Pendekar Tanpa Bayangan 7

Eps 7 Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Tanpa Bayangan - Kho Ping Hoo.

Li Hong diam saja.

Bagaimanapun juga, persekutuan dengan kakek dan nenek ini sebetulnya membuat hatinya tidak nyaman.

Akan tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain.

Kalau tadi ia tidak menyerah, ia pasti sudah mati dan ia tidak ingin mati dulu sebelum dapat membunuh Ceng Ceng dan lebih dari itu, sebelum ia mendapatkan Cun Giok sebagai kekasihnya.

Dan kiranya mereka inilah yang akan dapat membantunya sehingga niatnya itu terlaksana.

Kong Sek juga diam saja.

Akan tetapi hatinya merasa panas sekali.

Pouw Cun Giok adalah musuh besarnya yang telah membunuh ayahnya dan telah membasmi banyak perajurit kerajaan.

Dia harus membalas dendam sakit hati ini.

Akan tetapi sekarang, Cui-beng Kui-ong yang menjadi guru barunya itu agaknya hendak menyetujui keinginan Li Hong untuk membunuh Ceng Ceng dan menyelamatkan Pouw Cun Giok!

Dia harus menghalangi tindakan ini.

Dia harus membunuh Pouw Cun Giok!

Kalau perlu dia akan mengerahkan pasukan kerajaan yang besar jumlahnya.

Akan tetapi sementara ini, dia akan diam saja, karena dia merasa yakin bahwa Cui-beng Kui-ong dan Panglima Kim Bayan tentu akan mendukungnya.

Kalau mereka berdua mendukung, dia tidak takut lagi akan dukungan Song-bun Moli terhadap Li Hong!

Sementara itu, Panglima Kim Bayan juga tidak peduli akan urusan Li Hong yang hendak membunuh Ceng Ceng dan merampas kembali Pouw Cun Giok dari tangan Ceng Ceng.

Yang penting baginya hanyalah peta harta karun.

Dia harus mendapatkan peta itu!

Lalu dia teringat ketika untuk pertama kali dia dapat menangkap Ceng Ceng.

Dia tahu bahwa Ceng Ceng memiliki gin-kang yang amat hebat akan tetapi dia pun tahu akan kelemahan gadis itu.

Maka dia lalu berkata dengan tegas.

"Tidak dapat disangkal bahwa Liu Ceng Ceng dan Pouw Cun Giok memiliki kepandaian yang lihai, akan tetapi aku tahu bagaimana kita dapat mengalahkan mereka. Yang terpenting sekarang kita perlu mengetahui lebih dulu di mana mereka berada dan hal ini tentu diketahui oleh Nona Tan Li Hong. Nona, setelah engkau menjadi murid Subo Song-bun Moli, berarti engkau menjadi warga dan segolongan dengan. kami. Maka sudah selayaknya engkau membantu kami dan menceritakan di mana kita dapat bertemu dengan Liu Ceng Ceng dan Pouw Cun Giok."

Li Hong merasa ragu-ragu.

Ia memang membenci Ceng Ceng dan ingin membunuhnya, akan tetapi ia sama sekali tidak ingin menjadi pengkhianat, tidak mau menceritakan bahwa tadinya mereka bertiga bermaksud mencari harta karun yang menurut perhitungan banyak kemungkinannya terdapat di bukit itu.

Maka ia menjawab perkataan Panglima Kim Bayan tadi dengan gelengan kepalanya dan berkata.

"Memang tadinya aku bersama mereka, akan tetapi kami lalu berpisah dan aku tidak tahu mereka berdua itu berada di mana sekarang."

Pada saat itu, seorang anak buah Bukit Sorga yang berpakaian hitam-hitam datang memasuki ruangan depan di mana mereka sedang berbincang-bincang.

Dia membungkuk dengan hormat kepada Cui-beng Kui-ong.

Kakek ini membentak anak buahnya.

"Mau apa engkau mengganggu pembicaraan kami di sini?"

Anak buah itu membungkuk lagi dan tampak ketakutan melihat Cui-beng Kui-ong marah.

"Mohon beribu ampun! Hamba hendak melaporkan bahwa saat ini ada seorang pemuda dan seorang gadis mendaki bukit dan sampai di lereng tengah."

"Huh, begitu saja lapor. Lalu apa gunanya kalian melakukan penjagaan? Bunuh saja dua orang muda yang berani memasuki wilayah kita!"

"Ampunkan hamba. Tadi kami belasan orang sudah mencoba untuk menangkap atau membunuh mereka. Akan tetapi pemuda dan gadis itu pandai...... menghilang. Tiba-tiba saja mereka menghilang dan tahu-tahu kami semua terkena tamparan sehingga berulang-ulang kami roboh. Akhirnya kami tidak kuat melawan dan mundur, lalu hamba yang bertugas menyampaikan laporan kepada Paduka."

"Tidak salah lagi!"

Panglima Kim Bayan berseru.

"Mereka tentu Liu Ceng Ceng dan Pouw Cun Giok. Memang mereka berdua gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sehingga Ceng Ceng dijuluki Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih) dan Cun Giok dijuluki Bu-eng-cu (Pendekar Tanpa Bayangan)."

"Benar sekali! Mereka tentu Liu Ceng Ceng dan Pouw Cun Giok! Bagaimana menurut pendapatmu, Li Hong?"

Kata Song-bun Moli sambil memandang muridnya.

Tentu saja Li Hong tahu benar bahwa dua orang yang dimaksudkan dalam laporan anak buah itu pasti Ceng Ceng dan Cun Giok.

Kalau dua orang itu kini ketahuan keberadaan mereka di Bukit Sorga, hal ini bukan karena ia yang memberitahu.

Ia menjawab sambil lalu.

"Mungkin saja, Subo."

"Bagus! kalau begitu, mari kita tangkap mereka!"

Kata Cui-beng Kui-ong dengan girang. Akan tetapi Kim Bayan segera berkata.

"Suhu dan Subo, harap jangan tergesa-gesa. Tentu saja kalau kita maju bersama, kita akan mampu mengalahkan mereka berdua. Akan tetapi harap diingat bahwa kita ingin menangkap mereka hidup-hidup. Dan mengingat kelihaian mereka, saya suka menangkap mereka hidup-hidup. Mereka tentu akan melawan sampai mati dan kalau hal ini terjadi lalu apa untungnya bagi kita? Saya mempunyai siasat yang jauh lebih baik sehingga kita dapat menangkap mereka tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan mengorbankan banyak anak buah."

Kim Bayan bicara lirih mengemukakan siasatnya dan mendengar siasat panglima itu, Cui-beng Kui-ong terbahak dan Song-bun Moli terkekeh.

Keduanya merasa setuju dan girang sekali, memuji-muji kecerdikan Kim Bayan.

Akan tetapi Kong Sek dan Li Hong mengerutkan alisnya.

Mereka merasa kecewa mendengar bahwa dua orang muda itu akan ditangkap hidup-hidup.

Padahal Li Hong menghendaki matinya Ceng Ceng dan Kong Sek ingin melihat Cun Giok dibunuh untuk membalas dendam kematian ayahnya!

Akan tetapi mereka tidak berani membantah, apalagi mereka masih mempunyai banyak kesempatan untuk membunuh orang-orang yang mereka benci itu.

Setelah Panglima Kim Bayan mengemukakan siasatnya, mereka lalu meninggalkan gedung untuk melaksanakan apa yang telah diatur oleh Kim Bayan tadi.

Matahari telah naik tinggi.

Tengah hari baru saja lewat.

Cun Giok dan Ceng Ceng yang melangkah perlahan-lahan karena selain harus waspada terhadap kemungkinan adanya jebakan-jebakan, juga mereka meneliti setiap bukit yang mereka lalui, mencari-cari guha yang dimaksudkan dalam peta.

Setelah lama mereka mencari dan belum juga menemukan guha yang mereka cari, mereka berhenti sejenak sambil mengaso di bawah sebatang pohon yang rindang.

Cun Giok mengusap keringat dari muka dan lehernya, memandang kepada Ceng Ceng yang duduk tak jauh di depannya.

Juga gadis itu mengusap keringat dengan sehelai saputangan.

"Ceng-moi, mengapa engkau bersusah payah mencari harta karun itu? Engkau dan aku juga sama sekali tidak membutuhkan harta karun dan kalau pencarian ini terlalu membahayakan dirimu, untuk apa engkau memaksakan diri? Apakah tidak lebih baik hentikan usaha pencarian harta karun itu dan kita kembali turun bukit?"

Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Giok-ko. Engkau sendiri pernah mengatakan bahwa sebelum aku menyerahkan peta ini kepada para pejuang bangsa, sebaiknya kalau kita teliti dan buktikan dulu. Kalau kuberikan sekarang kepada para pejuang kemudian setelah mereka cari ternyata harta karun itu tidak ada, tentu aku dan terutama ayahku akan dianggap sebagai pembohong. Memang banyak resikonya dan berbahaya, Giok-ko. Akan tetapi demi menaati pesan terakhir ayah, aku siap untuk berkorban nyawa, kalau perlu. Akan tetapi engkau tidak ada sangkut pautnya dengan tugas ini, maka kalau engkau hendak pergi, silakan Giok-ko!"

"Ah, bukan begitu maksudku, Ceng-moi. Aku tadi hanya mengkhawatirkan keselamatan dirimu. Maafkan ucapanku tadi. Jangan katakan bahwa aku tidak ada sangkut pautnya dengan pencarian harta karun itu, Ceng-moi. Mendiang ayahmu adalah sahabat keluarga kakek dan ayahku dan setiap orang gagah wajib menentang kekuasaan penjajah. Karena itu, kalau engkau siap berkorban nyawa untuk melaksanakan tugas itu, demikian pula aku. Aku akan menemanimu sampai engkau dapat menemukan harta karun itu!"

Ceng Ceng tersenyum dan berkata lembut, dengan pandang mata penuh kasih.

"Terima kasih, Giok-ko!"

Tiba-tiba Cun Giok menyentuh lengan Ceng Ceng dan berbisik.

"Awas, Ceng-moi, ada orang datang!"

Pada saat itu memang ada tiupan angin yang tiba-tiba datangnya dan bagi kedua orang muda ahli silat itu sudah jelas bahwa ini bukan angin alami, melainkan angin buatan orang yang memiliki kesaktian.

Terdengar suara tawa yang menyeramkan.

Cun Giok dan Ceng Ceng cepat memutar tubuh menghadap ke arah datangnya suara itu.

Tampak asap putih mengebul tebal dan ketika asap itu perlahan-lahan pergi terbawa angin, muncullah dua orang dari dalam kepulan asap itu.

Seorang kakek dan seorang nenek yang menyeramkan.

Kakek Cui-beng Kui-ong yang bertubuh bongkok, mukanya keriputan dan usianya sudah tujuhpuluh tahun, mengenakan pakaian mewah yang membuat dia tampak semakin aneh, lucu, dan menyeramkan.

Di sampingnya berdiri nenek Song-bun Moli, berusia enampuluh tahun, kurus dan juga bongkok, pakaiannya mori putih, mukanya pucat seperti mayat.

Melihat sepasang kakek nenek yang menyeramkan ini, Cun Giok dan Ceng Ceng siap siaga karena mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan dua orang yang amat lihai dan berbahaya.

"Hak-hak-hak-hak! Dua orang bocah berani sekali memasuki daerah kekuasaanku tanpa ijin! Kalian agaknya sudah bosan hidup!"

Cui-beng Kui-ong mengangkat tangan kiri ke atas dan terdengar gerakan banyak orang, lalu muncul sekitar tigapuluh orang berpakaian hitam-hitam mengepung tempat itu.

Keadaan dua orang muda itu sungguh terancam dan gawat.

Baru menghadapi kakek dan nenek itu saja sudah merupakan tugas amat berat dan mereka tidak dapat merasa yakin akan mampu mengalahkannya, kini muncul sekitar tigapuluh orang berpakaian hitam yang siap mengeroyok dengan golok mereka!

Dan dua orang muda itu berada di tempat yang asing bagi mereka, tempat tinggal pihak lawan!

Akan tetapi Ceng Ceng dan Cun Giok sama sekali tidak merasa takut.

Ceng Ceng sudah memegang sebatang tongkat ranting pohon, sedangkan Cun Giok siap untuk mencabut Kim-kong-kiam.

"Hak-hak-hak! Kalian yang bernama Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng? Orang-orang muda yang nekat dan bosan hidup. Kalian berdua lebih baik menyerah saja daripada kami harus menggunakan kekerasan. Kalian melawan pun tidak ada gunanya!"

Kata Ciu-beng Kui-ong.

"Hik-hik-hik!"

Song-bun Moli terkekeh.

"Sayang kalau orang-orang muda seperti kalian mati konyol di sini. Liu Ceng Ceng, engkau tentu tahu apa yang kami cari! Serahkan peta harta karun Thaikam Bong itu kepada kami dan kami tidak akan membunuh kalian!"

Pada saat itu, Ceng Ceng dan Cun Giok teringat bahwa peta itu masih disimpan dalam baju Ceng Ceng.

Rencana mereka untuk menyembunyikan peta itu ketika mereka hendak mendaki bukit tidak jadi dilaksanakan karena kemarahan Li Hong yang lari meninggalkan mereka kemudian kembali dan menyerang Ceng Ceng.

Peta itu kini berada dalam saku di balik baju Ceng Ceng, Cun Giok mengenal benar watak Ceng Ceng yang sudah mengatakan bahwa ia akan melaksanakan pesan ayahnya dengan taruhan nyawa.

Benar saja, ketika mendengar ucapan Song-bun Moli dan Cui-beng Kui-ong tadi, Ceng Ceng menjawab dengan tegas.

"Aku tidak akan menyerah dan tidak dapat memberikan peta itu kepada kalian."

"Hak-hak-hak! Engkau rela mati dan tidak mau menyerahkan peta itu kepada kami?"

Cui-beng Kui-ong membentak dan memberi isyarat dengan tangannya. Tigapuluh orang anak buah berpakaian hitam itu kini mempersempit lingkaran dan agaknya mereka sudah siap untuk mengeroyok.

"Terserah, aku hanya menipertahankan benda yang bukan menjadi hak milik kalian,"

Kata pula Ceng Ceng.

"Hi-hi-hik! Engkau hendak memiliki sendiri harta karun itu, bukan? Serahkan saja kepada kami, kita bekerja sama dan nanti setelah harta itu ditemukan, engkau akan mendapatkan bagianmu."

Nenek Song-bun Moli membujuk. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak berhak memiliki harta itu."

"Lalu siapa yang berhak?"

Cui-beng Kui-ong bertanya penasaran sehingga dia lupa tertawa.

"Harta karun itu milik Kerajaan Sung. Karena kerajaan itu sudah jatuh, maka harta itu yang berhak memiliki adalah rakyat!"

Cui-beng Kui-ong marah dan dia memberi isyarat lagi.

Kini tigapuluh orang lebih anak buahnya yang berpakaian hitam itu mulai bergerak maju.

Ceng Ceng melintangkan tongkatnya di depan dada sedangkan Cun Giok sudah mencabut Kim-kong-kiam.

Mereka siap membela diri.

Begitu para pengepung itu menerjang maju, Ceng Ceng dan Cun Giok bergerak cepat seolah tubuh mereka menghilang dan terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya delapan orang anak buah Bukit Sorga!

Dalam segebrakan saja dua orang muda perkasa itu telah mampu merobohkan delapan orang!

"Tahan!

Semua mundur!!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Liu Ceng Ceng, lihat siapa yang menjadi tawanan kami!"

Ceng Ceng dan Cun Giok memandang dan ternyata yang membentak dan menyuruh semua pengeroyok mundur itu adalah Panglima Kim Bayan.

Yang membuat wajah Ceng Ceng dan Cun Giok terkejut adalah ketika mereka melihat Kim Bayan menempelkan golok besarnya yang berkilauan itu pada leher seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Li Hong!

"Li Hong......!"

Mereka berseru dengan mata terbelalak.

Li Hong yang ditawan dan ditempeli golok lehernya itu menjadi tawanan dengan kedua tangan diikat ke belakang.

Akan tetapi gadis yang tertawan itu memandang kepada Ceng Ceng dengan sinar mata berapi penuh kebencian!

"Liu Ceng Ceng, sekarang pilih.

Kau serahkan peta itu kepada kami atau harus kami sembelih dulu gadis ini, baru kami akan membunuh kalian?"

Li Hong sama sekali tidak tampak takut dengan ancaman itu dan ia masih memandang kepada Ceng Ceng dengan penuh kebencian.

Ancaman Kim Bayan itu hanya merupakan siasat yang sudah diatur lebih dulu.

Kim Bayan minta ia berpura-pura menjadi tawanan dan menurut panglima itu, dengan siasat ini, pasti Ceng Ceng akan menyerahkan peta itu dengan suka rela.

Ia sudah membantah pendapat ini karena ia tahu bahwa tidak mungkin sama sekali Ceng Ceng mau menyerahkan peta hanya untuk menolongnya.

Ia pernah membunuh paman guru Ceng Ceng, bahkan baru saja ia menyerang untuk membunuh Ceng Ceng dan telah melukainya dengan jarum Hek-tok-ciam.

Mana mungkin Ceng Ceng mau menukarkan peta yang amat penting baginya itu dengan nyawanya?

Akan tetapi Kim Bayan didukung Song-bun Moli mengatakan bahwa kalau siasat ini tidak berhasil, baru akan dilakukan kekerasan terhadap Ceng Ceng dan Cun Giok.

Mungkin saja Ceng Ceng menyembunyikan peta itu di suatu tempat, demikian kata Kim Bayan.

Dan kalau demikian halnya, percuma saja membunuh Ceng Ceng karena peta tidak akan dapat mereka temukan.

Li Hong menganggap alasan ini mungkin terjadi, apa lagi ia sudah mendengar rencana Ceng Ceng untuk menyembunyikan peta itu, maka ia pun menyetujui berpura-pura menjadi tawanan dan kedua tangannya diikat ke belakang.

Akan tetapi Li Hong melihat peristiwa yang sama sekali tidak disangkanya.

Mendengar ancaman K im Bayan untuk membunuhnya kalau Ceng Ceng tidak menyerahkan peta itu, tanpa ragu Ceng Ceng berkata.

"Panglima Kim Bayan, berjanjilah dulu sebagai seorang panglima bahwa engkau tidak aknn membunuh Li Hong, baru peta akan kuserahkan padamu."

"Ceng-moi......!"

Cun Giok berseru kaget.

Sikap kedua orang ini seketika membuat Li Hong merasa seolah semua tenaga dalam badannya melayang dan ia menjadi lemas.

Ceng Ceng mau menyerahkan peta demi menyelamatkannya, setelah apa yang ia lakukan terhadap gadis itu!

Padahal Ceng Ceng tahu betul bahwa ia akan membunuhnya, akan tetapi tetap saja Ceng Ceng berusaha menyelamatkannya!

Dan ia pun teringat ketika ia menyerang Ceng Ceng di kaki bukit, gadis itu sama sekali tidak mau mengelak, menangkis atau melawan.

Dan hal kedua yang membuat hatinya seperti disayat adalah melihat sikap Cun Giok.

Pemuda itu terkejut dan agaknya mencela sikap Ceng Ceng yang hendak menukarkan peta dengan nyawanya.

Ini berarti bahwa pemuda itu tidak cinta padanya.

Dugaannya selama ini ternyata keliru.

Cun Giok memang tampak suka, ramah dan baik terhadap ia sebagai seorang pria, dan tidak mencinta ia sebagai seorang wanita!

Ingin rasanya Li Hong menangis dan dorongan ini ditahan-tahannya, namun tetap saja kedua matanya mengalirkan butiran-butiran air mata.

Melihat Li Hong menangis tanpa suara, Kim Bayan merasa girang sekali dan kagum.

Disangkanya gadis yang kini menjadi murid Song-bun Moli itu bersandiwara agar siasat itu berjalan dengan baik dan berhasil.

"Berjanji? Ha-ha-ha, aku sudah bersumpah bahwa aku tidak akan membunuh Nona Tan Li Hong kalau engkau mau menyerahkan peta itu kepada kami!"

"Akan tetapi engkau harus berjanji bahwa kalau peta diserahkan, engkau tidak akan membunuh Nona Liu Ceng Ceng!"

Kata Cun Giok cepat-cepat.

"Juga tidak akan membunuh Kanda Pouw Cun Giok!"

Ceng Ceng menyambung cepat. Kembali Li Hong mendapat kenyataan betapa dua orang itu saling melindungi! "Baik, aku berjanji pula tidak akan membunuh kalian berdua kalau peta itu diberikan kepada kami,"

Kata Kim Bayan.

Kini tanpa ragu-ragu lagi Ceng Ceng mengambil peta itu dari saku sebelah dalam bajunya dan menyerahkannya kepada Kim Bayan.

Panglima itu membuka gulungan peta dan di belakangnya berdiri pula Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli yang ikut memeriksa peta.

Mereka mengangguk-angguk, lalu Kim Bayan berkata kepada Ceng Ceng dan Cun Giok.

"Sekarang kami minta kalian menjadi tamu kami untuk sementara. Ingat, Nona Tan Li Hong masih menjadi tawanan kami di tempat terpisah dan kami minta kalian menemani kami mencari harta karun sampai dapat kami temukan. Setelah itu, baru kalian bertiga kami bebaskan. Kalau kalian berdua membuat ulah, terpaksa kami akan tetap menahan Tan Li Hong!"

Cun Giok hendak memprotes, akan tetapi Ceng Ceng menyentuh lengannya dan ketika Cun Giok memandangnya, dia tahu bahwa gadis ini minta agar dia menurut saja.

Diam-diam Cun Giok semakin kagum kepada Ceng Ceng.

Gadis itu setelah diperlakukan sedemikian jahatnya oleh Li Hong, kini malah berusaha menolongnya, bahkan mengorbankan peta yang baginya teramat penting itu.

Ini sungguh sukar dipercaya!

Akan tetapi dia tidak sampai hati untuk menentang pendapat dan kehendak Ceng Ceng.

Demikianlah, Cun Giok dan Ceng Ceng diajak mendaki puncak bukit dan Li Hong lebih dulu dibawa pergi.

Karena itu, mereka tidak berani berbuat apa-apa.

Selama Li Hong masih di tangan pihak lawan, mereka berdua tentu saja tidak berani menggunakan kekerasan.

Akan tetapi, mereka diperlakukan sebagai tamu dan mereka tetap waspada.

Mereka mendapatkan dua buah kamar terpisah dan sekeliling kamar mereka dijaga ketat oleh anak buah yang berpakaian hitam-hitam.

Mereka dilayani dengan baik dan sebagai tamu-tamu yang dihormati.

Sementara itu, Panglima Kim Bayan mengadakan pertemuan dan rapat kilat di ruangan lain yang jauh dari kamar-kamar dua orang tamu setengah tawanan itu.

Yang hadir di situ adalah Kim Bayan, Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Tan Li Hong, dan Kong Sek.

"Paman Kim, mengapa Pouw Cun Giok itu dibiarkan hidup? Aku ingin dia diserahkan padaku agar dapat kupenggal kepalanya dan kucabut jantungnya untuk sembahyang kepada arwah ayahku! Serahkan dia kepadaku, Paman!"

Kata Kong Sek dengan muka merah dan mata bersinar-sinar. Pemuda ini menaruh dendam sakit hati kepada Pouw Cun Giok yang telah membunuh ayahnya, yaitu Panglima Kong Tek Kok. Kim Bayan tertawa.

"Ha-ha, orang muda selalu menuruti perasaan saja kurang mempergunakan akal. Lihat, aku menggunakan akal dan buktinya, kita bisa mendapatkan peta tanpa banyak susah payah. Kalau sekarang mereka dibunuh sekadar menuruti kemarahanmu dan kemarahan Li Hong, mungkin kita akan rugi besar."

"Akan tetapi bukankah peta sudah berada di tangan kita?"

Bantah Kong Sek.

"Mereka tidak ada gunanya lagi dan kalau tidak segera dibunuh, mereka mendapat kesempatan untuk meloloskan diri! Bukankah hal itu amat merugikan kita?"

"Itulah kalau orang muda hanya mempergunakan emosinya, tidak mempergunakan akal pikirannya. Kong-kongcu (Tuan Muda Kong), sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kalau nanti setelah kita menemukan tempat harta karun menurut peta, ternyata harta karun itu tidak ada. Mungkin saja peta itu adalah peta palsu yang sengaja dibuat gadis puteri bekas Panglima Liu itu. Nah, apakah sekarang engkau juga masih bernapsu besar untuk segera membunuh dua orang itu?"

Mendengar alasan yang dikemukakan Kim Bayan itu kuat sekali dan memang tentu saja ada kemungkinan mereka mendapatkan peta palsu, Kong Sek mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang.

Sebetulnya dia sudah tidak sabar lagi menanti, khawatir kalau-kalau Cun Giok yang Iihai itu akan terlepas lagi.

Akan tetapi pada saat itu Li Hong berkata dengan nada suara tegas.

"Benar sekali apa yang dikatakan Panglima Kim tadi! Mereka tidak boleh dibunuh sekarang. Harta karun itu harus ditemukan terlebih dulu agar jerih payah kita tidak sia-sia. Bahkan aku mengusulkan agar mereka berdua itu diajak bersama-sama mencari harta karun karena mungkin mereka lebih mengetahui di mana tempat persembunyian harta karun menurut peta itu."

"Aku tidak setuju!"

Kong Sek berkata penasaran. Dia tadinya memang kagum dan tertarik oleh kecantikan Li Hong, akan tetapi mendengar usul tadi dia segera menentangnya.

"Mengajak mereka bersama-sama mencari harta karun, sama saja dengan memberi peluang kepada mereka untuk membebaskan dan melarikan diri."

"Heh-heh, agaknya Kong-kongcu lupa akan siasatku yang ampuh tadi, yang telah berhasil membuat mereka menyerah dan memberikan peta kepada kita. Selama Nona Li Hong bersandiwara menjadi tangkapan dan sandera kita, jangan takut. Aku yakin mereka tidak akan melarikan diri dan meninggalkan Nona Tan. Mereka percaya bahwa kalau mereka berdua pergi, Nona Tan pasti kita bunuh!"

"Tepat sekali ucapan Kim-ciangkun (Panglima Kim) itu. Agar mereka tidak curiga, sebaiknya kalian ajak mereka mencari harta karun dan tinggalkan aku di sini dalam keadaan terjaga ketat, terbelenggu dan terancam. Perlihatkan keadaanku kepada mereka sehingga mereka akan selalu tunduk dan menyerah. Nah, kalau mereka sudah mau diajak mencari harta karun bersama dengan ancaman kalau mereka memberontak aku akan dibunuh kukira tempat persembunyian itu akan dapat ditemukan. Kalau sudah ditemukan, barulah kita membunuh mereka."

Semua orang setuju dengan usul yang dikemukakan Li Hong, bahkan Kong Sek juga setuju.

Memang bagi dia, ditemukan atau tidaknya harta karun tidak ada artinya.

Dia sudah cukup kaya karena warisan yang ditinggalkan Panglima Kong Tek Kong kepadanya cukup besar.

Yang paling penting baginya adalah membalas dendam kematian ayahnya itu.

Tentu saja kalau dapat, dia ingin membunuh Pouw Cun Giok sekarang juga.

Akan tetapi dia harus bersabar, tidak berani dia menentang Kim Bayan, apalagi menentang Cui-beng Kui-ong dan Song Bun Mo-li.

Dia harus bersabar karena bagaimanapun juga usul Li Hong tadi benar.

Pouw Cun Giok tidak akan dapat melarikan diri selama Li Hong menjadi sandera mereka.

Pula, kalau sampai harta karun itu bisa didapatkan dan diserahkan kepada Kaisar, hal itu berarti merupakan jasa besar bagi mereka dan tentu mereka akan mendapat imbalan jasa yang besar pula dari Kaisar.

Demikianlah, setelah membuat persiapan dengan mengajak duabelas orang anak buah berpakaian hitam yang disuruh membawa peralatan menggali seperti cangkul, linggis, dan lain-lain, berangkatlah rombongan itu yang terdiri dari Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan, dan Kong Sek.

Ceng Ceng dan Cun Giok terpaksa menyatakan setuju ketika mereka diminta untuk membantu mereka mencari harta karun itu.

Sesungguhnya.

Cun Giok tidak rela melihat Ceng Ceng menyerahkan harta karun kepada orang-orang Kerajaan Mongol itu.

Bagi dia, harta karun itu seharusnya diserahkan kepada yang berhak, yaitu para pejuang yang kelak hendak bangkit dan menentang pemerintah Mongol.

Ceng Ceng yang menyerah hanya untuk melindungi Li Hong yang liar, membuat dia merasa penasaran.

Akan tetapi karena Ceng Ceng berkeras hendak menyelamatkan Li Hong dengan berkorban menyerahkan peta harta karun, dia pun tidak dapat menolak.

Dia tidak mungkin dapat menentang kehendak Ceng Ceng yang dia tahu muncul dari hati yang tulus dan penuh belas kasih!

Sebelum berangkat, sesuai dengan siasat yang diusulkan Li Hong, Ceng Ceng dan Cun Giok diajak ke belakang dan mereka berdua diberi kesempatan melihat Li Hong berada dalam sebuah kamar yang pintunya berterali besi, duduk di atas sebuah kursi dengan kaki tangan terbelenggu dan kamar itu dijaga belasan orang anak buah Bukit Sorga di bagian luarnya, bahkan dalam kamar itu terdapat dua orang anak buah yang bertubuh tinggi besar dan membawa golok telanjang, siap untuk membunuh Li Hong apabila gadis itu berani mencoba untuk meloloskan diri.

Melihat Li Hong duduk membelakangi pintu dalam keadaan menyedihkan itu, Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan berkata kepada Kim Bayan yang mengantar mereka menjenguk tempat tahanan itu.

"Kim-ciangkun, mengapa engkau melanggar janjimu?"

"Ah, aku tidak melanggar janji, Nona Liu Ceng. Bukankah sampai sekarang kami tidak membunuh Nona Tan Li Hong? Lihat, ia masih hidup!"

"Akan tetapi engkau memperlakukannya sebagai tawanan, dibelenggu seperti itu!"

Ceng Ceng memprotes.

"Kami hanya berjanji tidak akan membunuhnya. Kalau sekarang kami menjaganya dengan ketat, hal itu hanya agar ia tidak dapat melepaskan dan melarikan diri."

"Akan tetapi aku sudah menyerahkan peta harta karun. Semestinya Li Hong engkau bebaskan!"

"Hemm, yang kauserahkan hanya sehelai gambar. Kami tidak tahu apakah peta itu aseli ataukah palsu. Oleh karena itu, untuk sementara Nona Li Hong kami tawan. Kalian bantu kami mencari harta karun itu sampai dapat, barulah Nona Tan Li Hong dan kalian berdua kami bebaskan."

"Engkau curang!"

Cun Giok membentak, akan tetapi Ceng Ceng cepat menyentuh lengan Cun Giok.

Ia melihat betapa kemarahan Cun Giok membuat dua orang algojo yang berada di kamar tahanan itu mendekati Li Hong dan menempelkan golok di leher gadis tawanan itu.

"Baiklah, Panglima Kim Bayan. Kami akan membantumu mencari harta karun itu,"

Kata pula Ceng Ceng dengan sikap dan suaranya yang tetap sabar dan tenang.

"Akan tetapi kalau sampai engkau melanggar janji, kami berdua akan mengamuk mati-matian!"

Kata Cun Giok yang hampir tak dapat menahan kemarahannya.

Kim Bayan tersenyum dan diam-diam dia mengagumi kecerdikan Li Hong yang mengatur siasat itu sehingga ternyata berhasil membuat Ceng Ceng dan Cun Giok tak berdaya dan suka membantunya mencari harta karun.

"Sekarang, marilah kita berangkat!"

Katanya dan mereka lalu keluar, di mana telah menanti Cui-beng Kui-ong, Song-bun Mo-Li, Kong Sek, dan selosin orang anak buah berpakaian hitam.

Di sepanjang perjalanan mencari harta karun itu, Cun Giok hanya diam saja.

Hatinya bingung dan juga khawatir sekali.

Yang membuat dia bingung adalah sikap Ceng Ceng.

Baginya, sikap Ceng Ceng yang menyerah kepada musuh demi melindungi nyawa Li Hong, dan menyerahkan peta bahkan kini ikut membantu mereka mencari harta karun, sungguh dinilai terlalu baik hati sehingga menjadi sikap yang lemah dan bodoh.

Bagaimana mungkin orang-orang macam Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan, dan Kong Sek dapat dipercaya?

Mereka pasti tidak akan menetapi janji.

Kalau harta karun itu akhirnya mereka dapatkan, Li Hong, Ceng Ceng dan dia sendiri pasti juga akan dibunuh mereka!

Dan yang dia paling khawatirkan adalah keselamatan Ceng Ceng.

Gadis yang berhati mulia dan yang amat dia kasihi itu tidak boleh mati terbunuh.

Biarlah andaikata dia dan Li Hong terbunuh, akan tetapi Ceng Ceng harus dapat diselamatkan!

Akan tetapi agaknya Ceng Ceng berpikir sebaliknya.

Gadis itu memiliki watak seperti Kwan Im Pouwsat, Sang Dewi Belas Kasih, yang rela mengorbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain!

Yang membuat hati Cun Giok diam-diam merasa penasaran dan marah kepada Kim Bayan dan kawan-kawannya adalah melihat betapa Ceng Ceng bersungguh-sungguh membantu mereka mencari harta karun!

Dia tahu bahwa gadis yang baik budi ini ingin segera dapat membebaskan Li Hong.

Maka begitu mereka berangkat, langsung saja Ceng Ceng memberitahu tentang perkiraannya di mana tempat harta karun seperti ditunjukkan dalam peta.

Ia mengatakan bahwa menurut perkiraannya, harta karun itu tersimpan di dalam sebuah guha yang terletak di lereng bukit itu.

"Apa?"

Cui-beng Kui-ong berkata sambil membelalakkan matanya.

"Harta karun itu berada di bukit milikku ini?"

"Bagaimana engkau dapat menduga demikian, Nona Liu?"

Tanya Kim Bayan, hampir tidak percaya. Ceng Ceng mengajak mereka melihat peta itu. Setelah membentangkan peta, ia berkata.

"Lihatlah, gambar naga dan burung Hong itu jelas menunjukkan tempat Kaisar yang tentu saja kota raja Peking. Lingkaran itu berada di tengah lukisan bukit dan bulatan itu menandakan adanya guha. Menurut perkiraanku, bukit yang berada dekat sebelah selatan kota raja adalah bukit ini. Maka sebaiknya kita mencari sebuah guha di lereng pertengahan gunung atau bukit ini. Kalau ternyata perkiraanku keliru, terserah kalian hendak mencari ke mana."

"Hak-hak-hak, bagus sekali! Bukit Sorga ini pemberian Kaisar sendiri kepadaku, berarti bukit ini adalah milikku dan semua yang berada di bukit ini adalah hak milikku! Hak-hak-hak!"

Cui-beng Kui-ong tertawa senang.

Diam-diam Kim Bayan mengerutkan alisnya, apalagi ketika melihat betapa Song-bun Moli juga tertawa dan tampak senang sekali mendengar ucapan kakak seperguruannya itu.

Tidak mungkin rasanya bagi dia untuk menentang dua orang sakti itu.

Akan tetapi kalau harta karun itu diambil oleh mereka berdua, lalu dia mendapatkan apa?

Padahal dialah yang telah berusaha keras untuk merampas peta dari tangan Panglima Liu Bok Eng, kemudian dari tangan Ceng Ceng yang mewarisinya.

Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli hanya dimintai bantuannya saja!

Sudah sepatutnya kalau dia yang mendapat imbalan jasa.

Kalau harta itu terjatuh ke tangannya, dia mempunyai dua pilihan yang sama-sama menguntungkan.

Pertama, kalau dia memiliki sendiri, dia akan menjadi kaya raya.

Kalau dia menyerahkannya kepada Kaisar, berarti dia berjasa besar dan tentu mendapat balas jasa berupa pangkat yang lebih tinggi lagi!

Akan tetapi bagaimana kalau harta itu terjatuh ke tangan dua orang sakti itu?

Dia tidak akan memperoleh apa-apa.

Merampas dari tangan mereka tidak mungkin dan melaporkan kepada Kaisar juga percuma karena Cui-beng Kui-ong juga berjasa besar bagi Bangsa Mongol dan disegani oleh Kaisar!

Maka, Kim Bayan menjadi murung ketika mereka mencari-cari guha itu.

Tiba-tiba seorang anak buah Bukit Sorga mendekati Cui-beng Kui-ong, memberi hormat dan berkata dengan lantang.

"Ong-ya, saya pernah melakukan perondaan di sekitar lereng bukit dan melihat bahwa di lereng tengah sebelah selatan terdapat bagian bukit yang berdinding batu panjang dan di sana terdapat beberapa buah guha."

Mendengar ini, Cui-beng Kui-ong yang disebut Ong-ya oleh anak buahnya, sebutan bagi seorang raja, tertawa terbahak-bahak dan mengajak mereka semua mencari guha di lereng sebelah selatan.

Kalau Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli tertawa-tawa gembira, adalah Kim Bayan yang wajahnya menjadi semakin keruh dan muram.

Diam-diam Kim Bayan berjalan mendekati Ceng Ceng dan Cun Giok dan setelah mendapat kesempatan karena kakek dan nenek iblis itu sudah berjalan mendahului sehingga terpisah agak jauh dan semua orang, termasuk Kong Sek, dengan hati tegang mencurahkan semua perhatian untuk menemukan guha itu, Kim Bayan berbisik kepada Ceng Ceng dan Cun Giok.

"Kalau kalian mau membantuku menghalangi kakek dan nenek itu menguasai harta karun, aku akan membebaskan kalian bertiga dan akan memberi bagian kalian dari harta karun itu."

Ceng Ceng dan Cun Giok saling pandang.

"Makudmu kami bertiga dengan Li Hong?"

Tanya Ceng Ceng.

"Tentu saja! Aku dapat mengguna, kekuasaan dan kedudukanku untuk membebaskan kalian bertiga."

"Caranya?"

Tanya Cun Giok.

"Caranya mudah. Kita harus bekerja sama. Nanti, kalau harta itu benar-benar sudah ditemukan, kalian berdua serang kakek dan nenek itu. Aku percaya kalian akan cukup kuat untuk membuat mereka kerepotan dan kesempatan itu kupergunakan untuk membawa lari dan menyelamatkan harta karun. Setelah itu, kalian boleh melarikan diri dan aku akan membebaskan Li Hong dari tempat tahanan sehingga kalian bertiga akan dapat melarikan diri."

"Akan tetapi bagaimana dengan Kong Sek?"

"Aku kira dia bukan halangan besar bagi kalian dan aku. Mungkin aku akan membunuhnya lebih dulu sebelum melarikan harta itu."

Ceng Ceng mengerutkan alisnya, akan tetapi Cun Giok sudah mengambil keputusan.

"Sangat baik rencana itu! Kami setuju, Panglima Kim Bayan."

"Bagus, dan sekarang mari susul mereka."

Mereka lalu mengejar dan berjalan pula bersama kelompok itu yang amat bersemangat mencari harta karun, atau lebih, tepat mencari guha di mana diperkirakan harta karun itu tersimpan.

Akhirnya terdengar tawa Cui-beng Kui-ong yang berkakakan.

Dia yang paling bersemangat selalu berada terdepan.

Ketika mereka tiba di daerah berbatu di mana terdapat beberapa buah guha, Cui-beng Kui-ong mencari dan memeriksa setiap guha.

Akhirnya dia menemukan guha yang berada di ujung timur, yang terbesar di antara guha-guha itu dan setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dia mengeluarkan suara tawanya yang khas.

"Kak-kak-kak-kak! Aku telah menemukannya!!"

Semua orang berlarian menghampiri guha itu. Kakek itu sambil tertawa-tawa berkata.

"Lihat, ketika kuperiksa dan kusingkirkan tanah yang menutupi lantai, terdapat ini. Tak salah lagi, di sini disimpannya harta karun itu. Hak-hak-hak-hak!"

"Hi-hi-hi-hik, sudah kubilang sejak dulu, engkau memang cerdik bukan main, Kui-ong!"

Song-bun Moli juga tertawa dengan suara yang melengking aneh sehingga ketika dua suara tawa itu berbaur, semua orang bergidik karena campuran suara itu sama sekali bukan seperti tawa manusia, lebih pantas suara yang keluar dari lubang kubur, suara tawa setan dan iblis!

Kim Bayan mendekati Cun Giok.

"Bersiaplah."

Katanya lirih. Cun Giok menggelengkan kepalanya.

"Lihat dulu buktinya,"

Jawabnya dengan bisikan pula.

Kim Bayan mengangguk dan kini dia membantu duabelas orang anak buah Bukit Sorga yang memenuhi perintah Cui-beng Kui-ong melakukan pembersihan di lantai guha itu.

Ketika sebuah batu bundar disingkirkan, di bawahnya terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar itu terdapat ukiran huruf BONG yang jelas sekali.

"Kak-kak-kak-kak, apa kataku? Inilah tempatnya, heh-heh! Siapa mengira jahanam Bong Thaikam itu menyembunyikan hartanya di sini, di bukit yang telah menjadi milikku! Kak-kak-kak, teruskan gali. Angkat batu itu!"

Ceng Ceng dan Cun Giok bertukar pandang.

Memang tidak dapat diragukan lagi.

Di situlah terpendam harta karun yang dulu merupakan hasil korupsi Thaikam Bong.

Kini keduanya mulai khawatir.

Kalau harta itu sudah ditemukan, apakah mereka boleh mengharap orang-orang pengejar harta itu benar-benar akan membebaskan mereka dan Li Hong?

Bagaimana kalau mereka ingkar janji?

Orang-orang hamba nafsu seperti mereka sungguh harus diragukan kejujurannya.

Cun Giok berbisik kepada Ceng Ceng.

"Kita tunggu harta itu dikeluarkan. Mereka tentu akan bergembira dan lengah. Kita lari kembali ke sana dan membebaskan Li Hong lalu melarikan diri turun bukit."

Ceng Ceng mengangguk tanda setuju. Mereka lalu mendekat dan melihat betapa duabelas orang itu bersusah payah hendak menarik batu yang ada ukiran huruf BONG itu, Cun Giok segera maju dan berkata.

"Biarkan aku yang menyingkirkan batu itu!"

Hal ini dilakukan agar mereka semua percaya kepadanya dan menjadi lengah.

Duabelas orang anak buah yang kewalahan itu mundur dan memberi jalan kepada Cun Giok.

Pemuda ini mengamati batu besar itu dan membungkuk, memegang kedua tepi batu yang lebarnya sekitar sepanjang lengan.

Dia lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan sekali berteriak dan menarik, dia berhasil mengangkat batu itu dan melemparkannya keluar guha.

Duabelas orang anak buah berpakaian hitam itu bersorak ketika melihat bahwa di dalam lubang di bawah batu tadi terdapat sebuah peti hitam yang terukir indah berbentuk dua ekor naga!

Akan tetapi sorak-sorai duabelas orang itu segera terganti teriakan-teriakan mengaduh dan duabelas orang itu satu demi satu roboh terlempar dan tewas seketika!

Kiranya Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli mengamuk dan membunuhi anak buah sendiri.

Tentu saja Kim Bayan dan Kong Sek terkejut bukan main dan mereka berdua melompat ke belakang, takut kalau menjadi korban amukan kakek dan nenek iblis itu.

Setelah duabelas orang itu tewas, Cui-beng Kui-ong lalu membuka tutup peti dan......

ternyata peti itu kosong!

Di dasar peti terdapat tulisan huruf THAI-SAN!

Tidak ada secuil pun emas atau permata.

Tidak ada uang setail pun!

Ciu-beng Kui-ong terbelalak dari dia pun mengamuk.

"Jahanam keparat! Aku dibohongi!"

"Kui-ong, harta ini ada yang sudah mengambilnya!"

Kata Song-bun Moli.

"Siapa berani mendahului aku?"

Cui-beng Kui-ong memaki-maki.

"Mungkin disimpan di bagian lain dalam guha ini!"

Kata Kong Sek.

"Atau di guha-guha yang lain."

Kata Kim Bayan. Mereka berempat lalu mencari, memporak-porandakan guha besar itu untuk mencari harta karun. Tiba-tiba Kim Bayan berseru.

"Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng menghilang!"

Memang dua orang muda itu ketika melihat bahwa peti itu kosong dan isinya hanya tulisan THAI-SAN, cepat pergi mengerahkan gin-kang mereka dan dengan cepat naik ke puncak untuk membebaskan Li Hong!

"Biarkan pergi, tidak ada gunanya lagi!"

Kata Cui-beng Kui-ong.

"Tapi aku harus membunuh si keparat Pouw Cun Giok!"

Kata Kong Sek dan dia segera berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk mengejar musuh besarnya.

Kim Bayan masih terus membantu dua orang kakek dan nenek itu mencari harta karun.

Setelah guha besar diporak-porandakan dan mereka tidak menemukan apa-apa, mereka lalu mencari di guha-guha lainnya yang berada di lereng itu.

Mereka mencari dengan teliti, dengan hati tegang seperti yang dialami semua orang yang mencari harta karun dan yang mengharapkan setiap saat akan menemukannya!

Dengan mengerahkan gin-kang mereka, Ceng Ceng dan Cun Giok berlari cepat sekali mendaki bukit itu.

Mereka telah mengenal jalan ketika tadi turun menuju ke tempat penyimpanan harta karun sehingga kini dapat menuju ke puncak tanpa ragu lagi.

Setelah memasuki perkampungan anak buah Bukit Sorga, tiba-tiba saja bermunculan sembilan orang laki-laki tinggi besar yang berpakaian serba putih.

Mereka berjalan dengan kaku namun cepat sekali dan tahu-tahu sembilan orang itu telah membuat lingkaran mengepung Ceng Ceng dan Cun Giok.

Dua orang muda itu memandang dan mereka terkejut dan merasa ngeri.

Mereka itu berujud manusia, namun muka mereka pucat tanpa darah seperti muka mayat dan pandang mata mereka kosong!

Ketika sembilan orang itu mengangkat kedua tangan mereka yang tadinya bergantung sehingga gerakan mereka tampak kaku, Cun Giok melihat bahwa jari-jari tangan mereka memiliki kuku yang tebal panjang dan runcing.

"Nanti dulu, sobat-sobat!"

Cun Giok berkata kepada mereka, tidak tahu mana yang menjadi petnimpin karena mereka sama semua.

"Jangan salah sangka. Kami berdua adalah tamu-tamu dari Cui-beng Kui-ong! Kami bukan musuh."

Sembilan orang atau sembilan mahluk itu mengeluarkan suara dan sikap mereka mengancam.

Mereka mulai bergerak melangkah kaku dan mengitari dua orang muda itu sambil mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh.

Mereka terkadang mengadu kedua tangan sendiri dan ketika kuku-kuku jari tangan itu saling beradu terdengar suara berdenting dan bunga api berpijar-pijar!

Seolah-olah yang diadukan itu bukan kuku, melainkan ujung-ujung pedang yang ampuh!

"Hati-hati, Ceng-moi.

Mereka ini tangguh dan berbahaya!"

Kata Cun Giok yang kembali merasa kagum karena gadis itu tampak tenang saja.

Memang Ceng Ceng selalu dapat bersikap tenang walaupun pada saat itu ia tahu benar betapa lihainya sembilan orang mahluk itu.

Tadi ia sudah mengambil sepotong kayu yang akan dijadikan senjata pelindung diri.

Cun Giok tanpa ragu lagi mencabut pedangnya karena dia melihat betapa sembilan orang mahluk itu sama sekali tidak menghiraukan, atau mungkin tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

Dengan pedang di tangan dia siap membela diri sendiri dan membela Ceng Ceng.

Tiba-tiba sembilan orang mayat hidup itu berhenti bergerak mengitari mereka dan mulut mereka mengeluarkan suara seperti orang yang dicekik lehernya, tangan kiri mereka menunjuk ke arah Ceng Ceng dan Cun Giok dan......

sembilan sinar hitam meluncur seperti anak panah menyambar tubuh dua orang muda itu!

Cun Giok yang sejak tadi memandang dan mengamati penuh perhatian tidak melihat mereka mengambil senjata rahasia, maka tahulah dia bahwa yang menyambar itu adalah senjata rahasia lembut yang agaknya sudah tersembunyi di dalam kuku-kuku runcing itu!

"Trang-trang-trik-trik-trik......!"

Pedang Cun Giok dan tongkat Ceng Ceng menangkis runtuh jarum-jarum panjang itu dan sebagian lagi mereka elakkan sehingga jarum-jarum itu meluncur lewat dan mengenai tubuh seorang mayat hidup yang berada di tempat berlawanan!

Anehnya, biarpun ada yang terkena jarum kawan sendiri itu di lehernya atau dadanya, mereka seperti tidak merasakan dan jarum-jarum itu mengeluarkan bunyi berdenting seperti mengenai dinding baja!

Akan tetapi, sembilan orang mayat hidup itu masih melanjutkan serangan mereka menggunakan jarum-jarum itu.

Kini mereka bergerak lagi mengitari dua orang muda yang selalu waspada itu dan mereka menyerang lagi dengan jarum-jarum mereka.

Bukan hanya sekali, melainkan bertubi-tubi dari kuku jari tangan kiri mereka.

Ceng Ceng dan Cun Giok terpaksa mengerahkan gin-kang mereka dan tubuh mereka berkelebatan.

Bahkan tubuh Cun Giok seolah-olah lenyap dan inilah yang membuat dia dijuluki Pendekar Tanpa Bayangan.

Ceng Ceng juga berkelebatan mengelak dan tubuhnya berubah menjadi bayangan putih, sesuai dengan julukannya, yaitu Pek-eng Sian-li (Dewi Bayangan Putih).

Biarpun kecepatan gerakan mereka tidak dapat diikuti sembilan orang mayat hidup itu, dan mereka menyerang secara ngawur saja, namun karena serangan itu bertubi-tubi, tetap saja Cun Giok dan Ceng Ceng harus menggunakan pedang dan tongkat mereka yang diputar demikian cepatnya sehingga sinar kedua senjata itu seolah berubah menjadi sinar yang menyelimuti mereka dan menangkis jarum yang menyambar.

Kiranya masing-masing mayat hidup menyimpan lima batang jarum dalam kuku jari tangan kiri mereka.

Setelah semua jarum dilepaskan habis dan tidak sebatang pun mengenai dua orang muda itu, lima orang mayat hidup itu mengeluarkan suara seperti ringkik kuda dan kepungan mereka merapat lalu mereka mulai menyerang dengan kuku-kuku panjang kedua tangannya!

Gerakan mereka kaku akan tetapi cepat sekali dan mengandung tenaga kuat.

Ceng Ceng dan Cun Giok menghadapi pengeroyokan mahluk-mahluk aneh itu dengan gerakan yang cepat, mengelak dan membalas secepat kilat.

"Tak-tak-tuk-tuk.......!"

Pemuda dan gadis perkasa itu terkejut bukan main.

Pedang Kim-kong-kiam di tangan Cun Giok itu mental ketika membacok atau menusuk tubuh mayat-mayat hidup itu!

Seolah bertemu dengan baja yang kuat sekali.

Demikian pula semua totokan tongkat Ceng Ceng yang biasanya selalu dapat menotok jalan darah lawan dan membuatnya lumpuh, kini sama sekali tidak ada hasilnya, seolah ia hanya menotok gumpalan baja yang kuat dan tidak memiliki jalan darah!

"Serang matanya!"

Cun Giok berseru kepada Ceng Ceng.

Dia sendiri lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat, menusuk mata kanan seorang mayat hidup.

Pedang itu menancap ke dalam rongga mata, akan tetapi ketika dicabut, tidak ada darah keluar dan begitu mayat hidup itu menggunakan tangan mengusap matanya yang terluka, mata itu pulih kembali!

Demikian pula dengan Ceng Ceng.

Ujung tongkatnya memang dapat menusuk mata lawan, akan tetapi tidak menghasilkan apa-apa, seolah yang ditusuk tidak merasakan sesuatu.

Biarpun semua tusukan yang mengenai mata itu tidak membuat para mayat hidup terluka apalagi roboh, setidaknya membuat mereka agak repot dan memperlambat pengeroyokan mereka yang liar dan buas.

Tiba-tiba terdengar mereka melengking dan dari mulut mereka keluar uap hitam yang membuat kepala menjadi pening karena uap hitam itu berbau mayat yang sudah membusuk!

Ceng Ceng cepat mengambil sebutir pel berwarna hijau dan menyerahkannya kepada Cun Giok.

"Kulum pel ini!"

Ia sendiri juga memasukkan sebutir pel ke dalam mulut dan mengulumnya.

Ketika Cun Giok mengulum pel itu, ia merasa betapa pel itu menyengat rongga mulut dan hidungnya sehingga bau busuk dari mayat-mayat hidup itu tidak terasa oleh penciumannya yang dipenuhi bau harum yang kuat.

Kepeningannya hilang dan kembali dia bersama Ceng Ceng mengamuk, menyerang ke arah mata para mayat hidup itu yang tidak kebal, walaupun juga hasilnya tidak banyak.

Mulailah mereka mencari-cari kesempatan untuk melepaskan diri dari kepungan sembilan orang mayat hidup itu.

Tentu saja mereka tidak bermaksud melarikan diri sebelum dapat membebaskan Li Hong yang tertawan.

Akan tetapi kalau mayat-mayat hidup ini demikian lihai, akan memperlambat usaha mereka membebaskan Li Hong dan kalau sampai Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan dan Kong Sek datang, mereka berdua tidak saja mustahil untuk membebaskan Li Hong, bahkan mereka sendiri akan terancam bahaya besar.

Tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita yang melengking-lengking dan tampak Li Hong keluar dari gedung, dikejar sedikitnya tigapuluh orang anak buah Bukit Sorga yang berpakaian serba hitam.

Ternyata Li Hong yang seperti kita ketahui hanya berpura-pura saja menyerah dan bersekutu membantu Kim Bayan karena melihat sikap Ceng Ceng yang mati-matian membelanya itu lenyap semua kebenciannya terhadap Ceng Ceng dan datang kembali kesadarannya dan wataknya yang gagah.

Ketika mendengar Ceng Ceng dan Cun Giok dikeroyok Kiu-kui-tin (Barisan Sembilan Iblis) yang terdiri dari sembilan orang mayat hidup, segera berlari keluar, diikuti puluhan anak buah Bukit Sorga yang mengira gadis itu hendak ikut mengeroyok Ceng Ceng dan Cun Giok!

Para anak buah itu menganggap bahwa Li Hong adalah sekutu yang membantu majikan mereka.

Setelah dekat dan melihat betapa Ceng Ceng dan Cun Giok kewalahan menghadapi pengeroyokan sembilan orang mayat hidup itu Li Hong segera berseru nyaring.

"Pouw-twako dan Ceng Ceng! Serang sambungan tulang kaki dan lengan mereka!"

Setelah berkata demikian, ia menyerbu dengan Ban-tok-kiam yang bersinar hijau. Begitu ia menyerang, pedangnya itu membabat ke arah lutut seorang mayat hidup.

"Crakkk!"

Sambungan lutut itu terbabat dan putus!

Akan tetapi dengan sebelah kaki saja, mayat hidup itu berloncatan dan menyerang Li Hong sambil mengeluarkan suara menjerit-jerit.

Li Hong menggerakkan pedangnya lagi dan sambungan lutut kaki yang tinggal satu itu pun buntung.

Mayat hidup tanpa kedua kakinya itu masih menggerakkan kedua tangan hendak mencengkeram sambil bergulingan akan tetapi dua kali Ban-tok-kiam menyambar dan sambungan siku mayat hidup itu pun menjadi buntung!

Biarpun tinggal badan dan kepala tanpa kaki tangan lagi, mayat hidup itu masih bergulingan akan tetapi tidak berbahaya lagi.

Melihat ini, Cun Giok dan Ceng Ceng girang sekali dan mereka segera meniru cara menyerang Li Hong itu sehingga mayat-mayat hidup itu kini bergelimpangan dengan kaki atau tangan buntung!

"Pengkhianat!"

Terdengar teriakan marah dan Kong Sek yang baru tiba di situ segera menyerang Li Hong dengan pedangnya.

"Trang! Cringg!!"

Li Hong menangkis dua kali sambil mengerahkan tenaganya sehingga Kong Sek terpaksa mundur karena merasa betapa lengannya tergetar hebat dan sinar hijau pedang gadis itu sudah meluncur untuk membalas serangannya.

"Hi-hik, Kong Sek, orang macam engkau ini hendak membunuh Twako Pouw Cun Giok? Melawan aku pun akan roboh tanpa kepala!"

Li Hong mengejek dan mereka segera terlibat dalam pertandingan yang amat seru.

Akan tetapi, para anak buah Bukit Sorga yang tadinya heran dan bingung melihat betapa Li Hong berbalik membantu musuh, sudah mengepung dan maju mengeroyok!

"Ceng-moi, bantulah Li Hong!"

Kata Cun Giok.

Melihat betapa kini para mayat hidup itu tidak perlu ditakuti lagi, karena enam orang di antaranya telah menggeletak tak berdaya dengan kedua kaki buntung, sedangkan ia yakin Cun Giok akan mampu merobohkan yang tiga orang lagi karena sudah mengetahui rahasia kelemahan mereka, sedangkan Li Hong kini yang repot dikeroyok oleh Kong Sek dan puluhan orang anak buah Bukit Sorga.

Ceng Ceng segera melompat dan berkelebat ke arah Li Hong dan segera mengamuk.

Empat orang roboh begitu terkena totokan tongkatnya.

Dua orang gadis ini mengamuk sehingga anak buah Bukit Sorga menjadi gentar karena sebentar saja tidak kurang dari duabelas orang rekan mereka telah roboh!

Kong Sek juga menjadi jerih menghadapi dua orang gadis perkasa ini.

Setelah merobohkan sisa mayat hidup yang tinggal tiga orang itu, Cun Giok lalu berseru kepada dua orang gadis yang kini menghadapi pengeroyokan lebih banyak anak buah Bukit Sorga yang sudah berbondong-bondong datang.

"Ceng-moi! Hong-moi! Mari kita pergi sebelum bahaya yang lebih besar datang!"

Ceng Ceng dan Li Hong mengerti apa yang dimaksudkan Cun Giok.

Kalau sepasang kakek nenek iblis itu dan Kim Bayan muncul, kiranya akan sulit sekali bagi mereka untuk dapat meloloskan diri.

Dengan menggunakan gin-kang mereka yang tinggi, tiga orang itu berkelebat dan berlompatan keluar dari kepungan, lalu berlari cepat seperti terbang menuruni Bukit Sorga.

Kong Sek tidak berani mengejar karena menghadapi Li Hong seorang saja akan sukar baginya untuk menang, apalagi menghadapi mereka bertiga!

Anak buah Bukit Sorga mencoba untuk mengejar, akan tetapi mereka tertinggal jauh karena kecepatan lari mereka tidak mungkin mengejar ilmu berlari cepat yang dilakukan tiga orang muda perkasa itu.

Terpaksa Kong Sek kembali ke gedung dan duduk termenung dengan hati kecewa sekali.

Pouw Cun Giok sudah berada di tangan untuk ke dua kalinya, akan tetapi lolos dari pembalasan dendamnya!

Pertama, ketika gurunya, Bu-tek Sin-liong Cu Liong dapat menangkap Pouw Cun Giok tanpa melawan dan menyerahkan Cun Giok kepadanya untuk dibawa ke pengadilan kota raja dengan tangan diborgol.

Di tengah jalan, dia akan dapat membunuh musuh besarnya itu dengan mudah, akan tetapi muncul sumoinya, Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin puteri gurunya yang membela Cun Giok sehingga musuh besarnya itu lolos dari tangannya.

Sekarang, setelah Cun Giok berada di Bukit Sorga dan kalau saja Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli mau membantunya tentu Cun Giok akan dapat dibunuh dengan mudahnya.

Akan tetapi sepasang kakek nenek itu begitu tergila-gila mengejar harta karun sehingga mengabaikan penjagaan terhadap Cun Giok dan akibatnya, kembali Cun Giok dapat meloloskan diri!

Tak lama kemudian, Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, dan Kim Bayan datang ke perkampungan itu dengan wajah cemberut.

Kim Bayan yang bertubuh tinggi besar dan selalu tampak gagah itu kini wajahnya muram alisnya berkerut dan tubuhnya tampak loyo karena menderita kekecewaan berat dan penasaran.

Akan tetapi yang paling marah adalah Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli.

Kemarahan mereka itu bertambah beberapa lipat ketika melihat Kiu-Kui-tin barisan sembilan mayat hidup itu berserakan tak berdaya dengan semua kaki mereka buntung terlepas sambungan lututnya dan ada pula yang juga kehilangan lengan yang buntung sebatas siku!

Mereka itu masih hidup akan tetapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi!

Bukan hanya itu, mereka juga banyak anak buah yang tewas dan terluka.

Apalagi ketika mendengar bahwa Pouw Cun Giok dan Ceng Ceng lolos dibantu oleh Li Hong yang berkhianat, kemarahan mereka memuncak.

Kakek dan nenek itu mengeluarkan teriakan-teriakan memanjang yang aneh dan mengerikan, dan wajah mereka memang sudah buruk itu kini berkerut-kerut sehingga tampak mengerikan akan tetapi juga lucu.

Saking marahnya, Cui-beng Kui-ong seketika membunuh duabelas orang anak buah yang tadinya diserahi tugas menjaga Li Hong.

Juga dia membasmi sisa sembilan mayat hidup buatannya dengan membakar mereka menjadi abu!

"Panglima Kim Bayan, engkau juga seorang yang brengsek dan goblok, mengatur siasat yang hanya mendatangkan kegagalan!

Coba engkau tidak mencegah Kong Sek membunuh Pouw Cun Giok, tentu dia sudah mati dan mereka tidak begitu kuat lagi dan tidak mungkin dapat lolos!

Engkau panglima yang bodoh!"

Wajah Panglima Kim Bayan sebentar pucat sebentar merah.

Dia adalah seorang panglima yang dipercaya oleh Kaisar, kedudukannya tinggi dan semua orang menghormatinya.

Akan tetapi di sini dia dicaci maki, disebut brengsek, bodoh dan goblok!

Akan tetapi karena maklum bahwa dia seorang diri tidak akan mampu mengalahkan kakek itu, dia diam saja, bahkan lalu menjura dan berpamit, Cui-beng Kui-ong tidak menjawab dan juga diam saja ketika Panglima Kim Bayan meninggalkan tempat itu dengan hati mengkal, panas dan marah karena telah dihina.

Tiba-tiba Song-bun Moli tertawa dengan suara tawanya yang setengah menangis.

"Hi-hik-hu-hu-huu! Engkau juga seorang tua bangka tolol, Kui-ong! Bagaimana mau mengaku hebat kalau orang setua engkau masih dapat dikibuli anak-anak seperti mereka! Engkau diajak ke tempat kosong, hi-hi-hik!"

Cui-beng Kui-ong melototkan matanya.

"Mo-li, nenek bawel dan cerewet! Engkaulah yang tolol, engkau yang goblok. Aku sudah akan membunuh Tan Li Hong, engkau mencegah dan mengambilnya sebagai murid! Sekarang engkau tahu rasa, ditipu bocah yang kauangkat murid itu. Engkau harus malu dan menampari muka sendiri!"

Kong Sek yang maklum bahwa kalau dia ingin berhasil membalas dendam kepada Pouw Cun Giok, dia harus mendekati kakek dan nenek yang amat sakti ini untuk membantunya atau setidaknya untuk mempelajari ilmu yang tinggi dari mereka.

Maka, melihat mereka kini saling maki dan tampak marah, dia lalu melerai dengan mengangkat kedua tangan depan dada lalu berkata dengan hormat.

"Subo dan Suhu harap tidak bertengkar. Dipertengkarkan juga tidak ada gunanya. Pouw Cun Giok, Liu Ceng Ceng dan Tan Li Hong sudah melarikan diri. Memang hal ini menjengkelkan, akan tetapi saya kira Ceng Ceng tidak menipu kita dengan peta itu. Menurut perkiraan saya, peta itu memang aseli dan buktinya memang benar dapat menemukan tempat disimpannya harta karun oleh mendiang Thaikam Bong. Bukit ini memang dekat dengan kota raja, maka sudah tepat kalau dijadikan tempat menyembunyikan harta itu."

"Akan tetapi peti yang tertanam di situ kosong!"

Song-bun Moli semakin marah.

"Keparat orang-orang muda itu, telah berani menipu kita!"

"Saya kira Liu Ceng Ceng itu juga tidak tahu bahwa peti harta itu kosong, Subo. Kalau ia sudah tahu, untuk apa ia mengajak kita ke sana? Tidak ada untungnya bagi gadis itu. Sekarang, yang paling penting, kita harus jangan sampai didahului mereka karena mereka pasti akan mencari harta karun itu."

"Hemm, masuk di akal juga ucapan bocah ini,"

Kata Cui-beng Kui-ong.

"Akan tetapi ke mana lagi mencari harta karun itu? Aku ingin sekali menangkap mereka yang telah membunuh Kiu-kui-tin yang dengan susah payah kubikin!"

"Kalau menurut peta yang telah kita miliki, tidak ada petunjuk lain. Akan tetapi dalam peti itu ada tulisan huruf THAI-SAN, ini berarti bahwa tentu hilangnya harta karun itu ada hubungannya dengan Thai-san atau setidaknya, yang mengambilnya mempunyai hubungan dengan Thai-san. Orang itu pasti seorang vang sombong sekali sehingga setelah herhasil mengambil harta karun, dia meninggalkan huruf Thai-san seolah memberitahu dari mana dia berasal dan menantang orang untuk merampasnya kembali kalau berani!"

Kakek dan nenek itu seolah lupa akan kebiasaan mereka tertawa-tawa aneh.

Mereka berdua masih marah sekali karena selain harta karun tak dapat ditemukan, juga tiga orang muda itu lolos, banyak anak buah Bukit Sorga tewas, barisan Kiu-kui-tin terbasmi dan Song-bun Moli kehilangan Li Hong, murid baru yang ternyata berkhianat itu!

Kini mendengar ucapan Kong Sek yang menunjukkan betapa cerdiknya pemuda itu, Cui-beng Kui-ong mengerutkan alis dan berpikir.

"Hemm...... pencuri harta itu dari Thai-san? Tokoh Thai-san yang berilmu tinggi dan sombong? Pasti ada hubungannya dengan Thai-san-pai (Aliran Persilatan Gunung Agung)! Yang berani mengambil harta karun dari Bukit Sorga, berilmu tinggi dan sombong, tiapa lagi kalau bukan Ketua Thai-san-pai?"

"Suhu, siapakah Ketua Thai-san-pai?"

"Dia menamakan dirinya Thai-san Sianjin (Manusia Dewa Thai-san), akan tetapi nama aselinya Thio Kong dan tentang orang ini, Song-bun Moli lebih mengenalnya!"

"Heh-heh-hi-hi-hik, Thio Kong itu, siapa tidak mengenalnya? Ketika mudanya, dia mata keranjang dan ugal-ugalan, akan tetapi setelah tua dia pura-pura alim, menjadi pendeta dan menjadi Ketua Thai-san-pai! Hi-hi-hu-hu-huuu!"

Tawa aneh dari nenek itu kini muncul kembali.

"Hak-hak-hak! Tidak perlu mencela, Mo-li! Lupakah engkau bahwa dulu engkau juga tergila-gila kepadanya dan menjadi seorang di antara kekasihnya?"

"Hi-hi-hi! Itu dulu! Kalau sekarang aku bertemu dengan dia pasti akan kupenggal lehernya, kucabut dan kumakan jantungnya!"

"Ha-ha-hak! Aku percaya itu karena sejak dulu engkau merasa sangat cemburu dan marah yang selalu engkau pendam dalam hatimu."

Melihat kakek dan nenek ini kembali saling bertengkar, Kong Sek cepat menengahi.

"Suhu dan Subo, memang agaknya tepat dugaan Ji-wi (Anda Berdua) bahwa yang mencuri harta karun itu adalah Thai-san Sianjin ketua Thai-san-pai! Kalau bukan orang yang tinggi kedudukannya, lihai ilmu silatnya, dan mempunyai banyak anak buah, tentu tidak akan berani mencuri dari bukit ini, apalagi dengan meninggalkan tanda pengenal THAI-SAN itu! Marilah kita mengejar ke sana agar sekali bertindak kita mendapatkan dua keuntungan, yaitu merampas kembali harta karun dan membunuh Thai-san Sianjin seperti dikehendaki Subo tadi."

Kakek dan nenek itu merasa setuju dan berangkatlah mereka bertiga menuruni Bukit Sorga menuju ke Thai-san.

Perjalanan itu amat jauh, akan tetapi kakek dan itu melakukan perjalanan santai karena mereka ingin menikmati keadaan di luar setelah bertahun-tahun mengasingkan diri di Bukit Sorga.

Setelah tiba di luar daerah tempat tinggal mereka, kakek dan nenek itu kambuh kembali kesenangan mereka yang bagi Kong Sek amat aneh, menjijikkan dan juga mengerikan.

Baru dia tahu bahwa Cui-beng Kui-ong memiliki kesenangan aneh, yaitu menangkapi gadis yang menarik hatinya, memperkosa dan minum darahnya sebelum dibunuhnya!

Song-bun Moli juga melaksanakan kesenangannya yang tidak kalah keji dan seramnya.

Setiap kali melihat bayi yang masih menyusu ibunya, yang berwajah montok dan bertubuh sehat, ia lalu menculik bayi itu dan pada keesokan paginya mayat bayi itu dibuang begitu saja dengan tubuh yang tak berdarah lagi!

Kong Sek bergidik ngeri.

Dia merasa tidak suka melihat kelambatan perjalanan itu, apalagi melihat kebiasaan aneh yang mengerikan itu, akan tetapi dia tidak berani menegur.

Juga dia tidak mau pergi meninggalkan dua orang aneh itu karena dia mengharapkan bantuan mereka untuk dapat membalas dendamnya, yaitu membunuh Pouw Cun Giok!

Demikianlah, perjalanan itu dilakukan dengan santai dan lambat.

Setelah jauh meninggalkan Bukit Sorga dengan berlari cepat, tiga orang muda itu berhenti dalam sebuah hutan, di bawah sebatang pohon yang besar dan rindang.

Mereka bertiga berdiri saling pandang dan Ceng Ceng sambil tersenyum mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada Li Hong lalu berkata.

"Li Hong, engkau telah menolong dan menyelamatkan kami, sungguh perbuatanmu itu baik sekali dan aku sangat berterima kasih kepadamu!"

Mendengar ini, sepasang mata Li Hong yang memandang wajah Ceng Ceng tiba-tiba berlinang air mata dan ia lalu maju dan merangkul Ceng Ceng.

"Ceng Ceng...... maafkan aku, Ceng Ceng......"

Li Hong menangis ketika berangkulan dengan Ceng Ceng. Ceng Ceng, tersenyum dan mencium pipi yang basah itu.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Li Hong, engkau tidak bersalah apa-apa kepadaku,"

Katanya lembut.

Cun Giok tercengang menyaksikan sikap kedua orang gadis cantik itu.

Setelah kini dia dapat mengamati dengan jelas Li Hong sebagai seorang gadis, harus dia akui bahwa Li Hong memang merupakan seorang gadis yang cantik menarik.

Dia membiarkan dua orang gadis itu berangkulan, setelah Li Hong berhenti menangis, barulah Cun Giok berkata dengan suara mengandung keheranan.

"Ceng-moi dan Hong-moi, marilah kita duduk sambil mengaso dan bicara. Aku sungguh heran melihat kalian berdua. Apakah yang telah terjadi? Aku melihat Hong-moi menyerang Ceng-moi, kemudian ketika melihat Hong-moi ditangkap Kim Bayan dan kawan-kawannya, Ceng-moi mengorbankan petanya untuk menyelamatkan Hong-moi. Kemudian, Hong-moi dengan mati-matian menolong Ceng-moi ketika kami dikeroyok anak buah Bukit Sorga. Apa artinya semua itu?"

"Semua itu membuktikan bahwa Ceng Ceng memang seorang gadis yang amat mulia hatinya, amat baik dan memang sudah sepatutnya kalau...... ia menjadi jodohmu, Twako,"

Kata Li Hong. Ceng Ceng menghela napas panjang.

"Tidak seperti yang kalian sangka,"

Katanya.

"Ketika melihat Li Hong tertawan dan dijadikan sandera, kemudian kebebasannya hendak ditukar dengan peta harta karun, aku berpendapat bahwa Li Hong setia merahasiakan peta itu. Kalau tidak begitu, bukankah ia sudah hafal pula akan isi peta? Maka, untuk menyelamatkan Li Hong yang begitu setia menjaga kerahasiaan peta itu, aku rela menyerahkan peta kepada mereka."

Li Hong mengusap dua titik air mata yang tersisa di pelupuk matanya, lalu berkata lantang seolah ia mengerahkan kekuatan untuk menegaskan ucapannya.

"Tidak, Ceng Ceng. Aku tidak sebaik itu. Terus terang saja, Ceng Ceng, dan engkau juga Pouw-twako, melihat kemesraan antara kalian berdua, aku menjadi...... cemburu dan marah, suatu sikap yang sebenarnya memalukan!"

"Tidak, Li Hong. Engkau berhak cemburu dan marah karena aku sudah tahu bahwa engkau mencinta Giok-ko dan engkau pernah bilang bahwa engkau tidak ingin bersaing dengan aku. Ternyata akulah yang melanggar penyangkalanku sendiri bahwa aku tidak akan menyainginya......"

Kata Ceng Ceng.

"Aku yang tidak tahu diri dan aku mengira bahwa Pouw-twako mencinta diriku."

"Hong-moi, engkau tentu mengerti bahwa sikapku yang baik terhadapmu dulu adalah sikap seorang sahabat karena engkau kuanggap sebagai seorang pemuda remaja yang baik dan menyenangkan,"

Cun Giok membela diri.

"Sudahlah, semua memang salahku. Kalau aku berani membuka penyamaranku, tentu aku tahu bahwa Pouw-twako tidak mencinta aku seperti cinta seorang pria terhadap seorang wanita. Dan tentu tidak akan terjadi persoalan ini. Seperti kuceritakan tadi, aku menyerang Ceng Ceng karena marah dan cemburu, lalu aku pergi meninggalkan kalian. Aku mendaki bukit untuk mencari sendiri harta karun itu. Bukan karena aku murka dan ingin memiliki harta itu, melainkan untuk mendahului kalian, untuk melampiaskan kemarahanku. Di atas, aku dikalahkan Cui-beng Kui-ong, nyaris dibunuh akan tetapi ditolong Song-bun Moli dan diambil murid. Aku mau saja diambil murid agar aku dapat mempelajari ilmu untuk kelak dapat menandingi kalian berdua! Pada waktu itu aku sungguh-sungguh seperti gila oleh cemburu dan kemarahan dan amat membenci Ceng Ceng. Nah, lega hati ini setelah menceritakan semua perasaanku yang amat jahat itu kepada kalian."

"Akan tetapi""

Buktinya sekarang engkau malah menolong kami dan memusuhi mereka. Bagaimana ini?"

Kata Cun Giok bingung.

"Giok-ko, ini membuktikan bahwa Li Hong tidaklah sejahat seperti yang diakuinya,"

Kata Ceng Ceng tersenyum.

"Kalian berdua belum mengetahui betapa jahatnya aku! Setelah diaku murid oleh Song-bun Moli, aku dipercaya sebagai sekutu mereka. Akan tetapi, entah mengapa, aku tidak sudi membuka rahasia tentang peta yang sudah kuhafal isinya itu. Di lubuk hatiku, aku sebenarnya tidak suka kepada mereka. Aku hanya marah kepada kalian dan hendak menggagalkan kalian menemukan harta itu. Maka aku lalu mengusulkan agar aku dijadikan sandera untuk menjebak kalian. Aku sudah mengenal watak Ceng Ceng yang murah hati walaupun aku sama sekali tidak mengira engkau mau berkorban untukku, Ceng Ceng! Aku tadinya hanya ingin agar Pouw-twako tidak dapat melindungimu kalau kalian menyerah. Siapa tahu, ternyata engkau sungguh-sungguh mau berkorban untukku, mau menyerahkan peta yang amat berharga bagimu itu untuk menyelamatkan aku. Nah, pada saat itulah pikiranku berubah sama sekali. Mendung hitam berupa cemburu dan benci itu seketika menghilang dari hatiku, dan aku melihat betapa engkau seorang yang amat budiman, dan engkau sajalah yang pantas berjodoh dengan Pouw-twako. Maka, ketika kalian memasuki perkampungan dan dikeroyok oleh Kiu-kui-tin, aku segera keluar dan membantu kalian. Nah, sekarang engkau mengetahui semuanya. Aku memang jahat, berbeda dengan engkau yang bijaksana dan berbudi, Ceng Ceng."

Ceng Ceng merangkul Li Hong.

"Sudahlah, Li Hong. Lupakan semua itu. Aku mengerti mengapa engkau menjadi cemburu dan marah. Aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku sendiri juga merasa bersalah. kepadamu."

"Ceng Ceng, kalau engkau benar-benar mau memaafkan aku, aku minta buktinya!"

Ceng Ceng mengangkat alisnya dan memandang heran.

"Membuktikannya? Bagaimana?"

"Dengan mengahgkat aku menjadi adikmu! Nah, maukah engkau menjadi enciku?"

"Mengangkat saudara? Wah, tentu saja aku senang sekali, Li Hong! Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini! Kalau engkau mau menjadi adikku, ah, aku berterima kasih dengan penuh rasa syukur kepada Thian akan karunia ini!"

"Enci Ceng.......!"

"Adik Hong.......!"

Mereka kembali saling rangkul dan saling cium.

Melihat ini, Cun Giok menjadi terharu sekali.

Dua orang gadis yang sama cantik jelita, sama gagah perkasa dan biarpun Li Hong memiliki watak yang keras dan liar namun pada dasar hatinya terkandung keadilan dan kegagahan dan kini menjadi adik angkat Ceng Ceng, tentu ia akan mendapat tuntunan yang baik sekali.

Sungguh berbahagia sekali Li Hong mendapatkan seorang saudara tua seperti Ceng Ceng!

Siapa pun dia yang dapat berdekatan dengan Ceng Ceng, berarti memperoleh kebahagiaan besar.

Ceng Ceng bagaikan matahari yang mendatangkan penerangan dalam kehidupan seseorang.

Dan dia telah mendapat balasan cinta dari Ceng Ceng!

Sesungguhnya hal ini merupakan kebahagiaan yang tak dapat diukur dalamnya.

Akan tetapi apakah dia berhak untuk menjadi jodoh Ceng Ceng?

Bukankah dia telah bertunangan dengan Siok Eng?

Tiba-tiba kebahagiaan besar karena saling mencinta dengan Ceng Ceng itu membuyar dan kesadaran akan keadaan dirinya terasa bagaikan ujung pedang menusuk perasaan hatinya.

Tidak, dia tidak boleh bertekuk lutut terhadap cintanya sendiri.

Cinta memang suci dan bersih, namun dia sama sekali tidak bersih, sama sekali tidak berhak untuk mencinta dan dicintai seorang gadis semulia Ceng Ceng!

Dia melakukan dosa besar yang amat memalukan!

Merasa betapa perasaan hatinya seperti ditusuk-tusuk, tanpa disadarinya Cun Giok menutupi mukanya dengan kedua tangan, seolah merasa malu menatap dunia.

Ceng Ceng dan Li Hong yang tadinya saling rangkul dengan hati merasa terharu dan berbahagia, melepaskan rangkulan masing-masing ketika mereka melihat keadaan Cun Giok.

"Pouw-twako, engkau kenapakah?"

Tanya Li Hong.

"Giok-ko, engkau berduka, ada apakah?"

Tanya pula Ceng Ceng sambil menatap pemuda yang dikasihinya itu penuh selidik.

Cun Giok menghela napas, menurunkan kedua tangannya dan baru menyadari apa yang dia lakukan.

Wajahnya tampak pucat dan muram ketika dia memandang kepada Ceng Ceng.

Hatinya terasa pedih sekali.

Tidak, dia tidak boleh merahasiakan keadaan dirinya.

Ini tidak adil dan merupakan penipuan!

Dia harus membuka rahasianya!

"Aku berdosa, berdosa besar sekali.

Aku berdosa kepadamu, Hong-moi, juga kepadamu, Ceng-moi, harap kalian berdua memaafkan aku."

Dua orang gadis itu saling pandang dengan heran.

"Twako, apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

Tanya mereka hampir berbareng sambil menatap wajah pemuda itu.

Memang berat sekali rasanya bagi Cun Giok untuk mengatakan apa yang menjadi suara hatinya.

Demi kejujuran dan keadilan dia harus mengatakannya, padahal dia maklum bahwa pengakuannya itu jelas akan memutuskan tali percintaan antara dia dengan Ceng Ceng!

Hal ini akan terasa berat sekali dan akan menghancurkan hatinya, menghilangkan kebahagiaannya.

Setelah menekan semua kegelisahan hatinya dia lalu berkata.

"Kepadamu, Hong-moi, aku minta maaf karena tanpa kusengaja aku telah mengecewakan perasaan hatimu......."

"Ah, tidak, Twako. Bukan salahmu, akulah yang bersalah dan akulah yang sepatutnya minta maaf padamu!"

Kata Li Hong.

"Dan kepadamu, Ceng-moi aku...... ampunkanlah aku...... sesungguhnya, tidak pantas bagi aku untuk mencintamu karena...... karena...... tidak mungkin kita dapat berjodoh......."

Ceng Ceng terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat, sedangkan Li Hong bangkit berdiri dengan marah.

"Twako, apa-apaan ini? Engkau dan Enci Ceng sudah saling mencinta! Bagaimana engkau sekarang mengatakan bahwa kalian tidak dapat berjodoh? Apa artinya ini? Jelaskan!"

Bentak Li Hong sambil memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut dan muka merah. Akan tetapi Cun Giok tidak mempedulikan Li Hong, pandang matanya tertuju kepada Ceng Ceng dengan sayu.

"Ceng-moi, ketahuilah, aku tidak mungkin dapat berjodoh denganmu karena...... karena...... aku sudah bertunangan dengan seorang gadis lain sejak dua tiga tahun yang lalu......."

"Ahhh......."

Ceng Ceng cepat menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan air mata yang mengalir keluar dari kedua matanya.

"Jahanam keparat!!"

Li Hong melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Cun Giok.

"Tak kusangka engkau ternyata seorang pemuda hidung belang yang suka mempermainkan wanita! Kalau sudah bertunangan dengan gadis lain, mengapa engkau merayu Enci Ceng Ceng sehingga ia jatuh cinta padamu? Engkau harus malu! Beginikah watak seorang pendekar? Aku harus menghajarmu atas penghinaanmu terhadap Enci Ceng ini!"

Dengan kemarahan meluap-luap Li Hong sudah mencabut Ban-tok-kiam dan sinar hijau bergulung-gulung ketika ia menyerang dengan dahsyat kepada Cun Giok!

Pemuda itu cepat menghindarkan diri dari serangan maut itu dengan loncatan ke belakang.

Li Hong masih hendak mengejar, akan tetapi Ceng Ceng merangkul pinggangnya dari belakang dan menahannya.

"Jangan, Hong-moi. Tidak selalu cinta harus berakhir dengan pernikahan."

Melihat Cun Giok berdiri dengan wajah pucat, ia berkata.

"Giok-ko, pergilah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Pergilah!"

Suaranya mengandung isak dan melihat betapa Li Hong meronta hendak melepaskan diri dari rangkulan Ceng Ceng.

Cun Giok mengeluarkan suara keluhan yang keluar dari rintihan suara hatinya dan dia lalu melompat pergi dengan cepat sekali sehingga bayangannya pun tidak tampak.

"Lepaskan aku, Enci Ceng! Aku harus mengejar dan membunuh jahanam yang telah berani mempermainkanmu itu!"

"Sudahlah, Adikku, tidak perlu dikejar lagi. Bagaimanapun juga, Giok-ko sudah menebus kesalahannya dengan pengakuannya tadi. Kalau dia berniat buruk, tentu dia akan terus merahasiakan pertunangannya itu."

"Engkau...... engkau tidak merasa hancur hatimu dan merasa sakit hati, Enci Ceng?"

Tanya Li Hong sambil memandang wajah Ceng Ceng dengan perasaan iba. Ceng Ceng mengusap air matanya dan tersenyum, menggeleng kepalanya.

"Sudah sewajarnya kalau aku merasa bersedih karena putus cinta, akan tetapi aku tidak sakit hati. Mengapa? Giok-ko tidak bersalah. Bagaimana orang jatuh cinta dapat disalahkan? Pengakuannya tadi menghapus semua kesalah-pahaman. Aku hanya mendoakan semoga dia dapat hidup bahagia di samping tunangannya yang akan menjadi isterinya."

Li Hong menghela napas.

"Ah, hatimu terlalu baik, Enci Ceng, terlalu baik dan terlalu lemah. Sekarang bagaimana, Enci? Apakah engkau tidak berniat mencari harta karun itu?"

"Harta karun itu telah diambil orang lain, Hong-moi."

"Maksudmu telah diambil oleh Kim Bayan dan teman-temannya?"

"Tidak, ada orang lain yang telah mendahului dan mengambil harta itu."

Ceng Ceng lalu menceritakan hasil pencarian harta karun itu.

Biarpun tempat penyimpanan telah ditemukan namun ternyata peti harta karun itu kosong dan hanya ada tulisan THAI-SAN.

Li Hong mengerutkan alisnya.

"Peti kosong? Dan ada dua huruf THAI-SAN dalam kotak itu? Hemm, kalau begitu jelas bahwa isi kotak itu telah diambil orang dan pengambilnya adalah seorang atau orang-orang yang sombong maka berani menuliskan asal-usul mereka. Tentu pengambilnya ada hubungan dengan Thai-san!"

"Aku juga berpendapat demikian, Li Hong."

"Lalu apa yang hendak kaulakukan, Enci?"

"Mencari harta karun itu merupakan kewajibanku, Hong-moi, karena itu merupakan pesan atau peninggalan ayahku. Juga, sekarang aku tidak dapat pulang ke bekas rumah orang tuaku karena rumah itu sekarang tentu sudah diambil-alih atau dirampas pemerintah yang menganggap orang tuaku sebagai pemberontak. Maka, aku akan pergi mencari ke Thai-san."

Li Hong memegang tangan kakak angkatnya.

"Enci Ceng, kenapa engkau merasa tidak mempunyai rumah lagi? Engkau adalah kakak angkatku, maka rumahku juga merupakan rumahmu. Marilah, Enci, kita pergi ke Coa-to (Pulau Ular)!"

Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.

"Terima kasih, Li Hong, akan tetapi sungguh aku tidak ingin merepotkan dan mengganggu ketenteraman keluarga orang tuamu."

"Aih, Enci! Orang tuaku juga menjadi pengganti orang tuamu! Justeru aku ingin memperkenalkan engkau kepada ayah ibuku. Guruku sudah kaukenal baik. Selain itu, kita perlu minta nasehat Subo (Ibu Guru) yang kini juga menjadi ibuku. Tentu ia akan dapat memberi petunjuk kepada kita siapa kiranya pencuri harta karun itu yang ada hubungannya dengan Thai-san. Guruku itu mengenal para tokoh kang-ouw sehingga mungkin ia dapat memberi petunjuk. Kalau kita hanya mencari secara ngawur saja, tentu akan sulit untuk menemukan pencuri itu."

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Ceng Ceng tidak dapat menolak ajakan Li Hong dan kedua orang gadis perkasa itu lalu melakukan perjalanan menuju ke Pulau Ular.

Cun Giok berlari cepat dan setelah jauh meninggalkan dua orang gadis itu, dia berhenti di tepi sebuah anak sungai yang airnya jernih.

Dia menjatuhkan diri duduk di atas tanah bertilam rumput tebal dan mukanya masih pucat, pandang matanya kosong dan termenung menatap air yang mengalir perlahan, bermain-main dengan batu-batu yang menonjol sehingga mengeluarkan bunyi gemericik.

Rumput alang-alang (ilalang) di sepanjang tepi sungai itu bergoyang perlahan tertiup angin semilir, seolah-olah ilalang itu menari-nari mengikuti irama musik yang diciptakan oleh gemericik air sungai.

Cun Giok merasa gundah gulana, penderitaan hati yang pernah dirasakannya ketika dia meninggalkan Siang Ni yang membunuh diri di depan makam ibunya.

Teringatlah dia kepada adik misannya itu dan dia merasa amat sedih.

Pengalamannya dengan Siang Ni sampai sekarang masih membekas, meninggalkan luka yang membuatnya rapuh dan luka itu mudah terobek kembali.

Kini luka itu terbuka lagi dan berdarah.

Betapa buruk nasibnya dalam pertemuannya dengan gadis-gadis lain sesudah Siang Ni.

Pertama dia bertemu dengan Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin yang telah menolongnya, bahkan mungkin dapat dikatakan bahwa gadis itu telah menghindarkannya dari maut karena kalau dia tidak ditemukan gadis itu, dari keadaan pingsan mungkin saja dia akan terus mati karena kehabisan banyak darah.

Akan tetapi kehadirannya bahkan meretakkan hubungan antara gadis itu dan ayahnya.

Demikian pula pengalamannya dengan Siang Ni.

Andaikata dia tidak muncul dalam kehidupan Siang Ni, andaikata dia tidak kesalahan tangan membunuh Pangeran Lu Kok Kong, ayah kandung Siang Ni, belum tentu nasib Siang Ni akan seburuk itu.

Demikian pula dengan Cu Ai Yin.

Andaikata gadis itu tidak menyelamatkannya, belum tentu ia sekarang bentrok dengan ayahnya sehingga minggat meninggalkan Bukit Merak, tempat tinggal ayahnya.

Agaknya dua peristiwa itu masih disusul yang lain lagi, bahkan lebih parah.

Dia telah membikin kecewa hati Li Hong yang tadinya dia tidak tahu bahwa Li Hong seorang wanita karena ia menyamar sebagai pria.

Biarpun tidak dia sengaja, akan tetapi kenyataannya tetap saja dia membuat Li Hong patah hati dan hampir saja Li Hong membunuh Ceng Ceng gara-gara dia.

Kemudian, yang membuat dia bersedih dan menyesal adalah hubungan cintanya dengan Ceng Ceng.

Dia harus mengakui bahwa selama hidupnya baru sekali ini dia mencinta seorang gadis seperti dia mencinta Ceng Ceng dan merasa yakin bahwa tidak mungkin dia dapat mencinta wanita lain seperti dia mencinta Ceng Ceng.

Memang dia akhirnya mengakui bahwa dia telah bertunangan, akan tetapi pengakuannya itu terlambat.

Dia merasa berdosa kepada Ceng Ceng.

Dia sudah mempermainkan gadis yang dikasihinya itu.

Semestinya sejak pertama kali dia menceritakan tentang pertunangannya itu.

Sesungguhnya dia sama sekali tidak berhak mencintai Ceng Ceng dan sekarang, dia menghancurkan perasaan gadis yang bijaksana dan baik budi itu!

Ah, betapa besar penyesalannya.

Belum lagi diingat bahwa dia telah mengkhianati pertunangannya dengan Siok Eng!

Dia telah bertunangan dengan Siok Eng akan tetapi jatuh cinta kepada Ceng Ceng!

Padahal yang mengesahkan pertunangannya itu adalah mendiang gurunya, Suma Tiang Bun, yang dihormati dan disayanginya!

Ketika matanya menatap ke air sungai, dia terbelalak.

Tampak bayangan wajah Siang Ni lalu berubah menjadi wajah Cu Ai Yin.

Tan Li Hong, Liu Ceng Ceng, kemudian sekali wajah Siok Eng!

Dia melempar sebuah batu ke permukaan air dan bayangan itu pun lenyap.

"Bodoh! Mengapa aku menjadi selemah ini? Sungguh tidak pantas menjadi murid mendiang Suhu Suma Tiang Bun dan Sukong Pak-kong Lojin! Dia memang telah melakukan kesalahan-kesalahan, akan tetapi manusia manakah yang tidak pernah melakukan kesalahan? Yang terpenting sekarang bukan hanya menyesali semua kesalahan itu lalu patah semangat, melainkan melangkah lebih lanjut dalam kehidupan ini, waspada akan langkah sendiri agar jangan sampai tersesat ke jalan yang pernah dilaluinya dan membuat kesalahan baru! Menyesal dan bertaubat tanpa mengubah kesalahannya, sama sekali tidak ada gunanya! Cun Giok mendadak merasa haus dan lapar. Dia lalu menuruni tepi sungai dan dengan kedua tangannya menciduk air dan diminumnya. Terasa dingin dan segar, membuat hatinya menjadi tenang kembali. Semangatnya bangkit dan dia lalu memperhitungkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Yang jelas, dia harus pergi ke kota Cin-yang di Propinsi Shan-tung, berkunjung ke rumah Chao Kung mantu dari Siok Kan di mana tinggal Siok Kan dan puterinya, Siok Eng. Sudah menjadi kewajibannya untuk mengunjungi tunangannya dan calon ayah mertuanya itu, yang sudah lebih dari dua tahun dia tinggalkan. Tiba-tiba dia merasa kasihan sekali kepada Siok Eng. Tunangannya itu pasti menanti-nantinya dengan penuh kegelisahan. Baru sekarang dia menyadari betapa kejam hatinya, membiarkan gadis yang tak berdosa itu, merana. Juga dia merasa malu kepada calon mertuanya, yaitu Siok Kan yang tentu akan menganggap dia seorang calon mantu yang tak bertanggung jawab. Akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan keadaan dirinya. Dia seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara yang tidak mempunyai apa-apa dan miskin. Bahkan rumah untuk tempat tinggal pun tidak punya! Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini dia akan dapat membangun rumah tangga? Seorang isteri tidak cukup hanya diberi cinta semata! Harus diberi rumah tinggal, makan setiap hari dan pakaian pengganti. Dan semua itu membutuhkan uang! Padahal, dia sama sekali tidak mempunyai uang, juga tidak mempunyai pekerjaan yang menghasilkan uang. Apakah untuk keperluan rumah tangganya dia harus mencuri seperti yang dilakukan ketika dalam perantauan kehabisan bekal? Ah, tidak, dia tidak ingin menjadi seorang penjahat, seorang pencuri! Memalukan, seorang pendekar berubah menjadi pencuri! Dan dia akan merasa malu sekali, setelah hampir tiga tahun merantau, dia datang ke rumah tunangannya tanpa membawa hasil apa-apa! Dia harus berhasil melakukan sesuatu yang penting! Teringatlah dia akan harta pusaka yang dicuri orang di Bukit Sorga! Dia akan ikut mencarinya! Bukan hanya untuk membantu Ceng Ceng agar harta itu diserahkan kepada para pejuang, akan tetapi juga untuk membuat jasa. Menerima sedikit saja bagian harta karun itu kiranya akan cukup baginya untuk dipakai sebagai modal bekerja atau berdagang. Demi memenuhi kebutuhan rumah tangga yang akan dia dirikan. Nanti kalau dia sudah berhasil, barulah dia akan pergi ke Cin-yang dan dia tidak akan merasa malu. Setelah mengambil keputusan, dia lalu bangkit dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Thai-san. Seperti yang lain, Cun Giok juga mempunyai dugaan bahwa harta karun itu tentu dicuri orang yang tinggal di Thai-san, atau setidaknya ada hubungannya dengan Thai-san. Memang terdapat keraguan dalam hatinya. Mana ada pencuri yang meninggalkan tanda agar orang-orang dapat mengejar dan mencarinya? Hanya ada dua kemungkinan. Kalau tanda THAI-SAN itu aseli, maka pencuri dan penulisnya itu tentu seorang datuk persilatan yang sombong bukan main, sengaja memberitahu di mana dia berada karena dia sama sekali tidak takut menghadapi mereka yang mencarinya! Atau bukan mustahil tanda itu palsu dengan niat dari pencurinya untuk menghilangkan jejak dan untuk menyesatkan mereka yang hendak melakukan pengejaran dan pencarian! Karena tidak ada petunjuk lain untuk dapat mencari pencuri harta karun itu, maka Cun Giok lalu melakukan perjalanan dengan cepat menuju Pegunungan Thai-san. Pada suatu hari tibalah dia di perbatasan Propinsi Shan-si sebelah barat dan berhenti di tepi Sungai Huang-ho yang airnya sedang besar sekali sampai penuh dan hampir meluap. Agaknya di sebelah utara, di daerah yang dilewati sungai itu bagian hulu sudah terdapat banyak hujan sehingga Sungai Kuning itu menampung curah hujan dan setibanya di perbatasan barat Propinsi Shan-si menjadi amat lebar dan luas. Pantai sebelah timur sungai itu cukup ramai dengan para nelayan dan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu kepada para pedagang yang perlu menyeberang. Di sini terdapat pula pasar ikan di mana orang-orang melakukan tawar menawar hasil tangkapan para nelayan. Tiba-tiba semua kesibukan terhenti dan semua orang memandang ke arah perahu-perahu besar yang menyeberangi sungai itu dari barat. Belasan buah perahu besar menyeberang dan setelah tiba di seberang timur, ratusan orang perajurit Kerajaan Mongol mendarat. Mereka berbaris dengan rapi dan melanjutkan perjalanan mereka ke timur. Cun Giok merasa heran sekali. Pada beberapa hari yang lalu, dia pun bertemu dengan banyak pasukan yang berbaris menuju kota raja. Wajah para panglima komandan pasukan tampak muram dan serius. Ketika melihat seorang kakek sibuk memberi keterangan kepada orang-orang di sekitarnya yang mengelilinginya, Cun Giok tertarik dan cepat menghampiri. Dari cerita kakek yang agaknya berpengalaman luas dan mengetahui banyak kejadian itu dia mendengar bahwa Kaisar Kubilai Khan telah wafat (Tahun I294)! Inilah sebabnya mengapa balatentara yang melakukan penjagaan di bagian barat ditarik kembali ke kota raja Peking. Akan tetapi berita kematian Kaisar Kubilai Khan ini tidak berarti apa-apa bagi Cun Giok. Kematian Kaisar bangsa Mongol itu tentu akan dianggap biasa oleh bangsa Pribumi Han yang semua orang tahu bahwa pasti akan ada penggantinya yang juga seorang bangsa Mongol. Bagi dia penggantian kaisar itu tidak akan mengubah keadaan karena tetap saja tanah air dan bangsa dijajah oleh bangsa Mongol. Akan tetapi tentu saja tidak demikian dengan penilaian para tokoh pejuang yang memperhatikan keadaan pemerintahan Mongol. Mereka ini maklum bahwa Kaisar Kubilai Khan adalah seorang kaisar yang hampir sama dengan Kaisar Jenghis Khan. Pandai mengatur barisan, pandai pula mengatur pemerintahan, besar kekuasaannya dan berpengaruh, ditakuti dan disegani para pembesar bawahannya. Akan tetapi setelah Kaisar Kubilai Khan wafat, agaknya tidak akan ada yang dapat menyamai dalam hal mengatur pemerintah dan balatentara. Ini merupakan pertanda baik bagi para pejuang karena tanpa adanya Kaisar Kubilai Khan, kekuatan bangsa Mongol mulai berkurang kekuatannya. Tiba-tiba seorang nelayan berseru dan menudingkan telunjuknya ke tengah sungai yang amat lebar dan luas itu. Semua orang, termasuk Cun Giok, memandang. Dia melihat seorang penumpang sebuah perahu kecil, dari bentuknya seperti seorang wanita, sedang dikepung dua buah perahu besar seperti perahu-perahu yang tadi ditumpangi ratusan orang perajurit. Di atas dua buah perahu itu terdapat banyak perajurit yang bergerak-gerak seolah hendak mengeroyok wanita yang berada di perahu kecil. Orang-orang yang melihatnya hanya memandang dengan hati tegang, tidak berani mencampuri karena tentu saja mereka tidak berani menentang para perajurit Mongol.

"Huh, anjing-anjing Mongol itu beraninya hanya mengganggu wanita!"

Terdengar gerutu seorang laki-laki.

Ketika Cun Giok memandang, ternyata yang mengomel itu adalah seorang nelayan berusia sekitar empatpuluh tahun yang bertubuh tegap.

Dia memegang sebatang dayung besi dan melangkah ke arah perahunya yang berada di atas pasir di tepi sungai.

Cepat Cun Giok mendekati orang itu.

"Maaf, Twako, bolehkah aku menyewa perahumu dan menyeberangkan ke sana?"

Cun Giok menunjuk ke arah barat. Nelayan yang bertubuh kokoh kuat itu memandang ke arah tudingan Cun Giok yang mengarah perahu kecil yang dikepung dua perahu besar.

"Hemm, di sana agaknya terjadi keributan,"

Katanya sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu. Agaknya ada wanita yang diganggu para perajurit Mongol."

"Apa engkau tidak takut?"

Nelayan itu bertanya sambil mengamati pemuda yang tampaknya lemah itu. Cun Giok menggelengkan kepalanya.

"Mengapa takut? Aku justeru ingin menolongnya menyelamatkan wanita itu. Akan tetapi kalau engkau takut mengantarku, biar kusewa perahumu saja dan aku akan mendayung sendiri."

"Huh, kalau engkau berani, mengapa aku tidak? Mari, kawan, mari kita tolong gadis itu dan hajar orang-orang Mongol yang kurang ajar itu!"

Setelah berkata demikian, nelayan itu mendorong perahunya ke dalam sungai.

Cun Giok melompat ke atas perahu dan perahu itu cepat didayung oleh nelayan yang bertubuh kuat itu.

Dayung besi itu dia gerakkan kuat-kuat sehingga perahu meluncur dengan cepat melintasi air sungai yang mengalir tenang perlahan di bagian itu.

Setelah tiba dekat dengan perahu kecil yang dikepung dua buah perahu besar itu, Cun Giok melihat seorang gadis berpakaian serba putih sedang berdiri di perahunya yang kecil dengan sepasang pedang pendek di kedua tangannya.

Di dekat perahu itu tampak dua orang perajurit terapung, agaknya tewas terkena sambaran sepasang pedang itu.

Kini di atas perahu besar itu terdengar orang-orang memaki marah dan tampak dua orang perajurit melompat dari perahu yang berada di depan gadis itu, dan dua orang pula yang melompat dari perahu besar di belakangnya.

Empat orang itu melompat sambil menyerang dengan golok mereka.

Akan tetapi gadis itu menggerakkan sepasang pedangnya dengan cepat dan lihai sekali sehingga empat orang perajurit Mongol itu berteriak dan tubuh mereka yang mandi darah itu tercebur ke dalam air sungai!

Akan tetapi perahu kecil itu menjadi guncang karena gerakan gadis itu yang menggunakan tenaga cukup besar.

"Nona Cu Ai Yin......!"

Cun Giok berseru ketika sudah tiba dekat dan dapat melihat wajah gadis berpakaian putih itu dengan jelas.

Pada saat itu, karena sukar untuk mempertahankan diri berdiri tegak di perahu itu dan ada bahaya ia terpelanting jatuh ke air, tiba-tiba Ai Yin lalu melompat ke atas sebuah perahu besar yang terdekat.

Begitu tiba di perahu besar, segera puluhan orang perajurit di atas perahu itu mengeroyoknya.

Ai Yin mengamuk dengan sepasang pedang pendeknya.

"Tangkap gadis pemberontak ini! Ia telah membunuh banyak rekan kita!"

Terdengar teriakan-teriakan para pengeroyok.

Beberapa orang perwira yang berada di perahu itu pun maju mengeroyok dengan pedang mereka.

Ada empat orang perwira yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada para perajurit mereka, maka Ai Yin dikepung ketat dan menjadi repot juga.

Sepasang pedangnya menyambar-nyambar dan merobohkan beberapa orang, akan tetapi para pengeroyok semakin banyak jumlahnya karena dari perahu besar kedua, banyak pula perajurit Mongol yang datang dan naik ke perahu itu untuk ikut mengeroyok!

"Nona Cu, jangan khawatir, aku datang membantumu!"

Tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu empat orang pengeroyok roboh ketika Cun Giok melayang naik ke perahu itu dan begitu kaki tangannya bergerak, empat orang pengeroyok roboh.

Pemuda itu lalu mencabut Kim-kong-kiam dan mengamuk, membuat para pengeroyok kocar-kacir.

"Cun Giok......!"

Ai Yin berseru girang ketika mengenal pemuda yang membantunya itu. Mereka berdua lalu mengamuk dan belasan orang pengeroyok telah mereka robohkan.

"Serang dengan panah!"

Terdengar seorang perwira berseru dan belasan orang perajurit ahli panah telah mempersiapkan busur dan anak panah.

Melihat ini, Cun Giok merasa khawatir.

Kalau para perajurit itu mempergunakan panah untuk menyerang, tentu akan berbahaya sekali bagi dia, terutama bagi Ai Yin.

Ruangan di atas perahu itu kurang luas sehingga tidak banyak ruangan untuk bergerak menghindarkan diri.

"Nona Cu, kita lari!"

Teriaknya dan dia lalu merobohkan mereka yang menghalang di depan mereka.

Setelah berlari sampai ke tepi perahu, dengan kaget Cun Giok melihat bahwa perahu kecil yang ditumpanginya tadi telah hanyut jauh dan Si Nelayan telah terkapar mati di atas perahunya, terkena anak panah!

"Nona Cu, kita loncat!"

Dia mendahului untuk memberi contoh kepada gadis itu dan dia meloncat keluar dari perahu.

Cu Ai Yin agak ragu untuk meloncat.

Ia tidak begitu pandai berenang, maka melihat air yang begitu luas, ia menjadi gentar.

Karena mereka sudah mulai menyerang dengan melepaskan anak panah, Ai Yin memutar sepasang pedangnya sehingga semua anak panah itu terpukul runtuh.

Melihat keadaan mendesak, barulah ia meloncat keluar dari perahu, ke arah jatuhnya Cun Giok tadi.

Akan tetapi para perajurit sudah mengejar sampai di tepi perahu dan beberapa orang melepaskan anak panah ke bawah.

Cun Giok yang terapung di air dan melihat Ai Yin melompat, terkejut bukan main ketika melihat sebatang anak panah yang meluncur dari perahu mengenai punggung gadis itu.

"Nona Cu......!"

Dia berseru dan cepat dia berenang ke arah jatuhnya tubuh Ai Yin di air.

Gadis itu tidak pingsan, akan tetapi agak gelagapan karena selain kurang pandai berenang, juga luka di punggungnya membuat sebelah lengannya nyeri kalau digerakkan.

Tiba-tiba lengan Cun Giok yang kuat menangkapnya dan pemuda itu berseru.

"Ambil napas dan tahan!"

Ai Yin mengambil napas dalam, kemudian menahan napas ketika Cun Giok membawanya menyelam.

Untung Cun Giok membawanya menyelam karena kalau tidak cepat-cepat dia menyelam, tentu mereka akan menjadi korban hujan anak panah yang dilepaskan dari atas perahu besar.

Dengan cepat, Cun Giok yang membawa Ai Yin menyelam, berenang di bawah permukaan air menuju ke pantai.

Perahu besar yang hanyut terbawa air itu tentu saja semakin menjauh sehingga ketika Cun Giok tiba di daratan, tidak ada orang di perahu itu yang dapat melihatnya.

Setelah tiba di tepi sungai dan melihat betapa tubuh Ai Yin lemas dan terengah-engah, terbatuk-batuk karena tadi menahan napas dan hampir tidak kuat sehingga ada air memasuki perutnya, Cun Giok segera memondongnya dan membawanya lari ke dalam sebuah hutan yang tumbuh di tepi sungai.

Tempat itu sudah jauh dari tepi sungai yang banyak orangnya tadi.

Ketika memondong tubuh Ai Yin dan membawanya berlari cepat, dia berlaku hati-hati sekali agar jangan sampai menyentuh anak panah yang masih menancap di punggung gadis Setelah tiba di tengah hutan, tiba-tiba tubuh Ai Yin terkulai lemas dan Cun Giok segera merebahkan tubuh gadis itu miring, lalu dicabutnya dengan hati-hati anak panah dari punggung gadis itu.

Untung bahwa anak panah itu agaknya tidak mengenai jantung dan ketika dicabut, Ai Yin tidak mengeluh.

Ketika diperiksanya, gadis itu ternyata pingsan dan napasnya terhenti!

Cun Giok tahu apa yang harus dia lakukan.

Cepat dia menelentangkan tubuh Ai Yin, membuka mulut gadis itu lalu dia menempelkan mulutnya pada mulut yang terbuka itu dan meniupkan napas dengan kuat.

Beberapa kali hal ini dia ulangi dan akhirnya Ai Yin terbatuk-batuk dan dapat bernapas kembali!

Gadis itu agaknya sudah siuman, akan tetapi masih dalam keadaan setengah sadar.

Cun Giok tidak membuang waktu lagi.

Dia menggulingkan tubuh gadis itu sehingga menelungkup, lalu dibukanya baju Ai Yin bagian belakang agar dia dapat memeriksa lukanya.

Hatinya merasa lega.

Luka itu tidak terkena racun.

Anak panah yang menancap di punggung tadi tidak beracun dan hanya melukai kulit dan daging lalu anak panah itu terhalang tulang rusuk sehingga tidak masuk terlalu dalam sehingga tidak merusak alat vital yang berada di rongga dada.

Agaknya yang membuat gadis itu pingsan bukan lukanya itu, melainkan menyelam terlalu lama sehingga kehabisan napas.

Cun Giok membuka buntalan pakaiannya yang basah kuyup, mengeluarkan bungkusan obat luka dan memoleskan sehingga menutupi luka yang tidak terlalu besar itu.

Tiba-tiba Ai Yin membuka matanya dan ketika merasa betapa tubuhnya yang menelungkup itu diraba-raba orang di bagian punggung, ia berseru nyaring dan tubuhnya melompat berdiri.

Otomatis ia mencabut sepasang pedang pendek yang tadi digunakan untuk mengamuk dan yang sempat ia sarungkan kembali sebelum melompat ke air.

Ia merasa betapa bajunya di bagian punggung terbuka, maka dengan marah ia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk Cun Giok sambil memaki.

"Jahanam busuk! Berani engkau menjamahku dan bertindak kurang ajar? Kubunuh engkau!"

Sepasang pedangnya menyambar-nyambar dan membentuk dua gulungan sinar yang berbahaya sekali.

Cun Giok harus menggunakan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedang pendek itu.

Sambil melompat agak jauh ke belakang, dia berseru.

"Ai Yin, sadar dan tenanglah. Ini aku, Cun Giok, dan baru saja kita meloloskan diri dari perahu pasukan Mongol!"

Ai Yin menghentikan serangannya dan berdiri tegak, menatap wajah Cun Giok lalu berkata ketus.

"Hemm, lebih jahat lagi kalau engkau yang melakukan perbuatan tidak sopan terhadap diriku tadi, Cun Giok!"

"Tenanglah, Ai Yin, dan dengarkan penjelasanku. Agaknya engkau masih pening dan belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Ingatkah engkau ketika dikeroyok banyak perajurit Mongol di atas perahu kecilmu kemudian engkau melompat ke atas perahu besar dan mengamuk?"

Ai Yin mengerutkan alisnya yang berbentuk indah, kemudian dalam pandang matanya muncul sinar kesadaran. Ia memejamkan matanya seolah mengenang apa yang telah terjadi.

"Aku...... aku dihadang dua perahu besar penuh perajurit Mongol, mereka hendak menangkapku dan aku mengamuk...... di perahu besar aku dikeroyok banyak perajurit lalu...... lalu...... ah, aku ingat sekarang, engkau muncul dan membantuku, Cun Giok!"

Ia membuka matanya dan menatap wajah pemuda itu sambil menyarungkan pedangnya. Gerakannya masih tampak lemas dan tubuhnya bergoyang-goyang.

"Mari kita duduk, Ai Yin, dan engkau perlu menenangkan diri dan mengumpulkan tenaga,"

Kata Cun Giok. Ai Yin menghela napas lega lalu ia duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari dalam tanah. Cun Giok juga duduk di depannya.

"Engkau sudah ingat akan semua yang terjadi tadi, sekarang?"

"Aku ingat bahwa engkau muncul membantuku, kemudian engkau mengajak aku melompat dari atas perahu ke air. Hanya itu yang kuingat, selanjutnya aku tidak ingat dan tahu-tahu aku berada di sini dan...... dan...... aku telungkup, bajuku di belakang terbuka dan punggungku diraba-raba. Cun Giok! Engkaukah yang melakukan itu? Hayo katakan, mengapa engkau melakukan perbuatan tidak sopan itu? Salahkah dugaanku semula bahwa engkau seorang pendekar yang sopan dan baik budi?"

Sepasang mata itu mencorong kembali, memandang penasaran dan menuntut keterangan dari pemuda itu.

"Tenanglah, Ai Yin. Engkau salah paham dan aku tidak menyalahkanmu karena engkau baru sadar dan tentu merasa lemas dan pening. Ketahuilah, ketika engkau melompat keluar dari perahu pasukan Mongol, sebatang anak panah mengenai punggungmu dan engkau jatuh ke air dalam keadaan terluka dan hampir pingsan."

Mendengar ini, Ai Yin menjulurkan tangan meraba luka di punggungnya dan menyeringai.

"Aduhhh.......!"

"Jangan khawatir, lukanya hanya luka kulit dan daging. Anak panahnya sudah kucabut dan tidak beracun. Aku sudah memolesi luka itu dengan obat luka."

"Aih, kiranya engkau yang menyelamatkan aku, Cun Giok. Maafkan sikapku tadi dan lanjutkan ceritamu tadi."

"Melihat engkau terkena anak panah, aku lalu membawamu menyelam karena kalau tidak, kita berdua tentu telah tewas dihujani anak panah dari atas perahu. Nah, aku membawamu berenang di bawah permukaan air ke tepi dan menjauh dari perahu. Untung tidak ada yang melihatku. Setelah mendarat, aku lalu membawamu lari secepatnya memasuki hutan ini. Setelah tiba di tengah hutan ini, aku merebahkanmu dan mencabut anak panah itu dari punggungmu. Akan tetapi aku sempat bingung dan gelisah karena engkau bukan hanya pingsan, bahkan pernapasanmu berhenti!"

"Ihh! Kalau napasku berhenti mengapa aku sekarang masih hidup, Cun Giok?"

"Aku juga menjadi bingung dan takut kalau-kalau engkau mati, Ai Yin. Maka aku menghilangkan segala keraguan dan melakukan satu-satunya cara pertolongan yang aku tahu, yaitu dengan...... menyambung pernapasanmu yang terhenti itu agar paru-parumu bekerja kembali."

"Menyambung pernapasanku yang sudah terhenti? Apa maksudmu?"

Wajah Cun Giok berubah merah.

"Yaitu dengan...... napasku ke dalam paru-parumu agar dapat bekerja kembali......."

"Eh? Caranya?"

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak heran karena tidak mengerti. Wajah Cun Giok semakin merah seperti udang direbus.

"Caranya? Tentu saja dengan...... meniupkan napasku ke dalam paru-parumu...... lewat...... dari mulut ke mulut......."

"Ihh......!"

Sepasang mata yang indah itu terbelalak menatap ke arah mulut Cun Giok dan kedua tangannya diangkat menyentuh mulutnya sendiri dengan jari-jari tangan gemetar.

Wajah yang jelita itu sebentar pucat sebentar merah menandakan gejolak hatinya yang berdebar-debar.

Cun Giok tidak berani bertemu pandang dengan Ai Yin.

Dia menundukkan mukanya dan menanti reaksi gadis itu.

Pasti Ai Yin yang berwatak keras itu akan marah sekali.

Memakinya, mungkin memukulnya.

Dia tidak akan melawan, akan tetapi tentu saja dia akan menghindar kalau gadis itu hendak membunuhnya.

Sampai lama sekali mereka berdiam diri.

Cun Giok yang menunduk tidak tahu apa yang dilakukan Ai Yin.

Gadis ini sejak mendengar keterangan terakhir tadi, bengong memandang Cun Giok sambil menyentuh bibir sendiri, dan setiap kali membayangkan peristiwa "menyambung napas melalui mulut"

Itu, wajahnya menjadi merah sekali. Cun Giok tidak dapat menahan perasaannya lebih lama lagi.

"Tadi aku...... sengaja membuka bajumu bagian belakang untuk memeriksa dan mengobati luka punggungmu......."

Tidak ada jawaban ucapan Cun Giok yang masih menundukkan mukanya itu.

Sampai lama keduanya diam saja.

Cun Giok merasa semakin gelisah.

Dia tidak tahu bagaimana sikap Ai Yin menanggapi semua keterangannya tadi.

Setelah menanti cukup lama, akhirnya Cun Giok memberanikan diri mengangkat muka memandang wajah Ai Yin.

Dia melihat Ai Yin masih menutupi mulutnya dengan jari-jari tangan, matanya seperti kosong memandang ke depan, seperti orang tenggelam ke dalam renungan sendiri.

Tiba-tiba Cun Giok merasa iba sekali, merasa betapa dia telah bersalah besar, telah menyinggung perasaan dan harga diri serta kehormatan gadis itu.

"Ai Yin, maafkanlah aku...... sungguh, aku tidak berniat buruk, akan tetapi kalau engkau menganggap aku tidak sopan, maki dan tamparlah aku......."

Mendengar ini, bagaikan baru sadar dari lamunannya, Ai Yin memandang Cun Giok dan beberapa butir air mata keluar cari pelupuk matanya, mengalir turun ke atas kedua pipinya.

Akan tetapi, cepat kedua tangannya mengusap dan menghapus air mata itu, dan Ai Yin tersenyum!

"Ah, Cun Giok, aku bukan orang yang tidak mengenal budi seperti itu.

Engkau telah menolongku, menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut.

Engkau tidak bersalah, engkau terpaksa melakukan semua itu hanya dengan satu maksud, yaitu untuk merenggut kembali nyawaku dari cengkeraman Giam-lo-ong (Dewa Maut).

Bagaimana aku dapat marah padamu?

Aku malah sangat berterima kasih kepadamu, Cun Giok."

Bukan main lega rasa hati Cun Giok, seolah sebuah batu besar dan berat yang tadi menindih hatinya kini terangkat. Dia menghela napas panjang dan tersenyum.

"Tidak perlu berterima kasih, Ai Yin. Kalau perbuatanku ini kauanggap pertolongan, biarlah ini untuk membalas pertolonganmu dahulu yang telah menyelamatkan nyawaku pula. Akan tetapi, apakah yang terjadi, Ai Yin? Engkau hendak pergi ke mana dan mengapa pula pasukan Mongol itu hendak menangkapmu?"

"Engkau tentu telah mendengar bahwa Kaisar Kubilai Khan telah wafat dan pasukan yang berada di daerah, terutama yang berada di barat, ditarik kembali. Nah, aku bertemu dengan banyak perajurit dan tiga hari yang lalu aku bertemu dengan tiga orang perajurit Mongol. Mereka itu agaknya mabok dan melihat aku berjalan seorang diri, mereka menggangguku dan selain mengeluarkan ucapan yang tidak sopan, juga mereka hendak menangkapku dengan niat keji. Aku melawan dan membunuh dua orang, sayang, yang seorang sempat melarikan diri sehingga agaknya dia melapor kepada kawan-kawannya. Aku lalu dikejar-kejar dan ketika aku menyeberangi Huang-ho (Sungai Kuning), mereka menggunakan dua buah perahu besar menyergapku."

"Akan tetapi, engkau hendak pergi ke mana. Ai Yin?"

"Merantau! Sejak kita saling berpisah dahulu itu, aku belum pulang ke Bukit Merak. Suhengku itu, Kong Sek, tentu mengadu kepada Ayah dan aku tidak mau ribut dengan Ayah. Aku sayang Ayah dan aku tidak ingin melihat dia marah dan sedih karena perbuatanku."

Cun Giok teringat betapa gadis ini menjadi begini, bertentangan dengan ayahnya, juga dengan Kong Sek, adalah karena dia!

Kalau Ai Yin tidak menolongnya dan membawanya pulang untuk dirawat, tentu kini masih berada di Bukit Merak, hidup tenang dengan ayahnya, dan mungkin saja juga rukun dengan Kong Sek, suheng yang mencintainya itu.

Dia menghela napas panjang.

"Ai Yin, pulanglah, Ai Yin. Engkau beruntung mempunyai seorang ayah dan tempat tinggal. Jangan seperti aku yang tidak mempunyai orang tua dan saudara, hidup sebatang kara, seperti sehelai daun kering tertiup angin ke sana sini tanpa tujuan. Pulanglah, Ai Yin. Tidak kasihankah engkau kepada ayahmu yang tentu merasa khawatir dan sedih karena kau tinggalkan? Ingat, ayahmu itu amat menyayangmu dan menanti-nanti kepulanganmu."

Ai Yin cemberut. Manis sekali wajahnya ketika cemberut. Tahi lalat hitam kecil di sudut kanan mulutnya ikut bergerak seperti menari.

"Aku jengkel karena akan dijodohkan dengan Suheng Kong Sek!"

"Ai Yin, aku percaya ayahmu tidak akan memaksa puteri tunggalnya. Kalau engkau tidak suka, katakan terus terang kepada ayahmu. Dia pasti akan mengerti dan tidak memaksamu."

"Kau pikir begitukah, Cun Giok? Bagaimana kalau ayahku marah dan memaksaku untuk menikah dengan Kong Sek?"

Tanya Ai Yin.

"Percayalah padaku, Ai Yin. Aku yakin Ayahmu adalah seorang gagah perkasa, adil dan menyayangmu. Kalau engkau berterus terang mengatakan bahwa engkau tidak suka menjadi isteri Kong Sek, pasti dia tidak akan memaksamu. Pula, bagaimana dia dapat memaksamu? Setiap saat bisa saja engkau pergi."

Setelah berpikir beberapa lamanya, Ai Yin mengangkat muka menatap wajah Cun Giok.

"Baiklah, Cun Giok, aku akan menuruti nasehatmu. Aku akan pulang ke Bukit Merak. Akan tetapi engkau sendiri, hendak ke manakah?"

Cun Giok merasa bahwa dia tidak perlu menyembunyikan urusan harta karun dari gadis ini.

Dia percaya bahwa Ai Yin bukan seorang gadis yang murka akan harta benda, juga jelas bukan antek Kerajaan Mongol.

Buktinya, tadi pun ia membunuh banyak perajurit Mongol yang mengganggunya.

Pula, urusan harta karun itu sekarang telah diketahui banyak orang, apalagi setelah harta karun itu dicuri atau diambil oleh seorang yang tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Aku akan pergi ke Thai-san."

"Eh, ada apa di Thai-san?"

"Begini, Ai Yin. Ada orang yang telah mencuri harta karun peninggalan Kerajaan Sung. Harta karun itu seharusnya menjadi hak para pejuang yang hendak mengusir penjajah Mongol dari tanah air. Maka sudah menjadi kewajibanku pula untuk mencari pencuri itu dan kalau mungkin mengembalikan harta itu dari tangan orang yang tidak berhak. Aku harus membantu usaha para pejuang membebaskan tanah air dari penjajah Mongol."

"Wah, menarik sekali! Siapa pencuri itu, Cun Giok?"

"Aku tidak tahu. Tidak seorang pun tahu siapa yang mencuri harta karun yang bukan menjadi haknya. Hanya diketahui bahwa pencuri itu meninggalkan tanda huruf Thai-san di dasar peti yang isinya sudah dia bawa pergi. Nah, demikianlah, Ai Yin, aku akan mencoba untuk mencari pencuri itu di Thai-san."

"Dan seandainya engkau berhasil menemukan pencuri dan berhasil merampas kembali harta karun itu?"

"Tentu saja akan kuserahkan kepada yang berhak, yaitu para pemimpin pejuang pembebas tanah air dari belenggu penjajah Mongol."

"Siapa itu, Cun Giok? Siapa pemimpin pejuang yang kaumaksudkan itu? "Aku sendiri pun belum tahu, Ai Yin. Akan tetapi aku yakin, sekali waktu pasti akan muncul pemimpin pejuang sejati dan kepada dialah harta karun itu harus diserahkan untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah."

"Wah, menarik sekali! Aku akan memberitahukan hal itu kepada Ayah. Aku yakin Ayah akan tertarik juga."

"Hemm, apakah hal itu tidak berbahaya, Ai Yin. Aku melihat hubungan Ayahmu dengan pembesar bangsa Mongol amat baik. Buktinya Kong Sek, putera Panglima Besar Kong Tek Kok diterima menjadi muridnya."

"Benar, akan tetapi hai itu bukan berarti Ayah suka kepada orang Mongol. Memang antara mendiang Panglima Besar Kong Tek Kok dan Ayahku terjalin persahabatan pribadi, dan karena persahabatan itulah Ayah menerima Kong Sek sebagai murid......."

"Dan sebagai calon mantu,"

Sambung Cun Giok. Ai Yin menghela napas panjang.

"Benar sekali. Mungkin hanya itulah yang membuat ayah mengambil keputusan untuk menerima Kong Sek sebagai calon mantunya. Karena mengingat akan persahabatannya dengan ayah Kong Sek yang telah meninggal dunia."

Cun Giok menghela napas panjang.

"Ah, kalau saja Ayahmu itu menerima Kong Sek sebagai murid karena pemuda itu memang berbakat dan menerimanya sebagai calon mantu karena dia memang baik dan pantas untuk itu, hai ini memang tidak ada salahnya. Akan tetapi kalau dia menerimanya sebagai murid dan calon mantu karena mengingat mendiang Panglima Kong Tek Kok, maka perhitungan Ayahmu itu kurang tepat. Mungkin Ayahmu tidak mengetahui benar orang macam apa adanya Kong Tek Kok itu. Dia kejam sekali terhadap bangsa Han, membunuhi banyak sekali orang gagah di dunia kang-ouw, bahkan memusuhi partai-partai persilatan besar. Dan dia pun telah merusak kehidupan banyak gadis keluarga para pendekar. Dosanya sungguh bertumpuk-tumpuk. Kalau Ayahmu mengenal siapa Kong Tek Kok, aku yakin dia tidak sudi menerima Kong Sek mengingat persahabatannya dengan Panglima Mongol yang jahat itu."

Ai Yin mengangguk-angguk.

"Sebetulnya Suheng bersikap baik sekali, juga amat sayang kepadaku. Sejak dia menjadi Suhengku, aku tidak melihat watak jahat pada dirinya, maka terus terang saja, aku suka padanya. Akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku mencintanya dan suka menjadi isterinya. Aku akan memberi penjelasan kepada Ayah. Nah, kita berpisah di sini, sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu, Cun Giok. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali."

"Selamat berpisah, Ai Yin dan berhati-hatilah karena setelah peristiwa yang terjadi di perahu itu, pasti engkau dianggap musuh atau pemberontak oleh pemerintah Mongol."

Pemuda dan gadis itu berpisah.

Ai Yin yang berjuluk Pek-hwa Sianli (Dewi Bunga Putih) karena rambutnya selalu dihias setangkai bunga putih menuju pulang ke Bukit Merak tempat tinggal ayahnya, sedangkan Cun Giok melanjutkan perjalanannya ke Thai-san.

Di sepanjang perjalanannya, Cun Giok banyak merenung.

Pertemuannya dengan Ai Yin mendatangkan kesan mendalam di hatinya.

Dia kini menyadari betapa dia telah bertemu dengan gadis-gadis yang gagah perkasa, cantik jelita dan juga baik budi.

Betapa mudahnya untuk jatuh cinta kepada gadis-gadis seperti Ceng Ceng, Li Hong, atau Cu Ai Yin tadi.

Dia menghela napas.

Betapa mudahnya dia jatuh cinta atau tertarik kepada wanita.

Apakah semua pria juga begitu?

Mudah tertarik kalau bertemu wanita yang mempesona hatinya, baik karena kecantikannya, kegagahannya, maupun budi pekertinya yang baik?

Akan tetapi apa artinya cinta kalau tidak dilandasi kesetiaan?

Tanpa kesetiaan, maka pria akan menjadi seorang laki-laki mata keranjang, mudah jatuh cinta sehingga melupakan atau menyia-nyiakan yang lama.

Tidak, cinta harus didasari kesetiaan!

Demikian tekad hatinya.

Dia sudah ditunangkan dengan Siok Eng.

Biarpun kini terdapat rasa kecewa mengingat bahwa Siok Eng adalah seorang gadis yang lemah, tidak seperti para pendekar wanita yang pernah dijumpai dan yang menarik hatinya, namun dia harus bertanggung jawab.

Harus setia terhadap ikatan jodoh yang sudah diresmikan oleh mendiang gurunya, Suma Tiang Bun, dan ayah Siok Eng, yaitu Siok Kan.

Cinta yang hanya timbul karena tertarik oleh keindahan rupa, belum tentu dapat bertahan lama karena rupa itu keindahannya hanya sementara.

Biasanya, kalau yang dianggap indah pada mulanya itu sudah dimiliki, maka keindahannya juga akan menyuram.

Yang terpenting itu kecocokan watak dan terutama sekali perasaan setia satu sama lain, penuh tanggung jawab, dan sudah bertekad untuk membina rumah tangga bersama, tetap setia dalam suka dan duka.

Kalau demikian, barulah sebuah rumah tangga dapat diharapkan akan bertahan selama hidup.

Setelah muncul pikiran ini, Cun Giok membelokkan tujuan perjalanannya, tidak ke Thai-san, melainkan ke Cin-yang di Propinsi Shan-tung di mana Siok Eng dan ayahnya tinggal di rumah mantu Siok Kan yang bernama Chao Kung.

Sampai di sini selesailah sudah Kisah PENDEKAR TANPA BAYANGAN bagian pertama ini.

Pembaca yang ingin mengetahui bagaimana kisah selanjutnya dari Pouw Cun Giok, Si Pendekar Tanpa Bayangan, dipersilakan membaca bagian kedua yang berjudul HARTA KARUN KERAJAAN SUNG yang menjadi kisah lanjutan dari Pendekar Tanpa Bayangan.

TAMAT Alysa,

http.//indozone.net

/literatures/literature/1362 Waktu . 13 Juli 2013 jam 10.07pm

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 11

Baca Juga: Suling Naga 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger