Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 3

Eps 3 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

"Huh, engkau atau bukan, pokoknya orangnya persis engkau ini, tidak ada bedanya sedikitpun juga! Aku memang pergi seperti yang lain karena tidak berani berbuat sesuatu terhadap Siauw-bin-hud, seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, apalagi karena lenyapnya pusaka itu tidak ada buktinya diambil oleh Siauw-bin-hud. Akan tetapi ketika aku pergi, malamnya tiba di hutan. Aku membuat api unggun dan tiba-tiba muncul... engkau yang mempergunakan kepandaian menaklukkan aku dan... semalam itu engkau mempermainkan aku, memperkosa, menghina... uhhhh..."

"Theng Ci, kenapa engkau tidak memberitahukan hal itu kepadaku?"

Tiba-tiba gurunya membentak. Theng Ci menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menahan tangisnya.

"Subo, maafkan aku. Hal yang begitu menghancurkan hatiku, bagaimana mungkin aku menceritakan kepada subo atau kepada siapapun juga? Hanya karena terpaksa dengan munculnya tua bangka ini, terpaksa aku bercerita..."

"Omitohud...!"

Siauw-bin-hud mengeluh walaupun mukanya masih penuh senyum.

"Tenanglah, nona dan cobalah nona lihat baik-baik kepadaku. Benarkah pinceng yang melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap dirimu? Tidak salah lagikah?"

Melalui mata yang basah, Theng Ci memandang wajah Kakek itu, lalu sinar matanya menjelajahi tubuh Kakek itu dari kepalanya yang gundul sampai ke sepatunya yang terbuat dari kain.

Dan terbayanglah semua pengalamannya yang membuat hati yang alim.

Sama sekali tidak.

Entah sudah berapa puluh pria yang digaulinya, yang menjadi kekasihnya.

Ia mudah bosan dan tentu saja ia selalu memilih pria yang ganteng dan tampan.

Dengan pengaruhnya, dengan kepandaiannya mudah saja baginya untuk memilih pria yang disukainya.

Bahkan dengan kekejamannya, ia seringkali menaklukkan pria dengan paksaan dan ancaman sehingga pria itu karena takut mati terpaksa memenuhi hasrat dan nafsunya.

Akan tetapi, pengalamannya ketika ia berada di dalam hutan itu sungguh membuat ia merasa muak, terhina dan sakit hati sekali.

Ketika itu, hatinya sudah dipenuhi kekecewaan mengingat betapa pusaka Giok-liongkiam lepas dari tangannya.

Padahal, tadinya ia sudah amat mengharapkan pusaka itu dapat dirampasnya.

Pusaka itu sudah berada di tangannya!

Akan tetapi, sungguh tak disangkanya akan muncul demikian banyaknya orang pandai yang ikut memperebutkan pusaka itu.

Apa lagi setelah muncul Siauw-bin-hud, harapannyapun lenyaplah.

Ia tahu diri dan seperti yang lain, tidak berani mengganggu Kakek gendut itu, pertama karena iapun sudah mendengar akan kesaktian Kakek ini yang mengatasi kelihaian Empat Racun Dunia.

Ke dua, siapa berani sembarangan mengganggu seorang tokoh besar Siauw-lim-pai?

Dan ke tiga, tak seorangpun melihat bahwa Kakek ini yang merampas pusaka yang sedang diperebutkan itu.

Karena hatinya kesal, biarpun tubuhnya lelah sekali dan matanya mengantuk, ia tidak dapat tidur.

Padahal, ia telah memilih tempat di bawah pohon di mana terdapat rumput hijau yang tebal dan ia sudah menghamparkan tikar di situ.

Ia lalu duduk termenung di depan api unggun besar yang mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Tiba-tiba terkejutlah ia ketika mendengar suara terkekeh dan tahu-tahu Siauw-bin-hud telah berdiri di depannya.

Kakek gendut itu nampak menyeramkan sekali berdiri di dekat api unggun itu, dan perutnya yang tertutup jubah kuning itu bergerak-gerak ketika dia tertawa.

Melihat munculnya Kakek itu, timbul harapan di hati Theng Ci.

Apa maksud kedatangannya?

Apakah...

Apakah hendak menyerahkan pusaka itu kepadanya?

Karena itu, Theng Ci lalu bersikap hormat, bangkit dan memberi hormat kepada Kakek gendut itu sambil tersenyum ramah, hal yang jarang sekali dilakukannya.

"Locianpwe, petunjuk apakah yang akan Locianpwe berikan kepada saya maka Locianpwe datang menemui saya?"

Tanyanya dengan suara lembut.

"Ha-ha-ha-ha-ha, nona manis. Coba kau terka keperluan apa yang kubawa maka aku mencarimu, ha-ha-ha!"

"Bukankah Locianpwe hendak menganugerahi saya dengan pusaka Giok-liong-kiam itu? Locianpwe, saya merasa berterima kasih sekali dan akan suka mencium kaki Locianpwe kalau saya diberi pusaka itu!"

Katanya penuh harap.

"Ha-ha-ha, enak saja kau bicara! Pinceng lewat di sini dan kedinginan, lalu melihatmu. Maka pinceng mengambil keputusan untuk mengajakmu menemani pinceng untuk mengusir hawa dingin. Aahhhh, ada tikar di sini? Bagus, enak untuk tidur. Ke sinilah nona..."

Kakek gendut itu lalu merebahkan dirinya begitu saja di atas tikar.

Tubuhnya yang bulat itu menggelinding seperti bola ke atas tikar, terlentang dan dengan kedua tangan dikembangkan, dia mengapai ke arah Theng Ci!

Tentu saja Theng Ci menjadi marah bukan main.

Kakek yang tua bangka itu, dan tubuhnya yang gendut bulat, perutnya yang begitu besar, mengajak ia bermain cinta?

Tentu saja ia tidak sudi!

Banyak pria muda tampan siap melayani dan memuaskannya kalau ia mau.

"Locianpwe, harap jangan main-main!"

Tegurnya, suaranya mulai ketus.

"Siapa main-main, manis?"

Dan tiba-tiba lengan itu dapat memanjang dan tahu-tahu sudah merangkul leher Theng Ci.

Wanita ini terkejut dan meronta, akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditekan dan iapun terkulai lemas.

Selanjutnya...

ah, sukar baginya untuk dapat mengenang peristiwa memalukan itu.

Ia diperkosa, dihina, dipermainkan semalam suntuk oleh Kakek gendut itu tanpa mampu menolak atau meronta sedikitpun.

Dan pada keesokan harinya, Kakek gendut itu meninggalkannya sambil tertawa-tawa mengejek!

Dengan sepasang mata yang merah dan basah, Theng Ci kini memandang kepada Siauwbin-hud.

Memang ada keraguan di dalam hatinya.

Memang ia telah merasa curiga pada malam hari sial itu juga.

Mungkinkah Siauw-bin-hud, yang terkenal sebagai seorang tokoh besar Siauwlim-pai, sebagai seorang Hwesio Siauw-lim-si yang alim, mau melakukan perbuatan begini biadab?

Dan tingkah laku Kakek gendut itu ketika mempermainkannya, lebih pantas dilakukan oleh seorang manusia liar, manusia hutan atau binatang, sama sekali tidak nampak lagi bekas-bekas seorang Hwesio !

"Aku...

Aku tidak tahu...

Memang aku meragukan bahwa orang itu adalah Locianpwe Siauw-bin-hud, seorang Hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal alim dan sakti...

Akan tetapi...

bagaimana aku bisa tahu aseli ataukah palsunya?

Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, ketawanya, semua memang serupa...

Katanya agak bingung.

"Nona Theng Ci, ingatlah baik-baik, apakah tidak ada suatu tanda yang dapat membedakan antara kami? Ingatlah..."

Tiba-tiba sepasang mata Theng Ci mengeluarkan sinar aneh.

"Locianpwe, harap kau suka membuka jubahmu!"

Kembali Ci Kong mengerutkan alisnya dan tentu dia sudah marah dan menegur wanita tak tahu malu itu kalau saja dia tidak melihat betapa susiok-couwnya dengan sungguh-sungguh lalu membuka jubahnya yang lebar, bahkan menanggalkan jubah itu, kemudian berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Theng Ci!

Nampaklah perut yang bulat itu, kulitnya yang kuning halus mulus karena tak pernah terkena sinar matahari, kulit yang halus seperti kulit anak bayi!

Terdengar Theng Ci mengeluarkan seruan kecil, lalu ia mengelilingi tubuh Kakek itu dan memeriksa dengan teliti.

"Ah, bukan kau ..., bukan kau ...! Kulitnya tidak sehalus ini, dan dadanya berbulu, dan... dan... di lambung kirinya terdapat tanda hitam sebesar telapak tangan. Bukan kau , Locianpwe, orang itu... ah, sudah kuragukan sejak dulu...!"

Dan Theng Ci menangis sesenggukan, menutupi mukanya.

"Diam kau !!"

Ketua Ang-hong-pai membentak muridnya yang segera menghentikan tangisnya. Lalu ia menghadapi Siauw-bin-hud.

"Apa sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu, Siauw-bin-hud? Kalau sudah, harap segera meninggalkan tempat ini. Sudah cukup kau mendatangkan kekacauan di sini."

"Omitohud... Cukup, lebih dari cukup. Marilah Ci Kong, kita pergi."

Kakek itu lalu menjura ke arah dua orang wanita itu.

"Dan terima kasih atas kebaikan budi kalian yang telah membantu kami."

Siauw-bin-hud diiringkan oleh Ci Kong keluar dari dalam kamar itu, lalu mereka berdua dengan sikap tenang meninggalkan perkampungan Ang-hong-pai tanpa ada seorangpun yang berani coba mengganggu.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang, ketua Ang-hong-pai yang mengikuti mereka lalu bertanya.

"Siauw-bin-hud, apakah engkau sudah tahu siapa orang yang memalsu dirimu itu?"

"Ha-ha-ha, mungkin sekali aku tahu, mungkin juga keliru. Selamat tinggal, pai-cu,"

Kata Kakek itu yang segera melangkah lebar meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Ci Kong. Setelah dua orang tamu yang lihai itu pergi, ketua Ang-hong-pai mengomeli Theng Ci.

"Sialan kau ini! Dengan kebocoran mulutmu, tentu kini dia telah mengetahui di mana adanya pusaka itu dan akan merampasnya kembali. Sungguh tolol kau ini. Dulu engkau diam saja tidak menceritakan kepadaku tentang perampas pusaka yang memperkosamu, dan sekarang engkau malah bocor mulut sejadi-jadinya!"

"Ah, apakah subo tahu siapa orang itu?"

"Bodoh kau . Kalau dari dulu engkau bercerita, tentu aku dapat menduganya dan kita dapat lebih dulu berusaha merampasnya. Orang itu siapa lagi kalau bukan Thian-tok?"

Sepasang mata Theng Ci terbelalak dan mukanya berobah pucat.

"Thian-tok...? Wah, kalau benar dia, siapa akan mampu merampas dari tangannya?"

Setelah kini mendengar bahwa yang menghinanya adalah satu di antara datuk-datuk iblis itu, makin habislah semangatnya untuk dapat membalas dendam.

Kini ia tidak merasa heran.

Kalau orang itu benar Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, ia masih boleh mengucap syukur karena ia tidak mati konyol, atau tersiksa lebih hebat lagi dan dapat lolos dari maut mengerikan dalam waktu semalam saja!

Sungguh aneh sekali wanita ini.

Begitu mendengar bahwa pemerkosanuya adalah Thian-tok, lenyaplah rasa penasaran di hatinya, bahkan ada rasa bangga yang luar biasa bahwa ia telah dipilih oleh Thian-tok, datuk iblis itu!

Patut diketahui bahwa Theng Ci adalah seorang wanita yang tergolong kau m sesat.

Perkumpulan Ang-hong-pai juga perkumpulan sesat.

Oleh karena itu, walaupun Ang-hong-pai tidak dapat dikatakan menjadi anak buah atau pengikut Empat Racun Dunia, Akan tetapi kedudukan Thian-tok yang tinggi membuat dia dipandang dengan rasa takut, kagum dan hormat oleh para anggauta kau m sesat, seperti pandangan seorang tahyul terhadap iblis atau dewa.

Maka, mendengar bahwa dirinya dipilih oleh Thian-tok, timbul rasa bangga dalam hati wanita ini.

Puncak Tai-yun-san merupakan puncak yang indah dan masih liar karena jarang dikunjungi manusia.

Memang tidak ada gunanya bagi orang biasa, kecuali hanya untuk melancong, datang ke puncak itu.

Selain amat terjal dan sukar dicapai, penuh dengan hutan liar di mana terdapat banyak binatang buas, juga hawanya terlalu dingin.

Akan tetapi semenjak beberapa tahun ini, di puncak itu terdapat tiga orang, yaitu Thian-tok, dan dua orang muridnya yang baru, yaitu Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu.

Dua orang muda itu digembleng dengan sungguh-sungguh oleh Thian-tok sehingga selama enam tahun mereka telah menerima ilmu-ilmu kesaktian dari datuk iblis itu.

Kini mereka berdua sudah mengenal benar watak guru mereka yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang mengerikan.

Di dalam perantauannya, Thian-tok mengajak dua orang muridnya itu bertualang dan dengan terang-terangan dia melakukan pencurian, bahkan penculikan dan pemerkosaan terhadap gadis-gadis cantik.

Dua orang muridnya tertegun, cemas dan ngeri, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri.

Mereka bergidik melihat betapa guru mereka itu sambil tertawa bergelak-gelak memperkosa wanita, dan sambil tersenyum-senyum membunuh wanita itu pada keesokan harinya!

Bahkan pernah Kakek gendut itu merobek dada seorang korbannya, mengeluarkan jantung yang masih berdenyut dan mengganyangnya mentah-mentah.

Dua orang pemuda itu hampir muntah menyaksikan hal ini, akan tetapi guru mereka mengatakan bahwa jantung yang hidup itu merupakan obat kuat yang tiada taranya!

Kadang-kadang, kalau sedang berdua saja, Seng Bu menyatakan kecewa dan penyesalannya kepada suhengnya, yaitu Siu Coan, tentang watak gurunya.

Dia mengatakan bahwa kalau melihat watak suhunya, dia ingin minggat saja, tidak sudi menjadi murid seorang yang demikian jahatnya.

Akan tetapi, Siu Coan membantahnya dan mengingatkan bahwa guru mereka adalah seorang yang luar biasa saktinya.

Mencari di ujung dunia sekalipun belum tentu akan bisa mendapatkan seorang guru selihai Thian-tok.

"Pula, apa hubungannya semua perbuatannya dengan kita?"

Demikian Ong Siu Coan berkata, membujuk sutenya.

"Dia adalah seorang sakti, dan semua orang sakti di dunia ini memang aneh. Bahkan ada yang mendekati gila. Siapa bisa mengikuti jalan pikirannya? Mungkin saja ada sebab-sebab rahasia yang mendorong semua perbuatannya yang kelihatannya jahat dan mengerikan itu."

"Hemm, apa yang mendorong kecuali nafsu buruk?"

Seng Bu berkata.

"Memperkosa gadis, lalu membunuh gadis yang tak berdosa itu! Bayangkan saja! Dia mencuri barang-barang berharga dari dalam gedung orang. Sungguh aku tidak mengerti, mengapa suhu yang sudah setua itu masih mau mengganggu wanita, dan untuk apa pula barang-barang berharga itu."

Akan tetapi setelah mereka tiba di dalam guha di puncak Pegunungan Tai-yun-san, barulah terjawab pertanyaan kedua dari Seng Bu.

Di dalam guha besar itu terdapat terowongan dan kamar-kamar dalam tanah dan di dalam sebuah di antara kamar-kamar itulah disimpannya banyak sekali barang-barang berharga yang langka!

Pusaka-pusaka, emas permata, batu giok dan bertumpuklah barang-barang itu seperti dalam guha harta karun saja!

Dan kadang-kadang Thian-tok bermain-main di dalam kamar itu seperti anaj kecil, menimang-nimang semua benda-benda itu sambil tertawa-tawa seorang diri!

Kalau Seng Bu merasa tidak cocok dengan watak gurunya dan hanya memaksa diri bertahan untuk mengganggu ilmu kesaktian dari Kakek itu, sebaliknya diam-diam Ong-Siu Coan merasa kagum bukan main terhadap gurunya!

Bahkan ada perasaan puas di lubuk hatinya melihat betapa gurunya melakukan semua kekejaman yang sadis itu.

Hanya anak ini menyadari bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak benar, maka diapun memaksa hatinya sendiri untuk memerangi perasaan puas itu sehingga di luarnya, dia nampak halus budi dan pandai menyimpan gejolak hatinya.

Seng Bu sendiripun tidak dapat menyelami batin suhengnya yang baginya dianggap seorang yang cerdik, pandai dan juga tidak pernah melakukan perbuatan tercela.

Sikap suhengnya yang pendiam, serius, dan gagah sekali, terutama kalau bicara tentang perjuangan menentang penjajah Mancu, benar-benar amat mengagumkan hati Seng Bu.

Dia sendiri berwatak jujur, terbuka dan agak bodoh walaupun dia memiliki jiwa yang gagah perkasa dan berani.

Demikianlah, dalam asuhan orang aneh seperti Thian-tok, dua orang pemuda remaja itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah perkasa.

Dalam usia sembilanbelas tahun, Siu Coan merupakan seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dan gagah sekali, sepasang matanya mencorong, kadang-kadang nampak aneh, sikapnya pendiam dan serius, pandang matanya penuh selidik dan membayangkan kecerdikan.

Gan Seng Bu yang usianya hanya beberapa bulan saja lebih muda dari suhengnya, bertubuh sedang namun bentuknya kokoh dan kuat sekali, dengan otot-otot yang menonjol.

Wajahnya tidak begitu tampan, akan tetapi wajahnya jantan dan membayangkan kegagahan.

Sinar matanya terbuka dan dari situ berpancar cahaya mata yang jujur dan terang.

Sudah hampir enam tahun mereka menjadi murid Thian-tok dan boleh dibilang hampir semua ilmu-ilmu pilihan dari Kakek itu telah diajarkan kepada mereka.

Terutama sekali ilmu-ilmu andalan Thian-tok.

Di antaranya adalah Ilmu Sin-houw Ho-kang, yaitu ilmu yang berdasarkan penggunaan tenaga khikang pada suara sehingga kalau ilmu ini dipergunakan, maka auman yang dikeluarkan itu demikian hebatnya sehingga mampu merobohkan lawan tanpa menyentuhnya melainkan menyerang jantung dan isi perut melalui pendengaran dan getaran suara!

Ada lagi ilmu yang diberi nama Kim-ciong-ko.

Dengan mengandalkan ilmu ini, kalau dikuasai dengan sempurna dan kalau pelakunya sudah memiliki tenaga singkang yang sempurna, maka tubuh akan menjadi kebal terhadap senjata tajam dan kedua lengan dapat dipergunakan sebagai senjata, kuat menahan senjata tajam sekalipun!

Adapun ilmu silat tangan kosong yang diandalkan oleh Thian-tok adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang berdasarkan gerakan Ngo-heng atau Lima Unsur yang saling berkaitan, saling menolong saling menghidupkan dan membunuh.

Kalau dibuat perbandingan antara Siu Coan dan Seng Bu.

Maka Siu Coan yang cerdik lebih mahir dalam ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekuatan, dia masih tidak mampu menandingi sutenya yang kokoh kuat seperti pagoda besi itu.

Pagi hari itu, dua orang pemuda yang sudah dewasa ini sedang berlatih silat di depan guha kecil di mana terdapat sumber mata airnya.

Guha kecil ini letaknya agak jauh dari guha tempat tinggal mereka dan guru mereka, dan mereka setiap pagi kalau hendak mengambil air, mandi atau bercuci muka, tentu berlatih silat di depan guha kecil itu.

Melihat dua orang pemuda itu berlatih silat dengan bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang dan sepatu, amat mengagumkan.

Sungguh jauh bedanya dengan perkelahian yang mereka lakukan pada enam tahun yang lalu di depan Thian-tok ketika Kakek ini mengadu mereka di kuil tua.

Dulu mereka berkelahi secara liar, pukul-memukul, tendang-menendang dan jambak-menyambak sehingga hujan pukulan mengenai badan masing-masing dan terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan mengenai badan.

Akan tetapi sekarang, tidak terdengar sesuatu dalam gerakan mereka.

Demikian ringannya kaki mereka bergeser dan kaki tangan itu namun sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Hanya kalau pukulan mereka meluncur saja terdengar angin bersiut, dan kadang-kadang terdengar bentakan mereka untuk menambah daya serangdalam pukulan atau tendangan mereka.

Akan tetapi sekali ini, tidak ada satu kalipun pukulan atau tendangan yang mengenai tubuh lawan.

Betapapun cepat dan kerasnya mereka menyerang, pihak lawan tentu mampu mengelak atau menangkisnya dengan baik sekali.

Mereka sedang melatih ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang menjadi andalan guru mereka.

Selagi mereka asyik berlatih, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus dan nampaklah bayangan hitam berkelebat dan terasa oleh dua orang muda itu angin pukulan menyambar dengan dahsyatnya ke arah mereka!

Tentu saja mereka terkejut bukan main, karena mereka tahu bahwa mereka diserang secara hebat sekali oleh orang yang berilmu tinggi dan yang memiliki tenaga singkang yang amat kuat.

Orang itu bertubuh tinggi kurus bermuka hitam dengan sepasang mata mencorong kehijauan seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam pula dan dengan dua pukulan yang ganas sekali dia telah menyerang Siu Coan dan Seng Bu, dengan tamparan ke arah leher Siu Coan dan tonjokan ke arah dada Seng Bu.

"Haiiiittt...!"

Siu Coan berteriak sambil melakukan penangkisan dengan tangan kirinya.

"Heiiiittt...!"

Seng Bu yang kaget itupun cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya dan menyampok tonjokan itu dengan lengan kanannya.

"Dukk! Dukk!"

Dua orang pemuda itu semakin kaget karena ketika lengan mereka yang menangkis itu terbentur dengan lengan lawan, mereka merasa seolah-olah menangkis besi panas, dan juga tenaga lengan lawan itu sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan mereka tergetar hebat!

"Siu Coan Juga lawan itu memiliki gerakan cepat bukan main.

Begitu serangan pertama dapat mereka hindarkan, serangan-serangan selanjutnya menyusul sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu mereka telah diserang secara bergantian dan bertubi-tubi sampai tiga kali!

Namun, mereka kini telah menguasai banyak ilmu silat tinggi dan tubuh mereka sudah mampu bergerak secara otomatis menghadapi ancaman serangan itu, selain itu mereka yang tahu bahwa penyerang mereka ini amat lihai, sudah mengerahkan seluruh tenaga singkang mereka sehingga mereka mampu menangkis dengan baik.

"Siapa kau yang datang-datang menyerang kami!"

Bentak Siu Coan ketika memperoleh kesempatan.

Ketika orang itu tidak menjawab melainkan melanjutkan serangan, Siu Coan mengelak dan balas menyerang, diikuti oleh sutenya.

Kembali orang itu mendengus, dan agaknya orang itupun merasa heran melihat betapa serangannya yang bertubi itu tidak berhasil merobohkan seorang dari mereka , bahkan kini dua orang pemuda itu mulai membalas.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara mekengking lirih, akan tetapi di dalam suara yang lirih tinggi itu mengandung tenaga serangan yang amat hebat.

Dua orang pemuda itu terkejut.

Mereka mengenal Sin-houw Ho-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Cepat mereka melangkah mundur dan mengerahkan tenaga khikang untuk melawan suara itu dan melindungi diri.

Kembali orang itu kelihatan terkejut dan heran, lalu suara serangannya berhenti dan sekali berkelebat, orang itu telah lenyap di balik semak-semak tebal.

Siu Coan dan Seng Bu tidak mengejar, hanya saling pandang dengan heran.

"Orang itu sungguh lihai sekali...!"

Katanya menarik napas panjang.

"Serangannya mendadak dan kalau kita kurang hati-hati, tentu menjadi korban."

Seng Bu menggeleng-geleng kepala, keheranan.

"Mengapa dia menyerang kita membabi-buta tanpa alasan? Siapa dia?"

"Aku dapat menduga siapa dia."

Tiba-tiba Siu Coan berkata. Seng Bu memandang wajah suhengnya denga heran.

"Engkau tahu siapa dia, suheng? Apakah kau sudah mengenalnya?"

Siu Coan menggeleng kepala.

"Sute, lupakah engkau akan ucapan suhu ketika dia menerima kita sebagai murid? Suhu pernah mengatakan secara samar-samar bahwa suhu mempunyai seorang murid yang sudah tidak diakuinya lagi. Agaknya orang itulah murid suhu, mengingat bahwa dia mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoat kita, juga ketika dia menyerang kita dengan Sin-houw Ho-kang. Siapa lagi orangnya yang mampu melakukan dua ilmu itu kalau bukan murid suhu itu?"

Seng Bu mengangguk-angguk.

"Akan tetapi, kalau benar dia, berarti dia itu adalah toa-suheng kita. Mengapa dia menyerang kita mati-matian seperti itu? Kurang cepat sedikit saja kita mengelak atau menangkis, tentu seorang di antara kita akan roboh dan tewas."

"Akupun tidak tahu mengapa, sute. Hanya, menurut ucapan suhu dahulu, tentu dia tidak berhubungan secara baik dengan suhu. Entah mengapa suhu tidak mengakuinya lagi. Sebaiknya hal ini kita tanyakan kepada suhu."

Dua orang pemuda itu lalu membersihkan diri di sumber air dan setelah itu mereka berjalan kembali menuju ke guha besar tempat tinggal mereka.

Ketika mereka mencari guru mereka, akhirnya mereka menemukan guru mereka duduk bersila di depan kamar harta karun di mana disimpan semua pusaka dan barang-barang berharga milik guru mereka itu.

Akan tetapi, mereka terkejut bukan main melihat betapa Thian-tok yang duduk bersila itu berwajah pucat sekali dan jelas kelihatan sedang menghimpun hawa murni dengan tarikan-tarikan napas panjang.

"Suhu...! Ada apakah...?"

Siu Coan berseru kaget dan heran, lalu berlutut di depan Kakek yang duduk bersila itu, diikuti oleh Seng Bu.

Kakek itu membuka kedua matanya dan melihat dua orang muridnya, dia tersenyum menyeringai, lalu berkata dengan suara yang agak parau.

"Ah, dia datang..., mengambil Giok-liong-kiam... dan aku kena ditipunya, terkena pukulannya, akan tetapi... diapun membawa bekas pukulanku, mungkin terluka parah pula..."

Siu Coan yang cerdik segera dapat menduga.

"Suhu, apakah suhu maksudkan murid suhu itu yang datang?"

Thian-tok terbelalak.

"Kau... kau sudah mengenal Koan Jit?"

Siu Coan menggeleng kepala.

"Tidak, suhu, teecu hanya menduga saja. Tadi ada seorang bertubuh jangkung, bermuka hitam dan berpakaian serba hitam pula, menyerang teecu berdua yang sedang berlatih silat di depan guha sumber air. Melihat gerakan-gerakannya, teecu menduga bahwa tentu dia murid suhu itu... Dan dia lalu melarikan diri setelah tidak berhasil merobohkan kami."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Benar, dialah Koan Jit, murid durhaka itu. Ah, aku terlalu sayang kepadanya... dan dia terlalu durhaka..."

"Suhu, apakah yang telah terjadi?"

Seng Bu kini bertanya dengan hati penasaran sekali. Suhunya ini menyatakan merasa sayang terhadap murid yang bernama Koan Jit itu, akan tetapi juga mengatakan bahwa murid itu terlalu durhaka.

"Kalian belum tahu... baiklah kuceritakan agar kalian dapat mengenal siapa dia dan orang macam apa dia itu. Akan tetapi dia memang hebat, dia paling berbakat, dan dia patut menjadi datuk iblis penggantiku, akan tetapi dia durhaka kepadaku, ah, sungguh sayang. Kalau tidak, tanpa dimintapun akan kuberikan Giok-liong-kiam kepadanya..."

Kakek itu lalu bercerita dengan singkat tentang muridnya yang bernama Koan Jit itu.

Orang she Koan bernama Jit itu telah menjadi murid Thian-tok, murid tunggal semenjak dia masih kecil.

Thian-tok amat sayang kepada muridnya ini, karena bukan saja Koan Jit memiliki bakat yang amat baik sehingga dapat mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaiannya akan tetapi juga watak anak itu cocok benar dengan watak Thian-tok.

Anak itu kejam, dapat bersikap jahat dan licik, pendeknya seorang yang patut menjadi calon datuk iblis yang menjagoi di dunia kau m sesat!

Dan di waktu kecilnya Koan Jit nampak patuh dan setia sekali kepada gurunya sehingga Thian-tok merasa sayang kepadanya.

Thian-tok yang tidak pernah berkeluarga dan tidak mempunyai keturunan itu, bahkan hanya mempunyai seorang saja murid, menganggap Koan Jit seperti anak sendiri.

Akan tetapi setelah Koan Jit tamat belajar, limabelas tahun yang lalu, dalam usia dua puluh lima tahun, watak jahat Koan Jit mencapai puncaknya dan bukan saja dia melakukan segala perbuatan jahat seperti mencuri, merampok, membunuh, memperkosa dan mengkhianati siapa saja, bahkan dia berkhianat pula kepada gurunya sendiri!

Urusannya hanya menyangkut diri seorang wanita yang diculik oleh Thian-tok.

Kebiasaan Thian-tok, satu di antara kebiasaan buruknya adalah menculik dan memperkosa wanita mana saja yang menarik hatinya.

Dan setelah diperkosanya, biasanya hanya untuk satu dua hari saja, lalu wanita itu dibunuhnya.

Perbuatan keji inipun diwarisi pula oleh Koan Jit!

Pada suatu hari, Thian-tok menculik seorang wanita dan dia tergila-gila kepada wanita ini, bahkan dia berniat untuk tidak membunuh wanita itu, dan kalau mungkin malah mengangkatnya menjadi teman hidup atau istrinya.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, guru ini mendapatkan wanita pilihannya itu ada dalam pelukan muridnya!

Hal ini saja masih belum menyakitkan hati datuk iblis itu kalau saja si wanita tidak terang-terangan menyatakan bahwa ia mencinta Koan Jit dan tidak sudi berdekatan dengan Thian-tok.

Marahlah si datuk iblis dan wanita itupun dibunuhnya.

Tak disangkanya sama sekali bahwa Koan Jit mendendam karena peristiwa ini dan pada suatu malam, selagi Thian-tok tidur pulas, murid durhaka itu telah menotoknya, membelenggunya dan menyerahkannya kepada yang berwajib!

Tentu saja alat pemerintah girang melihat penjahat besar itu diserahkan dalam keadaan terbelenggu, karena kalau tidak, mereka tahu tidak akan mungkin dapat memegang Thian-tok yang menjadi iblis jahat dan terkenal sekali di dunia kau m sesat.

Setelah siuman dan mendapatkan dirinya dalam tahanan, terbelenggu, Thian-tok menjadi marah.

Dia memberontak, melepaskan diri dan melakukan penyelidikan.

Ketika mendengar bahwa Koan Jit yang menyerahkan dirinya dalam keadaan pingsan terbelenggu kepada alat negara, dia marah sekali dan cepat pulang.

Setibanya di dalam guha di puncak Tai-yun-san itu, dia mendapat kenyataan bahwa Koan Jit telah kabur dan membawa banyak barang-barang berharga yang dikumpulkannya di dalam kamar dalam guha!

Tentu saja Thian-tok marah sekali, bukan karena Koan Jit mencuri barang-barang, melainkan karena murid itu telah mendurhakainya Dengan kemarahan meluap-luap, datuk iblis itu lalu mencari muridnya.

Dan setahun kemudian, dia dapat menemukan Koan Jit.

Mereka bertanding, akan tetapi betapapun lihainya Koan Jit, menghadapi gurunya dia kalah matang dan akhirnya dia roboh.

Akan tetapi, ketika Thian-tok hendak membunuhnya, Kakek ini tidak tega.

Dia terlalu sayang kepada murid yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.

Apa lagi ketika Koan Jit berkata kepadanya bahwa sepatutnya guru itu bangga mempunyai murid yang dapat melakukan kejahatan yang lebih besar dari pada kejahatan gurunya!

"Suhu hanya merampok, mencuri, menculik, memperkosa dan membunuh.

Pernahkah suhu mengkhianati guru sendiri?

Nah, aku ingin melakukan kejahatan yang melebihi suhu, dan hal itu sudah kulakukan ketika aku mengkhianati suhu.

Kalau aku tidak cinta kepada suhu, tentu suhu telah kubunuh, bukan kuserahkan kepada yang berwajib.

Aku tahu bahwa suhu tentu akan mampu melepaskan diri.

Kenapa sekarang suhu marah-marah?

Pantasnya memujiku, karena bukankah suhu yang mengajarkan semua itu kepadaku?"

Mendengar ucapan muridnya ini, hati Thian-tok menjadi semakin lemah dan diapun mengampuni muridnya itu.

Akan tetapi hatinya telah menjadi kecewa dan diapun tidak mau mengakui lagi muridnya, dan mengatakan bahwa kalau sekali lagi saling jumpa, dia tentu akan membunuh murid durhaka itu.

"Demikianlah,"

Thian-tok mengakhiri ceritanya.

"Selama belasan tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, hanya mendengar bahwa dia telah dijuluki orang Hek-eng-mo (Iblis Bayangan Hitam). Dan tadi, dia datang, menyelinap ke dalam kamar harta, mencuri Giok-liong kiam. Aku mendengar suara yang bukan seperti kalian, maka aku datang melihat dan tahu-tahu aku telah diserangnya. Dia memperoleh banyak kemajuan dan karena aku tadinya masih mengira bahwa kalian yang berada di dalam, aku lengah dan terkena pukulannya yang beracun. Akan tetapi, sebelum dia melarikan diri, akupun berhasil memukul dan melukainya. Dia lari hanya membawa pedang pusaka Giok-liong-kiam."

"Kurang ajar! Aku akan mengejar dan mencarinya, suhu!"

Siu Coan mengepal tinju.

"Benar, murid durhaka itu perlu dihajar!"

Kata pula Seng Bu marah. Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Jangan! Aku bahkan diam-diam merasa bangga bahwa dia menguasai pedang pusaka itu dengan cara yang demikian licik dan berani. Perbuatan itu patut kalian jadikan contoh. Orang harus licin dan cerdik untuk dapat maju di dunia ini, ha-ha-ha! Dan Koan Jit benar-benar membuat aku bangga. Pula, belum tentu kalian dapat menang menghadapinya. Dalam hal ilmu silat, kiranya kalian tidak perlu kalah, hanya mungkin kalah matang dalam latihan. Semua ilmuku telah kuberikan kepada kalian. Akan tetapi, dalam hal kelicikan dan kecurangan, kalian kalah jauh, apa lagi Seng Bu. Biarlah, pusaka Giok-liong-kiam itu biar berada di tangannya. Tentu saja kelak, kalau kalian sudah merasa mampu, kalian boleh coba-coba merampas dari tangannya. Ketahuilah, pusaka Giok-liong-kiam itu menjadi semacam ukuran kelihaian seseorang. Pemiliknya boleh mengangkat diri menjadi orang terpandai di dunia persilatan!"

"Omitohud..., kata-kata yang sungguh tidak baik untuk didengar dan ditaati..."

Suara ini halus seolah-olah di dekat mereka ada orang yang berbisik.

Hal ini amat mengejutkan hati Thian-tok dan dua orang muridnya.

Thian-tok segera maklum bahwa ada orang sakti yang datang, karena orang yang berada di luar guha dapat mendengarkan kata-katanya tadi dan dapat mengirim suara melalui ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) sedemikian lihainya, tentulah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa.

"Awas, di luar ada orang sakti. Mari kita sambut dia!"

Kata Thian-tok yang segera bangkit dan melangkah keluar dengan sikap tenang, dengan wajah tersenyum mengejek karena Kakek ini belum pernah merasa takut menghadapi lawan siapa saja di dunia ini.

Dua orang muridnya mengikuti dari belakang dengan hati tegang dan penuh pertanyaan dan dugaan.

Apakah Koan Jit datang kembali?

Mungkin saja murid pertama suhu mereka itu yang datang, karena memang orang itu memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi mengapa ada seruan omitohud yang biasa hanya keluar dari mulut para pendeta atau para umat Buddhis yang beribadat?

Agaknya tidak mungkin kalau toa-suheng mereka yang sudah tidak diakui itu menggunakan seruan seperti itu.

Ketika mereka tiba di luar, Siu Coan dan Seng Bu memandang heran.

Di depan guha itu telah berdiri seorang pendeta Hwesio yang tubuhnya gendut bulat, segendut da sebulat guru mereka.

Bahkan ada persamaan atau kemiripan wajah di antara dua orang Kakek itu, mirip sekali bentuk mata, hidung dan mulut pada muka yang sama-sama bundar itu.

Hanya perbedaannya, kalau kepala Thian-tok botak dan di belakangnya berambut, kepala Hwesio itu gundul plontos tanpa ada sedikitpun rambutnya dan kalau baju Thian-tok tidak pernah tertutup sehingga nampak bulu di dadanya, sebaliknya tubuh Hwesio itu tertutup rapat oleh jubah kuning, juga wajah Thiantok dihias kumis pendek tebal, sedangkan Hwesio itu sedikitpun tidak memelihara kumis.

Sejenak dua orang gendut itu saling pandang dan lucunya, keduanya sama-sama tersenyum lebar.

Hanya terdapat perbedaan dalam senyum itu.

Kalau senyum Thian-tok menyeringai dan membayangkan ejekan dan kesombongan, senyum Hwesio itu halus dan ramah dibayangi ketulusan hati.

"Ha-ha-ha-ha!"

Thian-tok akhirnya tertawa bergelak.

"Akhirnya ketemu juga! Akan tetapi kedatanganmu itu terlambat beberapa jam saja, Siauw-bin-hud!"

Hwesio yang disebut Siauw-bin-hud itu tertawa dan menoleh kepada pemuda berpakaian pemuda tani sederhana yang wajahnya membayangkan kesabaran.

"Ci Kong, inilah dia yang dujuluki orang Thian-tok, satu diantara empat orang datuk iblis yang dinamakan Empat Racun Dunia."

Kemudian Siauw-bin-hud menghadapi Thian-tok dengan senyum lebar.

"Heh-heh, Thian-tok, engkau pandai sekali menyembunyikan diri. Setelah yakin bahwa engkau lah orangnya yang duabelas tahun yang lalu merampas Giok-liong-kiam dengan mempergunakan nama pinceng, barulah pinceng memaksa diri mendatangi tempat ini. Thiantok, mengapa engkau melakukan perbuatan itu?"

"Ha-ha-ha, ketika itu aku hanya menggunduli rambut dan kumisku, memakai jubah kuning dan merobah sedikit alisku, mencoba-coba merasakan bagaimana kalau menjadi seorang Hwesio . Aku sama sekali tidak pernah mengaku bahwa aku adalah Siauw-bin-hud. Kalau kemudian orang menyangka aku Siauw-bin-hud, salah siapakah itu? Ha-ha-ha, dan sudah sepatutnya kalau engkau menjadi pusing karenanya. Ingatkah engkau pada empat puluh tahun yang lalu ketika engkau pernah mengalahkan aku dalam pertandingan selama hampir satu malam di puncak Thai-san?"

Siauw-bin-hud tersenyum lebar.

"Aihh, perlu apa mengingat-ingat masa lampau waktu kita masih gila-gilaan dan dikuasai nafsu untuk menang? Pinceng sekarang sudah tidak lagi haus kemenangan, Thian-tok. Akan tetapi karena orang menyangka pusaka itu pinceng rampas, maka pinceng terpaksa datang mengunjungimu dan minta agar engkau suka mengembalikan kepadaku untuk diserahkan kepada mereka yang berhak."

"Ha-ha, enak saja! Majulah dan kalahkan aku sekali lagi kalau engkau mampu!"

Siauw-bin-hud hanya tersenyum dan menggeleng kepala.

"Biarlah pinceng mengaku kalah."

"Kalau engkau kalah, berarti aku yang menang dan jagoan nomor satu sajalah yang berhak menguasai Giok-liong-kiam. Jadi, akulah yang menguasainya dan akulah yang patut disebut jagoan nomor satu di dunia, ha-ha-ha!"

"Omitohud! Heh-heh, Thian-tok, bagi pinceng sama sekali tidak berkeberatan kalau engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia atau di akhirat. Biar kau borong semua gelar dan julukan itu, ha-ha-ha!"

Sementara itu, Ci Kong yang menyaksikan pertemuan antara Kakek gurunya dan Kakek gendut itu, sejak tadi memandang penuh keheranan.

Memang mirip sekali dua orang Kakek itu satu sama lain, dengan kebiasaan yang sama pula, yaitu suka tersenyum lebar dan ketawa-ketawa.

Hanya bedanya, kalau senyum susiok-couwnya itu ramah dan tulus, sebaliknya senyum Kakek botak itu mengandung ejekan dan sinar matanya mengandung kekejaman.

Akan tetapi, diam-diam dia merasa kagum kepada dua orang pemuda yang muncul keluar bersama Thian-tok itu.

Mereka adalah dua orang pemuda yang nampak gagah dan sama sekali tidak membayangkan watak yang jahat.

"Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, kalau kau sudah mengaku kalah, pergilah dan jangan ganggu aku!"

Thian-tok berkata dan kini dua orang muridnya yang merasa heran.

Biasanya, tidak mungkin guru mereka itu membiarkan orang yang datang mengganggu pergi begitu saja dan menghabiskan perkara itu sampai di situ!

Dari sikap ini saja mereka dapat menduga bahwa suhu mereka itu merasa jerih terhadap Hwesio tua ini.

Hal itu membuat mereka merasa penasaran sekali.

"Thian-tok, pinceng tidak mau merebut keunggulan jagoan, akan tetapi pinceng sudah berjanji kepada para orang gagah untuk mencari perampas Giok-liong-kiam yang menyamar pinceng. Kalau engkau tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada pinceng untuk dikembalikan kepada yang berhak, marilah kau ikut pinceng ke Siauw-lim-si dan engkau menghadapi sendiri mereka yang menuntut dikembalikannya pusaka itu."

"Hua-ha-ha, enak saja kau membuang kentut, Hwesio busuk!"

Thian-tok tertawa bergelak dan memaki dengan nada mengejek sekali.

"Aku merampas pusaka itu menggunakan kepandaian dan kau hendak mengambilnya dariku hanya dengan menggunakan bujukan suara kentut busuk? Kalau engkau mampu mengalahkan aku, baru aku mau bicara tentang Giok-liongkiam, kalau engkau tidak berani melawanku, pergilah dan jangan perlihatkan lagi kepala gundulmu itu di sini!"

"Ha-ha-ha, Thian-tok, jangan seperti anak kecil yang memperebutkan mainan. Pinceng hanya ingin meluruskan perkara yang bengkok, bukan untuk memperebutkan sesuatu denganmu."

Siauw-bin-hud masih tertawa-tawa gembira, agaknya kata-kata yang menghina dari Thian-tok sama sekali tidak dirasakannya.

Ci Kong mengerutkan alisnya yang teba.

Hatinya sudah terasa panas sekali.

Dia seorang pemuda sederhana yang menerima gemblengan lahir batin dari Siauw-bin-hud selama enam tahun, juga wataknya bijaksana, sabar dan serius.

Akan tetapi, mendengar betapa susiok-couwnya yang amat dihormatinya itu kini dimaki-maki dengan kata-kata kotor oleh seorang datuk sesat, dia merasa penasaran sekali dan menganggap bahwa sikap susiok-couwnya terlalu lemah.

Orang yang begitu jahat seperti Thian-tok ini tidak perlu dikasih hati, pikirnya, karena makin lemah sikap kita, tentu akan makin diinjaknya.

"Heh-heh, Siauw-bin-hud, engkau mengaku kalah tanpa bertanding, mana mungkin itu? Kalau saja engkau mengaku bahwa engkau takut melawan aku, nah, baru aku mau bicara tanpa bertanding. Gundul busuk, kau berlututlah dan mengaku takut!"

Kata Thian-tok sambil menyeringai dengan sikap merendahkan sekali.

Anehnya, Siauw-bin-hud hanya tersenyum saja, dengan sinar mata penuh kesabaran seperti dewasa melihat tingkah seorang anak kecil yang nakal.

Akan tetapi, Ci Kong sudah cepat melangkah maju.

"Susiok-couw, segala sesuatu mempunyai batas. Orang ini terlalu menghina dan memandang rendah, biarlah saya yang mencoba-coba menghadapi dan menandingi ilmunya!"

Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba Ong Siu Coan sudah meloncat ke depan dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Ci Kong.

"Orang sombong, kalau engkau yang maju, tidak perlu suhu menghadapimu, akupun cukuplah. Sambut seranganku!"

Ong Siu Coan selain cerdik dan berwatak aneh, juga gagah perkasa dan melihat gurunya ditantang oleh pemuda yang menjadi cucu keponakan seperguruan Siauw-bin-hud, dia menjadi marah.

Juga dengan cerdik dia mendahului maju untuk menyenangkan hati gurunya karena perbuatannya itu tentu saja merupakan suatu kebaktian dan kesetiaan seorang murid yang baik.

Begitu mengeluarkan tantangan dan celaan terhadap Ci Kong yang dipandangnya rendah karena bagaimanapun juga, pemuda itu hanyalah cucu murid Siauw-bin-hud, tentu hanya merupakan seorang murid Siauw-lim-pai tingkat rendah saja, Siu Coan sudah mengirim serangan dengan dahsyatnya.

Begitu menyerang, dia telah mempergunakan sebuah jurus yang ampuh dari Ngoheng Kun-hoat dan tentu saja dia mengerahkan tenaga singkang dalam serangan itu sehingga pukulan tangan kirinya yang menyambar dari samping ke arah lambung lawan itu mengeluarkan angin keras.

"Hemmmm...!"

Ci Kong mengeluarkan suara menahan kemarahannya melihat betapa pemuda tinggi besar itu begitu saja menyerang dengan ganas.

Sebagai seorang murid terkasih Siauw-bin-hud yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat paling tinggi dari Siauw-lim-pai bahkan mewarisi ilmu-ilmu simpanan rahasia yang bahkan jarang ada tokoh Siauw-lim-pai menguasainya.

Ci Kong memiliki ketenangan yang luar biasa.

Sekali pandang sekelebatan saja, diapun sudah tahu bahwa serangan lawannya itu mengandung hawa maut dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Juga dia tidak dapat diikat perhatiannya oleh pukulan tangan kiri lawan yang menyambar lambungnya, maka sambil mengelak, dia tetap waspada.

(Lanjut ke

Jilid 09) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 09 Kewaspadaannya ini ternyata amat berguna karena belum juga pukulan tangan kiri Siu Coan itu terelakkan, tangan kanan Siu Coan sudah menyambar dengan lebih cepat dan lebih ganas dari pada gerakan tangan kiri dan yang diserang adalah pelipis kiri Ci Kong.

Kiranya inilah serangan intinya sedangkan sambaran tangan kiri tadi hanyalah pancingan atau gertakan saja.

Memang demikian sifat ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dirangkai oleh Thian-tok.

Serangan susul-menyusul dan sambung-menyambung sehingga sukar diketahui lawan mana serangan pancingan dan mana yang inti, karena kesemuanya nampak berbahaya, makin lama makin cepat.

Akan tetapi Ci Kong sudah tahu bahwa pukulan ke arah pelipis itulah serangan inti lawan, maka diapun menggerakkan tangan kirinya, dengan gerakan berputar dari bawah lengan kirinya menangkis.

"Dukkk...!"

Keduanya terkejut karena begitu dua lengan bertemu, tubuh mereka tergetar dan tiba-tiba tangan kiri Siu Coan pada detik berikutnya sudah menyambar dengan dorongan ke arah ulu hati lawan.

Serangan susulan yang amat berbahaya!

Akan tetapi Ci Kong juga memapakinya dengan tangan kirinya.

Dua telapak tangan kiri itu saling dorong dan bertemu di udara.

"Plakk!!"

Keduanya terdorong ke belakang sampai tiga langkah dan sama-sama memandang dengan sinar mata kagum karena dari pertemuan telapak tangan itu saja mereka dapat mengetahui betapa kuatnya tenaga dari lawan masing-masing.

"Heh-heh, Ci Kong, apa gunanya bersitegang dan berkelahi seperti anak kecil? Mundurlah."

Tiba-tiba terdengar suara halus Siauw-bin-hud dan mendengar suara susiok couwnya ini, Ci Kong mundur walaupun pada saat itu, Siu Coan sudah menyerangnya lagi!

Melihat betapa lawannya mundur dan Kakek gendut dari Siauw-lim-pai itu kini melangkah maju, Siu Coan yang sudah menyerang lagi tidak mau menarik kembali pukulannya.

Bahkan pemuda yang cerdik ini memperoleh kesempatan untuk menguji kepandaian Siuw-bin-hud, Kakek yang menjadi tokoh penuh rahasia dari Siauw-lim-pai itu, yang menurut gurunya merupakan seorang tokoh sakti yang sukar dicari tandingannya.

Dia merasa penasaran dan ingin menguji sendiri Siauw-bin-hud.

Akan tetapi, kalau tidak ada kesempatan yang baik, tentu dia tidak berani.

Sekarang, dia sedang melakukan serangan yang tadinya ditujukan kepada pemuda cucu murid pendeta itu.

Kalau pemuda yang diserangnya itu menyingkir dan mundur, sedangkan Kakek gendut itu maju, Maka serangannya yang dilanjutkan akan mengarah si pendeta dan hal ini tidak dapat dikatakan bahwa dia berani lancang menyerang tokoh Siauw-lim-pai itu!

Maka, dia tidak menahan atau menarik kembali serangannya, bahkan mengerahkan seluruh tenaganya dan serangannya itu diluncurkan dengan persiapan menyambungnya dengan pukulan-pukulan lain yang paling hebat dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat!

Kombinasi pukulan tiga kali berturut-turut secara cepat lagi dilancarkan oleh Siu Coan ke arah tubuh gendut itu.

Pertama ke arah leher, ke dua ke arah lambung dan ke tiga kalinya ke arah dada.

Cepat sekali dan mengandung tenaga sepenuhnya.

Demikian cepatnya tiga pukulan berantai itu sehingga jatuhnya hampir berbareng, sekali dengan tangan kiri dan dua kali dengan tangan kanan.

"Buk! Buk! Buk!"

Tiga kali pukulan itu mengenai sasaran dengan tepatnya, akan tetapi akibatnya sungguh aneh.

Ong Siu Coan terkulai dan tentu sudah roboh kalau lengannya tidak cepat disambar oleh sutenya, Gan Seng Bu.

Ketika tiga kali pukulan tadi mengenai leher, lambung dan dada Kakek gendut itu, Siauw-bin-hud sama sekali tidak mengelak dan Siu Coan merasa betapa pukulan-pukulannya seperti mengenai benda yang amat lunak, dingin dan yang mengandung daya serap, menyedot semua tenaga singkang yang terkandung dalam semua pukulannya.

Dan seketika kaki tangannya terasa lemas dan lumpuh sehingga dia hampir terguling roboh kalau tidak disambar oleh sutenya.

Dia cepat melangkah mundur dan memandang kepada Kakek pendeta Siauw-lim-pai itu dengan mata terbelalak.

"Ha-ha-ha, Thian-tok, engkau mempunyai murid-murid yang amat lihai."

Siauw-bin-hud berkata, ucapannya itu sama sekali bukan merupakan ejekan karena Kakek ini tahu benar betapa lihainya pemuda tinggi besar yang menyerangnya tadi.

Dia bisa menderita malu kalau menghadapi pemuda itu dengan kekerasan pula, dan diapun tahu bahwa biarpun cucu muridnya mungkin tidak kalah, akan tetapi untuk dapat memenangkan pemuda murid Thian-tok itupun bukan merupakan hal yang mudah.

Yang paling mengagumkan hatinya adalah sinar mata Siu Coan, begitu mengandung kecerdikan dan keanehan sehingga pemuda itu memang patut menjadi murid seorang sakti aneh seperti seorang di antara Empat Racun Dunia itu.

"Ha-ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, tak perlu kau mengejek. Tentu saja murid-muridku masih belum cukup matang untuk melawan tua bangka bangkotan seperti engkau, akan tetapi mari kita yang tua sama tua mencoba kepandaian masing-masing. Kalau engkau tidak mampu menang dariku, bukan saja engkau tidak akan mendengar dariku tentang pusaka Giok-liong-kiam, bahkan aku akan membunuhmu dan membunuh muridmu ini! Akan tetapi kalau aku kalah, aku mau bicara tentang Giok-liong-kiam!"

Tentu saja Ci Kong semakin marah mendengar ucapan dan melihat sikap Thian-tok.

Di mana ada orang menggunakan aturan yang demikian boceng-li, mau menang sendiri dan mau enaknya sendiri saja?

Terhadap orang macam ini, yang lebih mendekati gila dari pada sekedar jahat, perlu dipergunakan kekerasan untuk menghajarnya.

Akan tetapi, pemuda itu tentu saja tidak berani berbuat atau berkata dengan lancang tanpa ijin dari susiok-couwnya yang kini hanya tersenyum lebar saja menghadapi tantangan Thian-tok.

"Omitohud... Thian-tok, sejak puluhan tahun engkau selalu haus kemenangan, haus darah. Apakah sampai mati engkau akan selalu kehausan seperti ini? Sungguh kasihan sekali!"

Siauw-bin-hud berkata sambil menggeleng-geleng kepala dan senyumnya amat ramah, mengandung bayangan iba.

Ucapan ini oleh Thian-tok yang selalu berprasangka buruk itu dianggap sebagai penghinaan dan memandang rendah.

Mukanya menjadi merah walaupun senyumnya masih lebar, senyum menyeringai dan tiba-tiba dia mengeluarkan mangkok dan guci araknya.

Dituangkannya arak ke dalam mangkok sampai penuh, lalu diminumnya dengan sepasang matanya masih terus menatap wajah Siauw-bin-hud.

Dua orang muridnya yang sudah mengenal Kakek ini diam-diam menjadi tegang.

Kalau gurunya sudah bersikap seperti itu, minum arak seperti itu, maka hanya ada dua hal terjadi dalam batin gurunya.

Terlalu gembira atau terlalu marah, dan agaknya kini gurunya itu telah marah sekali.

Setelah menghabiskan tiga mangkok arak, Thian-tok menggantungkan kembali mangkok dan ciu-ouw di pinggangnya, lalu terkekeh.

Suara ketawanya tadinya terdengar ketawa biasa saja, akan tetapi makin lama suara itu makin meninggi sampai seperti ringkik kuda, dan makin tinggi lagi melengking-lengking.

Tentu saja Ci Kong menjadi terkejut bukan main, apa lagi ketika suara itu jelas mengandung tenaga khikang kuat yang menyerang dia dan susiok-couwnya.

Dia melihat betapa Siauw-bin-hud masih tersenyum saja.

Akan tetapi dia sendiri cepat-cepat mengerahkan singkang untuk menjaga diri, karena dia tahu bahwa kalau dia tidak membela diri, mungkin dia akan terkena serangan melalui suara itu dan terluka.

Suara itu adalah ilmu Sin-houw Ho-kang yang amat berbahaya.

Diciptakan oleh Thian-tok meniru suara harimau.

Seekor binatang harimau yang menjadi raja hutan, menundukkan lawan atau korbannya cukup dengan suaranya saja.

Harimau yang mengeluarkan suara gerengan itu mengandung tenaga yang menggetarkan jantung, dapat membuat lawannya lumpuh dan ketakutan sehingga tanpa dikejar sekalipun sudah akan roboh di depan kakinya.

Suara inilah, dengan kekuatan getarannya, yang ditiru oleh Thian-tok, Disesuaikan dengan suara yang dapat keluar dari perutnya melalui tenggorokannya, dan dibandingkan dengan suara harimau aseli, maka Sin-houw Ho-kang ini jauh lebih hebat dan lebih berbahaya lagi.

Hanya dengan pengerahan sinkangnya, Ci Kong dapat menghadapi serangan suara itu sambil berdiri tegak dan mengatur pernapasan.

Akan tetapi, Siauw-bin-hud masih tersenyum enak-enak saja, seolah-olah suara itu tidak mempengaruhinya sama sekali.

Hanya kedua matanya saja yang bersinar lembut itu menentang pandang mata Thian-tok yang melotot.

Melihat sikap Siauw-bin-hud yang seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh serangannya, tentu saja Thian-tok menjadi penasaran.

Di antara Empat Racun Dunia, dia terkenal sekali dengan Sinhouw Ho-kangnya, bahkan datuk iblis yang lain tidak berani memandang rendah.

Pemuda Siauw-lim-pai itupun sudah harus mengerahkan sinkang untuk melawan suaranya.

Akan tetapi kenapa Siauw-bin-hud enak-enak saja?

Sikap enak-enakan itu merupakan tamparan baginya, seolah-olah menunjukkan bahwa Sin-houw Ho-kang yang dipergunakannya untuk menyerang itu bagi Siauw-bin-hud hanya nyanyian yang merdu saja.

Dia lalu mengerahkan tenaga khikang lebih kuat lagi sehingga suaranya itu kini melengking semakin tinggi sampai seperti suara nyamuk-nyamuk berterbangan.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, daya serangan menjadi semakin kuat sehingga Ci Kong yang lihai itupun terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan bahkan memejamkan mata untuk memusatkan tenaga.

Akan tetapi, Siauw-bin-hud tetap saja tersenyum lebar, bahkan kadang-kadang terkekeh lirih.

Justeru dalam suara kekehnya inilah terletak kekuatan yang dapat menolak serangan suara Sin-houw Ho-kang itu!

Agaknya bukan hanya Thian-tok yang menjadi penasaran, juga Siu Coan mengerutkan alisnya.

Dia biasanya amat menyombongkan Ilmu Sin-houw Ho-kang ini dan sekarang suhunya sudah mengerahkan tenaga sekuatnya, belum juga mampu mengalahkan atau setidaknya membuat Siauw-bin-hud kerepotan.

Maka tiba-tiba diapun mengeluarkan suara melengking yang disusul pula oleh Seng Bu dalam usaha dua orang murid itu untuk membantu guru mereka!

Kini ada tiga suara yang mengandung Sin-houw Ho-kang yang menyerang ke arah Siauw-bin-hud dan Ci Kong!

Ci Kong merasa terkejut bukan main.

Serangan tambahan dari dua orang pemuda itu sungguh tidak boleh dibuat main-main.

Kekuatan yang terkandung dalam lengkingan suara mereka itu tidak selisih banyak dengan kekuatan suara Thian-tok, dan karena dua orang pemuda itu menggabungkan suara mereka, maka kekuatan suara gabungan itu bahkan lebih kuat lagi dari pada suara Thian-tok.

Ci Kong merasa betapa tubuhnya menggigil dan cepat dia lalu duduk bersila dan mengerahkan semua tenaganya.

Baru setelah dia duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya, dia mampu menahan serangan getaran tiga suara yang bergabung itu!

Dan kini, senyum Siauw-bin-hud makin melebar dan mulai terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya.

Suara ini demikian kuatnya sehingga tiga orang penyerang itu merasa betapa suara mereka terpukul membalik, membuat mereka terkejut sekali.

Akan tetapi Thian-tok masih berkeras mengerahkan tenaganya.

"Thian-tok, engkau sedang menderita luka, apakah engkau mau bunug diri?"

Tiba-tiba terdengar Siauw-bin-hud berkata, suaranya lembut, akan tetapi aneh karena dalam kelembutan itu terkandung kekuatan dahsyat sekali yang serentak membuyarkan kekuatan Sin-houw Ho-kang dari tiga orang penyerang itu!

Thian-tok menghentikan serangan suaranya dan mukanya menjadi agak pucat.

Dua orang muridnya terpaksa menghentikan pula suara mereka dan didahi dan leher mereka nampak butiran-butiran keringat yang besar-besar dan dingin.

Kalau dilanjutkan melawan suara Kakek Siauw-lim-pai itu, yang membuat suara mereka sendiri membalik, mereka akan dapat menderita luka parah sekali oleh tenaga khikang mereka sendiri yang memukul balik!

"Hemm, aku masih belum kalah, Siauw-bin-hud.

Coba kau sambut seranganku dan kau kalahkan aku kalau bisa!"

Berkata demikian, Kakek gendut itu kini sudah menerjang ke depan, menyerang Siauw-bin-hud kalang kabut. Angin pukulan dahsyat menyambar-nyambar dengan hebatnya dan Siauw-bin-hud mengeluh.

"Omitohud, engkau menderita masih nekat, Thian-tok?"

Siauw-bin-hud juga menggerakkan tubuhnya, mengelak sambil mengebut-ngebutkan ujung lengan bajunya untuk menangkis.

Kakek ini tidak pernah membalas, akan tetapi semua serangan Thian-tok yang amat hebat itu dielakkannya saja sambil kadang-kadang ditangkis dengan ujung lengan baju.

Thiantok adalah seorang tokoh besar, seorang datuk iblis yang sudah mematangkan ilmunya selama puluhan tahun ini, semenjak kalah oleh Siauw-bin-hud, maka ilmu kepandaiannya meningkat banyak sekali.

Siauw-bin-hud maklum akan hal ini, akan tetapi Kakek yang batinnya penuh dengan welas asih ini, selain tidak suka memukul orang, juga merasa amat kasihan kepada Thian-tok yang dia tahu sedang menderita luka cukup parah di sebelah dalam tubuhnya.

Dan memang benarlah.

Pertemuannya dengan bekas muridnya yang murtad, yaitu Koan Jit, yang memukulnya dengan tiba-tiba sehingga Kakek itu terluka, membuat tenaganya banyak berkurang, bahkan kalau dia terlalu mengerahkan tenaga dalam, amat membahayakan diri sendiri.

Karena merasa kasihan inilah, maka Siauw-bin-hud hanya mengelak dan menangkis saja atas semua desakan Thian-tok yang mempergunakan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hong Kun-hoat yang amat diandalkannya itu.

Selama puluhan tahun dia menyempurnakan ilmu ini dan selama ini belum pernah menemui tandingan.

Ci Kong memandang penuh kekhawatiran karena pemuda inipun dapat melihat betapa hebatnya serangan-serangan Thian-tok dan betapa susiok couwnya hanya mengelak dan menangkis saja dengan sikap amat mengalah.

Kakek gurunya itu sudah amat tua, dan betapapun sakti dan tinggi ilmunya, usia tua membuat tubuh itu tentu saja ringkih.

Mana mungkin Kakek itu dapat bertahan terus menghadapi serangan dengan ilmu sedahsyat itu kalau hanya mengelak dan menangkis saja tanpa membalas sama sekali.?

Siu Coan dan Seng Bu juga menjadi penonton yang memandang penuh kagum.

Mereka berdua maklum bahwa biarpun mereka sudah berlatih dengan amat tekun, mereka masih belum mampu menandingi suhu mereka dalam Ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.

Dimainkan oleh Thian-tok, ilmu silat itu benar-benar amat berbahaya dan lihai sekali.

Akan tetapi, yang membuat mereka melongo penuh kekaguman adalah ketika mereka melihat betapa Kakek gendut dari Siauw-lim-pai itu selalu dapat menghindarkan diri dari setiap jurus serangan Thian-tok, Hanya dengan mengelak dan mengebut menggunakan ujung lengan baju, sama sekali tidak pernah membalas padahal kalau Kakek Siauw-lim-pai itu menghendaki, dua orang pemuda ini maklum bahwa Kakek itu sanggup dan tentu balasannya akan lebih hebat lagi.

Diam-diam Gan Seng Bu merasa penasaran.

Pemuda ini berjiwa gagah dan berwatak adil.

Dia merasa tidak senang melihat gurunya terus-terusan menyerang sedangkan lawannya yang sama sekali tidak kalah lihai itu sama sekali tidak pernah membalas.

Ini merupakan perkelahian yang dalam anggapannya sama sekali tidak adil.

Dan Siu Coan yang tidak memikirkan lain kecuali kemenangan untuk suhunya, juga kagum terhadap Kakek Siauw-lim-pai itu.

Akan tetapi diapun tidak berani turun tangan membantu suhunya tanpa perintah suhunya itu.

Dia cukup mengenal watak Thian-tok yang aneh.

Biarpun Thian-tok seorang yang tidak segan melakukan segala macam kekejaman, kecurangan dan kejahatan, namun sebagai seorang datuk iblis tingkat atas, Kakek itu memiliki keangkuhan dan tentu akan merasa terhina dan marah besar kalau muridnya membantunya dalam suatu perkelahian tanpa perintahnya.

Pengeroyokan merupakan hal yang amat merendahkan bagi seorang datuk besar seperti Thian-tok.

Oleh karena itu, biarpun suhunya belum juga mampu mengalahkan Kakek yang sama sekali tidak pernah membalas itu, Siu Coan juga hanya menonton saja.

Diam-diam dia menyayangkan, karena kalau sekali saja suhunya memberi perintah, dan dia maju bersama sutenya, tentu Kakek Siauw-lim-pai dan cucu muridnya itu akan dapat dibunuh dengan mudah.

Sementara itu, Thian-tok merasa makin penasaran.

Siauw-bin-hud sekarang, tidak seperti empat puluh tahun yang lalu, menghadapinya tanpa membalas dan sudah lewat lima puluh jurus, belum juga dia mampu menyentuh tubuh Kakek itu, apa lagi merobohkan!

Padahal, Siauw-bin-hud sama sekali tidak pernah membalasnya.

Empat puluh tahun yang lalu, setelah melalui perkelahian mati-matian selama belasan jam, baru Siauw-bin-hud mampu mengalahkannya, akan tetapi Siauw-bin-hud ketika itu balas menyerang, tidak seperti sekarang ini, sama sekali tidak membalas dan hanya mengelak dan menangkis saja.

Sungguh tak mungkin dia dapat menerimanya, bahkan sukar mempercayanya.

Maka, tanpa memperdulikan luka yang dideritanya akibat pukulan bekas muridnya, Kakek gendut ini menyerang terus mati-matian.

Dia tahu bahwa dengan lukanya, dia sama sekali tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Hal ini akan membuat luka pukulan beracun bekas muridnya itu menjadi semakin parah.

Akan tetapi, Thiantok memiliki watak yang angkuh dan kepala batu, maka dia tidak memperdulikan diri sendiri dan terus menyerang dengan maksud mengalahkan, kalau mungkin membunuh.

Sepasang matanya sudah merah, mulutnya masih tersenyum, menyeringai menyeramkan karena dalam senyum ini terbayang nafsu membunuh!

Dia tidak perduli bahwa lawannya tidak pernah membalas, dan hal ini malah dianggap amat menguntungkan, memberi kesempatan sebanyaknya kepadanya untuk menang.

Sikap Siauw-bin-hud yang mengalah itu dianggap suatu kebodohan, ketololan lawan yang menguntungkan dirinya!

"Aagghhhh...!"

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerangan rendah yang menggetarkan tanah sekitar tempat itu, seperti seekor raja hutan menggereng dengan dahsyatnya dan sambil mengeluarkan suara gerengan itu, Thian-tok menubruk ke depan, kedua tangannya mendorong ke arah dada Siauw-bin-hud sambil mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada dirinya.

Agaknya Thian-tok sekali ini mengeluarkan segalanya untuk merobohkan lawan.

"Omitohud... kau menyiksa dirimu sendiri"

Siauw-bin-hud berseru dan Hwesio gendut ini tidak sempat mengelak lagi, terpaksa mengulur kedua tangannya menyambut.

Siauw bin-hud yang berhati penuh welas asih itu tidak mengerahkan tenaga keras, melainkan menggunakan kelembutan menerima serangan dahsyat dari lawan.

"Plakkk...!"

Tubuh Siauw-bin-hud terlempar ke belakang dan diterima oleh Ci Kong dengan lembut.

Tubuh Thian-tok tetap berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang lebar, dan dia tertawa bergelak, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berganti suara muntah-muntah dan dari mulutnya tersembur keluar darah segar, lalu diapun terjungkal!

Dua orang muridnya cepat melompat dan membantunya bangkit duduk, kemudian Thian-tok cepat bersila dan mengatur pernapasannya yang memburu.

Dia terluka semakin hebat oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Sementara itu, Siauw-bin-hud ternyata tidak apa-apa, hanya mukanya saja berobah agak pucat dan nampak Kakek ini lelah sekali.

Seperti juga Thian-tok, dia duduk bersila memejamkan mata dan pernapasannya berjalan dengan lembut dan panjang.

Ong Siu Coan merasa penasaran dan tersinggung sekali karena gurunya jelas mengalami kerugian atau kekalahan dari Kakek Siauw-lim-pai.

Dia memang licik.

Melihat betapa Kakek yang sakti dari Siauw-lim-pai itu agaknya juga terluka atau setidaknya kehabisan tenaga, diapun meloncat ke depan menantang.

"Orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong! Kalian datang untuk mengganggu kami, majulah dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"

Mendengar tantangan murid Thian-tok ini, Ci Kong bangkit berdiri dari samping suhunya.

Ingin dia menyambut tantangan itu, dan biarpun dia tahu bahwa kau m sesat tidak segan untuk berbuat curang dan mengeroyok, namun pemuda perkasa ini tidak merasa gentar.

Yang membuat dia tidak enak adalah susiok-couwnya.

Tanpa ijin Kakek itu, tentu saja dia tidak berani sembarangan turun tangan.

Maka, biarpun dia sudah berdiri menghadapi Siu Coan, dia menoleh kepada Kakek gurunya yang masih duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Agaknya, tanpa membuka matanya, Siauw-bin-hud maklum akan keraguan cucu murid itu.

Diapun menggerakkan bibirnya dan biarpun tidak ada suara keluar dari mulutnya, namun Ci Kong mendengar bisikan di dekat telinganya.

"Ingat, kita datang bukan untuk mencari permusuhan. Serahkan saja kepada pinceng dan jangan ikut mencampuri urusan ini."

Mendengar bisikan ini, Ci Kong menarik napas panjang untuk mencairkan kebekuan di dalam batinnya karena penasaran tadi, dan diapun duduk kembali bersila di belakang susiokcouwnya.

Melihat ini, Siu Coan tertawa bergelak dengan sikap menghina.

"Ha-ha-ha, setelah tua bangka itu luka dan lelah, engkau kehilangan nyali?"

Itulah penghinaan yang hebat bagi seorang gagah.

Setiap orang pendekar pantang untuk merasa takut, dan makian bahwa dia kehilangan nyali merupakan penghinaan yang sukar dapat ditahan.

Dan ini merupakan ujian berat bagi Ci Kong.

Pemuda ini hanya menundukkan mukanya yang sebentar merah dan sebentar pucat menahan kemarahan yang berkobar di dalam dada.

"Hemm, kalau kalian diam saja, biarlah aku yang turun tangan, menyelesaikan pekerjaan suhu yang kepalang tanggung tadi. Aku akan bunuh kalian!"

Su Coan berkata lagi dan Seng Bu hanya memandang bingung.

Di dalam hatinya dia tidak setuju dengan sikap suhengnya itu.

Akan tetapi dia juga merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap membela musuh!

Maka, pemuda ini hanya diam saja dan memandang dengan mata terbelalak penuh ketegangan.

Ong Siu Coan sudah melangkah maju, siap untuk menyerang Kakek gendut itu.

Diapun dapat menduga bahwa Kakek itu sakti sekali, biarpun nampak lelah akan tetapi harus dihadapi dengan amat hati-hati.

"Siu Coan, mundurlah!"

Tiba-tiba terdengar suara Thian-tok. Siu Coan terkejut sekali dan diapun mundur lagi, tidak berani menentang perintah gurunya. Lalu terdengar Thian-tok tertawa.

"Heh-heh-heh, anak bodoh. Aku sendiri saja tidak mampu menandinginya, apa engkau kepingin mampus, berani mencoba untuk menyerangnya?"

"Suhu, untuk membela suhu, aku berani menghadapi kematian!"

Kata Siu Coan dengan sikap gagah. Kembali Thian-tok tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, gagah-gagahan apa untungnya? Mundur dan jangan mencampuri urusanku dengan Siauw-bin-hud. Eh, Siauw-bin-hud, aku tidak perlu malu mengatakan bahwa sekali inipun aku belum mampu menandingimu. Nah, aku memenuhi janjiku tadi. Mari kita bicara tentang Giok-liong-kiam. Apa kehendakmu mengenai pusaka itu?"

"Ha-ha, engkau bersikap baik sekali, Thian-tok. Pinceng tidak tamak dan tidak butuh pusaka. Akan tetapi karena engkau merampas pusaka itu mempergunakan nama pinceng, atau setidaknya semua orang menyangka pinceng yang merampasnya, maka pinceng ingin membersihkan suasana. Serahkan pusaka itu kepada pinceng agar dapat pinceng kembalikan kepada yang berhak."

"Siapa yang berhak?"

"Karena pusaka itu dicuri orang dari pusat Thian-te-pai, maka tentu saja akan pinceng kembalikan kepada mereka."

"Uhh, tolol kalau kau kembalikan kepada mereka! Yang berhak memiliki pusaka itu adalah orang yang paling sakti di dunia ini. Siapa yang mampu memilikinya, dialah yang berhak menjadi pemiliknya."

"Ha-ha-ha, tidak ada gunanya berdebat tentang pendapat, Thian-tok. Serahkan pusaka itu dan pinceng akan pergi."

"Heh-heh, takkusangka engkau sebodoh ini, Siauw-bin-hud. Ketika engkau baru datang tadi, sudah kukatakan bahwa kedatanganmu terlambat. Baru pagi tadi pusaka itu hilang dari tanganku."

"Omitohud...! Hilang lagi?"

"Bekas muridku yang amat pandai, mungkin lebih pandai dari pada aku sendiri, bernama Koan Jit, tadi datang dan mengambil pusaka itu. Kalau saja dia tidak lebih dulu datang dan melukai aku dengan pukulannya yang beracun, belum tentu sekarang aku sudah menyerah kalah padamu!"

"Omitohud...! Muridmu sendiri yang merampasnya dan memukulmu? Hemm, dia bernama Koan Jit? Dimanakah tempat tinggalnya?"

"Ha-ha-ha-ha, Siauw-bin-hud. Engkau seperti nenek-nenek bawel saja dalam bertanya. Di mana dia? Mana aku tahu? Cari saja sendiri, nama Hek-eng-mo tidak sukar untuk dikenal."

Siauw-bin-hud mengangguk-angguk.

"Hek-eng-mo...hemmm, terima kasih, Thiantok, selamat tinggal."

Kakek gendut itu sambil tersenyum lalu menjura ke arah Kakek gendut lainnya yang masih duduk bersila, kemudian memberi isyarat kepada Ci Kong untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Dua orang murid Thian-tok tidak berani mengganggu dan hanya mengikuti gerakan dua orang itu dengan pandang mata sampai mereka lenyap di sebuah tikungan.

Setelah dua orang itu pergi, Thian-tok memandang kepada dua orang muridnya.

Mulutnya masih menyeringai, akan tetapi sekarang nampak bahwa Kakek ini menderita kesakitan yang ditahan-tahan sejak tadi.

"Siu Coan dan Seng Bu, mulai hari ini kalian boleh turun gunung dan berpencar. Kalian kuberi tugas untuk mewakili aku, mencari Koan Jit dan berusaha merampas kembali Giok-liongkiam sebelum keduluan orang lain. Hati-hati, setelah kini Siauw-bin-hud tahu, tentu tugas kalian akan menjadi semakin berat karena akan terdapat banyak saingan. Siapa di antara kalian yang berhasil membawa Giok-liong-kiam kepadaku, akan kuwarisi ilmu pedang yang cocok untuk dimainkan dengan Giok-liong-kiam dan dia yang akan menjadi pemilik Giok-liong-kiam. Nah, pergilah kalian, aku harus mengaso dan bertapa lagi untuk mengobati lukaku."

"Tapi, suhu. Ke manakah aku harus mencari suheng Koan Jit itu?"

Siu Coan bertanya.

"Ha-ha, kalau engkau pintar, tidak akan sukar mencari murid murtad itu. Julukannya Hek-eng-mo, dia haus akan kedudukan, ingin menjadi jago nomor satu di dunia, dan aku sendiri tidak tahu di mana tempat tinggalnya. Akan tetapi ada dua hal yang patut kau ingat dan selidiki. Dia sahabat baik pai-cu (ketua) dari perkumpulan wanita Ang-hong-pai, dan dia musuh besar perkumpulan Thian-te-pai. Agaknya karena permusuhannya itulah yang membuat dia ingin memiliki Giok-liong-kiam yang pernah menjadi pusaka Thian-te-pai. Sudahlah, aku tidak tahu apa-apa lagi. Kalian pergi dan selidiki sendiri."

Dua orang pemuda itu saling pandang ketika guru mereka sudah kembali lagi ke dalam guha dan tidak mau keluar lagi.

Mereka berpamit dari luar kamar dalam guha tanpa dijawab oleh Thian-tok dan akhirnya keduanya meninggalkan guha di sebuah puncak Pegunungan Thai-san itu.

Mereka menuruni puncak bersama.

Seng Bu menggendong sebuah buntalan pakaian yang kecil, hanya terisi beberapa potong pakaiannya.

Sebaliknya, Siu Coan membawa bungkusan yang agak besar karena selain pakaiannya, juga diam-diam pemuda ini mengambil beberapa barang berharga dari dalam guha untuk bekal.

Pemuda yang cerdik ini tahu bahwa perjalanan jauh membutuhkan banyak biaya, maka diam-diam dia mengambil beberapa puluh tail emas dari simpanan gurunya.

Hal ini tanpa setahu gurunya.

Karena andaikata Thian-tok tahu sekalipun, dia tidak akan marah, bahkan merasa bangga kalau muridnya itu pandai mencuri, satu di antara ciri kejahatan orang sesat.

Setelah tiba di jalan simpangan, Siu Coan berkata.

"Sute, kita berpisah, karena kalau berpisah akan lebih mudah bagi kita untuk mencari jejak suheng Koan Jit. Apakah engkau telah membawa bekal, sute?"

Tanya Siu Coan sambil memandang buntalan di punggung sutenya, buntalan yang kecil itu. Seng Bu mengangguk.

"Semua pakaianku sudah kubawa, suheng."

"Bukan itu maksudku. Apa kau kira pakaian saja sudah cukup? Engkau butuh makan, dan mungkin butuh perahu atau kuda, semua itu membutuhkan uang. Apa engkau sudah membawa uang?"

"Uang...?"

Seng Bu bertanya dengan muka bodoh.

Maklumlah, sejak kecil Seng Bu menjadi yatim piatu dan gelandangan sampai bertemu dengan Thian-tok dan diambil murid dan sampai sudah dewasa itu dia tidak pernah mempergunakan uang, tidak pernah membeli apa-apa dan juga tidak memperhatikan soal harta benda, berbeda dengan Siu Coan yang banyak bertanya dan banyak melihat.

Bahkan dalam hal ilmu baca-tulis, Seng Bu kalah jauh dibandingkan dengan Siu Coan.

Siu Coan tertawa melihat kebodohan sutenya.

"Aih, sute. Tentu saja uang, atau barang berharga yang dapat dipakai untuk membeli kebutuhan dalam perjalananmu. Nih, aku sudah menduga bahwa engkau tentu tidak membawa bekal, terimalah ini untuk bekal."

Seng Bu menerima belasan tail emas dari suhengnya dengan perasaan berterima kasih.

Baru dia teringat bahwa kehidupan di tempat ramai membutuhkan uang dan diapun teringat akan keadaannya di waktu dahulu, sampai seringkali kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.

"Terima kasih, suheng. Engkau baik sekali."

Kembali Siu Coan tersenyum.

"Sute, setelah kita berpisah di sini, ke manakah engkau akan pergi dan apa tujuanmu? Ke mana engkau hendak mencari Koan Jit?"

Seng Bu menggeleng kepala.

"Entahlah, suheng. Terus terang saja, aku tidak tertarik untuk mencarinya dan merampas pedang pusaka itu. Aku akan merantau dan mungkin mencari pekerjaan, dan tentu saja aku akan mencoba melanjutkan pekerjaan orang tua dahulu, yaitu berburu."

Siu Coan tertawa bergelak. Setelah kini bebas bersama sutenya, watak guru mereka yang suka tertawa agaknya menurun kepadanya.

"Aihh, sute. Berburu binatang? Lalu apa artinya sampai bertahun-tahun dengan susah payah engkau mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari Suhu?"

"Tentu saja kalau ada orang jahat menindas yang lemah, aku akan bangkit melindungi dan membela yang lemah, menentang si jahat yang sewenang-wenang! Bagaimana dengan engkau, suheng?"

Kembali Siu Coan tertawa geli.

"Aihh, engkau dengan cita-citamu yang muluk. Ingin menjadi pendekar, ya? Pendekar murid Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang justeru menjadi datuk-datuk kau m sesat. Alangkah lucunya dan siapa mau percaya padamu, Sute?"

"Suheng,"

Kata Seng Bu dengan wajah serius.

"Aku belajar dari suhu Thian-tok adalah untuk belajar ilmu silat, bukan untuk mempelajari perbuatan jahat. Dan kalau aku dapat melakukan kebaikan dan kegagahan, sedikitnya nama suhu akan terangkat dan siapa tahu dapat mencuci dan membersihkan namanya. Hanya itulah yang dapat kulakukan untuk membalas budi suhu. Dan engkau sendiri, suheng?"

"Aku tentu saja akan mencari Koan Jit dan merampas pusaka itu. Pula, aku tetap akan melanjutkan cita-cita para patriot. Aku akan mencari kawan-kawan, aku akan berjuang menentang pemerintah penjajah asing!"

Dengan sikap gagah dan sungguh-sungguh Siu Coan berdiri tegak dengan muka menengadah dan kedua tangan dikepal. Sutenya memandang kagum dan mengangguk-angguk.

"Kelak kalau engkau sudah berjuang dengan pasukanmu, aku akan membantumu, suheng. Aku juga menghargai perjuangan para patriot menentang penindasan orang-orang Mancu."

"Baik, sute, dan selamat berpisah. Kita mengambil jalan sendiri-sendiri dan mudah-mudahan kita akan dapat berjumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik, sute."

Dua orang pemuda itupun saling pegang pundak, lalu saling memberi hormat dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, Siauw-bin-hud serta Ci Kong kembali ke Siauw-lim-si karena waktunya telah tiba bagi para tokoh yang datang enam tahun yang lalu untuk berkumpul di Siauw-lim-si seperti yang telah dijanjikan oleh Kakek gendut itu.

Di sepanjang perjalanan, Kakek dan pemuda itu mendengar betapa pergerakan orang-orang yang menentang pemerintah makin menjadi-jadi, betapa kekacauan timbul di mana-mana, terutama sekali karena ulah orang-orang kulit putih yang menyebarkan candu.

Makin terasalah pengaruh racun madat di antara rakyat, dan walaupun yang terkena sebagian besar adalah orang-orang hartawan dan bangsawan, namun keguncangan-keguncangan terjadi karena harta benda penduduk dihisap dan ditukar dengan benda yang beracun dan amat berbahaya itu.

Diam-diam Siauw-bin-hud merasa prihatin sekali, oleh karena itu setelah tiba di kuil Siauw-lim-si, dia cepat berunding dengan para pimpinan kuil dan juga dengan Ci Kong.

"Ci Kong, pinceng dan para suhu di sini adalah pendeta-pendeta yang tidak mungkin dapat mencampuri urusan pemerintah. Akan tetapi engkau bukan seorang Hwesio dan engkau telah mempelajari banyak ilmu. Kini bangsa kita sedang terancam bahaya besar berupa candu. Karena itu, engkau harus turun gunung dan membantu setiap gerakan rakyat yang hendak menentang diperbolehkannya candu meracuni bangsa kita. Dengan adanya engkau yang mewakili kami, berarti Siauw-lim-pai juga ikut membantu. Kami akan memberi anjuran yang sama kepada semua murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta."

Demikian antara lain Siauw-binhud berkata.

Di sepanjang perjalanan, Ci Kong sudah mendengar banyak sekali tentang candu dan racunnya yang mengakibatkan lemahnya rakyat dari Kakek itu, maka kini tanpa ragu-ragu lagi diapun menerima perintah itu.

Dengan membawa bekal pakaian dan sedikit perak, pemuda ini meninggalkan Siauw-lim-si.

Karena itu dia tidak tahu betapa beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji Siauw-bin-hud, di kuil itu berdatangan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, termasuk Hai-tok dan San-tok yang hendak menagih janji.

Yang datang kini lebih banyak lagi karena banyak tokoh dunia kang-ouw ingin melihat sendiri bagaimana caranya Siauw-bin-hud membersihkan nama dan mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam yang menghebohkan itu.

Seperti juga enam tahun yang lalu, sekali ini San-tok atau Bu-beng San-kai datang bersama murid tunggalnya, yaitu Siauw Lian Hong.

Akan tetapi siapapun akan pangling kalau bertemu dengan murid Racun Gunung itu.

Enam tahun yang lalu masih seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih sebelas atau duabelas tahun, dan sekarang ia telah menjadi seorang gadis yang berusia hampir delapanbelas tahun!

Kini ia telah menjadi seorang wanita yang cantik jelita walaupun pakaiannya sederhana sekali.

Walaupun pakaian itu amat bersih, akan tetapi terbuat dari bahan yang kasar dan murah, Dengan potongan yang ringkas sederhana, akan tetapi yang tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang sedang, ramping dan padat, tidak dapat menyembunyikan kulit putih kuning mulus yang nampak pada leher, tangan dan lengan sampai di siku.

Sepasang matanya masih lebar seperti enam tahun yang lalu, akan tetapi kalau dulu lebar kekanak-kanakan, kini mata itu lebar dan tajam, dengan sudut-sudut yang tajam menarik, dengan alis yang hitam melengkung seperti dilukis, dengan bulu mata yang panjang lentik.

Sinar matanya dapat menyambar secepat pedang, tajam terbuka.

Hanya satu sifat yang masih dimiliki seperti enam tahun yang lalu, yaitu pendiam dan alim.

Sebatang kipas lebar yang kedua gagangnya berujung runcing terselip di pinggang, karena kipas ini merupakan senjata ampuhnya yang diberikan oleh suhunya.

Hai-tok Tang Kok Bu kini sudah nampak tua, akan tetapi pakaiannya masih jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang hartawan dan berpengaruh, diikuti oleh pengawal-pengawal muda yang tampan dan halus, masih memegang tongkatnya, yaitu Kim-kong-pang!

Di samping dua orang di antara Empat Racun Dunia ini, masih ada pula beberapa rombongan orang kang-ouw yang ingin mendengar tentang Giok-liong-kiam.

Ketika Siauw-bin-hud muncul dari dalam kuil, suasana menjadi kacau dan orang pertama yang menyambutnya adalah Bu-beng San-kai atau San-tok.

Dengan senyumnya yang khas, sikapnya yang sembarangan dan tanpa sopan santun lagi, Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu berkata.

"Heh-heh, engkau masih hidup, Siauw-bin-hud? Bagus sekali, aku sudah khawatir kalau-kalau engkau mati dalam menunaikan tugas! Dan mana itu Giok-liong-kiam?"

"Ya, di mana Giok-liong-kiam kami, Locianpwe?"

Tanya Coa Bhok, wakil ketua Thiante-pai yang kini kembali datang mewakili perkumpulannya, dikawani oleh duabelas orang murid.

Coa Bhok yang menjadi wakil ketua Thian-te-pai itupun sudah nampak tua, sudah enam puluh tahun usianya.

Siauw-bin-hud tertawa bergelak, seperti orang yang merasa geli.

Hal ini membuat Haitok menjadi marah.

"Hati-hati, Siauw-bin-hud! Jangan kau mempermainkan aku yang jauh-jauh datang menagih janji, atau... tongkatku takkan mengampuni tubuhmu yang sudah tua renta itu!"

Mendengar ancaman ini, Siauw-bin-hud menjadi semakin geli dan senyumnya melebar.

"Ha-ha-ha, betapa lucunya melihat kalian ini orang-orang tua masih saja dicengkeram setan tamak sehingga begitu haus memperebutkan sebuah benda mati. Giok-liong-kiam tidak ada padaku. Pinceng bahkan belum pernah melihatnya, ha-ha!"

"Aihh, Siauw-bin-hud, apa kau berani mengatakan bahwa engkau akan melanggar janji, menjilat ludah sendiri?"

San-tok berkata, kaget karena sukar dia membayangkan Kakek gendut Siauw-lim-pai ini berani melanggar janji, padahal sejak dahulu Siauw-bin-hud terkenal sebagai seorang gagah yang memegang teguh janjinya dan dapat dipercaya sepenuhnya.

"Ha-ha-ha, San-tok, makin tua kau makin kurang sabar saja. Baiklah, dengarkan semua kawan yang sudah melimpahkan kehormatan kepada pinceng sehingga hari ini berkumpul di sini. Selama enam tahun ini, sama sekali pinceng tidak pernah melanggar janji. Pinceng menjelajahi hampir seluruh dunia untuk mencari jejak perampas Giok-liong-kiam yang menyamar sebagai pinceng. Dan pinceng sudah bertemu dengan orangnya!"

Kakek itu berhenti sebentar, membiarkan semua orang saling pandang dan keadaan menjadi berisik.

"Ha-ha-ha, kalian berdua, Hai-tok dan San-tok, kiranya tidak akan sukar menduga siapa orangnya. Agaknya kalian hanya pura-pura saja tidak tahu selama ini, bukan?"

Ketika dua orang Kakek itu saling pandang dengan mata dilebarkan, Siauw-bin-hud menyambung.

"Ya, siapa lagi pelawak yang membuat lelucon yang tidak lucu itu kalau bukan rekan kalian Thian-tok?"

"Ahhh...!"

Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pai berseru.

"Apakah buktinya bahwa beliau yang menyamar sebagai Locianpwe?"

Tanyanya karena menghadapi seorang tokoh yang namanya pernah menjulang ke langit seperti Thian-tok, bukan hal yang boleh dibuat main-main.

"Ha-ha-ha, memang dia tidak pernah mau mengaku bahwa dia telah memalsukan nama pinceng. Dan dia benar, si cerdik itu! Dia hanya mencukur rambut dan menutupi bulu di dadanya dengan jubah kuning, cukuplah. Memang wajahnya mirip pinceng. Dan dia mengaku bahwa Giok-liong-kiam berada di tangannya, sampai pada hari dia bertemu dengan pinceng itu..."

"Ha-ha-ha, jadi si Racun Langit itu mengalah dan mengembalikan pusaka itu kepadamu, Siauw-bin-hud?"

San-tok mentertawakan rekannya yang disangkanya mengalah atau takut kepada Hwesio ini sehingga mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam.

Kembali semua orang kecewa melihat Siauw-bin-hud tersenyum lebar sambil menggeleng kepalanya menjawab pertanyaan San-tok itu.

"Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu telah dirampas orang lain, hanya beberapa jam sebelum pinceng tiba di sana."

Kembali terdengar suara berisik dari semua orang yang hadir, dan Hai-tok memukulkan tongkatnya ke atas tanah.

"Kalau bukan Siauw-bin-hud yang bicara, sungguh mati aku tidak akan dapat percaya begitu saja. Siapakah orang yang dapat merampas pusaka itu dari tangan Thian-tok?"

"Perampasnya adalah bekas muridnya sendiri yang bernama Hek-eng-mo Koan Jit. Jangan tanyakan di mana dia tinggal karena pinceng sendiri juga tidak tahu. Nah, selesailah urusan Giok-liong-kiam ini yang mengait nama pinceng. Harap kalian jangan mengganggu pinceng lagi."

Tentu saja semua tokoh itu merasa kecewa mendengar ini.

Tak mereka sangka bahwa pusaka itu telah lenyap lagi begitu mereka ketahui jejaknya.

Dan di antara mereka banyak yang sudah mendengar akan nama Koan Jit yang berjuluk Hek-eng-mo.

Apa lagi wakil ketua Thiante-pai Coa Bhok.

Wajahnya berobah ketika dia mendengar bahwa pusaka perkumpulannya itu telah terjatuh ke tangan Hek-eng-mo Koan Jit!

Iblis Bayangan Hitam itu bukan orang asing bagi Thian-te-pai, karena merupakan musuh besar!

Akan tetapi, keterangan itu mereka dengar dari Siauw-bin-hud yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya.

Kakek pendeta Siauw-lim-pai itu tidak mungkin membohong.

Maka merekapun bubaran dan kini terjadi lagi perlumbaan yang dipersiapkan, yaitu untuk mencari Hek-eng-mo Koan Jit dan mencoba untuk merampas pusaka Giok-liong-kiam dari tangannya.

Akan tetapi, tentu saja hanya tokoh-tokoh besar yang akan berani melakukan ini, karena semua orang sudah mendengar belaka akan kesaktian Iblis Bayangan Hitam itu yang namanya tidak kalah menakutkan dibandingkan Empat Racun Dunia.

San-tok Bu-beng San-kai mengajak muridnya meninggalkan Siauw-lim-si dan di tengah perjalanan, Kakek ini tiada hentinya senyum-senyum sendiri.

"Heh-heh, sungguh lucu sekali! Sejak dahulu aku sudah menduga bahwa tentu Racun Langit itu yang menyamar sebagai Siauwbin-hud, akan tetapi karena ragu-ragu yang kukejar-kejar adalah Siauw-bin-hud. Sayang baru sekarang aku yakin setelah pusaka itu dirampas oleh si maling cilik Hek-eng-mo."

"Suhu, siapakah Hek-eng-mo itu?"

Tanya Lian Hong ketika mereka berhenti di bawah pohon yang rindang di kaki gunung.

Setelah dewasa, Lian Hong tidak lagi menyebut Kakek kepada San-tok, melainkan suhu karena ia menganggap sebutan ini lebih patut dan tepat.

Bagaimanapun juga, ia bukan cucu aseli dari Kakek itu, dan yang jelas ia adalah muridnya.

Ketika tadi diadakan pertemuan di Siauw-lim-si, gadis inipun diam-diam amat memperhatikan penuturan Kakek gendut Siauw-bin-hud.

Ia merasa kagum dan suka kepada Kakek gendut itu, karena bagaimanapun juga, ia telah menerima warisan tenaga singkang dari Kakek itu enam tahun yang lalu.

Gurunya sendiri yang memberi keterangan kepadanya bahwa ia beruntung telah menerima warisan tenaga sinkang itu dari Kakek sakti Siauw-bin-hud, bahkan gurunya pernah mengatakan bahwa melihat betapa ia telah menerima warisan tenaga dari Siauw-bin-hud dan betapa suhunya juga mengoper tenaga sakti kepada anak laki-laki yang menjadi murid Siauwlim-pai, maka antara ia dan pemuda cilik itu terdapat semacam pertalian saudara seperguruan!

"Hek-eng-mo adalah murid Thian-tok.

Dia lihai dan cerdik bukan main, amat mengagumkan betapa dia pernah mencuri harta pusaka gurunya, bahkan kini merampas Giokliong-kiam dari tangan Thian-tok.

Ha-ha, ingin sekali aku melihat muka Thian-tok yang dikibuli oleh muridnya sendiri itu!"

"Suhu, aku jadi tertarik sekali mendengar tentang perebutan Giok-liong-kiam. Ingin sekali aku mencari Hek-eng-mo itu dan merampas pusaka dari tangannya."

San-tok yang duduk bersila di atas rumput sambil mengipasi badannya dengan kipas bututnya, menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah muridnya yang cantik itu.

Setelah melatih gadis ini selama duabelas tahun, San-tok merasa sayang sekali kepada murid ini yang dianggap sebagai satu-satunya orang yang dimilikinya di dunia ini, menjadi seperti anaknya atau cucunya sendiri.

Inilah sebabnya maka dia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lian Hong yang memang berbakat baik sekali.

Mendengar ucapan muridnya, dia benar-benar merasa terkejut dan heran.

Biasanya, muridnya ini pendiam dan tidak banyak kehendak, akan tetapi tiba-tiba saja muridnya menyatakan hendak ikut memperebutkan Giok-liong-kiam!

"Heh-heh, Hong Hong, cucuku juga muridku yang baik, sungguh mati aku merasa terkejut sekali mendengar ucapanmu tadi.

Engkau tiba-tiba saja ingin memperebutkan Giokliong-kiam!

Apa artinya ini?"

"Selama belasan tahun suhu telah melimpahkan budi kepadaku. Aku ingin merampas pusaka itu untuk suhu, sekedar pembalas budi. Bukankah suhu menghendaki pusaka itu sehingga ikut pula datang ke Siauw-lim-si? Selain itu, untuk apa suhu susah-susah melatih ilmu silat kepadaku kalau tidak kupergunakan sekarang?"

Belum pernah muridnya ini bicara sebanyak itu dan San-tok tertawa gembira.

Hatinya merasa gembira dan hangat karena muridnya ini dengan terus terang menyatakan ingin membalas budi kepadanya.

Dia adalah seorang tua yang cerdik dan banyak pengalaman, maka diapun dapat menjenguk isi hati muridnya.

Muridnya selama duabelas tahun selalu ikut dengannya dan kini muridnya itu, setelah menguasai ilmu yang tinggi, tentu saja ingin bebas seperti burung di udara, melakukan segala yang diinginkannya sendiri.

Tentu muridnya akan membalas kematian Ayah bundanya pula.

Kembali dia mengipasi badannya.

"Engkau benar, Hong Hong. Memang ilmu yang telah banyak kau pelajari itu perlu dipergunakan dan dimanfaatkan. Akan tetapi ketahuilah, segala macam ilmu yang kau miliki itu masih belum mampu melindungi dirimu dan menjamin keselamatan. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang yang lihai sekali. Hanya kalau engkau berhati-hati dan waspada sajalah maka engkau akan dapat melindungi dirimu sendiri. Apa lagi kalau berhadapan dengan Hek-eng-mo! Berhati-hatilah. Dia itu selain lihai ilmu silatnya, juga amat licik dan suka main-main dengan racun. Sayang, aku sudah terlalu tua dan sudah malas untuk pergi merantau. Maka, biarlah aku akan menanti saja sambil bertapa di puncak yang paling kusenangi."

"Di puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san itu?"

Kakek itu mengangguk.

"Aku selalu ingin mengakhiri hidupku di tempat indah itu. Aku akan menanti kembalimu di sana, Hong Hong."

"Baik, suhu. Berilah waktu dua tahun kepadaku dan berhasil atau tidak dalam mencari Giok-liong-kiam, aku akan datang mengunjungi suhu di puncak Naga Putih."

Mereka saling berpisah di kaki gunung itu juga.

SiauwLian Hong pergi meninggalkan suhunya sambil membawa buntalan pakaian dan bekal sedikit perak pemberian gurunya, juga tidak ketinggalan membawa kipas yang terselip di pinggangnya.

Gadis cantik sederhana ini melangkah dengan tegap dan tanpa ragu-ragu.

Sebaliknya, San-tok yang masih duduk bersila itu mengikuti kepergian muridnya dengan mata sayu.

Senyumnya lenyap dan wajahnya membayangkan kesedihan.

Berulang kali dia menghela napas panjang, merasa betapa hati dan semangatnya seperti terbang mengikuti gadis itu.

Duabelas tahun dia hidup di samping muridnya dan dia merasa betapa setelah mempunyai murid itu, perobahan besar terjadi pada batinnya.

Hidup seperti ada artinya dan hatinya tidak keras lagi seperti dahulu.

Kini, melihat gadis itu pergi meninggalkannya, dia merasa kehilangan, kesepian dan berduka sekali, perasaan yang selamanya belum pernah dialaminya!

Kakek yang pernah menjadi seorang di antara Empat Racun Dunia, yang pernah menjadi datuk kau m sesat, yang dianggap jahat seperti iblis, yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman itu, kini duduk termenung dan dia tidak merasa bahwa senyum yang biasanya selalu membayang di mulutnya itu kini sama sekali lenyap, terganti oleh bayangan duka yang membuat kedua matanya menjadi basah!

Duka adalah iba diri.

Merasa iba kepada diri sendiri, merasa kehilangan, kecewa.

Dan semua ini timbul dari aku yang merasa kehilangan, aku yang merasa kesepian, aku yang merasa menjadi orang paling sengsara di dunia.

Aku adalah suatu gambaran yang dibuat oleh batin tentang diri sendiri, dibentuk oleh pengalaman-pengalaman masa lampau.

Aku penuh dengan harapan-harapan memperoleh kesenangan seperti yang pernah dialaminya, atau seperti yang pernah didengarnya, pernah dibacanya dan diketahuinya.

Aku penuh denga keinginan akan merasakan dan menikmati`kembali segala hal yang menyenangkan, penuh dengan rasa takut kalau-kalau tidak akan memperoleh lagi semua kesenangan itu, takut kalau-kalau ditinggalkan oleh hal-hal yang menyenangkan.

Aku yang selalu haus akan kesenangan ini menciptakan ikatan-ikatan, belenggu-belenggu dan rantai-rantai emas yang dianggapnya membahagiakan namun yang berakhir dengan kedukaan.

Ikatan dengan orang lain karena orang lain itu menyenangkan aku, ikatan dengan benda, dengan nama, dengan gagasan-gagasan.

Sekali ikatan ini menguasai aku, maka yang ada hanyalah duka dan sengsara.

Ikatan ini sama dengan candu, sekali terikat sukar untuk dilepaskan, karena akan menimbulkan perasaan duka dan sengsara.

Semakin besar si aku menonjol, semakin banyak pula ikatan-ikatan terbentuk dan semakin banyak pula duka mengelilingi batin.

Bebasnya batin dari ikatan berarti runtuhnya singgasana sang aku, bersamaan dengan lenyapnya pula duka.

Semua ini jelas sekali nampak, akan tetapi betapa sukarnya terbebas dari pada ikatan!

Betapa sukarnya meniadakan gambaran tentang diri sendiri dalam bentuk aku yang makin hari makin kita bentuk dan perkuat!

Kolam air di belakang rumah gedung yang besar megah dan luas itu amat jernih airnya.

Kolam buatan itu tentu amat mahal biaya pembuatannya dan hanya orang kaya seperti keluarga Ciu di Tung-kang sajalah yang mampu membuatnya.

Di sekitar kolam air yang luas itu terdapat taman bunga yang indah, dan batu-batu alam yang bentuknya aneh dan nyeni terdapat pula di dekat kolam.

Akan tetapi, pada pagi hari yang sunyi itu nampaklah hal-hal yang amat aneh terjadi di situ.

Para pelayan sudah dilarang keras untuk tidak memasuki taman sehingga apa yang terjadi tidak nampak oleh orang-orang lain yang tentu akan terheran-heran dan mungkin akan merasa ngeri dan takut.

Seorang Kakek yang bertubuh kecil pendek sedang duduk bersila di atas batu karang di tepi danau buatan, meniup sebuah suling.

Kakek ini bukan lain adalah Tee-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia.

Seperti telah kita ketahui, sejak enam tahun yang lalu, Racun Bumi ini diterima oleh hartawan Ciu Lok Tai sebagai pengawal keluarga, juga guru Ciu Kui Eng.

Tentu saja Tee-tok merasa senang sekali tinggal di rumah keluarga kaya raya itu.

Dia sudah tua, sudah capai bertualang.

Usianya sekarang sudah tujuh puluh tahun lebih dan hidup enak-enak di rumah keluarga itu amat menyenangkan hatinya.

Apa lagi dia memperoleh murid seperti Kui Eng yang berbakat baik sekali.

Selama enam tahun, dia mencurahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk memberi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi kepada muridnya, menurunkan semua ilmunya kepada murid tersayang itu.

Dan pagi hari ini muridnya sedang digembleng dengan latihan yang paling sukar, ilmu silat dengan penggunaan ginkang yang amat hebat.

Latihan ini merupakan ujian terakhir bagi muridnya itu.

Suara suling yang ditiup Kakek itu meliuk-liuk aneh, melengking-lengking dan matanya ditujukan ke tengan danau buatan mengikuti gerak-gerik muridnya.

Dan di tengah danau itu nampak Ciu Kui Eng sedang bersilat!

Di atas air danau!

Dan kedua kakinya yang kecil itu dengan ringannya berloncatan ke sana-sini, menginjak...

ular-ular yang berseliweran di purmukaan air danau.

Ular-ular air itu sengaja dilepas di danau itu dan mereka itu bergerakgerak, berenang dipermukaan danau seperti dipimpin oleh lengking suling.

Ular-ular air yang besar-besar dan kini Ciu Kui Eng menggunakan badan ular-ular itu untuk tempat berpijak ketika ia bersilat dengan gerakan yang luar biasa lincahnya.

Inilah ilmu silat yang paling aneh dan yang amat hebat, yang diajarkan oleh Kakek itu kepada muridnya, dan ilmu silat ini diberi nama Cuibeng Coa-kun (Silat Ular Pengejar Arwah)!

Ilmu silat dengan latihan seperti ini membutuhkan gingkang yang luar biasa, juga membutuhkan pengerahan sinkang, gerakan yang cepat dan tepat, juga kematangan ilmu silat karena kesalahan sedikit saja dapat membuat tubuh Kui Eng tergelincir dan terjatuh ke dalam air di mana dara ini akan dikeroyok oleh ular-ular itu.

Hebatnya, ular-ular yang puluhan banyaknya itu berenang-renang seperti berbaris saja mengikuti irama suara suling yang aneh!

"Heiiiittt...

plakk!"

Kini Kui Eng mulai menyerang.

Sambil melompat, kakinya menyambar ke bawah dan seekor ular mati dengan kepala remuk.

Dara itu berloncatan, mengeluarkan pekik-pekik nyaring dan mulailah ia membantai ular-ular itu, dengan sambaran kaki dan tangan, seperti ular-ular mematuk.

Permukaan danau itu mulai merah oleh darah ular dan mulai dipenuhi bangkai-bangkai ular yang mengambang.

Loncatan terakhir dilakukan dari atas bangkai-bangkai ular yang mengambang dan ketika ia berjungkir balik sampai lima kali sebelum hinggap di atas batu di depan suhunya, puluhan ekor ular itu telah mati semua.

Bau amis memenuhi tempat itu dan Tee-tok menghentikan tiupan sulingnya.

"Suhu, mari kita duduk di sana, di sini bau amis!"

Kui Eng mengernyitkan hidungnya yang kecil sehingga nampak manis dan lucu.

Kui Eng sekarang telah menjadi seorang gadis yang manis sekali, berusia delapanbelas tahun.

Wajahnya manis, terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan memiliki pandang mata yang amat tajam seperti kilat menyambar.

Tubuhnya ramping dan padat, rambutnya digulung ke atas dan diikat dengan sutera kuning karena ia sedang berlatih, maka ia memakai pakaian ringkas dan rambut yang digelung itu masih panjang sekali sisanya, bergerak-gerak ketika ia bersilat tadi seperti ekor kuda yang indah.

Muka yang putih halus itu kini kemerahan dan agak basah oleh keringat, berseri-seri di dalam cahaya matahari pagi yang memernuhi taman.

Tee-tok tersenyum puas.

Hebat memang muridnya ini.

"Engkau lulus ujian, Kui Eng, dan mulai sekarang tak perlu aku mengajarmu lagi. Sudah cukup ilmu kepandaianmu dan agaknya takkan mudah orang lain mengalahkanmu."

Kui Eng menggandeng tangan suhunya dan dengan manja mengajak gurunya itu duduk di ruangan sebuah pondok merah yang berada di tepi taman.

"Semua itu berkat budimu, suhu,"

Katanya dan iapun bertepuk tangan memanggil pelayan. Tiga orang pelayan wanita datang berlarian dan mereka semua mengembang-kempiskan cuping hidung ketika mencium bau amis itu.

"Ih, bau apakah ini?"

"Begini amis, aku ingin muntah...!"

Kui Eng tersenyum geli.

"Sudah, jangan cerewet. Suruh tukang kebon bersihkan kolam air."

Tiga orang pelayan wanita itu berlarian ke dekat kolam dan Kui Eng geli ketika mendengar jeritan-jeritan para wanita itu yang tentu saja menjadi terkejut, takut dan jijik melihat puluhan ekor bangkai ular mengambang di atas air kolam.

Kui Eng lalu memerintahkan para pelaya wanita mempersiapkan hidangan makan pagi yang mewah untuk gurunya dan para pekerja kebun disuruh membersihkan danau dari bangkai-bangkai ular itu.

Setelah makan pagi yang mewah dan lezat, dilayani oleh muridnya, Tee-tok lalu minta berjumpa dengan Ciu Lok Tai.

Hartawan Ciu ini sudah berusia enam puluh dua tahun, akan tetapi pakaiannya masih mewah dan rambutnya tersisir rapi penuh minyak.

Jenggot dan kumisnya juga masih terpelihara dengan baik dan sinar matanya masih seperti dulu, bahkan mungkin lebih mata keranjang lagi.

Semenjak Tee-tok berada di situ sebagai pengawal keluarganya, apa lagi mengingat bahwa puteri tunggalnya kini telah menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu silat amat tinggi, yang tidak dapat dilawan oleh semua pengawal dan jagoan di Tung-kang maupun Kanton, hartawan ini menjadi semakin angkuh.

Ciu Wan-gwe yang diberitahu puterinya bahwa Tee-tok ingin bertemu dengannya dan bahwa Kakek itu akan pergi karena puterinya sudah tamat belajar, menjadi kaget dan bergegas datang ke pondokan Tee-tok di dekat taman di belakang gedung itu.

"Berita apakah yang saya dengar dari Kui Eng ini? Locianpwe hendak pergi meninggalkan kami? Ah, kenapa begitu?"

Tee-tok tersenyum dan menggoyang tasbeh hitamnya. Kakek pendek kecil ini memang selalu membawa tasbeh dan tongkatnya, seperti seorang petapa atau seorang pendeta tosu saja.

"Muridku, puterimu ini sudah tamat belajar, Ciu Wan-we, pekerjaanku sudah selesai, maka aku harus pergi dari sini. Jangan khawatir, semua kepandaianku telah kuajarkan kepada puterimu dan dengan adanya puterimu di sini, tak seorangpun akan berani mengganggu keluargamu, karena pengganggunya berarti sudah bosan hidup, heh-heh!"

Tee-tok memandang kepada muridnya dengan perasaan bangga.

"Biarpun begitu, mengapa Locianpwe akan pergi? Sudah baik-baik tinggal di sini. Biarlah Locianpwe tetap tinggal di sini, biarpun Kui Eng sudah tamat belajar. Kami akan menjamin kehidupan Locianpwe selanjutnya di sini karena kami sudah menganggap Locianpwe seperti keluarga sendiri."

"Ha-ha, terima kasih, Wan-gwe. Akan tetapi, seorang perantau seperti aku ini, mana bisa selama hidupnya tinggal di suatu tempat? Betapapun indahnya tempatmu ini, betapapun enaknya hidupku di sini, lama-lama aku menjadi bosan juga. Aku rindu akan keheningan di tempat-tempat sunyi. Kui Eng, kalau sekali waktu engkau perlu bertemu denganku, engkau tahu ke mana harus mencariku. Nah, selamat tinggal, aku akan pergi sekarang juga."

Ciu Lok Tai terkejut dan berusaha menahan.

"Saya... saya harap Locianpwe tunggu sebentar, akan saya suruh ambilkan bekal..."

Akan tetapi Kakek itu melangkah terus dan membalikkan tubuh ketika tiba di pintu lalu berkata.

"Bekal? Maksudmu harta? Heh-heh, menjadi beban saja. Kalau aku butuh harta, apa sukarnya bagiku? Tinggal ambil saja di sepanjang perjalanan."

Kemudian dengan sekali menggerakkan kakinya, Kakek itu berkelebat lenyap dari pintu taman! Ciu Wan-gwe hendak mengejar, akan tetapi tangannya dipegang puterinya.

"Ayah, orang luar biasa seperti suhu tidak sama dengan manusia lain. Ayah tidak perlu sungkan-sungkan terhadap suhu."

Barulah hartawan itu menarik napas panjang.

"Aihh, bertahun-tahun dia berada di sini dan kita merasa aman tenteram. Kalau dia pergi, tentu saja hal itu membikin hatiku khawatir sekali. Apa lagi sekarang suasana menjadi semakin keruh, banyak terjadi (Lanjut ke

Jilid 10) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 10 pemberontakan dan banyak orang jahat membikin kota-kota menjadi tidak aman."

Puterinya tersenyum manis sekali.

"Mengapa Ayah khawatir? Tidak percuma selama enam tahun aku menjadi murid suhu Tee-tok. Dengan adanya aku di sini sama saja seperti kalau suhu berada di sini."

Akan tetapi hati Ciu Lok Tai masih belum tenang dan percaya benar.

Sudah sering dia melihat puterinya berlatih silat, melihat puterinya bergerak dengan lincah sekali, akan tetapi kelincahan dalam bersilat itu belum membuktikan bahwa puterinya memang dapat diandalkan menghadapi serangan-serangan lawan.

Apa lagi melihat puterinya kini menjadi seorang gadis yang demikian cantik manis, seperti ibunya di waktu muda, dan nampak demikian lemah lembut, mana mungkin dapat menandingi musuh yang terdiri dari laki-laki yang kasar dan kuat?

Agaknya Kui Eng dapat menduga apa yang diragukan Ayahnya.

Ia seorang anak manja yang biasanya haus akan pujian.

Apa lagi sekarang, setelah ia merasa bahwa dirinya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, maka keraguan Ayahnya akan kemampuannya membikin hatinya terasa panas dan kecewa.

"Ayah, sebaiknya Ayah mengundang para jagoan di kota ini dan juga dari Kanton, dengan alasan apapun, dan aku akan memperlihatkan kepada mereka bahwa tak seorangpun dapat mengganggu kita. Aku akan tantang semua jagoan yang ada, dan akan kuperlihatkan kepada Ayah bahwa tidak ada seorangpun yang akan mampu mengalahkan aku."

Biarpun di dalam hatinya masih terdapat keraguan, akan tetapi hartawan Ciu menganggap usul ini amat baik.

Bukan saja dia akan dapat membuktikan sendiri kehebatan puterinya, akan tetapi juga dapat dia memamerkannya kepada semua kenalannya dan sekaligus nama puterinya akan terangkat dan takkan ada yang berani mengganggu keluarganya.

"Baik, akan kuundang mereka dengan dalih merayakan engkau tamat belajar silat. Akan tetapi yakin benarkah hatimu bahwa engkau akan dapat mengalahkan jagoan dari Kanton? Jangan main-main, di sana terdapat banyak orang pandai."

Kui Eng tersenyum mengejek.

"Ayah panggil saja yang paling pandai dan Ayah lihat saja nanti."

Demikianlah, untuk membuktikan sendiri kepandaian puterinya, beberapa hari kemudian taman yang luas di belakang gedung Ciu Wan-Gwe itu berobah menjadi tempat pesta.

Yang diundangnya adalah para pembesar yang menjadi kenalannya, juga ahli-ahli silat yang kenamaan di Tung-kang, Bahkan dari Kan-ton, pula, tidak lupa dia mengundang Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang jagoan yang pernah membantunya duabelas tahun yang lalu.

Kedua orang itu kini tinggal di Kanton dan bekerja sebagai pengawal-pengawal dalam rumah seorang pembesar Kanton.

Juga hartawan itu mengundang Ma-Ciangkun, komandan Ma Cek Lung yang menjadi perwira pasukan keamanan di Kanton.

Masih banyak lagi guru-guru silat dan kepala-kepala pengawal yang terkenal mempunyai kepandaian tinggi dari Kanton diundangnya.

Tidak lupa, untuk mencari muka, Ciu Wan-gwe juga mengundang Wang Taijin, kepala daerah Kanton, seorang pejabat baru di Kanton yang dikirim dari Kota Raja!

Kepala daerah baru ini dikenal sebagai seorang pejabat yang keras, utusan kaisar sendiri, dan kepala daerah ini kabarnya adalah seorang pejabat yang jujur, Tidak sudi menerima sogokan dan terutama sekali yang menggelisahkan hati banyak hartawan adalah bahwa Wang Taijin terkenal anti madat!

Juga wakilnya, yang terkenal sebagai orang yang mudah didekati oleh para hartawan, seorang pejabat lama yang bernama Lai Tek atau terkenal dengan sebutan Lai Taijin, yang bukan hanya sahabat baik Ciu Wan-gwe akan tetapi juga seorang pecandu madat yang tidak ketulungan lagi, diundang.

Pernah Ciu Wan-gwe dipanggil oleh kepala daerah yang baru itu dan diperingatkan tentang kegiatannya berdagang candu gelap.

Dan Lai Taijin itulah yang menolongnya dan melihat muka wakilnya, kepala daerah itu mengampuninya.

Tidak kurang dari lima puluh orang yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi dan menjadi jagoan-jagoan terkenal di kanton dan sekitarnya hadir di dalam taman yang dirias indah itu.

Ciu Wan-gwe terkenal sebagai seorang kaya raya yang royal, maka tentu saja mereka dengan gembira memenuhi undangan hartawan itu, apa lagi karena disebutkan bahwa pesta itu untuk merayakan puteri hartawan itu yang selesai belajar ilmu silat!

Mereka sudah membayangkan bahwa mereka akan melihat seorang gadis jelita bermain silat, dan walaupun para jagoan itu memandang rendah, setidaknya mereka akan melihat seorang gadis cantik menari-nari dengan senjata yang tentu akan menarik sekali, apa lagi kalau hidangannya serba lezat dan mewah!

Semua hartawan dan bangsawan datang bersama pengawal, sedikitnya dua orang kepala pengawal yang boleh diandalkan.

Para pembesar datang bersama pasukan pengawal, akan tetapi pasukan itu dijamu di tempat lain, dan yang menemani para pembesar itu hanya kepala pengawal saja.

Wan Taijin tidak ketinggalan dikawal oleh kepala pengawalnya yang gagah perkasa.

Juga Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang bekas kepala pengawal Ciu Wan-gwe, yang sudah mengenal Kui Eng ketika anak itu masih kecil, datang dalam pakaian mereka yang mentereng.

Di taman itu sudah dibangun sebuah panggung dan para tamu sudah berkumpul dengan digembirakan oleh musik yang dimainkan oleh serombongan pemusik kenamaan yang didatangkan dari Kanton.

Setelah menghaturkan selamat datang kepada para tamu dengan suguhan arak, Ciu Wan-gwe lalu memperkenalkan puterinya.

Kui Eng keluar dalam pakaian serba merah muda, dengan ikat pinggang berwarna biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat dengan sutera kuning.

Ia nampak manis sekali, sehingga semua mata para tamu yang terdiri dari pria semua itu seperti hendak melahapnya.

"Kami merayakan tamat belajarnya puteri kami dan maafkanlah puteri kami yang hendak memperlihatkan hasil ilmu yang selama ini dipelajarinya. Karena cuwi yang hadir adalah ahli-ahli silat kenamaan, maka diharap agar sudi memberi petunjuk kalau permainan puteri kami masih dangkal,"

Kata Ciu Wan-gwe dan ketika Kui Eng naik ke atas panggung, ia disambut dengan tepuk tepuk tangan memuji, tentu saja memuji kecantikannya.

Akan tetapi, hampir semua tamu berasal dari Tung-kang, tidak ada yang berani memandang rendah.

Semua orang di Tung-kang sudah tahu bahwa gadis cantik ini adalah murid seorang Kakek sakti yang demikian pandainya sehingga berhasil menghadapi ujian senjata api dari Ciu Wan-gwe!

Biarpun mereka sendiri belum pernah membuktikan kelihaian Kui Eng, Namun mereka dapat menduga bahwa tentu gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Sudah banyak para pelayan dan pengawal keluarga Ciu membocorkan berita bahwa gadis itu benar-benar lihai sekali, seringkali bersama gurunya yang aneh bermain-main dengan ular-ular besar dan ular-ular beracun!

Setelah menjura ke empat penjuru dengan sikap gagah dan senyum manis sekali tak pernah meninggalkan bibirnya, Kui Eng lalu mulai bersilat.

Tentu saja ia tidak mau mempertontonkan jurus-jurus simpanannya, melainkan hanya bersilat dengan landasan ilmu ginkang yang hebat sehingga tubuhnya berkelebatan dengan amat cepatnya di atas papan panggung.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara, dan panggung itu sedikitpun tidak terguncang biarpun ia bermain silat dengan berloncatan cepat.

Bagi para penonton yang belum tinggi ilmu silatnya, mereka akan tersenyum mengejek karena mengira bahwa gadis itu tidak memiliki tenaga sakti sehingga gerakannya kosong dan ringan.

Sebaliknya, mereka yang lebih ahli, diam-diam terkejut dan kagum karena mengenal pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang hebat!

Setelah Kui Eng menghentikan permainan silatnya, semua orang bertepuk tangan gemuruh, bahkan ada yang bersuit-suit, yaitu dari para muda yang lebih mengagumi kecantikan dan keindahan gerak tubuh Kui Eng dari pada ilmu silatnya sendiri.

Kui Eng menjura ke empat penjuru, lalu dengan nyaring ia berkata, suaranya lantang dan sama sekali tidak canggung atau malu-malu.

Ia memang seorang gadis yang tabah, gagah dan juga galak, kegalakan yang lebih terdorong oleh kemanjaan dari pada oleh watak yang jahat.

"Cu-wi yang mulia. Ilmu silat hanya nampak indah saja kalau dimainkan sendirian, akan tetapi tidak ada artinya dan tidak kelihatan kelihaiannya kalau tidak dimainkan dalam suatu pertandingan antara dua orang. Maka, saya menantang kepada cu-wi yang memiliki kepandaian untuk mengadakan pertandingan silat persahabatan, untuk saling berkenalan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat. Dengan demikian, barulah yang menonton dapat menikmatinya. Tidak tahu apakah di antara cu-wi ada yang berani untuk maju melayani saya barang se puluh jurus?"

Di dalam ucapan ini terkandung kesombongan dan pandangan rendah terhadap para tamu, dan hal ini memang disengaja oleh Kui Eng untuk memanaskan hati mereka agar ada yang berani menyambut tantangannya.

"Oho, biarlah aku yang mencoba kelihaian nona Ciu!"

Terdengar suara nyaring dan sesosok tubuh tinggi besar sudah meloncat naik ke atas panggung.

Panggung itu tergetar dan bergoyang-goyang ketika kedua kakinya hinggap di atas papan panggung.

Laki-laki ini berusia tiga puluh tahun lebih, tinggi besar dengan muka merah, agaknya terlalu banyak minum arak.

Akan tetapi semua orang dari Kanton mengenal siapa dia.

Seorang guru silat muda yang memiliki tenaga gajah!

Dan orang yang masih belum berkeluarga ini, ketika melihat Kui Eng, diam-diam sudah tergila-gila, maka melihat kesempatan untuk memamerkan ilmunya dan kesempatan bertanding, beradu tangan, berdekatan dengan nona cantik itu, terus saja dia menyambutnya.

Untuk mendatangkan kesan dan untuk pamer, begitu kedua kakinya menginjak papan panggung, terus saja guru silat itu bersilat.

Gerakannya mantap dan pukulannya mendatangkan angin, bahkan panggung itu terus bergoyang-goyang seperti akan ambruk.

Memang kelihatan hebat dan gagah sekali dia, terdengar bunyi otot dan tulang berkerotokan dan angin menyambar-nyambar kalau dia menendang dan memukul.

Setelah mainkan beberapa jurus ilmu silatnya, para penonton, terutama yang muda-muda, sudah menyambutnya dengan tepuk tangan memuji.

Dia berhenti dan tersenyum, senyum yang tidak menolong mukanya yang burik kasar kemerahan itu lalu menghadapi Kui Eng dan menjura dengan sikap hormat dibuat-buat.

"Nona Ciu, ilmu silatmu sungguh hebat sekali. Tidak tahu apakah ilmu silatku tadi cukup baik untuk melayani ilmu silatmu?"

Kui Eng mamandang tajam dan alisnya berkerut ketika ia melihat sinar mata laki-laki itu mengandung kekurangajaran. Ia balas menjura dan suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.

"Ilmu silatmu menunjukkan tenaga besar, cukup baik untuk manakut-nakuti orang, akan tetapi aku sangsi apakah cukup tangguh untuk bertahan selama lima jurus melawan ilmu silatku!"

Tentu saja semua orang terkejut, bahkan para ahli sekalipun terkejut.

Biarpun guru silat muda itu lebih mengandalkan tenaga besar, namun dia memiliki ilmu silat yang tidak boleh dibilang lemah.

Mana mungkin mengalahkannya dalam lima jurus saja?

Gadis itu terlalu membual atau memang sombong.

Ciu Wan-gwe sendiri berobah wajahnya, merasa khawatir karena puterinya bicara terlalu besar.

Bagaimana kalau puterinya kalah?

Berarti sekali keluar namanya terbanting keras dan hanya mendatangkan malu dan menjadi buah tertawaan saja.

Wajah guru silat muda itu menjadi semakin merah, akan tetapi sekali ini bukan merah karena hawa arak, melainkan karena penasaran dan marah.

Gadis cantik ini ternyata telah membikin malu padanya di depan umum.

Tunggu saja, manis, pikirnya gemas.

Dalam pertandingan ini aku akan membalas padamu, cukup dengan sekali raba dadamu saja sudah dapat membalas.

Kemarahan ini saja sudah menunjukkan bahwa guru silat muda itu kurang luas pandangannya dan kurang matang ilmunya.

Bagi orang yang sudah matang, melihat sikap gadis itu yang berani memandang rendah saja tentu sudah menjadi waspada, curiga dan berhati-hati sekali.

Sebaliiknya, guru silat yang terlalu membanggakan kepandaian sendiri ini dikuasai emosi dan bernafsu sekali untuk membalas dendam.

"Nona Ciu, benarkah bahwa engkau akan mampu mengalahkan aku dalam lima jurus? Hati-hati, kaki tangan tidak bermata, aku khawatir kalau-kalau nona akan terluka kalau kita harus mengadu ilmu silat."

Kui Eng tersenyum mengejek.

"Kalau takut terkena pukulan, lebih baik tidak belajar ilmu silat saja, pulang ke kampung bercocok tanam lebih aman!"

Tentu saja ucapan ini disambut dengan suara ketawa di sana-sini dan guru silat muda itu menjadi marah sekali.

"Nona Ciu, bersiaplah menyambut seranganku!"

Teriaknya dan iapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang sampai panggung yang diinjaknya mengeluarkan bunyi "krek-krek!"

"Kau ini mau adu silat ataukah adu suara? Majulah dan jangan omong saja!"

Kembali ucapan Kui Eng disambut suara ketawa dan tiba-tiba guru silat itu mengeluarkan suara seperti harimau menggereng dan tubuhnya sudah menubruk ke depan.

Kedua lengannya dipentang lebar, dari kanan kiri mengurung dan hendak menerkam, seperti seekor biruang besar hendak menerkam kelenci.

Mata para tamu kini memandang penuh perhatian dan dengan hati tegang karena mereka maklum bahwa guru silat muda itu agaknya sudah marah sekali dan menyerang dengan sungguh-sungguh, walaupun serangannya bukan merupakan tendangan atau pukulan melainkan tubrukan untuk menerkam dan memeluk gadis itu!

Akan tetapi, dengan gerakan yang amat lincah, tahu-tahu tubuh gadis itu sudah menyelinap ke bawah kiri dan tubrukan itu luput.

Guru silat itu tadi sudah melihat bayangan tubuh itu menyelinap ke kiri, tubrukannya dirobah menjadi terkaman ke samping dan kini dua lengannya itu menerkam dari atas dan bawah, kedua kakinya siap menyusulkan tendangan andaikata nona itu mengelak lagi.

Akan tetapi sekali ini Kui Eng tidak mengelak, bahkan menghadapi serangan itu sambil membalikkan tubuhnya dan dua pasang kaki tangan itu bergerak cepat, Seperti ada empat ekor ular menotok ke depan dan tiba-tiba saja guru silat muda itu mengeluarkan teriakan aneh dan tubuhnyapun roboh berlutut di depan Kui Eng!

Tentu saja semua orang menjadi heran dan terkejut sekali.

Dalam dua kali serangan saja guru silat itu telah roboh berlutut dan mereka tidak melihat bagaimana caranya sampai guru silat itu roboh.

Guru silat itu sendiri menjadi pucat wajahnya.

Tadi, ketika dia menerkam, tiba-tiba saja kedua siku dan lututnya terpukul dan seketika kedua lengan dan kakinya menjadi lumpuh sehingga dia tidak mampu berdiri lagi dan terpaksa jatuh berlutut.

Bagaimanapun juga, kini tahulah dia bahwa gadis itu memang sungguh seorang yang memiliki kesaktian dan sama sekali bukan lawannya.

"Maafkan saya, nona... saya... mengaku kalah...!"

Katanya lirih dan ketakutan karena dia belum mampu menggerakkan kaki tangannya.

"Hemm, belajarlah silat dengan baik, bukan memamerkan tenaga gajah,"

Kata Kui Eng dan seperti orang menyuruh pergi, tangannya bergerak cepat sekali mrenyentuh ke pundak dan ujung sepatunya menyentuh pinggang.

Seketika tubuh yang lumpuh itu dapat bangkit lagi dan dengan muka yang kini berobah merah sekali, guru silat itu memberi hormat kepada Kui Eng lalu melompat turun dan kembali ke tempat duduknya tanpa banyak cakap lagi.

Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan ini, akan tetapi beberapa orang mengerutkan alisnya.

Benarkah guru silat itu kalah sedemikian mudahnya?

Ataukah guru silat itu memang sengaja "dibeli"

Untuk berperan sebagai orang yang dikalahkan?

Ciu Wan-gwe adalah seorang yang kaya raya, mampu membayar apa saja dan guru silat itu merupakan orang baru di Kanton, siapa tahu dia memang sengaja bermain sandiwara agar dikalahkan dalam dua gebrakan saja!

Akan tetapi, mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi berpendapat lain.

Mereka melihat bahwa selain guru silat itu memang tidak begitu pandai, ternyata bahwa gadis hartawan ini benar-benar lihai sehingga mereka memandang kagum dan ketika Kui Eng mempersilahkan jagoan lain untuk naik, tidak ada seorangpun berani menyambutnya.

Yang paling gembira adalah Ciu Wan-gwe.

Ternyata puterinya mampu membuktikan omongannya.

Guru silat yang hebat tadi dirobohkan hanya dalam waktu sebentar saja!

Makin percayalah dia bahwa Kakek sakti itu memang benar telah mewariskan kepandaiannya kepada Kui Eng.

"Cu-wi yang mulia! Benarkah tidak ada lagi jagoan yang mau memberi petunjuk kepadaku? Ah, dan aku mendengar bahwa Kanton adalah gudangnya jago silat yang tinggi ilmunya. Apakah cu-wi ingin mengecewakan hatiku?"

Kui Eng berkata karena memang ia kecewa sekali.

Ia ingin memamerkan kepandaiannya dan juga mendatangkan kesan agar keluarganya ditakuti orang dan hati Ayahnya menjadi tenteram.

Kiranya di antara para jagoan itu yang maju hanyalah seorang guru silat mentah!

Wang Taijin, kepala daerah Kanton, merasa tersinggung mendengar ucapan gadis itu.

Seorang gadis yang sombong, pikirnya.

Memang di sudut hatinya, Wang Taijin merasa tidak suka kepada hartawan ini, karena dia mendengar bahwa orang she Ciu ini merupakan pedagang dan penyelundup candu terbesar di Kanton dan Tung-kang, seorang yang bersekongkol dengan orang-orang kulit putih.

Juga dia mendengar bahwa hartawan ini seolah-olah sudah menguasai semua pembesar di Kanton dengan suapan-suapannya.

Kalau saja tidak dibujuk oleh Lai Taijin, tentu dia sudah menyuruh orang-orangnya menuntut hartawan ini di pengadilan atau setidaknya melakukan penyitaan atas candu-candu simpanannya.

Kini, melihat sikap anak hartawan Ciu itu, yang seolah-olah menantang dan menghina orang-orang gagah di Kanton, dia mendongkol sekali.

Dengan isyarat tangan dan mata, diapun lalu menyuruh kepala pengawal yang menemaninya untuk maju dan menandingi gadis yang dianggapnya amat sombong itu.

Kepala pengawal ini adalah pengawal bawaan Wang Taijin dari Kota Raja, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tubuhnya jangkung, matanya tajam dan kumis jenggotnya panjang terpelihara rapi.

Dalam mengawal Wang Taijin, dia selalu berpakaian preman.

Orangnya pendiam dan sikapnya halus.

Melihat betapa majikannya memberi isyarat agar dia maju, pengawal yang jangkung ini mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut.

Dia adalah seorang kepala pengawal daerah Kanton, seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan kini dia disuruh maju melayani dan melawan seorang gadis yang usianya belum dua puluh tahun!

memang, diapun tadi melihat bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, akan tetapi maju melawan seorang gadis semuda itu saja sudah menurunkan martabatnya.

Akan tetapi, karena yang memerintah adalah majikannya, tanpa banyak cakap diapun bangkit berdiri dan sekali menggerakkan tubuhnya, dia sudah melayang naik ke atas panggung.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara apapun ketika hinggap di atas panggung, berhadapan dengan Kui Eng dan menjura dengan hormat.

Diam-diam Kui Eng terkejut.

Ini baru orang pandai, pikirnya, aku harus berhati-hati menghadapinya.

"Nona Ciu, maafkan kalau saya orang yang tua memenuhi undangan nona untuk bermainmain sebentar menghibur para tamu dan menggembirakan suasana. Harap nona suka mengalah kepada saya."

Kui Eng makin berhati-hati. Orang ini pandai merendahkan diri, akan tetapi sinar matanya begitu tajam. Tentu lawan yang berbahaya, pikirnya.

"Ah, paman terlalu sungkan. Kuharap pamanlah yang suka mengalah terhadap orang muda yang belum berpengalaman."

Katanya sambil balas menjura.

"Saya sudah siap, harap nona suka mulai,"

Kata kepala pengawal Wang Taijin itu.

"Paman adalah tamu, silahkan mulai."

Akan tetapi, kepala pengawal itu tentu saja rikuh sekali kalau harus menyerang lebih dulu.

Dia adalah seorang tua yang menang segala-galanya, mana mungkin harus menyerang dulu?

Maka diapun diam saja, hanya berdiri tegak, sama sekali tidak berlagak dengan kuda-kuda kokoh seperti yang dilakukan guru silat muda tadi.

Melihat orang ragu-ragu, Kui Eng tersenyum dan ia semakin hati-hati.

"Baiklah kalau begitu, lihat seranganku, paman!"

Kui Eng menyerang dengan biasa saja, dengan pukulan ke arah dada orang.

Melihat cara gadis itu menyerang, si kepala pengawal semakin memandang rendah.

Kiranya gadis itu hanya memiliki kecepatan saja dan tidak memiliki kepandaian yang berarti, demikian pikirnya.

Maka diapun cepat menangkis dengan mengerahkan sedikit tenaga saja, dengan harapan sedikit tenaga itu sudah cukup untuk memberi peringatan kepada gadis yang dianggapnya sombong itu.

"Dukk...!"

Ketika dua lengan bertemu, kepala pengawal itu terkejut bukan main.

Lengan gadis itu lunak hangat, seperti tidak bertenaga, akan tetapi membuat lengannya tergetar hebat seperti diguncang!

Maka, diapun cepat membalas dengan serangan kilat ke arah pundak kiri Kui Eng yang ditamparnya, dan sekali ini, tamparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang.

Ketika tadi bertemu lengan, Kui Eng tersenyum mengejek.

Kiranya hanya sekian saja tenaga orang jangkung ini, pikirnya.

Maka, begitu melihat lawan menampar pundaknya, suatu serangan yang dilakukan dengan sungkan-sungkan, dara inipun menangkis dengan mengerahkan sebagian sinkangnya.

Tidak sekuatnya, melainkan sedikit saja karena iapun tidak ingin mencelakai orang ini yang bersikap baik, tidak seperti guru silat tadi.

"Dukk...!"

Sekali ini Kui Eng yang terkejut ketika lengannya terpental.

Barulah ia tahu bahwa dalam pertemuan lengan pertama tadi, lawannya tidak sungguh-sungguh mengeluarkan tenaga dan baru sekarang lawannya itu memperlihatkan tenaganya, membuat lengannya terpental.

Iapun memandang tajam dan bangkit semangatnya, hatinya gembira.

Inilah lawan yang tangguh, pikirnya.

"Paman, siaplah menghadapi seranganku!"

Teriaknya dan iapun kini menyerang dengan sungguh-sungguh, kedua tangannya membentuk kepala ular yang mematuk-matuk dan gerakannya itu didasari tenaga sinkang yang amat kuat.

Kepala pengawal itu terkejut bukan main.

Dia melihat betapa kedua tangan lawannya seperti berobah menjadi banyak, sukar sekali diikuti dengan pandang mata.

Dia berusaha sekuatnya untuk menangkis dengan kedua lengannya, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat, ilmu silatnya terlalu aneh.

Kui Eng belum mengenal kehebatan ilmunya sendiri karena ia belum pernah berkelahi dengan orang lain dan ia tadi salah kira, menganggap bahwa lawannya itu tangguh sekali.

Kini, serangkaian serangannya tidak dapat dihindarkan lagi mengenai sasaran dan pundak kanan lawan itu terkena patukan tangan kirinya dengan keras sekali.

"Krekkk...!"

Kepala pengawal itu mengeluh dan roboh terkulai dalam keadaan pingsan!

Patukan tangan kiri Kui Eng itu bukan saja mematahkan tulang pundaknya, akan tetapi juga menembus lebih dalam lagi, menggetarkan isi dada dan membuatnya roboh pingsan!

Kui Eng terkejut bukan main.

"Ohh... maaf, paman...!"

Katanya, akan tetapi dara itu berdiri bingung karena melihat bahwa lawannya itu telah pingsan.

Tak disangkanya sedemikian mudahnya ia merobohkan lawan yang disangkanya amat tangguh itu.

Memang tangguh lawan itu, akan tetapi ia tidak dapat membayangkan bahwa kepandaiannya jauh lebih tinggi dan ia jauh lebih tangguh lagi.

Peristiwa ini tentu saja mendatangkan perasaan makin tidak senang di hati Wang Taijin.

Dia tadi menyuruh kepala pengawalnya untuk memberi pengajaran kepada gadis Ciu yang sombong itu, akan tetapi siapa kira bahwa dalam beberapa gebrakan saja jagoannya tidak hanya kalah, bahkan pingsan dan agaknya menderita luka parah!

Dengan alis berkerut kepala daerah Kanton ini melihat betapa jagoannya diusung turun dari atas panggung di bawah tepuk tangan para tamu yang memuji tuan rumah.

Kini semua orang memandang kagum karena secara berturut-turut, dua orang jagoan telah dirobohkan dalam waktu cepat sekali oleh gadis cantik itu.

"Aha, benar hebat nona Ciu Kui Eng!"

Tiba-tiba terdengar suara parau dan seorang lakilaki tinggi besar berperut gendut sudah meloncat naik ke atas panggung.

Melihat laki-laki berusia lima puluh tahun lebih dan berpakaian sebagai seorang perwira tinggi ini, Kui Eng cepat memberi hormat dengan ramah, merendah.

Tentu saja ia mengenal Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang sudah lama menjadi sahabat baik Ayahnya, dan yang dikenalnya sejak ia masih kecil.

Memang pada akhir-akhir ini Ma-Ciangkun jarang datang berkunjung ke Tung-kang, akan tetapi hubungan antara perwira itu dan Ayahnya masih tetap baik.

Sejak tadi Ma Cek Lung melihat betapa gadis itu mengalahkan dua orang lawannya.

Dia mengenal Kui Eng sebagai seorang anak yang manis dan ramah, dan diapun tahu bahwa gadis itu sejak kecil suka mempelajari ilmu silat dari para pengawal Ciu Wan-gwe.

Dia juga sudah mendengar bahwa gadis itu memperoleh seorang guru yang pandai, yang juga menjadi pengawal keluarga Ciu itu.

Ketika tadi Kui Eng keluar dan memperlihatkan kepandaiannya, dia merasa kagum juga, senang melihat anak perempuan yang dikenalnya di waktu kecil itu kini telah menjadi seorang gadis yang cantik dan lihai.

Akan tetapi ketika melihat betapa gadis itu merobohkan dua orang lawan, dia merasa tertarik sekali, lebih lagi ketika dia melihat Kui Eng mengalahkan kepala pengawal Wang Taijin yang diketahuinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Karena dia sendiripun seorang yang lihai ilmu silatnya, hatinya tertarik dan tak dapat ditahannya lagi dia lalu meloncat naik ke atas panggung sambil mengeluarkan kata-kata pujian.

Kini Ma Cek Lung sudah berhadapan dengan Kui Eng dan perwira bertubuh tinggi besar berperut gendut ini menyeringai dan matanya menjelajahi tubuh dan wajah Kui Eng penuh kagum.

Mukanya yang licin itu seperti berminyak dan matanya yang sipit sekali menjadi semakin sipit.

"Nona Ciu, akupun ingin main-main sebentar dengan engkau yang amat lihai!"

"Ah, Ma-Ciangkun harap jangan main-main. Mana aku berani melawanmu?"

Ma Cek Lung ini memang mempunyai watak mata keranjang.

Kecantikan Kui Eng yang sejak kecil dikenalnya itu telah membuat penyakitnya kumat, yaitu berlagak setiap kali bertemu wanita cantik.

Apa lagi sikap Kui Eng yang seolah-olah merasa sungkan kepadanya, yang dianggapnya sebagai sikap takut melawannya!

Maka diapun tertawa bergelak sambil membusungkan dadanya dan akibatnya yang busung adalah perutnya.

Dia sendiri menganggap sikapnya gagah, akan tetapi sebenarnya bagi orang lain hanya melihat perwira itu berkakakan dengan perut besar menonjol ke depan dan terguncang-guncang.

"Ha-ha-ha, nona Ciu, ilmu silatmu begitu lihai, jangan merendahkan diri. Melihat betapa sekarang engkau telah memperoleh kemajuan hebat, aku ingin sekali mencoba-coba. Mari, jangan bersikap sungkan, bukankah kita hanya mengadakan permainan bersama seperti latihan saja?"

Dia tertawa-tawa dengan sikap sombong sekali, seolah-olah sia seorang guru besar yang hendak memberi petunjuk dan latihan kepada seorang murid.

"Baiklah, Ma-Ciangkun,"

Kata Kui Eng.

"Ma-Ciangkun, harap jangan bersikap keras kepada puteriku!"

Tiba-tiba terdengar Ciu Wan-gwe berteriak kepada perwira yang menjadi sahabat baiknya itu. Perwira Ma itu menoleh ke arah tuan rumah dan tertawa lebar.

"Heh-heh, jangan khawatir, aku akan bersikap lunak sekali terhadap puterimu!"

Dengan lagak yang gagah, Ma Cek Lung lalu memasang kuda-kuda di depan gadis itu sambil berkata.

"Nona Ciu, mari kita mulai. kau sambutlah seranganku yang pertama."

Dengan sikap gagah dan pengerahan tenaga yang kuat, Ma Cek Lung membuka serangannya dengan pukulan tangan kanan ke arah pundak gadis itu.

Memang perwira ini memiliki tenaga besar dan juga ilmu silatnya sudah termasuk lumayan.

Akan tetapi dasar perwira mata keranjang yang sudah tergila-gila melihat wajah cantik dan bentuk tubuh yang menggairahkan dari Kui Eng, pukulannya itu berobah menjadi colekan ke arah bawah pundak, jadi ke arah dada gadis itu!

Tentu saja Kui Eng menjadi terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa perwira itu akan menyerang seperti itu.

"Ihhh...!"

Ia berseru lirih sambil cepat-cepat mengelak sehingga colekan itu mengenai tempat kosong.

"Heh-heh!"

Ma Cek Lung sudah menyusulkan serangan tangan kirinya yang kembali melakukan colekan ke arah perut bawah!

Ini sudah keterlaluan sekali dan Kui Eng menjadi marah bukan main.

Jelaslah bahwa perwira yang menjadi sahabat Ayahnya ini hendak kurang ajar, apa lagi melihat mulutnya menyeringai genit lalu terdengar desisnya berbisik.

"Kau manis sekali...!"

Dan susulan tangan kanannya yang kembali mencolek ke arah dada.

"keparat!"

Kui Eng mendesis di antara giginya dan dengan cepatnya tubuhnya mengelak dan kedua tangannya bergerak cepat seperti dua ekor kepala ular mematuk.

Ma Cek Lung tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan lagi.

Seperti sebuah arca batu, perwira Ma itu berdiri dengan tubuh agak merendah, tangan kanan dengan jari-jari seperti akan mencengkeram dan tangan kiri mencengkeram ke bawah, yaitu posisinya ketika hendak mencolek bawah perut dan dada tadi!

Melihat betapa perwira tinggi besar itu kini diam seperti arca dalam keadaan kaku, semua orang terkejut!

Para ahli maklum bahwa perwira itu telah menjadi korban totokan jalan darah yang amat hebat.

Dan perwira itu tertotok dalam waktu baru dua tiga jurus saja!

Sungguh sukar dipercaya ini, karena semua orang tahu bahwa Ma Ciangkun adalah seorang perwira tinggi, kepala pasukan keamanan Kanton yang tentu saja memiliki ilmu silat tinggi!

Kui Eng juga sadar bahwa ia tadi terlalu menurutkan hati yang marah karena sikap ceriwis dan kurang ajar dari komandan itu, maka kini melihat betapa perwira itu kaku oleh totokannya, iapun sadar bahwa tidak baik membikin malu perwira tinggi yang menjadi sahabat Ayahnya ini.

Maka iapun cepat menggerakkan kedua tangannya membebaskan totokan itu.

"Ma-Ciangkun, maafkan aku...!"

Katanya lirih.

Ma Cek Lung dapat bergerak kembali.

Mukanya menjadi merah sekali dan dia menjadi marah bukan main.

Dia, kepala pasukan keamanan Kanton, yang biasanya ditakuti orang, kini dihina oleh seorang gadis muda di depan begitu banyak orang bahkan di depan para pembesar.

Dia memang mata keranjang, akan tetapi kini dia dikuasai kemarahan yang memuncak sehingga dia lupa segala.

"Singgg...!"

Perwira ini sudah mencabut pedangnya dan mengancam dengan mengamangkan pedangnya di atas kepala.

"Bocah sombong, berani kau menghinaku?"

Dan tanpa banyak cakap lagi perwira yang marah ini sudah menyerang Kui Eng dengan pedangnya.

Hebat sekali serangan itu dan semua orang terbelalak karena merasa khawatir dan tegang, sama sekali tidak mengira bahwa pi-bu persahabatan itu berobah menjadi kemarahan sang perwira yang kini menggunakan pedang menyerang dengan sungguh-sungguh.

Ciu Wan-gwe sendiri memandang dengan muka pucat, tidak tahu harus berbuat apa menghadapi peristiwa itu dan tentu saja dia khawatir sekali akan keselamatan puterinya.

Pedang itu menyambar dahsyat ke arah leher Kui Eng.

Agaknya, di dalam kemarahannya karena merasa terhina, Ma-Ciangkun hendak memancung leher Kui Eng!

Akan tetapi, pedang itu hanya mengenai angin saja karena dengan cepat sekali Kui Eng telah mengelak dengan langkah ke belakang.

"Ciangkun, ingatlah...!"

Ia berkata, kaget dan juga penasaran melihat betapa perwira itu kini menyerang dengan senjata pedang, dengan sungguh-sungguh lagi, bukan sekedar pi-bu persahabatan lagi.

Akan tetapi, luputnya serangan pertama ini seperti minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Ma Cek Lung makin berkobar.

Pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika diputarnya dan dia sudah menyerang kalang kabut.

Pedangnya berobah menjadi sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Kui Eng.

Gadis ini terus mengelak, dengan kecepatan yang luar biasa dan sekali lagi ia mengingatkan Ma Cek Lung.

"Ma-Ciangkun, hentikan seranganmu atau terpaksa aku membalas!"

Dalam keadaan marah seperti itu, tentu saja Ma Cek Lung tidak mau menghentikan serangannya sebelum berhasil.

Pedangnya menyambar semakin ganas seolah-olah perwira itu menghadapi dan menyerang seorang musuh besar yang harus dibunuhnya!

Menghadapi serangan seperti ini, Kui Eng yang mempunyai watak galak dan keras itu menjadi penasaran dan marah sekali.

"Kau kira aku takut padamu!"

Bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi hanya mengelak saja dengan loncatan-loncatan lincah, kini menerjang ke depan.

"Plak...! Tranggg...!"

Pedang itu terlempar ke atas papan panggung dan tubuh perwira itupun terpelanting dengan keras.

Semua orang ternganga dan terbelalak memandang ke atas panggung.

Sekali ini, tidak ada seorangpun berani bertepuk tangan atas kemenangan Kui Eng, walaupun mereka terkejut, kaget dan juga kagum bukan main.

Kini tidak ada yang menyangsikan lagi akan kehebatan ilmu kepandaian Ciu Kui Eng.

Ma Cek Lung tidak terluka parah karena Kui Eng yang masih ingat bahwa ia berhadapan dengan seorang komandan, hanya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas, kemudian sebuah tendangan ke arah lutut kaki membuat perwira itu terpelanting.

Akan tetapi karena pantatnya terbanting keras ke atas papan, rasa nyeri membuat dia meringis ketika bangkit dan mengambil pedangnya.

Dia mengeluarkan suara makian yang diguman saja, matanya mendelik ke arah Kui Eng.

Kemudian dia bangkit berdiri dan memandang ke arah Ciu Wan-gwe dengan mata melotot.

Hartawan ini cepat lari naik ke panggung dan menjura kepada perwira itu.

"Ciangkun, harap maafkan kelancangan anakku..."

Suaranya penuh permohonan.

Akan tetapi Ma Cek Lung hanya mendelik, kemudian tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar tanpa pamit dia keluar dari situ untuk meninggalkan rumah keluarga Ciu dan langsung keluar.

Wang-taijin yang tadi sudah merasa tidak suka karena kepala pengawalnya terluka, apa lagi ketika mendengar bahwa tulang pundak pengawalnya itu patah-patah, melihat perginya Ma Cek Lung, dia juga bangun berdiri dan pergi dari situ tanpa pamit!

Ciu Wan-gwe cepat menghampiri dan memberi hormat, mencoba untuk menahan sang pembesar.

Akan tetapi Wang-taijin hanya mendengus, kemudian pergi dan langsung kembali ke Kanton.

Para tamu juga merasa tidak enak dan seorang demi seorang lalu berpamit meninggalkan tempat itu walaupun hidangan belum sempat disuguhkan semua.

Hanya tinggal Lai-taijin yang masih berada di situ karena ditahan-tahan oleh Ciu Wangwe.

"Harap taijin sudi memaafkan kami dan tolonglah keluarga kami dari kemarahan Wangtaijin dan Ma-Ciangkun. Saya tidak akan melupakan budi kebaikan taijin."

Berkali-kali Ciu Lok Tai memohon kepada wakil kepala daerah Kanton itu yang mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum, apa lagi ketika hartawan itu menyerahkan sebuah kantong terisi potongan-potongan emas!

"Ah, tak perlu sungkan-sungkan, saudara Ciu,"

Katanya meringis malu-malu kucing.

"Akan kuusahakan agar kemarahan mereka mereda. Mereka tadi tentu hanya dikuasai oleh perasaan marah saja. Jangan khawatir. Biar aku pulang dulu dan eh... anu... persediaanku tinggal sedikit..."

Ciu Lok Tai tersenyum lega.

"Ah, jangan khawatir, taijin, akan saya kirim besok. Akan saya pilihkan yang murni dan paling baik."

"Terima kasih, terima kasih..."

Sambil tersenyum ramah pembesar itu lalu meninggalkan rumah keluarga Ciu dengan keretanya yang sudah menanti di luar.

Ciu Lok Tai lalu memanggil Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang tamu bekas jagoan-jagoannya yang masih berada di situ.

Dua orang ini juga merasa khawatir sekali dan segera mengikuti Ciu Wan-gwe bersama puterinya yang masuk ke dalam ruangan belakang.

Setelah tiba di situ, Ciu Wan-gwe menegur puterinya.

"Semua ini gara-gara engkau, Kui Eng. Kenapa engkau tidak dapat menahan diri dan sampai melukai pengawal Wang-taijin, bahkan membikin malu Ma-Ciangkun yang menjadi sahabat baikku? Mereka adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi di Kan-ton! Engkau mencari perkara saja!"

Kui Eng mengerutkan alisnya, tidak senang disalahkan oleh Ayahnya.

"Ayah, apakah aku harus membiarkan saja orang menghinaku dan kurang ajar kepadaku? Jangankan baru para pembesar Kanton, biar dia dari istana sekalipun, kalau kurang ajar tentu akan kuhajar dia!"

"Ssttt, tahan tuh mulutmu!"

Ayahnya membentak, akan tetapi tidak melayani anaknya yang sudah pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah.

Dia tahu akan kekerasan hati puterinya dan melihat betapa lihainya anak itu sekarang, diapun tidak mau membikin ribut.

Bagaimanapun juga, setelah Tee-tok pergi, dia harus mengandalkan kepandaian puterinya itu untuk keselamatan dirinya dan keluarganya.

"Harap kalian suka bermalam di sini, dan besok tolong kirimkan candu yang pilihan kepada Lai-taijin. Hatiku masih tegang dan khawatir, harap kalian temani aku malam ini."

Pada sore hari itu, seorang pemuda memasuki sebuah rumah makan di kota Tung-kang.

Pemuda ini berpakaian sederhana sekali, membawa sebuah buntalan pakaian, tubuhnya sedang tegap, dadanya bidang dan wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan kebijaksanaan.

Pakaiannya seperti pakaian seorang petani, akan tetapi melihat gerak-geriknya, dia seperti bukan petani dusun dan cara dia menerima sambutan pelayan dan duduk di kursinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sopan.

Pemuda ini memang bukan orang sembarangan walaupun nampak sederhana sekali karena dia adalah Tan Ci Kong!

Baru saja Ci Kong memasuki kota Tung-kang, tempat kelahirannya dan begitu memasuki pintu gerbang kota itu, hatinya dicekam rasa haru.

Dia langsung mengunjungi makam Ayahnya.

Akan tetapi dia tidak menangis ketika bersembahyang di depan kuburan Ayahnya yang sederhana.

Juga dia tidak berjanji apa-apa karena bimbingan yang bijaksana dari manusia sakti Siauw-bin-hud membuat batin Ci Kong bersih dari pada benci dan dendam.

Dia tahu bahwa Ayahnya tewas dalam tahanan karena berani menentang pemerintah, dan dia masih ingat betapa Ayahnya disiksa oleh seorang perwira gendut di rumah hartawan Ciu di kota Tung-kang.

Akan tetapi dia tidak menaruh hati dendam.

Berulang kali Siauw-bin-hud memberi wejangan kepadanya, meyakinkan hatinya bahwa dendam dan benci adalah penyakit yang meracuni badan dan batin sendiri.

Sebagai seorang pendekar tentu saja dia boleh bertindak mempergunakan kepandaiannya untuk menentang yang jahat dan membela yang benar, akan tetapi semua tindakan itu sama sekali salah kalau dilandasi kebencian dan dendam.

Setelah duduk bersila sampai berjam-jam lamanya di depan kuburan Ayahnya, dan tahu-tahu siang telah berganti senja, diapun meninggalkan makam itu dan karena perutnya terasa lapar, dia lalu memasuki sebuah rumah makan di ujung jalan.

Tidak ada seorangpun di kota itu yang mengenalnya.

Dia dahulu baru berusia tujuh tahun ketika pergi meninggalkan kota itu, dan kini dia telah berusia hampir dua puluh tahun.

Tentu saja tidak ada yang tahu bahwa pemuda sederhana ini adalah putera tunggal Tan Siucai atau Tan Seng yang namanya dikenal oleh seluruh penduduk Tung-kang, Bahkan terkenal pula sampai ke Kan-ton sebagai seorang sasterawan miskin yang gagah berani dan patriotik.

Terutama sekali kau m patriot dan orang-orang gagah, amat menghormati nama Tan Siucai itu.

Restoran itu tidak begitu ramai.

Ketika Ci Kong masuk dan duduk di sudut, di situ hanya ada empat orang yang sedang makan minum di meja tengah, akan tetapi ketika mereka menyebut-nyebut nama Ciu Wan-gwe mengingatkan dia akan hartawan yang pernah memukuli Ayahnya bersama seorang perwira gendut, dan nama Ciu Wan-gwe memang dikenal di seluruh penduduk Tung-kang, termasuk dia sendiri.

Sambil diam-diam makan pesanan nasi dan sayur, tanpa menoleh, Ci Kong memasang telinga mendengarkan.

"Luar biasa sekali puteri Ciu Wan-gwe itu. Betapa mudahnya ia mengalahkan pria-pria yang lihai itu!"

"Benar, ia memang cantik jelita, lihai dan kaya raya. Akan tetapi aku berani tanggung ia tidak akan mudah memperoleh jodohnya."

"Eh, kenapa kau bilang begitu, A-kao?"

"Byangkan saja. Siapa berani sembarangan melamar anak orang yang paling kaya di Tung-kang? Pula, kepandaiannya demikian hebat, salah-salah yang menjadi suaminya bisa dibunuhnya!"

Terdengar empat orang itu tertawa lirih.

"Dan Ayahnya tentu tidak mengijinkan ia menikah."

"Lho! Kenapa begitu?"

"Masa kau tidak tahu, A-piu! Ayahnya masih gila perempuan, tentu memikirkan diri sendiri, mana mau memikirkan jodoh anaknya?"

"Kabarnya banyak korban gadis-gadis dan istri-istri muda di tangan Ciu Wan-gwe,"

Terdengar suara lirih akan tetapi masih dapat ditangkap oleh telinga Ci Kong.

"Bhkan Enci adik Phoa yang menjadi kembang di kampung belakang pasar itupun kini menjadi miliknya."

"Memang benar, baru beberapa hari yang lalu. Habis, Ayahnya menjadi setan candu sih, maka anak-anaknya ditukar dengan candu."

"Menjijikkan benar! Kaki tangan Ciu Wan-gwe itu selalu mengincar keluarga yang ada wanita-wanita cantiknya, lalu kepala keluarga dilolohi candu sampai menjadi ketagihan dan kalau sudah begitu, anak atau bininya sendiri akan dijual untuk memperoleh candu."

"Bnyak orang bunuh diri setelah dipaksa melayani hartawan itu, yang oleh suaminya ditukar dengan candu."

"Ssttt, sudahlah. Untuk apa membicarakan hal itu? Kalau terdengar anaknya, hiiiih, sekali tangan yang kecil mungil itu bergerak, nyawa kita akan melayang!"

Mendengar percakapan ini, timbul kemarahan dalam hati Ci Kong.

Kiranya hartawan Ciu itu masih saja mengedarkan candu yan dulu amat ditentang Ayahnya.

Dan di sepanjang perjalanan bersama susiok-couwnya, diapun mendengar betapa candu makin mencengkeram kehidupan rakyat jelata.

Ayahnya juga tewas akibat menentang candu yang merusak rakyat.

Diam-diam dia mengepal tinju.

Aku harus memperingatkan Ciu Wan-gwe itu, pikirnya.

Bukan untuk membalas dendam Ayahnya.

Sama sekali tidak.

Hanya untuk memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu di antara rakyat jelata, dan membuka mata hartawan itu betapa buruk akibatnya bagi rakyat.

Kalau hartawan itu tidak mengindahkan peringatannya, baru dia akan turun tangan menghajarnya agar jera dan menurut.

Akan tetapi, Ci Kong tidak mau bertindak sembrono.

Sebelum melaksanakan niatnya, malam itu dia melakukan penyelidikan, bertanya-tanya pada penduduk di perkampungan.

Dan apa yang didengarnya dari keterangan orang-orang kampung bahkan melampaui apa yang didengarnya di restoran itu.

Ciu Wan-gwe memang menjadi semacam raja kecil di Tung-kang, mengandalkan hartanya, mengandalkan jagoan-jagoan dan tukang pukulnya, dan mengandalkan pengaruhnya terhadap semua pembesar setempat, bahkan para pembesar di kanton.

Hampir semua penduduk membencinya, tentu saja kecuali mereka yang memperoleh keuntungan dari hartawan ini.

Dan makin sedih hati Ci Kong mendengar dan melihat kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Tung-kang telah tercengkeram candu!

Dan tempat pemadatan tersebar di seluruh kota.

Bahkan ketika dia berjalan-jalan, bau madat terbakar menyambut hidungnya di mana-mana, bau yang memuakkan sekali.

Banyak pula dilihatnya orang-orang yang kurus kering, dengan pandang mata sayu, dengan senyum aneh di bibir, berjalan seperti mayat hidup tanpa semangat.

Mereka itulah pecandu-pecandu yang sudah berat keadaannya, karena racun candu sudah memenuhi tubuh sampai ke darahnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ci Kong sudah keluar dari rumah penginapan di mana dia bermalam.

Buntalan pakaiannya dia tinggalkan di kamar penginapan itu dan dia lalu berjalan kaki menuju ke rumah gedung megah milik Ciu Wan-gwe.

Pernah satu kali dia memasuki gedung itu, duabelas tahun yang lalu, ketika dia mohon ampun untuk Ayahnya yang disiksa di situ.

Dia mengepal tinju dan menekan hatinya.

"Tidak, bukan untuk itu aku datang ke sana!"

Bantahnya sendiri.

Ketika dia tiba di depan pintu gerbang gedung itu, ternyata pintu gerbang itu telah terbuka.

Dengan tabah dia lalu masuk begitu saja karena tidak nampak ada orang.

Dia akan berterus terang minta bertemu dengan Ciu Lok Tai dan langsung saja memberi peringatan kepada hartawan itu untuk menyadarkannya.

"Heii! Siapa kamu dan mau apa kamu masuk kesini?"

Tiba-tiba terdengar teguran suara yang bengis.

Ci Kong mengangkat muka dan melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari dalam gedung.

Seorang yang bertubuh tinggi besar, di pinggangnya tergantung sebatang pedang, sikapnya angkuh dan galak.

Orang ke dua bertubuh gendut, menyeringai dengan penuh ejekan dan di pinggang orang ini tergantung sebatang payung sehingga nampak lucu sekali.

Mereka ini berusia kurang lebih lima puluh tiga tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi, dengan topi batok hitam, mudah diduga bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki kedudukan.

Yang gendut itu membawa sebuah peti kecil yang berukir indah, dan yang menegurnya adalah si tinggi besar yang galak.

Ci Kong tidak tahu bahwa dua orang ini adalah jagoan-jagoan yang pernah bekerja sebagai pengawal-pengawal Ciu Wan-gwe dan yang kini sudah menjadi pengawal di kota Kanton.

Mereka adalah Gan Ki Bin, yang tinggi besar, dan Lok Hun, yaitu yang berperut gendut.

Dengan sikap tenang Ci Kong menjura kepada dua orang itu dan menjawab dengan suara tenang pula.

"Maaf, karena tidak ada orang maka saya masuk ke dalam pintu gerbang. Saya datang untuk bertemu dengan Ciu Lok Tai, harap ji-wi suka membantu saya dan memberi tahu kepada Ciu Wan-gwe."

"Kau datang mau pinjam uang?"

Tanya Lok Hun yang gendut perutnya.

Pandang matanya menghina sekali.

Tentu saja Ci Kong merasa marah, akan tetapi dia tetap tenang.

Sebagai murid Siauwbin-hud, tidak mudah kemarahan menguasai batin pemuda ini.

Dia menggeleng kepalanya tanpa menjawab.

"Kalau tidak mau hutang, apakah mengemis?"

Kini Gan Ki Bin yang membentak setelah mengamati pakaian pemuda itu.

Seorang petani saja mau apa minta bertemu dengan Ciu Wangwe kalau bukan mau hutang atau mengemis?

Pertanyaan ini lebih menyakitkan hati lagi, akan tetapi sungguh luar biasa pemuda itu.

Dia tetap tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah.

Akan tetapi, seperti juga tadi, dia menggeleng kepala.

"Bocah dusun! Kalau bukan hutang atau mengemis, habis mau apa orang macam engkau ini berani pagi-pagi datang mengganggu Ciu Wan-gwe? Agaknya engkau mempunyai niat busuk. Mau mencuri, ya?"

"Urusan saya tidak ada sankut pautnya dengan ji-wi. Harap tolong panggilkan Ciu Wangwe, biar saya bicara sendiri dengan dia."

"Aku tidak sudi memanggilkan!"

Bentak Gan Ki Bin.

"Dan aku tidak memperbolehkan kau masuk!"

Bentak Lok Hun, keduanya siap untuk memukul pemuda dusun yang berani mengganggu sepagi itu.

Mereka baru saja keluar dari dalam gedung Ciu Wan-gwe sambil membawa peti berisi candu murni untuk diserahkan kepada Laitaijin, wakil kepala daerah Kanton.

Karena pintu gerbang itu terbuka lebar-lebar, maka keributan yang terjadi itu menarik perhatian orang-orang yang lewat dan sebentar saja sudah banyak orang berdiri di luar pintu dan nonton keributan itu.

Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian seperti seorang ahli silat.

Pemuda ini berusia kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, sepasang matanya mencorong penuh wibawa dan dia tersenyum-senyum melihat keributan yang terjadi di sebelah dalam pintu gerbang itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Ong Siu Coan!

Seperti kita ketahui, Ong Siu Coan diijinkan turun gunung oleh Thian-tok dan bersama sutenya, Gan Seng Bu, dia turun gunung dan melakukan perjalanan berpisah.

Dia hendak mencari Koan Jit, suhengnya yang melarikan Giok-liong-kiam.

Akan tetapi di sepanjang perjalanan, Ong Siu Coan mendengar tentang pemberontakan yang terjadi dimana-mana.

Juga dia banyak mendengar tentang orang-orang kulit putih yang menyelundupkan candu dan meracuni rakyat dengan benda itu.

Sejak kecil dia terlahir di antara orang-orang yang berjiwa patriot, yang menentang pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah.

Maka, melihat kelakuan orang-orang kulit putih itu, dia menjadi marah sekali.

Apa lagi melihat betapa madat telah mendatangkan kesengsaraan yang amat hebat bagi rakyat jelata.

Dia yang sejak kecil bercita-cita menjadi patriot, merasa tidak senang dan terutama hal ini ditujukan kepada pemerintah Mancu yang dianggapnya bersekongkol dengan orang-orang kulit putih untuk meracuni dan merusak rakyat demi untuk keuntungan mereka sendiri.

Ketika dia tiba di kota Tung-kang, dia melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ciu Wan-gwe menjadi orang terpenting dan terkaya, orang yang menjadi pedagang candu dan suka berhubungan dengan para pejabat dan orang-orang kulit putih.

Dia menjadi tertarik dan ingin menyelidiki.

Kebetulan sekali, pada pagi hari itu dia melihat ribut-ribut ketika lewat di depan gedung Ciu Wan-gwe dan ketika dia menyelinap di antara rombongan orang yang berkerumun di luar pintu gerbang, dia melihat pula keributan yang terjadi di antara seorang pemuda gagah dengan dua orang yang agaknya merupakan petugas-petugas keamanan di gedung itu.

Maka dengan hati tertarik sekali dia mengikuti peristiwa keributan itu, di mana si pemuda gagah ingin bertemu dengan Ciu Wan-gwe dan disambut dengan ucapan-ucapan bernada menghina oleh dua orang petugas itu.

Melihat peristiwa itu, segera timbul kecondongan di hati Siu Coan untuk membantu pemuda gagah itu, akan tetapi dia hanya nonton sambil tersenyum karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang nampak tenang dan berani itu tentu bukan orang sembarangan.

Bukan orang sembarangan kalau sudah berani menentang Ciu Wan-gwe yang amat ditakuti oleh penduduk kota itu.

Maka diapun hanya menyelinap ke depan saja untuk dapat nonton lebih jelas.

Sementara itu, melihat sikap dua orang yang kasar dan menghinanya, Ci Kong mengerutkan alisnya akan tetapi dia tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa tidak senangnya.

"Bukankah ji-wi hanya merupakan orang-orangnya Ciu Wan-gwe saja? Kenapa ji-wi bersikap begini kasar? Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Ciu Wan-gwe sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan ji-wi. Kalau ji-wi tak mau memanggilkan juga tidak mengapa, aku bisa masuk dan mencarinya sendiri."

"Apa? kau berani memaksa masuk?"

Bentak Gan Ki Bin yang bertubuh tinggi besar.

"Apa kau sudah kepingin mampus?"

"Hayaaaa, bocah petani busuk ini perlu apa dilayani?"

Lok Hun menyeringai.

"Pukul saja biar dia tahu rasa. Anjing kalau tidak cepat dipukul tentu akan menggonggong terus, pukul dia biar dia lari sambil mengempit buntutnya, ha-ha!"

Gan Ki Bin yang memang wataknya berangasan, mendengar kata-kata kawannya itu mengayun tangan kirinya yang besar dan berat, menampar ke arah muka Ci Kong sambil berkata.

"Pergilah, kau menjemukan kami!"

Tamparan itu kuat sekali dan kalau mengenai pipi orang tentu akan membuat pipi itu bengkak, bahkan mungkin giginya akan rontok.

Memang Gan Ki Bin ini memiliki tenaga yang besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, dan karena dia memiliki ilmu silat lumayan, maka gerakannya itu selain kuat, juga amat cepat.

"Wuuuttt...!"

Akan tetapi pukulan itu lewat di samping muka Ci Kong karena pemuda ini dengan sedikit miringkan kepala saja sudah dapat mengelak.

Karena tamparannya luput, Gan Ki Bin menjadi marah sekali.

Dia tahu bahwa di luar pintu gerbang banyak orang nonton dan memang dia dan kawannya sengaja membiarkan orang-orang itu nonton agar mereka melihat betapa dia dan kawannya menghajar pemuda lancang ini.

Akan tetapi, tamparannya luput dan hal ini dianggap memalukan dirinya.

"Bocah kampungan, berani engkau melawanku!"

Bentaknya dengan berang.

Demikianlah watak orang yang mengandalkan kekuasaan untuk menekan yang bawah.

Orang dupukul mengelak dianggap melawan.

Maunya sih orang-orang macam Gan Ki Bin dan Lok Hun ini, kalau memukul orang lain supaya orang itu menerima saja, jangan sekali-kali mengelak atau membakang!

Karena tamparannya luput, Gan Ki Bin menjadi semakin marah dan kini tangan kanannya yang dikepal besar dan kuat itu menonjok!

Jotosan yang amat keras meluncur ke arah dagu Ci Kong yang kalau tepat mengenai sasaran dapat membuat orang seketika roboh pingsan dengan tulang rahang retak atau patah-patah!

"Wuuuttt...!"

Untuk kedua kalinya, pukulan itu luput karena dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Ci Kong. Hal ini membuat Gan Ki Bin menjadi semakin marah.

"Hemm, engkau manusia yang tidak patut dikasihani lagi!"

Bentaknya dan majulah dia dengan berangnya, menghujankan serangan pukulan dan tendangan.

Mengalah ada batasnya, demikian pikiran Ci Kong dan melihat sebuah pukulan keras menuju ke arah dadanya, dia menyambutnya dengan sentilan jari telunjuk.

"Tukk...!"

Telunjuk itu menyentil ke arah kepalan tangan dan tiba-tiba orang tinggi besar itu memekik kesakitan.

"Aduh-duh-duhh...!"

Dengan tangan kirinya dia memegang dan menggosok-gosok kepalan tangan kanan yang kena disentil jari telunjuk pemuda itu karena terasa nyeri bukan main, rasa nyeri yang menjalar melalui lengan itu dan seperti menusuk-nusuk jantung.

"Aku tidak ingin ribut dengan ji-wi, melainkan hendak bertemu dengan Ciu Wan-gwe."

Ci Kong masih mencoba mengendurkan mereka dengan kata-kata.

Akan tetapi kini Lok Hun yang gendut itupun sudah menjadi marah sekali melihat betapa kawannya tidak berhasil malah kesakitan dan melihat betapa wajah orang-orang yang berada di luar pintu gerbang berseri dan senyum-senyum bermunculan di antara mereka!

"Anjing ini tidak boleh diberi ampun!"

Bentaknya dan tangan kanannya sudah melolos senjata payungnya yang aneh!

Juga Gan Ki Bin sudah mencabut pedangnya!

Kini dua orang itu menghadapi Ci Kong dengan senjata di tangan dan sikap mereka mengancam sekali!

Melihat betapa keributan itu kini memuncak dan dua orang yang mereka kenal amat galak dan kejam itu kini mencabut senjata, semua penonton merasa khawatir akan keselamatan pemuda itu.

Hanya Siu Coan yang masih nonton sambil tersenyum karena dia mengenal orang pandai dan yakin bahwa biarpun bersenjata, dua orang galak itu tidak akan mampu manandingi pemuda tenang itu.

Yang menarik perhatian Siu Coan adalah peti kecil yang dikempit di tangan kiri si gendut.

Dia dapat menduga bahwa peti kecil itu tentu berisi benda yang amat berharga dan timbul niatnya untuk memiliki peti kecil itu.

Dia mulai sekarang harus mengumpulkan harta kekayaan karena dia maklum bahwa perjuangan yang dicita-citakannya melawan penjajah membutuhkan banyak tenaga pasukan dan untuk itu diperlukan sekali harta untuk pembiayaannya.

"Hemm, kalian mencari penyakit sendiri,"

Kata Ci Kong, kini maklum bahwa sikap lembut dan damai tidak mungkin dapat mempengaruhi dua orang galak ini.

Diapun bersiap untuk menghajar dua orang ini agar jera, agar lain kali tidak lagi bersikap sewenang-wenang menghina orang lain.

Dua orang pengawal itu tadinya mengharapkan pemuda itu ketakutan agar mereka dapat menghinanya untuk menebus kekalahan tadi.

Akan tetapi melihat sikap Ci Kong malah menantang, keduanya segera menggerakkan senjata dengan niat membunuh!

Gan Kin Bin sudah menggerakkan pedangnya membacok ke arah kepala Ci Kong, sedangkan dari sebelah kiri, Lok Hun menggerakkan senjata payungnya yang menyembunyikan pedang sebagai gagang itu untuk menusuk perut pemuda itu!

Serangan maut yang dilakukan hampir berbareng.

Akan tetapi, betapapun lihainya, tentu saja dua orang kasar ini sama sekali bukan tandingan pemuda yang sudah digembleng oleh Siauw-bin-hud sampai matang itu.

Biarpun diserang dengan pedang dan payung pedang, Ci Kong tidak menjadi gentar atau gugup.

Sikapnya masih tenang saja, akan tetapi ketika kedua senjata itu sudah dekat menyambar tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya.

Dia telah mempergunakan ginkang yang amat hebat dan tahu-tahu dua orang pengeroyok yang kehilangan lawan itu, Sebelum mereka sempat menarik kembali senjata mereka, mengeluarkan pekik kaget dan disusul suara berkerontangan karena senjata mereka terlepas dari tangan yang tiba-tiba saja menjadi lemas kehilangan tenaga ketika Ci Kong menampar pundak kanan mereka.

Ci Kong yang memang ingin memberi hajaran kepada dua orang kasar itu, melanjutkan dengan tamparan pada leher Gan Ki Bin yang kembali mengeluarkan pekik kesakitan dan tubuhnya terpelanting ke atas lantai.

Lok Hun juga terkejut, akan tetapi tahu-tahu lututnya telah ditendang dan diapun roboh menelungkup, peti kecil yang dikempitnya tadi terjatuh.

Dia teringat akan benda itu dan dengan nekat dia lalu menubruk petinya.

Gan Ki Bin sudah bangkit lagi, menubruk dan dia disambut dengan sebuah tamparan yang membuat dia roboh kembali dengan kepala menghantam tihang.

(Lanjut ke

Jilid 11) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 11

"Brukkk...!"

Tiba-tiba semua orang menjadi kaget, termasuk Ci Kong karena seperti seekor burung saja, dari luar pintu gerbang melayang tubuh seorang gadis cantik.

Dari luar pintu gerbang, tubuh itu melayang seperti terbang melampaui kepala para penonton di depan pintu, dan kini tubuh itu langsung menerjang Ci Kong dengan bentakan nyaring dan halus tadi.

Ci Kong masih mencengkeram punggung baju Lok Hun dengan tangan kanan, dan melihat serangan yang demikian aneh dan cepat, diapun menyambut dengan tonjokan tangan kirinya.

Gadis yang cantik jelita dengan pakaian mewah itu cepat mengembangkan kedua lengannya, yang kiri memukul ke arah dada dengan tangan terbuka, sedangkan tangan kanannya siap menotok atau menangkis.

Sekali ini Ci Kong terkejut.

Gadis itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan itu saja sudah membuktikan bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang lihai bukan main.

Dan dia terpesona oleh kecantikan yang menyolok itu.

Dalam keadaan tubuh di udara, gadis itu kini malah mengancamnya dengan serangan tangan kiri ke arah dada, bukan sembarangan serangan karena dari tangan kiri gadis itu keluar tenaga yang mendatangkan angin bercuitan!

Terpaksa dia melemparkan tubuh Lok Hun ke kanan.

"Bresss...!"

Dengan kerasnya tubuh si gendut itu menabrak dinding dan diapun terkulai lemas, pingsan seperti temannya yang juga sudah setengah mampus itu.

"Dukkk!"

Dua tenaga sinkang yang sama kuatnya, yang disalurkan melalui tangan masing-masing, bertemu di udara dan akibatnya, tubuh dara itu terpental sampai jauh ke belakang di mana secara indah sekali ia berjungkir balik dan turun ke atas tanah dengan tegak.

Ci Kong sendiri merasa betapa tangannya tergetar hebat oleh pertemuan tenaga tadi dan mengertilah dia bahwa gadis itu benar-benar lihai bukan main.

Di lain pihak, gadis itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda yang mampu menghajar dua orang kepercayaan Ayahnya sampai jatuh pingsan ini adalah seorang yang amat lihai maka iapun mengamati dengan penuh perhatian.

"Keparat, berani kau mengacau rumah kami! Siapa kau ?"

Bentak gadis itu yang ternyata adalah Ciu Kui Eng.

Sebagai murid datuk sakti Tee-tok yang sudah tamat belajar, tentu saja ia lihai sekali dan tingkat kepandaiannya tidak berada terlalu jauh di bawah tingkat Ci Kong.

Ci Kong juga merasa heran.

Kiranya gadis cantik yang amat lihai ini masih keluarga Ciu Wan-gwe dan tiba-tiba saja teringatlah dia akan peristiwa duabelas atau tigabelas tahun yang lalu.

Ketika Ayahnya pergi memenuhi panggilan Ciu Wan-gwe untuk membuatkan tulisan indah, dia menyusul dan melihat Ayahnya dihajar oleh Ciu Wan-gwe dan seorang perwira.

Ayahnya itu agaknya akan dibunuh dan mungkin dia sendiripun akan dibunuh oleh perwira itu kalau saja tidak muncul seorang anak perempuan yang dengan beraninya menentang hartawan yang menjadi Ayahnya itu untuk melepaskan Ayahnya dan dia sendiri!

Dan gadis cilik itu dahulu mencelanya karena dia berlutut mintakan ampun untuk Ayahnya.

Mengertilah dia bahwa agaknya inilah gadis cilik yang sudah menunjukkan sikap hebat dahulu itu, kini telah menjadi seorang dara yang selain cantik jelita, juga amat gagah perkasa.

Maka, wajah Ci Kong menjadi merah dan diapun cepat menjura.

"Maaf, aku datang bukan untuk mengacau. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ciu Wan-gwe, akan tetapi dua orang ini selain melarangku, juga menghina bahkan menyerangku."

Terdengar suara hiruk-pikuk dan bermunculanlah pengawal-pengawal dari depan dan belakang yang jumlahnya belasan orang.

Mereka itu sudah mencabut senjata dan mengurung pendapa gedung itu.

Melihat datangnya banyak pengawal, para penonton di depan pintu gerbang menjadi panik dan tadipun para pengawal sudah mendorong mereka ke kanan kiri ketika sebagian dari mereka datang dari luar.

Para penonton itu menjauhkan diri, masih nonton akan tetapi dari jarak jauh.

"Bohong! Dia bohong, nona!"

Tiba-tiba terdengar si gendut Lok Hun berseru.

Si gendut ini hidungnya berdarah dan dahinya membenjol sebagai akibat menubruk dinding tadi dan kini dia sudah siuman dan begitu sadar tadi dia mencari-cari peti kecil terisi madat murni.

Akan tetapi peti kecil itu telah lenyap.

Karena itu, dia cepat membantah ketika Ci Kong membela diri di depan nona majikannya.

"Dia datang tentu untuk merampas peti kecil berisi madat murni yang kami bawa itu!"

Kui Eng mengerutkan alisnya.

Dia tiba-tiba memandang penuh perhatian kepada pemuda ini, seorang pemuda petani akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian amat tinggi.

Dan anehnya, ia merasa seperti pernah mengenal pemuda ini, namun lupa lagi entah kapan dan di mana.

"Benarkah engkau datang hanya untuk mencuri sepeti kecil madat?"

Bentaknya kepada Ci Kong. Ci Kong menggeleng kepala.

"Aku paling benci madat, untuk apa aku merampas madat?"

Sementara itu, Lok Hun yang kehilangan madat itu menjadi khawatir sekali, lalu dia keluar bertanya-tanya.

Di antara penonton ada yang melihat bahwa peti kecil itu tadi dilarikan seorang pemuda yang sebaya dengan Ci Kong.

Mendengar ini, Lok Hun berlari memasuki pintu gerbang di mana Ci Kong masih dihadapi Kui Eng dan dikurung oleh para pengawal.

"Nona, benar saja! Dia sengaja melawan kami dan seorang temannya telah mengambil madat itu dan dilarikan. Keroyok dia! Tangkap dan paksa dia mengaku di mana candu itu disembunyikan temannya!"

Teriakan ini menggerakkan para pengawal yang segera mengeroyok Ci Kong.

Mereka menggunakan golok dan pedang, dan bagaikan hujan senjata-senjata tajam itu menyambar-nyambar ke arah Ci Kong.

Karena merasa tidak perlu lagi berdebat, Ci Kong mengamuk.

Kaki tangannya bergerak seperti angin cepatnya dan sebentar saja, enam orang pengawal terlempar ke kanan kiri.

Melihat ini, Kui Eng merasa kagum dan tertarik, maka iapun cepat maju sendiri, menyerang pemuda itu dengan kedua tangan kosong.

Akan tetapi dua tangan kosongnya itu jauh lebih lihai dari pada belasan golok dan pedang para pengawal.

Kedua tangan bercuitan seperti melengking-lengking ketika menyambar dan tubuh dara itupun bergerak secepat burung walet menyambar-nyambar.

Ci Kong terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi serangan-serangan gadis ini yang benar-benar amat berbahaya, sedangkan serangan para pengawal yang mengeroyoknya cukup dihalaunya kalau sudah dekat saja.

Terjadilah pengeroyokan yang seru, di mana Ci Kong yang berkelahi dengan Kui Eng itu dikeroyok dan dikurung dengan ketat.

Bahkan kini datang sepasukan keamanan kota yang telah diberi tahu dan pemuda itu dikurung oleh musuh yang tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya.

Andaikata di situ tidak ada Kui Eng, agaknya dengan mudah Ci Kong akan merobohkan seluruh pengeroyoknya.

Akan tetapi, kelihatan Kui Eng membuat dia terdesak dan terhadap gadis puteri Ciu Wan-gwe ini Ci Kong tidak sampai hati untuk menggunakan tangan maut!

Dia masih teringat bahwa bagaimanapun juga, dapat dikatakan bahwa gadis ini pernah menyelamatkan nyawanya dan nyawa Ayahnya di gedung ini duabelas tahun yang lalu.

Sementara itu, Ong Siu Coan yang melarikan peti kecil, setelah tiba di sebuah parit yang sunyi, lalu membuka peti dan memeriksa isinya.

Tadipun dia melihat peti itu terbuka dan isinya benda hitam-hitam yang tidak dikenalnya.

Kini dia memeriksanya dan bukan main kecewanya ketika mendapat kenyataan bahwa peti itu tidak terisi benda berharga seperti yang diduganya, melainkan benda yang diduganya tentu candu yang dihebohkan itu.

Dia pernah mendengar tentang madat, maka walaupun belum pernah melihat sendiri, dia dapat menduga dari baunya bahwa ini tentu madat.

Dia sudah hendak membuang peti itu ketika nampak tumpukan tahi kering di parit itu.

Dia tersenyum nakal, lalu sebagian dari candu itu dibuangnya di parit dan sebagai gantinya, dia menggunakan kayu untuk mengambil kotoran itu dan mencampurnya dengan sisa madat.

Karena benda itu warnanya hitam, maka kotoran itupun dapat bercampur dan tidak kelihatan lagi.

Peti kecil itu masih penuh madat, hanya bedanya, madatnya kini tidak murni lagi bahkan telah bercampur tahi kering!

Ketika Siu Coan kembali ke tempat tadi, dia terkejut melihat betapa pemuda perkasa itu telah dikurung oleh puluhan orang pengawal.

Dan perkelahian sengit dan seru masih terjadi antara pemuda itu dengan gadis cantik yang tadi datang menyerang.

Siu Coan meloncat ke depan, melemparkan peti kecil ke tempat semula dan tanpa diminta diapun mengamuk.

Tubuh para pengeroyok bergelimpangan seperti sekumpulan daun diamuk badai!

Dan akibat amukannya memang hebat dan menggetarkan hati para pengeroyok.

Berbeda dengan Ci Kong yang merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh atau mendatangkan luka parah, semua orang yang roboh oleh hantaman Siu Coan ini tentu roboh untuk tidak bangun kembali karena mereka tewas oleh pukulan-pukulan maut yang disebar Siu Coan!

Tentu saja para pengawal menjadi gentar dan kepungan itupun menjadi kocar-kacir.

"Sobat yang gagah, jangan takut aku membantumu!"

Siu Coan berseru dengan gembira ketika dia berhasil mendekati pemuda itu dan diapun menubruk ke depan menyerang Kui Eng.

Gadis ini terkejut.

Kiranya pemuda ke dua yang baru datang ini tidak kalah lihai dibandingkan pemuda pertama.

Ketika ia menangkis pukulan pemuda jangkung itu, lengannya terasa dingin sampai meresap ke tulang.

Dara inipun maklum bahwa kepandaian dua orang pemuda ini sungguh hebat dan kalau ia sendiri yang melawan mereka, akan sukar memperoleh kemenangan.

Melihat munculnya seorang pemuda bertubuh jangkung yang membantunya dan membunuh banyak pengawal, Ci Kong terkejut dan tidak senang.

Pemuda yang datang ini memang gagah perkasa, akan tetapi hatinya terlalu kejam, menyebar maut seperti itu, pikirnya.

Diapun diam saja tidak menjawab, hanya mengambil keputusan untuk segera pergi saja agar pemuda jangkung itu tidak membunuh orang lebih banyak lagi.

"Dar-darr...!!"

Siu Coan dan Ci Kong terkejut sekali dan cepat mereka menggunakan ginkang untuk berloncatan mengelak ketika terdengar letusan-letusan itu.

Mereka menengok dan kiranya dari dalam gedung itu keluar seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian mewah dan di tangan kanan orang ini nampak sepucuk pistol yang masih mengeluarkan asap.

Orang itu membidik-bidikkan pistolnya, mencari-cari dua orang pemuda itu yang dengan cerdik telah berloncatan di antara para pengawal sehingga sukarlah bagi orang itu untuk menembak lagi.

"Ayah, jangan...!"

Kui Eng, gadis itu berteriak karena ia khawatir kalau-kalau peluru pistol Ayahnya nyasar ke mana-mana. Sementara itu Siu Coan mengajak Ci Kong untuk pergi dari tempat berbahaya itu.

"Sobat, mari kita pergi. Tunggu apa lagi?"

Teriaknya.

Ci Kong sudah mendengar pula dari susiok-couwnya tentang senjata api yang amat berbahaya itu.

Dia tidak gentar menghadapi senjata itu, akan tetapi di situ terdapat gadis yang lihai itu dan banyak pengawal, kini ditambah lagi tuan rumah yang pandai mempergunakan senjata api.

Maka diapun mengikuti Siu Coan yang sudah melompat pergi keluar dari halaman gedung Ciu Wan-gwe.

Setelah berada jauh dari kota Tung-kang, di kaki bukit yang sunyi, barulah mereka berhenti dan ternyata tidak ada yang mengejar mereka lagi.

Siu Coan berhenti dan memandang kepada Ci Kong penuh perhatian.

Tadi dia telah mempergunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi pemuda yang nampaknya seperti seorang petani ini mampu mengimbangi kecepatan larinya.

Hal itu membuat dia penasaran dan dia mengerahkan tenaganya sehingga tubuhnya bergerak cepat meluncur seperti terbang saja.

Akan tetapi, pemuda itu tetap saja berada di sampingnya!

"Sobat, engkau sungguh lihai sekali.

Akan tetapi kalau perkelahian itu dilanjutkan, salah-salah kita bisa menjadi makanan peluru panas.

Senjata api itu amat berbahaya, apa lagi di tangan morang yang tidak terlatih, tembakannya bisa ngawur sehingga kalau dielakkan malah terkena.

Dan gadis itupun lihai bukan main!"

Ci Kong juga memandang pemuda tinggi besar itu dengan penuh perhatian.

Jelas bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang tangguh, akan tetapi pendekar ini terlalu kejam dan mudah membunuh orang.

Teringat betapa pemuda di depannya ini tadi telah membunuh banyak orang, mungkin sampai belasan orang, diam-diam dia bergidik dan tidak menyetujui perbuatan itu.

"Sobat yang gagah perkasa, kenapa engkau tadi membunuhi orang? Prajurit-prajurit itu hanya petugas, kenapa kau bunuhi mereka yang tidak bersalah itu?"

Tegurnya dengan suara penuh penyesalan. Ong Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang dengan heran.

"Kenapa tidak? Kalau bisa, aku bahkan akan membunuh semua orang tadi! Makin banyak dapat membunuh pasukan pemerintah lebih baik. Bukankah pasukan yang datang belakangan tadi adalah pasukan keamanan, antek-antek pemerintah penjajah? Aku ingin membasmi penjajah, aku ingin mengusir penjajah Mancu dari tanah air kita!"

Tiba-tiba saja pemuda tinggi besar itu mengepal tinju, matanya bersinar-sinar dan sikapnya penuh semangat.

Ci Kong sudah banyak mendengar tentang para pendekar yang berjiwa patriot, yang ingin menentang dan mengusir penjajah Mancu dan dia menduga bahwa tentu di depannya ini seorang di antara para pendekar seperti itu.

Tiba-tiba Siu Coan memandang tajam kepadanya seperti teringat akan sesuatu dan pemuda tinggi besar itu lalu memegang pergelangan tangannya.

Ci Kong cepat mengerahkan tenaganya karena tangan yang mencengkeram itu kuat sekali.

Bisa patah-patah tulang lengannya kalau dia tidak mengerahkan tenaga untuk melindungi lengannya.

"Kau...! Ah, kau murid Hwesio gendut Siauw-bin-hud...!"

Tiba-tiba pemuda jangkung besar itu berseru nyaring. Ci Kong juga teringat sekarang, akan tetapi dia bersikap tenang-tenang saja dan menjawab.

"Bukan murid beliau, melainkan cucu murid. Engkau adalah murid Thian-tok, dan engkau telah membantuku tadi."

Ci Kong mengingatkan, merasa aneh juga karena yang membantunya keluar dari kepungan pasukan tadi adalah murid Thian-tok, seorang datuk sesat, seorang iblis di antara Empat Racun Dunia yang sudah amat terkenal kejahatan mereka.

"Aku lupa bertanya! kau siapakah? Apakah engkau orang yang pro kepada pemerintah Mancu?"

Tiba-tiba sinar matanya menjadi bengis sekali, mendekati kebuasan sinar mata seekor harimau.

"Engkau bukan memusuhi pemerintah, melainkan memusuhi hartawan itu? Kenapa? Siapa engkau?"

Ci Kong memandang ke arah lengannya yang dicengkeram, sikapnya tenang dan dengan lembut dia berkata.

"Bukan begini caranya orang bicara dengan sikap bersahabat,"

Katanya. Siu Coan melepaskan cengkeramannya dan tersenyum.

"Engkau memang hebat. Nah, mari kita bicara, sebelumnya lebih baik kita saling berkenalan. Namaku Ong Siu Coan, dan engkau tentu sudah dapat menduga bahwa aku membenci penjajah Mancu. Sekali waktu aku akan menyusun pasukan untuk menghantamnya dan mengusirnya dari tanah air. Sekarang katakan, siapa engkau dan apa yang kau lakukan tadi di gedung hartawan itu?"

"Namaku Tan Ci Kong, seorang pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Di Tung-kang aku mendengar tentang Ciu Lok Tai yang menjadi pedagang madat. Aku melihat kesengsaraan rakyat oleh madat yang terkutuk itu, maka aku ingin menegur dan memperingatkan Ciu Lok Tai agar dia menghentikan pengedaran madat yang meracuni rakyat jelata."

"Ha, engkau seorang pendekar pembela rakyat?"

Ci Kong menggeleng.

"Aku tidak berani memakai sebutan pendekar, akan tetapi aku akan selalu membela yang lemah tertindas, membela kebenaran dan menentang kejahatan, di manapun aku berada. Untuk itulah bertahun-tahun aku mempelajari ilmu silat."

Ong Siu Coan mengangguk-angguk, lalu tersenyum mengejek.

"Engkau hanya mengurus soal-soal kecil. Apa artinya tindakan orang-orang sepertimu ini yang disebut pendekar? Di negara ini entah terdapat berapa puluh ribu hartawan pedagang candu seperti she Ciu itu. Bagaimana engkau akan dapat memperingatkan mereka semua? Pula, apakah kau yakin mereka akan mentaati dan mundur? Dan berapa puluh laksa lagi mereka yang sudah kecanduan madat. Apakah engkau akan mendatangi mereka satu demi satu untuk dibujuk agar jangan menghisap madat lagi, dan apakah mereka akan mau mentaatimu? Ah, sobat yang gagah, bukan begitu caranya kalau mau menolong rakyat."

"Lalu bagaimana?"

"Marilah, bantu aku membentuk pasukan. Kita tentang pemerintah penjajah, karena pemerintah penjajah yang bersalah, penjajah Mancu yang mendatangkan orang-orang kulit putih itu, yang mendatangkan candu. Kita basmi penjajah Mancu dan sekaligus membasmi orang-orang kulit putih, maka candu tidak akan masuk ke negara kita dan rakyat akan terbebas dari pengaruh racun itu. Bukan dengan cara menentangnya satu demi satu!"

Ci Kong mendengarkan denga hati penuh kagum.

Orang ini memiliki cita-cita yang amat besar dan muluk, dan bagaimanapun juga dia dapat melihat kebenaran ucapan itu, dapat menghormati cita-cita itu.

Akan tetapi, urusan pemberontakan tidak menarik hatinya.

"Dalam hal ini, jalan hidup kita bersimpang, kawan. Aku belum pernah berpikir tentang perjuangan dan pemberontakan, akan tetapi aku hanya ingin mengulurkan tangan kepada mereka yang tertindas dan menentang si penindas dan mereka yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, aku berjanji bahwa kalau ada kesempatan kita saling bertemu, aku tentu akan membantumu."

Ong Siu Coan menarik napas panjang.

"Sayang, tenagamu amat berharga untuk suatu perjuangan. Akan tetapi, yang dipentingkan dalam perjuangan melawan penjajah adalah semangat, bukan sekedar ilmu berkelahi. Baiklah, dan apakah yang kau lakukan tadi di gedung hartawan itu?"

"Sudah kukatakan bahwa aku hanya akan memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu."

"Hanya itu?"

"Hanya itu,"

Kata Ci Kong sambil meraba-raba hati sendiri apakah ada terbawa rasa dendam mengingat betapa Ayahnya dahulu pernah dipukuli di rumah hartawan Ciu, akan tetapi dengan lega dia melihat kenyataan bahwa dendam itu tidak ada pada hatinya.

Ong Siu Coan tertawa.

"Ha-ha-ha, semua jerih payahmu itu tiada gunanya. Kukira apa yang kulakukan tadi lebih berguna."

"Membunuhi pasukan itu?"

"Bukan hanya itu. Tadi ketika engkau berkelahi, peti kecil yang dipegang si gendut terjatuh. Aku mengambil peti kecil itu dan tahukah engkau apa isinya?"

Ci Kong menggeleng.

"Isinya candu murni! Dan aku membuang setengahnya, lalu kuganti dengan tahi kering yang kuaduk menjadi satu dengan candu. Ha-ha, ingin aku melihat muka orang yang menghisap candu itu sekarang, ha-ha!"

Ci Kong juga tertawa, akan tetapi dia memandang heran.

Orang ini bercita-cita besar dan muluk, akan tetapi apa yang dilakukannya itu, mencampuri candu dengan tahi kering, sungguh kekanak-kanakan sekali.

Dan mengingat bahwa orang gagah ini adalah murid seorang datuk sesat seperti Thian-tok, diam-diam diapun menjadi bingung sendiri.

Murid datuk sesat menjadi patriot?

"Sudahlah, sobat Ong Siu Coan.

Aku akan pergi sekarang dan selamat tinggal.

Mudah-mudahan cita-citamu yang tinggi itu akan dapat berhasil."

"Tentu saja berhasil. Eh, Tan Ci Kong, apakah engkau diutus oleh gurumu yang gendut itu untuk mencari Giok-liong-kiam?"

Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan Ci Kong, akan tetapi dengan tenang dia menggeleng.

"Tidak, akan tertapi kalau aku bertemu dengan saudara seperguruanmu itu, tentu akan kucoba untuk merampas kembali Giok-liong-kiam untuk dikembalikan kepada yang berhak."

Ong Siu Coan mengangguk-angguk.

Sejenak timbul keinginan hatinya untuk menyerang pemuda murid Siauw-bin-hud ini, akan tetapi keinginan ini ditekannya.

Tidak perlu menanam permusuhan dengan pemuda ini, dan diapun belum yakin benar akan dapat mengalahkannya.

"Hemm, biarlah di lain kesempatan saja aku akan menguji kelihaianmu. Aku masih mempunyai urusan yang lebih besar. Selamat tinggal!"

Siu Coan lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan Ci Kong.

Pemuda ini lalu melanjutkan pula perjalanannya, menuju Kanton.

Apa yang dikatakan Ong Siu Coan kepada Ci Kong, yaitu bahwa perbuatannya mencampur madat dengan tahi kering itu lebih penting dari pada tindakan Ci Kong, memang terbukti.

Perbuatannya yang nakal kekanak-kanakan itu telah menimbulkan akibat yang amat hebat terhadap keluarga hartawan Ciu Lok Tai.

Dan juga ketika dia mengatakan bahwa dia ingin sekali melihat muka orang yang menghisap madat bercampur kotoran itu, andaikata dia benar-benar menyaksikan, Tentu dia akan merasa puas dan geli karena yang menjadi korban kenakalannya justeru adalah seorang pembesar Mancu yang dibencinya!

Seperti kita ketahui, dua orang kepercayaan Ciu Wan-gwe, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun, sedang berangkat meninggalkan rumah gedung hartawan itu untuk melaksanakan tugas mengantarkan sepeti kecil madat kepada wakil kepala daerah Kanton yang oleh Ciu Wan-gwe diharapkan untuk dapat melindunginya dan membantu meredakan kemarahan Wang Taijin dan Ma-Ciangkun yang merasa terhina dalam pesta itu oleh Kui Eng.

Dan baru saja mereka muncul dari dalam gedung pagi itu, mereka berjumpa dengan Ci Kong sehingga terjadilah keributan.

Setelah keributan itu selesai dengan larinya dua orang pemuda yang mengacau itu, mereka berdua menemukan kembali peti candu.

Giranglah hati mereka melihat bahwa peti itu masih penuh.

Bergegas mereka berganti pakaian lalu melaksanakan tugas yang tertunda itu, naik kuda menuju ke Kanton.

Ketika Gan Ki Bin dan Lok Hun tiba di rumah gedung Lai-taijin, yaitu wakil kepala daerah Kanton, mereka disambut dengan kegembiraan besar oleh Lai-taijin.

Pembesar ini adalah seorang pecandu yang sudah tidak ketolongan lagi, sudah mendarah daging.

Agaknya racun madat sudah menyusup sampai ke tulang sumsum, sehingga sehari saja tidak mengisap madat, dia akan tersiksa hebat.

Dia sudah kehabisan madat yang baik, dan sudah berhari-hari dia terpaksa mengisap madat yang tidak murni lagi, kurang memuaskan.

Oleh karena itu, melihat kedatangan dua orang utusan Ciu Wan-gwe yang membawa sepeti kecil madat murni, kegirangannya memuncak.

"Cepat ambilkan pipaku, akan kunikmati sekarang juga, ha-ha!"

Katanya dan para pembantunya cepat mengambilkan pipa madat yang segera diisi dengan tembakau yang dicampuri madat murni yang diambil dari peti kecil itu.

Dua orang utusan Ciu Wan-gwe masih berlutut di situ.

Mereka berdua juga merasa girang sekali, dengan wajah berseri mereka melihat betapa pembesar itu bergembira dan segera mencoba madat murni yang mereka bawa.

Tak salah lagi, sebentar lagi mereka tentu akan keluar dengan saku berat dan sarat oleh hadiah-hadiah berharga!

Jari-jari tangan orang yang ketagihan madat tak dapat bergerak tetap, melainkan agak gemetar, dan kedua tangan wakil kepala daerah itupun gemetar ketika dia sendiri mencampurkan madat murni dari peti itu dengan tembakau, lalu dimasukkanya ke dalam mulut pipanya.

Mencampur tembakau dengan madat, lalu memasukkan tembakau madat itu ke dalam pipa, semua ini dilakukan dengan jari-jari tangan yang terlatih dan terbiasa, dan di dalam pekerjaan inipun terkandung kenikmatan besar!

Terdapat keluwesan dan seolah-olah mengandung "seni"

Tersendiri.

Memasukkan tembakau madat ke mulut pipa, tidak boleh terlalu padat karena hal itu akan menyukarkan penyedotan dan terbakarnya ramuan itu kurang lancar, juga tidak boleh terlalu sedikit sehingga sudah habis terbakar sebelum isapan penuh memasuki paru-paru.

Kemudian menyalakan tembakau itu dengan mendekatkan mulut pipa pada api lilin yang tersedia.

Lilinnya juga terbuat dari api sumbu lemak, tidak berbau malam.

Semua gerakan ini disertai bayangan betapa akan nikmat rasanya kalau asap candu itu memasuki paru-paru.

Hangat-hangat menyusup melalui kerongkongan, memasuki paru-paru dan dari dada yang terasa hangat itu akan menjalar rasa nikmat ke seluruh tubuh.

Kalau hawa itu sudah memasuki kepala, maka tubuh akan terasa ringan melayang-layang, pikiran akan menjadi kosong dan bebas seperti seekor burung dara yang terbang di angkasa, Panca indera akan menjadi demikian tajam dan peka sehingga warna-warna akan nampak lebih cerah di mata, suara-suara akan terdengar lebih merdu di telinga, dan hidung akan mencium keharuman dan kesedapan suasana yang biasanya tidak pernah terasa.

Sorga di dunia!

Dua orang utusan dari Tung-kang itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum mengikuti semua gerak-gerik pembesar itu yang duduk di kursi.

Dengan kedua mata dipejamkan, akhirnya Lai-taijin membakar mulut pipa pada api kecil di atas meja, lalu disedotnya pipa itu.

Tembakau madat terbakar, nampak bara api pada mulut pipa itu dan tercium bau asap yang aneh.

Lai-taijin menyedot terus, sekuatnya karena dia menginginkan agar semua tembakau itu cepat terbakar dan asapnya memenuhi rongga dadanya.

"Eh-ehh... okhh... ugh-ugh-uuggghhh...!"

Tiba-tiba pembesar itu tersentak, duduknya tegak dan matanya mendelik, terbatuk-batuk dan tangan kirinya mencekik leher.

Asap yang keluar dari mulutnya berbau aneh dan memuakkan, dan pembesar itu terus batuk-batuk sampai kemudian muntah-muntah.

Tentu saja para pengawal menjadi terkejut sekali, juga dua orang utusan itu memandang dengan muka pucat.

"Pranggg...!"

Cawan terisi minuman itupun terpukul oleh tangan pembesar itu dan jatuh ke atas lantai.

"Prakkk...!"

Pipanya dibantingnya dan pembesar itu dengan muka merah seperti udang direbus dan mata melotot, mulut masih mengeluarkan liur, segera memeriksa isi peti kecil.

Merabanya, lalu menciumnya dan kembali dia muntah-muntah.

"Keparat! Jahanam busuk! Tangkap mereka, cambuk sampai mereka mengaku bagaimana mereka berani memberi madat bercampur kotoran busuk ini kepadaku!"

Perintahnya.

Kasihan sekali dua orang utusan itu.

Dengan tubuh menggigil mereka minta ampun akan tetapi para pengawal telah menyeret mereka dan merekapun menjadi korban cambukan sampai kulit belakang tubuh mereka pecah-pecah dan mereka roboh pingsan saking tak kuat menahan nyeri.

"Brakk...!"

Lai Taijin menggebrak meja.

"Keparat Ciu Lok Tai! Berani sekali menghinaku dengan mengirim madat bercampur kotoran!"

Peristiwa itu menimbulkan akibat yang amat hebat, sama sekali tidak disangka oleh Ong Siu Coan sendiri yang membuat ulah.

Karena merasa amat malu, marah dan menganggap bahwa hartawan Ciu sengaja menghinanya, Lai Taijin lalu pergi menghadap Wang Taijin yang menjadi atasannya.

Tentu saja dia tidak bicara tentang peristiwa candu kiriman itu, melainkan bicara tentang Ciu Wan-gwe yang dianggap kurang ajar berani menghina para pembesar dan pejabat Kanton.

"Kalau aku tidak ingat bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, tentu aku sudah mencapnya sebagai pemberontak dan mengerahkan pasukan untuk menangkap dan menghukumnya,"

Demikian Wang Taijin berkata setelah mendengar pancingan wakilnya tentang peristiwa di gedung Ciu Wan-gwe itu.

"Akupun mendapatkan malu besar sekali ketika kepala pengawalku dipermainkan oleh anak perempuannya. Sungguh keterlaluan sekali gadis itu."

"Akan tetapi, walaupun dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, sebaliknya kalau tidak ada kita yang mendukung, apakah dia mampu menjadi pedagang madat yang memonopoli pemasukan madat dari orang-orang kulit putih? Agaknya, yang dia berikan kepada kita belum ada seperseratus keuntungan yang didapatkannya karena dukungan kita,"

Bantah Lai Taijin.

"Orang seperti dia itu patut dihajar!"

"Kuharap engkau dapat bersabar,"

Kata Wang Taijin.

"Hartawan Ciu mempunyai pengaruh yang cukup besar. Tanpa sebab tidak dapat kita bertindak apa-apa terhadap dia karena di Kota Rajapun dia mempunyai hubungan. Sebaiknya kita mulai sekarang waspada dan mencari kesempatan baik untuk membalas penghinaannya."

"Harap taijin tidak usah khawatir. Saya akan menghubungi komandan Ma Cek Lung. Biarpun tadinya Ma-Ciangkun merupakan sahabat baik Ciu Wan-gwe, akan tetapi peristiwa penghinaan terhadap dirinya di depan umum dalam pesta itu tentu membuat Ma-Ciangkun malu dan tentu dia berpihak kepada kita."

Demikianlah, Lai Taijin yang merasa sakit hati sekali itu mulai membuat persekutuan dengan Wang Taijin dan Ma-Ciangkun untuk menanti kesempatan baik agar mereka dapat membalas dendam terhadap Ciu Wan-gwe yang mereka anggap telah melakukan penghinaan besar terhadap diri mereka.

Dan kesempatan itupun tidak lama kemudian tibalah!

Pada waktu itu, madat telah tersebar luas dan mencengkeram makin banyak korban di antara rakyat, juga menyusup ke Kota Raja dan mempengaruhi para pembesar.

Akan tetapi, yang paling parah keadaannya adalah daerah Kanton, di mana orang-orang kulit putih berada dan kota ini merupakan sarang mereka, merupakan sumber penyebaran candu.

Bukan hanya mempengaruhi badan, akan tetapi juga dengan adanya candu, para pembesar berkomplot dengan para pedagang candu yang amat menguntungkan itu.

Para pejabat menerima sogokan, para pedagang candu menumpuk keuntungan besar, dan rakyat yang menjadi korban.

Hal ini membuat rakyat menjadi semakin gelisah.

Kekayaan dikuras, ditukar dengan candu yang makin banyak dibutuhkan orang.

Para tuan tanah menekan ke bawah dan rakyat petani yang dicekik agar menghasilkan uang lebih banyak.

Madat memang merupakan racun yang amat berbahaya.

Akibatnya bukan hanya merusak tubuh, akan tetapi juga merusak watak dan kepribadian bangsa.

Para pembesar menjadi korup, penyogokan terjadi di mana-mana.

Orang yang sudah dicengkeram racun madat, sukar untuk dapat pulih kembali.

Dan madat merupakan satu-satunya kebutuhan mereka karena benda inilah yang dapat membuat mereka seolah-olah merasakan sorga selagi hidup di dunia.

Kalau orang sedang menghisap madat, asap madat itu membuat tubuh melayang-layang rasanya, segala kekhawatiran, segala kedukaan, segala macam penderitaan batinpun lenyaplah.

Batin menjadi kosong dan bebas, seperti gelembung sabun yang indah melayang-layang di udara, dan perasaan kosong dan bebas ini mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, mendatangkan kebahagiaan yang selama ini didambakan orang.

Racun madat itu sesungguhnya hanya memabokkan orang.

Hanya membuat penghisapnya mabok, lupa segala dan dalam keadaan batin kosong memang orang dapat merasakan kebebasan dan kebebasan batin inilah pangkal rasa bahagia itu.

Bebas dari segala macam perasaan takut, iri, marah, senang, susah dan sebagainya lagi.

Akan tetapi, kebebasan yang diciptakan oleh pengaruh madat ini hanyalah sementara saja.

Keburukannya jauh lebih banyak dari pada kebaikan yang diberikannya.

Karena badan dan batin menjadi kecanduan, kalau tidak diberi madat, tersiksalah badan dan batin itu, bahkan bisa membawa kematian mengerikan.

Kebebasan macam itu hanyalah kebebasan buatan, yang diciptakan karena keadaan mabok dan lupa diri.

Keadaan yang kacau ini terasa sampai ke Kota Raja dan sampai pula ke dalam istana.

Para penasihat Kaisar Tao Kuang cepat menghadap kaisar dan melaporkan tentang keadaan yang amat parah itu.

"Menurut penyelidikan hamba, rakyat sudah menjadi gelisah sekali, para pejabat kehilangan kesetiaan mereka dan mudah digosok oleh para pedagang. Kalau dibiarkan berlarutlarut, hamba khawatir kalau pemberontakan di antara rakyat makin menjadi-jadi. Pula, harta kekayaan rakyat akhirnya akan dikuras habis oleh orang-orang kulit putih, ditukar dengan madat yang hanya mendatangkan malapetaka."

Demikian antara lain para menteri itu melapor dan menasihati kaisar.

Setelah mendengarkan banyak peringatan dan nasihat para menterinya, akhirnya Kaisar Tao Kuang mengambil keputusan yang tegas.

Keputusan yang kemudian terkenal sekali dalam sejarah sebagai permulaan perang yang dinamakan Perang Madat.

Kaisar Tao Kuang mengangkat seorang jenderal yang bernama Lin Ce Shu sebagai seorang penguasa, seorang Gubernur untuk membawa pasukan besar pergi ke Kanton dan bertindak terhadap pengedar candu yang memang tadinya sudah dilarang itu.

Lin Ce Shu adalah seorang pembesar yang paling benci dengan perdagangan candu yang dimasukkan oleh para pedagang kulit putih.

Oleh karena itu, begitu menerima kekuasaan, dia bergerak cepat.

Dikerahkannya pasukan besar yang secara kilat dan serentak tanpa ada kebocoran, menuju ke Kanton!

Gedung itu bagus sekali, coraknya masih merupakan gedung hartawan di kota Kanton, akan tetapi perabot-perabot rumahnya sudah berlainan sama sekali dengan gedung para hartawan Kanton.

Perabot-perabot rumah itu asing, kursinya besar-besar, ruangannyapun lebar-lebar.

Melihat keadaan perabot dan hiasan rumah itu, mudah diketahui bahwa yang tinggal di situ bukanlah seorang penduduk aseli Kanton, melainkan seorang asing.

Memang demikianlah.

Pada waktu itu, banyak pedagang besar Inggeris yang tinggal di Kanton dengan jabatan-jabatan tertentu, mewakili Persatuan pedagang Inggeris yang disebut English East India Company.

Pada waktu itu, kekuasaan Inggeris di India mulai ditanamkan dan pasukan-pasukan Inggeris di India mulai merebut kemenangan-kemenangan dan wilayah kekuasaannya di India semakin meluas.

Karena di India terdapat banyak bahan pembuatan madat, maka mengalirlah madat itu ke Kanton dan di sinipun terdapat perwakilan dari Persatuan pedagang itu.

Rumah gedung itu ditinggali oleh keluarga Hell-way.

Tuan Hellway ini seorang opsir yang menjadi pembantu kapten Charles Elliot yang pada waktu itu menjadi penguasa Inggeris di Kanton.

Opsir Hellway bertugas menghubungi pedagang-pedagang Kanton, oleh karena itu dia pandai berbahasa daerah dan sudah belasan tahun dia tinggal di Kanton bersama isteri dan seorang puterinya.

Ketika mereka pindah ke Kanton, puteri tunggalnya baru berusia empat tahun.

Kini Sheila, demikian nama puterinya, berusia tujuhbelas tahun.

Karena Ayah dan ibunya pandai berbahasa daerah, maka Sheila juga mempelajari bahasa ini dari para pelayan sehingga iapun pandai berbahasa daerah.

Bukan itu saja, Sheila seringkali mendengar dongeng dari para pelayannya, tentang pendekar-pendekar yang gagah perkasa, tentang ilmu silat yang tinggi, dan dari beberapa orang pengawal yang bekerja pada Ayahnya, ia malah sempat mempelajari ilmu silat, yang walaupun tidak terlalu mendalam, namun cukup membuat ia pandai menjaga diri dan tubuhnya juga selalu berada dalam keadaan sehat dan kuat.

Sheila telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lembut.

Rambutnya berwarna kuning emas, panjang dan berombak amat indahnya.

Sepasang matanya biru laut, tubuhnya, seperti biasa tubuh wanita barat, padat dan tinggi semampai, lebih tinggi dari pada tubuh gadis-gadis pribumi.

Juga ia tidak pemalu seperti gadis pribumi, melainkan berani menentang pandang mata pria dengan tenang walaupun keadaan keluarga membuat ia beranggapan bahwa bangsanya adalah bangsa yang lebih maju dan lebih pandai dari pada bangsa pribumi yang kadang-kadang aneh dan sukar untuk dapat dimengertinya itu.

Akan tetapi karena ia bergaul erat dengan para pelayan, sedikit banyak ia tahu akan keadaan atau cara hidup bangsa pribumi yang penuh dengan tradisi dan ketahyulan itu.

Juga ia tahu bahwa Tiongkok berada dalam penjajahan Bangsa Mancu yang dahulunya hanya merupakan suku bangsa liar di utara yang kecil saja, namun yang kini telah menjadi kelompok yang kuat.

Tahu pula ia bahwa di mana-mana terjadi pemberontakan dari para patriot rakyat yang tidak rela melihat tanah air dijajah oleh orang Mancu.

Lebih lagi ia tahu segalanya tentang merajalelanya madat yang amat jahat, yang meracuni rakyat jelata dan yang membuat hatinya merasa amat tidak senang karena ia tahu bahwa madat itu didatangkan oleh bangsanya, oleh English East India Company.

Lebih lagi, Ayahnya menjadi opsir, menjadi pembantu Kapten Charles Elliot, jelas bahwa Ayahnya mempunyai peranan besar sekali dalam masalah penyebaran madat yang diam-diam amat dibencinya itu.

Ketika ia mendengar cerita dari seorang pelayan tentang seorang suami yang menukarkan kehormatan isterinya dengan madat, tentang seorang Ayah yang menjual anak gadisnya karena ketagihan madat, dan orang yang membunuh diri karena ketagihan madat dan tidak mempunyai uang lagi untuk membelinya, hatinya memberontak dan pagi hari itu segera menemui Ayahnya.

Opsir Hellway amat mencinta puterinya karena memang dia hanya mempunyai anak satusatunya itu.

Dia sedang duduk bersama isterinya, siap untuk berangkat ke kantor ketika Sheila masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah cemberut dan muka agak pucat karena semalam gadis itu tidak dapat tidur, gelisah membayangkan semua peristiwa mengerikan yang terjadi di antara rakyat jelata gara-gara madat.

"Selamat pagi, papa dan mama,"

Katanya kurang gairah.

"Selamat pagi, sayang. Eh, kenapa wajahmu nampak muram dan agak pucat? Apakah engkau sakit, Sheila?"

Tanya Ayahnya dengan nada lembut dan ibunya lalu merangkul dan menciumnya.

Gadis itu menggeleng kepala, lalu melepaskan diri dari rangkulan ibunya dan iapun duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

"Papa, kemarin aku mendengar cerita yang mengerikan sekali,"

Katanya. Papanya tersenyum memandang puterinya.

"Ah, mengapa engkau perlu memusingkan segala macam cerita burung?"

"Bukan cerita burung, papa, melainkan cerita tentang orang-orang gagah yang menjual isteri atau anak perempuannya, orang-orang yang membunuh diri dan melakukan kejahatan-kejahatan, semua itu karena gara-gara madat."

"Ehh...?"

Opsir Hellway memandang tajam kepada anaknya dan mengerutkan alisnya.

"Apa maksudmu?"

"Papa, semua itu memang terjadi. Madat telah meracuni rakyat, madat telah membikin sengsara rakyat di sini..."

"Sheila!"

Ibunya berseru. Omongan apa yang kau keluarkan itu? Madat mendatangkan keuntungan besar kepada bangsa kita, mendatangkan kemakmuran kepada bangsa kita!"

"Mama, apa artinya keuntungan besar, kemakmuran kalau datang melalui kesengsaraan orang lain?"

"Sheila! Siapa yang bercerita kepadamu? Orang itu perlu kuhajar!"

Tiba-tiba Opsir Hellway berseru marah.

"Tidak! Tidak ada yang bercerita kepadaku. Aku mendengar omongan orang di jalan."

Sheila cepat menjawab, tidak ingin melihat pelayan yang bercerita itu dihukum Ayahnya.

"Hemm, lalu apa maksudmu?"

Bentak opsir itu yang merasa tersinggung sekali dengan ucapan-ucapan puterinya tadi.

"Papa, aku sungguh merasa tidak rela melihat papa menjadi seorang pejabat yang mewakili English East India Company yang memperdagangkan candu, yang memasukkan madat beracun itu ke negeri ini, meracuni rakyat jelata dan..."

"Cukup!"

Opsir Hellway membentak marah, mukanya menjadi merah sekali.

"Sadarkah kau akan omonganmu tadi? Segala yang kau makan dan pakai sampai kau dewasa ini, semua kebutuhan kita sekeluarga, dicukupi karena perdagangan madat, dan engkau berani berkata demikian? Sheila, mengertilah bahwa salah mereka sendiri yang suka menghisap madat kalau keadaan mereka menjadi demikian. Kita hanya melayani saja sebagai pedagang, melayani kebutuhan mereka dan mendapatkan keuntungan. Itu sudah wajar, bukan?"

"Tidak, papa! Kalau rakyat tidak dikenalkan dengan madat, mereka takkan menjadi pecandu! Madat itu datang dari India dan kalau kita tidak mendatangkannya dari India, tentu rakyat tidak pernah mengenalnya."

"Belum tentu! kau kira orang-orang India sendiri tidak akan membawanya ke sini? Dan orang-orang sini sendiri yang membutuhkannya dapat pula mencari ke India."

"Bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat papa menjadi opsir yang mengurus perdagangan madat yang terkutuk itu..."

Sheila lalu menangis.

"Hemm, engkau harus kami kirim ke Inggeris. Kalau dibiarkan tinggal terus di sini engkau akan menjadi rusak, pikiranmu akan diracuni oleh pikiran-pikiran pribumi. Engkau pun perlu melanjutkan pelajaran ke sana."

Akhirnya Opsir Hellway berkata dan dia bertukar pandang dengan isterinya yang merasa setuju dengan pendapatnya.

"Biar berada di manapun juga, hatiku akan merana kalau mengingat betapa di sini papa melakukan pekerjaan yang amat tidak baik itu..."

"Kau tahu apa tentang baik dan tidak baik dalam suatu pekerjaan?"

Bentak Ayahnya dan melihat suaminya marah-marah, nyonya Hellway cepat mendekati suaminya dan menyabarkannya.

"Sheila, masuklah ke kamarmu, jangan membikin marah papamu,"

Kata nyonya itu dan Sheila dengan mata masih merah karena tangisnya tadi, lalu lari memasuki kamarnya.

Ia merasa berduka sekali melihat kenyataan bahwa Ayahnya mempunyai pekerjaan yang demikian kejam dan jahatnya.

Ketika Opsir Hellway yang masih marah karena ulah puterinya itu hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba datang seorang utusan dari atasannya yang menyerahkan surat dari Kapten Charles Elliot.

Opsir Hellway membaca surat itu dan seketika wajahnya menjadi pucat.

"Baik, aku akan segera pergi menghadap Kapten Elliot!"

Katanya kepada utusan itu yang segera memberi hormat dan pergi.

"Ada urusan apakah?"

Tanya isterinya yang merasa tidak enak melihat suaminya nampak terkejut dan gugup itu.

"Celaka! Kaisar laknat itu telah melakukan tindakan kekerasan! Kota Kanton ini telah dikepung oleh pasukan yang besar dari Kota Raja dan semua madat yang berada di kota ini harus diserahkan dengan ancaman hukuman mati! Ini perang! Perang...!"

Sheila agaknya mendengar pula ribut-ribut itu dan ia datang berlari ke ruangan itu.

"Papa! Mama! Aku mendengar bahwa kota ini dikepung tentara kerajaan...!"

Opsir Hellway teringat akan sikap puterinya tadi.

"Nah, puaslah sekarang hatimu. Kita semua akan celaka. Berkemaslah kau dan ibumu, siapkan pakaian dan barang berharga, siapa tahu kita harus pergi mengungsi. Aku mau ke kantor. Sheila, jangan kau keluar dari rumah, keadaan gawat dan berbahaya."

Apakah yang telah terjadi?

Kiranya malam tadi, panglima atau Gubernur Lin Ce Shu bersama pasukannya yang besar telah tiba dan mengurung kota Kanton, menguasai empat pintu gerbang dan memerintahkan kepada pasukan keamanan di kota Kanton untuk mengumumkan bahwa siapapun yang keluar masuk kota itu akan digeledah, Bahkan semua gudang milik para pedagang, termasuk pula milik orang-orang kulit putih, akan diperiksa dan siapapun yang memiliki simpanan madat harus diserahkan!

Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan hebat.

Dan seperti lumrahnya setiap peristiwa kekerasan, tentu ada yang menyambut dengan gembira akan tetapi ada pula yang menyambut dengan duka.

Yang merasa gembira adalah rakyat yang merasa tercekik oleh beredarnya candu, juga para pendekar yang membenci keadaan itu namun mereka tidak berdaya.

Sebaliknya, yang gelisah adalah para pedagang candu, para pembesar yang melindungi mereka, dan tentu saja para pemadatan yang khawatir akan kehilangan benda yang amat disayang itu.

Inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Wang Taijin, Lai Taijin dan Ma-Ciangkun untuk dapat membalas dendam hati mereka kepada keluarga Ciu Wan-gwe!

Mereka ini adalah penguasa-penguasa di Kanton yang tadinya merupakan orang-orang paling rajin mendukung orang-orang kulit putih dan para pedagang candu karena mereka itu menerima suapan dan sogokan yang luar biasa banyaknya.

Merekalah yang tadinya seperti melindungi perdagangan candu itu.

Akan tetapi, begitu pasukan Kota Raja datang mengepung kota Kanton dengan maksud menyita semua madat dan menentang perdagangan itu, para penguasa ini seketika merobah warna muka mereka, seketika mereka itu nampak gigih dan rajin sekali melaksanakan kebijaksanaan pemerintah ini!

Dan di dunia ini memang penuh dengan penguasa macam mereka ini, bisa didapatkan di mana-mana.

Pejabat-pejabat seperti ini seperti ular-ular kepala dua yang dapat menggigit ke depan dan kebelakang, sikap mereka dapat berobah seperti angin, semua dilakukan demi kesejahteraan dan kesenangan mereka sendiri.

Demikianlah, dengan dalih melakukan kegiatan merampas madat yang berada di luar kota Kanton, Ma Cek Lung membawa pasukannya pergi ke Tung-kang dan pasukan yang sudah menerima perintahnya itu, langsung saja menyerbu gedung keluarga Ciu Lok Tai!

Tentu saja keluarga itu terkejut sekali dan keadaan menjadi geger ketika para penyerbu itu bertindak kejam, membunuhi pelayan-pelayan yang sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Melihat ini, Ciu Lok Tai lalu mengerahkan pasukan pengawalnya dan terpaksa mereka itu melawan karena tidak melawanpun akan dibunuh.

Ciu Lok Tai sendiri melawan dengan menggunakan pistolnya, dan tiga puluh orang lebih pasukan pengawalnya ikut melawan mati-matian.

Tentu saja yang mengamuk paling hebat adalah Kui Eng.

Gadis ini marah bukan main melihat pasukan keamanan yang bertindak seperti perampok itu.

Mula-mula Ma Cek Lung menyatakan bahwa kedatangan pasukannya itu adalah untuk melakukan penggeledahan dan untuk menyita semua madat yang berada dalam gedung keluarga Ciu.

Ciu Wan-gwe sudah mendengar akan gerakan pasukan dari Kota Raja, maka diapun tidak akan menentang dan tadinya dia menyerah, Bahkan mempersilahkan perwira yang pernah menjadi sahabat baiknya itu untuk melakukan penggeledahan.

Akan tetapi penggeledahan itu ternyata berobah menjadi pembantaian dan jelaslah bahwa pasukan itu memang datang untuk menghancurkan keluarga Ciu.

Dan terjadilah perlawanan itu sehingga terjadi pertempuran mati-matian.

Jumlah pasukan yang dibawa Ma Cek Lung ada seratus lima puluh orang, oleh karena itu tentu saja pasukan keamanan yang hanya tiga puluh orang itu tidak dapat berbuat banyak dan dalam waktu yang tidak lama mereka sudah roboh semua!

Juga Ciu Wan-gwe, isterinya dan semua pelayannya dibantai oleh pasukan yang sudah keranjingan itu.

Tinggal Kui Eng seorang yang masih mengamuk.

Melihat betapa orang tuanya tewas dan seluruh isi rumah binasa, hati Kui Eng seperti disayat-sayat rasanya.

Ia tahu bahwa perwira Ma itu memang datang untuk membalas dendam karena pernah dikalahkannya dalam pesta tempo hari.

Maka dengan kemarahan meluap-luap, gadis ini mengamuk dan bermaksud untuk membunuh perwira yang memimpin penyerbuan itu.

Akan tetapi, sekali ini Ma-Ciangkun telah bersiap siaga.

Dia maklum akan kelihaian gadis puteri Ciu Wan-gwe itu, maka diapun kini mengajak belasan orang anak buahnya yang memiliki ilmu silat lumayan untuk mengeroyok Kui Eng.

Karena itu, usaha Kui Eng untuk dapat berhadapan dengan Ma Cek Lung sia-sia belaka.

Ia dikurung dengan ketat oleh puluhan orang prajurit penjaga keamanan dari Kanton itu, di antaranya terdapat belasan orang yang memiliki ilmu silat yang cukup kuat.

Maka gadis inipun mengamuk dan sudah banyak anggauta pasukan musuh yang roboh dan tewas oleh tamparan atau tendangan kakinya.

Akan tetapi, pengepungan dan pengeroyokan tetap ketat saking banyaknya pihak musuh sehingga setelah merobohkan tidak kurang dari tiga puluh orang, akhirnya gadis itu kehabisan tenaga.

Apa lagi karena hatinya sedang gelisah dan berduka oleh kematian keluarganya.

Maka, iapun mulai terkena senjata lawan yang datang bagaikan hujan itu.

Namun, ia tidak menjadi gentar.

Beberapa kali terdengar suara Ma-Ciangkun yang menyerukan agar gadis itu menyerah saja.

Memang dia mempunyai niat kotor terhadap gadis cantik itu dan mengharapkan akan dapat menangkap gadis itu dalam keadaan hidup.

Akan tetapi, Kui Eng pantang menyerah dan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir.

Memang hebat sekali sepak terjang gadis itu.

Ia hanya bertangan kosong karena tadi penyerbuan itu terjadi dengan tiba-tiba.

Tadinya ia sama sekali tidak mengira bahwa penggeledahan itu akan berakhir dengan pembantaian maka iapun tidak sempat mengambil sebatang tongkat yang menjadi senjata andalannya.

Terpaksa ia melawan dengan tangan kosong, akan tetapi tanpa senjatapun gadis ini sudah merupakan lawan yang amat menggiriskan bagi para perajurit itu.

Gerakannya seperti seekor burung walet saja, cepat dan setiap kali tamparan tangannya atau tendangan kakinya mengenai sasaran, tentu seorang pengeroyok roboh untuk tidak dapat bangkit kembali!

Tubuhnya seperti seekor burung beterbangan, menyelinap di antara bayangan puluhan batang golok dan pedang.

Di antara limabelas orang ahli silat yang diperbantukan pada pasukannya oleh Ma Cek Lung, sudah ada sembilan orang roboh!

Hal ini membuat para pengeroyok menjadi gentar, akan tetapi juga penasaran.

Apa lagi karena dari belakang, Ma-Ciangkun melancarkan aba-aba dan mendorong anak buahnya untuk merobohkan gadis itu, menangkapnya hidup atau mati.

Sebagian dari pasukan itu melakukan perampokan dengan dalih menggeledah dan mencari madat.

Memang ada belasan peti madat murni yang disita, akan tetapi di samping madat ini, juga ikut pula disita benda-benda berharga yang terdapat di gedung itu dalam jumlah banyak!

Sehabis merampok mereka lalu membakar gedung itu!

Melihat ini Kui Eng menjadi semakin marah dan sakit hati.

Ia mengamuk semakin hebat, akan tetapi betapapun lihainya, ia dikeroyok oleh seratus lebih orang yang kesemuanya adalah perajurit-perajurit yang biasa berkelahi, yang semua memakai pakaian perang yang dilindungi baju besi dan semua memegang senjata tajam pula.

Kui Eng memang seorang gadis yang telah menerima gemblengan seorang sakti dan ia telah memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia masih kurang terlatih.

Kalau saja ia mau melarikan diri, kiranya tidak akan ada yang mampu menahannya.

Akan tetapi, kesedihan karena kematian orang tuanya dan melihat keluarganya binasa dan rumahnya terbakar dan habis dirampok, Kemarahan karena semua itu membuat ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk menyelamatkan diri sendiri.

Satu-satunya keinginannya hanyalah membasmi semua perajurit ini dan juga membunuh Ma Cek Lung.

Akan tetapi, tenaganya terbatas dan akhirnya karena selama berjam-jam mengerahkan sinkang untuk menghadapi puluhan orang bersenjata lengkap itu, tenaga Kui Eng mulai berkurang.

Hal ini terutama sekali terdorong oleh kesedihan hatinya dan karena kurang cepat lagi gerakannya, mulailah dara ini terkena sambaran ujung golok dan pedang.

Pangkal lengan kanan dan kedua pahanya telah tercium ujung senjata tajam yang membuat kulit dan sedikit dagingnya tergores dan berdarah.

Melihat ini Ma Cek Lung menjadi girang.

"Kepung terus, bikin habis tenaganya. Kalau mungkin tangkap hidup-hidup, jangan bunuh!"

Perwira tinggi besar ini memang telah tergila-gila oleh kecantikan gadis ini dan sekarang dia mempunyai kesempatan sepenuhnya untuk dapat menguasai gadis itu, kalau perlu dengan kekerasan, bukan hanya untuk melampiaskan nafsu binatangnya, melainkan juga untuk memuaskan hatinya yang pernah sakit karena dibikin malu oleh gadis itu di depan orang banyak.

Kui Eng yang lelah sekali itu, gerakannya mulai lambat dan kacau, pandang matanya berkunang-kunang dan ia sudah terhuyung-huyung.

Sebuah tendangan dari Ma Cek Lung yang kini ikut mengeroyok, tepat mengenai lutut Kui Eng.

Baca Juga: Dewi Maut 4

Baca Juga: Istana Pulau Es 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert