Eps 2 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.
Semua gadis yang berada di ruangan itu, kecuali enam orang gadis yang masih bertangisan, menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Siang Ni dengan berbagai gaya.
Akan tetapi Siang Ni yang bermata tajam dan sejak tadi memperhatikan mereka, langsung saja menghampiri enam orang gadis yang memisahkan diri di sudut.
Dengan lembut ia bertanya kepada mereka.
"Enci sekalian, hentikan tangis kalian dan jawablah pertanyaanku. Mengapa kalian bersedih dan menangis? Bukankah mestinya kalian bergembira terpilih menjadi calon Siu-li seperti yang lain ini?"
Enam orang gadis itu mengangkat muka dan seorang di antara mereka menjawab.
"Siocia, kami dipisahkan dari ayah ibu, bagaimana kami tidak gelisah dan bersedih?"
"Kalian hendak dibawa ke kota raja, dipersembahkan kepada Sribaginda Kaisar untuk dipilih menjadi Siu-li. Menjadi pelayan di istana pekerjaannya ringan, hidupnya senang, pakaiannya selalu indah, makan selalu yang enak-enak. Kalau baik peruntungan kalian, dapat dipilih menjadi selir dan hidup mulia dan dihormati, mengapa kalian tidak mau? Apakah kalian membenci Sribaginda Kaisar?"
Ketika bertanya, Siang Ni bertolak pinggang dan memandang tajam.
Kalau saja ada yang berani bilang membenci kaisar, tentu akan ditampar orang itu.
Bahkan sebagai anggauta keluarga istana yang setia kepada kaisar, Siang Ni tidak akan ragu-ragu untuk membunuh orang yang berani berkhianat atau menghina kaisar.
"Kami tidak membenci Sribaginda Kaisar, Siocia. Bertemu pun belum pernah, melihat pun belum, bagaimana bisa membenci? Bukan sekali-kali kami tidak suka menjadi calon Siu-li dan tidak suka hidup senang, akan tetapi....... kami lebih suka melayani ayah ibu kami sendiri......"
Gadis itu menangis, diikuti lima orang kawannya senasib. Siang Ni menoleh kepada Kui-thaijin.
"Enam orang ini harus dikembalikan kepada orang tua masing-masing dan diberi uang kerugian masing-masing tigapuluh tail perak. Selanjutnya, engkau harus menjaga agar tidak ada yang mengganggu mereka!"
Pembesar Kui hanya dapat mengangguk akan tetapi mukanya cemberut. Kemudian Siang Ni berkata kepada tujuhbelas orang gadis yang lain, yang masih berlutut di atas lantai.
"Kalian yang memang dengan sukarela suka dipilih menjadi calon Siu-li, perhatikan baik-baik. Kalau di antara kalian mendapat perlakuan tidak baik dari para petugas, baik di sini maupun di tengah perjalanan ke kota raja, ingat saja siapa orangnya. Kelak kalau kalian sudah menghadap Sribaginda Kaisar, sebut saja nama orang jahat itu dan Sribaginda pasti akan mengambil tindakan dan menjatuhkan hukuman berat. Aku mendengar ada pembesar yang suka merampas atau menahan seorang dua orang calon Siu-li yang disukainya untuk diambil sebagai selirnya sendiri. Nah, kalau terjadi hal demikian dengan seorang di antara kalian, yang lain kelak harus melaporkannya kepada Sribaginda Kaisar. Hanya dengan persatuan dan saling menolong kalian akan selalu mendapat perIakuan baik di sepanjang perjalanan."
Tentu saja nasehat ini diingat baik-baik oleh semua gadis yang berada di situ, akan tetapi sebaliknya membuat Kui-thaijin dan kawan-kawannya meringis.
Sudah barang tentu dia dan kawan-kawannya tidak berani berkutik, takkan berani berbuat kurang ajar terhadap gadis-gadis itu yang sudah mendapat nasihat dari Siang Ni.
"Gadis setan......!"
Diam-diam Pembesar Kui dan kawan-kawannya memaki Siang Ni dalam hati mereka.
Setelah memberi peringatan keras kepada Kui-thaijin untuk menjalankan tugas sebagai pembesar dengan bijaksana dan adil, Siang Ni lalu keluar dari tempat itu, mengambil kudanya yang dititipkan di luar kota, kemudian membalapkan kudanya pulang ke kota raja.
Ia tahu bahwa ayahnya tidak akan marah kepadanya karena ayahnya tidak pernah melarangnya melakukan perjalanan ke luar kota raja.
Akan tetapi ibunya yang selalu menegurnya, karena ibunya khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak baik atas diri puteri tunggalnya.
Betul saja, begitu ia melompat dari kuda yang diterima oleh pelayan dan penjaga kuda, lalu berlari memasuki gedung ayahnya, ia disambut ibunya dengan alis berkerut.
"Ibu, engkau tampak semakin muda dan cantik saja!"
Siang Ni mendahului merangkul dan mencium ibunya. Bagaikan sepotong es terkena panas, seketika kemarahan ibunya mencair demi mendengar kata-kata pujian dan melihat sikap Siang Ni.
"Anakku, engkau selalu menggelisahkan hati orang tua,"
Ibunya menegur lembut.
"Dari mana sajakah engkau?"
"Mari kita masuk dulu, Ibu. Tidak enak bicara di sini."
Gadis itu dengan sikap manja menarik tangan ibunya masuk ke ruangan dalam.
Di ruangan dalam, Siang Ni memberi hormat kepada ibu-ibu tirinya yang berjumlah delapan orang.
Para ibu tiri yang tidak mempunyai anak itu semua amat sayang kepada Siang Ni dan memperlakukan gadis itu seperti anak mereka sendiri sehingga gadis bangsawan yang beribu sembilan orang ini tentu saja menjadi semakin manja!
Akhirnya ibu dan anak itu duduk berdua dalam kamar.
Pouw Sui Hiong atau Nyonya Lu Kok Kong yang kesembilan, duduk di tepi pembaringan sedangkan Siang Ni yang sudah berganti pakaian cepat-cepat melempar dirinya ke atas pembaringan, memeluk guling dan menceritakan pengalamannya, terkadang sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Pouw Sui Hong atau Nyonya Lu memang akhir-akhir ini mengetahui juga bahwa puterinya memiliki ilmu silat yang tinggi.
Ia hanya menghela napas panjang ketika ia mengetahui akan hal ini.
Akan tetapi kadang-kadang ia pun menjadi amat gelisah mendengar puterinya menceritakan pengalamannya yang hebat-hebat seperti yang diceritakannya sekarang.
Dengan gaya manja dan juga lucu, Siang Ni menceritakan bagaimana ia telah menghajar Kepala Daerah Pao-ting bersama kaki tangannya, dan betapa ia menolong gadis-gadis yang hendak dipaksa menjadi calon Siu-li.
Tidak seperti biasanya kalau mendengarkan puterinya bercerita tentang pertempurannya melawan para penjahat yang membuat hatinya gelisah dan takut, sekali ini mendengar betapa puterinya menolong para gadis yang dipaksa menjadi calon Siu-li, hati nyonya itu merasa terharu sekali.
Dipeluknya Siang Ni dan Nyonya Lu menangis terisak-isak.
Siang Ni terkejut sekali.
Ia bangkit duduk sambil melepaskan rangkulan ibunya, untuk melihat wajah ibunya.
"Eh, lbu. Ada apakah? Apakah kesalahanku, apakah aku membuat Ibu berduka?"
Ibunya menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus-elus rambut puterinya dengan penuh kasih sayang.
"Habis, mengapa Ibu menangis? Apakah......"
Siang Ni berhenti dan menatap wajah ibunya dengan pandang mata penuh selidik.
"Apakah Ayah marah kepada Ibu? Apakah seorang di antara ibu-ibu lain itu......."
Sui Hong merangkul puterinya.
"Tidak, Anakku. Jangan menyangka yang bukan-bukan. Aku hanya terharu mendengar betapa engkau telah menolong gadis-gadis yang patut dikasihani itu. Aku merasa bersyukur sekali, Siang Ni, bahwa engkau Anakku dapat melakukan pekerjaan mulia itu. Alangkah akan sengsaranya hati mereka itu kalau engkau tidak menolong mereka."
Siang Ni adalah seorang gadis remaja yang cerdik sekali.
Ia pandai merangkai kenyataan yang satu dengan hal-hal lainnya.
Menyaksikan keharuan ibunya, ia menjadi semakin curiga.
Sejak masih kecil, seringkali ia minta ibunya mendongeng tentang riwayat ibunya.
Ia hanya mengenal nenek moyang dan keluarga ayahnya, keturunan pangeran ini, pembesar-pembesar ini, bahkan dari kaisar itu sampai ia menjadi bosan.
Juga ia mendengar riwayat para ibu tirinya yang kesemuanya mempunyai keluarga, mempunyai kampung halaman dan cerita mereka itu amat menarik hati.
Akan tetapi ibunya sendiri tidak pernah menceritakan riwayat dirinya sebelum menjadi isteri ayahnya.
"Aku seorang yatim piatu, tak berayah ibu lagi, tidak ada saudara, tidak mempunyai kampung halaman."
Hanya demikian jawaban ibunya kalau dahulu ia bertanya.
Padahal ia ingin ibunya menceritakan apa yang dialami ibunya ketika masih kanak-kanak sampai dewasa, seperti para ibu lain bercerita.
Kini menghadapi ibunya yang menjadi terharu dan menangis tersedu-sedu mendengar akan nasib para calon Siu-li yang dipaksa, diam-diam Siang Ni mempunyai dugaan bahwa nasib ibunya dahulu tentu mirip dengan nasib para calon Siu-li paksaan itu.
Maka dengan manja ia menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan ibunya.
"Ibu, apakah Ibu mencinta Siang Ni?"
Seketika Nyonya Lu menghentikan tangisnya dan menghapus air mata untuk dapat memandang puterinya baik-baik. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan hatinya.
"Apa maksudmu, Anakku? Mengapa engkau bertanya begitu? Sudah tentu aku mencintamu, lebih daripada segala apa pun di dunia ini!"
"Kalau benar Ibu mencintaku, mengapa Ibu selalu membuat aku bimbang dan penasaran? Mengapa Ibu selalu merahasiakan sesuatu?"
Sui Hong terkejut dan dapat menduga ke mana tujuan kata-kata anaknya yang amat cerdik itu, akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti.
"Eh, Siang Ni, kau bicara apa? Rahasia apa?"
Bibir yang merah membasah dan bentuknya manis indah itu cemberut, mata kanannya disipitkan, pundaknya digoyang-goyang dan matanya menjadi basah.
Dulu diwaktu kecil, semua ini masih ditambah dengan kedua kaki kecil itu dibanting-banting, sikap ngambek dan manjanya tampak.
"Ibu, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah remaja, hampir dewasa, sudah dapat berpikir panjang, menggunakan akal dan pertimbangan dengan masak. Ibu tahu pula bahwa aku murid seorang panglima besar dan aku memiliki kekuatan dan kemampuan, bukan seorang gadis lemah berpenyakitan yang tidak berdaya. Oleh karena itu, biarpun Ibu selalu hendak menyembunyikan dariku, aku tahu bahwa di balik riwayat hidup Ibu ada sesuatu yang hendak Ibu sembunyikan dari aku. Bukankah begitu? Kalau tidak demikian, mengapa Ibu tidak pernah mau terus terang bercerita tentang keluarga Ibu, siapa ayah bunda Ibu, dari mana asal kampung halaman dan bagaimana pula Ibu bisa berada di sini menjadi isteri yang kesembilan dari seorang pangeran, yaitu ayah Lu Kok Kong?"
"Ssttt....... Anakku....... diamlah......!"
Tiba-tiba Sui Hong menangis sedih. Siang Ni memeluk ibunya dan ikut menangis.
"Ampun Ibu, aku tidak bermaksud menyakiti hati Ibu. Akan tetapi kasihanilah Anakmu ini, Ibu. Ceritakanlah agar aku tidak menjadi sakit karena penasaran mengingat akan riwayat Ibu yang masih gelap itu."
Sui Hong menghela napas panjang, kemudian ia menghapus air matanya dan berkata lirih dan lembut.
"Baiklah, Anakku. Kelak akhirnya engkau pun akan mengetahui juga, karena biarpun tidak mendengar dari mulut Ibumu sendiri, orang lain tentu akan bercerita kepadamu. Tidak ada rahasia yang dapat ditutup rapat untuk selamanya, pasti akan tiba masanya terbuka."
Dengan girang Siang Ni lalu duduk di samping ibunya dan siap mendengarkan cerita ibunya dengan penuh perhatian.
"Nenek moyang Ibumu sesungguhnya bukan orang-orang berderajat rendah."
Sui Hong mulai bercerita dengan suara bersemangat dan bangga.
"Keluarga Pouw semenjak ratusan tahun lalu terkenal sebagai keluarga keturunan bangsawan, bangsawan tinggi yang selain mengabdi kepada negara, juga amat dikenal sebagai pahlawan-pahlawan bangsa, patriot-patriot sejati yang berjiwa besar. Dahulu rakyat di seluruh tanah air mengenal dua saudara Pouw yang hebat. Pouw Goan Keng menjadi Menteri Kesusastraan yang dipuja karena kepandaiannya, sedangkan adiknya Pouw Cong Keng menjadi panglima yang terkenal gigih menghadapi barisan bangsa Kin. Pendeknya pada masa itu, di seluruh negeri tidak ada seorang ahli sastra yang melebihi kakek besarmu Pouw Goan Keng dan tidak ada seorang ahli perang yang melebihi kakek besarmu Pouw Cong Keng."
Sepasang mata Siang Ni bersinar, mukanya berseri karena ia ikut bangga mendengar akan kehebatan nenek moyang ibunya. Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu karena tidak ingin mengganggu cerita ibunya.
"Kakek buyutmu bernama Pouw Bun juga bukan orang sembarangan karena dahulu pernah menjabat kedudukan Jaksa di kota raja. Sayang sekali kakek dan nenekmu meninggal dunia karena sakit ketika ibumu masih kecil. Oleh karena itu, Ibumu dan paman besarmu yang bernama Pouw Keng In tinggal bersama kakek dan nenek buyutmu. Juga paman besarmu Pouw Keng In adalah seorang pencinta bangsa dan dia membuktikan perasaan dan jiwa patriotnya melalui tulisan-tulisannya, berupa sajak-sajak yang bersemangat. Akan tetapi...... nasib sudah ditentukan oleh Thian, malapetaka hebat menimpa keluarga Pouw......"
Wajah Sui Hong tampak muram dan berduka sekali karena semua peristiwa dahulu terbayang kembali di depan matanya.
"Nasib buruk apakah yang telah menimpa keluarga kita itu, Ibu?"
"Ketika hal itu terjadi, Ibumu ini masih muda remaja, sedikit lebih tua daripada engkau, Siang Ni. Malapetaka itu diawali perbuatan seorang pelayan kakekmu bernama Can Sui yang menaruh hati kepada Ibumu dan mau berbuat kurang ajar. Dia dimarahi dan diusir dari rumah. Jahanam itu yang tadinya mengagumi sajak-sajak patriotik Paman besarmu, lalu membawa beberapa tulisan sajak itu kepada pejabat pemerintah Kerajaan Goan. Tentu saja keluarga Pouw lalu dituduh memberontak karena sajak-sajak patriotik itu menyatakan ketidakrelaan hati Paman besarmu melihat tanah air dijajah bangsa Mongol. Akibatnya, rumah kakekmu diserbu pasukan pemerintah. Kakakku Pouw Keng In dan isterinya yang sedang mengandung tua, bersama aku melarikan diri dari kejaran pasukan yang ganas itu. Adapun Kakek dan Nenekku tidak mau meninggalkan rumah dan mereka rela tewas bersama hancurnya rumah kami. Kami bertiga, Kakak Pouw Keng In dan isterinya yang bernama Tan Bi Lian, dan aku sendiri yang melarikan diri......."
Sampai di sini Sui Hong tak dapat menahan isak tangisnya. Ia teringat betapa kakak dan kakak iparnya telah menjadi korban anak panah.
"Bagaimana selanjutnya, Ibu?"
Siang Ni bertanya, mukanya berubah kemerahan seperti orang marah. Memang gadis ini marah sekali kepada orang yang bernama Can Sui, pengkhianat yang sudah menghancurkan kehidupan keluarga ibunya.
"Kasihan paman besarmu Pouw Keng In dan isterinya......, mereka telah menjadi korban anak panah ketika kami bertiga dengan nekat menyeberangi sungai. Aku melihat anak panah menancap di tubuh kakakku dan isterinya dan mereka hanyut terbawa air sungai......."
Sui Hong menutupi matanya dengan kedua tangan seolah hendak menutupi bayangan peristiwa yang amat menyedihkan itu.
"Kejam sekali!"
Siang Ni berseru dan tampak marah sekali.
"Ibu, manusia macam apakah yang melakukan perbuatan keji itu?"
"Dia seorang panglima, Siang Ni, pemimpin dari pasukan yang mengejar kami."
"Siapakah dia, Ibu? Masih ingatkah siapa orangnya?"
Tentu saja Sui Hong masih ingat dengan baik siapa adanya panglima itu yang bukan lain adalah Panglima Kong Tek Kok, panglima besar yang sampai sekarang masih tinggal di kota raja dan panglima itu bahkan telah menjadi guru Siang Ni!
Mengingat akan kedudukan Panglima Kong Tek Kok dan kelihaiannya, apalagi kini telah menjadi guru Siang Ni, Sui Hong tidak berani berterus terang.
Ia khawatir puterinya akan menjadi nekat dan bagaimana mungkin puterinya mampu melawan Panglima Kong Tek Kok yang menjadi gurunya sendiri?
"Aku masih ingat orangnya, akan tetapi tidak tahu namanya.
Mungkin dia sudah tewas dalam perang.
Orang jahat tidak akan selamat, Anakku."
"Ah, sayang. Kalau Ibu tahu siapa orangnya, aku ingin sekali mencarinya dan membalas dendam atas kekejamannya terhadap keluarga Ibu. Apakah yang membunuh Kakek dan Nenek buyut juga orang itu?"
"Tentu saja, karena dia yang memimpin pasukan itu."
"Jahanam keparat! Kemudian bagaimana, Ibu? Bagaimana Ibu sendiri dapat terbebas dari bahaya maut itu?"
Sui Hong menarik napas panjang.
"Mungkin karena pada waktu itu Ibumu ini dianggap berwajah cantik......."
"Sampai sekarang pun Ibu tetap merupakan wanita tercantik di kota raja!"
Kata Siang Ni bangga sambil menatap wajah ibunya yang memang masih tampak jelita. Kembali Sui Hong menarik napas panjang.
"Itulah salahnya. Kalau saja wajahku buruk, kiranya nasibku tidak seburuk itu."
"Mengapa Ibu berkata demikian?"
Siang Ni merasa penasaran.
"Bukankah Ibu sekarang hidup bahagia bersama ayah dan aku?"
Sui Hong merangkul anaknya.
"Memang begitulah, Siang Ni. Sekarang aku merasa berbahagia, asal saja engkau tidak mengalami segala kesengsaraan yang telah dialami Ibumu, aku sudah merasa senang dan tidak mengharapkan apa-apa lagi."
"Akan tetapi bagaimana lanjutan cerita tadi, Ibu? Aku ingin sekali mendengar bagaimana Ibu lolos dari bahaya maut. Bukankah tadi Ibu menceritakan bahwa Ibu sedang menyeberangi sungai bersama Paman Pouw Keng In dan Bibi Tan Bi Lian yang tewas terkena anak panah?"
"Aku agaknya memang belum ditakdirkan mati dan masih harus melanjutkan riwayat hidupku. Pemimpin pasukan itu agaknya tertarik kepadaku dan dia lalu menolongku dari sungai dan menawanku."
"Hemm, aku sekarang mengerti!"
Siang Ni berseru dan Sui Hong kaget sekali, mengira bahwa anaknya entah bagaimana caranya sudah mengetahui tentang pembunuh keluarga Pouw.
"Apa yang kau mengerti, Siang Ni?"
Tanyanya cemas. Siang Ni tersenyum.
"Aku dapat menduga kelanjutan ceritamu, Ibu. Tentu sebelum pemimpin pasukan itu berbuat jahat terhadap Ibu, Ayah muncul dan menolong Ibu dari tangannya! Bukankah begitu, Ibu? Ataukah salah dugaanku?"
Sui Hong menarik napas lega.
Memang demikianlah sebaiknya, tidak ada alasan lain yang lebih tepat untuk menceritakan kepada anaknya bagaimana ia bisa menjadi isteri kesembilan dari Pangeran Lu Kok Kong!
"Engkau cerdik sekali, Siang Ni.
Memang, tadinya panglima itu hendak menjadikan aku selirnya akan tetapi aku menolak keras.
Untungnya ayahmu mengetahui akan hal itu dan dia berhasil menolongku terbebas dari tangan panglima itu.
Kemudian karena ayahmu tidak mempunyai keturunan, dia lalu melamar aku.
Aku sendiri, untuk membalas budinya, menerima lamarannya.
Demikianlah, Siang Ni.
Engkau sekarang tahu betapa menyedihkan riwayatku, maka selama ini aku tidak pernah menceritakannya kepadamu.
Untuk apa menggali kenangan lama yang menyedihkan?
Keluargaku dahulu, keluarga Pouw, telah musnah.
Akan tetapi aku sekarang bukan anggauta keluarga Pouw lagi, dan kita berdua adalah anggauta keluarga Lu."
"Akan tetapi, Ibu, aku harus mencari jahanam yang menjadi biang keladi musnahnya keluarga Pouw itu! Di manakah kini jahanam Can Sui itu berada, Ibu? Bagaimana pula orangnya, apakah dia memiliki kepandaian silat yang tinggi?"
Sui Hong menggelengkan kepalanya.
"Dia orang biasa, tidak pandai ilmu silat dan setelah peristiwa itu, dia menghilang dan aku tidak pernah mendengar lagi tentang dia."
"Hemm, kalau begitu, aku akan mencari panglima keparat yang telah membunuh Kakek dan Nenek buyut, juga Paman dan Bibi. Aku harus membunuhnya! Ibu, ceritakan padaku bagaimana orangnya? Apakah Ibu tahu dia di mana sekarang dan apakah ilmu silatnya sangat tinggi?"
"Tentu saja, kalau tidak bagaimana dia bisa menjadi panglima yang memimpin pasukan besar. Akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu siapa dia dan di mana tinggalnya. Aku pun tidak tahu apakah dia masih hidup ataukah sudah mati......."
Tiba-tiba Siang Ni melompat berdiri sehingga Sui Hong terkejut. Gadis remaja itu menampar kepalanya sendiri, matanya bersinar-sinar.
"Ah, mengapa aku begini bodoh? Kalau Ibu tidak tahu, tentu Ayah mengetahuinya. Bukankah Ayah yang dahulu menolong itu dan menyelamatkan lbu dari tangannya? Ibu, aku hendak menyusul Ayah dan bertanya kepadanya tentang musuh besar itu!"
Sui Hong mengerutkan alisnya.
Ia merasa khawatir sekali melihat sikap anaknya.
Tentu saja Pangeran Lu Kok Kong tahu siapa sebenarnya musuh besar yang telah membasmi keluarga Pouw.
Akan tetapi ia maklum bahwa suaminya tidak akan mau menceritakan siapa orang itu kepada Siang Ni, apalagi karena agaknya suaminya memang tidak menghendaki dilakukannya balas dendam kepada panglima yang kini malah menjadi guru Siang Ni itu.
Biarpun demikian, kalau anak ini terus mendesak ayahnya yang amat menyayang puterinya itu, bagaimana?
"Siang Ni, engkau jangan tergesa-gesa.
Ayahmu sedang menghadap Sribaginda Kaisar di Istana, kalau sekarang tidak sedang dalam persidangan, tentu sedang mengadakan pembicaraan penting dengan para pembesar lain.
Bagaimana engkau berani mengganggunya?
Tunggulah kalau Ayahmu sudah pulang, nanti engkau boleh bicara perlahan-lahan.
Aku pun sangsi apakah Ayahmu tahu siapa orang itu."
"Mustahil kalau Ayah tidak tahu! Aku sudah tidak sabar lagi menanti, Ibu. Ayah terkadang sampai jauh malam baru pulang. Biar aku mencarinya sekarang!"
Tanpa dapat dicegah lagi gadis itu keluar dari gedung dan berjalan cepat mencari ayahnya di istana kaisar.
Di kota raja, Lu Siang Ni sudah amat dikenal, bahkan di lingkungan istana, gadis ini pun dikenal.
Semua penjaga yang bertugas menjaga pintu gerbang istana mengenal baik Siang Ni.
Maka ketika ia tiba di situ, tanpa kesulitan Siang Ni diperkenankan memasuki pintu gerbang.
Waktu itu, matahari telah turun ke barat dan cuaca sudah mulai remang.
Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya Siang Ni mendapat keterangan bahwa ayahnya sudah keluar dari istana dan sedang mengadakan pembicaraan dengan Pangeran Sun, seorang pangeran tua yang menjadi penasehat kaisar di waktu itu.
Siang Ni merasa kecewa.
Gadis ini maklum bahwa Pangeran Sun yang tua itu amat keras dalam tata-tertib istananya, bahkan lebih tertib daripada istana kaisar sendiri.
Pangeran Sun mempergunakan tangan besi dalam aturan rumah tangganya sehingga tidak seperti di istana lain, di istana Pangeran Sun ini ia tidak bisa bertindak seenaknya.
Dengan berkeras, para penjaga menolaknya untuk masuk.
Mereka minta maaf dan mempersilakan nona itu menunggu ayahnya di kamar tunggu yang berada di depan.
Ia tidak diperbolehkan masuk begitu saja mengganggu pembicaraan penting antara ayahnya dan Pangeran Sun.
Perundingan dua orang pangeran itu amat penting dan siapapun juga tidak boleh mengganggu sebelum Pangeran Sun memberi tanda.
Penjaga yang berani mengganggu dan memasuki kamar perundingan pangeran tua itu, tanpa ampun lagi pasti akan dipecat, bahkan mungkin sekali dihukum!
Karena tidak sabar menanti di situ tanpa mengetahui kapan ayahnya akan keluar, Siang Ni lalu meninggalkan gedung Pangeran Sun.
Daripada duduk menunggu di situ lebih baik berjalan-jalan di kompleks perumahan istana yang amat indah itu, melihat-lihat kebun bunga yang indah atau mengunjungi beberapa orang puteri pangeran yang dikenalnya.
Akan tetapi pada saat itu, para puteri sudah menyembunyikan diri di dalam kamar masing-masing dan Siang Ni merasa tidak enak kalau mengganggu mereka dengan kunjungan resmi.
Gadis ini lalu mencari tempat sunyi dan melompat ke atas genteng!
Memang sejak kecilnya Siang Ni terkenal bandel dan nakal.
Apalagi setelah ia memiliki kepandaian silat.
Sering kali ia berlari-larian di atas genteng istana yang tebal kuat dan enak dipakai tempat berlari-larian!
Seringkali ia dikejar para pengawal karena mereka mengira ia seorang penjahat yang hendak mencuri atau mengacau di istana.
Akan tetapi setelah para pengawal tahu bahwa gadis itu bukan lain adalah murid tunggal Panglima Besar Kong Tek Kok yang mereka takuti, tidak ada orang berani mengganggunya.
Apalagi di samping menjadi murid Panglima Kong, gadis itu juga puteri tunggal Pangeran Lu Kok Kong yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar di kota raja!
Setelah berada di atas genteng, Siang Ni menjadi gembira sekali.
Angkasa yarg sudah gelap tampak indah seperti beluderu hitam dihias ribuan bintang seperti permata manikam yang gemerlapan.
Ia lalu mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari ke sana-sini dengan cepat sekali.
Dahulu ketika ia mulai belajar ilmu berlari cepat, suhunya pernah mengajaknya berlari-larian di atas genteng rumah-rumah gedung istana ini dan memang tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk berlatih lari di atas genteng.
Gedungnya besar-besar dan tinggi-tinggi, dan letaknya sambung menyambung.
Gentengnya tebal kuat dan letaknya yang tinggi rendah itu merupakan tempat yang baik sekali untuk melatih ilmu meringankan tubuh.
Saking gembiranya bermain-main di tengah udara antara langit berbintang dan puncak-puncak pohon yang tumbuh di dekat bangunan atau di taman-taman bunga, bagaikan seekor burung yang lincah gembira, Siang Ni lupa akan maksud kedatangannya di istana.
Lupa bahwa ia sedang menunggu ayahnya untuk segera menanyakan tentang orang yang telah membasmi keluarga Pouw.
Tiba-tiba berkelebat bayangan tiga orang yang memiliki gerakan cepat.
Siang Ni menghentikan larinya dan menghadapi tiga orang itu dan ternyata mereka adalah tiga orang pengawal istana.
Para pengawal istana ini berpakaian gagah dengan topi dihias bulu burung garuda, pakaian mereka seragam dan di pinggang mereka tergantung pedang.
Melihat bahwa yang berdiri di depan mereka adalah Lu Siang Ni, tiga orang pengawal itu cepat memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Selamat malam, Lu-siocia. Kami tidak bemaksud mengganggu, hanya kami ingin tahu siapa yang berlari-larian di atas genteng. Kami bertugas jaga malam dengan kawan-kawan di malam ini."
Siang Ni tersenyum ramah.
"Tidak apa, aku sedang iseng dan mencari angin karena tidak sabar menanti ayah yang sedang bercakap-cakap di gedung Sun Ong-ya. Apakah kalian melihat ayah sudah pulang?"
Serentak mereka menjawab.
"Sudah, Lu-siocia. Kami melihat Lu Ong-ya sudah lama meninggalkan istana dan kendaraannya sudah lama keluar dari pintu gerbang istana."
Siang Ni tertegun. Saking gembiranya tadi, ia sudah lupa waktu. Sudah berapa lamakah ia berada di atas genteng dan berlari-lari tadi? "Oh, terima kasih, aku hendak menyusul ayah kalau begitu!"
Setelah berkata demikian, ia lalu menggerakkan kedua ujung kakinya dan tubuhnya melesat dengan gerakan indah, melayang turun dari atas wuwungan dengan cara membuat pok-sai (salto), kedua kaki dirapatkan, kedua lengan direntangkan dan tubuhnya melengkung seperti busur.
Setelah tiba di atas tanah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, tubuhnya merupakan bayangan hitam yang berkelebat lenyap dalam kegelapan.
Tiga orang pengawal yang berada di atas genteng memandang kagum sekali, kemudian mereka saling pandang dengan mata besinar.
"Aduh hebatnya Nona itu......"
Kata yang pertama.
"Amat cantik jelita dan gagah......"
Kata yang kedua.
"Gerakan melompat tadi bukan main indahnya, sepuluh tahun lagi mempelajarinya, belum tentu aku sanggup meniru gerakan seperti tadi,"
Kata yang ketiga.
Kemudian mereka termenung, tenggelam dalam lamunan masing-masing sambil memandang ke atas, ke angkasa penuh bintang.
Bagi mereka, Siang Ni seolah-olah merupakan sebuah di antara ribuan bintang itu.
Indah dipandang, boleh dikenang, akan tetapi sukar dicapai tangan!
Sementara itu, di gedung Pangeran Lu Kok Kong terjadi hal yang hebat.
Telah lama sebelum pangeran itu pulang dari istana, di dekat gedung Pangeran Lu berkelebat dua sosok bayangan orang yang luar biasa cepatnya sehingga seorang ahli sekalipun akan sukar melihat mereka.
Hanya kadang-kadang saja bayangan itu berkelebat, tanpa dapat dilihat di mana sebenarnya orang yang memiliki bayangan itu.
"Suhu, dia lama amat pulangnya. Apakah kita tidak lebih baik menyusulnya ke istana?"
Terdengar suara seorang di antara mereka yang ternyata adalah seorang pemuda tampan gagah dengan suara lembut. Kakek yang merupakan bayangan kedua menggelengkan kepala dan berkata.
"Sabarlah, dia pasti akan pulang. Istana sekarang jauh bedanya dengan dahulu. Terlampau besar resikonya untuk menyerbu ke sana. Tentu saja kita tidak perlu takut menghadapi para perajurit pengawal, akan tetapi kalau sampai kita ketahuan dan dikeroyok puluhan orang pengawal sebelum urusan kita beres, bukankah hal itu akan menghambat pekerjaan kita bahkan mungkin akan menggagalkan usaha kita?"
Pemuda itu mengangguk-angguk, membenarkan pendapat gurunya.
"Maafkan teecu (murid), Suhu. Tadi teecu terburu nafsu dan kurang sabar,"
Katanya dan kakek itu tersenyum.
Tak lama kemudian terdengar suara roda kendaraan kereta yang ditarik dua ekor kuda besar memasuki halaman yang luas dan pintu kereta terbuka.
Pangeran Lu Kok Kong dengan pakaian kebesaran yang indah turun dari kendaraannya dan berjalan masuk diiringkan para pelayan yang menyambutnya.
Langkahnya tegap dan wajahnya yang masih tampan itu berseri ketika dia melihat sembilan orang selir dan isterinya menyambutnya di ruangan dalam.
Setelah membagi senyum kepada semua isterinya, Pangeran Lu mencari-cari dengan pandang matanya dan bertanya.
"Di mana Siang Ni?"
Pangeran ini memang selalu menanyakan puterinya kalau dia pulang dan puteri kesayangan itu tidak tampak.
Apalagi dia tahu bahwa Siang Ni tadi telah meninggalkan rumah sebelum dia pergi ke istana kaisar.
Dan dia juga melihat betapa wajah selirnya yang termuda dan tersayang, muram seperti orang yang gelisah dan bersedih.
Pertanyaan itu pun dia tujukan kepada Sui Hong sambil melangkah ke arah kamar isterinya yang paling muda itu.
Sui Hong mengikuti suaminya dari belakang dan isteri-isterinya .yang lain mengundurkan diri ke kamar masing-masing.
"Di mana Siang Ni?"
Pangeran Lu kembali bertanya setelah mereka berada di dalam kamar.
"Apakah Paduka belum bertemu dengannya?"
Sui Hong balas bertanya dengan wajah khawatir. Pangeran Lu Kok Kong menggelengkan kepalanya.
"Apakah yang telah terjadi? Engkau kelihatan gelisah."
"Ia tadi....... bertanya tentang riwayatku, tentang ayah bunda dan saudara-saudaraku......."
"Hemm...... lalu bagaimana?"
Suaminya mendesak sambil mengerutkan alisnya. Mendengar pertanyaan ini, Sui Hong menangis.
"Ia mendesak terus...... agaknya sudah curiga sejak lama dan saya...... saya akhirnya tidak dapat menolak lagi, terpaksa saya bercerita tentang semua hal yang telah terjadi dahulu......."
Pangeran Lu menjadi pucat seketika.
"Apa? Kauceritakan juga tentang Panglima Kong.......?"
Sui Hong menggelengkan kepala sambil menggigit bibirnya menahan tangis.
"Aihh".. kalau saja permintaan saya sejak dahulu Paduka penuhi....... kalau saja Paduka sudah membalaskan sakit hati keluarga saya kepada Panglima Kong dan Siang Ni tidak menjadi muridnya, mungkin tidak akan terjadi hal ini......."
Pangeran Lu maklum apa yang dimaksudkan isterinya. Dia menghela napas panjang lalu berkata lembut.
"Hong-moi (Dinda Hong), sejak dahulu engkau pun tahu bahwa kedudukan Panglima Besar Kong Tek Kok amat kuat. Tentu saja aku dapat menjatuhkannya melalui tangan Kaisar. Akan tetapi pengikutnya amat banyak, di belakangnya berdiri pasukan yang ratusan ribu jumlahnya. Selain kepandaian silatnya sendiri amat tinggi, juga dia memiliki banyak perwira pembantu yang lihai. Menghadapi kekuatan seperti itu, mengingat akan kedudukanku, tidak selayaknya kalau aku memusuhinya. Kekuatan seperti itu amat dibutuhkan untuk mempertahankan berdirinya Kerajaan Goan, amat penting bagi negara dan bangsa Mongol, maka permintaanmu dahulu itu terpaksa tidak dapat kulaksanakan. Apalagi kalau diingat bahwa dialah orang yang telah menjodohkan kita, bukan? Karena itu pula, diam-diam aku membiarkan anak kita Siang Ni menjadi muridnya."
Sui Hong menarik napas panjang dan wajahnya membayangkan kecemasan dan kebingungan.
"Saya dapat menerima alasan Paduka itu, maka sampai sekian lamanya saya membungkam dan tidak pernah mengganggu Paduka dengan urusan itu. Akan tetapi sekarang Siang Ni sudah dewasa, sudah pandai berpikir dan pandai sekali berusaha rriembuka rahasia keluarga saya. Kalau nanti ia datang dan mendesak Paduka, lalu bagaimana baiknya?"
"Hemm, jangan khawatir, serahkan saja hal itu kepadaku......."
Tiba-tiba Pangeran Lu dan Pouw Sui Hong terkejut bukan main ketika dari atas berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di dalam kamar itu telah berdiri seorang pemuda.
Begitu pemuda itu bergerak maju, tangan kirinya sudah mencengkeram leher baju Pangeran Lu Kok Kong, lalu ditariknya mendekat.
"Engkau yang bernama Lu Kok Kong?"
Bentak pemuda itu dengan suara mengandung penuh kebencian. Pangeran Lu mencoba untuk meronta, akan tetapi tangan yang mencengkeram leher bajunya itu kuat bukan main sehingga dia tidak mampu bergerak.
"Siapakah engkau orang muda yang kurang ajar?"
Pangeran Lu balas membentak.
"Lepaskan atau aku akan menyuruh para pengawal menangkapmu!"
Akan tetapi pemuda itu tersenyum mengejek.
"Panggillah semua anjingmu! Mereka yang pingsan tidak akan mampu mendengarmu. Hayo jawab, benarkah engkau yang bernama Lu Kok Kong?"
"Benar, dan engkau ini siapa? Apa kehendakmu? Lepaskan aku!"
Wajah yang tampan itu tiba-tiba berubah menjadi beringas dan suaranya mendesis di telinga Pangeran Lu.
"Dengarlah, hai anjing busuk! Mengapa keluarga Pouw dari So-couw dibasmi Kaisar? Hayo jawab!"
Sui Hong mengeluarkan seruan kaget.
Nyonya ini sejak tadi telah berdiri menggigil dengan sepasang mata terbelalak memandang pemuda itu.
Ia hampir saja mengeluarkan jeritan ngeri ketika melihat betapa wajah pemuda itu seperti pinang dibelah dua dengan wajah kakaknya yang sudah tewas.
Benar-benar tidak ada bedanya dengan wajah Pouw Keng In, kakaknya.
Hal ini membuatnya terkesima sehingga ia hanya terbelalak memandang bengong dan tidak dapat mengeluarkan suara.
Pemuda itu mengerling kepadanya, akan tetapi hanya sekejap mata saja, kemudian kembali mendesak Pangeran Lu.
"Hayo katakan, mengapa keluarga Pouw dibasmi? Apa kesalahan keluarga Pouw di So-couw itu?"
Pangeran Lu Kok Kong bukan seorang penakut. Biarpun dalam cengkeraman pemuda itu dia sama sekali tidak berdaya, suaranya masih tenang ketika ia menjawab.
"Keluarga itu bermaksud memberontak, maka pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada mereka."
"Dasar anjing penjajah! Panglima yang memimpin pasukan pembasmi keluarga Pouw itu, siapa namanya? Cepat kau sebutkan namanya!"
Dalam keadaan lain, kiranya Pangeran Lu Kok Kong tidak akan mau mengaku karena dia bukan seorang yang berjiwa pengecut dan pengkhianat.
Akan tetapi sekarang keadaannya lain.
Dia pikir lebih baik kalau dia berterus terang sehingga dapat memancing pemuda ini agar mendatangi Panglima Kong Tek Kok.
Kalau pemuda ini berani mendatangi gedung Panglima Kong, pasti dia akan dapat ditangkap atau dibunuh!
"Panglima itu adalah Kong Tek Kok.
Dialah yang membasmi keluarga Pouw.
Akan tetapi aku tidak melakukan sesuatu dalam pelaksanaan hukuman itu.
Mengapa engkau datang menghinaku?
Siapakah engkau?"
Pemuda itu tertawa, wajahnya yang tampan kelihatan menyeramkan.
"Engkau, bandot tua masih menanyakan lagi dosamu? Seorang gadis keluarga Pouw ditawan dan diberikan padamu, menjadi permainanmu, engkau hina sehingga tewas di tanganmu! Masih juga engkau bertanya lagi?"
Sambil berkata demikian, pemuda itu mencabut pedangnya.
"Orang macam engkau ini harus mampus!"
"Jangan......! Dia tidak bersalah......!"
Sui Hong menjerit dan menubruk maju.
Akan tetapi terlambat karena pedang itu sudah berkelebat dan tahu-tahu leher Pangeran Lu telah terpenggal!
Sui Hong hanya menubruk jenazah yang bagian lehernya masih menyemburkan darah!
Melihat ini Sui Hong menjerit keras dan roboh pingsan.
Darah suaminya mengenai muka dan pakaiannya sehingga menimbulkan pemandangan yang amat mengerikan.
Pemuda itu melompat keluar kamar melalui jendela, lalu dengan gerakan ringan sekali dia melompat ke atas genteng.
"Bangsat jangan lari!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Siang Ni cepat melakukan pengejaran.
Gadis itu baru saja tiba di rumahnya dari istana kaisar dan alangkah heran dan kagetnya ketika melihat beberapa orang perajurit penjaga menggeletak kaku tertotok di pinggir pintu depan.
Cepat ia lari dan kebetulan sekali ia melihat bayangan seorang pemuda melayang ke atas genteng.
Maka ia pun cepat membentak dan mengejar dengan lompatan kilat ke atas genteng.
Akan tetapi ternyata gerakan pemuda yang dikejarnya itu amat cepat.
Siang Ni mengeluarkan panah tangan yang selalu dibawa di samping pedangnya.
Menyambitkan panah tangan merupakan keahlian gurunya dan ia pun sudah mempelajarinya dengan baik.
"Penjahat, berhenti kau atau rasakan panah tanganku!"
Namun pemuda itu tidak mempedulikan gertakan ini dan terus berloncatan di atas wuwungan rumah.
Siang Ni menyambitkan panahnya.
Tiga batang panah menyambar ke arah tubuh belakang pemuda itu, mengarah tengkuk, punggung, dan pinggang!
Pemuda itu mengeluarkan seruan kaget dan dengan cepat dia memutar pedangnya, sambil berpok-sai (bersalto) di udara.
Dengan gerakan yang amat hebat ini dia pun dapat terhindar dari serangan panah.
Dia mengeluarkan seruan kagum dan menghentikan larinya, berdiri menghadapi Siang Ni.
Sinar lampu dari bawah dan cahaya bintang di langit hanya memberi penerangan remang-remang saja, namun Siang Ni dapat melihat jelas bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah.
"Siapa engkau yang begini kurang ajar berani memasuki rumah orang dengan pedang di tangan dan menotok para perajurit jaga?"
Bentak Siang Ni yang juga tadi terkejut sekali melihat orang yang dikejarnya mampu menghindarkan diri dari serangan tiga batang anak panahnya.
Tidak sembarang orang mampu menghindarkan diri dari serangan anak panahnya itu.
Pemuda itu tersenyum, agaknya tertarik kepada gadis remaja yang lincah galak dan juga lihai itu.
Gerakannya ketika mengejarnya, juga serangan anak panahnya yang amat berbahaya tadi, sudah nnenunjukkan bahwa gadis remaja ini lihai bukan main.
"Engkau menanyakan namaku ada urusan apakah? Kalau engkau ingin berkenalan denganku, perkenalkanlah, namaku Suma Cun Giok."
Siang Ni membanting kaki kirinya, terdengar suara keras dan genteng yang diinjaknya itu hancur berkeping-keping!
"Bangsat tak tahu malu!
Siapa sudi berkenalan denganmu?
Aku melihat engkau keluar dari gedung membawa pedang, apakah engkau seorang maling yang hendak mencuri?"
"Huh, siapa mau mencuri? Aku datang mencari musuh besarku, si keparat hidung belang Lu Kok Kong dan......."
Akan tetapi Siang Ni sudah membentak marah sekali dan pedangnya berkelebat cepat menusuk tenggorokan Suma Cun Giok.
Mendengar ayahnya dimaki keparat hidung belang, tanpa ingin tahu lebih jauh urusannya, ia tidak dapat menahan diri lagi dan langsung menyerang dengan jurus mematikan!
Melihat gerakan gadis itu luar biasa cepatnya, Suma Cun Giok cepat melangkah mundur sambil menangkis dengan pedangnya.
"Tranggg......!!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata dan keduanya melompat ke belakang dengan kaget.
Pertemuan kedua pedang tadi membuat tangan mereka yang memegang gagang pedang tergetar hebat!
Suma Cun Giok maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh.
Akan tetapi dia tidak ingin bertempur melawan gadis remaja yang cantik lincah menarik ini.
Pula karena tugasnya belum selesai, dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan wuwungan gedung itu.
"Jahanam, jangan lari!"
Siang Ni mengejar sambil melepas panah tangan yang dapat dihindarkan oleh Cun Giok.
Pada saat itu, terdengar jerit tangis dari dalam gedung.
Siang Ni terkejut dan terpaksa menghentikan pengejarannya, lalu melompat kembali ke bawah dan berlari cepat memasuki gedung.
Di ruangan depan ia melihat dua orang penjaga juga menggeletak pingsan tertotok.
"Keparat......!"
Gadis itu memaki marah dan merasa mendongkol bahwa tadi ia tidak sempat merobohkan pemuda itu.
Ia lalu berlari masuk dengan hati gelisah, karena ratap tangis yang didengarnya kini semakin riuh dan datangnya dari kamar ayah ibunya.
Hati gadis yang sebelumnya tak pernah mengenal rasa takut itu mulai cemas dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Ngeri ia membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar ayah ibunya darimana terdengar ratap tangis yang memilukan itu.
Ketika Siang Ni tiba di depan pintu kamar ayah ibunya dan melihat bahwa yang menangis itu adalah para ibu tirinya dan beberapa orang pelayan wanita yang memenuhi kamar itu, ia segera menerobos masuk dan mendorong beberapa orang pelayan ke kanan kiri.
Akhirnya ia dapat melihat apa yang ditangisi mereka itu.
Wajah Siang Ni seketika pucat, matanya terbelalak melihat tubuh ayahnya menggeletak di atas lantai dalam keadaan mengerikan sekali.
Kepala ayahnya terpisah dari leher dan ibunya juga menggeletak berlepotan darah di dekat ayahnya!
Siang Ni tidak percaya kepada penglihatannya sendiri.
Digosok-gosoknya kedua matanya dan dipandangnya sekali lagi ayah ibunya yang menggeletak mandi darah di lantai itu.
Kedua kakinya mulai menggigil, matanya berkunang-kunang dan ia menubruk maju.
"Ayah.......! Ibu.......!!"
Siang Ni memeluk tubuh mereka, tidak peduli pakaian dan kedua tangannya penuh darah yang belum membeku.
Didekapnya tubuh ayah ibunya, digoyang-goyangkan dan dipanggil-panggilnya.
Kemudian ia terasa agak lega melihat ibunya siuman dan ternyata ibunya tidak terluka, hanya berlepotan darah ayahnya, seperti juga ia.
Akan tetapi ibunya seperti orang kehilangan kesadaran, matanya memandang kosong, mulutnya tak mampu bersuara.
"Ibu......! Apa yang telah terjadi.......?"
Kemudian ia memeluk ayahnya.
"Ayah, siapakah yang melakukan ini......?"
Tiba-tiba ia teringat akan pemuda yang tadi diserangnya, maka ia menjadi beringas.
"Keparat jahanam keji! Aku harus mengadu nyawa denganmu!"
Bentaknya nyaring sekali, mengejutkan semua orang yang berada di situ.
Kemudian ia mencabut pedangnya dan melompat keluar seperti orang gila, menerjang mereka yang menghalang sehingga beberapa orang pelayan terpelanting jatuh.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan tubuhnya berkelebat keluar dari gedung itu.
Bagaikan seekor burung garuda marah, Siang Ni melayang ke atas genteng dan ia berlari ke arah di mana ia bertemu dengan pemuda yang mengaku bernama Suma Cun Giok itu.
Setelah tiba di sana, ia tidak melihat bayangan seorang pun.
Ia tercengang dan bingung.
Ke mana ia harus mengejar?
Ke mana perginya pemuda yang telah membunuh ayahnya itu?
Ia termangu, kemudian terbayang di depan matanya keadaan ayah dan ibunya.
Ia memejamkan kedua matanya dan air mata menitik deras seperti air hujan.
"Ayaaaah...... Ibu.......!"
Tersedulah Siang Ni dan hampir saja ia terguling dari atas genteng.
Kedua kakinya menggigil dan seluruh tubuh gemetar.
Dengan jerit memilukan ia melompat turun dan menerobos masuk lagi ke dalam kamar maut itu, menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh ayah dan ibunya bergantian.
Pemandangan yang amat mengharukan ini membuat para ibu tirinya makin riuh meratap dan menangis, bahkan beberapa orang di antaranya ada yang jatuh pingsan sehingga suasananya semakin memilukan.
"Teecu (murid) sudah berhasil menewaskan Pangeran Lu Kok Kong yang jahat dan mata keranjang itu, Suhu. Sudah terbalas kiranya sakit hati Bibi Pouw Sui Hong yang menjadi korbannya,"
Kata Suma Cun Giok kepada suhunya setelah mereka bertemu di atas genteng.
"Hampir saja teecu terlibat dalam perkelahian dengan seorang gadis remaja yang lihai sekali. Entah siapa gadis itu, teecu tidak mau melayaninya berkelahi, khawatir kalau Suhu terlalu lama menunggu teecu di sini,"
Demikian Suma Cun Giok menceritakan pelaksanaan tugasnya untuk membalas dendam keluarga Pouw.
Pemuda yang membunuh Pangeran Lu Kok Kong itu adalah Suma Cun Giok, putera mendiang Pouw Keng In.
Dia melakukan perjalanan bersama suhunya, yaitu Suma Tiang Bun, pendekar patriotik yang tinggi ilmunya.
Seperti telah kita ketahui, guru dan murid ini telah menolong keluarga Siok di kota Ci-bun, bahkan kemudian mereka mengantar Nona Siok Eng menuju ke Propinsi Shan-tung dan atas persetujuan gurunya, dia ditunangkan dengan gadis itu.
Setelah meninggalkan keluarga Siok yang kini tinggal bersama mantu sulungnya di Shan-tung, Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok, murid atau anak angkatnya itu, melakukan perjalanan ke kota raja.
Terlebih dahulu Suma Tiang Bun mengajak muridnya ke So-couw untuk melakukan penyelidikan tentang keluarga Pouw.
Tanpa banyak kesulitan mereka dapat mengumpulkan dari para penduduk yang sudah puluhan tahun tinggal di situ.
Mereka dapat mendengar cerita para penduduk tua tentang terbasminya keluarga Pouw oleh pasukan Kerajaan Mongol.
Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi sekitar duapuluh tahun yang lalu, dan seperti pada umumnya orang suka sekali membumbui setiap cerita tentang sebuah peristiwa yang tersiar melewati mulutnya menurut komentar, pendapat dan pandangan yang sesuai dengan seleranya sendiri, maka apa yang didengar oleh Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok sudah simpang siur dan kacau, yang terkadang menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.
Akan tetapi pada pokoknya, guru dan murid itu mendengar betapa seluruh keluarga Pouw telah dibunuh, dan hanya seorang gadis bernama Pouw Sui Hong yang tidak dibunuh, melainkan ditawan.
Akan tetapi, demikian menurut berita yang mereka dapatkan, keadaan Pouw Sui Hong yang dahulu menjadi bunga tercantik kota So-couw itu lebih menyedihkan lagi, karena gadis itu dibawa ke kota raja dan menjadi permainan para bangsawan di kota raja.
Kemudian Pouw Sui Hong terjatuh ke tangan Pangeran Lu Kok Kong yang terkenal mata keranjang dan akhirnya gadis yang bernasib malang itu mati penuh kesengsaraan di gedung Pangeran Lu itu.
Demikianlah berita yang didengar oleh Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok!
Dapat dibayangkan betapa marahnya Cun Giok mendengar cerita mereka itu.
Dendam sakit hati berkobar dalam kepalanya lalu membara dalam dadanya.
Dendam kebenciannya pertama-tama ditujukan kepada Pangeran Lu Kok Kong yang sudah merusak kehidupan bibinya, dan dendamnya yang kedua ditujukan kepada panglima pasukan yang belum diketahui siapa orangnya karena di antara para penduduk So-couw yang memberi keterangan padanya, tak seorang pun mengenal siapa adanya panglima pasukan pembasmi itu.
Demikianlah, bersama gurunya Cun Giok pergi ke kota raja.
Karena belum tahu siapa adanya panglima pasukan pembasmi keluarganya, Suma Cun Giok lebih dulu mendatangi gedung Pangeran Lu Kok Kong yang tentu saja amat mudah dicari.
Gurunya hanya menanti di atas genteng kalau-kalau muridnya terancam bahaya.
Setelah dia melihat muridnya berhasil memasuki gedung tanpa banyak kesukaran dan membantu merobohkan beberapa orang perajurit yang menjaga di luar, Suma Tiang Bun meninggalkan gedung dan menanti muridnya agak jauh sehingga dia tidak melihat ketika Siang Ni menyerang Cun Giok.
Seperti telah diceritakan, setelah menewaskan Pangeran Lu Kok Kong dan menghindarkan perkelahian dengan gadis remaja cantik yang menyerangnya, Cun Giok menemui suhunya dan menceritakan hasil pembalasan dendamnya.
"Dan tahukah engkau siapa yang memimpin pasukan pembasmi keluarga orang tuamu?"
Tanya Suma Tiang Bun.
"Sudah, Suhu. Menurut orang she Lu itu, panglima keparat itu adalah seorang panglima besar bernama Kong Tek Kok."
Mendengar nama ini, Suma Tiang Bun tampak terkejut.
"Dia.......??"
"Kenalkah Suhu kepadanya?"
Suma Tiang Bun menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana aku bisa mengenal orang macam itu? Akan tetapi aku sudah mendengar namanya. Dia adalah seorang panglima besar yang kabarnya memiliki ilmu silat yang tinggi dan tangguh sekali. Bagaimana keluargamu sampai terbasmi oleh dia?"
"Siapa tahu kalau dahulu pangkatnya tidak setinggi sekarang, Suhu."
"Mungkin juga. Kabarnya dia lihai sekali. Kita harus berhati-hati."
Mereka lalu pergi untuk mencari keterangan di mana adanya gedung tempat tinggal Panglima Besar Kong Tek Kok.
Seperti juga Pangeran Lu, Panglima Kong Tek Kok adalah seorang tokoh besar yang terkenal sekali di kota raja.
Maka mudah saja bagi guru dan murid itu untuk mendapatkan keterangan di mana gedungnya.
Malam itu telah larut, menjelang tengah malam.
Biarpun penduduk kota raja sudah banyak yang menutup pintu rumah dan juga semua toko sudah tutup serta keadaan di jalan umum sudah sepi karena jarang ada penduduk yang keluyuran di waktu tengah malam begitu, namun tampak banyak sekali pasukan dan para perwira pengawal istana hilir mudik di jalan-jalan raya.
Dari sikap dan wajah mereka dapat diduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat.
Melihat ini, tanpa bertanya para penduduk cepat-cepat menutup pintu rumah dan bersembunyi dalam kamar.
Memang para pengawal istana itu sedang menghadapi tugas berat.
Berita tentang terbunuhnya Pangeran Lu Kok Kong cepat tersiar dan seluruh tenaga pasukan pengawal dikerahkan untuk menangkap pembunuh itu yang diduga masih berkeliaran di dalam kota raja.
Juga Kong Tek Kok, panglima besar yang sedang enak-enak mencari angin di ruangan belakang, mengalami peristiwa hebat.
Panglima ini tentu saja sudah mendengar tentang pembunuhan atas diri Pangeran Lu.
Akan tetapi dia tidak begitu memusingkan, dan tidak mau bersusah-payah mencari sendiri pembunuh itu, melainkan memerintahkan bawahannya untuk bekerja keras mengerahkan pasukan mencari, mengejar dan menangkap pembunuh itu.
Dia sendiri enak-enak mencari angin di ruangan belakang, duduk bersandar di kursi dan seorang selirnya memegang kipas bulu, mengipasinya.
Memang pada waktu itu musim panas membuat hawa di dalam rumah tak tertahankan panasnya.
Kong Tek Kok sudah kelihatan tua, akan tetapi masih gagah dan tubuhnya yang tinggi besar itu tampak kokoh kuat.
Dia memakai baju tipis sutera, dan kepalanya tidak bertopi dan rambutnya digelung ke atas agar lehernya tidak tertutup.
Akan tetapi sebagai seorang panglima besar yang tahu bahwa banyak sekali musuh negara yang ingin membunuhnya dan maklum akan bahaya yang selalu mengintainya, di mana pun dia berada, dalam keadaan beristirahat sekalipun, di atas meja dekatnya selain terdapat secawan arak yang masih penuh karena baru diisi, juga terdapat panah tangannya dan sepasang pedangnya!
Seorang selir muda memijit-mijit kakinya dan seorang lagi mengipasinya.
Panglima itu tampak mengantuk, kedua matanya dipejamkan untuk lebih menikmati tiupan angin dan pijatan kakinya.
Kalau sekiranya yang terancam bahaya atau yang diserbu penjahat itu istana kaisar, tentu Kong Tek Kok tidak akan enak-enak seperti itu.
Pasti dia akan turun tangan sendiri menjaga keselamatan kaisar sekeluarganya dan menangkap penjahat.
Akan tetapi sekarang yang terbunuh hanya Pangeran Lu.
Dia tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan Pangeran Lu Kok Kong, kecuali bahwa puteri pangeran itu menjadi muridnya.
Teringat kepada Siang Ni, panglima itu tersenyum aneh.
Akhir-akhir ini dia amat tertarik kepada muridnya.
Kalau dulu dia tertarik dan suka karena muridnya itu berbakat dan cerdik, dapat memahami tiap ilmu silat baru yang dipelajarinya dengan cepat, sekarang dia amat tertarik dan suka sekali kepada muridnya itu karena kini muridnya yang mulai dewasa tampak begitu cantik jelita menggairahkan.
Para selirnya sama sekali tidak ada daya tariknya kalau dibandingkan dengan kecantikan muridnya itu.
Tentu saja perasaan tergila-gila ini ditahannya saja karena betapapun juga, Kong Tek Kok belum begitu gila untuk berani bermain gila terhadap puteri tunggal Pangeran Lu Kok Kong yang berpengaruh di istana Kaisar.
Kini, begitu terbunuhnya Pangeran Lu oleh penjahat membuat Panglima Kong Tek Kok termenung.
Setelah pangeran itu tidak ada di dunia, dan Siang Ni adalah muridnya, hemmm, kiranya hasrat hatinya itu tidak akan demikian sukar lagi, tidak sesukar mencapai bintang di langit!
Inilah pula sebabnya mengapa panglima ini seakan-akan tidak peduli menghadapi peristiwa pembunuhan yang menggemparkan kota raja itu dan dia enak-enak saja duduk makan angin di ruangan belakang gedungnya.
Akan tetapi, tiba-tiba Panglima Kong Tek Kok mendorong selirnya yang mengipasinya sehingga wanita itu jatuh terpelanting dan kaki panglima itu menendang selir yang memijati kakinya sehingga selir itu pun roboh.
Dengan cepat sekali Panglima Kong Tek Kok menggulingkan tubuhnya dari tempat duduknya.
Gerakan ini memang tepat sekali karena terdengar suara keras ketika tempat duduknya itu pecah berantakan terkena sambaran sebuah pelor besi yang besar dan berat!
"Keparat jangan curang!"
Serunya sambil menyambar senjatanya, yaitu sepasang pedang dan anak panah tangan yang terletak di atas meja.
Sebagai jawaban atas teriakannya itu, dari atas genteng melayang turun dua bayangan orang yang gerakannya cepat dan ringan sekali bagaikan dua ekor burung saja.
Bayangan dua orang itu melayang turun ke arah belakang rumah.
Dengan berani Kong Tek Kok melompat melalui pintu belakang dan di lain saat dia telah berhadapan dengan dua orang yang sudah berdiri menanti di kebun belakang rumahnya.
Lampu yang tergantung di situ cukup terang sehingga Panglima Kong dapat melihat wajah dua orang itu dengan jelas.
Mereka adalah seorang kakek yang sikapnya gagah dan seorang pemuda yang tampan.
Mereka berdiri dengan sikap tenang dan memandang kepada Panglima Kong Tek Kok dengan sinar mata tajam.
Kong Tek Kok memandang penuh perhatian akan tetapi dia tidak mengenal mereka.
Hatinya agak gentar juga melihat kakek yang sikapnya tenang dan penuh wibawa itu.
Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang sudah banyak mengalami pertempuran besar, dia terlalu percaya akan kepandaian sendiri dan dia bersikap tenang.
Dia dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang dari dunia kang-ouw, maka Panglima Kong menahan kemarahannya dan bersikap agak sopan.
Dia menjura dan menegur.
"Siapakah kalian, dari golongan mana dan ada keperluan apa malam-malam begini datang berkunjung dengan cara yang tidak bersahabat?"
Pemuda itu, Suma Cun Giok, melangkah maju dan melintangkan pedang di depan dada, telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Panglima Kong dan dengan suara yang mengandung kebencian dia bertanya.
"Apakah engkau Panglima Kong Tek Kok?"
Panglima Kong tersenyum mengejek. Tentu saja dia memandang rendah pemuda di depannya itu.
"Benar, akulah orangnya yang disebut Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) Kong Tek Kok, juga ada yang menyebutkan julukan Si Panah Sakti!"
Dia mengangguk-angguk sombong, lalu balas bertanya.
"Dan engkau ini orang muda !ancang kurang ajar, siapakah engkau dan ada keperluan apa masuk ke sini seperti maling?"
"Jahanam keji, ingatkah engkau kepada keluarga Pouw di So-couw?"
Cun Giok bertanya marah.
"Keluarga Pouw? Yang mana?"
Tentu saja Panglima Kong tidak dapat mengingat begitu saja karena hal itu sudah lewat selama duapuluh tahun.
Akan tetapi Suma Cun Giok menganggap panglima itu berpura-pura, maka dengan mengejek dia menyambung.
"Benar-benarkah engkau lupa atau pura-pura lupa? Engkau membasmi keluarga Pouw di So-couw, membunuh Ayah Ibuku dengan anak panah di sungai dan menawan Bibiku yang kemudian engkau jual kepada Pangeran Lu......!"
Suma Cun Giok tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking marahnya. Wajah Panglima Kong Tek Kok berubah dan pandang matanya menaruh curiga, agaknya dia tidak percaya.
"Mereka sudah habis semua, tidak ada anak...... bagaimana engkau mengaku anak mereka?"
"Keparat jahanam! Thian tidak mengijinkan engkau membasmi seluruh keluarga dan Ibuku tidak tewas oleh anak panahmu. Aku ditakdirkan lahir untuk membalas dendam setinggi gunung sedalam lautan ini kepadamu! Terimalah pembalasanku!"
Setelah berkata demikian, Suma Cun Giok langsung menyerang, menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan musuh besarnya.
Karena amat benci dan marah kepada panglima itu, dalam gebrakan pertama saja Cun Giok sudah mengeluarkan serangan maut yang amat berbahaya.
Pedang di tangannya bukan menusuk sembarangan saja.
Gerakan pedangnya didorong tenaga sakti yang menimbulkan getaran yang membuat ujung pedangnya tampak menjadi beberapa buah, sukar diduga ke arah mana pedang itu hendak menyerang.
Inilah jurus Sian-jin Sia-ciok (Dewa Memanah batu), sebuah jurus pilihan dari ilmu pedang warisan leluhur Suma yang amat hebat.
Akan tetapi Panglima Kong Tek Kok adalah seorang ahli silat yang selain tinggi tingkat ilmunya, juga sudah memiliki banyak pengalaman bertempur.
Tenaga saktinya amat kuat, gerakannya cepat dan pandang matanya tajam sehingga dia dapat menghadapi serangan Cun Giok itu dengan tenang.
Sambil tersenyum mengejek dia mengangkat pedang di tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyedot.
"Hemm, engkau yang membunuh Pangeran Lu Kok Kong? Bagus, engkau datang menyerahkan diri!"
Katanya mengejek.
Dua pedang bertemu dan alangkah terkejut hati Cun Giok ketika pedangnya menempel pada pedang kiri lawan dan betapa pun dia mengerahkan tenaga menarik, pedangnya tidak dapat terlepas!
Pada saat itu pedang di tangan kanan Panglima Kong meluncur, menusuk ke arah dada Cun Giok dan panglima itu tertawa bergelak.
Dalam pengerahan lweekang (tenaga dalam) masih dapat tertawa bergelak membuktikan betapa hebatnya tingkat kepandaian panglima itu.
Suma Tiang Bun yang menonton dari samping juga kaget melihat kelihaian Panglima Kong Tek Kok.
Cun Giok terancam namun dia tidak gentar.
Bahkan dia lalu menyerang dengan tangan kirinya, dipukulkan ke arah lambung lawan dengan mengerahkan tenaga saktinya sedangkan kaki kanannya menendang ke arah bawah perut!
Tanpa mempedulikan tusukan pedang kanan lawan sebaliknya malah membalas dengan dua serangan maut berarti bahwa pemuda itu sudah nekat dan siap untuk mengadu nyawa dan mati bersama dengan musuh besarnya!
Melihat kenekatan ini, Panglima Kong terkejut dan mengeluarkan seruan kaget.
Kalau dia melanjutkan serangannya, biarpun mungkin dia dapat menggagalkan pukulan pemuda itu ke arah lambungnya, namun belum tentu dia dapat menghindarkan diri dari tendangan maut itu.
Memang belum tentu hal itu akan dapat membunuhnya, namun setidaknya dia akan terluka.
Tentu saja dia tidak mau terluka walaupun pedangnya pasti akan menewaskan lawan.
Sambil berseru keras dia menarik kembali kedua pedangnya dan memutar sepasang pedang itu di depan tubuhnya untuk membabat lengan yang memukul dan kaki yang menendangnya.
Cun Giok yang memiliki gerakan lincah itu cepat melompat ke belakang menghindarkan diri.
Kedua serangan mautnya itu sebaliknya malah terancam karena kalau dia lanjutkan, lengan kiri dan kaki kanannya tentu akan menjadi buntung.
"Orang she Kong! Kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk, jangan menghina orang muda. Akulah lawanmu!"
Seru Suma Tiang Bun yang dengan gerakan kilat tahu-tahu sudah melompat dan menghadapi panglima itu.
Kong Tek Kok bersikap waspada karena dia dapat menduga bahwa kini dia berhadapan dengan seorang lawan berat.
Dia menatap wajah Suma Tiang Bun, lalu pandang matanya bergerak dari atas ke bawah dan dia berkata.
"Melihat kepandaianmu, engkau tentu seorang tokoh besar di dunia kang-ouw. Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhiku? Sepanjang ingatanku, di antara kita tidak pernah terjadi permusuhan."
"Kong Tek Kok, memang di antara engkau dan aku pribadi tidak pernah terjadi permusuhan. Akan tetapi sudah terlalu banyak kejahatan engkau lakukan terhadap orang-orang tidak berdosa. Terutama sekali apa yang telah kaulakukan terhadap keluarga Pouw, benar-benar keji sekali. Aku Suma Tiang Bun sejak dahulu paling benci melihat kejahatan dan biarpun kepandaianku tidak berarti, namun akan kucurahkan semua untuk menentang kejahatan. Orang muda ini adalah putera tunggal dari keluarga Pouw yang kau basmi dan aku adalah gurunya dan juga ayah angkatnya. Maka sudah semestinya kalau aku membelanya dan melawanmu sebagai musuh besar yang harus dibasmi!"
Setelah berkata demikian, dengan gerakan perlahan dan kelihatan lambat, Suma Tiang Bun mengeluarkan sebatang pedang yang bercahaya keemasan dari balik jubahnya.
Melihat sikap kakek yang amat tenang dan gerakannya mencabut pedang itu sudah menunjukkan bahwa ilmu pedang kakek itu tentu amat dahsyat, Panglima Kong mencoba untuk membela diri dengan kata-kata sebelum menggunakan senjata.
"Suma Tiang Bun, kita sudah tua sama tua, sudah cukup kenyang makan garam. Kurasa engkau pun tidak begitu bodoh untuk mengetahui bahwa semua yang kulakukan terhadap keluarga Pouw bukan lain hanyalah pelaksanaan tugasku sebagai seorang panglima pasukan kerajaan, bahkan aku hanya melaksanakan perintah. Mengapa engkau menyeret hal ini menjadi permusuhan perorangan?"
"Kong Tek Kok, pandai benar engkau hendak menutupi kejahatanmu dengan selimut tugas! Kaukira aku tidak bisa membedakan baik buruknya pelaksanaan tugas? Yang kaulakukan terhadap keluarga Pouw, juga terhadap keluarga-keluarga patriot bangsa yang lain bukan sekadar pelaksanaan tugas, melainkan kekejamah yang tiada taranya. Kalau hanya melaksanakan tugas, seharusnya engkau menangkapi mereka lalu mengajukan depan pengadilan, baru di sana diputuskan apakah mereka bersalah dan pantas dihukum ataukah tidak. Akan tetapi engkau membasmi mereka, membunuh orang-orang tanpa dosa, anak-anak, orang-orang tua, kau basmi, harta benda mereka kaurampok, engkau membakari rumah mereka, menculik gadis-gadis. Apakah engkau masih hendak menyangkal?"
"Manusia sombong!"
Panglima Kong Tek Kok memaki marah lalu menerjang maju sambil membentak nyaring sekali.
Bentakan ini merupakan pekik tanda bahaya bagi para perajurit pengawal yang berada di sekitar gedung itu!
Suma Tiang Bun tidak berani memandang rendah menghadapi serangan sepasang pedang yang digerakkan amat cepat dan kuat itu.
Pedang di tangan kakek ini adalah sebuah pedang pusaka yang disebut Kim-kong-kiam (Pedang Sinar Emas).
Dengan merendahkan tubuh dia mengangkat pedangnya dan menangkis serangan pertama lawannya.
Gerakannya ini dilakukan sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dengan maksud hendak mematahkan pedang lawan dengan pedang pusakanya.
"Singgg.... traanggg!!"
Bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu di udara.
Keduanya tergetar dan melangkah mundur.
Pedang kanan di tangan Panglima Kong tidak menjadi patah, bahkan rusak sedikit pun tidak!
Hal ini tidak >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> M a a f H a l a m a n 62 R u s a k !!
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> namun setiap sambaran kilat merupakan tangan maut yang siap mencabut nyawa.
Sinar kuning emas dari Kim-kong-kiam dikeroyok dua gulungan sinar putih dari Bhok Siang-kiam.
Dari gerakan mereka timbul angin dingin bersiutan dan lampu teng yang tergantung di atas sampai bergoyang-goyang!
Untuk beberapa lamanya Suma Cun Giok terkesima dan kagum menonton pertandingan ini.
Kemudian, melihat betapa gurunya belum dapat mendesak lawan, dia berseru keras dan menyerbu ke dalam pertempuran dengan penuh kebencian terhadap panglima itu.
Kini pertandingan menjadi semakin hebat.
Suara pedang bertemu pedang menimbulkan suara nyaring berdencing memecah kesunyian malam, disusul bunga api yang berpijar dan pecah berhambutan.
Tingkat kepandaian Cun Giok, walaupun belum dapat mengimbangi tingkat gurunya, sudah cukup tinggi.
Agaknya hanya dalam hal sin-kang saja dia masih kalah kuat, namun kecepatan gerakannya sudah dapat menyamai kecepatan gurunya.
Kalau saja tadi dia tidak terburu nafsu karena dendamnya, kiranya tidak mungkin dalam segebrakan saja dia terdesak oleh Panglima Kong.
Setelah Suma Cun Giok maju membantu dan sinar pedangnya bergulung-gulung menjadi satu dengan gulungan sinar pedang gurunya, maka gulungan dua sinar putih dari pedang Kong Tek Kok mulai terdesak mundur.
Kalau tadinya dua gulungan sinar pedang putih itu panjang dan lebar tanda bahwa kedua pedangnya lebih banyak melakukan serangan bertubi-tubi dan mengurung tubuh Suma Tiang Bun, kini gulungan dua sinar pedangnya mulai menyempit dan mengecil, tanda bahwa dia hanya dapat mempertahankan diri, lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Kepandaian tiga orang ahli silat ini sudah mencapai tingkat tinggi sehingga kalau orang biasa yang menonton pertempuran itu dari jauh, yang kelihatan tentu hanya gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar dan orangnya tidak tampak saking cepatnya gerakan pedang-pedang itu seakan-akan menyelimuti tubuh mereka.
Kepandaian Panglima Kong Tek Kok benar-benar hebat.
Biarpun dikeroyok dua, sebegitu jauh dia masih dapat membuat pertahanan yang amat kuat.
Diam-diam Suma Tiang Bun harus mengakui bahwa kalau dia maju seorang diri melawan panglima ini, dia tidak akan mampu mengalahkannya.
Akan tetapi dengan bantuan muridnya, dia mulai mendesak Panglima Mongol itu dengan itu dengan serangan-serangan kilat yang amat dahsyat.
Kembali Panglima Kong Tek Kok mengeluarkan bentakan yang terdengar seperti pekik burung garuda.
Tiba-tiba terdengar bunyi pekik yang sama dari jauh, disusul lagi pekikan serupa dari pelbagai jurusan.
Suara itu susul-menyusul dan akhirnya terdengar dekat sekali, riuh rendah bagaikan puluhan ekor burung garuda datang menyerbu.
Suma Tiang Bun tahu apa artinya semua itu.
Dia mempercepat gerakan pedangnya dengan maksud untuk cepat merobohkan Panglima Kong.
Demikian pula Suma Cun Giok melakukan hal yang sama.
Akan tetapi usaha mereka sia-sia.
Biarpun mereka berdua dapat mendesak lawan dan sudah pasti akhirnya akan dapat merobohkan Panglima Kong, namun agaknya kemenangan itu tidak akan dapat dicapai dalam waktu singkat.
Sementara itu, gemuruh suara pekikan tadi sudah semakin dekat dan di lain saat bermunculan beberapa orang yang berpakaian seperti pengawal istana dengan topi terhias bulu burung garuda.
Gerakan mereka gesit dan lincah tanda bahwa mereka ini rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi.
"Cun Giok, kita pergi!"
Suma Tiang Bun membentak.
Kakek yang sudah berpengalaman luas ini segera dapat memaklumi bahwa dia dan muridnya berada dalam ancaman bahaya.
Menghadapi Panglima Kong Tek Kok seorang saja mereka masih belum juga dapat merobohkannya.
Apalagi kalau ditambah banyak pengawal yang memiliki kepandaian tinggi.
Dia pun dapat menduga bahwa sebentar lagi tentu akan datang pengawal yang lebih banyak jumlahnya dan kalau sudah demikian, dia dan muridnya tidak akan dapat lolos dari maut.
Sekarang masih ada harapan bagi Cun Giok untuk meloloskan diri dan dia yang akan melindungi dan mencegah musuh melakukan pengejaran terhadap muridnya.
"Tidak, Suhu!"
"Lari! Ini perintahku! Pergi dan kau cari Susiok-couwmu (Paman Kakek Gurumu), ceritakan semua!"
Suma Tiang Bun membentak.
Mendengar ini, Cun Giok tidak berani membantah lagi.
Hatinya tidak karuan rasanya karena kalau dia lari, dia dapat menduga bahwa gurunya pasti akan mengalami bencana!
Air matanya menetes turun dan pedangnya bergerak cepat sekali menerjang para pengawal yang sudah mulai mengeroyok.
Terdengar teriakan mengaduh dan seorang pengawal melompat mundur dengan wajah pucat.
Pangkal lengannya tergores pedang Cun Giok.
Ini saja sudah menunjukkan bahwa kepandaian pengawal itu cukup tinggi sehingga serangan nekat dan dahsyat dari Cun Giok tadi hanya dapat menggores kulit pangkal lengannya saja.
"Cun Giok, pergi......!"
Suma Tiang Bun membentak lagi dan kakek ini memutar pedangnya sedemikian dahsyatnya sehingga Panglima Kong Tek Kok terkejut dan melompat mundur.
Pedang Sinar Emas berkelebat dan seorang pengawal yang mencoba untuk menghadang Cun Giok roboh mandi darah.
Selanjutnya Suma Tiang Bun meninggalkan Panglima Kong dan mengamuk, pedangnya menyambar-nyambar para pengawal yang mengeroyok Cun Giok.
Para pengawal terkejut dan terbukalah jalan keluar bagi pemuda itu.
Cun Giok maklum akan maksud gurunya.
Kakek itu hendak berkorban agar dia dapat selamat dan kelak dapat membalaskan sakit hatinya kepada musuh besar yang amat tangguh itu.
Kalau dia teringat betapa gurunya yang juga menjadi ayah angkatnya itu selalu mencintanya, menjadi pengganti ayah bundanya, hampir Cun Giok tidak tega untuk meninggalkannya.
Akan tetapi pemuda ini pun maklum bahwa kalau dia berkeras tidak mau lari, dia dan suhunya pasti akan tewas di situ sehingga dendam yang mendalam terhadap Panglima Kong Tek Kok tidak akan pernah dapat dibalas!
"Selamat tinggal, Suhu!
Kelak teecu akan membalaskan sakit hati Suhu!"
Teriaknya dengan suara mengandung isak, kemudian dia melompat ke atas genteng.
Beberapa sinar meluncur cepat dan terdengar bersiut ketika tiga batang anak panah menyambar dari tangan Panglima Kong Tek Kok ke arah tubuh Cun Giok yang sedang melompat ke atas genteng.
"Cun Giok, awas am-gi (senjata gelap)......!"
Teriak Suma Tiang Bun sambil menyerang Panglima Kong dengan hebatnya sehingga panglima yang lihai sekali anak panahnya ini tidak sempat menyusulkan anak panah lagi ke arah Cun Giok.
Pada saat itu Cun Giok sedang melompat ke atas genteng.
Tubuhnya masih berada di tengah udara ketika tiga batang anak panah itu meluncur cepat ke arahnya.
Cun Giok tidak patut menjadi murid Suma Tiang Bun kalau dia tidak tahu akan datangnya bahaya maut dari belakang ini.
Dia mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh), mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya yang masih berada di tengah udara itu melakukan gerakan pok-sai (salto) sehingga dia dapat membalikkan kaki ke atas dan kepala di bawah, mukanya kini menghadap ke arah anak panah yang datang menyambar berupa tiga sinar.
Dia berhasil menyampok sebatang anak panah dan mengelak dari anak panah kedua.
Akan tetapi dia tidak mengira bahwa Kong Tek Kok luar biasa sekali dalam menyerang dengan anak panahnya.
Dia tidak percuma mendapat julukan Si Panah Sakti karena ketika dia meluncurkan tiga batang anak panah tadi, perhitungannya sudah masak betul dan sudah dia perhitungkan bahwa pemuda itu kalau tidak melakukan gerakan mengelak begini tentu begitu dan begitu!
Maka, ketika melepaskan anak panah arahnya sudah dibagi-bagi untuk menghadang semua kemungkinan gerakan pemuda itu dalam usaha menghindarkan diri dari serangan anak panahnya.
Anak panah yang ketika dengan amat cepatnya meluncur ke arah dada pemuda itu!
Tadinya anak panah ini sama sekali tidak akan mengenai sasaran kalau saja Cun Giok tidak berjungkir balik.
Akan tetapi setelah bersalto, anak panah itu tepat menyambar dadanya.
Inilah kehebatan ilmu panah dari Panglima Kong Tek Kok.
Bukan main kagetnya Cun Giok.
Pemuda ini baiknya memiliki gin-kang yang hampir sempurna.
Cepat dia miringkan tubuh dan anak panah yang tadinya akan menancap di dadanya itu kini menancap di pundak kirinya.
Biarpun sudah terluka, Cun Giok tetap berhasil sampai di atas genteng dan menghilang dalam kegelapan malam.
Para pengawal hendak mengejar, akan tetapi Panglima Kong Tek Kok berseru nyaring.
"Jangan kejar, biarkan anjing kecil itu lari. Yang penting kita basmi anjing besar ini!"
Kong Tek Kok berpikir bahwa Suma Tiang Bun merupakan musuh yang jauh lebih berbahaya dibandingkan pemuda itu.
Maka dia mencegah para pengawal melakukan pengejaran terhadap Cun Giok agar mereka dapat membantunya membunuh Suma Tiang Bun yang lihai.
Tentu saja hal ini menguntungkan dan menyelamatkan Cun Giok.
Andaikata para pengawal terus mengejarnya, dia yang sudah terluka tentu akan sukar untuk meloloskan diri.
Sebaliknya, Suma Tiang Bun kini dikeroyok dan dikepung rapat.
Namun, melihat muridnya sudah dapat melarikan diri, kakek ini merasa lega sekali.
Dia tertawa bergelak dan memaki-maki Panglima Kong Tek Kok.
Pedangnya bergerak laksana halilintar menyambar-nyambar dan dia baru dapat dirobohkan setelah sepuluh orang pengawal roboh dan tewas oleh bacokan dan tusukan Kim-kong-kiam!
Suma Tiang Bun roboh dan tewas sebagai seorang gagah, sebagai seorang pendekar dan pejuang yang mempertahankan kebenaran dan keadilan, juga seorang patriot yang membela tanah air dan bangsa memusuhi penjajah Mongol.
Dia tewas di bawah serangan belasan batang pedang dan golok sehingga tubuhnya hancur menjadi onggokan daging berdarah!
Kita kembali menengok keadaan Siang Ni.
Sambil menangis tersedu-sedu ia memeluk tubuh ibunya yang sudah dibaringkan di atas tempat tidur dan jenazah ayahnya sudah diangkut ke ruangan lain di mana jenazah itu diurus sebaiknya.
Sayup-sayup terdengar suara tangis yang memilukan menerobos celah-celah pintu.
Mendengar suara tangis para ibu tirinya dan para pelayan, Siang Ni menutup pintu kamar ibunya rapat-rapat, kemudian ia kembali menangis dan memeluk tubuh ibunya yang rebah telentang di atas pembaringan dengan mata menatap langit-langit kelambu seperti orang kehilangan akal.
"Ibu...... Ibu....... ingatlah, Ibu. Siang Ni di sini......"
Tangis gadis itu sambil merangkul dan menciumi ibunya, membasahi wajah ibunya dengan air matanya.
Akan tetapi Pouw Sui Hong hanya bengong saja dan napasnya berat, tubuhnya panas sekali.
Sampai tiga hari tiga malam nyonya itu berada dalam keadaan mengkhawatirkan sekali, tidak sadar akan keadaan di sekelilingnya.
Siang Ni menjaga ibunya siang malam, lupa makan dan kalau sudah tak tertahankan lagi kantuknya, ia tertidur di samping ibunya.
Pada hari keempat, pagi-pagi sekali Siang Ni terbangun dari tidurnya yang tak menentu.
Ia terbangun karena mendengar suara tangis ibunya.
Cepat ia membuka mata dan segera bangkit duduk ketika melihat bahwa yang menangis adalah ibunya yang agaknya telah sadar.
"Ibu......!"
Ia merangkul.
"Siang Ni". Anakku.......!"
Sui Hong berbisik dan kedua orang ibu dan anak itu bertangisan dan berpelukan.
Siang Ni menangis terisak-isak saking terharu dan juga girang mendengar ibunya dapat bicara dan menangis, tanda bahwa ibunya sudah sadar dari keadaan setengah pingsan selama tiga hari tiga malam itu.
"Ibu, ada Siang Ni di sini, di sampingmu. Harap Ibu jangan terlalu berduka."
Gadis itu mencoba untuk menghibur bundanya.
"Tentang Ayah......"
Ia menggigit bibirnya agar jangan menangis lagi.
"harap Ibu tenangkan pikiran. Tidak percuma aku mempelajari ilmu silat semenjak kecil. Aku sudah melihat muka iblis keparat pembunuh Ayah itu, dan hidupku aku takkan melupakan muka itu! Kelak aku pasti akan dapat memenggal lehernya!"
Mendengar ini, isak tangis Sui Hong semakin keras dan tersedu-sedu sehingga Siang Ni menghentikan kata-katanya, dan memeluk ibunya.
Pada saat itu, masuklah para ibu tiri Siang Ni dan mereka semua kelihatan berduka, muka pucat dan rambut serta pakaian kusut.
Kembali terdengar tangis riuh rendah ketika Sui Hong bertangis-tangisan dengan mereka.
Tangis riuh rendah itu baru berhenti ketika seorang tabib diantar oleh pelayan memasuki kamar.
Dengan merasakan denyut nadi tangan, tabib itu memeriksa keadaan Pouw Sui Hong.
Dia mengerutkan alis dan menghela napas panjang.
Kemudian dia menuliskan resep obat, lalu meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Siang Ni mengejar dan menghentikannya di luar kamar.
"Bagaimana keadaan Ibuku?"
Tanya gadis itu dengan gelisah. Tabib itu adalah tabib istana yang kepandaiannya tinggi dan dia sudah mengenal Siang Ni.
"Ibumu mendapat tekanan batin yang hebat. Jantungnya terguncang, membuat keseimbangan hawa dalam tubuhnya tidak cocok. Sesuatu yang amat mengagetkan telah menyerangnya dan melukai isi dada. Usahakan agar supaya Ibumu dapat bergembira selalu dan tidak teringat akan hal-hal yang menyedihkan."
Setelah berkata demikian, tabib itu berjalan keluar.
Siang Ni berdiri terkesima dengan muka pucat.
Bagaimana mungkin ibunya dapat bergembira, bagaimana tidak akan bersedih setelah melihat suaminya dibunuh orang?
Pada sore harinya, biarpun sudah diberi minum obat, keadaan Sui Hong tidak menjadi makin baik.
Mukanya pucat, pandang matanya sayu dan napasnya berat.
Ia tidak mau berpisah dari Siang Ni, bahkan ia minta agar semua orang meninggalkan kamarnya agar ia dapat berdua saja dengan anaknya.
"Ibu, lekas sembuh, Ibu......"
Kata Siang Ni sambil membereskan rambut ibunya yang kusut menutupi dahi.
Mendengar kata-kata anaknya, air mata membanjir lagi keluar dan membasahi pipi Pouw Sui Hong.
Kedua tangannya memegang lengan anaknya erat-erat, kemudian bibirnya berbisik lirih.
"Siang Ni, Ayahmu....... Ayahmu......."
Siang Ni memeluk ibunya dan mengeraskan hati agar jangan sampai menangis.
"Tenangkan hatimu, Ibu. Mati hidup berada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Adapun tentang keparat jahanam yang melakukan pembunuhan itu, biar nanti aku yang membalaskan!"
Siang Ni mengepal tinjunya yang kecil dan berkulit lembut itu.
"Jangaaann.......!"
Siang Ni terkejut sekali. Ibunya mengeluarkan kata-kata itu setengah menjerit dan tubuh ibunya menggigil. Cepat-cepat ia memberi ibunya minum, kemudian setelah tenang kembali, ibunya berkata.
"Siang Ni, jangan engkau memusuhi dia......."
"Dia siapa, Ibu?"
Tanya Siang Ni halus. Ia tidak berani menduga bahwa yang dimaksudkan oleh ibunya adalah pembunuh ayahnya itu. Hal ini tidak mungkin! Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar kata-kata ibunya.
"Dia pemuda yang membunuh Ayahmu itu....... dia itu tidak bersalah......."
"Apa......?! Apa artinya ini, Ibu?"
Saking kaget dan herannya, Siang Ni sampai lupa bahwa ibunya sedang sakit dan tidak boleh didesak.
"Dia melakukan pembunuhan dengan maksud untuk membalaskan sakit hati Ibumu......! Dia mengira bahwa Ayahmu telah merusak hidupku, dan mengira bahwa aku telah tewas setelah terjatuh dalam tangan Ayahmu, maka dia sengaja datang untuk membalas dendam......."
Siang Ni membelalakkan kedua matanya, memandang ibunya dengan bingung dan tidak percaya.
"Siapakah dia itu, Ibu?"
Tanyanya, suaranya gemetar.
"Dia adalah saudara misanmu sendiri, dia itu keponakanku. Tidak salah lagi dia tentu putera Paman besarmu Pouw Keng In......."
"Mana mungkin? Menurut cerita Ibu dulu, Paman besarku dan isterinya sudah tewas ketika dikejar pasukan, tewas karena anak panah dan hanyut dalam sungai......"
Siang Ni membantah ragu.
"Memang demikianlah. Akan tetapi menurut pengakuan pemuda itu, ibunya selamat dan tertolong, akhirnya melahirkan dia. Dia datang untuk membalas dendam. Dia mendengar bahwa aku, bibinya, terjatuh ke dalam tangan Ayahmu dan dia mengira bahwa aku tewas dianiaya, maka dia datang membunuh Ayahmu untuk membalaskan sakit hatiku......."
Kalau saat itu ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Siang Ni tidak akan begitu kaget seperti ketika mendengar ucapan ibunya itu. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya.
"Akan tetapi, Ibu. Siapa tahu kalau dia berbohong?"
Ibunya menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin dia berbohong. Wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan kakakku Pouw Keng In. Dia pasti putera Paman besarmu, tak salah lagi."
"Akan tetapi...... dia mengaku bernama Suma Cun Giok. Kalau dia anak Paman Pouw Keng In, mengapa dia mempunyai marga Suma?"
Sui Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, napasnya semakin berat, wajahnya pucat sekali. Agaknya ia tadi mempergunakan seluruh kekuatannya untuk bicara.
"Entahlah...... akan tetapi...... dia putera Pamanmu, tak salah lagi...... jangan engkau memusuhi dia...... dia membunuh Ayahmu...... untuk membelaku......."
"Akan tetapi Ayah tidak menganiaya Ibu? Ayah seorang yang baik dan menolong Ibu, menyelamatkan Ibu dari tangan seorang panglima yang kejam. Ayah mencinta Ibu! Kalau dia hendak mencari Ibu sebagai Bibinya, mengapa dia tidak menyelidiki secara teliti?"
Kembali Sui Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, kini ia memejamkan mata dan tampak gelisah sekali, alisnya berkerut.
"Dia...... tidak bersalah....... Ayahmu tak pernah menolongku...... perwira itu....... dia menawanmu sengaja untuk...... diberikan kepada Ayahmu...... sebagai....... hadiah...... Uaagghh......!!"
Sui Hong muntahkan darah segar dari mulutnya.
"Ibuuu......!"
Siang Ni terkejut bukan main.
Darah yang keluar dari mulut ibunya amat banyak, membasahi alas tempat tidur dan baju ibunya, bahkan menodai bajunya sendiri.
Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikan pakaiannya yang terkena darah.
Ia cepat menolong ibunya sambil menangis.
Akan tetapi keadaan Sui Hong payah benar.
Ia hampir tidak dapat bicara lagi, napasnya terengah-engah seperti ikan di daratan.
Siang Ni menangis terus menjaga ibunya.
Pada senja hari itu ibunya membuka mata dan berkata lemah.
"Siang Ni...... jangan kau sakit hati kepada...... putera Pamanmu itu....... dia .."
Dia tidak tahu....... akan tetapi bermaksud baik...... yang salah adalah....... panglima itulah. Dia membasmi keluargaku...... dia pula yang...... menculikku......"
Suara terakhir terdengar amat lemah dan lirih dan agaknya Sui Hong telah menggunakan sisa tenaganya untuk bicara terputus-putus tadi.
"Siapa dia, Ibu? Siapa panglima itu?"
Siang Ni bertanya sambil mengepal tinju.
"Dia...... dia itu......"
Pada saat itu pintu kamar terbuka dan seorang ibu tiri Siang Ni berkata.
"Siang Ni, Panglima Kong Tek Kok datang bersembahyang depan peti mati Ayahmu, engkau wajib mewakili kami membalas penghormatannya. Apalagi dia gurumu!"
Siang Ni menoleh kepada ibu tirinya dengan alis berkerut, kecewa karena kedatangan ibu tirinya itu mengganggu dan memotong keterangan ibunya yang sudah berada di ujung lidah.
Kemudian ia memandang ibunya dengan ragu-ragu.
"Tinggalkan sebentar Ibumu, biar aku yang menjaganya,"
Kata Ibu tirinya.
Memang pada masa itu, amat keras pembatasan hubungan antara pria dan wanita sehingga para isteri Panglima Lu Kok Kong tentu saja tidak boleh menjumpai seorang laki-laki yang datang memberi penghormatan kepada peti jenazah.
Hal ini akan dianggap melanggar batas kesopanan.
Oleh karena itu, memandang muka Panglima Kong Tek Kok yang dianggap sebagai tamu terhormat, isteri-isteri Pangeran Lu merasa perlu untuk menyuruh seorang anggauta keluarga menyambut dan untuk menyambut Panglima Kong, paling tepat dilakukan oleh Siang Ni, karena gadis ini adalah murid dari panglima itu sendiri.
Siang Ni mencoba sekali lagi untuk mengetahui nama musuh besarnya dari ibunya.
Didekatkannya mulutnya di telinga ibunya dan ia bertanya.
"Ibu, siapakah dia.......?"
Akan tetapi ibunya seakan-akan tidak mendengar pertanyaannya dan tampaknya telah tertidur pulas.
"Siang Ni, Ibumu perlu istirahat, mengapa engkau malah mengganggunya? Pergilah menyambut penghormatan Panglima Kong. Aku yang menjaga Ibumu!"
Kata Ibu tirinya.
Siang Ni tidak berani membantah, lalu pergi meninggalkan kamar ibunya untuk menjumpai gurunya yang ternyata memang sedang bersembahyang mengangkat hio-swa (dupa biting) membara di depan peti jenazah ayahnya.
Para pengiringnya yang terdiri dari para perwira pengawal yang berpakaian indah dan tampak gagah perkasa memberi hormat ke arah peti mati dari jarak jauh, agak di luar.
Siang Ni berlutut di dekat peti mati ayahnya menghadapi gurunya dan membalas penghormatan gurunya sambil berlutut.
Ketika Panglima Kong Tek Kok sudah selesai bersembahyang, dia memandang muridnya.
Melihat gadis itu berambut kusut, matanya kemerahan dan basah air mata, pakaiannya serba putih amat sederhana, yaitu pakaian berkabung, panglima itu menghela napas panjang.
Tentu saja timbul perasaan iba dalam hatinya terhadap Siang Ni, akan tetapi perasaan kagumnya lebih besar daripada perasaan iba.
Ia kagum melihat muridnya sekarang di dalam kesederhanaannya tanpa bedak dan gincu itu bahkan tampak keaslian wajahnya yang jelita dan manis menggairahkan hatinya.
"Siang Ni, apakah engkau sudah mengetahui siapa orangnya yang melakukan pembunuhan keji terhadap mendiang Ayahmu?"
Tanya Panglima Kong, suaranya tenang tanpa ragu-ragu karena sebagai guru gadis itu dia memang berhak dan sama sekali tidak melanggar kesopanan untuk bicara dengan Siang Ni di mana dan kapan saja.
"Teecu sudah tahu, Suhu. Dia bernama Suma Cun Giok."
Panglima Kong tercengang.
"Bagus kalau engkau sudah tahu. Bagaimana engkau bisa tahu?"
"Teecu baru pulang dari istana ketika bertemu dengan dia di atas rumah. Sayang teecu datang terlambat......."
"Biarlah, lain kali kita tentu akan dapat membekuknya. Ketahuilah bahwa gurunya yang bernama Suma Tiang Bun telah dapat kutewaskan malam itu. Sayang muridnya yang bernama Suma Cun Giok itu sempat melarikan diri."
Sunyi sejenak dan Siang Ni menundukkan mukanya. Panglima Kong Tek Kok memandang gadis itu dengan sinar mata mencinta.
"Hemm, jadi Ayahmu terbunuh oleh Suma Cun Giok? Engkau tentu akan membalas sakit hati ini. Sudah menjadi kewajibanmu sebagai puteri Pangeran Lu untuk membalas kematian Ayahmu. Jangan takut, Siang Ni, aku pasti akan membantu membasmi musuh besarmu itu."
Tak lama kemudian Panglima Kong Tek Kok berpamit dan meninggalkan ruangan itu di mana terdapat banyak tamu yang datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Pangeran Lu Kok Kong.
Siang Ni segera berjalan masuk untuk kembali ke kamar ibunya.
Akan tetapi sebelum tiba di kamar itu, tiba-tiba ia mendengar jerit yang disusul oleh tangis.
Seketika muka Siang Ni menjadi pucat sekali dan bagaikan terbang ia melompat dan lari memasuki kamar ibunya.
Ia berdiri terpukau di ambang pintu dengan sepasang mata terbelalak lebar-lebar melihat tiga orang ibu tirinya memeluk tubuh ibunya sambil memanggil-manggil dan menangis.
"Ibuuuuu.......!!"
Siang Ni menjerit dan menubruk karena ia belum tahu betul apa sebabnya ibu-ibu tirinya menangis.
Ketika ia memeluk ibunya, tahulah ia akan kenyataan yang amat mengerikan hatinya.
Ibunya telah berpulang ke alam baka.
Ibunya telah wafat!
Tiba-tiba tubuh Siang Ni menjadi lemas, seakan-akan semangatnya meninggalkan raganya.
Pelukannya terlepas dan ia terkulai, tubuhnya roboh di atas lantai.
Pingsan!
Dua tahun kemudian, seorang gadis yang berpakaian serba putih, menunggang seekor kuda, membalapkan kudanya di sepanjang lembah Sungai Huai.
Gadis itu berusia sekitar tujuhbelas atau delapanbelas tahun, wajahnya cantik jelita walaupun tidak berbau bedak dan gincu, namun sayang wajah itu tampak muram dan alisnya berkerut seolah dara muda jelita itu menderita tekanan batin yang membuat ia sedih dan murung.
Sejak pagi tadi ia membalapkan kudanya tanpa mengaso sehingga tubuh kuda itu penuh keringat dan napas kuda itu mulai terengah-engah.
Akhirnya, ketika tiba di lereng sebuah bukit, dalam sebuah hutan, kuda itu tidak kuat lagi dan mulai mogok, tidak mau melanjutkan larinya.
"Hayo lari cepat! Gadis itu membentak sambil menggencet perut kuda dengan kedua kakinya. Wajah yang murung itu kini membayangkan kekerasan hati. Kuda itu meringkik kesakitan karena gencetan kedua kaki gadis itu amat kuatnya sehingga menimbulkan rasa nyeri. Akan tetapi kuda yang sudah kehabisan tenaga dan napas itu tetap tidak mau bergerak maju.
"Binatang keparat! Kau tetap tidak mau membantuku?"
Kembali ia membentak dan sekarang gadis itu melompat turun dan membetot-betot kendali yang mengikat hidung kuda.
Namun kuda itu meringkik-ringkik dan merasa hidungnya sakit, binatang itu mengangkat kedua kaki depan hendak menubruk gadis baju putih itu.
Gadis itu berseru marah sekali dan begitu tangannya bergerak dengan cepat, sebatang pedang bersinar keemasan telah berkelebat dan kuda itu roboh berkelojotan sekarat dengan leher hampir putus!
Gadis itu mengerutkan alisnya, membersihkan pedang yang terkena sedikit darah, memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang, mengambil buntalan pakaian dari atas sela mayat kuda lalu digendongnya buntalan itu.
Untuk beberapa saat ia memandang bangkai kuda, meludah dan berkata.
"Suma Cun Giok, kautunggu saja! Kalau kita saling bertemu, engkau pasti akan menjadi seperti kuda ini!"
Setelah berkata demikian ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan cepat sekali.
Wajahnya murung, matanya sayu dan ia sering menggigit bibirnya sendiri.
Terkadang wajah yang membayangkan kekerasan itu berubah tampak berduka sekali, bahkan sepasang mata yang indah bentuknya itu menjadi basah dan kembali ia menggigit bibirnya menahan isak tangis.
Gadis itu bukan lain adalah Lu Siang Ni, puteri mendiang Pangeran Lu Kok Kong.
Biarpun oleh ibunya ia telah dipesan agar jangan memusuhi Suma Cun Giok, akan tetapi karena ia tidak tahu siapa adanya panglima yang membasmi keluarga Pouw dan yang menjadi biang keladi sehingga ibunya menikah secara paksa dengan Pangeran Lu, maka ia mencari Suma Cun Giok.
Bagaimanapun juga, Suma Cun Giok yang menyebabkan ibunya mati.
Karena pemuda itu membunuh Pangeran Lu Kok Kong, maka ibunya terserang jantungnya sehingga meninggal dunia.
Apalagi di sampingnya ada gurunya, Panglima Kong Tek Kok yang setiap hari membakar hatinya dengan kata-kata yang dianggapnya benar.
"Musuh besarmu itu memiliki ilmu silat yang tinggi,"
Antara lain demikian kata Panglima Kong Tek Kok kepadanya.
"Dia adalah murid Suma Tiang Bun yang berhasil kutewaskan dengan bantuan para pengawal. Akan tetapi menurut pesan Suma Tiang Bun yang aku mendengar sendiri sebelum dia tewas, musuhmu itu harus belajar dan memperdalam ilmu silatnya kepada Susiok-couwnya. Kalau aku tidak salah duga, paman guru dari Suma Tiang Bun itu tentu seorang sakti yang bertapa di Pegunungan Ta-pie-san di sebelah selatan Lembah Sungai Huai. Maka, menurut pendapatku, kalau engkau hendak melakukan balas dendam, engkau harus belajar ilmu silat yang lebih tinggi lagi. Kalau engkau dapat mewarisi seluruh kepandaianku, barulah engkau ada harapan untuk dapat berhasil membalas dendam dan membunuh musuh besarmu itu."
Ucapan Panglima Kong Tek Kok yang bernada membujuk dan membantunya itu tentu saja berpengaruh terhadap akal pikiran Siang Ni.
Dahulu, sikap Panglima Kong wajar sebagaimana sikap seorang guru terhadap muridnya, akan tetapi sekarang sikapnya berbeda jauh.
Dalam memberi pelajaran, sikapnya amat mesra, bahkan kalau memberi petunjuk dan memegang lengan gadis itu, Siang Ni merasakan sesuatu yang tidak semestinya.
Akan tetapi gadis itu mencurahkan seluruh perhatiannya untuk dapat menyerap semua ilmu dan kesaktian Panglima Kong agar kelak dapat membalas dendamnya yang mendalam, maka ia tidak peduli akan sikap gurunya itu.
Hal ini membuat Panglima Kong menjadi semakin berani dan dia sering mencari kesempatan untuk memperlihatkan berahinya pada muridnya itu.
Bukan hanya dengan cara latihan silat berdua sehingga mereka seringkali saling bersentuhan.
Bahkan dia juga mengajarkan latihan menghimpun tenaga sakti dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mereka berdua berendam di dalam air waktu tengah malam, tentu saja hanya dengan pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang!
Atau mengajarkan ilmu menotok yang lebih dalam sehingga seringkali jari-jari tangannya menotok bagian-bagian tubuh Siang Ni yang seharusnya tidak boleh disentuh tangan laki-laki.
Namun semua itu diterima oleh Siang Ni tanpa pernah membantah.
Bagi Siang Ni yang sudah piatu, sebatang kara di dunia ini, sisa hidupnya hanya ditujukan untuk membalas dendam.
Membalas dendam kepada Suma Cun Giok dan mencari musuh besar yang dulu membasmi keluarga Pouw!
Untuk dapat melakukan balas dendam ini dengan berhasil, ia harus memiliki kepandaian tinggi dan satu-satunya orang yang dapat menolong dan memberi kepandaian itu hanyalah Panglima Kong Tek Kok.
Inilah sebabnya mengapa Siang Ni tidak mempedulikan sikap aneh dari gurunya.
Ia seolah terbuai oleh bujukan gurunya yang pandai membujuk dan menasihatinya.
"Siang Ni, muridku yang manis. Mungkin kalau engkau sudah belajar selama dua tahun, menyerap ilmu-ilmu dariku, engkau sudah akan dapat menandingi dan mengalahkan Suma Cun Giok. Akan tetapi kalau pemuda musuh besarmu itu juga memperdalam ilmu silatnya, aku menjadi ragu-ragu. Bagaimanapun juga, jangan engkau khawatir, muridku tersayang. Akulah orangnya yang rela membuang nyawa untuk membela dan membantumu. Kalau aku melihat engkau sudah sanggup menerimanya, lweekangmu (tenaga dalammu) sudah cukup kuat, aku akan mewariskan ilmuku yang paling hebat kepadamu, yaitu Siang-mo Kiam-hoat. Akan tetapi tidak boleh terburu-buru, harus menanti saatnya yang baik agar tidak sampai gagal."
Siang Ni terlalu banyak mencurahkan perasaan dan perhatiannya kepada niatnya membalas dendam sehingga ia kurang waspada akan hal-hal lain.
Sikap dan kata-kata gurunya itu ditelan mentah-mentah dengan kepercayaan sepenuhnya.
Baginya, di dunia ini hanya tinggal Panglima Kong Tek Kok seorang yang boleh dipercaya dan boleh dijadikan sandaran.
Oleh karena itu, ia merasa berterima kasih sekali.
"Teecu hanya mengandalkan bantuan yang berharga dari Suhu yang berhati mulia. Kecuali Suhu, siapa lagi yang boleh teecu harapkan? Sakit hati teecu setinggi langit, apa pun yang terjadi atas diri teecu, teecu bersumpah untuk melaksanakan balas dendam ini, pertama-tama kepada jahanam Suma Cun Giok, kedua kepada si keparat yang telah membasmi keluarga Pouw."
"Lagi-lagi engkau menyebut-nyebut tentang orang yang membasmi keluarga Pouw. Engkau harus tahu bahwa pada waktu itu sedang kacau balau, pemerintah memang banyak membasmi para pengkhianat dan pemberontak. Para petugas yang membasmi pemberontak-pemberontak itu hanya menjalankan tugas melaksanakan perintah atasan. Jumlah para petugas amat banyak, bagaimana kita bisa mencarinya?"
"Bagaimanapun juga, teecu akan mencari sampai dapat dan membunuhnya!"
Kata Siang Ni. Panglima Kong Tek Kok menghela napas panjang, kemudian dia memegang kedua tangan muridnya yang berkulit halus dan berkata dengan nada suara menghibur dan menyayang.
"Tenangkan hatimu, sayang. Akulah yang akan membantumu, Siang Ni. Sudah kukatakan berkali-kali, biarpun aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku rela membelamu. Engkau amat baik terhadap aku, amat manis, dan aku sungguh sangat menyayangi dan mengasihimu, maka aku harus membalas sikapmu yang penurut, taat, dan menyayang kepada gurumu ini......."
Manusia seringkali terperosok ke dalam lembah dosa karena pengaruh nafsu yang selalu hendak mengejar sesuatu yang terkadang diberi nama indah seperti cita-cita dan tujuan.
Pengejaran inilah yang menjerumuskan kita.
Kalau nafsu keinginan memperoleh apa yang kita kejar itu telah mencengkeram kita, maka kita akan lupa diri, terbujuk iblis sehingga pengejaran demi mencapai tujuan itu menghalalkan segala cara!
Kita lupa bahwa yang terpenting justeru caranya, bukan tujuannya.
Demikian pula dengan Siang Ni.
Nafsu dendamnya untuk dapat membalas kepada musuhnya sedemikian besarnya sehingga ia tidak peduli lagi akan segala apa.
Ditambah bujuk rayu Panglima Kong Tek Kok yang berpengalaman, akhirnya gadis itu tergelincir!
Bahkan akhirnya untuk dapat mewarisi ilmu pedang yang paling diandalkan oleh gurunya, yang seolah menjual mahal ilmu itu, yaitu Siang-mo Kiam-hoat, Siang Ni rela menyerahkan dirinya dijadikan permainan dan pemuas nafsu berahi gurunya sendiri!
Setelah ilmu pedang Siang-mo Kiam-hoat itu ia dapatkan dan ia kuasai, barulah Siang Ni sadar akan besarnya pengorbanan yang telah ia berikan.
Namun segalanya telah terjadi, yang tinggal hanya penyesalan.
Maka, pada suatu malam, Siang Ni minggat meninggalkan Panglima Kong.
Ia pergi tanpa memberitahu, membawa segala macam ilmu yang ia pelajari dari Panglima Kong Tek Kok selama dua tahun, membawa puIa pedang Kim-kong-kiam yang dulu dirampas Panglima Kong dari tangan Suma Tiang Bun, juga membawa pula aib yang menimpa dirinya!
Noda yang kini terasa amat melukai hatinya, yang ia terima dengan hati berdarah namun dengan ketabahan yang luar biasa, yang ia anggap sebagai pengorbanan ke arah tercapainya cita-cita tunggalnya, yaitu membalas dendam!
Gadis ini telah dirusak oleh iblis yang berupa nafsu dendam kebencian karena sakit hatinya sehingga matanya tertutup tidak dapat melihat dan mempertimbangkan hal-hal lain lagi.
Bagi Siang Ni, biarpun sebelah lengannya dipotong ia akan rela asalkan mendapat janji bahwa pengorbanan itu akan membuat balas dendamnya berhasil.
Demikianlah, pada siang hari itu, dengan menunggang seekor kuda Siang Ni tiba di Lembah Sungai Huai.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, ia membunuh kudanya yang mogok karena kelelahan.
Ia ingin cepat-cepat tiba di Pegunungan Ta-pie-san.
Ingin cepat dapat bertemu muka dengan Suma Cun Giok agar dapat membalas dendam atas kematian ayah ibunya.
Maka ia marah dan menganggap kuda itu menghalangi niatnya membalas dendam ketika kuda itu mogok lalu membunuhnya!
Seorang pengejar cita-cita yang sudah dipengaruhi nafsunya tentu akan menendang dan menyingkirkan siapa saja yang dianggap menghalangi pengejaran cita-citanya!
Setelah membunuh kudanya yang merupakan bukti bahwa gadis itu telah dikuasai nafsu kebencian yang membuatnya dapat bertindak kejam, Siang Ni melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki.
Dari wajahnya yang tidak dirias namun tetap tampak cantik jelita itu dapat dilihat bayangan bermacam-macam perasaan.
Terkadang ia seperti orang marah dan wajahnya menjadi keras dan kejam kalau ia teringat akan musuh besar dan terbayang akan keadaan ayah ibunya yang telah mati.
Agaknya ia akan tega menyembelih leher musuh besarnya dan ia akan suka minum darahnya, makan dagingnya untuk melampiaskan nafsu dendam sakit hatinya!
Di saat lain, wajahnya membayangkan kedukaan yang mendalam kalau ia teringat akan keadaan dirinya, sebatang kara, yatim piatu, apalagi kalau ia teringat akan pengorbanan yang telah ia berikan untuk dapat mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi dari Panglima Kong Tek Kok.
Ia sama sekali tidak mau membayangkan peristiwa itu, bahkan ia selalu mengusir cepat-cepat setiap kali bayangan wajah gurunya itu muncul di dalam ingatannya.
Bayangan wajah Panglima Kong Tek Kok selalu menimbulkan rasa muak dan sebal, dan biarpun ia tidak mengakui dengan kata-kata, bahkan selalu menolak pikirannya sendiri, namun di dasar hatinya terdapat perasaan benci yang hebat terhadap Panglima Kong Tek Kok, gurunya yang telah menodai dan mempermainkan dirinya itu.
Akan tetapi Siang Ni tidak mau mengenang hal itu lebih jauh.
Setiap kali kenangan itu datang, diusirnya seperti orang mencampakkan atau membuang sesuatu yang menjijikkan.
Ia menganggap peristiwa itu seperti sebuah mimpi buruk yang sudah lewat, yang tidak perlu ia pikirkan lagi karena seluruh pikirannya kini ditujukan hanya kepada satu niat, yaitu mencari, menemukan dan membunuh Suma Cun Giok!
Siang Ni melanjutkan perjalanannya menuju Ta-pie-san.
Dahulu gurunya mengatakan bahwa Suma Cun Giok akan belajar silat lagi kepada paman-kakek gurunya yang bertapa di pegunungan itu.
Maka dengan nekat dan untung-untungan ia tidak mempedulikan jarak jauh, melakukan perjalanan ke Ta-pie-san mencari Suma Cun Giok.
Dengan ilmunya yang kini meningkat tinggi setelah selama dua tahun ia memperdalam di bawah bimbingan Panglima Kong Tek Kok, ia berlari cepat sekali.
Dalam usaha mencari musuh besarnya, Siang Ni melupakan segala, lupa dan tidak mengenal lelah, sedikit sekali memperhatikan kepentingan diri sendiri.
Ia baru tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, tidur asal menggeletak di mana saja.
Ia baru makan kalau tubuhnya sudah gemetar dan perutnya sudah menggeliat-geliat kelaparan, juga makan apa saja yang dapat dimakan asal mengenyangkan perutnya.
Patut dikasihani nasib Siang Ni, seorang puteri bangsawan, anak tunggal seorang pangeran yang tadinya selalu hidup dalam kemewahan dan kemuliaan, dimanja dan selalu penuh kesenangan.
Akan tetapi sekarang hidup sengsara, yatim-piatu, bahkan ia telah terhina dan ternoda oleh gurunya sendiri.
Ia merasa dirinya kotor, hina dina, tertimpa aib yang membuat ia kehilangan harga dirinya.
Di samping semua kegetiran itu, hatinya panas membara dengan dendam.
Ia harus membalas kematian ayahnya yang terbunuh oleh Pouw Cun Giok!
Setibanya di Puncak Ta-pie-san, Siang Ni bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang mengumpulkan ranting dan kayu kering di bawah pohon-pohon.
Kakek ini berpakaian sederhana sekali, seperti seorang kakek dusun yang miskin.
Siang Ni menghampiri dan bertanya dengan lembut.
"Maaf, Lopek. Aku mohon pertolonganmu."
Kakek itu yang tadinya membungkuk untuk memunguti kayu bakar, berdiri dan tubuhnya kurus kering, punggungnya agak bongkok.
Ditatapnya wajah Siang Ni dan sinar keheranan membayang di wajahnya yang penuh keriput.
"Bagaimana seorang tua bangka macam aku dapat menolong seorang muda seperti engkau, Nona?"
Siang Ni tersenyum kecil. Kelakar kakek itu menyenangkan hatinya.
"Aku hanya mohon keteranganmu, Lopek. Apakah di pucak Bukit Ta-pie-san sini terdapat seorang pertapa yang sakti?"
"Pertapa sakti? Siapa namanya?"
"Aku tidak tahu namanya, Lopek. Hanya aku mencari seorang pertapa sakti yang tinggal di puncak Ta-pie-san. Adakah pertapa sakti di sekitar tempat ini?"
"Di sini tidak ada pertapa sakti,"
Kakek itu menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada juga kutahu seorang tua bangka, boleh kau sebut dia pertapa, akan tetapi sama sekali tidak sakti. Bahkan dia itu seorang pertapa tolol, bodoh dan tidak mempunyai kepandaian apa-apa."
Siang Ni mengerutkan alisnya. Apakah sia-sia saja ia datang dari jauh ke tempat ini? "Di mana rumah pertapa itu, Lopek?"
Ia harus menyelidiki dulu sebelum turun gunung dengan tangan hampa. Kakek itu mengumpulkan lagi kayu bakar sambil bersungut-sungut.
"Pertapa tolol dicari, mau apa sih? Mau tahu rumah pertapa bodoh itu? Nah, itu di sana, di bawah kelompok pohon cemara itu!"
Setelah berkata demikian, kakek itu kembali membungkuk dan memunguti ranting dan daun kering, tidak memperhatikan lagi kepada gadis yang masih berdiri di situ.
Siang Ni maklum bahwa kakek itu tidak mau diganggu lagi.
Ia mengerti pula bahwa orang-orang yang tinggal di tempat sunyi terpencil seperti ini memang aneh-aneh wataknya.
"Terima kasih, Lopek,"
Katanya sambil memberi hormat kepada kakek itu.
Kemudian dengan langkah lebar dan pengerahan ilmu berlari cepat, ia mendaki puncak menuju ke tempat yang ditunjuk oleh kakek dusun tadi.
Ketika ia menoleh, ia melihat kakek itu masih memunguti bahan bakar sambil bersungut-sungut.
Setelah tiba di puncak sebelah barat, benar saja ia melihat sebuah pondok bambu reyot (lapuk) berdiri miring di bawah sekelompok pohon cemara.
Bukan main indahnya pemandangan alam di tempat itu.
Daerah pegunungan terbentang luas di sekelilingnya, merupakan pemandangan alam yang beraneka ragam dan warna, dilatar belakangi warna hijau yang menyejukkan pandang mata.
Terdengar suara gemerisik ketika angin membelai daun-daun cemara yang menimbulkan suara gemerisik lirih dan halus sekali seperti bidadari-bidadari berbisik lembut di dekat telinganya.
Hawanya sejuk dan segar dan udara yang dihisapnya amat bersih dan menyegarkan.
Siang Ni berdiri di depan pondok bambu lapuk itu, tidak berani lancang melongok ke dalam.
Dari luar ia berseru.
"Teecu (murid) Lu Siang Ni yang muda dan bodoh mohon diberi ijin menghadap Lo-cianpwe yang mulia di dalam pondok!"
Gadis ini sudah memiliki pengalaman cara bergaul dengan orang-orang gagah dunia persilatan, maka ia tahu akan peraturan di dunia kang-ouw dan tahu pula akan bagaimana sikap yang baik menghadap seorang pertapa yang dihormati.
Biarpun kakek dusun tadi mengatakan bahwa penghuni pondok itu hanya seorang pertapa tolol, namun ia tidak mau bersikap lancang dan kurang hormat.
Orang-orang di dunia kang-ouw (dunia persilatan) banyak yang aneh sikapnya, aneh dan terkadang di luar dugaan sama sekali.
Sampai lama ucapannya tadi tidak terjawab.
Kemudian, setelah hampir habis kesabaran gadis itu, terdengar suara dari dalam pondok.
"Pondokku tidak berpintu, masuklah!"
Siang Ni memasuki pondok lewat lubang yang tidak berdaun pintu.
Ternyata pondok itu hanya mempunyai satu ruangan kecil tanpa kamar, tanpa pintu dan tanpa jendela sehingga cuaca di dalamnya remang-remang.
Di dalam pondok tidak terdapat perabotan kecuali sebuah dipan bambu yang diduduki seorang kakek yang bersila dan tak bergerak seperti sebuah patung.
Setelah pandang matanya terbiasa dalam keadaan remang-remang itu dan Siang Ni dapat melihat kakek itu dengan lebih jelas, ia terkejut bukan main.
Kakek itu ternyata adalah kakek dusun yang tadi mengumpulkan kayu ranting kering dan yang ia tanyai!
Siang Ni terkejut karena bagaimana mungkin kakek itu sudah duduk di dalam pondok?
Bilakah kakek itu tiba di situ.
Padahal tadi ia melakukan pendakian dengan ilmu berlari cepat.
Andaikata kakek ini berlari cepat melampauinya, mengapa ia tidak melihatnya?
Saking kagetnya Siang Ni hanya berdiri termangu-mangu tanpa dapat mengeluarkan suara.
"Mengapa engkau bengong saja? Apa keperluanmu mencari pertapa tolol di puncak Ta-pie-san?"
Terdengar kakek itu bertanya, suaranya terdengar tidak senang karena hidupnya yang biasanya selalu tenang dan damai itu kini terganggu.
Dia maklum bahwa setiap kali ada orang dunia ramai datang ke situ, berarti akan datang pula gangguan dalam hidupnya.
Apalagi yang datang sekarang adalah seorang gadis muda dan cantik yang tampaknya penuh dengan nafsu amarah di samping ada tanda bahwa gadis itu menderita batin yang hebat.
Mendengar pertanyaan itu barulah Siang Ni sadar dari lamunannya karena terkejut dan heran tadi.
Dengan hormat ia menjura dan berkata.
"Harap Lo-cianpwe memberi maaf sebanyaknya kalau aku yang muda datang mengganggu. Sebenarnya kedatanganku ini untuk mencari seorang pemuda yang bernama Suma Cun Giok."
Kakek yang tadinya menundukkan muka itu kini mengangkat alisnya dan sepasang matanya bagaikan kilat menyambar ke arah wajah Siang Ni.
"Engkau mencari Suma Cun Giok untuk apakah?"
"Mau kubunuh mampus!"
Kata Siang Ni dengan tabah dan terus terang. Kakek itu mengangkat muka, menatap wajah gadis itu sepenuhnya lalu dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau jujur! Akan tetapi, mengapa engkau mencarinya di sini? Dan mengapa pula engkau hendak membunuh orang?"
"Karena aku mendengar bahwa Suma Cun Giok belajar silat pada Susiok-couwnya (Paman kakek-gurunya) yang tidak kuketahui namanya. Aku hanya mendengar bahwa susiok-couwnya itu mungkin tinggal di puncak ini. Adapun tentang mengapa aku hendak membunuhnya, karena dia juga telah membunuh ayah ibuku!"
"Aku tidak percaya Cun Giok melakukan hal itu!"
Kata kakek itu tegas.
"Mengapa tidak percaya? Kenalkan Lo-cianpwe padanya?"
"Tentu saja! Akulah Susiok-couwnya yang kau sebut-sebut tadi. Aku yang mengajar dia sampai hampir dua tahun di tempat ini. Aku tahu bagaimana wataknya, maka aku tidak percaya bahwa dia telah membunuh ayah bundamu."
Berdebar rasa hati Siang Ni.
Tak disangkanya bahwa kakek inilah guru besar dari pemuda yang menjadi musuh besarnya itu.
Tidak mengherankan kalau kakek ini demikian lihainya.
Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa takut.
"Tidak ada guru di dunia ini yang tidak membela muridnya. Betapapun bodohnya aku, belum begitu gila untuk menuduh orang membunuh ayah bundaku kalau tidak terbukti. Suma Cun Giok telah membunuh ayahku, Pangeran Lu Kok Kong, dan ibuku meninggal dunia saking kaget dan sedihnya. Bukankah itu berarti bahwa Suma Cun Giok telah membunuh ayah ibuku?"
Kakek itu tampak terkejut.
"Ah, jadi engkau puteri seorang pangeran?"
Dia memandang penuh perhatian dan kelihatan kagum sekali.
"Sebagai puteri seorang pangeran engkau sampai bersengsara mencari musuh besar hendak membalas dendam, benar-benar engkau seorang yang u-hauw (berbakti)!"
"Lo-cianpwe, di mana adanya musuh besarku itu? Kalau Lo-cianpwe sudah tahu bahwa ayah bundaku terbunuh olehnya, tentu Lo-cianpwe tidak keberatan memberitahu padaku di mana dia berada."
Kakek itu menarik napas panjang.
"Aahhh, dendam-mendendam, balas-membalas, pembalasan dibalas dengan lain pembalasan! Ikatan karma makin membelenggu erat dan selamanya tidak akan terbebas. Ah, manusia memang buta, tidak sadar apa yang dilakukannya, menurutkan hawa nafsu belaka. Nona, Suma Cun Giok membunuh ayahmu untuk membalas dendam, sekarang engkau mencarinya untuk membalas dendam dan membunuhnya pula. Seyogianya aku tidak memberitahu kepadamu di mana adanya pemuda itu. Akan tetapi karena engkau begini jujur dan juga berbakti, aku tidak tega. Cun Giok sudah tiga bulan yang lalu turun gunung, pergi ke So-couw mengunjungi makam orang tuanya, dan menurut pengakuannya, dari So-couw dia akan ke kota raja. Kalau sekarang engkau pergi ke So-couw, lalu kalau dia tidak dapat kautemukan di sana, engkau langsung pergi ke kota raja, kiranya engkau akan dapat bertemu dengan dia."
Siang Ni menjura penuh hormat.
"Lo-cianpwe, engkau seorang pertapa sakti yang berhati mulia. Terima kasih!"
Siang Ni hendak pergi, akan tetapi kakek itu berkata.
"Nona, engkau seorang gadis yang baik, sayang kalau engkau lanjutkan keinginanmu menuruti nafsumu membalas dendam. Aku akan merasa berbahagia sekiranya engkau dapat mengubah kehendakmu itu. Pula, perlu kuberitahukan padamu bahwa kepandaianmu masih jauh untuk dapat mengalahkan Cun Giok."
Akan tetapi mana mau Siang Ni mendengarkan omongan itu?
Tanpa berkata sesuatu ia sudah berlari cepat meninggalkan Ta-pie-san.
Ia percaya penuh keterangan kakek tadi maka ia segera mengarahkan perjalanannya ke So-couw.
Memang sejak ia mendengar bahwa keluarga ibunya berasal dari So-couw, hatinya ingin sekali berkunjung ke sana untuk melihat kota kelahiran atau kampung halaman ibunya.
Akan tetapi sayang, belum juga keinginannya itu dilaksanakan, ibu dan ayahnya telah tewas dengan cara yang amat menyedihkan.
Sekarang ia pergi ke So-couw bukan untuk melihat-lihat tempat kelahiran ibunya, melainkan untuk mencari musuh besarnya, membalas dendam kematian ayah bundanya.
Dalam perjalanan itu ia seringkali termenung.
Ia teringat akan penjelasan mendiang ibunya bahwa Suma Cun Giok adalah kakak misannya!
Ah, kalau saja dia benar kakak misannya, kalau saja tidak ada urusan dendam sakit hati terhadap pemuda itu, alangkah akan terhibur hatinya untuk mengunjungi kakak misannya dan bersama-sama mencari sanak keluarga ibunya!
Adapun sanak keluarga dari pihak ayahnya memang banyak sekali, semuanya bangsawan di kota raja.
Akan tetapi ia adalah anak dari selir yang paling muda, maka ketika ayahnya masih hidup saja ia merasa dipandang rendah.
Apalagi sekarang ayahnya telah meninggal dunia, ia tentu tidak akan diakui oleh keluarga pihak ayahnya.
Ia pun akan merasa senang dan bangga sekali mempunyai seorang kakak misan yang tampan dan gagah perkasa!
Akan tetapi kalau ia teringat betapa pemuda yang bernama Suma Cun Giok itu telah membunuh ayahnya sehingga ibunya juga meninggal dunia saking duka, bahkan yang mengakibatkan ia menjadi yatim piatu, sebatang kara, menderita tekanan batin, sengsara dan bahkan telah mengorbankan kehormatan dirinya dinodai gurunya agar dapat melaksanakan cita-citanya membalas dendam, semua ini membuat ia merasa amat benci kepada pemuda itu!
"Aku akan membunuhnya!
Aku akan memenggal batang lehernya seperti yang dia lakukan terhadap ayahku!"
Bisik suara hatinya dengan marah.
"Kemudian aku akan mencari si keparat pembunuh keluarga ibuku. Setelah itu...... setelah itu...... tiada gunanya lagi aku hidup, lebih baik aku menyusul Ayah dan Ibu......."
Kota So-couw yang terletak di sebelah barat Terusan yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Yang-ce, kota yang berada di perbatasan antara Propinsi Kiang-si dan An-hui, makin ramai saja.
Perdagangan di tempat itu berkembang karena kota ini merupakan kota hidup yang menghubungkan daerah antara dua propinsi itu dan menjadi pusat perdagangan.
Tidak mengherankan kalau kota ini menjadi makmur karena perdagangan hidup subur.
Toko-toko besar dibuka siang malam.
Rumah-rumah penginapan dan restoran-restoran yang besar dan mewah selalu penuh tamu.
Perdagangan yang subur menawarkan penampungan tenaga kerja yang luas sehingga rakyat kecil pun dapat memperoleh penghasilan yang memadai.
Kemakmuran yang merata dalam arti kata tidak ada rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, kurang sandang pangan dan papan, dapat menjadi kenyataan apabila ada kerja sama yang baik antara pemerintah dan rakyat yang terbagi dua menjadi si pemilik modal kerja dan si pemilik tenaga kerja.
Pemerintah berkewajiban memperhatikan nasib si pemilik tenaga kerja, melindungi dan membelanya agar hasil perolehan dari tenaga mereka dihargai dan dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, akan tetapi tanpa menekan dan menindas si pemilik modal kerja!
Diatur kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga pemilik modal bergantung kepada pemilik tenaga, demikian pula sebaliknya.
Si pemilik modal mengeluarkan uangnya untuk membuka perusahaan sehingga dapat menampung tenaga kerja dan si tenaga kerja mengeluarkan tenaga dan keahliannya untuk memutar jalannya roda perusahaan.
Perlu bantuan pengaruh pemerintah agar si pemilik modal tidak mementingkan keuntungan pribadi belaka, melainkan harus membagi keuntungan perusahaannya dalam bentuk upah yang mencukupi kebutuhan umum si tenaga kerja.
Sebaliknya si tenaga kerja tidak hanya menuntut dipenuhinya upah yang cukup, akan tetapi juga harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk bekerja dengan setia dan jujur.
Dengan cara "memberi dan menerima"
Semua pihak ini, bukan lamunan kosong lagi kata "makmur"
Bagi seluruh rakyat.
Setelah melakukan perjalanan sebulan lebih, barulah Siang Ni tiba di kota So-couw.
Di sepanjang perjalanan, gadis itu banyak mendengar tentang seorang pendekar muda di dunia kang-ouw yang melakukan banyak hal yang menggemparkan.
Orang-orang tidak mengetahui nama pendekar ini, hanya nama julukan pendekar itu yang dikenal orang, yaitu Bu-eng-cu (Pendekar Tanpa Bayangan).
Julukan ini diberikan orang kepadanya untuk menyatakan kekaguman orang terhadap pendekar ini yang amat luar biasa sehingga seolah dia tidak memiliki bayangan saking cepat gerakannya.
Pendekar muda ini, dengan beraninya, seorang diri, mengobrak-abrik sarang penyamun, mendatangi hartawan-hartawan pelit dan pembesar-pembesar lalim, mengambil sebagian harta mereka dan memberi ancaman yang mengerikan.
Pada malam itu juga, ketika hartawan atau bangsawan kehilangan sebagian harta mereka, di dusun-dusun dan tempat-tempat kumuh tempat tinggal mereka yang menderita sengsara, para penduduk miskin itu menemukan emas dan perak yang secara aneh jatuh dari atap sehingga mereka yang sengsara itu mendapat hiburan besar.
Yang sakit dapat membeli obat, yang kelaparan dapat membeli makanan, yang tercekik hutang berbunga berat dapat membayar hutangnya!
Seorang hartawan atau bangsawan marah-marah karena sebagian kecil hartanya lenyap, akan tetapi pada saat yang sama, puluhan keluarga miskin merasa tertolong dan bergembira.
Seorang hartawan atau bangsawan memaki dan menyumpahi Bu-eng-cu, akan tetapi puluhan keluarga memuji dan mendoakan panjang umur bagi Si Tanpa Bayangan!
Baik hartawan atau bangsawan itu, maupun puluhan keluarga si miskin, sama sekali tidak melihat orangnya, hanya tampak bayangan berkelebat lalu lenyap!
Karena kecepatan gerakan yang menandakan bahwa pendekar itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat tinggi tingkatnya, maka dia diberi julukan Bu-eng-cu atau Si Tanpa Bayangan.
Diam-diam Siang Ni merasa kagum mendengar akan nama besar Bu-eng-cu yang baru muncul di dunia kang-ouw namun sudah amat terkenal itu.
"Kalau saja aku tidak mempunyai tugas penting yang harus kulakukan, aku akan suka sekali mencari dan berkenalan dengan Bu-eng-cu dan kalau mungkin bekerja sama dengan dia melakukan tugas sebagai pendekar sejati!"
Pikirnya.
Akan tetapi pikirannya itu hanya mendatangkan kesedihan belaka karena kembali ia diingatkan akan keadaannya yang tidak memungkinkan ia hidup bahagia lagi.
Sebatang kara, ternoda, aib melumuri dirinya!
Tidak ada harapan untuk dapat hidup berbahagia lebih lama lagi!
Setelah berada di So-couw, Siang Ni teringat kembali akan cerita mendiang ibunya.
Ia harus mencari manusia berwatak binatang bernama Can Sui itu, yang dahulu menjadi pengkhianat dan yang menyebabkan kehancuran keluarga ibunya.
"Aku harus mencari si jahanam Can Sui!"
Katanya dalam hati, penuh dendam.
Siang Ni menyewa sebuah kamar dalam rumah penginapan yang besar.
Dipilihnya sebuah kamar di ujung paling belakang.
Kemudian ia mulai dengan penyelidikannya, mencari keterangan tentang seorang bernama Can Sui.
Akan tetapi, kota So-couw adalah sebuah kota besar dan amat sukar mencari seseorang tanpa mengetahui di mana dia tinggal.
Sampai sehari penuh mencari keterangan, belum juga ia menemukan jawaban di mana adanya orang yang dicarinya itu.
Dengan hati mengkal ia hendak kembali ke rumah penginapan.
Akan tetapi tiba-tiba timbul keinginan di dalam hatinya untuk mengetahui di mana gerangan dahulu ibunya tinggal.
Maka ia lalu mencari keterangan tentang bekas rumah tinggal keluarga Pouw yang duapuluh tahun lalu terbasmi habis oleh pasukan kerajaan.
Setelah bertanya sana-sini tanpa mendapat jawaban pasti, Siang Ni duduk di rumah makan depan rumah penginapannya untuk makan.
Sejak pagi ia belum makan dan perutnya terasa lapar.
Seorang pelayan restoran melayaninya.
Pelayan itu berusia sekitar limapuluh tahun dan begitu berhadapan dengan Siang Ni, dia menatap wajah gadis itu dengan penuh keheranan karena bagi dia, wajah gadis yang cantik itu terasa tidak asing!
Akan tetapi dia merasa belum pernah berkenalan dengan gadis ini, maka dia segera menundukkan muka dan melayaninya dengan hormat.
Setelah selesai makan dan membayar harga makanan, secara sambil lalu ia bertanya kepada pelayan.
"Lopek, apakah engkau mengetahui di mana rumah bekas tempat tinggal keluarga Pouw yang sekitar duapuluh tahun lalu terbasmi oleh pasukan pemerintah?"
Kakek itu memandang dengan mata terbelalak.
"Nona, di So-couw terdapat banyak pemandangan indah. Nona tentu seorang dari luar kota, mengapa Nona mencari tempat bekas gedung keluarga yang gagah berani akan tetapi yang bernasib buruk itu?"
Di dalam suara kakek itu terkandung keharuan besar, membuat Siang Ni tertarik sekali.
"Lopek, karena sudah lama mendengar akan kegagahan keluarga Pouw itu yang membuat aku merasa kagum sekali, maka aku ingin melihat rumah bekas tempat tinggal mereka, sungguhpun hanya merupakan bekas-bekasnya saja,"
Jawab Siang Ni dengan menekan perasaan harunya. Kakek itu membersihkan meja di depan Siang Ni dengan kain yang selalu dibawanya dan dia berkata dengan suara serius.
"Kebetulan sekali Nona bertanya kepadaku. Akulah orangnya yang akan dapat memberi keterangan lengkap tentang keluarga Pouw, karena aku dahulu menjadi pelayan di gedung mereka."
Kemudian disambungnya lirih.
"Dan hanya aku seorang yang berhasil melarikan diri dan lolos dari bencana yang menimpa keluarga itu."
Hati Siang Ni berdebar tegang.
Setelah mencari ke mana-mana tanpa mendapat jawaban tepat, kini secara iseng-iseng ia bertanya kepada orang yang ternyata bekas pelayan keluarga ibunya!
Cepat ia mengeluarkan sepotong uang emas dan diberikannya kepada kakek itu.
"Lopek, tolong kautunjukkan kepadaku bekas tempat itu. Ini uang untukmu."
Melihat hadiah sebesar itu, Si Kakek Pelayan membungkuk-bungkuk berterima kasih dengan perasaan girang dan heran, lalu dia menyimpan uang itu dalam saku bajunya dan cepat memberitahu kawan-kawan sekerjanya bahwa dia akan keluar sebentar mengantar tamu wanita itu.
Maka keluarlah Siang Ni mengikuti kakek itu dari rumah makan.
"Lopek, ceritakanlah kepadaku peristiwa keluarga Pouw itu,"
Kata Siang Ni dalam perjalanan. Sekali lagi Siang Ni mendengar cerita yang pernah didengar dari mulut ibunya dahulu.
"Mereka semua tewas,"
Kata kakek itu mengakhiri ceritanya dengan muka berduka.
"Tak seorang pun selamat, seluruh anggauta keluarga itu dibantai. Bahkan Nona Sui Hong....... ah, kasihan sekali ia, telah tertawan dan kabarnya tewas karena sengsara di kota raja. Siapakah yang akan tahan hidup menjadi tawanan? Ah, kasihan sekali Nona Sui Hong yang cantik jelita, yang dulu terkenal sebagai Kembang So-couw. Ah, tentu anjing-anjing biadab itu telah merusaknya......."
"Engkau tadi menceritakan bahwa dalam peristiwa pembasmian keluarga Pouw itu ada pengkhianatnya. Siapakah dia, Lopek?"
Tanya Siang Ni dengan suara biasa, padahal di dalam hatinya ia menjerit mendengar kakek itu menyebut nama ibunya.
"Bajingan itu bernama Can Sui. Dikutuk Thian setan keparat itu! Dia tergila-gila kepada Nona Pouw Sui Hong! Memang Nona Pouw...... eh......"
Kakek itu memandang Siang Ni.
"Ketika itu, Nona Pouw Sui Hong seperti engkau ini, Nona. Sama tinggi langsingnya, sama usianya dan eh...... hampir serupa juga wajah Nona dengan wajahnya......."
Siang Ni merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Ia segera bertanya.
"Lopek, di manakah adanya pengkhianat itu sekarang? Masih hidupkah dia?"
Tiba-tiba pelayan itu tertawa geli dan tampak puas.
"Dia masih hidup, biarpun hanya setengah hidup! Ha, rasakan sekarang bedebah itu!"
"Eh, apa maksudmu, Lopek?"
"Engkau lihat saja sendiri, Nona. Kita sudah dekat dengan reruntuhan gedung yang sudah dibakar itu. Engkau lihat sendiri saja......."
"Melihat Can Sui.......?"
Hati Siang Ni berdebar tegang.
Kakek itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Mereka mempercepat perjalanan mereka menuju ke sebuah gedung yang tinggal tembok-temboknya saja, yang keadaannya kotor tidak terawat dan menjadi sarang laba-laba dan mungkin menjadi sarang hantu dan roh-roh penasaran.
Keadaannya demikian menyeramkan dan letaknya di jalan yang sepi lagi.
Mungkin di waktu malam, jarang ada orang yang berani lewat di depan bekas rumah yang tinggal reruntuhan itu.
Kakek itu mengajak Siang Ni memasuki halaman bekas gedung dan terdengar napas kakek itu terisak ketika mereka tiba di situ.
Ternyata kakek pelayan itu tidak dapat menahan keharuan hatinya dan air mata menitik turun ke atas pipinya yang kurus.
"Inilah gedung bekas keluarga Pouw Nona. Semenjak berusia sepuluh tahun aku menjadi pelayan mereka, dan aku tinggal di sini sampai berusia tigapuluh tahun lebih. Aku sudah merasa menjadi anggauta keluarga sendiri...... kasihan sekali mereka itu......."
Siang Ni menahan keharuan hatinya dan diam-diam ia menghapus air mata yang sudah membasahi pelupuk matanya dengan tangan.
"Dan mana itu pengkhianat she Can yang kaukatakan, Lopek?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah kakek itu tiba-tiba berseri kembali, seakan-akan nama itu merupakan hiburan baginya. Tiba-tiba terdengar orang batuk-batuk dari sebelah dalam dan kakek itu berkata.
"Nah, itu dia! Kalau sudah mulai gelap begini dia datang dan bermalam di bekas gedung ini, menangis seorang diri. Kalau siang dia keluar untuk mengemis makanan."
"Kaumaksudkan, si pengkhianat Can Sui itu kini menjadi pengemis?"
"He-heh, bukan mengemis saja, juga otaknya sudah miring. Memang Thian Maha Adil dan tidak menghendaki manusia berbuat jahat tanpa hukuman yang setimpal."
Dengan tidak sabar Siang Ni melangkah masuk, diikuti kakek pelayan itu yang mulai merasa heran mengapa nona ini begitu tabah dan berani memasuki bekas gedung yang kelihatan begitu menyeramkan.
Banyak laki-laki kota So-couw tidak berani mendekati gedung itu di waktu matahari sudah terbenam karena orang percaya bahwa bekas gedung ini telah menjadi rumah hantu!
Mereka berjalan masuk sampai ke ruangan dalam dan cuaca di situ masih belum begitu gelap karena tidak ada atapnya sehingga sinar matahari sore masih dapat menerangi ruangan itu.
Setelah memasuki ruangan, Siang Ni dan kakek pelayan itu berhenti melangkah.
Siang Ni memandang ke sudut ruangan di mana seorang laki-laki sedang berlutut dan menangis!
"Itulah dia manusia keparat bernama Can Sui!"
Kakek itu berkata dengan nada membenci.
"Jahanam!!"
Siang Ni membentak sedemikian kerasnya sehingga tidak saja kakek pelayan itu yang menjadi kaget sekali, juga orang yang sedang menangis itu terkejut dan dia melompat berdiri sambil membalikkan tubuhnya menghadapi Siang Ni dan kakek pelayan itu.
Akibat pertemuan ini benar-benar mendatangkan rasa kaget dan heran bagi mereka bertiga sungguhpun kekagetan dan keheranan mereka itu masing-masing berbeda sebabnya.
"Kau......?!?"
Seru orang yang menangis tadi ketika dia melihat Siang Ni, menunjukkan bahwa dia mengenal gadis itu.
"Suma Cun Giok jahanam keparat! Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bersiaplah untuk mampus!"
Bentak Siang Ni kepada orang itu yang bukan lain adalah Suma Cun Giok.
Memang, pemuda ini datang mengunjungi gedung bekas tempat tinggal keluarga ayahnya yang telah terbasmi habis dan ketika dia tiba di situ, dia tidak dapat menahan kesedihannya dan menangis tersedu-sedu seorang diri.
Reaksi yang diperlihatkan kakek pelayan itu lebih hebat lagi.
Dia memandang kepada Cun Giok dengan mata melotot, lalu menoleh kepada Siang Ni, dan tiba-tiba dia menangis sambil menjatuhkan diri berlutut.
"Aku melihat....... aku melihat....... mohon arwah Tuan Muda Pouw Keng In dan Nona Pouw Sui Hong sudi mengampuni hamba......."
Dia berulang-ulang memberi hormat dengan kedua tangan diangkat terkepal sambil membungkuk dalam kepada Siang Ni yang dia sebut Nona Pouw Sui Hong dan kepada Cun Giok yang dia sebut Tuan Muda Pouw Keng In.
Kemudian dia menangis perlahan sambil terus berlutut.
Dalam anggapan kakek yang tenggelam dalam kesedihan itu, dia bertemu dengan arwah kedua orang majikannya yang sudah tewas.
Ucapan kakek itu membuat Siang Ni dan Cun Giok saling pandang.
Siang Ni sudah maklum apa yang dimaksud kakek itu, akan tetapi Cun Giok tidak mengerti dan terheran-heran mendengar kakek itu menyebut-nyebut nama ayah dan bibinya.
"Kau...... mengapa engkau datang ke tempat ini? Engkau siapakah, Nona? Dan kakek ini siapa pula?"
Tanya Cun Giok. Tentu saja dia masih ingat kepada Siang Ni sebagai gadis lihai yang pernah menyerangnya ketika dia dahulu menyerbu ke rumah gedung Pangeran Lu Kok Kong di kota raja.
"Di sini bekas rumah Ibuku, mengapa aku tidak boleh datang? Engkau ini keparat jahanam, mengapa pula berani mengotori tempat yang suci ini?"
Bentak Siang Ni. Suma Cun Giok terbelalak.
"Apa......? Engkau...... anak Bibi Pouw Sui Hong? Tidak mungkin! Ah, bagaimana ini......? Tidak mungkin......!"
Dia menjadi bingung sekali.
"Manusia jahat, engkaulah yang mengaku-aku! Siapa itu Bibimu? Ibuku bukan Bibimu dan engkau bukan anggauta keluarga Pouw!"
"Aku putera tunggal ayahku Pouw Keng In!"
Jawab Suma Cun Giok marah.
"Bohong! Margamu bukan Pouw melainkan Suma, dan kalau engkau benar putera mendiang Paman Pouw Keng In, tidak mungkin engkau datang membunuh Ayah Ibuku!"
"Siapa Ayahmu? Bagaimana engkau berani bilang aku membunuh Ibumu?"
Cun Giok berteriak, penasaran.
"Ayahku adalah Pangeran Lu Kok Kong. Tanpa sebab engkau telah membunuhnya secara keji dan Ibuku menyusul ke alam baka karena berduka. Bukankah berarti engkau telah membunuh Ibuku pula? Dan engkau mau mengaku bahwa Ibuku itu Bibimu? Anjing jahanam, terimalah pembalasanku!"
Siang Ni tidak dapat menahan sabar lagi dan cepat ia menyerang dengan pedangnya.
Mendengar ucapan ini, Cun Giok kaget setengah mati.
Benarkah apa yang dikatakan gadis itu?
Sebelum membunuh Pangeran Lu, dia mendengar keterangan bahwa bibinya sudah tewas dalam keadaan sengsara.
Apakah benar bibinya menjadi isteri Pangeran Lu dan bahkan telah mempunyai seorang puteri, yaitu gadis ini?
Akan tetapi dia tidak sempat memikirkan lebih lanjut karena sinar emas telah menyambar ke arah dadanya dengan gerakan yang amat dahsyat.
Namun tingkat kepandaian Cun Giok sudah jauh Iebih maju daripada dahulu.
Dia telah digembleng selama setahun lebih oleh Pak Kong Lojin, yaitu Susiok-couwnya yang bertapa di puncak Ta-pie-san.
Selain ilmu pukulan, terutama sekali dia mewarisi gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa dari kakek gurunya sehingga kini Cun Giok memiliki gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya.
Saking hebatnya kecepatan gerak pemuda itu, dia mendapat julukan Bu-eng-cu.
Kini menghadapi serangan Siang Ni, hampir saja dia menjadi korban.
Gerakannya yang amat cepat untuk mengelak itu ternyata masih belum dapat membebaskan sepenuhnya dari serangan pedang yang seperti kilat menyambar itu.
Sinar kuning emas itu masih menyerempet dan mengenai pundaknya, mendatangkan luka walau hanya sedikit kulit pundak berikut bajunya yang terobek.
Kelambatan Cun Giok dikarenakan dua hal.
Pertama karena kaget dan heran mendengar pengakuan Siang Ni sebagai anak bibinya, dan kedua karena dia kaget pula melihat sinar pedang kuning emas yang dikenalnya sebagai pedang mendiang gurunya!
Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa aneh disusul isak tangis.
Dari luar tersaruk-saruk masuklah seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping, tangan kirinya memegang sebuah mangkok retak, tangan kanannya memegang sebatang tongkat.
"Sui Hong...... aku berdosa padamu, Sui Hong......"
Demikian ratap tangis laki-laki itu.
"ampunkan aku, Sui Hong......."
Mendengar ini, Siang Ni terkejut dan menghentikan serangannya kepada Cun Giok.
Ia dan Cun Giok menatap wajah laki-laki jembel yang baru masuk, laki-laki ini berusia kurang lebih empatpuluh tahun, rambutnya riap-riapan, pakaiannya compang-camping, mukanya kotor dan matanya merah berputar-putar mengerikan.
"Can Sui......!"
Kakek pelayan itu membentak.
"Lihat, siapa yang datang ini!"
Mendengar bentakan ini, orang jembel itu cepat mengangkat muka memandang kepada Siang Ni dan Cun Giok berganti-ganti.
Matanya terbelalak lebar dan tiba-tiba tubuhnya menggigil lalu dia menangis dan menjatuhkan diri berlutut di samping kakek pelayan yang masih berlutut dan meratap-ratap.
"...... aduh...... Tuan Muda Pouw Keng In....... dan Nona Pouw Sui Hong....... ampunkan aku...... ampunkan aku yang berdosa .......!"
Seperti juga kakek pelayan itu, orang gila ini agaknya mengira bahwa pemuda dan gadis itu adalah arwah dari bekas kedua orang majikannya dan mereka datang untuk menghukumnya!
"Keparat, engkau harus mampus!"
Bentak Cun Giok melihat orang yang mengkhianati dan yang menyebabkan terbasminya seluruh keluarga Pouw itu.
"Jahanam, rasakan pembalasanku!"
Siang Ni juga membentak.
Orang gila itu adalah Can Sui yang dahulu menjadi pelayan keluarga Pouw dan agaknya setelah keluarga Pouw terbasmi, dan dia sudah menghabiskan upah yang dia dapatkan sebagai hasil pengkhianatannya untuk berfoya-foya, merasa tersiksa batinnya sehingga menjadi gila.
Mendengar bentakan dua orang muda itu dia menjerit-jerit sambil berlari keluar dari bekas gedung itu.
Siang Ni dan Cun Giok seperti terkesima karena hati mereka terguncang sehingga setelah orang gila itu keluar dari bekas gedung, barulah mereka bergerak mengejar keluar.
Gerakan mereka berbareng dan Siang Ni terkejut sekali mendapat kenyataan betapa gerakan pemuda itu luar biasa cepatnya dan ia tertinggal jauh!
Ia merasa penasaran sekali dan ia sudah mempersiapkan sebatang panah tangan.
Pada saat Cun Giok mengangkat pedang hendak dibacokkan ke arah leher orang gila itu, tiba-tiba terdengar angin berdesir dan tubuh Can Sui terjungkal.
Sebatang anak panah menancap di lambungnya dan menewaskannya di saat itu juga!
Cun Giok tertegun dan menengok.
Dia tahu bahwa gadis itulah yang melepaskan anak panah secara istimewa sekali dan melihat cara gadis itu melepaskan panah tangan, dia menjadi terkejut dan terheran-heran.
Mereka kini sudah tiba di luar gedung, di halaman gedung di mana dahulu orang tua mereka seringkali bermain-main.
Kini mereka berhadapan sebagai musuh dan saling memandang dengan sinar mata tajam.
Kembali Cun Giok melihat sesuatu yang membuatnya semakin heran, yaitu pedang Kim-kong-kiam di tangan gadis itu.
Bagaimana ia dapat memegang pedang yang dulu adalah milik Suma Tiang Bun, gurunya?
"Ibu, lihatlah!
Pengkhianat Can Sui sudah kubunuh.
Pembalasan pertama sudah terlaksana, Ibu.
Sekarang lihat bagaimana aku membalaskan sakit hatimu dan Ayah terhadap bangsat rendah ini!"
Kata Siang Ni seperti berdoa dan matanya kini ditujukan kepada Cun Giok penuh ancaman.
Kemudian, tanpa memberi kesempatan kepada Cun Giok yang masih bengong memandangnya, Siang Ni menyerang.
Kini ia mengeluarkan pedang kedua lalu bersama Kim-kong-kiam, ia mainkan ilmu pedang yang paling diandalkan, yaitu Siang-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Iblis)!
Sinar kuning emas dan putih bergulung-gulung menerjang ke arah Cun Giok.
Pemuda ini cepat memutar pedangnya menangkis.
Dia hanya melakukan pertahanan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling kokoh kuat sehingga gulungan sinar pedangnya membentuk perisai yang amat kuat.
Akan tetapi dia tidak membalas serangan gadis itu.
Berkali-kali dia membentak agar Siang Ni menghentikan serangannya untuk bicara, akan tetapi Siang Ni tidak peduli dan terus menyerang dengan ganas.
Tiba-tiba Siang Ni terkejut karena begitu tubuh lawannya berkelebat, ia kehilangan lawannya itu!
Ini merupakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah hampir mencapai puncaknya!
Ia teringat kepada kakek pertapa di Ta-pie-san dan diam-diam ia pun kagum sekali, walaupun kekaguman itu tidak dapat mengusir dendam kebenciannya.
"Tahan!"
Tiba-tiba terdengar Cun Giok berseru di belakangnya. Siang Ni membalikkan tubuhnya dan memandang pemuda itu dengan mata seolah berapi.
"Mau bicara apalagi?"
Bentaknya.
"Engkau mengaku keturunan keluarga Pouw, mengaku anak Bibiku Pouw Sui Hong, akan tetapi aku tidak percaya! Mari kita bicara lebih dulu sebelum pedang kita merobohkan seorang di antara kita!"
"Pembunuh keji! Jangan banyak cakap!"
Siang Ni membentak dan ia pun sudah menyerang lagi dengan dahsyat.
Terpaksa Cun Giok mengeluarkan kepandaiannya dan untuk beberapa jurus dia terpaksa mencurahkan tenaga saktinya untuk bertahan dan tidak sempat bicara.
Akhirnya dia dapat membuat Siang Ni bingung lagi karena dia telah menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya untuk berkelebatan dan terkadang lenyap dari penglihatan gadis itu.
Setelah mendapat kesempatan, Cun Giok berkata lagi dengan lantang.
"Engkau mencurigakan sekali! Kalau engkau memang anak Bibiku, bagaimana mungkin pedang Kim-kong-kiam milik Guruku bisa berada di tanganmu? Engkau penipu!"
Mendengar makian ini, Siang Ni marah bukan main.
Ia melompat mundur, menahan sepasang pedangnya.
Mukanya menjadi merah, matanya berapi dan dadanya turun naik.
Kemarahan menggelora dahsyat di dalam hatinya.
"Anjing keparat! Engkau masih berani memaki aku penipu! Kaulah penipu besar, mengaku anak Pek-hu (Liwa) Pouw Keng In akan tetapi marganya Suma! Cih, tak tahu malu! Engkau mau tahu bagaimana pedang ini berada di tanganku? Setelah gurumu mampus di tangan guruku, pedang ini diberikan kepadaku oleh Suhu."
Cun Giok begitu kaget sampai dia mundur dua langkah dan matanya terbelalak.
"Apa? Engkau murid Kong Tek Kok?"
"Betul! Engkau takut mendengar nama Suhu?"
Jawab Siang Ni dan entah mengapa, mukanya berubah merah sekali.
Kong Tek Kok memang gurunya, akan tetapi, bukan sebagai guru saja.
Lebih dari itu!
Jauh lebih dari sekadar guru!
Hanya sebentar Siang Ni merasa malu, karena ia menjadi terheran melihat keadaan Cun Giok.
Pemuda itu menjadi pucat dan matanya memandang kepadanya dengan bengis.
"Nona, kalau engkau memang murid Kong Tek Kok dan hendak mengadu nyawa dengan aku, silakan! Akan tetapi jangan engkau mempermainkan aku. Jangan engkau berani mengaku sebagai anak Bibiku Pouw Sui Hong!"
"Orang gila! Memang Pouw Sui Hong itu Ibuku, Ibu kandungku! Ibuku hidup berbahagia dengan Ayah sampai engkau datang membunuh Ayah sehingga Ibu juga meninggal menyusul Ayah saking dukanya. Engkau keparat masih hendak memutar lidah lagi?"
"Nanti dulu!"
Cun Giok mengangkat tangan kiri ke atas melihat gadis itu hendak menyerang lagi.
"Engkau bilang bahwa engkau anak Pangeran Lu Kok Kong dan Ibumu adalah Pouw Sui Hong?"
"Apa kaukira aku memalsukan nama Ayah dan Ibu kandungku sendiri? Kakek bekas pelayan keluarga Pouw tadi berkata sendiri bahwa aku serupa benar dengan ibuku, Pouw Sui Hong!"
"Tidak mungkin! Kalau engkau benar anak Bibi Pouw Sui Hong, bagaimana mungkin engkau bisa menjadi murid Panglima Kong Tek Kok si jahanam besar itu? Tidak mungkin Bibi Pouw Sui Hong memperbolehkan puterinya menjadi murid panglima biadab itu!"
"Mengapa??"
Siang Ni bertanya penasaran, akan tetapi ia mulai mendapatkan perasaan yang tidak enak dan jantungnya berdebar.
"Mengapa? Keluarga Pouw terbasmi habis oleh pasukan yang dipimpin oleh jahanam Kong Tek Kok. Ayah Ibuku, Kakek dan seisi rumah keluarga Pouw dibasmi dan dibunuhnya secara kejam. Bibi Pouw Sui Hong juga tertawan oleh Kong Tek Kok dan dibawa ke kota raja. Aku mendengar kabar dari orang banyak bahwa Bibi Pouw Sui Hong menjadi sengsara dan meninggal dunia di kota raja setelah oleh Kong Tek Kok diserahkan kepada Pangeran Lu sebagai selir. Bagaimana sekarang muncul engkau yang mengaku sebagai puteri Bibi Pouw Sui Hong akan tetapi juga mengaku menjadi murid jahanam Kong Tek Kok?"
Mendengar kata-kata itu, makin lama wajah Siang Ni menjadi semakin pucat. Kedua kakinya menggigil dan suaranya mendesis ketika ia berkata.
"Jahanam Suma Cun Giok, pembunuh Ayahku! Jangan engkau membohong......"
Akan tetapi suaranya tidak terdengar marah, melainkan penuh keraguan dan kekhawatiran.
"Kaukira aku berbohong? Mana Kakek pelayan tadi, mari kita tanya kepadanya, tentu dia masih ingat kalau memang betul dia itu bekas pelayan keluarga Pouw!"
Bagaikan diingatkan, Siang Ni berlari memasuki gedung yang sudah hampir gelap.
Di situ kakek pelayan tadi masih berlutut ketakutan.
Melihat masuknya Siang Ni dan pemuda yang keduanya dia anggap arwah Pouw Keng In dan Pouw Sui Hong, dia kembali menyembunyikan mukanya di balik kedua tangannya.
"Lopek, jangan takut,"
Kata Siang Ni.
"Coba kauceritakan yang sebenarnya kepadaku. Ketika terjadi penyerbuan dan pembasmian keluarga Pouw, apakah engkau tahu siapa komandan pasukan yang dengan kejam sekali membunuh semua anggauta keluarga Pouw?"
"Semua orang mengetahui, Nona. Dia itu......"
Suaranya lirih, tampak ketakutan.
"...... dia itu sekarang menjadi panglima besar, namanya Panglima Kong Tek Kok......"
Siang Ni menjerit aneh, sepasang pedangnya terlepas dan jatuh di atas lantai.
Tubuhnya lemas terkulai dan di lain saat ia jatuh pingsan dalam pelukan Cun Giok yang cepat menolong sebelum gadis itu roboh.
Kenyataan bahwa Kong Tek Kok sendiri orangnya yang telah menjadi musuh besarnya selama ini, merupakan pukulan batin yang amat hebat bagi Siang Ni sehingga ia tidak kuasa menahannya dan roboh pingsan.
Dan ia telah menjadi murid musuh besar itu, bahkan ia telah rela mengorbankan menyerahkan kehormatannya menjadi permainan Kong Tek Kok untuk dapat mewarisi ilmu tertinggi agar dapat membalas dendam kepada musuh besar keluarga Pouw!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lu Siang Ni baru siuman.
Cun Giok yang mengetahui bahwa gadis itu menderita tekanan batin yang amat hebat, membiarkannya tidur pulas semalam, agar terlepas dari cengkeraman dan himpitan kaget, sesal dan duka.
Ketika Siang Ni pingsan, dia memondongnya dan merebahkannya di atas sehelai tikar rombeng.
Kakek pelayan itu menjaga di dekatnya dan kakek inilah yang memasak air dan membuat api unggun.
Setelah mendengar keterangan Cun Giok, kakek ini baru menyadari bahwa dia berhadapan dengan keturunan majikan-majikannya.
Dia merasa gembira sekali, seolah-olah semua itu terjadi dalam mimpi.
Begitu siuman Siang Ni mengumpulkan hawa di dalam tubuhnya sehingga darahnya mengalir normal kembali dan hawa hangat memenuhi dadanya, mengembalikan tenaganya.
Cepat ia melompat berdiri.
Melihat dua batang pedangnya berada di sudut ruangan, ia melompat dan menyambarnya dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang pedang dan siap hendak menyerang.
Ia memandang kepada Cun Giok yang duduk bersila di atas lantai dengan mata merah.
"Suma Cun Giok, aku mengakui bahwa selama ini aku seperti buta, tidak tahu bahwa selama ini musuh besarku berada di dekatku. Akan tetapi engkau tetap musuh besarku pula karena engkau telah membunuh Ayahku. Bersiaplah engkau, kita tidak dapat hidup bersama di dunia ini. Seorang dari kita harus mati di ujung pedang!"
Cun Giok bangkit berdiri dan memandang gadis itu dengan hati penuh haru dan iba.
Pemuda ini tampak susah sekali, apalagi kalau dia teringat bahwa satu-satunya keluarganya adalah gadis ini, akan tetapi mereka berjumpa bukan sebagai saudara misan, melainkan sebagai musuh yang harus saling bunuh!
"Betapapun juga, engkau adalah Adik misanku dan aku"..
aku sudah merasa bersalah, Piauw-moi (Adik Misan).
Agaknya Ayahmu dahulu merasa malu mengambil Bibi Pouw Sui Hong sebagai isterinya sehingga dia membuat berita di luar bahwa Bibi Sui Hong sudah meninggal dunia.
Andaikata aku tahu bahwa Bibi Sui Hong masih hidup, bahkan sudah mempunyai anak, kiranya aku tidak begitu gila untuk membunuh Ayahmu.
Aku melakukan itu semata-mata untuk membalaskan sakit hati Bibi Pouw Sui Hong, yakni Ibumu!
Siapa tahu kalau Bibi Sui Hong ternyata masih hidup.......
bahkan sekarang meninggal dunia karena duka melihat suaminya terbunuh......
ahhh......
sekarang aku ingat akan seorang wanita cantik yang menjerit, mengatakan bahwa Pangeran Lu tidak berdosa!
Dan aku seperti orang gila.
Adikku, aku sudah berdosa terhadap Bibi Sui Hong dan suaminya, terhadap Ayah Ibumu.
Kalau engkau hendak membalas dendam, engkau boleh bunuh aku.
Aku tidak akan melawan lagi......."
Setelah berkata demikian, Cun Giok mengembangkan kedua lengannya, membuka dada menghadapi Siang Ni.
Melihat ini, hati Siang Ni yang keras menjadi lemas.
Ia teringat akan kata-kata terakhir ibunya bahwa ia tidak boleh memusuhi kakak misannya ini dan bahwa sebetulnya ayahnya bukan tidak bersalah sama sekali.
Melihat banyaknya isteri ayahnya, Siang Ni dapat menduga bahwa ayahnya tentu seorang laki-laki mata keranjang dan dahulu tentu telah tertarik kepada ibunya sehingga Panglima Kong Tek Kok memberikan ibunya sebagai hadiah!
Sakit sekali rasa hatinya memikirkan ini dan kebenciannya tertumpuk kepada Kong Tek Kok.
"Cabut pedangmu!"
Ia membentak.
"Tak mungkin keturunan Pouw lahir sebagai seorang pengecut! Kalau engkau benar laki-laki, pertahankan kehormatanmu. Kalau engkau tidak mau melawan, aku pun tidak akan membunuhmu begitu saja, akan tetapi selamanya engkau akan terkutuk sebagai seorang laki-laki pengecut yang mencemarkan nama dan kehormatan keluarga Pouw yang gagah perkasa!"
Mendengar ini, wajah Cun Giok menjadi merah sekali. Dia melangkah mundur dan berkata dengan suara tegas.
"Dengarlah, bocah lancang mulut dan sombong! Siapa takut padamu? Aku tidak melawan karena aku memang menyesal sekali bahwa aku yang menjadi sebab kematian Bibi Pouw Sui Hong. Engkau mau aku melawanmu sehingga seorang di antara kita mati di ujung pedang? Hemm, aku sama sekali tidak takut padamu, akan tetapi aku tidak bermaksud mempergunakan senjata terhadap puteri Bibi Sui Hong. Senjata dan kepandaianku kusiapkan untuk membalas dendam kepada keparat jahanam Kong Tek Kok! Apakah engkau bertekad untuk melindungi gurumu itu dan menghalangi maksudku untuk membalas dendam kepadanya? Kalau engkau bertindak sebagai murid Kong Tek Kok dan membelanya, aku bersedia untuk mengadu kepandaian denganmu, karena kalau engkau membela Kong Tek Kok, berarti engkau pun menjadi musuh besar keluarga Pouw!"
"Jangan menghina!"
Siang Ni menjerit.
"Siapa sudi menjadi pelindung keparat jahanam itu? Aku tidak rela orang lain yang membunuhnya! Tanganku sendiri yang akan merenggut nyawanya dari tubuhnya yang hina dina. Akan tetapi, engkau adalah pembunuh Ayahku, karena itu sudah sepatutnya aku membalas dendam atas kematian Ayah!"
Sikap Cun Giok menjadi lemah kembali. Dia menarik napas panjang dan berkata lembut.
"Kalau begitu soalnya, kalau engkau hendak membunuhku karena membalas dendam atas kematian Ayah Ibumu, aku rela menerima kematian di ujung pedangmu. Hanya sayang...... aku belum sempat mencari si keparat Kong Tek Kok. Kalau saja aku sudah berhasil membunuhnya sebagai pembalasan terhadap keluargaku, aku rela kauapakan juga......."
Untuk beberapa lama Siang Ni ragu-ragu. Tiba-tiba ia melompat keluar dari ruangan itu dan terdengar suaranya dari luar.
"Baik! Aku akan membunuh keparat Kong Tek Kok lebih dulu, baru kelak kita akan membuat perhitungan!"
Cun Giok mengejar keluar.
"Piauw-moi......! Mari kita bersama membalas dendam keluarga kita".!"
Akan tetapi Siang Ni sudah pergi jauh dan tidak mau menjawab lagi.
Cun Giok memberi beberapa potong emas kepada kakek bekas pelayan keluarganya itu dan berpesan agar segala yang dilihat dan didengarnya di dalam bekas gedung itu tidak diceritakan kepada orang lain.
Juga bekas pelayan itu diminta untuk mengurus mayat Can Sui sebagaimana mestinya.
Kakek bekas pelayan keluarga Pouw itu berterima kasih sekali dan menaati pesan Cun Giok.
Setelah mengucapkan terima kasih, Cun Giok meninggalkan So-couw dan menyusul ke kota raja.
Dalam perjalanan menuju kota raja, kadang-kadang Siang Ni menangis dengan air mata bercucuran.
"Thian Yang Maha Kuasa, mengapa begini sengsara nasibku......?"
Ia mengeluh berulang kali.
Kebencian terhadap Panglima Kong Tek Kok meluap-luap.
Tadinya ia memang sudah mempunyai rasa muak yang luar biasa terhadap gurunya yang telah melakukan perbuatan keji terhadap dirinya.
Kalau tadinya ia masih menahan-nahan perasaan benci itu karena tidak ada alasan, kini kebenciannya meluap.
Sudah ia bayangkan bagaimana pertemuannya dengan gurunya itu nanti.
Ia tidak akan bersabar lagi dan akan langsung menyerangnya sambil mencaci-maki.
Ia merasa kuat melawan gurunya, biarpun gurunya memiliki kepandaian karena ia merasa bahwa kepandaian tinggi gurunya itu sudah diwarisinya.
Tingkat kepandaiannya sekarang tidak akan berselisih banyak dengan tingkat gurunya.
Mungkin tenaga dalamnya masih kalah kuat, namun ia merasa yakin bahwa ia menang dalam kecepatan gerakan.
Pula, ia memegang Kim-kong-kiam, maka hatinya besar dan ia tidak perlu takut.
Setiap hari dalam perjalanannya itu Siang Ni merencanakan bagaimana ia akan menyerang gurunya sehingga dalam perkelahian nanti gurunya itu takkan terhindar dari maut!
Kalau ia teringat akan Cun Giok, ia menjadi bingung.
Setelah ia mengetahui duduknya persoalan, ia tidak merasa benci lagi kepada pemuda itu.
Biarpun pemuda itu telah membunuh ayah kandungnya, akan tetapi kalau ia renungkan, Pangeran Lu, ayah kandungnya itu, seakan-akan menjadi sekutu Kong Tek Kok.
Kini mengertilah ia mengapa ibunya suka termenung dan ibunya menangis sedih mendengar ia bercerita tentang pertolongannya kepada para calon Siu-li.
Mengapa ibunya sengaja menyembunyikan nama Kong Tek Kok darinya?
Ibunya tentu maklum bahwa ia menjadi murid musuh besarnya sendiri, dan ibunya tentu tidak berdaya karena semua itu adalah kehendak ayahnya.
Dan ayahnya dibunuh Cun Giok karena pemuda itu hendak membalaskan dendam ibunya yang disangka tersiksa dan tewas oleh ayahnya!
Ah, semakin ia pikir, makin tipis pula niatnya untuk kelak membuat perhitungan dengan kakak misannya itu.
Siang Ni tiba di kota raja pada senja hari.
Ia tidak langsung menuju ke rumah gurunya, akan tetapi ia menuju ke gedung ayahnya.
Ia disambut oleh semua ibu tirinya.
Siang Ni menceritakan dengan singkat bahwa dalam mencari pembunuh ayahnya, ia belum berhasil.
Kemudian dengan cerdik ia minta ibu tiri tertua bercerita tentang ibunya.
"Ibumu memang anggauta keluarga Pouw di So-couw. Tadinya ketika mula-mula memasuki gedung ini, ia tampak berduka sekali sehingga kami harus menjaga keras agar jangan sampai membunuh diri. Akan tetapi, setelah ia mengandung dan akhirnya melahirkan engkau, sikapnya berubah dan ia tampak bahagia. Ia orang yang baik dan halus budinya sehingga kami semua merasa sayang padanya, Siang Ni,"
Kata ibu tiri tertua.
"Ibu dahulu diberikan oleh Panglima Kong Tek Kok kepada Ayah, bukan?"
Semua ibu tirinya saling pandang.
Hal ini sejak dahulu dirahasiakan sekali.
Pangeran Lu Kok Kong dengan bengis mengancam akan menghukum siapa yang membuka rahasia ini kepada Siang Ni.
Sekarang gadis itu sendiri mengatakan hal ini, mereka terheran-heran.
"Bagaimana engkau bisa mengetahuinya, Siang Ni?"
Ibu tiri tertua bertanya.
Pertanyaan ini saja sudah melenyapkan keraguan di hati Siang Ni.
Jelaslah bahwa Kong Tek Kok memang orang yang harus dibunuhnya!
Kini sudah tetap hati Siang Ni.
Malam ini harus membunuh Kong Tek Kok.
Biarpun untuk ini ia harus berkorban nyawa.
Untuk membalas dendam orang tuanya, nyawa baginya tidak masuk hitungan.
Bahkan ia sudah berani mengorbankan kehormatan dan kebahagiaan hidupnya untuk dapat mewarisi ilmu silat tinggi agar dapat membalas dendam.
Maka tentang resiko dalam menghadapi gurunya, ia tidak peduli lagi.
Kalau perlu, mati bersama akan ia hadapi dengan tabah!
Ia lalu meninggalkan semua ibu tirinya dan mengatakan ingin beristirahat.
Ia memasuki kamarnya, membersihkan diri dan berganti pakaian lalu makan malam.
Semua persiapan sudah ia lakukan, pedang dan anak panah tangan sudah tersedia lengkap.
Setelah mengadakan persiapan, baru ia mengaso di pembaringan agar tidak terlalu letih dan tenaganya terkumpul untuk menghadapi usaha balas dendamnya nanti.
Setelah keadaan menjadi sunyi dan semua ibu tirinya sudah memasuki kamar masing-masing, Siang Ni keluar dari gedung itu melalui jendela dan melakukan perjalanan melalui genteng-genteng rumah dengan cepat sekali.
Ketika ia sudah berada dekat gedung Panglima Kong Tek Kok, dari jauh ia melihat pertempuran di atas genteng gedung itu.
Ia mempercepat larinya dan dilihatnya seorang yang gesit sekali gerakannya melarikan diri, dikejar oleh belasan orang, di antaranya yang paling depan adalah Panglima Kong Tek Kok.
Dengan sembunyi-sembunyi Siang Ni mendekat dan melihat ada lima orang perwira yang dikenalnya berkepandaian tinggi dan menjadi pembantu-pembantu gurunya telah menggeletak di atas genteng, tewas.
Ia lalu ikut mengejar, akan tetapi bukan mengejar bayangan yang ia duga tentu Cun Giok adanya, melainkan mengejar Kong Tek Kok.
Akan tetapi tiba-tiba Siang Ni mendapat pikiran lain yang lebih baik.
Sudah pasti bahwa Cun Giok memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada tingkatnya.
Kalau tidak bagaimana mungkin pemuda itu sekarang tahu-tahu sudah melakukan penyerbuan pada gedung Panglima Kong Tek Kok padahal pemuda itu tadinya ia tinggalkan?
Dan sekarang, kalau Cun Giok yang lebih lihai saja tidak mampu membunuh Kong Tek Kok yang mempunyai banyak pembantu, apalagi ia!
"Aku tidak boleh gagal seperti Cun Giok.
Aku harus menggunakan akal,"
Pikir Siang Ni yang mengikuti mereka secara sembunyi.
Dilihatnya beberapa kali gurunya melepaskan anak panah ke arah bayangan di depan, akan tetapi semua anak panah dapat dielakkan secara mengagumkan oleh bayangan itu.
Sebentar saja bayangan yang dikejar itu pun Ienyap dan terdengar Kong Tek Kok menyumpah-nyumpah.
"Bedebah! Kalau terjatuh ke tanganku, akan kucincang sampai lumat tubuh si laknat Suma Cun Giok! Mulai sekarang penjagaan harus diperkuat. Sungguh memalukan! Menghadapi seorang musuh saja sampai lima orang kawan kita tewas dan penjahatnya tidak tertangkap!"
Setelah Kong Tek Kok dan kawan-kawannya pergi dan Siang Ni mendengar gurunya akan mengatur penjagaan agar penjahat itu jangan sampai keluar dari kota raja, Siang Ni diam-diam lalu mengejar ke arah perginya Cun Giok.
Akan tetapi sia-sia belaka.
Sampai tengah malam ia berputar-putar di kota raja, menghindari pertemuan dengan para penjaga.
Akhirnya setelah mencari sampai ke ujung kota raja sebelah selatan dan tidak menemukan Cun Giok, Siang Ni menuju ke tanah kuburan di mana terdapat makam ayah bundanya.
Besok pagi-pagi ia hendak menemui gurunya dan dengan siasat ia hendak melakukan pembalasan.
Sebelum ia melaksanakan balas dendam yang juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri itu, gadis itu ingin mengunjungi makam ayah ibunya lebih dulu.
Malam itu terang bulan.
Bulan hampir purnama karena sudah tanggal tiga belas.
Keadaan di tanah kuburan itu sunyi senyap.
Bayang-bayang yang ditimbulkan sinar bulan dan pohon-pohon amat menyeramkan.
Seorang laki-laki sekalipun akan termangu dan ragu kalau disuruh memasuki tanah kuburan itu seorang diri pada saat seperti itu.
Malam terang bulan di tanah kuburan!
Orang yang tabah sekalipun akan kecil hati, bukan hanya takut bertemu penjahat, akan tetapi lebih lagi takut bertemu hantu!
Akan tetapi Siang Ni adalah seorang gadis yang sudah hancur hatinya, seorang yang sudah tidak punya harapan untuk hidup lebih lama lagi setelah mengalami kesengsaraan hebat.
Bahkan ia seolah mengharapkan datangnya kematian agar terbebas dari perasaan hati yang hancur.
Baginya tidak ada lagi rasa takut.
Maut ditantangnya, apa lagi segala macam hantu dan siluman, ia tidak takut sama sekali.
Dengan langkah tetap ia memasuki gapura kuburan dan langsung menuju ke makam ayah ibunya.
Dua tahun telah lewat, akan tetapi batu-batu bong-pai (nisan) kedua kuburan itu terawat baik dan kelihatan putih bersih di bawah sinar bulan.
Ada bayangan bergerak-gerak di depan bong-pai.
Dari jauh Siang Ni sudah melihatnya, akan tetapi ia mengira bahwa itu tentu bayangan pohon yang digerakkan angin.
Ia mendekati dan melihat bahwa bayangan itu bergerak seperti manusia.
Orang lain tentu akan lari lintang pukang dan jatuh bangun melihat bayangan ini dan yakin bahwa ia adalah hantu yang berkeliaran di tanah kuburan.
Akan tetapi sebaliknya Siang Ni malah lari menghampiri dengan pedang terhunus.
"Siapa engkau!"
Bentaknya sambil melompat. Orang membalikkan tubuh menghadapinya, sikapnya tenang. Siang Ni menahan pedangnya ketika melihat bahwa orang itu bukan lain adalah Cun Giok! "Mau apa engkau di sini?"
Siang Ni bertanya dengan suara ketus.
"Aku di sini dengan tiga kepentingan. Pertama untuk bersembunyi dari kejaran kaki tangan Kong Tek Kok yang ternyata memiliki banyak pembantu sehingga masih sukar bagiku untuk membunuhnya. Kedua untuk mengunjungi makam Bibi Pouw Sui Hong dan minta ampun atas dosaku telah salah sangka sehingga membunuh suaminya. Ketiga aku sengaja menanti engkau di sini karena aku mempunyai harapan besar bahwa engkau pasti akan datang ke sini, cepat atau lambat. Tak kusangka bahwa malam ini juga engkau datang. Benar-benar Thian mengabulkan pengharapanku."
Wajah Cun Giok tampak penuh harapan dan pandang matanya penuh permohonan kepada Siang Ni.
"Ada keperluan apakah engkau ingin bertemu dengan aku?"
Suara Siang Ni masih kaku. Cun Giok menarik napas panjang.
"Nona, bagaimanapun juga, kita adalah saudara misan dan kita mempunyai tugas yang sama, yaitu membalas dendam sakit hati keluarga kita kepada Panglima Kong Tek Kok. Tadi telah kurasakan betapa lihainya musuh besar kita itu yang dibantu banyak pengawalnya. Kalau melawan dia seorang, kiraku aku tidak akan kalah, akan tetapi, dia mengandalkan bantuan kaki tangannya yang memiliki tingkat kepandaian tinggi juga sehingga ketika dikeroyok aku merasa kewalahan."
"Engkau hanya berhasil membunuh lima orang pengawal lalu melarikan diri,"
Kata Siang Ni.
"Eh, kau sudah tahu? Memang, aku tidak berguna. Terus terang saja, aku amat mengharapkan bantuanmu dalam hal ini. Kalau kita berdua yang maju, kiraku si jahanam Kong Tek Kok itu akan dapat kita binasakan agar arwah para leluhur kita dapat tenang."
Siang Ni mengerutkan alisnya.
Ingin ia mengatakan bahwa tanpa kerjasama dengan pemuda itu pun ia sendiri sanggup menewaskan musuh besarnya.
Akan tetapi ia tidak mau bicara demikian karena ucapan itu akan kelihatan sombong.
Kalau Cun Giok sendiri tidak sanggup, bagaimana pula ia akan dapat melakukan pembalasan itu?
Ia tahu bahwa tingkat kepandaian pemuda itu masih berada di atas tingkatnya.
"Engkau pembunuh Ayahku, berarti engkau musuh besarku pula. Tidak mungkin aku bekerja sama dengan engkau!"
Katanya ketus. Cun Giok menghadapi makam bibinya dan berkata.
"Arwah Bibi Pouw Sui Hong menjadi saksi bahwa aku melakukan pembunuhan itu dengan maksud untuk membalas dendam Bibi. Akan tetapi aku telah salah sangka dan salah bunuh, untuk itu aku siap sedia menerima hukuman. Kalau engkau mau membantuku sampai kita berdua dapat menewaskan Kong Tek Kok, aku bersumpah akan datang di makam ini dan di sini engkau boleh membalas dendam kematian Ayahmu terhadap aku. Aku akan menyerahkan nyawaku kalau kau menghendaki!"
Kata-kata pemuda itu diucapkan sungguh-sungguh sehingga mengharukan hati Siang Ni. Sampai lama keduanya tidak mengeluarkan kata-kata, akhirnya Siang Ni berkata.
"Bagaimana rencanamu untuk dapat membunuh dia?"
Cun Giok tampak girang sekali.
"Piauw-moi, terima kasih! Kita pasti berhasil!"
Pemuda itu melompat dengan kecepatan yang amat mengagumkan dan tahu-tahu telah berada di depan Siang Ni.
Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengatur siasat agar dapat berhasil membunuh Panglima Kong Tek Kok, musuh besar mereka itu.
Setelah mengadakan perundingan dan mengatur siasat, sampai beberapa lama, akhirnya mereka memperoleh kesepakatan.
Siang Ni lalu berlutut di depan makam ayahnya dan berkata perlahan.
"Ayah, ampunkan Anakmu. Bukan sekali-kali Anak lupa akan sakit hati Ayah, akan tetapi Anak hendak mendahulukan pembalasan sakit hati Ibu. Kalau Anak berhasil, barulah Anak akan menghilangkan penasaran Ayah......."
Mendengar ucapan Siang Ni, Cun Giok mendengarkan dengan hati menyesal bukan main mengapa tanpa menyelidiki lebih dulu dia telah membunuh ayah gadis ini.
Ketika Siang Ni bangkit dan tanpa menoleh hendak pergi, Cun Giok berkata.
"Bolehkah aku mengetahui namamu?"
Siang Ni menjawab tanpa menoleh.
"Namaku tidak ada harganya untuk dikenal. Aku sendiri sudah tidak sudi mengenal nama itu!"
Gadis itu berkelebat dan lenyap di antara pohon-pohon yang tumbuh di tanah kuburan itu.
Cun Giok hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia merasa amat iba kepada adik misannya itu.
Dengan wajah gembira Panglima Kong Tek Kok berjalan seorang diri menuju ke tanah kuburan yang sunyi.
Semalam ketika dia berada di kamarnya, dari atas genteng melayang sehelai surat.
Dia tahu bahwa yang melemparkan surat itu adalah muridnya, maka dia merasa amat heran mengapa Siang Ni tidak masuk saja melainkan melemparkan sepucuk surat.
Akan tetapi setelah surat itu dibacanya, dia tersenyum dan wajahnya yang sudah mulai keriputan itu berseri.
Di dalam suratnya, Siang Ni menyatakan bahwa tidak leluasa kalau ia datang berkunjung seperti biasanya, khawatir kalau hubungan mereka akan diketahui orang luar.
Gadis itu dalam suratnya menyatakan, rindu dan juga ingin merundingkan sesuatu dengan gurunya, mengundang gurunya agar suka datang besok pada menjelang malam hari ke tanah kuburan bangsawan yang berada di pinggir kota.
Di tempat itu sunyi dan tak seorang pun akan melihat kita, demikian bunyi penutup surat Siang Ni yang bernada mesra kepada Panglima Kong Tek Kok.
Panglima ini memang sedang tergila-gila kepada muridnya sendiri yang sekarang boleh dia anggap sebagai kekasihnya yang paling baru.
Maka tentu saja undangan itu diterimanya dengan girang hati dan tanpa syak wasangka apa pun karena dia pun merasa rindu kepada gadis jelita yang masih muda itu.
Betapapun juga, Panglima Kong Tek Kok adalah seorang yang berpengalaman, maka tentu saja dia tidak pernah lengah dan selalu berhati-hati.
Baca Juga: Suling Emas 9
Baca Juga: Suling Emas 7