia menjatuhkan diri berlutut.

"Saya bersumpah kalau diberi pelajaran It-yang-ci tidak akan mengajarkannya kepada orang lain dan tidak akan menggunakan untuk kejahatan'"

La lalu memberi hormat seperti layaknya seorang murid, akan tetapi hwesio itu mencegahnya.

"Omitohud, tidak perlu engkau mengangkat guru kepada pinceng. Pinceng akan mengajarkan It-yang-ci, bukan berarti engkau menjadi murid pinceng. Eng-kau tetap murid gurumu, siapa pun adanya dia. Nah, mari kita pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat)!"

Demikianlah, mulai hari itu Lee Cin dilatih It-yang-ci oleh In Kong Thaisu, dan karena dara ini memang berbakat baik sekali dan mempunyai ingatan yang kuat, maka selama tiga hari saja ia sudah dapat menguasai ilmu itu.

Untuk menyempurnakan, ia tinggal berlatih saja.

Pada hari ke tiga, ketika ia berlatih seorang diri, In Kong Thaisu mengham-pirinya dan berkata setelah sejenak memperhatikan cara gadis itu berlatih.

"Engkau sudah menguasainya dengan baik, Lee Cin. Sekarang tergantung kepadamu ssendiri untuk dapat menguasai dengan sempurna, yaitu dengan melatih diri. Juga terserah kepadamu apakah kelak engkau akan memegang teguh sumpahmu untuk merahasiakan ilmu ini, tidak meng-ajarkan kepada orang lain dan tidak melakukannya untuk kejahatan. Kalau engkau melanggar, tentu engkau pula yang akan menanggung akibat buruknya."

Biarpun ia seorang gadis yang berpembawaan liar karena sejak kecil hidup bersama Ang-tok Mo-li, akan tetapi pada hakekatnya Lee Cin adalah seorang gadis yang mengenal aturan dan mengenal budi.

la cepat memberi hormat dengan berlutut di depan kaki hwesio itu.

"Saya menghaturkan terima kasih atas petunjuk Locianpwe dan saya tentu akan memegang teguh janji dan sumpah saya."

"Omitohud, pinceng girang sekali, Lee Cin. Nah, sekarang engkau boleh pergi meninggalkan tempat inl."

Lee Cin lalu berpamit dan pergilah ia meninggalkan kuil itu. Setibanya di luar kuil, dia mendengar panggilan dari belakang.

"Nona....!"

Lee Cin berhenti melangkah dan ketika ia menengok, ternyata yang memanggilnya adalah Hui San.

la melihat pemuda itu telah sembuh sama sekali dan ini membuktikan betapa amouhnya ilmu It-yang-ci untuk pengobatan.

"Engkau telah sembuh. Aku girang sekali... eh, siapa tadi namamu?"

Lee Cin mengingat-ingat akan tetapi lupa lagi.

"Namaku Thio Hui San, Nona. Dan kalau boleh aku mengetahui namamu...."

"Tentu saja boleh. Namaku Lee Cin, Bu Lee Cin."

"Nama yang indah dan gagah, seperti orangnya,"

Hui San memuji. Lee Cin tersenyum.

"Aih, kiranya engkau seorang pemuda yang pandai me-muji dan merayu pula."

Hui San juga tersenyum.

"Sama sekali tidak memuji atau merayu, Nona. Aku bicara sejujurnya. Aku pun gerhbira sekali bahwa engkau telah menerima pelajaran It-yang-ci dari Suhu, padahal aku sendiri belum diajari It-yang-ci. Akan tetapi setelah Suhu mengajarkannya ke-padamu, dia berjanji akan mengajarku pula."

"Ini semua berkat pertolonganmu ke-padaku, Hui San. Kalau engkau tidak menolongku dari tangan ayah dan anak Siangkoan itu, mungkin sekarang aku sudah mati dan tidak bertemu dengan gurumu yang mengajarkan it-yang-ci kepadaku. Kelak, kalau bertemu lagi dengan jahanam Siangkoan Tek, tentu akan kubunuh dia dengan It-yang-ci!"

"Tidak perlu bicara tentang pertolongan, Nona. Sebaliknya, kalau tidak ada engkau yang menolongku membawa aku ke kuil, tentu aku sudah mati dalam perjalanan pula. Orang-orang seperti kita inl memang harus saling tolong menolong dalam menghadapi orang-orang jahat."

"Hemm, engkau boleh berkata demikian karena engkau adalah murid Locian-pwe In Kong Thaisu. Engkau memang sepantasnya menjadi seorang pendekar budiman. Akan tetapi aku... ah, aku hanya, seorang gadis kasar yang bodoh."

"Tidak sama sekali, Nona. Dalam pandanganku, engkau adalah seorang yang amat baik, gagah perkasa dan berbudi mulia. Aku... aku ingin agar selama hidupku menjadi... sahabat baiknnu, Nona."

"Hui San, engkau ingin menjadi sahabatku, akan tetapi engkau masih bersungkan-sungkan menyebutku nona segala. Engkau sudah tahu bahwa namaku Lee Cin."

Hui San tersenyum.

"Baiklah, Lee Cin. Aku girang sekali dapat menyebut namamu."

"Sudahlah, aku harus pergi, Hui San. Selamat tlnggal dan mudah-mudahan kita akan dapat berjumpa kembali."

"Nanti dulu, Lee Cin! Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu? Ke mana aku harus mencarimu?"

Lee Cin tersenyum manis.

"Hui San, engkau akan terkejut setengah mati ka-lau mengetahui di mana tempat tinggalku dan siapa pula guruku. Sudahlah, tidak perlu engkau tahu karena hal itu hanya akan membuatmu menyesal dan kecewa kepadaku."

"Tidak, aku bersumpah, siapapun juga gurumu dan di mana pun tempat tinggalmu, tidak akan membuatku kecewa dan aku akan tetap mencarimu di sana."

"Benarkah? Engkau mau tahu? Nah, tempat tinggalku di Bukit Ular di Lembah Huang-ho."

Hui San terbelalak.

"Bukit Ular di Lembah Huang-ho? Tidak salahkah itu? Setahuku hanya ada satu tempat yang disebut Bukit Ular di Lembah Hyang-ho...."

"Memang hanya satu,"

Sambung Lee Cin sambil tersenyum manis.

la "idak akan merasa menyesal atau heran kalau nanti Hui San terkejut dan berbalik tidak suka lagi kepadanya setelah mendengar siapa gurunya.

Nama gurunya sudah amat terkenal sebagai seorang datuk sesat yang suka membunuh orang tanpa berkedip mata.

"Kaumaksudkan, tempat tinggal Ang-tok Mo-li?"

Tanya Hui San, masih terheran-heran.

"Tepat sekali. Memang Ang-tok Mo-li itulah guruku. Engkau terkejut dan menyesal?"

"Sungguh mati, aku terkejut bukan main, Lee Cin. Dan tidak kusangka-sangka, akan tetapi menyesal? Kecewa Rasanya tidak, karena engkau adalah seorang gadis yang, gagah perkasa dan berbudi mulia. Gurumu tidak ada sangkut-pautnya dengan kepribadianmu."

"Benarkah itu?"

"Aku berani bersumpah. Dan untuk membuktikan bahwa aku tidak menyesal atau kecewa, sekali waktu aku tentu akan berkunjung ke Bukit Ular untuk mencarimu."

"Hemm, engkau akan dibunuh guruku!"

"Aku tidak khawatir. Bukankah ada engkau di sana? Kecuali kalau engkau membiarkan aku dlbunuh gurumu, apa boleh buat, akan tetapi hal itu tidak membuat aku mundur."

"Heii, Hui San, kenapa sih engkau ngotot hendak mengunjungi aku? Sampai-sampai engkau berani mengorbankan atau mempertaruhkan nyawamu?"

Tiba-tiba Hui San mengangkat dada.

"Seorang gagah harus berani jujur dan berterus terang, Lee Cin. Engkau berta-nya? Baiklah, akan kujawab. Aku berani nekat karena aku cinta padamu! Nah, sudah lega sekarang, isi hatiku sudah kukeluarkan. Terserah kepadamu apakah engkau dapat menerima cintaku ataukah tidak."

Kini Lee Cin merasa terkejut.

Jawaban itu sungguh tidak pernah diduganya.

Selama ini, banyak pria yang tergila-gila kepadanya.

Walaupun tidak ada yang berterus terang menyatakan cinta.

Akan tetapi semua itu tidak pernah ditang-gapinya sama sekali, karena ia mengang-gap para pria itu hanya ingin mempermainkannya.

Dan selama ini hatlnya baru pertama kali pernah tertarik pada pria, yaitu kepada Song Thian Lee.

Walaupun Thian Lee belum menanggapi perasaan hatinya, akan tetapi ia masih tetap mengharapkan agar kelak Thian Lee menjadi jodohnya.

Dan kini, tahu-tahu dan tiba-tiba saja pemuda Siauw-lim-pai yang tampan dan gagah perkasa ini menyatakan cinta kepadanya!

Wajahnya menjadi kemarahan dan ia merasakan jantungnya berdebar panuh ketegangan.

Belum pernah ia merasa tegang seperti saat ini, dan dengan salah ting-kah ia lalu pergi sambil berkata.

"Aku tidak tahu... sungguh aku tidak tahu...."

Dan ia pun melarikan diri dari tempat itu, meninggalkan Hui San yang menjadi bengong karena pemuda ini tidak mengerti akan sikapnya itu.

Gadis yang dicintanya itu mendengar pernyataan cintanya, tidak menerima, juga tidak me-nolak, melainkan pergi dan menjawab tidak tahu.

Dia tidak berani mengejar, lalu menarik napas panjang penuh kebimbang-an dan kembali memasuki kuil.

Hari itu dia harus kembali bersama suhunya ke Kwicu, tempat tinggal suhunya, di sebuah Kuil Siauw-lim-si yang besar.

Setelah meninggalkan Kuil Siauw-llm, Lee Cin melanjutkan perjalanannya.

Yang dituju adalah Hong-san karena ia hendak memenuhi pesan subonya untuk menemui Souw Tek Bun, yang oleh subonya dikatakan musuh besar subonya itu.

la sendiri tidak pernah bertemu dengan Souw Tek Bun dan tidak tahu dia orang macam apa, akan tetapi subonya berpesan agar ia membunuhnya.

Selama menjadi murid Ang-tok Mo-li, Lee Cin merasa betapa gurunya itu amat sayang kepadanya, mendidiknya dengan tekun dan mencukupi semua kebutuhannya.

Dan selama ini subonya tidak pernah menyuruh ia melakukan pekerjaan penting atau berat.

Sekarang, setelah ilmunya dianggap mencukupi, subonya minta agar ia membunuh musuh besar subonya yang bernama Souw Tek Bun.

Maka ia harus melakukan ini, untuk membalas budi subonya yang ber-limpah-limpah.

Menurut subonya, Souw Tek Bun adalah bengcu dunia kang-ouw.

Tentu berilmu tinggi!

Akan tet.ipi ia tidak takut, apalagi sekarang ia telah menguasai It-yang-ci, walaupun baru berlatih selama tiga hari saja Ilmu itu memang belum dapat ia pergunakan dengan baik, kurang latihan, akan tetapi gerakannya sudah lumayan menambah kelincahannya.

Ketika ia sudah tiba di kakl pegunungan Hong-san yang sunyi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh munculnya tiga orang.

Tentu saja ia makin terkejut ketika mengenal bahwa orang itu bukan lain adalah Coat-beng-kwi, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi!

la merasa heran bukan main.

Sepanjang pengetahuannya, tiga orang datuk perampok inl telah ditangkap oleh pasukan pemerintah di kota Pao-ting ketika mereka cerai-berai melarikan diri setelah dihajar oleh ia dan Thian Lee yang membantu Souw-pangcu.

Bagai-mana sekarang mereka dapat muncul di sini?

Memang demikianlah.

Tiga orang to-koh sesat ini tadinya sudah dikepung dan ditangkap pasukan.

Mereka tidak melaku-kan perlawanan, akan tetapi ketika mereka digiring ke rumah tahanan, tiga orang ini memberontak dan berhasil me-larikan diri.

Mereka menjadi orang buru-an pemerintah.

Dan secara kebetulan saja mereka kini tiba di kaki Pegunungan Hong-san dalam usaha mereka menyembunyikan diri.

Merasa bahwa ia seorang diri tidak mungkin dapat menandingi tiga orang itu, Lee Cin bermaksud menghindarkan dirl.

Akan tetapi, tiga orang itu sudah melihatnya.

Terutama sekali Thian-lo-kwi yang pernah ia kalahkan.

"Heii, berhenti kau!"

Thian-lo-kwi membentak dan tiga orang itu sudah berloncatan mengejar Lee Cin.

Karena sudah ketahuan, Lee Cin juga tidak melanjutkan larinya.

la bahkan membalikkan tubuhnya tanpa mengenal takut.

Memang kalau melawan satu demi satu, ia sama sekali tidak takut dan merasa yakin akan merobohkan mereka semua.

iHemm, kiranya kalian, pecundang-pecundang yang sudah kalah.

Mau apa kalian mengejarku?"

Lee Cin balas membentak.

"Iblis betina, sekarang tibalah saatnya kami membalas kekalahan kami tempo hari!"

Thian-lokwi membentak marah. Lee Cin tersenyum.

"Bagus!' Kalian belum jera? Boleh maju satu-satu, kalau kalian memang gagah."

Ia sengaja me-nantang demikian dengan harapan tiga orang itu akan merasa malu untuk me-ngeroyoknya.

Akan tetapi, orang yang merasa sakit hati, mana mengenal.

rasa malu lagi?

Coat-beng-kwi sudah menca-but goloknya, sedangkan dua orang kakaknya, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi telah mencabut pedang masing-masing.

Dan tanpa banyak cakap lagi tiga orang tokoh sesat ini segera mengepung dan menyerang Lee Cin.

Lee Cin sudah melolos Ang-coa-kiam, pedang tipisnya yang dipakai sebagai sabuk, dan melawan ma-ti-matian.

Ia maklum bahwa tiga orang tua itu kalau maju bersama merupakan lawan yang amat tangguh, akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan membalas dengan gulungan sinar pedangnya yang kemerahan.

Tiga orang itu.kalau maju satu lawan satu, tidak akan menang melawan Lee Cin.

Biarpun Butek Lo-kwi sendiri yang paling lihai di antara mereka, akan mengalami kesulitan kalau bertanding mela-wan Lee Cin.

Akan tetapi sekarang me-reka maju bertiga dan tentu saja dapat saling bantu dan pengeroyokan itu akhir-nya membuat Lee Cin terdesak hebat.

Didesak oleh tiga orang yang menyerang untuk membunuhnya.

Lee Cin menjadi repot juga.

Untuk memanggil ular-ularnya, ia tidak sempat lagi meniup sulingnya, ia didesak hebat sehingga main mundur, berloncatan ke sana sini dan hanya berkat kelincahan gerakan tubuhnya sajalah yang membuat Lee Cin masih belum dapat dirobohkan walau penge-royokan itu sudah berlangsung hampir seratus jurus!

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Lee Cin itu, tiba-tiba mun-cul seorang kakek tinggi kurus yang ber-pakalan hitam putih.

Di bajunya bagian dada ada lukisan Imyang.

Kakek ini berusia hampir enam puluh tahun namun masih nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.

Dia ini bukan lain adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek, datuk besar dari selatan itu, begitu muncul dan melihat seorang gadis cantik jelita dikeroyok tiga orang itu, dan sedang didesak hebat, dia membentak.

"Tiga ekor anjing srigala mengeroyok seekor harimau betina, sungguh tidak tahu malu!"

Dia menyerbu ke dalam medan pertempuran itu dan empat orang yang sedang bertanding itu dilanda angin yang kuat sehingga mereka terkejut dan berlompatan mundur sambil memandang ke arah kakek tinggi kurus itu.

Coat-beng-kwi yang brangasan itu menjadi marah.

Dia melangkah maju dan membentak.

"Kau orang gila dari mana datang mencampuri urusan kami!"

Setelah berkata demikian, dia menggerakkan golok besarnya membacok k.e arah kakek tinggi kurus itu.

Thian-te Mo-ohg menyenngai, sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi ketika golok itu sudah menyambar dekat di kepalanya, tangan kirinya menyambar dari bawah dan tahu-tahu golok itu telah ditangkapnya!

Coat-beng-kwi terkejut ketika goloknya tertahan.

Akan tetapi melihat orang itu berani menangkap goloknya yang tajam, dia menjadi girang dan segera mengerah-kan tenaganya untuk membuat tangan yang mencengkeram goloknya itu menjadi buntung.

Akan tetapi goloknya tidak dapat dia gerakkan, bahkan ketika ditarik hendak dilepaskan dari cengkeraman, golok itu tidak bergerak seolah telah terjepit oleh jepitan baja yang amat kuat.

Thian-te Mo-ong mengerahkan tenaganya pada tangan kiri yang mencengkeram dan "krekk'"

Golok itu telah patah menjadi dua dan bagian ujungnya kini berada di dalam tangannya.

"Nah, ini makan golokmu sendiri!"

Bentaknya dan sekali tangan kirinya bergerak, ujung golok itu telah menyambar bagaikan sebatang anak panah melesat dari busurnya.

Jarak di antara mereka dekat sekali, maka Coat-beng-kwi tidak sampai lagi untuk mengelak atau menangkis karena tahu-tahu ujung goloknya itu telah menancap dl dadanya.

Dia mengeluarkan teriakan keras dan roboh terjengkang, tewas karena ujung golok yang tajam itu telah memasuki dadanya dan merobek jantungnya!

Melihat ini, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi menjadi terkejut bukan main, dan juga marah.

Mereka berdua segera menggerakkan pedang mereka, menyerang Thian-te Mo-ong dengan dahsyat.

Yang diserang mengelak ke belakang dan di lain saat Thian-te Mo-ong sudah memegang pedang yang berkilauan.

Akan tetapi, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi yang sudah marah melihat kematian adik mereka, tidak peduli dan mereka berdua segera menyerang lagi dengan tusukan dan bacokan maut.

Akan tetapi kini nampak dua gulung sinar pedang yang demikian kuat sehingga mengejutkan dua orang pengeroyok itu.

Akan tetapi keka-getan mereka sudah terlambat.

Dua gulungan sinar pedang itu telah menghimpit sinar pedang mereka dan menekan sedemikian hebatnya sehingga mereka tidak mampu menghindarkan diri lagi.

Terpaksa mereka menggunakan pedang untuk me-nahan dan melindungi diri mereka dari sambaran gulungan dua sinar pedang yang demikian kuatnya itu.

Namun, ini juga tidak dapat bertahan lama.

Belum sampai dua puluh jurus, Thian-lo-kwi terpelanting roboh dengan leher tertembus pedang!

Bu-tek Lo-kwi terkejut dan juga marah, menggerakkan pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengirim pukulan jarak jauh sambij mengerahkan sin-kangnya.

Akan tetapi Thian-te, Mo-ong menyambut pukulan tangan kiri ini dengan sambaran pedangnya.

jurus, Thian-lo-kwi terpelanting roboh dengan leher tertembus pedang!

Bu-tek Lo-kwi terkejut dan juga marah, menggerakkan pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengirim pukulan jarak jauh sambij mengerahkan sin-kangnya.

Akan tetapi Thian-te, Mo-ong menyambut pukulan tangan kiri ini dengan sambaran pedangnya.

"Crokk....!"

Lengan kiri Bu-tek Lo-kwi buntung sebatas siku! Bu-tek Lo kwi terkejut sekali dan melompat mundur. Mukanya menjadi pucat dan matanya terbelalak inemandang orang tinggi kurus itu.

"Katakan siapa engkau....bentaknya dengan terengah menahan rasa nyeri.

"Selamanya Thian-te Mo-ong tidak pernah menyembuhyikan nama."

Kata kakek itu sambil tertawa mengejek.

Bukan main kagetnya Bu-tek Lo-kwi mendengar nama ini.

Tenu saja dia su-dah mendengar akan nama besar datuk selatan itu.

Karena baru sekarang bertemu, tadi dia tidak menduga bahwa yang dilawannya adalah Datuk Selatan.

Dia sudah mendengar akan kekejaman datuk ini, maka dia pun menjadi putus harapan untuk dapat keluar dengan selamat, dan dia menjadi nekat.

Sambil membentak nyaring, dia melompat ke depan sambil menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi, pedang itu tertangkis oleh pedang kiri Thian-te Mo-ong dan pedang kanan datuk itu sudah menembus dada Bu-tek Lo-kwi dan robohlah tokoh sesat itu dan tewas seketika!

Lee Cin memandang dengan kaeum.

Bukan main lihainya kakek itu dan ia pun tidak merasa heran.

Ia tadi men-dengar pengakuan kakek itu dan sudah Aama pula ia mendengar akan nama besar Ihian-te Mo-ong sebagai Datuk Besar Selatan.

Ia tidak pergi karena tadi ia mgin sekah melihat perkelahian itu.

Baru setelah ketiga orang itu roboh tewas, ia tenngat betapa bahayanya orang seperti Datuk SeJatan ini.

Dan kini sudah terlambat baginya untuk melarikan diri dan terpaksa ia wenghadapi Thian-te Mo-ong ''Jadi engkaukah yang berjuluk Thian-te Mo-ong?

Suboku sering bercerita tentang Datuk Besar Selatan.

Ternyata pujian guruku bukan kosong belaka.

Engkau memang lihai sekali, Thian-te Mo-orig dan aku berterima kasih kepadamu telah menolongku dari tangan mereka."

Thian-te Mo-ong tertawa.

"Ha-ha-ha,'' subomu Ang-tok mo-li itu, Cantik jelita, sayang mukanya pucat selalu. Engkau jauh lebih jelita, Nona. Dan aku Thian-te Mo-ong selamanya kalau melakukan sesuatu tentu ada pamrihnya. Tadi aku menolongmu dan membunuh tiga ekor anjing ini pun tentu ada pamrihnya.

"Hemm, apakah pamrihmu, Mo-ong?"

"Aku tertarik kepadamu. Kalau bukan engkau yang dikeroyok, untuk apa aku mencampuri urusan mereka? Engkau cantik dan berbakat pantas menjadi muridku. Maka, engkau harus menjadi muridku selama dua tahun!"

"Tidak, Subo tertu marah sekali .

"Ha-ha, soal Ang-tok Mo-li serahkan saja kepadaku. Aku yang akan memberi tahu kepadanya kelak. Engkau harus mulai sekarang ikut dengan aku!"

Diam-diam Lee Cin merasa terkejut dan khawatir sekali.

Jelas ia tidak mampu melawan kakek ini dan sekali kakek ini sudah mengambil keputusan, bagaimana mungkin ia dapat mengubahnya?

Dan ia tahu bahaya besar mengancam dirinya kalau ia ikut dengan kakek itu untuk menjadi muridnya.

Pandang mata kakek itu saja sudah membuat bulu romanya berdiri!

Lee Cin lalu cepat mengeluarkan sulingnya, melompat ke bela-kang sambil meniup sulingnya.

Suara sulingnya melengklng-lengking dan melihat ini, Thian-te Mo-ong hanya menyeringai saja, seolah melihat pertunjukan yang menarik hati.

Tentu saja dia sudah tahu bahwa selain ilmui-lmunya yang lain Ang-tok Mo-li terkenal sebagai seorang ahli racun dan juga pawang ular.

Dan dia tahu apa artinya suara suling yang melengking-lengking itu.

Agaknya gadis ini mewarisi juga ilmu pawang ular.

Tadi dia langsung saja dapat menduga bahwa gadis itu murid Ang-tok Mo-li dengan melihat pedang merah dan gerakan ilmu pedang yang nnelingkar-Ungkar seperti gerakan ular itu, Tak lama kemudian, nampak banyak sekali ular berdatangan ke tempat itu, berkumpul di depan Lee Cin yang meniup suling.

Lee Cin menghentikan tiupan sulingnya dan berkata.

"Mo-ong, aku tidak mau ikut denganmu. Cepat pergi tinggalkan aku."

"Ha-ha, kalau aku tidak mau pergi tanpa engkau?"

"Akan kukerahkan ular-ular ini untuk mengeroyokmu!"

Ancam Lee Cin, siap untuk meniup sulingnya.

"Ha-ha-ha, boleh! Ingin aku melihatnya!"

Kata kakek itu sambil tertawa, Lee Cin segera meniup sulingnya dan puluhan ekor ular itu serentak membalik dan merayap ke arah Thian-te Mo-ong!

Kakek itu lalu meruncingkan mulutnya dan terdengarlah suitan-suitan yang nyaring sekali.

Suara suitan ini bercarnpur aduk dengan suara suling, seolah menyeret suara suling sehingga tiupan suling terdengar sumbang.

Dan kini ular-ular itu menjadi kacau, tidak jadi menyerang Thian-te Mo-ong melalnkan berputar-putar seperti keblngungan oleh perintah suling yang tidak karuan itu.

Tiba-tiba Thian-te Mo-ong meloncat ke arah Lee Cin dan menyerangnya dengan cengkeraman.

Lee Cin cepat meloloskan pedangnya, akan tetapi tahu-tahu suUngnya telah dirampas kakek itu sehingga ia tidak dapat lagi menguasai ular-ularnya.

Binatang-binatang itu setelah tidak lagi rnendengar suara suling, perlahan-lahan lalu merayap pergi agaknya ketakutan melihat dua orang saling bertanding.

Lee Cin menggerakkan pedangnya untuk membela diri.

Dan kakek itu hanya menggunakan suling rampasan tadi.

Setelah lewat tiga puluh jurus, akhirnya Lee Cin roboh tertotok suling!

Pada saat itu, ada angin menyambar dan suling itu telah dirampas orang dari tangan Thian-te Mo-ong.

Kakek ini terkejut bukan main.

Jarang ada orang yang akan mampu merampas suling itu dari tangannya sedemiklan mudahnya.

Tadi, setelah merobohkan Lee Cin dia menjadi lengah dan ketika ada angin dahsyat menyambar, dia mengelak tidak tahu bahwa sulingnya yang diarah orang itu.

Dan kini, suling itu telah berpindah tangan!

Lee Cin menjadi girang bukan main ketika melihat siapa yang muncul di situ.

Thian Lee!

Akan tetapi Thian-te Mo-ong mengerutkan alisnya, semakin penasaran dan marah ketika melihat bahwa yang merampas sulingnya hanyalah seorang pemuda yang sederhana!

Thian Lee lalu menghampiri Lee Cin dan sekali dia menggerakkan suling itu, tubuh Lee Cin telah dibebaskannya dari totokan dan suling itu dia serahkan kembali kepada Lee Cin.

"Untung engkau segera muncul Thiah Lee. Akan tetapi hati-hatilah, kakek itu adalah Thian-te Mo-ong, Datuk Selatan dan dia lihai sekali."

Thian Lee memandang ke arah tiga sosok mayat yang berserakan di situ dan dia bertanya.

"Lee Cin, apakah yang telah terjadi di sini?"

"Aku dikeroyok Coat-beng-kwi dan dua orang kawannya. Agaknya mereka itu dapat meloloskan diri ketika ditangkap dan kebetulan bertemu denganku di sini. Aku dikeroyok tiga dan kewalahan. Lalu muncul Thian-te Mo-ong membunuh mereka bertiga."

"Ah, dia menolongmu dan kenapa kemudian bertanding denganmu?"

"Habis, dia hendak memaksa aku ikut dengan dia sebagai murid. Aku tidak dan dia memaksaku."

Sementara itu, Thian-te Mo-ong menjadi semakin jengkel melihat dua orang muda itu bercakap-cakap berdua tanpa mempedulikan dirinya, seolah dia tidak berada di tempat itu.

"Hei, orang muda, siapakah engkau yang berani menentangku? Mengakulah sebelum engkau mati tanpa nama!"

Bentaknya dan Thian-te Mo-ong melangkah maju menghampiri Thian Lee. Pemuda ini lalu menghadapi kakek itu dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Maafkan aku locianpwe, Bukan sekali-kali aku hendak menentang Locianpwe, melainkan nona ini adalah seorang sahabatku dan aku minta Locianpwe tidak mengganggunya lagi."

"Siapa namamu dan siapa pula gurumu?"

"Namakii Song Thian Lee dan guruku banyak, Locianpwe, di antara mereka adalah Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi,"

Thian Lee tidak mau menyebutkan nama Tan Jeng Kun yang tidak ingin dikenal orang, dan dia menyebutkan nama dua orang gurunya yang pertama dan ke dua dengan harapan bahwa nama dua orang tokoh sesat itu akan membuat kakek ini tidak akan mengganggunya lebih lanjut karena telah mengenal guru-gurunya.

"Ah jadi engkau murid Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi? Hemm, bahkan kedua orang gurumu itu saja tidak akan berani menentangku! Akan tetapi engkau muridnya, sudah berani kurang ajar terhadapku. Aku harus memberi hajaran kepadamu!"

"Locianpwe, aku tidak mencan permusuhan dengan siapapun juga. Harap suka membiarkan kami berdua pfergi dari sini."

"Hemm, tidak semudah itu Engkau harus mengenal dulu kelihaianku, dan kalau Nona itu hendak membantumu mengeroyokku, boleh saja!"

Kakek itu menantang dengan sombong. Lee Cin yang merasa penasaran dan marah kepada kakek itu lalu berkata dengan nada mengejek.

"Mo-ong, jangan takabur! Melawan Thian Lee seorang saja engkau tidak akan menang, kalau aku ikut pula maju mengeroyok, tentu dalam belasan jurus saja engkau sudah akan bertekuk lutut. Akan tetapi aku tahu bahwa Thian Lee bukanlah seorang yang suka main keroyokan, maka aku hendak melihat bagaimana engkau akan mampu menandinginya."

Lee Cin bukan, hanya mengejek, melainkan ia sudah dapat menyelami watak Thian Lee yang gagah perkasa.

Tentu pemuda itu tidak mau kalau ia ikut mengeroyok kakek itu.

Demikianlah sifat seorang yang gagan perkasa dan ia tahu bahwa watak Thian Lee adalah watak seorang pendekar yang gagah perkasa.

Thian-te Mo-ong marah sekali.

"Kalau begitu, engkau lihat betapa aku akan menghajar murid Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi ini. Thian Lee, bersiaplah engkau!"

Thian Lee tidak berani memandang ringan kakek ini.

Dia sudah mendengar akan nama besar Empat Datuk Besar di dunia persilatan dan kakek di hadapannya ini adalah seorang di antara mereka.

Kalau dia ingin dapat menandingi ilmu kepandaian kakek ini, dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya.

"Aku telah siap, Locianpwe,"

Katanya dengan sikap menghormat.

"Sambutlah ini!"

Bentak Thian-te Mo-ong.

Bentakannya nyaring dan mengandung tenaga khikang sepenuhnya, kemudian tangan kirinya meluncur ke depan dengan cengkeram ke arah muka Thian Lee sedangkan tangan kanan menyusul gerakan pancingan itu menghantam ke arah perutnya.

Hantaman tangan kanan kini dilakukan dengan Iwee-kang (tenaga dalam) sepenuhnya sehingga tangan yang terbuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara angin menderu.

Namun, dengan ringan sekali Thian Lee mengelak, mula-mula menarik kepalanya ke belakang, lalu memutar tubuh sehingga pukulan lawan ke arah perutnya mengenai tempat kosong.

Akan tetapi Thian-te Mo-ong sudah menyusulkan serangan berikutnya dan kini bahkan kedua tangannya menghantam ke arah kepala dari atas bawah.

Thian Lee tidak mundur dia memang ingin menguji tenaganya untuk menghadapi tenaga Mo-ong, maka dia mengangkat kedua tangannya menangkis sambil mendorong dengaft tenaga Thian-te Sinkang.

Tidak dapat dihindarkan lagi dua pasang lengan itu bertemu di udara.

"Dukkkk!"

Dua tenaga yang dahsyat saling bertemu dan akibatnya, tubuh Thian-te Mo-ong agak terpental ke belakang sedangkan kedua kaki Thian Lee masuk ke dalam tanah sampai lima sentimeter!

Keduanya maklum bahwa tenaga sin-kang mereka seimbang dan hal ini sungguh mengejutkan Thian-te Mo-ong.

Mo-ong tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya dan pemuda itu mampu menahan pukulannya.

Padahal menurut perhitungannya, bahkan Liok-te Lo-mo atau bahkan Jeng-ciang-kwi sendiri belum tentu akan mampu menahannya!

Bagaimana mungkin murid mereka dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya?

Tentu saja dia tidak tahu bahwa selain mempunyai dua orang guru itu, Thian Lee masih digembleng oleh orang yang lebih lihai lagi, yaitu Tan Jeng Kun dan bahkan lebih dari itu, Thian Lee telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat dahsyat dari seorang sakti dan telah makan jamur ular belang yang memberinya tenaga yang hebat.

Kini Thlan-te Mo-ong menjadi penasaran sekali dan mulailah dia menyerang pemuda itu dengan ilmu silatnya tangan kosong yang ampuh.

Iblis Selatan ini memiliki ilmu silat tangan kosong yang berdasarkan Im dan Yang sehingga terdapat perubahan-perubahan yang saling bertentangan.

Kadang pukulannya menggeledek, keras mengandung tenaga kasar yang amat kuat, dan tiba-tiba saja pukulannya berubah lembut namun mengandung tenaga lembut yang berbahaya ka rena dapat mendatangkan luka dalam tubuh lawan.

Akan tetapi betapa terkejutnya krtika dia melihat pemuda itu dapat menandinginya!

Bahkan dalam tenaga sin-kang, pemuda itu pun telah menguasai tenaga kasar dan lemas secara bergantian sehingga dapat melayaninya dengan baik.

Kalau dia menggui akan tenaga kasar, pemuda itu pun menyambutnya dengan tenaga kasar dan bagaimanapun juga, dia sudah tua dan melawan seorang pemuda, dia tidak dapat mengandalkan tenaga kasar.

Akan tetapi kalau dia menggunakan tenaga lemas, pernuda itu pun menyambutnya dengan tenaga dalam yang halus namun mengandung kekuatan seperti hawa dan air.

Thian Lee juga tidak berani mengalah terhadap kakek yang sakti ini.

Dia tahu bahwa balas menyerang menjadi perta-hanan yang baik, maka dia pun nembalas serangan kakek itu sehingga terjadilah pertandingan yang amat menarik.

Saling pukul, saling totok, saling cengkeram dan saling menendang.

Akan tetapi semua se-rangan, baik dari Mo-ong maupun dari Thian Lee dapat dielakkan atau ditangkis oleh lawan.

Mereka sudah bertanding sampai seratus jurus dan belum nampak tanda-tanda siapa yang lebih unggul.

Sementara itu, soal usia merupakan ke-nyataan yang tak dapat dielakkan lagi.

Thian-te Mo-ong mulai merasa lelah dan kalau pertandingan tangan kosong itu dilanjutkan, dia akan kalah, bukan kalah karena ilmu silat, melainkan kalah karena kehabisan napas!

"Singgg....!"

Nampak dua sinar berkelebat dan kakek itu telah mencabut sepasang pedangnya!

Akan tetapi agaknya dia masih menjaga nama besarnya sebagai seorang datuk, maka dia tidak segera menyerang, melainkan berdiri tegak dan berkata dengan sikap yang angkuh.

"Orang muda, keluarkan senjatamu!"

Tantangnya, keringatnya mengucur.

Thian Lee tidak berani memandang rendah lawannya, akan tetapi diam-diam dia girang sekali.

Kalau dengan tangan kosong, entah berapa lamanya dia harus bertanding karena kakek itu benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh.

Kalau bersenjata, lain lagi karena dia dapat mengandalkan Jit-goat Kiam-sut.

Maka dia pun segera menurunkan buntalan pakaiannya yang sejak tadi menempel di punggungnya, lalu mengambil pedangnya.

Ketika dia menghunus pedang itu nampak sinar berkilat menyilaukan mata dan pedang Jit-goat Sinkiam telah berada di tangan kanannya sedangkan sarung pedang berada di tangan kirinya.

Sarung pedang itu pun terbuat dari baja murni yang tipis namun kuat, sehingga dapat pula dipergunakan sebagai perisai untuk mengimbangi pedang lawan.

"Locianpwe, aku sudah siap!"

Kata?

Thian Lee.

Lee Cin melihat betapa kakek itu agak terengah dan muka serta lehernya basah oleh keringat, sedangkan Thian Lee masih nampak biasa.

Hal ini membuatnya semakin kagum.

Tadi ketika melihat jalannya perkelahian, dara ini sudah kagum sekali kepada Thlan Lee.

Kini melihat betapa jelas kakek itu kewalahan, ia girang bukan main dan ia tidak lupa mengejek, jelas kakek itu kewalahan, ia girang bukan main dan ia tidak lupa mengejek.

"Mo-ong, hati-hati engkau. Sebentar lagi, kalau tidak lehermu yang putus, tentu napasmu! Aku berani bertaruh!"

Thian-te Mo-ong tidak mempedulikan ejekan gadis itu.

Dia cukup kaget melihat pedang di tangan Thian Lee.

Biarpun dia tidak mengenal pedang itu, akan tetapi sebagai seorang ahli dia mengenal pedang pusaka yang ampuh.

Sepasang pedangnya sendiri juga terbuat dari bahan baja yang murni, amat tajam dan juga kuat.

Akan tetapi dia mengertii bahwa pedang yang berada di tangan pemuda itu lebih ampuh lagi.

Thian Lee, lihat seranganku!' bentaknya dan cepat sekali kedua pedangnya meluncur ke depan.

Thian Lee memutar pedangnya menangkis dan sekaligus dia menangkis kedua pedang itu.

"Trang! Tranggg!"

Nampak bunga api berpijar dan kakek itu surut ke belakang untuk melihat keadaan sepasang pedangnya.

Biarpun tadi dia merasakan kedua tangannya tergetar hebat, namun dia merasa lega melihat sepasang pedangnya tidak menjadi rusak.

Maka dia pun memutar siang-kiam (sepasang pedang) itu dengan hebat dan menerjang maju.

Dua gulungan sinar pedang itu bagaikan ombak samudra bergulung-gulung menerpa ke arah Thian Lee.

Namun pemuda ini tidak menjadi gentar.

Dengan lincah dia nnengelak dari tamparan pedang yang membabat ke arah lehernya dan menangkis pedang kedua yang menusuk dadanya, kemudian kakinya menendang secepat kilat ke arah tangan yang memegang pedang kanan..

Kakek itu menarik tangannya yang terancam tendangan dan sekali lagi menusukkan pedang kiri ke arah lambung Thian Lee.

"Trangg..."

Pedang itu tertangkis sarung pedang yang dipegang oleh tangan kiri Thian Lee.

Kemudian pemuda itu membalas, memutar pedangnya menyambar-nyambar bagaikan seekor naga di angkasa.

Lawannya cepat memutar sepasang pedang membentuk perisai untuk melindungi dirinya.

Bukan main serunya pertandingan ini.

Bahkan Lee Cin sendiri yang sudah memUiki ilmu kepandaian tinggi, menjadi bengong dan terbelalak kagum.

la tahu bahwa kalau ia yang harus melawan kakek itu, ia tidak akan mampu bertahan sampai tiga puluh jurus!

Akan tetapi Thian Lee bukan saja mampu mengimbangi kakek itu, bahkan kini gulungan sinar pedang yang berkilat-kilat dari pemuda itu mulai mendesak, gulungan sinar pedang itu mulai melebar dan meluas sedangkan dua gulungan sinar pedang Mo-ong makin menyempit!

Biar-pun Lee Cin tidak dapat mengikuti pertandingan itu dengan pandang matanya karena terlalu cepat gerakan kedua orang itu, akan tetapi dari gulungan sinar pedang itu ia dapat mengetahui bahwa Thian Lee mulai dapat mendesak lawannya.

"Locianpwe, maafkan aku!"

Tiba-tiba terdengar seruan Thian Lee dan pemuda itu meloncat keluar dari medan pertan-dingan.

Lee Cin melihat betapa kakek itu telah bermandikan keringatnya sendiri dan baju di dadanya yang bergambarkan Im-yang itu telah terobek!

Tahulah ia bahwa Thian Lee tidak mau membunuh atau melukai kakek itu, hanya merobek baju di bagian dadanya.

Akan tetapi tentu saja cukup menjadi bukti bahwa pemuda itu telah keluar sebagai pemenang setelah melalui pertandingan pedang yang seru selama seratus jurus lebih dan agaknya Thian-te Mo-ong juga mengetahui hal ini.

Dia memandang pemuda itu dengan sinar mata kagum, akan tetapi keangkuhannya melarang dia untuk mengakui kekaiahannya.

Pedang di kedua tangannya digerakkan dan pedang-pedang itu telah lenyap ke dalam sarung pedang, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat sekali pergi dari situ tanpa sepatah pun kata keluar dan mulutnya "Thiah Lee, engkau sungguh hebat!"

Lee Cin menghampiri pemuda itu dan memujinya dengan jujur.

"Aku mernang sudah lama tahu bahwa engkau m se-orang yang lihai sekali, akan tetapi sungguh tak pernah aku dapat membayangkan engkau akan mampu menandingi seorng di antara Empat Datuk Besar Wah, tingkat kepandaianmu sudah melebihi dari tingkat guruku sendiri!' "Ah, tidak perlu terlalu memujiku, Lee Cin. Hanya karena kebetulan saja kakek itu mengalah dariku. Akan tetapi, bagaimana engkau sampai dapat tiba di tempat ini?"

"Aku memang sengaja pergi ke Hong-san dan tanpa disengaja bertemu dengan tiga orang jahat itu yang mengeroyokku. Mo-ong menolongku membunuh tiga orang ini, akan tetapi ternyata pertolongannya berpamrih. Aku hendak dipaksa menjadi muridnya. Siapa sudi menjadi murid iblis tua itu?"

Thian Lee menghela napas panjang.

Agaknya gadis ini sama sekali tidak ingat bahwa gurunya adalah Ang-tok Mo-U yang dalam hal kekejaman belum tentu fcalah oleh Thian-te Mo-ong!

"Sudahlah, Lee Cin.

Percakapan kita lanjutkan nan-ti.

Sekarang lebih dulu harus mengubur jenazah-jenazah itu."

Lee Cin mengerutkan alisnya dan ia malah duduk di atas batu.

"Menguburkan jenazah orang-orang jahat itu? Untuk apa? Mereka itu hanya orang-orang ja-hat, seperti blnatang-binatang buas."

"Hemm, ketika masih hidup mungkin mereka itu melakukan kejahatan. Akan tetapi mereka itu tetap manusia dan sekarang mereka adalah jenazah-jenazah manusia yang harus dlhormati dan dirawat. Aku akan menguburkan mereka Akan tetapi Lee Cin hanya tersenyurtl dan menonton saja ketika Thian Lee menggali lubang kemudian mengubur tiga jenazah itu. Setelah selesai barulah Thian jsa Lee membersihkan kedua tangannya.

"Sebetulnya engkau ada keperluan apakah datang ke Hong-san, Lee Cin?"

Tanya Thian Lee sambil menatap wajah yang cantik jelita itu. Sejak tadi Lee Cin mengikuti semua perbuatan Thian Lee dengan pandang matanya dan kini ia memandang wajah pemuda itu dengan heran.

"Thian Lee, apakah selama hidupmu engkau menjadi orang yang begini baik hati? Apakah lamanya engkau tidak pernah mendendam kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadamu dan mudah saja memaafkan kejahatannya?"

"Aku bukan orang baik, hanya orang yang ingin memenuhi kewajibanku sebagai seorang manusia, Lee Cin. Dendam kebencian hanya meracuni hati sendiri, sama sekali tidak ada gunanya dan den-dam kebencian hanya suatu kebodohan manusia yang akan menyeretnya ke da-larn jurang penderitaan. Kalau ada orang kaukatakan berbuat jahat kepada kita lalu kita membalas kejahatannya itu, lalu apa artinya perbuatan kita membalas dendam itu? Apakah lalu tidak sama saja dengan perbuatannya? Kita membalas kekejaman dengan kekejaman, membalas kejahatan dengan kejahatan, menempatkan diri klta di tempat yang sama de-ngan mereka yang kita sebut jahat. Tidak, Lee Cin, semoga dijauhkan Tuhan aku dari segala bentuk dendam kebencian, jahat. Tidak, Lee Cin, semoga dijauhkan Tuhan aku dari segala bentuk dendam kebencian.

"Engkau memang orang aneh sekali, Thian Lee. Kalau aku tidak begitu. Siapa yang baik kepadaku akan kubalas dengan kebaikan pula. Akan tetapi siapa yang jahat kepadaku akan kubalas sesuai de-ngan kejahatannya!"

"Kalau begitu pendapatmu, engkau keliru, Lee Cin. Engkau akan mengikat dirimu dengan pertalian karma yang tiada akan habisnya, dendarn mendendam dan balas-membalas. Kalau engkau berbuat baik kepada orang lain karena untuk membalas budi, itu bukanlah kebaikan lagi namanya, hanya semacam hutang-pihutang belaka. Dan kalau engkau membalas kejahatan dengan kejahatar pula, maka tidak ada bedanya engkau dengan orang yang kauanggap sebagai musuhmu itu."

"Akan tetapi, bukankah engkau sendiri sebagai seorang pendekar menentang kejahatan, berarti engkau membenci penjahat?"

"Tidak, aku tidak membenci penjahat. Yang kutentang hanyalah perbuatannya, yang kucegah hanyalah kejahatannya. Sama sekali aku tidak membenci orangnya. Mereka itu juga manusia seperti se kita, Lee Cin. Hanya ketika mereka melakukan kejahatan, mereka itu sedang sakit. Yang sakit itu batinnya. Akan tetapi orang sakit dapat saja sembuh, Lee Cin. Yang ini hari disebut penjahat, mungkin saja besok dia disebut orang baik karena dia telah sembuh dari sakitnya. Sebaliknya, yang sehat dapat saja menjadi sakit. Yang hari ini disebut orang baik, mungkin saja sewaktu-waktu dia dianggap jahat karena terserang penyakit itu. Manusia itu selalu berubah karena itu jangan sekali-kali membenci manusianya, melainkan tentanglah kejahatannya."

"Wah, engkau memblngungkan aku, Thian Lee."

"Sudahlah, kelak engkau akan mengerti sendiri. Oya, engkau mencari apakah sampai ke Hong-san ini?"

Hemmm, kalau kuceritakan kepadamu, tentu engkau akan mencelaku dan tidak menyetujui pula,"

Kata Lee Cln yang teringat akan kata-kata Thian Lee tentang pembalasan dendam tadi.

"Kalau engkau hendak melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, tentu saja aku tidak setuju, bahkan akan menghalangimu, Lee Cin. Engkau seorang gadis yang baik sekali, bahkan memliki dasar watak yang baik, aku tidak ingin engkau terperosok ke dalam perbuatan yang tidak-benar."

Tiba-tiba Lee Cin penuh perhatian dan menatap wajah tampan gagah itu dengan penuh perhaian.

"Thian Lee, mengapa engkau demikian memperhatikan keadaan diriku? Mengapa? Mengapa engkau peduli apa yang akan kulakukan, baik atau jahat?"

"Mengapa? Tentu saja aku memperhatikan keadaan dirimu. Bukankah kita telah lama saling mengenal, bahkan telah menjadi sahabat balk? Aku kagum dan suka kepadamu, Lee Cin, maka aku tidak ingin melihat engkau berbuat jahat."

"Hanya suka? Tidak cinta?"

"Ah, jangan bicara soal cinta, Lee Cin. Aku tidak mengertl."

"Engkau bodoh atau memang dingin. Enci Ceng itu mati-matian mencintamu, engkau juga tidak mengerti. Dan aku... ah, aku begini bodoh untuk menclntamu, akan tetapi engkau juga tidak peduli. Engkau hanya suka, sebagai sahabat! Ahh, aku mulai benci kepadarnu, Thian Lee'"

Thian Lee memandang blngung.

Benci?

Baru saja mengatakan cinta dan kini berbalik benci!

Apakah benci itu kebalik-an cinta, ataukah hanya permukaan yang lain saja dari cinta?

Dia semakin bingung.

Dia memang tidak tahu arti cinta.

Ada semacam perasaan di hatinya terhadap Cin Lan, dia sendiri tidak tahu apakah itu cinta, akan tetapi setiap kali teringat Cin Lan, ada semacam kelembutan tersendiri terasa di hatinya.

"Kau boleh benci kepadaku, Lee Cin, akan tetapi aku tidak membencimu dan tidak akan pernah membencimu. Nah, engkau belum mengatakan untuk keperlu-an apa engkau datang ke Hong-san ini."

"Aku mencari seseorang untuk mem-balas dendam!"

Jawab gadis itu dengan suara menantang.

"Sudah, engkau tidak perlu mengetahui lebih banyak!"

Setelah berkata demikian, Lee Cin lalu meloncat dan meninggalkan Thian Lee, mendaki Bukit Hong-san.

Thian Lee tertegun.

Membalas dendam?

Dan orang yang tinggal di puncak Hong-san adalah Souw Tek Bun, bengcu kaum kang-ouw.

Bahkan dia sendiri pun hendak menghadap Souwbengcu.

Dia pernah diberitahu oleh supeknya, yaitu Souw Can, pangcu dari Kim-liong-pang, bahwa adik Pangcu itu adalah seorang gagah perkasa yang telah diangkat menjadi bengcu oleh semua orang gagah, bahkan direstui oleh Kaisar.

Kini, melihat banyaknya orang kangouw yang diperalat oleh Pangeran Tua, dia hendak mencari keterangan kepada bengcu itu dan sekalian minta nasihat apa yang harus dilakukannya.

Sebagai seorang bengcu tentu mempunyai pengaruh terhadap orang-orang kang-ouw dan mungkin Souw-beng-cu akan mampu mencegah terjadinya pemberontakan yang dilakukan orang-orang kang-ouw yang diperalat oleh Pangeran Tua.

Selama beberapa hari ini dia telah berhubungan dengao Lauw Tek, pendekar yang setia kepada Kaisar itu, yang mula-mula memberi tahu kepadanya tentang gerakan yang dilakukan oleh Pangeran Tua.

Dan atas desakan Lauw Tek pula dia kinl pergi ke Hong-san untuk bertemu dengan Souw Tek Bun.

Maka, mendengar niat Lee Cin untuk membalas dendam kepada seseorang di Hong-san, Thian Lee menjadi khawatir sekali.

Siapa lagi kalau bukan Souw Tek Bun yang dicari gadis itu?

Dia lalu cepat bergerak membayangi Lee Cin yang berjalan cepat mendaki bukit Hong-san.

Souw Tek Bun yang oleh dunia kang-ouw dianggap sebagai bengcu baru itu tinggal di sebuah pondok kecil saja di puncak Hong-san.

Dia hidup sebatang kara, tidak berkeluarga dan melihat keadaannya yang sederhana dan menyendiri, sungguh sukar dipercaya bahwa dia adalah bengcu, orang yang dihormati oleh seluruh tokoh dunia kang-ouw.

Hidupnya sebagai seorang pertapa, juga petani karena dia bekerja di ladangnya yang berada di belakang pondok.

Dari hasil ladang itulah dia makan setiap kali membutuhkannya.

Biarpun hidup seorang diri, namun dia tidak kesepian.

Sebagai bengcu, seringkall ada saja orang kang-ouw datang berkunjung, untuk melaporkan sesuatu, atau minta pertimbangan, bahkan ada yang minta keadilan kalau terjadi sengketa antara orang-orang kang-ouw.

Souw Tek Bun, sebelum menjadi beng-cu, adalah seorang pendekar perkasa yang dijuluki Sin-kiam Hok-mo karena ilmu pedangnya yang hebat.

Ilmu pedang inl merupakan ilmu keluarga Souw yang dirangkai sendiri oleh Souw Tek Bun ke-mudian terkenal sebagai ilmu pedang keluarga Souw karena tidak ada orang lain yang pernah mempelajarinya.

Souw Tek Bun juga tidak mempunyai murid, maka hanya dia seoranglah yang mahir ilmu pedang itu.

Seperti diketahui, Souw Tek Bun mempunyai seorang kakak, yaitu Souw Can.

Akan tetapi kakaknya itu adalah murid Kun-lun-pai, sedangkan Souw Tek Bun mempelajari banyak macam ilmu silat dari berbagai aliran sampai dia dapat merangkai sendiri ilmu silat dan ilmu pedang.

Sepak terjangnya dalam dunia kang-ouw sudah dikenal semua orang dan dia terkenal adii, jujur dan budiman.

Karena itulah maka para tokoh dan datuk kang-ouw memilihnya menjadi bengcu.

Untuk menjadi seorang bengcu memang dibutuhkan orang yang Jujur, adil dan dapat dipercaya.

Terutama sekali yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah dan Souw Tek Bun adalah seorang pendekar yang sudah mendapat penghargaan dari Kaisar Kian Liong.

Dia membantu memadamkan ke-kacauan yang dibuat oleh orang-orang tak bertanggung jawab dan untuk jasanya itu, Souw Tek Bun menerima sebatang pedang Cengliong-kiam dari Kaisar Kian Liong.

Ketika Lee Cin tiba dipuncak tempat tinggal bengcu itu, Souw Tek Bun sedang berlatih ilmu pedang.

Biarpun setiap hari dia sibuk di ladang atau di pondok, akan tetapi pendekar ini tidak pernah lupa untuk berlatih ilmu pedangnya.

Pedang Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) pemberian Kaisar itu dimainkan dengan ilmu silat Sin-kiam Hok-mo dan merupakan sinar kehijauan bergulung-gulung bagaikan seekor naga hijau bermain-main di angkasa.

Akan tetapi biarpun, dia sedang bermain pedang, pendengaran Souw Tek BUR cukup tajam untuk dapat menangkap gerakan Lee Cin yang datang.

Dla segera menghentikan gerakan pedangnya, menoleh ke kiri dan berkata dengan suara mengandung penuh kewibawaan.

"Siapa yang datang berkunjung? Lee Cin keluar dari balik batang pohon dan bengcu itu terkejut melihat bahwa yang mengunjunginya adalah seorang gadis yang masih amat muda dan cantik. Akan tetapi gadis itu tidak memberi hormat kepadanya seperti layaknya seorang tamu, bahkan segera maju menghampirinya dan bertanya dengan suara lembut.

"Apakah aku berhadapan dengan orang yang bernama Souw Tek Bun?"

"Benar, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apakah Nona mencariku .

"Aku bernama Bu Lee Cin, dan aka datang untuk memenuhi perintah suboku untuk membunuhmu, membalaskan dendam sakit hati Subo!"

Kata Lee Cir sambil melolos pedangnya, yaitu Ang-coa kiam dari libatan pinggangnya. Akan tetapi Souw Tek Bun menyarungkan pedangnya dan bertanya dengan tenang dan penuh kesabaran.

"Siapakah subomu, Nona?"

"Suboku adalah Ang-tok Mo-li."

Souw Tek Bun memandang gadis itu dengan mata terbelalak dan penuh selidik, mengamati wajah gadis itu seperti sedang menilai dan membandlngkan.

Kemudian dia menganggukangguk, dan menggeleng kepala sambil menghela napas panjang.

"Bu Siang... Bu Siang... sampai sekarang hatimu tetap saja amat keras... Melihat sikap orang itu, Lee Cin menjadi tidak sabar.

"Souw Tek Bun, bersiaplah untuk melawanku. Cabut pedangmu'"

Akan tetapi pendekar itu sama sekali tidak meraba gagang pedangnya, bahkan bertanya.

"Namamu Bu Lee Cin? Nona, tahukah engkau siapa nama gurumu itu?"

"Guruku adalah Ang-tok Mo-li, sudah kukatakan itu!"

Jawab Lee Cin dengan ketus.

"Tentu engkau sudah mengenalnya dengan baik karena Subo adalah musuh besarmu!"

"Tentu, aku mengenalnya dengan baik sekali. Akan tetapi, Nona, agaknya engkau tidak tahu bahwa nama gurumu itu adalah Bu Siang. Dan engkau diberinya marga Bu juga? Ah, Bu Siang... setidaknya engkau masih mengakui anakmu...."

Lee Cin mengerutkan alisnya.

"Apa artinya semua ini? Souw Tek Bun, lebih baik engkau cepat mencabut pedangmu daripada bicara ngacau tidak karuan "

"Kalau aku tidak mau mencabut pedang dan tidak mau melawanmu, apakah engkau juga akan membunuhku begitu saja?"

"Hemmm, aku bukan orang macam itu. Aku tidak suka membunuh orang macam itu. Aku tidak suka membunuh orang yang tidak melawanku, akan tetapi aku tidak percaya engkau sedemikian penakut untuk melawan aku!"

"Lee Cin, sampai mati aku tidak akan mungkin melawanmu. Tahukah engkau siapa dirimu sesungguhnya? Yang kausebut subo itu sebetulnya adalah ibu kandungmu, dan aku yang hendak kautantang bertanding ini, aku inl adalah ayah kandungmu."

Lee Cin terbelalak dan mundur dua langkah. Akan tetapi sebentar kemudian ia melangkah maju lagi.

"Aku tidak percaya! Engkau berbohong untuk menggagalkan niatku membalas dendam Subo!"

La membentak marah.

"Aihh, Lee Cin, sungguh kasihan engkau, dipermainkan dan diracuni sendiri oleh ibu kandungmu. Engkau ingin mendengar ceritanya? Nah, dengarlah baik-baik kemudian pertimbangkan sendiri apakah engkau sudah sepatutnya menan-tangku bertanding ataukah tidak."

Dengan suara tenang, kemudian Souw Tek Bun bercerita, didengarkan oleh Lee Cin yang berdiri termangu dengan muka agak pucatt.

Tujuh belas tahun yang lalu, Souw Tek Bun yang ketika itu masih merupa-kan seorang pemuda yang tampan dan gagah, telah menjalin hubungan cinta dengan Bu Siang.

Mereka saling mencinta, melakukan perantauan berdua dan hubungan mereka sudah sedemikian jauhnya.

sehingga mereka telah melakukan hubungan suami isteri walaupun belum menikah.

Akan tetapi, hubungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu muiai retak ketika Souw Tek Bun melihat bahwa Bu Siang, murid seorang datuk sesat, ternyata memiliki watak /ang amat kejam.

Bahkan Bu Siang mempelajari ilmu sesat, suka menggunakan racun dan menjadi pawang ular pula.

Biarpun dia sudah mencoba untuk menentangnya, akan tetapi Bu Siang tidak peduli, bahkan akhirnya di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Ang-tok Mo-Li (Iblis Betina Racun Merah) karena sepak terjangnya yang kejam, membunuh orang tanpa berkedip.

Karena makin lama sepak terjang Ang-tok Mo-li Bu Siang semakin kejam, akhirnya Souw Tek Bun menjauhkan diri.

Hubungan mereka putus, padahal ketika itu Bu Siang telah mengandung!

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya, bahkan ketika ia melahirkan seorang puteri, aku berjanji unAuk menikahinya kalau saja ia rela mengubah jalan hidupnya.

Akah tetapi, Bu Siang sama sekali tidak mau men-dengarkan permintaanku sehingga akhirnya kami berpisah.

Bu Siang pergi membawa anaknya itu, anakku!

Aku mendengar saja betapa di dunia kang-ouw, ia menjagoi dan menjadi seorang datuk wanita yang ditakuti.

Akhirnya aku bertemu seorang wanita dan menikah de-ngannya.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Bu Siang, ibumu itu, Nona?"

Souw Tek Bun menghela napas panjang dan Lee Cin mendengarkan dengan muka pucat, hatinya bimbang dan ragu. la demikian tertarik oleh cerita itu sehing-ga di luar kesadarannya, ia bertanya.

"Apa yang dilakukannya?"

"la membunuh isteriku yang baru setengah tahun menjadi isteriku. Ia membunuh wanita yang sama sekali tidak berdosa itu. la sempat bentrok denganku, akan tetapi pada waktu itu ia masih belum mampu menandingiku. Aku mendengar hahwa selama ini ia memperdalam ilmunya. Akan tetapi mengapa ia tidak datang sendiri mengambil nyawaku? Demikian kejam hatinya sehingga ia menyuruh engkau, anakku sendiri, untuk mewakilinya membunuh aku, ayah kandungmu. Lee Cin, engkau adaldh anak kandungku. Nah, apakah kini engkau masih hendak menantang aku bertanding? Nama margamu bukan Bu, itu nama marga ibumu, akan tetapi engkau bermarga Souw seperti aku."

Lee Cin berdiri bengong dan bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat atau dikatakan. Pedangnya terkulai lema's di tangannya.

"Lee Cin, aku ayahmu. Tegakah engkau membunuh ayahmu sendiri?"

Souw Tek Bun kembali berkata dengan lembut.

Pada saat itu terdengar teriakan me-lengking .

dan muncullah Ang-tok Mo-li dengan gerakan cepat sehingga yang nampak hanya bayangannya berkelebat, bayangan merah dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan Souw Tek Bun, di dekat puterinya.

"Lee Cin, jangan hiraukan dia, jangan dengarkan omongannya! Hayo cepat gerakkan pedangmu untuk membunuhnya! Cepat!"

Seru Ang-tok Mo-li dengan suara memerintah.

Melihat munculnya subonya dan mendengar perintah itu, Lee Cin mengangkat tangan kanannya, siap menusukkan pedangnya ke dada yang bidang itu.

Akan tetapi ketika ia melihat wajah yang gagah dan tenang itu, dengan senyum halus, tiba-tiba tangannya terkulai lagi.

"Subo... subo... benarkah apa yang diceritakannya tadi, bahwa Subo adalah ibuku dan dia adalah ayahku?"

Lee Cin, tidak usah banyak cakap. Bunuhlah dia, sekarang juga!"

Kembali wanita berpakaian merah itu mendesak.

"Bu Siang, engkau boleh membenciku, akan tetapi kenapa engkau demikian membenci anakmu sendiri, menyuruhnya membunuh ayah kandungnya?"

Kata Souw Tek Bun penuh penyesalan.

"Baiklah, kalau begitu biarkah aku sendiri yang membunuh kalian ayah dan anak!"

Ang-tok Mo-li sudah mencabut kebutan merahnya dan meloncat tinggi untuk menyerang Souw Tek Bun dan Lee Cin' Pada saat itu nampak sinar kilat ber-kelebat menangkis kebutan merah itu dan Ang-tok Mo-li terkejut karena sebagian bulu kebutannya putus!

Ketika ia meloncat turun dan memandang, ternyata Thian Lee telah berdiri di depannya.

Kiranya kembali pemuda itu yang me-nandinginya!

Hati Ang-tok Mo-li marah bukan main akan tetapi ia pun tahu bahwa ia tidak akan mampu menandingi pemuda yang amat lihai ini.

Apalagi di situ terdapat Souw Tek Bun yang tidak boleh dipandang ringan.

la lalu mendengus dan membalikkan tubuhnya.

"Lee Cin, mari kita pergi!"

La mengajak muridnya. Lee Cin memandang subonya dengan sinar mata lain dan menjawab, suaranya juga terdengar ketus.

"Tidak, engkau... jahat! Aku ingin ikut ayahku!"

Mendengar ini, Ang-tok Mo-li melon-cat dan terdengar lengkingnya. Sementa-ra itu, Souw Tek Bun merasa girang sekali mendengar ucapan Lee Cin dan dia pun merangkul gadis itu sambil ber-kata.

"Lee Cin, anakku....!" '' Ayah... Keduanya berangkulan dan keduanya merasa betapa hati mereka penuh dengan kebahagiaan. Kini Lee Cin percaya sepenuhnya bahwa pria itu memang ayah kandungnya. Hal ini diperkuat oleh sikap Ang-tok Mo-li tadi. la pun merasa me-nyesal sekali akan sikap Ang-tok Mo-li. Selama ini ia merasakan kasih sayang Ang-tok Mo-li kepadanya dan baru ia tahu bahwa subonya itu sesungguhnya adalah ibu kandungnya. Akan tetapi alangkah kejam ibu kandungnya itu yang sengaja menyuruh ia melakukan pembu-nuhan terhadap ayah kandungnya sendiri! 3elas perbuatan ibunya itu didorong oleh perasaan benci yang mendalam, dan ke-kejaman yang luar biasa. Pantas saja ayahnya tidak mau menikah dengan ibu-nya karena ibunya memang merupakan seorang iblis betina yang keji. Sebalik-nya, ayahnya adalah seorang pendekar budiman, seorang bengcu yang terhormat! Karena itu, tidak sukar baginya untuk memilih, yaitu memilih ayahnya. Apalagi baru saja tadi ibunya bahkan hendak membunuhnya, bersama ayahnya pula. Andaikata tidak ada Thian Lee, kalau ayahnya tidak melawan, mungkin saja mereka berdua akan tewas di tangan Ang-tok Mo-li yang kejam. Setelah melepaskan keharuan hati mereka, Lee Cin lalu memperkenalkan Thian Lee kepada ayahnya.

"Ayah, pemuda ini adalah Thian Lee, seorang sahabatku."

Thian Lee cepat memberi hormat kepada orang tua itu.

"Locianpwe, telah lama saya mendengar nama besar Lo-cianpwe, terimalah hormat saya."

Souw Tek Bun sejak tadi merasa kagum dan heran melihat munculnya pemuda ini.

Gerakannya demikian cepat, pedangnya bergerak sedemikian lihainya ketika menangkis kebutan, bahkan Ang-tok Mo-li sendiri kelihatan gentar menghadapi pemuda ini.

"Orang muda, baru saja engkau telah menyelamatkan kami ayah dan a ak,"

Katanya memuji.

"Eh, Thian Lee! Jadi engkau tadi membayangiku naik ke puncak ini?"

Lee Cin menegur Thian Lee, agak marah walaupun baru saja ia diselamatkan.

"Tidak, Lee Cin. Aku memang sengaja mendaki bukit ini karena aku ingin bertemu dengan Souw-locianpwe."

"Ah, engkau hendak bertemu dengan aku, orang muda. Ada keperluan apakah engkau hendak bertemu dengan aku dan siapa yang menunjukkan tempat ini padamu?"

"Saya mendapat petunjuk dari kakak Locianpwe sendiri, yaitu Souw-pangcu, Ketua Kimliong-pang di Pao-ting."

"Ah, dari Can-toako, Bagaimana keadaan Can-toako sekarang? Apakah perkumpuJannya mendapat kemajuannya?"

Souw Tek Bun bertanya dengan nada suara gembira.

"Heee! 3adi kiranya Souw-pangcu itu masih kakak Ayah sendiri? Kalau begitu aku merasa girang sekali pernah mem-bantunya menghadapi pengacauan orang-orang jahat!"

Seru Lee Cin dan ia segera mencentakan pengalamannya ketika membantu Kim-liong-pang menghadapi musuh-musuh yang terlalu tangguh bagi perkumpulan itu.

Souw Tek Bun mendengarkan cerita anaknya dengan girang, lalu dia mengajak Lee Cin dan Thian Lee untuk bicara dt dalam pondoknya.

Thian Lee lalu menje-laskan maksud kedatangannya.

"Mendiang ayah saya bernama Song, Tek Kw dan masih spte dari Supek Souw Can."

"Ah, aku pernah mendengar tentang kegagahan sepak terjang ayahmu itu, Thian Lee,"

Kata Souw Tek Bun dengan ramah dan akrab.

"Lalu, apa maksi(dLa kunjunganmu ini?"

Thian Lee juga bercerita tentang per-golakan yang terjadi di kota raja dan tentang penyelidikannya terhadap Pangeran Tua yang mengumpulkan banyak orang kang-ouw.

Juga dia menceritakan penyelidikan yang dilakukan oleh Lauw Tek betapa agaknya Pangeran Tua mempunyai niat untuk memberontak.

"Karena gerakan itu mengenai orang-orang kang-ouw yang akan diperalat oleh Pangeran Tua, maka saya datang berkun-jung untuk melaporkan dan mohon nasi-hat Locianpwe sebagai bengcu."

"Thian Lee, mendiang ayahmu adalah adik seperguruan dari kakakku, karena itu di antara kita adalah orang sendiri, maka jangan menyebut aku Locianpwe, cukup dengan paman saja."

"Baik, dan terima kasih, Paman Souw .

"Sebetulnya urusan di kota raja Itu sudah banyak aku mendengar dari kawan-kawan, bahkan sempat kumlntakan nasi-hat dari Im Yang Sengcu Ketua Kun-lun-pai dan Hui Sian Hwesio wakil Ketua Siauw-lim-pai. Kami semua sudah setuju untuk menentang orang-orang kangouw yang hehdak membantu pemberontakan itu, dan masing-masing menjaga para anggauta sendiri agar jangan ada yang terjebak dan ikut gerakan yang tidak baik itu. Dan kebetulan sekali engkau datang kepadaku, Thian Lee. Aku melihat engkau seorang pemuda yang memiliki kemampuan tinggi sehingga Ang-tok Mo li sendiri agaknya jerih melawanmu."

"Wah, Ayah tidak tahu! Thian Lee ini memang lihai bukan main. Subo... eh... Ibu... Ang-tok Mo-Li pernah bertanding melawan Thian Lee dan ia kalah. Bukan itu saja. Mungkin Ayah tidak percaya. Akan tetapi belum lama ini di kaki Bukit Hong-san aku bertemu dengan Thiante Mo-ong...."

Terkejutlah Souw Tek Ekiw "Datuk besar yang juga disebut Iblis Selatan itu .

"Benar, Ayah. Tadinya aku bertemu dengan tiga orang tokoh sesat yang dulu mengganggu Kim-liong-pang, dan aku bersama Thian Lee pernah mengusir mereka. Mereka bertiga mengenalku dan segera mengeroyokku. Akan tetapi muncul Thian-te Mo-ong dan tiga orang itu lalu dibunuhnya dengan mudah sekali."

"Aku tidak heran. Ilmu kepandaian Thian-te Mo-ong sebagai seorang dari Empat Datuk Besar memang hebat."

"Setelah membunuh tiga orang tokoh sesat itu, Thian-te Mo-ong hendak memaksa aku menjadi muridnya. Aku tidak mau, akan tetapi dia memaksaku dan ke-tika aku melawan, dia menotokku. Lalu muncullah Thian Lee mernbebaskan aku. Wah, kalau saja Ayah menonton pertandlngan itu, antara. Thian L-ee dan Thian-te Mo-ong. Hebat dan seru bukan main, Ayah. Dan akhirnya. Datuk besar itu harus mengakui keunggulan ilrou kepandaian Thlan Lee dan dia melarikan diri."

Souw Tek Bun menjadi bengong saking kagum dan herannya.

Kalau bukan puterinya yang bercerita, bagaimana mungkin dia dapat percaya bahwa seorang pemuda seperti Thian Lee itu mampu mengalahkan Thian-te Mo-ong, seorang di antara Empat Datuk Besar?"

"Luar biasa!"

Akhirnya dia berseru setelah menghela napas panjang.

"Masih begini muda sudah dapat menandingi bahkan mengalahkan seorang di antara Empat Datuk Besar! Mengagumkan sekali dan sulit untuk dipercaya! Thian Lee, kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama gurumu yang mulia dan sakti?"

"Suhu adalah seorang pertapa di Hi-malaya yang sama sekali tidak terkenal. Beliau lebih suka mengasingkan diri dan tidak ingin dlperkenalkan namanya karena itu harap Paman maafkan kalau saya tidak dapat menyebut namanya."

Bengcu itu mengangguk-angguk.

la mengerti bahwa di dunla persilatan banyak terdapat orang-orang sakti yang lebih suka mengasingkan diri dan menyembunyikan namanya.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 11

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert