Eps 5 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
"Sian Hwa, pergilah. Aku takkan mengganggu mu, biarlah besok pagi aku datang mengunjungimu di kuil Sian Hwa menatap wajah pemuda itu sampai lama. Ia tahu bahwa inilah pertemuan terakhir dan untuk akhir kalinya ia berkesempatan memandang wajah pemuda yang dicintanya itu. Tak terasa pula ia memegang kedua tangan Bun Sam, bibirnya bergerak gerak tanpa mengeluarkan suara, kemudian ia melepaskan pegangannya dan berlari cepat menuju ke kuil! Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali Bun Sam berada di depan kuil. Ia mengenakan pakaian yang bersih dan merasa seakan akan seorang pemuda hendak mengajukan pinangan pada seorang gadis. Hatinya berdebar debar dan mukanya merah. Jengah dan malu juga ia, bukan terhadap Sian Hwa, melainkan terhadap para nikouw di dalam kuil itu! Ia tidak mau masuk, karena tidak ingin membuat Sian Hwa merasa sungkan dan malu. Ia hendak menunggu saja di depan kuil, menanti gadis itu keluar. Tak ada kesabaran di dunia ini yang melebihi kesabaran hati seorang pemuda menanti kekasihnya. Akan tetapi, setelah berjam jam ia menanti dan matahari telah naik tinggi, belum juga nampak gadis idamannya itu keluar. Ia mulai merasa tak enak. Dilihatnya beberapa orang nikouw membersihkan halaman depan den asap hio mulai mengepul di meja sembahyang di ruang depan. Akhirnya Bun Sam melangkah masuk ke ruang depan itu. Ia disambut oleh beberapa orang nikouw yang memandangnya dengan heran. Pemuda ini nampaknya tidak seperti orang hendak bersembahyang.
"Maafkan teecu kalau teecu mengganggu,"
Kata pemuda itu setelah menjura dengan hormatnya.
"Teecu mohon bertemu dengan nona Can Sian Hwa."
Nikouw nikouw itu memandang penuh perhatian.
"Apakah sicu bernama Song Bun Sam?"
Tanya seorang di antara mereka, Bun Sam mengangguk membenarkan dan wajahnya berseri. Agaknya kekasihnya telah berpesan kepada para nikouw ini, pikirnya.
"Ketua kami telah berpesan agar supaya kalau sicu datang sicu suka menghadap dia di ruang tamu. Mari ikut dengan pinni."
Dengan hati dak dik duk Bun Sam mengikuti nikouw itu ke ruang tamu.
Mengapa ia dipanggil oleh ketua kuil?
Hatinya mulai tidak enak.
Jangan jangan Sian Hwa mengambil keputusan untuk terus menjadi nikouw dan kini ketua itu hendak menasihatinya agar ia jangan mengganggu gadis itu lagi.
Ketua kuil yang menerimanya adalah seorang nikouw tua yang berwajah putih, kelihatan tenang dan sabar sekali.
Setelah Bun Sam memberi hormat, nikouw itu mempersilahkannya duduk di atas bangku dan memberi isyarat agar nikouw yang mengantar Bun Sam maiuk tadi meninggalkan mereka.
"Sicu, kau datang tentu hendak mencari Sian Hwa, bukan?"
Bun Sam mengangguk.
"Pinni tidak dapat memberi tahu sesuatu kepadamu, sicu, karena agaknya segala hal telah tertulis di dalam suratnya. Inilah surat itu, ia minta kepada pinni untuk menyampaikan sendiri kepadamu."
Setelah berkata demikian nikouw itu mengeluarkan sesampul surat dan memberikannya kepada Bun Sam dengan tangan tenang, Bun Sam sebaliknya menerima dengan tangan gemetar.
Tak sabar lagi hati pemuda ini maka segera dibukanya surat itu.
Ternyata isinya hanya empat baris sajak pendek saja yang ditulis oleh tangan yang gemetar, namun bentuk tulisan itu halus dan indah sekali.
Bun Sam tak dapat mengerti dengan sekali baca saja dan setelah membaca tiga kali ia lalu berkata kepada nikouw tua yang memandangnya dengan mata mengandung iba hati.
"Suthai, di mana dia?"
"Dia sudah pergi, sicu."
"Ke mana?"
"Siapa dapat mengetahui ke mana seekor Bi hong (burung hong yang cantik) terbang pergi?"
Bun Sam menundukkan mukanya dan menjadi makin bingung.
Kata kata nikouw ini yang menyebut Bi hong kepada Sian Hwa, benar benar secara kebetulan cocok dengan bunyi sajak itu.
Ia lalu menjura dan berkata.
"Sekali lagi teecu mengganggu. Bilakah dia pergi?"
"Malam tadi."
"Malam tadi turun hujan...."
Nikouw itu mengangguk.
"Di dalam hujan ia terbang pergi."
Bun Sam mengeluh.
"Ah, Sian Hwa....."
Kemudian ia menjura lagi sambil mengucapkan terima kasih, lalu pergi keluar dari kuil itu.
Bun Sara berlari cepat, tak tentu arah dau tujuan.
Setelah jauh dari kuil, ia duduk di bawah sebatang pohon dan mengeluarkan surat dari Sian Hwa tadi.
Ia membukanya dan membaca berkali kali.
"Han ya (burung goak) merindukan Sin liong (Naga sakti) di angkasa raya, Terbang di samping Bi hong (Burung Hong cantik) dengan megahnya. Mana bisa Han ia berjodoh dengan Sin liong perkasa? Hanya Bi hong jelita itulah patut jadi jodohnya !"
Berkali kali Bun Sam membaca sajak ini, tetapi tetap saja artinya masih gelap baginya.
Biarpun nikouw tua tadi mungkin secara tidak disengaja menyamai sebutan dalam ajak, telah menyebut Sian Hwa sebagai seekor burung hong cantik (bi hong), tetapi melihat bunyi sajak ini, sudah terang bahwa Sian Hwa menganggap dirinya sendiri sebagai seekor burung goak.
Burung goak menjadi sindiran bagi seorang yang buruk rupa dan tidak disukai orang, sebagai burung yang dianggap paling rendah.
Terang gadis itu merendahkan diri sekali.
Dengan kata kata Sin liong atau Naga sakti mungkin sekali dimaksudkan dia.
Di sini ternyata bahwa gadis itu benar benar mencintainya, karena disebutkan bahwa Sian Hwa sebagai Goak merindukan dia sebagai Sin liong!
Akan tetapi baris baris selanjutnya benar benar ia tidak mengerti maksudnya.
"Terbang di samping Bi hong dengan megahnya. Siapakah Bi hong? Siapakah Burung Hong cantik yang dimaksudkan oleh Sian Hwa itu? Tentu seorang wanita, tetapi siapakah? Kemudian, baris ke tiga dan ke empat menyatakan bahwa Sian Hwa menganggap dirinya sendiri tidak berharga untuk menjadi jodoh Bun Sam dan menyatakan bahwa Bi hong itulah yang patut menjadi jodohnya! Buu Sam menggaruk garuk kepalanya. Sian Hwa merasa cemburu! Sungguh heran sekali. Siapakah wanita yang dimaksudkan oleh Sian Hwa? Terang bahwa gadis itu hendak mengalah terhadap wanita yang diumpamakannya sebagai Burung Hong.
"Ah, Sian Hwa, mengapa kau tidak mau berterang terang saja?"
Kata Bun Sam sambil menyimpan surat itu.
"Mengapa kau meninggalkan aku?"
Ia bangkit berdiri lalu berlari lari dengan niat mencari Sian Hwa sampai dapat.
Betapapun juga, Sian Hwa telah menyatakan cintanya dalam surat itu dan ini sudah cukup baginya untuk mencari gadis itu sampai dapat, kemudian minta ia mengaku sejujurnya!
"Sian Hwa, kekasihku...."
Beberapa kali Bun Sam mengeluh sambil mempercepat larinya.
Tiba tiba ia teringat akan sesuatu dan menahan kakinya.
Ah, mengapa dia begitu bodoh?
Tanpa disadarinya lagi Bun Sam menempeleng kepalanya sendiri.
Ketika ia menolong Sian Hwa dari tawanan Liem Swee dua hari yang lalu, Sian Hwa berada bersama Lan Giok.
Mengapa ia tidak akan mengorek rahasia ini dari Lan Giok?
Biasanya, antara wanita tidak ada rahasia.
Mungkin sekali Lan Giok mengerti tentang keadaan Sian Hwa yang aneh itu.
Ketika menolong Lan Giok, Sian Hwa dan juga Thian Giok, memang ia sengaja tidak memperlihatkan diri.
Ia tidak mau orang orang mengetahui kepandaiannya yang kini telah maju pesat sekali semenjak ia menerima latihan dari Bu tek Kiam ong.
Setelah berpikir demikian, Bun Sam lalu berlari cepat dan kini ia mengarahkan perjalanannya ke Sian hwa san.
Selain hendak bertemu dengan Lan Giok, iapun ingin mengunjungi suhengnya, Yap Bouw yang ia pikir tentu telah berada di gunung itu pula, menyusul isterinya.
Lan Giok dan Thian Giok melakukan perjalanan cepat menuju ke Sian hwa san untuk membuat laporan kepada guru mereka.
Di dalam perjalanan, selain membicarakan tentang kedudukan fihak Hiat jiu pai yang benar benar memiliki banyak orang pandai itu, juga mereka berdua membicarakan tentang penolong aneh yang luar biasa.
"Sayang sekali dia tidak mau memperlihatkan dan memperkenalkau diri,"
Kata Lian Giok.
"Kalau kita mengetahui siapa dia tentu lebih baik lagi. Menghadapi Hiat jiu pai yang kuat, kita amat membutuhkan bantuan orang orang pandai."
"Kurasa dia tentulah seorang pertapa tua yang menyembunyikan diri dan tidak mau dikenal. Aku pernah mendengar tentang orang orang sakti yang selalu bekerja secara diam diam dan rahasia seperti itu."
Thian Giok mengutarakan pendapatnya.
Mereka telah melakukan perjalanan selama tiga hari dan pada siang hari itu mereka tiba di dalam sebuah tanah pegunungan yang gundul tak berpohon, tetapi penuh dengan rawa dan padang rumput.
Akan tetapi, jalan di daerah ini cukup baik lebar dan biarpun berbatu batu, tetapi rata.
Jalan ini dibuat oleh rakyat atas paksaan pemerintah Mongol yang banyak mengangkut harta benda dari Tiong goan (pedalaman Tiongkok) untuk dibawa ke Mongol!
Jalan ini sunyi sekali, karena selain hutan hutan di balik gunung, di pegunungan ini sendiri tanahnya buruk, sehingga tidak ada orang yang mau membuka dusun di daerah tandus ini.
"Thian ko, aku lapar dan haus,"
Tiba tiba Lan Giok mengeluh.
"Ah, kau ini ada ada saja. Di tempat seperti ini bagaimana kita bisa mendapatkan makan dan minum? Bukankah tadi pagi kau telah menghabiskan dua piring bakpauw dan beberapa guci air?"
Adiknya cemberut dan melototkan matanya yang jeli. Melihat ini, Thian Giok makin bernafsu untuk menggodanya.
"Lan moi, agaknya perutmu tidak berdasar, apa saja yang masuk lenyap dalam sekejap mata!"
"Enak saja kau mengobrol! Kaukira aku segembul itu? Kalau di sini ada orang lain yang mendengar, tentu aku akau memukulmu untuk hinaan yang memalukan ini ! Kau hendak merusak namaku, ya? Bakpauw dua piring hampir kau habiskan sendiri, aku hanya makan beberapa buah saja. Dan tentang air itu apa kaukira aku sudah lupa betapa kau minum seperti kuda?"
Thian Giok tertawa melihat adiknya marah marah ini.
"Kalau didengar orang lain apakah salahnya? Asal saja jangan Bun Sam yang mendengar."
Merah muka Lan Giok dan gadis ini lalu mengangkat tangan hendak memukul. Kakaknya cepat melompat dan sambil tertawa tawa menggoda ia berlari cepat ke depan. Lan Giok mengejar sambil mengancam.
"Lan moi, kalau Bun Sam melihat kau segalak ini, apakah dia tidak akan kuncup hatinya? Tak enak punya isteri galak!"
Thian Giok sambil berlari cepat terus menggoda.
"Kupukul mulutmu yang jahil !"
Lan Giok mempercepat kejarannya, tetapi sekarang ia juga mengejar sambil tertawa tawa.
Memang sepasang anak kembar ini amat rukun dan sering kali bermain main semenjak masih kanak kanak.
Mereka saling menyayang, lebih daripada saudara kandung biasa.
Kalau yang seorang berduka, yang lain ikut merasa berduka seperti dirinya sendiri yang menghadapi kekecewaan.
Yang seorang ketawa yang lain tentu bergirang.
Ketika Thian Giok tiba di satu tikungan, tiba tiba ia berhenti Lan Giok telah dapat menyusul kakaknya dan ketika tiba di tikungan itu iapun berhenti di sebelah Thian Giok.
Keduanya memandang ke depan dengan heran.
Lucu benar melihat sepasang anak kembar ini, karena Lan Giok yang pada saat itu mengenakan pakaian yang sama, yakni pakaian seorang pemuda, kelihatan serupa benar dengan Thian Giok.
Dari depan kelihatan datang sebuah kendaraan mewah yang ditarik oleh empat ekor kuda kuda besar.
Yang mengherankan dua orang muda itu ialah bahwa kendaraan ini tidak dikawal oleh seorang piauwsupun.
Melihat kendaraan yang dicat indah dan kudanya yang besar besar itu, mudah diduga bahwa tentu kendaraan itu milik seorang kaya raya atau bangsawan tinggi.
Dan biasanya, kalau mereka ini melakukan perjalanan, tentu kalau tidak dikawal oleh sepasukan tentara, akan dikawal oleh pasukan piauwsu.
Akan tetapi, kendaraan yang datang dari depan dan yang menimbulkan debu mengebul tinggi itu, tidak dikawal oleh seorang pun, kecuali hanya kusirnya yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk.
"Nah, Lan moi, jangan merajuk dan marah lagi. Itu makanan dan minumanmu datang!"
Kata Thian Giok kepada adiknya.
"Eh, eh, apakah kau Hendak menjadi perampok?"
Adiknya menggoda.
"Kurang serem tampangmu kalau kau menjadi perampok, siapa yang akan takut padamu?"
"Bukan merampok, adikku yang manis. Aku akan mintakan makanan dan minuman dari mereka itu. Sebagai orang orang kaya raya yang memiliki kendaraan seindah itu, mereka tentu membawa bekal makanan dan minuman yang lezat!"
"Hm, celaka. Kakakku hendak menjadi pengemis pula? Lebih buruk daripada menjadi perampok!"
Lan Giok mencela.
"Bukan mengemis. Sudah sewajarnya perantau perantau yang bertemu di jalan saling minta tolong karena bekal makanannya habis."
"Kalau mereka tidak memberi?"
"Boleh tidak boleh kita minta!"
"Kau bilang itu bukan perampok?"
"Bukan, karena kita minta!"
"Hm, lidahmu memang tidak bertulang,"
Kata Lan Giok cemberut.
"Hm, kalau lidahmu bertulang, ya? Pantas saja begitu galak!"
Thian Giok menggoda.
"Jangan main main, Thian ko. Bagaimana kalau yang berada di dalam kereta itu pembesar Mongol?"
"Lebih baik lagi, kita seret dia turun dan makan perbekalan mereka tanpa banyak cingcong lagi."
Sementara itu, kendaraan itu idah tiba di depan mereka dan ketika kusir itu melihat Thian Giok dan Lan Giok mengangkat tangan dan berdiri di tengah jalan, ia lalu menarik kendali kuda kudanya dan kuda kuda itu berhenti.
Debu mengebut tinggi, membuat Lan Giok cepat cepat menggunakan saputangan untuk menutupi hidungnya.
Kusir kereta itu memandang dengan mata terbelalak heran kepada dua orang muda yang berdiri di depan keretanya, dua orang muda yang begitu serupa bentuk dan wajahnya seperti pinang dibelah dua.
"Siapakah kalian dan mengapa menyuruh kami berhenti?"
Tanyanya. Melihat orang tinggi besar bercambang bauk ini dan mendengar kata katanya yang kasar, hati Lan Giok sudah tidak senang.
"Beritahukan majikanmu yang berada di dalam kereta bahwa kami ingin bicara!"
Jawabnya mendahului Thian Giok.
Pada saat itu, pintu kereta dibuka dan berturut turut lima orang melompat keluar dari dalam kendaraan itu.
Thian Giok dan Lan Giok cepat memandang dan mereka terkejut bukan main ketika melihat siapa adanya lima orang yang tadi menumpang kendaraan ini.
Mereka itu bukan lain adalah Bouw Ek Tosu, pendeta yang berjuluk Hwa I sianjin (Manusia Dewa Berbaju Kembang), Lam Hai Siang mo si hwesio kembar, Kui Hok Si Pacul Kilat dan Coa Hwa Hwa atau Hwa Hwa Niocu.
Pendeknya, Sin beng Ngo hiap lima pendekar itu lengkap berdiri di situ, memandang ke arah Thian Giok dan Lan Giok dengan mata menyatakan kekagetan pula.
"Ha, ha, ha, kukira siapa yang hendak beraksi menjadi perampok ! Kukira tikus tikus hutan yang tak tahu diri, tidak tahunya murid murid Mo bin Sin kun! Ha ha, bagus benar, ternyata Mo bin Sin kun hanya guru dan para perampok perampok kecil yang tak tahu malu !"
Mendengar kata kata yang diucapkan oleh Hwa Hwa Niocu, Thian Giok menjadi marah sekali dan hendak memaki, tetapi ia dahului oleh Lan Giok.
Adiknya ini memang lebih pintar bicara dan dalam hal percekcokan mulut, tentu saja ia tidak mau kalah.
Menghadapi sindiran Hwa Hwa Niocu, ia lalu bertolak pinggang dan sambil tersenyum manis ia berkata.
"Betul, betul sekali. Memang kami adalah kepala kepala perampok! Hai, kalian ini maling maling kecil, agaknya kalian sudah berhasil mengait uang dari Jenderal Yap Bouw, maka sekarang kelihatan begini mentereng, ya? Bagus, sekarang tak usah banyak mulut, kalian ini maling maling kecil yang hina dina dan yang beraninya hanya mengambil barang orang dengan diam diam, ayoh lekas berikan semua hasil curianmu itu kepada kami perampok perampok gagah perkasa!"
Memang di dalam kalangan liok lim, derajat maling dipandang rendah oleh perampok.
Bagi seorang perampok yang menghadang orang dan minta barang barangnya dengan mengandalkan kepandaian dan kegagahannya, maling dianggapnya sebagai seorang yang amat pengecut dan licik.
Seorang perampok hanya menghadapi dua hal.
Menghadang, bertempur kalah atau menang.
Kalau menang mendapat barang, kalau kalah tertawan atau mati!
Berbeda dengan pancuri yang melakukan pekerjaannya dengan diam diam menunggu sampai pemilik barang pergi atau tidur dan begitu ketahuan lain lari pontang panting !
Hwa Hwa Niocu mengerti akan sindiran dan hinaan ini, yang dikatakan oleh Lan Giok untuk membandingkan bahwa lima orang itu disamakan dengan pencuri pencuri yang hina dina.
Tentu saja wanita ini menjadi marah sekali.
"Setan kecil bermulut lancang! Kan berani menghina nyonya besarmu?"
"Setan tua bermulut bau! Kau tidak lekas lekas mengembalikan semua harta puaaka milik ayahku yang kalian curi?"
Lan Giok balas membentak Hwa Hwa Niocu.
"Apakah dahulu kalian ini lima ekor monyet tna bangka yang berbau busuk masih belum kapok !"
Sengaja Lan Giok menyebut nyebut peristiwa tiga tahun yang lalu ketika ia dikeroyok oleh lima orang ini dan dalam keadaan terdesak ia mendapat pertolongan dari Gan Kui To murid Lam hai Lo mo.
Bouw Ek Tosu marah sekali, sehingga jenggotnya sampai bergetar.
"Anak setan yang mau mampus! Kau sudah berani membinasakan muridku Ngo jiauw eng. Sekarang masih hendak banyak lagak? Bersiaplah untuk mampus!"
Sambil berkata demikian, tosu ini lalu menggerakkan kebutannya yang panjang itu. Kebutan ini menyambar bagaikan kilat ke arah leher Lan Giok.
"Ayaaa! Kukira empek empek tua ini sudah mampus, ternyata masih belum. Kau tidak tahu bahwa muridmu Burung Goak Cakar Buntung itu menanti nantimu di dasar neraka?"
Gadis yang nakal ini sengaja mengubah julukan murid Bouw Ek Tosu.
yang sesungguhnya berjuluk Ngo jiauw eng atau Burung Garuda Cakar Lima, kini ia robah menjadi Burung Garuda Cakar Buntung.
Tentu saja Bouw Ek Tosu menjadi makin marah seperti orang kebakaran jenggot.
Sambaran hudtimnya (kebutannya) tadi dengan mudah saja dielakkan oleh Lan Giok dan kini ia menyerang lagi dengan lebih hebat.
Empat orang adiknya tidak mau tinggal diam saja dan berbareng maju mengeroyok.
"Engko Thian Giok, awas jangan kau menggangguku dalam main main ini ! Lima ekor tikus ini sudah menjadi bagianku, jangan kau ikut ikut! Lebih baik kau mengumpulkan sisa sisa harta pusaka kita yang dicuri oleh tikus tikus ini!"
Kata Lan Giok kepada kakaknya ketika melihat Thian Giok mencabut Pek giok joan pian, senjata pecut mutiara putih itu.
Tentu saja Thian Giok tidak mau menurut dan tetap saja hendak membantu adiknya, akan tetapi begitu senjatanya menyambar, tiba tiba terdengar suara keras dan senjatanya itu ditangkis oleh sebatang jarum emas di tangan Lan Giok.
"Jangan bantu aku!"
Gadis ini kembali berseru.
Sungguh patut dipuji gadis ini.
Biarpun sudah di keroyok lima orang yang cukup tangguh, ia masih sempat menangkis senjata kakaknya sendiri yang hendak membantunya.
Thian Giok tertawa, ia maklum bahwa adiknya ini hendak menguji kepandaiannya sendiri terhadap lima orang lawannya, maka iapun tidak mau memaksa.
Pemuda ini lalu melihat jalannya pertempuran sebentar dan setelah mendapat kenyataan bahwa adiknya memang tak perlu dibantu, ia lalu menghampiri kereta itu.
Kusirnya yang bertubuh tinggi besar itu hendak menyerangnya, tetapi dengan sekali tendang saja tubuh yang tinggi besar itu terlempar jauh dan jatuh berdebuk bagaikan pohon tumbang!
Thian Giok dan adiknya sudah mendengar penuturan ayah mereka, bekas Jenderal Yap Bouw, tentang harta pusaka yang disimpan di dalam kebun di belakang bekas gedungnya yang kini ditempati oleh Panglima Bucuci dan betapa harta pusaka itu telah didahului oleh Sin beng Ngo hiap yang entah bagaimana mengetahui simpanan rahasia ini dan mencurinya.
Ayah mereka memang sudah mengejar tetapi tidak berhasil menangkap Sin beng Ngo hiap yang telah menggondol harta karun itu.
Oleh karena itu, sekarang tidak disangka sangka bertemu dengan serombongan orang yang telah mencuri harta itu, tentu saja Thian Giok dan Lan Giok merasa girang benar.
Thian Giok lalu memasuki kereta.
Benar benar sebuah kendaraan yang amat mewah.
Selain keadaan kereta yang mewah dan kuda kudanya yang berjumlah empat ekor itu pun besar dan baik, ia juga mendapatkan bekal makanan dan minuman yang mahal.
Juga di situ ia mendapatkan uang emas dan perak, serta sutera sutera halus yang mahal.
Melihat makanan ini, timbul juga rasa lapar dalam perut Thian Giok dan ia teringat kepada adiknya yang sudah mengeluh kelaparan.
Ia ingin menggantikan Lan Giok menghadapi musuh musuhnya agar adiknya itu bisa makan dulu, tetapi tiba tiba ia tersenyum.
"Anak nakal itu tidak mau kubantu. Biar lebih baik aku mengenyangkan perutku dulu, baru menggantikan dia."
Setelah berkata demikian, Thian Giok membawa seguci arak dan serantang makanan ke dekat tempat adiknya bertempur, lalu duduk bersila dan makan dengan enaknya.
Lan Giok pernah bertempur dikeroyok lima oleh Sin beng Ngo hiap.
Tiga tahun yang lalu kepandaiannya tidak setinggi sekarang dan biarpun pada waktu tiga tahun yang lalu itu ia terdesak dan kalau dilanjutkan tentu kalah, namun harus diakui bahwa lima orang pengeroyoknya pada waktu itu sukar sekali untuk dapat merobohkan gadis yang memiliki gerakan luar biasa lincahnya itu.
Apalagi sekarang.
Selama tiga tahun, Sin beng Ngo hiap yang suka melewatkan hidup dengan bersenang senang saja, mana ada ketika untuk memperdalam ilmu silat mereka?
Sebaliknya, selama tiga tahun itu, Lan Giok bersama kakaknya telah digembleng dengan hebat oleh Mo bin Sin kun, sehingga kepandaian Lan Giok sekarang sudah hebat sekali.
Hal ini dirasai benar benar oleh Sin beng Ngo hiap yang mengeroyoknya.
Gadis ini tiada hentinya mengejek dan mempermainkan mereka.
Senjata senjata yang sederhana dan aneh dari Lan Giok, yakni Gin sam kim ciam atau Kipas Perak dan Jarum Emas, benar benar membikin mereka kewalahan.
Kebutan kipas dari gadis itu saja cukup untuk menangkis semua senjata yang datang menyambar, karena kipas ini digerakkan sedemikian rupa, hingga menimbulkan angin memutar yang sanggup menangkis serangan senjata lawan.
Adapun jarum emasnya tak kurang kurang lihainya.
Kalau lima orang pengeroyok itu tidak berlaku hati hati dan saling membantu, tentu mereka telah dijadikan karung pecah yang dijahit oleh jarum ini.
Datangnya serangan balasan jarum ini sungguh tak tersangka sangka, tahu tahu di depan mata mereka telah berkelebat sinar keemasan dan ujung jarum sudah mengancam jalan darah.
"Lan moi, sudah kenyangkah kau mempermainkan tikus tikus itu?"
Thian Giok bertanya.
"Perutku sudah kenyang."
Lan Giok melirik dan ketika ia melihat kakaknya makan minum seorang diri dengan enaknya, ia menjadi iri hati dan timbul seleranya. Setelah menelan ludah beberapa kali, ia berkata.
"Thian ko, mempunyai kakak seperti engkau ini tiada gunanya. Hatimu kejam melebihi lima ekor tikus ini. Kau tega makan minum sendiri sambil melihat aku bertempur?"
Sambil berkata demikian, Lan Giok menggerakkan jarumnya dengan amat hebatnya.
Sekaligus jarum ini menyerang dan menyambar ke arah lima orang itu dengan gerak tipu Angin Puyuh Mengacau Hutan.
Karena serangannya ini mengancam semua orang, kelima Sin beng Ngo hiap itu tidak dapat saling membantu dan terpaksa menjaga diri masing masing.
Celakanya, seorang di antara Lam san Siang mo, hwesio kembar yang gemuk gemuk seperti babi dikebiri itu, kurang cepat mengelak dan karena sudah buntu jalan, ia bahkan mengangkat kaki kanannya menendang ke arah pergelangan tangan Lan Giok yang memegang jarum, dengan maksud untuk membikin senjata lawan yang lihai ini terpental.
Tidak tahunya, gadis ini memiliki kelincahan dan kegesitan kaki dan tangan yang luar biasa.
Ditendang demikian hebatnya, ia hanya menggerakkan pergelangan tangannya dan tahu tahu jarum itu telah menukik ke bawah dan tanpa dapat dicegah pula, otot besar pada mata kaki hwesio gemuk itu telah tertusuk oleh kim ciam.
Bukan main sakitnya otot besar di kaki ditusuk jarum, apa lagi karena jarum yang runcing itu telah menembus otot dan menyentuh tulang muda, aduh, sakitnya sampai menembus ke ulu hati.
Hwesio itu tak dapat menahan sakit lagi sambil mengaduh aduh ia mengangkat kaki kanannya ke belakang, dipegangi oleh kedua tangan dan berloncat loncatan dengan tubuh berputar putar seperti seorang anak kecil berjingkrak kegirangan dalam bermain main!
Memang lucu sekali melihat hwesio yang tubuhnya bulat itu berloncat loncatan seperti itu dan tiba tiba terdengar Thian Giok batuk batuk.
Ketika Lan Giok mengerling, ia melihat kakaknya itu tersedak dan terbatuk batuk karena ketika hwesio itu berloncat loncatan, pemudi ini tengah minum arak dan tertawa, sehingga tersedak ketika melihat pemandangan yang lucu ini.
"Nah, puas kau!"
Lan Giok menyoraki.
"Begitulah kalau orang mau enaknya sendiri, makan tidak menawarkan kepada orang lain."
Kepandaian Lan Giok sudah meningkat demikian hebat, sehingga kalau gadis ini mau, ia dapat menewaskan lima orang lawannya ini seorang demi seorang!
Akan tetapi, ia tidak mau melakukan pembunuhan.
Gurunya, Mo bin Sin kun, sudah tahu akan watak Lan Giok yang mudah tersinggung, mudah marah dan mudah gembira, maka telah memberi peringatan keras kepada Lan Giok dan gadis ini dilarang membunuh orang kalau tidak sudah jelas bahwa orang itu telah melakukan kejahatan kejahatan besar.
Setahu Lan Giok, Sin beng Ngo hiap tidak melakukan kejahatan besar, yang membuat mereka layak dibunuh, karena kesalahan mereka hanyalah mencuri harta pusaka ayahnya Maka ia melayani mereka sambil main main dan hanya ingin merobohkan mereka tanpa melukai berat yang akan membahayakan jiwa mereka.
Karena sikap Lan Giok inilah, maka agak sukar pula baginya untuk cepat cepat dapat merobohkan mereka.
Lima orang itu rata rata telah memiliki kepandaian yang tinggi juga.
Tenaga lweekang mereka sudah kuat betul dan ginkaug mereka juga sudah tinggi.
Ahli ahli silat biasa saja mana bisa melawan seorang di antara mereka?
Oleh karena ini, maka nama Sin beng Ngo hiap amat terkenal di dunia kang ouw.
Kini menghadapi Lan Giok, mereka bertempur mati matian, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian.
Mereka telah tahu akan kelihaian gadis ini dan sama sekali tidak berani memandang ringan kepada murid Mo bin Sin kun, seorang di antara Lima Besar !
Ketika mendapat kesempatan baik, tiba tiba ujung kipas di tangan kiri Lan Giok berhasil mengelak kepala hwesio ke dua dari Lam Hai Siang mo, yang seperti saudara kembarnya, juga gemuk sekali dan kepalanya gundul licin seperti bola karet.
Karena kepala ini tidak ada rambutnya yang menjadi pelindung, ketika diketuk oleh Lan Giok, terdengar suara seperti periuk kena pukul.
"Tak!"
Dan tubuh hwesio itu berputar putar seperti sebuah gasing berpusing!
Ini terjadi karena hwesio itu merasa matanya berkunang kunang dan kepalanya berputar putar rasanya, maka ia tidak dapat menguasai kedua kakinya lagi.
Akhirnya, setelah ia dapat melihat hwesio kakak kembarnya masih duduk di pinggir sambil mengurut urut kakinya yang terluka, ia lalu menubruk ke situ dan berguling di dekat kakaknya!
Kakaknya yang menyayangi adiknya ini lain mengelus elus kepala yang telah benjol karena diketok ujung gagang kipas tadi.
Sebalik nya adik inipun lalu mengurut kaki hwesio pertama!
"Lan Giok, aku tidak memborong habis makanan ini, kaupun jangan memborong habis tikus tikus itu.
Mari kugantikan engkau menyapu sisa bekal masakan ini!"
Kata Thian Giok yang telah mencabut senjatanya dan menyerbu.
Lan Giok yang kini merasa makin lapar setelah pertempuran itu, tidak membantah lagi dan meninggalkan lawan lawannya.
Gadis ini lalu menggeratak ke dalam kereta dan mengeluarkan semua bekal makanan dan minuman.
Juga ia meloloskan sarung sarung bantal yang dipakai untuk membawa semua uang dan barang berharga yang didapatnya di kereta itu.
Kemudian ia makan dengan tahap dan enaknya.
Sementara itu, Bouw Ek Tosu, Kui Hok dan Coa Hwa Hwa, menjadi marah sekali melihat betapa Lam san Siang mo telah dikalahkan.
Apalagi mendengar percakapan kakak beradik yang masih muda itu dan melihat betapa Lan Giok mengambil barang barang mereka, kemarahan mereka memuncak.
Akan tetapi, kini mereka menghadapi Thian Giok yang masih segar dan bertenaga baru dan karena kepandaian Thian Giok setingkat dengan adiknya, maka tentu saja tiga orang pengeroyok yang sudah mulai lelah ini menjadi makin sibuk.
Oleh karena mereka sudah lelah, ditambah pula karena dua orang di antara mereka telah roboh dan semangat mereka telah berkurang, maka dalam pandangan tiga orang ini, senjata Pek giok joan pian di tangan Thian Giok ini malah masih lebih lihai dan berbahaya lagi daripada sepasang senjata Gin san kim ciam dari Lan Giok!
Bouw Ek Tosu melancarkan serangan nekat.
Kebutannya digerakkan dengan cepat sekali menotok ke arah leher Thian Giok dan tangan kirinya pun meluncur dan menghantam lambung pemuda itu dengan tangan dimiringkan.
Pada saat itu juga, pedang Hwa Hwa Niocu juga sudah menusuk ke arah dadanya dari sebelah kiri, sedangkan pacul kilat di tangan Kui Hok bergerak dari belakang untuk memenggal lehernya dengan sekali pancung !
Menghadapi keroyokan yang nekat ini, Thian Giok berlaku tenang, tetapi cepat sekali.
Ia merendahkan diri, sehingga sekaligus serangan kebutan ke arah leher dan pacul kilat ke arah kepalanya itu dapat dielakkan.
Pek giok joan pian di tangannya tidak tinggal diam dan bergerak ke depan menangkis pedang Coa Hwa Hwa, sebelah tangannya lagi memainkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu mendorong ke arah tangan Bouw Ek Tosu yang datang memukul!
Bukan main hebat akibatnya Soan hong pek lek jiu ini.
Kedua tangan beradu dan Bouw Ek Tosu berteriak keras.
Tubuhnya terlempar sampai tiga tombak lebih dan kakek ini roboh tak sadarkan diri lagi!
Biarpun Thian Giok, hanya mempergunakan tenaga mendorong tanpa bermaksud melukai dalam tubuh lawan, namun tenaga dorongannya tadi demikian kuat, sehingga tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Bouw Ek Tosu membalik dan memukul dirinya sendiri, oleh karena itu, tosu ini terluka di sebelah dalam dadanya oleh tenaga pukulannya sendiri.
Hwa Hwa Niocu terkejut sekali demikian pula Kui Hok.
Suheng mereka yang paling lihai kepandaiannya telah dapat dirobohkan maka tentu saja mereka menjadi gentar juga.
Hwa Hwa Niocu menyerang kalang kabut, tetapi ketika Thian Giok mengerahkan tenaga dan menggerakkan joan pian nya, terdengar suara keras dan pedang di tangan Hwa Hwa Niocu ini patah menjadi dua.
Sebelum nyonya ini dapat melompat pergi, sebuah tendangan telah membuat ia terlempar dan secara kebetulan sekali ia jatuh menimpa Lam san Siang mo, dua hwesio gemuk yang terluka itu!
Ketiganya jatuh tunggang langgang dan terdengar keluhan dua orang hwesio gemuk dan makian Hwa Hwa Niocu yang merata malu sekali.
Kini tinggal Kui Hok seorang.
Si Pacul Kilat ini lebih cerdik daripada saudara saudaranya, maka ia lalu melepaskan paculnya dan menjura kepada Thian Giok "Anak muda, kau sungguh lihai, pantas menjadi murid Mo bin Sin kun.
Setelah kau dan adikmu megalahkan kami, apakah kehendakmu?"
Pada saat itu, Lan Giok telah selesai makan dan telah kenyang sekali.
Gadis ini merasa puas bahwa kakaknya telah dapat merobohkan dua orang lawan.
Ia puas melihat hasil pelajarannya.
Kalau dulu ia menghadapi keroyokan Sin beng Ngo hiap masih terdesak dan sibuk sekali, sekarang ia dapat mempermainkan mereka.
"Engko Thian Giok, yang empat mencium tanah dengan tubuhnya !"
Serunya jenaka. Tetapi Thian Giok tentu saja tidak suka menyerang lawan yang sudah menyerah kalah.
"Tidak, Lan moi. Kalau semua dirobohkan, siapa yang akan merawat mereka? Biarlah yang seorang ini kita maafkan saja agar ia dapat merawat saudara saudaranya."
"Terlalu enak baginya!"
Kata Lan Giok yang segera berkata kepada Kui Hok.
"He, lekas kau beri makan empat ekor kuda itu sampai kenyang betul, kemudian lepaskan dari kereta!"
Merah muka Kui Hok.
Inilah penghinaan besar sekali.
Ia diperlakukan orang seperti seorang tukang kuda.
Padahal biasanya Si Pacul Kilat Kui Hok di dewa dewakan orang, dianggap sebagai seorang sakti.
Tetapi apa dayanya?
Kalau ia melawan ia tentu akan roboh juga.
Bukan ia takut terluka, melainkan kalau sampai ia sendiri roboh terluka, bagaimana mereka berlima dapat melanjutkan perjalanan dan keluar dari hutan ini?
Kusir itu telah melarikan diri entah ke mana.
Terpaksa, dengan muka sebentar pucat sebentar merah, Kui Hok melakukan perintah Lan Giok ini.
Baiknya kusir kereta itu telah membawa bekal rumput di belakang kereta, sehingga ia tidak usah mencari rumput lagi.
Ia memberi makan empat ekor kuda itu dan setelah mereka kenyang lalu ia melepaskan mereka dari kereta kemudian mengikatkan kendali kuda satu kepada yang lain agar mereka tidak lari ke mana mana.
Sementara itu, Lan Giok dan Thian Giok telah mengumpulkan semua barang berharga di dalam karung bantalan kereta.
Tadinya Thian Giok tidak setuju dengan perlakuan adiknya terhadap Si Pacul Kilat, tetapi sambil berbisik nona itu memberitahukan kehendaknya yang segera disetujui oleh kakaknya.
Setelah semua beres kedua kakak beradik kembar ini lalu memuatkan barang barang itu di atas punggung dua ekor kuda dan mereka lalu mencemplak yang dua ekor lagi.
"Sin beng Ngo koai,"
Lan Giok kembali mengejek dengan mengganti sebutan Ngo hiap (Lima Pendekar) menjadi Ngo koai (Lima Setan), terima kasih atas kebaikan kalian yang telah mengembalikan barang barang yang kalian curi dari ayah kami."
Kemudian gadis ini sambil tertawa tawa mengajak kakaknya pergi dari situ naik kuda sambil menuntun kuda yang memuat barang berharga itu !
Lima orang gagah itu menyumpah nyumpah.
Selama mereka hidup dan selama mereka merantau di dunia kang ouw, baru kali inilah mereka mengalami kekalahan dan hinaan yang luar biasa sekali.
Hwa Hwa Niocu tak dapat menahan marah dan mendongkolnya, lalu menangis terisak isak.
"Sudahlah, sumoi, untuk apa menangis dalam keadaan seperti ini? Lain kali masih banyak kesempatan untuk membalas penghinaan murid murid Mo bin Sin kun ini."
Kwi Hok menghibur.
"Akan kuhancurkan kepala mereka."
Kata Hwa Hwa Niocu dan mendengar ini, diam diam Kui Hok menghela napas dan menyangsikan apakah kehebatan ilmu mereka sanggup menandingi kehebatan kepandaian murid murid Mo bin Sin kun itu.
Kemudian, karena kusir kereta sudah pergi dan kereta itu tidak ada kudanya, lima orang Sin beng Ngo hiap ini terpaksa lalu bersusah payah mendoroag kereta!
Lumayan juga, karena selain kereta ini mahal dan kini menjadi barang satu satunya yang mereka miliki, juga lebih enak mendorong kawan kawan yang terluka di dalam kereta itu dari pada menggendong mereka.
Demikianlah, yang terluka parah, yakni hwesio pertama dari Lam san Siang mo dan Bouw Ek Tosu, duduk di dalam kereta sedangkan Hwa Hwa Niocu, Kui Hek dan hwesio ke dua mendorong kereta.
Di sepanjang jalan meraka tidak pernah mengeluarkan kata kata, wajah mereka muram seperti mendung di langit.
Dalam keadaan lucu dan sengsara ini, mereka bertemu dengan serombongan orang berkuda yang melarikan kuda cepat sekali.
Ternyata bahwa mereka ini adalah Bucuci dan Koai kauw jit him, tujuh biruang kaitan aneh, tokoh tokoh Mongol yang tinggi kepandaiannya itu!
Bouw Ek Tosu girang sekali dan berkata tanpa menanti mereka bertanya.
"Celaka ciangkun! Murid murid Mo bin Sin kun membuat kami seperti mi. Tolonglah balaskan penghinaan ini!"
Bucuci mendengar ini nampak girang dan bernafsu sekali.
"Di mana mereka?"
"Belum lama ini mereka melanjutkan perjalanan berkuda. Mereka tentu belum jauh dari sini."
Mendengar kata kata ini, Bucuci lalu membedalkan kudanya, sehingga tujuh orang kawannya itupun terpaksa mengikutinya.
Panglima Mongol ini tidak sabar lagi, sehingga ia tidak bertanya lebih jauh.
Padahal kalau ia mendengar bahwa orang orang yang dikejarnya itu hanya Thian Giok dan Lan Giok, tentu ia tidak akan tergesa gesa seperti itu.
Panglima Bucuci setelah mendengar penuturan Liem Swee dan Kui To bahwa kini Sian Hwa tidak menjadi nikouw lagi dan bahwa gadis itu pergi bersama murid murid Mo bin Sin kun, menjadi marah sekali.
"Tidak, kalau dia tidak menjadi nikouw, dia tidak boleh dilepaskan begitu saja. Dia harus berada di rumahku dan harus menurut kehendakku sebagai ayah angkatnya yang telah memeliharanya semenjak kecil,"
Katanya marah.
Kemudian ia minta pertolongan Koai kauw jit him, tujuh orang tokoh Mongol itu membantunya melakukan pengejaran.
Sebagai orang sebangsa tentu saja Koai kauw jit him tidak keberatan, apalagi karena memang diingat, Bucuci masih ada hubungan seperguruan dengan mereka.
Cuma saja, tingkat mereka masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bucuci.
Lan Giok dan kakaknya menjalankan kuda mereka dengan perlahan saja.
Mereka tidak tergesa gesa dan pula memang setelah melewati daerah pegunungan yang tandus itu, kini memasuki daerah yang subur dan indah pemandangannya.
Di sepanjang jalan, kedua kakak beradik kembar ini berbicara tentang pengalaman yang baru saja mereka alami, yang membuat mereka merasa puas dan gembira.
Betapa tidak?
Mereka telah dapat merampas kembali, biarpun hanya sedikit, harta lima orang yang telah mencuri harta pusaka ayah mereka dan lebih dari itu, mereka mendapat kenyataan bahwa kepandaian mereka benar benar telah mendapat kemajuan yang memuaskan hati.
"Aku kasihan sekali melihat enci Sian Hwa,"
Tiba tiba Lan Giok berkata.
"aku suka kepadanya dan aku akan setuju seribu kali kalau dia bisa menjadi so soku (kakak iparku)!"
Merah wajah Thian Giok mendengar ini.
"Lan Giok, mulutmu terlalu jahat dan lancang! Sungguh anak perempuan tak tahu malu !"
Dengan mata berseri Lan Giok menoleh kepada kakaknya.
"Siapa tak tahu malu? Aku berbicara dengan sejujurnya, mulutku berkata cocok dengan apa yang kupikirkan di dalam hati, tidak seperti kau mulutnya bilang merah hatinya berkata hijau !"
"Apa maksudmu?"
Thian Giok memandang marah.
"Kau berpura pura marah kujodohkan dengan enci Sian Hwa, padahal hatimu berdebar girang. Bukankah kau yang tidak tahu malu?"
"Anak gendeng, kujewer mulutmu sampai panjang seperti mulut burung, kalau kau tidak mau diam !"
"Engko Thian Giok, jangan kau begitu galak nanti tak seorangpun siocia (nona) mau menjadi isteri mu. Aku bukan main main. Kau sendiri tahu bahwa aku.... telah ditunangkan, maka kau sebagai kakakku, seharusnya sudah bertunangan pula..."
Tiba tiba Thian Giok tertawa tergelak gelak sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung adiknya itu.
"Ha, aku tahu!"
Katanya sambil menahan gelak tertawanya. Lan Giok mengangkat kedua alis matanya.
"Tahu apa? Mengapa kau tertawa?"
Tanyanya cemberut.
"Aku tahu, kau takut kalau kalau aku tidak lekas mendapat jodoh! Kalau aku belum menikah, tentu kau tidak akan dapat menikah pula! Ha, kau sudah ingin kawin!"
Lan Giok dengan gemas mengambil sepotong roti yang tadi dibawa dari sisa makanan bekal dari Sin beng Ngo hiap tadi lalu menyambit kakaknya dengan roti itu.
Karena berada di punggung kuda dan sedang memegangi kendali kuda yang berjalan di belakang pula, Thian Giok tak dapat mengelak dan potongan roti itu mengenai pundaknya.
"Cih, tak tahu malu. Siapa yang ingin kawin?"
Bentak Lan Giok dengan muka merah.
"Aku sebagai adikmu hendak mencarikan jodoh yang baik untukmu, ini adalah tanda sayang dariku kepadamu. Tidak tahunya kau bahkan menggodaku sesuka hatimu. Memang sejak kecil kau berperangai jahat."
Melihat aikap Lan Giok yang tadinya jengah dan malu kini menjadi bersungguh sungguh dan marah, Thian Giok berkata.
"Eh, Lan moi aku hanya bergurau, apakah kau marah benar benar?"
Ditanya begini, lunturlah kemarakan Lan Giok. Memang gadis ini sifatnya seperti angin di gurun pasir, sebentar marah, sebentar gembira, sebentar dapat menangis dan sebentar tertawa.
"Bergurau boleh, tetapi jangan kau membikin panas hatiku, Enci Sian Hwa orangnya benar benar baik, tidak saja ia cantik jelita, tetapi juga...."
"Sudahlah, Lan moi. Aku tidak mau membicarakan dia."
"Akan tetapi aku mau membicarakan dia."
Dengan bandel Lan Giok berteras kepala. Terpaksa Thian Giok diam saja dan hanya mendengarkan.
"Sayang sekali enci Sian Hwa agaknya jatuh hati kepada seseorang dan agaknya tidak dibalas, buktinya dia patah hati dan putus asa, sehingga ia kini menjadi seorang nikouw. Sayang, sayang, aku benar benar akan suka sekali kalau dia menjadi so soku."
"Jangan ulangi lagi! Siapa sudi menikah dengan dia? Dia puteri Bucuci, putri Mongol !"
"Bohong! Dia seorang Han tulen yang semenjak kecilnya dipungut oleh Bucuci."
"Akan tetapi dia sebagai seorang gadis telah jatuh hati kepada seorang pemuda, apakah itu namanya sopan? Siapa sudi menikah dengan dia?"
Kata Thian Giok marah marah. Lan Giok tiba tiba menarik napas panjang dan berkata dengan suara lemah lembut.
"Engko Thian Giok, kuminta kau jangan bicara seperti itu. Apakah salahnya mencinta seseorang? Apakah seorang gadis tak berhak mencintai seorang pemuda yang baik dan yang menjadi pilihan hatinya? Mengapa kau begitu kejam?"
Mendengar suara Lan Giok yang tidak seperti biaranya ini, Thian Giok memandang dan ia dapat menduga isi hati adiknya itu.
"Hm, ya sudahlah. Memang kau juga jatuh hati kepada Bun Sam, itu aku tahu dan tidak menyalahkan kau. Tetapi, kau sudah bertunangan padanya, sedangkan nona itu.... bukankah ia sudah ditunangkan dengan putera Pat jiu Giam ong?"
"Itulah soalnya. Ia tidak suka kepada bekas suhengnya itu dan tidak sudi dipaksa menikah dengan dia."
Baru sampai di sini percakapan itu, tiba tiba mereka mendengar suara derap kaki kuda dari belakang.
Ketika keduanya menoleh, mereka melihat dari jauh Bucuci bersama Koai kauw jit him mendatangi, Lan Giok belum kenal siapa adanya tujuh orang Mongol yang datang bersama Bucuci, tetapi Thian Giok terkejut sekali.
Ia tahu betul betapa lihainya tujuh orang Mongol itu, maka ia lalu berkata.
"Cepat, Lan moi. Mari kita lari. Bucuci datang bersama Koai kauw jit him. Mereka terlalu kuat bagi kita !"
Lan Giok sudah mendengar cerita Thian Giok tentang kehebatan kepandaian tujuh biruang Mongol ini, maka tanpa banyak cakap lagi iapun lalu membedal kudanya.
Empat ekor kuda yang di bawa oleh Lan Giok dan Thian Giok itu adalah kuda kuda pilihan yang berharga mahal.
Sin beng Ngo hiap tidak kepalang mendapatkan harta karun maka mereka pun berlaku royal sekali.
Kuda untuk menarik kereta mewah itu sengaja mereka beli yang paling tinggi harganya.
Oleh karena itu, ketika Lan Giok dan Thian Giok membalapkan empat ekor kuda itu mereka melompat cepat sekali dan sebentar saja para pengejar itu dapat ditinggalkan jauh.
Bucuci sudah berteriak teriak, tetapi teriakannya makin lama makin menjauh.
Kuda orang orang Mongol inipun bukan kuda murah dan buruk namun tetap saja tak dapat melebihi kuda kuda yang dibawa oleh kedua orang muda itu.
Apalagi, Bucuci dan kawan kawannya telah melakukan perjalanan demikian jauh sehingga binatang binatang tunggangan mereka sudah lelah.
Berbeda dengan Lan Giok dan Thian Giok yang menjalankan kuda lambat lambat dan seenaknya saja.
Ketika Lan Giok dan Thian Giok sudah melarikan kuda sampai belasan li jauhnya di depan terlihat sebuah dusun yang cukup ramai.
Tiba tiba dari sebelah kiri pada jalan bersimpang tiga, datang tiga orang menggiring belasan ekor kuda.
Mudah diduga bahwa mereka itu tentulah saudagar saudagar kuda yang hendak menjual kuda ke kota besar.
"Thian ko, aku ada pikiran baik,"
Kata Lan Giok.
Thian Giok hendak bertanya, tetapi mereka telah berada dekat dengan saudagar saudagar kuda itu.
Empat ekor kuda yang dibawa olah muda mudi kembar ini jauh lebih besar dan bagus dan ketika melihat sekian banyaknya kuda, empat ekor kuda besar ini meringkik ringkik dan mengangkat kedua kaki depan mereka.
"Kuda baik!"
Ketiga orang pedagang kuda itu memuji. Sebagai pedagang pedagang kuda yang berpengalaman, tentu saja mata mereka dapat mengenal kuda yang baik dengan mudah.
"Sahabat sahabat, kalau kuda kuda ini baik, berapakah kalian mau membelinya?"
Mendengar orang mau menjual kuda kuda baik itu, saudagar saudagar kuda ini berlaku cerdik.
Seorang di antara mereka yang agaknya menjadi kepala, dengan matanya yang sipit lalu mendekati Lan Giok dan Thian Giok.
"Ji wi (tuan berdua) hendak menjual kuda kuda itu?"
Matanya makin sipit menyandang ke arah kuda.
"Ah, sungguhpun kuda kuda ini baik sekali, tetapi jarang ada orang yang mau membelinya."
"Mengapa?"
Tanya Thian Giok penasaran dan diam diam iapun heran mengapa adiknya hendak menjual kuda yang dapat dipergunakan untuk melarikan diri dari para pengejarnya.
"Kuda kuda besar dan liar semacam ini sukar sekali ditunggangi orang."
Lan Giok tertawa.
"Pintar betul kau membohong, sahabat. Kau lihat sendiri, kami berdua dapat menungganginya."
"Karena ji wi memang pandai berkuda. Orang biasa saja tentu akan terlempar jatuh kalau kuda itu mengangkat kedua kaki depannya. Akan tetapi, kami mau membelinya juga untuk dipergunakan menarik kereta. Bagaimana kalau seratus tahil untuk empat ekor kuda itu?"
"Seratus tahil?"
Thian Giok berseru marah.
"Untuk seekor saja orang lain berani membeli seratus tahil !"
Pedagang itu mengangkat pundak "Sudahlah duaratus tahil kubayar. Aku tidak berani melebihi satu chi pun juga."
Lan Giok memberi isyarat dengan matanya kepada kakaknya, lalu dengan tertawa ia berkata "Sahabat, kau bayar sajalah!"
Bukan main girangnya hati pedagang pedagang itu.
Mereka menganggap bahwa kali ini mereka akan mendapat keuntungan yang bagus sekali.
Segera mereka membayar dan barang barang yang dimuat di atas kuda itu lalu diturunkan.
Setelah menerima uang itu, Lan Giok berkata.
"Sekarang aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sebaiknya kalian melanjutkan perjalanan secepatnya dan jangan bermalam di dusun depan itu."
"Kenapakah?"
Saudagar saudagar itu terkejut.
"Karena di belakang tadi ada segerombolan orang jahat yang mengejar kami, hendak merampas kuda kuda ini!"
Pedagang pedagang itu seketika menjadi pucat.
"Jual beli ini tidak jadi saja!"
Kata mereka.
"Apa? Tidak bisa, uang sudah kami terima dan kuda sudah kalian terima pula,"
Jawab Lan Giok.
"Tuan, betul betulkah ada pencuri pencuri kuda mengejar?"
Si mata sipit bertanya sambil memandang kepada Lan Giok.
"Siapa membohong? Kalau kalian tidak percaya, tunggu saja sebentar lagi mereka tentu akan menyusul ke sini!"
"Tuan, benar benarkah kuda kuda ini kalian dapatkan dengan jalan halal?"
Lan Giok melangkah maju dan sekali ayun tangannya, terdengar suara nyaring dan dua buah gigi orang itu melompat keluar dan mulutnya berdarah.
"Kalian menyangka kami pencuri kuda? Ha, goblok. Kalau kami pencuri kuda, apakah sukarnya bagi kami untuk merampas kuda kalian yang demikian banyaknya? Sudahlah, kalau kau percaya, lekas kaburkan kuda kudamu itu pergi dari sini, kalau tidak percaya, jangan menyesal kalau nanti kuda kudamu dirampas oleh mereka !"
Pedagang pedagang kuda itu terkejut sekali melihat kerasnya tangan "pemuda"
Ini.
Mereka anggap omongan itu betul juga dan sambil mengeluarkan suara bentakan bentakan nyaring, mereka lalu melarikan dan menggiring semua kuda itu dengan cepat sekali, membelok ke kiri dan pergi dari situ, meninggalkan debu mengebul ke atas.
Lan Giok saling pandang sambil tertawa geli.
Thian Giok memuji kecerdikan adiknya, karena sekarang ia tahu bahwa para pengejar itu tentu saja akan mengikuti jejak kaki kuda dan dengan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki akan lebih aman.
Memang tepat dan cerdik sekali siasat yang dilakukan oleh Lan Giok.
Ketika rombongan Bucuci tiba di jalan bersimpang tiga, mereka melihat jejak jejak kaki kuda yang mereka kejar itu tiba tiba menjadi banyak sekali dan jejak jejak ini menuju ke kiri, mengejar tiga orang pedagang kuda itu !
Sementara itu, Lan Giok dan Thian Giok memasuki dusun di depan tadi.
Mereka melihat sebuah kuil di pinggir dusun.
Menurut usul Lan Giok yang cerdik, mereka tidak bermalam di rumah penginapan, melainkan mohon tempat berteduh pada ketua kuil, seorang hwesio yang kurus kering, tetapi peramah sekali.
"Losuhu, kami adalah orang orang perantauan yang telah kelelahan. Karena barang barang kami berat dan banyak, kami mohon losuhu sudi menerima barang barang ini sebagai titipan. Harap losuhu simpan baik baik dan kelak kami akan datang mengambilnya,"
Kata Lan Giok.
Kakaknya menyetujui tindakan ini, karena melarikan diri dengan dikejar kejar oleh sekian banyak orang lihai, amat tidak laluasa kalau harus membawa uang dan barang seberat itu.
Lagi pula, hwesio tua itu sudah terang sekali seorang suci yang tentu akan menjaga barang titipan itu baik baik.
Pada keesokan harinya, pagi pagi benar kedua orang muda ini melanjutkan perjalanannya menuju ke Sian hwa san.
Hati mereka telah lega dan dapat bersenda gurau lagi.
Pada tengah hari, mereka tiba di kota Ciang keng yang ramai.
Dengan hati senang mereka masuk ke dalam restoran yang besar dan memesan makanan.
Ketika hendak pergi, Lan Giok telah mengambil uang penjualan kuda itu untuk bekal di jalan, maka kini ia memesan masakan secara royal sekali.
Thian Giok hanya tersenyum saja melihat tingkah adiknya, karena ia memang maklum bahwa Lan Giok adalah seorang nona yang paling doyan makanan enak.
Setelah makan kenyang dan membayar harga makanan, mereka berdiri dan hendak keluar dari restoran ini untuk melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi, alangkah kaget mereka ketika tiba tiba terdengar langkah kaki orang yang ramai sekali dan tahu tahu Bucuci bersama tujuh orang Mongol yang lihai itu telah berdiri di ambang pintu !
Thian Giok hendak berlaku nekat dan ia telah meraba senjatanya, akan tetapi Lan Giok bersikap tenang, bahkan gadis ini berkata keras.
"Baiknya aku sudah makan kenyang!"
Diam diam Thian Giok mendongkol dan mengomeli adiknya ini.
Bagaimana dalam keadaan terancam bahaya seperti ini adiknya itu masih sempat berbicara tentang makan kenyang?
Pada saat itu, restoran itu sedang sepi tidak ada tamu lain yang makan disitu.
Bucuci lalu menarik meja yang ditaruhnya dengan sengaja di tengah pintu jalan masuk, kemudian ia dan tujuh orang kawannya lalu duduk mengelilingi meja itu.
Terang sekali bahwa Bucuci hendak menghalangi jalan keluar.
Kemudian dengan suara keras ia memerintah pelayan untuk menyediakan masakan dan arak yang baik.
Mereka berlaku seakan akan di situ tidak ada Lan Giok dan Thian Giok dan mereka berbicara dalam Bahasa Mongol.
Thian Giok menjadi amat mendongkol.
Ia tahu bahwa panglima Mongol itu sengaja berlaku demikian untuk menyiksa perasaan dia dan adiknya.
Untuk menakut nakuti mereka.
Oleh karena tak dapat menahan digoda seperti itu, Thian Giok sudah menarik senjatanya, tetapi Lan Giok mencegahnya dengan sentuhan jari tangannya.
Gadis ini memutar otaknya dan dalam menghadapi bahaya seperti ini, tidak baik berlaku tergesa gesa dan sembrono.
Paling baik menanti dengan sabar sampai fihak lawan bergerak, baru menggunakan siasat mencari kemenangan.
Oleh karena itu, iapun lalu memesan lagi minuman dan kue kue kepada pelayan.
Menghadapi kue dan arak, lebih enak sambil menantikan dari pada harus duduk diam saja.
Para pelayan juga melihat cara rombongan delapan orang itu menempatkan meja, tetapi mereka tidak berani menegur karena melihat pakaian perang Bucuci yang menunjukkan bahwa orang Mongol pendek ini adalah searang perwira Mongol yang berpangkat tinggi.
Bucuci dan kawan kawannya mulai makan minum sampai kenyang.
Setelah selesai makan, Bucuci merasa heran juga melihat sikap kedua orang muda itu.
Ia tadinya menanti sampai dua orang itu bergerak, menyerang atau minta ampun.
Tetapi melihat betapa kedua orang muda itu bahkan makan minum dengan enaknya dan mendengar Lan Giok mendongeng ke barat ke timur sambil tertawa tawa, hatinya menjadi gemas sekali.
Tiba tiba ia menggebrak meja dan cawan arak di depannya dengan aneh sekali melayang ke arah Lan Giok.
Gadis ini seperti tidak melihat datangnya cawan kosong yang melayang dari kanannya, tetapi sekali ia menggerakkan tangan, sepotong kue kering melayang memapaki cawan itu, masuk ke dalam cawan dan cawan itu runtuh ke atas lantai dengan kue kering di dalamnya.
Bucuci diam diam terkejut juga melihat kelihaian Lan Giok.
Sepotong kue kering yang dilontarkan dapat menahan luncuran cawan yang jauh lebih berat, sungguh membutuhkan lweekang yang melebihi tenaganya sendiri.
Kembali Bucuci menggabrak meja dan kali ini ia membentak.
"Cacing cacing busuk, kalian pembunuh pembunuh keji, tidak lekas menyerah untuk diikat tanganmu mau tunggu kami turun tangan ?"
Thian Giok sudah merah mukanya, tetapi ia didahului oleh Lan Giok yang berkata kepadanya.
"Thian ko, restoran ini sungguh aneh. Dikunjungi oleh dua ekor cacing saja masih baik, tetapi ada belatung kotoran yang dapat merayap masuk sungguh mengherankan."
Bucuci bangkit berdiri dengan marahnya. Ia memaki cacing, tetapi dengan jitu sekali Lan Giok memakinya sebagai belatung kotoran yang jauh lebih menjijikkan dan kotor lagi.
"Murid murid Mo bin Sin kun kau berani bermain gila di depanku?"
Baru Lan Giok menengok dan memandang kepada Bucuci.
"Kau bicara dengan siapakah?"
"Dengan kau, setan perempuan dan kakakmu itu!"
"Bukankah kau ini Panglima Bucuci dari kota raja? Ah, hampir aku lupa dan pangling."
Kata gadis itu sambil tersenyum manis, sehingga dalam pakaian laki laki, ia benar benar nampak sebagai seorang pemuda yang amat tampan.
"Kau sudah tua dan pakaianmu terlalu berat, tidak baik marah marah, buruk sekali untuk kesehatanmu. Kau datang dan marah marah mau apakah?"
"Aku datang hendak menangkap kalian ! Ayoh lekas bilang di mana Sian Hwa!"
"Sian Hwa? Siapakah dia?"
Tanya Lan Giok mempermainkannya.
"Kurang ajar! Berpura pura tidak tahu lagi. Sian Hwa puteriku, siapa lagi?"
Bentak Bucuci ambil mengertakkan gigi.
"Anakmu? Ah, jadi Panglima Bucuci yang ternama itu sudah punya anak? Sejak kapankah? Aku memang mengenal enci Sian Hwa yang telah menjadi nikouw karena ia dipaksa menikah oleh ayah angkatnya yang kejam, untuk dijodohkan dengan seorang kaya raya. Ya, ya, sungguh kasihan sekali enci Sian Hwa. Ayah angkatnya itu benar benar mata duitan."
"Keparat ! Jangan kau bermain gila, Sian Hwa tidak menjadi nikouw dan dia ikut lari bersamamu kaukira aku tidak tahu? Ayoh katakan di mana dia, jangan membikin aku hilang sabar."
"Kalau kau hilang sabar mau apakah?"
Lan Giok masih tersenyum manis dan sikapnya tetap tenang. Bucuci melemparkan bangkunya ke belakang dengan sekali sepak.
"Akan kuhancurkan kepalamu !"
Mendengar ini, Lan Giok lalu bangkit berdiri.
Sikapnya masih tenang, bibirnya yang manis masih tersenyum, sehingga sepasang lesung pipit menghias di kedua pipinya.
Akan tetapi sepasang mata yang bening itu bersinar sinar menantang.
"Kau hendak menghancurkan kepalaku ? Alangkah gagahnya. Hebat sekali kau. Cobalah !"
Ditantang seperti itu, Bucuci tertegun.
Memang bukan maksudnya untuk menghadapi gadis ini seorang diri saja.
Kalau memang ia tidak merasa jerih, untuk apa ia membawa Koai kau w jit him bersama dia?
Ia tahu bahwa kepandaian murid Mo bin Sin kun ini lihai sekali.
Untuk beberapa lama ia tidak dapat menjawab tantangan itu.
"Ayoh, kau menunggu apalagi? Apakah hendak berdoa dulu?"
Lan Giok mengejek.
"Benar benarkah kau mencari mampus ? Katakan saja di mana adanya Sian Hwa dan kami hanya akan membawamu ke kota raja dengan baik baik. Kalau kau membandel, jangan menyesal kalau kami benar benar akan menewaskan kalian berdua di tempat ini dan hanya akan membawa kepala kepalamu ke kota raja!"
Bentaknya lagi.
"Aha, jadi Panglima Bucuci yang maha mulia dan gagah perkasa ini demikian gagah berani, sehingga untuk menghancurkan kepala seorang gadis muda saja mengandalkan bantuan tujuh orang kawannya?"
Kemudian gadis itu dengan berani sekali menghampiri tujuh orang Mongol yang mendengarkan percekcokan itu dengan tertarik dan kagum menyaksikan gadis yang lincah dan berani serta pandai bicara ini.
Lan Giok menjura kepada mereka dan kemudian berkata.
"Ah, kalau tidak ialah pandangan mataku, bukankah aku gadis muda yang bodoh ini berhadapan dengan ketujuh Koai kauw jit him locianpwe?"
Ia sengaja menyebut locianpwe untuk menjunjung tinggi nama mereka itu, adapun nama mereka ia ketahui berkat hasil penyelidikan Thian Giok di kota raja.
"Sudah lama sekali aku yang muda mendengar nama besar dari jit wi locianpwe (tujuh orang tua gagah perkasa) yang namanya terkenal sampai ke ujung langit. Guruku Mo bin Sin kun pernah menyatakan bahwa Koai kauw jit him adalah tokoh tokoh dari utara yang gagah perkasa dan berbudi, yang menjunjung tinggi peraturan kang ouw, oleh karena itu sekarang dengan tak tersangka sangka aku berhadapan dengan jit wi, bukankah ini merupakan keuntungan besar sekali?"
Tujuh orang Mongol itu tentu saja enak sekali hati mereka dan agaknya perasaan mereka pada saat itu sama dengan tujuh ekor kucing malas yang dielus elus kepalanya, sehingga mereka menjadi merem melek keenakan.
Di dunia ini, siapakah orangnya yang tidak suka dipuji?
Apalagi kalau yang memujinya seorang gadis yang demikian manisnya.
Koai kauw jit him kini tahu bahwa Lan Giok adalah seorang gadis manis yang menyamar laki laki, karena tadi Bucuci telah memakinya setan perempuan.
Orang tertua dari ketujuh biruang ini, yang disebut Biruang Besar, segera berdiri, diikuti oleh enam orang adik seperguruannya untuk membalas penghormatan Lan Giok.
Mereka telah mendengar nama besar dari Mo bin Sin kun, maka biarpun nona ini asih muda namun sebagai murid Mo bin Sin kun, sudah patut mendapat balasan penghormatan mereka.
"Nona yang muda dan gagah, kami juga sudah mendengar nama gurumu yang perkasa. Sayang sekali orang seperti nona ini sampai bentrok dengan Panglima Bucuci. Oleh karena itu, kami bertujuh akan merasa lega dan senang sekali kalau kau suka turut saja ke kota raja tanpa perlawanan, karena sesungguhnya, kami tidak suka sekali kalau harus mempergunakan kekerasan terhadap orang gagah segolongan sendiri."
Thian Giok diam diam menjadi girang melihat siasat yang dimainkan oleh Lan Giok, baru sekarang ia tahu apakah maksud adiknya ini.
Lan Giok sudah mengerti bahwa fihak lawan jauh lebih kuat, maka ia sengaja bersikap manis dan memuji untuk membikin Tujuh Biruang Mongol itu menjadi malu hati untuk melakukan pengeroyokan!
Kalau menghadapi mereka seorang lawan seorang biarpun belum tentu menang namun tidak seberat kalau dikeroyok tujuh!
Bucuci yang melihat sikap manis dari Koai kauw jit him, merasa tidak enak hati, maka ia lalu berkata kepada Lan Giok.
"Nah, kaulihat. Ketujuh orang sahabatku ini masih menaruh hati kasihan kepadamu. Sekarang lekas kau mengaku saja di mana adanya Sian Hwa dan selain itu, kalian berdua harus ikut dengan kami ke kota raja."
"Kalau aku tidak mau turut?"
"Hal pergi ke kota raja adalah soal ke dua. Yang pertama lekaslah kau mengaku di mana adanya Sian Hwa?"
"Siapa tahu? Kalau enci Sian Hwa yang kau tanyakan, tentu saja ia berada di kuil Sun pok thian, di mana lagi?"
"Bohong! Sudah terang dia ikut pergi dengan kau !"
"Lihat saja sendiri, apakah dia berada di sini bersamaku? Ataukah kau hendak menggeledah? Percayalah, enci Sian Hwa tidak berada di kantung bajuku!"
Lagi lagi Lan Giok melucu sambil tersenyum senyum, membuat hati Bucuci menjadi makin mendongkol.
"Hm, kau berkepala batu. Hendak kulihat apakah di kota raja kelak kau dapat merahasiakan di mana adanya puteriku itu! Sekarang hal yang ke dua, apakah kau juga hendak berkepala batu dan tidak mau ikut dengan kami?"
Lan Giok menggeleng kapala.
"Aku dan kakakku adalah orang orang bebas, bahkan dahulu Pat jiu Giam ong sendiri membebaskan kami hendak pergi ke mana kami sukai, mengapa kau menghalangi? Kami tidak akan ikut denganmu ke kota raja."
"Bagus, kalau begitu terpaksa kami akan turun tangan!"
Bucuci lalu menghadapi Koai kauw jit him dan bicara dalam Bahasa Mongol.
Atas permintaan ini, Biauw Ta dan Biauw Lun, orang pertama dan ke dua dari Koai kauw jit him, melangkah maju menghadapi Lan Giok yang sudah didampingi oleh Thian Giok pula.
Seperti juga tadi, Biauw Ta yang mewakili adik adiknya bicara.
"Sungguh menyesal sekali bahwa kalian ini orang orang muda amat keras hati. Apakah halangannya menurut saja atas kehendak Panglima Bucuci dan ikut ke kota raja?"
Lan Giok tersenyum mengejek.
"Apakah jit wi yang ternama hendak mengeroyok kami dua orang muda?"
Biauw Ta menggelengkan kepala.
"Kami sudah menyaksikan kepandaian pemuda ini."
Ia menuding ke arah Thian Giok.
"Dan oleh karenanya, aku dan adikku Biauw Lun sendiri hendak turun tangan. Menghadapi orang orang muda, perlu apa main keroyokan?"
Setidak tidaknya Thian Giok dan Lan Giok menjadi lega juga karena dengan satu lawan satu, biarpun fihak lawan amat berat namun mereka masih ada harapan untuk menang! "Locianpwe,"
Kata Lan Giok.
"kalau kami kalah, sudahlah jangan dibicarakan lagi. Akan tetapi bagaimana kalau dalam pertandingan jujur satu lawan satu ini kami yang menang ?"
"Kalau kalian yang menang,"
Kata Biauw Ta tersenyum.
"kalian bebas dan aku akan belajar sepuluh tahun lagi sebelum mencari kau dan gurumu."
Bucuci tidak puas mendengar pertaruhan ini, karena ia sudah tahu bahwa murid murid Mo bin Sin kun ini lihai sekali, bagaimanakah Biauw Ta demikian gegabah untuk mengajak bertaruh?
Akan tetapi, biarpun ia mempunyai kekuasaan pengaruh yang besar, menghadapi Koai kauw jit him yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripadanya, ia tidak berani banyak bicara dan hanya memandang dari pinggiran dengan penuh perhatian.
Sementara itu, Lan Giok memberi tanda kepada kakaknya dan kedua orang muda ini segera meloloskan, senjata.
Sebaliknya Biauw Ta dan Biauw Lun sudah mempergunakan kaki mereka untuk menyepak ke sana sini, sehingga meja kursi di dalam ruang restoran itu beterbangan keluar, merobah ruang makan itu menjadi ruang silat yang cukup luas!
"Nah, orang orang muda yang gagah, silahkan!"
Biauw Ta berkata dan kedua orang Mongol ini sekarang telah memegang senjata mereka yang membuat nama mereka terkenal, yakni sepasang senjata kaitan.
Tongkat kaitan di tangan Biauw Ta mempunyai tiga mata kaitan, semacam jangkar kapal, terbuat daripada logam hijau dan panjangnya seperti pedang.
Adapun tongkat kaitan di tangan Biauw Lun adalah sepasang kaitan yang hitam, mata kaitannya hanya satu, tetapi ukuran sepasang kaitan ini tidak sama.
Yang kiri pendek hanya satu setengah kaki, tetapi yang kanan ada empat kaki panjangnya!
"Lan Giok, biarkan aku yang menghadapi locianpwe ini!"
Kata Thian Giok.
Ia hendak menghadapi Biauw Ta, karena tentu ketua Koai kauw jit him ini yang terlihai.
Akan tetapi mana Lan Giok mau mengalah?
Ia memandang kakaknya sambil tersenyum, kemudian sambil menggerakkan jarum emasnya, ia menyerang Biauw Ta sambil berkata.
"Awaslah, locianpwe, aku mulai menyerang!"
Biauw Ta cepat menyambut serangan ini, dengan secara cepat mengelak dan menanti serangan lebih jauh.
Orang tua ini suka kepada Lan Giok yang lincah, maka ia hendak memberi kesempatan kepada Lan Giok untuk menyerang terus sampai sepuluh jurus, barulah ia akan turun tangan menangkapnya.
Adapun Thian Giok yang didahului oleh adiknya, terpaksa lalu maju menyerang Biauw Lun.
Berbeda dengan Biauw Ta, orang ke dua dari Kosi kauw jit him ini segera mengangkat kaitannya menangkis joan pian dari Thian Giok.
Terdengar suara keras dan bunga api berpijar menyilaukan.
Thian Giok terkejut sekali karena merasa telapak tangannya panas dan sakit.
Diam diam ia mengeluh.
Ternyata kepandaian Biauw Lun ini masih jauh lebih hebat dari pada kepandaian Biauw Kai, orang ke tujuh dan Koai kauw jit him Tetapi pemuda ini tidak menjadi jerih dan ia lalu mendesak maju dan memainkan Pek giok joan pian di tangannya dengan pengerahan seluruh kepandaiannya.
Biauw Lun kagum sekail melihat betapa joan pian dari rangkaian batu putih mengkilat itu dimainkan secara indah dan cepat, sehingga berobah menjadi segulungan sinar putih yang mendatangkan angin dingin.
Ia merasa gembira harus melayani pemuda yang gagah ini, maka iapun berseru keras dan memainkan sepasang kaitannya yang mempunyai gerakan aneh seperti gerakan kaitan Biauw Ta.
Tujuh orang Mongol yang lihai ini disebut tujuh biruang karena memang mereka ini mempunyai ilmu silat yang gerakannya seperti gerakan biruang.
Kaitan kaitan di kedua tangan diumpamakan sebagai cakar cakar biruang yang selain mempunyai gerakan cepat, juga mengandung tenaga luar biasa besarnya.
Guru mereka, seorang Mongol tua yang mangasingkan diri, adalah seorang penangkap dan penakluk biruang di dekat kutub utara.
Guru mereka ini dengan tangan kosong dan seorang diri saja dapat menangkap hidup hidup seekor biruang yang besarnya dua kali lebih besar dari pada tubuhnya sendiri.
Dalam prakteknya yang berpuluh tahun lamanya ini, akhirnya orang gagah ini berhasil menciptakan ilmu silat biruang yang kemudian diturunkannya kepada Koai kauw jit him !
Tingkat kepandaian Biauw Lun kalau dibandingkan dengan kepandaian Biauw Kai orang yang termuda dari Koai kauw jit him, masih menang setingkat.
Sedangkan ketika Biauw Kai bertempur dengan Thian Giok di hadapan Pat jiu Giam ong pemuda ini sudah harus mengakui kelihaian Biauw Kai dan ia hanya dapat mengimbanginya saja tanpa ada harapan untuk dapat mengalahkannya.
Maka sudah tentu sekarang ia dan adiknya mendapatkan lawan yang lebih tinggi tingkatnya dan berat sekali.
Betapapun juga, Lan Giok dan Thian Giok melawan dengan sekuat tenaga dan sama sekali tidak mau menyerah mentah mentah.
Terutama sekali Lan Giok.
Gadis ini memiliki kelincahan dan keringanan tubuh yang lebih tinggi daripada kakaknya dan kini mengandalkan ginkangnya, ia dapat melakukan perlawanan dengan baik sekali sehingga biarpun boleh dikata setelah lewat tigapuluh jurus ia menjadi fihak yang terserang dan terdesak, namun ia masih dapat bertahan.
Sepasang kaitan dari Biauw Ta benar benar hebat.
Setelah dipergunakan, baru Lan Giok tahu bahwa senjata ini lebih berbahaya daripada pedang.
Senjata pedang hanya dapat dipergunakan dalam, serangan dengan gerakan menusuk atau membacok.
Akan tetapi kaitan ini dapat dipakai untuk menusuk atau mendorong, memukul dan juga mengait !
Baiknya tenaga sampokan dari kipasnya amat kuat, sehingga beberapa kali selalu kaitan di tangan Biauw Ta tidak mendapat hasil baik.
Diam diam orang pertama dari Koai kauw jit him ini terkejut juga.
Baru muridnya saja demikian lihai, apalagi gurunya!
Oleh karena itu, la lalu mendesak lebih hebat lagi, sehingga Lan Giok makin sibuk mempertahankan diri.
Sementara itu, Bucuci yang melihat jalannya pertandingan, menjadi tidak sabar lagi.
Kalau saja Biauw Ta tidak mempertahankan sikap jumawa dan bersahabat, tentu dengan keroyokan kedua orang muda itu akan dapat dirobohkan dengan mudah saja.
Karena ia merasa khawatir kalau kalau guru kedua orang muda itu berada di dekat tempat iiu seperti juga dahulu ketika dua orang muda itu telah ditawan oleh Pat jiu Giam ong dan kemudian ditolong secara tiba tiba oleh Mo bin Sin kun, maka ia lalu meloloskan sepuluh butir besi kelencingan kecil dari baju perangnya.
Lan Giok dan Thian Giok sedang terdesak hebat dan hanya semangat mereka yang bernyala nyala saja yang membuat mereka masih dapat bertahan.
Tiba tiba lima sinar menyambar ke arah Lan Giok dan Thian Giok.
Kedua orang muda ini terkejut sekali.
Mereka cepat mengelak, akan tetapi sebutir senjata rahasia tetap saja mengenai pundak Thian Giok dan sebutir pula mengenai lengan kanan Lan Giok.
Kedua orang muda itu mengeluarkan seruan kaget dan kesakitan, senjata mereka terlepas dan pada saat itu, Bucuci telah melemparkan sehelai tali sutera yang mengikat kedua kaki mereka dan sekali tarik saja robohlah Lan Giok dan Thian Giok !
Terdengar suara ketawa Bucuci, disusul oleh makian Lan Giok.
"Bucuci manusia busuk! Kau berlaku curang."
Akan tetapi dia dan kakaknya tidak berdaya, karena Bucuci sudah cepat menggerakkan tali sutera itu dan sebentar saja keduanya telah terikat erat erat.
Biauw Ta dan Biauw Lun dengan muka merah memandang kepada Bucuci.
"Ciangkun, mengapa kau melakukan hal itu? Sebenarnya tidak perlu, apakah kau mengira kami tak dapat merobohkan mereka tanpa bantuanmu?"
"Ji wi tak parlu berlaku sungkan sungkan terhadap dua orang pembunuh ini,"
Jawab Bucuci.
"mereka ini jahat dan kalau sampai Mo bin Sin kun keburu datang menolong, sukarlah untuk menangkap mereka!"
Mendengar ini, ketujuh orang Mongol itu terkejut juga.
Mereka memang merasa jerih terhadap Mo bin Sin kun yang terkenal ganas dan melihat tingkat kepandaian dua orang muda ini dapat mereka bayangkan betapa lihainya Mo bin Sin kun.
Orang orang yang tadinya menonton dari jauh di luar restoran ketika melihat dua orang muda itu dinaikkan di atas kuda kemudian delapan orang itu membalapkan kuda pergi dari situ, tiada hentinya membicarakan peristiwa ini.
Mereka menaruh simpati kepada dua orang muda itu tetapi siapakah yang berani turun tangan menghalangi mereka?
Tadinya Bucuci dan rombongannya memang telah kena ditipu oleh Lan Giok dan mereka mengejar rombongan pedagang kuda, tetapi setelah rombongan itu tersusul, Bucuci mengancam dan mendapat keterangan dari pedagang kuda tentang dua orang muda yang menjual empat ekor kuda itu.
Maka tanpa membuang waktu lagi, Bucuci dan kawan kawannya lalu kembali dan mengejar terus, sehingga akhirnya mereka dapat menyusul juga dan berhasil menangkap Lan Giok dan kakaknya.
Baiknya luka di lengan Lan Giok dan di pundak Thian Giok tidak hebat.
Tetapi mereka benar benar tidak berdaya lagi.
Lan Giok duduk di depan Biauw Ta sedangkan Thian Giok di depan Biauw Lun keduanya dalam keadaan terikat oleh tali sutera yang amat kuat dan tak mungkin diputuskan.
Kuda mereka dilarikan perlahan lahan, karena selain kuda kuda itu sudah lelah, juga untuk apa tergesa gesa setelah kini dua orang itu sudah tertangkap?
Malam tiba ketika mereka sampai di dusun di mana terdapat kelenteng yang menerima titipan barang barang Lan Giok dan Thian Giok.
Bucuci dan kawan kawannya bermalam di penginapan satu satunya yang ada di dusun itu.
Bucuci dan kawan kawannya sudah terlalu lelah, maka mereka segera tertidur.
Tetapi panglima ini tidak mengurangi hati hatinya dan penjagaan terhadap dua orang tawanan itu dilakukan secara bergilir.
Mereka tidur di ruang besar di mana tempat tempat tidur terletak berjajar.
Lan Giok dan Thian Giok terbaring di tempat tidur yang ditaruh di tengah tengah, dalam keadaan masih terikat dan orang yang bergilir melakukan penjagaan duduk di dekat mereka.
Sampai dua kali penjagaan bergilir, dari Biauw Kai, kakaknya lalu diganti oleh orang lain lagi.
Kini yang bergilir melakukan penjagaan adalah Biauw Hun, orang ke tiga dari Koai kauw jit him.
Berbeda dengan saudara saudaranya, Biauw Hun ini dahulunya adalah seorang yang terkenal mata keranjang.
Biarpun sekarang usianya sudah lima puluh tahun lebih, namun diam diam ia amat tertarik dan suka kepada Lan Giok Setelah melihat semua saudara saudaranya tertidur, Biauw Hun ingin main main dan mendekati Lan Giok yang tidak dapat memejamkan matanya.
Sebaliknya Thian Giok juga sudah pulas.
Biauw Hun dengan cengar cengir seperti monyet, mendekati Lan Giok dan telah mengangkat tangan untuk mencolek pipi gadis itu.
Tetapi, tiba tiba dari luar jendela, berkelebat bayangan yang cepat dan demikian ringannya seakan akan hanya asap yang melayang masuk itu.
Tahu tahu di depan Biauw Hun telah berdiri seorang pemuda yang sepasang matanya seperti mengeluarkan cahaya berkilat.
Biauw Hun menjadi terkejut.
Pendengarannya sudah terlatih baik, bagaimana ia tidak dapat mendengar kedatangannya ini?
"Bangaat, siapa kau?"
Teriaknya. Tetapi pemuda itu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya telah meraba tali pengikat Lan Giok dan Thian Giok. Dalam sekejap mata saja tali itu putus putus! "Ayoh, lari!"
Orang itu berseru.
"Bun Sam....!"
Lan Giok berteriak girang, tetapi Bun Sam tidak memberi ketempatan padanya karena pemuda ini telah membetot tangannya dan juga tangan Thian Giok yang baru saja terbangun oleh suara itu.
Biauw Hun cepat menubruk maju hendak menyerang Bun Sam, tetapi ia tiba tiba merasa dadanya terpukul dari depan seperti ada tenaga tidak terlihat menahannya.
Ia menjadi amat heran, karena pemuda ini sama sekali tidak menggerakkan tangan.
Selagi ia terheran heran, Bun Sam yang menggandeng tangan Lan Giok dan Thian Giok, telah membawa mereka melompat keluar jendela dengan cepatnya !
Seperti telah diketahui, Bun Sam mengejar Lan Giok untuk menanyakan tentang Sian Hwa.
Karena ia mengambil jalan lain, maka ia tidak bertemu dengan Lan Giok dan kakaknya.
Baiknya ia tiba di kota di mana kedua orang muda itu tertangkap dan ketika ia makan di restoran itu, ia mendengar tentang peristiwa penangkapan dua orang muda oleh serombongan orang Mongol.
Mendengar bahwa dua orang muda itu adalah seorang pemuda dan pemudi berpakaian pria dan muka mereka serupa benar, Bun Sam menjadi terkejut.
Tak salah lagi, tentu yang tertawan itu adalah Thian Giok dan Lan Giok.
Ia lalu cepat melakukan pengejaran dan betullah dugaannya ketika ia melihat dua orang muda itu dalam tawanan Bucuci dan tujuh orang Mongol yang kelihatannya lihai itu.
Ia menanti saat yang baik dan pada malam hari itu, ketika Biauw Hun yang ceriwis bergilir menjaga, ia turun tangan Ia hendak menolong mereka, tetapi tidak ingin memperlihatkan kepandaiannya.
Mengandalkan ginkangnya yang tinggi, t akhirnya Bun Sam berhasil menolong Lan Giok dan Thian Giok lalu membawa mereka melarikan diri.
Tentu saja menjadi gemparlah Koai kauw jit him dan Bucuci.
Delapan orang ini cepat melakukan pengejaran.
Sebetulnya kalau hanya Bun Sam seorang yang dikejar, mereka takkan mampu menandingi ilmu lari cepat pemuda ini, tetapi karena Bun Sam berlari dengan Thian Giok dan Lan Giok, keadaan menjadi berlainan dan kini para pengejar itu telah dapat menyusul mereka lebih dekat.
"Kita lawan saja mereka!"
Kata Lan Giok.
"Mengapa harus lari lari seperti orang ketakutan? Dengan Bun Sam di sini, kita menjadi bertiga dan lebih kuat!"
"Bodoh!"
Menyela Thian Giok.
"Seorang lawan seorang saja kita kalah. Biarpun ada Bun Sam, kita hanya bertiga dan mereka ada delapan orang!, Ayoh percepat lari kita!"
Seri ke 1 Pedang Sinar Emas Pedang Sinar Emas (Kim Kong Kiam)
Jilid XIII DIAM DIAM Bun Sam tersenyum geli dan juga ia amat tertarik.
Kalau seorang lawan seorang saja Lan Giok dan Thian Giok sampai kalah, tentu kepandaian para pengejar itu benar benar hebat.
Ingin sekali ia mencoba mereka, tetapi jangan sampai terlihat oleh dua orang muda ini.
"Kalian sudah lelah, lebih baik kita berpencar saja,"
Katanya.
"Lekas kalian berlari menuju ke hutan di depan itu, aku akan membelok ke kanan dan memancing mereka supaya mengejarku."
"Tetapi....kalau kau tertangkap?"
Lan Giok membantah.
"Aku tidak bermusuhan dengan mereka. Takut apa ditangkap?"
Jawab Bun Sam. Tetapi Lan Giok masih hendak membantah, sehingga Thian Giok cepat menyambar tangannya dan ditarik pergi.
"Kata kata Bun Sam tadi benar! Dahulupun ia dibebaskan oleh Pat jiu Giam ong. Ayoh lari, mereka sudah dekat!"
Dengan hati tidak rela, Lan Giok hendak membantah pula.
"Lan Giok, jangan khawatir, aku akan menyusul kalian telah dapat memancing mereka. Tunggu saja di dalam hutan itu,"
Kata Bun Sam.
Mendengar ucapan ini, barulah Lan Giok tidak membantah lagi dan kedua orang muda itu berlari secepatnya menuju ke gundukan hitam di sebelah kiri.
Biarpun tadi Bun Sam menyatakan hendak memancing para pengejar, tetapi setelah melihat Lan Giok dan Thian Giok lari jauh dan hilang ditelan kegelapan malam ia berdiri tenang tenang saja sambil bertolak pinggang menanti delapan orang itu.
Setelah Bucuci dan kawan kawannya mengejar sampai di situ dan melihat pemuda ini berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum senyum, Biauw Hun membentak.
"Inilah bangsat itu!"
Ia lalu maju memukul dengan tangan kanannya. Tetapi ia menjadi terkejut sekali karena pemuda itu tiba tiba saja lenyap dari depannya dan tahu tahu telah berada di belakangnya! "Ah, jadi kaukah ini?"
Bucuci membentak marah sambil memandang kepada Bun Sam.
"Mau apa lagi kau berani menghalangi aku?"
Bun Sam menjura dengan hormat.
"Bucuci ciangkun, aku tidak hendak menghalangi siapa siapa hanya aku tidak tega melihat kedua orang kawanku itu diikat dan ditawan."
"Dia ini adalah murid Kim Kong Taisu, seorang yang amat jahil dan sudah beberapa kali menggangguku. Sekarang dia tidak memandang kepada cu wi dan berani mencuri dan melepaskan tawanan, sungguh harus dibunuhi"
Kata Bucuci kepada Biauw Ta.
Mendengar bahwa pemuda ini adalah murid Kim Kong Taisu, juga melihat cara Bun Sam tadi mengelak dari serangan, Biauw Ta menjadi tertarik.
Sudah lama ia mendengar nama Kim Kong Taisu sebagai seorang tokoh besar di samping nama nama besar dari Mo bin Sin kun, Lam hai Lo mo, Pat jiu Giam ong dan Bu tek Kiam ong.
Tadi ia telah dapat mengalahkan murid Mo bin Sin kun dan hatinya merasa puas sekali.
Urusan penangkapan Lan Giok dan Thian Giok baginya tidak ada artinya sama sekali, yang penting adalah kemenangannya dalam pertandingan tadi.
Sekarang ia berhadapan dengan murid dari Kim Kong Taisu, mengapa tidak dicobanya ?
"Hm, anak muda, jadi kau adalah murid Kim Kong Taisu?
Pantas saja lihai.
Kau telah berani menculik tawanan kami, apakah kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?
Kami ialah Koai kauw jit him, kenalkah kau kepada kami?"
Memang Bun Sam pernah mendengar nama ini, tetapi ia sengaja menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak kenal nama itu. Tetapi aku mau bertaruh dengan Koai kauw jit him."
"Bertaruh? Apa maksudmu?"
Tanya Biauw Ta.
"Kita mengadakan pertandingan, kalau kalian kalah, tak usah mengejar ngejar lagi kepada dua orang kawanku tadi."
"Dan kalau kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah, akan kuberitahukan kepadamu di mana adanya kedua sahabatku itu. Bukankah ini sudah adil namanya?"
"Bagus, mari kita main main sebentar, hendak kusaksikan sendiri sampai di mana hebatnya ilmu silat yang diajarkan oleh Kim Kong Taisu!"
Sambil berkata demikian, Biauw Ta lalu menerjang ke depan. Akan tetapi, sekali lagi Bun Sam mengelak dan kini pemuda itu bahkan melarikan diri, kembali ke jalan tadi.
"Eh, mengapa kau lari?"
Biauw Ta berseru sambil mengejar cepat, diikuti oleh kawan kawannya yang tujuh orang.
"Hendak kulihat betapa cepatnya lari biruang Mongol!"
Bun Sam berkata mengejek.
Marahlah Biauw Ta dan ia bersama saudara saudaranya lalu mengejar dengan cepat, menggunakan ilmu lari cepat yang mereka namakan Hui niau coan in (Burung Terbang Menerjang Mega).
Memang hebat ilmu lari cepat mereka, tidak kalah oleh ilmu lari cepat Chouw sang hui (Terbang di Atas Rumput) yang dipergunakan oleh murid murid Mo bin Sin kun.
Sebentar saja Bucuci sendiri yang sudah memiliki ginkang tinggi dan ilmu lari cepat yang lihai, sudah tertinggal jauh!
Akan tetapi anehnya, bayangan pemuda yang mereka kejar itu seakan akan merupakan bayangan mereka sendiri ketika tubuh mereka terkena sorot penerangan dari belakang!
Tetap saja pemuda itu berlari mendahului mereka dengan jarak kira kira lima tombak lebih dan betapapun juga Koai kauw jit him menancap gas dan menahan napas mempercepat larinya tetap saja lawan di depan mereka itu tidak menjadi lebih dekat.
Yang amat mengagumkan dan mengherankan mereka adalah cara pemuda itu berlari.
Jelas kelihatan dari belakang betapa pemuda itu berlari seperti orang berjalan biasa saja, namun kecepatannya demikian hebat.
Baru berjalan saja pemuda itu tak dapat mereka susul, apalagi kalau pemuda itu sampai berlari!
Dan benar saja, Bun Sam mempercepat gerak kakinya dan sebentar saja mereka telah kehilangan bayangan pemuda ini.
Karena Bun Sam mengambil jalan ke arah rumah penginapan mereka, maka Koai kauw jit him terus mengejar dan akhirnya menjadi putus asa karena pemuda itu benar benar tak dapat ditemukan.
Mereka menarik napas dengan kecewa sekali.
Ingin benar mereka mencoba kepandaian pemuda ini.
Akan tetapi, ketika Bucuci dengan napas tersengal sengal sudah dapat mengejar mereka sampat di depan rumah penginapan dan mereka bersama memasuki rumah itu, mereka berdiri tertegun dan melongo di pintu ruangan besar.
Ternyata pemuda ini telah berbaring dan seperti orang tidur kepulasan di atas pembaringan di mana tadi Lan Giok dan Thian Giok terbaring !
Pemuda itu tidur dengan muka di sebelah dalam dan punggungnya membelakangi mereka yang baru tiba.
Napasnya berat seperti napas orang yang sudah pulas benar benar.
Bukan main mendongkolnya Bucuci dan kawan kawannya ini.
Tadi di luar ia sudah memaki maki ketika mendengar bahwa pemuda itu telah lenyap karena ia menganggap pemuda itu telah menipu dan mempermainkannya.
Kini melihat pemuda itu lelah tertidur di situ, amarahnya meluap luap dan sekali renggut saja, belasan besi kelenengan telah berada di tangannya.
Ia lalu menyambit dengan sekuat tenaga ke arah tubuh pemuda yang berbaring membelakanginya itu.
Biauw Ta hendak mencegah perbuatan curang ini, tetapi terlambat.
Belasan butir besi kelenengan itu telah menyambar amat cepatnya ke arah tubuh Bun Sam yang agaknya sudah pulas itu.
Cepat tujuh orang Mongol yang lihai itu memandang dengan mata terbelalak.
Kalau pemuda itu hanya berpura pura tidur tentu ia akan melompat untuk mengelak dari serangan berbahaya ini.
Akan tetapi anehnya, pemuda itu tidak bergerak sama sekali.
Delapan orang itu makin melongo dan merasa ngeri.
Tampak jelas betapa belasan butir besi kecil itu mengenai tubuh pemuda itu dan tidak terpental kembali, seakan akan semua senjata rahasia kecil itu telah menembus pakaian dan kulit, masuk ke dalam daging.
Benar benarkah pemuda itu tewas oleh sambitan ini?
Koai kauw jit him benar benar merasa amat menyesal.
Bukan maksud mereka mengalahkan pemuda itu dengan cara yang demikian rendah dan liciknya.
Akan tetapi sebaliknya.
Bucuci gelak tertawa dengan bangganya.
Ternyata sambilannya demikian jitu, sehingga sekali serang saja ia telah dapat menewaskan murid dari Kim Kong Taisu.
Ia benci pemuda ini yang telah beberapa kali mengganggunya.
Ketika delapan orang itu melangkah, maju menghampiri tubuh Bun Sam untuk melihat lebih jelas, tiba tiba pemuda itu menggerakkan tubuhnya dan belasan butir besi itu melayang kembali ke arah mereka.
Inilah serangan pembalasan yang sama sekali tak pernah mereka duga duga.
Tujuh orang tokoh Mongol itu masih dapat cepat mengelak, tetapi Bucuci kurang cepat, sehingga dua butir besi kecil mengenai dadanya.
Baiknya baju perangnya terbuat dari bahan yang tebal dan kuat, terdengar suara nyaring dan dua kelenengan kecil yang terkena hajaran dua butir besi itu menjadi pecah.
Kulitnya tidak terluka, namun masih merasa pedas dan panas pada kulit dadanya.
Bun Sam melompat bangun sambil tertawa tawa dan ternyata pemuda ini sama sekali tidak terluka.
Bagaimana mungkin?
Bucuci terbelalak matanya karena benar benar ia tidak mengerti mengapa pemuda itu tidak terluka sama sekali.
Apakah pemuda ini sekarang pandai ilmu sihir seperti Lam hai Lo mo?
Hanya Biauw Ta saja yang mengerti dan dapat menduga tepat.
Ia tahu bahwa seorang ahli silat yang memiliki lweekang tingkat tinggi dan telah mempelajari dengan sempurna ilmu I kin keng, yakni lweekang tingkat tinggi, sehingga ia dapat membuat kulit tubuhnya keras seperti baja dan lemas seperti sutera, memang mungkin menerima serangan senjata rahasia yang tidak runcing seperti yang dilakukan oleh pemuda tadi.
Memang kalau Biauw Ta yang melakukan serangan itu, bukan Bucuci yang tenaganya kalau diukur dengan tenaga tingkat yang dimiliki oleh Koai kauw jit him masih terhitung lemah, kiranya pemuda itu takkan berani menggunakan cara itu tadi.
Bun Sam memang tadi sengaja melarikan diri.
Pertama agar mereka ini jauh dari tempat sembunyi Lan Giok dan Thian Giok, ke dua karena ia memang ingin menguji kepandaian mereka, hanya ingin menguji saja, sama sekali tidak ingin bertempur mati matian.
Oleh karena itu, tidak enak untuk menguji kepandaian di tempat yang gelap seperti di luar itu.
"Koai kauw jit him, apakah kalian kira aku melarikan diri ? Tidak, sahabat. Sekali aku berjanji, aku takkan pelanggar janji itu. Marilah kita main main dan mencoba kepandaian di tempat ini!"
Biauw Ta menjura dan memandang kagum.
"Anak muda, kalau aku tidak menyaksikan sendiri, tak mungkin aku dapat percaya bahwa seorang semuda engkau sudah memiliki kepandaian setinggi itu. Kau patut sekali untuk dilayani bertanding. Marilah!"
Setelah bertata demikian, Biauw Ta mengeluarkan sian kauw (sepasang senjata kaitan), ia tidak mau membiarkan adik adiknya yang maju, karena ia maklum bahwa pemuda ini kepandaiannya tak boleh disamakan dengan kepandaian murid murid Mo bin Sin kun dan untuk menghadapinya, harus dia sendiri yang maju.
Bun Sam memang hendak menguji kepandaian tokoh tokoh Mongol itu, maka ia sengaja tidak mau mengeluarkan pedangnya.
Ia berdiri dengan tangan kosong menghadapi Biauw Ta dengan sikap tenang sekali.
"Orang muda, cabutlah pedangmu itu, mari kita bermain main sebentar!"
"Aku ingin bertempur dengan tangan kosong dulu,"
Jawab Bun Sam.
"Sudah lama aku mendengar kehebatan ilmu berkelahi dengan tangan kosong dari Bangsa Mongol."
Karena ucapan ini merupakan tantangan untuk berpibu dengan tangan kosong, Biauw Ta tentu saja merasa malu untuk menolak.
Sesungguhnya, ia memang seorang jago gulat yang ahli dalam ilmu gulat Bangsa Mongol, akan tetapi karena ia merasa lebih pandai dalam permainan senjata kaitan, ia tadi mengeluarkan senjata ini.
Sekarang ia lalu melemparkan kaitannya kepada adiknya yang segera menyambutnya dan dengan kedua tangan kosong ia menghadapi Bun Sam.
Ruangan itu menjadi luas setelah pembaringan pembaringan digeser ke pinggir.
Kedua orang itu berhadapan seperti dua ekor ayam jago sedang berlaga.
Bun Sam memasang kuda kuda dengan kaki kanan.
Kedua tangan di kanan kiri pinggang ditekuk sedikit dengan jari jari tangan terbuka dan ibu jari di telapak tangan.
Adapun Biauw Ta segera memperlihatkan pasangan kuda kuda ilmu gulat Bangsa Mongol.
Tubuhnya membungkuk dengan muka di bawah dan mata mendelik ke depan, kedua tangan dikembangkan di kanan kiri dengan jari jari tangan kaku keras dipentang seperti kuku biruang, kedudukan kaki dalam bentuk Bhe si, yakni terpentang ke kanan kiri dengan lutut ditekuk.
Melihat pemuda itu membuka kuda kuda dengan Tuli te, kedudukan yang sekaligus mengandalkan kemahiran ginkang, Biauw Ta lalu maju menubruk sambil mengeluarkan seruan keras.
Tubrukan seperti ini dapat menangkap dan membikin tidak berdaya seekor harimau.
Bun Sam menurunkan kaki kirinya dan menggunakan kedua tangan untuk menangkis serangan ini, karena ia memang hendak menguji tenaga lawan.
Dua pasang lengan beradu dan terkejutlah Biauw Ta.
Ia maklum bahwa dalam hal lweekang, ia kalah jauh, maka cepat jari jari tangannya mencengkeram dan sebelum dapat dihindarkan, ia telah dapat memeluk kedua lengan pemuda itu.
Ia hendak menggunakan kecepatan seorang ahli gulat untuk melemparkan pemuda itu di atas kepalanya.
Akan tetapi ketika ia mengerahkan tenaga, ia merasa seakan akan tubuh pemuda itu menjadi seribu kati lebih beratnya dan tidak terangkat olehnya.
Ia mengerahkan tenaga gwa kang untuk melawan keras sama keras.
Biarpun dalam hal lweekang, Bun Sam lebih menang, namun tenaga kasar ia takkan dapat menyamai orang Mongol yang bertubuh besar dan bertenaga kuat ini.
Kalau ia bersitegang, tentu ada bahaya ia akan salah urat, maka tiba tiba terdengar pemuda ini berseru dan tahu tahu pelukan yang kuat dan erat itu telah terlepas.
Bagaikan dua ekor belut saja, kedua lengan pemuda itu dapat melesat keluar dari rangkulan yang demikian kuatnya.
Inilah Ilmu Jui kut kang (Melemaskan Diri) yang membuat lengannya seakan akan tidak bertulang lagi dan amat licin.
Sebelum Biauw Ta dapat menyerang lagi, Bun Sam sudah mendahuluinya mendorong dengan kedua tangannya.
Biarpun dorongan ini tidak menyentuh dadanya, namun Biauw Ta tetap saja terhuyung mundur sampai lima tangkah Ia menjadi penasaran, menubruk lagi, kini dapat dielakkan oleh Bun Sam dan sebelum ia membalikkan tubuh, pemuda itu sekali lagi telah mendorongnya, kini dari samping dan sekali lagi Biauw Ta terdorong oleh angin yang kuat sekali, sehingga tidak saja terhuyung huyung, bahkan kalau tidak cepat cepat ia melompat, pasti ia akan roboh.
Bukan main herannya Biauw Ta menghadapi dorongan yang aneh ini.
Ia tidak tahu bahwa ilmu pukulan ini sebetulnya adalah Soan hong pek lek jiu yang Bun Sam pelajari dari Mo bin Sin kun.
Kedua murid Mo bin Sin kun, yaitu Lan Giok dan Thian Giok, mahir pula melakukan ilmu pukulan ini, tetapi tidak sehebat Bun Sam, karena pemuda ini telah memperoleh kemajuan pesat di bawah pimpinan Bu tek Kiam ong.
Biauw Ta merasa khawatir kalau kalau ia akan roboh di tangan pemuda ini, maka ia lalu melompat ke pinggir dan mengambil sepasang kaitannya yang tadi dipegang oleh adiknya.
Dengan muka merah ia menghadapi Bun Sam lalu berkata.
"Orang muda, marilah kau mencoba siang kauw ini. Cabut pedangmu!"
Akan tetapi Bun Sam hanya tersenyum dan berkata.
"Tak usah berpedang, silahkan kau menyerang dengan senjatamu!"
Biuw Ta tak terkirakan marahnya.
Ia merasa dipandang rendah, maka tanpa banyak cakap ia lalu menyerang dengan sepasang kaitannya.
Kaitan kiri berak ke atas dan menyamber ke arah mata Bun Sam dengan gerakan mencokel mata lawan, sebenarnya gerakan ini hanya untuk memecah perhatian Bun Sam belaka karena yang lebih berbahaya adalah kaitan di tangan kanan yang bergerak ke arah lambung pemuda itu.
Gerakan ini disebut Meraba Bunga Mencuri Buah dan amat berbahaya.
Tetapi gerakan Bun Sam lebih luar biasa lagi dan juga lebih cepat.
Pemuda ini menggerakkan tangan kanannya dan sebelum kaitan yang menuju ke matanya itu datang dekat, ia lelah menempel dengan jari tangannya lalu didorong ke bawah dan tepat menangkis kaitan lawan sebelah kanan.
Terdengar suara keras sekali dan Biauw Ta terkejut bukan main, kedua tangannya tergetar sebagai akibat dari beradunya sepasang senjatanya sendiri.
Dan hebatnya, pada saat itu, jari tangan Bun Sam sudah meluncur ke arah lehernya untuk menotok jalan darah.
Biauw Ta cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan bahaya ini, lalu kakinya menendang ke depan untuk menyambut tubuh lawan yang masih hendak menerjangnya, dibarengi dengan dua kaitannya yang menyambar dari kanan dan kiri dengan gerakan menggunting.
Tetapi, tiba tiba tubuh Bun Sam lenyap dari depannya dan tahu tahu ia merasa ada angin menyambar dari atas kepalanya.
Ia tahu bahwa itulah lawannya yang tadi dengan kecepatan luar biasa telah melompat ke atas, maka tanpa melihat lagi ia lalu mengayun sepasang kaitannya ke atas kepala.
Tidak tahunya, dengan gerakan kedua kakinya di udara, Bun Sam telah dapat berjungkir balik dan kini berada di belakang tubuh lawannya.
Secepat kilat kedua tangannya bekerja menotok dua pundak Biauw Ta.
Ketua Koai kauw jit him ini merasa sepasang lengannya menjadi kejang.
Ia mengarahkan tenaga dalam dan memaksakan dirinya, sehingga jalan darahnya pulih kembali, tetapi ia tidak dapat menahan ketika cepat sekali Bun Sam merampas sepasang kaitan itu dari belakang, Biauw Ta cepat membalikkan tubuh, matanya menjadi merah dan hidungnya berkembang kempis.
Ia merasa telah dipermainkan.
Akan tetapi, Bun San menjura dan mengulurkan tangan yang memegang siang kauw itu.
Ia mengembalikan senjata itu kepada lawannya sambil berkata.
"Maaf, aku telah berlaku lancang mengambil siang kauw yang tanpa kau sengaja telah kau lepaskan dari tangan."
Biauw Ta membetot kembali siang kauwnya dan dengan geram lalu menyerang lagi.
Memang adat orang Mongol ini keras dan tidak mau kalah.
Apalagi dia adalah seorang yang ternama besar di utara, bagaimana ia dapat menyerah kalah terhadap seorang anak muda yang masih hijau ini?
Ia tidak mau percaya bahwa ia akan kalah dan menganggap bahwa tadi ia telah berlaku terlalu sembrono.
Bun Sam cepat mengelak dan berkata.
"Mengapa Koai kauw jit him yang jumlahnya tujuh orang itu hanya maju seorang saja? Aku tadi menantang pibu kepada Koai kauw jit him, maka silahkan kalian maju bersama. Eh, ya, aku lupa. Masih ada panglima Bucuci yang sebetulnya tidak masuk hitungan. Akan tetapi kalau mau boleh juga, tiada halangan!"
Sambil berseru keras, enam orang Mongol yang lain serentak maju dan menggerakkan siang kauw mereka yang bermacam macam bentuknya itu.
Tetapi, biarpun mereka rata rata lihai sekali dan senjata kaitan itu bermacam macam bentuknya, cara mereka bersilat tidak berbeda banyak dan pada dasarnya sama, yakni seperti gerakan beruang yang ganas dan bertenaga besar.
Menghadapi tujuh orang yang lihai dengan kaitan mereka yang istimewa ini, Bun Sam terkejut dan merasa bahwa dengan bertangan kosong saja ia tak mungkin dapat menang.
Cepat ia mencabut pedang yang tergantung di punggungnya.
Sinar putih bagaikan kilat menyambar menyilaukan mata ketika pedang ini tercabut keluar dan terdengar seruan Bucuci.
"Ah, itu adalah Pek lek kiam yang tercuri dari istana! Ah, bangsat kecil, maling rendah, jadi kaukah yang mencurinya?"
Bun Sam tersenyum dan sekali ia menggerak dan Pek lek kiam, senjata senjata lawannya tertangkis dan terdengar suara keras sekali, ternyata sekali tangkis saja ada dua kaitan yang ujungnya patah oleh pedang pusaka itu.
Kagetlah tujuh orang Mongol itu dan mereka bersama melompat mundur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Sam untuk menjawab kata kata Bucuci "Tenang, Bucici ciangkun, jangan terburu nafsu.
Pedang ini bukan aku yang mencuri, bahkan aku hendak mengembalikan ke istana !"
Sementara itu, melihat betapa lihainya pedang bersinar putih itu dan betapa pemuda itu dapat memainkannya secara luar biasa sekali, Biauw Ta lalu memberi aba aba dalam Bahasa Mongol dan tujuh orang Mongol itu lalu mengurung Bun Sam dari jauh, dua tombak dari pemuda itu.
Lalu mereka berjalan perlahan bagaikan beruang beruang berjalan mengitari pemuda ini, sebentar dari kanan ke kiri dan baru setengah putaran, tiba tiba berbalik lagi dari kiri ke kanan.
Kadang kadang lambat, seperti setengah merangkak, kadang kadang cepat setengah berlari.
Inilah siasat yang paling lihai dari Koai kauw jit him.
Dahulu ketika guru mereka sedang berburu biruang, di dekat kutub utara ia menyaksikan pertarungan yang luar biasa sekali antara tujuh ekor biruang es mengeroyok seekor anjing laut yang luar biasa besarnya di atas pulau es.
Anjing laut itu jantan dan selain besarnya luar biasa, juga memiliki tenaga yang hebat dan kecepatan gerakan yang membuat tujuh ekor biruang itu tak berdaya.
Baru saja dekat, ekor anjing laut itu telah dapat menyambar dan berkali kali tujuh ekor biruang itu terkena sabetan ekor ini sampai jatuh tunggang langgang.
Baiknya mereka bertubuh kuat dan dapat bangun kembali.
Setelah pengeroyokan berlangsung ramai dan lama, tetapi tetap saja tujuh ekor biruang itu tak dapat mengalahkan lawannya, tiba tiba biruang biruang itu lalu mengurung anjing laut itu dari jauh dan mulailah mereka berputar putaran secara teratur sekali.
Guru Koai kauw jit him itu memperhatikan dengan seksama dan akhirnya ia dapat melihat betapa biruang biruang itu dengan cara ini dapat membunuh anjing laut itu.
Semenjak peristiwa ini, dia lalu menciptakan ilmu silat yang sesungguhnya lebih tepat disebut ilmu perang dan dinamainya Jit him tin (Barisan Tujuh Biruang).
Oleh karena ini pula, maka ia sengaja memilih tujuh orang murid, yakni yang sekarang mendapat julukan Koai kauw jit him.
Kini, menghadapi Bun Sam yang memegang pedang pusaka, Bauw Ta lalu mengatur barisan Jit him tin yang luar biasa itu.
Ini adalah suatu tindakan yang luar biasa, karena kalau tidak terpaksa sekali, mereda tidak akan mengeluarkan ilmu serangan ini.
Bun Sam memandang dengan bingung ketika melihat gerakan mereka.
Ia berlaku hati hati dan tidak mau menyerang, karena gerakan mereka itu masih merupakan teka teki baginya.
Ia tidak tahu dari mana akan datang serangan lawan dan bagaimana perkembangannya pula.
Oleh karena itu melihat betapa mereka bertujuh tidak turun tangan dan hanya berlari larian, terpaksa iapun berdiri memandang dengan penuh perhatian dan urat uratnya menegang, siap menanti datangnya gempuran.
Setelah berjalan lama, tujuh orang pengeroyoknya belum juga menyerang.
Bun Sam menjadi makin bingung.
Melihat tujuh orang berlari larian mengelilingi tubuhnya, membuat matanya menjadi pedas dan kepalanya pening.
Ia tahu bahwa inilah kesalahannya dan ini pula merupakan sebuah daripada kelihaian siasat mereka itu.
Maka iapun lalu menggerakkan kakinya dan berlari berputar putran dalam kurungan itu, mengikuti gerakan mereka!
Akan tetapi, sampai lelah ia berlari lari, tetap saja barisan tujuh biruang ini tidak mau bergerak menyerang, masih saja berlarian dengan cara bolak balik, sebentar ke kanan sebentar ke kiri.
Karena perobahan gerak, mereka ini tiba tiba, Bun Sam tentu saja harus merobah dengan tiba tiba pula dan hal ini membuatnya cepat lelah dan seluruh perhatiannya terpengaruh oleh gerakan tujuh orang itu.
Akhirnya ia sadar dan mengerti bahwa letak kelihaian Jit him tin ini tentu dalam pertahanan dan tujuh orang lawannya itu tentu menanti sampai ia turun tangan menyerang baru mereka akan bergerak, ia maklum bahwa dalam ilmu silat, menyerang berarti membuka lowongan bagi lawan yang berarti merugikan diri sendiri, maka ia lalu mengambil keputusan untuk tidak menyerang lebih dulu.
Tiba tiba tujuh orang Mongol yang juga merasa heran mengapa pemuda itu tidak mau menyerang menjadi lebih heran ketika melihat Bun Sam mencabut pula pedang lemas yang tersembunyi di dalam bajunya dan berkelebatlah sinar kuning keemasan ketika Kim kong kiam terhunus keluar.
Kemudian pemuda itu duduk di tengah tengah, bersila meramkan mata, sama sekali tidak memperdulikan tujuh orang lawannya yang masih berlari larian mengitarinya.
Pedang Kim kong kiam berada di tangan kiri sedangkan pedang Pek lek kiam berada di tangan kanan.
Bun Sam memicingkan mata untuk mencurahkan pikirannya.
Ia bermaksud memecahkan barisan tujuh biruang ini dan akhirnya ia mendapat akal.
Ia akan menanti sampai ia diserang, kemudian dengan sebatang pedang menahan serangan enam lawan, dengan pedang ke dua ia boleh mendesak yang seorang agar kepungan itu dapat dibobolkan.
Kalau saja ia tidak membiarkan dirinya terkurung, ia sanggup menghadapi keroyokan tujuh biruang ini tanpa khawatir akan dikalahkan.
Akan tetapi, Koai kauw jit him ternyata tidak bodoh dan tidak mau menyerang, biarpun pemuda itu sudah meramkan matanya.
Mereka masih saja mengelilingi pemuda itu, tetapi kini tidak lari lagi, melainkan berjalan kaki dengan langkah teratur dan selalu dalam keadaan pemasangan kuda kuda yang kokoh kuat.
Bun Sam meletakkan sepasang pedangnya di depan kedua kakinya dan kini ia berpangku tangan dalam keadaan siulian, napasnya teratur dan ia tidak bergerak sedikitpun juga!
Melihat keadaan ini, Biauw Kai yang tiba di belakang pemuda itu, menganggap bahwa itulah kesempatan terbaik untuk menyerang pemuda ini.
Maka tanpa banyak cakap, tiba tiba ia lalu menggerakkan sepasang kaitannya menyerang Bun Sam dari belakang!
Biauw Ta berseru.
"Jangan menyerang !"
Tetapi terlambat, sepasang kaitan itu telah menyambar, yang kiri ke arah punggung, yang kanan ke arah kepala.
Cepat sekali gerakan serangan ini, tetapi lebih hebatlah gerakan Bun Sam.
Tahu tahu tubuh pemuda ini telah mencelat ke kiri, pedang Pek lek kiam menjadi sinar putih yang menangkis kaitan itu adapun pedang Kim kong kiam menjadi sinar emas yang meluncur cepat mendesak orang yang berada di depannya, yakni Biauw Hun atau orang ke tiga dari Koauw kauw jit him!
Terdengar suara keras dan kaitan kiri dari Biauw Kai terbabat putus oleh Pek lek kiam.
Sedangkan Biauw Hun terkejut sekali atas penyerangan tiba tiba ini.
Ia melangkah maju ke kiri dan belakangnya, yakni Biauw Lun dan Biauw Siong, menggantikannya menangkis serangan Kim Long kiam.
Memang demikian sifat Jit him tin ini, yang diserang oleh lawan ditolong oleh saudara di kanan kirinya, sedangkan yang diserang itu setelah mendapat pertolongan, lalu membalas serangan lawan.
Biauw Hun juga segera mengarahkan kaitannya ke dada Bun Sam dengan serangan mautnya.
Pemuda ini telah memikirkan jalan pemecahan, maka melihat tangkisan Biauw Lun dan Biauw Siong, ia hanya memutar Pek lek kiam untuk menggempur mereka atau lebih tepat untuk menjaga diri dari serangan dua orang itu, sedangkan Kim kong kiam di tangannya terus mendesak Biauw Hun dengan hebatnya.
Sebentar saja enam pasang kaitan menyerang kalang kabut, akan tetapi dengan permainan Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut bagian ke lima, yakni bagian pertahanan, Pek tek kiam di tangannya berkelebat kian ke mari dan semua kaitan dapat ditangkisnya dengan tepat sekali.
Adapun Kim kong kiam di tangannya terus mendesak Biauw Hun yang menjadi repot sekali.
Karena penyerangan Bun Sam yang satu jurusan saja ini, maka pecahlah kepungan itu dan barisan Jit him tin tidak dapat jalan lagi!
Kini Bun Sam berada di tengah tengah keroyokan biasa yang tidak teratur dan kacau balau, hanya mengandalkan kekuatan para pengeroyok masing masing, jauh sekali bedanya dengan penyerangan Jit him tin yang amat teratur tadi.
Setelah tidak dikurung dengan siasat Jit him tin, dengan enaknya Bun Sam menghadapi mereka.
Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut dapat ia mainkan dengan sebaiknya dan kini baralah terlihat kehebatan ilmu pedang ini.
Koai kauw jit him audah berpuluh tahun menghadapi lawan lawan yang tangguh dan telah banyak melihat ilmu pedang, akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan oleh Bun Sam ini benar benar luar biasa sekali.
Pemuda itu telah menyimpan kembali Pek lek kiam, pedang istana yang tadi ia pinjam untuk melindungi diri dan sekarang ia hanya bersenjatakan Kim kong kiam saja.
Akan tetapi pedang ini telah berubah menjadi sinar emas yang berkilauan dan yang menyambar nyambar bagaikan seekor naga sakti.
Bun Sam memang sengaja hendak mencoba kehebatan ilmu pedangnya yang baru dipelajarinya dari Bu tek Kiam ong.
Kini melihat hasilnya, ia menjadi girang sekali dan dengan penuh semangat ia mainkan jurus ke sepuluh dari bagian ke dua, yang disebut gerakan Liong ong lo thian (Raja Naga Mengacau Langit).
Gulungan sinar pedang yang berwarna keemasan itu tiba tiba berobah menjadi sinar tajam berkelebatan dari atas ke bawah dan terdengar seruan kaget susul menyusul.
Sebentar saja, empatbelas batang kaitan itu lelah terlempar semua ke kanan kiri.
Bun Sam mengeluarkan suara ketawa puas, kemudian sekali berkelebat, bayangan pemuda itu lenyap di dalam gelap, hanya terdengar suaranya.
"Koai kauw jit him, selamat tinggal."
Tujuh orang tokoh Mongol itu saling pandang dengan wajah pucat.
Belum pernah mereka mengalami kekalahan yang demikian mutlak dan mengherankan.
Akhirnya dengan menarik napas panjang Biauw Ta berkata kepada Bucuci yang berdiri dengan bengong "Apakah ciangkun masih membutuhkan bantuan kami setelah melihat betapa rendahnya kepandaian kami?"
Bucuci bingung untuk menjawab. Memang hebat kepandaian pemuda tadi, tetapi ia memang membutuhkan sebanyak banyaknya bantuan orang pandai, maka buru buru ia berkata.
"Pemuda tadi agaknya menggunakan ilmu sihir. Buktinya ia tidak mampus terkena senjata rahasiaku. Harap jit wi jangan kecil hati. Lain kali kita membuat perhitungan dengan dia."
Biauw Ta tersenyum tawar.
"Dia tadi memang benar benar lihai, entah siapa yang mendidiknya sampai begitu hebat. Kim Kong Taisu sendiri agaknya tidak sehebat itu ilmu pedangnya. Kalau ciangkun masih mengharapkan bantuan kami, hanya ada satu syarat yakni harap kau jangan menceritakan kepada, siapapun juga tentang kekalahan kami yang memalukan ini."
Bucuci mengangguk, ia mengerti.
Memang kalau terdengar oleh orang lain, nama Koai kauw jit him yang demikian terkenal akan rusak.
Dengan hati kecewa, delapan orang ini pada keesokan harinya pagi pagi benar meninggalkan tempat itu pulang ke kota raja.
Bun Sam berlari cepat menuju ke hutan di mana Lan Giok dan Thian Giok menunggunya.
Akan tetapi, di tengah jalan ia bertemu dengan muda mudi kembar itu yang agaknya akan menyusulnya.
"Eh, mengapa kalian keluar dari hutan?"
Tegur Bun Sam.
"Kau seorang diri menghadapi tujuh lawan lihai ditambah Panglima Bucuci, apakah kau menyuruh kami enak enak saja menjadi umpan nyamuk di hutan?"
Lan Giok membalas bertanya.
"Adikku ini gelisah terus menerus karena khawatir kalau kalau kau celaka di tangan Koai kauw jit him,"
Kata Thian Giok sambil mengerling kepada adiknya penuh godaan.
"Tak perlu khawatir lagi, mereka telah pergi jauh, mungkin kembali ke kota raja. Aku telah berhasil memancing dan menipu mereka,"
Kata Bun Sam. Tiba tiba Lan Giok menjadi gembira dan sambil menghampiri Bun Sam, ia bertanya.
"Engko Bun Sam, bagaimana kau berhasil memancing mereka? Ceritakan padaku."
Gadis ini tiba tiba menyebut engko dan melihat sikapnya begitu wajar, Bun Sam tersenyum. Benar benar seorang gadis yang berwatak gembira, pikirnya.
"Aku berlari ke jurusan yang berlawanan dengan tempat kalian sembunyi,"
Bun Sam mengarang cerita bohong.
"akan tetapi tentu saja aku menunggu sampai mereka melihat aku. Kemudian ia terputar putar dan mengajak mereka main kucing kucingan di dalam hutan di kaki bukit, lalu aku berlari kembali ke tempat tadi, terus menuju ke kota raja. Mereka mengejar terus dan setelah aku bersembunyi di dalam rumpun alang alang di pinggir jalan, mereka masih saja terus mengejar ke kota raja, lewat di dekat tempat sembunyiku sambil menyumpah nyumpah."
Lan Giok tersenyum geli.
"Ah, alangkah senangnya kalau aku dapat melihat dengan kedua mata sendiri."
"Kalian ini hendak ke manakah?"
Bun Sam pura pura bertanya sungguhpun ia tahu baik bahwa mereka sedang menuju pulang ke Sian hwa sian.
"Kami hendak pulang ke Sian hwa san dan kau sendiri, selama tiga tahun ini menghilang ke mana sajakah? Beberapa kali ayah mencarimu, bahkan telah menyusul ke Oei san, tetapi kau tidak berada di sana. Suhumu, Kim Kong Taisu, menurut ayah juga mencarimu, juga guruku mencari cari di mana mana. Kini tahu tahu kau muncul di sini, sebenarnya ke mana saja selama ini, engko Bun Sam?"
Tanya Lan Giok. Ketika itu fajar telah menyingsing dan sebelum Bun Sam menjawab, Thian Giok mendahuluinya berkata.
"Perutku telah lapar sekali. Apakah tidak lebih baik kita mencari rumah makan di dusun depan itu, baru kemudian kita makan sambil bercakap cakap?"
Lan Giok mencela kakaknya.
"Begitu telingamu mendengar suara ayam hutan berkokok, perutmu otomatis berkeruyuk pula. Hem, benar benar menjemukan."
"Pandai kau bicara, hendak kulihat kalau sebentar aku makan, kau makan atau tidak."
Thian Giok membalas menggoda. Bun Sam tersenyum menyaksikan saudara kembar ini bercekcok. Iapun lalu membetulkan usul Thian Giok. Kembali Lan Giok diserang oleh kakaknya.
"Kau dengar itu? Bun Sam tentu setuju dengan pendapatku. Pertemuan ini tentu saja menggirangkan hati, tetapi, menghadapi makanan dan arak, bukankah lebih menggembirakan lagi?"
"Kamu orang laki laki yang diingat hanya makanan dan arak selalu,"
Kata gadis itu cemberut, tetapi ia tidak mengomel lebih jauh dan mengikuti Thian Giok berlari menuju ke dusun yang genteng genteng rumahnya sudah nampak dari tempat itu.
Karena masih pagi benar, mereka hanya bisa mendapatkan restoran yang menjual roti dan minuman hangat, akan tetapi itu sudah cukup bagi mereka.
Ternyata betul kata kata Thian Giok, karena begitu menghadapi makanan, Lan Giok mendahului mereka dan makan sekenyang kenyangnya.
Dua orang muda itu memandang gadis ini dengan senyum ditahan.
Kemudian dengan gembira mereka lalu bercakap cakap, saling menuturkan pengalaman mereka.
Akan tetapi Bun Sam tidak menceritakan bahwa ia telah menjadi murid Bu tek Kiam ong dan bahwa dia telah menolong mereka dari tangan Kui To dan Liem Swee, melainkan bercerita bahwa selama ini ia merantau dan mengalami banyak sekali peristiwa hebat.
Setelah Thian Giok dan adiknya menuturkan pengalaman dan perjalanan mereka yang amat dipuji oleh Bun Sam, pemuda ini lalu bertanya.
"Tadi kau bilang bahwa Yap suheng, suhuku dan guru kalian semua mencariku. Ada apakah orang orang tua itu mencari padaku ?"
Ditanya demikian ini, merahlah wajah Lan Giok dan ia tidak dapat menjawab. Thian Giok yang menjawab dengan suara bernada menggoda.
"Kau dicari untuk membicarakan urutan perjodohan Bun Sam"
"Apa...?"
Mata pemuda ini terbelalak.
"Engko Thian Giok, mulutmu ini benar benar lancang sekali !"
Sela Lan Giok, kemudian ia berkata kepada Bun Sam.
"Jangan kaudengar kata katanya yang ngacau itu, urusan perjodohan, kita orang orang muda mana tahu ? Mungkin sekali mereka mencarimu karena sudah lama tidak bertemu. Oleh karena itu, marilah kau ikut dengan kami ke Sian hwa san untuk bertemu dengan ayah dan guruku."
Bun Sam menggelengkan kepalanya.
"Kelak aku pasti akan naik ke gunung itu. Akan tetapi sekarang aku harus kembali ke kota raja untuk mengembalikan pedang pusaka milik kaisar ini."
Tadi ia sudah menceritakan bahwa pedang ini dicuri oleh orang jahat dan kebetulan sekali dijalan ia dapat merampasnya kembali.
Kemudian Bun Sam bertanya dengan hati hati agar jangan sampai mereka ketahui bahwa sebenarnya ia menyusul mereka untuk bertanya tentang Sian Hwa.
"Lan Giok, tadi aku mendengar Bucuci dan Koai kauw jit him bicara tentang nona Sian Hwa yang lari ikut dengan kau? Apakah yang mereka bicarakan itu nona Sian Hwa puteri Bucuci? Aku dulu pernah bertempur melewati dia dan nona itu cukup lihai. Mengapa dia sekarang lari dengan kau? Betulkah itu?"
Lan Giok tersenyum, kemudian menghela napas.
"Kasihan enci Sian Hwa. Ia mulai dikejar kejar lagi oleh ayah angkatnya itu. Memang yang mereka bicarakan itu adalah enci Sian Hwa puteri angkat Bucuci dan mereka mengira bahwa enci Sian Hwa ikut dengan aku. Seperti kuceritakan tadi, memang semula ia hendak ikut dengan aku, tetapi kami berdua tertangkap dan untungnya tertolong oleh orang aneh yang merahasiakan diri itu. Kemudian, entah mengapa, enci Sian Hwa tidak jadi turut bahkan menyatakan hendak masuk menjadi nikouw di kuil Sun pok thian. Ah, kasihan gadis yang patah hati itu."
"Mengapa hendak menjadi nikouw ? Bukankah ia puteri seorang bangsawan yang kaya raya dan ia murid dari Pat jtu Giam ong yang lihai ?"
"Hem, mana kau tahu?"
Lan Giok memandang kepada Bun Sam dan mengagumi alis mata pemuda ini yang bentuknya seperti golok.
"Enci Sian Hwa telah minggat dari rumahnya karena tidak sudi dipaksa menikah dengan Liem Swee putera Pat jiu Giam ong."
Semua hal ini Bun Sam sudah mengetahui, tetapi ia berpura pura heran dan tertarik.
Hatinya kecewa karena dari Lan Giok ia tidak mendengar sesuatu yang aneh yang dapat membuka rahasia hati kekasihnya itu.
Kini mendengar bahwa Bucuci dan Koai kauw jit him itu sebetulnya hendak mengejar dan menangkap Sian Hwa, hatinya menjadi makin gelisah.
"Kalian lanjutkanlah perjalananmu ke Sian hwa san, aku hendak ke kota raja lebih dulu, baru kemudian aku akan menyusul ke sana,"
Katanya sambil bangkit berdiri setelah Thian Giok membayar harga makanan dan minuman.
Lan Giok kecewa sekali karena Bun Sam tidak mau pergi bersama mereka.
Melihat kemuraman wajah adiknya, Thian Giok merasa kasihan.
Setelah mereka berpisah dari Bun Sam, Thian Giok berkata.
"Adikku, kau tunggu sebentar di sini, aku mau bicara penting dengan dia!"
Ia lalu kembali dan mengejar Bun Sam yang belum pergi jauh. Mendengar panggilan Thian Giok, Bun Sam berhenti.
"Bun Sam, jangan kau lama lama pergi. Lekaslah menyusul kami di Sian hwa san. Sebetulnya, ayah hendak bicara dengan kau mengenai urusan perjodohanmu dengan adikku Lan Giok."
"Apa...??"
Bun Sam memandangnya dengan mata terbelalak.
Tak terasa ia memandang ke arah Lan Giok yang berdiri agak jauh dari situ.
Gadis ini tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Thian Giok kepada Bun Sam, maka ia memandang dengan penuh perhatian.
Gadis itu nampak cantik sekali tertimpa sinar matahari pagi, cantik dan manis dengan potongan tubuhnya yang ramping.
"Semua sudah setuju dengan perjodohan itu,"
Kata Thian Giok pula dengan hati geli ketika ia melihat Bun Sam memandang ke arah adiknya.
"bahkan guruku telah pergi ke Oei san untuk membicarakan urusan ini dengan Kim Kong Taisu. Pendeknya, pertunanganmu dengan Lan Giok telah diresmikan oleh orang orang tua."
"Apakah dia.... sudah tahu tentang pertunangan ini ?"
Tanya Bun Sam bagaikan dalam mimpi. Maksud pemuda ini ialah apakah Sian Hwa sudah tahu tentang pertunangan itu, tetapi tentu saja Thian Giok mengira bahwa Bun Sam maksudkan adalah Lan Giok.
"Tentu saja, adikku merasa beruntung sekali. Tidakkah kau melihat betapa ia mencintamu?"
Bersinar mata Bun Sam dan Thian Giok mengira bahwa pemuda ini merasa girang.
Sebetulnya Bun Sam hanya merasa lega karena kini tahulah ia akan rahasia kekasihnya.
Tak salah lagi, Lan Giok tentu sudah memberi tahu kepada Sian Hwa tentang pertunangan itu, sehingga kekasihnya itu menjadi putus harapan dan mengalah.
Alangkah halus budi Sian Hwa.
Gadis kekasihnya itu mengalah dan rela berpisah dari dia setelah tahu bahwa Bun Sam telah ditunangkan dengan Lan Giok.
"Jangan lama lama kau pergi, Bun Sam. Kami menanti di Sian hwa san,"
Sekali lagi Thian Giok berkata. Seperti seorang linglung, Bun Sam hanya mengangguk, kamudian berkata singkat.
"Selamat berpisah."
Lalu ia melompat dan sekejap mata saja ia sudah lenyap dari depan Thian Giok, membuat murid Mo bin Sin kun ini merasa heran dan kagum.
"Kau bilang apa padanya?"
Tanya Lan Giok. Thian Giok tertawa.
"Tidak apa apa, hanya aku pesan jangan dia terlalu lama pergi karena tunangannya menanti nanti dengan hati rindu."
Merah muka Lan Giok, demikian jengah dia sehingga untuk sesaat tidak dapat menjawab godaan kakaknya.
"Aku bilang bahwa dia sudah bertunangan denganmu, bukankah itu baik sekali?"
Tak dapat lagi Lan Giok kali ini bercekcok dengan kakaknya, maka tanpa bilang sesuatu, ia lalu lari melanjutkan perjalanannya.
Thian Giok mengejar sambil tersenyum senyum, hatinya penuh kebahagiaan melihat adiknya berhati girang dan bahagia.
Sesosok bayangan hitam yang gesit sekali nampak berlompat lompatan di atas wuwungan gedung gedung dan bangunan istana yang megah.
Bayangan ini bukan lain adalah Bun Sam yang bermaksud mengembalikan pedang Pek lek kiam sebagaimana yang dipesan oleh mendiang Bu tek Kiam ong.
Dengan kepandaian ginkangnya yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Bun Sam dapat melewati penjaga penjaga dan pengawal pengawal disekitar istana yang mewah dan kini pemuda ini menjadi kagum dan bingung.
Ia merasa kagum karena bangunan bangunan istana itu benar benar luar biasa indahnya, semua terukir dan semua mengandung hasil seni yang bermutu tinggi.
Bahkan wuwungan rumah saja sampai diukir dan dihias dengan tata warna yang demikian indahnya.
Benar benar pemuda itu merasa heran dan kagum sekali.
Akan tetapi ia merasa bingung karena ke manakah ia harus mengembalikan pedang Pek lek kiam itu?
Ia tidak tahu di mana adanya gudang pusaka kerajaan dan tidak tahu pula bagaimana ia dapat menghadap atau menemui kaisar untuk mengembalikan pedang itu.
Lampu lampu penerangan di kelompok gedung istana itu sangat banyak, sehingga keadaan menjadi terang seperti siang.
Ketika Bun Sam menuju ke bagian barat dan sedang berdiri di wuwungan sambil memandang ke bawah, tiba tiba ia mendengar suara seorang wanita sedang marah marah.
Karena ingin tahu apa yang terjadi dan siapa yang bicara, Bun Sam lalu melompat ke arah suara itu dan ternyata suara itu datang dari sebuah taman bunga yang tidak berapa besar, akan tetapi amat indah.
Pohon pohon yang liu dan pohon pohon kembang yang tertanam di situ semua terpelihara baik baik tak nampak sehelaipun daun kering menempel di pohon, agaknya setiap hari dibersihkan orang, juga cara menanamnya, teratur.
Di tengah tengah taman itu terdapat sebuah panggung tinggi yang dicat merah dan di sekeliling panggung terdapat lampu teng yang amat mungil.
Di sebelah kanan panggung, yakni di bawah, terdapat empang teratai yang berair jernih.
Daun daun teratai yang lebar itu nampak terapung di permukaan air, dihias oleh kembang teratai berwarna merah dan putih.
Ikan ikan emas berenang ke sana ke mari di kanan kiri kembang kembang teratai kadang kadang kepalanya muncul di permukaan air menimbulkan suara gemercik atau secara main main melompat ke permukaan air, sehingga untuk sekilas nampak perut ikan yang putih bagai perak.
Panggung itu lebar dan berbentuk bundar.
Lantainya bersih mengkilat, akan tetapi tetap saja di tilami permadani dari Negeri Barat yang indah dan tebal.
Bun Sam melihat tujuh orang wanita muda muda dan cantik cantik duduk berkeliling di pinggir panggung, sedangkan di tengah tengah panggung nampak seorang gadis yang luar biasa cantiknya tengah bicara marah marah kepada seorang laki laki muda yang juga amat tampan dan berpakaian amat mewah.
"Mengapa kau begitu pengecut?"
Gadis cantik itu berkata dengan alis berdiri, tangan kiri bertolak pinggang, sedangkan tangan kanannya dengan telunjuknya yang runcing itu menuding ke arah hidung pemuda tampan tadi.
"Kaulihat saja, aku besok akan pulang ke utara dan memberi tahu kepada ayah. Betapapun juga, pernikahan harui dilakukan di utara, bukan di sini."
Setelah berkata demikian, dengan sikap manja gadis itu membanting banting kaki kanannya. Pemuda itu tertawa, lalu berkata merayu.
"Kalau kau marah marah kau makin cantik saja. Lihat matamu menjadi seperti warna Telaga Sihu! Kebiru biruan, ah, alangkah indahnya."
Gadis itu nampak girang mendapat pujian ini.
"Laki laki pembujuk. Kau kira dengan rayuanmu ini aku akan menyerah saja? Tidak, kalau kau begitu pengecut untuk memberitahukan ayahmu bahwa aku menghendaki upacara pernikahan di utara aku tidak mau menikah dengan kau!"
"Ah, sudahlah. Aku bersumpah untuk memberitahukan ayah besok. Kau jangan marah marah, manis."
Setelah berkata demikian, dengan mesra pemuda itu mengelus pipi gadis itu yang kini benar benar telah mereda marahnya.
"Betapapun juga, besok aku akan pulang dulu untuk mempersiapkan segala peralatan pernikahan,"
Katanya.
Tujuh orang wanita muda yang duduk bersimpuh di panggung itu, saling lirik dengan tersenyum senyum, tetapi dua orang muda yang berdiri itu tidak memperdulikan mereka, sambil berpegangan tangan mereka saling memandang dengan mata mencintai.
Merahlah wajah Bun Sam yang mengintai.
Ia disuguhi adegan yang membuat hatinya perih dan pikirannya melayang layang, teringat kepada Sian Hwa.
Ia merasa malu sendiri mengapa ia mengintai adegan seperti itu.
Dengan gugup ia hendak pergi dari situ.
Karena pikirannya melayang terkenang kepada Sian Hwa, ia berlaku kurang hati hati dan tanpa disengaja ia tertendang ujung wuwungan panggung itu, sehingga pecah dan mengeluarkan bunyi nyaring.
Terkejutlah semua orang di atas panggung itu.
Sikap gadis dan pemuda itu berobah dan kini mereka nampak tangkas sekali.
Dengan gerakan yang cepat, gadis itu melompat ke pinggir dan tahu tahu ia telah menghunus pedang yang tadi dipegang oleh seorang di antara tujuh pelayannya.
Adapun pemuda itupun kini telah mencabut sepasang siang kiam (sepasang pedang).
"Orang yang di atas genteng, turunlah! Kalau tidak, sekali berteriak saja tempat ini akan terkepung oleh semua penjaga dan kau akan dipenggal lehermu. Dihadapan kami mungkin kau akan mendapat ampun!"
Gadis itu berseru keras dan kini suaranya yang tadi terdengar merdu sekali itu berobah menjadi nyaring dan keras.
Mendengar ini, Bun Sam berpikir.
Ia tentu saja tidak takut akan ancaman itu, tetapi mengapa harus menimbulkan ribut ribut?
Ia datang tanpa maksud buruk, hanya untuk mengembalikan pedang dan mendengar percakapan tadi, dua orang muda di bawah itu bukanlah orang sembarangan.
Siapa tahu dengan perantaraan mereka, ia dapat mengembalikan pedang kepada tangan yang berhak.
Ia menjaga jangan sampai pedang itu terjatuh ke dalam tangan jahat.
Tanpa ragu ragu lagi, ia lalu melayang turun dan merupakan bayangan yang ringan dan lincah sekali.
Tahu tahu semua orang yang berada di panggung itu melihat seorang pemuda berpakaian sederhana telah berdiri di hadapan gadis dan pemuda tadi.
Bun Sam melihat pemuda itu sebaya dengan dia, berwajah agung dan tampan sekali, juga pakaiannya mewah, gadis itu memandang kepadanya, dengan heran dan kagum Bun Sam melihat sepasang mata yang kebiru biruan!
Ia merasa heran dan kagum karena memang mata itu berbeda sekali dengan mata orang biasa, tentu saja ia lebih suka akan mata Sian Hwa yang hitam mulus dan bening!
Ia lalu menjura dengan hormat, lalu berkata.
"Maaf kalau aku mengganggu. Aku datang bukan dengan maksud buruk."
"Berlutut!"
Tiba tiba seorang di antara para wanita pelayan tadi membentaknya.
"Berani kau berlaku tidak sopan di hadapan Ong ya?"
Bun Sam terkejut.
Sebutan Ong ya ini membuat ia teringat bahwa kaisar mempunyai seorang putera dari selir yang bernama Kian Tiong yang sebutannya juga Ong ya.
Jadi pangerankah pemuda ini?
Akan tetapi, dia tidak mau berlutut, jangankan di depan seorang pangeran Kaisar Mongol, biarpun pangeran bangsanya sendiri pun belum tentu ia mau berlutut dalam keadaan seperti sekarang!
Tiba tiba pelayan wanita itu yang tadinya bersimpuh, mencelat tubuhnya dan menyerang ke arah dua kaki Bun Sam.
Itulah serangan Bi jin hwa (Gadis Cantik Mencari Bunga), sebuah jurus serangan dari Ilmu Silat Bi jin kun yang lihai.
Akan tetapi biarpun serangan ini mengejutkan hati Bun Sam karena tidak disangka sangkanya seorang gadis pelayan dapat memiliki kepandaian setinggi itu, namun terhadap pemuda ini tidak ada artinya sama sekali.
Gadis itu berhasil memegang kedua kaki pemuda itu yang hendak ditariknya supaya Bun Sam jatuh berlutut, akan tetapi biarpun ia mengerahkan tenaganya, tak juga kaki itu dapat ditarik.
Pelayan itu masih terus membetot dan menarik sampai napasnya krenggosan, akan tetapi sia sia saja.
Bun Sam hanya menundukkan muka memandangnya sambil tersenyum.
Ketika pelayan itu berdongak dan melihat wajah tampan itu tersenyum kepadanya, lemaslah hatinya dan makin hilang tenaganya.
Dengan muka merah saking malu dan jengah, ia lalu mundur lagi dan duduk seperti tadi.
Kian Tiong tertawa terbahak bahak, lalu menghampiri Bun Sam.
"Siapakah kau, orang gagah? Dan keperluan apakah yang membawamu datang ke tempat ini? Tahukah kau bahwa baik atau buruk maksud kedatanganmu ini, kau tetap saja sudah melakukan pelanggaran! Tempat ini adalah tempat terlarang."
Bun Sam memandang tajam, lalu bertanya.
"Benarkah aku berhadapan dengan Pangeran Kian Tiong?"
Pemuda itu mengangguk. Sepasang pedangnya masih di tangan, karena ia masih curiga dan takut kalau kalau mendapat serangan mendadak.
"Memang benar dan nona ini adalah tunanganku, puteri dari Raja Suku Bangsa Semu. Kaulihat, kau berhadapan dengan putera puteri raja besar, mengapa kau tidak memberi hormat selayaknya?"
Pertanyaan ini lebih bersifat perasaan heran dari pada teguran. Bun Sam kembali menjura.
"Maafjkan aku, Ong ya. Aku tidak biasa menghormat sambil berlutut, kecuali kepada guruku dan kepada mendiang orang tuaku. Kiranya tidak perlu kuperkenalkan diri cukup kalau kuberitahukan maksud kedatanganku. Aku datang hendak mengembalikan ini!"
Ia melolos pedang Pek lek kiam dari sarangnya dan pangeran itu terkejut sekali sampai ia melompat mundur dan wajahnya berobat pucat.
"Pek lek kiam! Jadi kau pencurinya??"
"Bukan, Ong ya, bukan aku pencurinya. Aku yang merampasnya dari tangan pencuri itu, seorang kakek tua gila yang kini sudah meninggal dunia."
Nampak pangeran itu menjadi lega, lalu ia menerima pedang itu dan memeriksanya. Setelah mendapat kenyataan bahwa benar benar itu adalah pedang Pek lek kiam, ia berkata.
"Sahabat yang gagah, siapakah kau?"
"Namaku Song Bun Sam, seorang perantau biasa saja."
"Bagus, sekarang aku teringat. Bukankah kau murid dari Kim Kong Taisu yang beberapa tahun yang lalu pernah menimbulkan keributan di kota raja?"
Pangeran ini memandang tajam. Bun Sam tersenyum.
"Jadi Ong ya sudah pula mendengar obrolan Panglima Bucuci? Memang, aku pernah ribut ribut dengan panglima itu, bahkan kemarin dulu pun aku bentrok dengan dia dan kawan kawannya. Akan tetapi, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan soal mengembalikan pedang ini."
Pangeran Kian Tiong mengangguk angguk.
"Song Bun Sam, kau benar benar tabah sekali, aku terpaksa harus mengakui dan memuji keberanian mu. Tetapi kau terlalu lancang. Betapapun juga, aku paling suka akan kegagahan, maka aku maafkan kelantanganmu ini. Besok datanglah ke istana, aku akan mintakan hadiah untukmu kepada kaisar."
Bun Sam menggelengkan kepalanya.
"Ong ya, orang seperti aku yang tidak membutuhkan sesuatu, hadiah dari kaisar untuk apakah? Tidak, aku tidak mengharapkan hadiah karena sesungguhnya peristiwa pencurian pedang ini telah mendatangkan keuntungan besar sekali kepadaku. Nah, selamat tinggal Ong ya dan kau juga, nona!"
Ia menjura, akan tetapi sebelum ia melompat pergi, terdengar nona itu berkata.
"Tahan dulu!"
Suaranya amat berpengaruh seperti suara seorang yang sudah biasa memberi perintah.
Bun Sam menahan gerakan kakinya dan memandang.
Nona itu menggerakkan pedang yang dipegangnya tadi yang ternyata adalah sebatang pedang yang bentuknya agak aneh, karena pedang itu di bagian tengah tengah melebar, sehingga bagian tengah itu lebih lebar daripada bagian gagang atau ujungnya.
Cahayanya kebiruan seperti warna matanya dan ketika gadis itu menggerak gerakkannya, bersiutanlah angin yang dingin.
Diam diam Bun Sam memuji gadis ini yang biarpun nampak demikian lemah lembut dan cantik jelita, ternyata memiliki tenaga dalam yang lihai juga.
"Luilee, jangan kau main main, dia adalah murid Kim Kong Taisu yang lihai!"
Pangeran Kian Tiong agaknya sudah dapat menerka maksud hati tunangannya itu.
Akan tetapi Luilee, gadis cantik itu, hanya tersenyum kepada tunangannya dan kemudian ia melangkah maju menghadapi Bun Sam sambil memandang dengan matanya yang berwarna biru itu.
Setelah nona itu mendekat, diam diam Bun Sam harus mengakui bahwa biarpun warna mata itu aneh, akan tetapi kalau dipandang pandang toh memiliki keindahan tersendiri.
Sinar mata itu demikian lembut dan ia percaya bahwa mata ini dapat memandang dengan mesranya, sehingga tidak aneh kalau pangeran itu telah jatuh betul betul di bawah kaki gadis cantik ini.
"Song Bun Sam, ketahuilah bahwa aku semenjak kecil amat suka akan ilmu silat pedang dan telah mempelajari ilmu pedang keturunan dari ayahku. Sekarang mendengar bahwa kau adalah murid dari Kim Kong Taisu yang lihai, sebelum kau pergi harap kau suka memberi sedikit petunjuk agar ilmu pedangku bertambah baik."
Ia memandang kepada Kian Tiong dan berkata halus.
"Beri pinjam Pek lek kiam itu kepadanya!"
Akan tetapi sebelum Kian Tiong memberikan pedang itu, Bun Sam sudah mengeluarkan Kim kong kiam yang bercahaya keemasan. Pemuda ini merasa gembira dan berkata.
"Tentu saja aku bersedia untuk melayani kehendak siocia. Pedangku ini adalah Kim kong kiam, pemberian suhu Kim Kong Taisu. Akupun sering kali mendengar bahwa ilmu pedang dari keluarga Raja Semu adalah tinggi sekali, maka harap siocia tidak berlaku sungkan dan merendah."
Panggung itu memang luas dan cukup lebar untuk dipakai pibu, Luilee, puteri Semu yang cantik.
Setelah tersenyum manis kepada tunangannya, lalu berseru nyaring dan tiba tiba pedangnya berkelebat merupakan segulung sinar kebiruan, menyambar ke arah dada Bun Sam dengan sebuah tusukan yang dilakukan dengan gaya indah sekali.
Pemuda ini menangkis dengan Kim kong kiam dan sengaja ia tidak menggunakan tenaga.
Dalam benturan pedang ini, ia mendapat kenyataan bahwa pedang biru di tangan nona itu adalah sebatang pedang mustika yang baik sekali dan sekaligus ia pun tahu bahwa lweekang dari nona Bangsa Semu ini tingkatnya masih kalah oleh Sian Hwa apalagi kalau dibandingkan dengan Lan Giok, masih kalah jauh.
Akan tetapi setelah Luilee menyerangnya lagi dengan tusukan dan bacokan bertubi tubi yang cepat sekali datangnya, pemuda ini tahu bahwa ilmu pedang dari nona ini mengandalkan kegesitan dan ternyata dalam hal ginkang, agaknya nona ini tidak kalah oleh Sian Hwa.
Ia melayani dengan sengaja mengalah dan tidak membalas, sehingga pertempuran ini nampaknya ramai sekali.
Berkali kali Pangeran Kian Tiong memuji, pangeran ini kepandaiannya sudah lebih tinggi dari tunangannya maka tentu saja ia tahu bahwa Bun Sam selalu mengalah.
Betapapun juga, pemuda bangsawan ini amat kagum melihat gerakan tubuh tunangannya yang memang bersilat dengan gaya yang amat indah, seakan akan sedang menari nari.
Biarpun memiliki ilmu pedang yang cukup lihai, namun sebagai seorang puteri yang manja, Luilee tak pernah berlatih diri sampai lama, sehingga ia tidak memiliki napas panjang dan keuletan, maka baru menyerang tigapuluh jurus saja, peluhnya telah membasahi tubuhnya!
Bun San tahu akan hal ini dan ia merasa kasihan.
Dengan gerakan cepat sekali ia lalu memutar pedangnya.
Putaran ini mengandung tenaga cam (melibat), maka seketika itu juga pedang biru di tangan Luilee ikut terputar tanpa dapat dicegah lagi.
Ketika Bun Sam berseru perlahan, tahu tahu pedang biru itu terlepas dari pegangan Luilee dan meluncur lurus ke atas, lalu menancap pada langit langit panggung yang terbuat dari papan.
Pedang itu menancap keras dan gagangnya bergoyang goyang sambil mengeluarkan suara mengaung!
Bukan main kagumnya Luilee menyaksikan ini.
Mulutnya yang manis dan kemerahan itu berseru.
"Bagus sekali! Hebat ilmu pedangmu, Song Bun Sam !"
"Kiam hoatmu indah sekali gayanya, siocia."
Bun Sam balas memuji.
Pada saat itu Pangeran Kian Tiong memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya, menariknya keluar lagi dan seperti menggenggam sesuatu.
Kemudian ia menggerakkan tangannya memukul ke arah pedang biru yang menancap di langit langit panggung itu.
Nampak sinar merah keluar dari tangannya itu, melibat gagang pedang dan sekali tarik saja pedang itu telah tercabut dan jatuh ke bawah, disambut dengan tangkasnya oleh pangeran muda itu !
Bun Sam memuji.
Ia tahu bahwa sinar merah tadi adalah sehelai tali sutera atau ang kin (sabuk merah) yang dapat dipergunakan sebagai senjata mengandalkan tenaga lweekang.
Pangeran itu berkata kepada Bun Sam.
"Biarpun kau tidak memperlihatkan kepandaianmu yang sesungguhnya dan berlaku mengalah, akan tetapi aku dapat melihat bahwa kepandaian ilmu pedang dari Song taihiap benar benar mengagumkan sekali. Agaknya kalau dibandingkan dengan kepandaian murid murid Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo, akan ramai sekali. Alangkah senangku kalau aku dapat menyaksikan pertandingan antara kau dan mereka, pasti ramai luar biasa!"
"Aku dulu sering mendengar dongeng dari inang pengasuhku ketika aku masih kecil bahwa di Tiong goan terdapat banyak kiam hiap (pendekar pedang) yang memiliki pedang terbang. Ternyata sekarang bahwa semua itu adalah bohong semata. Memang seperti Song taihiap ini ilmu pedangnya hebat, akan tetapi toh tidak mungkin dia bisa membikin pedangnya terbang bersama dirinya seperti yang sering kali didongengkan oleh inang pengasuh ku dulu,"
Kata Luilee.
"Terbang? Manusia tidak mempunyai sayap seperti burung, bagaimana bisa terbang? Apalagi pedang!"
Kata Pangeran Kian Tiong sambil tersenyum.
"Aku mendengar bawa katanya ada kiamhiap kiamhiap yang dapat membikin tubuhnya bersatu dengan pedang yang terbang sehingga dalam sekejap mata saja dapat mencukur sebatang pohon, sehingga rata daun daunnya. Tak tahunya semua itu hanya obrolan kosong belaka."
Terbangun semangat Bun Sam mendengar ini Dia adalah seorang Han dan kini mendengar betapa pendekar pendekar pedang Bangsa Han diejek oleh dua orang asing, yakni seorang puteri Semu dan seorang putera Mongol.
Ia suka kepada dua orang muda bangsawan ini yang berbeda dengan bangsawan bangsawan lain sikapnya, tetapi ia hendak memperlihatkan bahwa orang orang Han tidak boleh dipandang rendah begitu saja.
Maka ia lalu menjura dan berkata.
"Biarpun tidak mungkin bagi seorang manusia atau sebatang pedang yang tidak bersayap untuk terbang seperti burung, tetapi kalau ji wi (tuan berdua) menghendaki agar pohon di dalam taman sini dibabat daun daunnya, kiranya aku masih sanggup melakukannya!"
Luilee memandang dengan matanya yang biru terbelalak lebar membuatnya nampak makin cantik.
"Benarkah? Bagus! Song Bun Sam, coba menolongku. Kaulihat pohon cemara yang gemuk dan daunnya penuh itu? Kaubabatlah sampai rata dan bikin dalam bentuk apa saja, asal rata dan rapi."
Bun Sam memandang Le arah pohon cemara itu.
Itu adalah semacam pohon cemara yang tinggi dan besar, daunnya banyak sekali menjulang ke sana ke mari.
Bukan pekerjaan mudah untuk membabat ujung ujung daun yang tidak rata itu, tetapi Bun Sam dengan tenang lalu berjalan ke bawah pohon, diikuti oleh sepasang orang muda bangsawan itu.
"Maafkan aku memperlihatkan kebodohanku. Bun Sam menjura dan sebelum kedua orang muda itu sempat menjawab, tubuhnya telah berkelebat ke atas dengan pedang Kim kong kiam di tangannya. Sekejap kemudian, baik Kian Tiong maupun Luilee berdiri bengong seperti patung. Selama hidupnya belum pernah mereka menyaksikan pemandangan seperti yang sekarang mereka hadapi. Mereka melihat sinar kuning emas berkelebatan ke sana ke mari di atas pohon dan sambil mengelirkan suara berisik, daun daun berhamburan jauh melayang ke bawah, juga daun daun kecil. Tidak kelihatan bayangan Bun Sam. yang nampak hanya sinar kuning emas itu berkilauan di dalam gelap malam. Di mana saja sinar itu tiba, dahan dahan kecil dan daun daun pohon itu tentu berhamburan jatuh.
"Hebat...."
Luilee berkata menahan napas.
"Betul betul lihai sekali...."
Bisik Pangeran Kian Tiong.
Sampai lama Bun Sam bekerja, makin cepat tubuhnya bergerak, makin hebat pula sinar pedang itu berkilauan dan makin banyak dahan dan daun daun yang jatuh.
Pemuda ini tidak mau bekerja kepalang tanggung.
Maka dengan mata terbelalak, Luilee dan Kian Tinng melihat betapa pohon itu dibabat demikian rupa, sehingga kini berbentuk tubuh seorang manusia, lengkap dengan kepala, pundak dan pinggangnya.
"Ya, Buddha Yang Mulia! Itulah engkau, Luilee, ....!"
Pangeran itu berkata sambil memegang tangan tunangannya.
"Benar,"
Kata Luilee dengan dada berdebar debar.
"aku takkan percaya kalau tidak menyaksikan dengan kedua mataku sendiri."
Tak lama kemudian, Bun Sam melompat turun dan telah berdiri di depan sepasang orang muda bangsawan itu sambil tersenyum. Pedang Kim kung kiam telah disimpannya kembali.
"Kiam hoatmu hebat sekali, Song taihiap!"
Kata Kian Tiong dengan kagum sedangkan Luilee memandang kepada Bun Sam dengan mata penuh pujian.
"Aku menarik kembali omonganku tadi, tidak ingin melihat kau bertanding melawan murid murid Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo, akan tetapi tentu akan hebat sekali kalau kau beradu pedang dengan dua orang tua itu."
"Kau telah menggembirakan hati kami dan kau berjasa mengembalikan pedang. Katakan saja, Song taihiap, apa yang kauinginkan? Kami akan membantumu sedapat mungkin, bukankah begitu, pangeranku yang baik?"
Luilee berkata dengan senyumnya yang manis. Kemudian Bun Sam menjura kepada kedua orang muda bangsawan itu.
"Aku hanya mempunyai dua macam permintaan, harap ji wi sudi menolongku, ini pun kalau kiranya ji wi sedia."
"Katakanlah, katakanlah! Apa permintaanmu itu?"
Tanya Luilee dan pandangan matanya yang indah itu bersinar sinar, membuat Pangeran Kian Tiong mengerut keningnya dengan hati cemburu, kemudian ia menyentuh lengan puteri cantik itu.
Luilee melengak dan melihat pandangan mata tunangannya, ia tersenyum dan mengerling tajam dengan mulut cemberut, seakan akan ia hendak menyatakan tak senangnya melihat kekasihnya cemburu.
Melihat ini, pangeran itu tersenyum lagi dan menghadapi Bun Sam.
"Orang gagah, kau katakanlah, apa dua macam permintaan itu?"
"Pertama tama, mengharap kebijaksanaan ji wi untuk menggunakan kekuasaan dan pengaruh agar segala macam tindasan dan kekejaman yang dilakukan kepada rakyat terutama Bangsa Han, dapat dihentikan."
Kian Tiong dan Luilee saling memandang.
"Song Bun Sam, permintaanmu yang pertama ini memang pantas tetapi aku sangsi apakah kami akan dapat memenuhinya. Kau tentu maklum sendiri bahwa bukan pemerintah kami yang sebetulnya bersifat ganas terhadap bangsamu, melainkan orang orang yang melaksanakan tugas pekerjaannya, orang orang yang menamakan diri sendiri pembesar, akan tetapi jiwanya tidak besar, orang orang yang menamakan dirinya pemimpin tetapi sebetulnya hanya uang yang mereka pimpin, memasuki kantungnya sendiri. Bagaimana aku dapat menghentikan perbuatan perbuatan jahat dari demikian banyak orang? Akan sama sukarnya dengan menghentikan aliran Sungai Hoang ho!"
Bun Sam menarik napas panjang. Ia dapat mengerti kata kata pangeran ini.
"Betapapun juga, aku percaya bahwa kau akan dapat mengurangi penderitaan rakyat, biar dengan jalan bagaimanapun,"
Kata pemuda ini.
"Baiklah, Soag Bun Sam, akan kuusahakan sedapat mungkin."
Jawaban inilah yang membuat Pangeran Kian Tiong kelak menjadi seorang pangeran yang sering kali mengadakan perjalanan dalam penyamaran.
"Dan apakah permintaanmu yang ke dua?"
Tanya Luilee.
Ditanya demikian, tiba tiba Bun Sam menjadi merah sekali mukanya.
Pemuda ini amat mengkhawatirkan keadaan Sian Hwa, kekasihnya yang melarikan diri.
Kalau saja Sian Hwa sudah berada di sebelahnya, ia tidak akan takut menghadapi siapapun juga yang akan mengganggu Sian Hwa.
Akan tetapi, gadis kekasihnya itu kini entah berada di mana, merantau seorang diri dan ia tahu bahwa Bucuci masih penasaran dan selalu akan melakukan pengejaran terhadap anak angkatnya itu.
Dan di dalam urusan mencari Sian Hwa, tentu saja ia takkan dapat menang melawan Bucuci yang mempunyai kaki tangan di seluruh kota kota dan dusun dusun!
"Permintaanku yang ke dua...."
Hingga di situ sukarlah kata kata keluar dari mulutnya dan wajahnya makin memerah, akan tetapi Bun Sam dapat menetapkan hatinya dan berkata dengan lancar.
"yakni aku hendak mohon pertolongan ji wi untuk menggunakan kedudukan dan pengaruh untuk menekan Panglima Bucuci agar panglima itu tidak akan memaksa puterinya menikah dengan putera dari Liem goanswe!"
Kalau permintaan pertama tadi mengherankan Lian Tiong dan Luilee, tetapi permintaan ke dua ini amat mengejutkan mereka.
Permintaan ini bukanlah urusan main main!
Menghadapi Panglima Bucuci masih terhitung soal mudah, akan tetapi bagaimana kalau menghadapi Liem goanswe?
Kecuali kaisar sendiri, orang di seluruh negeri takut kepada Liem goanswe!
"Sungguh aneh, sungguh menarik!"
Seru Luilee.
"Song Ban Sam, mengapa kau minta kepada kami untuk melarang puteri Panglima Bucuci menikah dengan putera Liem goanswe?"
"Karena puteri itu tidak suka kepada putera Liem goanswe, dan sekarang gadis itu telah melarikan diri, karena tidak sudi dipaksa menikah dengan pemuda itu. Dan Panglima Bucuci tengah berusaha mencari gadis itu untuk dipaksa menikah dengan putera Liem goanswe!"
Luilee membelalakkan kedua matanya.
"Hebat hebat! Gadis itu sampai minggat karena tidak mau dikawinkan dengan putera Liem goanswe?? Aneh, aneh sekali! Putera Liem goanswe adalah seorang pemuda yang tampan, gagah dan memiliki kepandaian yang amat tinggi dalam ilmu silat. Ayahnya seorang pembesar, kaya raya, berpangkat tinggi. Mengapa gadis itu sampai menolak dan nekad melarikan diri?"
Sepasang mata kebiruan yang amat tajam itu menentang muka Bun Sam, penuh perhatian, sehingga pemuda ini dengan gagap berkata.
"Karena.... karena ia tidak suka kepada pemuda itu. Kukira demikianlah sebabnya!"
"Permintaanmu yang ke dua ini benar benar mustahil, Song Bun Sam,"
Kata Pangeran Kian Tiong.
"Urusan pernikahan adalah urusan dalam dari keluarga Bucuci, bagaimana kami dapat mencampurinya? Memang bisa saja kami melihat kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak beres, kami dapat menegur. Akan tetapi, kepada siapa saja Panglima Bucuci mengawinkan puterinya, kami bisa berbuat apakah? Apa lagi hendak dinikahkan dengan putera Liem goanswe! Tahukah kau siapa Liem goanswe? Dia adalah Pat jiu Giam ong yang kepandaiannya tiada taranya di dunia ini. Siapa yang berani main main dengan kumis harimau?"
Bun Sam tersenyum. Tentu saja ia kenal siapa adanya Liem goanswe atau Pat jiu Giam ong, maka ia menarik napas panjang.
"Sudahlah, akupun tidak memaksa kalau sekiranya ji wi tidak melihat jalan untuk memenuhi permintaanku yang ke dua itu, tidak apalah, kutarik kembali. Adanya aku minta pertolongan ji wi, karena mengingat bahwa gadis itu bukanlah puteri Bucuci yang aseli, melainkan anak pungut belaka."
Kemudian ia menjura lagi kepada kedua orang muda bangsawan itu sambil berkata.
"Nah, selamat tinggal dan terima kasih atas segala kebaikan ji wi yang mulia."
"Eh nanti dulu, Bun Sam!"
Luilee mencegah ia pergi.
"Siapakah namanya gadis itu?"
"Namanya Can Sian Hwa...."
Ketika menyebutkan nama ini terbayanglah wajah Sian Hwa, dan Bun Sam menjadi berduka.
"Song Bun Sam karena aku ingin sekali menolongmu dan gadis itu, katakanlah terus terang. Apakah hubunganmu dengan Can Sian Hwa ini?"
Tanya Luilee sambil memandang tajam.
Sebagai seorang wanita, perasaannya halus sekali dan menghadapi perkara ini, ia lebih tersinggung dan terharu daripada Pangeran Kian Tiong.
Puteri ini dapat menyelami jiwa Sian Hwa dan ia maklum bahwa kalau seorang puteri bangsawan sampai melarikan diri atau membunuh diri dalam sebuah pernikahan sebab satu satunya hanyalah bahwa puteri itu tentu lelah memiliki pujaan hatinya sendiri.
Tentu saja Bun Sam menjadi kebingungan ketika menerima pertanyaan ini.
Bagaimana ia harus menjawab ?
"Hubungan kami?
Ah....
kebetulan sekali ayahnya dahulu adalah kawan ayahku....
dan....
dan semenjak kecil kami sudah saling berkenalan ...."
Setelah berkata demikian ia terbatuk batuk kecil, batuk yang disengaja untuk menyembunyikan kegugupan dan kelikatannya.
"Song Bun Sam kau tidak berterus terang! Aku ingin menolong dia akan tetapi hanya karena memandangmu. Aku ingin mendapat kepastian dan percayalah aku akan dapat menolongnya,"
Kata Luilee mendesak. Bun Sam sudah menjura lagi dan cepat ia melompat ke atas genteng dan kini hanya terdengar suaranya saja dari atas genteng.
"Biarlah aku mengaku. Hubungan kami adalah sama dengan hubungan ji wi (tuan berdua)."
Lalu pemuda gagah ini melompat pergi!
Kian Tiong dan Luilee saling pandang.
Pangeran itu tersenyum karena merasa lucu mendengar hal Song Bun Sam itu, akan tetapi sebaliknya Luilee memandang kepada tunangannya dengan mata basah.
"Eh mengapa kau menangis?"
Tanya pangeran ini sambil memegang lengan kekasihnya.
"Aku.... aku merasa ngeri kalau kalau aku akan mengalami nasib seperti gadis yang sengsara itu...."
Kian Tiong tertawa menghibur kekasihnya.
"Tak mungkin, Luilee. Apa kaukira ayahmu berani menolak pinanganku?"
Luilee menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan ayahku, melainkan ayahmu. Bagaimana kalau beliau melarang kau menikah dengan aku? Bukankah itu sama saja halnya?"
"Jangan khawatir, Luilee. Apapun juga yang terjadi kau pasti takkan berpisah dariku,"
Kata Kian Tiong sambil memeluk puteri itu.
Luilee terhibur juga mendengar ucapan kekasihnya ini dan diam diam ia mengenangkan dengan amat terharu dan kasihan kepada Can Sian Hwa.
Dan betul saja beberapa saat kemudian oleh pangeran ini banyak sekali pembesar pembesar dijatuhi hukuman karena melakukan perbuatan perbuatan jahat.
Pangeran ini tadinya hanya ingin memenuhi janjinya kepada Bun Sam, tetapi setelah ia melakukan perjalanan di sekitar daerah kekuasaannya, ia banyak sekali melihat keburukan dan kejahatan yang terjadi di mana mana lalu ia menjadikan perjalanan rahasianya ini sebagai kebiasaan dan tugasnya.
Bun Sam yang berlompatan ke atas genteng istana hendak keluar dari daerah terlarang itu, tiba tiba ia melihat bayangan orang dari depan.
Ia cepat menyelinap ke kiri, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat bayangan lain yang gesit sekali gerakannya datang dari kiri kanan dan juga dari depan belakang.
Ia telah terkurung.
Melihat keadaan ini, Bun Sam menetapkan hatinya.
Ia maklum bahwa telah semenjak tadi ia dijaga dan dikurung, maka tiada gunanya mencoba untuk melarikan diri.
Ia bahkan ingin tahu siapakah orangnya yang mengurung dirinya itu.
Karena ia tidak mau terkurung di tempat yang sempit, ia lalu melompat kembali ke dalam taman dan berdiri di tempat terbuka, di mana diterangi oleh banyak lampu teng.
Bayangan delapan orang berkelebat dan tahu tahu Pat jiu Giam ong bersama tujuh Koai kauw jit him telah berada di depan Bun Sam.
Ternyata bahwa pengaruh perkumpulan Hiat jiu pai telah meluas sampai ke dalam istana dan salah seorang di antara para pelayan wanita yang melayani Luilee tadipun juga anggauta Hiat jiu pai.
Ketika mendengar bahwa pemuda gagah ini datang untuk mengembalikan pedang Pek lek kiam, diam diam pelayan ini lalu melepaskan panah api ke atas untuk memberitahukan kepada Pat jiu Giam ong yang segera datang bersama Koai kauw jit him.
Tadinya Pat jiu Giam ong mengira tentu terjadi sesuatu yang hebat di dalam istana itu.
Akan tatapi, ketika ia melihat bahwa yang datang di istana hanya Bun Sam, pemuda murid Kim Kong Taisu, jenderal ini tertawa mengejek.
"Ha, ha, tidak tahunya kau lagi yang datang mengacau. Kau ini orang muda adatmu sungguh jauh berbeda dengan suhumu. Kim Kong Taisu seorang yang selalu bertapa di gunung, tidak mau mencampuri urusan dunia, akan tetapi kau ini yang menjadi muridnya ternyata bandel sekali, beberapa kali datang mengacau di kota raja. Orang muda, apakah kehendakmu kali ini?"
"Aku hanya datang untuk mengembalikan pedang Pek lek kiam,"
Jawab Bun Sam tenang tenang saja. Pat jiu Giam ong nampak terkejut sekali.
"Jangan bohong! Pencuri Pek lek kiam bukan kau."
Bun Sam tersenyum dan menjura.
"Terima kasih, Pat jiu Giam ong. Keteranganmu itu benar benar membersihkan namaku. Memang aku bukan seorang pencuri dan pedang itu dahulu pun bukan aku yang mencurinya."
"Hm, tak begitu mudah kau hendak membebaskan diri, anak muda. Memang aku yakin bahwa bukan kau yang mencuri pedang, karena orang macan kau mana becus mencuri pedang dari istana. Akan tetapi karena sekarang kau yang mengembalikannya tentu kau ada hubungan dengan pencuri itu! Di mana pedang itu?"
"Sudah saya serahkan kepada Pangeran Kian Tiong."
"Di mana adanya maling itu? Dan mengapa pedangnya berada di tanganmu? Ayoh lekas jawab, mungkin aku masih memandang muka suhumu dan mengampunimu!"
"Pat jiu Giam ong kalau pencuri pedang itu masih hidup, apa kaukira aku akan dapat mengembalikannya? Pedang istana dicuri orang, aku kebetulan telah mendapatkannya dan mengembalikan ke istana, bukankah itu baik sekali? Ada urusan apa lagi yang harus diributkan?"
Diam diam Pat jiu Giam ong melengak.
Apakah pemuda ini telah dapat merampas pedang itu dan mengalahkan pencuri pedang?
Ah, tak mungkin.
Pencuri pedang itu lihai sekali dia sendiri tidak dapat merampas apa lagi bocah ini.
"Ayoh, katakan di mana pencuri itu. hidup atau mati! Kalau tidak memberi tahu, berarti kau bersekutu dengan dia!"
Pat jiu Giam ong membentak. Akan tetapi Bun Sam menggelengkan kepalanya.
"Tempat tinggalnya menjadi rahasia bagiku. Terserah kau hendak berbuat apa, Pat jiu Giam ong."
Pat jiu Giam ong Liem Po Coan marah sekali, namun diam diam ia memuji ketabahan hati pemuda ini.
Sikap pemuda ini demikian tenang seakan akan tidak menghadapi kurungan Pat jiu Giam ong dan Koai kauw jit him, atau seperti orang yang memandang ringan saja.
"Kautangkap binatang cilik ini !"
Teriaknya sambil menuding kepada Bun Sam dan menoleh kepada Biauw Ta, orang tertua dari Koai kauw jit him.
Mendengar perintah ini, bukan Biauw Ta seorang yang maju, melainkan ketujuh tujuhnya.
Hal ini tentu saja mengherankan hati Pat jiu Giam ong karena tokoh besar ini tidak tahu bahwa tujuh biruang itu telah kalah oleh Bun Sam.
Memang kalau orang sudah tahu sampai di mana tingkat kepandaian Koai kauw jit him, akan merasa heran kalau tujuh tokoh Mongol ini kalah oleh seorang pemuda seperti Bun Sam.
Biauw Ta tentu saja tidak berani maju sendiri menghadapi pemuda ini, sedangkan mengeroyok tujuh saja ia masih gentar.
Akan tetapi oleh karena di situ ada Pat jiu Giam ong, maka ia berseru keras memimpin enam orang adiknya untuk mengurung Bun Sam.
"Eh, eh, tidak tahunya Koai kauw jit him yang berada di sini! Apakah kuku kuku cakar kalian sudah tumbuh lagi?"
Kata Bun Sam sambil bertolak pinggang dan tersenyum senyum.
Jilid XIV BAUW TA dan adik adiknya tidak mau melayani ejekan ini.
"Serbu!"
Teriak Biauw Ta dan senjata kaitan mereka bergerak cepat menyerbu tubuh Bun Sam dan berbagai jurusan.
Pat jiu Giam ong mengerutkan kening.
Pemuda itu tentu akan mati, pikirnya.
Dan hal ini tidak dikehendakinya.
Mengapa Koai kauw jit him menurunkan tangan kejam dan mengapa pula mereka bertujuh maju mengeroyok anak muda itu?
Saking herannya, Pat jiu Giam ong tak dapat berkata sesuatu.
Akan tetapi keheranannya ini bertambah berkali lipat ketika tiba tiba ia melihat tubuh Bun Sam meluncur ke atas dari tengah tengah kepungan itu, sehingga senjata lawan tidak mengenai sasaran.
Ketika tubuh pemuda itu berada di atas, Bun Sam sudah mencabut Kim kong kiam dan kini ia turun sambil memutar pedangnya seperti payung yang lebar sekali.
Karena adanya sinar kuning emas ini mengelilingi tubuhnya dan bahkan ujung sinar itu menyerang tujuh orang lawannya, maka Bun Sam dapat turun dengan mudah dan tujuh orang lawannya yang sudah kenal akan kelihaian Bun Sam, tidak berani terlalu mendekat.
Pertempuran dilanjutkan dengan hati hati dan pedang di tangan Bun Sam berkelebat menyambar nyambar, kadang kadang berobah menjadi lingkaran lingkaran yang berputar aneh, seperti putaran air yang membuat tujuh orang pengeroyoknya bahkan terkurung di dalamnya.
Pat jiu Giam ong memandang dengan penuh perhatian.
Semula ia mengira bahwa pemuda ini memperoleh banyak kemajuan saja, akan tetapi tetelan ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh Bun Sam bukanlah ilmu pedang dari Kim Kong Taisu, melainkan ilmu pedang yang sangat aneh gerakannya dan yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, membuat ia benar benar melongo.
"Eh, dari manakah bocah ini mendapatkan ilmu pedang seperti itu? Apakah si tua bangka Kim Kong Taisu diam diam telah menciptakan semacam ilmu pedang baru? Ini bebat!"
Demikian pikir Pat jiu Giam ong.
Melihat betapa sinar pedang yang kuning emas itu makin lebar dan makin mengurung tujuh tokoh utara itu, Pat jiu Giam ong tak dapat menahan keinginan hatinya hendak mencoba sendiri kelihaian ilmu pedang itu.
"Jit wi, kalian mundurlah!"
Serunya keras.
Akan tetapi terlambat karena terdengar bunyi nyaring dan ketika dilihatnya, ternyata bahwa semua senjata kaitan di tangan Koai kauw jit him itu telah terbabat putus menjadi dua.
Kejadian ini adalah yang kedua kalinya yang dialami oleh Koai kauw jit him, maka dapat dibayangkan betapa marah dan malu rasa hati mereka.
Sambil berseru keras, Biauw Ta menyambitkan sebatang gagang kaitan yang terputus, sehingga gagang itu bagaikan anak panah meluncur cepat ke arah Bun Sam, juga enam orang adiknya meniru perbuatan Biauw Ta ini dengan gerakan yang sama, sehingga dalam saat itu juga, tujuh batang gagang kaitan yang seperti tombak runcing itu meluncur ke arah Bun Sam.
Kembali Pat jiu Giam ong mengerutkan kening karena mengira bahwa pemuda itu tentu takkan dapat melepaskan diri.
Akan tetapi kerut keningnya itu lenyap seketika setelah ia melihat cara Bun Sam beraksi.
Pemuda ini dengan amat tenangnya lalu memutar pedangnya dan aneh sekali.
Tujuh batang senjata yang dilemparkan kepadanya itu tertempel oleh pedang dan ikut berputar putar, kemudian ketika Bun Sam berseru keras, tujuh batang gagang kaitan itu meluncur ke atas dan menancap pada cabang pohon.
"Bagus, anak muda. Kepandaianmu boleh juga!"
Pat jiu Giam ong berseru dan tokoh besar ini menggerakkan kedua lengannya ke arah batang pohon di atas itu. Terdengar suara "krak!"
Dan batang pohon di mana terdapat tujuh gagang kaitan yang menancap itu patah dan tumbang ke bawah membawa gagang gagang kaitan itu.
Bun Sam tertegun.
Alangkah hebatnya lweekang dari jenderal ini, pikirnya.
Kalau ia diharuskan mengadu tenaga lweekang, biarpun ia telah mendapat kemajuan hebat berkat pimpinan dan gemblengan Bu tek Kiam ong, namun tetap saja ia takkan dapat menangkan tenaga lweekang yang demikian hebatnya, yang sudah terlatih puluhan tahun lamanya sebelum dia sendiri lahir.
Maka ia lalu menjura kepada Pot jiu Giam ong sambil berkata.
"Sudah lama aku mendengar kehebatan lweekang dari Pat jiu Giam ong, ahli dari Pat kwa ciang (Ilmu Silat Segi Delapan). Sungguh hebat!"
Mendengar ini.
Pat jiu Giam ong menjadi merah mukanya saking marahnya.
Omongan yang dikeluarkan oleh pemuda itu adalah omongan orang yang sama tingkatnya, tidak patut dikeluarkan oleh seorang pemuda yang masih rendah.
"Orang muda, agaknya kau menyombongkan ilmu pedangmu. Ingin kusaksikan dan kurasai sendiri sampai dimana tingginya, maka kau berani berlagak sombong di depan Pat jiu Giam ong!"
Setelah berkata demikian, jenderal tinggi besar ini lalu menggerakkan tangan kanannya dan ujung bajunya yang tebal itu manyambar ke arah Bun Sam cepat sekali.
Yang diserang adalah jalan darah kian ceng hiat di pundak kiri pemuda itu.
Sekali menggerakkan tangan lalu ujung jubah menyerang jalan darah, dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dan kepandaian Raja Maut Tangan Delapan ini !
Bun Sam maklum bahwa tokoh besar ini memandang rendah padanya, maka diam diam ia menjadi mendongkol juga.
Melihat ujung jubah itu menyambar ke arah pundaknya, ia tidak mengelak, melainkan mengerahkan tenaga lweekang ke arah pundak yang tertotok, menggunakan Ilmu Pi ki hu hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah), lalu menerima serangan itu dengan berani !
"Plak!"
Ujung baju itu ketika mengenai pundak Bun Sam, lalu membalik seakan akan memukul benda karet yang keras.
Pat jiu Giam ong kembali tercengang.
Tak sembarang orang berani menerima pukulan ujung bajunya.
Bukan tenaga pemuda ini yang mengejutkan hatinya, hanya kalau orang sudah pandai Ilmu Pi ki hu hiat dan mempunyai tenaga lweekang yang tinggi seperti puteranya misalnya, akan dapat menahan pukulan ini.
Akan tetapi yang membuat ia heran dan terkejut adalah sikap dan keberanian pemuda itu.
Kalau pemuda itu sudah berani dengan tenangnya menerima sambaran ujung bajunya, berarti bahwa pemuda itu tentu sudah merasa yakin betul akan kepandaiannya sendiri !
"Hm, agaknya kau berisi juga!
Sambutlah ini!"
Kini Pat jiu Giam ong menggerakkan kedua tangan nya dan dua ujung lengan bajunya menyambar, yang kiri ke arah leher dan yang kanan ke arah lambung.
Sambaran ini hebat sekali dan di lakukan dengan tenaga sepenuhnya.
Harus diketahui bahwa selain Ilmu Silat Pat kwa ciang yang hebat, juga Pat jiu Giam ong memiliki tenaga Hek mo kang yang berbahaya sekali.
Dua serangan ini, satu saja mengenai sasaran, biarpun Bun Sam sudah mendapat gemblengan dari Bu tek Kiam ong, tetap saja ia takkan kuat menahan!
Bun Sam terkejut sekali karena angin pukulan ini saja sudah terata kuat sekali.
Ia cepat melompat ke belakang dan ketika Pat jiu Giam ong mendesak terus ia lalu menggerakkan pedang Kim kong kiam.
"Cring....brett!"
Pedang Kim kong kiam terpental akibat pukulan ujung lengan baju sebelah kiri, tetapi ujung lengan baju sebelah kanan dari Pat jiu Giam ong telah terbabat putus !
Kedua orang ini terkejut dan melompat mundur.
Bukan main marahnya Pat jiu Giam ong melihat ujung lengan bajunya terbabat putus.
Juga ia maklum kini bahwa kepandaian pemuda ini benar benar tak boleh dibuat permainan.
Kalau saja ia tadi tidak terlalu memandang ringan, tak mungkin ujung lengan bajunya sampai terbabat putus oleh pedang pemuda itu.
"Bangsat kecil, kau mencari mati!"
Serunya dan kedua tangan Pat jiu Giam ong bergerak cepat sekali, melancarkan pukulan pukulan maut dengan tenaga Hek mo kang.
Baiknya Bun Sam sudah bersiap menghadapi serangan serangan ini.
Dengan ginkangnya yang sudah tinggi dan sempurna, pemuda ini lalu melompat cepat dan dengan mudah ia dapat mengelak dari semua pukulan jenderal tinggi besar itu, dan sebelum Pat jiu Giam ong sempat mengirim serangan lagi.
Bun Sam mempergunakan gerak lompat Liok te hui teng dan sebentar saja ia lenyap dari tempat itu !
Tadinya Pat jiu Giam ong hendak mengejar, akan tetapi melihat gerakan pemuda itu ia maklum bahwa ia takkan dapat menyusulnya, maka ia menarik napas panjang berkali kali.
Hebat sekali pikirnya.
Bagaimana bocah itu dalam waktu beberapa tahun saja sudah memiliki kepandaian yang demikian tingginya?
Pada saat itu, Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee muncul dari pintu taman, diiringkan oleh beberapa orang pelayan wanita.
Melihat orang orang muda bangsawan tinggi ini, Pat jiu Giam ong menjadi sebal dan mendongkol.
Hm, becusnya hanya main cinta cintaan, pikir jenderal ini.
Akan tetapi, tetap saja ia memberi hormat kepada Kian Tiong yang dibalas sebagaimana mestinya oleh pangeran itu.
"Eh, Liem goaniwe, malam malam memasuki taman istana ada keperluan apakah? Mengapa tidak langsung saja masuk dari pinta gerbang di depan?"
Tanya Kian Tiong. Manegur ia tidak berani, akan tetapi pertanyaan pertanyaan inipun dengan halus sekali mengandung teguran kepada jenderal besar itu.
"Siauw ong ya, kami datang untuk menangkap pencuri pedang Pek lek kiam, akan tetapi sayang ia dapat melepaskan diri,"
Kata Pat jiu Giam ong.
"Ah, Liem goanswe, mengapa dia diganggu? Song taihiap tidak mencuri pedang, ia bahkan sengaja datang untuk mengembalikan pedang istana ini. Dia telah memberikannya kepadaku,"
Kata Kian Tiong sambil memperlihatkan pedang Pek lek kiam kepada jenderal itu.
Pat jiu Giam ong hanya mengangguk dan ia merasa sebal sekali karena tidak dapat merampas pedang itu dari tangan Bun Sam.
Kini murid Kim Kong Taisu itu mendapat muka dari Pangeran Kian Tiong!
Kalau saja tadinya pedang istana ini dapat ia rampas dari tangan pemuda Itu, bukankah selain ia mendapat jasa, juga pemuda itu akan menerima hukuman?
Maka ia lalu memberi hormat dan minta maaf karena sudah berani memasaki taman tanpa izin, lalu mengajak Koai kauw jit him meninggalkan tempat itu.
"Ah, aku tidak suka melihat jenderal ini,"
Kata Luilee perlahan kepada kekasihnya. Kian Tiong tersenyum.
"Siapa yang suka padanya? Akan tetapi, Luilee yang manja, dalam pemerintahan, tidak didasarkan atas rasa suka atau tidak, melainkan didasarkan kepada kenyataan apakah orang itu berguna atau tidak. Pat jiu Giam ong adalah seorang yang berkepandaian tinggi sekali dan adanya dia di pemerintahan kita, mendatangkan kekuatan dan pengaruh besar sekali. Apalagi sakarang dia dapat menarik suhengnya, yaitu Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, yang kepandaiannya kabarnya bahkan jauh lebih lihai dari Liem goanswe sendiri. Mereka membentuk Hiat jiu pai dan ini baik sekali karena dengan demikian, kekuatan pemerintahan manjadi makin teguh lagi."
Luilee kelihatan bergidik ngeri.
"Ah, aku tidak suka mendengar nama itu, Hiat jiu pai..... Perkumpulan Tangan Berdarah! Ngeri sekali. Betapapun lihainya Pat jiu Giam ong kurasa Song Bun Sam lebih lihai lagi."
Kian Tiong tertawa geli.
"Ah, manisku, kau agaknya amat terpengaruh oleh kegagahan Song Bun Sam. Memang harus kuakui bahwa kepandaian pedangnya amat lihai, akan tetapi kalau dibandingkan dengan Pat jiu Giam ong, agaknya ia kalah jauh! Kau masih belum tahu akan kepandaian Liem goanswe itu. Apalagi kepandaian Lam hai Lo mo, aah, kurasa beratlah kalau Bun Sam harus menghadapi kakek kakek lihai ini."
"Belum tentu!"
Luilee membantah.
"Aku ingin sekali melihat Song taihiap mengadu kepandaian melawan mereka!"
Pangeran Kian Tiong tidak menjawab, hanya diam diam ia mentertawakan kekasihnya ini.
Ia sudah tahu betul kepandaian Pat jiu Giam ong yang hebat dan kalau orang orang luar mengabarkan bahwa kepandaian La m hai Lo mo lebih lihai dari Pat jiu Giam ong, ia tidak tahu apakah di dunia ini ada orang yang dapat menandinginya!
Sementara itu, Bun Sam cepat melarikan diri keluar dari istana dan pada malam hari itu juga ia pergi keluar dari kota raja.
Kalau saja ginkangnya bukan sudah sempurna, tak mungkin ia dapat melompati tembok kota raja atau keluar menerobos dari pintu gerbang yang terjaga kuat sekali itu.
Pengalamannya di dalam taman istana, mendatangkan rasa berat dalam hatinya, karena pertemuan antara Pangeran Kian Tiong dengan Puteri Luilee tadi mengingatkan ia kepada kekasih hatinya, Sian Hwa.
Kalau orang lain demikian berbahagia dalam pertalian kasihnya, mengapa dia dan Sian Hwa demikian sengsara?
Dan semua ini karena gara gara Lan Giok.
Ia tidak marah kepada gadis itu, bahkan kalau dipikir pikir ia merasa kasihan sekali kepada Lan Giok.
Gadis lincah itu dengan sifat kekanak kanakannya setuju sekali dengan pertalian jodoh ini dan itulah yang memberatkan hatinya.
Mengapa gurunya, Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun, begitu mudah mengambil keputusan?
Ah, dia tidak dapat menyalahkan Yap Bouw pula.
Inilah yang berat, la tahu bahwa Yap Bouw amat menyintainya seperti puteranya sendiri dan dia sendiripun sudah menganggap Yap Bouw sebagai pengganti orang tuanya.
Ia tahu bahwa Yap Bouw mengikatkan tali perjodohan ini dan hal itu memang tepat.
Kalau saja tidak ada Sian Hwa agaknya iapun takkan menaruh hati berat terhadap perjodohan ini.
Lan Giok cukup cantik manis, juga ia tahu gadis itu mempunyai kegagahan dan sifat sifat mulia sebagai seorang pendekar wanita yang gagah.
Lan Giok adalah murid dari Mo bin Sin kun yang boleh dibilang adik seperguruannya pula, selain itu gadis ini adalah puteri dari Yap Bouw, bekas jenderal patriotis yang ia muliakan dan yang ia junjung tinggi.
Agaknya tidak ada gadis lain yang lebih cocok dan memuaskan hatinya untuk dijadikan jodohnya.
Akan tetapi Sian Hwa...?
Dapatkah dia menikah dengan Lan Giok, hidup bahagia dan membiarkan Sian Hwa merana seorang diri, hidup terlunta lunta dan sebatangkara dengan hati patah?
Tidak, tidak mungkin.
"Sian Hwa, kekasihku.... apapun yang akan terjadi, aku akan tetap setia kepada cinta kasih kita...."
Bun Sam beberapa kali berkata seorang diri.
Dengan melakukan perjalanan cepat sekali, pada suatu hari Bun Sam tiba di lereng Bukit Oei san.
Ketika ia sedang berjalan mendaki bukit itu sambil menikmati pemandangan alam di pegunungan ini dengan penuh rasa keharuan hati karena ia teringat akan masa kecilnya di pegunungan ini, tiba tiba ia mendengar suara pukulan sayap burung.
"Eh, Sin tiauw, kaukah itu?"
Serunya sambil memandang ke atas kepalanya di mana seekor burung rajawali beterbangan mengelilinginya.
Burung ini agaknya telah pangling dan merasa ragu ragu, akan tetapi ketika mendengar suara Bun Sam, ia segera mengeluarkan pekik keras dan menyambar turun, langsung berdiri di depan pemuda itu dan menggerak gerakkan kepalanya.
Bun Sam melangkah maju dan memeluk leher burung ini.
"Sahabat baik, kau menjadi makin besar dan kuat,"
Katanya sambil mengelus elus leher burung itu.
"Mana Siauw liong, sahabat kita itu?"
"Sayang sekali, Bun Sam, kau datang terlambat, Siauw liong sudah mendahului kita kembali ke alam asalnya,"
Kata suara yang halus menjawab pertanyaannya ini.
Bun Sam tadi terlalu girang bertemu dengan Sin tiauw, sehingga ia tidak tahu akan kedatangan dua orang yang kini berdiri tak jauh dari situ.
Pemuda ini cepat mengangkat mukanya dan segera ia berlari menghampiri dua orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Suhu...!"
Suaranya mengandung keharuan karena beberapa tahun tidak berjumpa dengan suhunya, kini Kim Kong Taisu kelihatan sudah tua sekali.
Rambut di kepalanya sudah menjadi jarang dan makin putih, agaknya banyak yang rontok, mukanya kurus pucat dan sepasang matanya sudah kehilangan sinarnya, seakan akan sudah terlalu bosan berada di dunia ini.
Ketika Kim Kong Taisu memandang dan melihat betapa di kedua pipi pemuda itu terdapat air mata, diam diam ia terkejut dan matanya sendiri menjadi basah.
Ia heran sekali mengapa muridnya sekarang menjadi demikian perasa dan mudah terharu, seperti orang yang menderita kedukaan atau tekanan batin yang berat.
Tetapi tiba tiba kakek ini teringat akan sesuatu.
Ah, jika orang sedang bercinta kasih, memang perasaannya menjadi halus sekali, pikirnya.
Tentu muridnya ini sedang dalam ayunan gelombang asmara dan dengan siapa lagi kalau bukan dengan murid Mo bin Sin kun?
Maka dalam keharuannya, kakek ini tersenyum.
"Bun Sam, kau lupa belum memberi hormat kepada gurumu yang ke dua ini."
Bun Sam terkejut dan terheran.
Ia mengangkat mukanya dan memandang kepada seorang wanita yang usianya empatpuluh tahun lebih, tetapi wajahnya masih nampak cantik.
Ia tidak kenal dengan wanita ini, mengapa suhunya menyebutnya sebagai gurunya yang ke dua?
"Suhu, siapakah toanio ini?
Teecu tidak kenal, atauakah teecu telah lupa lagi?"
Wanita itu tersenyum dan kelihatan kemanisan wajahnya yang di walau mudanya tentu cantik sekali.
"Bun Sam, kau lupa muka tentu tidak lupa suara, bukan?"
Bukan main terkejutnya hati Bun Sam mendengar suara ini, hanya memandang dengan melongo dan sampai lama ia tidak bisa mengeluarkan kata kata.
"Kau....kau....suthai?"
Mo bin sin kun mengangguk dan senyumnya melebar.
"Bagus, kau masih mengenal suaraku, Bun Sam."
Bun Sam mengejap ngejapkan matanya, seakan akan tidak percaya kepada pandangan mata dan pendengaran telinga sendiri.
Bagaimana mungkin ?
Mo bin Sin kun adalah seorang wanita yang wajahnya buruk seperti setan !
Baru julukannya saja sudah Mo bin Sin kun, Tangan Sakti Muka Setan!
Bagaimana sekarang muka yang tadinya berkulit hitam kisut dan buruk itu berubah menjadi halus, putih dan cantik?
Tiba tiba Kim Kong Taisu tertawa geli.
"Anak bodoh, ayoh kau lekas memberi hormat kepada gurumu ini!"
Bun Sam lalu mengangguk anggukkan kepala dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Mo bin Sin kun yang melangkah maju dan membangunkannya.
"Bun Sam, baru melihat wajah Mo bin Sin kun saja kau sudah terheran heran seperti orang melihat malaikat, apa lagi kalau kau ketahui bahwa usia Mo bin Sin kun ini hanya berselisih tiga tahun lebih muda dari pada usiaku."
Benar benar ini adalah berita yang mengejutkan.
Menurut taksiran Bun Sam, paling banyak usia Mo bin Sin kun, baik dilihat dari mukanya maupun bentuk tubuhnya, tak lebih dari empat puluh lima tahun, sedangkan suhunya sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun, mana mungkin?
"Sudahlah, kau jangan hiraukan obrolan tua bangka ini, Bun Sam!"
Kata Mo bin Sin kun mencela Kim Kong Taisu.
"Ha, ha, ha, sudah setua ini masih saja ingin menyembunyikan ketuaannya. Dasar wanita!"
Kemudian Kim Kong Taisu menghadapi muridnya yang sudah berdiri.
"Bun Sam, kebetulan sekali kau datang. Mo bin Sin kun dan aku baru saja merundingkan tentang sesuatu yang amat penting...."
Bun Sam sudah dapat menduga apa yang akan diucapkan suhunya, maka ia pura pura mencari cari dengan matanya, kemudian ia bertanya.
"Suhu, mana Siauw liong? Teecu rindu kepadanya dan mengapa ia tidak muncul?"
Ditanya tentang Siauw liong, ular peliharaannya yang juga amat disayangnya itu, muramlah wajah Kim Kong Taisu dan ia menunda bicaranya.
"Aah, kalau dibicarakan benar benar mendatangkan penasaran dan marah. Tadipun sudah kukatakan bahwa Siauw liong telah tewas, dalam keadaan yang amat menyedihkan."
"Dia mengapa, suhu? Apakah mati tua? Ataukah terbunuh?"
"Dia mati dalam sebuah pibu (adu kepandaian) yang adil, akan tetapi sayangnya lawannya curang."
Bun Sam terheran. Baru kali ini selama hidupnya ia mendengar seekor ular bisa mengadakan pibu. Ketika ia mendesak, suhunya lalu bercerita.
"Beberapa bulan yang lalu, Lam hai Lo mo si iblis tua itu datang ke puncak bukit ini dan dia membawa seekor ular senduk. Karena orang itu memang dikelilingi oleh hawa busuk, maka Siauw liong menjadi curiga dan tiba tiba menyerangnya. Lam hai Lo mo hendak membunuhnya, baiknya aku keburu keluar dan mencegahnya. Dengan marah Lam hai Lo mo lalu mengeluarkan ular senduknya dan menantang pibu. Karena yang berhadapan adalah ular sama ular, terpaksa aku tidak keberatan dan Siauw liong lalu diadu dengan ular senduk yang dibawa oleh Lam hai Lo mo itu. Mula mula, Siauw liong menang, tetapi akhirnya, ia kena digigit dan ternyata bahwa gigi ular itu telah dipasangi besi mengadung racun anti ular di dalamnya, sehingga Siauw liong tewas!"
Kakek itu menarik napas panjang. Bun Sam membanting kakinya.
"Jahat benar si Lam hai Lo mo! Apakah maksudnya naik ke sini hanya untuk mengadu ular suhu?"
"Kalau hanya demikian, tidak akan menyusahkan kita sekalian. Dia datang untuk menantang aku mengadakan pibu. Juga ia menyampaikan tantangan Pat jiu Giam ong kepada Mo bin Sin kun."
"Lawan saja, suhu, biar teecu yang mewakili ji wi suhu,"
Kata Bun Sam dengan semangat bernyala nyala. Memang ia sudah merasa gemas dan benci kepada dua orang kakek yang lihai itu. Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun saling memandang dan tersenyum.
"Bocah jumawa, kaukira akan dapat menandingi mereka itu?"
Kata Kim Kong Taisu.
"Betapapun juga, semangatmu mengagumkan, Bun Sam. Terima kasih atas pembelaanmu. Kau benar benar seorang murid yang baik."
Mo bin Sin kun memuji. Bun Sam diam saja tidak membuka rahasianya. Baru ia ingat bahwa dua orang sakti ini tidak tahu bahwa ia telah mendapat gemblengan hebat dari Bu tek Kiam ong.
"Bila diadakan pibu itu dan di mana, suhu?"
Tanyanya.
"Tiga bulan lagi, di atas batu batu karang di lembah Sungai Huang ho yang disebut Lembah Maut sebelah utara kota Lok yang. Bun Sam terkejut.
"Bukankah tiga bulan lagi datang musim hujan? Bagaimana kalau sungai itu banjir?"
Kim Kong Taisu mengangguk angguk.
"Itulah kehendak si iblis Lan hai. Rupanya ia hendak mengadakan pibu mati matian."
"Lagi pula, mereka telah membentuk Hiat jiu pai yang amat kuat. Tentu mereka akan datang dengan banyak tenaga,"
Kata Mo bin Sin kun.
"Akan tetapi kita tak usah takut. Biarlah kita datang dan melihat saja apa yang hendak mereka lakukan. Kukira, menundukkan Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo tidaklah sukar."
Kim Kong Taisu tersenyum.
"Kau dengar, Bun Sam? Gurumu ini memang sombong dan agaknya kaupun ketularan penyakitnya. Akan tetapi percayalah, memang hanya dia ini yang akan dapat menundukkan Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo."
"Sudahlah,"
Menyela Mo bin Sin kun.
"sekarang kita bicarakan urusan yang lebih penting. Bun Sam, aku dan Kim Kong Taisu, atas persetujuan dan anjuran Yap goanswe, telah mengambil keputusan akan menjodohkan kau dengan Lan Giok. Nah, biarlah kau tahu sekarang dan semua orang orang tua telah menyetujui perjodohan yang amat baik ini. Kau tentu girang, bukan?"
"Bun Sam, sebelum aku mati, aku ingin sekali menyaksikan kau bertemu sebagai mempelai dengan puteri Yap Bouw suhengmu itu!"
Sambung Kim Kong Taisu.
Bukan main gelisah dan sedihnya hati Bnn Sam mendengar semua ucapan dari Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu ini.
Ia sudah lama takut akan ucapan ucapan seperti ini.
Yang berat baginya mengenai penolakannya terhadap perjodohannya dengan Lan Giok, adalah kekecewaan orang orang tua ini.
Apalagi kalau ia mengenangkan Yap Bouw.
Ah, ia takkan dapat tahan melihat Yap Bouw kecewa karena mendengar penolakannya!
"Bun Sam, mengapa kau diam saja?"
Tanya Kim Kong Taisu.
"Bun Sam, mengapa kau begitu pucat? Sakitkah kau?"
Tanya Mo bin Sin kun.
"Aduh, apa yang harus teecu dapat katakan?"
Ia menundukkan mukanya yang pucat.
"Teecu....menganggap Lan Giok seperti adik sendiri...!"
Mo bin Sin kun tertawa.
"Memang demikianlah mula mula, Bun Sam. Tetapi kalau kalian sudah menikah."
"Ampunkan teecu, akan tetapi.... teecu tidak.... tidak dapat menerima ikatan jodoh ini!"
Kedua orang tua itu melengak. Mo bin Sin kun mengerutkan keningnya dan matanya bersinar sinar marah.
"Bun Sam, katakan lekas! Apa kau menampik karena menganggap Lan Giok terlalu bodoh dan terlalu buruk?"
Bun Sun cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak! Bahkan Lan Giok terlalu cantik dan terlalu mulia untuk seorang bodoh dan canggung seperti teecu ! Hanya.... teccu tidak dapat menerima ikatan jodoh ini, suthai...."
"Kenapa? Ayoh katakan, jangan malu malu dan jangan ragu ragu, kenapa kau menolak !"
Suara Mo bin Sm kun tergetar, tanda bahwa dia marah sekali, sedangkan Kim Kong Taisu tak dapat mengeluarkan suara saking merasa kecewa, heran dan juga terkejut.
"Teecu....teecu....takkan menikah dengan orang lain... kecuali.... dia...."
Tiba tiba Mo bin Sin kun membantingkan kakinya dengan gemas.
Bantingan kaki ini demikian keras, sehingga Bun Sam merasa betapa tanah yang diinjaknya bergetar !
"Bagus, kau menolak Lan Giok karena kau lelah mempunyai pilihan sendiri, ya?
Kau....kau ....berani sekali kau menghina kami??"
Ia lalu menoleh kepada Kim Kong Taisu dan berkata.
"Dasar muridmu, tentu saja tidak jauh dari gurunya! Lihat betapa muridmu mengulangi perbuatan perbuatanmu yang mengacaukan! Huh, mual perutku melihatmu!"
Kembali Mo bin Sin kun memandang kepada Bun Sam dan berkata keras.
"Mulai saat ini, aku bukan gurumu lagi dan lupakanlah Soan hong pek lek jiu yang pernah kau pelajari dariku. Kau tidak berhak menggunakan ilmu pukulan itu!"
Setelah berkata demikian, dengan muka merah saking marahnya, Mo bin Sin kun lalu melompat turun gunung dan lari cepat sekali.
Bun Sam mendengar Kim Kong Taisu mengeluarkan keluhan seperti orang tersedu dan ketika ia mengangkat muka memandang, dengan terkejut ia melihat suhunya itu terhuyung huyung seperti orang mabok dan hendak roboh.
Ia cepat menubruk maju dan hendak memeluk suhunya, tetapi tiba tiba Kim Kong Taisu mendorong dengan tenaganya ke arah dada pemuda itu sambil berseru.
"Jangan sentuh aku!!"
Bun Sam menerima dorongan ini terhuyung mundur tiga tindak.
Kim Kong Taisu menjatuhkan diri di atas sebuah batu dan duduk sambil menghela napas berulang ulang.
Akan tetapi ia memandang heran sekejap ketika tadi melihat Bun Sam tidak roboh karena dorongannya.
Apakah ia telah menjadi lemah, sehingga tenaganya berkurang?
Tak terasa lagi Kim Kong Taisu mencoba tenaganya dan mendorong ke kiri di mana terdapat sebatang pohon besar.
Terdengar suara keras dan pohon itu tumbang.
Makin heranlah Kim Kong Taisu.
Bagaimana Bun Sam kuat menahan dorongannya, sehingga hanya mundur tiga tindak?
Ah, alangkah sayangnya kepada pemuda ini, tetapi mengingat betapa Bun Sam telah menyakitkan hatinya, tak terasa pula air matanya mengalir turun ke atas pipi kakek ini.
"Suhu...."
Bun Sam maju berlutut dan pemuda ini juga menangis.
"kalau suhu menghendaki, bunuh sajalah teecu!"
"Kau....jangan menyebut suhu kepadaku. Aku tidak punya murid seperti engkau lagi!"
"Suhu...."
"Tutup mulutmu ! Siapa sudi mempunyai seorang murid yang berwatak rendah, tak kenal budi? Semenjak kecil kau dirawat oleh Yap Bouw, bahkan kalau tidak ada dia yang menolong, kau takkan ada lagi di dunia ini. Ia telah menganggap engkau sebagai putera sendiri dan kini setelah dia bertemu kembali dengan keluarganya, ia ingin mengambil kau menjadi menantunya, dijodohkan dengan puterinya yang selain cantik juga pandai dan mulia. Tetapi apa katamu tadi? Kau menolak karena kau telah mencintai seorang wanita lain! Ah, benar benar menghina sekali! Jangan bicarakan tentang pendidikan yang kuberikan kepadamu, karena dibanding dengan budi Yap Bouw terhadapmu, budiku belum seberapa. Sudah, kau pergilah dan jangan injak lagi tempat ini!"
Sambil berkata demikian, Kim Kong Taisu menudingkan telunjuknya ke bawah gunung.
"Suhu, ampunkan teecu...."
Bun Sam mengeluh dengan suara hampir tak terdengar.
"Cukup, kau bukan muridku lagi."
Seperti juga Mo bin Sin kun, aku melarang kau mempergunakan ilmu silat yang dahulu kau pelajari dariku!"
Bukan main sedihnya hati Bun Sam, hal ini dapat dibayangkan.
Akan tetapi di dalam kesedihannya itu, timbul sesuatu yang menentang akan semua keputusan orang orang tua ini.
Mengapa mereka berlaku kejam kepadanya?
Mengapa mereka hendak memaksa?
Tak mungkin ia menuruti kehendak mereka dan menyia nyiakan Sian Hwa!
Maka tetaplah hatinya.
Timbullah keangkuhannya.
Biar semua orang membencinya, biar dunia membencinya, asal Sian Hwa tetap mencinta, ia takkan putus asa !
Kebahagiaannya adalah berada di tangan Sian Hwa, bukan di tangan mereka itu.
Pikiran ini menghidupkan api di dalam dadanya yang tadi telah hampir padam.
Bun Sam meraba punggungnya dan mengeluarkan Kim kong kiam, pedang pusaka yang dulu ia terima dari gurunya.
"Suhu, biarpun suhu tidak menganggap teecu sebagai murid lagi, akan tetapi selama hidupku, teecu masih akan menganggap suhu sebagai guruku. Teecu mengembalikan pedang Kim kong kiam dan tentu saja teecu bersumpah takkan mempergunakan ilmu silat yang teecu pelajari dari suhu, biarpun teecu berada dalam bahaya maut sekalipun."
Melihat betapa pemuda itu dengan tangan menggigil menyerahkan pedang itu, hati Kim Kong Taisu terasa perih dan terharu.
"Aku tidak bermaksud menarik kembali pedang itu,"
Katanya singkat.
"Mana teecu berani mempergunakannya? Kalau pedang itu masih di tangan teecu, berarti bahwa teecu masih akan membawa bawa nama suhu. Teecu khawatir kalau kalau nama baik suhu akan terbawa bawa,"
Terpukul juga hati Kim Kong Taisu mendengar ucapan ini, maka ia menerima pedang itu dengan helaan napas panjang, kemudian kakek ini memandang dengan mata basah ketika ia melihat Bun Sam menuruni gunung dengan tindakan lesu dan muka pucat.
Kim Kong Taisu menunduk dan memandang kepada pedangnya itu.
"Habislah harapanku....! Habislah....! Kalau tidak sudah berjanji akan mengadakan pibu dengan Lam hai Lo mo, senang rasanya mati diantar oleh Kim kong kiam...."
Setelah berkata demikian, dengan tindakan kaki tersaruk saruk, kakek tua ini membawa pedang dan kembali ke pondok nya.
Dua titik air mata jatuh membasahi pedang Kim kong kiam.
Bun Sam berjalan dengan lemas, tetapi dengan harapan baru.
Ia mencari Sian Hwa dan dalam perantauannya ini ia tiba di perbatasan utara.
Ketika ia keluar dari sebuah hutan yang dilaluinya, tiba tiba ia melihat debu mengebul dari depan dan tak lama kemudian nampaklah sebuah kendaraan ditarik oleh empat ekor kuda yang besar.
Di depan dan belakang kereta itu dikawal oleh dua belas orang perwira kerajaan yang berpakaian indah gemerlapan.
"Petani, minggir....!"
Perwira terdepan berseru keras menyuruh Bun Sam yang berdiri di tengah jalan itu minggir.
Bun Sam biarpun mendongkol sekali disebut petani, namun ia masih sabar dan melangkah ke pinggir.
Petani memang bukan orang rendah, pikirnya, tetapi cara perwira itu mengeluarkan ucapanlah yang membikin sebutan itu rendah.
"Eh, petani buruk, cepat minggir!"
Teriak perwira ke dua yang melihat betapa Bun Sam tidak tergesa gesa minggir.
"Berlutut kau....!"
Teriak perwira ini sambil mengayun cambuknya ke arah Bun Sam.
Sesabar sabarnya, Bun Sam masih muda dan masih berdarah panas, apa lagi ia sedang berada dalam kesengsaraan, maka tentu saja ia tidak dapat menahan sabar lagi.
Iapun tahu bahwa penghinaan orang itu adalah karena pakaiannya yang sudah tak karuan macamnya, sobek di sana sini dan kotor, karena memang selama ini ia tidak menghiraukan keadaan tubuhnya lagi.
Akan tetapi kalau orang terlalu menghina, ia tak dapat bersabar lagi.
Dengan cepat, ketika cambuk itu menyambar, ia mengelak dan sekail ia menggerakkan tangan, cambuk itu sudah dipegangnya dan ia menarik keras keras.
Karena sentakannya ini tidak terduga duga, perwira itu memekik dan tubuhnya terbawa tarikan, terguling dari atas kuda.
Bun Sam tidak mau berhenti sampai di situ saja.
Ia hendak melihat siapa orangnya di dalam kereta itu.
Kalau pengawalnya saja sudah sesombong ini, tentu majikannya lebih sombong lagi.
Hendak ia memberi peringatan agar rombongan ini tidak menghina rakyat.
Bun Sam melompat ke depan kereta dan memegang tiang yang berada di antara dua kuda terdepan.
Ia mengerahkan tenaganya dan empat ekor kuda itu meringkik ringkik sambil mengangkat kedua kaki depan, karena mereka direm secara tiba tiba oleh tenaga yang kuat sekali.
"He, apakah kau perampok?"
Teriak seorang perwira yang segera menyerang dengan goloknya.
Bun Sam dengan lincah sekali mengelak dan sekali ia menendang, kuda yang ditunggangi oleh perwira ini terguling dan perwira itu sendiri terjungkal dari atas kudanya.
Kini duabelas orang perwira itu semua sudah melompat turun dari kuda dan mengurung Bun Sam.
"Majulah! Keroyoklah! Kalian ini tikus tikus kalau tidak diberi rasa, akan makin kurang ajar saja,"
Seru Bun Sam dan tubuhnya menerjang ke kanan kiri.
Tiap kali ia menggerakkan tangan atau kakinya, melayanglah sebatang golok dan pemegangnya teraduh aduh sambil menekan nekan bagian tubuh yang terpukul.
Keadaan menjadi kacau balau dan duabelas orang perwira itu mundur teratur.
Pada saat itu, tenda kereta dibuka oleh sebuah tangan yang putih halus dan ketika disingkapkan, nampaklah muka yang cantik sekali.
Bun Sam memandang dan pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata yang kebiru biruan.
"Kau....Song Bun Sam....??"
Bun Sam cepat maju dan memberi hormat dengan sopannya.
"Aduh tidak tahunya nona Luilee. Mohon maaf sebanyak banyaknya. Kukira tadinya seorang pembesar yang suka berlaku sewenang wenang dan yang membiarkan pengawal pengawalnya berlaku kasar kepada rakyat miskin. Tidak tahunya kau, nona. Maafkan aku banyak banyak."
Luilee tersenyum manis dan melompat turun dari keretanya.
"Hai, kalian jangan kurang ajar. Tidak tahukah kalian sedang berhadapan dengan siapa? Dia ini Song taihiap yang mengembalikan pedang kerajaan Pek lek kiam! Jangankan baru kalian duabelas orang, biarpun ditambah lima lusin lagi semua tentu akan dihajar habis habisan oleh Song taihiap. Ayoh minta maaf padanya!"
Mendengar seruan nona puteri yang mereka kawal itu. semua orang perwira menjadi terkejut dan buru buru mengangkat kedua tangan memberi hormat dan minta maaf.
"Tidak apa,"
Kata Bun Sam.
"asal lain kali jangan berlaku kasar kepada petani. Kalau tidak ada petani, kita semua ini akan makan apakah?"
Para perwira itu menjadi merah mukanya dan Puteri Luilee tertawa geli.
"Bisa saja kau bicara, taihiap. Eh, mengapa kau berada di sini dan.... bagaimana keadaanmu menjadi begini buruk? Kau kurus sekali, taihiap dan pakaianmu.... ah, apakah yang sudah terjadi denganmu?"
Bun Sam merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak apa apa, nona."
"Apakah kau sudah bertemu dengan Sian Hwa, kekasihmu itu?"
Tiba tiba Luilee bertanya dan seketika itu juga, terbangun semangat Bun Sam mendengar nama kekasihnya.
"Belum dan inilah yang membuat aku merasa sengsara. Entah di mana aku dapat menemukan, agaknya di akhirat!"
"Hush, seorang gagah tak boleh putus asa!"
Kata Luilee.
"Memang kekasihmu itu berada di sorga...."
"Apa...."
"Akan tetapi sorga yang terdapat di dunia ini dan kau boleh menjumpainya. Aku memiliki ilmu hoatsut (sihir) yang akan dapat membawamu kepadanya, taihiap."
"Betul betulkah? Jangan kau main main, nona. Aku benar benar hampir bosan hidup kalau tidak bertemu dengan Sian Hwa. Kau tidak tahu akan kesengsaraanku."
Bun Sam mengeluh.
"Siapa main main? Aku Luilee tak pernah main main dan biar aku disambar petir di siang hari panas kalau aku main main."
Mau tak mau Bun Sam tersenyum juga.
Watak Luilee ini mengingatkan dia akan watak Lan Giok yang suka sekali bergurau.
Mana ada petir menyambar di siang hari panas?
Luilee memberi isyarat kepada para pengawal untuk mengaso dan iapun lalu mengajak Bun Sam duduk di bawah pohon untuk bercakap cakap.
"Sekarang kauceritakanlah mengapa kau begini sengsara, kemudian akulah yang akan mengobatinya dan yang akan mempertemukan kau dengan kekasihmu itu."
Pada waktu itu, Bun Sam merasa hidup terasing, seorang diri dan tidak ada siapa siapa lagi di dunia ini kecuali kekasihnya, Sian Hwa.
Akan tetapi ia tidak tahu Sian Hwa berada di mana maka sekarang menghadapi Luilee yang agaknya dapat mempertemukan dia dengan Sian Hwa, tidak heran apabila hatinya tergerak dan ia mencurahkan isi hatinya kepada puteri Bangsa Semu yang cantik ini.
Ia menuturkan kepada Luilee betapa ia akan dipaksa menikah dengan Lan Giok dan betapa guru gurunya menjadi marah sekali, sehingga ia diusir dan tidak diakui.
Ketika menuturkan pengalamannya sampai di sini, tak terasa pula mata Bun Sam menjadi basah.
"Aduh, kasihan sekali kau, Bun taihiap,"
Kata Luilee sambil menghapus air matanya sendiri dengan saputangan sutera yang berwarna hijau dan berbau harum.
"Mereka itu keterlaluan sekali. Keterlaluan dan kejam!"
Serunya.
"Nona Luilee, bagi bangsa kami, yakni orang orang Han, yang terpenting adalah memegang aturan. Dan semua guru guruku itu hanya menggunakan aturan inilah, mereka tidak bisa dipersalahkan. Akulah seorang yang bersalah, memang aku seorang tak ingat budi, seorang murid murtad dan seorang yang paling tidak berharga !"
"Tidak bisa begitu,"
Luilee membantah.
"Peraturan memang harus dijalankan, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan dan perasaan. Kalian ini orang orang Han memang kadang kadang terlampau kukuh dengan aturan aturanmu, sehingga kalian merupakan kerbau buta yang dituntun hidungnya tidak mempunyai pendirian sendiri. Contohnya tentang bakti. Kau hendak berbakti kepada orang tuamu kalau misalnya ayahmu seorang perampok jahat, apakah kaupun hendak berbakti kepadanya dan mengikuti jejaknya sebagai seorang penjahat pula, hanya untuk menjaga agar kau disebut berbakti dan tahu aturan?"
Dalam keadaan seperti itu, Bun Sam tidak ada nafsu untuk berdebat, sungguhpun di dalam hatinya ia tidak setuju dengan tuduhan nona Bangsa Semu ini.
"Sudahlah, nona Luilee. Aku sudah menceritakan pengalaman dan penderitaanku. Sekarang mana obat itu dan apa yang akan kau ceritakan padaku mengenai diri Sian Hwa?"
Luilee tersenyum lagi dan timbul lagi kegembiraannya.
Bun Sam diam diam harus mengakui bahwa nona ini benar benar cantik sekali dan bahwa matanya yang kebiru biruan itu mudah sekali berganti warna.
Pantas saja Pangeran Kian Tiong jatuh hati, pikirnya.
Akan tetapi kalau ia membayangkan wajah Sian Hwa, nona Semu ini tidak menarik hati lagi !
"Baik, Bun taihiap.
Aku bukan pembohong.
Dalam tiga hari kau akan bertemu dengan kekasihmu itu.
Tetapi kau harus menurut segala pesanku."
Bun Sam terheran heran, tetapi ia girang sekali sehingga matanya yang tadinya layu kini menjadi segar.
"Tentu saja, aku akan menurut segala pesanmu, biarpun harus menceburkan diri dalam lautan api sekalipun !"
Luilee tertawa.
"Ah, tidak demikian berat, taihiap. Kau pergilah ke utara, kalau sudah tiba di sebuah sungai, kau menyeberang lalu membelok ke kiri. Di dalam sebuah dusun di lereng bukit yang kelihatan seperti burung merak, yang disebut Kong ciak san (Gunung Merak), di situ kau akan melihat sebuah pesta pernikahan. Datangilah tempat pesta itu dan selanjutnya kau akan mengalami petunjuk petunjuk yang akan mempertemukan kau dengan kekasihmu. Dan pesanku, kalau kau sudah melihat kekasihmu jangan terburu nafsu, bukalah suratku dan baca dulu dengan tenang, baru kau boleh bertindak menurut suratku itu!"
Bun Sam mengangguk angguk dengan hati penuh gairah.
Entah mengapa, biarpun mata nona itu berseri seri dan bersinar sinar seperti seorang tengah bergurau, ia percaya betul kepada Luilee!
Ia tahu bahwa biarpun lincah dan nakal, nona ini memiliki hati yang mulia dan tak mungkin akan menipunya.
"Mana suratnya?"
Tanyanya mendesak. Luilee mengerling tajam lalu mengomel.
"Nah, itulah salahnya dengan laki laki, selalu tergesa gesa! Kalau kau ingin berhasil dengan wanita, berlakulah sabar dan jangan tergesa gesa!"
Bun Sam tahu bahwa nona ini memang suka sekali menggoda orang, tetapi ia tidak perduli, bahkan makin mendesak.
"Nona Luilee yang baik, lekaslah kau buat surat itu. Aku ingin sekarang juga terbang ke dusun itu!"
"Kau akan menemui kekasihmu dalam pakaian seperti ini? Ah, benar benar tidak beres!"
Ia menggapaikan tangannya yang berkulit putih halus itu kepada seorang perwira yang segera berlari mendatangi.
"Ambil alat tulis dan kertas, kemudian kau sediakan se stel pakaian bersih untuk Bun taihiap!"
Perwira itu memberi hormat dan pergi ke kereta.
Tak lama kemudian ia datang kembali membawa alat tulis dan menyerahkan pakaian kepada Bun Sam.
Akan tetapi setelah perwira itu menjauhkan diri lagi dan Luilee mulai menulis, Bun Sam meletakkan pakaian itu di atas batu dan tidak memakainya.
Luilee menulis dengan aksi dibuat buat.
Lidahnya yang kemerahan dan berujung lancip itu keluar sedikit di ujung bibirnya dan keningnya berkerut seakan akan ia sedang membuat sebuah karangan yang amat sukar!
Bun Sam makin gemas karena ia hendak segera membawa surat itu.
Akhirnya selesai juga Luilee membuat surat itu.
Dilipatnya kertas itu dan diserahkannya kepada Bun Sam.
Akan tetapi ia melihat Bun Sara masih belum berganti pakaian, maka katanya kaget.
"He?? Mengapa kau belum tukar pakaian? "Tak usah nona."
"Sian Hwa akan jijik melihatmu."
"Cinta murni tidak dipengaruhi oleh pakaian indah dan muka elok. Aku tak perlu berganti pakaian."
Luilee mengerutkan keningnya mendengar ini dan mengangkat bahu lalu berdiri tegak.
"Anak muda,"
Katanya dengan lagak seperti seorang sudah banyak pengalaman.
"kau tahu apakah tentang cinta? Kalau kau bilang cinta murni tidak mengenal keindahan, baik pakaian maupun wajah, habis cinta yang mengenal keindahan kau sebut apa?"
"Itu hanya cinta nafsu semata! Cinta berahi yang terdorong oleh nafsu, tidak mendalam sampai di hati !"
Kata Bun Sam.
"Haya.... sombongnya ! Pandirnya ! Tololnya ! Eh, anak muda yang gagah perkasa, ahli filsafat muda yang bisa jatuh cinta! Apakah kau betul betul mencinta Sian Hwa?"
"Aku mencintainya dengan suci murni, bukan berdasarkan nafsu semata."
"Phuah....! Khayal seorang pelamun ! Kalau kau betul mencintai Sian Hwa, bagaimana pandanganmu tentang dia itu? Cantikkah dia, atau burukkah mukanya?"
"Dia cantik secantik cantiknya. Tiada bidadari di sorga yang dapat menandingi kecantikannya."
Luilee meruncingkan bibirnya yang manis, cemberut.
"Jadi kalau dalam pandanganmu dia itu buruk rupa, kau takkan dapat jatuh cinta kepadanya?"
Bun Sam menjadi bingung. Pertanyaan ini sekaligus memukul hancur semua teorinya tentang cinta.
"Ini....kalau begitu....eh, aku tidak tahu."
Luilee tertawa terpingkal pingkal, sehingga keluar air matanya.
"Pendekar pandir, ahli filsafat tolol yang kemintar! Cinta dan keindahan tak dapat dipisah pisahkan, tahu? Tanpa keindahan, takkan ada cinta! Cinta itu indah. Kau tentu tahu pula bahwa berdasarkan hukum ini, dalam pandangan mata Sian Hwa, kau tentu seorang pemuda yang paling ganteng dan paling tampan. Kalau tidak begitu Sian Hwa takkan mencintaimu, tahu? Siapa orangnya dapat mencintai sesuatu yang dalam pandangan matanya kelihatan buruk? Hanya orang yang miring otaknya barangkali!"
Mata Bun Sam melirik ke kanan kiri. Ia merasa betul betul bodoh dan dangkal pengetahuannya dalam memperbincangkan soal cinta dengan Luilee dan diam diam ia mengaku kalah.
"Mungkin betul pandanganmu itu, nona Luilee."
"Memang betul. Kalau betul, mana bisa salah lagi? Sekarang sudah jelas bahwa Sian Hwa menganggap kau tampan dan ganteng. Memang dalam hal ini, aku tidak salahkan Sian Hwa, karena kau memang tampan dan ganteng, biarpun tidak seganteng pangeranku."
"Terima kasih, nona. Terus terang saja, kaupun amat cantik jelita dan manis dan agaknya.... kalau di sana tidak ada Sian Hwa, dalam pandangan mataku kau akan lebih cantik dan lebih manis dari pada sekarang ini."
Luilee tersenyum.
"Memang begitulah dan terima kasih kembali. Sekarang kau sudah tahu bahwa Sian Hwa menganggapmu tampan, kalau sekarang kau memelihara ketampananmu, bukankah itu berarti bahwa kau menghormat dan memelihara perasaan kekasihmu itu? Apakah kau begitu kejam untuk mencemarkan katampananmu yang begitu dikagumi oleh kekasihmu?"
Bun Sam melengak.
Hal ini sama sekali tak pernah dipikirkannya, agaknya sampai ia matipun takkan pernah ada filsafat tentang cinta macam ini kalau saja ia tidak bertemu dengan gadis yang aneh ini!
Sambil berkata demikian, dengan lirikan tajam dan senyum mengejek Luilee menyerahkan suratnya tadi.
Bun Sam menerimanya, membungkuk memberi hormat dan menghaturkan terima kasihnya, kemudian ia berkata.
"Betapapun juga, aku ingin Sian Hwa melihat kesengsaraanku dalam usahaku mencarinya!"
Lalu ia melompat pergi cepat sekali. Luilee tertawa geli dan berkata seorang diri.
"Siapa lebih palsu dalam cinta, laki laki ataa wanita? Laki lakilah yang lebih palsu dan gila, seperti badut beraksi...."
Akan tetapi, kata katanya ini disambungnya pula.
"Semoga dia dan kekasihnya berbahagia....!"
Puteri Semu ini lalu menghampiri keretanya, masuk ke dalam kendaraan dan memberi tanda kepada para pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan ke kota raja.
Bun Sam berlari cepat sekali.
Dua hari kemudian barulah ia tiba di sungai yang disebutkan oleh Luilee itu.
Ia cepat menggunakan perahu nelayan menyeberang, kemudian setelah tiba di seberang utara sungai itu, ia lalu membelok ke kiri dan berlari lagi.
Dari jauh dilihatnya sebuah bukit menjulang tinggi dan melihat bentuk bukit itu, berdebarlah hatinya.
Tak salah lagi, itulah Kong ciak san, Bukit Burung Merak karena memang bentuknya seperti burung merak membuka sayapnya.
Di daerah ini hanya tinggal orang orang Mongol dan Semu, ada pula orang orang Han, tetapi mereka itu kalau bukan pedagang keliling, tentu kuli kuli kasar atau budak budak belian !
Biarpun kelihatan dekat, tetapi setelah dijalani, sehari barulah Bun Sam tiba di lereng bukit itu dan tibalah ia di dusun yang dimaksudkan oleh Luilee.
Dusun ini cukup besar dan ramai dan kerena ia memasuki dusun ini pada malam hari, tidak ada orang yang memperhatikannya.
Kalau masuknya siang hari, setidaknya tentu ia akan menimbulkan kecurigaan dan disangka seorang pengemis muda Bangsa Han yang kesasar di situ.
Mudah saja bagi Bun Sam untuk mencari tempat pesta itu, karena dari jauh ia sudah mendengar gembreng, tambur dan terompet dibunyikan orang.
Ia segera berlari menuju ke tempat itu dan melihat sebuah gedung besar dihias indah sekali.
Lampu lampu Teng yang besar besar dan beraneka ragam dan warna, dipasang di depan dan memenuhi ruang tamu yang penuh dengan para tamu.
Agaknya yang merayakan pesta adalah seorang pembesar tinggi yang kaya raya, pikir Bun Sam.
Ia menyelinap di antara orang banyak yang berjubelan di luar sebagai penonton.
Ternyata bahwa pesta itu diadakan untuk merayakan sebuah pernikahan !
Bun Sam berdebar dan matanya mencari cari.
Apakah maksud dari Luilee?
Ia disuruh datang ke tempat ini dan semuanya ternyata cocok dan tepat sekali seperti yang diceritakan oleh puteri Semu itu.
Memang benar ia melihat sebuah pesta, akan tetapi bagaimana selanjutnya?
Luilee bilang bahwa di situ ia akan mendapat petunjuk selanjutnya, maka Bun Sam berdiri saja di antara para penonton dan memasang mata penuh perhatian ke dalam rumah itu.
Para tamu sudah penuh berkumpul di ruang yang luas itu, terpisah menjadi dua bagian, bagian laki laki dan bagian wanita.
Sejak tadi Bun Sam menandang ke arah para tamu wanita itu penuh perhatian, kalau kalau ia melihat Sian Hwa di situ.
Akan tetapi mana mungkin?
Wanita wanita yang berada di situ semua adalah Bangsa Mongol dan semuanya bermata biru seperti mata Luilee.
Tiba tiba semua tamu bersorak dan musik dibunyikan keras.
Dari dalam keluar sepasang mempelai yang hendak menjalankan upacara di ruang tamu itu, di depan meja leluhur dan disaksikan oleh semua tamu, Bun Sam tertegun.
Mempelai pria adalah seorang laki laki bertubuh tinggi kecil yang usianya sudah lanjut, sedikitnya ada limapuluh tahun!
Biarpun wajahnya kelihatan sabar dan masih tampan, lemah lembut dan kelihatannya terpelajar, namun karena rambutnya sudah banyak uban dan kulitnya sudah mulai kisut, ia nampak tidak serasi dalam baju pengantin.
Adapun mempelai wanitanya, biarpun mukanya ditutup oleh hiasan kepala yang digantungi untaian mutiara menutupi mukanya, mudah saja dilihat bahwa mempelai wanitanya masih muda sekali, kentara dari bentuk tubuhnya.
"Hm, satu lagi contoh korban harta dan pangkat."
Bun Sam berkata seorang diri, akan tetapi ia tidak mau ambil pusing semua keganjilan ini.
Matanya tetap awas memandang segala sesuatu menanti nanti petunjuk tentang Sian Hwa sebagaimana yang dikatakan oleh Luilee akan didapatkan nya di tempat ini.
Petunjuk apakah yang akan kudapat dan lihat?
Demikian Bun Sam berpikir pikir dengan hati ragu ragu.
Dan datanglah petunjuk itu yang membikin wajah pemuda ini menjadi pucat seakan akan seluruh darah dalam tubuhnya lenyap sama sekali!
Sebelum upacara dimulai, mempelai laki laki mengangkat hiasan kepala mempelai wanita, sehingga wajah mempelai wanita kelihatan.
Dan apa yang dilihat oleh Bun Sam?
Wajah ayu yang pucat dan tunduk, dengan air mata membanjir turun membasahi kedua pipi itu, bukan lain adalah wajah....
Sian Hwa!!
"Sian Hwa....!"
Teriak Bun Sam, sehingga semua orang terkejut.
Pemuda ini melompat dan sekali lompat saja ia telah berada di depan Sian Hwa, mempelai wanita itu.
Mempelai wanita itn bagaikan disambar petir.
Dengan mata terbelalak ia memandang dan bibirnya bergerak gerak seperti orang menangis namun tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya.
Akhirnya dapat juga ia berseru.
"Bun Sam....??"
Seruan ini terdengar sebagai pertanyaan, karena sesungguhnya Sian Hwa tidak percaya kalau laki laki yang berdiri di depannya itu adalah Bun Sam.
Orang orang menjadi geger.
Mempelai laki laki dengan muka merah, akan tetapi tidak kehilangan ketenangan dan sikapnya yang agung, berdiri dani bertanya.
"Apakah artinya ini? Siapakah kau, pemuda yang gagah?"
Tadinya Bun Sam hendak mengamuk dan hendak memukul pecah kepala orang tua yang mengawini kekasihnya ini, akan tetapi mendengar suara dan melihat sikap mempelai pria ini, ia tidak melanjutkan nafsu marahnya.
Ia menyambar pinggang Sian Hwa dengan lengan kanannya, kemudian ia berkata kepada mempelai pria.
"Tuan, kau tidak bisa mengawini dia, karena dia adalah kekasihku!"
Sambil berkata demikian, ia lalu membawa Sian Hwa melompat keluar dari ruang itu dan ketika beberapa orang dengan mirah mengejarnya, ternyata Bun Sam dan mempelai wanita itu telah lenyap dari pandangan mata, menghilang di dalam gelap!
Bun Sam berlari terus sambil memondong tubuh kekasihnya, tidak perduli Sian Hwa berteriak teriak dan menangis.
"Bun Sam...., kembalikan aku kepada suami ku....! Bun Sam.... kasihanilah aku, kembalikan aku kepada suamiku....!"
Mendengar keluhan keluhan ini, makin panaslah hati Bun Sam dan ia bahkan makin mempercepat larinya.
Bagaikan terbang ia berlari di malam buta, melalui pegunungan itu, melompati jurang jurang tanpa menghiraukan bahaya terpeleset jatuh, bahkan di sudut hatinya, ia mengharapkan agar ia bersama Sian Hwa terpeleset saja dan jatuh ke dalam jurang, hancur binasa!
"Bun Sam, kau....
kau kejam....
kau tidak kasihan kepada Lan Giok....
tidak kasihan kepadaku dan kepada suamiku!"
Berkali kali Sian Hwa mencela, menuduh dan menangis, tetapi Bun Sam menoleh pun tidak. Tetap saja pemuda ini berlari, makin lama makin cepat.
"Bun Sam.... kembalilah kau kepada isterimu, Lan Giok."
Mendengar ini, Bun Sam menghentikan larinya.
Mereka telah jauh dari Bukit Kong ciak san dan malam telah berganti pagi.
Ternyata bahwa Bun Sam telah lari setengah malam tanpa berhenti!
Setelah menurunkan tubuh Sian Hwa dari pondongannya, Bun Sam memegang kedua pundak gadis itu dengan kasar dan menatap wajahnya dengan pandangan mata menyeramkan.
Sian Hwa memandang pula, terapi melihat sinar mata pemuda itu, ia mengeluh dan berkata.
"Bun Sam, jangan memandang aku seperti itu.... jangan kau memandangku seperti itu...."
Lalu ia menangis terisak isak sambil menundukkan mukanya.
"Kau...! Kau....!"
Bun Sam berkata terengah engah sambil mengguncang guncangkan kedua pundak gadis itu.
"Kau rela menikah dengan monyet tua itu....?? Alangkah rendahnya!"
"Bun Sam...."
"Sian Hwa, dulu kau menolak pinangan Liem Swee, rela menjadi nikouw, rela terlunta lunta, kukira kau setia dan tetap mencintaiku seperti aku cinta padamu. Tadinya kukira cintamu sama murninya dengan cintaku kepadamu, tetapi sekarang...."
"Bun Sam, dengar...."
"Tidak tahunya sakarang kau rela menjadi isteri seorang monyet tua, hanya karena dia terpelajar, berkedudukan dan kaya raya!"
"Bun Sam....!"
"Kalau aku tahu begini, Sian Hwa, aku lebih suka melihat kau menjadi isteri Liem Swee, atau menjadi nikouw sekalipun.... Ah, alangkah mudahnya kau lupa kepadaku, lupa kepada janji kita, lupa akan cinta kasih yang menjadi permainanmu semata dan....!"
"Bun Sam, tidak....!"
Sian Hwa meronta dan berhasil melepaskan kedua tangannya. Ia lalu menggunakan tangannya untuk menutup mulut pemuda itu.
"Tutup mulutmu, kau....! Telan kembali kata katamu.... kau laki laki kejam....!"
Dan....tiba tiba, Sian Hwa telah roboh pingsan di kedua lengan Bun Sam !
Setelah melihat gadis itu menjadi pucat seperti mayat dan tubuhnya dingin sekali, barulah Bun Sam tersadar dari pada nafsu yang tadi menguasai hati dan pikirannya.
"Sian Hwa.... memang aku kejam...."
Ia berkata perlahan dan mengangkat tubuh gadis itu, dibawa ke bawah sebatang pohon dan membaringkannya di atas rumput.
"Sian Hwa, betapapun juga, mengapa kau melakukan semua ini? Mengapa kau menjauhi aku hanya untuk menikah dengan seorang monyet tua....?"
Akan tetapi Sian Hwa tak mendengar, karena gadis ini masih pingsan.
Bun Sam teringat akan surat yang ditulis oleh Luilee, maka terkejutlah dia.
Dia menghadapi malapetaka ini apakah bukan karena ia melalaikan pesan Luilee?
Bukanknh pesan puteri Semu itu, bahwa begitu melihat Sian Hwa, ia harus membaca dulu surat itu dan jangan melakukan segala sesuatu menurutkan nafsu hatinya?
Ia menjadi berdebar dan cepat ia mengambil surat itu dari dalam sakunya.
Tulisan nona Semu itu ternyata bagus sekali, halus dan guratannya seperti rumput rumput hijau di musim semi.
Song taihiap.
Kau melihat Sian Hwa di samping mempelai pria yang sudah tua !
Jangan kaget, mempelai prianya itu adalah ayahku, bekas raja dari Bangsa Semu!
Kau marah?
Jangan, karena Sian Hwa mau menjalani pernikahan ini karena bujukanku!
Di samping itu, Sian Hwa amat berterima kasih kepada ayahku yang sudah menolong nyawanya.
Hal ini kau akan mendengar sendiri dari Sian Hwa, Dia telah ceritakan tentang persoalannya dengan kau, maka aku tahu segalanya dan aku pula yang sengaja mengabarkan bahwa kau sudah menikah dengan tunanganmu !
Baca Juga: Petualang Asmara 14
Baca Juga: Bu Kek Siansu 1