Ceritasilat Novel Online

Gelang Kemala 7

Eps 7 Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Gelang Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Gelang Kemala - Kho Ping Hoo.

Bahkan nama besar pendekar sakti yang tadinya amat terkenal di dunia persilatan seperti Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya yang saktl pula, lebih suka mengasingkan diri dan tidak ada orang mengetahui dl mana adanya.

Hanya dikabarkan bahwa mereka mengasingkan diri dl Pulau Es, sebuah tempat yang penuh rahasia pula dari tidak ada orang lain tahu di mana letaknya.

Dia pun tidak mendesak lebih jauh untuk menanyakan di mana dan siapa guru pemuda itu.

"Sekarang lebih mantap hatiku untuk menugaskan engkau membantu pemerin-tah dalam mencegah terjadinya pemberontakan, Thian Lee. Menurut berita yang kuterlma, Pangeran Tua itu me-ngumpulkan tokoh-tokoh kang-ouw dengan niat untuk menyingkirkan para pangeran yang tidak menyetujui dan menentang maksud jahatnya; Akan tetapi sebetulnya hal itu tidaklah terlalu dikhawatirkan. Bukankah di istana Kaisar terkumpul pula banyak jagoan yang berilmu tinggi? Bah-kan seorang di antara Empat Datuk Be-sar, yang paling tekenal, yaitu Pak-thian-ong Dorhai, kini juga menjadi seorang penasihat Kaisar, bukan?"

"Ah, justeru Pak-thian-ong itu yang berbahaya. Saya melihat dia pun berada di istana Pangeran Tua."

"Benarkah itu?"

Souw Tek Bun berseru kaget.

"Benar, Paman. Ketika itu, pada suatu malann saya hendak melakukan penyelidikan di rumah Pangeran Tua. Mendadak saya melihat berkelebatnya bayangan orang dan kiranya ia adalah puteri Pangeran Tang Gi Su yang bernama Tang Cin Lan. Gadis itu dengan beraninya masuk ke istana itu untuk menantang seorang di antara jagoan yang berada di situ bernama Liok-te Lo-mo. Nah, pada saat itulah muncul Pak-thian-ong menandingi gadis itu. Melihat keadaan berbahaya, saya lalu menyelamatkan gadis puteri pangeran itu dan melarkannya keluar."

Thian Lee, gadis itu nampaknya gagah perkasa juga, sampai ia berani memasuki istana Pangeran Tua. Berarti memasuki guha harimau'"

Seru Lee Cin kagum.

"Memang ia seorang yang gagah perkasa, murid dari Pek I Lokai,"

Jawab Thian Lee.

"Wah, pantas saja ia gagah pferkasa. Aku mengenal Pek I Lokai sebagai seorang tokoh yang berllmu tinggi. Bahkan Empat Datuk Besar juga tidak berani sembarangan menghadapi dia. Dan kalau gadis itu berani, juga tidak terlalu mengherankan. Selain sebagai murid Pek I Lokai tentu ia lihai sekali, juga ayahnya, Pengeran Tang Gi Su, adalah se-orang pejabat tinggi yang dipercaya benar oleh Sri Baginda Kaisar. Para peja-bat tinggi juga takut kepadanya karena dia adalah seorang pengawas para pejabat tidak segan-segan akan bertindak kalau ada pejabat yang menyeleweng. Dia adalah adik dari Pangeran Tua yang bernama Tang Gi Lok."

"Agaknya Paman mengetahui banyak tentang para pangeran dikota raja,"

Kata Thian Lee kagum.

"Sekarang engkau jangan terlalu lama di sini, Thian Lee. Kebalilah ke kota raja dan aku akan memberimu dua buah surat. Yang pertama untuk seorang panglima bernama Gui Tiong In. Gui-ciangkun ini dahulu juga seorang pendekar yang berjuluk Hok-liong-kiam (Pedang Penakluk Naga) dan dialah yang mewakili kerajaan hadir ketika diadakan pemilihan bengcu. Surat yang ke dua adalah untuk dihaturkan kepada Sri Baginda Kaisar sendiri."

Thian Lee terkejut. Membawa surat untuk Kaisar? Agaknya Souw-pangcu melihat kekagetan pemuda itu.

"Jangan khawatir, Thian Lee. Lebih dulu serahkan suratku untuk Gui-ciangkun itu. Dialah yang akan membawamu menghadap Kai-sar dan menyerahkan suratku. Kaisar adalah seorang yang amat bijaksana dan beliau menghormati orang-orang dunia persilatan. Setelah engkau menghadap Sri Baginda Kaisar, selanjutnya engkau hanya memenuhi perintahnya saja."

"Baiklah, Paman,"

Kata Thian Lee. Ayah, aku akan ikut Thian Lee. Aku dapat membantunya dalam pekerjaan yang berbahaya itu,"

Kata Lee Cin.

Souw Tek Bun sudah dapat menyelami watak puterinya ini, maka dia pun tidak melarangnya karena dalam suara gadis itu sudah terkandung tekad yang pasti dan tidak mungkin dapat dibantah.

Selain itu, dia pun maklum akan kelihaian puterinya sehineea pantas kalau membantu ThianLee.

"Bagus, aku girang sekali kalau engkau juga membaktikan dirimu kepada Sri Baginda Kaisar. Akan tetapi engkau jangan sembrono dan melakukan tindakan sendiri, Lee Cin. Karena engkau menjadi pembantu Thian Lee, dalam segala hal engkau harus menurut apa yang dikata-kan oleh Thian Lee."

"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan menjadi pembantu yang taat!"

Kata gadis itu dengan girang.

Di dalam hatinya, Thian Lee sebetulnya kurang setuju di-bantu oleh Lee Cin yang suka bertindak ugal-ugalan, akan tetapi untuk menolak tentu saja dia merasa sungkan, terutama sekali terhadap Souw Tek Bun yang kini menjadi ayah Lee Cin.

Demikianlah, setelah dua buah surat itu ditulis oleh bengcu itu, pada hari itu juga Thian Lee bersama Lee Cin menuruni kembali Pegunungan Hong-san dan melakukan perjalanan kembali ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan dari Hong-san ke kota raja yang memakan waktu beberapa hari itu, Lee Cin memperlihatkan perasaan hatinya kepada Thian Lee dalam sikap dan pelayanan.

la selalu memperlihatkan perhatiannya, dan di waktu mereka makan, ia yang memilihkan warung makan, bahkan kalau terpaksa harus menyediakan makanan sendiri di perjalanan yang jauh dari kota atau du-sun, ia mencari binatang hutan dan di-panggangnya.

la memilihkan daging yang paling enak untuk Thian Lee.

Bahkan ia menyediakan dirinya untuk mencucikan pakaian Thian Lee yang kotor.

Semua sikap yang manis ini sungguh membuat Thian Lee merasa terharu sekali.

Kalau saja hatinya tidak terikat oleh Cin Lan yang membuatnya tak pernah dapat melupakannya, agaknya tidak terlalu sukar baginya untuk menanggapi kasih sayang yang diperlihatkan seorang gadis seperti Lee Cin.

Akan tetapi kini dia sudah hampir merasa yakin bahwa dia rnencinta Cin Lan.

Buktinya, tak pernah dia dapat melupakan dan dia amat merindukannya.

Sungguh bodoh, kadang dia memaki diri sendiri.

Bagainana dia dapat mengharapkan seorang gadis puteri pangeran?

seorang gadis bangsawan tinggi yang kaya raya?

Sedangkan dia itu apa?

Miskin dan sebatang kara, tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan.

Baru ayah gadis itu saja sudah memandang rendah kepa-danya.

Dia tahu betapa bodohnya untuk jatuh cinta kepada puteri pangeran akan tetapi agaknya hatinya tidak menurut.

Hatinya selalu merindukan gadis bangsawan itu.

Sebetulnya Lee Cin lebih pantas baginya.

Lee Cin juga seorang gadls petualang, biarpun kini menjadi puteri bengcu, namun ayahnya pun hanya se-orang pertapa yang hidup sederhana.

Mereka berdua sama-sama petualang di dunia kang-ouw, tidak seperti Cin Lan yang hidup di dalam sebuah istana!

Cinta asmara memang sesuatu yang aneh.

Tidak mengenal siapa saja, dapat diserangnya.

Tidak mengenal waktu, tem-pat atau keadaan.

Dalam keadaan bagai-manapun orang dapat jatuh cinta.

Kalau sudah jatuh cinta, maka tidak ada lagi harta, kedudukan, atau bahkan rupa.

Bagi seorang yang mencinta, segalanya yang ada pada diri orang yang dicinta itu selalu baik, selalu indah dan menarik.

Kalau menurut perhitungan, Thian Lee semestinya memilih Lee Cin daripada Cin Lan.

Banyak hal yang mendorongnya memilih Lee Cin, kalau menurutkan akal sehat, Lee Cin keadaannya cocok dengan dirinya, sama-sama orang kecil yang bukan hartawan bukan bangsawan, sama-sama petualang kang-ouw.

Juga Lee Cin tidak kalah cantik jelitanya dibandingkan Cin Lan.

Lebih dari itu, Lee Cin mencintanya.

Mau apa lagi?

Akan tetapi, hatinya yang sudah tertusuk panah asmara itu lebih memilih Cin Lan.

Padahal menurut perhitungan akal, tidaklah mungkin bagi dia untuk mempersunting Cin Lan.

Gadis itu puteri pangeran, puteri bangsawan yang kaya raya, dan lebih dari itu, gadis itu pun belum tentu mau kepadanya, belum tentu mencinta-nya, bahkan rasanya tldak mungkin seorang puteri pangeran dapat jatuh cinta kepada seorang yatim piatu miskin seperti dia!

Kini, dalam perjalanan ke kota raja sikap Lee Cin jelas sekali memperlihatkan cintanya kepadanya.

Dia merasa kasihan sekali kepada Lee Cin dan merasa berkewajiban untuk menghentikan sikap itu.

Dia harus mengaku terus terang kepada Lee Cin, bukan saja bahwa dia tidak mencinta Lee Cin melainkan suka sebagai seorang sahabat saja.

Lebih lagi, dla harus mengaku terus terang bahwa dia mencinta gadis lain.

Kalau hal ini tldak segera dia lakukan, maka siap Lee Cin akan terus seperti itu dan hal ini merupakan gangguan besar sekali baginya.

Benar dia harus mengaku terus terang!

Mereka tiba di sebuah bukit kecil yang sunyi.

Matahari telah naik tinggi dan mereka sejak pagi telah melakukan perjalanan mendakl bukit-bukit yang melelahkan.

"Kita beristirahat sebentar, Lee Cin."

"Ah, lelahkah engkau, Thian Lee? Kalau begitu, sebaiknya kita beristirahat dulu. Itu di sana ada pohon yang teduh, kita mengaso di sana,"

Kata Lee Cin dan mereka menuju ke bawah pohon yang memberi keteduhan itu.

"Ini ada batu yang licin dan bersih, Thian Lee. Kau duduklah di sini!"

Kata pula Lee Cin sambil menyapu sebuah batu besar dengan tangannya. Thian Lee menghela napas lalu duduk di atas batu itu.

"Lee Cin, engkau selalu bersikap manis dan penuh perhatian se-lama beberapa hari ini kepadaku. Kenapa engkau begini baik kepadaku, Lee Cin?"

Thian Lee bertanya dan sudah siap untuk bicara terus terang.

"Masih perlukah engkau bertanya lagi, Thian Lee? Aku cinta padarnu, itulah sebabnya. Haruskah kujawab lagi? Engkau tentu sudah mengetahui akan perasaan hatiku kepadamu, Thian Lee,"

Kata Lee Cin seolah menegur. Keterlaluan pemuda itu, pikirnya. Masih bertanya lagi tentang sikap baiknya! Thian Lee menghela napas.

"Lee Cin, aku tahu dan karena itulah maka aku minta penjelasan darimu. Semua ini harus kauhentikan, Lee Cin. Bersikaplah wajar saja, sebagai seorang sahabat biasa. Ketahuilah bahwa aku hanya suka kepadamu, bukan mencinta. Aku suka dan kagum kepadamu, rasa suka seorang sahabat, Lee Cin. Engkau harus tahu benar akan hal ini."

Lee Cin menatap wajah pemuda itu dan tersenyum manis.

"Engkau sudah mengatakan hal itu dan aku cukup mengerti, Thian Lee. Akan tetapi aku tidak putus asa. Dari kesukaanmu itulah aku harapkan dapat berkembang menjadi rasa cinta, demikian kuharapkan, Thian Lee. Siapa tahu pada suatu saat engkau akan benar-benar merasa cinta kepadaku seperti perasaanku kepadamu."

Thian Lee menggeleng kepala.

"Tidak mungkin, Lee Cin. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepadamu atau kepada gadis manapun juga, karena aku...."

"Karena mengapa?"

Lee Cin mengejar dengan alis berkerut.

"Karena aku sudah memiliki seorang pilihan hati, aku telah mencinta seorang gadis maka tidak mungkin aku mencinta gadis lain. Tidak mungkin aku mencintamu dan ini harus kukatakan terus terang agar jangan engkau dipermainkan oleh harapanmu yang takkan tercapai. Maafkan aku, Lee Cin."

Thian Lee melihat betapa sepasang mata yang indah itu terbelalak dan muka itu berubah pucat sekali.

Dia tidak tega melihat ini dan ia menundukkan mukanya agar jangan terlihat olehnya wajah yang diselimuti kedukaan, kekecewaan dan keputus-asaan itu.

Tiba-tiba tangan Lee Cin bergerak ke arah pundak Thian Lee.

Dan begitu jari tangannya menotok jalan darah di kedua pundak, tiba-tiba saja tubuh Thian Lee menjadi lemas terkulai dan dia rebah miring di atas batu itu.

Bagaimana Thian Lee yang demikian lihai itu sampai dapat tertotok dengan mudah?

Sebetulnya Thian Lee dapat merasakan gerakan tangan Lee Cin tadi, akan tetapi sama sekali dia tidak menyangka bahwa Lee Cin hendak menotoknya.

Kalaupun Lee Cin menotoknya, dia pun akan dapat melindungi tubuhnya dengan kekebalan sin-kangnya.

Sama sekali dia tidak tahu dan tidak menduga bahwa Lee Cin menotoknya dengan ilmu It-yang-ci!

Ilmu totokan It-yang-ci yang dipelajari Lee Cin dari In Kong Thaisu Ketua Siauw-li-pai itu memang merupakan ilmu yang luar biasa sekali.

Biarpun Lee Cin belum sempurna benar melatih ilmu itu, namun daya to-tokannya sudah sehebat itu sehingga Thian Lee yang tangguh dapat juga di-buat tidak berdaya dan, roboh lemas di atas batu.

"Hayo katakan siapa perempuan membentak Lee Cin kepada Thian Lee. Thian Lee memandang kepada Lee Cin dengan mata penuh penyesalan. Tak disangkanya Lee Cin akan berbuat begitu. LeeCin, apa yang kaulakukan ini? Cepat bebaskan totokanmu,"

Katanya sabar dan tenang.

"Tidak, engkau telah menghancurkan harapanku. Engkau orang yang tidak tahu dicinta orang, tak mengenal budi! Hayo katakan siapa perempuan itu kepadaku! "Hemm, kalau kuberltahukan, engkau mau apa?"

Tanya Thian Lee.

"Mau apa? Mau membunuhnya! Tidak ada perempuan lain di dunia ini yang boleh memilikimu!"

Bentak Lee Cin.

"Hem, aku akan melindunginya dan mencegahnya,"

Kata Thian Lee.

"Boleh kaucoba! Hayo cepat katakan kepadaku, siapa namanya dan di mana tempat tinggal perempuan itu!"

"Aku tidak akan memberitahukan ke-'padamu, Lee Cin,"

Kata Thian Lee dengan sikapnya yang masih tenang.

Diam-diam dia mencoba menggerakkan hawa tenaga saktinya di bawah pusar, namun belum juga berhasil.

Totokan itu memang istimewa, membuat seluruh tubuhnya tak dapat digerakkan, kecuali mulut dan matanya.

"Kalau tidak kauberitahukan, aku akan membunuhmu! Kalau aku tidak dapat memilikimu, seluruh wanita di dunia ini pun tidak akan dapat nnemilikimu!"

Setelah berkata demikian, sekali tangarinyei bergerak, ia telah melolos pedang yang dibuat sabuk melilit pinggangnya.

"Singgg....!"

Pedang itu telah meno-dong dada Thlan Lee.

"Thian Lee, sekali lagl aku bertanya. Maukah engkau melu-pakan perempuan itu dan berjodoh dengan aku?"

"Tidak, Lee Cin!"

"Kalau begitu, matilah engkau!"

Pedang itu ia tusukkan, akan tetapi tepat pada saat ujung pedang sudah menyentuh baju Thlan Lee, gerakan itu dihentikan dan Lee Cin mengeluh.

"Lee Cin, engkau tidak akan mampu melakukan ini. Engkau bukan seorang wanita jahat, jangan berpura-pura menjadi wanita sesat yang kejam. Engkau tidak seperti ibumu, melainkan lebih menuruni watak gagah dari ayahmu!"

Kata Thian Lee, sedikit pun tidak merasa gentar walaupun tadi nyawanya telah bergantung pada sehelai rambut.

"Ihhh....!"

Lee Cin kemball rnengeluh, kemudian ia memejamkan matanya dan menahan napas. Tiba-tiba pedangnya diangkatnya tinggi-tinggi dan ia memben-tak.

"Matilah kau, Thian Lee!"

Pedang itu menyambar dengan kuat dan cepatnya ke bawah dengan sebuah bacokan.

"Crakkk!"

Batu itu terbelah dan tubuh Thian Lee terguling ke atas tanah karena batu itu terbelah dua tepat di samping tubuhnya.

Kiranya pada saat terakhir, Lee Cin bukan membacok tubuh Thian Lee melainkan membacok batu itu.

Thian Lee kini rebah telentang dan dia dapat melihat betapa gadis itu menu-tupi mata dengan kedua tangannya sam-bil menangis tersedu.

Dia merasa kasihan sekali.

"Lee Cin, maafkan aku...."

Katanya lirih dan ucapan ini membuat Lee Cin ynenangis semakin sedih, sampai terisak-isak.

"Lee Cin, aku tahu bahwa engkau seorang gadis yang baik sekali. Seandainya aku belum jatuh cinta kepada seorang gadis lain, kiranya tidak ada gadis yang leblh baik darimu bagiku, Lee Cin. Engkau gadis yang cantik, berilmu tinggi, dan berbudi baik. Percayalah, kelak eng-kau akan mendapatkan jodoh seorang pemuda yang jauh lebih baik dariku, terutama sekali pennuda yang dapat rnencintamu sepenuh hatinya. Engkau akan menemukan jodohmu sendiri, Lee Cin."

Pada saat itu, Thian Lee merasa ada gerakan di tan-tian (bawah pusar), maka dia lalu menekan hawa sakti itu ke atas untuk membebaskan totokan pada dirinya.

Lee Cin masih terisak dan menurunkan kedua tangan, menyimpan pedangnya.

"Thian Lee, aku... aku benci padamu. Aku tidak mau lagi bersamamu!"

La memandang dan terbelalak melihat betapa pemuda itu sudah bangkit duduk.

"Kau... kau sudah bebas dari totokan?"

"Kebetulan saja aku mampu menembus totokanmu dan membebaskannya, Lee Cin."

Hal itu sebetulnya dapat terjadi karena Lee Cin masih kurang sempurna melatih ilmu barunya, belum memperoleh tenaga yang tepat sehingga totokannya juga kurang mengandung tenaga yang diperlukan.

"Aku... aku benci padamu!"

Kata lagi Lee Cin sambil mengusap air matanya.

"Percayalah kepadaku, Lee Cin. An-daikata engkau tadi jadi membunuhku, engkau akan benci sekali kepada dirimu sendiri."

"Huh!"

Lee Cin membuang muka lalu meloncat pergi meninggalkan pemuda itu.

Thian Lee menarik napas panjang dan sampai lama dia duduk di atas batu yang terbelah dua oleh pedang Lee Cin tadi.

Dia termenung.

Hubungan antara pria dan wanita memang membutuhkan kejujuran.

Apa yang dia lakukan tadi sudah benar.

Kalau dia tidak berterus terang, berarti dia memelihara harapan Lee Cin, harapan yang akhirnya akan sia-sia belaka dan membuat gadis itu kelak akan menjadi lebih sedih lagi.

Dan dia pun harus berterus terang kepada Cin Lan.

Ya, benar!

Dalam urusan cinta dia harus jujur.

Mengapa merasa rendah diri?

Dalam kesempatan pertama, kalau dia bertemu dengan Cin Lan, dia akan mengakui cintanya!

Mungkin juga dia akan mengalami dan merasakan seperti apa yang dialami dan dirasakan Lee Cin.

Mungkin cintanya akan ditolak gadis bangsawan itu dan itu lebih baik daripada merahasiakannya, daripada mengharapharapkan hal yang belum tentu.

Dia akan mengaku cinta kepada Cin Lan!

Keputusan hatinya ini mendatangkan semangat kepadanya dan mengusir kegundahannya oleh urusan dengan Lee Cin tadi.

Dia lalu bangkit dan melanjutkan perjalanannya ke kota raja.

Tidak sukar bagi Thian Lee untuk menemukan di mana tempat tinggal Gui-ciangkun atau Gui Tiong In.

Nama pang-lima inl sudah terkenal sekali di kota raja, sebagai seorang panglima yang sudah banyak jasanya dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah perbatasan.

Setelah menemukan alamat Gui-ciangkun, Thian Lee lalu datang berkunjung.

Kepada para petugas keamanan dia memberitahukan siapa namanya dan apa kepentingannya hendak bertemu Gui-ciangkun.

Dia mengatakan bahwa dia membawa berita dari Souwbengcu.

Begitu mendengar bahwa ada seorang utusan dari Souw-bengcu minta mengha-dap, Guiciangkun segera menemui Thian Lee di sebuah kamar tamu yang tertutup.

Setelah bertemu, Thlan Lee memberi hormat dan memandang panglima itu dengan kagum.

Seorang panglima yang gagah berwibawa, berusia lima puluh tahun lebih.

Sebaliknya, Gui-ciangkun juga mengamati tamunya dan merasa heran bahwa Souw-bengcu mengutus seorang yang masih begitu muda untuk menemuinya.

"Ciangkun, saya Song Thian Lee utus oleh Souw-bengcu untuk menghadap Ciangkun,"

Kata Thian Lee memperkenalkan dirinya.

"Duduklah, Song-sicu dan kataki nlah, pesan apa yang harus kau sampaikan kepadaku,"

Kata Gui-cianekun mempersilakan tamunya duduk.

Thian Lee mengeluarkan sampul surat pertamli yang ditujukan kepada panglima itu, yang diterima oleh tuan rumah lalu dibacanya.

Wajah panglima itu nampak serius ketika dia membaca surat itu dan isinya tentu arnat penting karena dia mengulang pembacaannya.

Setelah selesai membaca, dia berkata kepada Thian Lee dan pandangannya terhadap pemuda itu sudah berbeda.

"Song-taihiap, saya sudah membaca banyak keterangan Souw-bengcu tentang diri dan kemampuan Tai-hiap, dan tentang pergolakan yang sedang terjadi di kota raja. Memang di sini sedang terjadi pembunuhan-pembunuhan aneh terhadap beberapa orang pangeran dan pejabat tinggi. Kalau benar apa yang dikemuka-kan bengcu ini, sungguh merupakan malapetaka besar. Dalam suratnya, Souw-bengcu menyebutkan bahwa engkau mem-bawa sepucuk suratnya untuk dihaturkan Sri Baginda Kaisar, benarkah?"

"Benar, Ciangkun. Suratnya ada pada saya .

"Baik, kalau begitu, mari sekarang juga engkau kuhadapkan Sri Baginda. Urusan ini terlalu penting dan berbahaya untuk ditunda-tunda lebih lama lagi."

Demikianlah, Thian Lee lalu diajak Gui-ciangkun untuk menghadap Sri Baginda Kaisar.

Sebagai seorang panglima kepercayaan, tidak ada kesukaran bagi Gui-ciangkun untuk menghadap Kaisar sewaktu-waktu.

Mendengar bahwa Gui-ciangkun mohon menghadap bersama seorang pemuda, Kaisar Kian Liong dapat menduga bahwa tentu panglimanya itu membawa berita yang amat penting.

Kalau tidak penting, tidak mungkin panglimanya itu berani mengganggunya.

Diai lalu memerintahkan pengawal untuk membawa kedua orang itu menghadapnya di taman bunga, di mana Kaisar itu sedang mencari angin.

Hawa udara pada siang hari itu memang panas.

Dia menyuruh para selir dan dayang yang tadi melayani dan menemaninya untuk pergi menjauh karena dia dapat menduga bahwa panglima itu tentu akan membicarakan sesuatu yang teramat penting dan yang tidak selayaknya didengarkan para selir dan dayang.

Juga para pengawal pribadinya diharuskan rnenunggu dan ber-jaga di luar pondok taman itu.

Gui-ciangkun dan Thian Lee dibawa oleh para pengawal ke pondok dalam ta-man itu.

Thian Lee sebelurnnya telah diberitahu oleh Gui-ciangkun tentang tata-cara menghadap Kaisar, maka ketika dia melihat Gui-ciangkun menjatuhkan diri berlutut, dia pun berlutut di samping panglima itu.

Daun pintu terbuka dan muncullah Kaisar.

Thian Lee hanya me-lihat ujung sepasang sepatu yang indah dan ujung celana dari sutera halus.

Dia tetap menundukkan mukanya dengan sikap hormat.

"Gui-ciangkun dan kau orang muda, kami ijinkan untuk bangkit dan masuk-lah!"

Terdengar suara yang lembut namun berwibawa.

Thian Lee menanti sampai Gui-ciangkun menghaturkan terima kasih dan bangkit, baru dia pun ikut bangkit, dengan kepala tetap ditundukkan.

Mereka melangkah masuk, berdiri dengan sikap hormat menanti Kaisar itu duduk.

"Kalian boleh mengambil tempat duduk . Barulah kedua orang itu berani duduk. Memang sikap Kaisar Kian Liong berbeda dengan kaisar-kaisar lain. Kalau berhadapan dengan orang kepercayaannya atau orang-orang dunia persilatan, dia menyuruh mereka duduk di kursi sehingga dia dapat mengajak mereka bicara dengan enak, dapat menatap wajah mereka. Hanya dalam sidang pertemuan resmi saja para ponggawa berlutut. Setelah mengambil tempat duduk, sekilas Thian Lee berani memandang wajah itu. Biarpun hanya sekilas, dia telah dapat melihat gambaran dar! Kai-sar yang amat terkenal sebagai kaisar yang bijaksana itu. Kaisar itu sudah tua, tentu ada. enam puluh tahun usianya, namun masih nampak sehat dan lebih 'nflttdla dari usianya. Sepasang matanya tajam seperti dapat menembus ke dalam lubuk hati yang dipandangnya.

"Nah, Gui-ciangkun, berita apakah yang kaubawa dan siapa pula orang muda ini? . Kaisar bertanya kepada Gui Ciangkun.

"Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba berani menghadap tanpa diperintah. Hamba hendak menghadapkan pemuda ini yang bernama Song Thian Lee dan dia adalah utusan dari Souwbengcu untuk menyampaikan sepucuk surat, dihaturkan kepada Paduka.

"Hemm, Souw-bengcu? Song Thian Lee, cepat serahkan surat dari Souw-bengcu itu kepada kami."

"Baik, Yang Mulia,"

Kata Thian Lee dan dia lalu mengeluarkan surat itu, maju berlutut dan sambil berlutut menyerahkan surat.

Setelah surat diterima oleh Kaisar, dia lalu mundur dan duduk lagi di atas kursinya.

Kaisar membaca surat dari Souw-bengcu itu.

Alisnya berkerut dan setelah selesai membacanya, dia lalu memandang kepada Thian Lee, lalu berkata.

"Song Thian Lee, yakin benarkah engkau akan apa yang kaubicarakan dengan Souw-bengcu tentang Pangeran Tua itu? Bahwa dia telah mengumpulkan orang-orang kang-ouw dengan niat buruk?"

"Hamba belum mendapatkan buktinya Yang Mulia. Akan tetapi melihat banyak tokoh sesat berkumpul di sana, kemudian melihat kenyataan bahwa orang-orang yang mencoba untuk membunuh Pangeran Tang Gi Su ketika hamba kejar melarikan diri ke dalam tempat tinggal Pangeran Tua, maka hamba merasa yakin."

"Kami telah menyerahkan urusan iru untuk diselidiki dan ditanggulangi oleh Pangeran Tang Gi Su. Akan tetapi sampai sekarang belum ada perkembangannya, sementara itu pembunuhan-pembunuhan masih terus berlangsung. Baiklah, engkau kuangkat menjadi panglima dan kutugaskan untuk membantu Pangeran Tang Gi Su melakukan penyelidikan sampai menemukan buktinya dan menghancurkan komplotan gelap ini, Song Thian Lee.

"Ampunkan kalau hamba berani memberi peringatan agar Paduka menjaga diri balk-baik dan berhati-hati terhadap Pak thian-ong Dorhai yang kabarnya telah menduduki jabatan penting di istana, Yang Mulia."

"Hemm, Dorhai telah menjadi seorang penasihat kami. Mengapa engkau berkata demikian?"

"Karena hamba pernah melihat dia berada di rumah Pangeran Tua, bahkan dia berusaha untuk menangkap puteri Pangeran Tang Gi Su."

Dengan singkat namun jelas Thian Lee lalu menceritakan pengalamannya ketika dia menolong Cin Lan dari tangan Pak-thian-ong Dorhai. Mendengar laporan ini, Sri Baginda Kaisar mengerutkan alisnya.

"Ahhh, beta-pa sulitnya mengukur isi hati orang-orang itu! Diberi anugerah kedudukan malah hendak memukul dari belakang. Song Thian Lee, engkau bersama Gu-ciangkun hubungllah Pangeran Tang Gi Su dan bekerja sama dengannya untuk menghancurkan komplotan ini kalau memang benar ada di dalam waktu yang secepat-cepatnya. Song Thian Lee, pangkatmu sekarang menjadi panglima muda keamanan istana dan kau kutugaskan untuk membantu Gu-ciangkun dan Pangeran Tang Gi Su. Nah, berangkatlah kalian dan cepat lakasanakan tugas kalian dengan baik."

Thian Lee berlutut dan menghaturkan terima kasih.

Gui-ciangkun lalu mendapat perintah untuk mengatur pemberian perlengkapan pakaian panglima muda bagi Thlan Lee.

Keduanya lalu mengundurkap, diri dan keluar dari istana.

"Selamat, Song-ciangkun!"

Setelah tiba di luar istana, Gui-ciangkun memberi, selamat kepada rekannya yang masih muda.

"Engkau beruntung sekali. Agaknya Sri Baginda Kaisar telah sangat mempercayai surat Souw-bengcu sehingga tanpa, menguji lagi beliau telah menganugerahkan kedudukan panglima muda kepadamu"

Biarlah nanti aku yang mengatur persediaan perlengkapan untukmu."

"Hal itu tidak perlu tergesa-gesa, Gui-ciangkun. Kalau aku bertugas melakukan penyelidikan, bagiku leblh leluasa kalau aku berpakaian biasa saja. Kelak saja kalau keadaan sudah aman, baru aku akan mengenakan pakaian panglima muda itu."

Gui Ciangkun mengangguk angguk.

"Akan tetapi, setidaknya engkau harus memegang surat tanda pangkatmu. Biar nanti kubuatkan, agar setiap saat dapat kau pergunakan dan perlihatkan kepada para pejabat lain."

"Harap Ciangkun pulang lebih dulu. Aku ingin menemui seorang sahabatku bernama Lauw Tek. Pendekar inilah yang banyak membantuku dalam menyelidiki gerakan yang dilakukan Pangeran Tua dan dia kini masih selalu menanti berita dariku di sebuah kuil tua,"

Kata Thian Lee. Gui-ciangkun menyetujui.

"Kalau sudah selesai, cepat engkau datang ke rumahku karena engkau harus segera mengadakan hubungan dengan Pangeran Tang Gi Su. Untuk itu aku akan memberi surat perkenalan kepadamu."

Thian Lee mengangguk dan jantungnya berdebar.

Dia tentu saja sudah mengenal Pangeran Tang Gi Su karena sudah pernah bertemu dan membayangkan dia akan berkunjung ke istana pangeran itu membuat jantungnya berdebar tegang karena hal itu berarti bahwa dia akan bertemu dengan Tang Cin Lan!

Hari telah sore ketika dia memasuki kuil di mana biasanya Lauw Tek berada.

Kuil itu biasanya menjadi tempat pertemuan mereka.

Dan benar saja, Lauw Tek teiah berada di situ dan agaknya telah lama menunggunya.

"Ah, engkau sudah kembali, Song-te? Bagaimana kabarnya dengan bengcu? Sudahkah engkau bertemu dengannya?"

Seru. Lauw Tek gembira melihat sahabatnya itu. Dia tahu bahwa Thian Lee berkunjung ke Hong-san, bahkan dia pun menganjurkan pemuda itu menghubungi bengcu.

"Sudah, Lauw-twako. Sudah kuceritakan semua kepadanya bahkan aku men-dengar banyak dari bengcu."

Thian Lee menceritakan pengalamannya bertemu dengan Souw Tek Bun.

Akan tetapi dia tidak bercerita tentang Lee Cin.

Dia menceritakan betapa dia membawa surat untuk Gui-ciangkun dan untuk Kaisar, dan betapa kini oleh Kalsar dia diangkat rhenjadi panglima muda dan ditugaskan melakukan penyelidikan dan menanggulangi komplotan pemberontak itu.

"Wah, engkau memang patut menjadi panglima, Song-te. Dan aku girang sekali kalau engkau dapat memberantas komplotan pemberontak."

"Aku harus menghubungi Pangeran Tang Gi Su, karena kaisar telah menye-rahkan tugas membongkar komplotan itu kepada Pangeran Tang Gi Su."

"Bagus! Pangeran Tang Gi Su adalah seorang di antara para pejabat yang baik dan adil. Dengan bekerja sama yang baik tentu kalian akan mampu membongkarnya."

"Akan tetapi kami membutuhkan bantuan, Lauw-twako. Sebagai penyelidik, engkaulah yang berjasa dan yang lebih dahulu mengetahui tentang Pangeran Tua. Karena itu, mari ikutlah denganku meng-hadap Pangeran Tang Gi Su."

Setelah dibujuk, akhirnya Lauw Tek menyatakan bersedia membantu dan menghadap Pangeran Tang Gi Su.

Demi-kianlah, pada keesokan harinya, dengan berbekal surat dari Guiciangkun, Thian Lee mengajak Lauw Tek untuk berkun-jung ke rumah Pangeran Tang Gi Su.

Ketika Pangeran Tang Gi Su keluar menemui dua orang tamu yang minta bertemu dengan dia, pangeran ini nampak terkejut memandang kepada Thian Lee.

"Kau....? Bukankah engkau... pemuda yang malam hari itu telah mengusir pembunuh....?"

Thian Lee cepat memberi hormat.

"Benar sekali, Taijin. Saya adalah Song Thian Lee. Akan tetapi kedatanganku sekali ini adalah melaksanakan perintah Sri Baginda Kaisar dan ini saya membawa surat pengantar dari Panglima Gui Tiong In."

Thian Lee lalu mengeluarkan sepucuk surat dari Gui-ciangkun dan menyerahkan kepada pangeran itu yang masih nampak terkejut dan heran.

Ketika Pangeran Tang Gi Su membaca isi surat pengantar Gui-ciangkun yang dikenalnya dengan amat akrab, dia semakin terkejut dan membelalakkan kedua matanya, ke mudian memandang kepada Thian Lee.' "Ah, Song-ciangkun!

Kiranya engkau telah diangkat sendiri oleh Sri Bagind untuk menjadi panglima muda keamanai istana?"

"Benar, Taijin. Dan saya ditugaskar bekerja sama dengan Taijin untuk mem-basmi komplotan pemberontak."

"Akan tetapi kenapa engkau tidaki naiengenakan pakaian panglima?"

"Saya hendak menjadi penyelidik, tentu tidak leluasa kalau mengenakan pakaian seperti itu."

Pangeran Tang Gi Su mengangguk-angguk dan rnemandang kagum.

Pemuda yang tadinya pelayan rumah makan inp telah menjadi panglima muda, diai gkat sendlri oleh Kaisar!

Akan tetapi, mengingat akan kepandaiannya yang tinggi, memang pantas dia menjadi panglima.

"Persoalannya tidaklah sedemskian mudahnya, akan tetapi,.. siapakah temanmu ini?"

"Maaf, Taijin. Tadi belum sempat memperkenalkan. Dia ini bernama Lauw Tek, seorang pendekar yang juga menen-tang pemberontakan. Dialah yang pertama kali memberitahu kepada saya tentang adanya orang-orang kang-ouw di rumah Pangeran Tua. Lauw-twako ini seorang penyelidik yang ulung, maka saya bawa menghadap Taijin, barangkali Taijin berkenan mempergunakan tenaganya."

Pangeran Tang Gi Su mengangguk-angguk.

"Baik, makin banyak pembantu semakin baik. Mulai sekarang, engkau membantuku melakukan penyelidikan, Lauw Tek."

"Saya siap melaksanakan perintah Taijin,"

Kata Lauw Tek dengan sikap gagah.

"Tadi Taijin mengatakan persoalannya tidaklah sedemikian mudahnya, apa maksud Taijin?"

Tanya Thian Lee.

"Maksudku mengenai Pangeran Tua. Sejak dahulu, kakak tiriku itu memang seorang yang cerdik dan selalu berhati-hati. Biarpun kita sudah yakin bahwa semua pembunuhan itu dilakukan oleh oranR-oranR kang-ouw yang dikumpulkan di rumahnya, akan tetapi apa artinya kalau kita tidak mempunyai bukti. Dia pandai sekali berpura-pura dan menyembunyikan semua bukti. Kita harus dapat menemu-kan bukti tentang komplotan pemberon-tak itu. Sri Baginda Kaisar tentu juga tidak etuiu kalau kita turun tangan menyerbu ke sana tanpa adanya bukti nyata."

"Saya mempunyal akal, Taijin. Di sana, di antara para tokoh kang-ouw, terdapat pula seorang tokoh yang berjuluk Liok-te Lo-mo. Orang ini dahulu pernah saya kenal dengan baik, oleh karena itu, saya akan menemuinya dan ''saya akan menggabungkan diri dengan mereka membantu Pangeran Tua. Kalau saya sudah berhasil menyelundup ke sana dan mengetahui semua rahasianya, tentu akan mudah bagi Taijin untuk turun tangan."

"Sebuah siasat yang baik sekali!"

Seru Pangeran Tang Gi Su.

"Akan tetapi apakah tidak teramat berbahaya? Bagaimana kalau dia mengetahui bahwa engkau ada-lah seorang panglima muda?"

"Tidak ada yang mengetahui akan pengangkatan saya itu kecuali Gui-ciang-kun, Taijin. Saat ini belum ada orang lain mengetahuinya. Saya yakin siasat itu akan berhasil."

"Baiklah kalau begitu, kita hanya menanti hasil usahamu itu."

Setelah pertemuan itu selesai, Thian Lee memohon diri dan Lauw Tek diting-gal di rumah Pangeran Tang karena sejak saat itu dia telah diterima menjadi pem-bantu pangeran dan diberi tempat tinggal di belakang.

Ketika Thian Lee keluar dari ruangan dalam dan hendak keluar, tiba-tiba terdengar seruan halus.

"Song-twako....!"

Dia menengok dan berhadapan dengan Cin Lan!

Thian Lee merasa seluruh tubuhnya gemetar dan jantungnya berdebar penuh keharuan dan ketegangan.

Gadis itu nampak demikian cantik jelita sehingga dia seperti terpesona dan ttdak mampu mengeluarkan kata apa pun.

"Twako, engkau Song Thian Lee, bukan? Lupakah engkau kepadaku? Aku Cin Lan!"

"Nona, bagaimana aku dapat lupa kepadamu? Tak sedikit pun aku pernah lupa kepadamu!"

"Hemm, engkau sudah lupa, menyebut aku nona. Lupakah engkau bahwa namaku Cin Lan?"

"Maaf, Lan-moi... aku... rasanya tidak "^pHntas orang seperti aku...."

"Sudahlah, aku paling tidak senang kalau engkau sudah merendahkan diri seperti ini. Aku tadi mendengar bahwa Ayah menerima dua orang tamu. Kiranya engkaukah tamunya?"

"Benar, aku dan seorang lagi yang bernama Lauw Tek. Kini Lauw-twako telah diterima menjadi pembantu ayahmu sedaogkan aku... aku mempunyai tugas lain yang amat penting."

"Lee-ko, ada keperluah apa sajakah engkau berkunjung kepada ayahku? Dan bagaimana Ayah menerimamu? Aku masih merasa amat menyesal sekau kalau teringat sikap Ayah dahulu itu kepadamu. Engkau tentu dapat memaafkan, bukan?"

"Hemm, hal itu sudah lama kulupa-kan. Sekarang ayahmu bukan sajc mene-rimaku dengan baik, bahkan kami telah bekerja sama...."

"Bekerja sama? Dalam hal apa?"

"Bekerja sama untuk menyelidiki dan menumpas pemberontak...."

Cin Lan sudah menyambar tangan Thian Lee.

"Ssttt, mari kita bicara di dalam, Lee-ko. Di sini dapat terdengar orang lain. 'Marilah, ikut denganku."

Sebetulnya Thian Lee merasa tidak enak dan takut kalau-kalau Pangeran Tua akan merasa tidak senang, akan tetapi gadis itu telah menarik tangannya se-hingga terpaksa dia mengikutinya.

Ter-nyata Cin Lan membawanya ke tanrian bunga.

Taman bunga itu luas dan di tengahnya terdapat kolam ikan dan beberapa buah bangku.

"Nah, klta duduk dan bercakap-cakap di sini. Tentu tidak akan terdengar orang lain. Kita dapat melihat keadaan seke-liling dan akan tahu kalau ada orang mendekat,"

Kata Cin Lan. Keduanya duduk di bangku taman, bersanding.

"Aku khawatir ayah ibumu akan marah melihat aku duduk bersamamu di sini, Lan-moi."

"Tidak ada yang akan marah kepadaku, Lee-ko. Biarlah aku yang akan ber-tanggung jawab. Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau sampai dapat bekerja sama dengan Ayah dalam menghadapi komplotan pemberontak. Ayah memang ditugaskan oleh Sri Baginda Kaisar untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu dan membongkar rahasia komplotan. Dan bagaimana engkau sampai dapat diteri-ma Ayah untuk bekerja sama?"

"Aku membawa surat perkenalan dari Gui-ciangkun untuk ayahmu, dan ayahmu menerimaku. Bahkan ayahmu juga menerima seorang kenalanku, Lauw Tek men-jadi pembantunya."

"Aku girang sekali, Lee-ko. Kau tahu, semenjak kepergianmu malam itu, setelah engkau menolong kami dan sikap Ayah yang begitu merendahkanmu, aku selalu merasa bersedih. Aku telah berusaha mencarimu, akan tetapi di rumah makan itu mereka mengatakan bahwa engkau telah keluar dari sana. Tahu-tahu seka-rang engkau telah muncul di sini, bahkan bekerja sama dengan ayahku! Betapa glrang rasa hatiku, Lee-ko!"

Sinar mata gadis itu demikian mesra memar dangnya sehingga Thian Lee merasakan hatinya tergetar.

Benarkah pandangannya itu?

Benarkah sinar mata gadis memandang mesra kepadanya?

Apakah ini merupakan tanda bahwa gadis itu pun suka kepadanya?

Seberkas cahaya harapan menerangi hatinya.

Dia pun menatap wajah gadis ity dan terpesona.

Rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas dan anak rambut yang berjuntai dan melingkar-lingkar di dahi dan pelipis amatlah manisnya.

Alisnya hitam melengkung menambah indahnya sepasang ma ta yang tajam dan penuh gairah hidup.

Hldungnya mancung dan yang paling menarik adalah mulutnya.

Bibir yang selalu merah segar dengan lesung pipit di sebelah kiri.

Kulit lehernya begitu putih halus tanpa cacat.

Tubuh yang padat berisi, pinggang ramping dan leher yang panjang itu.

"Lee-ko, kenapa engkau diam saja?"

Thian Lee seolah baru sadar dan se-perti ditarik kembali ke alam nyata.

"Ehh... ahhh... tidak apa-apa, Lan-mol,"

Katanya gagap.

"Lee-ko, engkau belum menanggapi kata -kataku tadi. Katakanlah betapa girang rasa hatiku bertemu dengan eng-kau di sini dan mendengar engkau bekerja sama dengan Ayah. Apakah engkau tidak senang bertemu denganku, Lee-ko?"

"Wah, senang sekali, Lan-moi. Sudah... lama aku merindukan pertemuan ini...."

Dia terkejut sendiri, merasa kelepasan bicara menyatakan isi hatinya.

"Benarkah, Lee-ko? Aku pun rindu sekali kepadamu. Telah berulang kali engkau menolongku, bahkan nienyelamatkan nyawaku, akan tetapi pertemuan kita selalu demikian singkat. Aih, tak dapat kulupakan untuk pertama kali engkau menolongku dari ancaman racun ular di Pulau Ular Emas yang telah menggigltku, aku bahkan mencurigaimu. Entah apa jadinya dengan diriku yang roboh pingsan karena keracunan kalau bukan engkau yang datang melatihku menyalurkan hawa beracun itu. Kemudian, kembali engkau menyelamatkan aku di rumah Pangeran Tua ketika aku terancam oleh jagoan-jagoan di sana. Aku tentu telah tertawan kembali kalau engkau tidak membawaku lari. Dan engkau memakai kedok sehingga aku tidak mengenalimu. Akhirnya, ketika Ayah diserang orang-orang jahat, kembali engkau muncul dan mernbantu kami. Budimu terlampau besar untuk dapat kulupakan saja, Lee-ko."

"Sudahlah, Lan-moi, harap jangan bicara tentang budi. Aku dengar senang hati membantumu, dan keberanianmu sungguh mengagumkan hatiku. Sejak pertama kali, melihat engkau membela gurumu dengan mati-matian mencciri sian-tho, aku sudah kagum sekali kepadamu. Kernudian engkau berani menyerbu ke dalam rumah Pangeran Tua, seperti memasuki sarang harimau. Aku kagum sekali .

"Aku berhutang budi kepada guruku Pek I Lokai yang budiman. Siapa lagi ka-lau bukan aku yang mencarikan obatnya ketika Suhu terluka parah? Dan berkat obat sian-tho itu, juga berkat pertolong-anmu, Suhu telah sembuh kembali. Tidak perlu engkau memujiku, Lee-ko, akan tetapi engkaulah yang patut dipuji, berulang kali menyelamatkan aku yang tadi-nya sama sekali tidak kaukenal. Maka aku girang sekali engkau kini bekerja sama dengan Ayah. Oh ya, tadi kau katakan bahwa engkau mempunyai tugas yang amat penting. Apakah itu? Apakah ada "

Hubungannya dengan kerja sama itu, Ko-ko?"

"Sebetulnya hal ini merupakan rahasia, akan tetapi kepadamu akan kujelaskan semuanya, Lan-moi. Untukmu tidak ada rahasia apa pun yang kusimpan. Memang ada hubungannya dengan kerja sama ini. Ayahmu dan aku telah bersepakat bahwa dalam keadaan sekarang ini kami tidak mampu berbuat apa pun terhadap Pangeran Tua karena tidak ada bukti. Karena itu kami harus dapat mencari buktinya dan satu-satunya jalan adalah menyelundup masuk ke dalam sarang musuh dan nienjadi pembantunya. Akulah yang akan menyelundup ke sana dan bekerja kepada musuh."

"Ah, itu berbahaya sekali! Akii tidak setuju, Lee-ko! Engkau bisa celaka kalau berada di antara komplotan itu. Di sana terdapat banyak orang lihai", Cin Lan berseru dengan khawatir.

"Aku dapat menjaga diri, Lan-moi."

"Akan tetapi kalau engkau ketahuan, bagaimana mungkin engkau daps lolos dari sana? Tidak, harus dicari jal un lain. Suruh saia lain anggauta penyelidik yang menyelundup ke sana. Jangan engkau! Kalau terjadi malapetaka menimpamu bagaimana....?"

Melihat sikap gadis itu yang tiba-tiba wajahnya berubah pucat penuh ke-khawatiran, jantung dalam dada Thian Lee berdebar keras.

Tak salahkah penglihatannya?

Gadis itu khawatir kalau-kalau dia celaka!

Thian Lee teringat, pikirnya.

Justeru inilah saat terbaik baginya untuk berterus terang, seperti si-kap yang diperlihatkannya kepada Lee Cin.

Dia tidak boleh membiarkan hatinya selalu dalam keraguan.

"Lan-moi, kenapa engkau mengkhawa-tirkan diriku? Kenapa engkau begitu memperhatikan diriku?"

Ditanya demikian, tiba-tiba Cin Lan menundukkan mukanya dan suaranya ter-dengar lirih.

"Aku... aku tidak ingin melihat engkau celaka, Lee-ko, aku... tidak ingin kehilangan engkau...."

Mendengar ini, Thian Lee merasa betapa seluruh tubuhnya gemetar. Dia duduk mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu.

"Lan-moi, mungkinkah ini? Mungkinkah engkau juga mencintaku seperti aku mencintanriu?"

Kepata ttu semakin menunduk akan tetapi Cin Lan tidak menarik kedua ta-ngannya yang digenggam Thian Lee.

"En-tahlah, Lee-ko... aku tidak tahu... hanya semenjak pertemuan kita pertama kali itu, aku... aku tidak dapat melupakanmu apalagi setelah disusul pertemuan berikutnya."

"Lan-moi, engkau juga tidak pernah meninggalkan hatiku sejak pertemuan kita yang pertama. Hanya.. aku meragu.... mungkinkah aku seorang pemuda yatim piatu yang miskin dapat...."

"Sssttt....!"

Cin Lan mengangkat tangan kanan dan menutupi mulut pemuda itu.

"Jangan teruskan kata-kata seperti itu!"

Mereka saling pandang dan dapat saling menangkap sinar kasih dalam mata masing-masing.

"Akan tetapi, Lan-moi, engkau puteri pangeran sedangkan aku...."

"Sudahlah, Lee-ko. Kau anggap aku ini orang macam apa? Aku tidak memandang harta atau kedudukan, melainkan pribadinya dan aku amat kagum dan menghormati pribadimu."

Thian Lee kenibali menggenggam kedua tangan yang mungil itu.

"Lan-moi engkau sungguh membuat aku merasa berbahagia sekali!"

"Engkau juga membuat aku berbahagia, Lee-ko."

Akan tetapi mereka cepat saling rnelepaskan tangan mereka ketika mendengar suara orang menghampiri tempat itu.

Ketika mereka bangkit dan memandang, ternyata yang datang adalah Pangeran Tang Gi Su sendiri.

Tentu saja Thian Lee merasa rikuh dan tidak enak sendiri Akan tetapi pangeran itu tidak kelihatan marah, hanya menegur heran.

"Eh, Song-ciangkun, engkau rnasih berada di sini?"

"Ayah, engkau menyebut dia ciang-kun?"

Kata Cin Lan dengan heran sekali.

"Tentu saja. Bahkan Sri Baginda Kaisar sendiri yang mengangkatnya menjadi panglima muda keamanan istana!"

Cin Lan memandang Thian Lee dan menegur.

"Lee-ko, kenapa tidak kauceritakan hal ini kepadaku?"

"Ah, Lan-moi, akn baru saja diangkat dan hal itu bahkan masih dirahasiakan agar tugasku sebagai penyelidiki dapat i berhasil dengan baik."

"Ayah, kenapa harus Lee-ko yang menyelundup kesana? Hal itu berbahaya sekali. Kenapa tidak menyuruh saja penyelidik yang lain?"

Kata Cin Lan kepada ayahnya.

"Hal itu adalah atas kehendak Song-ciangkun sendiri, Cin Lan,"

Kata ayahnya.

"Benar, adik Cin Lan. Memang seyo-gianya aku yang melakukannya sendiri agar berhasil. Jangan khawatir, aku mempunyai cara yang baik. Kau tentu tahu Liok-te Lo-mo yang pernah kautantang itu, bukan? Nah, ketika aku masih kecil dia itu pernah menjadi guruku. Melalui dia, aku dapat dengan mudah masuk ke sana menjadi pembantu dan dapat mengetahui semua rahasia mereka."

"Akan tetapi kalau ketahuan, bisa berbahaya sekali, Lee-ko. Kalau saja aku dapat menyertaimu, tentu dapat membantu kalau engkau terancam bahaya."

"Ah, tentu saja tidak mungkin, Lan-moi. Engkau sudah dikenal mereka. Aku dapat menjaga diri dan mari kita membagi tugas, Lan-moi. Nanti kalau saatnya sudah tlba, yaitu kalau tiba saatnya pasukan menyerbu ke sana, engkau boleh membaotu untuk memperkuat penyerbuan mengingat di sana banyak orang kang-ouw yang menjadi kaki tangan Pangeran Tua. Kita bekerja sama, engkau dari luar dan aku dari dalam. Akan tetapi sebelum saatnya tiba, harap engkau jangan sekali-kali berkunjung ke sarang harimau yang berbahaya itu."

"Song-ciangkun berkata benar, Cin Lan. Kita menunggu saja tanda darinya dan aku yakin dia akan dapat menjaga dirinya baik-baik. Kalau dia sudah diangkat menjadi panglima oleh Sri Baglnda Kaisar, hal itu menunjukkan bahwa dia tentu memiliki kemampuan untuk itu."

Thian Lee lalu memberi hormat dan berkata.

"Nah, aku berangkat sekarang. Harap jangan lupa menyuruh Lauw-twako menanti saya di tempat pertemuan kami yang biasa, Taijin. Dengan demikian, akan lebih mudah saya mengirim berita, dan tidak menimbulkan kecurigaan."

"Baik, Ciangkun. Semua telah kuatur dengan baik. Selamat bekerja,"

Kata Pa-ngeran Tang Gi Su.

"Lee-ko, berhati-hatilah dan jagalah dirimu baik-baik,"

Kata Cin Lan dengan suara agak gemetar karena hatinya geli-sah memikirkan keselamatan pria yang dicintanya itu.

"Jangan khawatir, Lan-moi,"

Kata Thian Lee dan setelah memberi hormat sekali lagi, dia pun meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Cin Lan.

Sejak tadi Pangeran Tang Gi Su mengamati puterinya yang memandang ke arah perginya Thian Lee dan kini seperti tenggelam dalam lamunan.

Kemudian dia duduk di dekat puterlnya dan memanggil.

"Cin Lan .,.!"

Gadis itu seperti baru diseret turun ke dunia nyata dan dipandangnya wajah ayahnya dengan kaget.

"Ya, Ayah...."

Katanya. Pangeran itu tersenyum dan memegang pundak puterinya.

"Kini aku mengerti mengapa engkau dapat akrab dengan pemuda itu. Ternyata dia seorang pemuda yang gagah berani dan tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau tidak begitu, tidak mungkin Sri Baginda Kaisar memberinya anugerah pangkat yang penting dan memberi tugas untuk membantu aku membongkar rahasia komplotan pemberontakan,"

"Dia memang memiliki ilmu yang tinggi, Ayah. Aku sendiri sudah tiga kali melihat kehebatannya. Pertama kali ke-tika aku terkena gigitan ular berbisa dan keracunan, dia menolongku dan meng-ajarkan aku untuk mengendalikan hawa sin-kang yang kacau di tubuhku. Kemudi-an kedua kalinya ketika aku berhadapan dengan orang-orang kang-ouw di rumah Pangeran Tua dan dalam bahaya, dia menolongku dan dapat dengan cepatnya mernbawa aku lari dari tempat berbahaya itu. Dan ke tiga, ketika malam-malam itu dia menolong Ayah dari ancaman orang jahat yang hendak membunuh Avah "

"Hemm, agaknya engkau kagum sekali kepadanya, Anakku."

Wajah Cin Lan berubah kemerahan akan tetapi dengan suara tegas ia berkata.

"Aku memang kagum sekali kepadanya, Ayah."

"Dan agaknya engkau tertarik kepada-nya."

Jawaban Cin Lan mengandung tantangan, seolah ia menantang ayahnya jika ayahnya menentang.

"Aku memang tertarik sekali kepadanya!"

Pangeran Tang Gi Su mehghela napas panjang.

Bagaimanapun, setelah mendapat kenyataan bahwa Thian Lee telah diangkat menjadi seorang panglima muda ke-amanan istana, tentu saja hatinya tidak-lah begitu benar membiarkan anaknya bergaul dengan pemuda itu.

Tidak seperti ketika mendengar bahwa pemuda itu hanya seorang pelayan rumah makan!

"PenoJakanmu atas pinangan putera Pangeran Bian Kun dulu itu memang benar, Cin Lan.

Untung aku pun belum menerimanya.

Sekarang, melihat gelagatnya bahwa Bian Hok amat dekat hubungannya dengan Tang Boan, aku khawatir Pangeran Bian Kun terlibat pula dalam komplotan itu.

"Ayah, aku menolaknya karena sejak dahulu aku tahu bahwa Bian Hok bukanlah orang baik. Dan aku menilai orang yang akan menjadi jodohku bukan dan harta maupun pangkatya, melainkan dari pribadinya."

"Dan menurut penilaianimu, kepribadian Thian Lee itu baik?"

"Dia seorang yang gagah perkasa, berbudi luhur dan memiliki harga diri yang tinggi, juga rendah hati, Ayah."

"Dan dia cinta padamu?"

"Demikianlah, Ayah,"

Kaanya malu-malu.

"Bagus, mudah-mudahan saja pilihan hatimu itu tidak keliru. Aku tidak akan menghalangimu, Cin Lan."

"Terima kasih, Ayah,"

Jawab gadis itu dengan gembira bukan main dan di dalam hatinya ia berterima kasih telah menda-patkan seorang ayah tiri yang ia ibatau amat menyayangnya.

Ketika Thian Lee berkunjung ke istana Pangeran Tua, dia dihadang di pintu gerbang oleh pasukan penjaga yang ber-sikap galak.

"Kau siapa, orang nnuda, dan ada keperluan apakah datang ke tempat ini?"

Bentak kepala penjaga dengan bengis.

"Maafkan saya,"

Jawab Thian Lee sambil memberi hormat.

"Nama saya Song Thian Lee. Saya adalah murid dari Liok-te Lo-mo. Mendengar bahwa Suhu berada di sini, maka saya menyusul dan saya ingin berterpu dengan Suhu Liok-te Lo-mo."

Mendengar pengakuan pemuda itu, kepala jaga menjadi berkurang kegalakannya.

"Hemm, kautunggu di sini sebentar, kami akan melapor ke dalam."

Tak lama kemudian muncullah Liok-te Lo-mo dan Thian Lee masih menge-nalnya dengan baik walaupun kini usia datuk sesat itu sudah semakin tua.

Kakek itu memandang Thian Lee dari kaki sampai kepala, kemudian berseru.

"Thian Lee....! Engkau bocah bernama Thlan Lee dulu itu?"

Thian Lee lalu menjatuhkan diri berlutut "Suhu, apakah Suhu sudah lupa kepada teecu?

Teecu sendiri tidak pernah dapat melupakan budi kebaikan Suhu, maka mendengar bahwa Suhu berada di tempat ini teecu lalu datang mencari Suhu."

"Thian Lee, apakah selama ini engkaa sudah mempelajari banyak ilmu silat?"

"Berkat blmbingan Suhu yang pertama kali, teecu ^udah mempelajari banyak macam ilmu silat."

"Kaupelajari dari Jeng-ciang-kwi?"

"Dari dia dan dari lain-lain guru pula, Suhu."

"Hemm, lalusekarang engkau mehcai'l, aku ada keperluan apakah?"

"Suhu terus terang saja aku sedang berada dalam kesulitan. Aku tidak mem-punyai pekerjaan tetap yang menyajikan masa depan yang baik. Ketika aku mendengar berita di dunia kangouw bahwa Suhu berada di sini dan bekerja di sini, aku bergegas mencari Suhu dengan maksud minta pertolongan Suhu agar aku diperbolehkan bekerja di sini pula. Suhu, teecu akan bekerja sebaik mungkin."

Liok-te Lo-mo memandang pemuda itu penuh perhatian dan mengangguk-angguk.

"Akan tetapi tidak mudah untuk bekerja di sini, Thian Lee. Engkau harus memiliki kepandaian tinggi dan keberanian besar untuk dapat bekerja membantu Pangeran Tua."

"Jangan khawatir, Suhu. Teecu sudah mempeiajari banyak macam ilmu silat yang tinggi, dan dalam hal keberanian, teecu disuruh melakukan apa pun akan kulaksanakan dengan sebaiknya. Kalau perlu teecu dapat diuji!"

"Hemm... hemmm... kalau begitu mari ikut denganku,"

Katanya dan dia meng-ajak Thian Lee pergi ke sebuah ruangan yang cukup luas di bangunan samping. Ruangan itu adalah sebuah lian-bu-thia (ruangan berlatih silat).

"Aku ingin mengujimu lebih dahulu sebelum menghadapkanmu kepada Pangeran."

"Baik, Suhu. Silakan!"kata Thian Lee dengan sikap tenang. Liok-te Lo-mo lalu bergerak memukul dengan kedua tangannya bergantian dan Thian Lee maklum bahwa bekas gurunya ini memiliki sin-kang panas dingin yang dilatlhnya dengan api dan es. Maka dia pun lalu mengimbangi, menangkis dengan mengerahkan kedua tenaga yang berlawanan itu.

"Duk! Duk!"

Ketika dua pasang lengan -itu bertemu, Liok-te Lo-mo terkejut sekali karena dia merasakan betapa bekas murid ini memiliki tenaga yang mampu mengimbanginya!

Dia menjadi tidak ragu-ragu lagi dan segera menyerang dengan tenaga sepenuhnya.

Akan tetapi, kakek itu sudah berusia sekitar delapan puluh tahun, tenaganya sudah banyak berkurang.

Seandainya tenaganya masih sepenuh dahulu saja dia tidak akan mampu menandingi Thian Lee, apalagi dalam ke-adaannya yang sudah lemah seperti sekarang.

Thian Lee dapat mengimbangi dan menghadapi semua serangannya dengan baik, mengelak dan kadang menangkis.

Setiap kali dia menangkis kakek itu terhuyung ke belakang.

Melihat betapa muridnya tidak pernah membalas namun dia sama sekali tidak marnpu menyentuh tubuh muridnya, Liok-te Lo-mo rrienjadl kagum dan juga heran sekali.

Muridnya telah menjadi seorang yang demikian lihainya.

"Mari kita mencoba dengan senjata!"

Katanya dan Liok-te Lo-mo sudah melolos sabuk rantainya yang merupakan sen-jatanya yang ampuh.

"Teecu tidak berani mengangkat senjata terhadap Suhu, biar teecu melayani rantai Suhu dengan tangan kosong saja!"

Kata Thian Lee.

Tentu saja kakek itu menjadi semakin terkejut.

Muridnya itu berani melawannya yang bersenjata sabuk rantai dengan tangan kosong?

Padahal dengan senjata pun, masih jarang ada orang yang akan mampu metawan sabuk rantainya.

Hatinya merasa penasaran dan dia segera menyerang dengan dahsyat.

Akan tetapl dengan kelincahan kakinya, Thian Lee dapat mengelak dari semua serangan yang datang secara bertubi-tubi.

Bahkan kadang Thian Lee berani menangkis sambaran rantai itu dengan tangannya!

Hal ini tentu saja membuat ILiok-te Lo-mo terkejut dan terheran-heran.

Akan tetapi rasa penasaran mem-buat dia menyerang terus sampai pertandingah itu berlarigsung lima puluh jurus lebih dan keringatnya mulai membasahi badannya.

Pada saat rantai itu menyannbar lagi dari kanan, Thian Lee memutar tangan kanannya dan menangkap rantai itu sehingga tidak mampu bergerak lagi.

Betapapun Liok-te Lo-mo berusaha melepaskan rantainya, namun dia tidak sanggup dan pada saat itu Thian Lee berkata.

"Maaf, Suhu. Sudah cukup, harap Suhu tidak menyerang lagi."

Dan dia melepaskan rantainya.

"Bagaimana pendapat Suhu, apakah teecu sudah memperoleh kemajuan dalam ilmu silat dan pantas untuk mengabdi di sini?"' Liok-te Lo-mo menyimpan rantainya dan menghela napas panjang.

"Hebat, engkau telah majudengan pesat sekali, Thian Lee. Pangeran tentu akan girang kalau engkau dapat membantu. Mari, mari kuajak engkau menghadap Pangeran."

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang.

"Ha-ha, sungguh hebat pemuda ini. Dan sejak tadi Yang Muljia Pangeran telah melihatnya, Lo-mo!"

Tentu saja Thian Lee sudah sejak tadi mengetahui kehadiran mereka di luar lian-bu-thia, akan tetapi dia pura-pura terkejut dan bersama Liok-te Lo-mo memutar tubuh.

Melihat bahwa yang da-tang adalah Pangeran Tua bersama Pak-thian-ong Dorhai dan beberapa orang tokoh kangouw, Liok-te Lo-mo segera memberi hormat.

"Kebetulan sekali Paduka datang, ka-rena hamba memang bermaksud mengajak murid hamba ini menghadap Paduka,"

Kata Liok-te Lo-mo membanggakan muridnya.

Dia merasa bahwa dia sendiri tidak mampu menandingi Thian Lee maka dia merasa bangga mengaku pemuda itu sebagai muridnya!

Pangeran Tua memandang Thian Lee penuh perhatian.

Tadi Pak-thian-ong su-dah berkata kepadanya ketika mereka menonton pertandingan itu bahwa pemuda itu^lihai sekali, bahkan lebih lihai diban-dingkan Liok-te Lo-mo!

"Liok-te Lo mo siapakah pemuda ini?"

Tanya Pangeran dan dia lalu duduk di atas kursi dalam lian-bu-thia itu. Liok-te Lo-mo berdiri dengan sikap hormat dan memperkenalkan.

"Yang Mu-lia, pemuda ini bernama Song Thlan Lee dan dahulu dia adalah murid hamba. Kemudian dia merantau untuk memperdalam ilmunya dan sekarang dia mencari hamba di sini dengan membawa ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Dia mohon untuk mengabdikan dirinya kepada Paduka dan hamba percaya dia akan menjadi pembantu yang baik dan dapat diandalkan."

Beberapa lama Pangeran Tua menatap wajah Thian Lee penuh selidiki.

Pemuda?

itu bersikap tenang walaupun jantungnya berdebar tegang.

Pangeran Tua yang sudah berusia enam puluh lima tahun lebih itu memiliki mata seperti mata elang, begitu tajam penuh selidik.

Dia harus berhati-hati sekali berhadapan de-ngan seorang dengan mata seperti itu.

"Song Thian Lee,"

Katanya dengan suara parau dan berwibawa.

"Benarkah engkau ingin mengabdi kepadaku?"

"Benar sekali, Yang Mulia,"

Kata Thian Lee. Hening sejenak dan mata elang itu tetap menatap wajah Thian Lee penuh selidik dan tiba-tiba Pangeran Tua bertanya dengan suara membentak.

"Kenapa engkau hendak mengabdi kepadaku, Thian Lee?"

Thian Lee memang sudah waspada dan siap sedia maka dia tidak menjadi terkejut atau gugup. Dengan tenang saja dia memandang wajah pangeran itu dan menjawab.

"Karena Suhu Liok-te Lo-mo bekerja di sini, maka hamba ingin pula bekerja di sini, Yang Mulia."

"Engkau sudah tahu apa yang harus kaukerjakan di sini?"

"Belum, Yang Mulia. Suhu belum sem-pat menceritakan kepada hamba. Akan tetapi apa pun perintah Yang Mulia kepada hamba, akan hamba laksanakan sebaiknya."

"Benarkah? Andaikata kami mengutusmu pergi membunuh seorang musuh kami, sanggupkah engkau melakukannya?"

Tentu saja Thian Lee tidak terkejut mendengar akan tetapi dia bersikap seolah tertegun juga, hal yang sudah se-patutnya kalau orang disuruh melakukan pekerjaan membunuh!

"Kalau memang Paduka menghendaki kematian seorang musuh, tentu saja hamba sanggup mengerjakannya!"

Jawabnya lantang dan pasti.

"Paduka harap jangan ragu-ragu mengutus murid hamba ini, Pangeran. Dia seorang murid yang baik dan patuh, serta telah memiliki ilmu kepandaian yang boleh diaridalkan!"

Kata Llok-te Lo-mo bangga.

"Kalau begitu, berani engkau bersumpah setia kepada kami, Thian Lee?"

Tanya pula Sang Pangeran yang mulai percaya karena di situ terdapat Liok-te Lo-mo yang seolah menjadi penanggung ja-wab atas kesetiaan dan kemarnpuan pemuda, itu.

"Tentu saj'a haw&i berani faersumpah,"

Kata Thian Lee. Pangeran Tua tersenyum.

"Tidak usah bersumpah, karena kami tidak p6rcaya kepada sumpah. Malam ini kami memberi tugas pertama kepadamu, untuk menguji sampai di mana kemampuanmu."

"Hamba siap melaksanakan, Yang Mulia!"

Pak-thian-ong Dorhai lalu mernotong.

"Yang Mulia, bagaimana kalau dia ditugaskan untuk menyelesaikan pembunuhan atas din Pangeran Tang Gi Su yang tempo hari gagal dilakukan?"

Diam-diam Thian Lee terkeJut bukan main, akan tetapi dia bersikap tenang saja. Sang Pangeran itu mengangguk-angguk.

"Dialah penghalang satu-satunya yang harus lebih dulu lenyap. Koksu (Pe-nasihat Negara), persiapkan pertemuan dengan semua pembantu, kita mengada-kan rapat darurat untuk mengatur per-siapan sehubungan dengan rencana penyerangan terhadap Pangeran Tan Gi Su!"

"Baiklah, Yang Mulia."

Pangeran itu lalu meninggalkan lian-bu-thia, dan Pak-thian-ong Dorhai berkata kepada Liok-te Lo-mo, suaranya memerintah.

"Lo-mo, kau urus muridmu ini dan bawa hadir dalam rapat ya.ng, akan di~ adakan di ruangan rapat."

"Baik, Koksu,"

Jawab Liok-te Lo-mo dengan sikap hormat.

Maka semakin yakinlah hati Thian Lee bahwa Pak-thian ong yang sudah mendapat kedudukan sebagai Koksu ini memang diam-diam bersekongkol dengan Pangeran Tua.

Ketlka akhirnya Thian Lee diajak masuk ke dalam ruangan belakang di mana diadakan rapat, hatinya berdebar tegang.

Tak disangkanya akan demikian mudahnya dia berhasil melakukan penyelidikan.

Memang sudah diperhitungkannya bahwa bekas gurunya itu yang akan men.

Jadi jalan baginya untuk menyelundup ke dalam istana Pangeran Tua, akan tetapi tidak disangkanya dalam waktu sehari saja dia sudah diajak dalam suatu rapat rahasia!

Dan di daram rapat yang diadakaft pada malam hari itu, hadir pula semua anggauta komplotan itu!

Selain Koksu Pak-thian-ong Dorhai, terdapat pula be-berapa orang pangeran yang berpihak kepada' Pangeran Tua, termasuk Pangeran Bian Kun yang diwakili puteranya, Bian Hok.

Dan ada pula dua orang panglima besar yang agaknya sudah dapat dibujuk untuk mempersiapkan pemberontakan!

Di samping Llok-te Lo-mo terdapat pula belasan orang tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.

Setelah rapat dibuka oleh Pangeran Tang Gi Lok, Pangeran ini segera mem-perkenalkan Thian Lee kepada semua orang.

"Ketahuilah bahwa kami telah mendapatkan seorang pembantu baru, yaitu murid Liok-te Lo-mo yang memiliki kemampuan tinggi sehingga dia sanggup untuk melakukan pembunuhan atas diri Pangeran Tang Gi Su."

Mendengar ini semua orang memandang kepada Thian Lee, dan pemuda itu merasa jantungnya berdebar tegang.

Bagaimana kalau ada yang mengenalnya, terutama sekali orang yang pernah me-nyerbu rumah Pangeran Tang Gi Su dan yang pernah dilawannya dalam membantu pangeran itu dahulu?

Andaikata tiga orang itu berada di situ dan mengenal-nya, dia.

akan menyangkal keras.

Akan tetapi untung baginya bahwa setelah gagal melakukan pembunuhan atas diri Pangeran Tang Gi Su, tiga orang kang-ouw itu lalu dipecat bleh Pangeran Tua.

"Besok malam Thian Lee akan mela-kukan pembunuhan itu. Matinya Pangeran Tang Gi Su merupakan awal gerakan klta. Begitu usaha Thian Lee berhasil, pada keesokan malamnya lagi, kita harus mulai bergerak. Kau, Liok-te Lo-mo, bersama dua orang pembantu membunuh Pangeran Kian Tek. Dan kau, Hek-tung Kai-ong, engkau bersama anak buahmu harus berhasil membunuh Pangeran Kian Tung."

Pangeran Tua lalu mem-bagi-bagi tugas untuk membunuhi pange-fan-pangeran dan pejabat yang menen-tangnya.

Semua orang dibagi dalam tujuh kelompok untuk melakukan tujuh pem-bunuhan, sehari setelah Thian Lee berhasil membunuh Pangeran Tang Gi u!

Tentu saja semua ini dicatat di dalaro hati oleh Thian Lee.

"Kalau semua itu berhasil, biar'ah Kaisar aku sendiri yang akan menangani-nya!"

Kata Pakthian-ong Dorhai deni an suaranya yang besar dan berat.

"Ka au Kaisar sudah tewas, maka selanjutr ya adalah menjadi wewenang Paduka untuk bertindak, Pangeran."

"Kalau semua itu berhasil, aku akan bergerak, didukung oleh pasukan Ban-ciangkun dan Tung Ciangkun menguasai istana,"

Kata Pangeran Tua dan dua orang panglima itu mengangguk setuju. Mereka ramai membicarakan rencana siasat gerakan besar itu, dan akhirnya Pangeran Tua berkata kepada Thian Lee.

"Thian Lee, semua rencana ini akan berhasil hanya kalau usahamu berhasil. Karena itu, engkau harus bekerja dengan baik dan besok malam harus berhasil membunuh Pangeran Tang Gi Su."

"Akan hamba laksanakan dan hamba tanggung pasti berhasil baik!"

Kata Thian Lee dengan nada sombong "Hemm, kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan seyakin itu, Thian Lee,"

Kata Pak-thianong.

"Ketahuilah bahwa pernah kami mengusahakan pembunuhan atas diri pangeran itu, akan fetapi gagal. Dla memiliki seorang puteri yang lihai sekali dan semenjak usaha pembunuhan yang gagal itu, Pangeran Tang Gi Su menyuruh pasukan melakukan penjagaan di rumahnya secara ketat sekali."

"Akan tetapi aku percaya bahwa muridku Thian Lee akan berhasil melakukan tugas itu!"

Kata Liok-te Lo-mo sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan bangga.

"Thian Lee, kalau engkau membutuhkan bantuan dalam tugasmu itu, katakanlah dan kami akan menyerahkan baiituan secukupnya,"

Kata Pangeran Tua.

"Tidak perlu, Yang Mulia. Banyak orang bahkan akan menyulitkan bahkan mungkin menggagalkan usaha itu. Hamba akan bertindak seorang diri saja,"

Kata Thian Lee penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Bagus! Aku pun akan bersikap seperti Thian Lee kalau menerima tugas seperti itu. Pembantu hanya akan membuatku tidak leluasa bergerak. Thiar Lee engkau seorang pemuda yang gagah bera-ni. Biarlah aku memberimu selamat dengan beberapa cawan arak!"

Setelah berkata demikian, Pak-thian-ong memegang secaWan arak dengan tangan kirinya lalu mengambil guci arak dengan tangan kanan.

Dituangkan arak dari guci itu ke dalam cawan arak sampai penuh sekali, hampir meluber, akan tetapi tidak sam-pai tumpah dan arak di cawan itu seperti berubah menjadi benda keras atau seperti telah berubah menjadi es yang membeku!

Dia menjulurkan tangannya dan menyerahkan cawan itu kepada Thian Lee sebagai ucapan selamat, ditonton oleh semua orang dengan pandang mata kagum karena mereka maklum bahwa Koksu ini mendemonstrasikan sin-kangnya yang membuat arak menjadi beku!

Akan tetapi Thian Lee menerima cawan arak itu dengan tenang saja dan ketika cawan arak berada di tangannya, arak itu mencair kembali akan tetapi tetap tidak tumpah, kemudian diminumnya sekali tengguk.

Pak-thian-ong tertawa.

"Bagus, terimalah secawan lagi!"

Dan kini, ketika dia menuangkan arak dari guci itu ke dalam cawan, terdengar suara dan arak dalam cawan itu bergolak seperti mendidih, bahkan mengeluarkan uap!

Inilah sin-kang panas dan demikian kuatnya sin-kang itu sehingga arak dalam cawan pitift, sampai mendidih.

Thian Lee menerimanya pura-pura tidak tahu betapa cawan dan arak itu panas sekali.

Begitu cawan terpegang olehnya, arak itu terhenti mendidih dan ketika dia membalikkan cawan, arak di dalamnya tidak tumpah seolah telah membeku menjadi es yang melekat pada cawan, Dari keadaan panas mendidih arak berubah menjadi dingin membeku!

Kemudian Thian Lee membalikkan lagi cawan arak dan minum arak itu yang menjadi cair kembali seperti biasa.

"Terima kasih, Koksu,"

Kata Thian Lee dengan sikap sederhana, Pak-thian-ong Dorhai terbelalak dan tersenyum.

"Hebat, kepandaianmu hebat juga, orang muda. Aku yakin sekarang bahwa engkau akan berhasil melaksanakan tugasmu yang berat!"

Tentu saja Pangeran Tua menjadi gembira sekali.

Kalau Koksu sudah memuji, berarti bahwa pemuda itu memang berilmu tinggi dan besar harapan ctta-citanya akan terkabul.

Kalau.

Pangeran Tang Gi Su yang dianggapnya paling ber-bahaya itu telah terbunuh, dan semua pangeran yang dikehendaki kematiannya sudah pula ditewaskan, maka selanjutnya persoalannya akan lebih mudah.

Dia sendiri lalu memberi selamat kepada Thian Lee dengan secawan arak dan setelah rapat pertemuan mengatur rencana siasat itu selesai, pertemuan dilanjutkan dengan pesta.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se-kali Thian Lee sudah berpamit kepada Liok-te Lo-mo, dan berkata.

"Suhu, tugas teecu malam ini tidaklah mudah, karena itu pagi ini juga teecu akan melakukan penyelidlkan terhadap penjagaan di gedung Pangeran Tang Gi Su agar malam nanti tidak sampai menjadi gagal."

Tentu saja Liok-te Lo-mo setuju sekali dan demikianlah, Thian Lee lalu keluar dari istana Pangeran Tua dan berjalan-jalan berkeliaran di kota raja.

Dia sengaja melakukan ini untuk melihat apakah ada yang membayanginya.

Setelah, merasa yakin bahwa tidak ada yang membayanginya, dia lalu menyusup masuk ke dalam kuil tua di mana Lauw Tek telah menantinya.

Di dalann ruangan kuil yang tersembunyi, Thian Lee lalu bercakap-cakap dengan Lauw Tek.

Dia menceritakan seluruh rencana siasat yang akan dijalankan oleh Pangeran Tua dan minta Laiw Tek mencatat nama semua pangeran yang terancam pembunuhan pada keesokan malamnya.

Juga tentang rencana Koksu yang akan membunuh Kaisar kalau usaha pembunuhan atas diri Pangeran Tang Gi Su berhasil.

"Lalu apa yang harus dilakukan oleh Pangeran Tang?"

Tanya Lauw Tek, ter-kejut bukan main mendengar laporar tentang rencana siasat yang amat jahat dari Pangeran Tua itu.

"Kita belum dapat bertindak dan perlu bukti. Karena itu, malam nanti aku akan menyusup ke dalam gedung Pangeran Tang Gi Su, dan ketika aku keluar, kerahkan pasukan untuk menangkapku, akan tetapi membiarkan aku lolos lalu kabarkan bahwa Pangeran Tang Gi Su terbunuh! Dan sejak malam nanti, Pangeran Tang harus menyembunyikan diri, dan boleh menaruh sebuah peti mati untuk mengelabuhi orang. Dengan demikian, tentu Pangeran Tua akan percaya, benar bahwa aku telah berhasil membunuh Pangeran Tang dan rencana mereka tentu akan dilanjutkan. Nah, ketika para orang kang-ouw itu menyerbu rumah para pangeran dan menteri itu, pasanglah perangkap sehingga mereka semua tertangkap. Bukan itu saja, pada malam hari itu juga, ketika para orang kang-ouw me-nyerbu rumah para pangeran, kerahkan pasukan untuk mengepung istana Pangeran Tua, juga kerahkan pasukan menangkap Ban-ciangkun dan Tung-ciangkun, jangan memberi kesempatan kedua panglima itu. menggerakkan anak buah mereka. Juga semua komplotan yang telah kusebut namanya tadi harap dicatat benar-benar dan besok malam dilakukan penangkapan secara serentak untuk menggagalkan semua rencana mereka. Nah, sudahkah jelas, Lauw-twako?"

"Sudah....!"

Jawab Lauw Tek dengan suara gemetar.

"Wah, urusan ini demikian gawat membuat aku menjadi gugup. Baiklah, kuulangi semua keteranganrnu tadi untuk dilaporkan kepada Pangeran Tang, kalau-kalau ada yang kulupakan."

Lauw Tek lalu mengulang semua yang dikemukakan Thian Lee tadi.

"Bagus, engkau telah ingat semuanya Twako. Dan jangan lupa minta kepada Pangeran Tang agar pagi hari ini juga pergi menghadap Kaisar dan membicarakan rencana siasat yang diatur Pangeran Tua itu agar Kaisar juga dapat ber-siap-siap menjaga diri dan melakukan penangkapan atas diri Koksu Pak-thia-ong. Ingat, sesudah malam nanti Pangerang Tang Gi Su harus menyembunyikan, dirinya karena dia dikabarkan tewas."

"Baik, Song-ciangkun. Akan kulaksana-kan sebaik-baiknya,"

Kata Lauw Tek.

Thian Lee lalu meninggalkan kuil tua itu dari belakang sehingga tidak kelihatan oleh orang lain.

Dia tidak berani berkunjung ke rumah Pangeran Tang Gi Su karena hal ini kalau diketahui mata-mata Pangeran Tua tentu akan menimbulkan kecurigaan.

Ketika dia sedang berjalan dekat pintu gerbang sebelah selatan, dia melihat Lee Cin menunggang kuda keluar dari pintu gerbang itu.

Karena ia sedang membawa tugas berat dan tidak ingin sepak terjangnya hari itu diketahui orang maka dia tidak berani memanggil, hanya ikut keluar dari pintu gerbang untuk mengetahui ke mana gadis itu pergi dan apa pula yang hendak dikerjakan.

Dia ingin menemui Lee Cin karena bantuan gadis itu sangat dibutuhkan pada waktu yang gawat itu.

Kalau Lee Cin suka membantu Cin Lan dalam menghadapi para pemberontak, tentu para pemberon-tak itu akan lebih mudah ditangkap ketika mereka menyerbu rumah para pangeran.

Apakah yang sedang dilakukan Lee Cin di kota raja?

Seperti kita ketahui gadis ini meninggalkan Thian Lee dengan hati yang hancur karena pepnuda itu terus terang menyatakan tidak membalas cintanya bahkan telah mencinta gadis lain.

Untuk menghibur hatinya ia pergi ke kota raja.

Tadinya, kehancuran hatinya membuat ia ingin sekali rnengamuk ke rumah Pangeran Tua akan tetapi ia teringat akan pesan ayahnya betapa bahayanya kalau ia rnelakukan hal itu.

Ketika ia tiba di kota raja, ia membeli seekor kuda dan berkeliaran di kota raja menunggang kuda, kadang melewati ru-mah Pangeran Tua.

Ketika tadi ia sekali lagi melewati istana itu, ia melihat beberapa orang pengennis yang memegang tongkat hitam berada di sekitar istana itu.

Agaknya para anggauta Hek-tung Kai-pang itu mengenalinya karena mere-ka segera membayanginya.

Lee Cin tersenyum seorang diri, teringat akan gelang kemala yang pernah dirampasnya dari seorang anggauta Hek-tung Kai-pang sehingga mereka itu berusaha untuk memintanya kembali darinya.

Sekarang agaknya mereka itu mengenalnya dan membayanginya, tentu karena urusan gelang kemala itu.

Karena merasa dibayangi terus, Lee Cin lalu membelokkan kudanya keluar dari pintu gerbang sebelah selatan kota raja.

la tidak ingin membuat keributan di kota raja dan kalau mereka itu hendak mencari keributan, biarlah hal itu terjadi di luar kotai raja, pikirnya.

Rombongan pengemis yang membayanginya menjadi semakin banyak dan ketika ia keluar dari kota raja, jumlah mereka sudah ada tiga puluh orang!

Sete-lah tiba di jalan yang sunyi di luar kota raja, Lee Cin sengaja menghentikan ku-danya dan menanti mereka yang membayanginya itu dengan senyum mengejek.

Hatinya sedang kecewa dan kesal, maka kalau ada orang-orang yang mencari keributan, tentu saja ia akan meladeni!

Bahkan ia sendiri akan mencari keributan.

Tak lama kemudian, tiga puluh orang anggauta Hek-tung Kai-pang yang dipimpin oleh empat orang tokohnya sudah mengepungnya.

"Heii, kalian ini para pengemis apakah hendak minta sumbangan dariku? Majulah, aku mempunyai beberapa pukulan dan tendangan untuk dibagi-bagikan pada kalian!"

Seorang pemimpin Hek-tung Kai-pang maju dan berkata dengan suara lantang.

"Nona, sesungguhnya kami tidak ingin mencari keributan dengan Nona. Akan tetapi, harap Nona berlaku adil dan meT ngembalikan sebuah gelang kemala yang dulu Nona rampas dari seorang anggauta kami. Ketahuilah, Nona, bahwa gelang itu bukan milik kami dan harus dikembalikan kepada pemiliknya."

Ucapan itu mengingatkan Lee Cin kepada Thian Lee, kepada siapa gelang kemala itu ia berikan.

Juga mengingatkan bahwa gelang kemala itu adalah tanda pertunangan Thian Lee dengan orang lain.

Hal ini menambah kejengkelannya.

"Gelang kemala itu milik siapa ateu tidak peduli dan aku tidak dapat me-ngembalikannya kepada kalian. Habis, kalian mau apa?"

Setelah berkata demi-kian, Lee Cin melompat dari atas kuda-nya, berjungkir balik tiga kali dan turun di depan pemimpin para pengemis itu.

"Nona, kami hanya minta hak kami, kalau Nona tidak mau memberikan, terpaksa kami menggunakan kekerasan."

"Menggunakan kekerasan? Apa maksud kalian?"

"Menangkap Nona untuk kami bawa kepada ketua kami agar mendapat pengadilan!"

"Hemm, kalian ini jembel-jembel busuk tak tahu diri. Biarlah kuberi kalian pembagian pukulan agar puas!"

Bentak Lee Cin.

Para pengemis itu lalu mengeroyoknya dan karena mereka semua menggunakan tongkat hitam yang terbuat dari besi, Lee Cin melompat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Nampak sinar merah berkelebat ketika Pedang Ular Merah telah berada di tangannya.

Para pengemis maju menyerang dan Lee Cin menggerakkan pedangnya menangkis sambil membagi tamparan tangan kiri dan tendangan-tendangan kedua kakinya.

Tingkat kepandaian gadis ini jauh lebih tinggi dari para pengeroyoknya, maka sebentar saja beberapa orang telah roboh terpelanting.

Pada saat pengeroyokan sedang berlangsung dengan ramainya tiba para pengeroyok itu menjadi kacau karena di antara mereka itu, tanpa terkena serangan Lee Cin, sudah berjatuhan sendiri disambar kerikil-kerikil kecsl yang entah dari mana datangnya.

Suasana menjadi kacau apalagi ketika empat orang pimpinan itu pun roboh disam-bar batu kecil yang tepat mengenai jalan darah mereka dan membuat mereka lumpuh beberapa detik lamanya.

Lee Cin sendiri merasa heran ketika tibatiba para pengeroyoknya itu melarikan diri cerai-berai meninggalkannya, seolal takut kepada sesuatu.

la pun melihat tadi banyak pengeroyok roboh padahal ic tidak atau belum menyerang mereka yang masih jauh darinya.

Sebagai seorang ahli silat yang pandai, ia pun dapat menduga bahwa ia tentu telah mendapat bantuan orang pandai, apalagi ia melihat adanya banyak batu kecil berserakan di tempat itu.

"Lee Cin....!"

Thian Lee muncul setelah para pengeroyok tadi sudah tidak tampak lagi. Lee Cin menengok dan mengerutkan alisnya. Kini ia mengerti.

"Ah, kiranya engkau yang membantuku? Aku tidak membutuhkan bantuanmu, Thian Lee!"

"Aku tahu bahwa engkau tidak akan kalah oleh mereka. Akan tetapi aku ingin mereka segera pergi karena aku ingin bicara penting denganmu, Lee Cin."

"Tentang apa?"

Ia mengusir harapan yang timbul sekilas mengenai perasaan jiati Thian Lee.

"Tentang tugasku yang diberikan oleh ayahmu, Lee Cin. Maukah engkau membantuku? Seperti kauketahui, ayahmu memberikan surat kepadaku untuk disam-paikan kepada Guiciangkun dan kepada Sri Baginda Kaisar. Nah, surat-surat itu sudah kusampaikan dan kini aku ditugas-kan oleh Kaisar untuk membantu Pange-ran Tang Gi Su membongkar komplotan pemberontak."

Hemm, bantuan apa yang dapat kau berikan kepadaku,"

Tanya Lee Cin ragu.

Bagaimanapun juga, pemuda ini menerima tugas dari ayahnya dan membantu pemuda ini berarti membantu ayahnya pula.

Dengan panjang lebar Thian Lee lalu menceritakan semua pengalamannya sarn-pai dia menyelundup ke dalam istana Pangeran Tua dan mendapat kepercayaar sebagai pembantu Pangeran Tua sehingga dia dapat mengetahui semua rahasia rencana siasat pangeran yang hendak memberontak itu.

Betapa pangeran itu hendak membunuh para pangeran dan pejabat setia, kemudian membunuh Kai-sar dan menguasai tahta kerajaan.

"Ih, betapa jahatnya!"

Seru Lee Cin kaget.

"Bagaimana aku dapat membantunya .

"Pangeran Tua memiliki banyak pembantu lihai, maka makin banyak di pihak kita yang memiliki kepandaian bekerja sama, lebih baik lagi. Pangeran Tang Gi Su memang akan mengerahkan kekuatan pasukan, akan tetapi tanpa bantuan orang-orang pandai, aku khawatir para pemberontak dan penjahat itu akan dapat melarikan diri. Karena itu, aku minta engkau suka membantu menghadap para penyerbu itu dan terserah kepada Pangeran Tang Gi Su engkau hendak diminta rnembantu dan melindungi pangeran yang mana. Engkau temuilah Tang Cin Lan, dan engkau bekerja-samalah dengannya."' "Hemmm, siapa itu Tang Cin Lan?"

"la puteri Pangeran Tang Gi Su, se-brang puteri pangeran akan tetapi juga seorang pendekar wanita murid Pek I Lokai yang lihai. Pergilah ke rumah Pa-ngeran Tang Gi Su, temui pangeran itu atau temui Tang Cin Lan, katakan kepa-da mereka bahwa aku yang menyuruhmu membantu mereka, tentu mereka akan menerimamu dengan senang hati dan memberimu tugas yang penting untuk menghadapi komplotan pemberontak itu."

"Hemm, mengapa aku harus menuruti perintahmu?"

Kata Lee Cin dengan sikap angkuh.

"Karena engkau adalah puteri Paman "Souw Tek Bun yang menjadi bengcu. Kalau Paman Souw sendiri berada di sini pasti beliau akan membantu. Kini yang berada di sini adalah engkau, maka sudah sepatutnya engkau mewakili ayahmu membantu penindasan pemberontak ini, Lee Cin."

Lee Cin merasa terdesak. la tentu saja suka mewakili ayahnya dan ia me-mang tahu bahwa pemuda ini bertugas karena permintaan ayahnya yang menye-rahkan surat untuk Kaisar.

"Baiklah, akari tetapi kalau keluarga pangeran itu tidak menerimaku dengan baik, aku tidak sudi membantu mereka."

"Mereka itu bangsawan, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang baik dan dapat menghargai orang-orang gagah. Katakan saja bahwa aku yang memintamu agar berkunjung kepada mereka untuk membantu menghadapi kaki tangan Pangeran Tua, pasti mereka akan menerimamu dengan senang hati."

Thian Lee lalu memberi keterangan di mana letak rumah Pangeran Tang Gi Su.

Setelah mengetahui letak rumah itu dengan jelasi Lee Cin lalu pergi menunggangi kudanya, kembali ke kota raja.

Thian Lee juga kembali ke kota raja dan dia langsung saja pergi ke istana Pangeran Tua.

hati-nya lega karena dia telah mengati.r dan Pangeran Tang tentu telah mempersiap-kan segalanya.

Lee Cin membalapkan kudanya sehihgga sebentar saja dara perkasa inl sudah memasuki kota raja dari pintu gerbang selatan.

la lalu menjalankan kudanya perlahan mencari rumah Pangeran Tang.

Setelah tiba di depan rumah itu, ia melompat turun dari kudanya dan menuntun kuda itu memasuki pekarangart!

yang luas dari rumah itu.

Beberapa orang petugas jaga segera menghampirinya.

"Maaf, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apakah memasuki pekarangan ini?"

Tanya kepala jaga dengan sikap hormat.' "Aku ingin bertemu dengan Pangeran Tang Gi Su atau puterinya, Nona Tang Cin Lan. Katakan bahwa aku datang dengan keperluan yang amat penting!"

Tentu saja para penjaga itu tidak berani membiarkan Sang Pangeran keluar karena mereka sudah menerima perintah agar melakukan penjagaan ketat semenjak ada penyerangan terhadap pangeran itu.

Akan tetapi mereka tahu betapa lihainya puteri pangeran sehingga sebaiknya kalau gadis yang tidak mereka kenal ini dihadapkan kepada Tang-siocia itu.

"Baik, silakan ikut kami, Nona dan biarkan kuda Nona di sini, akan ada yang mengurusnya,"

Kata kepala jaga dan Lee Cin mengangguk, lalu mengikuti kepala jaga itu menuju ke sebuah ruangan tamu di samping depan bagian rumah besar.

"Silakan Nona menanti sebentar, kami hendak melaporkan kedatangan Nona kepada Tangsiocia."

Kembali Lee Cin mengangguk sambil duduk di atas kursi yang terukir indah.

Kepala jaga itu pergi meninggalkannya dan tidak lama kemudian, pintu sebelah dalam terbuka dan muncullah seorang gadis cantik dari dalam rumah.

Melihat munculnya gadis ini, Lee Cin bangkit dan memandang penuh perhatian.

Dua orang gadis itu berdiri berhadapan dan saling pandang dengan mata penuh selidik.

Lee Cin kagum melihat gadis itu.

Tubuhnya ramping dengan leher panjang dan kulit leher dan tangannya nampak putih mulus.

Rambutnya hitam panjang digelung ke atas, dengan anak rambut melingkar-lingkar di dahi dan pelipis.

Alisnya melengkung dan sepasang matanya tajam penuh keberanian.

Hidungnya mancung dan mulutnya kecil dengan bibir penuh dan merah segar menantang.

Mulut itu menjadi manis sekali karena adanya lesung pipit di sebelah kiri.

Seorang gadis yang cantik jelita.

Sementara itu, Cin Lan juga memandang kagum.

Gadis di depannya itu mengenakan pakaian berkembang berani.

Mukanya berbentuk bulat telur.

Mulutnya kecil mungil dan hidungnya mancung agak berjungkat ke atas sehingga nampak lucu menggemaskan.

Juga di kedua pipinya terdapat lesung pipit yang menambah kemanisannya.

Karena gadis itu nampak masih muda sekali, maka Cin Lan menaksir bahwa ia lebih tua satu dua tahun dibandingkan gadis itu, yang kecantikan-nya nampak liar, seperti setangkai bunga mawar hutan yang banyak durinya.

"Engkau siapakah, adik yang baik?"

Tanya Cin Lan ramah.

"Bukankah engkau yang bernama Tang Cin Lan, murid Pek I Lokai?"

Lee Cin balas bertanya. Cin Lan merasa heran bagaimana gadis asing ini sudah mengenalnya, bahkan mengenal gurunya pula.

"Benar sekali, bagaimana engkau bisa mengetahuinya? Siapakah engkau, adik yang manis?"

"Namaku Souw Lee Cin, dan ayahku adalah Bengcu Souw Tek Bun."

Cin Lan terkejut juga mendengar ini. Tentu saja ia sudah mendengar akan nama Bengcu Souw Tek Bun.

"Ah, kira-nya puteri Bengcu. Silakan duduk, Adik Lee Cin. Katakan, apa keperluanmu berkunjung ini? Adakah sesuatu yang dapat kubantu?"

Sikap manis dari Cin Lan menyenangkan hati Lele Cin dan ia segera dtlduk. Pantas Thian Lee memuji-muji gadis ini. Memang seorang gadis yang ramah pikirnya.

"Aku datang berkunjung karena disuruh oleh Thian Lee. Kau mengenal Thian Lee, Enci?"

Wajah Cin Lan seketika berubah kemerahan ketika mendengar nama kekasihnya disebutsebut.

"Tentu aku mengenalnya. Engkau disuruh ke sini oleh Lee-koko? Adakah dia mengirim pesan atau berita?"

Biarpun masih muda, akan tetapl Lee Cin sudah pandai menilai orang dari sikapnya.

Gadis ini menyebut Thian Lee dengan Lee-ko, dan ketika mendengar nama Thian Lee disebut, wajahnya menjadi kemerahan dan sinar matanya bersinar-sinar, dan ketika bertanya tentang Thian Lee, nampaknya demikian tegang.

Ah, seperti ia sendiri, gadis bangsawan ini juga mencinta Thian Lee!

Dia tidak mengirim berita apa pun, hanya menyuruh aku datang ke sini menghadap Pengeran Tang Gi Su atau puterinya yang bernama Tang Cin Lan, dan menyatakan bahwa aku ingin membantu menghadapi komplotan pemberontak yang hendak membunuhi banyak pangerar.

Aku akan membantu menangkapi mereka."

Ucapan ini mengandung suara yang nadanya sombong sekali sehingga Cin Lan tersenyum.

Gadis ihi tinggi hati, pikirnya, akan tetapi kalau kedatangannya ini atas permintaan Thian Lee, sudah pasti gadis ini memiliki kepandaian tinggi.

Apalagi mengingat bahwa ia puteri beng-cu.

"Engkau tahu apa tentang pemberontakan, Adik Lee Cin?"

Thian Lee sudah menceritakan semuanya kepadaku."

Lalu ia mengulang apa yang didengarnya dari Thian Lee.

Mendengar ini, Cin Lan tidak ragu lagi.

Gadis ini tentu dipercaya sepenuhnya oleh Thian Lee sehingga semua rahasia itu telah diceritakan kepadanya.

"Ah, kiranya engkau sudah mengetahui segalanya. Mari, Adik Cin, mari kita ke dalam!"

La lalu memegang tangan Lee Cin dan ditariknya gadis itu untuk bersama-sama memasuki rumah besar menuju ke lian-bu-thia yang berada di belakang rumah.

"Eh, Enci Cin Lan. Apa maksudmu membawaku ke sini?"

"Kau maafkan aku, Adik Ctin. Sama ssekali bukan aku tidak percaya kepadamu. Akan tetapi yang kita hadapi adalah lawan-lawan. yang amat lihai. Oleh karena itu, sebelum menerimamu aku harus lebih dulu menguji kepandaianmu agar engkau tidak sampai menderita celaka kalau berhadapan dengan mereka."

"Bagus! Engkau hendak mengujiku. Kebetulan aku pun ingin sekali menguji kepandaianmu yang begitu dipuji-puji oleh Thian Lee. Marilah!"

Lee Cin sudah melompat ke tengah ruangan silat itu dan memasang kuda-kuda dengan gaya yang manis sekali. Cin Lan tersenyum, lalu mengambil sebatang tongkat dari rak senjata.

"Adik Lee Cin, dalam menghadapi para penjahat itu mereka tentu menggunakan senjata, maka kuminta engkau keluarkanlah senjata andalanmu dan mari kita main-main sebentar."

Ia melintangkan tongkatnya di depan dada dan sekali putar, tongkat itu mengeluarkan angin berdesir.

Melihat ini Lee Cin dapat menduga bahwa Cin Lan tentu mahir sekali memainkan tongkat itu, apalagi mengingat bahwa ia adalah murid Pek I Lokai yang tingkat kepandaiannya sudah menyamai tingkat kepandaian para datuk.

Gurunya sendiri, atau lebih tepat ibu kandungnya, sudah sering bercerita kepadanya tentang kelihaian Pek I Lokai.

Maka, tanpa ragu lagi ia pun melolos Pedang Ular Merah dari pinggangnya.

Cin Lan kagum melihat betapa pedang yang blasa dipakai sebagai sabuk itu sudah berada di tangan Lee Cin dan mengeluarkan cahaya kemerahan.

"Bagus'. Nah, sambutlah serangan tongkatku, Adik Lee Cin!"

Cin Lan sudah maju menggerakkan tongkatnya dan dengan ilmu tongkat Hok-mo-tung ia menyerang dengan gerak-an cepat dan kuat sekali.

Lee Cin yang gudah menduga akan kelihaian Cin Lan, segera memutar pedangnya melindungi diri dan menangkis.

Terdengar suara nyaring berulang kali ketika pedang ber-temu tongkat dan keduanya merasa betapa telapak tangan mereka tergetar.

Lee Cin bertandlng dengan sungguh-sungguh, setelah menangkis ia pun balas menyerang, sehingga terjadilah pertandingan yang hebat dan indah dipandang.

Sinar pedang berbaur dengan sinar tongkat yang bergulung-gulung sehingga sukarlah diikuti pandang mata siapa yang lebih unggul di antara dua orang gadis cantik itu.

Terdengar suara tongkat berdesir-desir diiringi suara pedang berdesingan.

Setelah lewat hampir seratus jurus, keduanya masih belum ada yang lebih unggul!

Lee Cin lalu mulai meng-gerakkan tangan kirinya untuk membantu pedangnya dengan totokan It-yang-ci.

Cin Lan terkejut ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari jari tangan kiri Lee Cin.

La melompat ke belakang dan memutar tongkat sambil berseru.

"Tahan, Adik Lee Cin. Sudah cukup!"

Katanya gembira.

"Hebat, ilmu kepandaianmu benar hebat! Aku mengaku kalah."

"Ah, Enci Lan. Engkau yang hebat. Ilmu tongkatmu sungguh mengagumkan, Engkau tidak kalah sama sekali."

"Sekarang aku telah yakin akan kemampuanmu. Tadi pun sebetulnya aku telah percaya karena kalau sampai Lee-koko yang, menyuruhmu ke sini untuk membantu kami, tentu engkau lihai sekali. Akan tetapi aku ingin yakin dan sekarang aku tidak ragu lagi. Mari kuhadapkan kepada Ayah, Adik Lee Cin."

Sambil menggandeng tangan Lee Cin, Cin Lan mengajaknya mengunjungi ayah-nya yang berada di tempat tersembunyi dalam gedung itu.

Lee Cin melihat betapa.

ternpat itu terjaga ketat dan berlapis-lapis sehingga akan sukarlah bagi siapa saja yang hendak membunuh Sang Pangeran.

Ketika memasuki ruangan itu, Lee Cin melihat seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun duduk seorang diri.

Orang ini kelihatan tenang dan berwibawa sekali.

"Cin Lan, ada urusan apa engkau masuk ke sini? Dan Nona ini siapakah mengapa engkau ajak ke sini?"

"Maaf, Ayah. Karena kedatangan adik inilah maka aku membawanya menghadap Ayah. Namanya Souw Lee Cin, Ayah. la adalah puteri dari Bengcu Souw Tek Bun dan ia datang atas permintaan Lee-koko untuk membantu kita. Dan aku sudah mengujl kemampuannya, Ayah. Wah, ia hebat sekali, lihai dan pantas menjadi pembantu karena aku sendiri pun tidak mampu mengalahkannya!"

Pangeran itu nampak gembira mendengar laporan puterinya. Dia memandang kepada Lee Cin dengan sinar mata kagum lalu berkata.

"Selamat datang, Nona Souw! Makin besarlah hati kami dengan kedatangan Nona yang hendak membantu kami! Aku tahu bahwa ayahmu adalah seorang pendekar perkasa yang setia dan dipercaya oleh, Sri Baginda Kaisar."

"Taljin, aku datang karena diminta oleh Thian Lee dan mudah-mudahan saja aku tidak akan mengecewakan kalian di sini. Aku siap menanti perintah untul< melindungi Pangeran yang mana."

"Ayah Lee-koko telah menceritakan semuanya kepada Adik Lee Cin sehingga tidak ada rahasia baginya. la sudah tahu akan semua rencana siasat yang hendak dilakukan Pangeran Tua."

"Bagus, kalau begitu. Akan tetapi, yt kami telah mengatur siasat untuk rnelin-dungi semua calon korban dan memasang jebakan untuk menangkap para pembunuh itu. Sebaliknya kita menunggu munculnya Thlan Lee yang malam ini ditugaskan musuh untuk membunuhku. Kita tanyakan kepadanya saja ke mana kalian berdua akan ditugaskan. Untuk sementara ini, harap Nona Souw suka bersama Cin Lan tinggal di dalam rumah ini dan jangan membuat gerakan keluar agar tidak menimbulkan kecurigaan kepada pihak musuh."

Sambil bergandeng tangan kedua orang gadis itu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah asyik bercakap-cakap dalain kamar Cin Lan.

Keduanya segera menjadi akrab karena banyak persamaan antara kedua orang gadis ini, sama-sama terbuka dan keras.

Malam ini sunyi sekali.

Malam tanpa bulan bintang karena langit tertutup awan gelap.

Di dalam kegelapan malam itu nampak dua sosok bayangan manusla berkelebat cepat sekali mendekati gedung tempat tinggal Pangeran Tang Gi Su.

Biarpun Thian Lee sudah meyakinkan hati Pangeran Tua bahwa dia sanggup membunuh Pangeran Tang Gi Su seorang diri saja tanpa bantuan, tetap saja Pangeran Tua merasa sangsi dan dia mengutus Liok-te Lo-mo untuk mengawani Thian Lee.

Agak lama kedua orang ini mendekam di balik semak tak jauh dari tembok yang mengelilingi rumah Pangeran Tang Gi Su untuk melihat keadaan.

Penjagaan ketat sekali dan setiap beberapa menit sekali nampak belasan orang peronda berjalan di dekat tembok mengelingi tembok pagar yang tinggi.

"Suhu, penjagaan ketat sekali. Kalau kita berdua yang masuk ke dalam akan lebih mudah ketahuan musuh. Sebaiknya Suhu menanti di sini biarkan aku masuk melakukan tugas itu. Percayalah, pasti berhasil kalau aku bergerak seorang diri. Lebih mudah bersembunyi kalau masuk seorang diri dan Suhu menanti di Sini sampai aku keluar."

Liok-te Lo-mo yang sudah tahu akan kelihaian bekas muridnya ini mengangguk.

"Akan tetapi hati-hatilah. Aku mendengar penjagaan di dalam gedung itu ketat sekali sejak serangan pertama itu gagal."

"Jangan khawatir, Suhu. Aku pasti berhasil!"

Kata Thian Lee dan dia menggunakan penutup muka dari sutera hitam, kemudian berkelebat ke depan mendekati pagar tembok.

Dia membiarkan serombongan peronda lewat, setelah mereka lewat, tubuhnya melayang naik ke atas pagar tembok dengan kecepatan luar biasa sehingga kalau ada yang kebetulan lewat tentu hanya mengira bahwa itu bayangan pohon saja.

Liok-te Lo-mo yang mengintai dari balik semak-semak menggeleng kepala dengan kagum.

Hebat sekali gin-kang muridnya itu.

Dia mengerti mengapa bekas muridnya mencegah dia masuk karena dia sendiri tidak mungkin dapat bergerak seringan dan selincah itu dan kalau sampai ia ketahuan, tentu tugas penting itu akan menjadi gagal.

Sementara itu, Thian Lee benar-benar mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menyusup ke dalam tanpa diketahui para penjaga.

Padahal pafa penjaga me-lakukan penjagaan dengan penuh kewas-padaan.

Gerakannya demikian cepatnya sehingga dia dapat menyelinap dan bersembunyi setiap kali ada gerakan dari para peronda.

Akhirnya dia tiba di luar ruangan dl mana Pangeran Tang Gi Su bersembunyi.

Dan pada saat itu dia mendekati pintu, dua sosok bayangan berkelebat dan dia sudah ditodong sebatang tongkat dan sebatang pedang yang dipegang oleh Cin Lan dan Lee Cin!

Tentu saja dia melihat , munculnya dua orang gadis ini, maka dengan cepat dia membuka kedoknya sehingga dua orang gadis itu dapat mengenal wajahnya.

"Lee-koko....!"

Kata Cin Lan.

"Engkau membuat kami terkejut dengan kedokmu itu!"

"Thian Lee, penjagaan demikian ketat, bagaimana engkau dapat masuk sampai ke sini?"

Tanya Lee Cin dengan kagum.

"Ssttt, mari kita temui Tang-taijin,"

Kata Thian Lee. Cin Lan membuka daun pintu ruangan itu dan ketiganya masuk ke dalam. Pangeran Tang menyambut munculnya Thian Lee dengan gembira.

"Bagus, engkau telah dapat menunaikan tugasnriu dengan baik, Thian Lee."

"Taijin, mulai saat ini harap Taijin bersembunyi dari siapapun juga dan suruh orang menyediakan peti mati di ruangan depan. Biarkan orang-orang besok datang melayat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pihak musuh."

"Baik, semua akan diatur seperti kita rencanakan. Duduklah, Thian Lee dan jelaskan kepada kami, tugas apa yang harus diserahkan kepada Cin Lan dan Nona Lee Cin."

"Untuk semua calon korban sudah dikerahkan pasukan dan panglima-panglima yang tangguh untuk menyelamatkan dan menangkap para pembunuh. Yang terpenting sekali adalah penangkapan atas diri Koksu Pak-thian-ong. Selain dia lihai bukan main, juga tentu dia memiliki kawan-kawan yang tangguh. Oleh karena itu, saya sendiri, dibantu Lan-moi dan Lee Cin, yang akan melaktikan penggre-began itu,"

Kata Thian Lee.

"Saya akan menghadapi Pakthian-ong sedangkan kawan-kawannya akan dihadapi Lan-moi dan Lee Cin.' "Benar juga,"

Kata Pangerah Tang.

"Penyerbuan terhadap istana Pangerant Tua akan dipimpin sendiri oleh Panglima Gui dan para panglima yang lain."

"Nah, sekarang saya harus ketuar. Lan-moi, engkau boleh mengejarku keluaf sambil berteriak-teriak agar para penjaga juga ikut mengejar, akan tetapi setibanya di luar harap melepaskan aku sehingga aku dapat meloloskan diri. Ini untuk meyakinkan mereka bahwa tugasku berhasil baik.

"Baik, Lee-ko!"

Kata Cin Lan.

"Engkau tunggu saja di sini bersama Ayah. Adik Lee Cin."

Thiari Lee meloncat keluar sambil mencabut pedangnya. Tak lama kemudian Cin Lan berteriak.

"Tangkap penjahat!"

Dan ia pun melompat dan melakukan pe-ngejaran.

Thian Lee sudah mengenakan lagi kain hitam di depan mulut dan hidungnya.

Mendengar teriakanteriakan Cin Lan yang berulang-ulang, para penjaga terkejut dan mereka semua keluar dan menghadang bayangan hitam yang berlarian.

Akan tetapi bayapgan hitam yang berlarian itu memutar pedangnya dan golok para penjaga begitu bertemu dengan pedang itu menjadi patahpatah.

Ributlah para penjaga melakukan pengejaran bersama Cin Lan.

Akan tetapi bayangan hitam itu sudah melompati pagar tembok.

Liok-te Lo-mo yang bersembunyi di luar, mendengar teriakan-teriakan itu dan ia melihat Thian Lee meloncat keluar dari pagar tembok dikejar seorang gadis s yang dikenalnya dari sinar lampu pagar sebagai puteri Pangeran Tang Gi Su yang pernah datang ke istana Pangeran Tua.

Dia hendak membantu Thian Lee, akan tetapi Thian Lee yang sudah tiba di dekatnya berkata.

"Hayo kita lari'"

Dan keduanya lalu rnelarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam. Setelah tidak ada yang mengejar lagi, mereka berputar dan kembali ke istana Pangeran Tua.

"Bagaimana hasilnya? tanya Liok-te Lo-mo.

"Beres.. Dia sudah tewas!"

Kata Thian Lee singkat.

"Bagus, ah, bagus sekali Thian Lee. Aku bangga rnempunyai murid seperti engkau!"

Kata kakek itu dengan gembira bukan main.

Dia membayangkan usaha Pangeran Tua akan berhasil dan sebagai seorang pembantu yang berjasa, tentu saja akan mendapatkan anugerahnya ke-lak kalau Pangeran Tua berhasil menjadi Kaisar.

Kedatangan Thian Lee disambut oleh Pangeran Tua dan kaki tangannya.

Mereka semua gembira bukan main mendengar bahwa Pangeran Tang Gi Su telah berhasil dibunuh oleh Thian Lee.

Liok-te Lo-mo menceritakan dengan berse-mangat betapa bekas muridnya itu setelah berhasil membunuh Pangeran Tang Gi Su, ketika keluar ketahuan dan dikejar oleh puteri Pangeran bersama para penjaga, akan tetapi dapat dengan selamat meloloskan diri bersama dia.

Pada keesokan harinya tersiar berita bahwa semalam Pangeran Tang Gi Sii telah tewas dibunuh penjahat!

Dan Pangeran Tua sendiri ikut melayat ke rumah Pangeran Tang Gi Su yang terhitung adik tirinya itu.

Dia menyaksikan sendiri peti mati yang ditangisi keluarga adik tirinya.

Juga dia melihat anak-anak pangeran itu termasuk Cin Lan yang duduk dengan wajah duka di dekat peti mati.

Tidak ada keraguan lagi bahwa memang tugas yang dilakukan Thian Lee telah berhasil dengan baik.

Malam itu terjadilah peristiwa-peristlwa yang amat hebat dan diarn-diam.

Sebagian besar penduduk kota raja tidak tahu sama sekali bahwa malam itu terjadi usaha pembunuhan besar-besaran dan penangkapan besar-besaran pula.

Rombongan-rombongan pembunuh berkeliaran menuju ke istana-istana para pangeran yang secara rahasia telah dijaga ketat oleh pasukan yang amat kuat dan yang memasang jebakan untuk menangkap para pembunuh.

Satu di antara rombongan-rombongan ku adalah rombongan Liok-te Lo mo yang dibantu dua orang yang menuju ke istana Pangeran Kian Tek.

Karena biasanya istana para pangeran tidak pernah dijaga secara ketat, maka malam hari itu Liok-te Lo-mo berjalan santai dan memastikan bahwa tugasnya akan berhasil baik.

Apa sih sukarnya membunuh seorang pangeran bagi seorang datuk seperti dia?

Apalagi dia dibantu oleh dua orang yang cukup tangguh.

Kalau menghadapi belasan orang penjaga saja, dua orang pembantunya sudah cukup, sedangkan dia sendiri akan dapat masuk ke dalam membunuh Pangeran Kian Tek.

Akan tetapi ketika dia dan dua orang kawannya tiba di belakang istana pangeran itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Thian Lee telah berdiri di depannya.

"Eh, engkau, Thian Lee? Mengapa engkau di sini? Bukankah tugasmu di lain tempat?"

Thian Lee tidak menjawab, akan tetapi tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan dua orang pembantu Liok-te Lo-mo yang sama sekali tidak rnenduga akan diserang itu terkulai roboh karena telah tertotok.

"Hei, apa yang kaulakukan ini?"

Tanya Liok-te Lo-mo marah sambil rnelolos? Sabuk rantainya.

"Liok-te Lo-mo, aku sengaja menghadangmu di sini untuk menasihatimu. Dahulu, pernah engkau menyelamatkan nyawaku dari tangan tukang-tukang pukul bahkan engkau telah mengangkatku sebagai murid. Karena itulah maka aku sengaja datang untuk mempersilakan engkau cepat melarikan diri agar lolos dari penangkapan pemerintah. Aku tidak ingin melihat engkau celaka, Liok-te Lo-mo."

"Thian Lee, apa artinya ini?"

"Artinya, Liok-te Lo-mo, bahwa semua permainan Pangeran Tua sudah berakhir. Semua pembunuh akan ditangkap dan juga Pangeran Tua malam ini akan diserbu dan ditangkap. Engkau juga akan ditangkap kalau kaulanjutkan hendak membunuh Pangeran Kian Tek karena di sana sudah dijaga oleh pasukan yang kuat."

"Tapi bagaimana bisa bocor rahasia ini....?"

"Aku adalah petugas dari Kaisar"

"Kau....? Tapi... kau sudah membunuh Pangeran Tang Gi Su...."

"Tidak, Pangerap Tang masih segar-bugar, tidak pernah kubunuh. Semua itu hanya sandiwara untuk mengelabuhi Pangeran Tua. Sudahlah, Lo-mo, jangan sampai terlambat. Lekas kau melarikan diri. Ini adalah pembalasan budi dariku."

"Kau....!"

Liok-te Lo-rno hendak menyerang, menggerakkan rantai bajanya. Akan tetapi dengan mudah Thian Lee menangkap rantai itu dan berkata dengan tegas.

"Percuma, Lo-mo. Engkau tidak akan menang melawanku. Sekarang pilih saja, engkau ingin bebas atau ingin kutangkap sebagai pernbunuh pangeran?"

Liok-te Lo-mo maklum bahwa ucapan pemuda itu benar.

Dia tidak akan rnampu melawan dan agaknya sernua harapannya buyar.

Bekas muridnya ini ternyata seorang petugas Kaisar!

Pangeran Tua telah tertangkap.

Semua usahanya akan gagal dan hancur.

"Thian Lee, bagaimanapun juga, engkau akan berhadapan dengan Pak-ithian-ong...."

"Sudah kuperhitungkan. Malam ini juga dia akan kutangkap!"

Kata Thian Lee.

Liok-te Lo-mo lalu membalikkan tubuhnya dan lari pergi dari tempat itu.

Bagaimanapun juga, tentu saja dia tidak ingin ikut tertangkap, dan dihukum.

Thian Lee lalu menyeret tubuh kedua orang kaki tangan Pangeran Tua itu ke pintu gerbang istana Pangeran Kian Tek dan menyerahkan mereka kepada penjaga, kemudian dia berlari pulang ke gedung Pangeran Tang Gi Su.

Tugas pertamanya, yaitu membalas budi kepada Liok-te Lo-mo telah selesai dan dia girang bahwa kakek tua itu menuruti nasihatnya dan melarikan diri.

Kini tinggal menghadapi Pak-thian-ong Dorhai.

Cin Lan dan Lee Cin sudah menung-gu.

Pangeran Tang Gi Su sudah pergi memimpin sendiri pasukan yang melaku-kan penyerbuan ke istana Pangeran Tua dan ketika dua orang gadis itu melihat Thian Lee, mereka lalu menyambut dengan tidak sabar lagi.

"Kapan kita menyerbu tempat tinggal Pak-thian-ong?"

Tanya Lee Cin.

"Sekarang juga. Apakah pasukan telah dipersiapkan?"

Tanya Thian Lee.

"Sudah,"

Jawab Cin Lan.

"Ong-ciang-kun sudah siap dengan seratus orang pasukannya."

"Kalau begitu, mari kita berangkat!"

Kata Thian Lee.

Pasukan itu lalu berangkat di malam itu menuju ke tempat tinggal koksu Pak-thian-ong Dorhai.

Rumah itu cukup mewah dan dilingkari pagar tembok yang tebal, dengan pintu gerbang di depan yang besar dan kokoh.

Di depan pintu gerbang terdapat belasan orang perajurit penjaga.

Ketika pasukan itu tiba-tiba muncul di depan pintu gerbang, belasan penjaga itu terkejut sekali.

"Ciangkun, ada apakah....?"

Tanya kepala penjaga kepada Ong-ciangkun yang memimpin pasukan itu.

"Jangan banyak mulut. Buka pintu gerbang dan biarkan kami semua masuk. Kami datang untuk menangkap pemberontak Dorhai."

Para penjaga itu terkejut bukan main.

Akan tetapi Ong-ciangkun sudah memberi isarat dan pasukannya menyerbu.

Belasan orang itu mengadakan perlawanan, ditambah lagi belasan penjaga lain yang berlarian dari dalam, akan tetapi dalam waktu singkat mereka semua dapat dilumpuhkan dan ditangkap.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dari dalam dan ketika daun pintu dibuka menyorot keluar sinar terang dari dalam membuat keadaan di situ yang diterangi lampu penjagaan menjadi semakin terang.

Muncullah dua orang kakek dari dalam, seorang di antaranya adalah Pak-thian-ong Dorhai yang membentak tadi.

"Haiii, siapa kalian berani bermain gila di rumah kami?"

Dan ketika melihat Ong-ciangkun yang memimpin pasukan, dia membentak.

"Ciangkun, berani engkau lancang memimpin pasukan membikin kacau di sini? Apakah engkau hendak memberontak?"

Thian Lee yang bersama kedua orang gadis berada di dalam pasukan itu menjadi terkejut sekali melihat bahwa Pak-thian-ong muncul bersama Thian-te Mo-ong Koan Ek!

Agaknya datuk besar yang disebut pula Iblis Selatan itu tetah dapat dibujuk oleh Pak-thian-ong untuk bersekutu pula.

"Awas, kalian hadapai Si Tinggi Kurus itu. Lan-moi, engkau hati-hati, dia lihai sekali. Hadapi bersama Lee Cin,"

Bisik Thian Lee dan dia segera meloncat maju ke depan Pak-thian-ong.

Pak-thian-ong, atas nama Kaisar kami minta agar menyerahkan diri.

Permainanmu bersama pemberontak Pangeran Tua telah terbongkar seluruhnya!"

Kata Thian Lee lantang. Pak-thian-ong terbelalak.

"Engkau, Engkau yang pemberontak! Engkau telah membunuh Pangeran Tang Gi Su!"

"Keliru, Pak-thian-ong! Pangeran Tang Gi Su tidak pernah terbunuh. Dan aku adalah petugas dan Sri Baginda Kaisar untuk mernbongkar persekutuan pemberontak ini. Permainanmu telah selesai, menyerahlah atau kami akan menangkapmu dengan kekerasan!"

Seketika Pak-thian-ong sudah dapat menduga apa yang terjadi.

Pemuda ini adalah mata-mata dari Kaisar yang telah membongkar semua rahasia persekutuan itu.

Dan agaknya malam ini seluruh kekuatan pasukan dikerahkan untuk meng-hancurkan komplotan.

Matanya terbelalak dan mukanya menjadi pucat, akan tetapi dia sengaja tertawa bergelak dan berkata kepada rekannya.

"Ha-ha-ha-ha, kau dengar itu, Mo-ong? Bocah ini sombong hendak menangkap kita!"

Akan tetapi Thian-te Mo-ong sudah pernah merasakan kelihaian Thian Lee, maka dia sama sekali tidak meniru kesombongan Pak-thian-ong dan berkata dengan suara agak gugup.

"Thian-ong, mari kita lari saja dari sini selagi ada kesempatan!"

Dia sudah hendak melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba Lee Cin sudah melompat ke depannya dan dara ini mengejek.

"Hendak lari ke mana, Mo-ong?,Tempat ini sudah terkepung rapat dan engkau tidak akan dapat melarikan diri lagi. Menyerahlah atau aku terpaksa akan merobohkanmu!"

Melihat gadis ini, marahlah Thian-te Mo-ong.

Dia jerih terhadap Thian Lee, akan tetapi tidak takirt kepada gadis ini yang pernah ditangkapnya.

Maka, dia pun segera mencabut sepasang pedangnya dan menyerang Lee Cin tanpa banyak cakap lagi.

Dia hendak melarikan diri setelah merobohkan Lee Cin.

Akan tetapi men-dadak muncul seorang gadis lain yang memegang tongkat dan menangkis se-rangannya.

Kemudian gadis bertongkat yang bukan lain adalah Cin Lan ini sudah mengeroyok bersama Lee Cin seperti Isudah direncanakan semula oleh Thian Lee.

Terjadilah perkelahian seru yang disaksikan oleh para perajurit yang me''figepung tempat itu.

Pak-thian-ong Dorhai juga sudah ma-rah sekali.

Dia melihat kenyataan bahwa semua rencananya bersama Pangerari Tua Sudah runtuh dan semua ini disebabkan oleh Thian Lee.

Maka kernarahannya ditumpahkan kepada pemuda itu dan sambil mengeluarkan suara gerengan seperti seekor singa terluka, dia sudah melolos sabuk rantainya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang Thian Lee.

Pemuda ini pun mencabut Jit-goat Sin-kiam dan menyambut serangan sabuk rantai itu dengan berani.

Para perajurit tidak menemukan lawan yang berarti dan mereka sudah menangkapi semua penjaga dan pelayan dalam gedung itu, menawan mereka dan kini mereka hanya dapat mengepung ruangan di mana terjadi petempuran hebat itu.

Ong-ciangkun sendiri, biarpun memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dari anak buahnya, tidak berani mencampuri pertandingan itu karena tingkat kepandaiannya masih jauh lebih rendah.

Oleh karena itu, dia hanya memerintahkart anak buahnya untuk mengepung ketat tempat itu dan mempersiapkan senjata, terutama anak panah untuk menyerbu dan menghalangi musuh jika hendak melarikan diri.

Bahkan di atap-atap rumah yang berdekatan dia memasang belasan orang perajurit dengan busur dan anak , panah siap di tangan.

Pertandingan antara Song Thian Lee dan Pak-thian-ong Dorhai sungguh seru bukan main.

Pak-thian-ong Dorhai adalah seorang di antara Empat Datuk Besar yang paling tinggi kepandaiannya, juga dia memiliki pengalaman bertanding yang banyak sekali.

Raksasa tinggi besar inl seiain merupakan ahli silat, juga ahli pula dalam ilmu gulat, tenaga besar sehingga sabuk rantai yang digerakkan berputar-putar itu mengeluarkan suara angin bersuitan dan menjadi gulungan sinar yang lebar.

Namun sekali ini dia bertemu dengan lawan yang biarpun masih muda namun telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

Andaikata Thian Lee tidak bertemu dengan Yeti dan tidak menerima warisan ilmu pedang Jit-goat Kiam-sut menggunakan Jit-goat Sin-kiam dan ilmu menghimpun tenaga sakti Thian-te Sin-kang, tidak mungkin, dia akan dapat mengimbangi kenekatan Pak-thian-ong.

Tingkat kepandaian Pakthian-ong sudah amat tinggi untuk waktu itu, setingkat dengan kepandaian para ketua perkumpulan dan partai besar.

"Aaaaggghhhh....!"

Pak-thian-ong mengeluarkan suara gerengan aneh dari tubuhnya sudah menerjang ke depan amat dahsyatnya, rantai baja itu menyambar-nyambar ke arah kepala Thian Lee sedangkan lengan kirinya yang panjang berbulu itu dengan tangan membentuk cakar melakukan cengkeraman-cengkeraman ke arah dada dan perut lawan.

Thian Lee maklum betapa dahsyat dan berbahayanya semua serangan itu, maka dia pun menggunakan kelincahan tubuhnya, mengelak ke sana sini, meloncat dengan sigapnya ke kanan kiri sambil menggerakkan Jit-goat Sin-kiam untuk menangkis rantai.

Terdengar bunyi nyaring berdencingan ketika rantai bertemu pedang, menimbulkan percikan bunga-bunga api dan kadang lengan kiri mereka bertemu ketika Thian Lee menangkis dan setiap kali lengan kiri bertemu, tubuh keduanya terdorong ke belakang dan tergetar hebat sekali.

Hal ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga sin-kang kekuatan mereka seimbang.

Tentu saja Pakthian-ong Dorhai menjadi terkejut dan heran bukan main.

Selama menjelajahi dunia kang-ouw sebagai seorang datuk besar, jarang dia bertemu tanding, apalagi kalau lawannya hanya seorang pemuda seperti Thlan Lee.

Dia menjadi penasaran sekali.

Fada saat itu, empat orang perajurit yang berdekatan dengan tempat pertandingan itu, agaknya ingin membuat jasa dan melihat Pak-thian-ong terdorong ke belakang, mereka sudah menggerakkan tombak mereka dan menusuk dari belakang.

Empat batang tombak dengan cepat dan kuat menusuk ke arah -lambung dan punggung Pak-thian-ong.

"Krak-krak-krak-krak!"

Terdengar bunyi keras empat kali.

Punggung dan larri-bung yang tertusuk tombak itu tldak apa-apa, sebaliknya empat batahg tonnbak itu yang patah-patah!

Pak-thian-ong memutar tubuh tangan kirinya meraih dan dia sudah dapat merampas ernpat gagang tombak dengan tangan kirinya dan sekali tangan kiri bergerak, empat batang tombak itu menyambar dan tepat mengenal dada empat orang penyeranghya.

Batang tombak itu menembus dada sampai ke punggung dan robohlah empat penyerang tadi, tewas seketika!

"Jangan mencampuri!"

Teriak Thiari Lee yang menjadi marah sekali melihat betapa empat orang perajurit tewas oleh Pak-thian-ong. Sementara itu Ong-ciang-kun menjadi marah.

"Mundur! Perketat pengepungan akan tetapi jangan ada yang turun tangan sebelum diperintah!"

Pak-thian-ong sudah menghadapi Thian Lee lagi dan tiba-tiba tubuhnya rnerendah, rantainya menyapu kaki Thian Lee dengan cepat dan kuat sekali.

Thian Lee meloncat ke atas dan berjungkir balik, lalu tubuhnya menukik turun sambi menusukkan pedangnya ke arah ubun-ubun kepala lawan yang merendahkan tubuhnya itu.

Pak-thian-ong memutar pergelangan tangannya dan rantai baja itu menangkis pedang.

"Tranggg....!"

Nampak bunga api percikan dan Pak-thian-ong menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan tiba-tiba saja tangan kirinya sudah menyambar ke arah kaki Thian Lee dengan ceng-keramannya.

Thian Lee terkejut sekali karena tidak sempat mengelak lagi.

Dia merasa betapa pergelangan kaki kirinya dicengkeram, seperti dijepit catut baja saja rasanya.

Tidak mungkin melepaskan kaki dari cengkeraman itu dan sebelum lawan dapat menyeretnya jatuh, pedang-nya menusuk ke arah pergelangan tangan yang mencengkeram kakinya itu.

Begitu cepat gerakan pedang ini sehingga Pak-thian-ong tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan tangannya kecuali mele-paskarf cengkeramannya dan menarik ta-ngannya sambil melompat bangun berdiri.

Mereka berhadapan lagi.

Pak-thian-ong agak terengah dan lehernya sudah mulai basah dengan keringatnya sendiri.

Thian Lee sebaliknya masih nampak tenang dan sama sekali tidak terengah.

Hal ini menunjukkan bahwa bagaimanapun pemuda ini masih menang dalam hal daya tahan dan pernapasan.

Thian Lee yang maklum akan kelihaian lawan melihat ini dia tahu bahwa kemenangannya terletak pada daya tahannya.

Biarlah lawan menghabiskan tenaganya sendiri, pikirnya.

"Mau menyerah, Pak-thian-ong?"

Ejeknya, sengaja untuk memanaskan hati lawan.

"Engkau atau aku yang mampus!"

Teriak datuk itu dan dia sudah menyerang lagi dengan dahsyatnya.

Hal ini memang dikehendaki Thian Lee.

Pemuda ini mengelak lagi dan selanjutnya menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk menghindarkan diri sambil memancing agar lawan menyerang terus.

Sementara itu, perkelahian antara Thian-te Mo-ong Koan Ek yang dikeroyok oleh Lee Cin dan Cin Lan juga berlang-sung dengan serunya.

Memang kalau maju satu demi satu, dua orang gadis itu tidak akan mampu menandingi Thian-te Mo-ong.

Akan tetapi rnereka maju bersama dan keduanya memang sudah memiliki ilmu kepandaian tingkat tinggi sehingga Thian-te Mo-ong yang dikeroyok menjadi repot juga.

Dia adalah seorang di antara ernpat Datuk Besar yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya dan di antara Empat Datuk Besar, dialah yang terkenal ahli dalam permainan sepasang pedang.

Dahulu, ketika diadakan pertemuan antara Empat Datuk Besar yang hendak saling mengadu ilmu untuk menentukan siapa di antara mereka berempat yang paling lihai, disaksikan oleh Pek I Lokai, mereka dilerai oleh seorang panglima yang membawa surat kuasa Kaisar yang menawarkan kepada empat orang datuk besar untuk membantu pemerintah.

Semuanya menolak, dan hanya Pakthian-ong Dorhai yang mau menjadi pembantu pemerintah dan kemudian di-angkat menjadi koksu.

Kemudian Pak-thian-ong membujuk Thian-te Mo-ong untuk membantunya dalam persekutuannya dengan Pangeran Tua.

Karena persekutuan itu menjanjikan kedudukan yang lebih tinggi, bahkan membuka kesempatan bagi mereka untuk juga merebut tahta, maka Thian-te Mo-ong tertarik.

Tak disangkanya baru beberapa hari berada di rumah Pak-thianong, telah terjadi penyerbuan pasukan pemerintah seperti yang terjadi malam ini.

Menghadapi pengeroyokan kedua orang gadis itu.

Thian-te Mo-ong harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Dua orang gadis itu biarpun masih muda akan tetapi sama sekali tidak boleh di-pandang ringan.

Cin Lan memiliki sin-kang yang aneh dan kuat sekali berkat hawa beracun gigitan ular-ular emas dan ular putih yang kemudian menjadi ga-bungan tenaga dahsyat dalam dirinya.

Dengan dorongan tenaga ini, tongkaznya menjadi dahsyat sekali dan ilmu tongkat Hok-mo-tung juga merupakan ilmu silat yang ampuh, dirangkai sendiri oleh Pek I Lokai.

Totokan-totokan tongkat itu ke arah jalan darahnya membuat Thiante Mo-ong harus menghindarkan diri dengan tangkisan atau elakan.

Tidak berani dia menerima totokan tongkat yang demikian kuatnya itu dengan perlindungan kekebalan tubuhnya.

Sementara itu Lee Cin juga merupakan lawan yang berbahaya.

Bukan saja Pedang Ular Merahnya itu mengandung racun dan dimainkan dengan Ang-coa-kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Merah) yang juga merupakan ilmu silat tinggi, akan tetapi yang membuat Thian-te Moong menjadi semakin repot adalah tangan kiri gadis ini.

Lee Cin selalu mengguna-kan kesempatan terbuka untuk menyerang lawan dengan totokan It-yang-ci jari tangan kirinya.

Totokan It-yang-ci ini sudah dilatihnya dengan baik sehingga kini totokan satu jarinya mengeluarkan suara bercuitan dan sudah terasa oleh lawan hebatnya totokan ini sebelum jari tangan itu mengenai sasaran.

"Hyaaaatttt....!"

Tiba-tiba Thian-te Mo-ong yang sudah mulai lelah itu me--ngeluarkan bentakan nyaring sekali.

Me-reka sudah bertanding lebih dari dua ratus jurus dah belum juga dia mampu mendesak kedua orang pengeroyoknya.

Mereka dengan penasaran dan kemarahan meluap-luap kirii dia menyerang, sepasang pedang menyannbar ke kanao kiri, yang kanan menusuk ke arah perut Lee Cin, yang kiri menyambar ke arah leher Cin Lan.

Memang luar biasa sekali ilmu pedang pasangan dari Datuk Iblis Selatan itu.

Dalam satu saat pedangnya dapat menyerang ke dua jurusan dengan gerak-an yang berbeda, yang kiri mernbabat leher, yang kanan menusuk ke perut.

Dan kedua serangan ini sama-sama hebat dan berbahaya bagi kedua orang lawanrya.

Cin Lan menangkis pedang yarg menyambar ke arah lehernya itu dengan tongkatnya, sedangkan Lee Cin meiompat ke kiri untuk menghindarkan perutnya dari tusukan pedang.

Kemudian, Cin Lan setelah menangkis pedang tadi lalu memutar tongkatnya yang menghantam ke arah kepala kakek itu sedangkan Lee Cin membarengi serangan itu dengan tusukan pedangnya ke arah lambung dari samping kakek itu memutar kedua pedangnya menangkis.

"Trang-trang!"

Tepat pada saat sepasang pedang itu menangkis pedang Lee Cin dan tongkat Cih Lan, jari tangan Lee Cin ir.enotok dan mengarah jalan darah di pundak Thian-te Mo-ong.

Kakek inl terkejut dan menggerakkan pundaknya mengelak, akan tetapi biarpun tidak tepat benar, jalan darahnya itu sempat tersentuh jari tangan Lee Cin dalam totokan It-yang-ci yang ampuh.

"Tukk....!"

Tubuh Thian-te Mo-ong .terhuyung ke belakang dan Cin Lan yang melihat kesempatan baik ini cepat menerjang maju dan tongkatnya menotok ke arah dada kakek itu.

"Dukk....!!"

Thian-te Mo-ong mengeluh dan terpelanting.

Pada saat itu kembali Lee Cin sudah menyerangnya dengan totokan It-yang-ci dan sekali ini totokannya mengenai sasaran dengan tepat dan tubuh Thian-te Mo-ong menjadi lemas tak mampu digerakkan lagi.

"Ringkus dia!"

Ong-ciangkun memberi aba-aba dan banyak tangan para perajurit segera menelikung tubuh itu dengan rantai yang kuat sehingga kakek itu tidak mampu berkutik lagi.

Kini dua orang gadis itu mendekati Thian Lee yang masih bertanding melawan Pak-thian-ong Dorhai.

Akan tetapi kedua orang gadis itu merasa tidak perlu untuk membantu.

Mereka melihat dengan jelas betapa Thian Lee sudah unggul.

Pak-thian-ong sudah mandi peluh dan napasnya terengah-engah.

Segala daya dar kekuatan sudah dikerahkan oleh datuk besar ini, akan tetapi lawannya terlampau tangguh baginya.

Semua serangannya tidak mampu menembus pertahanan Thian Lee, sebaliknya kini pemuda itu mendesak dan menekannya sehingga sabuk rantainya tidak sehebat tadi gerakannya.

Dengan tenaga terakhir, Pak-thian-ong menggerakkan rantainya untuk menyerang kepala Thian Lee.

Rantai itu menyambar dengan dahsyat ke arah kepala pemuda itu, namun dengan tenang Thian Lee melangkah ke samping sambil mengelebatkan pedangnya, dengan pengerahan tenaga membacok ke arah rantai itu.

"Tranggg....!"

Rantai itu menjadi putus!

Hal ini dapat terjadi hanya karena tenaga kakek itu sudah mengendur.

Kalau tadi, tenaganya masih penuh, tidak mungkin pedang Thian Lee mampu membuat rantai itu putus, betapapun baik dan tajamnya pedang itu, betapapun kuat tenaga Thian Lee.

Pak-thian-ong Dorhai terbelalak memandang sisa rantai di tangannya, kemudian dia menoleh ke sekeliling.

Para perajurit dengan senjata di tangan, bahkan ada yang dengan anak panah di busur, siap ditembakkan, dan dua orang gadis yang telah berhasil menawan Thian-te Mo-ong, semua siap untuk turun tangan.

Tidak ada jalan keluar lagi baginya dan untuk melanjutkan pertandingan, akhirnya, dia hanya akan mendapat malu karena dia pasti kalah oleh pemuda yang hebat ini.

Menyerah?

Tidak urung dia akan dihukum mati.

Dosanya terlalu besar.

Sudah diberi anugerah kedudukan tinggi, dia masih bersekutu dengan Pangeran Tua untuk memberontak!

Pak-thian-ong menjadi putus asa dan tiba-tiba sebelum dapat dicegah Thian Lee yang sama sekali tidak menduganya, dia memukulkan sisa rantai baja itu ke arah kepalanya sendiri.

"Prakkk!!"

Pecahlah kepalanya dan Pak-thian-ong terkulai roboh dan tewas seketika, Thian Lee berdiri dan memejamkan matanya, menarik napas dalam.

Tubuhnya juga basah oleh keringat dan dia merasa lelah sekali.

Baru sekali ini selama hidupnya dia berhadapan dengan lawan setangguh itu.

Sebuah tangan memegang lengannya.

"Lee-ko, engkau,.. tidak apa-apakah...?"

Thian Lee membuka matanya dtari melihat bahwa yang memegang tangannya adalah Cin Lan. Dia tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Aku tidak apa-apa, Lan-moi."

"Sukurlah....!"

Kata gadis itu dengan hati lega, sementara itu Lee Cin melihat betapa mesra adegan yang sepintas itu, memperlihatkan perhatian dan kekhawatiran Cin Lan terhadap diri Thian Lee.

"Mari kita segera kembali dan meli-hat kalau-kalau yang lain memerlukan bantuan kita. Mari, Lan-moi dan Lee Cin, kita mendahului kembali untuk melihat keadaan. Biarkan Ongciangkun yang mengurus para tawanan."

Mereka bertiga segera meninggalkan gedung Koksu yang telah dikuasai pasukan itu dan kembali ke rumah Pangeran Tang.

Rumah itu memang dijadikan pusat gerakan pembersihan dan ternyata Pangeran Tang sendiri telah kembali.

"Ayah, bagaimana dengan penyerbuan istana Pangeran Tua?"

"Beres. Kami tidak menemui perla-wanan. Setelah semua orang kang-ouw yang membantunya dikerahkan untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, di rumahnya tidak ada lagi jagoan-jagoan yang tangguh. Para penjaga di, sana segera menyerah ketika diserbu pasukan kerajaan yang kuat dan banyak jumlahnya."

"Dan Pangeran Tua sendiri?"

"Agaknya dia putus asa melihat gerakannya hancur dan kami menemukan dia telah tewas membunuh diri di dalam kamarnya. Keluarganya sudah ditangkap, termasuk puteranya, Tang Boan dan kami juga menangkap Bian Hok putera Pangeran Bian Kun yang berada pula di sana. Dia tersangkut pula dalam komplotan pemberontak itu."

Pangeran Tang Gi Su memandang wajah puterinya, di dalam hati merasa bersukur bahwa dia belum menerima pinangan Bian Hok untuk puterinya.

Kalau dia sudah menerlma pinangan itu, tentu berarti bahwa calon mantunya yang tersangkut itu dan hal ini tentu akan membuat dia merasa tidak enak sekali.

Tak lama kemudian, para panglima yang melakukan penjagaan dan perlin-dungan kepada para pangeran yang akan dlbunuhnya, juga sudah berdatangan dengan laporan bahwa mereka pun telah dapat menangkapi orang-orang kang-ouw yang hendak membunuh para pangeran itu.

Pangeran Tang Gi Su menjadi lega sekall.

Dengan sekali pukul malam itu, seluruh gerakan Pangeran Tua yang amat berbahaya itu telah berhasil dilumpuhkan dan semua kelompok pemberontak dapat ditangkap.

Dan dalam hal inl, yang paling berjasa adalah Thian Lee.

Kalau pemuda itu tidak menyelundup ke dalam komplotan itu, tidak mungkin hal ini dilaksanakan dan mungkin akan berjatuhan korban-korban di antura pangeran.

Yang lebih menggembirakan lagi, semua operasi pembersihan yang berhasil meruntuhkan seluruh jaringan pemberontak itu berhasil dilakukan dengan diam-diam pada malam hari itu sehingga tidak ada rakyat yang tahu bahwa telah terjadi peristiwa yang amat berbahaya dan hebat.

Bahkan Ban-ciangkun dan Tung-ciangkun, dua orang panglima yang cukup berkuasa, dapat disergap di rumah mereka tanpa mereka menduga-duga sehingga me-reka tidak mempersiapkan diri.

Mereka dapat ditangkap sebelum sampai menggerakkan pasukan mereka.

Segera panglima lain dijadikan pengganti mereka dan pasukan yang berada di bawah pimpinan mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu, tidak sempat mengetahui bahwa mereka tadinya akan dikerahkan untuk menyerbu istana!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kaisar telah memanggil Pangeran Tang Gi Su bersama Thian Lee untuk mendengar laporan mereka tentang usaha menumpas gerombolan pemberontak itu.

Kaisar Kian Liong yang sudah tua itu girang bukan main mendengar laporan Tang Gi Su yang memuji-muji jasa Thian Lee dalam operasi yang berhasil itu.

"Saudaraku Pangeran Tang Gi Su, sekali ini jasamu sungguh besar sekali. Kami berterima kasih kepadamu dan mulai saat ini kami mengangkatmu menjadi Koksu. Kami membutuhkanmu sebagai penasihat pertama dalam segala urusan emerintahan karena engkau bijaksana dan tegas."

"Terima kasih, Yang Mulia,"

Kata Pangeran Tang Gi Su.

"Dan engkau, Thian Lee. Menurut laporan Pangeran Tang Gi Su tadi, jelas bahwa engkau yang membuat operasi itu berhasil baik. Karena keberanianmu menyusup ke tengah-tengah para pemberontak, engkau berhasil mengetahui rahasia gerakan mereka sehingga penumpasan dapat dilaksanakan dengan hasil baik. Biarpun baru saja engkau kami beri ke-dudukan panglima muda, mulai hari ini' engkau kami angkat menjadi panglima besar yang mengepalai seluruh pasukan penjaga keamanan istana!"

Terima kasih, Yang Mulia."

Kaisar sendiri lalu menganugerahkan sebatang pedang tanda kekuasaan kepada Thian Lee, dan Kaisar bahkan mengang-kat cawan arak untuk memberi selamat kepada dua orang yang berjasa besar itu.

Tentu saja para pelaksana operasi itu tidak dilupakan.

Sernua diberi kenaikan pangkat.

'' Setelah pertemuan berakhir, Thian Lee tidak segera pergi ke rumah gedung yang diberikan kepadanya sebagai tempat tinggal, melainkan ikut dengan Pangeran Tang Gi Su pulang ke rumah pangeran itu.

Dia harus menemui Cin Lan dan juga Lee Cin yang masih berada di rumah itu.

Di dalam hatinya, Thian Lee merasa berbahagia sekali karena melihat betapa sikap Pangeran Tang Gi Su amat akrab dengannya, bahkan pangeran itulah yang memuji-muji jasanya di depan Kaisar sehingga dia mendapatkan kenaikan pangkat yang besar.

Dari sikapnya, dia tahu bahwa pangeran ini kagum dan suka kepadanya dan hal ini menimbulkan harapannya mengenai hubungan cinta kasihnya dengan Cin Lan.

"Enci Cin Lan, bagaimana pendapatmu tentang Thian Lee?"

"Thian Lee? Ah, maksudmu Lee-ko? Apa yang kau maksudkan?"

"Dia seorang pemuda yang hebat, bukan? Ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Bahkan Pak-thian-ong yang terkenal sebagai datuk besar sakti itu tidak mampu menandinginya."

"Benar, Adik Cin. Lee-koko memang Seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali."

"Juga dia seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik budi, bukan?"

"Benar pula. Dia gagah perkasa dan berbudi mulia, maka tidak mengherankan kalau Sri Baginda Kaisar menaruh kepercayaan kepadanya dan memberinya anugerah kedudukan panglima."

"Kau agaknya kagum sekali kepadanya Enci Lan."

"Memang aku kagum sekali kepadanya, Adik Cin."

"Dan hubungan kalian... hemm, nampaknya mesra! Aku berani bertaruh bahwa engkau cinta sekali kepadanya, Enci."

Wajah Cin Lan berubah kemerahan, Biarpun bergaul dengan Lee Cin baru beiS berapa hari, ia sudah akrab sekali dengan sahabat ini, demikian pula Lee Cin selalu berbicara dengan terbuka dan bebas.

"Tak usah bertaruh, Adik Cin. Memang aku cinta sekali kepadanya."

"Dan dia? Apakah dia juga mencintamu, Enci?"

"Begitulah, kami saling mencinta dan kami mengharapkan akan dapat saling berjodoh."

"Dia sudah menyatakan cinta kepadamu?"

Biarpun agak kemalu-maluan, Cin Lan mengangguk.

"Sudah, dan hal itu membahagiakan hatiku, Adik Cin."

Lee Cin memegang lengan Cin Lan dengan akrabnya.

"Ah, Enci Lan, engkau beruntung sekali, membuat aku mengiri kepadamu!"

Dan tiba-tiba saja dengan gerakan ilmu It-yang-ci, Lee Cin telah menotok pundak Cin Lan membuat Cin Lan mendadak terkulai lemas.

Cin Lan terkejut sekali.

la hanya tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi masih dapat berbicara.

"Adik Cin, apa yang kau lakukan ini?"

Tanyanya heran dan berusaha untuk mengerahkan sinkang menembus jalan darah yang tertotok.

Akan tetapi totokan It-yang-ci itu hebat sekali.

Sedikit pun ia tidak mampu mengerahkan Iwee-kang (tenaga dalam) bahkan kalau ia paksa, terasa nyeri sekali di dadanya.

Maka ia menyerah.

"Sudah kukatakan, aku iri kepadamu!"

Kata Lee Cin dan ia pun segera memanggul tubuh Cin Lan dan membawanya keluar dari kamar itu dan terus ia keluar rumah melalui tarnan dan tembok bela-kang, membawa Cin Lan pergi meninggalkan kota raja.

Pada penjaga pintu gerbang, Lee Cin mengatakan bahwa puteri Pangeran Tang Gi Su itu sedang keracunan dan ia membawanya pergi menemui tabib yang akan menolongnya.

Biarpun ia berada dalam keadaan berbahaya karena terjatuh ke tangan seorang gadis yang iri hati kepadanya, narnun Cin Lan tetap tenang.

la tahu bahwa Lee Cin bukan gadis jahat, dan kalau memang Lee Cin bermaksud membunuhnya tentu sudah sejak tadi dilakukannya.

Akan tetapi ia pun dapat menduga bahwa Lee Cin mencinta Thian Lee dan kini hatinya cemburu membuat gadis itu seperti gila, menjadi salah tingkat dan melakukan hal-hal yang tak masuk akal.

Mereka tiba di tepi hutan, tak jauh dari kota raja, Lee Cin melepaskan tubuh Cin Lan menggeletak telentang sedangkan ia sendiri duduk di atas batu memandangi Cin Lan dengan alis berkerut.

Tiba-tiba ia mencabut pedangnya.

"Benar, aku harus membunuhnya!"

Katanya kepada diri sendiri sambil meno-dongkan pedangnya ke dada Cin Lan.

"Adik Cin, kenapa engkau melakukan ini? Kenapa engkau hendak membunuhku?"

Tanya Cin Lan dengan tabah dan tenang.

"Kenapa engkau tidak menangis dan minta-minta ampun kepadaku?"

Bentak Lee Cin.

"Mintalah ampun, mungkin aku akan mengampunirnu."

"Tidak, Adik Cin. Untuk apa aku minta ampun? Aku tidak bersalah apa pun kepadamu."

"Engkau tidak bersalah? Engkau merampas pria yang kucinta! Engkau merebutnya dariku!"

"Aku tidak merasa merebutnya dari siapapun juga. Kami saling mencinta. Kalau engkau begitu buta untuk tidak melihat kenyataan ini dan hendak mem-bunuhku, engkau bertindak sebodoh-bodohnya. Kalau aku mati terbunuh, Kekasihku itu tentu akan menangisi kematianku, akan berkabung dan mungkin selamanya akan berduka karena kematianku. Akan tetapi engkau? Engkau yang rnembunuh kekasihnya, engkau akan dikutuk, dan dibenci selamanya oleh orang yang kaucinta itu. Adik Cin, tidakkah engkau dapat melihat kenyataan ini? Mencinta seseorang dan tidak dibalas, itu sudah merupakan hal yang pahit, akan tetapi dibenci oleh orang yang kita cinta, itu merupakan siksaan batin yang amat berat. Perjodohan haruslah diadakah oleh dua orang yang salmg mencinta, bukan oleh orang yang hanya mencinta sepihak saja. Bayangkan kalau engkau menjadi isteri seorang suami yang tidak mencintamu, hanya engkau sendiri yang cinta kepadanya. Bagaimana sengsara perasaan hatimu. Cinta tidak dapat dipaksakan, Adik Cin, tidak dapat dibuat-buat. Kalau engkau membunuh aku, engkau akan ber-dosa besar kepadaku karena aku tidak mempunyai kesalahan apa pun padamu, dan engkau akan dikutuk, dimusuhi oleh Lee-koko, bahkan oleh semua orang ga-gah di dunia kang-ouw. Sebaiknya kaubebaskan aku, lupakan Lee-koko karena dia sudah rnencinta aku dan tidak dapat membalas cintamu. Kami akan selalu menaruh rasa iba kepadamu dan mendoakan semoga engkau akan bertemu dengan pria yang benar-benar mencintamu agar kelak engkau menjadi seorang isteri yang berbahagia. Nah, sudah banyak aku bicara, terserah kepadamu. Aku tidak takut mati!"

Wajah Lee Cin sebentar merah sebentar pucat.

Membayangkan bahwa kalau ia membunuh Cin Lan ia akan dibenci dunia kang-ouw, ia tidak peduli.

Akan tetapi dibenci Thian Lee, dikutuk dan dimusuhi?

Terlalu berat baginya.

la dapat merasakan kebenaran ucapan Cin Lan.

Cinta tidak dapat dipaksakan atau dibuat-buat.

Timbul dari dasar hati.

Hatinya menjadi bingung.

Pada saat itu muncul seorang pria berusia hapir enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar gagah perkasa bermuka merah dan memegang sebatang dayung baja bersanna seorang pemuda yang gagah tampan dan pesolek.

Mereka itu bukan, lain adalah Siangkoan Bhok dan puteranya Siangkoan Tek!

"Lee Cin, cepat bebaskan aku.

Mereka adalah Tung-hong-ong (Raja Angin Timur) dan puteranya!"

Bisik Ci Lan yang kebetulan dapat melihat mereka dari tempat ia rebah.

Lee Cin yang sedang resah dan bim-bang itu menjadi marah mepdengar ini, dah ia semakin marah ketika mengenal dua orang itu.

Siangkoan Tek adalah pemuda kurang ajar yang hampir memperkosanya dan untung baginya muncul Thio Hui San yang menolongnya.

la tahu benar betapa lihainya kakek tinggi besar bersenjatakan dayung itu.

Akan tetapi kemarahannya membuat ia menjadi nekat dan biarpun ia tahu benar betapa kedah-syatnya kepandaian seorang di antara empat datuk besar jty, namun ia tidak takut.

la meloncat dan menyambut dua orang pria itu dengan bentakan nyaring.

"Mau apa kalian datang ke sini mengganggu aku? Hayo cepat merangkak pergi atau kubunuh kalian!"

Sikap gadis ini seperti menghadapi dua orang penjahat kecil saja.

Siangkoan Bhok sampai terbelalak marah melihat dirinya diperlakukan dengan sikap merendahkan seperti itu, akan tetapi Siangkoan Tek yang sudah mengenal kembali Lee Cin tersenyum.

"Hemm, engkau datang lagi kepadaku, manis? Dan bukankah yang rebah di sana itu gadis tunanganku? Hemm, sekali ini kalian berdua harus menjadi milikku!"

Mendengar ini, api kemarahan dalanni dada Lee Cin berkobar.

"Bangsat bermulut kotor!"

Bentaknya dan ia sudah meloncat dan menerjang ke depan menyerang Siangkoan Tek dengan pedangnya.

Melihat serangan yang amat cepat dan berbahaya itu, Siangkoan Tek cepat meloncat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi Lee Cin yang sudah marah sekali mengejar untuk menyusulkan serangan berikutnya.

Tiba-tiba sebatang dayung baja menyambar ke arah kedua kakinya dengan kecepatan dan kekuatan yang dahsyat sekali.

Angin pukulan dayung itu mengeluarkan suara bercuitan ketika ruyung itu menyambar.

Hampir saja kedua kaki Lee Cin terkena dayung itu.

Lee Cin terkejut dan menggunakan kellncahan tubuhnya untuk melompat jauh ke belakang sambil berjungkir balik beberapa kali.

Ketika tubuhnya turun, ia tiba di dekat Cin Lan.' "Adik Cin, bebaskan aku, kita hadapi berdua!"

Kembali Cin Lan berbisik, akan tetapi Lee Cin yang sudah marah sekall kepaa biangkoan Bhok, tidak mempedulikan keselamatan dirinya lagi dan kembaJi ia meloncat dan menerjang Siangkoan Bhok dengan pedangnya.

Kakek itu pun tidak berani memandang rendah.

Dia tahu benar bahwa murid Ang-tok Mo-li ini cukup lihai dan pedangnya amat berbahaya.

Maka dia pun memutar tongkatnya menghadapi pedang itu.

Tiba-tiba Lee Cin membuat gerakan meliuk dan tiba-tiba saja jari tangan kirinya sudah meluncur ke arah mata Siangkoan Bhok.

"Ihh...!"

Datuk itu berseru kaget dan mengelak cepat.

Akan tetapi jari tangah kiri itu sudah cepat sekali menyambar pula ke arah dadanya dengan totokan yang dahsyat.

Kembali Siangkoan Bhok meloncat ke kiri untuk menghindar.

"It-yang-ci....!"

Serunya terkejut.

Dia pernah dikalahkan oleh In Kong Taisu dengan ilmu totok It-yang-ci itu, maka tentu saja dia menjadi agak jerih.

Akan tetapi lewat beberapa jurus, tahulah dia bahwa ilmu It-yang-ci yang dikuasai nona itu masih jauh dari sempurna.

Dia tertawa bergelak dan memutar lagi dayungnya dengan dahsyat.

Belasan jurus lewat dan ketika dayung itu menyodok perut, terpaksa Lee Cin memapaki dengan kakinya ,dan tubuhnya terlempar jauh ke belakang.

Kembali ia tiba dekat Cin Lan yang berbisik lagi.

jauh ke belakang.

Kembali ia tiba dekat Cin Lan yang berbisik lagi.

"Lee Cin, engkau bodoh, Cepat bebaskan aku kalau engkau tidak ingin mati di tangannya!"

Sekali ini Lee Cin teringat bahwa ia memang tidak ingin mencelakai Cin Lan.

Ucapan Cin Lan tadi sudah menyadarkannya bahwa ia tidak akan dapat memaksakan cinta kasih Thian Lee kepadanya kalau memang pemuda itu tidak mencintanya dan mencinta gadis lain.

Maka, tangan kirinya bergerak dan Cin Lan segera dapat bergerak kembali.

Cin Lan cepat bangkit dan mematahkan sebatang dahan pohon untuk dijadikan senjata tongkat.

Kemudian, dengan tongkat dahan pohon di tangan, gadis ini maju memutar tongkatnya menyerang Siangkoan,Bhok, Lee Cin juga meloncat dan mengeroyok dengan serangan pedangnya yang ganas.

Melihat dua orang gadis itu maju menyerangnya dengan gerakan yang demikian tangkas, cepat dan kuat, diam-diam Siangkoan Bhok terkejut juga.

Dia pernah melawan Lee Cin, akan tetapi ilmu kepandaian gadis itu dahulu tidak demikian hebat.

Tahu-tahu sekarang telah mampu menguasai It-yang-ci.

Dan gadis yang menjadi murid Pek I Lokai ia pun tidak boleh dipandang ringan.

Ilmu tong-kat Hok-mo-tung sudah terkenal di dunia kang-ouw sebagai ilmu tongkat yang sukar ditandingi.

Kini dua orang gadis itu maju bersama, maka dia pun bersikap hati-hati dan memutar dayungnya untuk menjaga diri.

Sementara itu, melihat ayahnya dikeroyok dua, Siangkoan Tek segera berseru.

"Ayah, jangan bunuh mereka! Mereka adalah milikku!"

Dan pemuda ini pun telah memegang pedang dan terjun dalarn perkelahian itu njiembantu ayahnya.

Cin Lan dan Lee Cin merasa kewalahan dan repot juga.

Mengeroyok Siangkoan Bhok seorang saja sudah merupakan lawan berat bagi mereka, apalagi kini ditambah Siangkoan Tek yang juga lihai.

Tingkat kepandaian Siangkoan Tek itu hanya sedikit di bawah tingkat mereka.

Kini, setelah dibantu puteranya, dayung baja di tangan Siangkoan Bhok menyambar-nyambar dahsyat, membuat kedua orang gadis itu terpaksa mempertahankan diri sambil mundur, seolah terdorong oleh angin sambaran dayung yang berat itu.

Ketika Lee Cin sedang menangkis pe-dang Siangkoan Tek, tiba-tiba dayung itu menyambar tubuhnya dengan kekuatan yang hebat.

Tak mungkin menangkis dayung yang berat itu dengan pedangnya, maka satu-satunya jalan untuk meloloskan diri dari maut hanyalah meloncat ke belakang.

"Dessss...Dayung itu menghantam tanah dan tanah berhamburan dihantam dayung dengan kerasnya. Dayung itu kini menyarnbar ke arah Cin Lan yang terpaksa menangkis dengan tongkatnya.

"Takkk!"

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 6

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert