Eps 1 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.
Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 01.
"Teng-ko, sejak tadi engkau menghisap madat sampai rumah ini baunya seperti kebakaran. Darimana engkau memperoleh uang untuk membeli madat begitu banyak? Kemarinpun engkau sudah menghisap madat seharian, dan sekarang lagi. Dan aku melihat bungkusan berisi madat. Suamiku, bagaimana engkau bisa mendapatkan madat begitu banyak sedangkan barang-barang kita sudah habis kau jual?"
Wanita itu masih muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya.
Biarpun pakaiannya bersahaja, wajahnya membayangkan kemiskinan, rambutnya kusut dan tubuhnya agak kurus, namun ia termasuk wanita yang cantik manis raut wajahnya, dan tubuhnya yang agak kurus itu padat semampai.
Seorang wanita dengan daya tarik yang masih kuat.
Akan tetapi kini wajahnya muram dan sinar matanya heran dan marah ketika ia menegur suaminya yang enak-enak duduk bersila sambil menghisap madat dari cangklong bambu yang besar itu.
Disulutnya tembakau campur madat yang diselipkan di tempat tembakau yang nampaknya seperti cabang yang menonjol keluar di tengah pipa bambu, lalu disedotnya.
Terdengar suara menderodot disertai suara gluk-gluk.
Asap tembakau madat itu melalui air, terus masuk ke mulut, langsung menembus tenggorokan memenuhi paru-paru, dihisap oleh darah di tubuh yang tak berbaju itu.
Matanya terpejam dan dia seolah-olah tidak mendengar teguran istrinya, bahkan agaknya dia sudah lupa sama sekali akan dunia di sekitarnya, terbuai oleh pandangan khayal indah yang muncul karena pikiran dan syarafnya sudah dikuasai oleh racun madat.
Pria itu bertubuh kurus, akan tetapi masih nampak bekasnya bahwa dahulunya dia tentu bertubuh tegap.
masi nampak otot menonjol di balik kulit yang hampir tak berdaging lagi itu, dadanya bidang akan tetapi kini kedua pundaknya menurun.
Wajahnya juga tidak boleh disebut buruk.
Tidak, pria ini tadinya tentu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan gagah.
Bahkan melihat keadaan buku-buku jarinya, pergelangan tangannya, nampak tulang-tulang menonjol dan kulit yang menebal, tanda bahwa dia banyak melakukan latihan ilmu silat yang mengandalkan tenaga gwa-kang (tenaga luar).
Memang demikianlah.
Siauw Teng, nama pria itu, adalah seorang ahli silat yang tangguh, memahami ilmu silat Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, bahkan pernah menjadi guru silat di kampungnya.
Usianya juga baru tiga puluh lima tahun.
Akan tetapi semenjak dia menghisap madat, lima tahun yang lalu, dia menjadi pemadat yang sudah tidak ketulungan lagi.
Dia malas bekerja dan kebutuhannya akan madat makin hari makin banyak sehingga barang-barangnya habis dijualnya hanya untuk membeli madat yang amat mahal harganya itu.
Dia seolah-olah sudah lupa akan anak istrinya, tidak perduli akan keadaan sekitarnya dan dia hanya membiarkan dirinya terbuai di alam khayal yang timbul oleh asap madat.
"Teng-ko, jawablah aku!"
Chin Hwa, istrinya, berteriak dengan hati kesal dan iapun memegang pundak suaminya yang telanjang itu dan mengguncangnya beberapa kali.
Tubuh yang sedang dibuai asap madat itu terguncang dan kedua matanya dibuka perlahan, seperti mata orang yang hampir tidak kuat menahan kantuk.
Hanya sedetik saja dia membuka mata memandang kepada istrinya dengan sinar mata tidak mengenal, lalu dipejamkannya lagi matanya.
Akan tetapi kedua tangannya dengan cekatan dan otomatis sudah memilin-milin tembakau campur madat lagi untuk dipasang di tempat tembakau.
"Teng-ko! Dengarkan aku dan jawablah atau... akan kubuang pipamu ini!"
Chin Hwa berteriak dan mengguncang pundak suaminya semakin kuat. Sekali ini Siauw Teng membuka matanya, dilebarkan seperti orang tidur yang terganggu dan terkejut.
"Aih, engkau? Ada apakah? Mengapa kau ganggu aku yang sedang menikmati madat?"
"Suamiku,"
Cin Hwa menahan kesabarannya.
"Kenapa engkau sekarang menjadi begini? Aku bertanya kepadamu, dari mana engkau memperoleh uang, kenapa tidak engkau beli lagi perabot-perabot rumah kita yang sudah kau habiskan? Kenapa tidak kau beli pakaian untuk kita, untuk anak kita? Dan beras?"
Laki-laki itu dengan muka penuh kesabaran tersenyum, akan tetapi kedua tangannya kini sibuk mengisi lagi pipanya dengan tembakau madat.
"Aku mendapatkan madat ini dari sahabat baikku, Ciu Wan-gwe... heh-heh-heh, dia memberiku cukup banyak, cukup untuk persediaan satu bulan. Ha-ha-ha, aku beruntung sekali mempunyai sahabat seperti Ciu Wan-gwe..."
Sepasang mata wanita itu terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat, matanya memandang wajah suaminya penuh selidik.
"Ciu... Ciu Lok Tai, pedagang madat itu? Mengapa dia memberi madat kepadamu... hayo ceritakan, apa maunya...!"
Wanita itu teringat betapa hartawan itu pernah datang ke rumah mereka, bercakap-cakap dengan suaminya, akan tetapi matanya yang berminyak itu selalu ditujukan kepadanya secara kurang ajar sekali.
Dan kini hartawan itu, yang ia dengar dari para tetangga nya merupakan seorang laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu anak istri orang dengan mempergunakan hartanya, telah memberi madat demikian banyaknya kepada suaminya.
"Heh-heh, dia seorang sahabat baik. Dia hanya minta agar engkau suka membantu membereskan rumahnya selama satu minggu..."
"Gila...!"
Cin Hwa menjerit.
"Dan kau ... kau setuju?"
Suami itu memandang dengan sikap heran "Mengapa tidak?
Engkau akan berada di rumah gedung mewah itu selama satu minggu, membantu istrinya membereskan rumah karena katanya dia mantu.
Karena engkau pandai menjahit, maka engkau dimintai bantuan, dan aku setuju.
Siapa tidak akan membantu seorang sahabat baik seperti dia?"
"Tapi aku tidak sudi! Aku tidak mau!"
Tiba-tiba saja pria yang tadinya seperti lesu dan lemah itu membuka matanya dan sepasang mata itu memandang marah.
Seketika lenyaplah kantuknya dan di dalam sinar mata itu terkandung ketajaman dan wibawa yang membuat Cin Hwa menunduk.
Kini ia merasa seperti berhadapan dengan suaminya yang dulu sebelum menjadi hamba madat dan memang suaminya ini selalu dapat menguasainya dengan sikapnya yang tegas.
"Engkau istriku, bukan? Dan engkau hendak menjerumuskan aku sebagai seorang laki-laki yang menjilat ludah sendiri, yang melanggar janji sendiri? Lihat, madat itu sudah kuhisap selama dua hari. Tak mungkin kukembalikan dalam jumlah yang sama, dan aku sudah berjanji. Pula, apa salahnya membantu keluarga Ciu yang mempunyai kerja itu? Apa salahnya?"
"Akan tetapi... akan tetapi... Pandang matanya kurang ajar...?"
"Ha-ha, dia tidak akan berani berbuat kurang ajar kepadamu. Dia tahu siapa aku dan aku percaya kepadamu, istriku. Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku. Pula, siapa yang dikhawatirkan? Engkau di sana akan membantu istrinya. Tentang pandang mata, heh-heh, mata pria mana yang tidak akan berminyak memandang engkau yang cantik manis?"
Laki-laki itu tertawa bergelak dan melanjutkan pekerjaannya mengisap madat. Cin Hwa tidak membantah lagi, akan tetapi ia masih mencoba.
"Suamiku, ingatlah, bagaimana aku dapat meninggalkan anak kita, Lian Hong, yang baru berusia lima tahun itu? Siapa akan merawatnya?"
"Ha-ha, istriku, apakah engkau sudah lupa lagi. Setiap kali engkau mencari penghasilan dengan membantu tukang cuci sehingga engkau seharian tidak pulang, siapakah yang merawat anak kita? Apa engkau tidak percaya lagi kepadaku?"
Cin Hwa tidak dapat membantah lagi, ingin dengan hatinya yang panas dan gelisah ia meneriakkan ketidakpercayaannya.
Akan tetapi suaminya adalah seorang suami yang selama ini amat baik, amat mencintanya dan selama se puluh tahun ini ia tidak dapat mencela suaminya.
Akan tetapi, semenjak suaminya menghisap madat, lima tahun yang lalu terjadilah perobahan perlahan-lahan.
Memang mula-mula suaminya masih bekerja dan masih memperhatikannya.
Akan tetapi, makin lama suaminya semakin tidak menaruh perhatian kepadanya.
Dan hal itu terjadi semenjak anak satu-satunya mereka, Siauw Lian Hong, lahir.
Kadang-kadang ia malah berpikir bahwa anaknya itulah yang mendatangkan kesialan, akan tetapi dengan ngeri ia cepat mengusir pikiran itu.
"Dan Ciu Wan-gwe akan datang, atau suruhan orang-orangnya, datang menjemputmu hari ini. Aku sudah janjikan hal itu, dua hari yang lalu."
Chin Hwa semakin terkejut, akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, terdengar suara orang di luar rumah.
Daun pintu terketuk dan masuklah dua orang sambil tersenyum menyeringai.
Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluhan, yang seorang gendut dan seorang lagi tinggi tegap.
Si tinggi tegap ini membawa sebuah bungkusan besar yang diletakkannya di atas meja.
"Selamat siang, Siauw kau w-su! Aha, kulihat engkau sedang menikmati madat. Hemmm, alangkah sedap baunya!"
Si gendut berkata sambil menyedot-nyedot hawa yang pengap dalam ruangan itu, dan matanya yang sipit melirik ke arah nyonya rumah yang memandang dengan muka pucat.
Siau Teng sudah biasa disebut Siauw kau w-su (Guru Silat Siauw) dan mendengar ucapan itu, tampa menghentikan sedotannya, dia membuka mata memandang.
Setelah dia menyedot habis semua asap dari pipa, kedua matanya dipejamkan dan dia menahan napas sekuatnya, untuk menahan asap itu selama mungkin di dalam dadanya.
Baru setelah dia tidak kuat bertahan lagi, dia menghembuskan napas perlahan-lahan dan hanya sedikit sisa asap yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Sebagian besar sudah menempel pada dinding-dinding paru-parunya.
"Eehhhhh...!"
Keluhnya penuh nikmat dan diapun membuka matanya lagi dan tersenyum kepada dua orang itu.
"Apakah kalian diutus oleh Ciu Wan-gwe?"
Tanyanya Si gendut itu mengangguk-angguk dan mengangkat kedua tangan di depan dada. Mulutnya menyeringai dan matanya menjadi semakin sipit, mukanya mirip seekor babi.
"Benar..., eh, betul, Siauw kau -su, kami diutus Ciu Wan-gwe untuk... eh, menjemput toanio"
Eh, membantu nyonya besar kami."
Siauw Teng menoleh kepada istrinya yang memandang kepadanya penuh kegelisahan dan keraguan.
"Istriku, berangkatlah engkau bersama mereka ke rumah Ciu Wan-gwe dan lakukanlah pekerjaanmu sebaik mungkin."
"Tapi... tapi, Teng-ko...!"
Istrinya membantah. Siauw Teng mengerutkan alisnya.
"Berangkatlah! bentaknya, lalu kepada dua orang itu dia berkata.
"Silahkan, bawa dan antar istriku kepada keluarga Ciu."
Dan diapun sudah mulai menghisap madat lagi.
"Teng-ko... aku tidak bisa meninggalkan anak kita Lian Hong...!"
Cin Hwa mencoba untuk membantah.
"Aihh, toa-nio, kenapa membantah perintah suamimu yang sudah berhutang budi kepada Ciu Wan-gwe. Jangan khawatir, keluarga Ciu akan mengatur semuanya, engkau tidak perlu membawa pakaian, di sana sudah tersedia pakaian untukmu, toa-nio..."
Si gendut membujuk dengan sikap halus.
"Tidak, aku tidak mau!"
Cin Hwa berseru.
"Toa-nio, tidak baik bersikap begitu."
Kini si tinggi besar melangkah maju dengan sikap mengancam.
"Tidak..., bagaimana nanti anakku? Kami tidak mempunyai beras, aku harus mencarikan dulu untuk ditinggalkan, untuk makanan anakku..."
"Ha-ha-ha!"
Si tinggi besar tertawa dan membuka buntalan yang dibawanya.
"lihat, semua telah tersedia!"
Dan benar saja, buntalan itu berisi bahan makanan, lebih dari cukup untuk dimakan suami istri dan anaknya selama satu minggu. Kiranya mereka ini sudah mempersiapkan segalanya.
"Tapi... anakku... Lian Hong...!"
Chin Hua masih berteriak.
"Suamiku, benarkah engkau begini tega"?"
Ia hendak lari menghampiri suaminya, akan tetapi lengan kanannya ditangkap oleh si laki-laki tinggi besar dan nyonya itu terkejut.
Jari-jari tangan si tinggi besar itu mencengkeram kuat sekali sehingga ia meringis kesakitan dan tidak mampu meronta lagi.
"Ibu... ibu...!"tiba-tiba dari dalam muncul seorang anak perempuan berusia lima tahun. Anak itu terbelalak heran dan takut melihat kegaduhan itu, apa lagi melihat ibunya demikian pucat mukanya dan nampak bingung.
"Ibu, ada apakah dan... siapakah kedua paman ini?"
Anak itu adalah Siauw Lian Hong, anak tunggal keluarga itu.
"Lian Hong... mintalah kepada Ayahmu agar aku tidak perlu ikut kedua orang paman ini..."
"Ibu... ada apakah...?"
"Hemm, anak baik, jangan ikut-ikut, nanti Ayahmu marah kepadamu."
Si tinggi besar berkata. Suaranya halus, akan tetapi kedua matanya yang besar melotot, membuat anak itu terkejut dan mundur ketakutan, lalu ia lari menghampiri Ayahnya.
"Ayah..., Ayah..., ibuku itu..."
Anak itu mengguncang-guncang lutut kiri Ayahnya.
Akan tetapi Siauw Teng tidak memperdulikan anaknya, atau mungkin juga tidak mendengarnya, masih enak-enakan membiarkan dirinya melayang-layang bersama asap madat.
Sementara itu, dua orang utusan Ciu Wan-gwe sudah tidak sabar lagi.
Si tinggi besar memegang lengan nyonya itu dan menariknya, sedangkan si gendut sambil senyum-senyum mendorong kedua pundaknya dari belakang.
Nyonya itu menoleh kea rah suaminya dengan air mata berlinang, mengepal kedua tangannya.
"Teng-ko...! Engkau suami pengecut, Ayah yang berhati kejam! Laki-laki tak bertanggung jawab!"
Ia sendiri merasa heran mendengar suaranya yang mencaci maki suaminya.
Selama menjadi istri Siauw Teng, baru sekarang ia berani memaki karena hatinya diliputi kegelisahan dan kemarahan.
Akan tetapi dua orang utusan itu sudah menariknya keluar dari rumah.
Si kecil menjadi bingung dan ketakutan melihat ibunya diseret dua orang itu.
"Ayah...! Ayaaah...!"
Ia merengek.
"Diam kau ! Duduk!"
Tiba-tiba Siauw Teng membentak tampa membuka matanya dan anak itu terkejut, lalu terduduk di atas lantai, mengangkat muka memandang kepada Ayahnya dengan mata terbelalak berlinang air mata.
Tidak lama kemudian Siauw Teng berhenti menghisap madat.
Ketika dia membuka mata dan melihat putrinya yang kecil masih duduk diatas lantai mengangkat muka, memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang dibuka lebar-lebar tampa berkedip, dia terkejut dan baru teringat betapa tadi dia membentak putrinya dan anak itu masih duduk sampai saat itu.
Diapun cepat turun dari atas balai-balai dan merasa menyesal atas sikapnya terhadap putrinya tadi.
Hatinya gembira sekali rasanya, hal yang selalu dirasakannya setelah dia menghisap madat sepuasnya.
Pikiran menjadi tenang dan ringan, tubuh rasanya seperti melayang di udara, segala sesuatu yang dilihatnya nampak indah, cerah berseri-seri, dan telinganya juga mendengar bunyibunyi yang menjadi merdu dan indah.
Dunia di sekelilingnya nampak indah bukan main setelah badannya puas menerima racun madat.
Tidak ada sedikitpun keresahan mengganggu pikirannya yang menjadi kosong dan bebas!
Diangkatnya tubuh anaknya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya yang menyangga di bawah ketiak anak itu.
"Ha-ha-ha, Lian Hong, engkau menangis? Ihh, kenapa anakku begini cengeng? Hapus air matamu dan senyumlah. Tidak ada apa-apa yang patut ditangisi di dunia ini, anakku!"
Dan diapun menurunkan tubuh anaknya, diciumnya pipi anak itu dan dihapusnya air matanya yang tadi berlinang dan kini jatuh menjadi dua butir mutiara diatas kedua pipinya.
Pandang mata gelisah dan duka seketika lenyap dari mata anak itu yang merangkul leher Ayahnya.
"Ayah, ibu tadi dibawa ke mana?"
Siauw Teng membawa anaknya duduk di atas balai-balai, tersenyum membelai rambut anaknya yang dibagi menjadi dua sanggul kecil di kanan kiri kepalanya.
"Lian Hong, jangan khawatir. Ibumu hanya pergi bekerja membantu kesibukan keluarga Ciu yang akan menikahkan putrinya. Akan ada pesta besar di sana dan nanti kita datang ke pesta itu. Wah, ramai sekali, selain makanan yang enak-enak juga kita akan menonton pertunjukan tari-tarian."
"Aku ikut, Ayah!"
Anak itu menjadi gembira kini, tidak khawatir lagi setelah melihat Ayahnya bersikap biasa.
Hatinya muak dan tidak suka mencium bau merangsang dan aneh dari tubuh dan mulut Ayahnya, bau madat, akan tetapi ia tidak berani menegur karena anak ini sudah cukup tahu bahwa kesukaan Ayahnya adalah menghisap madat, kesukaan yang seringkali ia lihat menjadi sebab pertengkaran antara Ayah dan ibunya.
"Tentu saja engkau ikut! Aku, ibumu dan engkau. Kita akan mengenakan pakaian-pakaian baru dan..."
"Mana pakaian barunya, Ayah?"
Anaknya memotong. Siauw Teng teringat, lalu merangkul anaknya sambil tertawa.
"Jangan khawatir, Ciu Wan-gwe yang baik hati akan memberi kepada kita."
Diapun mencium lagi putrinya dan sekali ini Lian Hong tidak dapat menahan rasa tidak sukanya akan bau madat itu.
"Ayah menghisap madat lagi,"
Pancingnya.
"Heh-heh, benar, dan Ayah gembira sekali."
"Bunya tidak enak!"
Ayahnya tertawa.
"Tentu saja tidak enak bagimu yang biasa, akan tetapi enak sekali bagiku. Soalnya hanya kebiasaan, nak, kebiasaan..."
"Biarkan aku mencobanya, Ayah, mencoba menghisap madat."
Anak ini tahu benar bahwa ia dilarang keras meniru Ayahnya, baik oleh Ayahnya maupun oleh ibunya. Kini ia sengaja memancing untuk menyatakan rasa tidak sukanya melihat Ayahnya menghisap madat.
"Kau? Ah, tidak boleh! Sama sekali tidak boleh, Lian Hong. Memegangpun tidak boleh, apa lagi menghisap!"
Siauw Teng berkata keras.
"Akan tetapi mengapa Ayah boleh dan aku tidak?"
Anak itu mendesak dengan suara mengandung penuh teguran dan penasaran.
Tampa disadarinya, Siauw Teng merasa betapa perasaan hatinya tertusuk.
Dia bukan seorang bodoh.
Dan dia dahulu terkenal sebagai seorang gagah yang selalu menentang kejahatan dan ketidakadilan.
Kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan putrinya yang baru berusia lima tahun, tiba-tiba saja ia melihat betapa pada hakekatnya dia tahu akan berbahaya dan buruknya menghisap madat sehingga walaupun dia sendiri menikmatinya dan ketagihan, namun dengan amat keras dia melarang anaknya menyentuh madat!
"Ayah sudah tua dan engkau masih kanak-kanak.
Anak kecil tentu saja tidak boleh menghisap madat."
Dia menjawab juga.
"Tapi ibu, kenapa ia tidak menghisap madat?"
"Ibumu? Ah, ia tidak suka."
"Kalau aku sudah besar dan suka, apakah aku boleh menghisap madat, Ayah?"
Siauw Teng mengepal tinju dan merasa terdesak.
"Tidak... tidak boleh, wanita tidak boleh menghisap madat. Sudahlah, Lian Hong, mari kita masak. Engkau bisa membantu Ayah memasak nasi, bukan?"
Setelah puas menghisap madat, kembalilah watak baik Siauw Teng dan sehari itu dia mengasuh putrinya dengan penuh kasih sayang.
Dan malam itu, setelah Lian Hong tidur pulas, barulah Siauw Teng menghisap madat lagi.
Malam itu dingin sekali.
Hujan turun rintik-rintik.
Dalam cuaca di luar buruk seperti itu dan hawa yang amat dingin, membuat Siauw Teng semakin keenakan menghisap madat.
Setelah puas, dia duduk termangu-mangu di atas dipan, matanya meram-melek penuh kenikmatan dan tubuhnya kadang-kadang bergoyang-goyang.
Dia merasa seperti terbang di alam yang amat indahnya.
Mulutnya tersenyum penuh kepuasan.
Tiba-tiba terdengar suara kilat menggelegar.
Siauw Teng yang sedang dibuai nikmat racun madat itu membuka mata.
Tiba-tiba daun pintu rumahnya terbuka, didorong orang dari luar.
Memang dia tidak mengunci daun pintu itu dari dalam.
Di dalam rumah sudah tidak ada apa-apanya yang berharga, perlu apa dikunci?
Api dua batang lilin di sudut ruangan itu bergoyang-goyang tertiup angin yang menyerbu masuk ketika daun pintu terbuka.
Dan bersama angin dan air hujan, masuk pulalah sesosok tubuh dibarengi suara isak tertahan.
Siauw Teng terbelalak memandang istrinya yang masuk secara luar biasa itu.
Rambut istrinya awut-awutan, muka dan rambutnya basah oleh air hujan, pakaiannya robek-robek dan kusut, bahkan bagian lehernya terobek sehingga nampak kulit dada bagian atas yang putih mulus.
Di ujung mulut ada bekas darah dan nampak pipinya membiru, juga mata kirinya.
Tentu saja Siauw Teng terkejut sekali.
"Cin Hwa..., apa yang telah terjadi??"
Tanyanya sambil memandang dengan mata terbelalak, terlalu kaget sehingga dia tetap duduk di atas dipan itu.
Sepasang mata itu menjadi jalang.
Sepasang mata yang kemerahan, dan air mata bercucuran mengalir ke atas sepasang pipi yang sudah basah oleh air hujan, wanita itu mengangkat lengannya, telunjuk kanannya ditudingkan ke arah muka suaminya.
"Engkau... engkau laki-laki jahanam! Engkau... engkau menjual diriku? kau tukarkan diriku, kehormatanku, dengan madat? Engkau menjual diriku untuk dapat menghisap madat?"
Siauw Teng terkejut sekali dan menjadi bingung.
"Istriku, apa maksudmu?"
Melihat suaminya masih bertanya, Cin Hwa menyangka dia berpura-pura sehingga kemarahan dan kedukaannya memuncak.
"Mana anakku? Mana...?"
"Ia sudah tidur di kamar..."
Cin Hwa lari memasuki kamar.
Hanya untuk melihat putrinya sajalah ia lari pulang.
Siauw Teng masih duduk terbelalak, tidak mengerti apa yang telah terjadi, tidak menduga sesuatu sehingga kata-kata dan sikap istrinya itu amat mengejutkan hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara berdebukan di dalam kamar seperti orang jatuh, disusul jerit anaknya.
"Ibuuuu...! Ibuuuu...!"
Siauw Teng merasa betapa bulu tungkuknya meremang dan sekali loncat dia sudah turun dari atas dipan lalu lari menyerbu ke dalam kamar.
Dia terbelalak sejenak melihat istrinya terlentang di atas lantai berlumuran darah.
Sebatang golok menancap di dada istrinya, dan Lian Hong menangis ketakutan di atas tempat tidur kayu.
Anak itu terbangun ketika dirangkul dan diciumi ibunya yang menangis, kemudian menjadi ketakutan melihat ibunya menusuk dada sendiri dengan golok.
"Chin Hwa...!!"
Siauw Teng menjerit dan menubruk.
Sepintas lalu dia melihat dan tahulah dia bahwa golok itu terlalu dalam menusuk dada istrinya sehingga dia tidak berani mencabutnya.
Golok itu goloknya, dan kini senjatanya itu, yang setia dalam menghadapi para penjahat, kini menancap di dada istrinya sendiri.
"Istriku! Mengapa kau lakukan ini? Mengapa?"
Dia memangku tubuh itu, mengguncangnya dan wanita itu membuka matanya yang masih berlinang air mata. Mereka memperkosaku... Ciu Wan-gwe... kemudian pembantupembantunya..."
"Apa...!!!"
Teriak Siauw Teng mengejutkan Cin Hwa dan juga putrinya.
Barulah nyonya ini percaya bahwa agaknya suaminya memang tidak tahu akan hal itu.
Akan tetapi ia sudah lemah dan kemarahan yang sejak tadi memenuhi batinnya kini menguasainya lagi.
"Kau... kau telah menjual diriku dengan madat itu... demikian kata mereka... aku... aku berhasil melarikan diri tapi... tapi apa artinya hidup bagiku yang telah ternoda... kau ... kau ... laki-laki tak bertanggung ja... wab..."
Tubuh itu terkulai, kehilangan tenaga dan nyawa.
"Cin Hwa...!"
Siauw Teng mendekap tubuh istrinya.
Setelah dia yakin bahwa istrinya sudah tewas, tiba-tiba dia menjadi beringas.
Kedua matanya merah melotot, basah dengan air mata.
Dicabutnya golok yang menancap di dada istrinya dan hanya sedikit darah yang keluar dari tubuh yang baru saja ditinggalkan nyawanya itu.
"Jahanam Ciu Lok Tai! kau ... kau menipuku...!"
Dan dengan sigapnya Siauw Teng meloncat keluar dari kamar, terus berlarian keluar menerobos kegelapan malam dan hujan.
Dia tidak mendengar lagi suara putrinya yang berteriak-teriak ketakutan memanggil-manggil dia dan istrinya.
Malam itu gelap dan sunyi.
Semua penghuni dusun Tung-kang di luar kota Kanton sudah menutup semua daun pintu dan jendela karena semenjak sore hujan turun terus, membuat hawa menjadi amat dingin dan cuaca amat gelap di luar rumah.
Hanya beberapa orang penjaja makanan yang masih nampak berjalan memikul barang dagangannya di tepi jalan raya meneriakkan dagangannya untuk menarik perhatian para penghuni rumah-rumah tertutup itu.
Dan makanan yang panas-panas banyak dibutuhkan orang yang membeli.
Akan tetapi, di malam gelap itu bayangan Siauw Teng berkelebat ketika dia berlari menuju ke rumah gedung milik hartawan Ciu.
Ciu Wan-gwe adalah orang yang terkaya di dusun Tung-kang, memiliki dua buah toko di Kanton, juga di Kanton dia memiliki rumah besar.
Rumah yang berada di Tun-kang adalah rumah istri mudanya yang nomor dua.
Rumah besar itu nampak sudah dikapur bersih karena memang keluarga itu mengadakan persiapan pernikahan putri dari Ciu Lok Tai dan istri mudanya.
Dengan golok yang masih hangat oleh darah istrinya di tangan, Siauw Teng berlari menuju ke gedung itu dan ketika tiba di pintu gerbang itu terbuka secara kasar.
Akan tetapi tiba-tiba nampak lima orang berlompatan dan mereka itu ternyata pengawal-pengawal yang memegang senjata seperti tombak dan golok, agaknya mereka sudah siap menanti di tempat itu.
Kemudian muncullah si gendut yang tadi pagi datang menjemput Cin Hwa, ya"tu seorang di antara dua utusan Cin Wan-gwe.
Orang gendut ini muncul dengan memakai payung hitam untuk melindungi dirinya dari hujan rintik-rintik.
Penerangan yang terdapat di pintu gerbang itu, dua buah lentera minyak, cukup untuk membuat wajah seperti babi itu nampak jelas dan wajah itu menyeringai ketika pemiliknya menghadapi Siauw Teng dengan sikap congkak.
"Siauw kau w-su, ada keperluan apakah malam-malam begini engkau datang ke sini?"
"Aku mau bertemu dan bicara dengan jahanam she Ciu! Panggil dia keluar atau aku akan menyerbu ke dalam dan menyeretnya keluar!"
Bentak Siauw Teng.
"Hemm, pemadatan, engkau sungguh tak tahu diri!"
Si gendut mengejek dengan sikap merendahkan sekali.
"Apa kau bilang?"
Siauw Teng melangkah maju, akan tetapi lima orang pengawal sudah menghadang di depannya. Dia berhenti, tidak ingin memusuhi orang-orang lain kecuali mereka yang telah menghina istrinya.
"Sebenarnya engkau mau apakah, orang she Siauw? Aku adalah orang yang diberi kuasa oleh Ciu Wan-gwe untuk menghadapimu. Nah, katakan saja kepadaku apa keperluanmu?"
Kata pula si gendut.
"Lok-Toako, perlu apa banyak cakap dengan pemadatan ini? Hajar saja!"
Tiba-tiba terdengar bentakan orang dari sebelah dalam dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar dari samping bangunan.
Kiranya dia adalah kawan si gendut yang pagi tadi ikut menjemput Cin Hwa.
Siauw Teng memandang kepada dua orang ini.
Istrinya berpesan sebelum mati bahwa yang memperkosanya adalah Ciu Wan-gwe dan pembantu-pembantunya.
Besar sekali kemungkinannya kedua orang inilah, yang pagi tadi menjemput Cin Hwa sebagai utusan Cin Wan-gwe, yang ikut memperkosa istrinya.
"Hemm, akuilah secara laki-laki kalau kalian bukan pengecut-pengecut hina. Apakah Ciu Wan-gwe dan kalian berdua yang telah memperkosa istriku tadi?"
Siauw Teng menahan gejolak hatinya yang mendorongnya untuk segera menyerbu dengan goloknya dan mengamuk. Akan tetapi dia ingin yakin lebih dahulu sebelum turun tangan.
"Siauw kau w-su, istrimu hanya membayar hutang-hutangmu. Bukankah engkau sudah menerima banyak sekali madat dan barang-barang lain dari Ciu Wan-gwe dan engkau sudah berjanji untuk menyerahkan istrimu untuk bekerja pada Ciu Wan-gwe selama satu minggu? Engkau berjanji bahwa istrimu akan melakukan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya? Apakah engkau hendak menjilat ludah sendiri dan mengingkari janji? Akan tetapi baru sehari, istrimu sudah melarikan diri. Ini saja sebenarnya sudah tidak pantas dan masih baik Ciu Wan-gwe tidak menuntutmu. Pulanglah dan pikirkan baik-baik."
Tentu saja hati Siauw Teng menjadi semakin panas.
"Akan tetapi istriku dibutuhkan untuk membantu dengan jahitan-jahitan. Kenapa diperkosa?"
Bentaknya. Kini si tinggi besar yang sudah tidak sabar menjawab.
"Kalau ia menyerahkan diri dengan baik-baik, tentu kami tidak akan memperkosanya!"
Si gendut memegang lengan kawannya yang kelepasan bicara, akan tetapi sudah terlanjur. Wajah Siauw Teng menjadi pucat saking marahnya.
"Keparat! Jadi benar kalian berdua dan hartawan Ciu yang memperkosa istriku?"
"Hanya membayar hutang,"
Kata si gendut, merasa sudah kepalang karena kawannya sudah mengaku tadi.
"Dan kami hanya memperoleh bagian saja dari Ciu Wan-gwe sebagai imbalan jasa. Istrimu seperti kuda binal, atau kucing galak... hemm, tapi cukup menyenangkan..."
Si gendut mengelus lehernya dan ternyata lehernya berdarah, ada guratan bekas cakaran kuku disitu.
Agaknya ketika dia memperkosa Cin Hwa, wanita itu melawan dan berhasil mencakar lehernya.
Mendengar ucapan itu, Siauw Teng tidak mampu menahan kesabarannya lebih lama lagi.
Bagaikan seekor harimau yang haus darah, dia mengeluarkan suara menggereng dan tubuhnya yang tidak berbaju menerjang ke depan, goloknya membentuk sinar terang ketika meluncur dalam serangannya.
"Mampuslah kalian anjing-anjing busuk!"
Akan tetapi, lima orang pengawal sudah menggerakkan senjata sehingga golok di tangan Siauw Teng tertangkis, bahkan ada tombak dan golok yang menyerangnya dari kanan kiri dan belakang.
Ternyata, biarpun sejak lima tahun menjadi pemadatan, Siauw Teng masih menguasai ilmu silatnya dengan baik.
Dia berloncatan kesana-sini, goloknya membentuk gulungan sinardan terdengarlah suara berdenting bertubi-tubi ketika dia berhasil menangkis semua senjata lawan.
Kemudian dia menyerbu lagi dan begitu cepatnya golok itu berkelebat sehingga dua orang pengawal roboh sambil mengaduh kesakitan.
"Eh, kiranya macan pemadatan ompong ini masih bisa mencakar juga!"
Kata si tinggi besar dan diapun menerjang maju membantu para pengawal yang tinggal tiga orang itu. Si tinggi besar ini mempergunakan sebatang pedang dan ternyata sambaran pedangnya cepat sekali.
"Tranggg...!"
Siauw Teng terkejut. Hampir saja dia menjadi mangsa pedang itu dan pada saat terakhir dia dapat menangkis, akan tetapi dia merasa betapa lengannya kesemutan.
"Pemadatan busuk!"
Tiba-tiba si gendut memaki dan diapun menyerang maju dengan...
payungnya!
Kiranya si gendut ini lihai sekali dan senjatanya yang aneh itu merupakan pedang yang tersembunyi di dalam paying.
Tahulah Siauw Teng bahwa dua orang utusan Ciu Wan-gwe itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.
Dia tidak gentar dan memutar goloknya dengan cepat, selalu mengarahkan senjatanya dengan maksud membunuh dua orang yang telah mencemarkan kehormatan istrinya ini.
Memang hanya itulah tujuannya.
Membalaskan penghinaan terhadap istrinya, kalau mungkin membunuh tiga orang itu dan tidak melibatkan orang lain.
Akan tetapi baru sekarang Siauw Teng sadar bahwa tubuhnya sudah dirusak oleh racun madat.
Mungkin dia masih menguasai ilmu silatnya dengan baik, akan tetapi tenaganya menurun dengan hebatnya, dan terutama sekali pernapasannya amat mengganggunya.
Paru-parunya sudah terlalu kotor oleh racun madat sehingga belum lewat lima puluh jurus dia dikeroyok napasnya sudah empas-empis hampir putus dan dia merasa betapa dadanya sakit kalau menarik napas.
Dalam keadaan seperti itu tentu saja tenaganya makin berkurang, pandang matanya berkunang dan gerakannya menjadi lambat dan kacau.
"Crattt!"
Ujung pedang di tangan si tinggi besar membabat siku kanannya dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh.
Urat di sikunya putus dan berbareng dengan muncratnya darah, goloknyapun terlepas dari pegangan tangannya.
Dia masih berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat dan bertubi-tubi tubuhnya menerima hantaman-hantaman senjata lawan.
Lambungnya tertusuk, punggungnya dihantam gagang payung dengan kerasnya, kedua pahanya juga luka-luka oleh sabetan pedang dan diapun terguling roboh mandi darah.
"Cukup, jangan bunuh! Kita tidak perlu mendatangkan keributan!"
Teriak si gendut mencegah teman-temannya melanjutkan pembantaian mereka terhadap Siauw Teng.
Bekas guru silat ini merangkak, mencoba untuk melawan, akan tetapi baru sekali meloncat saja sudah jatu lagi.
Dia mengangkat muka dan dengan muka beringas, penuh darah dan peluh, dia memandang kedua orang itu.
"Siapakah kalian berdua?"
Katanya dengan suara penuh kebencian. Si tinggi besar cepat menjawab, tampa memperdulikan isyarat temannya yang hendak mencegahnya.
"Takut apa mengaku nama. Engkau pemadatan mau bisa berbuat apakah terhadap kami? Dengar baik-baik. Aku bernama Gan Ki Bin dan temanku ini adalah Lok Hun, Nah mau apa lagi kau ?"
Siauw Teng merasa matanya berkunang dan dia mencatat dua nama itu dalam benaknya, lalu dengan sempoyongan dia pergi dari tempat itu, diikuti suara ketawa mereka.
Tertatih-tatih dia berjalan setengah lari, lengan kanannya lumpuh, tangan kirinya mendekap luka di lambungnya.
Di sepanjang jalan yang dilalunya, ada bintik-bintik darah yang menetes keluar dari tubuhnya yang penuh luka.
Suara tangis putrinya masih terdengar di dalam rumahnya ketika dia tiba di situ.
Akan tetapi suara tangis itu terlalu lirih untuk dapat menarik perhatian para tetangga.
Malam gelap dan hujan, maka suara tangis kanak-kanak tentu saja tidak begitu dihiraukan oleh para tetangga yang menganggap anak itu sedang rewel atau tidak enak badan.
"Ayah...!"
Lian Hong berteriak ketika melihat Ayahnya masuk terhuyunghuyung.
Matanya terbelalak dan ia menjadi semakin ketakutan melihat keadaan Ayahmya, saking takut dan ngerinya.
Lian Hong hanya melihat saya ketika Ayahnya terhuyung-huyung memasuki kamar dimana ibunya menggeletak pucat.
"Cin Hwa... istriku, aku berdosa padamu..."
Siauw Teng meratap ketika dia berdiri dan menundukkan muka memandang tubuh istrinya.
Tak dapat ditahannya lagi air matanya bercucuran dan jatuh menimpa leher istrinya yang berlepotan darah yang sudah mulai mengering kehitaman.
Lalu dia mengepal tinju dan mukanya menjadi beringas ketika dia berteriak.
"Ciu Lok Tai, Gan Ki Bun, Lok Hun! Aku bersumpah untuk membalas penghinaan terhadap istriku, membalas kematian istriku kepada kalian bertiga!"
Kemudian dengan beringas dia menoleh, melihat pipa tembakau madat dan bungkusan madatnya.
"Keparat! Inilah yang menjadi gara-gara! Madat jahanam, perusak hidupku, pembunuh istriku!"
Dengan kemarahan meluap dia menggunakan tangan kirinya untuk membanting pipa tembakau madatnya sampai pecah berantakan.
Dia masih belum puas, dan dibakarnya pecahan bambu pipa itu pada api lilin, lalu dibakarnya pula semua sisa madat.
Api berkobar dalam kamar itu, Akan tetapi, Siauw Teng kehabisan tenaga dan tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap dan diapun roboh terpelanting di dekat istrinya.
Bambu pipa yang tadi dipegangnya dan masih berkobar, mengeluarkan bau yang memuakkan karena madatnya juga terbakar, terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa dipan bambu yang tentu saja segera terbakar dengan amat mudahnya.
"Ayaaahhh...! Ibuuuu...!"
Lian Hong berteriak-teriak ketakutan.
Akan tetapi Ayah dan ibunya rebah saling tindih di atas lantai dan sekarang api sudah berkobar besar membakar dipan dan segala yang berada di kamar itu.
Lian Hong terbelalak.
Bingung memanggil-manggil Ayah ibunya.
Api menjalar cepat sekali dan rumah itupun mulai terbakar.
Setelah rumah keluarga Siauw itu terbakar cukup besar, barulah tetangga terdekat mengetahuinya.
Dia segera lari keluar dan berteriak-teriak.
"Kebakaran! Kebakaran!"
Dusun itu menjadi gempar.
Semua orang berteriak-teriak dan berlarian menuju ke rumah keluarga Siauw yang terbakar.
Api sudah menjadi begitu besarnya sehingga tidak ada yang berani masuk untuk memeriksa apakah di dalam rumah masih ada orangnya.
Mereka hanya menggunakan air untuk disiramkan ke arah api, akan tetapi apa artinya air berember-ember itu terhadap api yang sudah membesar?
Celakanya, hujan gerimis sudah berhenti sehingga tidak membantu.
Tiba-tiba terdengar suara melengking dari dalam rumah terbakar itu.
"Ayaaaahhh...! Ibuuuu...!"
Itulah suara Siauw Lian Hong.
Anak itu tadi jatuh pingsan karena bau madat dan ketika ia siuman kembali, api telah mengurungnya dan ia tidak dapat lari ke manapun juga.
Ia ketakutan dan melihat tubuh Ayah ibunya mulai dimakan api, iapun menjerit sekuat tenaga sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di luar rumah terbakar itu.
Mendengar jerit ini, semua orang saling pandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Celaka! Si kecil itu agaknya berada di dalam rumah sendirian!"
"Tolong anak itu...!"
"Harus didobrak pintunya!"
"Api sudah membakar pintunya!"
"Api terlalu besar! Siapa berani masuk untuk menolongnya?"
"Tidak mungkin...!"
Tiba-tiba semua suara terhenti dan semua mata melongo memandang ke arah pintu.
Terdengar suara keras dan pintu depan itupun ambrol, dan tiba-tiba saja sesosok bayangan meluncur masuk dengan cepat sekali.
Akan tetapi banyak orang mengenal bayangan itu, setidaknya dari pakaian, topi dan kipas butut di tangan orang itu karena sinar api memberi penerangan yang cukup.
"Dia si gila di pasar itu!"
"Kakek pembunuh lalat dengan kipasnya!"
Semua orang terheran-heran.
Baru kurang lebih sepekan pasar dusun itu kedatangan seorang Kakek aneh.
Seorang Kakek kurus yang pakaiannya tambal-tambalan, topinya meruncing ke atas dan tangannya tiada hentinya menggerakkan sebuah kipasnya itu.
Anak-anak suka menggodanya karena dia suka tersenyum-senyum seorang diri seperti orang yang geli mentertawakan sesuatu.
Dan kini Kakek yang dianggap gila itu, secara luar biasa sekali, telah meloncat ke dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat setelah terdengar jeritan kanak-kanak dari dalam rumah.
Semua orang menahan napas, memandang ke arah pintu dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba dinding samping rumah itu ambrol dan Kakek itu meloncat ke luar sambil memondong seorang anak perempuan.
Semua orang berteriak, lega, girang dan juga khawatir karena ada api berkobar mengikuti Kakek itu.
Kiranya ujung jubahnya yang terbakar.
Akan tetapi, Kakek itu berjingkrak dan kipasnya mengebut-ngebut.
Padamlah api yang merupakan ekornya tadi.
Semua orang bersorak, bertepuk dan tertawa girang karena merasa lucu dan lega.
Akan tetapi tiba-tiba Kakek itu meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam!
Kini semua orang berusaha memadamkan api.
Percuma.
Rumah itu terbakar habis dan ketika para penduduk memeriksa puing kebakaran, mereka terkejut sekali menemukan mayat guru silat Siauw dan istrinya yang sudah gosong sehingga sukar untuk dikenal lagi.
Akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tentulah dua mayat itu adalah mayat Siauw Teng dan istrinya.
Siapa lagi kalau bukan mereka yang mati terbakar dalam rumah mereka?
Kembali gemparlah dusun itu.
Semua orang bertanya-tanya ke mana perginya Kakek yang menolong Siauw Lian Hong.
Dan mengapa pula rumah itu sampai terbakar habis, dan lebih aneh lagi, bagaimana suami istri Siauw itu sampai mati terbakar sedangkan anaknya masih sempat berteriak.
Timbul bermacam dugaan.
Akan tetapi yang dianggap paling tepat oleh para penduduk dusun itu adalah perbuatan bunuh diri suami istri itu.
Tentu mereka bunuh diri dengan membakar rumah sendiri, demikian celoteh mereka.
Dugaan ini bukan tak berdasar.
Mereka semua sudah tahu belaka bahwa bekas guru silat Siauw Teng adalah seorang pemadat yang sudah mendarah daging, dan mereka seringkali melihat percekcokan terjadi antara suami istri itu.
Mereka tahu pula betapa suami istri itu sudah jatuh miskin, semua barang sudah dijual, bahkan meja kursipun dijual untuk ditukar dengan madat.
Maka, kalu kini rumahnya terbakar, apa lagi kalau bukan bunuh diri karena putus harapan atau karena pertengkaran yang menghebat antara mereka?
Sebetulnya apakah yang telah terjadi di dalam rumah kebakaran itu setelah Lian Hong menjerit sekuatnya dan Kakek yang membawa kipas itu meluncur masuk ke dalam rumah yang sedang berkobar itu?
Lian Hong yang ketakutan setengah mati itu tiba-tiba melihat seorang Kakek tua berada di dalam ruangan yang terbakar itu, dan Kakek itu tahu-tahu sudah menyambar tubuhnya ke dalam pondongan.
Kemudian Kakek itu memandang kepada jenazah yang sedang terbakar.
"Itu Ayah ibumu?"
Tanya Kakek itu sambil menuding ke arah dua jenazah dengan kipasnya.
Lian Hong hanya mengangguk sambil menangis.
Kakek itu lalu menggerakkan kipasnya ke kiri dan daun pintu kamar yang sedang terbakar itupun roboh.
Ada kayu dari atas runtuh pula ke bawah menimpa mereka, akan tetapi dengan kebutan kipasnya, kayu yang terbakar itu tertangkis dan terpental.
Kemudian Kakek itu meloncat melalui pintu yang roboh, mencari jalan keluar dan melihat betapa dinding disebelah barat masih belum terbakar, Kakek itu lalu menerjang dinding dengan tendangan kakinya.
Dinding itu jebol dan diapun membawa Lian Hong meloncat keluar, tidak tahu bahwa ujung jubah di belakangnya ikut terbakar sehingga tergopoh-gopoh dia memadamkannya dengan kebutan kipasnya setelah berada di luar.
Melihat betapa semua orang bersorak dan memperhatikannya, Kakek itu lalu meloncat jauh ke dalam kegelapan malam.
Lian Hong memejamkan kedua matanya dengan ngeri.
Ia merasa betapa angin bertiup keras sekali dan betapa tubuhnya meluncur ke depan dengan amat cepatnya.
Bayangan-bayangan pohon menghitam seperti raksasa mengancam itu nampak berlari-lari cepat di kanan kirinya ketika Kakek itu membawanya lari di jalan besar yang diapit-apit jajaran pohon-pohon di tempat yang gelap dan sunyi itu.
Ia merangkul leher Kakek itu, takut terlepas dari pondongan dan jatuh.
Akhirnya, saking lelahnya, lelah lahir bathin tertindih perasaan ngeri, takut, duka yang amat menghebat, Lian Hong tertidur pulas dalam pondongan Kakek itu, tidak tahu sama sekali bahwa ia dilarikan sampai jauh sekali dari dusun Tun-kang, Bahkan Kakek itu baru berhenti setelah tiba di luar daerah Kan-ton, berhenti di bawah sebatang pohon besar di lereng bukit, di tepi sebuah sungai.
Kakek itu menggunakan sehelai kain bersih yang dicelup air sungai untuk membersihkan muka, leher, tangan dan kakinya, kemudian diapun mengusap muka Lian Hong yang kotor karena angus dan debu itu dengan kain basah.
Lian Hong sadar dan membuka matanya.
Begitu membuka mata, anak perempuan itu menjerit.
Kakek itu merangkul dan mendekap anak yang hendak lari itu, akan tetapi Lian Hong meronta-ronta dan setelah Kakek itu mengusap belakang lehernya, barulah anak itu diam tak bergerak, akan tetapi memandang dengan sepasang mata terbelalak kepada Kakek itu yang masih memangkunya.
"Anak baik, siapakah namamu...?"
Kakek itu bertanya sambil tersenyum.
Wajah Kakek itu memang aneh.
Wajah yang kurus, dengan tulang pipi menonjol dan matanya sipit panjang.
Kumis dan jenggotnya sudah putih, tak terpelihara, akan tetapi baik rambutnya, kumis, jenggot dan kulit mukanya, bersih sekali.
Dan matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar aneh dan kadang-kadang mencorong.
Pakaiannya tambal-tambalan dan kusut, akan tetapi juga bersih karena di dalam buntalan yang digendongnya terdapat beberapa stel pakaian pengganti dan dia setiap hari berganti pakaian.
Lian Hong menggerakkan mulutnya.
Bibirnya berkemak-kemik tak bersuara dan sepasang mata yang lebar itu memandang wajah si Kakek tampa kedip.
"Apa kau bilang, nak?"
Kakek itu mendesak sambil tersenyum memberanikan.
"Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...! Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!"
Hanya tiga nama itulah yang berulangkali keluar dari mulut anak perempuan itu, dan tiba-tiba pandang mata anak itu berobah penuh kebencian! Mendengar dan melihat ini, Kakek itu terkejut.
"Siancai..., batinmu tertekan hebat, nak."
Bisiknya dan jari-jari tangannya meraba tengkuk Lian Hong.
Anak itu memejamkan matanya dan pulas lagi, pulas oleh rabaan tangan yang melakukan penekanan pada urat sjarafnya.
Setelah anak itu pulas, Kakek berkipas itu lalu merebahkan Lian Hong dan dengan amat teliti dia mengurut beberapa bagian di kepala anak itu.
Setelah selesai diapun berkata halus.
"Tidurlah, nak. Tidurlah dengan tenang. Engkau sungguh patut dikasihani..."
Dan Kakek itu sendiripun lalu duduk bersila di dekat Lian Hong, memejamkan mata, entah tidur entah tidak, akan tetapi napasnya panjang dan halus seperti orang tidur, sedikitpun tidak bergerak.
Lebih dari tiga jam mereka tidak bergerak.
Matahari telah mulai menerobos daun-daun pohon ketika tiba-tiba Lian Hong sadar dari pulasnya.
Ia menggeliat dan membuka mata.
Mulutnya segera berseru.
"Ayah...! Ibu...!"
Dan iapun bangkit duduk. Kakek itupun sudah membuka matanya dan memandang penuh perhatian.
"Ayah...! Ibu...! Rumah terbakar...!"
Kembali Lian Hong berkata, lalu anak itu menoleh dan memandang kepada Kakek itu. Kakek itu mengangguk.
"Benar, anak baik. Rumah orang tuamu kebakaran, engkau terkurung di dalamnya dan aku mengeluarkanmu dan membawamu ke sini."
Anak itu seperti baru sadar. Mukanya pucat dan wajahnya terbelalak.
"Ahhh..., Ayah..., ibu...?"
Sinar matanya memandang penuh selidik kepada Kakek itu menanti jawaban yang agaknya sudah diduganya. Kakek itu kembali mengangguk.
"Ayah ibumu tewas karena kebakaran itu."
Mata itu makin melebar.
"Ayah... ibu... mati...?"
Anak itu mewek-mewek akan tetapi tidak dapat menangis, dan sinar matanya sebentar menjadi layu sebentar lagi seperti berapi-api. Tahulah Kakek itu bahwa Lian Hong kembali terhimpit bermacam perasaan.
"Benar, Ayah ibumu telah mati dan engkau ditinggal sendiri saja di dunia ini. Engkau seorang diri saja, ditinggal aya ibumu, tidak ada siapa-siapa lagi disampingmu!"
Tiba-tiba Kakek itu berkata dengan nada menekan dan kejam. Tiba-tiba saja Lian Hong menjerit.
"Ayaaahhh...! Ibuuuu...!"
Dan iapun menangis tersedu-sedu, menelungkup di atas tanah, memanggil Ayah ibunya dan tangisnya makin mengguguk.
Kakek itu tersenyum, akan tetapi dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap dua butir air mata yang tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk matanya.
Dia berhasil memancing keluar tangis anak itu, hal yang amat diperlukan karena kalau tidak, anak itu berada dalam keadaan amat berbahaya, bisa menjadi gila atau bahkan mati.
Kini rasa iba diri dalam batin anak itu yang menang, membuat ia merasa sengsara dan menangis merupakan obat mujarab untuk menghadapi pelbagai perasaan yang bergejolak di dalam hati.
Dia hanya melihat dan biarpun anak itu menangis terisak-isak sampai hampir sukar bernapas, dia tersenyum gembira dan membiarkan anak itu menangis terus sepuasnya.
Akhirnya tangis Lian Hong mereda.
Tinggal terisak-isak saja dan ia sudah dapat mendengarkan ketika Kakek itu bicara perlahan-lahan kepadanya.
"Anak yang baik. Manusia tidak dapat terlepas dari pada kematian, dan kematian bisa saja datang kepada setiap orang pada suatu saat tertentu, tidak perduli orang itu sudah tua ataukah masih muda. Ayah ibumu sudah mati, dan hal itu tidak dapat dirobah oleh siapapun di dalam dunia ini. Setelah engkau sekarang sendirian saja di dalam dunia ini apakah engkau masih mempunyai sanak keluarga? Barangkali paman atau bibi?"
Lian Hong menggeleng kepalanya.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini""
Suaranya masih mengandung isak yang ditahannya.
"Bgus, engkau dapat menahan tangismu."
Tiba-tiba Kakek itu berkata sambil menyentuh pundak anak itu.
"Memang, tangis saja tidak dapat merobah keadaan. Jadi engkau benar-benar seorang diri saja di dunia ini? Tidak ada siapapun yang dapat kau datangi, yang dapat menampungmu?"
Lian Hong memandang wajah Kakek itu dan kembali menggeleng kepala.
"Akupun hidup sebatangkara seperti engkau! Nah, kalau engkau mau ikut aku, bukankah berarti aku mempunyai seorang cucu dan engkau mempunyai seorang Kakek?"
Kakek itu tertawa sendiri, gembira dengan usulnya, gembira membayangkan betapa mendadak saja dia memperoleh seorang cucu tampa mempunyai anak atau mantu!
"Kek, engkau siapakah?
Dan kenapa engkau ingin menjadi Kakekku?"
Kakek itu melongo.
Anak yang masih begini kecil sudah pandai mengajukan pertanyaan dengan sikap demikian penuh selidik seperti seorang jaksa yang hendak memeriksa pesakitan saja!
Dan pandang matanya begitu penuh curiga.
Dia menjadi kikuk sendiri dan tersenyum masam.
"Eh, tidak kenapa-kenapa. Aku hanya merasa kasihan kepadamu. Sudah kuceritakan bahwa secara kebetulan saja aku berada di sana ketika rumahmu terbakar. Mendengar bahwa ada anak kecil di dalam rumahitu, aku lalu masuk dan berhasil membawamu keluar."
"Kek, apakah engkau seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi?"
Kembali Kakek itu melongo dan merasa bulu tengkuknya meremang. Anak ini luar biasa sekali! "Eh, bocah aneh! Bagaimana engkau menduga seperti itu?"
Dia balas bertanya.
"Semua orang dusun sudah berkumpul di depan rumah kami yang terbakar. Andaikata ada yang berani, tentu yang masuk menolongku seorang laki-laki muda dan kuat. Akan tetapi tidak ada yang berani dan hanya engkau, seorang Kakek tua yang dapat menolongku. Juga engkau dapat menghindarkan semua bahaya kebakaran, engkau mendobrak dinding. Ayahku sering bercerita tentang orang-orang sakti. Apakah engkau seorang sakti?"
"Ha-ha-ha, kiranya engkau hanya seorang anak yang cerdik saja. Engkau cerdik dan tidak cengeng. Bagaimana, apa engkau mau menjadi cucuku dan ikut denganku? Kita akan cocok sekali!"
"Jawab dulu, apakah engkau pandai ilmu silat, kek? Kalau engkau pandai dan mau mengajarku ilmu silat tinggi, baru aku mau ikut denganmu."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak aku tidak mau. Tidak ada yang dapat kuharap dari seorang Kakek tua, juga aku akan menjadi bebanmu saja."
"Habis, kau mau apa? Mana bisa kau hidup sendiri? Dari mana engkau dapat memperoleh makan?"
"Aku bisa bekerja, aku bisa mengemis..."
Kata anak itu dengan tabah. Kakek itu tertawa bergelak, hatinya senang bukan main.
"Bgus! Engkau anak baik. Jangan khawatir, aku akan mengajarkan ilmu padamu. Setidaknya ilmu mencari makanan, seperti ini. Lihat!"
Kakek itu menutup kipas bututnya dan tiba-tiba dia menyambitkan kipas yang tertutup itu ke atas pohon.
Terdengar suara mencicit satu kali dan kipas itu jatuh lagi ke bawah pohon bersama seekor tupai putih yang telah mati karena lehernya tertusuk ujung gagang kipas.
Lian Hong terbelalak girang dan iapun segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan Kakek yang duduk bersila itu.
"Aku mau menjadi cucumu, kek!"
Kakek itu merangkulnya.
"Bgus sekali. Siapakah namamu, anak baik?"
"Namaku Siauw Lian Hong, kek."
"Lian Hong, nama yang bagus. Dan aku tidak punya nama, akan tetapi orang-orang ada yang mengenalku sebagai Bu-beng San-kai (Pengemis Berkipas Tampa Nama), ha-ha! Hong Hong, aku lebih suka menyebutmu Hong Hong, apakah kau pernah makan panggang daging tupai?"
"Belum, kek,"
Jawab Lian Hong, memandang bangkai tupai yang seperti tikus berekor besar itu dengan ragu dan jijik.
"Nah, sekarang engkau akan merasakannya. Enak sekali! Mari kuberi pelajaran pertama, yaitu menguliti tupai dan memanggang dagingnya!"
Karena sikap Kakek itu selalu gembira, sebentar saja Lian Hong yang masih kecil itu dapat melupakan kedukaannya.
Akan tetapi setiap kali duduk termenung seorang diri, bibirnya komat-kamit dan Kakek itu dapat menduga apa yang diucapkan bibir kecil itu karena pernah dia mendengar cucunya mengigau di waktu tidur.
"Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!"
Kematian Siauw Teng dan istrinya mungkin dianggap bunuh diri oleh para tetangga, dan urusan itupun segera mereka lupakan.
Akan tetapi tidak demikian bagi Tan Siucai, seorang sasterawan miskin yang hidup berdua saja dengan putera tunggalnya di dusun Tung-kang.
Tan Siucai adalah sahabat baik mendiang Siauw Teng.
Dia seorang sasterawan berusia sekitar lima puluh tahun yang hidup menduda setelah istrinya meninggal dunia, bersama puteranya yang berusia tujuh tahun.
Sasterawan ini hidup sederhana.
Penghasilannya hanyalah menuliskan surat-surat atau tulisan-tulisan indah untuk penduduk dusun itu yang membutuhkannya.
Pekerjaannya setiap hari hanya menulis, kalau tidak ada pesanan orang tentu dia menulis, membaca buku, itulah pekerjaannya setiap hari.
Putera tunggalnya, Tan Ci Kong, sejak kecil diajar membaca dan menulis sehingga dalam usia tujuh tahun anak itu sudah pandai menulis indah, bahkan membaca kitab-kitab kuno.
Terdapat kecocokan antara dia dan mendiang Siauw Teng.
Sasterawan ini menghargai kegagahan dan kejujuran Siauw Teng, sebaliknya bekas guru silat itupun kagum akan kepandaian sasterawan itu menulis indah dan membuat sajak.
Apa lagi di antara keduanya ada suatu ikatan batin, yaitu keduanya berjiwa patriot.
Kematian Siauw Teng amat menyedihkan hati sahabat itu sehingga begitu mendengar akan musibah yang menimpa keluarga sahabatnya, siucai itu menghibur dirinya dengan minum arak sampai mabok dan tidak ingat apa-apa lagi.
Tan siucai sudah tahu bahwa sahabatnya adalah seorang pemadat.
Sudah berkali-kali dia menasihatkan, akan tetapi Siauw Teng yang juga pada hakekatnya sudah tahu (Lanjut ke
Jilid 02) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 02 akan keburukan dan bahayanya menghisap madat, sudah tercengkeram dan tidak mungkin dapat melepaskannya lagi.
Akan tetapi Tan Siucai yang mengenal baik kegagahan temannya, tidak percaya bahwa temannya itu melakukan bunuh diri bersama istrinya.
Juga dia merasa berduka sekali mendengar akan hilangnya Siauw Lian Hong, anak perempuan yang diam-diam diharapkannya kelak akan dapat dijodohkan dengan putera tunggalnya.
Dia tidak percaya sahabatnya melakukan bunuh diri.
Maka diapun merasa penasaran dan mulailah dia melakukan penyelidikan pada para tetangga sahabatnya itu.
Dalam penyelidikannya ini, orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada Tan Siucai menceritakan apa adanya.
Seorang di antara mereka ada yang melihat ketika pada pagi hari sebelum terjadi musibah itu, istri Siauw kau w-su kelihatan berjalan diantar oleh dua orang petugas Ciu Wan-gwe.
"Saya sempat bertanya dan ia menjawab bahwa ia akan pergi membantu dengan pekerjaan menjahit di rumah keluarga Ciu yang akan mengadakan pesta pernikahan."
Demikian seorang tetangga wanita menceritakan.
Cerita ini tentu saja tidak berarti bagi orang banyak, karena dianggap biasa.
Akan tetapi tidak demikian dengan Tan Siucai, apa lagi ketika dia mendengar bahwa sahabatnya itu pernah menerima pemberian banyak madat oleh Ciu Wan-gwe.
Timbul kecurigaannya.
Mengapa pedagang madat yang kaya itu memberi madat kepada sahabatnya yang dia tahu tidak akan mampu membeli banyak madat?
Dan kenapa pula istri sahabatnya harus membantu di rumah keluarga kaya itu?
Dia sudah mendengar desas desus akan sifat mata keranjang Ciu Wan-gwe yang.
Yang kabarnya sudah banyak mengganggu anak istri orang mengandalkan harta dan kekuasaannya.
Akan tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang Tan Siucai, sasterawan lemah miskin itu terhadap seorang Ciu Wan-gwe, yang kaya raya dan berpengaruh, Bahkan menjadi sahabat dari para pembesar di kota Kanton?
Juga dia tidak dapat membuktikan apa-apa.
Akan tetapi terbukalah kesempatan bagi Tan Siucai untuk melampiskan rasa penasaran yang membakar hatinya sejak kematian sahabatnya yang kemudian disusul dengan hasil keterangan yang diperolehnya melalui penyelidikannya.
Ciu Wan-gwe mengadakan pesta pernikahan puterinya secara besar-besaran.
Sudah menjadi kebiasaan umum di pelosok dunia yang manapun, kalau ada orang kaya mempunyai kerja, orang-orang berlumba untuk mengirim sumbangan, bahkan sumbangan-sumbangan itupun dipilih yang paling berharga.
Sebaliknya, kalau yang mempunyai kerja itu orang miskin, jarang ada yang mengirim sumbangan, kalaupun ada, maka sumbangan itupun tidak berharga.
Hal ini jelas membuktikan bahwa dibalik pemberian sumbangan itu, walaupun tidak diakui oleh para penyumbangnya, tersembunyi pamrih, mengharapkan imbalan yang besar dan menguntungkan pula.
Betapa tidak?
Memang sudah membudaya bagi kehidupan manusia di dunia ini untuk menyembunyikan pamrih di dalam setiap perbuatannya!
Di antara mereka yang mengirim sumbangan, terdapat banyak orang yang mengirim sumbangan berupa tulisan-tulisan indah, pujian-pujian dan doa-doa yang ditulis dengan indahnya dan tentu saja Tan Siucai kebagian pekerjaan yang cukup banyak.
Banyak orang yang memesan tulisan kepadanya untuk dijadikan sumbangan.
Inilah kesempatan yang amat baik bagi Tan Siucai untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya.
Dia menuliskan untuk seorang yang buta huruf, tulisan indah berupa doa restu untuk sepasang mempelai seperti ini.
"SELAMAT KEPADA SEPASANG MEMPELAI SEMOGA HIDUP PENUH BAHAGIA DAN DAMAI SEMOGA TIDAK RUSAK RUMAH TANGGA MEREKA OLEH MADAT SEPERTI SIAUW YANG SENGSARA!"
Tentu saja hati hartawan Ciu terkejut bukan main ketika dia membaca sajak itu dan cepatcepat dia menyuruh orang-orangnya menyingkirkan sajak itu agar tidak terbaca oleh para tamu.
Dia mengutus orang-orangnya untuk mendatangi pemberi sumbangan dan tahulah dia bahwa pemberi sumbangan itu tidak dapat membaca dan bahwa sajak itu dipesan dari Tan Siucai.
Jadi Tan Siucailah orangnya yang bertanggung jawab.
"Sasterawan jembel mau mampus!"
Ciu Wan-gwe mengepal tinju dengan marah, akan tetapi karena dia sedang mempunyai kerja, tidak baik untuk melampiaskan kemarahannya di hari baik itu.
Apa lagi dia sedang sibuk menghadapi perayaan yang dihadiri oleh banyak orang besar, para pejabat dan para pedagang hartawan itu.
Baru tiga hari kemudian setelah pesta pernikahan puterinya selesai, dia segera utsan orang memanggil Tan Siucai.
Pada hari itu, masih ada tamu di dalam rumahnya, di antaranya adalah seorang komandan militer dari Kanton yang bernama Ma Cek Lung, seorang komandan pasukan kenamaan kota Kanton.
Ma Cek Lung ini seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan tubuh yang kokoh kuat, wajah yang keras dan kejam menyeramkan.
Ciu Wan-gwe sedang menjamu komandan Ma ini ketika pelayan melaporkan bahwa Tan Siucai yang dipanggil sudah datang.
"Suruh dia menunggu di luar sampai kami selesai Makan!"
Kata Ciu Wan-gwe dengan sikap congkak dan pelayannya dengan senang hati melaksanakan perintah itu dengan sikap yang lebih congkak lagi.
Biasanya memang demikian.
Untuk menyampaikan kekejaman atau kesombongan, bawahannya lebih hebat dari pada atasannya, makin ke bawah semakin menciut.
Hukuman yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berat dan menjadi bahan pemerasan atau perbuatan-perbuatan yang lebih kejam, sebaliknya sumbangan yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berkurang sampai hampir habis.
Pahit dan aneh tetapi nyata.
Sambil bertolak pinggang, pelayan itu menghadapi Tan Siucai.
"Kamu diperintahkan untuk menunggu di sini dan tidak boleh pergi ke manapun sebelum majikan kami keluar menerimamu!"
Lalu sambil mengangkat hidung pelayan itu pergi meninggalkan tamu itu di halaman depan!
Tan Siucai tersenyum pahit.
Dia tidak merasa heran.
Sudah banyak ia melihat kenyataan seperti itu.
Dia adalah seorang tamu yang diundang, akan tetapi diperlakukan seperti seorang pengemis saja.
Karena dalam undangan itu si pesuruh menyatakan bahwa Ciu Wan-gwe hendak memesan tulisan dan dia diharuskan membawa perabot menulis, maka kini dia menurunkan kotak berisi kertas dan alat-alat tulis, lalu duduklah dia di atas peti itu di halaman gedung sambil menyeka keringat dengan ujung lengan bajunya yang lebar, baju potongan khas sasterawan.
Dia sudah siap menghadapi segala hal.
Ketika menerima panggilan Ciu Wan-gwe, dia dapat menduga bahwa kemungkinan besar panggilan ini ada hubungannya dengan tulisan yang dia lakukan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya itu.
Karena menduga hal yang buruk, maka ketika puteranya, Ci Kong, mau ikut, dia melarangnya.
Dia tidak ingin puteranya hadir menyaksikan kalau sampai terjadi keributan.
Setelah selesai makan, Ciu Lok Tai bersama tamunya keluar dan duduk di ruangan depan.
Seorang pengawal diutus untuk memanggil masuk Tan Siucai yang masih menanti di halaman.
Sasterawan itupun memasuki ruangan dengan sikap tenang, membawa petinya dan dengan sikap sopan dia memberi hormat kepada dua orang yang duduk menanti kedatangannya itu.
Diam-diam dia memperhatikan kedua orang itu dengan sudut matanya.
Ciu Wan-gwe yang bernama Ciu Lok Tai adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun.
Tubuhnya tidak besar, akan tetapi gemuk sehingga muka dan lehernya kelihatan seperti membengkak.
Matanya lebar dan hartawan yang terkenal mata keranjang itu adalah seorang pesolek.
Kumisnya yang kecil dipelihara rapi, mukanya putih bersih, tentu dicukur setiap hari dan bahkan ada bekas-bekas bedak, seperti muka seorang thai-kam (pembesar kebiri) saja.
Dia mengenakan topi batok hitam dan kuncirnya kecil bergantungan di belakang kepala.
Bajunya dari kain sutera yang mahal dan dia duduk dengan punggung yang agak membungkuk, mulutnya tersenyum mengejek dan matanya yang lebar itu memandang kepada Tan Siucai penuh selidik.
Orang ke dua yang bertubuh tinggi besar tidak dikenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang perwira, kentara dari bajunya dan juga dari sikapnya walaupun pakaiannyatidak seragam penuh.
Dan memang orang itu adalah Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang galak.
Melihat sikap komandan ini saja sudah mendatangkan rasa tidak suka dan juga khawatir di dalam hati Tan Siucai.
Akan tetapi dengan sikap ramah buatan, Ciu Wan-gwe menegur ramah.
"Ah, kiranya Tan Siucai yang datang? Ma-Ciangkun, inilah Tan Siucai, sasterawan dan pembuat tulisan dan sajak paling pandai di Tung-kang, bahkan mungkin di seluruh Kanton."
Dengan sikap acuh dan memandang rendah, kemudian menggumam.
"Benarkah? Hemm, hal itu masih perlu dibuktikan dulu."
Tan Siucai menjura.
"Ciu Wan-gwe terlampau memuji!"
Katanya merendah.
"Ah, siapa yang tidak tahu akan keahlianmu, Tan Siucai? Di dalam ruangan perpustakaanku terdapat banyak hasil karyamu."
Pujian-pujian ini semakin tidak mengenakkan, hati sasterawan itu.
Pujian dari mulut seorang seperti Ciu Wan-gwe ini amat berbahaya, dan diapun dapat merasakan adanya sikap lain yang bertentangan dengan manisnya kata-kata ejekan itu.
Maka diapun cepat bertanya.
"Ciu Wan-gwe memanggil saya, tidak tahu ada keperluan apakah?"
"Engkau adalah ahli menulis, apa lagi keperluannya kalau tidak ingin agar engkau membuatkan tulisan indah untukku? Dan aku ingin melihat sendiri cara engkau membuat tulisan indah."
"Suruh dia membuatkan sajak yang baik, ingin aku melihatnya!"
Tiba-tiba komandan gendut itu berkata.
"Bgus sekali! Nah, engkau sudah mendengar sendiri, Tan Siucai. Ma-Ciangkun minta agar engkau suka membuatkan sajak yang baik."
Legalah hati Tan Siucai.
Agaknya dia terlalu banyak prasangka dan hartawan ini bersama tamunya memang suka akan seni tulis dan sajak.
Dia menurunkan petinya dan mempersiapkan alat-alat tulisnya.
Seperti biasa, dia lebih suka menulis mempergunakan alatnya sendiri.
Dia memasang bangku yang hanya merupakan papan di atas tiga kaki, dan dia sendiri duduk bersila di atas lantai.
Dia mengeluarkan sehelai kertas kuning dan setelah menggosok tinta bak dan mengoles-oleskan pena bulu, dia mengangkat muka memandang kepada komandan gendut itu.
"Tidak tahu sajak yang bersifat bagaimana. Yang Ciangkun inginkan?"
"Sajak yang gagah, yang pantas bagi seorang perwira seperti aku tentunya!"
Kata komandan gendut itu sambil membusungkan dadanya, akan tetapi akibatnya hanya perutnya yang amat besar itu yang semakin maju.
"Baiklah, Ciangkun."
Sasterawan itu lalu memejamkan kedua matanya sambil duduk bersila, kulit di antara alisnya berkerut dan dia mulai mengerahkan kemampuannya mengkhayal.
Dan diapun melihat kesempatan yang amat baik untuk meneriakkan jerit hatinya, bukan hanya karena kematian sahabatnya, akan tetapi juga karena melihat kenyataan bagaimana hebat madat telah mencengkeram bangsanya.
Sekarang terbukalah jalan baginya untuk menuliskan jerit hatinya, juga untuk menyampaikan bahaya itu kepada pemerintah melalui seorang perwira tinggi!
Dalam keadaan seperti itu, tidak pernah Tan Siucai teringat akan diri sendiri, tidak lagi dapat melihat adanya bahaya-bahaya dari hasil tulisannya.
Mulailah dia menulis.
Tan Siucai memang seorang ahli.
Setelah dia membuka mata, jari-jari tangan kanannya seperti kemasukan aliran tenaga luar biasa, menjadi peka sekali dan kini jari-jari tangannya itu mulai mengoles-oleskan pena bulu dengan gerakan yang halus dan manis sekali di atas tinta bak dan setelah mengukur jarak di atas kertasnya, diapun mulai membuat coret-coretan yang mengandung penuh gaya dan keindahan.
Iblis hitam berasap menyerbu Negara membasmi semangat gagah para pendekar melumpuhkan kebijaksanaan para pembesar membekukan kelembutan para dermawan.
Madat!
racun yang membinasakan bangsa sampai tinggal tulang belulang belaka!
Pendekar menjadi lemah pembesar menjadi korup dermawan menjadi kejam sasterawan menjadi tumpul!
Hanya si kaya semakin kaya madat sumber keuntungan mereka basmi madat!
basmi racun dunia!!
Setelah selesai menulis dengan gerakan cepat dan indah, Tan Siucai merasa seolah-olah dadanya lapang dan lega dan dengan wajah berseri-seri dia menyerahkan tulisan itu kepada Ma-Ciangkun sambil berkata.
"Ciangkun, tulisan ini walaupun buruk akan tetapi menyuarakan hati nurani rakyat kecil. Harap Ciangkun sudi menerimanya."
Perwira gendut itu menerima tulisan di atas kertas itu dan dengan lagak seorang pandai dia membaca dengan suara lantang.
Perwira itu membaca tampa reaksi apa-apa karena dia menganggap bunyi sajak itu memang cukup bersemangat dan gagah.
Akan tetapi begitu Ciu Wan-gwe mendengarnya, wajahnya berobah merah dan lebih lagi ketika tiga baris terakhir terbaca, dia bangkit berdiri.
"Kurang ajar!"
Bentaknya marah.
"Sasterawan jembel busuk, engkau berani menghinaku?"
Dengan marah Ciu Wan-gwe lalu menyambar sebuah kemocing (sapu bulu ayam) yang bergagang rotan, lalu dia menyerang sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu dengan gagang kemocing.
Sudah biasa hartawan ini menghajar pelayan-pelayannya yang tidak menyenangkan hatinya dengan gagang kemocing.
Tan Siucai berusaha melindungi kepalanya dengan kedua lengan sehingga lengannya babak belur kena hantaman rotan.
"Ciu Wan-gwe, saya tidak menghina seseorang."
"Jelas sudah isi tulisanmu! Engkau tahu bahwa aku adalah saudagar yang antara lain berdagang madat, akan tetapi engkau berani mengutuk madat dan menyindir aku. Ma-Ciangkun, bukankah tulisannya itu menghina sekali?"
Baru Ma-Ciangkun kini sadar bahwa sahabatnya itu tersinggung.
"Huh, sajak busuk dan menghina!"
Diapun berkata dan merobek kertas itu.
"Maaf, saya maksudkan pedagang madat pada umumnya, bukan pribadi dan saya hanya menggambarkan kenyataan..."
"Setan! Keparat sombong, engkau patut dihajar!"
Kembali Ciu Wan-gwe menghujankan pukulan-pukulan rotan sehingga Tan Siucai terhuyung ke belakang dan bangku alat tulisnya berantakan.
"Dukk...!"
Sebuah tendangan membuat sasterawan itu roboh ketika kaki kiri yang besar dari Ma-Ciangkun menyambar.
"Apakah engkau menghendaki aku menginjak mampus cacing ini? tanya Ma-Ciangkun kepada Ciu Wan-gwe dan kaki kirinya sudah menginjak punggung Tan Siucai yang roboh menelungkup di atas lantai.
"Jahanam kau , Tan Siucai. Berani engkau menulis kata-kata menghina melalui sumbangan seorang tamuku dan kini engkau malah terang-terangan menghinaku? Jangan bunuh dulu, Ma-Ciangkun, aku ingin menghajarnya sampai puas dan tidak baik membunuhnya di rumahku."
Ma-Ciangkun melepaskan injakannya dan kembali Ciu Wan-gwe menghujankan hantaman rotan itu di atas tubuh belakang Tan Siucai yang mengeluh lirih.
Biarpun tubuhnya terasa nyeri semua, namun sasterawan yang berjiwa gagah ini menahan diri agar tidak minta-minta ampun atau menjerit-jerit.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
"Ayaaaah...!"
Dan seorang anak laki-laki lari menerobos masuk dari luar halaman. Dia adalah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun, berpakaian sederhana dan bermata lebar.
"Ci Kong... pergilah... jangan ke sini...!"
Tan Siucai mengeluh dengan penuh kegelisahan melihat puteranya yang datang itu.
Akan tetapi Ci Kong, anak itu, cepat lari naik ke ruangan depan dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap Ma-Ciangkun dan Ciu Wan-gwe.
"Harap tai-jin sudi mengampuni Ayahku...!"
Dengan lagak congkak, Ma-Ciangkun kembali mengangkat kaki kiri menginjak punggung Tan Siucai, dan tangan kanannyayang besar itu menempel di kepala anak yang berlutut di depannya.
"Bocah setan, berani kau mencampuri? Sekali cengkeram, kepalamu akan dapat kuhancurkan!"
Akan tetapi, Ci Kong yang amat mengkhawirkan keselamatan Ayahnya, agaknya tidak perduli akan keselamatan dirinya sendiri dan tidak menjadi takut oleh ancaman itu.
Dia tetap berlutut dan merangkap kedua tangan yang diangkat tinggi-tinggi, dengan air mata berlinang dia berkata memohon.
"Harap ampuni Ayahku dan tai-jin boleh saja membunuhku. Akan tetapi harap lepaskan Ayahku...!"
"Setan cilik! Ayahmu ini kurang ajar, sudah menghinaku, dia pantas dihukum, bahkan patut dibunuh!"
Bentak Ciu Wan-gwe marah, menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tan Siucai dan mengamankan gagang kemocing di tangan kanan.
"Ampun, tai-jin. Untuk kesalahan Ayah, biarlah aku yang menebus dosanya. Hukumlah aku, akan tetapi bebaskan Ayah..."
Ci Kong meratap. Bukan main terharu rasa hati Tan Siucai.
"Anakku... aahhhh, engkau... jangan begitu... kau pergilah..."
"Pergilah, anak setan!"
Ma-cingkun mendorongkan tangannya dan tubuh anak itu terpelanting dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, babak belur. Akan tetapi Ci Kong bangkit dan berlutut lagi.
"Ampunkan Ayahku, ampun..."
Ratapnya. Anak ini memiliki keberanian luar biasa seperti Ayahnya. Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi dia takut kehilangan Ayahnya. Pada saat itu, terdengar seruan nyaring.
"Ayah...!"
Dan muncullah seorang anak perempuan dari dalam gedung Ciu Wan-gwe.
Anak itu berusia sekitar enam tahun, berwajah manis sekali dengan sepasang mata yang tajam da lebar.
Pakaiannya indah dari sutera halus, rambutnya dikuncir dua yang bergantungan di kanan kiri.
Anak itu berhenti berlari ketika melihat Tan Siucai masih rebah babak belur dan berlumuran darah.
Ci Kong yang berlutut dan meratap mintakan ampun bagi Ayahnya.
Setelah tertegun sejenak, anak perempuan itu lalu lari menghampiri Ciu Wan-gwe dan memegang tangan orang tua itu.
"Ayah, apakah yang telah terjadi? Kenapa Ayah marah-marah dan siapa mereka ini? Apa yang telah mereka lakukan maka Ayah agaknya menghajar mereka?"
Sungguh mengherankan sekali, Ciu Wan-gwe yang sedang marah-marah dan jengkel itu, begitu melihat anak perempuan ini, segera terjadi perobahan pada wajahnya.
Kemarahannya seperti hilang dan dia memandang kepada anak perempuan itu dengan sinar mata penuh sayang, dan dibuangnya kemocing itu dan dirangkulnya pundak anaknya.
"Siapa yang tidak jengkel, anakku. Sasterawan jembel ini berani menghinaku dengan tulisannya."
"Tulisan apakah, Ayah? Boleh aku melihatnya?"
Ciu Wan-gwe amat sayang kepada puteri bungsunya ini.
Ciu Kui Eng, demikian nama anak itu, memang amat cerdas dan menyenangkan hati, selain jelita dan manis, juga biarpun disayang tidak menjadi manja.
Yang mengagumkan hati Ayahnya adalah karena anak ini selalu bersikap berani dan tegas, bahkan bijaksana sekali.
"Dia mengejekku dan bersikap memberontak. Itu tulisannya."
Ciu Wan-gwe menunjuk ke arah kertas yang sudah terobek menjadi dua potong.
Kui Eng mengambil kertas itu dan dengan alis berkerut dibacanya sajak itu.
Biarpun baru berusia enam tahun, anak ini memang cerdik dan sudah dapat menghafal banyak sekali kata-kata tulisan sehingga sajak itu tidak terlalu sukar baginya untuk dapat dibacanya dengan mengerti.
Sehabis membaca sajak itu, ia lalu menghampiri Tan Siucai yang sudah bangkit duduk diatas lantai karena agaknya kemunculan anak perempuan itu membuat Ma-Ciangkun juga menyingkirkan injakan kakinya.
"Orang tua, tulisanmu bagus sekali, juga sajakmu bagus dan menggambarkan kenyataan. Akan tetapi engkau lancang sekali berani menulis sajak seperti ini di depan Ayah, padahal engkau tahu bahwa Ayah adalah seorang pedagang madat. Nah, pergilah! Dan dia itu siapa?"
Ia menuding ke arah Ci Kong yang masih berlutut.
Tan Siucai memandang anak perempuan itu dengan heran dan kagum, sungguh anak ini memiliki sikap yang penuh wibawa dan dari gerak gerik dan ucapannya, mudah diketahui bahwa ia seorang anak yang cerdik sekali.
"Dia adalah Ci Kong, anakku..."
Jawabnya lirih karena seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, terutama sekali dada kanannya yang tadi terkena tendangan kaki Ma Cek Lung.
"Aku benci melihat anak laki-laki merengek dan meratap minta ampun!"
Tiba-tiba Kui Eng berkata sambil memandang kepada Ci Kong. Ci Kong menoleh dan mereka saling pandang. Ci Kong mengerutkan alisnya dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api.
"Aku mintakan ampun untuk Ayah, bukan untuk diriku sendiri!"
Katanya, seketus suara Ciu Kui Eng. Sejenak mereka saling panadang dan Kui Eng lalu membalikkan tubuh, menghampiri Ayahnya.
"Ayah, biarkan mereka pergi."
Ciu Wan-gwe mengangguk dan berkata kepada Tan Siucai.
"Sasterawan jembel, bersyukurlah atas kemurahan hati anakku dan pergilah!"
Ma Cek Lung menggerakkan kakinya dan kembali kakinya menendang rusuk Kakek itu. Terdengar suara "bukk!"
Dan tubuh sasterawan itu terlempar, terbanting dan dari mulutnya keluar darah. Tendangan itu saja sedikitnya meretakkan dua tiga batang tulang rusuknya.
"Engkau telah nenimbulkan kekacauan dan engkau kuanggap pemberontak. kau harus pergi meninggalkan dusun ini, atau kau akan kutangkap dan kumasukkan penjara!"
Kata Ma Cek Lung.
Ci Kong membantu Ayahnya bangkit berdiri, mengumpulkan alat-alat tulis dan sambil memapah Ayahnya, anak itu lalu mengajak cepat-cepat pergi meninggalkan halaman gedung keluarga Ciu.
Setelah tiba di rumahnya, Tan Siucai jatuh sakit.
Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa ada empat tulang rusuknya yang patah dan retak-retak dan selain itu Tan Siucai juga menderita luka dalam yang cukup parah dan yang mengharuskannya tinggal di atas pembaringan selama sedikitnya satu bulan!
Tan Siucai teringat akan ancaman"
Ma-Ciangkun.
Dia harus pergi dari Tung-kang.
Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, mana mungkin dia dapat pergi?
Berjalan kaki jauh.
Tidak mungkin, menyewa kereta lebih tidak mungkin lagi karena dia tidak punya uang.
Dipanggilnya putranya pada keesokan harinya setelah semalam suntuk dia tidak tidur dan mempertimbangkan masak-masak apa yang harus dilakukan.
"Ci Kong, dengarkan baik-baik dan engkau harus mentaati semua permintaanku. Kemaskan semua pakaianmu, jadikan satu buntalan dan hari ini juga engkau harus pergi ke barat, ke kota Nan-ning..."
"Nan-ning? Di mana itu, Ayah? Aku belum pernah mengetahuinya..."
"Dengar baik-baik. Kota Nan-ning terletak di sebelah barat, di seberang sungai Si-kiang. Engkau harus menyeberang sungai itu dan menuju ke barat. Dengan bertanya-tanya, tentu engkau akan bisa menemukan kota Nan-ning..."
"Tapi kenapa aku harus pergi ke sana sendiri saja, Ayah? Engkau sakit, aku harus merawatmu. Kalau Ayah takut akan ancaman perwira itu, mari aku antar Ayah pergi meninggalkan dusun ini."
"Tidak, anakku, dan jangan membantah. Semua sudah kupikirkan baik-baik. kau pergilah ke Nan-ning dan di sana engkau carilah rumah seorang saudara angkatku. Ayahmu ini hidup sebatangkara, hanya dengan engkau seorang, akan tetapi ada seorang saudara angkatku yang bernama Sie Kian. Dia membuka toko obat di kota Nan-ning dan kau carilah dia, serahkan surat ini kepadanya. Dia yang akan mengatur semuanya, menolong kita pergi dari sini kalau perlu dan... Dan dialah satu-satunya orang yang dapat kau harapkan bantuannya kalau aku... tidak dapat menolongmu seperti keadaanku sekarang. Nah, cepat kau berkemas , Ci Kong."
Ci kong tidak banyak membantah lagi.
Dia tahu bahwa keputusan yang diambil Ayahnya itu tentulah yang terbaik untuk mereka.
Dan dia dapat menduga bahwa keadaan memang gawat dan tentu Ayahnya sudah memperhitungkan segalanya, maka diapun tidak ragu-ragu lagi walaupun ada juga rasa bingung dalam hatinya menghadapi perjalanan jauh ke tempat yang selamanya belum pernah diketahuinya itu.
Tidak banyak bekal yang dapat diberikan oleh Tan Siucai kepada puteranya, akan tetapi yang dia serahkan kepada Ci Kong adalah seluruh uang yang dimilikinya.
Setelah siap, Ci Kong berlutut di dekat dipan Ayahnya dan sasterawan itu menahan keluarnya air matanya.
Tidak, dia tidak boleh memperlihatkan kelemahan di depan puteranya yang menghadapi perjalanan sukar dan jauh.
Dia mengulur tangan menyentuh kepala Ci Kong, dibelainya rambut di kepala itu.
"Anakku yang baik, aku menyesal sekali tidak mampu memberi kehidupan yang lebih baik untukmu, bahkan kini terpaksa engkau akan mengalami kesengsaraan dengan melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Akan tetapi aku yakin bahwa engkau anakku yang baik, pandai membawa diri dan berani menghadapi segala macam kesukaran. Pergilah, anakku, dan carilah Sie Kian sampai dapat. Dialah satu-satunya orang yang boleh kau harapkan, boleh kita harapkan dan jangan sampai hilang di jalan suratku untuknya itu."
"Baiklah, Ayah, akan kulaksanakan semua perintah Ayah. Harap Ayah pandai-pandai menjaga diri dan jangan lupa minum obat yang telah diberi oleh sinshe kemarin."
Anak itu merasa bersedih dan terharu sekali harus meninggalkan Ayahnya dalam keadaan sakit seperti itu, namun dia mengeraskan hatinya dan menahan diri agar tidak menangis.
Baru setelah dia meninggalkan rumah, sambil berjalan Ci Kong menangis, mengusapi air mata yang menuruni sepanjang kedua pipinya.
Dia tidak tahu betapa pada saat itu, setelah dia pergi, Ayahnya juga mengusapi air mata dengan ujung lengan bajunya.
Tentu saja hati orang tua ini merasa hancur membayangkan betapa terpaksa anaknya yang masih begitu kecil harus melakukan perjalanan sukar seorang diri, bahkan mungkin anaknya mulai sekarang akan hidup sebatang kara di dunia yang kejamini.
Dia sudah mengambil keputusan.
Sakitnya takkan sembuh, ini dia dapat merasakan benar.
Biarpun tabib itu hendak menyembunyikan kenyataan, dia sendiridapat merasakan.
Apa lagi dia tidak mempunyai cukup uang untuk biaya pengobatan dirinya sampai sembuh, kalau hal itu mungkin.
Dan diapun teringat akan ancaman Ma-Ciangkun yang dia tahu bukan merupakan gertakan kosong belaka.
Sekali waktu ancaman perwira gendut itu tentu akan dilaksanakan dan dia tidak ingin puteranya ikut tertangkap nanti.
Ci Kong harus bebas dan satu-satunya jalan hanyalah lebih dulu pergi secara diam-diam dari Tung-kang.
Syukur kalau puteranya dapat bertemu dengan Sie Kian, saudara angkatnya di Nan-ning.
Andaikata tidak dapat jumpa, setidaknya Ci Kong sudah pergi jauh dari Tung-kang dan aman dari ancaman malapetaka yang datang dari Ciu Wan-gwe dan Ma-Ciangkun.
Kini keputusannya telah tetap.
Dia tidak boleh mati konyol begitu saja.
Sehari itu, juga pada malam harinya, Tan Siucai tiada hentinya menulis, dengan huruf besar-besar di atas kertas bertumpuk-tumpuk sampai habis kertas-kertasnya baru dia berhenti.
Kemudian, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia membawa kertas-kertas itu, berjalan terhuyung-huyung, menuju ke pasar yang berada di tengah-tengah dusun.
Kemudian, di tempat yang belum begitu ramai karena masih amat pagi itu, Tan Siucai menempel-nempelkan semua kertas yang sudah ditulisinya itu di atas papan-papan, pada dinding-dinding toko, pada batang-batang pohon.
Tentu saja hal ini menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat-tempat itu penuh dengan kerumunan orang dan dapat dibayangkan betapa kagetnya semua orang ketika membaca tulisan-tulisan Tan Siucai.
Mereka saling pandang dan saling bertanya-tanya apakah sasterawan yang mereka hormati dan kagumi tulisannya itu kini sudah menjadi gila!
Tulisan-tulisan itu adalah protes-protes terhadap para pejabat, dan protes akan adanya madat yang meracuni bangsanya.
Di antaranya terdapat kalimat keras.
"Para pendekar, di mana kegagahan kalian? Apakah kalian membiarkan saja bangsa kita menjadi pemadat-pemadat lemah yang mudah dihina orang?"
Dan ada lagi kecaman-kecaman keras terhadap para pejabat.
"Apakah para pembesar mengorbankan rakyat hanya untuk memenuhi kantong hasil perdagangan candu?"
Dan banyak macam lagi kata-kata yang mengejutkan semua orang karena kata-kata itu jelas merupakan protes keras dan dapat dianggap sebagai mengandung hasutan-hasutan pemberontakan!
Banyak orang yang sudah mengenal Tan Siucai memberi nasihat agar sasterawan itu menyingkirkan semua tulisan itu.
Akan tetapi hal ini membuat Tan Siucai marah dan dia berkata lantang.
"Kalau bangsa kita sudah begini pengecut, apa yang dapat diharapkan? Anak cucu kita akan menjadi hamba-hamba madat yang hina!"
Makin siang, makin banyak orang berkerumun dan tak lama kemudian, tentu saja pembesar setempat mendengarnya dan Tan Siucai ditangkap!
Ketika Ciu Wan-gwe mendengar akan hal ini, cepat dia menghubungi Ma Cek Lung yang segera mengirim pasukan untuk mengambil alih tawanan dari dusun Tung-kang itu.
Sebagai seorang tawanan berat, seorang yang dicap sebagai pemberontak, Tan Siucai lalu dibawa ke Kanton sebagai seorang tawanan yang diborgol kaki tangannya, diperlakukan kasar dan dijaga ketat seolah-olah dia seorang yang amat berbahaya!
Padahal, napas sasterawan itu sudah empas empis dan sukar sekali dia menggerakkan tubuhnya karena tarikan-tarikan dan pukulan-pukulan, serta perlakuan kasar yang didapatnya dari para perajurit ketika dia diseret, membuat luka-luka di tubuhnya semakin parah.
Dan apa yang diduga oleh kebanyakan orangpun terjadilah.
Tan Siucai meninggal dunia di dalam tahanan tanpa memperoleh kesempatan membela diri di depan pengadilan!
Banyak orang tahu bahwa di balik kematian Tan Siucai ini tentu tersembunyi rahasia.
Siapapun maklum akan kelihaian sasterawanitu dalam kesusasteraan dan andaikata sasterawan itu dihadapkan di pengadilan, tentu akan banyak yang dibicarakan, banyak yang akan dibongkarnya mengenai kebejatan-kebejatanyang terjadi.
Dan hal itu amatlah berbahaya bagi para pejabat setempat.
Lebih aman dan mudah kalau sasterawan yang memang sudah menderita luka dalam yang parah itu mati saja sebagai seorang tahanan.
Pada waktu itu, yang menjadi Kaisar dari kerajaan Ceng-tiauw atau kerajaan Mancu adalah Kaisar Tao Kuang, seorang Kaisar yang tidak berhasil mempertahankan kejayaan Kerajaan Mancu yang selama puluhan tahun dibina oleh mendiang Kaisar Kian Liong sehingga menjadi besar dan kuat.
Semenjak Kaisar Kian Liong meninggal dan singgasana diserahkan kepada Kaisar Cia Cing (1796-1820) sampai kini diduduki Kaisar Tao Kuang, putera Kaisar Cia Cing, Kerajaan Ceng-tiauw terus merosot.
Pemberontakan terjadi di mana-mana para pembesar mabok kekayaan dan kedudukan, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pembesar, dan penindasan kau m pembesar terhadap rakyat jelata untuk menambah isi gudang kekayaan mereka.
Korupsi terjadi di mana-mana.
Di bawah pemerintahan Kaisar Cia Cing setelah Kaisar Kian Liong meninggal, rakyat mulai mengenal madat.
Mula-mula madat itu didatangkan oleh para pedagang dari India, karena memang dari sanalah datangnya madat itu.
Setelah banyak orang mencobanya dan mulai ketagihan, perdagangan madat ini menjadi semakin subur.
Kebutuhan akan madat makin hebat, orang-orang yang ketagihan semakin banyak dan mulailah benda yang amat berbahaya itu mengalir dalam jumlah besar ke Cina.
Pada permulaan abad ke sembilan belas itulah, Persatuan Dagang India Timur (East India Company) milik orang-orang Inggeris, melihat kesempatan untuk mengeduk keuntungan yang amat besar.
Mereka lalu bersekutu dengan para pejabat pemerintah Ceng dan sebentar saja, dengan jalan penyuapan dan penyogokan, kau m pedagang Inggeris itu berhasil menguasai seluruh pejabat pemerintah di Kanton,dari gubernurnya sampai kepada perajurit-perajurit petugas keamanan.
Pemerintah Kaisar Tao Kuang sama sekali tidak mengijinkan peredaran madat itu dan mereka sudah tahu akan bahayanya.
Akan tetapi, di Kanton terjadi penyelundupan-penyelundupan atau penyuapan-penyuapan dan dengan cara bagaimanapun juga, orang-orang berkulit putih itu berhasil memasukkan madat dalam jumlah yang luar biasa besarnya ke daratan Cina.
Melalui madat, kau m kulit putih itu menghisap seluruh kekayaan Cina.
Dan melihat sukses yang diperoleh orang-orang Inggeris, maka bangsa kulit putih lainnya seperti Amerika, Portugis dan Belanda, juga tidak mau tinggal diam dan merekapun mengharakan bagian sehingga perdagangan madat menjadi semakin ramai.
Orang-orang kulit putih itu mengusap-usap perut gendut dan kantong padat, meninggalkan rakyat Cina menjadi kurus kering karena kehabisan kekayaan dan juga karena keracunan madat.
Cerita ini terjadi pada jaman itu, selagi madat merajalela di Cina, dan pusatnya berada di Kanton di mana terdapat banyak kantor-kantor perdagangan orang kulit putih.
Tidaklah mengherankan kalau Ciu Lok Tai menjadi kaya raya karena dia merupakan seorang di antara para pedagang madat yang menerima madat dari orang-orang kulit putih.
Dan tentu saja dia mempunyai hubungan erat dengan para pejabat, termasuk Ma Cek Lung yang menjadi komandan pasukan keamanan di Kanton.
Dan tidak mengherankan pula kalau Tan Siucai mati di dalam kamar tahanan karena dia berani menyinggung masalah yang amat peka itu, soal peredaran madat yang tentu saja dianggap membahayakan kedudukan para pembesar yang menjadi makmur karena perdagangan madat.
Pada waktu itu, orang-orang kulit putih tidak memperoleh kebebasan gerak di daratan Cina.
Mereka hanya boleh datang di dua tempat saja.
Yaitu pertama di Makao yang menjadi pusat orang-orang portugis berpangkal, sedangkan kota ke dua adalah Kanton.
Agaknya, setelah ribuan tahun lamanya mempunyai pemerintahan feudal dan keluarga Kaisar selalu menganggap derajatnya amat tinggi, jauh lebih tinggi dari derajat manusia biasa, bahkan Kaisar menganggap dirinya sebagai utusan Tuhan, maka setelah bangsa kulit putih mulai mengadakan hubungan dengan Cina, Kaisarpun memandang mereka itu atau bangsa-bangsa asing pada umumnya sebagai bangsa biadab.
Hal ini mungkin tadinya timbul karena di luar Cina banyak tinggal suku-suku bangsa yang liar dan yang selalu membikin kekacauan, menyerbu ke pedalaman sehingga timbul pandangan bahwa bangsa yang berada di luar Cina adalah bangsa liar atau bangsa biadab.
Pandangan yang besar sekali kemungkinan timbul karena kecongkakan pemerintahannya sebagai akibad sistim perbedaan kelas yang menyolok dari keluarga Kaisar ini kemudian menjalar ke seluruh rakyat sehingga timbul semacam penyakit dalam batin masyarakat Cina untuk menganggap bangsa apapun di luar Cina adalah bangsa biadab.
Kecongkakan dan pemujaan diri sendiri yang berlebihan ini menghancurkan Cina sendiri.
Karena congkak, mereka tidak mau tahu bahwa bangsa-bangsa biadab yang mereka pandang rendah itu telah memperoleh kemajuan pesat sekali dan sama sekali tidak dapat dinamakan bangsa yang lebih bodoh, lebih sederhana, atau lebih rendah dari pada mereka.
Bahkan untuk mengurus bangsa asingpun oleh pemerintah dinamakan Kantor Urusan Bangsa-bangsa biadab!
Kaisar keturunan Bangsa Mancu, yang sebelum menguasai Cina juga dianggap bangsa biadab oleh pribumi daratan Cina sendiri, agaknya sengaja mengangkat bangsanya agar terlupa bahwa mereka adalah suku bangsa di luar tapal batas Cina dan hendak melebur diri sendiri dengan pribumi.
Pemerintah mengadakan peraturan yang amat menghina bangsa asing.
Bangsa asing dari manapun juga yang hendak menghadap Kaisar harus tunggu berbulan lamanya dan diperlakukan sebagai utusan negara yang hendak menyataklan tunduk dan setia kepada Kaisar.
Mereka diharuskan menjura dengan hormat kepada Kaisar.
Kalau tidak mau melakukan penghormatan ini, mereka tidak akan diterima dan akibatnya mereka tidak boleh berdagang, apa lagi tinggal di Cina.
Pemerintah juga melarang orang-orang asing melakukan perdagangan langsung ke pasar-pasar, melainkan harus berhubungan dengan badan yang ditunjuk pemerintah khusus melayani mereka, dan badan atau orang ini disebut Co-hong.
Akibatnya tentu saja ada persekutuan antara orang-orang asing dengan Cohong-cohong ini, yang meluas menjadi kerja sama dengan para pejabat yang menerima suapan.
Pemberontakan yang merajalela di seluruh Tiongkok membuat pemerintah Kaisar Tao kuang menjadi semakin lemah.
Sementara itu, orang-orang Eropa yang datang ke daratan Cina bukan lagi perantau-perantau seperti abad-abad yang lalu, melainkan orang-orang yang mewakili negara-negara yang mulai berkembang menjadi negara yang kuat.
Mereka tidak mau direndahkan dan menganggap diri mereka lebih tinggi.
Merekalah yang menganggap Bangsa Cina masih terbelakang dan kuno, dan melihat negara dan bangsa itu merupakan makanan empuk dan merupakan pasar yang amat besar untuk menjual barang-barang dagangan mereka.
Akan tetapi, pada permulaan abad ke sembilanbelas itu, Cina tidak membutuhkan barang-barang dari Eropa.
Kemudian, setelah orang-orang kulit putih melihat kelemahan rakyat Cina yang mulai ketagihan candu, mereka melihat kesempatan baik sekali untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dan mulailah mereka memasukkan madat secara besar-besaran, madat yang mereka datangkan dari India.
Dan madat ini, seperti yang digambarkan oleh Tan Siucai, memang benar-benar merupakan malapetaka bagi rakyat Cina.
Dalam waktu beberapa tahun saja, racun itu bukan saja terdapat dalam rumah-rumah madat umum di mana para pecandu boleh membeli dan menghisap madat, akan tetapi juga sudah menyusup ke rumah-rumah para hartawan dan bangsawan, bahkan banyak sekali pendekar-pendekar gagah perkasa tunduk dan lumpuh oleh pengaruh madat, para pejabat juga menjadi hambanya.
Demikianlah gambaran sekilas tentang keadaan di jaman itu dan mari kita ikuti perjalanan Tan Ci Kong, putera tunggal Tan Siucai yang bernasib malang itu.
Pesan Ayahnya masih terngiang di telinganya ketika akhirnya dia tiba di tepi sungai Si-kiang, menyusuri tepi sungai sebelah utara menuju ke barat untuk mencari tempat penyeberangan.
Air sungai itu penuh dan arusnya deras sekali dan tidak nampak ada perahu disitu.
Di antara pesan Ayahnya yang paling membingungkan adalah ""Jangan sekali-kali engkau kembali ke Tung-kang sebelum ada berita dariku.
Kelak aku akan menyusulmu ke Nan-ning."
Jadi aku tidak akan melihat dusun tempat kelahiranku lagi, pikir Ci Kong ketika dia berjalan dengan menyusuri sungai.
Melakukan perjalanan di waktu itu tak dapat dibilang aman.
Penduduk tidak boleh membawa senjata dan tampa senjata di tangan, tentu saja orang mudah menjadi korban keganasan perampok-perampok yang bersenjata.
Akan tetapi, siapakah mau menganggu seorang anak laki-laki kecil, apa lagi kalau dia tidak memakai pakaian bagus dan tidak membekal uang?
Setelah menemukan perahu yang suka membawanya ke seberang dan melanjutkan perjalanannya yang amat melelahkan, berulah seminggu kemudian Ci Kong tiba di kota Nan-ning.
Kota ini tidak begitu besar dan tidak sukar bagi Ci Kong untuk menemukan toko obat milik orang yang bernama Sie Kian.
Dia tiba di toko itu setelah hari mulai gelap dan toko itu sudah tutup, hanya daun pintunya saja yang masih terbuka.
Sebuah toko sederhana saja, tidak terlalu besar.
Ketika Ci Kong mengetuk daun pintu perlahan, muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, pakaiannya seperti seorang pelajar dengan lengan baju yang lebar sekali.
Biarpun usianya baru lima puluh tahun lebih, akan tetapi kepala orang itu sudah putih, semua rambutnya sudah menjadi uban.
Wajahnya juga membayangkan bahwa hidupnya lebih banyak menderita dari pada bersuka ria.
Pandang matanya sayu dan gerak geriknya halus.
"Anak baik, apakah engkau hendak membeli obat? Ataukah ada yang sakit?"
Tanya Kakek itu denga sikap ramah. Ci Kong menggeleng kepala.
"Tidak, paman, saya mencari seorang paman yang bernama Sie Kian dan kata orang tinggal di toko obat ini."
Ci Kong memandang penuh selidik karena dia sudah menduga bahwa agaknya orang inilah sahabat Ayahnya itu.
"Sie Kian? Ah, aku sendirilah orangnya. Engkau anak kecil ada urusan apakah mencari aku? Dan darimana engkau datang? Nampaknya kau lelah sekali."
Bukan main girangnya hati Ci Kong ketika orang itu mengaku bernama Sie Kian, orang yang dicarinya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut sebagai penghormatan.
"Paman Sie Kian, saya datang diutus oleh Ayah saya yang bernama Tan Seng..."
Katanya dengan suara serak karena hatinya merasa terharu sekali. Orang itu terbelalak.
"Apa? kau maksudkan Tan Siucai... yang tinggal di Tungkang?"
"Benar, paman, dan ada surat dari Ayah untuk paman."
Ci Kong menurunkan buntalan pakaiannya dan hendak membukanya. Akan tetapi Sie Kian menangkap lengannya.
"Mari masuk, nak. Kita bicara di dalam saja."
Ci Kong menurut dan merekapun memasuki rumah itu.
Sie Kian menutup daun pintunya dan setelah mereka memasuki rumah itu, baru Ci Kong tahu bahwa laki-laki itu tinggal seorang diri saja dalam rumah ini, bahkan pelayanpun tidak punya.
Sie Kian mengajak anak itu duduk menghadapi sebuah meja dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu yang cukup besar.
"Duduklah. Taruh buntalanmu di atas meja dan keluarkan surat itu. Ingin sekali aku tahu apa isi surat Ayahmu,"
Kata Sie Kian, masih terheran-heran melihat anak sekecil ini datang sendirian saja dari tempat yang begitu jauhnya.
Hatinya merasa tidak enak.
Apakah gerangan yang terjadi dengan diri kakak angkatnya itu?
Sudah hampir se puluh tahun mereka tidak saling mengadakan hubungan dan dia tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan sasterawan itu.
Setelah dia membaca surat Tan Siucai yang diterimanya dari Ci Kong, wajah orang she Sie itu berobah agak pucat.
"Ah... ahhh...!"
Berkali-kali dia mengeluh, kemudian dia menyimpan surat itu di saku jubahnya.
"Anak baik, namamu Tan Ci Kong?"
"Benar paman."
"Engkau tinggallah disini bersamaku, engkau bisa membantuku. Besok aku akan menyuruh seorang teman untuk pergi ke dusunmu dan menyelidiki tentang keadaan Ayahmu. Kalau mungkin, aku akan membawa Ayahmu itu ke sini agar dapat kurawat dia sampai sembuh."
Tentu saja hati anak kecil itu menjadi girang sekali dan diapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Kian.
"Terima kasih, paman, aku Tan Ci Kong selama hidup tidak akan lupa kepada budi paman ini."
Sie Kian merangkul anak itu dengan hati terharu dan diam-diam dia merasa kagum.
Anak kecil ini bukan hanya tabah dan pemberani sekali, tahan menderita dan dapat melakukan perjalanan demikian jauhnya sendirian saja, akan tetapi juga baik budi dan berkelakuan sopan.
Mulai hari itu, Ci Kong membantu paman angkatnya yang tidak mempunyai pelayan.
Dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencari air, masak nasi dan air, juga belajar membuat masakan dari pamannya.
Sementara itu Sie Kiam mengutus seorang teman untuk melakukan penyelidikan ke Tung-kang.
Seminggu kemudian, teman itu datang kembali dan menyampaikan kabar yang amat mengejutkan hati Sie Kian, bahwa Tan Siucai telah tewas di dalam tahanan setelah ditangkap karena menempelkan tulisan-tulisan yang dianggap memberontak!
Sie Kian segera menutup tokonya dan membawa Ci Kong ke dalam kamarnya.
Di situ dia merangkul anak itu, tak mampu mengeluarkan kata-kata dan orang yang bertubuh agak gemuk pendek dan biasanya amat peramah dan halus budi ini menangis!
Ci Kong adalah seorang anak yang amat cerdik.
Melihat sikap pamannya, hatinya terasa perih seperti tertusuk.
"Paman Sie Kian, apakah yang telah terjadi dengan Ayahku?"
Mendengar pertanyaan ini Sie Kian makin mengguguk tangisnya dan dia mendekap kepala anak itu di dadanya.
Selama ini dia hidup menyepi seorang diri, tanpa sanak tanpa teman, dan segera tiba-tiba dia dipertemukan dengan anak kakak angkatnya ini, akan tetapi ternyata nasib anak ini demikian buruknya.
"Paman. Apakah Ayah... Ayah meninggal dunia?"
Sie Kian terkejut dan memegang kedua pundak kecil itu, melalui air matanya dia memandang wajah itu dengan heran. Ci Kong tidak menangis, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata.
"Paman, ketika aku disuruh pergi oleh Ayah, dia terluka parah dan hatiku sudah tidak enak. Sikap Ayah seolah-olah kami tidak akan saling bertemu kembali. Benarkah Ayah meninggal dunia...?"
Sie Kian menelan ludahnya dan mengangguk.
Ci Kong menjatuhkan dirinya berlutut, tidak menangis hanya menundukkan mukanya dan hanya beberapa butir air mata yang menuruni kedua pipinya.
Anak itu mengepalkedua tangannya yang kecil.
Hening sejenak, yang terdengar hanya tarikan napas panjang berkali-kali dari Sie Kian.
Kemudian terdengar suara Ci Kong, lirih dan agak gemetar.
"Paman Sie Kian, bagaimanakah meninggalnya Ayahku? Dan siapakah yang mengurus penguburannya?"
Dengan hati-hati dan perlahan-lahan Sie Kian lalu menceritakan apa yang telah didengarnya dari teman yang disuruhnya melakukan penyelidikan ke Tung-kang itu, betapa Ayah anak itu dalam keadaan sakit menempelkan tulisan-tulisan yang menentang madat dan mengutuk para pembesar dan pedagang madat, sehingga dia dianggap pemberontak, ditangkap dan karena keadaannya memang payah, dia meninggal dalam tahanan.
"Ayahmu sungguh keras hati dan nekat,"
Sie Kian berkata.
"Dalam keadaan masih sakit berat, dia bahkan berani bertindak demikian jauh sehingga menimbulkan keributan. Mungkin ketika ditangkap, dia berada dalam keadaan yang sudah menghebat sakitnya akibat luka-lukanya dan dia meninggal di dalam kamar tahanan."
"Ayah hebat!"
Tiba-tiba Ci Kong berkata sambil mengepal tinju.
"Biarpun lemah dan sakit, Ayah berani menentang apa yang dianggapnya tidak benar, kalau sudah besar, akupun ingin seperti Ayah!"
Sie Kian memandang kagum dan tiba-tiba ada sebuah pikiran menyelinap di benaknya.
"Ci Kong, dengar baik-baik. Peristiwa kematian Ayahmu ini mendorongku untuk segera membawamu pergi ke suatu tempat. Engkau tidak bisa tinggal terus disini...!"
Ci Kong mengerutkan alisnya, menatap wajah Sie Kian dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Apakah paman takut terlibat dan menerima akibat buruk dari urusan keluarga Ayah? Kalau begitu, biarlah aku pergi dari sini agar paman tidak sampai tersangkut."
Sie Kian merangkul pundak anak itu.
"Jangan salah sangka, anak baik. Dengarlah. Ayahmu dimusuhi oleh pemerintah, dan dicap pemberontak. Hal ini amat berbahaya bagimu. Kalau mereka tahu bahwa Ayahmu mempunyai seorang putera, tentu mereka akan mencarimu dan kalau sampai ketahuan engkau disini, bagaimana aku akan dapat melindungimu? Karena itu, engkau harus disingkirkan dan diselamatkan, disembunyikan dari mereka. Dan ke dua, engkau tadi mengatakan bahwa engkau ingin segagah Ayahmu, bukan? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat berhasil melakukan kegagahan kalau tubuhmu lemah seperti Ayahmu? Engkau harus menjadi seorang yang berbeda dengan Ayahmu yang hanya pandai menulis itu. Engkau harus menjadi seorang ahli silat yang pandai dan kuat."
Ci Kong yang masih kecil itu dapat menangkap apa yang dimaksudkan pamannya dan dia mengangguk-angguk.
"Lalu apa yang akan paman lakukan?"
"Aku akan mengantarmu ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang Hwesio tua yang berilmu tinggi. Aku mengenalnya dengan baik karena diantara kami terdapat kecocokan, yaitu kami sama-sama penentang pemerintah penjajah Mancu. Di sana engkau akan lebih terlindung, juga tersembunyi. Engkau dapat belajar ilmu dari Hwesio itu dan membantu pekerjaan di kuil. Setujukah engkau, Ci Kong?"
Anak itu mengangguk.
Dan pada hari itu juga Ci Kong dibawa oleh Sie Kian pergi ke sebuah kuil tua yang besar.
Kuil itu berada di lereng dekat puncak sebuah bukit, di sebelah utara kota Nan-ning, dua hari perjalanan dari kota itu.
Dari bukit inilah mengalirnya sungai Si-kang ke timur.
Ketua kuil itu bernama Nam San Losu, seorang penganut agama Budha yang taat, berusia enam puluh tahun lebih namun tubuhnya tinggi besar masih nampak kokoh kuat dan dengan wajahnya yang hitam dan kasar dia kelihatan seperti seorang yang berhati keras.
Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian karena Nam San Losu memiliki watak yang lembut, halus tutur sapanya dan halus gerak geriknya walaupun dalam setiap gerakannya itu tenaga yang amat kuat.
Dengan sabar Nam San Losu mendengarkan penuturan Sie Kian yang sudah lama menjadi sahabatnya karena keduannya suka bertukar pikiran tentang ilmu pengobatan, dan setelah Sie Kian selesai bercerita, Kakek kepala gundul itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.
"Omitohud...! Pinceng sendiri prihatin melihat betapa makin banyak rakyat yang menjadi korban madat. Kalau saja semua orang yang pandai memiliki kebijaksanaan seperti Tan Siucai, tentu pengaruh madat itu akan dapat ditentang dan ditolak."
Kemudian dia bertanya kepada Ci Kong.
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Namaku Tan Ci Kong, losuhu."
"Engkau tidak lagi mempunyai sanak keluarga di dunia ini?"
"Tidak, kecuali paman Sie Kian seorang."
"Pamanmu hendak menitipkan engkau disini, apakah engkau suka?"
Ci Kong mengangguk tampa menjawab, akan tetapi sinar matanya yang tajam berseri itu menunjukkan bahwa dia menyukai tempat sunyi yang berhawa sejuk itu.
"Ci Kong, tempat ini adalah sebuah kuil dan hanya orang-orang yang telah bersumpah mengabdikan dirinya kepada agama saja dan menjadi Hwesio yang tinggal disini. Pinceng tinggal disini bersama lima orang Hwesio yang menjadi murid pinceng. Akan tetapi kulihat engkau tidak mempunyai bakat untuk menjadi pendeta. Satu-satunya jalan agar engkau dapat tinggal disini untuk sementara waktu hanyalah menjadi muridku, bukan murid agama melainkan murid ilmu silat. Bagaimana?"
Ci Kong memang cerdik. Sebelumnya dia sudah mendengar penuturan Sie Kian tentang Hwesio tua ini, maka mendengar ucapan itu diapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hwesio itu.
"Teecu suka sekali menjadi murid Suhu dan akan mentaati segala petunjuk dan perintah suhu."
Hwesio itu tersenyum dan saling bertukar pandang dengan Sie Kian yang menganggukangguk girang dan kagum.
"Selain mempelajari ilmu silat, karena kau putera seorang siucai, engkaupun harus mempelajari ilmu sastera dan pinceng akan memimpinmu sedapat mungkin. Akan tetapi, di waktu tidak belajar engkau harus bekerja keras membantu para suhengmu di kuil ini."
"Teecu akan mentaatinya!"
Demikianlah, mulai hari itu, Sie Kian meninggalkan Ci Kong di kuil tua dan anak itu menjadi murid Nam San Losu, Hwesio tua yang hidup seperti pertapa di dekat puncak bukit sunyi itu.
Dia belajar ilmu silat dan sastera kepada Hwesio itu, dan bergaul dengan akrabnya dengan para suhengnya yang menjadi Hwesio -Hwesio berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun.
Anak ini rajin sekali, tidak pernah bermalas-malasan sehingga bukan saja Nam San Losu suka kepadanya, juga lima orang Hwesio lainnya menjadi sayang kepadanya.
Untunglah bagi Ci Kong karena Nam San Losu adalah seorang ahli silat dari Siauw-lim-pai dan betapapun beratnya gemblengan yang dilakukan Nam San Losu terhadap dirinya, dia terima dengan segala keikhlasan hati dan dia belajar tanpa mengenal lelah.
Malam yang gelap di kota Kanton.
Kota ini menjadi sebuah kota yang ramai dan mewah setelah kota itu ditentukan untuk menjadi kota perdagangan dengan orang-orang berkulit putih.
Kota inilah, disamping kota Makao, yang menampung penyelundupan candu dan di kedua kota ini rakyat dapat melihat orang-orang berkulit putih yang kalau masuk ke pedalaman, tentu akan menimbulkan perasaan heran bukan main karena kulit mereka yang putih, rambut dan bola mata mereka yang berwarna.
Malam itu gelap, kecuali rumah-rumah besar para pedagang kaya yang sekelilingnya digantungi lampu-lampu minyak yang besar dan yang sinarnya mendatangkan penerangan sekedarnya di jalan-jalan depan rumah-rumah gedung itu.
Rumah berpintu merah itu amat dikenal oleh mereka yang suka melacur dan mereka yang suka menghisap madat.
Di dalam rumah itu laki-laki iseng dapat menghamburkan uangnya untuk pelacur ataupun untuk menghisap madat.
Memang dua kebiasaan ini berdekatan selalu.
Kalau malam tiba, terdengar suara cekikikan ketawa wanita menyelinap keluar melalui jendela kamar-kamar itu bersama keluarnya asap tipis berbau madat yang memuakkan bagi mereka yang tidak biasa, Akan tetapi merupakan asap ajaib yang dapat mendatangkan kenikmatan tanpa batas bagi mereka yang telah mencandu.
Orang-orang yang tidak punya uang jangan harap dapat memasuki rumah berpintu merah ini, karena selain madat mahal harganya, juga para pelacur yang berkumpul disitu, yang jumlahnya belasan orang, terdiri dari pelacur-pelacur kelas mahal.
Seorang laki-laki tinggi kurus yang mukanya pucat kehijauan keluar dari dalam kamar yang bau pengap oleh asap madat dan dengan langkah terhuyung akan tetapi kedua kakinya bergerak ringan dia berjalan ke ruangan depan.
Sebuah buntalan kuning digendongnya di belakang punggung dan wajah si muka kehijauan ini nampak senyum penuh kepuasan seperti biasa senyum laki-laki yang meninggalkan kamar madat itu.
"Hai, A-Ceng! kau hendak kemana? Malam belum larut dan kau sudah mau pergi?"
Tegur seorang laki-laki gendut yang sedang memangku seorang pelacur dan bergurau dengan teman-temannya yang masing-masing dikawani seorang pelacur pula.
Mereka, empat orang itu, duduk menghadapi arak mengelilingi sebuah meja bundar dan agaknya mereka ini lebih suka minum-minum di situ ditemani pelacur dari pada menghisap madat atau melacur di dalam kamar.
Atau mungkin juga mereka tadi sudah puas menghisap madat.
Laki-laki kurus bermuka hijau itu menoleh dan tersenyum ketika melihat mereka berempat.
Hanya si gendut itu saja yang dikenalnya, yang lainnya tidak.
Kenalpun hanya selewat dengan si gendut karena si gendut itu adalah seorang tukang pukul yang melindungi tempat pelacuran dan pemadatan itu.
Secara sambil lalu dia berkenalan dengan si gendut, bahkan secara sembarangan dia memperkenalkan diri dengan nama palsu A Ceng, dan si gendut itu memperkenalkan namanya pula yang tidak diingatnya lagi, akan tetapi dia teringat akan julukan yang diperkenalkan dengan bangga oleh si gendut, yaitu "Si Kaki Besi."
Orang bermuka kehijauan yang mengaku bernama A Ceng itu melambaikan tangan sebagai balasan salam.
"Aku sudah puas menghisap, dan ada keperluan penting. Besok aku dating lagi!"
A Ceng melanjutkan langkahnya keluar dari rumah berpintu merah itu.
Si Kaki Besi memberi syarat kepada tiga orang kawannya.
Merekapun segera meninggalkan pelacur-pelacur itu dan dengan berindap-indap mereka berempat keluar pula dari tempat itu melalui pintu samping, dengan sikap yang amat mencurigakan.
Empat orang wanita pelacur itu saling pandang dengan heran akan tetapi seperti biasa, mereka tidak perduli dan segera memperbaiki muka dan rambut mereka dengan bedak, pemerah bibir dan sisir untuk menanti datangnya lain tamu iseng.
Malam masih terlalu panjang bagi mereka ini.
A Ceng berjalan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan tiba-tiba dia berhenti di dekat tempat terbuka yang sunyi, memandang ke kanan kiri dan belakang karena dia seperti mendengar suara yang mencurigakan.
Dari sikapnya yang penuh curiga dan waspada, dapat diduga bahwa dia tidak sedang berjalan-jalan biasa melainkan ada suatu urusan penting yang sedang dikerjakannya.
Tiba-tiba nampak empat bayangan orang berloncatan dan si gendut yang berjuluk Si Kaki Besi, tukang pukul rumah pelacuran dan pemadatan Pintu Merah telah berada di depan A Ceng, bersama tiga orang kawannya yang tadi minum-minum dengannya.
Melihat si gendut, wajah A Ceng yang tadinya terkejut nampak lega.
"Ah, kiranya engkau, Toako! Ada apakah menyusulku? Aku tidak meninggalkan hutang di rumah Pintu Merah."
Si gendut menyeringai.
"Hemm, engkau membawa bungkusan dari rumah itu. Aku harus memeriksanya dulu, sobat, apa isi bungkusan itu."
Wajah yang kehijauan itu berobah pucat dan matanya terbelalak. (Lanjut ke
Jilid 03) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 03
"Aku tidak mengambil apa-apa, tidak mencuri apa-apa. Ini adalah barang ku sendiri!"
"Heh, mana aku tahu kalau belum kulihat isi buntalan itu?"
Hardik si gendut dan dengan sikap mengancam dia mendekati A Ceng, diikuti tiga orang temannya yang jelas memperlihatkan sikap mengurung dan mengancam.
"Toako, sekali lagi kuperingatkan bahwa aku tidak mencuri apa-apa dan ketika memasuki rumah Pintu Merah aku sudah membawa barangku ini."
Bantah pula orang yang mengaku bernama A Ceng.
"Ha-ha! kau kira kami orang-orang bodoh atau buta? Engkau bukan bernama A Ceng, melainkan she Phek, seorang buaya darat dari sebelah utara Kanton. Engkau mengaku bernama A Ceng dan engkau membawa barang yang selalu kau rahasiakan. Hayo buka dan perlihatkan kepada kami!"
"Baiklah..., baiklah...!"
Kata A Ceng dan diapun menurunkan buntalannya dari gendongan dan meletakkannya di atas tanah.
Ketika dia membuka buntalan itu perlahan Pedang lahan, empat orang itu membungkuk di sekelilingnya karena mereka ingin melihat lebih jelas apa isi bungkusan itu dan tempat itu hanya mendapat penerangan sedikit saja dari lampu yang tergantung di rumah agak jauh dari tempat itu.
Dengan perlahan-lahan dan sikap tenang sekali A Ceng membuka buntalan kain kuning itu dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya bergerak ke atas.
Sinar-sinar hitam menyambar ke empat penjuru dan Si Kaki Besi bersama tiga orang kawannya berteriak kesakitan sambil menutupi kedua mata dengan tangan, menggosok-gosoknya karena mata mereka disambar pasir yang dilemparkan dengan tiba-tiba oleh A Ceng tadi.
A Ceng tidak membuang waktu lagi.
Melihat betapa empat orang itu kebingungan menggosok-gosok mata dengan kedua tangan, diapun cepat meloncat berdiri dan membagi-bagi pukulan dan tendangan yang dilakukan penuh pengarahan tenaga sinkangnya.
"Bukk...! Dess...! Kekkk...!"
Tiga orang teman Si Kaki Besi terjungkal ketika dua pukulan mengenai lambung dan sebuah tendangan mengenai selakangan.
Mereka roboh dan munta darah, lalu pingsan.
A Ceng mendesak terus, kini menyerang Si Kaki Besi dengan pukulan maut kea rah leher.
Akan tetapi Si Kaki Besi agaknya lebih pandai dari pada kawan-kawannya.
Dia dapat mendengar angin tendangan itu dan cepat meloncat ke belakang.
Ketika dia mendengar gerakan A Ceng menyerbu ke depan, cepat dia menggerakkan kedua kakinya bergantian dan memang Si Kaki Besi ini tidak sia-sia saja mempunyai julukan itu.
Kedua kakinya dapat melakukan tendangan berantai yang amat cepat dan amat kuat sehingga biarpun A Ceng yang menjadi kaget cepat mengelak ke samping, tetap saja sebuah tendangan menyerempet pahanya dan diapun roboh terguling.
Akan tetapi tendangan itu tidak tepat sekali dan A Ceng bergulingan menjauh sehingga tendangan-tendangan berikutnya yang dilakukan ngawur itu tidak mengenai sasaran.
Sayang bagi Si Kaki Besi bahwa dia belum dapat membuka kedua matanya yang masih terasa pedas dan perih terkena pasir yang tadi disambitkan A Ceng.
Maka kini dia hanya menyerang dengan ngawur, mengandalkan pendengarannya saja.
Sementara itu A Ceng atau yang lebih tepat sebenarnya bernama Phek Kiat itu, sudah meloncat lagi dan menjadi marah sekali.
Lawannya yang sudah tak mampu membuka mata itu masih dapat menendangnya sehingga hampir saja dia celaka.
Dengan cepat dan kuat dia lalu menyerang dari samping.
Si Kaki Besi mendengar angin serangan ini dan berusaha menangkis, akan tetapi tangkisannya luput dan sebuah pukulan yang keras mengenai lambungnya.
"Bukk...!"
Tubuh yang gendut itu terpelanting.
Sebelum dia dapat bangkit, sebuah tendangan mengenai dadanya dan kembali dia terjengkang.
Phek Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepadanya dan menghujankan pukulan dan tendangan.
Sebuah tendangan yang tepat mengenai tengkuk membuat Si Kaki Besi itu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi.
Melihat empat orang lawannya sudah menggeletak tak berkutik lagi, si muka hijau itu menyeringai puas dan kini nampaklah bentuk mukanya yang kejam, sinar matanya yang licik dan senyumnya yang menyeramkan.
Diperbaiki lagi buntalannya dan diapun cepat meninggalkan tempat itu.
Peristiwa itu terjadi amat cepatnya, di tempat sunyi dan gelap sehingga terjadi tanpa diketahui orang lain.
Akan tetapi agaknya tidak demikian.
Ketika A Ceng atau Phek Kiat meninggalkan tempat itu dengan berlari cepat dan ringan, sesosok bayangan berkelebat dan terus membayangi orang bermuka kehijauan itu.
Bayangan ini memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan sehingga langkah kakinya ketika berlari tidak menimbulkan suara apapun.
Namun, Phek Kiat agaknya merasa sesuatu yang tidak enak maka beberapa kali dia menoleh dengan tiba-tiba.
Hebat sekali gerakan bayangan itu.
Begitu Phek Kiat menoleh, dia sudah menyelinap dengan kecepatan seperti terbang dan setiap kali Phek Kiat menengok, dia tidak melihat apa-apa karena bayangan itu telah bersembunyi di balik pohon atau dinding rumah.
Phek Kiat melanjutkan larinya menuju ke pinggir kota yang sepi dan di bagian ini tidak ada rumahnya karena daerahnya terdapat banyak rawa dan sawah.
Phek Kiat tiba di atas sebuah jembatan yang tua.
Sunyi dan gelap di tempat ini, hanya diterangi bintang-bintang yang memenuhi langit.
Dan begitu tiba di tempat itu, Phek Kiat bersuit perlahan.
Tak lama kemudian suitan itu dibalas orang dan muncullah seorang laki-laki dari bawah jembatan.
Agaknya sejak tadi dia sudah menanti di situ dan seperti juga Phek Kiat, orang itu juga membawa sebuah buntalan hitam.
"Sin-touw (Maling Sakti), engkau sudah di sini pula? Bagus!"
Kata Phek Kiat dengan hati lega dan girang, apa lagi melihat betapa orang berpakaian hitam-hitam itu memondong sebuah buntalan hitam yang bentuknya persegi panjang.
"Phek Kiat, aku belum pernah melanggar janji. Engkau... sudah membawa... itu"?"
Tanya si baju hitam yang disebut Maling Sakti itu dengan suara agak gugup, lalu menoleh ke kanan kiri seolah-olah merasa takut kalau-kalau pembicaraan mereka dilihat atau didengar orang lain.
Akan tetapi tempat itu sunyi, tidak nampak sesuatu selain berkelap-kelipnya bintang-bintang di langit dan tidak terdengar sesuatu kecuali kerik jengkerik di sawah-sawah kering.
"Ha, jangan khawatir, sobat. Akupun bukan orang yang suka melanggar janji. Nih, sudah kubawa, lengkap seperti yang kau minta. Tiga puluh kati, sedikitpun tidak kurang, barang murni tidak campuran pula."
Phek Kiat menunjuk bungkusannya.
"Sobat Phek, tolong, beri aku sedikit dulu, sudah tiga hari aku tidak mengisap, badanku sakit semua rasanya, tolonglah... kau tentu membawa yang sudah dicampur tembakau, bukan?"
Si baju hitam itu mengeluarkan sebuah pipa cangklong kecil dari balik bajunya, pipa yang biasanya dia pakai untuk menghisap madat.
Kedua tangannya gemetar ketika dia mengeluarkan pipa itu.
Melihat ini, Phek Kiat tersenyum dan matanya bersinar aneh.
"Tentu saja, Sin-touw. Akan tetapi sejak tadi sudah ingin sekali melihat benda itu. Berilah aku lihat sebentar saja, dan aku akan memberi madat sampai engkau dapat menghisap sepuasmu. Coba buka dan perlihatkan padaku benda itu,"
Kata Phek Kiat sambil memandang ke arah buntalan kain hitam yang persegi panjang itu.
Maling Sakti itu agaknya sudah percaya benar kepada Phek Kiat, atau memang dia sudah amat ketagihan candu, maka diapun segera membuka buntalan kain hitam dan nampaklah sebuah peti hitam pula.
Dibukanya tutup peti itu dengan sebuah kunci dan begitu tutup peti itu terbuka, nampaklah sebuah benda berkilauan, benda yang berwarna hijau kemerahan, berbentuk sebatang pedang kecil berukir tubuh naga dan benda itu terbuat dari batu giok yang luar biasa indahnya!
Sepasang mata Phek Kiat terbelalak penuh kagum.
Sungguh selama ini tidak pernah dia dapat membayangkan akan dapat melihat benda pusaka ini, bukan hanya melihatnya, bahkan sebentar lagi benda itu akan menjadi miliknya!
"Giok-liong-kiam...!"
Bisiknya.
"Ya, Giok-liong-kiam...!"
Kata pula Sin-touw dengan suara penuh kebanggaan.
Siapa yang takkan merasa bangga telah berhasil mencuri sebuah benda keramat, pusaka yang dikagumi dan diinginkan oleh seluruh tokoh besar dunia persilatan?
Hanya dialah yang mampu dan julukannya Sin-touw kiranya pantas diabadikan karena dia telah berhasil memiliki benda pusaka ini.
Akan tetapi semenjak dia berhasil mencuri benda pusaka ini kurang lebih setengah tahun yang lalu, hidupnya menjadi sengsara!
Dia harus melarikan diri terus dan selalu bersembunyi, tidak pernah berani muncul di siang hari.
Keselamatannya terancam karena banyak sekali orang pandai mencarinya, begitu terdengar berita di dunia kang-ouw bahwa pusaka Giok-liong-kiam lenyap dari ketua perkumpulan Thian-te-pai (Perkumpulan Langit Bumi)!
Bukan hanya jagoan-jagoan Thian-te-pai yang mencari jejaknya, bahkan tokoh-tokoh besar dari semua golongan juga mencari maling yang telah melarikan pusaka itu.
Bahkan juga dari istana muncul jagoan-jagoan yang berkeliaran mencari pusaka itu.
Seolah-olah terjadi perlumbaan untuk memperebutkan benda pusaka itu.
Setelah kini benda pusaka itu bukan lagi menjadi pusaka Thian-te-pai, karena sudah berhasil dicuri orang, maka semua golongan mencarinya dan kini siapa yang berhasil merampasnya dari si pencuri, berarti berhak untuk memiliki pusaka keramat Giok-liong-kiam atau Pedang Naga Kemala.
Inilah sebabnya maka Sin-touw yang merasa hidupnya terancam, ketika bertemu dengan Phek-Kiat yang sudah lama dikenalnya sebagai seorang penjahat yang cerdik dan licik, dia mengadakan perjanjian dengan orang itu.
Dia yang sudah ketagihan candu, setuju untuk menukarkan benda pusaka itu dengan tiga puluh kati madat murni.
Tiga puluh kati!
Jumlah yang tidak sedikit dan mahal sekali harganya.
Dan bukan itu saja.
Juga Phek Kiat berjanji untuk mencukupi semua kebutuhannya akan madat kalau yang tiga puluh kati itu sudah habis.
Berarti selama hidupnya dia tidak akan kekurangan candu.
Kesenangannya terpenuhi, keselamatannya tidak terancam lagi dan selain itu, yang lebih penting lagi, dia tahu di mana adanya pusaka itu.
Dia seperti menitipkannya saja kepada Phek Kiat, mengalihkan bahaya yang mengancam kepada orang she Phek itu.
Dan kalau sewaktu-waktu dia hendak mengambil kembali benda pusaka itu, apa sukarnya baginya untuk mencari Phek Kiat?
Bahkan, kalau keadaan memaksa, dia dapat menjual orang itu kepada tokoh pandai yang mengejar, dan untuk keterangan bahwa dia tahu dimana adanya benda pusaka itu, tentu dia akan memperoleh hadiah yang amat besar pula.
Dia harus dapat mengeduk keuntungan sebanyaknya dari Giok liong-kiam tanpa membahayakan keselamatan diri sendiri.
Sin-touw menutupkan kembali peti hitam itu dan lenyaplah sinar berkilauan hijau tadi.
Dan kembali dia menyodorkan pipa cangklong tembakau kepada Phek Kiat.
"Nah, sekarang isilah cangklong agar aku dapat menghisapnya dulu barang beberapa kali sedotan."
"Baiklah, sobat, baiklah,"
Kata Phek Kiat yang segera mengeluarkan sebuah kantong dari saku bajunya.
Kantong itu dibuka dan dia mengambil atau menjumput tembakau madat dengan tiga buah jari tangannya, lalu mengisi mulut pipa cangklong itu dengan tembakau sampai penuh padat.
Akan tetapi, tiba-tiba sekali Sin-touw yang sejak tadi sudah menempelkan mulutnya pada ujung pipanya, mengerahkan tenaganya meniup.
"Srrrr...! "
Sebatang jarum hitam halus menyambar dari sebuah lubang rahasia di bawah cangklong dan karena jaraknya amat dekat, jarum yang tiba-tiba meluncur itu dengan tepat sekali mengenai tenggorokan Phek Kiat yang sama sekali tidak menduganya dan tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak.
Tahu-tahu jarum itu telah menusuk tenggorokannya.
Dia terkejut dan merasa tenggorokannya panas dan perih sekali.
Dia terbelalak memandang pencuri itu.
"Keparat...! kau ... kau ...!"
Dia menerjang ke depan, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantam.
Akan tetapi, Sin-touw sudah bersiap siaga, sekali menggerakkan kakinya dia sudah meloncat jauh ke belakang sehingga tubrukan A Ceng atau Phek Kiat mengenai tempat kosong dan tubuh itupun terguling.
Phek Kiat bukanlah seorang lemah, akan tetapi jarum yang menancap hampir seluruhnya ke dalam tenggorokannya itu bukan jarum sembarangan, melainkan jarum yang mengandung racun amat keras sehingga begitu tempat yang lemah itu tertusuk, racun dalam jarum itu sudah terbawa oleh darah dan menjalar amat cepatnya.
Leher itu seketika menjadi bengkak dan Phek Kiat merasa kepalanya pening berputar sehingga dia roboh dan berkelojotan.
Sin-touw tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha..., baru engkau tahu akan kelihaian Sin-touw, ha-ha-ha!"
Dia merasa girang sekali.
Akal ini baru diperolehnya tadi ketika dia menanti munculnya Phek Kiat di bawah jembatan.
Dia teringat bahwa Phek Kiat adalah seorang penjahat yang amat licin dan keji dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia memilih Phek Kiat sebagai orang yang akan menyimpan Giok-liong-kiam.
Bagaimana kalau kelak dia ditipunya?
Bagaimana kalau Phek Kiat di luar tahunya menjual pusaka itu dengan harga yang amat tinggi, beberapa kali lipat dari sekedar tiga puluh kati candu?
Dan hal ini amat boleh jadi mengingat bahwa Phek Kiat adalah seorang yang berwatak rendah.
Lebih baik mencari orang lain yang lebih dapat dipercaya, demikian timbul pikirannya dan diapun mencari akal untuk membatalkan jual beli itu dengan membunuh Phek Kiat.
Dan candu tiga puluh kati itu akan menjadi miliknya, dengan gratis karena pusaka Giok-liong-kiam masih akan tetap berada padanya.
"Ha-ha-ha-ha!"
Si Maling Sakti tertawa lagi, lalu merenggut buntalan dari pundak tubuh Phek Kiat yang sudah kaku tak bergerak lagi.
Dibukanya buntalan itu dan ketika dia melihat candu sebanyak itu, kembali dia tertawa girang.
"Aku harus memberi selamat kepada diri sendiri dengan mengisap sepuasnya!"
Dia lalu menyeret tubuh tubuh Phek Kiat yang sudah tidak bernyawa itu ke bawah jembatan.
Kemudian diapun mengikat dua bungkusan itu menjadi satu dan menggendongnya di punggung.
Setelah duduk di dekat mayat Phek Kiat, dia lalu menyalakan tembakau di mulut pipa cangklongnya dan mulailah dia mengisap tembakau madat.
Wajahnya berseri gembira dan matanya terpejam ketika dia menyedot asap candu itu sampai memenuhi paru-parunya.
Terasa nikmat sekali dan dia menghisap terus-menerus dan sambung-menyambung.
Akan tetapi tiba-tiba dia tersentak kaget, pipa cangklong itu dibuangnya dan diapun meloncat bangun, menekan dadanya.
Akan tetapi, dia terguling roboh dan muntah-muntah, kedua tangannya mencengkeram ke arah dadanya dan ditarik-tariknya bajunya sehingga robek-robek.
Mukanya kini berobah kehitaman, tidak lagi berseri-seri melainkan penuh ketakutan dan kemarahan.
"Celaka...! Jahanam keparat...!"
Dia memaki dan dengan marah dia menendang mayat Phek Kiat.
Akan tetapi baru dua kali dia menendang, tubuhnya terguling dan berkelojotan dan tak lama kemudian nyawanya menyusul Phek Kiat.
Kiranya tembakau madat yang oleh Phek Kiat dimasukkan ke dalam pipa cangklong itu bukanlah tembakau biasa, melainkan tembakau madat yang sudah dicampuri racun yang jahat sekali.
Baru menyedot satu kali saja sudah cukup untuk membunuh orang, apa lagi Sin-touw yang menghisapnya berkali-kali sampai paru-parunya penuh!
Setelah tubuh Sin-touw tidak bergerak lagi, mencullah sesosok bayangan hitam yang gerakkannya gesit.
Dia meloncat turun ke bawah jembatan, sejenak berdiri memandang dua mayat itu dan dia tertawa terkekeh.
Suara ketawanya aneh menyeramkan, seperti ringkik kuda dan perutnya yang gendut bergoyang-goyang.
"Manusia-manusia hina, kalian memang tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini. Orang-orang macam kalian mana pantas menjamah Giol-liong-kiam?"
Dia lalu menggerakkan tangannya dan tahu-tahu buntalan kain hitam persegi panjang itu sudah direngutnya dari punggung mayat Sin-touw.
Dibukanya buntalan itu dan ketika dia membuka tutup peti, matanya bersinar-sinar melihat pedang kemala yang berkilauan kehijauan itu.
Ditutupnya kembali peti itu dan tiba-tiba dia memandang ke kanan kiri seperti orang khwatir.
Hati siapakah yang tidak merasa gelisah setelah berhasil memperoleh Giok-liong-kiam?
Benda pusaka ini diinginkan oleh semua orang di dunia persilatan, baik dari golongan sesat maupun para pendekar.
Bahkan orang-orang dari istana juga menginginkannya.
Belum lagi diingat orang-orang dari Thian-te-pai yang ingin merampas kembali benda pusaka perkumpulan mereka.
Para tokoh dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun golongan pendekar, ingin menguasai Giok-liong-kiam karena benda pusaka ini menjadi lambang dari keunggulan seseorang, menjadi bukti ketinggian tingkat kepandaiannya dan bahkan sebelum benda itu terjatuh ke tangan Thian-te-pay, pernah Giok-liong-kiam dianjurkan oleh para datuk persilatan untuk menjadi tanda kuasa seseorang Bu-Lim Beng-cu (Ketua Dunia Persilatan) yang diakui oleh semua orang di dunia kang-ouw!
Ada pula golongan sesat yang menginginkan benda itu bukan karena kekeramatannya, melainkan karena harganya.
Benda itu amat berharga karena selain batu kemala hijau kemerahan itu merupakan kemala pilihan yang sukar didapatkan di dunia ini, juga ukir-ukiran berbentuk pedang naga itu amat halus dan indahnya, kabarnya dilakukan oleh seorang ahli ukir di jaman ahala Tang, ahli ukir dari istana yang kenamaan, seribu tahun yang lalu.
Sukar dinilai berapa harganya benda itu dan agaknya orang-orang yang kaya raya akan berlumba membelinya dengan harga yang paling tinggi sekalipun!
Tidaklah mengherankan kalau terjadi pembunuhan-pembunuhan keji semenjak orang tahu bahwa A Ceng atau Phek Kiat sedang melakukan urusan yang ada kaitannya dengan Giok-liong-kiam.
Mula-mula dengan matinya Si Kaki Besi dan tiga orang kawannya yang hendak merampas tiga puluh kati madat dari tangan Phek Kiat, kemudian kematian Phek Kiat dan Sin-touw yang saling membunuh untuk memperebutkan Giok-liong-kiam dan madat yang banyak itu.
Dan kini, si Gendut berpakaian serba hitam itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan menggendong Giol-liong-kiam baik-baik dan merasa cemas.
Akan tetapi diapun lalu mengambil buntalan madat karena madat sebanyak tiga puluh kati itu merupakan harta yang amat banyak pula.
Sambil menyeringai puas dan girang si gendut berpakaian hitam itu melompat ke luar dari bawah jembatan, setelah merasa yakin bahwa tempat itu sunyi dan tidak ada orang lain kecuali dia yang menyaksikan perkelahian antara Phek Kiat dan Sin-touw yang mengakibatkan keduanya tewas itu.
Setelah kedua kakinya dengan ringan sekali hinggap di atas jembatan, dia celingukan lagi dan makin legalah hatinya ketika melihat kesunyian sekeliling jembatan itu.
Malam itu juga dia harus dapat keluar dari kota Kanton, pikirnya.
Dia tidak akan merasa aman sebelum meninggalkan Kanton.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, si gendut baju hitam itu dapat lolos dari kota dengan jalan melompati pagar tembok kota di bagian yang sunyi tidak terjaga.
Setelah meloncat ke luar dari tembok, dia lalu mempercepat gerakan kakinya, berlari seperti terbang menuju ke utara.
Tujuannya adalah ke kota Sau-koan di mana dia mempunyai seorang sahabat yang dapat dimintai tolong agar membantunya menyembunyikan diri untuk sementara.
Menjelang pagi, selagi dia menuruni sebuah bukit kecil, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda dari belakang.
Dia terkejut sekali.
Akan tetapi setelah dia mendengarkan dengan teliti dan ternyata yang datang dari belakang itu hanya seekor kuda saja, hatinya menjadi tenang.
Kalau hanya menghadapi seorang lawan saja, dia tidak takut.
Apa lagi yang datang dari belakang itu belum tentu seorang musuh, mungkin sekali hanya orang yang kebetulan lewat saja.
Karena itu, setelah mempererat gendongannya, dia melanjutkan perjalanan dengan jalan seenaknya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak lama kemudian, setelah derap kaki kuda itu semakin keras suaranya, muncullah seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya mendahului si baju hitam.
Si gendut baju hitam ini melirik dan dia melihat seorang laki-laki tinggi besar menunggang kuda yang besar pula.
Seorang laki-laki biasa saja yang pandai menunggang kuda dan agaknya tergesa-gesa.
Akan tetapi ketika si gendut itu melihat baju orang itu, jantungnya berdebar tegang, Baju Kulit Harimau!
Teringatlah dia akan nama Lam-hai Ngo-houw (Lima Harimau Laut Selatan) yang terkenal di Kanton, lima orang kakak beradik yang ditakuti, karena mereka adalah orang-orang kuat yang kadang-kadang mengandalkan kekuatan dan kepandaian silat mereka untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang-orang atau golongan yang lebih lemah.
Ciri khas mereka adalah baju harimau mereka.
Biar dalam musim panas sekalipun mereka tak pernah menanggalkan baju harimau mereka.
Akan tetapi, penunggang kuda ini hanya seorang saja, pikir si gendut baju hitam.
Dan kabarnya Lam-hai Ngo-Houw selalu maju berlima.
Mungkin bukan mereka, dan andaikata benar orang ini seorang di antara Lima Harimau itu, takut apa?
Orang itu tentu tidak tahu apa isi dua buntalan di punggungnya.
Juga dia tidak pernah berkenalan dengan Lam-hai Ngo-houw dan tidak mempunyai urusan apapun juga.
Tanpa sebab, tidak mungkin Lam-hai Ngo-houw mau mengganggu dirinya.
Hatinya lebih tenang melihat betapa penunggang kuda itu membalap terus dan agaknya sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Karena hatinya lega, si gendut itu lalu beristirahat di dalam sebuah hutan dan pada keesokan harinya, setelah matahari mulai mengusir kegelapan malam, diapun melanjutkan perjalanan menuju ke utara.
Dia tahu bahwa setelah dia keluar dari dalam hutan ini, kota Saukoan tinggal belasan li saja lagi jauhnya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dia mendengar suara auman harimau dari depan!
Seekor harimau!
Dia merasa heran sekali karena dia bukan seorang asing di daerah ini dan dia tahu betul bahwa di hutan ini tidak pernah orang bertemu harimau.
Akan tetapi auman itu jelas merupakan auman harimau.
Tiba-tiba dia terlonjak kaget ketika terdengar auman harimau lain lagi, kini datang dari arah belakangnya!
Ketika terdengar lagi suara auman dari kanan kiri, keheranannya berobah menjadi kegelisahan dan mukanya berobah agak pucat.
Tidak mungkin ada harimau demikian banyaknya tersesat di dalam hutan Ini!
Harimau!
Lima ekor banyaknya!
Tiba-tiba wajah si gendut menjadi semakin pucat dan dia siap siaga menghadapi segala kemungkinan karena dia teringat akan penunggang kuda berjubah harimau semalam.
Dan ketika tiba-tiba bermunculan lima orang berjubah harimau dari semua penjuru, si gendut jubah hitam itu tidak begitu kaget lagi karena memang dia sudah menduga bahwa tentu suara-suara harimau itu perbuatan Lam-hai Ngo-houw yang agaknya sengaja menghadangnya di tempat ini.
Tahulah dia sekarang bahwa penunggang kuda semalam itu hanya ingin memperoleh keyakinan bahwa dia memang memasuki hutan ini.
Diam-diam dia merasa menyesal sekali atas kelengahannya sendiri.
Kalau dia berhati-hati dan sudah menduga lebih dulu akan berurusan dengan Lam-hai Ngo-houw, tentu malam tadi diam-diam dia melarikan diri.
Banyak terdapat kesempatan baginya untuk diam-diam merobah tujuan perjalanan semalam.
Akan tetapi kini sudah terlanjur dan pula, andaikata dia merobah tujuan dan melarikan diri, siapa tahu lima orang jahanam ini sudah selalu mengintai dan membayanginya.
Dia menabahkan hatinya dan berhenti melangkah, memandang kepada laki-laki tinggi besar berkumis tebal yang agaknya menjadi pemimpin dari lima orang berjubah harimau itu.
"Maafkan saya,"
Katanya dengan sikap merendah.
"Saya adalah seorang perantau yang tidak mempunyai apa-apa dan tidak pernah mengganggu orang. Ada keperluan apakah ngo-wi menghadang perjalanan saya?"
Si kumis tebal menyeringai dan memandang tajam, bukan ke arah wajah si gendut, melainkan ke arah punggungnya.
Hal ini saja membuat si gendut menjadi semakin gelisah dan dia sudah dapat menduga bahwa lima orang ini agaknya tahu akan isi kedua bungkusannya.
"Hemm, bukankah engkau yang berjuluk Tai-lek Hek-wan (Lutung Hitam Tenaga Besar) dari Nan-leng?"
Si gendut yang dijuluki Lutung Hitam itu terkejut. Kiranya lima orang ini sudah mengenalnya! Maka diapun tidak mau berpura-pura lagi dan cepat menjura.
"Saya seorang perantau dari Nan-leng merasa gembira sekali dapat bertemu dengan Lam-hai Ngo-houw yang terkenal gagah perkasa!"
"Hemm, mengapa bergembira?"
Tanya si kumis tebal dengan suara bernada ejekan.
"Bertemu dengan orang-orang segolongan, berarti bertemu dengan saudara sendiri. Persatuan antara kita akan menciptakan kekuatan untuk menghadapi lawan kita bersama. Sebaliknya perpecahan di antara kita hanya akan mendatangkan kelemahan dan menguntungkan pihak lawan."
Lima orang itu saling pandang.
"Siapakah lawan yang kau maksudkan, Hek-wan?"
Tanya si kumis tebal. Tai-lek Hek-wan menarik napas panjang.
"Bnyak sekali! Terutama sekali orang-orang yang berhati sombong selalu mengejarku dan kalau aku tidak bertemu dengan kalian berlima, tentu aku akan celaka. Aku minta bantuan kalian agar kita dapat bekerja sama, dan segala keuntungan yang kudapatkan, tidak akan kumakan sendiri. Buktinya, inilah kuberikan untuk kalian!"
Dia lalu menurunkan buntalan madat dan melemparkannya kepada si kumis tebal.
Orang tinggi besar ini menerima buntalan itu dan membukanya, diikuti oleh empat orang adiknya.
Ketika mereka melihat isi buntalan yang ternyata adalah madat murni yang demikian banyaknya, mereka terbelalak.
"Madat...?"
Si kumis tebal berseru.
"Dan ini masih murni...?"
Si gendut tertawa, merasa menang dan berhasil mengambil hati mereka sebagai kawan.
Untuk sementara ini dia harus mempergunakan akal menambah teman, bukan menambah musuh.
Dia tidak takut menhadapi lima orang ini, akan tetapi selama Giok-liong-kiam belum dia simpan dan sembunyikan dengan baik, berbahayalah menentang mereka ini sambil membawa benda pusaka itu.
"Ha-ha, itu baru sebagian, Lam-hai Ngo-houw. Kalau kalian mau bersekutu dengan aku, masih banyak lagi kelak bagian kalian. Bagaimana? Ataukah kalian mau nekat menggangguku, belum tentu kalian menang dan kalian akan menghadapi semua pendekar yang melakukan pengejaran kepadaku?"
Lima orang itu adalah tukang-tukang pukul bayaran yang sudah biasa menerima pembayaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan kekerasan.
Kini ada orang yang memberi hadiah madat demikian banyaknya, tentu saja hati mereka senang sekali.
Mereka bukan pemadatan, akan tetapi mereka yang menjadi penduduk Kanton tentu saja tahu betapa mahalnya benda itu.
"Dan... Giok-liong-kiam...?"
Akhirnya si kumis tebal bertanya sambil memandang ke arah buntalan yang ke dua dan yang berada di punggung Tai-lek Hek-wan.
Si Lutung Hitam ini tersenyum, namun hatinya mendongkol sekali.
Kiranya lima orang kasar itu sudah tahu pula akan Giok-liong-kiam!
"Itulah yang menggelisahkan hatiku, kawan,"
Katanya dengan sikap sebagai seorang atasan terhadap para pembantunya.
"Dengan kelihaianku, aku berhasil mendapatkannya. Akan tetapi betapa banyaknya orang yang hendak memperebutkannya, dan bukan hanya orang-orang biasa. Karena itu, kita harus bersatu menghadapi mereka. Dan kelak, kalau aku berhasil menjualnya dengan harga tinggi, kita bagi bersama."
Kembali lima orang itu saling pandang dan akhirnya si kumis tebal mengangguk-angguk.
"Baiklah, melihat pemberianmu ini kepada kami, kami menilai, bahwa engkau seorang kawan baik. Akan tetapi kelak jangan lupakan kami kalau benda itu sudah menjadi uang."
Sebelum Hek-wan menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang lirih namun jelas sekali seolah-olah suara itu berada di dekat telinga mereka berenam.
Suara ketawa wanita yang tidak nampak orangnya, merdu dan juga halus menusuk anak telinga, seperti suara ketawa kuntilanak dalam dongeng.
Tentu saja enam orang kasar itu, apa lagi setelah kini mereka bersatu, tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
Akan tetapi menghadapi mahluk yang tidak nampak, hanya terdengar suara ketawanya saja yang demikian merdu, mereka terbelalak dan memandang ke kanan kiri tanpa hasil karena tidak nampak seorang wanita di sekeliling tempat itu.
"Hik-hik, tikus-tikus kecil mana ada harga untuk bicara tentang Giok-liong-kiam?"
Tiba-tiba suara ketawa itu disusul kata-kata mengejek dan kini suara itu datangnya dari atas.
Enam orang itu memandang ke atas dan tiba-tiba dari atas melayang turun bayangan merah yang menyambar ke arah Hek-wan.
Tentu saja si Lutung Hitam terkejut sekali, maklum bahwa orang ini menyeranganya untuk merampas buntalan Giok-liong-kiam.
Dia cepat mengelak dengan meloncat ke kiri sambil menggerakkan kakinya menendang ke arah tubuh yang menyambar dari atas bagaikan seekor burung walet cepatnya itu.
"Plakkk...!"
Kaki Hek-wan yang menendang bertemu dengan tangan yang dimiringkan dan akibatnya, tubuh Hek-wan terjengkang dan bergulingan.
Dia merasa ada angin menyambar ketika dia bergulingan dan cepat dia menggerakkan tangan untuk menangkis atau mencengkeram.
Akan tetapi tiba-tiba dia merasa buntalan di punggungnya terlepas dan ketika dia meloncat berdiri buntalan persegi panjang itu telah berada di tangan seorang wanita cantik berpakaian merah!
Tentu saja si gendut ini menjadi terkejut dan marah sekali.
Giok-liong-kiam telah dirampas orang sedemikian mudahnya.
Dan kini wanita berpakaian serba merah itu, yang usianya sekitar tiga puluhan tahun, dengan amat tenang berdiri mengamat-amati peti hitam panjang lalu membuka tutupnya dan melihat isinya yang membuat matanya terbelalak lebar dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum kagum dan wanita itu mengguman lirih.
"Giok-liong-kiam... Indah sekali..."
"Kembalikan barangku! "
Hek-wan membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke depan dengan cepatnya.
Gerakan Tai-lek Hek-wan ini selain cepat juga amat kuat karena dia terkenal sekali memiliki tenaga yang besar.
Dan kecepatan gerakannya inipun sesuai dengan julukannya Lutung Hitam, karena memang dia dapat bergerak cepat dan lincah seperti seekor monyet atau lutung.
"Wuuuttt!"
Tubrukan Hek-wan untuk merampas pedang kemala dengan tangan kiri dan menyerang dengan tangan kanan yang mencengkeram ke arah kepala wanita itu hanya mengenai tempat kosong saja karena wanita itu tahu-tahu sudah menyingkir dengan gerak langkah kaki ringan dan aneh, tanpa menghentikan pekerjaannya mengagumi pedang itu!
Kembali Hek-wan menubruk, akan tetapi sekali lagi serangannya dielakkan dengan amat mudahnya.
Tahulah Tai-lek Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang amat pandai, maka untuk ketiga kalinya dia menyerang, sepenuhnya menyerang, bukan seperti tadi perhatiannya dipecah untuk merampas Giok-liong-kiam.
Dan serangan seorang bertenaga besar seperti Tai-lek Hek-wan amatlah berbahaya dan agaknya hal inipun diketahui oleh wanita itu yang sudah mengalungkan bungkusan itu di lehernya.
Wanita itu bukan hanya mengelak sekarang, melainkan menangkis dari samping.
"Heiiittt...!"
Dan tangkisan tangan yang kecil lunak itu membuat Hek-wan terpelanting kehilangan keseimbangan badannya! Terkejutlah Hek-wan. Dia berhasil melompat bangun.
"Ngo-houw, bantulah!"
Teriaknya tanpa malu-malu lagi karena kini dia hampir yakin bahwa dia berhadapan dengan lawan yang lebih tinggi tingkat ilmu silatnya.
Lam-hai Ngo-houw yang dipimpin oleh si kumis tebal itupun cepat bergerak mengurung.
Mereka melihat betapa Giok-liong-kiam sudah berpindah tangan, maka mereka harus turun tangan membantu Hek-wan untuk merampas benda berharga itu kembali dari tangan wanita berpakaian merah.
Orang ke tiga dari Lam-hai Ngo-houw yang berusia tiga puluh lima tahun adalah seorang laki-laki yang mata keranjang, Melihat kecantikan wanita berpakaian merah itu, sejak tadi dia sudah melongo penuh kagum.
Kini, sambil mengepung bersama teman-temannya, diapun membujuk.
"Manis, mengapa seorang cantik seperti engkau membahayakan diri memperebutkan sebuah pedang kemala? Ikutlah aku, dan aku akan membelikan tusuk konde kemala dan barang-barang indah lain, juga engkau akan terlindung dan aman...!"
Sungguh merupakan rayuan yang menggelikan karena pada saat itu, si wanita sedang dikepung dan diancam oleh enam orang laki-laki yang kuat-kuat.
Wanita itu agaknya tidak marah mendengar rayuan itu.
Melihat betapa lima orang Lam-hai Ngo-houw memasang kuda-kuda dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, sedangkan Tai-lek Hek-wan juga memasang kuda-kuda seperti ilmu Silat Monyet, iapun terkekeh dengan suara yang agak genit.
"Hi-hi-hik, seekor lutung dan lima ekor harimau! Tapi kalian bisa berbuat apa terhadap seekor burung bangau yang dapat terbang?"
Tiba-tiba saja tubuhnya sudah melompat tinggi ke atas dan mulailah ia melancarkan serangan-serangan dari atas dengan kecepatan yang mengejutkan.
Sebelum enam orang itu tahu apa yang terjadi, mereka melihat warna merah menyambar-nyambar dari atas dengan totokan-totokan jari tangan yang cepat sekali.
Mereka berusaha menangkis dan mengelak, akan tetapi dua di antara Lam-hai Ngo-houw yang kurang cepat mengelak, terkena totokan pada ubun-ubun kepala mereka.
Ubun-ubun kepala itu pecah berlubang dan merekapun roboh berkelojotan dan tewas seketika.!
Tentu saja tiga orang Lam-hai Ngo-houw terkejut setengah mati melihat robohnya dua orang adik mereka dalam segebrakan saja itu.
Mereka berlima merupakan jagoan-jagoan di Kanton yang sudah terkenal dan ditakuti karena ilmu silat mereka yang tinggi.
Tentu saja merekapun tahu bahwa banyak orang pandai di dunia ini dan mereka tidak berani mengaku yang paling pandai, akan tetapi dalam segebrakan saja harus kehilangan dua orang saudara yang roboh tewas, hal ini sungguh sukar untuk dapat mereka terima.
Apa lagi kalau diingat bahwa mereka berlima, bahkan berenam dengan Tai-lek Hek-wan yang mereka tahu juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.
Biarpun mereka dapat menduga bahwa lawan yang satu ini memang lihai bukan main, namun kemarahan dan sakit hati membuat mereka kehilangan rasa gentar dan merekapun mengeluarkan suara gerengan-gerengan seperti harimau marah.
Gerakan mereka kini semakin ganas dan kedua tangan mereka membentuk cakar harimau dengan kuat sehingga tangan dan jari-jarinya itu seperti telah menjadi kaku dan keras.
Si kumis tebal lebih hebat lagi.
Ketika melihat Hek-wan menyerang ganas kepada wanita itu, dibantu oleh dua orang adiknya yang juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang, dia mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat ke atas dan menerkam punggung wanita itu, kedua tangannya yang membentuk cakar harimau itu mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala.
Wanita itu terkejut bukan main.
Ia sedang menghadapi terjangan Hek-wan dan dua orang Ngo-Houw yang lain, dan tiba-tiba ada angin keras sekali menyambar dari belakang atas!
"Heiiiittt!"
Ia membentak dan mengelak, Tubrukan itu luput akan tetapi terdengar bunyi kain robek dan ternyata buntalan Giok-liong-kiam itu robek dan peti panjang itu terlepas dan jatuh dari pinggang si wanita.
Dan sebelum wanita itu dapat mengambilnya kembali, tiga orang Ngo-houw sudah menerjangnya lagi dan melihat kesempatan ini, Hek-wan yang cerdik sudah bergulingan ke arah Giok-liong-kiam dan sudah berhasil menyambar peti itu!
Cepat dia membungkusnya lagi dan menggantungkan di lehernya!
Melihat ini, wanita baju merah itu tentu saja marah bukan main, akan tetapi dalam kemarahannya, ia malah tersenyum-senyum, agaknya sama sekali tidak khawatir akan kehilangan pusaka itu karena ia yakin akan mampu mengalahkan empat orang ini.
"Hemm, kalian masih belum mau menyerah?"
Bantak wanita baju merah itu sambil tersenyum mengejek, akan tetapi karena serangan tiga orang itu benar-benar amat berbahaya, wanita itupun kembali berloncatan ke atas dengan amat lincahnya.
Melihat ini, diam-diam Tai-lek Hek-wan terkejut dan khawatir sekali.
Dia adalah seorang yang amat cerdik dan melihat tewasnya dua orang di antara Lam-hai Ngo-houw, diapun maklum bahwa wanita ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh dan amat berbahayalah kalau sampai dia melanjutkan perlawanan.
Yang penting adalah menyelamatkan Giok-liong-kiam, pikirnya.
Maka, begitu melihat tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah menyerang lagi dan sekali ini serangan mereka penuh dengan rasa dendam sehingga amat hebat, diapun mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri!
Melihat ini, wanita itu berteriak.
"Eh, pengecut, hendak lari kemana engkau?"
Tubuhnya bergerak hendak mengejar, akan tetapi karena tiga orang harimau itu menyerangnya dengan amat ganas, iapun tidak mudah melepaskan diri begitu saja.
"Tikus-tikus tolol, kau mau ditipu lutung itu yang melarikan pusaka sedangkan kalian dijadikan korban?"
Wanita itu membentak.
Bentakan ini agaknya menyadarkan tiga orang Lam-hai Ngo-houw itu.
Biarpun mereka mendendam kepada wanita ini untuk kematian dua orang saudara mereka, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berwatak jahat dan amat leba akan harta, maka merekapun seperti disadarkan akan kelicikan Tai-lek Hek-wan dan mereka mengendurkan kurungan mereka.
Kesempatan ini dipergunakan oleh si wanita baju merah untuk meloncat, lolos dari kepungan dan mengejar Lutung Hitam.
Tiga orang Lam-hai Ngo-houw itupun cepat melakukan pengejaran, mengejar Hek-wan akan tetapi juga mengejar wanita itu.
Tai-lek Hek-wan sudah mengerahkan ilmunya berlari cepat, akan tetapi betapa kaget hatinya ketika tahu-tahu ada bayangan merah berkelebat dan wanita itu sudah menghadang di depannya dengan senyum mengejek.
Marahlah Lutung Hitam ini, marah dan juga putus asa, maka dengan nekat diapun menubruk ke depan menyerang wanita yang menghadangnya.
Seperti juga tadi, kecepatan gerakan Lutung Hitam itu tidak ada artinya bagi si wanita baju merah yang ternyata memiliki gerakan lebih cepat lagi.
Wanita itu sudah mengelak ke kiri dan tiba-tiba kakinya mencuat dalam sebuah tendangan mengarah perut Hek-wan.
Lutung Hitam itu terkejut dan hanya dengan bergulingan menjatuhkan dirinya dia dapat menyelamatkan perutnya dari ciuman sepatu yang akan membahayakan keselamatannya itu.
Akan tetapi pada saat itu, tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah tiba pula di situ dengan marah si kumis tebal menubruk ke arah tubuh Hek-wan yang bergulingan untuk merampas buntalan di punggungnya.
"Dukk...!"
Hek-wan menangkis dan keduanya terpental.
"Sobat, kenapa berbalik menyerangku? Mari kita keroyok wanita iblis itu!"
Tai-lek Hek-wan berseru kaget.
"Pengecut, tak perlu merayu!"
Bentak si kumis tebal yang terus saja menyerang lagi dengan marahnya, Sementara itu,dua orang adiknya sudah mengeroyok si baju merah yang melayani mereka sambil tersenyum simpul karena girang hati wanita itu sudah berhasil membakar hati si kumis tebal.
Baginya sesungguhnya sama saja.
Andaikata dikeroyok sekalipun, ia yakin akan dapat merobohkan mereka semua.
Apa lagi sekarang si kumis tebal yang marah dan merupakan orang pertama paling lihai dari Lam-hai Ngo-houw telah menumpahkan kemarahannya kepada Tai-lek Hek-wan sehingga ia hanya menghadapi dua orang lawan, tentu dianggapnya amat ringan.
Ternyata kekuatan antara si kumis tebal dan Tai-lek Hek-wan seimbang dan selisihnya hanya sedikit saja.
Kalau perkelahian itu dilanjutkan, akhirnya si kumis tebal tentu akan kalah.
Sudah tiga kali dia terkena pukulan dan tendangan dari Lutung Hitam akan tetapi ternyata orang pertama dari Lam-hai Ngo-houw itu kuat sekali tubuhnya dan belum juga roboh.
Sementara itu, dengan mudahnya wanita baju merah itu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya denga totokan-totokan yang membuat kedua lawan itu roboh dengan mata mendelik dan napas putus.
Kini wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum lebar, geli dan juga gembira menonton Tai-lek Hek-wan dan ketua Lam-hai Ngo-houw saling gebuk.
Akan tetapi yang dilihatnya bukanlah kedua orang itu, melainkan dua buah buntalan yang berada di punggung mereka.
Melihat robohnya dua orang lagi, wajah Tai-lek Hek-wan berobah pucat.
Sambil menangkis sebuah pukulan dari si kumis tebal, dia menghardik.
"Tolol! Dua orang adikmu sudah roboh pula, tinggal kita berdua yang terancam maut dan engkau masih menyerangku seperti orang gila?"
Si kumis tebal menoleh dan barulah dia terkejut bukan main.
Tadi dia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang Hek-wan sehingga dia tidak memperhatikan dua orang adiknya dan kini dia melihat betapa dua orang adiknya telah menggeletak tak bernyawa lagi sedangkan wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum-senyum mengejek.
Dapat dibayangkan betapa sedih dan marah hatinya.
Empat orang adik-adiknya telah tewas semua di tangan wanita cantik ini.
"Aurrggghhh...! Gerengan seperti seekor harimau keluar dari dalam dadanya dan biarpun harimau keluar dari dalam dadanya dan biarpun sudah terkena pukulan dan tendangan Hek-wan, si kumis tebal ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk kea rah wanita baju merah. Melihat ini, Hek-wan lalu membalikkan tubuhnya dan... Lari tunggang langgang sekuat tenaga! "Hemm...!"
Wanita baju merah itu melompat ke kiri dan tangannya menyambar ke samping "Plakk!"
Tubuh si kumis tebal terpelanting dan roboh berkelojotan karena pelipisnya berlubang terkena tusukan dua jari tangan wanita itu.
Tanpa menengok lagi kepada korbannya yang ia yakin tentu akan tewas, wanita itu sudah berloncatan dengan amat cepatnya mengejar Tai-lek Hek-wan!
Si Lutung Hitam menjadi panik dan wajahnya sudah pucat sekali ketika untuk kedua kalinya wanita baju merah itu sudah menghadang di depannya sambil tersenyum manis, senyum yang baginya tidak manis lagi melainkan menyeramkan!
Dia bukan orang nekat seperti Lam-hai-houw.
Sebaliknya, si gendut ini cerdik bukan main.
Kecerdikannya sudah nampak ketika dia membiarkan Sin-touw dan Phek Kiat saling bunuh sehingga dia mampu memperoleh Giok-liong-kiam dan madat yang amat banyak tanpa mengeluarkan sedikitpun tenaga.
Juga dia sudah mampu menggerakkan hati Lam-hai Ngo-houw sehingga lima orang itu mau bersekutu dengan dia.
Sekarang, melihat betapa Lam-hai Ngo-houw sudah tewas semua, diapun tidak begitu bodoh untuk menjadi nekat.
Betapapun besar harganya Giok-liong-kiam, tentu saja masih tidak melebihi nyawanya sendiri.
Apa artinya Giok-liong-kiam kalau dia sudah tidak bernyawa seperti kelima orang Lam-hai Ngo-houw itu?
Tanpa malu-malu lagi Tai-lek Hek-wan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita baju merah itu, berkali-kali menyentuh tanah dengan dahinya dan kedua tangannya segera menurunkan buntalan Giok-liong-kiam.
"Ampun..., harap Lihiap (pendekar wanita) sudi mengampunkan nyawa saya..., saya"
Mengaku kalah dan dengan rela menyerahkan Giok-liong-kiam kepada Lihiap..."
Wanita cantik itu tersenyum mengejek, geli melihat betapa perut yang gendut itu menghalangi Hek-wan untuk dapat memberi hormat dengan baik.
Perutnya mengganjal ketika orang itu berlutut menyembah-nyembah.
Sikap Tai-lek Hek-wan yang ia tahu selain cukup lihai juga amat cerdik itu, yang kini menyembah-nyembah-nya dengan begitu merendahkan diri, dianggap cukup berharga untuk menebus nyawa orang itu.
"Hemm, baiklah, monyet. Aku mau mengampuni nyawamu. Coba buka peti itu dan perlihatkan aku Giok-liong-kiam."
Wanita itu memang cerdik.
Tadi ia sudah melihat Giok-liong-kiam dan tidak meragukan lagi keasliannya.
Akan tetapi untuk beberapa saat lamanya pusaka itu telah dapat dirampas kembali oleh Hek-wan, maka ia tidak ingin tertipu dan hendak melihat lebih dahulu apakah benar itu barang yang aseli.
Ia sudah cukup mengenal kelicikan orang seperti Tai-lek Hek-wan ini dan bisa saja penjahat itu memberinya peti yang isinya barang beracun yang akan menyerangnya kalau dibukanya.
Akan tetapi, Hek-wan tidak sempat melakukan hal itu dan memang bukan tidak mungkin hal itu dilakukannya, bahkan lebih hebat dari itu kalau saja dia berkesempatan.
Kini tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerahkan pusaka itu sebagai penukar nyawanya.
Dibukanya buntalan dan dibukanya peti hitam itu.
Dengan peti terbuka sehingga nampak isinya, dia menyerahkan benda itu dengan kedua tangannya.
Wanita cantik itu menjadi girang, melihat bahwa isi peti memang Giok-liong-kiam yang tulen.
Akan tetapi pada saat ia hendak menerimanya, tiba-tiba ada angin menyambar dan sinar putih menyambar ke arah peti di tangan Tai-lek Hek-wan.
Sinar itu ternyata sebatang tali yang menyambar cepat, seperti ular hidup hendak merampas peti, dibarengi bunyi meledak nyaring.
Melihat ini, wanita baju merah itu terkejut dan marah.
Tangannya dikibaskan ke bawah menangkis sambaran tali dan kakinya menendang tubuh Tai-lek Hek-wan sehingga si gendut ini terguling-guling bersama peti yang masih dipegangnya.
Memang wanita itu ingin menyingkirkan Hek-wan agar peti itu tidak sampai terampas orang, kemudian ia membalik dan berhadapan dengan orang yang telah menggunakan tali hendak merampas peti itu.
Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, bermuka pucat dan tampan, pakaiannya pesolek dan dia tersenyum masam ketika talinya membalik terkena tangkisan si wanita baju merah.
Sambil menggulung talinya kini dia berdiri saling pandang dengan si wanita baju merah dan dia tertawa.
"Ha-ha-ha, seorang tokoh Ang hong-pai yang lihai juga!"
Wanita cantik baju merah itu cemberut dan memandang dengan sinar mata marah.
Siapa takkan marah melihat daging sudah di mulut kini terancam lepas?
Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka yang putih itu.
"Hemm, agaknya Pek bin Tiat-ciang yang muncul. Apakah sekarang tangan besimu sudah berkarat maka engkau mempergunakan tali untuk mencoba menjadi pencuri?"
Wanita itu mengejek. Si muka putih itupun tertawa lagi.
"Ha-ha-ha, siapa yang menjadi pencuri? Monyet gendut inikah, atau engkau, ataukah aku?"
Tai-lek Hek-wan masih berdiri sambil mendekap buntalan berisi peti panjang Giok-liong-kiam itu, mukanya pucat dan dia merasa betapa kedua kakinya menggigil.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memiliki nama besar yang amat terkenal di seluruh Negara.
Kiranya wanita itu adalah seorang tokoh perkumpulan Ang-hong-pai (Perkumpulan Tawon Merah) yang ditakuti dunia kang-ouw seperti orang menakuti gerombolan setan, sedangkan nama Pek-bin Tiat-ciang (Tangan Besi Bermuka Putih) juga tidak kalah terkenalnya, sebagai seorang petualang yang ringan tangan dan mudah saja membunuh orang.
Entah sudah berapa banyaknya orang, baik dari golongan sesat maupun kau m pendekar, yang tewas di tangan jagoan ini.
Kedua orang ini termasuk tokoh-tokoh sesat yang lihai sekali.
Matilah aku, karena dia maklum bahwa kepandaiannya jauh sekali berada dibawah kedua orang ini.
Akan tetapi pikirannya yang cerdikitu diputar mencari akal.
Bagaimanapun juga, wanita baju merah itu tadi memperlihatkan sikap lunakdan mau mengampuninya, sedangkan laki-laki muka putih tampan menyeramkan ini belum tentu mau membiarkan dia hidup.
Sementara itu, wanita tokoh Ang-hong-pai itu sudah menerjang dengan ganasnya, menggunakan pukulan-pukulan yang dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka, totokan-totokan yang mengarah jalan darah yang mematikan.
"Heiiittt...!"
Bentaknya nyaring ketika kedua tangannya menyambar dengan kecepatan kilat.
"Wah, ganas...!"
Laki-laki muka putih itupun menggeser kaki dan menangkis dengan cepat pula.
"Plak! Plakk!"
Laki-laki itu terkejut karena biarpun dia sendiri berjuluk Tiat-ciang (Tangan besi), akan tetapi ketika lengannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa seolah-olah bertemu dengan daging lunak tak bertulang.
Tahulah dia bahwa wanita lihai itu dalam menghadapi kekerasan tangannya telah mempergunakan ilmu Bian-kun atau tangan yang berobah menjadi kapas, mempergunakan sin-kang (tenaga sakti) untuk melawan yang keras dengan yang lunak.
Menghadapi tangan yang lunak itu, Pek-bin Tiat-ciang merasa seolah-olah tangannya seperti besi memukul kapas di udara, sama sekali tidak berbekas.
Maka diapun bersilat dengan hati-hati sekali, maklum bahwa wanita itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Sambil membentak marah, diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya, tidak lagi berani main-main atau senyum-senyum, melainkan menyerang dengan amat kuat.
Angin pukulan bertiup dahsyat ketika Tiat-ciang melakukan serangannya.
Akan tetapi wanita itu dengan gerakan indah dapat mengelak sambil mengibaskan tangan menangkis dari samping.
"Rasakan kau !"
Bentak Tiat-ciang sambil mengeraskan tangannya yang tertangkis karena sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya yang membuat tangan itu seolah-olah berobah menjadi baja.
"Dukkk...!"
Wanita itu menyeringai menahan jeritnya karena tangannya terasa nyeri bukan main.
Rasa nyeri seperti menusuk jantungnya, seolah-olah tulang-tulang tangannya menjadi remuk.
Karena rasa nyeri ini, tubuhnya agak terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tiat-ciang untuk menubruk dengan kedua tangan terpentang.
Akan tetapi betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dari samping ada angin pukulan menyambar dan ternyata Tai-lek Hek-wan yang menyerangnya!
Hek-wan yang cerdik tidak lama mengambil keputusan dan dia sudah maju membantu tokoh Ang-hong-pai.
Dia merasa lebih aman kalau tokoh wanita itu yang menang, maka diapun membantu ketika melihat wanita itu terdesak.
"Plakkk!"
Tangkisan Tiat-ciang membuat tubuh Hek-wan terlempar dan diapun bergulingan sampai jauh.
Baru dia berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu.
Kiranya yang menahannya itu adalah mayat si kumis tebal, orang pertama Lam-hai Ngo-houw dan tanpa disengaja dia melihat buntalan madat.
Teringatlah dia betapa banyaknya madat itu dan betapa benda itu juga merupakan harta yang amat besar.
Mengapa tadi dia lupa sama sekali tentang buntalan madat ini?
Cepat dia mengambil buntalan itu dan mengalungkannya ke leher.
Ketika menengok, dia melihat betapa wanita itu kini mulai mendesak si muka putih!
Dan melihat betapa kedua orang itu berkelahi dengan mati-matian, timbul pula niatnya yang terdorong ketamakan dan kecerdikan.
Diam-diam diapun melarikan diri, kini membawa dua buntalan itu, buntalan madat dan buntalan Giok-liong-kiam!
"Keparat, kau hendak lari ke mana?"
Tiba-tiba terdengar bentakan suara tokoh Ang-hong-pai itu.
Hek-wan terkejut dan menengok.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita baju merah dan laki-laki muka putih itu telah berloncatan mengejarnya.
Kiranya mereka itu, biarpun sedang berkelahi, tidak pernah melepaskan perhatian mereka terhadap benda yang diperebutkan, yaitu Giok-liong-kiam!
Tadi, ketika Hek-wan membantu tokoh Ang-hong-pai menyerang Pek-bin Tiat-ciang, Si Tangan Besi itu terpaksa menghentikan serangannya terhadap lawannya yang tangguh dan menangkis serangan Hek-wan.
Akan tetapi pada saat itu, si wanita yang memiliki gerakan amat cepatnya telah meloncat ke atas, seperti terbang ia turun menerjang dengan amat hebatnya, tangannya menyerang dengan totokan-totokan berbahaya.
Tentu saja Pek-bin Tiat-ciang cepat mengelak dan menangkis akan tetapi sebuah tendangan kaki wanita itu yang dilakukan dari belakang, seperti seekor tawon menyengat, telah mengenai pangkal pahanya, membuat Tiat-ciang terhuyung dan selanjutnya wanita itu menyerangnya dengan bertubi-tubi, membuatnya nampak terdesak.
Pada saat itulah Hek-wan melarikan diri.
Dua orang yang sedang berkelahi itu tentu saja tidak dapat membiarkan hal ini terjadi.
Mereka berkelahi justeru untuk memperebutkan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Hek-wan.
Kalau Hek-wan berhasil melarikan diri membawa Giok-liong-kiam, perlu apa mereka saling serang lagi?
Demikianlah, bagaikan berlumba, keduanya kini melakukan pengejaran.
Dapat dibayangkan betapa cemas rasa hati Hek-wan melihat betapa dua orang itu kini mengejarnya!
Baru melawan seorang di antara mereka saja dia tidak akan mampu menang, apa lagi kini dikejar oleh mereka berdua!
Akan tetapi dia tidak kekurangan akal.
Otaknya bekerja dan tahulah dia bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dan menahan pengejaran mereka aedalah memancing mereka dengan Giok-liong-kiam.
Maka diapun lalu berseru keras.
"Lihiap, ini Giok-liong-kiam itu, terimalah!"
Dan diapun melemparkan buntalan peti panjang berisi Giok-liong-kiam itu ke arah dua orang yang mengejar di belakangnya.
Akalnya berhasil dengan baik.
Melihat benda yang amat diinginkan itu kini dilemparkan, dua orang itu tentu saja lalu berlumba untuk lebih dahulu memperolehnya.
Benda itu oleh Hek-wan dilemparkan ke arah tokoh Ang-hong-pai, maka wanita itulah yang lebih dulu menyambar peti.
"Brakkk...!"
Si Tangan Besi menghantamkan tangannya ke arah peti dan peti itupun pecah, isinya, yaitu pedang naga kemala itu terlempar dari dalam peti dan jatuh ke atas tanah!
Keduanya kini berebutan, berlumba untuk menubruk, dan akibatnya mereka saling bertumbukan.
Tentu saja keduanya marah dan tahu bahwa sebelum merobohkan lawan tak mungkin mereka bisa mendapatkan pedang pusaka itu, maka kini mereka membiarkan pedang itu menggeletak di atas tanah dan keduanya sudah saling terjang lagi dalam perkelahian mati-matian yang lebih sengit dari pada tadi.
Dengan hati girang, Tai-lek Hek-wan melanjutkan larinya, membawa buntalan madat.
Lumayan, pikirnya, tidak terlalu mengecewakanlah memperoleh modal kekayaan berupa tiga puluh kati madat ini walaupun gagal mendapatkan Giok-liong-kiam, pikirnya, yakin bahwa dua orang itu tentu lebih mementingkan Giok-liong-kiam yang diperebutkannya dari pada mengejar dia yang melarikan madat.
Dan dugaannya ini memang betul.
Dua orang pandai itu sama sekali tidak memperdulikannya lagi karena kini mereka sudah saling serang mati-matian untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggeletak di atas tanah.
Ketika dengan hati girang sekali Tai-lek Hek-wan yang melarikan diri itu hampir tiba di tepi hutan, mendadak ada angin dari kiri yang menerjangnya.
Hek-wan terkejut dan cepat mengelak, namun percuma saja karena tiba-tiba saja ada tenaga raksasa yang membuatnya terpelanting.
Dia berusaha bangkit, akan tetapi mendadakmuncul seorang laki-laki raksasa bermuka hitam yang tertawa-tawa dan kaki orang tinggi besar ini menyambar, Hek-wan melompat sambil menangkis dengan lengannya ketika kaki yang besar itu menendang ke arah tubuhnya.
"Dessss...!"
Kembali dia terpelanting dan kini terbanting keras dan tiba-tiba saja terdengarkain robek ketika buntalan madat itu direngut secara paksa dari punggunggya! "Ehhh...!"
Tai-lek Hek-wan meloncat bangun dan memandang marah ketika dia melihat betapa buntalan madat itu kini berada di tangan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi besar.
Laki-laki itu mengenakan pakaian kasar, sikapnya kasar dan wajahnya yang penuh berewok itu menakutkan.
Matanya lebar dan mulutnya menyeringai girang ketika dia membuka buntalan dan melihat isi buntalan.
"Ha-ha-ha, kiranya engkau pemadatan besar! Pantas saja begini lemah, tertiup angin saja roboh. Itulah kalau terlalu banyak menghisap madat, hua-ha-ha!"
Dia tertawa bergelak, perutnya bergoyang-goyang karena ketika tertawa dia menengadah dan mengangkat kedua lengannya ke atas.
Tai-lek Hek-wan melihat kesempatan yang amat baik ini dan diapun meloncat ke depan dan menendang ke arah perut yang bergoyang-goyang itu sekuat tenaganya.
"Klekk...!"
Tendangannya tepat mengenai perut, akan tetapi bukan orang itu yang roboh, bahkan tubuhnya sendiri terjengkang dan dia terbanting untuk ke tiga kalinya dan tanpa malu-malu lagi dia mengaduh-aduh sambil memegang kaki kanannya karena tulang-tulang kakinya itu seperti remuk rasanya.
Dia tadi seperti menendang sebuah gentong besi saja, keras dan amat kuat sehingga kakinya sendiri yang mengeluarkan bunyi seolah-olah semua tulangnya patah.
Akan tetapi karena marah dan kecewa melihat hasil rampasannya kini di tangan orang, dia memaksa diri meloncat bangun lagi.
"Kembalikan barangku...!"
Hampir dia menangis ketika mengeluarkan tuntutan ini. Akan tetapi orang tinggi besar itu masih terus tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau tentu penyelundup candu, engkau meracuni banyak orang. Orang seperti engkau ini harus dihukum berat, akan tetapi aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusmu. Engkau tidak mengaku dosa malah hendak minta kembali racun ini? Sungguh tak tahu diri!"
Hek-wan mengerutkan alisnya dan memandang orang itu penuh perhatian.
Orang ini berpakaian kasar, terlalu kasar, maka sepantasnya orang ini melakukan penyamaran.
Sikapnya begitu angkuh dan pandang matanya berwibawa, pantasnya seorang pembesar militer.
Apakah seorang perwira yang menyamar?
Dia mendengar bahwa di antara orang-orang yang sibuk menyelidiki dan mencari Giok-liong-kiam terdapat pula jagoan-jagoan dari istana.
Apakah orang ini juga seorang di antara mereka?
Diam-diam dia bergidik dan menjadi ragu-ragu.
"Sudahlah, memang nasibku yang buruk...!"
Dia mengeluh, maklum bahwa orang itu bukanlah lawannya, maka diapun menahan kemarahannya dan membalikkan tubuh untuk pergi dari situ.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba raksasa itu membentak.
"Aku bilang tidak mempunyai waktu untuk mengurusmu bukan berarti melepaskanmu begitu saja. Orang macam engkau ini terlalu berbahaya dibiarkan terlepas begitu saja. Hayo ke sini kau !"
Tai-lek Hek-wan membalik dan menghadapi orang itu dengan sinar mata marah.
"Brangku sudah kau rampas, mau apa lagi memanggil aku?"
Katanya ketus. Raksasa itu menuding ke arah sepatunya yang besar dan kotor.
"Aku sudah melakukan perjalanan jauh dan tidak mengajak para pengawalku untuk membersihkan sepatuku yang kotor. Hayo kau bersihkan sepatuku, baru aku akan membiarkanmu pergi."
Wajah Lutung Hitam itu berobah semakin hitam. Dia bukan sembarang orang dan banyak orang yang takut dan taat kepadanya. Kini orang menghina sampai di luar batas! "Kau... terlalu menghina...!"
Bentaknya marah, mengepal tinju.
"Ha-ha, orang macam engkau ini masih bisa bicara tentang kehormatan dan penghinaan? Hidupmu sudah di dalam lumpur kehinaan. Aku hanya ingin menukar nyawamu yang rendah itu dengan pekerjaan membersihkan sepatu dan kau banyak cakap lagi? Hayo bersihkan sepatuku atau aku mewakili pemerintah melaksanakan hukuman mampus kepadamu. Pilih saja!"
Kini yakinlah hati Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang petugas pemerintah yang menyamar.
Dan jelas pula bahwa orang ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia tidak akan mampu mengalahkannya.
Di situ tidak terdapat orang lain, mengapa harus meributkan tentang kehormatan.
"Baiklah...!"
Katanya dan diapun berlutut di depan orang itu, menggunakan ujung lengan bajunya untuk membersihkan kedua sepatu yang penuh debu itu.
Kalau saja ada orang yang melihat peristiwa ini.
Betapa akan malunya dan akan hancur nama besarnya.
Dia terkenal sebagai orang yang paling ditakuti (Lanjut ke
Jilid 04) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 04 di seluruh daerah Nan-leng, dan kini dia membersihkan sepatu orang, berlutut di depan orang itu.
Kemarahannya tak dapat ditahannya lagi dan otaknya yang cerdik itu bekerja.
Orang yang menghinanya berdiri begitu dekat, tidak ada yang akan dapat menghalanginya lagi.
Diam-diam dia mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba saja dia menghantam ke arah pusar orang itu, dari jarak yang amat dekat.
"Krakk... aughhhh...!"
Tubuh Tai-lek Hek-wan terkulai dan dia roboh tewas dengan belakang kepala remuk karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, si tinggi besar itu telah lebih dahulu menghantam tengkuknya!
Sekali ini Tai-lek Hek-wan yang biasanya cerdikitu salah perhitungan.
Dia terlalu memandang rendah lawannya.
Padahal begitu dia mengerahkan tenaga, si raksasa itu telah mengetahuinya sehingga dapat mendahuluinya, menghantam tengkuknya dari atas, sehingga bukan saja pukulan itu melumpuhkan semua gerakannya, juga membuat nyawanya melayang!
Dengan sikap jijik, Kakek bertubuh raksasa itu lalu menendang mayat Hek-wan sampai terlempar jauh, kemudian diapun membuang buntalan madat itu ke dalam jurang tak jauh dari situ sambil mengomel.
"Candu ini harus dimusnahkan di seluruh dunia, membuat manusia menjadi boneka, menjadi mayat-mayat hidup, berbahaya sekali..."
Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan sejenak diam tak bergerak, samar-samar dia mendengar suara orang berkelahidan tak lama kemudian, raksasa ini sudah berlari dengan langkah lebar menuju ke tempat orang yang sedang berkelahi itu.
Raksasa ini memang bukan orang sembarangan dan seperti dugaan Tai-lek Hek-wan, dia adalah seorang jagoan istana!
Kaisar mengirim beberapa orang jagoan untuk melakukan penyelidikan dan kalau mungkin merampas pusaka Giok-liong-kiam yang demikian menghebohkan dunia persilatan.
Bagi Kaisar, seluruh pusaka yang terdapat di negeri itu adalah hak dan milik istana!
Karena itu, Giok-liong-kiam yang diperebutkan itupun adalah hak istana.
Dan raksasa ini adalah seorang diantara para jagoan istana, namanya Tang Kui dan jabatannya adalah komandan pasukan pengawal di luar istana.
Karena namanya terkenal di kalangan para pengawal sebagai seorang komandan yang pandai, tegas dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar, maka dia terpilih sebagai seorang di antara para jagoan yang ditugaskan mencari dan merebut pusaka Giok-liong-kiam.
Sebentar saja Tang Kui telah tiba di tempat dimana tokoh Ang-hong-pai itu masih berkelahi dengan hebatnya melawan Pek-bin Tiat-ciang.
Dari jauh saja Tang Kui yang banyak mempelajari keadaan kang-ouw dan mengenal banyak tokoh kang-ouw, mengenal siapa mereka yang sedang berkelahi itu.
Dia mengenal Theng Ci, murid kepala Ang-hong-pai yang lihai itu dan dia mengenal pula Pek-bin Tiat-ciang, pria pesolek tampan bermuka putih yang merupakan tokoh di antara kau m sesat itu.
Maka diapun cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan mendekat.
Pada saat itu perkelahian antara kedua orang ini sudah mencapai puncaknya.
Pek-bin Tiat-ciang sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu pecut panjang yang biasanya menjadi pengikat pinggangnya.
Pecut panjang putih itu kini membentuk lingkaran-lingkaran dan menyerang si wanita cantik dari pelbagai jurusan.
Akan tetapi, Theng Ci adalah murid kepala Ang-hong-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan terutama sekali gerakannya yang amat ringan itu membuat ia selalu dapat berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dari totokan ujung pecut.
Nampaknya pemandangan yang amat indah dari perkelahian ini.
Pecut putih itu menjadi sinar bergulung-gulung dan pakaian Theng Ci yang merah juga membuat gerakannya yang cepat membentuk bayangan merah.
Dari jauh nampak warna merah dan putih yang berselang-selang amat indahnya.
Jangan dikira bahwa Theng Ci yang bertangan kosong itu terdesak.
Sama sekali tidak karena wanita cantik ini kadang-kadang membalas serangan lawannya dengan sambitan jarum-jarum halusnya.
Bukan sembarang jarum, melainkan jarum halus yang mengandung racun!
Ang-hong-pai adalah perkumpulan para wanita yang lihai dan juga suka mempergunakan racun-racun binatang yang ampuh, terutama sekali racun-racun lebah, sesuai dengan nama perkumpulan itu, ialah Ang-hong-pai (Perkumpulan Lebah Merah).
Karena jarum-jarum ini amat berbahaya, maka Pek-bin Tiat-ciang bersikap waspada dan gerakan pecutnya itu sebagian besar dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman jarum halus.
Hanya sebentar saja Tang Kui si komandan yang menyamar itu nonton perkelahian dan diam-diam dia juga kagum karena maklum bahwa baginya, dua orang itu masing-masing merupakan seorang lawan yang tangguh.
Akan tetapi pandang matanya segera tertarik oleh mengkilapnya sebuah benda yang menggeletak tak jauh dari sesosok mayat berkumis lebat.
Benda itu adalah sebatang pedang kecil terbuat dari kayu giok berukirkan naga.
Giok-liong-kiam...!
Hatinya berdebar amat kerasnya karena biarpun selamanya dia belum pernah melihat sendiri bagaimana macamnya Giok-liong-kiam, namun dia sudah mendapatkan keterangan jelas mengenai benda pusaka itu sebelum dia menerima tugas mencarinya.
Hampir dia tak percaya"
Giok-liong-kiam berada di situ dan kini mengertilah dia mengapa dua orang tokoh sesat itu berkelahi.
Tentu mereka berdua itu sedang memperebutkan Giok-liong-kiam.
Memang sudah beberapa hari lamanya dia menaruh curiga terhadap Then Ci, wanita tokoh Ang-hong-pai itu.
Diam-diam dia membayangi Theng Ci dari jauh.
Tidak disangkanya dia melihat Theng Ci berkelahi dengan Pek-bin Tiat-ciang dan di situ terdapat Giok-liong-kiam!
Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, tiba-tiba Tang Kui meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan diapun lari ke arah pedang pusaka itu dan disambarnya benda itu.
Ketika Theng Cid an Pek-bin Tiat-ciang berteriak kaget melihat munculnya orang yang menyambar Giok-liong-kiam sehingga mereka berdua secara otomatis menghentikan perkelahian, Tang Kui sudah meloncat jauh dan melarikan diri.
Tentu saja dua orang itu menjadi marah sekali dan mereka melakukan pengejaran secepatnya.
Tang Kui lari ke selatan, ke bagian hutan yang lebih dalam.
Agaknya sukar bagi dua orang yang sudah kelelahan karena sejak tadi berkelahi itu untuk dapat menyusul Tang Kui.
Dan mereka sudah hampir kehilangan jejak raksasa itu ketika tiba-tiba mereka melihat ada seorang yang tinggi kurus tiba-tiba muncul dan menyerang Tang Kui.
Serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dan biarpun Tang Kui berhasil menangkis, akan tetapi posisi kakinya membuat dia terpelanting, dan hal ini saja menunjukkan betapa lihainya penyerang yang bertubuh jangkung itu.
Si jangkung itu menyusulkan tendangan, bukan menendang bagian tubuh yang berbahaya melainkan menendang tangan Tang Kui yang memegang Giok-liong-kiam.
"Dukkk!"
Tendangan itu mengenai tepat pergelangan tangan itu karena Tang Kui sedang terpelanting dan pedang pusaka itupun terlempar jauh ke kiri! "Wuuuuttt...!"
Tiba-tiba muncul pula seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dan dengan sigapnya laki-laki itu meloncat dan menyambar Giok-liong-kiam dengan tangan kirinya, lalu berdiri mengamati pusaka itu dengan penuh kagum.
"Hemm, inilah Giok-liong-kiam..."
Guman laki-laki berpakaian putih.
Dia seorang laki-laki bertubuh sedang berusia kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya sederhana serba putih dan melihat orang yang telah merampas Giok-liong-kiam, Tang Kui segera mengenalnya.
Orang itu adalah Kam Hong Tek, seorang pendekar yang namanya terkenal juga di daerah selatan.
"Kembalikan Giok-liong-kiam kami kepadaku!"
Tiba-tiba laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berseru dan dengan beberapa langkah dia mendekati Kam Hong Tek.
Pendekar Kam ini mengangkat muka memandang, laki-laki tinggi kurus itu berusia empat puluh tahun lebih, selain tubuhnya yang tinggi kurus itu merupakan hal yang tidak wajar, juga bajunya disulam di bagian dada dengan gambar bundar yang menggambarkan Im-Yang.
Melihat gambar ini Kam Hong Tek dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang Thian-te-pai.
Agaknya orang tinggi kurus itupun mengenal Kam Hong Tek dari pakaiannya dan sikapnya, maka dia menjura dengan hormat.
"Kalau saya tidak salah, saya berhadapan dengan pendekar Kam Hong Tek dari pegunungan selatan. Benarkah?"
Pendekar Kam Hong mengangguk.
"Dan saudara tentulah seorang tokoh Thian-te-pai, bukan?"
"Benar, saya hanya seorang murid saja, menerima perintah ketua kami untuk mencari pusaka kami yang hilang dicuri orang. Nama saya Lui Siok Ek, harap saudara sudi memandang nama perkumpulan kami dan suka mengembalikan pusaka perkumpulan kami."
"Semua pusaka di tanah air ini adalah hak milik Sri Baginda Kaisar!"
Tiba-tiba Tang Kui berseru dan dengan langkah lebar dia mendekat pula.
"Aku Tang Kui adalah komandan pasukan pengawal yang bertugas mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Serahkan itu kepadaku!"
Kam Hong Tek dan murid Thian-te-pai itu mengangkat muka memandang kepada raksasa itu.
Mereka terkejut juga mendengar bahwa orang tinggi besar yang pakaiannya seperti seorang petani ini mengaku sebagai seorang komandan pasukan pengawal dari istana Kaisar!
Akan tetapi Kam Hong Tek lalu tersenyum dan sudah menggerakkan bibir untuk bicara ketika tiba-tiba terdengar teriakan wanita dengan suara lantang.
"Kembalikan pusaka itu kepadaku!"
Dan muncullah Theng Ci yang diikuti pula oleh Pek-bin Tiat-ciang.
Akan tetapi dua orang inipun terheran-heran melihat bahwa di situ terdapat tiga orang dan pedang pusaka itu tidak lagi dipegang oleh si raksasa, melainkan oleh seorang berpakaian putih-putih yang mereka kenal sebagai pendekar Kam Hong Tek yang tidak asing lagi namanya!
Kam Hong Tek tertawa.
"Ha-ha-ha, sekarang menjadi ramai! Kulihat nona adalah seorang anggauta Ang-hong-pai, dan saudara ini tentulah Pek-bin Tiat-ciang yang terkenal. Ada murid Thian-te-pai dan ada pula utusan istana. Kita semua tahu bahwa semua orang di dunia persilatan memperebutkan Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kitapun tahu akan adanya nasib dan tanpa kusengaja, Giok-liong-kiam melayang ke arah diriku dan berhasil kutangkap. Bukankah ini namanya nasib dan memang pusaka ini berjodoh dengan diriku? Harap Cu-wi (anda sekalian) dapat memaklumi hal ini dan tidak menentang nasib!"
"Nasib tahi anjing!"
Pek-bin Tiat-ciang membentak marah.
"Pusaka itu adalah milikku. Kembalikan!"
Dan si muka putih ini dengan marah lalu menerjang pendekar Kam Hong Tek.
Melihat serangan yang ganas dan berbahaya itu Kam Hong Tek cepat meloncat ke samping dan mengibaskan tangan kanannya menangkis, sedangkan pusaka itu dipegangnya dengan erat-erat di tangan kiri.
"Atas nama pemerintah, berikan kepadaku!"
Tang Kui membentak dan diapun menerjang maju untuk merampas pedang itu dengan pukulan ke arah leher Kam Hong Tek. Pendekar ini terpaksa menangkis dengan tangan kanannya.
"Dukk...!"
Keduanya terdorong mundur dan hal ini saja membuat mereka maklum bahwa tenaga mereka berimbang.
Akan tetapi Lui Siok Ek, murid Thian-te-pai itu, tanpa banyak cakap lagi sudah menerjang pula ke depan dan gerakannya demikian aneh dan cepat sehingga tahu-tahu tangan kirinya sudah dapat menangkap ujung Giok-liong-kiam pada saat Kam Hong Tek miringkan tubuhnya karena kembali Pek-bin Tiat-ciang menyerangnya.
Kan Hong Tek terkejut dan mencoba untuk menarik pedang batu kemala itu, namun murid Lui Siok Ek itu mempertahankannya.
Terjadilah betot-membetot, tarik-menarik dan pada saat itu, Theng Ci, wanita baju merah itu mengirim tendangan kilat yang ditujukan ke arah pergelangan tangan Kam Hong Tek.
Pada saat yang sama pula, seperti sudah direncanakan saja, Pek-bin Tiat-ciang juga mengirim tendangan, ditujukan ke arah pergelangan tangan murid Thian-te-pai.
Dua tendangan kilat itu amat kuat dan berbahaya dan mereka yang sedang bersitegang memperebutkan pedang pusaka itu maklum akan hal ini dan terpaksa mereka lalu melepaskan pegangan dan melontarkan pedang pusaka itu ke atas, kemudian tangan mereka membalik dan menangkis tendangan.
Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu dilontarkan oleh gabungan dua tenaga, terlempar jauh dan tinggi ke udara.
Lima orang yang sedang memperebutkanpedang pusaka itu memandang ke atas dan mereka sudah siap untuk meloncat dan berlumba memperoleh pusaka itu lebih dahulu, Walaupun masing-masing maklum bahwa empat orang yang lain pasti akan menghalanginya atau akan merampasnya kembali.
Setiap jalur urat syaraf di tubuh lima orang itu sudah menegang dan masing-masing sudah siap untuk meloncat ke atas ketika benda yang berkilauan hijau itu melayang turun dari atas.
Akan tetapi, ketika benda itu sudah meluncur turun sampai kira-kira lima tombak dan semua orang sudah siap meloncat, tiba-tiba saja benda itu menyeleweng ke arah barat dan lenyap di antara daun-daun pohon, menimbulkan suara berkerosakan ketika benda itu menerjang daun-daun pohon yang lebat.
Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan heran, akan tetapi juga penuh kekhawatiran karena benda itu tiba-tiba saja lenyap.
Seperti dikomando saja, lima orang itu lalu berloncatan dan lari ke arah pohon besar di sebelah barat itu.
Dan merekapun berdiri tertegun ketika melihat seorang Kakek berjubah pendeta, bertubuh gendut sekali sehingga kelihatannya bulat.
Kepalanya yang nampak kecil karena tubuh yang gendut itu juga bulat, dan Kakek itu nampak lucu karena kepalanya gundul licin tanpa penutup kepala.
Dia duduk bersila di atas batu hitam, sama sekali tidak bergerak, dan kedua matanya terpejam, kedua tangan dirangkap di depan dada.
Jubah kuningnya sudah kumal dan warnanya hampir keputihan, kedua kakinya yang bersilang itu memakai sepatu kain yang bawahnya dilapis besi.
Sukar menaksir usia Kakek ini karena kepalanya gundul dan mukanya kelimis, bisa saja dia baru lima puluh tahun akan tetapi juga mungkin usianya sudah tujuh-puluh tahun lebih.
Alisnya yang tebal dan masih hitam itu menambah bingung bagi penaksir usianya.
Lima orang itu memandang penuh perhatian, terutama sekali dengan sinar mata mereka mencari-cari apakah di situ terdapat pedang Giok-liong-kiam.
Akan tetapi, Kakek gundul yang gendut itu sedang bersemadhi, hanya pernapasannya saja yang membuat perut gendutnya bergerak perlahan turun naik.
Jelas bahwa Kakek itu tidak memegang Giok-liong-kiam, juga di dekatnya tidak nampak benda pusaka itu.
Lima orang itu celingukan akan tetapi tidak nampak ada orang lain di sekitar tempat itu dan pusaka itupun lenyap tanpa bekas.
Siapa lagi kalau bukan Kakek ini yang menyebabkan pusaka yang sedang melayang turun itu tiba-tiba menyeleweng dan lenyap.
Bukankah ke arah sini tadi terbangnya pedang kemala itu?
Lima orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup maklum bahwa orang seperti Kakek tua ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan sangat boleh jadi sekali Kakek ini adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai walaupun tak seorang di antara mereka merasa pernah mengenalnya.
Tidak ada pula ciri-ciri yang mengingatkan mereka akan seorang datuk persilatan, baik dari para pendekar maupun kau m sesat.
Karena itu, mereka tidak berani sembarangan mengganggu Kakek itu.
Akan tetapi, karena mereka ingin sekali memiliki Giok-liong-kiam dank arena mereka melihat sendiri betapa pedang pusaka itu tadi melayang ke arah sini, tetap saja terdapat kecurigaan besar dalam hati mereka bahwa tentu Kakek ini yang main-main tadi, mempergunakan semacam ilmu yang amat luar biasa.
Yang membuat mereka ragu-ragu adalah karena mereka tidak melihat Giok-liong-kiam di situ.
Entah kalau disembunyikan di balik jubah kuning yang longgar itu, demikian mereka menduga-duga dan lima pasang mata menunjukkan pandangannya dengan penuh selidik ke arah jubah kuning yang menutupi tubuh si Kakek gendut.
Lui Siok Ek yang merasa paling berhak atas pusaka itu, pusaka Thian-te-pai yang hilang dicuri orang setengah tahun yang lalu, memberanikan hatinya dan diapun melangkah maju.
Akan tetapi begitu dia melangkah maju, empat orang lainnyapun ikut pula melangkah maju, sejengkalpun tidak membiarkan tokoh Thian-te-pai itu lebih dekat dengan Kakek itu dari mereka!
Lui Siok Ek tidak perduli dan diapun menjura dengan sikap hormat kepada Kakek gundul yang masih duduk bersila sambil memejamkan mata itu.
"Harap Locianpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan. Saya Lui Siok Ek..."
Tiba-tiba saja tokoh Thian-te-pai itu menghentikan kata-katanya karena mendadak Kakek itu membuka kedua matanya dan sepasang mata itu mengeluarkan cahaya begitu mencorong membuat dia tertegun.
"Ha-ha-ha!"
Tiba-tiba Hwesio gendut itu tertawa bergelak-gelak dan seluruh tubuhnya yang gendut itu berguncang.
Suara ketawanya sambung-menyambung dan semua orang yang berada di situ terkejut bukan main dan cepat-cepat mereka mengerahkan tenaga dalam untuk mempertahankan diri karena suara ketawa itu mengandung tenaga khikang yang membuat isi perut mereka terguncang pula!
Hwesio itu menghentikan suara ketawanya, sejenak memandang kepada mereka bergantian seolah-olah diapun merasa agak heran melihat betapa lima orang itu kuat menghadapi suara ketawanya.
Lalu dia memandang pula kepada Lui Siok Ek dan berkata, suaranya parau.
"Engkau tentu seorang murid Thian-te-pai, ada keperluan apakah kalian mengganggu tidurku?"
Lui Siok Ek cepat menjura.
"Harap Locianpwe sudi memaafkan saya. Saya kehilangan pusaka perkumpulan kami yang disebut Giok-liong-kiam dan tadi pusaka itu melayang ke arah sini. Kalau Locianpwe mengetahui, mohon dapat memberi petunjuk agar saya dapat membawanya kembali ke perkumpulan kami."
"Ha-ha-ha-ha...!"
Kembali Kakek gendut itu tertawa dan sekali ini suara ketawanya lebih hebat dari pada tadi.
Agaknya dia telah menambah khikang dalam suara ketawanya.
Dan lima orang itu merasa betapa kaki mereka gemetar dan isi perut mereka terguncang hebat!
Mau tidak mau mereka terpaksa segera menjatuhkan diri bersila dan mengerahkan sinkang untuk melindungi diri mereka karena kalau dilanjutkan tanpa pertahanan sinkang, tentu mereka akan dapat menderita luka dalam oleh serangan suara itu!
Suara ketawa itu susul-menyusul bagaikan gelombang, semakin lama semakin hebat!
Lima orang itu kini memejamkan kedua mata, memusatkan seluruh kekuatan sinkang mereka untuk menahan gelombang suara yang seolah-olah menembus telinga mereka dan menusuk-nusuk jantung mereka.
Tubuh mereka tergetar hebat dan keringat sebesar kedele mulai membasahi muka dan leher mereka.
Mereka terkejut dan gelisah sekali.
Mereka seperti terperosok ke dalam jurang yang berbahaya.
Untuk keluar tidak mungkin karena sudah terlanjur.
Menghentikan sebentar saja pemusatan sinkang mereka, tentu mereka akan terluka.
Melanjutkanpun sampai kapan?
Mereka sudah hampir tidak kuat dan terpaksa mereka menahan napas untuk membantu kekuatan mereka.
Tiba-tiba saja suara ketawa itu terhenti dan lima orang itu terseret oleh perobahan tiba-tiba ini dan tanpa dapat bertahan lagi, kelimanya lalu muntah darah segar!
Mereka semua menderita luka dalam tubuh, walaupun tidak berbahaya sekali namun cukup membuat mereka terkejut dan maklum bahwa Kakek ini tidak berniat baik terhadap mereka.
Begitu membuka mata, mereka lalu bangkit dan melangkah mundur untuk mengatur jarak agar tidak terlampau dekat dan agar mereka dapat berjaga diri.
Dengan mulut masih menyeringai lebar, Kakek itu lalu berkata.
"Omitohud...! manusia saling bermusuhan hanya untuk memperebutkan benda mati! Mana mungkin kehidupan ini menjadi aman tenteram dan penuh kedamaian kalau manusia saling hantam hanya untuk memperebutkan benda mati? Ha-ha-ha"
Kini lima orang itu sudah siap untuk berjaga diri, akan tetapi suara ketawanya sekali ini tidak mengandung tenaga khikang yang menyerang.
Akan tetapi, melihat wajah gundul yang tertawa-tawa dan menyeringai lebar itu, melihat jubah kuning dan kepala gundul yang menunjukkan bahwa Kakek itu seorang Hwesio , lima orang itu lalu teringat akan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang namanya amat terkenal akan tetapi menurut kabar tidak pernah keluar dari dalam kamarnya di mana dia bersamadhi dan bertapa sampai belasan tahun lamanya!
Hwesio tokoh Siaw-lim-pai itupun hanya dikenal julukannya saja, yaitu Siauw-bin-hud (Buddha Bermuka Tertawa)!
Kam Hong Tek, pendekar selatan yang pernah selama beberapa tahun berguru kepada seorang Hwesio Siauw-lim-pai perantau, memberanikan diri untuk maju memberi hormat dan bertanya.
"Harap Locianpwe sudi memaafkan kelancangan saya. Apakah saya yang bodoh berhadapan dengan Locianpwe Siauw-bin-hud?"
Mendengar ini, empat orang lain memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi juga merasa gentar karena mereka semua sudah mendengar bahwa pertapa yang disebut Siauw-bin-hud adalah seorang Locianpwe yang amat tinggi ilmu kepandaiannya dan merupakan angkatan tua yang dihormati.
Kembali Kakek itu tertawa, ketawa biasa tanpa pengerahan khikang yang menyerang seperti tadi.
Karena mulutnya lebar, maka ketawanya yang menyeringai itu membuat mukanya seperti terbelah dua atau retak lebar di tengah-tengah.
"Ha-ha-ha, dan engkau yang berpakaian putih ini apakah bukan bernama Kam Hong Tek?"
Kam Hong Tek terkejut, akan tetapi kekagetannya disusul oleh rasa kaget mereka semua ketika Kakek itu melanjutkan.
"Dan nona tentulah yang bernama Theng Ci murid kepala Ang-hong-pai, bukan? Dan engkau yang tampan ini siapa lagi kalau bukan Pek-bin Tiat-ciang? Dan engkau yang tinggi besar dan gagah ini, pinceng kira tentu seorang perwira pengawal istana yang menyamar. Bukankah engkau yang bernama Tang Kui?"
Tentu saja semua orang terkejut.
Kakek ini selain memiliki khikang yang luar biasa kuatnya, ternyata memiliki pula pemandangan yang amat luas sehingga begitu berjumpa sudah dapat mengenal mereka semua!
Padahal, Kakek ini dikabarkan selalu menyenbunyikan diri dalam sebuah ruang pertapaan di kuil Siauw-lim-si!
Apakah Kakek ini memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia?
Tang Kui yang menjadi besar hatinya karena Kakek itu mengenalnya sebagai seorang komandan pengawal istana, hendak mempergunakan kedudukannya dan kewibawaan Kaisar untuk mencari keuntungan.
Dia menjura dengan sikap gagah seorang perwira tinggi tulen kepada Kakek itu.
"Locianpwe sungguh bijaksana dapat mengenal saya dalam penyamaran. Saya yakin Locianpwe mempunyai kebijaksanaan pula untuk mengingat bahwa saya adalah seorang utusan sri baginda Kaisar untuk mencari dan membawa pusaka Giok-liong-kiam ke istana."
Kembali Kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, Tang-Ciangkun. Apa hubungannya tugasmu dengan pinceng (aku)?"
"Maaf, Locianpwe. Karena tadi saya melihat Giok-liong-kiam melayang ke arah tempat ini, saya mohon petunjuk Locianpwe apakah Locianpwe tahu di mana adanya pusaka itu."
"Kalian berlima siap untuk saling bunuh dalam memperebutkan Giok-liong-kiam! Kalau pinceng tidak tahu di mana adanya pusaka itu, tentu pinceng tidak dapat memberi tahu kalian. Sebaliknya kalau pinceng tahu di mana, pinceng juga tidak dapat memberi tahu kalian karena kalian tentu akan saling bunuh. Lebih baik pinceng simpan sendiri saja. Sudahlah, pinceng sedang beristirahat dan tidak mau diganggu lagi. Kalian harap pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian, Kakek itu kembali memejamkan kedua matanya dan merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti tadi, sedikitpun tidak bergerak lagi!
Lima orang itu menjadi ragu-ragu, bahkan saling pandang seperti hendak saling bertanya dan minta pendapat, lupa bahwa mereka itu masing-masing pernah bermusuhan dan siap untuk saling bunuh dalam memperebutkan Giok-liong-kiam!
Memang lucu dan aneh, akan tetapi merupakan kenyataan yang dapat kita lihat sehari-hari dalam kehidupan di sekeliling kita betapa harta dapat mempermainkan kita manusia, akan tetapi juga dapat mempersatukan manusia dengan manusia lain kalau memang kepentingan mereka bersama menguntungkan!
Maka sesungguhnya bukanlah harta yang berkuasa dan mempermainkan manusia melainkan batin sendiri yang dicengkeram oleh ke aku-an dan nafsu ingin memperoleh keuntungan bagi diri sendiri sebesarnya,.
Demi memperoleh keuntungan untuk diri sendiri inilah, kawan dapat menjadi lawan dan sebaliknya, lawan dapat berubah menjadi kawan.
Hal seperti ini menjadi landasan dari setiap peristiwa antara manusia di dunia, bahkan dapat meluas menjadi antar kelompok dan antar bangsa dan Negara!
Saling memperebutkan keuntungan inilah yang menyebabkan terjadinya perang antara dua bangsa yang bersahabat, sebaliknya dapat menyebabkan terjadinya persahabatan antara kedua bangsa yang tadinya bermusuhan.
Kita tinggal membuka mata melihat saja semua ini terjadi di sekeliling kita, bahkan di dalam batin kita sendiripun demikian karena keadaan dunia tidaklah berbeda dari keadaan di dalam batin kita sendiri.
Dari batin manusia peroranganlah tercetusnya konflik yang dapat melebar dan meluas menjadi konflik antara manusia dan konflik antara bangsa.
Lima orang itu hampir merasa yakin kini bahwa Giok-liong-kiam tentu berada di tangan Kakek ini, mungkin disembunyikan di balik jubahnya yang lebar dan longgar.
Akan tetapi, mereka tidak berani bertanya lagi dan pula, apa yang dapat mereka lakukan terhadap Kakek ini?
Baru diserang oleh suara ketawa saja, mereka sudah muntah darah dan sampai sekarangpun dada mereka masih terasa nyeri.
Kalau kini mereka mempergunakan kekerasan untuk memaksa Kakek itu mengaku dan menyerahkan Giok-liong-kiam, sama saja dengan mati konyol atau bunuh diri.
"Sudahlah!"
Teriak Tang Kui yang sudah meloncat mundur dan pergi dari situ.
Empat orang tokoh lain juga pergi dan isi hati mereka sama semua.
Bagaimanapun juga, mereka kini tahu dimana adanya Giok-liong-kiam, yaitu di tangan Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang aneh itu!
Dan hal ini saja sudah dapat menghibur hati mereka karena mereka dapat melaporkan kepada atasan mereka, atau dapat menyusun kekuatan untuk kelak mencoba merampas pusaka yang sudah mereka ketahui berada di mana.
Akan tetapi, semenjak peristiwa itu terjadi, Giok-liong-kiam dianggap hilang oleh dunia kang-ouw walaupun mereka tahu bahwa pedang itu berada di tangan Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai.
Bahkan Kaisar sendiri mendapat nasihat dari para penasihatnya agar tidak mempergunakan kekerasan terhadap Siauw-lim-si hanya karena urusan pedang yang memang tadinya bukan pusaka istana.
Istana hanya mengutus serombongan pembesar untuk meminta keterangan kepada Siauw-lim-si tentang pedang Giok-liong-kiam, dan ketua kuil memberi jawaban dengan pasti bahwa Siauw-lim-pai tidak tahu sama sekali tentang Giok-liong-kiam, dan bahwa selama puluhan tahun ini Hwesio tua yang bernama Siauw-bin-hud tidak pernah meninggalkan ruangan di mana dia mengurung diri dan bertapa!
Tentu saja jawaban ini dianggap sebagai pengingkaran untuk tetap menguasai pedang pusaka itu, namun Kaisar menghabiskan urusan itu sampai di situ saja.
Negara sudah menghadapi terlalu banyak pemberontakan, dan urusan menghadapi orang-orang asing berkulit putih juga sudah mendatangkan banyak kepusingan, maka sungguh amat merugikan kalau pemerintah harus bersikap kasar dan memancing permusuhan baru dengan pihak Siauw-lim-pai.
Lui Siok Ek juga melapor kepada ketua Thian-te-pai yang merasa terkejut sekali mendengar bahwa Giok-liong-kiam kini berada di tangan orang Siauw-lim-pai.
Karena antara Thian-te-pai dan Siauw-lim-pai tidak ada hubungan apa-apa, walaupun tidak pernah terjadi permusuhan, maka ketua Thian-te-pai hanya mengirim murid-murid kepala untuk menyerahkan surat kepada ketua Siauw-lim-pai, di mana dia bertanya dengan hormat apakah Siauw-lim-pai mendengar atau tahu tentang di mana adanya Giok-liong-kiam, pusaka perkumpulan mereka yang hilang dicuri orang setengah tahun yang lalu.
Ketua Siauw-lim-pai menjawab bahwa Siauw-lim-pai sungguh tidak tahu sama sekali dan kalau tahu tentu dengan senang hati membantu Thian-te-pai menemukan kembali pusakanya!
Jawaban ini membuat hati para tokoh Thian-te-pai mendongkol.
Sudah jelas Siauw-bin-hud yang menguasai pusaka itu dan pihak Siauw-lim-si masih pura-pura tidak tahu.
Akan tetapi merekapun tidak dapat berbuat sesuatu karena tentu saja tidak mau menanam permusuhan dengan perkumpulan yang sekuat Siauw-lim-pai.
Biarpun tidak ada yang berani menuntut kepada Siauw-lim-pai, akan tetapi dari lima orang itu tersiarlah berita di seluruh dunia kang-ouw bahwa Giok-liong-kiam yang diperebutkan itu kini berada di tangan Siauw-bin-hud tokoh Siauw-lim-pai.
Dan enam tahun lewat tanpa ada suatu peristiwa terjadi sehubungan dengan pedang pusaka Giok-liong-kiam.
Orang di dunia persilatan seolah-olah sudah melupakan peristiwa perebutan Giok-liong-kiam itu.
Dan memang perebutan pusaka itu hanya terjadi dan timbul setelah tersiar kabar bahwa pusaka itu dicuri orang dari Thian-te-pai.
Ketika pusaka itu masih menjadi pusaka Thian-te-pai, tidak ada orang atau golongan yang begitu gatal tangan untuk mencoba merampasnya dari tangan Thian-te-pai, sebuah perkumpulan yang amat kuat, apa lagi karena Thian-te-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah Mancu dank arena itu dihormati oleh semua golongan.
Kini, setelah pusaka itu berada di tangan Siauw-lim-pai, tentu saja orang menjadi semakin segan untuk mencoba merampasnya.
Akan tetapi, secara diam-diam tentu saja banyak orang yang masih menginginkan pusaka itu, hanya tidak berani menyatakan secara berterang.
Bahkan ada pihak-pihak yang menyusun kekuatan dan bersikap hati-hati, tidak berani sembarangan turun tangan terhadap perkumpulan seperti Siauw-lim-pai sebelum merasa yakin akan kekuatan sendiri.
Enam tahun telah berlalu sejak pedang pusaka Giok-liong-kiam lenyap dan dunia kangouw mengetahui bahwa pedang itu berada di tangan Siauw-bin-hud, seorang tokoh tua Siauw-lim-pai.
Selama enam tahun itu tidak pernah terjadi sesuatu di Siauw-lim-si, dan dunia kang-ouw seolah-olah melupakan pusaka itu, karena memang negara berada dalam kekacauan.
Pemberontakan-pemberontakan kecil berkobar di mana-mana, dan makin banyaklah rakyat dikuasai asap madat.
Bahkan madat mulai menyusup ke dalam gedung-gedung para pembesar sehingga banyaklah pembesar mulai kecanduan.
Makin banyak madat dimasukkan ke Tiongkok, makin banyak pula kekayaan negara dikuras.
Yang puas mengelus perut gendut karena memperoleh untung yang luar biasa banyaknya adalah orang-orang kulit putih, terutama Bangsa Inggeris, dan juga orang-orang India yang menyediakan madat itu.
Suatu pagi yang cerah.
Kecerahan pagi itu terasa sekali nikmatnya di sebuah puncak bukit kecil.
Sinar matahari yang cerah menjadi semakin segar dan hangat karena sejuknya hawa udara yang jernih di bukit itu.
Matahari baru saja muncul dengan sinarnya yang agak kemerahan bercampur kuning menjadi keemasan.
Masih lembut, belum keras panas seperti sinar di tengah hari.
Cahaya keemasan lembut itu memandikan seluruh permukaan bukit, rata dan tidak pilih kasih.
Cahaya yang indah itu menggugah bumi dari pada kelelapan malam gelap.
Tanah menguap tipis, hangat dan sedap baunya, menghalau kabut pagi yang agaknya masih bermalasan untuk meninggalkan bumi yang sedap.
Bunga-bunga yang sudah mekar menjadi berseri, masih basah oleh embun, menerima cahaya matahari dengan penuh kebahagiaan.
Embun yang tadinya dingin menyelimuti kelopak-kelopak bunga, kini terasa menyegarkan dan indah bergantungan di kelopak daun, berkilauan dan tersenyum-senyum.
Daun-daun juga bangkit menghijau, segar dan menyambut cahaya matahari pagi sebagai sesuatu yang baru, yang sama sekali terlepas dan tiada kaitannya dengan malam tadi, dengan siang kemarin.
Rumput-rumput hijau juga berseri-seri, pucuk-pucuk rumput kekuningan bersemi dan seperti anak-anak yang tiada mengenal susah, bergembira menyambut dan memasuki hidup.
Burung-burung berkicau bersuka ria, kegembiraan yang spontan dan tidak dibuat-buat, lincah berloncatan dari dahan ke dahan, saling tegur dengan salam manis kepada teman-temannya, siap untuk bersama-sama menghadapi hari baru yang cerah.
Sukarlah menggambarkan keindahan pagi.
Keindahan yang hanya dapat dinikmati dengan penghayatan, dengan rasa, bukan untuk digambarkan atau diceritakan.
Keindahan dan kebahagiaan yang dapat dinikmati setiap orang manusia.
Sayang seribu sayang, jarang sekali ada orang dapat lagi menikmati keindahan yang membahagiakan itu.
Pikiran kita terlalu sibuk dengan urusan lahiriah, mencari uang, menuntut ilmu, sosial, politik, agama, pengejaran kesenangan, pelarian dari kesusahan dan sebagainya.
Cobalah sekali-kali, makin sering semakin baik, kita melepaskan diri dari semua itu, kita tinggalkan semua itu agar batin kita kosong sama sekali dari pada segala macam konflik dan masalah kehidupan, lalu kita masuki pagi yang baru ini, kita biarkan diri seperti sehelai rumput yang menikmati embun dan cahaya keemasan.
Pagi itu terasa amat sunyi di kuil Siauw-lim-si yang terletak di puncak bukit kecil itu.
Sunyi yang mengamankan hati, sunyi penuh keriangan dan kebahagiaan yang bukan timbul karena senang akan sesuatu.
Namun, sejak matahari belum nampak, baru sinarnya saja yang mendahuluinya, para Hwesio di kuil itu sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Pekerjaan yang merupakan tugas sehari-hari, pekerjaan yang diulang-ulang sehingga tidak ada artinya lagi bagi si pekerja.
Menyapu pekarangan, memikul air, menyalakan api di dapur, membersihkan meja sembahyang, ataupun membaca liam-keng atau doa sambil mengetuk-ngetuk kayu.
Semua ini dilakukan seperti otomatis, tanpa gairah lagi, seperti kalau kita pergi ke kantor, ke sekolah, ke pasar atau sibuk di dapur.
Dan tahu-tahu usia telah menjadi tua oleh pekerjaan yang telah menjadi gerakan kebiasaan tanpa isi ini.
Dapatkah kita menikmati segala hal yang kita lakukan, termasuk pergi sekolah, belajar, bekerja di kantor, berbelanja di pasar, masak di dapur, segala sesuatu itu?
Dapatkah?
Hal ini hanya kita sendiri yang mampu menyelidiki, mampu mempelajari dan mampu menjawabnya!
Mari kita mengguncang diri, seperti anjing kalau mengguncang tubuh mengeringkan diri dari air atau melemparkan kutu-kutu dari badan, mari kita melepaskan belenggu dari semua ikatan kebiasaan itu!
Dan mari kita melakukan APA SAJA, ketika bekerja, ketika mandi, ketika makan, ketika kita bicara, bahkan ketika kita termenung, apa saja yang kita lakukan, pernapasan kita, gerakan kaki tangan kita, GERAKAN PIKIRAN kita, mari kita lakukan semua gerakan lahir batin itu dengan penuh KESADARAN, bukan gerakan robot atau otomatis, melainkan gerakan dilakukan dengan penuh PENGAMATAN, dengan penuh kewaspadaan dan penuh kesadaran, penuh perhatian.
Mari kita buka mata dan lihat, kita amati setiap gerak badan dan batin KITA SENDIRI, dan mari hentikan mengamati orang lain.
Kita MASUK dengan seluruh jiwa raga ke dalam sesuatu yang kita lakukan!
Sejak bangun tidur sampai pulas, dan bahkan pengamatan itu masih hidup selagi kita tidur.
Mau coba?
Marilah!
Sudah menjadi kebiasaan para Hwesio untuk bangun pagi-pagi sekali.
Kebiasaan yang amat baik karena hal ini menyehatkan badan dan pikiran.
Kuil Siauw-lim-pai tidaklah sebesar ratusan tahun yang lalu.
Bentrokan-bentrokan dengan pemerintah, terutama pemerintah Kerajaan Mancu yang berkuasa, selama ratusan tahun membuat Siauw-lim-pai terpecah belah dan mengalami kemunduran.
Akan tetapi, biarpun demikian, tetap saja Siauw-lim-si merupakan satu di antara kuil-kuil terbesar di seluruh negeri.
Dan Siauw-lim-pai, yaitu perkumpulan yang terdiri dari murid-murid Siauw-lim-si di bidang ilmu silat, tetap saja merupakan partai persilatan terbesar.
Haruslah diakui bahwa ilmu silat Siauw-lim-pai merupakan ilmu silat tertua, bahkan merupakan sumber dari hampir semua ilmu silat yang kemudian bertumbuhan dan bermunculan di dunia persilatan.
Ilmu silat Siauw-lim-pai adalah ilmu silat murni, yang diciptakan oleh orang-orang suci, oleh para cerdik pandai yang berbatin bersih.
Ilmu silat yang diperkembangkan untuk keuletan badan, kebesaran jiwa dan ketenangan batin, yang dirangkai dengan ilmu batin yang tinggi berdasarkan agama.
Oleh karena aliran ini masih aseli maka cara berlatihnya juga amat berat.
Bukan seperti ilmu-ilmu silat yang sengaja dipelajari dengan pamrih untuk berkelahi, mudah dipelajari dan mudah dipraktekkan untuk perkelahian, namun sama sekali tidak ada manfaatnya untuk kemajuan batin.
Tidak kurang dari lima puluh orang Hwesio tinggal di kuil Siauw-lim-si yang besar dan luas itu.
Kuil itu memang amat luas dan merupakan sebuah perkampungan kecil yang dikelilingi tembok tinggi.
Dahulu, pernah di masa jayanya kuil ini menampung penghuni sebanyak hampir dua ratus orang.
Yang menjadi ketua bernama Thian He Hwesio , seorang Kakek tinggi kurus yang usianya enam puluh tahun lebih, dibantu oleh beberapa sute (adik seperguruan) yang bertugas sebagai kepala bagian.
Sebagai ketua, Thian He Hwesio hanya menangani pelajaran agama, mengepalai upacara-upacara sembahyang dan menentukan peraturan-peraturan serta mengambil keputusan akan segala masalah yang timbul di antara mereka.
Para sute-sutenya adalah Thian Kong Hwesio yang bertugas sebagai pelatih ilmu silat kepada para murid, Thian Tek Hwesio bertugas sebagai kepala rumah tangga, dan Thian Khi Hwesio bertugas mengatur semua urusan yang berhubungan dengan luar kuil.
Mereka semua ini adalah Hwesio -Hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi dan nama mereka disegani di seluruh dunia persilatan, bukan hanya karena kepandaian mereka, akan tetapi juga karena sepak terjang para murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa dan juga karena para Hwesio ini tidak pernah mau mencampuri urusan di luar linkungan mereka sendiri.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 11
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 1