Ceritasilat Novel Online

Pendekar Tanpa Bayangan 6

Eps 6 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.

Dengan mengandalkan gin-kang yang istimewa, dia dapat mengelak dan menghindarkan diri dari semua serangan.

Dia mengambil keputusan untuk meloloskan dan melarikan diri mengandalkan ilmunya meringankan tubuh.

Akan tetapi sebelum dia melompat untuk melarikan diri, tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat begitu orang itu mencabut dan menggerakkan pedangnya, tampak sinar hijau bergulung-gulung dan teriakan-teriakan kesakitan.

Dalam segebrakan saja dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah!

Melihat ada seorang pemuda membantunya dan pemuda itu ternyata amat ganas, Cun Giok terkejut.

Apalagi ketika ada tiga orang pengeroyok roboh lagi dan dia tahu bahwa mereka yang roboh itu terluka parah dan kemungkinan besar tewas.

"Jangan bunuh orang!"

Teriaknya dan dia pun cepat menggunakan gin-kang melompat jauh keluar dari kepungan dan melarikan diri keluar dari pagar tembok gedung itu.

Pemuda itu tentu saja Tan Li Hong adanya.

Dia merasa heran mengapa orang yang ditolongnya malah melarang dia membunuh para pengeroyok dan orang itu lalu melarikan diri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Tentu saja dia merasa penasaran, apalagi ketika ia melihat tangan Cun Giok membawa sekantung kain merah yang tampaknya berat.

Dari pengalamannya Li Hong dapat menduga bahwa kantung itu tentu berisi uang emas.

Ia sendiri mengunjungi gedung Pembesar Kui Hok untuk mencuri uang dan kini ternyata ada orang yang mendahuluinya!

Karena merasa penasaran, ia pun melompat dan mengejar pemuda yang melarikan diri keluar dari pagar tembok gedung itu.

Terjadilah kejar-kejaran di bawah sinar bulan dan kalau ada orang melihat mereka, tentu akan merasa heran dan mungkin ketakutan mengira bahwa yang berkelebatan itu adalah hantu-hantu yang berkeliaran di waktu malam terang bulan.

Gerakan mereka amat cepatnya sehingga yang tampak hanya bayangan berkelebat.

Cun Giok maklum bahwa pemuda yang menolongnya tadi melakukan pengejaran, maka dia sengaja memperlambat larinya dan menjaga jarak agar dia tidak meninggalkan pengejarnya itu.

Biarpun dia tidak mengenal pemuda itu, namun pemuda itu telah membantunya tadi, maka sudah sepatutnya kalau dia berkenalan dengannya.

Setelah jauh meninggalkan kota Cin-yang dan tiba di sebuah lapangan terbuka yang cukup terang oleh sinar bulan, Cun Giok berhenti berlari dan menghadapi pengejarnya itu.

Li Hong yang melakukan pengejaran menjadi semakin penasaran.

Tadi ia telah mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar, namun tetap saja ia tertinggal di belakang dalam jarak yang tidak pernah berubah, tidak semakin dekat atau semakin jauh!

Wataknya yang keras dan tidak mau kalah itu membuat ia penasaran dan akhirnya ia marah sekali melihat orang yang dikejarnya itu berhenti dan berdiri menghadapinya seolah mengejeknya karena pemuda itu tersenyum!

Setelah mereka saling berhadapan, keduanya saling pandang dan Cun Giok merasa kagum melihat betapa pemuda yang membantunya itu masih amat muda, tampaknya masih remaja dan wajahnya tampan sekali.

Akan tetapi pemuda itu telah memiliki ilmu pedang yang demikian lihainya, hanya yang membuat dia penasaran adalah melihat betapa tadi pemuda itu memainkan pedangnya yang bersinar hijau demikian ganasnya.

Tanpa memberi ampun, pedangnya telah merobohkan dan menewaskan banyak orang, padahal pemuda itu tidak terlibat permusuhan langsung dengan para pengeroyok dan hanya membantunya.

Seorang pemuda yang masih muda, amat tampan dan lihai sekali, akan tetapi juga ganas bukan main.

Cun Giok mengangkat kedua tangan depan dada dan berkata dengan ramah.

"Sobat yang baik, terima kasih, engkau telah membantu aku menyelamatkan diri dari kepungan para perajurit tadi."

Dia memandang dan bertemu dengan sepasang mata yang mencorong seperti bintang.

"Kalau boleh aku mengetahui, siapakah engkau dan di mana tempat tinggalmu?"

Wajah yang tampan itu tampak tak senang, alisnya berkerut dan mulut itu cemberut.

"Kalau engkau merasa sudah kubantu, sepatutnya engkau yang lebih dulu memperkenalkan nama!"

Katanya ketus. Cun Giok tersenyum. Pemuda ini selain ganas, juga galak bukan main. Akan tetapi perbuatannya menolong tadi berlawanan dengan sikapnya yang galak.

"Baiklah, sobat. Namaku Pouw Cun Giok, seorang perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, ayah ibuku telah tiada, hidup sebatang kara, guruku yang juga kakek guruku adalah Pak-kong Lojin, bertapa di Ta-pie-san. Nah, sudah lengkap, bukan? Sekarang bagaimana dengan engkau?"

Li Hong tetap cemberut.

"Belum lengkap, engkau belum mengatakan pekerjaanmu. Akan tetapi aku sudah tahu. Kantung itu pasti berisi emas yang kau curi dari rumah Pembesar Kui tadi. Engkau seorang pencuri!"

Cun Giok tersenyum lagi dan menggelengkan kepalanya.

"Bukan, aku bukan pencuri walaupun tadi aku memang benar mencuri sedikit harta Pembesar Kui."

"Hemm, tidak malu! Bilang bukan pencuri akan tetapi mengaku mencuri!"

"Aku tidak berbohong, sobat. Seorang pencuri adalah orang yang pekerjaannya mencuri. Aku bukan pencuri karena pekerjaanku bukan mencuri. Kalau aku mengambil harta pembesar yang korup, hal itu kulakukan hanya kalau aku kehabisan bekal dan sisa harta itu kubagikan kepada mereka yang miskin."

"Hemm...... sama......"

Li Hong hendak mengatakan bahwa Cun Giok sama dengan ia yang juga melakukan hal serupa.

"Sama apa, sobat?"

"Sama saja! Engkau mencuri maka cepat serahkan kantung itu kepadaku!"

"Eh? Mengapa harus diserahkan kepadamu? Apakah engkau masih kerabat atau anak buah Pembesar Kui?"

"Ngawur! Siapa sudi menjadi kerabat pembesar korup jahat macam dia? Pendeknya, berikan kantung itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan mengambilnya darimu!"

"Wah, kalau begitu, jika kau sebut aku pencuri, maka engkau adalah perampok! Lebih jahat lagi karena pencuri mengambil milik orang dengan sembunyi, sebaliknya perampok mengambil milik orang dengan kekerasan! Akan tetapi karena maling dan perampok masih sekeluarga, baiklah kita bagi uang ini secara kekeluargaan. Engkau akan kuberi setengah dan yang setengahnya untuk aku. Adil, bukan?"

"Tidak adil!"

Kata Li Hong dengan sikap menantang.

"Kita bertanding, kalau engkau dapat menangkan aku, biarlah aku menerima bagian setengahnya dari isi kantung itu. Akan tetapi kalau engkau kalah, engkau harus menyerahkannya semua kepadaku. Itu baru adil!"

Cun Giok mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya tersenyum geli.

Pemuda remaja ini masih seperti seorang anak-anak yang nakal dan licik.

Mau enaknya sendiri saja.

Akan tetapi rasanya percuma berdebatan dengan pemuda remaja nakal ini, maka dia mengangguk.

"Baiklah kalau engkau menghendaki begitu. Mari kita saling uji ilmu silat kita,"

Kata Cun Giok dengan tenang dan dia lalu melepaskan buntalan pakaiannya dan kantung uang itu, diletakkannya di bawah rumpun yang tumbuh di padang rumput itu.

Dia lalu menghadapi Li Hong dengan sikap tenang dan mulut tersenyum.

Sikap ramah ini disalah-artikan oleh Li Hong.

Ia menganggap pemuda itu menantang dan memandang rendah padanya, senyumnya dianggap mentertawakannya!

Maka dengan gerakan sigap dan marah, ia menanggalkan pula buntalan pakaiannya dari punggung, lalu menghadapi Cun Giok.

"Nah, aku sudah siap, mulai dan seranglah!"

Ia membentak. Cun Giok menggelengkan kepalanya.

"Tidak, engkau yang menantang, maka engkaulah yang mulai."

"Sambut ini, haiiiitttt......!"

Li Hong menerjang dengan serangan dahsyat.

Ia menggunakan jurus Tok-liong-ta-bu (Naga Beracun Menerobos Kabut), tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah muka Cun Giok dan ini merupakan gerakan pancingan karena serangan intinya merupakan pukulan ke arah ulu hati lawan!

Serangan ini dahsyat karena dilakukan dengan pengerahan sin-kang.

Agaknya Li Hong ingin memperoleh kemenangan dengan cepat maka begitu menyerang ia menggunakan jurus yang berbahaya.

Akan tetapi ia terkejut sekali ketika tiba-tiba lawannya lenyap dari depannya sehingga serangan pertamanya itu gagal sama sekali.

Dengan cepat ia memutar tubuhnya karena mendengar ada gerakan di belakangnya.

Ketika memutar tubuh, Li Hong menggunakan jurus Tok-liong-pai-bwe (Naga Beracun Sabetkan Ekor).

Tubuh yang membalik itu didahului kaki kanan mencuat dan menendang ke arah perut lawan, disusul dua tangan membentuk cakar yang siap untuk menyusulkan serangan.

Akan tetapi kembali Cun Giok mengelak dengan kecepatan yang membuat tubuhnya seolah menghilang.

Li Hong semakin penasaran dan ia terus menyerang dengan ilmu silat Hek-tok Tong-sim-ciang (Tangan Racun Hitam Getarkan Jantung).

Kedua tangannya menyambar-nyambar dan mengeluarkan bunyi berciutan dan ada semacam uap hitam mengepul di sekitar kedua tangannya.

Cun Giok berseru kaget karena dia mengenal ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun.

Dia maklum bahwa sekali terkena pukulan seperti itu, dia akan menderita luka beracun parah.

Maka dia cepat menambah gin-kangnya dan bersilat Ngo-heng-kun yang memiliki gerakan berubah-ubah dan karena ginkangnya tinggi maka gerakannya cepat sekali, sesuai dengan julukannya Si Tanpa Bayangan!

Karena jauh menang dalam hal kecepatan gerakan, maka Cun Giok dapat menghindarkan semua serangan lawan dengan baik, dan setelah lewat belasan jurus, dia menepuk punggung Li Hong lalu melompat menjauhi lawan.

"Sobat, kita hanya menguji ilmu silat, mengapa engkau begini tega menyerang untuk membunuh aku?"

Cun Giok menegur.

Wajah Li Hong berubah merah.

Bagaimanapun iuga, ia harus mengaku kalah, karena kalau pemuda itu tadi berniat buruk, tentu punggungnya bukan sekedar ditepuk, melainkan ditotok atau bahkan dipukul yang dapat mengakibatkan kematian.

Perasaan malu karena jelas ia dikalahkan itu akhirnya membuat ia marah.

"Srattt!"

Pedang bersinar hijau dicabutnya dan sambil melintangkan pedang di depan dada ia berkata.

"Pouw Cun Giok! Aku memang kalah bertanding tangan kosong denganmu, akan tetapi coba, apakah engkau mampu menandingi pedangku!"

"Sobat, di antara kita tidak ada permusuhan apa pun, mengapa kita harus bertanding, apalagi menggunakan senjata? Apakah engkau ingin membunuhku? Kalau benar engkau begitu membenciku dan ingin membunuhku, jelaskan dulu mengapa engkau demikian membenciku. Apa kesalahanku kepadamu?"

"Siapa membencimu? Siapa ingin membunuhmu? Kita bertanding untuk menentukan siapa menang siapa kalah, siapa berhak memiliki kantung uang itu!"

"Sudahlah, biar aku mengaku kalah!"

Kata Cun Giok karena tentu saja dia tidak ingin melayani pemuda yang aneh dan liar ini, apalagi pemuda itu tadi sudah menolongnya.

"Kalau engkau mengaku kalah, engkau harus menyerahkan semua uang dalam kantung itu sesuai perjanjian!"

Cun Giok mendongkol juga.

Pemuda remaja ini sungguh keterlaluan, berwatak nakal dan licik sekali, ataukah memang tidak tahu malu?

Sudah jelas dia mengalah, akan tetapi dia tidak tahu diri dan hendak minta semua uang dalam kantung yang tadi diambilnya dari kamar Pembesar Kui!

Dia sendiri sungguh kehabisan bekal dan dia malas untuk mencuri lagi karena sesungguhnya kalau tidak terpaksa, dia pun malu kepada diri sendiri harus mencuri, sungguhpun yang diambilnya itu uang pejabat yang korup.

"Sobat yang baik, marilah kita bersahabat dan berbaikan. Biar kita bagi dua uang ini sebagai tanda persahabatan kita."

"Ah, mana bisa begitu? Kalau aku menerima setengahnya, berarti aku kalah darimu sesuai dengan perjanjian tadi. Padahal aku belum kalah, buktinya engkau tidak berani melayani aku bertanding pedang! Kalau engkau mengaku kalah, harus kauberikan semua uang itu!"

Cun Giok merasa semakin penasaran dan mendongkol.

Anak ini perlu diberi pelajaran, pikirnya, agar tidak berwatak congkak, sombong, keras dan liar seperti itu.

Dia lalu menghunus pedangnya perlahan-lahan sambil menghela napas dan berkata.

"Baiklah, kalau itu yang kau kehendaki. Mari kita bermain-main pedang sebentar."

Li Hong memang memiliki watak yang sukar untuk mengalah.

Ia kasar, keras dan ugal-ugalan, akan tetapi sesungguhnya sama sekali tidak sombong.

Ia hanya ingin menonjol dan diakui kehebatannya, sukar untuk menerima kekalahan karena memang nyatanya jarang ia mengalami kekalahan dalam perkelahian.

Melihat Cun Giok mencabut pedang yang bersinar emas berkilauan itu, ia tak mampu menahan diri dan berseru kagum.

"Pokiam (pedang pusaka) yang hebat......!"

Cun Giok berkata.

"Pedangmu juga hebat, sayang mengandung racun yang ganas!"

"Hemm, ingin kulihat apakah pedang sinar emas di tanganmu mampu menandingi pedangku!"

Kata Li Hong lalu disambutnya dengan bentakan nyaring.

"Sambut pedangku, syaaaaattt......!!"

Sinar hijau menyambar dan Cun Ciok cepat mengelak.

Kembali dia mengandalkan gin-kangnya untuk menghindarkan diri dari serangan Li Hong.

Dia memang tidak ingin melukai pemuda itu maka sampai belasan jurus Li Hong menyerangnya, dia hanya mengelak saja dan tidak pernah membalas.

Setelah serangannya yang bertubi-tubi itu tidak pernah berhasil, Li Hong menjadi semakin penasaran dan ia mempercepat gerakan pedangnya sehingga yang tampak hanya sinar hijau bergulung-gulung dan menyambar-nyambar.

Saking dahsyatnya Li Hong menyerang, Cun Giok tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengelakan karena hal itu lama-lama dapat membahayakan dirinya.

Dia tahu bahwa sekali saja terkena sabetan pedang sinar hijau yang beracun itu, dia akan celaka.

Mulailah dia menggerakkan pedangnya untuk menangkis.

"Tranggg......!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua pedang pusaka bertemu dan Li Hong merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat. Diam-diam ia terkejut dan harus mengakui bahwa "maling"

Itu bukanlah maling biasa, melainkan orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Ia kalah dalam gin-kang (ilmu meringankan tubuh), juga kalah dalam sin-kang (tenaga sakti).

Akan tetapi dasar orang yang tidak pernah mau mengaku kalah, Li Hong bahkan menyerang lebih nekat lagi!

Cun Giok merasa serba salah.

Kalau pemuda remaja ini tidak dia kalahkan, dia sendiri yang terancam bahaya.

Memang pemuda remaja yang angkuh dan nekat ini perlu diberi pelajaran, akan tetapi dia harus mengakui bahwa tidak mudah mengalahkan pemuda itu tanpa melukainya.

Dia mulai mengerahkan ginkangnya lagi, berkelebatan dan berputaran sehingga Li Hong merasa pening.

Li Hong merasa penasaran dan marah.

Ia memegang pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) yang ampuh dan telah mengerahkan seluruh tenaga dan ilmu pedangnya.

Namun ia sama sekali tidak mampu mendesak lawannya.

Bahkan setiap kali pedangnya bertemu pedang lawan yang bersinar keemasan, ia selalu merasa tangannya tergetar hebat.

Tiba-tiba setelah berpusingan di sekeliling tubuh lawan dan membuat pemuda remaja itu pening, Cun Giok mengeluarkan bentakan nyaring melengking diikuti seruan Li Hong karena tiba-tiba pedangnya yang melekat pada pedang lawan terbetot dan sikunya tertotok tangan kiri Cun Giok sehingga mau tidak mau ia terpaksa melepaskan pedangnya yang terampas lawan!

Cun Giok melompat ke belakang dan ketika mereka berdiri berhadapan, Li Hong melihat pemuda lawannya itu memegang pedangnya dengan tangan kiri, akan tetapi baju di bagian dada lawannya itu terobek melintang cukup panjang.

"Maafkan aku, sobat, terpaksa aku merampas pedangmu, akan tetapi aku mengaku kalah karena engkau telah berhasil merobek bajuku. Kalau engkau jahat, tentu kulit dadaku yang terobek. Aku mengaku kalah dan mari, terimalah kantung uang ini karena engkau yang menang."

Cun Giok melemparkan pedang Ban-tok-kiam dan kantung uang kepada Li Hong yang diterimanya dengan sikap masih tertegun heran.

Li Hong tidak merasa telah merobek baju lawan!

Akan tetapi karena kenyataannya baju itu robek, maka ia menerima kemenangan yang diakui oleh lawannya itu.

"Huh, aku pun tidak ingin merampok uangmu! Ilmu pedangmu hebat dan aku tidak pernah merasa menang, maka sudah sepatutnya kalau kita bagi saja isi kantung ini seorang separuh. Engkau yang membaginya!"

Berkata demikian, Li Hong melemparkan kantung itu kepada Cun Giok dan diterima oleh pemuda itu.

Sementara itu, malam telah bergulir ke menjelang pagi dan matahari yang belum tampak sudah mengirim sinarnya yang mulai mengusir kegelapan malam.

Cun Giok setelah menyimpan pedangnya dan menerima kantung uang itu, lalu mengambil tempat duduk di atas sebongkah batu.

"Silakan duduk, sobat, kita membagi uang ini sambil bercakap-cakap,"

Katanya.

Li Hong tidak menjawab, akan tetapi ia lalu duduk di atas sebuah batu sejauh dua tombak dari Cun Giok.

Ia mulai memperhatikan pemuda itu dan diterangi sinar matahari yang kuning keemasan, ia dapat melihat jelas wajah pemuda itu.

Ia mengamatinya baik-baik selagi Cun Giok mengeluarkan uang dari kantung dan mulai membagi dua.

Seorang pemuda yang berwajah tampan dan sinar matanya lembut, mulutnya yang selalu mengembangkan senyum itu membuat wajah itu tampak sabar dan penuh pengertian.

Sikapnya lembut namun menyembunyikan kegagahan.

Pemuda yang usianya sekitar duapuluh dua tahun itu berpakaian sederhana dan tampaknya lembut, namun Li Hong maklum benar betapa lihainya pemuda yang bernama Pouw Cun Giok itu.

Diam-diam ia merasa kagum bukan main, karena selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu dengan seorang pemuda yang sikapnya demikian sederhana, sama sekali tidak menyombongkan kepandaiannya.

Selama ini ia hanya melihat pemuda-pemuda yang merasa diri pintar sendiri, gagah sendiri, kaya sendiri.

Mereka itu biasanya menyombongkan kepandaiannya atau kegagahannya, atau juga menyombongkan kekayaannya atau kedudukan ayahnya.

Akan tetapi pemuda yang mengaku bernama Pouw Cun Giok ini, yang memiliki tingkat kepandaian di atas tingkatnya sendiri, sama sekali tidak menyombongkan kepandaiannya, bahkan tadi dia sengaja mengalah sampai dua kali.

Li Hong menyadari benar bahwa kalau pemuda itu menghendaki, ia pasti akan dapat dikalahkannya, baik dalam adu silat tangan kosong maupun silat pedang.

"Nah, ini bagianmu, sobat,"

Kata Cun Giok setelah membagi rata uang dalam kantung menjadi dua tumpukan.

"Engkau boleh menggunakan kantung ini."

Dia melemparkan kantung kosong itu kepada Li Hong.

Li Hong menerima kantung kosong itu, lalu bangkit berdiri dan menghampiri tumpukan uang di depan Cun Giok.

Tanpa bicara ia lalu memasukkan......

semua uang itu, yang dua tumpuk itu, ke dalam kantung!

Cun Giok memandang dengan mata terbelalak heran, akan tetapi mulutnya tetap tersenyum karena dia menganggap pemuda remaja itu bertindak aneh dan juga lucu.

Apalagi maunya sekarang, pikirnya sambil melihat betapa uang itu akhirnya kembali ke dalam kantung.

Akhirnya karena ingin sekali tahu apa kehendak pemuda remaja yang aneh itu, Cun Giok bertanya.

"Sobat, mengapa engkau memasukkan semua uang kembali ke dalam kantung? Apakah engkau ingin memiliki semuanya?"

"Tidak! Semua isi kantung ini terlampau banyak bagiku!"

"Kalau begitu, ambil saja separuhnya."

"Separuh juga masih terlalu banyak bagiku, bahkan sepersepuluh masih terlalu banyak. Aku hanya butuh sedikit untuk bekal perjalanan. Uang sekian banyaknya hanya cocok untuk seorang pemuda yang suka menghambur-hamburkan uang, royal-royalan. Apakah engkau ingin memilikinya semua untuk dihambur-hamburkan mencari kesenangan?"

Cun Giok menggelengkan kepaianya.

"Tidak, aku sama dengan engkau, sobat. Aku hanya butuh sedikit karena uang bekalku habis, aku butuh untuk membeli makan dan untuk membayar penginapan."

"Hem, kalau begitu, mengapa engkau mengambil uang begini banyak? Jangan mencoba untuk membohongiku!"

"Aku tidak berbohong. Biasanya kalau kehabisan bekal, aku memang mengambil uang dari para pembesar jahat dan korup atau hartawan pemeras yang pelit, agak banyak yang kuambil dan sebagian besar kubagi-bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkannya."

"Dibagi-bagikan? Bukankah dengan demikian akan ketahuan dan mereka yang menerima bagian dapat dituduh penadah dan dituntut?"

"Tidak, aku membagi-bagikan dengan cara melempar uang ke dalam rumah penduduk miskin di waktu malam sehingga tidak ada yang mengetahuinya, bahkan pemilik rumah juga tidak tahu."

"Wah, menarik itu! Pouw Cun Giok, mari kita lakukan pembagian uang itu bersama. Ingin aku melihat dan meniru perbuatanmu itu!"

Cun Giok mengerutkan alisnya.

"Aku biasa melakukannya di waktu malam."

"Hemm, apa salahnya dilakukan di waktu siang? Kalau kita melemparkan uang dengan cepat, siapa akan melihatnya? Pula, kalau siang kita tidak akan salah pilih, kita dapat mengetahui jelas keadaan rumah tangga orang itu. Hayolah, kita mulai dari dusun terdepan."

"Nanti dulu, sobat. Engkau sudah mengetahui namaku, akan tetapi aku belum tahu siapa engkau? Kalau kita mau bekerja sama dan menjadi sahabat, sudah sepatutnya aku mengetahui namamu, bukan?"

"Huh, kukira engkau tidak peduli akan namaku! Engkau mau tahu? Namaku Tan Li Hong, aku juga pemuda perantau seperti engkau. Orang tuaku tinggal jauh dari sini. Nah cukupkah?"

Cun Giok menggelengkan kepalanya.

"Belum cukup. Engkau adalah seorang pemuda remaja biarpun kepandaianmu sudah amat tinggi, maka tidak pantas kalau setelah menjadi sahabatku engkau menyebut namaku begitu saja. Aku akan menyebutmu Hong-te (Adik laki-laki Hong) dan sudah sepatutnya pula engkau yang baru belasan tahun ini menyebut aku twako (kakak laki-laki)."

Sebetulnya Cun Giok tidak ingin sekali disebut twako, akan tetapi dia hendak mengajarkan sopan santun kepada pemuda remaja liar ini.

Dia merasa sayang bahwa seorang pemuda yang memiliki ilmu silat sedemikian tingginya berwatak liar dan ugal-ugalan, juga tidak tahu sopan santun.

Mendengar ucapan Cun Giok, Li Hong tersenyum dan Cun Giok tertegun.

Bukan main tampan dan manisnya pemuda itu kalau tersenyum.

Kalau saja pemuda itu lebih banyak tersenyum daripada cemberut dan marah-marah, tentu semua orang akan tertarik dan senang bergaul dengannya.

"Baiklah, Twako. Asalkan engkau setelah kusebut kakak tidak lantas main perintah kepadaku."

Cun Giok tidak bertanya lebih jauh tentang diri sahabat barunya itu.

Orang yang wataknya aneh itu kalau banyak ditanya, mungkin saja akan menjadi curiga dan marah.

Mereka lalu berjalan menuju ke sebuah dusun yang sudah tampak dari situ.

Li Hong membawa kantung uang itu setelah memasukkan lagi setengah bagian isi kantung ke dalam kantung kembali.

Uang dalam kantung itu mereka bagi-bagikan tanpa yang diberi mengetahui.

Mereka menggunakan kepandaian mereka, melempar uang tanpa diketahui orang ke atas meja dalam rumah penduduk yang miskin.

Mereka melanjutkan perjalanan dan melakukan hal sama di dusun berikutnya.

Akhirnya uang sekantung itu habis dibagi-bagikan kepada para penduduk miskin di tiga buah dusun.

Biarpun yang diberikan kepada setiap rumah hanya sepotong uang, namun karena uang itu emas, tentu saja bagi penduduk dusun sudah merupakan harta yang cukup besar dan tidak akan habis untuk biaya makan selama beberapa bulan!

Yang bijaksana menggunakan "modal"

Uang emas itu untuk berdagang apa saja sehingga uang itu dapat mendatangkan keuntungan. Menarik sekali kalau melihat bermacam-macam sikap dan perbuatan orang-orang yang menerima "rejeki"

Ini.

Ada orang yang merasa senang pada mulanya akan tetapi lalu merasa menyesal mendengar betapa para tetangganya juga menerima rejeki itu, menyesalkan mengapa semua uang itu tidak diberikan saja semua kepadanya.

Yang bersikap begini adalah orang-orang yang angkara murka.

Ada pula orang yang mabok kesenangan mendapatkan uang emas itu dan dia menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dan menghamburkannya sehingga dalam beberapa hari saja uang itu habis karena dia hanya bersenang-senang dan tidak mau bekerja.

Ia adalah orang-orang yang malas dan menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sendiri.

Akan tetapi mereka yang bijaksana dengan hati-hati dan rajin lalu mempergunakan uang emas itu untuk modal berdagang.

Setelah uang hasil curian itu dibagi-bagikan dan ditinggalkan sedikit sekadar untuk dijadikan bekal perjalanan mereka, Cun Giok dan Li Hong berhenti berjalan dan mengaso di luar sebuah dusun, di tepi sebuah anak sungai.

Hari telah sore dan sehari tadi mereka berkeliling ke dalam tiga buah dusun.

Mereka duduk di atas batu-batu di tepi sungai dan mereka membuka bungkusan makanan yang mereka beli di dusun terakhir.

Mereka lalu makan roti gandum dan daging kering dan minum air anak sungai itu yang jernih sekali karena air itu bersumber di bukit depan, melewati hutan dan mengalir sampai di situ menjadi anak sungal kecil.

Air itu masih jernih dan bersih.

Air sungai baru menjadi kotor setelah melewati tempat tinggal manusia karena para penduduk dusun maupun kota selalu membuang segala macam kotoran dan sampah ke dalam sungai.

Setelah makan dan minum, Li Hong merasa nyaman dan segar.

Perasaannya juga terasa gembira.

Belum pernah ia merasakan kegembiraan seperti saat itu, saat penuh kenangan akan wajah orang-orang yang menemukan uang emas di dalam rumahnya.

Wajah-wajah yang bergembira dan bahagia.

Baru sekarang ia merasakan betapa kebahagiaan orang lain yang disebabkan perbuatannya membuat ia merasa senang sekali!

"Aih, Pouw-twako (Kakak Pouw), Sungguh menyenangkan sekali melakukan perkerjaan seperti tadi!

Ah, aku akan melakukan terus, akan kuhabiskan harta para pembesar korup dan hartawan pemeras dan kubagi-bagikan kepada semua orang melarat agar harta itu dibagi rata, tidak ada lagi yang terlalu kaya dan tidak ada lagi yang miskin!"

Kata Li Hong dengan suara penuh semangat.

"Kalau sudah tidak ada lagi bangsawan dan hartawan yang kaya raya dan harta itu dibagi rata, kehidupan akan menjadi lebih baik."

Cun Giok tersenyum.

"Hong-te, bukan begitu caranya untuk menyejahterakan rakyat kecil yang miskin. Perbuatanmu itu akan mendatangkan kekacauan dan akan ditiru oleh mereka yang memiliki kepandaian. Akan menimbulkan hukum rimba, siapa kuat dia menang dan memiliki segalanya dan akibatnya terjadi pula ketidakadilan yang lebih parah bagi rakyat. Kehidupan ini membutuhkan uang, dan uang harus diusahakan, diputar agar mendatangkan keuntungan. Modal hanya didapat dari si kaya. Akan tetapi modal saja tanpa tenaga kerja juga tidak akan dapat berjalan. Tenaga kerja dimiliki oleh si miskin. Karena itu haruslah ada kerja sama antara si kaya yang bermodal dan si miskin yang menjadi tenaga kerja. Barulah roda perdagangan dapat berjalan, lancar, mendatangkan keuntungan untuk menghidupi seluruh rakyat."

"Akan tetapi, biasanya si kaya itu memeras tenaga para pekerjanya, Twako. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, melipat gandakan kekayaan mereka dengan memeras keringat para pekerjanya yang miskin."

"Aku tahu, Hong-te. Aku melihat betapa si kaya memeras tenaga si miskin dan bekerja sama dengan pembesar sehingga kedudukan mereka terlindungi. Akibatnya para pekerja menjadi malas dan tidak jujur. Semestinya, si kaya yang bermodal haruslah membagi keuntungan kepada para pekerjanya sehingga para pekerjanya mendapatkan penghasilan yang layak. Dengan begini, para pekerja itu pasti akan bekerja dengan rajin dan setia karena pekerjaannya itu menjamin mereka sekeluarga hidup layak. Keadaan yang seimbang ini haruslah ditangani dan diatur oleh pemerintah sehingga kedua pihak tidak akan bertindak sewenang-wenang dan keadaan menjadi tertib. Kedua pihak haruslah jujur dan terbuka, tidak saling menipu atau mencari keuntungan diri pribadi."

"Akan tetapi bagaimana kalau para pembesar masih melakukan tindakan sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan mereka, mengadakan kerja sama dan melindungi para hartawan sehingga kembali mereka melakukan pemerasan terhadap rakyat jelata?"

"Memang itulah yang menjadi sumber persoalan dan ketidak-adilan. Pemerintah harus memiliki pejabat, dari yang tertinggi sampai yang terendah, yang jujur dan setia sehingga tidak terjadi penyelewengan kekuasaan. Dengan demikian, negara akan menjadi kuat, pemasukan pendapatan juga dapat besar melalui para pedagang dan pengusaha, kehidupan rakyat kecil yang menjadi pekerja dapat terjamin kesejahteraannya. Kalau sudah begitu, rakyat pasti akan hidup tenteram dan menaati semua peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah karena semua aparat pemerintah berwibawa karena kejujuran dan keadilannya."

"Wah, Pouw-twako, apakah pemerintahan yang didirikan oleh kaum penjajah akan dapat mengatur seperti itu?"

Tanya Li Hong ragu. Cun Giok menggerakkan kedua pundaknya.

"Aku tidak tahu. Akan tetapi kalau mereka mau melakukan itu, bukan hanya rakyat yang sejahtera, juga para pejabat menjadi senang karena ditaati dan dihormati semua warga negara."

"Wah, sudah hampir gelap lagi, Twako. Di mana kita bermalam nanti malam?"

"Kalau tidak salah, sekitar lima mil dari sini terdapat sebuah kota. Kita dapat mencari rumah penginapan di sana, dan tentu akan dapat membeli makanan yang lebih enak daripada yang kita makan tadi. Mari kita melanjutkan perjalanan."

Li Hong bangkit berdiri dan kini dara yang menyamar sebagai pemuda ini semakin percaya dan kagum kepada Cun Giok.

Dengan mengerahkan ilmu berlari cepat, sebelum gelap mereka telah memasuki sebuah kota kecil yang cukup ramai, walaupun tidak banyak dikunjungi orang luar kota.

Sebuah rumah penginapan merangkap rumah makan berada di pusat kota dan mereka lalu memasuki rumah penginapan itu untuk menyewa kamar.

Seorang pelayan setengah tua menyambut mereka dengan ramah.

"Selamat malam, Ji-wi Kongcu (Tuan Muda Berdua), apakah Ji-wi hendak menyewa sebuah kamar?"

"Bukan sebuah, melainkan dua buah kamar,"

Kata Li Hong cepat sebelum Cun Giok menjawab. Cun Giok merasa heran, akan tetapi karena Li Hong memang berwatak aneh, dia pun diam saja, khawatir sahabat baru itu menjadi marah.

"Dua buah kamar? Baik, silakan Ji-wi mengikuti saya."

Pelayan itu mengajak mereka masuk dan ternyata hanya ada beberapa orang tamu saja di rumah penginapan itu.

Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan dan setelah pelayan meninggalkan mereka, baru Cun Giok bertanya kepada sahabat barunya itu.

"Hong-te, kita hanya berdua, menyewa sebuah kamar pun cukup. Mengapa engkau minta dua buah kamar?"

"Aku mempunyai kebiasaan tidur seorang diri, Twako. Kalau ada orang lain dalam kamar tidurku, aku tidak akan dapat tidur pulas semalam suntuk."

Cun Giok mengangguk dapat mengerti.

Tidak terlalu mengherankan kebiasaan ganjil itu bagi seorang pemuda aneh seperti Tan Li Hong!

Mereka memasuki kamar masing-masing, mandi dan berganti pakaian.

Setelah itu, keduanya bertemu pula di luar kamar dan Li Hong memberi isyarat dengan jari telunjuk di depan mulut dan tangan yang lain menggapai.

Cun Giok merasa heran, akan tetapi dia mengerti isyarat itu dan mengikuti Li Hong memasuki kamarnya.

Setelah berada dalam kamar Li Hong mendekati dinding yang menyambung ke kamar lain dan menempelkan daun telinganya pada dinding sambil memberi isyarat kepada Cun Giok untuk meniru perbuatannya.

Cun Giok merasa semakin heran.

Dia merasa tidak pantas untuk mencuri dengar percakapan orang di sebuah kamar lain.

Akan tetapi melihat wajah Li Hong yang bersungguh-sungguh, dia tertarik juga lalu menempelkan daun telinganya ke dinding sambil mengerahkan pendengarannya.

Terdengar suara wanita, suaranya serak seperti tangis namun mengandung getaran kuat.

"Yakin benarkah engkau bahwa peta itu berada padanya?"

"Saya yakin, Subo (Ibu Guru)? Peta itu tadinya dimiliki ayahnya. Setelah ayah ibunya tewas, saya tidak dapat menemukan peta itu pada mereka, juga seluruh rumah mereka digeledah namun peta itu tidak ada. Jelaslah bahwa peta itu berada di tangan puteri mereka itu,"

Terdengar suara seorang laki-laki menjawab.

"Hemm, bagus! Di mana ia sekarang berada?"

Tanya suara wanita.

"Di kuil tua yang berada di dalam hutan sebelah timur kota ini."

"Ih, mengapa tidak kau tangkap saja?"

"Subo, ia memiliki kepandaian tinggi, saya khawatir ia akan lolos lagi kalau saya sergap. Akan tetapi saya yakin sekarang ia masih berada di sana karena saya telah menyuruh seorang pembantu melakukan pengintaian."

"Kalau begitu, kita tangkap ia sekarang?"

"Jangan malam ini, Subo. Udara mendung dan gelap, dan ia memiliki ginkang yang hebat. Besar kemungkinan ia lolos lagi kalau kita sergap malam ini. Lebih baik besok pagi-pagi, kita sergap dan Subo bantu menangkapnya, pasti ia tidak akan dapat lolos."

"Bagaimana kalau peta itu tidak berada padanya?"

"Kalau tidak ia bawa, tentu ia sembunyikan di suatu tempat. Saya akan menggunakan cara yang paling mengerikan untuk memaksa ia mengaku!"

"Hemm, cara bagaimana?"

Terdengar suara laki-laki itu bisik-bisik dan tidak dapat didengar lagi oleh dua orang yang mencuri dengar dari kamar Li Hong itu.

Li Hong memberi isyarat kepada Cun Giok untuk keluar dari kamarnya.

Setelah menutup pintu kamar, ia mengajak Cun Giok memasuki kamar pemuda itu.

"Kita harus menolong orang yang hendak mereka tangkap besok pagi!"

Katanya lirih.

"Ah, Hong-te, mengapa engkau hendak mencampuri urusan mereka? Apakah engkau mengenal dua orang yang bicara tadi dan apakah engkau juga mengenal orang yang hendak mereka tangkap besok?"

"Aku mengenal suara laki-laki tadi. Dia pasti Panglima Mongol yang lihai dan jahat itu, yang bernama Kim Bayan. Suara wanita itu tidak kukenal. Akan tetapi aku mengenal baik siapa yang hendak mereka tangkap karena tadi sebelum aku memberitahu padamu, aku telah mendengar mereka menyebut nama orang itu. Aku berhutang budi kepada gadis itu yang pernah menyembuhkan muka guruku yang tadinya cacat."

Cun Giok membelalakkan kedua matanya.

Tentu saja dia terkejut sekali mendengar itu dan segera dia dapat menduga siapa adanya gadis yang dimaksudkan itu.

Akan tetapi dia menahan ketegangan hatinya dan bertanya, agar mendapatkan kepastian.

"Hong-te, siapakah gadis itu?"

"Namanya Liu Ceng Ceng."' "Ah, aku mengenalnya, Hong-te?"

"Engkau mengenalnya?"

Li Hong menatap wajah Cun Giok dengan tajam penuh selidik.

"Ya, ia seorang gadis yang lihai dan dikenal sebagai Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih), selain lihai ilmu silatnya, ia pun ahli pengobatan murid Im Yang Yok-sian, cantik jelita dan menarik, terutama lemah lembut sekali."

Cun Giok mengenang karena sesungguhnya, sejak pertemuan pertama dia sudah jatuh cinta kepada Ceng Ceng.

"Huh, begitu? Engkau suka dan tergila-gila kepada gadis yang lemah lembut, Twako?"

Cun Giok merasa heran melihat raut wajah Li Hong tampak marah dan senyumnya mengejek.

Pemuda itu cemburu, pikirnya.

Tentu Li Hong telah jatuh cinta kepada Ceng Ceng dan kini mendengar dia memuji Ceng Ceng, dia menjadi cemburu!

"Ah, bukan begitu, Hong-te.

Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Apakah engkau mengenal baik gadis itu?"

"Mengenal baik sekali memang tidak,"

Cun Giok berkata untuk meredakan kecemburuan Li Hong.

"Akan tetapi kami berdua pernah melakukan perjalanan ke Pulau Ular untuk memintakan obat penawar pukulan beracun Hek-tok Tong-sim-ciang yang diderita Ketua Hoa-san-pai."

Kini Li Hong yang terkejut. Matanya terbelalak memandang pemuda itu.

"Ah, jadi engkaukah pemuda yang bersama Ceng Ceng berkunjung ke Pulau Ular seperti diceritakan Subo kepadaku itu? Subo tidak menyebutkan namamu maka aku tidak tahu bahwa engkaulah pemuda itu!"

Cun Giok mengerutkan alisnya.

Inikah murid Ban-tok Niocu yang mewakili gurunya membunuh Im Yang Yok-sian dan melukai Goat-liang Sanjin dengan pukulan beracun?

Ketika itu, Ban-tok Niocu tidak mengatakan siapa muridnya, laki-laki ataukah wanita.

Demikian seingatnya.

Ketika mengetahui bahwa pemuda ini yang melakukan kekejaman itu, Cun Giok menjadi penasaran sekali.

"Dan engkau adalah murid Ban-tok Niocu yang telah dengan kejam membunuh Im Yang Yok-sian dan melukai Goat-liang Sanjin?"

Muka Li Hong menjadi kemerahan, akan tetapi mulutnya cemberut.

"Aku hanya menaati perintah Subo. Aku menyesal sekali dan aku sudah minta maaf kepada Ceng Ceng atas kematian Im Yang Yok-sian dan aku juga akan pergi ke Hoa-san minta maaf kepada Goat-liang Sanjin. Maka, untuk membuktikan penyesalanku, sekarang aku harus pergi mencari Ceng Ceng dan membantunya menghadapi rencana kejahatan Panglima Kim Bayan yang hendak menangkapnya. Atau, aku akan serbu saja kamar sebelah dan kubunuh dua orang itu!"

"Ssstt, jangan gegabah begitu, Hong-te! Panglima itu pasti lihai dan mendengar suaranya, wanita yang berada di kamar itu juga bukan orang biasa. Dari getaran suaranya aku dapat menangkap tenaga sakti yang amat berwibawa seperti mengandung kekuatan sihir. Selain itu, kalau engkau menyerang mereka di sini, pasti akan menimbulkan keributan dan pasukan penjaga akan berdatangan sehingga berbahaya sekali."

"Aku tidak takut!"

"Aku percaya engkau tidak takut, akan tetapi semua tindakan harus diperhitungkan lebih dulu. Apa artinya engkau mengamuk kalau hasilnya masih amat diragukan, bahkan akan membahayakan keselamatan dirimu sendiri? Keberanian bukan berarti kenekatan yang konyol."

Li Hong mengangguk-angguk. Boleh jadi ia seorang yang keras dan nekat, akan tetapi ia pun bukan seorang bodoh dan ia mengerti bahwa ucapan Cun Giok tadi memang benar.

"Kalau begitu, sekarang aku akan pergi mencari Ceng Ceng!"

Katanya.

"Hong-te, untuk apa malam-malam gelap begini mencarinya? Lebih baik besok pagi kita mencari ke sana dan kita membantunya apabila ia benar-benar hendak ditangkap. Sekarang, sebaiknya kita mengaso dulu, mengumpulkan tenaga karena mungkin besok pagi kita membutuhkan kesegaran untuk menghadapi lawan-lawan berat."

Setelah berkata demikian, Cun Giok memasuki kamarnya tanpa menengok karena dia yakin sahabat barunya itu pun akan pergi tidur.

Dia mulai merasa terganggu dengan pikiran dan pendapat-pendapat Li Hong yang dianggapnya liar dan nekat tanpa perhitungan itu.

Akan tetapi dia pun merasa kasihan kepada Li Hong, seorang pemuda remaja yang agaknya memerlukan bimbingan dan nasihat, karena kalau tidak, akhirnya dia akan tertimpa mala petaka oleh ulahnya sendiri.

Pagi-pagi sekali, Cun Giok terbangun oleh suara ayam jantan berkeruyuk.

Dia agak gelagapan karena merasa kesiangan.

Semalam dia hampir tidak dapat pulas karena pikirannya terus membayangkan Ceng Ceng yang terancam bahaya.

Bahkan terbawa dalam mimpi dia melihat Ceng Ceng tertawan dan diseret-seret banyak perajurit dan dia menolongnya.

Selain teringat dan mengkhawatirkan gadis itu, dia juga masih heran memikirkan Li Hong.

Sungguh hal yang amat kebetulan dan tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa pemuda remaja yang aneh dan nakal itu adalah murid Ban-tok Niocu yang disuruh wanita itu untuk membunuh Goat-liang Sanjin dan karena tidak ingin ketua Hoa-san-pai itu terobati, terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian, paman guru Ceng Ceng!

Pantas saja pemuda itu liar karena dia adalah murid wanita yang dulunya berjuluk Ban-tok Kui-bo (Biang Hantu Selaksa Racun) akan tetapi setelah wajahnya yang cantik diobati tidak lagi menyeramkan seperti biang hantu!

Teringat akan Li Hong, Cun Giok cepat melompat turun dari atas pembaringan.

Dia sudah berjanji dengan Li Hong untuk berangkat pagi-pagi mencari Ceng Ceng dan melindunginya dari ancaman Panglima Kim Bayan yang hendak menangkap gadis itu!

Dengan cepat Cun Giok mencuci muka, berganti pakaian dan dia segera keluar dari kamarnya dan mengetuk perlahan daun pintu kamar Li Hong di sebelahnya.

Akan tetapi tidak ada jawaban dan ketika dia mendorong, pintu itu dengan mudah terbuka karena tidak terkunci dari dalam.

Dan Li Hong ternyata tidak berada dalam kamarnya.

Bahkan buntalan pakaian dan pedangnya juga tidak ada.

Tahulah dia bahwa pemuda itu telah pergi tanpa memberitahu kepadanya.

Baiknya uang sewa kamar telah mereka bayar dimuka, maka Cun Giok lalu menggendong buntalan pakaiannya dan cepat meninggalkan rumah penginapan itu untuk mencari Ceng Ceng yang menurut percakapan yang dia dengar dari kamar sebelah semalam berada di sebuah kuil tua yang terdapat dalam hutan sebelah timur kota itu.

Dia menggunakan kecepatan gerakannya untuk menuju ke arah timur.

Seperti yang telah diduga oleh Cun Giok, Li Hong memang mendahuluinya pergi meninggalkan rumah penginapan untuk mencari Ceng Ceng.

Akan tetapi bukan pagi-pagi sekali, melainkan malam tadi.

Tanpa memberi tahu kepada Cun Giok, malam itu ia membawa buntalan pakaian dan pedangnya, diam-diam meninggalkan rumah penginapan dan menuju ke sebelah timur kota.

Gadis yang pemberani ini dengan cepat melakukan perjalanan dan setelah tiba di tepi sebuah hutan yang amat gelap karena malam itu udara hanya diterangi bintang-bintang, ia membuat api dan dengan obor kayu kering ia memasuki hutan kecil itu!

Ia tak tahu di mana adanya kuil tua itu, maka setelah memasuki hutan, khawatir kalau-kalau Ceng Ceng melarikan diri melihat orang membawa obor memasuki hutan, ia lalu berteriak.

"Ceng Ceng, di mana engkau? Ini aku, Li Hong!"

Teriakan ini diulang-ulang sambil melangkah ke depan.

Tak lama kemudian terdengar jawaban yang ditunggu-tunggunya.

Li Hong menjadi girang sekali dan menuju ke arah suara.

Tak lama kemudian ia melihat Ceng Ceng muncul menyongsongnya.

Ceng Ceng lalu memegang tangan Li Hong.

"Aih, Li Hong, bagaimana engkau tahu aku berada di hutan. Dan angin apa yang meniupmu malam-malam gelap begini mencariku?"

"Ah, Ceng Ceng, gembira sekali aku dapat menemukanmu! Aku membawa berita yang teramat penting bagimu!"

Lalu ia menengok ke sekelilingnya dan menaikkan kedua pundaknya karena ngeri.

"Gila betul kau ini! Masa seorang gadis tinggal seorang diri dalam hutan yang gelap dan menyeramkan begini? Ih, kalau aku, diupah berapa pun aku tidak sudi! Menghadapi seratus orang lawan manusia aku tak gentar, akan tetapi menghadapi setan iblis siluman dan arwah gentayangan? Ihh, meremang bulu kudukku!"

Ceng Ceng tertawa geli dan merangkul Li Hong.

"Mari kita ke kuil dan bicara di sana."

Ia memandang Li Hong yang masih memegang kayu bernyala sebagai obor dan mengajak Li Hong ke sebuah kuil tua yang sudah tidak dipakai lagi.

Memasuki kuil tua yang memang tampak angker itu, Li Hong bergidik dan merasa seram ketika digandeng Ceng Ceng memasuki bangunan tua itu.

Masih terdapat patung-patung rusak, meja sembahyang dan di mana-mana terdapat sarang laba-laba.

"Wih, di sini pasti sarang siluman dan hantu!"

Katanya dengan suara agak gemetar.

Ceng Ceng tertawa dan mengajak temannya memasuki sebuah ruangan yang cukup bersih dan di sudut terdapat dua batang lilin bernyala.

Di atas lantai terdapat hamparan rumput kering.

Buntalan pakaian Ceng Ceng berada di atas lantai.

Setelah memasuki kuil, Li Hong memadamkan obor kayunya dan Ceng Ceng mengajak ia duduk di atas hamparan rumput kering.

"Setan dan hantu tidak dapat membunuh kita, Li Hong. Mereka hanya dapat menggoda orang dan yang berbahaya adalah orang yang dikuasai setan karena hanya orang yang dikuasai iblis dapat melakukan kejahatan."

"Tetapi, bukankah setan itu jahat, Ceng Ceng? Semua orang mengatakan begitu. Setan itu jahat sekali!"

Ceng Ceng tersenyum.

"Setan adalah kejahatan itu sendiri, mana bisa jahat lagi? Seperti malam adalah kegelapan itu sendiri, mana bisa gelap lagi? Pekerjaan setan memang sejak semula untuk mengganggu manusia. Nah, tinggal si manusia itu mau menuruti kehendak setan atau menolaknya, menjadi hamba setan atau menjadi hamba Tuhan. Sudahlah, mengapa kita bicara tentang setan? Kalau kita bicarakan, nanti mereka akan mulai mengganggu untuk menakut-nakuti kita. Katakan, Li Hong, engkau yang takut terhadap kegelapan malam, mengapa bersusah payah datang ke tempat ini mencariku?"

"Wah, gawat nih, Ceng Ceng. Keselamatanmu terancam!"

"Hemm, siapa yang mengancamku?"

Tanya Ceng Ceng dengan sikap tenang.

"Kim Bayan! Panglima brengsek itu bersama seorang yang dia panggil Subo merencanakan untuk menangkapmu besok pagi dan memaksamu menyerahkan peta harta karun yang katanya ditinggalkan orang tuamu kepadamu. Dia hendak mengulang lagi usahanya di tanah kuburan dulu, Ceng Ceng. Kebetulan aku menyewa di kamar rumah penginapan yang sama dengan mereka. Aku mendengarkan percakapan Kim Bayan dan Subonya. Mereka merencanakan penangkapan atas dirimu dan hendak memaksa, menyiksamu agar mau menyerahkan peta itu."

"Hemm, begitukah? Dan engkau malam-malam mencari aku untuk menolong ku? Terima kasih, Li Hong, engkau memang seorang sahabat yang baik sekali. Di balik keliaranmu itu engkau memiliki hati yang baik dan aku sudah menduga ini. Panglima Kim Bayan itu memang jahat sekali. Peta harta karun itu adalah hak milik rakyat Han, sama sekali Pemerintah penjajah Mongol tidak berhak memilikinya dan mengambil harta karun itu!"

"Ceng Ceng, sejak peristiwa di tanah kuburan itu, aku sudah tahu bahwa mereka ingin merampas peta harta karun darimu. Sebetulnya, harta karun apakah itu?"

Ceng Ceng percaya kepada Li Hong.

Biarpun ia tahu bahwa gadis yang satu ini liar dan ugal-ugalan, aneh dan adalah murid seorang datuk yang pernah sesat dan dikenal sebagai Biang Iblis, namun ia tahu benar bahwa di balik keganasannya, Li Hong adalah seorang gadis yang baik dan pada dasamya menentang kejahatan membela kebenaran dan keadilan.

Maka ia tidak merasa keberatan untuk menceritakan keadaan yang sesungguhnya.

"Li Hong, engkau adalah sahabat baikku yang kupercaya sepenuhnya, maka engkau boleh mendengar rahasia ini. Ketahuilah, sebelum Kerajaan Sung jatuh, seorang Thaikam (Pembesar Kebiri) yang korup menguras harta istana dan dia sembunyikan harta karun yang amat besar jumlahnya dan amat berharga berupa emas dan intan permata, lalu menguburnya di suatu tempat rahasia. Hal itu diketahui oleh mendiang ayahku yang ketika itu menjadi seorang Panglima Sung yang setia. Ayah membunuh Thaikam Bong itu dengan semua anak buahnya lalu mengubur mayat mereka beserta harta karun itu. Ayah tidak mengambil harta karun itu karena merasa tidak berhak dan harta milik Kerajaan Sung itu kelak akan disumbangkan kepada para patriot untuk membiayai perjuangan mereka menentang dan mengusir penjajah Mongol. Ayah hanya membuat sehelai peta yang dirahasiakan dan disimpan baik-baik. Akan tetapi agaknya ada yang mengetahui bahwa Thaikam Bong dahulu menyimpan harta karun dan karena thaikam korup itu beserta anak buahnya dibasmi ayah, maka otomatis Panglima Kim Bayan menduga bahwa tentu ayah yang mendapatkan peta itu. Demikianlah, ayah dipaksa menyerahkan peta akan tetapi ayah menolak sehingga terjadi pengeroyokan dan kedua orang tuaku tewas."

"Dan peta itu?"

"Sebelum ayah memenuhi panggilan Kim Bayan, ayah menitipkan peta itu kepada seorang sahabat, diselipkan dalam surat dan setelah ayah tewas, sahabat itu menyerahkan surat ayah kepadaku. Peta itu berada padaku, Li Hong."

"Hemm, jadi dugaan Kim Bayan tadi benar. Maka dia berkeras hendak menangkapmu dan memaksamu menyerahkan peta itu. Ceng Ceng, apa yang hendak kaulakukan dengan peta itu?"

"Seperti juga mendiang ayahku, aku tidak ingin memiliki harta itu. Akan tetapi sebelum menyerahkannya kepada mereka yang berhak, yaitu para pejuang, aku harus menunggu sampai benar-benar ada golongan pendekar patriot yang berjuang melawan penjajah Mongol. Juga aku harus melihat sendiri buktinya bahwa harta karun itu memang benar ada. Kalau kelak aku menyerahkan peta kepada para pejuang kemudian mereka tidak mendapatkan harta itu, alangkah akan malunya aku dan hal itu mencemarkan nama baik ayah."

Li Hong mengangguk-angguk.

"Engkau memang seorang gadis yang cerdik, pandai dan bijaksana, Ceng Ceng. Aku sungguh amat kagum padamu. Jangan khawatir akan ancaman Panglima Kim Bayan yang brengsek itu. Kami akan membela dan membantumu!"

Kata Li Hong penuh semangat.

"Kami......?"

Ceng Ceng bertanya heran dan memandang ke sekeliling untuk melihat apakah selain Li Hong ada orang lain yang datang untuk menolongnya. Li Hong tersenyum.

"Maksudku, kami berdua, aku dan Pouw-twako yang akan membantumu menghadapi tikus-tikus itu. Pouw-twako sudah mengenalmu dengan baik, Ceng Ceng."

"Pouw-twako? Siapa dia?"

"Hemm, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak mengenal Pouw Cun Giok?"

"Ahhh...... dia.......?"

Ceng Ceng tergagap dan merasa betapa mukanya panas, tanda bahwa mukanya tentu menjadi kemerahan.

Akan tetapi karena penerangan di situ hanya dua batang lilin, maka merahnya muka ini tidak sampai ketahuan.

"Ya, dia yang dulu bersamamu datang ke Pulau Ular. Engkau tentu sudah mengenal baik, bukan? Kalian telah melakukan perjalanan jauh bersama-sama, tentu persahabatan kalian akrab sekali."

"Memang, Giok-ko adalah seorang pemuda yang baik sekali, ilmu silatnya tinggi, bijaksana, dan dia menjadi sahabat baik yang boleh dipercaya."

"Ah, engkau memujinya setinggi langit. Agaknya engkau tentu telah jatuh cinta padanya, Ceng Ceng!"

Suara Li Hong terdengar keras dan penuh curiga. Ceng Ceng merasakan hal ini dan ia menghela napas panjang.

"Li Hong, jangan terlalu jauh menyangka. Aku dan Giok-ko hanya menjadi sahabat baik."

Li Hong menghela napas lega.

"Syukurlah kalau begitu, Ceng Ceng. Aku tidak suka bersaing denganmu karena aku pasti akan kalah. Engkau begini lihai, pandai mengobati, cantik jelita dan lemah lembut, bijaksana seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im)!"

"Bersaing? Apa maksudmu, Li Hong?"

"Maksudku, eh...... kalau engkau jatuh cinta kepada Pouw-twako, berarti engkau menjadi sainganku karena aku juga telah jatuh cinta kepada Pouw Cun Giok!!"

Ucapan ini dilakukan dengan mantap dan sama sekali tidak mengandung perasaan malu. Ceng Ceng tersenyum walaupun di dalam dadanya ada perasaan hampa mendengar ucapan Li Hong.

"Ah, baik sekali kalau begitu! Tentu dia juga mencintamu, bukan?"

Li Hong tertawa.

"Bagaimana aku tahu? Dia menganggap aku sebagai seorang pemuda!"

"Eh, mengapa begitu, Li Hong? Kalau engkau mencintanya, engkau harus membuka rahasia penyamaranmu!"

"Tidak, dan aku minta agar engkau tidak mengatakan kepadanya bahwa aku seorang wanita. Kami memang bergaul dengan akrab, dan aku tidak mau kalau keakraban itu akan berubah jika dia mengetahui bahwa aku seorang wanita. Berjanjilah bahwa engkau tidak akan membuka rahasia penyamaranku ini, Ceng Ceng!"

Ceng Ceng mengangguk.

"Aku berjanji."

"Terima kasih, Ceng Ceng, engkau memang baik sekali. Seperti kukatakan tadi, jangan khawatir, aku dan Pouw-twako siap membantu menghadapi para tikus busuk itu. Besok pagi-pagi Pouw-twako akan datang ke sini."

"Akan tetapi kenapa kalian berdua tidak datang bersama-sama?"

"Pouw-twako tidak setuju untuk mencarimu malam-malam, dia akan ke sini besok pagi karena kami mendengar bahwa Panglima Kim itu pun akan menangkapmu besok pagi. Maka aku lalu pergi sendiri tanpa memberi tahu padanya. Untung aku bertemu. denganmu, Ceng Ceng, kalau tidak...... hiiihh...... aku bisa mati ketakutan karena seramnya tempat hantu ini!"

"Jangan takut, Li Hong. Justeru rasa takutmu itu yang akan munculkan bayangan-bayangan tentang hantu dan setan. Bagi orang yang tidak takut, hantu dan setan tidak akan dapat memperlihatkan diri. Percayalah, selama hidupku ini aku belum pernah melihat adanya hantu dan setan dengan mata kepala ini. Mereka memiliki alam yang berbeda dengan kita."

Biarpun hatinya percaya akan ucapan Ceng Ceng itu, karena memang dalam lubuk hati Li Hong sudah ada perasaan takut dan ngeri terhadap hantu, tetap saja Li Hong memandang ke sekeliling dengan mata gelisah.

Ia melihat beberapa buah patung yang tidak jelas rupanya, karena cuaca yang gelap, hanya tampak seperti bayangan berbentuk manusia.

Rasa takut membuat patung-patung itu seolah bergerak-gerak dalam pandang matanya dan ia bergidik.

"Ihh......! Patung-patung itu sungguh menyeramkan!"

Ceng Ceng tersenyum dan ia menyalakan dua batang lilin baru di sudut ruangan.

"Patung-patung hanya buatan tangan manusia, benda-benda mati yang bagaimanapun juga tidak akan dapat mengganggu kita. Kalaupun dapat mengganggu, dengan kepandaianmu yang tinggi, apa sukarnya mengalahkan mereka? Hayo, tidurlah, Li Hong karena waktu baru sedikit lewat tengah malam. Pagi hari baru akan datang beberapa jam lagi."

Li Hong menghela napas lega dan ia pun merebahkan diri di atas rumput kering, telentang berbantal bungkusan pakaiannya.

Pedang Ban-tok-kiam ia letakkan di dekat tangan kanannya, siap dipergunakan sewaktu-waktu!

Ceng Ceng lalu duduk bersila di dekat Li Hong, segera tenggelam dalam samadhi.

Akan tetapi Li Hong gelisah dan tidak dapat pulas.

Telinganya yang sejak tadi mendengar suara kutu malam, belalang dan jengkerik, paduan suara yang merupakan musik malam, seolah menangkap suara-suara yang menyeramkan, seolah ia mendengar suara hantu-hantu saling berbisik, ada yang tertawa atau menangis.

Bulu tengkuknya meremang dan ia merasa tubuhnya dingin.

Ketika melirik ke arah Ceng Ceng, ia melihat gadis itu duduk bersila dengan tenangnya.

Ia lalu bangkit duduk dan duduk bersila seperti Ceng Ceng, mencoba untuk melakukan siu-lian (samadhi).

Akan tetapi karena hatinya masih mengandung perasaan takut, maka samadhinya sering terganggu, tidak dapat hening betul dan terkadang ia tidak mampu menahan diri untuk tidak membuka mata melihat ke depan, kanan dan kiri karena ia merasa seolah-olah ada yang bergerak di dalam kegelapan malam!

Menjelang fajar, terdengar ayam hutan berkeruyuk dan suara burung-burung mulai sibuk saling sahut dalam persiapan mereka meninggalkan sarang dan berangkat mencari makan.

Munculnya suara ayam dan burung itu nneredam musik malam yang mulai menghilang seolah binatang-binatang kecil itu terkejut dan takut mendengar suara yang lebih nyaring itu.

Dengan hati lega Li Hong membuka matanya.

Biarpun cuaca masih gelap, namun keruyuk ayam jantan dan kicau burung itu menandakan bahwa fajar mulai menyingsing.

Tiba-tiba matanya terbelalak, tangan kanannya otomatis menyambar pedang Ban-tok-kiam di sampingnya.

Ia melihat patung-patung hitam itu seolah bergerak!

Rasa takut dan ngeri yang amat hebat membuat Li Hong nekat dan marah.

"Setan-setan jahanam busuk!"

Ia berteriak dan tubuhnya berkelebat ke depan, lalu pedang hijaunya menyambar-nyannbar ke arah leher patung-patung itu!

Terdengar suara berisik ketika leher patung-patung itu terbabat putus dan kepala patung berjatuhan di atas lantai.

Tidak ada yang tertinggal, semua patung yang jumlahnya delapan buah itu terpenggal lehernya!

"Li Hong!

Ada apakah?"

Seru Ceng Ceng terkejut. Li Hong melompat mendekatinya, tubuhnya masih gemetar karena marah dan takut. Wajahnya pucat dan dingin, kedua pundaknya bergerak seperti menggigil kedinginan.

"Ada...... hantu......!"

Katanya. Ceng Ceng memegang tangannya dan menarik Li Hong sehingga terduduk kembali di atas lantai bertilam rumput kering.

"Tenanglah, Li Hong. Tidak ada hantu. Yang kau amuk itu hanya patung-patung. Kasihan, agaknya engkau memenggal leher semua patung yang berada di sini."

"Tidak, Ceng Ceng! Aku melihat patung yang di sana tadi benar-benar bergerak!"

"Hemm yang di mana?"

"Di sana!"

Li Hong menudingkan telunjuknya ke arah jendela di samping.

"Di jendela itu? Ah, Li Hong, di sana tidak ada patungnya. Engkau tentu melihat bayangan karena rasa seram menghantuimu. Sekarang lebih baik engkau duduk menenteramkan hatimu karena sebentar lagi cuaca akan menjadi terang. Kita harus siap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi."

Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menambahkan lagi dua batang lilin yang bernyala di samping dua batang yang tinggal sedikit.

Dengan empat batang lilin bernyala, keadaan dalam ruangan itu menjadi lebih terang dan tiba-tiba Li Hong berseru.

"Ceng Ceng, lihat ini!"

Ceng Ceng memandang ke arah pedang yang dipegang Li Hong dan diperlihatkan kepadanya.

Ia mengerutkan alisnya melihat ada noda darah baru pada pedang itu!

Darah yang masih cair!

Ini hanya berarti bahwa pedang di tangan Li Hong baru saja melukai tubuh seorang manusia.

"Ah, kalau begitu patung yang kau lihat di jendela itu......"

Kata Ceng Ceng sambil mengangkat sebuah lilin untuk melihat ke arah jendela.

Ia tidak melihat patung ataupun manusia, akan tetapi ada darah pada kayu bingkai jendela itu.

Mungkin sekali yang dilihat Li Hong adalah orang yang berada di luar jendela dan orang itu tentu telah terpenggal batang lehernya oleh pedang di tangan Li Hong yang gerakannya dahsyat sekali itu!

Akan tetapi keadaan masih terlampau gelap untuk memeriksa bagian luar jendela karena kalau mereka diserang dalam kegelapan, keadaan mereka lebih berbahaya dan sukar untuk membela diri.

"Kita tunggu saja sampai sinar matahari menerangi tempat ini,"

Bisik Ceng Ceng dan dua orang gadis itu lalu duduk bersila dalam keadaan siap siaga.

Setelah tahu bahwa bukan hantu yang dilihatnya, melainkan manusia karena tak mungkin hantu dapat terluka mengeluarkan darah terbacok pedangnya, Li Hong menjadi lebih tenang.

Ia sama sekali tidak gentar menghadapi lawan manusia betapapun lihai dan banyaknya.

Ia juga tidak takut terhadap hantu, hanya ngeri dan seram karena sejak kecil terpengaruh oleh dongeng-dongeng menyeramkan tentang setan, iblis, atau hantu.

Perlahan-lahan cuaca mulai terang.

Sinar matahari yang masih lemah mulai menerobos pohon-pohon memasuki hutan itu sehingga di dalam kuil itu pun mulai terang.

Ceng Ceng memberi isyarat kepada Li Hong dan keduanya bangkit lalu menghampiri jendela untuk menjenguk keluar, melihat apakah ada orang yang terluka oleh pedang Li Hong semalam.

Dan benar saja seperti yang mereka duga, di luar jendela itu, tampak rebah telentang di atas lantai yang kotor, sesosok tubuh orang tanpa kepala yang berlepotan darah, mungkin darah yang tadinya menyembur keluar dari leher yang terpenggal!

Dua orang gadis itu mencari-cari dengan pandang mata mereka dan menemukan kepala orang itu menggeletak tak jauh dari situ, sebuah kepala yang menengadah dan tampak matanya melotot dan mulutnya ternganga, juga kepala itu berlumuran darah.

Mengerikan!

Orang itu berpakaian serba hitam dan tubuhnya tinggi besar.

Tentu dia yang semalam dikira patung hidup dan menjadi korban amukan Li Hong yang nekat dan marah!

"Ah, kiranya ada yang mengintai kita malam tadi,"

Kata Ceng Ceng.

"Li Hong, kita harus waspada. Agaknya mereka sudah berada di sini."

Baru saja Ceng Ceng berkata demikian, mereka berdua terbelalak melihat betapa mayat tanpa kepala itu bangkit berdiri, tangan kanannya memegang sebatang golok besar dan dia melangkah ke arah jendela!

"Iihhhh......!"

Li Hong menjerit ngeri dan melompat ke belakang.

Mayat tanpa kepala itu melompat masuk melalui pintu dan goloknya menyambar, menyerang Ceng Ceng yang masih berada dekat jendela.

Namun Ceng Ceng dapat mengelak dengan lincah sehingga sambaran golok besar itu mengenai tempat kosong.

Kembali Li Hong menjerit ngeri dan Ceng Ceng segera berkata.

"Li Hong, ini ilmu setan, sihir jahat. Kerahkan tenaga saktimu dan lawan rasa takutmu!"

Pada saat itu tampak sebuah benda melayang memasuki jendela dan benda itu melayang dan menyambar ke arah Li Hong.

Gadis itu terbelalak dengan muka pucat melihat bahwa yang menyerangnya itu adalah kepala berlumuran darah yang tadi menggeletak di atas lantai luar jendela.

Kepala itu kini meluncur ke arah ia dengan mata melotot dan mulut ternganga, seolah hendak menggigit lehernya!

"Ihhhh......!"

Kembali ia menjerit ngeri, akan tetapi ia menaati ucapan Ceng Ceng tadi, mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dan mengelak ke samping lalu membacokkan pedangnya ke arah kepala itu.

Sinar kehijauan menyambar dengan cepat dan kuat ke arah kepala itu.

"Crakkk......!"

Kepala itu terbelah dua dan jatuh ke atas lantai!

Malihat hasil ini, lenyaplah rasa takut dan ngeri dari hati Li Hong.

Ketika ia menengok ke arah Ceng Ceng, ia melihat sahabatnya itu masih terus mengelak dari serangan mayat tanpa kepala yang gerakannya lamban dan kaku itu.

Ia menjadi marah dan sekali melompat dan menggerakkan pedangnya, ia menusuk punggung kiri mayat itu sambil mengerahkan tenaganya.

"Haiiittt......!"

Li Hong berseru dan pedangnya menusuk tubuh itu dari punggung menembus ke dada kiri mayat.

Begitu ia mencabut kembali pedang Ban-tok-kiam, tubuh mayat tanpa kepala itu pun roboh dan tidak bergerak lagi.

Jantung mayat itu tertembus pedang!

"Li Hong, mari cepat kita keluar dari tempat sempit ini!"

Kata Ceng Ceng.

Li Hong maklum apa yang dimaksudkan kawannya karena kalau menghadapi pengeroyokan, tempat sempit amat tidak menguntungkan.

Mereka lalu menyambar buntalan pakaian dan berlari keluar sambil mengikatkan buntalan masing-masing di punggung mereka.

Ketika mereka tiba di luar, Li Hong sudah memegang Ban-tok-kiam pedang pusakanya, dan Ceng Ceng sudah membawa sebatang tongkat ranting pohon yang tadi ia letakkan di lantai ruangan itu.

Ketika mereka tiba di pekarangan kuil yang ditumbuhi rumput tebal, Ceng Ceng dan Li Hong melihat belasan orang berpakaian hitam-hitam seperti orang yang telah dibunuh Li Hong tadi dan mayatnya hidup lagi sehingga terpaksa dibunuh lagi.

Ada sebelas orang berpakaian hitam-hitam dan berwajah bengis membuat setengah lingkaran di depan kuil seolah mereka itu menghadang dua orang gadis yang keluar dari kuil.

Masing-masing memegang sebatang golok besar.

Melihat ini, Ceng Ceng dan Li Hong sudah siap untuk membela diri.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tawa yang tinggi serak dan aneh karena suara itu setengah tertawa setengah menangis!

Kalau suara itu terdengar malam tadi, pasti Li Hong akan tersentak kaget dan ketakutan.

Akan tetapi karena malam sudah terganti pagi, ia tidak kaget atau terkejut, lalu bersama Ceng Ceng memandang ke arah datangnya suara tawa itu.

Muncullah si pemilik suara.

Ia seorang nenek-nenek akan tetapi lebih pantas disebut hantu daripada manusia.

Atau lebih menyerupai mayat berjalan.

Tubuhnya kurus agak bongkok, rambutnya riap-riapan sudah putih semua.

Yang mengerikan adalah pakaian dan wajahnya.

Pakaiannya dari kain mori putih yang biasa dipakai orang yang sedang berkabung dan mukanya putih pucat seperti muka mayat.

Akan tetapi matanya mencorong aneh.

Usianya tentu sudah lebih dari enampuluh tahun.

Tangannya yang kurus, hanya tulang terbungkus kulit, memegang sebatang tongkat hitam dan sepatunya juga hitam dengan lapis besi pada ujung dan bagian bawahnya.

Mengerikan sekali keadaan nenek ini yang mengeluarkan suara seperti tawa dan tangis itu.

Akan tetapi Li Hong dan Ceng Ceng lebih memperhatikan laki-laki tinggi besar yang mengenakan pakaian panglima dan yang berjalan di samping nenek itu.

Dia bukan lain adalah Kim Bayan, panglima Mongol yang pernah bertanding melawan mereka itu.

Kalau Ceng Ceng yang orang tuanya dibunuh masih tampak tenang saja, sebaliknya Li Hong menjadi marah bukan main melihat panglima yang telah menangkap dan menyiksa orang tuanya.

Dengan tangan memegang Ban-tok-kiam, telunjuk tangan kiri Li Hong menuding ke arah muka panglima itu sambil membentak marah.

"Anjing srigala Kim Bayan! Engkau datang menyerahkan nyawamu? Bagus! Pedangku akan minum darahmu untuk menebus dosamu terhadap orang tuaku dan orang tua Ceng Ceng!"

Setelah berkata demikian Li Hong sudah menerjang dengan pedangnya ke arah Panglima Kim Bayan.

Pedangnya berubah menjadi sinar hijau ketika meluncur dan menusuk ke arah dada Kim Bayan.

Panglima itu sudah tahu akan kehebatan "pemuda"

Itu, maka dia cepat mengelak dengan loncatan ke belakang.

Ketika Li Hong hendak mengejar, tiba-tiba sebuah tongkat hitam menghadangnya dan ternyata nenek yang menyeramkan itu telah berdiri di depannya sambil terkekeh.

"Heh-heh-hi-hi-hik.......!"

Ia setengah terkekeh setengah menangis dan wajahnya yang pucat seperti mayat itu tidak menunjukkan perasaan apa pun, tetap dingin seperti wajah yang sudah mati.

"Inikah gadis pembawa peta yang kaumaksudkan itu, Kim Bayan?"

Panglima itu mengerutkan alisnya. Mengapa bibi gurunya yang juga dia sebut ibu guru itu mengatakan "gadis"

Padahal yang dihadapinya adalah seorang pemuda? Akan tetapi dia sudah mengenal keanehan bibi guru yang juga menurunkan ilmunya kepadanya, maka dia tidak berani mencela, hanya menjawab.

"Subo, bukan pemuda itu yang saya maksudkan, melainkan gadis berpakaian putih ini."

"Heh-heh-hi-hik! Mana ada pemuda? Kim Bayan, agaknya matamu sudah kurang awas, maka gadis berpakaian pria ini kausangka seorang pemuda. Hi-hi-hik, gadis ini baik sekali, cocok kalau menjadi muridku. Aku suka gadis ini, Kim Bayan. Kautangkaplah gadis yang kauinginkan itu, aku akan menangkap yang ini!"

Lalu memandang Li Hong dengan matanya yang mencorong dan bertanya dengan suara lembut.

"Eh, manis, siapa namamu?"

Ceng Ccng sudah pernah mendengar dari mendiang ayahnya maupun paman gurunya tentang orang-orang yang menguasai ilmu setan, maka cepat ia berseru.

"Jangan sebutkan namamu!"

"Heh-heh-heh, anak manis, apakah engkau begitu pengecut sehingga takut menyebutkan namamu?"

Li Hong yang tadi mendengar seruan Ceng Ceng, tadinya percaya dan tidak ingin menyebutkan namanya.

Akan tetapi nenek itu ternyata sudah dapat mengenal watak gadis ini, maka sengaja memancing dengan mengatakan ia takut dan pengecut.

Dengan mata melotot dan muka merah Li Hong membentak.

"Nenek iblis! Siapa takut padamu? Namaku adalah Tan Li Hong! Hayo katakan siapa engkau agar tidak mampus di ujung pedangku tanpa meninggalkan nama!"

"Hi-hi-hik, anak manis. Dengar baik-baik, namaku disebut Song-bun Mo-li (Iblis Betina Berkabung)! Tan Li Hong, dengar dan taati perintahku. Engkau berjodoh untuk menjadi muridku dan engkau akan kuberi pelajaran semua ilmuku. Berlututlah, muridku, dan beri hormat kepada gurumu!"

Suara nenek itu meninggi dan mengandung getaran yang amat berwibawa.

Li Hong terkesima dan seolah menjadi lumpuh ingatan, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan perintah itu demikian kuatnya sehingga ia hendak menjatuhkan diri berlutut!

"Li Hong!

Jangan menyerah, kerahkan tenaga saktimu dan lawanlah!

Demi Ayah Ibumu, jangan mau menyerah terhadap pengaruh sihirnya!"

Teriak Ceng Ceng yang tahu bahwa keteguhan batin mampu menolak kekuatan sihir. Hanya orang yang percaya dan lemah batinnya saja yang dapat tunduk terhadap kekuatan sihir.

"Tangkap gadis ini!"

Kim Bayan sudah memberi perintah kepada sebelas orang anak buahnya dan dia sendiri pun sudah menubruk untuk meringkus Ceng Ceng.

Terpaksa Ceng Ceng mengalihkan perhatiannya dari Li Hong dan untuk menghindarkan tangkapan Kim Bayan dan anak buahnya, ia bergerak cepat, mengerahkan seluruh ilmu gin-kang (meringankan tubuh) dan tubuhnya berkelebatan menjadi bayangan putih yang sukar sekali dipegang, apalagi diringkus!

Mendengar teriakan Ceng Ceng tadi, Li Hong sadar.

Teriakan itu seolah merupakan kilat yang menerangi pikirannya yang tadi gelap dan ia menyadari bahwa dirinya dipengaruhi sihir.

Nenek itu sama sekali bukan gurunya!

Nenek itu jahat dan harus dilawan dan dibasminya!

Cepat ia menggerakkan pedangnya dan mengeluarkan teriakan melengking didorong kekuatan khi-kang yang dahsyat.

Kemarahan membuat serangan Li Hong hebat sekali.

Pedang Ban-tok-kiam menyambar ke arah leher nenek itu.

"Trangg......!"

Tongkat hitam nenek itu menangkis dan Li Hong merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat, menandakan betapa kuatnya tenaga sakti nenek yang seperti mayat hidup itu.

Song-bun Mo-li juga kaget mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga sin-kang gadis berpakaian pria itu.

Ia menjadi semakin tertarik.

Kalau ia dapat mempunyai murid seperti ini, lihai, kuat, wataknya juga liar dan ganas, ia akan merasa bangga sekali!

Akan tetapi ia kecewa melihat betapa pengaruh sihirnya tidak mampu membuat gadis itu takluk kepadanya, juga terkejut melihat pedang bersinar hijau itu, karena ia mengenal senjata yang mengandung hawa beracun amat berbahaya, juga ia teringat bahwa ia pernah melihat pedang pusaka itu.

"Heii! Bukankah itu Ban-tok-kiam yang berada di tanganmu?"

"Hemm, sudah mengenal Ban-tok-kiam? Bersiaplah untuk mampus karena pedangku ini akan minum darahmu!"

"Huh! Pedang itu milik Ban-tok Kui-bo majikan Pulau Ular, bagaimana bisa berada di tanganmu? "Aku adalah muridnya!"

Jawab Li Hong dan ia sudah menerjang lagi.

Akan tetapi sekarang nenek itu melawan dengan ganas karena ia tidak tertarik untuk mengambil Li Hong sebagai muridnya.

Gadis itu murid Ban-tok Kui-bo yang pernah menjadi lawannya beberapa tahun yang lalu, maka inilah kesempatan yang baik baginya untuk menyatakan permusuhannya terhadap Ban-tok Kui-bo, dengan membunuh muridnya!

Ia memutar tongkatnya yang juga mengandung racun dan sinar hitam bergulung-gulung, menyambut sinar hijau pedang Ban-tok-kiam!

Dua gulungan sinar itu saling desak dan saling bergumul, merupakan pertandingan hebat dan mati-matian karena siapa yang terkena senjata lawan pasti akan keracunan dan tewas!

Akan tetapi, nenek itu memperkuat gerakan tongkat hitamnya dengan bentakan-benatakan yang mengandung kekuatan sihir sehingga beberapa kali Li Hong sempat terguncang dan ini tentu saja amat mengganggunya.

Masih baik baginya bahwa menghadapi nenek yang berbahaya itu, ia masih menang dalam hal kecepatan gerakan, maka biarpun mulai terdesak, Li Hong masih dapat meloloskan diri dengan kecepatan gerakannya.

Apalagi ketika kemudian ada lima orang anak buah yang berpakaian serba hitam itu membantu nenek itu mengeroyok, Li Hong menjadi semakin terdesak dan ia harus memutar pedangnya dengan cepat sehingga tubuhnya dilindungi gulungan sinar hijau.

Akan tetapi tetap saja ia terdesak dan beberapa kali hampir terkena sabetan golok para pengeroyok karena ia harus mencurahkan perhatiannya terhadap sinar hitam tongkat nenek itu yang bergulung-gulung bagaikan naga hitam mengamuk.

Tiba-tiba ketika Li Hong menangkis tongkat hitam yang meluncur dari samping ke arah pinggangnya, dua batang golok menyambar dari belakang.

Li Hong memutar tubuh sambil menggerakkan tangan kirinya.

Sinar hitam lembut menyambut dua orang anak buah dan mereka menjerit dan roboh berkelojotan terkena Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam) yang dilepas tangan kiri Li Hong!

Song-bun Mo-li menjadi marah melihat robohnya dua orang anak buah dan ia menyerang lebih ganas lagi.

Li Hong cepat mengelak dan melihat tiga orang anak buah berpakaian hitam menerjangnya, ia yang sudah mempersiapkan sehelai saputangan merah, mengebutkan saputangan itu ke arah muka mereka.

Debu kemerahan mengepul, akan tetapi Song-bun Mo-li yang sudah waspada berseru kepada anak buahnya.

"Tahan napas dan menjauh!"

Tiga orang itu menahan napas dan berlompatan ke belakang.

Li Hong adalah murid Ban-tok Kui-bo yang kini mengubah julukannya menjadi Ban-tok Niocu, maka tentu saja ia merupakan seorang ahli dalam hal penggunaan pukulan beracun atau senjata beracun.

Akan tetapi Song-bun Mo-li adalah seorang datuk yang banyak pengalamannya, maka tentu saja ia dapat menghadapi serangan-serangan Li Hong dengan senjata beracunnya.

Kini kembali Li Hong diserang dan didesak sehingga ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menggunakan senjata rahasia beracun berupa Hek-tok-ciam atau saputangan yang mengandung Ang-tok (Racun Merah).

Keadaan Ceng Ceng tidak lebih baik daripada keadaan Li Hong.

Melawan Kim Bayan seorang saja sudah merupakan lawan berat, apalagi masih ada empat orang anak buah yang ikut mengeroyoknya.

Tadinya bahkan ada enam orang anak buah yang mengeroyok, akan tetapi yang dua orang lagi kini membantu Song-bun Mo-li mengeroyok Li Hong yang lebih berbahaya bagi mereka.

Li Hong sudah membunuh dua orang anak buah dan gadis ini memang mengamuk untuk membunuh.

Sebaliknya, Ceng Ceng tidak mau membunuh orang dan serangannya hanya ditujukan untuk merobohkan lawan tanpa membunuh.

Hal ini mengurangi bahaya serangannya.

Akan tetapi ia mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat sehingga biarpun dikeroyok, ia mampu berkelebatan mengelak sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan putih.

Tongkat ranting di tangannya juga menyambar-nyambar mencari sasaran dan ia sudah berhasil menotok dua orang pengeroyok sehingga mereka roboh dengan tubuh terkulai lemah.

Akan tetapi Kim Bayan cepat memulihkan totokan itu sehingga para pengeroyok tetap ada empat orang anak buah membantu Kim Bayan.

Seperti juga Li Hong, Ceng Ceng terdesak hebat.

Hanya bedanya, kalau Li Hong terancam maut karena memang Song-bun Mo-li berniat membunuhnya, maka Kim Bayan yang tidak ingin membunuh Ceng Ceng memberi perintah kepada empat orang pembantunya untuk merobohkan Ceng Ceng, boleh melukai akan tetapi dilarang keras membunuh gadis itu.

Ketika dua orang gadis itu berada dalam keadaan yang gawat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan yang luar biasa cepatnya.

Bayangan itu menyambar ke arah para pengeroyok Li Hong dan tiba-tiba saja dua orang pengeroyok berteriak dan roboh mandi darah disambar sinar keemasan!

"Pouw-twako!"

Li Hong berseru girang. Melihat bayangan yang amat cepat didahului sinar keemasan itu ia pun tahu siapa yang datang membantunya.

"Li Hong, engkau cepat bantu Ceng Ceng!"

Kata Cun Giok dan dia lalu memutar pedang Kim-kong-kiam menyerang Song-bun Mo-li yang cepat menggunakan tongkat hitamnya untuk menangkis.

"Cringgg......!!"

Kini nenek itu terkejut karena pertemuan senjata itu membuat ia terhuyung ke belakang!

Tiga orang anak buah yang membantunya juga gentar karena ketika sinar keemasan yang menyambar dan mereka menyambut dengan golok, sebatang golok besar patah menjadi dua!

Akan tetapi yang goloknya patah cepat mengambil golok kawannya yang tewas dan mereka berempat kembali membantu Song-bun Mo-li mengeroyok pemuda yang baru datang dan yang ternyata amat lihai itu!

Sementara itu, Li Hong merasa girang melihat kedatangan Cun Giok.

Apalagi ia memang amat membenci Kim Bayan yang sudah menyiksa ayah ibunya dan membunuh orang tua Ceng Ceng.

Maka, mendengar ucapan Cun Giok, tanpa ragu lagi ia lalu melompat dengan cepatnya ke arah Ceng Ceng dan mengamuk.

Pedangnya yang bersinar hijau menyambar-nyambar dan dua orang pengeroyok roboh dan tewas dengan tubuh berubah menghitam terkena tusukan pedang Ban-tok-kiam yang beracun!

Melihat ini Kim Bayan menjadi pucat dan gentar.

Dia pernah menghadapi Ceng Ceng yang dibantu pemuda remaja ini dan dia tahu betapa lihainya mereka berdua.

Kini pembantunya hanya tinggal dua orang, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat ke belakang, diikuti dua orang pembantunya.

Ketika Ceng Ceng dan Li Hong hendak mengejar, Kim Bayan membanting sebuah benda yang meledak dan mengeluarkan asap hitam tebal!

"Tahan napas dan mundur!"

Seru Ceng Ceng yang segera mengetahui bahwa asap itu mengandung pembius.

Li Hong melompat ke belakang.

Sementara itu, Song-bun Mo-li juga gentar menghadapi pemuda yang gerakannya demikian cepat sehingga tidak dapat tampak nyata bayangan tubuhnya, segera mengerahkan kekuatan sihirnya dan berteriak melengking.

Cun Giok terkejut sekali karena dia merasa betapa jantungnya tergetar hebat.

Cepat dia mengerahkan sin-kang untuk menahan serangan suara yang mengandung sihir amat kuat itu.

Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Song-bun Mo-li untuk melarikan diri, diikuti anak buahnya yang tinggal tiga orang karena yang dua orang tadi sudah roboh tewas terserang pedang Kim-kong-kiam.

Ketika dia hendak mengejar, kembali Kim Bayan membanting alat peledak di belakang Song-bun Mo-li dan anak buahnya.

Asap hitam yang mengandung pembius itu menghalang dan Cun Giok tidak dapat mengejar.

Ketika asap menipis, Song-bun Mo-li, Kim Bayan, dan lima orang anak buah mereka yang berpakaian hitam itu telah lenyap.

Cun Giok menghampiri Ceng Ceng dan Li Hong.

"Ceng-moi, Hong-te, aku girang melihat kalian selamat. Mereka itu sungguh lihai sekali, terutama nenek itu amat berbahaya!"

Kata Cun Giok. Ceng Ceng teringat akan pesan Li Hong agar jangan membuka rahasia penyamarannya, maka ia pun tersenyum dan berkata lembut.

"Giok-ko, kalau tadi tidak ada....... Adik Li Hong ini yang semalam datang membantuku, aku tentu telah tertawan oleh mereka."

"Pouw-twako, nenek iblis tadi adalah Song-bun Mo-li seorang datuk dari utara yang selain lihai ilmu silatnya, juga mahir menggunakan ilmu setan dan sihir! Syukur engkau datang. Tadi aku sudah merasa heran mengapa engkau belum juga muncul, padahal semalam aku sudah mengatakan kepada Ceng Ceng bahwa engkau akan datang membantu."

"Maaf, aku memang kesiangan. Setelah melihat engkau tidak ada dan juga Kim Bayan dan subonya itu sudah pergi, aku cepat melakukan pengejaran. Hong-te, mengapa engkau pergi begitu saja semalam dan tidak memberitahu kepadaku?"

"Ah, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ceng Ceng, maka aku pergi mencarinya malam tadi. Untung bahwa aku dapat membantunya ketika anjing-anjing itu datang menyerang!"

Sambil tersenyum cerah Li Hong memegang tangan Ceng Ceng.

Melihat keakraban ini wajah Cun Giok menjadi merah dan jantungnya berdebar.

Li Hong jelas mencinta Ceng Ceng, pikirnya dan dia merasa betapa hatinya merasa kehilangan.

Dia cemburu!

Akan tetapi segera diusirnya perasaan itu dari hatinya.

Mengapa dia harus cemburu?

Li Hong bebas mencinta Ceng Ceng, dan Ceng Ceng juga bebas mencinta Li Hong.

Dia sendirilah yang tidak berhak mencintai wanita lain kecuali Siok Eng yang telah menjadi tunangan, menjadi calon isterinya!

"Nanti saja kita bicara.

Sekarang yang penting aku harus mengubur enam buah mayat itu!"

Kata Cun Giok untuk melupakan jalan pikirannya tadi.

"Bukan enam orang melainkan tujuh orang yang mampus, Pouw-twako! Semalam aku membunuh seorang anak buah mereka dan mayatnya berada di luar kuil dekat jendela,"

Kata Li Hong yang merasa bangga karena selain semalam ia sudah membunuh seorang musuh, tadi ia masih membunuh empat orang lagi.

Cun Giok merobohkan dua orang sehingga anak buah berpakaian hitam itu yang tewas ada tujuh orang sedangkan yang lima orang lagi berhasil melarikan diri.

"Akan tetapi, Pouw-twako, untuk apa susah payah mengubur mayat orang-orang jahat itu? Biarkan saja di situ dan kita pergi dari sini!"

"Li Hong, Giok-ko benar. Mayat-mayat itu harus dikubur. Mereka itu jahat sewaktu hidup, kini sudah mati dan tidak dapat berbuat jahat lagi. Yang kita tentang adalah kejahatannya bukan orangnya, apalagi kalau sudah mati. Dan menjadi kewajiban kita untuk mengubur jenazah orang, demi prikemanusiaan."

Lalu ia menoleh kepada Cun Giok dan berkata lembut.

"Giok-ko, mari kubantu engkau mengubur semua jenazah itu."

Cun Giok memandang kagum kepada gadis itu.

Setiap kali gadis itu bicara, selalu saja ada hal-hal baru yang amat mengagumkan, yang mencerminkan kepribadian yang amat bijaksana.

Sungguh tepatlah julukan gadis itu sebagai Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih) karena ia memang seperti seorang dewi kahyangan, baik kecantikannya maupun wataknya.

Dia mengangguk dan mereka berdua lalu mulai menggali lubang besar di depan kuil itu.

Walaupun mereka menggali lubang besar untuk tujuh buah mayat itu hanya menggunakan alat sederhana, yaitu batu dan kayu, namun karena keduanya memiliki lweekang (tenaga dalam) yang kuat, maka tak lama kemudian mereka sudah berhasil menggali sebuah lubang yang cukup besar.

Selama mereka berdua menggali itu, Li Hong hanya duduk di atas sebuah batu, memandang dengan mulut cemberut, sama sekali tidak mau membantu.

Ia merasa jengkel bukan karena mereka berdua hendak mengubur mayat-mayat itu walaupun ia tidak setuju, melainkan karena melihat keakraban antara Ceng Ceng dan Cun Giok.

Ia memang melihat sikap Ceng Ceng biasa saja, akan tetapi jelas bahwa pemuda itu amat kagum dan tertarik kepada Ceng Ceng.

Hal itu dapat ia rasakan melihat senyum dan pandang mata Cun Giok kepada Ceng Ceng.

Api cemburu membakar dadanya, akan tetapi ia diam saja, hanya cemberut murung.

Setelah lubang siap, Cun Giok mengangkut mayat-mayat itu dan akan memasukkannya ke dalam lubang.

Dia merebahkan dulu enam buah mayat yang masih utuh ke dekat lubang dan dia bergidik ketika hendak mengangkut mayat ketujuh.

Kepala mayat itu terpisah dari tubuhnya.

Kepala itu pecah dan tubuh mayat itu terluka dadanya sampai tembus.

"Giok-ko, mayat yang ini tadi mendadak hidup lagi, kepala yang terpisah dari badan itu mengamuk, juga badan tanpa kepala Li Hong yang merobohkannya. Ini merupakan ilmu setan yang mengerikan, agaknya Song-bun Mo-li yang melakukannya."

Ceng Ceng menerangkan kepada Cun Giok, melihat pemuda itu tampak ngeri melihat jenazah ketujuh itu.

Cun Giok merasa heran dan dia lebih dulu memasukkan mayat ketujuh itu ke dalam lubang.

Setelah itu dia memasukkan semua mayat itu, satu demi satu ke dalam lubang.

Akhirnya Li Hong merasa tidak enak juga berdiam diri saja melihat betapa Cun Giok dan Ceng Ceng tadi menggali lubang, kemudian melihat Cun Giok mengangkuti mayat-mayat itu.

"Mari kubantu menimbuni lubang!"

Katanya sambil menghampiri lubang kuburan yang terisi tujuh buah mayat itu.

Akan tetapi sebelum mereka bertiga melakukan penimbunan, tiba-tiba saja enam buah mayat berpakaian hitam itu berloncatan keluar dari lubang galian!

Hanya mayat ketujuh yang tetap menggeletak di dalam lubang.

Enam mayat hidup itu lalu menyerang Cun Giok, Ceng Ceng, dan Li Hong.

Tiga orang muda itu terkejut dan merasa ngeri.

Ceng Ceng menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak, akan tetapi ia terus dikejar dan dikeroyok tiga orang mayat hidup yang bergerak kaku namun gerakan tangan mereka mendatangkan angin, tanda bahwa mereka memiliki tenaga aneh yang amat kuat!

Li Hong juga terkejut, mukanya pucat, akan tetapi gadis ini sudah mencabut pedangnya dan melawan tiga orang mayat hidup lain yang mengeroyoknya.

Agaknya mayat-mayat hidup itu hanya mengeroyok Ceng Ceng dan Li Hong.

Mungkin hanya dua orang gadis itulah yang mereka kenal, sedangkan Cun Giok yang datang belakangan tidak mereka kenal maka tidak mereka serang!

Cun Giok percaya akan kemampuan Ceng Ceng dan Li Hong.

Dia lapat-lapat mendengar suara seperti orang berdoa yang datangnya dari arah barat.

Melihat betapa Ceng Ceng dan Li Hong dapat menghindarkan serangan pengeroyokan mayat-mayat hidup itu, Cun Giok berkata kepada mereka.

"Ceng-moi dan Hong-te, kalian pertahankan, aku akan mencari biang keladinya!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat lenyap ke arah barat.

Penciumannya dapat menangkap bau wangi yang aneh dan dia segera menuju ke arah dari mana datangnya bau aneh itu.

Benar saja dugaannya, tak berapa jauh dari situ dia melihat nenek baju putih yang seperti mayat itu sedang duduk bersila.

Ada dupa besar membara di depannya, di tengah-tengah lingkaran berbentuk aneh dari batu-batu kecil.

Nenek itu mengangkat kedua tangannya ke atas dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa.

Kim Bayan tampak berdiri agak jauh di belakang nenek itu, bersama lima orang anak buah yang berpakaian hitam-hitam.

Marahlah Cun Giok!

"Nenek siluman!"

Dia membentak lalu melompat dan menyerang nenek itu dengan pukulan Pai-bun-twi-san (Dorong Pintu Tolak Gunung), kedua tangannya dengan jari terbuka mendorong ke arah tubuh nenek yang duduk bersila itu.

"Wuuuuttt...... darrrr.......!"

Tubuh Song-bun Mo-li sudah mencelat ke belakang menghindarkan pukulan dan yang terkena pukulan dari atas itu adalah dua batang lilin menyala, dupa besar yang membara, dan susunan batu-batu membentuk lingkaran aneh itu sehingga berhamburan!

Song-bun Mo-li sudah tahu akan kelihaian Cun Giok, maka sambil mengeluarkan suara setengah menangis setengah tertawa ia melarikan diri, diikuti Kim Bayan dan anak buahnya.

Mereka khawatir kalau-kalau dua orang lawan yang lainnya datang sehingga mereka akan menghadapi bahaya, maka mereka melarikan diri tunggang-langgang!

Sementara itu, Ceng Ceng dan Li Hong yang masing-masing dikeroyok tiga orang mayat hidup, merasa ngeri.

Beberapa kali pedang Ban-tok-kiam di tangan Li Hong membabat putus lengan pengeroyoknya, akan tetapi mayat hidup itu tetap saja maju menyerangnya dan lengannya yang buntung seolah tidak terasa sama sekali, juga tidak mengeluarkan darah!

Demikian pula Ceng Ceng.

Beberapa kali ujung tongkat ranting di tangannya menotok dengan tepat jalan darah yang penting, namun mayat-mayat hidup yang ditotoknya itu sama sekali tidak roboh seolah totokan itu tidak dirasakannya.

Beberapa kali ia menendang dan begitu roboh, mayat hidup itu bangkit kembali dan menyerang membabi buta!

Tentu saja mereka merasa ngeri juga.

Li Hong teringat ketika ia membuat mayat hidup pertama benar-benar mati, yaitu dengan menusuk tembus jantungnya dan memecah kepalanya.

Maka kini ia menujukan pedangnya untuk menusuk dada sebelah kiri dan membelah kepala para pengeroyoknya yang mengerikan itu.

Akan tetapi tiba-tiba saja enam buah mayat hidup itu terkulai dan tak bergerak lagi!

Hal ini terjadi ketika Cun Giok memukul berantakan alat-alat yang dipergunakan oleh Song-bun Mo-li untuk berdoa dan menghidupkan mayat-mayat itu!

Ceng Ceng dan Li Hong saling berpandangan dengan heran.

Akan tetapi Ceng Ceng yang lebih banyak mengetahui tentang ilmu sihir dan ilmu setan seperti yang ia pernah dengar dari mendiang ayah dan paman gurunya, segera berkata.

"Li Hong, cepat kautusuk tembus jantung mereka!"

Li Hong bergerak cepat, pedangnya menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat ia telah menusuk tembus dada kiri enam buah mayat itu.

Ia juga membacok kepala mayat-mayat itu sehingga batok kepala mereka pecah.

Setelah itu, Li Hong menendangi mayat-mayat itu sehingga terlempar memasuki lubang galian!

Cun Giok berkelebat datang dan dia merasa lega melihat Li Hong dan Ceng Ceng dalam keadaan selamat.

Dia juga melihat betapa mayat-mayat yang tadi hidup lagi itu kini sudah berada dalam lubang galian.

"Benar saja, nenek iblis itu yang menggunakan ilmu setan menghidupkan lagi mayat-mayat tadi. Ia dan Kim Bayan sudah melarikan diri,"

Katanya.

"Li Hong telah menusuk tembus jantung mayat-mayat itu, dan membelah kepala mereka,"

Kata Ceng Ceng.

"Mari kita timbun lubang ini dengan tanah."

Mereka bertiga bekerja dan lubang itu telah ditimbuni tanah. Mereka masih menindih gundukan tanah itu dengan batu-batu besar.

"Kita harus cepat pergi dari sini. Agaknya Kim Bayan tidak akan tinggal diam. Kalau dia kembali ke sini membawa pasukan yang besar jumlahnya, akan sukarlah bagi kita untuk menghadapinya. Mari kita cepat pergi!"

Mereka lalu berlari cepat meninggalkan kuil di tengah hutan itu.

Setelah berlari puluhan mil jauhnya tanpa berhenti, akhirnya mereka berhenti di tepi sebuah sungai dan duduk di bawah sebuah pohon yang rindang.

Tempat itu teduh dan nyaman sekali.

Duduk di bawah pohon dekat sungai, dikipasi angin semilir, tiga orang yang baru saja berlari cepat itu merasa nyaman.

Mereka duduk di atas batu-batu yang terdapat banyak di tepi sungai.

"Jahanam Kim Bayan, sayang aku tidak dapat memenggal lehernya untuk membalaskan Ayah Ibuku yang pernah disiksanya!"

Kata Li Hong penasaran.

"Hong-te, di mana sekarang Ayah Ibumu itu?"

Tanya Cun Giok.

"Mereka sekarang tinggal bersama Subo di Pulau Ular,"

Jawab Li Hong akan tetapi ia merasa malu untuk mengatakan bahwa kini subonya, Ban-tok Niocu, menjadi isteri ayahnya.

"Sudahlah, jangan bercerita tentang aku, yang penting sekarang kita bicara tentang engkau, Ceng Ceng. Aku yakin bahwa jahanam Kim Bayan itu tidak akan mau berhenti sebelum mendapatkan peta itu darimu. Engkau akan terus dikejar-kejar."

Ceng Ceng menghela napas panjang.

"Biar bagaimanapun juga, aku tidak akan menyerahkan peta itu kepada Panglima Kim Bayan dan Pemerintah Kerajaan Mongol. Mereka tidak berhak memiliki harta karun itu. Harta karun itu harus diserahkan kepada para pejuang yang menentang penjajah Mongol dan yang berjuang membebaskan tanah air dari tangan penjajah. Biarpun harus berkorban nyawa, seperti yang dilakukan Ayah Ibuku, aku rela dan tidak akan menyerahkan peta itu!"

"Sebetulnya, harta karun apakah yang disembunyikan dalam peta itu, Ceng Ceng? Mengapa pula Ayah Ibumu mempertahankannya sampai berkorban nyawa dan engkau juga mempertahankannya mati-matian? Apakah engkau ingin memiliki harta karun dan menjadi kaya?"

Tanya Li Hong.

Cun Giok mengerutkan alisnya.

Pertanyaan Li Hong itu dia anggap tidak sopan, akan tetapi dia telah mengenal watak pemuda remaja ini yang memang liar dan ugal-ugalan walaupun pada dasarnya dia gagah dan membela keadilan.

Apalagi karena dia melihat Ceng Ceng tersenyum saja.

Agaknya memang sudah ada hubungan perasaan antara gadis dan pemuda itu!

"Sebetulnya peta itu merupakan rahasia besar Ayah......"

"Ceng-moi, kalau itu merupakan rahasia keluargamu, tidak perlu kaubicarakan kepada siapapun, bahkan tidak kepada kami berdua,"

Kata Cun Giok.

"Ah, mengapa harus dirahasiakan kepada kami? Apakah Ceng Ceng tidak percaya kepada kami setelah apa yang kita alami bersamamu? Huh, aku pun tidak ingin merampas harta orang!"

Kata Li Hong.

"Tidak, Li Hong, aku tidak akan merahasiakan kepada kalian berdua. Aku percaya sepenuhnya kepada engkau dan Giok-ko. Harta karun itu milik Kerajaan Sung yang dikorup oleh seorang pembesar kebiri, yaitu Thaikam Bong. Sebelum Kerajaan Sung jatuh, Thaikam Bong mencuri harta istana dan menyembunyikan harta itu di suatu tempat rahasia. Dia membuat peta tempat persembunyian harta itu dan kabarnya dia membunuhi semua orang yang membantunya menyimpan harta itu. Nah, sebelum pasukan Mongol menyerbu, Kerajaan Sung mengadakan pembersihan dan terutama sekali Thaikam Bong yang diketahui korup dan bersekutu dengan orang Mongol itu. Diserbu pasukan yang dipimpin oleh ayahku Liu Bok Eng yang ketika itu menjadi seorang panglima. Rumah Thaikam Bong dibakar dan hartanya dirampas. Ayah menemukan peta itu dan dibawanya ketika Ayah ikut mengawal Kaisar Sung yang melarikan diri ke selatan. Peta terus disimpan Ayah dan Ayah mengambil keputusan untuk kelak menyerahkan harta karun itu kepada para pejuang yang hendak mengusir penjajah Mongol. Ketika Ayah dan Ibu dipaksa menyerahkan peta dan ditolak sehingga orang tuaku terbunuh, Ayah telah meninggalkan peta itu kepada seorang sahabat dan kemudian diserahkan kepadaku. Agaknya tentang adanya peta harta karun itu diketahui Panglima Kim Bayan yang sekarang bermaksud merampasnya dariku. Demikianlah riwayat peta itu."

"Akan tetapi, Ceng Ceng, apakah Ayahmu pernah membuktikan kebenaran peta itu dan melihat sendiri harta karun yang disembunyikan?"

Tanya Li Hong. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.

"Ayah belum pernah mencoba untuk mencari harta karun itu. Niatnya hanya menyerahkan peta itu kepada para pejuang agar mereka yang kelak mencari sendiri kalau mereka membutuhkan biaya perjuangan mereka melawan penjajah."

"Ceng-moi, pertanyaan Hong-te tadi memang benar,"

Kata Cun. Giok.

"Kalau engkau belum membuktikan bahwa peta itu memang benar menunjukkan tempat penyimpanan harta karun, bagaimana kalau engkau serahkan kepada para pejuang kemudian setelah dicari ternyata tidak ada harta karun tersembunyi menurut peta itu?"

"Ya, engkau harus yakin bahwa peta itu tidak palsu atau bohong karena ayahmu hanya merampas dari Thaikam Bong, Ceng Ceng. Kalau kelak setelah engkau serahkan peta kepada para pejuang kemudian setelah dicari harta karun itu tidak ada, tentu hal itu akan membuat engkau malu dan mendiang orang tuamu akan dianggap sebagai pembohong."

Ceng Ceng tersenyum.

"Kalian benar, akan tetapi aku sendiri juga berpendapat begitu. Sebetulnya sekarang pun aku sedang melakukan perjalanan mencari harta karun itu untuk membuktikannya."

"Ceng Ceng, kalau engkau percaya kepadaku, aku akan membantumu mencari sampai dapat."

"Tentu saja aku percaya padamu, Li Hong."

"Ceng-moi, mengingat bahwa engkau tentu akan selalu dicari oleh Kim Bayan, maka perjalananmu mencari harta karun itu tentu akan mengalami banyak rintangan yang berbahaya. Maka, kalau engkau tidak keberatan, biarlah aku membantumu menghadapi semua rintangan itu,"

Kata Cun Giok.

"Tentu saja aku tidak keberatan, Giok-ko, bahkan aku merasa girang sekali kalau engkau mau membantuku. Dengan adanya Li Hong dan engkau membantuku, aku yakin kita bertiga akan dapat menemukan harta karun itu!"

Kata Ceng Ceng gembira.

"Mari kita lihat peta itu, agar kalian dapat pula mempelajarinya."

Ceng Ceng lalu mengambil gulungan peta dari balik bajunya dan setelah memeriksa dengan teliti keadaan sekeliling dan yakin bahwa tidak ada orang lain yang mengintai, mereka bertiga mempelajari peta yang dibuka oleh Ceng Ceng.

Setelah memeriksa dengan teliti, Li Hong mengeluh.

"Wah, kalau aku yang disuruh mencari harta karun itu, aku menyerah dan angkat tangan! Aku sama sekali tidak mengerti maksud peta ini, seperti teka-teki saja. Apa sih maksudnya garis-garis lengkung dan gambar naga dan burung Hong di tengah itu?"

"Kalau menurut pendapatmu bagaimana, Giok-ko?"

Cun Giok juga mempelajari peta itu dengan penuh perhatian. Kemudian ia menjawab.

"Garis-garis melengkung ini seperti menggambarkan pegunungan, Ceng-moi, letaknya di sebelah bawah atau sebelah selatan gambar naga dan burung Hong. Tentu tempat persembunyian itu berada di pegunungan itu. Gambar lingkaran kecil di pegunungan itu agaknya merupakan sebuah guha dan di situ ada titik merahnya. Maka kalau aku tidak keliru, harta karun itu disimpan dalam sebuah guha di pegunungan itu. Akan tetapi di mana letak pegunungan itu? Memang sukar mengartikan peta yang tidak ada tulisannya ini."

"Coba perhatikan, Giok-ko. Gambar yang ada hanya naga dan burung Hong. Pertanda apakah itu? Bukankah itu pertanda yang berarti Kaisar? Dan Kaisar itu tempatnya di istana, di kota raja. Lihat di atas kedua burung keramat itu, terdapat garis-garis melengkung yang lebih besar. Berarti, mungkin kalau aku tidak keliru, itu adalah pegunungan yang besar di sebelah utara kota raja Peking. Dan sebelah selatan atau di bawahnya terdapat lukisan garis-garis melengkung yang lebih kecil, yang berarti perbukitan seperti yang engkau kira. Dugaanmu tentang guha di perbukitan selatan itu kukira sudah benar. Perbukitan itu tentu berada di sebelah selatan kota raja dan seingatku di sebelah selatan kota raja memang terdapat perbukitan yang subur. Mari kita mencoba menyelidiki ke sana. Siapa tahu perhitungan kita benar."

Mereka bertiga mempelajari dan menghafal isi peta ini dalam ingatan mereka, menjaga kalau-kalau peta itu sampai hilang atau terampas orang mereka masih dapat mengingat dan mencari harta pusaka itu.

Setelah bersepakat, tiga orang ini lalu melanjutkan perjalanan mereka, kini mereka menuju ke perbukitan sebelah selatan kota raja.

Ketika Cun Giok, Li Hong, dan Ceng Ceng tiba di kaki perbukitan di sebelah selatan kota raja, mereka berhenti dan Ceng Ceng berseru.

"Ah, tak salah lagi. Perbukitan inilah yang dimaksudkan peta itu! Lihat, Li Hong, Giok-ko, tiga puncak bukit yang berjejer itu, tepat seperti tiga garis lengkung itu! Dan bukit yang di tengah itu, yang subur dengan hutan lebat dan padang rumput, tentu di sana tempat guha itu berada. Bukankah gambar lingkaran kecil itu berada di tengah perbukitan? Tak salah lagi, kita sekarang mendaki bukit di tengah itu dan mencari guha yang dimaksudkan dalam peta!"

Mereka merasa gembira dan bersemangat membayangkan bahwa mereka akan mendapatkan tempat disembunyikannya harta karun itu.

Ketika mereka tiba di kaki bukit bagian tengah, mereka bertemu dengan lima orang laki-laki yarg berpakaian sebagai pemburu binatang hutan.

Lima orang itu berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun dan tubuh mereka tegap dan tampak kuat karena pekerjaan mereka memang membutuhkan tubuh yang kuat.

Mereka membawa gendewa dan anak panah yang dikalungkan di leher dan pundak, dan tangan mereka memegang tombak.

Gulungan tali tergantung di pinggang mereka.

Ketika lima orang itu melihat dua orang pemuda dan seorang gadis yang ketiganya tampak lemah itu hendak mendaki bukit di tengah itu, seorang di antara mereka yang mukanya berewok menegur, setelah mereka berlima saling pandang dengan heran.

"Sam-wi (Anda Bertiga) hendak pergi ke manakah?"

Cun Giok menjawab dengan ramah.

"Kami bertiga hendak mendaki bukit ini. Kalau tidak salah dugaan kami, Twako berlima tentu para pemburu yang suka memburu binatang hutan, betulkah?"

"Mendaki bukit ini? Ah, maafkan kami, Taihiap (Pendekar Besar), apakah Sam-wi masih ada hubungan dengan Majikan Bukit Sorga ini?"

Cun Giok menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Twako. Kami hanya ingin jalan-jalan dan melihat keindahan bukit."

Lima orang itu kembali saling pandang dan kelihatan heran sekali. Si Berewok itu lalu berkata lagi.

"Ucapanmu itu membuktikan bahwa kalian bertiga bukan orang sini."

Kini dia tidak lagi menyebut taihiap, agaknya sebutan tadi dia pergunakan karena mengira bahwa tiga orang itu merupakan kerabat orang yang memiliki atau menguasai bukit yang disebut Bukit Sorga itu.

"Kalau kalian bertiga penduduk kota raja dan sekitarnya, pasti tidak akan berani mengantarkan nyawa sendiri di Bukit Sorga!"

"Hei, jangan bicara sembarangan kau!"

Li Hong membentak sambil melangkah maju, memandang Si Berewok dengan mata mencorong.

"Siapa yang mengantarkan nyawa sendiri? Mungkin kalian berlima yang mengantarkan nyawa kalian kalau berani menghalangi perjalanan kami!"

Lima orang pemburu itu tertawa melihat sikap Li Hong yang galak.

Mereka adalah lima orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, sekarang nrenghadapi seorang pemuda remaja yang tampak lemah berani mengancam mereka, hal ini sungguh menggelikan dan juga membuat mereka marah.

Akan tetapi Cun Giok segera maju dan mengangkat tangan memberi hormat kepada lima orang itu dan berkata halus.

"Ngo-wi Twako (Kakak Berlima), maafkan kami. Sesungguhnya, kami tidak mengerti apa yang Ngo-wi maksudkan tadi. Kami tidak berniat jahat, mengapa kalau mendaki bukit ini berarti mengantarkan nyawa? Siapakah yang memiliki bukit ini?"

Melihat sikap Cun Giok yang sopan, Si Berewok menghela napas panjang.

"Ah, memang kalian ini agaknya sama sekali tidak tahu dan tidak mengenal bahaya. Bukit Sorga ini adalah milik seorang yang amat besar kekuasaannya di kota raja, bahkan kabarnya kaisar sendiri menghormatinya dan bukit ini oleh kaisar dihadiahkan kepadanya. Majikan bukit ini selain besar kekuasaannya, juga sakti seperti seorang dewa. Tak seorang pun berani mendaki bukit ini, karena siapa berani mendaki berarti mati. Beberapa orang kawan kami dulu pernah tidak menghiraukan cegahan kami dan berburu binatang hutan di bukit ini dan mereka semua tidak kembali. Maka, kalau kalian bertiga hendak mendaki bukit, bukankah berarti kalian mengantarkan nyawa?"

"Bukan hanya sakti dan berkuasa, akan tetapi majikan bukit ini juga memiliki ilmu setan yang mengerikan sehingga kami semua hanya mengenal sebutannya, yaitu Kui-ong (Raja Setan) tanpa pernah dapat melihat orangnya,"

Kata orang kedua.

"Ah, Twako, mengapa repot-repot memperingatkan mereka. Ka!au dua orang pemuda ini hendak mengantarkan nyawa di bukit ini, tidak peduli dan biar mereka mati dimakan setan. Akan tetapi gadis ini yang cantik jelita seperti bidadari, sayang kalau sampai dimakan setan. Lebih baik ditinggalkan saja bersama kami, pasti selamat!"

Kata orang ketiga yang sejak tadi memandang Ceng Ceng dengan pandang mata penuh gairah.

"Tutup mulutmu yang busuk!"

Li Hong membentak dan ia sudah siap menghajar orang yang dianggapnya menghina Ceng Ceng itu.

"Apa kau kata?!"

Pemburu itu maju hendak memukul dan Li Hong sudah siap menghajarnya, akan tetapi Cun Giok lebih dulu maju dan menangkap pergelangan tangan pemburu yang hendak memukul itu dan berkata.

"Sabar, sobat. Kami tidak mencari keributan. Maafkan kami dan kami tidak akan sembarangan mendaki bukit ini."

Pemburu itu terkejut bukan main karena begitu pergelangan tangannya dipegang pemuda itu, dia merasa seluruh tubuhnya lemas kehilangan tenaga!

Maka begitu Cun Giok melepaskan lengannya, dia tidak berani banyak cakap lagi, malah berkata kepada teman-temannya.

"Mari kita pergi dari sini."

Dia mendahului pergi diikuti oleh empat orang temannya. Setelah lima orang pemburu itu pergi menuju ke bukit di sebelah, Li Hong mengomel.

"Pouw-twako, engkau ini bagaimana sih? Orang tadi seharusnya dihajar karena dia sudah mengeluarkan kata-kata kurang ajar terhadap Ceng Ceng! Kalau engkau begitu sabar, tentu orang tidak akan menghormati kita lagi!"

"Hong-te, ingat bahwa kita sedang melakukan penyelidikan. Mereka tadi setidaknya telah berjasa karena telah menceritakan keadaan bukit ini. Kalau kita membuat ribut dan terdengar oleh penghuni bukit ini, maka penyelidikan kita tentu akan menemui banyak rintangan dan kesulitan."

"Glok-ko berkata benar, Li Hong. Sekarang kita tahu bahwa pemilik bukit ini adalah orang yang berkuasa di Kerajaan Goan (Mongol), maka kita harus berhati-hati karena tentu saja penghuni bukit ini akan memusuhi kita kalau mereka tahu kita mendaki bukit ini."

Li Hong diam saja, hanya cemberut karena hatinya merasa tidak senang.

Sudah beberapa kali Cun Giok dan Ceng Ceng saling membenarkan!

Agaknya mereka itu saling dukung dan saling cocok!

Dengan hati panas ia menduga bahwa Cun Giok dan Ceng Ceng saling mencinta!

Akan tetapi ia pun mengerti bahwa Cun Giok berkata benar.

Mereka sedang menyelidiki tempat penyimpanan harta karun yang berada di bukit itu.

Tentu saja penyelidikan ini harus dilakukan dengan diam-diam agar jangan ketahuan orang lain.

Apa lagi ketahuan penghuni bukit itu yang ternyata masih kerabat istana kaisar Mongol!

Sebelum mulai dengan pendakian bukit, Ceng Ceng berkata kepada dua orang kawannya.

"Giok-ko dan Li Hong, karena kita akan berada di tempat berbahaya, kurasa sebaiknya kalau peta ini kita sembunyikan di sini. Kita sudah hafal gambar peta itu maka tanpa peta pun kita dapat mencari harta karun itu. Agar jangan sampai peta ini dilihat orang lain, maka baiknya disembunyikan. Andaikata kita mendapatkan halangan, seorang dari kita dapat saja mengambil peta ini. Bagaimana pendapat kalian?"

"Mengapa harus disembunyikan, Ceng Ceng? Kalau ada yang berani mengganggu kita, kita lawan. Dengan bertiga kurasa kita akan dapat menghancurkan setiap lawan yang berani mengganggu!"

Kata Li Hong gagah.

"Hong-te, Ceng-moi berkata benar. Tempat yang akan kita daki ini berbahaya sekali. Aku tahu bahwa engkau tidak takut, kami juga tidak takut. Akan tetapi ketahuilah, baru muncul nenek ib!is seperti Song-bun Moli saja ia sudah begitu lihai dan berbahaya. Siapa tahu di sini muncul pula orang-orang jahat yang sakti. Peta itu sebaiknya kalau disembunyikan di sini."

Kembali mereka saling mendukung dan membenarkan! Hati Li Hong menjadi panas sekali dan ia tidak mampu menahan kemarahan dan cemburunya. Mukanya merah, sinar matanya mencorong dan ia bangkit berdiri.

"Pouw-twako! Engkau selalu membela dan membenarkan Ceng Ceng! Ah, aku...... muak mendengarnya!"

Setelah berkata demikian, Li Hong lalu berlari pergi meninggalkan mereka.

"Hong-te......!"

Cun Giok berseru, akan tetapi Li Hong sudah pergi dan tak tampak lagi bayangannya.

Ceng Ceng dan Cun Giok bangkit berdiri dan mereka saling pandang, merasa kecewa dan menyesal.

Cun Giok menghela napas panjang dan berkata lirih.

"Dia cemburu......"

Dia yakin kini bahwa Li Hong mencinta Ceng Ceng sehingga marah mendengar dia membenarkan kata-kata gadis itu. Ceng Ceng mengangguk.

"Ia memang cemburu, Giok-ko."

Akan tetapi tentu saja ia maksudkan bahwa Li Hong cemburu kepadanya karena gadis itu mencinta Cun Giok!

"Ceng-moi, dia seorang pemuda yang baik sekali.

Dia mencintamu dan menyesal sekali aku telah menyakiti hatinya, telah membikin dia cemburu padaku."

Ceng Ceng mengerti bahwa pemuda itu salah sangka dan belum mengetahui bahwa Li Hong adalah seorang wanita.

Ia masih ingat akan permintaan Li Hong agar tidak membuka rahasia penyamarannya kepada Cun Giok.

Akan tetapi keadaannya sekarang berbeda.

Agar menghilangkan semua kesalah-pahaman, ia harus membuka rahasia penyamaran Li Hong kepada Cun Giok.

"Giok-ko, engkau salah sangka. Li Hong memang cemburu, akan tetapi bukan cemburu kepadamu, melainkan cemburu kepadaku. Ia amat mencintaimu, Giok-ko."

Cun Giok memandang heran.

"Maksudmu.......?"

"Giok-ko, Li Hong adalah seorang gadis yang cantik. Ia adalah murid Ban-tok Niocu dari Pulau Ular. Ialah yang dulu melukai Goat-liang Sanjin dan membunuh paman guruku Im Yang Yok-sian untuk memenuhi perintah gurunya. Tadinya ia berpesan kepadaku agar jangan menceritakan hal ini kepadamu karena ia takut kalau-kalau sikapmu kepadanya yang akrab itu akan berubah. Ia mencintamu, Giok-ko."

Cun Giok tertegun dan terkenanglah dia akan semua sikap Li Hong selama melakukan perjalanan dengannya.

Ah, betapa bodohnya, tidak pernah menduga bahwa Li Hong seorang gadis!

Dia lalu menghela napas panjang dan menatap wajah Ceng Ceng.

"Kalau begitu dugaan kita tadi berlawanan! Akan tetapi, baik Li Hong sebagai laki-laki maupun Li Hong sebagai perempuan, mengapa kita menduga bahwa ia marah karena cemburu kepada kita?"

"Hemm, mungkin karena engkau tadi membenarkan pendapatku,"

Kata Ceng Ceng lirih.

"Dan engkau juga pernah membenarkan pendapatku. Tadinya kusangka Li Hong seorang laki-laki yang cemburu karena mengira aku mencintamu dan ternyata ia seorang perempuan yang cemburu karena mengira engkau mencintaku. Ceng Ceng, benarkah perkiraan Li Hong itu?"

Sepasang pipi yang halus itu berubah kemerahan dan sambil menundukkan mukanya Ceng Ceng bertanya lirih.

"Perkiraan apa, Giok-ko?"

"Perkiraan pemuda Li Hong bahwa aku mencintaimu dan perkiraan gadis Li Hong bahwa engkau mencintaiku. Benarkah perkiraan itu?"

Kepala gadis itu semakin menunduk dan kini wajah yang jelita itu menjadi merah padam. Suaranya lirih dan gemetar ketika ia menjawab.

"Aku...... aku tidak tahu, Giok-ko......."

Cun Giok seolah terpesona.

Getaran suara bisikan gadis itu seperti memiliki daya tarik yang luar biasa.

Belum pernah selama hidupnya Cun Giok merasakan pengalaman seperti ini.

Dia merasa seperti ditarik oleh kekuatan yang amat hebat sehingga kedua kakinya melangkah menghampiri Ceng Ceng.

Seperti dengan sendirinya, seolah sudah sewajarnya, setelah mereka berhadapan dekat, Cun Giok dengan lembut menggunakan kedua tangannya untuk menyentuh kedua pipi Ceng Ceng dan mengangkat muka itu agar menghadap padanya.

Ketika Ceng Ceng diangkat mukanya sehingga dua pasang mata itu bertemu pandang, Cun Giok melihat betapa mata yang bening itu basah dan berlinang air mata.

Suara Cun Giok juga lirih gemetar ketika dia berkata.

"Ceng-moi, benarkah kedua perkiraan Li Hong itu?"

Ceng Ceng tidak dapat menundukkan mukanya karena kedua tangan Cun Giok dengan lembut masih menahan kedua pipinya, akan tetapi pandang matanya tertunduk ketika ia berkata dengan suara berbisik lirih sekali.

"......perkiraan apa.......?"

"Bahwa aku mencintaimu dan engkau mencintaiku. Ceng-moi, terus terang kuakui bahwa sejak pertama kali berjumpa denganmu, aku telah jatuh cinta padamu, kalau perasaan ini dapat dinamakan cinta karena belum pernah aku merasakan seperti ini. Demi Tuhan, aku cinta padamu, Ceng-moi dan perkiraan Li Hong itu benar. Akan tetapi, benarkah perkiraannya bahwa engkau...... juga cinta padaku.......?"

Ceng Ceng berbisik lirih.

".......aku juga...... baru sekali merasakan...... akan tetapi...... ahh, aku tidak mau menyakiti hati Li Hong......."

Kini beberapa tetes air mata turun ke atas kedua pipi yang halus kemerahan itu.

Melihat gadis itu menangis, hati Cun Giok tenggelam ke dalam keharuan cinta.

Dia mencium kedua pipi Ceng Ceng dan menghapus beberapa titik air mata itu dengan bibirnya.

Cinta mendatangkan keajaiban dalam diri manusia.

Beberapa tetes air mata gadis yang dicintainya itu terasa asin namun bagaikan air embun yang menyirami tunas cinta yang bersemi dalam hati Cun Giok!

Ceng Ceng sendiri gemetar ketika merasa Cun Giok mencium kedua pipinya dan mengecup air matanya.

Tubuhnya seperti dimasuki getaran yang membuat hatinya terguncang dan tubuhnya menjadi lemas.

"Koko......."

Ia berbisik dan tenggelam ke dalam rangkulan Cun Giok, membenamkan mukanya di dada pemuda itu.

Ia merasa begitu aman, tenteram, bahagia dan nikmat sehingga ia memejamkan kedua matanya dan tidak ingin membuka kembali matanya, tidak ingin keadaan seperti itu berubah, ingin selamanya berada dalam dekapan pemuda yang dicintanya itu.

Cun Giok merasakan hal yang sama.

Merangkul tubuh Ceng Ceng, mendekap muka itu di depannya, dia merasa seolah mendapatkan sebuah mustika yang tak terbayangkan nilainya, yang harus dilindunginya selama hidupnya.

Dia merasa seolah gadis itu memang sejak dulu menjadi bagian dari hidupnya.

Dengan hati dipenuhi rasa kasih dan haru, dia mempererat dekapannya, menunduk dan membenamkan kepalanya di rambut yang halus Iembut dan harum itu.

"Moi-moi......"

Dia berbisik dan pada saat seperti itu, dua hati seolah menjadi satu, segala sesuatu terasa indah, dan hidup berarti bahagia!

Akan tetapi, sudah menjadi kodratnya bahwa segala sesuatu di dunia ini sifatnya hanyalah sementara dan segala sesuatu pasti mengalami perubahan, tidak kekal adanya.

Demikian pula dengan keadaan Cun Giok dan Ceng Ceng.

Suasana asyik masyuk ketika keduanya tenggelam ke dalam lautan asmara, seperti terlena dalam dekapan, melayang-layang di angkasa dan terayun-ayun penuh kenikmatan, juga hanya sementara dan tidak kekal.

Seperti sebuah mimpi indah yang terganggu, seperti sinar matahari yang terhalang awan yang lewat, Ceng Ceng yang memejamkan mata bersandar di dada Cun Giok, tiba-tiba melihat bayangan wajah Li Hong dan telinganya yang tadinya hanya dipenuhi bunyi detak jantung pemuda yang dikasihinya itu, kini mendengar suara Li Hong ketika mengatakan bahwa gadis itu mencinta Cun Giok!

Awan itu tidak hanya menghalangi sinar matahari yang menerangi hati Ceng Ceng, akan tetapi juga menghalangi sinar matahari yang menerangi hati Cun Giok.

Kalau tadi, dalam keadaan asyik masyuk, dia pun memejamkan mata dan membenamkan mata dalam rambut Ceng Ceng, tiba-tiba hati dan pikiran yang tadinya dipenuhi gadis yang berada dalam dekapannya, kini muncul wajah lain.

Wajah seorang gadis yang manis, dengan wajah bulat dan lesung pipi yang menarik, sikapnya sederhana dan lembut, wajah Siok Eng, gadis lemah yang telah menjadi tunangannya!

Sinar kebahagiaan yang menerangi hati kedua orang muda yang dimabok cinta itu kini tidak secerah tadi.

Teringat akan Siok Eng, Cun Giok mengangkat mukanya dari belaian rambut kepala Ceng Ceng, sebaliknya Ceng Ceng yang teringat kepada Li Hong, juga mengangkat mukanya yang tadinya terbenam di dada Cun Giok.

Gerakan mereka ini berbareng dan Ceng Ceng melepaskan diri dari rangkulan kedua lengan Cun Giok.

Pemuda itu membiarkan gadis itu melepaskan diri, tidak menahannya.

Kini mereka berdiri berhadapan, dekat, namun tidak lagi bersentuhan.

Pandang mata mereka penuh kasih sayang, namun mengandung pula bayangan duka.

"Giok-ko, tidak seyogianya kita begini...... aku merasa bersalah kepada Li Hong......"

Kata Ceng Ceng sambil membetulkan sanggul rambutnya yang agak kacau karena tadi diobrak-abrik muka Cun Giok. Cun Giok menghela napas panjang.

"Maafkan aku, Ceng-moi. Akan tetapi, aku bersumpah bahwa cintaku hanya untukmu seorang, Ceng-moi. Tidak mungkin hatiku dapat mencinta wanita lain seperti aku mencintamu."

Ceng Ceng menghela napas panjang.

"Aku juga cinta padamu, Giok-ko. Akan tetapi aku tidak mau meletakkan cintaku di atas kehancuran hati Li Hong. Kebahagiaan cintaku akan ternodai oleh kedukaan hati Li Hong."

Cun Giok merasa terharu.

Alangkah mulia hati gadis ini!

Dia teringat akan dirinya sendiri.

Dia sudah ditunangkan secara sah dengan Siok Eng.

Kalau dia kini mengkhianatinya, alangkah akan rendah budinya dan mana dapat dibandingkan dengan keluhuran budi Ceng Ceng?

Dia menghela napas panjang dan merasa hatinya tertindih berat.

"Sudahlah, Ceng Ceng. Saat ini cukup bagi kita kalau kita merasa yakin akan cinta kasih kita satu sama lain. Ini akan mendatangkan kekuatan batin dan gairah untuk hidup. Soal ini kita bicarakan lain waktu. Sekarang yang terpenting, kita lanjutkan usahamu mencari harta karun itu. Akan tetapi, sebelum itu, ijinkanlah aku memelukmu sekali lagi, Ceng-moi.' Ceng Ceng merasa terharu dan ia hanya mengangguk dengan mata basah. Air matanya berlinang ketika Cun Giok merangkul dan mendekap kepalanya ke dada yang bidang itu. Cun Giok menundukkan mukanya dan mencium dahi gadis itu, di antara sepasang keningnya. Mereka berdekapan seperti itu, tanpa bergerak, sampai lama, seperti tenggelam dalam mimpi indah. Kini sepasang mata Ceng Ceng mengalirkan air mata karena ia merasa seolah dekapan itu merupakan tanda selamat berpisah. Demi Li Hong, ia tidak akan membolehkan lagi Cun Giok memeluknya karena kalau ia membiarkan dirinya dipeluk dan dicium, ia tidak akan kuat menolak dan hal ini merupakan pengkhianatan terhadap janjinya kepada Li Hong.

"Jahanam busuk! Engkau pengkhianat tak tahu malu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

Tentu saja Ceng Ceng dan Cun Giok merasa terkejut bukan main mendengar bentakan yang mereka kenal sebagai suara Li Hong itu.

Mereka tadi tidak mengetahui akan kedatangan Li Hong karena dalam keadaan asyik masyuk seperti itu kesadaran dan kewaspadaan mereka tentu saja berkurang.

Mereka cepat saling melepaskan diri dan memutar tubuh menghadapi Li Hong.

Cun Giok tertegun melihat bahwa yang dia hadapi adalah seorang gadis yang cantik jelita dengan sepasang mata bintang.

Dia mengenal betul mata itu.

Gadis itu adalah Li Hong dan setelah kini berpakaian sebagai wanita dengan tata rambut wanita pula tampak cantik sekali.

Akan tetapi pada saat itu, Li Hong tampak marah bukan main.

Matanya seperti berapi memandang kepada Ceng Ceng.

"Li Hong, bersabarlah, mari kita bicarakan baik-baik persoalan ini"""

Kata Ceng Ceng.

"Bicarakan baik-baik apalagi? Dasar gadis pengkhianat! Mampuslah!"

Ceng Ceng yang merasa bersalah, tidak menjawab.

Ia hanya memandang ketika Li Hong bergerak menyerangnya dengan dorongan kedua tangan yang mengeluarkan uap hitam!

Cun Giok terkejut, menduga bahwa tentu itulah pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang yang amat dahsyat itu, pukulan yang telah membunuh Im-yang Yok-sian dan melukai Goat-liang Sanjin!

Melihat gadis yang dikasihinya terancam bahaya maut, Cun Giok melompat sambil mendorongkan tangan menepis serangan Li Hong dari samping.

"Wuuutt...... desss......!!"

Li Hong terhuyung ke samping dan Cun Giok juga merasa betapa hawa panas memasuki tubuhnya melalui tangan yang menepis pukulan Li Hong.

Akan tetapi Ceng Ceng yang tadi sama sekali tidak mengelak itu selamat.

Begitu melihat Cun Giok melindungi Ceng Ceng, Li Hong semakin marah.

Tangan kirinya bergerak dan sinar-sinar hitam kecil menyambar ke arah Ceng Ceng.

Gadis itu terkulai roboh.

"Li Hong, engkau jahat!"

Cun Giok berseru sambil melompat mendekati tubuh Ceng Ceng yang roboh.

Li Hong maklum bahwa tidak mungkin ia melawan Cun Giok.

Selain ia tidak akan mampu menang, juga ia tidak ingin membunuh pemuda yang membuatnya tergila-gila itu.

Maka, sambil mengeluarkan pekik seperti orang menangis dan marah, ia melompat jauh dan melarikan diri.

Cun Giok tidak mempedulikan Li Hong lagi.

Dia membiarkan gadis liar itu melarikan diri dan seluruh perhatiannya dia curahkan kepada Ceng Ceng yang terkapar, telentang dalam keadaan pingsan.

Ketika memeriksa denyut nadi Ceng Ceng, Cun Giok merasa agak lega karena denyut nadinya masih kuat.

Akan tetapi dia melihat ada tanda darah di baju Ceng Ceng di bagian dada, sekitar sejari di bawah tenggorokkan.

Cun Giok menjadi bingung.

Untuk memeriksanya, dia harus membuka baju di bagian itu dan hal ini berarti melanggar kesusilaan.

Akan tetapi kalau tidak dibuka, bagaimana dia dapat memeriksanya?

Pula, dia melihat dari sinar hitam yang dilontarkan Li Hong tadi, timbul dugaannya bahwa Ceng Ceng agaknya terkena serangan senjata rahasia.

Maka, menyelamatkan nyawa Ceng Ceng yang terpenting.

Dengan hati-hati dia lalu membuka kancing baju bagian atas gadis itu dan tampaklah dua bintik hitam yang mengeluarkan beberapa tetes darah sehingga tampak noda darah dari luar.

Untunglah bahwa yang terluka itu bukan tenggorokan, juga bukan payudara Ceng Ceng, melainkan sejari di bawah tenggorokan.

Karena dua batang jarum hitam itu mengenai tulang dada, maka tidak menancap semua, masih tampak sedikit tersembul di luar kulit dada.

Cun Giok cepat menggunakan tenaganya mencabut dua batang jarum itu dan dengan khawatir dia melihat betapa di sekitar luka yang hanya merupakan titik itu dilingkari warna hitam.

Itu tandanya bahwa jarum-jarum itu memang mengandung racun!

Kalau dia tidak salah duga, jarum-jarum macam itu disebut Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam).

Biarpun payudara gadis itu tidak tampak sepenuhnya, namun kulit dada yang tampak itu putih mulus dan melihat dua lingkaran kecil menghitam menodainya, Cun Giok menjadi marah sekali kepada Li Hong.

"Gadis liar yang kejam!"

Dia berkata perlahan, kemudian dia menatap wajah Ceng Ceng yang tak bergerak dengan mata terpejam seperti tidur dan berkata.

"Ceng-moi, maafkan kelancanganku. Aku terpaksa harus melakukan ini."

Kemudian Cun Giok mendekatkan mukanya ke dada Ceng Ceng dan menempelkan mulutnya pada kulit dada yang terluka, lalu menyedot perlahan-lahan.

Setelah itu, dia meludahkan darah kehitaman dari sedotannya itu dan hal ini dilakukan berganti-ganti pada dua luka itu.

Setelah menyedot masing-masing tiga kali, sedotan keempat menghasilkan darah merah yang berarti bahwa racun itu sudah disedotnya semua.

Ceng Ceng mengeluh lirih dan nembuka matanya, tepat pada saat Cun Giok melakukan persedotan terakhir.

Cepat-cepat pemuda itu menjauhkan mukanya, menutupkan kembali baju itu pada dada bagian atas akan tetapi tidak sempat mengaitkan lagi tiga buah kancing baju itu.

Mukanya menjadi merah sekali ketika Ceng Ceng bangkit duduk sambil memandangnya dengan sinar mata heran dan juga terkejut.

"Maafkan aku, Ceng-moi. Melihat engkau terluka jarum beracun hitam, terpaksa aku harus mencabut batang jarum itu lalu aku...... aku menyedot darah yang keracunan keluar. Maafkan aku atas kelancangan dan pelanggaran susila itu, Ceng-moi."

Ceng Ceng menundukkan mukanya mengamati dada yang terluka, lalu mengancingkan kembali tiga kancing baju paling atas yang tadi terbuka.

"Ah, engkau tidak bersalah, Giok-ko. Engkau malah menolongku dan memudahkan aku mengobati lukaku ini. Hanya luka kecil, setelah racunnya kaukeluarkan, tidak berbahaya lagi dan sehari dua hari pun akan sembuh. Akan tetapi engkau......, kulihat mukamu merah sekali dan ketika aku sadar tadi, aku merasa betapa bibirmu panas sekali. Giok-ko, engkau terkena pukulan beracun!"

Ceng Ceng lupa akan keadaan dirinya sendiri dan mengkhawatirkan keadaan Cun Giok.

"Aku tadi menangkis pukulan Li Hong yang ditujukan padamu, Ceng-moi. Kalau aku tidak salah duga, ia menggunakan pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang seperti yang ia gunakan untuk membunuh Paman Gurumu dan melukai ketua Hoa-san-pai. Mungkin aku hanya terkena hawa beracun yang tidak berbahaya. Aku dapat membersihkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama."

"Kalau begitu, lakukanlah sekarang, Giok-ko. Aku sendiri akan mengobati, bekas luka ini,"

Kata Ceng Ceng dengan suara mengandung penuh perhatian terhadap Cun Giok.

Pemuda itu lalu bersila mengatur pernapasan, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) untuk mendorong keluar hawa beracun itu dari tubuhnya.

Baru menepis saja, dia sudah terkena hawa beracun pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang, apalagi kalau sampai terkena pukulan ampuh itu.

Tidak mengherankan kalau Im Yang Yok-sian tewas oleh pukulan itu dan Goat-liang Sanjin terluka parah.

Hanya selama air dijerang sampai mendidih, Cun Giok menghentikan pengobatan dirinya karena semua hawa beracun telah diusir dari tubuhnya.

Sementara itu, Ceng Ceng juga sudah menaruh obat bubuk pada lukanya.

"Sungguh tidak kusangka Li Hong dapat berbuat sedemikian kejinya terhadap dirimu, Ceng-moi. Betapa liar dan jahatnya gadis itu!"

Kata Cun Giok dengan marah, mengingat akan bahayanya penyerangan Li Hong terhadap Ceng Ceng tadi.

Kalau dia tidak menepis pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang tadi, atau kalau dua batang Hek-tok-ciam tadi mengenai satu jari lebih atas sehingga mengenai tenggorokan atau satu jari lebih ke bawah mengenai payudara, kiranya nyawa Ceng Ceng tidak mungkin dapat tertolong Iagi!

Ceng Ceng tersenyum.

"Tidak, Giok-ko, ia tidak jahat hanya kehilangan kesadarannya oleh perasaan marah."

"Akan tetapi mengapa engkau tadi sama sekali tidak membela diri, tidak mengelak atau menangkis ketika diserang Li Hong?"

"Giok-ko, ketika tadi Li Hong muncul dan menyaksikan keadaan kita, aku merasa bersalah kepada Li Hong. Aku merasa betapa hancur hatinya, betapa cemburu telah membakarnya sehingga api kemarahannya mendorong ia melakukan penyerangan kepadaku. Maka, aku pasrah dan tidak mau melawan."

Cun Giok menghela napas panjang.

"Ceng Ceng, mengapa pendapatmu seperti itu? Engkau keliru, Ceng-moi. Engkau tentu maklum bahwa aku sama sekali tidak mencintai Li Hong sebagai seorang wanita, aku tidak tahu bahwa ia wanita dan aku suka kepadanya sebagai seorang sahabat sesama pria. Engkau tidak mengkhianati siapa-siapa. Apakah kalau ada sepuluh orang wanita jatuh cinta padaku engkau juga sepuluh kali mengalah? Yang penting aku hanya mencinta engkau seorang. Tak mungkin aku dapat membalas cinta seorang gadis yang begitu jahat dan kejam seperti Li Hong! Ia telah membunuh paman gurumu Im Yang Yok-sian, melukai bahkan hampir membunuh Goat-liang Sanjin, sekarang ia hampir membunuhmu, betapa jahat dan kejamnya!"

"Giok-ko, engkau harus dapat memaafkannya. Ia tidak jahat karena semua perbuatannya itu ada yang mendorongnya. Ia melukai Goat-liang Sanjin karena mematuhi perintah gurunya, dan ia membunuh Paman Guru Im Yang Yok-sian karena menganggap bahwa Paman Guruku itu hendak menyembuhkan Goat-liang Sanjin yang berarti tugasnya akan gagal. Dan tadi ia hendak membunuhku karena ia dibakar cemburu dan menganggap aku berkhianat. Tempo hari ia pernah mengaku padaku bahwa ia mencintamu, Giok-ko. Aku tidak mau menyakiti hati orang karena hal itu pasti akan membawa akibat buruk."

"Aih, Ceng-moi, betapa mulia hatimu, engkau selalu mengutamakan perbuatan baik. Aku semakin kagum padamu, Ceng-moi."

Pandang mata Cun Giok penuh kasih sayang dan dia sudah menjulurkan tangan karena ingin ia merangkul gadis yang amat dicintanya itu.

Akan tetapi Ceng Ceng melangkah mundur dan sinar matanya menegur dan mengingatkan Cun Giok sehingga pemuda itu menekan keinginannya itu.

"Aku sama sekali tidak mulia, Koko. Aku sama saja dengan engkau atau orang-orang lain. Mungkin aku hanya lebih menyadari tentang makna kehidupan. Perbuatan yang didasari dan disengaja oleh pelakunya sebagai perbuatan baik, maka perbuatan itu sama sekali tidak baik lagi. Kalau orang menyadari bahwa dia melakukan kebaikan, maka di balik perbuatannya itu pasti tersembunyi pamrih mendapatkan imbalan. Imbalan itu dapat berujud uang atau benda berharga, dapat juga harapan atau pamrih imbalan lebih halus lagi seperti pujian dan dianggap orang yang baik, atau ditingkatkan lagi harapan imbalan mendapatkan sorga."

Cun Giok terkejut.

"Aih, Ceng-moi. Aku mengerti kalau melakukan kebaikan dengan pamrih mendapatkan imbalan uang, harta, atau pujian adalah salah. Akan tetapi apa salahnya kalau orang berbuat baik dengan harapan mendapatkan sorga kelak?"

"Giok-ko, pamrih atau harapan mendapatkan imbalan sorga apa bedanya dengan pamrih mendapatkan imbalan pujian atau harta benda? Pujian, harta benda, ataupun sorga itu dianggap menyenangkan dan menguntungkan, bukan? Kita menggambarkan sorga sebagai tempat yang indah dan menyenangkan, karena itu diinginkan orang. Coba, andaikata sorga itu digambarkan sebagai tempat yang amat tidak menyenangkan, apakah kita lalu tidak mau berbuat baik lagi karena imbalannya tidak menyenangkan? Perbuatan seperti itu, betapapun baik tampaknya seperti menolong sesama manusia umpamanya, bukan lain merupakan jual beli yang mengharapkan keuntungan atau kesenangan bagi diri sendiri. Kalau kita sengaja dan menyadari melakukan perbuatan baik dengan harapan mendapatkan sorga kelak, sama saja dengan kita menyogok Tuhan dengan perbuatan baik agar kelak mendapatkan sorga. Alangkah munafik dan palsunya perbuatan baik seperti itu, Giok-ko!"

"Aduh, Ceng-moi! Engkau bicara seperti seorang pendeta saja!"

Seru Cun Giok terkagum-kagum. Ceng Ceng tersenyum lembut dan manis.

"Sudah dua kali aku mendengar ucapan itu. Pertama Li Hong yang mengatakannya, sekarang engkau, Giok-ko. Untuk mengerti makna kehidupan, orang tidak harus menjadi pendeta."

"Kalau melakukan perbuatan baik yang disadari dan disengaja kauanggap munafik, lalu perbuatan bagaimana yang kauanggap baik?"

"Tidak ada perbuatan yang baik atau buruk, Giok-ko. Yang ada hanya perbuatan benar atau tidak benar. Perbuatan itu baru benar kalau dilakukan dengan dasar kasih sayang terhadap sesama manusia, hanya merupakan penyaluran Kasih yang dari Tuhan dan dianugerahkan kepada kita. Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menyalurkan segala berkat Tuhan kepada mereka yang membutuhkan. Berkat itu dapat berujud kepandaian, kekuatan, atau harta benda. Kewajiban kita untuk menyalurkannya kepada mereka yang sungguh-sungguh memerlukannya. Jadi, kalau perbuatan itu didorong oleh kasih sayang, maka kita hanya memenuhi kewajiban yang sudah seharusnya kita lakukan. Dengan demikian, maka apa yang kita lakukan itu merupakan suatu kewajaran, bukan kebaikan lagi dan di situ tidak ada pamrih apa pun."

"Ceng-moi, alangkah mulianya Ayah Ibu dan Paman Gurumu yang telah tiada. Engkau mendapatkan pengertian luar biasa itu dari mereka, bukan?"

"Orang tua dan Paman Guruku memberi dasarnya, lalu berkembang dengan cara membuka mata melihat seluruh alam semesta yang dipenuhi Kasih dari Tuhan. Hangatnya sinar matahari, sejuknya angin semilir, segarnya daun-daun pohon menghijau, harumnya bunga-bunga, indahnya suara burung, gemersik angin di pohon, gemerciknya air mengalir bercanda dengan batu-batu, nikmatnya hawa udara yang kita hisap, pendeknya dalam segala sesuatu penuh dengan Kasih itu. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menyalurkan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan? Kasih sayang itu membuahkan sikap yang lembut dan ramah, perbuatan yang dilakukan demi kepentingan orang lain, sabar, tidak pemarah dan tidak iri, jauh dari perasaan dendam dan benci."

"Aduh, Ceng-moi. Mau rasanya aku berguru kepadamu. Begitu banyak pengertian yang membuka hatiku seperti air yang bening menyejukkan. Akan tetapi masih ada sebuah hal lagi yang membuat aku merasa ragu. Tadi engkau mengatakan bahwa tidak ada yang dinamakan perbuatan baik atau buruk. Ceng-moi, Bukankan ada orang yang baik dan tidak baik?"

"Maaf, Giok-ko. Bukan maksudku hendak menggurui atau menganggap bahwa semua yang kukatakan itu baik atau benar. Aku hanya bicara mengeluarkan isi hati dan akal budiku, terserah kepada yang mendengar akan dianggap benar atau salah. Baik dan buruk bukanlah sifat aseli, melainkan pendapat orang berdasarkan penilaian. Adapun penilaian ini sebagian besar dilandasi kepentingan diri sendiri. Contohnya begini. Bagaimanakah hujan itu? Baik atau burukkah hujan? Hujan ya hujan, itu wajar, tidak baik dan tidak buruk. Baru muncul pendapat bahwa hujan itu baik atau hujan itu buruk kalau sudah dinilai orang yang berdasarkan kepentingan pribadi. Kalau hujan itu merugikan dirinya, tentu dianggap buruk, sebaliknya kalau menguntungkan, tentu dianggap baik! Sama saja penilaian terhadap orang. Kalau orang sedunia ini menganggap aku baik, akan tetapi kepadamu aku melakukan hal-hal yang merugikanmu, memusuhimu, apakah engkau bisa menganggap aku baik? Tentu tidak karena aku merugikanmu, maka engkau tentu menganggap aku jahat atau buruk. Sebaliknya kalau semua orang menganggap aku ini jahat, akan tetapi kepadamu aku bersikap baik dan menyenangkan, menguntungkanmu, apakah engkau bisa menganggap aku jahat? Tentu juga tidak, engkau pasti akan mengatakan bahwa aku baik! Nah, pendapatmu itu belum tentu benar, bukan?"

Cun Giok mengangguk-angguk.

Dia menghela napas panjang dan semakin kagum dan heran kepada gadis itu.

Seorang gadis masih begitu muda namun sudah memiliki pengertian yang demikian mendalam tentang hidup.

Mungkin masih banyak pengertian yang tersimpan dalam kepala yang berambut hitam lebat dan berwajah jelita itu.

Cinta yang timbul dalam hati Cun Giok diperkuat oleh kekaguman dan penghormatan.

"Giok-ko, sudah terlalu lama kita duduk bercakap-cakap di sini, marilah kita melanjutkan perjalanan kita mencari harta karun itu,"

Kata Ceng Ceng dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mendaki Bukit Sorga dengan hati-hati karena sekarang mereka maklum bahwa bukit itu mengandung bahaya yang besar bagi mereka.

Li Hong lari sambil menangis.

Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa betapa hatinya hancur.

Tadinya ia marah mendengar betapa Cun Giok selalu membenarkan semua pendapat Ceng Ceng, hatinya dipenuhi cemburu dan iri sehingga saking marahnya ia melarikan diri meninggalkan mereka.

Akan tetapi ia lalu teringat bahwa Cun Giok menganggap ia seorang pemuda.

Kalau ia muncul sebagai seorang wanita, belum tentu hati Cun Giok akan condong kepada Ceng Ceng.

Teringat akan hal ini, ia mengambil keputusan untuk menguji hati pemuda itu.

Ia menanggalkan pakaian prianya dan di bawah pakaian pria itu ia memang sudah memakai pakaian wanita agar tubuhnya tampak lebih besar dan pinggangnya tidak begitu kecil.

Kini ia berubah menjadi seorang gadis yang langsing dan jelita.

Tata rambutnya juga ia ubah sehingga kini Li Hong tampak sebagai seorang gadis cantik jelita.

Setelah berdandan sebagai seorang gadis, dengan hati-hati ia lalu kembali ke tempat tadi dan apa yang dilihatnya membuat ia marah dan panas seperti dibakar api!

Ia melihat Cun Giok dan Ceng Ceng saling berdekapan dengan mesra!

Kepalanya seperti akan meledak, isi dadanya terbakar panas dan ia pun tidak dapat mengendalikan diri lagi.

Dengan kebencian dan kemarahan yang meluap-luap terhadap Ceng Ceng, Li Hong langsung saja menyerang Ceng Ceng dengan pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang yang mematikan karena kebencian membuat ia ingin membunuh Ceng Ceng pada saat itu juga.

Akan tetapi Cun Giok menepis serangannya sehingga Ceng Ceng terhindar dari serangan, bahkan ia sendiri terhuyung.

Akan tetapi ia segera menyerang Ceng Ceng dengan Hek-tok-ciam dan dua batang jarum mengenai dada gadis itu.

Dalam kemarahannya, Li Hong tidak menyadari betapa terhadap semua serangannya itu Ceng Ceng sama sekali tidak membela diri, tidak mengelak atau menangkis!

Setelah dapat melukai Ceng Ceng dengan dua batang jarumnya, Li Hong lalu berlari pergi sambil menangis!

Luka di hatinya semakin parah.

Ia bukan saja melihat Cun Giok dan Ceng Ceng saling peluk, akan tetapi ditambah lagi sikap Cun Giok yang membela Ceng Ceng, menangkis pukulannya.

Hal ini sungguh amat menyakitkan hatinya dan gadis itu berlari dan menangis terisak-isak.

Ia tidak peduli lagi ke arah mana ia berlari cepat.

Tanpa disadarinya ia mendaki Bukit Sorga!

Setelah kesedihan dan kekecewaannya agak mereda dan kesadarannya kembali, baru Li Hong menyadari bahwa ia telah berlari sampai di lereng bukit bagian tengah.

Teringatlah ia akan gambar peta yang dibawa Ceng Ceng.

Ia herhenti berlari dan menggigit bibir dengan gemas.

Aku akan ambil harta karun itu, pikirnya.

Aku akan mendahului Ceng Ceng, akan menggagalkan usahanya mencari harta karun!

Pendeknya, ia akan melakukan apa pun juga untuk menghalangi dan menggagalkan semua usaha Ceng Ceng!

Ia membayangkan kembali isi peta itu dan ia merasa bahwa ia telah berada tepat di tengah lereng bukit.

Di daerah tengah inilah letaknya guha itu, pikirnya.

Mulailah ia berjalan perlahan, hendak mengitari bukit sambil memeriksa kanan kiri dengan teliti.

Ia harus menemukan guha itu lebih dulu dari Ceng Ceng dan Cun Giok!

Timbul pula gairah hidup dalam hati Li Hong.

Kini ada sesuatu yang penting, yang harus ia lakukan.

Kalau tadi rasanya ia lebih baik mati saja, kini timbul semangat baru, yaitu untuk membalas sakit hatinya kepada Ceng Ceng!

Kalau tidak lagi Ceng Ceng di dunia ini, tentu tidak ada halangan lagi baginya untuk mendapatkan cinta Pouw Cun Giok!

Ia merasa pasti bahwa kalau Ceng Ceng sudah disirnakan, tentu Cun Giok akan mencintanya.

Ia sudah merasakan betapa akrabnya sikap Cun Giok kepadanya ketika ia masih menyamar sebagai pria.

Selagi ia melangkah perlahan-lahan sambil mengadakan pengamatan di kanan kiri untuk mencari guha seperti dimaksudkan dalam peta.

Tiba-tiba ada angin besar meniup dari depan, menggerakkan puncak-puncak pohon.

Li Hong berhenti dan memandang heran, rambut dan ujung bajunya berkibas ditiup angin yang kuat.

Lalu terdengar tawa menyeramkan, suaranya berat dan mengandung getaran yang kuat sehingga Li Hong cepat mengerahkan sin-kang untuk melindungi jantungnya.

Sesosok bayangan berkelebat dari depan dan berhenti di depan Li Hong.

Bayangan itu ternyata seorang laki-laki tua.

Kakek itu berusia sekitar tujuhpuluh tahun, wajahnya penuh keriput, punggungnya bongkok, mulutnya menyeringai akan tetapi sepasang matanya mencorong seolah mata naga yang berapi-api!

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam yang gagangnya berupa kepala naga.

Pakaiannya mewah, seperti pakaian seorang bangsawan tinggi dan dia bahkan mengenakan perhiasan emas permata seperti kalung, gelang dan hiasan topinya yang tinggi.

Pakaian indah dan perhiasan serba mahal itu membuat kakek itu tampak lucu, akan tetapi juga menyeramkan.

Li Hong adalah seorang gadis yang tak pernah merasa takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

Biarpun ia dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti dan aneh, ia tidak merasa gentar, bahkan bertanya dengan sikap seenaknya seolah ia berhadapan dan bicara dengan seorang kakek petani.

"Kakek tua, apakah engkau yang berkuasa di bukit ini?"

Kakek itu bukan lain adalah Cui-beng Kui-ong, datuk besar utara yang menjadi seorang di antara guru-guru Kim Bayan dan datuk besar ini sudah amat berjasa ketika pasukan Mongol menyerbu daratan Cina.

Maka dia mendapatkan banyak imbalan jasa dari Pemerintah Mongol.

Bahkan Kaisar Kubilai Khan menghadiahkan bukit itu kepadanya dan Cui-beng Kui-ong menamakan bukit itu Bukit Sorga.

Hampir tidak pernah ada orang berani berkeliaran di daerah bukit itu, maka ketika mendengar pelaporan para anak buahnya yang diam-diam melakukan penjagaan bahwa ada seorang gadis muda cantik mendaki bukit, Cui-beng Kui-ong sendiri cepat menghadangnya.

Kini mendengar pertanyaan Li Hong yang diajukan tanpa basa-basi itu, Cui-beng Kui-ong menyeringai lebar dan dari kerongkongannya terdengar suara menggelegak seperti tawa iblis.

"Hak-hak-hak, bocah dari manakah engkau maka tidak mengenalku? Akulah yang disebut Cui-beng Kui-ong, majikan dari Bukit Sorga ini! Berani betul engkau berkeliaran di bukit ini tanpa ijin! Mau ke mana engkau, heh bocah perempuan yang lancang?"

Li Hong mengerutkan alisnya. Kakek itu terlalu memandang rendah padanya! Hatinya yang memang masih panas itu menjadi semakin marah.

"Huh, aku Tan Li Hong pergi ke manapun yang aku suka! Bukit ini merupakan sebagian dari alam, mana bisa kau akui sebagai milikmu begitu saja? Aku bebas melakukan perjalanan di sini dan jangan coba-coba untuk menakut-nakuti aku. Aku tidak takut kepada Raja Iblis Pengejar Arwah (Cui-beng Kui-ong)! Biar engkau memakai julukan Raja Kucing Pengejar Tikus pun aku tidak takut!"

Cui-beng Kui-ong kembali tertawa dalam kerongkongannya.

Seorang datuk besar yang sesat dan aneh seperti dia, bahkan tertarik dan senang melihat sikap Li Hong yang liar dan tidak mengenal takut.

Akan tetapi sebutan Raja Kucing Pengejar Tikus itu membuat matanya melotot lebar dan dia merasa dihina.

"Hak-hak, Tan Li Hong. Engkau ini bocah kemarin sore sudah berani menghinaku!"

"Kalau aku menghinamu, engkau mau apa!"

Bentak Li Hong yang sudah nekat karena sakit hati dan kemarahannya yang disebabkan oleh Ceng Ceng dan Cun Giok tadi.

Ia sudah nekat dan tidak takut mati, bahkan kini ia hendak menumpahkan semua kemarahan dan kebenciannya kepada kakek itu yang menjadi orang pertama yang ditemuinya sejak ia meninggalkan Ceng Ceng dan Cun Giok.

"Eh, eh, bocah gila, kalau aku ingin membunuhmu, engkau kira dapat terhindar dari maut?"

Cui-beng Kui-ong terkekeh walaupun dia mulai marah.

"Ingin membunuhku? Kakek setan, engkaulah yang akan mampus di tanganku!"

Setelah berkata demikian Li Hong sudah menerjang dan langsung saja ia menyerang dengan pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang yang dahsyat! "Wuuuttt.......!"

Dua buah tangan halus itu berubah menghitam, menyambar dengan dahsyatnya ke arah dada dan muka Cui-beng Kui-ong.

"Uhhhh......, plak-plakk.......!"

Cui-beng Kui-ong terkejut bukan main, akan tetapi masih sempat menangkis serangan dua buah tangan itu.

Tadi dia mengenal pukulan yang mengandung hawa beracun hitam dan kuat sekali sehingga dia yang tadinya memandang rendah itu hampir saja terlambat menangkis!

"Eh, bukankah itu Hek-tok Tong-sim-ciang?"

Dia bertanya sambil melompat ke belakang dan memandang penuh perhatian kepada Li Hong.

"Engkau takut? Kalau takut pergilah dan jangan ganggu perjalananku!"

Kata Li Hong dengan suara mengejek.

"Tan Li Hong, apakah hubunganmu dengan Ban-tok Kui-bo?"

"Jangan sembarangan menyebut nama orang! Ban-tok Kui-bo tidak ada, yang ada Ban-tok Niocu majikan Coa-to (Pulau Ular) dan aku adalah muridnya!"

"Hak-hak-hak! Kebetulan sekali. Belum sempat menghajar gurunya, sekarang muridnya. Hak-hak, lumayan juga untuk melampiaskan dendamku!"

Kata Cui-beng Kui-ong. Mendengar ini, Li Hong tersenyum mengejek. Kalau kakek ini mendendam kepada gurunya, hal itu mudah diduga sebabnya.

"Hi-hik, engkau dulu pasti dihajar jatuh bangun oleh guruku! Sekarang aku yang mewakili guruku untuk menghajarmu sekali lagi!"

Setelah berkata demikian, Li Hong mencabut Ban-tok-kiam, lalu menyerang kakek itu dengan ganas.

Bukan hanya pedang di tangan kanannya yang menyambar-nyambar seperti cakar maut, akan tetapi juga tangan kirinya menyelingi sambaran pedang dengan pukulan yang tidak kalah besar bahayanya karena gadis itu menggunakan pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun!

Biarpun dia lihai dan memiliki kesaktian ilmu sihir, namun Cui-beng Kui-ong merasa gentar juga menghadapi penyerangan gadis itu.

Pedangnya mengandung racun yang amat berbahaya, demikian pula pukulan tangan kirinya.

Maka, dia tidak mau menghadapi resiko mati keracunan.

Dia mengenal benar betapa hebatnya kepandaian Ban-tok Kui-bo dalam hal penggunaan racun, Cui-beng Kui-ong lalu membentak dengan suara menggetar dan tangan kanan menggunakan tongkat menangkis pedang sedangkan tangan kirinya begitu dibuka dan didorongkan ke depan, tampak asap hitam tebal menyambar ke arah Li Hong!

Dari bau asap hitam itu, Li Hong yang ahli tentang racun tahu bahwa asap itu tidak mengandung racun.

Akan tetapi asap hitam itu membuat pandang matanya tertutup sehingga ia tidak dapat melihat di mana adanya kakek itu.

Tiba-tiba ada angin pukulan menyambar-nyambar dari segala jurusan.

Dalam kegelapan asap hitam itu, Li Hong memutar pedangnya untuk melindungi dirinya dari serangan yang tidak dapat dilihatnya.

"Trakk!"

Pedangnya tertangkis dan menempel pada tongkat Cui-beng Kui-ong yang menggunakan tenaga sakti untuk menempel pedang dan pada saat itu, tangan kiri kakek itu telah menyambar dan menotok pundak kiri Li Hong.

Gadis itu mengeluh dan terguling roboh dengan tubuh lemas.

Pedang Ban-tok-kiam terlepas dari pegangan tangan kanannya.

Cui-beng Kui-ong tertawa berkakakan dengan gembira.

Dia mengebut-ngebutkan jubah luarnya yang mewah mengusir asap hitam buatannya.

Setelah asap itu membuyar dan pergi, dia melihat Li Hong telentang di atas tanah dengan sepasang mata memandang kepadanya penuh kebencian.

Sedikit pun gadis itu tidak memperlihatkan rasa takut walaupun ia sudah tidak dapat membela dirinya lagi.

"Hak-hak-hak-hak!"

Cui-beng Kui-ong memegang tongkat hitamnya dengan tangan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Dia tertawa-tawa sambil menghampiri Li Hong.

"Aku tidak akan membunuhmu, Tan Li Hong! Aku hanya akan membuntungi lengan kananmu dan kaki kirimu sehingga engkau akan dapat berloncatan pulang ke Pulau Ular. Heh-heh-heh, ingin aku melihat bagaimana muka Ban-tok Kui-bo kalau melihat muridnya!"

Li Hong maklum bahwa kakek iblis ini bukan sekedar mengancam.

Iblis tua itu pasti dapat melakukan apa saja dan ia berada dalam ancaman yang amat gawat.

Ia tidak takut mati akan tetapi ia merasa ngeri juga membayangkan dirinya hidup dengan kaki kiri dan lengan kanan buntung!

Akan tetapi karena ia tidak dapat mengerahkan tenaga saktinya dan kaki tangannya tidak dapat digerakkan, Li Hong hanya mampu memandang marah ketika kakek itu menggerakkan tongkatnya ke atas.

Ia tahu bahwa walaupun kakek itu hanya memegang senjata tongkat, namun dengan kepandaiannya yang tinggi dia tentu dapat menggunakan tongkat itu untuk membuntungi kaki dan tangannya seperti ancamannya tadi.

Li Hong tidak memejamkan mata melainkan memandang dengan mata terbuka lebar.

Ia sanggup menghadapi kematian dengar mata terbuka!

Akan tetapi pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Li Hong itu, mendadak terdengar jerit melengking.

"Kui-ong tua bangka tolol! Jangan bunuh muridku!"

Bayangan putih berkelebat dan seorang nenek berpakaian mori putih seperti mayat hidup telah berdiri di dekat Cui-beng Kui-ong dan di tangannya terdapat sebatang tongkat hitam seperti milik Cui-beng Kui-ong.

Agaknya ia siap untuk menangkis apabila tongkat Majikan Bukit Sorga itu akan melanjutkan serangannya untuk membuntungi kaki dan lengan Li Hong.

Cui-beng Kui-ong memandang kepada nenek yang seperti mayat hidup itu dan dia terbahak sambil menurunkan tongkatnya.

"Mo-li, kau iblis betina cerewet! Siapa bilang Tan Li Hong ini muridmu, jangan bohong kau!"

"Tua bangka, siapa bohong. Dengar sendiri pengakuan gadis ini."

Lalu Song-bun Moli, nenek yang seperti mayat hidup itu, memandang Li Hong dan bertanya.

"Heh, gadis liar setan cilik, engkau menjadi muridku, bukan? Atau, engkau memilih kehilangan tangan kanan dan kaki kiri?"

Tadinya Li Hong tidak sudi mengaku sebagai murid nenek iblis itu.

Ia pun tidak peduli kalau kaki tangannya dibuntungi atau dibunuh sekalipun.

Akan tetapi sebuah pikiran menyelinap di otaknya yang masih panas.

Ia teringat akan sakit hatinya terhadap Ceng Ceng.

Belum tentu ia mampu mengalahkan Ceng Ceng yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) istimewa itu, apalagi kalau ia dilindungi Pouw Cun Giok!

Akan tetapi, kalau ia dapat memperoleh ilmu dari nenek yang sakti ini, tentu ada harapan baginya untuk mengalahkan Ceng Ceng dan Cun Giok sehingga ia akan dapat membunuh Ceng Ceng yang sudah mengkhianatinya dan sudah merampas Cun Giok!

Kalau saja tidak ada pikiran ini, pasti ia tidak sudi mengakui nenek ini sebagai guru dan ia tidak takut mati!

"Baiklah, aku menjadi muridmu!"

Katanya dengan suara ketus.

"Hi-hi-hi......! Nah, kaudengar sendiri, Kui-ong? Gadis ini muridku, apakah engkau masih ingin membunuhnya? Aku pasti akan membelanya mati-matian!"

Kata nenek itu.

"Ha-ha-hak, terserah kalau engkau hendak mencari penyakit, Mo-li!"

Sambil tertawa terbahak-bahak kakek itu lalu berkelebat pergi menuju puncak bukit. Nenek itu lalu menghampiri Li Hong yang masih rebah telentang di atas tanah.

"Heh, muridku. Aku lupa lagi, siapa namamu?"

"Namaku Tan Li Hong."

"Bagus, Li Hong, mulai sekarang engkau menjadi murid Song-bun Moli dan kelak engkaulah yang akan mengangkat namaku menjadi semakin besar dan terkenal, he-he-heh. Berjanjilah bahwa engkau akan menjadi muridku yang baik."

Li Hong memang tidak berniat membohongi nenek ini.

Ia memang bersungguh-sungguh ingin mempelajari ilmu dari Song-bun Moli untuk memperkuat diri agar ia dapat membalas dendamnya kepada Ceng Ceng.

Maka ia pun menjawab dengan tegas.

"Aku berjanji akan menjadi murid Subo Song-bun Moli, murid yang taat dan baik."

"Hi-hi-hik, bagus-bagus. Engkau muridku yang baik!"

Nenek itu menggerakkan tongkatnya.

Ujung tongkatnya menotok pundak Li Hong dan gadis itu seketika dapat bangkit berdiri lagi dengan pedang masih di tangannya.

Song-bun Moli memandang dengan waspada dan siap siaga seandainya gadis liar itu menyerangnya.

Akan tetapi Li Hong tidak menyerangnya, bahkan ia lalu menyarungkan kembali Ban-tok-kiam dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Bagaimanapun juga, ia masih merasa belum dapat melakukan penghormatan yang lajim, yaitu berlutut di depan kaki nenek yang mengerikan itu.

"Subo, (Ibu Guru), teecu (murid) Tan Li Hong siap menerima petunjuk."

"Li Hong, mari kita pulang dulu. Kui-ong sedang menanti kunjungan muridnya dan tamu dari kota raja. Di sana ada pesta, kita jangan ketinggalan!"

"Pulang ke mana, Subo?"

Li Hong bertanya.

"Ke mana lagi? Ke puncak, aku tinggal bersama Cui-beng Kui-ong, Suhengku (Kakak Seperguruanku). Hayo, jangan kita terlambat!"

Diam-diam Li Hong terkejut.

Kiranya nenek yang lihai ini adalah adik seperguruan Cui-beng Kui-ong yang sakti.

Padahal, Kim Bayan menyebut ibu guru kepada nenek ini.

Kalau begitu, mereka yang berada di belakang Kim Bayan, yaitu kakek dan nenek ini, adalah dua orang yang amat sakti!

Pantas saja Panglima Kim Bayan berani bertindak sewenang-wenang terhadap siapa saja.

Kiranya di belakangnya ada dua orang yang dapat dia andalkan!

Mendengar bahwa Cui-beng Kui-ong mengadakan pesta menyambut kedatangan muridnya dan tamu dari kota raja, Li Hong mengerutkan alisnya.

Mungkin Panglima Kim Bayan akan muncul dan kalau bertemu dengannya tentu terjadi keributan.

Akan tetapi ia tidak takut, apalagi sekarang ia telah diaku sebagai murid Song-bun Moli.

Mereka lalu berlari cepat mendaki bukit menuju puncak.

Song-bun Moli merasa girang melihat betapa muridnya itu dapat berlari cepat sekali, bahkan dapat mengimbanginya!

Ia pun pernah bertanding dengan Li Hong maka ia tahu bahwa gadis ini setelah menerima pelajaran ilmu-ilmu yang paling diandalkan olehnya, tentu akan menjadi seorang tokoh wanita yang sulit dicari tandingannya di dunia persilatan!

Dan ia sebagai gurunya tentu akan merasa bangga sekali!

Ketika mendaki bukit menuju puncak, di sepanjang jalan Li Hong melihat perajurit berpakaian hitam-hitam berdiri berjajar di tepi jalan.

Mereka itu berdiri seperti patung, tak bergerak sama sekali.

Teringatlah ia akan lima orang mayat hidup yang pernah membantu Song-bun Moli dan Kim Bayan menghadapi ia, Ceng Ceng, dan Cun Giok.

Mayat-mayat hidup juga berpakaian hitam-hitam seperti mereka yang melakukan penjagaan di sepanjang jalan menuju puncak itu!

"Subo, apakah mereka itu mayat-mayat hidup seperti yang pernah membantu Subo ketika menghadapi aku?"

"Hi-hik, bukan, Li Hong. Mereka ini sama dengan anak buah yang dulu dibawa Kim Bayan, hanya orang-orang biasa yang sudah dilatih silat. Ketika mayat-mayat itu hidup lagi, itu adalah karena aku menggunakan ilmuku untuk menghidupkan mereka! Engkau akan kuajari ilmu sihir yang menghidupkan anak buah yang sudah mati, heh-heh-heh!"

Li Hong bergidik.

Biarpun gurunya seorang yang disebut Ban-tok Kui-bo (Biang Hantu Selaksa Racun) sebelum berganti menjadi Ban-tok Niocu dan gurunya itu ahli menggunakan racun yang amat hebat, namun gurunya tidak pernah mempelajari segala macam ilmu setan seperti itu!

Menghidupkan kembali orang mati?

Hebat sekali, akan tetapi mengerikan karena mayat-mayat hidup itu sudah bukan merupakan manusia biasa, melainkan benda mati yang hidup!

Baru setelah ditusuk jantungnya, mayat hidup itu akan tewas.

Kalau cuma ada bagian badannya yang buntung, dia akan menyerang terus.

Mengerikan!

Dan ia akan mempelajari ilmu setan itu?

Ia tidak suka, akan tetapi tentu saja ia diam dan tidak membantah.

Mereka tiba di puncak.

Di situ terdapat sebuah gedung mewah dan besar, teratur rapi dan dikelilingi taman bunga yang indah.

Di pekarangan depan terdapat sebuah alun-alun yang cukup luas.

Ketika mereka melewati alun-alun itu, Li Hong melihat beberapa orang laki-laki berpakaian serba putih berjalan-jalan di situ.

Akan tetapi cara mereka berjalan tidak seperti manusia biasa, melainkan dengan gerakan kaki yang kaku dan kedua lengannya tergantung kaku, tidak ikut bergerak!

Ia menghitung, ada sembilan orang seperti itu.

Rata-rata mereka bertubuh tinggi besar dan ketika ia melewat dekat, ia melihat betapa muka mereka itu pucat sekali dan mata mereka memandang kosong ke depan, tak pernah melirik, apalagi berkedip!

"Subo, siapakah mereka itu?"

Ia tak dapat menahan keinginan-tahunya. Song-bun Moli menyeringai.

"Jangan pandang rendah mereka, Li Hong! Aku sendiri pun gentar kalau membayangkan ketangguhan mereka. Mereka itu adalah Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Berjalan) yang merupakan Kiu-kwi-tin (Barisan Sembilan Iblis) yang diciptakan oleh Suheng Cui-beng Kui-ong. Mereka itu selain diisi tenaga mujijat oleh Kui-ong, juga diisi ilmu silat yang tinggi sehingga mereka menjadi barisan yang luar biasa tangguhnya."

Li Hong bergidik.

Ia merasa masuk ke sarang Raja Setan yang amat berbahaya.

ia memang dapat menimba ilmu-ilmu yang lihai di sini, akan tetapi apakah ia juga harus menjadi anggauta keluarga setan?

Hatinya menolak, akan tetapi ia diam saja.

Dari pintu depan muncul kakek berpakaian mewah tadi.

Cui-beng Kui-ong melangkah Keluar bersama seorang berpakaian panglima Kerajaan Mongol.

Hati Li Hong berdebar tegang karena ia mengenal Kim Bayan, bekas musuhnya.

Selain dua orang ini, terdapat pula seorang pemuda tampan gagah yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian mewah seperti seorang Kongcu (Tuan Muda) bangsawan.

Pemuda itu bukan lain adalah Kong Sek.

Seperti kita ketahui, Kong Sek adalah putera mendiang Panglima Kong Tek Kok.

Setelah dia gagal membunuh Pouw Cun Giok untuk membalas dendam kematian ayahnya dan musuh besarnya itu bahkan dibela Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, sumoi (adik seperguruan) yang juga menjadi tunangannya, Kong Sek merasa sedih dan juga marah sekali.

Dia merasa sedih melihat betapa Ai Yin yang dicintanya itu malah menentangnya dan membela musuh besarnya, dan dia juga marah karena gagal membunuh Pouw Cun Giok.

Maka dia lalu menghadap Bu-tek Sin-liong Cu Liong, gurunya dan juga ayah kandung Ai Yin dan mengadu kepada datuk besar itu.

Akan tetapi Bu-tek Sin-liong Cu Liong adalah seorang datuk besar yang keras dan aneh, akan tetapi juga gagah perkasa dan menghargai keadilan.

Dia menyambut dingin saja ketika Kong Sek mengadu tentang Ai Yin dan mengatakan bahwa menjadi hak Ai Yin untuk menentukan jodohnya dan dia tidak mau mencampuri urusan permusuhan antara Kong Sek dan Pouw Cun Giok.

Melihat gurunya tidak mendukungnya, Kong Sek lalu menghubungi Panglima Kim Bayan yang dulu menjadi pembantu ayahnya.

Dia menceritakan segala tentang Pouw Cun Giok yang berjuluk Pendekar Tanpa Bayangan dan minta bantuan panglima itu untuk menangkap atau membunuh musuh besarnya itu.

Ketika mendengar bahwa Kim Bayan sedang berusaha mencari peta harta karun, dia pun menyatakan siap membantu panglima itu.

Bahkan Kong Sek juga minta agar Kim Bayan membawanya kepada Cui-beng Kui-ong agar dia dapat mempelajari ilmu-ilmu kakek sakti guru Kim Bayan, maka pada hari itu dia bersama Kim Bayan berkunjung ke Bukit Sorga.

Karena Kong Sek putera Panglima Kong Tek Kok yang terkenal, juga karena pemuda itu membawa hadiah yang amat berharga, Cui-beng Kui-ong menerimanya, sehingga Kong Sek merasa gembira sekali.

Ketika Song-bun Moli muncul bersama seorang gadis yang amat cantik dan sikapnya gagah, Kong Sek memandang dengan heran akan tetapi juga tertarik sekali.

Di gedung milik Cui-beng Kui-ong memang terdapat belasan orang wanita muda yang cantik, yang menjadi selir-selir merangkap pelayan kakek itu, akan tetapi Kong Sek tidak merasa tertarik.

Maka, kini melihat seorang gadis cantik di situ, dia merasa heran akan tetapi diam-diam juga girang.

Sebaliknya melihat gadis itu, Cui-beng Kui-ong mengerutkan alisnya.

Gadis itu telah berani menghinanya dan dia diam-diam merasa iri kepada Song-bun Moli yang mendapatkan seorang murid yang demikian baiknya.

Dia sendiri hanya mempunyai seorang murid, yaitu Panglima Kim Bayan dan dia belum merasa puas memiliki murid yang seorang ini karena dia menganggapnya masih kurang berbakat.

Karena itu pula dia mau menerima Kong Sek sebagai murid dan mengharapkan pemuda itu yang kelak akan mengangkat namanya.

Yang terkejut sekali adalah Kim Bayan.

Panglima ini terkejut karena dia mengenal wajah Li Hong, yang pernah dua kali dijumpainya sebagai lawan membantu Ceng Ceng.

Akan tetapi ketika itu Li Hong berpakaian sebagai seorang pemuda.

Dia ingat betul wajah Li Hong, akan tetapi karena Li Hong kini berpakaian wanita, dia menjadi ragu.

Sebaliknya, ketika Li Hong melihat Kim Bayan berada di situ dan panglima itu memandangnya dengan mata melotot penuh selidik, ia tidak dapat menahan kemarahannya.

"Mau apa engkau melotot memandangku? Apa ingin melanjutkan perkelahian antara kita tempo hari?"

Katanya dengan ketus.

Kini Panglima Kim Bayan tidak ragu-ragu lagi.

Inilah pemuda yang pernah melawan dia dan membantu Ceng Ceng sehingga dia gagal menangkap Ceng Ceng yang dia yakin tentu mempunyai peta harta karun itu.

Dia mencabut goloknya dan siap untuk menyerang gadis itu.

"Inilah orangnya yang menggagalkan aku menangkap gadis puteri bekas Panglima Liu Bok Eng itu!"

Serunya sambil melangkah maju.

"Kim Bayan, jangan lancang engkau! Gadis ini adalah muridku, berani engkau hendak menyerangnya?"

Song-bun Moli berkata dengan sikap marah. Mendengar ini, Panglima Kim Bayan terbelalak heran.

"Murid Subo.......?"

Cui-beng Kui-ong terbahak.

"Hak-hak, Tan Li Hong ini memang menjadi murid Song-bun Moli. Jangan ganggu ia, Kim Bayan. Ia bahkan dapat membantu kita!"

Lalu kakek itu menghadapi Li Hong dan berkata sambil menyeringai lebar.

"He, bocah liar. Kenalkan, ini juga muridku yang baru, namanya Kong Sek!"

Akan tetapi Li Hong hanya memandang kepada Kong Sek tanpa memberi hormat. Sebaliknya Kong Sek sambil tersenyum mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata lembut.

"Nona Tan Li Hong, aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu."

"Mari, kita duduk dan menikmati hidangan, baru kita bercakap-cakap!"

Kata Cui-beng Kui-ong dan dia memberi isyarat kepada para pelayan.

Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar dan para pelayan lalu datang menghidangkan bemacam-macam sayuran dan minuman anggur.

Makanan yang dihidangkan itu serba mewah, juga disediakan anggur manis selain arak yang harum dan keras.

Sebagai seorang gadis yang sejak kecil hidup di Pulau Ular, makanan mewah dan makan bersama orang-orang lain merupakan hal biasa bagi Li Hong, maka ia pun makan dengan lahapnya karena memang perutnya sudah terasa lapar sekali.

Baru saja mereka selesai makan dan duduk di ruangan depan, Song-bun Moli yang sudah mendengar dari Kim Bayan tentang peta harta karun yang menurut dugaan dibawa Ceng Ceng, bahkan ia pun sudah membantu Kim Bayan untuk mendapatkan peta itu dari puteri mendiang Liu Bok Eng, segera bertanya kepada muridnya.

"Li Hong, muridku yang manis. Katakan kepada kami apakah gadis puteri mendiang Liu Bok Eng yang bernama Liu Ceng Ceng dan berjuluk Pek-eng Sianli itu mempunyai sebuah peta tentang harta karun yang dulu disembunyikan oleh mendiang Bong Thaikam kemudian terjatuh ke tangan mendiang bekas Panglima Liu Bok Eng ayah gadis itu?"

Li Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu, Subo."

"Tan Li Hong, jangan berbohong engkau!"

Panglima Kim Bayan membentak.

"Sudah jelas engkau membela Liu Ceng Ceng dan engkau masih dapat berbohong bahwa engkau tidak tahu akan hal itu?"

Li Hong mengangkat muka dan memandang dengan sinar mata galak.

"Kalau aku tidak tahu, engkau mau apa?"

Lalu timbul lagi kemarahannya kepada Ceng Ceng.

Bagaimanapun bencinya kepada Ceng Ceng, bukan watak Li Hong untuk menjadi pengkhianat dan membuka rahasia tentang peta itu yang sudah ia janjikan untuk ia ketahui sendiri besama Ceng Ceng dan Cun Giok.

Justeru kesetiaannya memegang janji ini membuat ia semakin marah kepada Ceng Ceng!

Ia lalu membentak.

"Persetan dengan Liu Ceng Ceng! Biar ia mampus, aku tidak peduli!"

Kim Bayan saling berpandangan dengan Cui-beng dan Song-bun Moli. Agaknya mereka senang mendengar ucapan terakhir Li Hong.

"Li Hong muridku! Apakah engkau ingin melihat Ceng Ceng mati?"

"Aku akan senang kalau dapat membunuhnya!"

Kata Li Hong.

"Hemm, engkau memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mengapa engkau tidak membunuhnya, bahkan membantunya? Jangan bohong! Engkau membantu Ceng Ceng mati-matian, kenapa sekarang mendadak berubah pikiran dan ingin membunuhnya?"

Tanya Cui-beng Kui-ong. Li Hong cemberut karena teringat kepada Cun Giok yang selalu membela Ceng Ceng.

"Ia mengkhianatiku! Ia harus mati di tanganku!"

Katanya seperti sedang bermimpi.

"Hi-hik, muridku. Apa sih sukarnya membunuhnya? Kulihat ilmu kepandaianmu sudah cukup tinggi untuk dapat membunuhnya,"

Kata Song-bun Moli.

"Aku tidak takut kepada Ceng Ceng! Akan tetapi Pouw Cun Giok itu selalu membelanya dan terus terang saja aku tidak mungkin dapat mengalahkan Pouw Cun Giok, apalagi mereka berdua!"

Kata pula Li Hong dengan suara gemas dan marah.

"Ah, Pouw Cun Giok Si Pendekar Tanpa Bayangan? Nona, biarkan aku membantumu! Aku harus bunuh si jahanam Pouw Cun Giok itu!"

Kata Kong Sek sambil bangkit berdiri dan mengepal tinjunya dengan muka berubah kemerahan dan matanya bersinar penuh kemarahan.

Akan tetapi, betapa heran dan kaget hati Kong Sek ketika tiba-tiba Li Hong juga bangkit dan menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah mukanya.

"Engkau hendak membunuh Pouw Cun Giok? Aku akan lebih dulu membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, Li Hong mencabut pedang hitamnya. Cui-beng Kui-ong berkata tanpa mengeluarkan suara tawanya yang terbahak. Suaranya terdengar marah.

"Song-bun Moli, murid macam apakah yang engkau pilih ini? Sebentar ia berpihak kepada kita, di lain saat ia membela pihak musuh dan menentang kita!"

Song-bun Moli menghadapi murid barunya.

"Hei, Li Hong. Apa maksud sikapmu ini? Engkau membenci dan hendak membunuh Ceng Ceng, akan tetapi engkau marah dan membela Cun Giok mati-matian! Bagaimana sesungguhnya isi hatimu? Engkau memihak kami atau memihak musuh?"

"Subo, aku harus membunuh Ceng Ceng karena ia telah merebut Pouw Cun Giok dariku!"

Mendengar ini, Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli tertawa, suara tawa mereka yang aneh itu amat menyeramkan.

Suara tawa Cui-beng Kui-ong berkakakan seperti suara burung gagak atau kabarnya ular yang besar suka mengeluarkan suara seperti itu.

Adapun suara tawa Song-bun Moli seperti orang tertawa setengah menangis.

Li Hong yang pemberani itu merasa ngeri juga mendengarnya.

Memang kelemahan Li Hong adalah kalau menghadapi sebangsa setan, iblis atau siluman yang serba menyeramkan!

"Hak-hak-hak, kiranya muridmu sedang tenggelam ke dalam lautan asmara, Mo-li!

Hak-hak-hak!"

"Li Hong, jadi engkau mencinta Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng itu merampasnya darimu? Aduh kasihan muridku sayang. Jangan khawatir, Ceng Ceng pasti akan mampus di tanganmu dan Pouw Cun Giok pasti akan kembali ke pelukanmu! He-he-heh-hi-hi-hik!"

Baca Juga: Bu Kek Siansu 5

Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert