Eps 4 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.
Ucapan Ceng Ceng dan sikapnya yang lembut membuat dua orang penjaga itu tidak menaruh curiga.
Wanita cantik jelita dan lemah lembut ini tidak mungkin dapat melakukan hal-hal yang membahayakan kedua orang putera pejabat itu.
"Silakan, Nona,"
Kata orang yang mukanya penuh brewok dan Ceng Ceng lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Rumah itu mempunyai tiga ruangan besar dan beberapa buah kamar, juga di loteng terdapat beberapa buah kamar yang diperaboti lengkap dan cukup mewah.
Ceng Ceng dibawa masuk ke sebuah ruangan besar yang berada di bagian dalam.
Penjaga itu menyuruh Ceng Ceng menunggu di luar pintu dan dia memasuki ruangan di mana dua orang pemuda sedang berpesta pora, dilayani masing-masing oleh dua orang gadis cantik.
Mereka tampak gembira, tertawa-tawa.
Kim Magu dan Kui Con yang sedang makan minum dilayani empat orang gadis penghibur itu tampak tidak senang ketika melihat penjaga itu masuk.
Akan tetapi ketika penjaga itu melaporkan bahwa ada seorang gadis cantik mencari mereka dan kini berada di luar pintu ruangan, mereka segera memandang ke arah pintu.
"Keluarlah jangan ganggu kami dan suruh gadis itu masuk!"
Kata Kim Magu dengan suara membentak. Penjaga itu cepat memberi hormat lalu melangkah keluar dari ruangan.
"Engkau disuruh masuk, Nona,"
Katanya dan setelah Ceng Ceng memasuki ruangan, penjaga itu cepat pergi karena dia takut dimarahi dua orang pemuda yang galak itu.
Ceng Ceng melangkah memasuki ruangan itu.
Dua orang pemuda itu tercengang melihat gadis berpakaian putih cantik jelita yang memasuki ruangan dengan langkah gemulai itu.
Mereka berdua cepat mendorong empat orang gadis yang melayani mereka, bahkan Kui Con yang tadinya memangku seorang gadis, mendorong gadis itu sehingga hampir jatuh.
Ceng Ceng memandang mereka dengan wajah tenang, bahkan bibirnya mengembangkan senyum.
Lalu ia menghampiri meja mereka dan berdiri di depan dua orang pemuda yang kini juga sudah berdiri memandangnya.
Ceng Ceng melihat bahwa dua orang pemuda itu masih muda dan keduanya berpakaian mewah.
Yang seorang bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat, mukanya agak hitam.
Adapun yang ke dua, usianya sebaya, sekitar duapuluh satu atau duapuluh dua tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan, akan tetapi pandang matanya penuh nafsu dan tampak licik.
"Aih, Nona, kami merasa beruntung sekali menerima kunjungan seorang bidadari! Silakan duduk dan makan minum bersama kami!"
Kata Kim Magu, tidak menyembunyikan perasaan kagumnya.
"Nona yang jelita siapakah namanya, datang dari mana dan ada keperluan apakah Nona mencari kami berdua?"
Kui Con tidak mau kalah, bertanya dengan memasang gaya agar tampak tampan, matanya dikejapkan, bibirnya tersenyum lebar.
Seolah tidak mendengar ucapan dua orang pemuda itu, Ceng Ceng melangkah dekat dan bertanya dengan suara lembut, namun pandang matanya mencorong ditujukan kepada mereka penuh selidik.
"Apakah kalian ini yang bernama Kim-kongcu dan Kui-kongcu?"
Seperti berebut, dua orang pemuda itu segera memperkenalkan diri masing-masing.
"Aku Kim Magu, putera Panglima Besar yang mengepalai seluruh pasukan di Propinsi Shan-tung!"
"Aku Kui Con. Ayahku adalah Kepala Kantor Pengadilan di Cin-yang!"
"Hemm, kalian yang mengutus Perwira Lai Koan merampas isteri Chao Kung dan adiknya?"
Dua orang pemuda itu terkejut.
Mereka tadi sudah mendengar betapa Perwira Lai gagal membawa dua orang wanita keluarga Chao Kung itu karena diserang oleh seorang pemberontak wanita.
Akan tetapi mereka tidak percaya kalau gadis yang lemah lembut ini yang telah menghajar pasukan yang dipimpin Perwira Lai.
Mereka berdua makan minum di Rumah Pelesir Bunga Merah untuk menghibur diri karena kegagalan itu.
Kim-kongcu yang memiliki ilmu silat cukup lumayan, sama sekali tidak takut terhadap seorang gadis muda yang cantik jelita dan lemah lembut ini.
"Ha-ha-hal Aku gagal mendapatkan Nona Siok Eng juga tidak mengapa asalkan mendapatkan gantinya seperti engkau, Nona manis!"
Kata Kim-kongcu dan dia sudah bangkit berdiri bersama Kui-kongcu. Setelah yakin bahwa dua orang pemuda ini yang dicarinya, Ceng Ceng berkata.
"Bagus, memang kalian berdua yang kucari!"
Kakinya mencuat menendang meja hidangan itu.
Kui Con dan empat orang gadis penghibur menjerit karena mereka berlima tertimpa hidangan yang tadinya memenuhi meja, bahkan Kui-kongcu tertimpa meja sehingga mukanya membiru dan lengannya yang mencoba menangkis meja patah tulangnya.
Empat orang gadis penghibur itu menjerit dan berlarian lalu berkumpul di sudut ruangan itu saling rangkul sambil menangis.
Ketika meja tertendang, hanya Kim Magu atau Kim-kongcu yang dapat menghindarkan diri.
Dia cepat melompat ke samping, kemudian dengan marah dia mencabut goloknya dan menyerang Ceng Ceng dengan ganas.
Akan tetapi, kalau Perwira Lai Koan dan dua losin perajuritnya saja tidak mampu menandingi Ceng Ceng, apalagi Kim Magu yang tingkat kepandaiannya belum begitu tinggi ditambah lagi dia malas berlatih dan hanya memperbanyak pelesir, maka tentu saja berhadapan dengan Ceng Ceng, dia bukan merupakan lawan yang seimbang.
Ketika goloknya membacok, dengan sedikit menggeser kakinya saja Ceng Ceng sudah dapat menghindarkan diri dan ketika golok itu menyambar lewat, jari tangan Ceng Ceng menotok dan tubuh Kim Magu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi!
Melihat kedua orang muda itu tak mampu bergerak lagi, Kim-kongcu tertotok dan Kui-kongcu tertimpa meja, Ceng Ceng lalu menyeret tubuh mereka dengan mencengkeram rambut mereka keluar rumah itu.
Para gadis penghibur dan pengurus rumah hiburan itu sudah sejak tadi lari mengungsi ke tempat lain.
Ceng Ceng mengambil tali yang terdapat di ruangan depan, lalu membawa keluar.
Akan tetapi ketika ia menyeret tubuh dua orang pemuda bangsawan itu tiba di pintu depan, lima orang penjaga yang bertugas sebagai tukang pukul, menerjang dan mengeroyoknya!
Ceng Ceng melepaskan dua orang pemuda itu untuk menghadapi mereka.
Dengan lincahnya ia bergerak dan sebentar saja, lima orang tukang pukul itu sudah roboh tak mampu bergerak karena tertotok jalan darah mereka oleh gadis yang amat lihai ini.
Setelah merobohkan lima orang tukang pukul, Ceng Ceng menyeret lagi Kim-kongcu dan Kui-kongcu sampai tiba tepi jalan umum depan rumah pelesir itu.
Dengan cekatan ia lalu mengikat kedua kaki mereka dan menggantungkan tubuh mereka pada cabang pohon yang tumbuh di situ.
Dua orang muda itu tergantung dengan kepala di bawah, mirip dua ekor kelelawar!
Setelah selesai menggantung dua orang pemuda itu, Ceng Ceng berkelebat masuk rumah pelesir, menemukan alat tulis dan menulis di atas kain sutera putih yang dirobeknya dari tirai kamar.
Ceng Ceng menuliskan huruf-huruf besar yang indah di atas kain putih itu.
Dua pemuda ini mengandalkan kekuasaan ayah mereka untuk memaksa dan memperkosa wanita.
Ayah mereka tidak mampu mendidik anak ini!
Setelah selesai menulis, Ceng Ceng membawa kain itu keluar dan menggantungnya di cabang pohon, di antara tubuh kedua orang pemuda itu.
Setelah melakukan ini, ia segera meninggalkan kota Cin-yang malam itu juga.
Tentu saja kota Cin-yang menjadi gempar.
Berbondong-bondong penduduk datang untuk menonton dua orang pemuda yang digantung dengan kepala di bawah pada pohon itu dan mereka yang membawa obor menerangi tempat itu.
Mereka juga membaca tulisan itu dan ramailah orang-orang membicarakannya.
Tidak seorang pun berani atau mau menolong Kim-kongcu dan Kui-kongcu.
Takut terhadap gadis yang menghukum dua orang itu dan juga tidak mau karena mereka semua membenci dua orang pemuda hidung belang yang suka mengganggu wanita cantik.
Karena mereka yang melihat Ceng Ceng hanya melihat bayangan putih berkelebat, maka orang-orang menjulukinya Pek-eng Sianli (Bidadari Bayangan Putih)!
Dapat dibayangkan betapa marahnya Kim Bayan dan Kui Hok mendengar bahwa putera mereka digantung.
Cepat mereka membawa pasukan untuk menolong putera mereka.
Dengan galak mereka membubarkan penduduk yang menonton dan membawa putera mereka pulang.
Kim Bayan yang menjadi panglima, tentu saja merasa malu sekali.
Dia memarahi Kim Magu habis-habisan, akan tetapi juga marah kepada gadis yang menghina puteranya.
Dia mengerahkan para pembantunya yang lihai untuk mencari gadis berpakaian putih itu.
Juga Kui Hok menjadi marah kepada puteranya.
Dia hanya mengharapkan Kim Thai-ciangkun berhasil menangkap penjahat wanita berpakaian putih yang telah memberontak itu.
Dia sudah mendengar bahwa wanita itu juga yang telah memukul roboh Perwira Lai Koan dan dua losin orang pengawalnya.
Kota Cin-yang geger dengan adanya peristiwa itu akan tetapi sebagian besar dari mereka merasa bersyukur, apalagi mereka yang merasa mempunyai isteri atau anak gadis yang cantik.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kim Thai-ciangkun dan Kui-thaijin menerima undangan dari Kepala Daerah Cin-yang, yaitu Pembesar Yo Bun San.
Bagi Cin-yang, kedudukan Yo-thaijin ini yang paling tinggi.
Dia yang berwenang mengatur kota Cin-yang sehingga biarpun Panglima Kim merupakan komandan seluruh pasukan di wilayah Shan-tung, namun di Cin-yang dia harus tunduk kepada Kepala Daerah.
Setelah mereka berdua datang, Yo-thaijin menyambut mereka dan mereka bertiga membicarakan urusan menggemparkan yang terjadi kemarin dan malam tadi.
Yo-thaijin menceritakan kepada mereka berdua tentang Keluarga Chao Kung yang diganggu oleh Perwira Lai atas perintah Kim-kongcu dan Kui-kongcu.
Dia menceritakan betapa gadis berpakaian putih menolong keluarga terdiri dari empat orang itu dan membawa mereka kepadanya untuk minta perlindungan.
"Semua keributan itu timbul karena perbuatan Kim-kongcu dan Kui-kongcu sendiri!"
Demikian Yo Bun San mengakhiri keterangannya.
"Dan yang melakukan perlawanan adalah gadis berpakaian putih yang tidak kami ketahui namanya itu. Keluarga Chao Kung sama sekali tidak bersalah. Oleh karena itu, kalau Kim-ciangkun dan Kui-thaijin hendak membalas dendam, carilah gadis berpakaian putih itu. Kami harap Ji-wi (Anda Berdua) tidak memusuhi keluarga Chao Kung yang sama sekali tidak mengenal gadis penolong mereka itu, sama sekali tidak bersalah, bahkan menjadi korban Perwira Lai yang mengumpulkan tenaga kerja secara sewenang-wenang."
"Hemm, keluarga Chao memang tidak bersalah. Akan tetapi gadis pemberontak itu harus ditangkap dan dihukum mati! Saya telah mengerahkan para pembantu saya untuk mencari, mengejar dan menangkapnya!"
Kata Panglima Kim Bayan sambil mengepal tinju.
"Ah, yang menjadi gara-gara adalah Lai-ciangkun itu! Dia yang melakukan pemerasan! Dia yang merampas dua orang dari keluarga Chao itu! Kenapa putera-putera kami yang disalahkan?"
"Saya akan melaporkan ke kota raja dan Perwira Lai akan saya tangkap karena dia melakukan penyelewengan. Sayang selama ini tidak ada penduduk yang berani melapor sehingga kami tidak mengetahui akan perbuatannya. Akan tetapi, saya harap Kim Thai-ciangkun dan Kui-thaijin menegur agar putera ji-wi tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan nama ji-wi sendiri. Dan sekali lagi, kami akan menyuruh keluarga Chao Kung kembali ke rumah mereka dan kami harap jangan ada yang mengganggu mereka karena mereka sama sekali tidak bersalah. Mereka hanya menjadi korban dan ditolong oleh gadis pakaian putih itu. Gadis itulah yang harus disalahkan bukan keluarga Chao Kung."
Pertemuan itu selesai dan pada hari itu juga, Perwira Lai Koan ditangkap dan dipenjara, menanti keputusan dari kota raja.
Sebagai penggantinya, ditunjuk seorang perwira lain yang dipesan agar pemilihan tenaga kerja dilakukan sebagaimana mestinya, yaitu hanya mengambil seorang laki-laki saja dari sebuah keluarga, dan laki-laki itu pun mendapat upah sebagaimana mestinya seperti yang ditentukan pemerintah kerajaan.
Adapun Chao Kung sekeluarga boleh kembali ke rumah mereka dengan jaminan bahwa mereka tidak akan diganggu oleh para pejabat di Cin-yang.
Tentu saja diam-diam Chao Kung, Siok Kan, Siok Hwa, dan Siok Eng berterima kasih sekali kepada Liu Ceng yang telah menyelamatkan mereka.
Dengan rahasia mereka bersembahyang untuk keselamatan nona penolong itu, tidak berani terang-terangan karena mereka tahu bahwa gadis itu dianggap pemberontak dan menjadi buronan.
Pemuda itu berjalan santai menuju ke utara, ke kota raja.
Pakaiannya sederhana dan wajahnya yang tampan dengan sinar mata lembut itu tampak muram.
Pemuda berusia sekitar duapuluh dua tahun ini adalah Pouw Cun Giok yang dijuluki Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan).
Semenjak kematian Lu Siang Ni, adik misannya, Cun Giok merasa sedih dan batinnya tertekan.
Dia pun tidak menggunakan marga Suma lagi karena Suma adalah marga gurunya yang sudah meninggal dunia.
Dia keturunan marga Pouw, hanya satu-satunya dialah keturunan keluarga Pouw yang besar.
Maka sejak kematian Siang Ni, dia menggunakan she (marga) Pouw.
Kini dia melangkah perlahan sambil melamun, terbenam ke dalam duka.
Belum juga kesedihannya menipis karena kematian adik misannya, Lu Siang Ni secara amat menyedihkan itu, dia bertemu dengan Cu Ai Yin, puteri Bu-tek Sin-liong Cu Liong Majikan Bukit Merak dan timbul pula keributan karena kehadirannya!
Ai Yin adalah seorang gadis yang amat baik, selain cantik jelita juga lihai ilmu silatnya.
Gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, bahkan membelanya sampai berselisih dengan kakak seperguruan dan dengan ayahnya sendiri sehingga akhirrya gadis itu terpaksa pergi meninggalkan Bukit Merak!
Kembali dia yang menjadi gara-gara sehingga Ai Yin bertentangan dengan ayahnya dan suhengnya sendiri!
Cun Giok merasa demikian sedih sehingga tubuhnya terasa lemas dan lelah.
Melihat sebatang pohon besar yang rindang, dia segera menghentikan perjalanannya, duduk di bawah pohon itu yang melindungi dirinya dari sinar matahari yang mulai panas.
Makin dalam pikirannya tenggelam.
kepada masa lalu, mengenangkan keadaan dirinya sejak kecil, dia merasa semakin tertekan perasaan sedih.
Ayah kandungnya tewas terbunuh ketika dia belum lahir dan ibunya meninggal dunia ketika dia terlahir.
Dia yatim piatu, tidak pernah melihat ayah ibunya.
Kemudian, gurunya, Suma Tiang Bun, menjadi pengganti orang tuanya, akan tetapi gurunya itu kini pun telah tiada, juga terbunuh oleh pembunuh ayah kandungnya dulu.
Oleh Panglima Kong Tek Kok, musuh besarnya yang telah dapat terbunuh oleh dia dan mendiang Lu Siang Ni, adik misannya.
Akan tetapi Siang Ni membunuh diri.
Ibu Siang Ni, yaitu bibinya, juga telah meninggal dunia.
Dia telah kehilangan semua orang itu, semua anggauta keluarganya, dan dia hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga, tiada teman, tiada tempat tinggal!
Ke mana dia harus pergi?
Bahkan gurunya yang menjadi pengganti orang tuanya telah tiada.
Satu-satunya orang yang dekat dengan dia hanyalah Pak-kong Lojin, sukongnya (kakek gurunya) yang juga kini dapat disebut menjadi gurunya karena dia telah menerima gemblengan dari Pak-kong Lojin yang hidup sebagai seorang petani miskin di Ta-pie-san.
Akan tetapi kakek gurunya ini telah tua sekali, usianya sudah delapanpuluh lima tahun dan ingin hidup menyendiri di tempat sunyi itu.
Ketika tangannya hendak mengambil saputangan dalam saku bajunya untuk menghapus keringatnya, tiba-tiba jari tangannya menyentuh benda keras.
Dikeluarkannya benda itu yang ternyata adalah sebuah tusuk sanggul terbuat dari perak dan membentuk sebatang pohon yang-liu (cemara).
Tusuk konde pemberian Siok Eng sebagai tanda ikatan perjodohan!
Terbayanglah wajah Siok Eng dalam benaknya.
Gadis yang manis, puteri Paman Siok Kan yang telah ditunangkan kepadanya.
Mengapa selama ini dia tidak pernah ingat kepada Siok Eng?
Harus diakuinya bahwa dia mau dijadikan calon suami Siok Eng karena itu sangat dikehendaki mendiang suhunya, Suma Tiang Bun.
Dia tidak mau mengecewakan suhunya.
Dan memang dia merasa suka kepada Siok Eng yang manis.
Akan tetapi mengapa dia tidak pernah teringat kepadanya?
Dia meragu apakah dia mencinta gadis tunangannya itu!
Bahkan setelah dia bertemu dengan adik misannya, Lu Siang Ni yang telah tewas, kemudian bertemu dengan Cu Ai Yin, melihat gadis-gadis cantik itu memiliki ilmu silat yang amat lihai, dia merasakan kekurangan pada diri Siok Eng.
Siok Eng gadis yang lemah!
Adakah cinta di hatinya terhadap Siok Eng yang telah menjadi calon isterinya?
Dia sendiri tidak tahu.
Akan tetapi yang jelas, dia telah diikat tali perjodohan dengan gadis itu dan bukan sikap seorang jantan kalau mengingkari ikatan itu dan melanggar janji!
Tidak, dia tidak akan melanggar janji!
Akan tetapi dia merasa malu kalau harus berkunjung kepada tunangannya di Cin-yang itu.
Dia kini seorang pemuda yang tiada keluarga, tiada tempat tinggal, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak berpenghasilan.
Bagaimana mungkin dia berkunjung dalam keadaan begini?
Kalau sudah menikah dengan Siok Eng, apa yang dapat diberikan kepada isterinya?
Rumah pun dia tidak punya!
Sering dia mendengar orang-orang berkata dengan wajah serius bahwa modal orang menikah dan membangun rumah tangga adalah cinta!
Dulu dia sendiri membenarkan pendapat ini, akan tetapi setelah dia banyak merantau dan banyak melihat betapa rumah tangga yang dibangun bermodalkan cinta saja menjadi berantakan karena tidak dipenuhinya syarat-syarat lain kecuali cinta.
Dia melihat betapa cinta merupakan batang pohon dan sebuah pohon baru dapat hidup sempuma kalau ada cabang, ranting, daun, bunga dan buahnya.
Kalau hanya ada batangnya saja pohon itu akan mati juga pada akhimya.
Membentuk rumah tangga membutuhkan pertama memang cinta kedua pihak, akan tetapi bukan hanya itu.
Ada pula syarat lain yang juga amat penting seperti sumber nafkah karena kalau perut kelaparan mana dapat mencinta?
Hidup pun terancam kematian!
Sumber nafkah, tempat tinggal, segala kebutuhan hidup di luar makan, hubungan antara anggauta keluarga, kecocokan watak dan selera, kesabaran, dan masih banyak lagi.
Tanpa syarat-syarat lain itu, kalau hanya ada cinta saja, kehidupan rumah tangga tidak akan berjalan mulus.
Betapa banyaknya pasangan yang sebelum menikah bersumpah disaksikan bumi dan langit bahwa mereka saling mencinta sampai mati, baru menjadi suami isteri beberapa lamanya saja sudah bercerai dan saling membenci!
Cinta mereka berubah menjadi benci yang demikian mendalam sehingga mereka tidak peduli akan nasib anak-anak mereka setelah terjadi perceraian!
Cun Giok membiarkan pikirannya melayang-layang, melamun tidak karuan.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh derap kaki kuda dan melihat serombongan orang berkuda datang dari arah selatan.
Ketika dia melihat bahwa rombongan itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian perwira, Cun Giok cepat menyembunyikan diri dengan melompat ke atas dan terlindung daun-daun yang lebat.
Rombongan itu terdiri dari enam orang, semua berpakaian perwira yang gagah, dengan pedang tergantung di pinggang masing-masing.
Mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang tak begitu jauh dari tempat Cun Giok bersembunyi.
Karena ingin mengetahui apa yang dilakukan rombongan itu, yang mungkin juga mencarinya sehubungan dengan bentrokan antara dia dan Kong Sek putera mendiang Panglima Kong Tek Kok itu, maka Cun Giok lalu mempergunakan ilmunya meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, melayang atau melompat dari pohon ke pohon lain tanpa menimbulkan suara berisik seperti seekor burung saja.
Akhirnya dia berada di pohon besar, di atas enam orang yang menghentikan kuda mereka itu.
Cun Giok mendengarkan percakapan mereka.
"Benarkah gadis pemberontak yang lihai itu telah tertangkap?"
Tanya seorang perwira tinggi kurus setengah tua kepada rekannya yang masih muda.
"Benar, Kim Thai-ciangkun sendiri yang turun tangan dan dibantu oleh belasan orang perwira, baru dia dapat menangkap perempuan itu! Kini ia ditawan di kelenteng tua di bukit depan itu, dijaga oleh para perwira pembantu. Kim Thai-ciangkun menanti anak buahnya mengambil sebuah kereta kerangkeng untuk membawanya ke Cin-yang di mana ia akan diadili dan dihukum!" >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> M a a f H a l a m a n 62 R u s a k !! >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> tua. Maka kini dia cepat melompat menjauhi rombongan itu dan mempergunakan ilmunya berlari cepat, mendahului mereka menuju ke bukit itu. Di lereng bukit itu Cun Giok melihat sebuah kuil tua dan di luar kuil terdapat belasan orang pengawal yang melihat pakaiannya bukan perajurit-perajurit biasa. Mereka adalah perwira-perwira pembantu Panglima Kim Bayan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh. Lima orang perwira menjaga di depan kuil, lima lagi menjaga di belakang, dan di kanan dan kiri kuil masing-masing terdapat tiga orang perwira. Semua ada enambelas orang. Cun Giok dapat menduga bahwa mereka bukan perajurit sembarangan. Akan tetapi, bagaimana besar pun bahayanya, dia harus menyelamatkan Ai Yin. Andaikata yang ditawan itu orang lain, kalau orang itu tidak bersalah, dia pun siap untuk menolongnya. Apalagi yang ditawan adalah Cu Ai Yin, gadis yang telah tiga kali menyelamatkan nyawanya. Pertama ketika menolong dia yang roboh pingsan di tepi sungai, kedua kalinya ketika dia diserang ayah gadis itu, dan ketiga ketika dia hendak dibunuh Kong Sek. Tentu dia akan siap menolong dan berani menempuh bahaya yang bagaimanapun besarnya! Cun Giok mendekati kuil itu dengan cara bergerak cepat dari semak ke semak, dari pohon ke pohon. Karena gerakannya cepat bukan main, maka sukarlah mengikuti gerakannya dengan pandang mata. Ilmunya berlari cepat yang disebut Liok-te Hui-teng (Lari Terbang di Atas Bumi) memang telah mencapai titik tinggi sekali sehingga saking cepatnya dia bergerak, Cun Giok mendapat julukan Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan). Akhirnya dia berhenti bergerak dan sembunyi di dalam pohon terdekat dengan kuil, dan dia melihat betapa tidak mungkin baginya untuk menghampiri kuil karena penjagaannya demikian ketat. Dia harus dapat mengalihkan perhatian penjaga yang jumlahnya hanya tiga orang di sebelah kiri agar terbuka jalan baginya untuk dapat memasuki kuil tua. Cun Giok melompat turun ke belakang batang pohon agar tidak terlihat, dan mengambil lima butir batu kecil, lalu melompat lagi ke atas pohon. Kemudian, dari dalam sebatang pohon terdekat, dia menyambitkan lima butir batu kecil itu ke arah lima orang yang berjaga di bagian belakang kuil. Cun Giok selain hebat gin-kangnya (ilmu meringankan tubuhnya) juga dia mahir menggunakan senjata rahasia apa saja. Dia telah menguasai bidikan yang amat tepat yang disebut Pek-po-coan-yang (Timpuk Tepat Seratus Kaki). Karena ketika menyambit dia menggunakan sin-kang (tenaga sakti), maka luncuran lima buah kerikil itu cepat sekali dan lima orang perwira yang berada di situ tidak sempat mengelak. Mereka sama sekali tidak menyangka akan diserang orang, maka batu-batu itu menyambar dengan tepat. Cun Giok telah mengukur dan membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh mereka, hanya cukup menimbulkan kegaduhan sehingga menarik tiga orang yang berjaga di sebelah kiri. Perhitungannya memang tepat. Lima orang itu berseru kaget, heran dan juga kesakitan. Batu kerikil yang mengenai tubuh mereka merobek baju berikut kulit tubuh mereka, mendatangkan rasa pedih dan nyeri. Seruan lima orang itu tentu saja menarik perhatian tiga orang yang berjaga di bagian kiri dan berada paling dekat dengan mereka. Tiga orang itu segera berlarian ke arah belakang untuk membantu kalau-kalau lima orang rekan mereka terancam bahaya. Cun Giok menggunakan kesempatan ini untuk berkelebat masuk ke kuil melalui pintu di sebelah kiri yang telah ditinggalkan tiga orang penjaganya. Kuil itu cukup luas, akan tetapi keadaannya sudah banyak yang rusak. Banyak ruangan tidak tertutup atap lagi dan tembok-temboknya ditumbuhi lumut. Karena sudah puluhan tahun tidak terpakai dan terawat, maka di dalamnya banyak tumbuh semak-semak. Cun Giok mencari-cari dan akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya. Gadis itu berada dalam sebuah kamar kosong di mana terdapat sebuah meja yang sudah lapuk. Gadis itu duduk membelakangi Cun Giok yang muncul di ambang pintu yang tak berdaun lagi, dan ia duduk bersila di atas lantai. Dari sikap duduknya, dengan punggung tegak lurus, Cun Giok maklum bahwa gadis itu sedang Siu-lian (samadhi). Karena sejak semula ia mengira bahwa yang tertawan adalah Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, maka Cun Giok merasa heran sekali mengapa Ai Yin menyerah untuk ditawan begitu saja, padahal kenyataannya gadis itu tidak dibelenggu dan masih bebas dalam kamar itu. Rasanya tidak mungkin seorang gadis yang amat lihai, pemberani dan keras seperti Ai Yin begitu mudah mengalah! "Nona Cu......!"
Cun Giok memanggil lirih sambil melangkah masuk ke kamar itu.
Gadis itu bangkit dengan perlahan lalu memutar tubuhnya menghadapi Cun Giok.
Terkejutlah pemuda itu ketika melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin!
"Ah, maafkan aku, Nona.
Apakah Nona yang disebut Pek-eng Sianli?"
"Benar, siapa engkau dan mau apa datang ke sini?"
Tanya Pek-eng Sianli Liu Ceng dengan lembut.
Cun Giok merasa bodoh dan malu.
Gadis ini sama sekali bukan Ai Yin walaupun tidak kalah cantiknya.
Namun perbedaannya amat mencolok.
Kalau Ai Yin keras hati dan galak, sebaliknya gadis ini lemah lembut dan sukarlah membayangkan bahwa gadis seperti ini pandai ilmu silat sehingga dijuluki Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih).
"Maaf, siapa pun adanya engkau, Nona, ketika mendengar bahwa ada seorang gadis yang ditawan oleh pasukan kerajaan, aku datang untuk menolong dan membebaskanmu."
Gadis itu menghela napas panjang.
"Ah, engkau membuat bebanku lebih berat lagi. Sekarang selain harus membela diri, aku juga harus melindungimu! Sobat, perbuatanmu ini baik sekali dan aku berterima kasih, akan tetapi juga bodoh."
"Akan tetapi aku......."
"Awas......!"
Gadis itu memotong kata-kata Cun Giok dan pada saat itu sebuah benda dilempar masuk ke kamar itu dan terdengar ledakan disusul mengepulnya asap kemerahan.
"Tahan napas!"
Gadis itu, Ceng Ceng, berseru. Cun Giok menurut dan selagi mereka digelapkan asap kemerahan tebal itu, sebuah tangan yang halus menyentuh lengannya.
"Cepat, telan ini......"
Ceng Ceng berkata.
Cun Giok menerima dan ternyata gadis itu memberinya sebuah pel.
Tanpa ragu dia memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya.
Dia merasa yakin bahwa gadis yang akan ditolongnya itu tidak akan tega meracuninya.
Terasa betapa pel itu hancur di kerongkongannya dan rasanya pahit namun berbau harum.
"Sekarang boleh bernapas dan mari ikut aku. Pegang tanganku!"
Terdengar gadis itu berkata dan sebuah tangan yang telapakannya hangat dan halus memegang tangan Cun Giok.
Pemuda itu menurut saja ditarik keluar dari kamar itu menuju ke belakang.
Dia pun berani bernapas dan ternyata asap kemerahan itu berbau amis, akan tetapi tidak mempengaruhi atau mengganggunya.
Begitu mereka keluar dari kuil bagian belakang, tiba-tiba mereka dikepung banyak orang.
Cun Giok maklum bahwa enam belas orang perwira yang tadi menjaga kuil, kini ditambah dengan enam orang perwira lain yang dilihatnya dalam perjalanan tadi.
Semua berjumlah duapuluh dua orang dan mereka mengepung dengan pedang di tangan!
"Menyerahlah atau kalian berdua akan mati!"
Bentak seorang dari mereka sambil menodongkan pedangnya.
"Engkau larilah menyelamatkan diri, biar aku yang menahan mereka!"
Kata Ceng Ceng yang cepat bergerak ke depan.
Kaki tangannya bergerak sedemikian cepatnya, tubuhnya berkelebatan menjadi bayangan putih dan dalam beberapa gebrakan saja empat orang telah roboh oleh tendangan kaki dan tamparan tangannya!
Kini mengertilah Cun Giok mengapa gadis itu dijuluki Dewi Bayangan Putih!
Dia merasa kagum akan tetapi tentu saja dia tidak mau menaati permintaan gadis itu untuk melarikan diri.
Biarpun gadis itu lihai, namun dikeroyok demikian banyaknya perwira yang memegang pedang sedangkan gadis itu bertangan kosong, dapat membahayakan gadis itu.
"Orang-orang yang curang. Begini banyaknya laki-laki mengeroyok seorang gadis!"
Bentaknya dan tiba-tiba tampak sinar keemasan bergulung-gulung dan para pengeroyok itu berpelantingan, pedang mereka ada yang patah dan banyak yang terlepas dari pegangan!
Dalam waktu singkat, Cun Giok sudah merobohkan enam orang pengeroyok!
Tiba-tiba gadis itu berseru.
"Kita pergi!"
Dan Cun Giok merasa betapa tangannya dipegang gadis itu dan dibawa melompat!
Biarpun dia tidak tahu mengapa gadis itu tadi menyerah saja ditawan dan kini melawan lalu tiba-tiba hendak melarikan diri, dia tidak sempat bertanya dan dia pun segera bergerak cepat, melepaskan tangannya dari pegangan gadis itu dan mereka berdua menggunakan ilmu berlari cepat bagaikan terbang!
Setelah jauh meninggalkan bukit itu dan tidak tampak ada perwira yang melakukan pengejaran, Ceng Ceng berhenti.
Ia memandang Cun Giok dengan mata dilebarkan.
Baru saja ia menggunakan ilmu Co-sang-hui (Terbang di Atas Rumput) dengan mengerahkan seluruh ginkangnya.
Akan tetapi ternyata pemuda itu dapat mengimbanginya!
Juga ia melihat betapa dengan mudahnya pemuda itu merobohkan enam orang pengeroyok dengan pedangnya yang bersinar kuning emas!
Di lain pihak, Cun Giok juga merasa heran bukan main.
Dia bermaksud menolong dan membebaskan gadis yang tadinya dikira Cu Ai Yin itu.
Ternyata gadis berpakaian putih ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ketika melarikan diri tadi, dia yakin gadis itu memiliki gin-kang yang lebih hebat daripada tingkat Ai Yin.
Dia yakin kalau gadis ini mampu membebaskan diri sendiri, akan tetapi mengapa ia membiarkan dirinya ditawan?
Cun Giok mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat lalu berkata tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.
"Nona, ternyata engkau lihai sekali. Mengapa engkau membiarkan dirimu ditawan dalam kuil itu? Aku yakin kalau engkau menghendaki, mereka tidak akan mampu menawanmu!"
Akan tetapi Ceng Ceng berkata.
"Maaf, nanti saja kita bicara. Sekarang ada urusan yang lebih penting! Mari!"
Ia lalu melanjutkan larinya.
Cun Giok cepat mengikutinya dan kembali mereka berdua berlari cepat memasuki sebuah dusun.
Ceng Ceng menuju ke sebuah rumah sederhana dan di depan pintu itu ia disambut sepasang kakek dan nenek berusia sekitar enampuluhan tahun.
"Ah, syukur engkau dalam keadaan selamat, Nona!"
Kata nenek itu sambil memegang kedua tangan Ceng Ceng.
"Paman dan Bibi, tidak banyak waktu lagi. Kalian berdua harus segera pergi dari sini karena anjing-anjing Mongol itu tentu akan segera datang ke sini!"
Akan tetapi kakek itu menggelengkan kepalanya dan setelah menghela napas dia berkata.
"Tidak, Nona. Karena membela kami berdua, Nona sampai ditangkap mereka. Sekarang Nona sudah dapat lolos, sebaiknya cepat melarikan diri dan jangan khawatir tentang diri kami. Kami adalah orang-orang tua yang miskin dan sama sekali tidak mempunyai kesalahan. Kalau mereka mau menangkap kami, biarlah. Akhirnya mereka akan tahu bahwa kami bukanlah orang-orang yang bersalah. Kami tidak dapat meninggalkan rumah dan dusun kami."
"Benar, Nona. Selama ini, sebelum engkau datang bermalam di sini, kami tidak pernah diganggu orang. Kalau kami kedua orang tua melarikan diri, akan lari ke mana? Dan kami akan selalu dikejar-kejar sebagai pelarian. Melarikan diri membuktikan bahwa kami berdua mempunyai kesalahan. Padahal kami tidak bersalah apa-apa. Pergilah, Nona. Engkau masih muda dan engkau harus menjaga diri, jangan sampai terjatuh ke tangan orang-orang kejam itu,"
Kata Si Nenek. Ceng Ceng merasa terharu dan ia pun mengerti akan pendirian mereka. Ia menghela napas beberapa kali, lalu mengambil dua potong emas dari saku bajunya dan menyerahkan kepada nenek itu.
"Kalau begitu, saya akan pergi dan terimalah sedikit uang ini, Bibi. Selamat tinggal, Paman dan Bibi."
Setelah dua potong emas itu diterima Si Nenek, Ceng Ceng lalu memberi isyarat kepada Cun Giok untuk pergi dari situ.
Cepat mereka meninggalkan dusun itu dan Ceng Ceng berhenti di bawah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan kecil yang sunyi.
Cun Giok mengikutinya dan pemuda itu berkata.
"Nona, kalau boleh aku mengetahui, apakah yang telah terjadi dan siapa pula kakek dan nenek itu?"
Ceng Ceng menatap wajah pemuda itu beberapa saat lamanya.
Baru sekarang ia memandang wajah pemuda itu dengan seksama.
Wajah yang tampan, gagah dan sikapnya sopan dan lembut.
Akan tetapi ia harus yakin dulu apakah pemuda ini dapat dipercaya?
Dia harus mengenalnya lebih dulu sebelum menceritakan keadaan dirinya dan apa yang telah dialaminya.
"Maaf, sobat. Harap engkau memperkenalkan diri lebih dulu, baru saya akan dapat menceritakan segalanya. Saya tidak mungkin dapat bercerita kepada seorang yang tidak saya kenal."
Cun Giok semakin kagum. Gadis ini selain cantik jelita, juga tutur sapa dan sikapnya amat lembut dan penuh kesopanan.
"Tentu saja, Nona. Perkenalkan, aku bernama Pouw Cun Giok seorang kelana yang tidak memiliki tempat tinggal tetap, sebatang kara yatim piatu tiada sanak keluarga. Kebetulan tadi dalam perjalanan, aku mendengar pembicaraan enam orang perwira yang bicara tentang Pek-eng Sianli yang ditawan di sebuah kuil tua di bukit itu. Tadinya aku mengira bahwa mungkin yang dimaksudkan mereka adalah Pek-hwa Sianli, seorang gadis pendekar yang pernah bertemu denganku. Maka, aku segera pergi ke kuil itu untuk menolongmu. Akan tetapi, ternyata yang akan kutolong itu bukan Pek-hwa Sianli, dan agaknya sama sekali tidak perlu kutolong. Bahkan engkau yang menyelamatkan aku dari asap beracun tadi dengan memberi pel penawarnya. Nah, yang membuat aku heran, bagaimana seorang pendekar wanita lihai seperti engkau ini membiarkan dirimu ditawan?"
Ceng Ceng tertarik.
"Nanti dulu, engkau bermarga Pouw? Aku tahu akan keluarga Pouw yang amat terkenal di So-couw, apakah engkau masih mempunyai hubungan keluarga dengan mereka? Cun Giok terkejut dan heran.
"Keluarga Pouw di So-couw? Ah, Nona, benarkah engkau mengenal keluarga Pouw di So-couw? Siapakah di antara mereka yang engkau kenal?"
Tanya Cun Giok hendak menguji apakah benar gadis ini mengenal keluarga ayahnya di So-couw.
Ceng Ceng tersenyum.
Ia memang seorang yang cerdik dan memiliki perasaan peka.
Ia dapat menduga bahwa pemuda itu masih belum percaya bahwa ia mengenal keluarga Pouw di So-couw.
Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu agaknya memang anggauta keluarga yang amat terkenal itu.
"Ayahku bernama Liu Bok Eng dan tinggal di Nan-king. Apakah engkau tidak mengenal nama itu?"
Cun Giok menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nona, aku tidak mengenal nama Ayahmu yang terhormat itu."
"Ayahku adalah sahabat baik dari keluarga Pouw! Bahkan merupakan sahabat seperjuangan. Ayahku mengenal baik Kakek Pouw Bun dan Paman Pouw Keng In......."
"Ah, Pouw Keng In adalah Ayah kandungku, Nona Liu!"
Cun Giok memotong, girang bahwa dia bertemu dengan puteri sahabat baik ayahnya. Akan tetapi Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan pandang matanya yang menatap wajah Cun Giok amat tajam penuh selidik.
"Hemm, benarkah itu, sobat? Di mana sekarang tinggalnya Paman Pouw Keng In?"
Tiba-tiba wajah Cun Giok berubah muram. Ditanya tentang ayahnya, dia merasa sedih sekali.
"Ayah...... Ayah dan Ibuku sudah tiada, sudah meninggal......"
Dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan.
"Semua keluarga Ayah sudah meninggal. Kong-kong (Kakek) Pouw Bun, Ayah Pouw Keng In dan Ibuku, juga Bibi Pouw Sui Hong...... semua sudah tiada, tinggal aku seorang diri......."
Kembali Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar ini.
Ia sudah mendengar dari ayahnya tentang pembantaian keluarga Pouw itu yang menurut ayahnya keluarga itu sudah habis sama sekali karena Pouw Keng In merupakan keturunan terakhir dan ketika dia tewas, belum mempunyai anak.
Bagaimana sekarang tiba-tiba muncul seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandung Pouw Keng In?
Akan tetapi, pemuda itu agaknya mengenal benar keluarga Pouw.
"Terus terang saja, aku banyak mendengar tentang keluarga Pouw dari Ayahku karena persahabatan antara Ayah dan mendiang Paman Pouw Keng In amat akrab. Akan tetapi, apa yang didengar Ayah, keluarga itu sudah terbasmi oleh pasukan Mongol dan menurut cerita Ayah, ketika Paman Pouw Keng In tewas terbunuh, dia tidak mempunyai anak. Bagaimana sekarang engkau dapat mengatakan bahwa engkau adalah anak kandungnya? Pula, kalau engkau benar anak kandung mendiang Paman Pouw Keng In, bagaimana engkau tidak mengenal nama Ayahku? Tentu mendiang Paman Pouw Keng In pernah menceritakan kepadamu tentang Ayahku yang menjadi sahabat baiknya itu!"
Dengan suara mengandung kedukaan Cun Giok menjawab.
"Tidak aneh kalau engkau meragukan keteranganku, Nona Liu karena sesungguhnya, sejak lahir aku tidak pernah mendapat kesempatan melihat ayah dan ibuku. Ayah tewas terbunuh akan tetapi ibu ketika itu sedang mengandung dan sempat tertolong. Akan tetapi ketika ibu melahirkan aku, ibu meninggal dunia dan aku dirawat dan hidup bersama guruku. Bibi Pouw Sui Hong tertawan dan menjadi selir seorang pangeran. Aku".. aku tak sempat bertemu ayah ibuku, bagaimana mungkin mereka dapat menceritakan tentang ayahmu?"
Suaranya mengandung kedukaan sehingga Ceng Ceng yang halus perasaannya itu menjadi sangat terharu.
"Aduh, maafkan aku, Twako (Kakak), kalau aku tadi meragukan keteranganmu. Kiranya riwayatmu demikian menyedihkan. Kalau aku boleh bertanya, siapa gurumu itu?"
"Guruku adalah mendiang Suma Tiang Bun......."
"Ah! Ayah pernah bercerita tentang Suma Tiang Bun yang terkenal sebagai seorang pendekar patriot sejati yang gagah perkasa. Ayah mengenalnya dengan baik. Jadi, pendekar tua itu telah meninggal pula? Ceritamu semakin menarik, Twako. Maukah engkau melanjutkannya?"
Karena gadis itu ternyata puteri seorang yang menjadi sahabat ayah dan kakeknya, juga sudah mengenal baik gurunya, Cun Giok tidak ragu lagi untuk menceritakan pengalamannya.
"Setelah menjadi murid dan anak angkat guruku dan menerima gemblengan pula dari Kakek Guruku Pak-kong Lojin, aku lalu pergi ke kota raja untuk membalas musuh besarku. Akan tetapi aku telah berbuat dosa yang besar sekali. Mendengar bahwa Bibi Sui Hong menjadi selir Pangeran Lu Kok Kong, aku mengira hidupnya sengsara dan ia dipaksa oleh pangeran itu, maka pada suatu malam aku membunuh Pangeran Lu Kok Kong! Kemudian ternyata kepadaku bahwa pangeran itu sama sekali tidak jahat, bahkan dicinta oleh Bibi Pouw Sui Hong, juga mereka telah mempunyai seorang anak perempuan bernama Lu Siang Ni."
Pemuda itu menghentikan ceritanya dan wajahnya berubah pucat karena dia teringat akan semua itu dengan hati seperti diremas-remas rasanya.
"Ah......!"
Ceng Ceng terkejut akan tetapi juga tertarik sekali.
Melihat pemuda itu demikian berduka, ia tidak berani mendesaknya untuk melanjutkan ceritanya.
Setelah dapat menenangkan hatinya, Cun Giok melanjutkan ceritanya.
"Kelakuanku membunuh Pangeran Lu Kok Kong itu membuat Bibi Pouw Sui Hong meninggal dunia saking kaget dan sedihnya. Lu Siang Ni yang juga tinggi ilmu silatnya hendak membalas kematian ibunya, akan tetapi setelah ia mengetahui sebab aku membunuh ayahnya, ia dapat mengerti. Kami berdua lalu membalas dendam kepada panglima yang dulu membasmi keluarga Pouw. Kami berdua berhasil membunuh Panglima Kong Tek Kok di tanah kuburan Bibi Pouw Sui Hong. Akan tetapi Adik misanku itu, Lu Siang Ni juga membunuh diri di depan makam orang tuanya. Ah, aku menyesal sekali, sungguh menyesal sekali."
Ceng Ceng yang merasa terharu, melihat pemuda itu menangis di depannya. Ia bangkit dan menghampiri, menyentuh pundak Cun Giok dan berkata lembut namun membesarkan hati.
"Twako, bagiku engkau sama sekali tidak bersalah karena ketika membunuh Pangeran Lu, engkau hendak membalaskan sakit hati bibimu, engkau tidak tahu akan keadaannya. Kesalahanmu hanya bahwa engkau kurang teliti menyelidiki keadaan mereka. Akan tetapi tidak perlu hal-hal yang lalu dikenang dan menjadi tekanan batinmu. Hal yang lalu dapat dijadikan pelajaran agar di masa depan kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Twako, engkau murid seorang pendekar patriot yang sakti dan bijaksana, tentu engkau tahu bahwa menyesali hal yang sudah lalu tidak ada gunanya lagi dan membenamkan diri dalam kesedihan bukanlah sikap seorang pendekar."
Ucapan itu lembut sekali, lebih bersifat menghibur daripada menegur, dan terasa oleh Cun Giok bagaikan air dingin yang menyiram hati dan pikirannya.
Dia mengangkat muka memandang wajah yang cantik dan tampak keibuan itu, lalu tersenyum, menghapus pipinya yang basah.
"Maafkan aku, Nona Liu......."
"Jangan sebut Nona, Twako. Orang tua kita bersahabat karib, bukankah kita juga sahabat dan bukan orang lain?"
"Baiklah, Siauw-moi (Adik Perempuan) ......"
Cun Giok kembali tersenyum dan sekali ini bukan senyum paksaan. Hatinya terasa ringan kembali.
"Sekarang tiba giliranmu untuk bercerita tentang dirimu karena tadi engkau telah menguras semua riwayat diriku."
Ceng Ceng tersenyum manis. Semakin manis kalau ia tersenyum karena lesung pipi kanan itu tampak semakin nyata.
"Giok-ko (Kakak Giok), seperti telah kukatakan tadi, ayahku bernama Liu Bok Eng dan tinggal di Nan-king. Dahulu Ayah menjadi seorang panglima Kerajaan Sung yang ikut berperang melawan pasukan Mongol sampai jatuhnya pertahanan terakhir di Kan-ton. Setelah Kerajaan Sung berakhir (tahun 1279) Ayah tidak lagi mencampuri urusan kerajaan dan kini lebih banyak mengasingkan diri dan berjalan-jalan ke gunung-gunung. Aku merupakan anak tunggal. Ibuku masih ada dan aku bernama Liu Ceng, di tempat tinggalku, Ayah dan yang lain-lain biasa menyebutku Ceng Ceng. Aku sejak kecil belajar ilmu silat dari Ayah. Kemudian aku belajar ilmu sastra dan pengobatan dari Susiok (Paman Guru) Im Yang Yok-sian, adik seperguruan Ayah yang menjadi pertapa di Hoa-san. Setelah tamat belajar, dengan perkenan Ayah, aku pergi merantau ke utara untuk melihat keadaan setelah bangsa Mongol memegang pemerintahan, dan menambah pengalaman."
"Akan tetapi, Ceng-moi, mengapa engkau tadi membiarkan dirimu ditawan dalam kuil? Padahal aku yakin kalau engkau menghendaki, engkau dapat dengan mudah meloloskan diri dan kalau engkau melawan, mereka tidak akan mampu menawanmu!"
Ceng Ceng tersenyum.
"Begini, Giok-ko. Selama dalam perjalanan, aku melaksanakan pesan ayah agar aku selalu menolong rakyat yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pembesar Mongol. Nah, aku selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, dan dengan pengetahuanku tentang pengobatan, aku juga membantu rakyat yang menderita sakit. Aku juga menentang cara kerja pembesar yang melakukan paksaan terhadap rakyat untuk kerja paksa yang sewenang-wenang. Karena aku menentang para pembesar yang sewenang-wenang, memberi hajaran keras kepada mereka, aku lalu dicari dan dikejar-kejar."
"Dan mereka yang kau tolong lalu memberi julukan Pek-eng Sianli kepadamu, bukan?"
"Benar, julukan yang terlalu tinggi untukku. Nah, malam tadi, karena aku dikejar-kejar Panglima Kim Bayan yang cukup lihai dan dia membawa banyak pembantu perwira, aku bersembunyi di rumah kakek dan nenek yang sederhana di dusun tadi. Dan inilah kesalahanku! Agaknya ada mata-mata mereka yang mengetahui tempat persembunyianku. Malam tadi Panglima Kim Bayan menyerbu bersama pasukannya. Tentu saja aku melawan, akan tetapi setelah aku merobohkan banyak pengeroyok, Panglima Kim tiba-tiba menangkap kakek dan nenek pemilik rumah dan mengancam akan membunuh mereka kalau aku tidak menyerah. Terpaksa, untuk menyelamatkan mereka, aku menyerah dan ditawan, lalu dibawa ke kuil tadi. Panglima Kim sendiri agaknya puas melihat aku sudah ditawan dan meninggalkan aku di bawah pengawasan orang-orangnya. Tentu dia mengira aku tidak mampu melarikan diri karena para penjaga dibekali obat peledak yang mengandung pembius. Akan tetapi aku selalu bersedia obat penyembuh luka dan obat pemunah racun sehingga aku tidak khawatir. Kemudian engkau datang menolongku!"
Cun Giok tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh aku merasa malu, Ceng-moi! Aku telah bertindak tolol, mencoba untuk menolongmu dan sebaliknya malah engkau yang menyelamatkan aku dari asap pembius!"
"Tidak, Giok-ko. Bagaimanapun juga, aku pun akan bertindak sama kalau aku menjadi engkau. Aku berterima kasih kepadamu. Twako, aku pernah mendengar akan peristiwa hebat di tanah kuburan kota raja itu. Aku mendengar bahwa banyak perajurit dan seorang panglima yang terkenal terbunuh oleh seorang pendekar yang dijuluki Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan). Melihat gin-kangmu tadi, aku berani bertaruh bahwa pasti engkau yang berjuluk Bu-eng-cu itu!"
Cun Giok menghela napas panjang.
"Memang benar, Ceng-moi. Akulah yang membunuhi mereka, bersama adik misanku Siang Ni. Ah, kalau saja adik misanku Lu Siang Ni tidak membunuh diri, betapa lega dan bahagianya hati kami berdua dapat membalaskan dendam keluarga Pouw."
"Akan tetapi, mengapa adik misanmu itu membunuh diri, Twako?"
Cun Giok menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, Ceng-moi, aku tidak tahu. Musuh besar kami itu adalah gurunya sendiri......"
Biarpun mulutnya berkata demikian, namun dalam hatinya Cun Giok setengah dapat menduga mengapa Siang Ni demikian bencinya kepada gurunya itu sehingga membacoki tubuh gurunya itu sampai lumat kemudian membunuh diri di depan makam orang tuanya.
Satu-satunya kemungkinan hanya bahwa adik misannya itu ternoda dan merasa dirinya hina dan kotor maka tidak ingin melanjutkan hidupnya setelah dapat membalas dendam.
"Ah, sudahlah, Giok-ko. Apa yang sudah terjadi tak dapat diubah dan tidak perlu disesalkan. Manusia tidak mungkin dapat mengubah apa yang sudah menjadi garis hidupnya. Mati dan hidup sudah ditentukan oleh Thian (Tuhan), dan sebab-sebab kematian yang bermacam-macam itu pun tepat dan sesuai dengan Karma masing-masing. Yang penting kita tidak melakukan perbuatan jahat yang berdosa."
"Akan tetapi aku berdosa, Ceng-moi. .Aku telah membunuh Pangeran Lu sehingga menyebabkan kematian bibiku sendiri."
"Apa yang kaulakukan memang salah, Giok-ko. Akan tetapi kesalahan itu kaulakukan tanpa kau sadari, tanpa kau sengaja dan kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja bukanlah dosa. Letak kesalahanmu hanyalah bahwa engkau kurang hati-hati, kurang teliti sehingga patut dijadikan pelajaran dan pengalaman yang mendidik."
Agak ringan rasa hati Cun Giok dan dia merasa kagum bukan main.
Gadis ini masih muda, usianya baru sembilanbelas tahun, akan tetapi wawasannya sudah mendalam dan ucapannya mengandung makna yang bukan hanya untuk menghibur, akan tetapi lebih membuka pengertian sehingga meringankan tekanan batin yang dideritanya semenjak Siang Ni membunuh diri di tanah kuburan itu.
"Ah, aku dapat mengerti maksudmu, Ceng-moi dan terima kasih. Sekarang engkau hendak pergi ke mana, Ceng-moi?"
"Tadinya aku hendak merantau dan melihat kota raja. Akan tetapi setelah peristiwa ini, Panglima Kim Bayan pasti tidak akan tinggal diam dan aku menjadi seorang buruan seperti engkau, Giok-ko. Aku tidak jadi pergi ke kota raja, aku akan mengunjungi Susiok (Paman Guru) yang bertapa di Hoa-san."
Lalu ia memandang wajah Cun Giok dan bertanya.
"Dan engkau sendiri, hendak pergi ke mana, Giok-ko?"
Hati Cun Giok merasa amat kagum dan tertarik kepada gadis yang halus budi ini. Dia ingin lebih memperdalam persahabatannya dengan Ceng Ceng, maka dia berkata dengan suara agak ragu.
"Ceng-moi. Sudah lama aku mendengar dari Kakek Guru Pak-kong Lojin bahwa ketua Hoa-san-pai yang berada di Pegunungan Hoa-san adalah sahabat karibnya, bahkan mereka berdua telah mengangkat saudara ketika masih muda. Aku ingin juga pergi berkunjung ke Hoa-san-pai karena aku juga tidak mungkin dapat berkunjung ke kota raja. Kalau boleh, aku ingin melakukan perjalanan bersamamu ke Hoa-san. Akan tetapi kalau engkau tidak setuju, tidak mengapa, kita mengambil jalan masing-masing."
"Ketua Hoa-san-pai? Dia bernama Goat-liang Sanjin dan Paman Guru Im Yang Tok-sian juga bersahabat dengan dia!"
"Ah, kebetulan sekali! Engkau mengenal para pimpinan Hoa-san-pai, Ceng-moi?"
Gadis itu tersenyum.
"Ketika aku digembleng oleh Susiok Im Yang Yok-sian, dua kali aku ikut paman guruku berkunjung ke sana. Hoa-san-pai berada di lereng barat, sedangkan tempat pertapaan paman guruku berada di lereng timur. Aku pernah berjumpa dengan Goat-liang Sanjin dan yang lain-lain, akan tetapi besar kemungkinan mereka tidak ingat kepadaku."
"Wah, kalau begitu aku tidak akan tersesat mencari Hoa-san-pai, tentu saja kalau engkau tidak keberatan melakukan perjalanan bersamaku, Ceng-moi!"
"Mengapa keberatan? Tidak ada salahnya kalau hanya melakukan perjalanan bersama, Giok-ko."
"Ah, terima kasih, Ceng-moi!"
Kata Cun Giok dengan girang.
"Sambil melakukan perjalanan kita selalu siap untuk menentang yang jahat dan membela kebenaran dan keadilan!"
"Aku setuju, Giok-ko."
Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka.
Kalau mereka melewati daerah pegunungan atau hutan yang sepi, mereka mempergunakan ilmu berlari cepat.
Akan tetapi kalau mereka melalui tempat-tempat yang ramai, mereka melakukan perjalanan biasa.
Selama melakukan perjalanan bersama menuju ke Hoa-san, Cun Giok merasa semakin kagum kepada Ceng Ceng.
Dia melihat betapa gadis yang lembut itu amat bijaksana, bahkan dia harus mengakui bahwa seringkali terbuka hatinya menerima petunjuk tentang kehidupan dari gadis itu.
Di lain pihak, Ceng Ceng juga kagum dan suka kepada Cun Giok.
Baru sekarang ditemukannya seorang pemuda yang selalu bersikap sopan, baik pandang matanya, sikapnya maupun bicaranya.
Berdekatan dengan Cun Giok ia merasa terlindung dan aman.
Di sepanjang perjalanan, kedua orang muda ini selalu mengulurkan tangan untuk menentang kejahatan.
Banyak gerombolan-gerombolan penjahat yang suka merampok dan bertindak sewenang-wenang memaksakan kehendak sendiri, menerima hajaran keras dari Bu-eng-cu dan Pek-eng Sianli dan kedua julukan ini menjadi semakin terkenal.
Sepak terjang mereka demikian cepat sehingga para lawan mereka hampir tidak sempat mengenali wajah kedua orang pendekar muda itu.
Pada suatu pagi, setelah melakukan perjalanan selama puluhan hari, Cun Giok dan Ceng Ceng berhenti di sebuah hutan.
Bukit Hoa-san sudah tampak dari situ, tak jauh lagi, bahkan mereka sudah berada di kaki bukit.
Hubungan antara mereka kini sudah akrab sekali setelah mengalami banyak suka duka selama puluhan hari dalam perjalanan itu.
"Ceng-moi, mengapa kita berhenti di sini?"
Tanya Cun Giok sambil menatap wajah gadis itu.
Mereka berdiri berhadapan dan keduanya merasakan kehangatan kehadiran masing-masing.
Kini mereka sudah saling mengenal betul, saling mengetahui dan mengenal watak masing-masing dan diam-diam mereka berdua saling tertarik, walaupun keduanya tak pernah menyatakannya dengan sikap, pandang mata, atau ucapan.
Sejenak keduanya berdiri berhadapan dan saling pandang.
Ceng Ceng melihat betapa wajah pemuda itu menyinarkan pandang mata yang mesra, namun bersih dari nafsu berahi.
Ia merasa jantungnya berdebar, akan tetapi dengan cepat ia mampu menguasai perasaan hatinya dan menutupnya dengan senyum manis.
"Giok-ko, seperti sudah kukatakan dahulu kepadamu, Hoa-san-pai terletak di lereng bukit sebelah barat, sedangkan tempat tinggal Susiok berada di lereng sebelah timur. Kalau dari sini engkau mengambil jalan itu, terus mendaki, di lereng pertama sudah tampak bangunan pusat Hoa-san-pai di lereng tiga. Aku akan mengambil jalan ini ke tempat Susiok. Nah, kita berpisah di sini, Giok-ko."
Ucapan itu lembut, akan tetapi Cun Giok seolah mendengar kata-kata keras yang membuatnya terkejut.
"Jadi...... jadi kita...... akan berpisah di sini.......?"
Tanyanya lirih dan agak gagap.
Ceng Ceng tersenyum.
Entah bagaimana ia sendiri tidak mengerti mengapa melihat kegagapan pemuda itu ia merasa senang sekali!
Ia tersenyum manis dan matanya menyinarkan kasih keibuan.
Dalam keadaan seperti itu, ia seolah melihat Cun Giok seperti seorang anak-anak yang membutuhkan hiburan dan nasihat.
"Giok-ko, engkau tentu mengerti bahwa bagi dua orang sahabat, tidak ada pertemuan tanpa perpisahan dan perpisahan pun tidak menutup kemungkinan bertemu kembali."
Cun Giok menghela napas panjang. Tentu saja dia mengerti, akan tetapi dengan jujur dia berkata.
"Ceng-moi, sudah puluhan hari kita mengadakan perjalanan bersama, mengalami banyak peristiwa dan pertempuran bersama. Terus terang saja, rasanya amat berat untuk berpisah dari sisimu. Bagaimana kalau aku ikut denganmu ke tempat pertapaan paman gurumu lebih dulu? Aku tidak tergesa-gesa pergi ke Hoa-san-pai, tidak ada urusan khusus."
Ceng Ceng tersenyum, debar jantungnya semakin menguat, akan tetapi ia tetap tenang ketika berkata lagi dengan suara lembut.
"Giok-ko, bukannya melarang engkau pergi ke tempat tinggal Susiok, akan tetapi akan tampak janggal kalau aku menghadap paman guruku bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Biarpun kita tidak melanggar kesusilaan, akan tetapi tetap saja tampak janggal dan menimbulkan kesan tidak sopan. Engkau tentu mengerti maksudku, Giok-ko, maka maafkanlah. Kita mengambil jalan masing-masing. Masih banyak kesempatan bagi kita untuk dapat saling bertemu kembali. Nah, selamat berpisah, Giok-ko."
Gadis itu tidak memberi kesempatan kepada Cun Giok untuk menjawab.
Ia mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, lalu tubuhnya berkelebat menjadi bayangan putih yang melesat ke arah lereng bukit sebelah timur.
Cun Giok mengikuti bayangan itu dengan pandang matanya.
Setelah bayangan itu lenyap dari pandang matanya, dia menghela napas panjang.
Tiba-tiba timbul kegelisahan dalam hatinya.
Baru sekarang dia merasa banwa dia telah jatuh cinta kepada seorang gadis!
Akan tetapi dia teringat kepada Siok Eng dan dia termenung.
Dahulu, belum ada perasaan cinta seperti ini dalam hatinya terhadap Siok Eng, walaupun harus dia akui bahwa dia menyukai gadis itu.
Bagaimana pun juga, dia telah terikat kepada Siok Eng.
Terikat perjodohan!
Dulu dia menerima begitu saja untuk menyenangkan hati gurunya.
Cun Giok menjadi bimbang, lalu dia melanjutkan perjalanan menuju ke lereng bukit sebelah barat.
Sama sekali Cun Giok dan Ceng Ceng tidak pernah menduga bahwa baru kemarin terjadi peristiwa yang hebat dan menggemparkan di Bukit Hoa-san.
Kemarin malam, ketika Goat-liang Sanjin sedang bersila dalam kamarnya, bersamadhi, dan para murid Hoa-san-pai sudah tidur, daun pintu kamar ketua Hoa-san-pai itu diketuk perlahan dari luar.
Goat-liang Sanjin yang sudah berusia delapanpuluh tahun menduga bahwa yang mengetuk pintu kamarnya tentu seorang di antara para murid tingkat pertama yang mempunyai urusan penting sehingga berani mengetuk daun pintu kamarnya.
Maka dia pun membuka matanya dan berkata tenang ke arah pintu.
"Masuklah!"
Daun pintu terbuka dari luar dan sesosok tubuh manusia memasuki kamar itu. Tanpa mengangkat mukanya yang ditundukkan, Goat-liang Sanjin bertanya.
"Keperluan apa yang mendorongmu untuk menemui pinto (aku) malam-malam begini?"
Akan tetapi orang itu setelah tiba di depan Goat-liang Sanjin yang duduk bersila di atas pembaringan, tanpa mengeluarkan kata-kata sudah menyerangnya dengan pukulan ke arah kepala kakek itu!
Goat-liang Sanjin adalah ketua Hoa-san-pai, tentu saja dia telah memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi.
Dia pun peka sekali dan biar tidak menduga ada orang menyerangnya, namun dia dapat merasakan datangnya serangan.
Akan tetapi dia sudah sangat tua, maka begitu dia menangkis, dua lengan bertemu dan Goat-liang Sanjin terjengkang di atas pembaringannya.
Bayangan itu kembali menyerang dan kini pukulan telapak tangan kirinya dengan tepat mengenai dada ketua Hoa-san-pai.
"Plakk......!"
Goat-liang Sanjin mengeluh dan kalau tadinya dia hendak bangkit, kini dia terkulai dan roboh di atas pembaringan.
Orang itu hendak menyusulkan pukulan maut, akan tetapi pada saat itu, dari pintu berlompatan masuk tiga orang laki-laki berpakaian sebagai tosu, berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.
Mereka bertiga terkejut melihat Goat-liang Sanjin rebah dan mengeluh kesakitan dan melihat seorang laki-laki muda yang tidak jelas wajahnya karena dia membelakangi lampu kecil di atas meja.
"Siapa engkau?"
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Akan tetapi orang itu tidak mempedulikan teguran itu.
Dia mengurungkan serangan keduanya dan dengan cepat tubuhnya melompat dan menerobos pintu yang terbuka.
Karena tidak tahu apa yang telah terjadi, maka tiga orang tosu (pendeta To) itu tidak menghalangi orang tadi pergi.
Mereka cepat melompat ke dekat pembaringan dan begitu melihat keadaan Goat-liang Sanjin mereka terkejut dan marah bukan main karena guru mereka itu telah menderita luka dalam yang amat parah!
"Cepat tangkap dia......"
Goat-liang Sanjin masih dapat berkata lemah dan dia tergolek pingsan.
Tiga orang tosu itu cepat berlompatan keluar dan melakukan pengejaran.
Akan tetapi orang itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Ketika tiga orang tosu itu memeriksa seluruh kompleks bangunan perguruan Hoa-san-pai yang cukup luas, mereka tidak menemukan apa-apa.
Bahkan para murid yang bertugas jaga tidak ada yang melihat orang asing memasuki perkampungan mereka.
Kini dua orang tosu lain yang berpakaian sama dengan mereka, bergabung dengan mereka.
Lima orang tosu itu lalu bergegas memasuki kamar guru mereka dan mereka mendapatkan guru mereka yang tua menggeletak pingsan.
Mereka cepat menyalakan penerangan yang lebih besar dan seorang dari mereka yang paling tua memeriksa keadaan gurunya.
Dia terkejut dan cepat menarik kembali tangannya ketika meraba dada Goat-liang Sanjin karena dada itu terasa panas seperti terbakar!
Ketika diteliti, ternyata baju kakek itu berlubang dan ada tapak lima buah jari tangan berwarna hitam tergambar pada dada Goat-liang Sanjin.
"Aih! Suhu telah terkena pukulan beracun yang amat hebat!"
Katanya dan kini mereka semua melakukan pemeriksaan.
Ketika mereka mencoba untuk membantu guru mereka dengan menempelkan tangan pada tubuh yang panas itu, tenaga sin-kang (tenaga sakti) mereka membalik!
Tentu saja mereka terkejut sekali dan hanya dapat membalurkan obat luar di dada yang terkena pukulan lima jari tangan menghitam itu.
Mereka tidak berani memberi obat dalam karena belum tahu pukulan beracun apa yang melukai guru mereka.
Juga semua usaha mereka untuk membuat guru mereka siuman dari pingsannya gagal karena ketika menotok jalan darah tubuh gurunya, hasilnya membuat jalan darah itu semakin kacau!
Lima orang itu berunding, apa yang harus mereka lakukan dan mereka menduga-duga siapa orangnya yang dapat memukul dan melukai guru mereka.
Penyerang itu pasti orang yang memiliki ilmu yang amat dahsyat.
Padahal, lima orang tosu itu adalah para murid tingkat pertama dari Goat-liang Sanjin.
Bahkan mereka berlima yang diserahi tugas mewakili guru mereka memimpin Partai Persilatan Hoa-san-pai karena guru mereka sudah tua dan hanya lebih banyak bertapa daripada melibatkan diri dalam urusan dunia.
Lima orang tosu itu adalah orang-orang yang terkenal nama mereka di dunia persilatan.
Siapa yang tidak mengenal Hoa-san Ngo-heng-tin (Pasukan Lima Unsur dari Hoa-san)?
Kalau mereka maju bersama, mereka membentuk Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur) yang amat dahsyat dan kuat.
Bahkan nama mereka juga memakai nama lima unsur itu, yalah Huo (Api), Kim (Emas), Bhok (Kayu), Sui (Air), dan Tho (Tanah).
Nama mereka adalah Thian Huo Tosu berusia limapuluh tahun dan bertubuh tinggi kurus, menjadi pimpinan dari Ngo-heng-tin mereka, yang kedua Thian Kim Tosu berusia empatpuluh delapan tahun dan bertubuh sedang berwajah tampan, ketiga Thian Bhok Tosu berusia empatpuluh enam tahun bertubuh gendut pendek, keempat Thian Sui Tosu berusia empatpuluh empat tahun bertubuh tinggi besar dan kelima adalah Thian Tho Tosu berusia empatpuluh dua tahun dan bermuka hitam.
Kelima orang tosu ini tentu saja sudah memiliki tingkat ilmu silat yang tangguh.
Keistimewaan mereka adalah ilmu Ngo-heng-kun (Silat Lima Unsur) dan Ngo-heng Kiam-sut (Ilmu Pedang Lima Unsur) dan puncak kekuatan mereka adalah kalau mereka maju berlima membentuk Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur).
"Heran, siapakah orang yang dapat melukai Suhu seperti ini?"
Kata Thian Huo Tosu.
"Luka Suhu amat hebat dan aneh. Bahkan usaha kita untuk mengusir hawa beracun dengan pengerahan sin-kang kita juga gagal!"
Kata Thian Kim Tosu.
"Orang itu tentu musuh besar Suhu. Akan tetapi bagaimana mungkin? Melihat bentuk tubuhnya, dia hanya seorang pemuda yang usianya tidak lebih dari duapuluh tahun. Padahal Suhu telah hampir duapuluh tahun tidak mau terlibat urusan dunia! Siapakah laki-laki muda itu? Melihat betapa dia dapat melukai Suhu, dan cara perginya demikian cepat, bahkan tidak ada murid penjaga yang melihatnya, dapat diketahui bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi,"
Kata Thian Bok Tosu.
"Sudahlah, kiranya tidak perlu untuk memusingkan hal itu pada saat ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menyembuhkan Suhu yang terluka parah,"
Kata Thian Sui Tosu.
"Benar sekali!"
Kata Thian Tho Tosu.
"Keselamatan dan pulihnya kesehatan Suhu adalah yang paling penting!"
"Hemm, aku pun memikirkan hal itu. Kukira, hanya satu orang saja yang akan mampu mengobati Suhu sampai sembuh. Orang itu adalah......."
"Im Yang Yok-sian!"
Kata empat orang saudara seperguruannya serempak. Thian Huo Tosu mengangguk.
"Benar, pinto (aku) kira, hanya dialah satu-satunya orang yang dapat mengobati dan menyembuhkan Suhu dan dia tinggal tak jauh dari sini."
"Kalau begitu, biar aku sekarang juga pergi berkunjung ke sana dan mohon pertolongannya!"
Kata Thian Tho Tosu yang bermuka hitam.
"Jangan, Sute. Tidak sopan malam-malam begini mengganggu Yok-sian. Lebih baik besok pagi saja kita berlima yang pergi ke sana. Kalau kita pergi berlima berarti bahwa kita sangat mengharapkan pertolongannya,"
Kata Thian Huo Tosu.
"Akan tetapi seperti kita sudah mendengar, sudah bertahun-tahun Im Yang Yok-sian bertapa seperti Suhu. Tidak pernah lagi mencampuri urusan dunia. Bagaimana kalau beliau menolak permintaan kita?"
Kata Thian Bhok Tosu dengan suara ragu.
"Pinto kira, kalau kita berlima yang mohon kepadanya dan yang membutuhkan pertolongan adalah Suhu, dia pasti akan mau menolong."
Demikianlah, dengan hati gelisah lima orang tosu yang gagah perkasa itu menjaga guru mereka.
Hati mereka bukan hanya gelisah, melainkan juga merasa tidak berdaya.
Pada keesokan harinya, setelah memesan kepada para murid untuk melakukan penjagaan ketat, Hoa-san Ngo-heng-tin ini meninggalkan perkampungan Hoa-san-pai dan berlari cepat menuju ke lereng bukit sebelah timur.
Mereka memang tidak berangkat terlalu pagi agar jangan mengganggu Dewa Obat itu.
Akan tetapi, ketika lima orang tosu itu tiba di depan pondok sederhana Im Yang Yok-sian, mereka melihat banyak orang dusun, laki-laki dan perempuan, berkumpul di depan pondok dan kelihatan bingung dan gelisah.
Thian Huo Tosu segera bertanya kepada mereka.
"Apakah yang terjadi maka kalian berkumpul di sini? Mana Im Yang Yok-sian, kami ingin bertemu dan bicara."
Seorang dari para penduduk dusun yang sudah tua berkata dengan suara gemetar.
"Totiang (Bapak Pendeta), tadi ketika dua orang penduduk dusun datang ke sini pagi-pagi untuk minta obat, pintu rumah terbuka dan ketika mereka melihat ke dalam, mereka mendapatkan Im Yang Yok-sian telah tewas menggeletak di lantai!"
Lima orang tosu itu terkejut sekali dan mereka segera memasuki pondok sederhana itu.
Mereka melihat tubuh Dewa Obat itu telah diangkat oleh penduduk dan direbahkan di atas pembaringan kayu.
Mereka segera memeriksanya dan mereka terkejut melihat Dewa Obat itu ternyata telah tewas dan di dada dan lambungnya terdapat bekas telapak tangan menghitam!
Dewa Obat itu telah dipukul dengan pukulan beracun yang sama dengan yang diderita guru mereka!
Tentu oleh orang yang sama pula!
Agaknya karena menerima pukulan sampai dua kali, di dada dan lambung, Si Dewa Obat tidak dapat bertahan hidup dan tewas seketika.
Hal ini membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian penyerang guru mereka itu.
Setelah memeriksa dengan cermat dan melihat bahwa Si Dewa Obat benar-benar tewas oleh dua pukulan itu, lima orang tosu Hoa-san-pai itu lalu berpamit dari para penduduk dusun yang akan mengurus jenazah Dewa Obat yang seringkali menolong mereka itu.
Ternyata Si Dewa Obat itu tinggal seorang diri di pondoknya.
Dapat dibayangkan betapa gelisahnya hati lima orang tosu itu ketika tiba di perkampungan Hoa-san-pai melihat bahwa guru mereka belum juga siuman dari pingsannya dan tubuhnya tetap panas!
Berapa lama suhu mereka akan dapat bertahan?
Kembali sehari semalam lima orang tosu itu tidak dapat tidur nyenyak dan mereka selalu merasa gelisah.
Karena tidak mengenal ilmu pukulan beracun yang diderita guru mereka, mereka tetap tidak berani meminumkan obat karena kalau salah obat keadaan guru mereka akan menjadi lebih parah.
Mereka hanya mencoba untuk memberi obat luar di dada yang dicap lima jari menghitam itu.
Pada keesokan harinya, ketika lima orang tosu itu menjaga guru mereka yang belum juga siuman, seorang murid dengan napas memburu datang melapor bahwa di luar perkampungan ada seorang pemuda yang dikeroyok para murid Hoa-san-pai.
"Sikapnya mencurigakan, agaknya dia minta bertemu dengan pimpinan Hoa-san-pai. Karena mencurigakan, para suheng (kakak seperguruan) minta agar dia meninggalkan pedangnya sebelum memasuki perkampungan, akan tetapi dia menolak. Karena para suheng menjadi semakin curiga maka kami berusaha menangkapnya, akan tetapi dia lihai sekali."
Lima orang tosu itu segera berlompatan keluar dan benar saja, mereka melihat seorang pemuda dikeroyok oleh duapuluh lebih murid Hoa-san-pai.
Sebagian besar para pengeroyok itu adalah murid tingkat dua dan tiga yang ilmu silatnya sudah lumayan, akan tetapi senjata mereka berupa pedang, golok, dan tombak sama sekali tidak dapat menyentuh tubuh pemuda yang bergerak sedemikian cepatnya sehingga para murid itu seolah menyerang bayangan saja!
"Kalian semua mundur!"
Teriak Thian Huo Tosu melihat betapa banyak murid sudah roboh terkena tamparan pemuda itu, walaupun yang tertampar itu tidak luka parah dan hanya senjata mereka yang terlempar dan tubuh mereka terpelanting.
Pemuda itu bukan lain adalah Pouw Cun Giok!
Seperti kita ketahui, Cun Giok berpisah dari Ceng Ceng.
Gadis itu menuju ke lereng timur untuk menemui gurunya sedangkan dia sendiri pergi ke lereng barat untuk mengunjungi Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai yang menjadi sahabat baik Pak-kong Lojin, kakek gurunya.
Ketika dia tiba di depan gapura perkampungan Hoa-san-pai di lereng sebelah barat Hoa-san, dia segera dihadang oleh belasan orang yang tampak bengis dan penuh curiga memandangnya.
"Hei, berhenti dulu! Siapa engkau berkeliaran di sini dan apa keperluanmu?"
Seorang dari mereka bertanya dengan suara membentak. Cun Giok tersenyum dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Maafkan kalau aku mengganggu. Aku datang berkunjung untuk bertemu dengan ketua Hoa-san-pai."
"Ketua Hoa-san-pai tidak menerima tamu, sedang sibuk. Hayo engkau mengaku lebih dulu siapa engkau dan apa keperluanmu!"
"Kalau ketua Hoa-san-pai tidak dapat menemui aku, maka aku ingin bicara dengan para pimpinan Hoa-san-pai,"
Kata Cun Giok yang tidak mau mengakui nama dan keperluannya karena dia melihat sikap mereka yang penuh curiga dan tidak ramah.
"Dia tentu penjahat itu!"
Tiba-tiba terdengar suara dan seolah-olah seruan ini merupakan komando karena tiba-tiba saja mereka semua menyerbu dan menyerang Cun Giok.
Tentu saja Cun Giok tidak tinggal diam.
Dia menggunakan gin-kangnya yang istimewa untuk berkelebatan menghindar dari semua serangan, membagi-bagi tamparan yang hanya dibatasi untuk membuat para pengeroyok melepaskan senjata dan terpelanting.
Pada saat itu, muncul lima orang tosu pimpinan itu.
Begitu Thian Huo Tosu membentak dan menyuruh semua murid mundur, para anggauta Hoa-san-pai itu serentak mundur dan mengepung dengan lingkaran besar.
Mereka hanya menonton dan siap dengan senjata di tangan.
Sementara itu, Thian Huo Tosu memberi isyarat kepada adik-adik seperguruannya dan mereka berlima sudah mencabut pedang dan mengepung Cun Giok.
Melihat betapa pemuda itu dapat bergerak sedemikian cepatnya, mereka berlima yakin bahwa tentu pemuda ini yang malam tadi menyerang dan melukai guru mereka dan pagi tadi membunuh Im Yang Yok-sian.
Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka berlima bergerak dan menyerang Cun Giok dengan pedang mereka.
Dengan bentakan nyaring lima orang yang membentuk Barisan Pedang Lima Unsur itu menyerang sambung menyambung.
Cun Giok terkejut bukan main!
Kalau saja dia tidak mempunyai gin-kang yang luar biasa, akan sukarlah menyelamatkan diri dari serangan pedang bertubi-tubi yang saling mendukung sehingga sulitlah untuk mengelak.
Hanya berkat gerakannya yang luar biasa cepatnya sehingga dia seolah-olah menghilang dan berkelebat tanpa ada bayangan yang jelas, dia dapat menghindarkan diri.
Akan tetapi permainan pedang Barisan Ngo-heng itu memang hebat sekali.
Gerakan mereka susul menyusul dengan rapinya, bukan saja saling mendukung dan saling melindungi, melainkan juga memiliki kecepatan tinggi karena serangan itu susul menyusul tiada hentinya.
Cun Giok menjadi bingung juga.
Tentu saja dia tidak ingin melukai seorang dari mereka.
Dia tahu bahwa mereka itu menyerangnya membabi-buta tentu ada sebab tertentu dan serangan mereka ini hanya merupakan suatu kesalah-pahaman.
Dia pun mengenal ilmu pedang Ngo-heng Kiam-sut karena dia mendapat pelajaran dari mendiang gurunya kemudian diperdalam oleh kakek gurunya.
Akan tetapi, Ngo-heng Kiam-sut yang dilakukan lima orang dan membentuk Ngo-heng Kiam-tin ini sungguh amat dahsyat.
"Tunggu dulu! Saya tidak ingin berkelahi dengan Ngo-wi Totiang (Lima Bapak Pendeta)!"
Serunya sambil melompat ke belakang.
Akan tetapi lima orang tosu yang kini merasa yakin bahwa pemuda ini yang melukai guru mereka karena pemuda itu amat lihai dan mampu menghindarkan semua serangan mereka, menjadi semakin marah dan mereka tidak mempedulikan seruan Cun Giok.
Mereka bahkan menyerang semakin hebat!
Karena dia mulai terdesak, terpaksa Cun Giok mencabut pedangnya.
Sinar keemasan berkelebat ketika dia mencabut Kim-kong-kiam (Pedang Sinar Emas) dan ketika dia mainkan pedangnya yang bergulung-gulung membuat perisai keemasan melindungi tubuhnya, lima orang tosu itu terkejut bukan main.
Cun Giok memang sengaja memainkan ilmu pedang Ngo-heng untuk mengimbangi serangan mereka.
Dan setiap kali pedangnya bertemu dengan pedang lima orang tosu itu, para murid tingkat pertama Hoa-san-pai itu merasa betapa lengan mereka tergetar hebat!
Akan tetapi karena Cun Giok tidak ingin melukai mereka, juga dia menjaga agar jangan sampai pedang pusakanya merusak pedang mereka dan dia hanya bertahan saja, maka perkelahian itu berlangsung seru.
Setelah mereka mengepung dan menyerang sampai tigapuluh jurus lebih dan belum juga seorang di antara mereka dapat melukai pemuda itu, lima orang tosu Hoa-san-pai itu menjadi semakin penasaran.
Pemuda itu tidak pernah balas menyerang dan hal ini mendatangkan dua dugaan di hati mereka.
Pertama, pemuda itu repot melindungi diri sehingga tidak sempat balas menyerang, atau pemuda itu sedemikian lihainya sehingga ingin mempermainkan mereka.
Dan gerakan pedang pemuda itu selalu menggunakan Ngo-heng Kiam-sut yang demikian hebatnya!
Pada saat itu, sesosok bayangan putih memasuki lingkaran dengan melompati para murid yang membuat lingkaran itu dari luar.
"Tahan senjata! Hentikan perkelahian!"
Lima orang tosu itu mendengar suara wanita ini segera berloncatan mundur dan mereka melihat seorang gadis cantik berpakaian putih berdiri di dekat pemuda itu, berhadapan dengan mereka.
"Siancai! Bukankah engkau Nona Ceng Ceng murid Im Yang Yok-sian?"
Kata Thian Huo Tosu dan mendengar ucapan orang pertama dari Ngo-heng Kiam-tin itu para sutenya juga segera teringat dan mengenal Ceng Ceng.
"Mengapa engkau menghentikan perkelahian kami? "Totiang, pemuda ini bukan musuh......."
"Siapa bilang? Nona Ceng Ceng, dialah yang melukai guru kami dan dia pula yang telah membunuh gurumu, Im Yang Yok-sian! Hayo kau bantu kami membunuh penjahat kejam ini!"
Kata Thian Huo Tosu.
"Bukan! Ngo-wi Totiang keliru menuduh orang! Dia bukan pembunuh Susiok Im Yang Yok-sian! Ketahuilah bahwa dia ini baru datang pagi hari ini bersama aku mendaki Hoa-san. Berminggu-minggu dia melakukan perjalanan menuju Hoa-san ini bersamaku. Totiang, tadi aku berpisah di kaki bukit dengan dia, dan aku langsung menuju ke pondok Susiok Im Yang Yok-sian. Di sana kulihat Susiok telah tewas dibunuh orang dan menurut para penduduk dusun yang mengurus jenazah Susiok, katanya Totiang berlima telah datang ke sana. Karena mengira bahwa Ngo-wi Totiang tentu mengetahui siapa pembunuh Susiok, maka aku segera lari ke sini dan melihat Ngo-wi (Kalian Berlima) berkelahi dengan sahabatku ini."
"Siancai....... Kalau begitu kami salah sangka? Sicu (orang gagah), siapakah Sicu dan apa maksud Sicu berkunjung ke sini?"
Tanya Thian Huo Tosu.
"Totiang, tadi saya hendak memberi penjelasan akan tetapi Totiang berlima tidak memberi kesempatan kepada saya. Nama saya Pouw Cun Giok dan saya diberitahu oleh Sukong Pak-kong Lojin bahwa Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin adalah sahabat baik Sukong. Maka setelah berada di kaki bukit, saya ingin berkunjung dan memberi hormat kepada beliau."
"Siancai......! Sungguh kami telah terburu nafsu. Kami menyangka bahwa engkau adalah musuh yang telah melukai Suhu dan membunuh Im Yang Yok-sian, maka kami lalu menyerangmu! Kiranya engkau adalah cucu murid Lo-cianpwe Pak-kong Lojin! Maafkan kami, Sicu. Karena kita semua ini orang-orang sendiri, mari kalian masuk dan kita bicara di dalam."
"Ah, jadi Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin terluka oleh orang yang membunuh Susiok?"
Ceng Ceng bertanya, kaget dan semakin penasaran.
"Mari kita bicara di dalam,"
Ajak Thian Huo Tosu dan mereka bertujuh lalu memasuki perkampungan dan duduk di ruangan depan rumah induk Hoa-san-pai. Thian Huo Tosu lalu menceritakan peristiwa yang terjadi.
"Kemarin malam, selagi Suhu duduk bersamadhi, tiba-tiba Beliau diserang orang. Kami mendengar dan segera memasuki kamar Suhu, akan tetapi penyerang itu dapat melarikan diri. Gerakannya amat cepat dan kami hanya melihat bahwa dia seorang laki-laki muda tanpa kami dapat melihat jelas mukanya. Ketika kami memeriksa Suhu, ternyata Suhu pingsan dan terluka hebat. Pukulan beracun yang meninggalkan tanda hitam di dadanya amat parah. Kami berusaha mengobati, namun gagal. Kami lalu teringat kepada Im Yang Yok-sian dan kami pada keesokan harinya pergi ke sana untuk mohon pertolongannya mengobati Suhu. Akan tetapi setelah tiba di sana, orang-orang dusun sudah berada di sana dan ternyata Beliau telah tewas terbunuh orang. Ketika kami memeriksa, ternyata Beliau tewas karena pukulan yang sama seperti diderita Suhu. Hanya bedanya, Suhu belum tewas karena pembunuh itu hanya sempat memukulnya satu kali di dada dan keburu kami datang. Sedangkan Im Yang Yok-sian menerima pukulan dua kali sehingga tewas. Demikianlah, ketika Pouw Sicu ini muncul, kami yang sedang bingung dan penasaran, melihat dia begitu lihai, lalu menduga bahwa tentu dia pembunuhnya dan kami mengeroyoknya."
"Suhu tewas karena pukulan yang kalau aku tidak salah disebut Hek-tok Tong-sim-ciang (Tangan Racun Hitam Getarkan Jantung). Pukulan itu amat jahat dan biarpun aku sudah mempelajari ilmu pengobatan dari Susiok, namun luka akibat pukulan itu sukar disembuhkan."
"Kalau begitu, tolonglah, Nona. Tolong engkau periksa keadaan Suhu. Siapa tahu engkau akan dapat mengobatinya."
Lima orang tosu itu bangkit dan serentak memberi hormat kepada Ceng Ceng.
"Baiklah, akan kuperiksa. Akan tetapi aku tidak yakin apakah aku akan mampu mengobatinya."
Mereka lalu memasuki kamar Goat-liang Sanjin.
Tiga orang murid yang menjaga di dalam kamar itu lalu disuruh keluar oleh Thian Huo Tosu.
Ceng Ceng menghampiri pembaringan dan mulai memeriksa keadaan Goat-liang Sanjin yang masih juga belum sadar.
Setelah memeriksa denyut jantung dan keadaan peredaran darahnya, gadis itu menghela napas panjang.
"Bagaimana, Nona?"
Tanya Thian Huo Tosu dengan gelisah.
"Totiang, luka yang diderita Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin amat parah. Hawa beracun pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang itu bukan hanya menggetarkan jantung, akan tetapi juga meracuni darah dan mengacaukan peredaran darah. Mendiang Susiok pernah memberitahu kepadaku tentang beberapa pukulan yang hanya dapat disembuhkan oleh pemukulnya dan Hek-tok Tong-sim-ciang ini salah satu di antaranya. Mungkin aku hanya dapat membantu meringankan penderitaannya saja, akan tetapi untuk dapat menyembuhkannya, aku harus dapat mencari pemukulnya."
"Kalau begitu tolonglah semampu Nona, pinto sekalian para murid Hoa-san-pai akan berterima kasih sekali."
Ceng Ceng menoleh kepada Cun Giok.
"Giok-ko, maukah engkau menolongku? Aku membutuhkan bantuan sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat dan kukira engkau yang memiliki itu."
"Tentu saja, Ceng-moi. Aku siap membantumu!"
Kata Cun Giok dan lima orang tosu itu mengangguk-angguk girang dan juga merasa malu karena tadi mereka mengeroyok dan berniat membunuh pemuda ini yang ternyata cucu murid Pak-kong Lojin yang mereka hormati dan kini pemuda itu masih hendak membantu Ceng Ceng menolong guru mereka!
Ceng Ceng minta kepada Thian Huo Tosu untuk membantu Goat-liang Sanjin yang, masih pingsan agar dapat duduk bersila dan tosu itu bersila di depan Goat-liang Sanjin sambil menahan kedua pundak kakek itu agar dapat duduk dan tidak terguling.
"Tahan saja agar jangan terguling, Totiang, dan jangan menggunakan tenaga dalam karena hal itu akan membahayakan Totiang sendiri,"
Kata Ceng Ceng.
Kemudian ia menyuruh Cun Giok naik ke pembaringan dan duduk bersila di belakangnya sedangkan ia sendiri juga duduk bersila di belakang tubuh Goat-liang Sanjin yang sudah didudukkan dan kedua pundaknya ditahan Thian Huo Tosu dari depan.
"Giok-ko, kau kerahkan tenaga sakti Im yang dingin dan salurkan melalui punggungku untuk membantuku. Kita menggabungkan tenaga Im dan aku akan meneruskan tenaga itu ke dalam tubuh Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin untuk menahan tekanan hawa beracun yang amat panas itu. Pergunakan tenaga sakti sedang-sedang saja dan kurangi atau tambah menurut permintaanku nanti."
"Baik, Ceng-moi,"
Kata Cun Giok dengan kagum kini dia melihat kelebihan yang lain lagi pada diri gadis yang dikaguminya itu.
Setelah memusatkan seluruh perhatiannya kepada kakek yang hendak ia obati, Ceng Ceng mulai menotok, menekan dan mengurut di sekitar punggung.
Jari-jari tangannya terasa panas sekali seolah-olah hawa dalam tubuh kakek itu melawannya.
Namun dengan tenaga sakti Im gabungan dengan Cun Giok, maka ia dapat mengalahkan rasa panas itu.
Sampai tidak kurang dari dua jam ia melakukan pengobatan.
Thian Huo Tosu yang hanya menahan kedua pundak gurunya tanpa mengerahkan tenaga dalam, akhirnya terpengaruh juga oleh hawa dingin yang disalurkan Ceng Ceng sehingga dia mulai menggigil kedinginan!
Untung baginya sebelum keadaannya lebih parah lagi, Goat-liang Sanjin mengeluh lalu terbatuk-batuk!
Kakek itu telah sadar dari pingsannya.
Ceng Ceng menghentikan pengobatannya.
Dengan girang Thian Huo Tosu membantu gurunya rebah telentang.
Goat-liang Sanjin yang telentang itu membuka matanya dan dia melihat lima orang muridnya berada di dalam kamarnya bersama seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan.
"Di mana penyerang gelap itu?"
Goat-liang Sanjin bertanya kepada para muridnya.
"Apakah kalian berhasil menangkapnya?"
Lima orang tosu itu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.
"Hukumlah teecu berlima yang tidak berguna, Suhu. Teecu (murid) berlima gagal menangkapnya dan dia melarikan diri."
Goat-liang Sanjin menghela napas panjang berkali-kali untuk mengurangi rasa nyeri di dadanya, lalu berkata dengan suara lirih.
"Kalian tidak salah...... orang itu memang lihai sekali......"
Ketika dia melihat Cun Giok dan Ceng Ceng, dia melebarkan matanya.
"Siapa...... siapakah...... mereka ini?"
Ceng Ceng makIum bahwa kakek itu telah lupa kepadanya, maka ia cepat berkata.
"Lo-cianpwe mungkin sudah lupa kepada saya. Saya adalah murid dari mendiang Susiok Im Yang Yok-sian."
Kakek itu mencoba bangkit saking kagetnya mendengar ini, akan tetapi Ceng Ceng cepat mencegahnya agar jangan bangkit dulu.
"Kau bilang...... mendiang.......?"
Thian Huo Tosu lalu menerangkan.
"Suhu, ketika teecu berlima melihat Suhu terluka parah, teecu segera pergi kepada Im Yang Yok-sian untuk mohon pertolongannya. Akan tetapi ketika teecu berlima tiba di sana, ternyata Beliau sudah tewas, terbunuh orang dengan pukulan yang sama dengan yang melukai Suhu."
"Siancai......!"
Kakek itu tampak lemas dan dia mengerutkan alisnya.
"Suhu, melihat Suhu pingsan selama dua hari, teecu sekalian menjadi bingung. Akan tetapi kemudian datang Nona Ceng Ceng dan ia bersama Pouw-sicu ini telah berhasil membuat Suhu siuman kembali."
Goat-liang Sanjin kembali membuka matanya yang tadi terpejam, lalu dia memandang kepada Cun Giok.
Melihat betapa mata kakek itu memandang penuh pertanyaan, Cun Giok tidak membiarkan kakek itu bicara lagi yang agaknya memeras tenaganya.
Dia memberi hormat dan berkata.
"Lo-cianpwe, saya bernama Pouw Cun Giok, cucu murid Sukong Pak-kong Lojin di Ta-pie-san. Sukong pernah bercerita bahwa Lo-cianpwe adalah sahabat baiknya, maka ketika saya lewat di sini, saya ingin berkunjung dan bertemu Lo-cianpwe. Sungguh saya ikut bersedih melihat Lo-cianpwe berada dalam keadaan sakit."
"Giok-ko dan Ngo-wi Totiang, saya kira lebih baik kalau kita biarkan Lo-cianpwe mengaso dan jangan dulu diajak banyak bicara. Sebaiknya Totiang buatkan bubur cair untuk memulihkan daya tahan tubuhnya."
Semua orang setuju, apalagi melihat kakek itu mulai memejamkan mata seperti hendak tidur.
Thian Bhok yang berwajah lucu bertubuh gemuk pendek itu yang segera membuatkan bubur untuk gurunya.
Dia memang terkenal ahli masak dan dia yang menyuapi gurunya makan bubur cair.
Mereka bercakap-cakap di ruangan dalam.
"Nona Ceng, bagaimana menurut pendapat Nona? Suhu kini tampak lebih sehat. Apakah Beliau akan dapat sembuh?"
Tanya Thian Huo Tosu. Ceng Ceng menghela napas panjang.
"Sulit mengatakan bahwa Beliau akan dapat sembuh, Totiang. Usahaku hanya dapat membuat panasnya menurun dan mengurangi rasa nyeri. Akan tetapi racun dari Hek-tok Tong-sim-ciang itu masih ada dan mengancam keselamatannya. Kalau daya tahan tubuhnya kuat, mungkin dia masih akan dapat bertahan selama seratus hari, akan tetapi melihat betapa Lo-cianpwe sudah tua, belum tentu Beliau akan dapat bertahan sampai tiga bulan."
"Siancai......! Lalu, apakah ada obatnya yang dapat menyembuhkannya?"
Tanya Thian Kim Tosu yang tampan. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.
"Seperti telah kukatakan tadi, pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang ini hanya dapat disembuhkan oleh orang yang memiliki ilmu itu."
"Jadi kalau kami ingin melihat Suhu sembuh, kami harus dapat menemukan dan menangkap pembunuh itu?"
"Kiranya hanya begitulah, Totiang. Aku akan pergi mencarinya dan minta pertanggungan jawabnya, baik untuk pembunuhan yang dia lakukan terhadap Susiok Im Yang Yok-sian maupun untuk penyerangan yang dilakukan terhadap guru kalian."
"Akan tetapi ini kewajiban kami, Nona Ceng Ceng! Kami yang akan mencarinya!"
Kata Thian Tho si muka hitam. Empat orang tosu yang lain membenarkan.
"Hemm, tahukah kalian siapa pembunuh itu dan di mana dapat menemukan dia."
Lima orang tosu itu saling pandang dan mengangkat pundak.
"Nah, kalau kalian tidak tahu siapa dia dan di mana dia berada, bagaimana kalian akan dapat menemukannya?"
"Baiklah, Nona. Kami mengaku bodoh dan tidak mampu mencarinya. Akan tetapi apakah Nona mengetahuinya dan bagaimana kalau kami membantumu?"
Tanya Thian Huo Tosu.
"Aku belum yakin betul. Akan tetapi akan kucari dia sampai dapat. Mudah-mudahan sebelum seratus hari aku sudah bisa mendapatkan obat untuk guru kalian. Ingat, orang itu telah membunuh Susiok Im Yang Yok-sian. Aku harus menemukannya!"
Ceng Ceng dan Cun Giok lalu meninggalkan Hoa-san-pai dan mereka berdua kembali ke tempat tinggal mendiang Im Yang Yok-sian untuk melakukan upacara pemakaman jenazah Im Yang Yok-sian.
Setelah pemakaman selesai, pada keesokan harinya Ceng Ceng dan Cun Giok meninggalkan Bukit Hoa-san.
Setibanya di kaki bukit, Ceng Ceng berhenti.
"Giok-ko, di sini kita harus berpisah. Aku akan pergi mencari pembunuh Susiok Im Yang Yok-sian dan juga mencarikan obat untuk Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin."
"Ceng-moi, melihat susiokmu dibunuh orang tanpa alasan dan ketua Hoa-san-pai dilukai berat, aku merasa berkewajiban untuk membantumu mencari pembunuh itu! Aku akan merasa bersalah dan tidak mengenal budi kalau sekarang aku tidak membantumu, Ceng-moi."
Ceng Ceng merasa suka kepada pemuda ini.
Setelah melakukan perjalanan jauh dan ketika menghadapi musuh gerombolan penjahat, pemuda ini telah memperlihatkan kegagahannya.
Juga sikapnya sopan dan bijaksana sehingga ia sama sekali tidak merasa canggung melakukan perjalanan berdua dengannya.
Mendengar pernyataan Cun Giok yang hendak membantunya, sebenarnya hatinya merasa girang sekali.
"Ah, Giok-ko. Aku hanya akan membuat engkau repot saja, padahal urusan ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Tentu saja ada hubungannya, Ceng-moi. Andaikata yang dibunuh secara pengecut dan kejam itu bukan susiokmu, apakah kiranya engkau dan aku akan tinggal diam dan tidak mencari pembunuh laknat itu? Nah, kalau engkau ingin mencari pembunuh itu dan mencarikan obat guna menyembuhkan Goat-liang Sanjin, tentu saja aku juga mau membantu. Ketua Hoa-san-pai itu adalah sahabat baik kakek guruku. Beliau akan senang kalau mendengar aku membantu pencarian obat untuk kakek yang terancam maut itu."
Akhirnya Ceng Ceng tersenyum.
"Apakah tidak akan mengganggu perjalananmu, Giok-ko?"
"Aku tidak mempunyai urusan pribadi apa pun. Engkau sudah tahu bahwa aku hidup sebatang kara dan tidak mempunyai tempat tinggal. Bagaimana dapat terganggu?"
"Baiklah kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan."
"Nanti dulu, Ceng-moi. Aku ingin sekali mengetahui, apakah engkau sudah tahu siapa yang melakukan pembunuhan terhadap susiokmu dan ketua Hoa-san-pai itu?"
Ceng Ceng menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, ke mana kita akan mencarinya?"
"Giok-ko, Susiok Im Yang Yok-sian pernah bercerita kepadaku tentang ilmu pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang itu. Menurut Beliau, yang menguasai ilmu-ilmu pukulan berbisa yang amat hebat, termasuk Hek-tok Tong-sim-ciang adalah seorang datuk sesat yang amat terkenal puluhan tahun yang lalu. Nama julukannya adalah Ban-tok Kui-bo (Biang Iblis Selaksa Racun) dan datuk wanita itu menjadi Majikan Pulau Ular di Lautan Po-hai. Aku yakin bahwa andaikata pembunuh Susiok Im Yang Yok-sian bukan datuk itu, ia pasti memiliki obat penawar hawa beracun pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang. Yang terpenting adalah mencarikan obat untuk ketua Hoa-san-pai, setelah itu barulah aku akan mencari pembunuh paman guruku."
"Memang, pembunuh Lo-cianpwe Im Yang Yok-sian itu kejam sekali. Sudah sewajarnya kalau engkau hendak membalas dendam, Ceng-moi."
Akan tetapi pemuda itu merasa heran melihat Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Giok-ko, bukan membalas dendam kematian paman guruku. Balas dendam hanya akan memperpanjang mata rantai Karma sehingga akan terjadi balas membalas yang tidak pernah ada akhirnya. Kalau aku mencari pembunuh itu untuk membalas dendam dan aku berhasil membunuhnya karena dendam, tentu akan menimbulkan dendam pada pihaknya. Entah anggauta keluarganya atau muridnya akan membalas dendam kepadaku, dan mungkin kalau aku terbunuh, orang yang dekat denganku akan menaruh dendam pula. Demikian seterusnya, rantai Karma itu takkan pernah putus. Dendam kebencian, balas membalas kini sudah menjadi watak manusia di dunia. Apakah engkau tidak melihat betapa salahnya hal itu?"
Cun Giok tertegun.
Baru sekarang dia mendengar ada orang mencela balas dendam dan mengatakan bahwa hal itu salah.
Dia teringat akan diri sendiri.
Dia membalas dendam atas kematian orang tuanya dan berhasil membunuh Panglima Kong Tek Kok, dan kini dia teringat kepada Kong Sek, murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong itu.
Kakak seperguruan Cu Ai Yin!
Tentu Kong Sek juga mendendam kepadanya dan hendak membalaskan kematian ayahnya!
Dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan Ceng Ceng tadi.
"Akan tetapi, kalau engkau tidak ingin membalas dendam atas kematian paman gurumu yang dibunuh orang, lalu untuk apa engkau hendak mencari pembunuh itu, Ceng-moi?"
"Aku memang akan mencari pembunuh itu, Giok-ko, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk bertanya mengapa dia membunuh Susiok dan untuk melihat apakah dia orang yang suka melakukan kejahatan. Yang kutentang bukan orangnya, yang aku benci bukan orangnya, melainkan kejahatan. Aku menentang kejahatan, tidak peduli dilakukan oleh siapapun juga. Kejahatan harus ditentang dan dihentikan kalau kita menghendaki kehidupan ini aman tenteram dan untuk itulah kita belajar ilmu silat, bukan? Dengan demikian sedikit banyak kita sudah ikut menyejahterakan kehidupan di dunia."
Cun Giok mendengarkan dengan heran dan kagum. Gadis yang luar biasa! Maka tanpa ragu lagi dia mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan berkata.
"Ceng-moi, engkau hebat! Aku kagum sekali kepadamu. Engkau memiliki kesempatan banyak untuk menjadi Dewi Kebajikan! Engkau dapat menentang kejahatan dengan ilmu silatmu dan engkau juga dapat menolong orang memerangi penyakit dengan ilmu pengobatanmu!"
"Aih, jangan terlalu memuji, Giok-ko. Pujian bahkan dapat menjerumuskan orang ke dalam jurang kesombongan. Setiap orang hidup dituntut untuk dapat bermanfaat bagi manusia dan dunia, dengan bakat, kemampuan, dan kepandaian masing-masing sehingga tidak sia-sialah hidup sebagai manusia di dunia ini. Ah, sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan ini!"
Mereka melanjutkan perjalanan, mempergunakan ilmu berlari cepat dengan tujuan ke timur, ke arah Lautan Po-hai di sebelah timur daratan Cina.
Siapakah Ban-tok Kui-bo (Biang Iblis Selaksa Racun) yang disebut oleh Ceng Ceng dan kini hendak dicari Ceng Ceng bersama Cun Giok itu?
Ban-tok Kui-bo tinggal di sebuah pulau kecil di Lautan Po-hai, sebuah pulau yang dinamakan Coa-to (Pulau Ular) karena memang dahulu pulau itu merupakan hutan lebat yang dihuni ratusan, bahkan ribuan ekor ular dari segala jenis yang beracun.
Akan tetapi setelah Ban-tok Kui-bo tinggal di situ, ular-ular itu telah ditundukkannya dan bahkan menjadi peliharaannya karena wanita itu memang antara lain memiliki ilmu pawang ular.
Kini Kui-bo tinggal di pulau itu dan ia menguasai pulau kosong itu sebagai miliknya.
Ia menjadi majikan pulau itu dan kini pulau yang menjadi perkampungan itu dihuni Si Biang Iblis bersama kurang lebih limapuluh keluarga yang jumlahnya sekitar seratus limapuluh orang.
Para kepala keluarga itu menjadi anak buah Pulau Ular dan menerima pelajaran ilmu silat dari Ban-tok Kui-bo.
Rumah-rumah didirikan dan sebagai tempat tinggal Kui-bo, dibangun rumah yang cukup besar dan perabotan rumahnya cukup mewah.
Sebelum menempati pulau kosong ini, Ban-tok Kui-bo telah mengumpulkan banyak harta benda sehingga ia mampu mengembangkan pulau itu dan kini anak buahnya bekerja sebagai nelayan dan juga ada yang bertani di pulau itu.
Ban-tok Kui-bo tinggal di rumah induk bersama seorang gadis yang menjadi murid utamanya.
Berbeda dengan para anak buah yang hanya menerima pelajaran silat sekadarnya ditambah pengertian tentang penggunaan racun, gadis ini hampir mewarisi seluruh ilmu kepandaian Ban-tok Kui-bo.
Mereka berdua tinggal di rumah induk, dilayani oleh beberapa orang pelayan.
Ban-tok Kui-bo berusia sekitar empatpuluh lima tahun.
Ia memiliki tubuh yang langsing padat seperti tubuh seorang gadis remaja.
Hal ini adalah karena ia memang belum pernah menikah dan selalu berlatih ilmu silat tinggi.
Kulitnya putih bersih dan wajahnya sebetulnya cantik, akan tetapi kecantikannya itu menjadi pudar karena adanya codet (bekas luka) memanjang di pipi kirinya.
Wajah yang sebetulnya cantik itu kini tampak aneh dan bahkan menyeramkan.
Dahulu, ketika masih gadis, ia belum diberi julukan Ban-tok Kui-bo.
Ketika masih gadis ia bernama Gak Li dan biasa disebut Lili.
Ia seorang gadis cantik jelita dan ketika itu belum ada cacat di wajahnya yang cantik.
Lili tidak saja cantik, akan tetapi ia juga memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi.
Maka tidak aneh kalau banyak pemuda, terutama para pendekar, tergila-gila kepadanya.
Akan tetapi Lili telah menjatuhkan pilihannya kepada seorang pendekar muda bernama Tan Kun Tek.
Mereka berdua terkenal sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.
Akan tetapi, hati Lili menjadi pedih ketika ia mendapat kenyataan bahwa diam-diam Tan Kun Tek telah bertunangan dengan seorang gadis puteri seorang bangsawan.
Kehancuran hatinya membuat wataknya berubah.
Timbul perasaan bencinya kepada gadis tunangan kekasihnya itu dan pada suatu malam ia mendatangi rumah keluarga gadis itu dengan maksud hendak membunuhnya.
Akan tetapi sebelum ia turun tangan, muncul seorang tosu (pendeta To) yang menghalanginya dan dalam perkelahian yang seru, Lili akhirnya terluka dan kalah.
Ia terpaksa melarikan diri, membawa luka goresan panjang di pipi kirinya dan setelah sembuh, luka itu masih membekas menjadi codet memanjang.
Semenjak itu Lili menghilang.
Ia merasa malu untuk bertemu dengan Tan Kun Tek walaupun ia tahu bahwa sesungguhnya Tan Kun Tek juga cinta padanya, hanya saja pemuda itu sudah terikat perjodohan dengan gadis lain.
Ia merasa rendah diri karena codetnya.
Peristiwa itu sama sekali mengubah watak Lili.
Ia memperdalam ilmunya, bahkan tidak segan mempelajari ilmu dari para datuk sesat dan menguasai banyak ilmu sesat, di antaranya ilmu penggunaan racun-racun yang paling jahat sehingga setelah ia muncul di dunia kang-ouw lagi, kekejamannya menggunakan racun membunuh lawan membuat ia diberi julukan Ban-tok Kui-bo!
Lili tidak peduli, bahkan ia tidak pernah lagi menggunakan nama aselinya dan lebih suka dikenal sebagai Ban-tok Kui-bo.
Setelah malang-melintang di dunia persilatan, mengalahkan banyak tokoh, ia lalu mengunjungi Hoa-san-pai hendak melampiaskan dendamnya kepada Goat-liang Sanjin, yaitu tosu yang menghalangi ia membunuh gadis tunangan Tan Kun Tek dan yang telah membuat mukanya terluka dan kini meninggalkan bekas codet!
Di Hoa-san-pai ia dikeroyok para tokoh Hoa-san-pai, namun ia berhasil merobohkan dan membunuh banyak murid Hoa-san-pai dengan ilmunya yang keji.
Akan tetapi ketika Goat-liang Sanjin muncul, ia masih kalah dan terpaksa melarikan diri karena tidak mampu menandingi ketua Hoa-san-pai itu.
Sejak itu, Lili yang telah dikenal sebagai Ban-tok Kui-bo menghilang lagi.
Ternyata ia telah menemukan Pulau Ular dan menjadi majikan pulau itu dan membangun sebuah perkampungan di situ, mempunyai anak buah yang ia beri pelajaran ilmu silat.
Ketika Ban-tok Kui-bo berusia duapuluh tujuh tahun, ia sudah memperdalam lagi ilmu-ilmunya sehingga matang betul.
Ia bahkan melatih diri dengan ilmu-ilmu pukulan dahsyat dan keji, pukulan yang mengandung racun-racun ular yang terdapat banyak di pulaunya.
Mulai timbullah rasa rindu yang amat hebat dalam hatinya kepada Tan Kun Tek, kekasihnya dahulu.
Ia mencoba untuk menekan perasaan rindunya, namun tidak berhasil, bahkan rasa rindu itu menjadi semakin hebat.
Ia harus menemui kekasihnya itu dan melihat bagaimana sikap laki-laki itu terhadap dirinya.
Masih adakah cinta di hati Tan Kun Tek kepadanya?
Ia tidak dapat menyalahkan kekasihnya itu yang telah ditunangkan dengan gadis lain oleh orang tuanya sebelum pemuda itu bertemu dengannya.
Akhirnya karena tidak tahan lagi, pergilah ia mencari bekas kekasihnya itu.
Ia mendengar bahwa Tan Kun Tek kini tinggal di kota Seng-hai-lian dan menjadi pedagang, hidup bahagia bersama isterinya.
Ketika ia mengintai dan melihat bekas kekasihnya yang hidup bahagia dengan isterinya dan seorang anak perempuan yang ketika itu berusia dua tahun, ia tidak tega untuk mengganggu bekas kekasihnya.
Tan Kun Tek tidak bersalah kepadanya.
Pria itu masih mencintanya dan ia sendirilah yang meninggalkannya karena tidak berani berjumpa setelah mukanya cacat.
Ia melihat kebahagiaan Tan Kun Tek menjadi iri.
Ia sendiri menderita dan kekasihnya itu hidup berbahagia.
Lalu timbul niatnya untuk "menghukum"
Tan Kun Tek dan isterinya agar merasakan penderitaan seperti dirinya.
Diam-diam ia mencari kesempatan dan akhirnya berhasil menculik puteri mereka yang berusia dua tahun itu.
Ia tidak meninggalkan jejak dan membawa Tan Li Hong, anak itu, ke Pulau Ular!
Setelah selama beberapa tahun melampiaskan kekecewaan dan sakit hatinya terhadap kaum pria, bersikap kejam sekali kepada laki-laki yang menjadi lawannya sehingga ia dijuluki Ban-tok Kui-bo, ia hidup bersama Tan Li Hong di pulau itu.
Ia menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepada anak itu.
Kini Tan Li Hong telah menjadi seorang gadis berusia sembilanbelas tahun.
Agaknya semua usaha ayah bundanya untuk mencarinya sia-sia belaka.
Tak seorang pun menduga bahwa ia berada di Pulau Ular.
Tan Li Hong kini menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lihai bukan main.
Akan tetapi wataknya lincah, manja, licik dan aneh karena ia dididik oleh Ban-tok Kui-bo yang juga berwatak aneh.
Hanya saja, masih ada watak gagah dan baik dalam lubuk hati gadis itu.
Selain ilmu silat dan ilmu tentang racun, juga Li Hong diberi pelajaran ilmu membaca menulis, walaupun tidak terlalu mendalam, cukup untuk dapat membaca dan menulis.
Setelah ia mulai dewasa, Li Hong seringkali bertanya kepada gurunya, siapakah orang tuanya, siapa ayah dan ibunya.
Ban-tok Kui-bo selalu menjawab bahwa saatnya belum tiba baginya untuk mengetahui orang tuanya.
"Ayahmu bermarga Tan dan sekarang masih hidup bersama ibumu, akan tetapi belum saatnya engkau mengetahui, Li Hong,"
Katanya.
"Akan tetapi mengapa, Subo (Ibu Guru)? Kenapa aku tidak boleh mengetahui siapa ayah ibuku?"
"Bukan tidak boleh, melainkan hanya belum tiba waktunya. Apakah engkau kekurangan cinta kasih dariku sebagai pengganti ayah ibumu?"
Li Hong yang biasa manja kepada gurunya, memeluk gurunya sambil berkata.
"Ah, tentu saja kasih sayang Subo sudah cukup dan aku berbahagia sekali. Aku juga amat mencinta Subo, bahkan andaikata aku menemukan orang tuaku, belum tentu aku akan dapat mencinta mereka yang selama ini tidak kukenal itu sebesar cintaku terhadap Subo."
Ban-tok Kui-bo merangkul dan mencium Li Hong yang ia anggap seperti anaknya sendiri.
Ia dahulu menculik Li Hong bukan dengan niat jahat, melainkan sekadar menghukum bekas kekasihnya yang hidup bahagia sedangkan ia sendiri menderita.
Setelah Li Hong hidup bersamanya, timbul kasih sayangnya yang besar sehingga rasa cintanya kepada Tan Kun Tek ia limpahkan semua kepada muridnya yang ia anggap anaknya sendiri itu.
"Li Hong, Anakku dan juga muridku tersayang, percayalah, akan datang waktunya aku memberitahu kepadamu siapa orang tuamu. Akan tetapi sebelum itu, maukah engkau membalas semua kasih sayang yang telah kucurahkan kepadamu selama ini? Aku merawat dan mendidikmu sejak engkau berusia dua tahun sampai kini berusia sembilanbelas tahun. Apakah engkau juga amat cinta padaku dan suka membelaku, menuruti semua permintaanku?"
"Aih, tentu saja, Subo! Budi yang Subo limpahkan kepadaku teramat besar! Aku akan membelamu sampai mati dan apa pun yang Subo perintahkan, akan kukerjakan dengan hati senang!"
"Nah, sekarang kau lihat wajah gurumu ini baik-baik! Lihat dan perhatikan! Bagaimana menurut pendapatmu wajahku ini?"
Li Hong menatap wajah gurunya.
"Kenapa Subo menanyakan itu? Wajah Subo cantik, kulit Subo putih mulus, badan Subo juga langsing padat. Subo cantik sekali!"
Kata Li Hong dengan sungguh-sungguh.
"Hemm, pujianmu bahkan menyakiti hatiku, Li Hong, seolah engkau mengejekku."
"Subo......!"
Gadis itu merangkul dan mencium pipi gurunya.
"Mengapa Subo berkata begitu? Aku sama sekali tidak mengejek dan kalau ada orang berani mengejek Subo, pasti akan kupukul hancur mulutnya!"
"Li Hong, apa engkau tidak melihat ini?"
Ban-tok Kui-bo meraba codet di pipi kirinya.
"Bukankah wajahku menjadi buruk dan menyeramkan dengan adanya cacat ini?"
"Ah, bagiku sama sekali tidak, Subo. Aku sudah terbiasa melihatnya dan cacat itu tidak mengurangi kecantikanmu."
"Hemm, itu adalah pandanganmu karena engkau mencintaku, Li Hong. Akan tetapi orang lain merasa takut dan jijik melihat mukaku. Aku dulu cantik seperti engkau, akan tetapi ada orang kejam yang melukai mukaku sehingga cacat."
"Ah, siapakah orang kejam itu, Subo? Aku yang akan membalaskan sakit hati Subo!"
Kata Li Hong penuh semangat.
"Memang aku ingin sekali engkau membalaskan dendamku. Akan tetapi sebaiknya engkau dengar dulu ceritaku, baru memutuskan apakah engkau berani membalaskan sakit hatiku. Dengarlah! Dulu, ketika aku seusiamu sekarang, aku adalah seorang gadis pendekar yang cantik dan banyak pemuda jatuh cinta padaku. Akan tetapi aku memilih seorang pemuda dan menolak mereka yang hendak melamarku. Akan tetapi, pemuda kekasihku itu telah ditunangkan dengan gadis lain! Ketika aku hendak mencari keputusan dari kekasihku itu, tiba-tiba muncul orang ini yang menyerangku. Kami bertanding dan aku terluka pada pipiku ini. Nah, sejak itu, aku tidak berani bertemu kekasihku itu, aku malu karena mukaku telah cacat. Aku mengasingkan diri di sini memperdalam ilmu-ilmuku. Kini semua ilmuku telah kuturunkan padamu, Li Hong, dengan harapan engkau akan mau mewakili aku membalas dendamku kepada orang itu."
"Tentu saja, aku siap, Subo. Katakan siapa orangnya dan di mana tempat tinggalnya. Aku akan pergi ke sana sekarang juga!"
"Engkau tidak takut, Li Hong? Ingat, orang itu lihai bukan main, dan di sana terdapat pula banyak muridnya yang lihai. Engkau mempertaruhkan nyawamu kalau hendak membalaskan dendamku ini."
"Aku tidak takut, Subo. Tidak percuma Subo mengajarkan semua ilmu dan juga kecerdikan menggunakan siasat kepadaku selama ini. Aku pasti akan dapat membunuh orang itu dan aku siap mempertaruhkan keselamatan nyawaku!"
"Bagus! Aku yakin engkau akan dapat membunuhnya. Orang kejam itu bernama Goat-liang Sanjin, ketua Hoa-san-pai yang terletak di Bukit Hoa-san. Kini usianya tentu sudah sekitar delapanpuluh tahun. Akan tetapi banyak muridnya yang masih muda dan tangguh."
"Baik, sekarang juga aku akan membuat persiapan dan akan berangkat, Subo,"
Kata Tan Li Hong penuh semangat.
"Bagus, melihat kesanggupan dan semangatmu ini saja aku sudah merasa gembira sekali, Li Hong. Tidak percuma rasanya aku mencintamu dan merawat serta mendidikmu sejak engkau berusia dua tahun. Bersiaplah, muridku dan aku berjanji, setelah engkau melaksanakan tugas ini, engkau pulang ke sini dan aku akan memberitahu kepadamu siapa dan di mana adanya orang tuamu."
"Terima kasih, Subo!"
Dengan gembira Li Hong lalu berlari ke kamarnya dan berkemas.
Ia membawa buntalan berisi pakaian dan beberapa petong uang emas dan perak, tidak lupa membawa pedangnya dan semua perlengkapan berupa macam-macam racun dan obat penawarnya.
Setelah berpamit kepada gurunya, Li Hong lalu berangkat dengan perahu yang didayung seorang anak buah Pulau Ular dan berangkatlah ia menuju Hoa-san-pai.
Seperti kita ketahui, gadis yang lincah, lihai dan cerdik ini berhasil menyusup ke Hoa-san-pai tanpa ada yang mengetahui, kemudian ia berhasil menyerang Goat-liang Sanjin dengan satu pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang, akan tetapi hanya sempat satu kali saja memukul karena Hoa-san Ngo-heng-tin muncul.
Li Hong maklum bahwa kalau ia nekat, tentu segera semua murid Hoa-san-pai akan datang dan akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri.
Maka dia melarikan diri, akan tetapi dasar ia cerdik, ia tidak lari jauh dan masih bersembunyi di perkampungan Hoa-san-pai.
Gerakannya yang amat gesit membuat ia mudah bersembunyi dan para murid Hoa-san-pai sama sekali tidak mengira bahwa penyerang ketua mereka itu masih berada di perkampungan mereka.
Karena masih berada di Hoa-san-pai, Li Hong dapat mendengar rencana Hoa-san Ngo-heng-tin untuk minta bantuan Im Yang Yok-sian yang berada tidak jauh dari situ.
Li Hong terkejut.
Ia sudah mendengar dari gurunya bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat mengobati pukulan beracun yang amat ampuh itu adalah seorang ahli pengobatan bernama Im Yang Yok-sian.
Li Hong khawatir sekali.
Kalau Im Yang Yok-sian menolong ketua Hoa-san-pai, mungkin Si Dewa Obat itu akan dapat menyembuhkannya dan ini berarti bahwa tugasnya telah gagal.
Untuk mengulang penyerangannya terhadap ketua Hoa-san-pai rasanya tidak mungkin karena para murid kini menjaganya dengan ketat.
Ia harus dapat menggagalkan usaha para murid Hoa-san-pai untuk minta bantuan Im Yang Yok-sian.
Maka, ketika mendapat kesempatan, ia langsung melarikan diri dari Hoa-san-pai dan mencari Im Yang Yok-sian.
Tidak sukar baginya untuk menemukan tempat pertapaan Si Dewa Obat dan dengan mudah ia menyelinap masuk pondok.
Keadaannya menguntungkan baginya karena Si Dewa Obat itu ternyata hidup seorang diri di dalam pondoknya.
Pada saat itu, seperti juga Goat-liang Sanjin, Im Yang Yok-sian sedang bersamadhi.
Maka, ketika Li Hong menyerangnya dengan tiba-tiba, dia tidak dapat menghindarkan diri dengan cepat.
Apalagi memang Im Yang Yok-sian lebih dalam kepandaiannya mengobati daripada ilmu silatnya.
Dia sudah mencoba untuk menghindarkan diri, namun tetap saja dia terkena dua kali pukulan Li Hong sehingga dia roboh dan tewas.
Setelah melihat bahwa Im Yang Yok-sian tewas, Li Hong lalu melarikan diri.
Kini ia merasa yakin bahwa Goat-liang Sanjin pasti akan tewas.
Ini berarti tugasnya berhasil baik dan ia akan segera mengetahui siapa ayah bundanya, dapat mencari dan bertemu dengan mereka!
Maka ia pun bergegas pulang ke Pulau Ular.
Ban-tok Kui-bo tersenyum girang mendengar laporan Li Hong.
"Akan tetapi terpaksa aku membunuh Im Yang Yok-sian karena aku mendengar para murid Hoa-san-pai hendak minta pertolongan Dewa Obat itu untuk menyembuhkan ketua Hoa-san-pai, Subo. Aku tidak ingin tugasku gagal!"
Ban-tok Kui-bo merangkul muridnya dan menciumnya.
"Ah, sekarang aku memetik dan menikmati buah dari tanaman yang kurawat selama belasan tahun. Engkau telah dapat membalaskan sakit hatiku. Tidak apalah kalau engkau terpaksa membunuh Si Dewa Obat karena orang itu dapat merupakan ancaman bagiku. Dengan kepandaiannya yang luar biasa mengobati semua penyakit, semua ilmu pukulan beracunku tidak ada artinya lagi dan aku tidak akan disegani lagi oleh seluruh orang dunia kang-ouw! He-he-heh! Aku senang sekali, Li Hong!"
"Syukurlah kalau Subo cukup senang dan puas. Akan tetapi aku belum, Subo!"
"He-he-heh!"
Ban-tok Kui-bo terkekeh.
"Katakan saja engkau menagih janji! Aku amat sayang padamu, Li Hong, dan tidak akan menipumu, tidak akan melanggar janji. Nah, sekarang engkau berhak mengetahui siapa ayahmu. Dia bernama Tan Kun Tek dan dahulu dia tinggal di kota Seng-hai-lian. Ayahmu itu seorang pendekar murid Bu-tong-pai, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sikapnya gagah!"
Melihat betapa gurunya memandang kosong seperti melamun dan pujiannya terhadap Tan Kun Tek itu diucapkan dengan suara tergetar, Li Hong memegang tangan gurunya.
"Subo, dia itukah kekasih Subo yang menikah dengan wanita lain? Kemudian karena Subo mendendam, maka Subo menculik aku dari tangan mereka?"
Ban-tok Kui-bo merangkul leher muridnya dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya.
"Benar, Li Hong. Akan tetapi aku sayang padamu dan engkau kuanggap anakku sendiri karena engkau keturunan Tan Kun Tek. Kalau aku tidak dapat hidup bersama dia, engkau sebagai penggantinya dan aku hanya ingin merasakan bagaimana sengsaranya ditinggal orang yang dicintanya. Sekarang, karena semua ilmu sudah kuturunkan kepadamu, dan tentu penderitaan Tan Kun Tek sudah cukup lama, aku membolehkan engkau kembali kepada orang tuamu."
Suara Ban-tok Kui-bo terdengar sedih.
"Akan tetapi, aku minta kepadamu, jangan engkau membenci aku karena perbuatanku itu dan jangan...... jangan lupakan aku, Li Hong!"
Li Hong amat menyayang gurunya yang selama belasan tahun ini menjadi pengganti orang tuanya.
Biarpun ia terkejut dan penasaran mendengar bahwa gurunya menculiknya ketika ia berusia dua tahun, namun karena ia belum tahu apa-apa ketika itu dan sekarang ia sudah lupa bagaimana rupa ayah ibunya, maka tentu saja perasaannya lebih dekat dengan gurunya daripada dengan orang tuanya.
"Tidak, Subo. Aku dapat mengerti perasaan hatimu yang sakit karena ayahku yang menikah dengan wanita lain bahkan sampai sekarang Subo tidak mau menikah. Aku akan mencari ayahku dan akan kutegur dia, kuterangkan betapa ayah telah membuat Subo menderita sampai sekarang. Aku akan berangkat sekarang mencari orang tuaku di Seng-hai-lian, Subo."
"Pergilah dan kembalilah kepada mereka. Hanya kuminta, jangan engkau melupakan aku, Li Hong, dan kalau ada waktu, jenguklah gurumu ini."
Li Hong berkemas membawa pakaiannya dan Ban-tok Kui-bo memberi sekantung kecil emas dan permata, juga ia memberikan pedangnya yang amat ampuh, yang diberi nama Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun), sebatang pedang pendek tipis dan ringan, kalau dimainkan berubah menjadi sinar kehijauan.
Setelah berangkulan dan berciuman dengan gurunya, Li Hong lalu meninggalkan Pulau Ular, diantar dengan perahu oleh seorang anak buah.
Seperti biasa, ia berpakaian sebagai pria.
Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng tiba di pantai Teluk Po-hai.
Mereka memandang ke arah timur dan laut membentang luas.
Mereka lalu menghampiri beberapa orang nelayan yang sedang membetulkan jala yang koyak, ada pula yang menambal kebocoran perahunya.
Mereka adalah para nelayan yang miskin, dan penghasilan mereka hanya menggantungkan nasib ketika menjala ikan.
Me!ihat seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik menghampiri mereka, belasan orang nelayan itu memandang heran.
Mereka adalah orang-orang kasar yang setiap hari berjuang dengan kehidupan yang sukar dan keras sehingga wajah mereka yang kehitaman dibakar sinar matahari setiap hari itu tampak kaku dan bengis.
Setelah berhadapan dengan mereka, Cun Giok berkata dengan ramah.
"Sobat-sobat, kami berdua ingin menyewa perahu. Apakah ada di antara kalian yang mau menyewakan perahu kepada kami dan mengantarkan kami ke sebuah tempat di sana?"
Cun Giok menuding ke arah laut.
"Mengantar ke mana? Kalian hendak ke mana?"
Belasan orang itu menghentikan pekerjaan mereka dan semua kini berkumpul menghadapi Cun Giok dan Ceng Ceng.
"Antarkan kami ke Pulau Ular,"
Kata Cun Giok. Tiba-tiba belasan orang itu terbelalak dan mereka mundur-mundur ketakutan memandang kepada pemuda dan gadis itu. Melihat mereka ketakutan, Cun Giok bertanya.
"Kenapa? Ada apa dengan kalian ini?"
Seorang di antara mereka paling tua, bertanya dengan suara gemetar.
"Apa...... apakah (Anda Berdua) ......anggauta keluarga .......Pulau Ular.......?"
Cun Giok menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Paman. Kami hanya pelancong yang ingin melihat Pulau Ular."
Kini belasan orang itu tampak lega, bahkan beberapa orang di antara mereka tertawa.
Seorang dari mereka, yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, agaknya menjadi pemimpin mereka, melangkah maju menghampiri Cun Giok dan Ceng Ceng.
Pandang matanya kini ditujukan kepada Ceng Ceng sehingga gadis itu mengerutkan alisnya merasa seolah-olah pandang mata orang itu meraba dan membelai seluruh tubuhnya!
"Ha-ha-ha, melancong ke Pulau Ular?
Melancong ke sana berarti melancong ke alam baka, tidak akan dapat kembali karena kalian akan mati secara mengerikan.
Ha-ha-ha!"
"Kami akan membayar mahal jika ada yang berani mengantar kami ke pulau Ular!"
Kata Ceng Ceng. Nelayan yang paling tua tadi berkata dengan nada mengandung rasa takut.
"Aih, Nona, andaikan Nona membayar dengan sebukit emas, apa artinya bagiku kalau aku mati? Tak seorang pun dapat mendekati pulau itu dan pulang dengan selamat, apalagi sampai berkunjung ke sana!"
"Hua-ha-ha!"
Laki-laki tinggi besar tadi tertawa dan mendekati Ceng Ceng.
"Nona manis, sungguh sayang kalau Nona yang masih muda dan begini cantik jelita, mati di sana. Lebih baik hidup dan bersenang-senang dengan aku!"
Mendengar ini, Cun Giok melangkah hendak menghajar nelayan muda yang kurang ajar itu.
Akan tetapi Ceng Ceng memegang lengannya dan memberi isyarat agar pemuda itu bersabar.
Gadis itu lalu memandang kepada nelayan tua tadi dan berkata dengan lembut dan ramah.
"Paman, maukah Paman menerangkan""
Apa sih bahayanya pergi ke Pulau Ular? Harap Paman jelaskan agar kami yang belum mengenal pulau itu dapat mengerti."
"Ah, agaknya Nona belum mendengar tentang pulau itu. Baru mendekat saja, perahu akan dapat pecah terdampar karena pulau itu dikelilingi batu-batu karang yang bersembunyi di bawah permukaan air, setiap saat siap untuk memecahkan perahu yang lewat di atasnya. Hanya orang Pulau Ular saja yang mampu mengemudikan perahu mencari permukaan air yang aman. Bahkan andaikata berhasil melewati batu-batu karang itu, di perairan antara batu-batu karang yang mengelilingi pulau itu, terdapat ratusan ekor ikan hiu yang amat ganas. Nah, hanya itu yang kudengar, namun kabarnya keadaan di pulau itu sendiri jauh lebih berbahaya daripada ancaman di air sekeliling pulau."
"Sudahlah, Nona, daripada mencari mati di sana, mari kita bersenang-senang. Engkau berlayar dengan aku di perahuku, pasti senang. Akan tetapi kawanmu itu tidak boleh ikut. Hanya engkau sendiri dengan aku. Marilah!"
Setelah berkata demikian, nelayan muda yang tinggi besar itu menangkap pergelangan tangan kiri Ceng Ceng dan ditariknya, akan tetapi gadis itu cepat mengelak dan melangkah mundur.
Cun Giok melangkah maju dan Ceng Ceng memperingatkan.
"Giok-ko, jangan terlalu keras terhadap orang kasar dan bodoh ini!"
Cun Giok mengangguk dan menghadapi orang tinggi besar yang kasar itu.
"Sobat, mulutmu mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Hayo engkau minta maaf kepada Nona ini!"
"Minta maaf? Ha-ha-ha, aku berkata benar. Nona manis ini lebih pantas menjadi isteriku karena aku masih belum menikah. Aku dapat melindunginya, tidak seperti engkau yang kecil lemah. Mari, Nona, mari bersenang-senang dan jangan pedulikan pemuda lemah seperti kelenci ini!"
Tanpa mempedulikan Cun Giok, laki-laki itu menjulurkan lengannya yang panjang hendak menangkap lengan Ceng Ceng.
Akan tetapi Cun Giok menghalanginya.
Orang itu marah dan melayangkan tangan kanannya yang panjang dan besar ke arah muka Cun Giok.
Akan tetapi Cun Giok mengelak dan berkata.
"Mulutmu yang kurang ajar patut dihajar!"
Tangan kirinya menyambar dan menampar.
"Plakk!"
Laki-laki tinggi besar itu mengaduh dan terhuyung ke belakang, meraba-raba mulutnya yang berdarah karena bibirnya pecah terkena tamparan Cun Giok.
Dia menjadi marah sekali dan kini dia menerjang dan memukul dengan membabi-buta.
"Tanganmu jahat, patut dihajar!"
Kata Cun Giok sambil menangkis dan terdengar suara tulang patah ketika lengan yang besar itu bertemu dengan lengan Cun Giok.
"Aduhh......!"
Kini nelayan muda yang kasar itu meringis dan mengaduh-aduh karena lengan kirinya terasa nyeri bukan main karena tulang lengan itu patah!
Para nelayan terkejut dan kini baru mereka tahu bahwa pemuda yang tampak lemah itu ternyata lihai!
Nelayan tua itu segera memberi hormat kepada Cun Giok.
"Kongcu (Tuan Muda), maafkanlah keponakanku ini."
"Tidak mengapa, Paman. Mudah-mudahan sedikit hajaran tadi membuat dia jera untuk bersikap kurang ajar terhadap seorang wanita. Sekarang kami minta petunjuk dari Paman, bagaimana caranya agar kami dapat berkunjung ke Pulau Ular?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Seperti saya katakan tadi, hal itu sulit sekali, bahkan tidak mungkin, Kongcu."
"Paman, mengapa agaknya Paman takut? Bukankah di sana tinggal Ban-tok Kui-bo dan anak buahnya?"
"Sssst...... jangan keras-keras, Nona. Menyebutkan namanya saja sudah amat berbahaya."
"Kenapa? Apakah orang-orang Pulau Ular itu suka mengganggu para nelayan,"
"Tidak, mereka tidak mengganggu, akan tetapi mereka juga tidak mau diganggu. Kami semua sudah mendapat peringatan bahwa tidak ada yang boleh ke pulau itu, bahkan memasuki wilayah perairannya pun dilarang. Pernah ada dahulu beberapa kali pencari ikan melanggar dan mereka semua mati secara mengerikan, menjadi santapan ikan-ikan hiu!"
"Apakah sama sekali tidak ada seorang pun yang dapat mengantar kami ke pulau itu, Paman?"
Tanya Cun Giok. Kakek itu menggelengkan kepalanya, akan tetapi lalu berkata.
"Pernah setahun yang lalu, ketika seorang nona penghuni pulau itu tidak dijemput dan terpaksa menyewa perahu, seorang nelayan di antara kami ada yang mengantarnya sampai ke pulau. Dialah yang tahu jalan masuk bagi perahu agar tidak menabrak batu karang."
"Ah, di mana dia, Paman? Aku ingin menyewa perahunya!"
Dengan bayaran besar, lima kali lebih besar dari pada kalau menyewa biasa, akhirnya seorang nelayan berusia sekitar empatpuluh tahun yang dipanggil Acong bersedia mengantarkan dengan perahunya.
Akan tetapi Cun Giok dan Ceng Ceng harus nienjamin keselamatannya dan setelah tiba di tepi daratan pulau, nelayan itu akan meninggalkan mereka.
Tanpa syarat ini, dia tidak mau walau dibayar berapa banyak pun.
Setelah mendayung perahunya ke tengah lautan beberapa lamanya, Acong menunjuk ke depan sambil berkata lirih.
"Itu Pulau Ular!"
Cun Giok dan Ceng Ceng memandang. Benar saja, ada sebuah pulau di sana, pulau yang seolah dipenuhi hutan dan sama sekali tidak tampak seperti ular! "Banyakkah orang-orang di pulau itu?"
Tanya Cun Giok.
"Banyak juga, ketika saya mengantar nona itu ke sana, pulau itu seperti sebuah perkampungan. Saya melihat puluhan orang di sana, laki-laki perempuan bahkan ada pula anak-anak. Akan tetapi keadaan di sana amat aneh. Begitu banyaknya orang hanya tampak sekejap saja dan tahu-tahu mereka telah menghilang di balik pohon dan semak belukar, juga saya melihat banyak ular berkeliaran sampai dekat pantai."
"Engkau membawa begini banyak bangkai anjing dan ayam, untuk apakah?"
Tanya Ceng Ceng.
"Nanti Nona akan melihatnya!"
Kata Acong yang agaknya tidak berani banyak bicara.
Dua orang muda itu menatap ke arah pulau dengan jantung berdebar.
Mereka tidak tahu akan menghadapi apa di pulau itu dan mereka hanya mengharapkan untuk dapat bertemu dengan pembunuh Im Yang Yok-sian dan dapat memperoleh obat penawar racun pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang untuk menyembuhkan Goat-liang Sanjin.
Setelah tiba dekat pulau mereka melihat bahwa pulau itu memang dipenuhi pohon yang berjajar di sepanjang pantai, menutupi pemandangan sehingga orang tidak dapat melihat keadaan tengah pulau itu.
"Duduklah dengan tegak dan hati-hati, kita tiba di bagian yang banyak batu karangnya,"
Kata Acong berbisik.
Cun Giok dan Ceng Ceng melihat betapa dengan mahirnya Acong mendayung dan mengemudikan perahunya, meluncur di antara batu-batu karang yang berada di bawah permukaan air.
Batu-batu karang yang runcing dan tajam.
Kalau perahu terdampar dan tertusuk dari bawah, tentu akan berlubang atau pecah!
Acong yang sudah pernah membawa seorang gadis ke pulau itu dan diberi petunjuk oleh gadis itu, kini dapat melewati barisan batu karang berbahaya itu.
Pulau sudah tampak dekat.
Akan tetapi tukang perahu atau nelayan itu berbisik.
"Harap kalian masing-masing menghadap ke kanan dan ke kiri. Kalau muncul sirip-sirip ikan hiu, cepat lempar-lemparkan bangkai itu agak jauh dari perahu. Akan tetapi jangan dihabiskan, disisakan untuk kupakai waktu meninggalkan pulau."
Ceng Ceng dan Cun Giok siap dan memandang ke permukaan air laut.
Tidak tampak batu-batu karang lagi dan tiba-tiba Ceng Ceng melihat tiga sirip meluncur ke dekat perahu!
Ia segera mengambil seekor bangkai ayam dan melemparkannya agak jauh dari perahu.
Tiga ekor ikan hiu itu segera membalik dan meluncur ke arah bangkai ayam.
Demikianlah pula Cun Giok.
Begitu melihat banyak sirip ikan meluncur datang, dia segera merobek bangkai anjing dengan menarik sebuah kakinya.
Kaki itu putus membawa daging yang cukup banyak dan ketika dia lemparkan agak jauh dari perahu, sirip-sirip ikan itu meluncur mengejarnya!
Acong cepat mendayung perahunya ke arah pantai pulau, ke arah sebatang pohon yang tumbuh di situ.
Cun Giok dan Ceng Ceng sibuk melemparkan umpan agar ikan-ikan hiu yang ganas itu menjauhi perahu.
Akan tetapi Cun Giok dan Ceng Ceng girang karena sampai perahu menempel di pantai, tidak ada lagi aral melintang.
Ceng Ceng segera membayar upah melayarkan ke pulau itu dan Acong cepat-cepat mendayung perahunya pergi dari situ.
Dengan melempar-lemparkan umpan ke kanan kiri perahu, dia dapat lolos dari kepungan ikan hiu lalu membawa perahunya keluar dari barisan batu karang.
Nelayan itu girang bukan main karena dia selamat dari perjalanan berbahaya itu dan dia sudah mengantongi uang yang kiranya cukup untuk biaya makan satu bulan bersama isteri dan dua orang anaknya!
Kini Ceng Ceng dan Cun Giok yang berdiri di pantai mulai mencoba untuk melihat dan mempelajari keadaan di balik semak belukar itu.
Mereka tidak dapat melihat bagian tengah pulau.
"Biar kulihat dari atas pohon!"
Kata Cun Giok dan dia sudah melompat ke atas dahan pohon yang paling tinggi.
Dari situ melayangkan pandang ke arah tengah pulau.
Akan tetapi yang dilihat hanyalah hutan belantara, pohon dan semak belukar memenuhi pulau dan beberapa bagian yang merupakan ladang yang ditanami bermacam-macam sayur.
Tak tampak seorang pun di pulau itu!
Pulau kosongkah ini?
Mengapa para nelayan takut kalau pulau ini hanya kosong?
Apa yang mereka takutkan?
Ketika Cun Giok turun dari atas pohon, dia menceritakan kepada Ceng Ceng bahwa dia tidak melihat bangunan rumah di tengah pulau yang tertutup pohon-pohon dan semak-semak belukar.
Juga tidak tampak seorang pun manusia, akan tetapi ada kebun-kebun sayur.
"Melihat adanya ladang-ladang sayur yang cukup luas itu, dapat dipastikan bahwa pulau ini ada penghuninya. Akan tetapi ke mana mereka pergi? Tak seorang pun tampak,"
Kata Cun Giok.
"Justeru keadaan begini amat berbahaya, Giok-ko. Menurut keterangan ayahku dan Susiok Im Yang Yok-sian, yang berjuluk Ban-tok itu sesungguhnya belum tua benar, belum ada limapuluh tahun usianya. Akan tetapi karena ilmu kepandaiannya hebat dan ia amat kejam terhadap laki-laki, maka ia dianggap sebagai datuk yang ditakuti orang di wilayah Timur ini. Dan mendiang Susiok pernah bercerita bahwa Ban-tok Kui-bo selain lihai sekali ilmu silat dan ilmu penggunaan racun, juga ia amat cerdik dan dapat menyusun jebakan-jebakan yang mengerikan. Maka, biarpun tampaknya tidak ada orang, kita harus berhati-hati terhadap jebakan-jebakan, Giok-ko."
"Baik, Ceng-moi. Mari kita selidiki ke tengah pulau. Biar aku yang berjalan di depan, engkau berjaga bagian belakang kalau-kalau ada serangan gelap yang datangnya dari belakang."
Mereka lalu mulai melangkah menuju ke tengah pulau.
Yang pertama mereka temukan adalah sebuah hutan dengan pohon-pohon yang letaknya aneh dan pohon-pohon itu pun mempunyai batang dan bentuk ranting dan daun yang sama.
Jelas bahwa pohon-pohon itu tidak tumbuh liar, melainkan ditanam dan diatur!
Cun Giok tadi mematahkan sebuah dahan yang panjangnya satu tombak, demikian pula Ceng Ceng membawa sebatang cabang pohon.
Dengan kayu ini Cun Giok mengetuk atau menusuk ke tanah yang ditutupi rumput itu untuk melihat apakah tempat itu aman untuk diinjak.
Di antara pohon-pohon itu terdapat jalan setapak yang seolah memang dibuat atau sering dilalui kaki orang karena di jalan setapak ini tanahnya gundul, tidak ditumbuhi rumput.
Mereka lalu melalui jalan itu dengan hati-hati.
Tiba-tiba Ceng Ceng berseru kaget dan ketika Cun Giok membalikkan tubuh untuk melihat, ternyata Ceng Ceng sudah tergantung di pohon dengan kaki terikat dan kepala di bawah.
Agaknya tadi ia menginjak jebakan yang luput dari kaki Cun Giok dan ketika kakinya menginjak jebakan itu, ada tali yang menjerat kakinya dan tali itu seperti ditarik ke atas sehingga tubuh gadis itu tergantung dengan kaki terjerat di atas dan kepala di bawah!
Melihat ini, Cun Giok melompat ke atas dan sinar emas berkelebat, dia telah membabat putus tali yang menggantung Ceng Ceng.
Gadis itu ketika tubuhnya jatuh ke bawah, cepat membuat pok-sai (salto) sehingga dapat menginjak tanah dengan selamat.
"Hemm, berbahaya sekali!"
Kata Ceng Ceng dengan sikap tenang saja. Gadis ini memang memiliki ketenangan yang mengagumkan.
"Ah, kita harus lebih hati-hati, Ceng moi. Benar kata-katamu tadi, di sini terdapat banyak jebakan yang berbahaya. Dan aku mempunyai perasaan bahwa semua gerak gerik kita pasti diam-diam diamati orang."
Mereka maju terus, lebih hati-hati sekarang.
Beberapa kali ujung tongkat yang dipegang Cun Giok menyentuh jebakan dan ada tali jerat yang bergerak ke atas, seperti yang telah menggantung tubuh Ceng Ceng tadi.
Akan tetapi mereka berdua dapat melewati jebakan-jebakan itu dan terus melangkah melalui jalan setapak yang berbelak-belok.
"Berhenti dulu, Giok-ko!"
Ceng Ceng berseru.
"Mengapa, Ceng-moi?"
Ceng Ceng memandang ke sekelilingnya yang dipenuhi pohon-pohon yang sama atau mirip satu sama lain.
"Glok-ko, kita kembali ke tempat tadi! Aku ingat betul, tadi pun kita sudah melewati jalan ini!"
"Aih, benarkah? Kalau begitu, kita disesatkan oleh jalan setapak ini dan hanya berputar-putaran di dalam hutan."
Mereka merasa dongkol juga.
"Kita lanjutkan perjalanan, Giok-ko dan sekarang aku akan memberi tanda kepada setiap pohon yang kita lewati!"
Gadis yang cerdik itu berkata.
Cun Giok mengangguk setuju dan mereka mulai maju lagi.
Sekarang, setiap tiba di jalan yang bercabang, Ceng Ceng lalu mengambil sebuah kerikil dan melontarkan pada batang pohon terdekat sehingga tampak lubang pada batang pohon itu.
Masih beberapa kali mereka tersesat, akan tetapi kini mereka dapat memilih jalan yang benar, melalui jalan setapak di mana pohon-pohonnya belum ditandai sambitan batu kerikil.
Juga mereka selalu dapat terhindar dari beberapa jebakan.
Bukan hanya jebakan berupa tali jerat, melainkan alat yang terinjak karena tertutup tanah dan tiba-tiba ada anak panah menyambar dari kanan kiri!
Berkat kelincahan gerakan mereka, dua orang muda ini dapat mengelak.
Akhirnya mereka dapat keluar dari hutan pohon yang ternyata tidak berapa luas itu.
Hanya pohon-pohonnya diatur sedemikian rupa, dengan jalan setapak yang menyesatkan dan jebakan-jebakan yang berbahaya.
Kini mereka menghadapi semak belukar yang berlapis-lapis.
Sulitlah untuk menerjang semak belukar yang penuh duri itu.
Mereka mencoba dengan mengambil jalan mengitari semak-semak, akan tetapi pada lapisan kedua, tidak ada jalan yang tak terhalang semak-semak.
Mereka harus melompati semak-semak belukar kalau ingin terus maju.
Cun Giok mengambil sepotong batu sebesar kepala orang dan melemparkan batu itu melewati semak-semak.
Batu itu jatuh berdebuk dan tidak terjadi sesuatu.
"Hemm, aku akan melompati semak-semak ini dan turun ke atas batu tadi yang telah terbukti aman. Engkau dapat menyusul di belakangku."
Ceng Ceng mengangguk dan Cun Giok segera melompati semak-semak yang tingginya setombak dan tebalnya dua tombak itu.
Ceng Ceng berkelebat menyusulnya.
Ketika kaki Cun Giok hinggap menginjak batu yang tadi dia lontarkan, tiba-tiba tanah di tempat itu jebol dan terbentuklah sebuah sumur!
Kiranya jebakan itu sudah diatur sedemikian rupa sehingga kalau tertimpa benda seberat manusia barulah penutup sumur itu jebol.
Maka ketika dilempari batu sumur itu tetap tertutup dan baru setelah Cun Giok hinggap di atas batu penutup sumur itu jebol dan tubuh Cun Giok jatuh ke bawah!
Akan tetapi pada saat itu, tubuh Ceng Ceng sudah berkelebat dan melihat pemuda itu terjerumus ke dalam sumur, ia cepat menangkap lengan Cun Giok dan menariknya dengan sentakan kuat.
Cun Giok mengerahkan gin-kangnya sehingga dia dapat ditarik dan ikut melompat sehingga mereka berdua berhasil turun dan berdiri di tepi sumur itu!
Ketika keduanya menjenguk ke dalam sumur, Ceng Ceng mengeluarkan seruan tertahan.
Cun Giok menghela napas panjang.
"Ah, sungguh berbahaya sekali!"
Mereka melihat ratusan ekor ular berada di dasar sumur tak berair itu, tumpang tindih dan menggeliat-geliat.
Kalau Cun Giok tadi terjatuh ke sana dan dikeroyok ratusan ekor ular berbisa itu, betapapun lihainya, akan sukarlah menghindarkan diri dari gigitan berbisa!
"Untung engkau bertindak cepat, Ceng-moi.
Terima kasih!"
"Hemm, apa perlu berterima kasih, Giok-ko? Kita bersama berada di tempat berbahaya ini. Mari maju terus dan kita harus lebih hati-hati."
Setapak demi setapak mereka melangkah ke depan, memeriksa setiap tanah berumput yang akan mereka injak selanjutnya.
Cun Giok tetap berada di depan.
Ketika mereka berhadapan lagi dengan serumpun semak belukar, mereka berhenti dan meragu karena tidak tahu jebakan apa yang menanti mereka di balik semak belukar itu.
"Giok-ko, aku mempunyai gagasan, mungkin dapat menolong kita. Karena pemilik pulau ini tidak akan mengira ada orang menginjak semak belukar, pasti jebakan-jebakan itu berada di atas tanah berumput. Maka bagaimana kalau kita menggunakan semak-semak itu untuk melanjutkan perjalanan menuju tengah pulau ini?"
"Menggunakan semak-semak? Apa maksudmu? Kalau kita melompat ke atas semak-semak, tentu kaki akan terjeblos ke bawah karena tidak ada tempat yang keras untuk berpijak."
"Kita membawa ini, Giok-ko!"
Kata Ceng Ceng sambil berjongkok dan mengambil batu pipih sebesar kaki. Melihat ini, wajah Cun Giok berseri. Dia dapat menangkap maksud gadis itu.
"Gagasan itu baik sekali, Ceng-moi!"
Katanya dan mereka mulai mengumpulkan batu-batu pipih.
Setelah cukup, Cun Giok mendahului melompat ke atas semak, melemparkan sebuah batu pipih ke atas semak sehingga dia dapat menginjak batu pipih di atas semak itu.
Kemudian dia melemparkan sebuah batu berikutnya ke atas semak-semak di depan dan dia menyusul dengan lompatan ringan ke atas semak-semak di depan yang sudah ditumpangi batu pipih.
Ceng Ceng juga melakukan hal yang sama.
Bagaikan dua ekor burung saja, dua orang muda itu berloncatan dari semak ke semak dan setelah semak terakhir terlewati, Cun Giok melompat ke atas tanah yang tidak berumput.
Ceng Ceng menyusulnya dan mereka berdua girang sekali bahwa mereka telah dapat melampaui barisan semak belukar itu.
Ketika mereka memandang ke depan, kini tampaklah perkampungan itu.
Akan tetapi untuk memasuki perkampungan itu mereka masih harus melewati sebuah taman atau kebun yang penuh dengan tumbuh-pohon kecil dan pohon bunga.
"Biarpun kita sudah sampai di sini, kita tidak boleh lengah dan harus tetap berhati-hati, Ceng-moi, karena perkampungan yang tampaknya sepi itu mungkin saja disengaja untuk memancing kita."
Mereka kini memasuki taman yang luas itu melalui pintu pagar yang mengelilingi taman.
Baru saja mendorong pintu pagar terbuka, terdengar bersiutnya enam batang anak panah beracun yang meluncur dari depan menyerang mereka!
Akan tetapi dua orang pendekar muda yang memiliki gin-kang tingkat tinggi itu dengan mudah dapat menghindarkan diri dari serangan itu dengan loncatan ke atas sehingga enam batang anak panah itu meluncur di bawah kaki mereka.
Dengan tabah mereka melangkah maju perlahan-lahan, menggunakan cabang pohon untuk menguji tanah tertutup rumput yang akan mereka injak.
Cun Giok tetap berjalan di depan dan dia memegang sebatang cabang pohon di tangan kiri yang dia pergunakan untuk menguji tanah yang akan diinjaknya, sedangkan tangan kanan memegang Kim-kong-kiam, siap untuk dipergunakan apabila ada bahaya mengancam.
Ceng Ceng melangkah di belakangnya, menginjak bekas telapak kaki pemuda yang melangkah di depannya.
Gadis ini memang tidak pernah menggunakan senjata, akan tetapi sehelai ranting pohon biasa kalau berada di tangannya tidak kalah ampuh dibandingkan dengan senjata baja yang tajam.
Beberapa kali ada senjata rahasia menyerang mereka.
Biarpun mereka sudah berhati-hati dan tidak menginjak jebakan, namun dua kali ada golok-golok muncul dari tanah membabat ke arah kaki mereka.
Keduanya kembali meloncat ke atas terhindar dari sabetan golok-golok itu.
Ada pula secara tiba-tiba belasan batang anak panah menyambar dari atas pohon.
Cun Giok memutar Kim-kong-kiam yang sinarnya membentuk payung merontokkan semua anak panah yang menyerang dari atas.
Ketika mereka hampir berhasil keluar dari kebun yang penuh pohon itu, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dan dari jauh tampak ratusan ekor ular merayap dari semua jurusan menuju tempat mereka berdiri.
Cun Giok sudah siap mengamuk dengan pedangnya.
Akan tetapi Ceng Ceng segera berseru.
"Giok-ko, cepat bantu mengumpulkan bahan bakar di sekeliling kita."
Mereka segera dengan cepat mengumpulkan daun dan kayu kering, ditumpuk di sekeliling mereka.
Lalu Ceng Ceng mengeluarkan alat pembuat api dan membakar kayu dan daun-daun kering itu sehingga sekeliling mereka terlindung oleh api.
Begitu dekat dengan api, ular-ular itu lari ketakutan menjauhi api.
Akan tetapi tiba-tiba dari atas pohon melayang belasan ekor ular hijau.
Ceng Ceng menangkis dengan tongkatnya, demikian pula Cun Giok menggunakan pedangnya sehingga belasan ekor ular hijau itu terlempar ke dalam api dan mati terbakar.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan, melewati api dan masing-masing memegang sebuah ranting kayu yang ujungnya dibakar sehingga tidak ada ular berani mendekati mereka.
Mereka kini dapat melewati pekarangan dan begitu tiba di depan gedung pertama perkampungan itu, tiba-tiba bermunculan duapuluh orang anak buah Pulau Ular.
Mereka segera mengepung Ceng Ceng dan Cun Giok.
Dua orang muda itu memperhatikan.
Keadaan duapuluh orang itu memang aneh karena mereka mengenakan pakaian seragam yang bergaris-garis seperti kulit ular!
Dan mereka mengepung sambil berlari mengelilingi Cun Giok dan Ceng Ceng, sambil mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti ular!
Mereka membawa sebuah tongkat pendek yang ujungnya diberi besi runcing seperti taring ular.
Ketika mereka berlari mengelilingi dua orang muda itu, Cun Giok dan Ceng Ceng mencium bau amis dan maklum bahwa mereka itu adalah anak buah Pulau Ular yang biasa membawa dan menggunakan racun ular.
Mungkin senjata mereka itu mengandung racun yang amat berbahayanya!
Melihat Cun Giok sudah siap dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar keemasan, Ceng Ceng merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu sampai membunuh atau melukai orang.
Bisa gagal niat mereka mencari obat kalau sampai terlibat permusuhan dengan para penghuni Pulau Ular.
"Giok-ko, jangan lukai atau bunuh mereka,"
Katanya lirih dan ia pun mengambil sepotong ranting lagi sehingga kedua tangannya masing-masing memegang sebatang ranting.
Mendengar ucapan gadis itu, Cun Giok mengerti dan dia pun mengambil sepotong ranting dengan tangan kirinya namun tetap memegang Kim-kong-kiam di tangan kanannya.
Pedang itu dia perlukan untuk menangkis senjata para pengeroyok itu.
"Kembalilah kalian sebelum terlambat!"
Seorang di antara mereka yang masih mengelilingi, kini dengan berjalan, berkata dengan lantang.
"Kami tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Tocu (Majikan Pulau) Ban-tok Kui-bo! Kami ingin menghadap Beliau untuk membicarakan urusan penting,"
Kata Ceng Ceng dengan lembut.
"Tidak bisa! Untuk menemui Beliau kalian harus lebih dulu melewati kami!"
Bentak pimpinan seregu pasukan ular itu.
"Kalau begitu, kami akan berusaha melewati kalian!"
Kata Ceng Ceng dan ia memberikan sebutir pel kepada Cun Giok dan mereka berdua menelan sebutir pel merah.
Mendengar jawaban Ceng Ceng, duapuluh orang itu mengeluarkan desis yang lebih nyaring, bahkan dari mulut mereka keluar uap dan bau amis semakin menyengat hidung dua orang muda itu.
Kini mulailah mereka menyerang dari empat jurusan!
Akan tetapi, ternyata gerakan ilmu silat mereka itu masih terlalu rendah bagi Cun Giok dan Ceng Ceng.
Biarpun mereka mengeluarkan hawa beracun, akan tetapi setelah menelan pel merah, semua hawa beracun itu tidak mempengaruhi mereka.
Serangan mereka itu dapat ditangkis oleh Ceng Ceng dan Cun Giok.
Bahkan pedang Kim-kong-kiam dalam beberapa gebrakan saja telah mematahkan banyak senjata para pengeroyok.
Kini Cun Giok dan Ceng Ceng menggerakkan ranting, menotok bertubi-tubi dan satu demi satu para pengeroyok itu roboh terkulai lemas!
Akhirnya, duapuluh orang itu telah roboh semua, walaupun sama sekali tidak terluka, namun sebelum pengaruh totokan itu memudar, mereka sama sekali tidak mampu bangkit sehingga dengan mudahnya Cun Giok dan Ceng Ceng melanjutkan langkah mereka menghampiri gedung yang berada paling depan di kampung itu dan gedung ini merupakah gedung latihan ilmu silat dari para anak buah Pulau Ular.
Cun Giok dan Ceng Ceng berniat untuk menanyakan di mana mereka dapat bertemu dengan Ban-tok Kui-bo.
Tiba-tiba pintu depan gedung latihan itu terbuka lebar dan ada angin kuat menyambar dari dalam, lalu tampak tubuh seorang wanita yang langsing berwajah cantik melayang keluar dan berdiri di depan mereka.
Cun Giok dan Ceng Ceng melihat bahwa wajah yang cantik itu terganggu oleh sebuah bekas luka (codet) memanjang di pipinya sebelah kiri.
Usia wanita itu sukar diduga karena tubuhnya masih padat, wajahnya masih cantik walaupun terganggu codet.
Tampak masih muda, paling banyak tigapuluh tahun usianya.
Memang, wanita itu adalah Ban-tok Kui-bo (Biang Hantu Selaksa Racun) yang biarpun usianya sudah sekitar empatpuluh lima tahun namun masih tampak muda.
Ceng Ceng segera mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, diikuti oleh Cun Giok.
Ceng Ceng pernah mendapat gambaran dari susioknya tentang Ban-tok Kui-bo, maka ia dapat menduga dengan siapa ia berhadapan.
"Mohon maaf atas kelancangan kami yang muda. Kalau kami tidak salah lihat, Lo-cianpwe adalah Ban-tok Kui-bo, benarkah?"
Kata Ceng Ceng dengan sikap sopan dan kata-katanya juga lembut. Ban-tok Kui-bo memandang mereka dengan penuh perhatian, lalu ia berkata.
"Kalian orang-orang muda datang tanpa diundang dan merobohkan anak buah Pulau Ular. Hayo cepat pulihkan mereka!"
Melihat wanita itu menudingkan telunjuknya yang berkuku panjang ke arah duapuluh orang yang masih menggeletak tak mampu bergerak itu, Ceng Ceng memberi isyarat kepada Cun Giok dan mereka berdua lalu menghampiri para anak buah Pulau Ular dan membuka totokan mereka.
Duapuluh orang itu bangkit dan mereka segera menyingkir setelah mendapat isyarat dari Ban-tok Kui-bo.
Setelah membebaskan totokan, Cun Giok dan Ceng Ceng lalu menghampiri lagi Ban-tok Kui-bo.
"Siapakah kalian dan apa keperluan kalian datang ke pulau ini?"
Cun Giok menyerahkan semua pembicaraan kepada Ceng Ceng yang dia percaya lebih mampu untuk bicara dengan wanita yang tampaknya berwatak keras dan aneh itu.
"Lo-cianpwe, saya bernama Liu Ceng, murid keponakan Susiok Im Yang Yok-sian, di Hoa-san. Adapun sahabat ini adalah Pouw Cun Giok. Kami berdua berani memasuki pulau ini karena kami mohon menghadap Lo-cianpwe Ban-tok Kui-bo sehubungan dengan kematian Susiok Im Yang Yok-sian dan terlukanya Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai."
Mulut yang bentuknya indah itu tersenyum sinis.
"Hemm, kalian datang untuk membalas dendam? Bagus, kalian tidak salah datang ke sini. Akulah yang menyuruh melukai Goat-liang Sanjin dan membunuh Im Yang Yok-sian! Aku yang bertanggung jawab dan kalian boleh membalas dendam kepadaku!"
"Lo-cianpwe, kami bukanlah orang-orang muda yang hanya menuruti emosi belaka. Segala akibat tentu ada sebabnya dan semua perbuatan tentu ada alasannya. Kami datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai tamu yang mohon kebijaksanaan Lo-cianpwe, yaitu, memberi penjelasan mengapa Susiok Im Yang Yok-sian dibunuh dan mengapa pula ketua Hoa-san-pai dilukai. Kami mohon penjelasan dan obat penawar bagi Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin yang menderita luka parah karena pukulan Hek-tok Tong-sim-dang."
Ban-tok Kui-bo mengerutkan alis dan memandang Ceng Ceng dengan penuh selidik.
"Gadis muda, kalau engkau murid keponakan Im Yang Yok-sian, lalu siapakah gurumu?"
"Guru saya adalah ayah saya sendiri, yaitu Liu Bok Eng yang tinggal di Nan-king."
"Hemm, kalian dua orang muda sudah lancang melanggar larangan memasuki pulau kami tanpa ijin, maka kami tidak dapat menerima kalian sebagai tamu-tamu yang patut dipertimbangkan permintaannya. Sekarang begini saja. Melihat kalian ternyata tidak membunuh seorang pun dari anak buah kami, kami memberi kesempatan. Kalau kalian mampu bertahan melawan aku sampai tigapuluh jurus, maka kalian akan kuterima sebagai tamu dan kita boleh membicarakan keperluan kalian. Akan tetapi kalau kalian tidak mampu bertahan sampai tigapuluh jurus dan masih hidup, kalian boleh pergi dari sini. Kalau sampai kalian tewas, jangan salahkan aku. Kalau kalian tidak berani melawanku, cepat pergi dari sini sebelum pikiranku berubah."
Ceng Ceng berkata dengan lembut.
"Sebagai nyonya rumah, Lo-cianpwe berhak menentukan peraturan di sini dan sebagai seorang tamu, saya harus menaatinya. Saya akan berusaha untuk mampu bertahan selama tigapuluh jurus, Lo-cianpwe."
Mendengar ini, Cun Giok juga berkata.
"Saya juga siap bertahan melawan Lo-cianpwe sampai tigapuluh jurus!"
Ban-tok Kui-bo tersenyum dan berkata.
"Bagus, mari masuk ke gedung latihan ini!"
Wanita yang menjadi majikan Pulau Ular itu memasuki pintu gedung, diikuti oleh Cun Giok dan Ceng Ceng.
Dua orang muda itu kagum melihat betapa gedung itu merupakan tempat berlatih silat yang luas.
Di sudut terdapat rak senjata dengan belasan macam senjata dan di dekat dinding terdapat bangku berderet.
Ruangan latihan itu luas sekali, cukup luas untuk dipakai bertanding keroyokan puluhan orang!
Ban-tok Kui-bo melangkah ke tengah ruangan yang lantainya kokoh dan berkata.
"Siapa dari kalian yang hendak maju lebih dulu?"
"Saya akan mencoba bertahan selama tigapuluh jurus, Lo-cianpwe!"
Kata Ceng Ceng yang segera menghampiri wanita cantik yang mempunyai codet di pipi sebelah kiri itu.
"Hemm, engkau boleh menggunakan senjata,"
Kata Ban-tok Kui-bo kepada Ceng Ceng yang berdiri di depannya tanpa memegang senjata karena ranting yang dipegangnya sudah ia lepaskan ketika memasuki ruangan itu.
"Tugas saya mengobati, bukan menyakiti orang, Lo-cianpwe, maka saya tidak pernah menggunakan senjata."
Ban-tok Kui-bo mengerutkan alisnya. Sebagai seorang datuk kang-ouw yang berilmu tinggi, tentu saja ia merasa diremehkan kalau lawannya, seorang gadis muda belia, menghadapinya dengan tangan kosong.
"Hemm, aku pun bertangan kosong, akan tetapi engkau patut mengetahui bahwa setiap jari tanganku merupakan senjata yang ampuh dan dapat merenggut nyawa! Engkau masih berani melawan aku selama tigapuluh jurus?"
"Lo-cianpwe, saya seorang bodoh dan saya sudah mendengar akan kelihaian Lo-cianpwe menggunakan segala macam racun. Saya tidak berani melawan Lo-cianpwe dan saya maju ini hanya untuk memenuhi permintaan Lo-cianpwe. Demi tugas yang saya bawa dari Hoa-san-pai, demi mengetahui sebab kematian Susiok Im Yang Yok-sian dan kesembuhan Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin, saya rela andaikata sampai terpukul mati oleh Lo-cianpwe."
Karena sikap dan ucapan Ceng Ceng amat lembut dan sopan, maka hati Ban-tok Kui-bo yang kaku agak mencair dan ia sudah mengambil keputusan untuk tidak berlaku kejam terhadap gadis itu.
"Baiklah, nah, waspadalah dan sambut seranganku ini!"
Katanya dan cepat sekali tangan kirinya menyambar dari samping ke arah kepala Ceng Ceng.
Serangan ini disusul dengan cepat sekali dengan cengkeraman tangan kanannya ke arah lambung gadis itu.
Akan tetapi majikan Pu!au Ular ini terkejut bukan main ketika tubuh gadis di depannya itu berkelebat dan serangan kedua tangannya itu hanya mengenai tempat kosong!
Ia menjadi penasaran dan menyusulkan serangan kedua dengan lebih dahsyat.
Akan tetapi kembali Ceng Ceng yang memiliki gin-kang istimewa itu sudah dapat menghindarkan diri dengan cepat seka!i sehingga yang tampak hanya bayangan berkelebat dan serangan itu pun luput!
Sementara itu, sejak jurus pertama Cun Giok sudah menghitung dengan suara lantang.
"Jurus satu! Jurus Dua! Jurus Tiga""!"
Demikian selanjutnya.
Ban-tok Kui-bo diam-diam merasa kaget bukan main.
Kini ia tidak ragu lagi.
Gadis itu memang memiliki ginkang yang amat hebat.
Biarpun ia sudah menyerang dengan pengerahan tenaga dan secara bertubi-tubi, sambung menyambung, tetap saja tak pernah tangannya dapat menyentuh gadis itu.
Makin dipercepat gerakannya menyerang, semakin cepat pula gadis itu mengelak sehingga kini hanya tampak bayangan putih berkelebatan ke sana sini, akan tetapi selalu serangan Ban-tok Kui-bo tidak mengenai sasaran!
Memang tidak sia-sia saja Ceng Ceng mendapat julukan Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih) karena kecepatan gerakannya memang luar biasa.
Cun Giok menghitung terus.
"Jurus duapuluh sembilan! Jurus tigapuluh......!"
Pada saat itu, melihat bahwa ia tidak mampu mengalahkan gadis itu dalam tigapuluh jurus, Ban-tok Kui-bo yang merasa penasaran mengirim pukulan yang dahsyat sekali menggunakan tenaga sin-kang yang mengandung racun!
Ceng Ceng maklum akan datangnya bahaya dalam serangan jurus terakhir itu.
Ia berkelebat, akan tetapi tetap saja masih terpengaruh oleh angin pukulan lawan sehingga ketika ia turun ke atas lantai, ia sempat terhuyung.
Cepat ia menghirup napas panjang untuk melindungi dirinya, kemudian ia mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata lembut.
"Kepandaian Lo-cianpwe sungguh amat hebat. Saya mengaku kalah!"
Ban-tok Kui-bo mengangguk-angguk.
"Bagus, masih begini muda engkau memiliki gin-kang yang amat tinggi tingkatnya. Engkau cukup pantas untuk kuterima sebagai tamu. Engkau tunggu dan duduklah di bangku itu!"
"Terima kasih, Lo-cianpwe,"
Kata Ceng Ceng dan ia segera mengambil tempat duduk di atas bangku yang berderet dekat dinding.
"Sekarang tiba giliranmu, orang muda. Ingin kulihat apakah engkau juga mampu bertahan selama tigapuluh jurus. Karena engkau seorang laki-laki, aku akan bersikap lebih keras dan akan mengujimu dengan pedangku. Nah, engkau membawa pedang, cabutlah dan lawan aku selama tigapuluh jurus. Ingat, dalam pertandingan ini mungkin engkau akan tewas dan kalau terjadi demikian, jangan menyesal karena engkau masih kuberi waktu untuk menyerah dan meninggalkan tempat ini."
Cun Giok bukan seorang bodoh.
Tadi ketika wanita itu menyerang Ceng Ceng, dia sudah melihat kelemahan-kelemahannya dan dia yakin bahwa dengan mengandalkan gin-kangnya seperti yang tadi diperlihatkan Ceng Ceng, dia akan mampu mengatasi majikan Pulau Ular ini.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau menghadapi pedang wanita itu dengan tangan kosong karena hal ini akan merupakan penghinaan bagi Ban-tok Kui-bo.
Maka dia pun melangkah menghampiri Ban-tok Kui-bo dan setelah berhadapan dia memberi hormat dan berkata.
"Baiklah, Lo-cianpwe. Saya akan mencoba bertahan sampai tigapuluh jurus menghadapi pedang Lo-cianpwe."
"Bagus!"
Ban-tok Kui-bo berseru girang.
Bagaimanapun juga, ia adalah seorang datuk ilmu silat, maka tentu saja ia merasa gembira mendapatkan lawan tanding yang memadai.
Ia mencabut pedangnya dan tampak sinar kehitaman berkelebat dan mendatangkan hawa mengerikan.
Cun Giok maklum bahwa majikan Pulau Ular itu mempunyai sebatang pedang yang ampuh dan mengandung racun jahat.
"Nah, cabut pedangmu, orang muda!"
Cun Giok mencabut pedangnya dan ketika tampak sinar emas berkelebatan, Ban-tok Kui-bo membelalakkan matanya.
"Aih! Bukankah itu Kim-kong-kiam? Dari mana engkau mendapatkan Kim-kong-kiam itu, orang muda? Cun Giok memandang penuh perhatian.
"Lo-cianpwe mengenal pedang ini?"
"Tentu saja! Pedang ini adalah milik Suma Tiang Bun! Bagaimana bisa berada di tanganmu?"
"Maaf, Lo-cianpwe. Memang benar pedang ini milik mendiang guruku, Suma Tiang Bun."
"Ah, kiranya Suma Tiang Bun mempunyai murid dan menurunkan ilmu dan pedangnya kepadamu. Bagus sekali, aku semakin tertarik dan ingin sekali mengujimu. Orang muda, siap dan sambut serangan pedangku!"
Ban-tok Kui-bo lalu menyerang dengan dahsyat.
Pedangnya menyerang bertubi-tubi susul-menyusul sehingga pedang itu berubah menjadi sinar hitam yang mendesing-desing dan mengeluarkan bau manis bercampur amis yang membuat kepala menjadi pening.
Baiknya Cun Giok sudah menelan pel merah pemberian Ceng Ceng sehingga dia tidak sampai mabok.
Kini Cun Giok mulai membalas dan mereka berdua bertanding dengan serunya.
Yang tampak hanya gulungan sinar hitam dan sinar emas yang saling melibat dan saling mendesak.
Akan tetapi, setelah lewat belasan jurus, gulungan sinar hitam semakin mengecil dan majikan Pulau Ular itu terdesak hebat.
Akan tetapi biarpun dia lebih unggul, Cun Giok tidak mau terlalu mendesak sehingga pertandingan itu berjalan seimbang.
Setelah lewat tigapuluh jurus, bahkan hampir empatpuluh jurus, tiba-tiba pedang hitam bertemu dengan pedang sinar emas.
"Tranggg......!"
Keduanya melangkah ke belakang dan Cun Giok lalu memberi hormat sambil menyimpan pedangrya.
"Kiam-hoat (ilmu Pedang) Lo-cianpwe hebat, saya mengaku kalah."
"Hemm, tidak percuma engkau menjadi murid Suma Tiang Bun dan mewarisi Kim-kong-kiam. Setelah kalian berdua mampu menandingi aku selama tigapuluh jurus, kalian memang pantas menjadi tamuku. Mari kita bicara di rumahku!"
Wanita itu lalu melangkah keluar dari gedung latihan, diikuti oleh Cun Giok dan Ceng Ceng.
Ban-tok Kui-bo mengajak mereka memasuki sebuah bangunan terbesar di pulau itu dan berada di tengah-tengah perkampungan.
Ketika mereka memasuki gedung itu Ceng Ceng dan Cun Giok diam-diam merasa kagum.
Sungguh tak pernah mereka duga bahwa di pulau yang tampaknya liar itu terdapat sebuah gedung yang selain besar juga amat indah dan mewah.
Perabot-perabotnya serba halus dan mahal, seperti sebuah istana saja!
Orang-orang yang bertugas di rumah itu mengenakan pakaian dari sutera serba hitam dan mereka semua memberi hormat dengan membungkukkan badan ketika Ban-tok Kui-bo lewat!
Ban-tok Kui-bo mengajak mereka memasuki kamar tamu yang juga indah.
Mereka duduk berhadapan terhalang meja yang bundar dan besar.
Pelayan datang menghindangkan anggur manis dan makanan ringan.
Setelah semua pelayan meninggalkan ruangan, Ban-tok Kui-bo lalu berkata.
"Nah, sekarang bicaralah. Sebutkan lagi nama kalian dan apa keperluan kalian mencari aku."
Cun Giok memandang kepada Ceng Ceng dan membiarkan gadis itu yang bicara.
"Lo-cianpwe, saya bernama Liu Ceng dan dia ini bernama Pouw Cun Giok. Seperti sudah saya ceritakan tadi, mendiang Im Yang Yok-sian adalah Susiok (Paman Guru) saya dan Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai adalah sahabat baik kakek guru Pouw Cun Giok. Kami berdua menemukan Susiok Im Yang Yok-sian terbunuh dan Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin terluka parah. Karena melihat bahwa yang membunuh susiok dan melukai ketua Hoa-san-pai adalah ilmu pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang, maka saya teringat akan cerita Susiok dahulu bahwa yang menguasai pukulan itu adalah Lo-cianpwe sendiri. Oleh karena itu, kami berdua mengambil keputusan untuk menemui Lo-cianpwe. Pertama, untuk bertanya mengapa Susiok Im Yang Yok-sian dibunuh dan Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin dilukai, dan kedua, kami mengharapkan budi kebaikan Lo-cianpwe untuk memberi obat penawar kepada Ketua Hoa-san-pai."
"Tidak kusangkal, memang aku yang menyuruh seorang muridku untuk membunuh Goat-liang Sanjin. Muridku berhasil melukainya dan musuh besarku itu pasti akan mati. Akan tetapi muridku mendengar bahwa orang-orang Hoa-san-pai hendak minta bantuan Im Yang Yok-sian untuk menyembuhkannya. Maka, terpaksa untuk mencegah penyembuhan itu, muridku lalu membunuh Im Yang Yok-sian."
Pouw Cun Giok yang sejak tadi diam saja kini bertanya dengan hati-hati dan sikap sopan.
"Lo-cianpwe, saya yakin bahwa setiap perbuatan pasti ada alasan dan penyebabnya. Kalau boleh saya bertanya, mengapa Lo-cianpwe menyuruh orang untuk membunuh Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin? Apa kesalahan Ketua Hoa-san-pai itu? Setahu saya, beliau adalah seorang pendeta yang sudah berusia lanjut dan tidak pernah melakukan kejahatan."
"Huh, menilai watak orang tidak dapat hanya melihat keadaan lahiriah saja. Semua orang memakai topeng dan selalu topeng yang baik. Mau tahu mengapa aku mendendam kepada Goat-liang Sanjin? Nih, lihat baik-baik wajahku! Bagaimana pendapatmu tentang wajahku?"
Cun Giok menjawab dengan hati-hati.
"Lo-cianpwe, maafkan, menurut saya wajah Lo-cianpwe baik dan cantik."
"Hemm, semua laki-laki adalah perayu yang mengobral rayuan gombal kepada setiap wanita! Hei, engkau Liu Ceng, katakan, apa yang salah dengan wajahku?"
Ceng Ceng menjawab.
"Lo-cianpwe memang berwajah cantik sekali dan tampak masih muda. Akan tetapi sayang, ada codet bekas luka di pipi sebelah kiri."
"Nah, cacat pada mukaku ini adalah perbuatan Goat-liang Sanjin duapuluh lima tahun yang lalu. Aku menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk melatih seorang murid dan akhirnya aku berhasil menyuruh muridku membalas dendam. Nah, pertanyaanmu tentang mengapa aku suruhan membunuh Goat-liang Sanjin sudah kujawab, juga mengapa muridku terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian. Sekarang permintaanmu yang ke dua untuk mendapatkan obat penyembuh Goat-liang Sanjin. Huh, mana mungkin aku memberikannya? Kalau engkau hendak mengobatinya, carilah sendiri obatnya. Aku tidak sudi menolongnya!"
Cun Giok mengerutkan alisnya.
Wanita itu memang sesat, pikirnya.
Kalau Goat-liang Sanjin sampai melukai pipinya, tentu wanita itu melakukan hal yang tidak baik!
Sekarang, dengan kejinya ia membunuh Im Yang Yok-sian dan membunuh pula Goat-liang Sanjin kalau ia tidak mau memberikan obat penawarnya.
Dia sudah siap untuk menggunakan kekerasan memaksa Ban-tok Kui-bo menyerahkan obat.
Akan tetapi Ceng Ceng mendahuluinya.
"Lo-cianpwe, melihat bekas luka di pipimu itu, jelas bahwa itu disebabkan goresan senjata tajam yang tidak mengandung racun. Saya pernah mempelajari cara mengobati luka seperti itu, dan saya merasa yakin bahwa codet bekas luka di pipi Lo-cianpwe itu akan dapat saya obati sampai sembuh."
Wanita itu membelalakkan matanya memandang tajam kepada Ceng Ceng.
"Benarkah? Benarkah engkau dapat mengobati codet di pipiku ini sampai pulih? Dapat hilang codetnya?"
Ceng Ceng mengangguk.
"Saya kira dapat, Lo-cianpwe. Dulu pernah saya mengobati luka yang meninggalkan bekas seperti itu dan codet itu dapat hilang dalam waktu beberapa hari."
Wajah Ban-tok Kui-bo berseri gembira.
"Liu Ceng, aku berjanji. Kalau engkau dapat mengobati pipiku sehingga cacat ini hilang, aku pasti akan memberimu obat penawar yang dibutuhkan Goat-liang Sanjin!"
"Baik, Lo-cianpwe."
Kini dengan amat ramah Ban-tok Kui-bo lalu memerintahkan pelayan untuk menyiapkan dua buah kamar untuk Cun Giok dan Ceng Ceng, dan ia lalu menjamu pesta makan untuk dua orang tamunya itu.
Kini Ban-tok Kui-bo bersikap baik sekali, akan tetapi Cun Giok dan Ceng Ceng tetap saja bersikap waspada karena mereka berdua tahu bahwa wanita yang menjadi datuk sesat ini sama sekali tidak boleh dipercaya.
Mulai hari itu Ceng Ceng memeriksa dan mengobati codet di pipi kiri Ban-tok Kui-bo.
Ia memang pernah beberapa kali mengobati bekas luka macam itu, maka ketika ia melihat codet di pipi Ban-tok Kui-bo, ia merasa yakin akan mampu menyembuhkannya sehingga cacat itu tidak tampak lagi atau hampir-hampir tidak tampak dan dengan sedikit bedak maka pipi itu akan tampak licin dan halus kembali.
Kalau saja yang menggores pipi itu pedang yang mengandung racun sehingga kulit pipi rusak terkena racun, akan amat sukarlah mengobatinya sampai pulih.
Untuk menyelesaikan pengobatan itu, Ceng Ceng harus menggunakan waktu hampir satu bulan.
Selama itu, ia dan Cun Giok mendapat perlakuan yang amat baik, dihormati dan dicukupi semua kebutuhan mereka, bahkan hampir setiap hari mereka menghadapi hidangan yang serba mewah dan lezat.
Akhirnya pengobatan itu selesai.
Setelah Ban-tok Kui-bo yakin bahwa pipinya sudah normal kembali.
Ia merasa sangat gembira dan tarikan keras pada garis wajahnya kini menghilang, terganti wajah yang cerah menghadapi masa depan yang gemilang.
Dan ternyata apa yang dikhawatirkan Ceng Ceng dan Cun Giok tidak terjadi.
Ban-tok Kui-bo sama sekali tidak mengganggu mereka dan ia pun memenuhi janjinya, menyerahkan obat penawar untuk Goat-liang Sanjin.
Bukan hanya itu, ketika Cun Giok dan Ceng Ceng berpamit, Ban-tok Kui-bo menemani mereka keluar dari pulau dan menggunakan perahu menyeberang ke daratan Muara Po-hai.
Wanita itu saking girangnya hendak menyusul muridnya dan ingin bertemu dengan bekas kekasihnya untuk minta maaf dan berbaik kembali!
Setelah tiba di pantai daratan, mereka berpisah.
Ketika Cun Giok dan Ceng Ceng sebelum berpisah mengucapkan terima kasih mereka, Ban-tok Kui-bo tersenyum manis sekali.
Setelah codetnya tidak tampak lagi, kecantikannya masih menonjol.
"Aih, akulah yang mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Ceng Ceng. Engkau telah membuat matahari bersinar kembali dalam hidupku. Mulai sekarang, harap kalian berdua menjadi saksi, aku memakai lagi namaku, yaitu Gak Li atau dahulu biasa dipanggil Lili dan aku tidak sudi lagi diberi julukan Ban-tok Kui-bo (Biang Hantu Selaksa Racun)! Karena aku memang ahli dalam pengetahuan tentang racun, aku masih menggunakan julukan Ban-tok (Selaksa Racun) akan tetapi bukan Kui-bo (Biang Hantu) lagi, melainkan Ban-tok Niocu (Nona Selaksa Racun)!"
"Akan kami kabarkan kepada semua orang, karena engkau memang tidak pantas berjuluk Kui-bo, Ban-tok Niocu!"
Kata Ceng Ceng yang kini sudah akrab dengan wanita itu sehingga majikan Pulau Ular itu menyebut namanya dan nama Cun Giok begitu saja, sedangkan mereka berdua juga diminta menyebut julukannya yang mulai hari ini berubah dari Kui-bo menjadi Niocu!
Setelah mereka berpisah dari Ban-tok Niocu, Cun Giok dan Ceng Ceng melakukan perjalanan cepat menuju Hoa-san untuk menyerahkan obat penawar racun yang diterima dari Ban-tok Niocu kepada ketua Hoa-san-pai.
Di dalam perjalanan ini, Cun Giok yang merasa semakin kagum dan juga heran terhadap sikap Ceng Ceng, bertanya.
"Ceng-moi, aku merasa heran sekali. Untuk mendapatkan obat bagi Goat Liang Sianjin, engkau bersusah payah, menandingi Ban-tok Niocu, bahkan lalu mengobati codetnya sampai sembuh. Akan tetapi, mengapa engkau tidak mendendam kepada Ban-tok Niocu yang telah menyuruh muridnya membunuh Im Yang Yok-sian, susiokmu yang tidak berdosa itu? Padahal, paman gurumu itu juga gurumu karena engkau mempelajari ilmu pengobatan darinya."
Ceng Ceng menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Begini, Giok-ko, balas membalas merupakan mata rantai sebab akibat yang mengikat manusia sebagai karma. Mata rantai itu tidak akan berhenti mengikat diri kita selama kita tidak berani untuk memutuskannya sendiri. Karena itulah aku tidak membalas dendam kematian Susiok Im Yang Yok-sian. Aku tahu bahwa sikapku ini dimengerti dan disetujui oleh mendiang susiok karena pengertian ini pun kudapatkan dari dia."
"Coba jelaskan, Ceng-moi."
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 1
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 8