Ceritasilat Novel Online

Pedang Kayu Harum 11

Eps 11 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.

Bukan main!

Keng Hong tidak percaya di dunia ini ada yang lebih manis daripada wajah di depannya ini!

Gadis ini mengangguk, kemudian terdengar suaranya yang keluar dari bibir yang merah basah tanpa gincu, lebih merah sedikit dari sepasang pipinya yang tiba-tiba menjadi amat merah.

"Aku sudah tahu... bahkan Subo sudah memberi tahu tiga hari sebelumnya, setelah Subo berhasil menusukkan Siang-bhok-kiam itu..."

Keng Hong tertegun.

"Kalau begitu.. Ketika engkau menjaga dan merawatku selama tiga hari tiga malam... eh. Engkau sudah tahu akan perjodohan itu?"

Gadis itu mengangguk dan mengerling sambil tersenyum manis, bukan sikap memikat melainkan agaknya merasa geli dan hendak menggoda.

Keng Hong merasa betapa hawa pagi dalam kamar itu tiba-tiba menjadi panas.

Ah, dia harus bicara dari hati ke hati dengan gadis ini.

Kalau dia tidak berani nekat sekarang, nanti akan terlambat dan dia takkan dapat menghindarkan diri lagi dari ikatan jodoh ini.

Dia harus dapat menyelesaikan urusan ini sebelum isteri gurunya itu pulang!

"Sumoi, mari kau ikut bersamaku...!"

"Eh... eh... kemana...?"

Yan Cu berkata heran ketika pemuda itu menggandeng tangannya dan menganjaknya lari keluar dari dalam pondok.

Keng Hong tidak menjawab melainkan terus menarik tangan gadis itu, setelah tiba di luar dia berkata.

"Kemana saja, asal jangan di dalam pondok. Aku... aku membutuhkan udara segar, dan aku ingin bicara kepadamu, Sumoi. Bicara dari hati ke hati, bicara sejujurnya demi kebaikan kita bersama, demi masa depan penghidupan kita!"

Gadis itu memandang dengan sinar mata heran, akan tetapi ia mengangguk dan berkata.

"Marilah. Di puncak sana itu amat indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Aku paling suka duduk melamun sendirian di sana!"

Berlari-larilah mereka dan Keng Hong sengaja hendak menguji ginkang gadis itu. Ia berlari cepat sekali.

"Wah, larimu cepat bukan main, Suheng!"

Teriak gadis itu akan tetapi Keng Hong mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki ginkang yang hebat juga.

Ini pun tidak mau mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengimbangi kecepatan gadis itu sampai mereka tiba di puncak.

Keng Hong memandang sekeliling dan dia menjadi kagum.

Memang indah bukan main pemandangan dari puncak itu.

Di sebelah timur tampak menjulang puncak Pegunungan Phu-niu-san, sedangkan sebelah barat menjulang tinggi puncak Pegunungan Cin-ling-san.

Di sebelah bawah tampak jurang-jurang yang curam dan anak sungai yang berlika-liku seperti ular naga.

Hawanya pun nyaman sekali.

Berdiam di tempat seperti inilah yang membuat manusia merasa kecil, dan merasa lebih dekat dengan alam yang maha besar, merasa bahwa dirinya tidak berarti, hanya menjadi sebagian kecil saja dari alam ini.

Mereka lalu duduk di atas rumput yang hijau tebal seperti permadani.

Sejenak mereka berpandangan dan gadis itu bertanya.

"Suheng, pandang matamu aneh. Engkau kau hendak bicara apakah?"

"Sumoi, pertama-tama, siapakah namamu?"

Gadis itu membelalakkan matanya kemudian tertawa geli, menutupi mulut dengan lengan bajunya.

Hemmm, bukan main manisnya kalau begini, pikir Keng Hong kagum.

Ia dapat mengerti kegelian hati gadis itu.

Seorang suheng yang tidak tahu nama sumoinya!

Atau lebih lagi, seorang calon suami yang tidak tahu nama isterinya!

Mana ada keduanya di dunia ini?

"Aihhh, kukira Suheng sudah tahu.

Jadi belum tahukah?"

Keng Hong tersenyum.

Sikap gadis itu kini lebih terbuka, lincah dan tidak malu-malu setelah mereka berdua berada di tempat sunyi yang amat indah itu.

Sikap ini menular kepadanya dan dia pun menjadi gembira.

"Kalau aku sudah tahu, masa aku bertanya lagi, Sumoi?"

Gadis itu bangkit berdiri dan menjura sambil bersoja, sikapnya lucu dan manis.

"Kalau begitu, perkenalkanlah, nama saya Gui Yan Cu!"

"Saya Cia Keng Hong!"

Keng Hong juga sudah bangkit berdiri dan membalas penghormatan sumoinya seolah-olah mereka itu merupakan dua orang yang baru bertemu dan baru berkenalan.

Keduanya saling pandang lalu tertawa bergelak.

Kini Yan Cu bahkan tertawa gembira tanpa malu-malu menutupi mulut seperti tadi sehingga Keng Hong terpesona melihat deretan gigi yang putih seperti mutiara dan sekilas pandang melihat rongga mulut dan ujung lidah yang merah.

"Yan Cu sumoi, marilah kita duduk dan bicara. Aku tidak main-main lagi, aku ingin bicara denganmu mengenai diri kita dan kuharap kau suka bicara sejujurnya seperti aku, karena ini demi kebahagiaan masa depan kita sendiri."

Ternyata Yan Cu adalah seorang gadis yang selain lincah dan jujur, juga dapat diajak berunding, karena gadis itu telah dapat menghapus kegembiraannya dan duduk sambil memandang Keng Hong penuh perhatian.

Melihat sikap gadis ini, sepasang matanya yang bening, sepasang bibirnya yang merah indah, rambutnya yang melambai tertiup angin gunung, diam-diam Keng Hong membayangkan betapa akan bahagia hidupnya menjadi jodoh gadis seperti ini kalau saja di sana tidak ada Biauw Eng!

"Sumoi, engkau tentu sudah tahu bukan bahwa Subo telah menetapkan agar kita menjadi pasangan, menjadi calon suami isteri?"

Gadis itu mengangguk, kembali sepasang pipinya menjadi merah, akan tetapi karena maklum bahwa suhengnya bicara dengan sungguh-sungguh, ia berani menentang pandang mata suhengnya, bahkan kini pandang matanya sendiri penuh selidik.

"Bagaimana tanggapanmu mengenai urusan itu, Sumoi? Bagaimana perasaanmu ketika Subo menyatakan urusan penjodohan itu kepadamu?"

"Hemmm, apa maksudmu, Suheng? Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana!"

"Jawab saja, apakah engkau girang mendengar itu? Ataukah engkau terpaksa menerima akan tetapi dalam hatimu sebetulnya tidak suka?"

Gadis itu kelihatan canggung, akan tetapi ia memaksa mulutnya menjawab.

"Aku girang dan suka mendengar itu Suheng."

"Sumoi, katakanlah terus terang, apakah engkau... suka kepadaku? Mengapa engkau merasa girang dan suka mendengar bahwa engkau hendak dijodohkan denganku?"

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali.

Diam-diam Keng Hong merasa kasihan dan dia menyumpahi dirinya sendiri yang dia tahu amat kejam mengajukan pertanyaan seperti ini kepada seorang gadis, malah tunangannya sendiri!

Akan tetapi dia harus melakukan hal ini, agar urusan yang ruwet itu dapat beres.

"Aku... aku suka kepadamu, Suheng. Mengapa tidak? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa, yang... eh, amat tampan dan yang baik budi, bahkan engkau murid suami Subo yang terkenal. Apakah engkau tidak suka kepadaku, Suheng?"

Kini sepasang mata yang bening dan membayangkan hati yang bersih itu seolah-olah hendak menembus jantung Keng Hong.

Mampus kau sekarang, demikian Keng Hong memaki diri sendiri.

Senjata makan tuan!

Dia dibalas oleh gadis itu dengan ucapan sederhana dan dengan pertanyaan langsung yang menancap di ulu hatinya.

"Aku... aku... Ah, nanti dulu, Sumoi. Sekarang engkau dulu menjawab pertanyaanku, nanti aku yang mendapat giliran menjawab semua pertanyaanmu."

Yan Cu memandang aneh, lalu menghela napas.

"Engkau aneh, Suheng. Akan tetapi baiklah, kau mau bertanya apa lagi?"

"Ketika engkau merawatku selama tiga hari tiga malam, apakah hal itu kau lakukan karena... engkau memang kasihan kepadaku, apakah karena suka, ataukah karena kau merasa hal itu menjadi kewajibanmu sebagai.. eh, calon isteri?"

Keng Hong menanti jawaban dari gadis itu dengan hati berdebar tanpa berani memandang wajah Yan Cu.

Sampai lama gadis itu tidak menjawab dan selama itu Keng Hong tidak berani memandang wajahnya.

Kemudian terdengar suaranya, halus namun penuh keheranan.

"Aku tidak mengerti mengapa kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti ini, Suheng. Aku merawatmu karena merasa hal itu sudah semestinya, sudah kewajibanku, bukan hanya karena aku menjadi calon isterimu, akan tetapi karena aku kasihan kepadamu juga suka kepadamu, apalagi engkau adalah suhengku."

Keng Hong mengaruk-garuk kepalanya.

Dasar engkau sendiri yang tolol, makinya kepada diri sendiri, ingin menjenguk hati gadis yang murni!

Mengapa tidak terus terang saja?

"Mengapa tidak terus terang saja, Suheng?"

"Hahhh..?"

Keng Hong kaget karena pertanyaan yang diajukan Yan Cu begitu tepat dengan suara hatinya sendiri?

Siapakah yang bertanya tadi?

Benarkah suara Yan Cu, atakah suranya sendiri?

Ia menjadi bingung sendiri dan memandang kepada Yan Cu dengan mata kosong.

Gadis itu tersenyum geli.

"Suheng, jangan-jangan sebagian dari racun Ban-tok-sin-ciang ada yang naik memasuki kepalamu.."

Keng Hong memegangi kepalanya.

"Wah... Kau menghina..."

Akan tetapi dia tertawa dan gadis itu pun tertawa geli. Suasana yang tegang membingungkan tadi membuyar.

"Kau terlalu, Sumoi. Apakah kau anggap aku sudah menjadi gila...?"

"Habis, pertanyaan-pertanyaanmu aneh-aneh saja, sih. Kalau ada sesuatu di hatimu, katakanlah terus terang, Suheng. Bukankah kau tadi mengajak aku untuk bicara dari hati ke hati? Aku tahu bahwa engkau masih terkejut karena keputusan Subo yang tiba-tiba menjodohkan kita. Apakah kau hendak bicara tentang ini? Ataukah tidak setuju dan terpaksa menerima karena takut kepada Subo?"

Nah, rasakan sekarang!

Keng Hong menundukkan mukanya seperti seorang pesakitan mendengarkan tuduhan-tuduhan hakim.

Akhirnya dia memberanikan hatinya, mengangkat muka memandang wajah yang jelita itu dan berkata.

"Terus terang saja, Sumoi. Memang hal itulah yang membuat hatiku bingung bukan main. Karena berhutang hati kepada Subo yang telah menyelamatkan nyawaku, pula karena mengingat bahwa Subo adalah isteri Suhu yang tentu saja berhak mewakili Suhu, bagaimana aku berani membantahnya?"

"Jadi engkau tidak setuju dan engkau tidak suka kepadaku, Suheng ?"

"Wah-wah-wah, nanti dulu, Sumoi. Disaksikan oleh langit dan bumi yang dapat kita lihat sekarang ini, sama sekali tidak demikian. Aku suka sekali kepadamu, Sumoi, dan untuk ke dua kalinya aku bersumpah bahwa belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis secantik, sepandai dan semulia engkau. Aku suka kepadamu, akan tetapi bukan hanya karena suka orang lalu bisa menjadi suami isteri. Eh, apakah engkau cin... cinta kepadaku, Sumoi?"

Keng Hong ingin menampar mulutnya sendiri untuk keluarnya pertanyaan ini, akan tetapi karena sudah terlanjur, maka dia hanya dapat memandang muka gadis itu yang kini mengerutkan kening dan bibirnya diruncingkan, agaknya berpikir keras!

Keng Hong menanti jawaban yang memutuskan ini.

Kalau sumoinya ini terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, berati dia kalah dan harus bertekuk lutut tanpa syarat lagi!

Karena kalau sumoinya ini mencintanya, tentu dia tidak akan tega untuk menghancurkan hati dan hidupnya, dan dia akan menyerahkan diri, pasrah bongkokan membiarkan hidungnya diikat dan dituntun seperti kerbau ke meja sembahyang pernikahan!

Diam-diam dia berdoa agar gadis itu menjawab sebaliknya!

Sampai lama Yan Cu tidak menjawab, melainkan mengerutkan alis dan matanya memandang jauh ke puncak Pegunungan Cin-ling-san yang tertutup awan.

Tiba-tiba ia menoleh, sinar matanya seperti dua cahaya menembus dahi Keng Hong dan bertanya.

"Cia-suheng! Apakah engkau mencinta gadis lain??"

Keng Hong tersentak kaget dan matanya terbelalak.

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba dan tersangka-sangka seperti datangnya ujung pedang yang menusuk ulu hati.

Ia tergagap dan menjawab seperti orang dikejar harimau atau seperti maling konangan.

"Eh... wah... ini... eh itu...wah bagaimana ya? Ya begitulah, Sumoi. Begitulah..."

"Begitu-begitu bagaimana, Suheng? Engapa tidak terus terang saja? apakah ini namanya bicara dari hati ke hati?"

Keng Hong mengangguk-angguk dan menelan ludahnya, baru bisa bicara.

"Memang benarlah, Sumoi. Aku telah jatuh cinta kepada seorang gadis lain. Maafkan Sumoi. Aku telah berterus terang, sekarang kuminta Sumoi suka berterus terang pula. Apakah Sumoi cinta padaku?"

Wajah gadis itu berubah agak cepat, sapai lama ia menatap wajah tampan di depannya itu, lalu bertanya.

"Dan gadis itu.apakah dia juga mencintamu?"

Keng Hong menggeleng kepala.

Sejenak terjadi perang dihatinya.

Dahulu memang Biauw Eng mencintanya, bahkan mengaku cinta di depan ibunya sendiri, di depan banyak tokoh, secara terang-terangan.

Akan tetapi dalam pertemuan terakhir, Biauw Eng telah menyatakan benci kepadanya!

Apakah bedanya antara cinta dan benci?

Sukar membedakan kalau dia teringat akan sikap Biauw Eng.

"Tidak, dia malah... membenciku, Sumoi!"

Gadis itu menunduk, agaknya menahan senyum karena kembali ia merasa geli hatinya melihat sikap dan mendengar jawaban Keng Hong merendahkan kepalanya untuk mengintai muka yang tunduk itu, keningnya berkerut dan dia menuntut.

"Kenapa kau tertawa, Sumoi? Kau malah menertawakan aku yang dibenci padahal aku mencinta sedangkan dahulu aku yang benci dia dan dia mencintaku dan..."

Tiba-tiba Keng Hong sendiri tak dapat menahan ketawanya melihat betapa gadis itu terbatuk-batuk menahan ketawa dan keduanya lalu tertawa-tawa sambil memegangi perut karena geli!

"Wah, kalau begini terus kita berdua bisa gila, Suheng!"

Gadis itu menahan ketawa sambil mengusap air matanya.

Saking geli hatinya ia tadi tertawa sampai keluar air mata.

Keng Hong juga mengusap dua butir air mata yang dia tidak tahu lagi apakah karena tertawa ataukah karena hatinya sakit mengingat Biauw Eng.

"Baiklah, Sumoi. Memang seharusnya kita berdua sebagai manusia-manusia sadar, membicarakan urusan perjodohan kita ini sebelum terlanjur. Percayalah, Sumoi. Andaikata di sana tidak ada gadis itu yang aku tidak tahu entah cinta entah benci kepadaku, demi Tuhan, ajakan perjodohan ini akan kusambut dengan kebahagian besar sekali..Karena itu, agar urusan ini dapat kita pecahkan bersama dengan kesadaran sehingga yang aku lakukan adalah hal yang sudah kita ketahui jelas dan tidak secara membuta, katakanlah sesungguhnya apakah engkau cinta kepadaku!"

"Aku mengerti maksudmu, Suheng dan hal ini malah menambah kekagumanku kepadamu. Engkau laki-laki yang jujur dan memang sebaiknya berterang begini, apalagi menghadapi urusan perjodohan yang akan mengikat kita satu sama lain untuk selama hidup. Tentang cinta, terus terang saja aku sendiri tidak tahu dan tidak mengerti. Aku suka kepadamu, Suheng, dan kiranya kalau dipaksa harus memilih di antara seribu orang pemuda untuk menjadi jodohku, tanpa ragu-ragu lagi aku akan meilihmu. Akan tetapi tentang cinta...? Hemmm, Suheng, mungkin engkau yang lebih berpengalaman daripada aku dapat menjelaskan, apakah sebenarnya cinta itu? Dan bagaimana? Aku tidak tahu bagaimana aku dapat menjawab pertanyaanmu apakah aku cinta kepadamu atau tidak? Coba kaujelaskan padaku, Suheng. Apa sih cinta itu?"

Keng Hong mengerutkan alisnya.

Berabe, pikirnya.

Itu bukan jawaban namanya!

Dan dia malah harus memberi kuliah tentang cinta, sedangkan dia sendiri mengenai urusan cinta kasih masih kelas nol!

Urusan cintanya dengan Biauw Eng saja kacau balau tidak karuan.

Akan tetapi, dia harus menjawab!

Maka dia lalu mengurut-urut dahinya seperti aksi seorang guru besar hendak memberi kuliah.

"Cinta? Apa itu yang dinamakan cinta? Hemmm... cinta itu asmara... cinta itu kasih, cinta itu sayang... hemmm, cinta itu ya cinta, aku sendiri pun tidak mengerti!"

Ia memandang wajah Yan Cu yang semenjak tadi mendenarkan penuh perhatian seolah-olah pandang matanya tergantung pada bibir Keng Hong.

Ketika mendengar kaliat terakhir ini, Yan Cu terkekeh dan mencubit lengan Keng Hong dengan gemasnya, sampai Keng Hong teraduh-aduh kesakitan.

"Engkau mempermainkan aku, Suheng!"

Kata Yan Cu gemas.

"Wah, lihat kulit lenganku sampai biru. Kau memiliki kuku yang lebih jahat daripada kuku Ang-bin Kwi-bo!"

Mereka berdua kembali tertawa-tawa geli.

"Aihhh, kiranya orang yang hendak kumintai kuliah tentang cinta juga masih hijau, tidak lebih pintar dan tidak lebih bodoh dari aku sendiri. Suheng, apakah pernikahan harus disertai cinta?"

Kembali Keng Hong memasang muka sungguh-sungguh.

"Harus! Mutlak! Syarat utama!"

"Tapi engkau tidak tahu apa itu cinta!"

"Cinta sukar dimengerti, hanya dapat dirasakan oleh hati."

Keng Hong membantah.

Yan Cu bangkit berdiri dan berjalan maju lima langkah.

Pakaiannya yang berwarna kuning terbuat dari sutera halus itu berkibar tertiup angin, juga rambutnya berkibar.

Indah sekali pemandangan ini.

Cantik jelita luar biasa gadis ini!

Keng Hong benar-benar kagum dan kembali dia menghela napas.

Kalau saja di sana tidak ada Biauw Eng.

Kemudian dia mendengar dara jelita itu bernyanyi, suaranya merdu sekali dan kata-kata dalam nyanyian itu membuat Keng Hong bengong terlongo.

"Cinta kasih asmara begitu indah mempesona begitu rumit berbahaya manis mengatakan madu pahit mengatakan empedu dapat mencipta sorga juga menyeret ke neraka! Cinta kasih asmara perpaduan rasa mesra suka sayang dan iba. Ingin menyenangkan dan disenangkan hatinya Ingin memiliki dan dimiliki tubuhnya Ingin mengikat dan diikat hidupnya Harus mencakup seluruhnya satupun tak boleh kurang Lengkap mendatangkan bahagia mencipta sorga di dunia Kurang satu saja menjadi goyah berantakan gugur Menimbulkan deita sengsara Menyeret ke neraka penuh duka!"

Keng Hong meloncat dan memegang lengan gadis itu dari belakang, menarik tubuhnya sehingga membalik dan mereka berhadapan, beradu pandang.

Keng Hong mencela sumoinya.

"Wah, ternyata engkau adalah seorang guru besar tentang cinta! Sajakmu itu indah sekali, Sumoi."

Yan Cu menggeleng kepala dan kembali mereka duduk di atas rumput berhadapan.

"Keliru dugaanmu, Suheng. Sajak itu memang indah, akan tetapi aku hanya membacanya dalam sebuah kitab, entah kitab apa aku lagi. Akan tetapi biarpun indah, sayang sekali, aku tidak mengerti artinya sehingga sampai sekarang pun aku tidak mengerti apa itu disebut cinta!"

"Aku belum mengerti betul, Sumoi. Memang agaknya urusan cinta ini hanya bisa diengerti karena pengalaan. Marilah kita mencoba mempelajarinya dari sajakmu tadi."

"Engkau yang coba menjelaskan kepadaku, Suheng, setidaknya engkau tentu lebih berpengalaman daripada aku yang sama sekali tidak tahu."

Merah wajah Keng Hong.

Teringat dia akan pengalamannya dengan Bhe Cui Im yang merupakan wanita pertama yang merenggut tubuhnya, akan tetapi terang itu bukan cinta melainkan nafsu berahi semata.

Teringat pula dia akan pengalamannya dengan Sim Ciang Bi, dengan Kim Bwee Ceng dan Tang Swat Si.

Mungkin sekali di antara tiga orang wanita yang telah tewas itu ada perasaan cinta, akan tetapi dia tidak mengangap peristiwa itu merupakan cinta kasih baginya, melainkan nafsu berahi pula, sungguhpun tidak sekasar pengalamannya dengan Cui Im.

Kemudian dia teringat kepada Biauw Eng dan dia menjadi bingung lagi.

"Sajakmu menyatakan bahwa cinta dapat mencipta bahagia dan mencipta sengsara, itu tepat sekali. Memang demikianlah, seperti yang kualami sendiri. Sekarang ini cinta sedang menyeret aku ke neraka sehingga gadis yang dahulu mencintaku itu sekarang membenciku! Dikatakan pula dalam sajak itu bahwa cinta adalah perpaduan antara rasa suka, sayang dan iba. Nah, engkau bilang suka kepadaku, Sumoi, akan tetapi apakah engkau juga merasa sayang dan iba ?"

Gadis itu mengerutkan alis dan berpikir dan menggeleng kepala.

"Aku suka kepadamu, Suheng, dan aku merasa iba ketika engkau sakit. Kalau engkau sehat dan segar bugar begini, kenapa mesti menaruh iba?"

Keng Hong mengangguk-angguk dan tersenyum. Lagaknya seperti seorang guru yang merasa senang mendengar jawaban yang tepat dari muridnya.

"Nah, itu tandanya bahwa engkau tidak mencinta aku! Sekarang kita lanjutkan. Cinta itu adalah rasa ingin memiliki dan dimiliki tubuhnya, hemmm, ini tentu ada hubungannya dengan nafsu. Ingin menyenangkan dan disenangkan hatinya, hemmm, ini tentu timbul dari rasa sayang dan iba yang timbal balik. Ingin mengikat dan diikat hidupnya, wah yang tentu tibul dari kesadaran berkewajiban dan dari perasaan cemburu! Nah, sekarang kau coba menyelidiki hatimu sendiri, Sumoi. Pertama, apakah... apakah timbul... eh, nafsu berahimu kalau kau melihat aku?"

Semenjak kecil Yan Cu tinggal di puncak gunung bersama subonya, urusan cinta dia gelap sama sekali, apalagi mengenai pertanyaan itu yang hanya dapat ia kira-kira artinya oleh perasaan kewanitaannya, namun tentu saja sulit sekali untuk menjawabnya.

Ia mengerutkan alisnya dan bibirnya yang merah basah itu cemberut.

"Hemmm, agaknya sukar bagimu, Sumoi. Sekarang kuajukan pertanyaan ini dengan cara yang jelas. Begini!"

Keng Hong mengerutkan alisnya yang tebal mendekatkan mukanya dan matanya memandang tajam seolah-olah hendak menyihir gadis itu, lalu dia bertanya.

"Apakah kalau engkau berdekatan dengan aku, engkau mempunyai perasaan ingin sekali.. Eh, kupeluk dan kucium...?"

Sepasang mata yang indah itu tiba-tiba membelalak dan mukanya ditarik ke belakang seolah-olah takut kepada muka Keng Hong yang mendekat itu.

Akan tetapi Yan Cu menjawab juga.

"Kalau hatiku sedang gembira, hemmm... mungkin ada juga perasaan itu karena aku suka padamu dan engkau tampan, Suheng. Akan tetapi sekarang ini... melihat engkau begini kusut, kotor, berhari-hari tidak berganti pakaian... hemm, tentu saja sama sekali tidak ada perasaan itu, Suheng!"

Keng Hong membelalakkan mata dan meloncat bangun.

"Wah, celaka, aku sampai lupa..! Nanti dulu, Sumoi... Aku... aku mau mencuci muka dulu...!"

Keng Hong lari cepat meninggalkan gadis itu mencari air di lereng gunung.

Yan Cu tertawa geli, bahkan terkekeh-kekeh seorang diri setelah Keng Hong pergi, akan tetapi ia mengakhiri kegelian hatinya dengan duduk bersunyi sendiri, termenung memikirkan keputusan yang di ambil gurunya.

Ia mengerti bahwa agaknya tidaklah sukar baginya untuk jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti Keng Hong.

Akan tetapi kalau pemuda yang menjadi suhengnya itu telah terang-terangan menyatakan mencinta gadis lain, dan hatinya sendiri tidak merasa sakit mendengar pengakuan itu, dia tahu bahwa dia barulah tertarik dan suka belum jatuh cinta.

Untung suhengnya berterus terang sehingga rasa sukanya tidak berlarut-larut menjadi cinta.

Akan tetapi subonya telah menentukan hal itu, bagaiamana baiknya?

Yan Cu masih termenung ketika Keng Hong datang kembali.

Pemuda itu sudah mencuci muka, bahkan rabutnya masih basah, wajahnya nampak segar.

Yan Cu memandang dengan hati geli.

Keng Hong duduk lagi menghadapi sumoinya itu dan berkata.

"Nah, aku sudah bersih, tidak menakutkan lagi sekatang. Bagaimana, Sumoi?"

"Bagaimana apa?"

"Apakah sekarang ada perasaan di hatimu, ingin kupeluk dan kucium?"

Yan Cu mengeleng kepalanya. Keng Hong menganguk-angguk girang.

"Bagus, itu tandanya kau tidak cinta padaku. Sekarang pertanyaan yang merupakan ujian terakhir! Engkau dengar baik-baik.

"Sumoi! Aku... eh, terus terang saja... aku... Aku pernah melakukan hubungan jasmani dengan Bhe Cui Im si iblis betina, pernah pula melakukan hubungan hanya berdasarkan nafsu berahi dengan tiga orang gadis lain!"

Wajah Yan Cu mendadak menjadi merah sekali dan mulutnya cemberut, matanya memandang merah.

"Ihhh, cabul! Kenapa engkau ceritakan hal semacam itu kepadaku, Suheng?"

"Jawablah! Setelah mendengar ini ditambah lagi, aku mencinta seorang gadis bernama Sie Biauw Eng, aku mencintanya setengah mati, nah, setelah kau mendengar ini bagaimana rasanya hatimu?"

Yan Cu menjawab cemberut.

"Rasanya muak mendengar yang pertama, dan terharu mendengar yang ke dua."

"Kau.. kau tidak marah? Aku bermesra-mesraan dengan gadis-gadis lain itu, bagaimana?"

"Bagaimana... bagaimana maksudmu? Aku muak mendengarnya!"

"Tidak cemburu? Tidak iri?"

"Mengapa mesti cemburu dan iri? Kau ingin bermesraan dengan seluruh monyet betina di gunung ini pun silakan!"

Keng Hong tertawa bergelak, memegang pundak Yan Cu, menarik gadis itu berdiri dan berjingkrakan menari-nari saking gembiranya.

"Kau tidak cinta padaku! Kau tidak cinta padaku! Aduh, Sumoiku yang baik, engkau telah menolongku!"

Yan Cu menarik tangan Keng Hong.

"Jangan bergirang-girang dulu, Suheng. Subo sudah memutuskan perjodohan itu. Bagaimana?"

Keng Hong menjadi serius kembali dan sambil menarik tangan Yan Cu, dia mengajak gadis itu duduk kembali di atas rumput, berhadapan dan saling pandang dengan wajah serius.

"Benar, Subo telah mengancam bahwa kalau aku menolak, dia akan membunuhku!"

Keng Hong menggigit-gigit kuku telunjuk kanannya, kedua alisnya berkerut.

"Bagaimana baiknya, Suheng?"

"Menolak perintahnya, berati aku akan menjadi orang yang paling hina, tidak ingat budi, apalagi kalau aku melawannya. Menurut perintahnya, hem.. tanpa cinta, kita berdua kelak akan terseret ke neraka penderitaan, di samping menghancurkan hati Biauw Eng, yaitu kalau dia benar mencintaku. Sumoi, baiknya kita mengambil jalan tengah saja!"

"Jalan tengah bagaimana, Suheng?"

"Kita menghadap Subo dan menyatakan terus terang bahwa kita berdua hendak membuktikan dulu apakah kita berdua saling mencinta. Tanpa cinta kita berdua rela mati di tangan Subo. Aku akan menyatakan terus terang bahwa yang menjadi penghalang sambungan cinta kita adalah karena aku mencinta Biauw Eng, dan aku belum tahu apakah gadis itu mencintaku ataukah membenciku. Kita berdua akan mencarinya, kalau sudah beertemu dan kita mendapatkan bahwa Biauw Eng memang membenciku, kita akan kembali ke sini dan menerima keputusan Subo. Karena, kalau Biauw Eng tidak mencintaku, maka sudah pasti akan menumpahkan seluruh cinta kasihku kepadamu, Sumoi!"

"Aihhh, kenapa cinta kasih kau pindah-pindahkan seenakmu saja seperrti orang memindahkan kursi atau meja, Suheng?"

"Bukan begitu, Sumoi. Cinta kasih memang tidak akan dipindah-pindahkan seperti itu. Akan tetapi seperti dalam sajak tadi, cinta kasih itu harus berimbang dari kedua fihak, saling memberi dan saling meninta, kurang satu saja menimbulkan sengsara. Biarpun aku mencinta Biauw Eng, apakah aku harus menggerogoti hatiku sendiri sampai coplok? Di atas segala maca perasaan, termasuk perasaan cinta, masih ada kesadaran yang paling tinggi, Sumoi, yang akan menuntut kita mengatasi segala akibat perasaan sehingga mencegah kita melakukan hal yang bukan-bukan, misalnya karena asmara gagal lalu minum racun tikus dan lain-lain perbutan rendah dan keji untuk membunuh diri! Eh, kita melantur lagi. Bagaiana pendapatmu, Sumoi? Setujukah engkau?"

Gadis itu mengangguk-angguk.

"Baiklah, Suheng. Memang selain engkau harus yakin dulu akan cintamu terhadap gadis itu aku sendiri harus mempelajari dulu bagaimana sebetulnya perasaanku terhadap dirimu. Mudah-mudahan saja kalau kelak ternyata kau tidak dapat melanjutkan tali cintamu dengan gadis itu dan hendak "pindah"

Kepadaku, aku bisa menerimanya. Siapa tahu, kelak aku jatuh cinta kepada orang lain sehingga tak dapat membalas cintamu."

"Wah, celaka kalau begitu... Biauw Eng putus, engkau luput..., habis bagimana kelak dengan aku? Keng Hong mengaruk-garuk kepalanya dan Yan Cu tertawa. Gadis ini sudah mendapatkan kembali kegembiraannya.

"Kalau memang kelak terjadi begitu yaaaahhh, engkau rasakan saja, Suheng, hitung-hitung engkau melanjutkan nasib mendiang gurumu. Eh, kurasa tidak baik kalau kita menanti Subo. Aku mengenal watak Subo. Di waktu dia sedang marah, hatinya keras bukan main dan mungkin kita akan dibunuhnya seketika. Sebaliknya, kalau hatinya lagi lunak, dia merupakan orang yang paling sabar. Sebaiknya kita jangan mempertaruhkan nyawa. Lebih baik kita pergi saja sebelum dia pulang dan kita meninggalkan surat kepadanya, menjelaskan segala maksud kita. Biarpun dia marah, kalau kita tidak ada, akhirnya hatinya akan lunak dan dia akan memaafkan kita."

Keng Hong memegang kedua lengan gadis itu, memandang dengan mata bersinar-sinar gembira dan berkata.

"Yan Cu, kalau di sana tidak ada Biauw Eng kalau kita sudah jelas saling mencinta, saat ini kau sudah kupeluk dan kugigit bibirmu yang manis ini!"

"Ihhh! Pantas kalau Biauw Eng membencimu! Engkau... genit sih!"

Gadis itu melepaskan tangannya dan berlari cepat menuruni puncak, kembali ke pondok diikuti Keng Hong.

Mereka berdua lalu membuat surat dan pada hari itu juga pergilah mereka meninggalkan tempat itu.

Tentu saja pusaka peninggalan gurunya yang telah dia rampas dari Cui Im, dia bawa, demikian pula pedang Siang-bhok-kiam.

Sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali di atas wuwungan rumah gedung Kwan-taijin.

Bayangan ini berhenti dan mendekam di balik wuwungan dengan matanya dia menyapu ke bawah dan mata itu bersinar gembira ketika ia melihat bahwa keadaan di situ amat sunyi.

Maklum bahwa saat itu telah menjelang tengah malam.

bayangan ini lalu bangkit dan berindap-indap ke wuwungan sebelah belakang, Kemudian bagaikan seekor burung garuda terbang, dia meloncat ke bawah dan kedua kakinya saa sekali tidak mengeluarkan suara ketika menginjak lantai di ruangan belakang.

Bayangan hitam itu ternyata adalah seorang laki-laki yang berusia empat puluh tahun lebih akan tetapi masih kelihatan tampan dan gagah, tubuhnya tinggi besar dan pakaiannya serba mewah dan indah, di punggungnya tampak pedang yang gaganganya terukir indah.

Dia adalah Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek, penjahat cabul yang telah melarikan diri dari istana bersama Cui Im.

Mereka lari berpencar karena mereka takut kalau-kalau fihak istana melakukan pengejaran.

Setelah gagal mengejar kemuliaan di istana dengan menjadi pengawal karena perbuatan Cui Im yang hendak memancing Keng Hong akan tetapi gagal, Siauw Lek yang kini merantau seorang diri telah kambuh lagi penyakit lamanya dan mulailah dia melakukan kekejiannya yang membuat dia dijuluki Jai-hwa-ong (Raja Pemetik Bunga), Yaitu dengan menculik dan memperkosa wanita-wanita cantik!

Malam itu dia mencari korban di rumah gedung pembesar Kwan yang tinggal di kota Cin-an, sebuah kota besar yang terletak di tepi Sungai Huang-ho.

Siauw Lek yang sudah berpengalaan dalam perbuatan keji seperti ini, menanti sampai para penjaga keamanan yang meronda lewat di ruangan belakang itu, kemudian dia mendongkel jendela samping dan masuk ke ruangan dalam dilihatnya anak tangga yang menuju ke loteng dan dia tersenyum.

Biasanya, para wanita tinggal di tinkgat atas itu.

Tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat ke atas.

Tak lama kemudian dia sudah mengintai dari jendela kamar besar dan (Lanjut ke

Jilid 33) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33 melihat pembesar Kwan yang setengah tua itu di samping isterinya.

Ia lalu mengintai kamar sebelah dan matanya berkilat ketika dia melihat dua orang wanita cantik tidur di kamar yang indah itu.

Ia dapat menduga bahwa dua orang wanita muda itu tentulah selir si pembesar.

Melihat tubuh muda dan wajah cantik itu, timbullah gairahnya dan tanpa menimbulkan suara berisik, Siauw Lek sudah berhasil membuka jendela dantubuhnya meloncat ke dalam, lalu ditutupnya kembali jendela kamar.

Dengan sikap tenang karena memang sudah biasa dia melakukan perbutan terkutuk ini, Siauw Lek mengambil lilin dari atas meja dan menyingap kelambu yang menutup tempat tidur itu.

Dia tadi hanya dapat mengira-ngira saja akan kecantikan dua orang wanita itu karena tertutup kelambu yang tipis, dan kini dia hendak memeriksa dulu calon korbannya.

Bukan main girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa dugaannya benar.

Mereka berdua itu adalah wanita-wanita muda, tentu selir bangsawan Kwan, wajah mereka menggairahkan.

Dengan halus dan mesra Siauw Lek menggunakan telunjuknya meraba dan membelai bibir yang setengah terbuka dari wanita yang tidur di pinggir, yang memakai pakaian dalam berwarna hijau pupus.

Wanita itu membuka matanya, memandang dan mulutnya sudah bergerak hendak berteriak, akan tetapi jari tangan Siauw Lek menahan bibir merah itu dan Siauw Lek tersenyum, menggelengkan kepala memberi isyarat agar wanita itu jangan menjerit.

Sejenak wanita itu terbelalak, memandang wajah Siauw Lek penuh perhatian, wajah yang tampan dan ganteng, jauh lebih menarik daripada pembesar Kwan kemudian pandang mata wanita itu menurun, Menyapu tubuh Siauw Lek yang tinggi besar dan kokoh kuat, jauh bedanya dengan tubuh pembesar Kwan yang perutnya gendut itu.

Pandang mata Siauw Lek bicara banyak selir ini pun bukan seorang wanita yang bodoh, maka ia tersenyum lebar dan bangkit berdiri menarik telunjuk ke depan bibirnya yang merah seolah-olah memberi isyarat kepada Siauw Lek agar tidak berisik, kemudian ia menuding ke arah tubuh temannya dan memegang tangan Siauw Lek lalu menariknya ke sudut kamar itu Siauw Lek agar tidak berisik, Siauw Lek mengembalikan lilin ke atas meja dan begitu dia membalikkan tubuh menghadapi wanita itu, selir berpakaian dalam warna hijau ini sudah merangkul lehernya dan menciumnya seperti seekor harimau kelaparan!

Siauw Lek mendengus marah, tangan kirinya bergerak ke atas.

"Prakkk!"

Tanpa mengeluh lagi wanita itu roboh terkulai dengan nyawa melayang karena kepalanya sudah retak oleh hantaman jari tangan Siauw Lek!

Memang watak Siauw Lek aneh dan kejam sekali.

Dia paling tidak suka akan wanita yang genit, wanita yang menyambutnya dengan rayuan.

Dia lebih senang memperkosa wanita yang melawannya!

Benar-benar manusia ini memiliki watak binatang.

Seperti seekor kucing yang kalau menangkap tikus selalu mempermainkan dan menyiksanya dulu sebelum memakannya, makan daging tikus sebelum mati sehingga terasa di mulut betapa tubuh tikus itu mengeliat-geliat dan meronta-ronta demikianlah watak penjahat cabul itu.

Maka dia lalu membunuh begitu saja ketika selir berpakaian hijau itu menyambutnya dengan mesra dan penuh nafsu berahi.

Setelah membunuh wanita itu, tanpa menengoknya lagi Siauw Lek lalu menghampiri tempat tidur dan sekali tangannya meraih terdengar suara "brettt!"

Dan pakaian merah yang dipakai wanita ke dua telah direnggutnya robek.

Wanita itu terkejut, membuka mata dan memandang terbelalak, kemudian menjerit sekuatnya!

Siauw Lek tidak jadi menotoknya ketika melihat bahwa wanita ini kalah cantik melihat bahwa wanita yang dibunuhnya tadi, memang wanita ini cukup muda dan cantik, berusia paling banyak tiga puluh tahun, akan tetapi karena kalah cantik oleh wanita yang dibunuhnya tadi, maka tampak buruk dalam pandangan matanya.

Jari tangannya yang tadi siap menotok urat gagu wanita itu agar tidak sempat berteriak, kini menyelonong ke arah tenggorokan dan terdengar suara "krekkk!"

Disusul rebahnya tubuh telanjang itu dalam keadaan tak bernyawa lagi!

Suara ribut-ribut di luar kamar, yaitu suara para penjaga yang terkejut mendengar jerit tadi, membuat Siauw Lek melompat dan tubuhnya sudah menerobos langit-langit dan berada di atas genteng.

"Jaga kamar Siocia...!"

Terdengar suara orang.

Siauw Lek melihat ada beberapa orang penjaga lari ke sebuah kamar di ujung kiri.

Ia cepat meloncat mendahului mereka, mendahului mereka, menendang daun jendela dan girang sekali hatinya ketika melihat seorang gadis muda yang amat cantik telah terbangun dari tidur dan duduk di ranjang dengan mata terbelalak ketakutan.

Melihat Siaw Lek gadis itu kaget dan hendak lari, akan tetapi sekali sambar saja Siauw Lek sudah menotok lumpuh lalu mengempit tubuh gadis itu dan menerjang ke pintu yang didobrak dari luar oleh para penjaga yang melihat penjahat itu memasuki kamar melalui jendela.

Empat orang pengawal itu roboh oleh tendangan kaki Siauw Lek dan dalam sekejap mata saja tubuh Siauw Lek sudah berloncatan ke atas genteng, dikejar oleh beberapa orang pengawal.

Tentu saja para pengawal itu jauh kalah cepat sehingga mereka hanya dapat berteriak-teriak bingung ketika bayangan penculik itu lenyap.

Kekecewaan hati Siauw Lek terobati ketika dia mengempit tubuh yang hangat itu, membawanya lari keluar dari kota Cin-an.

Sekali ini dia tidak mau gagal.

Dia tahu bahwa karena yang diculiknya adalah puteri seorang pembesar, tentu para penjaga keamanan akan mengerahkan pasukan mencarinya.

Maka dia terus melarikan diri ke pinggir Sungai Huang-ho dan di sebuah tempat yang sunyi dia membangunkan tukang perahu, menodong dada tukang perahu itu dengan pedangnya.

Tukang perahu yang kaget terbangun melihat dia ditodong ujung pedang oleh seorang laki-laki tinggi besar yang mengempit seorang wanita yang agaknya pingsan, seketika menggigil seluruh tubuhnya.

"Hayo lekas seberangkan aku ke sana!"

Tukang perahu tidak berani membantah.

Siauw Lek meloncat ke perahu dan tukang perahu itu lalu mendayung perahunya ke tengah menyeberang Sungai Huang-ho yang lebar.

Di dalam perahu, Siauw Lek duduk dan memangku tubuh gadis yang tak dapat bergerak karena ditotoknya tadi.

Hatinya girang bukan main.

Lampu di perahu itu kecil sekali, akan tetapi cukup untuk menerangi tubuh gadis yang montok dan padat dan wajahnya yang cantik manis.

Dia akan menikmati korbannya ini, tanpa gangguan.

Maka diperintahkannya tukang perahu untuk menyeberangkannya ke bagian seberang yang sunyi.

Malam telah terganti pagi ketika perahu kecil itu mendarat di pantai yang penuh pohon, sebuah hutan yang sunyi dan tak tampak sebuah pun perahu di situ.

Siauw Lek menyuruh tukang perahu mengikatkan perahu pada sebatang pohon, kemudian pedangnya berkelebat dan tubuh tukang perahu itu roboh mandi darah, kemudian mencelat ke sungai oleh tendangan kaki Siauw Lek.

Sambil tersenyum Siauw Lek melihat mayat tukang perahu terbawa air, kemudian dia memodong tubuh gadis itu dibawa ke dalam hutan!

Melihat betapa tempat itu sunyi sekali dan di pinggir sungai itu terdapat rumput yang hijau tebal, Siauw Lek tertawa, membebaskan totokan gadis itu dan melepaskan tubuh itu ke atas rumput.

Dia sendiri duduk memandang sambil tersenyum.

Gadis itu mengeluah, tubuhnya masih kaku-kaku, kemudian ia bangkit duduk.

Ketika menoleh dan melihat laki-laki tinggi besar yang memandangnya seperti seekor harimau memandang kelinci, ia mengeluarkan jerit tertahan, meloncat berdiri dan lari!

Siauw Lek tertawa bergelak, membiarkan gadis itu berlari-lari di atas rumput sampai belasan langkah-langkah kecil, kemudian tubuhnya bergerak mengejar.

Gadis yang lari itu tiba-tiba tersentak kaget merasa betapa ujung pakaiannya dibetot dari belakang.

Ia meronta dan menggunakan semua tenaga untuk meloncat ke depan.

Terdengat bunyi robek dan sebagian baju luarnya tertinggal di tangan Siauw Lek yang tertawa-tawa girang.

Sungguh menyenangkan sekali permainan ini baginya.

Gadis itu berlari lagi akan tetapi tiba-tiba ia menjerit dan tubunya terjungkal.

Ketika ia bangun lagi, kedua sepatunya telah berada di tangan Siauw Lek, juga sebagian celana luar yang robek.

Gadis itu mengeluarkan suara seperti dicekik karena rasa ngeri dan takut membuat ia sukar mengeluarkan suara.

Akan tetapi ia sudah berdiri lagi, terengah-engah dan memaksa kedua kakinya yang telanjang untuk lari lagi ke depan, kemana saja asalkan menjauhi laki-laki yang baginya lebih menakutkan daripada iblis sendiri.

"Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha! Engkau manis sekali. Larilah... ha-ha-ha, larilah...!"

Gadis itu berlari.

Kakinya yang terasa nyeri tak dihiraukannya.

Ia berlari sampai agak jauh, napasnya terengah dan tibalah ia di sekumpulan pohon-pohon besar.

Tiba-tiba ia menjerit ngeri ketika melihat laki-laki tinggi itu tahu-tahu sudah berada di depannya, muncul keluar dari balik sebatang pohon sambil tertawa-tawa.

"Aiiihhhhhh.. Ja... jangan..!"

Gadis itu menjerit, membalikkan tubuh dan lari lagi ke lapangan rumput hijau.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Larilah sekuatmu nona manis!"

Siauw Lek berjalan-jalan mengikuti.

Gadis yang sudah hampir kehabisan napas itu akhirnya menjerit dan roboh terguling di atas rumput karena kakinya terjerat oleh sisa pakaiannya sendiri.

Sambil tertawa puas Siauw Lek menubruknya.

"Ampunnn... jangan... tolooongggg...!"

Akan tetapi tetapi di tempat sesunyi itu, siapa yang mampu menolongnya.

Siauw Lek terkekeh-kekeh dan mencium muka yang pucat ketakutan itu.

Tiba-tiba Siauw Lek berteriak kesakitan, ternyata gadis yang sudah putus asa saking ngerinya itu, dan menjadi nekat dan menggunakan kesempatan selagi Siauw Lek yang diamuk berahi itu lengah, telah menggigit lehernya, menggigit dan mengerahkan tenaga tidak mau melepaskan lagi!

"Lepaskan!

Keparat!

Lepaskan...!"

Siauw Lek membentak, akan tetapi gigitan pada lehernya itu makin mengeras. Siauw Lek menjadi marah sekali, tangan kirinya menampar.

"Plakkk!"

Gigitan terlepas, gadis itu terkulai, darah keluar dari telinganya dan napasnya empas-empis, akan tetapi matanya masih terbelalak memandang Siauw Lek penuh kebencian.

Siauw Lek bangkit berdiri, meraba kulit lehernya yang berdarah.

"Sialan! Anjing betina!"

Ia memaki dan melihat ke bawah di mana gadis itu rebah terlentang dalam keadaan hampir mati karena kepalanya retak!

Dengan gemas Siauw Lek mengangkat kakinya dan memaki.

"Perempuan hina!"

Kakinya menginjak dada yang tak tertutup lagi dan yang tadi amat menggairahkan hatinya, menginjak sambil mengerahkan tenaga.

"Krakkk!"

Tulang-tulang iga gadis itu remuk dan nyawanya melayang! "Manusia iblis! Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek manusia terkutuk!"

Siauw Lek terkejut, cepat membereskan pakaiannya dan membalikkan tubuh.

Ketika dia melihat ada dua orang gadis cantik sekali berdiri di situ, wajahnya seketika menjadi berseri.

Kiranya yang memakinya itu adalah Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng, gadis puteri Lam-hai Sin-ni yang cantik jelita, sumoi dari Cui Im yang masih perawan dan yang pernah membuat dia tergila-gila.

Kehilangan gadis bangsawan itu dan belum Biauw Eng sama dengan kehilangan ikan teri mendapatkan kakap!

Mata laki-laki itu bersinar-sinar, apalagi ketika melihat bahwa wanita yang berdiri di samping Biauw Eng, yang memakai pakaian serba merah, juga amat cantiknya!

Benar-benar dia mendapatkan keuntungan besar, padahal semalam dia tidak bermimpi kejatuhan bulan.

Dia tahu bahwa Biauw Eng bukan seorang gadis lemah, akan tetapi dia memandang rendah karena dia cukup mengenal sampai di mana tingkat kepandaian gadis ini.

Dengan mudah dia akan dapat menundukan Biauw Eng dan hemmm...

wanita baju merah itu pun bukan main manisnya!

Tentu saja Siauw Lek tidak pernah mimpi bahwa Biauw Eng yang berada di depannya sekarang ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan Biauw Eng yang pernah dilawannya dahulu!

"Ha-ha-ha-ha-ha!

Terima kasih, Biauw Eng!

Memang aku sudah bosan dengan gadis tak tahu malu seperti anjing betina yang suka menggigit ini.

Kiranya engkau datang untuk menemaniku!

Mari...

Marilah manis.

Sudah lama aku rindu sekali kepadamu.

Tak usah malu-malu, di sini sunyi dan tidak ada orang lain.

Kalau temanmu yang manis itu ingin pula main-main denganku, marilah.

Aku masih kuat melayani kalian berdua, ha-ha-ha-ha-ha-ha!"

"Hi-hi-hik!"

Hun Bwee, wanita pakaian merah terkekeh.

"Sumoi, inikah monyet cilik murid tujuh ekor monyet tua Go-bi? Karena hanya macam ini saja? dia tidak seberapa akan tetapi mulutnya amat lebar, menantang kita berdua main-main dengannya? Hi-hi-hik, aku sendiri pun cukup untuk main-main dengannya!"

Diam-diam Siauw Lek terkejut.

Wanita muda itu cantik sekali, akan tetapi sikapnya begitu aneh, seperti...

Miring otaknya!

Dan berani memaki guru-gurunya, yaitu Go-bi Chit-kwi yang terkenal.

"Biarlah Suci, jangan turut campur.

Tangannya bernoda darah ibuku, maka harus aku sendiri yang menghadapinya", kata Biauw Eng sambil melangkah maju menghadapi Siauw Lek, sikapnya tenang sekali, akan tetapi sinar matanya mengandung ancaman maut yang mengerikan.

Adapun Hun Bwee sudah berlutut di dekat mayat gadis yang telanjang itu, kemudian terdengar ia terisak menangis memondong mayat itu dan membawanya pergi dari situ.

Hati wanita ini penuh rasa iba dan terharu melihat korban kebiadaban ini yang mengingatkan dia akan nasibnya sendiri ketika dia diperkosa oleh laki-laki yang tadinya ia kagumi, diperkosa oleh Cia Keng Hong!

Hun Bwee lalu mengali lubang di tanah dan mengubur jenazah itu.

Biauw Eng yang menghadapi Siauw Lek berkata.

"Siauw Lek, kekejianmu melampaui batas, kejahatanmu sudah melewati takaran. Hari ini, aku Sie Biauw Eng kalau tidak dapat membunuhmu, aku bersumpah takkan mau hidup lagi!"

Kemarahan Biauw Eng melihat musuh besarnya, musuh ke dua setelah Cui Im, mendatangkan kemarahan yang memuncak sehingga keluarlah kata-katanya yang amat menyeramkan itu.

Diam-diam Siauw Lek merasa bulu tengkuknya berdiri.

Ia dapat merasa ancaman yang dahsyat itu dan maklum betapa hebat itu dan maklum betapa hebat kebencian gadis ini kepadanya.

Namun tentu saja dia tidak takut.

Dia akan menangkap gadis ini, akan memperkosanya sepuasnya, kemudian dia harus membunuhnya agar kelak tidak menjadi ancaman baginya.

Maka untuk melenyapkan rasa serem di hatinya, dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Biauw Eng. Ingin aku melihat engkau melawanku. Memang aku paling suka kalau dilayani wanita, nanti pun aku ingin merasai bagaimana engkau melawan, meronta dan menggeliat dalam pelukanku. Ha-ha-ha!"

Mulutnya masih tertawa, akan tetapi dengan curang sekali tiba-tiba tubuhnya sudah menyambar ke depan, meloncat sambil menubruk seperti seekor harimau menubruk kijang.

Biauw Eng masih berdiri, tidak mengelak, malah mengangkat kedua tangan menyambut terkaman kedua tangan Siauw Lek.

Jari-jari tangan mereka bertemu Siauw Lek sudah merasa girang karena tentu dia akan dapat menangkap gadis ini mengandalkan tenaga sinkangnya yang lebih besar.

"Cuh! Cuh! Tiba-tiba mulut Biauw Eng meludah dua kali ke arah mata Siauw Eng. Laki-laki yang tubuhnya masih di uadara ini kaget sekali. Belum pernah dia mengalami ilmu berkelahi seperti ini pakai meludah segala. Akan tetapi biarpun yang meludah seorang gadis cantik kalau cara meludahnya disertai sinkang kuat dan yang disambar air ludah adalah sepasang mata, amatlah berbahaya! Siauw Lek miringkan mukanya, akan tetapi pada saat itu, Biauw Eng sudah melempar tubuh ke belakang. Tentu saja Siauw Lek terbawa pula karena kedua tangan mereka masih saling cengkeram dan begitu punggungnya menyentuh tanah, kedua kaki Biauw Eng diangkat dan menendang perut dan pusar Siauw Lek.

"Celaka..!"

Siauw Lek berseru kaget, mengerahkan sinkang ke arah tubuh yang ditendang.

"Blukkk!"

Sinkangnya membuat perutnya kebal, akan tetapi tidak dapat menahan tubuhnya yang masih di udara itu terpental sampai lima meter lebih.

Untung Siauw Lek mempunyai ilmu ginkang yang sudah tinggi sehingga dia dapat berjungkir balik dan turun dengan kedua kaki di bawah tidak terbanting.

Cepat dia melompat ke depan dan menghadapi Biauw Eng yang sudah berdiri dengan sikap tenang menghadapinya.

Kedua mata Siauw Lek merah.

Hampir saja dia celaka dan sama sekali dia tidak pernah menduga bahwa gadis itu mempunyai cara berkelahi yang begini aneh!

Ia marah sekali, akan tetapi kemarahannya masih belum menghapus rasa cintanya yang ingin menguasai tubuh Biauw Eng yang dirindukan, maka dia berseru keras dan cepat sekali menerjang maju dengan tangan dimainkan secara hebat.

Dari dua tangan yang terbuka itu menyambar angin pukulan yang kuat sekali, bertubi-tubi datangnya dan kedua telapak tangan itu berubah menjadi hitam.

Namun Siauw Lek lebih banyak membuat gerakan mencengkeram untuk menangkap gadis itu daripada gerakan memukul.

Dia sudah menggunakan ilmu pukulan Hek-liong-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Naga Hitam) yang amat lihai.

Namun, dengan masih tenang sekali, Biauw Eng mengelak dan kadang-kadang menangkis semua serangan lawan.

Bahkan ketika menangkis dan lengannya yang berkulit halus putih itu bertemu dengan lengan tangan Siauw lek yang besar dan kuat, tubuh Siauw Lek tergetar dan lengannya gatal-gatal!

Ia terkejut sekali., maklum bahwa ternyata gadis ini sudah memperoleh kemajuan yang hebat.

Ia teringat akan penuturan Cui Im bahwa Biauw Eng mempunyai pukulan Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun) yang amat berbahaya, maka kini dia berseru hebat dan mempercepat gerakannya.

Dengan jurus menyesatkan tangan kanannya menghantam susul-menyusuk dengan tendangan kaki kirinya ke arah perut Biauw Eng, akan tetapi ketika gadis itu mengelak dan menangkis, tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram ke arah tengkuk Biauw Eng.

"Plakkk!"

Tengkuk itu kena disentuh, akan tetapi tiba-tiba tangan Siauw Lek yang mencengkeram meleset, tubuh Biauw Eng sudah berputar dan kedua tangan Biauw Eng sudah berputar dan kedua tangan Biauw Eng bergerak cepat menampar ke depan!

"Plak!

Plak!"

Bagaikan disambar petir, tubuh Siauw Lek berputaran terhuyung-huyung.

Telinganya yang kanan kena ditampar, menimbulkan bunyi mengiang tiada hentinya, kepalanya seperti pecah dan pandang matanya berkunang.

Ketika dia meraba mukanya yang terasa nyeri, dia terkejut karena hidungnya ternyata kena taparan pula sehingga ujungnya pecah-pecah berdarah.

Hidungnya yang biasanya dia banggakan, yang mancung dan besar, kini pecah berdarah, tidak mancung lagi!

Siauw Lek menggoyang kepala mengusir pening.

Ketika bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya lenyap dan dia dapat memandang lagi, dia melihat Biauw Eng masih berdiri sambil bertolak pingang.

Hal inilah yang membuat jantungnya berdebar penuh rasa ngeri dan takut.

Jelas bahwa dia tadi sudah tidak berdaya dan kalau Biauw Eng tadi mengirim susulan serangan maut, tak mungkin dia dapat mempertahankan diri lagi.

Akan tetapi gadis itu berdiri saja memandang, sama sekali tidak mempergunakan kesempatan itu.

Hal ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Biauw Eng memadang rendah kepadanya, bahwa Biauw Eng percaya penuh akan dapat mengalahkannya!

Dan dia pun masih bingung mengapa gadis itu kini menjadi demikian hebat!

Dengan hati gentar Siauw Lek mengambil keputusan nekat.

Dia mencabut senjatanya dan tampaklah sinar hitam berkelebat menyilaukan mata.

Pedang hitam Hek-liong-kiam telah berada di tangannya dan tanpa memberi peringatan lagi, sesuai dengan wataknya yang curang, tangan kirinya bergerak dan belasan sinar-sinar kecil hitam menyambar ke arah jalan darah di tubuh depan Biauw Eng.

Itulah senjata paku-paku hitam beracun yang dilepas dari jarak dekat secara tiba-tiba, kemudian selagi sinar-sinar hitam menyambar, dia sendiri sudah meloncat dan menerjang dengan pedang hitamnya!

"Haiiiitttttt!"

Biauw Eng terkejut juga melihat datangnya paku-paku yang amat berbahaya ini.

Tubuhnya sudah mencelat ke atas dengan loncatan tinggi dan sambil meloncat ini dia telah melolos sabuk sutera putihnya yang dari atas merupakan gulungan sinar putih seperti naga mengeluarkan suara meledak-ledak menyambar ke arah kepala Siauw Lek.

Laki-laki ini dengan kemarahan meluap menyabet ke arah ujung untuk membabat, akan tetapi ujung sabuk itu sudah melibat pedang.

Melihat ini, Siauw Lek berseru keras dan dengan pengerahan tenaga sinkang, Dia melontarkan tubuh Biauw Eng yang belum turun ke tanah Biauw Eng tak dapat menahan tenaga dahsyat ini, libatan sabuknya terlepas dan tubuhnya melayang ke atas!

Akan tetapi, dia terjungkir balik dan tubuhnya menukik turun, didahului oleh gulungan sabuknya yang berputaran merupakan gulungan putih yang menyembunyikan tubuhnya!

Harus diketahu bahwa selama digembleng oleh Go-bi Thai-houw, nenek gila yang lihai sekali itu, tidak saja Biauw Eng menerima pelajaran ilmu silat aneh, akan tetapi ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam hal sinkang dan ginkang dan dengan petunjuk nenek itu ilmunya Pek-in-sin-pian, yaitu memainkan sabuk putih, menjadi hebat.

Melihat betapa lawannya itu kini meluncur turun dengan bersembunyi di balik gulungan putih seperti awan, Siauw Lek memutar pedangnya menyambut.

Biauw Eng menggerakkan sabuknya, ujung sabuk itu berputar menjadi seperti payung pedang Siauw Lek, ia sendiri meloncat ke pinggir dan menggerakkan ujung sabuk ke dua yang meluncur seperti anak panah menotok ke arah pelipis Siauw Lek.

Jai-hwa-ong ini berteriak kaget karena pedangnya bertemu dengan benda lunak berbentuk payung, bahkan pedangnya ikut berputar seperti tersedot oleh daya putar gulungan sabuk itu, dan kini tiba-tiba ada suara meledak dan sinar putih menyambar pelipisnya.

Ia menarik pedang dan melempar tubuh ke belakang, lalu bergulingan.

Ketika dia meloncat bangun lagi dengan keringat dingin membasahi dahi, dia melihat Biauw Eng berdiri dengan sabuk di tangan dan memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek!

Siauw Lek menjadi makin panik dan gentar.

Jelaslah sudah bahwa Biauw Eng kini memiliki kepandaian yang lihai bukan main dan dia merasa menyesal mengapa tadi dia memandang rendah.

Kini untuk melarikan diri tipis sekali harapannya apalagi karena ketika dia melirik ke belakang, dia melihat nona baju merah tadi berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa-tawa, menghadang jalan larinya!

Celaka, pikirnya, dia tidak tahu bagaimana kepandaian nona baju merah itu, akan tetapi mengingat bahwa Biauw Eng tadi menyebutnya "suci", dia bergidik dan merasa ngeri!

Tangan kirinya mengusap muka yang berpeluh dan dia menahan rintihan sehingga tergosok dan terasa perih.

Tangannya penuh darah dan hatinya makin gentar.

"Hi-hi-hik! Kasihan sekali, Sumoi. Dia sudah ketakutan setengah mati!"

Nona baju merah itu tertawa dan Siauw Lek menjadi makin gelisah.

Ia lalu menggereng keras, menubruk maju dengan pedangnya, membabat ke arah pinggang Biauw Eng yang ramping dan yang tadi dia bayangkan akan dia lingkari dengan lengannya.

Sambil membabat, dia menggunakan tangan kirinya membarengi dengan pukulan Hek-liong-ciang ke arah dada gadis itu!

"Tar-tar-tar..!"

Ujung sabuk meledak-ledak dan melecut-lecut, berubah menjadi tiga sinar yang menangkis pedang, menangkis tangan kiri Siauw Lek dan yang ke tiga menotok ke arah hidung Siauw Lek yang sudah pecah!

Siauw Lek mendengus arah, miringkan tubuhnya dan terus menerjang ke depan menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Biauw Eng.

Dua ujung sabuk putih itu berputar, yang satu menangkis sambil melibat ujung pedang, yang ke dua berputar dan melibat leher Biauw Eng sendiri, mencekik leher gadis itu!

Siauw Lek terbelalak keheranan dan juga kegirangan, akan tetapi inilah kesalahannya.

Karena heran dan girang melihat ujung sabuk itu melibat dan mencekik leher Biauw Eng sendiri sehingga gadis itu sampai menjulurkan lidahnya yang kecil merah, maka perhatiannya terlibat dan tak dapat lagi dia menghindarkan diri ketika kaki kecil mungil dari Biauw Eng menyambar dari bawah menggenai perutnya.

"Desss...

ngekkk!

Uaaak!

Tubuh Siauw Lek terlempar ke belakang dan dia muntahkan darah segar.

Dia telah menjadi korban jurus aneh yang dipelajari Biauw Eng dari nenek gila Go-bi Thai-houw!

Siauw Lek terhuyung-huyung dan dapat berdiri pula mukanya pucat, bibirnya berlepotan darah, matanya beringas dan liar, sebagian pula karena marah.

Dadanya terasa sesak dan kepalanya pening.

Dia maklum bahwa lari pun tidak ada gunanya.

Suara ketawa terkekeh-kekeh di belakangnya lebih menyeramkan daripada Biauw Eng yang berdiri tegak dengan sabuk putihnya.

Dia tahu bahwa sekali ini dia harus membela diri mati-matian dan harus bertandingn untuk menentukan mati atau hidup.

Maka dia menjadi makin nekat.

Dengan suara gerengan yang tidak seperti manusia lagi dia menerjang ke depan.

Namun Biauw Eng sudah siap dengan sabuknya, digerakkan tangannya dan ujung sabuknya terpecah menjadi banyak sekali mengeluarkan suara ledakan-ledakan dan menotok ke arah tujuh belas jalan darah di tubuh lawan!

Siauw Lek yang sudah pening itu tidak begitu cepat lagi gerakkannya.

Ia memutar pedang menangkis, namun tetap saja sebuah totokan menyambar lututnya dan dia roboh terguling.

Namun, dengan mengguling-gulingkan tubuh dia membebaskan totokan, sedangkan tangan kirinya bergerak.

"Syut-syut-syuttt...!"

Lebih dari tiga puluh batang paku hitam menyambar secara kacau ke arah Biauw Eng.

Rupanya dalam keadaan panik ini Siauw Lek menguras habis paku-pakunya dari dalam kantungnya menyambitkan semua paku ke arah lawan.

Biauw Eng tertawa dan tangan kirinya bergerak.

Serangkum sinar putih menyambar ternyata itu adalah senjata rahasia bola-bola berduri putih yang enyambut datangnya sinar paku hitam sehingga semua paku runtuh di atas tanah, bahkan sebatang tusuk konde bunga bwe yang meluncur di antara banyak bola-bola putih tadi dengan kecepatan luar biasa menyambar ke arah tubuh Siauw Lek, tanpa dapat ditangkis lagi, menyambar ke arah mulut laki-laki itu!

Siauw Lek terkejut.

Miringkan kepalanya dan dia berteriak kaget dan..

telinga kirinya buntung!

"Hi-hi-hik, anjing bertelinga buntung..

Wah, jelek sekali...!"

Hun Bwee tertawa dan bertepuk-tepuk tangan.

Kini Biauw Eng tidak mau memberi hati lagi.

Ia menggerakkan tangan dan kedua ujung sabuknya menyambar-nyambar, meledak-ledak, dan melecut-lecut Siauw Lek berusaha menangkis, akan tetapi rasa takut ditambah rasa nyeri membuat gerakannya ngawur dan tenaganya pun banyak berkurang, maka dia berteriak-teriak kesakitan, ketika ujung-ujung sabuk itu seperti paruh burung garuda mematuki tubuhnya, pakaiannya robek-robek dan kulitnya berikut sedikit daging di bawah kulit pula robek dan copot!

Dengan seruan keras, Siauw Lek yang sudah habis harapan itu mengangkat pedangnya, disabetkan ke arah lehernya sendiri.

Akan tetapi ujung sabuk Biauw Eng menyambar, melibat pedang dan sekali sentakan saja pedang itu terbang dan terlempar ke dalam sungai!

Kemudian, sebelum Siauw Lek dapat berbuat sesuatu, ujung sabuk sudah melibat kedua kaki dan kedua tangannya, tubuh terangkat ke atas dan...

dalam keadaan terbelenggu ujung sabuk, dia terbanting ke dalam air sungai!

Ia gelagapan, menggerakkan kedua kaki yang terbelenggu, tubuhnya dapat timbul di permukaan air, akan tetapi tiba-tiba Biauw Eng menggerakkan tangan yang memegang ujung sabuk, membuat tubuh Siauw Lek yang sudah tidak berdaya itu terlempar ke atas dan terbanting lagi ke air.

Demikianlah, dia dilelap-lelapkan oleh Biauw Eng yang pandang matanya sudah liar penuh dendam.

Siauw Lek kini hanya dapat megap-megap dan mengeluarkan suara "up-up-up-up", perutnya mengembung, mukanya membiru, matanya melotot.

"Sumoi..! Berikan dia padaku...!"

Tiba-tiba Tan Hun Bwee berteriak.

Biauw Eng yang masih memegang ujung sabuk dan membiarkan Siauw Lek megap-megap di permukaan air Sungai Huang-ho seperti seekor ikan kena di pancing, menoleh kepada Hun Bwee, mengerutkan alis dan bertanya.

"Untuk apa Suci? Harap jangan mencampuri urusan pribadiku!"

"Ihhh, Sumoi. Mengapa engkau begitu medit? Dia tukang perkosa, kau ingat? Aku benci kepada semua tukang perkosa di dunia ini, ingat?"

Biauw Eng termenung, lalu mengaguk-angguk.

Ia dapat membayangkan dendam sucinya.

Sebagai seorang gadis sucinya itu pernah diperkosa orang.

Tadi ia melihat gadis yang ati dan diperkosa, tentu saja kebencian sucinya itu terhadap Siauw Lek belum tentu kalah besar oleh kebenciannya kepada Jai-hwa-ong itu.

Ia lalu menggerakkan tangannya menyedal sabuk sutera dan tubuh Siauw Lek terlepat ke udara, terlepas dari belenggu dan melayang ke Hun Bwee!

"Hi-hi-hik!

Terima kasih, Sumoi!

Hun Bwee menyodorkan tangannya dan menangkap kaki Siauw Lek yang masih sadar hanya napasnya megap-megap karena perutnya penuh air yang membuat perutnya mengembung seperti bangkai anjing tenggelam.

Hun bwee menangkap kedua kaki Siauw Lek dan memutar-mutar tubuh laki-laki itu bagaikan kitiran angin cepatnya.

Dari mulut Siauw Lek menyembur air sehingga pemandangan itu amat aneh.

Seolah-olah Hun Bwee yang berpakaian merah itu sedang bermain sulap, atau seorang penari memperlihatkan tariannya, akan tetapi yang diputar-putar bukannya selendang melainkan tubuh orang yang ujungnya menyenbur-nyemburkan air!

"Augggghhh...

Bunuhlah aku...

Bunuhlah...!"

Setelah air diperutnya habis, Siauw Lek dapat mengeluarkan suara dan minta dibunuh.

Hun Bwee menghentikan putarannya dan sambil terkekeh-kekeh ia melempar tubuh Siauw Lek ke dekat sebatang pohon, Menelikung kedua tangan dan kedua kaki laki-laki itu ke belakang dan mengikat kaki tangannya dengan celana Siauw Lek sendiri yang sudah dirobek sambil tertawa-tawa oleh Hun Bwee.

Dengan demikian, tubuh Siauw Lek pada batang pohon dan keadaannya amat mengerikan.

Baju atasnya robek-robek bekas cambukan-cambukan sabuk Biauw Eng tadi, dan kini tubuh bawahnya telanjang bulat karena celananya direnggut Hun Bwee untuk mengikat kaki tangannya.

Biauw Eng membuang muka, tidak sudi memandang, akan tetapi diam-diam ia merasa ngeri mendengar sucinya terkekeh-kekeh.

Hatinya penuh keharuan.

Sucinya itu tidak normal lagi.

Biarpun tidak segila Go-bi Thai-houw, namun dendam sakit hati membuat sucinya tidak seperti manusia biasa lagi.

Diam-diam ia berjanji dalam hatinya untuk membantu sucinya kelak membalas laki-laki biadab yang telah merusak kehidupan sucinya.

"Hi-hi-hik, kau tukang perkosa wanita, ya? Heh-heh-heh!"

Biauw Eng mendengar sucinya berkata sambil tertawa-tawa. Kemudian ia mendengar suara Siauw Lek yang dibencinya.

"Bunuh saja aku! Bunuhlah aku... ampunkan... bunuh saja!"

"Hi-hi-hik, enak benar! Ingat, tentu telah ratusan kali engkau mendengar ucapan itu dari mulut para gadis yang kau perkosa. Bukankah mereka pun mengeluh dan merintih, minta kau bunuh saja? hi-hi-hik, ingatkah engkau, anjing busuk?"

Suara Hun Bwee penuh kebencian dan pandang matanya membuat Siauw Lek membelalakkan matanya penuh tasa takut.

"Kau tunggulah sebentar, Kim-lian Jai-hwa-ong! Hi-hi-hik!"

Hun Bwee meloncat pergi.

"Song-bun Siu-li..., kau.. kau kasihanilah aku.. bebaskan aku dari tangan keji perempuan gila itu.. Kau bunuhlah aku, Sie Biauw Eng..!"

Suara Siauw Lek penuh ketakutan dan agak terisak bercampur tangis. Namun Biauw Eng tidak menoleh, hanya berkata dengan suara dingin.

"Aku sudah menyerahkanmu kepadanya. Pengecut hina, kenangkan saja ratap tangis wanita-wanita yang menjadi korbanmu!"

Biauw Eng bergidik penuh muak ketika mendengar suara laki-laki itu benar menangis!

Ia muak dan jijik.

Orang yang sekeji-kejinya, yang mendapat julukan Jai-hwa-ong, yang telah memperkosa dan membunuh entah berapa ribu orang wanita, kini merengek-rengek seperti anak kecil minta mati dan minta ampun!

Tak lama kemudian Hun Bwee sudah datang kembali tertawa-tawa.

Karena tertarik Biauw Eng menoleh dan melirik.

Kiranya sucinya itu membawa sarang lebah penuh madu dan kini ia memeras keluar madunya dan memercikkan madu ke arah tubuh Siauw Lek di bawah pusar, ke alat kelamin laki-laki itu.

Siauw Lek merintih-rintih, bukan karena sakit melainkan karena takut.

Biauw Eng tidak sudi memandang ke arah Siauw Lek, hanya bertanya.

"Suci, apa yang kau lakukan? Bunuh saja anjing itu!"

"Hi-hi-hik, jangan kau kasihan kepadanya, Sumoi. Enak sekali kalau dia dibunuh begitu mudah. Lihat apa yang kubawa ini!"

Tan Hun Bwee mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi dan melihat itu, Siauw Lek mengeluarkan suara parau saking takutnya.

Yang dipegang oleh Hun Bwee adalah sarang terbuat dari daun kering penuh semut-semut api yang merah dan besar-besar.

Siauw Lek menjerit-jerit minta ampun, akan tetapi sambil terkekeh Hun Bwee melemparkan sarang semut api itu ke bagian tubuh Siauw Lek yang sudah tertutup madu.

Tentu saja semut-semut itu berpesta pora ketika mencium dan merasai madu.

Lalu merubung tepat itu dan menggigiti dengan lahapnya.

Siauw Lek meraung-raung seperti babi disembelih dan Biauw Eng membuang muka.

Bukan raungan laki-laki yang ikut membunuh ibunya itu yang membuat ia merasa ngeri, melainkan suara ketawa Hun Bwee yang bukan seperti suara ketawa manusia lagi!

Siksaan yang dilakukan oleh Hun Bwee memang hebat sekali.

Penderitaan tubuh Siauw Lek amatlah mengerikan.

Gigitan-gigitan ratusan ekor semut pada alat kelaminnya itu membuat seluruh tubuhnya terasa gatal dan sakit, semua bulu di tubuhnya berdiri, bahkan rambut kepalanya sampai berdiri satu-satu saking hebatnya rasa nyeri yang di deritanya.

Kalau perasaan nyeri yang terlalu hebat akan membuatnya pingsan.

Akan tetapi rasa nyeri oleh gigitan semut tidak membuatnya pingsan, melainkan menyengat-nyengat seluruh tubuh dan menggetarkan urat syarafnya!

Tiba-tiba dia menjerit lebih menyayat hati lagi ketika Hun Bwee memoles mukanya dengan madu dan melempar segenggan semut merah ke mukanya.

Suara meraung-raung yang amat keras itu sampai membuat kerongkongan Siauw Lek seperti pecah, suaranya serak dan makin lama raungannya makin lemah.

Biauw Eng bergidik dan berkata.

"Suci, sudahilah saja. Aku muak!"

"Heh-hi-hi-hik! Ha-ha-ha-ha-ha! Rasakan kau sekarang, laki-laki keparat! Rasakan sekarang! Enak, ya? Hi-hik-hik, rasakan pembalasan Tan Hun Bwee kau, Keng Hong!!"

Dan Hun Bwee tersedu-sedu menangis!

Biauw Eng tersentak kaget seperti disambar halilintar.

Tidak salahkah pendengarannya?

Sucinya menyebut nama Keng Hong!

Ia cepat menengok dan kagetlah ia melihat sucinya yang tadi ia dengar tersedu itu meringkuk pingsan tak jauh dari tubuh Siauw Lek yang mengerikan.

Anggauta kelamin dan muka laki-laki itu penuh semut merah dan tubuh Siauw Lek berkelojotan, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya kecuali suara seperti orang mendengkur dari kerongkongannya.

Biauw Eng lalu menyambar tubuh Hun Bwee dan membawanya pergi dari situ, merebahkan tubuh sucinya yang pingsan ke dalam perahu yang tadi mereka naiki dan mendayung perahu ke tengah sungai.

Perahu meluncur cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu!

Bagaimanakah kedua orang wanita murid Go-bi Thai-houw itu bisa muncul secara tiba-tiba di tempat itu sehingga manusia sesat Siauw Lek akhirnya menerima hukuman yang demikian mengerikan?

Seperti telah dituturkan di bagian depan, secara kebetulan saja, Biauw Eng bertemu dengan Hun Bwee dan Go-bi Thai-houw, Kemudian dia diambil murid dan digembleng secara aneh dan hebat oleh nenek yang gila namun luar biasa lihainya itu, bersama Hun Bwee yang menjadi sucinya.

Biarpun Hun Bwee lebih dulu menjadi murid Go-bi Thai-houw dan menjadi suci Biauw Eng, akan tetapi karena dasar kepandaiannya jauh kalah tinggi oleh Biauw Eng, maka setelah Biauw Eng digembleng oleh Go-bi Thai-houw, dalam waktu beberapa bulan saja Biauw Eng sudah memperoleh kemajuan pesat sekali sehingga melampaui tingkat sucinya!

Biarpun Go-bi Thai-houw otaknya miring, akan tetapi dalam hal silat, ia lihai dan awas sekali sehingga ia dapat melihat bahwa murid barunya ini paling boleh diandalkan.

Setelah menggembleng dua orang muridnya secara tekun dan luar biasa, pada suatu hari ia memanggil mereka menghadap dan dengan suara tegas nenek gila ini berkata.

"Hun Bwee dan Biauw Eng, sekarang juga kalian harus pergi mencari Sin-jiu Kiam-ong dan membunuhnya mewakili aku!"

Hun Bwee dan Biauw Eng yang berlutut di depan nenek gila ini saling pandang dan diam-diam mereka terkejut karena baru sekarang mereka mendengar suara nenek itu seperti orang normal.

"Subo, Sin-jiu Kiam-ong telah mati."

Jawab Hun Bwee.

"Betul, Subo. Sin-jiu Kiam-ong telah mati,"

Biauw Eng membantu sucinya.

"Kalau begitu, kalian berdua pergi sana mencari kuburannya dan bawa tengkoraknya ke sini!"

Kembali dua orang gadis itu saling lirik.

Mereka berdua sudah mendengar bahwa Sin-jiu Kiam-ong meninggal dunia di puncak Kiam-kok-san dan kabarnya jenazah kakek raja pedang itu telah di perabukan, dibakar oleh muridnya.

"Subo, semua orang di dunia kang-ouw mengatakan bahwa jenazah Sin-jiu Kiam-ong tidak dikubur, melainkan di perabukan,"

Kata pula Biauw Eng.

"Bukkk!!"

Kaki kiri nenek itu dibanting ke atas tanah sehingga dua orang gadis itu merasa betapa tanah di bawah mereka tergetar, seperti ada gepa bui!

"Kau tidak bohong?

Berani mempertaruhkan apa kalau bohong?"

"Teecu berani mempertaruhkan kepala teecu kalau teecu membohong, Subo,"

Jawab Biauw Eng.

"Teecu juga sudah mendengar urusan itu sebelum teecu tiba di sini dan menjadi murid Subo,"

Kata pula Hun Bwee.

"Hoahhh, sialan dangkalan! Siapa yang berani lancang membakar mayatnya sehingga aku tidak membalas orangnya, tidak mampu pula membalas tulangnya? Hayo katakan, siapa yang berani lancang demikian?"

Dua orang gadis itu sudah biasa menyaksikan watak yang aneh dan edan-edanan ini, maka mereka pula melayani terus.

"Menurut kabar di dunia kang-ouw, yang membakar jenazahnya adalah murid tunggalnya,"

Kata pula Biauw Eng dan jantungnya berdebar keras karena percakapan ini tanpa di sengaja telah menyinggung diri Keng Hong!

"Hayaaaaah-ha-ha-ha!

Murid tunggalnya?

Dia punya murid?

Yahuuuu!

Bagus sekali!

Siapakah nama muridya itu?

Siapa tahu?"

"Cia Keng Hong..!"

Dua orang gadis itu saling lirik dengan heran karena nama itu mereka sebutkan dengan berbareng!

"Baik, sekarang kuperintah kalian pergi dan lekas tangkap muridnya yang bernama Cia Keng Hong itu.

Seret dia ke sini!

Mengerti?"

"Baik, Subo!"

Kata Hun Bwee penuh gairah.

"Baik, Subo!"

Biauw Eng juga menjawab, pikirannya melayang jauh.

"Awas, jangan sampai gagal. Kalau kalian pulang tidak membawa Cia Keng Hong, kalian berdua akan kubunuh!"

"Sumoi, mari kita berangkat!"

Demikianlah, kedua orang gadis itu meninggalkan guru mereka dan turun gunung, mulai dengan perjalanan mereka untuk mencari dan menangkap Cia Keng Hong.

"Ke mana kita akan mencari dia?"

Tanya Biauw Eng setelah mereka tiba di kaki gunung.

"Aku pun tidak tahu. Kita nanti tanya-tanya kepada orang-orang kang-ouw."

"Kurasa sebaiknya mencari ke kota raja, di sana tentu kita dapat mendengar banyak."

Pada pagi hari itu, mereka melanjutkan perjalanan naik perahu di sepanjang sungai Huang-ho.

Mereka tentu tidak akan bertemu Siauw Lek kalau tidak melihat mayat tukang perahu terapung-apung.

Biarpun kedua orang gadis ini tidak peduli, akan tetapi sedikit banyak mereka tertarik, maka ketika mereka melihat perahu kosong di tepat sunyi itu, Biauw Eng mendayung perahu dan meloncat ke darat, kedua orang gadis ini tiba pada saat puteri bangsawan yang diperkosa itu menggigit leher Siiauw Lek sehingga dipukul mati oleh penjahat keji itu.

Demikianlah mengapa Biauw Eng dan Hun Bwee dapat tiba di tempat sunyi itu dan Biauw Eng kini mendayung perahunya meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Jantungnya berdebar keras, teringat ia akan teriakan Hun Bwee yang menyiksa Siauw Lek.

Dahulu di depan Go-bi Thai-houw dia tidak merasa terlalu heran mendengar gadis itu menyebut nama Keng Hong sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong amat terkenal, diketahui oleh semua tokoh kang-ouw karena memang menjadi perhatian berhubung adanya Siang-bhok-kiam yang dijadikan rebutan.

Akan tetapi, ketika menyiksa Siauw Lek, mengapa sucinya menyebut nama Keng Hong?

Apakah karena pikirannya yang sudah tidak waras itu tanpa disadarinya telah mencampuradukkan nama-nama orang?

"...Cia Keng Hong...

Kubunuh kau...

ahhh...!"

Mendengar ini, Biauw Eng cepat menengok dan ia melihat Hun Bwee sudah siuman dan sucinya itu menangis sambil menyebut nama Keng Hong berkali-kali!

Jantung Biauw Eng berdebar keras.

Cepat ia mendayung perahunya ke pinggir, mengikat tali perahu ke batang pohon kemudian ia cepat merangkul sucinya yang masih menangis sedih.

"Suci... sadarlah... engkau kenapakah, Suci?"

".... ahhh, Cia Keng Hong.. Betapa kejamnya engkau..!"

Kembali Biauw Eng terkejut sekali.

"Suci, ingatlah. Kita berada di perahu dan yang kau bunuh tadi adalah Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek."

Hun Bwee mengangkat muka memandang sumoinya dan Biauw Eng makin heran karena pandang mata sucinya wajar, tidak membayangkan keruwetan batin.

Hun Bwee memegang lengan Biauw Eng dan berkata perlahan sambil menyusut air matanya.

"Jangan khawatir, Sumoi. Aku tidak apa-apa dan aku sadar. Aku tahu bahwa anjing yang kusiksa itu adalah Siauw Lek. Akan tetapi semua itu membuat aku teringat akan pengalamanku dahulu, teringat akan.. Cia Keng Hong dan hatiku sakit sekali."

"Cia Keng Hong..?"

Biauw Eng mengulang nama ini penuh pertanyaan. Tan Hun Bwee menghela napas panjang dan mengangguk.

"Diluar kesadaranku, karena hati sakit, aku telah menyebut namanya. Tadinya hendak kurahasiakan dari siapa pun juga, Sumoi, bahkan Subo sendiri tidak tahu. Akan tetapi... biarlah, karena engkau sudah tahu sekarang. Memang, Cia Keng Hong itulah, orang yang oleh Subo disuruh kita menangkapnya, murid Sin-jiu Kiam-ong itulah yang telah memperkosaku.."

Dan kembali air mata mengalir turun dari kedua mata Hun Bwee.

"Ah, sungguh tak kusangka.. betapa sakit hatiku memikirkan hal itu.. hu-hu-huuuuuukkk...!"

Hun Bwee tersedu-sedu dan Biauw Eng cepat merangkulnya.

Sepasang mata Biauw Eng sendiri menitikkan dua butir air mta dan gadis ini menggigit bibir bawahnya, Keng Hong pula!!

"Pemuda yang begitu tampan...

begitu gagah perkasa..

Begitu halus budi...

mengapa...?

Mengapa..?"

Ahhh....!!"

Hun Bwee terisak-isak dan mencengkeram pundak Biauw Eng, menangis di atas dada sumoinya.

"Sudahlah, Suci. Tenangkan hatimu tak perlu kau ceritakan kalau memang hal itu membangkitkan kenangan pahit.."

"Biar kau dengar, Sumoi, agar kau betapa buruknya nasib Sucimu ini...!"

Hun Bwee mengangkat mukanya dan Biauw Eng cepat mengusap air matanya sendiri dan mendengar sambil memunduukan mukanya.

"Ayah bundaku mengandung dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong karena dahulu pernah diganggu ketika ayah bundaku mengawal seorang puteri. Namun ayah bundaku tak pernah berhasil membalas dendam, sehingga ayah bundaku meninggal dalam keadaan mengenaskan, menanggung dendam. Aku yang di tinggal mati dan hidup sebatangkara lalu berusaha membalas dendam atau setidaknya merampas kembali barang-barang berharga yang dahulu dirampas Sin-jiu Kiam-ong. Kemudian aku bertemu dengan Cia Keng Hong! Tutur sapanya yang manis, nasihat-nasihatnya yang amat berharga menyentuh sanubariku, membuat aku insyaf dan aku menerima nasihatnya untuk menghapus permusuhan."

Ia berhenti sebentar dan Biauw Eng mendengarkan dengan hati berdebar.

Terbayang di depan matanya wajah Keng Hong, terngiang suara yang selalu tak pernah ia lupakan.

Kalau sucinya tahu akan semua pengalamannya, akan kekecewaan dan akan penghinaan-penghinaan yang dideritanya, akan cintanya kepada Keng Hong, kemudian betapa cintanya dihancur-leburkan, ahhh, pengalaman sucinya itu masih belum apa-apa, masih ringan!

"Malah aku...

aku tertarik...

dan ketika itu muncul dua orang tosu Kun-lun-pai yang hendak menangkapnya.

Aku mati-matian membelanya, malah aku sendiri sampai roboh oleh tokoh Kun-lun-pai.

Akan tetapi..

apa yang dia lakukan sebagai balas jasa..?

Aku dalam keadaan pingsan..

Dan agaknya dia berhasil mengusir dua orang tosu Kun-lun-pai itu..

ketika aku sadar...

aku telah diperkosa..!"

"Hemmmmm...!!"

Biauw Eng menggigit bibirnya. Awas engkau, Keng Hong! Demikian hatinya berbisik.

"Kalau saja dia berterus terang... Ah, aku sudah seperti gila.. masih dapat diselesaikan dengan baik... akan tetapi dia.. si pengecut itu... Dia menyangkalnya...!"

Hun Bwee kelihatan berduka sekali, menghapus air matanya lalu berkata.

"Itulah sebabnya mengapa ketika Subo menyuruh kita pergi mencari Keng Hong, aku bersemangat sekali. Ketika tadi aku menyiksa dan membunuh Siauw Lek, terbayang olehku bahwa yang kusiksa itu adalah Keng Hong dan.. dan aku... uhu-hu-huuuh.. aku.... tidak tega.. Sumoi..!"

Biauw Eng memeluk pundak sucinya dan termenung.

Hemmmmmm, betapa besar rasa cinta kasih yang berakar di dalam hati sucinya ini terhadap Keng Hong!

Biarpun sudah diperkosa dan disangkal pula, kini masih belum lenyap rasa cinta kasih itu sehingga membayangkan betapa dia akan membalas dendam kepada pemuda itu saja membuat ia berduka dan tidak tega!

"Suci, katakanlah terus terang.

Aku mohon kepadamu, katakanlah terus terang kepadaku.

Apakah engkau mencinta Cia Keng Hong?"

Hun Bwee mengangguk.

"Semenjak dia menasehati aku untuk menghapus permusuhan, aku kagum kepadanya, aku tertarik dan aku sudah jatuh cinta kepadanya. Biarpun dia telah memperkosaku, kalau dia mengakui perbuatannya, dahulu pun aku bersedia mengampuninya...... tapi dia...... dia menyangkal........."

"Suci, katakanlah lagi secara terus terang. Andaikata dia itu suka mengakui perbuatannya terhadap dirimu, lalu mohon ampun kepadamu, apakah..... apakah Suci suka mengampuninya dan suka pula menerimanya sebagai....... sebagai suamimu?"

Hun Bwee memandang sumoinya dengan mata terbelalak.

"Mungkinkah.......? Mungkinkah dia...... mau........ melakukan hal itu?"

"Aku akan memaksa dia, Suci! Akulah orangnya yang akan memaksa dia agar jangan bersikap pengecut, agar suka mengakui perbuatannya yang keji terhadap dirimu, dan agar minta maaf kepadamu dan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dengan mengawinimu!"

Biauw Eng berkata penuh semangat dengan sepasang mata brani dan kedua tangan dikepal.

"Aaahhhh, Sumoi.......!"

Hun Bwee merangkulnya smabil menangis.

"Aku...... aku lemah. Aku cinta padanya......! Hi-hi-hi-hi-hik! Aku........ aku cinta Keng Hong, ha-ha-ha-ha-ha-ha-hah-hah!"

Biauw Eng bergidik.

Hatinya penuh keharuan.

Keng Hong bear-benar manusia keparat, pikirnya.

Sudah merusak hatinya, merusak cintanya, kini menyebabkan Hun Bwee menjadi gila seperti ini!

Ia menghibur dan akhirnya Hun Bwee yang kadang-kadang menangis kadang-kadang tertawa itu dapat tidur pulas di dalam perahu.

Biauw Eng melanjutkan perjalanan itu, mendayung kembali perahu itu perlahan-lahan.

Wajahnya yang cantik itu kini kelihatan kruh, pandang matanya sayu dan muram.

Batinnya makin tertekan dan kalau ia mengenangkan wajah Keng Hong!

Tak mungkin ia melenyapkan cinta kasihnya itu yang bersemi semenjak pertama kali ia bertemu Keng Hong.

Bahkan ketika ia mengira bahwa Keng Hong sudah mati sekalipun, bertahun-tahun ia menyembahyangi arwahnya dengan hati masih penuh cinta kasih!

Siapa mengira, Keng Hong telah menghancurkan hatinya, memandang rendah dan hina kepadanya ketika ia mencoba hati pemuda itu dengan mengatakan bahwa tubuhnya sudah dimiliki Sim Lai Sek.

Ternyata bahwa cinta Keng Hong kepadanya tiada bedanya dengan cinta pemuda itu kepada perempuan-perempuan lain, kepada Cui Im umpamanya.

hanya mencinta tubuhnya dan wajahnya yang cantik!

Dan kini, ternyata Keng Hong bukan hanya mata keranjang seperti......

gurunya atau ayahnya sendiri, akan tetapi malah lebih jahat lagi, sudah memperkosa Hun Bwee!

"Aaahhhh.....

Keng Hong, mengapa engkau menjadi begitu.....?"

Hatinya mengeluh dan hidup ini serasa kosong melompong baginya.

Betapa senangnya kalau ia menjadi air Sungai Huang-ho ini saja, tidak mengenal susah tidak mengenal kecewa!

Akan tetapi, dia masih mempunyai kewajiban yaitu mencari Cui Im dan balas dendam atas kematian ibunya!

Dia sudah berhasil membalas kepada Siauw Lek, tinggal Cui Im dan......

dan....memaksa Keng Hong mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Hun Bwee Ia percaya bahwa sucinya ini akan sembuh daripada serangan kegilaan itu kalau Keng Hong yang dicintanya itu suka menerimanya sebagai isteri.

Perahu yang didayung Biauw Eng meluncur cepat, akan tetapi lebih cepat lagi pikiran Biauw Eng yang hanyut mendahului perahu berlumba dengan riak air Sungai Huang-ho.

Ternyata peristiwa di tepi Sungai Huang-ho menyiksa Kim-lian jai-hwaong Siauw Lek itu mendatangkan pengaruh yang hebat atas jiwa Hun Bwee.

Ketika masih belajar silat dibawah asuhan nenek gila Go-bi Thai-houw, Hun Bwee hanya pura-pura gila kalau berada di antara anak buah gurunya atau di depan gurunya.

kalau sedang bicara berbisik-bisik di dalam kamar bersama Biauw Eng, dia waras.

Akan tetapi sekarang, setelah penyiksaan atas diri penjahat cabul itu, benar-benar Hun Bwee mengalami perubahan dan hal ini amat kentara oleh Biauw Eng.

Di sepanjang jalan, Hun Bwee kadang-kadang merenung, tertawa atau menangis sendiri, akan tetapi ada kalanya pula dia sembuh dan normal.

Kalau sedang normal Hun Bwee mudah diajak bicara dan memang dasar watak Hun Bwee peramah, halus dan cerdik.

Akan tetapi kalau sudah kumat, Biauw Eng kewalahan dan satu-satunya cara adalah ikut menggila!

Setelah melewati Cin-an, Biauw Eng yang kini selalu menjadi pelopor, mengajak Hun Bwee melanjutkan perjalanan ke utara, ke arah kota raja.

Dua orang wanita muda yang cantik ini tentu saja menarik perhatian orang, terutama mata kaum pria, di setiap tempat yang mereka lalui.

Akan tetapi sikap mereka yang gagah perkasa, terutama sekali pandang mata Hu Bwee yang liar dan wajah Biauw Eng yang dingin, membuat hati pria yang terbakar menjadi padam kembali.

Hari telah menjelang tengah hari, matahari amat panasnya ketika dua orang gadis ini melalui jalan yang lengang.

Tidak tampak seorang pun manusia di tengah hari yang panas di sekitar tempat itu.

Akan tetapi selagi mereka berdua jalan cepat agar segera sampai di hutan yang tampak di depan di mana perjalanan dapat dilakukan dalam keadaan tidak begitu panas terbakar matahari, tiba-tiba ada derap kaki kuda dari belakang mereka.

Biauw Eng dan Hun Bwee berjalan minggir dan seorang penunggang kuda lewat.

Penunggang kuda itu adalah seorang laki-laki setengah tua.

Ketika kudanya lewat dia menengok dan sejenak pandang matanya bertemu dengan wajah Biauw Eng.

"Aihhh.....!"

Demikian terdengar penunggang kuda itu bersuara, akan tetapi kudanya dibedal makin cepat, meninggalkan debu mengebul di sepanjang jalan.

"Siapakah orang itu, Sumoi?"

Hun Bwee bertanya.

Suaranya normal.

hati Biauw Eng lega karena sudah tiga hari ini Hun Bwee tidak kumat gilanya!

Kalau sudah kumat, ia merasa cemas dan bingung.

"Entahlah, Suci. Aku merasa seperti pernah melihatnya, akan tetapi lupa lagi di mana."

"Hemmm, dia mencurigakan. Ketika melihatmu, dia seperti melihat setan, kelihatan takut dan terkejut sekali."

Biauw Eng tersenyum.

"Mungkin dia seorang di antara mereka yang pernah mengalami hajaranku dahulu, Suci."

"Mungkin, akan tetapi betapapun juga, kita harus hati-hati, sumoi."

Biauw Eng mengangguk.

hari itu tidak terjadi apa-apa.

Mereka bermalam di sebuah rumah penginapan di dusun dekat perbatasan Propinsi Shan-tung dan Hopak.

Pada keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke utara.

Matahari belum naik tinggi ketika mereka tiba di perbatasan dan di sebuah jalan hutan yang sunyi Biauw Eng melihat empat orang kakek yang tua berdiri menghadang perjalanan!

Melihat bahwa mereka itu adalah tosu-tosu tua dan sikap mereka membayangkan kewibawaan, Biauw Eng maklum bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan dan ia menduga-duga sambil meneliti dari jauh.

Seorang di antara mereka, yang paling tua dan rambutnya yang jarang itu sudah putih semua, memegang sebatang tongkat bambu dan mata kirinya buta.

Dia inilah agaknya yang menjadi pemimpin karena kelihatan dia menggerakan tangan kiri memberi isyarat kepada tiga orang kakek lain yang kelihatannya marah ketika mereka memandang Biauw Eng.

Biauw Eng dan Hun Bwee hendak melewati saja empat orang tosu tua itu, akan tetapi tiba-tiba tongkat bambu di tangan kakek setengah buta dilonjorkan ke depan dan merintangi jalan.

"Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng, tibalah saatnya orang berdosa menebus kedosaannya dan menerima hukuman. Eng kau telah membunuh suteku termuda, Kok Cin-cu, dan sekarang engkau harus menyerahkan nyawamu kepada kami agar roh sute kami tidak selalu penasaran!"

Biauw Eng terkejut.

Mendengar nama Kok Cin-cu disebut, ia dapat menduga siapa mereka ini.

Terbayang di depan matanya peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika ia membantu Keng Hong menghadapi orang-orang kong-thong-pai ini.

karena Keng Hong terancam bahaya dia turun tangan membantu dan dalam pertandingan itu ia berhasil menotok Kok Cin-cu dengan sabuknya yang mengakibatkan tewasnya tosu itu.

Kalau ia kenangkan hal itu ia merasa menyesal.

Kok Cin-cu adalah tokoh Kong-thong-pai yang terkenal sebagai seorang di antara Kong-thong Ngo-lo-jin (Lima Kakek Kong-thong-pai) dan dia telah kesalahan tangan membunuhnya untuk membela seorang seperti Keng Hong!

Sedangkan yang dibelanya akhirnya hanya menghancurkan perasaannya!

"Ah, kiranya Su-wi adalah tokoh-tokoh Kong-thong Lo-jin?

Aku Sie Biauw Eng merasa menyesal bahwa dahulu telah kesalahan tangan menewaskan Kok Cin-cu Totiang.

Akan tetapi apakah anehnya kalah menang, terluka atau tewas dalam pertandingan?

Yang jelas, dahulu sampai sekarang, aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Kong-thong-pai.

harap Locianpwe berempat suka menghabiskan saja urusan ini dan membiarkan aku dan Suci lewat dengan aman."

"Hemmm....! Sucimu kau bilang?"

Kok Kim Cu, tosu ke tiga dari Kong-thong Ngo-lo-jin, berkata sambil memandang Hun Bwee dengan penuh selidik.

"Song-bun Siu-li! Siapakah yang tidak tahu bahwa engkau adalah puteri Lam-hai Sin-ni dan sumoi dari si iblis betina Ang-kiam Tok-sian-li yang sekarang berjuluk Ang-kiam Bu-tek? Dan nona ini sama sekali bukanlah Ang-kiam Bu-tek!"

"Sumoi, empat orang kakek tua bangka yang usianya sudah tidak seberapa lagi akan tetapi suka sekali mencari urusan ini siapakah? Dan mengapa mereka ini menghadangmu di sini?"

Biauw Eng lega bahwa saat ini sucinya waras benar, kalau sedang kumat dan menghadapi halangan seperti ini, bisa berabe sekali!.

"Suci, keempat orang Locianpwe ini adalah tokoh-tokoh besar Kong-thong-pai. Dahulu dalam sebuah pertandingan yang terjadi tanpa dasar permusuhan pribadi, aku telah kesalahan tangan membunuh seorang di antara mereka dan sekarang mereka itu hendak menghukum aku."

Hun Bwee mengarahkan pandang matanya kepada empat orang tosu itu, kemudian berkata.

"Kalian ini empat orang tosu benar-benar memiliki pandangan yang amat dangkal dan cupat! Di antara kaum persilatan, sudah lumrah kalau terjadi kematian dalam pertandingan mengadu ilmu. Kalau setiap orang yang tewas dalam pertandingan lalu dijadikan urusan dendam, tentu dunia ini akan penuh dengan orang yang saling dendam! Sumoiku sudah mengatakan bahwa ketika dia bertanding sampai berakhir dengan tewasnya temanmu, tidak ada dasar urusan pribadi, tidak ada permusuhan. Mengapa kalian tidak mau mengerti? Bagaimana kalau dalam pertandingan itu kebetulan Sumoiku yang kalah lihai dan tewas, lalu apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian juga mengharapkan balas dendam dari keluarga Sumoi?"

Empat orang tosu itu menjadi merah mukanya.

Memang mereka pun maklum bahwa antara Kong-thong-pai dan puteri Lam-hai Sin-ni tidak ada permusuhan pribadi dan yang mereka musuhi adalah Cia Keng Hong sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi musuh Kong-thong-pai.

Akan tetapi puteri Lam-hai Sin-ni itu membela Keng Hong sehingga mengakibatkan tewasnya seorang di antara Lima kakek Kok-thong-pai.

Sekarang, kebetulan sekali seorang anak murid Kong-thong-pai melihat Biauw Eng di jalan dan melapor, masa mereka harus tinggal diam saja?

"Song-bun Siu-li!

Kami berempat datang menemuimu di sini bukan untuk mengobrol dan berdebat!

Lekas kau membunuh diri di depan kami atau terpaksa kami yang akan mengantar nyawamu menghadap sute kami!"

Kembali si buta sebelah menghardik dan tongkat bambunya di todongkan ke arah Biauw Eng. Biauw Eng tersenyum mengejek.

"Totiang, ucapanmu benar-benar tekebur sekali. Dan kurasa karena kesombongan inilah pula maka dahulu Kok Cin-cu tewas! Aku tidak bersalah, tidak membunuhnya dengan sengaja karena membencinya. Kalau kalian tidak menerimanya dan hendak membalas, silahkan. Aku tidak takut menghadapi kalian dan kalau dalam pertandingan ini kalian nanti sampai tewas pula, hal itu terjadi bukan karena aku sengaja membunuh kalian. Tidak ada dendam dan benci di hatiku, seperti yang terdapat di hati kalian!"

"Hemmm.... mendiang Sin-jiu Kiam-ong banyak dosanya terhadap kami, muridnya akan kami hukum, engkau membelanya! Engkau puteri Lam-hai Sin-ni, mana bisa bicara tentang sopan-santun kang-ouw? Engkau adalah tokoh golongan sesat!"

Teriak Kong Liong-cu, tosu ke dua sambil menerjang maju dengan tangannya.

Terdengar bunyi berkerotokan dan tangannya telah berubah merah, mencengkeram ke arah pundak Biauw Eng.

Biauw Eng maklun akan kelihaian empat orang tosu itu maka cepat ia meloncat jauh ke belakang sambil melolos sabuk suteranya.

Empat orang tosu itu memang lihai.

Mereka ini adalah empat di antara Kong-thong Ngo-lo-jin yang amat terkenal dengan ilmu pukulan mereka yang disebut Ang-liong-jiauw-kang (Cakar Naga Merah)!

Betapapun lihainya mereka itu, kalau maju seorang demi seorang, tentu saja bukanlah lawan Biauw Eng!

Dahulu pun, sebelum Biauw Eng digembleng oleh Bo-bi Thai-houw, seorang di antara mereka, Kok Cin-cu, tewas di tangan dara (Lanjut ke

Jilid 34) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 34 perkasa ini.

Apalagi sekarang setelah ilmu kepandaian Biauw Eng menanjak dengan hebatnya.

Akan tetapi, empat orang kakek itu tidak maju satu-satu, melainkan berbareng mereka menerjang Biauw Eng.

Kok Sian Cu yang tertua dan paling lihai sudah menggerakan tongkat bambunya yang ternyata hebat sekali, cepat dan menjadi sinar dengan getaran yang amat kuat mengeluarkan suara mencicit.

Kok Liong-cu, orang ke dua, menggunakan pedang dan gerakannya pun hebat, berdesing-desing bunyi mata pedang memecah udara.

Kok Kiam-cu orang ke tiga juga menggunakan pedang, sedangkan Kok Seng-cu lebih mengandalkan sepasang tangannya yang membentuk cakar naga!

Diserang oleh empat orang pandai ini, Biauw Eng mengeluarkan pekik melengking dan sabuk suteranya sudah bergulung-gulung dengan hebatnya, menyambut dengan tangkisan dan membalas dengan totokan-totokan yang tidak kalah hebatnya.

Namun, pengeroyokan empat orang tokoh Kong-thong-pai yang lihai itu terlalu berat sehingga Biauw Eng terpaksa menggunakan ginkangnya berkelebatan ke kanan kiri.

"Tosu-tosu tua yang tak tahu malu, mengeroyok seorang gadis muda!"

Tiba-tiba Hun Bwee berseru keras dan tampaklah sinar pedang hitam bergulung-gulung menimbulkan angin yang dahsyat.

Empat orang kakek itu terkejut dan maklum bahwa suci Biauw Eng ini ternyata juga amat lihai.

Maka dua di antara mereka, yaitu Kok Kiam-cu dan Kok Seng-cu, sudah memisahkan diri dan menyambut terjangan wanita baju merah ini.

Biauw Eng juga terkejut melihat majunya Hun Bwee.

Kalau ia teringat betapa Hun Bwee menyiksa Siauw Lek, ia masih merasa ngeri.

Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan sucinya itu kalau sudah kumat.

Sekarang, selagi masih waras, lebih baik ia cepat memberi peringatan.

"Suci, mereka ini bukan musuh. Harap kau tidak membunuh mereka!"

"Hemmm.... baiklah, Sumoi."

Empat orang tosu itu marah bukan main, Ucapan kedua orang gadis itu benar-benar merupakan tamparan bagi mereka.

Merupakan penghinaan karena jelas bahwa kedua orang gadis ini memandang rendah!

Seolah-olah dua orang itu dapat mengatur untuk mengalahkan, untuk membunuh atau tidak membunuh, seenaknya saja!

Akan tetapi, ternyata dua orang gadis itu bukannya memandang rendah atau menghina, melainkan bicara sewajarnya.

Hal ini terasa oleh empat orang kakek itu setelah mereka berempat dibikin pening dan bingung oleh sinar hitam pedang Hun Bwee dan sinar putih sabuk sutera Biauw Eng!

Benar-benar bingung mereka karena ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis itu benar-benar aneh dan gila!

Setelah lewat seratus jurus dan kepala Kok Sian-cu berdua Kok Liong-cu sudah pening oleh gulungan sinar putih yang seolah-olah berada disemua jurusan, Tiba-tiba kedua tosu ini mengeluarkan seruan kaget melihat betapa Biauw Eng terlibat kedua kakinya oleh sabuknya sendiri sampai roboh terguling!

Tadinya kedua orang kakek yang sudah terdesak hebat itu hanya memutar senjata melindungi tubuh, akan tetapi kini melihat betapa sabuk yang bergulung-gulung aneh itu ternyata menjadi kacau-balau dan mejegal kaki gadis itu sendiri sampai terguling roboh, mereka terkejut dan otomatis menghentikan gerakan pedang dan siap menyerang lawan yang sudah roboh itu.

Akan tetapi tiba-tiba mereka berdua berteriak kaget dan tubuh mereka terguling karena kaki mereka sudah terbelit ujung sabuk yang mendekati kaki mereka ketika Biauw Eng roboh tadi dan kini seperti ular, tahu-tahu telah melibat kaki mereka dan dibetot dengan tenaga kuat bukan main.

Biauw Eng melompat bangun dan cepat menggerakan ujung sabuk yang tadi membelit kakinya, yang tentu saja dilakukan dengan sengaja dan dua kali ujung sabuk itu menotok, tepat di jalan darah yang membuat tubuh Kok Sian-cu dan Kok Liong-cu menjadi lumpuh!

Biauw Eng meloncat dan membantu sucinya, akan tetapi tiba-tiba tubuh Kok Kiam-cu terguling, pedangnya terlepas karena pangkal lengannya tergores pedang Hek-sin-kiam, Kok Seng-cu pun tiba-tiba roboh terkena totokan ujung sabuk sutera Biauw Eng yang meluncur dengan tiba-tiba dan menotoknya selagi Kok Seng-cu sibuk memperhatikan nona baju merah yang sudah melukai suhengnya.

Dengan demikian, pertandingan itu selesai.

Tiga orang tosu tertotok lumpuh, yang seorang terluka lengannya.

Biauw Eng cepat menggerakan lagi sabuknya dan ujung sabuk itu berkelebat ke kanan kiri, menotok ke arah tubuh Kok Sian-cu, Kok Liong-cu danKok Seng-cu dengan tepat sehingga di lain saat ketiga orang tosu ini sudah dapat bergerak kembali.

Mereka bangkit berdiri dan menarik napas panjang, wajah mereka menjadi pucat dan mereka itu benar-benar merasa malu sekali bahwa sebagai tokoh-tokoh terkenal Kong-thong-pai mereka terpaksa mengakui keunggulah dua orang muda!

Biarpun kekalahan yang amat memalukan ini tidak disaksikan orang lain, akan tetapi mereka maklum bahwa dengan kekalahan mutlak ini mereka tidak ada muka lagi untuk muncul di dunia kang-ouw sebagai jago-jago tua yang sukar dikalahkan!

Biauw Eng maklum akan perasaan mereka.

Maka ia lalu menjura dan berkata.

"Harap Sam-wi suka maafkan kami. Adalah Su-wi sendiri yang terlalu mendesak. Akan tetapi, harap Su-wi tidak kecil hati karena Su-wi tidaklah kalah di tangan musuh. Kuulangi lagi, aku bukanlah musuh Su-wi. Kalau dahulu aku kelepasan tangan membunuh Kok Cin-cu, hal itu adalah gara-gara Keng Hong. Dan sekarang, kami berdua sedang mencari Keng Hong untuk menangkap dan menghukumnya! Dengan demikian, akan lenyaplah rasa penasaran Su-wi. Agar memudahkan usaha kami berdua menemukan Keng Hong, sukalah kiranya Su-wi memberitahukan, di mana kami dapat mencarinya."

Kok Sian-cu menghela napas panjang.

"Mungkin engkau benar, Nona. Kalau engkau musuh kami, tentu engkau sudah membunuh kami dan sikapmu tidak seperti itu. Dan memang semula penasaran hati kami tertuju kepada Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong. Nona hanya terbawa-bawa karena dahulu membantunya. Kalau sekarang Nona sendiri memusuhinya biarlah pinto sekalian tahu diri dan menghabiskan persoalan kami dengan Nona. Akan tetapi kami sendiri pun tidak tahu di mana adanya murid Sin-jiu Kiam-ong itu."

Biauw Eng kecewa, akan tetapi ia teringat akan tugasnya ke dua, yaitu mencari Cui Im untuk membalas kematian ibunya, maka setelah bertemu dengan tokoh-tokoh Kong-thong-pai ini, mengapa tidak sekalian bertanya?

"Locianpwe, dapatkah Locianpwe mengatakan kepadaku apakah Locianpwe tahu di mana adanya Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im?"

Mendengar disebutnya nama tokoh wanita iblis yang dibenci dan ditakuti ini, wajah empat orang tosu itu membayangkan hati tidak senang dan kembali mereka merasa menyesal mengapa mereka kini berbaik dengan adik seperguruan wanita iblis Ang-kiam Bu-tek itu.

Biauw Eng cerdik sekali dan ia dapat menduga isi hati mereka, maka ia cepat berkata.

"Locianpwe, aku mencari dia untuk membalas dendam atas kematian ibuku di tangannya."

"Ahhhhh....!"

Kok Sian-cu bersru.

"Pinto teringat sekarang, menurut kabar, dia menjadi pengawal di istana kaisar. Kalau Nona pergi ke kota raja, agaknya tentu akan mendengar tentang iblis betina itu."

Girang hati Biauw Eng.

Ia lalu berpamit kepada empat orang tosu itu dan mengajak sucinya melanjutkan perjalanan.

Empat orang tosu tua itu memandang kagum dan berulang kali menghela napas panjang.

Benar-benar mereka tidak menyangka bahwa di dunia kang-ouw kini bermunculan tokoh-tokoh muda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa.

"Lihiap....! Tunggu dulu.......!!"

Tiba-tiba Kok Sian-cu berseru sambil mengerahkan khikang sehingga kedua orang gadis itu terkejut, menghentikan langkah dan cepat mereka itu kembali menghampiri empat orang tosu tua itu.

"Ada apakah, Locianpwe?"

Tanya Biauw Eng, memandang tajam.

"Setelah menyaksikan sepak terjangmu, kami menyesali kekasaran sendiri dan maklum bahwa Lam-hai Sin-ni ternyata telah melahirkan seorang wanita perkasa yang tidak tergolong kaum sesat! Lihiap, pinto nasihatkan agar engkau tidak mendatangkan keributan di istana, karena hal itu membuat Lihiap dianggap sebagai pengacau atau pemberontak. Di istana terdapat banyak sekali orang sakti......"

"Terima kasih, Locianpwe. Akan tetapi aku tidak takut. Biar dia bersembunyi di neraka, aku akan mencari dan membunuh Cui Im!"

"Jangan salah mengerti, Nona. Kini. Kaisar telah melakukan hal yang menyusahkan hati tokoh-tokoh kang-ouw, yaitu karena Kaisar telah menerima tenaga-tenaga dari kaum sesat untuk menjadi pengawal. Hal itu berbahaya sekali. Apalagi setelah mendengar bahwa orang-orang macam Ang-kiam Bu-tek, Pak-san Kwi-ong, dan banyak lainnya dijadikan pengawal pribadi. Orang-orang macam itu tidak bisa dipercaya. Karena itu, kini akan diadakan pertemuan antara partai-partai besar dan tokoh-tokoh terkemuka di puncak Tai-hang-san, semua tokohnya, bahkan ketua-ketua partai, akan hadir untuk membicarakan urusan itu, kemudian akan mengajukan permohonan dan peringatan kepada Kaisar akan bahayanya tenaga dari kaum sesat yang dipergunakan itu. Oleh karena itu, untuk menghadapi Ang-kiam Bu-tek, tidakkah sebaiknya Nona hadir dipertemuan itu? Kalau bertindak sendir, memang pinto percaya akan kesanggupanmu, akan tetapi pinto khawatir kalau iblis betina itu berlindung di balik kekuasaan Kaisar sehingga Nona akan dicap sebagai pemberontak!"

Biauw Eng mengangguk-angguk, maklum akan pentingnya ucapan kakek itu.

"Terima kasih, Locianpwe. Nasihat Locianpwe tentu akan kuperhatikan. Aku akan ke kota raja lebih dulu mencari Keng Hong dan kalau mungkin menghadapi Cui Im di luar istana. Akan tetapi andaikata aku menemui kesulitan, tentu aku akan ingat pesan Locianpwe untuk berkunjung ke Puncak Tai-hang-san bekerja sama dengan para Locianpwe."

Biauw Eng dan Hun Bwee lalu memberi hormat dan pergi menuju ke utara, sedangkan empat orang tuso itu melanjutkan perjalanan menuju ke tai-hang-san karena memang mereka bermaksud menghadiri pertemuan puncak antara tokoh-tokoh persilatan itu, mewakili ketua Kong-thong-pai yang sedang sakit dan berhalangan hadir.

Empat orang tosu Kong-thong-pai melakukan perjalanan perlahan karena waktu untuk pertemuan itu masih banyak.

Mereka berjalan sambil bercakap-cakap membicarakan kelihaian Biauw Eng juga keanehan bahwa puteri seorang tokoh utama datuk hitam yang dikenal sebagai iblis betina Lam-hai Sin-ni, kini bersikap baik sekali dan agaknya tidak akan melanjukan jejak ibunya.

Belum lama empat orang kakek Kong-thong-pai ini melanjutkan perjalanan, tiba-tiba mereka berhenti dan memandang dua orang yang datang dari depan dengan mata terbelalak.

Kok Seng-cu berbisik.

"Cia Keng hong......!"

Kok Sian-cu si kakek setengah buta sudah berkelebat bersama putaran tongkatnya ke depan Keng Hong yang berjalan bersama Yan Cu, menodongkan tongkatnya dan membentak.

"Cia Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong, pengacau muda yang jahat! Sekali ini kami takkan melepaskan engkau!"

Melihat tosu tua itu menerjang dengan tongkatnya yang berubah menjadi sinar kehijauan bergulung-gulung, yan Cu cepat melangkah maju dan berkata.

"Eiiitt, eittttt.....! sabar dulu, Totiang!"

Gadis ini melihat bahwa tiga orang tosu tua yang lain juga sudah melesat ke depan dan mereka berempat itu memandang Keng Hong dengan sinar mata penuh kemarahan.

"Kalian ini empat orang tosu yang sudah tua, mengapa bersikap begini pemarah? ada urusan boleh dibicarakan, mengapa begitu bertemu terus hendak menggunakan kekerasan seperti sikap serombongan tukang pukul yang berengsek?"

Dengan matanya yang tinggal satu, Kok Sian-cu memandang Yan Cu.

Karena Yan Cu hanyalah seorang gadis muda yang cantik dan tosu itu belum pernah melihatnya, tentu saja Kok Sian-cu merasa tidak perlu melayani gadis itu.

Karena merasa bahwa gadis itu hanya akan menjadi penghalang saja dan tidak ingin kalau ada orang lain yang terbawa-bawa dalam urusan Kong-thong-pai menghadapi musuh besar murid Sin-jiu Kiam-ong.

"Nona, jangan ikut campur. Minggirlah!"

Berkata demikian, orang pertama dari Kong-thong-pai mendorong ke arah pundak Yan Cu.

Dorongan itu bukanlah merupakan serangan berat, karena maksudnya pun hanya ingin mendorong tubuh nona itu agar terdorong ke pinggir.

"Wusssss!!"

Dorongan tongkat itu mengenai tempat kosong karena dengan gerakan mudah saja Yan Cu dapat mengelak tanpa menggerakan kedua kakinya.

Kok Sian-cu terkejut.

Dia adalah seorang tokoh yang lihai dari Kong-thong-pai, biarpun dia tidak ingin melukai nona muda ini, namun dorongan tongkatnya tadi tidak akan dapat dielakan oleh sembarang orang!

Dan bocah ini hanya mengelak dengan sikap begitu tenang, tanpa menggerakan kaki seolah-olah memandang rendah serangan itu.

Hal ini tentu saja membuatnya menjadi penasaran sekali.

"Bagus, biarlah pinto membuat engkau tak mampu bergerak untuk sementara agar jangan mengganggu!"

Setelah berkata demikian, kembali tongkatnya bergerak.

Akan tetapi sekali ini bukan bergerak sekedar untuk mendorong, melainkan melakukan totokan untuk menotok jalan darah Yan Cu agar tak mampu bergerak.Karena dia tidak mau gagal lagi seperti tadi, maka sekali ini totokannya bukan hanya berhenti pada sekali totokan saja, melainkan ada lanjutannya untuk menyusul totokan pertama apabila gagal, bahkan merupakan rangkaian totokan dengan ujung tongkatnya sampai beruntun lima kali.

"Wuuuuuuttt! Cus-cus-cus-cus-cus.....!"

Merah sekali muka Kok Sian-cu karena serangannya yang amat hebat itu, totokan beruntun selama lima kali susul menyusul, amat cepat dan mengarah jalan darah di tubuh bagian depan gadis itu, semua dapat dielakan oleh Yun Cu tanpa gugup sedikit pun juga.

Bahkan gadis ini melakukan elakan-elakan itu sambil tersenyum mengejek dan berkata.

"Aihhhh...... aiiiihhhhh...... benar-benar galak sekali tosu ini! Eh, Totiang, apa sih kesalahanku engkau datang-datang terus saja mainkan tongkatmu yang buruk dan bau itu?"

Kok Siancu yang tadi terkejut itu kini dapat menduga bahwa gadis ini ternyata bukanlah orang sembarangan.

Ia makin penasaran.

Baru beberapa jam yang lalu dia dan tiga orang sutenya bertemu dengan Biauw Eng dan Hun Bwee, dua orang gadis yang ternyata memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga mereka berempat tak mampu menandingi dua orang gadis itu.

Kini, lagi-lagi muncul seorang gadis yang sama sekali tidak terkenal dan yang ternyata mampu menghadapi totokan-totokannya secara memandang rendah sekali!

Mukanya menjadi merah dan mata tunggalnya itu memancarkan cahaya kemarahan, tongkat di tangannya tergetar dan dia sudah siap menerjang dengan sungguh-sungguh, mengirim terjangan maut.

"Totiang, tahan dulu!"

Keng Hong cepat berkata dan menarik lengan Yan Cu ke belakang sambil berkata.

"Sumoi, mundurlah. Mereka ini adalah keempat orang Locianpwe dari Kong-thong Ngo-lojin dan memang benar, mereka tidak ada urusan dengamu, Sumoi. Biarkan aku menghadapi mereka."

Yan Cu cemberut dan memandang empat orang kakek itu dengan matanya yang lebar dan bening, lalu mengomel.

"Aku pun tidak ingin berurusan dengan orang-orang tua yang begini galak, akan tetapi mendengar kau disebut pengacau jahat, mana bisa aku diam saja?"

Keng Hong tersenyum lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada empat orang tosu itu.

"Keempat Locianpwe, saya mengerti akan kemarahan Locianpwe sekalian terhadap diriku. Tentu karena peristiwa-peristiwa yang lalu yang berhubungan dengan mendiang suhu Sin-jiu Kiam-ong. Akan tetapi, seperti telah para Locianpwe dengar dahulu di Kun-lun-pai, semua peristiwa yang terjadi itu adalah kesalah fahaman belaka, dan semenjak dahulu pun saya tidak ingin melanjutkan permusuhan yang timbul antara Kong-thong-pai dan mendiang suhu. Bahkan sebaliknya saya ingin memperbaiki hubungan dan kalau sampai terjadi korban-korban roboh di antara anak murid Kong-thong-pai, hal itu terjadi dalam pertandingan dan bukan kehendak saya. Dahulu, di puncak Kun-lun-pai saya pernah menuduhkan perbuatan itu sebagai perbuatan nona Sie Biauw Eng, akan tetapi baru-baru kemudian saya tahu bahwa pembunuhan-pembunuhan terhadap anak murid Kong-thong-pai yang diracun adalah perbuatan keji dari Bhe Cui Im!"

Kok Sian-cu menggerakan tongkat di depan dada dan berkata mewakili para sutenya yang memandang marah.

"Orang muda, betapapun pandai engkau berputar lidah membela diri, namun kenyataannya baik gurumu maupun engkau adalah orang yang telah melakukan perbuatan-perbuatan tidak benar, di antaranya telah berkali-kali menghina Kong-thong-pai secara hebat. Gurumu menewaskan lima orang murid Kong-thong-pai dalam pertandingan, engkau sendiri telah menyebabkan kematian suteku Kok Cin-cu dan empat orang muridnya......"

"Maaf, hal itu terjadi karena Kok Cin-cu Totiang dan murid-muridnya mendesakku dan muncul orang yang membantuku sehingga mereka tewas......"

"Hemmmm, kami pun tahu bahwa nona Sie Biauw Eng melakukannya demi untuk membantu dan menolongmu. Akan tetapi tetap saja kematian murid-murid Kong-thong-pai terjadi karena engkau! Kemudian, karena engkau pula yang tak tahu malu merayu dua orang murid wanita Kong-thong-pai, enam orang murid Kong-thong-pai mati keracunan!"

"Totiang! Hal itu adalah perbuatan busuk Bhe Cui Im!!!"

Kok Sian-cu melotot.

"Kau kira kami bodoh tidak mengetahui hal itu? Kami telah menyelidiki ke dusun dan kami tahu semuanya. Akan tetapi, semua itu tidak terjadi kalau engkau tidak menjadi biang keladinya, menjadi sebab timbulnya urusan-urusan itu. Pula, engkau telah bersekutu dengan Ang-kiam Bu-tek, engkau pemuda yang tak berakhlak, engkau menjadi kekasih iblis betina itu, siapakah yang tidak tahu? Engkau malah telah membiarkan semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong kepada iblis betina itu sehingga dia menjadi amat lihai, dan semua pusaka milik partai-partai besar telah terjatuh di tangannya! Ahhh, dosamu terlalu besar, Cia Keng Hong! Semua korban yang jatuh di fihak kami, memang benar bukan terjadi karena sengaja engkau yang membunuhnya dan mengingat akan dasar itu, boleh saja kami meniadakan tuntutan. Akan tetapi, engkau penyebab segala bencana dan yang paling hebat adalah turut lenyapnya pula pusaka Kong-thong-pai yang selama ini memang kami rahasiakan agar tak diketahui orang bahwa pusaka kami pun terjatuh ke tangan Sin-jiu Kiam-ong!"

Setelah berkata demikian, Kok Sian-cu menggerakan tongkatnya menotok ke arah dada Keng Hong.

Pemuda ini sama sekali tidak mengelak seperti yang dilakukan Yan Cu tadi, melainkan memasang dadanya untuk ditotok ujung tongkat yang menjadi sinar kehijauan saking cepatnya gerakan kakek itu.

"Dukkk!!"

Totokan ujung tongkat itu tepat mengenai jalan darah di dada Keng Hong, akan tetapi yang ditotok tidak apa-apa, sebaliknya tongkat itu membalik dan Kok Sian-cu merasa betapa tangannya tergetar dan lengannya hampir lumpuh!

Ia terkejut sekali dan meloncat mundur.

Tiga orang sutenya sudah siap menerjang.

Akan tetapi Keng Hong cepat mengangkat ke dua tangan ke atas sambil berkata.

"Sabarlah, para Locianpwe dari Kong-thong-pai yang terhormat! Dengarkan dulu kata-kata keteranganku. tidak benar kalau dikatakan bahw saya bersekutu dengan Bhe Cui Im si wanita jahat! Sebaliknya malah! Pusaka-pusaka peninggalan guruku itu bukan saya berikan kepadanya, melainkan dicurinya dariku! Dan dengan susah payah aku telah berhasil merampasnya kembali."

Empat orang tuso itu memandang penuh harapan dan Keng Hong cepat menghampiri Kon Sian-cu sambil bertanya.

"Totiang, yang dimaksudkan dengan pusaka Kong-thong-pai yang telah diambil suhu dan dirahasiakan itu bukankah sepasang golok emas yang amat indah?"

Kok Sian-cu mengangguk-angguk, menelan ludah untuk menekan ketegangan hatinya sambil berkata.

"Betul.....betul........"

Keng Hong merogoh baju dalamnya dan mengeluarkan sepasang golok emas, menyerahkan sepasang golok indah itu kepada Kok Sian-cu sambil berkata.

"Inikah pusaka Kong-thong-pai? Kalau benar, nah, terimalah disertai permohonan maaf sebesarnya dari mendiang suhu Sin-jiu Kiam-ong!"

Begitu melihat sepasang golok emas itu empat orang tosu Kong-thong-pai terbelalak.

Kok Sian-cu menerima dengan kedua tangan gemetar, tongkatnya terlepas dan begitu sepasang golok emas itu dipegangnya, kedua lututnya lalu ditekuk dan tiga orang sutenya pun menjatuhkan diri berlutut pula.

"Kong-thong Siang-sin-to (Sepasang Golok Sakti Kong-thong-pai)....."

Terdengar mulut keempat orang tosu itu berkata penuh keharuan sambil memandang sepasang golok emas yang dipegang Kok Sian-cu dan diangkat tinggi-tinggi.

Keng Hong dan Yan Cu saling memandang dan mengertilah dua orang muda ini bahwa sepasang golok itu ternyata adalah pusaka yang amat dihormati oleh tokoh-tokoh Kong-thong-pai, maka pantaslah kalau mereka semenjak dahulu memusuhi Sin-jiu Kiam-ong dan menyimpan rahasia kehilangan sepasang golok itu karena hal ini akan menurunkan nama besar Kong-thong-pai!

Dan Keng Hong dapat pula membayangkan betapa besar rasa syukur di hati empat orang tosu itu.

Akan tetapi tiba-tiba Kok Sian-cu meloncat bangun dan berseru marah.

"Siapa telah menodai Siang-sin-to kami dengan darah??"

Tiga orang sutenya terkejut dan melompat bangun pula, mendekati Kok Sian-cu dan meneliti sepasang golok emas itu.

Mereka semua kelihatan marah dan Kok Sian-cu segera membalikan tubuh menghadapi Keng Hong dan bertanya.

"Orang muda yang sudah berjasa besar mengembalikan Siang-sin-to, apakah engkau begitu keji menggunakan pusaka Kong-thong-pai yang suci ini untuk membunuh orang?"

Keng Hong menjawab tenang dan sabar.

"Sepasang kim-to (golok emas) itu memang telah mencium darah orang, Totiang, akan tetapi bukan darah orang lain melainkan darahku sendiri! Setelah berhasil merampas semua pusaka dari Bhe Cui Im, saya bertemu dengan Ang-bin Kwi-bo dan saya ditangkap, pusaka-pusaka itu dirampasnya....."

"Ahhh.....!!"

Empat orang kakek Kong-thong-pai itu kaget sekali mendengar disebutnya nama iblis betina yang menjadi datuk hitam itu.

"Sepasang golok emas pusaka Kong-thong-pai itu dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo untuk membuat saya tidak berdaya, yaitu dibengkokan menjadi kaitan dan dikaitkan tulang-tulang pundak saya. Untung kemudian pusaka-pusaka itu, termasuk sepasang kim-to dapat saya rampas kembali berkat pertolongan Subo dan Sumoi ini. Jangan khawatir, Totiang, golok pusaka yang suci itu tidak pernah dipergunakan membunuh manusia dan darah itu adalah darahku sendiri."

Empat orang tosu yang merasa girang dan bersyukur bisa memdapatkan kembali sepasang golok emas itu menjadi terharu dan ngeri mendengarkan pengalaman Keng Hong yang nyaris tewas mempertahankan pusaka-pusaka itu, termasuk pusaka Kong-thong-pai yang berhasil diselamatkan.

Mereka bergidik kalau memikirkan betapa pusaka suci ini bisa terjatuh ke tangan seorang manusia iblis seperti Ang-bin Kwi-bo dan tentu akan kotor dan berubah menjadi pusaka maut yang haus akan darah manusia!

"Orang muda, jasamu tidak kecil dengan mengembalikan pusaka ini, dan biarlah kami membalas budimu dengan menghabiskan semua permusuhan yang pernah timbul.

Kami dapat percaya bahwa dalam peristiwa-peristiwa itu, engkau tidak berdosa, atau setidaknya engkau tidak sengaja melakukan kejahatan.

Betapapun juga, kami kira perbuatan-perbuatan yang telah engkau lakukan itu, bagaikan tanaman pohon, pasti akan berbuah pula.

Siapa menanam dia akan memetik buahnya.

Demikian pula dengan perbuatan baikmu mengembalikan pusaka kami ini, biarlah sekarang juga kami membalasmu dengan peringatan bahwa engkau sedang terancam bahaya dan sebaiknya sekarang juga segera pergi dari sini, jangan menuju ke kota raja."

Keng Hong mengerutkan alisnya, kemudian bertanya.

"Kalau Totiang sudi menjelaskan, mengapa Totiang melarang saya ke kota raja dan bahaya apakah yang mengancam saya di kota raja?"

Empat orang tosu itu saling pandang, agaknya ragu-ragu, akan tetapi setelah kembali memandang sepasang golok emas di tangannya, Kok Sian-cu berkata.

"Baru saja beberapa jam yang lalu ada dua orang mencarimu, Cia-sicu. Mereka itu mencarimu bukan dengan niat baik, melainkan hendak menangkap atau membunuhmu, dan...... dan mereka itu lihai bukan main...... mungkin engkau tidak akan dapat melawan mereka dan akan celaka kalau bertemu mereka. Mereka menuju ke kota raja mencarimu, maka demi membalas kebaikanmu yang telah mengembalikan pusaka kami ini, kami memperingatkan Sicu untuk cepat-cepat pergi dari sini menjauhi kota raja."

"Eh, Totiang!"

Yan Cu tidak sabar lagi menjawab.

"kami berdua memang hendak ke kota raja dan kami berdua sama sekali tidak takut menghadapi ancaman musuh yang manapun juga. Apakah dua orang yang mengancam Suheng itu bukan manusia? Kalau hanya manusia biasa seperti kami, hemmmm....... kami tidak takut sedikit pun juga!"

Baru sekarang empat orang tosu itu dapat memandang Yan Cu tanpa kemarahan di hati dan empat orang kakek ini diam-diam harus mengakui bahwa gadis itu amat ayu dan menggairahkan.

Diam-diam mereka berpikir dari mana murid Sin-jui Kiam-ong ini mendapatkan seorang sumoi?

Dan sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian gadis yang begini cantik jelita seperti sekuntum bunga mawar?

Mereka memandang kagum dan menduga-duga.

Apakah dara jelita ini pun memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan mengejutkan seperti yang dimiliki puteri Lam-hai Sin-ni dan sucinya yang aneh berpakaian merah itu?

"Mereka itu memang kelihatannya seperti manusia-manusia biasa, bahkan merupakan dua orang dara yang cantik, akan tetapi yang memiliki ilmu kepandaian seperti iblis!"

"Dua orang wanita muda?"

Keng Hong memandang tajam.

"Siapakah mereka, Totiang? Dan mengapa mengancam saya?"

"Mereka itu adalah dua orang gadis yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Kami tidak mengenal orang ke dua, akan tetapi yang pertama adalah puteri Lam-hai Sin-ni, nona Sie Biauw Eng......eh, Sicu.....!"

Akan tetapi Keng Hong tak mempedulikan panggilan itu karena dia telah menggandeng tangan Yan Cu dan sekali berkelebat kedua orang ini telah lenyap dari depan mata empat orang tosu yang melongo.

Kemudian Kok Sian-cu menggeleng-geleng kepalanya dan berkata.

"Hebat sekali....., gerakan mereka begitu cepat...... hemmmmm, tentu akan terjadi geger kalau mereka berempat itu saling jumpa. Tak dapat dibayangkan betapa akan hebatnya pertandingan antara mereka!"

Kemudian dia menghela napas dan berkata kepada tiga orang sutenya.

"Kita telah ketinggalan jauh oleh orang-orang muda itu. Sebaiknya kalau mulai sekarang, kita mencurahkan lebih banyak perhatian kepada anak-anak murid Kong-thong-pai yang muda-muda agar mereka itu tekun berlatih dan dapat memperoleh kemajuan-kemajuan hebat seperti orang-orang muda ini........ karena hanya dengan adanya orang-orang muda yang pandai saja maka perkumpulan kita akan memperoleh kemajuan dan mereka kelak akan dapat menggantikan kita yang sudah makin tua dan makin mundur....."

Keng Hong begitu mendengar disebtunya nama Biauw Eng, sudah tidak dapat lagi menahan hatinya yang tiba-tiba berdebar keras saking girangnya.

Tanpa pamit dia sudah meninggalkan empat orang tosu itu.

Juga Yan Cu amat girang mendengar bahwa dua orang yang mencari Keng Hong dan baru beberapa jam lewat menuju ke kota raja itu adalah Biauw Eng dan seorang wanita lain.

Memang mereka berdua sedang mencari Biauw Eng!

Pertemuan dengan Biauw Eng amatlah penting bagi mereka berdua, karena pertemuan itu akan menentukan nasib mereka berdua dan akan menjadi keputusan apakah mereka akan melanjutkan ikatan jodoh yang diperintahkan dan dipaksakan subo mereka itu ataukah tidak!

Maka ketika Keng Hong menarik tangannya, Yan Cu pun mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk berlari cepat sekali mengimbangi suhengnya.

Biauw Eng dan Hun Bwee melakukan perjalanan seenaknya.

Kota raja sudah tidak begitu jauh lagi dan perjalanan mereka melalui dusun dan hutan yang tidak liar karena daerah dekat kota raja sudah mulai ramai.

Hati Biauw Eng tenang dan lega bahwa Hun Bwee tidak kumat lagi gilanya.

Diam-diam ia menaruh kasihan sekali kepada sucinya ini, dan mulailah ia mengutuk Keng Hong di dalam hatinya, sungguhpun tadinya ia merasa ragu-ragu apakah benar Keng Hong sampai hati melakukan perbuatan sekejit itu.

Ia sering kali termenung dan menjadi bingung sendiri, apakah yang harus ia lakukan terhadap Keng Hong jika ia bertemu dengan pemuda yang dicarinya itu.

Kalau ia bertemu dengan Cui Im yang dicarinya, memang sudah jelas akan ia serang mati-matian.

Akan tetapi kalau ia bertemu dengan Keng Hong, bagaimana?

Subonya menghendaki agar Keng Hong sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong ditangkap dan diseret di depan kaki Go-bi Thai-houw yang gila itu.

Sucinya sendiri ingin membalas dendamnya karena pernah diperkosa oleh Keng Hong, hal yang memang sudah semestinya dan dia sendiri yang akan memaksa Keng Hong untuk bertanggung jawab dan mengawini sucinya yang sudah diperkosanya itu!

Akan tetapi bagaimana dengan dia sendiri?

Ah, di antara dia dan Keng Hong memang tidak ada urusan apa-apa!

Dia mencinta Keng Hong, dan pemuda itu juga menyatakan cinta kepadanya.

Akan tetapi betapa dangkal dan palsu cinta kasih Keng Hong kepadanya!

Tidak seperti cintanya, yang mendalam dan tulus ikhlas, cintanya tidak akan luntur oleh kejadian apa pun juga.

Benar, sama sekali tidak pernah brubah.

Kemarahannya karena kepalsuan Keng Hong menimbulkan benci seketika saja, namun tetap tidak mampu menghapus cinta kasihnya terhadap pemuda itu.

Akan tetapi, apakah yang ia lakukan?

Bagaimana kalau ia nanti berhadapan dengan Keng Hong?

dapatkah ia menguasai hatinya untuk tidak menjadi lemah kalau berhadapan dengan pemuda itu?

Ataukah ia tidak akan dapat menguasai kemarahan dan hatinya yang sakit karena cintanya di sia-siakan lalu turun tangan membunuh pemuda itu?

Ah, tidak!

Tidak!

Dia harus dapat menguasai dan mengatasi perasaan pribadinya.

Dia harus menangkap Keng Hong sesuai dengan perintah gurunya.

Dia harus dapat memaksa Keng Hong untuk bertanggung jawab dan mengawini sucinya yang telah diperkosanya!

Setelah itu...

dia...

dia akan pergi.

Jauh!

Entah ke mana!

Akan tetapi, sebuah ingatan menyelinap di dalam kepalanya, membuyarkan semua angan-angan tadi.

Betapa ia memudahkan persoalan.

Seolah-olah ia berani memastikan bahwa dia akan dapat memperlakukan Keng Hong sebagaimana yang dia kehendaki!

Seolah-olah Keng Hong merupakan sebuah boneka yang dapat ia bunuh atau tidak!

Sejenak ia tadi lupa bahwa yang dia hadapi bukan Keng Hong yang telah menyia-nyiakan cintanya, Bukan hanya Keng Hong yang telah memprkosa Hun Bwee, akan tetapi juga Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Memang, dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, apalagi ada Hun Bwee disampingnya, ia tidak takut dan percaya akan dapat mengatasi Keng Hong, namun betapapun juga, dia tidak boleh merasa terlalu yakin akan dapat menangkap pemuda itu.

"Biauw Eng.....!!"

Otomatis Biauw Eng menahan kakinya, berdiri dengan muka pucat.

Suara itu!

Suara itu!

Suara laki-laki yang akan ia kenal di antara suara seribu orang laki-laki lain!

Suara Keng Hong!

Apakah karena sejak tadi melamunkan Keng Hong, kini telinganya mendengar yang bukan-bukan?

"Biauw Eng........!!"

Biauw Eng meloncat dan membalikan tubuhnya sambil berbisik.

"Keng Hong.....!"

Melihat sikap Biauw Eng dan mendengar bisikan itu Hun Bwee juga terkejut dan cepat membalikan tubugnya.

Amatlah menarik untuk memperhatikan wajah dua orang gadis cantik ini ketika mereka membalikan tubuh dan melihat Keng Hong datang bersama seorang dara jelita.

Wajah Biauw Eng pucat sekali.

Mula-mula sekali, begitu ia membalik dan matanya menangkap wajah dan tubuh Keng Hong, tampak sinar memancar keluar dari pandang matanya, sinar penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Namun sinar itu segera menyuram dan lenyap, terganti oleh sinar kilatan penuh cemburu ketika ia melihat dara yang amat cantik jelita di samping Keng Hong.

Kilatan cemburu yang terpancar dari sepasang matanya itu pun sebentar saja dan segera wajahnya yang pucat itu tidak membayangkan apa-apa, tetap dingin tidak membayangkan sesuatu, wajah dan matanya kosong memandang kepada Keng Hong dan Yan Cu yang datang berlari-lari menuju ke tempat mereka berdiri menanti, di dalam hutan yang sunyi itu.

Adapun wajah Hun Bwee brubah menjadi merah sekali.

Sulit untuk menduga apa yang bergolak di hati dan pikiran gadis ini.

Dia segera mengenal Keng Hong, terbelalak memandang pemuda itu, sama sekali tidak mempedulikan gadis jelita yang berlari di samping Keng Hong dan wajahnya menjadi merah sekali.

Entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya, akan tetapi yang sudah jelas sekali, gadis baju merah ini merasa malu dan jengah sekali bertemu dengan orang yang telah memperkosanya, orang yang dikagumi an dicintanya akan tetapi kemudian merusak hatinya.

Mungkin saat itu pernyataan Biauw Eng untuk memaksa pemuda itu mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap dirinya itulah yang membuat ia menjadi malu dan bingung!

"Biauw Eng....!"

Untuk ketiga kalinya Keng Hong menyerukan nama ini dan kini dia dan Yan Cu telah berdiri berhadapan dengan Biauw Eng dan Hun Bwee.

Keng Hong hanya menunjukan pandang matanya kepada Biauw Eng, Kepada wajah yang tak pernah dia lupakan barang sedetik pun, kepada mata yang membuat hatinya terharu, mata yang indah dan dingin, terbayang kedukaan amat hebat di dalamnya.

Keng Hong memandang Biauw Eng, tidak melihat apa-apa lagi, tidak pula melihat Hun Bwee.

Dadanya turun naik, terengah-engah, bukan karena kelelahan, melainkan karena menahan gejolak hatinya yang menggetarkan seluruh tubuhnya.

Yan Cu juga berdiri terengah dan gadis ini terengah karena kelelahan, karena ia tadi harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengimbangi kecepatan lari suhengnya.

Kini Yan Cu berdiri memandang dua orang gadis itu dengan penuh perhatian dan penyelidikan.

Kedua orang gadis itu sama cantik, sama menarik dan sama gagah perkasa.

Akan tetapi amat mudah bagi matanya yang tajam itu untuk menduga yang manakah Biauw Eng.

Bukan hanya karena kecantikan Biauw Eng yang indah dingin bagaikan lautan salju di utara, melainkan juga ia dapat melihat ke manakah sasaran pandang mata suhengnya yang seperti orang kena pesona.

Dia tidak heran mengapa suhengnya jatuh cinta kepada Biauw Eng yang memang cantik luar biasa itu, akan tetapi keningnya berkerut menyaksikan sikap Biauw Eng yang begitu dingin sehingga tidak wajar dan membuat bulu tengkuknya berdiri.

Wanita sedingin ini, mana mungkin dapat dicairkan dengan panasnya api cinta.?

Baik Biauw Eng maupun Keng Hong belum dapat menemukan suara mereka kembali yang lenyap karena gelora hati yang membadai, yang timbul di saat mereka saling bertemu.

Dua pasang mata itu bertemu dan seolah-olah bertanding mengadu kekuatan, ataukah saling peluk tak ingin dilepaskan kembali?

Keduanya tidak berkedip, seperti terkena sihir.

"Apakah engkau yang bernama Sie Biauw Eng?"

Tiba-tiba suara Yan Cu yang nyaring membuat Keng Hong dan Biauw Eng sadar dan gadis ini lalu memandang kepada Yan Cu.

Sejenak pandang matanya mengeluarkan sinar kilat penuh cemburu sehingga mengejutkan Yan Cu.

Akan tetapi dara ini tersenyum ketika melihat Biauw Eng mengangguk dan ia bertanya dengan suara wajar.

"Jadi kalau begitu Enci Biauw Eng dan Cici itu yang mencari-cari Suheng Cia Keng Hong?"

Kembali Biauw Eng mengangguk, tidak bernafsu untuk bicara dengan dara jelita yang entah mengapa menyebut Keng Hong sebagai suhengnya itu.

Wajah Yan Cu berseri gembira.

"Sungguh kebetulan sekali! Susah payah kami berdua mencari Enci Biauw Eng sampai ke mana-mana, sekarang dapat bertemu di sini sungguh amat menggirangkan hatiku."

"Hemmm......!"

Biauw Eng mengeluarkan suara, sikapnya makin dingin.

"Kami mencari dia ada sebab-sebabnya yang penting. Kalian mencari aku ada apakah?"

Heran, pikir Yan Cu.

Gadis yang biarpun cantik akan tetapi sikapnya sdingin es dan agaknya amat galak ini bagaimana bisa menjatuhkan hati Keng Hong?

Akan tetapi dia tetap tersenyum dan bertanya.

"Enci Biauw Eng, kami mencarimu hanya untuk bertanya apakah Enci Biauw Eng masih mencinta Suheng Keng Hong?"

"Sumoi.....!!"

Wajah Keng Hong menjadi merah sekali.

Sungguh sumoinya ini terlalu sekali, masa mengajukan pertanyaan seperti itu secara kasar dan langsung, seperti orang bertanya tentang hal sehari-hari yang biasa saja!

Juga Biauw Eng kaget bukan main.

Pertanyaan itu datangnya begitu tiba-tiba dan sama sekali tidak pernah disangkanya sehingga merupakan serangan tusukan pedang yang langsung mengenai jantungnya.

Wajahnya yang tadinya pucat itu menjadi merah sekali.

Ia balas bertanya dengan suara membentak.

"Bocah lancang mulut! Apa sangkut pautnya denganmu?"

Yan Cu memutar bola matanya mengerling ke arah Biauw Eng.

"Lebih baik aku bicara terang-terangan saja, Enci Biauw Eng. Ketahuilah bahwa subo kami telah memutuskan bahwa aku dan Suheng harus menjadi suami isteri. Kami berdua masih tidak dapat mengambil kepastian karena kami tidak tahu apakah kami saling mencinta, apalagi karena Suheng menyatakan bahwa dia mencintaimu. Karena itu, kami berdua sengaja mencarimu untuk bertanya dan kalau kalian berdua masih tetap saling mencinta tentu saja Suheng hanya dapat menikah dengan engkau. Sebaliknya, kalau engkau tidak mencintainya, tentu saja Suheng akan dapat mengambil keputusan apakah dia akan dapat menikah denganku atau tidak, sedangkan aku sendiri pun baru akan dapat memutuskan apakah aku mencinta dia atau tidak. Kalau dia mencinta orang lain, tentu saja aku tidak akan membiarkan hatiku mencintainya. Nah, sekali lagi aku bertanya, sebagai seorang wanita terhadap wanita lain, tanpa bermaksud menghinamu. Apakah Enci mencinta dia, ataukah tidak?"

Mau tidak mau, hati Biauw Eng tersentuh rasa kagum terhadap dara jelita ini.

Seorang dara yang jujur, tegas dan tidak berpura-pura sehingga bertanya soal cinta secara begini terbuka.

Sifat seperti ini memang cocok sekali dengan sifatnya sendiri, namun sekarang, setelah ia menderita racun cinta yang membuatnya bertahun-tahun merana, berduka dan akhir-akhir ini mengisi perasaannya dengan rasa kebencian, membuat hatinya mengeras dan menjawab ketus.

"Pertanyaanmu itu tidak perlu dijawab lagi karena sekarang, Cia Keng Hong tidak akan menikahi siapapun juga, tidak dengan aku atau tidak pula dengan engkau, melainkan dia harus menjadi suami Suciku ini!"

"Aiiihhhhh, mana bisa begitu?"

Yan Cu berteriak heran dan juga penasaran.

Keng Hong yang mendengar ucapan Biauw Eng, terkejut dan baru sekarang dia sadar bahwa di samping Biauw Eng ada seorang wanita lain yang memakai pakaian merah.

Ia cepat mengalihkan pandang matanya, memandang Hun Bwee.

Ia melihat wajah yang cantik dari gadis ini merah sekali akan tetapi kedua matanya mengeluarkan air mata.

"Apa artinya ini?"

Keng Hong berkata perlahan.

"Nona ini siapakah......?"

"Hemmmm.... Cia Keng Hong, apakah engkau benar sudah lupa kepada Suciku ini, ataukah memang berpura-pura lupa?"

Biauw Eng berkata, suaranya penuh kepahitan dan kemarahan ditekan.

"Biauw Eng, aku..... aku merasa pernah melihat Nona ini, akan tetapi entah di mana dan kapan. Siapakah dia?"

"Memang beginilah laki-laki yang berwatak bejat! Menganggap wanita seperti boneka atau bunga yang hanya dinikmati keharumannya, setelah dipermainkan lalu menjadi bosan dan akan dilempar dan dilupakan begitu saja!"

"Biauw Eng......!"

Keng Hong mengeluh, memprotes. Biauw Eng tersenyum, senyum yang menikam ulu hati Keng Hong.

"Hendak menyangkal? Suciku ini adalah Tan Hun Bwee, gadis bernasib malang yang telah kau perkosa kemudian kau tingalkan pergi dan kau lupakan begitu saja! Cia Keng Hong, tak kusangka bahwa engkau sekeji itu. Sekarang engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang terkutuk! Engkau harus menjadi suaminya yang sah!"

"Aaaaaaahhh...... Suheng...... betulkah ini.....?"

Yan Cu memandang Keng Hong dengan mata terbelalak dan wajah pucat.

Keng Hong memandang Hun Bwee dan teringkatlah dia kini akan gadis baju hijau yang dahulu diperkosa oleh Lian Ci Tojin.

"Ahhh, kiranya Tan-sioca....."

Ia memandang penasaran, lalu menoleh kepada Biauw Eng, hendak membantah.

Akan tetapi melihat betapa sinar mata gadis yang dicintanya itu penuh kebencian dan penyesalan ditujukan kepadanya, dia menahan kembali protesnya dan menarik napas panjang, lalu memandang Yan Cu dan berkata.

"Sumoi, aku tidak melakukan berbuatan keji itu. Kuharap engkau dapat percaya kepadaku....."

"Pengecut!"

Biauw Eng membentak marah.

"Untuk merayu hati gadis ini, tentu saja engkau hendak menutupi segala cacadmu, bersikap seolah-olah engkau seorang laki-laki yang baik. Hemmm......., pemuda mata keranjang berhati palsu!"

Keng Hong memandang Biauw Eng, sinar matanya penuh penyesalan dan suaranya lirih ketika dia berkata.

"Aku menerima semua penyesalan dan makianmu, Biauw Eng. Memang aku seorang yang telah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap dirimu. Aku bersedia kau hukum, aku siap kalau engkau hendak membunuhku, akan tetapi aku tetap mencintaimu, Biauw Eng. Mencintaimu seorang dan tidak mungkin aku mencinta orang lain lagi."

Tiba-tiba terdengar jerit melengking yang mendirikan bulu roma dan Biauw Eng terkejut sekali melihat sucinya karena ia tahu bahwa tiba-tiba penyakit gila sucinya kumat!

Sepasang mata yang tadi mngucurkan air mata itu kini terbelalak liar dan mulutnya membentak.

"Sumoi, tukang perkosa ini bukan orang baik-baik! Sudah kukatakan kepadamu, mengapa melayani dia bicara? Hi-hi-hik, akan kusiksa dia sampai mati! Ha-ha-ha-ha-ha-heh-heh, akan kusayat-sayat alat kelaminnya agar dia tidak mampu mengganggu wanita lagi!"

Tiba-tiba Hun Bwee menubruk Keng Hong dengan cengkeraman pada muka pemuda itu.

Keng Hong miringkan tubuh mengelak, akan tetapi tangan Hun Bwee sudah mencengkeram lagi ke arah bawah pusar!

Keng Hong meloncat mundur, dan Hun Bwee sambil terkekeh-kekeh menerjang lagi, kini mengirim hantaman dengan kedua tangan bertubi-tubi, cepat bukan main dan pukulan-pukulannya mengandung tenaga yang amat kuat.

Diam-diam Keng Hong terkejut juga.

Nona gila ini ternyata amat luar biasa kepandaiannya, dan pantas saja kalau menjadi suci Biauw Eng!

Padahal seingatnya dulu, puteri Tan-piauwsu ini tidaklah begini hebat kepandaiannya.

Serangan Hun Bwee amat berbahaya, akan tetapi Keng Hong tentu saja tidak tega untuk merobohkannya, juga merasa tidak enak kalau melawannya, maka dia hanya menggerakkan tubuhnya, mengelak dari serangan Hun Bwee yang bertubi-tubi itu.

"Suci, jangan......"Biauw Eng mencegah Hun Bwee yang makin lama menjadi makin ganas itu.

"Apa? Engkau membelanya, Sumoi? Kalau begitu engkau benar mencinta Jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) ini?"

Hun Bwee menunda serangannya dan menoleh ke arah Biauw Eng.

Wjah Biauw Eng menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar keras.

Dalam detik itu, hatinya sendiri membisikan pertanyaan yang sama.

Adakah dia masih mencinta Keng Hong?

Kata-kata Keng Hong yang menyatakan cinta tadi mencengkeram hatinya, sungguhpun belum sama sekali menghapus rasa bencinya yang timbul karena sakit hatinya akan sikap Keng Hong yang sudah-sudah terhadap dirinya.

"Suci, aku tidak membelanya. Akan tetapi engkau pun tidak boleh membunuhnya. Apakah engkau lupa akan perintah subo untuk menangkapnya hidup-hidup?"

Hun Bwee kelihatan seperti orang terkejut dan ia cepat mundur, akan tetapi matanya memandang kepada Keng Hong dengan liar.

Melihat ini, Keng Hong menarik napas panjang dan menjadi terharu sekali.

Dia merasa kasihan melihat Hun Bwee yang agaknya kini menjadi gila karena peristiwa perkosaan dahulu itu, akan tetapi dia pun terheran-heran mengapa dalam gilanya itu Hun Bwee kini menjadi begitu lihainya!

Kalau begitu Biauw Eng tentu telah memperoleh kemajuan hebat pula dalam ilmu silatnya kalau gadis itu kini menjadi sumoi dari gadis gila ini!

Keng Hong kembali memandang Biauw Eng dan kembali mereka saling pandang dengan perasaan hati yang tidak karuan sehingga sinar mata mereka seperti orang mimpi.

Akhirnya Keng Hong berkata lirih.

"Biauw Eng, aku tidak merasa bersalah terhadap siapapun juga di dunia ini kecuali terhadap engkau, karena itu, kalau engkau yang mengambil keputusan mengenai diriku, sedikit pun aku tidak akan membantah atau melawan. Aku menyerah, Biauw Eng, menyerahkan jiwa raga kepadamu sebagai tebusan dosaku yang berkali-kali kepada engkau yang kini aku yakin adalah satu-satunya wanita yang kucinta sepenuh hatiku...."

"Tak perlu engkau merayuku!"

Biauw Eng membentak dengan hati seperti diremas-remas karena ia menganggap betapa kata-kata yang amat menyenangkan dan membahagiakan hatinya itu tidak lain hanyalah rayuan kosong belaka dari pemuda yang cintanya palsu ini.

"Aku tidak merayu, dan kalau engkau menghendaki bukti, sekarang juga engkau boleh membunuhku dan aku takkan menggerakan sebuah jari pun untuk melawanmu."

Biauw Eng tersenyum dingin mengejek.

"Engkau lupa bahwa tubuhku telah dimiliki orang lain......"

Senyuman dan ucapan itu menusuk jantung Keng Hong.

Ia merasa betapa dia dahulu amat kejam dan tidak adil terhadap Biauw Eng.

Dengan suara tergetar dia menjawab.

"Aku tidak peduli akan itu, Biauw Eng. Telah lama aku sadar bahwa cinta bukanlah nafsu semata, jauh lebih tinggi dan lebih agung.....seperti cintamu terhadap aku....."

"Cukup!"

Biauw Eng membentak akan tetapi bentakannya mengandung isak tertahan.

"Aku dan Suci mencarimu untuk menangkapmu atas perintah subo kami. Kalau kau melawan pun boleh, kami hendak menggunakan kekerasan!"

Keng Hong menggeleng kepalanya, wajahnya penuh duka.

"Tidak, Biauw Eng. Sudah kukatakan bahwa aku menyerahkan jiwa raga kepadamu. Kalau orang lain yang hendak menangkapku tanpa kesalahan, demi Tuhan, akan kulawan mati-matian. Akan tetapi kalau engkau yang hendak menangkapku, nah, silahkan aku takkan melawanmu......."

"Berlutut!"

Biauw Eng membentak sambil mengeluarkan sabuk suteranya.

"Engkau harus dibelenggu!"

Keng Hong tidak membantah, lalu menjatuhkan diri berlutut. Biauw Eng melangkah maju.

"Tidak boleh!!"

Tiba-tiba Yan Cu meloncat ke depan Keng Hong dan berdiri tegak dengan sikap melindunginya.

"Tidak boleh Suheng ditangkap begini saja tanpa kesalahan!"

Biauw Eng memandang Yan Cu dengan mata bersinar marah, akan tetapi Yan Cu tidak takut dan membalas pandangan mata Biauw Eng dengan marah pula.

Dua orang dara cantik jelita ini saling berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata berapi.

Keduanya sama cantik, sama gagah, dan sama marah hendak memperebutkan Keng Hong!

Bukan memperebutkan cintanya, melainkan memperebutkan orangnya.

Yang satu ingin menangkapnya, yang lain ingin membebaskannya.

"Hemmmm..... kau mau apa?"

Biauw Eng bertanya pendek dan suaranya dingin sekali. Yan Cu memandang dengan mata terbelalak lebar penuh rasa penasaran dan kemarahan.

"Sie Biauw Eng, engkau ini wanita apa? Hatimu keras seperti batu, dingin seperti es! Padahal di dalamnya mengandung api cinta yang bernyala-nyala dan panas membara terhadap Suheng! Engkau mencinta Suheng! Mengapa....."

"Tutup mulutmu yang lancang!!"

Biauw Eng membentak marah. Yan Cu tersenyum lebar.

"Hemmmm, Enci biauw Eng, cinta itu bagaikan matahari di hari cerah! Sinarnya memancar ke mana-mana dan biarpun engkau bersikap dingin kasar dan kejam terhadap Suheng, namun sinar matamu, gerak bibirmu, semua mengandung sinar itu! Entah aku yang buta karena salah lihat ataukah engkau yang buta tidak melihat cintamu sendiri, akan tetapi jelas engkau mencinta Suheng dan Suheng pun mencintamu! Tak perlu engkau menawannya karena hati kalian sudah saling menawan! Tidak perlu engkau membelenggunya karena cinta kalian sudah saling membelenggu!"

"Pergilah!"

Biauw Eng membentak dan tangan kirinya menampar.

Cepat sekali gerakannya, cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat sekali.

Akan tetapi Yan Cu juga bukan orang lemah.

Melihat datangnya tamparan ini, ia menggerakkan tangan kanannya menangkis.

"Plakkkk!!"

Dua buah lengan yang kecil halus saling bertemu dan akibatnya Biauw Eng terdorong mundur dua langkah, akan tetapi Yan Cu juga terdorong sampai tiga langkah.

Biauw Eng mengerutkan keningnya.

Kiranya dara jelita ini memiliki kepandaian yang tidak rendah, pikirnya.

Yan Cu terkejut bukan main ketika merasa betapa kuatnya tamparan Biauw Eng tadi.

"Tidak perlu engkau mencampuri urusanku!"

Biauw Eng membentak. Yan Cu meraba gagang pedangnya dan berkata.

"Kalau engkau memaksakan kehendakmu untuk menawan Suheng yang tidak melawan, terpaksa akulah yang akan melawanmu!"

Sinar mata Biauw Eng menyambar tajam dan sabuk suteranya yang sudah berada di tangan itu tergetar, siap untuk dipakai menyerang dara yang cantik jelita itu, akan tetapi mulutnya bertanya.

"Bocah! Engkau mencinta Cia Keng Hong?"

Wajah yang halus putih itu menjadi merah, akan tetapi Yan Cu menggeleng kepalanya.

"Setelah aku yakin bahwa dia dan engkau saling mencinta, bagaimana aku akan menjadi begitu bodoh untuk mencintanya? Tidak, aku tidak mencitanya seprti cinta seorang wanita terhadap calon suaminya! Kuhilangkan jauh-jauh nafsu jasmani dalam cinta itu dan berubahlah menjadi cinta saudara! Memang aku mencinta dan suka sekali kepada Cia Keng Hong, akan tetapi cinta dan rasa suka seorang sumoi kepada suhengnya, seorang adik terhadap kakaknya! Sie Biauw Eng, apakah kau kira seorang sumoi akan diam saja melihat suhengnya akan ditawan? Adakah seorang adik akan membolehkan saja kakaknya ditangkap?"

Yan Cu menggerakan tangan mencabut pedangnya. Keng Hong meloncat ke depan Yan Cu, memegang lengan gadis itu dan berkata.

"Sumoi, jangan.....! Jangan kau merusak lagi usahaku untuk menebus dosa terhadap Biauw Eng. Apakah engkau ingin membuat aku menjadi lebih sengsara lagi? Jangan sumoi. Aku memang sengaja membiarkan dia melakukan apa saja terhadap diriku sebagai pembalasan atas dosa-dosaku terhadapnya."

Wajah Yan Cu menjadi pucat.

Biauw Eng begitu dingin dan galak, dalam kebencian tentu dapat berlaku kejam, sedangkan wanita yang seorang lagi adalah seorang gila.

"Suheng, aku tetap tidak percaya bahwa engkau bersalah terhadap Enci Biauw Eng. Dan aku sama sekali tidak percaya bahwa engkau telah melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap Enci berpakaian merah itu. Mereka tidak boleh mengganggumu, Suheng.."

"Hussshhh, engkau adikku, bukan? Adik harus menurut kata-kata kakaknya! Syukur engkau tidak mempercayai hal itu, akan tetapi engkau menurutlah kata-kataku, sumoi. Kau harus mewakili aku untuk membagi-bagikan benda pusaka ini kepada mereka yang berhak. Berjanjilah engkau akan melakukan tugas berat ini dengan taruhan nyawamu."

Sejenak Yan Cu memandang suhengnya, lalu menarik napas panjang, menyimpan kembali pedangnya dan mengangguk.

Karena anggukan ini, dua titik air mata jatuh ke atas pipinya.

"Baiklah, Suheng."

Keng Hong lalu merogoh saku bajunya, mengeluarkan pusaka-pusaka yang dicurinya dari kamar Cui Im itu satu demi satu sambil menerangkannya kepada Yan Cu.

"Pedang ini adalah pusaka Hoa-san-pai, harap kau sampaikan lebih dulu kepada ketua Hoa-san-pai karena aku sudah menjanjikannya. Kitab ini adalah kitab dari Go-bi-pai, karena tempatnya jauh, biarlah kau kembalikan ke sana paling akhir saja. Adapun tujuh buah kitab pusaka peninggalan suhu ini harap kau simpan dulu, boleh juga dititipkan subo. Jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain."

Yan Cun menerima benda-benda pusaka itu sambil mengangguk dan menyimpannya ke dalam baju.

"Dan perhiasan-perhiasan ini......"

Keng Hong teringat lalu membalikan tubuhnya, menyerahkan sekotak kecil perhiasan itu kepada Hun Bwee sambil berkata.

"Nona Tan, perhiasan-perhiasan inilah yang dahulu dirampas oleh mendiang suhu Sin-jiu Kiam-ong dari tangan ayah bundamu, Tan-piauwsu dan isterinya. Sekarang kukembalikan kepadamu. Bukankah Nona dahulu mencari suhu untuk mendapatkan kembali perhiasan ini?"

Ketika tutup kotak kecil itu dibuka dan pandang mata Hun Bwee bertemu dengan benda-benda terbuat dari emas permata itu, matanya terbelalak dan terdengarlah isak tangisnya ketika ia menerima kotak itu.

Matanya yang tadi liar kini berubah, ia terharu dan memeluk kotak kecil itu sambil menangis.

"Ayah...... ibu......."

Keng Hong terharu. Ia mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk dan berkata.

"Nona Tan, saya mengembalikan barang-barang itu disertai permohonan maaf atas perbuatan mendiang suhu terhadap ayah bunda Nona, dan mudah-mudahan dengan mengembalikan ini, semua rasa permusuhan lama dapatlah dihabiskan."

Hun Bwee mengangkat mukanya memandang.

Dari kedua matanya bercucuran air mata, akan tetapi ketika ia memandang Keng Hong, terbayanglah pengalamannya yang amat menyakitkan hatinya, betapa ia dalam keadaan pingsan itu diperkosa dan setelah sadar ia melihat pemuda yang dikaguminya itu menyangkal telah melakukan perbuatan itu.

Akan tetapi kembali teringat oleh pikirannya yang kacau bahwa pemuda ini akan dipaksa menjadi suaminya.

Tiba-tiba pandang matanya kembali aneh dan liar seperti tadi dan ia tersenyum dengan air mata masih bercucuran!

"Kau......

kau memberikan ini sebagai emas kawin......?

Ahhhh, terima kasih....."

Dengan sikap manja seperti anak kecil mendapat barang mainan, Hun Bwee membuka kotak, berlutut dan mengeluarkan perhiasan-perhiasan itu, terus saja dipakainya.

Sepasang anting-anting batu giok berbentuk kupu-kupu, hiasan rambut dari mutiara berbentuk burung hong, kalung, gelang, cincin, dan ikat pinggang dari emas ditabut intan.

Semua perhiasan dipakainya, kemudian ia bangkit berdiri, memasang aksi di depan Biauw Eng sambil berkata.

"Lihat, Sumoi. Dengan perhiasan ini sebagai pengantin, bukankah aku kelihatan cantik sekali?"

Semua orang memandang dengan terharu sekali, diam-diam Yan Cu sendiri merasa terharu sekali, diam-diam ia mengutuk orang yang telah memperkosa gadis itu.

Dia tidak sangsi lagi bahwa tentulah Hun Bwee mengalami guncangan batin hebat sehingga menjadi gila, akan tetapi dia tetap merasa yakin bahwa bukan Keng Hong yang melakukan perbuatan terkutuk itu.

Keng Hong juga memandang terharu dan diam-diam dia merasa menyesal mengapa dia tidak mendapat kesempatan menyeret Lian Ci Tojin dan memaksanya mengakui perbuatannya yang terkutuk atas diri gadis yang bernasib malang ini.

Ia hanya memandang dengan kening berkerut.

Di dalam hati kecilnya, Biauw Eng juga masih belum bercaya kalau Keng Hong yang melakukan perkosaan itu.

Semenjak bertemu pemuda ini dan hatinya tertarik dan sekaligus jatuh cinta, ia merasa yakin bahwa murid ayahnya ini adalah seorang yang tak mau melakukan perbuatan keji.

Kalau toh akhirnya ia melihat pemuda ini selalu melayani cinta setiap orang wanita yang tergila-gila kepadanya, hal ini masih tidak dapat disamakan lagi dengan perbuatan memperkosa yang merupakan perbuatan jahat dan keji terkutuk.

Perbuatan Keng Hong yang menyambut uluran cinta para wanita, baginya adalah hanya menandakan kelemahan hati dan watak romantis yang telah menjadi watak mendiang ayahnya pula.

Hal itu memang menyakitkan hatinya, namun ia telah memaafkannya asal saja Keng Hong mencintanya dengan cinta kasih murni, tidak dengan cinta berahi seperti terhadap wanita-wanita itu!

Kemudian ternyata bahwa Keng Hong membuktikan bahwa cintanya itu tidak murni, dengan kemarahan dan kebencian ketika mendengar bahwa dia telah menyerahkan tubuhnya kepada Sim Lai Sek, padahal pernyataan itu hanyalah sebagai ujian belaka.

hatinya menjadi sakit hati sekali.

Kini ditambah pengakuan Hun Bwee bahwa dia telah diperkosa Keng Hong, tentu saja kalau hal ini benar, dia tidak akan dapat mengampuni Keng Hong, akan memaksanya mengawini Hun Bwee atau......

membunuhnya dengan tangannya sendiri!

"Sudalah, Suci.

Mari kita pulang dan membawa tawanan ini!"

Kemudian ia menoleh kepada Keng Hong .

"Berlututlah!"

Dengan hati sakit seperti disayat-sayat Yan Cu melihat betapa suhengnya itu berlutut di depan Biauw Eng dan memandang nona itu dengan tersenyum dan pandang matanya penuh kasih sayang!

Biauw Eng juga melihat pandang mata ini, ia mendengus, membuang muka dang menggunakan sabuk suteranya mengikat kedua lengan Keng Hong di belakang tubuhnya.

"Mari kita berangkat, Suci!"

Dan kepada Keng Hong yang dibelenggu kedua tangan dan ujung sabuk dipegang Biauw Eng, gadis ini menghardik.

"Hayo jalan!"

Yan Cu berdiri dengan muka pucat, melihat suhengnya yang gagah perkasa itu berjalan dengan kedua tangan terbelenggu, seperti seekor kerbau dituntun.Gadis ini mengepal tangannya, menekan hatinya yang hendak memaksa dia menerjang maju menyerang dua orang gadis itu dan membebaskan suhengnya.

"Suheng......!"

Ia terisak dan hendak mengejar maju. Keng Hong menoleh dan sersenyum kepadanya.

"Sumoi, pergilah dan penuhilah permintaanku tadi. Pergilah dan selamat berpisah. Percayalah bahwa biar sampai mati sekalipun, kalau mati di tangan Biauw Eng, aku rela dan tidak merasa penasaran. Selamat tinggal, Sumoi, semoga kelak engkau lebih berbahagai dalam cintamu daripada aku!"

Yan Cu menutupi mulutnya menahan isak tangis, sejenak memandang Keng Hong dengan air mata berlinang, kemudian memandang Biauw Eng dengan marah, lalu ia meloncat pergi dari tempat itu sambil menangis.

Keng Hong menoleh dan memandang ke arah berkelebatnya bayangan Yan Cu, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara "tar-tar!"

Dan ujung sabuk sutera di tangan Biauw Eng sudah menampar pipinya dibarengi bentakan gadis itu.

"Berangkat!"

Keng Hong merasa pipinya pedas, akan tetapi dia tersenyum.

Kelirukah kalau dia menduga bahwa tamparan ini tadi timbul dari rasa cemburu?

Ia masih merasa yakin akan kemurnian cinta kasih Biauw Eng dan percaya bahwa akan tiba saatnya ini akan dapat memaafkannya.

Memang kalau disuruh memilih, dia lebih suka memilih mati di tangan Biauw Eng daripada hidup menjadi musuh gadis yang dicintanya ini.

Sekarang makin jelaslah dia bahwa di dalam sanubarinya, sesungguhnya hanya kepada Biauw Eng seoranglah dia mencinta dengan seluruh jiwa raganya!

Hanya kepada Biauw Englah ada rasa hormat dan murni dalam hatinya, tidak ingin mempermainkan, dan rasa cinta ini jauh lebih tinggi dan murni daripada rasa nafsu berahi yang (Lanjut ke

Jilid 35) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 35 ditimbulkan ketika dia menghadapi rayuan gadis-gadis cantik seperti Cui Im, mendiang Sim Ciang Bi, dan kedua orang murid wanita Kong-thong-pai!

"Sumoi, jangan siksa calon suamiku!"

Tiba-tiba Hun Bwee berkata.

Keng Hong tersenyum pahit.

Ia tidak tahu nasib apa yang akan dia alami.

Persoalannya menjadi ruwet.

Hun Bwee yang kini menjadi gila itu merasa yakin bahwa dia yang memperkosanya dan agaknya Biauw Eng percaya akan hal ini, maka hendak memaksanya mengawini Hun Bwee!

Jalan satu-satunya hanyalah meyakinkan Hun Bwee bahwa yang melakukan perbuatan terkutuk itu bukan dia melainkan Lian Ci Tojin, akan tetapi untuk meyakinkan hati gadis itu tidaklah mudah.

Terutama harus dapat menangkap Lian Ci Toin.

Dan kalau dia membebaskan diri untuk mencari tosu itu, tentu Biauw Eng akan merasa makin sakit hati!

Biarlah, dia menyerahkan diri ke tangan Biauw Eng, hanya tentu saja dia akan menolak mati-matian kalau hendak dinikahkan dengan Hun Bwee.

Berangkatlah rombongan yang aneh ini menuju ke tempat tinggal Go-bi Thai-houw, melakukan perjalanan yang amat jauh.

Di sepanjang jalan, Biauw Eng bersikap dingin, sukar dijajaki hatinya karena air mukanya tidak membayangkan sesuatu.

Keng Hong tenang-tenang saja dan Hun Bwee kadang-kadang memperlihatkan sikap membenci dan marah-marah kepada Keng Hong, kadang-kadang mesra!

"Suheng.......

ah, Suheng......!"

Yan Cu jalan sambil menangis.

Air matanya bercucuran deras sekali di sepanjang kedua pipinya.

Semenjak kecil gadis ini ikut dengan subonya belajar ilmu, belum pernah merasakan kegembiraan dan kebahagian seperti ketika ia berada di samping Keng Hong.

Ia merasa amat suka kepada suhengnya itu, menganggapnya seperti kakaknya sendiri.

Gadis ini yang memiliki watak periang dan jenaka sama sekali tidak merasa cemburu atau pun iri hati mendapat kenyataan bahwa Keng Hong mencinta Biauw Eng.

Bahkan sebaliknya.

Dia akan merasa girang sekali andaikata Biauw Eng membalas cinta kasih Keng Hong.

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Keng Hong dijadikan tawanan dan pemuda itu menurut saja!

Ia menjadi gelisah dan berduka sekali, merasa amat kasihan kepada suhengnya.

Ia tahu bahwa di tangan Biauw Eng yang cintanya bercampur rasa benci yang hebat, dan di tangan suci Biauw Eng yang gila itu, tentu Keng Hong akan celaka.

Lebih celaka lagi, Keng Hong agaknya menyerahkan mati hidupnya dengan rela kepada mereka berdua!

Makin diingat makin gelisah dan makin sedih hati Yan Cu, membuat tubuhnya lemas dan akhirnya ia menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon besar dan menangis tersedu-sedu memikirkan nasib Keng Hong.

Apakah dayanya?

Untuk menolong, tak mungkin.

Selain kedua orang gadis itu lihai bukan main, juga Keng Hong sendiri tidak mau di tolong.

Setelah berpisah dari Keng Hong, hidup terasa sunyi dan tidak menyenangkan.

Kembali kepada subonya?

Selain akan mendapat marah, juga ia tentu tidak akan betah lagi tinggal di puncak gunung yang sunyi, setelah mencicipi kesenangan merantau bersama Keng Hong.

Melaksanakan tugas mewakili Keng Hong dan menyampaikan pusaka-pusaka itu?

Selain tidak menarik, juga hal itu malah akan terus-menerus mengingatkan dia kepada Keng Hong sehingga hatinya akan selalu tersiksa.

Ah, suheng, mengapa engkau begitu bodoh?

Mengapa hendak memaksakan cinta kasih seseorang?

Kalau memang Biauw Eng sudah membenci setengah mati, mengapa mengorbankan diri dan nyawa secara sia-sia?

Yan Cu berduka sekali.

Selama hidupnya, yaitu selama dia ikut dengan gurunya sejak kecil, belum pernah Yan Cu mengalami duka nestapa seperti ini.

Dan memanglah hal ini sudah sewajarnya dan sudah semestinya.

Hidup ini merupakan perimbangan dua kekuatan.

Dahulu Yan Cu hidup bersama gurunya bersunyi diri di gunung, tidak mengalami kesenangan terlalu besar, karenanya pun tidak mengalami kesusahan terlalu besar.

Setelah bertemu dengan Keng Hong dan merantau bersama suhengnya ia menikmati kesenangan, Oleh karena itu sekali kesenangan direnggut darinya, muncullah kesusahan hati karena kehilangan!

Memang senang dan susah merupakan perimbangan yang adil, dibentuk oleh hati si manusia sendiri.

Suka akan sesuatu itu sudah pasti berekor duka karena sesuatu yang disukainya itu sekali amat sedih kalau barangnya yang disayang sekali itu hilang.

Sebaliknya, barang yang tidak disayang apabila hilang pun tidak akan menimbulkan kesedihan yang besar.

Kalau saja Yan Cu tidak suka kepada Keng Hong, tentulah perpisahan itu tidak akan menyusahkan hatinya, bahkan menyenangkan!

Akan tetapi dia suka sekali kepada Keng Hong, suka kagum dan kasihan!

Perasaannya terhadap Keng Hong itu akan mudah saja berubah menjadi cinta kasih!

Tubuh Yan Cu yang lelah dan lapar tidak kuat menahan tekanan kesusahan itu, setelah puas menangisi Keng Hong , Yan Cu tertidur pulas di bawah pohon itu!

Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak ia memasuki hutan sambil menangis.

ada sepasang mata yang memandangnya penuh keheranan dan kasihan, dan tidak tahu pula betapa pemilik mata itu seperti disihir telah membayangkannya dan ketika dia menangis di bawah pohon, orang itu mendekam di balik semak-semak, memandang dengan melongo dan dada terasa sesak ikut berduka dan hendak menangis pula!

Yan Cu tidak tahu pula betapa setelah ia tidur, ada tiga belas pasang mata orang memandangnya dari balik pohon-pohon, mata yang liar dan memandangnya penuh gairah diikuti mulut-mulut yang menyeringai seperti mulut anjing kelaparan melihat daging.

Tiga belas pasang mata itu adalah milik tiga belas orang perampok yang memang bersarang di hutan itu.

Ketika mereka melihat seorang gadis demikian cantiknya tertidur pulas di bawah pohon, tentu saja para perampok terheran-heran, akan tetapi juga girang sekali.

Mereka adalah orang-orang kasar yang hidup liar, dan menggagahi wanita-wanita muda cantik merupakan satu di antara kesukaan mereka.

Sudah gatal-gatal tangan mereka untuk menjamah tubuh yang rebah terlentang di bawah pohon itu dan mereka seperti sekumpulan kucing yang hendak berlomba menubruk seekror tikus.

Akan tetapi, akan tetapi gerakan tangan pemimpin mereka membuat mereka itu menahan nafsu dan wajah mereka menjadi kecewa.

Mereka sudah tahu bahwa sekali ini mereka tidak akan kebagian!

Tahu bahwa pemimpin mereka, yang bertubuh tinggi kurus bermuka pucat, tergila-gila kepada gadis yang tidur itu dan menghendaki gadis itu untuk dirinya sendiri!

Kalau sudah terjadi begini, terpaksa anak buah perampok yang berjumlah dua belas orang itu hanya dapat menelan ludah dan bersabar menanti sampai sang kepala menjadi bosan dan melemparkan wanita itu kepada mereka untuk dijatikan pesta-pora sampai mati seperti yang sering kali terjadi!

Sambil menyeringai kepala perampok yang tinggi kurus itu keluar dari tempat persembunyian, berindap-indap menghampiri Yan Cu yang tertidur pulas, dipandang oleh anak buahnya yang ketawa cekikikan, seolah-olah mereka menyaksikan pertunjukan yang lucu dan menyenangkan hati.

Memang, orang-orang kasar ini sudah berdebar-debar ingin menyaksikan kepala mereka menubruk gadis itu, seperti seekor harimau menubruk seekor domba.

Selain dua belas pasang mata anak buah perampok itu, juga sepasang mata orang yang sejak tadi membayangi Yan Cu, Ikut pula memandang dan sepasang mata ini mengeluarkan sinar berapi saking marahnya.

Akan tetapi pemilik mata ini dapat menduga bahwa dara jelita yang melakukan perjalanan seorang diri di dalam hutan itu tentulah seorang dara yang memiliki kepandaian, maka dia tidak tergesa-gesa meloncat keluar menolong, hanya bersiap-siap untuk menolong apabila dara itu terancam bahaya.

Yan Cu yang sedang tidur pulas itu berkali-kali menarik napas panjang dan bahkan terisak.

Ia bermimpi melihat Keng Hong disiksa oleh dua orang gadis yang menawannya, kemudian ia melihat Keng Hong merangkak mendekatinya, mengulur tangan seperti orang meminta pertolongan.

Tangan suhengnya itu menyentuh jari tangannya dan ia pun cepat memegang tangan suhengnya yang minta tolong itu dan bibirnya mengeluarkan seruan penuh rasa kasihan.

"Suheng Cia Keng Hong......!!"

Yan Cu tersentak kaget ketika mendengar suara orang ketawa.

Ia terbangun, membuka matanya dan betapa kagetnya ketika melihat bahwa yang memegang tangannya adalah seorang laki-laki yang mukanya pucat, matanya bersinar liar dan mulutnya menyeringai kurang ajar, tertawa-tawa dan sama sekali bukan Keng Hong!

"Ihhh!

Siapa engkau.....?"

Bentaknya dan sekali renggut saja ia sudah dapat melepaskan tangannya sambil melompat berdiri.

Kepala perampok itu tertawa-tawa dan bangkit berdiri pula.

Kini dia terbelalak kagum.

Selama dia menjadi kepala perampok, entah sudah berapa pula orang wanita menjadi korbannya dan korban anak buahnya, akan tetapi selama itu belum pernah dia bertemu dengan seorang dara yang secantik ini!

"Ha-ha-ha-ha-ha, bidadari yang cantik jelita!

Sungguh pantas sekali engkau menjadi ratuku.

Ketahuilah, aku adalah raja di hutan ini.

Ha--ha-ha!"

Yan Cu mengerutkan keningnya, akan tetapi keheranannya mengatasi kemarahannya sehingga tak dapat ditahannya lagi ia bertanya.

"Engkau raja hutan? Aku mendengar bahwa raja hutan adalah harimau......."

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Suara ketawa ini tidak hanya keluar dari mulut si kepala rampok, melainkan juga dari mulut para anak buah perampok yang kini sudah muncul keluar dari tempat persembunyian mereka.

Yan Cu memandang sekeliling dan ia dapat menduga bahwa orang-orang itu tentulah bukan orang baik-baik.

"Nona manis! Memang nama julukanku adalah Tiat-jiauw-houw (Harimau Cakar Besi), akulah harimau hutan ini dan mereka ini adalah anak buahku."

"Hemmmm, jadi engkau ini perampok-perampok? Mau apakah mengangguku? Aku tidak mempunyai barang berharga."

Kepala perampok itu tertawa bergelak dan menoleh kepada para anak buahnya sambil berkata.

"Dia bilang tidak mempunyai barang berharga! Ha-ha-ha-ha-ha-ha! Nona manis, tubuhmu merupakan barang yang paling berharga di dunia ini! Marilah, Nona... kalau engkau menjadi isteriku, engkau akan hidup senang........"

"Apa.......?"

Yan Cu terbelalak, mukanya berubah merah, sebagaian kecil karena jengah dan sebagaian besar karena marah.

"Aku menjadi isterimu? Eh, kepala perampok, apakah engkau sudah bosan hidup?"

Kini giliran si kepala rampok yang terbelalak.

Gadis ini bertanya dengan sikap begitu wajar, seperti orang bertanya apakah dia sudah makan atau belum, pertanyaan yang tidak seperti ejekan atau ancaman.

Tentu saja dia menjadi heran dan menjawab.

"Wah, tentu saja belum, Nona! Kalau aku bosan hidup tentu harus mati, dan kalau mati mana bisa menikmati hidup senang di sampingmu? Ha-ha-ha!"

Yan Cu sedang berduka hatinya, dia kehilangan kegembiraan.

Andaikata dia tidak sedang berduka, tentu dia ingin mempermainkan perampok-perampok ini.

Sekarang ia menarik napas panjang, dan berkata jengkel.

"Kepala rampok, kau ajaklah anak buahmu pergi dari sini dan jangan menggangguku lagi. Kalau kau nekat dan membuat aku marah, kalian semua akan mampus. Padahal aku tidak suka membunuh orang. Pergilah!"

Yan Cu memang terlalu cantik dan terlalu halus sikapnya sehingga ucapannya itu pun tidak kelihatan seperti ancaman, lebih lucu kedengarannya daripada menyeramkan hati para perampok yang kasar itu.

Tentu saja mereka itu tertawa geli mendengar ini.

Kepala perampok itu pun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha, wanita yang cantik seperti bidadari! Tidur pun manis, sadar lebih cantik, dan marah-marah makin denok! Ha-ha-ha, nona manis calon isteriku, tidak usah kau turun tangan membunuhku, kecantikanmu sudah membuat aku setengah mati! Marilah, manis, kau obati aku, kalau tidak aku bisa mati di depan kakimu karena rindu. Ha-ha-ha!"

Kepala perampok itu menubruk maju seperti seekor harimau kelaparan, karena nafsunya membuat dia ingin sekali menerkam dara jelita ini.

Kini Yan Cu menjadi marah sekali, kemarahan yang timbul dari kedukaan hatinya.

Di dalam kedukaannya itu memang ada perasaan marah kepada Biauw Eng dan Hun Bwee yang telah menawan Keng Hong dan hanya kerena Keng Hong yang melarangnya dan karena keyakinannya bahwa Keng Hong mencinta Biauw Eng maka tadinya ia menahan kemarahannya terhadap kedua orang gadis itu dan tidak turun tangan mencegak mereka menawan Keng Hong.

Kini semua kemarahannya mendapat jalan keluar dan ditumpahkan kepada para perampok yang kurang ajar itu.

Melihat kepala perampok itu dengan mata liar dan mulut menyeringai maju menubruknya, Yan Cu cepat mendahuluinya dengan sambaran kaki kirinya menendang.

Gerakan kakinya tentu saja amat cepat bagi kepala perampok yang kasar itu sehingga dia tidak sempat menghindar lagi ketika kaki yang kecil itu melayang.

"Krakkk!"

"Wadouhhhhhh..... aaahhhhh.....!"

Tubuh kepala perampok itu terjengkang dan terbanting ke atas tanah di mana dia menggunakan kedua tangan menekan-nekan dadanya dan berkelojotan.

Tulang-tulang iganya patah-patah dan melesak ke dalam rongga dada!

Melihat peristiwa yang tak tersangka-sangka ini, para perampok sejenak tercengang dan melongo.

Akan tetapi kemudian mereka menjadi marah sekali dan bagaikan segerombolan anjing srigala memperebutkan tulang, dua belas orang perampok itu menerjang maju.

Mungkin karena hati dan pikirannya masih penuh denan bayangan Keng Hong dijadikan tangkapan orang, kini melihat banyak lengan terulur ke arahnya hendak menangkapnya membuat kemarahan hati Yan Cu makin menjadi-jadi.

Mulutnya mengeluarkan pekik kemarahan dan kini kaki tangannya bergerak cepat sekali, tubuhnya menyambar-nyambar dan terdengarlah jerit-jerit kesakitan dan roboh pula dua belas orang itu satu demi satu, tak kuasa bangkit kembali karena dalam kemarahannya Yan Cu telah menggunakan tenaga sinkang untuk memukul atau menendang dua belas orang yang berebut hendak menangkapnya itu!

Hanya beberapa menit saja berlangsungnya pertandingan yang berat sebelah itu, seperti seekor burung garuda dikeroyok dua belas ekor anak ayam!

Kini Yan Cu berdiri tegak dengan kedua tangan masih siap menghadapi pengeroyokan selanjutnya, matany mengerling ke kiri kanan penuh kemarahan.

Akan tetapi, ketika ia mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lagi yang menyerangnya kecuali tiga belas batang tubuh yang berserakan di sekelilingnya, sebagian besar sudah mati dan yang masih bergerak hanya mereka yang sedang sekarat berkelojotan, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.

Muka gadis itu menjadi agak pucat.

Belum pernah selama hidupnya ia melakukan pembunuhan massal seperti ini.

Ia merasa ngeri dan bergidik memandangi korban-korban kemarahannya.

Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan tempat yang menimbulkan kengerian itu, melangkah pergi dan tak terasa begitu teringat kepada Keng Hong ia menangis lagi sambil berjalan.

Makin berduka hatinya karena kalau saja ada Keng Hong, kiranya dia tidak akan mengalami peristiwa tadi dan tidak harus membunuhi orang, sungguhpun orang-orang yang dibunuhnya itu adalah orang-orang yang jahat.

"Keng Hong suheng....! Mengapa engkau mau saja ditawan......? Suheng..... Keng Hong.......... mengapa engkau begitu lemah..........?"

Orang yang sejak tadi membayanginya, di dalam persembunyiannya tadi terbelalak heran dan kagum menyaksikan sepak terjang gadis itu yang dalam segebrakan saja merobohkan setiap orang perampok dan dalam waktu singkat sekali membunuh tiga belas orang perampok kasar!

Hal ini sungguh amat tidak disangka oleh si pengintai, dan membuat dia makin tertarik maka kini pun diam-diam dia membayangi gadis cantik itu yang pergi sambil menangis.

Keluhan Yan Cu itu perlahan, akan tetapi saking sedihnya, ketika menyebut nama suhengnya, suara Yan Cu mengeras sehingga terdengar oleh pengintai itu.

Si pengintai kaget sekali mendengar disebutnya nama Keng Hong, selain kaget juga gembira karena dia segera meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan sekali meloncat saja pengintai ini telah berada di depan Yan Cu.

Yan Cu sedang berduka, namun pendengarannya amat tajam.

Ia mendengar gerakan orang dan cepat mengangkat muka memandang.

Melihat bayangan berbaju hijau berkelebat.

Yan Cu bersikap waspada, dapat menduga bahwa ada orang pandai muncul dan sama sekali tidak boleh disamakan dengan gerombolan perampok yang terdiri dari orang-orang kasar tadi.

Tentu yang datang ini adalah pemimpin perampok yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi sekali ini Yan Cu kecelik dan ia memandang pemuda yang berdiri di depannya itu dengan mata terbelalak dan pandang mata terheran.

Yang berdiri di depannya adalah seorang pemuda yang amat tampan dan gagah sekali, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, berpakaian warna hijau dengan model sastrawan, sikapnya halus dan pemuda itu berdiri sambil memberi hormat kepadanya.

Pemuda itu adalah Yap Cong San, jago muda dari Siauw-lim-pai.

Setelah pemuda ini menerima dua buah kitab pusaka Siauw-lim-pai, yaitu kitab-kitab I-kiong-hoan-hiat dan Seng-to Cin-keng, dari tangan Keng Hong, pemuda ini membawa dua buah kitab itu kepada suhunya.

Tiong Pek Hosiang, ketua Siauw-lim-pai yang sudah amat tua, menerima dua buah kitab itu dengan girang sekali.

Ketika kakek sakti ini mendengar penuturan muridnya tentang Keng Hong dan Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im, dia lalu menyuruh muridnya pergi menyusul Keng Hong dan membantu Keng Hong menghadapi wanita jahat itu sebagai pernyataan terima kasih dan membalas budi Keng Hong yang sudah mengembalikan dua buah kitab, Dan juga untuk menghukum Cui Im atas kematian Thian Ti Hwesio.

Demikianlah sebabnya mengapa kini tiba-tiba muncul Cong San di tempat itu dan secara kebetulan Cong San melihat Yan Cu dan amat tertarik hatinya.

Begitu mendengar gadis itu menyebut nama Keng Hong, tentu saja cepat meloncat keluar dan menemuinya.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika baru saja dia muncul dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, belum sempat mulutnya bicara, dara jelita yang mengguncangkan hatinya itu telah menerjangnya maju dan menyerangnya dengan pukulan maut!

Gerakan Yan Cu amat cepatnya dan pukulan tangan kanan yang meluncur ke arah dada kiri Cong San itu mengandung tenaga sinkang yang mengeluarkan angin keras!

"Ehhh......

jangan sekarang, Nona.......!"

Cong San cepat mengelak sambil berseru keras.

Sepasang mata yang bening itu berkilat.

Melihat wajah tampan itu tersenyum kepadanya, Yan Cu makim marah, menganggap bahwa pemuda yang ternyata benar lihai dan dapat mengelak pukulannya secara mudah itu tentu hendak berkurang ajar pula kepadanya, maka ia hanya membentak.

"Datuk perampok, kau pun harus dibasmi!"

Lalu ia menerjang pula, sekali ini dengan pengerahan kecepatannya sehingga secara bertubi kepalan tangan kanannya menonjok perut, disusul tangan kiri mencengkeram ke arah hidung, kemudian dibarengi kedua kakinya melakukan tendangan berantai kanan kiri mengarah pusar dan lutut!

Cong San makin terkejut.

Serangan ini benar-benar amat berbahaya!

Pukulan ke perut terpaksa dia tangkis sambil mengerahkan tenaga lunak karena dia tidak ingin mengadu tenaga keras lawak keras khawatir melukai lengan berkulit halus itu, akan tetapi cengkeraman pada hidungnya membuat dia kaget dan cepat dia miringkan kepala, dan ketika dua tendangan susul-menyusul menyambar, dia berseru kaget.

"Wah, galak.....!"

Dan terpaksa dia meloncat ke belakang menghindarkan diri.

Yan Cu menjadi penasaran dan marah sekali.

Lupa ia akan kesedihannya karena kini kemarahan menguasai hatinya dan membuat ia lupa segala.

Dengan muka merah dan mata berapi ia menudingkan telunjuknya ke arah hidung Cong San sambil memaki.

"Kau bilang aku galak? Memang aku galak, akan tetapi engkau ceriwis, cabul, tidak sopan, jahat dan keji, tukang merampok dan memperkosa........"

"Wah, wah....... cukup, Nona! Aku bukan orang jahat.....!"

Cong San menangkis dengan kata-kata menyangkal sambil bersikap waspada karena agaknya nona yang amat jelita ini pun amat galak.

Yan Cu tertawa mengejek.

"Serrrrr!"

Jantung Cong San membuat loncatan salto di dalam rongga dadanya dan agaknya terbanting kembali dalam keadaan terbalik karena debar jantungnya kini sampai terdengar oleh telinganya, amat keras!

Melihat wajah itu tertawa benar-benar membuat dia terpesona, apalagi kini melihat mulut yang biarpun tertawa mengejek masih terlalu manis tampak olehnya itu mengeluarkan kata-kata, membuat pandang matanya seolah-olah melekat pada sepasang bibir yang bergerak-gerak itu.

"Tidak jahat? Engkau mengintai aku secara sembunyi, masih bilang bukan orang jahat? Hayo katakan, mengapa engkau mengintai dan membayangiku!"

Sampai lama Yan Cu menanti, pemuda itu tidak menjawab, hanya melongo memandang mulutnya.

Memang Cong San tidak mendengar ucapan dan pertanyaan tadi.

Pemuda ini masih terpesona, seperti melayang semangatnya, debar jantungnya yang keras membuat telinganya terngiang-ngiang dan tidak dapat menangkap kata-kata Yan Cu.

Bagaimana mungkin ada mata seindah itu?

Cong San bukan seorang pemuda mata keranjang.

Jauh daripada itu.

Selama berada dalam gemblengan Tiong Pek Hosiang di Siauw-lim-si, kakek ini selain mengajarkan ilmu silat tinggi, juga mengajarkan kebatinan dan karena itu dia tidak pernah memikirkan wanita.

Karena batinnya yang kuat dan dasar susilanya tebal, tidaklah mudah kecantikan wanita menggiurkan hati pemuda jago Siauw-lim-pai ini.

Akan tetapi, sekali ini berhadapan dengan Yan Cu, dia benar-benar terpesona dan kehilangan akal, seolah-olah matanya menjadi silau seperti langsung memandang cahaya matahari di tengah hari!

"Heiii!

Jawab pertanyaanku!!"

Yan Cu membentak makin marah.

"Eh.....! Ohhh.....! Apa..... apa yang kau kehendaki, Nona?"

Cong San bertanya gugup.

Akan tetapi karena tidak ingin mendapat kesan buruk, otomatis pemuda ini tersenyum ramah.

Kembali Yan Cu menganggap senyum yang membuat wajah itu makin tampan sebagai senyum kurang ajar, seperti senyum kepala rampok tadi.

Kemarahannya memuncak dan ia memaki.

"Cengar-cengir seperti monyet kurang ajar!"

Dan serta merta gadis ini sudah mencabut sebatang pedang.

Tampak sinar berkilat dan ketika pedang itu digerakan menyerang Cong San, terdengar bunyi berdesing dan pedang berubah menjadi gulungan sinar putih menyilaukan mata.

Gulungan sinar ini berkelebat menyambar dan hendak "mengalungi"

Leher Cong San!

Tentu saja pemuda ini kaget setengah mati, dan cepat mengelak.

Kalau lehernya dikalungi rangkaian bunga atau lebih hebat lagi dikalungi kedua lengan berkulit halus nona itu, tentulah amat menyenangkan.

Akan tetapi dikalungi pedang!

Tujuh kali berturut-turut sinar pedang menyambar, akan tetapi dengan cekatan dan tubuh ringan sekali Cong San dapat mengelak.

Dia amat terkejut menyeksikan kehebatan gerak dan serangan yan Cu, akan tetapi lebih kaget dia mengenal pedang itu.

"Pokiam (pedang pusaka) Hoa-san-pai.....!"

Ia berseru ketika untuk ketujuh kalinya dia meloncat tinggi ke belakang untuk menghindarkan babatan pedang kepinggangnya.

Memang Yan Cu telah mencabut pedang pusaka Hoa-san-pai yang oleh Keng Hong diserahkan kepadanya bersama pusaka-pusaka yang lain.

Ia menahan serangnya, sebagian karena kagum sekali menyaksikan betapa pemuda itu dengan tidak banyak kesukaran dapat menghindarkan serangan-serangannya, dan sebagian lagi karena tertarik mendengar seruan yang menyatakan bahwa pemuda ini mengenal pokiam dari Hoa-san-pai.

"kau mengenal Hoa-san Po-kiam? Dan masih tidak cepat-cepat minggat dari sini?"

Bentaknya. Cong San cepat memberi hormat, bersoja, tanpa dibalas oleh Yan Cu.

"Nona, harap maafkan, aku bukan orang jahat......"

Yan Cu membanting-banting kakinya tak sabar.

"Sudahlah, berapa kali kau hendak bilang bahwa kau bukan orang jahat? Seperti penjual kecap saja yang memuji-muji dagangan sendiri! Kau jahat atau baik, apa hubungannya dengan aku? Apa kau mau mencari muka dengan memuji-muji diri sendiri?"

"Wah...... wah.....!"

Cong San tak dapat bicara, menelan ludah dan mukanya menjadi merah sekali.

"Masih wah-wah-weh-weh mau apa lagi? Pergilah dan jangan mengganggu aku, dan jangan pula membayangiku!"

Akan tetapi Cong San masih belum pergi, menoleh pun tidak melainkan menunduk karena masih mengatur napasnya yang tidak karuan.

"Mau apa lagi?!"

Yan Cu membentak, pedang di tangannya siap menyerang.

"Maaf, Nona. Aku...... aku memang bersalah, membayangimu karena aku tadi melihat kau berjalan sambil menangis. Kemudian muncul perampok-perampok itu...... dan aku kagum melihat betapa engkau merobohkan mereka........."

"Hemmmm...... dan kau diam saja, ya? Laki-laki apa ini? Melihat seorang wanita diganggu perampok malah menonton gratis. Senang, ya? Pertunjukan menarik, ya? Sudahlah, aku jemu mendengar dongengmu, Pergilah!"

"Maaf......."

Yan Cu membanting kakinya lagi.

"Maaf....... maaf....... apa kau kira aku ini tempat orang minta maaf? Kalau mau minta maaf, pergilah ke kelenteng menebus dosa!"

Cong San makin gugup. Ia harus cepat menjelaskan, kalau tidak bisa berabe benar berurusan dengan gadis jelita yang galak ini.

"Begini, Nona. Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar. Melihat sepak terjangmu terhadap perampok-perampok itu, bagaimana aku berani lancang turun tangan? Seratus orang seperti mereka masih tidak akan sanggup mengganggumu. Aku sudah hendak pergi, akan tetapi aku tertarik mendengar engkau menyebut nama Keng Hong. Cia Keng Hong adalah sahabat baikku, dan aku justeru sedang pergi mencarinya. Dapatkah engkau menunjukan di mana adanya sahabat Cia Keng Hong?"

Tiba-tiba timbul harapan di hati Yan Cu.

Setelah agak lama melihat pemuda ini, ia pun merasa yakin bahwa pemuda ini bukan orang jahat dan kini mengaku sebagai sahabat suhengnya.

Agaknya pemuda ini pun lihai sekali.

Kalau pemuda ini membantunya menghadapi Biauw Eng dan Hun Bwee, kiranya mereka berdua akan dapat membebaskan Keng Hong!

Akan tetapi ia masih belum yakin benar.

Biauw Eng amat lihai, juga Hun Bwee wanita gila itu lihai sekali.

Dia akan mencoba dulu!

"Tidak percaya!

Engkau tentu akan mencelakakan suhengku Cia Keng Hong!"

Sambil berkata demikian, Yan Cu sudah menerjang maju lagi dengan Hoa-san Po-kiam, mengirim serangan hebat.

Cong San kaget.

Bukan hanya oleh serangan ini, akan tetapi mendengar pengakuan gadis ini sebagai adik seperguruan Keng Hong.

Dia cepat mengelak akan tetapi sinar pedang yang putih menyilaukan mata itu terus mendesaknya.

Biarpun dia merasa yakin akan dapat mengatasi gadis lihai ini, namun dengan tangan kosong menghadapi amukan pedang seperti itu, amatlah berbahaya.

Di samping ini, timbul pula di hatinya untuk menguji kelihaian gadis yang telah menjatuhkan hatinya tanpa dia sadari ini.

Orangnya cantik jelita, wataknya lincah, galak, apalagi sebagai sumoi dari Keng Hong, tentu kepandaiannya hebat.

Cepat dia pun mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang Im-Yang-pit yang berwarna hitam dan putih.

"Kau memaksaku, Nona. Apa boleh buat, marilah kulayani Nona berlatih sebentar!"

Yan Cu yang melihat pemuda itu memegang sepasang alat tulis, mendadak menghentikan serangannya.

Con San sudah menggerakan sepasang senjatanya, yang kiri siap menjaga diri yang kanan siap membalas serangan.

Ia sudah memasang kuda-kuda dengan sikap gagah, akan tetapi karena lawannya menghentikan serangan, dia pun melongo dengan tubuh memasang kuda-kuda.

"Engkau ini sengaja hendak menghinaku ataukah barangkali memang engkau sudah begini?"

Berkata "begini"

Yan Cu melintangkan telunjuknya di depan dahi.

Cong San mengkal hatinya.

Ingin dia membanting sepasang senjatanya.

Sialan benar!

Senjata yang ampuh darinya itu tidak dipandang mata, bahkan dia disangka sudah miring otaknya!

Ia mengendurkan urat-urat tubuhnya dan menghentikan kuda-kudanya, hatinya kecewa dan murung.

Susah payah dia tadi memasang gaya kuda-kuda agar kelihatan gagah.....

eh, malah disangka menghina atau gila!

"Nona, yang menghina itu aku ataukah engkau?

Sepasang Im-yang-pit ini adalah senjataku!"

Ia berkata setengah membentak, suaranya serak seperti ingin menangis.

Tiba-tiba Yan Cu tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

Biarpun ditutupi, masih tampak mulutnya merekah dan Cong San yang tadinya mengkal dan marah, sekaligus lenyap kemarahannya.

Hati yang panas mendadak menjadi dingin hangat melihat betapa wajah cantik itu kini benar-benar tertawa, bukan tertawa mengejek seperti tadi.

Dan setelah tertawa wajar, bukan main manisnya!

Manis memabukkan.

Kalah arak merah!

"Pena bulu itu senjatamu?

Hi-hi-hik!

Untuk apa?

Senjata untuk menulis bisa jadi, akan tetapi senjata bertanding ?Sobat, jangan kau main-main, sekali pedang pusaka ini membabat, engkau takkan dapat menulis lagi.

Lebih baik kau pergilah kembali ke bangku sekolahmu, belajar menulis sajak dengan tekun agar kelak bisa menjadi hak-su atau menjadi Siu-cai."

"Nona, kulihat engkau lihai, akan tetapi engkau kurang pengalaman sehingga tidak mengerti bahwa senjataku sepasang Im-yang-pit ini dapat melawan seratus buah pedang pusaka seperti yang kau pegang itu."

"Wiiihhhhh, sombong! Makan pedangku!"

Yan Cu kini meloncat maju dan langsung menyerang dengan pedangnya.

"Singgggg..... trang-cring-cringggg.....!!"

Yan Cu meloncat mundur dan memeriksa pedangnya.

Ternyata pedangnya tidak apa-apa.

Hatinya lega.

Pedang itu bukan miliknya dan harus ia kembalikan ke Hoa-san-pai dan sekarang ia hanya "meminjammya".

Kalau sampai rusak kan repot!

Ketika tadi tiga kali pedangnya ditangkis sepasang Im-yang-pit secara bergantian, ia merasa betapa tangan dan lengannyatergetar hebat dan benturan senjata yang ketiga tadi disusul totokan pit hitam ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang.

Tentu saja ia cepat menarik tangannyadan mencelat ke belakang.

Kini ia memandang pemuda itu dan berdiri tersenyum sambil memasang kuda-kuda.

Begitu gagah pemuda itu, dan wajahnya amat tampan.

Yan Cu menjadi panas.

"Kau kira aku kalah?"

Ia membentak dan kembali ia menerjang maju dengan amat ganas.

Cong San yang maklum bahwa gadis ini sudah memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu pedangnya juga tidak boleh dipandang ringan, Cepat bergerak mengelak, menangkis, dan tidak lupa membalas dengan totokan-totokan kedua senjatanya.

Tentu saja dia menotok secara hati-hati karena tidak ingin mencelakai gadis itu.

Pertandingan berjalan dengan seru.

Setelah mereka bertempur selama lima puluh jurus lebih, tahulah Cong San bahwa kepandaian gadis itu benar-benar amat lihai dan kalau saja dia bukan murid pilihan dari ketua Siauw-lim-pai sendiri, agaknya tidak akan mudah menahan serangan-serangan pedang yang demikian ganasnya.

Di lain pihak, hati Yan Cu yang tadinya menjadi girang mendapat kenyataan bahwa pemuda ini benar lihai sekali dan boleh diandalkan untuk membebaskan Keng Hong, makin lama menjadi makin penasaran.

Tadi ia sudah membuktikan kelihaiannya.

Tiga belas orang perampok liar ia robohkan dalam waktu singkat hanya dengan tangan kosong saja.

Masa kini menghadapi seorang pemuda baju hijau yang hanya memegang dua batang alat tulis yang pendek kecil saja ia sama sekali tidak mampu mendesak?

Apalagi melihat selama bertanding ini pemuda itu terus tersenyum ramah dan amat manis kepadanya, pandang mata pemuda itu begitu........

entah bagaimana dia sendiri tidak tahu, pendeknya pandang mata yang membuat jantungnya berdebar dan kedua pipinya terasa panas karena malu.

Sikap pemuda ini ia anggap mengejek dan membuat ia merasa makin penasaran!

Dia tidak boleh sampai kalah!

Kalau kalah, tentu pemuda itu akan memandang rendah kepadanya!

Dia harus membuktikan bahwa dia seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, seorang yang lihai, seorang gadis yang jarang terdapat bandingnya!

"Bocah sombong!"

Tiba-tiba Yan Cu membentak dan dalam suaranya terkandung isak penasaran dan kemarahan yang makin memanas.

Pedangnya berkelebat cepat sekali.

Cong San kaget.

Tak disangka bahwa gadis itu akan menjadi marah lagi.

padahal tadi sudah hilang marahnya.

Kalau dilanjutkan begini bisa berbahaya, pikirnya.

Memang dia mendapat kenyataan bahwa biarpun tingkat ilmu kepandaiannya lebih tinggi daripada gadis itu, namun selisihnya tidaklah banyak dan dia hanya dapat mengandalkan kematagannya dalam gerakan.

Ilmu silat gadis ini benar-benar dahsyat dan aneh.

Untuk merobohkannya pun tidaklah mudah.

akan tetapi kalau dipertahankan terus juga akan berlarut-larut dan menjadi berbahaya bagi kedua fihak.

"Nona, sudahlah, Nona...... mari kita bicara....... aku mengaku kalah........!"

"Siuuuuttttt...... singggg....... cringggg......!"

Kembali pedang bertemu dengan sepasang pit yang disilangkan.

"Tidak! Aku tidak sudi bicara denganmu! Aku tidak sudi kau beri hadiah dengan mengaku kalah! Coba kau kalahkan aku dengan benar-benar kalau mampu! Aku tidak takut mati!"

Yan Cu yang merasa penasaran dan merasa malu kalau kalah itu sudah menyerang lagi.

Melihat pedang itu meluncur ke arah dadanya, Cong San menangkis dengan tangan kiri yang memegang pit putih, akan tetapi sengaja mengurangi tenaga sehingga pedang lawan itu hanya menyeleweng sedikit ke pinggir dan masih menyerempet pangkal lengan kirinya.

Secepat kilat dia pun membarengi dengan menotok pergelangan tangan kanan Yan Cu yang memegang pedang itu dengan pit hitamnya.

Yan Cu merasa lenganya lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangannya!

Cong San berdarah pada pangkal lengan kirinya.

Baju hijaunya robek berikut kulit dan sedikit dagingnya.

Ia membungkuk, mengambil pedang dan menyerahkan pedang itu kepada Yan Cu sambil berkata.

"Sudah kukatakan, Nona. Aku mengaku kalah. Agaknya engkau belum puas kalau belum melukai aku."

Sejenak Yan Cu tercengang ketika melihat pangkal lengan dari lawannya berdarah.

Akan tetapi sebagai seorang ahli yang mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya, ia melihat bahwa luka itu tidak ada artinya sama sekali, hanya luka kulit dan sedikit daging.

Ia menerima pedangnya dengan kasar dan berkata lagi.

"Aku belum menang atau kalah! Pedangku jatuh akan tetapi lenganmu terluka. Kita masih belum ada yang menang atau kalah. Hayo lanjutkan!"

Ia sudah siap lagi dengan pedangnya, ditodongkan ke depan. Cong San menggeleng kepalanya.

"Aku sudah menerima kalah, tidak akan melawan lagi."

Berkata demikian, Cong San melemparkan kedua senjatanya ke atas tanah di depan kaki gadis itu.

Sikap pemuda ini mengingatkan Yan Cu kepada sikap Keng Hong yang juga mengalah dan "pasrah bongkokan"

Kepada Biauw Eng. Maka ia menjadi makin marah.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 3

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert