Eps 4 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.
Gadis ini mengeluh akan tetapi begitu tubuhnya roboh, ia menggulingkan tubuhnya dan seorang perajurit yang menubruk untuk memeluknya, disambut dengan tamparan yang amat dahsyat.
"Prokkk...!"
Perajurit itu terpelanting dengan kepala retak dan tewas seketika.
Akan tetapi, pengerahan tenaga terakhir ini membuat Kui Eng kehabisan tenaga dan iapun terkulai dalam keadaan setengah pingsan!
Pada saat itu, berkelebat sesosok bayangan orang dan para perajurit itu terkejut sekali karena tiba-tiba muncul seorang pemuda yang menyambar tubuh gadis yang sudah terkulai itu dan memanggul tubuh itu lalu melarikan diri.
"Tangkap dia!"
Teriak Ma Cek Lung dengan marah.
Gadis itu sudah tidak berdaya, tinggal menangkap dan membelenggu saja dan seperti sepotong daging sudah tinggal menyumpit dan memasukkan mulut, akan tetapi tiba-tiba terlepas dan tentu saja dia tidak mau membiarkan pemuda itu melarikan Kui Eng.
Akan tetapi, gerakan pemuda ini luar biasa cepatnya, dan setiap perajurit yang mencoba untuk menghadangnya, dirobohkan dengan pukulan-pukulan tangan kiri atau tendangan kaki, sedangkan lengan kanannya memanggul tubuh Kui Eng di atas pundak kanan.
"Keparat!"
Bentak Ma Cek Lung dan bersama seorang pembantunya, dia menubruk maju dengan golok terhunus.
"Lepaskan gadis itu!"
Akan tetapi, dengan sebuah tendangan kilat, pemuda itu merobohkan pembantunya dan Ma-Ciangkun sendiri terkena pukulan tangan kiri yang cepat dan kuat.
Dadanya terpukul dan biarpun dada perwira itu dilindungi baju besi, tetap saja dia terpental dan roboh pingsan dengan napas sesak!
Pemuda itu lalu berloncatan dan dengan cepat sekali menerobos kepungan para perajurit, merobohkan beberapa orang lagi tanpa membunuh mereka, dan akhirnya lolos dari kepungan.
Beberapa orang perajurit mencoba untuk mengejar, akan tetapi pemuda itu dapat berlari cepat bukan main walaupun sambil memondong tubuh Kui Eng dan akhirnya para perajurit tidak mengejar lagi.
Mereka sibuk dengan mengumpulkan barang rampokan, mengurus teman-teman yang terluka atau tewas, dan mencoba untuk menyadarkan Ma Cek Lung yang pingsan.
Kui Eng sudah kehabisan tenaga dan tubuhnya lemas.
Ia setengah pingsan, akan tetapi ia masih dapat mengetahui bahwa ia telah ditolong oleh seorang laki-laki yang memondongnya dan membawanya lari.
Pandang matanya sudah kabur dan ia tidak dapat melihat jelas wajah laki-laki ini, apa lagi ketika ia dipanggul, kepalanya berada di belakang tubuh orang itu akan tetapi ia tahu bahwa orang ini telah menyelamatkannya dan diam-diam ia bersyukur karena ia tahu bahwa tenaganya sudah habis dan nyawanya takkan tertolong lagi.
Ia tidak takut mati, akan tetapi kalau ia mati, siapa yang akan membalaskan kematian Ayah ibunya?
Ia berterima kasih kepada laki-laki ini yang sudah menyelamatkannya sehingga masih ada harapan dan kesempatan baginya untuk kelak membalas dendam kepada Ma Cek Lung dan anak buahnya.
Ia merasa aman dan ketika pemuda itu berlari cepat memanggul tubuhnya ke luar kota Tung-kang, diam-diam ia beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.
Setelah tiba di luar kota, jauh dari tempat ramai, di sebuah bukit yang berada di sebelah barat kota Tung-kang, pemuda itu berhenti, lalu dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Kui Eng ke atas tanah.
Akan tetapi, Kui Eng yang kini sudah kuat kembali, lalu bangkit berdiri dan menghadapi pemuda itu, baru pertama kalinya ia ingin dan dapat melihat wajah penolongnya karena tadi ia mencurahkan semua perhatiannya untuk menghimpun hawa murni.
Dua pasang mata yang sama tajamnya saling tatap dan tiba-tiba Kui Eng undur dua langkah dan berseru kaget.
"Kau...!!"
Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, gadis ini lalu menerjang pemuda itu kalang kabut, mengerahkan lagi seluruh tenaga yang ada dan oleh karena itu serangannya dahsyat sekali.
Pemuda itu bukan lain adalah Tan Ci Kong!
Seperti juga semua orang yang berada di sekitar daerah Kanton, Ci Kong juga mendengar tentang pengepungan pasukan besar kerajaan terhadap kota Kanton dan diapun merasa heran dan ingin tahu apa yang terjadi.
Ketika mendapat keterangan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Panglima Lin Ce Shu itu adalah utusan kaisar untuk menyita semua madat, diam-diam dia merasa bersyukur sekali dan memuji tindakan itu yang dianggap akan menyelamatkan rakyat dari racun yang amat berbahaya itu.
Akan tetapi Ci Kong melihat pasukan yang dipimpin oleh Ma Cek Lung keluar dari Kanton.
Pasukan yang besarnya seratus lima puluh orang, membalapkan kuda keluar dari kota itu.
Hatinya tertarik karena dia mengenal Ma Cek Lung sebagai perwira tinggi besar gendut yang pernah menyiksa dan hampir membunuh dia dan Ayahnya pada duabelas tahun yang lalu di dalam rumah Ciu Wan-gwe.
Karena hatinya tertarik, maka diapun mengikuti jejak pasukan ini yang ternyata menuju ke kota Tung-kang.
Pasukan ini mendatangi rumah gedung hartawan Ciu dan ketika Ci Kong mendengar bahwa mereka akan menyita madat, diapun tidak mau mencampuri, bahkan diam-diam merasa girang.
Memang hal itu sudah semestinya sejak dahulu dilakukan pemerintah, pikirnya sambil meninggalkan (Lanjut ke
Jilid 12) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 12 Tung-kang karena dia tidak ingin mencampuri.
Akan tetapi, dia melihat asap mengepul dari dalam kota itu.
Dia terkejut.
Kebakaran?
Apakah yang terjadi?
Sudah berjam-jam dia meninggalkan kota itu dan tidak menduga akan terjadi kekerasan karena siapakah yang akan melawan dan menentang keputusan kaisar?
Kebakaran itu menarik hatinya dan diapun cepat menggunakan ilmu berlari cepat memasuki kota Tung-kang kembali.
Makin terkejut dia ketika mendengar berita di dalam kota itu bahwa rumah gedung keluarga Ciu Wan-gwe diserbu, dirampok dan dibakar oleh pasukan yang datang dari Kanton.
Dia merasa heran dan ketika dia cepat datang ke tempat itu, dia melihat betapa gadis puteri Ciu Wan-gwe yang cantik dan lihai itu dikeroyok puluhan orang perajurit dan melihat pula banyaknya perajurit yang tewas dan juga betapa rumah itu terbakar dan banyak pengawal dan pelayan keluarga itu sudah berserakan menjadi mayat.
Maka diapun cepat turun tangan menyambar tubuh Kui Eng yang setengah pingsan itu dan melarikannya ke luar kota.
Kini, melihat kemarahan gadis itu yang tiba-tiba menyerangnya begitu mengenalnya, Ci Kong tidak merasa heran atau kaget.
Cepat dia mengelak dan menjauhkan diri.
"Harap kau tenanglah, nona, karena sekali ini aku tidak memusuhi siapapun juga. Aku bahkan ikut bersedih melihat hancurnya keluargamu..."
Akan tetapi, Kui Eng tidak pernah merasa kenal kepada pemuda ini yang hanya diketahuinya pada pagi hari itu mengacau di gedung keluarganya, dikeroyok oleh para pengawal sampai ia datang dari jalan-jalan pagi dan menyerang pemuda itu, hanya tahu bahwa pemuda itu, dengan seorang kawan lain, telah mengacau, bahkan mendatangkan banyak kematian di antara para pengawal dan anak buah pasukan keamanan kota Tung-kang yang datang membantu.
Tentu saja, melihat pemuda ini, biarpun kenyataannya tadi menyelamatkannya, ia menduga bahwa tentu ada hubungan antara penyerangan pemuda ini beberapa hari yang lalu dengan penyerbuan pasukan sekarang ini.
"Manusia busuk, sekaranglah saatnya kita membuat perhitungan!"
Bentaknya dan dengan cepat Kui Eng sudah menyambar sepotong kayu dari dahan pohon yang berdekatan.
Dengan kayu sebagai tongkat di tangannya, dara inipun menyerang kembali dengan dahsyat.
Melihat betapa sepotong kayu itu kini berobah menjadi sinar kehijauan dan ujungnya bergetar menjadi banyak sekali menyerang ke arah jalan darah di bagian depan tubuhnya, Ci Kong kaget bukan main.
Inilah serangan maut yang amat berbahaya, pikirnya dan cepat dia berloncatan mengelak.
Akan tetapi, gadis itu terus mendesaknya dengan tongkat istimewa itu dan memang gadis itu telah mengeluarkan ilmunya yang paling hebat yang dipelajarinya dari Tee-tok, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa)!
Ci Kong mengenal ilmu tongkat sakti, maka diapun harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang amat tangguh ini.
Kedua lengannya seperti berobah menjadi baja sehingga setiap kali lengannya menangkis tongkat, Kui Eng merasa betapa lengannya yang memegang tongkat tergetar.
Keduanya mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sama mahirnya sehingga tubuh mereka lenyap berobah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara sinar tongkat hitam kehijauan yang mengeluarkan suara mendengung-dengung.
Diam-diam Ci Kong merasa kagum sekali.
Ilmu tongkat ini hebat bukan main dan untung baginya bahwa gadis itu sudah kehilangan banyak tenaga, andaikata tidak, ia akan terancam bahaya maut karena ilmu tongkat itu aneh dan sukar dilawan.
Andaikata tadi gadis itu menggunakan tongkat, kiranya akan lebih banyak korban yang roboh di pihak para pengeroyok dan mungkin tidak perlu dibantunya.
Akan tetapi, pemuda ini adalah murid Siauw-bin-hud dan telah mempelajari banyak ilmu yang tinggi-tinggi sehingga dia masih mampu menghindarkan diri dan terpaksa untuk mengimbangi kedahsyatan serangan gadis itu, diapun kadang-kadang membalas dengan totokan-totokan untuk menghentikan serangan gadis itu.
"Nona, sabarlah. Sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Marilah kita bicara dulu sebelum melanjutkan perkelahian ini."
Berkali-kali Ci Kong berkata, suaranya tetap sabar dan tenang.
Kui Eng sudah merasa semakin penasaran sekali.
Ia telah mempergunakan tongkat dan telah memainkan Cui-beng Hek-pang, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu mengalahkan pemuda ini, bahkan tenaganya sendiri mulai berkurang lagi dan napasnya mulai memburu.
Ingin ia menangis saking jengkelnya.
Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu mengajak bicara, ia mendapatkan kesempatan baik untuk beristirahat, untuk menghimpun tenaga baru dan menenangkan kembali pernapasannya.
Maka iapun meloncat ke belakang, memandang tajam dan berusaha menguasai pernapasannya yang terengah-engah.
"Kau... kau mau bicara apa lagi?"
Katanya ketus.
"Nona, marilah kita bicara dengan baik. Aku mengerti bahwa nona memusuhi aku karena salah kira saja."
"Huh, aku masih belum buta untuk mengenal engkau sebagai pengacau yang pernah membikin ribut di rumah keluargaku beberapa hari yang lalu."
Ci Kong mengangguk.
"Tidak kusangkal, nona. Akan tetapi, kedatanganku pada waktu itu hanya untuk mengingatkan Ciu Wan-gwe tentang buruknya pengaruh madat terhadap rakyat, dan ingin minta kepadanya agar dia menghentikan usaha pengedaran madat itu. Akan tertapi aku tidak diperkenankan bertemu dengan Ciu Wan-gwe, bahkan aku dikeroyok."
"Siapa sudi percaya omonganmu? Engkau mengatakan tidak bermaksud buruk dan hanya mau mengingatkan, akan tetapi engkau membunuh belasan orang pengawal!"
"Menyesal sekali, nona. Akan tetapi bukan aku yang membunuh mereka, melainkan orang yang datang membantuku..."
"Kawanmu, sekutumu, sama saja!"
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengenal dia, nona. Dan aku tidak setuju dengan perbuatannya itu. Nona, kalau memang aku memusuhimu, perlu apa aku menyelamatkanmu dan membawamu ke luar Tung-kang?"
Sejenak Kui Eng meragu.
Benar juga apa yang dikatakan pemuda ini, akan tetapi ia masih merasa penasaran.
Dalam sekejap mata saja ia telah kehilangan keluarga, harta benda, kehilangan segala-galanya dan kepada siapa ia akan menumpahkan kemarahannya?
Betapapun juga, pemuda ini pernah berkelahi melawannya, pernah menjadi musuh keluarganya.
"Maaf, nona. Sungguh aku merasa ikut bersedih melihat nasib keluargamu..."
Mendengar ucapan ini, seperti didorong keluar saja air mata dari sepasang mata yang indah tajam itu. Akan tetapi, Kui Eng mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.
"Dulupun engkau tidak kasihan, kini tidak perlu kasihan, engkau pernah memusuhi kami, sekarangpun tetap musuh!"
Dan iapun menerjang kembali, kini tenaganya sudah agak pulih dan napasnya tidak lagi memburu seperti tadi.
"Nona...!"
Akan tetapi karena serangan itu memang hebat, Ci Kong terpaksa meloncat cepat mengelak dan balas menyerang agar gadis itu tidak terus mendesaknya karena kalau dia harus mengelak terus terhadap tongkat yang lihai itu, amat berbahaya.
Terjadilah lagi perkelahian yang amat hebat antara dua orang muda yang lihai itu.
Kui Eng menyerang matimatian dan mengerahkan segala-galanya, di lain pihak Ci Kong melayaninya tanpa maksud mencelakai gadis yang sedang marah-marah itu.
Dia lebih banyak melindungi dirinya dan kadang-kadang saja dia membalas serangan hanya untuk menahan gelombang serangan lawan.
Dan serangannya hanya berupa totokan-totokan ke arah jalan darah untuk menghentikan gerakan gadis itu tanpa membahayakan keselamatan gadis itu.
Kui Eng sebagai murid seorang guru yang sakti tentu saja tahu bahwa pemuda ini banyak mengalah kepadanya, dan hal ini membuatnya semakin penasaran, walaupun ia juga merasa kagum karena kini ia tahu benar betapa lihainya pemuda itu dan bahwa kalau pemuda itu juga berniat merobohkannya, kiranya ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama.
Tiba-tiba bermunculan belasan orang yang sikapnya gagah dan seorang di antara mereka meloncat di antara dua orang yang sedang berkelahi itu sambil berseru.
"Tahan!"
Dari gerakan orang itu melerai, baik Kui Eng maupun Ci Kong maklum bahwa orang inipun lihai sekali, karena goloknya yang menangkis dapat menahan tongkat Kui Eng sedangkan tangan kirinya menahan lengan Ci Kong dan mereka berdua ini merasa betapa orang ini memiliki tenaga yang amat kuat.
Mereka berdua menjadi kaget dan heran, lalu meloncat ke belakang.
Ketika keduanya memandang, ternyata yang melerai itu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, bertubuh tegap dan kokoh membayangkan tenaga yang besar.
Pemuda ini memegang sebatang golok yang tajam, dan pakaiannya kasar sederhana, sesuai dengan wajahnya yang membayangkan kejujuran dan kegagahan.
Sebatang topi rumput bundar tergantung di punggungnya.
Biarpun pemuda itu membayangkan kegagahan yang menimbulkan perasaan segan, namun Kui Eng yang galak itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia memandang pemuda itu dengan mata melotot, tidak peduli bahwa pemuda itu datang bersama belasan orang yang kesemuanya membayangkan kegagahan para pendekar.
"Mau apa kau mencampuri urusanku? Apakah kau datang mau membantunya? Kalau begitu majulah, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian semua!"
Dan Kui Eng sudah siap memalangkan tongkatnya di depan dada, siap menghadapi pengeroyokan, bukan sekedar gertakan saja.
Pemuda yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Gan Seng Bu!
Seperti kita ketahui, murid Thian-tok ini berpisah dari suhengnya, Ong Siu Coan.
Akan tetapi dalam mengikuti jejak Koan Jit yang melarikan Giok-liong-kiam, diapun akhirnya tiba di daerah Kanton.
Ketika terjadi pengepungan kota Kanton oleh pasukan kerajaan yang mulai bertindak hendak menumpas perdagangan madat, Gan Seng Bu menyambutnya dengan gembira sekali.
Di daerah Kanton ini dia bertemu dengan para anggauta Thian-te-hwe atau Thian-te-pang, sebuah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot dan anti pemerintah penjajah Mancu.
Bahkan di sini dia bertemu pula dengan suhengnya, Ong Siu Coan yang telah mendahuluinya dan terkenal di perkumpulan itu sebagai seorang tokoh yang gagah perkasa!
Biarpun dia tidak berambisi seperti suhengnya, namun Gan Seng Bu berjiwa gagah dan dia merasa cocok dengan para anggauta Thian-te-pang, maka diapun ikut dengan mereka menuju ke kota Kanton untuk melihat suasana dan kalau perlu membantu pasukan pemerintah untuk menghadapi orang-orang kulit putih.
Memang mereka tidak suka kepada pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah yang harus diusir dari tanah air, akan tetapi sementara ini, kalau menghadapi orang-orang kulit putih yang lebih asing lagi dan yang jelas merusak dengan perdagangan candu mereka, mereka akan membantu pihak pemerintah untuk menentang orang kulit putih lebih dahulu.
"Kami melihat kalian berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dalam keadaan kacau seperti sekarang ini, alangkah sayangnya kalau kalian yang lihai ini saling serang dan bermusuhan. Tidakkah lebih baik kalau kalian ikut bersama kami ke Kanton, menyumbangkan tenaga untuk memihak rakyat, dan menghalau musuh rakyat? Kami adalah orang-orang Thian-te-pang yang selalu berjuang demi rakyat, kau m patriot yang pantang saling bermusuhan antara bangsa sendiri."
Kui Eng sudah mendengar akan nama Thian-te-pang ini, maka ia cepat berkata.
"Apakah kalian ini pemberontak-pemberontak yang menentang kekuasaan Ceng?"
"Kami adalah pejuang, dan penjajah memang menyebut kami pemberontak!"
Bentak seorang di antara para pendekar itu yang merasa tidak senang mendengar gadis itu menamakan mereka pemberontak.
"Bgus! Kalau begitu, aku akan membantu kalian menghadapi pemerintah Ceng yang biadab! Baru saja Ayah ibuku tewas oleh pasukan pemerintah!"
Kata Kui Eng penuh semangat sambil mengepal tinju.
"Akan tetapi, sementara ini yang penting adalah menghalau orang-orang kulit putih!"
Kata Gan Seng Bu.
"Merekalah yang merupakan penyakit utama pada saat ini. Nona yang gagah, kami akan gembira sekali kalau nona suka bergabung dengan kami karena kami melihat nona memiliki kepandaian tinggi. Dan bagaimana dengan engkau sobat?"
Gan Seng Bu memutar tubuhnya menghadapi Ci Kong. Baru sekarang dia melihat Ci Kong karena sejak tadi dia berhadapan dengan Kui Eng, dan begitu bertemu pandang dengan Ci Kong, diapun terkejut.
"Eh..., bukankah engkau ini... murid Siauw-bin-hud...?"
Semua orang, termasuk Kui Eng, terkejut bukan main mendengar ini.
Nama Siauw-binhud adalah nama yang amat dikenal di dunia kang-ouw, apa lagi dengan adanya peristiwa Giok-liong-kiam itu.
Ci Kong sendiri juga sejak tadi sudah teringat siapa pemuda gagah perkasa ini dan diam-diam dia merasa terheran-heran.
Dia tahu bahwa Thian-tok adalah seorang datuk sesat yang terkenal, seorang di antara Empat Racun Dunia yang amat jahat.
Akan tetapi mengapa dua orang muridnya seperti orang-orang gagah?
Murid yang pertama itu pernah membantunya ketika dia dikeroyok oleh para pengawal Ciu Wan-gwe dan para pasukan keamanan, dan biarpun murid yang bernama Ong Siu Coan itu teramat kejam dan menyebar maut, namun jelas telah membantunya walaupun tahu bahwa dia cucu murid Siauw-bin-hud.
Dan murid ke dua dari Thian-tok ini malah bergaul dengan orang-orang Thian-te-pang yang terkenal sebagai para pendekar patriot!
Maka diapun tidak mau menyebut nama Thian-tok di depan mereka dan dia hanya menjawab dengan singkat.
"Aku adalah cucu murid beliau."
Seng Bu juga merasa tidak enak bertemu dengan pemuda ini.
Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat dan hal ini sengaja dia sembunyikan dari para pendekar di Thian-te-pang.
Kalau para pendekar ini tahu bahwa dia adalah murid Thian-tok, agaknya dia tidak akan diterima sebagai kawan seperjuangan!
"Nah, bagaimana?
Kalian berdua adalah orang-orang gagah, apakah mau menggabungkan diri dengan kami dan pergi ke Kanton?"
Tanyanya.
Kui Eng sendiri masih termangu memandang kepada Ci Kong yang baru diketahui bahwa pemuda itu adalah murid atau cucu murid Siauw-bin-hud.
Pantas lihainya bukan main, pikirnya.
Mendengar pertanyaan Seng Bu, ia berkata.
"Akan kuingat kalian di Kanton. Akan tetapi sekarang aku masih mempunyai urusan. Harap kalian berangkat lebih dulu."
"Aku lebih suka menyendiri,"
Kata Ci Kong. Seng Bu mengangkat pundaknya dan menoleh kepada kawan-kawannya.
"Baiklah, asal kalian berdua jangan saling gebuk sendiri!"
Lalu dia bersama belasan orang kawannya melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kanton.
Ci Kong dan Kui Eng mengikuti bayangan orang-orang gagah itu dengan hati kagum.
Betapapun juga, nama Thian-te-pang atau Thian-tehwe sebagai kumpulan para patriot sudah amat terkenal.
Di waktu itu, perkumpulan pendekar-pendekar yang menentang pemerintah penjajah dengan gigih, yang paling terkenal adalah Thiante-pang atau perkumpulan Bumi Langit, lalu perkumpulan Tombak Merah, Pintu Sorga, Perkumpulan Toa-kiam (Pedang Besar).
Mereka semua mengaku sebagai keturunan perkumpulan Sorban Kuning, yaitu sebuah perkumpulan pendekar patriot berbangsa Han di jaman Dinasti Han.
"Jadi engkau seorang murid Siauw-bin-hud?"
Kui Eng bertanya sambil menatap wajah Ci Kong. Pemuda itu mengangguk.
"Benar, nona, dan namaku Tan Ci Kong."
"Aku adalah puteri tunggal keluarga Ciu, maka tentu engkau dapat membayangkan betapa sakit hatiku ketika engkau mengacau di rumah kami dan kini... Ayah ibuku telah tewas..."
Suaranya mengandung isak. Akan tetapi dengan gagah gadis ini menahannya. Ci Kong menarik napas panjang.
"Kematian akan datang kepada keluarga manapun juga, nona, dan kematian bukan urusan kita manusia. Memang menyedihkan, akan tetapi kita tidak dapat berbuat sesuatu,"
Katanya sederhana, bukan untuk menghibur, melainkan keluar dari lubuk hatinya karena pada saat itu diapun teringat bahwa Ayah ibunya juga telah tiada.
"Aku... aku harus mengambil jenazah mereka dan menguburnya baik-baik."
"Mari kubantu engkau, nona. Akan tetapi, kita harus masuk secara menyelundup, karena kalau secara berterang tentu akan menghadapi kesulitan."
Gadis itu sejenak memandang tajam, agaknya merasa heran mendengar penawaran pemuda itu.
Mengambil jenazah dua orang di tempat yang penuh dengan musuh tidaklah mudah kalau ia lakukan sendirian saja, maka mendengar penawaran itu ia mengangguk dan keduanya lalu berlari kembali ke Tung-kang.
Untunglah bagi mereka bahwa pasukan yang dipimpin Ma Cek Lung itu ternyata telah kembali ke markas pasukan keamanan Tung-kang untuk mengurus anggauta pasukan yang tewas dan luka-luka sehingga di tempat tinggal keluarga Ciu itu tidak nampak lagi pasukan.
Gedung itu masih terbakar sebagian dan para tetangga yang melihat munculnya Kui Eng, segera datang membantu.
Kui Eng berhasil menemukan mayat Ayah ibunya.
Air matanya bercucuran akan tetapi ia tidak terisak.
Bahkan dengan cepat ia lalu mengumpulkan tetangga dan minta pertolongan mereka untuk mengurus mayat para pelayan dan pengawal yang tewas.
Kepada para tetangga itu ia berkata dengan suara sedih.
"Harap kalian suka menolongku, mengubur semua jenazah ini, dan semua barang yang masih ada di rumah ini boleh kalian pakai untuk biaya."
Setelah berkata demikian, gadis ini dibantu oleh Ci Kong lalu membawa dua jenazah keluar kota.
Tentu saja mereka harus cepat-cepat pergi membawa dua jenazah itu karena kehadiran mereka tentu akan segera diketahui dan mereka tidak ingin menghadapi kesulitan dalam usaha mereka mengubur jenazah Ciu Lok Tai dan isterinya.
Jauh di luar kota Tung-kang, di kaki sebuah bukit yang sunyi, Kui Eng memilih sebuah tempat untuk mengubur jenazah Ayah ibunya, dibantu oleh Ci Kong yang melakukan semua itu tanpa banyak kata.
Diapun hanya memandang saja ketika gadis itu berlutut di depan kuburan sederhana itu.
Akhirnya kui Eng bangkit berdiri dan menghadapi Ci Kong, lalu menjura.
"Saudara Tan Ci Kong, engkau sungguh telah menolongku dan aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini. Terima kasih banyak."
"Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya kalau hidup di dunia ini tolong-menolong antara manusia,"
Jawab Ci Kong dengan sikap sederhana.
"Akan tetapi, engkau seorang pendekar Siauw-lim-pai, engkau pernah hendak menegur mendiang Ayahku yang menjadi pedagang madat. Akan tetapi, kenapa kemudian engkau yang pernah kuserang dan kukeroyok, malah sebaliknya menyelamatkan aku dari pengeroyokan pasukan itu dan bahkan menolongku mengubur jenazah Ayah ibuku? Mengapa?"
Ci Kong tersenyum.
"Nona..."
Dia meragu karena belum mengenal nama gadis itu.
"Namaku Kui Eng, Ciu Kui Eng."
"Nona Kui Eng, apa yang kulakukan itu tidak ada artinya karena kalau dulu engkau tidak menolongku, agaknya aku tidak akan dapat hidup sampai sekarang ini."
Kui Eng membelalakkan matanya yang indah dan memandang penuh selidik, lalu mengerutkan alisnya karena ia tidak ingat pernah menolong pemuda yang baru pertama kali dijumpainya itu.
"Menolongmu? Aku tidak merasa pernah menolongmu..."
"Tentu kau sudah lupa, nona. Terjadi kurang lebih duabelas tahun yang lalu ketika kita masih kecil. Kalau tidak engkau turun tangan mencegah, tentu aku dan Ayahku waktu itu telah tewas di tangan Ma-Ciangkun."
Kui Eng mengerutkan alisnya, masih juga belum ingat.
"Siapakah Ayahmu?"
"Mendiang Ayahku adalah Tan Siucai..."
"Ahhh...!!"
Mata yang indah itu terbelalak dan sejenak gadis itu menatap wajah Ci Kong penuh perhatian, lalu sinar matanya membayangkan kekaguman ketika ia teringat akan Tan Siucai yang namanya kemudian dikenal sebagai seorang patriot yang gagah perkasa, walaupun dia seorang sasterawan yang lemah tubuhnya.
"Kiranya engKau kah anak laki-laki itu...? Teringat aku sekarang. Engkau minta-minta ampun... dan aku mencelamu..."
"Benar, aku mintakan ampun untuk Ayahku, bukan untuk diriku."
"Aku mengerti. Ah, Ayahmu seorang gagah perkasa, aku kagum sekali, sedangkan Ayahku... Ayahku..."
Kui Eng pernah ribut-ribut dengan Ayahnya ketika dulu ia mendengar akan nasib Tan Siucai yang dikaguminya.
Nampaklah olehnya sekarang betapa Ayahnya adalah orang yang hanya mementingkan harta saja, hanya pandai mencari harta dan juga tidak segan-segan melakukan hal-hal yang buruk.
"Sudahlah, nona. Orang tua kita sudah tiada, tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang, setelah engkau kehilangan keluargamu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Ci Kong bertanya dengan suara penuh iba, lupa bahwa dia sendiripun hidup sebatangkara.
"Engkau sudah tidak mempunyai tempat tinggal, hidup seorang diri..."
"Keluarga Ayah berada di Kanton. Aku adalah anak tunggal, ibuku isteri ke tiga. Aku masih mempunyai ibu-ibu tiri di Kanton... akan tetapi... aku tidak akan tinggal diam ebelum dapat kubunuh jahanam Ma Cek Lung itu. Setelah itu mungkin aku akan mengabungkan diri dengan orang-orang Thian-te-pang. Dan engkau sendiri, saudara Ci Kong? Apakah engkau juga akan bergabung dengan mereka?"
Ci Kong menggeleng kepala.
"Aku tidak akan melibatkan diri dalam pemberontakan, nona, walaupun aku mengerti betapa mulia cita-cita mereka yang hendak membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah. Aku lebih suka menyendiri."
"Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini. Aku akan menyelundup ke Kanton. Sekali lagi terima kasih dan mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali!"
Kui Eng berkata dan gadis ini lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat menuju ke Kanton.
"Mudah-mudahan..."
Ci Kong mengguman sambil mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang matanya.
Ada keharuan aneh menyelinap di dalam hatinya.
Gadis itu manis sekali, amat menarik dan juga amat gagah perkasa.
Kasihan sekali gadis itu bernasib demikian malang.
Biarpun Ayah gadis itu bukan seorang yang baik, akan tetapi agaknya gadis itu tidak memiliki sifat Ayahnya, bahkan memiliki kegagahan.
Ah, kenapa dia tidak menanyakan siapa guru gadis itu?
Ilmu silatnya demikian tinggi, apa lagi ilmu tongkatnya.
Hebat!
Tentu gurunya seorang yang sakti.
Setelah bayangan Kui Eng tidak nampak lagi, Ci Kong menarik napas panjang dan melanjutkan perjalanannya.
Tanpa disengaja kakinya juga bergerak menuju ke Kanton di mana dia mendengar terjadi hal-hal penting, yaitu pengepungan kota oleh pasukan pemerintah yang hendak menentang dan menghentikan perdagangan madat yang bersumber di Kanton.
Memang terjadi hal-hal penting di Kanton.
Panglima Lin Ce Shu mengepung dan menahan kota Kanton selama enam minggu dan setiap hari dilakukan penggeledahan dan penyitaan madat di seluruh kota.
Kapten Charles Elliot yang memimpin perkumpulan English East India Company dan mengepalai semua pedagang, bahkan menjadi wakil pemerintahnya, menghadapi pukulan besar sekali.
Segala usaha telah dilakukannya, dengan jalan melakukan bujukan dan penyogokan.
Namun, Panglima Lin Ce Shu tidak bergeming dalam tugasnya, tidak dapat dibujuk sama sekali!
Dan akhirnya, secara terpaksa sekali kapten itu menyerahkan semua madat yang dimiliki para pedagang kulit putih.
Lebih dari dua puluh ribu peti madat murni disita dari orang-orang kulit putih ini, dan seluruh madat yang disita oleh pasukan Lin Ce Shu berjumlah mendekati satu juta kilogram!
Tumpukan-tumpukan peti madat yang amat besar jumlahnya ini oleh Panglima Lin Ce Shu lalu dibakar di depan umum, sehingga menimbulkan api besar bernyala-nyala dan bau yang menyengat hidung seluruh penduduk Kanton!
Bahkan dalam kesempatan ini, Lin Ce Shu mengundang para pemuka orang kulit putih seperti Kapten Charles Elliot, Opsir Hellway dan lain-lain untuk datang menyaksikan "kembang api"
Luar biasa itu.
Mula-mula para pemuka orang kulit putih itu tidak tahu mengapa Panglima Lin yang mengadakan penyitaan madat itu mengundang mereka untuk makan malam dan berpesta.
Mereka mengira bahwa tentu panglima itu merasa tidak enak hati dan kini menebus peristiwa itu dengan sikap lunak dan penghormatan dalam pesta.
Walaupun hati mereka merasa mendongkol sekali karena peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang tak terhitung besarnya, namun mereka datang pula dengan pakaian indah gemerlapan.
Opsir Hellway datang bersama isterinya, dan Sheila juga ikut.
Gadis ini nampak cantik jelita dengan gaun berwarna kuning emas itu berkilauan tertimpa sinar lampu warna-warni yang menerangi ruangan di atas benteng itu.
Ternyata para pembesar sipil dan militer berkumpul di situ.
Wajah-wajah tegang meliputi tempat itu karena bagaimanapun juga, peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang bukan sedikit pula bagi beberapa orang pembesar yang tadinya menjadi pelindung para pedagang asing itu.
Kini, para pembesar yang tadinya menjadi sahabat-sahabat baik kapten Charles Elliot dan anak buahnya, kini hanya dapat saling bertukar pandang dengan orang-orang kulit putih itu dengan muka yang suram dan pandang mata layu dicekam ketegangan.
Akan tetapi, Panglima Lin Ce Shu melalui wakil dan juru bahasanya menyambut para tamu asing itu dengan ramah, dan mereka semua dipersilahkan duduk dan dijamu dengan meriah.
Setelah mereka kenyang makan minum, Lin Ce Shu bangkit dari kursinya dan melalui seorang penterjemah dia berkata.
"Malam yang baik ini akan kami isi dengan pertunjukan indah bagi para tamu, terutama sekali para tamu bangsa asing yang malam ini berkumpul di sini memenuhi undangan kami. Kami persilahkan untuk menikmati keindahan kembang api istimewa!"
Panglima itu memberi isyarat dan tirai-tirai kain yang tadinya tertutup di depan jendela-jendela itupun dibuka.
Nampak oleh orang-orang berkulit putih itu jauh di luar terdapat tumpukan peti-peti candu dan perajurit-perajurit yang sudah siap dengan obor di tangan.
Panglima Lin Ci Shu memberi isyarat dengan tangan dan mulailah para perajurit membakar tumpukan candu yang puluhan ribu peti jumlahnya itu!
Wajah orang-orang berkulit putih itu menjadi pucat ketika sinar api yang amat terang menimpa mereka.
Mereka terbelalak.
Sheila menahan pekik karena merasa ngeri ketika mencium bau candu dibakar, napasnya menjadi sesak dan cepat ia berlindung di belakang Ayahnya yang merangkulnya.
Opsir Hellway mengepal tinju.
"Terkutuk...!"
Dia menyumpah perlahan.
Tak disangkanya bahwa mereka semua akan disuguhi tontonan yang menusuk perasaan itu.
Panglima Lin Ce Shu mempunyai alasan kuat untuk melakukan hal ini.
Pertama, dia ingin membuktikan bahwa tidak ada permainan kotor dalam penyitaan candu itu, bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk memberantas candu.
Ke dua, dia ingin agar orang-orang kulit putih itu menjadi jera, dan ke tiga, dia ingin memperingatkan rakyatnya bahwa kebiasaan menghisap candu itu dilarang.
Setelah para tamu dipersilahkan duduk kembali, dengan resmi Lin Ce Shu mengumumkan bahwa mulai hari itu, dilarang keras memasukkan candu ke Kanton.
Semua kapal akan diperiksa dan siapa yang melanggar akan dijatuhi hukuman.
Orang-orang asing, kalau kedapatan menyelundupkan candu, akan diusir dan semua harta bendanya disita, juga kapal yang membawa candu akan disita.
Setelah mendengar peringatan keras ini, orang-orang kulit putih itu tentu saja merasa tidak enak untuk duduk di situ lebih lama lagi.
Kapten Charles Elliot lalu pamit dan para tamu asing itu meninggalkan tempat itu dengan wajah muram.
Mereka semua merasa seperti menerima tamparan keras, selain dirugikan, juga mendapatkan malu dan ancaman.
Masa depan mereka menjadi suram.
Kalau tidak boleh memasukkan madat, berarti mereka kehilangan mata pencarian yang amat menguntungkan!
Sepulang mereka dari pesta itu, para pedagang lalu berkumpul di rumah Kapten Elliot dan mereka berunding.
Dengan nada kesal dan marah sekali para pedagang itu menyatakan protes mereka dan menuntut agar Kapten Elliot tidak mendiamkan saja penghinaan dari pemerintah Ceng itu.
Akhirnya Kapten Elliot, setelah melalui perdebatan dan perundingan yang panas, menyanggupi.
"Demi kehormatan bangsa dan pemerintah kita, demi kelangsungan kehidupan dan perdagangan kita, demi keamanan kita di negeri ini, aku akan membuat pelaporan kepada pemerintah kita dan minta bantuan pasukan agar kita dapat membuat pembalasan,"
Demikian katanya.
Kemudian Kapten Charles Elliot menganjurkan agar mereka semua bersiap-siap untuk meninggalkan Kanton dengan kapal-kapal yang disediakan.
Sebelum datang bala bantuan, mereka dianjurkan tenang-tenang dan diam-diam saja dulu.
Kalau pasukan bala bantuan sudah datang, sebelum pasukan itu bertindak, mereka akan diberitahu untuk meninggalkan Kanton dan mengungsi ke kapal yang akan menyelamatkan mereka.
Akan tetapi, di antara orang-orang kulit putih ada yang pemabokan dan beberapa hari kemudian, dalam keadaan mabok diapun mengoceh dan membual di luaran bahwa pasukan Inggeris akan datang dan menyerbu kota Kanton untuk memberi hukuman atas perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap orang-orang Inggeris pada malam hari itu.
Ada yang mendengar obrolan ini dan tentu saja berita itu didesas-desuskan orang.
Pada waktu itu, terdapat banyak perkumpulan pendekar yang anti orang kulit putih yang menyebarkan madat itu.
Ada pula perkumpulan pendekar yang hanya anti pemerintah Ceng sebagai pemerintah penjajah Mancu.
Di antara golongan ke dua ini adalah perkumpulan Thiante-pang.
Perkumpulan ini hanya anti pemerintah Mancu.
Walaupun mereka juga tidak suka melihat orang kulit putih menyebar madat, namun mendengar desas-desus bahwa pasukan Inggeris akan menyerbu Kanton dan memusuhi pemerintah Ceng, diam-diam mereka merasa senang.
Penyerbuan pasukan asing itu akan mereka terima dengan baik, karena membuka kesempatan bagi mereka untuk melemahkan kekuatan pemerintah penjajah Mancu.
Akan tetapi, para pendekar yang tergolong anti kulit putih, mendengar desas-desus itu, menjadi marah sekali kepada orang-orang asing.
Dan beberapa hari sebelum pasukan Inggeris tiba, meledaklah ketegangan yang terasa makin panas di Kanton.
Dimulai dari pertengkaran antara seorang kulit putih setengah mabok dengan seorang pecandu yang ketagihan dan dalam keadaan setengah sadar pecandu ini mendatangi orang kulit putih itu dan nekat minta diberi madat.
Orang kulit putih setengah mabok itu marah-marah dan memaki-maki, lalu terjadi perkelahian yang menjalar menjadi kerusuhan ketika golongan anti kulit putih menyerbu dan mengeroyok si pemabok dan beberapa orang kawannya.
Pasukan penjaga keamanan cepat bertindak karena para pembesar tidak menghendaki terjadinya kerusuhan itu.
Orang-orang kulit putih menjadi panik, apa lagi ketika mendengar bahwa pemerintah mereka telah mengirim armada yang kuat untuk menyelamatkan mereka dan menggempur Kanton!
Mulailah terjadi pengungsian besar-besaran menuju ke pelabuhan di mana terdapat kapal-kapal mereka.
Karena gerakan pengungsian ini, maka golongan anti kulit putih mulai bergerak menyerang mereka yang berusaha melarikan diri.
Tentu saja orang-orang kulit putih ini melakukan perlawanan dan mereka itu rata-rata memiliki senjata api sehingga terjatuh pula korban di antara para pendekar yang membenci mereka.
Hal ini membuat perkelahian menjadijadi.
Pasukan keamanan yang repot!
Karena orang-orang kulit putih itu tidak melawan pemerintah, maka kewajiban pemerintah untuk melindungi mereka selama mereka masih berada di daratan.
Lebih menggegerkan lagi ketika golongan pendekar yang menentang pemerintah Mancu, mempergunakan kesempatan selagi terjadi keributan itu untuk mengacau dan menyerang pasukan keamanan pemerintah sendiri!
Golongan ini bahkan ada yang melindungi orang-orang kulit putih karena mereka ini sengaja hendak mengadu domba antara pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air.
Pertempuran kecil-kecilan yang kacau balau terjadi dan penduduk yang tidak mau ikutikut dalam perkelahian-perkelahian itulah yang menjadi panik dan banyak pula yang lari mengungsi meninggalkan Kanton.
Hal ini membuat suasana menjadi semakin gaduh dan kacau balau.
Dan sudah biasa bahwa setiap kali sebuah kota mengalami kekacauan dan penjaga keamanan tidak mampu mengatasi keadaan, maka para penjahatpun keluar semua, merajalela mempergunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan seenaknya dan semudahnya.
Perampokan terjadi di mana-mana terhadap para pengungsi atau pencurian terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan.
Opsir Hellway tentu saja tidak mau tinggal diam melihat keadaan yang gawat itu.
Pagi-pagi sekali dia bersama isteri dan puterinya, berkendaraan kereta meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri ke kapal, dikawal oleh belasan orang pengawal kulit putih dan Bangsa India yang membawa senapan.
Sheila dan ibunya duduk di dalam kereta itu, sedangkan opsir Hellway dan para pengawal berjaga di luar kereta.
Barang-barang berharga beberapa buah peti penuh berada dalam kereta itu pula.
Dari dalam kereta, Sheila mengintai melalui jendela kereta dan wajah gadis ini agak pucat.
Peristiwa berdarah yang terjadi di kota Kanton itu sungguh mengguncang batinnya dan menusuk perasaannya yang lembut.
Ia tidak suka akan kekerasan dan kini terjadi kekerasan di mana-mana.
Ia mendengar tentang perkelahian-perkelahian, di mana banyak orang kulit putih menjadi korban pembantaian akan tetapi lebih banyak lagi penyerbu-penyerbu yang tewas disambar peluru senjata-senjata api orang kulit putih.
Permusuhan yang terjadi tiba-tiba ini, kebencian yang memancar dari pandang mata para penduduk, membuat ia terkejut dan ketakutan.
Tak disangkanya akan menjadi begini buruk hubungan antara bangsanya dan pribumi.
Dan di lubuk hatinya ia menyalahkan semua ini kepada bangsanya sendiri.
Pembakaran madat yang amat banyak itu, yang menjadi awal kekacauan ini, keributan dan perkelahian, semua ini menjadi akibat dari pada sebab, dan sebabnya terletak pada bangsanya sendiri.
Kalau bangsanya tidak memperdagangkan madat, kalau bangsanya tidak hanya memikirkan keuntungan, dan berhubungan dengan bangsa pribumi sebagai sahabat-sahabat sejati yang bekerja sama atas dasar saling menguntungkan, pasti tidak akan terjadi kekacauan dan pembunuhan-pembunuhan itu.
Dari balik tirai jendela kereta, Sheila melihat asap di mana-mana, tanda bahwa ada rumah-rumah yang terbakar.
Dan banyak orang lalu lalang, pengungsi-pengungsi yang membawa buntalan, menggendong atau menggandeng anak, wajah-wajah yang ketakutan, kebingungan.
Tiba-tiba terdengar letusan-letusan senjata api dan Sheila melihat banyak pria membawa senjata tombak, pedang atau golok, bergerak cepat berkelebatan di luar kereta!
"Cepp...!"
Sebatang anak panah menancap di dekat jendela kereta. Sheila cepat menarik dirinya ke dalam kereta.
"Sheila, cepat tutup jendela itu dan berlindung. Jaga ibumu! Kereta kita diserang penjahat!"
Terdengar bentakan Ayahnya.
"Ohhh... Tuhan, lindungi kami...!"
Ibunya menjerit lirih dan menangis.
"Ibu, tenanglah...!"
Sheila merangkul ibunya.
Akan tetapi ia sendiri kehilangan ketenangannya ketika suara tembakan semakin gencar dan teriakan-teriakan para pengepung, mereka yang kena tembak atau terkena anak panah.
Karena ingin sekali mengetahui keadaan mereka, Sheila mengintai lagi.
Kereta mereka masih berjalan, akan tetapi tiba-tiba kereta terguncang-guncang dan akhirnya berhenti dan miring karena roda sebelah kiri terperosok ke dalam selokan!
Alangkah kagetnya melihat bahwa kini yang mengawal mereka tinggal lima orang lagi yang masih sibuk menembakkan senapan ke kanan kiri, dan ia menahan jeritnya ketika melihat Ayahnya terhuyung dan menhampiri kereta dengan dada tertancap anak panah.
Ayahnya hampir roboh, bersandar kereta.
"Sheila maklum akan bahaya yang mengancam mereka. Ibunya sudah hampir pingsan melihat suaminya berlumuran darah, maka Sheila lalu setengah menyeretnya keluar dari kereta.
"Larilah... ke pantai... cepat!"
Kata Ayahnya dan Opsir Hellway ini sambil menahan rasa nyeri menembakkan lagi pistol-pistolnya ke kanan kiri ketika melihat bayangan orang-orang berkelebat.
Anak panah masih menyambar-nyambar ganas.
Kiranya terjadi pertempuran antara pistol senapan melawan anak panah dari para penyerbu yang kini menyerang dengan anak panah sambil bersembunyi di balik pintu-pintu gerbang, pohon-pohon dan semak-semak.
Lima orang pengawal itu melawan mati-matian setelah beberapa orang kawan mereka tadi roboh oleh anak panah.
Dan kini karena kereta terperosok, mereka melawan sambil berlindung pada kereta.
"Dor-dor-dorrr...!"
Kembali Opsir Hellway menembak secara beruntun dan dua orang penyerbu terpekik dan terjungkal.
"Sheila, cepat...!"
Teriaknya. Ibu Sheila menjerit dan tidak mau meninggalkan suaminya, akan tetapi Sheila memaksa ibunya dan menarik tangan ibunya.
"Sheila... aughhh...!"
Opsir Hellway tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia sudah terpelanting roboh karena kehabisan banyak darah.
Nyonya Hellway menjerit dan berlari kembali menghampiri suaminya setelah berhasil melepaskan rangkulan puterinya.
Ia menubruk suaminya dan pada saat itu, sebatang anak panah menyambar dan menembus leher nyonya itu.
Ia mengeluarkan suara aneh dan terkulai di atas mayat suaminya.
"Mama...! Papa...!"
Sheila menjerit.
"Nona Sheila, larilah ke pantai...!"
Seorang pengawal berseru ketika melihat gadis itu hendak kembali ke kereta melihat Ayah bundanya roboh.
Mendengar ini, Sheila maklum bahwa kembali ke kereta berarti bunuh diri.
Biarpun hatinya merasa berat sekali untuk meninggalkan orang tuanya yang tewas, namun ia tahu bahwa saat itu yang terpenting adalah melarikan diri sampai ke kapal dengan selamat, maka sambil menahan tangisnya yang mengguguk ia lari meninggalkan tempat itu.
Pantai tidak jauh lagi, dan banyak orang berbondong lari ke jurusan itu.
Akan tetapi, belum jauh ia lari meninggalkan kereta keluarganya yang rebah miring di tepi jalan, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki yang tinggi besar, tiga orang yang memegang golok dan yang memandangnya dengan menyeringai.
Seorang di antara mereka, yang mukanya bopeng segera tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, sungguh kita untung sekali, kawan-kawan! Kuda betina putih ini menyerahkan diri kepada kita!"
Kata si bopeng sambil tersenyum cengar-cengir dan mereka bertiga itu mendekati Sheila. Dengan tubuh gemetar gadis itu berkata.
"Ahh... harap jangan ganggu aku. Biarkan aku pergi..."
Seorang di antara mereka yang matanya kemerahan mengelebatkan goloknya yang berkilauan saking tajamnya itu ke depan Sheila sehingga gadis itu terbelalak dan mukanya pucat, melangkah mundur.
"kita bunuh saja noni ini, biar kusayat-sayat kulitnya, kupotong sedikit demi sedikit!"
"Aih, sayang kalau dibunuh begitu saja. Lihat begitu montok kelinci ini!"
Kata orang ke tiga.
"Benar, tidak boleh dibunuh begitu saja. Terlalu enak baginya. Kita permainkan dulu sepuasnya. Heh-heh, sejak kemarin kita kelelahan berkelahi, biar hari ini kita bersenang-senang dan mengaso,"
Kata si muka bopeng yang agaknya menjadi pemimpin mereka dan tiba-tiba saja si muka bopeng menerjang ke depan dan tangan kirinya tahu-tahu sudah mencengkeram lengan tangan kanan Sheila.
Gadis ini terkejut dan meronta, berusaha melepaskan tangannya, akan tetapi cengkeraman itu kuat sekali sehingga rontaannya hanya membikin pergelangan tangannya terasa nyeri.
"Lepaskan aku, ahh, lepaskan aku...!"
Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi sambil tertawa-tawa, tiga orang itu kini menangkap kedua tangannya dan si muka buruk menyeretnya ke dalam sebuah bekas rumah orang kulit putih yang sudah hancur dan sebagian sudah terbakar habis.
Setelah tiba di ruangan dalam yang penuh dengan bekas-bekas porak poranda, Sheila yang maklum bahwa dirinya terancam malapetaka hebat, meronta-ronta sekuat tenaga.
Karena tidak menyangka-nyangka, Sheila dapat melepaskan diri dan lari.
Akan tetapi, baru saja dara itu lari sampai di samping bekas gedung itu, si muka bopeng sudah berhasil menubruknya dari belakang sehingga gadis itupun terguling di atas rumput.
Akan tetapi ia menyepak-nyepak dan meronta-ronta.
Dalam pergulatan ini, gaunnya terobek sehingga nampak pahanya yang berkulit putih.
Melihat ini, si muka bopeng menjadi semakin liar.
"Pegang tangan dan kakinya, biar aku dulu baru kalian nanti!"
Katanya terengah-engah karena Sheila memang bertenaga besar dan gadis ini melawan sekuat tenaga dan mati-matian.
Akan tetapi kini, dua orang pria memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi meronta, hanya menggerak-gerakkan pinggul dan kepalanya saja sambil menjerit-jerit.
Si muka bopeng terkekeh dan menubruk.
"Dessss...!"
Sebuah tendangan yang amat keras dari samping mengenai pangkal paha si muka bopeng dan tubuhnya terlempar dan terguling-guling.
Dua orang kawannya terkejut dan marahlah mereka ketika melihat bahwa yang menendang kawan mereka itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian sederhana dan memakai topi bambu sederhana dan lebar.
Laki-laki ini tubuhnya sedang saja, akan tetapi nampak kokoh kuat.
Bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dada bidang yang ditumbuhi bulu halus.
Dari pakaian yang ketat dan ringkas itu, membayang otot-otot lengan dan kakinya.
Seorang pria yang nampak kuat sekali, berwajah sederhana namun gagah dan sinar matanya tajam dan jernih penuh kejujuran dan keterbukaan, juga keberanian.
Si muka bopeng juga sudah bangkit berdiri, mukanya merah matanya melotot dan dia menyambar goloknya yang tadi diletakkan di atas tanah ketika dia hendak memperkosa Sheila.
"Jahanam keparat!"
Bentaknya marah sambil mengelebatkan goloknya.
"Siapakah anjing yang tak tahu diri, berani sekali menentang kami Tung-hai Sam-liong (Tiga Naga Laut Timur)?"
Pemuda itu adalah Gan Seng Bu.
Mendengar julukan yang amat muluk dan besar itu, dia menahan senyum.
Sebagai seorang yang selama ini aktip dalam pergerakan menentang pemerintah penjajah, tentu saja dia mengenal tokoh-tokoh di sekitar Kanton.
Dan tidak ada golongan pendekar atau tokoh sesat sekalipun di daerah ini yang memiliki julukan seperti itu.
Hal ini hanya menunjukkan bahwa tiga orang ini hanyalah bajingan-bajingan kecil yang suka memakai nama-nama besar, akan tetapi tetap saja nama itu tidak terkenal karena tindakan-tindakan mereka hanyalah kejahatan-kejahatan kecil dan rendah saja sehingga nama julukan itupun tidak dihiraukan orang.
Banyak sekali terdapat penjahat-penjahat kecil seperti ini, segala tukang copet, maling dan rampok kecil saja menggunakan nama-nama julukan yang setinggi langit.
Akan tetapi kegelian hatinya melihat lagak mereka dan mendengar julukan mereka tidak mengusir rasa muak dan marah dari dalam lubuk hati Seng Bu.
Dia memang murid seorang datuk sesat yang teramat jahat seperti Thia-tok itu, akan tetapi di dalam dadanya terkandung api kegagahan yang membuat dia muak melihat tiga orang pria yang kuat hendak memperkosa seorang gadis, walaupun gadis kulit putih sekalipun.
Bagi orang-orang yang berjiwa gagah, tidak ada kejahatan yang lebih hina dan rendah dari pada kejahatan pria memperkosa atau menghina wanita dengan kekerasan.
"Kalian berjuluk naga akan tetapi perbuatan kalian lebih hina dari pada tiga ekor cacing busuk!"
Seng Bu memaki.
Belum habis kata-katanya, si bopeng sudah menyerang dengan goloknya, menggerakkan golok itu yang menyambar dahsyat ke arah leher Seng Bu, disusul oleh dua orang kawannya yang juga sudah menggerakkan golok menyerang pemuda itu.
Melihat ini, Sheila terkejut dan merasa ngeri.
Gadis ini tadi cepat bangkit duduk setelah tiga orang yang hendak memperkosanya itu melepaskannya dan ia kini berdiri di sudut dengan wajah pucat.
Melihat betapa tiga orang laki-laki jahat itu kini menggerakkan golok yang tajam menyerang pemuda gagah yang menolongnya, Sheila tak dapat menahan dirinya berseru nyaring.
"Jangan bunuh dia...! Ah, jangan...!"
Akan tetapi teriakannya segera terhenti dan memandang terbelalak.
Ia hampir tidak dapat percaya akan pandangannya sendiri.
Pemuda yang menolongnya itu diserang oleh tiga orang lawannya, dengan golok tajam dan tiga batang golok itu menyambar-nyambar ganas.
Agaknya sudah tidak mungkin lagi pemuda itu akan dapat menyelamatkan diri dari serangan tiga orang pengeroyoknya.
Akan tetapi, secara aneh sekali ia melihat betapa pemuda itu, kini topi bambunya terlepas dari kepala dan tergantung dengan tali kepunggungnya, berloncatan seperti seekor burung saja, menyelinap di antara sinar golok dan begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangannya, terdengar teriakan-teriakan keras dan tiga orang penjahat itu tahu-tahu sudah terlempar ke kanan kiri dan terbanting roboh tak mampu bangkit kembali!
Entah mati entah hidup, akan tetapi jelas bahwa mereka bertiga itu diam tak bergerak-gerak walaupun tidak nampak ada luka di tubuh mereka.
Pemuda gagah perkasa itu menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan pemiliknya.
Sheila tidak mengenal pemuda itu dan tidak tahu orang macam apa adanya pemuda itu.
Melihat betapa pemuda itu merobohkan tiga orang pengeroyoknya dan kini memegang golok, hatinya menjadi ngeri dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan kakinya dan lari pontang-panting.
Robeknya gaun bagian depan sebatas paha itu malah menguntungkan baginya karena ia dapat berlari kencang dengan langkah lebar.
Karena kebingungan dan ketakutan, Sheila malah lari kembali ke arah kereta.
Melihat tubuh Ayah ibunya yang masih menggeletak di dekat kereta, Sheila menjerit dan lupalah ia akan rasa takutnya.
Ia lalu lari menghampiri mayat-mayat itu dan menubruk mayat ibunya, menangis mengguguk.
"Ibu..., bawalah aku... bawalah aku...!"
Tangisnya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang amat kuat menangkap pergelangan lengan kanannya dan Sheila seketika menghentikan tangisnya.
Tubuhnya tiba-tiba ditarik ke atas dan ia terpaksa bangkit berdiri.
Dengan air mata berlinang dan muka pucat sekali ia menatap wajah orang yang menariknya.
Tasa takutnya berkurang ketika ia melihat bahwa yang menariknya bangun dan kini memegang lengan kirinya itu bukan lain adalah pemuda yang tadi merobohkan tiga orang jahat itu.
Sheila terbelalak menatap wajah pria itu, wajah yang gagah sekali akan tetapi yang pada saat itu diliputi kekerasan, kejantanan yang mengagumkan akan tetapi juga mengerikan.
Apa lagi melihat tangan pria ini memegang sebatang golok yang demikian tajam dan runcing.
"Le... lepaskan aku..."
Kata Sheila lirih dan memelas.
Pria itu mengendurkan pegangannya, agaknya rasa halus dan lunak dan hangat dari lengan yang dipegangnya itu mengejutkan dan membuatnya risi.
Akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya.
"Kau harus pergi dari sini, nona."
Akhirnya dia berkata.
"Tidak...! Tidak..., aku ingin bersama Ayah ibuku...!"
Ia menengok kembali ke arah dua buah mayat di dekat kereta.
"Nona, jangan bodoh. Mereka itu sudah tewas dan engkau masih hidup. Mari kita pergi dari sini, cepat...!"
Seng Bu lalu menarik lengan gadis itu.
Sheila meronta dan mempertahankan, akan tetapi ia merasa betapa tenaga pemuda itu luar biasa kuatnya.
Ia tetap mogok sehingga tubuhnya terseret sampai berada di sisi lain dari kereta yang miring itu dan kini mayat Ayah ibunya yang berada di balik kereta tidak nampak lagi.
Seng Bu berhenti menyeret dan membalik sambil menghardik gadis itu.
"Apakah engkau ingin mati tinggal di sini?"
Dibentak secara kasar begitu, Sheila menjadi tersinggung dan timbul kemarahannya.
Ia menentang pandang mata pemuda itu dengan sepasang matanya yang jeli akan tetapi yang pada saat itu basah dengan air mata.
Sejenak mereka saling tatap dan terpaksa Seng Bu menundukkan pandang matanya, tidak tahan melawan lebih lama.
Jantungnya berdebar tegang.
Sudah sering dia melihat wanita kulit putih, walaupun dari jarak jauh.
Baru sekarang dia berdekatan, bahkan memegang lengannya yang halus lunak dan hangat.
Dari dekat, nampak jelas sekali rambut itu.
Rambut yang seperti benang emas, yang pernah membuat dia bergidik ketika melihat untuk pertama kalinya.
Tak pernah dia dapat membayangkan bagaimana rambut kepala tidak hitam atau putih beruban, melainkan kuning emas!
Dan mata itu.
Begitu lebar dan indah, dengan manik mata bukan hitam putih, melainkan biru dan kelihatan dalam seperti lautan biru!
Dan kulit yang putih sekali itu, tiada cacat sedikitpun, tidak seperti kulit orang-orang kulit putih yang pernah dia lihat penuh totol-totol merah.
Gadis ini cantik bukan main.
Buah dada yang hanya separuh tertutup gaun tipis itu nampak begitu padat, membusung dan nampak keras dan penuh.
Dia tidak berani memandang lebih lama lagi dan menunduk.
"Nona, engkau akan mati kalau tinggal lebih lama di sini..."
Akhirnya dia berkata.
"Aku tidak takut mati. Lepaskan dan biarkan aku mati di sini!"
Jawab Sheila dengan tegas walaupun ia tidak meronta lagi.
Seng Bu menjadi marah dan jengkel.
Keadaan amat gawat dan berbahaya.
Dia termasuk kelompok seperti Thian-te-pang yang tidak memusuhi orang kulit putih karena pada waktu itu, orang kulit putih dianggap malah berjasa dengan menentang pemerintah Mancu.
Yang dimusuhi oleh kelompoknya hanyalah pemerintah penjajah dan dalam hal ini, dia sendiri hanya terbawa-bawa dan ikut-ikutan dengan suhengnya saja yang menjadi tokoh penting dalam Thian-te-pang sekarang.
Akan tetapi, pada waktu itu pergolakan terjadi di Kanton dan golongan anti orang kulit putih amat banyak dan amat kuat.
Mereka adalah pendekar-pendekar yang timbul kemarahannya karena orang kulit putih menyebar madat, Lalu ada pula golongan-golongan penjahat yang menyelundup atau menyusup ke dalam perjuangan para pendekar ini, mereka ini menyusup untuk dapat merampok rumah-rumah orang kulit putih yang kaya, dengan dalih memusuhi mereka seperti para pendekar.
Tiga orang yang tadi dirobohkannya adalah penjahat-penjahat pula.
Dia dan golongannya sama sekali bukan pembela orang kulit putih, hanya tidak memusuhi mereka pada saat itu.
Kalau tadi dia menyelamatkan gadis kulit putih ini hanya terdorong oleh perasaannya, oleh sifat kegagahannya yang tidak mau membiarkan tiga orang laki-laki memperkosa seorang gadis yang tidak berdaya.
Dan kini, setelah bersusah payah menolong, dan hendak menyelamatkan gadis itu dari tempat berbahaya itu, si gadis menolak dan memilih mati!
"Nona, kalau mereka datang dan membunuhmu, hal itu tidak perlu kita pusingkan lagi.
Akan tetapi bagaimana kalau mereka membawamu dan memperlakukan seperti tiga orang penjahat tadi?
Apakah engkau menghendaki hal itu terjadi atas dirimu?"
Ucapan itu seperti sengatan yang menyakitkan. Wajah gadis itu berobah pucat dan ia sudah menengok ke kanan kiri dengan sikap ketakutan.
"Jangan...! Tolonglah aku..."
"Kalau begitu, mari kita pergi. Kita harus cepat pergi dari sini, lebih cepat lebih baik."
Baru sekarang Sheila teringat akan pesan Ayahnya. Ia harus cepat pergi ke kapal! Peristiwa yang amat mengguncangkan batinnya tadi sempat membuat ia lupa lagi akan niatnya melarikan diri.
"Ouhhh... tolonglah saya, tolong antarkan saya ke kapal. Saya harus segera pergi ke sana, menyelamatkan diri...!"
Katanya dan menuding ke arah pantai yang masih agak jauh dari tempat itu.
Seng Bu menengok ke timur.
Tentu saja, menggunakan kepandaiannya, dia akan dapat menerobos dan membawa nona ini sampai ke pantai, ke kapal.
Akan tetapi ada dua hal yang membuat dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan hal ini.
Pertama, andaikata dia berhasil melarikan nona ini sampai ke kapal, dia sendiri tentu akan dicurigai dan tidak merupakan hal yang mustahil kalau dia langsung saja ditembak dan dibunuh oleh orang kulit putih.
Dan ke dua, entah bagaimana, dia tidak ingin melihat gadis itu pergi meninggalkan dia!
Seng Bu menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin, nona. Lihat, ada kebakaran-kebakaran di sana. Mereka telah menghadang di jalan dan mereka bahkan akan menyerang kapal-kapal itu. Kalau nona ke sana, sebelum sampai di kapal tentu akan tertawan."
Dia tidak berbohong karena kalau Sheila pergi sendirian ke pantai, tentu dara itu akan terhadang dan tertangkap.
Tentu saja kalau dia yang membawanya, dengan mengandalkan kepandaiannya, banyak kemungkinan gadis itu akan selamat sampai di pantai!
Sheila menjadi bingung.
Dengan matanya yang lebar dan basah ia lalu memandang wajah pemuda itu.
"Habis... lalu aku harus pergi kemana?"
"Mari ikut bersamaku, nona. Aku akan menyelamatkanmu. Percayalah, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, nona."
Sepasang mata yang basah itu terbelalak, penuh keheranan, penuh terima kasih dan keharuan.
Kata-kata pemuda itu, apa lagi yang terakhir, menimbulkan kesan mendalam di hati Sheila dan wajah itu nampak demikian simpatik, demikian mengagumkan sehingga terasa ada kedamaian dan keamanan yang menenangkan di hatinya.
"Baiklah, aku tidak tahu harus ke mana... aku tidak punya siapa-siapa lagi..."
"Mari, nona,"
Kata Seng Bu yang melihat bayangan banyak orang datang dari sebelah selatan.
Dia menggandeng tangan Sheila, tidak lagi memegang pergelangan lengannya dan menarik gadis itu, diajaknya lari ke barat.
Akan tetapi, baru kurang lebih satu mil mereka berjalan, tiba-tiba Sheila terpekik dan memandang ke depan dengan mata terbelalak.
Di depan mereka nampak serombongan orang laki-laki yang jumlahnya dua puluh orang lebih, semua memegang senjata dan nampak mereka itu menyeramkan sekali, dengan senjata di tangan, dengan pakaian kusut, mata beringas dan sikap membayangkan kekerasan.
Dan bukan hanya Sheila yang terkejut, akan tetapi Seng Bu juga kaget sekali.
Dia mengenal mereka itu sebagai golongan anti kulit putih!
Celaka, pikirnya, tak mungkin menyembunyikan kenyataan bahwa gadis yang berjalan di sampingnya adalah seorang gadis kulit putih dan tentu mereka takkan tinggal diam!
Dan yang membuat hatinya merasa tidak enak adalah ketika dia mengenal mereka itu sebagai pendekar-pendekar pejuang, bukan orang-orang jahat.
"Maaf, terpaksa aku memperlakukanmu sebagai tawananku!"
Seng Bu berbisik dan kini dia sudah menyambak rambut kuning emas yang panjang itu dan menyeretnya.
"Auuwww...!"
Sheila menjerit kaget dan ketakutan, tidak mengerti mengapa kini penolongnya bersikap demikian terhadap dirinya.
Kini rombongan orang dari depan itu telah berada di situ.
Mereka nampak gagah perkasa dan kuat, akan tetapi karena pada saat itu mereka berada dalam suasana perang, di mana semua kebencian ditumpahkan melalui darah, mereka kelihatan beringas dan liar.
"Iblis putih betina!"
Terdengar seruan-seruan mereka. Mereka adalah orang-orang yang membenci orang kulit putih dan menyebut orang kulit putih itu"iblis putih."
Ramailah dua puluh lima orang itu kini mengurung Seng Bu yang menyeret rambut Sheila. Melihat pemuda ini menyeret rambut Sheila, mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa.
"Hei, kawan!"
Teriak pemimpin mereka, seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih, berperut gendut dan memegang sebatang ruyung besar.
"Dari mana kau memperoleh iblis putih betina ini dan kenapa tidak langsung saja dibunuh?"
Seng Bu tersenyum.
"Aku telah membunuh seluruh keluarganya dan dia kubawa untuk kusiksa di depan makam Ayahku yang (Lanjut ke
Jilid 13) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 13 tewas karena madat. Baru akan kubunuh dia di depan makam Ayah agar disiram dengan darahnya!"
Hampir pingsan Sheila mendengar kata-kata penolongnya yang kini menyeret rambutnya itu.
Ia menjadi bimbang.
Bagaimana kalau benar seperti yang dikatakan pemuda itu bahwa ia sedang dibawa untuk disembelih di atas makam Ayah pemuda ini?
Ia bergidik dan hanya merintih di dalam hati, hanya dapat memejamkan mata dan berdoa kepada Tuhan agar melindungi dirinya.
Mendengar ucapan Seng Bu, terdengar suara ketawa dan orang-orang itu memuji Seng Bu.
"Bgus, memang iblis-iblis putih patut disembelih semua diatas makam korban madat. Selamat, kawan, semoga kebaktianmu itu diterima oleh arwah orang tuamu,"
Kata si gendut yang lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk melanjutkan perjalanan.
"Hayo cepat!"
Seng Bu menghardik Sheila dan mendorongnya sehingga gadis itu terhuyung dan jatuh bangun, ditertawai oleh rombongan orang itu. Akan tetapi tiba-tiba seorang di antara rombongan itu berseru.
"Haiii! Ia adalah puteri Opsir Hellway!"
Seng Bu tidak memperdulikan seruan itu karena dia sendiripun tidak tahu siapa adanya gadis ini, akan tetapi tiba-tiba si gendut berteriak keras.
"Hai, kawan. Berhenti dulu!"
Dengan sikap tenang, sambil memegang lengan Sheila, Seng Bu berhenti dan membalikkan tubuhnya. Si gendut itu dengan langkah lebar menghampirinya, diikuti seorang laki-laki bermata juling.
"Benarkah katamu, A-kong?"
Tanya si gendut kepada si mata juling. Si mata juling mendekat dan sepasang matanya yang juling meneliti Sheila. Gadis inipun merasa seperti pernah melihat laki-laki bermata juling ini.
"Tidak salah lagi! Ketika aku mengunjungi keponakanku yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya aku pernah melihat gadis ini!"
Kata si juling dan sekarang Sheila teringat bahwa memang si juling ini pernah mengunjungi seorang di antara para pelayannya yang oleh pelayan itu diperkenalkan sebagai seorang pamannya dari dusun.
Si gendut kini menghadapi Seng Bu.
"Kawan, gadis ini adalah puteri Opsir Hellway."
"Kalau begitu, mengapa? Aku tidak tahu siapa, akan tetapi siapapun gadis ini, ia harus menjadi korban di makam Ayahku!"
Kata Seng Bu dengan sikap tenang.
"Tidak, kawan. Ia puteri opsir, merupakan tangkapan penting. Ia harus kami bawa sebagai tawanan penting. Pemimpin kami akan girang sekali mendapatkan tawanan opsir itu. Opsir itu di samping Kapten Elliot merupakan musuh-musuh besar, dan puterinya tentu merupakan tawanan penting sekali!"
"Tidak bisa. Akulah yang menangkapnya dan ia adalah tawananku!"
Kata Seng Bu. Si gendut mengerutkan alisnya.
"Kawan, kami adalah para pejuang, dan dalam perjuangan, urusan pribadi harus dikesampingkan. Berikan gadis ini kepada kami dan jasamu akan kami catat, kami laporkan kepada atasan kami!"
"Aku tidak perduli. Gadis ini menjadi tawananku dan siapapun tidak boleh merampasnya!"
"Kau mau menjadi pengkhianat?"
Bentak si gendut.
"Aku bukan anak buahmu, aku tidak mengkhianati siapa-siapa."
"Tidak perlu banyak cakap, rampas saja gadis itu!"
Terdengar teriakan-teriakan.
Seng Bu maklum akan gawatnya keadaan, maka cepat ia menotok jalan darah di pundak Sheila yang membuat gadis itu seketika menjadi lemas dan tidak mampu bergerak, kemudian dengan tangan kirinya Seng Bu memondong tubuh yang lemas itu di atas pundak kirinya.
Sejenak jari-jarinya menyentuh kulit daging yang lunak dan halus, akan tetapi semua perasaan aneh ini ditekannya dan diapun meloncat ke depan.
Orang-orang itu berteriak-teriak dan beberapa orang sudah menghadang.
Akan tetapi Seng Bu menerjang mereka dan empat orang terpelanting ke kanan kiri ketika kaki tangannya bergerak.
Seng Bu hanya menggerakkan golok untuk menangkis senjata-senjata yang diarahkan kepadanya, terutama sekali untuk menjaga agar tubuh yang dipondongnya tidak sampai terkena bacokan atau tusukan.
Begitu goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya, dia membuat beberapa buah senjata lawan beterbangan.
Tentu saja orang-orang itu merasa terkejut bukan main.
Tak mereka sangka bahwa pemuda itu demikian lihainya.
Hal ini menimbulkan kecurigaan mereka dan mereka lalu mengepung.
Si gendut yang memegang ruyung besar itu lalu menubruk, menggerakkan ruyungnya menghantam ke arah tubuh Sheila yang dipanggul di atas pundak kiri Seng Bu.
"Wuuuutttt... tranggg!!"
Golok Seng Bu menangkis dan si gendut hampir terpelanting.
Dia mengeluarkan seruan kaget.
Si gendut yang memimpin kelompok orang itu terkenal dengan julukan Gajah Sakti.
Dari julukannya ini saja dapat diduga bahwa dia tentu memiliki tenaga yang kuat seperti gajah.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ruyungnya yang besar dan berat itu tadi ditangkis oleh Seng Bu, tubuhnya terpelanting dan hampir saja terlempar!
Seng Bu tidak ingin melayani orang-orang itu lebih lama lagi.
Setelah dengan tamparan gagang golok dan tendangan kaki dia merobohkan beberapa orang penghalang di depan, tubuhnya meloncat jauh ke depan.
Melihat betapa pemuda itu, sambil memondong tubuh gadis itu, dapat melayang jauh ke depan seperti terbang, semua orang melongo dan menjadi jerih.
Kiranya yang mereka keroyok adalah seorang yang memiliki kepandaian sehebat itu!
Karena mengejarpun tidak akan ada gunanya, si gendut dan teman-temannya hanya memandang sampai bayangan Seng Bu yang memondong tubuh Sheila lenyap di dalam gerombolan pohon-pohon lebat dalam sebuah hutan.
Sampai beberapa lamanya Seng Bu berlari kencang.
Bari setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang yang mengejarnya lagi, dia berhenti dan dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Sheila sambil membebaskan totokannya.
Kembali jari-jari tangannya menyentuh kulit daging yang lunak halus dan hamgat ketika dia menurunkan tubuh itu dan hidungnya mencium bau keringat wanita bercampur dengan minyak harum yang keluar dari tubuh dan rambut Sheila.
Jantungnya berdebar kencang, akan tetapi Seng Bu dapat menekan batinnya sehingga jantungnya berdenyut normal kembali.
Kini Sheila berdiri memandang dengan bengong dan sepasang matanya menatap wajah Seng Bu penuh selidik.
Ia sedang menimbang-nimbang, sedang menduga-duga, dengan siapa ia berhadapan, orang macam apa adanya pemuda ini dan baik ataukah buruk niat yang terkandung di hati dalam dada yang bidang itu.
Dan diapun kagum bukan main karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar ahli silat seperti yang pernah dibacanya dan didengarnya dari dongeng para pelayannya.
"Kau... kembali telah menolong dan menyelamatkan aku dari tangan gerombolan itu."
"Karena itulah kukatakan tadi bahwa engkau harus cepat pergi. Terlalu berbahaya di daerah ini dan banyak sekali rombongan seperti mereka itu."
"Siapakah gerombolan itu?"
"Mereka bukan gerombolan jahat, sama sekali bukan seperti tiga orang bajingan yang menangkapmu pertama kali itu. Tidak, mereka tadi adalah sepasukan patriot, orang-orang gagah yang memusuhi orang kulit putih."
Baru dia teringat bahwa yang diajak bicara adalah seorang gadis kulit putih.
"Maaf, aku tidak dapat menyalakan mereka..."
Dan dengan berani Seng Bu menentang pandang mata itu. Sheila menarik napas panjang, lalu berkata lirih.
"Tidak, akupun tidak dapat menyalakan mereka!"
Ucapan ini mengejutkan dan mengherankan hati Seng Bu dan dialah yang kini memandang wajah gadis itu penuh selidik.
"Apa? Benarkah itu? Mereka memusuhi bangsamu, bahkan membunuh bangsamu, juga orang tuamu terbunuh oleh mereka dan kau tidak menyalakan mereka? Apa maksudmu?"
Kembali Sheila menarik napas panjang.
"Bngsaku bersalah, aku sudah sejak lama tidak setuju dengan perdagangan candu mereka. Benda itu berbahaya, meracuni rakyat. Aku melihat akibat-akibat mengerikan dari madat itu. Jadi kalau sekarang bangsamu marah dan memusuhi bangsaku, bagaimana aku dapat menyalakan mereka? Andaikata aku menjadi mereka, akupun akan berbuat demikian!"
Seng Bu terbelalak, matanya memandang kagum.
"Aihh, engkau... engkau seorang gadis yang bijaksana sekali!"
"Dan engkau... engkau tentu seorang pendekar yang pandai ilmu silat."
Seng Bu semakin heran.
"Eh, bagaimana engkau bisa tahu tentang pendekar silat?"
"Aku banyak membaca tentang pendekar dan banyak mendengar dari para pelayanku.."
Seng Bu mengangguk-angguk.
"Kiranya nona seorang terpelajar. Ah, baru teringat aku bahwa nona, biarpun seorang asing kulit putih, akan tetapi pandai sekali berbahasa daerah dan kata-katamu sopan halus seperti orang terpelajar."
"Sejak berusia empat tahun aku tinggal di sini, tentu saja aku pandai bahasa sini. Benarkah engkau menolongku dengan maksud baik, ingin menyelamatkan aku? Tidak akan kau bawa untuk..."
Wajah gadis itu memandang jijik.
"Untuk apa. Nona?"
"Untuk kau bunuh di makam Ayahmu agar darah ku membasahi makam Ayahmu...?"
Ia bergidik ngeri. Seng Bu menggeleng kepala.
"Tidak, tadi hanya kupakai agar mereka mau membiarkan aku membawamu pergi. Siapa kira ada yang mengenalmu. Jadi kau anak opsir?"
Sheila mengangguk.
"Ayah dan ibu telah tewas..."
Dan tiba-tiba ia menangis lagi, menangis terisak-isak karena teringat akan mayat Ayah ibunya yang menggeletak di dekat kereta.
Seng Bu memandang gadis yang kini tak dapat menahan kesedihannya itu.
Sheila merasa betapa tubuhnya lemas tak bertenaga lagi setelah kini terlepas dari bahaya dan teringat akan Ayah bundanya.
Ia menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tak memperdulikan betapa pakaiannya menjadi kotor.
Ia menutupi muka dengan kedua tangan, akan tetapi isaknya makin keras dan air mata mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya.
Seng Bu merasa kasihan sekali dan diapun menghiburnya dengan suara lirih.
"Sudahlah, nona. Mereka sudah tewas, ditangisi sampai bagaimanapun tidak ada gunanya. Yang sudah mati tidak perlu dipikirkan lagi, yang penting memikirkan yang masih hidup dan engkau masih hidup, nona."
Seng Bu bukan orang yang pandai mengatur kata-kata, maka ucapan yang keluar dari lubuk hatinya ini walaupun mempunyai maksud yang amat baik, namun tidak dimengerti oleh Sheila dan gadis itu menjadi makin mengguguk karena seolah-olah diingatkan oleh pemuda itu bahwa hanya ialah seorang yang masih hidup seorang diri saja di dunia yang penuh bahaya ini, di sebuah negeri asing yang kejam terhadap dirinya.
Melihat seorang gadis menangis demikian sedihnya, hal yang baru pertama kali ini dialami oleh Seng Bu, hati pemuda ini diliputi keharuan dan rasa kasihan yang mendalam dan suara tangis itu demikian memilukan hatinya sehingga tanpa disadarinya lagi kedua matanya menjadi basah!
"Aku...
aku memang masih hidup...
akan tetapi apa artinya?
Aku...
aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hidup sebatangkara di sini...!"
Kata Sheila di antara tangisnya.
"Nona, engkau tidak sendirian dalam hal ini. Akupun hidup sebatangkara, tidak punya siapa-siapa lagi, Ayah ibuku juga... sudah mati semua, terbunuh..."
Sheila yang tadinya sesenggukan itu tiba-tiba saja menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari lindungan kedua tangannya dan dengan mata merah basah memandang wajah Seng Bu, sinar matanya penuh selidik dan kedua alisnya berkerut.
"Orang tuamu... Mereka mati karena... madat...?"
Suaranya mengandung penuh kekhawatiran, dan teringatlah ia akan kata-kata ancaman yang dipergunakan oleh pemuda itu kepada gerombolan yang tadi hendak menawannya. Seng Bu menggeleng kepala.
"Sama sekali tidak. Mereka tewas... karena kekacauan yang timbul oleh pemberontakan. Aku melihat... mereka terbunuh tanpa dapat berbuat apa-apa..."
Seng Bu menghentikan kata-katanya dan kesedihan memenuhi hatinya karena percakapan itu mengingatkan dia akan keadaan dirinya sendiri, akan kematian Ayah bundanya dan akan semua kesengsaraan yang pernah dialaminya dan baru sekali ini dia bicarakan dengan orang lain.
Tanpa terasa olehnya, kedua matanya menjadi basah, bahkan ada dua butir air mata mengalir turun di atas pipinya.
Melihat betapa pemuda yang demikian gagah perkasa itu menitikan air mata, Sheila menjadi terharu sekali.
Gadis ini kini tidak merasa begitu berduka lagi, melainkan terharu dan kasihan kepada Seng Bu.
Kini air mata yang jatuh menitik dari kedua matanya berbeda lagi dengan air matanya yang tadi, seperti juga air mata yang jatuh dari mata Seng Bu berbeda dengan air mata yang membasahi kedua matanya sebelum dia terkenang akan keadaan dirinya sendiri.
Tangis merupakan suatu peristiwa amat penting dari kehidupan, bahkan air mata tidak terpisahkan dari kehidupan seorang manusia.
Kebohongan besarlah kalau seorang mengatakan bahwa dia tidak pernah menangis!
Setidaknya, tentu dia pernah menangis dalam hatinya.
Dan tentu dia banyak menangis pula di waktu masih kecil, setiap hari menangis entah berapa kali.
Bahkan menurut penyelidikan para cendekiawan, tangis merupakan suatu keharusan bagi manusia karena tangis merupakan obat yang amat mujarab, merupakan suatu pelepasan segala ganjalan, pelampiasan segala kekecewaan dan kemarahan.
Tanpa tangis, mungkin usia manusia menjadi lebih pendek dari pada kepanjangan usia pada umumnya seperti sekarang ini.
Tangis bukan hanya menjadi tanda kedukaan hatinya, bahkan kegembiraan yang besar, manusia menitikkan air mata seperti orang menangis.
Kegembiraan besar mendatangkan keharuan yang membuat orang menangis pula.
Agaknya hanya dalam suara tangis sajalah terdapat suatu kesungguhan, suatu kewajaran, walaupun tentu saja ada tangis yang dibuat-buat.
Betapapun juga, tangis tidaklah sepalsu tawa.
Suara pertama dari manusia adalah tangis.
Begitu terlahir, manusia dari bangsa apapun juga, mengeluarkan suara pertama itu, ialah menangis.
Dan suara ini adalah suara kemanusiaan, suara suci karena dikeluarkan dari mulut manusia sebagai gerakan pertama kali, keluar tanpa dikehendaki, suara yang sama sekali tidak mengandung emosi, atau pamrih.
Karena itu, suara yang wajar ini dikenal oleh seluruh manusia di dunia tanpa membedakan bangsa dan bahasa, menjadi satu-satunya suara yang amat dekat dengan manusia berbangsa apapun juga.
Dari suara tangis, kita tidak akan mampu membedakan apakah tangis itu keluar dari mulut seorang berbangsa ini atau itu.
Kelahiran manusia diiringi tangis, tangisnya sendiri.
Kematiannyapun diiringi tangis, tangis mereka yang ditinggalkan.
Kehidupan itu sendiri, antara lahir dan mati, penuh dengan selingan tangis!
Sesungguhnya, tangis merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari hidup, dan tangis merupakan pertanda dari keadaan batin yang macam-macam pula.
Tangis duka didasari oleh rasa iba diri, seperti yang dilakukan oleh Sheila dan Seng Bu ketika keduanya teringat akan keadaan diri mereka masing-masing.
Ada pula tangis haru yang didasari oleh rasa iba terhadap orang lain.
Ada tangis karena kegembiraan yang besar.
Tangis karena kemarahan.
Tangis merupakan pencerminan keadaan batin yang diusik emosi.
Demikian dekatnya tangis dengan kehidupan kita sehingga tangis inipun mudah sekali menular.
Berada di antara banyak orang yang sedang menangis, sukarlah bagi kita menahan diri agar tidak ikut menitikkan air mata.
Gan Seng Bu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, yang sejak kecil sudah digembleng oleh keadaan yang pahit, oleh kesukaran, kemudian digembleng ilmu oleh seorang datuk sesat yang sakti.
Semenjak menjadi murid Thian-tok, dia tidak lagi pernah menangis, seolah-olah hatinya telah membeku.
Hanya karena memang pada dasarnya dia tidak suka akan kejahatan, dan memiliki watak gagah perkasa, maka dia tidak terseret oleh watak gurunya yang aneh, jahat dan amat kejam itu.
Akan tetapi, begitu bertemu dengan Sheila, terjadilah perobahan yang besar dan luar biasa, yang membuat Seng Bu sendiri menjadi bingung dan terkejut.
Dalam waktu sehari, bahkan baru beberapa jam saja, setelah bertemu dengan Sheila, dia beberapa kali mengalami guncangan batin, jantungnya berdebar penuh ketegangan, penuh kekhawatiran, dan lebih hebat lagi, kini dia sampai dua kali menitikan air mata dalam keadaan yang berbeda!
Pertama, keharuan dan iba terhadap diri gadis itu membuat dia tidak dapat menahan air matanya, dan kini, setelah teringat akan keadaan diri sendiri, dia menitikkan air mata karena iba diri dan duka.
Kedukaan, saling iba, dan persamaan nasib itu mendekatkan dua hati yang bertemu dalam keadaan yang demikian mengharukan dan menyedihkan.
Mereka duduk di atas rumput, kini tidak bicara, hanya sinar mata mereka saling pandang dengan penuh getaran perasaan.
"Engkau sungguh patut dikasihani, nona."
Akhirnya Seng Bu berkata untuk menghibur hati sendiri.
Memang tidak ada cara yang paling mujarab untuk mengobati kesedihan diri sendiri dari pada mengalihkan perhatian kepada nasib lain orang, sehingga iba diri berobah menjadi iba kepada orang lain.
"Engkau lah yang patut dikasihani,"
Jawab Sheila. Mereka saling merasa kasihan, dan mereka sama sekali tidak sadar bahwa rasa iba ini merupakan jembatan yang dekat sekali untuk menyeberang kepada cinta asmara.
"Tidak, nona. Aku adalah orang dari negeri ini, dan aku langsung terlibat, bahkan aku juga ikut aktip dalam pergolakan sehingga sudah sepantasnya kalau aku menjadi korban gelombang ini. Akan tetapi engkau, engkau seorang asing dan engkau sama sekali tidak tahu-menahu tentang semua ini... dan engkau menjadi korban..."
"Tidak! Pandanganmu itu keliru, sahabat yang gagah. Setiap orang tentu menjadi sebab dari pada akibat yang menimpa dirinya sendiri. Ayah bertugas di sini, dan Ayah ikut pula mendorong kereta kejahatan yang berupa penyelundupan madat ke negeri ini. Itulah sebab terjadinya musibah hari ini. Dan apa bila ada angin ribut melanda, angin tidak memilih pohon apa saja tentu akan dilandanya, daun apa saja, bunga apa saja mungkin rontok oleh amukan angin dan badai. Biar aku tinggal di negeriku sendiri, kalau di sana terjadi badai seperti di sini, kalau terjadi pergolakan, mungkin saja aku tertimpa dan menjadi korban. Dalam hal ini, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, melainkan kesalahan pihakku sendiri, orang tuaku dan bangsaku."
Seng Bu tertegun.
Demikian mendalam arti kata-kata gadis itu, demikian bijaksana sehingga sukar ditangkapnya secara jelas, namun samar-samar dia dapat mengerti.
Memang gadis itu seorang yang bijaksana, luas pengetahuannya biarpun usianya masih muda, karena ia banyak membaca.
Bacaan, kalau dilakukan dengan tekun, kalau dilakukan dengan pencurahan perhatian, merupakan sumber pengetahuan dan pengertian dan memupuk kebijaksanaan.
Seorang bijaksana akan melihat bahwa segala akibat itu tentu bersebab, dan kalau diteliti, maka segala akibat yang menimpa diri sendiri sudah pasti sebabnya bersumber pada diri sendiri pula.
Kita sudah terbiasa sejak kecil untuk mencari kesalahan di luar diri sendiri, untuk mencari kambing hitam atau keranjang sampah.
Hal ini sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan mengeruhkan pikiran, menimbulkan dendam dan permusuhan, kebencian kepada yang berada di luar diri.
Mengapa kita tidak pernah mau menjenguk ke dalam diri sendiri untuk mencari sebab dari pada setiap akibat yang timbul dan yang menimpa diri kita sendiri?
Bukankah hal ini timbul karena kita sudah membuat dan menciptakan sebuah gambaran tentang diri kita sendiri, sebuah gambaran yang menjadi raja "Aku"?
Aku yang paling baik, paling benar, dan paling patut dikasihani, menjadikan kita menjadi rendah diri atau tinggi hati, satu di antara dua.
Keakuan yang membuat kita enggan untuk mencari kesalahan pada diri sendiri.
Kalau kita tertipu seseorang, kita condong untuk mencurahkan semua perhatian kepada si penipu, menyalahkannya, menuntutnya, membencinya, mendendam dan mencari jalan untuk membalasnya berikut bunganya.
Mengapa kita tidak menghentikan pencurahan keluar itu dan mencari sebabnya dalam diri sendiri?
Kalau kita melakukan hal itu, maka akan nampaklah oleh kita sebabnya yang terutama adalah pada diri kita, Yaitu karena kita lengah, karena kita bodoh, karena kita lemah, maka kita sampai tertipu.
Pengamatan terhadap diiri sendiri ini jauh lebih besar manfaatnya, dapat membuat kita sadar dan menganggap peristiwa itu sebagai suatu pengalaman berharga, sebagai pelajaran sehingga selanjutnya kita akan berhati-hati, akan waspada sehingga tidak sampai tertipu lagi.
Pandangan keluar, sebaliknya, mendatangkan emosi, dendam dan kebencian dan tidak akan menambah kewaspadaan kita sehingga kelak mungkin saja hal yang sama terulang lagi karena kelengahan kita sendiri.
Dalam menghadapi setiap peristiwa yang menimpa kita, demikian kata orang bijaksana, kita tidak menyalahkan Tuhan tidak mengutuk Setan, melainkan mencari sebab-musababnya dalam diri kita sendiri!
"Nona, engkau tabah menghadapi semua penderitaan, membuat aku kagum sekali,"
Akhirnya Seng Bu menyatakan kekaguman hatinya.
"Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu, sobat. Engkau gagah perkasa, engkau berbudi mulia, biarpun aku seorang asing sama sekali bagimu, bahkan dari bangsa asing yang telah banyak menimbulkan kesengsaraan kepada bangsamu, engkau masih mau menolongku, bahkan melindungiku dengan taruhan nyawa. Bolehkah aku mengenal namamu?"
"Namaku Gan Seng Bu, hidup sebatangkara saja di dunia ini."
"Gan Seng Bu? Nama yang gagah."
"Dan engkau siapakah, nona?"
"Namaku Sheila."
"Sheila...? Sheila...?"
Seng Bu tidak memberi komentar, akan tetapi beberapa kali bibirnya bergerak menyebut nama Sheila dengan lembut dan tidak kaku.
Diam-diam Sheila merasa girang bahwa namanya Sheila, sebuah nama yang tidak akan sukar terucapkan oleh mulut pribumi yang sukar menyebut huruf "r."
Coba namanya Margaret atau lain nama yang menggunakan huruf itu tentu akan sukar bagi Seng Bu untuk menyebutnya. Tidak, nama Sheila tidak sukar bagi lidah Seng Bu.
"Biarlah aku menyebutmu Seng Bu saja dan engkau menyebutku Sheila tanpa nona, bagaimana?"
Ketika Seng Bu mengangguk tersenyum, Sheila juga tersenyum dan pada saat itu keduanya sudah lupa sama sekali akan keharuan dan kesedihan mereka tadi.
Memang, suka atau duka hanyalah permainan pikiran belaka yang menimbulkan emosi, kalau pikiran tidak lagi tertuju kepada hal itu, tentu tidak ada pula duka atau suka!
"Seng Bu, setelah engkau mengajakku sampai ke tempat ini, lalu selanjutnya bagaimanakah?
Aku seharusnya pergi ke kapal dan menyelamatkan diri dengan orang-orang kulit putih lainnya.
Akan tetapi jalan ke sana sudah terputus dan aku berada di sini.
Bagaimana selanjutnya?
Engkau tidak akan meninggalkan aku begini saja di sini, bukan?"
"Aih, tentu saja tidak, Sheila. Aku tidak akan berbuat kepalang tanggung. Aku sudah berani mengajakmu ke sini, aku harus dapat mempertanggungjawabkan dan selanjutnya aku akan melindungimu sampai... sampai engkau selamat benar."
Makin yakinlah hati Sheila akan kegagahan Seng Bu, akan kesungguhan hatinya melindunginya dan hatinya mulai pasrah.
Ia akan merasa aman kalau selalu berada di dekat pemuda ini, dalam keadaan bagaimanapun juga.
"Terima kasih, Seng Bu. Akan tetapi, ke mana selanjutnya kita akan pergi?"
Ia menatap wajah yang gagah itu.
"Apakah engkau mempunyai rumah?"
Seng Bu tersenyum dan semua bayangan kekerasan meninggalkan garis-garis wajahnya ketika dia tersenyum.
Dia menggeleng kepalanya dan Sheila melihat kuncir rambut yang hitam gemuk dan panjang itu bergoyang di depan dada pemuda itu.
Rambut yang hitam mengkilap, gemuk panjang, bagus sekali.
"Aku adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak memiliki apa-apa, Sheila. Juga tidak mempunyai rumah. Akan tetapi untuk sementara ini, aku tinggal bersama kawan-kawan lain di dalam sebuah hutan di mana dibangun pondok darurat besar di mana kami tinggal bersama."
"Kawan-kawan?"
"Ya, kawan-kawan seperjuangan, orang-orang gagah yang mempunyai cita-cita yang serupa, yaitu mengenyahkan penjajah asing dari tanah air."
"Ah, sekarang aku tahu!"
Sheila berkata dengan sikap gembira.
"Aku sudah pernah baca dan mendengar tentang pendekar-pendekar patriot yang bercita-cita membebaskan tanah air dari cengkeraman pemerintah Mancu. Ada perkumpulan Tombak Merah, Pintu Besar, Thian-te-pang. Yang manakah perkumpulanmu?"
Seng Bu menggeleng kepalanya.
"Aku bebas, tidak terikat perkumpulan yang manapun, Sheila. Akan tetapi ada kukenal mereka itu karena kami setujuan, dan yang kini berkumpul dan bersembunyi di dalam hutan itu, sebagian besar memang anggauta-anggauta Thian-te-pang, sebagian pula adalah pejuang-pejuang sukarela seperti aku, termasuk suhengku yang menjadi tokoh Thian-te-pai yang terkenal pula."
Sheila lalu diajak melanjutkan perjalanan oleh Seng Bu, memasuki sebuah hutan besar dan di tengah-tengah hutan itu Sheila dan Seng Bu disambut oleh puluhan orang.
Mereka semua terheran-heran melihat munculnya Seng Bu bersama seorang gadis kulit putih yang cantik jelita.
Mereka itu semua semua adalah orang-orang yang sejak kecil dididik memusuhi penjajah Mancu, dan merupakan pejuang-pejuang yang ingin meruntuhkan kekuasaan Mancu, tidak mempunyai rasa permusuhan terhadap bangsa kulit putih walaupun hal ini bukan berarti bahwa mereka menyukai orang kulit putih.
Tidak, kebanyakan dari mereka tidak suka kepada orang kulit putih, terutama sekali dengan adanya penyebaran madat.
Namun, mereka tidak memusuhi bangsa asing ini secara terbuka.
Oleh karena itu, biarpun Sheila disambut dengan penuh keheranan, namun tidak ada yang memusuhi atau ingin mengganggunya.
Seng Bu lalu memperkenalkan Sheila sebagai seorang gadis yang kehilangan semua keluarganya yang tewas oleh mereka yang anti bangsa kulit putih dan bahwa dia telah menyelamatkan gadis itu dari gangguan penjahat-penjahat yang hendak memperkosanya.
Mendengar ini, orang-orang yang kebanyakan berjiwa pendekar itu ikut merasa simpati dan mereka menyambut kedatangan Sheila dengan sikap ramah, apa lagi setelah mendengar dari mulut Sheila sendiri betapa gadis asing yang pandai bicara daerah ini mengagumi perjuangan mereka.
Sheila pandai bicara daerah, dan sikapnya juga ramah, wajahnya manis menarik, maka sebentar saja semua orang merasa suka dan kasihan kepadanya.
Di dalam rombongan besar ini terdapat pula wanita-wanita, ada wanita yang menjadi anggauta keluarga para pejuang itu, ada pula wanita gagah yang memang menjadi anggauta pasukan.
Mereka yang tidak suka akan kekerasan bekerja sebagai pelayan dapur umum.
Karena adanya para wanita yang menerima Sheila sebagai seorang sahabat, maka gadis inipun merasa senang dan tidak terasing hidup di antara para pejuang itu.
Dan lucunya, para wanita di dalam rombongan itu, dan juga sebagian besar di antara mereka, diam-diam menganggap bahwa Sheila adalah pacar atau calon isteri Gan Seng Bu!
Semua orang menganggap hal ini sebagai suatu yang lumrah, bahkan ketika mendengar desas-desus ini, baik Seng Bu maupun Sheila hanya senyum-senyum saja.
Hanya ada satu orang yang menerima berita ini dengan alis berkerut, dengan hati yang tidak suka dan orang ini bukan lain adalah Ong Siu Coan!
Mula-mula Ong Siu Coan juga bukan merupakan anggauta Thian-te-pang.
Akan tetapi sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menentang pemerintah Mancu dan berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air.
Maka, begitu bertemu dengan perkumpulan seperti Thian-tepang yang terdiri dari orang-orang yang memiliki cita-cita demikian pula, hatinya segera tertarik dan diapun menggabungkan diri.
Dan Siu Coan merupakan seorang pejuang yang gagah perkasa, berilmu tinggi sehingga sebentar saja namanya terkenal sekali di antara orang-orang Thian-tepang, bahkan dia dianggap sebagai seorang tokoh Thian-te-pang walaupun dia tidak menjadi anggauta secara syah.
Dalam perkelahian dan penyerbuan terhadap pasukan pemerintah, Siu Coan selalu berada di depan dan dicontoh oleh lain-lainnya, bahkan menjadi pemimpin mereka.
Ketika berjumpa dengan sutenya dalam keributan di sekitar Kanton, Siu Coan membujuk sutenya untuk bergabung.
Seng Bu tidak memiliki cita-cita seperti suhengnya, namun dia berjiwa pendekar dan melihat bahwa Thian-te-pang terdiri dari orang-orang gagah yang juga membela kau m lemah, diapun tidak berkeberatan untuk menggabungkan diri.
Ketika melihat sutenya pulang ke hutan bersama seorang gadis kulit putih yang cantik, mula-mula Siu Coan hanya tersenyum saja dan menyambut dengan sikap biasa saja.
Akan tetapi, aneh sekali, begitu mendengar bahwa gadis itu adalah pacar dan calon isteri Seng Bu, mulailah timbul perasaan tidak enak di dalam hatinya.
Dia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah permulaan perasaan iri!
Mulailah dia memperhatikan Sheila dan makin diperhatikan, makin kagum dia karena baru sekarang dia melihat bahwa Sheila adalah seorang gadis yang cantik sekali, dan memiliki bentuk tubuh yang amat menggairahkan!
Perlu diketahui bahwa Thian-tok yang menjadi guru dua orang pemuda itu adalah seorang datuk sesat yang berhati kejam sekali.
Juga Thian-tok, seperti kebanyakan datuk sesat lalinnya, mempunyai watak mata keranjang dan suka menggoda wanita.
Memang, setelah usianya tua sekali, yaitu setelah menjadi guru kedua orang muda itu, kegilaannya akan wanita tidaklah seperti dahulu di waktu muda.
Dahulu Thian-tok terkenal sebagai pengganggu wanita, tidak perduli wanita itu isteri orang yang sudah mempunyai anak, ataukah gadis yang masih remaja, asal dia tertarik tentu akan diculiknya begitu saja.
Ketika dia menjadi guru Siu Coan dan Seng Bu, hanya beberapa kali saja dia menculik wanita dan hal inipun diketahui oleh dua orang muridnya.
Diam-diam Seng Bu hanya merasa tidak senang, akan tetapi tidak berani menentang gurunya.
Sebaliknya, Siu Coan diam-diam merasa senang dan bahkan mencoba untuk mengintai apa yang diperbuat oleh suhunya.
Dan secara diam-diam pula, di luar tahu sutenya, beberapa kali Siu Coan juga mengikuti jejak gurunya, mengganggu wanita dengan paksa atau dengan halus.
Demikianlah, terdapat suatu watak buruk tersembunyi di balik lubuk hati Siu Coan yang kelihatannya bersikap sebagai seorang pejuang, seorang patriot dan pendekar yang gagah perkasa itu.
Dan melihat Sheila, timbul pula gairahnya yang didorong oleh perasaan iri dan cemburu terhadap sutenya, apa lagi melihat betapa Sheila selalu bersikap manis dan mesra terhadap Seng Bu.
Mulailah dia mendekati gadis kulit putih itu, mula-mula hal ini dilakukan ketika Seng Bu sedang tidak ada, dan secara wajar seperti seorang sahabat.
Dibandingkan dengan Seng Bu, Siu Coan lebih pandai bicara, pandai membawa diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya.
Juga dia lebih pandai dalam hal kesusasteraan, lebih luas pengetahuan umumnya, dan tentu saja jauh lebih pandai dibandingkan dengan Seng Bu mengenai tulisan dan bacaan karena di waktu kecilnya Siu Coan pernah bersekolah, tidak seperti Seng Bu yang hanya anak keluarga pemburu yang kasar.
Oleh karena itu setelah Siu Coan melakukan pendekatan, tidak mengherankan kalau Sheila cepat tertarik sekali dan nampak bergaul akrab dengan Siu Coan.
Sheila kini menjadi semakin kagum saja setelah hidup di tengah-tengah para pendekar dan pejuang itu.
Ia mengagumi kejujuran mereka, kegagahan mereka, dan betapa orang-orang ini hanya untuk menunjang sebuah cita-cita membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah, rela hidup demikian bersahaja, kehilangan keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa demi cita-cita mereka.
Ia merasa kagum sekali.
Ketika Siu Coan mendekati, tentu saja ia sambut dengan ramah.
Siu Coan adalah suheng dari Seng Bu dan ternyata bahwa suheng dari sahabat baiknya ini adalah seorang yang demikian pandainya, tidak saja pandai ilmu silatnya, akan tetapi juga luas pengetahuannya dan enak diajak bicara.
Bahkan tidak seperti Seng Bu yang agak pendiam dibandingkan dengan sang suheng ini.
Lambat laun Seng Bu maklum juga bahwa di antara Sheila dan suhengnya terdapat jalinan persahabatan yang akrab.
Akan tetapi diapun tidak menentang, karena dia merasa tidak berhak melarang Sheila bergaul dengan siapapun juga, apa lagi dengan suhengnya sendiri.
Memang ada perasaan cemburu di dalam hatinya, akan tetapi perasaan ini segera dibantahnya sendiri dan diusirnya.
Dia tidak berhak untuk cemburu!
Apanyakah Sheila itu?
Hanya seorang sahabat!
Biarpun selama berbulan-bulan ini hidup bersama di dalam suatu kelompok, biarpun antara dia dan Sheila terdapat hubungan yang manis dan nampak mesra, namun belum pernah mereka menyinggung soal asmara.
Dan dia selalu menghormati Sheila, tidak pernah menggodanya dengan kurang ajar, bahkan tidak pernah berani memperlihatkan gejolak hatinya yang sebetulnya sudah jatuh cinta sejak pertemuan pertama dahulu!
Bukan hanya jasmani Sheila yang menarik perhatian Siu Coan.
Ada suatu hal lain lagi yang amat menarik hatinya ketika dia mulai mendekati Sheila seringkali bercakap-cakap dengan gadis itu.
Hal yang amat menarik hatinya ini adalah tentang Agama Kristen!
Di dalam percakapan itu, mereka berdua menyinggung soal agama dan Sheila lalu bercerita tentang agamanya.
Dan sungguh aneh sekali, Siu Coan tertarik bukan main.
Mula-mula memang menjadi taktiknya saja untuk mendekati gadis itu, membicarakan soal agama gadis itu.
Akan tetapi, makin lama dia semakin tertarik dan banyak bertanya tentang pelajaran dalam agama itu.
Dengan senang hati Sheila menceritakan segalanya, bahkan gadis itu lalu memberi tahu kepada Siu Coan tentang Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah!
Dan karena Siu Coan mendesak untuk dapat membaca kitab itu, Sheila memberi tahu bahwa ada beberapa orang di Kanton yang memiliki kitab terjemahan itu, yaitu mereka yang sudah masuk Agama Kristen.
Semenjak waktu itu, mulailah Siu Coan tertarik kepada Agama Kristen dan diam-diam dia melakukan banyak hubungan dengan pemuka-pemuka Kristen di Kanton, Yaitu bangsa sendiri yang sudah memeluk agama itu dan dari merekalah dia memperoleh kitab terjemahan.
Pada waktu itu, terjemahan Alkitab dalam Bahasa Tiongkok amatlah buruknya.
Tanpa bimbingan seorang pendeta atau seorang ahli, tidak mudah menangkap arti terjemahan itu.
Akan tetapi Siu Coan yang memiliki watak tinggi hati dan menganggap diri sendiri paling pintar, tidak membutuhkan bimbingan dan dia mempelajari sendiri kitab terjemahan itu.
Dia sendiri yang membuat penafsirannya dan mulailah dia menganut agama baru yang dicampuradukkan dengan agama-agama lain yang pernah dipelajarinya.
Mulailah orang muda yang memang berwatak aneh, cerdik dan luar biasa ini membentuk sebuah agama baru yang aneh, pencampuran dari Agama Kristen dan agama-agama yang lebih dulu.
Atau semacam Agama kristen yang berbahu pengaruh pelajaran Agama-agama Buddha, Tao, dan Khong-hu-cu!
Masih dicampuri lagi dengan segala macam tradisi turun-temurun.
Di dalam dada pemuda ini mulai dipengaruhi dua unsur yang amat kuat.
Pertama adalah cita-cita menentang penjajah Mancu, kebencian yang mendalam terhadap penjajah Mancu, dan ke dua adalah pembentukan Agama Kristen yang tanpa disadarinya telah menyimpang dari pada prlajaran yang sebenarnya itu.
Kebanyakan dari kita, terutama di dunia modern akhir-akhir ini, condong untuk menilai seseorang melalui agamanya, atau kebangsaannya, kesukuannya, kelompoknya, kedudukannya, pendidikannya, atau bahkan dari kekayaannya!
Karena penilaian seperti itu, tentu saja lalu bermunculan konflik-konflik antar agama, antar suku, antar kelompok dan sebagainya.
Masing-masing pihak tentu saja menilai pihak sendiri paling baik dan paling benar, sedangkan pihak lain yang paling salah dan paling buruk!
Padahal, seperti dapat kita lihat dari kenyataan, bukan dari teori, baik buruknya seseorang sama sekali tidak tergantung dari agamanya, kebudayaannya, dan sebagainya itu.
Baik buruknya seseorang tergantung dari perbuatannya dan batinnya, karena perbuatan itu mencerminkan keadaan batin.
Agama, kebangsaan, kedudukan dan sebagainya adalah pakaian yang dikenakan pada seseorang manusia.
Betapapun indah dan bersihnya pakaian itu, kalau manusia yang memakainya kotor dan buruk, tentu saja akan tetap kotor dan buruk, dan bukan tidak mungkin bahwa pakaian yang bersih itu akan terbawa menjadi kotor.
Agama hanyalah suatu pelajaran bagi manusia agar hidup menurut jalur yang benar dan baik, Akan tetapi tentu saja bukan agamanya yang menentukan, melainkan manusianya sendiri karena dapat saja dia menyeleweng dari pada jalur itu.
Sayang bahwa banyak yang tidak melihat kenyataan ini.
Kita terlalu mementingkan pakaian-pakaiannya sehingga melupakan manusia itu sendiri.
Banyak pertikaian timbul di antara manusia karena pakaian itu, karena agama, karena suku, karena bangsa, karena kedudukan dan kekayaan, dan semua ini bersumber kepada keakuan yang ingin senang, ingin benar sendiri.
Demikian pula yang terjadi dengan Ong Siu Coan, dia bukan orang sembarangan.
Sejarah membuktikan bahwa Ong Siu Coan (1814-1864) kelak menjadi seorang pemimpin besar dari kelompok pejuang yang pernah menggegerkan Tiongkok dengan gerakan yang terkenal dengan nama Tai-peng!
Akan tetapi sungguh patut disesalkan bahwa manusia Ong Siu Coan yang terbuai oleh cita-cita, terbuai oleh segala macam pelajaran yang diciptakannya sendiri sehingga dia menjadi tersesat.
Dia demikian tertarik kepada Sheila dan mulai bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin rakyat seperti yang dicita-citakan, memimpin rakyat bangkit menentang penjajah dengan Sheila sebagai isteri di sampingnya, dan dia bersama Sheila akan menyebarkan agama barunya!
Terdorong oleh perasaan ini, pada suatu pagi dia mencari Sheila.
Gadis itu sedang mencuci pakaian bersama para wanita lain di anak sungai yang jernih airnya, di lereng bukit.
Dengan amat ramah Siu Coan lalu membantu gadis itu mencuci pakaian.
Tentu saja Sheila tidak mau menolak bantuan ini, akan tetapi sambil tertawa Siu Coan berkata.
"Sheila, apakah pakaianmu terlalu kotor maka engkau malu kalau aku membantumu mencucinya?"
Ucapan ini tentu saja membuat Sheila tidak dapat menolak lagi dan terpaksa memberikan beberapa baju luar yang sedang dicucinya, sedangkan ia mencuci pakaian dalamnya.
Tentu saja perbuatan Siu Coan ini memimpin suara ketawa tertahan dan senyum simpul para wanita yang sedang mencuci pakaian.
Bagi mereka, mencuci pakaian adalah pekerjaan wanita dan kalau ada laki-laki yang ikut mencuci pakaian, apa lagi pakaian wanita yang dicucinya, maka hal itu sungguh lucu dan juga tidak pantas!
Hal ini agaknya disadari oleh Siu Coan, dan pemuda yang cerdik ini lalu mendapatkan kesempatan untuk mempropagandakan kepercayaan barunya.
"Kenapa kalian mentertawakan aku? Karena aku membantu cucian Sheila? Ah, tentu kalian berpikir bahwa mencuci pakaian tidak pantas bagi pria? Itu adalah pikiran yang kuno dan kotor yang harus dibuang. Di dalam pandangan Tuhan, derajat pria dan wanita sama saja. Kalau wanita boleh mencuci pakaian pria, kenapa pria tidak boleh mencuci pakaian wanita? Pria bukanlah manusia istimewa yang harus dibedakan dan lebih tinggi derajatnya dari pada wanita. Kalian harus mempelajari agama baruku, maka kalian akan dapat berpikiran maju seperti aku dan derajat kalian akan sama dengan pria."
Ucapan Siu Coan tentang derajat, tentang persamaan hak antara pria dan wanita itu pada waktu itu terdengar amat janggal dan lucu, maka ramailah orang-orang perempuan itu terkekeh mentertawakan.
Akan tetapi Siu Coan hanya tersenyum saja dan memang pemuda ini pandai sekali membawa diri sehingga banyak wanita yang suka dan kagum kepadanya.
Setelah selesai mencuci pakaian, Siu Coan mengantarkan Sheila pulang membawa cuciannya.
Kesempatan inilah dipergunakan Siu Coan untuk mengajaknya bicara berdua saja.
Di tengah perjalanan, dia mengajak gadis itu berhenti.
"Ada apakah, Siu Coan? Engkau kelihatan ada sesuatu yang amat penting untuk dibicarakan denganku?"
Tanya Sheila.
"Memang tepat dugaanmu, Sheila. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting, sesuatu yang amat suci dan untuk itu, semalam aku telah menerima petunjuk sendiri dari Tuhan."
"Ahhh, benarkah?"
Sheila sendiri kadang-kadang terkejut dengan pernyataan Siu Coan.
Pernah pemuda itu menceritakan betapa semalam dia digoda setan dan setan itu diusirnya dengan kekuatan doa.
Pernah pula suatu kali dia mengatakan bahwa semalam dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar dia bertemu dengan Jesus!
"Aku tidak membohong, Sheila.
Dan petunjuk itu mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi raja..."
"Ehh...?"
"Bukan raja seperti kaisar penjajah sekarang, melainkan raja di antara rakyat untuk membebaskan rakyat dari penjajah, untuk menuntun rakyat ke jalan terang, untuk mengajak dan membawa rakyat ke kaki Tuhan..."
"Hemm, itu bagus sekali, Siu Coan."
"Dan di sampingku ada engkau, Sheila. Engkau lah yang membantuku, bahkan engkau yang memperkuat imanku, mempertebal keberanianku dan memperteguh tekadku, menambah semangatku."
"Aku, Ah, itupun baik sekali,"
Kata Sheila yang mengira bahwa Siu Coan tentu hanya menceritakan mimpinya saja dan apa salahnya kalau ia juga dimasukkan ke dalam mimpi itu? "Baik sekali, Sheila? Benarkah itu?"
Dan tiba-tiba Siu Coan memegang tangan Sheila dengan lembut.
"Benarkah engkau menganggapnya baik sekali?"
Barulah Sheila gelagapan.
Pegangan Siu Coan demikian kuatnya sehingga menakutkan hatinya.
Juga naluri kewanitaannya merasakan hal tidak wajar.
Apa lagi ketika ia menyambut pandang mata pemuda itu, melihat betapa sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang aneh, sinar mata seorang laki-laki yang penuh berahi!
Sheila gemetar dan dengan hati-hati ia menarik tangannya terlepas dari genggaman tangan Siu Coan dan hatinya merasa lega karena pemuda itu tidak menahannya.
"Tentu saja aku menganggapnya baik. Bukankah hal itu baik sekali? Dan pula, bukankah hal itu hanya mimpi saja, Siu Coan?"
"Bukan, bukan mimpi, Sheila! Melainkan petunjuk yang kulihat nyata sekali. Peristiwa yang akan terjadi kelak, akan tetapi yang sudah dapat kulihat dengan jelas sekarang ini. Sheila, karena itulah pagi-pagi ini aku menemuimu, dan aku ingin bertanya kepadamu. Maukah engkau berada di sampingku selalu? Maukah engkau membantuku, Sheila?"
Pertanyaan itu diajukan dengan suara menggigil dan mengandung getaran aneh sehingga Sheila memandang dengan mata terbelalak. Sepasang mata yang biru laut itu memandang penuh selidik, lalu ia bertanya.
"Apa yang kau maksudkan, Siu Coan? Bicaralah yang jelas dan terus terang!"
Siu Coan menghela napas panjang. Dia tidak merasa heran kalau ada orang tidak mengerti maksud hatinya, karena kadang-kadang suara hatinya "terlampau tinggi"
Untuk orang lain dan harus dijelaskan.
"Baiklah, Sheila, dengan kata-kata biasa, aku hendak mengatakan bahwa aku cinta padamu dan bahwa aku ingin sekali engkau dapat menjadi isteriku."
Kini Sheila benar-benar terkejut.
Hal itu sama sekali tak pernah disangkanya.
Memang ia suka bergaul dengan pemuda ini, suka bercakap-cakap karena selain Siu Coan mempunyai sikap yang menarik dan menyenangkan, juga pemuda ini pandai sekali.
Lebih-lebih karena Siu Coan menaruh perhatian demikian mendalamnya tentang Agama Kristen.
Akan tetapi sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Siu Coan menaruh hati kepadanya.
Bukankah sudah jelas bagi Siu Coan dan bagi semua orang bahwa ia dan Seng Bu mempunyai pertalian hati yang mendalam?
Bukankah merupakan hal yang jelas bahwa ia dan Seng Bu saling mencinta?
Dan tiba-tiba saja gadis itu teringat betapa ia dan Seng Bu belum pernah mengatakan cinta itu satu sama lain, walaupun tentu saja mereka dapat saling merasakan tentang hal itu melalui sinar mata, melalui senyum dan getaran kata-kata.
"Ah, tidak, Siu Coan! Hal itu tidak mungkin!"
Siu Coan menerima tamparan pada jantungnya ini dengan tenang, hanya matanya saja yang mengeluarkan sinar mata aneh dan wajahnya tetap biasa, mulutnya tetap tersenyum.
"Sheila, mengapa engkau menolak? Aku cinta padamu dan mengharapkan engkau menjadi isteriku, kenapa engkau menolak?"
Siu Coan baru saja terjun ke dalam pemikiran yang dianggapnya bebas seperti pikiran barat, seperti pikiran pembawa Agama Kristen itu, yaitu orang-orang dari barat yang berkulit putih.
Maka diapun penasaran kalau ada wanita menolak cintanya, karena dia masih memandang wanita seperti keadaan nenek moyangnya, lupa bahwa Sheila adalah seorang wanita barat yang sudah benar-benar bebas dalam hal memilih jodoh!
Betapapun juga, tidak enak bagi Sheila untuk mengatakan terus terang bahwa ia tidak mencinta Siu Coan, maka iapun hanya menggeleng kepalanya saja, lalu menundukkan muka karena ngeri melihat sinar mata pemuda itu berobah sedemikian aneh dan liar, seolah-olah dari situ terpancar ancaman yang amat hebat walaupun sikap pemuda itu masih tenang dan halus seperti biasa.
"Sheila, engkau menolakku karena engkau mencinta Seng Bu sute, bukan? Karena engkau dan dia sudah ada ikatan batin untuk kelak menjadi suami isteri?"
Pertanyaan yang tiba-tiba ini seperti todongan pistol pada dadanya dan amat mengejutkan karena hal itu sesungguhnya merupakan rahasia hatinya dan belum pernah diutarakan, bahkan kepada Seng Bu sekalipun belum pernah ia menyatakan isi hatinya, walaupun ia tahu bahwa Seng Bu mencintanya dan ia yakin pula bahwa pemuda gagah perkasa itupun dapat menduga akan isi hatinya.
Kini ditanya seperti itu, Sheila tidak membantah dan untuk menghindarkan desakan selanjutnya dari pemuda itu, iapun mengangguk.
"Benar, aku mencinta Seng Bu, jawabnya lirih karena diam-diam iapun merasa kasihan kepada Siu Coan karena terpaksa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Siu Coan menarik napas panjang, nampak kecewa sekali akan tetapi sinar matanya masih berkilauan aneh.
"Sheila, sudah kau pikir masak-masakkah hal itu? Apakah engkau tidak keliru pilih? Ingat, sute adalah seorang kafir, tidak seagama denganmu, pengikut setan!"
Sheila mengerutkan alisnya.
Memang, di antara bangsanya yang beragama Kristen, banyak yang menganggap bahwa orang-orang pribumi yang tidak beragama kristen sebagai orang-orang yang ingkar, orang-orang yang tidak beriman, bahkan dianggap orang-orang biadab.
Akan tetapi ia sudah banyak bergaul dengan mereka ini, dengan pelayan-pelayan rumah keluarganya, dan sudah banyak menyelami dan mempelajari kebudayaan mereka sehingga ia memperoleh kenyataan bahwa dalam hal kebudayaan, dalam hal ketata-susilaan dan peradaban, penduduk pribumi yang sederhana itu tidak kalah oleh orang-orang kulit putih.
Bahkan filsafat hidup yang mereka anut amat tinggi.
"Siu Coan, harap engkau tidak berkata demikian. Biarpun Seng Bu bukan seorang yang beragama Kristen, namun dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang pria yang budiman, sopan dan terhormat. Engkau tentu mengenal watak dari sutemu sendiri. Dan aku cinta padanya, mencinta orangnya, bukan agamanya. Kelak, perlahan-lahan aku akan dapat menuntunnya agar dia dapat masuk agamaku."
"Hemm, kau pikirkan dulu baik-baik, Sheila, agar kelak engkau tidak akan menyesal namun sudah terlambat. Terus terang saja, biarpun sute juga seorang pria yang gagah perkasa, namun dia sama sekali tidak sepadan menjadi jodohmu. Dia bodoh, pengetahuannya sempit, jalan pikirannya sederhana, tanpa cita-cita, dan engkau akan hidup melarat dengan dia. Nah, biarlah lain kali kalau engkau sudah memikirkan hal ini masak-masak, kita bicara lagi."
Wajah gadis itu berobah merah dan matanya memancarkan sinar kemarahan mendengar pemuda kekasih hatinya dijelek-jelekkan oleh Siu Coan.
"Siu Coan, tidak perlu kau memburuk-burukkan sutemu sendiri di depanku. Aku mencintanya, dan cinta tidak memandang kemelaratan dan kebodohan. Tak perlu kupikirkan lagi, dan mengenai hubungan antara kita tidak perlu dibicarakan lagi!"
Siu Coan menggoyangkan kedua pundaknya lalu meninggalkan gadis itu dengan cepat karena pada saat itu dia melihat berkelebatnya bayangan Seng Bu yang datang dari jauh.
Ketika dia pergi dengan berlari cepat, agaknya baru saja meninggalkan Sheila, Seng Bu menegur ramah.
"Suheng...!"
Akan tetapi yang ditegur terus lari, menolehpun tidak sehingga Seng Bu merasa heran, akan tetapi dia mengira bahwa tentu suhengnya itu tidak mendengar seruannya dan diapun melanjutkan larinya menghampiri Sheila.
Dia mengerutkan alisnya dengan hati khawatir ketika melihat Sheila masih berdiri di situ dan wajah gadis itu nampak masih merah dan wajah itupun membayangkan ketegangan hati.
"Sheila, apakah yang telah terjadi? Bukankah suheng tadi dari sini?"
Sheila memandang wajah Seng Bu, lalu menarik napas panjang dan mengangguk.
"Benar, dia baru saja meninggalkan aku dengan marah agaknya."
"Eh? Kenapakah? Apa yang telah terjadi antara kalian sehingga suheng menjadi marah kepadamu?"
Sheila mengaku terus terang.
"Dia kecewa karena cintanya kutolak."
Seng Bu terbelalak dan menatap wajah Sheila penuh selidik.
Wajah gadis itu segar dan manis sekali karena tadi sambil mencuci pakaian gadis itu mandi dan menggosok kulit mukanya dengan batu halus seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita lain.
Apa lagi kini gadis itu merasa tegang, kedua pipinya menjadi merah sekali dan sepasang mata yang indah lebar itu bersinar-sinar seperti sepasang bintang pagi.
"Apa... apa maksudmu?"
Sama sekali dia tidak mengira bahwa suhengnya juga mencinta gadis kulit putih ini, maka tentu saja pengakuan Sheila tadi mengejutkan hatinya.
Sheila tersenyum untuk menenangkan hatinya sendiri, juga hati Seng Bu, lalu berkata dengan halus.
"Seng Bu, tadi suhengmu itu mengatakan bahwa dia cinta padaku dan bahwa dia ingin aku menjadi calon isterinya."
Biarpun pemberitahuan pertama tadi sudah dimengertinya, namun penjelasan ini tetap saja amat mengherankan dan mengejutkan hati Seng Bu.
Suhengnya?
Kelihatan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan itu terhadap Sheila, dan suhengnya tahu benar bahwa dia mencinta Sheila.
"Dan... dan kau ...?"
"Tentu saja aku menolaknya dan dia kelihatan kecewa, lalu pergi meninggalkan aku."
"Akan tetapi... kenapa, Sheila? Kenapa kau ... kau menolaknya? Suheng adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan dia mempunyai cita-cita yang besar untuk menjadi seorang pemimpin besar."
Tentu saja Seng Bu sudah tahu benar akan cita-cita suhengnya yang selalu didengung-dengungkan itu.
"Kenapa? Karena aku tidak cinta padanya."
"Mengapa engkau tidak cinta padanya, Sheila?"
Seng Bu bertanya, di dalam suaranya terkandung nada mendesak yang aneh dan kini pemuda itu menatap wajah Sheila dengan tajam, penuh selidik.
"Ouhhh... Seng Bu, alangkah kejam hatimu mengajukan pertanyaan seperti itu. Seng Bu, perlukah kita berpura-pura lagi? Perlukah selama ini kita saling menyembunyikan perasaan? Engkau tentu tahu mengapa aku tidak bisa mencinta orang lain. Engkau tentu tahu bahwa aku hanya mencinta seorang pria saja di dunia ini dan aku tahu pula bahwa dia mencintaku sepenuh hatinya. Akan tetapi... pria itu masih berpura-pura lagi, bertanya mengapa aku tidak mencinta pria lain! Betapa kejamnya engkau..."
Dan Sheila lalu terisak menangis.
Hati Seng Bu diliputi keharuan dan melihat Sheila menangis, suatu dorongan kuat membuat dia melangkah maju dan di lain saat, entah siapa yang memulai gerakan itu, tahu-tahu Sheila telah berada dalam dekapannya.
Gadis itu merebahkan mukanya di dada yang bidang itu dan merasa aman sentausa penuh kedamaian.
Kedua matanya menitikkan air mata dan kedua lengannya memeluk leher, sedangkan kedua lengan Seng Bu melingkari tubuhnya dalam rangkulan ketat, seolah-olah pemuda itu khawatir kalau-kalau tubuh yang dirangkulnya itu akan terlepas.
"Maafkan aku, Sheila. Aku tahu bahwa engkau cinta padaku dan bahwa akupun cinta padamu, bahwa tanpa kata sekalipun kita sudah yakin akan cinta kita masing-masing. Akan tetapi aku... aku selalu khawatir akan kehilangan engkau, Sheila. Aku...aku merasa betapa aku ini kesasar, bodoh dan miskin, merasa tidak layak berada di sampingmu... karena itu... tadi aku meragu..."
Ah, sudahlah Seng Bu. Aku hanya mencinta engkau seorang, sejak pertema kita saling jumpa dan aku takkan mau berpisah lagi dari sisimu..."
"Dan aku... aku hanya memiliki engkau seorang..."
Mereka saling dekap dan Sheila yang memulai lebih dahulu ketika mereka saling mencium, karena Seng Bu takkan berani mendahuluinya, apa lagi dia seorang pemuda yang sama sekali belum pernah berdekatan dan berhubungan dengan seorang wanita.
Pada saat itu, mereka merasa merasa semakin yakin akan cinta kasih masing-masing, perasaan cinta yang terasa sampai jauh sekali di dasar hati masing-masing, kemesraan yang membuat semua bulu di tubuh mereka meremang.
Suara cekikikan para wanita yang tadi mencuci pakaian bersama Sheila, menyadarkan dua orang muda itu dari keadaan yang asyik masyuk itu.
Mereka cepat saling melepaskan rangkulan dan keduanya menjadi jengah kemalu-maluan, wajah mereka kemerahan dan mereka membiarkan para wanita itu lewat tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
"Ada orang melihat kita, Sheila, ini berarti bahwa kita harus cepat-cepat menikah agar tidak menjadi pergunjingan orang. Maukah engkau menikah denganku?"
Sheila mencium pipi dan dagu pemuda itu dengan hidungnya, kelembutan yang membuat Seng Bu hampir menitikkan air mata saling saking bangga, haru dan bahagianya.
"Engkau masih bertanya lagi? Setiap saat aku bersedia, Seng Bu, setiap saat. Sudah sejak lama aku merasa bahwa aku adalah milikmu, seluruhnya, aku telah menyandarkan seluruh kehidupanku kepadamu."
Sambil menggandeng tangan Sheila, Seng Bu lalu menemui kawan-kawan seperjuangannya dan mengumumkan bahwa dia hendak melangsungkan pernikahannya dengan Sheila di dalam hutan itu juga.
Semua kawan seperjuangannya yang merasa kagum kepada Seng Bu akan kegagahannya, bersorak gembira dan mereka lalu bergotong royong membuat persiapan untuk pesta sekedarnya menyambut pernikahan itu.
Diam-diam Ong Siu Coan tentu saja merasa iri hati dan marah sekali, akan tetapi pada lahirnya, dia juga menyambut dengan gembira ketika Seng Bu minta pendapatnya dan doa restunya.
Demikianlah, pernikahan antara Seng Bu dan Sheila terjadi di dalam hutan itu, dirayakan oleh para pejuang.
Suasana cukup meriah dan gembira malam itu walaupun tidak ada pesta besar seperti kalau pernikahan dirayakan di kota dalam suasana damai dan tenteram.
Malam itu dengan penerangan api unggun dan beberapa belas lampu minyak, para pejuang merayakan pesta pernikahan itu.
Seng Bu mengenakan pakaian bersih, dan Sheila mengenakan pakaian pengantin yang dipinjamkan dari seorang wanita.
Ia nampak cantik jelita dalam pakaian mempelai yang baginya lucu itu, dan sepasang mempelai dipertemukan oleh para wanita dan diberi selamat oleh para pejuang.
Malam itu pesta sederhana dirayakan para pejuang sampai menjelang tengah malam.
Tiba-tiba terdengar suara tambur dan terompet dan semua pejuang terkejut setengah mati ketika tiba-tiba nampak banyak sekali pasukan pemerintah menyerbu.
Kiranya hutan itu sudah dikepung oleh pasukan pemerintah yang jumlahnya ratusan orang!
Tentu saja suasana menjadi panik.
Para pejuang cepat memadamkan api unggun, juga lampu-lampu dan dalam keadaan remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan sepotong, para pejuang melakukan perlawanan mati-matian.
Dalam keadaan kacau itu, tentu saja Seng Bu juga terkejut dan cepat dia siap siaga membantu teman-teman.
(Lanjut ke
Jilid 14) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 14
"Sheila, engkau bersembunyi di pondok kita, aku akan membantu kawan-kawan mengusir pasukan pemerintah,"
Kata Seng Bu setelah tadi menggandeng tangan isterinya dan membawanya ke pondok yang disediakan untuk mereka oleh kawan-kawan mereka.
Sheila yang bermuka pucat dan ketakutan itu mengangguk, akan tetapi masih memegangi tangan suaminya.
"Jangan lama-lama... cepat ambil aku kembali... aku tidak mau berpisah lama darimu..."
Seng Bu mencium isterinya lalu melompat ke luar, siap dengan penuh semangat membantu teman-temannya menghadapi pasukan pemerintah yang datang menyerbu.
Dia tidak tahu bagaimana pasukan pemerintah dapat mengetahui tempat persembunyian para pejuang itu dan menyerbu di malam itu, kebetulan ketika pernikahannya sedang dirayakan.
Akan tetapi belum jauh dia berlari, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku saking kagetnya.
Dia mendengar jeritan Sheila!
Bagaikan dikejar setan, Seng Bu lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat kembali ke pondok.
Dapat dibayangkan betapa rasa kaget, heran dan juga marahnya ketika dia melihat suhengnya meloncat keluar dari pondok sambil memondong tubuh Sheila.
"Suheng!!"
Bentaknya marah sekali dan segera dia melompat menghadang.
"Eh, sute. Aku datang untuk menyelamatkan Sheila!"
Kata Siu Coan gugup dan diapun melepaskan tubuh Sheila yang dipondongnya secara paksa tadi. Sheila lalu lari merangkul suaminya, menahan tangisnya.
"Aku... aku tidak mau dia larikan, dan dia memaksaku...!"
"Aku hanya ingin menolong dan menyelamatkannya, keadaan gawat sekali."
Kembali Siu Coan berkata.
Seng Bu mengerutkan alisnya.
Marah dia melihat betapa tadi dengan paksa tubuh isterinya dipondong oleh suhengnya.
Biarpun dengan alasan menolong dan ingin menyelamatkan, akan tetapi tidak pantas kalau suhengnya memaksa orang yang mau ditolong.
Tentu ada sesuatu yang tidak pantas.
"Suheng!"
Bentaknya.
"Tidak pantas kau maksa isteriku!"
Siu Coan yang tertangkap basah itu menjadi malu dan kini dia menjadi marah.
"Eh, sute, apa maksudmu? Aku datang untuk menyelamatkan isterimu dan engkau marah-marah? Engkau sungguh kurang ajar!"
"Suheng, bukan aku yang kurang ajar, melainkan engkau yang tidak tahu sopan!"
Seng Bu juga membentak marah.
"Keparat, sudah berani engkau melawanku?"
Siu Coan berseru dan diapun menerjang maju dan mengirim pukulan hebat ke arah kepala sutenya.
Seng Bu yang juga sudah menjadi marah cepat menangkis dan membalas.
Berkelahilah suheng dan sute ini dan Seng Bu mendapat kenyataan yang mengejutkan dan juga membuatnya marah bahwa suhengnya menyerangnya dengan penuh kesungguhan dan kebencian, melancarkan pukulan-pukulan maut!
Agaknya, semua perasaan iri yang terpendam di dalam batin Siu Coan, saat itu hendak diluapkan maka dia menyerang bertubi-tubi penuh kemarahan.
Seng Bu yang sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya akan menyerang seperti itu, terkejut dan sebuah tendangan menyerempet pahanya, membuatnya terhuyung ke belakang.
Dan melihat sutenya terhuyung, Siu Coan agaknya semakin nekat dan melanjutkan serangannya dengan pukulan bertubi-tubi.
Tentu saja Seng Bu yang sedang terhuyung itu menjadi terdesak terus dan hanya main mundur, menangkis sambil mengelak.
Siu Coan menyeringai girang.
Ada alasan dan kesempatan baginya untuk membunuh sutenya dan merampas Sheila yang membuatnya tergila-gila!
Sesungguhnya, dia tidak begitu tergila-gila kepada Sheila karena pada hakekatnya, Siu Coan lebih gila kedudukan dan cita-cita dari pada wanita.
Akan tetapi, melihat Sheila menolaknya dan memilih Seng Bu, dia merasa iri dan iri inilah yang mendorongnya menjadi nekat untuk membunuh sutenya dan merampas Sheila.
Seng Bu tentu saja sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk membela diri.
Untung baginya bahwa tentu saja dia mengenal semua gerakan serangan suhengnya, sehingga betapapun hebat dan dahsyat datangnya serangannya, dan biarpun dia sedang terhuyung, akan tetapi dalam keadaan terdesak itu dia masih mampu menghindarkan diri dari serangkaian pukulan dan tendangan maut.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras.
"Darrr...!"
Tubuh Siu Coan terhuyung dan tangan kirinya menekan pundak kanan yang berdarah.
Seng Bu terkejut dan menengok.
Kiranya Sheila telah menembakkan pistol kecil.
Pistol ini memang tak pernah terpisah dari badan gadis itu, selalu disembunyikan dalam lipatan bajunya dan kini, melihat suaminya terdesak, iapun dengan nekat lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah Siu Coan.
Gadis ini memang pernah dilatih menggunakan pistol oleh Ayahnya, dan pistol itupun pemberian Ayahnya, maka ia dapat menembak dengan cepat.
Gerakan Siu Coan yang berusaha mengelak secara refleks ketika letusan terdengar membuat peluru yang ditujukan ke arah dada itu hanya mengenai ujung pangkal lengan.
Akan tetapi cukup membuat kulit terkupas dan daging menonjol di ujung pundak juga tertembus peluru, nyerinya bukan kepalang karena luka itu seperti terbakar oleh besi panas.
"Sheila jangan tembak lagi!"
Seng Bu berseru kaget melihat suhengnya terluka.
Dia mengira bahwa suhengnya terluka dadanya, karena darah mengalir dan membasahi baju suhengnya itu.
Dan pada saat itu, belasan orang anggauta pasukan pemerintah datang menyerbu!
Seng Bu yang melihat suhengnya masih lemah terhuyung, terancam tusukan tombak seorang perajurit, melompat ke depan dan sekali tendang, perajurit itu roboh dan suhengnya terbebas dari ancaman maut.
Melihat ini, Siu Coan tersenyum.
"Orang berhati lemah..."
Katanya dan karena pada saat itu, lebih banyak lagi datang pasukan yang menyerbu, terpaksa diapun membela diri dengan sebelah tangannya saja, yaitu tangan kiri karena tangan kanannya tidak dapat digerakkan karena nyeri.
Seng Bu lalu menyambar sebatang pedang lawan setelah dia kembali merobohkan lawan berpedang itu, dan memutar pedangnya sambil berseru.
"Sheila, ke dinilah kau ! Suheng, larilah, aku melindungimu!"
"Dar-darr...!!"
Kembali Sheila meletuskan pistolnya dua kali.
Seorang pengeroyok roboh dan yang lain mundur karena jerih terhadap senjata api.
Seng Bu melompat mendekati Sheila, bangga dan kagum melihat ketabahan isterinya.
Kembali dia berkata kepada Siu Coan.
"Suheng, mari kita lari. kau lebih dulu. Aku dan Sheila melindungimu dari belakang!"
Siu Coan tersenyum pahit.
Melihat kenyataan betapa kini malah dilindungi oleh dua orang calon korbannya, benar-benar merupakan pel pahit baginya.
Akan tetapi diapun maklum akan ancaman bahaya.
Pihak pasukan itu terlalu besar dan kini kawan-kawan seperjuangan mereka juga sudah terdesak dan cerai berai.
Maka tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia meloncat dan lari ke barat, diikuti oleh Seng Bu dan Sheila.
Mereka dihadang lagi dan setelah tiga kali meletuskan pistolnya sehingga pelurunya dalam pistol habis, Seng Bu lalu memondong isterinya dengan lengan kiri, tangan kanannya memegang pedang dan sambil melindungi isterinya dalam pondongan dan suhengnya yang terluka, akhirnya dia berhasil membawa mereka berdua lolos dari kepungan dan tiba di luar hutan itu dalam cuaca yang gelap.
"Suheng, kita berpisah di sini dan maafkan kami, maafkanlah segala yang telah terjadi."
Setelah berkata demikian, Seng Bu yang memondong isterinya lalu meloncat dan berlari cepat menuju ke barat.
Siu Coan berdiri bengong, lalu menarik napas panjang.
Bagaimanapun juga, biar Sheila telah melukainya dengan pistol, hal yang sama sekali tak pernah disangkanya, namun Sheila dan Seng Bu tadi telah melindunginya mati-matian pula!
Sudahlah, pikirnya, ia bukan jodohku.
Menurut pelajaran agama barunya, memaafkan orang lain adalah perbuatan mulia, bahkan terdapat pelajaran yang menganjurkan agar kalau kita dipukul pipi kiri kita, kita harus menyerahkan pipi kanan kita!
Siu Coan tersenyum seorang diri.
Biarlah dia memaafkan Seng Bu dan Sheila, bahkan menurut pelajaran agamanya, dia harus mencinta musuh-musuhnya, maka biarlah dia melepaskan mereka dengan hati mencinta.
Dan Siu Coan tersenyum, merasa betapa hatinya mekar, penuh dengan kebanggaan, penuh dengan harapan untuk menerima pahala karena dia telah berbuat jasa.
Betapa banyaknya di antara kita memiliki kebanggaan dan harapan seperti yang dimiliki Siu Coan itu.
Semua agama mengajarkan agar kita hidup sebagai manusia yang baik, karena hanya hidup baik ini yang menjadikan kita bermanfaat bagi dunia, bagi manusia.
Akan tetapi kita mau hidup baik karena di balik itu terdapat harapan dan pamrih agar kita memperoleh pahala, memperoleh hadiah, baik hadiah itu dinamakan Sorga atau Nirwana ataukah kesempurnaan atau segala macam kata kata yang muluk lagi.
Karena adanya ancaman hukum bagi yang berbuat jahat, dan janji pahala bagi yang berbuat baik, maka kita condong untuk berbuat baik.
Memang inilah tujuannya, akan tetapi, hal ini pula yang membuat kita menjadi manusia-manusia palsu, Menjadi munafik, menjadi srigala-srigala berkedok domba, yang berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat HANYA karena kita ingin memperoleh pahala dan ingin dijauhkan dari pada hukuman.
Kebaikan yang dilakukan dengan sengaja ini tentu berpamrih, dan pamrih membuat kita menjadi munafik, membuat perbuatan kita adalah palsu, karena perbuatan itu bukan perbuatan baik, melainkan suatu cara bagi kita untuk memperoleh pahala, cara untuk menghindarkan hukuman!
"Cintailah musuh-musuh"
Adalah serangkaian kata-kata yang amat indah dan suci kalau kita dapat menangkap maknanya. Kalau tidak, tentu akan menimbulkan keraguan karena di situ terdapat dua kata yang berlawanan, yaitu "Cinta"
Dan "musuh."
Biasanya, cinta berkaitan dengan sahabat, dan yang berkaitan dengan musuh adalah benci.
Maka, cintailah musuhmu seakan-akan mengandung makna yang berlawanan atau saling bertolak belakang.
Akan tetapi sesungguhnya pelajaran ini mengandung makna yang sekaligus menghapuskan benci dari dalam hati berdasarkan kasih.
Bukan berarti suatu waktu kita mencintai musuh kita dan di lain waktu kita siling berbunuhan dengan musuh itu!
Ini sama sekali tak masuk akal dan omong kosong.
Akan tetapi, kita dapat mencintai orang yang memusuhi kita!
Mungkin banyak orang memusuhi kita, membenci kita, tidak senang kepada kita, karena mungkin iri hati, dengki, salah paham dan sebagainya lagi.
Biarlah mereka itu membenci kita, akan tetapi orang yang memiliki sinar kasih dalam batinnya, tidak akan membalas kebencian itu, tidak membalas permusuhan itu, melainkan menghadapi mereka yang memusuhi kita dengan cinta kasih antara manusia!
Tidaklah ini indah, besar dan mulia sekali?
Kita dapat melihat cinta kasih seperti itu, cinta kasih Tuhan melalui sinar matahari, melalui harumnya bunga, melalui tanah, air, hawa, udara.
Biar ada manusia yang mengutuk dan membenci alam dan semua kekuasaan Tuhan, namun tetap saja semua itu memberikan dengan rela, kepada siapa saja tanpa pilih kasih, kepada mereka yang membenci sekalipun.
Orang yang sejahat-jahatnya sekalipun, yang segala tindakannya berlawanan dengan kebaikan, akan tetap memperoleh hawa udara, memperoleh sinar matahari, dapat menikmati keharuman bunga, sama seperti orang yang paling baik, paling saleh sekalipun.
Akan tetapi, seperti Ong Siu Coan kita selalu ingin untung, lahir maupun batin, Oleh karena itu berbondong-bondong orang lari ke agama dengan dasar ingin untung itulah.
Ingin memperoleh hiburan batin karena pahitnya kehidupan, ingin memperoleh jaminan keadaan yang enak menyenangkan setelah mati kelak, ingin memperoleh berkah sebanyaknya.
Lenyapkanlah janji-janji pahala dan hadiah ini dari agama, dan para munafik itu tentu akan mundur meninggalkannya dan yang tinggal hanyalah mereka yang benar-benar sadar dan waspada akan segala kekotoran yang memenuhi batin sendiri, karena hanya mereka inilah yang akan dapat berobah.
Orang yang sadar akan kekotoran diri sendiri sajalah yang akan dapat berobah menjadi bersih, tanpa ada usaha membersihkan karena usaha membersihkan ini akan menumpuk pamrih dan menciptakan kemunafikan.
Semua agama tentu mengajarkan kebaikan, akan tetapi bagi kehidupan manusia, yang penting adalah manusianya, bukan agamanya.
Semua manusia di dunia ini mengaku beragama atau mempunyai pegangan sesuatu yang menggariskan jalan hidup yang harus ditempuhnya.
Semenjak ribuan tahun semua pelajaran kerohanian ini tersebar di antara seluruh manusia di dunia.
Akan tetapi, bagaimana hasilnya?
Manusia tetap saja hidup dalam lembah kesengsaraan, hidup dalam neraka dunia yang penuh dengan kebencian, iri hati, dengki, kemurkaan, permusuhan sehingga cinta kasih makin muram kehilangan sinarnya karena tertutup oleh segala macam hawa nafsu angkara yang merupakan debu-debu kotor hitam tebal itu.
Permusuhan terjadi bukan hanya antara perorangan, bukan hanya antara suku dan antara kelompok, Bahkan meluas menjadi antara bangsa, antara negara sehingga timbullah perang yang amat kejam, pembunuhan dan pembantaian semena-mena yang lebih biadab dari pada perbuatan golongan yang dianggap masih liar dan buas sekalipun!
Jelaslah di sini bahwa manusianya yang menentukan, bukan agamanya.
Dan jelaslah bahwa yang dapat merobah manusia adalah diri sendirimasing-masing, dengan pengenalan diri sendiri sehingga nampak segala kekotoran yang membutakan mata hati, yang menulikan telinga hati.
Demikianlah halnya dengan Ong Siu Coan.
Pemuda ini memiliki cita-cita yang muluk, dan makin besar cita-cita seseorang, makin besar pulalah "Aku"nya dan makin besar pamrihnya sehingga semua perbuatannya ditujukan dengan pamrih untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri sebesar-besarnya.
Perbuatan itu mungkin di mata umum bisa disebut perbuatan buruk atau perbuatan baik, akan tetapi apapun macam perbuatan itu, selalu di belakangnya terkandung pamrih untuk kepentingan diri pribadi.
Tidak ada seorangpun mengetahui bahwa penyerbuan pasukan pemerintah di malam hari itupun adalah hasil perbuatan Ong Siu Coan!
Dialah yang diam-diam mengirim berita tempat persembunyian para pejuang itu kepada pihak pasukan pemerintah!
Dia rela berkhianat untuk kepentingan diri sendiri, untuk melampiaskan iri hatinya terhadap Seng Bu, kemarahannya terhadap Sheila, dan untuk membuka kesempatan agar dia dapat merampas Sheila dengan dalih menyelamatkanya, dan kalau mungkin membunuh sutenya sendiri.
Tentu saja pihak pasukan pemerintah tidak tahu bahwa yang mengirim berita itu adalah Ong Siu Coan.
Dan memang bukan maksud Siu Coan untuk membantu pasukan pemerintah.
Sama sekali tidak!
Dia membenci pemerintah Mancu, dan dia bercita-cita untuk membasmi pemerintah penjajah itu.
Kalau dia dapat berbuat khianat pada malam hari itu adalah karena ada pamrih terhadap Seng Bu dan Sheila.
Karena serbuan itu, beberapa orang pejuang tewas dan selebihnya cerai berai dan kacau balau, kocar kacir.
Dan Siu Coan melarikan diri ke selatan, dan beberapa hari kemudian dia sudah bergabung kembali dengan orang-orang Thian-te-pang dan dia memperoleh perawatan dengan baik.
Untung tidak ada yang tahu tentang peristiwa antara dia dan Seng Bu, dan mereka mengira bahwa tembakan yang mengenai ujung pundak Siu Coan itu dilakukan oleh seorang opsir pasukan pemerintah.
Peristiwa pembakaran madat di Kanton itu tidak berhenti sampai di situ saja.
Pembakaran madat yang lebih dari satu juta kilogram banyaknya itu juga mulai menyalakan api perang yang kemudian terkenal dengan sebutan Perang Madat selama tiga tahun ( tahun 1839-1842).
Peristiwa pembakaran madat disusul pembunuhan terhadap orang kulit putih yang sesungguhnya dilakukan oleh golongan-golongan yang anti kulit putih, bukan oleh pemerintah Mancu, dianggap oleh pemerintah Inggris sebagai suatu penghinaan terhadap bangsanya.
Apa lagi ada laporan dari Kapten Charles Elliot yang didesak oleh para pedagang untuk minta bantuan pasukan, maka pemerintah Inggris lalu mengirim armada ke timur.
Kapal-kapal perang dengan pasukan-pasukan yang cukup kuat dikirim dan Kanton diserang dari lautan, dihujani peluru meriam.
Pasukan-pasukan Inggris berusaha untuk mendarat akan tetapi usaha mereka itu selalu menemui perlawanan yang amat kuat.
Dalam hal ini, tanpa persekutuan yang syah, pemerintah penjajah Mancu menerima bantuan yang amat besar dari rakyat, dari perkumpulan-perkumpulan para patriot yang tidak suka melihat bangsa kulit putih hendak menguasai tanah air.
Para pendekar segera bangkit dan untuk sementara menghentikan kegiatan mereka memusuhi pemerintah Mancu karena mereka kini menganggap bahwa ancaman pasukan asing itu lebih berbahaya.
Terjadilah perang di mana-mana, perang antara senjata api melawan anak panah dan senjata-senjata tajam.
Pasukan Inggris tidak pernah berhasil mendarat karena perlawanan yang amat kuat.
Panglima Lim Ce Shu memimpin pasukannya dan melakukan perlawanan matimatian, dan penyerbuan pasukan Inggris itu akhirnya hanyalah kandas di pantai-pantai saja, di mana akibat-akibat perang terjadi.
Perampokan-perampokan, pembunuhan-pembunuhan dan perkosaan-perkosaan terjadilah di pantai-pantai terhadap penduduk yang berada di sekitar pantai.
Namun, pasukan-pasukan kulit putih itu akhirnya harus mengakui bahwa kekuatan kekuatan pihak musuh di daratan terlalu sukar untuk dapat ditembus.
Setelah peperangan yang kacau ini berlangsung hampir tiga tahun lamanya, Ingggris hanya berhasil menduduki Pulau Hongkong yang letaknya di depan kota Kanton.
Pulau ini dijadikan pangkalan oleh armada Inggris, namun semua penyerangan mereka di daerah pantai timur daratan Tiongkok selalu mengalami kegagalan.
Kalau pasukan Inggris yang dipukul mundur melarikan diri ke kapal-kapal perang mereka, maka perang masih juga terjadi di darat, yaitu pasukan-pasukan para patriot yang anti pemerintah penjajah lalu berbalik dan menyerang pasukan pemerintah sendiri!
Memang mereka ini sejak dahulu ingin menjatuhkan kekuasaan Mancu, dan mereka ikut menghalau orang kulit putih bukan untuk membantu pemerintah, melainkan khawatir kalau-kalau bangsa kulit putih akan menguasai tanah air mereka.
Tentu saja pukulan-pukulan bertubi dari orang kulit putih yang datang dari luar, dan pukulan-pukulan para pemberontak dalam negeri membuat pasukan pemerintah Mancu menjadi lemah.
Hal ini diketahui dengan baik oleh para mata-mata yang disebar oleh Inggris.
Akhirnya dalam tahun 1842, Inggris dengan cerdik lalu menyelundupkan kapal-kapalnya melalui Sungai Yang-ce-kiang, berlayar mudik.
Pemerintah Mancu di Peking terkejut bukan main.
Dengan dikuasainya sungai besar itu oleh orang kulit putih, maka hubungan antara Lembah Yang-ce-kiang dan Peking tertutup dan terancam.
Keselamatan keluarga kaisar di Peking dapat terancam kalau begitu.
Istana menjadi gentar dan panik, dan melalui menteri-menteri yang memang condong untuk berbaik dengan orang-orang kulit putih yang mendatangkan banyak keuntungan kepada mereka melalui madat, akhirnya pemerintah Mancu membujuk Inggris menghentikan perang!
Tentu saja hal ini sama dengan pernyataan tunduk dan kalah!
Sebagai pihak pemenang yang ditakuti, Inggris mempergunakan kesempatan itu sebaikbaiknya!
Kemenangan dalam tahun 1842 ini membuat mereka dapat memaksa kaisar untuk melakukan hal-hal yang membikin panas hati dan perut para patriot.
Pertama-tama, untuk menyenangkan hati orang-orang kulit putih itu, kaisar memecat Panglima Lim Ce Shu dan membuangnya!
Kemudian, Hongkong di serahkan kepada Inggris begitu saja!
Pelabuhanpelabuhan di Tiongkok Selatan, termasuk Kanton, dibuka lebar-lebar dan diperbolehkan menerima pedagang-pedagang kulit putih untuk masuk dan berdagang di situ dengan bebas, juga diperbolehkan untuk bertempat tinggal di situ sebagai pedagang-pedagang yang dihormati.
Bahkan orang-orang kulit putih lainnya, seperti orang-orang Portugal dan orang-orang Perancis, ikut-ikutan membonceng kemenangan Inggris ini dan ikut-ikutan menuntut agar merekapun diperbolehkan membuka perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu.
Sebagai negara yang kalah perang, pemerintah Mancu yang sudah tidak berdaya itu terpaksa menuruti tuntutan-tuntutan itu.
Makin banyaklah perjanjian-perjanjian"perdamaian"
Dibuat, yang sesungguhnya merupakan perjanjian yang menguntungkan orang-orang kulit putih dan terpaksa disetujui oleh pemerintah Mancu.
Yang merasa tidak puas dan marah adalah para pendekar yang mewakili rakyat untuk mempertahankan tanah air dari kekuasaan asing.
Pemerintah Mancu adalah pemerintah asing yang menjajah.
Pemerintah itu belum juga dapat dihalau, Dan sekarang sudah bertambah lagi dengan bercokolnya orang-orang asing kulit putih yang menjajah melalui perdagangan!
Tentu saja hal ini menambah adanya pemberontakan-pemberontakan dan kekacauankekacauan.
Dan orang-orang kulit putih, untuk melindungi diri sendiri di tempat yang tidak aman itu, membentuk pasukan-pasukan keamanan sendiri, memperlengkapi diri dengan senjata api dan melalui para pedagang itu, mulailah orang kulit putih mendirikan pangkalan-pangkalan militer dengan dalih menjaga keamanan para warganya yang berdagang di negeri itu.
Perang madat memang berakibat luas sekali.
Perang madat ini menunjukkan bahwa kekuatan pemerintah Mancu yang sudah hampir duaratus tahun menjajah Tiongkok itu mulai kehilangan sinarnya, mulai lemah dan nampak awal-awal keruntuhannya.
Dan perang itupun membuka pintu bagi orang asing kulit putih untuk memperluas cengkeraman mereka terhadap negara itu melalui perdagangan yang dipaksakan oleh senjata api.
Dan hal ini lambat laun akan menjadi penjajahan-penjajahan.
Kekuasaan Kerajaan Mancu digerogoti, daerah-daerah kekuasaannya mulai dikuasai oleh orang-orang asing itu.
Seperti dapat tercatat dalam catatan sejarah, Bangsa Perancis saja kelak dalam tahun 1862 akan menguasai Kamboja, kemudian dua puluh tahun kemudian menguasai An-nam (Viet-nam) setelah lebih dulu menguasai Cochin China pada tahun 1863.
Juga Portugal kemudian menguasai Macao.
Inggrispun bukan hanya puas dengan memiliki Hongkong, melainkan meluaskan kekuasaannya sampai akhirnya menduduki Birma yang tadinya mengakui kekuasaan pemerintah Ceng di jaman Kaisar Kian Liong.
Sejarah yang membuktikan bahwa pemerintah yang tidak disukai oleh rakyatnya, akan kehilangan kekuatannya.
Betapapun kuatnya bala tentara yang dimiliki sebuah pemerintahan, namun tanpa dukungan rakyat, kekuatan itu akan rapuh.
Sebaliknya, kalau pemerintah didukung rakyat, tidak akan mudah bagi kekuatan luar untuk merobohkannya.
Hal ini adalah karena ajang yang dijadikan arena pertempuran adalah tempat dan milik rakyat, dan bantuan-bantuan rakyat inilah yang paling menentukan.
Pihak lawan akan selalu dirongrong dan akan menjadi lemah kalau rakyat setempat setia kepada pemerintah yang disukainya, dan tidak akan dapat menguasai tempat yang telah direbutnya itu sepenuhnya.
Sebaliknya pasukan-pasukan pemerintah yang didukung oleh rakyat, dimanapun akan memperoleh bantuan-bantuan sehingga kedudukan mereka menjadi kuat.
Dalam perang yang terjadi sebagai akibat dibakarnya madat yang amat banyak itupun nampak jelas sekali betapa manusia pada umumnya menjadi hamba daripada angkara murka yang dipupuk oleh nafsu ingin senang sendiri.
Pamrih untuk menyenangkan diri sendiri inilah yang menghalau semua kesadaran dan kebijaksanaan, menimbulkan kekejaman, haus kemenangan dengan cara apapun juga.
Dan melalui tindakan sewenang-wenang, sedangkan yang kalah hanya akan menurut, tentu saja dengan terpaksa dan dengan dendam kebencian mulai tumbuh di dalam hati, Dan dendam ini akan terus tumbuh di dalam hati, dan dendam ini akan terus tumbuh membesar dan kelak tentu akan pecah menjadi lawanan dan pembalasan!
Kita tinggalkan dulu keadaan pemerintah Ceng yang mulai lemah itu, dan marilah kita menengok peristiwa lain yang terjadi di sebuah puncak di Pegunungan Tapie-san.
Seorang gadis dan seorang Kakek berjalan bersama-sama mendaki puncak itu.
Mereka itu kelihatannya seperti seorang Kakek pengemis bersama seorang gadis yang pakaiannya juga penuh tambalan, seperti orang biasa saja yang banyak berkeliaran pada waktu itu, orang-orang yang miskin dan setengah terlantar sebagai akibat perang dan pemberontakan yang terjadi di mana-mana.
Banyak rakyat yang pada waktu itu terpaksa pergi mengungsi, meninggalkan kampung halaman, rumah dan semua harta miliknya.
Kalau sudah merasa aman dan kembali, banyak yang sudah tidak dapat menemukan rumah mereka kembali, apa lagi harta milik mereka.
Sudah habis dirampok dan dibongkar orang.
Karena itu, banyaklah orang-orang yang jatuh miskin dan terlantar, berkeliaran tanpa tempat tinggal seperti halnya Kakek dan gadis itu.
Akan tetapi sesungguhnya Kakek dan gadis ini bukan orang-orang terlantar, bukan gelandangan yang miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal.
Kakek itu usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, rambutnya yang awut-awutan itu cukup bersih.
Kakek itu pakaiannya penuh tambalan, tangan kirinya memegang sebuah tongkat kayu butut dan sebuah kipas butut terselip di pinggangnya.
Biarpun pakaiannya penuh tambalan, namun pakaian itu cukup bersih dan biarpun dia kelihatan miskin dan papa, Namun dia selalu senyum-senyum sendiri, matanya yang sipit itu kadang-kadang berkedip-kedip lucu.
Gadis itupun tidak kalah menariknya.
Seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun, dengan wajah yang manis, sepasang matanya lebar dan jeli.
Memang pakaiannya butut penuh tambalan biarpun bersih, dan sepasangrambut yang gemuk hitam dan panjang itu dikuncir dua secara sederhana, tidak mengenakan perhiasan secuilpun, akan tetapi gadis ini memiliki wajah manis dan kulit yang nampak pada muka, leher dan tangannya amat putih bersih dan halus mulus, tubuhnya juga memiliki bentuk yang padat dan ramping menggairahkan, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum.
Seperti juga Kakek itu, gadis ini mempunyai sebuah kipas yang tersembul di kantong bajunya.
Siapakah mereka?
Mereka adalah penghuni-penghuni puncak Naga Putih di Pegunungan Wuyi-san dan Kakek itu bukan lain adalah Bu-beng San-kai (Jembel Gunung Tanpa Nama) atau lebih terkenal lagi dengan julukan San-tok (Racun Gunung), seorang di antara Empat Racun yang pernah menjadi datuk-datuk paling sakti di antara para datuk kau m sesat!
Dan gadis itu adalah muridnya, murid tunggalnya yang bernama Siauw Lian Hong!
Kita telah mengenal Lian Hong, puteri tunggal mendiang guru silat Siauw Teng di dusun Tung-kang dekat Kanton itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu Lian Hong ikut bersama gurunya mengunjungi Siauw-lim-si di mana Siauw-bin-hud menceritakan kepada para tamunya bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Hek-eng-mo Koan Jit, murid Thian-tok yang merampas pusaka itu dari tangan gurunya.
Ketika meninggalkan Siauwlim-pai, San-tok lalu memberi kesempatan kepada muridnya untuk pergi merantau selama dua tahun, selain untuk mencari jejak orang bernama Koan Jit itu, juga untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu kepandaian yang selama ini dilatihnya.
Kakek ini sudah percaya sepenuhnya kepada muridnya.
Akan tetapi, belum juga lewat dua tahun, gadis itu telah kembali ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san, menemui suhunya yang sedang tekun bersamadhi.
Kakek itu tentu saja girang melihat muridnya yang amat disayangnya, dan lebih girang lagi hatinya melihat kenyataan bahwa muridnya itu juga mengenakan pakaian yang dihias tambalan!
Hal ini saja menunjukkan bahwa murid itu berbakti dan setia kepadanya, melanjutkan "tradisi"
Keturunan perguruan yang suka memakai pakaian tambalan!
Lian Hong memberi hormat sambil berlutut di depan kaki gurunya yang juga menjadi Kakek angkatnya itu dan Kakek itu lalu bangkit dari pertapaannya.
Dia mendengar laporan muridnya bahwa murid itu terpaksa menghentikan usahanya mencari jejak Hek-eng-mo Koan Jit yang menguasai pusaka Giok-liong-kiam, karena keadaan keruh oleh adanya perang madat.
Kemudian gadis itu mengatakan bahwa karena sukar mencari jejak orang di waktu keadaan sekacau itu, di mana terjadi pertempuran-pertempuran kacau balau antara pasukan kulit putih yang menyerang dengan kapal-kapal besar, dan golongan yang anti pemerintah, juga golongan yang anti kulit putih, maka ia mengambil keputusan untuk menghentikan penyelidikannya dan pulang ke Puncak Naga Putih.
"Ah, Hong Hong, kenapa urusan perang saja membuat engkau mundur?"
San-tok mencela muridnya.
"Kalau kita tidak mencari pusaka itu, tentu yang lain akan dapat menemukan lebih dulu. Mungkin dalam keadaan kacau karena perang, pusaka itu tidak ada artinya, akan tetapi kelak kalau sudah tidak ada perang, orang-orang akan kembali memperhatikan pusaka itu. Pemilik pusaka itu sama dengan bukti bahwa dia adalah orang yang paling lihai di dunia persilatan dan kalau engkau mampu merampasnya, maka namamu akan terangkat paling tinggi dan aku sebagai gurumu akan ikut merasa bangga."
"Suhu sebetulnya pusaka itu tidak terlalu menarik bagiku. Aku lebih tertarik untuk mencari musuh-musuh besarku, pembunuh Ayah ibuku. Akan tetapi ketika aku pergi ke Tungkang, ternyata si jahanam Ciu Lok Tai telah tewas bersama keluarganya ketika diserbu oleh pasukan pemerintah. Dan akupun belum berhasil mencari dua orang musuh lain, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun yang sudah lama pindah dari Tung-kang dan tidak lagi menjadi pengawalpengawal Ciu Wan-gwe."
"Wah, jadi keluarga Ciu Wan-gwe telah terbasmi dan tewas semua oleh pasukan pemerintah? Sungguh aneh,"
Kata Kakek itu.
"Bukankah dia mempunyai pengaruh besar di kalangan pejabat pemerintah?"
"Gara-gara pembasmian madat itu, suhu. Akan tetapi menurut keterangan, ada seorang puterinya yang dapat meloloskan diri, namanya Ciu Kui Eng dan kabarnya ia itu lihai sekali. Kelak aku akan mencarinya dan minta dia mempertanggungjawabkan dosa-dosa Ayahnya kepadaku."
"Jadi selama ini engkau sama sekali tidak peroleh jejak Koan Jit murid Thian-tok itu?"
San-tok mendesak karena Kakek ini tertarik sekali untuk bisa mendapatkan pusaka Giok-liongkiam.
"Beberapa kali aku menemukan jejaknya, akan tetapi selalu hanya memperoleh jalan buntu. Akan tetapi jejaknya yang kedapati di daerah Tapie-san membawaku ke sebuah tempat yang luar biasa, suhu. Aku tidak menemukan dia di sana, jejaknya hilang lagi akan tetapi aku menemukan sesuatu yang amat aneh dan mengerikan."
"Apa itu?"
"Aku menemukan sebuah guha yang dalamnya terdapat sebuah sumber air yang mengeluarkan asap berbau aneh. Dan di situ nampak sesosok mayat terendam, akan tetapi mayat itu sama sekali tidak membusuk. Banyak pula tengkorak manusia kulihat di dalam guha itu. Ihh, mengerikan dan aku segera pergi meninggalkan tempat itu."
"Ehhh? Menarik sekali! Mari kita ke sana."
"Untuk apa, suhu?"
"Menarik sekali ceritamu. Tentu ada hal-hal yang penting di situ. Bawa aku ke sana, Hong Hong."
Demikianlah, kedua orang guru dan murid itu lalu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu mereka sudah tiba di lereng puncak di Pegunungan Tapie-san seperti yang diceritakan oleh Lian Hong kepada gurunya.
Setelah tiba di puncak, Lian Hong membawa suhunya ke guha itu.
Guha itu aneh sekali.
Mulut guha lebar akan tetapi tidak berapa tinggi sehingga ketika memasuki guha San-tok yang agak jangkung harus menunduk.
Dan di sebelah dalam guha itu tumbuh sebatang pohon yang daunnya sudah rontok semua, tinggal cabang dan ranting yang sudah mengering.
Melihat keadaan ini, mudah diduga bahwa guha ini dahulunya bukan guha dan terbentuk dengan runtuhnya batu-batu besar dari puncak menimbun tempat itu sehingga pohon itupun tertimbun batu dan kini berada di dalam sebuah guha.
Begitu memasuki guha itu, yang nampak adalah sebatang pohon yang tinggal batang, cabang dan rantingnya, dan terciumlah bau yang aneh dan keras.
Juga nampak asap mengepul, terasa hawa yang agak panas.
"Di sinilah tempatnya, suhu,"
Kata Lian Hong dan gadis ini sudah berlutut di tepi sebuah kolam kecil di mana terdapat air yang bergolak dan mengeluarkan asap yang berbau belerang.
Di tepi kolam itu terdapat batu-batu besar dan nampak ada beberapa buah tengkorak manusia di situ.
Akan tetapi yang amat mengerikan, di tengah-tengah kolam itu nampak seorang Kakek tua renta yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua.
Kakek itu nampak terendam di dalam air sebatas dada, kelihatan seperti orang tidur saja, tubuhnya tak bergerak-gerak dan kedua matanya terpejam.
"Ah-ah-ah, sungguh menarik...!"
Kata San-tok yang berdiri di tepi kolam sambil meneliti keadaan kolam itu.
"Aneh akan tetapi tidak ada apa-apanya, suhu. Aku pernah datang ke sini dan melihat keadaan ini, aku lalu cepat pergi lagi. Ketika menyelidiki jejak Koan Jit, jejak itu membawaku ke sini, akan tetapi di sini aku kehilangan jejaknya. Tidak nampak seorangpun manusia di puncak ini sehingga aku tidak dapat mencari keterangan lagi tentang dia."
"Hemm, kalau Koan Jit sampai mendatangi tempat ini, berarti amat penting. Mungkin ada rahasia tersembunyi di tempat ini. Mari kita selidiki,"
Kata Kakek itu dan mulailah dia melakukan penyelidikan, meneliti dinding batu di sekitar tempat itu.
Akan tetapi tidak ada sesuatu yang aneh.
Semua dinding adalah batu-batu yang wajar saja dan makin jelaslah kini bahwa tempat itu, mata air panas dan pohon itu, tadinya merupakan tempat terbuka dan kemudian tertimbun oleh batu-batu dari puncak yang agaknya longsor ke bawah.
Akan tetapi peristiwa itu tentu telah terjadi lama sekali sehingga membentuk sebuah guha aneh ini.
Lian Hong juga membantu suhunya melakukan penyelidikan.
Sampai beberapa jam lamanya mereka mencaricari tanpa hasil.
"Suhu, kalau ada rahasianya, agaknya terdapat dalam kolam air ini,"
Tiba-tiba Lian Hong berkata.
"Lihat, mayat Kakek itu tidak membusuk, ini saja menunjukkan bahwa air sumber ini, yang bergolak seperti mendidih dan mengeluarkan asap berbau aneh, mengandung sesuatu yang luar biasa, yang membuat mayat itu tidak rusak."
"Ha, engkau benar, Hong Hong. Tentu rahasianya terdapat di dalam sumber atau mata airitu. Orang itu agaknya sejak dahulu duduk di situ sampai mati dan air panas yang mengandung belerang itu membuat mayatnya tidak rusak. Sudah beberapa kali aku melihat sumber air seperti ini yang keluar dari dalam perut bumi. Tidak ada yang aneh mengenai air seperti itu. Akan tetapi kolam ini seperti dibuat merendam tubuhnya. Lihat batu-batuan itu, bukankah batu-batu besar itu seperti sengaja diletakkan di situ untuk membentuk kolam? Dan air yang luber mengalir keluar melalui samping guha. Kalau batu-batu itu digempur dan dibongkar, tentu dasarnya akan nampak dan siapa tahu di situ letak rahasianya."
Dibantu oleh muridnya, San-tok lalu membongkar batu-batu besar itu.
Kepandaian dan tenaga sakti guru dan murid itu memungkinkan mereka membongkar batu-batu besar danakhirnya air yang berbau belerang itupun mengalir turun karena batu-batu yang menjadi bendungan itu bobol.
Air mengalir dengan cepatnya dan kini rendaman pada tubuh mayat itu semakin dangkal saja.
Setelah air itu hanya tinggal sejengkal saja dalamnya dan hanya menutupi kaki yang bersila itu sampai sebatas perut, nampaklah coretan-coretan itu merupakan huruf-huruf yang agaknya ditulis dengan memperhunakan jari tangan saja!
"Aih, benar, tulisan-tulisan itulah yang amat penting dan agaknya tidak ditemukan oleh Koan Jit!"
Kata San-tok dengan girang.
Biarpun dia seorang datuk kau m sesat, namun San-tokdi waktu mudanya pernah mempelajari ilmu kesusasteraan dengan tekun sehingga dia mampu membaca dan mengerti huruf-huruf yang agak kuno itu.
Lian Hong sendiri yang sejak kecil ikut San-tok, hanya sempat mempelajari ilmu membaca sekedarnya saja maka tentu ia tidak mampu kalau harus membaca tulisan huruf-huruf kuno itu.
Dengan suara bisik-bisik yang hanya dapat didengar oleh Lian Hong, San-tok lalu membaca huruf-huruf itu satu demi satu sehingga dapat dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang jelas.
"Srigala-srigala hina pencari pusaka satu demi satu mampus di tangan Kwi Ong-ya! Tetapi karena Thian-te-pai gerombolan hina memaksa aku bersembunyi di sini dan bertapa! Giok-liong-kiam pusaka pembuka rahasia penyimpan benda-benda pusaka berharga tak mungkin ditemukan siapapun juga tanpa bantuan Giok-liong-kiam ke dua! Akulah pembuat Giok-liong-kiam ke dua dari batu sumber menggantikan kemala! Di dalam gagangnya tersimpan rahasia tempat simpanan Giok-liong-kiam pertama!"
Setelah membaca semua kalimat itu, San-tok tiba-tiba tertawa bergelak. Lian Hong yang belum begitu mengerti akan arti tulisan itu, memandang heran dan bertanya.
"Suhu, mengapa suhu tertawa setelah membaca tulisan itu?"
"Ha-ha-ha, betapa lucunya! Agaknya si Kwi-ong (Raja Setan) ini selain lihai, juga amat cerdik dan licin, pandai berkelakar pula. Hong Hong, dari tulisannya ini jelaslah bahwa si Koan Jit itu, murid pertama si gendut Thian-tok, hanya menguasai Giok-liong-kiam palsu. Ha-ha, yang dijadikan rebutan selama ini oleh semua tokoh kang-ouw, yang menimbulkan kekacauan dan keributan itu bukan Giok-liong-kiam aseli, melainkan tiruan yang dibuat oleh Kwi-ong ini. Ha-ha-ha!"
"Apakah yang suhu maksudkan dengan semua itu? Aku tidak mengerti..."
Kakek itu masih tertawa bergelak, kemudian setelah ketawanya mereda, baru dia menerangkan kepada muridnya.
"Dari tulisannya itu dapat kita ketahui semuanya, Hong Hong. Kakek luar biasa ini berjuluk Kwi-ong, julukan yang jumawa sekali. Agaknya dialah yang dahulu berhasil menguasai Giok-liong-kiam yang aseli. Tentu banyak tokoh persilatan yang berusaha merebut pusaka itu, akan tetapi dia berhasil membunuh mereka satu demi satu. Lihat saja tengkorak-tengkorak yang berserakan di sini, agaknya itulah musuh-musuhnya yang dibunuhnya karena hendak merampas Giok-liong-kiam. Akan tetapi dari tulisannya dapat diduga bahwa dia merasa gentar menghadapi desakan Thian-te-pai yang agaknya pada waktu itu memiliki banyak orang pandai. Thian-te-pai memaksa dia bersembunyi dan bertapa, dan dia lalu memperoleh akal, menyembunyikan pusaka Giok-liong-kiam di suatu tempat rahasia lalu dia membuat sebuah Giok-liong-kiam palsu. Ha-ha, dia membuatnya dari batu kali atau batu di sumber ini sebagai pengganti kemala. Dan agaknya pusaka palsu inilah yang akhirnya terjatuh juga ke tangan Thian-te-pang atau Thian-te-pai dan menjadi pusaka simpanan perkumpulan itu sampai akhirnya dicuri orang dan menjadi perebutan, dan akhirnya dicuri dari tangan Thian-tok oleh muridnya sendiri. Ha-ha, kalau diingat betapa kita semua ribut-ribut memperebutkan benda palsu! Akan tetapi, hanya Kwi-ong inilah yang tahu bahwa rahasia tempat penyimpanan Giok-liong-kiam yang aseli berada di dalam gagang Giok-liong-kiam yang palsu. Dan kini agaknya hanya kita yang mengetahuinya. Biarpun pusaka di tangan Koan Jit itu palsu, akan tetapi bagi kita masih tetap berharga karena di dalam gagangnya terkandung rahasia penyimpanan yang aseli. Dan agaknya, pusaka Giok-liong-kiam itu diperebutkan orang bukan hanya karena pusaka itu berharga dan amat langka, melainkan pusaka itupun menyembunyikan rahasia penyimpanan benda-benda pusaka yang amat berharga. Mengertikah engkau kini, Hong Hong?"
Lian Hong mengangguk dan memandang kagum kepada mayat telanjang yang terendam air sampai ke perut itu.
"Bukan main. Kakek ini dahulunya tentu pandai sekali, suhu."
Gurunya mengangguk, akan tetapi Kakek ini masih terus menyelidiki batu-batu di sekitar tempat mayat itu duduk bersila dan akhirnya dia menemukan apa yang dicari.
Yaitu coretan huruf-huruf kecil di sebuah batu yang merupakan catatan tentang Giok-liong-kiam!
Agaknya ditempat inilah Kwi-ong membuat pusaka yang palsu dan dia membuat catatan-catatan Giok-liongkiam aseli agar pelmasuan itu dapat dibuat sebaik mungkin.
Catatan itu menggambarkan macam Giok-liong-kiam, ukurannya san sebagainya.
San-tok lalu mengeluarkan sebuah kipas dan dengan teliti dia mencatat semua itu di atas kipasnya.
Setelah selesai, dibantu oleh Lian Hong, Kakek ini lalu kembali memasang batu-batu besar sebagai bendungan dan tak lama kemudian, air sumber yang terbendung itu membuat kolam yang merendam tubuh Kwi-ong berikut batu-batu di sekelilingnya.
Akan tetapi terlebih dahulu San-tok yang cerdik itu melenyapkan tulisan-tulisan di permukaan batu dengan gempuran-gempuran, menggunakan batu lain sehingga permukaan batu itu hancur dan tulisannyapun lenyap.
"Hong Hong, engkau sudah melihat semua ini dan kini makin jelas pula betapa pentingnya kita dapat menguasai Giok-liong-kiam. Aku akan kembali ke Wuyi-san di mana aku akan mencoba akal yang pernah dipergunakan Kwi-ong, dan engkau pergilah menyelidiki di mana adanya Koan Jit. Akan tetapi jangan engkau turun tangan karena hal itu tentu amat berbahaya."
"Suhu menyuruh aku menyelidiki, akan tetapi kalau sudah kuketahui tempatnya, aku tidak boleh turun tangan. Apa maksud suhu?"
"Aku akan membuat Giok-liong-kiam palsu seperti yang pernah dilakukan Kwi-ong. Aku sudah mencatat segala bentuk dan ukurannya. Sementara aku mencoba membuat yang palsu itu, engkau pergi mencarinya. Setelah engkau berhasil, cepat mengabarkan padaku. Kita harus dapat menukar pusaka di tangan Koan Jit itu dengan yang palsu."
Lian Hong semakin tidak mengerti. Ia mengerutkan alisnya dan memandang wajah suhunya dengan heran.
"Suhu ini aneh sekali. Sudah mengerti bahwa pusaka di tangan Koan Jit itu palsu, mengapa kini suhu hendak menukarnya lagi dengan yang palsu buatan suhu? Kalau memang sudah kita ketahui tempatnya, kita rampas saja pusaka itu, kenapa susah-susah hendak menukarnya seolah-olah suhu takut kepada Koan Jit itu?"
Kakek kurus itu tertawa lebar.
"Ha-ha-ha, engkau belum mengerti, muridku yang baik. Aku tidak takut kepada Koan Jit, bahkan terhadap gurunya sekalipun aku tidak takut. Akan tetapi ketahuilah, semua orang di dunia persilatan berlumba untuk memperebutkan pusaka itu. Kini mereka semua tahu bahwa pusaka itu berada di tangan Koan Jit sehingga mereka semua tentu akan mencari Koan Jit. Kalau kita merampas pusaka itu begitu saja dari tangan Koan Jit, tentu perhatian semua tokoh persilatan berbalik kepada kita dan kehidupan kita tentu tidak akan tenteram lagi. Ingat saja halnya Kwi-ong yang akhirnya mati di tempat ini tanpa dapat menikmati pusaka yang dikuasainya. Maka, kita menukar pusaka itu dan biarkan semua orang mencari dan memusuhi Koan Jit sedangkan kita diam-diam memiliki pusaka itu dan mencari rahasianya. Bagaimana kau pikir?"
Lian Hong memandang kagum kepada suhunya.
"Wah, ternyata suhu tidak kalah lihai dan cerdiknya dibandingkan dengan Kwi-ong!"
Ia memuji dari dalam hatinya.
"Ha-ha-ha, baru engkau mengenal suhumu, ya? Nah, kita sekarang berpisah di sini. Aku kembali ke Wuyi-san dan engkau pergilah dan mencari Koan Jit. Orang macam dia tentu suka akan daerah yang bergolak. Dan perang madat mendatangkan pergolakan di selatan. Maka, sebaiknya ke sanalah engkau mencari. Semua orang kang-ouw berkumpul di sana dan lebih mudah bagimu untuk mencari keterangan."
Guru dan murid inipun saling berpisah.
Untuk kedua kalinya Lian Hong melakukan perjalanan seorang diri dalam usahanya mencari jejak Koan Jit yang amat licin bagai belut itu.
Thian-Te-Pai atau Thian-te pang amat terkenal di jaman itu karena perkumpulan ini merupakan satu di antara perkumpulan-perkumpulan yang gigih menentang pemerintah penjajah Mancu.
Mereka terdiri dari orang-orang gagah segala aliran yang bergabung dalam satu wadah, sejak bertahun-tahun mengadakan penentangan, pengacauan dan perlawanan terhadap pasukan pemerintah Mancu, mengobarkan pemberontakan di mana-mana.
Banyak sudah anggauta mereka yang tewas dalam pertempuran-pertempuran melawan pasukan pemerintah, namun mereka tidak pernah jera.
Bahkan anggauta mereka semakin banyak saja, terdiri dari orang-orang gagah segala aliran dan suku.
Selain ini, juga mereka mengadakan hubungan baik dengan perkumpulan-perkumpulan lain yang mempunyai tujuan sama, yaitu menentang pemerintah Ceng dan kalau mungkin menghalau penjajah Mancu dari tanah air.
Ketika terjadi perang madat yang berlangsung selama tiga tahun itu, orang-orang Thiante-pang juga bergerak.
Akan tetapi karena mereka menjadikan pemerintah Mancu sebagai sasaran utama, maka perang antara pemerintah melawan orang-orang kulit putih itu membuat mereka seolah-olah memperoleh bantuan dari orang-orang kulit putih.
Karena itu, mereka sengaja tidak menyerang orang kulit putih, melainkan menghantam pemerintah yang sedang sibuk melawan musuh asing itu.
Biarpun demikian, bukan berarti bahwa Thian-te-pang suka bersekongkol dengan orang-orang kulit putih.
Maka, setelah perang dihentikan dan pemerintah Ceng yang dipimpin kaisar yang lemah itu tunduk kepada orang kulit putih, menyerahkan banyak kota dan perlakuan istimewa terhadap orang-orang kulit putih, diam-diam para pendekar, termasuk orang-orang Thian-te-pang, menjadi marah bukan main.
Pada waktu itu, Thian-te-pang diketuai oleh seorang Kakek berusia enam puluh tahun lebih yang bernama Ma Ki Sun, seorang ahli silat yang pandai, seorang gagah sejati yang sejak muda sudah bangkit menentang pemerintah penjajah.
Dia diwakili oleh Coa Bhok, sutenya sendiri yang juga lihai ilmu silatnya.
Mereka berdualah yang memimpin Thian-te-pang.
Akan tetapi, selama beberapa tahun ini, Thian-te-pang seolah-olah kehilangan pamornya, seperti menyuram akibat lenyapnya pusaka Giok-liong-kiam dari tangan mereka.
Pusaka ini tadinya dianggap semacam simbol kekuatan dan semangat Thian-te-pang, dan membuat mereka dihargai dan dikagumi di dunia kang-ouw.
Akan tetapi setelah Giok-liong-kiam lenyap dicuri orang, pandangan dunia persilatan terhadap Thian-te-pang agak menurun.
Mereka menganggap bahwa lenyapnya pusaka itu menunjukkan kelemahan Thian-te-pang yang tidak mampu menjaga pusaka sendiri sampai dapat dicuri orang.
Tentu saja pihak Thian-te-pang sudah berusaha mati-matian untuk mencari pencurinya dan merampas kembali pusaka mereka sehingga ketika terjadi perebutan, murid pertama Thian-te-pang yang bernama Lui Siok Ek ikut pula memperebutkan.
Bahkan ketika para tokoh mendatangi Siauw-bin-hud, wakil ketua Thian-te-pang yang bernama Coa Bhok juga hadir.
Namun, semua usaha mereka sia-sia belaka.
Giok-liong-kiam tetap tak dapat mereka temukan.
Seperti telah kita ketahui, ketika terjadi perang madat, orang-orang Thian-te-pang banyak yang berjuang di Kanton dan daerahnya, dan banyak pula menarik orang-orang gagah untuk bekerja sama dengan mereka.
Di antara orang-orang gagah ini terdapat Ong Siu Coan yang telah berpisah dari sutenya, yaitu Gan Seng Bu yang pergi bersama isterinya, Sheila.
Melihat adanya kesempatan baik untuk memenuhi cita-citanya melalui Thian-te-pang yang besar dan kuat, ketika pasukan itu kembali ke Bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan, Siu Coan ikut pula bersama rombongan orang-orang Thian-te-pang.
Para murid dan anggauta Thian-te-pang tentu saja menerimanya dengan tangan terbuka karena mereka semua sudah mengenal kelihaian pemuda ini.
Thian-te-pang mengadakan rapat, dipimpin oleh Ma Ki Sun dan sute atau wakilnya, Coa Bhok.
Siu Coan yang diterima sebagai seorang sahabat dan tamu, juga diperkenalkan hadir.
Yang hadir di dalam ruangan luas itu adalah para tokoh Thian-te-pang, murid-murid kepala dan komandan-komandan regu, tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya, memenuhi ruangan yang biasanya menjadi tempat berlatih silat para anggauta dan murid Thian-te-pang.
Ma Ki Sun dan Coa Bhok mempunyai murid-murid yang jumlahnya dua puluh orang lebih, dan para murid ini lalu melatih silat kepada para anggauta Thian-te-pang.
Siu Coan yang hadir sebagai tamu, mengamati keadaan di situ.
Dilihatnya bahwa tempat yang menjadi markas besar Thian-te-pang ini merupakan sebuah perkampungan yang dilengkapi dengan tembok tinggi seperti benteng di lereng Bukit Kijang Putih itu.
Tempat yang baik sekali dan kuat untuk pertahanan.
Dan di dalamnya terdapat segala macam senjata, juga mempunyai anggauta yang tidak kurang dari tigaratus orang banyaknya, tersebar di mana-mana.
Pendeknya, sebuah perkumpulan yang cukup kuat.
Dia memperhatikan Ma Ki Sun, ketua perkumpulan itu, dan wakilnya.
Ma Ki Sun sudah berusia sedikitnya enam puluh tiga tahun, bertubuh tinggi kurus dengan mata yang sebelah kiri buta dan tidak berbiji lagi.
Dengan mata sebelah ini dia pernah malang melintang sebagai seorang pendekar di selatan sehingga di dikenal dengan julukan It-gan Lam-eng (Pendekar Selatan Mata Satu).
Seperti juga para anggauta Thian-te-pang, di baju ketua ini, di bagian dada, terdapat lukisan bulatan yang mengambarkan Im-yang, akan tetapi berbeda dengan para anggauta yang lukisannya disulam benang biasa, lukisan di baju sang ketua ini disulam dengan benang emas.
Sikapnya penuh wibawa dan matanya yang tunggal itu melirik ke kanan kiri dengan tajam dan sinarnya mencorong.
Orang ke dua, yang menjadi wakil ketua dan juga sutenya, bernama Coa Bhok, nampak tinggi kurus pula, akan tetapi sikapnya angkuh, nampak dari tarikan mulutnya yang agak sinis dan dagu serta pandang matanya yang membayangkan kekerasan hati.
Di tempat itu sudah diatur meja sembahyang, lengkap dengan hidangan dan lilin-lilin yang dinyalakan.
Kemudian, Coa Bhok sebagai wakil suhengnya, bangkit berdiri dari tempat duduknya dan terdengar suaranya yang lantang dan tegas.
"Para murid dan anggauta Thian-te-pang. Sebelum rapat dimulai, lebih dulu akan diadakan upacara sembahyang untuk menghormat arwah para pahlawan yang telah gugur dalam perang yang lalu."
Setelah berkata demikian, diapun duduk kembali, memberi kesempatan kepada suhengnya sebagai ketua untuk mengucapkan "Amanat"nya.
Ma Ki Sun bangkit berdiri, tubuhnya lebih jangkung dari pada sutenya.
Justeru matanya yang tinggal satu itulah yang mendatangkan wibawa besar, pikir Siu Coan sambil melihat dan mendengarkan penuh perhatian.
"Anak-anak sekalian!"
Terdengar Kakek mata satu itu berkata.
"Kita adalah pendekarpendekar tanah air, patriot-patriot bangsa yang berjuang tanpa pamrih, hanya dengan satu tujuan, yaitu membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah! Akan tetapi, perjuangan kita tidak akan sia-sia. Bangsa kita akan terbebas dari belenggu penjajahan, dan kalau kita gugur, nama kita akan dipuja selamanya sebagai pahlawan. Karena itu, kita tidak boleh melupakan kawan-kawan seperjuangan yang gugur baru-baru ini dan marilah kita sembahyangi mereka agar roh mereka mendapat tempat yang baik, dan nama mereka akan dipuja selamanya."
Siu Coan tersenyum di dalam hatinya, senyum mengejek.
Mungkin nama beberapa orang pentolan saja yang akan diingat selamanya, akan tetapi nama para perajurit biasa, siapa yang akan mengingatnya?
Nama itupun akan terlupa.
Perjuangan tanpa pamrih?
Mana mungkin itu, cemooh hatinya.
Menumbangkan penjajah hanya merupakan jalan saja, tidak hanya habis sampai di situ.
Aku jelas tidak mau berjuang tanpa pamrih, dengan sia-sia.
Akan tetapi ketika sang ketua dan wakilnya bersembahyang dan memberi kesempatan kepada para tamu untuk bersembahyang, Siu Coan juga bersembahyang, Akan tetapi tidak seperti mereka yang mengangkat hio membara, melainkan dengan cara membungkuk sedikit di depan meja sembahyang.
Tentu saja semua orang memandang dengan heran, akan tetapi mereka yang tahu bahwa pemuda ini tertarik akan Agama Kristen yang dibawa oleh orang kulit putih, hanya tersenyum mengejek.
Betapapun juga, tidak ada yang berani menegurnya karena mereka semua maklum akan kelihaian pemuda ini.
Ma Ki Sun mengerutkan alisnya, akan tetapi juga tidak menegur, mengingat bahwa pemuda ini hanya seorang tamu dan kabarnya telah banyak berjasa dalam perang membantu perjuangan Thian-te-pang.
Setelah semua orang selesai sembahyang dan meja sembahyang disingkirkan, dimulailah rapat itu.
Mula-mula sang ketua membicarakan soal pusaka Giok-liong-kiam.
"Mendapatkan kembali pusaka itu merupakan kewajiban kita, akan tetapi tidak begitu mutlak perlu,"
Kata Ma Ki Sun.
"Yang penting adalah soal perjuangan. Seperti kita semua ketahui, pemerintah penjajah Mancu yang mulai bobrok itu telah secara tak tahu malu menakluk kepada orang-orang kulit putih dan menyerahkan kota-kota penting begitu saja kepada mereka. Penjilat-penjilat tak tahu malu itu sungguh terkutuk! Madat akan dimasukkan lagi dan bangsa kita akan dijejali barang beracun itu sampai akhirnya kita menjadi bangsa yang lemah dan pemadatan! Ini harus kita tentang! Kita harus mengerahkan tenaga untuk mengganggu dan menyerang mereka, sekarang kita mulai mendekati Kota Raja dan mengadakan kekacauan di daerah Kota Raja!"
Akan tetapi, para murid dan anggauta Thian-te-pang nampak saling pandang dan agaknya tidak semangat menyambut anjuran sang ketua ini.
Hal ini adalah hasil dari permainan kasakkusuk yang dilakukan Siu Coan selama ini di antara mereka.
Dengan cerdik dia, tanpa mencela secara terang-terangan, mengatakan bahwa Thian-te-pang perlu memperoleh pimpinan baru yang perkasa dan pandai.
Dan dia sengaja menyinggung betapa pusaka Giok-liong-kiam merupakan lambang kebesaran Thian-te-pang dan hilangnya pusaka itu menunjukkan kemerosotan Thian-tepang, Maka perlu segera didapatkan kembali.
Dan sekarang, sang ketua bahkan meremehkan Giok-liong-kiam, dan mengajak mereka untuk mengganggu daerah Kota Raja yang amat berbahaya karena di daerah itu penjagaan pasukan kerajaan amatlah kuatnya.
Melakukan pengacauan di daerah Kota Raja sama saja dengan membunuh diri!
Karena itulah, mereka saling pandang dan tidak menyambut ucapan sang ketua itu dengan semangat seperti biasanya.
Apa lagi mereka masih lelah, baru saja pulang dari pertempuran-pertempuran yang melelahkan di mana mereka kehilangan banyak teman.
Melihat sikap para anak buah ini, Ma Ki Sun dan sutenya saling pandang.
Kemudian sutenya, Coa Bhok, berseru dengan suara lantang.
"Apakah di antara kalian ada yang hendak mengajukan usul?"
Tentu saja para murid dan para anggauta itu tidak berani menentang kehendak ketua mereka, maka merekapun kini hanya saling pandang dan akhirnya mereka memandang kepada Siu Coan.
Pemuda ini tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.
"Pangcu, aku ingin mengajukan usul-usul!"
"Ong-sicu!"
Jawab Coa Bhok dengan alis berkerut. Ini adalah rapat para anggauta Thian-te-pang, sicu sebagai orang luar tidak berhak mencampuri. Maaf, kami tidak dapat menerima usul dari luar."
Sedikit banyak Coa Bhok sudah mendengar tentang pemuda ini dari para muridnya.
Seorang pemuda yang lihai, akan tetapi aneh.
Tak seorangpun mengetahui asalusulnya, dari perguruan mana, dan juga bahwa sute dari pemuda ini telah menikah dengan seorang wanita kulit putih.
Orang seperti itu mana boleh dipercaya?
Apa lagi tadi pemuda itu melakukan sembahyang secara aneh dan melanggar adat kebiasaan.
Siu Coan tidak mundur oleh teguran ini.
"Maaf, aku terpaksa mencampuri karena melihat hal-hal yang baik dalam Thian-te-pang. Aku menganggap Thian-te-pang sebagai saudara seperjuangan, dan aku tahu bahwa para anggauta ingin sekali mengajukan usul-usul namun mereka tidak berani. Kini aku akan maju sebagai wakil pembicara mereka. Saudara-saudara, bagaimana kalau aku menjadi wakil pembicara kalian untuk menyampaikan segala ketidakpuasan yang menekan batin kalian? Setujukah?"
Sudah banyak Siu Coan mempengaruhi para anggauta Thian-te-pai, apa lagi mereka yang kagum menyaksikan sepak terjangnya, maka mereka ini serentak menyatakan setuju dan suara ini diikuti saja oleh para anggauta lain yang agaknya sudah kehilangan pegangan itu.
"Setujuuuuu...!"
Terdengar suara serentak mereka. Ma Ki Sun dan Coa Bhok saling pandang dan akhirnya Ma Ki Sun mengangguk.
"Baiklah,"
Kata Coa Bhok denga suara kering dan ketus.
"Kalau memang para anggauta menghendaki, engkau boleh menyatakan usul-usulmu, Ong-sicu."
"Terima kasih, akan tetapi sebelumnya aku minta agar pangcu berjanji bahwa sebelum aku selesai menyatakan usul-usulku, maka usul-usulku tidak boleh dipotong. Berjanjilah bahwa aku akan diperbolehkan menyatakan usul-usulku sampai aku habis bicara."
Ma Ki Sun melambaikan tangannya dengan tidak sabar.
"Baik, bicaralah, orang muda!"
"Aku hanya menjadi juru pembicara para anggauta Thian-te-pang. Kami semua merasa tidak puas terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan. Pertama, setelah Giok-liong-kiam dicuri orang dan terlepas dari tangan kita, maka pamor Thian-te-pang menjadi suram. Karena itu, urusan mencari dan merampas kembali Giok-liong-kiam merupakan hal terpenting dan menyangkut kehormatan dan nama besar Thian-te-pang sendiri. Maka kami tidak setuju kalau dinomorduakan. Giok-liong-kiam harus didapatkan kembali lebih dulu!"
Siu Coan berhenti sebentar untuk memberi kesempatan para anggauta menyatakan persetujuan mereka. Kemudian dia menyambung dengan cepat.
"Ke dua, melakukan pengacauan dan menyerang ke daerah Kota Raja pada saat ini adalah sama sekali tidak tepat. Pemerintah penjajah baru saja berbaik dengan orang-orang kulit putih sehingga kedudukan mereka kuat, sebaliknya kita baru saja bertempur dan kehilangan banyak tenaga. Kita harus menghimpun kekuatan lebih dulu, bergabung dengan golongan lain kalau perlu, dan setelah kita kuat benar barulah kita bergerak. Akan tetapi, jangan jadikan Thian-te-pang sebagai kelompok pengacau-pengacau tak berarti saja. Kita bercita-cita, bukan hanya untuk menjadi sekedar pengacau, melainkan kalau mungkin kita akan gulingkan pemerintah penjajah Mancu!"
Kembali terdengar tepuk tangan dan seruan-seruan pujian dari para anggauta. Mereka telah dibangkitkan oleh ucapan Siu Coan.
"Ke tiga, kami sama sekali tidak setuju dengan ucapan ketua ketika diadakan upacara sembahyang tadi. Buat apa kita berjuang mati-matian, mengorbankan nyawa kalau sekedar mencari nama kosong belaka? Kita berjuang harus dengan cita-cita, dengan pamrih luhur! Thian-te-pang harus berjuang bukan hanya untuk dicap sebagai pahlawan kalau mati, melainkan untuk merampas tahta kerajaan dan kalau berhasil kelak, setiap orang anggauta Thian-te-pang, tidak terkecuali, harus mendapatkan kedudukan atau pangkat sesuai dengan jasa-jasa mereka! Dengan demikian, tidak akan percuma kalau sekarang kita berjuang dengan taruhan nyawa juga, sehingga kelak dapat memperoleh pahala untuk mengangkat nama dan derajat keluarga, juga menjamin kemakmuran bagi kehidupan mereka!"
Sekali ini, tepuk tangan dan sorak-sorai menyambut ucapan Siu Coan sehingga tidak dapat disangsikan (Lanjut ke
Jilid 15) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 15 lagi dukungan mereka terhadap Siu Coan.
Ma Ki Sun dan Coa Bhok dengan muka pucat saling pandang dan keduanya merasa betapa ada bahaya besar mengancam mereka, setidaknya kedudukan mereka.
Akan tetapi sebelum mereka sempat bicara, kembali Siu Coan sudah mengangkat kedua tangan keatas, dan terdengar suaranya melengking mengatasi semua suara bising.
Dua orang pimpinan Thia-te-pang terkejut karena mereka maklum bahwa suara itu didukung oleh tenaga khikang yang amat kuat!
"Saudara-saudara sekalian, harap tenang!"
Dan kini semua orang diam, memperhatikan Siu Coan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh semangat.
"Masih ada satu hal lagi yang teramat penting, lebih penting dari pada yang terdahulu. Kami berpendapat bahwa pimpinan Thian-te-pang sekarang ini sudah tidak becus, sudah terlalu tua dan tidak mungkin dapat memajukan Thian-te-pang, maka kami usulkan agar diganti oleh tenaga muda yang lebih bersemangat!"
Sekali ini, semua anggauta terdiam dan wajah mereka berobah, dengan penuh ketegangan mereka memandang ke arah Ma Ki Sun dan Coa Bhok.
Tentu saja sebagai murid-murid Thiante-pang mereka tidak berani mendukung ucapan itu walaupun di dalam hati, mereka setuju sekali.
Ma Ki Sun dan Coa Bhok kini saling pandang dengan muka pucat dan Coa Bhok sudah meloncat berdiri.
"Orang she Ong! Sikapmu sungguh keterlaluan dan tidak bersahabat! Apakah engkau hendak mengajak murid-murid kami berkhianat?"
"Coa-pangcu harap sabar dulu. Aku sama sekali tidak mengajak mereka berkhianat, melainkan bicara sejujurnya saja. Pimpinan Thian-te-pang tidak becus mendapatkan kembali pusaka Giok-liong-kiam dan telah memperlihatkan kepemimpinan yang tidak baik. Maka, wajarlah kalau pimpinan sekarang yang sudah terlalu tua dan lemah mundur saja untuk diganti oleh yang muda dan kuat!"
Coa Bhok tersenyum mengejek.
"Orang she Ong. Mereka semua adalah murid-murid kami, siapakah di antara mereka yang dapat melebihi kekuatan kami?"
"Wah, banyak!"
Kata Ong Siu Coan.
"Di antaranya aku sendiripun mampu melebihi kekuatan kalian."
"Keparat!"
Kini Coa Bhok meloncat ke depan menghadapi Siu Coan yang juga sudah meninggalkan kursinya dan berdiri di tengah-tengah ruangan itu.
Keduanya kini saling berhadapan seperti dua ekor jago yang siap untuk saling serang.
"Jadi engkau menghendaki kedudukan ketua Thian-te-pang?"
"Kalau kalian yang sudah tua dan lemah tahu diri, aku akan sanggup memimpin Thian-tepang jauh lebih baik dari pada kalian orang-orang tua yang sudah lemah!"
"Jahanam bermulut besar! Ingin kulihat apakah kepandaianmu juga sebesar mulutmu!"
Bentak Coa Bhok yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
Berkata demikian, wakil ketua Thia-te-pang ini sudah mencabut sebatang pedang.
Dia marah sekali, akan tetapi sebagai seorang wakil ketua sebuah perkumpulan besar yang merasa dirinya telah menduduki tingkat tinggi, dia merasa tidak enak kalau harus menyerang seorang lawan yang begitu muda dengan senjata tanpa memberi kesempatan kepada lawan.
"Ong Siu Coan, keluarkanlah senjatamu!"
Tantangnya sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
Akan tetapi Siu Coan tersenyum, suaranya lantang terdengar oleh semua orang ketika dia bicara.
Pada waktu itu, keributan itu sudah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar ruangan sehingga kini lubang pintu dan jendela penuh dengan kepala-kepala tersembul memandang ke dalam, kepala para anggauta Thian-te-pang.
"Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Akan tetapi kalau Coa-pangcu yang bernafsu untuk menyerang dan membunuhku, silahkan. Aku sendiri sama sekali tidak takut menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja."
Ucapan ini sekaligus merupakan teguran bahwa dia sebagai tamu akan diserang oleh tuan rumah yang memulai perkelahian itu, akan tetapi juga suatu sikap memandang rendah dan menentang yang membuat wajah wakil ketua Thian-te-pang itu sebentar menjadi pucat sebentar menjadi merah.
"Orang she Ong! Kalau tidak engkau yang menggeletak mati di ujung pedangku, akulah yang harus mampus di tanganmu. Lihat senjata!"
Dan Kakek itu sudah menerjang maju dan mengirim serangan dengan pedangnya secara kilat dan dahsyat sekali.
Betapapun cepatnya tusukan pedang yang menuju ke arah tenggorokan Siu Coan itu, namun Siu Coan lebih cepat lagi.
Tubuhnya sudah mencelat ke kiri dan tusukan itu mengenai angin kosong.
Sebagai seorang ahli pedang yang tangguh, begitu pedangnya luput mengenai sasaran, pergelangan tangannya bergerak dan pedang itu membuat gerakan memutar terus menyambar dengan bacokan yang lebih dahsyat lagi ke arah leher Siu Coan.
Pemuda itu merendahkan tubuh membiarkan pedang lewat dan cepat dia meloncat ke atas ketika pedang itu sudah datang lagi dari lain jurusan membabat kedua kakinya!
Pedang itu terus bergerak cepat menghujankan serangan dan sebentar kemudian pedang itu sudah lenyap bentuknya dan berobah menjadi segulungan sinar putih yang menyambar-nyambar.
Akan tetapi bentuk tubuh Siu Coan juga sudah lenyap.
Hanya bayangan tubuhnya saja yang berloncatan ke sana-sini sehingga pedang yang bayangannya berobah banyak itu seolah-olah hanya menyerang bayangan kosong saja!
Semua mata yang nonton perkelahian itu hampir tak pernah dikejapkan.
Semua orang memandang dengan hati tegang.
Para murid dan anggauta Thian-te-pang maklum betapa lihainya wakil ketua itu bermain pedang dan kini Siu Coan menghadapinya dengan tangan kosong saja!
Mereka sudah membayangkan bahwa tak lama lagi tentu tubuh pemuda itu akan roboh mandi darah, tewas atau terluka berat.
Akan tetapi, makin cepat pedang itu berkelebat, makin cepat pula tubuh Siu Coan bergerak menghindar sehingga jangankan tubuh pemuda itu dilanggar pedang, bahkan ujung baju pemuda itupun tidak pernah tergores pedang sama sekali!
Dan agaknya pemuda itu dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya, hal ini terbukti dari suara ketawanya yang kadang-kadang terdengar, bahkan terdengar pula suaranya penuh ejekan.
"Nah, bukankah kau sudah terlalu tua dan gerakanmu terlalu lemah dan lamban, Coa-pangcu?"
Mendengar suara ketawa dan ejekan ini, para penonton menjadi terheran-heran dan kagum bukan main.
Dianggap oleh mereka bahwa agaknya tidak masuk akal kalau ada orang mampu menghadapi pedang Coa Bhok dengan tangan kosong, dan masih sempat tertawa-tawa bahkan mengeluarkan suara mengejek.
Mereka tahu bahwa Siu Coan lihai, akan tetapi tidak pernah menduga bahwa pemuda itu memiliki kesaktian seperti itu!
Juga ketua Thian-te-pang, Ma Ki Sun, terbelalak kaget.
Kakek ini adalah suhengnya dari Coa Bhok dan lebih lihai dari pada sutenya.
Akan tetapi dia tidaklah seangkuh Coa Bhok yang terlalu percaya akan kepandaian sendiri sehingga suka memandang ringan orang lain.
Melihat betapa selama lebih dari dua puluh jurus sutenya yang menggunakan pedang itu terus menerus menyerang pemuda itu tanpa berhasil sedikitpun juga, bahkan melihat pemuda itu benar-benar memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada sutenya.
Dia merasa heran dan terkejut akan kenyataan ini, akan tetapi dia masih cukup waspada untuk berseru kepada sutenya.
"Sute, sudahlah, jangan berkelahi lagi!"
Katanya dengan maksud agar sutenya tidak menderita malu dan bahkan agar sutenya tidak menderita malu dan bahkan mungkin terancam bahaya.
Akan tetapi, Coa Bhok sudah memuncak kemarahannya.
Kehebatan lawan dan ejekan lawan tadi sudah meracuni batinnya dan dia merasa lebih baik mati dari pada harus menghentikan serangannya dan mengaku kalah!
"Biarlah, suheng.
Dia atau aku yang mati!"
Teriaknya dan dia memperhebat serangannya.
Siu Coan bukan seorang bodoh.
Tadinya sedikitpun tidak terlintas dalam benaknya untuk merobohkan lawannya dengan luka berat, apa lagi membunuhnya.
Dia tahu bahwa dua orang Kakek ini, bagaimanapun juga, merupakan guru-guru dari para anggauta Thian-te-pang sehinnga mereka itu masih akan mampu mempengaruhi para anggauta.
Dia bermaksud untuk menanamkan kekuasaannya di Thian-te-pang tanpa mengganggu para pimpinannya, hanya menundukkan saja dan dia dapat mempergunakan kekuatan Thian-te-pang untuk mencapai tujuannya.
Akan tetapi, melihat sikap Coa Bhok, tahulah dia bahwa orang ini kalau dibiarkan hidup, akhirnya tentu akan menjadi orang yang selalu memusuhinya, baik berterang ataupun dengan menggelap.
Cegahan ketua Thian-te-pang tadi meyakinkan hatinya bahwa dengan ketua itu dia masih boleh mengharapkan kerja sama, akan tetapi terhadap Coa Bhok yang keras hati ini harus diambil tindakan tegas, akan tetapi harus diatur sedemikian rupa agar para anggauta Thiante-pang tidak akan menjadi sakit hati kepadanya.
Siu Coan membiarkan lawannya mengamuk terus.
Dengan ilmu silat Ngo-heng Lianhoan Kun-hoat yang amat hebat dari Thian-tok, dia mampu menghindarkan semua serangan itu.
Dan kini kadang-kadang dia menangkis dengan tangannya, tangan yang sudah diisi dan dialiri tenaga ilmu kebal Kim-ciong-ko.
Ilmu Kim-ciong-ko ini dapat membuat tubuhnya seperti dilindungi baju emas saja.
Sebetulnya, melihat ilmu ini saja yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis pedangnya tanpa lecet sedikitpun juga, sudah cukup bagi Coa Bhok untuk menyadari bahwa dia kalah jauh.
Namun Kakek ini keras hati dan dia menganggap bahwa Siu Coan sudah melontarkan penghinaan terhadap dia dan suhengnya, maka dia tetap tidak mau mundur dan menyerang terus walaupun kini napasnya mulai empas-empis.
Bersilat pedang memang lebih cepat melelahkan, karena membutuhkan tenaga tambahan untuk menggerakkan pedang.
Walaupun pedangnya itu pedang tipis dan tidak sangat berat, akan tetapi kalau harus menyerang terus sejak tadi, tenaganya mulai berkurang juga.
Siu Coan cukup waspada.
Dia melihat lowongan baik.
Kalau hanya untuk merobohkan Kakek itu saja, sejak tadipun dia akan mampu melakukannya.
Akan tetapi merobohkan lawan seperti yang dikehendakinya, membutuhkan waktu karena dia harus mencari kesempatan baik dan gerak cepat yang luar biasa.
Tiba-tiba saja, tanpa dapat dilihat oleh semua orang kecuali ketua Thian-te-pang bagaimana terjadinya, Kakek Coa Bhok mengeluarkan teriakan mengaduh dan tubuh Kakek itu roboh miring dan tewas seketika dengan tubuh mandi darah, pedang yang gagangnya masih dipegangnya itu telah menusuk dadanya sendiri sampai tembus!
Karena pedang itu tepat menembus jantung, maka Kakek itupun tewas seketika.
Semua orang terkejut dan terbelalak.
Siu Coan berdiri dan memandang mayat itu, menarik napas panjang dan berkata.
"Coa-pangcu sungguh keras hati, memilih bunuh diri dari pada menderita kekalahan. Sayang, sayang...!"
Barulah para anggauta Thian-te-pang maklum bahwa wakil ketua itu telah membunuh diri karena merasa akan menderita kekalahan.
Mereka menjadi semakin kagum terhadap pemuda itu dan mereka juga semakin tegang, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketua mereka terhadap Siu Coan.
Ma Ki Sun bangkit dari kursinya, menanggalkan jubahnya yang lebar, lalu memerintahkan murid-muridnya untuk menyingkirkan mayat sutenya.
"Urus jenazahnya baik-baik,"
Katanya dengan suara datar.
Setelah mayat itu diangkut, dia lalu melangkah perlahan menghampiri Siu Coan yang masih berdiri di tengah ruangan itu.
Di lantai masih ada darah dan melihat ini, sakit juga rasa hati Ma Ki Sun, teringat betapa sutenya sejak muda membantunya dan sutenya adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang patriot yang gagah berani.
Akan tetapi tak disangkanya, sutenya tewas di tangan seorang pemuda yang sama sekali tidak ada nama, walaupun harus diakuinya bahwa kepandaian pemuda itu benar-benar amat hebat.
Sejenak mereka saling pandang, pandang mata ketua itu penuh selidik, pandang mata Siu Coan menanti dengan sikap waspada.
"Orang muda, sebetulnya apakah yang kau cari di sini?"
Tanyanya dengan suara lirih dan tegas. Siu Coan menjura dengan hormat.
"Harap pangcu maafkan kalau peristiwa berekor seperti ini. Adalah Coa-pangcu yang memaksaku..."
"Aku mengerti, orang muda. Akan tetapi, apakah sebenarnya kehendakmu?"
Melihat mata yang hanya satu itu memandangnya penuh selidik, seolah-olah dapat menembus dan menjenguk isi hatinya, diam-diam Siu Coan bergidik dan dia cepat-cepat menjawab dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang.
"Pangcu, aku hanya ingin agar Thian-te-pang menjadi sebuah perkumpulan patriot yang kuat dan kelak akan berhasil menggulingkan kerajaan penjajah Mancu. Aku ingin menghimpun seluruh kekuatan para pejuang untuk bersatu dan menghalau penjajah dari tanah air."
"Hemm, jadi engkau ingin menjadi ketua Thian-te-pang?"
"Bukan hanya Thian-te-pang, melainkan aku ingin memimpin seluruh pasukan pejuang yang menentang pemerintah penjajah, ingin mendirikan sebuah kekuatan baru yang meliputi segenap rakyat jelata untuk bangkit melawan penjajah!"
Ucapan ini keluar dari lubuk hati Siu Coan, terdengar penuh semangat sehingga membakar semangat para anggauta Thian-te-pang yang menyebabkan perasaan suka dan kagum mereka terhadap Siu Coan meningkat.
Sikap Siu Coan ini agaknya mulai meyakinkan hati Ma Ki Sun pula.
Dia bukan seorang yang ambisius dan diapun mengerti bahwa karena usianya sudah makin menua, sudah wajarlah kalau Thian-te-pang dipegang oleh tenaga muda dan mungkin saja akan menjadi semakin kuat dan maju.
"Baiklah, Ong-sicu. Akan tetapi karena saat ini aku yang menjadi pangcu, kalau engkau ingin mengambil alih kursi pimpinan, engkau harus dapat pula mengalahkan aku."
Siu Coan merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau para anggauta Thian-te-pang yang dia tahu sudah mulai suka kepadanya, akan berobah sikap kalau dia sampai mencelakai ketua Thian-te-pang yang juga menjadi guru mereka ini.
Kalau tadi para anggauta Thian-te-pang tidak marah melihat tewasnya Coa Bhok adalah karena mereka melihat Coa Bhok seperti membunuh diri, dan melihat adanya ketua Thian-te-pang di situ yang akan mengambil keputusan.
Tentu saja Coa Bhok tadi bukan membunuh diri, melainkan dibunuhnya sedemikian rupa sehingga nampaknya seperti bunuh diri.
Ketika dia memperoleh kesempatan, dengan kecepatan kilat dia menotok tengkuk Kakek itu sehingga tubuhnya kaku dan pada detik berikutnya, dia menusukkan pedang yang masih dipegang tangan kanan Kakek itu ke dalam dada Kakek itu sendiri!
"Pangcu, aku tidak ingin berkelahi!"
"Akupun bukan menantangmu berkelahi seperti yang dilakukan sute tadi, melainkan sebagai peraturan belaka. Siapa yang hendak menjadi ketua Thian-te-pang selagi ketuanya yang lama masih ada dan belum mengundurkan diri, maka calon ketua baru itu harus mampu mengalahkan ketua lama. Nah, aku sudah siap, majulah orang muda!"
Tidak seperti sutenya, kini Ma Ki Sun tidak mempergunakan senjata, walaupun dia juga seorang ahli pedang.
Kakek ini, melihat perkelahian tadi saja, sudah maklum bahwa diapun bukan lawan pemuda ini!
Walaupun dia menggunakan pedang, akhirnya dia akan kalah juga.
Dengan maju tanpa pedang, dia akan dapat melihat apa sesungguhnya kehendak pemuda ini dan bagaimana sikapnya.
Apakah pemuda ini tetap akan membunuhnya?
Kalau demikian, dia masih ada kesempatan untuk memperingatkan para muridnya dan membuka kedok Siu Coan yang tadi membunuh Coa Bhok.
Tidak ada jalan lain bagi Siu Coan kecuali menerima tantangan ketua Thian-te-pang itu.
"Baik, pangcu, aku sudah siap,"
Katanya.
Karena maklum akan lihainya pemuda itu, Ma Ki Sun tidak bersikap sungkan-sungkan lagi dan diapun membuka serangan, disambut dengan tenang oleh Siu Coan.
Terjadilah perkelahian tangan kosong yang seru, lebih seru dari pada tadi karena kini Ma Ki Sun bersilat dengan hati-hati dan diam-diam dia mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan tenaga sinkangnya.
Akan tetapi, Siu Coan yang ingin memberi muka kepada Kakek ini, demi berhasilnya apa yang dicita-citakan, menandinginya dengan seimbang.
Kalau dia menghendaki, pemuda ini tentu akan mampu merobohkannya, karena sesungguhnya, ilmu yang dikuasai pemuda ini masih setingkat lebih tinggi dari pada ketua Thian-te-pang.
Namun, Siu Coan tidak mau merobohkan lawannya dan selalu menangkis, mengelak dan membalas serangan sekedarnya saja.
Ma Ki Sun bukan seorang bodoh.
Dia adalah seorang ahli silat tinggi yang sudah banyak pengalaman pula.
Dia tahu bahwa memang lawannya banyak mengalah.
Apa lagi ketika pada suatu saat dia menyerang, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena ditotok, akan tetapi sebelum dia roboh, pemuda itu sudah membebaskan kembali totokannya.
Semua ini terjadi sedemikian cepatnya sehingga hanya diketahui dan dirasakan oleh Ma Ki Sun sendiri saja.
Diam-diam dia merasa semakin kagum.
Pemuda ini benar-benar hebat.
Kalau memang benar pemuda itu mempunyai watak baik, seorang pendekar sejati, maka diapun ikut bergembira bahwa pihak pejuang memperoleh seorang tenaga muda yang demikian baiknya.
Akan tetapi dia bergidik membayangkan bahwa pemuda itu termasuk golongan sesat yang akan menyelewengkan perjuangan.
"Dukk!"
Dua lengan bertemu dan Siu Coan menambah sedikit tenaganya, sehingga pertemuan tenaga melalui lengan itu membuat ketua Thian-te-pang terhuyung ke belakang dengan napas terengah-engah dan muka pucat penuh keringat.
"Ong-sicu, engkau memang hebat dan pantas menjadi ketua Thian-te-pang!"
Kata Kakek itu. Tentu saja Siu Coan gembira bukan main dan dia sudah cepat memberi hormat kepada Kakek itu, lalu berkata lantang, ditujukan kepada semua anggauta Thian-te-pang.
"Aku bukan datang untuk merampas kedudukan ketua! Aku datang untuk membantu Thian-te-pang menjadi sebuah perkumpulan yang besar, mengembalikan kehormatan Thian-te-pang, memperoleh kembali Giok-liong-kiam dan memperbesar perkumpulan ini menjadi kekuatan yang kelak akan menjadi pelopor bagi semua patriot untuk mengenyahkan penjajah dari tanah air!"
Para anggauta Thian-te-pang bersorak gembira.
Juga Ma Ki Sun merasa gembira sekali.
Memang sutenya tewas di tangan pemuda ini.
Akan tetapi sesungguhnya, dia melihat sendiri tadi, bahwa pemuda ini sama sekali tidak berniat membunuh sutenya sebelum sutenya dengan nekat menghendaki adu nyawa.
Kiranya pemuda ini hanya ingin diterima menjadi seorang anggauta kehormatan saja yang tentu akan membantu kemajuan Thian-te-pang, sedangkan kedudukan ketua masih diberikan kepadanya!
Demikianlah, mulai hari itu, Thian-te-pang menerima Ong Siu Coan sebagai seorang pemimpin tanpa kedudukan!
Karena maklum bahwa pemuda ini lihai bukan main, semua mata para anggauta ditujukan kepadanya dan pemuda inipun dengan cerdiknya lalu merobah cara berlatih silat, memberi petunjuk beberapa pukulan yang lihai sehingga mereka semua semakin tunduk kepadanya.
Akan tetapi, pertama-tama yang dilakukannya adalah mengerahkan mereka itu untuk menyelidiki di mana adanya Koan Jit.
Tentu saja dengan dalih bahwa Thian-te-pang harus mendapatkan kembali pusakanya itu agar nama dan kehormatannya dapat terangkat lagi.
Padahal, jauh di sudut hatinya tersimpan keinginan untuk menguasai sendiri pusaka itu apa bila sudah dapat dirampasnya dari Koan Jit.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa rasa hati Siu Coan ketika para anggauta thian-te-pang itu tidak pernah berhasil dalam mencari dan menemukan jejak Koan Jit.
Orang yang menjadi suhengnya itu ternyata benar-benar amat licin.
Seolah-olah menghilang ditelan bumi saja.
Langkah kedua yang diambil oleh Siu Coan adalah mulai menyebarkan agama baru yang dipeluknya, yaitu Agama Kristen yang mulai menarik hatinya.
Akan tetapi, dasar wataknya sombong, baru saja berkenalan dengan agama baru itu, dia sudah merasa menjadi ahli, bahkan merasa bahwa pengertiannya yang baru secuwil tentang kitab suci agama itu, sudah menandingi pengertian para pendeta agama itu sendiri.
Dia merasa seolah-olah dia menjadi seorang petugas suci, seorang pendeta yang menyebarkan ajaran agama itu demi kepentingan manusia.
Padahal, ayat-ayat suci yang harus dipelajari dan harus ditafsirkan secara benar dan tepat itu, dia tafsirkan sendiri menurut kemauan sendiri, disesuaikan dengan keinginan hatinya.
Sikap Siu Coan yang tidak menentang bangsa kulit putih, bahkan kini dia secara terang-terangan hendak menyebarluaskan agama yang oleh para patriot dianggap sebagai agama bangsa kulit putih yang jahat, yang telah menyebar racun madat, mendatangkan kecurigaan dan kekecewaan.
Agama baru Kristen itu oleh para patriot juga dianggap sebagai pelajaran yang mengandung racun.
Hal ini tidaklah aneh.
Pertama adalah karena pada waktu itu, kenyataan bahwa orang kulit putih menyelundupkan madat yang meracuni rakyat, Membuat semua orang terutama yang berjiwa patriot, membenci orang kulit putih dan tidak percaya kepada mereka.
Hal ini mengakibatkan kecurigaan sehingga apapun yang dimasukkan oleh orang kulit putih, juga agama mereka, merupakan sesuatu yang beracun, enak memang, akan tetapi merusak badan dan batin!
Ke dua adalah karena pada waktu itu, agama oleh para pedagang kulit putih itu memang dijadikan senjata untuk menaklukkan orang-orang pribumi, melunakkan sikap mereka, memperoleh kepercayaan mereka.
Dapat dibuktikan menurut catatan sejarah betapa semua negeri yang akhirnya menjadi jajahan kau m kulit putih, sebelum mengenal bedil orang kulit putih, lebih dahulu mengenal agama mereka.
Sudah menjadi kenyataan pula bahwa masuknya kompeni atau serdadu orang-orang barat itu selalu dipelopori dengan masuknya para pendeta sebagai pembuka jalan.
Di dunia ini terdapat banyak sekali agama atau pelajaran kebatinan yang tujuannya sebenarnya hanya satu, yakni .
menuntun manusia agar hidup dengan bersih, dalam arti kata tidak saling mengganggu, bahkan saling menolong, memperbesar nyala api cinta kasih antara manusia dan melenyapkan kebencian, iri hati, permusuhan dan sebagainya.
Tidak ada satupun di antara agama-agama itu yang mempunyai tujuan buruk!
Namun, baiknya agama tidak menjamin baiknya manusia.
Bahkan manusia sendirilah yang menentukan apakah agama yang dianutnya itu benar-benar menjadi obor dan petunjuk kebersihan hidup ataukah sebaliknya.
Manusia yang menentukan karena manusia adalah kehidupan ini.
Agama adalah agama, tidak baik tidak buruk, suatu pelajaran hidup, makanan rohani juga obat batin.
Baik buruknya tergantung si pemakai, ialah manusia.
Penggunaan yang benar dari manusia dapat membuat agama sebagai penyedar batin yang menyeleweng, sebagai obor penyuluh bagi batin yang menderita, penuntun bagi manusia yang makin menjauhkan diri dari pada Alam dan pencipta-Nya.
Akan tetapi sebaliknya, penggunaan yang keliru dari manusia dapat saja membuat agama menjadi penimbul kemunafikan, menjadi bahan bentrokan antara agama, menjadi pembangkit kesombongan dan ketinggian hati karena merasa diri paling bersih, paling benar dan paling suci.
Hal ini bukan sekedar dongeng, melainkan kenyataan yang dapat kita lihat setiap hari di sekeliling kita, bahkan di dalam batin kita sendiri.
Ketidaksenangan yang timbul di kalangan para anggauta Thian-te-pang yang masih setia terhadap Ma Pangcu, membuat mereka curiga dan teliti mengikuti gerak-gerik Siu Coan.
Dan akhirnya mereka melihat bahwa jalan hidup pemuda itu jauh dari pada bersih!
Pemuda itu bahkan tidak segan-segan untuk melakukan kejahatan-kejahatan.
Pernah mereka melihat bayangan pemuda itu memasuki gedung seorang hartawan dan pada keesokan harinya, tersiar berita bahwa hartawan itu kehilangan benda-benda berharga!
Dan pernah pula di sebuah kota terjadi penculikan-penculikan wanita cantik dan pada keesokan harinya wanita-wanita itu kedapatan tewas di dalam hutan.
Dan di antara para anggauta pernah melihat Siu Coan pada pagi hari keluar dari dalam hutan itu!
Memang tidak mungkin dapat menangkap pemuda itu pada saat dia melakukan kejahatan, tidak mungkin menangkap basah karena pemuda itu amat lihai.
Akan tetapi, mereka menjadi semakin curiga.
Terutama sekali Ma Ki Sun.
Diam-diam Kakek ini lalu mengadakan hubungan dengan para pendekar dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ada pendekar yang mengenal Siu Coan sebagai murid dari datuk iblis Thian-tok!
Diam-diam Ma Pangcu mengumpulkan murid-murid utamanya dan mengundang tokoh-tokoh persilatan, di antaranya dua orang Hwesio Siauw-lim-si dan dua orang tosu Kun-lun-pai.
Mereka lalu mengadakan pertemuan di sebuah kuil Siauw-lim-si di belakang Bukit Kijang Putih, tanpa setahu Siu Coan.
"Ong Siu Coan memang memiliki ilmu silat yang amat lihai dan lagaknya seolah-olah dia benar-benar hendak menghimpun kekuatan untuk meruntuhkan kekuatan penjajah. Akan tetapi sepak terjangnya sungguh berlawanan dengan lagaknya. Banyak hal pada dirinya yang amat meragukan dan mengkhawatirkan, karena itu kami mengundang para suhu dan totiang untuk membantu kami memecahkan persoalan ini."
"Bicaralah, pangcu. Kamipun sudah banyak mendengar tentang orang she Ong itu,"
Kata Giok Cin Cu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang berpakaian tosu.
"Pertama sekali yang perlu diketahui adalah kenyataan bahwa Ong Siu Coan adalah murid datuk sesat Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, yang pernah menyamar sebagai Siauw-bin-hud dan merampas pusaka kami Giok-liong-kiam. Bahkan sekarangpun yang melarikan pusaka itu adalah murid pertamanya yang bernama Koan Jit, hal ini kita semua sudah mendengarnya."
"Omitohud...!"
Seorang di antara tokoh Siauw-lim-pai berseru kaget.
"Jadi anak murid Thian-tok sekarang menkadi pemimpin Thian-te-pang? Sungguh berbahaya!"
"Ke dua, dia tidak memusuhi orang kulit putih, bahkan condong untuk bersahabat dengan orang kulit putih. Sutenya, murid ke tiga dari Thian-tok, kabarnya bahkan telah menikah dengan seorang gadis kulit putih. Ini merupakan bukti bahwa dia sama sekali tidak memusuhi orang kulit putih yang jelas merupakan ancaman bagi keselamatan bangsa."
Mereka yang mendengar keterangan ini mengangguk-angguk maklum.
Tidak ada seorangpun di antara para patriot itu yang setuju dengan membanjirnya orang kulit putih di kota-kota yang telah dibuka oleh keputusan Kaisar Tao Kuang yang ketakutan terhadap penyerbuan orang kulit putih itu.
"Ada hal lain yang amat berbahaya,"
Kata pula Ma Ki Sun, sekali ini sengaja hendak membakar hati para Hwesio Siauw-lim-pai dan para tosu Kun-lun-pai.
"Ong Siu Coan kini melakukan kegiatan menyebarkan agama baru dari orang kulit putih, bahkan dia berani menghina agama-agama kita, mengatakan bahwa Agama Buddha dan Agama To merupakan agama tersesat."
"Siancai...!"
Seru para tosu Kun-lun-pai.
"Omitohud...!"
Para Hwesio Siauw-lim-pai juga berseru marah.
Demikianlah, para tokoh itu lalu mengambil keputusan untuk menentang Ong Siu Coan dan mengenyahkan pemuda itu dari Thian-te-pang agar perkumpulan ini tidak dibawa menyeleweng ke jalan sesat.
Siasat diatur dan waktu telah ditentukan.
Dengan dalih merayakan ulang tahun perkumpulan mereka, Ma Ki Sun berhasil membujuk Siu Coan untuk menyetujui diadakannya perayaan sederhana sambil mengundang para tokoh persilatan yang menjadi sahabat Thian-te-pang.
Siu Coan sama sekali tidak tahu bahwa ketika perayaan itu tiba saatnya, Ma Ki Sun sudah membuat persiapan yang amat matang.
Para muridnya telah diberi tahu dan murid-murid itupun mempengaruhi para anggauta sehingga sebagian besar para anggauta Thian-te-pang sudah maklum bahwa pemuda yang lihai itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi pemimpin perkumpulan mereka.
Selain itu, juga para tokoh persilatan yang hadir sebagai tamu, semua adalah sahabat-sahabat Ma Ki Sun yang sudah siap turun tangan membantu kalau keadaan memaksa.
Di tengah-tengah perayaan itulah Ma Ki Sun bangkit berdiri dan mengumumkan kepada semua anggauta bahwa mulai hari itu, Thian-te-pang harus kembali ke jalan benar.
"Sudah beberapa bulan lamanya perkumpulan kita melakukan penyelewengan-penyelewengan dan semua hal ini harus dihentikan. Hal ini terjadi setelah Ong-sicu memimpin kita, oleh karena itu, mengingat bahwa Ong-sicu bukan merupakan anggauta Thian-te-pang, mulai hari ini kami semua minta kepada Ong-sicu untuk mengundurkan diri dan jangan mencampuri urusan Thian-te-pang kami."
Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah diduga oleh Siu Coan.
Wajah pemuda ini menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada ketua Thian-te-pang itu.
Diapun bangkit berdiri dan dengan sikap tenang dia berkata.
"Apakah ini berarti bahwa Ma-pangcu menantangku untuk mengadu kepandaian?"
"Sama sekali bukan begitu,"
Jawab Ma Ki Sun.
"Kami semua tahu bahwa sicu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi sicu bukan anggauta kami, dan kalau sicu hendak memaksakan kehendak menjadi pimpinan kami, hal itu berarti bahwa sicu sebagai orang luar hendak memaksa diri menguasai kami. Kalau benar demikian, terpaksa kami seluruh anggauta Thian-te-pang akan bangkit dan menentang sicu sebagai orang luar yang hendak mengacau perkumpulan kami!"
Siu Coan marah sekali dan dia melayangkan pandangannya kepada mereka yang hadir.
Kaget juga hatinya ketika melihat betapa semua anggauta Thian-te-pang berkumpul di situ dan kebanyakan dari mereka telah bangkit dan siap menentangnya dengan pandang mata Bermusuhan!
Bahkan dia melihat pula para Hwesio dan tosu yang hadir, dari perkumpulanper-kumpulan persilatan besar, sudah siap pula membela tuan rumah.
"Omitohud, kalau Thian-te-pang dikacau orang luar, pinceng sekalian sebagai sahabatsahabatnya tidak akan tinggal diam!"
Kata seorang Hwesio Siauw-lim-pai.
"Benar, pinto bersama saudara semua juga akan membela Thian-te-pang dari gangguan orang luar!"
Kata seorang tosu tinggi kurus yang bermuka kuning.
Siu Coan bukan orang bodoh.
Dia tidak gentar menghadapi semua orang Thian-te-pang.
Akan tetapi diapun tahu bahwa tak mungkin dia akan menang menghadapi pengeroyokan mereka semua, apa lagi diingat bahwa di antara para tamu terdapat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Kunlun-pai yang lihai.
Juga, kalau dia menggunakan kekerasan, tentu dia akan kehilangan rasa suka mereka, padahal dia masih mengharapkan bantuan orang-orang Thian-te-pang, setidaknya para anggauta yang suka kepadanya dan yang bahkan sudah menerima agama baru yang disiarkannya.
Dalam waktu beberapa puluh detik saja, pemuda yang cerdik ini sudah dapat memutar otaknya dan diapun tetap bersikap tenang, bahkan dia lalu menjura ke arah Ma KI Sun dan suaranya terdengar lantang, lembut dan tenang.
"Ma-pangcu, sejak dahulupun aku tidak ingin mengganggu Thian-te-pang, melainkan hendak memajukan perkumpulan ini. Akan tetapi kalau Ma-pangcu dan para anggauta Thian-tepang tidak menghendaki bantuanku, tidak mengapalah. Aku akan mundur sekarang juga. Akan tetapi, tentu Ma-pangcu dan semua anggauta tidak akan menganggap aku sebagai musuh, melainkan sebagai seorang sahabat, bukan?"
Ma Ki Sun sendiri tercengang.
Tak disangkanya bahwa pemuda itu akan demikian mudahnya mengalah!
Tadinya dia bahkan mengharapkan pemuda itu akan menjadi marah dan akan memberontak dan melawan agar dia dapat mengeroyoknya bersama para anggauta dan para tamu yang lihai agar dia dapat membasmi pemuda yang lihai dan berbahaya ini.
Akan tetapi siapa kira, pemuda itu bersikap demikian mengalah dan lunak sehingga tentu saja tidak ada alasan baginya untuk mengeroyoknya!
Terpaksa dia balas menjura kepada pemuda itu.
"Tentu saja Ong-sicu tetap menjadi sahabat kami, karena bagaimanapun juga, maksud sicu memimpin perkumpulan kami adalah baik walaupun sepak terjang sicu tidak cocok dengan pendirian kami."
Dia masih mengharapkan agar pemuda itu membantah sehingga ada bahan untuk saling bertentangan.
Akan tetapi, pemuda itu tersenyum, menjura dan duduk lagi sambil mengucapkan terima kasih!
Melihat sikap pemuda ini, tentu saja para tamupun tidak ada yang dapat mencela, bahkan ada di antara mereka yang diam-diam memuji sikap pemuda itu yang dianggap tahu diri dan tidak mencari keributan.
Karena sikap pemuda ini, maka tidak terjadi peristiwa sesuatu di dalam pesta dan semenjak hari itu, Siu Coan meninggalkan Thian-te-pang dengan aman, sama sekali tidak mau memancing keributan.
Memang pemuda ini pandai bukan main.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 10
Baca Juga: Pendekar Sadis 6