Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 2

Eps 2 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

Di pagi yang cerah itu, semua Hwesio melaksanakan tugas masing-masing seperti biasa.

Hanya ada sedikit perobahan terjadi di dalam kuil itu dan setiap perobahan tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh mereka.

Kebiasaan yang dilakukan setiap hari tanpa ada perobahan menimbulkan jemu.

Akan tetapi sedikit perobahan itu hanya dianggap baru selama dua tiga hari saja dan sesudah itupun tenggelam lagi dan hampir terlupa oleh mereka.

Perobahan itu adalah keluarnya seorang Kakek Hwesio dari dalam ruangan pertapaannya di mana dia tinggal selama hampir dua puluh tahun.

Hwesio ini adalah seorang Hwesio gendut yang dikenal sebagai Siauw-bin-hud!

Hwesio tua ini adalah paman guru dari Thian He Hwesio dan tiga orang sutenya yang menjadi pimpinan kuil.

Merupakan satu-satunya Hwesio yang masih hidup dari tingkatannya.

Menurut perkiraan para ketua itu, tentu usia susiok (paman guru) mereka itu tidak kurang dari delapan puluh tahun.

Dapat dibayangkan betapa heran rasa hati mereka ketika pada suatu pagi, seminggu yang lalu, paman mereka itu tahu-tahu sudah duduk bersila di ruangan belakang dan kepada Hwesio yang bertugas di situ minta agar disediakan air hangat untuk mencuci muka dan bubur untuk sarapan pagi.

Mereka semua segera berkumpul dan memberi hormat kepada susiok mereka.

Kemudian Siauw-bin-hud ini memang mengejutkan sekali.

Biasanya, para murid Siauw-lim-pai hanya tahu bahwa di sebuah ruangan tertutup terdapat seorang Hwesio tua yang duduk bertapa.

Ruangan ini terkunci dan tak seorangpun boleh memasukinya, kecuali petugas yang setiap hari meninggalkan makanan dan air minum ke dalam ruangan itu.

Yang kelihatan hanya punggung Kakek itu yang menghadap dinding.

Dan kini, setelah dua puluh tahun bertapa di dalam ruangan itu, Siauw-bin-hud keluar dari tempat pertapaannya dan yang amat mengherankan, tubuhnya masih gendut bulat, padahal makannya hanya sekedarnya saja.

Dan senyumnya yang ramah itu masih tak pernah meninggalkan mukanya yang bulat.

Tentu saja berita aneh ini bocor keluar dinding kuil, dari mulut para Hwesio yang sedang bertugas di luar dan bertemu dengan penduduk di luar kuil.

Dan secara luar biasa sekali, berita tentang munculnya Siauw-bin-hud yang sudah dua puluh tahun bertapa itu dengan amat cepatnya tersiar ke dunia kang-ouw.

Dan pada pagi hari itu, hanya sepekan kemudian, nampak beberapa orang datang menuju ke kuil Siauw-lim-si, mendaki bukit dari berbagai jurusan.

Seperti sudah dijanjikan lebih dulu saja, pada waktu yang bersamaan, di pekarangan luar pintu gerbang kuil Siauw-lim-si kini berkumpul beberapa orang yang terdiri dari beberapa rombongan.

Rombongan pertama adalah Nam San Losu, ketua kuil dekat puncak bukit mata air Sikiang atau yang dikenal pula dengan nama Sungai Mutiara.

Kakek tinggi besar muka hitam ini walaupun sudah berusia enam puluh enam tahun, masih dapat melakukan perjalanan cepat dan dapat mendaki bukit menuju ke puncak kuil Siauw-lim-si tanpa banyak kesukaran.

Dia ditemani oleh seorang sutenya dan juga oleh seorang anak laki-laki berusia tigabelas tahun.

Seorang anak laki-laki yang berpakaian sederhana seperti anak petani, wajahnya membayangkan kegagahan dan keberanian, tubuhnya tegap dan sikapnya gagah.

Terutama sekali sepasang mata yang tajam itu, dengan hiasan alis yang tajam tebal, membuat anak ini walaupun sederhana dan seperti anak petani, namun nampak bukan anak sembarangan.

Anak ini adalah Tan Ci Kong.

Seperti kita ketahui, enam tahun yang lalu Tan Ci Kong, putera tunggal mendiang Tan Seng atau Tan Siucai, oleh paman angkatnya, Sie Kian yang tinggal di Nan-ning, diantar kepada Nam San Losu dan diterima sebagai murid oleh ketua kuil itu.

Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Nam San Losu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi ketua kuil Budha di bukit mata air Si-kiang itu.

Rombongan ke dua adalah seorang Kakek kurus berbaju tambal-tambalan seperti seorang pengemis, akan tetapi pakaiannya yang penuh tambalan itu bersih, juga mukanya yang penuh cambang bauk itu nampak bersih.

Dengan matanya yang sipit dan mulutnya yang selalu senyum-senyum, Kakek ini nampak lucu.

Dia ditemani oleh seorang anak perempuan yang berusia sebelas tahun, seorang anak yang bermata lebar dan tajam penuh keberanian memandang ke sekelilingnya.

Anak perempuan ini adalah Siauw Lian Hong dan Kakek itu bukan lain adalah Bubeng San-kai, Kakek yang telah menolongnya dari kebakaran dan yang kemudian menjadi Kakeknya, juga gurunya, juga satu-satunya orang di dunia ini yang dekat dengan anak yatim piatu itu.

Rombongan ke tiga terdiri dari lima orang, dipimpin oleh seorang Kakek berusia enam puluh tahun, yang tinggi kurus dan gagah perkasa akan tetapi agak angkuh sikapnya, bersama empat orang yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya.

Lima orang laki-laki ini semua bersikap gagah dan di dada mereka nampak lukisan gambar Im-yang, yaitu bulatan yang terbagi dua dengan warna hitam dan putih sebagai tanda Im-yang, dua sifat yang saling bertentangan, juga saling berkaitan, dua sifat yang menggerakkan, menciptakan dan mengadakan segala yang ada di dunia ini.

Dari pakaiannya ini mudah diduga siapa mereka, yaitu tokoh-tokoh perkumpulan Thian-te-pai yang terkenal.

Di antara mereka terdapat pula Lui Siok Ek, murid kepala Thian-te-pai yang pernah memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu.

Rombongan ke empat adalah tiga orang yang berpakaian perwira tinggi, di antara mereka nampak Tang Kui, raksasa yang pernah menyamar sebagai petani dan yang pada enam tahun yang lalu pernah pula memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam.

Dua orang yang lain adalah dua perwira yang kedudukannya lebih tinggi dan ilmu silatnya jauh lebih lihai dari pada Tang Kui, terutama sekali Kakek yang bertubuh kecil pendek itu, yang berjenggot panjang dan baju seragamnya agak kebesaran dan kedodoran.

Kelihatannya lucu dan tidak ada apa-apanya, akan tetapi dialah Pouw Ciangkun, seorang komandan pengawal pribadi Kaisar yang amat tangguh dan terkenal karena ilmu kepandaiannya yang tinggi.

Rombongan ke lima terdiri dari seorang Kakek tinggi besar bermuka merah yang pakaiannya mewah sekali, bersikap angkuh, yang diikuti oleh tujuh orang pemuda antara berusia dua puluh sampai dua puluh lima tahun.

Tujuh orang pemuda ini rata-rata bermuka tampan.

Bahkan pesolek seperti wanita, dengan pakaian yang indah-indah.

Biarpun Kakek itu hanya seperti seorang hartawan besar, Akan tetapi rombongan lain yang melihatnya nampak terkejut dan gelisah.

Hal ini tidaklah mengherankan karena Kakek bermuka merah ini terkenal sekali sebagai seorang datuk kau m sesat yang amat ditakuti orang.

Kakek ini pernah merajalela di dunia persilatan sebagai seorang tokoh sesat dan akhirnya setelah berhasil menjadi orang yang amat kaya raya, lalu mengundurkan diri dan kabarnya tinggal di sebuah pulau di Lautan Kuning, dinamakan Pulau Layar karena bentuknya dari jauh seperti layar sebuah perahu.

Di pulau inilah dia tinggal sebagai seorang raja, bersama para pelayan dan pembantunya, juga murid-muridnya.

Akan tetapi semenjak tinggal di pulau itu, Tang Kok Bu ini dijuluki orang Hai-tok (Racun Lautan), tidak pernah muncul di dunia kang-ouw walaupun kau m sesat masih menganggapnya sebagai seorang datuk mereka yang ditakuti.

Lima rombongan ini hanya saling pandang dengan heran karena tanpa berjanji mereka pada pagi hari itu berkumpul di depan pintu gerbang Siauw-lim-si.

Biarpun tidak saling bicara, mereka semua diam-diam dapat menduga bahwa kedatangan mereka itu mengandung maksud yang sama, yaitu tentu ada hubungannya dengan keluarnya Siauw-bin-hud dari tempat pertapaannya seperti yang menjadi berita hangat di dunia kang-ouw, dan ada hubungannya dengan Giok-liong-kiam!

Akan tetapi agaknya maksud kedatangan Nam San Losu, sutenya dan muridnya tidak sama dengan maksud kedatangan rombongan lain.

Nam San Losu bersama sutenya dan Tan Ci Kong sudah berlutut di depan pintu gerbang dan Kakek itu berseru dengan suara halus namun mengandung tenaga khikang sehingga menggema ke dalam pintu gerbang.

"Murid Nam San datang berkunjung untuk memberi hormat kepada para Suhu!"

Mendengar seruan ini, tak lama kemudian beberapa orang Hwesio membuka pintu gerbang.

Tentu saja sebagai ahli-ahli silat pandai, para Hwesio di dalam kuil sudah tahu akan kedatangan banyak orang di depan pintu gerbang itu.

Dua orang Hwesio menyambut Nam San Losu dengan sikap hormat.

"Kiranya Nam San suheng dan Nam Thi suheng yang datang berkunjung!"

Kata dua orang Hwesio tua yang membuka pintu gerbang itu.

"Kami mendengar bahwa susiok Siauw-bin-hud telah keluar dari tempat pertapaannya, dan kami mohon dapat menghadap beliau,"

Kata pula Nam San Losu.

Mendengar ini, dua orang Hwesio penyambut itu lalu mempersilahkannya masuk.

Pada saat itu muncullah seorang Hwesio yang pendek kecil berusia enam puluh lima tahun lebih, dari dalam dan melihat Hwesio yang pendek kecil dan kelihatan lemah ini, Nam San Losu cepat menjura dengan sikap hormat.

"Thian Tek suheng, terimalah hormat pinceng."

Si pendek kecil itu membalas penghormatan tamu dari selatan itu.

"Ah, kiranya Nam San sute yang datang berkunjung. Silahkan, sute, toa-suheng dan juga susiok berada di ruangan belakang."

Setelah mempersilahkan tamu yang masih keluarga Siauw-lim-si sendiri itu masuk, Thian Tek Hwesio lalu keluar dan berdiri di ambang pintu gerbang menghadapi para rombongan lain.

Nam San Losu diikuti oleh Nam Thi Hwesio , juga Ci Kong, lalu masuk ke dalam.

Ci Kong membuka mata lebar-lebar untuk memperhatikan segala yang nampakdi dalam kuil besar ini.

Sudah banyak dia mendengar penuturan gurunya tentang kuil Siauw-lim-si, dan kini dia melihat kenyataan betapa kuil itu memang jauh lebih luas dan besar dibandingkan kuil di selatan, di mana dia hidup selama enam tahun mempelajari ilmu-ilmu dari gurunya.

Juga dia mendengar penuturan gurunya dan para paman gurunya tentang Kakek Siauw-bin-hud yang amat mengagumkan hatinya.

Bukan hanya karena Kakek itu baru saja keluar setelah bertapa selama dua puluh tahun lebih, juga bahwa menurut Suhunya Kakek itu memiliki kesaktian yang amat hebat, akan tetapi juga dia kagum mendengar betapa Kakek itu namanya telah menggemparkan seluruh dunia persilatan karena dikabarkan telah merampas Giok-liong-kiam yang menjadi barang pusaka yang diperebutkan oleh para tokoh persilatan.

Karena itu, hatinya girang sekali ketika gurunya mengajak dia untuk pergi mengunjungi Siauw-lim-si.

Ketika mereka memasuki kuil, para Hwesio di kuil itu yang semua mengenal Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio , menyambut mereka dengan ramah dan seorang di antara mereka mengantar tiga orang tamu itu ke ruangan belakang yang lebar.

Di dalam ruangan itu telah duduk seorang Hwesio yang tua dan gendut sekali, demikian gendutnya sampai nampak bulat.

Jubahnya kuning menutupi semua tubuh dan sepatunya dari kain, juga sudah agak butut seperti jubahnya.

Yang menarik para Hwesio ini adalah wajahnya yang selalu tersenyum itu sehingga wajah itu nampak demikian ramah dan mencerminkan watak yang halus dan budiman.

Sinar matanya juga lembut dan sinar mata itu begitu penuh pengertian dan agaknya tidak ada apapun yang akan Kakek ini merasa heran.

Sukarlah mengira-ngirakan berapa usia Kakek ini, karena walaupun sikapnya memperlihatkan usia yang sudah amat tua, namun wajahnya yang bulat itu tidak dihiasi keriput karena gendutnya.

Di depan Kakek gendut ini duduk bersila pula tiga orang Hwesio , yaitu Thian He Hwesio , Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio , tiga di antara empat orang pengurus atau ketua Siauw-lim-si di waktu itu karena orang ketiga, Thian Tek Hwesio , sedang keluar menyambut para tamu.

Begitu melihat Hwesio gendut itu, diam-diam Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio merasa kagum dan terheran-heran.

Dua puluh tahun lebih yang lalu, mereka pernah bertemu dengan paman guru mereka ini, dan sekarang, setelah dua puluh tahun lebih lewat, agaknya Kakek gendut itu masih sama saja, sedikitpun tidak nampak perobahan!

Setelah tiba di ruangan itu, Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Kakek gendut, diikuti pula dari belakang oleh Ci Kong.

"Susiok, terimalah hormat dari teecu"

Kata Nam San Losu dengan sikap hormat.

"Susiok...!"

Nam Thi Hwesio juga memberi hormat dengan berlutut.

Ci Kong hanya berlutut saja tanpa mengeluarkan suara, hatinya gentar dan juga kagum.

Hwesio gendut itu menoleh dan senyumnya melebar ketika dia melihat dua orang Hwesio itu.

"Aha, bukankah kalian ini Nam San dan Nam Thi? Bagus sekali! Bagaimana kabarnya di selatan? baik-baik sajakah?"

Dua orang Hwesio dari selatan itu menghaturkan terima kasih, kemudian barulah mereka memberi hormat kepada tiga orang suheng mereka sebagai tuan rumah. Thian He Hwesio membalas penghormatan itu.

"Sute, jauh-jauh sute datang dari selatan, apakah ada keperluan khusus untuk dibicarakan?"

"Suheng, pertama-tama karena sudah lama kami tidak berkunjung dan merasa rindu, maka kesempatan ini kami pergunakan untuk berkunjung ke Siauw-lim-si. Kedua kalinya, karena mendengar berita bahwa susiok telah keluar dari tempat pertapaan, maka kami ingin sekali menghadap dan mohon petunjuk, dan ketiga kalinya, kamipun mendengar berita ribut-ribut tentang Giok-liong-kiam, maka kami ingin sekali mendengar bagaimana sebenarnya hal yang telah terjadi karena ini menyangkut nama Siauw-lim-pai."

"Ahhh...!"

Thian He Hwesio menarik napas panjang.

"Justeru urusan itulah yang kini sedang kita bicarakan. Sudah selama enam tahun kami di Siauw-lim-si selalu didatangi orang yang secara halus maupun kasar menyindirkan bahwa Giok-liong-kiam kita rampas dan kita sembunyikan. Karena pada waktu itu susiok masih bertapa, kami tidak berani menganggu. Dan sekarang, menurut susiok, beliau sama sekali tidak tahu akan pedang Giok-liong-kiam itu. Bukankah ini membuat orang merasa menyesal bukan main?"

"Ha-ha-ha-ha...!"

Kakek gendut itu tertawa bergelak sampai seluruh tubuhnya bergoyang-goyang.

Diam-diam Ci Kong mengangkat mukanya memandang dengan heran.

Kakekitu tertawa begitu polos, tidak dibuat-buat seperti orang yang merasa geli mendengarkan sesuatu yang lucu.

Padahal, dia sendiri tidak melihat atau mendengar sesuatu yang lucu menggelikan.

Apa sih yang ditertawakan oleh Kakek gendut aneh itu, pikirnya heran.

Akan tetapi lima orang Hwesio tua yang berlutut di situ tidak merasa heran dan mereka hanya menanti saja dengan sabar sampai susiok mereka menghentikan ketawanya.

"Ha-ha-ha, Thian He, apakah sampai sekarang engkau masih juga berpikiran seperti kanak-kanak? Segala macam urusan yang terjadi di dunia ini, baik yang menyerempet diri kita maupun yang bukan, adalah peristiwa yang terjadi, suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi, dan bagaimanapun juga, semua itu sumbernya terletak pada diri sendiri. Menyesal atau tidak menghadapinya, terserah kepada kita. Apakah hanya dengan penyesalan saja segala urusan dapat diselesaikan? Tidak, sebaliknya malah. Penyesalan mendatangkan kemarahan dan dendam, dan semua itu malah mengacaukan urusan karena mengeruhkan batin. Jelaslah bahwa ada orang yang memalsukan namaku untuk merampas pedang pusaka. Buakankah demikian persoalannya?"

"Benar, susiok. Enam tahun yang lalu, pedang pusaka Giok-liong-kiam yang tadinya disimpan oleh Thian-te-pai sebagai pedang pusaka, lenyap dicuri orang. Dunia kang-ouw menjadi gempar dan semua orang merasa berhak untuk mencari dan memiliki pedang yang sudah terlepas dari tangan Thian-te-pai itu dan terjadilah perebutan. Kemudian, berita terakhir mengatakan bahwa susiok yang telah merampas pedang itu. Nah, bukankah hal ini amat membuat hati penasaran, apa lagi kalau susiok sendiri telah mengatakan bahwa susiok sama sekali tidak tahu tentang pedang itu, apa lagi merampasnya? Orang memalsu nama susiok, mana hal itu dapat dikatakan bersumber pada diri kita sendiri?"

Thian He Hwesio , ketua Siauw-lim-si itu membantah sambil mengerutkan alisnya, bagaimanapun juga merasa tidak enak dikatakan masih kekanak-kanakan oleh susioknya di depan para sutenya.

"Ha-ha-ha, mari kita diam sejenak menjernihkan batin agar kita dapat menghadapi kenyataan dengan waspada dan tidak dipengaruhi oleh nafsu-nafsu yang mengeruhkan hati,"

Kata Kakek gendut itu yang lalu memejamkan kedua matanya.

Lima orang Hwesio itupun lalu bersila dan memejamkan mata, memangku kedua tangan.

Ci Kong yang melihat ini maklum bahwa Suhunya dan yang lain-lain sedang bersamadhi agar batin menjadi kosong.

Dia duduk bersila dan memandang semua itu dengan heran.

Tak lama kemudian Kakek gendut membuka matanya dan tertawa, membuat yang lain juga membuka mata.

"kalian renungkan baik-baik. Andaikata di dunia ini tidak ada Siauw-bin-hud, andaikata Siauw-lim-pai bukan merupakan partai persilatan yang dianggap kuat, apakah ada orang yang mau jahil memalsu namaku dan Siauw-lim-pai? Nah, sumber semua peristiwa ini didasari keadaanku dan keadaan Siauw-lim-pai, bukan? Jadi sumbernya berada dalam diri sendiri. Berbahagialah orang yang sama sekali tidak ada nama dan tidak dikenal, berbahagialah orang-orang yang berada di tempat paling bawah sehingga tidak nampak menonjol."

"Omitohud, baru sekarang teecu dapat melihat kebenaran ucapan susiok. Memang, dengan penyesalan dan kemarahan kita tidak akan dapat mengatasi masalah, bahkan mengeruhkan batin. Akan tetapi, maaf, susiok, apakah dengan berdiam diri saja masalahnya juga dapat teratasi? Semua orang kang-ouw tentu akan menuduh kita yang menyembunyikan pedang pusaka itu,"

Kata pula Thian He Hwesio .

"Bhkan kini di luar telah datang banyak orang yang menurut dugaan teecu sudah pasti ada urusannya dengan Giok-liong-kiam,"

Sambung Thian Ki Hwesio yang lebih mengenal keadaan dunia luar kuil karena dialah yang menjadi ketua yang bertugas menghadapi semua urusan di luar kuil.

Dengan wajah masih tersenyum ramah dan pandang mata sama sekali tidak memancarkan emosi batin, Kakek gendut itu berkata.

"Menghadapi urusan dengan nafsu amatlah tidak benar, akan tetapi menghadapinya dengan acuh juga tidak dapat membereskan urusan. Kita harus menghadapi segala macam peristiwa dengan waspada dan dengan kewaspadaan akan timbul kebijaksanaan dalam bertindak. Omitohud..."

Kakek itu kini memandang ke arah Ci Kong dengan sinar mata berseri penuh kagum.

Anak itu sedang memandang kepada Siauw-bin-hud dengan sinar mata mencorong seperti mata anak harimau, dan ketika Kakek itu menerima pandang matanya, mereka saling tatap sejenak dan terkagumlah hati Kakek itu.

"Siapakah anak itu?"

Tanya Siauw-bin-hud tanpa melepaskan pandang matanya ke arah Ci Kong.

"Maaf, susiok, teecu tadi sampai lupa melaporkan. Anak ini bernama Tan Ci Kong dan sejak kurang lebih enam tahun yang lalu menjadi murid teecu. Dia sudah yatim piatu dan Ayahnya seorang siucai yang tewas karena madat..."

"Hemm, demikian hebatkah benda beracun itu kini merajalela?"

Kakek gendut bertanya dan masih terus memandang ke arah Ci Kong.

"Ayahnya bukan seorang pemadatan, susiok. Sebaliknya malah, Ayahnya seorang siucai yang gagah perkasa dan menentang peredaran madat. Dia menentangnya dengan tulisan-tulisan sehingga menyeretnya ke dalam kesukaran. Akan tetapi sampai saat terakhir, sebelum tewas dalam tahanan, Tan siucai masih menyebar tulisan-tulisan yang menentang madat, mengecam pemerintah dan memperingatkan rakyat akan bahayanya menghisap madat. Dia tewas dan karena putera tunggalnya ini tidak lagi mempunyai sanak keluarga, teecu lalu mengambilnya sebagai murid dan berdiam di kuil teecu."

"Hebat... hebat...!"

Kakek gendut itu mengusap perutnya dan memandang dengan kagum.

Entah siapa yang dipujinya, mendiang Tan Siucai ataukah puteranya itu.

Akan tetapi, pandang matanya yang tadinya lembut itu kini mencorong tajam dan dia menemukan bahan yang amat baik pada diri anak berusia tigabelas tahun itu.

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar kuil dan seorang Hwesio tergesa-gesa masuk ke ruangan itu dan melaporkan bahwa di luar banyak tamu secara paksa minta bertemu dengan Siauw-bin-hud.

Thian Tek Hwesio berusaha mencegah mereka, akan tetapi mereka menjadi ribut dan hendak memaksa masuk.

"Hemm, sungguh tak tahu diri mereka itu!"

Kata Thian He Hwesio dan sekali menggerakkan tubuh, dia sudah berkelebat keluar dari ruangan itu diikuti pula oleh Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio .

Siauw-bin-hud agaknya tidak memperdulikan semua itu dan dia melambaikan tangan kepada Ci Kong yang tidak ikut keluar.

Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua saja.

Melihat betapa Kakek itu melambaikan tangan, Ci Kong lalu bangkit dan menghampiri Kakek itu lalu duduk bersila di depannya, menatap wajah Kakek itu tanpa takut-takut.

Siapa akan merasa takut terhadap seorang Kakek gendut yang tersenyum-senyum begitu ramahnya.

Siauw-bin-hud tidak bicara apa-apa, akan tetapi kedua tangannya meraba-raba tubuh Ci Kong, dari ujung kepala sampai ke kaki, memijat-mijat dan menekan-nekan dan tiada hentinya dia mengeluarkan suara ketawa kecil.

"Aha, sudah kuduga... hmmm, hebat memang..."

Ci Kong tidak tahu apa yang dimaksudkan Kakek itu, akan tetapi dia telah mempelajari ilmu silat selama enam tahun dan diapun dapat menduga bahwa rabaan-rabaan itu tentulah merupakan semacam ujian bagi Kakek itu untuk mengetahui kemajuan dalam hal latihan silat.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Thian He Hwesio , ketua Siauw-lim-pai.

Biasanya Kakek ini kalau bicara halus biarpun tegas, akan tetapi sekali ini suaranya keras dan agak kasar tanda bahwa dia sedang dilanda kemarahan.

"Cu-wi (anda sekalian) adalah orang-orang terhormat, mengapa bersikap begini kerdil? Sudah pinceng katakan bahwa susiok masih perlu beristirahat dan belum siap menerima kunjungan tamu, mengapa Cu-(Lanjut ke

Jilid 05) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 05 wi memaksa? Sekali lagi kami tekankan bahwa susiok dan kami semua tidak tahu menahu tentang Giok-liong-kiam dan Cu-wi harus tahu bahwa Siauw-lim-pai tidak pernah membohong!"

Kini terdengar suara-suara "Duk-duk-duk!"

Seperti ada benda yang amat berat dipukul-pukul di atas tanah, lalu disambung suara yang mengandung kekuatan khikang yang hebat.

"Hemm aku datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud seorang, dan tidak ingin berurusan dengan Siauw-lim-pai. Siauw-bin-hud sudah keluar dari tempat persembunyiannya, apakah dia masih takut bertemu orang?"

Mendengar suara ini, tiba-tiba Siauw-bin-hud yang masih meraba-raba kepala Ci Kong, tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, apakah itu bukan suara Hai-tok yang terdengar begitu keras?"

Suaranya lirih saja, akan tetapi agaknya terdengar dari luar karena suara di luar tiba-tiba terhenti dan sunyi.

Kemudian terdengar kembali suara Hai-tok, sekali ini suaranya mengandung kehalusan, seperti orang menghormat.

"Siauw-bin-hud, aku orang she Tang memang ingin bertemu denganmu. Silahkan keluar!"

Mendengar ini, kembali Siauw-bin-hud tertawa dan diapun bangkit sambil menggandeng tangan Ci Kong.

"Mari, anak baik... eh, siapa namamu tadi?"

"Nama saya Tan Ci Kong, Susiok-Couw!"

Kata Ci Kong dengan sikap hormat.

Memang selama enam tahun tinggal di kuil bersama Nam San Losu, dia bukan hanya menerima gemblengan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu sastera sehingga dia mengenal tata susila seperti seorang terpelajar.

Kini Kakek gendut dan anak laki-laki itu bergandengan tangan berjalan keluar, menyusul lima orang Hwesio yang tadi keluar untuk menemui para tamu.

Sebagai saudara-saudara seperguruan, Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio tadi juga ikut keluar menyusul tiga orang suheng mereka.

Empat orang Hwesio itu segera minggir memberi jalan ketika mereka melihat susiok mereka muncul keluar, menuntun Ci Kong.

Dan semua mata para tamu itupun kini ditujukan kepada Hwesio gendut itu yang tersenyum-senyum ramah, menyapu semua tamu dengan pandang matanya.

Setelah berhadapan dengan mereka, Hwesio gendut itu tertawa, suara ketawanya lepas dan tidak terkendali, keluar dari perutnya dan terdengar ramah menyenangkan, seperti suara ketawa orang yang kegirangan.

"Heh-Heh-heh, setelah dua puluh tahun lebih menyendiri, tetap saja tidak dapat bebas dari urusan dengan orang-orang lain. Ha-ha, jelaslah kini bahwa tidak mungkin hidup sendirian saja, hidup berarti antar hubungan, baik dengan manusia lain, dengan mahluk lain, dengan benda maupun pikiran sendiri... Tak salah... Tak salah..."

Dia pasang mata menatap Kakek gendut itu penuh perhatian, penuh selidik.

Mereka adalah Tang Kui, perwira istana yang bertubuh tinggi besar itu dan Lui Siok Ek, tokoh Thian-te-pai.

Dua orang inilah yang pada enam tahun yang lalu pernah ikut memperebutkan Giok-liong-kiam dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa pedang pusaka itu lenyap bersama munculnya Kakek gendut yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud.

Dan mereka berdua berani bersumpah bahwa orang yang mereka temui enam tahun yang lalu adalah Kakek gendut yang kini berhadapan dengan mereka walaupun tokoh Thian-te-pai Lui Siok Ek melihat sesuatu yang diam-diam membuat dia meragu.

Ada perbedaan dalam sinar mata Kakek ini dengan Kakek enam tahun yang lalu.

Dia melihat sinar mata mencorong hebat dari Kakek yang dahulu, sedangkan sinar mata Kakek ini demikian lembut dan penuh pengertian.

Betapapun juga, kecuali perbedaan pada sinar mata ini, hampir segalanya Kakek ini tiada bedanya dengan Kakek yang muncul dalam perebutan Giok-liong-kiam enam tahun yang lalu.

Gundulnya, gendut bulatnya, jubah kuning sampai sepatunya...

dan kembali Lui Siok Ek tertegun.

Sepatunya memang sama, sepatu kain, akan tetapi telapak sepatu Kakek yang dahulu itu berlapis besi.

Ini dia ingat benar, sedangkan telapak sepatu Kakek ini tetap dari kain lunak.

Akan tetapi, sinar mata yang berbeda itu mungkin saja menunjukkan kemajuan batin Kakek itu selama enam tahun ini, dan tentang telapak sepatu, ah, bisa saja Kakek itu kini tidak membubuhkan lapisan besi karena tidak sedang melakukan perjalanan jauh.

Dia bisa keliru akan tetapi tetap saja ada keraguan dalam hatinya.

Akan tetapi perwira Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu dan begitu melihat Siauw-bin-hud muncul, langsung saja dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Kakek gundul itu dan berkata dengan suara lantang.

"Dia inilah yang dahulu merampas Giok-liong-kiam!"

Siauw-bin-hud memandang kepada Tang Kui sambil tersenyum. Pandang matanya sama sekali tidak marah, melainkan penuh kesabaran seperti seorang Kakek yang baik melihat kenakalan cucunya.

"Si-cu (orang gagah), apakah engkau melihat sendiri pinceng merampas pusaka itu?"

Tanyanya halus. Tang kui cemberut dan mukanya menjadi merah karena marah. Dia adalah seorang yang jujur dan kasar, dan tidak suka berpura-pura.

"Locianpwe adalah seorang pendeta yang dihormati, mengapa masih berpura-pura seperti anak kecil? Enam tahun yang lalu, begitu bertemu Locinpwe sudah mengenal aku sebagai Tang Kui, perwira pengawal istana!"

Kakek itu tersenyum lebar, juga matanya lebar.

"Ahhh, betapa anehnya. Bahkan dalam mimpipun pinceng belum pernah jumpa dengan Ciangkun, sama tidak pernahnya pinceng mendengar apa lagi melihat pusaka yang bernama Giok-liong-kiam."

"Aku belum gila untuk menuduh Locianpwe yang bukan-bukan. Akan tetapi dia itu dahulupun pernah menjadi saksi!"

Tang Kui menunjuk ke arah Lui Siok Ek dan kini semua mata memandang ke arah tokoh Thian-te-pai itu.

Lui Siok Ek sedang berdiri bingung.

Memang dia melihat perbedaan, dan juga suara ketawa Kakek gendut ini sama sekali tidak mengandung tenaga khikang yang menggetarkan jantung seperti Kakek enam tahun yang lalu, walaupun dalam suara Kakek ini terasa pula adanya tenaga yang amat kuat.

Kini, dituding secara tiba-tiba oleh Tang Kui, dia menjadi gugup dan melihat betapa semua orang memandang kepadanya, diapun mengangguk.

"Memang benar, Locianpwe Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai yang telah mengambil Giok-liong-kiam ketika terjadi perebutan di antara kami."

"Aha, sudah dua orang yang menjadi saksi mata! Wah, ini berat jadinya untukku!"

Kata Kakek gendut.

"Kalau saja pinceng tidak yakin benar bahwa pinceng selama dua puluh tahun bertapa dalam ruangan, tentu pinceng mulai tidak yakin kepada diri sendiri! Akan tetapi, pinceng sudah menyelidiki diri sendiri dan tidak pernah pinceng meninggalkan ruangan, jadi, tidak mungkin mengambil pusaka. Eh, apakah jiwi-sicu melihat sendiri pinceng mengambil pedang itu?"

Lui Siok Ek mengerutkan alisnya. Seperti juga Tang Kui, ketika enam tahun yang lalu dia berhadapan dengan Siauw-bin-hud, Kakek ini sudah mengenalnya, akan tetapi kini agaknya tidak mengenalnya.

"Kami tidak melihat sendiri. Kami berlima sedang memperebutkan pusaka itu. Giok-liong-kiam terlempar ke udara dan meleset ke arah di mana kami menemukan Locianpwe duduk bersamadhi. Siapa lagi kalau bukan Locianpwe yang mengambilnya?"

"Duk-duk-dukk!"

Semua orang kembali terkejut karena ketika Kakek tinggi besar muka merah itu menotok-notokkan tongkatnya ke atas tanah, maka tanah di sekitar tempat itu seperti tergetar dan terdengar suara keras seperti benda berat yang dipukul-pukulkan itu, bukan ujung sebatang tongkat emas yang tidak begitu besar.

Dari ketukan tongkat ini saja sudah dapat dibayangkan betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di dalam lengan tangan yang besar itu.

Dan memang nama Hai-tok (racun lautan) Tang Kok Bu sudah terkenal di seluruh dunia persilatan, maka semua orang memandang kepadanya dengan agak gentar.

"Aku tahu bahwa Siauw-bin-hud bukanlah seorang pengecut, melainkan seorang datuk persilatan yang besar namanya. Tidak perlu banyak cakap lagi tentang urusan tetek bengek. Yang jelas, Siauw-bin-hud telah memiliki Giok-liong-kiam melalui ilmu kepandaiannya yang hebat sehingga dia mampu mengambil pusaka itu tanpa diketahui orang lain. Dalam dunia persilatan memang ada peraturan bahwa siapa menang, dia berhak meraih pahalanya. Enam tahun yang lalu dia menang, dan kini setelah dia keluar, aku orang she Tang mohon diberi kesempatan untuk menguji kepandaian orang yang telah menguasai Giok-liong-kiam. Kalau aku kalah, sudahlah, aku tidak akan banyak ribut lagi tentang pusaka itu."

"Omitohud...!"

Siauw-bin-hud berkata lirih akan tetapi masih tersenyum lebar dan sabar.

"Hai-tok makin tua semakin keras saja. Apakah orang seperti engkau ini tidak mau menerima penjelasan orang seperti aku bahwa pinceng sungguh tidak pernah melihat Giok-liong-kiam, apa lagi memilikinya?"

"Aku tidak pernah menuduh, hanya mendengarkan berita di luaran dan kini ada dua orang saksi mata. Mungkin mereka benar, mungkin pula engkau yang benar, siapa tahu akan kebenaran yang sesungguhnya? Yang penting, mari kita menguji kepandaian. Kalau aku kalah, sudahlah, aku akan minta maaf dan akan pergi dari sini, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menyerahkan Giok-liong-kiam kepadaku."

"Wah, wah, wah, tulang-tulangku sudah tua ini bernasib sial hendak menerima gebukan orang Hai-tok, bagaimana kalau aku kalah akan tetapi aku tidak memiliki pusaka itu untuk dapat diserahkan kepadamu?"

"Dunia kang-ouw mempunyai bukti-bukti bahwa engkau yang merampasnya, maka engkau harus dapat pula membuktikan bahwa bukan engkau perampasnya!"

"Ha-ha-ha, dengan lain kata, engkau menghendaki aku mencari perampasnya yang agaknya mempergunakan namaku?"

"Begitulah dan bersiaplah, Siauw-bin-hud!"

"Nanti dulu. Tamulu bukan hanya engkau seorang, melainkan masih ada beberapa orang lagi. kau tunda dulu niatmu, Hai-tok, aku ingin bertanya kepada yang lain-lain."

Lalu Kakek gendut itu dengan sikap tenang, sabar dan peramah memalingkan mukanya kepada rombongan perwira istana yang dipimpin oleh Pouw Gun atau Pouw Ciangkun itu.

"Cu-wi sekalian ini apa juga datang untuk urusan pusaka yang hilang itu?"

Pouw Gun menjura dengan sikap tegas dan hormat.

Sebagai seorang perwira tinggi, sikapnya tegas dan berwibawa, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi diapun menghormati angkatan yang lebih tua seperti Siauw-bin-hud.

"Locianpwe, saya Pouw Gun bersama beberapa orang teman datang sebagai utusan Sri Baginda Kaisar. Karena seorang di antara saudara muda kami, yaitu Tang Kui, pernah mendapatkan Giok-liong-kiam yang kemudian dirampas oleh Locianpwe, maka kami atas nama Sri Baginda Kaisar mohon dengan hormat agar Locianpwe menyerahkannya kepada kami."

"Heh-heh, semua orang minta pusaka itu dariku. Aneh! Ciangkun, kalau Cu-wi menjunjung perintah Sri Baginda Kaisar, tentu membawa surat perintah."

Wajah panglima yang bertubuh kecil itu menjadi merah.

"Maaf, Locianpwe, selama enam tahun ini, Siauw-lim-pai tidak mengakui tentang Giok-liong-kiam, oleh karena itu, urusan ini menjadi urusan pribadi. Kami ditugaskan untuk mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Andaikata kami harus berurusan dengan Siauw-lim-si, tentu kami akan membawa surat perintah. Akan tetapi karena Siauw-lim-si tidak mengakui, dank arena ada saudara kami yang melihat sendiri bahwa pusaka itu... oleh Locianpwe..."

"Ha-ha, Pouw-Ciangkun, jelaskan saja apa yang hendak kau lakukan sekarang,"

Kakek gendut itu memotong dengan suara kasihan melihat kegugupan perwira itu.

"Seperti saya katakan tadi, kami mohon dengan hormat agar Locianpwe suka menyerahkan pusaka itu kepada kami, demi nama Sri Baginda Kaisar."

"Kalau pinceng tidak dapat memberikannya bagaimana Ciangkun?"

"Terpaksa saya melupakan kebodohan sendiri mohon petunjuk dari Locianpwe."

"Aha! Menantang lagi! Kiranya engkau tidak sendirian dalam hal berkeras kepala untuk memukuli badanku yang sudah tua, Hai-tok. Baiklah, kau tunggu dulu, Ciangkun, aku akan bertanya kepada rombongan lain."

Kakek itu tanpa menanti jawaban lalu menghadapi rombongan Thian-te-pai yang berdiri berbaris dengan sikap gagah.

"Cu-wi tentu utusan perkumpulan Thian-te-pai,"

Katanya ramah sambil memandang ke arah dada orang-orang itu.

"Lalu apa kehendak Cu-wi datang mencari aku orang tua?"

Coa Bhok yang gagah dan angkuh melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud.

"Saya Coa Bhok sebagai wakil ketua Thian-te-pai, mewakili perkumpulan kami untuk memohon kebijaksanaan Locianpwe Siauw-bin-hud. Pusaka Giok-liong-kiam sejak dahulu menjadi pusaka perkumpulan kami, bahkan menjadi lambang kebesaran perkumpulan Thian-te-pai kami. Enam tahun lebih yang lalu, pusaka kami itu lenyap dicuri orang dan setelah itu timbullah perebutan di antara orang-orang kang-ouw untuk mencari dan merampasnya. Sute kami Lui Siok Ek ini pada enam tahun yang lalu hampir berhasil merebut kembali pusaka kami itu, akan tetapi menurut keterangannya tadi, pusaka itu oleh Locianpwe dirampas. Karena selama enam tahun ini Locianpwe berada dalam pertapaan, kami segan untuk berurusan dengan Siauw-lim-si dan mendengar Locianpwe telah keluar, kami memberanikan diri untuk datang menghadap dan minta kembali pusaka yang disimpankan oleh Locianpwe itu.?"

Ucapan wakil ketua Thian-te-pai ini tegas, jelas dan menghormat. Biarpun mulutnya masih tersenyum, akan tetapi Siauw-bin-hud menarik napas panjang.

"Sayang sekali, andaikata pinceng benar-benar menemukan pusaka yang hilang itu, dengan hati senang dan rela tentu akan pinceng serahkan kepada Cu-wi. Akan tetapi bagaimana kalau pinceng tidak tahu tentang pusaka itu?"

"Karena ada saksi-saksi mata, ke mana kami harus mencari kecuali pada Locianpwe? Dan andaikata benar ada yang memalsukan nama Locianpwe, hal itu adalah urusan Locianpwe pribadi dengan pemalsu itu."

"Aha, dengan arti lain, Cu-wi hendak memaksaku untuk mendapatkan pusaka itu dan mengembalikan kepada Thia-te-pai?"

"Begitulah!"

"Wah-wah-wah, runyam sekali ini!"

Siauw-bin-hud mengelus kepala Ci Kong yang masih berdiri di dekatnya. Dia heran melihat anak itu mukanya merah dan matanya mengeluarkan sinar marah.

"Eh, kau kenapa, anak baik?"

"Susiok-Couw, orang-orang ini sungguh tidak memiliki rasa keadilan sama sekali, mau menangnya sendiri saja dan mendesak susiok "couw secara sewenang-wenang!"

Ci Kong berseru dengan suara nyaring. Kakek gendut itu tertawa bergelak dan mengelus kepala Ci Kong dengan halus.

"Wah-wah, kalau engkau begini keras, lalu apa bedanya dengan mereka yang keras juga? Tenanglah, anak baik dan kita lihat saja perkembangannya."

"Heh-Heh-heh-heh, banyak lalat dan hawanya panas, sungguh tidak nyaman...!"

Tiba-tiba terdengar suara orang mengomel.

Semua orang menoleh dan ternyata yang mengomel itu adalah Bu-beng San-kai yang duduk agak jauh dari orang-orang lain, duduk sembarangan saja di atas rumput sambil mengipasi tubuhnya seolah-olah dia benar-benar merasa gerah padahal hawa di puncak bukit itu tentu saja sejuk!

Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang cantik mungil, bermata lebar dan bersikap pendiam duduk di belakangnya, hanya sepasang matanya yang lebar itu saja bergerak memandangi semua orang akan tetapi mulutnya yang kecil merah itu tak pernah dibukanya.

"Jembel badut!"

Tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu mengejek.

"Agaknya yang kau maki lalat itu termasuk dirimu sendiri, kalau tidak demikian, mau apa engkau muncul di sini!"

Siauw-bin-hud memandang Kakek kurus yang bajunya tambal-tambalan itu dan diapun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya ada pula Bu-beng San-kai di sini! Wah-wah, San-kai, apakah benar dugaan Hai-tok bahwa engkaupun datang untuk memperebutkan Giok-liong-kiam?"

Semua orang, kecuali Hai-tok, terkejut bukan main dan kini mereka memandang ke arah pengemis tua itu dengan mata terbelalak.

Bu-beng San-kai?

Sebuah nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan, dan tak seorangpun di antara mereka, kecuali Hai-tok dan Siauw-bin-hud, menyangka bahwa Kakek jembel yang nampaknya tidak ada apa-apanya itu ternyata adalah Bu-beng San-kai!

Kalau disebut San-tok (Racun Gunung) tentu semua orang akan lebih kaget lagi tadi.

Akan tetapi nama Bu-beng San-kai (Pengemis Berkipas Tak Bernama) atau San-tok (Racun Gunung) juga sama saja.

Di dunia persilatan, pernah muncul empat orang tokoh yang amat hebat, yang dinamakan Racun-racun Dunia.

Mereka adalah San-tok (Racun Gunung) yaitu yang berjuluk pula Bu-beng San-kai, lalu Hai-tok (Racun Lautan) yang kini menjadi orang kaya di Pulau Layar.

Masih ada dua orang lagi, yaitu Thian-tok (Racun Langit) dan Tee-tok (Racun Bumi) yang tidak pernah didengar orang pula, entah berada di mana.

Kalau orang-orang seperti Hai-tok dan San-tok kini muncul, dapat dibayangkan betapa penting dan berharganya Giok-liong-kiam!

Kalau Tang Kok Bu, seperti julukannya, Hai-tok, dahulunya adalah datuk para bajak laut, sebaliknya San-tok adalah datuk para perampok di pegunungan dan hutan-hutan.

Akan tetapi, berbeda dengan Hai-tok yang kini nampaknya menjadi orang kaya raya, San-tok masih kelihatan miskin, bahkan pakaiannya seperti seorang pengemis.

Bu-beng San-kai atau San-tok terkekeh mendengar ucapan Hai-tok dan Siauw-bin-hud dan diapun menjawab.

"Siauw-bin-hud, engkau tahu bahwa aku bukan seorang yang mata duitan atau haus akan harta. Aku datang hanya untuk menonton keramaian, dan apa salahnya setelah sama tuanya kita saling membuktikan siapa yang menjadi loyo lebih dahulu di antara kita semua tua bangka-tua bangka ini? Ha-ha-ha!"

Dan diapun mengebutkan kipasnya semakin cepat.

Kipas itu butut saja, akan tetapi begitu dikebut dengan cepat, semua orang yang berada di situ hampir menggigil karena hawa menjadi semakin dingin seperti ada angin besar yang lewat!

Siauw-bin-hud mengenal empat racun dunia sejak masih muda, bahkan mereka itu boleh dibilang merupakan saingan-sainganya dalam dunia persilatan.

Sejak dahulu, ilmu kenpaian antara para Racun Dunia itu sebanding, dan masing-masing di antara mereka juga hampir dapat menandingi tingkat kepandaian Siauw-bin-hud sendiri yang ketika itu masih menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang disegani.

Hanya selisih sedikit saja kepandaian tokoh Racun Dunia ini dengan kepandaian para Racun Dunia itu.

Kini, melihat munculnya dua orang ini, diam-diam Siauw-bin-hud maklum bahwa mereka berdua itu bukan semata-mata mencari pedang pusaka karena haus akan harta, melainkan dalam usia tua itu agaknya hendak melanjutkan persaingan waktu dahulu untuk menjadi orang nomor satu.

Atau mungkin juga mereka itu masih memiliki keinginan untuk menjadi Bu-lim Beng-cu (Pemimpin Rimba Persilatan) yang disegani dan dihormati seluruh dunia persilatan!

Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba saja Ci Kong sudah melompat ke depan dan dengan membusungkan dada dia menghadapi para tamu itu, memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong.

"Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tamu-tamu tak diundang datang mengganggu Susiok-Couw, seorang tua yang tidak berdosa. Apakah kalian tidak malu? Kalau memang kalian berhati kejam, biarlah aku yang maju mewakili Susiok-Couw, kalian boleh bunuh atau siksa aku untuk memuaskan hati kalian yang kotor dan jahat!"

Tentu saja sikap dan ucapan Ci Kong itu sama sekali tidak terduga-duga dan semua orang menjadi tertegun.

Bahkan Nam Sam Losu sendiri terkejut, tidak mengira bahwa muridnya akan seberani dan selancang itu.

Mukanya sudah menjadi pucat karena marah dan malu.

Dia sebagai gurunya harus bertanggung jawab atas kelancangan muridnya itu, apa lagi mengingat nama Siaw-lim-pai yang dapat tercemar karena sikap anak itu.

Juga para tamu menjadi kaget dan heran, apa lagi mendengar bahwa anak itu menyebut Susiok-Couw (paman Kakek guru) kepada Siauw-bin-hud!

Seorang anak kecil, dua belas tahun, dengan tingkat yang serendah itu dari Siaw-lim-pai, berani menantang mereka yang terdiri dari orang-orang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, bahkan dua di antara mereka adalah San-tok dan Hai-tok!!

Akan tetapi sebelum Nam San Losu sempat memarahi muridnya, Siauw-bin-hud sudah tertawa geli.

"Ha-ha-ha, orang-orang tua memang sudah penuh dengan kepalsuan, kemurkaan, loba tamak dan menjadi hamba dari pada kesenangan, kehilangan kewajaran dan kehilangan perikemanusiaan. San-tok dan Hai-tok, kalian kalau dibandingkan dengan bocah ini"

Wah, kalah jauh sekali!"

"Huh!"

Hai-tok mendengus.

"Dibandingkan anakku yang di rumah, dia itu bukan apa-apa, Siauw-bin-hud!"

"Heh-heh, benarkah dia begitu hebat. Siauw-bin-hud? Aku tidak percaya!"

Berkata demikian, San-tok atau Bu-beng San-kai lalu menggerakkan kakinya dan dalam keadaan duduk tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan dan dia sudah berdiri di depan Ci Kong sambil tersenyum-senyum.

Ci Kong sama sekali tidak menjadi gentar dan memandang Kakek berpakaian jembel itu dengan sepasang mata mencorong.

"Bocah bernyali besar, kalau engkau tidak membolehkan aku mengganggu Susiok-Couwmu, lalu kau mau apa? Apa kau berani melawan aku?"

Sikap dan ucapan ini membuat Ci Kong marah bukan main.

"Apa lagi engkau, biar raja iblis sekalipun akan kulawan kalau dia jahat dan hendak mengganggu kami!"

Bentaknya.

"Wah-wah, agaknya engkau memang memiliki ilmu yang lihai maka kecil-kecil berani menantang aku. Nah, coba kulihat, apakah engkau berani memukul perutku ini?"

Kakek itu mencoba untuk membusungkan perutnya yang kempis.

Ditantang begitu, Ci Kong menjadi marah dan hatinya terasa panas.

Sudah enam tahun lamanya dia belajar silat di kuil Siauw-lim-si, dipimpin langsung oleh Nam San Losu.

Dia mengenal jenis pukulan-pukulan berbahaya, apa lagi pukulan yang ditujukan kea rah perut.

Dia mengenal pukulan yang menggetarkan jantung, pukulan yang merusak isi perut.

Akan tetapi karena di samping mempelajari ilmu silat diapun mempelajari ilmu budi pekerti dan ilmu batin, hatinya penuh welas asih dan betapapun marahnya, dia tidak tega untuk melakukan pemukulan yang berbahaya bagi seorang Kakek yang sudah tua itu.

Hanya tantangan itu saja yang memaksanya untuk memukul.

"Baik, aku akan memukulmu seperti yang kau tantang itu. Bersiaplah!"

Katanya sambil memasang kuda-kuda.

"Ha-ha, kau wakili Susiok-Couwmu memukulku, dan kerahkan semua tenagamu!"

Kakek kurus itu menantang.

Ci Kong tidak tahu betapa Nam-San-Losu, gurunya, sudah bergerak hendak mencegahnya akan tetapi tiba-tiba gurunya terkejut karena tubuhnya seperti disedot angina dari belakang yang membuatnya tidak mampu bergerak.

Ketika Suhunya menengok, ternyata Siauw-bin-hud sudah mengulurkan tangannya dan kini Kakek itu tersenyum lebar dan memberi isyarat agar dia tidak melakukan sesuatu terhadap anak itu.

Legalah hati Nam San Losu karena dia maklum bahwa susioknya itu tentu tidak akan membiarkan muridnya celaka, hanya dia merasa heran mengapa susioknya itu seperti mendukung sikap dan perbuatan Ci Kong yang dianggapnya kurang ajar terhadap tingkatan yang tua.

Ngeri dia membayangkan apa akan menjadi akibatnya kalau muridnya itu memukul tubuh San-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia itu!

Dia sudah mendengar nama ini dan agaknya tingkat kepandaian susioknya, Siauw-bin-hud sajalah yang dapat mengimbangi kepandaian Empat Racun Dunia.

Bahkan para suhengnya sendiri yang kini menjadi para pemimpin Siauw-lim-pai juga tidak akan mampu menandingi San-tok!

"Hyaaaattt...!"

Ci Kong yang sudah melihat Kakek itu bersiap diri, lalu menerjang ke depan, tangan kanannya dikepal dan memukul ke arah perut.

Menurut yang sudah dipelajarinya, memukul bagian lunak dari tubuh lawan sebaiknya memutar kepalan tangan karena hasilnya akan lebih baik, sehingga tangan membuat gerakan seolah-olah membor perut lawan.

Akan tetapi karena dia tidak berniat mencelakai lawan, hanya sekedar "menghajar"

Saja untuk memperlihatkan bahwa dia benar-benar berani menentang siapa saja yang hendak mengganggu Susiok-Couwnya, dia memukul biasa saja kea rah perut kecil itu.

"Bukkk...!"

Pukulan itu tepat mengenai perut bawah Kakek kurus itu, akan tetapi sedikitpun Kakek itu tidak menangkis atau mengelak, juga tidak bergoyang sedikitpun oleh pukulan si anak kecil.

Ci Kong yang merasa betapa kepalan tangannya memasuki daging lunak sekali, menjadi terkejut dan cepat menarik kembali tangannya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kepalan tangannya memasuki perut itu tidak dapat ditarik kembali, bahkan kepalannya tidak dapat dibuka!

Dia mengangkat muka memandang, dan melihat betapa wajah San-tok masih menyeringai biasa, dan sepasang mata Kakek itu memancarkan sinar aneh.

Kembali dia berusaha membetot tangannya, namun tiba-tiba tubuhnya malah terasa lemas kehilangan semua tenaga dan kepalan tangannya terasa hangat, lalu semakin lama menjadi semakin panas!

"Heh-Heh-heh, Siauw-bin-hud, engkau benar.

Anak ini jauh lebih baik dari pada aku atau Hai-tok, dan aku kagum sekali!"

Melihat keadaan muridnya yang nampak lemas dan tidak mampu menarik kembali tangannya dari perut San-tok, tentu saja Nam-San-Losu menjadi terkejut sekali.

Dia maklum bahwa nyawa muridnya terancam maut, maka dengan nekat diapun bangkit dan melangkah maju untuk menolongnya.

Akan tetapi kembali tubuhnya tersedot ke belakang dan Siauw-bin-hud memberi isyarat dengan pandang matanya agar dia tidak sembarangan bergerak.

Nam-San-Losu mentaatinya karena Kakek inipun maklum bahwa keadaan muridnya itu seperti telah ditolong.

Sedikit saja dia bergerak dengan mudah San-tok akan dapat membunuh anak itu.

"Ha-ha-ha, San-tok. Jelas dia jauh lebih baik, tidak seperti engkau yang tanpa malumalu memperdayakan seorang anak kecil. Apa kehendakmu?"

Siauw-bin-hud berkata, dengan sikap masih tenang.

Diapun maklum betapa licik dan jahatnya Empat Racun Dunia, akan tetapi dia menghadapi kelicikan San-tok yang kini mengancam nyawa cucu muridnya itu dengan tenang dan sikap yang masih ramah tanpa dibuat-buat.

Bagi seorang yang tingkat kebatinannya seperti Siau-bin-hud, sudah tidak mengenal lagi rasa dendam atau khawatir, juga tidak dipengaruhi lagi oleh emosi.

Dan kewajaran ini seperti kembali kepada sifat kanak-kanak yang bersih dan polos, namun matang dan tidak menjadi permainan emosi sehingga tenang dan jernih bagaikan air telaga dalam yang tenang.

"Ha-ha, apa lagi, Siauw-bin-hud, kalau bukan Giok-liong-kiam yang ingin kulihat? Aku ingin sekali melihat macamnya benda yang diperebutkan itu."

"Dan untuk itu kau akan membebaskan anak itu?"

"Heh-heh, seperti kau katanan tadi, anak ini jauh lebih baik dari pada aku atau Hai-tok, mana aku mau merusak bahan sebaik ini? Tentu dia kubebaskan."

"Ha-ha-ha, Racun Gunung, kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk tetap menyangka bahwa aku menyembunyikan pusaka itu, bukan? Pusaka itu tidak ada padaku."

"Aku percaya padamu dan kiranya ada orang lain yang mempergunakan namamu untuk merampas pusaka itu. Akan tetapi, seperti dikatakan orang Thian-te-pai itu, penggunaan namamu oleh orang lain itu adalah urusanmu. Aku minta agar engkau mencari pemalsu itu, merampas kembali Giok-liong-kiam kemudian memberikan kepadaku!"

"San-tok!"

Tiba-tiba Hai-tok membentak marah.

"Enak saja kau memaki orang lain tadi, kini engkau sendiri yang hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan pusaka kepadamu! Tak tahu malu!"

"Heh-heh, siapa tak tahu malu?"

Kata Kakek kurus.

"Aku hanya ingin melihat, kemudian akan kuputuskan siapa yang berhak menyimpan pusaka itu kelak. Nah, Siauw-bin-hud, bagaimana?"

Siauw-bin-hud tersenyum lebar.

"Heh-heh, tanpa kau minta sekalipun, aku merasa sudah menjadi kewajibanku untuk mencari pusaka itu. Pusaka itu sudah lenyap selama enam tahun dan kalian tidak mampu mendapatkannya kembali. Karena itu, sudah adillah kiranya kalau kalian memberi waktu enam tahun juga kepada pinceng untuk mencarinya. Enam tahun lagi, pada hari dan bulan yang sama, pinceng harap Cu-wi suka datang kesini dan kita lihat saja apakah pinceng berhasil mendapatkannya kembali."

"Setuju...!"

San-tok atau Bu-beng San-kai berseru, mendahului orang lain yang masih ragu-ragu dan memandang dengan alis berkerut.

"Nah, terimalah kembali cucu muridmu, Siauw-bin-hud!"

Semua orang memandang ke arah Ci Kong yang masih bergantung pada perut Kakek itu dengan tangan kanannya menancap di perut itu sampai di pergelangan tangan.

Anak itu sudah lemas dan kini kulit muka dan tangannya nampak kehijauan!

Begitu Kakek kurus itu menggerakkan perutnya, anak yang sudah pingsan itu terlempar ke belakang, ke arah Siauw-bin-hud yang cepat menangkapnya lalu merebahkan anak itu di atas tanah.

Melihat betapa kulit muridnya menjadi kehijauan dan anak itu pingsan, Nam San Losu menjadi terkejut dan gelisah sekali.

Akan tetapi diapun seorang Kakek yang berpengetahuan luas Dan dia tidak berani sembarangan bergerak, menyerahkan segalanya kepada susioknya.

Sungguh heran dia melihat betapa susioknya setelah meletakkan telapak tangannya ke dada Ci Kong, lalu tertawa girang, dan memandang ke arah San-tok lalu berkata.

"Ha-ha-ha, San-tok. Agaknya selama ini engkau telah memperoleh banyak kemajuan, lahir batin. Terima kasih!"

Tiba-tiba, terdengar bentakan halus.

"Kakek berwatak keji!"

Dan tahu-tahu anak perempuan yang sejak tadi berada di belakang Bu-beng San-kai atau San-tok dan hanya menjadi penonton saja seperti yang lain, tiba-tiba meloncat ke depan dan sudah menghadap Siauw-bin-hud sambil mengeluarkan suara celaan setengah memaki itu.

Siauw-bin-hud mengangkat muka memandang.

Dia masih bersila ketika memeriksa tubuh Ci Kong dan melihat anak perempuan yang berdiri di depannya, dia tersenyum ramah lalu menoleh ke arah San-tok yang hanya memandang sambil tersenyum-senyum.

"Nona kecil, mengapa engkau datang-datang memaki aku?"

Tanya Siauw-bin-hud.

Anak perempuan itu adalah Lian Hong.

Sejak tadi anak ini mengikuti jalannya peristiwa dan melihat betapa anak laki-laki yang pemberani itu menjadi korban karena membela Kakek gendut, hatinya merasa penasaran sekali.

Apa lagi melihat sikap Kakek gendut yang menerima cucu muridnya yang pingsan itu sambil tertawa-tawa, bahkan mengucapkan terima kasih kepada gurunya, hatinya memberontak.

Ia mengenal gurunya sebagai seorang Kakek yang wataknya aneh luar biasa, maka iapun tidak dapat mengerti apa arti perbuatan gurunya itu.

Karena itu, melihat betapa gurunya tadi menerima pukulan anak laki-laki dan membuat anak laki-laki pingsan dengan kulit kehijauan, ia tahu bahwa anak itu keracunan akan tetapi ia tidak berani menegur gurunya yang juga menjadi Kakeknya itu.

Kemarahannya karena merasa kasihan dan penasaran melihat anak laki-laki itu menjadi korban, kini ditimpakan kepada Siauw-bin-hud yang dianggapnya menjadi gara-gara.

"Engkau ini orang tua yang keji dan tak tahu diri! Semua urusan pusaka ini adalah garagaramu, akan tetapi engkau tidak mau maju sendiri, malah membiarkan seorang anak kecil maju mewakilimu sehingga terluka. Patutkah itu?"

"Hemmm, anak perempuan licik!"

Tiba-tiba Hai-tok mengejek.

"Gurumu yang mencelakai anak itu, dan engkau malah memaki Siauw-bin-hud!"

Hati Kakek yang menjadi Racun Lautan ini sudah mendongkol sekali melihat permainan antara Siauw-bin-hud dan San-tok sehingga dia sendiri terdesak.

Dua orang itu sudah membuat janji-janji dan menganggap orang-orang lain yang hadir di situ seolah-olah tidak ada dan tidak memiliki hak suara untuk menentukan tentang urusan Giok-liong-kiam.

Lian Hong menoleh ke arah Kakek pesolek itu.

"Kakekku dipukul dan hanya membela diri!"

Teriaknya membela Kakeknya.

"Heh-Heh-heh, jadi engkau cucu San-tok, ya? Bagus, memang cocok sekali menjadi cucu si Racun Gunung. Nona cilik, kalau benar pinceng membiarkan cucu muridku ini mewakili pinceng memukul Kakekmu, habis engkau mau apa terhadap diri pinceng?"

"Cucu muridmu telah mewakili engkau memukul Kakekku, maka akupun kini mewakili Kakekku untuk membalas memukulmu. Ada pepatah mengatakan bahwa satu pukulan layak dibalas dua pukulan, akan tetapi melihat engkau sudah terlalu tua, lebih tua dari Kakekku, biar aku membalas dengan satu pukulan pula."

"Ha-ha-ha, San-tok, cucumu ini hebat sekali, sama hebatnya dengan cucu muridku. Nah, baiklah, kau pukullah aku, nona cilik!"

"Bersiaplah kau , Kakek tua!"

Lian Hong memasang kuda-kuda dan kini iapun menerjang kedepan, mengirim tamparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam kea rah kepala Kakek yang masih duduk bersila itu.

Tamparannya ini hebat sekali, karena biarpun ia baru berusia sebelas tahun, selama enam tahun ini Lian Hong menerima gemblengan yang keras dari Kakeknya atau gurunya.

"Wah, bagus...!"

Siauw-bin-hud memuji dan sama sekali tidak mengelak.

"Plakkk!"

Telapak tangan itu tepat mengenai kepala yang gundul dan hal ini tentu saja dianggap amat kurang ajar oleh para Hwesio Siauw-lim-pai yang memandang dengan mata mendelik.

Ingin mereka memukul anak perempuan yang berani menampar kepala susiok mereka itu.

Akan tetapi, Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar dan kini terulanglah peristiwa seperti yang terjadi pada diri Ci Kong tadi.

Lian Hong merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan batok kepala yang amat lunak dan dingin seperti es!

Ketika ia hendak menarik kembali tangannya, ternyata telapak tangan itu melekat pada batok kepala yang halus itu.

Berkali-kali ia mengerahkan tenaga untuk membetotnya kembali, akan tetapi makin dibetot makin melekat dan semakin dingin sehingga ia menggigil dan kehabisan tenaga untuk meronta.

Dan sebentar saja iapun pingsan dengan tangan masih menempel pada kepala Kakek itu!

Terdengar Hai-tok terkekeh.

"Ha-ha-ha, ternyata Siauw-bin-hud setelah bertapa dua puluh tahun, tidak berobah menjadi dewa. Sama saja dengan San-tok!"

Mendengar ejekan ini, Siauw-bin-hud tertawa lalu dia menggerakkan kepalanya sambil berkata.

"San-tok, kau terimalah cucumu yang baik ini!"

Dan tubuh anak perempuan yang pingsan itupun terlempar ke arah Bu-beng San-kai yang cepat menyambutnya.

Ternyata Lian Hong pingsan dengan muka kebiruan seperti orang yang menderita kedinginan hebat!

San-tok meletakkan telapak tangannya ke punggung cucunya, lalu tertawa girang.

"Ha-ha-ha, agaknya engkau bukan orang yang suka berhutang, Siauw-bin-hud. Terima kasih!"

Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran.

Jelas bahwa San-tok tadi melukai Ci Kong, akan tetapi Siauw-bin-hud malah berterima kasih, dan sekarang, Siauw-bin-hud melukai Lian Hong akan tetapi San-tok juga berterima kasih!

Hanya Hai-tok yang ilmunya paling tinggi di antara mereka yang lain, diam-diam merasa mendongkol sekali.

Dia dapat menduga bahwa dua orang Kakek itu bukan melukai untuk mencelakakan, melainkan masing-masing telah menyalurkan tenaga ke dalam tubuh dua orang anak itu sehingga dua orang anak itu bukannya dirugikan, malah menerima tenaga yang hebat.

Dua orang Kakek itu telah saling menukar kebaikan!

"Cukuplah semua permainan sandiwara dan badut ini!"

Hai-tok berkata dan diapun melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud.

"Siauw-bin-hud, mari kita main-main sebentar saja untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pemilik Giok-liong-kiam, baik sekarang maupun kelak."

Kakek ini sudah mengangkat tongkatnya ke atas. Tongkat itu panjangnya lima kaki, berlapis emas dan terhias batu permata sehingga nampak indah dan berkilauan ketika diangkatnya di depan dada.

"Wah-wah, Racun Lautan ini hendak menjual lagak di sini? Kita sama-sama menjadi tamu di Siauw-lim-si, sungguh tidak enak kalau aku membiarkan saja engkau mengacau. Pergilah dan jangan membikin malu aku sebagai sama-sama tamu Siauw-lim-si!"

Tiba-tiba Bubeng San-kai atau San-tok sudah melompat ke depan, menghadapi Hai-tok dengan kipas bututnya di tangan.

Dua orang Kakek itu, dua di antara Empat Racun Dunia, kini saling berhadapan dengan mata melotot seperti dua ekor ayam jago berlagak dan hendak saling bertempur mati-matian.

Entah sudah berapa puluh kali dua orang ini dahulu saling mengukur kepandaian dan belum pernah di antara mereka ada yang menang atau kalah.

Di antara empat orang Racun Dunia, memang tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah.

Mereka masing-masing memiliki keistimewaan sendiri dan karena maklum bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang dapat menjagoi, maka merekapun dapat bekerja sama kalau menghadapi lawan.

Tentu saja untuk membela kepentingan sendiri, para tokoh sesat ini seringkali saling gempur sendiri.

Dan sekarangpun, setelah belasan tahun tidak saling jumpa dan berhubungan, kini sekali bertemu mereka sudah siap untuk saling gebuk lagi!

Tentu saja semua orang memandang dengan hati tegang sekali.

Sudah belasan tahun mereka mendengar nama besar Empat Racun Dunia dan baru sekarang berkesempatan melihat orangnya, dua diantara mereka, bahkan kini dua orang itu siap untuk saling serang.

Tentu saja mereka merasa tegang dan juga gembira karena berkesempatan menyaksikan kehebatan dua orang yang dianggap sakti dan jahat seperti iblis itu.

"Bgus!"

Hai-tok Tang Kok Bu membentak marah.

"Biarkan kita membuat perhitungan di sini dan lihat, siapa yang lebih pantas menjadi pemilik Giok-liong-kiam!"

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Pouw Gun atau Pauw-Ciangkun, perwira tinggi dari istana itu melangkah maju.

"Ji-wi Locianpwe tidak berhak menentukan sebagai calon pemilik Giok-liong-kiam. Hendaknya ji-wi ketahui bahwa Sri Baginda Kaisar telah mengutus kami untuk mencari dan membawa pusaka itu ke istana!"

"Tidak! Kamilah yang paling berhak karena pusaka itu adalah pusaka perkumpulan kami yang hilang dicuri orang!"

Kata Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pai yang merasa penasaran melihat orang-orang membicarakan Giok-liong-kiam tanpa memperdulikan mereka yang merasa paling berhak atas pusaka itu.

Dua orang Kakek yang tadi sudah saling berhadapan untuk berkelahi itu, kini tiba-tiba saling pandang dan tersenyum.

Dari pandang mata yang saling tatap itu, keduanya mengalami kegembiraan di jaman dahulu dan seolah-olah pandang mata mereka menjadi isyarat bagi mereka untuk bersatu, walaupun hanya untuk sementara, guna menghadapi lawan yang datang dari luar menentang mereka!

Secara otomatis, keduanya lalu membalikkan tubuh, membagi tugas!

Karena dia seorang yang hidup sebagai seorang hartawan kaya raya, agaknya Hai-tok masih merasa sungkan untuk berurusan dengan orang pemerintah, maka dia memilih berhadapan dengan orang-orang Thian-te-pai!

Sambil tersenyum mengejek dan melintangkan tongkat emasnya di depan dada, dia menghadapi Coa Bhok wakil ketua Thian-te-pai dan empat orang adik seperguruannya.

"Hemm, Kalian ini anak-anak kecil, sudah tidak becus menjaga Giok-liong-kiam, juga tidak becus menemukannya kembali selama enam tahun ini, sekarang hendak berlagak mencampuri urusan dan perjanjian orang-orang tua? Pergilah dan jangan kalian mengganggu kami!"

Karena Hai-tok sudah memilih lawan, terpaksa San-tok menghadapi Pouw Gun dan dua orang temannya.

Tentu saja Kakek yang hidup sebagai seorang perantau miskin dan jembel ini tidak takut berurusan dengan para pengawal istana.

"Heh-Heh-heh, biasanya, utusan lebih sombong dari pada yang mengutusnya. Kalian hanya utusan, kalau tidak berhasil menemukan Giok-liong-kiam, laporkan saja ke atasan bahwa kalian tidak berhasil. Kenapa hendak mencampuri urusan kami orang-orang tua?"

Tentu saja orang-orang dari dua rombongan itu menjadi marah mendengar ucapan dua orang Kakek yang memandang rendah itu.

Terutama sekali Pouw-Ciangkun dan dua orang temannya.

Mereka adalah perwira-perwira pengawal dari istana, dan di istana dikenal sebagai jagoan, terutama sekali Pouw Gun, dan sekarang mereka sama sekali tidak dipandang mata oleh seorang Kakek jembel.

Biarpun Pouw Gun pernah mendengar akan nama Bu-beng San-kai, akan tetapi dia tidak takut, didukung oleh kedudukannya dan oleh dua orang temannya yang sudah siap untuk membantunya.

"Bgus, kau orang-orang tua hendak memberontak terhadap petugas istana?"

Bentaknya dan dia sudah mengeluarkan pedangnya, diikuti pula oleh si raksasa Tang Kui dan seorang temannya lagi yang kedudukannya lebih tinggi dari pada Tang Kui dan memiliki ilmu silat lebih tinggi pula.

Sebagai perwira-perwira istana, tentu saja mereka tidak dilarang membawa senjata dan masing-masing kini sudah mencabut golok mereka, berdiri di kanan kiri Pouw Gun yang memegang pedang.

Meluhat ini, San-tok terkekeh.

"Majulah, majulah... heh-heh, sudah lama kipasku tidak menepuk lalat-lalat hijau!"

Jelas bahwa ucapannya ini merupakan ejekan, mengejek para perajurit Mancu yang oleh sebagian orang patriot diejek sebagai lalat-lalat hijau.

Pouw Gun dan dua orang temannya sudah membuat gerakan mengurung dan membentuk barisan segi tiga, seorang di belakang, dan dua orang di depan kanan kiri.

Yang di belakang adalah Pouw Gun sedangkan dua orang temannya yang bergolok siap di depan Kakek kurus yang memegang kipas dan nampak enak-enakan mengipasi tubuhnya yang kurus.

Sementara itu, Coa Bhok dan empat orang saudaranya juga sudah mengepung Kakek tinggi besar bermuka merah itu.

Coa Bhok maklum akan kelihaian Hai-tok, maka diapun tidak malu-malu untuk maju bersama empat orang sutenya.

Mengapa mesti malu?

Urusan ini adalah urusan perkumpulan, untuk merebut kembali pusaka perkumpulan, bukan urusan pribadi sehingga boleh saja mereka maju bersama.

Apa lagi mereka menghadapi seorang di antara Empat Racun Dunia sehingga pengeroyokan mereka tidak akan ditertawakan orang kang-ouw.

Karena pada zaman itu, pemerintah Mancu mengeluarkan larangan keras bagi siapa saja untuk membawa senjata tajam, apa lagi akhir-akhir ini setelah timbul banyak pemberontakan kecil di mana-mana, maka Thian-te pai juga melarang murid-muridnya membawa senjata.

Bahkan perkumpulan itu kini lebih mengutamakan ilmu silat tangan kosong dan semua murid memperdalam ilmu silat tangan kosong mereka.

Mereka bahkan menciptakan ilmu silat khas mereka yang diberi nama Thian-te-kun, yang sesungguhnya hanya merupakan ilmu silat tangan kosong yang diperbarui dan dikembangkan dari Im-yang-kun, namun dimasuki gerakan-gerakan dan langkah-langkah khas dari ilmu silat Thian-te-pai.

Kini, dalam menghadapi Hai-tok, mereka berlima yang mengepung ini juga tidak memegang senjata tajam.

Melihat ini, Hai-tok lalu sengaja menyelipkan tongkat emasnya, senjatanya yang paling ampuh, di pinggangnya dan berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, sama sekali tidak mengacuhkan pengepungan lima orang itu, sikapnya sama benar dengan sikap San-tok!

Seperti dikomando saja, tiga orang perwira tinggi yang mengeroyok San-tok dan lima orang Thian-te-pai yang mengeroyok Hai-tok itu bergerak dan melakukan penyerangan.

Tiga orang perwira tinggi yang dipimpin oleh Pouw Gun itu melakukan penyerangan dengan teratur sekali.

Tang Kui dan temannya yang memegang golok menyerang dari kanan kiri, menggunakan golok mereka, yang seorang membacok kepala dan yang kedua membabat pinggang.

Serangan ini disusul dengan selisih beberapa detik saja oleh Pouw Gun yang menusukkan pedangnya ke punggung Kakek kurus itu dan kemudian pedang itu dikelebatkan untuk mencegat semua jalan keluar!

Sungguh merupakan serangan gabungan yang susul-menyusul, bahkan saling bersambungan dan berbahaya sekali.

Akan tetapi, apa yang terjadi?

Kakek kurus yang memegang kipas itu, yang berdiri seenaknya dengan kipas dikebutkebutkan mengipasi tubuhnya, sama sekali tidak menggeser kakinya, sama sekali tidak mengelak, hanya kebutan kipasnya yang tadi mengebuti tubuhnya saja yang berobah gerakannya.

Kipas itu berkelebatan ke kanan kiri lalu ke belakang dan terdengar suara nyaring tiga kali yang akibatnya membuat tiga orang perwira tinggi itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat.

Juga Pouw Gun meloncat ke belakang dan menatap pedangnya sendiri dengan muka pucat karena tadi, tangkisan kipas butut itu membuat lengannya tergetar hebat, bahkan hampir lumpuh!

Kiranya, gagang kipas yang hanya terbuat dari bambu itu, ketika menangkis tiga buah senjata itu, menimbulkan suara nyaring seolah-olah senjata mereka bertemu dengan baja, dan yang luar biasa sekali, setiap kali terbentur senjata tajam, gagang kipas itu langsung melesat dan ujung gagang itu menotok pergelangan tangan.

Begitu tepat totokannya sehingga lengan itu seketika menjadi hampir lumpuh!

Sementara itu, Hai-tok juga sudah menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh Thian-te pai.

Karena ilmu silat Thian-te-kun yang mereka pergunakan itu merupakan penggabungan tenaga lemas dan kasar, lima orang itu menyerang dengan berselang-seling, ada yang melakukan pemukulan dengan amat kuat, ada pula yang menampar dengan lembut namun mengandung tenaga singkang yang berbahaya.

Serangan mereka juga bertubi dan saling susul, karena mereka itu memasang bentuk barisan Ngo-heng-tin dan mengepung dari lima jurusan.

Akan tetapi, sikap Kakek tinggi besar berpakaian mewah ini tidak kalah anehnya dari sikap San-tok.

Dia membuat gerakan seperti menari, kedua lengannya bergerak ke kanan kiri muka belakang dan dari kedua ujung lengan bajunya menyambar angin yang amat kuat dan...

empat orang sute dari Coa Bhok terpental, sedangkan Coa Bhok sendiri terhuyung ke belakang!

Padahal wakil ketua Thian-te-pai ini memiliki tenaga singkang yang cukup kuat!

Sukar untuk dapat dipercaya betapa hanya dengan angin pukulan saja, Hai-tok membuat lima orang lawan yang tangguh itu terpelanting.

Tentu saja wajah Coa Bhok berubah merah sekali.

Sebagai wakil ketua Thian-te-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi, akan tetapi kenapa menghadapi Kakek ini, padahal dibantu empat orang sutenya, mereka berlima dibuat tidak berdaya seperti lima orang anak kecil saja!

Dia menjadi penasaran dan bersama empat orang sutenya mengepung lagi, seperti juga tiga orang perwira tinggi sekarang sudah mengepung tubuh San-tok yang masih berdiri tegak.

Tiga orang perwira tinggi itu sudah menyerang lagi dengan senjata mereka, kini secara berbareng karena mereka maklum bahwa lawan terlalu tangguh untuk diserang secara bergantian.

Tiga batang senjata tajam itu menyerang dari tiga jurusan dalam detik yang sama.

Akan tetapi, tiba-tiba mata tiga orang itu menjadi gelap ketika kipas itu mengebut dan berkelebatan di depan muka mereka.

Hawa dingin dari angin kipas membuat mereka tidak dapat membuka mata dan tahu-tahu dua orang teman Pouw Gun terpukul gagang kipas, perlahan saja di pundak mereka namun cukup membuat mereka terpelanting dengan golok terlepas dari tangan karena tubuh mereka kehilangan tenaga dan pundak terasa nyeri bukan main.

Adapun Pouw Gun yang lebih lihai dan bertindak hati-hati, dapat mengelak dari sambaran kipas dan tahu-tahu pedangnya sudah menusuk dari samping ke arah lambung San-tok.

Kakek ini miringkan tubuh, tangan kirinya bergerak ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan Pouw Gun yang terpaksa melepaskan pedangnya karena dia merasa seolah-olah pergelangan tangannya itu patah-patah.

Di lain detik, tengkuknya sudah dicengkeram oleh tangan kiri San-tok dan tidak mampu berkutik lagi!

Di lain bagian dengan amat mudahnya Hai-tok juga sudah membuat para pengeroyoknya Kocar kacir.

Serangan-serangan lima orang itu yang dilakukan lebih cepat dan kuat disambutnya Dengan totokan-totokan kedua ujung lengan bajunya sehingga dalam segebrakan saja, empat orang sute dari Coa Bhok sudah roboh oleh totokan.

Coa Bhok dapat menangkis totokan ujung lengan baju, akan tetapi pada saat itu tangan kanan Hai-tok sudah bergerak mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya.

Coa bhok terkejut sekali dan dengan menarik tubuh atasnya ke belakang, cengkeraman itu tidak mengenai sasaran.

Akan tetapi, cengkeraman itu hanya gertak saja, atau berfungsi sebagai gertakan kalau dielakkan, karena secepat ular mematuk, ujung lengan baju dari tangan yang mencengkeram itu telah mencuat ke depan dan tahu-tahu sudah menotok dan mengenai jalan darah di pundak Coa Bhok, seketika tubuh wakil ketua Thian-te-pai ini menjadi lemas dan Hai-tok telah mencengkeram tengkuknya!

"Hai-tok, terimalah ini!"

Terdengar San-tok berseru sambil melontarkan tubuh Pouw Gun yang dicengkeramnya tadi.

"Nih, untukmu!"

Hai-tok juga berteriak.

Keduanya sama-sama melontarkan tubuh orang yang dicengkeram tengkuknya, dengan maksud untuk saling menyerang karena setelah kini tidak ada lagi yang menjadi penghalang, dua orang Racun Dunia ini telah teringat kembali akan persaingan mereka!

Dua batang tubuh yang sudah tidak mampu bergerak itu melayang ke udara dan saling bertumbukan di udara.

Sungguh sial bagi mereka, tubuh mereka yang melayang itu tepat sekali saling hantam muka sama muka.

"Dukkk...!"

Darah muncrat dari hidung dua orang itu yang sama sekali tidak berdaya untuk mengelakkan tubrukan antar hidung itu dan tubuh mereka terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

Dua orang perwira yang maklum bahwa mereka tidak mampu menang menghadapi San-tok, segera menolong Pouw-Gun, memanggulnya dan membawanya pergi tanpa pamit.

Juga empat orang tokoh Thian-te-pai menolong wakil ketua mereka dan menggotongnya pergi tanpa pamit.

Terlalu hebat peristiwa yang menimpa dua golongan ini.

Pouw Gun adalah jagoan pengawal istana yang biasanya amat ditakuti, juga Coa Bhok adalah wakil ketua Thian-te-pai yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi.

Akan tetapi sekali ini, dua orang itu hanya menjadi barang permainan yang sama sekali tidak berdaya di tangan dua orang Racun Dunia.

Kini dua orang Kakek itu sudah saling berhadapan lagi, seperti lupa akan perkelahian yang baru saja terjadi.

Dalam perkelahian tadipun mereka bersaing, tidak mau kalah dan memang mereka menyelesaikan perkelahian itu dalam dua gebrakan saja!

"San-tok, kalau aku dapat mengantarmu ke alam baka sekarang, matipun aku akan dapat terpejam!"

Kata Hai-tok.

"Ha-ha-ha, aku yang akan membuat engkau mampus dengan mata melek, Racun Lautan!"

Balas Bu-beng San-kai.

Belum habis ucapan ini Hai-tok sudah menerjang maju didahului oleh sinar kuning emas karena menghadapi lawan berat ini, Si Racun Lautan sudah mencabut tongkat emasnya dan menyerang dengan dahsyat.

Tongkat emas itu berobah menjadi sinar berkeredepan menyambar bagaikan kilat cepatnya.

Si Racun Gunung tidak mau kalah.

Kipas bututnya mengebut dengan tangkisan yang amat kuat.

"Cringgg...!"

Bunga api berpijar dan keduanya menarik kembali senjata mereka, lalu saling serang lagi dengan cepat dan bertenaga kuat.

Angin sambaran senjata mereka bersiutan, kadang-kadang berdesing saking cepat dan kuatnya.

Makin cepat gerakan mereka, makin kabur lagi pandang mata mereka yang nonton perkelahian itu.

Bayangan tubuh mereka segera diselubungi gulungan dua sinar, putih dan kuning emas.

Para Hwesio Siauw-lim-pai memandang dengan sinar mata penuh kagum, bahkan mereka yang belum begitu tinggi tingkatnya, tak dapat mengikuti gerakan dua orang tokoh sakti itu dengan jelas.

Kini hampir seluruh Hwesio Siauw-lim-pai berada di luar dan sejak tadi nonton peristiwa hebat yang terjadi di luar pintu gerbang kuil mereka.

Yang dapat mengikuti perkelahian antara dua orang itu dengan jelas hanyalah Siauw-bin-hud seorang.

Kakek ini juga merasa kagum dan maklum bahwa dua orang itu memang memiliki ilmu silat yang kiranya sukar dicari bandingannya pada jaman itu.

Betapa sukarnya kedua orang itu mengumpulkan semua ilmu kepandaian itu, betapa lamanya mereka melatih dan mencari ilmu-ilmu itu.

Timbullah rasa sayang dalam hati Hwesio gendut ini.

Dua orang itu sudah tua, tidak perlu bertanding untuk saling membunuhpun akan berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan hidup masing-masing?

ia tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, biarpun akan makan waktu yang lama, tentu seorang di antara mereka akan tewas, atau setidaknya keduanya akan menderita luka yang amat parah.

Usia mereka sudah terlalu tua untuk dapat bertahan dalam perkelahian seperti itu.

Dia dapat melihat dengan jelas betapa Hai-tok menang kuat dan tongkatnya itu lihai bukan main, akan tetapi di lain pihak, San-tok menang cepat dan agaknya menang daya tahannya, menang kuat napasnya.

"Omitohud, belum cukupkah main-main ini? Ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil berebut kembang gula saja!"

Sambil berkata demikian, tiba-tiba nampak tubuh yang gendut itu bergerak maju seperti sebuah bola besar dan tahu-tahu Kakek tua renta gendut itu sudah masuk di antara dua gulungan sinar.

Terdengar dua orang Racun Dunia itu berseru kaget dan dua gulungan sinar itupun lenyap.

San-tok dan Hai-tok masing-masing meloncat ke belakang dan mereka memandang kepada Siauw-bin-hud dengan mata terbelalak penuh kagum.

Ketika mereka sedang berkelahi dengan penuh semangat tadi, tentu saja mereka melihat masuknya Hwesio tua ini.

Mereka menganggap kebetulan karena mereka memperoleh kesempatan untuk menguji Hwesio ini yang sejak dahulu memang belum pernah dapat mereka kalahkan.

Dengan menambah kecepatan gerakan dan besarnya tenaga, mereka mengharapkan untuk dapat membuat Siauw-bin-hud tidak mampu memisahkan mereka, bahkan membahayakan keadaan Hwesio tua itu sendiri.

Akan tetapi, begitu tubuh gendut itu masuk dan kedua tangannya mendorong, ada hawa pukulan yang demikian kuatnya sehingga keduanya tidak sanggup bertahan lagi, masing-masing terdorong ke belakang dan tentu akan terhuyung kalau saja mereka tidak cepat melompat ke belakang untuk melenyapkan tenaga dorong yang amat hebat itu!

San-tok lebih dulu dapat menguasai dirinya.

"Ha-ha, memang hanya Siauw-bin-hud yang kiranya mampu menguasai Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu dan Siauw-bin-hud pula yang kini akan dapat membongkar rahasia ini dan menemukan kembali Giok-liong-kiam."

Dia lalu melangkah mundur sambil mengipasi tubuhnya yang berkeringat.

Perkelahian melawan Hai-tok tadi menyadarkannya bahwa dia sudah tua dan bahwa Hai-tok merupakan lawan yang masih seperti dulu, tangguh dan sukar dikalahkan.

Diam-diam Hai-tok masih merasa penasaran terhadap San-tok.

Akan tetapi, melihat munculnya Siauw-bin-hud, diapun merasa tidak enak untuk mendesak.

Perbuatan Siauw-bin-hud yang melerai tadi saja sudah membayangkan bahwa Hwesio tua ini merupakan lawan yang lebih berat dibandingkan San-tok, padahal Racun Gunung itupun masih cukup berat baginya dan dia tidak terlalu yakin akan dapat mengalahkan Kakek kurus itu.

Maka diapun menyimpan tongkatnya, menarik napas panjang.

"Sudahlah, akupun harus tahu diri. Enam tahun lagi, kalau aku masih hidup, aku ingin melihat engkau memenuhi janjimu, Siauw-bin-hud. Atau kalau tidak, tentu ada yang mewakili aku!"

Setelah berkata demikian, dia mendengus dan memberi isyarat kepada tujuh orang pemuda yang mengiringkannya.

Tujuh orang pemuda itu adalah anak buahnya, atau lebih tepat lagi pelayan-pelayan dan juga kekasih-kekasihnya, karena Kakek majikan Pulau Layar ini memang suka sekali dengan pemuda-pemuda remaja yang tampan halus.

Semenjak intrinya meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia kurang lebih sebelas tahun, Kakek ini mulai dengan pemuda-pemuda tampan!

Kesukaan memelihara pemudapemuda tampan sebagai pengganti selir-selir wanita ini memang banyak dimiliki oleh hartawan-hartawan atau bahkan pejabat-pejabat tinggi di jaman itu.

Setelah rombongan dari Pulau Layar ini pergi, San-tok lalu berlutut dekat murid atau cucu angkatnya yang masih pingsan.

Kini wajah Lian Hong tidak begitu kebiruan lagi, mulai putih, dan pernapasannya juga mulai longgar.

Beberapa kali dia mengurut (Lanjut ke

Jilid 06) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 06 leher dan punggung gadis cilik itu dan akhirnya Lian Hong siuman.

Ketika Kakek ini mengangkat muka, dia melihat betapa Siauw-bin-hud melakukan hal yang sama terhadap diri Ci Kong dan pemuda cilik itu siuman lebih dahulu.

"Ha-ha-ha, anak baik, sungguh engkau menerima keuntungan besar sekali. Hayo cepat menghaturkan terima kasih kepada Bu-beng San-kai!"

Kata Siauw-bin-hud kepada Ci Kong.

Tentu saja anak ini mengerutkan alisnya dengan penasaran.

Jelas bahwa Kakek itu tadi mencelakakannya melalui penyaluran tenaga dalam, bagaimana sekarang Susiok-Couwnya bahkan menyuruh dia menghaturkan terima kasih?

"Hong Hong, cepat kau haturkan terima kasih kepada Siauw-bin-hud yang telah memberi petunjuk padamu!"

Mendengar ini, Lian Hong cemberut, akan tetapi ia tahu bahwa Kakeknya yang suka senyum-senyum itu berwatak aneh dan tidak mau dibantah, maka biarpun dengan hati panas, terpaksa iapun melangkah maju dan hampir saja ia bertabrakan dengan Ci Kong yang juga melangkah maju untuk memenuhi perintah Susiok-Couwnya.

Lian Hong tidak mau minggir, dan Ci Kong yang mengalah dan mengelak ke pinggir.

Gadis cilik itu agaknya menanti dan sengaja bersikap lambat.

"Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe dan maafkan kelancangan saya tadi."

Ci Kong menambah kalimatnya karena anak yang cerdik ini maklum bahwa Susiok-Couwnya tidak mungkin menyuruhnya berterima kasih kalau tidak ada sesuatu yang menguntungkan dirinya.

Karena itulah, di samping menghaturkan terima kasih, sekalian dia minta maaf mengingat betapa tadi dia bersikap lancang dan berani memukul perut Kakek itu.

Melihat betapa pemuda cilik itu telah memberi hormat sambil berterima kasih kepada Kakek angkatnya, Lian Hong juga memaksa dirinya menjura kepada Siauw-bin-hud, akan tetapi suaranya masih terdengar ketus ketika berkata.

"Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih."

Hanya dua orang Kakek itu yang tahu akan perbuatan masing-masing.

Siauw-bin-hud tadi dengan cepat mengetahui bahwa biarpun kulit tubuh cucu muridnya kehijauan, namun keracunan itu bukan membahayakan.

Sebaliknya malah, Kakek kurus yang dijuluki Racun Gunung itu telah mengoperkan tenaga singkang yang hebat kepada Ci Kong, melalui tangan pemuda itu yang tadi menempel di perutnya.

Tahulah dia bahwa San-tok juga merasa kagum kepada Ci Kong dan telah berkenan menghadiahi anak itu.

Hal ini saja membuktikan bahwa San-tok kini telah memiliki kasih sayang di dalam hatinya, dan juga perbuatan itu menunjukkan iktikad baik terhadap Siauw-lim-pai.

Oleh karena itulah, begitu melihat kesempatan terbuka ketika Lian Hong memukulnya, diapun membalas dengan mengoperkan tenaga sakti ke dalam tubuh anak perempuan itu yang dia tahu juga memiliki bakat yang baik sekali.

"Bgus begitu, Hong Hong. Mari kita pergi dari sini. Siauw-bin-hud, enam tahun lagi aku datang menagih janji!"

Kata San-tok sambil menggandeng tangan Lian Hong dan merekapun pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sunyi kembali depan kuil itu setelah semua tamu yang aneh itu pergi.

Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, para Hwesio lalu kembali melakukan tugas harian mereka masing-masing, akan tetapi semua peristiwa yang terjadi pagi tadi sungguh akan melekat di dalam hati mereka dan sampai lama akan menjadi bahan percakapan mereka di waktu sebelum tidur.

Siauw-bin-hud lalu mengumpulkan keempat orang pimpinan Siauw-lim-si, juga Nam San Lo-su, Nam Thi Hwesio , dan Ci Kong diajak masuk ke dalam ruangan belakang di mana Kakek gendut itu bicara dengan suara sungguh-sungguh walaupun sikapnya masih ramah dan senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang bulat.

"Kalian semua tentu tahu bahwa munculnya urusan Giok-liong-kiam ini mengikatkan pinceng pada sebuah tugas, hal yang sama sekali tak pernah pinceng duga-duga. Akan tetapi, segala sesuatu memang sudah digariskan dan kita hanya tinggal melaksanakannya saja. Ada orang mempergunakan nama pinceng untuk merampas pusaka itu. Jelaslah bahwa maksudnya, selain mengalihkan perhatian agar dia dapat menyimpan pusaka itu dengan aman, juga dia meminjam nama Siauw-lim-pai dengan maksud mencari keamanan dan juga mungkin saja untuk mengadu domba. Nah, tidak ada lain pilihan lagi, pinceng sendiri harus pergi mencari benda yang menimbulkan keributan itu."

"Maaf, susiok. Apakah tidak lebih baik kalau susiok mengutus murid-murid saja untuk melakukan penyelidikan, mencari dan merampas kembali pusaka itu?"

Siauw-bin-hud tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya.

"Pinceng dapat menduga bahwa orang yang merampas pedang itu tentu seorang yang lihai sekali. Buktinya, orang-orang pandai seperti San-tok dan Hai-tok saja tidak mampu mencarinya dan dapat ditipu sehingga mereka mencari ke sini. Tidak, harus pinceng sendiri yang mencarinya. Bukankah dia memakai nama pinceng untuk perbuatannya itu? Pinceng sendiri yang akan pergi dan pinceng hanya minta ditemani oleh Ci Kong ini saja."

Nam San Losu terkejut, akan tetapi juga girang.

Hal itu berarti bahwa muridnya itu akan memperoleh kemajuan yang luar biasa.

Di bawah bimbingan susioknya sendiri yang demikian sakti!

"Akan tetapi, dia masih kanak-kanak, apakah tidak hanya akan menjadi beban dan gangguan bagi susiok?"

Katanya.

"Justru karena dia masih kanak-kanak maka akan cocok untuk pergi menemani pinceng. Ci Kong, maukah engkau menemani pinceng untuk mencari pusaka yang diperebutkan itu?"

Tentu saja Ci Kong merasa girang bukan main.

Dia sudah maklum bahwa Susiok-Couwnya ini memiliki kesaktian luar biasa, maka kalau dia boleh menemani Kakek itu berarti dia akan dapat memperoleh banyak petunjuk dalam ilmu silat tinggi.

Dia cepat berlutut di depan Kakek itu.

"Teecu akan merasa girang dapat melayani Susiok-Couw."

"Ha-ha-ha, anak cerdik. Kalau begitu bersiaplah, sekarang juga kita berangkat."

Semua orang terkejut mendengar rencana pemberangkatannya yang tiba-tiba ini, akan tetapi karena mereka semua sudah tahu akan watak yang luar biasa anehnya dari Siauw-bin-hud, mereka tidak berani membantah.

Dan tak lama kemudian Siauw-bin-hud nampak berjalan keluar dari kuil Siauw-lim-si, menggandeng tangan Ci Kong yang menggendong buntalan besar berisi pakaiannya sendiri dan pakaian Hwesio itu, diantar oleh para Hwesio sampai di lereng bukit.

Kota Kan-cou di Propinsi Kiang-si merupakan kota yang cukup besar dan ramai karena kota itu juga menjadi kota pelabuhan perahu-perahu yang melayari Sungai Kan-kiang.

Karena Sungai Kan-kiang itu mengalir ke utara, maka banyaklah tukang perahu sibuk melayarkan para pedagang yang mengirim barang-barang ke daerah pedalaman, ke kota-kota besar di bagian utara.

Memang pada waktu itu, sarana pengangkutan barang maupun orang yang paling cepat, praktis dan murah adalah melalui sungai.

Juga kota Kan-cou menjadi semakin ramai dan penuh manusia karena kebanjiran pengungsi dari barat ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan di Hunan, baik pengungsi orang-orang kaya yang menyelamatkan harta benda mereka maupun pengungsi-pengungsi miskin yang menyelamatkan nyawa mereka.

Bertambahnya toko-toko yang dibuka oleh para pengungsi kaya, makin meramaikan kota itu, akan tetapi, bertambah pula pengemis dan gelandangan yang tidak mempunyai rumah dan tidak mempunyai pekerjaan pula.

Orang-orang berebutan mencari pekerjaan, dan karena banyaknya pengangguran, tak dapat dihindarkan lagi banyak pula terjadi kejahatan-kejahatan.

Tak dapat disangkal pula bahwa segala macam perbuatan jahat seperti pencurian, penjambretan, pencopetan, bahkan perampokan, timbul dari keadaan yang dicengkeram kemiskinan.

Orang-orang yang sudah tersudut karena tidak memiliki pekerjaan, atau orang-orang pemalas yang tidak suka bekerja dan ingin mencari uang mudah, atau orang-orang yang tidak merasa puas dengan keadaannya, condong untruk mudah terbujuk dan menjadi pelaku-pelaku kejahatan.

Hal ini bukan berarti bahwa orang kaya raya tidak mau melakukan kejahatan.

Setidaknya, tidak mau melakukan pencurian.

Akan tetapi orang kaya raya sekalipun, kalau batinnya memang tamak dan tidak puas dengan keadaannya dan selalu ingin lebih dari pada yang dimilikinya, condong pula untuk melakukan kejahatan yang lain bentuknya akan tetapi sama saja sifatnya, yaitu demi kesenangan sendiri tanpa memperdulikan bahwa perbuatannya itu merugikan orang lain.

Mereka itu melepas uang panas dengan bunga tinggi, menindas para petani dan buruh, mempermainkan perdagangan demi keuntungan mereka, bermanipulasi dan korupsi, dan sebagainya.

Uang atau harta benda memang merupakan sarana hidup, satu di antara persyaratan untuk hidup bahagia dan mencari uang bahkan merupakan suatu kaharusan yang mutlak kalau kita ingin mempunyai sandang pangan dan papan yang cukup.

Akan tetapi pengejarannya terhadap uang itulah yang amat berbahaya.

Pengejaran yang dilakukan karena kebutuhan masih tidak begitu berbahaya, akan tetapi pengejaran yang didorong oleh kelobaan, oleh nafsu ingin meraih keadaan yang dianggap lebih baik dari pada keadaan yang ada sekarang, amat berbahaya dan condong untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan jahat, merugikan orang lain.

Seperti orang yang mengejar-ngejar sesuatu di depan sana, matanya hanya tertuju kepada yang dikejarnya sehingga kalau ada orang lain berada di depannya, dianggap penghalang dan dilompati, bahkan mungkin ditendangnya untuk dapat mencapai apa yang dikejarnya.

Pengejaran inilah yang perlu kita amati pada diri sendiri, pengejaran uang menimbulkan pencurian, penipuan, korupsi dan sebagainya.

Pengejaran kedudukan menimbulkan jegal-jegalan, perkelahian bahkan perang.

Pengejaran kesenangan sex menimbulkan pelacuran, perjinahan.

Kesenangan apapun juga bentuknya di dunia ini kalau sudah menguasai kita, dapat saja menjadi pendorong agar kita mengejar-ngejar, menjadi suatu tujuan dan biasanya, tujuan menghalalkan segala cara bagi orang-orang yang sudah buta akan kesadaran.

Kita hidup berhak untuk menikmati kesenangan, akan tetapi justeru pengejaran akan keadaan yang lebih dari pada sekarang itulah yang melenyapkan kesenangan yang ada pada saat ini.

Mata kita selalu tertuju ke depan, kepada kesenangan-kesenangan yang belum ada, kepada bayangan-bayangan sehingga kita tidak melihat lagi keindahan apa yang ada pada kita.

Pada hari itu sudah ramai di pusat kota Kan-cou.

Apa lagi di pasar-pasar, para pedagang sudah memamerkan dagangannya dan para pembelanja sudah hilir-mudik mencari-cari barang-barang yang dibutuhkan.

Ramai suara para pedagang menawarkan dagangannya, memuji barang-barang dagangannya dan berusaha menarik orang-orang yang berlalu lalang agar berbelanja di tempatnya.

Ada pula pengemis-pengemis tua muda yang berjalan-jalan, menggunakan segala cara untuk menarik perhatian dan kasihan orang, minta-minta dengan tangan diulurkan, dengan suara yang memelas.

Lucunya, ada pula yang pura-pura timpang, pura-pura buta.

Ada pula anak-anak, dari usia lima tahun sampai yang remaja berusia belasan tahun, berkeliaran, minta-minta atau mencari barang-barang yang dapat dimakan, di tempat-tempat sampah, kadang-kadang berebutan dengan anjing-anjing yang banyak pula berkeliaran di situ.

Bau sayur busuk, ikan dan tanah lumpur menyesakkan hidung, akan tetapi agaknya bau campur aduk seperti ini terasa sedap oleh mereka yang sudah terbiasa.

Seorang anak laki-laki remaja, berusia kurang lebih tigabelas tahun, dengan baju tambal-tambalan, berdiri di depan seorang penjual bakpao.

Anak itu bertubuh sedang dan melihat betapa urat-urat tubuhnya menonjol, dapat diduga bahwa anak ini sejak kecil biasa dengan pekerjaan kasar dan keras.

Mukanya agak pucat dan muka itu tampan gagah, juga menunjukkan kekerasan.

Sepasang matanya tajam dan berani, akan tetapi pada saat itu matanya memandang ke arah tumpukan bakpao mengepul panas dengan gairah besar.

Beberapa kali dia menelan ludah sendiri dan perutnya yang sejak kemarin tidak diisi itu terasa semakin perih.

Sudah sebulan dia terseret arus pengungsi memasuki kota Kan-cou dan biarpun setiap hari dia mencari dan melamar pekerjaan, namun tidak ada yang dapat menerimanya.

Pekerjaan terlalu sedikit dan yang membutuhkan terlalu banyak.

Anak seusia dia itu dianggap masih kepalang tanggung, disebut anak-anak bukan, dewasapun belum.

Anak ini bernama Gan Seng Bu, berusia tigabelas tahun.

Sejak kecil dia ikut Ayah bundanya yang bekerja sebagai pemburu dan selalu berpindah-pindah.

Akan tetapi, ketika terjadi pemberontakan di barat, Ayah bundanya menjadi korban dan tewas di tangan gerombolan pemberontak.

Dia sendiri berhasil melarikan diri dan demikianlah, dia hidup seorang diri sebagai gelandangan, tak bersanak kadang tanpa pekerjaan dan satu-satunya miliknya hanyalah pakaian dan sepatu yang menempel di tubuhnya, yang kini sudah menjadi penuh tambalan dan butut.

Seng Bu merasa betapa perutnya lapar bukan main.

Kalau saja dia bisa memperoleh bakpao itu, sebuah saja!

Akan tetapi dia tidak mempunyai uang dan tadi dia sudah memberanikan diri minta dari pedagang bakpao.

Yang diterimanya hanya makian sehingga dia terpaksa menjauhkan diri dan memandang ke arah tumpukan bakpao itu seperti seekor harimau kelaparan memandang seekor kelinci gemuk yang diintainya.

Tidak, dia tidak mau mencuri, atau melakukan kekerasan mengambil bakpao lalu melarikan diri.

Dia sudah melihat betapa ada pencuri disiksa orang banyak sampai mati, pernah pula melihat pencuri disiksa oleh petugas keamanan sampai lumpuh kaki tangannya.

Dia tidak akan senekad itu.

Pula, sejak kecil dia digembleng oleh Ayahnya yang keras untuk menjadi orang gagah yang pantang mencuri, demikian satu di antara pelajaran yang diterima dari Ayahnya.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh gerakan seorang pemuda remaja lain.

Pemuda remaja itu bertubuh jangkung, dan usianya sebaya dengan dia, mukanya kurus pula akan tetapi matanya jelilatan.

Seperti dia pula, pemuda itu pakaiannya penuh tambalan dan pemuda itu mendekati tempat penjualan bakpao dari belakang.

Pada saat si pedagang bakpao sibuk melayani beberapa orang pembeli yang merubungnya, tiba-tiba saja pemuda jangkung itu menyambar dua buah bakpao dari tumpukan di belakang tanpa diketahui oleh si pedagang atau para pembelinya.

Akan tetapi Seng Bu melihatnya!

Engkau harus selalu menentang kejahatan, demikian pelajaran yang diterima dari Ayahnya.

Biarpun si pedagang bakpao tadi menghardiknya, akan tetapi kini bakpaonya dicuri orang dan dia melihatnya.

Dia harus mencegahnya, kalau tidak berarti dia menjadi pembantu pencuri, demikian pelajaran yang diingatnya.

Tanpa ragu lagi diapun lalu lari mengejar pemuda remaja yang melarikan dua buah bakpao itu.

Setelah tiba di luar pasar, barulah Seng Bu berhasil menyusul pencuri itu dan dia segera mencengkeram pundak pemuda remaja tinggi kurus itu dari belakang.

"Eh, mau apa kau ?"

Bentak pemuda itu dengan marah sambil membalikkan tubuhnya menghadapi Seng Bu, matanya yang tajam itu memancarkan kemarahan.

"Kau telah mencuri bakpao!"

Bentak Seng Bu marah, apa lagi melihat bahwa bakpao yang sebuah tinggal separo, agaknya telah dimakan oleh pencuri itu sambil lari tadi. Pemuda jangkung itu memandang dengan senyum mengejek.

"Apakah engkau pemilik bakpao itu? jelas bukan, engkau tentu seorang pemuda gelandangan. Habis kau mau apa?"

"Kembalikan bakpao itu kepada pemiliknya!"

"Aha, engkau seperti petugas keamanan saja. Engkau kurus dan pucat. Nih, kuberi separuh. Makanlah!"

Seng Bu memandang kepada bakpao yang tinggal separuh itu.

Nampak daging di dalamnya dan kembali perutnya merintih.

Akan tetapi dia teringat akan pelajaran Ayahnya dan betapa hinanya menerima sogokan seorang pencuri!

"Aku tidak sudi makan barang curian.

Hayo kembalikan atau aku akan menyeretmu ke sana!"

Sepasang mata yang tadi memandang dengan ejekan itu menjadi tajam karena kemarahan.

"Kau mau menyeretku? Setan buruk, kau kira aku takut kepadamu?"

Pemuda jangkung itu menantang sambil mengantongi bakpaonya.

"Kau pencuri yang perlu dihajar!"

Seng Bu berseru dan diapun lalu menyerang dengan pukulan tangannya.

Pemuda remaja jangkung itu menangkis dan balas memukul.

Terjadilah perkelahian dan terdengar suara bak-bik-buk ketika keduanya saling pukul.

Dari gerakan mereka dapat diketahui bahwa keduanya tidak mempergunakan ilmu silat melainkan berkelahi dengan kasar dan liar.

Akan tetapi keduanya memiliki tenaga besar dan tubuh yang kuat sehingga beberapa pukulan yang mereka terima tidak membuat mereka roboh atau mengaku kalah.

Perkelahian ini segera menarik perhatian orang dan mereka dirubung banyak orang yang menjadi gembira nonton perkelahian yang seruini.

Tak seorangpun melerai, bahkan ada suara-suara berpihak, memilih jago masing-masing.

Perkerlahian antara dua orang remaja yang tidak paham ilmu silat tentu saja lebih ramai dan menegangkan dari pada perkelahian antara ahli-ahli silat.

Seorang ahli silat pantang terkena pukulan dan memiliki kepandaian untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi dua orang pemuda remaja itu membagi-bagi pukulan yang diterima oleh badanmereka sehingga nampaknya lebih ramai.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

Suara ketawanya bebas lepas dan terbahak-bahak, dan nampaklah seorang Kakek gendut bulat memasuki tempat perkelahian itu.

Kakek itu nampak sekali.

Melihat kepalanya yang botak hampir gundul, dengan rambut di bagian belakangnya dikuncir pendek dan tebal, jelas bahwa dia bukan seorang Hwesio .

Akan tetapi tubuh dan kesederhanaannya itu membayangkan dia seorang pendeta.

Kepalanya seperti bola bulat, telinga, mata, mulut dan hidungnya juga serba bulat.

Dia tidak berjenggot, alis dan kumisnya pendek akan tetapi tebal dan berdiri seperti sikat kaku.

Bajunya longgar akan tetapi kancingnya tidak dapat ditutup karena perutnya yang amat besar itu mengganjal.

Baju itu terbuka sehingga nampak dada dan perut, dihiasi bulu sepanjang tengah dada menurun sampai ke pusarnya yang besar.

Celananya dari kain tebal dan kuat, sedangkan sepatunya juga masih baru.

Di pinggaangnya tergantung sebuah ciu-ouw (tempat arak) dan sebuah mangkok butut tersembul dari kantongnya.

"Ha-ha-ha-ha, kalian dua jagoan kecil. Bukan di sini tempat berkelahi. Mari ikut aku ke tempat yang lebih enak!"

Berkata demikian, Kakek itu melangkah maju melerai dan menyentuh pundak dekat tengkuk kedua orang anak remaja yang sedang berkelahi itu.

Tiba-tiba saja keduanya menghentikan perkelahian, memandang kepada Kakek gendut itu dan tanpa bersuara lagi, seperti dua ekor anak kerbau, mereka mengikuti Kakek itu yang meninggalkan tempat itu.

Penonton juga bubaran, melanjutkan pekerjaan masing-masing dan sebentar saja perkelahian antara dua orang anak gelandangan itupun dilupakan orang.

Tak seorangpun tahu mengapa dua orang anak yang sedang berkelahi itu tiba-tiba saja menurut dan taat kepada Kakek yang melerai dan mengajak pergi mereka.

Padahal, keduanya belum mengenal siapa Kakek itu.

Hanya dua orang anak itu yang tahu.

Ketika Kakek itu melerai dan menyentuh pundak mereka, tiba-tiba saja kedua lengan mereka menjadi lemas dan seperti lumpuh!

Tentu saja mereka berdua menjadi kaget bukan main, dan ketika Kakek itu mengajak mereka, keduanya tidak berani membantah.

Kedua lengan mereka tidak dapat mereka gerakkan, tergantung lepas dan lumpuh, hal ini saja sudah membuat mereka menjadi takut dan khawatir.

Hanya Kakek itu yang akan dapat memulihkan kedua lengan mereka, maka merekapun menurut saja ketika diajak pergi.

Seng Bu sendiri dapat menduga bahwa Kakek ini tentu seorang sakti.

Biarpun Ayahnya tidak pandai silat, hanya memiliki tubuh kekar sebagai seorang pemburu, namun Ayahnya banyak bercerita tentang pendekar-pendekar dan orang-orang sakti.

Pemuda jangkung itupun memiliki nasib yang tidak jauh bedanya dengan Seng Bu.

Pemuda itu bernama Ong Siu Coan, berusia tigabelas tahun dan dari keluarga petani.

Ayahnya pernah menjadi seorang petani yang cukup keadaannya sehingga Ong Siu Coan sempat pula bersekolah.

Akan tetapi ketika terjadi pemberontakan, Ayahnya ikut pula memberontak karena Ayahnya membenci pemerintah penjajah Mancu.

Pemberontakan itu dapat dipadamkan dan seluruh keluarga Ong Siu Coan binasa, harta bendanya ludas dirampok pasukan pemerintah.

Untung baginya bahwa dia sendiri masih dapat menyelamatkan dirinya dan arus pengungsi membawanya sampai ke kota Kan-cou.

Dia melakukan perjalanan dari utara sampai berbulan-bulan sebelum tiba di Kan-cou.

Seperti juga Seng Bu, sukar sekali baginya untuk mendapatkan pekerjaan.

Baginya lebih sukar lagi karena ada sedikit keangkuhan dalam dirinya, merasa bahwa dia pernah menjadi anak sekolah sehingga dia enggan bekerja kasar.

Akan tetapi, berbeda dengan Seng Bu, agaknya dia tidak mengharamkan mencuri makanan kalau perutnya sudah tidak tahan lagi.

Betapapun juga, di dalam dadanya bernyala api perjuangan menentang pemerintah penjajah.

Pemuda remaja ini memiliki kegagahan, patriot, juga cerdik sekali, selain itu juga ada keanehan-keanehan pada wataknya.

Siapakah Kakek gendut itu?

Orang-orang kang-ouw biasa saja tidak akan mengenalnya, akan tetapi kau m tua di dunia kang-ouw tentu akan terkejut melihat munculnya orang yang sudah belasan tahun lamanya tidak pernah lagi nampak di dunia ramai itu.

Orang ini terkenal sekali puluhan tahun yang lalu karena dia adalah seorang di antara Empat Racun Dunia!

Inilah yang dijuluki orang Thian-tok (Racun Langit) yang memiliki kesaktian setingkat dengan San-tok atau Hai-tok!

Seperti juga San-tok, dia selama belasan tahun bertapa di gunung-gunung dan baru sekarang nampak muncul di dunia ramai, dan dalam keadaan sederhana, tidak seperti Hai-tok yang menjadi seorang kaya raya.

Ketika Kakek ini dalam perantauannya tiba di luar pasar dan melihat dua orang pemuda remaja saling gebuk dengan ramainya, diam-diam dia memperhatikan dari jauh.

Dan giranglah hatinya.

Dia melihat bakat yang amat baik pada diri dua orang muda itu maka dia sengaja membawa dua orang muda itu ke tempat sunyi setelah membuat mereka tidak berdaya dengan semacam ilmu totok jalan darah yang amat halus.

Thian-tok membawa mereka berdua ke sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi, sebuah kuil kosong yang kotor dan rusak.

Tempat inilah yang menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari ini dan dia berjalan terus memasuki kuil tua sampai tiba di sebuah ruangan dalam yang cukup luas.

"Nah, di sini kalian boleh melanjutkan perkelahian sampai ada yang kalah atau menang!"

Katanya sambil menepuk pundak kedua orang anak itu yang seketika merasa betapa mereka mampu menggerakkan lagi kedua lengan mereka.

Dua orang anak ini saling pandang.

Kemarahan sudah lenyap dari mereka, terganti rasa heran dan kagum akan kesaktian Kakek itu.

Dan tiba-tiba ada suatu pikiran menyelinap di dalam benak mereka.

Jelaslah bahwa Kakek ini hendak menguji mereka!

Dan siapa tahu, yang menang akan diambil murid!

Betapa akan gembiranya kalau sampai bisa menjadi murid orang sakti ini, pikir mereka dan kini mereka sudah saling pandang lagi dengan sikap bermusuh karena mereka hendak bersaing dan berebutan menjadi murid Kakek sakti.

"Ha-ha, nanti dulu!"

Kata Thian-tok melihat sinar mata mereka.

"Sebelum dimulai, aku ingin mengetahui dulu siapa kalian."

"Namaku Ong Siu Coan,"

Kata pemuda jangkung.

"Namaku Gan Seng Bu,"

Kata pula pemuda tegap.

"Bgus, bagus! Nama-nama yang bagus dan gagah. Nah, Siu Coan dan Seng Bu, sekarang buka baju kalian. Baju kalian sudah robek-robek dan akan menjadi hancur kalau tidak dibuka. Apa lagi kalau kalian tidak mempunyai pengganti."

Baru teringatlah dua orang muda remaja itu akan pakaian mereka dan masing-masing menunduk dan memandang baju mereka yang robek-robek dengan muka sedih.

Lalu merekapun menanggalkan baju mereka, menaruh di sudut ruangan itu.

Kini mereka hanya memakai celana dan sepatu saja, tanpa baju.

Mengingat akan baju mereka yang robek-robek, kemarahan kembali memenuhi dada mereka ketika mereka berdiri saling berhadapan.

"Ha-ha-ha, bagus, sekarang kalian mulailah saling hantam. Ingin aku melihat siapa yang menang,"

Kata Kakek itu dambil naik ke atas tembok rendah.

Bersila dan menurunkan tempat arak dari pinggang, juga mengambil mangkoknya.

Ucapan itu merupakan komando bagi kedua orang pemuda remaja itu.

Keduanya sudah saling terjang dan saling pukul, melanjutkan perkelahian mereka di depan pasar tadi.

Hanya sekarang mereka bukan sekedar melampiaskan kemarahan, melainkan berusaha untuk menang karena mereka menduga bahwa pemenangnya tentu akan diberi pelajaran silat dan diambil murid oleh Kakek gendut yang sakti ini.

Terdengar lagi suara bak-bik-buk ketika mereka saling pukul sekenanya, dan Kakek itu menjadi kegirangan.

Sambil menuangkan arak ke dalam mangkok dan diminumnya perlahan-lahan, dia menonton perkelahian sambil tertawa-tawa girang.

Tubuh kedua orang pemuda remaja itu memang amat kuat dan keduanya tahan uji benarbenar.

Muka mereka sudah matang biru oleh pukulan, hidung mereka sudah mengeluarkan darah terkena pukulan, akan tetapi keduanya tidak mau undur selangkahpun.

Melihat ini, Kakek itu menjadi semakin girang dan tertawa-tawa senang.

"Bgus! Siu Coan, pukul saja dia! Seng bu, jangan mau kalah kau !"

Teriaknya berulang-ulang, memberi hati kepada keduanya sehingga dua orang anak itu menjadi semakin sengit untuk saling mengalahkan.

Akan tetapi agaknya Siu Coan lebih cerdik dari pada Seng Bu, walaupun dalam hal tenaga dan keuletan mereka seimbang.

Karena dia lebih jangkung, Siu Coan mulai dengan gencar menyerang kepala Seng Bu dari atas.

Hal ini membuat Seng Bu kewalahan, apa lagi setiap kali ada pukulan mengenai ubun-ubun kepalanya, dia merasa pening.

"Ho-ho... Seng Bu, jegal kakinya dan hantam lehernya!"

Tiba-tiba Kakek itu memberi nasihat ketika melihat Seng Bu mulai terdesak. Seng Bu mentaati pesan ini dengan otomatis, kakinya menyapu ke arah kaki Siu Coan dan tangannya menghantam leher.

"Plak... Dukkk...!"

Tubuh Siu Coan terpelanting karena dia selalu memperhatikan atas dan ketika kakinya ditendang dan lehernya dihantam, diapun tidak mampu bertahan dan terguling.

"Siu Coan, pegang kuncirnya! Ha-ha-ha!"

Kembali si gendut memberi nasihat dan Siu Coan yang sedang terpelanting itu cepat menggunakan tangan kiri mencengkeram kuncir Seng Bu sehingga pemuda remaja inipun ikut pula tertarik dan mereka berdua terbanting jatuh bergulingan.

Dan mereka lalu melanjutkan perkelahian dengan bergulat di atas lantai.

Thian-tok yang berwatak aneh itu menjadi semakin gembira.

Dia selalu memberi nasihat kepada yang terdesak sehingga dari keadaan terdesak, berbalik menjadi menang, akan tetapi hanya sebentar karena si gendut itu berbalik pula memberi nasihat kepada yang kalah sehingga keadaan kembali berobah.

Sampai hampir dua jam mereka berhantam, bergulat dan akhirnya keduanya menggeletak kelelahan, terengah-engah hampir putus napasnya dan tidak mampu melanjutkan, hanya mendeprok di atas lantai dan saling pandang melalui mata yang bengkakbengkak membiru!

"Ha-ha-ha, istirahatlah sebentar.

Nih, kuberi arak biar segar!"

Kakek itu lalu menyemburkan arak dari mulutnya dan dua orang pemuda remaja itupun kehujanan arak yang amat halus dan mereka merasa terkejut bukan main karena arak itu seperti ratusan buah jarum yang menusuk-nusuk kulit mereka!

Akan tetapi rasanya memang segar mengenai kulit dan biarpun begitu terkena arak bekas-bekas pukulan lawan itu terasa perih, akan tetapi lambat laun rasa linu dan nyeri berkurang banyak.

"Nah, sekarang mulailah lagi, atau seorang di antara kalian harus mengaku kalah!"

Tentu saja dua orang remaja ini tidak mau mengaku kalah dan biarpun semua tulang dalam tubuh terasa patah-patah saking lelahnya, mereka bangkit berdiri lagi dan mulailah mereka berkelahi lagi.

Ong Siu Coan mulai menyerang, akan tetapi karena dia mempergunakan semua sisa tenaganya dan pukulan itu luput, tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh.

Akan tetapi Gan Seng Bu tidak mempergunakan kesempatan ini, hanya berdiri memandang lawannya yang terhuyung.

"Heh-heh, Siu Coan, salahmu sendiri. Bukan begitu caranya menyerang lawan. Nih, begini, tirulah gerakan ini!"

Kakek gendut itu sudah bangkit berdiri di atas tembokan rendah dan dengan lambat namun jelas memberi contoh sejurus pukulan kepada Siu Coan.

Pemuda ini cerdik sekali, memperhatikan kedudukan kaki dan gerakan tangan ketika Kakek itu memberi contoh.

Setelah merasa paham betul, dia lalu menghampiri Seng Bu dan segera menyerang dengan gerakan seperti yang diajarkan oleh Kakek gendut.

Seng Bu juga melihat gerakan seperti yang diajarkan oleh Kakek itu, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, maka dengan ngawur saja diapun mencoba untuk menangkis.

"Dess...!"

Akibatnya, tubuhnya tiba-tiba terpelanting dan jatuh terbanting cukup keras, membuat kepalanya menjadi pening.

"Ha-ha-ha, diserang orang bukan melawannya dengan jatuh bangun dan membiarkan diri dipukul!"

Tiba-tiba Kakek itu berseru lagi.

"Seng Bu, beginilah kalau engkau menghadapi serangan jurus Burung Bangau Menyambar Katak tadi, perhatikan baik-baik."

Kakek itu memberi contoh, kedua tangannya membentuk cakar dan lengannya bergerak seperti gerakan dua kaki depan harimau, kedua kakinya membuat kuda-kuda yang kokoh kuat.

Seng Bu mencontohnya dan merasa dapat memahaminya.

"Nah, kalian lanjutkan sekarang!"

Kata si Kakek gendut.

Siu Coan yang merasa bangga dengan jurusnya yang berhasil baik tadi menjadi penasaran.

Tak mungkin Seng Bu dapat menahan serangannya seperti tadi, pikirnya.

Dia pun maju lagi dan menyerang dengan jurus tadi, yang oleh si Kakek gendut dinamakan Burung Bangau Menyambar Katak.

Seng Bu menyambutnya dengan jurus seperti yang diajarkan si Kakek, tangan kanannya berhasil menangkis patukan burung yang dilakukan oleh tangan lawan, kemudian dengan cepat tangan kirinya yang membentuk cakar itu menyambar muka lawan.

Siu Coan terkejut dan menarik muka ke belakang, akan tetapi cakaran tangan kanan menyusul dan diapun terjengkang ke belakang dan terbanting jatuh!

"Ha-ha-ha!

Itulah jurus Harimau Mencakar Batang Pohon!

Engkau harus berhatihati, Siu Coan dan jangan terlalu mengandalkan sebuah seranganmu, melainkan membagi perhatian untuk berjaga diri."

Dengan gembira sekali Kakek itu lalu memberi petunjuk kepada kedua orang muda remaja itu, mengajarkan jurus baru kepada yang kalah sehingga yang kalah berbalik menang, dan yang menang itu berbalik kalah.

Persis seperti tadi, akan tetapi kalau tadi dia hanya memberi petunjuk-petunjuk gerakan tertentu, kini dia memberi petunjuk jurus-jurus silat sehingga dua orang muda itu berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus ilmu silat.

Dua orang pemuda remaja itupun makin lama makin genbira mempelajari jurus-jurus itu.

Lenyaplah semua permusuhan di antara mereka dan kini mereka menganggap lawan menjadi teman berlatih silat!

Akan tetapi tenaga mereka terbatas dan akhirnya kembali mereka mendeprok di atas lantai.

Mereka saling pandang dan jantung mereka berdebar keras karena dalam sinar mata mereka ketika saling pandang itu, keduanya merasa seolah-olah mereka saling memberi isyarat yang mereka mengerti, yaitu bahwa keduanya merasa girang dapat saling berkenalan, bahwa terdapat kecocokan yang hangat karena mereka saling serang dan sama-sama berlatih silat tadi, dan bahwa mereka berdua sama-sama ingin menjadi murid Kakek gendut sakti itu!

Ong Siu Coan berkedip memberi isyarat, lalu dia bangkit duduk, berlutut menghadap Kakek gendut.

"Kakek yang baik, kami berdua mohon agar dapat menjadi muridmu."

Kakek itu membuka matanya dan sinar mencorong menyambar ke arah Siu Coan.

"Heh-heh-heh!"

Dia hanya tertawa. Akan tetapi Seng Bu juga sudah bangkit duduk, lalu berlutut di samping kiri Siu Coan sambil berkata.

"Benar, Locianpwe, kami berdua mohon dapat menjadi murid Locianpwe."

"Ha-ha-ha-ha, bukankah kalian tadi berkelahi dan saling bermusuhan?"

Siu Coan dan Seng Bu menoleh dan saling pandang. Tidak ada sedikitpun rasa permusuhan dalam hati mereka terhadap satu sama lain, dan keduanya tersenyum.

"Sekarang kami tidak lagi bermusuhan,"

Kata Siu Coan.

"Kami malah merasa cocok dan suka, Locianpwe,"

Kata Seng Bu.

"Ha-ha-ha, sungguh lucu. Ong Siu Coan, coba jawab terus terang, mengapa engkau ingin menjadi muridku?"

Tanpa ragu-ragu Siu Coan menjawab lantang.

"Saya ingin dapat menjadi seorang pandai yang dapat berjuang untuk bangsa, menjadi seorang pahlawan yang mengusir penjajah dari tanah air!"

Sepasang mata Kakek gendut itu terbelalak.

Memang aneh sekali mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak jembel yang tadi mati-matian berkelahi memperebutkan sepotong roti!

Dan dia tertawa bergelak.

Agaknya Kakek ini memang suka sekali tertawa, suara ketawa yang bebas dan lepas akan tetapi nadanya selalu mengejek.

"Ha-ha-ha, cita-cita yang terlalu tinggi, lebih tinggi dari pada cita-citaku, Ha-ha-ha! Dan kau , Gan Seng Bu, kenapa engkau ingin menjadi muridku?"

"Saya melihat Locianpwe seorang sakti, maka saya ingin menjadi murid Locianpwe agar memiliki kepandaian untuk menolong orang-orang lemah. Dunia begini kejam dan banyak orang menderita sengsara, saya mau mempergunakan kepandaian untuk menentang gerombolan yang mengganggu rakyat!"

Tentu saja jawaban Seng Bu ini terdorong oleh pengalaman keluarganya yang binasa oleh gerombolan pemberontak yang di samping memberontak terhadap pemerintah, sebagian besar juga melakukan perampokan-perampokan dan mengganggu rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa.

"Ha-ha-ha, maksudmu gerombolan pemberontak?"

Seng Bu teringat akan gerombolan yang membasmi keluarganya dan dia mengangguk.

"Wah, kalau begitu kelak kalian tentu akan bermusuhan lagi. Siu Coan ingin menjadi pemimpin pemberontak dan engkau akan menjadi penentang pemberontak. Bagaimana ini?"

"Locianpwe, saya ingin memberontak terhadap penjajah Mancu, bukan pengganggu rakyat jelata!"

Siu Coan berkata dengan tegas dan penuh semangat kegagahan.

"Dan saya tidak membela pemerintah, melainkan membela rakyat yang tertindas!"

Kata pula Seng Bu.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus. Aku suka menjadi guru kalian..."

"Suhu...!"

Kata Siu Coan dan Seng Bu hampir berbareng, berlutut di depan kaki Kakek gendut itu. Si Kakek gendut tertawa bergelak beberapa lamanya, lalu tiba-tiba dia berhenti ketawa dan bersikap sungguh-sungguh.

"Kalian gigit lengan kiri sendiri sampai keluar darah!"

Tiba-tiba dia berkata, sekali ini tidak tertawa lagi, bahkan suaranya terdengar galak.

Dua orang anak itu hanya sebentar saja kelihatan kaget, akan tetapi tanpa menoleh ke sana-sini, Siu Coan lalu membawa lengan kirinya ke mulut dan menggigit lengan dekat pergelangan sampai kulit terobek dan darah mengalir keluar.

Seng Bu juga melakukan hal yang sama walaupun tidak secepat Siu Coan.

"Mendekatlah!"

Siu Coan san Seng Bu merangkak dekat, dan Kakek itu lalu menarik lengan mereka, menekan dan beberapa tetes darah keluar dari luka itu, ditadahnya dengan mangkok.

Setelah menadahi beberapa tetes darah dari kedua orang pemuda remaja itu di dalam mangkok, dia lalu menuangkan arak ke dalam mangkok.

"Kalian benar-benar ingin menjadi muridku?"

Dua orang anak laki-laki itu mengangguk.

"Kalau begitu bersumpahlah kepada darahmu sendiri bahwa kalian berdua sejak sekarang menjadi saudara seperguruan dan tidak boleh bermusuhan satu sama lain, dan ke dua kalian harus mentaati apa saja yang kuperintahkan tanpa ragu-ragu dan tanpa bertanya-tanya."

"Baik, Suhu."

Atas petunjuk Thian-tok, kedua orang anak itu lalu berlutut delapan kali dan mengucapkan sumpah itu, dan atas permintaan Thian-tok menambahkan bahwa kalau mereka melanggar sumpah, mereka akan mati mandi darah.

Kakek itu lalu minum sedikit arak bercampur darah itu, kemudian minta kepada Siu Coan dan Seng Bu untuk minum pula, seorang separuh.

Dua orang pemuda remaja itu tanpa ragu-ragu minum arak bercampur darah mereka dan barulah Kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, selama hidupku baru satu kali aku mempunyai murid, akan tetapi dia sudah mengecewakan hatiku. Sekarang tiba-tiba aku mendapatkan dua orang murid yang menyenangkan. Eh, Siu Coan dan Seng Bu, tahukah kalian siapa yang menjadi guru kalian ini?"

Dua orang anak itu mengangkat muka memandang wajah gurunya dan baru sekarang mereka teringat bahwa mereka itu sama sekali tidak mengenal Kakek yang telah menjadi guru mereka ini, dan betapa aneh pertemuan antara mereka dengan guru mereka itu.

Mereka menggeleng kepala dan memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Kakek gendut itu tertawa.

Perutnya yang besar itu bergerak-gerak seperti ada apa-apanya yang hidup di sebelah dalamnya dan matanya mengeluarkan sinar mencorong yang membuat kedua orang anak itu merasa serem dan takut.

Ada sesuatu pada diri Kakek peramah ini yang amat menyeramkan dan menakutkan.

"Ha-ha-ha, ketahuilah bahwa gurumu ini bukan orang sembarangan, bahkan pada waktu ini dapat dibilang menduduki tempat nomor satu dan paling tinggi di dunia persilatan!"

Tentu saja dua orang pemuda remaja itu terkejut dan girang, akan tetapi juga merasa ragu-ragu. Apakah Kakek yang menjadi guru mereka ini tidak terlalu sombong, pikir mereka.

"Orang menjuluki aku Thian-tok, Racun Langit! Ha-ha-ha, Racun Langit, seorang di antara empat Racun Dunia, akan tetapi jelas bahwa akulah yang paling hebat, ha-ha!"

Dua orang pemuda remaja itu menoleh dan saling pandang.

Jangan-jangan Kakek gendut ini telah miring otaknya, pikir mereka.

Mereka berdua sama sekali tidak pernah mendengar julukan dengan segala Racun itu.

"Heh-heh, tentu saja kalian tidak pernah mendengar nama itu. Kalian bukan dari keluarga kang-ouw, bahkan orang-orang kang-ouw yang kepalang tanggung saja tidak akan mengenalku. Akan tetapi, ketahuilah bahwa kalian akan kujadikan jagoan-jagoan yang paling unggul di dunia ini."

"Terima kasih, Suhu,"

Kata dua orang anak itu, masih agak ragu-ragu walaupun girang.

Demikianlah, mulai hari itu, Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu menjadi murid-murid Thian-tok dan dua orang pemuda remaja ini mengikuti Kakek itu merantau.

Makin lama mereka menjadi murid Kakek itu, mereka menjadi semakin kaget, heran dan takut di samping perasaan girang karena Kakek itu memang benar sakti sekali dan mengajarkan ilmu-ilmu yang amat tinggi kepada mereka.

Yang membuat mereka merasa serem adalah setelah makin lama mereka makin mengenal watak Kakek itu.

Watak yang aneh, mendekati gila, dan kadang-kadang dapat bersikap kejam bukan main,membunuh orang sambil tertawa-tawa saja, tidak pantang pula mencuri dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat lainnya.

Akan tetapi semua perbuatan itu dilakukan sambil tertawa dan dengan mempergunakan ilmu yang mengagumkan hati dua orang pemuda remaja itu.

Ong Siu Coan yang juga memiliki watak ugal-ugalan dan aneh, di samping kecerdikan luar biasa, agaknya suka dan cocok sekali dengan watak gurunya yang aneh itu, bahkan dia dapat ikut tertawa-tawa kalau gurunya menyiksa atau membunuh orang.

Adapun Gan Seng Bu yang melihat semua ini, diam-diam merasa tidak suka.

Akan tetapi karena Kakek itu sayang kepadanya dan menurunkan pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, diapun menahan diri dan berlatih dengan giatnya.

Diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan suhengnya, Siu Coan yang agak lebih tua menjadi suheng dan dia menjadi sute, karena suhengnya ini kadang-kadang juga aneh seperti orang gila.

Banyak tempat mereka jelajahi dan kadang-kadang Kakek itu mengajak mereka "Pulang"

Yaitu ke sebuah guha besar di puncak Tai-yun-san di mana Thian-tok suka bertapa dan bersembunyi di dunia ramai.

Dan dalam guha besar yang banyak rahasianya inilah Thian-tok menyimpan barang-barangnya yang ternyata amat banyak dan cukup membuat orang menjadi kaya raya, yaitu benda-benda hasil pengumpulannya ketika dia masih menjadi datuk sesat dan tumpukan benda itu masih terus ditambah dari hasil pencuriannya di gedung-gedung besar milik para hartawan atau bangsawan.

Semenjak terjadi peristiwa antara dia dengan mendiang guru silat Siauw Teng yang kemudian disusul pula dengan peristiwa dengan Tan Siucai, hati hartawan Ciu Lok Tai merasa tidak enak dan selalu terancam.

Dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya banyak terdapat orang-orang seperti mereka itu, dan bahwa tulisan-tulisan Tan Siucai menghasut orang-orang yang mungkin kini memandang kepadanya dengan penuh kebencian.

Orang-orang yang tidak setuju adanya candu yang beredar di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu, dia lalu memanggil Jagoan-jagoan dari seluruh Kanton untuk menjadi pengawal-pengawalnya.

Akan tetapidia selalu kurang puas dengan mereka ini.

Dari hubungan dagangnya dengan orang barat, dia berhasil memperoleh sebuah senjata api yang selalu dibawanya ke manapun dia pergi.

Bahkan di waktu tidur sekalipun senjata api itu disimpan di bawah bantalnya.

Saking khawatirnya akan keselamatan diri sendiri dan keluarganya yang timbul dari perasaan banyak dimusuhi orang, Ciu Wan-gwe atau Ciu Lok Tai selalu merasa tidak puas dengan jagoan-jagoan yang mengawalnya dan setiap ada jagoan baru yang datang untuk bekerja padanya, dia mengujinya dengan pistolnya!

Setiap orang calon harus mampu menghadapi serangan pistolnya dalam jarak tiga tombak sebanyak tiga kali tembakan!

Dan sampai beberapa tahun lamanya, hasilnya tidak memuaskan entah sudah berapa banyaknya jagoan yang roboh tertembus peluru, ada yang tewas dan banyak yang luka-luka.

Tentu saja mereka tidak diterima, hanya diberi uang sekedar biaya berobat atau mengurus penguburannya saja.

Dan makin jarang yang berani datang melamar pekerjaan kepala pengawal itu.

Terpaksa Ciu Wan-gwe harus mengandalkan keselamatannya pada pengawalan hampir seratus orang pengawal yang selalu mengepung gedungnya, hal yang amat tidak enak dirasakannya.

Dia menghendaki satu dua orang saja pengawal yang benar-benar tangguh, yang mampu menghadapi musuh yang datang menyerang dengan senjata api!

Dan sesungguhnya bukan karena ingin mempunyai pengawal yang tangguh saja dia mencari orang yang mampu menandingi pistolnya, akan tetapi selain itu juga dia ingin mencarikan seorang guru untuk putrinya yang terkasih.

Ciu Wan-gwe mempunyai banyak istri, akan tetapi hanya dari seorang selirnya yang paling disayangnya sajalah dia memperoleh keturunan, seorang anak perempuan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apa bila dia dan sekeluarganya amat sayang kepada Ciu Kui Eng, puterinya itu.

Puterinya itu sejak kecil suka sekali dengan ilmu silat dan sejak kecil telah disuruhnya para pengawal yang memiliki ilmu silat yang lihai untuk memberi gemblengan kepada puterinya.

Namun semua usahanya itu sia-sia.

Agaknya tidak ada ahli silat yang berani lagi mencoba ujian dengan pistol itu.

Tentu saja, di dunia persilatan banyak yang akan mampu menandingi lawan yang berpistol, akan tetapi para pendekar yang berjiwa patriot mana sudi menghambakan diri kepada seorang hartawan yang membantu penyebaran racun madat kepada rakyat jelata?

Itulah sebabnya mengapa sampai lewat enam tahun setelah terjadi peristiwa dengan Tan Siucai, Ciu Wan-gwe belum juga mendapatkan seorang jagoan yang mampu menandingi pistolnya.

Dan selama enam tahun itu, terpaksa pula Kui Eng hanya belajar ilmu silat dari guru-guru biasa yang menjadi pengawal-pengawal Ayahnya.

Pada suatu pagi, Kui Eng berlatih ilmu silat di pekarangan depan gedungnya, dipimpin oleh tiga orang guru silat sekaligus.

Guru-guru silat ini merupakan kepala-kepala pengawal di gedung Ciu Wan-gwe.

Anak ini memang manja, karena dimanja oleh keluarga orang tuanya.

Kalau berlatih kadang-kadang ia minta dilakukan di pekarangan depan.

Hal ini adalah karena kemanjaannya, untuk pamer karena kalau ia berlatih di pekarangan itu, orang-orang di luar gedung dapat melihatnya melalui pintu besi terbuka.

Ia senang sekali mendengar seruan kagum dari orang-orang yang lewat, dan pandang mata mereka yang penuh kagum.

Ia tidak perduli apakah mereka itu sungguh-sungguh mengagumi kelincahannya bersilat, atau kecantikannya, atau juga hanya sekedar mengeluarkan seruan kagum untuk menyenangkan hatinya sebagai puteri orang terkaya di Tungkang!

Ia tidak perduli.

Pokoknya, ia ingin dipuji dan disanjung orang.

Memang menyenangkan sekali nonton gadis cilik itu bersilat.

Pada waktu itu, Kui Eng telah berusia dua belas tahun, seorang gadis remaja yang sudah mulai nampak kecantikannya walaupun masih kekanak-kanakan.

Wajahnya manis sekali, sinar matanya tajam dan pakaiannya indah.

Gerakan-gerakannya juga indah dan manis gemelai, seperti orang menari saja dan tiga orang guru silat yang melatihnya memandang sambil kadang-kadang mengangguk-anggukkan kepala dengan hati bangga.

Ketika orang-orang di luar pintu gerbang berkerumun ikut nonton, hati tiga orang guru silat ini semakin besar.

Kamilah gurunya, demikian hati mereka bersorak.

"Heiiiittt...!!"

Kui Eng mengakhiri gerakan silatnya dengan sebuah pukulan mematikan kepada lawan yang hanya dibayangkannya saja, kemudian ia berdiri tegak ke arah pintu gerbang sambil tersenyum manis, menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir rambutnya yang hitam panjang itu ke belakang.

Terdengarlah tepuk tangan dan sorakan memuji dari luar pintu gerbang dan seperti seorang pemain panggung yang menerima pujian para penontonnya, Kui Eng mengangguk-angguk ke arah mereka sambil memperlebar senyumnya.

Akan tetapi, dari penonton itu muncul seorang Kakek yang pakaiannya jubah pendeta atau tosu.

Kakek ini sukar ditaksir usianya, tentu sudah lanjut sekali usianya.

Tubuhnya pendek kecil, kepalanya botak hampir gundul.

Alis, kumis dan jenggotnya panjang dan sudah putih semua, dan tangan kirinya memegang tasbeh hitam, tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam butut.

"Heh-heh, nona cilik. Engkau tadi menari ataukah bersilat? Uhhh, bukan begitulah orang bersilat!"

Wajah gadis cilik yang tadinya berseri-seri itu berubah, sepasang alisnya yang hitam berkerut dan sepasang matanya yang tajam itu memandang marah.

"Kau... Kakek lancang mulut! Siapakah kau ?"

Bentaknya sambil membanting kaki kanannya karena jengkel dicela oleh Kakek itu yang dianggapnya sebagai penghinaan dan mengusir semua rasa bangga dari hatinya.

"Heh-heh, kalau engkau haus pujian seperti itu, sampai kapanpun engkau tidak akan bisa menguasai ilmu silat yang sesungguhnya, kecuali ilmu tari-tarian yang nampak indah saja. Lebih baik belajar menari saja, nona."

Melihat munculnya Kakek itu yang mencela ilmu silat murid mereka, tentu saja tiga orang guru silat yang juga menjadi kepala pengawal itu menjadi marah sekali.

Mereka maju menghadapi Kakek itu dan memandang dengan penuh perhatian, ingin tahu siapa gerangan Kakek yang lancang dan berani mencela murid mereka itu.

Akan tetapi, mereka merasa belum pernah mengenal Kakek ini, juga tidak pernah mendengar adanya seorang tokoh persilatan seperti Kakek ini.

Seorang Kakek pendek kecil, ditiup saja rasanya sudah akan terjungkal!

Pada saat itu, terdengar suara pertanyaan yang nyaring.

"Ada apakah? Kenapa ribut-ribut?"

Melihat munculnya Ayahnya dari dalam, Kui Eng yang manja lalu lari dan merangkul pinggang Ayahnya.

"Ayah, Kakek itu kurang ajar sekali, berani mencela ilmu silatku, mengatakan agar aku belajar menari saja karena ilmu silatku seperti orang menari."

Sementara itu tiga orang guru silat ketika melihat majikan mereka keluar, menjadi semakin galak, seperti anjing-anjing peliharaan yang mengibaskan ekor melihat majikannya dan ingin menjilat dan mencari muka.

"Kakek tua bangka tak tahu diri, berani engkau lancang mulut mencela permainan murid kami?"

Seorang di antara tiga kepala pengawal itu membentak.

"Kalau tidak melihat engkau sudah tua mau mati, tentu aku sudah menghajarmu!"

Teriak pula orang ke dua.

"Engkau ini Kakek busuk yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu silat, besar mulut sekali berani menilai!"

Bentak orang ke tiga.

"Tahan dulu!"

Ciu Wan-gwe berseru melihat betapa tiga orang kepala pengawalnya mulai bergerak hendak menghajar Kakek itu dan belasan orang pengawal yang tertarik oleh keributan itupun sudah keluar dan siap untuk mengeroyok.

Tiga orang kepala pengawal itu tentu saja menahan gerakan mereka ketika mendengar teriakan majikan mereka.

Ciu Wan-gwe lalu duduk di atas sebuah kursi yang diseret datang oleh seorang pengwalnya, kemudian dia memandang Kakek yang masih berada di perkarangan itu.

Sejenak ia memandang keadaan Kakek itu penuh perhatian, mengharapkan akan bertemu dengan seorang aneh yang sakti.

Akan tetapi hatinya kecewa.

Kakek setua itu, dengan tubuh begitu kerempeng, mana mungkin sakti?

jalannya saja sudah dibantu tongkat hitam butut, dan kerjanya tentu hanya berdoa dan menghitung biji tasbeh!

"Ayah, dia kurang ajar, berani menghinaku,"

Puterinya yang berdiri di sisinya berkata penasaran. Ayahnya mengangguk, lalu berkata kepada Kakek itu.

"Kakek tua, sungguh kami tidak mengerti mengapa engkau begitu usil untuk mencela permainan silat anakku. Anakku ini selama bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh mereka bertiga, bagaimana sekarang engkau berani mencela permainan anakku? Dengan demikian berarti engkau mencela ilmu silat mereka bertiga. Apakah menurut pendapatmu engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari pada mereka bertiga itu?"

Kakek itu sambil menyeringai lebar, memperlihatkan mulut yang tidak bergigi lagi, memandang sejenak kepada Ciu Wan-gwe, kemudian menoleh kepada tiga orang kepala pengawal itu dan berkata.

"Mereka bertiga ini seperti anjing-anjing yang pandai menggonggong saja akan tetapi tidak mampu menggigit!"

Tentu saja tiga orang kepala pengawal itu menjadi marah bukan main, apa lagi ketika mereka melihat betapa pandang mata semua orang berseri seolah-olah mentertawakan mereka, walaupun tidak ada suara ketawa yang terdengar.

Akan tetapi, di depan majikan mereka, tidak berani mereka bertindak lancang.

"Taiya (tuan besar), Kakek tua bangka ini terlalu menghina kami, bolehkah kami menghajarnya?"

Seorang di antara mereka minta perkenan. Ciu Wan-gwe kembali memandang Kakek itu.

"Kakek tua, beranikah engkau melawan tiga orang kepala pengawal kami ini?"

Lalu disambungnya.

"Kalau kau tidak berani, cepat berlutut dan minta ampun kepada puteriku, juga kepada tiga orang kepala pengawalku!"

"Ho-ho, jangankan baru tiga ekor anjing penjilat ini, biar ditambah tiga puluh lagi, tongkatku masih sanggup mengusir mereka!"

Kakek itu mengacung-acungkan tongkat hitamnya seolah-olah bersikap hendak mengusir anjing-anjing yang berani mengganggunya.

Tentu saja ucapan dan sikapnya ini dianggap keterlaluan dan mulailah orang-orang menganggap bahwa Kakek itu tentu seorang yang miring otaknya.

Ciu Wan-gwe juga menduga demikian, maka diapun merasa tidak enak kalau tiga orang kepala pengawalnya sampai mengeroyok seorang Kakek tua renta yang gila.

"Seret orang tua gila ini keluar pintu dan lemparkan dia di jalanan!"

Bentak Ciu Wan-gwe kepada tiga orang kepala pengawalnya.

Tiga orang kepala pengawal yang tadinya marah sekali itu kinipun saling pandang.

Mereka juga menduga bahwa Kakek ini tentu orang gila, maka tidak enaklah hati mereka kalau harus menghajar, apa lagi mengeroyok seorang Kakek gila yang sekali dorong saja akan roboh dan mungkin tewas.

Mereka tidak mau mencari perkara dan biarlah mereka akan menyeret saja Kakek itu dan melemparnya keluar pintu seperti yang diperintahkan majikan mereka.

"Kakek gila, minggatlah dari sini!"

Teriak mereka dan tiga orang kuat itu lalu mencengkeram tubuh si Kakek.

Seorang memegang lengan kiri, seorang memegang lengan kiri, seorang lengan kanan dan orang ke tiga mencengkeram tengkuk Kakek itu.

Mereka bermaksud untuk menyeretnya dan melemparkannya keluar.

Akan tetapi kini terjadi keanehan yang membuat semua orang terbelalak.

Tiga orang kepala pengawal itu tentu saja adalah orang-orang yang bertenaga besar, berusia kurang dari lima puluh tahun dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai.

Akan tetapi kini mereka bertiga itu nampak terkejut karena ternyata mereka tidak kuat dan tidak mampu menarik tubuh si Kakek tua!

Biarpun mereka telah mengerahkan tenaga membetot-betot, namun sedikitpun tubuh Kakek itu tidak bergeming!

Kakek itu berdiri tegak dan hanya tersenyum menyeringai, akan tetapi tiga orang kepala pengawal itu seperti tiga ekor monyet yang berusaha mencabut sebatang pohon yang akarnya mencengkeram tanah amat kuatnya!

Tiga orang itu tentu saja bukan hanya terkejut dan heran, akan tetapi juga penasaran sekali.

"Uhhh! Hehhh! Uhhh!"

Mereka mengerahkan tenaga sekuatnya, tidak percaya bahwa mereka tidak akan mampu menyeret tubuh tua yang ringkih itu.

"Prooott...!"

Tanpa disangka-sangka, dan tidak dapat ditahan-tahan, seorang di antara tiga kepala pengawal itu yang pagi tadi terlalu banyak makan bubur gandum, mengeluarkan gas yang memberobot dari belakang.

Agaknya pengerahan tenaga sekuatnya itu membuat bendungan belakangnya jebol.

"Uwahhhh... bau kentut busuk...!"

Kakek itu menutupi hidungnya dengan sikap jijik dan memandang kepada Ciu Wan-gwe.

"Wan-gwe lihat, betapa sia-sianya memberi makan enak kepada mereka ini, hanya menjadi kentut busuk saja!"

Terdengar suara ketawa karena mereka yang nonton di luar pintu gerbang tak dapat menahan rasa geli di dalam hati mereka melihat peristiwa lucu itu.

Tentu saja tiga orang kepala pengawal itu selain terkejut dan heran, juga marah dan penasaran sekali.

Kini merekapun dapat menduga bahwa Kakek ini seorang pandai, akan tetapi karena Kakek itu mereka anggap terlalu menghina dan juga merendahkan mereka dalam pandangan Ciu Wan-gwe, berarti membahayakan kedudukan mereka, maka merekapun menjadi nekat.

"Tua bangka, engkau menggunakan ilmu siluman!"

Teriak mereka dan kini mereka tidak hanya berusaha menyeret, melainkan menggerakkan tangan untuk memukul tubuh Kakek kecil kurus itu dengan pengerahan tenaga yang kuat.

Tiga buah tangan yang dikepal kuat menghantam ke arah punggung, dada dan kepala Kakek itu yang agaknya sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis.

Melihat ini, semua orang merasa khawatir, bahkan Ciu Wan-gwe sendiri mengerutkan alisnya.

Kakek itu tentu akan tewas dan dia tidak suka melihat tiga orang kepala pengawal itu membunuh orang di rumahnya tanpa perintah darinya.

Terdengar suara bak-bik-buk ketika tiga kepalan tangan itu menimpa sasarannya.

Akan tetapi terjadilah keajaiban.

Bukan tubuh kecil kurus itu yang ringsek, melainkan tubuh tiga orang kepala pengawal itulah yang terpental, terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah!

Tiga orang kepala pengawal itu tidak terluka parah, hanya benjut-benjut saja karena terbanting.

Mereka terpental oleh tenaga sendiri yang membalik secara aneh.

Andaikata mereka tadi memukul dengan tenaga kecil, tentu mereka tidak akan menderita apa-apa, dan mungkin hanya pukulan itu membalik.

Akan tetapi mereka menggunakan tenaga besar dan ketika tenaga mereka membalik, mereka seperti terpukul oleh tenaga sendiri yang membuat mereka terpental dan terjengkang.

"Kakek iblis!"

Teriak mereka dan kini mereka sudah menyambar golok mereka.

Tiga orang ini adalah kepala pengawal Ciu Wan-gwe yang berpengaruh di antara para pejabat daerah, oleh karena itu mereka berani mempergunakan senjata tajam walaupun ada peraturan resmi dari pemerintah yang melarang orang memiliki dan membawa senjata tajam.

Dengan kemarahan meluap, tiga orang itu sudah menerjang Kakek kecil kurus dan pendek itu tanpa banyak cakap lagi.

Ciu Wan-gwe hendak mencegah, akan tetapi tiba-tiba diapun tertarik sekali.

Siapa tahu Kakek pendek kecil ini seorang yang sakti dan dia amat membutuhkan orang sakti, terutama sekali yang akan mampu menandingi pistolnya!

Dia membutuhkan seorang pengawal sakti, bukan hanya untuk menjaga keselamatan keluarganya, juga terutama sekali untuk dapat menjadi guru Kui Eng.

Maka, dia membiarkan tiga orang kepala pengawalnya itu untuk menyerang Kakek itu untuk mengujinya.

Semua orang memandang dengan mata terpentang lebar-lebar untuk mengikuti gerakan mereka yang berkelahi.

Tiga orang kepala pengawal itu menyerang si Kakek kecil dari tiga jurusan dan Kakek itu agaknya tidak akan berpindah dari tempat dia berdiri.

Akan tetapi sungguh aneh sekali.

Ketika tiga orang penyerang itu telah tiba dekat dan golok mereka itu sudah menyambar, hanya tinggal beberapa sentimeter saja dari tubuh Kakek itu, tiba-tiba mereka bertiga mengeluarkan teriakan kaget dan tubuh mereka terlempar ke kanan kiri, padahal Kakek itu hanya memutar tasbehnya satu kali saja dan tidak (Lanjut ke

Jilid 07) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 07 kelihatan tasbeh itu mengenai tubuh mereka.

Sekali ini, tiga orang Kakek itu terbanting keras sekali dan golok mereka terlepas, dan sekali ini tidak mudah bagi mereka untuk meloncat bangun, melainkan mengaduh-aduh dan mencoba untuk merangkak bangun.

Kini mereka telah sampai di batas yang tidak mungkin untuk mundur lagi.

Mereka jelas telah mendapat malu dari Kakek itu, bukan hanya di depan majikan mereka, bahkan di depan banyak orang yang berkerumun di depan pintu.

Mereka akan menjadi bahan ejekan, nama mereka akan merosot dan jatuh.

Tidak ada lain jalan kecuali nekat mengadu nyawa dengan orang yang mendatangkan malapetaka bagi mereka itu.

Biarpun tubuh mereka terasa sakit-sakit, dan biarpun mereka kini sudah tahu bahwa Kakek itu sungguh seorang yang amat lihai, mereka yang sudah nekat itu lalu berhasil bangkit kembali, mengambil golok mereka dan dengan sikap mengancam kini mengurung Kakek itu yang hanya tersenyum menyeringai dengan sikap mengejek dan memandang rendah.

"Tahan...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan Ciu Wan-gwe kepada tiga orang kepala pengawalnya.

"Mundurlah kalian dan biarkan aku bicara dengan Kakek itu!"

Mendengar perintah majikan mereka, tiga orang itu menyimpan golok dan mundur, dengan hati yang agak lega karena mereka kini dapat menghentikan perkelahian itu bukan karena kalah, melainkan karena dilerai dan dilarang oleh majikan mereka.

Semua orang dapat melihat bahwa walaupun sudah dua kali roboh, mereka masih belum menyerah dan akan menyerang lagi, berarti mereka belum kalah!

Mereka kini berani mengangkat dada sambil mundur mendekati nona majikan, juga murid mereka yang kini bersama Ayahnya sudah turun dari atas undakundakan.

"Orang tua yang gagah,"

Kata Ciu Wan-gwe ketika berhadapan dengan Kakek itu.

"Sudah lama sekali kami mencari seorang pengawal yang memiliki kesaktian. Akan tetapi usaha kami itu selalu gagal karena semua pelamar tidak mampu lulus dalam ujian yang kami adakan. Melihat kehebatanmu yang mampu melawan tiga orang kepala pengawalku, agaknya engkau memiliki kepandaian yang tinggi. Maukah engkau menjadi pengawal keluarga kami? Berapa saja upah yang kau minta, tentu akan kami penuhi!"

Sejenak mata Kakek itu memandang Ciu Wan-gwe dengan sinar mata penuh selidik, kemudian dia tertawa.

"Heh-heh, semua orang di dunia ini gila akan uang, dari kecil sampai tua dan mati. Akan tetapi apakah artinya uang bagi seorang tua renta macam aku ini? Tidak, Wan-gwe, aku tidak gila harta. Aku mau tinggal di sini dan menjadi pengawal keluargamu, bukan untuk uang, melainkan untuk anak itu!"

Kakek kecil pendek itu menudingkan tongkat hitamnya ke arah Kui Eng yang sejak tadi berdiri nonton dengan sepasang mata bersinar-sinar.

Mendengar ucapan itu, Ciu Wan-gwe mengerutkan alisnya dan sudah siap mengerahkan seluruh pengawalnya kalau Kakek kecil itu hendak berbuat yang tidak sepatutnya.

"Orang tua yang aneh, apa artinya kata-katamu yang menyangkut puteri kami ini?"

Tanyanya dengan suara setengah membentak karena dia menyangka bahwa Kakek itu mempunyai niat yang tidak baik.

"Heh-heh, kalau bukan karena puterimu itu, perlu apa aku datang ke tempat ini? Kakek itu balas bertanya.

"Tadi aku telah melihat gerak-geriknya dan aku berpendapat bahwa baru sekaranglah aku menemukan calon murid yang sudah lama kucari-cari."

Mendengar ini, bukan main girangnya rasa hati Ciu Wan-gwe.

"Kakek yang sakti, tidak mudah menjadi guru puteriku dan pengawal pribadi keluargaku. Engkau harus melalui sebuah ujian dariku..."

"Heh-heh, kau terlalu mengandalkan dan membanggakan senjata apimu itu, Wan-gwe. Orang lain boleh jadi takut menghadapinya, akan tetapi aku tidak!"

Mendengar jawaban ini, hati Ciu Wan-gwe menjadi semakin girang.

Baru sekaranglah timbul harapan di dalam hatinya yang ingin menemukan seorang yang demikian saktinya sehingga bukan saja berilmu tinggi, akan tetapi juga mampu mengalahkan lawan yang mempergunakan senjata api.

Ketika dia melihat bahwa banyak orang berkerumun di depan pintu gerbang, Ciu Wan-gwe lalu menyuruh para pengawal mengusir orang-orang itu dan menutupkan daun pintu gerbang, kemudian dia mempersilahkan Kakek itu dengan sikap hormat.

"Orang tua yang gagah, sebelum kita bicara tentang pengangkatanmu sebagai pengawal keluarga dan guru puteriku, marilah lebih dahulu buktikan bahwa engkau mampu menandingi orang yang mempergunakan senjata api. Bagaimana?"

Berkata demikian, hartawan itu lalu mengeluarkan sebuah pistolnya, senjata yang amat diandalkan, dan yang ditakuti oleh semua orang, termasuk para pengawalnya.

Entah sudah berapa banyak orang berkepandaian tewas atau luka-luka oleh senjata ini ketika mereka diuji untuk menjadi pengawal keluarga Ciu.

Kakek itu terkekeh.

"Heh-heh, boleh saja, boleh sekali. Bagaimana caranya, Wan-gwe?"

"Seperti yang pernah saya lakukan kepada para pelamar pekerjaan pengawal keluarga kami. Engkau berdiri dalam jarak tiga tombak dan menghadapi serangan pistolku sebanyak tiga kali. Kalau engkau tidak roboh oleh tiga kali tembakan, berarti kau lulus. Akan tetapi kalau merasa gentar, sebaliknya batalkan saja karena sudah banyak orang yang terluka bahkan tewas oleh peluru-peluru pistol ini."

Berkata demikian, Ciu Wan-gwe mengelus pistolnya yang dipelihara baik-baik sampai mengkilap. Kakek itu terkekeh.

"Heh-Heh-heh, jarak tiga tombak cukup dekat bagiku untuk merobohkan orang yang akan menembakku. Mungkin sebelum menembak dia sudah jatuh olehku. Akan tetapi kalau engkau hendak mengujiku dengan tiga tembakan, silahkan, Wan-gwe. Tembakan pertama akan kutangkis. Tembakan ke dua akan kuelakkan dan tembakan ke tiga sebelum meletus, pistol itu sudah akan pindah ke tanganku!"

Semua orang terbelalak dan menganggap Kakek itu benar-benar sudah gila, atau memang orangnya sombong setengah mati.

Mana ada orang mampu menangkis peluru?

Mengelakkan mungkin bisa walaupun hal ini amat sukar dan berbahaya.

Dan merampas peluru sebelum ditembakkan juga rasanya tidak mungkin.

Akan tetapi Ciu Wan-gwe mempunyai penilaian tinggi terhadap Kakek kecil pendek ini dan diapun mengajak Kakek itu untuk pergi ke ruangan belakang.

"Kami mempunyai ruangan yang khusus untuk ujian itu, agar peluru tidak sampai nyasar membahayakan orang lain."

Sambil tersenyum-senyum Kakek itu lalu mengikuti Ciu Wan-gwe dan para pengawal yang semua segera tertarik untuk menyaksikan kelihaian Kakek ini.

Kui Eng sendiri sejak tadi sudah merasa kagum kepada Kakek yang mampu mengalahkan tiga orang gurunya hanya dalam dua gebrakan saja, maka iapun tidak mau ketinggalan dan ikut ke ruangan itu dengan wajah berseri dan pandang mata bersinar-sinar.

Suasana amat menegangkan ketika Kakek itu dengan kedua tangan masih memegang tongkat dan tasbeh, berdiri dengan sikap amat tenangnya di depan Ciu Wan-gwe, hanya dalam jarak tiga tombak saja, kurang lebih lima meter!

"Sebelum aku menembakkan pistolku, aku ingin mengetahui siapakah sebetulnya Locianpwe ini, datang dari mana dan mengapa tiba-tiba saja mengunjungi kami?"

Ciu Wan-gwe bertanya sambil menimang-nimang pistolnya yang sudah diisi enam peluru baru.

Karena dia sendiri tidak pandai ilmu silat dan untuk mempelajarinya memakan waktu lama dan dia tidak tekun, maka dia mempelajari ilmu menembakkan pistol itu dan dalam hal ini Ciu Wan-gwe dapat dibilang mahir juga.

Tidak enak rasanya menembak orang yang belum diketahuinya siapa karena mungkin saja Kakek ini akan tewas oleh peluru pistolnya.

"Ciu Wan-gwe, begitu memasuki Tung-kang, aku sudah mendengar bahwa engkau mencari seorang pengawal keluarga dengan ujian pistol. kau ingin mengetahui namaku? Heh-heh, aku tidak punya nama, akan tetapi aku pernah dikenal orang dengan julukan Tee-tok (Racun Bumi), heh-heh! Dan tempat tinggalku adalah di dunia ini, di mana saja aku berada di situlah tempat tinggalku. Nah, aku sudah siap, Ciu Wan-gwe."

Nama ini sama sekali tidak dikenal oleh Ciu Wan-gwe maupun para pengawalnya yang saling pandang.

Akan tetapi sikap Kakek itu sungguh mengesankan hati semua orang dan kini timbul kepercayaan di hati hartawan itu bahwa Kakek inilah yang kiranya akan mampu lulus ujian pistolnya.

"Baik, Locianpwe, aku akan menghitung sampai tiga baru akan kutembakkan peluru pertama yang disusul peluru ke dua dan ke tiga tanpa hitungan lagi. Awas, tembakanku cepat dan tepat, Locianpwe."

"Ha-ha-ha, aku sudah siap sejak tadi, mulailah!"

"Satu... dua... tiga... Dorrr...! Tringgg...!"

Ketika Ciu Wan-gwe tadi menghitung sampai tiga, Kakek itu tiba-tiba memutar tongkatnya dan nampaklah gulungan sinar hitam lebar menutupi tubuhnya di bagian depan seperti sebuah perisai lebar sehingga ketika tembakan pertama dilakukan, peluru itu tertangkis perisai istimewa itu dan pelurunya terpental entah kemana.

Ciu Wan-gwe terkejut dan sudah siap menembakkan peluru ke dua.

Pada jaman itu, pistol yang dipergunakan besar dan berat, memiliki daya tendang yang kuat sehingga untuk menembakkannya orang harus mengerahkan tenaga dan membanting ke depan.

Hal ini tentu saja memperlambat gerakan menembak dan begitu pistol itu meledak dan asap mengepul sebagai tembakan ke dua, tubuh Kakek kecil pendek itu sudah lenyap karena dia sudah melempar tubuh ke atas tanah, beberapa detik saja dari lewatnya peluru yang mengenai dinding tebal di belakangnya!

Ternyata Kakek itu mampu menghindarkandiri dari peluru ke dua dengan cara mengelak seperti yang dijanjikannya tadi.

Ciu Wan-gwe melihat tubuh kecil itu bergulingan.

Dia teringat bahwa Kakek tadi berjanji akan merampas pistol sebelum tembakan ke tiga kalinya dilakukan.

Biarpun dia kagum terhadap Kakek yang mampu menghindarkan diri dari dua kali tembakan, namun rasa harga dirinya dan kebanggaannya tersinggung kalau dia dikalahkan, maka dia sengaja memegang pistolnya erat-erat dan cepat-cepat hendak menembakkan peluru ke tiga ke arah tubuh yang bergulingan sebelum pistolnya terampas sehingga andaikata dia luput menembak juga, tetap saja pistol itu berada di tangannya dan tidak terampas.

Dengan demikian, walaupun si Kakek lulus, akan tetapi tidak mampu merampas pistolnya!

Akan tetapi tubuh itu bergulingan dengan amat cepatnya sehingga sukarlah dia menentukan bidikannya.

Sasaran yang bergerak demikian cepatnya memang sukar ditembak.

Tiba-tiba nampak sinar hitam kecil berkelebat, disusul teriakan Ciu Wan-gwe dan pistol itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya yang mendadak menjadi lumpuh karena pergelangan tangannya tadi disambar sebutir biji tasbeh yang tepat mengenai jalan darahnya!

Sebelum dia mampu berbuat sesuatu, tiba-tiba saja tubuh yang bergulingan itu berkelebat dan pistol yang jatuh ke atas tanah itu telah disambar oleh tangan si Kakek kecil yang kini sudah berdiri lagi sambil memegang pistol yang masih mengepulkan asap itu, menimangnya dengan alis mata berkerut dan hidung diangkat mencemoohkan!

"Bgus..., bagus...!"

Kui Eng bersorak dan bertepuk tangan dan perbuatan ini segera diturut oleh para pengawal yang merasa kagum bukan main.

Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentu mereka tidak akan percaya bahwa ada orang bukan hanya berhasil menghadapi serangan tiga kali tembakan dari jarak dekat, bahkan sebelumnya telah menentukan cara penghindaran diri dengan menangkis, mengelak lalu merampas pistol!

Setelah kehilangan rasa kagetnya, Ciu Wan-gwe yang ternyata tidak mengalami cedera, hanya kaget karena tangannya tiba-tiba lumpuh, kini ikut pula bertepuk tangan memuji.

Dia tersenyum girang ketika Kakek itu tanpa berkata-kata mengembalikan pistolnya yang cepat disimpannya.

Sebagai orang yang pandai mengambil hati pembantu yang berguna, Ciu Wan-gwe lalu menjura ke arah Tee-tok dan berkata.

"Ah, sungguh Thian telah mengirimkan seorang sahabat dan seorang pandai yang sakti kepada keluarga kami. Locianpwe, mulai hari ini, Locianpwe adalah penyelamat keluarga kami dan murid anak tunggal kami. Kui Eng, cepat beri hormat kepada Suhumu!"

Kui Eng adalah seorang anak perempuan yang cerdik sekali.

Biarpun ia pernah dilatih oleh para pengawal Ayahnya, akan tetapi ia tidak pernah menganggap mereka itu guru-gurunya apa lagi karena merupakan nona majikan mereka.

Kini, berhadapan dengan seorang Kakek yang begitu sakti, tanpa ragu-ragu lagi iapun menjatuhkan diri berlutut memberi hormat delapan kali kepadanya.

"Suhu, terimalah hormat teecu Ciu Kui Eng!"

"Ha-ha-ha, namamu Ciu Kui Eng? Bagus, mulai sekarang engkau menjadi muridku. Kui Eng, engkau tidak tahu bahwa mulai detik ini, engkau telah mengangkat dirimu sendiri menjadi calon wanita paling lihai di dunia ini!"

Semua orang yang mendengar ucapan ini menganggap bahwa Kakek itu memang sombong sekali.

Akan tetapi Kui Eng tidak berpendapat demikian.

Ia percaya penuh akan ucapan Suhunya dan ia menganggap bahwa Suhunya adalah orang yang paling pandai di dunia persilatan.

Dugaannya memang tidak meleset jauh karena pada jaman itu, orang yang dapat manandingi Tee-tok memang hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja.

Mulai hari itu, Tee-tok tinggal bersama keluarga hartawan Ciu Lok Tai.

Biarpun dianggap pengawal pribadi keluarga Ciu, namun dia tidak pernah bekerja sebagai pengawal dan semenjak dia berada di situ, tidak pernah ada orang seperti mendiang Tan Siucai yang berani mati, apa lagi sekarang setelah tersiar berita bahwa pengawal keluarga itu adalah seorang yang demikian saktinya sehingga mampu melawan musuh yang mempergunakan senjata api!

Dan biasanya, berita itu selalu dibesar-besarkan, semut menjadi gajah, sehingga nama Tee-tok menjadi semakin terkenal dan ditakuti orang.

Yang merasa beruntung adalah Kui Eng.

Anak perempuan ini memang sejak kecil amat suka mempelajari ilmu silat dan ia memiliki bakat yang amat baik.

Kini, di bawah bimbingan seorang guru yang amat pandai, tentu saja ia memperoleh kemajuan pesat sekali sehingga gurunya sendiripun merasa senang kepadanya.

Ia berkemauan keras dan tidak mengenal lelah, berlatih dengan tekunnya di samping kecerdikannya sehingga setiap jurus ilmu silat yang diajarkan gurunya, betapapun sukarnya, dipelajari dan dilatihnya sampai sempurna benar baru ia mau berhenti latihan.

Setelah menjadi murid Tee-tok yang berwatak aneh dan tidak perdulian, watak Kui Eng menjadi semakin keras, angkuh dan manja, akan tetapi iapun amat menghargai kegagahan dan tidak mau bersikap rendah.

Sang Waktu melesat dengan kecepatan kilat, dan hal ini terbukti apa bila kita mengenang kembali masa lampau.

Demikian cepatnya sang waktu berkelebat sehingga tahun-tahun beterbangan seperti detik-detik saja.

Seorang Kakek-kakek akan teringat masa kanak-kanaknya seperti baru kemarin saja dan agaknya sukar untuk percaya bahwa waktu kanak-kanak itu telah ditinggalkannya selama puluhan tahun lamanya!

Sebaliknya, kalau kita mengamati dan memperhatikan, waktu merayap seperti siput, perlahan-lahan dan seperti tidak pernah maju.

Sang Waktu nampak diam namun bergerak, dan memiliki kekuasaan yang tak terbatas, seperti juga Tanah.

Waktu menelan dan melahap semuanya, apa saja yang nampak, apa saja yang hidup.

Bahkan segala macam perasaanpun ditelannya habis-habis.

Kesenangan, kedukaan, apa saja, akan lenyap ditelan waktu, seperti juga Tanah yang akhirnya menelan segala sesuatu di dalam perutnya.

Waktu melesat dengan cepat dan hampir enam tahun lewat semenjak Siauw-bin-hud berjanji kepada para tokoh yang memperebutkan pedang pusaka Giok-liong-kiam, untuk mencari pusaka itu.

Selama waktu itu, Siauw-bin-hud mengajak Ci Kong merantau sambil melakukan penyelidikan.

Anak itu sendiri tidak tahu bagaimana cara Kakek itu melakukan penyelidikan, akan tetapi sering kali di waktu malam, Kakek itu lenyap.

Pada suatu pagi, nampak seorang Kakek gendut berjalan memasuki kota Nan-ping di Propinsi Hokkian, ditemani seorang pemuda yang berpakaian sederhana, bertubuh tegap dan nampaknya seperti seorang pemuda petani biasa.

Wajah pemuda ini tampan dan sikapnya gagah walaupun dari gerak-geriknya terbayang kesederhanaan dan kerendahan hati.

Usianya kurang lebih sembilanbelas tahun.

Kakek gendut itu kepalanya gundul bulat seperti juga perutnya.

Wajahnya periang, matanya berseri lembut dan mulutnya tersenyum-senyum, usianya sukar ditaksir karena wajahnya yang berseri itu masih nampak segar.

Dia bisa saja berusia delapan puluh tahun, akan tetapi mungkin juga kurang dari enam puluh tahun.

Jubahnya dan kepalanya gundul menandakan bahwa Kakek itu seorang Hwesio .

Jubahnya berwarna kuning longgar.

Kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang hampir enam tahun yang lalu keluar dari ruangan pertapaannya, hanya untuk dihadapkan sebuah tugas yang amat sulit, yaitu mencari sebuah pusaka yang dirampas oleh seorang yang agaknya menyamar sebagai dirinya.

Tanpa mengetahui siapa orang itu, di mana tempat tinggalnya, bahkan selamanya belum pernah dia melihat Giok-liong-kiam, tentu saja mencari perampas itu tidaklah mudah.

Dia sudah melakukan penyelidikan dengan cermat selama hampir enam tahun dan barulah dia menduga-duga siapa adanya orang yang telah memalsukan dirinya itu.

Namun, dia masih belum yakin benar dan karena itu, pada pagi hari ini dia bersama cucu muridnya, Tan Ci Kong, berada di kota Nan-ping.

Selama itu, sambil merantau melakukan penyelidikan mencari jejak perampas Giok-liong-kiam, Kakek ini setiap hari melakukan penggemblengan atas diri cucu muridnya.

Tan Ci Kong adalah seorang pemuda yang berbakat baik sekali dan berkemauan keras.

Kini, menerima gemblengan seorang sakti seperti Siauw-bin-hud, tentu saja dia memperoleh kemajuan yang hebat!

Kakek itu hanya menurunkan ilmu-ilmu yang amat tinggi dan lewat hampir enam tahun itu, kini Ci Kong telah menjadi seorang pemuda berusia sembilanbelas tahun yang sakti!

Kalau melihat orangnya, begitu pendiam dan sederhana, seperti seorang pemuda tani saja.

Takkan ada orang dapat menyangka bahwa di dalam tubuh pemuda ini tersembunyi ilmu kepandaian dan tenaga yang sukar ditandingi.

Setelah memasuki kota Nan-ping, Siauw-bin-hud mengajak cucu muridnya terus keluar lagi dari kota itu melaui pintu gerbang utara, kemudian berjalan mendaki sebuah bukit yang nampak hitam kehijauan.

Dari bawah, nampak tembok bangunan di puncak bukit, samar-samar nampak di antara pohon-pohon di hutan puncak.

Ci Kong yang selalu mengikuti paman Kakek gurunya itu, diam-diam merasa prihatin karena walaupun Kakek itu tidak pernah mengeluh, dia tahu betapa Kakeknya belum juga berhasil menemukan perampas Giok-liong-kiam yang dicarinya selama ini.

Kini, melihat bahwa Kakek itu jelas menuju ke puncak bukit, hatinya yang merasa kasihan kepada Kakek yang telah menjadi gurunya itu dan dia tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya.

"Susiok-Couw, tempat apakah yang akan kita kunjungi di puncak bukit itu?"

Seperti biasa kalau bicara, Siauw-bin-hud mendahuluinya dengan senyum cerah, lalu dia berkata.

"Yang di puncak bukit itu adalah pusat dari perkumpulan Ang-hong-pai."

Biarpun dia sendiri tidak pernah dimintai bantuan atau disuruh melakukan sesuatu oleh Kakek itu dalam urusan mencari jejak pembawa Giok-liong-kiam, Akan tetapi Ci Kong sudah mendengar akan semua hal mengenai Giok-liong-kiam, semenjak dicuri orang dari Thian-te-pai sampai menjadi perebutan dan akhirnya terampas oleh orang yang memalsukan nama Siauw-bin-hud.

Oleh karena itu, diapun sudah mendengar akan nama Ang-hong-pai, bahkan ketika terjadi keributan di depan kuil Siauw-lim-si, diapun melihat sendiri sepak terjang orang-orang yang hendak memperebutkan Giok-liong-kiam.

Dari gurunya, Nam Sam Losu, diapun mendengar banyak tentang Ang-hong-pai sebagai satu di antara pihak yang ingin memiliki pusaka yang diperebutkan itu.

Dia teringat akan cerita bahwa dalam perebutan pertama, muncul seorang tokoh Ang-hong-pai yang tidak berhasil pula merampas pusaka itu.

Sejak itu, tidak terdengar lagi tentang orang-orang Ang-hong-pai, juga mereka tidak datang mengganggu Siauw-lim-si.

"Tentu Susiok-Couw hendak mencari tokoh Ang-hong-pai yang pernah bertemu dengan perampas Giok-liong-kiam itu, bukan?"

Tanyanya hati-hati. Kakek itu tersenyum dan mengangguk.

"Sudah banyak keterangan kuperoleh, akan tetapi hatiku masih belum puas dan belum yakin benar. Keterangan terackhir yang akan meyakinkan hatiku kuharapkan dapat diberikan oleh tokoh Ang-hong-pai itu."

"Akan tetapi mereka itu tidak pernah muncul lagi."

"Itulah yang menarik,"

Kata Siauw-bin-hud.

"Ketika terjadi perampasan pusaka itu oleh orang yang memalsukan diriku, terdapat lima orang tokoh kang-ouw, yaitu Tang Kui si perwira istana, Lui Siok Ek tokoh Thian-te-pai, Kam Hong Tek seorang pendekar selatan, Pek-bin Tiatciang seorang tokoh sesat dan Theng Ci tokoh Ang-hong-pai. Dari kelima orang itu, yang muncul pada enam tahun yang lalu hanya Tang Kui dan Lui Siok Ek. Pendekar Kam Hong Tek tidak muncul, hal ini tidaklah mengherankan karena bagaimanapun juga, dia pernah menjadi murid Siauw-lim-pai sehingga tentu tidak berani mengganggu Siauw-lim-si. Tinggal dua orang lagi, yaitu Theng Ci dan Pek-bin Tiat-ciang, keduanya adalah golongan sesat. Mengapa mereka tidak muncul di Siauw-lim-si? Kiranya dari kedua orang inilah dapat diharapkan keterangan-keterangan yang menarik dan pinceng sengaja mendatangi Ang-hong-pai karena lebih mudah dikunjungi dari pada mencari Pek-bin Tiat-ciang yang tidak keruan tempat tinggalnya itu. Pula, biasanya kau m wanita lebih tajam pandangannya dan lebih kuat ingatannya mengenal seseorang."

"Teecu harap mudah-mudahan Susiok-Couw berhasil."

Kakek itu tertawa, menghentikan langkahnya dan menatap wajah pemuda itu penuh perhatian.

"Mengapa, Ci Kong? Mengapa engkau mengharapkan aku berhasil?"

Kini pemuda itu yang balas memandang dengan heran.

"Bukankah... Bukankah Susiok-Couw mengharapkan berhasil dalam penyelidikan selama enam tahun ini?"

"Pinceng? Ha-ha-ha, pinceng tidak mengharapkan apa-apa, Ci Kong!"

Pemuda itu semakin heran.

Kakek ini memang seringkali bicara yang aneh-aneh dan tidak sama bahkan kadang-kadang bertentangan dengan pendapat umum.

Dan kalau sudah demikian, dia akan mendengarkan banyak kenyataan-kenyataan hidup yang tadinya belum pernah didengarnya dan banyak sudah ucapan Kakek ini yang membuka batinnya dan membuat dia dapat memandang dengan waspada dan bijaksana.

Akan tetapi sekali ini dia merasa heran sekali.

"Maaf, Susiok-Couw, akan tetapi bukankah dalam setiap pekerjaan, setiap perbuatan terkandung harapan untuk berhasil?"

Kembali Kakek itu tertawa dan aneh sekali, begitu timbul kegembiraannya untuk bicara, dia lalu duduk di tepi jalan, bersila di atas rumput-rumput hijau.

Ci Kong yang tahu akan kesukaan gurunya, yaitu bicara dengan santai dan seenaknya, lalu duduk pula di depan gurunya.

Jalan liar ke puncak bukit itu memang sunyi sekali, tidak nampak orang lain kecuali mereka dan hawa udara amat sejuk, sinar matahari pagi amat cerah.

"Ci Kong, karena adanya harapan untuk mencapai hasil inilah maka timbul segala macam konflik di dalam batin. Adanya harapan untuk mencapai hasil ini membuat gerak perbuatan itu sendiri menjadi palsu, setengah-setengah, tidak sepenuhnya dan membuat perbuatan itu kehilangan gairahnya, kehilangan mutu dan nikmatnya. Sebaliknya, kalau setiap perbuatan itu hidup, barulah kita dapat menikmati setiap perbuatan kita, barulah perbuatan itu benar dan bersih."

Ci Kong mengangguk-angguk.

Sebagai seorang yang cerdik, diapun maklum apa yang dimaksudkan oleh Kakek itu.

Memang, pengejaran akan hasil baik, dan biasanya hasil baik ini berlandaskan kepentingan dan kesenangan diri pribadi, membuat apa yang dilakukan itu seringkali menjadi berobah sifatnya, dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan dan kejahatan dalam pelaksanaannya.

Perbuatan yang ditunggangi pamrih mencapai sesuatu selalu condong untuk menyeleweng, terdorong oleh keinginan mencapai hasil yang menyenangkan diri sendiri itu, kalau perlu boleh saja menyusahkan orang lain.

Akan tetapi Ci Kong masih merasa penasaran.

"Maaf, Susiok-Couw. Kalau dalam setiap perbuatan tidak membutuhkan harapan akan hasil yang menjadi pendorong perbuatan itu, lalu apakah yang mendorong Susiok-Couw bersusah payah, selama enam tahun menyelidiki dan mencari pusaka yang hilang itu?"

Kembali Kakek itu tersenyum lebar dan mengangguk-angguk, senang mendengar pertanyaan yang mengandung kecerdikan itu.

"Pinceng melihat bahwa perampasan mempergunakan nama pinceng itu harus dibikin terang karena kalau tidak, hal itu akan menimbulkan banyak sekali kekacauan, bahkan mungkin permusuhan. Karena melihat pentingnya pencarian itu, maka pincengpun keluar dan mengerjakannya. Dalam minat karena melihat kepentingannya inilah timbul gairah dan pinceng sepenuhnya dapat menikmati pekerjaan ini karena tidak dirongrong oleh keinginan mencapai hasil."

"Kalau begitu, apakah artinya hasil bagi Susiok-Couw? Apakah artinya bagi Susiok-Couw berhasil atau tidaknya usaha Susiok-Couw mencari pusaka itu?"

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala perlahan.

"Jelas tidak ada bedanya bagiku pribadi, Ci Kong. Bagi orang yang tidak menyembunyikan pamrih dalam setiap perbuatannya, maka hasil hanya merupakan suatu akibat saja dari pada suatu pekerjaan yang dilakukan. Berhasil ataukah tidak, sama saja dan tentu kita bertindak selanjutnya sesuai dengan akibat itu yang berupa berhasil ataukah gagal. Maksud pinceng, kata gagal itu hanyalah kata yang dipakai oleh umum untuk menyatakan kekecewaannya bahwa harapannya tidak terpenuhi. Akan tetapi bagi pinceng sendiri, tidak ada kata gagal itu. Yang ada hanyalah akibat dari suatu perbuatan, dan akibat ini berkaitan dengan perbuatannya, dan tidak mungkin dapat dirobah lagi kalau sudah tiba, seperti buah tidak terpisah dari keadaan pohonnya, dan keadaan buah itu tidak dapat dirobah kalau sudah terjadi. Hanya dengan merobah perbuatan saja, yang bersumber dari batin sendiri, maka buah itupun akan berubah. Mengertikah engkau, Ci Kong?"

Pemuda itu mengangguk. Banyak yang harus direnungkan dari hasil percakapan singkat itu.

"Nah, marilah kita lanjutkan pendakian kita. Lihat, kedatangan kita sudah diketahui orang,"

Kata Kakek itu sambil bangkit berdiri.

Ci Kong juga bangkit dan melihat ke arah puncak.

Dan dia tertegun penuh kagum.

Dari atas puncak nampak pasukan berpakaian merah dan belasan orang yang berbaris rapi itu berlari-larian turun dengan ringan dan cepat sekali, juga selalu berbareng dan amat indah dilihat dari bawah.

Karena Kakek itu melanjutkan langkahnya, kini dengan cepat mendaki ke atas, diapun mengikuti dari belakang, diam-diam jantungnya berdebar tegang karena dia sudah mendengar bahwa Ang-hong-pai adalah sebuah perkumpulan yang para anggautanya terdiri dari wanita-wanita yang lihai, dan perkumpulan itu termasuk perkumpulan kau m sesat yang amat ditakuti di dunia kang-ouw.

Setelah mereka tiba di tanah datar yang ditumbuhi rumput tebal, barulah Ci Kong mengerti mengapa Kakek itu tadi mengerahkan kepandaian untuk berlari cepat ke atas menyambut turunnya pasukan merah itu.

Kiranya Suhunya memilih tempat yang lapang ini untuk menghadapi mereka.

Kakek itu berhenti menanti dengan sikap tenang dan wajah berseri, didampingi Ci Kong yang juga berdiri dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan.

Selama ini dia sudah mengikuti Kakek itu mengunjungi Thian-te-pai, bahkan menemui perwira Tang Kui di Kota Raja.

Dan selama ini, belum pernah Kakek itu bentrok atau terlibat dalam sebuah perkelahian.

Jangan memancing perkelahian, demikian antara lain Kakek itu memberi nasihat kepadanya, dan bersikaplah sabar dan mengalah.

Ilmu silat hanya untuk berjaga diri, bukan untuk mencelakai orang.

Akan tetapi karena kini menghadapi perkumpulan kau m sesat yang kabarnya amat lihai dan jahat, agaknya Kakek itupun bersikap hati-hati.

Tak lama kemudian muncullah dua belas orang wanita berpakaian serba merah, kemunculan merekapun rapi, dengan teratur mereka berloncatan dan tahu-tahu mereka telah membuat gerakan melingkar di depan Kakek dan pemuda itu.

Usia mereka antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun dan rata-rata berwajah manis, dengan wajah terpelihara dan pakaian rapi bersih seperti serombongan penari karena pakaian itu seragam.

Seorang di antara mereka, seorang wanita cantik yang mempunyai tahi lalat di dahi, tepat di tengah-tengah, berkata dengan suara lantang.

"Pai-cu kami mengutus kami untuk menyambut Locianpwe Siauw-bin-hud!"

Kakek iyu terkekeh dan Ci Kong kagum akan ketajaman penglihatan orang-orang Ang-hong-pai ini.

Baru saja tiba di lereng, mereka sudah tahu akan kedatangan Susiok-Couwnya!

"Omitohud...!

Terima kasih, nona.

Pai-cu kalian sungguh baik sekali,"

Kata Siauw-bin-hud dan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Pai-cu menghaturkan hormat, kemudian Pai-cu mengutus kami agar minta kepada Locianpwe, berdua dengan enghiong ini, untuk segera turun bukit kembali meninggalkan wilayah kami."

Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar.

"Pinceng datang bukan untuk mengunjungi Ang-hong-pai atau berurusan dengan Pai-cu kalian, melainkan ingin bertemu sebentar dengan seorang anggauta atau murid Ang-hong-pai yang bernama Theng Ci."

"Tidak bisa,"

Kata wanita itu.

"Toa-suci sedang berlatih dengan ketua kami dan mereka tidak mau diganggu. Harap ji-wi segera pergi saja."

Ci Kong merasa penasaran dan diapun cepat berkata.

"Susiok-Couw hanya ingin bicara sebentar dengan orang yang bernama Theng Ci, setelah bicara kami akan segera pergi tidak akan mengganggu Ang-hong-pai. Kami datang bukan dengan niat jahat, mengapa Ang-hong-pai menyambut tidak semestinya dan dengan sikap bermusuh?"

Wanita itu melirik kepada Ci Kong, akan tetapi lalu menghadapi Siauw-bin-hud lagi ketika bicara, seolah-olah merasa tidak ada gunanya bicara dengan pemuda itu.

"Selama ini, Ang-hong-pai tidak pernah mengganggu Siauw-lim-pai, bahkan ketika banyak orang ramai-ramai mendatangi Siauw-lim-pai enam tahun yang lalu, Ang-hong-pai juga tidak ikut-ikut. Oleh karena itu, tidak ada urusan apa-apa lagi antara kedua perkumpulan, maka Pai-cu kini tidak bermaksud menerima kunjungan Locianpwe untuk mengadakan urusan apapun."

"Pai-cu kalian sungguh tidak adil!"

Ci Kong berkata.

"Kunjungan orang-orang ke Siauw-lim-pai mempunyai pamrih buruk, sedangkan sebaliknya, Susiok-Couw mengunjungi Ang-hong-pai dengan hati bersih dan penuh persahabatan. Mengapa Pai-cu kalian menolak? Kalau begitu, harap saudari Theng-Ci yang datang ke sini menemui kami agar Susiok-Couw bisa bicara dengannya!"

Kini wanita itu menghadapi Ci Kong dengan alis berkerut.

"Pai-cu kami berpesan bahwa siapa saja yang hendak naik ke puncak, harus dapat melalui Cap-ji-kiam (Dua belas Pedang)!"

Ci Kong tertegun.

"Cap-ji-kiam...?"

"Sing-sing-sing...!"

Nampak sinar berkilauan susul-menyusul dan ketika Ci Kong memandang, ternyata dua belas orang wanita berpakaian merah itu telah mencabut keluar sebatang pedang dan berdiri dengan berbaris rapi!

Mengertilah dia bahwa yang dimaksud adalah barisan terdiri dari dua belas orang berpedang!

Dia menoleh kepada Susiok-Couwnya.

Kakek ini mengangguk sambil tersenyum dan berkata lirih.

"Hati-hatilah terhadap racun mereka, Ci Kong"

Ucapan ini merupakan isyarat bagi Ci Kong bahwa Susiok-Couwnya memperbolehkan dia menghadapi dua belas orang wanita itu.

Akan tetapi dia merasa heran mengapa Kakek itu memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap racun mereka.

Apakah pedang mereka itu mengandung racun?

Mungkin saja.

Dan pandang matanya yang tajam akhirnya dapat menangkap kantong-kantong kecil yang tergantung di pinggang dua belas orang wanita itu.

Mengertilah dia.

Agaknya para anggauta Ang-hong-pai ini memang ahli mempergunakan racun-racun dan tentu mereka biasa mempergunakan senjata gelap beracun.

Diapun mengangguk kepada Susiok-Couwnya yang sudah mundur dan duduk bersila di atas rumput, lalu dia melangkah maju menghampiri dua belas orang wanita itu.

"Saudara adalah murid Siauw-lim-pai, dan adalah saudara sendiri yang hendak melawan kami, bukan kami yang memaksa saudara mati dibawah ujung senjata Cap-ji-kiam. Hal ini disaksikan sendiri oleh Locianpwe Siauw-bin-hud!"

Kata wanita bertahi lalat di dahi itu dengan sikap tegas.

Jelaslah bahwa ia dan teman-temannya memandang rendah kepada pemuda itu.

Kalau pemuda itu hanya cucu murid Siauw-bin-hud, apa yang harus ditakuti?

Mereka lebih merasa sungkan kalau sampai membunuh seorang murid Siauw-lim-pai, maka sebelum hal itu terjadi, mereka ingin Kakek itu menjadi saksi bahwa pemuda itulah yang mendahului perkelahian itu.

"Cici yang gagah tak usah khawatir. Kalau sampai aku mati di dalam pertandingan ini, biarlah aku sendiri yang tanggung, tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai atau Susiok-Couw,"

Kata Ci Kong dengan sikap tenang.

Sementara itu, dua belas orang wanita itu sudah bergerak mengepungnya.

Mereka melangkah mengitari pemuda itu, dengan pedang di depan dada dan tangan kanan diangkat ke atas kepala.

Melihat langkah-langkah mereka yang teratur rapi itu, mengertilah Ci Kong bahwa dia berhadapan dengan semacam kiam-tin (barisan pedang) yang tidak boleh dipandang ringan, karena berbeda dengan pengeroyokan yang liar dan kacau, barisan merupakan gerakan teratur dari banyak orang sehingga kini dia seperti juga menghadapi seorang lawan dengan satu pikiran akan tetapi dengan dua belas badan!

"Silahkan!"

Katanya sambil berdiri tegak dan memasang semua kepekaan mata dan telinga untuk mengikuti gerak-gerik para pengepungnya dengan teliti.

"Si-cu, ingat, engkau yang menentang, bukan kami. Silahkan!"

Terdengar wanita yang memimpin barisan pedang itu memperingatkan dari belakangnya.

Ci Kong maklum bahwa barisan itu berlaku hati-hati.

Bagaimanapun juga, Susiok-Couwnya tentu tidak setuju kalau dia sampai melukai seorang di antara para pengeroyoknya.

Tidak ada permusuhan apapun antara mereka, dan wanita-wanita itupun hanya melaksanakan tugasnya saja mentaati perintah ketuanya.

Maka, dia akan mencoba untuk merampas pedang mereka, satu demi satu dengan menggunakan penyerangan yang sukar dielakkan lawan.

"Baiklah, lihat serangan!"

Bentaknya dan tiba-tiba dia membuat gerakan, bukan ke depan melainkan ke belakang, ke arah suara wanita bertahi lalat yang memimpin barisan itu.

Akan tetapi, barisan itu masih terus bergerak sehingga kedudukan wanita pemimpin itu sudah berobah dan dengan demikian, yang diserang oleh Ci Kong adalah seorang wanita lain.

Serangannya cepat dan tangannya sudah hampir dapat mencengkeram pergelangan tangan wanita yang memegang pedang dalam usahanya merampas pedang.

Akan tetapi terdengar aba-aba pemimpin itu dan kini pedang datang bertubi-tubi menyerangnya dari belakang, kanan dan kiri.

Walaupun kalau dilanjutkan dia akan berhasil merampas pedang dari wanita yang diserangnya, namun sebaliknya dia terancam oleh tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan pedang yang lain!

Terpaksa Ci Kong membatalkan niatnya merampas pedang dan dia segera mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak.

Akan tetapi, barisan Cap-ji-kiam itu memang hebat sekali.

Dengan gerakan susul-menyusul, serangan itu terus dilakukan tak pernah berhenti, sambung-menyambung sehingga ke manapun dia mengelak, Ci Kong sudah disambut oleh serangan pedang berikutnya.

Dia meloncat keluar dari kepungan, akan tetapi wanita bertahi lalat itu terus-menerus mengeluarkan aba-aba dan kembali dia sudah terkepung.

Gerakan mereka cepat dan teratur.

Diam-diam Ci Kong mengatur siasat sambil terus mengelak, mengandalkan gingkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah dipelajarinya secara sempurna dari susiol-couwnya.

Tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang berkilauan dan betapapun cepatnya para wanita itu menggerakkan pedang, atau kadang-kadang dengan kebutan telapak tangannya, dia bahkan mampu menangkis pedang yang tajam itu.

Pemuda ini amat berhati-hati karena dia menduga bahwa tentu pedang-pedang itu beracun.

Sekali saja tergores dan terluka, mungkin dia akan keracunan.

Setelah memutar otaknya, tiba-tiba dia mendapat gagasan yang baik sekali.

Cap-ji-kiam ini bergerak secara otomatis, teratur seolah-olah dua belas orang itu merupakan alat-alat yang digerakkan oleh satu pusat.

Dan diapun kini teringat bahwa pusatnya ada pada wanita bertahi lalat di dahinya itu.

Pusat inilah yang harus dilumpuhkannya terlebih dahulu agar kerja sama mereka menjadi kacau.

"Heeeehhhh...!"

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring, suara yang dikeluarkan mengandung kekuatan khikang yang menyerang lawan.

Rencananya berhasil karena lengkingan itu mengejutkan para pengepungnya, membuat mereka selama dua tiga detik tertegun dan kesempatan ini cukuplah bagi Ci Kong.

Begitu mereka berhenti bergerak, dia dapat mencurahkan perhatian kepada wanita pemimpin barisan dan tiba-tiba dia menyuruk ke arah wanita itu, tangan kirinya menotok dan tangan kanannya merampas pedang.

Sebelum wanita itu tahu apa yang terjadi, pedangnya telah terampas!

Ia menjerit dan memperingatkan teman-temannya.

Akan tetapi Ci Kong tidak menghentikan gerakan-gerakannya.

Dengan pedang rampasan di tangan dia mengamuk.

Setiap serangan lawan ditangkisnya dan begitu terkena tangkisannya yang dilakukan denga pengerahan tenaga singkang, pedang lawan terlempar dan terlepas dari pegangan, bahkan ada yang patah!

Terdengar suara berdencing dan berkerontangan dan dalam waktu beberapa menit saja, akhirnya Ci Kong meloncat jauh ke belakang dengan dua pedang rampasan di kedua tangan sedangkan dua belas orang wanita itu kehilangan semua senjata mereka!

Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa pemuda itu demikian lihainya, menyerang mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan setiap kali beradu pedang, pedang mereka patah atau terlepas karena pemuda itu mempergunakan tenaga yang luar biasa kuatnya.

Yang membuat mereka kagum dan heran, betapa dalam waktu singkat pemuda itu mampu melucuti senjata mereka tanpa melukai mereka sedikitpun juga!

Bahkan totokan yang dipergunakan juga hanya membuat lengan kanan lumpuh selama beberapa detik saja, cukup untuk membuat pedang mereka terlepas, terlempar atau terampas.

Tiba-tiba wanita bertahi lalat itu mengeluarkan aba-aba, suaranya nyaring melengking dan mereka semua menggerakkan tangan dengan cepat.

Bintik-bintik merah beterbangan menyambar ke arah Ci Kong!

Akan tetapi pemuda ini memang sudah waspada dan siap siaga.

Begitu melihat wanita-wanita itu menggerakkan tangan diapun cepat memutar dua batang pedang yang dirampasnya.

puluhan batang jarum halus berwarna merah yang mengandung racun itu terpental dan runtuh semua ketika menerjang gulungan sinar yang dibuat oleh pedang yang diputar cepat.

Kiam-tin atau barisan pedang itu walaupun sudah kehilangan pedang, agaknya memiliki cadangan karena kini mereka sudah mencabut sebatang pisau belati dari pinggang mereka!

Dan mereka agaknya hendak nekat melanjutkan perkelahian.

Akan tetapi sebelum mereka bergerak, terdengar bentakan halus yang datangnya dari jauh.

"Kalian mundurlah!"

Mendengar bentakan halus yang datang dari jauh ini, dua belas orang wanita berpakaian merah lalu berloncatan pergi tanpa menghiraukan lagi pedang mereka yang berserakan di atas tanah.

Ci Kong tersenyum lega dan diapun membuang sepasang pedang rampasan itu.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara bisikan Susiok-Couwnya.

"Lebah-lebah itu berbahaya sekali, sengatannya beracun mematikan!"

Ci Kong juga mendengar suara berdengung itu, makin lama semakin kuat dan tak lama kemudian diapun melihat serombongan lebah berwarna merah yang terbang berkelompok ke arah dia berdiri!

Dia merasa heran dan kagum sekali.

Binatang itu warnanya sungguh merah cerah, seperti warna pakaian para wanita tadi!

Dan kalau saja tidak mendapat peringatan Susiok-Couwnya, dia tidak akan percaya bahwa binatang kecil mungil yang indah warnanya itu dapat membunuh manusia dengan sengatannya.

Kini lebah-lebah itu sudah datang dekat dan tiba-tiba, seperti dikomando saja, mereka menyerbu ke arah Ci Kong!

Pemuda itu melompat jauh menghindarkan diri, akan tetapi betapapun cepatnya gerakan tubuh pemuda itu, mana mungkin dia dapat mengalahkan lebah-lebah itu dalam hal kecepatan gerakan?

Ci Kong mulai kewalahan karena ke manapun dia melompat, lebah-lebah itupun mengejarnya dengan kecepatan yang mengerikan dan suara mereka berdengung itu, ditambah lagi dengan pengetahuan bahwa sengatan mereka mematikan, makin membuat hatinya merasa serem dan ngeri.

Dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan mulailah dia mengebut ke sana-sini, ke arah lebah-lebah yang menyerangnya.

Memang hebat kebutan kedua tangan Ci Kong.

Gerakan tangannya mengandung tenaga pukulan yang mematikan dan lebah-lebah yang terkena sambaran angin pukulan telapak tangannya, terlempar atau terbanting dan tewas seketika.

Akan tetapi, lebah-lebah itu terlalu banyak dan menyerangnya dari atas kepala sampai ke kaki, mana mungkin dia dapat menyambut mereka semua dengan kedua tangannya.

Dia bergidik ketika merasa ada benda menyentuh leher bagian tengkuk dan cepat tangannya bergerak menangkis.

Lebah yang berhasil menyusup itu tidak keburu menyengatnya, sudah mati terpukul tangan Ci Kong.

Akan tetapi pengalaman ini membuat Ci Kong maklum bahwa hanya dengan kedua tangannya saja, dia tidak akan mampu menyelamatkan diri.

Maka dia lalu menanggalkan bajunya dan memutar bajunya itu.

Lebah-lebah itu tentu saja terdorong oleh angin yang ditimbulkan oleh pemutaran baju itu dan mereka menjadi kacau balau.

Akan tetapi, hal ini agaknya tidak membuat mereka menjadi jerih, bahkan mereka menjadi marah, menyerang makin liar.

Begitu hebatnya serangan mereka sampai ada beberapa bagian baju Ci Kong berlubang ketika mereka terjang!

Ci Kong melihat betapa hanya angin kebutan baju itu yang mampu mendorong lebahlebah itu, maka ia menggunakan akal.

Dia tidak memukul dengan bajunya, melainkan memutar bajunya sedemikian rupa sehingga timbullah angin berputar yang menggulung lebah-lebah itu.

Sekali masuk ke dalam putaran angin yang ditimbulkan oleh putaran baju, lebah-lebah itu tidak lagi mampu menguasai diri sendiri dan tergulung atau terlibat ke dalam putaran angin hanya terbang berputaran dengan kacau.

Ci Kong bermaksud menggulung mereka sedemikian rupa, lalu membungkus dengan bajunya.

Usahanya berhasil.

Makin cepat dia memutar bajunya, angin putaran itu semakin kuat dan lebah-lebah itu semakin cepat pula terputar dan akhirnya, begitu Ci Kong menggerakkan baju menelungkup ke arah kelompok lebah, binatang-binatang itu kena ditangkapnya di dalam gulungan bajunya!

Beberapa ekor lebah yang luput dan berada di luar gulungan baju, karena tiba-tiba kehilangan semua kawannya, menjadi bingung dan ketakutan, lalu terbang pergi.

Suara berdengung di dalam gulungan baju itu nyaring sekali, dan Ci Kong sudah tersenyum.

Kini sekali banting saja bajunya ke atas tanah, lebah-lebah di dalamnya akan mati semua.

"Tahan...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus ketika dia sudah mengangkat bajunya yang berisi lebah-lebah itu ke atas.

Ci Kong menahan gerakannya, menoleh dan melihat seorang wanita yang diikuti oleh dua belas orang wanita Cap-ji-kiam tadi.

"Si-cu, Pai-cu kami minta agar engkau suka mengampuni lebah-lebah itu,"

Kata wanita bertahi lalat di dahinya.

"Hemm, bagaimana aku dapat melepaskan lebah-lebah jahat ini? Begitu dilepas dia akan menyerangku dan mungkin mencelakai orang lain."

Wanita cantik itu juga memakai pakaian serba merah akan tetapi berbeda dengan yang lain, pakaiannya lebih indah, terbuat dari sutera mahal dan nampak ia anggun dan berwibawa sekali.

"Lepaskan dan aku tanggung mereka tidak akan menyerang siapapun juga,"

Katanya.

Diapun mengeluarkan sebuah bumbung bambu dan mengangkatnya ke atas.

Ci Kong yang mendengar bahwa wanita ini adalah ketua Ang-hong-pai, mempercaya kata-katanya dan diapun mengebutkan bajunya.

Baju terbuka dan lebah-lebah merah itupun terpental keluar.

Sejenak mereka beterbangan kacau, lalu berkumpul lagi di udara dan tiba-tiba mereka terbang cepat ke arah bumbung bambu yang dipegang oleh ketua Ang-hong-pai.

Seperti sekelompok kanak-kanak yang pulang sehabis bermain-main, mereka berebutan memasuki lubang di bumbung itu.

Wanita baju merah itu lalu menutup bumbung dengan kayu berlubanglubang kecil dan menyerahkan bumbung itu kepada wanita bertahi lalat di dahi.

Kemudian ia menoleh dan menghadapi Ci Kong sambil berkata.

"Murid Siauw-lim-pai, biarpun masih muda akan tetapi sungguh lihai."

Kemudian ia melangkah ke arah Siauw-bin-hud dan memberi hormat dengan sikap sopan.

"Locianpwe, maafkan kelancangan kami tadi."

Sejak tadi, Siauw-bin-hud hanya menonton saja cucu muridnya berjuang melawan Cap-jikiam, kemudian melawan rombongan lebah merah, sambil tersenyum girang karena dia melihat kegagahan dan kecerdikan pemuda itu.

Ketika muncul ketua Ang-hong-pai, dia sudah siap untuk menjaga keselamatan cucu muridnya.

Dia sudah mengenal ketua ini, seorang wanita yang amat lihai dan berbahaya.

Akan tetapi agaknya wanita itu tidak bermaksud buruk.

Sambil tertawa diapun bangkit berdiri dan membalas penghormatan ketua Ang-hong-pai itu.

"Aha, ketua dari Ang-hong-pai sungguh lihai, dapat mengalahkan usia agaknya! Sudah lewat puluhan tahun masih nampak muda saja,"

Kata Siauw-bin-hud.

Memang mengagumkan sekali ketua Ang-hong-pai itu.

Usianya kini ada enam puluhan tahun, akan tetapi masih tetap cantik, ramping dan orang akan menyangka bahwa usianya paling banyak tiga puluh tahun saja!

Pai-cu itu tersenyum manis.

"Dan Siauw-bin-hud tetap seorang Locianpwe yang tidak pernah susah agaknya. Dibandingkan dengan aku, Siauw-bin-hud jauh lebih muda dan selalu bergembira lahir batin, sedangkan aku... ah, hanya lahirnya saja nampak muda, akan tetapi batinnya sudah tua sekali!"

Siauw-bin-hud tertawa dan lebih berhati-hati.

Wanita ini, setelah kurang lebih tiga puluh tahun tidak dijumpainya, ternyata semakin cerdik dan berbahaya saja.

Kata-katanya sudah matang dan siapa yang dapat menduga isi hati wanita ini?

"Pai-cu, engkaupun maafkanlah cucu muridku yang telah berani menentang hadangan Cap-ji-kiam dan tawon-tawon merahmu."

"Sudahlah,"

Wanita itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.

"Orang-orang macam kita yang sudah berkecimpung di dalam dunia persilatan, kalau tidak bertanding dulu mana dapat saling mengenal? Karena tadi yang maju pemuda ini, maka murid-muridku dan lebah-lebahku berani keluar mencoba-coba. Kalau engkau yang keluar, Locianpwe, siapa sih yang akan berani kurang ajar? Sesungguhnya, apakah maksud kedatangan Locianpwe ke tempat kami yang buruk?"

"Omitohud... tempat ini indah, semua tempat di seluruh pelosok dunia ini indah sekali, sayang dibikin buruk oleh perbuatan-perbuatan manusia. Pai-cu, seperti sudah kami katakan kepada murid-muridmu tadi, pinceng berkunjung bukan bermaksud buruk, melainkan ingin sekali bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci, karena pinceng ingin menanyakan sesuatu darinya."

"Theng Ci...? Murid kepala di sini?"

Wanita itu mengangguk-angguk.

"Ia sedang berlatih dan mungkin dalam waktu dua atau tiga jam lagi selesai. Mari, Locianpwe, dan engkau orang muda silahkan naik dan menanti di tempat kami. Ji-wi (kalian berdua) menjadi tamu-tamu Ang-hong-pai yang terhormat."

"Omitohud..., engkau terlalu baik, Pai-cu, kami sama sekali tidak menduga akan hal ini. Bagaimana kalau kami menanti saja di sini sampai murid kepala Ang-hong-pai itu selesai latihan dan keluar menemui kami di sini?"

"Aihh, Locianpwe, apa akan kata orang di dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa Ang-hong-pai menyambut tokoh besar Siauw-lim-pai di lapangan rumput saja? Ke mana mukaku yang buruk ini akan kusembunyikan? Marilah, mari, tamu-tamuku yang terhormat, mari ikut dengan kami."

Ci Kong memandang kepada Susiok-Couwnya yang mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, akan tetapi Ci Kong melihat betapa sepasang mata yang lembut dari Susiok-Couwnya itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya aneh.

Diapun dapat menduga bahwa tentu ada sesuatubyang menarik, akan tetapi karena dia melihat Kakek itu sudah melangkah mengikuti rombongan orang Ang-hong-pai, diapun terpaksa mengikuti Kakek itu dari belakang.

Ketika memasuki pintu gerbang tembok yang mengelilingi perkampungan Ang-hong-pai, kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dari bangunan terbesar, Ci Kong merasa kagum bukan main.

Tak disangkanya bahwa di puncak bukit sunyi itu, terdapat perkampungan yang amat indah, Penuh dengan bangunan-bangunan mungil dan taman-taman bunga yang amat indah teratur, dan terutama sekali setelah memasuki ruangan gedung tempat tinggal ketua Ang-hong-pai, dia menjadi bengong karena ruangan itu amat hebat!

Layaknya menjadi ruangan di dalam istana puteri-puteri dalam dongeng saja.

Jelaslah bahwa Ang-hong-pai amat kaya raya.

Lantainya licin seperti kaca, ruangannya terhias perabot yang serba mahal dan indah, sutera-sutera halus bergantungan, periuk-periuk kuno yang serba aneh dan indah, hiasan-hiasan batu giok yang mahal, lukisan-lukisan yang pilihan.

Akan tetapi dia melihat betapa Susiok-Couwnya memasuki ruangan itu seperti memasuki sebuah ruangan kuil atau sebuah guha belaka, sama sekali tidak nampak heran atau kagum, masih tetap tersenyum-senyum seperti biasa.

"Silahkan duduk, silahkan...!"

Kata wanita itu dengan ramah.

"Sambil menanti selesainya Theng Ci, kita ngobrol sambil menikmati hidangan sekedarnya."

"Omitohud, engkau terlalu sungkan, terlalu menghormat, sehingga kami merasa tidak enak hati dan mengganggu saja, Pai-cu."

Siauw-bin-hud berkata sambil tersenum lebar.

"Ah, tidak, Locianpwe, dan jangan khawatir, aku tahu bahwa Locianpwe dan cucu muridnya ini tentu tidak makan barang berjiwa, juga tidak minum arak. Kami akan menghidangkan makanan dan minuman yang bersih."

Tanpa menanti jawaban tamu-tamunya, ketua ini lalu menyembunyikan sebuah genta yang terbuat dari pada emas sehingga terdengar amat gemercing nyaring.

Bukan main, pikir Ci Kong.

Genta kecil itu saja sudah merupakan benda yang luar biasa mahalnya!

Tak lama kemudian, beriringan datanglah lima orang wanita berpakaian merah yang membawa baki-baki terisi masakan masakan.

Bau gurih sedap memenuhi ruangan itu.

Seorang di antara mereka membawa baki terisi guci-guci kecil terbuat dari pada batu giok!

Mangkok-mangkok besar terisi masakan sayuran-sayuran yang beraneka warna memenuhi meja di hadapan mereka.

"Lihat, Locianpwe, semua masakan sayur-sayuran, daun-daunan, akar-akaran dan buahbuahan. Sedikitpun tidak ada barang berjiwa, tidak ada secuwilpun daging, tidak ada setetespun gajih. Semua bersih dan dimasak oleh ahli-ahli masak kami yang berpengalaman!"

Nyonya rumah itu dengan ramah sekali mempersilahkan dua orang tamunya makan,menemani mereka makan.

Agaknya ia sengaja meyakinkan hati dua orang tamunya bahwa masakan-masakan itu tidak mengandung barang berbahaya, karena semua masakan dicicipinya dengan sepasang sumpit gadingnya!

Siauw-bin-hud tertawa-tawa dan makan dengan lahapnya, sedikitpun tidak menaruh curiga.

Melihat ini, Ci Kong yang sudah lapar pula perutnya, juga makan dengan lahap.

Memang enak bukan main masakan-masakan itu, walaupun hanya dari barang-barang tak berjiwa.

Ci Kong tidak pantang barang berjiwa, tidak seperti Siauw-bin-hud, karena dia bukanlah seorang calon pendeta.

Akan tetapi belum pernah dia makan masakan selezat ini.

Ketua Ang-hong-pai membuka tutup guci yang terbuat dari batu giok itu.

"Dan ini bukan minum-minuman keras melainkan madu! Bukan madu lebah, melainkan madu bunga, sari bunga yang rasanya manis dan harum. Jangan khawatir, Locianpwe, saya tidak berani menghidangkan makanan atau minuman yang kotor terhadap seorang suci, seperti Locianpwe."

"Ha-ha-ha, kalau orang seperti pinceng ini kau namakan suci, aha, alangkah mudahnya menjadi orang suci,"

Kata Siauw-bin-hud sambil melihat wanita itu menuangkan madu yang berwarna kuning kemerahan ke dalam cawannya, cawan Ci Kong dan cawan wanita itu sendiri.

Semua terjadi dengan wajar, dan tidak ada yang mencurigakan.

"Nah, terimalah hormatku, Locianpwe, dan engkau juga, orang muda perkasa!"

Kata nyonya itu yang membawa cawan ke bibirnya.

Melihat Susiok-Couwnya juga siap minum madu itu, Ci Kong juga mengikutinya.

Madu itu memang madu manis dan harum, enak sekali.

Tiga kali nyonya itu mengisi cawan dan tiga kali ia mengajak tamu-tamunya minum, yang pertama sebagai penghormatan, yang ke dua sebagai permintaan maaf atas penyambutan tadi, dan ke tiga sebagai ucapan terima kasih atas kunjungan Siauw-bin-hud.

Ci Kong sudah banyak mendengar, baik dari Nam San Losu maupun para Hwesio lain penghuni kuil di puncak bukit mata air Si-kiang bahwa di dalam dunia kang-ouw terdapat banyak kau m sesat yang berwatak curang, tidak segan-segan mempergunakan siasat yang licik untuk menjatuhkan lawan.

Juga dia sudah mendengar banyak tentang penggunaan racun.

Dia sudah tahu bahwa saat itu dia berada di dalam sarang golongan hitam atau kau m sesat dan andaikata dia hanya sendirian saja di situ, tentu dia tidak akan berani menerima hidangan-hidangan dari seorang seperti ketua Ang-hong-pai.

Akan tetapi dia datang bersama Susiok-Couwnya dan tentu saja dia percaya penuh akan kesaktian Susiok-Couwnya itu, maka, melihat betapa Kakek itu menerima hidangan, baik masakan maupun minuman madu, diapun tidak ragu-ragu lagi untuk menerima hidangan madu sampai tiga cawan.

Setelah kedua orang tamunya minum cawan madu yang ke tiga, ketua Ang-hong-pai itu tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang mengejutkan hati Ci Kong.

Tiba-tiba ada rasa curiga yang amat besar menyelinap di dalam hati pemuda itu, dan dia hendak berdiri untuk memberi peringatan kepada Susiok-Couwnya, akan tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pening dan matanya menjadi gelap.

"Susiok-Couw... Celaka...!"

Keluhnya dan dia mencoba untuk menahan napas dan mengerahkan sinkangnya, akan tetapi ketika dia melihat dengan remang-remang betapa tubuh Kakek itupun menjadi lemas dan Kakek itu meletakkan kepala di atas meja, kekhawatiran membuat peningnya datang kembali dan diapun tidak mampu mempertahankan lagi.

Ci Kong seperti juga Siauw-bin-hud, telah pulas atau pingsan di atas kursinya, dengan kepala di atas meja!

"Hi-hi-hi-hik!

Orang-orang Siauw-lim-pai!

Kalian manusia-manusia sombong, sekarang baru tahu kelihaian Ang-hong-pai!"

Ia bangkit berdiri dan bertepuk tangan tiga kali. Dari segala penjuru berloncatan wanita-wanita berpakaian merah, dipimpin oleh Theng Ci, murid kepala yang tadi dikatakan sedang berlatih itu.

"Jebloskan mereka dalam tahanan, belenggu kaki tangan mereka dan masukkan dalam kamar tahanan yang paling kuat, dan di luar kamar perketat penjagaan, jangan biarkan mereka lolos. Hati-hati, mereka ini lihai sekali, terutama Kakek ini. Selama tiga jam mereka tidak akan siuman dan sebelum tiga jam, aku akan memberi mereka pembius lagi,"

Kata ketua itu dengan senyum mengejek memandang ke arah dua orang tamunya yang masih pulas di atas meja.

"Akan tetapi, subo. Apakah tidak sebaiknya kalau kita bunuh saja mereka sekarang? Mereka terlalu berbahaya kalau dibiarkan hidup!"

Kata Theng Ci dengan sinar mata kejam.

"Aih, betapa bodohnya engkau! Mereka ini, terutama Siauw-bin-hud, adalah tokoh penting Siauw-lim-pai dan kalau kita memberi kabar ke Siauw-lim-pai bahwa mereka berada di tangan kita minta tukar dengan Giok-liong-kiam, bukankah hal itu menguntungkan kita?"

"Akan tetapi, bagaimana kalau kelak mereka datang membuat perhitungan? Apakah subo merasa mampu menghadapi Siauw-lim-pai?"

"Anak bodoh kau ini,"

Kata si ketua sambil terkekeh. Karena Theng Ci itu muridnya, maka wanita ini terbiasa menyebutnya anak, padahal murid kepala itu usianya sudah empat puluh tahun lebih.

"Coba kau pertimbangkan baik-baik. Kalau kita membunuh mereka, apa untungnya bagi kita? Yang jelas saja, kerugian ada karena siapa tahu Siauw-lim-pai akhirnya akan tahu dan kalau mereka memusuhi kita, akan celakalah kita. Mereka begitu lihai dan mungkin saja mereka dapat mengetahuinya. Sekarang sebaliknya, kalau kita membiarkan mereka hidup dan minta tukar nyawa mereka dengan Giok-liong-kiam..."

"Akan tetapi Giok-liong-kiam tidak berada pada mereka...!"

"Karena itulah! Selain Siauw-lim-pai, siapa lagi yang akan mampu mencari dan mendapatkan pusaka itu? Dan dengan tertawannya Siauw-bin-hud, tentu mereka akan terpaksa pergi mencari pusaka itu sampai dapat."

"Akan tetapi bagaimana kalau kelak mereka membuat perhitungan dan merampas kembali pusaka?" (Lanjut ke

Jilid 08) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 08

"Heh-heh, Theng Ci, apakah engkau tidak tahu siapa Siauw-lim-pai? Sekali berjanji, orang-orang yang terikat oleh janji itu tidak akan mau mengganggu kita. Sudahlah, jebloskan mereka dalam tahanan!"

Para murid Ang-hong-pai itu mentaati perintah guru mereka dan tak lama kemudian, Siauw-bin-hud dan Ci Kong sudah berada di dalam sebuah kamar tahanan yang amat kuat, Sebuah kamar di bawah tanah yang dindingnya berlapis baja, pintunya juga dari baja kuat sekali, dengan hanya ada jeruji-jeruji besi.

Tangan kaki mereka terbelenggu rantai baja yang panjang, dan di luar pintu kamar tahanan itu, dua belas orang Cap-ji-kiam berjaga dengan ketat!

Akan tetapi, baru saja mereka meninggalkan kamar tahanan dan menutupkan pintunya, Kakek itu sudah bergerak dan membuka mata sambil tersenyum lebar.

Bagaikan tukang sulap saja, Kakek itu dengan mudah menarik dan meloloskan kedua tangan kakinya dari belenggu.

Kaki tangan itu seperti berobah menjadi belut yang amat licin dan tak mungkin dapat ditahan dengan belenggu-belenggu itu.

Kemudian, setelah melihat bahwa tidak ada orang melihatnya, dia menghampiri Ci Kong yang menggeletak terlentang di atas lantai.

Dia menempelkan telapak tangannya di kepala dan dada pemuda itu dan tak lama kemudian pemuda itupun membuka mata dan menggerakkan bibirnya.

Siauw-bin-hud cepat menutup mulut pemuda itu dengan telapak tangannya dan memberi isyarat dengan kedipan mata agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara.

Ci Kong segera teringat akan peristiwa tadi dan dia mengangguk, tanda bahwa dia sudah mengerti.

Dengan isyarat, Kakek itu minta kepada Ci Kong agar membebaskan diri dengan ilmu Sia-kut-hoat seperti yang pernah dipelajarinya.

Ci Kong segera mengumpulkan hawa murni, mengerahkan singkangnya dan dengan perlahan dia menarik lengan tangannya lolos dari belenggu, seperti yang dilakukan Kakek tadi.

Ilmu Sia-kut-hoat adalah ilmu melepaskan tulang melemaskan diri.

Dengan ilmu ini tubuh dapat ditekuk-tekuk dan kaki lengan bisa lemas seperti belut.

"Mari kita duduk bersandar dan biarkan belenggu-belenggu itu menempel di kaki tangan seolah-olah kita masih terbelenggu. Nanti kalau pintu dibuka, kita bergerak dan keluar,"

Kakek itu berbisik dengan suara mengandung khikang sehingga yang terdengar suaranya hanyalah pemuda itu saja, seolah-olah dia berbisik di dekat telinga Ci Kong.

Ci Kong mengangguk dan keduanya lalu duduk bersandar dinding, dengan rantai belenggu masih menempel di kaki tangan mereka.

Ci Kong melirik ke arah susiok-couwnya dan melihat Kakek itu tersenyum-senyum, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu, dia mengerutkan alisnya dan tidak dapat menahan hatinya lagi untuk tidak bertanya.

Diapun mengerahkan khikang sehingga suaranya hanya terdengar sebagai bisikan di dekat telinga Kakek itu.

"Susiok-couw tadi tidak terpengaruh oleh madu itu?"

Kakek itu tersenyum lebar tanpa suara, lalu menggeleng kepala.

"Pinceng tidak minum madu, bagaimana bisa terpengaruh? Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tidak pernah makan daging, sekali cium saja pinceng tahu bahwa madu itu bukanlah madu kembang yang murni, melainkan ada bau amis yang menunjukkan bahwa ada sesuatu pada madu itu. Maka, pinceng hanya pura-pura minum, akan tetapi membuang madu itu."

"Akan tetapi mengapa susiok-couw membiarkan teecu meminumnya dan bahkan pura-pura pingsan?"

"Pinceng ingin melihat apa maksud mereka membius kita. Bukankah kita sedang melakukan penyelidikan? Dalam keadaan pingsan tentu mereka akan bicara dengan leluasa."

Diam-diam Ci Kong merasa kagum. Kakek ini cerdik dan juga amat tabah, berani mengambil resiko terjatuh ke tangan iblis-iblis itu.

"Dan bagaimana hasilnya, susiok-couw?"

Kakek itu menggeleng kepala.

"Mereka agaknya tidak tahu di mana adanya pusaka itu, malah menawan kita untuk memaksa Siauw-lim-pai mencari pusaka itu dan ditukar dengan nyawa kita."

Mereka menghentikan percakapan bisik-bisik yang hanya dapat mereka dengar sendiri itu ketika terdengar suara orang di luar kamar tahanan mereka.

Suara ketua Ang-hong-pai dan Theng Ci!

"Untuk apa racun itu, subo?"

Terdengar suara Theng Ci. Jawaban ketua Ang-hong-pai didahului dengan suara ketawanya yang halus akan tetapi mengandung kekejaman.

"Hi-hik, pembius di dalam madu itu mana kuat mempengaruhi Siauw-bin-hud untuk waktu lama? Orang biasa akan terbius selama tiga jam, akan tetapi aku khawatir Kakek gendut itu akan cepat sadar. Maka, aku akan memaksakan racun ini agar mereka lumpuh selama tiga hari tiga malam. Dengan demikian, selain lebih aman, kalian tidak akan diperlukan menjaga terlampau ketat. Buka pintunya."

Nampak kepala dua orang wanita itu di luar jeruji pintu.

Mereka menjenguk ke dalam dan melihat betapa dua orang tawanannya masih pulas atau pingsan.

Kakek itu bersandar dinding seperti tadi dan Ci Kong menggeletak terlentang Pemuda yang cerdik ini cepat sudah merobah kedudukannya.

Dia teringat bahwa ketika pertama kali sadar, dia berada dalam keadaan rebah terlentang, maka kalau kini dia duduk seperti susiok couwnya, tentu akan menimbulkan kecurigaan.

Hal yang kecil tapi penting ini agaknya tidak teringat oleh susiok-couwnya tadi!

Daun pintu terbuka dan masuklah ketua Ang-hong-pai yang membawa sebuah guci kecil, sedangkan Theng Ci mengawal di belakang gurunya sambil memegang sebatang pedang, agaknya kesaktian Kakek itu membuat orang-orang Ang-hong-pai ini berhati-hati sekali.

Begitu ketua Ang-hong-pai itu menghampiri Kakek Siauw-bin-hud, tiba-tiba saja Kakek itu membuka matanya dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Wajah ketua Ang-hong-pai seketika menjadi pucat sekali.

Baru pertama kali itulah iblis betina ini mengalami guncangan batin yang hebat, bukan hanya karena peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangkanya, seperti melihat orang mati hidup kembali secara mendadak, akan tetapi juga suara ketawa Kakek itu membuat tubuhnya menggigil dan guci itupun terlepas dari tangannya.

"Prakkk...!"

Guci itu pecah dan tercium bau yang harum-harum amis memuakkan.

Selagi guru dan murid ini terbelalak dengan muka pucat, tiba-tiba tubuh Ci Kong melesat ke daun pintu dan diapun sudah menutupkan daun pintu itu dan menguncinya dari dalam!

Setelah itu, dia berdiri dengan keadaan siap siaga, menanti tindakan susiok-couwnya.

Tanpa perintah Kakek itu, dia tentu saja tidak berani sembarangan bergerak.

Sementara itu, Kakek Siauw-bin-hud sudah bangkit berdiri dan wajahnya tetap cerah dan ramah penuh senyum lebar.

"Pang-cu, engkau sungguh sungkan sekali. Sudah menjamu kami sampai kekenyangan dan tertidur, kini masih hendak kau tambah lagi? Apakah itu? Madu pelumpuh badan?"

"Siauw-bin-hud...!"

Kini ketua Ang-hong-pai itu nampak bulunya yang aseli dan sikapnya tidak manis dan menghormat lagi seperti tadi.

"Bagaimana... bagaimana kalian..."

Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking herannya melihat ada orang mampu sadar dari pengaruh obat biusnya sedemikian cepatnya.

"Iktikad baik, pai-cu, iktikad baik, batin bersih dan hidup bersih. Pinceng datang dengan maksud baik, hanya ingin menanyakan sesuatu kepada muridmu Theng Ci, setelah itu kami akan pergi dengan aman..."

Tiba-tiba ketua Ang-hong-pai itu tersenyum.

"Aih, kalau begitu aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw-bin-hud, harap suka memaafkan aku..."

Berkata demikian, wanita ini menjura dengan hormat, akan tetapi tiba-tiba saja dari kedua tangannya yang memberi hormat itu menyambar sinar-sinar merah ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian depan tubuh Siauw-bin-hud!

Penyerangan itu dilakukan dalam jarak yang amat dekat, hanya dua meter jaraknya, begitu tiba-tiba dan tidak terduga-duga, apa lagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan kilat.

Agaknya Kakek gendut itu sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak atau menangkis, maka tujuh batang jarum merah beracun itu tahu-tahu sudah menancap, dua di pundak kanan kiri, satu di tenggorokan, satu di ulu hati, satu di pusar, dan dua lagi di kedua selangkangan!

Karena tertutup pakaian, maka di bagian lain jarum-jarum itu tidak nampak, hanya yang amat jelas sebatang jarum yang menancap di tenggorokan itu, telah menancap sampai tinggal seperempatnya saja!

Tentu saja ketua Ang-hong-pai menjadi girang bukan main, kegirangan yang dinyatakan dengan senyum lebar.

Akan tetapi, senyum itu segera berobah menjadi melongo dan terbelalak, perasaan girang itu berobah menjadi kekagetan yang membuat wajahnya kembali menjadi pucat sekali.

Kakek yang sudah tertusuk tujuh jarum merah beracun yang amat berbahaya itu, masih berdiri biasa saja sambil terkekeh gembira, seolah-olah tujuh jarum itu tidak pernah menyentuhnya!

Kemudian dia menarik napas panjang.

"Aihhh, jarum-jarum bernasib malang. Engkau tidak dipergunakan untuk menjahit sehingga berjasa, sebaliknya malah dipergunakan untuk membunuh orang. Sialan! Pai-cu, kukembalikan jarum-jarummu. Terimalah!"

Dan tiba-tiba saja jarum-jarum yang tadinya menancap di tujuh tempat bagian tubuh depan Siauw-bin-hud, meluncur dengan cepat sekali ke depan.

Ketua Ang-hong-pai itu bukan seorang lemah, akan tetapi karena ia masih dalam keadaan terpesona dan terkejut, apa lagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan dua kali lipat dari pada kecepatan serangannya tadi, tahu-tahu tujuh batang jarum itu telah menusuk gelung rambut di atas kepalanya!

Ia merasa betapa gelung rambut kepalanya tergetar dan ketika ia meraba, matanya terbelalak mendapat kenyataan bahwa tujuh batang jarumnya telah menghias sanggul rambutnya dengan rapi!

Pada saat itu, Theng Ci yang melihat subonya tidak berhasil, menggunakan pedangnya menyerang Ci Kong.

Tusukannya cepat dan kuat sekali ketika dari samping ia menusuk ke arah lambung pemuda yang sedang nonton gurunya menghadapi ketua Ang-hong-pai.

Akan tetapi, pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Dia dapat mendengar suara angin serangan, juga matanya yang amat tajam dapat menangkap berkelebatnya pedang.

Dengan tenang sekali dia memutar tubuh sehingga pedang itu meluncur lewat dekat pinggangnya, hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.

Dan sebelum Theng Ci sempat menarik kembali pedangnya, tiba-tiba saja jari tangan Ci Kong melayang dan tubuh wanita baju merah itupun terguling dalam keadaan lumpuh tertotok!

Totokan yang amat hebat dari Ci Kong itu adalah totokan yang diberi nama It-ci-san, totokan sebuah jari telunjuk yang amat cepat dan tepat.

Ketua Ang-hong-pai yang sedang meraba sanggulnya, menoleh ketika mendengar suara gedebrukan.

Ketika ia melihat bahwa murid kepala itu roboh dan tak dapat berkutik, ia cemberut.

"Bocah tolol, kau mencari penyakit!"

Ia memaki jengkel dan dengan ujung sepatunya ketua Ang-hong-pai ini menendang ke arah tengkuk muridnya dan Theng Ci mengeluh lalu dapat bangun kembali, memungut pedangnya dan mundur, berdiri mepet dinding dengan muka merah, kadang-kadang melirik ke arah Ci Kong yang masih berdiri tenang saja.

Ketua Ang-hong-pai menghela napas dan nampak uring-uringan, lalu memandang kepada Siauw-bin-hud.

Suaranya tidak lagi manis, bahkan ketus dan kasar.

"Siauw-bin-hud, engkau adalah seorang pendeta yang katanya suci, mengapa engkau dan cucu muridmu ini datang ke sini untuk menghina orang? Patutkah perbuatanmu ini?"

"Omitohud...!"

Siauw-bin-hud mengeluh dengan muka masih tertawa cerah.

"Maafkanlah pinceng, seribu kali maaf, pai-cu, kalau engkau merasa terhina. Akan tetapi sesungguhnya kami datang bukan untuk mengganggu atau menghina orang, melainkan untuk bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci dan untuk menanyakan sesuatu. Hanya itulah, sayang bahwa kalian membesar-besarkan urusan sehingga berlarut-larut."

Karena terdesak dan merasa tidak akan mampu menandingi Kakek ini dan cucu muridnya yang lihai, ketua itu akhirnya mengalah.

Ia sendiri bersama murid kepala Ang-hong-pai telah terjebak ke dalam ruangan itu sehingga mengerahkan anak buahnyapun sia-sia belaka, bahkan ia tentu akan menderita lebih banyak malu lagi.

"Ia ini muridku yang bernama Theng Ci!"

Katanya ketus. Mendengar ucapan subonya, Theng Ci melangkah maju menghadapi Kakek gendut itu.

"Aku yang bernama Theng Ci , ada keperluan apakah Locianpwe dengan aku?"

Siauw-bin-hud dan Ci Kong memandang tajam ke arah wanita yang mengaku bernama Theng Ci itu.

Seorang wanita yang usianya empat puluhan tahun, masih nampak cantik akan tetapi matanya membayangkan kekerasan, pakaiannya ringkas serba merah dan biarpun mukanya terawat baik-baik, garis-garis duka nampak di ujung mulut dan mata.

Seorang wanita yang banyak menderita dan keras hati.

"Omitohud, kiranya engkau yang bernama Theng Ci? Apakah engkau yang hadir sebagai wakil Ang-hong-pai ketika terjadi perebutan Giok-liong-kiam di luar kota Kanton, dan engkau menjadi saksi pula ketika pusaka itu dirampas oleh orang yang mengaku bernama Siauwbin-hud dari Siauw-lim-pai?"

Theng Ci mengerutkan alisnya dan membuang mukanya yang menjadi merah sekali.

"Semua orang sudah tahu, kenapa Locianpwe bertanya kepadaku?"

"Begini, nona. Yang ingin pinceng tanyakan, apakah engkau yakin benar bahwa orang itu adalah pinceng sendiri! Ataukah orang lain yang menyamar sebagai pinceng?"

Wanita itu meragu.

"Aku... Aku tidak tahu!"

"Nona, sebenarnya pinceng sudah memperoleh banyak keterangan akan tetapi pinceng masih belum yakin benar. Oleh karena itu pinceng sengaja mencarimu untuk minta bantuanmu. Engkau seorang wanita, tentu lebih mudah mengingat keadaan seseorang. Apakah ada sesuatu pada diri orang itu yang merupakan ciri khasnya?"

Tiba-tiba Theng Ci mengangkat muka memandang wajah Siauw-bin-hud itu dan sinar kebencian memenuhi matanya.

"Tua bangka tak tahu malu! Masikah engkau berpura-pura lagi seperti tidak mengenal aku? Sungguh biadab!"

Ci Kong terkejut bukan main dan marah.

Susiok-couwnya adalah seorang alim, juga seorang terhormat, kini dimaki dengan kata-kata kotor oleh perempuan ini.

Akan tetapi, Kakek itu hanya tersenyum lebar seolah-olah makian itu hanya lewat saja tanpa meninggalkan bekas kepadanya, lahir maupun batin.

"Aha, sikapmu ini menarik sekali, nona. Tentu ada terjadi sesuatu antara engkau dan aku, maksudku, orang yang merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam itu sehingga engkau kini bersikap begini marah dan penuh kebencian. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat kembali peristiwa lama. Karena itu, nona, maukah engkau menceritakan mengapa engkau begini membenci pinceng? Apakah yang telah terjadi antara kita enam tahun yang lalu itu?"

Dengan muka sebentar pucat sebentar merah, wanita itu melotot ketika memandang kepada Siauw-bin-hud dan suaranya tegas dan nyaring.

"Masih berpura-pura lagi! Engkau... Tua bangka binatang jahat, engkau telah memperkosaku!"

Jawaban ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah Ci Kong berobah merah sekali.

Gilakah wanita ini?

Dan dia memandang kepada wajah susiok-couwnya dan wajah Kakek itu hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak kelihatan kaget walaupun sebenarnya berita inipun tidak kalah hebatnya bagi Kakek itu sendiri.

"Ha-ha-ha, alangkah aneh dan lucunya. Pinceng selama dua puluh tahun tidak pernah meninggalkan ruangan bertapa di Siauw-lim-si dan tahu-tahu kini muncul tuduhan-tuduhan aneh, bukan hanya merampas Giok-liong-kiam, akan tetapi juga memperkosa wanita. Hemm, nona Theng Ci, menurut penuturan mereka yang ikut memperebutkan pusaka itu, setelah pusaka dirampas orang yang seperti pinceng, mereka semua, termasuk engkau menuduh bahwa pinceng... eh, orang itu, melakukan perkosaan?"

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 7

Baca Juga: Petualang Asmara 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert