Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 14

Eps 14 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

Yap Kun Liong telah melihat datangnya seorang anggauta Pek-lian-kauw yang memegang toya dan yang memang telah diincarnya maka secepat kilat dia mencelat ke kiri, ke arah orang ini, kedua tangannya bergerak dan orang itu roboh tertotok dan toyanya telah terampas secara yang dia tidak ketahui bagiimana!

Kun Liong menggunakan tenaganya mematahkan toya itu di tengah-tengah dan...

di kedua tangannya telah tampak sepasang tongkat pendek yang segera dimainkan dengan ilmu Tongkat Siang-liong-pang (Sepasang Naga) yang dahulu dia pelaiari dari Bun Hwat Tosu.

Terdengar suara trang-tring-trang ketika banyak senjata lawan terlempar ketika bertemu dengan sepasang tongkat ini.

Juga Giok Keng sudah mengamuk dengan pedangnya, merobohkan dua orang lagi dengan cepatnya.

Melihat ini, Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In lalu menerjang ke depan, membantu Liong Bu Kong mengeroyok Kun Liong, sedangkan Bong Khi Tosu dan Loan Khi Tosu mengeroyok Giok Keng.

Tentu saja selain mereka, para anak buah Pek-lian-kauw juga ikut pula mengeroyok dan sungguhpun mereka itu bukan merupakan lawan tangguh bagi Kun Liong dan Giok Keng, namun jumlah mereka yang amat banyak itu merepotkan juga.

Karena khawatir akan keselamatan Giok Keng sedangkan dia sendiri didesak oleh tiga orang yang cukup lihai itu, Kun Liong sengaja menahan pedang Lauw Kim In dengan tongkatnya sambil berkata.

"Hemm, setangkai bunga mawar indah bersih dari Go-bi tercemar dalam lumpur..."

Lauw Kim In menjadi merah mukanya dan dia menarik pedangnya untuk ditikamkan ke lambung Kun Liong, dan pada saat itu, Ouwyang Bouw yang juga mengerti akan sindiran ini sudah menggerakkan pedang ularnya ke arah leher Kun Liong.

"Trang... cringgg...!"

Kun Liang menangkis sambil meloncat ke atas untuk mengelak sambaran pedang Liong Bu Kong yang menggunakan kesempatan tadi untuk membabat ke arah kakinya.

"Kasihan Sin-kouw... tidak tahu betapa Pek-eng Kiam-hoat ciptaannya itu dipergunakan untuk membantu pemberontak dan penjahat! Aihhh, yang menjadi guru, mati pun tidak bisa meram, apalagi masih hidup!"

"Iihhhh..."

Kim Lauw Kim In menjerit karena tidak tahan lagi mendengar sindiran itu, air matanya bercucuran dan betapa pun kerasnya hati wanita ini, karena selama ini penderitaan batinnya sejak dia menyerahkan dirinya kepada Ouwyang Bouw ditekan-tekan, seolah-olah dibuka bendungannya oleh Kun Liong.

Lauw Kim In mundur-mundur dan mukanya pucat sekali.

Melihat ini, Ouwyang Bouw marah bukan main.

"Manusia bermulut lancang dan beracun!"

Kedua tangannya bergerak dan serangkum sinar merah menyambar ke arah seluruh tubuh Kun Liong.

Pemuda ini terkejut karena mengerti bahwa itulah jarum-jarum merah yang pernah membuat kepalanya gundul!

Cepat dia memutar kedua tongkatnya sambil meloncat ke kiri.

Sebagian dari jarum-jarum merah beracun itu dapat dia pukul runtuh dan sebagian lagi dapat dia elakkan.

"Aduhhhh...!"

Tiba-tiba terdengar Giok Keng menjerit dan bukan main kagetnya hati Kun Liong karena baru dia teringat bahwa di belakangnya terdapat Giok Keng sehingga ketika dia mengelak tadi, jarum-jarum merah langsung menyambar tubuh dara itu dan mengenai bagian belakang tubuhnya!

"Celaka!"

Serunya dan cepat dia memutar tongkat membalikkan tubuh.

Melihat Giok Keng limbung dan hampir jatuh, Kun Liong cepat membuang kedua tongkatnya, menyambar pedang dari tangan Giok Keng dan memondong tubuh yang lemas itu, memanggulnya dan dia melindungi tubuh mereka berdua dengan pedang Giok Keng yang diputar amat cepatnya sehingga tampaklah gulungan sinar berkilauan yang menyelimuti tubuh mereka berdua.

Semua senjata yang bertemu dengan sinar bergulung-gulung ini terpental dan semua pengeroyok menjadi gentar dan mundur kembali.

"Kepung, jangan biarkan dia lolos!"

Liong Bu Kong berteriak keras, khawatir juga ketika melihat betapa Lauw Kim In sudah lari dari tempat itu dikejar oleh suaminya, Ouwyang Bouw.

Dengan perginya dua orang yang lihai ini, terutama Ouwyang Bouw dia merasa kehilangan tenaga bantuan yang boleh diandalkan.

Baiknya Giok Keng sudah terluka dan Kun Liong sedang memanggul tubuh dara itu, maka dia bersama Loan Khi Tosu dan Bong Khi Tosu, dibantu oleh hampir tiga puluh orang anak buah Pek-lian-kauw, yaitu sisa mereka yang belum roboh, mengurung dan mendesak Kun Liong, tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri.

Repot juga Kun Liong dikeroyok demikian banyak dalam keadaan seperti itu.

Tentu saja andaikata Giok Keng tidak terluka, mereka berdua masih akan sanggup menandingi mereka semua setelah Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In pergi, dan agaknya akan mudah dapat meloloskan diri.

Akan tetapi sekarang, setelah Giok Keng terluka dan pingsan dalam panggulannya, tentu saja membuat gerakannya tidak leluasa lagi.

Kekhawatirannya terhadap Giok Keng yang telah terkena jarum merah Ouwyang Bouw yang dia tahu amat berbahaya, membuat hatinya terasa tidak karuan dan akhirnya dia menjadi marah.

Dengan pekik melengking keras yang merobohkan beberapa orang anggauta Pek-lian-kauw yang kurang kuat, dia lalu membentak.

"Liong Bu Kong! Kalau kau tidak menarik mundur semua orang ini, terpaksa aku akan membunuhmu!"

Liong Bu Kong terkejut, akan tetapi dia mengira bahwa pemuda itu hanya menggertaknya saja karena dalam keadaan terdesak, maka dia tertawa.

"Kepung dia! Bunuh pemuda pengacau ini!"

Kun Liong menjadi mata gelap.

Sejak kecil dia tidak suka akan kekerasan, tidak suka memukul orang apalagi membunuh merupakan pantangan besar baginya.

Kini, gelisah akan keselamatan Giok Keng dan melihat kekejaman hati Liong Bu Kong yang membuat gadis itu sengsara, dia menjadi mata gelap dan dengan bentakan nyaring dia menerima semua sambaran pedang ke arah tubuhnya, hanya melindungi tubuh Giok Keng.

Berbareng ketika senjata-senjata mengenai tubuhnya dia sudah menerjang maju dengan pedang Gin-hwa-kiam milik Giok Keng itu, menyerang Liong Bu Kong tanpa mempedulikan hujan senjata mengenai tubuhnya.

Terdengar suara bak-bik-buk dan semua senjata itu terpental kembali.

Liong Bu Kong terkejut melihat sinar perak menyambar, cepat dia menangkis dengan Lui-kong-kiam.

"Crangggg...!"

Liong Bu Kong memekik kaget, pedangnya terlepas dari pegangan tangannya dan cepat dia melempar tubuhnya ke atas tanah.

Kalau tidak cepat gerakannya ini, tentu dia telah menjadi korban pedang Gin-hwa-kiam.

Melihat serangannya hanya berhasil melepaskan pedang lawan yang dapat dengan cepat menghindar dengan cara melempar diri ke atas tanah, Kun Liong mengayun kakinya menendang ke arah kepala Liong Bu Kong.

Bu Kong mengangkat kedua lengannya menangkis.

"Desss!"

Tubuh Liong Bu Kong mencelat dan terguling-guling sampai sepuluh meter jauhnya.

Dia dapat bangkit berdiri lagi dengan kepala pening dan mata berkunang, menggoyang-goyang kepalanya dan keringat dingin bercucuran keluar ketika dia melihat Kun Liong sudah dikepung lagi.

Kini para pengeroyok itu atas komando Loan Khi Tosu yang cerdik, menujukan senjata mereka kepada tubuh Giok Keng!

Akal ini benar-benar membuat Kun Liong menjadi repot sekali.

Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri yang dapat dibuatnya kebal terhadap senjata dengan sin-kangnya, akan tetapi Giok Keng yang pingsan itu tentu akan celaka kalau terkena senjata lawan.

Lega dan girang juga hati Liong Bu Kong melihat betapa lawan yang amat tangguh itu kini dikepung ketat.

Dia hampir saja celaka tadi, seperti lolos dari lubang jarum.

Dengan tulang-tulang tubuhnya terasa nyeri, dia berjalan terincang-pincang mencari senjatanya yang tadi terlepas.

Akhirnya dia melihat senjata pedangnya itu dan dengan cepat dia berlari menghampiri untuk mengambilnya.

Selagi tangan Bu Kong meraih pedang, tiba-tiba ada sebuah kaki kecil yang menginjak pedang itu!

Bu Kong terkejut akan tetapi dia sudah memegang gagang pedangnya, maka sekuat tenaga dia membetot gagang pedang itu dan...

pedang yang terinjak kaki kecil itu tidak berkutik sedikit pun!

Betapa pun Bu Kong mencabut sambil mengerahkan tenaga, sia-sia saja karena pedang itu seakan-akan telah menjadi satu dengan kaki yang menginjaknya.

Bu Kong cepat mengangkat mukanya dan kaki itu ternyata milik seorang gadis cantik dan gagah, seorang dara cantik yang matanya begitu tajam dan bening, indah seperti mata burung Hong, seorang gadis berpakaian ringkas dan tampak dua batang pedang di tubuhnya, satu di punggungnya dan sebatang lagi di ikat pinggangnya yang merupakan pedang pendek.

Liong Bu Kong terbelalak ketika dia mengenal wajah gadis yang cantik namun dingin dan angkuh itu.

"Kau...? Kau... Giok-hong-cu Yo Bi Kiok?"

Katanya memandang kepada hiasan burung Hong dari kumala yang menghias baju di dada gadis itu.

Rasa terkejut dan heran bercampur dengan harapan dan kegirangan.

Dia terkejut dan heran melihat kelihaian gadis ini yang mampu menginjak pedangnya sedemikian kuatnya sehingga dia sendiri tidak dapat menariknya kembali, dan dia girang dan penuh harapan akan mendapat bantuan gadis ini.

Bukankah Yo Bi Kiok ini dapat dikatakan segolongan dengan dia, bahkan guru gadis ini, Bu Leng Ci yang berjuluk Siang-tok Mo-li pernah bersekutu dengan ibunya, dan hiasan burung Hong kumala di dada gadis itu pun adalah pemberian ibunya?

Maka dia cepat melepaskan gagang pedangnya, bangkit berdiri dan berkata sambil tersenyum, girang.

"Aihh, kiranya Kiok-moi yang datang...! Dan kau hebat sekali! Kiok-moi, kebetulan kau datang, marilah membantu kami menaklukkan iblis itu!"

Dia menuding ke arah Kun Liong yang masih mengamuk dan dikepung ketat seperti seekor jengkerik dikeroyok segerombolan semut.

"Huh, siapa adikmu? Liong Bu Kong, aku datang untuk mengambil nyawamu!"

Tentu saja Liong Bu Kong merasa kaget bukan main sampai matanya terbelalak dan dia tidak dapat menjawab.

"Ambil pedangmu dan bersiaplah!"

Kata pula Yo Bi Kiok dengan suara dan pandang mata dingin.

Terpaksa Bu Kong mengambil pedangya yang sudah dilepaskan oleh kaki Bi Kiok dan dia membantah.

"Yo Bi Kiok, lupakah kau bahwa kita segolongan? Lihat, Giok-hong-cu itu masih berada di dadamu. Bukankah itu pemberian ibuku?"

Yo Bi Kiok menjebikan bibirnya yang merah.

"Hemm, memang kubawa dan tadinya akan kukembalikan kepada Kwi-eng Niocu, sayang dia telah mampus, karena itu biarlah kukembalikan kepada puteranya. Nih, terimalah kembali!"

Tiba-tiba sekali, dengan kecepatan yang tidak terduga-duga oleh Bu Kong, tangan kiri gadis itu merenggut hiasan itu dan secepat kilat pula perhiasan dari kumala itu telah melayang menyambar antara kedua mata Bu Kong!

Pemuda ini berseru kaget, cepat dia mengelak dengan merendahkan tubuh dan menundukkan kepala.

"Sswwtttt...!"

Perhiasan itu melayang lewat di atas kepalanya dan menancap di dinding karang.

Dan pada saat itu, Bi Kiok telah menerjangnya dengan pedang pendek di tangan kiri.

Demikian cepatnya gerakan Bi Kiok, begitu melontarkan perhiasan tadi terus langsung mencabut pedang di pinggang dan langsung pula menyerang, sehingga Bu Kong terkejut setengah mati, cepat menangkis.

"Cring-trangggg...!"

"Ehhhh...?"

Liong Bu Kong kembali terkejut.

Tangannya sampai tergetar hebat ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan kiri gadis itu.

Akan tetapi dia tidak sempat terheran lebih lama lagi karena kembali pedang gadis itu telah menyambar dengan kecepatan dan kekuatan yang amat luar biasa!

Bu Kong menangkis dan berusaha untuk balas menyerang, namun dalam waktu dua puluh jurus lebih saja dia telah terdesak hebat sekali.

Tiba-tiba, selagi Bu Kong membalas dengan bacokan dahayat, Bi Kiok menangkis dengan pedang kirinya sambil mengerahkan sin-kang dan pedang itu bergetar sedemikian hebat lalu diputar-putar sehingga pedang Bu Kong ikut pula terputar tanpa dapat ditahannya lagi.

Dan secepat kilat, tangan kanan Bi Kiok bergerak dan hanya tampak sinar berkelebat ketika pedang panjang telah tercabut dari punggungnya dan di lain saat pedang itu telah menembus dada Liong Bu Kong.

"Auhhhhgggg...!"

Tubuh pemuda itu terjengkang ketika Bi Kiok mencabut pedangnya.

Sambil melihat tubuh pemuda yang berkelojotan di atas tanah itu, Bi Kiok menggunakan kakinya mencokel pedang Lui-kong-kiam, menyambar gagang pedang dengan tangannya dan menyelipkan pedang itu di pinggangnya pula, sementara itu kedua pedangnya tadi sudah dengan cepat memasuki sarung pedang.

Kemudian, dengan tenang dia menghampiri dinding karang, mencabut Giok-hong-cu dan sekali lempar perhiasan itu menancap di dahi Bu Kong, tepat di tengah-tengah dan tubuh yang berkelojotan itu diam, tak bergerak lagi.

Kini Yo Bi Kiok memandang ke arah pertempuran, mendengus perlahan dan tubuhnya mencelat ke medan pertempuran, pedang rampasan tadi digerakkan dengan tangan kirinya dan robohlah empat orang pengeroyok!

Selanjutnya, gadis ini mengamuk dengan pedang Lui-kong-kiam sehingga dalam waktu singkat, terjungkal tidak kurang dari delapan orang anak buah Pek-lian-kauw!

Tentu saja semua pengeroyok terkejut sekali dan mereka menjadi gentar, cepat mereka meninggalkan Kun Liong dan Bi Kiok, mundur ke dalam guha di mana sudah dipasangi alat-alat rahasia jebakan.

Akan tetapi kedua orang muda itu tidak mengejar, melainkan berdiri saling berpandangan, Bi Kiok dengan pandang mata dingin, Kun Liong dengan mata terbelalak keheranan.

"Engkau... Bi Kiok...!"

"Kun Liong, engkau masih belum lupa kepadaku?"

Suara Bi Kiok dingin dan matanya menatap tajam ke arah gadis yang pingsan di panggulan pemuda itu.

"Melupakan engkau? Mungkin yang lain-lain aku dapat melupakan, akan tetapi betapa mungkin aku melupakan matamu yang bersinar indah seperti bintang pagi itu?"

Yo Bi Kjok menjebikan bibirnya, dan mendengus.

"Huh, perayu yang... mata keranjang!"

Dia memutar tubuhnya dan sekali meloncat dia telah melayang jauh ke depan lalu lari cepat sekali.

"Bi Kiok...!"

Kun Liong memanggil akan tetapi gadis itu berlari terus.

Terpaksa dia pun berlari membawa tubuh Giok Keng yang masih pingsan.

Yang terutama sekali adalah keselamatan Giok Keng.

Biarpun dia merasa terheran-heran melihat Yo Bi Kiok yang sekarang memiliki ilmu kepandaian sedemikian tingginya, bahkan Liong Bu Kong dapat dibunuhnya dalam waktu singkat dan dia ingin sekali bicara dengan dara itu, namun melihat keadaan Giok Keng, dia harus lebih dulu menyelamatkan gadis ini.

Dia tahu betapa jahatnya jarum merah Ouwyang Bouw itu.

Setelah berlarl-lari menuruni bukit dan jauh sekali meninggalkan sarang Pek-lian-kauw, akhirnya Kun Liong tiba di sebuah dusun dan cepat dia mencari rumah penginapan.

Seorang pelayan menyambutnya dengan mata terbelalak heran memandang kepada wanita muda yang pingsan dalam pondongan pemuda itu.

"Adikku ini sakit parah, harap kau cepat menyediakan kamar untuk kami agar dia dapat kuobati,"

Kata Kun Liong, tanpa banyak cakap lagi.

Pelayan itu seorang tua yang baik hati.

Melihat keadaan Giok Keng yang pucat dan pingsan, dia cepat membawa mereka ke sebuah kamar yang cukup besar, kemudian memenuhi permintaan Kun Liong menyediakan sebaskom air mendidih yang dia taruh di dalam kamar dan cepat dia meninggalkan mereka pergi.

Kun Liong mulai bekerja, tanpa ragu-ragu lagi dia menanggalkan pakaian Giok Keng berikut sepatunya dan menyelimuti tubuh yang telanjang itu dengan sehelai selimut.

Dia membalikkan tubuh dara itu menelungkup dan memeriksa tubuh belakangnya.

Terdapat lima batang jarum merah menancap di tubub belakang dari punggung sampai ke pinggul!

Dan jarum-jarum itu menancap dalam sekali sampai yang tampak hanya sedikit ujungnya membayang di bawah kulit yang telah mulai membiru kemerahan!

Setelah memeriksa sejenak, Kun Liong cepat menggunakan air mendidih untuk membasahi bagian luka itu sehingga kulit dagingnya di bagian itu yang terkena air panas menjadi lemas dan lunak.

Kemudian, sambil duduk bersila di pinggir pembaringan, Kun Liong menggunakan kedua telapak tangannya ditempelkan kepada luka jarum itu sambil mengerahkan sin-kangnya.

Hawa yang amat kuat tergetar melalui lengannya dan setibanya di telapak tangannya, hawa yang merupakan tenaga sakti itu menyedot!

Inilah tenaga Thi-khi-i-beng yang sudah dikendalikan sehingga tenaga menyedotnya yang hebat itu dapat dicurahkan dan dipusatkan pada lubang kecil bekas jarum.

Setelah kedua lengan itu menggigil beberapa lamanya, Kun Liong menarik kembali kedua tangannya dan...

dua batang jarum menempel di telapak tangannya.

Dengan alis berkerut dia menyimpan dua batang jarum itu, kemudian berturut-turut dia berhasil menyedot lima batang jarum itu dari tubuh Giok Keng.

Setelah lima batang jarum itu terambil semua, pekerjaan Kun Liong masih jauh daripada selesai.

Biarpun jarum-jarum itu telah dikeluarkan, namun racunnya sudah mengeram di tubuh dan dia tadi sebelum mengambil jarum telah menotok beberapa bagian jalan darah untuk mencegah racun itu menjalar ke jantung.

Kini, kembali dia menggunakan sin-kang dari kedua telapak tangannya untuk menyedot dan melebarkan luka-luka itu, kemudian, tanpa ragu-ragu, dia mendekatkan mukanya dan dengan mulutnya, dia menyedot luka-luka itu satu demi satu.

Darah menghitam yang tersedot keluar dari luka itu, diludahkannya ke lantai, kemudian menyedot lagi sampai berkali-kali.

Ketika melakukan ini, dia bukannya tidak sadar akan keindahan tubuh belakang dara itu yang polos, dengan kulit putih kuning dan bersih halus, namun dengan penuh keyakinan bahwa dia melakukan semua ini untuk menyelamatkan nyawa Giok Keng, maka segala bentuk khayal yang mendatangkan nafsu birahi sama sekali tidak menampakkan bayangannya.

Setelah di setiap luka dia menyedot tidak kurang dari lima kali, barulah yang tersedot keluar dari luka kecil itu darah merah.

Ketika melakukan penyedotan dengan mulutnya untuk yang terakhir kali, di luka yang berada paling bawah, yaitu di belahan bukit pinggul, tiba-tiba dia mendengar suara halus di luar jendela dan melihat berkelebatnya bayangan orang, Kun Liong tidak berani memecah perhatian karena pengobatan dengan sin-kang itu membutuhkan pengerahan tenaga dan perhatiannya.

Disangkanya bahwa tentulah pelayan tadi yang mengintai untuk melihat bagaimana keadaan wanita sakit itu.

Setelah melihat bahwa lima luka itu sudah bersih dan menjadi merah darah, dengan hati-hati Kun Liong mencucinya dengan air panas, menutupnya dengan kain bersih lalu membalikkan tubuh Giok Keng yang masih pingsan.

Wajah dara itu masih pucat akan tetapi sinar kebiruan telah lenyap dari wajahnya.

Kun Liong membetulkan letak selimut yang menutupi seluruh tubuh gadis itu, kemudian dia memasukkan kedua tangannya ke dalam selimut, meletakkan kedua telapak tangannya ke bawah dada, memusatkan seluruh batinnya agar tidak sampai tergoda oleh bayangan yang bukan-bukan mengenai tubuh dara yang terlentang di depannya, kemudian dia menyalurkan sin-kang.

Hawa yang hangat memasuki tubuh dara itu dan membant kelancaran jalan darahnya, juga mengusir hawa beracun yang memenuhi dada rongga perutnya.

"Ouhhh...!"

Akhirnya terdengar dara itu merintih, pernapasannya menjadi normal kembali, jalan darahnya juga pulih, dia masih setengah sadar setengah pingsan.

Cepat Kun Liong mengeluarkan kedua tangannya dari selimut karena dia tidak ingin gadis itu sadar mendapatkan kedua tangannya masih terletak di atas dada dan perutnya!

Wajahnya agak pucat dan napasnya agak memburu karena dia telah mengeluarkan banyak tenaga saktinya.

Pada saat itulah, setelah perhatiannya terhadap Giok Keng terlepas, dia baru mendengar bahwa benar-benar ada orang di luar kamar itu, mengintai di depan pintu.

Dia menjadi curiga sekali dan sambil meloncat ke dekat pintu dia membentak.

"Siapa di luar...?"

Tiba-tiba dari luar terdengar suara orang mendengus marah, daun pintu di tendang terbuka dan seorang gadis cantik yang langsung menyerang dengan tusukan pedang pendeknya yang dipegang dengan tangan kiri ke dada Kun Liong dengan kecepatan kilat!

"Bi Kiok...!"

Kun Liong berscru kaget, miringkan tubuhnya ke kiri dan ketika pedang meluncur di sebelah kanannya, dia cepat menggerakkan tangan kanan menangkap pergelangan tangan gadis itu sambil mengerahkan sin-kangnya karena begitu menyentuh lengan dia merasa ada tenaga dahsyat dari lengan itu kcluar menentang.

"Tranggg...! Plokkk...!"

Pedang itu terlepas dari pegangan tangan kiri Bi Kiok yang seperti lumpuh oleh pegangan tangan kanan Kun Liong akan tetapi dengan kemarahan meluap-luap gadis itu menggunakan telapak tangan kanannya menampar pipi kiri pemuda itu.

Kun Liong meringis, pipinya terasa panas dan pedih, tentu giginya sudah rontok semua kalau dia tadi tidak menerima tamparan itu dengan pengerahan tenaga.

"Laki-laki cabul! Laki-laki mata keranjang!"

Yo Bi Kiok memaki ketika melihat Giok Keng yang sudah sadar dan memandang dengan mata terbelalak itu berada dalam keadaan telanjang bulat dan hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai seilmut.

Kedua kaki yang telanjang itu mencuat keluar dari dalam selimut!

"Eh...

ohhh...

Bi Kiok...

jangan...!"

Kun Liong cepat menggunakan tangan kirinya untuk menangkap lengan kanan gadis itu, melihat betapa Bi Kiok sudah menggerakkan tangan kanan hendak mencabut pedang panjang di punggungnya.

Dengan demikian, dia telah menangkap kedua lengan gadis itu yang meronta-ronta hendak melepaskan kedua tangannya.

"Eh-eh... Bi Kiok... wah, sabarlah, mari kita bicara baik-baik..."

Kun Liong membujuk ketika gadis itu meronta-ronta, bahkan mengirim tendangan yang dapat dielakkannya, akan tetapi terpaksa dia tangkis dengan kakinya pula.

"Laki-laki buaya!"

Bi Kiok memaki lirih.

"Dan aku selalu mengingat-ingat engkau... mengharap-harap..."

Dan gadis itu terisak, lalu meronta-ronta makin kuat.

"Kiranya engkau laki-laki cabul yang mempermainkan setiap wanita yang kautolong!"

Giok Keng yang sudah sadar dan sudah bangkit duduk sambil menyelimuti tubuh dengan selimut itu sudah mendengar cukup banyak dan jelas.

Cepat dia melangkah turun dan sambil menyarungkan selimut itu rapat-rapat, dia berseru.

"Tahan dulu...! Adik yang baik, engkau salah duga...! Kun Liong telah menolongku dan karena aku terkena senjata rahasia yang amat berbahaya, dia tadi telah mengobatiku... jangan menyangka yang bukan-bukan! Aku adalah Cia Giok Keng, puteri Ketua Cin-ling-pai, apa kau kira aku akan mudah saja dipermainkan orang seperti itu? Aku..."

Tiba-tiba Giok Keng menghentikan kata-katanya karena teringat betapa pemyataannya tadi berlawanan dengan sekali dengan kenyataan.

Dia berkata tidak mudah dipermainkan orang, akan tetapi buktinya, dia dipermainkan oleh Liong Bu Kong sampai hampir saja menjadi korban!

Akan tetapi kata-katanya tadi sudah cukup bagi Bi Kiok.

Ketika tadi dia mengintai dari balik jendela dan melihat betapa Kun Liong "menciumi"

Punggung dan pinggul telanjang gadis itu hatinya panas dan marah bukan main.

Selama ini dia selalu terkenang kepada Kun Liong yang dianggapnya sebagai pria yang paling baik dan hebat yang pernah dijumpainya, dan yang perjumpaannya ketika melihat Kun Liong dikeroyok orang-orang Pek-lian-kauw tadi membuat dia girang sekali.

Akan tetapi godaan Kun Liong yang memuji matanya membuat dia malu dan lari pergi, namun dia lalu membayangi Kun Liong yang membawa pergi dara yang ditolongnya itu ke sebuah kamar di rumah penginapan.

Dapat dibayangkan betapa kecewa dan marah hatinya melihat Kun Liong "menciumi"

Tubuh itu.

Kini, mendengar keterangan Giok Keng yang ternyata adalah puteri pendekar sakti Ketua Cin-ling-pai yang tentu saja sudah dikenal baik namanya itu, dia maklum bahwa dia telah salah sangka!

Kiranya Kun Liong tadi bukanlah sedang menciumi punggung dan pinggul telanjang, melainkan sedang menyedot racun dari luka-luka di punggung dan pinggul!

"Ahhhh...!"

Dia terkejut dan merasa malu sekali, dan ketika Kun Liong melepaskan kedua tangannya, dia melangkah mundur, mukanya merah dan matanya terkejap-kejap malu.

Kun Liong tersenyum lebar.

"Bagaimana, Bi Kiok? Apakah kau masih hendak menampar lagi mukaku? Aihhh, lama tak jumpa, engkau sekarang menjadi lihai luar biasa, ilmu kepandaianmu maju dengan amat pesatnya dan... dan engkau makin cantik saja, apalagi kalau engkau memandang seperti itu..."

Mata yang berkejap-kejap malu itu seketika mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Kun Liong dan melihat betapa mulut dan mata Kun Liong mentertawakannya, dia menjadi malu sekali.

"Ihhh!"

Dengusnya, tubuhnya membalik dan dia berkelebat lenyap dari situ setelah menyambar pedang pendeknya yang tadi terjatuh.

"Bi Kiok...! Heiii, tunggu dulu!"

Akan tetapi Yo Bi Kiok tidak peduli dan lari terus dengan amat cepatnya, dan Kun Liong pun tidak mengejar, hanya berdiri di pintu dengan wajah berseri kemudian menarik napas panjang.

"Hemm, hebat sekali ilmunya berlari cepat, juga sin-kang dan kepandaiannya. Lebih hebat dari tingkat gurunya sendiri, hemm..."

"Kun Liong, engkau tidak pernah dapat menghilangkan watakmu yang nakal dan suka menggoda wanita,"

Terdengar suara Giok Keng, dan ketika Kun Liong hendak membalik, Giok Keng cepat melanjutkan.

"Jangan menengok ke sini! Aku sedang berpakaian!"

Otomatis Kun Liong menarik kembali kepalanya yang hendak menengok tadi, kini berdiri menghadap keluar, bahkan menutupkan daun pintu agar tidak ada orang yang dapat melihat ke dalam kamar.

"Aku sudah selesai, Kun Liong."

Barulah pemuda itu membuka daun pintu lalu memasuki kamar.

Giok Keng sudah berpakaian lagi dengan rapi, dan duduk di atas ranjang.

Kun Liong lalu duduk di atas bangku.

"Kun Liong, apakah kau mencinta gadis tadi?"

"Bi Kiok? Ah, tidak, mengapa?"

"Yang jelas, dia mencintamu, Kun Liong."

"Ehhhh...?"

Kun Liong memandang heran tidak percaya.

"Percayalah kepadaku, seorang wanita lebih awas dalam hal itu. Dia mencintamu sungguh-sungguh, Kun Liong, karena itu dapat dibayangkan betapa menyakitkan godaan-godaanmu tadi."

"Hemm, aku memang seorang yang serba canggung, selalu mendatangkan rasa tidak enak dalam hati dara-dara muda. Bahkan orang yang benar-benar kucinta pun merasa tidak senang dan marah..."

Giok Keng memandang tajam.

"Kun Liong, siapakah wanita yang kaucinta itu dan di mana dia?"

Kun Liong mengangkat muka memandang, lalu menunduk dan menarik napas panjang lagi.

"Hemmm... adalah..."

"Kun Liong, mengapa kau tidak mau bercerita kepadaku? Aku telah berhutang nyawa kepadamu, padahal aku telah menyakiti hatimu ketika memutuskan tali perjodohan. Engkau seorang yang amat baik bagiku, akan tetapi sayang aku tidak cinta kepadamu dan anggaplah aku ini adikmu sendiri, Kun Liong, atau setidaknya, engkau masih terhitung suhengku, bukan? Nah, ceritakanlah semuanya kepada sumoimu ini, siapa tahu aku akan dapat membantumu sebagai pembalasan budimu."

Terharu juga hati Kun Liong mendengar ini.

Memang, dia pernah merasa terhina ketika Giok Keng menyatakan tidak setuju akan perjodohan yang diikat ayahnya, apalagi ketika ternyata bahwa gadis ini malah memilih seorang pemuda iblis Liong Bu Kong.

Kini, mendengar ucapan yang tulus dan terus terang dari gadis itu, dia merasa terharu.

"Giok Keng, bukan sama sekali bahwa aku tidak percaya kepadamu, hanya... hal yang tidak menyenangkan perlukah diceritakan? Betapapun juga, mengingat bahwa nasibmu dalam percintaan juga amat buruk, baiklah aku akan bercerita kepadamu tentang gadis yang kucinta itu, yang bernama Pek Hong ing..."

Maka berceritalah Kun liong secara singkat namun lengkap tentang pengalamannya bersama Pek Hong Ing, tentu saja tanpa menyinggung-nyinggung tentang sikap Hong Ing terhadap dirinya ketika dara itu hendak dibawa pergi oleh tiga orang Lama yang amat sakti itu.

(Lanjut ke

Jilid 44) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 44

"Nah, sebenarnya aku sedang dalam perjalanan mengejar para pendeta Lama yang telah membawa pergi Hong Ing itu, kalau perlu sampai ke sarang mereka di Tibet."

Kun Liong mengakhiri ceritanya.

Giok Keng mendengarkan dengan terharu, lalu berkata dengan penuh kekhawatiran.

"Agaknya tiga orang pendeta Lama itu lihai bukan main, Kun Liong. Bagaimana engkau akan dapat berhasil pergi seorang diri ke sana? Apakah tidak sebaiknya kau minta bantuan Ayah?"

Kun Liong menggelengkan kepalanya.

"Aku akan pergi sendiri, dan aku yakin akan dapat mengatasi mereka. Dan bagaimana dengan engkau sendiri, Giok Keng? Setelah peristiwa menggemparkan di Pek-lian-kauw itu..."

Kun Liong menghentikan kata-katanya karena melihat dara itu menangis.

Maklumlah dia bahwa dia telah menyentuh bagian yang menyakitkan hati, mengingatkan gadis itu akan aib yang telah menimpa dirinya, maka dia merasa menyesal sekali bertanya tadi.

"Maafkan, Giok Keng. Aku bukan bermaksud..."

"Tidak apa, Kun Liong. Bukan salahmu.... melainkan aku sendirilah yang seakan-akan buta hati, mudah saja terbujuk dan tertipu oleh pemuda yang kelibatan tampan dan baik itu. Siapa mengira bahwa hatinya busuk seperti iblis? Ahh, aku menyesal sekali, Kun Liong... eh, Suheng! Aku harus menyebutmu suheng sekarang! Aku menyesal sekali dan untung bahwa semua malapetaka itu belum terlambat, berkat kedatangan Ayah dan kedatanganmu."

"Biarlah kesalahan kita yang lalu menjadi pengalaman, Sumoi, menjadi pelajaran bagi kita sehingga kesalahan macam itu tidak akan terulang lagi."

"Tidak mungkin terulang! Aku tidak akan mencinta siapa pun, dan cintaku yang keliru terhadap iblis itu telah mati. Aku tidak mau sembarangan mencinta pria lagi sungguhpun banyak yang mencintaku. Sebenarnya, dahulu pun aku tidak mudah jatuh cinta. Sejak dahulu, banyak pria yang jatuh cinta kepadaku, Suheng, dari para murid ayah di Cin-ling-pai sampai banyak laki-laki yang kutemui selama dalam perjalananku. Mereka semua bermuka-muka dan berusaha untuk menguasai hatiku, dan sikap mereka yang palsu dan memikat itu memuakkan hatiku. Cinta mereka itu semua palsu, sepalsu cinta iblis Liong Bu Kong. Aku muak dengan cinta kaum pria yang berhati palsu. Aku tidak maksudkan engkau, Suheng. Engkau adalah orang jujur dan terus terang mengatakan bahwa engkau tidak mencinta aku. Betapapun juga, nasib kaum wanita memang amat buruk, tidak seperti pria. Dalam soal perjodohan sekalipun, kaum wanita selalu harus tunduk, dalam soal cinta pun, kaum wanita harus menerinia dan menyesuaikan diri, tidak berhak memilih seperti pria. Betapa pun besar cinta seorang wanita terhadap seorang pria, kalau si pria tidak mencintanya akan percuma saja dan tidak mungkin wanita berani mendesak yang berarti tidak tahu malu! Karena itu, aku merasa kasihan sekali kepada Bi Kiok dan kepada Hwi Sian. Mereka berdua benar-benar mencintamu, Suheng, akan tetapi engkau tidak membalas cinta mereka. Betapa sengsara hati mereka."

Kun Liong menarik napas panjang, apalagi teringat akan Hwi Siang gadis yang telah menyerahkan kehormatannya kepadanya dan yahg membuatnya menyesal bukan main kalau teringat akan peristiwa itu.

"Cinta memang hanya mendatangkan duka nestapa belaka ataukah...sebenarnya bukan cinta sejati yang mendatangkan duka itu? Bagaimanapun juga, kalau benar kata-katamu tadi bahwa Bi Kiok mencintaku..."

"Aku berani bertaruh apapun juga, Suheng. Dia pasti mencintamu, dari pandang matanya, kata-katanya, sikapnya, jelas sekali tampak bahwa dia mencintamu. Sayang, akan patah harapannya kalau dia tahu bahwa pria yang dicintanya itu tidak akan membalasnya."

"Hemm, kalau begitu aku harus mencarinya, akan kuberitahukan secara terus terang agar dia dapat menghapus cinta yang salah alamat itu."

"Memang sebaiknya begitu, Suheng. Biarpun pahit, namun keterusterangan itu mungkin akan dapat menjadi obat mujarab, seperti kenyataan yang amat pahit membuat mataku terbuka. Akan tetapi, ke manakah kau hendak mencarinya?"

"Melihat kemunculannya tadi, kurasa tempat tinggalnya tidak jauh dari dusun ini, atau mungkin juga, di dusun ini. Betapa pun, aku akan mencarinya, sekarang juga."

"Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini, Suheng. Aku juga akan melakukan perjalananku."

"Kau harus beristirahat dulu..."

"Aku telah sembuh, berkat pertolonganmu."

"Akan tetapi, kau hendak ke mana?"

"Entahlah, yang jelas aku tidak akan pulang dulu ke Cin-ling-san sebelum aku berhasil membunuh iblis Liong Bu Kong itu!"

"Ahh, dia sudah tewas, Sumoi!"

Baru teringat oleh Kun Liong bahwa dia belum menceritakan akan hal ini dan tentu saja gadis ini tidak tahu akan kematian Liong Bu Kong, karena ketika itu dia masih pingsan.

Giok Keng terloncat dan memandang terbelalak, mukanya agak pucat.

Betapapun juga, laki-laki yang pernah dicintanya itu dikabarkan tewas, dan tanpa disadarinva dia terkejut buken main.

"Tewas...?"

Kun Liong mengangguk.

"Tewas di tanganmu, Suheng?"

"Untung sekali tidak! Aku merasa ngeri kalau sampai membunuh orang. Dia tewas dalam tangan Yo Bi Kiok, dalam waktu hanya dalam belasan jurus sehingga aku merasa terheran bukan main menyaksikan kepandaian Bi Kiok. Padahal dahulu, dia tidak akan mampu mengalahkan Bu Kong."

Giok Keng termenung.

"Mengapa...? Mengapa Bi Kiok membunuhnya?"

"Mungkin dendam antara guru. Bi Kiok adalah murid mendiang Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang tewas di tangan ibu Bu Kong, yaitu Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. Mungkin untuk membalas kematian gurunya, Bi Kiok yang sekarang lihai sekali itu membunuh Bu Kong, dan hal ini menguntungkan kita karena aku sudah payah juga menghadapi pengeroyokan sambil memondongmu."

Kembali Giok Keng termenung, kemudian menarik napas panjang.

"Begitulah nasib manusia yang tersesat, akhirnya mampus di ujung senjata pula. Kalau begitu, tinggal orang-orang Pek-lian-kauw! Merekalah yang membantu iblis itu sehingga aku hampir saja tertimpa malapetaka hebat, aku harus menghancurkan Pek-lian-kauw, Suheng."

"Hemm, berhati-hatilah, Giok Keng. Mereka itu lihai sekali, terutama ketuanya."

"Aku tidak akan gegabah, Suheng. Aku akan pergi ke kota raja, minta bantuan, kalau perlu akan menghadap The-locianpwe."

"Panglima The Hoo?"

Giok Keng mengangguk.

"Syukur kalau dapat bertemu dengan Ayah, kalau tidak tentu Locianpwe itu akan tertarik dan suka mengirim pasukan, karena Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pemberontak."

"Terserah kepadamu, akan tetapi hati-hatilah, Sumoi. Aku sendiri akan menemui Bi Kiok, kemudian aku akan menyusul dan mencari Hong Ing ke Tibet."

"Aku hanya mendoakan semoga kau berhasil bertemu kembali dengan dia, Suheng. Semoga kau tidak akan mengalami kegagalan dalam cinta kasih seperti aku."

Mereka berpisah, dan melihat gadis itu pergi dengan kepala menunduk, Kun Liong menarik napas panjang dan hatinya merasa iba sekali.

Tak disangkanya bahwa puteri Ketua Cin-ling-pai akan mengalami nasib seburuk itu dalam hidupnya.

Kalau saja di dalam hatinya ada perasaan cinta kepada Giok Keng seperti perasaannya kepada Hong Ing, tentu dia akan mengobati kepatahan hati gadis itu!

Kembali dia menarik napas panjang lalu dia pun mulai dengan penyelidikannya, mencari Yo Bi Kiok di dusun itu.

Memang tidak mudah mencari seorang dara seperti Yo Bi Kiok yang gerak-geriknya penuh rahasia itu.

Biarpun Kun Liong telah bertanya-tanya kepada semua penghuni dusun itu, tidak seorang pun mengenal Yo Bi Kiok.

Akhirnya Kun Liong mengambil keputusan untuk mencari sendiri di dua buah dusun yang berada di daerah itu.

Sehari penuh dia mencari-cari di dusun pertama, kemudian hari berikutnya dia putar-putar di dusun ke dua yang tak begitu besar, namun hasilnya sia-sia belaka.

Dia sudah mulai putus ada dan malam itu dia membayangkan ke mana dia harus mencari Bi Kiok kalau besok, di dusun ke tiga, dia tidak dapat menemukan dara itu.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia pergi ke dusun ke tiga, dusun terakhir yang terdapat di daerah itu.

Dusun ini agak besar, seperti dusun pertama di mana dia mengobati Giok Keng.

Hari masih pagi sekali, akan tetapi telah banyak penduduk yang hilir-mudik di jalan, mulai dengan pekerjaan sehari-hari mereka.

Kun Liong memasang mata, melihat orang-orang yang lalu lalang, juga melihat rumah-rumah dusun itu sebelum dia mulai bertanya-tanya apakah ada seorang nona bernama Yo Bi Kiok tinggal di dusun ini.

"Huk! Huk! Hukkk...!"

Kun Liong tersenyum melihat seekor anjing yang keluar dari lorong dan menyalak-nyalak kepadanya.

Akan tetapi tiba-tiba dia membelalakkan matanya.

"Pek-pek!"

Serunya heran.

Tak salah lagi, inilah anjing peliharaannya ketika dia masih kecil dahulu!

Anjing berbulu putih yang menumpahkan obat di kamar ayahnya sehingga menjadi awal dari semua perubahan dalam hidupnya.

"Pek-pek...!"

Kun Liong berlutut mengelus kepala anjing itu yang mulai menggoyang-goyangkan ekornya sambil mengeluarkan suara rintihan.

Ternyata anjing itu pun mulai mengenal kembali Kun Liong!

"Aihhh...

Pek-pek...!

Bagaimana kau dapat berada di sini?"

Kun Liong berkata dengan terheran-heran, masih ragu-ragu apakah benar ini anjing kesayangannya dahulu itu.

Dia mendapat akal.

Untuk mengetahui apakah benar ini anjing kesayangannya itu, dia harus tahu siapa kini yang memelihara anjing ini.

Dengan gaya seperti ketika dia masih kecil memerintah anjing itu, dia bangkit berdiri, menuding dan berseru.

"Pek-pek, hayo pulang!"

Anjing itu mengeluarkan suara berkuik lalu membalikkan tubuhnya, terus lari.

Ketika beberapa kali dia menoleh dan melihat Kun Liong mengikutinya setengah berlari, anjing itu kelihatannya girang sekali dan terus berlari keluar dari dusun itu melalui pintu gerbang dusun bagian selatan.

Kun Liong terus mengikutinya dan terheran-heran.

Kalau anjing ini ada yang memeliharanya, mengapa tinggalnya malah di luar dusun?

Keadaan mulai sunyi dan anjing itu memasuki sebuah hutan kecil!

Tiba-tiba, dari balik pohon-pohon muncullah dua orang yang membuat Kun Liong terkejut sekali.

Mereka itu adalah Thian Hwa Cinjin Ketua Pek-lian-kauw yang amat lihai bersama Bhong Khi Tosu, pembantunya!

Kun Liong terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa anjing yang mirip benar dengan Pek-pek itu adalah anjing peliharaan Ketua Pek-lian-kauw ini untuk memancingnya.

Dengan marah dia lalu memandang kepada Ketua Pek-lian-kauw itu dan...

terlambat dia ingat bahwa inilah kesalahan utamanya, yaitu memandang mata kakek itu.

Begitu bertemu pandang, Kun Liong merasa seolah-olah pandang matanya melekat kepada sepasang mata yang bersinar aneh itu, kemudian dia mendengar suara Thian Hwa Cinjin yang amat berpengaruh.

"Yap Kun Liong, berlututlah engkau! Tak pantas orang muda kurang ajar terhadap orang tua."

Kun Liong tahu bahwa dia diserang dengan ilmu sihir, akan tetapi karena pandang matanya telah bertaut dan kepalanya pening, tak tahu harus berbuat apa, Kedua kakinya seperti lumpuh dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut, tetap memandang kepada wajah kakek itu tanpa berkedip seperti terkena pesona!

Melihat keadaan Kun Liong yang sudah tidak berdaya ini, Bong Khi Tosu yang memutar dan berada di belakang Kun Liong mengangkat tongkatnya dan siap untuk menghantamkan tongkatnya itu di kepala Kun Liong!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara menyalak-nyalak marah dan anjing berbulu putih yang kecil itu meloncat dan menerkam Bong Khi Tosu, langsung menggigit ke arah leher tosu itu.

Tentu saja Bong Khi Tosu terkejut akan tetapi dengan mudah dia menangkis dengan tangan kirinya, membuat anjing kecil itu terbanting dekat dengan Thian Hwa Cinjin.

Karena marah diserang anjing kecil itu, Bong Khi Tosu meluncurkan tongkatnya ke arah anjing itu.

"Crapppp...!"

Anjing itu menguik satu kali dan roboh tewas, darahnya muncrat-muncrat mengenal pinggir jubah Thian Hwa Cinjin yang berada di dekat tempat itu.

"Bodoh kau...!"

Thian Hwa Cinjin berteriak kaget dan menegur pembantunya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara melengking keras dan tampak sinar terang menyambar ke arah tubuh Bong Khi Tosu.

Kakek ini terkejut, cepat berusaha mengelak dari serangan pedang yang bersinar kilat itu karena tongkatnya telah dipergunakan membunuh anjing tadi.

Namun gerakannya kurang cepat sehingga terdengar teriakan keras dan tubuhnya terjungkal lalu bergulingan sampai jauh, baru dia meloncat dengan pundak berdarah.

Kiranya yang menyerangnya adalah seorang dara muda yang memegang pedang berkilauan, dan dia ini bukan lain adalah Yo Bi Kiok sedangkan pedang yang dipergunakan menyerang Bong Khi Tosu adalah Lui-kong-kiam, pedang rampasan dari tangan Liong Bu Kong itu!

"Keparat, berani kau membunuh anjingku?"

Teriak Yo Bi Kiok marah.

Sementara itu, Kun Liong juga telah sadar dari keadaannya terkena sihir itu maka dia cepat meloncat dan menerjang Thian Hwa Cinjin.

Kakek ini berusaha mengerahkan ilmu sihirnya, akan tetapi betapa kagetnya bahwa tenaga sihirnya telah menjadi lemah sekali dan bahkan hampir lenyap.

Tahulah dia bahwa ini disebabkan oleh darah anjing tadi, maka dia cepat mengerahkan tenaga sin-kangnya menangkis.

"Dukkk! Dess!"

Biarpun dia berhasil menangkis hantaman tangan kanan Kun Liong, namun dia tidak mampu menghindarkan tamparan tangan kiri Kun Liong yang mengenai dadanya.

Dia terjengkang dan cepat meloncat lagi lalu melarikan diri diikuti pembatunya karena dia tahu bahwa melanjutkan pertandingan melawan pemuda itu amatlah berbahaya.

Tamparannya tadi saja sudah membuat napasnya sesak dan muntah darah yang ditahannya di dalam mulutnya, tanda bahwa dia telah terkena hantaman sin-kang yang membuatnya terluka di sebelah dalam dadanya.

Setelah mereka berlari jauh, barulah Ketua Pek-lian-kauw ini muntahkan darah dari mulutnya!

Kun Liong yang sama sekali tidak menyangka-nyangka akan kemunculan dara yang dicari-carinya itu di tempat ini, memandang wajah Yo Bi Kiok.

Hatinya penuh keheranan mendengar teriakan Bi Kiok yang mengaku bahwa anjing putih itu adalah anjingnya.

Juga Bi Kiok memandang kepadanya.

Dua pasang mata bertemu, bertaut dan sejenak mereka lupa keadaan.

"Pek-pek... aduhh, Pek-pek... kenapa kau...? Uhu-hu-huk, Pek-pek mati... Subo (Ibu Guru)... Pek-pek mati...!"

Kun Liong merasa terkejut seperti disambar petir mendengar sebutan Pek-pek ini.

Dia menengok dan melihat seorang anak perempuan berlutut di dekat bangkai anjing itu, memeluki bangkai itu sambil menangis.

Anak perempuan itu berusia kurang lebih empat lima tahun dan mendengar betapa anak itu menyebut Yo Bi Kiok dengan sebutan subo, dia mengerti bahwa anak itu adalah murid dara cantik yang luar biasa ini.

"Pek-pek? Apakah nama anjing itu Pek-pek, Bi Kiok?"

Tanyanya, seperti dalam mimpi. Yo Bi Kiok mengangguk.

"Anjingmukah itu?"

Yo Bi Kiok menggeleng kepalanya.

"Bukan anjingku, melainkan anjing muridku itu."

Kun Liong memandang anak perempuan itu, jantungnya berdebar tegang.

Anjing itu, yang juga bernama Pek-pek, telah mengenalnya!

Tidak salah lagi, anjing itu pasti anjing kesayangannya dahulu itu!

"Bi Kiok, siapakah nama muridmu ini?"

Yo Bi Kiok tersenyum, akan tetapi pandang matanya masih dingin.

"Kau tanyalah dia sendiri."

Kun Liong menghampiri anak perempuan yang masih terisak-isak menangis itu, lalu dia berlutut dan menyentuh pundaknya.

"Adik kecil, sudahlah jangan menangis. Biarpun sudah mati, Pek-pek mati dengan gagah perkasa melawan orang jahat."

Anak perempuan itu menghapus air matanya dan mengangkat muka, memandang kepada Kun Liong dengan mata dan pipi basah.

Wajah anak itu manis sekali dan satu kali pandang saja timbul rasa suka di hati Kun Liong.

"Biarlah aku akan mencarikan seekor anjing lain untukmu,"

Kata Kun Liong karena merasa kasihan sekali, akan tetapi sebetulnya dia ingin tahu dari mana anak itu mendapatkan Pek-pek yang telah mati.

"Aku tidak suka anjing lain, yang kusuka hanya Pek-pek..."

Jawab anak itu, kembali air matanya mengucur ketika dia menengok dan memandang anjing yang ditembusi tongkat itu.

"Adik yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau dahulu mendapatkan anjing putih ini?"

"Dia... dia memang anjingku sejak dulu... Pek-pek adalah anjingku sejak dulu..."

"Dan namamu...?"

"Namaku Yap In Hong..."

"Ahhhh...!"

Wajah Kun Liong menjadi pucat seketika.

"Apa... apa artinya ini...?"

Dia meloncat dan menghadapi Bi Kiok. Dara itu tersenyum dan mengangguk.

"Dia memang adikmu, Kun Liong,"

Jawab Bi Kiok tenang.

Kun Liong memandang kepada anak perempuan itu lagi, hatinya tidak karuan rasanya, dilanda keharuan, keheranan dan juga keraguan.

Benarkah ini adiknya, adik kandung yang selamanya belum pernah dilihatnya?

Anak inikah peninggalan ayah bundanya yang telah meninggal dunia?

Benarkah?

Anak itu pun memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar setelah tidak menangis lagi.

"In Hong, kau masih ingat akan nama Yap Kun Liong?"

Tanya Bi Kiok kepada muridnya yang masih kecil itu.

"Yap Kun Liong yang Subo ceritakan itu, yang kata Subo adalah kakak kandungku? Tentu saja teecu (murid) ingat..."

Jawab anak itu dengan suara yang lucu, namun jelas membayangkan kecerdikannya.

"Apakah Subo hendak mengatakan bahwa orang ini adalah kakakku itu?"

Yo Bi Kiok mengangguk dan Kun Liong lalu menghampiri anak itu, berlutut dan memegang kedua lengannya.

"Yap In Hong... adikku... kau adalah adikku... engkau adik kandungku..."

Kun Liong merangkul dan teringatlah dia akan ayah bundanya yang tewas terbunuh orang, teringatlah dia akan perbuatannya yang melarikan diri dari orang tuanya sehingga mereka menderita kesengsaraan sampai akhirnya ditewaskan musuh.

Kun Liong menggigit bibirnya menahan keharuan hatinya, memeluk dan mendekap muka anak perempuan itu ke dadanya.

Akan tetapi In Hong meronta halus dan terpaksa dilepaskan oleh Kun Liong yang kini menatap wajah itu.

Tampak olehnya kini betapa anak perempuan itu amat cantiknya.

Teringat dia akan wajah ibunya.

Mata dan mulut anak ini presis mata dan mulut ibunya.

"In Hong...!"

Dia mengeluh dan memondong anak itu penuh kasih sayang.

"Mulai sekarang kita tidak akan saling berpisah lagi, Adikku!"

In Hong juga memandang wajah Kun Liong penuh perhatian.

Dia masih terlalu kecil untuk mengenal rasa keharuan karena perjumpaan ini.

Sejak kecil dia tidak mengenal lagi ayah bundanya, apalagi kakaknya ini.

Pertemuannya dengan Kun Liong hanya berkesan sebagai pertemuan dengan seorang laki-laki yang aneh dan asing.

Biarpun dia dipondong, namun ketika dia membuka mulut bicara, dia menujukan kata-kata itu kepada Bi Kiok.

"Subo, apakah benar dia ini kakak kandungku seperti yang seringkali Subo ceritakan itu?"

"Benar, In Hong. Dialah kakak kandungmu,"

Jawab Bi Kiok yang biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu dan tetap dingin, namun di dalam hatinya dia merasa terharu juga menyaksikan pertemuan antara kakak dan adiknya yang selamanya belum pernah jumpa itu, pertemuan yang amat ganjil.

Dia terharu karena teringat kepada dirinya sendiri yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.

"Tapi... tapi dia..."

"Dia kenapa, In Hong? Dia kakakmu!"

Bi Kiok agak kecewa menyaksikan sikap muridnya yang seperti tidak senang hatinya itu.

"Kalau dia kakakku, kenapa begini jelek?"

Kun Liong tertawa dan Bi Kiok mengerutkan alisnya.

"Jelek? Mengapa kaubilang jelek?"

"Rambutnya begitu sih..."

Kun Liong makin keras tertawa dan mencium pipi anak perempuan itu.

"Kau genit, ya?"

Dia menggoda dan mau tidak mau Bi Kiok tersenyum juga menyaksikan adegan itu.

"Bi Kiok, aku makin berhutang budi kepadamu dengan perjumpaan dengan adikku ini. Bagaimana engkau bisa bertemu dengan In Hong?"

"Mari kita ke pondokku dan akan kuceritakan kepadamu, Kun Liong."

Dengan memondong adiknya Kun Liong mengikuti Bi Kiok yang membawa pula bangkai anjing bulu putih yang terbunuh tadi.

Mereka memasuki hutan kecil dan di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok kecil dari kayu dan bambu.

Amat sederhana akan tetapi cukup mungil dan menyenangkan karena dikelilingi oleh bermacam bunga yang sengaja ditanam oleh Bi Kiok sehingga pondoknya itu lebih menyerupai sebuah pondok taman yang sedap dipandang.

Setelah membantu In Hong mengubur bangkai anjing Pek-pek dan menghibur anak itu yang menangisi lagi kematian anjingnya, mereka masuk ke dalam pondok.

In Hong yang masih kecil itu telah pandai menghidangkan minuman dan makanan, kemudian atas perintah gurunya dia disuruh ke kebun belakang untuk memetik sayur dan mempersiapkan masakan untuk siang nanti.

"Liong-ko, aku sudah pandai masak!"

Katanya sebelum pergi, memamerkan kepandaiannya kepada kakaknya yang kini sudah tidak begitu asing lagi baginya.

"Wah, ingin aku mencoba masakanmu, In Hong!"

Kata Kun Liong dengan sikap memuji.

"Tunggu saja! Akan kubuatkan masakan sayur yang amat lezat untukmu. Akan tetapi..."

"Hemm, mengapa? Teruskan!"

"Lain kali rambutmu jangan dipotong seperti itu lagi, ya? Biarkan panjang dan bagus!"

Kun Liong mengangguk-angguk dan memandang dengan gembira betapa adiknya itu berlompatan meninggalkan mereka berdua, menuju ke belakang pondok.

Dia termenung dan sambil tersenyum-senyum dia teringat akan semua pengalamannya.

Tanpa disadarinya dia meraba kepala dan rambutnya yang masih pendek, rambut yang kusut dan kacau, tersembul ke sana-sini.

Bi Kiok yang melihat semua itu tersenyum lagi, agaknya dapat mengikuti jalan pikiran Kun Liong.

"Agaknya memang sudah nasib kepala dan rambutmu yang selalu menjadi sasaran celaan orang, Kun Liong."

"He...? Ohhh, agaknya begitulah."

"Dahulu engkau berkepala gundul kelimis, mengingatkan orang kepada seorang pendeta."

"Memang kemana-mana aku disangka pendeta. Bi Kiok, sekarang ceritakanlah bagaimana engkau dapat berjumpa dengan adikku dan dengan Pek-pek."

"Perjumpaan itu secara kebetulan saja, Kun Liong. Pada suatu hari, tiga bulan yang lalu, aku melihat orang berkerumun di sebuah pasar kota tak jauh dari sini. Ketika aku mendekat, kiranya orang-orang itu mengerumuni seorang nenek tua yang sedang sakit payah. Yang menarik mereka adalah karena nenek ini menawarkan seorang anak perempuan dan seekor anjing putih, menawarkan kepada siapa yang merasa dirinya ahli silat untuk mengambil murid anak itu dan memelihara anjingnya. Tentu saja hal ini mengherankan semua orang. Mengapa nenek itu hendak memberikan anak kecil yang diaku sebagai cucunya itu kepada orang yang pandai ilmu silat? Nah, terjadilah keributan karena anak perempuan kecil, yaitu adikmu, menarik hati beberapa orang laki-laki yang kulihat sikapnya ceriwis dan agaknya mempunyai niat buruk terhadap adikmu yang biarpun masih kecil sudah kelihatan cantik itu. Terjadilah adu kepandaian karena nenek itu kukuh dengan tuntutannya bahwa siapa yang terpandai ilmu silatnya, dialah yang berhak memiliki anak dan anjing itu."

"Siapakah nenek tua yang menawarkan In Hong dan Pek-pek itu?"

"Nanti dulu, kulanjutkan ceritaku. Karena aku tidak ingin melihat anak perempuan itu terjatuh ke tangan seorang di antara laki-laki yang kasar dan saling berebutan, yang mengeluarkan kata-kata kotor mengenai diri In Hong, aku lalu turun tangan merobohkan dan mengusir mereka semua. Kemudian aku membawa Nenek Phoa itu bersama In Hong dan Pek-pek ke pondokku. Sayang Nenek Phoa hanya dapat hidup sepekan lamanya, namun sebelum dia meninggal dunia, dia telah menceritakan semua riwayat In Hong sehingga tahulah aku bahwa Yap In Hong adalah adik kandungmu."

"Aduh, untung ada engkau, Bi Kiok. Andaikata adikku terjatuh ke tangan orang jahat, betapa mungkin aku dapat bertemu dengannya?"

"Ah, belum tentu! Dari cerita Phoa Ma aku mendengar kematian ayah bundamu yang dikeroyok oleh para datuk..."

"Aku sudah tahu pula tentang hal itu, dan semua pembunuh ibuku telah tewas, sungguhpun bukan tewas oleh tanganku, terima kasih kepada Thian untuk itu! Akan tetapi harap kauceritakan riwayat In Hong setelah kedua orang tuaku itu tewas di Taigoan."

"Menurut penuturan Phoa Ma, ketika ayah bundamu tewas bersama semua keluarga Theng yang budiman, adikmu berhasil dibawa lari oleh Phoa Ma dan Pek-pek yang oleh ayahmu diam-diam dibawa pula ke Taigoan secara sembunyi dari kota Lengkok, mengikuti pelarian ini. Dengan susah payah Phoa Ma menyembunyikan adikmu itu dan merantau sampai jauh. Namun karena dia sudah tua, maka tentu saja dia dan adikmu menjalani hidup yang serba kekurangan dan amat sukar, bahkan akhirnya, setelah adikmu berusia empat tahun lebih, Phoa Ma sering jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaannya sebagai tukang cuci pakaian. Karena merasa bahwa tak mungkin dia dapat hidup lebih lama lagi, dia mencari akal dan menawarkan adikmu itu dan Pek-pek kepada orang-orang di pasar itu."

"Aihh, budi Phoa Ma terhadap adikku sukar dapat dibalas, apalagi dia telah meninggal dunia. Akan tetapi, Bi Kiok. Mengapa dia menawarkannya kepada orang yang pandai ilmu silat?"

"Menurut pengakuan Phoa Ma ketika kutanya, dia berkata bahwa adikmu itu adalah keturunan ayah ibu pendekar, sudah sepantasnya kalau adikmu itu menjadi murid orang pandai pula agar kelak dapat membalaskan kematian orang tuanya. Pula kalau yang melindungi seorang ahli silat yang lihai, tentu keselamatannya terjamin."

"Aduh, sungguh luhur budi Phoa Ma itu."

Kun Liong menarik napas panjang dan merasa terharu sekali."

"Memang benar, padahal dia hanyalah seorang pelayan di rumah keluarga Theng di Taigoan."

Kun Liong menarik napas panjang.

"Kebajikan tidak memilih kedudukan maupun keadaan harta seseorang, bahkan biasanya, makin tinggi kedudukan seseorang dan makin banyak jumlah harta seseorang, makin jauhlah dia dari kebajikan. Orang yang tidak pernah merasakan kemiskinan, betapa mungkin menaruh rasa belas kasihan kepada orang miskin? Orang yang tidak pernah merasakan kelaparan, betapa mungkin merasa iba kepada orang kelaparan? Budi yang dilimpahkan Phoa Ma terhadap In Hong berdasarkan kasih tanpa mengingat lagi akan kepentingan dirinya sendiri. Sungguh budi yang sukar ditemukan di antara seribu orang!"

"Aku yakin bahwa ayah bundamu yang namanya terkenal di seluruh dunia kang-ouw tentulah merupakan orang-orang gagah yang sudah tak terhitung banyaknya menolong manusia lain, maka biarpun mereka sendiri mengalami nasib buruk, namun puterinya selalu dilindungi oleh bintang penolong."

"Dan engkau adalah seorang di antara bintang-bintang penolongnya."

"Hemm, aku tidak masuk hitungan."

"Engkau terlalu merendahkan diri. Entah sudah berapa kali engkau menolongku. Seingatku, ketika aku hanyut di sungai, engkau pula menolongku dengan peringatan tentang bokor setelah engkau bersama gurumu menyelamatkan aku dari tangan Kwi-eng Niocu, betapa engkau menyembunyikan aku di guha dan..."

"Sudahlah, semua itu tidak ada gunanya dibicarakan kembali. Engkau pun telah menyelamatkan aku ketika aku hendak disiksa dan mukaku hendak dirusak oleh Toat Beng Hoatsu, kemudian engkau menyelamatkan aku dan malah mengorbankan diri menyerah ketika kita bersembunyi di dalam guha sehingga engkau menjadi tawanan pasukan pemerintah."

Kun Liong tersenyum.

"Memang di antara kita, siapa yang terancam babaya harus ditolong oleh yang lain. Kalau kita tidak saling tolong-menolong, betapa akan lebih sengsaranya hidup ini. Kalau seluruh manusia di dunia ini saling menolong dan saling membantu, tentu dunia ini sudah berubah menjadi sorga! Akan tetapi, satu hal membuat aku kagum bukan main dan terheran-heran, Bi Kiok. Bagaimana engkau sekarang bisa begitu lihai? Kulihat ilmu kepandaianmu meningkat sepuluh kali lipat! Bahkan aku berani bertaruh bahwa ilmumu telah mencapai tingkat lebih tinggi daripada tingkat yang dimiliki gurumu dahulu."

Pada saat itu dengan suara nyaring gembira, In Hong memberitahukan bahwa masakannya telah matang.

Mereka bertiga lalu makan dan dengan setulus hati Kun Liong memuji masakan sayur yang dibuat adiknya.

Karena selama beberapa bulan hidup berdua dengan gurunya In Hong diajar masak, dan memang suka masak, maka anak kecil ini benar-benar sudah pandai membuat masakan sayur yang bumbunya sedap.

Sehabis makan, Bi Kiok memberi kesempatan kepada In Hong untuk ikut bercakap-cakap, Akan tetapi dia melihat bahwa muridnya itu masih belum dapat membiasakan diri menghadapi seorang kakak maka biarpun dia sudah ramah sekali, tetap saja masih kaku terhadap Kun Liong.

Rasa kasih sayang antara saudara sekandung terjalin karena kebiasaan hubungan sehari-hari, sedangkan kedua orang kakak beradik ini selama hidup mereka baru sekarang saling bertemu.

Kemesraan di hati Kun Liong hanya terdorong oleh keharuannya mendapat kenyataan bahwa anak itu adalah adiknya, adik kandung satu-satunya!

Namun perasaan seperti ini belum terasa oleh In Hong, maka dia pun hanya menganggap Kun Liong sebagai seorang laki-laki yang manis budi, yang menganggapnya sebagai adiknya.

Setelah mereka duduk bercakap-cakap berdua lagi, Kun Liong mengulangi pertanyaannya tentang kelihaian Bi Kiok yang dalam waktu singkat memperoleh kemajuan yang amat luar biasa itu.

"Kun Liong, percayalah, kalau bukan engkau, sampai mati pun aku tidak akan membuka rahasia ini. Engkaulah satu-satunya orang yang akan mendengar rahasiaku ini."

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara dan sikap sungguh-sungguh itu, tak disadarinya lagi saking herannya Kun Liong bertanya.

"Mengapa aku?"

"Yaaah... justeru karena engkaulah..."

Kun Liong tersenyum.

"Terima kasih, Bi Kiok. Ini menunjukkan bahwa engkau amat percaya kepadaku. Nah, aku siap mendengar rahasia besar itu."

"Kun Liong, aku memperoleh kemajuan pesat setelah aku mempelajari ilmu kesaktian yang terdapat di dalam... bokor pusaka yang diperebutkan itu."

"Hehhh...?"

Kun Liong mencelat bangun dari bangkunya mendengar ini, saking heran dan kagetnya.

"Engkau marah?"

Bi Kiok bertanya, sikapnya seperti menantang.

"Mengapa marah?"

Kun Liong menggeleng kepalanya, matanya menjadi bundar ketika memandang wajah dara itu.

"Aku hanya kaget dan heran karena tidak menyangka-nyangka. Yang kuketahui adalah bahwa bokor pusaka yang diperebutkan itu setelah ditemukan, ternyata palsu."

"Memang kami yang memalsukan, mendiang Subo dan aku."

Kun Liong mengangguk-angguk.

"Cerdik sekali! Pantas semua tidak berhasil, bahkan Cia-supek sendiri, dan bahkan Panglima The Hoo sendiri, sampai dapat dikelabui. Hebat sekali siasatmu itu, Bi Kiok."

"Mana aku bisa? Semua ini adalah siasat mendiang Subo. Ketika bokor terjatuh ke tangan Subo, Subo cepat membuat tiruannya pada seorang tukang emas yang segera dibunuhnya pula setelah pembuatannya selesai dan persis betul. Tidak ada seorang pun mengetahui akan pembunuhan ini. Lalu Subo menyuruh aku menyimpan bokor yang tulen sedangkan dia membawa yang palsu, hal ini menurut Subo adalah karena orang-orang tentu akan mengejar Subo, bukan aku yang hanya seorang muridnya. Dugaan Subo benar, bokor palsu yang diperebutkan sedangkan yang aseli berada di tanganku, kusembunyikan baik-baik. Sayang sekali, siasat Subo yang berhasil baik itu tidak dapat dinikmati oleh Subo sendiri yang keburu tewas. Maka aku lalu menyelidiki isinya, menemukan rahasia tempat penyimpanan kitab-kitab dan harta pusaka. Bokor itu kumusnahkan kitabnya kubawa dan kupelajari, sedikit harta kubawa sebagai bekal. Nah, dari sebagian kitab itulah aku memperoleh kemajuan ilmu silatku."

Kun Liong menjadi kagum bukan main.

"Hebat! Baru sebagian saja sudah amat luar biasa, apalagi kalau kau mempelajarinya semua!"

"Memang hebat sekali, Kun Liong. Dan harta itu pun cukup banyak. Dan begitu berjumpa denganmu, tekadku sudah bulat bahwa semua harta pusaka dan kitab-kitab itu adalah untuk kita. Aku tidak dapat hidup sendiri, menguasai pusaka sedemikian banyaknya."

"Kita...?"

"Ya, kau pun berhak. Bukankah engkau yang mula-mula menemukan bokor itu dari dalam sungai? Engkau yang menemukan, aku yang menyelamatkannya dari tangan orang-orang yang memperebutkannya, jadi kita berdua, bertiga dengan In Hong, yang berhak memilikinya. Karena itu, Kun Liong, marilah kita pergi ke tempat rahasia itu, bersama In Hong dan hidup bertiga penuh kebahagiaan di sana."

Kun Liong mengerutkan alisnya, memandang tajam.

Sejenak mereka berpandangan, dua pasang sinar mata bertemu, bertaut, saling menjajaki dan menyelidiki.

Kemudian Bi Kiok menghela napas dan berkata.

"Kun Liong, aku... aku masih mencintamu, sejak dulu sampai sekarang dan sampai mati. Selama ini, tidak ada seorang pun pria yang menarik hatiku."

"Bi Kiok! Jangan kau berkata demikian!"

"Hemm, Kun Liong, apakah kau tidak cinta padaku, setelah segala yang kulakukan terhadap adik kandungmu?"

Kun Liong cepat bangkit berdiri, menjura dan membungkuk.

"Untuk budimu itu, sampai mati pun aku tidak akan melupakannya, Bi Kiok. Akan tetapi cinta...? Kurasa..."

Dia tidak tega untuk berterus terang dengan kata-kata, hanya menggelengkan kepalanya.

"Kun Liong..."

Suara Bi Kiok gemetar.

"Ya..."

"Lupakah kau...?"

"Ya..."

"Ketika kita bersembunyi di dalam guha gelap itu..."

"Hemmm... lalu..."

"Kau telah menciumku! Engkau telah menciumi mataku! Semenjak saat itulah aku jatuh cinta padamu sampai sekarang dan sampai selamanya!"

Kun Liong ingin menampar kepalanya sendiri kalau dia teringat akan semua sifat ugal-ugalannya dahulu.

Karena sifatnya itu, main-main dan menggoda dara cantik, dia melibatkan diri dalam pertalian cinta-mencinta yang amat ruwet dan berekor panjang.

Andaikata dia dahulu tidak mencium mata Bi Kiok, tentu tidak akan begini jadinya.

Belum tentu gadis yang pada dasarnya berwatak dingin ini jatuh cinta padanya.

Dia mengangkat muka memandang.

Memang cantik luar biasa dara ini, dan terutama matanya!

Bukan salahnya kalau dia dahulu mencium mata itu.

Sekarang pun...

hemm..., jarang ada sepasang mata seindah itu!

"Bi Kiok, dahulu pun sudah kukatakan bahwa aku tidak mencinta padamu.

Pada waktu itu, aku tidak mencinta siapa-siapa.

Cinta tidak mungkin bisa dipaksakan dan aku tidak sudi menjadi seorang perayu yang mempergunakan senjata cinta palsu untuk menjatuhkan hati seorang wanita.

Aku telah berterus terang kepadamu waktu itu, dan sekarang aku pun hendak berterus terang bahwa lebih-lebih sekarang ini, tidak mungkin bagiku untuk mencintamu atau wanita lain karena aku telah mencinta seorang gadis lain."

"Ouhhhh..."

Wajah itu berubah pucat dan sinar mata yang indah itu seolah-olah lampu yang menjadi hampir padam, sayu tanpa cahaya lagi.

"Maafkan aku, Bi Kiok..."

Bisik Kun Liong sambil menunduk karena menyaksikan sinar mata itu dia merasa jantungnya seperti ditikam, tidak sampai hatinya untuk memandang.

"...puteri Cin-ling-san...?"

Akhirnya, setelah hening beberapa lamanya yang merupakan keheningan yang mencekam hati Kun Liong, terdengar suara Bi Kiok, suaranya lirih dan tergetar.

Kun Liong menggeleng kepala.

"Bukan dia, Bi Kiok dan kuceritakan pun engkau tidak akan mengenalnya. Kami pun dipisahkan secara keji dan sekarang aku sedang hendak mencarinya, mungkin ke Tibet, entah akan berjumpa lagi dengan dia atau tidak aku belum dapat memastikannya. Memang sudah nasibku harus berpisah selalu dari orang-orang yang kucinta. Mula-mula dengan ayah bundaku, lalu dengan adik kandungku, kemudian dengan gadis yang kucinta..."

"Dan sekarang dengan adik kandungmu lagi!"

Kun Liong mengangkat mukanya memandang.

Wajah dara itu tetap cantik, tetapi pucat dan bertambah dingin, namun suaranya tidak tergetar lagi, bahkan terdengar nyaring dan penuh tantangan!

"Apa maksudmu?"

"Maksudku sudah jelas, Kun Liong! Engkau tidak mau hidup bersama kami berdua di tempatku. Baik, nah, pergilah sekarang juga."

"Tapi adikku, In Hong...?"

"Dia itu aku yang menemukannya, dan dia adalah muridku. Kalau engkau hendak berkumpul dengan dia, nah, ikutlah dengan kami. Kalau tidak, pergilah! Akan tetapi kauingat selalu, aku tetap cinta padamu, sampai mati pun aku akan tetap cinta padamu, maka setiap orang wanita yang merebutmu dari tanganku, dia akan mati di tanganku pula!"

"Bi Kiok...!"

"Aku sudah bicara! Pergilah!"

"Aku harus membawa adikku bersamaku!"

"Tidak boleh!"

"Bi Kiok, harap kau suka berpikir panjang, suka berlaku adil dan bersikap bijaksana. Dia adalah adikku, adik kandungku!"

"Kakak kandung macam apa kau ini? Aku yang menemukannya, kalau tidak entah apa jadinya dengan dia. Dia muridku, tidak boleh kaubawa seenakmu begitu saja!"

"Akan tetapi, dia adik kandungku. Dia adalah satu-satunya manusia yang kucinta di dunia ini..."

"Dan kaulah satu-satunya manusia yang kucinta, akan tetapi engkau tega menghancurkan pengharapan dan kebahagiaanku. Tidak, aku tidak akan membiarkan engkau membawa pergi In Hong!"

"Bi Kiok, aku amat tidak suka kalau terpaksa harus bertengkar denganmu. Engkau sahabat yang paling baik! Harap jangan memaksa aku menggunakan kekerasan terhadapmu..."

"Huh, sombongnya! Kaukira aku takut kau menggunakan kekerasan? Jangan harap akan dapat membawa pergi In Hong tanpa melalui mayatku!"

Keduanya berdiri saling pandang, Kun Liong penuh permohonan, Bi Kiok penuh kedukaan dan kemarahan.

Sampai lama keduanya hanya saling pandang, kemudian terdengar kata-kata Kun Liong, membujuk dan halus.

"Bi Kiok, kumohon padamu, ikhlaskanlah seorang kakak berkumpul kembali dengan adik kandungnya."

"Hemmm, Kun Liong, aku pun mengharapkan agar kau suka memenuhi hasrat seorang wanita yang mencinta pria idaman hatinya, namun hasilnya sia-sia. Pendeknya, engkau hanya mempunyai dua pilihan. Pertama, engkau tinggal bersama dengan kami, hidup bertiga dan kita bersama membesarkan dan mendidik In Hong, suka menerima pelayananku sebagai seorang kekasih, sebagai seorang... isteri yang mencintamu dengan seluruh jiwa raganya, atau... kau pergi dari sini dan kita tidak akan saling bertemu lagi. Kecuali kalau kau membela calon isterimu yang tentu akan kucari dan kubunuh."

"Bi Kiok! Kau kejam...!"

Kun Liong mulai marah.

"Kau lebih kejam lagi!"

Bentak Bi Kiok.

"Kalau begitu, aku akan menggunakan kekerasan!"

"Silakan!"

Kun Liong menerjang ke depan, maksudnya untuk merobohkan Bi Kiok dengan totokan dan membuat dara itu tidak berdaya lagi agar dia dapat membawa pergi In Hong dari tempat itu.

Betapa pun kagumnya terhadap pribadi dara ini, baik kecantikan lahirnya maupun budi pertolongannya, namun dia tidak merelakan adiknya berpisah lagi darinya dan dididik oleh Bi Kiok yang betapa pun adalah murid dari datuk kaum sesat yang terkenal sebagai seorang iblis betina yang amat kejam dan mengerikan.

Dia harus membawa pergi adiknya, mendidiknya menjadi seorang wanita yang penuh kelembutan, halus lembut lahir batinnya, wanita seratus prosen, tidak seperti Bi Kiok yang menyembunyikan kekerasan dan keganasan di balik kelembutan dan kecantikan.

"Plak-plak-plak!!"

Kun Liong terkejut sekali.

Lengannya bertemu dengan lengan gadis itu yang menangkis dan balas memukul lalu ditangkisnya.

Pertemuan kedua lengan itu membuat dia dapat merasakan kehebatan tenaga sin-kang yang keluar melalui lengan itu, sin-kang yang mengandung hawa panas seperti api membara!

"Hebat...!"

Serunya karena harus diakuinya bahwa tingkat sin-kang dari gadis ini tidak kalah oleh tingkat para datuk kaum sesat yang pernah dilawannya!

Kun Liong mendesak dengan gerakan cepat, mainkan Im-yang Sin-kun dan mengerahkan tenaga Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) sehingga dari kedua telapak tangannya mengepul uap putih.

Tentu saja dia hanya mengerahkan tenaga dan mengarahkan pukulan untuk membuat gadis itu tidak berdaya, sama sekali tidak ingin melukainya dengan hebat, apalagi membunuhnya.

"Wuuutt! Syuuuuuuttt!!"

Dua telapak tangan yang mengeluarkan uap putih itu menyambar, yang kiri menotok ke arah lambung, yang kanan mencengkeram ke arah pundak.

"Heiiiiitttt...!"

Bi Kiok memekik, tubuhnya mencelat ke belakang, berjungkir balik dan ketika Kun Liong melanjutkan serangannya dengan mengejar terus, dia menggerakkan kedua tangannya menyambut dengan sampokan dari samping yang keras sekali.

"Plak! Dukk!"

Kembali Kun Liong merasa betapa kedua lengannya terpental, akan tetapi dia melihat gadis itu terhuyung sedikit.

Kalau Kun Liong menggunakan seluruh sin-kangnya, tentu akibatnya lebih hebat lagi.

Akan tetapi hanya sebentar Bi Kiok terhuyung karena dia sudah cepat membalik dan tiba-tiba dia meloncat ke atas, seperti seekor burung garuda menyambar turun, tubuhnya menerjang dari atas, kedua tangannya mencengkeram ke arah ubun-ubun dan leher, dibarengi dengan lengking tajam menggetarkan jantung!

"Hyaaaaatttt...!"

"Uhhhh!"

Kun Liong mendengus dan cepat menangkis dengan kedua lengannya karena dia melihat betapa aneh dan ganasnya serangan dari atas ini.

Kini dia mengerahkan lebih banyak tenaga karena maksudnya agar dara itu terpelanting sehingga dapat ditotoknya.

Namun betapa kagetnya ketika baru saja lengannya menyentuh lengan gadis itu dalam tangkisan, lengan gadis itu meleset seperti seekor belut licinnya dan pada saat tubuh gadis itu turun, kedua tangannya yang berhasil menyelinap licin itu menotok ke arah jalan darah di dada dan leher Kun Liong.

"Hemmm...!"

Kun Liong mendengus penasaran.

Dia yang ingin menotok, malah diserang totokan.

Betapa cepat dan hebatnya gerakan gadis ini!

Dia dapat juga menangkis dan kini, sambil menangkis dia menggunakan sin-kang yang dilatihnya dari Bun Hwat Tosu, yaitu yang mengandung tenaga membetot!

Dengan sin-kang ini, begitu kedua lengannya menangkis, dia dapat melakukan gerakan yang sama dengan yang dilakukan Bi Kiok tadi, yaitu kedua lengannya menyelinap dan kedua lengan gadis itu seperti tersentak kaget dan gadis itu tidak berdaya ketika dengan cepatnya kedua tangan Kun Liong melakukan totokan pada kedua pundak Bi Kiok sambil berkata.

"Maafkan aku, Bi Kiok!"

"Cuss! Cusssi!"

"Plak! Plak!"

Betapa kagetnya hati Kun Liong!

Kedua totokannya itu tepat mengenai sasaran, yaitu pada jalan darah di bawah pundak depan, agak di sebelah atas kedua buah dada gadis itu, akan tetapi jari-jari tangannya bertemu dengan kulit dan daging lunak halus seolah-olah tidak ada jalan darahnya dan gadis itu tidak apa-apa, malah sebagai "hadiahnya"

Dua kali telapak tangan gadis itu menampar pipinya.

Tamparan ini mengenai sasaran dengan tepat karena Kun Liong sedang melongo keheranan ketika totokan-totokannya tidak membawa hasil sama sekali.

Setelah ditampar, barulah dia sadar bahwa ternyata Bi Kiok telah memiliki ilmu memindahkan jalan darah dan melindungi bagian yang tertotok sehingga totokannya tadi mengenai tempat hampa!

Bi Kiok yang sudah marah itu menyerang kalang kabut dan harus diakui oleh Kun Liong bahwa gadis ini mempunyai dasar ilmu silat yang amat aneh dan ampuh, hanya belum terlatih baik.

Diam-diam dia bergidik.

Katanya tadi baru mempelajari sebagian saja, kalau sudah mempelajari seluruh kitab pusaka milik Panglima The Hoo yang berada di tempat rahasia, kitab pusaka yang tentu belum ditemukan oleh panglima itu sendiri, entah bagaimana hebatnya gadis ini!

Dia terus mengelak dan menangkis, kadang-kadang membalas dengan totokan yang selalu gagal, sambil berpikir-pikir bagaimana sebaiknya menjatuhkan gadis yang amat lihai ini.

Biar kuhabiskan saja napasnya, pikir Kun Liong.

Dia kini main mundur, bahkan membuat langkah-langkah yang diambil inti sarinya dari kitab Keng-lun Tai-pun dari Bun Ong.

Langkah ini pendek-pendek saja, amat ringan baginya, namun membuat Bi Kiok yang mengejarnya terus itu harus berputaran dan menggunakan banyak tenaga gin-kang!

Sampai seratus jurus lebih Kun Liong "mempermainkan"

Bi Kiok, berputaran dan membuat gadis itu seolah-olah seorang anak-anak yang bermain-main mengejar bayangannya sendiri!

Namun hebatnya, Bi Kiok terus menyerang dan tidak pernah kelihatan mengendor serangannya!

Dua ratus jurus telah lewat!

Dan Kun Liong mulai berkeringat, akan tetapi Bi Kiok masih terus menerjangnya dan tidak terdengar napas gadis itu memburu.

Celaka, pikir Kun Liong.

Dia gagal lagi.

Agaknya ada suatu cara latihan napas dalam kitab di tempat rahasia yang ditunjukkan oleh bokor itu, yang membuat napas gadis itu menjadi amat kuatnya melebihi kuatnya napas seekor kuda!

"Wah, kalau begini tak mungkin aku dapat merobohkannya,"

Pikir Kun Liong sambil cepat menghindarkan diri dari terjangan kedua kaki yang bentuknya indah membayang di balik kain celana sutera tipis itu akan tetapi keindahan yang berbahaya karena mengandung tendangan maut!

Memang tadi terpikir olehnya untuk mempergunakan satu-satunya ilmu yang menjadi simpanannya, yaitu Thi-khi-i-beng, akan tetapi dia tidak tega.

Ilmu ini kalau digunakan akibatnya akan menyedot sin-kang lawan dan tentu saja dia tidak tega menggunakan ini dalam menghadapi Bi Kiok.

Dia maklum betapa sukar dan lama menghimpun sin-kang, apalagi sin-kang seperti yang dimiliki Bi Kiok.

Kalau dia menghendaki agar Bi Kiok roboh tanpa memperdulikan keselamatannya, kiranya tidak nanti gadis itu sampai dapat menyerangnya terus selama dua ratus jurus.

Yang sulit adalah karena dia ingin merobohkan gadis ini tanpa melukai atau menyakiti.

Setelah mereka bertanding dengan hebat dan cepatnya sehingga bagi orang lain yang tampak hanyalah dua bayangan berkelebatan saja itu selama hampir tiga ratus jurus dan tidak nampak gadis itu lelah atau mau mengalah sedikit pun, Kun Liong mengambil keputusan untuk mempergunakan Thi-khi-i-beng!

"Maafkan aku, Bi Kiok!"

"Plak! Plakk!"

"Oughhhhh...!"

Bi Kiok mengeluh dan matanya yang amat indah itu, terbelalak memandang wajah Kun Liong ketika kedua tangannya yang bertemu dengan lengan Kun Liong itu melekat pada lengan dan tidak dapat ditariknya kembali, dan yang mengejutkannya adalah ketika dia merasa betapa tenaga sin-kangnya menerobos keluar seperti air hujan membanjir!

Melihat sepasang mata yang amat indah dan amat dikaguminya itu terbelalak kaget dan ngeri, Kun Liong menjadi tidak tega dan memejamkan matanya agar tidak melihat mata itu!

"Berani kau menyerang Subo (Ibu Guru)...?"

Tiba-tiba terdengar bentakan anak kecil dari belakang dan "buk! buk!"

Dua buah kepalan menghantami pinggulnya!

"Kau orang jahat!

Kau bukan kakak kandungku!

Kakak kandungku tidak akan jahat terhadap Subo!

Lepaskan Subo!

Lepaskan!

Buk-buk-buk-buk!"

Kedua kepalan kecil itu terus menghantam pinggul Kun Liong.

Kun Liong terkejut sekali mendengar suara In Hong ini.

Cepat dia menyimpan kembali tenaga Thi-khi-i-beng sambil melompat mundur.

Yo Bi Kiok berdiri dengan napas agak memburu, wajahnya agak pucat dan sejenak memejamkan mata dan membereskan napasnya.

Kemudian dia membuka matanya memandang Kun Liong dengan terbelalak penuh rasa penasaran akan tetapi juga kagum.

"Kau... kau...!"

Dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena dia tidak tahu harus berkata apa.

"Kau orang jahat, aku tidak mau dekat denganmu!"

In Hong berteriak lagi sambil lari mendekati Bi Kiok dan merangkul pinggang dara ini seperti hendak melindungi gurunya.

Kun Liong menarik napas panjang.

"Maafkan aku, Bi Kiok..."

"Sudahlah, pergilah... akan tetapi ingat akan semua kata-kataku!"

Bi Kiok berkata.

Kun Liong memandang kepada adiknya.

Tanpa banyak cakap, mengertilah dia bahwa tak mungkin dia dapat memaksa adiknya pergi bersamanya.

Perbuatan itu sama dengan menghancurkan hati Bi Kiok dan adiknya sendiri.

Dia akan menjadi seorang yang amat kejam kalau dia lakukan hal itu.

Betapapun juga, dia ingin kepastian dan dengan muka manis dia berkata kepada adiknya.

"In Hong aku adalah kakak kandungmu. Aku hendak mengajak engkau pergi karena sudah semestinya engkau ikut aku yang menjadi kakakmu."

"Tidak! Tidak sudi...!"

"In Hong, dengarlah baik-baik. Aku sama sekali tidak berbuat jahat terhadap gurumu. Kami memperebutkan engkau. Sekarang engkau boleh pilih. Aku sebagai kakak kandungmu dan dia sebagai gurumu, kau hendak memilih yang mana dan hendak ikut yang mana?"

"Dia benar, In Hong. Kaupilihlah. Dia bukan orang jahat, akan tetapi kau boleh memilih antara kami berdua."

"Aku memilih Subo! Aku ikut Subo!"

In Hong berteriak penuh semangat dan memandang kepada Kun Liong dengan mata bernyala marah.

Kun Liong dan Bi Kiok saling pandang, lalu pemuda itu menghela napas panjang.

"Apa boleh buat, terpaksa aku harus meninggalkannya kepadamu, Bi Kiok. Akan tetapi, setiap waktu aku akan mengunjunginya dan melihat keadaannya. Harap saja engkau tetap baik kepadanya dan mendidiknya menjadi seorang manusia yang baik..., tidak... tidak seperti kakaknya."

Tambahnya "Selamat tinggal!"

"Kun Liong...!"

Suara mengandung isak itu menahan kakinya.

Dia membalik.

Tidak nampak Bi Kiok menangis, akan tetapi wajahnya pucat, matanya sayu ketika memandangnya.

"Kun Liong, aku mohon sekali lagi padamu, tidak dapatkah engkau merubah pendirianmu? Kita bertiga akan hidup bahagia..."

Ucapan itu tidak dilanjutkan karena Kun Liong sudah menggeleng kepalanya, kemudian sekali berkelebat, Kun Liong sudah lenyap dari tempat itu.

"In Hong... dia terlalu...! Kakakmu terlalu...!"

Bi Kiok menjatuhkan diri berlutut, memeluk muridnya dan baru sekarang air matanya tertumpah.

"Aku tidak mau...! Aku tidak mau pergi sebelum merawatnya! Harap Sam-wi (Anda Bertiga) jangan memaksaku!"

Hong Ing meronta-ronta, akan tetapi tangisnya itu tidak dipedulikan, bahkan Hun Beng Lama, pendeta Lama yang selalu memegang tasbih itu menggerakkan tangan kirinya menyentuh belakang telinganya dan Hong Ing seketika menjadi lemas.

Dia sama sekali tidak dapat mengeluh lagi, apa pula berontak, hanya memandang ke arah Kun Liong yang rebah seperti mati itu ketika tubuhnya yang lumpuh dikempit oleh Hun Beng Lama bersama dua orang Lama lainnya menuju ke perahu mereka.

Mulailah Hong Ing melakukan perjalanan yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya, bukan karena sikap para paman gurunya itu.

Sama sekali tidak.

Sikap mereka itu cukup baik, bahkan lemah lembut terhadap dirinya, dan kalau saja tidak teringat kepada Kun Liong yang ditinggalkan dalam keadaan terluka seperti mati, tentu dia senang melakukan perjalanan dengan tiga orang paman gurunya yang memiliki kesaktian-kesaktian seperti dewa itu.

Selain mereka bersikap ramah dan baik, bahkan jarang mengeluarkan kata-kata dan semua keperluan dan kebutuhannya di sepanjang perjalanan dicukupi, juga hati siapa takkan senang mendengar bahwa dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dijumpainya itu?

Ayahnya adalah suheng (kakak seperguruan) mereka, dan ayahnya adalah ketua mereka, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya!

Dia tentu akan girang sekali pergi menjumpai ayahnya.

Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Kun Liong yang rebah seperti mati, hatinya seperti disayat-sayat.

Pemuda itu dalam keadaan terluka parah, seorang diri saja di pulau kosong itu.

(Lanjut ke

Jilid 45) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 45 Membayangkan betapa pemuda itu akan mati dengan menyedihkan dan tersiksa, hatinya menjadi ngeri, berduka dan terutama sekali dia merasa menyesal karena dia meninggalkan Kun Liong yang sedang berduka.

Dia meninggalkan Kun Liong selagi pemuda itu hancur, setelah dia menampar pipi pemuda itu!

Tentu Kun Liong akan menganggap dia membencinya!

Aihh, padahal dia amat mencinta Kun Liong!

Tidak ada seorang pun manusla lain yang akan dicintanya melebihi cintanya kepada Kun Liong.

Akan tetapi, pada saat terakhir sebelum mereka berpisah, sebelum Kun Liong roboh ketika melawan tiga orang Lama itu, dia terpaksa menampar pipi Kun Liong saking tidak kuat menahan kemarahan dan kepanasan hatinya!

Siapa yang kuat menahan!

Dia amat dikecewakan, disakitkan hatinya.

Kun Liong yang mengaku mencintanya dengan sepenuh jiwa raganya itu, terialu memandang rendah dirinya.

Dia dikalahkan dalam perbandingan dengan seorang wanita bayangan, seorang gadis khayal.

Hanya seorang gadis khayal!

Kalau dia bukan gadis impian Kun Liong itu, mengapa Kun Liong menyatakan cinta kepadanya?

Kalau dia tidak seperti gadis khayal itu yang menurut Kun Liong tanpa cacad, mengapa Kun Liong berani menyatakan cintanya?

Dia tidak sudi menjadi seorang yang dijadikan tempat pelarian setelah Kun Liong merasa bahwa di dunia ini tidak ada gadis yang diimpi-impikan itu.

Dia tidak sudi menjadi pengganti belaka, menjadi penghibur lara belaka.

Padahal cinta kasihnya terhadap Kun Liong mutlak dan lengkap, tanpa perbandingan karena memang tidak ada bandingan dalam cinta kasihnya.

Perjalanan yang amat jauh, melelahkan dan juga membuatnya kurus karena tertekan batinnya teringat kepada kekasihnya itu, memakan waktu berbulan-bulan dan akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju.

Sebuah dusun besar di pegunungan dan di luar dusun itu, di dekat puncak, terdapat sekelompok bangunan besar yang dikurung pagar tembok seperti benteng.

Itulah pusat dari perkumpulan agama para Lama Jubah Merah yang terkenal di seluruh Tibet sebagai perkumpulan yang menyendiri dan dipimpin oleh orang-orang yang sakti.

Kuil mereka terdapat di tengah-tengah kelompok bangunan itu dan setiap hari, dari pagi sampai sore, pintu gerbang tembok benteng itu terbuka dan semua orang, dari dusun-dusun di daerah tempat itu, diperkenankan memasuki dan mengunjungi kuil besar untuk bersembahyang dan mohon berkah.

Konon dikabarkan bahwa kuil Lama Jubah Merah ini amat sakti dan manjur sehingga amat terkenal, banyak dikunjungi orang dan banyak pula menerima dana bantuan dari rakyat di daerah itu yang terkenal pula berpenghasilan besar sebagai peternak-peternak.

Memang bukan hanya tempat tinggalnya saja yang kuat, dengan pagar tembok menyerupai benteng, akan tetapi juga anggautanya cukup banyak, tidak kurang dari seratus orang!

Karena rata-rata mereka itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, Maka tentu saja seratus orang Pendeta Jubah Merah ini merupakan sebuah pasukan yang hebat!

Perkembangan mereka ini sudah lama diikuti dengan diam-diam oleh Pemerintah Tibet yang dipegang oleh Dalai Lama, akan tetapi karena tidak ada bukti nyata bahwa Lama Jubah Merah menentang Pemerintah Tibet yang sah, maka tidak pernah ada tindakan.

Kedatangan tiga orang Lama, yaitu Sin Beng Lama yang ditemani dua orang sutenya, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, disambut dengan penuh penghormatan oleh para anggauta perkumpulan agama itu, bahkan diadakan pesta sebagai penyambutan mereka yang telah meninggalkan Tibet selama berbulan-bulan itu.

Apalagi karena tiga orang tokoh utama itu telah berhasil membawa pulang Pek Hong Ing!

Gadis ini begitu tiba di situ lalu menanyakan tentang ayahnya.

"Mana ayahku? Aku ingin sekali bertemu dengan ayahku!"

Memang di waktu melakukan perjalanan yang amat jauh itu, setelah dapat mengatasi kedukaan hatinya karena meninggalkan Kun Liong, hanya satu tujuan hati Hong Ing, yaitu dapat berjumpa secepatnya dengan ayahnya, kemudian hendak minta bantuan kepada ayahnya untuk mengirim orang menjenguk dan menolong Kun Liong!

Sin Beng Lama sendiri lalu membawa Hong Ing ke sebuah kamar yang besar dan cukup lengkap.

Setelah mereka memasuki kamar itu yang ternyata kosong tidak ada siapa pun di dalamnya, kakek ini berkata.

"Engkau tinggallah di sini dan ayahmu pasti akan segera datang asal engkau suka bekerja sama dengan kami."

Hong Ing memandang penuh selidik kepada pendeta tua berjubah merah itu, dan mulailah dia merasa curiga.

"Apa artinya ini? Susiok... di mana Ayah?"

Sin Beng Lama mengerutkan alisnya.

"Kalau kami tahu dia berada di mana, agaknya kami tidak akan membawamu jauh-jauh ke sini, Pek Hong Ing. Kami membawamu ke sini hanya untuk memancing agar ayahmu mencarimu ke sini."

Pucatlah wajah Hong Ing mendengar Ini.

"Apa...? Bukankah kalian katakan bahwa Ayah adalah Suheng kalian?"

"Benar demikian. Ayahmu adalah Kok Beng Lama, Suheng kami."

"Dan katanya Ayah adalah ketua di sini..."

"Sayang tidak demikian sesungguhnya. Sebaliknya malah, ayahmu adalah seorang yang berdosa besar, seorang pelarian yang harus menerima hukuman karena telah melakukan dosa-dosa yang amat banyak."

Terbelalak mata Hong Ing memandang kakek itu.

"Apa... apa yang terjadi? Mengapa para Susiok menipuku, membiarkan aku pergi meninggalkan Kun Liong yang terluka di pulau itu...? Ahhh, apa yang telah kulakukan ini...?"

"Tenanglah, dan duduklah. Dengarkan cerita pinceng (aku)."

Karena kedua kakinya memang menggigil saking tegang hatinya yang diliputi bermacam perasaan itu, Hong Ing lalu menjatuhkan dirinya di atas pembaringan, sedangkan kakek itu lalu duduk di atas bangku menghadapi pembaringan.

"Ibumu bernama Pek Cu Sian, seorang pendekar wanita dari Tiong-goan yang berani lancang tangan mencampuri urusan dalam perkumpulan agama kami sehingga terpaksa kami tangkap dan kami tawan. Karena dia masih perawan dan cantik, maka para pimpinan perkumpulan kami mengambil keputusan untuk menjadikan dia sebagai korban tahun itu, korban kepada Dewa Syiwa. Akan tetapi, pada malam sebelum upacara pengorbanan dilakukan, Pek Cu Sian lenyap dari kamar tahanan. Kami semua mengira bahwa dia telah dapat meloloskan diri, maka hal ini terlupalah sudah sampai lima tahun kemudian ketika engkau, ketika itu seorang anak perempuan kecil berusia empat tahun, kelihatan oleh scorang anggauta kami. Barulah kami tahu bahwa Pek Cu Sian, ibumu itu, telah diselamatkan oleh Suheng Kok Beng Lama sendiri yang menyembunyikannya dan mengambilnya sebagai isteri! Betapa besar dosa Kok Beng Lama dapat kaubayangkan sendiri!"

"Tidak! Dia tidak berdosa!"

Hong Ing membantah setelah mendengar penuturan itu.

"Dia adalah seorang manusia, tidak seperti kalian yang bagaikan segerombolan binatang buas hendak membunuh mendiang ibuku! Ayah adalah seorang laki-laki sejati yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya!"

Namun kakek itu tidak mempedulikan bantahan ini dan melanjutkan ceritanya.

"Karena dosanya itu, Kong Beng Lama dihukum sepuluh tahun dan ibumu yang melarikan diri bersamamu itu kami kejar atau lebih tepat dikejar oleh anak buah kami karena kalau kami sendiri yang mengejar dia tentu telah dapat kami tawan kembali bersamamu. Dia dapat melarikan engkau dan lolos."

"Ibu adalah seorang pendekar wanita yang amat gagah perkasa!"

Hong Ing berkata penuh semangat.

"Biarpun dikeroyok oleh para pendeta palsu, masih dapat menyelamatkan aku sampai tiba di Go-bi-san dan ditemukan oleh Subo dalam keadaan hampir mati oleh luka-lukanya akibat pengeroyokan pua pendeta yang curang!"

Kakek itu kembali tidak mempedulikan, seolah-olah tidak mendengar kata-kata Hong Ing.

"Setelah Kok Beng Lama keluar dari hukuman, dia melakukan dosa ke dua yang lebih hebat. Dia telah membunuh ketua kami, yaitu Twa-suheng kami! Kemudian dia melarikan diri..."

"Tentu untuk mencari Ibu dan aku!"

"Dosanya yang besar harus dihukum, maka pinceng sendiri bersama kedua orang Sute..."

"Kalian tiga orang pendeta jahat!"

"Kami turun gunung untuk mencarinya, namun tidak berhasil. Untung kami berjumpa dengan Go-bi Sin-kouw dan dengan tusukan-tusukan hio (dupa biting) dia akhirnya bercerita tentang dirimu."

"Kau... kau telah menyiksa Subo!"

Biarpun dia tidak suka kepada ibu gurnya, namun Hong Ing masih ingat betapa sejak kecil dia dipelihara dan dididik oleh Go-bi Sin-kouw, maka mendengar subonya disiksa untuk mengaku, dia menjadi marah.

"Kami mencari jejakmu, dari sungai di mana menurut penuturan Go-bi Sin-kouw engkau dan pemuda gundul itu terlempar ke muara sungai, masuk ke laut oleh Kok Beng Lama."

"Aihh, tidak kusangka bahwa pendeta yang gagah perkawa itu adalah ayah kandungku sendiri..."

Hong Ing menutupi mukanya mengenangkan kembali peristiwa itu.

"Akhirnya kami berhasil menemukan engkau di pulau kosong bersama pemuda aneh itu dan karena kami tidak sampai hati mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis muda seperti engkau, kami terpaksa menjalankan siasat agar engkau suka ikut pergi dengan suka rela."

Sin Beng Lama bangkit berdiri, melangkah ke pintu lalu membalik memandang kepada gadis itu, berkata lagi, suaranya halus.

"Kami akan menyebar berita ke Tiong-goan agar ayahmu mendengar bahwa puterinya telah berada di tangan kami. Dengan demikian dia pasti akan datang ke sini. Kami harap kau tidak banyak rewel dan berdiam saja di sini dengan baik. Kalau tidak, terpaksa kami akan memperlakukan engkau sebagai tawanan yang dikurung dalam kamar tahanan dan dibelenggu kaki tangannya."

Setelah berkata demikian, Sin Beng Lama melangkah keluar dari kamar dengan tenang.

Sejenak Hong Ing tertegun, mukanya pucat.

Mengertilah dia sekarang bahwa dia dijadikan sandera untuk menjebak ayahnya sendiri!

Dan dia telah pergi dengan suka rela, bahkan telah meninggalkan Kun Liong dalam keadaan terluka parah!

Akan tetapi apa yang dapat dilakukannya?

Tiga orang pendeta itu sakti sekali, bahkan Kun Liong yang demikian gagah pun tak berdaya, apalagi dia.

Aku harus pergi dari sini!

Demikianlah suara hati Hong Ing.

Dia harus pergi dan kembali ke Tiong-goan, kembali ke laut mencari pulau kosong, mencari Kun Liong dan mencari ayahnya!

Betapa rindunya kepada Kun Liong, juga kepada ayahnya, pendeta raksasa yang baik hati dan sakti itu.

Akan tetapi ketika berindap-indap dia keluar dari kamar, dia melihat dua orang Pendeta Jubah Merah berdiri di luar pintu, mata mereka memandang dengan bengis kepadanya!

Ketika dia memasuki kamamya lagi dan menjenguk ke jendela, juga di luar jendela terdapat dua orang pendeta!

Kamarnya telah dikurung dan dijaga!

Malam itu, kembali Hong Ing kecelik ketika dia menyelidiki pintu dan jendela kamarnya karena ternyata olehnya kemudian bahwa penjagaan ketat itu diadakan siang malam dengan bergilir!

Semalam suntuk itu dia tidak tidur, mencari kesempatan untuk melarikan diri, namun akhirnya dia mengerti bahwa kesempatan itu tidak pernah ada.

Selain kamarnya yang dikurung, juga penjagaan di pagar tembok menyerupai benteng itu amat kuatnya sehingga andaikata dia dapat keluar dari kamar, kiranya tidak mungkin dia akan dapat keluar dari markas itu!

Di samping ini, sekiranya terjadi keajaiban dan dia dapat keluar dari markas itu, Apa dayanya menghadapi para pendeta sakti itu kalau dia dikejar dan disusul?

Dia tidak mengenal daerah pegunungan itu, apalagi ketika melakukan perjalanan mengikuti tiga orang pendeta menuju ke Tibet, dia melihat gurun pasir seolah-olah tanpa tepi.

Tanpa penunjuk jalan, dia akan mati kehausan dan kelaparan di daerah yang mengerikan itu.

Terpaksa Hong Ing hanya bisa menanti dan dia bukanlah seorang gadis bodoh yang hanya mengubur diri dalam kedukaan dan keputusasaan.

Tidak.

Dia sudah bersiap-siap dan karena itu dia menjaga kesehatan dirinya dengan baik, makan setiap hari, bahkan membaiki para pendeta di situ dan minta petunjuk ketika dia melatih ilmu silatnya setiap hari.

Dia harus berada dalam keadaan kuat dan terlatih kalau saat yang ditunggu-tunggu itu tiba, yaitu saatnya ayahnya yang dijebak itu muncul di sini!

Dan saat yang dinanti-nanti itu tiba beberapa bulan kemudian!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, di antara suara orang berdoa, suara liam-keng (doa) diselingi suara ketukan berirama yang mengiringi doa, terdengarlah teriakan yang amat gaduh.

Hong Ing sudah bangun tidur dan sudah mencuci muka, siap untuk melakukan latihan pagi ketika mendengar suara gaduh itu.

Akan tetapi ketika dia meloncat ke pintu, hampir dia bertumbukan dengan Lak Beng Lama yang menghadang dengan tongkat di tangan.

Melihat sikap susioknya ini, Hong Ing sudah curiga dan dapat menduga bahwa inilah agaknya saat-saat yang dinanti-nantinya.

Agaknya ayahnya telah tiba!

Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan dengan suara heran dan nadanya halus dia bertanya.

"Lak Beng Suciok, apakah ribut-ribut itu?"

"Hemm, kau tidak perlu tahu dan tidak boleh keluar dari kamar ini. Pinceng sendiri yang menjaga di sini!"

Jantung Hong Ing berdebar keras.

Tak salah lagi, tentu ayahnya telah datang!

Kalau tidak, mengapa susioknya ini sendiri yang menjaganya?

"Susiok, aku mau pergi berlatih."

"Engkau tidak boleh meninggalkan kamar!"

"Eh, siapa itu di sana? Bukankah itu Ayah...?"

Tiba-tiba gadis itu menuding ke atas genteng yang tampak dari pintu kamarnya.

Lak Beng Lama terkejut sekali, memutar tubuh menghadapi arah yang ditunjuk dan siap dengan tongkatnya dan pada saat itu Hong Ing sudah meloncat keluar dari kamarnya.

"Bocah setan! Hendak lari ke mana kau?"

Lak Beng Lama cepat mengejar dan dalam beberapa loncatan saja pendeta yang sakti ini sudah dapat menyusul dan sudah menghadang di depan Hong Ing dengan alis berkerut.

Suara ribut-ribut di bagian depan makin hebat dan tiba-tiba Hong Ing berteriak.

"Ayaaaahhhh...! Aku Pek Hong Ing berada di sini...!"

Akan tetapi dia segera roboh terkena totokan ujung tongkat yang amat cepat dan tubuhnya yang lumpuh sudah dikempit oleh Lak Beng Lama.

Di bagian depan markas itu memang sedang ribut.

Tepat dugaan Hong Ing bahwa ayahnyalah yang muncul.

Pagi itu, di waktu semua pendeta sedang sibuk membaca doa dan bersembahyang sehingga penjagaan agak berkurang ketatnya, sesosok bayangan berkelebat melompati pagar tembok tinggi itu dan ketika beberapa orang penjaga melihat dan mengurungnya, dalam beberapa gebrakan saja empat orang di antara mereka sudah roboh!

Mulailah mereka berteriak-teriak memberi tanda bahaya dan ributlah semua pendeta yang sedang berdoa, termasuk Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama.

"Lak Beng Sute, kau cepat menjaga Hong Ing!"

Kata Sin Beng Lama yang bersama Hun Beng Lama cepat berlari-lari ke luar.

Ternyata Kok Beng Lama yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu sedang mengamuk.

Kaki tangannya bergerak secara luar biasa dan angin besar bersiut dari kedua ujung lengan bajunya yang lebar.

Setiap kali kaki tangannya bergerak, tentu ada pendeta yang terpelanting atau terlempar.

Namun pengeroyokan makin ketat dan kini semua pendeta telah menggunakan senjata masing-masing.

Hujan senjata menjatuhi tubuh pendeta raksasa itu, namun semua hantaman senjata yang tajam maupun yang tumpul tidak ada yang membekas pada kulit tubuh Kong Beng Lama, kecuali hanya merobek pakaiannya saja.

"Hayo bebaskan anakku, kalau tidak... demi Tuhan, kubunuh semua orang di tempat ini!"

Kok Beng Lama berteriak-teriak sambil dengan kedua tangannya menangkap empat orang pengeroyok seperti mencengkeram garuda menerkam empat ekor anak ayam saja layaknya, lalu melemparkan empat orang itu kepada para pengeroyoknya sehingga mereka morat-marit.

"Pemberontak hina! Berlututlah untuk menerima hukuman!"

Tiba-tiba terdengar bentakan lemah lembut dan para pengeroyok membuka jalan untuk Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama.

Seperti biasa kalau menghadapi lawan berat, Sin Beng Lama membawa lima batang hio membara, sedangkan Hun Beng Lama memutar-mutar biji tasbih di antara jari-jari tangannya.

Dilihat seperti itu, kedua orang pendeta ini lebih pantas hendak bersembahyang dan membaca doa daripada bersiap-siap menghadapi lawan tangguh.

Akan tetapi tentu saja Kok Beng Lama mengenal kedua orang sutenya ini dan dia menjawab bentakan Sin Beng Lama dengan suaranya yang nyaring, dan sinar matanya mengandung penuh ancaman maut.

"Sin Beng Sute...!"

"Pinceng bukan sutemu lagi dan engkau tidak berhak menyebut Sute kepada pinceng!"

"Hemm, sesukamulah, Sin Beng Lama! Akan tetapi dengar baik-baik. Aku datang untuk minta anakku, Pek Hong Ing. Kalau kalian menolak, aku akan membunuh kalian semua, tidak ada kecualinya!"

"Omitohud...!"

Sin Beng Lama berseru sambil mengacungkan lima batang hio di depan dadanya.

"Ucapan yang keluar dari mulut iblis! Pemberontak dan pengkhianat hina, engkau telah melanggar undang-undang agamamu sendiri, engkau telah melakukan dosa besar, membunuh ketua yang menjadi Twa-suheng (Kakak Tertua Seperguruan) sendiri dan beberapa orang saudara lain. Dan sekarang engkau tidak bertaubat, tidak minta ampun bahkan mengancam hendak membunuh kami semua! Tidak malukah engkau yang sudah puluhan tahun tekun mempelajari semua ajaran agama yang suci?"

"Hemmm, Sin Beng Lama! Kita sama-sama adalah tua bangka-tua bangka, bukan anak kecil yang mudah saja dibujuk dengan omongan manis dan dengan kedok agama! Agama dan pelajarannya adalah untuk dilaksanakan, bukan sekedar dipakai untuk senjata menekan orang lain, bukan dipergunakan sebagai jembatan untuk mencari kekayaan, kedudukan, kesenangan lahir batin, bukan diperalat sebagai pencari sorga dan nirwana! Kalian mempelajari kasih akan tetapi hati kalian penuh sesak dengan kebencian. Kalian menjaga kebersihan lahiriah namun batin kalian kotor melebihi keranjang sampah! Menghadapi tua bangka seperti aku, tidak perlu lagi kalian menakut-nakuti dengan agama yang dibikin palsu oleh tingkah laku pemeluknya sendiri macam kalian! Hayo bebaskan anakku, berikan kepadaku, dan aku akan pergi dari sini dengan aman, bahkan bersumpah takkan menginjak tempat ini lagi. Kalau tidak, kalian akan kubunuh semua dan tempat ini akan kubasmi, kuhancurkan!"

"Pemberontak keparat!"

Hun Beng Lama membentak marah dan dia sudah melangkah maju perlahan-lahan, tasbihnya diputar-putar di atas kepalanya yang gundul dan terdengarlah suara "trikk...

trikk...

trikkk..."

Dengan irama tertentu dan biarpun tidak begitu keras, namun seperti jarum tajam menusuk anak telinga sehingga para anggauta Lama Jubah Merah yang kurang kuat sin-kangnya cepat mundur sambil menutupi telinga mereka.

Hanya yang sudah agak tinggi tingkatnya saja, yang jumiahnya paling banyak tiga puluh orang, yang berani maju mengurung Kok Beng Lama.

Sin Beng Lama juga melangkah maju, lima batang hio pindah ke tangan kiri dan tangan kanannya sudah mengeluarkan sebatang pedang bersinar hijau yang amat tipis dan panjangnya ada empat kaki, gagangnya terbuat dari perak, sebatang pedang pusaka yang amat indah dan ampuh.

Melihat ini, sinar mata Kok Beng Lama menjadi ganas dan mulutnya tersenyum mengejek, tubuhnya tetap berdiri tegak tidak bergerak, yang bergerak hanya biji matanya yang melirik ke kanan kiri, telinganya seolah-olah berdiri dengan penuh perhatian mendengarkan setiap suara di sekelilingnya.

Dalam keadaan seperti itu, pandengaran pendeta Lama raksasa ini luar biasa tajamnya sehingga setiap tarikan napas para pengeroyoknya dapat ditangkapnya dengan jelas, bahkan suara detak jantung lawan terdengar olehnya!

"Serbuuuu...!"

Sin Beng Lama memberi aba-aba.

"Hyaaaatttt...!"

Suara bentakan para pengeroyok menjadi satu, terdengar nyaring bergema ketika mereka serentak menerjang ke depan dengan senjata masing-masing yang seperti hujan menyambar ke arah seluruh tubuh Kok Beng Lama, dari semua penjuru.

Kalau semua senjata itu mengenai tubuh Kok Beng Lama dan kalau tubuh pendeta raksasa ini biasa seperti tubuh orang-orang lain, tentu dia akan roboh dengan tubuh hancur lebur, tidak ada bagian sedikit pun yang masih utuh.

"Hoooouuuuhhh...!"

Kok Beng Lama mengeluarkan suara yang amat dalam dan lebar, bukan seperti suara manusia lagi, suara yang seolah-olah keluar dari dalam bumi!

Tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak memutar, lenyap bentuk tubuhnya dan yang tampak hanyalah gulungan yang amat cepat seperti angin puyuh mengamuk.

"Trangggg...!"

"Krekkkkk...!"

"Bukkkk...!"

"Dessss...!"

"Aughhh...! Aduhhh...! Ahhhh!"

Akibatnya hebat bukan main!

Tidak kurang dari enam orang yang terlempar dan roboh pingsan!

Selain itu, banyak pula yang kehilangan senjata mereka, ada yang patah dan banyak yang lepas dari tangan, terlempar entah ke mana.

Bukan main hebatnya sepak-terjang Kok Beng Lama yang selama sepuluh tahun dalam sel telah menciptakan dan mematangkan banyak ilmu-ilmu yang mujijat dan dahsyat itu.

Dengan putaran kedua ujung lengan bajunya saja dia telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyoknya dan merampas banyak senjata!

Melihat ini, Hun Beng Lama menjadi marah sekali, demikian pula Sin Beng Lama.

Dalam gebrakan pertama tadi, mereka berdua memang membiarkan para anak buah lain yang maju menerjang karena mereka merasa yakin bahwa dengan mengandalkan jumlah besar, tentu Kok Beng Lama yang dianggap pemberontak itu akan dapat dikuasai.

Siapa kira, raksasa itu memang hebat bukar main, maka terpaksa mereka harus turun tangan sendiri.

"Omitohud...! Haaaaiiiikkkk!"

Hun Beng Lama sudah menerjang maju dengan tasbihnya yang menyambar ke pelipis kiri sedangkan tangan kirinya yang membentuk cakar garuda itu mencengkeram ke arah perut lawan.

Gerakannya cepat dan mendatangkan angin pukulan yang bendesing-desing saking kerasnya.

Pada detik berikutnya, terdengar suara tajam menulikan telinga ketika sinar hijau berkeredepan menyambar-nyambar seperti seekor naga hijau bermain-main dan itulah pedang di tangan Sin Beng Lama yang dalam satu jurus telah mengirim tiga bacokan dan delapan tusukan yang mengancam tiga belas jalan darah utama di bagian depan tubuh lawan!

"Bagus...!"

Teriak Kok Beng Lama sambil menggerakkan kepalanya mengelak sambaran tasbih ke pelipisnya kemudian mengangkat kaki menendang ke arah tangan kanan Hun Beng Lama, sedangkan sepuluh kuku jari tangannya sibuk menyentil ke arah sinar-sinar hijau yang menyambar-nyambar itu.

Dia telah berhasil menangkis tiga belas serangan pedang hijau itu dengan sentilan jari tangannya dan setiap kali dia menyentil terdengarlah suara nyaring.

"Tring-tring-tring-tring-tring...!"

Terkejutlah Sin Beng Lama ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar hebat karena sentilan kuku jari tangan lawannya itu!

Dengan seruan halus dia mencelat ke belakang sampai tiga meter jauhnya, tangan kirinya bergerak dan tampaklah sinar api menyambar ke arah tubuh Kok Beng Lama!

Itulah penyerangan hio-hio membara yang amat luar biasa dan amat berbahaya pula karena biarpun hanya berupa hio, namun dilepas dengan pengerahan tenaga sin-kang yang amat ampuh sehingga kalau mengenai tubuh lawan dapat menancap dengan api masih membara!

"Keji, alat sembahyang dipakai membunuh!"

Kok Beng Lama berseru keras, menggerakkan kedua tangan bergantian didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka.

Menyambarlah hawa dingin dari kedua telapak tangannya dan itulah inti tenaga Im-kang yang amat dingin.

Tampak asap mengepul dan lima batang hio itu padam apinya, Bahkan runtuh semua ke atas tanah, masih mengepulkan asap putih yang harum baunya.

Tentu saja Sin Beng Lama menjadi makin marah.

Bersama sutenya, Hun Beng Lama dia menerjang maju, menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali sehingga tubuhnya lenyap digulung sinar pedang yang merupakan gulungan sinar hijau menyilaukan mata yang kini bergulung-gulung menyelimuti tubuh Kok Beng Lama pula.

Di antara sinar hijau ini tampak sinar putih dari tasbih Hun Beng Lama yang mengeluarkan suara "trik-trik"

Makin lama makin nyaring.

Maka terdengarlah paduan suara yang menyeramkan karena semua orang yang kurang kuat sin-kangnya merasa betapa jantung mereka seperti ditarik-tarik dan telinga seperti ditusuk-tusuk oleh suara berdetrik dari tasbih, bercampur dengan suara berdesingan dari pedang hijau, Diseling geraman-geraman marah dari dada Kok Beng Lama yang bidang.

Pertempuran hebat dan mati-matian, dilakukan oleh tiga orang sakti, terjadi dengan serunya, membuat para Lama yang berada di situ tidak berani lagi turun tangan membantu karena mereka maklum bahwa bantuan mereka tidak akan menguntungkan pihak kawan juga tidak merugikan pihak lawan melainkan membahayakan nyawa sendiri.

Kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian Kok Beng Lama dahulu pun setingkat dengan Sin Beng Lama.

Akan tetapi semenjak dia menjalani hukuman selama sepuluh tahun, kepandaiannya bertambah hebat sedangkan Sin Beng Lama hanya mendapat kemajuan biasa saja.

Orang yang berada di dalam tahanan seperti Kok Beng Lama, kehilangan kebebasannya dan tidak melakukan suatu pekerjaan tertentu, lebih tekun dalam berlatih, Apalagi karena memang dia mempunyai dendam.

Sedangkan tingkat kepandaian Hun Beng Lama masih kalah setingkat dari Sin Beng Lama, maka pertempuran hebat itu lebih tepat dikatakan bahwa yang bertanding mati-matian adalah Sin Beng Lama melawan Kok Beng Lama, sedangkan Hun Beng Lama hanyalah merupakan tenaga pengacau saja yang mengacaukan pertahanan Kok Beng Lama.

Namun, biar dia bertangan kosong dikeroyok oleh dua orang yang memiliki kepandaian tinggi dan bersenjatakan senjata-senjata pusaka ampuh pula, ternyata Kok Beng Lama memiliki kesaktian yang amat luar biasa.

Semua ini diperhebat lagi oleh kemarahannya karena dia mengkhawatirkan nasib puterinya, maka dia seolah-olah iblis sendiri yang mengamuk dan sukar ditandingi oleh dua orang pendeta Lama itu!

"Kalian bosan hidup!

Kalian bosan hidup!

Akan kubunuh semua...!"

Demikian terdengar Kok Beng Lama menggereng.

"Brettt! Plakk! Aughh...! Aduhhh...!"

Para pendeta yang menonton tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata mereka apa yang telah terjadi karena yang tampak hanyalah sinar-sinar dan bayangan saja yang campur aduk menjadi satu.

Tahu-tahu, tubuh Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama terlempar dan terbanting keras, sedangkan tubuh Kok Beng Lama terhuyung ke belakang, dadanya terluka pedang dan pakaian di pundaknya hancur oleh pukulan tasbih, akan tetapi kedua orang lawannya muntah darah terkena hawa pukulan kedua telapak tangan Kok Beng Lama.

Dengan muka buas Kok Beng Lama sudah hendak menerjang lagi dua orang bekas sutenya yang sudah terluka itu dan agaknya tidak akan dapat dihidarkan lagi dua orang Lama Jubah Merah itu tentu akan tewas karena mereka belum sempat bangun sedangkan para anggauta yang lain tidak ada yang berani menghadapi Kok Beng Lama.

"Pemberontak hina! Jangan bergerak atau puterimu akan pinceng bunuh di depan matamu!"

Kok Beng Lama tersentak kaget, menengok dan memandang dengan diam seperti patung.

Lak Beng Lama telah berada di situ, tangan kanan memegang tongkat yang ditodongkan ke ubun-ubun seorang dara remaja yang dikempit dengan lengan kirinya.

Gadis itu sama sekali tidak dapat bergerak, tanda bahwa dia telah menjadi korban totokan.

Kok Beng Lama mengenal gadis yang pernah ditolongnya di muara Sungai Huang-ho itu, dan kini nampak nyata olehnya betapa mirip wajah dara itu dengan wajah bekas kekasihnya yang telah tewas, Pek Cu Sian!

Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan matanya seperti mengeluarkan api memandang kepada tiga orang pendeta itu.

Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama telah memperoleh kesempatan menguasai diri mereka dan sudah berdiri di dekat Lak Beng Lama yang mengempit tubuh Pek Hong Ing.

"Kok Beng Lama, sebelum engkau bergerak, puterimu akan pinceng bunuh!"

Kok Beng Lama tidak mempedulikan ucapan itu, dengan suara gemetar seperti orang sakit demam dia berkata kepada Hong Ing yang sejak tadi dipandangnya tanpa berkejap mata.

"Nona muda, siapakah namamu?"

Hong Ing yang tidak dapat bergerak itu sejak tadipun memandang kepada Kok Beng Lama dengan wajah pucat.

Dia pun meragukan apakah benar pendeta tua yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, yang sikapnya amat mengerikan ini, adalah ayah kandungnya?

Mendengar pertanyaan itu, dia diam saja karena urat gagunya telah tertotok, membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara.

Tiba-tiba Sin Beng Lama menggerakkan ujung lengan bajunya, menyambar ke arah leher Hong Ing, dan terbebaslah dara itu dari totokan yang membuatnya gagu.

"Aku... namaku Pek Hong Ing..."

Hong Ing menjawab dengan suara agak kaku karena baru saja dia terbebas.

"Siapa gurumu?"

Kembali Kok Beng Lama bertanya.

"Go-bi Sin-kouw..."

"Siapa nama ibumu?"

Pertanyaan ini keluar dengan lirih dan parau.

"Nama ibu, Pek Cu Sian..."

"Cu Sian...!"

Pengulangan nama dari mulut Kok Beng Lama ini terdengar menyerupai keluhan.

"Tahukah engkau siapa ayahmu?"

"Ibu tidak pernah sempat memberitahuku tapi... tapi... tiga orang Locianpwe itu mengaku para susiokku dan membawaku ke sini, katanya hendak dipertemukan dengan ayahku, ternyata aku diperlakukan sebagai tawanan. Kata mereka, ayahku bernama Kok Beng Lama..."

Kok Beng Lama menggereng dan tiga orang kakek itu sudah siap-siap melawan sedangkan Lak Beng Lama sudah menempelkan tongkatnya di ubun-ubun kepala hong Ing, juga para anggauta Lama sudah mengurung lagi tempat itu.

"Akulah Kok Beng Lama! Hong Ing, setidaknya sudah empat lima tahun ketika engkau masih kecil engkau tinggal di ruang di mana aku terhukum. Ingatkah engkau akan sesuatu di tempat itu?"

"Aku... aku hanya ingat berada di dalam ruangan yang luas bersama ibu dan seorang laki-laki yang selalu bersamadhi, yang tak dapat kulupakan adalah bahwa laki-laki itu seringkali menari-nari di sekeliling sebuah arca besar sebesar manusia..."

"Engkau anakku...!"

Tiba-tiba Kok Beng Lama menggereng keras.

"Akulah laki-laki itu... sedang berlatih silat, Hong Ing, engkau anakku...!"

Seperti gila kakek itu lalu memandang ke sekelilingnya.

"Hayo bebaskan dia! Kalau tidak, kubasmi kalian semua!"

"Kok Beng Lama, puterimu berada di dalam kekuasaan kami, sepantasnya kalau kami yang mengajukan usul, bukan engkau yang menuntut. Engkau telah membuat dosa besar dan untuk menjaga kehormatan dan wibawa perkumpulan, engkau sebagai seorang anggauta pimpinan yang menyeleweng haruslah dihukum. Menyerahlah dan engkau akan kami hukum sesuai dengan peraturan, dan puterimu yang memang tidak berdosa apa-apa tidak akan kami ganggu bahkan akan kami perlakukan sebagai murid keponakan kami yang tercinta. Sebaliknya kalau kau melawan, terpaksa kami akan membunuh dulu puterimu sebelum membunuhmu."

Suara halus Sin Beng Lama itu terdengar jelas oleh semua orang karena keadaan di situ amat tegang dan sunyi.

Kok Beng Lama memandang ragu kepada Hong Ing, dan dara itu cepat berkata dengan suara lantang.

"Locianpwe, kalau benar engkau adalah ayah kandungku, jangan dengarkan bujukan mereka! Aku tidak takut mati, tidak perlu engkau menyerah kepada mereka dan berkorban untuk aku!"

Mendengar ini, sepasang mata yang tadinya mengeluarkan sinar kemarahan dan wajah yang keruh dan merah itu berubah.

Sinar matanya lembut memandang Hong Ing dan wajahnya berseri.

"Engkau adalah anakku, tak salah lagi! Keberanianmu, sikapmu, persis sikap ibumu Pek Cu Sian! Sin Beng Lama, ajukan usulmu agar kupertimbangkan!"

Sin Beng Lama kelihatan lega sekali.

Dia dan Hun Beng Lama sudah terluka cukup parah dan kalau pertandingan dilanjutkan, bukan tidak mungkin akan terjadi seperti yang diancamkan oleh Kok Beng Lama, yaitu mereka semua akan terbasmi habis!

"Kok Beng Lama, betapa pun besar dosa-dosamu, akan tetapi mengingat engkau adalah bekas pimpinan dan telah banyak berjasa demi kemajuan perkumpulan kita puluhan tahun yang lalu, maka kami pun akan bertindak seadil-adilnya.

Perbuatanmu itu akan menghancurkan kehormatan perkumpulan kalau engkau masih berkeliaran di dunia luar, seolah-olah perkumpulan kami tidak dapat bertindak terhadap dirimu.

Oleh karena itu, engkau akan kami jatuhi hukuman bertapa di dalam sel penjara selama hidupmu.

Usiamu sudah tinggi, maka hukumanmu tentu juga tidak berapa lamanya dan hukuman itu hanyalah untuk mencegah engkau merusak nama perkumpulan di luar Tibet."

"Hemmm, kalau aku menerima hukuman itu, apa imbalannya?"

"Puterimu akan kami pelihara baik-baik, tinggal di sini sebagai keluarga dan sewaktu-waktu dapat menjengukmu di dalam penjara."

Kok Beng Lama mengerutkan alisnya berpikir keras, kemudian mengangguk.

"Cukup adil... cukup adil... aku pun tidak ada niat berkelana, kalau aku dahulu pergi hanya untuk mencari Pek Cu Sian dan puterinya. Setelah Hong Ing berada di sini, perlu apa aku pergi? Akan tetapi, bagaimana kalau kalian mengkhianati dan kelak mengganggu anakku?"

"Kok Beng Lama!"

Sin Beng Lama berteriak marah.

"Engkau sendiri sudah tahu betapa Lama Jubah Merah lebih menghargai janji daripada nyawa! Pinceng sendiri berjanji takkan mengganggu Pek Hong Ing, tidak akan memaksanya melakukan sesuatu di luar kehendaknya kalau engkau suka menyerah dan menjalani hukuman itu!"

"Bagus! Aku percaya akan janjimu, Sin Beng Lama."

"Akan tetapi, pinceng belum mendengar janjimu, Kok Beng Lama."

"Ha-ha-ha, engkau memang selalu cerdik, Sute! Nah, dengarlah. Aku, Kok Beng Lama, berjanji tidak akan memberontak lagi selamanya dan akan mentaati perintah para pimpinan Lama Jubah Merah."

"Omitohud...! Para dewa menjadi saksinya!"

Kata Sin Beng Lama dengan girang dan dia berkata kepada sutenya.

"Lak Beng Lama, bebaskan Pek Hong Ing agar dia dapat bertemu dengan ayah kandungnya!"

Lak Beng Lama membebaskan totokan Hong Ing dan melepaskan gadis itu dari kempitannya.

Begitu dia terlepas, dengan terhuyung-huyung Hong Ing lari menghampiri Kok Beng Lama, kemudian menjatuhkan diri di depan kakek itu sambil berseru penuh keharuan.

"Ayaaaahhh...!"

Kok Beng Lama menunduk, memandang kepada gadis yang berlutut itu, kemudian menengadah ke langit, kemudian tertawa bergelak, kedua tangannya meraih ke bawah dan tubuh Hong Ing terangkat dan sudah dirangkul dan dipeluknya.

"Ha-ha-ha-ha! Kau... anakku...! Ha-ha-ha, akhirnya kita berkumpul juga di tempat di mana kau dilahirkan. Biarlah engkau tetap memakai she Pek seperti ibumu, she yang amat bagus dan terhormat. Pek Hong Ing, kau maafkan ayahmu yang tidak becus membahagiakan ibumu, akan tetapi setidaknya, aku dapat melakukan sesuatu untuk anaknya, yaitu engkau, Anakku!"

Lalu diciumnya ubun-ubun kepala Hong Ing dengan penuh kasih sayang.

Hong Ing sudah cepat menghapus air matanya dan sambil menyandarkan kepala di dada ayahnya yang amat bidang dan kuat itu, dia berbisik.

"Ayah, setelah aku dibebaskan, mari kita pergi saja dari sini. Aku...aku tidak akan betah tinggal di tempat ini, Ayah."

Dia tidak berani bicara terus terang betapa dia merasa rindu kepada seorang pemuda yang dicintanya.

Ayahnya menggeleng kepala.

"Janji lebih penting daripada segalanya, Anakku. Kautinggallah di sini, sebagai kcluarga terhormat dan lebih dari itu lagi, setiap hari engkau dapat menjengukku di penjara dan aku akan mewariskan seluruh ilmu kepandaianku kepadamu!"

Hong Ing merasa kecewa dan berduka sekali sehingga air matanya mengalir lagi.

Akan tetapi Kok Beng Lama mengira bahwa anaknya menangis saking senangnya, maka dia tertawa-tawa lagi.

"Kok Beng Lama, sudah cukup kiranya pertemuan dengan puterimu. Setiap hari engkau masih akan dapat bertemu. Sekarang, marilah kami antar engkau memasuki tempat hukumanmu!"

Karena hatinya merasa gembira, Kok beng Lama mengangguk dan sambil tertawa-tawa dia diantar ke tempat hukuman, di mana dahulu dia mendekam selama sepuluh tahun.

Kalau dulu dia menghabiskan waktu hukuman dengan memperdalam ilmu-ilmunya, sekarang dia hendak menghabiskan waktu hukuman dan sisa hidupnya untuk mewariskan ilmu-ilmunya itu kepada anak tunggalnya, Pek Hong Ing.

"Susiok, aku tidak bicara main-main. Aku ingin menebus dosa ibuku!"

Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama saling pandang mendengar ucapan Hong Ing yang pagi hari itu datang menghadap mereka di ruangan dalam setelah mereka selesai melakukan upacara sembahyang dan membaca doa pagi.

"Mengapa, Hong Ing? Bukankah kau hidup cukup terhormat dan senang di sini? Bukankah kami memperlakukan engkau dengan baik seperti janji kami dan semua anggauta bersikap hormat kepadamu?"

Tanya Sin Beng Lama.

"Benar Susiok, akan tetapi sudah kukatakan tadi, aku melakukannya untuk menebus dosa ibuku. Ibu telah melakukan dosa kepada agama kita dan untuk dosa itu sekarang Ayah yang menanggung derita dan hukumannya. Semua ini terjadi karena kutukan Dewa, sehingga aku pun hidup sengsara dan disakiti hati orang. Maka, aku hendak menebus dosa dengan mengorbankan diri kepada Dewa sebagai pengganti ibuku. Karena ibuku melarikan diri dari tangan Dewa, maka Dewa telah mengutuknya dan aku sebagai puterinya tentu akan mereka kutuk pula."

"Omitohud... engkau hebat sekali, Pek Hong Ing. Engkau seorang dara yang suci dan bersih hatimu, dan engkau memang pantas sekali menjadi kekasih Dewa."

Kata Sin Beng Lama dengan pandang mata penuh kagum.

"Aku memang sudah ditakdirkan menjadi kekasih Dewa, Susiok. Hampir setiap malam aku telah bermimpi dan selalu bertemu dan dicumbu rayu oleh Dewa yang bertangan enam bermuka tiga..."

"Siancai...!"

"Omitohud...!"

Tiga orang pendeta Lama itu cepat merangkap kedua tangan di depan dada dan mulut mereka berkemak-kemik membaca doa.

Ketika mereka memandang lagi kepada Hong Ing, pandang mata mereka berubah, amat kagum dan menghormat sekali!

"Keponakanku yang baik, Pek Hong Ing.

Semua itu adalah tanda-tanda dari Dewa dan sudah semestinya kalau kita semua mentaatinya.

Akan tetapi, kami tidak berani karena ayahmu pasti akan mengamuk kalau mendengar engkau akan mengorbankan dirimu kepada Dewa."

"Ayah sudah berjanji tidak akan memberontak lagi, Susiok. Dan urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ayah. Sesungguhnya, perbuatan Ayah itulah yang membuat aku mengambil keputusan ini. Ibu telah berdosa kepada Dewa, juga Ayah telah berdosa, maka terlahir aku yang harus menebus dosa mereka itu dengan mengorbankan diri kepada Dewa."

"Bagus, bagus! Pinceng yakin bahwa seorang perawan seperti engkau ini tentu dapat menjadi kekasih Dewa, Hong Ing."

"Akan kuusahakan agar Dewa mencintaku, Susiok, sehingga aku dapat membujuknya mengampuni ayah-ibuku, juga agar Dewa memberkahi para Susiok dan agama kita ini..."

"Omitohud...!"

Tiga orang itu berseru dengan girang sekali.

"Akan tetapi,"

Sin Beng Lama berkata lagi, meragu.

"Kami telah berjanji kepada ayahmu untuk memperlakukanmu dengan baik, tidak akan mengganggumu..."

"Susiok, urusan ini tidak ada pihak yang mendesak atau didesak. Susiok sekalian telah memperlakukan aku dengan baik, Susiok sekalian tidak melanggar janji kepada Ayah. Aku mau mengorbankan diriku kepada Dewa atas kehendakku sendiri, secara suka rela. Biarlah kalau sudah tiba masanya, aku sendiri yang akan memberi penjelasan kepada Ayah dan aku tanggung dia tidak akan dapat melakukan apa pun kecuali menyesali dosa-dosanya dahulu."

"Ahhh, engkau hebat dan baik sekali, Anakku..."

Sin Beng Lama sampai harus mengusap dua titik air matanya saking terharu hatinya.

Tentu saja apa yang diusulkan oleh dara itu amat besar artinya bagi mereka.

Bayangkan saja.

Keponakannya akan menjadi kekasih Dewata!

Menjadi kekasih Dewa Syiwa yang maha sakti dan hal itu tentu akan mengangkat kedudukan rohani mereka!

Dengan jadinya seorang keponakan mereka menjadi kekasih Dewa, maka sorga dan nirwana sudah berada di telapak tangan mereka!

"Bukan aku yang baik, Susiok, karena itu hanyalah merupakan kewajibanku menebus dosa orang tua.

Akan tetapi aku mengharukan kebaikan dari Susiok untuk memenuhi permohonanku yang terakhir yang juga merupakan syarat tunggalku untuk melakukan pengorbanan diri."

"Permohonan terakhir seorang perawan suci merupakan perintah! Katakanlah apa yang harus kami lakukan?"

Hun Beng Lama berkata penuh semangat karena dia yakin berdasarkan kepercayaannya bahwa kelak dia pun akan menerima anugerah dan ikut memperoleh sepercik berkah dari Dewa.

"Aku mendengar bahwa seorang yang dengan setulusnya hati hendak berbakti kepada Dewa haruslah dengan hati bersih dari segala perasaan dendam, benci dan kemarahan."

"Benar sekali! Memang Dewa menghendaki seorang anak perawan yang suci dan bersih lahir batin."

"Itulah yang menjadi penghalang, Susiok. Aku pernah mencinta seorang pemuda, akan tetapi dia telah memarahkan hatiku, membuatku menaruh dendam dan merubah cintaku menjadi kebencian. Oleh karena itu, sebelum melihat dia diseret ke depan kakiku, perasaan itu akan terus berada di dalam hatiku, membuat aku kurang bersih jika kelak menghadap Dewa yang agung. Maka, aku mohon kepada Susiok agar suka turun gunung dan menangkap pemuda yang menyakitkan hatiku itu. Setelah melihat dia tertangkap di sini, barulah aku dengan hati lapang dan bersih akan mengorbankan diri dengan suka rela dan biar dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sebagai hukumannya."

"Pemuda itu... yang menemanimu di pulau kosong itu?"

Tanya Sin Beng Lama.

"Benar dialah orangnya. Bagaimana Susiok dapat menduganya demikian tepat?"

"Pinceng sudah mendengar kata-katanya ketika membelamu, dan melihat engkau menampar mukanya..."

"Memang dia amat menyakitkan hatiku, Susiok. Karena itu, kalau Susiok sekalian dapat memenuhi permintaanku, yaitu menangkap pemuda itu dan membawanya ke sini, maka siaplah aku untuk mengorbankan diri kepada Dewa."

"Benarkah kata-katamu itu?"

"Aku berjanji dan janji lebih berharga daripada mati!"

"Baik, kalau begitu, biarlah kedua Sute Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama memenuhi permintaanmu itu, menangkap pemuda yang kaumaksudkan dan menyeretnya ke depan kakimu. Hun Beng Sute dan Lak Beng Sute, pemuda itu cukup lihai akan tetapi pinceng yakin bahwa Sute berdua akan mampu membekuknya."

"Baik, Suheng,"

Jawab Hun Beng Lama.

"Hong Ing, siapakah nama pemuda itu dan di mana adanya dia? Apakah masih di pulau kosong itu?"

"Bukan, bukan di sana. Kami berdua hanya menggunakan tempat itu sementara saja, Susiok. Setelah aku pergi ikut dengan Sam-wi Susiok (Paman Guru Bertiga) dia pasti segera meninggalkan tempat itu."

"Habis, di mana kami harus mencarinya?"

"Aku tahu di mana adanya pemuda itu. Yap Kun Liong, nama pemuda itu, sekarang pasti berada di puncak Cin-ling-san. Dia adalah murid keponakan dari Ketua Cin-ling-pai dan dia bermain cinta dengan puteri ketua yang menjadi paman gurunya itu. Karena itulah aku bersakit hati. Maka harap Ji-wi Susiok (Paman Guru Berdua) suka mencarinya di Cin-ling-san."

Tiga orang Lama itu sama sekali belum pernah mendengar nama Ketua Cin-ling-pai, maka mereka tidak menaruh curiga apa-apa.

Karena sudah pernah bertemu dengan Yap Kun Liong, maka Sin Beng Lama merasa yakin bahwa kedua orang sutenya sudah cukup untuk menangkap pemuda itu.

Maka berangkatlah kedua orang pendeta Lama itu meninggalkan Tibet dengan hati penuh semangat dan kegembiraan karena mereka menganggap perintah dari "perawan suci"

Ini merupakan tugas yang mulia bagi mereka.

Tentu saja semua itu adalah siasat yang amat cerdik dari Hong Ing.

Dara ini tentu saja tidak betah tinggal di tempat itu, dan biarpun dia mulai menerima gemblengan ayahnya yang sakti, namun ayahnya tidak mau melanggar janji dan tidak mau pergi bersamanya meninggalkan tempat itu, bahkan ayahnya sudah mengambil keputusan untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat hukuman itu!

Karena maklum bahwa sia-sia saja untuk membujuk ayahnya, Hong Ing lalu mencari akal.

Dia tahu dengan pasti bahwa Kun Liong tentu berusaha menyusul dan mencarinya, maka dia lalu mempergunakan siasat untuk menghubungi Kun Liong, bahkan dengan cerdik dia memberikan alamat Cin-ling-pai dengan maksud menarik perhatian Ketua Cin-ling-pai yang amat sakti sehingga Kun Liong memperoleh bala bantuan yang amat kuat.

Kalau ada Lama mencari Kun Liong di Cin-ling-pai, Tentu Pendekar Sakti Cia Keng Hong akan tertarik dan tentu akan ikut turun tangan, apalagi karena dua orang Lama yang mengandalkan kepandaiannya itu tentu akan berterus terang untuk menangkap Kun Liong.

Setelah kedua orang Lama itu berangkat, legalah hati Hong Ing dan dia hanya menanti dengan sikap gembira.

Membayangkan Kun Liong akan tiba di tempat itu memberi kekuatan yang ajaib kepadanya, membuatnya gembira sekali karena andaikata siasatnya gagal dan Kun Liong benar-benar ditangkap dan dibawa ke situ, dia akan rela menderita atau mati sekalipun asal berada di dekat pemuda itu.

Dalam kegembiraan yang didorong harapan bertemu kembali dengan pemuda yang dicintainya itu, Hong Ing mulai tekun mempelajari dan melatih ilmu yang diajarkan oleh ayahnya yang sama sekali tidak tahu akan siasat yang dijalankan oleh puterinya.

"Ibu kenapa Ayah belum juga pulang?"

Anak laki-laki berusia lima tahun itu merengek kepada ibunya.

Wanita yang usianya kurang lebih empat puluh tahun dan masih amat cantik itu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada suara yang merasa kesal hatinya.

"Gara-gara encimu! Akan tetapi kurasa tak lama lagi dia akan pulang Bun Houw!"

Wanita itu adalah Sie Biauw Eng atau Nyonya Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai, sedangkan anak laki-laki itu adalah Cia Bun Houw, anak ke dua atau putera tunggal suami isteri pendekar ini.

Cin-ling-pai yang mempunyai banyak anggauta atau anak murid itu kelihatan sunyi setelah Cia Keng Hong pergi, apalagi setelah lebih dulu Giok Keng lolos dari tempat itu.

"Akan tetapi aku sudah rindu kepada Ayah dan Cici, Ibu."

"Sabarlah, Houw-ji (Anak Houw). Seorang calon pendekar harus memiliki kesabaran yang besar, dan pula, ayahmu tentu baru akan pulang kalau sudah bertemu dengan encimu Giok Keng."

"Dasar Enci yang nakal, pergi saja kerjanya! Ibu, kalau aku sudah besar, apa aku juga boleh merantau seperti Enci Keng?"

"Tentu saja boleh, akan tetapi engkau harus sudah dewasa dan kepandaianmu untuk menjaga diri sudah cukup kuat. Karena itu kau harus rajin berlatih, Houw-ji. Mari kita ke tempat latihan, pasangan kuda-kudamu yang kaulatih kemarin itu masih belum baik benar, juga gerakan langkah kakimu masih kurang tepat."

Ibu dan anak itu lalu pergi ke kebun belakang di mana mereka biasanya berlatih silat.

Sebagai putera suami isteri pendekar yang berilmu tinggi itu, tentu saja sejak kecil Bun Houw telah dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh orang tuanya dan ketika ayahnya pergi sampai berbulan-bulan lamanya, ibunyalah yang melatihnya.

Tentu saja di samping pelajaran ilmu silat yang baru dilatih dasar-dasarnya, anak itu pun diberi pelajaran membaca dan menulis.

Selagi ibu yang memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat ini memberi petunjuk kepada puteranya, di luar rumah tempat tinggal Ketua Cin-ling-pai itu terjadi pula hal yang menarik.

Lima orang murid kepala Cin-ling-pai yang dikepalai oleh Kwee Kin Ta, berhadapan dengan dua orang pendeta gundul yang berjubah kotak-kotak merah.

Lima orang itu tentu saja menyambut kedatangan dua orang pendeta itu dengan sikap hormat, apalagi melihat bahwa dua orang itu sudah tua dan kelihatan saleh.

Yang seorang memegang sebatang tongkat untuk membantunya jalan mendaki puncak, yang ke dua sambil melangkah tiada hentinya mempermainkan biji-biji tasbihnya seperti membaca doa.

Setelah menyambut dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan, Kwee Kin Ta bertanya.

"Bolehkah kami mengetahui siapa nama Ji-wi Losuhu (Dua Bapak Pendeta) yang terhormat, dari kuil mana dan ada keperluan apakah mengunjungi Cin-ling-pai?"

Dua orang pendeta itu bukan lain adalah Hun Beng Lama yang membawa tasbih dan Lak Beng Lama yang memegang tongkat.

Dengan sikap dan suara halus Hun Beng Lama menjawab.

"Apakah Sicu sekalian ini murid-murid Cin-ling-pai?"

"Benar, Losuhu."

"Kedatangan kami adalah untuk mencari seorang yang bernama Yap Kun Liong,"

Kata pula Hun Beng Lama.

Lima orang murid Cin-ling-pai itu memandang heran dan beberapa orang anak murid yang melihat dari jauh kini datang mendekat karena ingin tahu.

Maklumlah tempat yang sunyi dan tenteram itu jarang menerima kunjungan orang luar.

Tentu saja Kwee Kin Ta dan para sutenya sudah mendengar akan nama Yap Kun Liong itu sekarang, nama yang dipuji-puji guru dan ibu guru mereka.

"Dia tidak berada di sini, Losuhu,"

Jawab Kwee Kin Ta tanpa ragu-ragu lagi.

"Kalau begitu di mana dia?"

Tiba-tiba Hun Beng Lama bertanya dan pandang matanya tajam penuh selidik.

Melihat sinar mata yang amat tajam berpengaruh itu, Kwee Kin Ta menjadi terkejut, juga curiga.

"Kami tidak tahu dia berada di mana,"

Jawabnya.

"Kalian tidak tahu apa-apa, baiklah pinceng hendak menemui Ketua Cin-ling-pai saja!"

Kedua orang pendeta itu terus melangkah hendak memasuki pintu depan rumah tinggal Cia Keng Hong "Eh, nanti dulu, Ji-wi Losuhu!

Guru kami juga sedang tidak ada, akan tetapi kalau hanya urusan derma untuk kuil saja cukup dapat diselesaikan dengan kami sebagai wakil ketua kami."

"Hemm, pinceng tidak membutuhkan dermaan, hendak bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai...!"

Kata pula Hun Beng Lama dan bersama sutenya dia terus saja masuk ke dalam rumah.

"Tahan...!"

Kwee Kin Ta berseru marah.

"Harap Ji-wi Losuhu sebagai orang-orang beribadat tahu sedikit aturan dan tidak menyelonong masuk begitu saja tanpa ijin! Biarlah kami laporkan kepada Subo (Ibu Guru) kami!"

Dua orang pendeta itu berhenti dan saling pandang, kemudian mereka mengikuti Kwee Kin Ta dan para sutenya yang pergi menuju ke taman bunga di belakang rumah, di mana ibu guru mereka biasanya sedang melatih puteranya.

Melihat betapa dua orang pendeta tua yang aneh itu mengikuti mereka, mereka tidak dapat melarang dan cepat-cepat memasuki taman.

"Heii, ada apakah kalian datang ke sini, Kin Ta?"

Sie Biauw Eng menegur tak senang karena merasa terganggu.

"Maaf, Subo. Ada dua orang pendeta yang ingin berjumpa dengan Kun Liong, setelah teecu beri tahu tidak ada, lalu memaksa hendak bertemu dengan Suhu."

Sie Biauw Eng mengangkat muka dan melihat dua orang pendeta tua itu memasuki taman.

Sekelebatan saja mengertilah nyonya ini bahwa dua orang pendeta yang kelihatan lemah dan halus itu tentu mempunyai urusan penting sekali dan agaknya merupakan orang-orang yang biasa diturut kehendaknya sehingga kini mereka berani memasuki taman tanpa ijin.

"Kalian minggirlah!"

Katanya kepada para anggauta Cin-ling-pai yang memenuhi taman, kemudian dengan langkah tenang nyonya ketua ini maju menyambut kedatangan dua orang pendeta itu.

Melihat pakaian mereka, Sie Biauw Eng dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan pendeta-pendeta Lama dari barat, maka dia bersikap hati-hati karena maklum bahwa pendeta-pendeta Lama banyak yang memiliki kepandaian tinggi.

Setelah berhadapan, Sie Biauw Eng yang berpemandangan tajam itu dapat melihat dari sinar mata kedua orang pendeta itu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki sin-kang kuat sekali, maka diam-diam dia terkejut dan cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat yang dibalas oleh mereka.

"Selamat datang di Cin-ling-san, Ji-wi Losuhu. Siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah Ji-wi hendak menemui suamiku?"

Tanya Sie Biauw Eng dengan suara lembut namun pandang matanya penuh selidik.

"Maafkan pinceng, Toanio. Kedatangan kami berdua ini adalah untuk mencari seorang bernama Yap Kun Liong karena urusan pribadi. Kami tidak mempunyai urusan dengan Cin-ling-pai."

"Silakan Ji-wi duduk di ruangan tamu di mana kita dapat bicara dengan sebaiknya."

Hun Beng Lama menggerakkan tangan kirinya digoyang-goyang.

"Tidak usah, Toanio. Terima kasih atas kebaikanmu. Di sini pun sama saja."

"Losuhu, di sini tidak ada orang yang bernama Yap Kun Liong."

Kedua orang pendeta itu memandang dengan tajam penuh selidik.

"Benarkah demikian? Bukankah ada hubungan antara Ketua Cin-ling-pai dengan pemuda bernama Yap Kun Liong itu?"

"Tidak salah. Dia memang murid keponakan suamiku, akan tetapi pada saat ini Yap Kun Liong tidak berada di sini. Sebagai Bibi Gurunya, bolehkah aku mengetahui apa maksud Ji-wi mencari Yap Kun Liong."

"Kami hendak menangkapnya,"

Jawab Hun Beng Lama dengan tenang.

Pendeta ini terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri maka dia merasa tidak perlu menyembunyikan niatnya dari siapa pun yang toh tidak akan dapat menghalanginya.

Jawaban ini tentu saja mengejutkan semua orang, terutama sekali Sie Biauw Eng.

Akan tetapi kalau para murid Cin-ling-pai kelihatan kaget adalah nyonya cantik ini tenang-tenang saja.

"Ibu..., kata Ibu para pendeta adalah orang-orang suci, kenapa dua orang ini hendak menangkap orang? Apakah mereka pendeta-pendeta palsu?"

"Hushhh, Houw-ji, diamlah kau dan jangan turut campur."

Sie Biauw Eng kaget mendengar kelancangan mulut puteranya.

Dua orang pendeta itu menjadi merah mukanya dan mereka melirik ke arah Bun Houw, diam-diam mereka terkejut dan kagum melihat anak laki-laki yang dari jauh saja sudah nampak memiliki tulang baik dan bakat untuk menjadi seorang pandai!

"Ji-wi Losuhu sudah jauh-jauh datang ke Cin-ling-pai dengan sia-sia saja karena yang dicari tidak ada.

Bolehkah aku mengetahui nama julukan Ji-wi yang mulia dan dari golongan manakah?"

"Pinceng adalah Hun Beng Lama dan ini adalah Sute Lak Beng Lama. Kami datang dari jauh sekali, dari perkumpulan Agama Lama Jubah Merah di Tibet, sengaja datang untuk menangkap pemuda yang bernama Yap Kun Liong. Kalau dia tidak ada, biarlah kami bicara dengan Ketua Cin-ling-pai yang menjadi paman gurunya, karena sebagai paman gurunya tentu akan tahu di mana adanya pemuda (Lanjut ke

Jilid 46) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 46 itu."

"Sayang sekali, Losuhu. Suamiku pun sedang turun gunung, sudah beberapa bulan belum pulang, dan aku sendiri pun tidak tahu di mana adanya Yap Kun Liong dan suamiku pada saat ini."

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama saling pandang dengan hati kesal.

Hun Beng Lama menarik napas panjang.

"Huhhh... sungguh tidak kebetulan sekali...!"

Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berseri dan dia menoleh ke arah Cia Bun Houw yang berdiri di dekat ibunya.

"Ada jalan baik! Toanio, urusan kami dengan Yap Kun Liong amat penting. Apa pun yang terjadi, di dunia ini, Yap Kun Liong harus menjadi tawanan kami. Karena dia tidak ada, suamimu tidak ada dan engkau tidak tahu di mana adanya mereka, maka suamimu sebagai paman gurunya harus bertanggung jawab. Karena itu, sebagai gantinya, pinceng akan membawa puteramu ini, dan kelak kalau suamimu datang ke Tibet mengantarkan Yap Kun Liong, kami akan mengembalikan puteramu."

"Pendeta iblis keparat!"

Sie Biauw Eng tidak dapat menahan lagi kemarahan hatinya.

Memang pada dasarnya, Biauw Eng adalah seorang wanita yang berwatak keras, berani dan bahkan agak ganas.

Di dalam cerita "Pedang Kayu Harum"

Digambarkan dengan jelas akan watak dan sepak terjang Sie Biauw Eng ketika masih muda.

Kini dia telah menjadi ibu dari dua orang anak, bahkan anak yang pertama, Cia Giok Keng, telah dewasa sehingga dia telah menjadi setengah tua.

Usia dan kedudukannya sebagai isteri Ketua Cin-ling-pai membuat dia dapat bersikap tenang dan sabar.

Namun begitu tersentuh dan tersinggung perasaan marahnya, dia bagaikan sebatang mercon yang dinyalakan sumbunya, meledak dengan hebat dan berubah menjadi seekor singa betina!

Begitu mendengar niat pendeta itu akan menculik puteranya untuk kelak "ditukar"

Dengan Yap Kun Liong, dia memaki lalu mengeluarkan pekik melengking, sekali kakinya terayun tubuh puteranya mencelat ke arah Kwee Kin Ta dibarengi seruannya.

"Kin Ta, jaga adikmu!"

Kemudian dia sudah menerjang dengan kedua tangannya, mengirim pukulan-pukulan dengan jari tangan terbuka berturut-turut tujuh kali ke arah jalan darah di bagian tubuh yang paling berbahaya dari Hun Beng Lama!

"Omitohud...!"

Hun Beng Lama terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa nyonya cantik ini memiliki kecepatan yang sedahsyat itu.

Hanya dengan susah payah, mencelat ke sana-sini sambil menggerakkan tasbihnya, dia dapat menghindarkan diri, lalu tasbihnya diputar mengeluarkan suara berketrik menulikan telinga mereka yang mendengarnya.

Elakan-elakan kakek itu membuat Biauw Eng maklum akan kebenaran dugaannya bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka dia tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang, melainkan sudah menerjangnya dengan serangan-serangan dahsyat, mainkan ilmu silatnya yang amat cepat dan mengerahkan pukulan-pukulan berdasarkan sin-kang yang amat ditakuti orang ketika dia masih malang-melintang di dunia kang-ouw dahulu, yaitu Ilmu Pukulan Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun).

Pukulan ini amat hebat, jangankan sampai telapak tangan nyonya cantik itu mengenai tubuh lawan, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan tangguh!

Mengapa isteri seorang pendekar sakti seperti Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai sampai memiliki ilmu pukulan beracun sekeji itu?

Hal ini tidaklah aneh bagi yang telah membaca ceritaPedang Kayu Harum , karena memang di waktu mudanya Sie Biauw Eng adalah puteri dan murid tokoh atau datuk kaum sesat!

Bahkan dia sendiri dijuluki orang Song-bun-kwi (Wanita Cantik Berkabung) karena pakaiannya selalu putih.

Dahulu di waktu masih gadis saja Sie Biauw Eng telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat luar biasa, apalagi setelah dia menjadi isteri Pendekar Sakti Keng Hong dia memperoleh petunjuk suaminya, maka dapat dibayangkan betapa lihai adanya wanita ini.

"Trik-trrriiiikkk...!"

Tasbih di tangan Hun Beng Lama mengeluarkan bunyi nyaring dan senjata itu menyambar ke arah tubuh lawan dengan tenaga mujijat dan dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

"Wuuuuttt... wirrr... tar-tar-tar...!"

"Hebat...!"

Hun Beng Lama memuji lagi dengan kagetnya ketika serangan tasbihnya itu tiba-tiba dihadang oleh selembar cahaya putih halus yang bukan saja menangkis sambaran tasbihnya malah cahaya yang ternyata hanyalah sehelai sabuk sutera tipis itu membalas dengan sambaran dahsyat dan ujung sabuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak seperti halilintar menyambar.

Inilah senjata istimewa nyonya itu yang hanya mengeluarkannya apabila dia menghadapi lawan tangguh yang sukar dikalahkannya dengan tangan kosong.

Sabuk sutera itu terkenal di dunia kang-ouw dengan nama Pek-in-sin-pian (Cambuk Sakti Awan Putih) karena kalau dimainkan oleh Sie Biauw Eng bentuk sabuk sutera itu lenyap sama sekali, Yang tampak hanyalah cahaya bergulung-gulung seperti awan putih, namun dari awan itu menyambar-nyambar sinar kilat yang dapat membawa maut!

Melihat betapa nyonya yang lihai itu dapat menandingi suhengnya, Lak Beng Lama lalu meloncat ke arah Kwee Kin Ta yang menggandeng tangan Cia Bun Houw dan melindungi putera subonya ini.

Melihat gerakan ini, Kwee Kin Ci, adik dari Kwee Kin Ta dan sembilan orang murid kepala lainnya menerjang maju sambil berteriak marah.

Terdengar suara senjata berkerontangan disusul robohnya lima enam orang murid kepala Cin-ling-pai yang terlempar ke kanan kiri kena disapu oleh tongkat di tangan Lak Beng Lama yang amat lihai!

Kwee Kin Ci membacokkan pedangnya dari samping kiri, sedangkan para sutenya yang lain kembali sudah menyerang dari segala jurusan.

"Plakkk...!"

Tubuh Kwee Kin Ci tersungkur dan pedangnya patah setelah ditangkis oleh tangan kiri kakek itu!

Dapat dibayangkan betapa tingginya tingkat kepandaian Lak Beng Lama dibandingkan dengan para anak murid Cin-ling-pai itu ketika dengan tangan kosong saja dia mampu mematahkan pedang dan bahkan terus merobohkan pemiliknya dengan hantaman hawa pukulan telapak tangannya.

Melihat adiknya roboh dan kakek itu jelas hendak merampas Cia Bun Houw, Kwee Kin Ta sebagai murid kepala yang kepandaiannya paling tinggi mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya menusuk ke arah dada kakek itu, sedangkan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka membuat gerakan menusuk ke arah perut.

"Ceppp! Cepppp!"

Dua tusukan pedang dan jari tangan itu terhenti ketika dengan dua jari telunjuk dan tengah kiri Lak Beng Lama menjepit pedang yang menusuk dadanya, sedangkan tangan kiri Kwee Kin Ta itu dibiarkan memasuki perutnya!

"Augghhhhh...!"

Kwee Kin Ta menjerit ketika merasa betapa tangan yang memasuki rongga perut sedalam pergelangan itu tak dapat dicabutnya kembali dan terasa panas seperti dibakar!

"Wirrrr...

siuuuuut...

tar-tarrr...!"

"Omitohud...!"

Lak Beng Lama berseru kaget dan terpaksa dia melepaskan jepitan tangan dengan perutnya, membuat Kwee Kin Ta terhuyung ke belakang dengan muka pucat.

Sambaran cahaya putih tadi benar-benar amat berbahaya dan begitu dia mengelak terhadap ledakan yang menyambar ke arah pelipis kepala sebelah kiri dan ubun-ubunnya, ujung sabuk sutera putih itu masih mampu melecut pundaknya, membuat jubah di pundaknya pecah dan kulit pundaknya terasa panas dan perih!

Dalam keadaan bertanding menghadapi Hun Beng Lama yang lihai masih mampu menolong Kwee Kin Ta dan menghalangi Lak Beng Lama menangkap puteranya, benar-benar kehebatan nyonya Ketua Cin-ling-pai itu mengejutkan hati kedua orang Lama itu.

Teringatlah mereka akan kelihaian Kun Liong dan tahulah mereka bahwa mereka berada di guha harimau yang amat berbahaya.

Baru nyonyanya sudah begini lihai, apalagi Ketua Cin-ling-pai itu sendiri!

Andaikata Ketua Cin-ling-pai berada di situ, dan Kun Liong juga, agaknya mereka akan terjebak dan akan celaka!

Lak Beng Lama yang cerdik pada saat itu sudah dapat menduga bahwa mungkin ini adalah siasat dari Pek Hong Ing!

Maka dia cepat berseru.

"Subeng, harap desak dia...!"

Mendengar ini, Hun Beng Lama segera mengeluarkan suara menggereng yang aneh.

Tidak keras namun suara itu terdengar memenuhi udara dan berbareng dengan gerengannya itu, tiba-tiba tasbihnya bergerak lebih hebat dan kuat.

Kadang-kadang tasbih itu melayang di udara, menyambar ke arah kepala Biauw Eng seperti benda hidup, disusul oleh kedua tangan kakek itu yang menyerang ganas dan bertubi-tubi, kadang-kadang malah dibantu pula oleh serangan kedua kakinya.

Didesak sedemikian rupa oleh kakek yang amat lihai ini, terpaksa Biauw Eng harus mencurahkan seluruh tenaganya sehingga dia tidak lagi dapat mencegah perhatiannya ke arah Lak Beng Lama yang sedang dikeroyok oleh para anak murid Cin-ling-pai.

Tiba-tiba terdengar teriakan Bun Houw.

"Ibuuu...! Bebaskan aku...!"

Kagetlah hati Biauw Eng dan ketika dia meloncat ke belakang memandang, ternyata anaknya itu telah berada di dalam pondongan Lak Beng Lama!

Tentu saja mudah sekali bagi pendeta lihai ini untuk merampas Bun Houw dari dalam perlindungan para anak murid Cin-ling-pai dan begitu berhasil memondong Bun Houw, dia lalu berkata.

"Toanio, hentikan perlawananmu kalau kau ingin melihat puteramu selamat!"

Menggigil seluruh tubuh Biauw Eng dan kedua tangannya meremas-remas sabuk sutera putihnya dalam usahanya mencegah kedua tangannya bergerak menyerang Lak Beng Lama.

Maklumlah dia bahwa setelah puteranya tertawan, dia tidak boleh secara sembarangan saja turun tangan karena hal ini akan membahayakan nyawa puteranya.

Dia memandang dengan bernyala dan gigi berkerot.

"Manusia iblis...! Kalau kau mencelakakan puteraku, demi Tuhan, aku tidak akan berhenti sebelum dapat mencincang hancur tubuhmu!"

Ucapannya yang penuh kesungguhan hati ini membuat kedua orang Lama itu bergidik karena mereka maklum bahwa seorang wanita sehebat itu tentu akan memenuhi ancamannya.

"Omitohud...! Toanio gagah perkasa dan hebat luar biasa! Terimalah rasa hormat dan kagum dari pinceng."

Hun Beng Lama menjura dengan penuh kagum karena harus dia akui bahwa selama hidupnya baru sekarang dia bertemu dengan seorang wanita sebagai lawan yang sedemikian hebatnya.

Sie Biauw Eng sejak dahulu bukan hanya terkenal sebagai seorang wanita yang amat lihai dan penuh keberanian tidak pernah mengenal rasa takut, juga dia terkenal amat cerdik.

Baru sekarang, melihat puteranya berada di tangan musuh, dia merasa takut sekali, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya, lalu berkata kepada Bun Houw.

"Houw-ji, seorang calon pendekar pantang menangis dan menghadapi segala bahaya dengan tenang, yang penting bukan mati atau hidup, melainkan benar dan salah!"

Mendengar ini, Bun Houw mengangguk dan tidak meronta lagi dalam pondongan Lak Beng Lama karena dia mengerti bahwa melawan dan meronta pun tidak ada gunanya sama sekali.

"Hun Beng Lama, sikap dan pakaianmu saja seperti seorang pendeta Lama yang suci, akan tetapi perbuatanmu curang seperti penjahat kecil yang hina. Kenapa kau membawa-bawa anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Kalau memang gagah dan berani, bebaskan anakku dan majulah kalian pendeta-pendeta palsu berdua, kita bertanding sampai salah satu pihak mati!"

Dengan suara lantang dan gagah Biauw Eng menantang.

"Omitohud...! Toanio memang hebat! Kami sama sekali tidak suka bermusuhan dengan orang-orang gagah seperti Toanio. Kami terpaksa menangkap puteramu justeru karena kami tidak suka bermusuhan. Kami tidak akan mencelakakan putera Toanio ini, hanya akan kami ajak ke Tibet untuk bermain-main dan pesiar. Kelak, kalau Toanio atau suami Toanio datang mengantarkan Kun Liong kepada kami, tentu putera Toanio akan kami serahkan kembali disertai permohonan maaf kami sekalian. Kami tidak suka bermusuh dan bertanding melawan Toanio dan jalan satu-satunya hanyalah menahan putera Toanio. Nah, selamat tinggal sampai jumpa pula di Tibet di mana Toanio akan dapat mengajak pulang putera Toanio. Mudah-mudahan waktu itu tidaklah terlalu lama."

Maka pergilah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama meninggalkan puncak itu.

Kwee Kin Ta yang patah-patah tulang tangan kirinya itu membuat gerakan untuk menyerbu, demikian pula para anak murid Cin-ling-pai, akan tetapi Biauw Eng menggerakkan tangan mencegah mereka.

Wanita ini hanya berdiri memandang, matanya bernyala dan alisnya berkerut, kedua tangannya mengepal akan tetapi tidak berani membuat gerakan sesuatu.

Setelah bayangan kedua orang pendeta itu lenyap, barulah dia mengeluarkan suara mengeluh panjang dan tubuhnya terguling roboh.

Pingsan!

"In-moi (Dinda In)...!

Tunggu...!"

Teriakan ini keluar dari mulut Ouwyang Bouw yang mengejar Lauw Kim In yang berlari-lari.

Namun Kim In tidak menjawabnya, juga tidak menengok, melainkan berlari terus sambil kadang-kadang mengusap air matanya.

Biasanya, wanita yang berhati keras dan dingin seperti baja ini pantang menangis, akan tetapi ucapan yang keluar dari mulut Kun Liong menikam ulu hatinya dan menyentuh perasaan hatinya yang memang selalu tertekan.

Dia sama sekali tidak cinta kepada Ouwyang Bouw dan menyerahkan tubuhnya kepada pemuda setan itu secara terpaksa.

Hanya dia seorang yang merasakan betapa tersiksa dan menderita hatinya setiap kali dia harus menyerahkan tububnya kepada Ouwyang Bouw yang menganggapnya isterinya itu.

Makin lama dekat dengan Ouwyang Bouw, makin sadarlah dia bahwa "suaminya"

Itu adalah seorang yang tidak waras otaknya, agak miring otaknya dan di balik ketidakwajarannya itu terdapat watak yang luar biasa kejam dan jahatnya!

Seperti diketahui, dahulu dia menyerahkan kehormatan dan tubuhnya kepada Ouwyang Bouw karena terpaksa, yaitu untuk menyelamatkan sumoinya, Pek Hong Ing, dan dirinya sendiri karena mereka berdua kalah melawan Ouwyang Bouw, dan kedua kalinya karena dia hendak mempergunakan kelihaian orang muda gila ini untuk dapat membalas dendamnya terhadap musuh besar yang dahulu membunuh tunangannya, yaitu Thian-ong Lo-mo.

Dan dia berhasil menyelamatkan Pek Hong Ing, bahkan berhasil pula membunuh Thian?ong Lo-mo di samping berhasil meningkatkan ilmu kepandaiannya dengan petunjuk "suaminya".

Akan tetapi, setiap kali apabila teringat akan keadaan dirinya, apalagi setiap kali harus melayani cumbu rayu dan permainan cinta suaminya yang kadang-kadang tidak lumrah dan mengerikan itu, batinnya makin tertekan.

Ucapan-ucapan Kun Liong seperti ujung pedang runcing menikam jantungnya.

Dia diumpamakan setangkai mawar indah dari Go-bi yang berlumur noda dan lumpur kehinaan.

Betapa tepatnya ucapan itu dan dia merasa jantungnya tertikam dan sakit sekali.

Memang kalau dia pikir, hidupnya sekarang tidak ada artinya sama sekali, hanya menjadi permainan dan bahan penghinaan seorang laki-laki berotak miring seperti Ouwyang Bouw saja!

Menjadi barang permainan karena dia pun tahu betapa anehnya cinta kasih Ouwyang Bouw kepadanya yang lebih condong kepada sebuah benda permainan yang tak pernah membosankan hati pemuda gila itu.

Ouwyang Bouw yang menganggap dia isterinya itu kadang-kadang bermain gila dengan wanita, Baik secara suka rela di pihak wanita itu atau memaksa dan memperkosanya, dilakukan begitu saja di depan matanya tanpa rasa malu sedikit pun!

Ouwyang Bouw tidak mengenal apa artinya kesetiaan suami isteri.

Bahkan gilanya, pernah Ouwyang Bouw menganjurkan agar dia bermain cinta dengan pria lain di depan mata suami gila itu!

Ditangkapnya seorang pemuda tampan dan dengan ancaman maut Ouwyang Bouw memaksa pemuda itu agar bermain cinta dengan isterinya!

Ouwyang Bouw membujuk-bujuk agar dia suka melakukan hal yang tidak senonoh itu di depan matanya.

Tentu saja dia tidak sudi dan hal itu membuat Ouwyang Bouw marah-marah dan membunuh pemuda yang tidak berdosa itu!

Teringat akan semua ini, hancurlah perasaan hati Kim In ketika mendengar celaan dan sindiran Kun Liong.

"Isteriku... yang manis...! Dinda Lauw Kim In... tunggulah..., larimu begitu cepat seperti kuda! Ha-ha-ha!"

Kembali terdengar suara suaminya itu, kini sudah dekat di belakangnya.

Lauw Kim In mempercepat larinya, mengerahkan seluruh gin-kangnya yang sudah memperoleh banyak kemajuan setelah dia dilatih oleh suami gila itu.

"Wah-wah, larimu makin kencang! Ha-ha, lucu dan manis sekali dari belakang! Ha-ha-ha, bagus sekali! Kita menjadi dua ekor kuda yang berkejaran, kau kuda betina dan aku kuda jantan. Kalau dapat terpegang, kau harus memberi hadiah kepadaku, ha-ha-ha!"

Lauw Kim In bergidik, mengerti bahwa suaminya itu "kumat"

Lagi gilanya, gila birahi yang kadang-kadang penyalurannya membuat dia ngeri dan jijik.

Maka makin cepatlah dia berlari dengan tekad kalau dapat akan membebaskan diri dari manusia itu.

Akan tetapi, betapa pun cepat dia lari, naik turun gunung dan keluar masuk hutan, akhirnya dia tersusul juga.

"Ha-ha-ha, kau kalah!"

Ouwyang Bouw menubruknya dari belakang sehingga Lauw Kim In terguling di atas rumput.

Ouwyang Bouw terus menggelutnya dan memaksanya sambil terkekeh-kekeh.

"Kita memang sepasang kuda...heh-heh, sepasang kuda bermain cinta..."

Dapat dibayangkan betapa tersiksanya hati wanita itu, namun terpaksa dia harus mandah saja diperlakukan sesuka hati pria yang memiliki tingkat kepandaian tinggi ini.

Dia tahu bahwa kalau dia melawan dengan kekerasan, berarti bunuh diri dan dia tidak mau bunuh diri dengan sia-sia.

Tubuhnya telah tercemar, telah kotor, maka ditambah dengan penderitaan beberapa kali lagi sebelum ada kesempatan baik, tidak mengapalah.

"Isteriku yang manis... kau hebat..."

Omyang Bouw merangkul dan mencium mulut Lauw Kim In yang rebah kelelahan dan mukanya agak pucat itu.

Ouwyang Bouw Ialu tergelimpang dan rebah pula terlentang di dekat Kim In, juga kelelahan dan dengan mulut tersenyum kepuasan.

Perlahan-lahan Kim In membereskan kembali pakaiannya.

Dia bangkit duduk dan melirik ke arah "suaminya"

Yang masih terlentang dengan mata terpejam itu.

Laki-laki itu tidur dengan tubuh setengah telanjang, dan harus diakuinya bahwa tubuh Ouwyang Bouw tegap dan gagah.

Andaikata wataknya tidak gila seperti itu, melihat ketampanan wajah dan ketegapan tubuhnya, kiranya tidaklah terlalu sukar baginya untuk belajar membalas cinta laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini.

Akan tetapi laki-laki ini gila!

Kegilaan yang menjemukan, terutama sekali kegilaannya dalam bermain cinta.

Teringat akan apa yang baru saja dialaminya tadi, dia diperlakukan sebagai seekor kuda betina, hampir sama dengan diperkosa di luar kehendaknya, kemarahannya meluap.

"Wuuuuuttt!"

Dengan jari-jari terbuka, tangan kanan Lauw Kim In menerkam dengan serangan maut ke arah dada dari suaminya.

"Plakkk...! Haiiiii, kau kenapa...?"

Biarpun kelihatannya tadi memejamkan matanya, namun Ouwyang Bouw dapat menangkis dan meloncat berdiri sambil berteriak kaget.

Lauw Kim In juga kecewa dan kaget.

Suaminya ini memang lihai sekali dan kalau dia tidak menggunakan akal, tentu dia akan mati konyol.

"Aku mengapa? Mengapa lagi kalau bukan mengajak kau berlatih silat?"

Jawab Lauw Kim In dengan suara biasa dan terus saja dia melancarkan pukulan bertubi-tubi, mengeluarkari jurus-jurus yang paling ampuh.

Sambil meloncat ke kanan kiri dan mengikatkan ikat pinggangnya yang kedodoran, Ouwyang Bouw tertawa.

"Ha-ha-ha, bagus! Baru saja selesai bertempur, sudah mengajak bertanding lagi. Nah, awas, aku membalas seranganmu!"

Bertandinglah kedua orang itu, atau bagi Ouwyang Bouw tentu saja hanya berlatih, dia tidak tahu bahwa "isterinya"

Itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh!

Setelah lewat lima puluh jurus, mengertilah Lauw Kim In bahwa tidak mungkin dia dapat mengalahkan suaminya yang benar-benar amat lihai ini.

"Sratttt!"

Dia mencabut pedangnya.

"Lihat pedang!"

Bentaknya karena biarpun di lubuk hatinya dia ingin membunuh orang ini, namun dengan cerdik dia memperingatkan agar suaminya tidak curiga dan mengira dia tetap mengajak berlatih, kini dengan silat pedang.

"Bagus! Memang dalam silat pedang engkau sudah memperoleh lebih banyak kemajuan daripada bertangan kosong, isteriku manis!"

Ouwyang Bouw juga mencabut pedangnya dan tampaklah dua gulungan sinar pedang berkelebatan.

"Wah-wah, apakah engkau tidak lelah? Aku lelah sekali...! Sudahlah, aku ingin mengaso!"

Ouwyang Bouw berteriak setelah mereka bertanding selama lima puluh jurus dan pedang mereka berkali-kali saling bertemu.

Diam-diam Lauw Kim In menjadi jengkel dan kecewa sekali.

Dengan tangan kosong dia tidak mampu menang, dengan pedang pun tidak akan mampu membunuh suaminya ini, biarpun tingkat mereka tidak berselisih banyak.

Dia menyarungkan pedangnya, lalu duduk membelakangi suaminya dengan wajah cemberut.

Ouwyang Bouw merangkulnya, mengusap keringat dari lehernya dan tangannya terus membelai ke bawah leher.

Lauw Kim In merenggut tangan itu dan makin cemberut.

"Aihh, Manis! Kau kenapa? Mengapa marah-marah?"

Ouwyang Bouw malah menggoda dan merangkul, terus menciumi dengan nafsu baru yang bangkil kembali.

"Engkau menipuku!"

Lauw Kim In berkata.

"Heh? Aku...? Menipumu...?"

"Dulu kau berjanji akan menurunkan semua ilmu silatmu kepadaku, ternyata kau hanya menipuku saja."

"Bukankah setiap kali kauminta, aku selalu melatihmu?"

"Huh! Yang kauajarkan hanyalah jurus-jurus tidak berguna saja. Buktinya, sampai sekarang pun aku belum mampu mengalahkan engkau!"

"Ha-ha-ha-ha! Hendak mengalahkan aku tidak mudah, isteriku. Ilmu kepandaianku sudah terlatih matang. Engkau hanya akan mampu mengalahkan aku dalam bermain cinta, kalau dalam ilmu silat, kiranya tidak mungkin biarpun aku mengajarkan seluruh ilmuku kepadamu."

Lauw Kim In termenung.

Benar juga apa yang diucapkan orang gila ini.

Dia kalah latihan, juga kalah tenaga dan keuletan, mungkin kalah bakat.

Habis, bagaimana dia akan dapat mengenyahkan laki-laki yang menjemukan hatinya ini?

Dia harus bersabar dan menanti datangnya kesempatan baik.

Maka dengan manis dia lalu menurut saja ketika suaminya mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw.

Akan tetapi memang watak Ouwyang Bouw aneh, dia tidak langsung mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw, melainkan di sepanjang jalan dia berhenti dan di setiap tempat yang indah dia merayu isterinya dan mengajarkan jurus-jurus baru, Sikapnya demikian mesra seperti pengantin baru saja, tidak tahu betapa limpahan cinta kasih yang luar biasa ini bahkan makin memuakkan hati Lauw Kim In.

Karena perjalanan yang lambat ini, mereka sampai bermalam selama dua malam di dalam hutan, dan semua kehendaknya terpaksa dilayani oleh Lauw Kim In yang merasa seperti dijadikan boneka hidup!

Pada hari ke tiga, barulah mereka langsung menuju ke Pek-lian-kauw.

Agaknya sudah lewat pula kumatnya penyakit Ouwyang Bow.

Ada kalanya dia bersikap seperti pengantin baru selama beberapa hari, ada pula kalanya dia bersikap acuh tak acuh terhadap Lauw Kim In sampai berpekan-pekan!

Ketika mereka tiba di sebuah hutan, tiba-tiba Omyang Bouw menarik tangan Lauw Kim In dan menyeretnya ke dalam semak-semak.

"Aku sudah lelah, jangan main gila kau! Besok saja..."

Kim In menolak karena mengira bahwa suaminya itu kumat lagi, akan tetapi Ouwyang Bouw mendekap mulutnya dan menuding ke depan.

Lauw Kim In memandang dan dia terkejut melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda.

Dia mengenal gadis cantik itu, karena gadis itu bukan lain adalah pengantin yang dirayakan pernikahannya di Pek-lian-kauw, gadis yang kabarnya bernama Cia Giok Keng puteri Ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi dia tidak mengenal pemuda tinggi besar dan bersikap gagah yang berjalan di sebelah gadis itu.

Siapakah pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu?

Dia bukan lain adalah Lie Kong Tek!

Seperti kita ketahui, Lie Kong Tek disuruh oleh gurunya untuk mencari Cia Giok Keng yang telah dipinangnya langsung dari ayah gadis itu.

Gurunya menghendaki dia menyusul dan kalau perlu melindungi gadis itu dan memaksakan perpisahan antara mereka dengan janji setahun kemudian bertemu di Cin-ling-san.

Demikianlah, Lie Kong Tek lalu melakukan perjalanan seorang diri dan karena dia tidak tahu ke mana perginya Cia Giok Keng, maka dia lalu mengambil arah yang ditempuh oleh Giok Keng ketika gadis itu tadi melakukan pengejaran terhadap Liong Bu Kong.

Tentu saja dia kehilangan jejak gadis itu dan selama dua hari dia berkeliaran di sekitar daerah itu, mencari-cari tanpa hasil.

Baru pagi tadi, ketika dia sudah hampir hilang harapan untuk bertemu dengan Cia Giok Keng, tiba-tiba dia melihat gadis itu muncul keluar dari sebuah hutan, berjalan dengan arah menuju ke sarang Pek-lian-kauw.

"Cia-siocia (Nona Cia)...!"

Dia memanggil sambil berlari mengejar.

Mendengar suara panggilan ini, Giok Keng berhenti dan menengok.

Ketika dia mengenal orang itu sebagai pemuda tinggi besar yang pernah membelanya di depan ayahnya, seketika Giok Keng cemberut.

Hemm, kembali dia berhadapan dengan seorang penjilat, pikirnya!

Betapa banyaknya bertemu dengan pria-pria seperti itu!

Pria yang memperlihatkan "kebaikan", bahkan rela berkorban apa pun untuk menarik hati seorang gadis cantik.

Dan dia tahu bahwa pemuda tinggi besar ini pun semacam pria seperti itu.

Tentu sikapnya membelanya di depan ayahnya, yang kelihatan gagah perkasa dan penuh kebaikan, bahkan yang membayangkan kasih sayang besar dengan pengorbanan dirinya, hanya merupakan siasat untuk menarik hatinya!

Dia sudah muak dengan semua itu, apalagi setelah mengalami kejatuhannya di tangan Liong Bu Kong si tukang bujuk rayu!

Kini teringat olehnya betapa hampir semua laki-laki adalah tukang bujuk, perayu yang berhati palsu, kecuali...

Kun Liong agaknya!

Kun Liong dengan terang-terangan mengatakan tidak cinta kepadanya!

Sebaliknya, semua pria yang dijumpainya selama ini, dari pandang matanya saja sudah menjeritkan "cinta"

Yang memuakkan.

Betapapun juga, pemuda tinggi besar ini sudah menerima siksaan dari ayahnya, bahkan hampir tewas, maka dia harus bersikap baik.

Dan untuk kelancangannya itu, dia akan menghukumnya dengan menjatuhkan hatinya seperti semua pria yang telah jatuh hati kepadanya, untuk kemudian dia tinggalkan.

Mulai sekarang, dia akan membalas semua pria yang cintanya palsu itu!

Mula-mula dahulu adalah para suhengnya di Cin-ling-pai, terutama Kwee Kin Ta dan Kwee Kin Ci yang dari sinar matanya jelas jatuh cinta kepadanya, lalu disusul belasan orang suhengnya yang lain.

Setelah itu, entah berapa banyaknya lirikan-lirikan cinta yang terpancar keluar dari pandang mata setiap orang pria, tua muda yang bertemu dengannya.

"Cia-siocia...!"

Lie Kong Tek kini sudah tiba di depan gadis itu, wajahnya berseri gembira karena hati siapa tidak akan gembira melihat gadis ini yang tadinya dianggap telah hilang dan tidak mungkin disusulnya lagi itu?

"Siapakah engkau dan ada keperluan apa memanggil-manggil aku?"

Giok Keng bertanya dengan sikap galak dan pura-pura tidak mengenal karena dia ingin mempermainkan pemuda tinggi besar ini.

Lie Kong Tek memberi hormat dengan kedua tangan di depan dadanya, penghormatan yang tidak dibalas oleh gadis itu, namun Kong Tek tidak peduli karena memang dia tidak mempunyal keinginan dibalas.

"Cia-siocia, tentu engkau tidak mengenal aku, akan tetapi dua hari yang lalu kita bersama ayahmu, guruku, dan para tamu kang-ouw di Pek-lian-kauw telah melawan orang-orang Pek-lian-kauw. Namaku Lie Kong Tek."

"Ahhh, sekarang aku ingat! Engkau adalah orang yang dihajar oleh Ayah dan nyaris tewas di tangan ayahku!"

Giok Keng sengaia mengemukakan hal itu karena dia menduga bahwa pemuda ini sudah cukup mendapat kesempatan untuk memamerkan jasa-jasanya ketika menolong dan membelanya.

Akan tetapi dia kecelik.

Lie Kong Tek sama sekali tidak menonjolkan jasanya, bahkan dia menarik napas panjang dan berkata dengan suara serius.

"Salahku sendiri, Nona. Masih untung aku tidak tewas di tangan ayahmu, karena kelancanganku mencampuri urusan orang lain."

"Tapi... engkau telah berusaha untuk menolongku. Engkau telah melepas budi kebaikan kepadaku!"

Giok Keng menambahi garam untuk memancing keluar isi hati pemuda itu yang dia anggap pasti akan menyatakan kagum dan sukanya dan kesiapannya untuk membela sampai mati!

Lie Kong Tek menggeleng kepala.

"Kau membikin aku malu saja, Nona Cia. Apa yang kulakukan itu tidak ada artinya sama sekali dan siapa pun yang melihat suatu peristiwa yang tidak adil, tak peduli siapa yang terkena dan siapa pula yang melihatnya, pasti akan turun tangan."

Hati Giok Keng menjadi penasaran.

"Apa? Kaumaksudkan... andaikata yang terancam oleh ayahnya bukan aku, melainkan orang lain..."

"Tentu saja tidak ada bedanya, aku tetap akan mencegah seorang ayah yang bijaksana memukul anaknya sendiri."

Hati Giok Keng kecewa.

"Ahh, kukira tadinya..."

Kekecewaan hatinya karena jawaban pemuda itu tidak seperti yang disangkanya, terlontar melalui mulutnya.

"Kaukira bagaimana, Nona?"

"Kukira kau menolongku karena...karena kau suka padaku."

Terus terang saja Giok Keng mengucapkan kata-kata ini karena ingin dia memperoleh bukti bahwa yang mendorong perbuatan pemuda itu memang demikian sehingga dia akan mendapat alasan untuk mempermainkan dan menghina laki-laki yang tinggi besar dan tampan gagah ini.

Wajah Lie Kong Tek berubah merah seketika.

"Nona, melakukan suatu perbuatan yang oleh umum dianggap baik menjadi sama sekali tidak baik dan palsu kalau berdasarkan rasa suka atau tidak suka!"

Giok Keng makin penasaran dan terheran-heran.

Baru sekarang dia berhadapan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak memperlihatkan sikap manis dan menjilat kepadanya, bahkan ucapannya begitu jujur dan terus terang sehingga terdengar kasar dan tidak menggunakan basa-basi sama sekali.

Akan tetapi hal ini malah membuat dia menjadi penasaran.

Kalau melihat semua laki-laki jatuh bertekuk lutut kepadanya, mengaku cinta, dia merasa muak karena sudah melihat kepalsuan mereka, terutama setelah pengalamannya dengan Bu Kong.

Akan tetapi sikap pemuda ini lain lagi, bahkan sebaliknya daripada sikap pemuda pada umumnya.

Dia akan merasa amat penasaran dan "turun nilai"

Kalau belum melihat pemuda ini pun bertekuk lutut menyatakan cinta kepadanya!

Maka dia segera merubah siasat dan berkata.

"Aihh, kalau tidak salah, gadis yang menjadi korban kekejian Ketua Pek-lian-kauw itu adalah tunanganmu, Saudara Lie Kong Tek?"

Lie Kong Tek mengangguk.

"Memang benar demikian, dan kedatanganku bersama Suhu ke Pek-lian-kauw memang hendak mencari dia. Kami mendengar bahwa Nona Bu Li Cun, tunanganku itu diculik oleh orang Pek-lian-kauw. Sayang kami datang terlambat..."

"Kau dan gurumu tidak berhasil menolong tunanganmu, akan tetapi telah dapat menolong aku dan ayahku. Bu Li Cun itu cantik sekali, engkau tentu berduka dan kehilangan, Saudara Lie."

"Tentu saja, aku merasa amat kasihan kepada Nona itu. Akan tetapi terus terang saja, tidak ada perasaan kehilangan di hatiku karena selamanya pun baru satu kali aku bertemu dengan tunanganku. Andaikata yang mengalami nasib buruk seperti dia itu seorang gadis lain, aku tetap akan merasa kasihan sekali."

Giok Keng termenung.

Pemuda ini memang aneh, pikirnya.

Berbeda dengan pemuda lain, bahkan sinar matanya ketika memandangnya biasa dan polos saja, tidak mengandung api gairah yang dia lihat dalam pandang mata pemuda lain.

Bahkan di dalam pandang mata Kun Liong yang terang-terangan tidak mencintanya itu pun terdapat sinar kagum kalau memandang kepadanya.

Kenyataan ini membuat hatinya panas.

Manusia sombong!

Manusia angkuh!

Kauanggap aku bukan apa-apa, ya?

Tunggu saja kau, hatiku belum puas kalau tidak dapat melihat engkau bertekuk lutut dan merengek mengaku cinta!

Gadis ini tidak sadar betapa sesungguhnya dialah yang sombong!

Demikianlah keadaan hati dan pikiran seseorang yang tidak pernah mengenal diri sendiri, sehingga dia seolah-olah buta akan gerak-gerik lahir batinnya, tidak sadar akan watak-wataknya sendiri.

Karena tidak mengenal diri sendiri inilah yang menimbulkan segala perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri, perbuatan yang oleh umum dianggap jahat.

Tidak ada perbuatan jahat yang disadari sebagai perbuatan jahat oleh orang yang tidak pernah mengenal dirinya sendiri, semua perbuatannya itu, apapun juga penilaian umum, tentu dianggapnya benar karena dia mempunyai alasan-alasannya yang tentu saja berdasarkan kepentingan diri pribadi.

Orang yang tidak mengenal diri sendiri akan sepenuhnya berada dalam cengkeraman si aku yang selalu mengejar kesenangan, dikuasai oleh si aku tanpa disadarinya.

Sebaliknya, dengan pengenalan diri sendiri setiap saat, gerak-gerik dan segala akal bulus si aku dapat diawasi dengan jelas sehingga si aku tidak sempat lagi mengeluarkan segala siasat dan tipu muslihatnya.

Demikian pula dalam pertemuan antara Giok Keng dan Kong Tek.

Pemuda itu berwatak jujur, polos dan wajar sehingga semua ucapannya tidak mengandung niat lain.

Tidak demikian dengan Giok Keng yang merasa dirinya sebagai seorang gadis cantik, lihai, puteri Ketua Cin-ling-pai sehingga dari pengalaman yang sudah-sudah timbullah rasa tinggi hati dan keyakinan bahwa semua pria pasti akan bertekuk lutut dan jatuh cinta kepadanya!

"Nona Cia, sudah dua hari aku mencari-carimu!"

Timbul harapan di hati Giok Keng dan matanya bersinar tajam memandang penuh selidik.

"Ada perlu apakah engkau mencari-cariku selama dua hari ini?"

"Hanya untuk membuktikan bahwa engkau berada dalam keadaan selamat, Nona. Ayahmu juga mencarimu dan aku diperintah oleh Suhu untuk membantu mencarimu. Sekarang Nona hendak pergi ke manakah?"

"Hendak kembali ke Pek-lian-kauw, memberi hajaran kepada para penjahat Pek-lian-kauw."

"Aihh! Nona tidak mengerti apa yang telah terjadi. Bahkan Suhu dan ayahmu sendiri terpaksa harus melarikan diri. Pek-lian-kauw amat kuat, selain ketuanya memiliki keahlian dalam ilmu sihir yang hanya dapat dilawan oleh Suhu, juga mereka berjumlah banyak dan mempunyai sahabat-sahabat orang pandai."

Giok Keng terkejut. Ayahnya sampai melarikan diri? "Di manakah Ayah sekarang?"

"Beliau juga pergi berpisah dari kami, katanya hendak menyusul dan mencarimu, Nona."

"Kalau begitu, aku harus cepat kembali ke Cin-ling-san. Sudah terlatu lama aku meninggalkan Ibu, tentu dia akan merasa khawatir sekali."

Teringat akan ibunya, hati Giok Keng berduka bukan main karena terbayang dahulu ketika dia cekcok dengan ayahnya dan diusir ayahnya yang kemudian ternyata bahwa ayahnyalah yang benar mengenai pribadi Liong Bu Kong.

Teringat betapa demi Liong Bu Kong dia sampai minggat dari Cin-ling-san, menyakiti hati ayah bundanya, dia menjadi makin gemas kepada Liong Bu Kong dan andaikata dia tidak pasti benar bahwa Bu Kong telah tewas di tangan Yo Bi Kiok, tentu dia akan mencari dan membunuhnya!

Kematian Liong Bu Kong bukan di tangannya membuat hatinya belum puas dan timbullah keinginannya untuk mempermainkan hati dan cinta kasih kaum pria!

Adapun yang dianggapnya sebagai calon korban pertama adalah Lie Kong Tek inilah.

"Kalau Nona tidak berkeberatan, mari kita melakukan perjalanan bersama,"

Tiba-tiba Kong Tek berkata.

Bagi pemuda ini, keadaannya juga serba sulit.

Gurunya menyuruh dia mencari Giok Keng dan menyatakan cinta kasihnya!

Akan tetapi, bagaimana dia dapat menyatakan perasaan hati itu kalau dia sendiri tidak yakin benar karena tidak tahu apakah benar dia mencinta gadis ini?

Tentu saja dia tidak akan mau berlaku lancang seperti itu, apalagi karena dia pun maklum bahwa tidaklah pantas bagi dia untuk berjodoh dengan seorang dara seperti puteri Ketua Cin-ling-pai ini.

Mulut yang manis bentuknya itu terhias senyum mengejek.

Hemmm, pikir Giok Keng, betapa pun angkuh hatimu, belum apa-apa engkau sudah ingin menemaniku dalam perjalanan.

"Eh? Engkau ingin melakukan perjalanan bersamaku, Saudara Lie? Mengapakah?"

Lie Kong Tek agak sukar menjawab, lalu menggerakkan pundak dan merentangkan kedua lengannya.

"Mengapa? Tidak ada apa-apa, Nona. Hanya karena aku telah berpisah dari Suhu dan hidup sebatang kara, tidak mempunyai tujuan tetap, sedangkan kau pun sendirian pula, bukankah lebih baik dan lebih kuat kalau kita melakukan perjalanan bersama? Aku pun ingin berkunjung ke Cin-ling-san, bertemu dengan ayahmu yang amat bijaksana dan tinggi ilmu kepandaiannya itu."

Senyum di bibir Giok Keng makin melebar. Hemm, alasan yang dicari-cari, pikirnya.

"Baiklah,"

Katanya kemudian dan hatinya girang karena dia ingin sekali melihat laki-laki ini pun jatuh cinta kepadanya untuk kemudian dia patahkan hati dan kasihnya seperti yang ingin dia lakukan terhadap semua pria sebagai pembalasan sakit hatinya kepada Bu Kong!

Demikianlah, dua orang itu melakukan perjalanan bersama, akan tetapi tak lama kemudian tiba-tiba tampak dua orang meloncat keluar dari semak-semak dan berdiri di depan mereka.

Seorang pemuda tampan yang tertawa-tawa menyeringai dan seorang wanita cantik yang berwajah dingin dan tidak pedulian.

Melihat dua orang ini, Lie Kong Tek terkejut karena dia tadi sudah melihat kelihaian dua orang itu ketika datang membantu Pek-lian-kauw, kemudian mereka berdua pergi lari berkejar-kejaran.

Akan tetapi Giok Keng tidak mengenal mereka.

Biarpun pernah Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In datang ke Pek-lian-kauw, akan tetapi karena pada waktu itu ingatan Giok Keng hilang olch obat perampas ingatan, maka dia tidak mengenal dua orang ini.

Sebaliknya, Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In mengenal gadis cantik ini yang tadinya hendak menikah dengan Liong Bu Kong di Pek-lian-kauw.

"Heh-heh-heh, inilah pengantin wanita yang kabur!"

Ouwyang Bouw berkata sambil tertawa.

Muka Giok Keng menjadi merah sekali sehingga dalam pandang mata Ouwyang Bouw dia tampak makin cantik.

"Siapakah kalian? Perlu apa menghadang di jalan?"

Giok Keng membentak.

"Ha-ha-ha, puteri Ketua Cin-ling-pai memang angkuh! Aku bernama Ouwyang Bouw dan dia ini isteriku."

Mendengar nama ini, berubah wajah Giok Keng.

Tentu saja dia pernah mendengar nama Ouwyang Bouw, pemuda iblis putera mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok!

Tahulah bahwa dia berhadapan dengan musuh besar, karena ayah pemuda ini tewas di tangan ayahnya!

"Bagus, manusia iblis!

Nah, cabut pedangmu, mau tunggu apa lagi?"

Bentaknya sambil menghunus pedangnya, siap untuk bertanding mati-matian karena dia sudah mendengar betapa lihainya pemuda ini.

"Ho-ho-ha-ha! Biarpun ayahmu adalah musuh besarku, akan tetapi karena engkau calon isteri Liong Bu Kong, kita adalah kawan-kawan segolongan. Jangan galak-galak, Nona manis. Mana suamimu, Liong Bu Kong?"

"Dia sudah mampus! Dan kau akan segera menyusulnya ke neraka jahanam!"

Giok Keng membentak.

"Wah-wah... sudah mampus? Bukan main! Suami baru saja mati sudah mempunyai pacar lain lagi yang muda dan ganteng! Eh, Isteriku, anak Ketua Cin-ling-pai ini pintar juga, ya? Pintar dan cantik jelita! Juga pacarnya itu gagah dan ganteng! Bagaimana kalau kita manfaatkan mereka sebagai selingan kita?"

Lauw Kim In hanya cemberut, tidak menjawab, pandang matanya kosong dan sayu karena tingkah laku dan ucapan suaminya itu merupakan pisau beracun yang menyayat-nyayat hatinya.

"Ouwyang Bouw, bersiaplah untuk mampus!"

Giok Keng membentak lagi.

Sebagai seorang pendekar, dia tidak sudi menyerang lawan yang tidak siap sama sekali.

"Heh-heh, makin galak makin manis! Cia Giok Keng, buat apa bertanding? Lebih baik bercinta! Mari kita bertukar pasangan!"

Giok Keng benar-benar tidak mengerti semua ucapan orang gila itu, maka tanpa disadari lagi dia bertanya.

"Apa... maksudmu...?"

"Ha-ha-ha, baru pengantin baru, masa tidak tahu? Kita bertukar pasangan, bertukar pacar untuk malam ini, kau tidur bersama aku dan biar pacarmu itu meniduri isteriku!"

"Iblis laknat bermulut busuk!"

Giok Keng tahu akan maksud yang kotor itu, maka kemarahan yang bertumpuk-tumpuk membuat dia tidak dapat menahan hatinya lagi dan serta merta dia mengirim serangan kilat kepada Ouwyang Bouw.

"Heiiitttt... ahhh...!"

Ouwyang Bouw terpaksa harus menjatuhkan dirinya ke belakang dan bergulingan sampai jauh, terus melompat sambil mencabut pedang ularnya karena mendapat kenyataan betapa hebat dan berbahayanya serangan Cia Giok Keng tadi.

Biarpun otaknya miring, namun Ouwyang Bouw adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan memiliki kecerdikan luar biasa, maka dia cepat menyambut serangan gadis itu dengan sungguh-sungguh, bahkan juga membalas dengan serangan pedang ularnya yang amat dahsyat.

Sementara itu, Lie Kong Tek yang melihat betapa Giok Keng sudah bertanding dengan Ouwyang Bouw, juga cepat mencabut pedangnya.

Dia melihat betapa wanita teman Ouwyang Bouw yang dikatakan isterinya itu hanya berdiri diam, menonton dengan wajah dingin dan sikap tidak peduli, maka dia pun lalu menerjang dan membantu Giok Keng mengeroyok Ouwyang Bouw.

Ouwyang Bouw yang lihai sekali melihat gerakan pemuda tinggi besar ini tahulah dia bahwa tingkat kepandaian pemuda itu masih jauh kalau dibandingkan dengan dia atau Giok Keng, maka pada saat dia menggerakkan pedang ularnya menangkis pedang Giok Keng, kakinya yang kiri meluncur ke depan menangkis sambaran pedang Lie Kong Tek dan kaki kanannya cepat sekali menendang dan mengenai dada Kong Tek yang sama sekali tidak menduga-duga akan serangan balasan yang demikian aneh dan cepatnya itu.

"Desss...!"

Tubuh tinggi besar itu terjengkang dan terguling-guling.

Akan tetapi dia bangkit kembali, menggeleng-geleng kepala dan menggoyangnya untuk mengusir kepeningan, kemudian dia maju lagi dengan penuh semangat.

"Isteriku, kautundukkan yang laki-laki itu! Lihat betapa gagahnya dia, tentu hebat pula sepak-terjangnya dalam bercinta. Kautangkap dia, biar kutangkap yang perempuan!"

Ouwyang Bouw berteriak kepada Lauw Kim In, akan tetapi Kim In diam saja seperti patung menonton pertandingan yang amat hebat itu.

"Kalau begitu, terpaksa aku merobohkan laki-laki pengganggu ini!"

Ouwyang Bouw bersungut-sungut, marah melihat isterinya diam saja tidak mau membantu.

"Lie-twako, awas...!"

Giok Keng berteriak ketika melihat menyambarnya sinar merah yang lembut.

Namun terlambat.

Jarum merah yang hanya sebatang dan amat kecil itu menyambar cepat sekali, tepat mengenai paha Kong Tek dan pemuda itu mengeluarkan suara gerengan, berusaha untuk mempertahankan rasa nyeri dan menyerang lagi namun dia roboh terguling.

Kakinya lumpuh seketika karena racun jarum itu sudah bekerja.

Kini teringatlah Giok Keng bahwa yang melukainya dengan jarum merah ketika dia dan Kun Liong dikeroyok adalah orang ini pula, maklum betapa bahayanya jarum merah beracun itu.

Maka dia menjadi cemas dan pada saat itu, ketika dia melirik untuk melihat Kong Tek, kakinya kena disabet oleh kaki Ouwyang Bouw sehingga dia jatuh terguling.

"Brettt...!"

Sebagian bajunya terobek oleh tangan Ouwyang Bouw.

"Ha-ha-ha-ha, pengantin wanita, ternyata akulah yang menjadi pengantin prianya, ha-ha, untungku!"

Dan dia maju menubruk.

"Mampuslah!"

Giok Keng yang tadi rebah miring, tiba-tiba menusukkan pedangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat pergelangan tangannya yang memegang pedang telah ditangkap oleh tangan kiri Ouwyang Bouw yang sudah siap menghadapi serangan ini, kemudian pundaknya ditotok dan lemaslah rasa tubuhnya!

Dengan mata terbelalak Giok Keng melihat betapa sambil tertawa-tawa Ouwyang Bouw mulai menanggalkan pakaiannya sendiri sambil berkata kepada wanita yang diaku isterinya tadi.

"Isteriku, lekas kauajak pemuda itu, biarpun dia terluka pahanya akan tetapi tentu masih mampu! Atau kau lebih senang menonton aku main-main dengan puteri Cin-ling-pai ini? Ha-ha-ha!"

Giok Keng hampir pingsan melihat Ouwyang Bouw bertelanjang bulat dan mendekatinya.

Dia cepat memejamkan matanya dan mengerahkan seluruh sinkang.

Dia pernah diajari oleh ayahnya cara untuk menggunakan tenaga mujijat dari sin-kang istimewa yang menurut ayahnya adalah ciptaan mendiang Tiang Pek Hosiang untuk membebaskan totokan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Manusia iblis!"

Tiba-tiba dia mendengar bentakan Kong Tek, disusul sambaran angin dan tahulah dia bahwa biarpun pahanya terluka, Kong Tek telah memaksa diri menubruk maju menyerang Ouwyang Bouw.

Akan tetapi dia tidak membuka matanya dan tetap mengerahkan sin-kang seperti yang diajarkan oleh ayahnya.

Dia menurut ayahnya, kurang berbakat untuk mempelajari Thi-khi-i-beng dan sebagai gantinya, ayahnya menurunkan ilmu membebaskan totokan jalan darah ini.

Hanya saja, ilmu ini hanya dapat dipergunakan untuk membebaskan totokan jalan darah yang tidak berbahaya.

Untung baginya, Ouwyang Bouw yang tidak ingin dia sama sekali lemas tak berdaya, hanya menotok jalan darah biasa sehingga, biarpun dia tidak mampu menggerakkan kaki tangan, namun tidak seluruh tubuhnya lumpuh.

"Dessss...! Brukkk...!"

Tubuh Lie Kong Tek terbanting keras.

"Ha-ha-ha, aku tidak akan membunuhmu agar kalau isteriku mau, dia dapat mempergunakanmu. Kalau tidak mau pun, kau harus menyaksikan sendiri betapa aku meniduri kekasihmu yang cantik ini, ha-ha!"

"Manusia iblis! Terkutuk kau...!"

Kong Tek memaki-maki akan tetapi tidak mampu bergerak lagi karena dia pun sudah ditotok punggungnya, membuat kedua kakinya lumpuh.

Dan Lauw Kim In masih diam saja, hanya meraba pedangnya.

"Ha-ha-ha, kini tibalah saatnya aku membalas kematian ayahku. Tentu roh ayahku akan tertawa bahagia menyaksikan betapa aku dapat menggagahi puteri musuh besarnya. Hemmm, kau cantik, Giok Keng, cantik sekali, hemmm...!"

Giok Keng tetap memejamkan mata dan mematikan rasa ketika Ouwyang Bouw menciuminya dan menggerayang tubuhnya.

Ketika jari-jari tangan Ouwyang Bouw mulai membuka pakaiannya hendak menanggalkan pakaian itu, totokan itu pun dapat dia punahkan dan tubuhnya sudah dapat bergerak lagi!

"Hyaaatt...!"

"Croottttt...! Aduuuhhh...!"

Tubuh Ouwyang Bouw mencelat jauh ke belakang, kedua tangannya menutupi mukanya yang berlumuran darah.

Serangan jari-jari tangan Giok Keng pada kedua matanya tadi, biarpun dia elakkan sedapatnya, tetap saja masih mengenal mata kirinya yang hancur bola matanya, membuatnya buta sebelah seketika dan rasa nyeri membuat dia menggerung-gerung.

Tiba-tiba terjadilah hal yang membuat Giok Keng dan Kong Tek memandang terbelalak.

Lauw Kim In, yang sejak tadi berdiri diam saja seperti patung, tiba-tiba telah mencabut pedangnya dan kini dari samping dia menghampiri suaminya, lengan kiri memeluk suaminya seperti hendak menolong, akan tetapi tangan kanannya menggerakkan pedangnya menusuk ke arah lambung.

"Crepppp...!"

Pedang itu menembus lambung dari kanan ke kiri.

Tubuh Ouwyang Bouw seperti menegang, dia membalik dan matanya yang tinggal satu, terbelalak memandang isterinya, mulutnya berteriak.

"Kau...? Kau...?"

Kemudian terdengar gerengan seperti seekor serigala dan tahu-tahu kedua tangan Ouwyang Bouw telah menerkam ke depan, mencengkeram ke arah dada Lauw Kim In yang tak dapat mengelak lagi karena wanita itu tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri ketika melihat betapa pedangnya berhasil menembus lambung orang yang amat dibencinya itu.

"Aughhh...!"

Lauw Kim In menjerit mengerikan karena kedua buah dadanya telah dicengkeram sedemikian rupa sampai hancur dan darah muncrat keluar, berbareng dengan darah yang mengucur dari kedua lambung kanan kiri Ouwyang Bouw.

Giok Keng terkejut, meloncat ke depan, pedangnya berkelebat dan tubuh Ouwyang Bouw terpelanting, tubuh yang tidak mempunyai lengan lagi karena kedua lengannya telah buntung oleh pedang Giok Keng akan tetapi kedua lengan itu kini bergantungan di dada Lauw Kim In karena kedua tangannya masih mencengkeram dada!

Lauw Kim In juga terhuyung lalu terguling roboh.

Bibirnya bergerak-gerak ketika matanya memandang Giok Keng.

Gadis ini cepat menghampiri dan berjongkok, mendengarkan kata-kata yang menjadi pesan terakhir itu.

"Katakan...kepada Yap Kun Liong...Mawar Go-bi...di saat terakhir...mempertahankan nilainya...!"

Dan matilah Lauw Kim In dalam keadaan yang amat mengerikan karena kedua lengan yang buntung itu masih tetap menggantung pada dadanya, sedangkan Ouwyang Bouw tewas dengan pedang menembus lambung.

Giok Keng mengeluh, bergidik dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

Ngeri dia membayangkan bahaya yang mengancamnya tadi, bahaya yang amat mengerikan dan amat hebat.

Kemudian dia teringat kepada Kong Tek lalu dibukanya kedua tangannya dari depan mukanya.

Dia bangkit berdiri, memandang ke arah pemuda itu.

Dilihatnya Kong Tek rebah miring, tak mampu bergerak karena selain luka pada pahanya, juga tertotok punggungnya.

Pemuda itu memandang kepadanya, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata sepatah pun.

Mengeluh pun tidak.

Dengan perlahan Giok Keng menghampirinya.

"Aku girang dan bersyukur melihat engkau selamat, Nona,"

Kata Kong Tek.

"Kau merasa telah menolongku lagi?"

Giok Keng bertanya sambil menggunakan tangannya untuk membebaskan totokan yang membuat pemuda itu tidak mampu menggerakkan kedua kakinya.

Kong Tek menarik napas panjang.

"Hasrat hati ingin menolong melihat engkau terancam bahaya, akan tetapi kenyataannya aku hanya menimbulkan gangguan saja untukmu, -karena kepandaianku yang amat rendah. Betapa pun, aku girang melihat engkau selamat."

Setelah dapat menggerakkan kedua kakinya, dengan terpincang-pincang Kong Tek menyeret kakinya yang terkena jarum, lalu menghampiri mayat Lauw Kim In dan Ouwyang Bouw, dan mulailah dia menggali tanah dengan pedangnya.

"Eh, apa yang kau lakukan itu?"

Giok Keng bertanya. Tanpa menghentikan pekerjaannya, dia menjawab.

"Menggali lubang untuk mengubur dua mayat ini..."

Giok Keng cemberut.

"Aaaahhh! Perlu apa? Mereka adalah manusia-manusia jahat yang berwatak iblis, terutama Ouwyang Bouw itu!"

Baca Juga: Istana Pulau Es 8

Baca Juga: Suling Emas 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert