Pedang Sinar Emas 4

Eps 4 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.

"Ibu jangan salah sangka, Bun Sam adalah seorang pendekar muda dan gagah perkasa dan berhati mulia. Sama sekali bukan panjahat. Ibu ingat saja keadaan ayah, bukankah ayah juga dibunuh dan dianggap sebagai seorang pe njahat pula? Bukankah sebetulnya ayah adalah seorang guru silat yang gagah perkasa dan pembela rakyat? Mengapa ia dianggap pemberontak jahat dan dibunuh?"

Mendengar jawaban ini, Kui Eng memeramkan matanya.

Ah?

anak ini tidak tahu bahwa orang yang dianggap ibunya ini sebenarnya bukanlah ibunya yang asli.

Suaminya adalah seorang perwira, bukan seorang yang disebut Can kauwsu itu!

"Sudahlah, Sian Hwa, jangan kau sebut sebut tentang hal itu lagi.

Sekarang bagaimana baiknya?

Kau harus tahu bahwa semenjak dahulu kau telah ditunangkan dengan suhengmu.

Bagaimanapun juga, menurut pandanganku, kau sudah cocok menjadi isteri Liem Swee.

Anak itu cukup baik dan kedudukan ayahnya amat tinggi.

Kalau kau menjadi menantu Liem goanswe tidak saja derajatmu naik, bahkan orang tuamu juga mendapat kehormatan besar sekali.

Anakku, mengapa kau hendak mengacaukan rencana yang sudah amat baik ini?"

Sian Hwa menarik dirinya dari pelukan ibunya dan dengan mulut cemberut ia berkata manja.

"Ibu tidak mau membelaku! Semua orang di dunia ini memusuhiku belaka!"

Memang Sian Hwa semenjak kecil sudah dimanja oleh ibunya yang amat mengasihinya.

"Bukan memusuhimu, nak. Ibumu selalu memikirkan untuk kebahagiaanmu. Coba sekarang kau jelaskan mengapa kau tidak mau menjadi isteri Liem Swee dan mengharapkan menjadi jodoh seorang petualang seperti pemuda yang mengacau di kota raja itu. Nah, selanjutnya bagaimana? Apakah yang harus kita katakan kepada Liem goanswee? Kau menyeret kedua orang tuamu ke jurang kehancuran dengan keputusanmu yang bodoh ini, anakku!"

Kui Eng benar benar menjadi cemas memikirkan keadaan ini.

Kini Sian Hwa telah dapat menguasai keharuannya.

Hatinya telah tetap untuk menentang siapa pun juga yang hendak memaksanya menikah dengan Liem Swee.

Ia berdiri tegak dan berkata dengan tenang.

"Ibu, aku takkan menikah dengan Liem snheng dan habis perkara? Aku akan menanggung semua akibatnya. Ibu dan.... ayah boleh memberi tahukan kepada suhu bahwa aku tidak mau menikah."

"Anakku, tahukah kau bagaimana Liem Swee akan marah sekali? Dan ayahmu tentu akan menerima bencana dari keputusanmu ini ? Ah, apakah yang harus kita lakukan?"

Ibunya berkata bingung.

"Kalau tidak ada jalan lain, aku akan.... minggat saja, ibu!"

Kata Sian Hwa pula dengan keras hati dan suara tetap.

"Ah, anakku, bagaimana kau sampai mengambil keputusan begitu? Kenapa kau hendak pergi? Apa kaukira akan dapat melarikan diri dari Liem goanswe? Ke manapun kau pergi, tentu ia akan dapat mengejarmu!"

"Kalau begitu, apabila dipaksa paksa, aku.... aku akan.... membunuh diri, ibu! Aku lebih suka mati daripada dipaksa kawin dengan Liem suheng!"

Kui Eng menahan pekiknya dan menubruk anaknya sambil menangis.

"Jangan... Sian Hwa.... jangan begitu nekat.... ya Tuhan, apakah yang harus kulakukan? Jangan, nak, berjanjilah bahwa kau takkan mengambil keputusan nekat, berjanjilah! Ibumu akan mencarikan jalan yang baik untukmu."

"Ibu, biarpun aku tahu bahwa dengan Bun Sam aku tak mungkin berjodoh, namun aku telah bersumpah di dalam hati takkan menikah dengan orang lain. Aku takkan begitu bodoh membunuh diri kalau ada jalan lain. Kita lihat saja perkembangannya nanti,"

Jawab Sian Hwa dengan suara bulat.

"Tunggulah, biar aku membicarakan hal ini dengan ayahmu, jangan kau mengambil keputusan pendek, tidak baik dan berdosa, nak."

Dengan muka pucat Kui Eng lalu meninggalkan kamar itu untuk menemui suaminya Bucuci yang mendengar keputusan Sian Hwa, tentu saja menjadi marah sekali dan mencak mencak.

"Anak keparat !"

Makinya.."Sejak kecil dipelihara, disayang dan dimanja, setelah besar mendatangkan bahaya! Ah, celaka, kalau tahu begini, dulu dulu sudah kucekik lehernya."

"Sabarlah, suamiku, sabar. Anak itu sekarang telah dewasa, kepandaiannya telah tinggi dan kau sendiri pernah menyatakan bahwa kepandaian mu pun sudah kalah olehnya. Ia berhati keras dan kalau kalau sampai ia membunuh diri seperti ancamannya lalu bagaimana....??"

Setelah memaki maki habis habisan, Bucuci lalu berkata.

"Hal ini hanya Liem goanswe saja yang bisa membereskan. Sekarang juga aku akan melaporkan hal ini kepadanya,"

Pergilah Bucuci meninggalkan isterinya yang segera mendatangi Sian Hwa lagi, membujuk bujuk nya. Akan tetapi keputusan Sian Hwa sudah bulat.

"Jangan khawatir, ibu. Biar kita tunggu bagaimana keputusan dari suhu. Memang benar bahwa aku adalah muridnya, akan tetapi sebagai guru dia belum berhak untuk memutuskan nasib hidupku selanjutnya."

Pada sore harinya, datanglah Liem goanswe Pat jiu Giam ong ini benar saja menjadi marah besar ketika mendengar laporan Bucuci.

"Dasar anak pemberontak!"

Seru jenderal ini sambil mendelik.

"Siapa sih yang begitu tergila gila untuk mengambil menantu kepadanya? Akan tetapi, untuk penolakannya ini berarti pembatalan pertunangan dan juga merupakan penghinaan terhadap aku! Bagaimana dia berani bersikap begitu? Kurang ajar sekali murid dari Kim Kong Taisu!"

Ketika ia berada di rumah Bucuci dan Sian Hwa dipanggil menghadap, jenderal ini memandang kepada muridnya dengan mata penuh hawa marah.

"Sian Hwa?"

Bentaknya.

"Dari siapa kau memperoleh kepandaianmu selama ini?"

"Dari suhu."

Jawab Sian Hwa sambil menundukkan mukanya.

"Hm, bagus! Kau masih ingat bahwa aku adalah suhumu. Tahukah kau apa kewajiban seorang murid terhadap gurunya?"

Suara Pat jiu Giam ong mengguntur, tanda bahwa ia marah sekali.

"Seorang murid harus tunduk kepada suhu nya dan mentaati semua nasehat dan perintahnya."

"Eh, kukira kau sudah lupa akan semua itu, tidak tahunya kau masih ingat. Bagus, bagus, Sian Hwa. Ada peribahasa orang orang gagah menyatakan bahwa It gan ki jut, su ma lam twi (Sekali perkataan dikeluarkan, empat ekor kuda takkan dapat menarik kembali)! Kau telah ditunangkan dengan suhengmu, sudah menjadi keputusan matang antara orang orang tua dan kau tadipun menyatakan bahwa sebagai murid kau harus taat kepadaku, mengapa aku mendengar hal hal yang gila dan aneh dari ayahmu? Benar benarkah kau mengingkari janji pertunanganmu dan menolak untuk menjadi isteri Swee ji ?"

Kini timbul ketabahan hati Sian Hwa, ia mengangkat mukanya yang pucat dan dengan pandang mata tak gentar ia berkata kepada Pat jiu Giam ong.

"Maaf, suhu, Teecu sama sekali tidak merasa bahwa teecu mengingkari janji atau menarik kembali kata kata. Urusan pertunangan dijadikan oleh ayah tiriku ketika teecu masih belum tahu apa apa sama sekali, bukan merupakan janji teecu sendiri. Oleh karena itu, kalau teecu menolak sekarang, bukan berarti bahwa teecu menarik kembali janji, karena teeeu tak pernah berjanji! Adapun tentang nasehat dan perintah suhu, yang manakah yang pernah tidak ditaati oleh teecu?"

Bukan main marahnya hati Bucuci, akan tetapi di depan Pat jiu Giam ong ia tidak berani banyak bicara. Adapun Liem goanswe sendiri walaupun merasa dadanya panas, namun ia masih menyabarkan diri.

"Memang selama ini kau selalu taat, bahkan mempelajari ilmu silat dengan tekun dan memuaskan hati suhumu. Akan tetapi, sekarang aku sebagai suhumu telah menyetujui tentang perjodohanmu dengan anakku. Kalau kau menolak, ini dapat juga berarti bahwa kau membangkang terhadap perintah suhumu, Sian Hwa, sekali lagi, kuminta kau berpikir waras dan tidak mengadakan penolakan yang bukan bukan.....!"

"Maaf, suhu. Dalam hal pernikahan yang selanjutnya akan menjadi dasar kehidupan teecu, terpaksa teecu tidak dapat mentaati permintaan suhu. Oleh karena hal ini menyangkut kehidupan teecu, maaf saja kalau teecu tidak dapat menurut!"

"Sian Hwa, kau harus malu! Biarpun kau tak usah mendengarkan omongan gurumu tentang hal pernikahan, akan tetapi pernikahan diputuskan oleh orang tua. Ayahmu sudah menyetujuinya." .

"Dia bukan ayahku, suhu, hanya ayah tiri!"

"Dan ibumu juga sudah setuju!"

"Ibu terlalu lemah, selalu menurut kehendak ayah tiriku!"

"Kurang ajar !"

Liem goanswe kini benar benar marah.

"Sian Hwa, kau calon menantuku, muridku yang tadinya kukasihi, kau hendak merendahkan namaku dan membikin malu keluargaku? Tahukah kau bahwa penolakanmu berarti kau menghina kepada keluarga Liem? Apakah benar benar kau muridku telah tergila gila kepada murid Kim Kong Taisu? Alangkah rendah dan hinanya!"

"Suhu....!"

Sian Hwa mengangkat muka dan menatap wajah suhunya dengan sinar mata berapi api.

Pat jiu Giam ong mengebutkan lengan baju nya ke bawah dan terdengar suara keras.

Ternyata bahwa batu lantai telah pecah terpukul oleh ujung lengan bajunya itu!

"Sian Hwa, bantahannya ini memutuskan perhubungan kita sebagai guru dan murid!

Aku tidak perduli apa apa lagi, hanya ingat, kalau fihak keluargamu berani menghinaku dan membatalkan perjodohan ini, aku takkan tinggal diam.

Akan kuberi rasa kepada mereka yang berani menghina ku!

Kalau perlu, akan kubinasakan semua keluarga yang menghina keluargaku.

Aku sudah bicara, terserah kalian mengambil keputusan!"

Setelah berkata demikian, Pat jiu Giam ong lalu melangkah keluar dengan tindakan lebar dan muka merah saking marahnya!

Sian Hwa yang ditinggalkan, menundukkan mukanya.

Bucuci membanting banting kakinya.

"Celaka, celaka! Bagaimana aku begini bodoh dan menolong seorang anak durhaka semacam ini? Aku bersusah payah menolongnya, mencegahnya dari kebinasaan, memeliharanya sampai besar, tahu tahu sekarang dia menjadi sebab bencana yang menimpa padaku. Ah, anak bedebah, lebih baik aku mengadu jiwa dengan kau!"

Sambil berkata demikian, Bucuci lalu menubruk maju, menimbulkan suara kerincingan dari baju perangnya.

Dengan tangan kanan ia memukul kepala Sian Hwa dan tangan kirinya menotok ulu hati gadis itu.

Inilah serangan pukulan Ji liong ta san (Dua Naga Memukul Gunung) yang hebat luar biasa, karena baik tangan kanan maupun tangan kiri merupakan pukulan maut yang disertai tenaga lweekang sepenuhnya!

Sian Hwa tidak berani berlaku lambat melihat datangnya pukulan yang berbahaya ini.

Cepat ia menghindarkan dirinya dan mengelak dengan gerakan Yan cu twi cauw (Burung Walet Pulang Sarang).

Akan tetapi Bucuci yang sudah marah sekali, lalu melanjutkan serangannya dengan ilmu pukulan bertubi tubi yang semuanya dilakukan dengan penuh kegemasan dan mengandung bahaya maut.

Sian Hwa cepat mempergunakan ginkangnya yang tinggi, berputar putar dan melakukan gerakan Jiauw ouw poan oan, yakni tindakan berputar putar yang lincah sekail untuk mengelak dan pukulan bertubi tubi itu.

Kadang kadang ia terpaksa menangkis dengan jari jari tangannya yang dijepretkan.

"Ayah, aku tidak mau bertempur melawan engkau,"

Kata gadis itu.

"Anak durhaka, jangan menyebut ayah, aku bukan ayahmu!"

Bentak Bucuci.

"Baik, Panglima Bucuci. Kalau demikan kehendakmu, akan tetapi tetap saja aku tidak sampai hati membalas seranganmu!"

Sambil berkata demikian, Sian Hwa mengerahkan tenaganya dan setiap kali menangkis pukulan, ia mengerahkan lweekangnya, sehingga Bucuci merasa betapa tangannya sakit sakit dan tulang tulangnya seperti mau patah.

Pada saat itu, muncul Kui Eng yang menjerit jerit mencegah pertempuian itu.

Melihat kenekatan Bucuci, tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri Kui Eng menyerbu di tengah tengah untuk melarang suaminya menyerang Sian Hwa.

Bucuci sudah mata gelap, maka ketika menyerang ia tidak melihat lagi dan tiba tiba sebuah pukulannya dengan tepat mengenai dada kanan Kui Eng.

Nyonya itu menjerit dan terguling roboh.

Mulutnya mengeluarkan darah segar.

"Ibu....!"

Sian Hwa menjerit, lalu dengan marah ia memukul ke arah Bucuci.

"Kau berani melukai ibuku!"

Hebat sekali serangan dari Sian Hwa ini karena dara ini mempergunakan pukulan Lit sim ciang hwat (Pukulan Membelah Hati), Bucuci mencoba untuk menangkis, akan tetapi terdengar suara.

"krak"

Dan tulang lengan kirinya yang menangkis itu telah patah.

"Ibu....!"

Sian Hwa tidak memperdulikan Bucuci yang jatuh terduduk sambil meringis ringis, lalu gadis itu menubruk Kui Eng yang napasnya sudah empas empis.

"Sian Hwa... jangan mencari bencana..."Kui Eng berkata terengah engah.

"Perempuan sial!"

Tiba tiba Bucuci memaki isterinya.

"Itulah jadinya kalau kau terlalu ingin mempunyai anak. Terlalu sayang kepada anak guru silat pemberontak itu! Dia bukan anak kita sendiri dan dia mempunyai darah pemberontak, sekarang kau lihat sendiri apa jadinya! Dia hanya mendatangkan bencana bagi kita berdua!"

Bucuci sambil meringis ringis menahan sakit, merobek bajunya untuk dipergunakan membalut lengan kirinya sambil menyumpah nyumpah dan memaki maki isterinya.

Sian Hwa yang tadinya memeluk ibunya, kini melepaskan ibunya perlahan lahan di atas tanah.

Dengan muka pucat dan bibir gemetar ia berdiri perlahan, sebentar memandang kepada ibunya dan segera dialihkan pandangannya kepada Bucuci.

"Apa....? Apa katamu....? Aku bukan anak....ibu....? ? Apa artinya ini....?"

Kui Eng mengeluh dan air matanya mengucur deras.

Sakit di dalam hatinya karena suaminya telah membuka rahasia ini dirasakannya lebih hebat daripada sakit bekas pukulan tangan suaminya yang mengakibatkan luka hebat di dalam tubuhnya.

Bucuci tertawa bergelak gelak.

"Bukan! Kau bukan anakku, bukan anak isteriku! Kau seorang anak yatim piatu, anak tidak berharga yang sudah kami pelihara, akan tetapi sekarang membalas budi kami dengan racun! Anak keparat!!"

Kui Eng melambaikan tangannya dan Sian Hwa berlutut lagi di dekat ibunya.

"Sian Hwa.... dia memang benar.... aku dirampasnya, dipaksanya menjadi isterinya.... dan kau.... aku tidak tahu siapa kau, siapa orang tuamu.... dia datang datang membawamu ketika kau masih kecil....!"

"Bedebah!"

Sian Hwa menjadi marah sekali.

Sekarang dia tahu, bahwa Bucuci telah memaksa Kui Eng yang tadinya disangka ibunya.

Dan kalau dia datang dibawa oleh Bucuci, tentu ayah angkat ini tahu pula tentang kematian orang tuanya.."Jadi kau agaknya yang merencanakan pembunuhan orang tuaku, ya?"

Dengan tindakan perlahan bagaikan seekor harimau menghampiri korbannya, Sian Hwa menghampiri Bucuci dan sepasang matanya berapi api. Bucuci cepat berdiri dan bersiap menghadapi serangan Sian Hwa.

"Kau memang anak pemberontak, maka kau bersikap sebagai seorang penjahat kejam!"

Bentak nya.

"Aku tidak membunuh orang tuamu, barisan Ang bi tin yang melakukannya. Akan tetapi semenjak kecil kau telah kupelihara baik baik. Sungguh seorang yang bong im pwe gi (tak kenal budi)!"

Akan tetapi Sian Hwa sudah begitu marah, sehingga tak dapat mengendalikan nafsunya lagi.

Sambil membentak marah, ia menyerang dengan pukulan maut ke arah dada Bucuci.

Panglima Mongol ini bukanlah orang sembarangan dan ia telah memiliki kepandaian yang tinggi.

Semenjak tadi ia telah mempersiapkan segenggam senjata rahasianya yang hebat, yakni kerincingan baja itu.

Begitu melihat Sian Hwa menyerang, tangan kanannya bergerak dan tujuh butir kerincingan telah menyambar ke arah tubuh Sian Hwa.

Gadis ini melihat datangnya senjata senjata rahasia, cepat melempar diri ke bawah sambil mengebutkan lengan baju ke atas sehingga semua senjata rahasia lewat di atas kepalanya.

Akan tetapi pada saat itu, Bucuci telah melompat keluar dari kamar.

Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi Kui Eng mencegah dengan suara memilukan.

"Jangan.... Sian Hwa, jangan kau membunuh dia. Betapapun juga... dia telah berlaku baik kepadaku dan kepadamu selama belasan tahun ini."

"Ibu...."

Sebutan ini terdengar kaku dari mulut Sian Hwa.

"Aku tak dapat lebih lama tinggal di sini Selamat tinggal!"

"Nanti dulu, Sian Hwa... kalau kau hendak meninggalkanku, cabutlah pedangmu dan bunuhlah aku lebih dulu. Tanpa kau untuk apakah aku hidup lebih lama lagi? Dulupun kalau tidak ada kau... tentu aku sudah menyusul suamiku...."

Sian Hwa berpikir sejenak, ia memang mencintai ibunya atau lebih tepat mencintai wanita ini yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri, ia juga tidak tega meninggalkan Kui Eng di rumah Bucuci yang dalam marahnya telah melukainya sedemikian hebat.

"Marilah kau ikut aku pergi, ibu"

Katanya, akan tetapi Kui Eng tak dapat menjawab, karena sambil mengeluarkan keluhan panjang, nyonya yang tidak beruntung ini telah jatuh pingsan.

Sian Hwa tidak banyak membuang waktu lagi segera di pondongnya tubuh ibunya dan ia melompat keluar dan gedung ayah angkatnya.

Beberapa orang penjaga, pembantu ayahnya, menghadang di depan gedung Sian Hwa memondong ibunya dengan tangan kiri dan tangan kanannya mencabut pedang Oei giok kiam yang digerak gerakkan dengan sikap mengancam.

"Siapa sudah bosan hidup, boleh menghalangi perjalananku!"

Bentaknya dengan garang.

Para penjaga itu memang mendapat tugas dari Bucuci untuk menghalangi Sian Hwa pergi dari situ.

Sementara panglima ini berlari cepat melaporkan kepada Pat jiu Giam ong.

Akan tetapi karena semua penjaga sudah tahu belaka akan kelihaian ilmu silat Sian Hwa yang bahkan melebihi kepandaian Bucuci sendiri, tak seorangpun diantara mereka yang berani menyerang setelah diancam oleh gadis perkasa ini.

Dengan leluasa Sian Hwa lalu melompat dan berlari sambil menggendong ibunya yang masih pingsan.

Ia berlari cepat, keluar dari kota raja melalui pintu sebelah barat.

Senja telah berganti malam dan keadaan yang gelap itu tidak diperdulikan oleh Sian Hwa yang berlari terus menuju ke barat.

Tiba tiba ia mendengar suara kaki kuda yang banyak sekali menyusulnya, didahului oleh suara keras bergemuruh yang sudah amat dikenalnya, yakni suara Pat jiu Giam ong, gurunya!

Pat jiu Giam ong mengeluarkan kepandaiannya, yakni Ilmu Coan im jip bit (Mengirim Suara Dari Jauh), sehingga biarpun ia masih jauh, suaranya itu bergema sampai beberapa li jauhnya dan terdengar pula oleh Sian Hwa.

"Sian Hwa, kuperintahkan .kepadamu supnya berhenti dan menyerah!"

Demikian teriak Pat jiu Giam ong yang diulang beberapa kali. Akan tetapi Sian Hwa tidak mau berhenti bahkan mempercepat larinya, sehingga ia memasuki sebuah hutan yang gelap sekali.

"Sian Hwu.... percuma.... kau takkan dapat terlepas dari tangan....Pat jiu Giam ong...."

Terdengar Kui Eng berkata. Ternyata nyonya ini telah siuman kembali dan dapat mendengar suara Pat jiu Giam ong yang keras itu.

"Tidak, ibu. Aku takkan menyerah. Biar aku akan membelamu dengan nyawaku yang tak berharga."

"Ohhh...."

Kui Eng mengeluh. Tiba tiba nyonya ini teringat akan sesuatu dan berkata.

"Sian Hwa, masih ada harapan. Lekas kau pergi ke dusun Kin an mui dan masuk ke dalam kuil Sun pok thian, Pek Lian Suthai tentu akan menolong kita...."

Sian Hwa pernah diajak oleh ibunya ke kuil ini, maka karena dusun Kin an mui memang berada di luar hutan itu, ia cepat melanjutkan larinya menuju ke dusun ini ia tidak tahu bagaimana Pek Lian Suthai yang suci dan lemah itu akan dapat menolong mereka, akan tetapi pada saat seperti itu, tidak ada waktu lagi untuk banyak bertanya.

Kuil Sun pok thian adalah sebuah kuil di dusun Kin an mui, sebuah kuil wanita di mana terdapat beberapa belas pendeta wanita yang hidup sebagai orang orang suci dan beribadat.

Patung terbesar yang dipuja di kuil ini adalah Dewi Kwan Im dan kemajuan kuil ini amat terkenal sampai di kota raja.

Oleh karena banyak sekali nyonya bangsawan datang bersembahyang di kuil ini, maka kuil ini dihormati dan dipandang tinggi oleh para bangsawan dan mendapat tunjangan uang yang cukup banyak, sehingga kuil ini dapat diperbaiki dan menjadi sebuah kuil yang cukup luas dan bersih, sesuai dengan namanya, yakni kuil Sun pok thian (Dunia Luas Dan Bersih).

Ketuanya adalah seorang nikouw berkepala gundul seperti semua nikouw yang berada di situ, yang bernama pek Lian Suthai, seorang ahli dalam kebatinan dan agama.

Pek Lian Suthai ini amat dipandang tinggi oleh semua orang, baik golongan rendah maupun bangsawan tinggi, karena selain ramah tamah dan hidup suci, nikouw tua inipun suka sekali menolong orang, baik dengan obat obatan maupun dengan nasehat nasehat berharga suka pula menghibur orang orang yang menderita kesusahan.

Sian Hwa yang menggendong Kui Eng berlari lari sampai semalam suntuk, terus dikejar kejar oleh suara Pat jiu Giam ong yang makin lama makin dekat.

Pat jiu Giam ong memang luar biasa lihainya dan kalau saja gadis itu tidak tertolong oleh malam yang amat gelap, tentu sebentar saja ia telah tersusul oleh rombongan Pat jiu Giam ong.

Menjelang fajar, sampailah Sian Hwa di depan kuil itu.

Dengan napas terengah engah karena ia memang lelah sekali, ia mengetuk pintu.

Dari luar telah terdengar suara alat tetabuhan dari kayu yang dipukul berirama untuk menimbulkan irama di waktu para pendeta wanita itu berliamkeng (membaca doa).

Seorang nikouw setengah tua membuka pintu.

Ketika melihat Sian Hwa menggendong seorang nyonya yang nampaknya sakit keras, ia cepat membuka lebar pintunya, mempersilahkun Sian Hwa masuk, kemudian menutupkan pintunya kembali.

Tak lama kemudian Pek Lian Suthai sendiri menyambut kedatangan mereka.

Nikouw ini cepat menolong Kui Eng tanpa banyak bertanya dan setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa Kui Eng menderita luka dalam yang hebat sekali, ia menggeleng gelengkan kepala dan baru bertanya dengan suaranya yang tenang kepada Sian Hwa.

"Siocia, apakah yang telah terjadi sehingga ibumu terluka hebat dan pada saat seperti ini kau berlari lari menggendong ibumu datang ke sini?"

Sian Hwa dengan suara berduka menuturkan pengalamannya. Betapa ia hendak dipaksa menikah dan setelah menolak, ayah angkatnya lalu menyerangnya dan melukai ibunya.

"Omitohud!"

Nikouw tua itu menyebut nama Buddha sambil merangkapkan kedua tangannya. Bagaimana ada kejadian seperti ini dalam rumah tangga seorang bangsawan?"

Sambil berkata demikian ia lalu mengeluarkan obat dan memberi minum obat kepada Kui Eng yang tak lama kemudian tersadar dari pingsannya.

"Suthai...."

Kata kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah ia siuman adalah permohonan dengan suara memilukan.

"Tolonglah kami.... ah, tidak, tolonglah anakku ini... hanya kepadamu aku dapat mengharapkan pertolongannya Pek Liam Suthai demi Sang Buddha yang mulia, tolonglah anakku Sian Hwa ini...."

Pek Lian Suthai menyandang kepada Sian Hwa, lalu meraba jidat Kui Eng yang terasa panas.

"Tenanglah, hujin, ada kesukaran apakah kiranya?"

"Kami dikejar kejar oleh Liem goanswe dari kota raja! Ah... kalau ia sampai datang ke sini akan celaka anakku bila kau tidak menolongnya,"

"Liem goanswe? Kau maksudkan Pat jiu Giam ong?"

Tanya Pek Lian Suthai sambil mengerutkan keningnya. Nyata bahwa ia terkejut juga mendengar nama ini disebut sebut.

"Betul, Pat jiu Giam ong, guru dari anakku ini tentu akan memaksa Sin Hwa kembali, untuk menjadi menantunya. Tolonglah, suthai...."

"Omitobud!"

Kembali nikouw tua itu menyebut nama Buddha.

"Jadi dialah yang hendak mengambil menantu puterimu? Ah, hujin, para orang gagah di empat penjuru lautan tidak ada yang berani menentang Pat jiu Giam ong apalagi seorang pertapa wanita seperti pin ni (aku) yang tua dan lemah ini, dapat berbuat apakah terhadap Pat jiu Giam ong?"

"Ada jalan, suthai.... asal saja anakku kau terima menjadi seorang nikouw, biarpun kaisar sendiri tidak berhak untuk mengganggumu atau memaksanya menikah. Ambillah anakku sebagai muridmu, gunduli rambutnya menjadi nikouw...."

"Ibu....!"

Sian Hwa setengah menjerit mendengar bahwa ia hendak dijadikan nikouw gundul.

"Diam, Sian Hwa! Jauh lebih baik menjadi nikouw dan hidup beribadat dan pada membunuh diri, atau melarikan diri dikejar kejar oleh Pat jiu Giam ong yang akhirnya tentu akan dapat menangkapmu."

Kui Eng berkata dengan suara tetap.

"Pula, kau meniadi nikouw hanya untuk membebaskan diri dari cengkeraman mereka, setelah aman kau boleh menjadi orang biasa kembali...."

"Tak mungkin, hujin,"

Kata Pek Lian Suthai.

"Pin ni tidak boleh membohong kepada Thian, tidak boleh menerima hanya untuk main main saja. Sekali puterimu sudah menjadi nikouw dan telah di lakukan upacara potong rambut di depan Kwan Im Pouwsat, ia selamanya akan menjadi seorang nikouw yang suci dan setia. Pin ni menolak untuk berlaku pura pura, dan...."

Tiba tiba terdengar suara teriakan teriakan di luar kuil.

"Pek Lian Suthai, bukalah pintu untuk kami."

Terdengar suara yang parau berseru sambil menggedor pintu.

"Jenderal besar Liem berada di sini hendak berjumpa dengan suthai."

"Celaka, suthai, mereka telah tiba...."

Kui Eng berkata pucat dan cepat mencegah puterinya ketika ia melihat Sian Hwa mencabut pedangnya.

"Jangan, Sian Hwa, jangan melawan. Bagaimana kau bisa melawan gurumu sendiri?"

Sian Hwa menjadi ragu ragu dan lenyap keberaniannya ketika diingatkan bahwa di luar terdapat suhunya .Memang bagaimanapun juga, ia tidak berani melawan Pat jiu Giam ong.

"Suthai, tolonglah anakku....!"

Kembali Kui Eng memohon kepada pendeta wanita itu.

"Pin ni bisa mengaku bahkan puterimu pin ni terima menjadi murid, akan tetapi kalau sudah di lakukan upacara potong rambut, tak mungkin puterimu menjadi seorang gadis lagi...."

"Pek Lian Suthai, dengar baik baik! Aku Pat jiu Gian ong berada di luar kuil. Lekas buka pintu, aku hendak bertemu dengan nyonya Bucuci dan puterinya,"

Tiba tiba terdengar suara Pat jiu Giam ong yaug amat keras itu, sehingga Pek Lian Suthai tak berani berlaku ayal lagi.

Nikouw tua ini lalu bergegas menuju ke pintu depan dan dengan kedua tangannya sendiri ia membuka tapal pintu.

Di dalam kuil yang amat dihormati ini, para pengikut Pat jiu Giam ong tidak berani berlaku kurang ajar.

Mereka hanya menanti di halaman depan dan yang masuk hanyalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, Liem Swee puteranya, dan akhirnya Bucuci.

"Di mana mereka??"

Bucuci bertanya kepada Pek Lian Suthai setelah mereka memberi hormat kepada nikouw itu.

Sikap Bucuci amat galak, akan tetapi Pat jiu Giam ong dan puteranya berlaku tenang.

Biarpun menghadapi Bucuci yang nampak marah, Pat jiu Giam ong yang nampak amat berpengaruh dan Liem Swee yang tampan dan gagah dengan pakaiannya yang indah, namun Pek Lian Suthai ketua kuil Sun pok thian itu tidak gentar sedikit juga.

Ternyata bahwa wanita tua yang semenjak puluhan tahun telah melakukan samadhi dan menuntut penghidupan suci dan bersih ini, telah memiliki kekuatan batin yang luar biasa dan yang membuatnya menjadi tenang.

"Ah, kiranya sam wi (tuan bertiga) yang datang berkunjung dari kota raja. Sungguh merupakan kehormatan besar terhadap pin ni. Silahkan duduk di ruang tamu, sam wi dan minum teh."

"Pek Lian Suthai, kami datang berkunjung tidak untuk minum teh atau bersembahyang !"

Bucuci berkata tak sabar.

"Kami datang untuk menyusul anak durhaka itu. Di mana mereka anak dan isteriku? Tadi mereka masuk di kuil ini dan harap kau orang tua jangan mencampuri urusan ini."

"Oh, jadi ciangkun mencari hujin dan siocia? Hujin memang ada di dalam, sedang sakit karena menderita luka hebat di bagian dadanya. Pin ni sedang berusaha mengobatinya. Adapun siocia, dia datang untuk menjadi murid pin ni dan sekarang dia telah menjadi murid Kwan Im Pouwsat!"

"Apa? Suruh mereka keluar! Kalau tidak, aku terpaksa akan menerjang masuk!"

Bucuci berkata lagi dengan marah.

"Hujin sedang sakit, ciangkun,"

Jawab Pek Lian Suthai dengan tenang."Dan pin ni percaya bahwa ciangkun memiliki kebijaksanaan dan kesopanan cukup besar untuk tidak melanggar pantangan dan memasuki ruang dalam tempat tinggal pinni dan murid rnurid pinni."

Merahlah muka Bucuci karena biarpun omongan ini amat merendah, namun sebenarnya merupakan tamparan baginya dan mengingatkan dia bahwa di dalam ruang kuil itu hanyalah terdapat orang orang wanita belaka!

"Pek Lian Suthai, benarkah Sian Hwa telah mengambil keputusa masuk menjadi pendeta wanita?"

Tanya Pat jiu Giam ong dan matanya yang tajam menatap wajah Pek Lian Suthai.

"Demikianlah kehendak ibunya, Liem goan swe,"

Jawab Pek Lian Suthai.

"Suruh dia keluar, kalau ibunya sakit, biarlah anak itu sendiri yang keluar. Aku gurunya hendak bicara dengan dia!"

Berbeda dengan Bucuci, Pat jiu Giam ong bicara dengan pasti dan berpengaruh, sama sekali tidak mempergunakan ancaman atau gertakan.

Dan untuk suara seperti ini, Pek Lian Suthai maklum bahwa tidak ada gunanya membantah lagi.

Ia lalu masuk ke ruang dalam di mana Kui Eng dan Sian Hwa telah menantinya.

Kui Eng dengan wajah pucat dan air mata mengalir di pipi, tetapi Sian Hwa menggigit bibir dan tidak takut sedikit pun juga.

"Siocia, kau dipanggil oleh suhumu, Pat jiu Giam ong,"

Kata Pek Lian Suthai kepada Sian Hwa. Gadis ini memandang kepada ibunya, lalu berkata perlahan.

"Ibu harap kau tenang tenang saja, jangan khawatir, aku dapat menjaga diri sendui."

"Sian Hwa, demi Pouwsat, jalan satu satunya untuk meloloskan diri hanya... mengaku menjadi murid Pek Lian Suthai...."

Sian Hwa meninggalkan kamar itu setelah menyatakan setuju dengan nasehat ibunya, diikuti oleh Pek Lian Suthai.

Melihat dara yang cantik jelita itu dengan wajah agak pucat, tetapi sikap amat tenang keluar menemui mereka dengan pandangan mata sedikit pun tidak nampak gemar, Pat jiu Giam ong diam diam merasa kagum kepada muridnya ini.

Jenderal ini memang sesungguhnya amat sayang kepada muridnya ini dan tadinya ia mengharapkan Sian Hwa lah yang akan dapat menjunjung tinggi namanya dalam kalangan dunia persilatan, ia maklum bahwa gadis ini memiliki bakat yang lebih baik daripada Liem Swee puteranya dan kalau gadis ini dapat menjadi isteri Liem Swee dan mereka itu bersatu, maka mereka merupakan kekuatan yang akan cukup tangguh untuk menghadapi lawan lawan yang datang mengganggu maupun kawan yang datang untuk menguji ilmu kepandaian mereka.

Adapun Bucuci memandang kepada Sian Hwa dengan mata marah.

Bucucipun sebetulnya telah merasa sayang kepada Sian Hwa yang dianggapnya sebagai puteri sendiri.

Panglima ini memang tidak mempunyai keturunan dari Sian Hwa memang semenjak kecilnya telah mendatangkan banyak kesenangan dalam hatinya.

Kini melihat gadis ini yang mendatangkan banyak kepusingan, ia benar benar merasa kecewa dan rasa sayangnya itu berobah menjadi kebencian besar.

Tak pernah disangkanya bahwa gadis yang semenjak kecilnya ditimang timang dan dimanjakan itu kini berbalik merupakan seorang musuh dan lawan yang amat berbahaya.

Sementara itu, Liem Swee memandang kepada San Hwa dengan hati kecewa bukan main.

Melihat gadis itu kini keluar dari dalam kuil dengan pakaian sederhana dan rambut kusut, makin tertariklah hatinya.

Memang semenjak mereka telah dewasa, kesayangannya terhadap Sian Hwa makin menjadi.

Kalau dulu ketika mereka masih kecil ia sayang kepada Sian Hwa sebagai seorang kawan bermain atau sebagai seorang saudara karena memang ia tidak mempunyai saudara kandung, setelah mereka menjadi remaja, mulailah ia memperhatikan dan melihat betapa cantik wajah Sian Hwa dan betapa indah dan elok potongan tubuh sumoinya itu.

Kini ia diam diam mengakui bahwa sumoinya memang elok dan cantik sekali, maka alangkah pahit rasa hatinya kalau ia mengingat bahwa sumoi yang telah menjadi tunangannya itu kini menyatakan tidak setia dan menolak serta memutuskan perjodohannya dengannya.

Kegetiran hatinya ini tentu saja membuatnya merasa sakit hati juga dan diam diam ia merasa tersinggung keangkuhannya dan merasa terhina oleh penolakan Sian Hwa.

Dia, putera Pat jiu Giam ong, sampai ditolak oleh Sian Hwa, murid dari ayahnya sendiri.

Sungguh terlalu.

Wajahnya berobah keras dan mulutnya tersenyum mengejek kalau teringat akan hal ini.

Demikianlah, tiga orang itu memandang ke pada Sian Hwa dengan perasaan berbeda beda.

"Sian Hwa,"

Pat jiu Giam ong berkata setelah Sian Hwa membungkuk kepadanya selaku penghormatan, karena hanya kepada suhunya saja Sian Hwa memberi hormat ayahnya dan Liem Swee tidak diacuhkannya sama sekali, bahkan dilirik sajapun tidak.

Perbuatan sesat apalagi yang telah kaulakukan.

Kau telah melukai ayahmu dan membawa lari ibumu di malam buta, sungguh amat hebat perbuatanmu ini."

"Terserah kepada pertimbangan suhu saja, karena teecu melukai dia hanya untuk membela ibu."

Jawab Sin Hwa sambil tunduk dan biarpun ia bersikap merendah terhadap suhunya, namun ia sama sekali tidak kelihatan takut.

"Sian Hwa, tak kusangka bahwa benar benar kau sampai hati dan berani melemparkan penghinaan besar kepadaku, kepada gurumu sendiri. Kau tetap membangkang dan tidak mau melanjutkan perjodohanmu dengan anakku?"

"Teecu tidak akan menikah dengan siapapun juga, suhu. Penolakan teecu ini bukan sekali kali karena teecu membenci suheng, sama sekali tidak ...."

"Ya, ya, aku sudah tahu, karena kau tergila gila kepada murid Kim Kong Taisu yang keparat itu, bukan?"

Bucuci memotong gemas.

"Aku tidak bicara dengan kau!"

Sian Hwa mendelik kepada ayah angkatnya dan membentak. Melihat sinar mata Sian Hwa yang berapi api itu, diam diam Bucuci terkejut dan tak berani membuka mulut lagi.

"Sian Hwa, jangin kau main main dengan aku! Aku takkan memaksa kau menjadi isteri Swee ji akan tetapi tidak boleh kau merusak kehormatan nama keluargaku begitu saja. Kau harus melanjutkan pernikahan ini hanya untuk menjaga kebaikan nama keluargaku. Setelah diadakan upacara pernikahan, boleh saja kau pergi meninggalkan suamimu, kami takkan menghalangi kehendakmu!"

Kata Pat jiu Giam ong pula kepada muridnya yang bandel ini.

Diam diam Pek Lian Suthai terkejut sekali.

Kalau hal ini dilakukan, tentu saja semua nama busuk tertanggung oleh Sian Hwa, karena dengan demikian persoalannya menjadi lain, yakni sebagai seorang isteri yang melarikan diri dari suaminya adalah perbuatan yang amat memalukan dan hina!

Sian Hwa yang masih belum berpengalaman itu sebetulnya tidak tahu tentang hal ini, tetapi ia tetap menolak, bukan karena takut seperti apa yang ditakutkan oleh Pek Lian Suthai, melainkan memang ia tidak mau menikah.

Kecuali dengan Bun Sam, bisik hatinya!

"Tidak, suhu.

Teecu tetap tidak mau menikah."

"Kalau aku memaksamu?"

Tanya Pat jiu Giam ong dengan geram.

"Lebih baik teecu binasa,"

Tantang Sian Hwa dengan beraninya.

"Ayah!!"

Tiba tiba Liem Swee berseru keras, hingga mengejutkan semua orang.

"Sudah demikian rendahkah aku, sehingga ayah terpaksa harus membujuk bujuk dan memaksa maksa seorang gadis untuk menjadi isteriku? Apakah benar benar aku sebagai seorang pemuda takkan laku lagi dan tidak bisa mendapatkan gadis lain yang lebih cantik, lebih manis lebih gagah dan lebih mulia hatinya daripada Sian Hwa?"

Liem Swee benar benar tersinggung kejantanannya mendengar ayahnya membujuk bujuk seorang gadis untuk menjadi isterinya.

"Liem kongcu bicara betul,"

Kata Pek Lian Suthai.

"Mohon maaf sebesarnya, Liem goanswe. Bukan sekali kali pinni bermaksud mencampuri urusan yang sesungguhnya merupakan urusan rumah tangga, namun pinni khawatir kalau kalau terjadi perkara jiwa dalam kuil ini. Memang amat tidak bijaksana kalau memaksa siocia ini menjadi isteri Liem kongcu sebagaimana dikatakannya tadi, kedua kali nya, karena siocia telah menjadi muridku, menjadi seorang pendeta wanita di kuil ini Liem goanswe tentu sudah maklum bahwa seorang calon pendeta wanita tidak boleh menikah dan pula seorang pendeta wanita tidak boleh diganggu, karena pendeta wanita berada di bawah perlindungan Kwan ini Pouwsat dan dilindungi oleh undang undang kaisar."

Pat jiu Giam ong memandang kepada Sian Hwa dengan tajam, penuh selidik.

Ia tahu akan peraturan itu dan maklum pula bahwa dengan menjadi seorang nikouw, berarti bahwa gadis itu telah menutup kesempatan untuk menjadi orang biasa dan menutup pintu hati bagi segala keramaian duniawi.

"Sian Hwa, benarkah engkau hendak menjadi pendeta wanita?"

Tanyanya.

"Benar, suhu,"

Jawab Sian Hwa sambil menundukkan mukanya.

Tiba tiba Liem Swee tertawa gelak gelak dengan lagak amat mengejek ia telah dibikin kecewa dan juga dibikin malu, maka kini ia hendak membalas penghinaan Sian Hwa dengan jalan mengejek dan memperolok olokkannya.

"Suthai, bukankah seorang pendeta wanita itu harus dicukur rambut kepalanya?"

"Memang betul demikian, Liem kongcu."

"Dan benarkah bahwa pencukuran itu kecuali dilakukan oleh ketua kuil, juga boleh dilakukan oleh orang tua atau wali dari yang hendak menjadi nikouw?"

Pek Lian Suthai berpikir sejenak, sambil menatap wajah pemuda itu penuh selidik.

Dia adalah seorang nenek yang sudah banyak makan asam garam dunia, maka ia dapat menebak apa yang hendak dilakukan oleh pemuda yang sakit hati ini.

"Memang demikian, kongcu,"

Jawabnya kemudian. Sesungguhnya tidak ada aturan seperti ini, tetapi karena Pek Lian Suthai mempunyai maksud tertentu, ia membenarkan kata kata Liem Swee itu.

"Bagus!"

Seru Liem Swee dan tiba tiba ia mencabut pedangnya.."Kalau demikian, biarlah aku mewakili ayahnya untuk membabat dan mencukur rambutnya.

Kami sekalian hendak menyaksikan apakah benar benar sumoiku yang baik dan mulia ini hendak masuk menjadi pendeta wanita."

Bukan main marahnya hati Sian Hwa mendengar ucapan suhengnya ini.

Ia telah mengangkat muka dan memandang dengan mata bersinar marah kepada Liem Swee Akan tetapi ketika ia bertemu pandang dengan suhunya, ia melihat betapa suhunya memandangnya dengan dingin dan agaknya membenarkan dan menyetujui usul puteranya itu.

Dan ketika Sian Hwa bertemu pandang dengan Pek Lian Suthai, ia menjadi terkejut dan heran karena nikouw tua ini mengejapkan matanya memberi tanda agar ia menurut saja.

Dalam keadaan terjepit seperti itu, menghadapi ayahnya yang marah, Liem Swee yang sakit hati dan suhunya yang amat berpengaruh, Sian Hwa tidak berdaya dan hanya mengandalkan pertolongan Pek Lian Suthai.

Ia menggantungkan nasibnya pada keputusan nikouw tua itu maka sambil menundukkan kepalanya, ia memejamkan matanya menanti apa yang akan menimpa dirinya.

"Baiklah, Liem kongeu. Kau lakukan apa yang kau kehendaki itu, asal saja kau berhati hati jangan sampai melukai kulit kepala siocia,"

Kata Pek Lian Suthai tersenyum, lalu disambungnya lagi.

"Siapa pun yang mencukur rambutnya, apa bedanya."

Liem Swee yang menjadi kejam bukan hanya karena sakit hatinya, akan tetapi karena memang ia mempunyai dasar watak kejam seperti ayahnya, segera melangkah maju menghampiri Sian Hwa.

Pek Lian Suthai menyuruh Sian Hwa berlutut, menyelimuti tubuh gadis itu dengan jubah pendeta berwarna putih.

Disaksikan oleh semua nikouw yang berada di situ dan juga oleh Bucuci dan Pat jiu Giam ong, Liem Swee lalu memegang rambut kepala Sian Hwa.

Ketika jari tangannya merasa menyentuh rambut yang hitam gemuk, halus dan berbau harum itu, hatinya melemah juga.

Akan tetapi timbul kembali kekerasan hatinya ketika ia mengingat akan penolakan Sian Hwa kepadanya, maka sambil menggigit bibir Liem Swee lalu mengerjakan pedangnya yang tajam.

Sekali babat saja putuslah rambut yang indah itu.

Naik sedu sedan dari dada San Hwa ke lehernya, akan tetapi gadis ini sambil memicingkan matanya lalu mengatur napasnya dan berlutut diam tak bergerak seperti orang bersamadhi.

Sekali Liem Swee sudah memotong rambut itu, ia menjadi gembira lagi dan dengan sikap mengejek ia lalu mencukur kepala Sian Hwa dengan gerakan cepat dan sebentar saja lenyaplah semua rambut darri kepala Sian Hwa.

Kini kepala gadis yang cantik itu menjadi gundul kelimis dan kelihatan kulit kepalanya yang putih bersih!

Liem Swee menyimpan pedangnya dan tertawa gelak gelak sementara itu, diam diam Bucuci menjadi terharu juga melihat keadaan Sian Hwa.

Biarpun matanya meram dan kepalanya tunduk dari kedua mata gadis itu mengalir air mata yang membasahi kedua pipinya yang pucat.

Gadis itu telah menderita pukulan batin yang hebat dan hanya kekerasan hatinya saja yang membuat ia tidak menangis tersedu sedu!

Pat jiu Giam ong yang tadinya marah, melihat betapa bekas muridnya ini benar benar rela menjadi nikouw daripada menikah menghela napas penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Suthai, siapakah nama nikouw muda baru ini?"

Liem Swee bertanya dengan suara jenaka, penuh olok olok.

Melihat betapa bekas tunangannya itu kini berkepala gundul, lenyap pula rasa cintanya karena memang pada dasarnya pemuda ini hanya mencintai kecantikan wajah Sian Hwa belaka.

"Namanya? Pinni rasa, nama Sian Hwa cukup baik, maka sekarang pinni menyebutnya Sian Hwa Nikouw."

Liem Swee lalu menjura kepada Sian Hwa yang masih berlutut sambil berkata mengejek.

"Sian Hwa Nikouw, selamat datang di kuil Sun pok thian! Harap kau suka menolongku, berdoa memohon kepada Pouwsat yang baik agar aku lekas lekas mendapat jodoh!"

Sian Hwa menggigit bibirnya dan menahan air matanya yang hendak mengucur keluar. Pat jiu Giam ong segera berkata kepada puteranya.

"Sudahlah, mari kita pergi. Sian Hwa telah memilih jalan hidupnya sendiri."

Setelah berkata demikian, Pat jiu Giam ong lalu melangkah keluar, diikuti oeh Liem Swee yang masih tertawa tawa.

"Kau dan Kui Eng jangan harap akan dapat memasuki rumahku lagi!"

Bucuci berkata keras lalu pergi pula dari tempat itu.

Setelah semua orang pergi, Sian Hwa menubruk kaki Pek Lian Suthai sambil menangis tersedu sedu.

Ia meraba raba kepalanya dan tangisnya makin menjadi.

Wanita manakah yang takkan hancur luluh rasa hatinya kalau kehilangan rambut yang menjadi mahkota kecantikannya?

Akan tetapi Pek Lian Suthai memeluknya dan menghibur sambil tertawa senang.

"Selamat. selamat! Pinni mengucapkan selamat untukmu, siocia."

Dengan kedua tangan menutupi mulutnya untuk menahan tangisnya.

Sian Hwa mengangkat muka memandang kepada nikouw tua itu melalui air matanya.

Gilakah nikouw tua ini?

Ia dipaksa menjadi nikouw di luar kehendaknya dan digunduli kepalanya dan nikouw tua ini bahkan memberi selamat kepadanya.

"Semenjak tadi pinni sudah maklum bahwa kau tidak mempunyai bakat untuk menjadi seorang nikouw, siocia. Kau lebih bertulang ibu yang mulia dan isteri yang bijaksana. Oleh karena itulah maka pinni menyetujui usul Liem kongcu untuk mencukur rambutmu! Kau menjadi nikouw di luar pengesahan dari Pouwsat, tanpa upacara, sehingga kau menjadi nikouw tidak sah. Kau belum boleh dianggap menjadi seorang nikouw, siocia dan kau masih seorang gadis biasa."

Melihat pandangan mata gadis itu tidak mengerti dan penuh mengandung pertanyaan, Pek Lian Suthai lalu menjelaskan.

"Ada dua macam syarat yang menetapkan sah atau tidaknya seseorang menjadi nikouw. Pertama tama, pemotongan rambut itu tidak boleh dilakukan di luar kehendak yang bersangkutan, oleh karena itu, mereka yang hendak menjadi nikouw, selalu menjadi murid yang memelihara rambut lebih dulu sampai beberapa bulan lamanya. Setelah mereka dengan suka rela suka memotong rambutnya, barulah rambutnya itu dipotong dan pencukuran itu sah namanya. Ke dua, pencukuran rambut tidak boleh dilakukanbegitusaja harus di depan meja sembahyang, disaksikan oleh Pouwsat dan dilakukan sembahyangan khusus untuk pencukuran rambut. Mana bisa rambutmu dicukur begitu saja dan kau lantas dianggap sebagai seorang nikouw? Tidak, tidak, siocia, kau masih belum menjadi nikouw. Di dunia ini tidak ada nikouw yang menjadi pendeta karena dipaksa, semua atas kehendak hati dan kesadaran pikiran sendiri."

Tentu saja Sian Hwa menjadi girang sekali mendengar pernyataan ini, tetapi ketika ia meraba kepalanya, kembali air matanya bercucuran keluar.

"Suthai...."

Katanya megap megap.

"Akan tetapi.... rambutku....rambutku telah lenyap....bagaimana aku dapat menjumpai orang dalam keadaan.... begini....??"

Ia menangis lagi. Pek Lian Suthai menepuk nepuk pundak gadis itu dan tertawa geli.

"Anak bodoh! Mengapa rambut saja kau tangisi? Siapa orangnya yang dapat memotong lenyap rambut dan kuku? Seribu kali dipotong, seribu kali akan keluar dan tumbuh lagi! Tunggu saja paling lama satu tahun, rambutmu akan tumbuh lagi dan bahkan akan lebih bagus dan indah daripada yang telah dicukur ini. Mengapa berduka tentang rambut? Kau bahkan harus berterima kasih kepada rambutmu siocia, karena sesungguhnya hanya rambutmu inilah yang telah dapat menolongmu dan membebaskanmu daripada perkara yang amat sulit dan berbahaya. Sekarang kau telah bebas, mereka takkan mengganggumu lagi dan semua ini berkat pertolongan rambutmu! Pula, kalau kau merasa malu keluar dalam keadaan gundul, kau bersembunyi sajalah di belakang. Hitung hitung menanti sampai timbul suasana tenang. Kalau mereka sudah tidak meinperdulikan lagi padamu, kau bebas dan merdeka untuk pergi ke mana saja yang kau kehendaki."

Mendengar ucapan ini.

Sian Hwa terhibur juga dan hatinya merasa senang.

Ia bahkan lalu minta se stel pakaian pendeta warna putih dan mengganti pakaiannya.

Rambutnya yang terletak di atas tanah itu ia kumpulkan dan ia dengan senyum manisnya timbul kembali menyatakan kepada Pek Lian Suthai bahwa rambutnya itu hendak dibuat menjadi sebuah cemara rambut!

Akan tetapi hanya sebentar saja hati Sian Hwa terhibur dari kedukaan Ternyata bahwa luka di dalam dada Kui Eng amat berat, di tambah lagi dengan pukulan batin yang ia derita akibat peristiwa rumah tangganya ini, sebulan kemudian Pek Lian Suthai menyatakan bahwa keadaan nyonya yang bernasib malang ini takkan tertolong lagi!

Sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Kui Eng berceritera kepada Sian Hwa yang siang malam menjaganya.

Nyonya ini menceritakan riwayatnya, betapa suaminya dan anak perempuannya telah dibunuh oleh barisan Ang bi tin dan betapa kemudian ia dirampas oleh Bucuci.

Ia tadinya tidak mau menuruti kehendak Bucuci itu sampai akhirnya Bucuci datang membawa Sian Hwa yang masih kecil.

Semenjak Sian Hwa menjadi anaknya maka timbul kembali kegembiraan hidupnya, Sian Hwa mendengarkan penuturan ini dengan hati amat terharu dan ketika Kui Eng menghembuskan nafas terakhir, Sian Hwa menangis sedih sampai jatuh pingsan.

Jenazah Kui Eng dimakamkan di pekarangan belakang dari kuil itu dan semenjak hari itu Sian Hwa hidup menyepi di dalam kuil itu.

Ia menerima pelajaran tentang kebatinan dari Pek Lian Suthai dan di waktu senggang.

Sian Hwa tak pernah lupa untuk melatih ilmu silatnya.

Bahkan dari nikouw tua ini ia dapat memperdalam ilmu suratnya karena ternyata bahwa Pek Lian Suthai juga ahli dalam ilmu kesusasteraan kuno.

Tak lupa pula sewaktu waktu Sian Hwa pergi ke Tong seng kwan mengunjungi makam ayahnya, yakni Can kauwsu.

Ia sekarang tidak ragu ragu lagi bahwa memang benar Can Goan atau Can kauwsu adalah ayahnya yang tulen, karena dari seorang anggauta Ang bi tin yang kini menjadi seorang penjaga di kantor tihu, ia mendengar pula bahwa ayahnya itu dibunuh oleh Ngo jiauw eng dan ia sendiri dibawa pergi oleh Bucuci.

Tetapi tak seorangpun mengetahui siapa adanya ibunya yang sebenarnya.

Tak seorangpun pernah melihat isteri dari Can Goan yatig terbunuh itu.

Apabila ia pergi ke makam ayahnya, Sian Hwa selalu dikawani oleh seorang dua orang nikouw.

Dia sendiri berpakaian sebagai seorang nikouw, dengan jubah pertapaan yang lebar berwarna putih.

Akan tetapi ia selalu menutupi kepala nya yang gundul, juga mukanya dengan saputangannya, selalu menyembunyikan wajahnya sehingga tidak menarik perhatian orang.

Benar sebagaimana yang dikatakan oleh Pek Lian Suthai, setahun kemudian rambutnya telah tumbuh kembali dengan suburnya, sehingga hati Sian Hwa mulai menjadi girang.

Ia kini telah melepaskan jubah pertapaannya, tetapi pakaiannya tetap sederhana berwarna putih.

Rambutnya digelung dan disembunyikan dalam kain pengikat kepala.

Setiap kali teringat kepada Bun Sam, gadis ini menghela napas dan termenung.

Dapatkah ia bertemu kembali dengan pemuda itu?

Dan andaikata bertemu apakah yang hendak dilakukan atau dikatakannya?

Bagaimanapun juga, ia masih tetap tidak aman.

Biarpun kini tidak ada gangguan sesuatu dari Pat jiu Giam ong atau Liem Swee tetapi ia tahu bahwa selamanya ia takkan dapat menikah.

Kalau ia sempat menikah dengan siapapun juga, lalu terdengar oleh Pat jiu Giam ong tentu bekas suhunya itu takkan dapat mengampuninya.

Hal ini ia tahu pasti karena iapun mengenal watak suhunya.

Oleh karena itu, Sian Hwa menjadi dingin hatinya terhadap pernikahan dan ditambah pula dengan pelajaran kebatinan dari Pek Lian Suthai ia menjadi betah tinggal di kuil itu, hidup dalam keadaan tenang dan tenteram.

Setahun pula lewat dengan cepatnya, sehingga tanpa terasa pula Sian Hwa telah tinggal dua tahun di dalam kuil itu.

Dua bulan yang lalu Pek Lian Suthai meninggal dunia, membuat Sian Hwa menjadi amat berduka.

Banyak sekali orang orang bangsawan yang datang memberi hormat kepada jenazah Pek Lian Suthai dan diantara mereka itu nampak Bucuci!

Akan tetapi Sian Hwa yang mengetahui bahwa banyak tamu datang di kuil itu, sengaja tidak mau keluar dan bersembunyi saja di ruang belakang.

Juga dari gedung Pat jiu Giam ong datang banyak sekali barang sumbangan dan Liem Swee sendiri datang mewakili ayahnya.

Akan tetapi, juga Liem Swee tidak terkabul harapannya untuk bertemu dengan Sian Hwa.

Ketika Liem Swee minta kepada nikouw nikouw lain supnya mempersilahkan Sian Hwa nikouw keluar, ia mendapat jawaban bahwa yang dicari itu sedang berduka dan tidak dapat menjumpai siapapun juga!

Dari para penyelidiknya, Liem Swee mendapat tahu bahwa kini Sian Hwa telah memelihara rambut pula, hanya pakaiannya saja amat sederhana, terbuat dan bahan kain berwarna putih.

Pada suatu hari ketika Sian Hwa keluar dan kuil hendak menengok makam ayahnya di Tong seng kwan, tiba tiba di jalan ia berhadapan dengan Liem Swee.

Bekas suheng itu berpakaian mewah dan indah seperti biasa, dan selama dua tahun tidak berjumpa, Sian Hwa diam diam harus mengakui bahwa bekas suhengnya itu kim nampak lebih gagah dan tampan, sungguhpun pada wajah yang tampan itu kini membayang kekejaman dan penderitaan hidup ia merasa heran mengapa Liem Swee nampaknya tidak bahagia dan pemuda yang tinggi besar ini sekarang nampak hampir serupa dengan ayahnya.

"Sumoi, alangkah kejamnya hatimu terhadap aku. Kau membiarkan aku merana dan merindu...."

Demikianlah ucapan pertama yang keluar dan mulut Liem Swee dalam perjumpaan itu, perjumpaan yang memang disengaja oleh Liem Swee.

Pemuda ini mendengar dari seorang nikouw yang diperalatnya bahwa pada pagi hari itu Sian Hwa hendak mengunjungi makam ayahnya di Tong seng kwan, maka ia sengaja menghadang di jalan.

Ucapan ini mengejutkan hati Sian Hwa, juga menimbulkan perasaan tidak senang.

Tadinya, dalam pandangan pertama, timbul rasa kasihan pada suhengnya, akan tetapi kata kata yang menyatakan perasaan hati pemuda ini benar benar tak pernah disangkanya.

"Aku bukan sumoimu, bukankah ayahmu telah menyatakan bahwa aku tidak berhak menyebut dia sebagai suhu lagi?"

"Sumoi. jangan kau berkata demikian. Betapapun marahnya ayah kepadamu, betapapun besar kau mendatangkan kedukaan padaku, aku tetap... mencintaimu, sumoi,"

Sian Hwa hampir saja mendampratnya, mengingatkan pemuda itu akan penghinaan besar ketika pemuda itu menggunduli kepalanya.

Ah, selam hidup ia takkan dapat melupakan penghinaan yang menyakitkan hatinya itu.

"Sudahlah, jangan menggangguku lagi, Liem kongcu. Aku tidak kenal lagi kepadamu. Minggirlah dan jangan menggangguku." ."Sumoi, sekeras itukah hatimu? Tidak kasihankah kau kepadaku? Selama ini, setiap malam aku memimpikan kau dan hidupku takkan dapat berbahagia tanpa engkau di sampingku."

"Liem kongcu, tutup mulutmu! Lupakah kau bahwa aku adalah seorang penghuni kuil yang suci. Minggir, kalau tidak aku akan berteriak menyatakan bahwa kau sebagai putera jenderal mengganggu seorang penghuni kuil."

Sambil berkata demikian, Sian Hwa melanjutkan perjalanannya dengan sangat cepatnya.

Liem Swee tidak berani mengejar karena memang amat berbahaya kalau penduduk dusun itu mengetahui bahwa dia hendak mengganggu seorang nikouw kuil Sun pok thian.

Tentu ia akan malu sekali dan ayahnya akan marah bukan kepalang kepadanya.

Ia tahu bahwa ayahnya amat menjaga nama keluarganya.

Selama dua tahun ini, Liem Swee mendapat kenyataan bahwa sebetulnya ia tak dapat melupakan Sian Hwa, sumoinya itu.

Setahun setelah peristiwa di kuil Sun pok thian itu, ia dijodohkan dengan seorang gadis cantik di kota raja, puteri seorang berpangkat.

Gadis itu selain pandai ilmu sastera dan terpelajar, juga amat cantik, sehingga disebut sebagai bunga kota raja.

Tadinya memang Liem Swee amat puas dengan isterinya ini, tetapi beberapa bulan kemudian setelah menikah, ia mulai merasa bosan dan memperlakukan i terinya dengan kasar serta acuh tak acuh.

Mereka mulai bercekcok karena sebagai puteri bangsawan yang terpelajar, isterinya itu tidak mandah saja diperlakukan sewenang wenang, Pat jiu Giam ong turun tangan dan tentu saja jenderal ini membela puteranya dan memaki maki kepada menantunya itu.

Hal ini membuat isteri Liem Swee menjadi sakit hati dan malam harinya ia lalu membunuh diri dengan minum racun.

Tak seorangpun tahu kecuali Liem Swee dan seisi rumah keluarga Liem bahwa nyonya muda yang baru menikah lima bulan itu menamatkan hidupnya dengan minum racun, karena Pat jiu Giam ong mengancam keras kepada semua orang tidak boleh menyiarkan berita ini.

Kematian nyonya itu dinyatakan sebagai mati karena sakit mendadak dan tak seorangpun yang berani mencurigainya.

Demikianlah, Liem Swee menjadi duda muda dari setiap hari ia merindukan sumoinya yang masih berada di kuil Sun pok thian.

Ketika mendengar dari para penyelidiknya bahwa sumoinya itu kini telah memelihara rambut, timbul harapan baru dan cintanya bernyala kembali, Sian Hwa dengan muka merah melanjutkan perjalanannya ke Tong seng kwan di mana ia mengunjungi makam ayahnya yang kini sudah diperbaiki.

Sian Hwa mendapat bantuan dan Pek Lian Suthai untuk menyuruh orang memperbaiki makam ini yang sekarang sudah dipasangi batu nisan yang berukir nama ayahnya.

Ketika ia bersembahyang di depan kuburan ayahnya, timbul pula kesedihan hati Sian Hwa.

Kesedihan ini timbul karena kecemasannya waktu bertemu dengan Liem Swee dan mendengar ucapan pemuda itu, ia menjadi cemas.

Ia maklum bahwa bekas suhengnya itu tentu takkan mau melepaskannya dan kalau sampai suhunya ikut campur, akan celakalah dia.

Oleh karena itu, sambil bersembahyang, Sian Hwa berpamit kepada arwah ayahnya, karena ia telah mengambil keputusan untuk melarikan diri dan minggat dan kota ini.

Ia hendak merantau dan menjauhkan diri dari Liem Swee.

Setelah cukup lama bersembahyang di depan makam ayahnya Sian Hwa lalu pergi dan situ dan tergesa gesa kembali ke kuil.

Ia telah mengambil keputusan tetap untuk berpamitan dari semua nikouw dan pergi meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi baru saja ia keluar dari kota Tong seng kwan dan tiba di hutan dekat dusun di mana kuil Sun pok thian berada, tiba tiba dari balik sebatang pohon melompat keluar seorang laki laki dan ternyata orang itu adalah....

Liem Swee!

Bukan main mendongkolnya hati Sian Hwa melihatnya.

"Mau apa kau menghadang perjalananku?"

Tanyanya ketus.

"Sian Hwa, jangan salah sangka. Aku tidak berniat buruk. Kau tahu bahwa aku takkan pernah mau mengganggu sedikitpun juga padamu. Harap kau menaruh hati kasihan kepadaku, sumoi. Marilah kita menghadap ayah. Aku yang menanggung bahwa ia tentu akan memaafkan kau dan....dan.... tolonglah aku, mari kita menyambung kembali tali perjodohan kita yang terputus itu, sumoi."

Ketika Sian Hwa mendelik dan hendak marah, Liem Swee menyambung cepat cepat, tidak memberi ketika kepada dara itu untuk berbicara.

"Sumoi, kau masih muda, mengapa kau hendak menghabiskan waktumu dengan berduka dan berkabung? Marilah kita mulai penghidupan baru, mari kita mencari kebahagiaan bersama. Kita sudah saling mengenal semenjak kecil, sudah tahu watak masing masing Sumoi, marilah...."

"Aku tidak perduli semua itu bukan urusanku! Jangan kau menggangguku lagi selama hidupmu!"

Bentak Sian Hwa dengan marah.

Dalam pandangan Liem Swee, setelah berpisah dua tahun kini Sian Hwa menjadi makin cantik dan manis.

Gadis itu sekarang lebih manis daripada dahulu dan lebih matang dan sikapnya tidak kekanak kanakan lagi.

Oleh karena itu, ia telah menjadi tergila betul dan ketika Sian Hwa pergi ke Tong seng kwan, ia sengaja menanti di dalam hutan itu agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang lain.

Jilid X "SUMOI, jangan kau berkeras hati. Tak percaya aku bahwa kau yang secantik ini akan berlaku kejam."

"Tutup mulutmu yang palsu itu!"

Sian Hwa berkata marah.

"Agaknya kau tidak ingat lagi betapa kau menggunduli rambutku, ya?"

Mendengar ini, Liem Swee menjadi pucat.

"Kau masih marah, sumoi? Bukankah kau sendiri yang menghendaki untuk menjadi nikouw? Kau anggap aku bersalah dalam hal itu? Baiklah, aku minta ampun kepadamu."

Setelah berkata demikian, pemuda yang sudah tergila gila itu lalu menjatuhkan diri berilutut di depan Sian Hwa!

Tetapi Sian Hwa mempergunakan kesempatan itu untuk melompat dan berlari pergi dari situ.

Dahulu ilmu lari cepatnya lebih tinggi dari pemuda itu, maka kini ia hendak mempergunakan ilmunya untuk melarikan diri dari Liem Swee.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika sebentar saja Liem Swee telah dapat menyusulnya dan menghadang di depannya lagi.

Ternyata bahwa selama dua tahun ini, kepandaiaan Liem Swee telah maju pesat sekali dan melampauinya.

"Sumoi, kasihanilah aku...."

Kini Sian Hwa betul betul marah.

"Orang tak tahu diri! Ketahuilah, bahwa selama ini aku melatih ilmu silatku dan kalau perlu, aku akan dapat menghadapimu dengan pedang terhunus! Apakah kau menghendaki pertempuran untuk menentukan siapa yang akan menggeletak tak bernyawa di sini? Dulu aku tidak berani melawan karena kau adalah suhengku, akan tetapi sekarang, biarpun ayahmu sendiri datang, aku tidak akan mundur setapak dan akan kupertaruhkan nyawaku!"

Mata gadis ini berapi api saking marahnya, sehingga Liem Swee menjadi ragu ragu.

"Sumoi, jangan begitu. Kalau kita bertempur, kau takkan menang akan tetapi, aku bersumpah takkan mau mempergunakan kekerasan terhadapmu. Sumoi, demi kebahagiaanmu, demi kebahagiaan kita, kasihanilah aku dan kasihanilah hidupmu sendiri. Apakah kau selamanya akan begini saja? Mari kita menghadap ayah dan..."

"Aha, di mana mana saja kujumpai laki laki hidung belang macam ini! Sungguh menjemukan sekali."

Tiba tiba terdengar suara yang nyaring dan keluarlah orangnya dari balik serumpun pohon kembang.

Orangnya sesuai benar dengan suaranya yang nyaring dan jenaka, karena ia adalah seorang pemuda yang.

berpakaian warna biru muda, berwajah tampan luar biasa bertubuh kecil berisi.

Pemuda yang baru datang ini nampaknya jenaka dan periang sekali, terutama sepasang matanya yang bersinar sinar dan mulutnya yang tersenyum manis.

"Enci yang manis, apakah anak manja dari Jenderal ini mengganggumu?"

Pemuda tampan ini bertanya, sambil memandang kepada Sian Hwa.

Dara ini sedang marah, kini melihat lagak pemuda yang agaknya bahkan lebih kurang ajar dan pandangan matanya terlalu berani ini, maka ia menjadi marah.

Ia hendak memaki akan tetapi didahului oleh Liem Swee yang berobah air mukanya melihat datangnya pemuda ini.

"Kau...""? Gadis liar, agaknya kau sudah bosan hidup maka berani mencampuri urusanku!"

"Aha, benar benar galak putera Pat jiu Giam ong. Agaknya kepandaianmu sudah banyak maju maka kau berani berlagak di hadapanku."

Kini terbukalah mata Sian Hwa dan gadis ini memandang kepada "pemuda"

Itu dengan mata terbelalak. Tak pernah disangkanya bahwa "pemuda"

Ini sebetulnya seorang gadis. Kini teringatlah Sian Hwa siapa adanya gadis itu, ingatannya ini diyakinkan pula oleh seruan Liem Swee yang telah mencabut pedangnya.

"Sumoi, hayo kau bantu aku menangkap gadis liar ini. Dia adalah pembunuh dari Ngo jiauw eng Dia inilah gadis liar yang dahulu mengacau di atas rumah ayahmu!"

"Aku bukan sumoimu dan aku tidak perduli urusanmu!"

Jawab Sian Hwa dengan suara dingin.

"Kalau berani, lawanlah sendiri!"

Gadis jenaka yang berpakaian seperti pemuda itu tentu saja pembaca sudah menerka siapa orang nya.

Memang, dia adalah Yap Lan Giok, puteri dan Yap Bouw atau murid dari Mo bin Sin kun.

Kini mendengar jawaban Sian Hwa, Lan Giok bertepuk tangan sambil tertawa geli.

"Hi, hi, hi, tepat sekali, enci, tepat sekali! He, orang tinggi besar, apakah kau masih ingin menangkap aku?"

Liem Swee merasa mendongkol sekali.

Ia merasa ragu ragu untuk melawan Lan Giok seorang diri saja.

Kalau sumoinya ikut mengeroyok, tentu ia akan dapat menang, seperti juga dahulu gadis liar ini pernah ia keroyok dengan Sian Hwa dan mereka hampir menang kalau tidak datang murid Lam hai Lo mo yang membantu Lan Giok.

Sekarang, disuruh menghadapi gadis murid Mo bin Sin kun ini seorang diri, ia merasa bimbang.

Ia memang tidak mempunyai hubungan dengan Ngo jiauw eng dan kematian orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia, pula ayahnya selama ini melarang ia membuat permusuhan dengan murid murid tokoh tokoh besar seperti Mo bin Sin kun, Kim Kong Taisu dan yang lain lain.

"Aku seorang laki laki gagah tidak sudi menyerang seorang perempuan liar!"

Kata Lian Swee dan cepat ia melompat dan pergi meninggalkan tempat itu.

Lan Giok tertawa terkekeh kekeh sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Liem Swee yang melarikan diri.

Melihat kejenakaan gadis ini, mau tidak mau Sian Hwa tersenyum kagum.

Mengapa aku tidak bisa gembira seperti gadis ini?

Alangkah senangnya menjadi orang yang demikian bebas dan gembira.

"Adik yang baik, kau benar benar berani sekali. Tidak tahukah kau bahwa dia adalah putera dari Pat jiu Giam ong dan bahwa aku sendiripun bekas murid Pat jiu Giam ong dan terhitung sumoinya? Apakah kau sudah lupa betapa dahulu di dalam hutan, kau hampir saja roboh karena keroyokan kami berdua?"

Lan Giok mengangguk angguk lalu menghampiri Sian Hwa dan memegang tangannya dengan ramah.

"Enci, tak perlu kau ceritakan hal itu kepadaku. Ingatanku tajam sekali dan aku masih ingat akan wajahmu yang cantik seperti bidadari ini. Tak heran si katak buduk itu tergila gila kepadamu. Enci, bukankah kau bernama Sian Hwa dan puteri dari Panglima Bucuci? Bukankah kau telah melarikan diri dari rumah bersama ibumu dan tinggal di dalam kuil Sun pok thian sampai bertahun tahun?"

Sian Hwa tersenyum dan memandang tajam.

Sikap gadis jenaka ini membuatnya bergembira.

Ia merasa seakan akan gadis ini telah menjadi kenalan lama, padahal dua kali ia bertemu dengan gadis itu sebagai lawan bertempur, pertama kali, ketika ia mengeroyoknya dengan Liem Swee di dalam hutan dan kedua kalinya ketika gadis ini datang di rumah ayah angkatnya membunuh Ngo jiauw eng.

Akan tetapi, sekarang berhadapan dengan Lan Giok, ia sama sekali tidak merasa seperti berhadapan dengan seorang bekas lawan atau musuh, bahkan merasa seperti berhadapan dengan seorang kawan baik atau adik sendiri.

Kejenakaan Lan Giok agaknya merangsang dan menular kepadanya.

"Adik yang nakal, kau agaknya telah menjadi seorang mata mata atau penyelidik yang berhidung tajam. Entah sampai berapa jauh kau mengetahui segala macam rahasiaku?"

Lan Giok sengaja memasang muka yang lucu seperti seorang ahli nujum atau gwamia. Ia memandang muka Sian Hwa sambil meruncingkan bibirnya yang manis, kemudian berkata penuh aksi.

"Hem, aku dapat membaca pikiran dan isi hatimu, enci Sian Hwa. Aku melihat semua rahasiamu. Kau dipaksa menikah dengan katak buduk tadi, dipaksa oleh ayah angkat dan gurumu, Kau memberontak dan menolak, sehingga terjadi ribut ribut di dalam rumahmu. Kau lalu melarikan diri bersama ibumu dan menumpang di kuil Sun pok thian Dan agaknya.... ayah dan gurumu tidak mau mengakuimu lagi, kecuali Liem Swee si katak buduk tadi yang tergila gila betul kepadamu."

"Aduh, pandai betul kau. Adik yang baik, aku hanya mengetahui bahwa kau adalah murid kesayangan dari Mo bin Sin kun, akan tetapi aku tidak tahu siapakah sebetulnya namamu?"

"Namaku Lan Giok, enci, she Yap."

"Tentang she mu aku tahu, adik Lan Giok bahkan aku pernah bertemu dengan ayahmu, bekas Jenderal Yap itu."

Wajah Lan Giok bersari.

"Ayahku telah menceritakan kepadaku tentang kebaikan hatimu, enci."

"Hm, siapa bilang aku baik? Orang baik baik tidak akan mengalami nasib seperti aku. Eh, adik Lan Giok, coba kauceritakan, rahasia apalagi selanjutnya yang telah kau ketahui?"

Kembali Lan Giok berlagak, lalu berkata.

"Hem, hem, aku tahu bahwa kau telah menyerahkan hatimu kepada seorang pemuda."

Kali ini benar benar Sian Hwa terkejut betul. Mukanya berobah pucat, sehingga Lan Giok buru buru berkata dengan suara sungguh sungguh.

"Maaf, enci, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan hatimu. Aku hanya main main saja."

Sian Hwa dapat menetapkan hatinya.

"Benarkah kau hanya main main saja, adik Giok?"

"Bersumpah disaksikan bumi dan langit kalau aku tadi bicara betul betul. Mana aku tahu rahasia hatimu? Aku hanya menduga duga saja. Kau menolak untuk dijodohkan dengan putera Pat jiu Gijam Ong. Padahal kau adalah murid dari ayah pemuda itu dan sepanjang penglihatanku, pemuda she Liem itu tidak buruk rupa. Maka...."

"Nanti dulu, kau menyebut katak buduk, bagaimana sekarang kau bilang tidak buruk rupa?"

"Tidak semua katak buduk buruk rupa, enci,"

Jawab Lan Giok sambil tertawa geli dan Sian Hwa terpaksa tertawa juga sambil memeluk pundak Lan Giok. Timbul rasa sukanya kepada gadis yang jenaka ini.

"Oleh karena itulah, enci, maka satu satunya alasan mengapa kau menolak untuk menjadi menantu Pat jiu Giam ong, tentu saja..... hatimu telah dicuri oleh sepasang alis yang berbentuk golok!"

Sian Hwa melengak dan kembali hatinya berdebar aneh.

Terbayang wajah Bun Sam dan terutama sekali sepasang alis pemuda itu terbayang jelas karena memang alis pemuda ini bentuknya seperti golok yang membuat wajahnya tampak gagah dan sangat tampan.

"Apa pula ini?"

Tanyanya dengar heran.

"Alis berbentuk golok?"

Melihat keheranan pada wajah Sian Hwa, Lan Gok tertawa makin menjadi, lalu katanya gembira.

"Enci Sian Hwa, siapa lagi kalau bukan seorang pemuda yang gagah dap tampan yang mempunyai alis seperti golok bentuknya? Pernahkah kau mendengar seorang wanita yang mempunyai alis berbentuk golok? Tentu seorang pemuda, bukan? Dan tak mungkin hatimu dicuri oleh seorang gadis, bukan?"

Mau tak mau Sian Hwa tertawa juga terpingkal pingkal sambil mencubit lengan Lan Giok.

Ini adalah, kegembiraan pertama kali yang dirasai nya selama tiga tahun akhir akhir ini.

Hidup di dalam kuil dengan para nikouw itu sama saja dengan hidup menyepi di tempat sunyi, karena para nikouw itu tak pernah bergurau, tak pernah bergembira dan mereka menuntut penghidupan dengan saleh dan beribadat, seakan akan hidup ini hanya berisi kemuraman dan upacara.

Sungguh Sian Hwa yang memang berwatak gembira amat tersiksa oleh hidup seperti itu dan seringkali ia mengakui kebenaran ucapan Pek Lian Suthai bahwa ia tidak berbakat untuk menjadi pendeta!

"Adik Lan Giok, kau benar benar nakal, akan tetapi aku suka berada di sampingmu.

Adik yang baik, sebenarnya kau datang dari mana dan hendak kemanakah?"

"Terlalu panjang untuk dituturkan dan berbahaya kalau sampai terdengar oleh orang orang lain,"

Jawab Lan Giok dan kini mukanya bersungguh sungguh yang membuat dia nampak lebih lucu lagi, karena sesungguhnya wajah Lan Giok yang manis dan kekanak kanakan itu tidak pantas kalau keningnya dikerutkan.

"Kalau begitu, marilah kita pergi ke kuil, di sana kita boleh bicara dengan leluasa dan aman. Akupun mempunyai sebuah permintaan yang hendak kusampaikan kepadamu,"

Kata Sian Hwa, Lan Giok menyatakan setuju dan berangkatlah dua orang nona pendekar ini ke kuil Sun pok thian.

Tentu saja para nikouw memandang aneh dan memperlihatkan sikap menentang ketika Sian Hwa datang bersama dengan seorang pemuda yang tampan itu.

Mereka melarang "pemuda"

Itu memasuki ruang di ruang dalam, akan tetapi sambil tertawa tawa Lan Giok membuka kain pembungkus kepalanya dan semua nikouw melongo ketika melihat kepala dan wajah seorang gadis yang cantik dan berambut halus panjang dan hitam sekali itu.

"Lihatlah, aku hanyalah seorang laki laki palsu! Apakah sekarang aku boleh memasuki kamar enci Sian Hwa?"

Tanya Lan Giok dengan lagaknya yang jenaka.

Para nikouw itu terpaksa tersenyum geli, suatu hal yang jarang mereka alami.

Benar benar Lan Giok mendatangkan kegembiraan di dalam kuil yang biasanya berada dalam suasana sunyi, tenang dan berkabung itu.

"Enci Sian Hwa,"

Lan Giok mulai menuturkan pengalamannya yang sekaligus membuka hal hal yang sama sekali tak pernah diketahui oleh Sian Hwa setelah mereka duduk di dalam kamar.

"Agaknya kau tidak mengetahui hal hal yang terjadi di luar kuil. Sebaliknya, persoalanmu dengan gurumu dan peristiwa yang terjadi di keluargamu, kami semua telah mengetahuinya. Gurukulah yang tahu akan keadaanmu, maka akupun mengetahuinya pula. Oleh karena kau telah bentrok dengan Pat jiu Giam ong dan telah mengasingkan diri di sini sampai dua tahun, maka kami tidak menganggap kau sebagai lawan lagi."

"Heran sekali mengapa Pat jiu Giam ong menyiarkan hal yang menyangkut perjodohanku yang putus dengan puteranya,"

Kata Sian Hwa dengan heran, karena ia menduga bahwa tentu Pat jiu Giam ong akan merahasiakan hal itu sekerasnya demi menjaga nama baiknya. Lan Giok tertawa.

"Memang dirahasiakan olehnya, akan tetapi siapa dapat merahasiakan sesuatu dari guruku? Dan pula, hal hal yang menyangkut keadaan Pat jiu Giam ong, siapa yang tidak akan memperhatikannya? Sekarang dengarkan penuturanku, enci, banyak sekali hal hal hebat terjadi selama kau bertapa di tempat ini. Maka berceritalah Lan Giok dan untuk mengetahui cerita ini sebaiknya, marilah kita mengikuti dari permulaan, karena memang banyak sekali peristiwa terjadi selama tiga tahun ini, yakni semenjak Lan Giok dan Thian Giok dirampas dari penangkapan Pat jiu Giam ong oleh guru mereka, Mo bin Sin kun sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Lan Giok dan Thian Giok terancam bahaya hendak ditawan oleh pat jiu Giam ong dan dibela dengan mati matian, tetapi sia sia oleh karena Bun Sam yang kepandaiannya kalah jauh dari Pat jiu Giam ong, datanglah Mo bin Sin kun yang di saat yang tepat itu telah dapat menolong dan membawa kedua muridnya itu pergi, ia menantang Pat jiu Giam ong yang dijawab oleh Liem goanswee bahwa tiga tahun lagi Pat jiu Giam ong hendak mengadakan perhitungan. Dengan cepat Mo bin Sin kun membawa dua orang muridnya ke puncak Sian hwa san di mana ibu kedua orang anak ini hidup sebagai seorang pertapa. Setelah tiba di puncak Sian hwa san, di mana terdapat sebuah kuil yang indah, Mo bin Sin kun meraba mukanya dan sebentar saja wajahnya yang menyeramkan itu berubah menjadi seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh lima tahun dan yang ternyata amat cantiknya! Inilah keanehan Mo bin Sin kun karena setiap kali ia melakukan pergerakan, ia selalu memakai sebuah kedok yang membuat mukanya menjadi buruk dan membuat ia dijuluki Si muka iblis ! Juga tak seorangpun mengetahui kecuali tokoh tokoh yang tergabung dalam Lima Besar, bahwa Mo bin Sin kun sesungguhnya adalah seorang wanita! Ibu sepasang anak kembar itu menjadi terhibur dan girang melihat dua orang anaknya kembali dalam keadaan selamat. Semenjak ia dan kedua orang anaknya dibawa oleh Mo bin Sin kun, ia hidup melakukan tapabrata dan melakukan ibadat sebagai seorang pertapa, juga ia membantu mengurus kuil tempat kediaman Mo bin Sin kun. Namun tiap kali Thjan Giok atau Lan Giok turun gunung untuk ikut guru mereka atau juga untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Mo bin Sin kun, hati ibu itu selalu merasa gelisah. Kali ini, kedatangan mereka membawa berita yang amat mengejutkan, tetapi menggirangkan hati nya, ia mendapat warta bahwa suaminya, Jenderal Yap Bouw, masih hidup! Hampir saja ia tidak dapat percaya, karena bukankah telah tersiar luas beril bahwa suaminya, jenderal besar itu telah tewas di dalam medan perang? Ketika mendengar dari kedua orang anaknya bahwa, kini Yap Bouw telah menjadi seorang gagu dan rusak mukanya, nyonya ini menangis dengan hati pilu. Benar benar ia tidak beruntung. Ketika suaminya pergi, Lan Giok belum lahir, karena suaminya terikat oleh tugasnya. Setelah mengalami peristiwa di kota raja, Lan Giok dan Thian Gok merasa betapa kepandaian mereka sebenarnya masih jauh untuk dapat diandalkan. Menghadapi Pat jiu Giam ong, mereka sama sekali tidak berdaya. Juga mereka kini tahu bahwa Pat jiu Gian ong mempunyai dua orang murid yang berkepandaian tinggi, juga Lan Giok sudah menyaksikan kehebatan kepandaian murid dari Lam hai Lo mo. Maka mereka lalu melatih diri dengan amat tekunnya. Mo bin Sin kun juga mencurahkan segala perhatiannya untuk menggembleng kedua orang murid ini, apalagi karena Pat jiu Giam ong telah berjanji hendak membalas dendam tiga tahun kemudian. Beberapa bulan kemudian selagi Thian Giok dan Lan Giok berlatih silat di bawah pengawasan Mo bin Sin kun, tiba tiba wanita sakti itu lalu berkata.

"Ada orang datang!"

Dalam sekejap mata saja ia telah mengenakan kedoknya yang hitam dan yang demikian cepat menutup mukanya, sehingga tak seorangpun akan menduga bahwa mukanya memakai kedok.

Benar saja, dari lereng Bukit Sian hwa san nampak bayangan seorang laki laki yang mendaki bukit itu dengan ilmu lari cepat yang tinggi.

"Ayah.....!"

Thian Giok dan Lan Giok berseru hampir serentak.

Lalu mereka serentak berlari lari menyambut kedatangan Yap Bouw.

Setelah berhadapan, kedua anak ini lalu menubruk ayah mereka dan ketiganya berpelukan dengan penuh rasa terharu.

Yap Bouw menggerak gerakkan jari tangannya yang maksudnya bertanya di mana ibu kedua orang anak itu, akan tetapi karena Thian Giok dan Lan Giok tak pernah mempelajari bahasa gerak jari tangan ini mereka tidak mengerti.

Hanya saja Lan Giok memang lebih cepat jalan pikirannya, maka anak ini dapat menduga maksud ayahnya.

"Aah, mari ke kuil menjumpai ibu,"

Katanya dan ia mendahului mereka untuk menyampaikan khabar gembira ini kepada ibunya.

Yap Bouw menjura dengan penuh hormat kepada Mo bin Sin kun, yang membalas dengan penghormatan pula.

Dengan kagum dan heran Thian Giok melihat betapa gurunya mengerti akan bahasa gerak tangan ini dan sambil mengangguk angguk Mo bin Sin kun berkata seperti orang menjawab.

"Memang seharusnya kau tinggal bersama isteri dan anak anakmu, Yap sicu. Mereka amat merindukan kau. Tentu saja aku tidak keberatan kalau kau tinggal di sini, bahkan kebetulan sekali karena aku sendiri sering kali turun gunung, sehingga dengan adanya kau di sini, hatiku lebih merasa tenteram meninggalkan mereka."

Sambil menggerak gerakkan tangannya, Yap Bouw lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Mo bin Sin kun, menyatakan terima kasihnya yang tak terhingga bahwa tokoh besar ini telah menolong nyawa isteri dan anak anaknya, bahkan telah mengangkat kedua anaknya menjadi murid.

Mo bin Sin kun cepat membungkuk dan minta Yap Bouw berdiri kembali sambil mengucapkan kata kata merendah.

Pada saat itu, Lan Giok datang berlari lari lalu memeluk ayahnya.

Kedua mata anak ini basah oleh air mata, agaknya ia dan ibunya telah bertangis tangisan saking bahagianya.

"Ayah, lekas, ibu menanti kedatanganmu,"

Katanya sambil membetot betot tangan ayahnya.

Melihat anak anaknya, berserilah wajah Yap Bouw.

Dunia ini seakan akan berobah dalam pandangan matanya.

Kalau tadinya ia merasa bosan hidup, sekarang ia dapat menikmati kebahagiaan melihat putera puterinya yang demikian elok dan gagahnya.

Dengan kedua tangan digandeng oleh Thian Giok dan Lan Giok.

Yap Bouw menuju ke kuil.

Di ruang depan dari kuil yang bersih itu, Yap Bouw melihat isterinya berdiri.

Hatinya terharu sekali dan tak terasa pula air matanya turun membasahi kedua pipinya.

Isterinya mengenakan baju warna putih seperti lazimnya dipakai oleh para pendeta.

Wajah isterinya masih tetap cantik seperti dulu, hanya kini nampak muram dan lemah, seperti seorang yang sudah banyak menderita pahit getir penghidupan.

"Ibu, ini ayah datang....!"

Lan Giok yang jenaka berteriak teriak.

Pertemuan antara kedua suami isteri itu sungguh sungguh mengharukan hati.

Dengan isak tertahan isteri Yap Bouw berlari maju dan menubruk kedua kaki suaminya, merangkul kaki itu dan menangis tersedu sedu.

Tak sebuahpun kata kata keluar dari mulutnya, karena ia tidak kuasa mengeluarkan suara.

Dada dan kerongkongannya penuh sesak oleh sedu sedan.

Yap Bouw berdiri bagaikan patung, menundukkan mukanya, menggigit bibir dan air matanya turun bagaikah hujan.

Kedua tangannya mengelus elus rambut kepala isterinya dan matanya dimeramkan, nyata sekali ia menahan rasa sakit pada jantungnya yang seperti diiris iris.

Melihat keadaan mereka, Thian Giok dan Lan Giok lalu menubruk ibu mereka dan menangis pula.

Karena tak dapat berkata kata, Yap Bouw yang telah dapat menenangkan hatinya lebih dulu lalu menarik isterinya berdiri dan sambil menunjuk ke arah mukanya sendiri, ia lalu menggerak gerakkan tangannya dengan maksud bertanya apakah isteri dan anaknya tidak malu melihat ia telah berobah menjadi seperti itu.

Sesungguhnya isterinya dan kedua anaknya tidak mengerti bahasa ini, akan tetapi perasaan Yap Bouw agaknya membisikkan sesuatu kepadanya, sehingga ia dapat juga menangkap maksudnya.

Sambil menangi dan memeluk pundak suaminya, ia berkata.

"Suamiku, betapapun juga, kau tetap suamiku, kau tetap ayah dari Thian Giok dan Lan Giok !"

Suasana terharu itu kemudian berobah menjadi girang ketika Lan Giok yang cerdik itu cepat berlari mengambil kertas dan alat tulis dan kini "percakapan"

Dilanjutkan lebih lancar setelah Yap Bouw dapat menuliskan segala pertanyaan dan jawaban di atas kertas itu.

Demikianlah, keluarga jenderal besar itu akhirnya dapat berkumpul kembali, hidup dengan aman dan tenteram di dalam kuil di atas Bukit Sian hwa san, isteri Yap Bouw melanjutkan hidupnya sebagai seorang pendeta wanita, bahkan Yap Bouw tertarik pula dan kini kakek gagu inipun menukar pakaiannya sebagai pertapa dan ikut pula bersamadhi dan memperdalam ilmu batinnya sambil membantu pekerjaan menjaga kuil.

Ia merasa kagum sekali melihat kemajuan ilmu silat kedua anaknya yang kini tingkat kepandaiannya sudah lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

Diam diam ia teringat kepada Bun Sam dan mengandung maksud hendak menjodohkan Lan Giok dengan pemuda itu.

Isterinya menyatakan persetujuannya, karena ia percaya penuh bahwa suaminya tentu takkan salah pilih.

Akan tetapi mereka tidak tergesa gesa menyampaikan usul ini kepada Lan Giok atau Mo bin Sin kun, karena gadis itu sedang giat berlatih silat setiap hari.

Waktu berjalan pesat sekali dan dua tahun telah lewat semenjak Yap Bouw berada di puncak Sian hwa san.

Tidak terjadi peristiwa penting selama itu, sampai pada waktu pagi hari di musim dingin itu.

Pagi pagi benar Lan Giok dan Thian Giok melatih ilmu silat mereka, karena guru mereka baru kemarin datang dari perantauannya selama tiga bulan.

Mo bin Sin kun membawa banyak kabar dari kota raja.

Menurut guru mereka ini Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu telah bersekutu dengan sutenya, yakni Pat jiu.

Giam ong untuk membentuk sebuah perkumpulan orang gagah yang disebut Hiat jiu pai (Perkumpulan Tangan Berdarah).

Perkumpulan itu memakai nama yang serem ini karena setiap orang yang hendak masuk menjadi anggauta, diambil sumpahnya dengan mencuci kedua tangan dengan darah harimau.

Untuk keperluan ini, tentu saja setiap orang yang hendak menjadi anggauta, harus dapat menangkap seekor harimau hidup hidup dan inipun merupakan ujian karena kalau tidak berkepandaian tinggi, mana dapat menangkap harimau atau singa?

Dan maksud kedua orang tokoh besar itu mendirikan perkumpulan ini, selain hendak mengumpulkan orang orang gagah untuk memperkuat kedudukan mereka, juga mereka ingin menjagoi dunia persilatan.

Lam hai Lo mo menjadi ketua pertama dan Pat jiu Giam ong menjadi ketua ke dua.

Selain berita ini, juga dari Mo bin Sin kun, kedua orang muda itu mendengar tentang keadaan rumah tangga Bucuci dan itulah sebabnya maka Lan Giok tahu akan keadaan Sian Hwa.

Diam diam mereka semua bersimpati dengan Sian Hwa, lebih lebih Lan Giok, karena gadis itu pernah bertemu dengan Sian Hwa dan mengagumi kecantikan dan kepandaian gadis baju merah itu.

"Karena itu, kalian berdua harus lebih giat lagi berlatih, karena sangat besar kemungkinan kalian menjadi dua diantara orang orang yang berkewajiban menghadapi perkumpulan berbahaya itu,"

Kata Mo bin Sin kun menutup penuturannya dan pada pagi hari itu, Lan Giok dan kakaknya berlatih ilmu Silat yang paling tinggi dan sukar yang sebelum turun gunung telah diajarkan oleh guru mereka.

Tiba tiba Mo bin Sin kun dan dua orang muridnya itu berhenti berlatih dan memandang ke tengah udara.

Entah dari mana datangnya, tahu tahu di atas mereka melayang layang sebuah benda yang kecil berwarna hitam dan dengan cara aneh sekali, benda itu melayang turun dan tiba menancap di tas tanah, di depan Mo bin Sin kun dan ternyata bahwa benda itu adalah sebatang tongkat hitam berbentuk ular yang panjangnya kira kira empat kaki.

Melihat sebatang tongkat dapat terbang melayang bagaikan seekor ular bersayap dan kemudian menancap di depan mereka, sungguh sukar untuk dipercaya karena tongkat itu seakan akan hidup.

Kalau Thian Giok dan Lan Giok berdiri bengong terheran keran, adalah Mo bin Sin kun yang bersikap tenang, sungguhpun di balik kedoknya wajahnya berobah ketika ia melihat tongkat ini.

"Waspadalah, Lam hai Lo mo agaknya datang mengunjungi kita!"

Katanya dan diam diam wanita sakti ini meraba ke dalam saku bajunya untuk melihat apakah senjatanya yang paling diandalkan berada di saku itu.

Senjata ini sederhana saja bentuknya, yakni sehelai sabuk sutera berwarna hitam yang kedua ujungnya dipasang bintang perak yang berujung lima dan runcing sekali, sebesar kepalan tangan.

Kalau tidak dipakai, senjata ini dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam saku baju.

Tiba tiba terdengar suara ketawa yang menyeramkan sekali seperti suara kuda meringkik, disusul oleh suara ke tawa yang nyaring, akan tetapi juga amat menyeramkan.

Bagaikan dua sosok bayangan setan, berkelebatlah bayangan dua orang laki laki dan sebentar saja dua bayangan itu telah berdiri di depan mereka.

Benar saja, yang berdiri di depan mereka adalah Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, orang diantara Lima Besar yang paling kejam, ganas, aneh dan juga berilmu tinggi.

Dan orang ke dua yang berdiri di sebelah kanannya adalah seorang pemuda yang cukup tampan dan ganteng, akan tetapi sepasang matanya begitu sipit, sehingga hanya merupakan dua garis kecil saja.

Kulit mukanya halus dan putih seperti kulit muka seorang wanita dan mulutnya yang berbentuk manis itu selalu membayangkan senyum mengejek seperti terdapat pada mulut seorang yang berwatak sombong dan memandang rendah kepada semua orang dan menganggap dirinya sendiri yang paling pintar.

Lam hai Lo mo gelak tertawa sambil mendongak ke atas dan tangan kirinya mencabut tongkat yang menancap di depan Mo bin Sin kun, kemudian ia lalu menjura kepada Mo bin Sin kun sambil membungkuk, dituruti pula oleh pemuda itu yang tentu pembaca sudah dapat menduga siapa orangnya.

Dia ini memang murid tunggal dan Lam hai Lo mo, yaitu Gan Kui To.

"Ada gara gara apakah di dunia, maka Lam hai Lo mo, yang bernama besar sampai tersasar ke tempat ini?"

Tanya Mo bin Sin kun dengan suara dingin dan sikap angkuh.

Lain orang boleh menghormat berlebih lebihan kepada Lam hai Lo mo, akan tetapi dia merasa setingkat dengan kakek ini, maka tak perlu ia merendahkan diri.

"Tidak tahu apakah kau datang dengan maksud baik atau buruk, dengan kepala dingin atau panas?"

Kembali Lam hai Lo mo tertawa seperti bunyi ringkik kuda, lalu berkata.

"Mo bin Sin kun, di tempat yang demikian indah dengan hawa udara demikian sejuk dan dingin, siapakah yang bisa menjadi panas kepala? Aku datang dengan maksud baik. Bukankah kita kawan kawan lama? Ha, ha, ha."

"Lam hai Lo mo, dengan orang seperti engkau ini, siapa yang dapat membedakan kawan atau lawan? Lebih baik kau katakan apa yang menjadi maksud kedatanganmu ini. Kau tahu bahwa aku tengah melatih murid muridku kami sedang sibuk dan tidak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol."

"Ha, ha, kau bersiap siap untuk tahun depan? Aku sudah mendengar bahwa kau dan Pat jiu Giam ong hendak menjadi anak anak kecil lagi yang mau cakar cakaran dan main main. Ha, jenderal itu sedang sibuk pula, terkurung oleh tugasnya. Mo bin Sin kun, sebetulnya kedatanganku ini membawa maksud yang suci dari mulia."

Ia memandang kepada Lan Giok, lalu menudingkan tongkatnya kepada dara ini.

"Muridmu yang manis inilah yang menarik kami datang ke sini."

Mo bin Sin kun mengerutkan keningnya, adapun Lan Giok dengan hati berdebar memandang dengan penuh perhatian. Juga Thian Giok memandang dengan sinar mata tajam.

"Mo bin Sin kun, kita adalah kawan kawan lama, dengan melupakan sedikit perbedaan faham kita, marilah kita mempererat tali perhubungan kita. Aku dalang hendak melamar muridmu ini untuk menjadi jodoh muridku yang tampan dan gagah ini !"

Ia menuding ke arah Kui To yang tersenyum senyum sambil memandang ke arah Lan Giok dengan wajah berseri.

"Sauw nio (burung kecil), kau tentu belum lupa padaku, bukan? Sudah dua kali kita berjumpa dan aku telah membantumu mengusir orang jahat!"

Kata Kui To dengan sikap manis kepada Lan Giok.

Gadis itu memalingkan muka dengan sebal, karena ketika mendengar lamaran itu ia sudah merasa jengah dan juga marah.

Akan tetapi karena di situ terdapat gurunya, ia tidak berani sembarangan memperlihatkan kemarahannya.

Adapun Mo bin Sin kun yang mendengar pinangan Lam hai Lo mo ini, untuk beberapa lama tak dapat menjawab.

Pinangan ini benar benar mengejutkannya dan ia menjadi serba salah.

Memang seorang pemuda murid Lam hai Lo mo bukanlah seorang pemuda sembarangan dan tentu telah memiliki kepandaian tinggi, sehingga patut menjadi suami muridnya.

Kalau sampai pinangan ini ditolak, berarti ia memperhebat permusuhan dengan Lam hai Lo mo dan hal ini tidak boleh dibuat main main.

Sebetulnya pinangan ini diajukan oleh Lam hai Lo mo terdorong oleh dua hal.

Pertama tama karena memang Kui To telah tergila gila kepada Lan Giok yang disebutnya Burung Kecil dan sering kali pemuda ini seperti orang gila menyebut nyebut nama gadis itu dan merengek rengek kepada suhunya minta dilamarkan gadis itu!

Kedua kalinya, ada maksud tersembunyi dalam kepala Lam hai Lo mo yang cerdik, ia dan sutenya maklum bahwa menghadapi Kim Kong Taisu saja sudah merupakan hal yang amat berat, apalagi kalau Mo bin Sin kun berdiri di fihak kakek dari Oei san itu.

Maka apabila ikatan jodoh ini dapat diadakan, berarti bahwa Mo bin Sin kun mau tidak mau tentu akan membantu mereka demi kepentingan muridnya sendiri.

Dengan masuknya Mo bin Sin kun difihak mereka, maka itu berarti akan memperkuat kedudukan Hiat jiu pai!

"Bagaimana, Mo bin Sin kun?"

Tanya Lam hai Lo mo ketika melihat si muka iblis itu masih juga belum menjawab.

"Apakah aku harus menanti jawaban dalam beberapa hari karena kau hendak pikir pikir dulu?"

"Aku takkan merasa ragu ragu untuk menjawab sekarang juga, Lam hai Lo mo, akan tetapi sayang aku tidak berhak mengambil keputusan dalam hal ini. Tunggulah sebentar. Thian Giok, coba kau panggil ayah bundamu ke sini !"

Thian Giok cepat berlari ke kuil dan tak lama kemudian ia kembali diikuti oleh Yap Bouw dan isterinya.

Melihat Yap Bouw yang kini berpakaian serba putih seperti seorang pendeta itu, Lam hai Lo mo benar benar tercengang dan merasa tidak enak hatinya.

Biarpun ia telah pernah menolong nyawa Yap Bouw ketika jenderal ini terjatuh ke dalam tangan orang orang Mongol, namun sebaliknya yang membuat jenderal itu sampai kalah dan tertangkap sehingga menerima penyiksaan hingga mukanya hancur dan rusak, adalah Lam hai Lo mo sendiri.

Akan tetapi, dua tahun hidup mensucikan diri di puncak Sian hwa san, tidak sia sia bagi Yap Bouw.

Kalau dulu Sebelum ia bertapa di gunung ini, tiap kali berjumpa dengan Lam hai Lo mo, sudah boleh dipastikan ia akan menjadi marah dan menyerang orang yang membuatnya kalah dalam perang melawan tentara Mongol itu, akan tetapi sekarang ia bersikap tenang dan dingin saja, hanya memandang Lam hai Lo mo dengan sinar mata tajam menusuk hati.

"Aha, kiranya Jenderal Yap Bouw pun berada di sini! Mo bin Sin kun, mengapa kau mendatangkan Jenderal Yap dan wanita ini?"

"Lam hai Lo mo, ketahuilah bahwa mereka ini yang berhak menjawab pinanganmu karena mereka adalah ayah bunda dari Lan Giok muridku!"

Jawab Mo bin Sin kun.

"Ha, ha, ha, bagus sekali. Aku adalah kenalan lama dari Jenderal Yap, dan terus terang saja, aku pernah menyelamatkan nyawanya dari bala tentara Mongol."

Kemudian ia menghadapi Yap Bouw dan berkata.

"Yap goan swe, kuulangi lagi pinanganku yang tadi sudah kusampaikan kepada guru puteri mu. Kedatanganku ini bermaksud meminang puterimu itu untuk menjadi jodoh muridku yang gagah ini."

Sebelum datang ke tempat itu, Thian Giok sudah menyampaikan berita ini kepada kedua orang tuanya dan Yap Bouw telah berunding dengan isterinya, maka kini isterinya yang maju bersama dia.

Yap Bouw melangkah dua tindak ke depan lalu menggerak gerakkan jari tangannya.

Melihat betapa suhunya memperhatikan gerakan gerakan jari tangan itu, Gan Kui To tak dapat menahan geli hatinya dan tertawa lalu berkata.

"Suhu, apa apaankah ini? Apakah empek ini sedang menari kegirangan karena puterinya dilamar oleh kita?"

Akan tetapi, pada saat itu Lam hai Lo mo tidak dapat mengawani kejenakaan muridnya karena ia memandang dengan wajah muram dan kening berkerut ketika melihat gerakan jari tangan itu.

Dari gerakan itu ia diberi tahu oleh Yap Bouw bahwa terpaksa Yap Bouw menolak pinangan itu karena puterinya telah ditunangkan dengan orang lain!

"Apa..??

Jadi puterimu ini sudah bertunangan?"

Tanyanya dengan suara parau dan barulah Kui To berhenti tersenyum mendengar ucapan suhunya ini.

"Siapakah tunangannya?"

Di dalam pertanyaan ini terkandung ancaman.

Adapun Mo bin Sin kun yang juga melihat keterangan melalui gerakan jari tangan Yap Bouw, diam diam merasa heran dan terkejut sekali.

Mengapa Yap Bouw tidak memberi tahukannya bahwa Lan Giok telah ditunangkan dengan orang lain?

Apakah hal ini benar ataukah hanya alasan dari Yap Bouw untuk menolak pinangan Lam hai Lo mo?

Kalau hanya alasan, ia akan mencegah Yap Bouw membohong, karena Mo bin Sin kun tidak sudi untuk mencari alasan kosong hanya karena hendak menolak pinangan Lam hai Lo mo.

Hal Ini sama artinya dengan merasa takut terhadap kakek aneh itu.

Kalau memang tidak setuju, tolak saja mentah mentah dan habis parkara.

Siapakah yang takut?

Demikian jalan pikiran Mo bin Sin kun.

Kini nyonya Yap yang maju menghadapi Lam hai Lo mo.

Dengan sikap tenang, sopan dan ramah tamah, nyonya ini berkata.

"Lo sicu, kami telah merencanakan untuk menjodohkan puteri kami Lan Giok dengan seorang pemuda bernama Song Bun Sam, murid dari Kim Kong Taisu. Oleh karena itu harap lo sicu sudi memberi maaf. Kami terpaksa tidak dapat menerima budi kebaikan dan kehormatan yang lo sicu berikan kepada kami."

Mendengar ini, tidak saja Mo bin Sin kun yang tercengang dan heran, tetapi juga Thian Giok memandang kepada ibunya dengan mata penuh pertanyaan.

Adapun Lan Giok yang mendengar ini, seketika itu juga mukanya berobah merah, ia pernah bertemu dengan Bun Sam dan memang diam diam ia merasa tertarik kepada murid Kim Kong Taisu yang dengan gagah beraninya pernah membela dia dan Thian Giok di depan Pat jiu Giam ong, bahkan yang berani melawan Pat jiu Giam ong.

Sebaliknya, Lam hai Lo mo dan muridnya menjadi kecewa dan marah, tiba tiba Lam hai Lo mo tertawa dan sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muridnya, ia berkata kepada nyonya Yap.

"Yap hujin, lihatlah muridku ini!"

Karena tidak tahu akan maksud kakek itu, nyonya Yap memalingkan muka dan memandang kepada Kui To.

"Lihat baik baik, bukankah muridku ini tampan dan gagah sekali?"

Diam diam kakek ini mengerahkan tenaga batinnya dan menggunakan ilmu hoatsut (sihir) kepada nyonya itu.

Entah bagaimana, nyonya Yap tiba tiba melihat Kui To sebagai seorang pemuda yang amat tampan, gagah dan simpatik.

Hatinya tertarik sekali dan tanpa disadarinya, bagaikan terkena pesona, ia berkata.

"Memang muridmu itu tampan dan gagah."

"Bukankah dia lebih tampan dan lebih gagah daripada Bun Sam ?"

Sebetulnya nyonya Yap, kalau berada dalam keadaan sadar, tak mungkin dapat menjawab bertanyaan ini karena selama hidupnya ia sendiri belum pernah melihat bagaimana rupa Song Bun Sam, pemuda yang dipilih oleh suaminya untuk menjadi jodoh Lan Giok.

Akan tetapi, ia telah terpengaruh oleh ilmu sihir dari Lam hai Lo mo, maka ia mengangguk membenarkan dan berkata.

"Dia lebih tampan dan lebih gagah daripada Bun Sam."

"Muridku ini lebih pantas menjadi menantumu daripada Bun Sam, bukan?"

Kembali nyonya Yap membenarkan. Semua orang menjadi demikian tertegun dan heran sehingga tak dapat mengeluarkan kata kata.

"Nah, kalau begitu, sudah sewajarnya kau menerima Kui To sebagai menantumu. Sekali lagi kuulangi pinanganku. Yap hujin, sukakah kau menerima Kui To sebagai menantumu?"

Sambil berkata demikian sepasang mata kakek aneh ini mengeluarkan sinar yang berapi api dan amat berpengaruh, yang ditujukan kepada wajah nyonya Yap.

"Aku setuju dan suka...."

Jawab nyonya itu, seakan akan sudah tidak kuasa lagi mengendalikan pikiran dan mulutnya. Tiba tiba Lan Giok melompat maju.

"Tidak tidak! Aku tidak sudi!"

"Siauw Niauw, jangan begitu, ibumu sudah setuju!"

Kui To melompat maju sambil mengulur tangan hendak memegang tangan gadis yang dirindukaanya itu.

"Biarlah kelak aku menghadiahkan kepala Song Bun Sam di bawah kakimu."

"Keparat, jangan kurang ajar!"

Teriak Thian Giok yang cepat maju menyampok tangan Kui To yang diulurkan.

Dua buah lengan beradu dan Thian Giok terkejut sekali ketika merasa betapa lengannya menjadi panas dan sakit, ia melompat mundur dengan muka terkejut sekali.

"Ha, ha, ha, kau kakak iparku, sungguh gagah!"

Kui To tertawa.

"Bangsat bermulut lancang, kuhancurkan mulutmu!"

Lan Giok dengan marah melompat maju dan menyerang dengan pukulan Soan hong pek lek jiu ke arah dada Kui To.

Murid Lam hai Lo mo ini merasa sambaran angin dahsyat dan karena, ia maklum akan kelihaian pukulan ini, cepat ia melompat ke samping untuk mengelak.

Lan Giok mendesak terus, akan tetapi tiba tiba Lam hai Lo mo mengebutkan lengan bajunya dan tertolaklah gadis ini ke belakang oleh angin pukulan yang jauh lebih bebat daripada pukulannya sendiri.

"Lam hai Lo mo, mau apakah kau?"

Tiba tiba Mo bin Sin kun bergerak dan tahu tahu ia telah berdiri menghadapi Lam hai Lo rno. Gerakannya ini luar biasa cepatnya, sehingga Lam hai Lo mo sendiri menjadi amat kagum.

"Apakah kau hendak mencontoh perbuatan sutemu yang Amat tidak patut, hendak memaksa seorang gadis menjadi jodoh muridmu?"

Untuk sesaat Lam hai Lo mo berdiri tertegun dan ragu ragu.

Melihat sinar mata Mo bin Sin kun yang berapi penuh tantangan itu, ia tahu bahwa wanita sakti ini benar benar marah sekali dan kalau ia layani tentu akan terjadi pertempuran mengadu nyawa di situ.

Biarpun Lam hai Lo mo tidak takut dan merasa akan dapat mengalahkan Mo bin Sin kun, namun hal ini tidak semudah kalau ia menghadapi tokoh lain, karena ia tahu betul bahwa Mo bin Sin kun memiliki kepandaian yang setingkat dengan kepandaiannya.

Maka ia lalu tertawa dengan nyaring meringkik ringkik seperti kuda marah, lalu berkata.

"Ha, ha, ha Mo bin Sin kun, alangkah inginku melihat mukamu pada saat ini! Tentu kulit mukamu yang putih halus itu menjadi kemerahan sesuai dengan sepasang matamu yang indah berapi."

"Lam hai Lo mo, jangan banyak membuka mulut tak karuan. Pendeknya kami menolak pinanganmu dan kau man apa? Kau tahu bahwa aku selalu bersedia melayanimu tanpa rasa takut sedikit jugapun!"

"Ha, ha, ha, masih galak seperti dulu! Tidak, Mo bin Sin kun, aku tidak ada nafsu untuk bermain main dan mengadu kepalan denganmu. Biarlah lain kali kita bertemu pula, mungkin tahun depan."

Ia memberi tanda dengan tangannya kepada Kui To, mengajak muridnya pergi. Kui To menjadi menyesal dan kecewa sekali. Sambil memandang dengan mata lebar ke arah Lan Giok, ia berkata.

"Kalau betul betul kau sampai menikah dengan Bun Sam, aku akan mengirim sumbangan berupa kepala dari Song Bun Sam!"

Ia lalu melompat mengejar suhunya sambil tertawa nyaring mengejek.

Mo bin Sin kun menarik napas panjang dan diam diam ia merasa lega bahwa kakek setan itu tidak menghendaki pertempuran.

Kemudian ia berpaling kepada Yap Bouw dan isterinya.

"Sesungguhnyakah tentang perjodohan Lan Giok yang kudengar tadi?"

Nyonya Yap lalu minta maaf dan kemudian ia menceriterakan kehendak suaminya untuk menjodohkan Lan Giok dengan Bun Sam. Mo bin Sin kun mengangguk anggukkan kepalanya.

"Memang tepat sekali pilihan itu. Aku sendiri suka kepada Bun Sam dan pula boleh dibilang dia juga muridku sendiri. Anak itu jauh lebih baik daripada Kui To, bukankah demikian pendapatmu?"

Sambil berkata demikian, Mo bin Sin kun memandang tajam kepada Yap Hujin yang cepat membenarkan kata kata ini.

"Biarpun aku sendiri belum pernah melihat Bun Sam, akan tetapi tentu saja aku percaya penuh atas pilihan suamiku. Sekarang injin (penolong) menyatakah demikian, tentu saja hatiku menjadi lebih tetap pula."

"Ibu, mengapa tadi ibu menyatakan kepada Lam hai Lo mo bahwa Kui To jauh lebih baik daripada Bun Sam?"

Tanya Thian Giok yang tidak mengerti akan sikap ibunya ini. Nyonya Yap memandang kepada puteranya dengan heran.

"Siapa yang menyatakan demikian"? Sebelum Thian Giok yang menjadi bingung ia bertanya lagi, Mo bin Sin kun lalu berkata.

"Memang itulah kepandaian yang hebat dari Lam hai Lo mo. Tadi ia telah mempergunakan ilmu sihir untuk mempengaruhi ibumu, Thian Giok. Oleh karena itu, kau dapat mengarti betapa besarnya bahaya yang sekarang kita hadapi. Kau dan Lan Giok harus berlatih baik baik dan hanya dengan memperdalam tenaga batin, maka kalian kelak akan sanggup menghadapi hoatsut dari Lam hai Lo mo atau muridnya. Adapun tentang pertunangan yang dikehendaki oleh orang tuamu ini Lan Giok, bagaimana pendapatmu?"

Ditanya demikian Lan Giok hanya menundukkan mukanya yang telah menjadi merah jambu air.

Terbayang wajah Bun Sam dan terutama sekali alisnya yang berbentuk golok itu.

Ia pernah berpibu melawan Bun Sam dan memang biarpun tak pernah ia memikirkan, kalau teringat kepada pemuda itu, hatinya berdebar aneh.

Pemuda itu amat gagah perkasa, juga berbudi mulia, apalagi boleh dibilang masih suhengnya sendiri, maka tentu saja di dalam hatinya ia telah menyetujui sepenuhnya dan sebulat hatinya.

Akan tetapi bagaimana ia dapat menjawab pertanyaan gurunya ini?

Akhirnya karena semua pandangan mata d tujukan kepadanya yang membuat gadis ini merasa seperti seorang duduk di atas besi panas, maka sambil menutup mukanya dengan saputangan suteranya, ia lalu berlari dari situ menuju ke kuil dan bersembunyi di dalam kamarnya.

Melihat ini, Mo biu Sin kun, Yap Bouw dan isterinya, tertawa geli, bahkan Thian Giok sendiri pun tersenyum geli menyaksikan kelakuan adiknya.

Pemuda ini diam diam merasa senang sekali mendengar tentang pertunangan adiknya, karena iapun suka dan kagum kepada Bun Sam.

"Hal ini harus disampaikan kepada Kim Kong Taisu sebagai guru dari pemuda itu."

Kata Mo bin Sin kun Tunggulah, sampai Thian Giok dan Lan Giok menyempurnakan ilmu silat mereka, aku sendiri yang akan merundingkan hal ini dengan Kim Korig Taisu !"

Demikianlah, untuk kurang lebih setahun lamanya, Thian Giok dan Lan Giok melatih diri dengan amat tekunnya, sehingga kepandaian mereka maju amat pesatnya.

Selama itu, tidak ada gerakan dari Lam hai Lo mo, sehingga diam diam mereka semua merasa lega.

Kemudian, Mo bin Sin kun lalu menyuruh kedua orang muridnya untuk menyelidiki keadaan Hiat jiu pai di kota raja, sedangkan ia sendiri lalu menuju ke Oei san untuk menjumpai Kim Kong Taisu, selain untuk merundingkan tentang murid mereka, juga untuk membicarakan tentang gerakan Hiat jiu pai.

Agar lebih leluasa dalam perjalanan, Lan Giok meminjam pakaian kakaknya dan ia berpakaian seperti seorang pemuda.

Akan tetapi dengan pakaiannya ini ia bahkan menimbulkan banyak sekali perhatian orang, karena baik dilihat dari depan belakang atau kanan kiri, ia sekarang menjadi Thian Giok ke dua!

Tak mungkin orang dapat membedakan antara dua saudara kembar ini.

Thian Giok sering marah marah karena perhatian orang orang yang melihat mereka ini, sebaliknya Lan Giok bahkan tertawa tawa geli karena menganggapnya amat lucu.

Sering kali ia sengaja mengenakan pakaian yang warnanya sama dan ketika dalam sebuah kota memasuki restoran, ia mempermainkan pelayan.

Kalau Thian Giok memesan semacam masakan, ia memesan yang lain dan ketika pelayan datang mengantarkan masakan masakan itu, ia menyuruh pelayan sendiri menerka siapa yang memesan masakan ini dan siapa pula yang memesan itu.

Tentu saja pelnyan menjadi bingung, memandang dari Lan Giok ke Thian Giok dan akhirnya menyerah kalah, menaruh masakan masakan itu di atas meja dan minta maaf karena memang tak dapat membedakan dan mengingat lagi!

Setelah tiba di kota raja, kakak beradik ini berpisah dengan sengaja.

Pertama tama untuk menghindarkan perhatian orang, kedua kalinya agar penyelidikan mereka lebih luas dan berhasil.

Mereka hanya berjanji untuk bertemu pada malam hari di dekat pintu gerbang sebelah selatan, atau kalau ada terjadi sesuatu, mengirim tanda bahaya seperti biasa.

Oleh guru mereka, kedua kakak beradik ini telah mempelajari cara melepas panah api di waktu malam untuk memberi tanda bahaya kepada kawan dari tempat jauh.

Juga mereka mempunyai semacam tanda pekik seperti pekik ayam hutan yang nyaring sekali untuk saling memberi tanda di waktu perlu.

Dan dalam penyelidikannya ini, akhirnya Lan Giok berjalan jalan sampai keluar kota raja dan tiba di hutan dekat Tong seng kwan di mana ia bertemu dengan Sian Hwa!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia lalu ikut dengan Sian Hwa ke kuil dan menceritakan pengalamanku.

Tentu saja ia tidak menyebut nyebut nama Bun Sam, dan hanya memberitahukan bahwa untuk mengusir Lam hai Lo mo, ayah bundanya menyatakan bahwa ia telah ditunangkan dengan orang lain!

"Dan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu, adik Lan Giok?"

Tanya Sian Hwa yang mendengarkan dengan hati tertarik.

"Sudah bertahun tahun aku tidak mengetahui sama sekali tentang keadaan di luar kuil, maka tentang Hiat jiu pat ini aku sama sekali tidak tahu."

Lan Giok menarik napas panjang.

"Hebat! Hiat jiu pai benar benar amat kuat dan mempunyai anggauta anggauta yang berkepandaian tinggi. Apalagi para pemimpinnya, benar benar sukar dilawan. Ketuanya tentu saja Lam hai Lo mo si setan tua itu, bersama Pat jiu Giam ong bekas gurumu itu. Ditambah dengan Gan Kui To dan suhengmu yang manis itu, maka mereka merupakan empat orang yang cukup tangguh, apalagi masih ada beberapa orang tokoh dari Mongol ada pula seorang tokoh hwesio dari Tibet yang berkepandaian tinggi dan juga sedikitnya ada tujuh orang dari kang ouw yang dapat terpikat oleh mereka. Semua ini merupakan tokoh tokoh terbesar dari Hiat jiu pai."

"Heran sekali, apakah maksud mereka mengadakan perkumpulan seperti itu?"

Tanya Sian Hwa pula.

"Tentu saja untuk memperkuat kedudukan mereka. Dan, sepanjang penyelidikan yang didapatkan oleh engko Giok, mereka itu bahkan bermaksud untuk membasmi orang orang kang ouw yang tidak mau bersekutu dengan mereka. Kini tersiar kabar bahwa Lam hai Lo mo dan muridnya, juga hwesio Tibet itu, telah berada di kota raja pula. Oleh karena itu, aku harus buru buru mengajak engko Giok kembali kepada guru kami untuk memberi laporan."

"Adikku yang baik, bawalah aku bersamamu!"

"Apa....??"

Sian Hwa merangkulnya dan tiba tiba teringat akan nasib dirinya, ia mengeluarkan air mata.

"Adik Lan Giok, kau tahu bahwa kini aku tidak mempunyai siapa siapa lagi yang dapat kupandang, aku....... aku seorang diri, sebatangkara......"

"Mengapa kau bilang demikian? Bukankah masih ada ayahmu Panglima Bucuci?"

"Orang jahat itu?? Dia bukan ayahku, ayahku telah terkubur di kota Tong seng kwan dan baru saja aku kembali dari kuburan ayahku."

Lalu dengan singkat Sian Hwa menceritakan riwayatnya, membuka pula rahasianya bahwa Bucuci dan Kui Eng bukanlah orang tuanya dan bahwa ayahnya telah dibunuh mati oleh pasukan Ang bi tin dan ibunya entah di mana, tak seorangpun mengetahuinya.

"Oleh karena itu adik Lan Giok. Aku hendak ikut kau merantau dan kalau kau tidak sudi membawaku, biarlah aku yang bernasib malang ini pergi seorang diri, ke mana saja kedua kakiku membawaku."

Tiba tiba Lan Giok tersenyum manis.."Mengapa tidak boleh?

Aku akan suka sekali mempunyai kawan seperjalanan seperti engkau, enci Sian Hwa!

Kalau begitu lekaslah engkau berkemas, sekarang juga kau ikut dengan aku ke kota raja dan bersama engko Thian Giok kita malam ini juga dapat melanjutkan perjalanan."

Bukan main girangnya hati Sian Hwa. Ia merangkul dan mencium pipi Lan Giok saking girang dan terharunya.

"Kau baik sekali, adikku,"

Lalu ia berlari menjumpai para nikouw untuk berpamit.

Para nikouw mengantarkan mereka sampai di depan pintu kuil dan hampir semua nikouw mengucurkan air mata melihat Sian Hwa pergi meninggalkan mereka.

Mereka semua amat suka kepada dara yang manis budi itu dan bahkan telah menganggap Sian Hwa sebagai mustika dari kuil Sun pok thian.

Sekarang gadis itu pergi meninggalkan kuil dan mereka seakan akan merasa telah kehilangan sesuatu yang membuat wajah mereka muram dan hati mereka sunyi.

Hari telah menjadi gelap ketika Lan Giok dan Sian Hwa jalan berendeng menuju ke kotaraja.

Mereka kelihatan sebagai sepasang muda mudi yang amat elok dan cocok sekali.

Di sepanjang perjalanan, mereka bercakap cakap dengan gembira, seakan akan takkan ada habisnya yang mereka persoalkan.

"Lan Giok, jadi kau sudah bertunangan?"

Tanya Sian Hwa sambil tersenyum menggoda.

Memang sebetulnya Sian Hwa mempunyai watak yang gembira pula, hanya karena penderitaan batin saja yang membuat ia selama ini takkan pernah bergembira.

Lan Giok mencubit lengan kawannya.

"Kau mulai menggodaku?"

"Tidak, adikku. Sebagai seorang sahabat baik. Bukankah sudah selayaknya kalau aku mengetahui calon suamimu? Siapakah dia, ataukah.... kau hendak merahasiakannya dari aku?"

"Mengapa merahasiakan? Aku tidak takut kau akan merebutnya!"

Lan Giok balas menggoda.

"Hush, anak nakal. Kau kira aku orang macam apa? Ah, tunanganmu itu tentu seorang yang tampan dan gagah, ini sudah pasti!"

"Coba kau terka, enci, siapa tunanganku itu?"

Sian Hwa yang sudah menjadi gembira betul setelah berada di dekat Lan Giok, mengerutkan kening dan berpikir pikir.

"Hm, nanti dulu.... tentu dia seorang pemuda ahli silat! Ah, tentu putera seorang guru silat yang kenamaan!"

Lan Giok tersenyum.

"Guru silat? Ah, aku tidak suka akan guru guru silat yang makan bayaran, enci. Bukan, bukan seorang putera guru silat."

"Kalau begitu, tentu putera seorang panglima besar!"

"Panglima seperti Pat jiu Giam ong? Ha, ha, sedangkan kau sendiri tidak sudi dipungut menantu oleh seorang panglima besar dan panglima besar manakah yang lebih tinggi kedudukannya daripada Pat jiu Giam ong! Bukan, bukan!"

"Tentu putera Seorang tokoh kang ouw yang tinggi ilmu kepandaiannya! Mungkin anak murid Kun lun pai atau Bu tong pai!"

"Bukan, bukan! Dia bukan anak murid dari partai persilatan manapun juga."

"Hm, kalau begitu sukar aku menebaknya. Kecuali kalau tunanganmu itu seorang ahli sastera, seorang pelajar yang pandai membuat sajak dari menulis huruf kembang!"

Diam diam Sia Hwa teringat akan Bun Sam yang pada pertemuan pertama kalinya dengan dia, telah membuat sajak perang yang menyeramkan! Memikirkan kelucuan pertemuan pertama kali itu, ia tertawa sendiri.

"Kau takkan berhasil menebaknya, enci. Akan tetapi pertanyaanmu yang terakhir ini ada betulnya."

"Jadi dia seorang ahli sastera yang lemah lembut?"

"Bukan!"

"Ah, sudahlah, aku tak sanggup menerkanya, adik Lan Giok. Sekarang katakan saja, di mana dia? Apakah dia berada di tempat jauh?"

"Mau dikatakan jauh, ia jauh sekali. Disebut dekat.... ia memang dekat karena ia boleh di bilang suhengku sendiri."

"Ah......... dia suhengmu sendiri? Murid Mo bin Sin kun?"

"Bukan pula,"

Lan Giok menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Enci, kepada orang lain, biar mati aku takkan mau mengatakan hal ini. Akan tetapi entah mengapa, kepadamu aku takkan menyimpan rahasia. Orang yang disebut tunanganku itu sebenarnya memang sukar sekali kuanggap tunanganku. Ketahuilah bahwa biarpun dia itu sudah direncanakan untuk berjodoh denganku, akan tetapi dia sendiri belum tahu akan hal ini dan...... dan telah bertahun tahun dia menghilang tidak ada yang mengetahui ke mana perginya. Bahkan sampai sekarangpun, aku tidak tahu dia berada di mana. Oleh karena dia sendiri belum tahu tentang rencana perjodohan ini, mana bisa dia disebut tunanganku?"

Melihat wajah dara yang biasanya jenaka itu menjadi muram, Sian Hwa lalu memeluknya dan menghiburnya.

"Lan Giok, biarpun ia belum tahu, akan tetapi aku merasa yakin bahwa kalau ia sudah diberi tahu, ia tentu akan menyatakan setuju. Pemuda manakah yang akan dapat menolak seorang calon isteri seperti engkau?"

Timbul pula kegembiraan Lan Giok dan kembali ia mencubit lengan Sian Hwa ketika mendengar godaan ini.

"Ah kau bisa saja, enci. Akan tetapi, terus terang saja, agaknya sukar bagiku untuk menemukan seorang pemuda yang melebihi dia!"

"Kan cinta sekali kepadanya, bukan?"

Merahlah wajah Lan Giok, akan tetapi terhadap Sian Hwa, ia tidak begitu malu malu dan sungkan untuk mengaku.

Ia menganggukkan kepala nya, lalu tertawa dan berlari lagi melanjutkan perjalanannya.

Diam diam Sian Hwa ikut berbahagia melihat kegembiraan gadis ini.

Ah, dia beruntung sekali, pikirnya.

Memang berbahagia sekali ditunangkan dengan seorang pemuda yang menjadi pilihan hati.

Tidak seperti dia, ditunangkan dengan paksa kepada seorang pemuda yang tidak dicintainya!

"Eh, mengapa kau belum memberitahukan mana tunanganmu itu kepadaku, adik Lan Giok?

Siapa tahu kalau kalau aku sudah kenal dengan dia dan dapat memberitahukan kepadamu di mana dia berada pada waktu ini?"

Tanya Sian Hwa sambil berlari di samping Lan Giok.

Murid Mo bin Sin kun ini sengaja memperlambat larinya, karena ilmu lari cepatnya memang sudah lebih tinggi daripada kepandaian Sian Hwa yang tidak melanjutkan pelajaran silatnya pada Pat jiu Giam ong.

"Namanya? Namanya Bun Sam, dia adalah murid dari Kim Kong Taisu."

Jawab Lan Giok.

Sian Hwa merasa seakan akan kepalanya disambar petir.

Pandangan matanya berkunang kunang dan ia terhuyung huyung ke depan, tak dapat menguasai kedua kaki lagi.

Baiknya Lan Giok berlaku cepat dan bermata awas.

Dengan cepat sekali dara ini lalu menyambar tangan Sian Hwa, sehingga dapat mencegah kawannya itu roboh.

"Enci Sian Hwa, kenapakah kau?"

Tanyanya penuh kekhawatiran.

Karena betotan tangan Lan Giok dan seruan gadis init Sian Hwa dapat sadar kembali dan cepat ia menekan gelora yang membadai di dalam dadanya, ia menggigit bibir untuk mencegah runtuhnya air matanya.

"Aku....aku.... kurang hati hati, tergelincir batu licin, Lan Giok. Lepaskanlah, sebentar saja aku akan dapat menguasai kepeninganku kembali. Kau tahu..... semenjak kutinggal di kuil, kadang kadang datang kepeningan seperti ini....."

Ia lalu pergi duduk di bawah sebatang pohon, menyandarkan punggungnya pada batang itu dan memeramkan matanya, Lan Giok cepat menghampirinya dan jari jari tangan yang haluskan dara ini mengurut urut leher Sian Hwa dengan hati kasihan.

Baiknya udara telah menjadi gelap, kalau tidak tentu Lan Giok akan melihat betapa pucatnya wajah Sian Hwa dan betapa dengan hati hati sekali Sian Hwa menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyapu bersih dua titik air mata dari pipinya.

Tiba tiba Sian Hwa tersenyum dan memeluk Lan Giok.

"Maafkan aku adik Lan Giok. Aku mengagetkan kau saja Mari kita lanjutkan perjalanan kita."

"Kau benar benar tidak apa apa, enci Sian Hwa ? Tidak sakitkah badanmu? Kalau kau masih pusing, biar kita menunda saja perjalanan kita."

Sian Hwa memaksa dirinya tertawa.

"Tidak, adikku yang baik. Aku tidak apa apa. Sudah ku katakan bahwa kadang kadang memang datang serangan kepala pening seperti ini. Mari kita melanjutkan perjalanan kita."

Setelah mendapat kenyataan bahwa Sian Hwa benar benar tidak apa apa Lan Giok menjadi lega dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Karena merasa tidak enak kalau diam saja, sehingga mungkin mendatangkan kecurigaan pada Lan Giok, Sian Hwa lalu berkata sambil tersenyum.

"Eh, adik Lan Giok, tadi aku sampai tidak mendengar keteranganmu. Bukankah aku tadi bertanya siapa nama tunanganmu dan aku tidak keburu mendengar jawabanmu karena aku keburu diserang kepeningan kepalaku."

Tadinya memang Lan Giok sedang berpikir pikir dengan hati curiga dan tidak enak.

Tadi ia memberitahukan nama tunangannya dan tiba tiba Sian Hwa terhuyung huyung.

Apakah hubungannya nama tunangannya dengan kepeningan kepala Sian Hwa?

Akan tetapi, kecerdikan Sian Hwa yang mengajukan pertanyaan itu sekaligus mengusir kecurigaannya dan iapun tersenyum ketika menjawab.

"Tadi aku sudah menjawab, enci Sian Hwa, akan tetapi agaknya kau tidak mendengarnya. Namanya Bun Sam murid Kim Kong Taisu dan kau juga pernah melihatnya ketika ia dahulu menghadapi bekas gurumu."

"Oh, dia....?"

Sian Hwa mengangguk angguk.."Ya, aku sudah melihatnya. Menurut pendapatku, memang dia cocok sekali menjadi jodohmu."

Demikianlah, dengan amat pandainya, Sian Hwa membersihkan diri daripada kecurigaan Lan Giok dan perjalanan dilanjutkan dengan cepat.

Baiknya pintu gerbang kota raja sebelah barat masih terbuka dan nampak sunyi saja Akan tetapi alangkah kaget mereka ketika baru saja mereka masuk, dua sosok bayangan orang melompat dari balik pintu gerbang dan serta merta menubruk mereka!

Tubrukan ini hebat sekali.

Lan Giok yang lebih lihat cepat menggerakkan kedua tangannya menyampok bayangan itu dari kiri ke kanan, kedua lengannya beradu dengan lengan yang amat kuat, sehingga ia terhuyung dua tindak ke belakang.

Akan tetapi bayangan yang menubruknya juga gagal dalam usahanya hendak menangkap gadis ini.

Adapun Sian Hwa yang juga bermata jeli, tidak melihat lain jalan menghadapi tubrukan bayangan ke dua.

Cepat gadis ini lalu menggunakan gerakan Trenggiling Turun Dari Gunung, menjatuhkan diri ke belakang lalu menggulingkan dirinya sampai dua tombak jauhnya.

Biarpun rambutnya menjadi awut awutan dan pakaiannya menjadi kotor, namun Sian Hwa dapat menghindarkan diri dari orang itu.

Ketika kedua orang dara perkasa ini memandang, bukan main marah hati mereka karena ternyata bahwa yang berdiri di hadapan mereka adalah Gan Kui To dan Liem Swee!

Tadi Kui To yang menyerang Lan Giok dan Liem Swee menubruk Sian Hwa.

"Kau....orang ahe Liem, tidak malukah kau melakukan hal serendah ini?"

Sian Hwa membentak marah.

"Anjing sipit pemakan ular!"

Lan Giok memaki sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah hidung Kui To.

"Apa kau sudai bosan hidup?"

Liem Swee dan Kui To saling pandang sambil tertawa menyeringai, kemudian tanpa menjawab sesuatu mereka berdua lalu menubruk lagi.

Kui To menyerang Lan Giok, sedangkan Liem Swee mendesak bekas sumoi dan tunangannya itu.

Sian Hwa dan Lan Giok tentu saja menjadi makin marah dan mereka melawan mati matian.

Pertempuran yang terjadi antara Lan Giok dan Kui To benar benar seru dan hebat sekali.

Kepandaian mereka setingkat dan biarpun Kui To telah mempunyai banyak sekali akal akal keji dan tipu tipu yang aneh di dalam pertempuran, namun karena Lan Giok memiliki ginkang yang luar biasa, sehingga tubuhnya demikian ringan seakan akan seekor burung walet yang terbang menyambar nyambar luar biasa gesitnya, maka sukarlah bagi Kui To untuk mengalahkan gadis ini.

Apalagi ia telah tergila gila kepada Lan Giok, maka ia tidak tega untuk mempergunakan tipu keji yang kiranya berbahaya bagi nyawa gadis yang dirindukaanya itu.

Sebaliknya, menghadapi Kui To, Lan Giok mendapatkan lawan yang setimpal.

Gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan segala kepandaiannya dan karena nafsunya yang membuatnya nekat dan mati matian inilah yang membuat Kui To mulai terdesak mundur!

Hal ini tidak aneh, Kui To menyerang dengan maksud menangkap Lan Giok dan mengalahkannya tanpa melukai berat gadis itu, sebaliknya Lan Giok menyerang dengan maksud membunuh pemuda yang dibencinya ini.

Tentu saja keadaan yang berat sebelah ini menguntungkan Lan Giok.

Tidak demikian dengan keadaan Sian Hwa yang bertempur melawan Liem Swee.

Dulu sebelum ia meninggalkan rumahnya dan masih belajar ilmu Silat bersama Liem Swee di bawah asuhan Pat jiu Giam ong memang terlihat kepandaiannya, yakni karena ia lebih menang dalam hal ginkang, boleh dikata lebih tinggi dan lebih lihai daripada Liem Swee.

Akan tetapi, selama tiga tahun ia tidak mendapat tambahan pelajaran, sedangkan Liem Swee bahkan digembleng dengan sungguh sungguh oleh ayahnya, maka kini kepandaian Liem Swee tentu saja lebih tinggi.

Sian Hwa mempergunakan pedangnya dan menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan tipu tipu serangan pedang yang paling lihai.

Akan tetapi, tentu saja semua setangannya ini dikenal dengan baik oleh Liem Swee yang melayaninya dengan kim siang to (Sepasang golok emas) senjata yang amat diandalkannya.

Juga seperti Kui To, Liem Swee tidak mau melukai Sian Hwa yang hendak ditangkapnya hidup hidup.

Kalau ia bermaksud membunuh, kiranya belum sampai limapuluh jurus saja tentu Sian Hwa sudah roboh binasa.

Apalagi Liem Swee selalu menyindir nyindirnya dan memperingatkannya tentang pedang yang dipegang oleh gadis itu.

"Sian Hwa, kekasihku yang manis, ternyata kau masih menaruh perhatian kepadaku. Kau masih belum lupa kepadaku, buktinya pedang Oei giok kiam tanda pertunangan kita masih kau simpan baik baik. Ah, tunanganku, mengapa kau tidak mau menurut saja? Marilah kita menghadap ayah ibuku...."

Sian Hwa menjadi sebal dan mendongkol sekali ia menyimpan pedang Oei giok kiam bukan sekali kali karena masih mengingat pertalian jodoh itu, hanya karena pedang itu adalah sebuah pedang mustika yang baik sekali dan ia memang membutuhkan senjata untuk menjaga diri, maka ia masih menyimpannya.

Kini diejek dan disindir sindir oleh bekas suhengnya, ia menggigit bibirnya dan menyerang lebih hebat lagi.

Adapun pertempuran antara Lan Giok dan Kui To masih berjalan dengan bebatnya.

Sekarang bahkan lebih ramai lagi karena masing masing telah mengeluarkan senjata.

Tadinya kedua fihak mengandalkan kaki tangan saja karena memang keduanya ahli ilmu silat tangan kosong.

Tetapi ketika Lan Giok yang menjadi marah dan gemas karena belum juga dapat merobohkan lawan segera mengeluarkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu hwat yang bukan main hebatnya, Kui To menjadi sibuk juga.

Harus diketahui bahwa ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu hwat ini adalah semacam ilmu pukulan yang Istimewa dan Lan Giok sekarang telah melatihnya dengan sempurna, maka pukulannya mendatangkan angin yang berputar putar, sehingga amat sukar diduga dari mana kepalan tangan dara perkasa itu akan menyerang.

Pukulan biasa biarpun dihadapi oleh ahli silat tinggi dengan kedua mata ditutup, akan dapat dielak atau ditangkis hanya dengan mendengar dan merasakan datangnya angin pukulannya terlebih dulu.

Akan tetapi tidak demikian dengan Soan hong pek lek jiu hwat.

Ilmu pukulan ini mendatangkan angin yang berputar dan kepalan tangannya sendiri mendatangi dengan tiba tiba dan cepat bagaikan halilintar menyambar dan ditujukan di tempat yang sama sekali tak disangka sangka oleh lawannya.

Menghadapi ilmu pukulan yang terlihai dari Mo bin Sin kun yang kini dimainkan oleh Lan Giok, Kui To benar benar terdesak hebat dan terpaksa ia memainkan ilmu silat Tee coa kun (Ilmu Silat Ular) Ilmu silat ini oleh golongan ahli silat tinggi dipandang rendah dan tak seorangpun bu hiap (pendekar silat) sudi mempelajarinya karena sifat sifatnya yang amat rendah, ilmu silat ini sebagaimana dapat diduga dari namanya, dimainkan dengan tubuh menempel di atas tanah, seperti seekor ular dan kadang kadang merangkak rangkak seperti binatang kaki empat.

Akan tetapi di dalam setiap gerakan ini, tersembunyi serangan serangan yang sifatnya amat curang.

Memang untuk menghadapi Soan hong pek lek jiu hwat, ilmu Silat Tee coa kun ini tepat sekali.

Tubuh Kui To seakan akan bertiarap dan pukulan yang dilancarkan oleh Lan Giok tidak tepat lagi.

Angin pukulan yang tadinya berputar putar, kini menghadapi tubuh lawan di bawah, maka selalu terpental kembali kalau mengenai tanah, sehingga debu berhamburan.

Sebaliknya Kui To melakukan cengkeraman dan tangkapan dari bawah yang ditujukan kepada kedua kaki Lan Giok, sehingga gadis ini merasa jijik dan ngeri sekali.

Kalau kakinya sampai terpegang, alangkah malu dan jijiknya, pikirnya.

Oleh karena itu maka Lan Giok tiba tiba mengeluarkan senjatanya yang disebut Gin sam Kim ciam yakni sepasang senjata yang amat berlainan macamnya.

Di tangan kirinya memegang sebatang kipas lebar yang gagangnya terbuat daripada perak dan ujung gagang itu runcing.

Tangan kanannya memegang sebatang jarum panjang kira kira dua dim dan besarnya sebesar jari tangan.

Ketika Mo bin Sin kun memperlihatkan berbagai senjata aneh untuk dipelajari, Lan Giok sengaja memilih senjata senjata ini, karena selain mudah disimpan, juga dianggapnya praktis!

Kini Lan Giok mengebaskan kipasnya ke bawah.

Debu mengebut bagaikan ditiup dan mengebutnya bukan sembarangan saja, melainkan tepat meniup ke arah muka Kui To.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat melompat berdiri, akan tetapi Kim ciam atau jarum emas yang berada di tangan kanan Lan Giok menyambutnya dengan sebuah totokan kuat ke arah jalan darah di lehernya.

Kembali Kui To terpaksa merebahkan diri dan sekali lagi disusul oleh kebutan kipas.

Inilah ilmu serangan yang disebut Hok thian hok tee (Membalikkan Bumi dan Langit).

Gan Kui To benar benar sibuk sekali sehingga serangan bertubi tubi yang susul menyusul dari atas dan bawah itu membuat ia berjungkir balik dan berputar putaran.

Akhirnya Kui To tak dapat menahan, sambil mengeluarkan suara seperti seekor binatang buas terluka ia lalu mencabut senjatanya, yakni sebatang tongkat kecil berwarna hitam yang tadinya diselipkan di belakang baju bagian punggungnya.

Kiai pertempuran menjadi lebih sengit lagi dan tongkat kecil di tangan Kui To itu sungguh hebat, gerakan gerakannya seperti ekor ular hidup yang sukar sekali diduga.

Biarpun kipas dan jarum Lan Giok cukup lihai, namun ternyata kedua senjata ini tidak dapat menembus cahaya kehitaman dari tongkat itu, sebaliknya tongkat Kui To mendesak dengan hebat.

Betapapun juga, Lan Giok benar benar boleh dipuji karena dara ini sama sekali tak gentar menghadapi lawannya dan sekiranya tidak terjadi sesuatu, dalam dua ratus jurus saja belum tentu Kui To akan dapat mengalahkannya.

Sudah dua kali Kui To menggertak disertai tenaga batin yang bedasarkan hoatsut (ilmu sihir), akan tetapi Mo bin Sin kun yang sudah menjaga akan hal ini, telah memberi latihan lweekang dan ilmu batin yang cukup kuat kepada Lan Giok, sehingga hal itu tidak berpengaruh sesuatu terhadap dara ini.

Akan tetapi, tiba tiba tedengar Sian Hwa menjerit marah ketika pedang gadis ini terpukul jatuh oleh golok Liem Swee dan diikuti oleh suara ketawa pemuda she Liem ini, Sian Hwa dapat di ringkus dan di totok jalan darah nya yang membuat gadis ini menjadi lemas tak berdaya lagi.

Mendengar jeritan Sian Hwa, Lan Giok menengok dan gadis ini menjadi marah, terkejut dan juga khawatir sekali.

Liem Swee telah meninggalkan Sian Hwa yang rebah tak bergerak di atas tanah, kemudian putera Pat jiu Giam ong ini membantu Kui To mengeroyok Lan Giok.

Ilmu kepandaian Liem Swee hanya kalah sedikit saja oleh Kui To dan boleh dibilang berimbang dengan kepandaian Lan Giok, maka tentu saja kini Lan Giok menjadi sibuk sekali.

Ia melawan mati matian, akan tetapi tetap saja ia terkurung oleh sepasang golak Liem Swee dan terancam oleh tongkat di tangan Kui To.

Baiknya kedua orang pemuda itu tidak ingin membunuhnya, maka ia masih dapat bertahan.

Namun percuma saja Lan Giok melawan mati matian.

Akhirnya, sepasang golok Liem Swee menahan kipas dan jarumnya dan pada saat ia mengadu tenaga dengan putera Pat jiu Giam ong itu, tanpa dapat ia elakkan lagi ujung tongkat Kui To telah berhasil menotok jalan darah di punggung nya.

Terlepaslah kedua senjata itu dari tangan Lan Giok dan gadis ini terhuyung huyung, ia cepat mengerahkan lweekangnya untuk membebaskan diri nya dari pengaruh totokan, namun Kui To telah mengejarnya dengan lain totokon yang lebih lihai.

Baiknya Lan Giok teringat akan kakaknya, maka sebelum ia roboh oleh totokan kedua, ia masih sempat mengeluarkan jeritan yang nyaring sekali seperti suara ayam hutan, yakni tanda bahaya bagi Thian Giok.

Liem Swee dan Kui To girang bukan main setelah berhasil merobohkan dua orang dara perkasa yang cantik jelita dan yang mereka rindukan itu.

"Kita harus ikat mereka, kalau tidak totokan itu takkan dapat bertahan lama bagi mereka yang telah memiliki lweekang tinggi,"

Kata Kui To.

Maka kedua gadis itu lalu diikat erat erat dengan tali sutera hitam yang dikeluarkan oleh Kui To dari saku bajunya.

Kemudian sambil tertawa tawa kedua pemuda itu memondong tubuh gadis pujaan masing masing dan pergi dari situ setelah memesan kepada para penjaga pintu gerbang supaya berjaga dengan hati hati.

Para penjaga itu tentu saja kenal baik kepada kedua pemuda ini, maka mereka hanya tersenyum simpul dan saling betkejap dengan sinar mata penuh arti.

Thian Giok sedang memikirkan ke mana perginya Lan Giok sehingga tidak terlihat di dekat pintu gerbang sebelah selatan sebagaimana yang mereka janjikan, ia merasa amat cemas dan menanati di tempat gelap.

Tiba tiba ia mendengar pekik ayam hutan itu dan terkejutlah pemuda ini.

Cepat ia menghampiri arah suara itu terdengar dan sambil bersembunyi sembunyi di dalam gelap, ia melihat dua sosok bayangan orang yang memanggul tumbuh seorang wanita dan seorang pemuda yang sebagai adiknya, Lan Giok yang berpakaian laki laki, maka bukan main cemasnya.

Apalagi ketika ia mengenal dua orang laki laki yang memanggul dua orang gadis itu.

Thian Giok adalah seorang pemuda yang cerdik, ia tidak mau main serampangan saja.

Ia maklum bahwa kalau ia menggunakan kekerasan, belum tentu ia akan dapat menang menghadapi dua orang pemuda murid Lam hai Lo mo dan Pat jiu Giam ong, sedangkan untuk menghadapi satu lawan saja belum tentu ia dapat menang.

Maka diam diam ia mengikuti dua orang yang membawa lari adiknya dan seorang gadis yang sampai saat itu belum dikenalnya siapa adanya itu, oleh karena malam gelap dan Liem Swee serta Kui To berjalan cepat sekali.

Ternyata bahwa Kui To dan Liem Swee membawa dua orang gadis tawanan mereka itu ke sebuah rumah kecil mungil yang berada di jalan yang sunyi, yakni rumah pribadi dari Liem Swee yang dijadikan tempat ia bersenang senang di luar gedung ayahnya.

Rumah ini hanya terjaga oleh seorang kepercayaannya dan ketika kedua orang pemuda ini masuk membawa dua orang nona itu, penjaga yang sudah tua ini tersenyum menyeringai.

Hal seperti ini tidak aneh baginya, karena memang ia mengenal Liem Swee sebagai seorang pemuda hidung belang, akan tetapi yang royal sekali dalam membagi hadiah hadiah, juga kepadanya.

Dengan ginkangnya yang sudah tinggi, Thian Giok dapat meialui penjaga tua itu dan mengintai dari atas genteng, ia hendak mencari kesempatan baik untuk menolong adiknya dan nona berbaju putih itu.

Dilihatnya Liem Swee dan Kui To duduk menghadapi meja sambil minum arak, memberi selamat kepada mereka sendiri yang sudah berhasil menawan nona nona yang mereka rindukan itu.

"Ha, ha sekarang kau dapat minta kepada ayahmu untuk merayakan pernikahanmu dengan kekasihmu, Liem sute!"

Kata Kui To.

Liem Swee adalah putera dan dari murid Pat jiu Giam ong yang menjadi susioknya (paman gurunya) karena Pat jiu Giam ong adalah sute (adik seperguruan) dari suhunya, yakni Lam hai Lo mo, oleh karena itu Liem Swee masih terhitung adik seperguruannya.

Akan tetapi Liem Swee menggeleng gelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin, suheng. Kau tentu saja akan mendapat perkenan suhumu untuk segera merayakan pernikahanmu dengan nona murid Mo bin Sin kun itu, akan tetapi bagiku tak mungkin. Ayahku telah melarangku untuk melakukan sesuatu yang sifatnya bermusuhan atau mengganggu murid murid Mo bin Sin kun sebelum pertandingan pibu dilakukan. Ayah sangat keras dan menjaga nama, maka tentu saja ayah tidak akan suka memberi izin kepadaku untuk melakukan kekerasan. Baiknya diam diam kita sembunyikan saja kekasih kita itu di sini dan penawanan ini sama sekali jangan sampai diketahui oleh ayah atau oleh suhumu sekalipun. Aku tahu watak supek, ia takkan dapat menyimpan rahasia dan akhirnya tentu akan terdengar oleh ayah pula."

Kui To mengangguk angguk.

"Baik, baik, sute. Aku mengerti. Lebih baik lagi kita bersenang senang di sini diam diam saja, itu lebih menggembirakan. Ha, ha, ha! Terdengar tertawanya yang nyaring dan menyeramkan. Mendengar percakapan ini, Thian Giok cepat melompat pergi dari atas genteng.

"Liem sute seperti ada orang di atas!"

Teriak Kui Te dan tubuhnya cepat melayang keluar melalui jendela, disusul oleh Liem Swee.

Adapun Lan Giok dan Sian Hwa yang rebah di atas dipan dapat mendengar semua percakapan ini.

Mereka berdua tadi telah mengerahkan ilmu lweekang mereka dan berhasil membebaskan diri daripada pengaruh totokan akan tetapi betapapun mereka berdaya melepaskan ikatan kaki tangan mereka, sia sia saja.

Ikatan itu erat sekali dan tali pengikatnya terbuat daripada sutera yang terpilih dan memang khusus disediakan oleh Kui To.

Mereka tak berdaya sama sekali dan hanya diam diam mengambil keputusan untuk melawan mati matian kalau mereka dipermainkan.

Jilid XI SETELAH tiba di atas genteng, Liem Swee dan Kui To memandang ke sana ke mari akan tetapi tidak terlihat seorangpun di atas genteng.

Mereka melompat ke bawah dan mengadakan pemeriksaan disekitar rumah itu, akan tetapi tetap saja tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan.

"Aneh, apakah pendengaranku sudah rusak?"

Kui To bersungut sungut.

"Mungkin yang kau dengar tadi seekor kucing, Gan suheng,"

Kata Liem Swee.

"Biarpun seekor kucing, ke mana ia dapat menghilang?"

Kui To masih saja merasa tidak puas. Akhirnya mereka kembali pulang ke rumah itu melalui pintu depan.

"Celaka, benar benar ada orang jahat masuk!"

Tiba tiba Liem Swee berseru keras dan wajahnya berobah.

Kui To cepat menengok dan melihat penjaga rumah yang tua tadi kini telah meringkuk di pinggir pintu dalam keadaan kaku tertotok!

Kedua orang pemuda ini tidak memperdulikan penjaga itu, langsung menyerbu ke dalam rumah.

Ketika mereka melompat masuk ke dalam kamar di mana mereka tadi menahan Lan Giok dan Sian Hwa, ternyata bahwa kedua orang tawanan itu telah lenyap tak meninggalkan bekas!

Bahkan tali sutera pengikat kaki tangan kedua orang dara itupun lenyap bersama orang orangnya.

Terang buhwa penolong yang datang itu tentu membawa dua orang nona itu dalam keadaan masih terikat kaki tangannya!

Liem Swee, mengeluarkan suara makian kotor sedangkan Kui To lalu melompat keluar kamar kembali ia mengejar ke sana ke mari, akan tetapi tetap saja tidak terlihat sesuatu.

Ketika ia kembali ke rumah itu, Liem Swee sedang berusaha membebaskan penjaga rumah dari totokan, namun tidak berhasil.

Kui To menghampiri kakek itu dan setelah memeriksa, ia lalu mengangkat tubuh kakek yang kaku itu ke atas dan melemparkannya ke atas sampai tinggi.

Ketika tubuh itu melayang turun, ia lalu mengulurkan jari tangannya menotok ke arah punggung penjaga rumah itu yang segera menjerit dan mengaduh aduh, akan tetapi ia telah terlepas dari pengaruh totokan yang lihai.

"Hm, penyerangnya seorang yang ahli dalam ilmu Ki keng pat meh (Ilmu Membuka Pembuluh Darah), sehingga ia dapat menotok di balik jalan darah. Benar benar lihai!"

Katanya.

Ucapan ini belum seluruhnya menyatakan keheranan dan kekagumannya dan di dalam hatinya murid Lam hai Lo mo ini benar benar merasa kaget bukan main karena biarpun suhunya sendiri Ilmu Ki keng pat meh ini baru saja dipelajari dan belum sempurna sama sekali!

Apalagi dia!

Akan tetapi, orang yang menolong dan orang tawanan itu ternyata pandai mempergunakan totokan yang berdasarkan Ki keng pat meh, sungguh merupakan lawan yang bukan main tangguhnya!

Akan tetapi Liem Swee yang biarpun sudah mendengar tentang ilmu itu namun belum pernah dapat mempelajari, kurang memperhatikan ucapan Kui To dan cepat mengajukan pertanyaan kepada penjaga rumah itu mengapa dia telah meringkuk di atas tanah dalam keadaan tertotok.

"Ampun, siauw ya (tuan muda). Entah apa yang terjadi dengan diri hamba. Agaknya kurasa hamba lupa membakar hio, setan penjaga bumi telah marah kepada hamba dan menjatuhkan hukumannya !"

Kata kakek itu dengan tubuh menggigil dan muka pucat, nyata sekali ia tampak takut bukan main.

"Jangan mengoceh!"

Liem Swee membentak.

"Lekas ceritakan siapa orangnya yang menyerang mu!"

"Ampun, siauw ya. Hamba sungguh sungguh tidak tahu. Tiba tiba saja ketika hamba berdiri di sini sambil ikut bergembira memikirkan kesenangan jiwi (tuan berdua), tahu tahu tubuh hamba terasa kaku dan panas dingin, pendangan mata berkunang kunang dan selanjutnya hamba tidak tahu apa apa lagi."

Liem Swee mendongkol sekali, aku tetapi Kui To segera menariknya ke dalam rumah.

"Tak perlu marah, Liem sute. Masih baik orang itu tidak mengganggu kita."

"Kalau dia muncul, akan kuhancurkan kepala nya!"

Liem Swee berkata marah sambil mengepal tinjunya yang besar dan kuat. Kui To tersenyum. Tak perlu baginya untuk memamerkan dan memuji muji kepandaian lawan, maka ia berkata.

"Sudahlah, lebih baik kita mengaso dan besok pagi pagi kita mencari dua ekor burung elok yang terbang itu. Mengapa ribut ribut ?"

Seteluh berkata demikian, Kui To lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan dan sebentar saja terdengar dengkurnya yang keras!

Memang murid Lam hai Lo mo ini seorang yang berhati keras seperti baja dan tidak mudah menjadi gelisah, duka atau gembira, ia sama anehnya dengan suhunya yang di anggapnya sebagai orang paling aneh di antara Lima Besar !

Liem Swee duduk termenung, tak dapat tidur dan menjadi berduka sekali, ia telah tergila gila kepada Sian Hwa dan pertemuan yang terakhir dengan gadis itu memperdalam cinta kasihnya.

Di dalam pandangannya, tidak ada gadis yang lebih molek, lebih manis dan lebih menggiurkan hatinya daripada sumoinya itu!

Tak lama kemudian, tiba tiba pintu kamar diketok orang dan ketika ia membuka pintu itu, nampak penjaga rumah berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan.

Kiu To yang tadinya tidur mendengkur, mendengar ketokan itu, seketika melompat bangun dan bersiap sedia kalau kalau ada bahaya.

Liem Swee yang melihat penjaga tua itu menggigil dan berwajah pucat, mengira bahwa tentu penjahat tadi datang lagi.

"Di mana dia?"

Tanyanya sambil menyambar kim siang to (sepasang golok emas) yang tadi ia letakkan di atas meja.

"Dia siapa, siauw ya?"

"Eh, goblok! Penjahat itu, maling itu! Di mana dia?"

"Bukan maling yang datang, siauw ya melainkan Liem goanswe dan delapan orang lain. Goan swe ya minta supaya hamba cepat memanggil ji wi keluar."

Bukan main kagetnya hati Liem Swee mendengar ini.

Belum pernah ayahnya mengunjungi rumah pribadinya ini, sungguhpun ayahnya tahu akan hal itu.

Peristiwa hebat apakah yang terjadi, sehingga ayahnya pada saat seperti itu datang mengunjunginya?

Akan tetapi Kui To yang tabah dan tidak memperdulikan itu segera mengajaknya keluar dan di ruang depan telah menanti Liem goanswe dan delapan orang lain.

Tujuh orang kakek yang berdiri di situ dikenal baik oleh Kui To dan Liem Swee, karena mereka ini adalah tamu tamu Liem goanswe yang sudah sepekan datang di kota raja, yakni yang disebut Koai kauw jit him atau Tujuh Beruang Kaitan Aneh.

Mereka ini adalah jago jago Mongol yang berkepandaian tinggi dan mereka terkenal karena senjata mereka yang berupa kaitan kaitan, akan tetapi kaitan mereka ini benar benar aneh bentuknya.

Ketika Kui To dan Liem Swee melihat orang terakhir dalam rombongan ini hampir saja mereka mengeluarkan seruan kaget.

Dalam pandangan pertama, mereka mengenal "pemuda"

Yang baru datang ini sebagai Lan Giok yang tadi terlepas dari tawanan.

Akan tetapi ketika mereka memandang lebih teliti, tahulah mereka bahwa pemuda ini adalah kakak dari gadis yang tetak berhasil melarikan diri itu.

Teringatlah kedua orang muda ini bahwa yang datang bersama Pat jiu Giam ong adalah kakak kembar dari Lan Giok yang dulu pernah pula mengacau kota raja ketika pemuda itu membunuh Toa to Hek mo.

Akan tetapi, tetap saja Liem Swee dan Kui To terheran dan terkejut melihat Thian Giok dapat datang bersama Pat jiu Giam ong!

Bagaimana Thian Giok bis datang bersama Pat jiu Giam ong dan Koai kauw jit him?

Pemuda yang cerdik ini sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mendengar percakapan antara Liem Swee dan Kui To.

Ketika ia mendengar bahwa Pat jiu Giam ong melarang puteranya mengganggu murid murid Mo bin Sin kun daa Kim Kong Taisu, ia dengan berani sekali lalu berlari cepat menuju ke gedung Pat jiu Giam ong.

Tentu saja Liem goanswe terheran heran melihat kedatangan pemuda murid Mo bin Sin kun ini malam malam di rumahnya, akan tetapi setelah mendengar dari Thian Giok bahwa puteranya dan Kui To menawan Sian Hwa dan Lan Giok jenderal ini marah sekali, lalu bersama Thian Giok menuju menuju ke rumah itu.

Koai kauw jit him yang pada malam hari itu sedang minum arak dengan dia, ikut pula bersama karena orang aneh inipun merasa tertarik untuk melihat murid murid dari tokoh tokoh besar itu.

Kini Pat jiu Giam ong berdiri dengan tegak, sepasang matanya memandang kepada puteranya dengan marah.

Memang jenderal ini bertabuh tinggi besar dan menakutkan, sehingga puteranya sendiri merasa gelisah melihat kemarahan ayahnya.

"Swee ji! Benarkah kau telah menawan Sian Hwa dan seorang murid dari Mo bin Sin kun ? Di mana mereka!! Ayoh ceritakan apa yang telah terjadi!"

Saking takutnya, Liem Swee tak dapat menjawab dan beberapa kali lidahnya menjilat bibit yang terasa kering.

Akan tetapi tidak demikian dengan Kui To.

Pemuda aneh ini memiliki ketabahan luar biasa dan sia sia saja ia menjadi murid Lam hai Lo mo kalau ia tidak memiliki kecerdikan yang luar biasa.

Ia dapat menetapkan hatinya dan tiba tiba ia tertawa.

"Sungguh lucu, sungguh lucu! Susiok kena dibohongi oleh seorang murid dari Mo bin Sin kun, sehingga kini menuduh putera sendiri. Benar benar lemas sekali lidah murid Mo bin Sin kun. Ha, ha, ha!"

Pat jiu Giam ong mengerutkan keningnya.

"Kui To, aku tidak main main! Pemuda ini datang kepadaku melaporkan bahwa kau dan Swee ji telah menawan kedua orang gadis itu dan hendak mempermainkannya. Kalau betul betul terjadi hal seperti itu, aku tidak suka membiarkannya saja!"

"Susiok, sebelum menjatuhkan kemarahan kepada teecu berdua mengapa tidak memeriksa lebih dulu apakah kata kata yang keluar dari mulut pemuda ini benar benar terjadi?"

Kata Kui To pula sambil melirik ke arah Thian Giok.

"Ular kecil! Kaukira aku hanya membohong saja? Aku tadi telah menyaksikan sendiri ketika aku mengintai dari atas genteng dan kalian berdua minum arak di dalam kamar. Ayoh kau bebaskan adikku dan nona itu!"

"Pengecut tukang mengintai rumah orang!"

Kui To balas memaki.

"Tak perlu banyak mulut, lebih baik kau buktikan saja omonganmu tadi!"

Pat jiu Giam ong menjadi ragu ragu. Dan kini ia memandang kepada Thian Giok.

"Orang muda, kau boleh memeriksa dalam rumah ini dan coba kaubuktikan laporanmu tadi!"

Thian Giok menjadi berdebar hatinya.

Ia lalu mengangguk dan memasuki rumah itu.

Akan tetapi sedikitpun tidak ada tanda tanda bahwa kedua orang gadis itu disembunyikan di dalam rumah ini.

Ia keluar lagi dan mukanya menjadi merah karena marah dan juga malu.

"Tentu mereka telah disembunyikan di lain tempat,"

Katanya. Kui To tertawa sinis.

"Nah susiok, apa kataku? Pemuda ini adalah seorang pengecut besar yang membohong kepadamu."

"Kaulah yang pengecut!"

Thian Giok balas memaki.

"Aku pengecut? Hah, rasakan pukulan ini!"

Kui To cepat menyerang.

Thian Giok mengelak cepat sambil mengeluarkan senjatanya yang istimewa yakni sebatang cambuk atau joan pian (ruyuag lemas) yang terbuat daripada batu putih dan disebut Pek giok joan pian.

Pat jiu Giam ong melangkah maju.

"Tidak boleh bertempur sekarang. Akan datang saatnya kita mengadu tenaga dalam sebuah pibu yang adil."

"Susiok, lepaskan saja, aku tidak takut. Anak bermulut lancang ini pasti akan remuk kepalanya di bawah gebukan tongkatku,"

Kata Kui To.

"Akupun tidak takut. Boleh kau maju bersama kawan kawanmu !"

Kata Thian Giok gagah.

"Jangan Kui To. Tahan senjatamu. Aku percaya kau akan menang, akan tetapi kalau orang lain mengetahui, bukankah kematian murid Mo bin Sin kun di tempat ini akan disiarkan bahwa dia kami keroyok? Tidak, tidak boleh! Kau pergilah, orang muda. Dan aku tidak mengerti mengapa kau membohong. Akan tetapi, tunggu saja, gurumu tentu kelak akan mendengar tentang kebohonganmu ini."

"Nanti dulu, Liem goanswe!"

Tiba tiba orang termuda dari Koai kauw jit him yang bernama Biauw Kai, melangkah maju.

"Pemuda ini adalah murid dari Mo bin Sin kun yang terkenal dan senjata yang dipergunakan adalah sebuah joan pian yang bagus. Tentu kepandaiannya sudah baik juga. Dia telah membohong dan mengganggu kita minum arak, maka tidak baik dibiarkan begitu saja. Biarlah aku bermain main sebentar dengan dia untuk mencoba kepandaian murid Mo bin Sin kun dan juga untuk memberi hajaran karena kelancangan mulutnya!"

Pat jiu Giam ong berpikir bahwa kalau seorang dari Koai kauw jit him yang maju boleh saja asal pemuda ini jangan dibunuh.

Ia memandang kepada Biauw Kai yang agaknya dapat menduga maksudnya, maka orang termuda dari Koai kauw jit him yang usianya sudah empatpuluh lima tahun itu berkata.

"Jangan khawatir, Liem goanswe, aku takkan mengganggu kulit dagingnya! Asalkan ia mau meninggalkan joan piannya itu sebagai tanda kalah terhadap aku, aku akan merasa puas!"

Ejek Biauw Kai yang memang sombong wataknya itu.

Sementara itu, dengan hati mendongkol sekali Thian Giok menanti dengan senjata di tangan.

Ia merasa serba salah, ia berada di lingkungan fihak lawan dan karena laporannya tadi benar benar tidak ada buktinya maka ia merasa dipermainkan dan dihina.

Kini ia melihat ada orang hendak mempermainkannya dan memandang rendah tentu saja ia bersedia untuk berkelahi mati matian!

Setelah mendapat persetujuan Pat jiu Giam ong, Biauw Kai lalu mengeluarkan senjatanya yakni sepasang kaitan berbentuk cakar dan yang disebut Him jiauw kauw ( Kaitan Cakar Beruang).

Dengan sikapnya yang angkuh, ia lalu bertindak maju menghadapi Thian Giok yang telah mempersiapkan Pek giok joan pian di tangannya.

Sementara itu, fajar telah mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi.

"Orang muda,"

Kata Biauw Kai dengan senyum menyeringai pada wajahnya yang sudah keriput dan berkuit hitam.

"agar kau tidak menjadi penasaran oleh siapa kau dikalahkan, baik kuterangkan bahwa kau berhadapan dengan orang ke tujuh gari Koai kauw jit him Nah, kau bersiaplah orang muda."

Setelah berkata, Biauw Kai lalu menyerang dengan siang kauw (sepasang kaitan) di tangannya itu.

Gerakannya cepat dan mantap dan serangan sepasang Him jiauw kauw itu merupakan serangan menggunting dari kanan kiri, Thian Giok memang sudah bersiap dan melihat cara serangan ini, ia maklum bahwa lawannya memiliki kepandaian yang tinggi, maka ia berlaku hati hati dan cepat Pek giok joan pian di tangannya digerakkan bagaikan ulat menyambar ke kanan kiri dan terdengar bunyi keras ketika joan pian nya berhasil menangkis sepasang kaitan lawan.

Dalam benturan senjata ini, baik Thian Giok yang muda maupun Bauw Kai yang tua maklum bahwa tenaga lawan masing masing benar benar besar dan berimbang dengan tenaga sendiri.

Hal ini mengejutkan Biauw Kai karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang yang masih demikian muda telah memiliki tenaga lweekang yang hebat.

Sebaliknya, diam diam Thian Giok mengeluh karena buru orang ke tujuh dan Koai kauw jit him yang terkenal itu sudah begini tangguh, apalagi orang ke enam.

Sungguh fihak lawan telah mengumpulkan orang orang yang tangguh.

Biauw Kai melanjut kau serangannya dan kini sepasang kaitannya tidak digerakkan dengan maksud beraksi lagi, melainkan menyerangnya dengan sungguh sungguh.

Namun benar benar kecele kalau tadinya hendak menyombongkan kepandaiannya.

Tadi ia telah bersumbar untuk merampas joan pian pemuda ini yang terbuat daripada batu giok disambung sambung dengan kawat baja seperti rantai.

Kini ternyata bahwa jangankan merampas joan pian itu, bahkan mendesak sajapun ia tak dapat!

Thian Giok bertempur dengan mati matian karena pemuda ini maklum bahwa apabila ia kalah dalam pertempuran ini pasti ia akan menjadi bahan ejekan dan hinaan.

Pada saat itu, menyambar angin besar dari selatan dan terdengar suara gelak tertawa.

Karena angin itu menyambar ke arah mereka yang sedang bertempur dan suara ketawa itu menyakitkan telinga tanpa terasa lagi Thian Giok dan Biauw Kai melompat mundur, menahan senjata masing masing dan memandang ke selatan.

Begitu pun semua orang yang berada di situ, kecuali Pat jiu Giam ong.

Tiba tiba muncullah seorang hwesio tinggi gemuk dan berkulit hitam, lengan dan dadanya yang terbuka itu penuh bulu, ia benar benar merupakan seorang manusia raksasa yang menakutkan.

Kepalanya yang gundul ditutup dengan sebuah topi segi empat berwarna hitam, jubahnya yang lebar itupun berwarna hitam sama sekali kecuali pinggirnya yang direnda dengan benang emas.

Tangan kirinya memegang sebuah hudtim (kebutan) dan tangan kanannya menegang sebatang tongkat yang sama tingginya dengan dia sendiri, sebatang tongkat yang berwarna kuning seperti emas dan kepalanya diukir seperti kepala naga.

Inilah dia tokoh besar yang menggemparkan di daerah Tibet yang berjuluk Sam thouw hud atau Sang Buddha Kepala Tiga!

Kebutan di tangan kirinya itu bukan sembarang kebutan, melainkan sebuah senjata yang amat lihai.

Sedangkan tongkat di tangan kanannya disebut Kim liong pang (Tongkat Naga Emas), sesungguhnya terbuat daripada baja yang berat sekati dan berlapiskan emas di luarnya.

Sam thouw hud ini asalnya adalah seorang pedalaman Tiongkok yang semenjak muda pergi ke Tibet karena di negaranya sendiri ia telah mempunyai banyak sekali musuh karena kejahatannya.

Kemudian karena kepandaiannya yang tinggi, ia membuat nama besar di Tibet dan seperti juga di pedalaman, di Tibet orang ini membuat gara gara pula.

Ia ingin berkuasa, akan tetapi para pendeta di Tibet yang pandai melihat orang tidak sudi menariknya.

Oleh karena ini, ia menjadi sakit hati dan ia lalu membentuk sebuah aliran Agama Buddha sendiri, yakni Aliran Jubah Hitam!

Memang amat berani Sam thouw hud ini.

Tidak saja ia mengadakan aliran atau perkumpulan agama yang baru dan berjubah hitam, juga ia sendiri lalu mengepalai aliran ini dan memakai gelaran Sam thouw hud, semacam gelar yang benar benar kurang ajar!

Akan tetapi oleh karena ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak seorangpun berani menghalanginya.

Anak anak buahnya adalah pendeta pendeta yang sudah diasingkan karena melakukan pelanggaran agama.

Yang lebih hebat lagi, di dalam perantauannya di Tibet, Sam thouw hud ini menemukan sebuah kitab pelajaran silat kuno dan setelah ia mempelajari kitab ini dengan seksama dan tekun, ilmu kepandaiannya meningkat amat luar biasa dan beberapa belas tahun kemudian ia telah menjagoi di seluruh Tibet dan kekuasaannya serta pengaruhnya menjadi makin besar!

Hidupnya sebagai raja saja, dikelilingi oleh puluhan orang selirnya, yakni gadis gadis Tibet yang dimintanya begitu saja dari orang orang tua mereka dan juga beberapa orang gadis Han yang diculik oleh anak buahnya!

Dan sini saja dapat dinilai macam apakah orang yang bergelar Sam thouw hud ini.

Kini Sam thouw hud berdiri sambil menyeringai, memandang kepada Biauw kai yang memegang sepasang kaitannya dan memandang tajam kepada hwesio aneh ini, karena sesungguhnya Koat kauw jit him belum pernah melihat hwesio tinggi besar seperti raksasa ini.

"Ha, ha, ha, kalian yang aneh. Bukankah kau seorang di antara Koai kauw jit him dari Mongol ? Akan tetapi mengapa tak dapat mengalahkan seorang muda yang halus dan cakap ini ? Ha, ha, ha ! Nama besar Koai kauw jit him ternyata hanya kosong belaka. Sepantasnya julukan biruang itu di ganti kambing saja."

Bukan main marahnya Biauw Kai mendengar ejekan ini.

Juga enam orang saudaranya menjadi marah.

Mereka maju dan sebentar saja Sam thouw hud terkurung, di tengah tengah.

Hwesio ini masih saja tersenyum dan kini melihat dirinya dikurung oleh tujuh orang yang mengambil kedudukan seperti tujuh bintang, ia tertawa lagi dengan nyaringnya.

"Hwesio, kau siapakah berani menghina Koai kauw jit him?"

Bentak Biauw Ta, orang yang tertua di antara tujuh biruang itu.

"Sungguh lucu, orang orang macam inikah yang dipanggil oleh Lo mo untuk membantunya? Melihat aku saja tidak kenal !"

Kemudian ia menengok kepada Pat jiu Giam ong yang juga tinggi besar seperti dia dan yang semenjak tadi memandang kepadanya dengan mata bersinar garang.

"Eh, Giam ong, apa kau juga tidak dapat menduga siapa aku?"

"Sam thouw hud, matamu awas sekali. Biarpun kita belum pernah bertemu muka, sekali pandang saja kau sudah mengenalku. Akan tetapi sebaliknya, jangan dikira bahwa aku pasti tidak dapat menduga apa adanya kau!"

Pat jiu Giam ong kini tertawa girang sekali hatinya melihat kedatngan hwesio raksasa yang tadiny disusul dan dipanggil oleh Lam hai Lo mo ini.

"Di mana perginya suheng?"

"Setan tua itu mengambil lain jalan karena ia mencela padaku dan tidak mau jalan bersama, katanya bau keringatku memabukkan! Setan tua itu, tidak ingat bahwa sesungguhnya badan dan keringatnya sendiri yang berbau tengik. Ha, ha, ha!"

Sam thouw hud lalu kembali menghadapi tujuh orang yang masih mengurungnya.

"Nah, tujuh ekor kambing ini sekarang apakah masih belum mengenalku?"

Betapapun juga, Koai kauw jit him adalah tokoh tokoh kang ouw yang ternama dan menduduki tempat tinggi.

Kini demikian dipandang rendah dan tidak dihargai tentu saja mereka merasa tidak puas dan marah sekali.

Mereka sudah pernah mendengar nama Sam thouw hud sebagai tokoh terbesar di Tibet akan tetapi jangankan baru Sam thouw hud, biarpun Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo sendiri tidak berani memandang rendah kepada mereka seperti yang dilakukan oleh Sam thouw hud ini.

Biauw Ta mengerti bahwa mereka tidak boleh memperlihatkan sikap permusuhan dengan hwesio tinggi besar ini, akan tetapi setidaknya ia ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian Sam thouw hud, maka berani berlagak seperti itu dihadapan dia dan saudara saudaranya, ia lalu menjura kepada hwesio itu dan berkata mengejek.

"Ah, tidak tahunya Sam thouw hud yang bernama besar dan berkedudukan tinggi. Sudah lama sekali kami mendengar nama besar darimu. Memang betul, nama besar kami Koai kauw jit him adalah nama kosong belaka. Hanya kami bertujuh benar benar ingin sekali menyaksikan apakah nama besar Sam taouw hud betul betul berisi."

Diam diam Thian Giok yang masih berdiri di sita memandang dengan hati berdebar girang, ia ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan kepandaian Koai kauw jit him yang terkenal itu.

Ia tadi sudah merasakan kelihaian orang termuda dari tujuh biruang ini dan kalau kini ketujuh orang itu maju bersama, tentu akan hebat sekali.

Akan tetapi, hwesio raksasa inipun agaknya tidak lemah.

Kalau mereka bertempur, sedikitnya ia akan dapat menceritakan keadaan dan kekuatan lawan kepada suhunya kelak.

Sementara itu, ketika Sam thouw hud mendengar ucapan Biauw Ta, lenyaplah senyumnya, ia sudah biasa disanjung sanjung dan dihormati.

Kalau yang bicara kasar kepadanya Lam hai Lo mo atau Pat jiu Giam ong yang ia anggap mempunyai tingkat kepandaianyang sejajar dengan dia, itu masih tidak apa.

Akan tetapi tujuh ekor "cacing cauk"

Yang masih plonco ini? Ia melirik kepada Pat jiu Giam ong yang mengerti suara hati pendata jubah hitam ini, maka Pat jiu giam ong berkata singkat.

"Mereka belum mengenalmu, Sam Thouw hud !"

Ucapan ini merupakan pernyataan maaf dari Pat jiu Giam ong untuk tujuh orang itu, maka Sam thouw hud tersenyum lagi. Ia bertanya kepda Biauw Ta.

"Apakah kau berhak mewakili semua orang ini?"

"Aku bernama Siauw Ta dan menjadi saudara tertua dari Koai kauw jit him, tentu saja aku berhak,"

Kata Biauw Ta.

"Hem, kalau begitu kalian bertujuh cobalah kepandaianku. Majulah berbareng dan seranglah aku dengan kaitan kaitan yang bengkok itu!"

Biauw Ta tidak bermaksud buruk dan memang hanya ingin mencoba kepandaian hwesio yang terkenal ini, maka ia lalu berseru keras memberi tanda kepada adik adiknya, lalu tujuh orang itu dengan berbareng melayangkan siang kauw (kaitan berpasang) menyerang hwesio itu.

Sam thouw hud membentak nyaring dan tiba tiba tongkat naganya berkelebat merupakan sinar keemasan yang bundar dan lebar sekali, yang berputar di sekelilingnya bagaikan halilintar menyambar.

Terdengar suara nyaring sekali berkali kali ketika tongkat ini dengan tenaga yang amat luar biasa menangkis semua kaitan yang jumlahnya empat belas batang itu.

Suara nyaring ini disusul oleh seruan seruan terkejut dari Koai kaow jit him yang cepat melompat mundur sambil memeriksa senjata masing masing.

Tenyata bahwa sekali tangkis saja, senjata mereka telah rusak.

Ada yang bengkok, ada pula yang ujungnya patah dan mereka semua tadi merasa betapa telapak tangan mereka sakti, pedas dan panas.

Bahkan telapak tangan kiri Biauw Kai berdarah karena kulitnya lecet lecet.

Bukan main kagetnya tujuh orang itu.

Mereka maklum bahwa hwesio itu benar benar luar biasa lihainya, maka Biauw Ta lalu menjura dengan hormat.

"Ah, tidak tahunya kepandaian Sam thouw hud jauh lebih tinggi dan tenaganya lebih besar daripada namanya. Kami menyatakan hormat dan takluk. Benar benar menggembirakan dapat bekerja sama dengan seorang yang lihai seperti kau."

Sam thouw hud tertawa girang. Pujian dan sanjungan merupakan "makanan"

Bagi Sam thouw hud, maka mendengar ucapan Biauw Ta ini,ifa menjadi puas dan berbalik hendak memperlihatkan jasa dan pembelaannya.

"Mana pemuda yang tidak dapat dikalahkan oleh adikmu tadi?"

Ia menengok kepada Thian Giok, kemudian dengan langkah lebar ia menghampiri pemuda itu.

"Biar aku menangkapnya untukmu."

Thian Giok terkejut sekali.

Kepandaian hwesio raksasa ini benar benar hebat, tujuh orang Koai kauw jit him saja dengan sekali tangkis dapat dikalahkan, apalagi dia.

Akan tetapi pemuda ini tidak menjadi gentar, bahkan lalu bersiap dengan pek giok joan pian di tangannya, bersedia untuk bertempur mati matian.

"Sam thouw hud, jangan mengganggu dia. Dia adalah murid Mo bin Sin kun!"

Pat jiu Giam ong mencegah. Sam thouw hud menahan langkahnya dan ia berpaling memandang kepada Pat jiu Giam ong dengan mata heran.

"Murid Mo bin Sin kun? Mengapa ia datang ke sini?"

"Ia melaporkan kepadaku bahwa murid suheng ini dan puteraku telah menawan murid perempuan dari Mo bin Sin kun dan... bekas murid perempuanku sendiri yang murtad. Akan tetapi ketika kami datang ke sini, kedua orang gadis itu telah lenyap."

"Ha, ha, ha!"

Sepasang mata Sam thouw hud bersinar gembira.

"Kalian menangkap dua orang gadis cantik? Apakah mereka cantik jelita dan di manakah mereka?"

Menyaksikan kehebatan kepandaiaa hwesio ini dan mendengar ucapannya, timbul watak yang aneh dari Kui To, maka tanpa disadarinya ia menjawab gembira.

"Mereka cantik cantik sekali. Akan retapj sayang telah terlepas lagi. Burung burung itu telah terbang entah kemana!"

Baru saja ia mengucapkan kata kata ini, berobahlah wajah Kui To karena ia teringat bahwa ia telah membuka rahasia yang tadi disangkalnya.

"Kui To!"

Pat jiu Giam ong membentak.

"Jadi betul betul kalian telah menawan mereka? Kau jangan main main! Di mana mereka sekarang?"

Terpaksa Kui To tak dapat menyangkal lagi. Dengan muka merah ia lalu berkata.

"Sesungguhnya, susiok. Aku dan Liem sute tadi bertemu dengan dua orang gadis itu dan bertempur. Kami menang dan berhasil menawan mereka yang kami bawa ke sini....sama sekali bukan dengan maksud buruk. Akan tetapi, baru saja, entah bagaimana, mereka telah lenyap tak berbekas."

"Awas kalian! Lain kali jangan bertindak sembarangan! Tidak boleh kalian mengganggu mereka karena itu hanya merendahkan nama kita saja."

Kemudian Jenderal ini berpaling kepada Thian Giok dan berkata kaku.

"Pergilah kau!"

Akan tetapi tentu saja Thian Giok merasa kurang puas.

"Benarkah mereka telah melarikan diri dan tidak disembunyikan oleh setan cilik ini?"

"Bangsat, jangan kau sembarangan memaki orang!"

Bentak Kui To marah.

"Aku tidak biasa membohong."

"Hm, bagus. Tidak biasa membohong, ya? Siapa yang baru saja menyangkal tidak menawan adikku dan nona itu?"

Thian Giok menyindir, sehingga muka Kui To berobah merah. Pat jiu Giam ong merasa ikut malu.

"Sudahlah, kau pergi saja. Aku yang menanggung bahwa dua orang gadis itu tidak akan mendapat gangguan dari kami!"

Thian Giok merasa puas.

Di antara semua orang ini, hanya kepada Pat jiu Giam ong saja ia menaruh kepercayaan.

Dari sikap jenderal ini ia tahu bahwa Pat jiu Giam ong adalah seorang yang angkuh dan menjaga tinggi nama besarnya.

Maka ia lalu melompat dan hendak pergi dari situ.

"Aduh, sayang."

Sam thouw hud berkata menyesal.

"Sayang kedatanganku terlambat, sehingga ada dua ekor burung indah terlepas begitu saja. Aku juga heran sekali mengapa Pat jiu Giam ong agaknya segan untuk mengganggu murid Mo bin Sin kun!"

Merahlah wajah Pat jiu Giam ong mendengar sindiran ini.

"Siapa yang segan? Aku hanya tidak ingin melihat namaku dirusak oleh anak anak ini dan aku tidak mau menyerang seorang tamu di rumah sendiri."

"Bagus, Liem goantwe benar benar bisa menjaga nama! Akan tetapi dia bukan tamuku. Hai anak muda murid Mo bin Sin kun! Kau bawalah ini kepada gurumu sebagai tanda penantang dari Sam thouw hud!"

Sambil berkata demikian, hwesio raksasa itu meacabut sehelai bulu kebutannya dan melontarkannya ke arah Thian Giok yang sudah pergi.

Perlu diketahui bahwa bulu kebutan itu bukanlah bulu biasa, melainkan bulu benang tembaga.

Dengan sambitan yang dilakukan dengan tenaga lweekang yang sudah amat tinggi tingkatnya ini, bulu yang panjangnya satu kaki ini meluncur bagaikan anak panah ke arah leher Thian Giok.

Senjata rahasia macam ini luar biasa berbahayanya, karena tidak menerbitkan suara sedikitpun.

Thian Giok telah berjalan agak jauh, akan tetapi mendengar kata kata ini, ia maklum bahwa dirinya tentu diserang.

Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia hanya melihat sinar kemerahan berkelebat ke arahnya.

Ia terkejut sekali dan berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat, sehingga tiba tiba ia merasa pundaknya sakit dan karena yang terkena tusukan itu adalah jalan darahnya, maka ia terhuyung huyung dan tak ingat diri!

Pada saat itu, berkelebat bayangan yang cepat sampai tak terlihat oleh pandangan mata.

Bayangan ini menyambar tubuh Thian Giok dan dibawa pergi bagaikan terbang cepatnya.

Liem goanswe dan Sam thouw hud saja yang dapat melihat bayangan itu dan kedua orang ini saling pandang dengan penuh keheranan.

Gerakan bayangan itu begitu cepat, sehingga biarpun mereka memiliki pandangan mata yang luar biasa, tetap saja mereka tidak dapat melihat wajah dan potongan badan orang itu dengan tegas, Adapun Kui To, Liem Swee dan tujuh Koai kauw jit him sama sekali tidak melihatnya dan hanya mengira bahwa sambitan itu tidak mengenai sasaran dan pemuda yang lari itu dapat melanjutkan larinya.

Maka Kui To mengeluarkan suara di hidung untuk mengejek Sam thouw hud.

"Swee ji dan kau Kui To. Mulai sekarang sebelum datang saatnya mengadu kepandaian dengan fihak mereka, aku melarang kalian mencari gara gara lagi."

Setelah berkata demikian, mereka semua lalu kembali ke rumah gedung Liem goanswe dan di situ mereka melihat Lam hai Lo mo Seng jin Siansu tengah makan minum di ruang depan ditemani oleh Bucuci.

Mari kita melihat dulu keadaan Sian Hwa dan Lan Giok yang telah lenyap dan kamar tahanan di rumah Liem Swee, Sebetulnya apakah yang telah terjadi atas diri kedua orang nona cantik ini?

Ketika Liem Swee dan Kui To sedang memburu keluar dari rumah dan mengejar serta mencari orang yang berani mengintai dari atas genteng, yakni Thian Giok yang sudah melarikan diri menuju ke rumah pat jiu Giam ong, pada saat kedua orang pemuda itu keluar, dari belakang rumah itu melompat bayangan yang amat gesit.

Bagaikan sebuah bayangan setan saja tahu tahu ia telah berhadapan dengan kakek penjaga rumah dan sekali ia mengulurkan tangan, kakek itu tertotok roboh dan pingsan.

Bayangan itu lalu memasuki kamar.

Karena ia tahu bahwa dua orang pemuda itu takkan pergi lama, maka cepat ia masuk ke dalam kamar setelah lebih dulu meniup padam api lilin dalam kamar itu dari luar pintu.

Di dalam gelap, Sian Hwa dan Lan Giok hanya merasa betapa tubuh mereka diangkat orang dan dibawa keluar.

Kedua orang gadis ini merasa terkejut sekali karena mengira bahwa mereka tentu dibawa oleh Liem Swee dan Kui To yang hendak berbuat tak senonoh, maka diam diam mereka mengerahkan tenaga untuk memberontak dan menyerang pada saat yang memungkinkan mereka begerak.

Akan tetapi, di dalam kempitan ini, mereka tidak berdaya sama sekali.

Alangkah heran mereka ketika berada di luar rumah, melihat bahwa mereka dibawa dalam kempitan lengan kanan kiri dari seorang saja.

Mereka tidak sempat melihat wajah orang ini, karena mereka merasa dibawa melompat ke atas dan dibawa berlari cepat sekali bagaikan terbang.

Sian Hwa dan Lan Giok tidak tahu siapakah orangnya yang telah membawa lari mereka dari dalam rumah itu.

"Siapakah kau? Lepaskan aku dan buka ikatanku kalau tidak, awas kau!"

Berkali kali Lan Giok membentaknya, tetapi orang yang mengempitnya itu hanya mengeluarkan suara ketawa ditahan seakan akan merasa geli melihat dan mendengar lagak nona galak ini.

"Inkong (tuau penolong), lebih baik kau lepaskan kami, sehingga kami dapat berlari sendiri tidak menyusahkan pula kepadamu!"

Kata Sian Hwa dengan suara halus.

Mendengar suara gadis ini, berdebarlah hati orang itu.

Hal ini dapat terasa oleh Sian Hwa karena kebetulan sekali gadis ini dikempit di lengan kiri, sehingga dada gadis ini merapat dengan dada sebelah, kiri dari orang itu.

Sian Hwa merasa betapa dada orang itu berdenyut denyut keras dan tiba tiba ia merasa jari jari tangan yang berada di dekat dengan lehernya itu membelai belai rambutnya.

Akan tetapi orang itu berlari terus tanpa menjawab, ia terus melarikan diri keluar dari kota raja dan tembok kota raja yang demikian tingginya itu dilompatinya begitu saja.

Hal ini diam diam mengejutkan hati Sian Hwa dan Lan Giok.

Melompati dinding tembok kota raja sambil mengempit dua orang, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Hanya orang yang sudah sempurna ginkangnya saja yang akan dapat melakukan hal ini.

Orang itu berlari terus dan setelah masuk ke dalam sebuah hutan yang amat gelap, sehingga mereka tak dapat saling memandang muka, orang itu lalu menurunkan Sian Hwa dan Lan Giok.

Sekali saja ia merenggutkan kedua tanganya, ikatan tangan Sian Hwa dan Lan Giok putus terlepas.

Ke dua orang gadis itu cepat cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ikatan kaki mereka.

Akan tetapi ketika mereka memandang ke depan, ternyata penolong mereka itu telah lenyap.

"Aneh sekali, siapakah dia itu, enci Sian Hwa? Manusia atau setankah?"

"Sst, adik Lan Giok, bagaimanakah kau ini? Ditolong orang, tidak berterima kasih malahan memakinya setan!"

"Habis, bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya? Dia sudah menghilang seperti se..""

Ia menahan kata kata makian ini lagi dan kedua orang gadis itu sampai lama membicarakan keadaan penolong mereka yang aneh itu.

"Dia kuat sekali, enci Sian Hwa. Tahukah kau bahwa di jalan tadi, kebetulan jari tanganku berada di dekat lambungnya? Karena ia tidak mau melepaskan aku, maka aku tadi lalu menggunakan gerakan pergelangan tangan dan menotok lambungnya agar ia mau melepaskan aku."

Sian Hwa terkejut sekali.

"Ah, kau terlalu betul, adik Lan Giok. Bagaimana kau bisa menyerang orang yang menolong kita?"

Kata Sian Hwa dengan suara marah.

"Habis dia mengempitku dengan mukaku di bawah. Dengan kepala tergantung macam itu aku menjadi pening, Ketika aku menggerak gerakkan kepala dan hendak memakinya, ia telah menekan mukaku pada dadanya, sehingga aku sukar bernapas."

Mau tidak mau Sian Hwa tertawa juga dengan hati geli mendengar keterangan Lan Giok.

"Setelah kau totok, lalu dia bagaimana?"

Tanyanya ingin tahu.

"Itulah, dia agaknya ahli dalam ilmu menutup jalan darah, ia tidak apa apa, hanya kelihatan geli saja dan tertawa tawa ditahan. Sungguh kurang ajar!"

"Eh, eh, kau marah lagi! Bagaimanakah kau ini?"

"Biarpun dia sudah menolong kita, akan tetapi dia berlaku seperti orang setan penuh rahasia. Enci Sian Hwa, terus terang saja aku tidak puas dan penasaran sekail. Ingin aku melihat wajahnya dan ingin aku mengetahui siapakah sebetulnya orang itu."

"Sudahlah, dia sudah pergi, mengapa ribut ribut? Kepandaiannya amat tinggi dari kalau dia sengaja tidak mau memperlihatkan muka kepada kita, apakah daya kita? Betapapun juga, hatiku selamanya takkan dapat melupakan orang ini, karena kalau tidak ada dia, ah.... bagaimanakah jadinya dengan nasib kita?"

Diingatkan akan bahaya itu, Lan Giok bergidik dengan hati ngeri.

"Sekarang bagaimana baiknya, enci Sian Hwa? Aku belum bertemu dengan engko Thian Giok dan tak mungkin aku meninggalkan dia seorang diri di kota raja."

"Adikku yang baik. Kurasa tidak sembarangan saja penolong kita itu melepaskan kita di tempat ini. Lebih baik kita menunggu saja di sini siapa tahu kalau kalau ia akan kembali. Dan selain itu, akan berbahayalah kalau kita keluar dari hutan ini, karena tentu dua orang penjahat itu takkan tinggal diam saja dan akan mencari cari kita."

"Aku tidak takut!"

Kata Lan Giok gemas.

"Kalau mereka mengejar, akun kuhajar mereka dan kubalas sakit hati ini!"

Dengan mata bernyala dan gemas sekali Lan Giok mengepal ngepal tinjunya.

"Sabar, Lan Giok. Kita harus berlaku cerdik dan jangan menurutkan nafsu hati marah saja. Memang tidak ada alasan bagimu untuk takut menghadapi mereka, karena kepandaianmu setingkat dengan kepandaian mereka. Akan tetapi tidak demikian dengan aku. Aku sendiri juga tidak takut karena apakah arti mati bagi seorang bodoh dan sial seperti aku? Hanya kalau saja kita harus melawan meraka lagi, belum apa apa aku tentu sudah kalah dan kemudian kau dikeroyok lagi yang amat kurang menguntungkan bagimu. Pula, senjata kita sudah tidak ada di tangan. Baiklah kita bersabar dan menanti di sini sampai keadaan menjadi aman, adikku."

Diam diam Lan Giok merasa terharu mendengar ucapan Sian Hwa yang merendahkan diri ini dan juga ia harus membenarkan pendapatnya, ia merangkul Sian Hwa dan berkata.

"Sebetulnya kau jangan merendahkan diri seperti itu, enci. Kepandaianmu sudah cukup tinggi. Kalau kau kalah menghadapi bekas suhengmu, bukanlah hal yang aneh dan bukan pula salahmu. Karena tiga tahun kau tidak melanjutkan palajaranmu, sedangkan bekas suhengmu itu terus menerus digembleng oleh ayahnya. Baiklah, kita menanti di sini, sambil beristirahat."

Menjelang pagi, Lan Giok yang gembira wataknya itu telah dapat menangkap seekor kelinci.

Mereka lalu makan daging kelinci panggang yang terasa amat sedap, hanya sayang kurang asin karena di situ tidak ada garam.

Mereka menanti terus sampai matahari naik dan sinarnya menembusi daun daun pohon.

Tiba tiba terdengar kokok ayam hutan yang nyaring sekali.

"Itu suara engko Thian Giok!"

Tiba tiba Lan Giok berkata girang.

Gadis inipun lalu mengeluarkan suara ayam jantan untuk menjawab suara tadi, lalu mengajak Sian Hwa menuju ke arah suara itu.

Tak lama kemudian, benar saja mereka bertemu dengan Thian Giok di tengah hutan.

Tentu saja Lan Giok dan Thian Giok menjadi girang.

Ketika Thian Giok melihat Sian Hwa, pemuda ini agak terheran mengapa gadis ini kini dapat bersama dan nampaknya menjadi sahabat baik adiknya.

Akan tetapi ia hanya memberi hormat kepada Sian Hwa dan tak berani bertanya.

"Engko Thian Giok, bagaimana kau bisa tahu bahwa kami berada di sini? Ah, kau tidak tahu betapa aku hampir saja mengalami bencana hebat dalam tangan setan kecil murid Lam hai Lo mo itu."

Thian Giok tersenyum.

"Lan moi, kaukira aku tidak tahu? Aku tahu bahwa kau telah tertawan bersama nona ini dan bahwa kalian dimasukkan dalam kamar rumah Liem Swee."

Terbelalak mata Lan Giok yang bagus itu memandang kakaknya, lalu ia menarik kakaknya itu duduk di atas batu di bawah sebatang pohon.

"Ayoh kau lekas ceritakan"! Ia menuntut. Thian Giok lalu menceritakan pengalamannya dengan singkat sebagaimana telah kita ketahui semua. Kemudian ia menceritakan bahwa ketika ia roboh pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tahu tahu ketika ia siuman, ia telah berada di tengah hutan ini. Luka pada pundaknya karena serangan bulu tembaga itu telah diobati orang dan penolong itu menghilang tanpa memberi kesempatan padanya untuk mengetahui siapa orang nya. Ketika ia siuman, ia telah terbaring di bawah pohon dan di dekatnya terdapat bulu yang melukainya itu, juga corat coret pada tanah yang menyatakan bahwa Lan Giok juga berada di hutan ini. Oleh karena itu, maka ia lalu memberi tanda pekik ayam hutan yang dijawab oleh Lan Giok. Lan Giok dan Sian Hwa saling memandang.

"Ah, tentu dia yang telah menolongmu!"

Kata Lan Giok.

"Tak salah lagi, setan siluman itulah yang telah menolong kita semua!"

"Lan Giok, apa maksudmu? Setan siluman yang mana?"

Tanya Thian Giok heran. Sedangkan Sian Hwa kembali memandang penuh teguran kepada Lan Giok yang menyebut tuan penolong itu setan siluman! "Enci Sian Hwa agaknya telah jatuh hati kepada penolong kita!"

Kata Thian Giok menggoda.

"Hush, kau ini ada ada saja, Lan Giok. Jangan kau mempermainkan orang yang telah besusah payah menolong kita. Kau benar benar tak tahu terima kasih!"

Tegur Sian Hwa. Kembali Lan Giok tertawa.

"Hati hati enci, jangan kau terlalu mudah jatuh hati, kita semua, juga engko Thian Giok belum melihat mukanya. Siapa tahu kalau dia seorang kakek kakek tua Bangka."

"Biarpun seorang kakek kakek, tetap saja dia penolong kita yang harus kita hormati !"

Jawab Sian Hwa.

"Benar kata nona Sian Hwa,"

Thian Giok berkata.

"Kau memang nakal dan lancang Lan moi."

"Nah, nah, nah! Sekarang engko Thian Giok membela enci Sian Hwa lagi. Wah, jangan jangan aku dikeroyok tiga dengan penolong aneh itu nanti!"

"Sudahlah, kau lekas ceritakan pengalamanmu,"

Engkonya menuntut. Lan Giok lalu menceritakan pengalamannya yang didengarkan oleh Thian Giok dengan hati tertarik.

"Benar benar lihai orang itu,"

Akhirnya ia berkata setelah adiknya selesai bercerita.

"Baiknya Pat jiu Giam ong masih mempinyai sifat jantan, sehingga ia melarang putera dan keponakannya untuk mengganggu kita lagi. Kita sekarang boleh keluar dari hutan dan marilah kita kembali kepada guru kita untuk memberi laporan. Fihak lawan benar benar memiliki banyak sekali orang pandai. Apalagi Sam thouw hud itu benar benar merupakan, lawan berat."

Mendengar penuturan Thian Giok bahwa Pat jiu Giam ong tidak membolehkan puteranya untuk mengganggunya, diam diam Sian Hwa menjadi lega.

Ia tidak dapat ikut dengan Lan Giok kini.

Setelah diketahuinya bahwa Lan Giok telah bertunangan dengan Bun Sam, ia tidak boleh bersama sama gadis ini.

Bagaimana kalau Lan Giok bertamu dengan Bun Sam?

Ah, aku tidak boleh bertemu dengan pemuda itu, selama hidupku tidak boleh aku bertemu muka dengan Bun Sam!

Demikian pikirnya dengan hati hancur.

Kalau bukan Lan Giok yang menjadi tunangan Bun Sam, tetapi ia akan membenci Lan Giok dan tidak mau mengalah.

Akan tetapi terhadap gadis ini ia harus mengalah.

Lan Giok lebih pantas menjadi isteri Bun Sam.

"Enci Sian Hwa, marilah kau ikut dengan kami. Kita berangkat sekarang juga,"

Ajak Lan Giok.

"Tidak, adikku yang manis. Kau dan kakakmu pulanglah, aku telah mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan kuil San pok thian!"

"Eh, eh, apa apaan lagi ini? Tadinya kau minta kepadaku supaya mengajakmu bersama. Sekarang tiba tiba kau tidak jadi ikut. Apakah kau malu malu karena ada engko Thian Giok bersama kita?"

Lan Giok memandang dengan mata terbelalak.

"Tidak, tidak!"

Sian Hwa cepat menjawab "Sama sekali tidak begitu.

Mengapa aku harus malu malu?

Bukan demikian, hanya aku merasa berat untuk meninggalkan kuil di mana telah dua tahun aku bertempat tinggal di situ, mungkin...."

Sampai di lini ia menghela napas panjang.

"mungkin sekali aku akan masuk menjadi nikouw tulen."

"Kau....? Menjadi nikouw........?"

Lan Giok terharu karena ia maklum bahwa hati dara yang cantik ini temu terganggu hebat oleh penderitaan hidup, sehingga ia memutuskan untuk menjadi nikouw.

Setelah dibujuk bujuk tetap tidak mau, terpaksa Lan Giok dan kakaknya pergi, setelah Lan Giok memeluk Sian Hwa dengan mesra.

"Enci, kau baik sekali. Aku senang sekali menjadi sahabatmu,"

Kata Lan Giok.

Basah mata Sian Hwa menghadapi perpisahan ini.

Bagaimana.

ia boleh bersaing dengan gadis yang baik hati ini dalam menghadapi Bun Sam?

"Adik Lan Giok, kita bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai saudara!

Kau adalah adikku yang berhati mulia.

Semoga berbahagia hidupmu."

Katanya setengah berdoa.

Maka berpisahlah mereka di tempat itu.

Lan Giok bersama kakaknya kembali menuju ke Sian hwa san dan Sian Hwa kembali ke kuilnya di mana ia disambut oleh para nikouw dengan gembira sekali setelah mendengar bahwa gadis itu menunda kepergiannya.

Sian Hwa langsung memasuki kamarnya lalu membanting tubuhnya di atas pembaringan dan tak dapat ditahan lagi ia lalu menangis tersedu sedu.

Alangkah buruk nasibnya.

Setelah dipaksa paksa menikah dengan Liem Swee, sehingga ia mengalami penderitaan di dalam kuil ini, setelah ia terpaksa berpisah dari Bun Sam pemuda yang dicintainya karena memang tiada harapan baginya untuk berdekatan dengan pemuda itu, kemudian setelah ia bebas daripada ikatan jodohnya dengan Liem Swee timbul kembali pengharapannya untuk bertemu dengan Bun Sam, kini ia mendengar bahwa Bun Sam telah bertunangan dengan Lan Giok.

Ia hidup sebatangkara, sengsara pula, kepada siapakah ia dapat menangis dan minta hiburan?

Tidak ada lain jalan yang lebih baik baginya selalu masuk menjadi seorang nikouw!

Masuk menjadi seorang pendeta wanita yang selama hidupnya tidak menikah, yang mematikan semua hubungan batin dengan dunia luar, yang mengorbankan seluruh kehidupannya semata mata untuk membersihkan batin dan memuja kebesaran Thian.

"Ayah...."

Teringat akan ayahnya, ia menjadi terharu dan timbul keinginan hatinya untuk mengunjungi makam ayahnya.

Ia hendak bersembahyang dan mohon berkah serta pangestu ayahnya, minta agar roh ayahnya memperkuat batinnya.

Siapa lagi selain gundukan tanah makam ayahnya yang dapat disambati yang dapat diratapi?

Ia segera berpamitan lagi kepada para nikouw untuk mengunjungi makam ayahnya.

Sebelum pergi, ia menghadap nikouw kepala yakni pendeta wanita tertua yang diangkat menjadi kepala dalam kuil itu setelah nikouw kepala yang dulu meninggal dunia.

"Sian Hwa, mengapa kau nampak berduka saja? Apakah yang mengganggu hatimu?"

Tanya nikouw tua ini yang sudah menganggap Sian Hwa sebagai murid sendiri.

"Suthai, aku....... aku ingin masuk menjadi nikouw,"

Kata Sian Hwa sambil menahan mengalirnya air matanya. Nikouw tua itu nampak tertegun.

"Sian Hwa, mengapa begitu? Sudah bulatkah hatimu untuk menjadi nikouw? Ataukah hanya karena kau putus asa belaka?"

"Sudah bulat, suthai. Aku melihat semua jalan hidupku tertutup dan jalan satu satunya yang terbuka lebar hanyalah menjadi seorang nikouw."

Nikouw itu tersenyum.

"Mudah saja kau memilih jalan. Ingat, Sian Hwa. Menjadi seorang nikouw harus timbul dari kesadaran jiwa, timbul dari keyakinan bahwa itulah tugas hidupnya. Hanya kalau kau sudah menganggap bahwa menjadi seorang pertapa itulah kewajiban hidupmu, maka kau dapat menjadi seorang nikouw yang baik. Kalau kau masuk dengan terpaksa, hanya terdorong oleh patah hati ataupun kedukaan maka akhirnya kau akan menyesal. Tidak ada kesenangan kekal. Semua itu hanya perasaan yang bergelombang di dalam hati manusia, seperti gelombang air di samudera, sebentar datang, sebentar pergi. Pinni hanya setuju kalau masuk menjadi nikouw karena kesadaran dan keyakinan yang bulat."

"Teecu sudah yakin, suthai. Sudah yakin betul betul. Baik teecu buktikan!"

Setelah berkata demikian, Stan Hwa lalu mengambil sebatang pedang dan dengan pedang itu dipotongnya rambutnya yang panjang dan hitam itu.

Kini rambutnya itu hanya sampai sebatas lehernya saja.

Kalau saja nikouw tua itu belum memiliki ketenangan jiwa dan kekuatan batin, tentu ia akan menjerit saking merasa sayang dan terkejut, ia hanya menggeleng gelengkan kepala saja.

"Sian Hwa, kau telah melakukan sesuatu yang bodoh. Rambutmu yang indah itu kaupotong dan kau harus bersabar menanti berbulan bulan sebelum rambutmu menjadi panjang dan bagus kembali. Apa kau kira seorang pertapa suci itu dapat diukur dari kepalanya yang digunduli? Tidak, Sian Hwa. Jubah pendeta dan kepala gundul bukanlah ukuran bagi seorang pertapa. Itu hanya merupakan upacara belaka, merupakan tanda bagi mata lahir, tetapi yang penting adalah apa yang nampak di dalam hatinya. Menurut penglihatan pin ni, kalau tidak salah, kau menderita batin karena seorang pemuda. Bukankah demikian?"

Sepasang mata nikouw tua itu bagaikan sinar gaib menembus mata Sian Hwa dan terus membaca isi hati gadis itu.

Terhadap nikouw ini Sian Hwa merasa tak perlu menyembunyikan sesuatu, bahkan dengan mengadakan pengakuan ia akan merasa mendapat seorang yang ikut membantu memikirkan keadaannya dan menghiburnya.

Sambil menundukkan mukanya, ia berkata.

"Terima kasih atas segala nasehat tadi, suthai. Sesungguhnya tepat dugaan suthai, apa yang harus teecu sembunyikan? Memang sesungguhnya hati teecu yang lemah dan pikiran teecu yang bodoh ini tergoda dan tertarik oleh seorang pemuda. Teecu... jatuh cinta kepada seorang pemuda. Ah, Suthai.... mohon doamu agar supaya Thian mengampuni dosa teecu dan memperkuat batin teecu yang lemah."

Nikouw itu tersenyum.

"Sian Hwa, jatuh cinta bukan merupakan sebuah dosa bagi seorang gadis seperti engkau. Kalau mencintai seorang pemuda, mengapa kau menjadi putus asa dan mengambil keputusan untuk menjadi nikouw?"

Merah seluruh wajah Sian Hwa, akan tetapi biarpun ia merasa amat jengah dan malu ia menjawab juga.

"Karena.... karena teecu baru saja mendengar bahwa bahwa dia telah bertunangan dengan seorang gadis yang amat teecu sukai dan sayangi !"

Nikouw tua itu mengangguk angguk.

"Hm, kiranya gadis gagah yang kemarin ini datang ke sini bersamamu?"

Sian Hwa tertegun. Alangkah cerdiknya pendeta wanita ini, pikirnya, ia mengangguk.

"Betul, suthai. Dia tidak tahu tentang perasaanku terhadap.... pemuda itu dan tanpa disengaja ia menceritakan bahwa ia telah bertunangan dengan pemuda itu. Teecu tidak dapat mencari jalan lain. Pemuda itu memang lebih pantas menjadi suaminya dan.... teecu yang sebatangkara, bodoh ini teecu hanya memuji semoga mereka berbahagia ...."

Biarpun berkata demikian, tak dapat ditahan pula air mata Sian Hwa berlinang. Nikouw itu menarik napas panjang.

"Pinni harus membenarkan jalan pemikiranmu ini. Cinta yang suci tidak bersifat mementingkan diri sendiri. Memang perasaan cintamu yang tadinya hanya ditujukan kepada seorang pemuda itu, lambat laun dapat berobah sifatnya apabila kau sudah menjadi seorang pertapa. Perasaan cinta yang tadinya hanya tertuju kepada seseorang tertentu itu, apabila sudah sadar dan kuat batinmu, dapat diperhalus dan disempurnakan, sehingga berobat menjadi cinta suci yang seharusnya ada dalam batin seorang manusia, tarhadap sesama yang hidup. Cinta itu kelak akan menjadi luas dan agung akan merata terhadap semua orang, tidak hanya terhadap pemuda itu, akan tetapi terhadap apa saja yang kau jumpai di dunia ini. Kalau kau sudah mencapai tingkat seperti itu, kau akan menemui bahagia sejati. Akan tetapi.... tetap saja pinni tidak berani memastikan apakah kau akan kuat menjalaninya, karena jalan ke arah kesempurnaan itu benar benar berat dan tidak mudah."

"Akan teecu coba, suthai."

Nikouw itu menggeleng gelengkan kepalanya dan menghela napas.

"Baiklah, kau memang berhati teguh dan keras. Akan tetapi biarlah aku memberimu waktu setahun lamanya sebagai masa percobaan. Sebelum lewat satu tahun, pinni takkan menerimamu sebagai nikouw."

Setelah menerima nasehat nasehat ini, Sian Hwa lalu berangkat menuju ke Tong seng kwan, hendak mengunjungi makam ayahnya, ia telah mengganti pakaiannya menjadi pakaian pendeta kembali, yakni pakaian warna putih yang sederhana, kasar dan berpotongan lebar.

Rambutnya yang pendek itu ditutup dengan sehelai pengikat kepala yang berwarna putih pula.

Ia berangkat pada sore hari itu juga karena ia bermaksud untuk bermalam di makam ayahnya.

Biarpun nikouw tua itu mencegahnya, namun ia telah berhati tetap dan berangkat juga membuat nikouw itu menggeleng gelengkan kepala dengan hati penuh rasa iba.

Baru saja fajar menyingsing yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh burung burung pagi dan ayam jantan yang berkokok nyaring pada saat semua orang yang kaya masih meringkuk di dalam, sedang para petani miskin yang rajin mulai berangkat ke tempat pekerjaannya masing masing, di suatu tanah kuburan yang sunyi dan miskin di sebelah selatan kota Tong seng kwan itu, nampak seorang berpakaian putih telah bersila, di depan sebuah makam, duduk diam tak bergerak dalam keadaan bersamadhi.

Kalau pada saat sunyi dan masih remang remang itu ada orang melihat bayangan putih di depan makam ini mungkin ia akan menyangka bayangan itu hantu.

Memang tak pernah terjadi ada orang mengunjungi makam pada saat sepagi itu.

Akan tetapi Sian Hwa, bayangan putih ini, semenjak malam tadi telah berada di situ, meratap dan menangis di depan kuburan ayahnya menceritakan semua kesengsaraan hatinya dan mohon doa dan berkah dari arwah ayahnya yang tak diingat lagi bagaimana wajahnya itu.

Di depannya mengebul hio (dupa) yang dibawanya dari kuil sehingga tercium bau harum di sekitar tempat itu.

Hari itu bukanlah hari berziarah, maka tempat itu sunyi saja.

Tidak ada orang mengunjungi makam nenek moyang atau keluarganya pada hari itu dan keadaannya benar benar sunyi, setelah bersamadhi semalam lamanya di depan makam ayahnya.

Sian Hwa mendapat ketenangan batin dan kesunyian itu makin menenangkan hati dan pikirannya.

Akan tetapi, keliru kalau dikatakan bahwa hari itu sama sekali tidak ada orang mengunjungi makam, karena setelah sinar matahari mulai mengusir embun pagi, nampak sesosok bayangan manusia berjalan perlahan memasuki tanah kuburan itu dan langsung menuju ke makam yang berada di sebelah makam ayah Sian Hwa.

Orang ini membawa bungkusan berisi alat alat sembahyang.

Melihat seorang wanita berpakaian pendeta sedang berlutut di depan makam di sebelahnya, ia hanya melirik sebentar dan tidak berani mengganggu, bahkan ia berlaku hati hati sekali agar jangan menimbulkan suara berisik yang akan mengganggu nikouw itu.

Ia menaruh bungkusan kain di depan makam, membukanya dan mulai mengeluarkan isi nva di depan makam yang hendak disembahyanginya.

Setelah semua alat sembahyang diatur beres, orang itu lalu mengeluarkan alat pembuat api, akan tetapi alangkah kecewanya ketika ia tidak berhasil mencetuskan api untuk membakar dupa karena bahan bakarnya telah basah, mungkin terkena embun di waktu pagi.

Ia menjadi bingung dan melihat nikouw itu telah bergerak tanda bahwa pendeta wanita itu telah selesai bersamadhi, ia lalu menghampiri nikouw itu sambil menjura penuh hormat.

"Suthai, mohon maaf sebanyak banyaknya kalau teecu mengganggumu. Teecu hendak membakar dupa dan mohon diberi api sedikit."

Terdengar pekik tertahan dari nikouw itu ketika ia mendengar suara ini.

Orang itu mengangkat muka memandang, demikianpun Sian Hwa cepat memutar tubuh memandang.

Mereka kini saling pandang, berdiri saling berhadapan, dua pasang mata terbelalak dan tak terasa pula bungkusan hio yang dibawa oleh orang itu terlepas dari pegangannya.

"Bun Sam....!"

"Sian Hwa....! Kaukah ini....?"

Panggilan ini diucapkan dengan berbisik tetapi penuh perasaan dan setelah mengeluarkan ucapan ini, keduanya tetap saja tak bergerak untuk beberapa lama, akan tetapi sepasang mata Sian Hwa segera menjadi basah dan butiran butiran air mata mengalir turun di sepanjang kedua pipinya.

Sebaliknya Bun Sam seakan akan tidak percaya bahwa "nikouw"

Yang berdiri di depannya ini benar benar Sian Hwa. Ia merasa seperti dalam mimpi.

"Sian Hwa....!"

Ia melangkah maju dan memegang kedua tangan gadis itu sebelum Sian Hwa dapat mengelak, menggenggam jari jari tangan Sian Hwa dengan mesra dan erat.

"Sian Hwa....apakah yang terjadi...? Mengapa kau tiba tiba memakai pakaian pendeta seperti ini ....?? Dan.... mengapa pula kau berada di Sini? Bersembahyang di depan kuburan ini? Sian Hwa, kekasihku, orang yang selama ini tak pernah meninggalkan lubuk hatiku, kenapakah kau? Kenapakah kau? Mengapa mukamu pucat, mengapa kau menangis, mengapa kau berpakaian seperti ini dan mengapa kau berada di sini? Sian Hwa, bagaimana keadaanmu? Ceritakanlah, ceritakanlah!"

Pertemuannya dengan Bun Sam di kuburan ayahnya, benar benar membuat Sian Hwa merasa terkejut, bingung dan terharu sekali.

Apalagi ketika Bun Sam memeluknya erat erat dan menghujaninya dengan pertanyaan pertanyaan yang diucapkan dengan suara menggetar penuh perhatian, penuh kasih sayang dan penuh iba hati, gadis ini tak dapat menahan mengucurnya air mata lagi.

Ia memeramkan matanya, sepenuh hatinya berhasrat ingin membalas pelukan pemuda itu, ingin menyatakan kegembiraannya, kegirangan hatinya dan cinta kasihnya, tetapi ia menggigit bibir dan menggeleng geleng.

Dengan air mata menderas menuruni kedua pipinya ia hanya dapat berbisik perlahan.

"Bun Sam... tidak... Bun Sam, jangan..."

Biarpun mulutnya berkata demikian, namun ia menjatuhkan kepalanya di atas dada pemuda itu dan untuk beberapa lama ia hanya menangis sedih dibelai belai rambutnya oleh Bun Sam dengan penuh kasih sayang.

Kesadarannya membisikkan agar supaya ia menjauhkan diri, agar ia memberontak, karena hal itu benar benar tidak boleh, akan tetapi dalam saat itu, Sian Hwa tak dapat menurutkan kata hatinya ini.

Ia telah menjadi lemah dan kalau tidak bersandar kepada Bun Sam mungkin ia telah jatuh pingsan !

"Sian Hwa, kekasihku, marilah kita berbicara dengan tenang.

Kita sudah bertemu kembali, hal ini bukankah menggembirakan sekali?"

Bun Sam yang sudah dapat menekan keharuan hatinya itu kini berbicara dengan suara gembira sambil menepuk nepuk bahu nona itu.

Tetapi Sian Hwa yang sementara itu juga telah dapat menenteramkan hatinya, tiba tiba merenggutkan tubuhnya dan melepaskan dirinya dari pelukan Bun Sam.

Ia harus pandai bermain sandiwara pikirnya.

Pemuda ini sendiri belum tahu bahwa dia telah bertunangan dengan Lan Giok, demikian ia mendengar dari Lan Giok.

Oleh karena itulah maka Bun Sam masih bersikap manis kepadanya, masih berani menyatakan cintanya.

Ah, tadinya ia sudah bosan hidup dan ia hanya masih ingin hidup karena adanya pemuda ini di dunia.

Tetapi sekarang, ia rela menjadi nikouw agar ia jangan sampai menghalangi perjodohan Bun Sam dengan Lan Giok.

Ia harus berpura pura tidak menaruh hati lagi kepada pemuda ini.

Dengan menekan gelora batin sendiri, Sian Hwa lalu mengusap air matanya dengan ujung penutup kepalanya yang terbuat daripada kain kasar berwarna putih itu, lalu memaksa tersenyum sambil memandang kepada Bun Sam.

"Song taihiap,"

Katanya dengan suara masih agak gemetar.

"aku senang sekali bertemu dengan kau setelah berpisah beberapa tahun ini. Aku.... aku, kau lihat sendiri, taihiap, aku telah menjadi seorang nikouw. Harap kau suka mengingat kedudukanku sebagai seorang pendeta dan janganlah kau membicarakan urusan lama."

Ia tersenyum lagi.

Setelah berbicara, ternyata mendengar kata katanya sendiri ini, hatinya dapat tenteram dan tetap.

Ia melihat betapa pemuda itu menatap wajahnya seakan akan tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

"Taihiap, kau tadi bertanya mengapa aku berada di sini? Aku bersembahyang, menyembahyangi makam Ayahku,"

Ia menuding ke arah kuburan Ayahnya.

"Dan kau....... apakah yang kau lakukan di tempat ini?"

Akan tapi, mendengar ucapan ini, Bun Sam makin terbelalak kedua matanya dan pemuda ini seakan akan melihat setan di tengah hari.

Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, mukanya menjadi pucat dan alangkah heran hati Sian Hwa ketika melihat mata pemuda itu mulai menitikkan butiran butiran air mata yang mengalir turun di sepanjang kedua pipinya.

"Sian Hwa...."

Akhirnya pemuda itu bisa juga mengeluarkan kata kata, akan tetapi ia menelan ludah dan tak dapat melanjutkan kata katanya.

"Taihiap, kau.... kenapakah kau? tanya Sian Hwa dengan hati berdebar.

"Sian Hwa, jadi kaukah .....? Kau puteri dari Can kauw itu? Kaukah Can Sian Hwa,...? Ya Thian yang Maha Adil! Jadi kaukah anak itu....?"

Tiba tiba Bun Sam menjatuhkan diri berlutut di depan makam ayah Sian Hwa dan berkata.

"Can pek pek, ampunkan mataku yang sudah menjadi buta. Puterimukah gerangan dia ini.....?"

"Taihiap, apakah artinya semua ini ?"

Sian Hwa ikut berlutut dan memandang kepada pemuda itu dengan bingung dan khawatir kalau kalau pertemuan ini telah membuat pemuda itu menjadi berobah pikirannya dan menjadi gila.

Bun Sam menoleh kepadanya, lalu bagaikan seorang gila, pemuda itu menubruk dan memeluknya.

"Sian Hwa....Sian Hwa....pantas saja aku merasa seperti pernah mendengar nama ini....! Ah, kekasihku, bidadariku...."

Sian Hwa benar benar menjadi bingung sekali.

Dipeluk pundaknya oleh sepasang lengan yang kuat dan yang sering kali diimpikan itu mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa, tetapi ia melawan perasaan ini.

Ia mencoba untuk melepaskan diri, tetapi ia tidak kuasa melawan tenaga Bun Sam yang amat kuat.

"Taihiap, lepaskan aku .... !"

Apakah artinya semua ini? Kenalkah kau dengan mendiang ayahku?"

"Kenal? Ah, Sian Hwa. Kenal, katamu?"

Ayahmu justeru tewas karena menolongku ketika aku masih kecil.

Tanpa pertolongan ayahmu, tidak akan ada Bun Sam yang hari ini berhadapan muka dengan kau!

Akupun baru saja mendapat keterangan bahwa di sinilah letaknya kuburan ayah ibuku dan juga kuburan Can pek pek penolongku!"

Bukan main kaget dan terharunya hati Sian Hwa.

"Kau harus menjawab dulu apa artinya semua ini, Mengapa kau berpakaian seperti ini dan apakah yang sebetulnya telah terjadi denganmu. Bagaimanakah dengan..... dengan perjodohanmu yang dulu itu? Apakah kau... disia siakan oleh Liem Swee ?"

Kata kata ini terdengar penuh kegemasan.

Kembali Sian Hwa teringat akan keadaannya, teringat bahwa biarpun kini tiada halangan baginya untuk berjodoh dengan pemuda pujaan hatinya ini, namun hal itu tidak mungkin.

Di sana ada Lan Ciok yang telah ditunangkan dengan Bun Sam.

Maka teringat akan semua ini, ia meronta dan melepaskan diri dari pelukan Bun Sam, lalu bangkit berdiri dan mundur tiga langkah.

"Taihiap, jangan kau bersikap seperti itu, ingat, aku telah menjadi seorang nikouw. Aku bukanlah Sian Hwa yang dulu lagi !"

Suaranya menjadi dingin kembali, sungguhpun wajahnya amat muram dan tanpa disadarinya meleleh dua titik air mata kembali membasahi pipinya.

"Sian Hwa, tak perlu kau berpura pura. Kemarin dulu kau masih seorang gadis biasa, mengapa sekarang berpura pura berpakaian seperti ini ?"

Sebelum Sian Hwa dapat mencegahnya, pemuda itu telah menggerakkan tangan dan terbukalah penutup rambut gadis itu.

Sian Hwa kaget sekali dan buru buru hendak menutup kepalanya lagi.

Juga Bun Sam, kaget melihat rambut gadis itu telah dipotong hingga leher.

"Sian Hwa, mengapa kau melakukan hal yang gila ini? Mengapa kau memotong rambutmu ? Kemarin malam rambutmu masih panjang dan pakaianmu masih biasa saja. Katakan, mengapa?"

Sian Hwa memandang tajam.

"Bagaimana kau bisa tahu? Kita telah berpisah tiga tahun lamanya."

Bun Sam tersenyum dan kembali tangannya menyambar dan kini tangan gadis itu telah digenggamnya.

"Betapapun juga, aku tahu bahwa kemarin dulu keadaanmu masih biasa, tidak seperti sekarang. Aku melihatmu bersama Lan Giok gadis centil itu !"

Terbelalak Sian Hwa memandang kepada pemuda ini.

"Jadi... kaukah gerangan orang itu? Kaukah yang telah menolong kami dan menolong Thian Giok?"

Bun Sam mengangguk dan hanya tersenyum.

"Nah, sekarang katakanlah, mengapa kau tiba tiba saja berobah menjadi seperti ini."

Sian Hwa menjadi makin bingung.

Pemuda ini sekarang ternyata telah menjadi seorang yang lihai sekali dan tinggi ilmu kepandaiannya, ia merasa girang memikirkan ini.

Akan tetapi tak mungkin ia mengaku terus terang.

Sebaliknya, melihat pemuda ini amat bernafsu untuk mengetahui jelas segala hal, agaknya sukar pula baginya untuk menutup mulut, ia harus diberi waktu untuk berpikir.

"Kau berceritalah dulu tentang keadaan ayah, tentang pertemuanmu dengan ayah, tentang semua pengalamamu, tentang.... pendeknya tentang dirimu, taihiap."

Bu Sam tersenyum lagi.

"Aku takkan mau bercerita kalau kau menyebut taihiap kepadaku."

Senyum dan pandangan mata pemuda itu membuat Sian Hwa menjadi makin bingung lagi.

"Habis, harus panggil apa?"

"Dahulu kau selalu menyebut namaku saja, mengapa sekarang kau tambah tambahi dengan sebutan taihiap segala. Ditambah koko misalnya masih baik, akan tetapi taihiap? Tidak, aku tidak mau kau menyebutku seperti kita ini tak saling kenal saja."

"Akan tetapi... ingat, pinni adalah seorang nikouw....."

Bun Sam tak dapat menahan gelaknya, ia merasa geli dan lucu sekali mendengar Sian Hwa menyebut "pinni"

Kepada dirinya sendiri, sebutan yang sering kali diucapkan oleh para nikouw untuk memanggil diri sendiri. Melihat pemuda itu tertawa geli makin bingunglah Sian Hwa.

"Adikku yang baik, kau hanya berpura pura menjadi nikouw. Apakah kaukira aku tak tahu? Kemarin kau masih seorang gadis biasa, sama sekali bukan nikouw. Tak dapat kau membohongi aku."

"Taihiap...."

Sian Hwa menahan kata katanya melihat pandangan mata Bun Sam.

"Aku tidak bohong kepadamu, aku memang sungguh sungguh berniat masuk menjadi nikouw. Kau boleh tanya kepada nikouw kepala di kelenteng Sun pok thian. Akan tetapi, soal sebutan itu....biarlah kalau kau tidak suka, aku tetap menyebut namamu saja. Sekarang kau berceritalah."

Dua orang muda itu lalu duduk di depan makam saling berhadapan dan berceritalah Bun Sam tentang Can Goan atau Can kauwsu, ayah Sian Hwa, ia menuturkan betapa kedua orang tuanya tewas di tangan pasukan Ang bi tin dan betapa kemudian ia dikejar kejar dan hampir saja tewas pula dalam tangan gerombolan kejam itu kalau saja tidak ada Can kauwsu yang menolongnya.

"Ketika aku disuruh lari ayahmu, dia berpesan agar supaya aku suka membawa puterinya yang bernama Sian Hwa. Akan tetapi aku sendiri tidak berdaya karena akupun hampir saja mati dalam tangan Ang bi tin."

Ia lalu menuturkan lebih lanjut betapa kemudian ia terluka dan akhirnya tertolong oleh Yap Bouw si gagu, Sian Hwa mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketika ia mendengar tentang ayahnya yang tewas ketika menolong Bun Sam, tak terasa lagi ia menangis terisak isak.

"Dan ibu.... bagaimana dengan ibuku.......?"

Akhirnya ia bertanya penuh harapan.

"Ibumu? Setahu dan seingatku, ayahmu hanya tinggal dengan kau berdua saja dalam rumahnya. Ayahmu menjadi guru silat dan bersahabat baik dengan ayahku maka aku tahu keadaaaaya. Ayahmu telah.menjadi duda ketika tewas oleh barisan Ang bi tin dan kalau aku tidak salah. Ingat, dulu pernah ayahmu bercerita kepada ayah bundaku bahwa ibumu memang telah meninggal dunia semenjak kau masih kecil sekali."

Sian Hwa kecewa, akan tetapi ia menarik napas lega.

Baiknya ibunya tidak menjadi korban barisan Ang bi tin yang kejam.

Sayang aku sendiri tidak melihat siapa orangnya yang telah menewaskan ayahmu, karena pada waktu itu ayahmu menghadapi keroyokan banyak orang, yakni gerombolan Ang bi tin itu.

"Aku tahu!"

Kata Sian Hwa perlahan.

"dan dia sudah tewas. Dia adalah Ngo jiauw eug Lui Hai Siong yang mengakui perbuatannya sebelum mati."

Kemudian, atas permintaan Sian Hwa, Ban Sam melanjutkan penuturannya tentang dirinya sendiri dan akhirnya menuturkan semua riwayatnya, kemudian sambil memandang mesra, ia berkata.

"Sian Hwa, sekarang tibalah giliranmu untuk menuturkan keadaanmu, terutama sekali mengenai halmu dengan Liem Swee dan mengenai kelakuanmu yang aneh ini, yang tiba tiba ingin menjadi nikouw."

Sian Hwa memandang ke atas.

Matahari telah naik tinggi dan alangkah cepatnya waktu berjalan selama ia duduk berhadapan dengan Bun Sam mendengarkan penuturan pemuda pujaan hatinya itu.

Betapapun juga, ia harus menuturkan keadaan nya selama ini kepada Bun Sam.

"Apakah yang harus kuceritakan kepadamu? Tidak ada apa apa yang menarik, semua kejadian yang menimpa padaku serba menyebalkan dan membosankan."

Ia menghela napas panjang.

"Kasihan kau Sian Hwa. Semuda dan secantik ini harus mengalami segala macam kepahitan hidup. Ah, ingin sekali aku dapat membela dan melindungimu selamanya, makin cepat makin baik."

Merahlah wajah Sian Hwa mendengar ucapan yang mengandung penuh arti ini.

Ia tidak berani langsung menatap pandangan mata pemuda itu karena betapapun ia berpura pura, sinar matanya takkan dapat menyembunyikan perasaan hatinya.

Ia lalu cepat cepat menuturkan pengalamannya.

"Tidak ada yang menarik,"

Katanya sekali lagi.

"Semenjak kecil aku dipelihara oleh Bucuci dan dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Aku dimanja, diberi apa saja yang kukehendaki, pendeknya, aku menerima banyak sekali dari ayah bunda angkatku itu. Akan tetapi setelah dewasa, aku membalas budi mereka itu dengan pendurhakaan. Aku berkeras tidak mau dijodohkan dengan Liem Swee bekas suhengku, sehingga terjadi ribut ribut di dalam rumah ayah angkatku. Kemudian aku meninggalkan rumah dan tinggal di dalam kuil Sun pok thian, bersama ibu angkatku sampai dia meninggal dunia. Nah, hanya itulah. Karena aku takut kalau kalau selalu diancam oleh bekas guru dan suhengku, aku mengambil keputusan masuk menjadi nikouw!"

"Kasihan kau, Sian Hwa. Kalau begitu, marilah kau pergi saja dengan aku. Mari kita bersama menjelajah dunia ini, suka sama dirasa, duka sama diterima. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku. Kau tahu aku cinta kepadamu, Sian Hwa dan di samping itu ada pula dorongan kuat dari keinginanku hendak memenuhi pesan mendiang ayahmu, hendak kubalas budi pertolongannya itu melalui kau. Marilah dan di sampingku, kau tak usah takut kepada si apapun juga. Kalau perlu, ayah angkatmu dan Pat jiu Giam ong akan ku tentang!"

Sian Hwa terpaksa memeramkan matanya dan menggigit bibirnya.

Alangkah indahnya kata kata itu, alangkah mesra dan merdunya.

Telah ribuan kali ia mengimpikan kata kata seperti ini akan keluar dari bibir Bun Sam.

Ah, kalau saja di sana tidak ada Lan Giok yang sudah menjadi tunangan Bun Sam, kalau saja tunangannya itu bukan Lan Giok yang disayangnya, kalau....kalau !

Sian Hwa menguatkan hatinya dan melempar jauh jauh lamunan lamunan kosong ini.

"Tidak, Bun Sam. Tidak bisa, tidak mungkin!"

Ia berkata sambil menggelengg gelengkan kepalanya dengan wajah sedih.

"Apakah kau takut kepada bekas garumu?"

"Bukan, bukan itu."

"Apakah karena kau masih ada ikatan pertunangan dengan Liem Swee?"

Bernyala sinar mata gadis itu.

"Tidak ada ikatan apa apa lagi. Aku dengan dia sudah putus!"

"Kalau begitu, mengapa kau bilang tidak bisa dan tidak mugkin? Sian Hwa, katakan saja terus terang, mengapa kau tidak mau pergi bersamaku menempuh hidup baru?"

Wajah pemuda yang tadinya berseri itu kini mulai nampak muram dan berduka.

Perih rasa hati Sian Hwa.

Ia tahu betapa besar cinta kasih pemuda ini kepadanya dan ia merasa amat terharu.

Akan tetapi, tidak bisa ia merampas pemuda ini dari Lan Giok.

Gadis itu demikian gagah dan demikian mulia dan berbudi.

Ia merasa malu dan rendah kalau harus merampas tunangan orang, apalagi tunangan Lan Giok, sungguhpun ia merasa yakin bahwa sekali ia mengulurkan tangan, tentu pemuda itn akan memilihnya.

"Tidak apa apa, Bun Sam. Tidak apa apa, hanya tak mungkin. Sudahlah, aku hendak kembali. Selamat tinggal."

Gadis ini lalu melangkah pergi meninggalkan Bun Sam.

Pemuda itu tertegun dan untuk sesaat tak dapat berkata sesuatu.

Wajahnya pucat sekali.

Melihat betapa tubuh gadis itu pergi dengan tindakan terhuyung huyung, ia melompat dan sekali saja ia tergerak melompat, ia telah berada di depan Sian Hwa.

Ia melihat betapa gadis itu pergi dengan air mata mengucur deras.

Serta merta di pegangnya kedua tangan gadis itu dengan erat dan Sian Hwa menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandangan matanya.

"Jangan menahan aku, Bun Sam. Lepaskan aku pergi ...."

Bisiknya.

"Tidak, tidak! Demi Tuhan, kau takkan kulepaskan lagi sebelum kau mengaku mengapa kau berlaku segila ini! Sian Hwa, aku tahu kau suka kepadaku bahwa hatimu mengatakan kau akan suka ikut bersamaku. Akan tetapi kau memaksa menyangkal suara hatimu sendiri. Kau memaksa diri meninggalkan aku. Mengapa?"

Sian Hwa hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan air matanya makin menderas. Bagaimana ia harus mengaku? "Sian Hwa, apakah... apakah kau tidak suka kepadaku?"

Dengan cepat Sian Hwa mengangkat mukanya dan sinar matanya yang tajam menatap wajah pemuda itu merupakan jawaban yang jelas.

Tetapi mulut gadis ini tidak dapat mengatakan sesuatu.

Bagaimana ia dapat mengatakan cinta kalau hatinya sudah bulat hendak melepaskan pemuda ini, pemuda yang sudah menjadi tunangan Lan Giok?

"Bun Sam aku, aku sudah menjadi nikouw jangat kau bicarakan urusan itu...."

Jawabannya menyimpang daripada pertanyaan pemuda itu.

"Itu bukan alasan ! Kalau belum menjudi nikouw kau hanya berpura pura untuk menyingkirkan diri dari ku Sian Hwa, aku bersumpah takkan melepaskanmu lagi. Kalau perlu aku akan menggunakan kekerasan untuk membawamu pergi bersamaku. Aku takkan membiarkan kau hidup mendirita sengsara lagi. Kau berhak hidup bahagia bersamatku!"

Akan tetapi...."

Sampai di sini suara Bun Sam merendah.

"tentu saju aku takkan berani mengganggumu kalau... kalau kau mengaku bahwa kau tidak cinta kepadaku. Aku takkan mengganggu padamu lagi. Nah, katakanlah satu antara dua, kau cinta kepadaku atau tidak? Kalau kau mencintaiku, apapun yang menjadi penghalang akan kuhancurkan dan kau harus pergi bersamaku, mencari bahagia. Sebaliknya kalau tidak mencintaiku.... aku akan pergi, Sian Hwa."

Bukan main bingungnya hati gadis ini.

Ia telah berkorban rela melepaskan pemuda ini kepada Lan Giok, rela pula selama hidupnya menjadi seorang pendeta wanita.

Akan tetapi....

alangkah beratnya kalau ia harus mengaku bahwa ia tidak mencintai pemuda ini !

Karena cintanya kepada Bun Sam ia sampai menolak kehendak ayah angkat nya, menolak dijodohkan dengan Liem Swee.

Karena cintanya kepada Bun Sam, ia sampai rela meninggalkan kehidupan mewah dan dimanja di rumah Bucuci, rela hidup sengsara sampai tiga tahun lamanya di dalam kuil.

Dan sekarang...

ia harus mengaku bahwa ia tidak mencintai pemuda itu.

Bagaimana bibirnya dapat mengucapkan kata kata yang jauh berlawanan dengan suara hati dan jiwa nya ini?

Biar ia dipaksa paksa dan dipukul sampa mati, bibirnya takkan kuasa mengucapkan kata kata ini.

Jilid XII SAMBIL terisak gadis ini lalu melangkah ke depan menghindari tubuh Bun Sam yang menghadang di depannya dan iapun lalu berlari lari sambil menangis.

Tetapi Bun Sam yang merasa penasaran, kecewa dan berduka itu sekali melompat saja kembali sudah menghadang di depannya dan kini pemuda itu memegang kedua pundak Sian Hwa.

Ia memaksa gadis itu memandangnya dan dengan sinar mata tajam penuh selidik ia menatap wajah Sian Hwa.

"Katakanlah Sian Hwa. Tak usah panjang panjang, kau singkat saja. Kau mencintai padaku, ya atau tidak Kalau berat lidahmu bicara, kau menjawab dengan geleng atau angguk saja. Satu kali anggukan sudah cukup bagiku. Sian Hwa kasihanilah aku, tak tahukah kau betapa hatiku perih sekali menanti keputusan jawabanmu ini?"

Sian Hwa menggigit bibirnya yang menggigil seperti orang kedinginan. Ia menelan ludah beberapa kali sementara otaknya berpikir cepat. Kemudian ia berkata perlahan.

"Bun Sam, aku minta waktu. Tidak dapat ku jawab sekarang, Bun Sam. Kau.... kau berilah waktu sehari kepadaku. Besok pagi datanglah di kuil Sun pok thian dan di sana aku akan memberi jawabanku. Harap kau suka bersabar dan tidak memaksaku, Bun Sam...."

Pemuda ini nampak puas.

la tidak ragu ragu lagi bahwa Sian Hwa pasti akan memberi jawaban yang sudah lama diidam idamkannya, yakni bahwa gadis itu mencintainya dan bersedia pergi bersamanya!

Ia tahu betul bahwa gadis ini masih mencintainya dan tentu saja sebagai seorang gadis, malulah Sian Hwa untuk mengaku cinta di tengah jalan!

Biarpun di situ tidak ada orang lain.

Ah, mengapa aku begini terburu nafsu dan bodoh sekali?

Kembali timbul senyuman manis di bibir pemuda itu ketika ia melangkah ke samping, memberi jalan kepada Sian Hwa.

Baca Juga: Pendekar Bodoh 10

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger