Eps 5 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.
"Yang menjadi sebab pertama adalah perbuatan Goat-liang Sanjin, yaitu dia membuat wajah Gak Li atau Ban-tok Niocu menjadi cacat. Sebab ini mengakibatkan ia menjadi sakit hati, mendendam dan melalui muridnya ia membalas dendam untuk membunuh Goat-liang Sanjin. Susiok Im Yang Yok-sian terbunuh karena dia dikaitkan dengan karmanya, hendak dimintai tolong menyembuhkan Goat-liang Sanjin yang terluka. Kalau aku sebagai murid keponakan membalaskan kematiannya, andaikata aku membunuh Ban-tok Niocu, berarti aku menambah panjang rantai karma berupa balas membalas itu. Tentu akan ada orang yang akan mencariku dan membalaskan kematiannya. Kemudian, kalau aku terbunuh, mungkin akan ada orang lain yang membalaskan kematianku. Nah, rantai karma itu akan bersambung terus. Sebab menjadi akibat, dan akibat itu pun melahirkan sebab baru. Sebaliknya, kalau aku tidak membalaskan kematian susiok, berhentilah rantai itu dan tidak ada ikatan lagi bagiku. Mengertikah engkau, Giok-ko, mengapa aku tidak berniat membalaskan kematian Susiok? Tugasku adalah mengobati, menjaga kehidupan manusia, bukan membunuh."
Cun Giok mengangguk kagum.
"Karena itukah maka engkau tidak membalaskan kematian paman gurumu, akan tetapi bersusah payah mencarikan obat untuk Goat-liang Sanjin yang bukan apa-apamu?"
"Tentu saja. Susiok Im Yang Yok-sian telah tewas, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mengobati atau menyembuhkannya. Akan tetapi Lo-cianpwe Goat-liang Sanjin masih dapat disembuhkan kalau bisa mendapatkan obatnya. Maka aku lalu mencari obatnya yang aku tahu pasti dimiliki Ban-tok Niocu."
"Dan untuk mendapatkan itu, engkau malah menyembuhkan Ban-tok Niocu yang telah membunuh susiokmu, walaupun meminjam tangan muridnya!"
"Giok-ko, seandainya Ban-tok Niocu tidak mempunyai urusan dengan kematian susiok atas terlukanya ketua Hoa-san-pai, seandainya aku tidak membutuhkan obat darinya, kalau ia minta tolong kepadaku untuk mengobati codetnya, pasti akan kupenuhi permintaannya."
Cun Giok merasa kagum bukan main.
"Ah, Ceng-moi, mendengar ucapanmu itu, aku teringat akan ucapan kakek guruku bahwa dalam kehidupan ini, manusia harus selalu siap melakukan perbuatan yang baik dan selalu menolak keras untuk melakukan perbuatan jahat. Sukong (Kakek Guru) pernah berkata bahwa yang disebut perbuatan baik itu adalah perbuatan yang membahagiakan orang lain, sedangkan perbuatan jahat adalah perbuatan yang merusak kebahagiaan orang lain."
"Benar, Giok-ko, namun ada sambungannya lagi. Perbuatan yang dianggap baik oleh pelakunya, bukanlah perbuatan baik lagi karena kalau si pelaku menganggap perbuatannya itu baik, pasti tersembunyi pamrih dalam batinnya. Pamrih itu dapat berupa duniawi seperti balas jasa, pujian agar diakui sebagai orang baik dan sebagainya, adapun pamrih rohani yang diharapkan adalah mendapatkan imbalan dari Thian, masuk sorga, dan sebagainya. Justeru pamrih ini yang mengotori setiap perbuatan, karena pamrih ini berarti kesenangan untuk diri pribadi. Orang merampok untuk mendapatkan uang, membunuh karena dendam untuk mendapatkan kepuasan. Sebaliknya kalau menolong dengan pamrih mendapatkan balas jasa, bukankah itu sama saja dengan pamrih perbuatan jahat?"
"Wah, aku menjadi bingung, Ceng-moi. Bukankah ada pamrih yang baik dan pamrih yang tidak baik?"
"Semua pamrih itu membuat perbuatannya menjadi palsu, Giok-ko. Segala macam pamrih itu tidak benar kalau ditujukan untuk menyenangkan diri sendiri dan baru benar kalau pamrih itu untuk membahagiakan orang lain."
"Akan tetapi semua pamrih untuk mendapatkan keuntungan duniawi memang tidak benar, Ceng-moi, sebaliknya kalau pamrih itu untuk mendapatkan berkat Thian dan untuk Sorga, apakah itu tidak benar?"
"Giok-ko, sudah kukatakan tadi bahwa semua pamrih untuk kesenangan diri sendiri itu tidak benar. Apa bedanya pamrih duniawi dan pamrih sorgawi? Pamrih harta dasarnya menyenangkan diri sendiri, dan pamrih berkat atau sorga itu bukankah dasarnya juga untuk menyenangkan diri sendiri? Ingat bahwa sorga digambarkan sebagai tempat yang amat menyenangkan, bukan? Jadi jelas, yang dikejar itu adaah kesenangan, walaupun kesenangan itu diperhalus dengan sebutan sorga!"
"Wah, semakin dalam wawasanmu, Ceng-moi! Mendengar pendapatmu tadi, aku mengerti sekarang dan memang apa yang kaukatakan itu benar. Kalau Sorga itu digambarkan sebagai tempat yang tidak menyenangkan sebaliknya Neraka digambarkan sebagai tempat menyenangkan, maka orang yang berpamrih tentu berbuat baik untuk mendapatkan Neraka! Atau kalau Sorga itu tidak ada, maka belum tentu orang yang berpamrih itu mau berbuat kebaikan! Engkau benar sekali, Ceng-moi. Akan tetapi aku menjadi penasaran sekali. Kalau begitu, apa yang mendorongmu mengobati orang dan menolong orang kalau engkau tidak mempunyai pamrih?"
"Yang mendasari perbuatanku adalah Cinta Kasih, Giok-ko. Cinta Kasih terhadap sesama manusia. Cinta Kasih ini yang menghapus semua kebencian nafsu, cinta kasih ini yang menumbuhkan perasaan tanggung jawab dan kewajiban untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Perbuatan yang didorong cinta kasih merupakan kewajiban dalam penghidupan ini, maka tanpa pamrih. Cinta kasih membuat setiap perbuatan tidak bermaksud untuk kesenangan diri pribadi."
"Ceng-moi, engkau mempunyai kelebihan, pandai mengobati orang akan tetapi bagaimana dengan aku misalnya yang tidak pandai mengobati orang lain?"
"Giok-ko, cinta kasih dalam batin merupakan pohon yang akan memberikan bunga dan buah. Bunga dan buahnya itulah yang akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Bunga dan buah itu adalah segala macam sikap dan perbuatan yang baik kepada siapa saja. Setiap orang memiliki kemampuan masing-masing. Aku dapat menolong orang dengan pengobatan. Engkau dapat menolong dengan kepandaianmu, membela yang tertindas menentang kejahatan, itu pun membahagiakan orang. Yang berharta dapat menolong mereka yang hidupnya melarat dan serba kekurangan. Yang pandai dapat memberi penerangan kepada mereka yang tidak mengerti. Yang kuat dapat menolong mereka yang lemah, dan demikian seterusnya. Setiap orang pasti mempunyai sesuatu untuk membahagiakan orang lain dan semua perbuatan itu merupakan buah dari cinta kasih yang tumbuh subur dalam hati-sanubari."
"Kalau ada orang yang tidak memiliki harta karena dia sendiri miskin, tidak mempunyai tenaga karena dia sendiri lemah, tidak memiliki kepandaian karena dia sendiri bodoh, lalu orang seperti dia itu dapat melakukan perbuatan baik apakah? Biarpun andaikata ada pohon cinta kasih dalam hatinya, buah apakah yang dihasilkan pohon itu kalau dia tidak memiliki apa-apa untuk dibagikan kepada orang lain?"
"Engkau agaknya lupa, Giok-ko, bahwa setiap orang, biarpun serba tidak mampu seperti yang kausebutkan tadi, masih dapat melakukan sesuatu demi kebahagiaan orang lain, yaitu sikap yang ramah dan manis budi! Senyum ramah, pandang mata yang tulus, ucapan yang lemah lembut, bukankah sikap ini dapat menyenangkan dan membahagiakan hati siapa saja? Jangan dikira bahwa sikap ini tidak ada harganya! Bahkan jauh lebih berharga daripada harta dan pertolongan apapun juga. Bayangkan, Twako, andaikata ada orang memberimu harta benda yang amat besar akan tetapi dia memberimu dengan sikap yang memandang rendah, menghina atau marah atau andaikata ada yang menolongmu dengan apa saja namun sikapnya menghina seperti itu, bagaimana tanggapanmu?"
"Hemm, aku tidak sudi menerima pertolongannya!"
Jawab Cun Giok seketika.
"Nah, berarti bahwa sikap yang manis budi itu amat berharga, Twako. Jadi, bagi siapa saja, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, kuat atau lemah, dapat saja memberikan sesuatu yang amat berharga dan dapat membahagiakan orang lain, yaitu sikap yang manis budi, ramah dan sopan."
Cun Giok mengangguk-angguk kagum.
"Benar juga semua pendapatmu tadi. Bahkan sikap baik sekalipun, kalau berpamrih, tentu bukan kebaikan lagi melainkan penjilatan agar mendapatkan sesuatu untuk kesenangan diri sendiri."
"Benar sekali, Giok-ko. Kalau ada cinta kasih dalam hati, maka semua perbuatan kita terhadap sesama kita tentu baik dan benar. Cinta kasih mendatangkan belas kasih dan menyadarkan kita bahwa apa yang kita lakukan itu merupakan kewajiban hidup. Bukan kita yang memiliki harta benda, kepandaian, kekuatan dan segala kelebihan lain. Semua itu milik Thian (Tuhan) yang diberikan kepada kita sebagai berkatNya. Maka, seyogianya kita bersyukur kepada Thian atas berkatNya dan rasa syukur itu kita buktikan dengan menyalurkan berkat itu kepada mereka yang membutuhkan. Berbahagialah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk menyalurkan berkatNya."
Cun Giok tercengang mendengarkan semua ucapan penuh kebijaksanaan yang bukan sekadar merupakan pelajaran itu.
Bagaimana seorang gadis muda belia seperti Ceng Ceng memiliki pengertian mendalam seperti itu?
Hatinya dipenuhi perasaan kagum dan dia semakin tertarik kepada kepribadian Ceng Ceng, bukan hanya tertarik oleh wajahnya yang cantik jelita dan bentuk tubuhnya yang indah, karena keindahan lahiriah itu hanya mengusik rasa cinta nafsu.
Akan tetapi dia tergetar oleh kebijaksanaan yang keluar melalui mulut gadis itu.
Dia merasa benar betapa amat mudahnya untuk jatuh cinta kepada Ceng Ceng!
Dia teringat kepada mendiang Liu Siang Ni, adik misannya yang bernasib malang itu.
Dia mencinta Lu Siang Ni sebagai adik.
Kemudian dia bertemu dengan Cu Ai Yin dan dia pun kagum dan suka kepada puteri Datuk Besar Cu Liong majikan Bukit Merak itu.
Akan tetapi, belum pernah hatinya tertarik seperti ketika dia bertemu Ceng Ceng!
Namun, Cun Giok tidak dapat melupakan kenyataan bahwa dia telah bertunangan dengan Siok Eng.
Teringat akan Siok Eng, dia menghela napas panjang.
Dia telah terikat perjodohan dengan Siok Eng, sungguhpun ikatan itu atas kemauan mendiang gurunya, dia tidak boleh mengingkari dan harus tetap setia.
Biarpun dia jatuh cinta kepada Ceng Ceng, hal itu harus dia rahasiakan dan dia tidak ingin melanggar tali perjodohan yang telah diikatkan kepadanya.
Kembali dia menghela napas ketika tangannya meraba saku baju dan merasakan adanya tusuk konde perak sebagai tanda ikatan perjodohan dari Siok Eng!
"Giok-ko?
Mengapa engkau tiba-tiba melamun dan beberapa kali menghela napas panjang?"
Tanya Ceng Ceng sambil tersenyum. Cun Giok yang berjalan di sisinya sadar dari lamunannya. Dia menjadi salah tingkah dan gugup karena tiba-tiba saja dia mendapat teguran dan pertanyaan itu.
"Ah, aku....... eh, apa yang kaukatakan tadi memang benar, Ceng-moi. Akan tetapi bagaimana mengetrapkannya dalam kehidupan ini? Bagaimana caranya agar cinta kasih dapat bersemayam dalam hati sanubari kita?"
"Memang tidak mungkin kalau kita mengusahakannya sendiri, Twako. Kita dipenuhi pengaruh nafsu daya rendah yang melahirkan dan memelihara si-aku yang selalu mengejar kesenangan. Kalau si-aku disenangkan, timbul cinta, kalau disusahkan, timbul benci. Si-aku tidak mungkin dapat mengadakan cinta kasih yang sejati, bukan cinta nafsu. Hanya Thian yang dapat memberi karunia sehingga cinta kasih dapat bersemayam di hati. Karena itu, satu-satunya jalan hanyalah apabila kita saling mendekatkan diri seutuhnya kepadaNya. Kita ini manusia biasa, Giok-ko, lemah dan tidak berdaya, selalu menjadi permainan nafsu daya rendah. Akan tetapi kalau kita selalu mendekatkan diri dan berserah diri kepada Thian, maka dia akan memberi bimbingan kepada kita untuk dapat menguasai nafsu-nafsu kita sendiri."
Mereka berdua tiba di Hoa-san.
Segera mereka dihadapkan pada Goat-liang Sanjin yang biarpun dalam keadaan sadar, namun keadaan tubuhnya lemah sekali.
Ceng Ceng memeriksanya, kemudian memberi minum obat pemberian Ban-tok Niocu.
Dengan tekun dan penuh perhatian Ceng Ceng merawat dan mengobati ketua Hoa-san-pai itu dan tiga hari kemudian, kakek itu telah sembuh!
Tentu saja para pimpinan Hoa-san-pai merasa girang dan berterima kasih sekali kepada Ceng Ceng.
Juga Goat-liang Sanjin sendiri mengucapkan terima kasihnya kepada Cun Giok.
Pada keesokan harinya setelah Goat-liang Sanjin sembuh, Ceng Ceng dan Cun Giok lalu berpamit meninggalkan Hoa-san-pai.
Setelah tiba di kaki gunung, Ceng Ceng berkata.
"Giok-ko, aku merasa bahagia sekali dapat berkenalan denganmu dan selama ini mengadakan perjalanan bersamamu. Akan tetapi sekarang sudah tiba saatnya kita berpisah."
Cun Giok terkejut.
Tidak terbayangkan sebelumnya dia akan berpisah dari Ceng Ceng.
Rasanya sulit untuk dapat berpisah dari gadis yang telah membetot semangatnya, yang diam-diam dia kagumi dan dia kasihi.
"Berpisah, Ceng-moi? Engkau...... hendak pergi ke manakah?"
"Aku akan pulang."
"Pulang'?"
Kata ini bagi Cun Giok terasa seperti asing.
"Ya, pulang ke rumah orang tuaku, di Nan-king. Engkau sendiri hendak ke mana, Giok-ko?"
"Aku? Ah, aku akan...... merantau."
"Selamat berpisah, Twako. Aku harus cepat pulang mengabarkan tentang kematian Susiok Im Yang Yok-sian kepada ayahku."
Gadis itu mengangkat kedua tangan memberi hormat dibalas oleh Cun Giok.
"Selamat jalan, Ceng-moi, semoga aku akan dapat bertemu lagi denganmu,"
Kata pemuda itu dan ketika gadis itu pergi dengan menggunakan ilmu berlari cepat sehingga yang tampak hanya bayangan putih berkelebat, tiba-tiba saja hatinya terasa kosong seolah semangatnya terbawa terbang oleh Ceng Ceng.
Cun Giok menghela napas panjang dan tahulah dia bahwa kini dia benar-benar menemukan seorang gadis yang telah merebut cintanya.
Dia jatuh cinta kepada Ceng Ceng seperti yang belum pernah dia alami terhadap gadis lain.
Namun tiba-tiba muncul bayangan wajah Siok Eng dan dia menghela napas panjang lagi.
"Tidak! Aku tidak akan mengingkari janji!"
Serunya dalam hati dan dia pun melanjutkan perjalanan tanpa tujuan tertentu, akan tetapi seperti dengan sendirinya, kedua kakinya mengayun langkah ke arah perginya Ceng Ceng.
Terngiang dalam telinganya pelajaran Guru Besar Khong Hu Cu dalam kitab Tiong Yong seperti yang diajarkan Pak-kong Lojin kepadanya, pasal pertama ayat keempat.
Sebelum timbul senang, marah, duka dan suka perasaan dalam keadaan Tegak Seimbang.
Apabila berbagai perasaan itu timbul namun dapat mengendalikan, itu dalam keadaan Selaras.
Tegak Seimbang adalah Pokok Terbesar dunia Selaras adalah jalan Utama dunia.
Teringat akan pelajaran ini, Cun Giok bernapas panjang dan dalam sehingga perasaannya yang tadinya terguncang itu menjadi tenang kembali, lalu dia pun menggunakan ilmu berlari cepat melanjutkan perjalanannya merantau.
Tan Kun Tek yang berusia sekitar limapuluh tahun tinggal di kota Seng-hai-lian, tak jauh dari Nan-king.
Dia seorang laki-laki yang tampan dan gagah.
Ilmu silatnya tinggi karena dia adalah seorang pendekar dari Bu-tong-pai.
Ketika muda, namanya terkenal di dunia kang-ouw dan dia juga ikut membela tanah air ketika diserbu pasukan MongoI.
Kini dia membuka sebuah perguruan silat dan menjauhkan diri dari urusan dunia kang-ouw.
Tan Kun Tek hidup berdua dengan isterinya yang berusia sekitar empatpuluh tiga tahun dan masih tampak cantik dan lembut.
Suami isteri ini hidup sederhana dengan penghasilan Tan Kun Tek yang tidak berapa besar sebagai seorang guru silat.
Di Seng-hai-lian, Tan Kun Tek lebih dikenal dengan sebutan Tan-kauwsu (Guru Silat Tan).
Biarpun suami isteri ini tampak rukun dan hidup tenteram di rumah mereka yang tidak berapa besar namun memiliki tanah lapang di belakang rumah sebagai tempat latihan silat, namun keduanya seringkali tampak duduk melamun dengan wajah seolah matahari tertutup awan!
Mereka berdua hanya mempunyai seorang anak, akan tetapi ketika anak perempuan mereka itu berusia dua tahun, pada suatu malam anak itu lenyap diculik orang!
Mereka tahu siapa penculiknya, namun semua usaha Tan Kun Tek mencari penculik itu gagal.
Penculik itu seperti menghilang bersama puterinya.
Tan Kun Tek tahu benar siapa penculik puterinya.
Dahulu, sebelum bertemu dengan gadis yang kini menjadi isterinya, dia berhubungan akrab dengan Gak Li, seorang pendekar wanita yang cantik dan gagah.
Akan tetapi, Tan Kun Tek tidak suka dengan watak Gak Li yang keras dan suka mengandalkan ilmu silatnya yang memang tinggi sehingga terkadang suka bertindak kejam.
Maka begitu bertemu dengan gadis yang lembut, lemah dan sabar, cintanya berpindah dan dia lalu menikah dengan gadis itu, tidak mempedulikan Gak Li yang menjadi marah.
Pernah Gak Li berusaha pada suatu malam untuk memasuki rumah dan membunuh isterinya.
Akan tetapi masih untung bahwa kebetulan sekali Goat-liang Sanjin yang ketika itu belum menjadi ketua Hoa-san-pai dan merupakan sahabat baik Tan Kun Tek, memergoki dan berhasil menggagalkan niat jahat Gak Li dan mengusirnya.
Maka, ketika puterinya hilang diculik orang, Tan Kun Tek dapat menduga siapa penculiknya.
Tentulah Gak Li yang hendak membalas dendam!
Pada suatu sore, Tan Kun Tek dan isterinya duduk di ruangan depan, seperti biasa setelah semua murid yang jumlahnya belasan orang itu pulang sehabis latihan silat.
Mereka tampak serius bercakap-cakap dengan suara lirih.
"Bagaimana nanti kalau Kim Thai-ciangkun datang dan minta keputusanmu?"
Tanya Nyonya Tan dengan cemas. Tan Kun Tek mengerutkan alisnya yang tebal. aku sudah mengambil keputusan menolak permintaannya."
"Tetapi, itu adalah sebuah perintah!"
Wanita itu berseru dengan gelisah.
"Jangan hanya Kim Thai-ciangkun (Panglima Besar Kim), biarpun Kaisar sendiri yang memerintahkan, aku tetap tidak sudi melatih para perajurit Mongol! Aku tidak mau menjadi pengkhianat bangsa! Aku latih mereka untuk membunuhi rakyat kita? Huh, jangan harap!"
Yang mereka bicarakan itu adalah tentang permintaan Kim Thai-ciangkun yang datang tiga hari yang lalu.
Panglima Kim itu datang berkunjung dan minta, bahkan memerintahkan Tan-kauwsu untuk melatih ilmu silat kepada para perajurit pasukannya.
Dia diberi waktu sampai tiga hari untuk memutuskan, disertai penegasan bahwa itu merupakan perintah yang harus ditaati!
Dan hari ini, tiga hari telah lewat dan Tan-kauwsu harus memutuskan untuk menaati perintah itu.
Apa yang mereka tunggu dengan hati tegang itu pun tiba.
Terdengar derap kaki kuda berhenti di tepi jalan depan pekarangan rumah mereka.
Tan Kun Tek dan isterinya memandang keluar dengan hati tegang.
Lalu muncullah orang yang mereka tunggu-tunggu.
Seorang Panglima Mongol yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok, pakaiannya gemerlapan, memasuki pintu pagar diikuti selosin orang perajurit!
Wajahnya bengis ketika dia melangkah dengan tegap menuju ke rumah di mana suami isteri itu menanti.
Setelah panglima itu tiba di beranda atau ruangan depan, Tan Kun Tek dan isterinya bangkit berdiri.
"Kim Thai-ciangkun, silakan duduk!"
Kata Tan Kun Tek ramah.
"Terima kasih,"
Kata panglima itu tanpa mengambil tempat duduk dan langsung dia bertanya.
"Bagaimana, Tan-kauwsu, tentu engkau sudah mengambil keputusan, bukan? Marilah bersama kami ikut ke markas dan mulai dengan tugasmu mengajarkan silat kepada para perajurit pasukanku."
Wajah Tan Kun Tek berubah kemerahan, berbeda dengan wajah isterinya yang menjadi pucat. Dia memberi hormat dan menjawab dengan suara tegas.
"Maafkan saya, Thai-ciangkun. Terpaksa saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Pengetahuan saya tentang ilmu silat tidak ada artinya dan tidak cukup berharga untuk melatih pasukan Thai-ciangkun."
Panglima Mongol itu mengerutkan alisnya dan matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar menakutkan.
"Tan-kauwsu, engkau adalah murid Bu-tong-pai, jangan bilang bahwa engkau tidak pandai ilmu silat. Berani sekali engkau menolak perintahku, berarti perintah petugas Kerajaan Goan yang jaya?"
"Saya tidak menolak, hanya merasa tidak mampu, Thai-ciangkun."
"Alasan kosong! Siapa tidak tahu bahwa engkau dahulu juga membantu pasukan pribumi yang melawan pasukan kami? Kalau engkau menolak, berarti benar kecurigaan kami bahwa Bu-tong-pai mengambil sikap anti pemerintahan kerajaan kami! Engkau berani menentang perintah, berarti engkau hendak memberontak!"
"Tidak, Thai-ciangkun, saya tidak bermaksud memberontak,"
Kata Tan Kun Tek dengan tenang dan suaranya tegas.
"Tangkap pemberontak ini!"
Bentak Panglima Mongol yang bernama Kim Bayan itu.
Dua orang perajurit maju hendak menangkap Tan Kun Tek, akan tetapi guru silat ini bergerak cepat dengan tamparan dan tendangan kakinya sehingga dua orang perajurit itu roboh!
Kim Bayan marah sekali, akan tetapi dia bergerak cepat ke depan dan tahu-tahu Nyonya Tan telah dia tangkap.
"Tan Kun Tek, menyerah atau isterimu kubunuh lebih dulu!"
Bentak Kim Bayan yang sudah mendekatkan tangannya ke arah kepala wanita itu.
Tan Kun Tek maklum bahwa sekali panglima itu menggerakkan tangannya, nyawa isterinya tidak akan dapat diselamatkan lagi.
Tentu saja dia tidak ingin mengorbankan isterinya, maka dia mengangguk dan berkata.
"Saya menyerah, akan tetapi jangan ganggu isteriku, Thai-ciangkun!"
Tan Kun Tek dan isterinya lalu dibelenggu kedua tangannya dan dibawa ke markas pasukan Kerajaan Mongol yang berada di luar kota Seng-hai-lian.
Tentu saja penangkapan suami isteri Tan ini membuat para tetangganya menjadi panik dan berita tentang penangkapan Guru Silat Tan dan isterinya itu segera tersebar di seluruh kota dan menjadi bahan percakapan orang.
Akan tetapi siapa yang berani mencampuri urusan Panglima Kin, yang menjadi panglima besar untuk seluruh pasukan yang berada di Propinsi Shan-tung, bahkan kini kekuasaannya juga sampai di Nan-king?
Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi menjelang tengah hari, Tan Li Hong memasuki kota Seng-hai-lian.
Jantungnya berdebar tegang.
Inilah kota kelahirannya, tempat tinggal ayah ibunya seperti yang ia dengar dari gurunya, Ban-tok Kui-bo.
Tentu saja ia sama sekali tidak ingat akan kota itu, bahkan bagaimana wajah ayah ibunya pun ia tidak ingat karena ia baru berusia dua tahun ketika ia diculik gurunya.
Akan tetapi mencari rumah ayahnya yang bernama Tan Kun Tek di kota itu tidak merupakan hal yang sukar.
Ia bertanya kepada orang yang berjualan di sebuah warung, apakah orang itu mengetahui di mana rumah Tan Kun Tek.
Pemilik warung itu, seorang laki-laki setengah tua, memandang Li Hong dengan mata terbelalak.
"Tan Kun Tek? Maksudmu Tan-kauwsu, Nona?"
Tentu saja Li Hong tidak tahu apakah ayahnya itu menjadi guru silat, akan tetapi karena ia mengerti dari gurunya bahwa ayahnya dulu seorang pendekar, tentu saja ayahnya itu ahli silat dan bukan mustahil kalau dia menjadi guru silat.
"Betul, Paman. Di mana rumahnya?"
Orang itu menjawab dengan lirih dan kaku, tampaknya seperti orang takut karena sebelum menjawab dia menoleh ke kanan kiri.
"Di sana...... belasan rumah dari sini......"
Setelah berkata demikian, orang itu masuk ke belakang, meninggalkan warungnya tak terjaga!
Li Hong merasa heran akan tetapi ia lalu melanjutkan pencariannya.
Setelah melewati belasan buah rumah, dia melihat sebuah rumah dan di pendapa rumah itu duduk seorang wanita setengah tua dan ia menangis tanpa suara, sesenggukan dan tampaknya gelisah.
Li Hong merasa tertarik dan ia lalu memasuki pekarangan rumah itu.
Wanita yang sedang menangis itu mengangkat muka memandang, cepat ia mengusap air mata dari pipinya dan bangkit berdiri memandang Li Hong dengan heran.
"Nona mencari siapa dan ada keperluan apa?"
"Bibi, tolong tanya di manakah rumah Tan Kun Tek?"
Wanita itu memandang dengan mata penuh selidik, lalu menjawab ragu.
"Ini rumah Kauwsu Tan Kun Tek, akan tetapi......."
"Ah, tolong beritahu mereka bahwa aku datang......."
"Nona, harap katakan dulu engkau siapa dan ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan Tan-kauwsu?"
"Aku Tan Li Hong, puterinya!"
Akan tetapi ia segera teringat bahwa tentu saja wanita ini tidak tahu.
Ia telah hilang dari rumah orang tuanya sejak berusia dua tahun!
Bahkan ayah ibunya sendiri pun pasti tidak mengenalnya, apalagi orang lain!
"Puterinya?
Akan tetapi......
saya mendengar bahwa puteri mereka hilang belasan tahun yang lalu......."
"Benar, puteri mereka diculik orang. Akulah puteri mereka yang diculik itu. Sekarang aku datang ingin bertemu mereka. Di manakah Ayah Ibuku? Tolong beritahu mereka!"
Kata Li Hong tidak sabar lagi. Tiba-tiba wanita itu menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya. Li Hong menyentuh pundak wanita itu dan bertanya tidak sabar.
"Bibi! Engkau ini mengapa? Mengapa menangis? Mana Ayah Ibuku?"
Dengan sedih wanita itu menjawab sambil menangis.
"Mereka...... mereka...... kemarin ditangkap dan dibawa pasukan pemerintah......."
"Ditangkap pasukan......?"
Li Hong terkejut bukan main. Akan tetapi ia segera dapat menenangkan perasaannya dan ia lalu membimbing wanita itu untuk duduk di atas kursi dan ia sendiri duduk di depannya.
"Tenanglah, Bibi. Jangan takut dan jangan menangis. Aku adalah puteri mereka dan aku akan menolong mereka. Akan tetapi ceritakan dulu siapa Bibi ini dan apa yang telah terjadi dengan Ayah Ibuku kemarin!"
Nada suara Li Hong memerintah dan wanita itu dapat menghentikan tangisnya setelah menggosok kedua matanya dengan ujung lengan bajunya.
"Nona, saya bernama Siok dan menjadi pembantu rumah tangga Tan-kauwsu selama sepuluh tahun lebih. Karena saya seorang janda yang hidup sebatang kara, maka saya dianggap keluarga sendiri oleh Tan-kauwsu dan Tan-hujin. Kemarin sore, seorang panglima datang bersama selosin orang perajurit dan dia menangkap Tan-kauwsu dan Tan-hujin, dibawa pergi dari sini. Semua orang di kota ini sudah mendengar akan penangkapan itu. Aih, saya merasa sedih dan bingung, Nona. Apa yang dapat dilakukan seorang perempuan seperti saya?"
Ia menahan isaknya.
Li Hong marah sekali, juga di samping kemarahannya ia merasa menyesal.
Ketika ia meninggalkan Coa-to untuk mencari orang tuanya di Seng-hai-lian dekat Nan-king ini, ia melakukan perjalanan seenaknya dan tidak tergesa-gesa.
Ia menikmati perjalanan itu, kalau melewati kota ia berhenti satu dua hari lamanya dan kalau melewati daerah yang indah pemandangannya, ia pun menunda perjalanannya, sehingga ia amat terlambat tiba di Seng-hai-lian.
Kalau saja ia tidak banyak berhenti, mungkin sebulan yang lalu ia sudah tiba di rumah orang tuanya dan ia akan dapat mencegah malapetaka yang menimpa ayah ibunya!
Bahkan kalau kemarin ia sudah tiba di situ, ia pasti akan mencegah orang tuanya ditangkap pasukan pemerintah!
"Bibi Siok, ke mana Ayah Ibu dibawa pasukan itu dan siapa panglima itu?
Mengapa pula Ayah dan Ibu ditangkap?"
Li Hong menghujani pembantu itu dengan pertanyaan.
"Setahu saya, tiga hari sebelum penangkapan, panglima besar yang biasa disebut Kim Thai-ciangkun datang dan minta kepada Tan-kauwsu untuk melatih silat para perajurit pasukannya dan memberi waktu tiga hari kepada Tan-kauwsu untuk memberi jawaban. Tiga hari kemudian Kim Thai-ciangkun datang lagi bersama dua belas orang perajurit. Tan-kauwsu menyatakan tidak bersedia melatih silat kepada para perajurit dan dia bersama Tan-hujin lalu ditangkap dan dibawa pergi."
"Ke mana, Bibi? Ke mana?"
"Mana saya tahu, Nona? Akan tetapi benteng pasukan pemerintah berada di luar kota sebelah barat, sekitar tiga lie (mil) dari kota ini."
"Bibi Siok, kau jaga rumah ini, aku akan mencari Ayah Ibu dan membebaskan mereka dari tahanan!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, gadis itu telah lenyap dari depan Bibi Siok sehingga wanita itu melongo, lalu menggosok-gosok kedua matanya seolah hendak memastikan bahwa ia tidak sedang mimpi!
Kim Bayan atau Panglima Kim adalah seorang panglima yang banyak jasanya ketika bangsa Mongol menyerbu ke selatan, maka oleh Kaisar Mongol dia diberi kedudukan panglima tinggi dan menguasai seluruh pasukan yang bertugas menjaga wilayah Shan-tung ke selatan sampai Nan-king.
Panglima Kim Bayan adalah seorang Mongol yang pandai ilmu silat dan ilmu gulat model Mongol, bahkan dia juga memiliki kekuatan sihir karena gurunya adalah seorang datuk persilatan di perbatasan Mancuria yang terkenal tinggi sekali ilmu silat dan ilmu sihirnya.
Gurunya itu berjuluk Cui-beng Kui-ong (Raja Setan Pengejar Roh) dan karena jasa-jasanya oleh Kaisar Mongol dia dihadiahi sebidang tanah pegunungan dengan gedung yang indah mewah di mana dia hidup sebagai raja muda!
Setelah tinggal di tanah hadiah kaisar itu, Cui-beng Kui-ong memanggil sumoinya (adik perempuan seperguruan) yang berjuluk Song-bun Mo-li (Iblis Betina Berkabung) karena yang selalu mengenakan pakaian berkabung dari kain mori putih yang kasar!
Wanita ini pun lihai bukan main sehingga keduanya menjadi andalan Kerajaan Mongol untuk menghadapi orang-orang sakti yang berani menentang pemerintah penjajah itu.
Karena merasa senang tinggal di gedung mewah di perbukitan itu, Cui-beng Kui-ong menamakan tanah perbukitan hadiah kaisar itu Bukit Sorga.
Letaknya hanya belasan lie dari kota raja.
Sebagai murid Cui-beng Kui-ong, Panglima Kim tentu saja lihai sekali.
Dia hidup di kota Cin-yang bersama seorang isteri dan lima orang selirnya.
Akan tetapi, enam orang isteri itu hanya seorang saja yang mempunyai anak, itu pun hanya seorang anak laki-laki yang kini telah dewasa dan diberi nama Kim Magu.
Kita sudah mengenal Kim Magu yang disebut Kim-kongcu, yaitu pemuda berandalan yang selalu mengandalkan kekuasaan ayah dan kekayaannya, suka menggoda dan memaksa gadis baik-baik untuk dijadikan permainannya.
Pemuda itu bersama temannya, Kui Con putera Hakim Kui Hok, dihajar oleh Ceng Ceng dan karena perbuatan yang menggemparkan kota Cin-yang itulah nama Ceng Ceng sebagai Pek-eng Sianli dikenal dan dikagumi orang.
Dari para penyelidik yang disebar di mana-mana, Kim Bayan mendengar betapa para pendekar pribumi Han banyak yang diam-diam menentang pemerintah Kerajaan Goan (Mongol).
Bahkan kabarnya sikap para pimpinan partai-partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai, dan masih banyak lagi tidak mematuhi dan memusuhi para pembesar.
Mendengar berita ini, Kim Bayan menjadi penasaran.
Dia teringat bahwa Tan Kun Tek yang dikenal dengan sebutan Guru Silat Tan adalah seorang murid Bu-tong-pai.
Maka dia merasa curiga dan dia sengaja datang berkunjung dan minta kepada Tan Kun Tek untuk mengajarkan ilmu silat kepada para perajuritnya.
Sesungguhnya permintaan ini hanya untuk menguji apakah Tan-kauwsu bersedia membantu pemerintah atau tidak.
Ternyata Tan Kun Tek menolak dan kecurigaan Kim Thai-ciangkun semakin besar.
Dia lalu menangkap Tan Kun Tek dan isterinya, menahan mereka di rumah tahanan.
Dalam kamar tahanan, seorang perwira yang biasa bertugas memaksa tahanan untuk mengaku, menyiksa Tan Kun Tek dan isterinya.
Suami isteri itu dibelenggu pada dinding kamar tahanan, diikat kaki tangannya dan mereka disuruh mengaku siapa saja kawan mereka yang melakukan pemberontakan.
Juga dipaksa mengaku bahwa Bu-tong-pai bermaksud memberontak.
Tentu saja Tan Kun Tek dan isterinya menyangkal semua tuduhan itu.
Mereka lalu disiksa, dicambuki.
Sungguh kasihan Nyonya Tan yang tidak pernah belajar silat dan tubuhnya lemah.
Baju berikut kulitnya tersayat-sayat lecutan cambuk sehingga berlumuran darah dan baru belasan cambukan saja ia sudah terkulai pingsan dalam keadaan berdiri dan kedua tangan tergantung borgol di dinding.
Tan Kun Tek juga dicambuki sampai penyiksa merasa lelah.
Bajunya hancur dan kulit tubuhnya juga pecah-pecah, akan tetapi pendekar Bu-tong-pai ini sama sekali tidak pernah mengeluh, mematikan semua perasaan sehingga biarpun kulitnya tersayat-sayat, dia tidak merasa apa-apa.
Hanya tubuhnya terasa lemas karena terlalu banyak darah mengalir keluar dari luka-luka gigitan cambuk!
Malam itu cuaca gelap sekali.
Hawa udara amat dingin karena sore tadi hujan turun dengan derasnya.
Dalam cuaca gelap dan udara dingin itu, ketika sebagian besar penduduk kota Seng-hai-lian sudah memasuki kamar masing-masing yang lebih hangat dan di jalan raya sudah amat sepi, tampak seorang pemuda melangkah keluar dari pintu gerbang sebelah barat.
Ketika dia sudah tiba di luar pintu gerbang dan tak seorang pun memperhatikannya karena para penjaga pintu gerbang itu juga lebih senang berada dalam gardu, pemuda itu segera berlari cepat.
Bukan main cepatnya pemuda itu berlari menuju ke barat.
Pemuda itu bukan lain adalah Tan Li Hong yang menyamar.
Ketika dia melakukan perjalanan meninggalkan Pulau Ular untuk mencari orang tuanya, Li Hong juga menyamar sebagai seorang pemuda yang amat tampan.
Akan tetapi ketika ia memasuki kota tempat tinggal orang tuanya, ia mengenakan pakaian wanita karena ia tidak ingin membuat ayah ibunya bingung.
Akan tetapi kini, setelah ia mendengar bahwa orang tuanya ditangkap pasukan mungkin sekali dibawa ke benteng atau markas pasukan, ia mengenakan pakaian pria lagi.
Pedang Ban-tok-kiam tergantung di punggungnya dan ketika ia berlari cepat, tubuhnya berkelebat dan tak dapat terlihat di dalam cuaca gelap itu.
Li Hong terpaksa berusaha menyelamatkan orang tuanya di waktu malam setelah tadi ia menyelidiki keadaan markas itu dari luar.
Ia melihat betapa benteng itu terjaga ketat dan tidak mungkin dapat memasuki benteng itu di siang hari.
Kalau ia ketahuan, akan sulitlah untuk dapat menyelamatkan orang tuanya karena bagaimana mungkin ia menghadapi perajurit yang tentu amat banyak terdapat dalam markas itu.
Ia sudah mempelajari sekeliling pagar tembok markas itu dan mengambil keputusan untuk melompati pagar tembok di bagian belakang yang tidak begitu ketat penjagaannya, hanya terkadang ada perajurit yang meronda.
Ia yakin akan mampu melewati tembok dan masuk ke markas itu di waktu malam, apalagi ketika cuaca segelap ini dan udara sedingin ini.
Para penjaga tentu agak lengah.
Pula, markas itu tempat ribuan orang perajurit, siapa yang akan berani mencuri masuk?
Perhitungan Li Hong betul.
Ketika ia melompat dengan gerakan yang ringan dan gesit ke atas tembok, ia tidak melihat ada perajurit dekat tempat itu.
Maka ia lalu melayang turun ke sebelah dalam yang ternyata merupakan sebuah kebun.
Untuk meneliti keadaan sekitarnya, Li Hong menyusup ke balik rumpun bambu dan mengintai dari situ.
Bangunan-bangunan terdapat banyak dan di setiap sudut luar bangunan ada lampu gantung yang cukup terang.
Ia menjadi bingung.
Sama sekali ia tidak dapat menduga di mana orang tuanya ditawan.
Ketika ia melihat dua orang perajurit yang membawa tombak berjalan tak jauh dari tempat ia bersembunyi, agaknya sedang meronda sambil bercakap-cakap, Li Hong cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan mendekati mereka.
Ketika dua orang perajurit itu lewat dekat, Li Hong menerjang mereka.
Dengan kecepatan luar biasa ia menggerakkan jari tangan dua kali dan dua orang itu pun roboh terkulai tanpa dapat mengeluarkan suara, lumpuh tertotok!
Li Hong mencengkeram rambut mereka dan menyeret tubuh mereka ke belakang semak-semak yang gelap, yang hanya mendapat sinar sedikit dari lampu gantung yang berada di batang pohon sehingga keadaan di situ remang-remang.
Li Hong mencabut pedangnya, ditempelkan ke leher seorang dari mereka, lalu ia menggerakkan tangan kiri membebaskan totokan.
"Jangan bergerak atau bersuara!"
Desisnya. Orang itu menjadi pucat ketakutan dan dia hanya dapat menggeleng kepala tanda bahwa dia tidak akan melawan atau berteriak.
"Jawab yang benar pertanyaanku, kalau engkau bohong, lihat ini!"
Pedangnya menyambar dan orang kedua tewas seketika. Tentu saja perajurit pertama menjadi semakin gemetar ketakutan.
"Ampun, Taihiap (Pendekar Besar)......!"
Ratapnya. Dia mengira bahwa Li Hong seorang pendekar pria.
"Hayo katakan di mana Tan Kun Tek dan isterinya dikeram!"
Orang itu menjawab.
"Di rumah tahanan.......!"
"Mana itu? Yang mana rumah tahanan?"
Perajurit itu menuding ke arah bangunan besar yang berada di tengah benteng.
"Yang ada menaranya itu......."
"Awas, kalau engkau berbohong, aku akan kembali ke sini dan membunuhmu!"
"Saya...... saya tidak berbohong......."
Li Hong menotoknya kembali dan menyimpan pedangnya. Ketika ia hendak bergerak menuju bangunan yang ditunjuk tadi, ia terkejut mendengar suara di belakangnya.
"Bodoh, dia harus dibunuh agar tidak membahayakan!"
Itu adalah suara gurunya! "Subo......!"
Li Hong berseru lirih.
"Ssstt......!"
Bayangan berkelebat dari belakang, tahu-tahu Ban-tok Niocu sudah berada dekat muridnya.
Tangannya bergerak ke arah kepala perajurit yang tertotok dan tahulah Li Hong bahwa perajurit itu pasti tewas terkena sentuhan tangan gurunya.
"Subo, bagaimana kalau dia berbohong?"
"Tidak, sudah sejak tadi aku berada di sini menyelidiki dan memang orang tuamu ditahan dalam bangunan itu. Amat kuat penjagaannya, maka sejak tadi aku belum turun tangan. Bagus sekali engkau muncul sehingga aku mendapatkan bantuan."
"Bagaimana Subo berada di sini?"
"Lihat wajahku, apa engkau tidak melihat ada perubahan?"
Ban-tok Niocu sengaja membiarkan pipi kirinya terkena sinar lampu dari jauh sehingga cukup jelas untuk dilihat.
"Ah, Subo tidak cacat lagi!"
"Ssttt, nanti saja kita bicara. Sekarang perhatikan baik-baik. Orang tuamu berada dalam sebuah kamar tahanan di gedung yang ada menaranya itu. Kalau kita menyelinap ke sana, pasti ketahuan dari menara yang selalu ada perajurit penjaganya. Sekarang, kita pakai pakaian seragam dua perajurit ini!"
Li Hong mengerti maksud gurunya.
Ia lalu melucuti pakaian perajurit yang dibunuhnya.
Untung tadi ia menggunakan Ban-tok-kiam sehingga biarpun pedang itu hanya menggores leher, orang itu tewas tanpa mengeluarkan banyak darah.
Setelah melucuti, ia mengenakan pakaian seragam itu menutupi pakaiannya sendiri.
Ban-tok Niocu juga sudah selesai mengenakan pakaian perajurit kedua di luar pakaiannya sendiri.
Setelah menata rambut dan berdandan sebagai dua orang perajurit, Ban-tok Niocu berbisik.
"Kita lewati para penjaga dan kalau ada yang bertanya, engkau diam saja biar aku yang bicara. Setelah tiba dekat bangunan yang ada menaranya, aku akan menyelinap ke belakangnya dan membuat kebakaran. Lalu kuusahakan untuk melumpuhkan dua orang yang berjaga di menara. Nah, begitu ada kebakaran engkau menyelinap ke rumah tahanan itu. Tentu semua perajurit berlari ke arah kebakaran dan engkau mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan orang tuamu. Mengerti?"
"Mengerti, Subo. Akan tetapi bagaimana kalau kami keluar lalu ketahuan? Untuk melindungi dua orang kukira agak sukar......."
"Bodoh! Ayahmu Tan Kun Tek bukan orang lemah. Dia pendekar murid Bu-tong-pai. Asal engkau sudah dapat membebaskan dia tentu dia akan mampu menyelamatkan isterinya. Pada saat itu mungkin aku sudah selesai dan dapat membantu kalian."
"Baik, aku mengerti, Subo!"
Mereka lalu melangkah dengan tegap, membawa dua batang tombak milik perajurit yang mereka robohkan tadi.
Mereka berjalan melewati beberapa orang penjaga dan para penjaga itu sama sekali tidak menaruh curiga karena memang Li Hong dan Ban-tok Niocu selalu mengambil jalan yang gelap.
Ketika sudah tiba dekat bangunan yang ada menaranya, di tengah kelompok bangunan dalam benteng itu, tiba-tiba saja ada dua orang perajurit dari depan dan seorang di antara mereka bertanya.
"Kalian ini berjaga di mana?"
Terdengar Ban-tok Niocu menjawab, suara dibuat seperti suara pria.
"Di kebun beIakang!"
"Hemm, bagaimana keadaannya? Aman?"
"Aman, tidak ada apa-apa!"
Jawab Ban-tok Niocu dan ia lalu mempercepat langkahnya, diimbangi oleh Li Hong.
"Hei, nanti dulu......!"
Tiba-tiba dua orang perajurit itu berteriak dari belakang mereka.
"Bunuh mereka,"
Bisik Ban-tok Niocu kepada muridnya.
Mereka berdua membalikkan tubuh dan ketika dua orang perajurit itu menghampiri dekat, guru dan murid itu menggerakkan tombak dan dua orang perajurit itu pun roboh dan tewas.
Mereka cepat menarik kaki dua orang itu dan menyeretnya ke tempat tersembunyi yang gelap.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dengan gerakan cepat berkelebatan.
Seperti yang telah direncanakan, Ban-tok Niocu lalu menuju ke arah belakang rumah tahanan yang ada menaranya.
Li Hong menyelinap mendekati rumah tahanan dan bersembunyi sambil menanti tanda dari gurunya, yaitu kebakaran.
Tak lama kemudian ia melihat api bernyala besar di belakang rumah tahanan, sekitar tiga rumah di belakangnya.
"Kebakaran! Kebakaran!"
Terdengar teriakan dan dari tempat sembunyinya ia melihat banyak perajurit berlari-larian ke tempat kebakaran itu.
Ketika melihat belasan orang perajurit berserabutan keluar dari rumah tahanan itu, Li Hong lalu bergerak cepat.
Dengan sambitan batu kecil ia membuat lampu gantung di pintu belakang dari mana para perajurit tadi keluar, pecah dan padam.
Tubuhnya berkelebat dan tanpa dapat terlihat karena lampu yang padam membuat pintu itu gelap, ia telah memasuki rumah itu.
Ketika ia melewati sebuah lorong dalam rumah tahanan, ia melihat bahwa di bagian tengah rumah tahanan itu terbuka dan kamar-kamar tahanan berderet-deret.
Ia menyelinap dan ketika memandang ke atas, ia melihat betapa semua kamar tahanan itu dapat terlihat dari atas menara.
Tentu di sana ada perajurit-perajurit yang berjaga mengawasi kamar-kamar tahanan itu.
Sebuah lampu di menara yang bernyala memperlihatkan bayangan dua orang perajurit.
Li Hong tidak berani keluar dari tempat sembunyinya karena kalau ia sampai kelihatan oleh para penjaga di atas menara, tentu banyak sekali perajurit akan menyerbu dan akan sukarlah baginya untuk dapat membebaskan kedua orang tuanya, bahkan ia sendiri dapat terancam bahaya.
Ia menanti sebentar dan tiba-tiba ia melihat lampu di menara itu padam.
Itu tandanya bahwa setelah melakukan pembakaran, gurunya sudah berada di menara dan sudah merobohkan para penjaga menara, maka dengan hati berdebar tegang Li Hong lalu memeriksa setiap kamar tahanan dan pada kamar-kamar tahanan yang terdapat tahanan di dalamnya ia berseru lirih.
"Di mana Tan Kun Tek dan isterinya?"
Hanya ada lima kamar yang terisi dan pada kamar yang ke lima, ia melihat dua orang di dalamnya.
Seorang laki-laki dan seorang wanita!
Dari sinar lampu yang menyorot dari luar melalui terali ke dalam kamar, Li Hong dapat melihat seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun yang tampan dan gagah, akan tetapi bajunya robek-robek dan ada goresan-goresan berdarah pada kulit dada dan punggungnya.
Wanita itu berusia empatpuluh tahun lebih, masih tampak cantik akan tetapi keadaannya lebih menyedihkan.
Seperti laki-laki itu, bajunya juga robek-robek dan tubuhnya berlepotan darah bekas cambukan dan ia duduk bersandar pada rangkulan laki-laki itu.
Keadaannya tampak parah.
Melihat ini, dengan suara gemetar Li Hong bertanya.
"Apakah kalian berdua Tan Kun Tek dan isterinya? Mereka itu memang Tan Kun Tek dan isterinya. Melihat seorang pemuda di luar kamar tahanan berterali besi dan menanyakan namanya, dia menjawab.
"Benar, siapakah engkau?"
Mendengar ini, hati Li Hong bersorak.
Ia cepat mencabut pedangnya dan sekali mengelebatkan pedang pusaka Ban-tok-kiam, ia telah membabat putus terali besi Dengan beberapa kali bacokan, terbukalah lubang besar dan ia masuk ke dalam kamar itu.
"Cepat, mari keluar dari sini!"
Kata Li Hong dan ia segera mengangkat bangun Nyonya Tan yang keadaannya lemah, setelah menggunakan pedangnya memutuskan semua rantai yang membelenggu kaki tangan suami isteri itu.
"Ah, ia terluka dan lemah sekali!"
Li Hong berseru penuh haru ketika ia memondong tubuh wanita itu. Ibunya! "Mari kita keluar cepat, biar aku memondongnya!"
"Tapi, siapakah engkau?"
Tan Kun Tek juga bangkit dan memandang pemuda itu dengan heran dan khawatir karena dia tahu bahwa mereka berada dalam benteng yang penuh tentara! "Nanti saja kita bicara, cepat keluar!"
Kata Li Hong sambil memondong Nyonya Tan dan melompat keluar kamar tahanan.
Tan Kun Tek kagum melihat kegesitan pemuda itu.
Sore tadi dia dan isterinya mengalami siksa cambukan.
Biarpun dia sendiri hanya merasa panas dan pedih karena kulit tubuhnya lecet-lecet berdarah, namun isterinya yang lebih parah.
Kini, melihat ada pemuda hendak menolongnya, bangkit semangatnya dan dia pun melompat keluar.
Dia masih agak sangsi karena tentu saja dia curiga melihat pemuda yang berpakaian perajurit ini.
Apakah ini merupakan siasat dari Panglima Kim?
Dia harus waspada dan melihat ada tombak bersandar di luar pintu kamar, dia lalu menyambarnya.
"Biarkan aku yang memondong isteriku!"
Katanya kepada pemuda berpakaian perajurit itu.
"Engkau yang membuka jalan dan aku mengikuti di belakangmu!"
Li Hong memandang kagum dan juga bangga.
Benar kata gurunya, ayahnya bukan orang lemah.
Dan memang lebih baik kalau ayahnya yang menggendong ibunya sehingga ia dapat melindungi mereka.
Tanpa bicara ia menyerahkan wanita itu yang kini digendong di belakang punggung oleh Tan Kun Tek.
Nyonya Tan yang lemah itu merangkul leher suaminya dan Tan Kun Tek menggunakan tali yang dia temukan di situ untuk mengikat tubuh isterinya kepadanya sehingga kalau dipakai bergerak membela diri apabila diserang, tubuh isterinya tidak akan terlepas dan terjatuh dari gendongannya.
"Mari cepat.......!"
Li Hong berkata dan ia lalu berkelebat keluar. Ternyata para perajurit masih ramai berusaha memadamkan kebakaran.
"Li Hong, ke sini......!"
Terdengar teriakan Ban-tok Niocu yang muncul tiba-tiba.
Li Hong girang melihat gurunya dan cepat ia pun mengikuti sambil memberi isyarat kepada Tan Kun Tek untuk mengikutinya.
Tan Kun Tek semakin heran melihat ada perajurit kedua muncul dan agaknya hendak membantunya menunjukkan jalan keluar!
Mulai berkurang kecurigaannya.
Dia melihat dalam benteng itu gempar karena ada kebakaran.
Tak mungkin semua ini merupakan siasat pancingan!
Agaknya dua orang ini memang benar ingin menolong ia dan isterinya.
Dan melihat pakaian perajurit yang mereka kenakan agak kedodoran dan tidak pas, dia dapat menduga bahwa mereka itu jelas bukan perajurit, melainkan orang luar yang kini menyamar sebagai perajurit.
Mereka tiba di dekat pagar tembok di kebun tanpa mendapat halangan karena para perajurit masih sibuk berusaha memadamkan kebakaran.
"Dapatkah engkau melompat ke atas pagar tembok sambil menggendong?"
Tanya Li Hong. Akan tetapi Ban-tok Niocu cepat memegang lengan kanan Tan Kun Tek dan berkata.
"Li Hong, cepat pegang lengan kirinya, kita bantu dia melompat!"
Li Hong segera tanggap.
Ia menangkap lengan kiri Tan Kun Tek dan mereka bertiga melayang ke atas pagar tembok.
Sebetulnya kalau dia melompat sendiri, Tan Kun Tek tentu dapat mencapai atas pagar tembok itu.
Akan tetapi dia agak lemah karena mengeluarkan banyak darah, juga dia menggendong isterinya, maka kalau dia tidak dibantu dua orang yang menyamar sebagai perajurit itu, pasti dia akan gagal melompat sampai ke atas pagar tembok.
Akan tetapi begitu mereka tiba di atas pagar tembok, terdengar teriakan-teriakan dari bawah.
"Tawanan lepas!"
"Dua orang perajurit itu palsu!"
"Tangkap mereka berempat!"
Banyak sekali perajurit melakukan pengejaran. Melihat ini, Li Hong berkata kepada Tan Kun Tek.
"Cepat bawa ia melompat keluar dan lari!"
Ban-tok Niocu menyambung.
"Lari ke arah sana, masuk hutan dan di sana ada kuil tua kosong. Tunggu kami di sana!"
Tan Kun Tek semakin heran.
Cuaca gelap, dia tidak dapat melihat wajah dua orang ini dengan jelas.
Akan tetapi, suara mereka ketika bicara jelas menunjukkan bahwa mereka adalah wanita!
Melihat Tan Kun Tek seperti termenung dan tidak segera melompat turun Li Hong berkata.
"Cepat, pergi, biar kami yang menahan mereka!"
Kini tampak bayangan beberapa orang berkelebat naik ke atas tembok.
Mereka adalah perwira-perwira yang memiliki kepandaian silat.
Sementara itu, ratusan orang perajurit membuka pintu benteng dan keluar hendak menghadang di luar tembok.
Melihat ini Tan Kun Tek cepat melompat turun dan menghilang dalam kegelapan malam, berlari menggendong isterinya ke arah yang ditunjuk penolongnya kedua tadi.
Setelah berlari beberapa lamanya, dia menemukan kuil tua di tengah hutan dan dia membawa isterinya masuk.
Di ruangan tengah kuil tua yang rusak itu terdapat ruangan yang tertutup dan cukup bersih, bahkan lantainya ditutupi rumput-rumput kering.
Tan Kun Tek merebahkan isterinya di situ dan membiarkan isterinya tidur.
Dia menanti dengan hati tegang.
Sementara itu, Li Hong dan Ban-tok Niocu mengamuk.
Mereka menyambut para perwira yang melompat naik ke atas tembok dengan serangan pedang mereka.
Setelah merobohkan tujuh perwira, keduanya melompat turun ke luar tembok.
Akan tetapi mereka segera dikepung puluhan orang perajurit yang telah tiba di situ lebih dulu.
"Kita lari ke jurusan lain!"
Kata Ban-tok Niocu kepada muridnya.
Li Hong mengerti.
Gurunya hendak memancing agar para perajurit melakukan pengejaran ke arah lain sehingga suami isteri itu selamat.
Mereka lalu mengamuk, merobohkan belasan orang perajurit lalu melarikan diri ke arah timur, arah kota Seng-hai-lian, berlawanan dengan larinya Tan Kun Tek dan isterinya yang menuju barat.
Para perajurit terus mengejarnya, kini jumlah mereka tidak kurang dari seratus orang.
Dengan cerdik Ban-tok Niocu berlari menjaga jarak sehingga para pengejar makin bersemangat dan terus mengejar sampai masuk kota Seng-hai-lian.
Karena saat itu baru lewat tengah malam maka kota itu masih sepi.
Belum ada orang keluar rumah sehingga kejar-mengejar itu terjadi tanpa hambatan.
Tentu saja keributan di jalan raya itu membangunkan banyak penduduk akan tetapi begitu melihat banyak perajurit bersenjata, mereka menutupkan kembali daun pintu dan tidak berani keluar.
Ban-tok Niocu dan Li Hong terkadang menunggu dan merobohkan beberapa orang pengejar terdepan, lalu lari lagi sehingga mereka keluar dari pintu kota sebelah timur.
Mereka terus berlari dan terus dikejar sampai belasan lie jauhnya.
Ketika mereka memasuki sebuah hutan, Ban-tok Niocu berkata kepada muridnya.
"Kita menghilang di sini dan cepat kembali ke barat untuk menyusul Tan Kun Tek dan isterinya."
Mereka berdua melompat ke atas pohon dan berlompatan dari pohon ke pohon untuk menghilangkan jejak.
Kemudian mereka melompat turun setelah jauh dari para pengejar mereka dan melanjutkan dengan berlari cepat menuju ke barat.
Biarpun hawa amat dinginnya, Tan Kun Tek tidak berani membuat api unggun, khawatir kalau ketahuan para perajurit yang melakukan pengejaran.
Dia membuka jubahnya sendiri yang sudah koyak-koyak dan menyelimuti isterinya yang masih tidur.
Lalu dia duduk tepekur, masih heran memikirkan dua orang penolongnya.
Jelas mereka berdua itu adalah wanita, akan tetapi siapa mereka dan mengapa begitu berani membebaskan dia dan isterinya, padahal mereka sendiri terancam bahaya maut di benteng itu?
Cuaca mulai berubah.
Biarpun mataharinya sendiri belum tampak namun sinarnya sudah mendahuluinya dan mendatangkan penerangan yang kemerahan, perlahan dan lembut mengusir embun dan menguak selimut hitam sang malam.
Cuaca yang kemerahan itu remang-remang bertirai kabut yang membubung ke atas.
Nyonya Tang mengerang lirih dan bergerak.
Tan Kun Tek cepat mendekati.
"Bagaimana keadaanmu?"
Wanita itu membuka mata dan bangkit duduk, dibantu suaminya. Ia memandang ke sekeliling dan tampak terheran-heran seolah baru bangun dari tidur.
"Di mana kita ini.......?"
"Kita sudah keluar dari tempat tahanan, ditolong oleh dua orang wanita sakti,"
Kata suaminya.
"Engkau rebahlah saja dulu agar kesehatanmu pulih. Kita harus menanti datangnya dua orang penolong itu di sini."
Dia membantu isterinya agar rebah kembali di atas tumpukan rumput kering.
Tiba-tiba Tan Kun Tek bangkit berdiri dan menyambar tombak yang dibawanya ketika melarikan diri keluar dari markas pasukan tadi.
Dia menyelinap di balik dinding, siap menyerang karena mungkin saja yang dia dengar gerakan di luar itu adalah mereka yang melakukan pengejaran.
Matahari mulai muncul dan sinarnya, biarpun masih lemah, namun cukup memberi penerangan di tempat itu.
Ketika Tan Kun Tek yang mengintai melihat bahwa yang muncul itu adalah dua orang wanita, dia mengendurkan syarafnya yang tadinya menegang dan siap.
Dia lalu keluar dari balik tembok dan memandang dua orang wanita yang berdiri di depannya.
Gadis yang muda belia itu tidak dikenalnya, akan tetapi wanita kedua, yang setengah tua, membuat dia terbelalak dan ragu-ragu.
"Lili...... engkau Lili.......??"
Tanyanya gagap.
Ban-tok Niocu tersenyum, manis sekali.
Senang hatinya bahwa bekas kekasihnya itu masih belum melupakannya!
"Tek-ko (Kanda Tek), engkau masih belum lupa padaku?
Aku datang......
dan engkau lihat siapa gadis ini?"
Tan Kun Tek memandang Li Hong dengan mata terbelalak.
"Kalian yang menolong aku dan isteriku? Siapa gadis ini? Lili, katakan siapa gadis ini!"
Hatinya sudah menduga, akan tetapi dia masih belum yakin.
Dia dulu sudah tahu bahwa penculik puterinya tentu Gak Li atau Lili dan melihat usia gadis yang berdiri di depannya itu, membuat dia menduga dengan hati ragu bahwa gadis itu adalah puterinya yang dulu diculik Lili!
"Li Hong, inilah Tan Kun Tek, ayah kandungmu,"
Kata Ban-tok Niocu kepada muridnya.
Sejak tadi memang Li Hong sudah menatap wajah laki-laki itu dengan mata basah.
Kini ia tidak ragu lagi dan ia segera maju dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tan Kun Tek.
"Ayah, aku adalah Tan Li Hong, puterimu!"
Tan Kun Tek terbelalak, cepat memegang kedua pundak gadis itu, menariknya sehingga bangkit berdiri, dan dia mengamati wajah gadis itu!
Kemudian, ia merangkul dan mendekap kepala gadis itu seolah menemukan kembali pusaka yang hilang.
"Li Hong......! Engkau Li Hong anakku......!"
Ketika diculik dahulu, Li Hong yang berusia dua tahun sudah dapat menyebutkan namanya, maka Ban-tok Niocu memakai terus nama itu.
"Anakku, mari temui Ibumu......!"
Tan Kun Tek menarik tangan Li Hong yang merasa terharu sehingga air mata mengalir turun membasahi kedua pipiya.
"Isteriku, bangunlah dan lihat siapa ini?"
Seru Tan Kun Tek girang sambil membantu isterinya bangkit duduk. Nyonya Tan dengan bingung memandang gadis yang kini sudah berlutut di dekatnya.
"Ibu......!"
Li Hong berbisik dengan suara tergetar.
"Apa......? Siapa......? Apa artinya ini......?"
Tanya ibu yang tubuhnya masih amat lemah itu.
"Ia Tan Li Hong, anak kita yang hilang! Ia telah kembali!"
Seru Tan Kun Tek.
"Ibu, aku Li Hong, Ibu......."
Nyonya Tan menjerit lirih sambil terisak dan dua orang wanita itu saling berpelukan sambil menangis.
Setelah puas menangis, Nyonya Tan memegang pundak Li Hong dengan kedua tangannya dan menatap wajah gadis itu melalui genangan air matanya.
Wajah cantik yang serupa dengan wajahnya sendiri ketika muda.
"Li Hong, Anakku......!"
Ia mendekap lagi dan menangis saking bahagia hatinya.
Sementara itu, Tan Kun Tek berdiri berhadapan dengan Ban-tok Niocu dan sampai lama mereka saling tatap dengan berbagai macam perasaan.
Akhirnya Tan Kun Tek yang mulai bicara lirih.
"Lili, jadi benar seperti sangkaanku, engkau yang dulu menculik anak kami ketika ia berusia dua tahun! Dan sekarang engkau membawa ia ke sini, bahkan menolong kami suami isteri lolos dari penjara. Sebetulnya, apa artinya semua itu?"
"Panjang ceritanya, Tek-ko. Sekarang yang terpenting, mengobati luka-luka yang engkau dan isterimu derita, dan harus cepat melarikan diri dari sini karena pasukan pemerintah pasti akan terus mencari dan memburumu."
Ia berhenti sejenak lalu menyambung.
"Tidak ada tempat yang cukup aman bagi kalian berdua kecuali di pulauku. Li Hong, mari cepat kita bawa ayah ibumu ke Coa-to."
Mereka lalu melakukan perjalanan cepat meninggalkan tempat itu.
Nyonya Tan digendong Tan Kun Tek dan Li Hong secara bergantian.
Berita tentang lolosnya Tan Kun Tek dan isterinya yang dibebaskan oleh "dua orang yang menyamar sebagai perajurit"
Itu terdengar oleh Panglima Besar Kim Bayan.
Tentu saja dia marah bukan main.
Dia memaki para perwira habis-habisan, lalu dia mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran dan pencarian.
Akan tetapi karena tidak ada yang tahu siapa dua orang yang menyamar sebagai perajurit itu, pencarian dilakukan secara ngawur sehingga empat orang yang melarikan diri itu dapat tiba di tepi teluk Po-hai tanpa halangan.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan sebuah perahu yang memang telah disediakan anak buah Pulau Ular yang setiap hari berada di pantai untuk menjemput majikannya.
Selama dalam perjalanan itu, Gak Li atau Ban-tok Niocu dengan terus terang menceritakan sebab yang membuat ia melakukan penculikan atas diri Li Hong.
Setelah Tan Kun Tek memutus cinta dan menikah dengan gadis lain, ia mendendam akan tetapi ketika malam itu ia datang, ia dihalangi Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai sehingga mereka bertanding dan ia menderita luka pada pipinya.
Karena cacat mukanya membuat ia semakin merasa sakit hati maka ia lalu menculik Li Hong dan membawa anak itu ke Pulau Ular.
"Agar engkau merasakan bagaimana sakitnya ditinggal orang yang kau sayang, Tek-ko,"
Katanya.
Dan selanjutnya ia menceritakan sampai perbuatannya membebaskan Tan Kun Tek dan isterinya dari tempat tahanan di markas pasukan Mongol itu.
Tan Kun Tek merasa terharu mendengar betapa bekas kekasihnya itu menderita karena dia memutus cinta.
Juga Nyonya Tan yang mendengar cerita itu merasa terharu.
"Harap maafkan suamiku yang telah menyebabkan engkau menderita, Enci Gak Li. Dan maafkan aku yang tanpa kusadari telah memisahkan engkau dari laki-laki yang kaucinta,"
Kata Nyonya Tan yang telah mendapat obat dari Ban-tok Niocu sehingga tubuhnya tidak begitu lemah lagi.
"Akulah yang bersalah dan tidak tahu diri. Aku yang sepatutnya minta maaf,"
Kata Ban-tok Niocu dengan suara sedih.
Suami isteri itu merasa senang mendengar bahwa puteri mereka yang merupakan anak tunggal itu selain dapat ditemukan kembali, juga telah menjadi seorang gadis yang amat lihai.
Mereka berdua merasa terheran-heran dan kagum ketika tiba di Pulau Ular yang keadaannya demikian aneh, banyak rahasia sehingga amat sukar bagi orang luar untuk dapat masuk, dan amat kagum ketika diajak masuk ke dalam rumah induk tempat tinggal Gak Li yang indah seperti istana atau gedung bangsawan tinggi itu.
"Nah, kalian boleh tinggal di sini bersama anak kalian Li Hong, dan di sini pasti tidak akan ada yang dapat mengganggu kalian,"
Kata Ban-tok Niocu kepada suami isteri yang masih terheran-heran itu.
"Tapi...... kami tidak ingin mengganggumu, Enci Gak Li! Kami tidak ingin menjadi beban......"
Kata Nyonya Tan.
"Tidak, Ibu!"
Kata Li Hong serius.
"Subo tak pernah berbohong dan apa yang diucapkannya selalu jujur! Subo tidak akan pernah merasa terganggu atau dibebani. Ayah dan Ibu dapat hidup di sini bersama aku dan Subo. Di sini Ayah dan Ibu akan aman dari jangkauan panglima keparat itu!"
"Anak kalian benar, Tek-ko. Kalian sama sekali tidak mengganggu dan aku menawarkan dengan hati tulus,"
Kata Ban-tok Niocu.
"Akan tetapi, Lili! Mengapa...... mengapa engkau begini baik kepada kami setelah aku....... aku pernah menyakiti hatimu?"
Ban-tok Niocu tersenyum lalu berkata dengan tegas.
"Aku telah bersalah kepada kalian, telah menculik Li Hong dari kalian. Biarlah kalian sekarang memberi kesempatan kepadaku untuk menembus kesalahanku itu."
"Tidak, Enci Gak Li! Kalau benar engkau bersalah, hal itu sebagai balas dendam dan kesalahan itu telah kautebus berkali-kali! Pertama, suamiku yang menyakiti hatimu memutus cinta dan menikah dengan aku. Karena sakit hati engkau menculik Li Hong. Akan tetapi engkau memelihara dan mendidik anak kami dengan baik. Hal itu sudah merupakan tebusan dan kami berterima kasih kepadamu. Kemudian engkau malah membolehkan Li Hong kembali kepada kami. Itu kebaikanmu yang kedua. Setelah itu, engkau malah menyelamatkan kami dengan taruhan keselamatanmu sendiri, ini merupakan budi kebaikanmu ketiga dan masih ada lagi, kebaikanmu ditambah kebaikan budi keempat yaitu membolehkan kami mencari keamanan dan hidup di pulaumu. Kami benar-benar merasa malu sekali karena budimu yang bertumpuk-tumpuk. Kalau penculikanmu itu merupakan kesalahan, maka kesalahanmu sudah tertebus secara berlebihan. Sebaliknya kesalahan suamiku yang membuat engkau patah hati bahkan kemudian menanggung derita karena mukamu cacat, sama sekali suamiku tidak akan mampu membalasnya. Karena itu, Enci Gak Li...... aku rela""
Biarlah sekarang suamiku menebus kesalahannya, hidup berdua di sini denganmu, menyambung lagi tali kasih yang dulu diputus suamiku......
dan aku, biarlah aku hidup dengan puteriku, jauh dari sini......."
Nyonya Tan menangis lirih tanpa suara, hanya air matanya saja yang menetes-netes turun dari kedua matanya.
"Ibu......!"
Li Hong merangkul ibunya.
Ban-tok Niocu tersenyum dan ia memandang bekas kekasihnya yang duduk sambil menundukkan mukanya.
Diam-diam ia merasa bahwa sampai sekarang, cintanya terhadap laki-laki ini tidak pernah berkurang, walaupun kalau ia ingat akan penderitaannya selama duapuluh tahun ini, membuat hatinya sakit.
Kini ia merasa iba kepada Kun Tek, juga kepada isteri kekasihnya itu yang ternyata merupakan seorang wanita berwatak baik dan hatinya lembut.
Ia tertarik sekali mendengar ucapan isteri Tan Kun Tek itu kini ia bertanya kepada Kun Tek.
"Tek-ko, engkau sudah mendengar ucapan isterimu tadi. Bagaimana tanggapanmu, bagaimana pendapatmu?"
Laki-laki itu tampak lemas.
Dia mengangkat mukanya, sejenak menatap wajah bekas kekasihnya, lalu menoleh dan memandang kepada isterinya yang masih dalam rangkulan Li Hong, kemudian memandang wajah Li Hong.
"Li Hong, anakku, bantulah Ayahmu. Bagaimana menurut pendapatmu mengenai ucapan ibumu tadi?"
Li Hong mengerutkan alisnya.
"Ibu benar, Ayah harus menebus kesalahan Ayah yang membuat Subo menderita sampai demikian lamanya, bahkan sampai sekarang Subo tidak pernah mau menikah. Biarlah Ayah menebus kesalahan Ayah dengan membahagiakan Subo dan tinggal berdua di sini. Aku akan membawa Ibu pergi dari sini."
Dengan muka pucat Tan Kun Tek kini memandang kepada Ban-tok Niocu dan berkata dengan suara gemetar.
"Lili, aku memang telah bersalah kepadamu, menjadi penyebab engkau hidup menderita selama ini. Untuk menebus kesalahan itu, aku mau dihukum dan melakukan apa pun, akan tetapi...... aku tidak tega dan tidak mungkin berpisah dari isteriku dan anakku, tidak mungkin membuang mereka begitu saja. Lili, jangan engkau suruh aku berbuat demikian, lebih baik engkau bunuh aku untuk menebus kesalahanku kepadamu......."
Ban-tok Niocu menghela napas panjang.
"Kanda Tan Kun Tek, apa engkau kira aku tega melakukan hal itu kepadamu, satu-satunya orang yang pernah dan masih kucinta? Tidak, aku tidak ingin memisahkan engkau dari anak isterimu, apalagi membunuhmu. Aku tadi hanya menyarankan agar engkau dan isterimu tinggal di sini bersama kami karena hanya di sinilah kalian akan dapat hidup aman, tidak terancam pasukan pemerintah."
Kun Tek kini berkata kepada isterinya.
"Engkau telah mendengar sendiri saran dari Gak Li yang ingin menolong kita, kenapa engkau tadi mengucapkan yang bukan-bukan? Nyonya Tan dengan kedua mata masih basah menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak mungkin aku hidup bahagia di sini sambil setiap hari melihat Enci Gak Li hidup kesepian dan merana. Enci Gak Li, aku hanya mau tetap tinggal di sini kalau engkau mau menjadi isteri Tan Kun Tek, menyambung kembali tali kasih antara kalian yang dulu terputus. Nah, kalau kalian mau menjadi suami isteri, aku mau tetap tinggal di sini. Kalau tidak, aku harus keluar dari pulau ini bersama anakku!"
Kun Tek merasa malu sekali dan mukanya berubah kemerahan lalu dia memandang kepada Gak Li.
"Ah...... ah...... bagaimana Lili? Aku...... aku tidak berani...... dan maafkanlah isteriku, Lili."
"Tan Kun Tek, bersikaplah sebagai seorang laki-laki gagah. Engkau seorang pendekar, bukan? Nah, tentukan sikapmu dan jawab sejujurnya. Apakah engkau menyetujui keputusan isterimu itu dan apakah engkau mau memperisteri aku di samping isterimu? Jawab!"
"Aduh, bagaimana aku harus menjawab? Aku merasa malu, Lili. Akan tetapi kalau memang demikian kehendak isteriku, dan terutama sekali kalau engkau...... sudi menjadi isteriku kita semua dapat hidup di sini, aku...... aku tentu saja menyetujui dan menurut......."
"Hemmm, kalau kalian berdua suami isteri sudah menyetujui, aku pun suka hidup sebagai isterimu, Tek-ko. Akan tetapi karena aku lebih tua dari isterimu, maka aku mau menjadi keluargamu asalkan aku menjadi isteri pertama!"
"Ah, tentu saja, Enci Gak Li.......!"
Isteriku Kun Tek kini menghampiri dan merangkul Ban-tok Niocu.
"Tidak saja engkau lebih tua daripada aku, juga engkau lebih dulu menjadi kekasih Tan Kun Tek sebelum aku menjadi isterinya. Ah, aku gembira dan berbahagia sekali!"
Li Hong juga merasa gembira bukan main.
Tidak saja kini ayah dan ibu kandungnya tinggal bersama di Pulau Ular, juga sekarang gurunya, yang tentu saja ia sayang bahkan melebihi sayangnya kepada ibunya sendiri karena sejak kecil ia hidup bersamanya, kini juga menjadi ibunya, menjadi isteri ayahnya!
Ban-tok Niocu juga merasa berbahagia karena sekarang ia dapat mengobati penderitaannya, hidup sebagai isteri pria yang dicintanya.
Tan Kun Tek juga merasa bahagia karena dapat menebus kesalahannya dengan persetujuan isterinya.
Demikian pula Nyonya Tan Kun Tek, ia pun merasa berbahagia karena ia dapat membalas budi kebaikan Gak Li.
Ban-tok Niocu merayakan perjodohan itu dengan pesta keluarga dan dirayakan pula oleh semua anak buahnya di Pulau Ular.
Sebulan setelah ikatan perjodohan antara ayah kandung dan gurunya itu, Li Hong berpamit dari ketiga orang tuanya untuk meninggalkan pulau, merantau.
Ketika tiga orang tua itu bertanya, ia menjawab dengan tegas.
"Aku hendak mencari Panglima Kim Bayan yang hampir saja membunuh Ayah dan Ibu."
"Akan tetapi Panglima Besar Kim itu sebetulnya tidak mempunyai permusuhan pribadi denganku, Li Hong. Agaknya dia memusuhi semua partai persilatan dan karena aku murid Bu-tong-pai, maka dia sengaja mencari gara-gara denganku. Mungkin dia akan bertindak lebih jauh, memusuhi dan membasmi semua perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain."
"Hal itu lebih mendorongku untuk menentangnya, Ayah. Aku akan membantu partai persilatan besar yang dimusuhi Panglima Kim Bayan, dengan demikian aku akan mengangkat nama Ayah sebagai murid Bu-tong-pai dan Subo yang juga ibuku sebagai majikan Pulau Ular. Juga setelah mendengar bahwa Ibu Gak Li memberi obat penyembuh kepada ketua Hoa-san-pai, aku harus minta maaf kepada Hoa-san-pai bahwa aku pernah melukai ketuanya. Juga aku akan mencari murid keponakan mendiang Im Yang Yok-sian seperti yang diceritakan Ibu Gak Li, gadis bijaksana yang bernama Liu Ceng Ceng itu, untuk minta maaf pula bahwa aku terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian dahulu."
"Li Hong, kami baru saja bertemu denganmu, waktu sebulan ini belum cukup untuk menebus kerinduan kami selama tujuhbelas tahun. Mengapa engkau mau meninggalkan kami? Dan biarpun aku tahu bahwa engkau telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, namun engkau masih kurang pengalaman dan dunia di luar pulau ini amat kejam, banyak terdapat orang jahat."
Tiba-tiba Ban-tok Niocu berkata lembut kepada suaminya sambil memandang kepada madunya dengan senyum menghibur.
"Biarkan ia pergi. Justeru karena ia belum berpengalaman, maka ia dapat meluaskan pengetahuan dan pengalaman. Ia akan mampu menjaga diri, hal ini aku yakin karena seluruh ilmuku telah kuturunkan kepadanya. Li Hong, engkau boleh pergi, akan tetapi kami hanya memberi waktu paling lama satu setengah tahun, setelah lewat masa itu, engkau harus pulang, jangan membikin gelisah hati kami."
"Baik, akan kuperhatikan semua pesan Subo...... eh, Ibu!"
Gadis itu belum biasa mengganti sebutan guru dengan ibu sehingga ia sering keliru, membuat tiga orang tuanya tertawa. Setelah berkemas dan meninggalkan pulau, Gak Li menghibur madunya dan suaminya.
"Harap kalian jangan gelisah. Anak kita itu cukup mampu menjaga diri dan selain itu, apakah kalian tidak menduga apa yang kuinginkan maka aku menyetujui ia merantau?"
Suami isteri itu memandang dan menggelengkan kepala mereka.
"Apakah kalian lupa berapa usia Li Hong sekarang?"
"Kurang lebih sembilanbelas tahun,"
Jawab ibu Li Hong.
"Benar, sudah dewasa dan sudah cukup usianya bagi seorang gadis untuk menikah. Kalau ia dibiarkan di pulau ini terus, bagaimana mungkin ia akan dapat menemukan jodoh? Aku sengaja menyetujui ia merantau dengan harapan ia akan bertemu dengan jodohnya."
Suami isteri itu mengangguk-angguk. Akan tetapi ibu kandung Li Hong berkata.
"Enci Lili, apakah tidak lebih baik kalau engkau yang memilihkan jodoh untuk anak kita itu? Pilihanmu tentu lebih tepat karena engkau lebih mengenal watak anak kita."
"Justeru karena mengenal baik watak Li Hong, aku tidak mau memilihkan jodoh untuknya. Anak kita itu berwatak keras dan bebas, maka kalau dijodohkan dengan pemuda yang tidak dicintanya, ia pasti akan menolak keras. Selain itu, aku sendiri percaya bahwa orang tidak akan dapat hidup bahagia kalau harus menikah dengan orang yang tidak dicintanya."
Setelah berkata demikian, Ban-tok Niocu melirik ke arah Tan Kun Tek dan kedua pipinya berubah kemerahan.
Tan Kun Tek dan isterinya maklum bahwa ucapan Lili itu timbul dari dasar hatinya karena hal itu ia sudah buktikan dengan tidak mau menikah dengan laki-laki lain setelah ditinggal Kun Tek yang menikah dengan gadis lain!
Liu Bok Eng adalah seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun dan tinggal di kota Nan-king.
Namanya amat terkenal di kota Nan-king, bahkan sampai jauh di sekitar kota Nan-king dan orang-orang biasa menyebutnya Liu-enghiong (Pendekar Liu).
Tubuhnya tinggi besar dengan wajah kemerahan dan gagah seperti tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok.
Dia memang seorang yang tinggi ilmu silatnya.
Sebagai seorang murid Siauw-lim-pai, nama Liu Bok Eng pernah terkenal puluhan tahun yang lalu.
Apalagi dia pernah menjadi seorang panglima pada Kerajaan Sung.
Setelah kerajaan itu jatuh dan pemerintahan dipegang Kerajaan Goan (Mongol).
Liu Bok Eng mengundurkan diri dan tinggal di kota Nan-king.
Dia cukup kaya karena memang sejak dulu dia keturunan orang-orang kaya, dan karena dia murah hati, suka menolong dan menyumbang rakyat, maka dia dihormati seluruh penduduk Nan-king.
Bahkan para pembesar di Nan-king juga segan mengganggunya, bahkan pemerintah menawarkan kedudukan kepadanya, namun selalu ditolak dengan halus oleh Liu Bok Eng.
Di Nan-king Liu Bok Eng tinggal dalam sebuah gedung kuno yang besar bersama isterinya yang berusia sekitar empatpuluh lima tahun, seorang wanita yang lembut dan cantik.
Mereka hanya mempunyai seorang anak, yaitu Liu Ceng Ceng yang kita kenal dengan julukan Pek-eng Sianli.
Gadis ini mewarisi ilmu silat Siauw-lim-pai dari ayahnya sendiri, kemudian memperdalam ilmu pengobatan dari paman gurunya, mendiang Im Yang Yok-sian.
Suami isteri itu mempunyai beberapa orang pembantu yang rata-rata sudah berusia setengah tua dan sudah puluhan tahun menjadi pembantu keluarga Liu.
Pada suatu pagi, Liu Bok Eng duduk di ruangan depan bersama isterinya.
Mereka minum air teh dan makan hidangan ringan seperti biasa setiap pagi mereka lakukan.
"Mengapa Ceng Ceng masih juga belum pulang?"
Kata Nyonya Liu setelah beberapa kali menghela napas panjang dan memandang ke arah jalan umum di luar pekarangan rumahnya dengan melamun. Liu Bok Eng tersenyum.
"Mengapa khawatir, isteriku? Ceng Ceng cukup mampu untuk menjaga diri sendiri, selain itu ia pandai ilmu pengobatan yang didapat dari Sute Im Yang Yok-sian. Anak kita itu tentu sedang melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar wanita, menolong orang-orang tertindas dan mengobati orang-orang sakit. Biarlah ia meluaskan pengalamannya, itu baik sekali baginya."
"Engkau benar, suamiku. Akan tetapi apakah engkau tidak ingat bahwa anak kita itu usianya sudah sembilanbelas tahun? Ia sudah pantas menikah dan aku sudah rindu menimang seorang cucu."
"Tentu saja hal itu pun sudah kupikirkan dan aku sudah mempunyai pandangan beberapa orang calon yang kuanggap cukup pantas menjadi suami Ceng Ceng. Kita tunggu sampai ia pulang dan biar ia memilih sendiri di antara beberapa orang yang kutunjuk sebagai calon jodohnya itu."
Tiba-tiba suami isteri itu dikejutkan oleh munculnya seorang yang berpakaian perajurit yang memasuki pekarangan mereka dengan langkah tegap.
Liu Bok Eng mengerutkan alisnya.
Dia memang mengenal semua pejabat di kota Nan-king, akan tetapi perkenalannya tidak akrab, bahkan ada perasaan yang seolah mengganjal dalam hati karena beberapa kali dia menolak tawaran para pembesar untuk bekerja membantu pemerintah.
Liu Bok Eng dan isterinya tetap duduk sambil memandang perajurit yang menghampiri gedung mereka.
Setelah perajurit itu tiba di beranda depan yang menyambung ruangan depan di mana suami isteri itu duduk, dia lalu memberi hormat secara militer.
Ternyata perajurit ini pun tahu dengan siapa dia berhadapan, maka dia memberi hormat kepada Liu-enghiong yang amat dihormati seluruh penduduk Nan-king itu.
Tanpa berdiri dari kursinya, Liu Bok Eng melambaikan tangan sebagai balasan penghormatan dan dia lalu bertanya dengan suara lantang.
"Perajurit, keperluan apa yang membawamu datang ke sini?"
"Saya melaksanakan perintah Ciang-thaijin (Pembesar Ciang) untuk menyerahkan surat ini kepada Liu-enghiong."
Perajurit itu menyerahkan sebuah sampul surat kepada Liu Bok Eng. Liu Bok Eng bangkit dan menghampiri perajurit itu dan menerima surat yang disodorkan kepadanya.
"Terima kasih. Apakah engkau harus menunggu jawaban atau balasan dariku?"
"Tidak, setelah surat ini diterima, saya diharuskan segera kembali ke kantor."
"Baiklah, kalau begitu, surat ini sudah kuterima dan engkau boleh pulang."
Setelah perajurit itu pergi, barulah Liu Bok Eng membuka surat itu dan membacanya.
Nyonya Liu diam-diam memandang suaminya penuh perhatian karena ia juga merasa heran sekali bagaimana suaminya yang tidak akrab dengan para pembesar itu mendapat surat dari Pembesar Ciang yang ia ketahui menjadi Jaksa kota Nan-king dan pembesar itu terkenal sebagai tukang memeras penduduk, terutama yang berharta.
Ketika wanita itu melihat wajah suaminya tiba-tiba menjadi kemerahan dan alisnya berkerut seperti orang marah, ia bertanya.
"Ada urusan apakah Jaksa itu sampai mengirim surat kepadamu?"
Setelah membaca habis Liu Bok Eng menyerahkan surat itu kepada isterinya tanpa berkata sesuatu.
Nyonya Liu Bok Eng membaca surat itu dan wajahnya yang berkulit halus dan cantik itu pun berubah merah karena marah.
Ia menaruh kertas itu di atas meja.
Dalam surat itu, Jaksa Ciang memerintahkan kepada Liu Bok Eng dan isterinya untuk menghadap ke kantor kejaksaan karena ada Panglima Besar Kim bersama gurunya datang dan ingin bicara dengan Liu Bok Eng untuk urusan yang amat penting.
Yang membuat suami isteri itu marah adalah penutup surat itu yang mengatakan bahwa kalau Liu Bok Eng tidak datang, mereka akan dianggap pemberontak dan akan ditangkap!
Nyonya Liu Bok Eng adalah seorang wanita yang biarpun wataknya lembut, namun ia bukan orang lemah.
Ia telah mempelajari ilmu silat dari suaminya sehingga ia pun dapat dianggap seorang wanita gagah dan lihai.
"Hemm, sombong benar Jaksa Ciang!"
Nyonya Liu Bok Eng berkata.
"Berani dia memerintahkan kita datang menghadap dengan ancaman segala! Kita tidak pernah ada urusan dengan dia, apa maksudnya dia mengundang seperti memanggil orang yang melakukan kejahatan saja?"
Liu Bok Eng menghela napas panjang.
"Sejak dulu aku sudah merasa tidak senang dengan orang she Ciang ini. Banyak sudah kita mendengar dia bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Sekarang dia memanggil kita. Amat mencurigakan karena ada beberapa hal yang aneh. Pertama, kalau dia mempunyai urusan denganku, mengapa dia memanggil engkau juga? Selain itu, dia mengatakan bahwa Panglima Besar Kim bersama gurunya ingin bicara dengan kita. Aku menjadi curiga sekali."
"Apa yang kaucurigai? Kita datang saja kalau dia membikin ulah, kita hajar dia!"
Kata Nyonya Liu Bok Eng dengan gagah, walaupun ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang lembut.
"Ucapan terakhir yang menganggap kita pemberontak dan hendak ditangkap kalau tidak menaati perintah, menunjukkan bahwa mereka pasti mempunyai niat yang amat jahat dan hal yang akan mereka bicarakan tentu amat penting bagi mereka. Mereka pasti menghendaki sesuatu dari kita, sesuatu yang bagi mereka amat berharga."
Nyonya Liu memandang suaminya dengan mata terbelalak.
"Maksudmu...... peta itu.......?"
Suaminya mengangguk.
"Pasti itu, kalau tidak apa lagi yang menarik perhatian Panglima Kim Bayan? Aku sudah mendengar akan sepak terjang Kim Bayan itu, seorang panglima yang amat tangguh, lihai ilmu silatnya dan besar kekuasaannya. Dia pasti sudah mendengar akan peta itu dan sekarang hendak merampasnya dari tanganku. Apalagi kalau diingat akan desas-desus betapa pemerintah Mongol mulai bersikap tidak bersahabat dengan partai-partai persilatan, terutama Siauw-lim-pai. Aku sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai tentu saja sudah masuk daftar mereka sebagai seorang yang perlu mereka curigai dan awasi."
"Aih, kalau begitu, bagaimana baiknya? Kalau mereka tidak bisa mendapatkan peta itu, mungkin sekali anak kita nanti terbawa-bawa. Suamiku, kita tidak membutuhkan harta karun itu. Bagaimana kalau kita serahkan saja peta itu?"
Liu Bok Eng mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! Harta itu hak milik Kerajaan Sung! Baru boleh diserahkan kepada mereka yang kelak mendapat kesempatan untuk menggulingkan pemerintah Mongol! Apa engkau takut?"
Sepasang mata wanita itu bersinar.
"Takut? Aku tidak takut sama sekali, akan tetapi aku khawatir kalau Ceng Ceng terbawa-bawa!"
"Jangan khawatir. Akan kuatur sebaiknya. Sekarang, aku harus tinggalkan peta dan surat kepada Ceng Ceng."
"Titipkan saja kepada seorang pembantu rumah tangga kita."
"Tidak, kalau benar mereka menghendaki peta itu, pasti mereka akan menggeledah rumah dan memaksa para pembantu kita untuk mengaku. Aku akan menitipkan kepada Liong Sinshe (Tabib Liong)."
Isterinya mengangguk membenarkan.
Tabib Liong adalah seorang sahabat baik dari suaminya dan diam-diam seorang yang anti pemerintah Mongol.
Kalau peta itu berada di tangannya, dititipkan agar nantinya diserahkan kepada Ceng Ceng, pasti aman.
Tidak akan ada yang mencurigai seorang lemah seperti Tabib Liong.
Liu Bok Eng tidak membuang waktu lagi.
Dia segera menulis surat untuk Ceng Ceng, lalu secara sembunyi agar jangan sampai diketahui orang, dia pergi ke rumah Tabib Liong.
Dengan singkat dia menceritakan tentang panggilan Jaksa Ciang kepada dia dan isterinya dan menitipkan surat itu agar kalau terjadi sesuatu dengannya kelak diserahkan kepada Ceng Ceng.
Dalam sampul surat tertutup itu tersimpan pula sebuah peta bersama suratnya.
Setelah mendapat janji Tabib Liong untuk memenuhi pesan itu, Liu Bok Eng lalu pulang.
Suami isteri itu meninggalkan pesan kepada para pembantu rumah tangga untuk menjaga rumah dan menanti pulangnya Ceng Ceng.
Setelah itu, mereka berdua lalu berangkat ke kantor kejaksaan.
Panglima Kim Bayan adalah panglima Mongol yang tinggal di Cin-yang dan mengepalai seluruh pasukan di Shan-tung ke selatan.
Seperti kita ketahui, dialah yang bertekad membersihkan partai-partai persilatan yang dia anggap memusuhi Pemerintah Mongol.
Dia pula yang dulu menangkap Tan Kun Tek dan isterinya.
Pada suatu hari, gurunya yang berjuluk Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Roh) datang berkunjung di markasnya.
Cui-beng Kui-ong adalah seorang datuk besar dari utara yang terkenal sebagai ahli silat dan ahli sihir yang ditakuti.
Dia peranakan Mancu/Mongol, akan tetapi karena sejak remaja merantau di Cina, dia hidup dengan gaya seorang pribumi Cina dan menyerap banyak ilmu silat dari Cina dan ilmu sihir dari Tibet dan Nepal.
Dia amat berjasa ketika pasukan Mongol menyerbu Cina.
Dialah yang mengalahkan banyak pendekar yang membela Kerajaan Sung.
Karena itu, Kaisar Mongol menganugerahi dia sebagai seorang penasihat dan memberinya sebuah bukit yang indah.
Bukit itu letaknya dekat Peking dan di puncaknya dibangun sebuah istana kecil.
Pemandangan dari atas bukit itu amat indah.
Cui-beng Kui-ong tinggal di situ bersama seorang adik perempuan seperguruan yang juga amat lihai dengan julukan Song-bun Mo-li (Iblis Betina Berkabung)!
Mereka itu kakak beradik seperguruan akan tetapi ketika muda dahulu mereka sudah berhubungan seperti suami isteri!
Kini Cui-beng Kui-ong telah berusia hampir tujuhpuluh tahun sedangkan sumoinya (adik perempuan seperguruannya) itu berusia enampuluh tahun.
Mereka berdua tinggal di atas bukit yang oleh Cui-beng Kui-ong sebagai pemiliknya diberi nama Bukit Sorga!
Tentu saja Kim Bayan terkejut dan heran melihat gurunya yang sudah tua itu datang berkunjung.
Dia menyambutnya dengan penuh hormat, bahkan mengadakan pesta makan minum untuk menyambut gurunya.
Seluruh pasukan Mongol sudah mengenal kakek itu dan mereka memandang dengan takut karena maklum bahwa kakek itu selain lihai ilmu silatnya dan pandai menggunakan sihir, juga kabarnya kejam sekali terhadap siapa saja yang membuatnya tidak senang.
Setelah melayani dan menemani gurunya makan minum sampai puas dan agak mabok, Cui-beng Kui-ong mengajak muridnya bicara empat mata dalam kamar rahasia agar jangan sampai ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Panglima Kim membawa gurunya ke dalam kamar rahasia dan mereka duduk berhadapan.
"Perkara penting apakah yang hendak Suhu sampaikan kepada saya? Agaknya merupakan rahasia besar."
"Memang ada urusan yang amat penting,"
Kata kakek kurus bongkok yang tampaknya seperti orang berpenyakitan dan lemah itu setelah minum lagi secawan arak.
"Aku mencari seorang murid Siauw-lim-pai yang bernama Liu Bok Eng dan kabarnya tinggal di Nan-king. Tahukah engkau siapa orang itu?"
"Liu Bok Eng di Nan-king? Ya, saya tahu siapa dia walaupun tidak mengenal dekat. Kabarnya dia murid Siauw-lim-pai yang lihai, ilmu silatnya tinggi. Akan tetapi ada urusan apa dengannya maka Suhu mencarinya?"
"Aku mempunyai dugaan kuat bahwa Liu Bok Eng itulah yang menyimpan peta harta karun Kerajaan Sung yang dulu dikumpulkan oleh seorang Thaikam (Pembesar Kebiri). Harta karun yang tak ternilai harganya, berikut beberapa buah pusaka Kerajaan Sung."
Panglima Kim Bayan menatap wajah gurunya dengan hati tegang dan ingin sekali dia mengetahui lebih banyak.
"Suhu, bagaimana harta karun Kerajaan Sung disembunyikan dan petanya berada di tangan Liu Bok Eng?"
"Dengarkan cerita yang kudapat dari orang yang bisa dipercaya, akan tetapi ingat, yang mengetahui hal ini hanya aku dan engkau harus merahasiakannya."
Setelah Panglima Kim Baya mengangguk, kakek itu bercerita.
Ketika terjadi perang antara pasukan Mongol yang menyerang pasukan Sung dan Kerajaan Sung sudah hampir jatuh, terdapat seorang Pembesar Kebiri kepercayaan Kaisar Sung, yaitu Thaikam Bong yang selain pandai menjilat kaisar, juga merupakan seorang koruptor besar.
Dia berhasil mengumpulkan harta kekayaan Kerajaan Sung karena ketika kerajaan itu sudah di ambang kehancuran, Kaisar Sung mempercayakan Thaikam Bong untuk menyembunyikan harta karun istana berikut beberapa benda pusaka.
Thaikam Bong mempergunakan kesempatan itu untuk mengangkut semua harta itu ke suatu tempat tersembunyi, menyembunyikannya kemudian dia membunuh semua orang yang membantu dia mengangkut dan menyembunyikan harta itu.
Kemudian dia membuat gambar peta tempat penyimpanan harta karun yang dirahasiakan itu.
Tiada orang lain kecuali Thaikam Bong yang tahu di mana tersimpannya harta karun itu walaupun banyak yang mengetahui bahwa Thaikam Bong diserahi tugas menyelamatkan harta Kerajaan Sung yang hampir jatuh.
"Nah, demikianlah riwayat harta karun itu. Ketika pasukan kita sudah mendekati kota raja, seorang panglima yang membawa pasukannya menyerbu Thaikam Bong yang memang tidak disukai oleh kebanyakan pejabat karena ia dianggap seorang yang menjilat dan membuat Kaisar Sung menjadi lemah. Thaikam Bong terbunuh, rumahnya dibakar dan semua hartanya yang berada dalam gedung dirampas oleh pasukan. Sejak itu, peta tempat persembunyian harta karun itu lenyap. Kemudian aku mendapatkan keterangan bahwa yang memimpin pasukan yang menyerbu rumah Thaikam Bong dan yang membunuh orang kebiri itu bukan lain adalah Liu Bok Eng! Nah, mudah ditarik kesimpulannya, bukan? Pasti peta harta karun yang hilang itu berada di tangannya karena dia yang memimpin penyerbuan. Besar sekali kemungkinannya bahwa sebelum membunuh Thaikam Bong, dia merampas peta itu!"
Cui-beng Kui-ong mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Panglima Kim Bayan.
"Wah, cerita yang menarik sekali, Suhu! Saya pun yakin bahwa peta harta karun itu pasti berada di tangan Liu Bok Eng. Kebetulan sekali. Saya memang sedang menyelidiki dan mengawasi para tokoh partai persilatan besar, terutama sekali Siauw-lim-pai. Karena Liu Bok Eng itu seorang tokoh Siauw-lim-pai, apalagi baru saja Suhu menceritakan bahwa dia bekas panglima Kerajaan Sung, maka kita dapat menggertak dan memaksanya untuk menyerahkan peta itu!"
"Bagus! Kalau begitu, mari kita pergi ke rumah Liu Bok Eng di Nan-king dan kita minta agar dia mau menyerahkan peta itu. Kalau dia menolak, kita paksa dia!"
"Nanti dulu, Suhu. Bukan saya tidak berani memaksanya, akan tetapi kalau kita menggunakan cara itu, tentu akan menimbulkan heboh dan rahasia peta harta karun itu akan diketahui orang banyak."
"Hemm kalau begitu bagaimana kita harus bertindak?"
"Sebaiknya kita menggunakan cara, yang lebih halus agar perkara ini tidak sampai terdengar orang luar. Kita pergi berkunjung ke rumah Jaksa Ciang. Dia adalah seorang sahabat yang akan mematuhi semua perintah saya. Melalui Jaksa Ciang kita panggil Liu Bok Eng dan isterinya. Nah, di rumah itu kita dapat memaksa suami isteri itu menyerahkan peta dan tidak akan ada orang mengetahui sehingga rahasia itu dapat terjaga rapat."
Cui-beng Kui-ong mengangguk-angguk senang dan mereka berdua lalu berangkat ke Nan-king yang tidak berapa jauh letaknya dan langsung mengunjungi rumah Jaksa Ciang.
Jaksa Ciang menyambut kunjungan Panglima Kim dengan hormat, apalagi ketika dia mendengar bahwa kakek kurus bongkok itu adalah guru Panglima Kim Bayan yang dia kagumi dan juga takuti.
Dua orang tamu agung itu menginap semalam di situ dan Panglima Kim menyuruh Jaksa Ciang untuk memanggil Liu Bok Eng dan isterinya.
Ketika Liu Bok Eng dan Nyonya Liu tiba di kantor kejaksaan, Jaksa Ciang sendiri yang menerima mereka.
Kemudian Jaksa Ciang membawa mereka ke dalam rumahnya dan memasuki sebuah ruangan luas yang letaknya di bagian belakang rumahnya.
"Panglima Besar Kim dan gurunya ingin bicara dengan kalian, maka kalian masuk dan bicara dengan mereka,"
Kata Jaksa Ciang.
Dia sendiri tidak berani masuk mengganggu pembicaraan antara Panglima Kim dan Liu Bok Eng karena dia sudah dipesan agar tidak ada orang lain mendengarkan pembicaraan mereka.
Jaksa Ciang mengenal betul siapa Panglima Kim, maka tentu saja dia tidak berani melanggar larangan itu, karena melanggar berarti mati!
Liu Bok Eng dan isterinya menanti Jaksa Ciang mengetuk daun pintu.
Setelah daun pintu dibuka, yang muncul adalah Panglima Kim Bayan sendiri.
Jaksa Ciang menjura dan berkata dengan hormat.
"Kim Thai-ciangkun, Liu-enghiong (Pendekar Liu) dan Nyonya Liu telah datang memenuhi undangan Thai-ciangkun!"
"Baik, Liu-enghiong dan Nyonya Liu, silakan masuk!"
Kata Kim Bayan yang memberi isyarat kepada Jaksa Ciang agar meninggalkan tempat itu.
Setelah Jaksa Ciang pergi, Panglima Kim menutup rapat daun pintu dan mengajak suami isteri itu duduk menghadapi sebuah meja.
Di seberang meja telah duduk kakek bongkok Cui-beng Kui-ong yang memegang sebatang tongkat hitam yang ujungnya runcing.
"Silakan duduk!"
Kata Kim Thai-ciangkun sambil duduk di dekat gurunya, berhadapan dengan suami isteri yang duduk di depannya.
Melihat Kim Bayan dan kakek kurus itu tidak menyambut dengan salam, maka Liu Bok Eng dan isterinya juga tidak memberi hormat, melainkan duduk saja dengan sikap tenang.
Setelah mengamati wajah suami isteri itu beberapa saat lamanya, Panglima Kim lalu berkata dengan suaranya yang berat, namun dia yang biasanya bicara dengan suara nyaring itu kini menahan suaranya sehingga terdengar lirih.
"Liu Bok Eng dan Nyonya Liu, perkenalkan, aku adalah Panglima Besar Kim Bayan, komandan semua pasukan di propinsi ini. Adapun ini adalah guruku, Suhu Cui-beng Kui-ong dari kota raja."
Liu Bok Eng dan isterinya mengangguk sebagai tanda penghormatan karena mereka diperkenalkan, lalu dia bertanya dengan sikap tenang.
"Melalui Jaksa Ciang, Kim-ciangkun memanggil kami suami isteri ke sini, sebetulnya ada urusan penting apakah yang akan Ciang-kun bicarakan?"
Menghadapi sikap pendekar yang demikian tenang dan gagah, hati Kim Bayan merasa agak segan juga.
Orang seperti ini pasti memiliki kegagahan dan merupakan lawan yang tangguh.
Akan tetapi karena di situ terdapat gurunya, pula karena hatinya sudah amat tertarik dan bersemangat mendengar akan adanya harta karun tak ternilai harganya, dia menekan rasa segannya dan berkata dengan mata mencorong penuh wibawa.
"Hemm, benarkah engkau tidak tahu mengapa kami panggil, ataukah hanya pura-pura tidak tahu?"
"Kami benar tidak tahu, Ciang-kun. Seingat kami, belum pernah ada persoalan di antara Ciang-kun dan kami. Tentu saja kami merasa heran dan tidak mengerti."
"Liu Bok Eng, engkau adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai, bukan?"
"Benar, saya murid Siauw-lim-pai!"
Jawab pendekar itu tegas.
"Dan engkau dulu adalah seorang panglima Kerajaan Sung?"
"Benar!"
Liu Bok Eng memang tidak pernah menyangkal bahwa dia bekas panglima Kerajaan Sung walaupun kini telah mengundurkan diri setelah kerajaan itu jatuh.
"Nah, sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai dan bekas panglima Kerajaan Sung, tentu mengerti apa kesalahanmu terhadap pemerintah Kerajaan Goan!"
Kini suara Kim Bayan terdengar mengancam. Liu Bok Eng mengerutkan alisnya dan berkata.
"Ciang-kun, Siauw-lim-pai tidak mempunyai urusan dengan pemerintah, dan biarpun sebagai panglima Kerajaan Sung dahulu saya pernah berperang melawan pasukan Mongol, akan tetapi hal itu terjadi di waktu perang. Sekarang saya bukan panglima Kerajaan Sung lagi dan tidak mempunyai kesalahan apa pun terhadap pemerintah Kerajaan Goan."
"Hemm, Liu Bok Eng, pandai engkau bicara! Apa kaukira aku tidak tahu akan keadaanmu? Biarpun mukamu manis, namun hatimu diam-diam membenci pemerintah kami! Buktinya, semua penawaran pemerintah padamu untuk memegang jabatan membantu pemerintah, kau tolak! Dan kami tahu bahwa Siauw-lim-pai bersikap tidak bersahabat dengan para pejabat pemerintah kami. Dua hal itu saja sudah cukup untuk menangkap dan menghukummu sebagai pemberontak!"
Diam-diam Liu Bok Eng marah mendengar ucapan itu.
Dia tahu bahwa Panglima Kim hanya mengada-ada agar dapat mencelakakannya.
Biarpun dia tahu bahwa dia dan isterinya terancam bahaya, Liu Bok Eng masih bersikap tenang ketika dia menjawab.
"Kalau ada tuduhan bahwa saya memberontak, hal itu hanya fitnah belaka. Akan tetapi Ciang-kun adalah seorang panglima yang berkuasa, tentu berhak mengambil keputusan untuk menyalahkan atau membenarkan orang tanpa melihat bukti. Silakan kalau Ciang-kun hendak menangkap saya, akan tetapi harap membiarkan isteri saya pulang karena ia bukan murid Siauw-lim-pai dan juga bukan seorang bekas perwira Kerajaan Sung!"
"Hemm, tidak bisa! Bagaimanapun juga, ia adalah isterimu ia tentu mengetahui pula akan semua rahasiamu. Kalian berdua akan kami tahan dan periksa dengan teliti. Kalau dalam pemeriksaan itu tidak ada bukti bahwa engkau menentang pemerintah kami, barulah kalian berdua bebas dari tuduhan!"
Liu Bok Eng maklum bahwa kalau dia dan isterinya ditangkap, tidak dapat diharapkan akan dibebaskan.
Jelas bahwa Panglima Kim Bayan ini sengaja hendak menangkap dia dan isterinya karena dendam kepada bekas panglima Kerajaan Sung dan karena dia murid Siauw-lim-pai yang mungkin sedang dia curigai.
Akan tetapi hati pendekar ini masih penasaran kalau isterinya ikut ditahan.
"Silakan kalau Ciang-kun hendak menahan dan memeriksa saya. Akan tetapi demi keadilan, jangan menahan isteri saya!"
Panglima Kim hendak membantah, akan tetapi pada saat itu, seperti yang sudah mereka atur dan rencanakan, Cui-beng Kui-ong mengangkat tangan ke atas dan berkata.
"Ciang-kun, tidak perlu bersikap keras. Sekarang tidak ada lagi permusuhan antara pemerintah dan Kerajaan Sung yang sudah hancur. Maka, daripada bermusuhan lebih baik bersahabat. Kalau Liu Bok Eng mau menyerahkan peta harta milik Kerajaan Sung itu kepada kita, kita sudahi saja urusan ini dan biar suami isteri ini pulang dengan aman."
Panglima Kim berkata kepada Liu Bok Eng.
"Nah, engkau mendengar sendiri ucapan Suhu tadi. Kami dapat memaafkanmu dan tidak akan menuntut kalau engkau mau mengembalikan peta harta milik Kerajaan Goan kami."
Kini tahulah Liu Bok Eng apa yang tersembunyi di balik penahanan dirinya dan isterinya.
Hal yang sudah dia khawatirkan terjadi.
Entah bagaimana, agaknya guru dan murid itu telah mengetahui tentang harta karun yang disembunyikan mendiang Thaikam Bong yang berada di tangannya!
Liu Bok Eng menjawab.
"Ciang-kun, bagaimana mungkin ada harta karun Kerajaan Goan yang datang dari luar Tiongkok? Saya tidak tahu tentang harta karun Kerajaan Goan!"
Kini Cui-beng Kui-ong yang bicara.
"Orang she Liu, tidak perlu engkau berbohong! Kami tahu bahwa engkau yang memimpin pasukan menyerbu rumah Thaikam Bong dan membunuhnya. Pasti engkau yang merampas peta harta karun itu dari tangannya. Lebih baik serahkan saja peta itu kepada kami karena engkau tidak mempunyai pilihan lain!"
Liu Bok Eng masih berkeras membantah.
"Mendiang Thaikam Bong adalah seorang pembesar Kerajaan Sung, bagaimana mungkin dia menyimpan peta harta karun Kerajaan Goan? Ini mustahil!"
"Liu Bok Eng!"
Panglima Kim membentak marah.
"Harta karun itu dahulunya memang milik Kerajaan Sung yang dicuri dan disembunyikan mendiang Thaikam Bong. Akan tetapi sebagai seorang bekas panglima engkau tentu mengetahui peraturan perang, yaitu semua harta milik pihak yang kalah menjadi hak milik pihak yang menang. Maka, harta pusaka itu yang berasal dari Kerajaan Sung yang kalah, harus menjadi hak milik pemerintah Kerajaan Goan! Kalau engkau masih berkeras tidak mau menyerahkan peta itu kepada kami, berarti engkau hendak memberontak dan engkau dan isterimu, juga anakmu termasuk semua pembantumu akan dihukum mati! Nyonya Liu yang sejak tadi diam saja mendengarkan, tidak kuat menahan rasa penasaran di hatinya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata, suaranya tetap lembut namun mengandung serangan tajam.
"Kim-ciangkun! Saya seringkali mendengar didengang-dengungkan bahwa pemerintah Kerajaan Goan adalah pemerintahan yang adil terhadap rakyat, tidak seperti pemerintah yang telah lalu. Akan tetapi Ciang-kun hendak bertindak sewenang-wenang terhadap kami yang tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya bersumpah bahwa peta yang Ciang-kun cari itu tidak ada pada suami saya! Ciang-kun hendak memaksa dan mengancam membasmi seluruh keluarga kami. Di mana adanya keadilan yang didengang-dengungkan itu?"
Wajah Kim Bayan menjadi merah mendengar ucapan dengan suara lembut yang terisi teguran keras itu. Dia membentak kepada Liu Bok Eng.
"Orang she Liu! Apakah engkau tidak dapat mengajarkan kesopanan kepada isterimu? Hayo sekarang jawab, mau tidak engkau menyerahkan peta harta karun itu kepada kami?"
Liu Bok Eng adalah seorang memiliki banyak pengalaman dan dia bukan orang bodoh.
Dia tahu benar bahwa kalau dia menyerahkan peta itu kepada Kim Bayan, tidak urung dia dan isterinya tidak akan dibiarkan hidup karena sudah tahu akan rahasia peta harta karun.
Pula, di lubuk hatinya dia tidak rela kalau harta karun itu terjatuh ke tangan orang Mongol.
Maka dengan tegas dia menjawab.
"Peta itu tidak berada pada saya, bagaimana dapat saya berikan?"
"Hemm, engkau memilih ditangkap dan dijatuhi hukuman?"
"Terserah!"
Panglima Kim Bayan lalu berteriak ke arah pintu.
"Perwira pengawal, kerahkan pasukan untuk menangkap suami isteri ini!"
Daun pintu terbuka dan belasan orang perajurit yang dipimpin seorang perwira pendek gendut memasuki ruangan itu dan mengepung Liu Bok Eng dan isterinya yang masih duduk, sedangkan Kim Bayan dan Cui-beng Kui-ong sudah menjauhkan diri.
Melihat diri mereka dikepung, suami isteri itu bangkit berdiri.
Sikap Nyonya Liu mengagumkan karena ia berdiri dengan mata bersinar penuh keberanian.
Setelah memandang kepada Panglima Kim dan menerima isyarat dengan anggukan kepala, perwira itu berseru.
"Tangkap dua orang ini!"
Dia menudingkan telunjuknya ke arah suami isteri itu.
Seorang perajurit seolah segerombolan srigala kelaparan hendak memperebutkan domba mendengar perintah ini.
Bagaikan berlumba mereka menubruk ke arah Nyonya Liu, ingin lebih dulu dapat meringkus dan merangkul wanita yang masih tampak cantik menarik itu!
Akan tetapi, kejutan yang tidak enak didapatkan empat orang perajurit yang bergerak paling depan.
Nyonya Liu menyambut mereka dengan tamparan dan tendangan.
Mereka berteriak mengaduh dan terpelanting roboh dengan kepala pening tertampar atau dada sesak tertendang!
Melihat ini, enam orang perajurit menerjang nyonya itu, sekarang lebih berhati-hati dan mereka bukan terdorong keinginan untuk merangkul dan meringkus wanita cantik itu, melainkan merobohkan dan menangkap!
Nyonya Liu melawan dengan gerakan gesit.
"Kalian pengecut-pengecut tak tahu malu!"
Liu Bok Eng membentak marah melihat isterinya dikeroyok.
Akan tetapi sebelum dia turun tangan, belasan orang perajurit, dipimpin perwira gendut pendek itu, telah menyerangnya!
Liu Bok Eng dan isterinya mengamuk.
Tentu saja delapanbelas orang perajurit dan seorang perwira itu bukan apa-apa bagi Liu Bok Eng yang lihai bukan main.
Bahkan isterinya, yang tidak setinggi dia ilmu silatnya, juga bukan merupakan makanan lunak bagi para perajurit yang mengeroyoknya.
Akan tetapi suami isteri itu masih membatasi tenaga mereka sehingga mereka hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuhnya.
Melihat betapa suami isteri itu melakukan perlawanan, Kim Bayan menjadi marah sekali.
Dia memberi isyarat kepada Cui-beng Kui-ong dan mereka berdua maju.
Panglima Kim Bayan menghampiri Nyonya Liu sedangkan Cui-beng Kui-ong menghampiri Liu Bok Eng.
Nyonya Liu yang mengamuk telah terkena sabetan golok sehingga pangkal lengan kanannya terluka.
Karena ini gerakannya agak melemah, namun ia masih mengamuk dengan hebat bagaikan seekor harimau betina!
Tiba-tiba ada angin menyambar dahsyat dari samping.
Ia berusaha mengelak akan tetapi serangan golok yang menyambar itu dahsyat sekali karena yang menyerangnya adalah Panglima Kim Bayan sendiri!
Ujung golok Panglima Kim menyambar leher nyonya itu sehingga terluka parah.
Darah menyembur dan tubuh Nyonya Liu roboh dan ia tewas seketika!
Melihat isterinya roboh mandi darah, Liu Bok Eng mengeluarkan teriakan melengking seperti seekor singa marah.
Tubuhnya menyambar ke kanan kiri dan setiap kali kaki atau tangannya menendang dan menampar, tentu ada seorang pengeroyok yang roboh dan tewas!
Sekali ini dia tidak membatasi tenaganya.
Kemarahan dan sakit hati melihat isterinya terkapar tewas membuat pendekar ini mengamuk.
Dia berhasil merampas sebatang golok lalu menerjang dengan hebat.
Dia merasa seolah bertempur dalam sebuah peperangan!
Para pengeroyoknya adalah tentara Mongol dan dia masih menjadi seorang Panglima Kerajaan Sung!
Dalam waktu singkat, belasan orang perajurit roboh tewas.
Mayat mereka berserakan malang melintang dan ruangan itu banjir darah!
Akan tetapi, dari luar masuk lagi belasan orang perajurit bantuan dan kembali Liu Bok Eng dikepung dan dikeroyok banyak orang.
"Robohkan dia akan tetapi jangan dibunuh!"
Beberapa kali Panglima Kim Bayan berseru kepada para perajurit.
Dia ingin menawan Liu Bok Eng dan keadaan hidup untuk dipaksa mengaku dan menyerahkan peta harta karun.
Akan tetapi, perintah ini lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.
Untuk menyerang nekat dengan niat membunuh saja sudah amat sukar, apalagi menyerang dengan syarat tidak boleh membunuh!
Bekas Panglima Kerajaan Sung itu kini mengamuk hebat dan dia bahkan sudah merampas sebatang tombak dari seorang korbannya.
Dia kini memainkan tombak itu sebagai sebatang toya (tongkat) yang menjadi senjata andalannya, Liu Bok Eng adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang ahli bersilat dengan toya.
Begitu dia memegang tombak yang dimainkan sebagai toya, para perajurit yang baru masuk mengeroyok itu pun berpelantingan!
Bahkan Liu Bok Eng yang melihat isterinya terbunuh oleh Kim Bayan, berusaha terus untuk menyerang Panglima Mongol itu.
"Wuuuutt...... sing......!"
Untuk sekian kalinya, Liu Bok Eng melompat bagaikan seekor burung garuda, menyambar dan tombaknya menyerang ke arah kepala Kim Bayan.
Ketika Kim Bayan mengelak, Liu Bok Eng melanjutkan serangannya dengan tusukan tombaknya, menggunakan jurus Kim-seng-kan-goat (Bintang Emas Mengejar Bulan).
"Haiiittt...... tranggg......!"
Kim Bayan menangkis dengan goloknya sambil memutar badan karena serangan toya tadi datangnya dari belakang.
Gerakannya itu adalah jurus Sin-liong-tiauw-si (Naga Sakti Sabetkan Ekornya).
Akan tetapi Panglima Mongol itu terkejut bukan main karena telapak tangan kanannya yang memegang gagang golok terasa panas dan nyeri.
Bukan main kuatnya tenaga dalam yang dimiliki Liu Bok Eng.
Padahal, Panglima Kim Bayan adalah seorang panglima dan ahli silat yang terkenal memiliki tenaga besar.
Pada saat itu, dua orang perwira perajurit menyerang dengan golok mereka dari belakang.
Seorang ahli silat yang tingkatnya sudah setinggi tingkat Liu Bok Eng, memiliki perasaan yang amat peka dan telinga yang tajam.
Seolah memiliki mata di belakang tubuhnya, Liu Bok Eng memutar tubuh didahului toyanya.
Dua orang perajurit menjerit dan roboh dengan kepala pecah!
Robohlah duapuluh orang lebih yang tewas oleh amukan Liu Bok Eng membuat para perajurit menjadi gentar.
Mereka hanya berani mengepung dan mengancam tanpa berani menyerang terlalu dekat.
Hal ini memudahkan Liu Bok Eng untuk terus mendesak Kim Bayan dengan serangan-serangannya.
Dia kini memainkan Sin-pang-lo-hai (Toya Sakti Kacau Lautan) yang gerakannya amat hebat, bergelombang dan didahului angin pukulan yang menyambar-nyambar dahsyat.
Kim Bayan memutar goloknya melindungi diri, akan tetapi dia terus didesak mundur.
Pada saat itu, Cui-beng Kui-ong mendekati Kim Bayan.
Dia mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu membentak.
"Liu Bok Eng, isterimu telah mati! Dunia ini gelap bagimu, gelap, gelap, gelap!"
Kakek kurus bongkok itu menggerak-gerakkan tongkat hitamnya ke arah muka Liu Bok Eng.
Pendekar ini terkejut bukan main karena tiba-tiba saja cuaca menjadi gelap dan dia tidak dapat melihat apa-apa seolah ada batu hitam yang menutupi pandang matanya!
Dia menyadari bahwa ini adalah pengaruh sihir yang amat kuat, maka dia menahan napas dan mengerahkan tenaga saktinya untuk melawan dan menolak pengaruh sihir yang membuat pandangannya gelap itu.
Pada saat itu, para perajurit yang mengepungnya, mendapat isyarat dari Kim Bayan lalu menyerang Liu Bok Eng yang hanya berdiri diam seperti orang kebingungan.
Akan tetapi begitu senjata-senjata tajam itu menyerangnya, Liu Bok Eng biarpun tidak melihat, dapat mendengar dan merasakan.
Tongkat tombak di tangannya digerakkan memutar, menangkis semua senjata dan sekaligus membagi pukulan.
Empat orang perajurit roboh dan tewas seketika!
Panglima Kim menjadi marah bukan main.
Juga Cui-beng Kui-ong merasa penasaran.
Jelas bahwa sihirnya mampu mempengaruhi Liu Bok Eng sehingga pendekar itu tidak mampu melihat karena pandang matanya gelap, akan tetapi masih saja Liu Bok Eng demikian lihai sehingga merobohkan empat orang lagi!
Sedikitnya sudah ada dua losin perajurit tewas sehingga ruangan itu penuh dengan mayat dan darah berceceran ke mana-mana, keadaannya sama dengan akibat pertempuran dalam peperangan!
Berulang-ulang Panglima Kim Bayan menyerang dengan pengerahan seluruh tenaganya, menyerang dari depan, kanan kiri atau belakang.
Akan tetapi lawan yang keadaannya seperti orang buta itu selalu saja dapat menangkis sehingga senjatanya terpental!
Sementara itu, Panglima Kerajaan Sung itu mengerahkan terus tenaga saktinya untuk membuyarkan pengaruh sihir.
Kegelapan itu perlahan-lahan mulai berkurang.
Akan tetapi dalam keadaan remang-remang itu, kembali dia mendengar sambaran senjata yang digunakan Kim Bayan untuk menyerangnya.
Dia cepat menangkis dengan tombaknya.
"Tranggg......!"
Sekali ini, saking kuatnya Liu Bok Eng menangkis, golok itu terpental dan Panglima Kim Bayan terhuyung ke belakang!
Akan tetapi pada saat itu, Cui-beng Kui-ong yang berdiri di sebelah kiri Liu Bok Eng, menudingkan tongkat hitamnya dan dari ujung tongkat yang runcing itu meluncur anak panah kecil dengan cepat dan tanpa dapat dielakkan Liu Bok Eng, anak panah yang ujungnya mengandung racun itu menancap di dada kirinya!
Liu Bok Eng terhuyung dan ketika matanya kini dapat melihat, dia terhuyung ke arah mayat isterinya, lalu roboh di samping mayat isterinya dan tewas!
Melihat bekas panglima Kerajaan Sung itu tewas, Kim Bayan mengeluh.
"Ah, banyak perajurit tewas dan Liu Bok Eng suami isteri juga tewas sehingga kita tidak bisa mendapatkan peta itu! Celaka sekali!"
Cui-beng Kui-ong memberi isyarat agar muridnya itu menutup mulut. Mereka lalu memerintahkan perajurit untuk membersihkan ruangan dan mengurus semua mayat, lalu mereka bicara di dalam.
"Jangan putus asa,"
Kata Cui-beng Kui-ong.
"Sekarang kau periksa pakaian suami isteri itu, barangkali petanya mereka simpan dalam pakaian. Kalau tidak ada, cepat pergi ke rumahnya, geledah seluruh rumah, tangkapi semua pelayan dan paksa mereka untuk mengaku. Aku yakin peta itu akan dapat kau temukan!"
Panglima Kim Bayan mengangguk setuju dan cepat dia pergi lagi ke ruangan tadi di mana jenazah Liu Bok Eng dan isterinya belum mendapat giliran diangkut.
Dia sendiri menggeledah seluruh pakaian suami isteri itu, akan tetapi tidak menemukan benda yang dicarinya.
Maka dia lalu pergi seorang diri ke rumah Liu Bok Eng.
Dia tidak ingin ada perajurit yang tahu akan peta itu, maka dia pergi seorang diri.
Setelah tiba di rumah itu, dia mengumpulkan lima orang pelayan rumah tangga, membentak mereka agar mengaku di mana majikan mereka menyimpan surat-surat penting termasuk sebuah peta.
Ketika lima orang pembantu rumah tangga itu bersumpah bahwa mereka tidak tahu, Kim Bayan mengikat kaki tangan mereka agar mereka tidak mampu melepaskan diri.
Kemudian dia sendiri menggeledah seluruh isi rumah.
Penggeledahan seorang diri ini makan waktu sampai setengah hari.
Dia memeriksa dengan teliti namun tidak menemukan peta harta karun yang dicarinya.
Dia menjadi semakin penasaran dan marah sekali.
Lima orang pembantu rumah tangga itu dia suruh bawa oleh perajurit ke dalam tahanan dan rumah itu pun disita dan ditutup, dijaga perajurit.
Jaksa Ciang yang menerima perintah Kim Bayan, menyiarkan kabar bahwa Liu Bok Eng dan isterinya mengamuk sehingga terbunuh dan menyatakan bahwa suami isteri itu adalah pemberontak yang berbahaya!
Jenazah suami isteri itu dimakamkan di tanah kuburan rakyat di Luar kota Nan-king.
Para penduduk gempar mendengar berita ini.
Sebagian besar dari mereka tidak percaya akan berita bahwa Liu Bok Eng dan isterinya menjadi pemberontak dan mengamuk di rumah kejaksaan sehingga mati terbunuh.
Akan tetapi pada waktu itu, siapa orangnya berani menyangkal atau membantah?
Bahkan mereka yang mengenal baik Liu Bok Eng, harus secara diam-diam kalau hendak berkunjung dan memberi hormat ke makam suami isteri itu.
Berita tentang terbunuhnya Liu Bok Eng itu tersiar sampai ke Siauw-lim-pai dan para pimpinan Siauw-lim-pai menjadi terkejut dan juga khawatir sekali.
Mereka bersiap-siap menjaga kemungkinan diserbu pasukan pemerintah Mongol.
Gadis cantik jelita itu memasuki gapura Nan-king.
Siang hari itu amat panasnya dan begitu memasuki kota, gadis itu merasa heran melihat betapa orang-orang memandangnya dengan sinar mata aneh seperti orang merasa iba.
Bahkan ada beberapa orang wanita menahan tangis ketika melihat ia, akan tetapi tak seorang pun dari mereka bicara kepadanya.
Gadis itu adalah Liu Ceng Ceng.
Hatinya merasa tidak nyaman melihat ulah orang-orang itu.
Biasanya, ia dan ayah bundanya amat dihormati dan disukai penduduk Nan-king.
Akan tetapi mengapa sekarang tidak ada yang menyapanya, bahkan memandang iba dan seolah hendak menyingkir dan menghindari pembicaraan dengannya?
Ketika ia melewati rumah Tabib Liong, Ceng Ceng teringat bahwa Liong Sinshe adalah sahabat karib ayahnya, maka ia ingin bertanya kepadanya mengapa semua orang bersikap aneh kepadanya.
Kebetulan Tabib Liong berada di depan pintu toko obatnya.
"Paman Liong......."
Ketika Tabib Liong melihat Ceng Ceng, dia cepat memegang tangan gadis itu dan menariknya ke dalam rumah.
Setelah tiba di dalam rumah, Tabib Liong yang merupakan sahabat baik keluarga Liu dan menganggap Ceng Ceng sebagai anaknya sendiri, berkata dengan suara tersendat.
"Aduh, Ceng Ceng, ke mana sajakah engkau? Ah, atau aku harus mengatakan bahwa syukur engkau tidak berada di rumah ketika......."
"Paman Liong, tenanglah dan ceritakan, apa yang kau maksudkan? Ketika apa? Apa yang telah terjadi?"
"Ayah ibumu......"
Tabib Liong yang menduda tak mempunyai anak dan hidup seorang diri itu menangis!
Tentu saja Ceng Ceng kaget bukan main.
Akan tetapi gadis yang tabah ini dapat mengendalikan diri, tidak hanyut dalam kekhawatiran dan berkata.
"Paman Liong, harap engkau suka menenangkan hatimu. Ceritakanlah, apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibuku?"
Setelah menghela napas berulang-ulang dan dia dapat menenangkan hatinya, Liong Sinshe berkata.
"Tidak ada yang mengetahui kejadian yang sesungguhnya, aku sendiri pun tidak tahu. Kami semua hanya mendengar bahwa Ayah dan Ibumu berkunjung ke kantor kejaksaan......."
"Jaksa Ciang?"
"Benar, mereka pergi ke sana, entah ada urusan apa. Lalu kami hanya mendengar bahwa Ayah Ibumu di sana mengamuk, membunuh banyak sekali perajurit, akan tetapi mereka...... mereka...... juga tewas dalam pengeroyokan!"
Wajah Ceng Ceng berubah pucat dan ia cepat menjatuhkan diri duduk atas kursi.
Seluruh tubuhnya gemetar dan air mata menetes turun dari kedua matanya.
Akan tetapi ia tidak mengeluarkan suara tangis.
Akhirnya ia dapat bertanya dengan suara gemetar.
"Kapan terjadinya dan mengapa?"
"Baru tujuh hari terjadinya dan apa sebabnya mereka mengamuk sehingga terbunuh, tidak ada yang mengetahuinya."
"Kalau begitu, aku akan segera ke rumah kami!"
Ceng Ceng hendak keluar, akan tetapi tangannya dipegang Tabib Liong.
"Jangan! Jangan ke sana, Ceng Ceng. Rumahmu telah ditutup dan dijaga perajurit. Berbahaya sekali kalau engkau ke sana, mungkin engkau akan terbawa-bawa karena kabarnya, Ayah Ibumu dianggap sebagai pemberontak terhadap pemerintah. Engkau dapat terlibat!"
"Hemm, aku tidak takut, Paman!"
"Aku tahu engkau tidak takut, akan tetapi apa perlunya menyia-nyiakan nyawa sendiri? Pula, di bekas rumahmu itu engkau tidak akan menemukan sesuatu. Daripada ke rumahmu yang telah disita pemerintah, lebih baik engkau mengunjungi makam kedua orang tuamu di tanah kuburan umum."
Ceng Ceng memejamkan kedua matanya untuk menahan isak yang hendak mendesak keluar dari mulutnya.
Hanya air matanya saja yang bercucuran keluar karena ia teringat kembali kepada ayah ibunya yang terbunuh.
Akan tetapi, ia menyeka air matanya dan mengangguk.
"Baik, Paman, aku hendak pergi ke sana......!"
Ceng Ceng melangkah hendak keluar.
"Ceng Ceng, nanti dulu!"
Liong Sinshe menahannya.
"Tunggu sebentar, ada surat yang dulu dititipkan ayahmu kepadaku untuk diserahkan kepadamu kalau engkau pulang."
Tabib Liong memasuki kamarnya dan keluar lagi membawa sebuah amplop yang diberikannya kepada Ceng Ceng. Ceng Ceng menerima sampul surat itu dan bertanya heran.
"Paman, bagaimana Ayah dapat memberikan surat ini kepada Paman?"
"Begini, Ceng Ceng. Sebelum pergi ke kantor Jaksa Ciang, Ayahmu datang ke sini untuk menyerahkan surat ini kepadaku dan memesan agar kalau engkau pulang, aku menyerahkan surat ini kepadamu. Aku setelah mendengar akan malapetaka yang menimpa Ayah Ibumu, juga merasa heran, seolah Ayahmu sudah tahu akan ancaman bahaya itu sehingga meninggalkan surat ini kepadamu."
Ceng Ceng merasa terharu sehingga tubuhnya lemas dan kembali ia menjatuhkan diri duduk di atas kursi, memegang surat itu dan menempelkan di dadanya seolah surat itu menjadi pengganti ayah ibunya.
Setelah itu dengan kedua tangan gemetar ia membuka sampul surat dan menemukan sehelai surat dan sehelai peta di dalamnya.
Peta ia biarkan dalam sampul dan surat itu diambil lalu dibacanya.
Anak kami Ceng Ceng tersayang, Kalau engkau menerima dan membaca surat ini, besar kemungkinan ayah ibumu ditawan atau terbunuh oleh para pembesar pemerintah.
Karena kami, kalau tewas, bagaikan perajurit gugur dalam perang melawan penjajah, maka jangan engkau membalas dendam secara pribadi.
Yang penting sekarang, pergilah dan cari harta karun dalam peta ini.
Jangan sampai terjatuh ke tangan penjajah dan sumbangkan untuk keperluan para pendekar yang setia dan berniat melawan penjajah.
Jadilah orang yang benar seperti yang selalu kami dan Im Yang Yok-sian ajarkan, dan kami selalu mendoakan semoga engkau senantiasa dibimbing oleh Thian.
Ayah Ibumu, Liu Bok Eng.
Membaca surat itu, kembali air mata bercucuran dari kedua mata Ceng Ceng.
Ia menciumi surat itu lalu menyimpannya kembali dalam sampul dan memasukkan sampul ke balik bajunya.
Ia termenung, teringat akan pesan ayahnya yang terakhir.
Ayah ibunya, juga mendiang paman gurunya, selalu mengingatkan agar ia menjadi seorang manusia yang benar.
Masih terngiang di telinganya nasihat ayahnya.
"Hidup haruslah menjadi orang yang baik dan benar karena orang yang benar itu kekasih Thian (Tuhan), biarpun miskin dan bodoh, kalau benar akan merasakan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, apa artinya kaya raya dan pandai berkedudukan tinggi kalau tidak benar? Dia akan menderita kesengsaraan batin dan menjadi kekasih setan!"
Ia pernah bertanya.
"Ayah, bagaimana sih orang yang hidupnya benar dan yang tidak benar itu?"
"Orang yang hidupnya benar adalah orang yang memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Miskin dan bodoh tidak menghalangi kebahagiaan hidup orang yang benar. Sebaliknya, pintar, kaya dan berkedudukan tinggi tidak menolong kesengsaraan hidup orang yang tidak benar."
Semua peringatan dan nasihat yang pernah didengarnya dari ayah ibunya, juga dari paman gurunya Im Yang Yok-sian, terukir dalam hatinya dan menjadi pedoman hidup gadis ini.
"Baiklah, Paman Liong, aku akan mengunjungi makam kedua orang tuaku. Terima kasih atas budi kebaikanmu menyampaikan surat ayah ini kepadaku,"
Ceng Ceng menjura dengan hormat lalu meninggalkan rumah Tabib Liong.
Tidak sukar bagi Ceng Ceng untuk mencari makam Ayah Ibunya di tanah kuburan umum itu.
Ia lahir di Nan-king dan mengenal kota itu dengan baik.
Biarpun dalam tanah kuburan itu terdapat banyak makam, namun makam kedua orang tuanya masih baru.
Ia merasa terharu sekali melihat makam itu hanya merupakan dua gundukan tanah dan ada papan bertuliskan MAKAM LIU BOK ENG DAN ISTERINYA.
Mungkin orang-orang yang merasa iba kepada orang tuanya yang menuliskan dan menancapkan papan itu di depan dua gundukan tanah.
Akan tetapi rupanya tidak ada yang berani membuat bong-pai (batu nisan) untuk kuburan suami isteri itu.
Ceng Ceng yang sudah membeli hio-swa (dupa biting) dan lilin, segera melakukan upacara sembahyang di depan makam kedua orang tuanya.
Ia tidak dapat menahan kesedihannya dan di tempat sunyi itu ia menangis terisak-isak.
"Ayah dan lbu, mengingat nasihat Ayah Ibu, aku tidak akan menuntut balas dendam agar terputus karma buruk, akan tetapi api penasaran ini tidak pernah akan padam di hatiku kalau aku belum mendapat penjelasan mengapa Ayah Ibu dibunuh......"
Ratapnya sambil bersembahyang.
Ia sedang menderita tekanan batin sehingga kurang waspada dan tidak tahu bahwa pada saat itu, belasan pasang mata sedang mengintainya.
Termasuk sepasang mata bening yang mengintai dari tempat terpisah.
Ceng Ceng duduk termenung depan makam, menunggu sampai api yang membara di ujung hio-swa membakar habis dupa lidi itu.
Barulah ia berlutut lagi depan makam mohon diri pamit kepada ayah ibunya.
Akan tetapi begitu ia bangkit berdiri, terdengar gerakan banyak orang.
Ia cepat memutar tubuhnya dan melihat sedikitnya enambelas orang perajurit mengepungnya, dipimpin seorang berpakaian panglima gemerlapan, gagah perkasa dengan tubuhnya yang tinggi besar.
Melihat para pengepung itu bersikap galak, Ceng Ceng tetap tenang saja dan ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hatinya agak tegang menduga bahwa mereka itu tentu ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuanya.
Ia memandang panglima tinggi besar itu dengan sinar mata tajam menyelidik.
"Nona, engkaukah puteri Liu Bok Eng yang bernama Liu Ceng Ceng?"
Tanya panglima itu yang bukan lain adalah Panglima Kim Bayan dengan suara keren.
Memang dia yang memerintahkan agar selalu ada perajurit yang diam-diam mengawasi kuburan itu dan melaporkan kepadanya kalau puteri pendekar datang bersembahyang di situ.
Tadi, begitu memasuki tanah kuburan, Ceng Ceng sudah tampak dan para pengamat itu segera memberitahu Kim Bayan yang cepat datang membawa enambelas orang perajurit.
Dia merasa girang sekali karena dia yakin bahwa peta harta karun yang dicarinya itu pasti oleh mendiang Liu Bok Eng diberikan kepada puterinya ini.
Mendengar pertanyaan itu, Ceng Ceng menjawab tenang.
"Benar, aku adalah Liu Ceng Ceng, puteri mendiang ayah bundaku yang dibunuh tanpa alasan. Maka, kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian karena aku yakin kalian pasti mengetahui siapa pembunuh ayah bundaku."
"Ha-ha-ha,"
Panglima Kim Bayan tertawa dan memandang remeh gadis yang tampaknya lembut itu.
"Benar, kami tidak menyangkal bahwa kami yang membunuh Liu Bok Eng dan isterinya."
Kim Bayan sudah siap menghadapi kalau gadis itu menjadi marah dan hendak membalas dendam kematian orang tuanya.
Dia tidak akan membunuh gadis ini, melainkan akan menangkapnya.
Sayang gadis secantik dewi itu dibunuh, pula, dia yakin gadis ini yang membawa peta harta karun.
Akan tetapi dia merasa heran melihat gadis itu sama sekali tidak tampak marah dan tidak ada tanda-tanda akan menyerangnya walaupun mendengar pengakuannya yang jujur.
"Hemm, kalau engkau yang membunuh Ayah Ibuku, Ciang-kun, aku ingin tahu, siapakah engkau dan apa alasanmu membunuh Ayah Ibuku?"
Kim Bayan tersenyum, senang melihat sikap yang demikian tenang dari gadis cantik itu, yang sama sekali tidak kelihatan marah.
"Aku adalah Panglima Kim Bayan yang mengepalai seluruh pasukan di daerah selatan ini. Alasanku membunuh Liu Bok Eng dan isterinya adalah jelas dan harap engkau tidak merasa penasaran. Pertama, Liu Bok Eng adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai dan juga seorang bekas panglima perang Kerajaan Sung yang telah jatuh. Dua hal itu saja sudah cukup untuk menangkap Liu Bok Eng. Kami masih dapat memaafkannya kalau dia mau bekerja sama membantu pemerintah kami. Akan tetapi ketika dia dan isterinya kami panggil ke kantor kejaksaan, dia bukan saja menolak, bahkan bersama isterinya mengamuk dan membunuh duapuluh orang lebih perajurit kami. Terpaksa kami membunuh mereka. Nona, apakah engkau mendendam kepadaku dan hendak menuntut balas?"
Ceng Ceng menggeleng kepala.
"Tidak, biarlah karma buruk yang akan menimpa dirimu kelak sebagai balasan kejahatanmu, datang melalui orang lain. Sekarang biarkan aku pergi, harap jangan mengepung aku."
"Eeiit, nanti dulu, Nona Liu Ceng Ceng,"
Kim Bayan lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur menjauhinya. Setelah para perajurit menjauh, Panglima Kim Bayan berkata lirih.
"Nona Liu Ceng Ceng, sebetulnya menurut hukumnya, kami harus menangkap engkau juga sebagai puteri orang yang dituduh pemberontak. Akan tetapi aku tidak tega untuk mengganggu seorang gadis muda seperti engkau yang ternyata amat bijaksana dan tidak mendendam karena kematian orang tuamu. Karena itu, kami memaafkanmu dengan satu syarat ringan saja."
"Hemm, syarat apa?"
"Ringan saja, engkau tentu menyimpan peta harta karun yang dulu disembunyikan Ayahmu."
Ceng Ceng mengerutkan alisnya.
Ayahnya telah menyerahkan peta itu kepadanya dengan pesan agar peta itu tidak terjatuh ke tangan pemerintah Mongol, dan ia harus mencari harta karun itu untuk disumbangkan kepada para patriot bangsa yang berjuang untuk menentang penjajah Mongol.
Kewajibannya adalah menjaga peta itu dan mempertahankannya dengan taruhan nyawa!
"Peta harta karun milik siapakah itu yang engkau maksudkan?"
"Peta harta karun peninggalan Thaikam Bong dari Kerajaan Sung. Ayahmu meninggalkannya kepadamu, bukan? Nah, serahkan peta itu kepadaku dan engkau akan bebas."
"Kalau harta karun itu peninggalan Kerajaan Sung, mengapa engkau memintanya? Engkau tidak berhak!"
"Hemm, Nona yang baik, sebagai puteri bekas panglima engkau tentu pernah mendengar aturan ini, yaitu semua milik kerajaan yang kalah perang menjadi hak milik kerajaan yang memenangkan perang itu. Nah, Kerajaan Sung kalah dan sudah jatuh oleh Kerajaan Goan yang menang, maka semua harta peninggalannya, termasuk harta karun itu, menjadi hak milik Kerajaan Goan (Mongol). Sebagai panglima besar Mongol aku berhak memiliki peta itu. Hayo cepat serahkan peta itu kepadaku kalau engkau ingin terbebas dari tuntutan dan hukuman."
"Ciang-kun, pada saat ini, peta tidak berada di tanganku,"
Kata Ceng Ceng tegas.
Sejak kecil ia mendapat pendidikan ayah ibunya, di antaranya agar ia tidak bicara bohong.
Kini ia bicara dengan suara tegas karena ia sama sekali tidak berbohong.
Peta itu memang ada padanya, akan tetapi saat itu memang tidak berada di tangannya!
Panglima Kim Bayan menatap wajah gadis itu penuh perhatian.
Melihat sikap gadis itu yang demikian tenang dan ketika bicara suaranya juga tegas, dia percaya dan menduga bahwa tentu gadis itu sebelumnya telah menyembunyikan peta itu di suatu tempat.
Gadis setenang ini pasti memiliki hati yang teguh.
Kalau dia memaksanya, sedikit sekali kemungkinannya ia akan mengaku di mana peta itu atau menyerahkannya kepadanya.
Tiba-tiba timbul gagasan yang dianggapnya amat baik dan menguntungkan.
Memaksa dan membunuh gadis ini sekalipun tidak ada untungnya.
Lebih baik dia membujuknya agar Ceng Ceng mau menjadi selirnya.
Kim Bayan bukan seorang yang mata keranjang, akan tetapi kalau dia dapat mengambil Ceng Ceng menjadi selir, ada dua keuntungan baginya.
Pertama, gadis ini memang cantik jelita dan tentu akan menyenangkan kalau dapat menjadi selirnya, kedua, kalau gadis ini sudah menjadi isterinya, tentu peta harta karun itu akan diberikan kepadanya!
"Nona Liu Ceng Ceng, sebetulnya menurut peraturan pemerintah, sebagai puteri pemberontak, aku harus menangkap atau bahkan membunuhmu.
Akan tetapi aku merasa kasihan kepadamu melihat engkau hidup sebatang kara.
Maka, marilah engkau ikut aku dan tinggal di rumahku sebagai isteriku.
Engkau akan hidup bahagia, aman dan dihormati."
Ceng Ceng mengerutkan keningnya.
"Tidak, Kim-ciangkun, aku tidak mau menjadi isterimu. Sudahlah, tidak ada perlunya kita bicara lagi. Aku pergi!"
"Hemm, Liu Ceng Ceng, engkau tidak tahu diri, tidak mengenal budi kebaikan orang. Engkau menolak untuk menjadi keluargaku, berarti engkau menentangku! Dan menentang aku sama dengan memberontak!"
Kim Bayan lalu memberi isyarat kepada pasukannya dan mereka segera berlarian datang mengepung Ceng Ceng.
"Tangkap gadis ini, jangan dibunuh!"
Perintahnya.
Para perajurit segera berebutan hendak meringkus gadis cantik itu.
Akan tetapi begitu gadis itu bergerak, mereka semua terkejut karena gadis itu lenyap dan yang tampak hanya bayangan putih berkelebatan cepat bukan main.
Semua terkaman mereka luput, bahkan begitu Ceng Ceng menggerakkan kaki tangannya, beberapa orang perajurit terpelanting roboh.
Melihat ini, Panglima Kim Bayan terkejut juga.
Tak disangkanya gadis yang tampaknya demikian lemah lembut itu dapat bergerak sedemikian cepatnya.
Tahulah dia bahwa gadis itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi.
Dia sendiri lalu terjun dan menggerakkan tangan yang membentuk cakar untuk mencengkeram pundak Ceng Ceng, sambil membentak nyaring.
Panglima ini selain lihai ilmu silatnya, juga pandai ilmu gulat.
Kalau cengkeramannya itu mengenai pundak Ceng Ceng, jangan harap gadis itu akan mampu lolos.
"Haaiiiihhh......!"
Ceng Ceng berseru dan tubuhnya berkelebat ke depan mengelak sambil merobohkan dua orang perajurit di depannya, lalu cepat memutar tubuh menghadapi Kim Bayan yang tadi menyerang dari belakang namun luput.
Panglima Kim yang penasaran kini menubruk gadis itu bagaikan seekor biruang menubruk kambing.
Dengan tubuh lentur sekali dan gerakan luar biasa cepatnya, Ceng Ceng mengelak ke kiri dan kaki kanannya mencuat, menendang ke arah perut Panglima Kim!
Panglima itu terkejut, tidak menyangka bahwa serangannya yang dahsyat tadi pun bukan saja dapat dielakkan, melainkan gadis itu bahkan menyambut dengan tendangan yang cukup kuat!
"Plakk!"
Tangannya menangkis sambil berusaha untuk menangkap pergelangan kaki gadis itu.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu mencelat ke atas dan dengan tubuh diputar kakinya yang kiri menyambar ke arah kepala Kim Bayan.
Panglima itu berseru kaget karena hampir saja mukanya kena disambar kaki Ceng Ceng.
Dia membuang diri ke belakang dan terhindar dari tendangan yang dilakukan dengan tubuh di udara dan tubuh berputar itu, akan tetapi dia terhuyung ke belakang.
Wajah panglima itu menjadi merah karena malu dan marah.
"Pergunakan senjata! Kalau perlu kita lukai gadis ini akan tetapi jangan dibunuh!"
Teriaknya kepada para perajurit.
Kini hasrat untuk mempersunting gadis itu lenyap dari pikiran Panglima Kim.
Yang ada hanya keinginan mendapatkan peta dan kalau dia sudah berhasil meringkus Ceng Ceng, terluka atau tidak, dia akan menggunakan paksaan, kalau perlu dengan penyiksaan!
Karena sudah merasa jerih terhadap gadis itu, para perajurit begitu mendengar perintah komandan mereka, segera mencabut golok dan mengepung Ceng Ceng dengan wajah buas.
Ceng Ceng maklum akan bahaya yang mengancam.
Untuk melarikan diri, tidak ada kesempatan karena selain banyak perajurit mengepungnya, juga Panglima Kim yang lihai itu sudah mencabut goloknya yang besar dan berat.
Cepat ia melompat dan menyambar sebatang kayu ranting sebesar lengannya dan menggunakan ranting itu sebagai senjata untuk membela diri.
Kini para perajurit mulai menyerang dengan golok mereka.
Ceng Ceng menyambut dengan ranting di tangannya.
Gadis itu berkelebatan dan selain menangkis dan mengelak dari hujan senjata lawan, ia pun membalas dan setiap kali rantingnya berkelebat, tentu ada seorang pengeroyok terpelanting jatuh.
Akan tetapi ia tidak mau membunuh dan yang dirobohkan itu hanya menderita luka yang tidak berbahaya.
Melihat ketangguhan Ceng Ceng, Kim Bayan ikut pula menyerang dan gerakan golok panglima itu dahsyat sekali sehingga Ceng Ceng harus mengeluarkan semua kecepatan dan kepandaiannya untuk melindungi dirinya.
Andaikata tidak dikeroyok, kiranya Ceng Cerg mampu mengimbangi Panglima Kim Bayan.
Akan tetapi karena dikeroyok banyak perajurit, ia pun mulai kerepotan.
Andaikata para pengeroyok itu bermaksud membunuhnya, kiranya Ceng Ceng tidak akan dapat bertahan lama.
Akan tetapi para perajurit itu, juga Panglima Kim Bayan sendiri, menjaga serangan mereka agar jangan sampai membunuh gadis itu dan inilah yang memungkinkan Ceng Ceng untuk dapat bertahan.
Namun gadis ini maklum bahwa tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri dan kalau pertempuran itu dilanjutkan, akhirnya ia akan terluka dan tertawan juga.
Pada saat yang gawat bagi Ceng Ceng yang sudah terdesak itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Tak tahu malu! Laki-laki pengecut mengandalkan jumlah banyak mengeroyok seorang gadis!"
Tampak bayangan berkelebat dan seorang pemuda yang tampan sekali telah menerjang memasuki kepungan.
Hebat sekali gerakan pemuda itu.
Dia memegang sebatang pedang dan ketika dia bergerak, sinar hijau menyambar-nyambar dan sebentar saja empat orang perajurit pengeroyok sudah roboh dan tewas!
Pemuda berpedang hijau itu segera menyerang Panglima Kim Bayan dan gerakan pedangnya mendatangkan angin yang kuat.
Kim Bayan terkejut bukan main.
Dia mengerahkan tenaga dan menggunakan goloknya untuk menangkis pedang sinar hijau itu.
"Tranggg......!"
Bunga api berpijar dan berhamburan ketika dua senjata itu bertemu dan Kim Bayan merasa betapa tangannya yang memegang gagang golok tergetar hebat!
Dia terkejut bukan main karena maklum bahwa tingkat kepandaian pemuda yang baru datang ini tidak kalah lihainya dibandingkan tingkat kepandaian Ceng Ceng!
Dia memutar goloknya dan berseru memberi aba-aba.
"Bunuh pemuda ini!"
Setelah memberi aba-aba, Panglima Kim kembali menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Dia membacokkan goloknya sambung-menyambung dan bertubi-tubi, akan tetapi pemuda itu selalu dapat menangkis dengan pedangnya yang bersinar hijau.
Sementara itu, Ceng Ceng yang kini hanya menghadapi pengeroyokan para perajurit, dapat membela diri dengan baik, bahkan merobohkan beberapa orang dengan totokan rantingnya.
Setelah menangkis serangan golok Panglima Kim beberapa kali, pemuda itu membalas dengan serangan yang dahsyat.
Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar hijau menerjang bagaikan gelombang ke arah Panglima Kim.
Panglima Mongol ini memutar golok menangkis dan berseru minta bantuan anak buahnya.
Empat orang perajurit menyerang pemuda itu dari belakang membantu komandan mereka.
Akan tetapi pemuda itu mengeluarkan teriakan melengking, pedangnya menyambar-nyambar dan empat orang perajurit itu roboh mandi darah dan tewas seketika!
Melihat ini, Panglima Kim Bayan terbelalak dan merasa gentar juga.
Biarpun dia mampu menandingi pemuda itu, namun dia pasti berada dalam bahaya karena pemuda itu sungguh tangguh dan gerakan pedangnya selain dahsyat juga liar dan aneh.
Dia berseru lagi dan lebih banyak perajurit mengeroyok pemuda itu.
Ternyata pasukan pembantu datang ke tanah kuburan itu dan jumlah mereka semua tidak kurang dari limapuluh orang!
Pemuda mengamuk sambil mencari Panglima Kim Bayan, akan tetapi panglima itu telah lenyap karena melihat kehebatan pemuda itu dan ketangguhan Ceng Ceng, diam-diam dia telah melarikan diri!
Ceng Ceng yang dikeroyok banyak perajurit, seperti biasa ia tidak mau membunuh, hanya merobohkan mereka dengan totokan ranting, tamparan tangan kiri atau tendangan kakinya.
Ketika ia melihat betapa pemuda yang menolongnya itu mengamuk bagaikan seekor naga, membunuh banyak perajurit, ia merasa ngeri.
Dengan gin-kangnya yang tinggi ia meloncat dan keluar dari kepungan, mendekati pemuda yang sedang mengamuk lalu berkata.
"Sobat, tidak perlu membunuh banyak orang. Mari kita pergi sebelum lebih banyak perajurit datang!"
Pemuda itu agaknya maklum bahwa kalau makin banyak perajurit datang, ratusan orang mungkin ribuan, dia sendiri tentu akan celaka.
Tidak mungkin mereka berdua melawan ribuan orang perajurit yang mengeroyok.
"Baik, kita pergi!"
Katanya dan dia lalu mengamuk untuk membuka jalan.
Terjangannya demikian hebat sehingga para perajurit mundur ketakutan karena siapa yang berani maju tentu roboh.
Pemuda itu melihat bayangan Ceng Ceng berkelebat ringan dan cepat bukan main.
Dia kagum dan melompat lalu mengejar.
Ceng Ceng sudah berlari meninggalkan tanah kuburan dengan cepat sekali.
Pemuda itu mengejar dan mengerahkan gin-kangnya untuk menyusul.
Akan tetapi alangkah heran dan kagumnya ketika melihat kenyataan bahwa biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tetap saja gadis berpakaian putih itu selalu berada di depannya dalam jarak sekitar lima tombak dan tak pernah lebih dekat!
Tahulah dia bahwa dalam hal gin-kang gadis itu benar-benar istimewa dan dia tidak mampu menandinginya!
Setelah mereka tiba jauh dari kota Nan-king, barulah Ceng Ceng berhenti dalam sebuah hutan.
Ia berhenti dan membalikkan tubuhnya, tersenyum menyambut pemuda penolongnya.
Pemuda itu pun berhenti di depan Ceng Ceng.
Sejenak mereka saling berpandangan dan Ceng Ceng tersenyum manis.
Lalu ia merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.
Setelah mengamati wajah dan gerak-gerik pemuda tampan itu, tahulah Ceng Ceng bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang menyamar pria.
Akan tetapi ia tidak mau membuka rahasia orang.
Biarlah gadis itu sendiri yang mengaku.
Siapa tahu gadis itu memiliki rahasia pribadi mengapa ia menyamar sebagai seorang pemuda.
"Sobat, banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi. Kalau engkau tidak keburu datang membantu, agaknya mustahil bagiku untuk dapat meloloskan diri dari pengepungan mereka."
Dugaan Ceng Ceng memang tepat.
Pemuda itu adalah seorang gadis yang menyamar.
Ia adalah Tan Li Hong yang kita ketahui telah meninggalkan Coa-to (Pulau Ular) untuk pergi merantau untuk menentang Kim Bayan yang telah menangkap ayah ibunya dan yang agaknya memusuhi partai-partai persilatan besar yang dianggap sebagai kekuatan yang menentang pemerintah Kerajaan Mongol.
Juga ia ingin membalaskan sakit hati ayah bundanya yang hampir tewas ketika berada dalam tahanan karena disiksa.
Tadinya secara kebetulan ia melihat gadis yang dikepung pasukan di tanah kuburan itu dan ia mengintai, mendengarkan percakapan mereka.
Ia sudah marah sekali ketika mengetahui bahwa Panglima Mongol itu adalah Kim Bayan, orang yang menyiksa ayah ibunya, yang ia anggap sebagai musuh besarnya.
Akan tetapi ia merasa kecewa sekali mendengar betapa gadis itu, yang orang tuanya dibunuh Kim Bayan, tidak ingin membalas dendam.
Walaupun akhirnya ia membantu setelah melihat Ceng Ceng terdesak dalam kepungan, namun ia pun merasa tidak senang melihat sikap Ceng Ceng yang dianggapnya lemah.
Tadi ketika mengintai, ia tidak mendengar jelas siapa gadis yang dikepung pasukan Mongol itu.
Ia merasa semakin penasaran ketika melihat bahwa gadis itu cukup lihai dan melihat pula betapa gadis itu tidak mau membunuh para pengeroyoknya, hanya merobohkan mereka tanpa membunuh atau melukai berat, seperti yang ia lakukan.
Kini, setelah berhadapan, ia tidak tahan untuk tidak melampiaskan rasa penasarannya.
"Huh, tidak perlu merendahkan diri. Kulihat engkau memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, bahkan gin-kangmu hebat. Sayang seorang gadis selihai engkau ternyata hanya seorang pengecut dan seorang anak put-hauw (tidak berbakti)!"
Li Hong berkata demikian sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Ceng Ceng dan matanya yang jernih itu mengeluarkan sinar mencorong marah.
Ceng Ceng memandang heran, namun tetap tersenyum.
Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang cantik, memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi berwatak liar dan ganas.
Tadipun gadis itu mengamuk dan membunuh banyak perajurit, padahal gadis ini tidak mempunyai urusan pribadi dengan pasukan Mongol dan ia hanya datang membantu atau menolongnya.
Kini gadis itu memakinya dengan marah, membuat ia merasa heran akan tetapi juga merasa geli, seperti melihat seorang anak kecil yang ngambek!
"Kalau boleh aku bertanya, mengapa engkau menganggap aku pengecut dan tidak berbakti kepada orang tuaku?"
"Sudah jelas masih bertanya lagi! Panglima Kim Bayan itu telah membunuh ayah ibumu. patutnya engkau membalas dendam dan membunuhnya, apalagi engkau tentu tahu bahwa dia itu seorang panglima yang jahat dan kejam. Akan tetapi engkau tidak mau membalas dendam seperti yang kudengar dari percakapanmu dengan dia tadi. Bukankah itu berarti engkau takut dan pengecut, dan juga tidak berbakti kepada orang tuamu? Apalagi aku melihat engkau tidak mau membunuh seorang pun perajurit yang mengeroyokmu. Huh, sebal aku melihatmu!"
Ceng Ceng tetap tersenyum.
"Terserah engkau mau anggap aku bagaimana. Akan tetapi ketahuilah bahwa kalau aku tidak mau membalas dendam kematian orang tuaku, hal itu justeru karena aku menaati nasihat orang tuaku. Dan aku memang tidak mau membunuh orang karena pekerjaanku bukan untuk membunuh orang melainkan untuk menyembuhkan orang."
Li Hong mengerutkan alisnya.
Ucapan Ceng Ceng bahwa gadis itu pekerjaannya menyembuhkan orang, membuat ia teringat akan cerita yang didengar dari gurunya, yaitu Ban-tok Niocu.
Ia mengamati lagi gadis itu dan melihat pakaian Ceng Ceng yang serba putih, ia makin curiga bahwa mungkin gadis ini yang diceritakan oleh Ban-tok Niocu.
"Hemm, siapakah namamu?"
"Namaku Liu Ceng Ceng."
Li Hong membelalakkan matanya.
Biarpun tadi ia sudah menduga, kini ia terkejut juga mendengar pengakuan gadis itu.
Satu di antara niatnya mengembara adalah untuk mencari gadis yang bernama Liu Ceng Ceng!
"Ah, jadi dugaanku benar, engkau gadis yang pandai mengobati itu?
Engkau yang telah menyembuhkan dan melenyapkan cacat di wajah Ban-tok Kui-bo?"
Ceng Ceng tersenyum.
"Sekarang ia tidak mau lagi disebut Kui-bo (Biang Iblis). Julukannya menjadi Ban-tok Niocu. Dan engkau, kalau aku tidak salah duga, pasti muridnya, gadis yang telah melukai Goat-liang Sanjin dan membunuh Susiok Im Yang Yok-sian. Benarkah dugaanku?"
Li Hong terkejut.
"Engkau....... tahu bahwa aku seorang wanita?"
"Tentu saja. Engkau lupa bahwa aku seorang murid tabib pandai yang tentu mengenal baik ciri-ciri seorang wanita walaupun engkau menutupinya dengan pakaian laki-laki."
"Ceng Ceng...... kebetulan sekali, aku memang hendak mencarimu!"
Katanya.
"Mencari aku? Apakah hendak kau lukai atau kau bunuh seperti Susiok?"
Li Hong memandang dengan muka berubah merah.
"Ceng Ceng, jangan menyindir! Aku merasa menyesal sekali telah menyerang dan melukai ketua Hoa-san-pai dan terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian. Aku melakukannya karena aku menaati perintah guruku yang mengharuskan aku membunuh Goat-liang Sanjin dan aku hanya berhasil melukainya. Akan tetapi ketika aku mendengar bahwa mereka hendak minta tolong Im Yang Yok-sian untuk mengobatinya, aku khawatir kalau ketua Hoa-san-pai dapat disembuhkan. Berarti tugasku itu gagal. Maka terpaksa aku bunuh Im Yang Yok-sian untuk menghalanginya menyembuhkan Goat-liang Sanjin."
"Aku sudah mendengar semua itu dari gurumu, hanya yang belum kuketahui adalah namamu karena belum disebut oleh Ban-tok Niocu."
"Ceng Ceng, namaku adalah Tan Li Hong dan aku mencarimu untuk menyatakan penyesalanku telah membunuh paman gurumu Im Yang Yok-sian dan minta maaf. Aku juga hendak menghadap ketua Hoa-san-pai untuk menyatakan permintaan maaf."
"Li Hong, engkau tidak perlu minta maaf kepadaku atau kepada orang lain. Engkau hanya dapat minta ampun kepada Thian (Tuhan) dengan bukti perbuatan, yaitu engkau bertaubat dan tidak mengulangi lagi perbuatanmu yang lalu, yang engkau anggap keliru dan engkau sesali itu. Minta ampun kepada Tuhan hanya dengan kata-kata dalam doa saja tidak ada gunanya apabila tidak dibuktikan dengan pertaubatan yang sungguh, yaitu tidak mengulang lagi kesalahan yang lalu."
"Ceng Ceng, guruku telah menceritakan tentang dirimu sebagai seorang gadis muda yarg bijaksana. Bicaramu seperti pendeta saja! Berapa sih usiamu?"
Li Hong bertanya setelah tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ceng Ceng. Ceng Ceng tersenyum manis dan menatap wajah Li Hong dengan muka berseri.
"Kukira tidak berselisih jauh dengan usiamu, Li Hong. Aku berusia sembilanbelas tahun."
"Aih, sebaya dengan aku! Akan tetapi engkau amat baik, biasa menolong dan menyembuhkan orang sakit, sedangkan aku, aku biasa membunuh orang yang kuanggap bersalah!"
"Tidak begitu, Li Hong. Segala sesuatu di dunia ini wajar-wajar saja. Baru muncul istilah baik buruk apabila orang memandangnya dengan penilaian, lalu muncul pendapat baik atau buruk itu."
"Apa maksudmu, Ceng Ceng? Bukankah yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat? Aku tidak mengerti maksudmu ketika engkau mengatakan bahwa segala sesuatu itu wajar, tidak baik dan tidak buruk. Cobalah beri contoh."
"Misalnya turun hujan, bagaimana pendapatmu. Baik atau burukkah itu?"
Li Hong berpikir sejenak.
"Hemm, bagiku tidak baik tidak buruk."
"Itulah, karena engkau tidak merasakan, karena saat ini tidak ada air hujan menimpa dirimu. Akan tetapi begitu air hujan menimpa diri orang, lalu orang menilainya. Kalau dia merasa diuntungkan oleh hujan, maka dia mengatakan hujan itu baik. Sebaliknya kalau dia merasa dirugikan oleh hujan, dia tentu akan mengatakan bahwa hujan itu buruk! Padahal, seperti kaukatakan tadi, hujan ya hujan, wajar saja, tidak baik tidak buruk. Baik buruk itu merupakan suatu pendapat hasil penilaian, dan penilaian ini sudah pasti bersumber dari ke-akuan, kalau aku disenangkan baik, kalau aku disusahkan buruk."
"Hemm, habis bagaimana kita harus menghadapi suatu perkara yang menimpa kita? Misalnya datang hujan?"
"Tidak perlu menilai, kita menghadapi sebagai suatu kewajaran dan ini mendatangkan kebijaksanaan dalam hati akal pikiran kita untuk bertindak, berbuat dan berikhtiar bagaimana memanfaatkan air hujan itu."
"Akan tetapi bagaimana kalau mengenai diri seorang manusia? Tentu ada manusia jahat dan manusia baik, bukan?"
Li Hong mengejar karena ia belum mengerti benar.
"Sama saja, Li Hong. Baik buruknya seorang manusia pun ditentukan oleh penilaian yang bersumber dari ke-akuan. Contohnya begini. Andaikata seluruh manusia di dunia ini berpendapat bahwa aku ini orang yang paling baik di dunia, akan tetapi aku memusuhimu, memusuhi keluargamu, merugikanmu, apakah engkau dapat mengatakan bahwa aku ini baik seperti pendapat semua manusia lain?"
Li Hong menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin aku berpendapat bahwa engkau baik kalau engkau memusuhi aku, Ceng Ceng."
"Sekarang sebaliknya. Andaikata, manusia berpendapat bahwa aku ini orang yang paling jahat di dunia, akan tetapi aku bersikap baik kepadamu dan keluargamu, menguntungkanmu, mengasihimu, apakah engkau dapat mengatakan bahwa aku ini orang jahat seperti pendapat semua orang itu?"
"Hemm, tentu engkau kuanggap baik, Ceng Ceng."
"Nah, jelaslah bahwa pendapat berdasarkan penilaian itu tidak mutlak benar. Apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain, apa yang jahat bagi kita pun belum tentu jahat bagi orang lain. Karena sumber penilaian datang dari aku, maka penilaian yang menjadi pendapat itu selalu berubah. Yang hari ini dianggap jahat karena merugikan besok mungkin dianggap baik karena menguntungkan dan sebaliknya."
"Hemm, membingungkan. Aku tadi mendengar bahwa orang tuamu dibunuh oleh Panglima Kim Bayan yang jahat. Mengapa engkau tidak membalas dendam? Apakah sikap itu baik?"
"Wajar saja, Li Hong. Kim Bayan menanam pohon kejahatan, pasti dia akan makan buah pohon itu, pasti perbuatannya akan dihukum, dan biarlah hukuman itu jatuh kepadanya bukan melalui perbuatanku."
"Huh, apakah bukan karena takut?"
"Sama sekali tidak. Kalau aku sekarang mendendam dan membalas kematian ayah ibuku dan aku membunuh Kim Bayan, apakah engkau mengira hal itu selesai? Sama sekali tidak, bahkan rantai Karma itu akan makin panjang. Kim Bayan membunuh ayah ibuku pasti merupakan akibat dari suatu sebab. Kalau aku misalnya dapat membunuh Kim Bayan, pasti akan ada keluarganya yang mendendam kepadaku dan berusaha membunuhku. Kalau dilanjutkan, dendam mendendam ini tidak akan ada habisnya, mengikat keturunan atau keluarga kita. Aku tidak mau terikat dendam bunuh membunuh seperti itu karena hal itu merupakan suatu kebodohan. Aku percaya dan yakin bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Adil, pasti akan memberi ganjaran setimpal kepada manusia sesuai dengan perbuatan kita."
"Ih, Ceng Ceng, mengapa engkau tidak menjadi pendeta wanita saja?"
Kata Li Hong cemberut. Dengan ramah Ceng Ceng tersenyum.
"Li Hong, untuk menyadari tentang hakikat hidup orang tidak perlu menjadi pendeta!"
"Ah, sudahlah, Ceng Ceng! Aku tetap akan mencari dan membunuh jahanam Kim Bayan itu, bukan hanya untuk membalas kekejamannya terhadap ayah ibuku, juga untuk membalas kematian orang tuamu dan mencegah dia berbuat jahat lebih lanjut. Nah, selamat tinggal, Ceng Ceng."
"Selamat berpisah, Li Hong."
Li Hong berlari cepat meninggalkan Ceng Ceng yang mengikutinya dengan pandang mata, lalu ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Gadis yang lihai, liar dan galak, akan tetapi ia dapat merasakan bahwa di balik kekasaran dan keganasannya itu tersimpan hati yang baik dan yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.
Tidak mengherankan kalau Li Hong memiliki watak keras, galak dan ganas karena ia adalah murid Ban-tok Niocu yang dulu berjuluk Ban-tok Kui-bo!
Ia pun lalu meninggalkan hutan itu.
Ketika ia teringat akan ayah ibunya, wajahnya yang cantik dan lembut itu menjadi sayu dan sepasang matanya kembali basah air mata.
Bagaimanapun juga, Ceng Ceng adalah seorang manusia biasa, seorang wanita pula yang berperasaan amat peka.
Kini ia merasa betapa hidupnya sebatang kara, tiada sanak keluarga, yatim piatu dan rumah pun tidak punya karena rumah orang tuanya telah disita pemerintah Kerajaan Goan.
Ia teringat akan surat ayahnya.
Diambilnya surat itu dan diperiksanya selembar peta.
Setelah mempelajari sejenak peta berupa gambar itu, ia mengambil kesimpulan bahwa tempat disembunyikannya harta karun itu tidak jauh dari kota raja Peking.
Gambar Naga dan Burung Hong yang berada di tengah merupakan simbol dari kaisar, maka pasti yang dimaksudkan gambar itu adalah kota raja!
Agaknya tempat harta karun itu berada di sebelah selatan Peking, menurut petunjuk peta itu belasan mil di sebelah selatan kota raja.
Maka ia pun melanjutkan perjalanannya dengan santai menuju Peking.
Pouw Cun Giok memasuki kota Cin-yang.
Semenjak berpisah dari Ceng Ceng setelah bersama gadis itu berkunjung ke Pulau Ular di mana Ceng Ceng menyembuhkan bekas luka codet di wajah Ban-tok Niocu sehingga ia memperoleh obat penawar luka beracun yang diderita Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai, kemudian Ceng Ceng mengobati ketua Hoa-san-pai, pemuda itu merantau.
Dia pergi ke mana saja hati dan kakinya membawanya, tanpa tujuan tertentu.
Akan tetapi di sepanjang jalan, baik di desa maupun di kota, Cun Giok selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.
Pemuda ini memang seorang pendekar yang amat lihai.
Terutama sekali ginkangnya yang luar biasa sehingga kalau dia sudah bergerak ketika menghadapi pertempuran, tubuhnya berkekebatan sukar diikuti pandang mata seolah dia pandai menghilang saja.
Akan tetapi, Pouw Cun Giok bukan seorang yang kejam.
Dia selalu menghadapi orang jahat dengan niat menghajarnya sampai orang itu jera dan mau bertaubat.
Bahkan seringkali dia memberi uang kepada mereka yang mencuri dan melakukan kejahatan karena keadaannya yang amat miskin.
Akan tetapi terhadap mereka yang suka menindas rakyat, yang mengandalkan kekuatan maupun kedudukan atau harta benda, dia memberi hajaran keras walaupun jarang sekali dia mau membunuh.
Semua perbuatan gagah perkasa ini membuat nama julukannya sebagai Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan) menjadi semakin terkenal.
Banyak gerombolan penjahat dapat dia tundukkan tanpa menggunakan kekerasan.
Baru mendengar nama julukannya saja, banyak penjahat yang menaluk.
Ketika tiba di kota Cin-yang, Cun Giok kehabisan uang.
Seperti biasa, walau dia membutuhkan uang untuk bekal biaya perjalanannya, dia lalu mencari hartawan pelit atau pembesar yang korup untuk mencuri sebagian hartanya.
Kalau dia mendapatkan lebih banyak daripada yang dia butuhkan, dia lalu membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang miskin secara sembunyi-sembunyi, yaitu dengan melempar-lemparkan uang ke dalam rumah melalui atap di waktu malam hari.
Seperti biasa, begitu memasuki kota Cin-yang, Cun Giok segera menyelidiki dan mencari keterangan kepada penduduk di mana tinggalnya seorang pembesar yang korup dan jahat.
Dia mendapat keterangan bahwa kepala daerah kota Cin-yang bernama Yo-thaijin (Pembesar Yo) dan dialah seorang yang bijaksana dan adil.
Di antara para pejabat yang oleh penduduk dianggap korup dan sombong, juga kaya karena suka memeras, adalah kepala Pengadilan kota Cin-yang bernama Kui Hok atau panggilannya Kui-Thai-jin.
Cun Giok memilih pejabat pengadilan she Kui itu sebagai sasarannya.
Malam itu udara cerah mendapat penerangan sinar bulan yang ditemani beberapa buah bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan tiga perempat.
Ketika malam semakin larut, hampir tengah malam, kota Cin-yang mulai sepi.
Toko-toko sudah sejak tadi ditutup, juga pintu dan jendela rumah-rumah penduduk sudah ditutup.
Hanya jarang orang yang lewat di jalan umum yang lengang dan mereka itu adalah orang-orang muda yang suka bergadang, pulang dengan sempoyongan karena mabok.
Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali.
Apalagi bagi mereka yang dalam keadaan mabok keluyuran di jalan pada malam hari itu, andaikata seorang yang sadar sekalipun berada di sana, akan sukarlah bagi mereka untuk dapat menduga bahwa ada bayangan orang berkelebat saking cepatnya bayangan itu bergerak.
Bayangan itu adalah Cun Giok yang keluar dan berlari cepat dari rumah penginapan di mana dia tinggal, menuju ke tempat sasarannya, yaitu rumah gedung milik Kepala Pengadilan Kui Hok.
Gedung itu besar dan megah, dengan perabotan rumah yang mewah.
Memang sesungguhnya tidak masuk akal kalau seorang pembesar seperti Kui Hok yang menjadi kepala pengadilan memiliki rumah semewah itu.
Biarpur, gajinya lebih besar dari para pejabat rendahan, namun kalau diperhitungkan, biar dia menerima gaji seumur hidupnya, masih belum cukup untuk membeli perabot rumah itu saja, apalagi membeli rumahnya.
Bahkan gaji yang diterima sebagai seorang pejabat, tidak akan mencukupi untuk biaya rumah tangganya setiap bulan karena Kui Hok memiliki tujuh orang selir dan sepuluh orang anak yang berusia limabelas tahun ke bawah.
Hanya seorang puteranya yang sudah dewasa, yaitu Kui Con yang dulu pernah dihajar oleh Ceng Ceng.
Belum lagi jumlah pelayan yang tidak kurang dari sepuluh orang karena setiap orang selir mempunyai seorang pelayan.
Pendeknya, amat tidak mungkin kalau hanya dengan gaji sebesar yang diterimanya setiap bulan, Kui Hok dapat hidup semewah itu seperti layaknya seorang hartawan besar.
Akan tetapi pada waktu penjajah Mongol berkuasa, hampir tidak ada pamong praja (pejabat) yang tidak hidup berkelebihan.
Dari Kaisar sampai pejabat golongan rendah, semua hidup jauh melampaui besarnya gaji yang diterimanya setiap bulan.
Korupsi merajalela sehingga mencari pejabat yang jujur dan tidak korup tidak lebih mudah daripada mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami.
Semua pejabat hidup mewah seperti Kepala Pengadilan Kui Hok yang selain gedung dengan segala isinya yang serba mewah itu masih memiliki tanah persawahan yang sukar dihitung saking banyaknya dan luasnya, di samping ternak kuda, kerbau, dan lain-lain.
Gedung pembesar Kui Hok ini pun terjaga ketat.
Semenjak Ceng Ceng menghajar putera pembesar itu yang bernama Kui Con, gedung itu dijaga ketat oleh belasan orang perajurit pengawal secara bergiliran.
Malam itu, duabelas perajurit melakukan penjagaan, di sekeliling rumah gedung Pembesar Kui Hok.
Mereka melakukan pemeriksaan, meronda sekeliling gedung setiap jam dengan penuh kewaspadaan.
Namun, tidak sukar bagi Cun Giok untuk berkelebat melewati mereka dan berada di pekarangan gedung tanpa terlihat oleh mereka.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di pekarangan itu, sudah ada orang lain yang lebih dulu datang dan orang itu masih bersembunyi di balik semak-semak.
Saking cepatnya gerakan Cun Giok, orang itu pun tadinya tidak tahu.
Setelah Cun Giok berhenti bergerak dan berdiri di pekarangan, di balik sebatang pohon dan mengintai ke arah gedung, barulah orang itu tahu akan kehadiran Cun Giok dan dia merasa terkejut dan heran menyaksikan gerakan Cun Giok yang demikian cepatnya.
Setelah merasa yakin bahwa di atas atap gedung itu tidak ada penjaganya, juga pekarangan samping itu ke gedung tidak tampak penjaga, Cun Giok berhenti sebentar dan menunggu.
Dua orang petugas jaga datang meronda sambil membawa lentera, lewat di dekat gedung.
Begitu mereka sudah memutari gedung, Cun Giok cepat berkelebat mendekati gedung dan tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap!
Orang yang tadi melihatnya, tetap berada di tempat persembunyiannya dan mengintai.
Orang ini bukan lain adalah Tan Li Hong, gadis perkasa murid Ban-tok Niocu yang menyamar sebagai seorang pemuda.
Seperti yang biasa ia lakukan apabila sedang melakukan perjalanan merantau dan kehabisan uang bekal, ia tentu mengambil uang dari rumah para hartawan.
Akan tetapi, ia agak berubah.
Kalau dulu ia mencuri uang dari siapa saja, sekarang ia mulai pilih-pilih.
Sebelum melakukan pencurian ia menyelidiki lebih dulu karena ia sekarang hanya mau mencuri uang dari hartawan atau bangsawan yang jahat.
Ada hartawan yang jahat, yaitu hartawan yang pelit dan kerjanya hanya menumpuk kekayaan tanpa mempedulikan caranya, kalau perlu dengan menyogok pejabat untuk dapat bekerja sama, atau memeras tenaga rakyat yang membanting tulang untuk bekerja ikut memutar roda perusahaan si kaya itu tanpa mempedulikan penghasilan pekerja itu yang selalu kekurangan.
Ada bangsawan yang jahat, yaitu bangsawan yang korup dan mengandalkan kedudukannya untuk menindas siapa saja yang tidak taat kepadanya, dan memaksakan kehendaknya.
Nah, dua macam orang inilah yang sekarang ia curi sebagian hartanya.
Ketika tiba di Cin-yang, ia pun menyelidiki dan mendengar akan kejahatan Pembesar Kui Hok, malam itu ia pun datang ke situ dengan niat untuk mencuri uang.
Akan tetapi melihat pemuda yang baru tiba itu, ia terkejut dan tidak berani sembarangan bertindak.
Ia tidak tahu siapa pemuda yang memiliki gin-kang amat tinggi itu.
Kalau pemuda itu ternyata bekerja untuk Pembesar Kui Hok, maka ia akan menghadapi lawan tangguh dan jika ia dikeroyok, ia akan berada dalam bahaya.
Kalau hanya untuk mendapatkan sambungan uang bekalnya yang sudah habis, tidak perlu ia harus mempertaruhkan nyawa.
Maka, ia menunggu dan tetap bersembunyi di balik semak-semak, sambil mengikuti gerak gerik pemuda yang kini sudah berada di atas atap itu.
Setelah berada di atas atap, Cun Giok mulai mengamati dari atas, kemudian melompat turun dan tiba di sebuah taman kecil yang berada di ruangan terbuka sebelah dalam.
Indah sekali taman ini, walaupun hanya kecil namun teratur rapi, ada kolam kecil dengan bunga teratai dan ikan emas.
Keadaan dalam gedung besar itu sunyi dan agaknya tidak terdapat penjaga di sebelah dalam dan semua penghuninya telah tidur.
Setelah memilih kamar terbesar, Cun Giok membongkar jendela kamar itu tanpa menimbulkan suara dia melompat masuk.
Sebuah lampu meja kecil bernyala dan sinarnya yang remang-remang membuat Cun Giok dapat memeriksa isi kamar yang cukup luas itu.
Di balik kelambu tampak bayangan dua orang gadis remaja sedang tidur nyenyak.
Setelah merasa yakin dua orang gadis remaja itu tidur pulas, Cun Giok mulai mencari-cari, akan tetapi tidak menemukan uang yang dicarinya.
Memang ada beberapa buah perhiasan emas di atas meja rias, akan tetapi dia tidak suka mengambilnya.
Perhiasan itu pasti milik dua orang gadis remaja itu dan kalau dia mengambil, tentu dua orang itu akan merasa kecewa dan berduka.
Dia tidak tega melakukan ini, apalagi perhiasan harus dijual dulu sebelum dapat dia pergunakan untuk biaya perjalanan.
Melihat seorang wanita setengah tua yang tidur melingkar di sudut, dia dapat menduga dari pakaian wanita itu bahwa ia tentu seorang pelayan yang melayani dua orang gadis itu.
Cepat dia menghampiri dan menotok jalan darah wanita itu yang membuat ia terbangun akan tetapi tidak mampu bersuara atau bergerak.
Tubuhnya lemas dan kaki tangannya seperti lumpuh.
Ia terbelalak memandang pemuda yang telah berdiri di dekatnya itu.
"Jangan takut,"
Cun Giok berbisik dekat telinganya.
"Aku tidak akan mengganggumu, akan tetapi tunjukkan di mana kamar tidur Pembesar Kui!"
Setelah berkata demikian, Cun Giok membuka totokannya sambil mendekap mulut wanita itu agar jangan berteriak.
Setelah totokan itu dibuka, dengan ketakutan pelayan itu bicara dengan suara berbisik pula.
"Kamar Tuan Besar berada...... di sebelah kiri...... daun pintu dan jendelanya dicat merah......"
Tiba-tiba wanita itu berhenti bicara karena ia sudah ditotok kembali oleh Cun Giok yang cepat keluar dari kamar itu.
Setelah mencari sebentar dia menemukan kamar yang lebih besar lagi dengan daun pintu dan jendela bercat merah.
Dia membuka jendela dan melompat masuk, menutupkan kembali daun jendela dan memeriksa keadaan dalam kamar.
Dilihatnya seorang laki-laki berusia limapuluh tahun bertubuh tinggi kurus sedang tidur mendengkur.
Di ranjang kedua tampak dua orang wanita juga tidur pulas.
Tentu dua orang itu selir-selir pembesar itu, pikir Cun Giok.
Akan tetapi dia tidak mempedulikan mereka dan melihat sebuah almari di sudut, dia segera menghampiri dan membongkar pintu almari.
Dia tertegun melihat kantung-kantung berisi uang emas dan perak memenuhi almari!
Bukan main!
Tentu pejabat ini amat kaya raya dan jelas semua uang ini tidak didapatkannya dari gajinya sebagai pejabat.
Dia bukan pedagang, dari mana bisa mendapatkan keuntungan yang begini besar?
Cun Giok mengambil sebuah kantong emas, cepat keluar dari kamar itu.
Dari taman kecil dalam gedung itu dia melompat ke atas atap.
Akan tetapi karena tergesa-gesa dan keadaan di situ agak gelap, Cun Giok menyenggol sebuah pot bunga sehingga bagian atas pot itu terjatuh menimbulkan suara yang cukup berisik.
Dari atas atap, Cun Giok melompat turun ke pekarangan dari mana dia tadi naik dan baru saja kakinya menyentuh tanah, terdengar bentakan-bentakan banyak orang.
"Tangkap penjahat!!"
Ternyata ketika dia menyenggol pot bunga tadi telah menarik perhatian Kui Con, putera Pembesar Kui Hok.
Kui Con, pemuda berusia duapuluh satu tahun yang juga memiliki ilmu silat lumayan, segera berlari keluar dari kamarnya dan memberi perintah kepada semua perajurit untuk melakukan pengejaran.
Dia dapat menduga bahwa penjahat yang memasuki gedung ayahnya itu tentu turun ke pekarangan samping, tempat yang paling baik bagi orang yang hendak melarikan diri.
Maka begitu Cun Giok melompat turun, Kui Con dan duabelas orang perajurit itu mengepung dan mengeroyoknya tanpa banyak cakap lagi.
Mereka menggunakan golok untuk menyerang Cun Giok.
Pemuda ini terkejut karena tidak mengira akan diketahui orang dan dikeroyok, akan tetapi dia tidak merasa gentar.
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 6
Baca Juga: Asmara Berdarah 8