Ceritasilat Novel Online

Pendekar Tanpa Bayangan 3

Eps 3 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.

Biarpun terhadap Siang Ni, muridnya dan juga kekasihnya itu, dia tidak menaruh curiga sedikit pun, namun dia maklum bahwa pemuda she Suma yang pernah malam-malam menyerbu gedungnya, sampai sekarang belum tertangkap dan tidak tampak tanda-tanda bahwa dia sudah meninggalkan kota raja.

Pemuda lihai itu tetap merupakan ancaman baginya.

Karena itu, diam-diam dia memesan kepada kaki tangannya agar supaya menyusul dan menjaga di luar tanah kuburan sehingga mudah membantunya apabila terjadi serangan tiba-tiba dari musuh.

Setelah mengatur persiapan itu tanpa memberitahu kepada kaki tangannya apa keperluannya malam-malam datang ke tanah kuburan.

Kong Tek Kok lalu mengenakan pakaian yang paling bagus, menyisiri rambut dan jenggotnya yang sudah beruban sampai rapi, memakai minyak wangi, lalu berjalan melenggang penuh gaya menuju ke tanah kuburan pada malam hari berikutnya, sesuai dengan permintaan Siang Ni dalam suratnya.

Bulan sedang purnama.

Cahayanya menerangi bumi mengusir kegelapan malam sehingga suasananya tampak romantis dan menyenangkan sekali.

Akan tetapi setelah tiba di luar tanah kuburan, Panglima Kong Tek Kok merasa bulu tengkuknya meremang.

Dia seorang panglima gagah perkasa yang berilmu tinggi, akan tetapi melihat suasana yang menyeramkan di tanah kuburan itu, mau tidak mau dia merasa ngeri juga.

Menghadapi lawan manusia, biarpun dikeroyok belasan orang pun dia tidak akan merasa jerih.

Akan tetapi melihat pemandangan menyeramkan di tanah kuburan yang menimbulkan bayangan-bayangan hantu, iblis dan siluman, hatinya merasa seram juga.

"Bocah setan, mengapa mengadakan pertemuan saja minta di tanah kuburan?"

Dia bersungut-sungut akan tetapi biarpun dia memaki, mulutnya tersenyum dan matanya membayangkan kecantikan wajah yang menggairahkan dari muridnya yang masih amat muda itu.

Bayangan ini mengusir rasa ngerinya dan dengan langkah lebar dia memasuki tanah kuburan dan berjalan cepat di antara bongpai-bongpai yang berada di tempat itu.

"Siang Niii......!"

Dia memanggil karena keadaan di situ amat sunyi dan tidak tampak bayangan muridnya yang tercinta itu.

"Di sini......!"

Tiba-tiba terdengar jawaban.

Panglima Kong Tek Kok menengok dan bukan main girang hatinya ketika dia melihat muridnya berdiri di bawah sebatang pohon kembang di ujung kiri tanah kuburan itu.

Kegirangan hatinya melihat muridnya yang dirindukannya itu membuat Panglima Kong Tek Kok lupa dan tidak menyadari bahwa Siang Ni yang memanggilnya itu berada di depan makam ayah ibunya.

Dia tidak melihat pula bahwa keadaan gadis itu tidak sewajarnya.

Pakaiannya kusut, rambutnya tidak teratur dan mukanya pucat.

Dalam penglihatan panglima yang sudah dibakar berahinya itu, Siang Ni tampak cantik bagaikan bidadari.

"Ah, engkau ini ada-ada saja, mengajak bertemu di tanah kuburan!"

Datang-datang Kong Tek Kok memegang kedua tangan muridnya sambil menegur, akan tetapi mulutnya tersenyum dan matanya memandang penuh kasih sayang.

Ketika dia hendak merangkul, Siang Ni merenggut lepas kedua tangannya dengan lembut sambil bertanya.

"Nanti dulu. Tahukah engkau di mana kita berada?"

Panglima Kong Tek Kok terheran dan melepaskan kedua tangan yang halus dan hangat itu.

"Di mana? Tentu di tanah kuburan. Bukankah engkau yang minta......?"

"Dan kenalkah engkau makam siapa ini?"

Siang Ni menunjuk ke arah makam ibunya.

Panglima Kong Tek Kok menoleh dan kebetulan sekali bulan bersinar tanpa halangan awan dan menerangi permukaan bong-pai sehingga terbaca nama Pouw Sui Hong, isteri kesembilan dari Pangeran Lu Kok Kong.

"Eh, Siang Ni! Kenapa engkau mengajak aku datang ke depan makam ibumu.......?"

"Hemm, engkau tahu ia Ibuku? Engkau tahu ini makam Ibuku yang bernama Pouw Sui Hong, anggauta keluarga Pouw yang kaubasmi habis kemudian Ibuku kauculik dan kaujual kepada Pangeran Lu Kok Kong? Dan engkau tahu mengapa aku mengundangmu ke sini? Engkau harus menyusul Ibuku mempertanggung-jawabkan dosa-dosamu! Engkau akan terpanggang di neraka jahanam! Juga engkau harus menebus dengan darah dan nyawa atas kekejianmu, engkau telah menipuku, engkau......"

Siang Ni tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan secepat kilat ia mencabut Kim-kong-kiam lalu menyerang bekas gurunya dengan dahsyat.

Panglima Kong Tek Kok tentu saja kaget setengah mati.

Dia maklum bahwa percuma saja kalau dia menyangkal setelah rahasianya terbuka.

Dia maklum pula bahwa gadis yang telah dinodai dan digaulinya itu tentu tidak akan mau berhenti sebelum mengadu nyawa, maka timbullah kesombongannya dan kebenciannya.

Sambil mengelak dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, bocah sombong! Engkau menerima ilmu silat dari aku, sekarang hendak kaupergunakan untuk membunuhku? Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali!"

Sambil berkata demikian, dia pun mencabut sepasang pedangnya dan di lain saat bekas guru dan murid itu sudah saling serang dengan dahsyat dan mati-matian.

Bagaimanapun juga, tentu saja gerakan Siang Ni kalah mahir dibandingkan gurunya.

Apalagi Panglima Kong Tek Kok menggunakan sepasang pedang dan gerakannya amat dahsyat sehingga sebentar saja Siang Ni terdesak hebat.

"Kong Tek Kok, jahanam busuk, bersiaplah untuk mampus!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sesosok bayangan yang luar biasa cepat gerakannya berkelebat datang dan sebatang pedang dengan gerakan kuat sekali menggempur sepasang pedang di tangan Kong Tek Kok.

"Trang-tranggg......!"

Panglima Kong Tek Kok terhuyung ke belakang dan dia terkejut bukan main setelah mengenal penyerangnya itu bukan lain adalah Cun Giok!

Dia menudingkan pedang di tangan kirinya ke arah muka Siang Ni.

Lalu dengan muka merah karena marah dia memaki.

"Perempuan hina! Jadi engkau sengaja memancingku ke sini dan engkau bersekongkol dengan dia? Perempuan tak tahu diri! Aku ini gurumu, dan apa engkau lupa bahwa dia itu pembunuh Ayahmu?"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Siang Ni dan ia sudah menyerang lagi menggunakan jurus terampuh dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Cun Giok juga menyerang dengan pedangnya dan tentu saja Panglima Kong Tek Kok segera menjadi kewalahan dan terdesak hebat.

Sekarang panglima itu baru merasa menyesal.

Karena terlalu sayang kepada Siang Ni, apalagi setelah gadis itu menyerahkan diri kepadanya dan menjadi kekasihnya, dia telah menurunkan seluruh kepandaiannya kepada muridnya itu sehingga biarpun dia masih dapat mengalahkan Siang Ni karena dia lebih berpengalaman, namun tetap saja gadis itu merupakan seorang lawan tangguh yang tidak mungkin dapat dia robohkan dalam waktu singkat.

Apalagi sekarang di situ muncul Suma Cun Giok, pemuda yang tingkat kepandaiannya sudah Iebih tinggi daripada tingkatnya sendiri.

Menghadapi pemuda ini seorang diri saja amat sukar baginya untuk dapat mengalahkannya.

Sekarang dua orang muda itu bergabung dan mengeroyoknya dan mereka menyerang seperti kesetanan, penuh kebencian sehingga Panglima Kong Tek Kok menjadi sibuk sekali.

Dia merasa cemas dan segera dia bersuit nyaring, memberi tanda kepada para pengawalnya yang tentu kini sudah berkumpul di luar tanah kuburan.

Akan tetapi perhitungannya kali ini meleset.

Tadi dia terlalu tergesa-gesa sehingga para pengawal yang menyusulnya ketinggalan jauh.

Mereka pun tidak tahu mengapa harus berkumpul di tempat yang menyeramkan itu, maka mereka bersikap ayal-ayalan dan ogah-ogahan sehingga kurang cepat.

Oleh karena itu, ketika Panglima Kong Tek Kok bersult memberi tanda bahaya, para pengawal itu belum tiba di tempat itu.

Siang Ni dan Cun Giok maklum apa artinya suitan itu, maka mereka menyerang lebih hebat dan mengerahkan seluruh kepandaian untuk merobohkan musuh besar yang tangguh itu.

Siang Ni melompat ke belakang lalu menyerang bekas gurunya dengan panah tangan bertubi-tubi.

Kong Tek Kok menjadi sibuk sekali.

Sebagai seorang ahli panah, tentu saja dia dapat menghindarkan diri dari panah-panah yang menyerangnya, akan tetapi karena di situ terdapat Cun Giok yang mendesak dengan ilmu pedangnya yang lihai, maka Kong Tek Kok harus memecah perhatiannya.

Hal ini tentu saja membuat pertahanannya menjadi lemah dan akhirnya sebatang anak panah mengenai pundaknya!

"Aduhh......!"

Kong Tek Kok berteriak kesakitan, lalu dia bersuit lagi berkali-kali. Akhirnya dari jauh terdengar suitan balasan.

"Para pengawal datang!"

Cun Giok memperingatkan Siang Ni dan pedangnya bergerak lebih cepat.

Kong Tek Kok melempar tubuh ke belakang untuk mengelak, akan tetapi kesempatan ini dipergunakan oleh Siang Ni yang meluncurkan tiga batang anak panah.

Panglima Kong Tek Kok maklum akan datangnya tiga batang anak panah ini.

Akan tetapi pada saat itu Cun Giok sudah menusukkan pedangnya dengan kecepatan kilat.

Panglima Kong Tek Kok tidak sempat menghindarkan diri lagi.

"Capp!"

Pedang itu menusuk lambungnya.

"Auhhh......!"

Panglima Kong Tek Kok menekan lambungnya yang mengucurkan darah dan dia terhuyung-huyung ke belakang.

Pada saat dia sempoyongan itu, tiga batang anak panah menyambar dan menancap di dadanya.

Panglima itu terpelanting roboh, sepasang pedangnya terlepas dari pegangannya.

Terdengar isak tangis Siang Ni dan gadis itu sudah berkelebat mendekati Panglima Kong Tek Kok yang sudah terluka dan tidak berdaya itu.

Ia meludahi kepala panglima itu dan memaki-maki penuh kebencian, makian bercampur isak.

"Anjing rendah, jahanam keparat busuk! Manusia terkutuk! Ini rasakan pembalasan untuk Kakek dan Nenek Pouw!"

Pedang sinar emas membabat dan Panglima Kong Tek Kok menjerit dua kali.

Kedua kakinya buntung terbabat pedang, buntung sebatas lutut!

"Jahanam, rasakan ini pembalasanku untuk Paman Pouw Keng In dan isterinya!"

Kembali sinar emas berkelebat dua kali disusul jeritan yang masih nyaring dari Panglima Kong Tek Kok.

Kini kedua lengannya yang buntung sebatas siku!

Panglima itu mandi darah dan hanya dapat menggerakkan kepala ke kanan kiri dan merintih-rintih minta ampun!

"Dan ini pembalasan untuk Ibuku!"

Kembali sinar emas berkelebat dan kini sinar pedang itu membabat buntung sepasang daun telinga dan hidung panglima itu!

Panglima Kong Tek Kok hanya dapat mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan mukanya penuh darah segar.

"Ini untuk pembalasan sakit hatiku!"

Siang Ni membacok ke arah bawah perut dan sekali ini Panglima Kong Tek Kok tak dapat mengeluarkan suara lagi, sisa tubuhnya berkelejotan.

Akan tetapi sambil menangis, Siang Ni masih terus menggerakkan pedangnya, menusuk, membacok sekuat tenaga.

Cun Giok memejamkan matanya.

Ngeri hatinya melihat pemandangan itu.

Siang Ni seperti gila!

Sepasang matanya merah dan bercucuran air mata.

Pedangnya terus digerakkan mencincang tubuh panglima itu sehingga darahnya muncrat ke mana-mana.

Pakaian gadis itu penuh darah yang terpercik ke kanan kiri, namun ia tidak peduli.

Seperti orang mencincang daging ia terus membacokkan pedangnya sambil menangis dan memaki.

"Mampus kau anjing busuk! Mampus kau keparat!"

Tubuh panglima itu kini hanya sebagai seonggok daging yang tercincang. Bahkan tulang-tulangnya juga ikut terpotong-potong. Mengerikan sekali! "Piauw-moi, larilah! Para pengawal sudah datang!"

Cun Giok berteriak.

Akan tetapi Siang Ni seperti tidak mendengar suaranya dan masih terus membacoki tubuh bekas gurunya yang sudah menjadi onggokan daging dan darah.

Dua orang pengawal muncul.

Melihat Cun Giok, mereka segera menggunakan golok menyerang.

Akan tetapi, dengan lincahnya Cun Giok mengelak.

Dua orang pengawal itu mengeroyok dan hanya dalam beberapa jurus saja dia sudah merobohkan dua orang pengawal itu.

"Piauw-moi, larilah......!"

Cun Giok berteriak lagi ketika berkelebatnya banyak bayangan para pengawal.

Akan tetapi Siang Ni sudah kesetanan.

Bahkan kini tangan kirinya mengambil sebatang pedang yang tadi dipergunakan Panglima Kong Tek Kok dan menghancur-lumatkan bekas tubuh panglima itu dengan sepasang pedang!

Para pengawal berdatangan dan melihat bahwa onggokan daging itu adalah bekas tubuh Panglima Kong Tek Kok, mereka menjadi marah sekali lalu menyerang gadis itu.

Melihat bahwa gadis itu adalah Lu Siang Ni, murid panglima itu sendiri, para pengawal memandang dengan terheran-heran.

Akan tetapi mereka tidak sempat bertanya, karena sudah terbukti bahwa gadis itu membunuh komandan mereka, para pengawal langsung saja mengeroyok.

Sebagian lagi mengeroyok Cun Giok.

"He-he-he-hi-hik, ha-ha-ha!"

Siang Ni tertawa.

Suara tawanya terdengar mengerikan, bergema di tanah kuburan itu, bukan seperti suara manusia lagi.

Setelah mengeluarkan suara tawa mengerikan itu, Siang Ni mengamuk dengan sepasang pedangnya.

Bukan main hebatnya pertempuran itu yang terbagi menjadi dua rombongan.

Terdengar suara senjata beradu mengeluarkan suara berdentang, diselingi teriakan dan pekik kesakitan.

Darah mengucur deras setiap kali pedang Siang Ni atau pedang Cun Giok merobohkan seorang pengeroyok.

Akan tetapi pasukan pengawal itu berdatangan lagi dan kini jumlah mereka menjadi banyak, sampai puluhan orang.

Sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan pengawal-pengawal istana yang mendengar kabar bahwa pembunuh Pangeran Lu bersembunyi di tanah kuburan.

"Piauw-moi, mari kita lari!"

Berulang kali Cun Giok mengajak Siang Ni untuk melarikan diri.

Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak peduli.

Tubuh Siang Ni yang langsing itu sudah penuh Iuka yang agaknya tidak dirasakan atau dipedulikannya.

Perajurit dan perwira pengeroyok yang roboh oleh sepasang pedangnya bukan main banyaknya.

Mayat mereka berserakan malang melintang dan darah mengalir dan tergenang, mengerikan.

Cun Giok juga sudah menderita beberapa luka ringan akan tetapi yang mengeluarkan banyak darah.

Tubuhnya mulai terasa lemas.

Dia melihat betapa keadaan Siang Ni jauh lebih parah daripada dirinya, akan tetapi gadis itu masih terus mengamuk dan gerakannya tidak pernah mengendur.

Ia bagaikan seekor harimau terluka dikeroyok banyak anjing dan biarpun harimau sudah menderita banyak luka gigitan anjing-anjing itu, setiap kali ia bergerak pasti ada seekor anjing lagi yang roboh dan mati!

Cun Giok merasa khawatir sekali, akan tetapi dia tidak sempat membantu karena dia sendiri juga sibuk membela diri terhadap pengeroyokan banyak perajurit.

Namun kini dia membagi perhatiannya, mengerling arah gadis yang masih mengamuk itu.

Tiba-tiba sebatang tombak yang ditusukkan dari belakang tepat mengenai pundak kanan gadis itu.

Terdengar suara tulang patah dan pedang di tangan kanan Siang Ni terlepas, lengan kanannya tergantung lumpuh!

"Siang Ni......!"

Cun Giok berteriak, akan tetapi Siang Ni bahkan tertawa nyaring, tubuhnya terhuyung-huyung namun ia masih memutar pedang kirinya menangkis senjata-senjata lawan yang datang menyerangnya bagaikan hujan.

"Jangan bunuh gadis liar itu! Tangkap ia hidup-hidup!"

Terdengar seruan komandan pasukan dan Siang Ni dikepung ketat.

Para perajurit kini hendak mencari kesempatan baik agar dapat meringkus gadis yang akan ditangkap hidup-hidup itu.

Siang Ni masih mengamuk dan tiba-tiba ia mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan.

Pekiknya seolah memberinya tenaga baru.

Pedang di tangan kirinya membentuk gulungan sinar emas dan menyambar-nyambar sehingga dua orang di sebelah kirinya roboh mandi darah.

Dengan gerakan liar Siang Ni terhuyung, terkadang menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan.

Akhirnya ia tiba di depan makam ibunya.

Kiranya gadis itu memang sambil melawan dengan tenaga terakhir menghampiri makam itu.

"Tangkap hidup-hidup! Terlalu enak kalau iblis betina itu dibunuh begitu saja!"

Teriak pula komandan pasukan yang marah sekali, bukan saja melihat panglimanya dibunuh dan mayatnya dicincang oleh Siang Ni, akan tetapi juga melihat betapa banyaknya anak buahnya tewas di tangan gadis yang amat lihai itu.

Setelah tiba di depan makan ibunya, Siang Ni yang tubuhnya lemas sekali karena menderita banyak luka dan kehabisan banyak darah, berseru lantang.

"Ibuuuu......, tungguuuu anakmu, Ibuuu......! Aku menyusulmu......!"

Tiba-tiba sinar emas berkelebat ke arah lehernya dan ia pun roboh dan tewas mandi darah dengan leher hampir putus terbabat pedang di tangan kirinya sendiri.

Pedang Kim-kong-kiam!

Melihat ini, Cun Giok mengeluarkan pekik melengking seperti seekor naga terluka.

Pedangnya menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya sehingga empat orang perajurit Mongol terjungkal roboh mandi darah.

Tubuhnya lalu berkelebat ke arah makam dan empat orang perajurit lain yang berani mencoba menghadangnya, roboh disambar kilatan pedangnya.

Di lain saat pemuda itu telah menyambar pedang Kim-kong-kiam yang masih dipegang tangan kiri jenazah Siang Ni, menyimpan pedang pusaka yang dulu menjadi milik gurunya, dan dia berjongkok, dengan lembut menggunakan tangannya untuk mengusap muka Siang Ni sehingga sepasang mata yang tadinya terbuka itu dapat terpejam.

"Siang Ni...... ahh, Siang Ni......!"

Cun Giok mengeluh dengan perasaan hati seperti tertusuk. Rasa sedih, iba, dan penasaran menyesak di dadanya. Tangan kirinya membelai wajah yang cantik jelita, pucat, basah oleh keringat dan darah itu.

"Siang Ni...... Piauw-moi (Adik Misan Perempuan)......"

Cun Giok mengeluh.

Pada saat itu, dia merasakan adanya sambaran senjata dari belakang, kanan dan kiri.

Cepat dia melompat dan membalik, pedangnya berkelebat dan tiga orang perajurit Mongol roboh mandi darah diantar teriakan kematian mereka.

Cun Giok mengamuk, akan tetapi melihat betapa semakin banyak perajurit Mongol berdatangan, dia maklum bahwa kalau dia terus melawan, akhirnya dia tidak akan dapat bertahan.

Dia lalu memutar pedangnya dan menerobos keluar dari kepungan para perajurit.

Untuk dapat lolos dia harus merobohkan belasan orang perajurit lagi, akan tetapi dia sendiri pun menderita luka-luka, walaupun tidak ada yang parah.

Akhirnya, dengan mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan kelihaian ilmu pedangnya, Cun Giok berhasil lolos dari kepungan dan menghilang di antara banyak bong-pai (batu nisan) tanah kuburan itu, ditelan kegelapan malam!

Pada keesokan harinya, kota raja menjadi geger dengan terjadinya peristiwa hebat di tanah kuburan semalam.

Duapuluh orang lebih perajurit Mongol yang lihai tewas dalam pertempuran itu.

Para pejabat tinggi menjadi bingung dan ketakutan.

Kaisar Kubilai Khan yang mendengar laporan para perwira tentang peristiwa itu lalu mengumumkan bahwa Panglima Besar Kong Tek Kok bersama muridnya, Lu Siang Ni puteri Pangeran Lu Kok Kong yang tewas terbunuh pemberontak, kini tewas pula dalam tangan penjahat ketika mereka berdua bertugas menangkap penjahat pemberontak!

Tentu saja pengumuman kaisar ini dilakukan untuk melindungi kehormatan Keluarga Istana, agar rahasia memalukan antara Panglima Besar Kong Tek Kok dan keluarga Pangeran Lu tidak sampai terdengar orang luar.

Juga bukan hanya jenazah Jenderal Kong Tek Kok yang dikuburkan dengan upacara kehormatan, juga jenazah Lu Siang Ni dikubur di samping makam Pangeran Lu Kok Kong dan Pouw Sui Hong, ayah dan ibu gadis itu.

Para perwira dan perajurit yang ikut bertempur di tanah kuburan malam itu, yang lolos dari maut, diancam agar jangan membicarakan peristiwa pembunuhan atas diri Panglima Besar Kong Tek Kok oleh Siang Ni, muridnya sendiri yang juga puteri Pangeran Lu Kok Kong.

Pada keesokan harinya, setelah ayam mulai berkeruyuk sahut-sahutan dan burung-burung berceloteh dengan kicau gembira menyambut sinar matahari fajar yang kemerahan, seorang pemuda berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai yang mengalir di sebelah selatan kota raja Peking.

Pemuda itu adalah Cun Giok.

Dia tampak amat menyedihkan.

Rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut kumal ternoda darah kering dan keringat bercampur debu.

Tubuhnya lemas lunglai, sehingga langkahnya lambat, satu-satu seolah-olah dia hampir tidak kuat lagi melangkah.

Bukan kelelahan semata yang membuat dia demikian lemah lunglai, melainkan terutama sekali karena badannya kehilangan banyak darah dan batinnya tertekan oleh kesedihan yang mendalam.

Wajahnya yang tampan gagah itu kini agak pucat, dan dari kedua matanya yang sayu layu itu kadang-kadang mengalir air mata yang menetes ke atas kedua pipinya.

"Siang Ni......!"

Nama ini berulang-ulang disebutnya dalam keluhannya.

Terbayang wajah gadis adik misannya yang cantik jelita itu, sepasang matanya yang bersinar-sinar bagaikan bintang, senyumnya yang manis, sikapnya yang ugal-ugalan, kekerasan hati dan kegagahannya, yang sama sekali tidak gentar menghadapi pengeroyokan puluhan orang perajurit Mongol, dan yang memilih bunuh diri daripada tertangkap hidup-hidup dan mengalami penghinaan.

"Siang Ni......!"

Dia mengeluh lemah dan tiba-tiba tubuhnya terkulai di tepi sungai.

Sejenak dia membiarkan dirinya rebah telentang di atas tanah berumput dan dia merasakan kesejukan embun di rumput yang seolah menembus kulitnya.

Dia membiarkan lamunannya melayang-layang membayangkan segala peristiwa yang dia alami, terutama sekali yang mengenai diri Siang Ni.

Lu Siang Ni adalah puteri Pangeran Lu Kok Kong yang menjadi suami bibinya, yaitu Pouw Sui Hong.

Dan dialah yang menjadi orang pertama yang menghancurkan kehidupan Siang Ni!

Dia telah salah sangka, mengira bahwa bibinya, Pouw Sui Hong dipaksa menjadi selir Pangeran Lu sehingga dia membunuh pangeran itu yang dianggap musuh keluarga Pouw!

Tidak tahunya bahwa bibinya itu, Pouw Sui Hong, hidup sebagai selir terkasih dan ia mencinta suaminya, apalagi karena dari pernikahan itu ia telah melahirkan seorang anak perempuan, yaitu Lu Siang Ni!

Dan dia telah membunuh Pangeran Lu, ayah kandung Siang Ni!

Dia sama sekali salah sangka.

Tadinya dia membunuh Pangeran Lu untuk membalaskan sakit hati bibinya, Pouw Sui Hong, agar bibinya menjadi puas, terhibur dan bahagia.

Akan tetapi, ternyata bahwa dia malah mendatangkan malapetaka bagi bibinya sendiri.

Dia membunuh Pangeran Lu Kok Kong yang sama sekali tidak bersalah sehingga bibinya, Pouw Sui Hong, jatuh sakit dan mati karena terguncang hatinya.

Dia yang membuat Siang Ni menjadi yatim piatu!

Dia bersama Siang Ni memang telah berhasil membalas dendam kepada Panglima Besar Kong Tek Kok, akan tetapi Siang Ni juga menjadi korban dan tewas oleh pengeroyokan pasukan Mongol.

"Siang Ni......!"

Kembali Cun Giok mengeluh sedih.

Keluarganya, keluarga Pouw, telah punah, terbasmi habis.

Tinggal dia satu-satunya keturunan keluarga Pouw, bahkan dia yang menjadi keturunan tunggal itu selama ini menggunakan she (marga) Suma, yaitu marga mendiang gurunya, Suma Tiang Bun, yang juga menjadi ayah angkatnya.

Tidak, mulai sekarang dia harus menggunakan marga nenek moyangnya, yaitu she Pouw, agar keturunan Pouw tidak musnah.

Kini dia bersama Pouw Cun Giok, bukan lagi Suma Cun Giok.

Terkenang akan keluarga ayahnya, yaitu keluarga Pouw, hati pemuda itu terasa semakin pedih.

Semenjak ratusan tahun keluarga Pouw terkenal sebagai sebuah keluarga besar, keturunan bangsawan tinggi Kerajaan Sung (960-1279), terkenal sebagai pahlawan-pahlawan bangsa.

Dahulu seluruh rakyat Kerajaan Sung mengenal dua orang bersaudara Pouw yang dihormati dan dikagumi.

Kedua orang kakek canggahnya itu adalah Pouw Goan Keng yang menjabat Menteri Kesusastraan dan adiknya Pouw Cong Keng yang dulu dengan gagahnya memimpin pasukan melawan musuh, yaitu bangsa Kin.

Cun Giok melanjutkan kenangannya yang semakin mengalir.

Dari mendiang gurunya dia mendengar akan riwayat nenek moyangnya.

Kakeknya, Pouw Seng Ki, mempunyai dua orang anak, yaitu ayahnya, Pouw Keng In dan bibinya, Pouw Sui Hong.

Akan tetapi kakek dan neneknya meninggal dunia karena penyakit ketika ayah dan bibinya masih kecil sehingga ayah dan anak bibinya itu ikut kakeknya yang bernama Pouw Bun yang pernah menjadi pejabat sebelum Kerajaan Sung jatuh ke tangan bangsa Mongol.

Ayahnya Pouw Keng In telah menikah dengan ibunya, Tan Bi Lan, yang telah mengandung delapan bulan, ketika malapetaka itu menimpa keluarga Pouw.

Ayahnya, Pouw Keng In yang berjiwa patriot penasaran sekali melihat bangsa Mongol menjajah tanah airnya.

Dia sering menulis sajak yang isinya mengutuk penjajah bangsa Mongol.

Seorang bekas pelayan bernama Can Sui dikeluarkan oleh keluarga Pouw karena hendak kurang ajar terhadap Pouw Sui Hong.

Can Sui lalu mencuri sajak tulisan Pouw Keng In dan menyerahkannya kepada Pembesar Mongol.

Maka, malapetaka pun menimpa keluarga Pouw.

Kakek dan Nenek Pouw Bun dibunuh.

Pouw Keng In mengajak isterinya yang mengandung delapan bulan dan adiknya, Pouw Sui Hong yang berusia delapanbelas tahun, melarikan diri.

Mereka bertiga dikejar pasukan yang dipimpin Jenderal Kong Tek Kok.

Akhirnya, Pouw Keng In tewas terkena panah, panglima besar itu, dan Pouw Sui Hong tertawan!

Ibunya terluka pundaknya akan tetapi ia dapat ditolong Suma Tiang Bun.

"Kasihan Ibuku". kasihan Ayah, Kong-kong dan Nenek, kasihan sekali Bibi Pouw Sui Hong! Kasihan sekali Adik Siang Ni......"

Cun Giok mengeluh.

Kenangannya semakin kabur.

Dahulu, gurunya, Suma Tiang Bun yang menceritakan itu semua.

Kemudian ibunya melahirkan dia dan ibunya meninggal dunia setelah melahirkan.

Dia diangkat anak oleh gurunya, diberi she Suma.

Setelah dia dewasa dan hendak membalas dendam, ternyata dia salah sangka dan membunuh Pangeran Lu yang mengambil Bibi Pouw Sui Hong sebagai selir kesembilan!

Karena pembunuhan itu, bibinya meninggal dunia karena duka!

Kemudian, Siang Ni yang nekat juga tewas secara menyedihkan.

Dia merasa, seolah dia yang menghancurkan keluarga bibinya!

Tiba-tiba kenangan yang makin kabur itu lenyap, terganti awan hitam, gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi.

Cun Giok pingsan menggeletak telentang di tepi sungai.

Cun Giok mengerang lirih.

Dia merasa kepalanya dibasahi orang dengan kain basah dingin.

Rasa dingin itu mengurangi hawa panas yang amat mengganggunya dan membuatnya pening.

Lalu ada jari tangan menotok jalan darah di kedua pundaknya, lalu mengurut ulu hatinya.

Hidungnya mencium keharuman seribu bunga, lembut dan sedap.

Jari-jari tangan itu masih mengurut dan menekan tubuhnya.

Dia merasa betapa jari-jari tangan itu menekan dan mengurut jalan darah dengan tepat sekali.

Pasti seorang ahli dan orang itu sedang berusaha untuk melancarkan jalan darahnya.

Mimpikah dia?

Cun Giok tidak mau membuka kedua matanya, khawatir kalau mimpinya hilang.

Dia teringat bahwa dia tadi rebah di atas tanah berumput, di tepi sungai.

Tekanan dan urutan jari tangan itu terasa lembut dan menyenangkan, juga bau harum itu membuat dia merasa nyaman.

Sayang kalau dia membuka mata lalu mimpi ini hilang!

Tiba-tiba terdengar langkah kaki berdebum membuat dia merasa tergetar.

Seolah ada seekor gajah di dekatnya!

Cun Giok membuka matanya dan dia merasa heran sekali melihat dia rebah di dalam sebuah kamar yang besar, di atas pembaringan yang indah dan lunak.

Kamar itu mewah sekali dan ketika pandang matanya bertemu dengan orang yang duduk di tepi pembaringan itu, dia terbelalak dan menggosok-gosok kedua matanya.

Setelah membuka matanya dan melihat gadis yang duduk di tepi pembaringan itu, dia merasa bahwa sekarang baru dia mimpi benar-benar!

Bukan saja kamar mewah itu yang membuatnya terheran, akan tetapi terutama sekali melihat gadis itu, dia yakin bahwa dia sedang mimpi.

Seorang gadis yang berpakaian indah dari sutera merah muda, dihias garis-garis dan bunga-bunga berwarna kuning dan hijau.

Terutama wajahnya!

Tentu seorang bidadari!

Wajah itu dalam pandangannya demikian cantik jelita sehingga lebih pantas kalau disebut bidadari.

Usianya sekitar delapanbelas tahun.

Sepasang matanya demikian indah, dengan kedua ujung agak menjungat ke atas, dengan bulu mata lentik dan dipayungi sepasang alis yang hitam kecil panjang, hidungnya mancung dan mulutnya itu!

Entah mana yang lebih indah menggairahkan antara mulut dan mata itu.

Tubuh itu pun dalam penilaian Cun Giok amat sempurna, tubuh yang menjelang dewasa bagaikan buah sedang ranum atau bunga mulai mekar, dengan lekuk lengkung sempurna sehingga pakaian dari sutera yang agak ketat itu tidak dapat menyembunyikannya dengan baik.

Demikian terpesona Cun Giok memandang gadis itu sehingga dia tidak melihat yang lain lagi.

Tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek.

"Siapa suruh orang asing masuk ke sini tanpa ijin? Dia tentu mempunyai niat jahat!"

Kemudian menyusul angin pukulan dahsyat menyambar ke arah kepala Cun Giok! "Wuuuttt......brakkk!"

Cun Giok mengelak sambil melompat turun ke samping dan sebuah tangan yang besar menyambar lewat kepalanya dan mengenai pembaringan yang seketika pecah berantakan terkena pukulan tangan itu!

Cun Giok dapat menghindarkan diri dari pukulan maut itu, akan tetapi dia berdiri di lantai dengan terhuyung karena gerakan mengelak tadi membuat kepalanya pening dan tubuhnya terasa tidak ada tenaganya dan lemas.

Ketika dia memandang penyerangnya, ternyata yang menyerangnya adalah seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa, wajahnya tampan gagah berkulit merah, usianya sekitar limapuluh lima tahun.

Pakaiannya mewah seperti seorang hartawan dan muka yang tampan itu tampak keren dan gagah dengan adanya kumis dan jenggot hitam yang pendek dan terawat.

Melihat Cun Giok dapat menghindarkan pukulannya tadi, kakek itu agaknya siap untuk mengirim serangan susulan.

Biarpun Cun Giok merasa kepalanya pening dan tubuhnya gemetar, namun dia segera memasang kuda-kuda dan siap menghadapi serangan lawan yang dia tahu memiliki tenaga yang amat kuat.

"Jangan melawan!"

Tiba-tiba gadis berpakaian merah itu berkelebat mendekati Cun Giok dan secepat kilat tangannya berkelebat dan Cun Giok terkulai lemas karena jalan darah Thian-hu-hiat di tubuhnya telah terkena totokan yang ampuh.

Sebelum tubuhnya yang terkulai itu roboh, tangan gadis itu, yang kecil lembut namun kuat bukan main, telah menangkap pangkal lengan Cun Giok sehingga dia tidak sampai jatuh.

Gadis itu lalu menarik dan mendudukkan Cun Giok ke atas sebuah kursi.

Cun Giok terduduk dan hanya dapat memandang kepada gadis jelita dan laki-laki gagah perkasa itu.

Kini gadis itu menghadang di antara Cun Giok dan laki-laki itu.

"Ayah tentu tidak akan melanggar hakku! Aku yang membawanya ke sini, maka aku pula yang bertanggung jawab atas dirinya. Tidak seorang pun, termasuk Ayah boleh melanggar hakku!"

"Ai Yin, engkau telah bertindak lancang sekali!"

Laki-laki itu berkata, suaranya besar dan nadanya menunjukkan bahwa laki-laki tinggi besar itu berwatak keras.

"Apakah engkau mengenal orang ini? Siapa dia dan mengapa engkau membawanya ke sini tanpa memberitahu kepadaku?"

"Ayah, aku melihat dia menggeletak pingsan di tepi sungai. Dia menderita banyak luka senjata tajam, walaupun tidak ada yang parah namun dia kehilangan banyak darah. Kalau tidak kutolong, dia pasti akan terus pingsan dan tidak akan bangun kembali. Maka, aku membawanya ke sini dan ketika aku datang, ayah tidak berada di rumah. Salahkah perbuatanku itu?"

"Hemmm,"

Kakek itu mengeluarkan suara menggereng seperti seekor singa dan sepasang matanya yang lebar itu bersinar tajam ketika dia memandang wajah Cun Giok yang masih duduk kursi dan tidak mampu bergerak karena tadi ditotok gadis itu.

"Akan tetapi aku harus mengetahui dulu macam apa orang ini, pantas mendapat pertolonganmu atau tidak, aku harus mengujinya."

"Silakan, Ayah. Aku pun tidak akan sudi menolong orang yang tidak memenuhi syarat kita."

Kakek itu mengeluarkan sebuah guci keramik kecil dari saku jubahnya, membuka tutup guci dan mengeluarkan tiga butir pel merah sebesar kuku jari kelingking.

"Nih, untuk memulihkan darahnya,"

Dia menyerahkan tiga butir pel itu kepada puterinya.

"Ah, bukankah obat penambah darah dan penguat tubuh ini merupakan obat langka simpanan Ayah untuk kesehatan Ayah sendiri?"

Gadis itu membantah.

"Berikanlah padanya, aku masih mempunyai sisanya yang cukup. Tanpa itu, akan terlalu lama tenaganya pulih dan kalau dia selemah ini, bagaimana aku dapat mengujinya?"

Kakek itu lalu melangkah keluar kamar.

Langkahnya berdebum seperti langkah gajah yang marah!

Gadis itu menghampiri Cun Giok dan membebaskan totokannya sehingga pemuda itu dapat bergerak kembali.

Cun Giok memandang gadis itu dengan heran.

"Maaf, Nona. Engkau siapakah dan mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku?"

Gadis itu mengerutkan alisnya.

"Nanti saja kita bicara. Sekarang engkau mengasolah dulu dan tidurlah untuk memulihkan kesehatanmu."

Cun Giok merasa heran.

Kini dia baru mengerti bahwa ketika dia rebah telentang di tepi sungai itu, dia jatuh pingsan sehingga ketika dia diketemukan gadis ini dan dibawa pulang, dia sama sekali tidak sadar.

Gadis itu telah menolongnya, bukan hanya menolong ketika dia tergolek pingsan di tepi sungai, malah tadi membela dan melindunginya dari ancaman ayah gadis itu yang agaknya marah melihat dia berada di situ.

Maka, mendengar gadis itu minta dia mengaso dengan nada suara memerintah, dia pun tidak membantah dan segera bangkit, menghampiri pembaringan dan berdiri bingung melihat pembaringan itu telah hancur terkena pukulan kakek tadi.

"Sana, engkau boleh tidur di pembaringanku!"

Kata gadis itu sambil menuding ke arah sudut kamar yang luas itu.

Cun Giok memandang dan melihat sebuah tempat tidur yang mewah dan indah di sudut.

Tentu saja dia meragu untuk tidur di pembaringan gadis itu!

"Biarlah aku tidur di lantai saja, Nona.

Aku tidak berani tidur di pembaringanmu."

"Hemm, mengapa tidak berani? Aku yang menyuruhmu tidur di pembaringan dan aku akan menemanimu!"

Cun Giok membelalakkan matanya ketika dia memandang gadis itu.

Tidak salahkah pendengarannya?

Gadis yang usianya paling banyak delapanbelas tahun ini akan menemaninya tidur sepembaringan!

Tentu ia main-main atau mengejek.

Akan tetapi ketika dia memandang wajahnya, gadis itu bersungguh-sungguh dan sepasang matanya memandang kepadanya dengan tajam penuh selidik.

"Tidak, Nona!"

Katanya tegas.

"Aku tidak mau tidur di sana, aku tidur di lantai atau di luar kamar ini saja!"

"Hemm, apakah engkau menganggap aku kurang cantik dan tidak menarik sehingga engkau tidak mau tidur sepembaringan denganku?"

Tanya gadis itu, akan tetapi biarpun pertanyaannya itu seolah mengandung ajakan, namun sikapnya biasa saja, bahkan suaranya dingin, sama sekali bukan wajah seorang gadis yang genit atau mengandung bujuk rayu.

"Bukan begitu, Nona. Akan tetapi bagaimana aku berani bersikap tidak sopan dan tidak pantas terhadap seorang gadis yang telah menolongku? Bahkan andaikata Nona tidak telah begitu baik menolong aku pun, aku tidak berani kurang ajar tinggal sekamar dengan seorang gadis, apalagi tinggal dan tidur sepembaringan."

Cun Giok yang tiba-tiba merasa lemas dan lelah telah berdiri dan bicara agak lama, lalu duduk di atas lantai, kemudian merebahkan diri di lantai!

"Ah, maaf, kepalaku pening dan tubuhku lemas, biar aku rebah di sini saja."

"Hemm, apa kata orang kalau mendengar aku membiarkan tamuku tidur di lantai?"

Gadis itu lalu berkata dengan suara memerintah.

"Hayo bangkitlah dan pindahlah tidur di pembaringan itu!"

Ia menuding ke arah pembaringan yang berada di sudut kamar. Cun Giok berkeras menolak.

"Tidak, Nona. Aku tidak berani tidur di pembaringanmu!"

"Tolol kau! Kaukira kami hanya memiliki sebuah kamar tidur ini? Dan apa kaukira aku sudi tidur dengan seorang laki-laki? Hayo engkau tidur di sana, aku masih memiliki banyak kamar yang lebih bagus dari kamar ini!"

Mendengar ini, Cun Giok bangkit duduk dan memandang wajah yang tampak semakin menarik karena kedua pipi itu kemerahan, agaknya ia marah.

"Benarkah itu, nona?"

"Aku bukan pembohong!"

Bentak gadis itu.

Cun Giok bangkit berdiri lalu melangkah perlahan ke arah pembaringan yang lebih besar dan lebih mewah daripada pembaringan di mana dia tidur, yang kini telah patah-patah.

Dia duduk di tepi pembaringan itu, merasa sungkan sekali.

Seorang pelayan wanita yang masih muda dan berwajah manis mengetuk daun pintu kamar yang terbuka.

Setelah gadis itu menoleh dan mengangguk, ia masuk membawa sebuah baki (talam) terisi sebuah mangkok, sebuah cawan dan poci teh.

Dengan cermat dan lembut ia menata mangkok, cawan dan poci itu ke atas meja.

Setelah selesai menata semua itu, ia keluar lagi sambil memberi hormat dengan membungkuk kepada gadis itu.

Gadis itu mengambil mangkok yang terisi cairan berwarna coklat, yaitu air rebusan obat dan membawanya kepada Cun Giok.

"Duduklah dan minum obat ini sampai habis."

Katanya.

Cun Giok kini dapat menduga bahwa gadis ini ingin menolongnya dan wataknya keras dan galak.

Dia tidak bertanya atau membantah, lalu bangkit duduk dan menerima mangkok itu lalu diminumnya air obat itu sampai habis.

"Sekarang telan tiga butir pel ini. Jangan memandang remeh pel ini. Ini adalah obat istimewa dari Ayah yang diberikan untukmu. Telanlah, kuambilkan air teh."

Ia membawa mangkok kosong ke meja dan menuangkan air teh dari poci ke dalam cawan lalu membawanya kepada Cun Giok.

Dengan taat Cun Giok menelan tiga butir pel merah itu.

Bau amis menyengat hidungnya dan tiga butir pel itu setelah memasuki lambungnya, seolah berubah menjadi hawa panas yang membuat jantungnya berdenyut keras dan debar jantungnya terasa sampai ke jari kaki dan ke ubun-ubun kepala.

Dia menjadi pening dan dia lalu merebahkan diri lagi, telentang di atas pembaringan, memejamkan mata dengan hati pasrah.

Dia yakin bahwa gadis itu tidak meracuninya, karena kalau hanya untuk dibunuh, mengapa susah-susah membawanya ke sini dan merawatnya?

Akhirnya dia tertidur pulas tanpa disadarinya, seperti orang terbius!

Dan memang obat yang diminumkan tadi mengandung pembius agar Cun Giok dapat beristirahat dengan baik.

Pada keesokan harinya, baru Cun Giok terbangun dari tidurnya yang amat nyenyak sejak sore kemarin.

Begitu terbangun, Cun Giok teringat akan semua yang terjadi padanya dan dia bangkit duduk.

Tubuhnya terasa segar dan sehat dan luka-luka di lengan, pundak, dan pahanya telah mengering.

Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main!

Daun pintu diketuk dari luar, lalu pelayan wanita muda yang kemarin datang membawakan obat dan air teh, mendorong daun pintu yang tidak terpalang itu dari luar dan memasuki kamar.

Ia membawa seperangkat pakaian bersih dan meletakkannya di atas meja.

"Selamat pagi, Kongcu. Kongcu dipersilakan mandi di kamar mandi sebelah kamar ini, setelah itu Siocia (Nona) mengajak Kongcu (Tuan Muda) makan pagi bersama."

Setelah berkata demikian, pelayan itu membungkuk dan melangkah ke pintu.

"Nanti dulu!"

Cun Giok berseru dan cepat melompat dan berdiri menghadang di depan pelayan itu.

"Katakan dulu padaku, siapakah nama Nonamu itu?"

Pelayan itu memandang kepada Cun Giok dengan alis berkerut lalu ia menggeleng kepalanya.

"Maaf, Kongcu. Saya tidak berani menjawab."

"Hemm, mengapa takut? Apa sih salahnya kalau engkau memberitahu padaku siapa nama Nonamu? Sebagai tamu, sudah sepatutnya kalau aku mengetahui nama nona rumah yang telah berbuat baik kepadaku. Katakanlah dan jangan takut."

"Nona akan marah kalau saya bicara, Kongcu."

"Biar aku yang bertanggung jawab kalau ia marah!"

Kata Cun Giok penasaran.

Memberitahu nama majikan bukan dosa, mengapa pelayan ini begitu ketakutan?

Kembali pelayan itu mengamati wajah Cun Giok.

Agaknya ia percaya kepada pemuda itu, maka dengan suara lirih ia berkata.

"Siocia bernama Cu Ai Yin, berjuluk Pek-hwa Sianli (Bidadari Bunga Putih). Sudahlah, Kongcu, biarkan saya pergi, harap Kongcu segera mandi dan bertukar pakaian."

"Nanti dulu, engkau belum menceritakan, siapa ayah dari Nona Cu Ai Yin itu dan apa pekerjaannya. Hayo katakan, aku hanya ingin tahu siapa penolongku, tidak mempunyai niat buruk,"

Cun Giok membujuk sambil tersenyum ramah.

"Lo-ya (Tuan Tua) bernama Cu Liong, julukannya Bu-tek Sin-liong (Naga Sakti Tanpa Tanding) dan beliau adalah majikan yang memiliki Bukit Merak ini. Sudah, Kongcu, saya takut mendapat marah."

Pelayan itu lalu setengah berlari meninggalkan kamar itu.

Cun Giok tersenyum.

Puas bahwa dia telah mengetahui nama tuan rumah dan puterinya yang jelita.

Dia lalu pergi ke kamar mandi di sebelah kamar itu, mandi sehingga tubuhnya terasa semakin segar akan tetapi perutnya semakin lapar, dan berganti pakaian yang dibawa pelayan tadi.

Pakaian dari sutera biru muda yang mahal dan masih baru!

Ketika dia kembali ke kamarnya, dia melihat Cu Ai Yin sudah berada dalam kamarnya.

Cantik jelita dan manis, pakaiannya sutera merah muda dan rambutnya yang digelung rapi ke atas itu dihias setangkai bunga berwarna putih.

Pantas ia disebut Pek-hwa Sianli karena ketika berdiri di situ dengan pakaian baru merah muda dan rambutnya dihias bunga putih, ia memang tampak seperti seorang bidadari berbunga putih!

Sebaliknya, gadis itu pun memandang kepada Cun Giok dengan sinar mata tajam penuh kagum.

Cun Giok memang tampak tampan dan gagah setelah berganti pakaian dan keadaannya tidak kusut seperti kemarin.

"Selamat pagi, Nona Cu Ai Yin. Sungguh keadaanmu tepat sekali dengan julukan Pek-hwa Sianli!"

Kata Cun Giok sambil tersenyum.

"Dan lagi-lagi terima kasih banyak atas kebaikan budimu, Cu-siocia!"

"Engkau telah mengetahui nama dan julukanku?"

Ai Yin bertanya heran.

"Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal nama besar Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, puteri dari Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang gagah perkasa, majikan Bukit Merak? Sungguh aku merasa kagum sekali!"

Tiba-tiba Ai Yin mengerutkan alisnya dan wajahnya yang tadinya berseri itu tiba-tiba menjadi merah, sinar matanya menunjukkan bahwa ia marah.

Ia bertepuk tangan tiga kali dan dari luar pintu kamar masuklah pelayan wanita yang tadi melayani Cun Giok.

Begitu masuk, pelayan itu berdiri di depan Ai Yin dan membungkuk dengan hormat.

"Saya menunggu perintah Siocia."

"Siauw-ming, apakah engkau menyadari dosamu?"

Ai Yin bertanya dengan suara keren. Gadis pelayan itu melirik sejenak kepada Cun Giok lalu menjawab sambil menundukkan kepalanya.

"Saya mengaku bersalah melakukan pelanggaran dan siap menerima hukuman dengan ikhlas, Siocia."

"Sekarang juga masuk ke Kamar Penyesalan Dosa dan tinggal di sana sampai besok pagi baru boleh keluar!"

Bentak Ai Yin. Pelayan itu mengangguk dan berkata lirih.

"Baik, saya menaati perintah, Siocia."

Dengan kepala masih menunduk, pelayan itu meninggalkan kamar. Cun Giok merasa penasaran.

"Eh, Nona Cu Ai Yin, mengapa engkau menghukum pelayan itu? Kesalahan apakah yang ia lakukan sehingga engkau menghukumnya selama sehari semalam?"

"Ia telah melanggar larangan yang telah merupakan peraturan yang ia ketahui, yaitu memperkenalkan namaku dan nama ayah kepada orang lain!"

"Tapi, bukankah hal itu wajar saja? Pula, tadinya ia takut untuk memberi tahu, dan aku yang membujuknya sehingga akhirnya ia memberitahu kepadaku siapa namamu dan nama ayahmu. Apakah yang begitu dianggap dosa?"

"Hemm, engkau sendiri belum memperkenalkan nama, bagaimana engkau lancang hendak mengetahui nama kami?"

"Ah, maafkan aku, Nona Cu Ai Yin. Karena selama ini aku berada dalam keadaan lemah dan setengah sadar, aku lupa memperkenalkan diriku. Aku bernama Pouw Cun Giok, yatim piatu sebatang kara, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Nah, aku sudah memperkenalkan diri, jadi sudah sepatutnya kalau aku juga mengenal namamu dan nama Ayahmu. Pelayan tadi memperkenalkan namamu setelah kudesak dan kubujuk. Jadi yang bersalah aku. Mengapa engkau menghukumnya sehari semalam untuk urusan yang kecil itu, Nona? Bukankah itu terlalu kejam?"

"Hemm, kalau semua orang selemah engkau ini, dunia akan menjadi kacau! Apa artinya ada peraturan atau hukum, kalau tidak ditaati oleh yang menerima peraturan dan yang membuat peraturan? Peraturan diadakan untuk ketertiban dan pelanggarnya harus dihukum sesuai dengan peraturan yang ada. Kalau peraturan itu tidak dijalankan oleh kami yang membuat peraturan, mana mungkin para karyawan kami akan menaati peraturan? Tidak taat berarti timbul ketidak-tertiban? Mereka akan memandang rendah peraturan yang ada! Memaafkan pelanggar peraturan sama dengan mendorong mereka untuk mengulang-ulang pelanggaran! Tiada maaf bagi pelanggar, inilah yang menjamin ketertiban!"

Cun Giok bungkam.

Bagaimanapun juga, dia harus mengakui kebenaran ucapan gadis itu.

Para pelayan sudah tahu bahwa mereka tidak boleh memperkenalkan nama majikan mereka, Biarpun hal itu kecil, namun pelanggaran tetap pelanggaran.

Kalau pelanggaran kecil dimaafkan, maka pelanggaran besar pun akan terjadi.

Banyak dia melihat hal itu terjadi di kota-kota besar.

Pemerintah mengadakan larangan-larangan, mengadakan peraturan dan hukum.

Namun para pejabat tidak memegang teguh hukum yang diadakan.

Mereka menerima uang sogokan dan peraturan itu dapat diubah, bahkan diputar-balikkan.

Karena itu, rakyat memandang ringan peraturan karena dengan uang, segala peraturan dapat dilanggar.

Hal ini menimbulkan penyakit parah pada rakyat dan pada para pejabat.

Rakyat mengabaikan peraturan dan suka menyogok atau menyuap para pejabat, dan para pejabat suka menerima uang sogokan dan mengesampingkan peraturan.

Kekacauan pun timbullah!

"Maafkan aku, Nona Cu.

Sekarang aku mengerti dan pendapatmu itu memang benar dan tidak dapat kubantah.

Akan tetapi, sungguh aku merasa menyesal sekali dan bersalah terhadap pelayan itu.

Ia dihukum karena memenuhi permintaanku.

Sesungguhnya, akulah yang bersalah."

"Engkau seorang tamu yang tidak terikat oleh peraturan kami itu, Pouw Cun Giok, dan sebagai tamu juga engkau tidak berhak mencampuri urusan dan peraturan keluarga kami. Nah, mari kita sarapan pagi. Ayahku sudah menanti di ruangan makan."

Cun Giok tidak membantah lagi karena memang dia merasa betapa sejak bangun tidur tadi, perutnya mengamuk, menjerit-jerit minta diisi.

Dia teringat bahwa ketika dia mulai tidak ingat diri adalah di waktu pagi, kemarin dulu.

Lalu tahu-tahu pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah berada di kamar ini.

Dia diberi minum obat dan tertidur sampai keesokan harinya lagi.

Berarti, dia sudah dua hari dua malam tidak makan!

Pantas saja perutnya berkeruyuk terus sejak tadi.

Mereka berjalan menuju ke ruangan makan melalui banyak ruangan dan lorong dalam rumah yang amat besar dan megah itu.

Setelah tiba di ruangan makan, Bu-tek Sin-liong Cu Liong sudah duduk di kepala meja.

Meja itu lonjong, terbuat dari batu marmer yang indah.

Melihat puterinya datang memasuki ruangan yang luas itu bersama Cun Giok, Cu Liong yang gagah perkasa itu bersikap tidak acuh.

Tangannya menyambar sebuah bangku dan sekali tangan itu dia gerakkan, bangku itu melayang ke arah Cun Giok.

"Ini tempat dudukmu!"

Dia berseru dan bangku itu menyambar dengan cepat sekali ke arah Cun Giok.

Pemuda itu maklum bahwa pemberian bangku itu merupakan serangan, mungkin untuk mengujinya.

Maka dia pun mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dan menyambut bangku dengan kedua tangannya.

Terasa betapa kuatnya tenaga dorongan itu sehingga terpaksa dia melangkah ke belakang dua kali untuk mengatur keseimbangan dirinya yang agak goyah.

Dari lontaran bangku itu saja Cun Giok maklum bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat!

Dengan tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu, Cun Giok menghampiri meja, menaruh bangku tadi di dekat meja, berhadapan dengan Bu-tek Sin-liong Cu Liong, lalu dia mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil membungkuk.

"Lo-cianpwe (Orang Tua Terhormat), saya Pouw Cun Giok mohon maaf kalau kehadiran saya ini merepotkan keluarga dan mengganggu ketenteraman Lo-cianpwe, dan banyak terima kasih atas budi kebaikan Lo-cianpwe!"

Tanpa berdiri dari tempat duduknya, Cu Liong merangkap kedua tangan depan dada dan diacungkan ke arah pemuda itu.

"Terimalah salamku kembali!"

Tiba-tiba Cun Giok merasa ada hawa dahsyat menyambar dari gerakan kedua tangan kakek itu. Dia cepat memperkokoh berdirinya dan mengerahkan sin-kang untuk melindungi diri dari serangan jarak jauh itu.

"Wuuuttt...... derrrrr......!"

Cun Giok merasa betapa tubuhnya tergetar hebat, akan tetapi dia dapat bertahan dan hanya terpaksa melangkah mundur dua kali menahan guncangan.

"Terima kasih,"

Katanya dan dia pun duduk di atas bangku tadi dengan sikap tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Cu Ai Yin juga mengambil tempat duduk di sebelah kanan ayahnya.

Pemuda itu berada di sebelah kanannya dan Cun Giok berhadapan dengan Cu Liong yarg memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik.

Ai Yin bertepuk tangan tiga kali dan empat orang gadis pelayan memasuki ruangan makan itu dengan langkah ringan dan lembut, masing-masing membawa baki berisi mangkok-mangkok dan piring-piring berisi masakan yang masih mengepulkan uap dan bau sedap masakan itu membuat Cun Giok merasa semakin lapar.

Agaknya cacing-cacing dalam perut dapat mencium pula bau masakan itu sehingga mereka menari-nari kegirangan ingin segera menyambutnya!

Setelah menata mangkok piring berikut sumpit terbuat dari gading di atas meja, empat orang gadis pelayan itu lalu duduk di empat sudut ruangan itu, mepet dinding dan mereka waspada dan siap untuk melayani majikan-majikan mereka dan tamunya.

Diam-diam Cun Giok bertanya dalam hati di mana adanya ibu gadis itu.

Mengapa tidak hadir dan makan bersama?

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani lancang bertanya.

Agaknya Bu-tek Sin-liong masih belum puas setelah dia menguji Cun Giok dengan lemparan bangku kemudian serangan jarak jauh sambil membalas penghormatan.

Kini dia mengambil guci arak dari meja, menuangkan arak ke dalam sebuah cawan dan menyodorkan cawan penuh arak itu kepada Cun Giok.

Pemuda itu diam-diam terkejut melihat betapa arak dalam cawan itu mengepulkan uap dan tampak gelembung-gelembung seperti dipanggang di atas api dan mendidih!

Maklumlah dia bahwa kakek itu telah mengerahkan tenaga sakti yang amat dahsyat sehingga menimbulkan hawa panas, membuat arak dalam cawan yang dipegangnya itu mendidih!

"Orang muda, terimalah ucapan selamat datang kami dengan secawan arak ini!"

Cun Giok terpaksa menerima secawan arak yang mendidih itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan menjulurkan tangan menerima cawan arak yang amat panas itu. Karena dia mengerahkan tenaga "Im"

Yang mengeluarkan hawa dingin, maka ketika dia menerima cawan arak itu, dia tidak merasakan panas, bahkan perlahan-lahan arak yang mendidih itu menjadi dingin kembali.

Dengan tangan kanan memegang cawan, Cun Giok menggunakan tangan kirinya menuangkan arak dari guci ke dalam dua cawan kosong.

"Silakan Nona dan Lo-cianpwe minum bersama untuk menerima pernyataan terima kasih saya!"

Kata Cun Giok.

Bu-tek Sin-liong dan Cu Ai Yin tersenyum dan mereka bertiga lalu minum arak dari cawan masing-masing.

Diam-diam kakek itu mulai merasa gembira karena kini tidak diragukan lagi bahwa pemuda yang ditolong puterinya itu bukan pemuda biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi dia masih belum merasa puas.

Untuk diterima menjadi orang segolongan, pemuda itu harus benar-benar memenuhi syarat!

Dia lalu mempersilakan pemuda itu mulai makan minum.

Dia dan puterinya memperhatikan dan melihat betapa Cun Giok hanya mengambil masakan setelah kakek dan puterinya itu memakan masakan itu!

Biarpun tidak kentara, namun mereka berdua maklum bahwa pemuda ini cukup berhati-hati dan waspada, sikap yang amat penting dimiliki seorang pendekar.

Melihat sikap Cun Giok, diam-diam Cu Liong merasa suka kepada pemuda itu.

Dia adalah seorang datuk besar yang namanya terkenal di dunia persilatan.

Julukannya saja menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang amat lihai.

Bu-tek Sin-liong (Naga Sakti Tanpa Tanding), sebuah julukan besar yang juga membayangkan kesombongan, seolah-olah di dunia ini tidak ada orang yang mampu menandinginya!

Akan tetapi julukannya itu adalah pemberian orang-orang di dunia kang-ouw yang seolah mengakui kehebatannya.

Bu-tek Sin-liong Cu Liong hidup di puncak Bukit Merak dan dikenal sebagai Majikan yang memiliki bukit yang tanahnya subur itu.

Pemerintah baru Kerajaan Goan (Mongol) mengakui dan memberi hak kepadanya untuk memiliki Bukit Merak.

Hal ini seolah merupakan hadiah dari pemerintah Mongol karena selama ini Bu-tek Sin-liong tidak pernah memusuhi Kerajaan Goan, walaupun dia juga tidak mau menjadi antek penjajah.

Beberapa kali para pejabat tinggi di kota raja menawarkan kedudukan tinggi kepadanya, namun dengan baik-baik ditolaknya.

Dia seorang yang netral, tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan dan perang.

Sikapnya yang tidak memusuhi pemerintah itu membuat para penguasa di Kerajaan Mongol suka kepadanya dan menganggap dia sebagai sahabat.

Banyak pejabat tinggi kota raja, terutama para panglimanya, yang menjadi kenalan baik datuk ini.

Akan tetapi yang hubungannya paling dekat dengannya adalah Panglima Kong Tek Kok, yang menjadi panglima besar.

Hubungan keduanya akrab karena sama-sama memiliki kepandaian silat tinggi.

Ketika Kong Tek Kok melihat betapa dalam bimbingannya, putera tunggalnya yang bernama Kong Sek tidak mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silatnya, bahkan puteranya itu kalah dibandingkan muridnya, yaitu Siang Ni, Panglima Kong Tek Kok membawa puteranya ke Bukit Merak untuk menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada tingkatnya.

Benar saja, dibawah gemblengan Cu Liong, Kong Sek mendapatkan kemajuan pesat.

Hal ini terjadi karena pemuda itu diam-diam jatuh cinta kepada puteri gurunya, yaitu Cu Ai Yin.

Selama empat tahun Kong Sek menjadi murid Bu-tek Sin-liong dan kini usianya sudah duapuluh empat tahun.

Panglima Kong Tek Kok setahun yang lalu melihat puteranya jatuh cinta kepada Cu Ai Yin, membicarakannya dengan Cu Liong.

Dia menyatakan keinginannya untuk menjodohkan puteranya dengar Cu Ai Yin.

Akan tetapi Bu-tek Sin-liong dengan tegas mengatakan bahwa puterinya diberi kebebasan untuk memilih jodohnya sendiri.

Kalau Ai Yin mencinta Kong Sek, dia pun tidak akan menghalangi puterinya menjadi isteri Kong Sek.

Pinangan resmi memang belum dilakukan, akan tetapi baik Kong Sek maupun Cu Ai Yin, sudah mendengar bahwa orang tua mereka hendak menjodohkan mereka.

Ai Yin bersikap tidak acuh, sebaliknya Kong Sek sudah menganggap Sumoi (Adik Seperguruan) itu sebagai calon isterinya!

Bahkan sejak urusan perjodohan itu dibicarakan, setahun yang lalu, kini Kong Sek lebih sering berada di Bukit Merak daripada di kota raja!

Cu Ai Yin amat berbakat dalam ilmu silat.

Karena itu, biarpun Kong Sek enam tahun lebih tua daripadanya, dalam hal ilmu silat, putera panglima itu masih belum mampu menandinginya!

Juga sejak berusia limabelas tahun, Cu Ai Yin memperlihatkan sikap sebagai seorang pendekar wanita yang selain cantik jelita, juga lihai dan seringkali menghajar dan membasmi gerombolan penjahat yang suka mengganggu daerah sekitar Bukit Merak.

Penampilannya yang jelita dan gagah membuat ia memperoleh julukan Pek-hwa Sianli (Bidadari Bunga Putih), sesuai dengan penampilannya yang selalu mengenakan hiasan rambut berupa setangkai bunga putih.

Gadis ini berwatak keras, jujur dan pemberani, bahkan agak liar.

Senjatanya sepasang pedang pendek yang dapat ia pergunakan sebagai Hui-kiam (Pedang Terbang) dengan cara melontarkannya.

Kepandaiannya dalam melontarkan pedang ini amat dahsyat dan ia sudah mewarisi ilmu ini sebaiknya dari ayahnya.

Di samping ilmu silatnya yang lihai, gadis jelita ini pun pandai bernyanyi dan menari, pandai pula memainkan alat musik suling dan yang-kim.

Wajahnya manis sekali, berbentuk bulat telur, mata dan mulutnya menggairahkan, terutama matanya yang amat indah.

Setitik tahi lalat di sudut bibir kanan menambah kejelitaannya.

Demikianlah, gadis itu kebetulan menemukan Pouw Cun Giok yang menggeletak pingsan di tepi sungai dan menolongnya, membawanya pulang.

Kini mereka bertiga, Pouw Cun Giok, Cu Ai Yin dan ayahnya, Cu Liong, duduk makan minum tanpa bicara.

Karena perutnya memang lapar sekali dan masakan-masakan yang dihidangkan itu amat mewah dan serba enak, pemuda itu tidak merasa sungkan lagi dan makan sekenyangnya.

Agaknya sikap ini menyenangkan hati ayah dan puterinya itu, yang biasa bersikap terbuka dan tidak suka pura-pura.

Setelah mereka selesai makan, Bu-tek Sin-liong mengajak puterinya dan tamunya ke ruangan lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang luas dan berada dekat taman bunga.

Mereka duduk di bangku-bangku yang berderet di dekat tembok.

Ruangan yang luas itu tidak mempunyai perabot lain kecuali bangku-bangku dan sebuah rak senjata di mana terdapat delapanbelas senjata untuk berlatih silat.

Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Cun Giok maklum bahwa dia diajak ke dalam sebuah lian-bu-thia yang luas.

"Siapakah namamu?"

Tanya Cu Liong dengan suaranya yang besar dan lantang sambil menatap wajah Cun Giok penuh selidik.

"Nama saya Pouw Cun Giok, Lo-cianpwe (sebutan menghormat pada orang tua yang gagah)."

Kakek tinggi besar bermuka merah gagah itu membelalakkan matanya "Hemm, she (marga) Pouw? Bukan anggauta keluarga Pouw di So-couw, yang dulu amat terkenal itu?"

Pouw Cun Giok maklum bahwa nama besar keluarga Pouw di So-couw kini telah dikenal sebagai musuh Pemerintah Mongol.

Dia tidak perlu mencari perkara dengan membawa nama keluarganya yang telah terbasmi semua, tinggal dia seorang diri!

Maka, tanpa menjawab dia menggeleng kepala perlahan.

"Hemm, aku tahu engkau memiliki kepandaian silat lumayan. Siapa gurumu?"

Cun Giok berpikir.

Gurunya, Suma Tiang Bun terkenal sekali dahulu sebagai seorang patriot sejati yang menentang orang Mongol.

Tidak baik menceritakannya kepada kakek yang sikapnya aneh dan keras, dan belum dikenalnya benar ini.

Sebaliknya, kakek gurunya tidak pernah mencampuri urusan dunia maka lebih aman kalau menyebut namanya.

Dia tidak berbohong karena memang kakek gurunya itu yang merupakan guru kedua baginya.

"Guru saya adalah Pak Kong Lojin yang bertapa di Ta-pie-san, Lo-cianpwe."

Hatinya lega karena nama kakek gurunya yang bertapa dan menjauhi urusan dunia itu agaknya tidak dikenal datuk ini yang sikapnya biasa saja mendengar nama Pak Kong Lojin.

"Kesehatanmu sudah pulih benar sekarang?"

Tanya lagi kakek itu. Pouw Cun Giok memberi hormat.

"Sudah, Lo-cianpwe, dan terima kasih kepada Lo-cianpwe dan Cu-siocia (Nona Cu) yang telah menolong saya."

"Pouw Cun Giok, anakku Cu Ai Yin telah menolongmu dan membawamu ke sini. Kami sekarang ingin melihat apakah engkau ini pantas ditolong dan menjadi tamu kami ataukah tidak. Ai Yin akan menguji kepandaian silatmu. Kalau engkau memang pantas menjadi tamu, aku tidak akan mencela tindakan anakku itu. Akan tetapi kalau ternyata engkau tidak patut menjadi tamu kami, engkau harus pergi sekarang juga dan jangan memperlihatkan mukamu lagi di sini! Ai Yin, mulailah, sesuai perjanjian kita kemarin!"

Gadis itu bangkit dan berkata kepada Cun Giok.

"Saudara Pouw Cun Giok, mari perlihatkan ilmu silatmu kepada kami. Awas, jangan engkau mengalah karena aku akan memukulmu sungguh-sungguh sekuat tenaga. Kalau engkau mengalah, aku dan Ayah akan marah sekali kepadamu karena sikapmu mengalah itu berarti memandang rendah dan menghina kami. Nah, bersiaplah!"

Gadis itu sudah melompat ke tengah ruangan dan berdiri tegak dengan sikap gagah sekali.

Cun Giok maklum bahwa ayah dan anak yang berwatak keras ini ingin mengujinya dan dia pun tahu bahwa bagi orang yang memiliki harga diri tinggi, dipandang rendah orang lain merupakan penghinaan.

Dia menjadi serba salah.

Kalau tidak sungguh-sungguh dia dianggap menghina.

Kalau bersungguh-sungguh, bagaimana dia dapat menggunakan kekerasan terhadap seorang gadis dan gadis itu bahkan telah menolongnya, menyelamatkan nyawanya?

Juga dia merupakan seorang tamu yang tidak diundang, diperlakukan dengan baik, bagaimana dia dapat menggunakan kekuatan untuk mengalahkan nona rumah?

Akan tetapi maklum bahwa Bu-tek Sin-liong adalah seorang datuk aneh dan dia sama sekali tidak boleh bersikap lemah dan mengalah, dia pun bangkit dari bangku, memberi hormat kepada Cu Liong dan berkata.

"Mohon perkenan Lo-cianpwe."

"Lawanlah ia!"

Kata Cu Liong singkat.

Cun Giok melangkah menghampiri Cu Ai Yin.

Kini mereka berdiri berhadapan.

Cun Giok sudah merasakan kehebatan tenaga Cu Liong, maka dia dapat menduga bahwa puteri datuk itu pun tentu memiliki ilmu silat yang tinggi tingkatnya.

Dia tidak berani memandang rendah, bersikap tenang namun waspada.

"Nona Cu, aku sudah siap!"

Katanya sambil memasang kuda-kuda dengan kedua kaki berjingkat.

Kuda-kuda ini disebut Burung Merak Siap Terbang dan biasa digunakan oleh seorang ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh).

Dengan berdiri mengangkat tumit dan hanya bertumpu pada jari-jari kaki, maka tubuhnya siap untuk melompat dan berkelebatan cepat.

"Lihat serangan!"

Ai Yin sudah berseru dan ia pun mulai menyerang dengan pukulan kedua tangannya.

Tangan kanan menusuk dengan dua jari ke arah tenggorokan lawan dan tangan kiri memukul ke arah perut.

Gerakannya cepat dan mengandung hawa pukulan yang kuat.

Akan tetapi dengan amat lincahnya Cun Giok berhasil mengelak dan teringat akan ucapan gadis itu tadi, dia pun segera membalas dengan tamparan ke arah pundak Ai Yin!

Gadis itu terkejut melihat cepatnya gerakan pemuda itu maka ia lalu menangkis sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).

"Dukkk......!"

Cun Giok kagum bukan main ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu.

Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, gadis yang usianya paling banyak delapanbelas tahun ini telah memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya!

Akan tetapi dia tidak sempat berlama-lama terheran dan terkagum karena Ai Yin sudah menerjangnya lagi dan menyerang bertubi-tubi dengan dahsyatnya.

Cun Giok harus mencurahkan perhatiannya.

Dia mengeluarkan ilmu silat Ngo-heng-kun-hoat (Silat Lima Unsur) untuk mengimbangi gerakan gadis itu yang juga amat hebat.

Cu Ai Yin juga berusaha keras untuk memenangkan pertandingan itu dengan memainkan ilmu silat Jit-seng-kun (Silat Tujuh Bintang).

Mereka saling pukul, saling tendang, akan tetapi semua serangan mereka dapat dielakkan atau ditangkis lawan.

Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang menonton pertandingan itu dengan penuh perhatian, beberapa kali mengangguk-angguk.

Dia pun kagum melihat gerakan tangan Cun Giok.

Pemuda itu benar-benar lihai, mampu mengimbangi puterinya yang amat berbakat.

Empatpuluh jurus lewat dan belum tampak siapa yang akan menang dalam pertandingan itu.

Cu Liong sudah menganggap pemuda itu lulus ujian dan cukup berharga untuk menjadi tamunya.

Tiba-tiba Cu Liong membelalakkan matanya karena dia melihat betapa Cun Giok mengubah gerakannya dan tubuhnva seolah berubah menjadi bayang-bayang yang bergerak cepat bukan main.

Dia mendengar beberapa kali puterinya mengeluarkan seruan kaget.

Mendadak saja bayangan Cun Giok melompat dan menjauhi Ai Yin.

Pemuda itu sudah berdiri tegak dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan kepada Ai Yin lalu berkata.

"Nona Cu, aku merasa kagum sekali, ilmu silatmu sungguh lihai!"

Ai Yin terbelalak memandang ke arah tangan kanan pemuda itu lalu meraba rambutnya.

"Ihh......!"

La berseru karena ternyata yang dipegang tangan pemuda itu adalah bunga putih hiasan rambutnya!

Dengan bukti ini saja sudah mudah diketahui bahwa dalam pertandingan ilmu silat tadi Cun Giok telah memperoleh kemenangan, karena kalau tangan yang mencabut hiasan itu diubah menjadi totokan, tentu ia akan roboh tewas atau setidaknya terluka berat!

"Maafkan aku, Nona!"

Cun Giok berseru dan tangan kanannya bergerak.

Hiasan rambut berupa bunga putih itu meluncur dan tahu-tahu telah menancap kembali di rambut Ai Yin!

"Hemm, Pouw Cun Giok, engkau `menang dalam pertandingan adu silat tangan kosong.

Akan tetapi aku belum kalah.

Cabut senjatamu, kita bertanding menggunakan senjata!"

Kata Ai Yin dan ia sudah mencabut sepasang senjatanya, yaitu pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya. Cun Giok ragu-ragu.

"Nona Cu, perlukah itu? Biarlah aku mengaku kalah, tidak perlu kita bertanding menggunakan senjata tajam."

"Hemm, apakah engkau ingin disebut penakut dan pengecut?"

Tanya Ai Yin.

"Aturan dalam pibu (adu ilmu silat), siapa yang menang baru ditentukan kalau ada yang sudah mengaku kalah. Aku belum mengaku kalah sebelum engkau mengalahkan sepasang pedangku ini!"

Wajah Cun Giok menjadi merah dan alisnya berkerut. Dia menoleh ke arah Cu Liong. Akan tetapi Cu Liong tidak membantunya, bahkan orang tua itu berkata.

"Perlihatkan ilmu pedangmu, orang muda!"

Terpaksa Cun Giok mencabut pedangnya. Sinar emas berkelehat menyilaukan mata dan pada saat itu, seorang pemuda memasuki ruangan lian-bu-thia dan berseru nyaring.

"Kim-kong-kiam! Ah, dialah si pembunuh jahanam keparat itu!"

Pemuda tinggi besar gagah berpakaian indah itu langsung saja menyerang Cun Giok dengan sebatang pedang.

Serangannya cepat dan kuat sekali.

Cun Giok yang tidak mengenal orang itu, melompat jauh ke belakang.

"Suheng! Ada apa ini?"

Cu Ai Yin membentak, wajahnya merah karena marah melihat gangguan ini.

"Sumoi, bantu aku membunuh pemberontak jahanam ini! Dialah Suma Cun Giok yang berjuluk Bu-eng-cu! Dia telah membunuh banyak orang termasuk Ayah!"

Setelah berkata demikian pemuda itu hendak menyerang lagi.

"Kong Sek, tahan! Jelaskan dulu apa urusannya! Jangan melanggar aturan!"

Bu-tek Sin-liong membentak dan pemuda tinggi besar itu lalu menghadapi kakek itu.

"Suhu...... ah, Suhu, bantulah teecu (murid) menangkap penjahat keji ini. Dia telah membunuh Ayahku, membunuh pula belasan orang pengawal, juga dia telah membunuh Pangeran Lu Kok Kong!"

Mendengar ini, tentu saja Cu Liong dan Cu Ai Yin terkejut bukan main.

Mereka berdua memandang kepada Cun Giok yang bersikap tetap tenang.

Akan tetapi diam-diam dia heran dan menduga-duga siapakah pemuda ini.

Putera siapakah dia?

"Pouw Cun Giok!

Benarkah itu?"

Tanya Cun Liong.

"Suhu, dia Suma Cun Giok, bukan bermarga Pouw!"

Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Kong Sek, putera mendiang Kong Tek Kok yang menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong.

"Hah? Benarkah engkau memalsukan margamu?"

Tanya pula majikan Bukit Merak itu.

"Marga saya Pouw, Lo-cianpwe, saya memang menggunakan nama Marga Suma seperti Ayah angkatku."

"Hayo ceritakan, benarkah engkau membunuh Panglima Kong Tek Kok dan banyak pengawal?"

"Memang benar, Lo-cianpwe. Saya yang membunuh Panglima Kong Tek Kok dan para pengawal yang membantunya,"

Jawab Cun Giok dengan jujur dan sikapnya tetap tenang.

"Jadi engkau luka-luka dan pingsan itu karena habis berkelahi melawan mereka?"

Seru Ai Yin. Cun Giok mengangguk tanpa menjawab.

"Pouw Cun Giok, hayo ceritakan mengapa engkau membunuh sahabatku Panglima Kong Tek Kok dan yang lain-lain!"

Diam-diam Cun Giok maklum akan bahaya yang mengancam dirinya.

Kiranya para penolongnya ini adalah sahabat baik Panglima Kong Tek Kok, bahkan agaknya pemuda tinggi besar itu adalah putera mendiang Panglima Kong Tek Kok dan menjadi murid Bu-tek Sin-liong!

"Lo-cianpwe, sekitar duapuluh satu tahun yang lalu, hampir seluruh keluarga Pouw, di So-couw dibasmi oleh pasukan yang dipimpin Panglima Kong Tek Kok.

Kakek dan Nenek saya, Ayah dan Ibu saya, dibunuhnya dengan kejam.

Seluruh anggauta dalam rumah dibunuh dan gedung keluarga Pouw dibakar.

Ibuku dapat tertolong dan ketika itu Ibuku sedang mengandung.

Kemudian Ibu melahirkan saya dan tewas.

Saya menjadi anak atau cucu angkat penolong Ibuku, she (marga) Suma.

Nah, setelah saya dewasa, setelah mempelajari ilmu silat, saya mencari musuh besar yang membasmi keluarga Pouw itu dan membalas dendam.

Yang hendak saya balas dan bunuh adalah Panglima Kong Tek Kok, akan tetapi karena banyak sekali pengawal yang mengeroyok saya, maka saya merobohkan banyak pengawal.

Saya terluka akan tetapi sempat melarikan diri.

Demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Lo-cianpwe."

"Suhu, dia itu seorang pemberontak dan dia telah membunuh Ayahku. Tolonglah, Suhu dan Sumoi, bantu saya menangkap jahanam ini!"

Kong Sek berkata.

"Hemm......, hemm......!"

Datuk Majikan Bukit Merak itu menggumam ragu.

"Ayah, dalam peraturan yang Ayah buat sendiri, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain. Juga kita tidak boleh mencampuri urusan pemerintah! Andaikata benar dia memberontak, itu bukan urusan kita, dan urusan antara Suheng Kong Sek dan Pouw Cun Giok adalah urusan dendam-mendendam pribadi. Biarlah urusan itu mereka selesaikan sendiri!"

Kata Cun Ai Yin dengan suara tegas.

Kong Sek yang sudah naik darah melihat musuh besarnya yang dia ketahui dari pedang Kim-kong-kiam di tangan Cun Giok, menjadi tidak sabar lagi mendengar ucapan gurunya dan sumoinya.

"Jahanam busuk, engkau harus menebus kematian Ayahku!"

Bentaknya dan dia lalu menyerang lagi dengan pedangnya. Cun Giok menangkis dengan Kim-kong-kiam.

"Tranggg......!"

Pedang di tangan Kong Sek juga bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang kuat dan ampuh walaupun tidak sebaik Kim-kong-kiam, maka pedang itu tidak patah ketika bertemu Kim-kong-kiam walaupun Kong Sek terhuyung ke belakang karena kalah kuat.

Akan tetapi pemuda yang dipenuhi dendam kebencian ini menjadi nekat dan dia menyerang terus dengan membabi buta.

Kenekatannya ini terutama karena dia yakin bahwa tidak mungkin gurunya akan tinggal diam saja dan pasti akan membantunya atau setidaknya melindunginya kalau dia terancam bahaya.

Akan tetapi, walaupun di dalam hatinya tentu saja Bu-tek Sin-liong Cu Liong ada keinginan membela dan membantu muridnya, namun di situ ada puterinya, Cu Ai Yin yang mengingatkannya akan peraturan atau pendirian yang dibuatnya.

sendiri.

Dengan peringatan itu dia menjadi tidak berdaya karena dia merasa malu untuk melanggar peraturannya sendiri!

Seperti telah diduga oleh Cu Liong dan Cu Ai Yin, Kong Sek bukan lawan yang sepadan bagi Pouw Cun Giok.

Selama duapuluh jurus lebih Cun Giok hanya mengalah, akan tetapi ketika melihat bahwa Kong Sek masih terus menyerangnya seperti orang gila, dia bergerak cepat sekali sehingga Kong Sek menjadi bingung karena dia tidak dapat mengikuti gerakan Cun Giok.

Bayangan lawannya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga tak dapat dia ikuti dengan pandang matanya, bahkan terkadang lenyap.

Selagi dia kebingungan, terdengar suara Cun Giok berkata.

"Dendamku hanya kepada Panglima Kong Tek Kok, aku tidak mempunyai urusan denganmu. Pergilah!"

Tiba-tiba tubuh Kong Sek terlempar dan terjengkang roboh.

Ketika bangkit lagi, dia menyeringai karena lutut kaki kanannya terasa nyeri.

Tadi lutut itu tercium ujung kaki Cun Giok sehingga dia terpincang-pincang.

Melihat ini, wajah Bu-tek Sin-liong berubah merah dan matanya mengeluarkan sinar kemarahan.

Dia merasa terhina melihat murid dan tadi puterinya dikalahkan dengan mudah oleh Cun Giok.

Selain itu, bagaimanapun juga hatinya condong memihak muridnya.

Maka dia cepat bangkit dan mengambil Kim-siang-to (Sepasang Golok Emas), sepasang senjatanya yang ampuh, juga indah karena senjata itu merupakan golok besar dan disepuh emas!

"Pouw Cun Giok, akulah lawanmu!"

Katanya sambil melangkah menghampiri Cun Giok.

"Ayah, mengapa Ayah hendak mencampuri? Itu adalah urusan pribadi mereka! Kita tidak sepatutnya mencampuri!"

Cu Liong menggeram.

"Hemm, bocah ini telah membunuh Panglima Kong Tek Kok sahabatku, juga membunuh banyak pengawal! Dia harus ditangkap dan diadili!"

"Ayah akan mulai membela pemerintah Kerajaan Goan?"

Ai Yin mengingatkan.

"Berarti Ayah melanggar peraturan sendiri!"

"Aku tidak melanggar peraturan!"

Laki-laki tinggi besar bermuka merah itu membentak.

"Aku tidak mencampuri pemerintah, juga tidak mencampuri urusan dendam pribadi. Akan tetapi Pouw Cun Giok sudah melakukan kejahatan, membunuh banyak orang. Kalau aku diam saja berarti aku membantu penjahat. Dia harus ditangkap dan dihadapkan pengadilan di kota raja!"

"Benar sekali ucapan Suhu yang bijaksana!"

Kong Sek segera membenarkan gurunya.

"Ayah, orang ini merupakan tanggung jawabku! Aku yang membawanya ke sini setelah aku menolongnya. Maka akulah yang berhak atas dirinya!"

Ai Yin membantah dengan teriakan lantang.

"Engkau berhak menolong orang, akan tetapi engkau tidak berhak membela orang jahat!"

"Dia bukan orang jahat......."

"Diam!"

Tiba-tiba Bu-tek Sin-liong membentak puterinya.

Cun Giok merasa tidak enak sekali.

Dia, yang telah ditolong oleh mereka, kini menjadi penyebab ayah dan anak itu bertengkar.

Maka dia menyarungkan pedangnya dan berkata lembut.

"Maaf, Lo-cianpwe dan Nona Cu, harap jangan bertengkar. Sekarang, apakah yang Lo-cianpwe kehendaki?"

"Pouw Cun Giok! Menyerahlah untuk ditangkap dan dibawa ke kota raja untuk diadili!"

Majikan Bukit Merak itu membentak.

"Cun Giok, larilah!"

Teriak Ai Yin karena ia tahu bahwa kalau pemuda yang berjuluk Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan) itu melarikan diri, ayahnya sendiri pun tidak akan mampu menangkapnya. Akan tetapi Cun Giok berkata.

"Nona Cu, aku akan menyerah, aku tidak ingin bermusuhan dengan Ayahmu. Lo-cianpwe, silakan, saya menyerah."

Kong Sek sudah maju dengan pedang di tangan, agaknya siap untuk membunuh pemuda yang sudah menyerah itu. Akan tetapi tiba-tiba Ai Yin membentak.

"Kong-suheng (Kakak Seperguruan Kong), dia hanya boleh ditangkap dan dibawa ke kota raja, sama sekali tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh. Kalau engkau melukai atau membunuh orang yang sudah menyerah, aku akan membuat perhitungan denganmu!!"

"Kong Sek, tangkap dia dan bawa ke pengadilan. Tidak boleh disakiti atau dibunuh sebelum diadili!"

Bu-tek Sin-liong juga berkata dengan suara yang tegas.

"Baik, Suhu,"

Kata Kong Sek.

Pemuda itu lalu mengambil rantai dan membelenggu kaki tangan Cun Giok.

Setelah itu, dia menuntun dua ekor kuda dari kandang di mana terdapat belasan ekor kuda peliharaan gurunya.

Dia menyiapkan kuda untuk Cun Giok, dibantu selosin orang perajurit pengawal yang tadi mengikutinya dan menanti di luar pekarangan.

Setelah semua siap, Kong Sek mengambil pedang Kim-kong-kiam dari pinggang Cun Giok dan setelah mengucapkan terima kasih kepada gurunya, juga kepada sumoinya yang sama sekali tidak dijawab gadis itu yang sejak tadi cemberut marah.

Kong Sek lalu pergi, diikuti selosin perajurit pengawal.

Cun Giok yang didudukkan di atas seekor kuda dengan kedua kaki dan lengan terbelenggu rantai, berada di tengah.

Setelah rombongan itu pergi, Ai Yin mengomel kepada ayahnya.

"Pouw Cun Giok itu membalas dendam atas kematian keluarga Pouw yang dibasmi, mengapa Ayah sekarang membela Suheng Kong Sek? Apakah itu adil?"

"Tentu saja adil. Yang terbunuh adalah sahabatku, dan aku hanya menangkap pembunuhnya untuk diadili. Pula, Kong Sek itu bukan orang lain. Dia muridku dan juga calon mantuku!"

"Apa......? Calon mantu? Apa maksud Ayah?"

"Hemm, engkau masih berpura-pura, Ai Yin? Sudah lama mendiang Panglima Kong dan aku bersepakat untuk menjodohkan Kong Sek denganmu, hanya belum diresmikan pinangannya. Sekarang, setelah Panglima Kong meninggal dunia, lebih baik pertunangan kalian diresmikan!"

"Tidak! Aku tidak mau!"

Ai Yin menjerit dan lari memasuki kamarnya.

Bu-tek Sin-liong Cu Liong menghela napas panjang dan termenung.

Sejak ditinggal mati isterinya, dia mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada puterinya.

Dia melihat bahwa kalau puterinya menikah dengan Kong Sek, puterinya akan hidup bahagia.

Kong Sek seorang pemuda gagah dan tampan, berdarah bangsawan pula, dan dia yakin pemuda itu akan memperoleh kedudukan tinggi di kota raja.

Puterinya akan hidup berkecukupan, dihormati dan dimuliakan banyak orang.

Akan tetapi kini Ai Ying marah dan menentangnya!

Tidak ada hal yang lebih memusingkan kepalanya dari pada sikap puterinya yang marah dan menentangnya itu!

Karena pusing dan berduka teringat isterinya, datuk yang gagah perkasa itu kemudian tertidur di atas kursinya!

Ketika dia terbangun, hari sudah siang.

Dia teringat akan puterinya yang marah, maka cepat dia menuju ke kamar puterinya.

Ketika dia membuka daun pintu, ternyata Ai Yin tidak berada di kamarnya.

Cu Liong memanggil para pelayan, akan tetapi hanya ada seorang pelayan pengurus taman yang memberi keterangan bahwa pagi tadi, ketika dia membersihkan halaman depan rumah, dia melihat Nona Cu meninggalkan puncak bukit dengan cepat seperti orang berlari-lari.

Cu Liong mengerutkan alisnya.

Baginya, sudah biasa mendengar puterinya pergi tanpa pamit karena gadis itu memang terkadang suka turun bukit.

Akan tetapi yang membuat hatinya merasa tidak nyaman adalah karena puterinya itu pergi dengan hati marah kepadanya.

Rombongan duabelas orang perajurit pengawal yang mengiringkan Kong Sek dan mengawal Cun Giok, tidak dapat melarikan kuda dengan cepat.

Cun Giok menunggang kuda dengan kaki tangan terbelenggu, maka tentu saja kuda itu tidak dapat dibalapkan karena hal ini tentu akan membuat tubuh pemuda itu terguling.

Rombongan itu adalah para perajurit pengawal yang selalu diajak Kong Sek untuk mengawalnya, apalagi setelah kemarin dulu ayahnya terbunuh.

Dia merasa tidak aman pergi seorang diri seperti biasa.

Pasukan kecil itu bukan terdiri dari perajurit-perajurit biasa.

Mereka adalah orang-orang pilihan yang sebetulnya sudah menduduki tingkat yang lebih tinggi daripada perajurit biasa.

Setidaknva mereka itu masing-masing berhak memimpin seregu perajurit.

Senjata mereka pun bukan golok atau tombak seperti perajurit biasa, melainkan sebatang pedang.

Seorang dari mereka, yang paling dekat hubungannya dengan Kong Sek, bersama pemuda bangsawan itu, memimpin paling depan.

Kuda mereka berendeng dan pada saat itu, Kong Sek mengomel.

"Ah, kalau perjalanan dilakukan selambat ini, kapan kita akan sampai di kota raja? Sialan, jahanam itu tidak dapat membalapkan kuda. Bagaimana kalau kita ikat saja dia di atas punggung kuda dengan menelungkupkannya melintang di atas punggung kuda? Dengan demikian perjalanan dapat dilakukan dengan cepat tanpa khawatir dia terjatuh."

"Kongcu, jahanam itu adalah pembunuh Kong Thai-ciangkun (Panglima Besar Kong), juga banyak pengawal dan Pangeran Lu juga dibunuhnya. Dosa kejahatannya sudah lebih dari cukup untuk membuat dia dihukum mati seratus kali!"

Kong Sek menggigit bibir dan termenung sejenak mendengar ucapan perwira pengawal itu.

"Akan tetapi rasanya kurang jantan dan tidak enak membunuh musuh yang telah ditawan dan diborgol dalam keadaan tidak berdaya! Apalagi, aku ingin dia dibunuh di depan makam ayah agar arwah ayahku tidak akan menjadi penasaran."

"Kongcu, ingatlah bahwa penjahat ini lihai sekali! Bahkan ayah Kongcu yang demikian lihainya juga tidak mampu mengalahkannya dan mati olehnya. Berbahaya sekali dia itu kalau tidak cepat dibunuh sekarang. Pula, dengan memenggal batang lehernya dan membawa kepalanya, Kongcu masih dapat menggunakan kepalanya untuk bersembahyang di depan makam mendiang Kong Thai-ciangkun!"

Perwira ini membujuk terutama sekali karena dia khawatir kalau-kalau tawanan yang amat lihai itu akan dapat terlepas dalam perjalanan itu.

"Begitukah pendapatmu?"

Tanya Kong Sek dengan alis berkerut, mulai terpengaruh bujukan itu.

"Tentu saja, Kongcu. Itulah jalan terbaik dan teraman bagi kita, terutama bagi Kongcu. Coba bayangkan, bagaimana kalau tawanan yang amat lihai itu sampai dapat terlepas di dalam perjalanan? Tentu kita semua akan dibunuhnya seperti dia mengamuk di tanah kuburan umum itu!"

Keraguan mulai menghilang dari wajah Kong Sek.

Pada saat itu mereka telah tiba di sebuah hutan kecil.

Dia menghentikan kudanya, menoleh ke belakang dan mengangkat tangan kiri ke atas.

Perwira yang mendampinginya meneriakkan aba-aba untuk berhenti.

Semua penunggang kuda berhenti.

Kuda yang ditunggangi Cun Giok juga berhenti.

Perwira itu menyuruh kawan-kawannya untuk menarik Cun Giok turun dari atas kuda.

Cun Giok kini duduk di atas tanah, kaki tangannya masih terbelenggu rantai baja.

Wajahnya tetap tenang, bahkan ada bayangan senyum tersungging di ujung bibirnya.

Para pengawal turun dari kuda dan membuat lingkaran besar mengepung Cun Giok.

Kini Kong Sek yang sudah lebih dulu turun, memasuki lingkaran sampai di depan Cun Giok dalam jarak tiga langkah lebar, menatap tajam pembunuh ayahnya itu.

Teringat akan kematian, ayahnya yang menurut laporan tubuh ayahnya tercincang menjadi onggokan daging, kebencian berkobar dalam hatinya dan wajah yang tampan gagah itu tampak beringas menyeramkan.

Matanya seperti berapi, hidungnya kembang kempis dan mulutnya menjadi garis melintang yang membayangkan kemarahan yang luar biasa.

Para pengawal yang duabelas orang jumlahnya dan kini duduk membentuk lingkaran lebar itu menonton dengan hati tegang.

Mereka tahu betapa marahnya Kong Sek yang hendak membalas dendam sakit hati ayahnya yang terbunuh pemuda ini.

Akan tetapi, diam-diam mereka kagum sekali kepada Cun Giok.

Biarpun kematian sudah membayang di depan mata, pemuda itu masih duduk tenang saja, wajahnya sama sekali tidak takut atau khawatir, bahkan senyumnya kini tampak jelas.

Suara Kong Sek terdengar menggetar penuh perasaan ketika dia bicara lantang dan dengan nada membentak.

"Suma Cun Giok! Engkau tentu sudah menyadari akan dosamu terhadap Ayahku!"

Dengan suara lembut tanpa tanda takut atau sedih, Cun Giok berkata.

"Aku sama sekali tidak berdosa terhadap mendiang Panglima Kong Tek Kok. Dialah yang berdosa besar sekali kepada keluarga Pouw, keluarga Ayah dan Kakekku."

"Pembunuh jahat! Engkau telah membunuh Ayahku! Sudah menjadi kewajiban sebagai anak yang berbakti untuk membalas kematiannya padamu. Akan kusembahyangi makam Ayahku dengan kepalamu!"

Setelah berkata demikian, dengan wajah yang ganas Kong Sek mengangkat Kim-kong-kiam dan membentak.

"Pedang ini berlumuran darah Ayahku, harus kucuci dengan darahmu!"

Dia lalu menggerakkan pedangnya ke bawah, hendak memenggal batang leher Cun Giok! "Tranggg...... aahhh......!"

Tiba-tiba pedang itu terlepas dan terpental dari tangan Kong Sek.

Sebatang pedang terbang tadi meluncur dan menyambar pedang itu dengan cepat dan kuat sekali.

Karena Kong Sek sama sekali tidak pernah menyangkanya, maka dia terkejut dan pedang itu terlepas dari pegangannya.

Kong Sek dan duabelas orang pengawal itu menengok dan mereka melihat Cu Ai Yin berdiri tidak jauh di luar lingkaran.

Gadis inilah yang tadi membuat pedang yang sedianya hendak memenggal leher Cun Giok itu terpental!

"Sumoi......!"

Kong Sek terkejut dan dengan marah dia melangkah cepat menghampiri gadis itu.

Duabelas orang pengawal mengikutinya dan selagi Kong Sek berhadapan dengan Ai Yin, duabelas orang itu mengepung, siap membantu Kong Sek.

"Sumoi, mengapa engkau melakukan itu?!"

Kong Sek bertanya heran. Dia telah jatuh hati kepada adik seperguruannya ini semenjak Ai Yin masih remaja, maka biarpun hatinya marah dan penasaran, pertanyaannya dikeluarkan dengan nada suara lembut.

"Suheng, seharusnya akulah yang bertanya! Mengapa engkau tadi hendak membunuh tawanan? Bukankah engkau seharusnya membawanya ke kota raja dan dilarang melukai apa lagi membunuh?"

"Akan tetapi, Sumoi! Dia itu penjahat, pemberontak dan dia sudah membunuh Ayahku dengan sangat kejam! Aku ingin memenggal lehernya dan membawa kepalanya ke makam Ayahku!"

"Aku tidak peduli semua itu! Akan tetapi engkau sudah ber janji kepada Ayahku, dan menurut aturan, engkau tidak boleh melanggar janji!"

"Sumoi, ingatlah. Kita adalah saudara seperguruan dan dia itu pembunuh Ayahku. Sudah sepatutnya kalau engkau membantu aku, bukan membela dia!"

Suara Kong Sek mulai tidak sabar.

"Aku tidak membela siapa-siapa. Aku membela kebenaran dan yang melanggar janji dan peraturan adalah tidak benar dan harus kutentang!"

"Sumoi, aku tidak suka bertentangan dengan orang yang paling kucinta, akan tetapi sebagai seorang anak yang berbakti, aku harus membalaskan kematian Ayah dan kalau engkau hendak melindungi pembunuh Ayahku itu, terpaksa aku menentangmu."

Setelah berkata demikian, Kong Sek berkata kepada perwira yang bicara dengannya tadi.

"Cepat penggal batang lehernya!"

Perwira itu melangkah ke arah Cun GJok yang masih duduk di atas tanah dengan kaki tangan terikat rantai.

Melihat ini, Ai Yin mencabut sepasang pedangnya dan hendak melompat untuk menghalangi perwira itu membunuh Cun Giok.

Akan tetapi Kong Sek menghadang dan dia sudah mencabut pedangnya sendiri.

Sebelas orang anak buahnya juga mengepung Ai Yin.

"Bagus! Engkau juga memusuhi aku? Sambut ini!"

Ia menyerang dengan sepasang pedangnya.

Kong Sek menangkis dan Ai Yin segera dikeroyok Kong Sek dan sebelas orang pembantunya.

Kong Sek seorang diri tentu tidak akan menang bertanding melawan Ai Yin.

Akan tetapi selisih tingkat mereka tidak terlalu banyak.

Kini Kong Sek dibantu sebelas orang perajurit pilihan, tentu saja Ai Yin segera terdesak.

Sementara itu, perwira yang disuruh memenggal leher Cun Giok sudah dekat pemuda itu.

Sambil tersenyum mengejek dia mencabut pedangnya dan berkata sambil mengayun pedang.

"Pemberontak, mampuslah!"

Pedang diayun menyambar ke arah leher Cun Giok.

"Desss......!!"

Bukan leher Cun Giok yang buntung disambar pedang, melainkan tubuh perwira itu yang terlempar ke belakang karena perutnya disambar dua kaki Cun Giok yang mendahului gerakan pedang dan kedua kakinya mencuat dengan cepat dan dahsyat, mengenai ulu hati perwira itu.

Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak berkutik lagi, entah pingsan atau mati!

Kini Cun Giok menggerakkan kaki tangannya dan terdengar suara nyaring ketika rantai besi yang membelenggu kaki tangannya itu patah-patah!

Dia melompat, memungut Kim-kong-kiam yang tadi terlepas dari tangan Kong Sek dan menggeletak di atas tanah.

Dia menyimpan pedang itu di pinggangnya, lalu menyerbu ke arah para pengeroyok.

Kaki tangannya menyambar-nyambar dan sebelas orang itu roboh berpelantingan dalam keadaan tulang patah atau muka bengkak dan perut mulas!

Kini tinggal Kong Sek sendiri yang masih bertanding pedang melawan Ai Yin, Cun Giok berdiri dan menonton saja, tidak mau mencampuri.

Kong Sek terkejut, marah akan tetapi juga jerih melihat betapa Cun Giok tiba-tiba mengamuk dan merobohkan para pengawal dengan kaki tangan tidak terbelenggu lagi!

Karena jerih, maka gerakan pedangnya kacau dan tiba-tiba ujung pedang kanan Ai Yin menggores lengannya sehingga pedangnya terlepas.

Akan tetapi Ai Yin tidak menyerang lagi dan hanya berdiri memandang dengan sepasang mata mencorong.

"Karena engkau murid Ayah maka aku tidak mau melukai apalagi membunuhmu. Pergilah, Suheng!"

Kata Ai Yin.

Kong Sek berdiri dengan muka pucat, memandang wajah sumoinya, lalu menoleh dan memandang wajah Cun Giok penuh kebencian, dan menoleh ke kanan kiri melihat anak buahnya yang mulai merangkak bangun.

Dia merasa marah, kecewa dan malu sekali.

Dia membungkuk, mengambil pedangnya dan sekali lagi menatap wajah sumoinya.

"Baik, Sumoi. Aku akan melapor kepada Suhu!"

Setelah berkata demikian, dia lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu menuju kota raja.

Selosin pengawal itu saling bantu dan akhirnya mereka pun naik kuda masing-masing dan pergi sambil merintih-rintih.

Masih untung bagi mereka bahwa Cun Giok tidak membunuh mereka.

Setelah derap kaki kuda rombongan itu tidak terdengar lagi, Ai Yin berkata dengan cemberut dan pandang mata marah.

"Engkau menipuku! Engkau pura-pura tak berdaya dan terbelenggu. Ternyata engkau hanya pura-pura dan dengan mudah engkau dapat melepaskan diri kalau kau kehendaki! Huh, engkau membodohi aku, ataukah hendak pamer kepandaianmu, ya?"

Cun Giok menghela napas panjang.

"Sama sekali tidak, Nona Cu. Aku menyerah di sana tadi karena aku tidak berani menentang Ayahmu yang telah begitu baik bersamamu menolongku dan menerimaku sebagai tamu. Aku pura-pura menyerah di depan Ayahmu. Kalau aku ketika itu melarikan diri dari depan Ayahmu seperti yang kau anjurkan, berarti aku mempermalukan Ayahmu karena aku dapat lolos di depannya! Akan tetapi kalau aku meloloskan diri di tengah perjalanan, ini di luar tanggung jawab Ayahmu. Nah, bukan sekali-kali aku membodohimu atau pamer kekuatan karena aku sama sekali tidak mengira bahwa engkau membayangi rombongan itu. Ah, Nona Cu, berulang kali engkau menolongku. Mengapa engkau menolongku ketika Kongcu (Tuan Muda) tadi hendak memenggal leherku?"

"Huh, tanpa kucegah sekalipun engkau pasti tidak akan menyerahkan nyawamu begitu saja!"

"Memang benar. Akan tetapi mengapa engkau mencegah dia membunuhku? Mengapa engkau menolongku, Nona Cu?"

Mulut gadis itu berjebi.

"Huh, kau jangan mengira macam-macam, ya? Aku mencegah Suheng melanggar janjinya dan melanggar peraturan, sama sekali bukan untuk menolongmu! Hemm, kau kira kenapa aku menolongmu?"

"Maafkan aku yang salah bicara. Nona Cu. Sungguh aku tidak menduga macam-macam. Aku yakin bahwa engkau adalah seorang pendekar wanita yang budiman dan tadi engkau melihat orang yang sudah dibelenggu dan tidak mampu melawan akan dibunuh begitu saja tentu timbul jiwa pendekarmu dan mencegahnya. Sekali lagi terima kasih, Nona. Budimu amat besar dan aku tidak akan melupakannya."

Cun Giok memberi hormat dan menjura. Agaknya kata-kata dan sikap Cun Giok itu meredakan kemarahan gadis itu. Ia menghela napas dan pandang matanya tampak berduka.

"Hemm, gara-gara engkau aku bertentangan dengan Ayahku. Setelah apa yang terjadi tadi, tentu Suheng Kong Sek akan melapor kepada Ayah dan Ayah tentu akan marah sekali kepadaku. Ahh, aku tidak berani pulang, bukan takut kepada Ayah. Ayah terlalu mengasihi aku dan tidak akan mau menghukum dan menyakiti aku. Akan tetapi hatiku akan sedih sekali kalau melihat Ayah marah dan berduka. Aku tidak tahan melihatnya berduka......"

Lalu ia cemberut lagi, memandang kepada Cun Giok dan mencela.

"Engkau sih yang menjadi gara-gara. Andaikata aku tidak bertemu denganmu yang menggeletak pingsan di tepi sungai dan engkau tidak menjadi tamu kami, sekarang tentu aku dan Ayah tidak saling bertentangan!"

Cun Giok merasa menyesal sekali. Tak disangkanya bahwa pertemuannya dengan gadis itu menimbulkan masalah besar pada gadis cantik dan gagah itu.

"Aih, aku menyesal sekali, Nona Cu. Kalau saja engkau ketika itu tidak melihatku, tidak menolongku dan membawa aku ke rumahmu, aku pasti sudah mati dan tidak timbul bermacam-macam urusan ini! Ah, diriku ini membawa kesialan saja kepada semua orang!"

Ucapan pemuda itu menyadarkan Ai Yin bahwa ia terlalu menyalahkan pemuda yang sebetulnya tidak mempunyai kesalahan apa-apa itu.

"Bukan, bukan itu sebetulnya yang membuat aku kesal dan terpaksa bertentangan dengan Ayahku. Yang membuat aku kesal adalah karena aku...... karena Ayah...... hendak menjodohkan aku dengan Suheng......."

"Dengan Kong Sek itu?"

Cu Ai Yin teringat akan pertentangannya dengan ayahnya dan ia tidak dapat menahan mengalirnya air mata ke atas sepasang pipinya.

"Ah, jangan bersedih, Nona Cu. Aku kira Ayahmu itu seorang yang bijaksana dan amat menyayangmu. Kalau dia menghendaki engkau berjodoh, aku yakin dia akan memilihkan pasangan yang terbaik bagimu. Aku yakin bahwa Kong Sek seorang pemuda yang amat baik. Wajahnya tampan dan gagah, dia berbakti kepada orang tua, taat kepada guru dan dia Suhengmu sendiri. Berarti engkau sudah bergaul lama dengan dia dan sudah mengenal wataknya, bukan?"

"Huh, aku tidak butuh ketampanan, kegagahan, kaya raya atau keturunan panglima! Yang jelas, hatiku tidak suka dan aku tidak ingin menjadi isterinya. Apalagi setelah aku mendengar betapa jahat Ayahhnya, mendiang Panglima Kong itu!"

Cun Giok menghela napas panjang. Dia tahu bahwa kalau Ai Yin mendengar lebih banyak lagi tentang Panglima Kong Tek Kok, ia tentu akan semakin membencinya.

"Memang, mendiang Panglima Kong adalah seorang yang kejam dan jahat. Akan tetapi menilai seseorang jangan dari ayahnya. Banyak saja terdapat pendeta dan orang-orang yang baik budi mempunyai anak yang tersesat dan menjadi jahat. Sebaliknya banyak pula orang-orang yang termasuk golongan penjahat mempunyai anak yang baik dan bijaksana."

"Sudahlah! Aku tidak suka menjadi isterinya, titik, dan tidak ada seorang pun di dunia ini boleh memaksa aku menjadi isteri Suheng Kong Sek, Ayahku pun tidak boleh! Nah, aku pergi!"

Kata gadis itu sambil membalikkan tubuhnya.

"Nona Cu, kalau engkau tidak berani pulang, engkau hendak pergi ke manakah?"

Tanya Cun Giok dengan hati iba.

"Ke mana saja!"

Gadis itu menjawab, akan tetapi ia sudah lari jauh.

Cun Giok berdiri termenung, lalu melangkah pergi.

Ah, betapa dalam kehidupan ini banyak sekali terjadi hal-hal yang menyedihkan.

Dia sendiri merasa tertekan batinnya oleh kematian Siang Ni yang begitu menyedihkan.

Dia merasa amat iba kepada adik misannya itu, satu-satunya keluarganya yang masih hidup.

Akan tetapi, adik misannya itu pun kini tiada lagi, tewas dengan cara membunuh diri di depan makam orang tuanya!

Dan sekarang, dia melihat Cu Ai Yin yang telah menolongnya itu juga dalam keadaan yang menyedihkan!

Anak tunggal yang bertentangan dengan ayahnya karena hendak dijodohkan dengan seorang pemuda di luar keinginannya.

Kini gadis itu tidak mau pulang dan dia dapat membayangkan betapa sengsaranya seorang gadis yang biasa hidup serba kecukupan seperti Ai Yin kini merantau seorang diri!

Sejak pertahanan para panglima yang setia kepada Kerajaan Sung dikalahkan pasukan Mongol, bahkan pertahanan terakhir di Kanton juga dihancurkan, Kaisar yang masih kecil yang diangkat oleh para panglima itu akhirnya oleh seorang panglima dibawa loncat ke lautan dan tenggelam ketika kapal mereka diserbu oleh pasukan Mongol yang mengejarnya, yaitu pada tahun 1279, Cina dikuasai sepenuhnya oleh bangsa Mongol yang mendirikan Kerajaan atau Wangsa Goan (1279-1368).

Pada saat ini, Pouw Cun Giok telah berusia duapuluh satu tahun.

Yang menjadi kaisar adalah Kubilai Khan, kaisar yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai seorang Kaisar Mongol yang hebat dan besar setelah Jenghis Khan, pendiri Kerajaan Goan.

Seperti juga Jenghis Khan, Kubilai Khan juga seorang ahli perang dan gila perang.

Dia mengirim pasukan Mongol yang terkenal ganas itu ke negeri seberang.

Walaupun hasilnya tidak sebesar ketika Jenghis Khan memimpin pasukannya, namun tetap saja gerakan-gerakan Kubilai Khan membuatnya tersohor di dunia.

Setelah Kanton jatuh dan Kubilai Khan menjadi Kaisar dari seluruh daratan Cina, dia telah melakukan banyak hal yang hebat, sehingga nama besar Kubilai Khan sebagai penerus kakeknya, Jenghis Khan dikenal di seluruh dunia.

Belum pernah tercatat dalam sejarah ada Kerajaan di Cina yang berhasil menyerang, menalukkan demikian banyak negara sampai jauh seperti di jaman Kerajaan Goan yang dipimpin oleh Kaisar Kubilai Khan.

Bagaikan seekor burung rajawali yang memiliki paruh dan cakar yang amat kuat dan ganas, pasukan Mongol yang ahli menunggang kuda dan ahli perang itu sudah memperlebar sayapnya ke empat penjuru.

Di utara, mereka menyerbu dan menguasai sampai ke Siberia dan bagian selatan Russia, di timur mereka menaklukkan Mancuria, Korea bahkan pernah menyerbu Jepang walaupun mengalami kegagalan.

Kekuasaan Kerajaan Mongol di timur sampai ke lautan antara daratan Cina dan Jepang.

Di barat, gerakan pasukan Mongol amat luas dan jauh.

Bahkan menjelajah daerah yang hampir seluas daratan Cina sendiri.

Pasukan mereka menyerbu Turkestan, Persia sampai memasuki Baghdad dan Irak, bahkan sudah mencapai sebagian Europa timur seperti Anatolia.

Dunia Timur Tengah dan Europa menjadi gempar!

Kemudian gerakan pasukan Mongol ke selatan juga menggemparkan.

Mereka menguasai Tibet, bagian utara dari India, Birma, juga Champa (Kamboja)!

Akan tetapi setelah Kubilai menarik kembali semua pasukannya, karena daerah yang ditaklukkannya itu terlampau luas dan daerah-daerah barat yang sudah ditalukkan itu masih terus melakukan perlawanan, yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Goan hanya sampai daerah Tibet dan Nepal saja.

Di Cina sendiri, harus diakui bahwa Kaisar Kubilai Khan melakukan banyak hal yang menggemparkan, baik yang akibatnya mengagumkan maupun yang akibatnya kesengsaraan bagi rakyat jelata.

Dia membangun banyak istana yang serba indah dan mewah, mendatangkan para ahli bangunan dari segala bangsa.

Kubilai Khan adalah seorang yang tidak membeda-bedakan bangsa atau agama.

Yang dapat dia pergunakan tenaga dan keahliannya, tentu dia beri kedudukan yang pantas dan sesuai dengan jasa mereka.

Karena itu, seperti tercatat dalam sejarah, di bawah pemerintahan Kubilai Khan terdapat pejabat-pejabat pemerintah terdiri dari bermacam bangsa yang beragama Islam, Kristen, Buddha, atau Agama To.

Sesungguhnya, hal ini bukan merupakan sikap yang luar biasa bagi rakyat Cina karena sejak jaman Dinasti Han, para penguasa tidak pernah membedakan agama karena yang dinilai adalah manusianya, yang tampak dari sikap dan perbuatannya, bukan Agamanya.

Hanya bedanya antara kerajaan-kerajaan yang dipimpin bangsa Pribumi dan Kerajaan Mongol adalah bahwa Kerajaan Goan tidak membedakan bangsa dan agama dan memberi kedudukan yang penting kepada banyak orang asing, namun terhadap bangsa Pribumi mereka memilih dengan ketat.

Tidak sembarang orang Han (Pribumi) yang dapat memperoleh kedudukan tinggi, kecuali orang-orang yang sudah diyakini kesetiaannya.

Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh kekhawatiran kalau-kalau ada orang Han yang setelah memperoleh kedudukan tinggi, akan membuat gerakan pemberontakan!

Dengan sendirinya, para pembesar yang berbangsa Han dan terpilih oleh Kerajaan Mongol, merasa dirinya dipilih sehingga mereka menjadi sombong karena merasa lebih daripada orang-orang biasa!

Rakyat jelata menganggap para pembesar Pribumi yang hidup mewah karena korupsi itu sebagai pengkhianat-pengkhianat bangsa dan diam-diam membenci mereka, bahkan melebihi kebencian mereka terhadap orang Mongol sendiri.

Untuk melaksanakan pembangunan-pembangunan besar-besaran, biarpun hal itu di satu pihak baik, namun di lain pihak mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat.

Pada jaman Kerajaan Sui lalu diteruskan dalam Kerajaan Sung, telah digali Terusan Besar yang menghubungkan Sungai Yang-ce dan Huang-ho.

Kini, Kaisar Kubilai Khan memerintahkan agar digali Terusan yang menghubungkan kota raja Peking dengan Sungai Kuning (Huang-ho), yaitu melanjutkan Terusan yang sudah ada dari Sungai Yang-ce ke Sungai Huang-ho.

Hal ini untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi, terutama beras, yang terdapat melimpah di Lembah Yang-ce.

Untuk dapat melaksanakan perintah Kaisar yang merupakan pekerjaan amat besar itu, tentu saja dibutuhkan banyak sekali tenaga manusia.

Para pembesar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memperkaya diri.

Biaya dari kerajaan yang disediakan untuk membayar para pekerja, seperti sudah umum terjadi pada masa itu, dikorup secara besar-besaran.

Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk memerintahkan para kepala dusun agar para kepala dusun mengerahkan rakyat petani yang miskin.

Para petani itu, puluhan bahkan ratusan ribu jumlahnya dari berbagai daerah, dipaksa oleh kepala dusun mereka untuk meninggalkan sawah ladang dan dipaksa bekerja pada penggalian Terusan.

Para petugas dusun juga mempergunakan kesempatan ini untuk mengeduk keuntungan sebesarnya.

Siapa yang mampu membayar uang sogokan, tentu dapat ditangguhkan atau bahkan dibebaskan sama sekali dari "kewajiban"

Membangun Terusan.

Akan tetapi mereka yang tidak mampu, dipaksa dengan ancaman untuk berangkat membantu kerajaan yang dipropagandakan akan menyejahterakan rakyat dengan adanya Terusan dari Terusan Lama ke Peking itu.

Terjadilah penyelewengan-penyelewengan dilakukan oleh hamba-hamba kerajaan yang sekaligus menjadi hamba-hamba nafsu mereka sendiri.

Segala peristiwa keji terjadi dalam masa itu.

Ada petani yang terpaksa mengorbankan segalanya agar terbebas dari kerja-paksa itu karena takut setelah mendengar betapa banyaknya mereka yang melakukan kerja-paksa mati di tempat mereka bekerja.

Mati karena kelelahan, mati karena kurang makan, mati karena siksaan para mandor, atau mati karena timbulnya penyakit, juga ada yang karena kecelakaan ketika melakukan penggalian di daerah-daerah yang sukar.

Ada yang mengorbankan sawah ladangnya, dijual dengan harga murah kepada para tuan tanah yang sudah bersekongkol dengan para pejabat pemerintah, uangnya untuk menyogok agar bebas dari kerja paksa.

Bahkan ada yang rela menyerahkan isterinya atau anak gadisnya, kalau isteri atau anak itu cantik menarik.

Kaisar Kubilai Khan sebetulnya tidak menghendaki terjadinya tindakan keji akibat korupsi dan penyelewengan yang dilakukan para pejabat.

Hampir semua pejabat itu bekerja sama, saling merahasiakan penyelewengan mereka sehingga laporan yang sampai ke telinga Kaisar hanyalah yang terbaik saja.

Di sana beres, di sini tidak ada halangan, semua berjalan sesuai dengan yang dikehendaki kaisar, rakyat dalam keadaan aman sejahtera!

Memang, dalam kenyataannya, hampir semua pejabat menyeleweng.

Bukan berarti tidak ada pejabat yang bijaksana dan jujur, namun mereka yang bersih itu biasanya tersingkir, kalah pengaruh dan kuasa oleh yang kotor karena kalah banyak dan kalah suara.

Dengan demikian, maka yang bersih bergaul dengan yang kotor dan yang lebih banyak, dengan sendirinya juga terkena kotoran.

Keadaan ini membuat rakyat kecil amat membenci para pejabat Kerajaan Mongol.

Bukan saja kepada penjajah rakyat membenci, melainkan juga kepada para hartawan yang menumpuk kekayaan secara curang, memeras rakyat dan bersekongkol dengan para pejabat.

Para hartawan itu, tentu tidak seluruhnya, terutama yang tinggal di dusun-dusun, memberi pinjaman kepada rakyat yang hendak menebus diri dari kerja-paksa.

Pinjaman itu disertai bunga yang mencekik leher sehingga dalam waktu beberapa tahun saja si petani terpaksa membayar hutangnya dengan disitanya sawah dan ladangnya, atau juga dengan menyerahkan gadisnya yang berwajah cantik untuk menjadi alat pemuas berahi para hartawan dan pejabat.

Melihat keadaan rakyat yang tertindas oleh pejabat daerah dan hartawan pemeras, tentu saja hal ini membangkitkan kemarahan para pendekar yang masih bersih budi pekertinya, yang tidak ikut menggila dengan keadaan di mana manusia sudah dipermainkan oleh uang.

Maka di sana sini timbullah perlawanan.

Pembela-pembela rakyat tertindas mulai menentang para pejabat daerah sehingga di sana sini timbul pertempuran kecil.

Biarpun diam-diam rakyat bersyukur dengan aksi para pendekar yang membela mereka, namun nasib mereka tidak banyak berubah.

Pihak lawan, yaitu para pejabat dan para hartawan dengan pemberian hadiah uang, berhasil mengundang banyak pendekar dan mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan menjadikan mereka sebagai pengawal dan tukang pukul sehingga seringkali terjadi bentrokan antara para pembela rakyat dan pembela pejabat dan hartawan!

Kota Cin-yang di Propinsi Shan-tung juga dilanda keadaan yang meresahkan rakyat itu.

Dalam sebuah rumah yang sederhana namun cukup besar tinggal Chao Kung dan keluarganya.

Chao Kung adalah seorang laki-laki berusia sekitar tigapuluh lima tahun.

Wajahnya tidak terlalu tampan namun tidak buruk, bahkan sikapnya gagah walaupun tubuhnya tinggi kurus.

Dia berdagang rempah-rempah secara kecil-kecilan dan hasilnya hanya cukup untuk keperluan hidup sehari-hari dengan keluarganya.

Biarpun kurus dan tampak lemah, Chao Kung ini cukup pandai ilmu silat dan karena itu dia membayangkan ketabahan dan kegagahan.

Keluarganya terdiri dari isterinya yang bernama Siok Hwa, berusia sekitar duapuluh tujuh tahun.

Sudah hampir sepuluh tahun mereka menikah, akan tetapi belum juga mempunyai anak.

Tadinya, Chao Kung hanya hidup berdua dengan isterinya, dibantu oleh seorang pelayan wanita setengah tua yang sesungguhnya masih merupakan bibi jauh dari Chao Kung.

Siok Hwa seorang wanita yang sebetulnya cukup cantik, akan tetapi sayang, ketika kecilnya ia terserang penyakit cacar sehingga kini masih ada bekas pada wajahnya, menjadi bopeng.

Akan tetapi, semenjak kurang lebih tiga tahun yang lalu, suami isteri ini kedatangan tamu dua orang.

Mereka adalah Siok Kan, ayah dari Siok Hwa yang sudah duda bersama adik Siok Hwa yang bernama Siok Eng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Siok Kan dan puterinya, Siok Eng yang ketika itu berusia sekitar enambelas tahun, diantar oleh Suma Tiang Bun yang bersama Cun Giok menyelamatkan gadis itu dari tangan seorang putera Pembesar Mongol yang hendak memaksanya menjadi selirnya.

Ayah dan anak gadisnya itu lalu mengungsi ke kota Cin-yang di Shan-tung di mana tinggal puteri sulungnya Siok Hwa dan mantunya, Chao Kung yang menerima mereka dengan senang hati.

Seperti kita ketahui, di rumah ini Siok Kan mengusulkan perjodohan antara Siok Eng dan Cun Giok.

Biarpun ketika itu Cun Giok baru berusia tujuhbelas tahun lebih dan Siok Eng berusia limabelas tahun lebih, namun keduanya menurut saja keinginan orang-orang tua yang menjodohkan mereka.

Sebagai tanda ikatan, Cun Giok memberikan sebatang pedangnya, sedangkan Siok Eng memberikan sebuah hiasan rambut berbentuk pohon Yang-liu dari perak.

Siok Kan dan Siok Eng lalu tinggal di situ.

Siok Kan membantu pekerjaan mantunya, sedangkan Siok Eng membantu encinya di rumah.

Mereka hidup cukup bahagia dan selama tiga tahun lebih ini Siok Eng tumbuh menjadi seorang gadis dewasa berusia sembilan belas tahun yang cantik jelita!

Ada suatu hal yang seringkali membuat Siok Kan mengerutkan alis dan menghela napas panjang berulang-ulang, dan membuat Siok Eng diam-diam menangis dalam kamarnya.

Hal ini adalah tidak adanya berita dari Cun Giok!

Juga dari Suma Tiang Bun tidak pernah ada beritanya.

Padahal, sudah banyak pemuda di Cin-yang tertarik kepada Siok Eng yang cantik manis.

Sampai kesal dan lelah Siok Kan menolak pinangan-pinangan yang diajukan melalui comblang, menolak dengan halus sambil mengatakan bahwa Siok Eng sudah mempunyai calon suami.

Hal ini membuat Chao Kung, mantu Siok Kan, menjadi khawatir sekali.

Adik iparnya itu adalah seorang gadis dewasa yang cantik menarik, dan pada masa itu kecantikan pada wajah seorang wanita seringkali malah mendatangkan malapetaka pada dirinya.

Yang terbaik bagi seorang gadis cantik adalah menikah secepatnya karena walaupun seorang wanita muda cantik yang sudah bersuami itu tidak merupakan jaminan keamanannya, setidaknya para penggodanya tidaklah sebanyak yang dihadapi seorang gadis cantik.

"Gak-hu (Ayah Mertua),"

Pada suatu sore Chao Kung yang didampingi Siok Hwa, bicara bertiga di ruangan tengah.

Siok Eng sedang sibuk di dapur mempersiapkan makan malam dan kesempatan itu dipergunakan suami isteri ini untuk bicara dengan ayah mereka mengenai diri Siok Eng.

"Mari kita rundingkan masak-masak!"

"Ayah, kami berdua bukan sekadar membujuk untuk kepentingan diri kami atau diri Ayah dan Adik Eng saja, melainkan demi keselamatan dan keamanan hidup kita semua. Kukira apa yang dikatakan suamiku benar dan memerlukan pertimbangan Ayah secara mendalam,"

Kata Siok Hwa kepada Siok Kan yang hanya menghela napas.

"Akan tetapi bagaimana dengan pertunangannya dengan pendekar Suma Cun Giok? Cun Giok dan kakeknya, Suma Tiang Bun, adalah penolong kami. Kalau tidak ada mereka mungkin Siok Eng sekarang juga sudah tewas membunuh diri, seperti adikmu Siok Li."

"Karena itulah, Gak-hu, kita perlu membicarakan masalah ini agar jangan menyesal setelah terlambat. Kita semua menyadari bahwa Eng-moi (Adik Eng) telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik menarik. Buktinya, sudah puluhan kali orang datang melamar yang selalu Gak-hu tolak."

"Bagaimana tidak harus kutolak, Chao Kung? Adik iparmu itu sudah ditunangkan, sudah menjadi calon isteri orang!"

"Akan tetapi, Ayah,"

Bantah Siok Hwa.

"Kalau Suma Cun Giok itu memang benar-benar menghendaki agar Eng-moi menjadi isterinya, mengapa telah tiga tahun dia tidak datang menjenguk atau memberi kabar? Eng-moi tidak mungkin harus menunggu terus sampai tua!"

Mengingat hal ini Siok Hwa panas hatinya.

"Biarpun dia itu seorang pendekar, namun agaknya dia tidak setia kepada janjinya dan kini mungkin saja telah melupakan Eng-moi!"

"Aku tidak percaya Suma Cun Giok akan bersikap seperti itu!"

Kata Siok Kan menggelengkan kepalanya.

"Memang mungkin sekali tidak. Akan tetapi dia ada kemungkinan lain yang lebih gawat, Gak-hu,"

Kata Chao Kung.

"Apa itu?"

"Kita mengetahui bahwa Suma Cun Giok dan kakeknya itu adalah pendekar-pendekar petualang. Mereka telah berani menentang bahkan membunuh putera Pembesar Bhong di kota Lan-hui. Perbuatan nekat itu tentu membuat dia dianggap pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Goan dan menjadi orang buruan. Siapa tahu sekarang dia bahkan sudah ditangkap, dipenjara atau mungkin juga dihukum mati sebagai pemberontak dan penjahat."

"Huh, dia bukan penjahat! Yang jahat adalah bangsawan-bangsawan macam Jaksa Bhong dan Bhong-kongcu itu!"

Siok Kan membantah.

"Kita tahu bahwa Suma Cun Giok adalah seorang pendekar yang membela rakyat dan menentang penguasa yang jahat. Akan tetapi pemerintah tidak menganggapnya demikian. Ingat, Gak-hu, kalau Adik Eng menjadi isteri Suma Cun Giok, hidupnya tentu juga tidak tenteram, tidak aman. Kalau suaminya dicari-cari dan dijadikan orang buruan pemerintah, bagaimana mungkin Adik Eng dapat hidup tenang dan bahagia?"

Siok Kan menundukkan mukanya, alisnya berkerut dan berulang-ulang dia menghela napas panjang.

Suami isteri itu saling pandang dan Siok Hwa memberi isyarat kepada suaminya agar jangan terlalu menekan ayahnya.

Chao Kung menghela napas dan berkata dengan lembut.

"Gak-hu, maafkan kelancangan saya. Akan tetapi, saya melihat kenyataan-kenyataan yang amat mengkhawatirkan. Karena Adik Eng selalu menolak pinangan orang, para pemuda yang ditolak itu tentu saja menjadi kecewa dan marah. Kalau sampai ada putera pembesar yang tertarik kepada Adik Eng...... ah, saya sungguh khawatir apa yang Gak-hu alami di dusun Ci-bun dulu akan terulang kembali. Terus terang saja, kemarin dulu ketika saya menyetorkan rempa-rempa yang dipesan orang, pulangnya saya singgah di rumah makan sekadar membeli bakmi dan minum arak manis. Di rumah makan itu saya dipanggil dua orang pemuda yang bukan lain adalah Kim-kongcu (Tuan Muda Kim) dan Kui-kongcu. Mereka membayar makanan dan minuman yang saya pesan dan mereka mengajak saya bicara tentang Adik Eng yang mereka puji-puji kecantikannya. Mereka sudah mendengar bahwa Adik Eng menolak pinangan banyak pemuda, dan mereka menyinggung tentang pertunangan Adik Eng. Mereka bertanya apakah benar Adik Eng sudah ditunangkan, kalau sudah kapan menikahnya dan mengapa selama ini tunangannya tidak pernah muncul di kota ini. Mereka agaknya curiga, Gak-hu. Mereka mengatakan bahwa Adik Eng sudah lebih dari dewasa untuk menikah dan agaknya dua orang itu kagum dan tertarik kepada Adik Eng."

"Hemm, siapakah mereka itu?"

Tanya Siok Kan sambil mengerutkan alisnya.

"Kim-kongcu adalah putera Panglima Kim Bayan yang menjadi panglima yang menguasai pasukan yang berada di Propinsi Shan-tung, sedangkan Kui-kongcu adalah putera Kui-thaijin (Pembesar Kui) yang menjadi Kepala Pengadilan di kota ini. Semua orang di Cin-yang ini sudah tahu bahwa Kim-kongcu suka bertindak sewenang-wenang, mengandalkan kedudukan ayahnya. Bahkan para pejabat pun takut kepada Kim Thai-ciangkun (Panglima Kim). Demikianlah, Gak-hu, saya kira kalau Adik Eng sudah menikah, bahayanya tidak akan sebesar kalau ia masih gadis dan menjadi incaran para pemuda di sini."

Siok Kan mengerutkan alisnya dan dia pun mulai merasa khawatir sekali.

"Aku mengerti apa yang kalian maksudkan dan memang pendapat kalian itu benar. Memang sudah sebaiknya kalau adik kalian Siok Eng menikah sehingga mengurangi ancaman. Akan tetapi, bagaimana kalau sewaktu-waktu Suma Cun Giok datang bersama gurunya? Ah, ke mana akan kutaruh mukaku ini? Memutuskan pertalian perjodohan secara sepihak! Padahal mereka itu pernah menyelamatkan Adikmu dari bencana, bahkan membalaskan kematian Adikmu Siok Li? Aku merasa malu sekali dan takut!"

"Gak-hu, saya percaya bahwa orang-orang gagah yang disebut pendekar seperti Suma Cun Giok dan gurunya itu akan dapat memahami kalau kita bicara terus terang tentang bahaya yang mengancam kita sehingga terpaksa Adik Eng kita jodohkan dengan laki-laki lain demi keselamatan kita semua. Biarlah saya yang akan memberi penjelasan kepada mereka kalau sewaktu-waktu mereka datang."

Siok Kan menghela napas panjang.

"Kalau begitu, terserah saja. Akan tetapi bagaimana kalau Siok Eng tidak mau menikah dengan orang lain?"

"Ayah, biarlah aku yang akan menjelaskan dan membujuk Adik Eng. Kukira ia akan mengerti dan mau menikah dengan orang lain demi keselamatan kita semua,"

Kata Siok Hwa.

Akan tetapi ketika malam hari itu Siok Hwa membicarakan urusan ini dengan Siok Eng, gadis itu menangis.

Ia tidak dapat menyatakan setuju atau menolak.

Hatinya bingung dan sedih bukan main.

Telah tiga tahun lamanya ia menganggap dirinya sebagai calon isteri Cun Giok, menanti-nantinya dengar sabar dan setia dan sudah tumbuh perasaan cinta dan setianya kepada pemuda itu.

Sukar bagi hatinya untuk memutuskan tali perjodohan itu dan menjadi isteri pria lain.

Akan tetapi mendengar penjelasan encinya, ia pun mengerti bahwa sukar pula baginya untuk tidak menyetujui pendapat keluarganya.

Karena itu, ia tidak dapat memberi jawaban pasti, hanya menyerahkan segalanya kepada ayahnya, encinya dan ci-hunya (kakak iparnya).

Akan tetapi sejak malam itu, ia selalu mengurung diri, menangis dan menangis!

Kota Cin-yang mulai gempar ketika tangan-tangan kotor para pejabat yang bertugas mengumpulkan tenaga kerja-paksa mulai menggerayangi daerah itu!

Untuk menangani pengumpulan tenaga kerja ini, yang memegang pimpinan adalah Hakim Kui Hok, seorang pembesar bangsa Pribumi Han yang pandai menyenangkan hati para pejabat tinggi Kerajaan Mongol sehingga dia memperoleh kedudukan Hakim yang berkuasa penuh di Cin-yang.

Dialah yang membuat daftar nama orang-orang penduduk daerah itu yang dipilih menjadi tenaga kerja membantu pembangunan Terusan.

Tentu saja tidak disebut sebagai kerja paksa, melainkan kerja bakti, merupakan kebaktian rakyat kepada pemerintahnya!

Adapun yang menjadi pelaksana tentu saja pasukan keamanan daerah itu dan sebagai pimpinan tertinggi tentu saja yang berwenang adalah Kim Thai-ciangkun (Panglima Kim), panglima yang paling berkuasa di daerah Propinsi Shan-tung.

Panglima Kim adalah seorang Mongol bernama Kim Bayan, dan dia yang paling ditakuti karena dia merupakan seorang panglima yang diangkat oleh Kaisar sendiri.

Bahkan Kepala Daerah Cin-yang, Yo-thaijin (Pembesar Yo), dan para pejabat lain seperti Kui Hok yang menjadi hakim atau kepala pengadilan di Cin-yang, mau tidak mau tunduk kepada Panglima Kim Bayan!

Baru beberapa hari saja setelah aksi pengumpulan tenaga kerja dilakukan, Cin-yang menjadi gempar.

Mulailah para pejabat, terutama Panglima Kim Bayan dan Hakim Kui Hok, juga kaki tangannya, mengeruk keuntungan sebanyaknya dari peristiwa ini.

Mereka yang namanya terdaftar, kebingungan mencari uang untuk menyogok agar terbebas dari kewajiban kerja bakti itu.

Bagi mereka yang mempunyai uang, hal ini tidak terlalu meresahkan.

Mereka hanya tinggal mengurangi sebagian harta mereka untuk menyuap, dan beres.

Akan tetapi bagi mereka yang tidak kaya, tentu saja menjadi bingung.

Mulailah para hartawan menggunakan kesempatan ini untuk mengeduk keuntungan.

Mereka memberi hutang kepada orang-orang yang kebingungan itu, dengan bunga besar dan tanah, rumah, atau sawah ladang mereka sebagai tanggungan!

Kalau atasannya kotor, bawahannya tidak mau kalah.

Bukankah atasan itu menjadi panutan (tauladan) bagi bawahan?

Para anak buah atau kaki tangan Panglima Kim dan Pembesar Kui demikian pula.

Mereka berpesta pora dan bertindak sewenang-wenang, mengandalkan kekuasaan dua orang pejabat tinggi itu!

Di rumah Chao Kung, empat orang penghuninya juga gemetar mendengar bermacam berita tentang tindakan sewenang-wenang itu.

Mereka merasa khawatir sekali dan setiap hari Chao Kung keluar rumah untuk berbincang-bincang dengan sesama warga kota Cin-yang, mendengar kejadian-kejadian hebat sebagai akibat dari aksi pengumpulan orang-orang lelaki untuk dijadikan "pekerja bakti"!

Kalau pulang dia menceritakan semua peristiwa itu kepada Siok Kan, Siok Hwa dan Siok Eng dan mereka menjadi prihatin sekali, gelisah memikirkan kalau-kalau Chao Kung akan terkena "cidukan"

Pula.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali terdengar suara tangis riuh rendah di sebuah rumah tak jauh dari rumah tempat tinggal Chao Kung.

Mendengar ini, Chao Kung dan ayah mertuanya, Siok Kan, segera lari bergegas dari rumah menuju ke rumah tetangganya yang sedang bertangisan itu.

Siok Hwa dan Siok Eng tidak diperbolehkan keluar karena pada masa seperti itu, lebih aman bagi para wanita muda untuk tinggal di rumah dan tidak memperlihatkan diri di luar rumah.

Tetangga yang terkena musibah itu adalah Thio Sun Ki, laki-laki berusia tigapuluh dua tahun yang hidup di situ bersama ibunya yang sudah menjanda, isterinya yang berusia duapuluh lima tahun dan berwajah manis.

Keluarga ini mempunyai seorang pelayan wanita tua.

Thio Sun Ki bekerja sebagai pembuat tahu dan penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarganya.

Tiga hari yang lalu, Thio Sun Ki terkena "cidukan".

Dia dibawa ke markas oleh regu perajurit yang bertugas melaksanakan "cidukan"

Terhadap mereka yang sudah masuk daftar.

Regu perajurit itu yang merupakan regu dari pasukan istimewa, dipimpin oleh Perwira Lai Koan yang bertubuh gendut, berusia empatpuluh tahun dan terkenal galak.

Tentu saja Nyonya Thio yang manis itu menjadi cemas sekali.

Orang yang terpilih menjadi pekerja paksa menggali Terusan kebanyakan akan mati oleh penyakit atau kelelahan dan kurang makan!

Nyonya muda ini segera membawa semua perhiasannya yang ada, lalu pergi sendiri ke markas pasukan itu untuk "menyogok"

Lai-ciangkun (Perwira Lai) agar suaminya dibebaskan.

Ibu mertuanya sudah melarangnya, namun Nyonya Thio yang belum mempunyai anak ini nekat karena apa yang ia lakukan itu berarti menebus nyawa suaminya dari ancaman maut!

Ia tidak pulang selama dua malam dan pada pagi hari yang ketiga itu, Nyonya Thio pulang dalam keadaan lunglai dan ia menggantung diri dalam kamarnya.

Ibu mertuanya dan para tetangga perempuan yang menemukan Nyonya Thio sudah mati menggantung diri, menjerit-jerit dan menangis.

Ketika Chao Kung dan Siok Kan tiba di situ, sudah berkumpul banyak tetangga dan mereka mendengar bahwa nyonya muda itu membunuh diri karena ketika ia berusaha menyuap petugas agar membebaskan suaminya, ia malah ditangkap dan selama dua malam ia diperkosa dan dipermainkan Lai-ciangkun dan beberapa orang pembantunya!

Nyonya muda itu pulang, menangis menceritakan malapetaka yang menimpanya dan tahu-tahu ia telah menggantung diri dalam kamarnya.

Peristiwa yang menimpa keluarga Thio itu bukan hal aneh terjadi pada masa itu.

Perwira Lai Koan dalam waktu beberapa hari saja semenjak datang di Cin-yang dan menjadi kepala pasukan pelaksana "cidukan"

Telah dikenal masyarakat sebagai seorang perwira yang mata keranjang.

Dia sengaja memilih keluarga yang mempunyai wanita cantik untuk diciduk agar keluarga itu menebusnya dengan menyerahkan wanita cantik itu kepadanya, baik yang masih gadis maupun yang sudah bersuami.

Pada jaman itu, bukan merupakan rahasia lagi bagi masyarakat betapa sebagian besar pejabat adalah koruptor, sewenang-wenang terhadap rakyat mengandalkan kekuasaan mereka, dan hukum yang diadakan pemerintah bahkan merupakan senjata pelindung bagi para pejabat karena hukum yang terdiri dari kata-kata itu dapat diputar-balikkan dengan mudah oleh mereka yang berkuasa!

Kalau penduduk kota Cin-yang gelisah dan ketakutan, sebaliknya di dalam markasnya, Perwira Lai Koan dan para pembantunya berpesta pora.

Pada masa itu, setan dan iblis bersuka ria dan tampaknya kejahatan berada di atas angin dan kebenaran seolah disaput kegelapan.

Rakyat hanya menjerit dalam hati mereka menuntut keadilan, akan tetapi mulut siapa yang berani meneriakkan tuntutan itu?

Jangankan berteriak, baru membisikkan protes dan tuntutan saja sudah cukup untuk membuat si pemilik mulut itu ditangkap dengan tuduhan memberontak!

Karena itu, rakyat hanya mampu menangis dan menyumpah-nyumpah di dalam hati mereka.

Pada suatu pagi yang cerah, jatuh giliran keluarga Siok Kan yang dilanda kegelisahan.

Regu perajurit pelaksana pemilihan calon tenaga kerja paksa itu mendatangi rumah Chao Kung.

Regu itu terdiri dari dua losin perajurit yang dipimpin sendiri oleh Lai-ciangkun.

Dengan sikapnya yang sombong, Perwira Lai Koan yang berusia empatpuluh tahun dan bertubuh gendut itu, menyentuh kumisnya yang tebal dengan jari tangannya ketika dia disambut oleh Chao Kung dan Siok Kan.

Dua losin perajurit menanti di luar.

"Silakan masuk dan duduk, Ciang-kun,"

Kata Chao Kung dengan sikap hormat dan memaksa senyum walaupun mukanya pucat dan jantungnya berdebar tegang.

"Hemm, kami datang bukan untuk bertamu dan duduk mengobrol,"

Jawab Sang Perwira yang sombong itu.

"Kalian yang bernama Chao Kung dan Siok Kan?"

Lai-ciangkun berlagak memeriksa buku catatannya, di mana tertulis nama-nama orang yang akan diciduk dan dijadikan pekerja paksa.

Padahal tentu saja dia sudah tahu karena sebelumnya dia sudah mengetahui dari para penyelidik bahwa di rumah Chao Kung terdapat dua orang wanita muda yang cantik manis, yang seorang adalah isteri Chao Kung dan seorang pula adik iparnya yang masih gadis.

Akan tetapi sekali ini perwira itu tidak mempunyai maksud untuk mendapatkan dua orang wanita cantik itu, melainkan untuk menuruti permintaan dua orang muda dengan mendapat imbalan uang!

"Benar, Ciang-kun.

Saya bernama Chao Kung dan ini adalah ayah mertua saya bernama Siok Kan,"

Jawab Chao Kung, memaksa diri agar dapat menjawab tanpa gemetar.

"Bagus, kebetulan sekali kalian berdua berada di rumah. Kami datang memberitahu bahwa menurut daftar calon pekerja bakti, nama kalian tercantum. Kalian harus mempersiapkan diri untuk diberangkatkan membantu pekerjaan penting yang dilakukan pemerintah yaitu menggali Terusan Besar."

Chao Kung dan Siok Kan yang sudah dapat menduga tidak terkejut mendengar ini, hanya merasa semakin gelisah.

Chao Kung lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk sampai dalam.

"Ciang-kun, maafkan saya. Bukan sekali-kali saya hendak membangkang terhadap perintah itu, akan tetapi mohon dipertimbangkan kembali bahwa saya merupakan kepala keluarga di sini dan sayalah yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarga saya. Adapun Ayah mertua saya ini sudah lanjut usianya, maka kami mohon kebijaksanaan Ciang-kun agar sudi mengasihani kami dan membebaskan kami dari Kerja Bakti."

Sepasang alis tipis di muka yang bulat seperti bola itu dikerutkan, tangan kanan yang besar itu menyentuh ujung kumis dan dimainkannya.

"Huh, perintah dari Sribaginda Kaisar tidak boleh ditawar-tawar! Kalian hanya menaati perintah atau siap untuk dihukum sebagai penentang kebijaksanaan Pemerintah Kerajaan! Habis perkara!"

"Ciang-kun yang terhormat, kasihanilah kami!"

Chao Kung berkata.

"Kalau terpaksa, biarlah saya saja yang bekerja bakti, akan tetapi mohon membebaskan Ayah mertua saya ini. Keluarga kami hanya dua orang laki-laki dan dua orang wanita. Kalau Ciang-kun mengambil kami dua orang laki-laki, yang tinggal hanya dua orang wanita yang lemah tak berdaya. Kasihanilah, Ciang-kun!"

"Sudah! Jangan banyak cerewet lagi! Kami beri waktu tiga hari. Dalam tiga hari itu kalian harus sudah siap dan akan dijemput pasukan!"

Setelah berkata demikian Perwira Lai Koan lalu memutar tubuhnya keluar dari rumah itu dan melangkah tegap diiringkan dua losin orang anak buahnya!

Biarpun Chao Kung merasa gelisah sekali, namun dia masih melihat harapan.

Diberinya waktu tiga hari itu tentu untuk memberi kesempatan kepadanya agar dia dapat menebus kebebasannya dengan uang sogokan!

Sehari itu, Chao Kung sibuk mengumpulkan emas, bukan hanya dari simpanan keluarganya sendiri, melainkan juga sibuk pinjam dari kenalannya.

Siok Kan, Siok Hwa, dan Siok Eng hanya dapat berkeluh-kesah dalam keadaan gelisah sekali.

Mereka dapat merasakan bahwa mereka berada di bawah ancaman marabahaya yang hebat.

Pada sore hari itu, Perwira Lai Koan muncul lagi bersama dua losin anak buahnya, sekali ini dia mengiringkan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Kim Magu putera Panglima Kim Bayan yang berkuasa di Cin-yang, dan Kui Coa putera dari Kui Hok yang menjadi Kepala Pengadilan di Cin-yang.

Melihat datangnya dua orang pemuda bangsawan ini, jantung Choa Kung berdebar-debar ketika bersama Siok Kan dia menyambut rombongan itu.

Dengan hormat Cao Kung mempersilakan Kim-kongcu (Tuan Muda Kim) dan Kui-kongcu untuk masuk dan duduk di ruangan depan.

Dua orang pemuda itu tersenyum-senyum dan memasuki ruangan, diantar oleh Perwira Lai Koan sendiri sedangkan regunya menanti di luar.

"Ji-wi Kongcu (Tuan Muda Berdua),"

Kata Perwira Lai Koan dengan sikap menjilat kepada dua orang pemuda itu.

"Orang tua ini adalah Siok Kan dan ini mantunya bernama Chao Kung......."

"Ha-ha, kami sudah mengenal Chao Kung ini, Lai-ciangkun!"

Kata Kim Magu. Kemudian dia memandang Chao Kung dan berkata.

"Chao Kung, menurut laporan Lai-ciangkun, engkau yang kepala keluarga di sini dan engkau bilang bahwa di sini hanya ada empat orang, dua pria dan dua wanita. Prianya tentu engkau dan Ayah mertuamu itu. Akan tetapi benarkah hanya ada empat orang di rumahmu? Kami ingin membuktikan. Suruh semua penghuni rumah ini ke sini agar kami dapat melihat buktinya!"

Mendengar ini, tanpa diminta Siok Hwa dan Siok Eng yang mendengarkan dari dalam, keluar dan mereka berdua berdiri di belakang dua orang tuan rumah.

Siok Hwa berdiri di belakang suaminya dan Siok Eng berdiri di belakang ayahnya.

Kedua orang wanita itu gemetar ketakutan.

Dua orang pemuda bangsawan itu memandang dengan mata bersinar dan mulut tersenyum.

Mereka sudah muak dengan para wanita yang biasa memoles muka mereka dengan bedak dan gincu tebal, menghias tubuh mereka dengan pakaian dan perhiasan mewah sehingga kecantikan mereka itu pulasan, seperti boneka.

Sekarang mereka melihat dua orang wanita yang memiliki kecantikan yang wajar dan aseli.

Biarpun sudah bersuami, Siok Hwa yang berusia duapuluh tujuh tahun dan belum mempunyai anak itu masih tampak muda dan penuh daya tarik.

Dua orang wanita yang kini dipandang dua orang pemuda bangsawan itu mengenakan pakaian sederhana, bahkan rambut mereka terlepas dan tidak rapi, muka mereka tidak berlepotan bedak dan gincu, akan tetapi dalam pandangan Kim-kongcu dan Kui-kongcu, mereka bagaikan dua orang bidadari yang amat menarik hati dan menggairahkan!

Maka Magu atau Kim-kongcu memberi isyarat kepada Perwira Lai Koan dan mengajak perwira itu dan Kui Con atau Kui-kongcu keluar.

Setelah tiba di luar, Kim-kongcu berkata kepada perwira itu.

"Aku ingin gadis itu untuk menjadi selirku."

"Aku pun ingin mendapatkan isteri Chao Kung itu,"

Kata pula Kui-kongcu. Lai-ciangkun menyeringai dan mengelus kumisnya.

"Ha-ha, itu mudah. Serahkan saja kepadaku dan Kongcu berdua dapat menanti di gedung masing-masing. Malam ini wanita idaman itu pasti akan saya antarkan kepada Kongcu berdua."

"Bagus, terima kasih, Lai-ciangkun!"

Kata kedua orang muda itu dan mereka lalu meninggalkan tempat itu, pulang ke gedung orang tua masing-masing.

Mereka tidak mau langsung melakukan paksaan karena mereka tidak mau terlihat penduduk bahwa mereka merampas isteri dan gadis orang.

Perwira Lai Koan kini memasuki kembali rumah Chao Kung, sekarang diikuti oleh sepuluh orang perajuritnya.

Dia tersenyum ketika pihak tuan rumah sebanyak empat orang itu menyambutnya dengan penuh kekhawatiran.

"Ha, Kiong-hi (selamat), Siok Kan dan Chao Kung! Kalian berdua untung sekali!"

Kata perwira itu sambil tersenyum lebar.

"Apa maksud Ciang-kun?"

Tanya Chao Kung, mengerutkan alisnya karena sukar baginya untuk percaya bahwa dia dan ayah mertuanya akan benar-benar dibebaskan dari cidukan kerja paksa itu sedemikian mudahnya.

"Ha, maksudku sudah jelas! Kalian sungguh beruntung sekaii karena Kim-kongcu dan Kui-kongcu merasa kasihan melihat kalian, maka atas tanggungan mereka kalian berdua dibebaskan dari tugas kerja bakti."

Mendengar ini, wajah empat orang yang tadinya pucat dan khawatir itu kini menjadi cerah dan mereka tersenyum dengan girang sekali.

Chao Kung dan Siok Kan lalu merangkap kedua tangan depan dada, memberi hormat dengan membungkuk, diikuti dua orang wanita itu.

"Lai-ciangkun sungguh bijaksana dan kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ciang-kun dan kepada Kim-kongcu dan Kui-kongcu yang telah menolong kami. Kami tidak akan melupakan budi kebaikan ini,"

Kata Chao Kung mewakili keluarganya.

"Budi kebaikan yang demikian besarnya bukan hanya tidak boleh dilupakan, bahkan sudah sepatutnya kalau kalian memperlihatkan niat baik untuk membalasnya,"

Kata Perwira Lai Koan sambil menyeringai.

"Bahkan pembalasan budi kalian akan menambah keberuntungan kalian berdua, bukan hanya terbebas dari tugas kerja bakti, melainkan juga menjadi orang-orang terhormat di kota ini."

"Apa yang Ciang-kun maksudkan?"

Tanya Chao Kung dan mereka berempat memandang perwira itu dengan mata memandang heran dan curiga.

"Berita menggembirakan kalian, dan karena inilah maka tadi aku mengucapkan Kiong-hi (selamat) kepada kalian. Dengarlah, aku diminta oleh Kim-kongcu dan Kui-kongcu untuk menyampaikan kepada kalian bahwa kedua orang pemuda bangsawan tinggi itu ingin mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga kalian di sini."

"Maksudnya......?"

Pertanyaan ini keluar dari mulut Siok Kan dan Chao Kung.

"Kim-kongcu ingin mengangkat Siok Kan menjadi ayah mertuanya dan Kui-kongcu ingin mempererat persahabatannya dengan Chao Kung."

"Ciang-kun, harap jelaskan......"

Kata Chao Kung.

"Kim-kongcu ingin agar Nona ini menjadi selirnya dan Kui-kongcu ingin berkenalan lebih dekat dengan Nyonya muda ini. Maka sekarang juga aku untuk mengantarkan Nona dan Nyonya ini kepada mereka."

Tentu saja empat orang itu terkejut bukan main.

Wajah dua orang wanita itu seketika menjadi pucat dan mereka melangkah mundur ketakutan, sedangkan wajah dua orang pria itu berubah merah saking marahnya.

Siok Kan marah mendengar puterinya akan dipaksa menjadi selir Kim-kongcu dan Chao Kung lebih marah lagi mendengar isterinya hendak dipermainkan Kui-kongcu.

Keinginan dua orang pemuda bangsawan itu merupakan penghinaan bagi keluarga mereka.

"Aku tidak mau......!"

Siok Eng berseru.

"Aku juga tidak sudi......!"

Kata Siok Hwa. Siok Kan yang lebih sabar kini maju menghadapi Perwira Lai Koan dan berkata dengan lembut.

"Ciang-kun telah mendengar sendiri betapa dua orang anak saya itu menolak. Maka, kami harap Ciang-kun tidak memaksa kami."

Perwira ini mengerutkan alisnya dan perutnya yang gendut kembang kempis. Dia marah sekali mendengar penolakan mereka.

"Perintah Kim-kongcu dan Kui-kongcu tidak boleh dibantah! Apakah kalian ingin ditangkap sebagai pemberontak?"

Bentaknya dengan wajah bengis mengancam.

"Ciang-kun, aturan mana ada isteri orang hendak dipermainkan? Kalau Ciang-kun sudah mendengar bahwa mereka menolak lalu hendak menggunakan paksaan, terpaksa kami akan melindungi isteri dan Adik ipar saya!"

Kata Chao Kung dengan nekat. Kemarahan, membuat dia melupakan rasa takutnya.

"Apa? Kalian hendak melawan petugas Kerajaan?"

Bentak Perwira Lai, lalu dia menoleh kepada sepuluh orang perajurit yang mengawalnya.

"Tangkap dua orang wanita itu!"

Sepuluh orang perajurit itu seperti berebut ketika diperintahkan menangkap dua orang wanita cantik itu.

Bagi mereka, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan sekali.

Setidaknya, mereka mendapat kesempatan untuk memegang dan menyentuh tubuh yang menggairahkan itu.

Melihat ini, Siok Kan dan Chao Kung bertindak.

Siok Kan berusaha melindungi Siok Eng, sedangkan Chao Kung melindungi isterinya.

Akan tetapi Siok Kan yang lemah itu segera roboh ketika seorang perajurit menendangnya.

Akan tetapi Chao Kung yang menguasai ilmu silat, cukup tangguh dan dia segera meloncat untuk melindungi isterinya.

Ketika dua orang perajurit menyambutnya dengan pukulan, dia melawan dan setelah berkelahi ramai dia berhasil merobohkan dua orang perajurit itu.

Akan tetapi dua orang perajurit lain dengan marah sudah memukulnya dari belakang sehingga Chao Kung terpelanting roboh dan tidak berdaya seperti ayah mertuanya karena pukulan itu membuat kepalanya pening dan dadanya sesak.

Dua orang wanita itu, Siok Hwa dan Siok Eng, melakukan perlawanan dengan nekat.

Mereka mencakar, menggigit dan meronta.

Akan tetapi mereka ditelikung, masing-masing oleh dua orang perajurit dan tidak mampu berkutik lagi!

Mereka menangis dan diseret keluar oleh para perajurit yang dipimpin Perwira Lai Koan yang tersenyum-senyum karena dia sudah membayangkan upah besar dari Kim-kongcu dan Kui-kongcu!

Tiba-tiba ketika mereka berada di jalan raya depan rumah Chao Kung, seorang gadis cantik dan lembut, berpakaian serba putih, dari sutera dan potongannya sederhana, tiba-tiba muncul depan Perwira Lai Koan.

"Perlahan dulu!"

Kata gadis itu, suaranya lembut, akan tetapi sinar matanya tajam penuh selidik ketika ia melayangkan pandang matanya ke arah Siok Hwa dan Siok Eng yang masing-masing dipegang kedua lengan mereka oleh dua orang perajurit.

Perwira Lai Koan yang gendut itu adalah seorang yang berwatak mata keranjang.

Biarpun dia sudah mempunyai empat orang isteri, akan tetapi dia tidak pernah melewatkan seorang wanita cantik begitu saja.

Selain mata keranjang, dia pun seorang penjilat atasan penindas bawahan dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin dengan cara apapun juga.

Kini melihat gadis yang cantik jelita, tidak kalah cantiknya dibandingkan dua orang wanita tawanannya, tentu saja dia mengilar!

Gadis begitu jelitanya tak mungkin dia diamkan begitu saja.

Akan menyenangkan kalau menjadi miliknya dan akan menghasilkan uang banyak kalau dia serahkan kepada para bangsawan tinggi atau hartawan besar yang kesukaannya membeli gadis-gadis cantik dengan harga tinggi.

"Aih, engkau mengejutkan hatiku, Nona manis. Kukira tadi engkau seorang Dewi dari langit datang ke bumi. Siapakah namamu, manis, dan mengapa engkau menahan perjalananku?"

"Namaku tidak penting, Ciang-kun. Aku hanya ingin sekali mengetahui, mengapa dua orang enci itu kau tawan dan kau bawa dengan paksa seperti itu?"

Suara gadis itu masih lembut. Agaknya ucapan perwira yang mulai merayu itu ia anggap sepi dan tidak menyinggung perasaannya.

"Engkau ingin tahu, manis? Mereka itu adalah selir-selir Kim-kongcu dan Kui-kongcu yang melarikan diri, maka aku bersama dua losin perajuritku melakukan pengejaran dan menangkap mereka untuk kuserahkan kepada Kim-kongcu dan Kui-kongcu."

"Bohong!"

Siok Eng berteriak.

"Aku tidak sudi dijadikan selir Kim-kongcu lalu ditangkap dan hendak dipaksa!"

"Aku dirampas dari suamiku. Ayah kami dan suamiku mereka pukul!"

Teriak pula Siok Hwa.

"Hemm, jadi engkau hendak memaksa seorang gadis dan memaksa pula isteri orang, Ciang-kun? Setahuku, para pejabat tertinggi sekalipun di kota raja tidak ada yang bertindak sewenang-wenang merampas anak dan isteri orang! Apakah engkau tidak merasa bersalah, Ciang-kun?"

Kata gadis pakaian putih itu, suaranya tetap lembut namun mengandung teguran. Pada saat itu, Chao Kung keluar dari rumah diikuti Siok Kan.

"Kembalikan isteriku......!"

Teriak Chao Kung.

"Kembalikan Anakku......!"

Siok Kan juga berseru.

Melihat dua orang laki-laki yang mukanya bengkak-bengkak itu gadis pakaian putih tadi mengerutkan alisnya.

Perwira Lai Koan marah bukan main melihat munculnya Chao Kung dan Siok Kan.

Dia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Kalian berdua agaknya sudah bosan hidup!"

Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya kepada dua orang itu.

Empat orang perajurit menghampiri Chao Kung dan Siok Kan.

Agaknya ancaman Perwira Lai tadi mereka anggap sebagai perintah untuk membunuh dua orang itu maka empat orang perajurit itu sudah mencabut golok mereka.

Akan tetapi sebelum mereka sempat menyerang Chao Kung dan Siok Kan yang sudah menjadi korban pukulan dan tendangan tadi, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu empat orang perajurit itu berteriak, golok mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terpelanting roboh.

Kini bayangan putih yang ternyata adalah gadis pakaian putih tadi sudah berkelebat lagi ke arah Siok Hwa dan Siok Eng.

Empat orang perajurit yang memegang kedua lengan Siok Hwa dan Siok Eng menyambut dengan bacokan golok, akan tetapi kembali mereka berteriak, golok mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka berpelantingan!

Gadis itu lalu menarik tangan Siok Hwa dan Siok Eng, dibawa mendekati Chao Kung yang segera merangkul Siok Hwa dan Siok Kan yang merangkul Siok Eng.

"Kalian masuk rumah dulu, aku yang akan mengusir mereka!"

Kata gadis yang ucapan dan sikapnya lemah lembut namun yang sepak terjangnya hebat dan lihai itu.

Dapat dibayangkan kemarahan Perwira Lai Koan ketika melihat betapa gadis cantik jelita berpakaian putih itu telah merobohkan delapan orang perajuritnya dan melindungi empat orang itu.

"Tangkap gadis baju putih itu lebih dulu, lalu tangkap dua wanita yang lain, dan bunuh dua orang pemberontak itu!"

Dia memberi perintah dan dia sendiri lalu berlari menghampiri gadis baju putih itu dengan sehelai rantai baja yang tadi dipakai sebagai sabuk pinggangnya yang gendut.

Rantai ini panjangnya sekitar dua depa, kedua ujungnya tajam dan runcing dan dimainkan dengan kedua tangannya.

Melihat gadis ini sama sekali tidak memegang senjata, Lai Koan mengikatkan kembali rantainya dan memberi aba-aba.

"Mari kita tangkap gadis ini hidup-hidup!"

Setelah dekat, Perwira Lai Koan dan anak buahnya lalu berlumba untuk menubruk dan meringkus gadis itu.

Siapa yang tidak ingin lebih dulu mendapat kesempatan meringkus dan merangkul tubuh gadis yang denok dan lemah gemulai itu?

Bersama Lai-ciangkun, tidak kurang dari lima orang perajurit menubruk dari semua jurusan sehingga tidak mungkin lagi tampaknya bagi gadis itu untuk mengelak.

Di depan, belakang, kanan dan kiri sudah siap menunggu tangan-tangan yang kuat untuk meringkusnya!

Akan tetapi, selagi mereka yang berlumba menangkap gadis itu merasa yakin akan dapat meringkusnya, tiba-tiba gadis itu lenyap dari tengah kepungan mereka.

Yang tampak hanyalah bayangan putih meluncur ke atas seperti seekor burung dara yang hendak ditangkap orang.

Gadis itu telah menghindarkan diri dengan melompat ke atas dan tubuhnya yang ramping itu melayang turun, lalu berkelebatan dan terdengar teriakan susul menyusul ketika ia membagi-bagi tamparan dan tendangan.

Tubuh dua losin perajurit anak buah Perwira Lai itu berpelantingan dan melihat ini, Perwira Lai Koan menjadi gentar dan tanpa malu lagi dia melarikan diri.

Akan tetapi bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu gadis baju putih itu telah berdiri di depannya!

Rasa takut yang hebat membuat Panglima Lai Koan menjadi nekat.

Kini dia tahu benar bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang hanya kelihatannya saja lemah lembut, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan seorang pendekar wanita yang amat lihai.

Lai Koan sudah memegang rantai baja yang menjadi senjatanya.

Kini sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menangkap gadis itu hidup-hidup.

Pikirannya hanya ingin melarikan diri atau membunuh gadis itu.

"Mampus kau......!"

Teriaknya lantang dan dia sudah menerjang dengan senjata itu.

Rantai itu diputar sedemikian rupa oleh kedua tangannya sehingga kedua ujung rantai yang runcing tajam itu menyambar dari kanan kiri ke arah tubuh gadis baju putih.

Akan tetapi bagaikan seekor burung dara yang gesit, tubuh gadis itu berkelebat ke belakang dan serangan itu gagal.

Lai Koan mendesak terus menyerang dengan kedua ujung rantainya secara bertubi-tubi.

Gadis itu memiliki gin-kang yang amat tinggi tingkatnya.

Tubuhnya berkelebatan dan hanya tampak bayangan putih saja dan semua serangan dapat ia hindarkan dengan mudah.

Baginya, gerakan rantai lawan itu terlalu lamban sehingga tidak sukar baginya untuk menghindarkan diri.

Setelah belasan jurus dengan pengerahan tenaga sepenuhnya tidak membawa hasil, Perwira Lai menjadi semakin gentar akan tetapi juga semakin takut.

Tiba-tiba dia maju mendekat dan kedua ujung rantainya menyambar dari atas ke arah kepala gadis itu!

Tadi semua serangannya itu dielakkan oleh lawan dengan loncatan ke atas, maka sekarang dia sengaja menyerang dari atas ke arah kepala gadis itu.

Disambar ujung rantai itu, tak diragukan lagi kepala akan pecah, apalagi kalau dihantam kedua ujungnya!

Gadis itu mundur selangkah dan tubuh atasnya condong ke belakang.

Ketika senjata rantai menyambar dari atas ke bawah di depan tubuhnya, secepat kilat kedua tangan gadis itu bergerak menangkap rantai dekat kedua ujungnya, lalu dengan sentakan halus ia melepaskan kedua ujung rantai sambil mendorong ke arah tubuh Perwira Lai.

"Krekk! Krekk!"

Perwira Lai Koan menjerit dan tubuhnya terjengkang roboh, tak kuat bangkit kembali karena kedua tulang pundaknya patah dihantam kedua ujung senjatanya sendiri!

Sejenak gadis baju putih itu memandang ke sekelilingnya.

Melihat perwira dengan dua losin perajuritnya itu telah roboh semua walaupun tidak ada yang tewas, dengan tenang ia lalu memasuki rumah Chao Kung.

Banyak orang melihat perkelahian itu dan semua merasa kagum, juga terkejut dan khawatir akan keselamatan Chao Kung sekeluarga dan gadis penolong mereka itu.

Peristiwa itu sungguh gawat.

Gadis itu telah merobohkan Perwira Lai Koan yang terkenal galak bersama dua losin perajurit!

Pasti pemerintah setempat tidak akan tinggal diam dan Chao Kung sekeluarga berikut gadis itu tentu akan ditangkap dan dihukum berat!

Mereka tidak ingin terlibat atau menjadi saksi, maka satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu sehingga jalan umum itu sebentar saja menjadi lengang.

Ketika gadis itu memasuki rumah, Chao Kung, Siok Kan, Siok Hwa, dan Siok Eng menyambutnya dengan berlutut dan memberi hormat.

Gadis itu tampak kaget dan tersipu.

Ia cepat maju dan mengangkat bangun Siok Hwa dan Siok Eng.

"Eh-eh, harap kalian jangan bersikap begini. Bangkit dan duduklah. Mari kita bicara karena peristiwa tadi tentu membuat keselamatan kalian terancam,"

Katanya dengan suara lembut.

Buntalan pakaian yang tadi digendong di punggungnya, ia lepaskan dan taruh di atas meja.

Dibukanya buntalan itu.

Ternyata isinya selain pakaian, juga banyak botol-botol kecil dan bungkusan-bungkusan obat.

Ia mengambil sebuah bungkusan, membukanya dan memberikannya kepada Siok Hwa.

"Taburkan sedikit bubuk obat ini ke bagian muka mereka yang bengkak dan berikan mereka masing-masing sebutir pel ini untuk ditelan."

Siok Hwa mematuhi petunjuk itu dan setelah bengkak-bengkak pada muka Siok Kan dan Chao Kung ditaburi obat bubuk merah dan mereka menelan sebutir pel, rasa nyeri-nyeri pada tubuh mereka pun berkurang banyak.

"Lihiap, kami sekeluarga berterima kasih sekali kepada Lihiap, kalau tidak ada Lihiap yang datang menolong, celakalah kami sekeluarga,"

Kata Chao Kung sambil menjura.

"Tidak perlu berterima kasih. Yang penting sekarang, harap kalian ceritakan mengapa kalian dimusuhi perwira dan pasukannya itu."

Gadis itu berkata lembut setelah dipersilakan duduk di atas kursi.

"Nama saya Chao Kung, ini adalah Ayah mertua saya bernama Siok Kan. Yang ini adalah isteri saya Siok Hwa dan adiknya bernama Siok Eng. Yang terjadi membuat kami sekeluarga penasaran sekali, Lihiap (Pendekar Wanita)!"

Kata Chao Kung dan dia lalu menceritakan tentang semua peristiwa yang menimpa sekeluarganya.

"Hemm, jadi yang menjadi gara-gara adalah Lai Koan tadi yang didalangi oleh Kim-kongcu dan Kui-kongcu? Siapa itu Kim-kongcu dan Kui-kongcu?"

"Mereka adalah pemuda-pemuda putera pejabat tinggi yang berkuasa di Cin-yang ini, Lihiap. Kim-kongcu bernama Kim Magu, putera Kim Bayan yang menjadi panglima besar di daerah Shan-tung. Adapun Kui-kongcu bernama Kui Con, putera Kepala Pengadilan Kui Hok di kota ini."

"Hemm, sekarang katakan, apakah di Cin-yang ini tidak ada pejabat yang jujur dan bijaksana? Bagaimana dengan Kepala Daerah di sini?"

Chao Kung segera menjawab.

"Kepala Daerah di Cin-yang ini bernama Yo Bun San. Yo-thaijin adalah seorang yang bijaksana dan adil, Lihiap."

"Apakah para pejabat itu bangsa Mongol, atau Pribumi Han?"

"Panglima Kim Bayan adalah seorang Mongol, Pembesar Kui Hok seorang Pribumi, dan Pembesar Yo adalah seorang peranakan Mongol/Han."

"Bagus, sekarang berkemaslah kalian. Kumpulkan dan bawa pakaian dan barang berharga. Kalian akan kubawa menghadap Kepala Daerah Yo Bun San, malam ini juga. Kalau dia seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tentu dia akan mau melindungi dan menolong kalian. Biar aku yang bicara dengannya nanti."

Karena gadis baju putih itu merupakan satu-satunya harapan mereka untuk dapat terhindar dari bencana, maka Chao Kung sekeluarga menaati petunjuknya.

Mereka berkemas, membawa pakaian dan barang berharga seperti perhiasan dan sebagainya, ditaruh dalam sebuah gerobak dorong dan mereka siap berangkat.

"Lihiap adalah penolong dan penyelamat kami. Mohon tanya, siapakah nama Lihiap yang mulia?"

Tanya Chao Kung dan pertanyaan ini didukung ayah mertuanya, isterinya dan adik iparnya. Gadis itu tersenyum ramah.

"Namaku Liu Ceng, aku datang dari Nan-king. Hanya itulah yang dapat kuceritakan. Mari kita berangkat!"

Setelah menitipkan rumahnya kepada tetangga terdekat, Chao Kung sekeluarga lalu pergi menyurung gerobaknya bersama gadis penolong mereka yang bernama Liu Ceng itu menuju gedung Yo-thaijin yang menjadi Kepala Daerah di Cin-yang.

Yo Bun San adalah seorang peranakan.

Ayahnya seorang Mongol aseli yang dulu menjadi seorang perwira tinggi ketika pasukan Mongol masih melebarkan sayapnya ke mana-mana.

Ayahnya tewas dalam perang dengan mendapat kehormatan.

Ibunya juga sudah meninggal.

Ibunya seorang Pribumi Han.

Karena jasa-jasa mendiang ayahnya, juga karena Yo Bun San telah lulus ujian kesusastraan, maka dia diangkat menjadi pejabat tinggi dan kini memegang jabatan Kepala Daerah di Cin-yang.

Kini usianya sudah sekitar limapuluh tahun, sikapnya lembut dan sopan.

Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot.

Dia seorang pejabat yang adil, jujur dan bijaksana sehingga penduduk Cin-yang menghormatinya.

Para pejabat lain tidak suka kepada Kepala Daerah yang jujur dan tidak mau korupsi ini, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu karena Yo Bun San memiliki hubungan baik dengan para pejabat di kota raja.

Bahkan Kim Bayan, Panglima Tinggi yang menguasai semua pasukan di daerah Shan-tung, segan kepada Yo-thaijin ini.

Ketika Yo-thaijin mendapat laporan dari para penjaga bahwa ada lima orang datang mohon keadilan, dia merasa heran akan tetapi pembesar yang selalu memperhatikan rakyatnya ini, keluar juga menyambut di ruangan tamu biarpun kunjungan itu dilakukan di waktu malam.

Ketika berhadapan dengan Yo-thaijin, Chao Kung dan isterinya, Siok Kan dan Siok Eng, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Yo-thaijin.

Gadis berpakaian putih bernama Liu Ceng itu, tidak berlutut, hanya berdiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

"Yo-thaijin, maafkan saya. Sesungguhnya sayalah yang mengajak keluarga ini datang menghadap Paduka di malam hari ini."

Yo-thaijin mengangguk-angguk dan ketika dia melihat Chao Kung dia berkata.

"Ah, bukankah engkau Chao Kung, pedagang rempa-rempa itu?"

"Benar sekali, Thai-jin. Ini adalah Ayah mertua saya Siok Kan, ini isteri saya Siok Hwa dan Adik ipar saya Siok Eng,"

Jawab Chao Kung dengan perasaan tegang dan juga khawatir. Dia meragu apakah datang menghadap Yo-thaijin ini akan berhasil menyelamatkan dia sekeluarga.

"Apakah yang terjadi? Mengapa malam-malam begini kalian datang berkunjung?"

Tanya pembesar itu.

"Sayalah yang membawa keluarga ini ke sini, Thai-jin,"

Kata Liu Ceng.

Ia lalu menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Chao Kung, betapa Perwira Lai Koan hendak menarik Siok Kan dan Chao Kung menjadi kerja-paksa lalu untuk membebaskan mereka dari kerja-paksa itu, Lai Koan memaksa Siok Hwa dan Siok Eng untuk mau menjadi permainan Kim-kongcu dan Kui-kongcu.

"Demikianlah, Yo-thaijin. Kebetulan saya lewat dan melihat itu saya lalu turun tangan membebaskan keluarga ini dan memberi hajaran kepada Perwira Lai dan pasukannya. Karena saya maklum bahwa keluarga ini pasti akan terancam keselamatannya, maka saya sengaja membawa mereka ke sini untuk minta pertimbangan Thai-jin yang terkenal adil dan bijaksana. Saya mengharap kebijaksanaan Thai-jin untuk melindungi keluarga yang menjadi warga kota yang terancam ini!"

Yo-thaijin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aahh, sudah sering kami mendengar akan kejanggalan dalam mengumpulkan tenaga kerja bakti, akan tetapi karena tidak ada yang berani melapor, kami tidak mempunyai saksi dan bukti untuk menuntut yang bersalah. Sekarang keluarga Chao Kung dapat menjadi saksi, kami akan melaporkan kepincangan ini kepada Pemerintah Pusat. Perintah dari Kaisar untuk mengumpulkan tenaga kerja bakti bukan dengan cara seperti itu. Bukan memaksa, dan diberi imbalan upah yang sepadan. Biarlah, kami terima keluarga ini mengungsi dulu di sini sampai keadaan aman dan urusan ini kami selesaikan dengan mereka yang tersangkut. Akan tetapi, Nona......."

Pembesar itu menghentikan kata-katanya karena dia teringat bahwa dia belum mengetahui nama gadis lemah lembut yang ternyata seorang pendekar wanita ini.

Liu Ceng atau yang biasa oleh orang tuanya disebut Ceng Ceng, tanggap akan kesangsian Kepala Daaerah Yo, segera menyambung.

"Nama saya Liu Ceng, Thai-jin."

"Nona Liu, keluarga Chao Kung boleh mengungsi dan tinggal di sini, akan tetapi maaf, kami tidak berani menerimamu setelah engkau menentang Lai-ciangkun yang menjadi utusan Kim-kongcu dan Kui-kongcu. Kami kira sebaiknya kalau engkau segera meninggalkan Cin-yang secepatnya."

Ceng Ceng segera memberi hormat dan berkata dengan senyum berkembang di bibirnya.

"Terima kasih, Thai-jin. Saya percaya bahwa Thai-jin yang bijaksana tentu akan menolong dan melindungi keluarga ini. Nah, sekarang saya pergi!"

"Lihiap, terima kasih.......!"

Empat orang pengungsi itu sambil masih berlutut mengucapkan terima kasih berulang-ulang, akan tetapi tubuh gadis itu sudah berkelebat sehingga tampak bayangan putih seperti terbang, dengan cepat menghilang dari gedung itu!

Yo-thaijin lalu memerintahkan orang-orangnya untuk membawa empat orang itu ke bagian belakang gedung di mana terdapat banyak kamar untuk para pembantu dan pelayan.

Mereka mendapatkan dua buah kamar dan untuk sementara mereka diperkenankan tinggal di gedung Pembesar Yo.

Biarpun mereka dianggap sebagai tamu, namun empat orang yang tahu diri ini tidak mau menganggur.

Mereka berempat membantu pekerjaan para pembantu dan pelayan sehingga diam-diam Yo-thaijin merasa senang.

Bayangan itu berkelebat dengan gesit sekali ketika melompat ke atas wuwungan gedung tempat tinggal Pembesar Kui Hok, Kepala Pengadilan kota Cin-yang.

Melihat pakaiannya yang serba putih sehingga bayangannya yang berkelebatan juga merupakan bayangan putih, kita mudah menduga bahwa bayangan itu tentulah Liu Ceng atau Ceng Ceng.

Ceng Ceng adalah seorang gadis berusia sembilanbelas tahun yang bertubuh sedang dan padat denok.

Rambutnya panjang dengan anak rambut menghias dahi dan pelipis, melingkar dengan indahnya.

Wajahnya bulat telur, matanya tajam bersinar dan bibirnya yang banyak senyum menjadi tambah manis karena kalau ia tersenyum, di ujung kanan bibirnya timbul lesung yang menarik.

Ia adalah puteri tunggal Liu Bok Eng, bekas panglima Kerajaan Sung yang lihai.

Dia ikut mempertahankan Kerajaan Sung ketika pasukan Mongol datang menyerbu.

Akan tetapi kekuatan pasukan Mongol tak terbendung sehingga sisa pasukan Sung melarikan diri ke selatan dan menetap di Nan-king.

Ketika Nan-king juga direbut, Liu Bok Eng menjadi patah hati dan dia mengundurkan diri.

Dia tetap tinggal di Nan-king dan berdagang rempa-rempa bahan obat.

Di Nan-king dia tinggal bersama isteri dan puterinya, yaitu Liu Ceng.

Sejak kecil, biarpun ia seorang anak perempuan, Ceng Ceng digembleng ayahnya sendiri yang merupakan seorang ahli silat kelas tinggi dari Siauw-lim-pai.

Karena melihat puterinya berbakat, setelah mengajarkan ilmu silat, Liu Bok Eng mengirim puterinya itu kepada Im Yang Yok-sian (Dewa Obat Im Yang), yaitu sutenya (adik seperguruannya) sendiri yang bertapa di Hoa-san dan memiliki keahlian pengobatan yang membuat dia dijuluki Dewa Obat.

Selama dua tahun Ceng Ceng belajar ilmu pengobatan dari susioknya (paman gurunya) sehingga kini dara itu menjadi lihai ilmu silatnya dan ampuh ilmu pengobatannya.

Ketika Ceng Ceng minta kepada ayahnya untuk merantau dan melihat-lihat keadaan di utara sambil meluaskan pengetahuan, bekas panglima itu memperbolehkannya.

Liu Bok Eng adalah seorang panglima, akan tetapi juga seorang ahli silat dan hal ini membuat wataknya tidak kukuh dan membolehkan puterinya merantau.

Dia tidak khawatir karena tahu bahwa Ceng Ceng sudah pandai menjaga dan membela diri.

Puterinya itu pandai silat, ahli sastra dan pengobatan, apa yang perlu dikhawatirkan?

Yang merasa prihatin atas kepergian Ceng Ceng adalah ibunya.

Wanita berusia empatpuluh tahun yang masih cantik dan berwatak lembut itu sudah, ingin sekali mempunyai mantu dan cucu.

Baginya, puterinya yang sudah berusia sembilanbelas tahun itu sudah lebih dari cukup untuk menikah.

Akan tetapi, Ceng Ceng selalu menolak keras kalau ada yang melamarnya.

Biarpun hatinya tidak setuju dengan niat Ceng Ceng merantau, ia tidak dapat melarang, apalagi karena suaminya menyetujui dan memberi restu kepada anak mereka.

Bayangan putih di atas wuwungan gedung Pembesar Kui Hok itu mendekam di atas sebuah ruangan tengah dan mengintai ke bawah.

Begitu meninggalkan Chao Kung sekeluarga di rumah Kepala Daerah Yo, Ceng Ceng segera mencari rumah pembesar yang menjadi kepala pengadilan, ayah dari Kui-kongcu.

Ketika ia melihat dua orang penjaga yang membawa golok di pinggangnya meronda di taman sebelah kiri gedung, Ceng Ceng cepat melompat turun dari atas genteng.

Gerakannya amat ringan sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, tidak terdengar suara seolah yang melayang turun itu seekor burung atau kucing.

Dua orang penjaga itu tidak sempat berteriak.

Tahu-tahu tubuh mereka menjadi lemas ketika jari tangan yang halus menotok punggung mereka.

Mereka sadar namun tidak mampu menggerakkan kaki tangan dan dua kali totokan lagi ke arah leher mereka membuat mereka tidak mampu bersuara.

Ceng Ceng menyeret seorang dari mereka ke bawah lampu yang terdapat di pinggir taman.

Ia dapat melihat dengan jelas wajah penjaga yang setengah tua itu.

"Aku akan membebaskan totokan agar engkau dapat bicara. Akan tetapi awas, kalau engkau berteriak atau memberi keterangan bohong, aku tidak akan merasa ragu untuk membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, ia menekan leher dan dada. Orang itu dapat mengeluarkan suara.

"Nona, ampuni saya"""

"Baik, akan tetapi jawab dulu pertanyaanku. Di mana kamar Kui-kongcu?"

Orang itu gemetar ketakutan.

"...... Kui-kongcu...... dia...... dia tidak berada di sini......."

"Jangan bohong!"

Bentak Ceng Ceng.

"Bukankah dia putera Pembesar Kui Hok dan ini tempat tinggalnya?"

"Benar, Nona. Akan tetapi Kui-kongcu tidak berada di rumah. Dia jarang sekali tidur di rumah......."

"Engkau tahu di mana dia?"

Penjaga itu mengenal majikan mudanya sebagai seorang yang mata keranjang dan memiliki banyak wanita simpanan.

Mungkin Si Cantik berpakaian putih ini seorang di antara kekasihnya yang cemburu dan kini mencarinya!

"Hayo jawab!"

"Ah...... dia...... biasanya pergi berdua dengan Kim-kongcu dan bermalam di Rumah Pelesir Bunga Merah yang berada di ujung barat kota."

"Engkau tidak bohong?"

"Tidak berani bohong, Nona......."

Ceng Ceng menotoknya lagi sehingga orang itu terkulai lemas.

Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dari taman itu.

Tidak sukar bagi Ceng Ceng untuk menemukan rumah pelesir yang dimaksudkan penjaga tadi.

Rumah itu merupakan sebuah gedung mungil dan di depannya digantungi papan dengan lukisan bunga-bunga merah!

Dengan berani Ceng Ceng menghampiri pintu depan rumah itu.

Dua orang laki-laki tinggi besar berwajah galak menghadangnya.

"Siapakah engkau dan apa keperluanmu datang ke sini?"

Tanya seorang yang mukanya penuh brewok.

Dia dan temannya memandang wajah Ceng Ceng dengan heran dan kagum.

Biarpun di tempat itu terdapat banyak wanita cantik, namun kecantikan para wanita itu seperti kecantikan gambar yang berada di papan tadi, tak dapat dibandingkan dengan kecantikan gadis berpakaian putih ini yang dapat diumpamakan setangkai bunga putih yang sedang mekar semerbak harum.

Para wanita yang berada di dalam itu memiliki kecantikan pulasan, sedangkan gadis ini cantik jelita yang aseli dan segar.

"Aku ingin bertemu dengan Kui-kongcu atau Kim-kongcu untuk menyampaikan urusan penting sekali!"

Kata Ceng Ceng. Mendengar ini, dua orang itu hilang galaknya. Kalau gadis ini mempunyai hubungan dengan dua orang kongcu itu, tentu saja mereka tidak berani banyak lagak atau kurang ajar.

"Ah, kedua kongcu itu sedang makan minum di ruangan dalam, Nona. Biar saya beritahu mereka agar mereka keluar menemui Nona."

"Tidak perlu, jangan ganggu mereka yang sedang makan minum. Kauantarkan saja aku menghadap mereka di dalam."

Baca Juga: Suling Emas 8

Baca Juga: Suling Naga 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert