Eps 2 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Tangan itu sudah menghitam dan diapun te rpelanting roboh dan bergulingan dalam sekarat!
Thian Ki sudah menggandeng tangan Kui Eng dan diajaknya pergi menjauh.
Sementara itu, dengan cambuk di tangan, Lan Ci juga mengamuk untuk menolong keluarga yang dikeroyok pasukan itu.
N amun agaknya te rlambat, karena semua anggota keluarga itu telah roboh.
Melihat keadaan ini, sekali loncat pangeran Cian Bu Ong sudah mendekati puterinya dan menyambar tubuh pute rinya, dipondong bersama tubuh is terinya yang pingsan, lalu berkata kepada Lan Ci.
"Sim Lan Ci, cepat pondong anakmu dan kita pergi dari sini!"
Lan Ci maklum bahwa melawan hampir seratus orang itu sama dengan mencari penyakit, maka mendengar seruan penolongnya, iapun cepat menghampiri Thian Ki, memondongnya dan sambil memutar cambuknya, ia mengikuti Pangeran Cian Bu Ong yang mencari jalan keluar sambil menendang-nendang, merobohkan banyak prajurit yang berani menghadang.
Karena te ndangan-te ndangan itu dahsyat sekali, ditambah gerakan cambuk di tangan Lan Ci, akhirnya dua orang ini berhasil keluar dari kepungan dan melarikan diri.
Pangeran Cian Bu Ong memasuki sebuah gua di le reng bukit sambil memondong tubuh is terinya dan juga pute rinya, diikuti oleh Lan Ci yang masih memondong Thian Ki.
Setelah menurunkan Thian Ki, Lan Ci tanpa diminta lalu membuat api unggun, dibantu oleh Thian Ki.
Sementara itu, Pangeran Cian Bu Ong merebahkan tubuh is terinya.
Wanita itu mengeluh lirih ketika suaminya memeriksa luka-lukanya, dilihat oleh Lan Ci dan Thian Ki.
Lan Ci memandang dengan perasaan haru bercampur iba, karena sekali pandang saja iapun tahu bahwa wanita itu tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi.
Luka-lukanya terlampau parah dan terlampau banyak darah keluar.
Yang mengagumkan hatinya, anak perempuan itu tidak menangis hanya bersimpuh di dekat ibunya sambil memegangi tangan ibunya.
Pangeran Cian Bu Ong hanya dapat menotok jalan darah isterinya untuk menghentikan mengucurnya darah yang hampir habis dan untuk menghilang rasa nyeri.
"Tenanglah, bagaimanapun juga, anak kita dapat diselamatkan,"
Kata pangeran itu dengan suaranya yang lembut berwibawa.
"Aku.....aku rela.....harap kau didik baik-baik.....Kui Eng....."
Wanita itu te rkulai dan menghembuskan napas te rakhir.
"I buuu.....I"
Hanya sekali itu Kui Eng menje rit lirih dan merangkul je nazah ibunya.
Tangis nya hampir tidak te rdengar, hanya kedua pundaknya yang bergerak-gerak itu menunjukkan bahwa ia te risak.
Thian Ki juga sejak tadi memandang dengan hati penuh perasaan iba te rhadap Kui Eng.
Kini, melihat Kui Eng mendekap je nasah ibunya sambil menangis tanpa bersuara, Thian Ki mendekat dan menyentuh pundak anak perempuan itu.
"Sudahlah, ditangisipun tidak ada gunanya. Engkau tidak sendirian, baru saja akupun ditinggal mati ayahku yang dibunuh orang jahat."
Anak perempuan itu mengangkat mukanya, menoleh dan memandang kepada Thian Ki, lalu memandang kepada Lan Ci dan bertanya.
"I a itu ibumu?"
Thian Ki mengangguk.
"Enak saja engkau bicara, engkau sih mempunyai ibu dan aku ditinggal mati ibuku."
"Akan tetapi engkaupun masih mempunyai ayah yang gagah perkasa, dan aku te lah kehilangan ayahku,"
Bantah Thian Ki.
Anak itu te rdiam dan melirik kepada ayahnya, lalu kepada Lan Ci, seperti juga yang dilakukan Thian Ki.
Lan Ci memandang kepada laki-laki perkasa itu, merasa kasihan sekali karena ia merasa betapa karena menolong ia dan Thian Ki, maka pria ini kehilangan keluarganya.
Andaikata dia tidak menolongnya, te ntu berada bersama keluarganya dan tidak akan te rjadi keluarganya te rbasmi oleh pasukan, karena te ntu dia akan mampu melindungi mereka.
"Tai-hiap, maafkan kami. Kami penyebab malapetaka menimpa keluarga tai-hiap,"
Katanya lirih.
Pria itu menghela napas panjang.
Sejak tadi dia hanya duduk bersila dekat jenazah istrinya, matanya dipejamkan dan wajahnya dibayangi kedukaan.
Setelah menghela napas, dia membuka matanya dan memandang kepada Lan Ci.
"Benar seperti dikatakan pute ramu tadi. Ditangisipun tidak ada gunan ya. Kita harus dapat melihat kenyataan, bagaimanapun macam dan keadaannya. Aku harus cepat mengubur je nazah ibu Kui Eng sekarang juga. Mungkin pasukan itu akan dapat mengejar sampai di sini."
Malam itu juga Pangeran Cian Bu Ong menggali lubang, menggunakan sebatang pedang pendek, di dalam gua yang cukup besar itu, dibantu oleh Lan Ci.
Malam telah hampir terganti pagi ketika pemakaman yang sederhana itu selesai.
Pangeran Cian Bu Ong dan pute rinya,Cian Kui Eng bersembahyang di depan gundukan tanah itu tanpa hio.
Juga Lan Ci mengajak pute ranya untuk memberi hormat.
"Kita harus cepat meninggalkan te mpat ini. Kalau sampai pasukan dapat mengejar, kita tentu akan mengalami banyak kesukaran,"
Kata pria itu.
"Kuharap engkau dan anakmu akan suka ikut dengan aku sehingga aku akan dapat meI indungi kalian."
Lan Ci memandang heran.
Penolongnya adalah seorang yang sakti, dan baru saja kehilangan semua keluarganya, hanya tinggal pute rinya yang masih selamat.
Bagaimana sekarang penolongnya itu akan mengajak ia dan Thian Ki?
Mengajak kemana?
Tentu saja ia ingin pulang saja ke dusunnya, yaitu di Mo-kim-cung, akan tetapi ia harus menengok dulu keadaan He k-houw-pang yang telah diserbu penjahat-penjahat lihai itu.
"Thai-hiap, saya harus melihat dulu apa yang te rjadi di dusun Ta-bun-cung, bagaimana dengan keadaan keluarga suamiku di He k-houw-pang,"
Katanya, merasa tidak enak kalau harus menolak begitu saja ajakan pendekar sakti yang berniat baik itu. Pangeran Cian Bu Ong kembali menarik napas panjang.
"Hem, perjalanan ke dusun itu mengandung banyak bahaya berte mu dengan pasukan pemerintah. Mari kuantar sampai luar dusun itu. Aku mengenal jalan yang aman, dan aku menanti di luar dusun."
Lan Ci mengangguk dan merekapun berangkat.
Thian Ki menggandeng tangan Kui Eng.
Dia merasa kasihan kepada anak perempuan itu, dan agaknya anak itupun suka kepadanya.
Cian Bu Ong berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.
Di belakangnya kedua anak itu berjalan bergandeng tangan dan Lan Ci berjalan di belakang melindungi mereka.
Pria tinggi besar itu mengambil jalan melalui hutan dan lereng yang sunyi dan akhirnya, setelah matahari naik tinggi tibalah mereka di dusun Ta-bun-cung.
Suasana di dusun itu sunyi, tak nampak seorangpun berada di luar dusun.
"Kami menanti di sini,"
Kata Cian Bu Ong.
"Mas uklah ke dusun dan setelah selesai urusanmu, harap suka kembali ke sini untuk mengambil keputusan."
Lan Ci memandang ragu.
Dianggapnya bahwa urusan antara mereka sudah selesai, dan ia akan mengambil jalan sendiri.
Akan te tapi ia merasa tidak enak.
Pria ini baru saja kehilangan seluruh keluarganya, maka kalau mereka harus saling berpisahpun sepatutnya kalau dalam keadaan yang baik.
la akan kembali menemuinya untuk berpamit kalau saatnya berpisah sudah tiba.
Yang penting, ia harus menengok bagaimana keadaan suaminya dan keluarga He k-houw-pang.
la lalu mengangguk, kemudian menggandeng tangan pute ranya dan diajaknya anak itu berlari memasuki dusun.
Dusun Ta-bun-cung itu kini sunyi bukan main, seperti mati.
Akan tetapi ketika ada beberapa orang kebetulan keluar dan melihat Lan Ci, mereka berlari-larian menghampiri dan beberapa orang wanita yang mengenal Lan Ci sebagai isteri Coa Siang Lee, sudah menangis dengan sedih.
Lan Ci tidak mempedulikan mereka dan langsung ia lari menuju ke rumah keluarga Coa.
Ternyata pintu gerbang rumah besar itu te rtutup dan papan nama besar yang biasanya te rgantung di depan pintu, bertuliskan Hek-houw-pang, juga tidak ada lagi.
Sepi sekali di situ.
Lan Ci mengetuk pintu.
Daun pintu terbuka dari dalam dan seorang laki-laki tua, berusia limapuluhan tahun yang dahulu menjadi pelayan keluarga Coa, memandang dengan mata te rbelalak.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 4
"Coa hujin (Nyonya Coa)......! Dan engkau kongcu (tuan muda)! Ah, kalian masih selamat? Syukur kepada Thian kalian masih selamat..."
Dan orang itupun mengusap air matanya yang mengalir turun.
"Paman, kenapa rumah ini sekarang kosong? Ceritakan semua akibat dari penyerbuan para penjahat itu! Cepat ceritakan!"
Lan Ci tidak sabar lagi. Rumah itu nampak kosong dan sepi, bahkan perabot-perabot rumahpun banyak yang hilang. Baru beberapa hari saja ia tinggal di situ dan sekarang semua telah berubah.
"Hujin......suamimu telah.....gugur..."
"Aku sudah tahu. Ceritakan siapa lagi yang gugur dan bagaimana akhirnya dengan serbuan para penjahat itu?"
"Tigapuluh le bih anggota He k-houw-pang te was, te rmasuk.....kongcu Coa Siang Lee dan juga pangcu (ketua) Kam Seng Hin. Juga lo-cian-pwe Coa Song....."
"Alh! Kong-kong juga....?"
Lan Ci berseru kaget karena ia tidak melihat kakek itu ikut berkelahi melawan penjahat.
"Lo-cianpwe meninggal dunia karena duka."
"Ah, dimana isteri pangcu dan puteranya?"
"Sungguh menyedihkan sekali, hujin. Isteri pangcu dilarikan penjahat...!"
"Dan bagaimana dengan Cin Cin?"
Thian Ki yang sejak tadi mendengarkan dengan sedih, bertanya.
"Di mana Cin Cin?"
"Sebelum meninggal dunia, lo-cianpwe Coa Song memesan agar anak itu diajak ke dusun Hong-san, diserahkan kepada Huang-ho Sin liong Si Han Beng untuk dididik. Sekarang te lah berangkat dua hari yang lalu. Dan lo-cian-pwe Coa Song juga membubarkan Hek-houw-pang. Semua murid telah meninggalkan dusun ini karena takut kalau-kalau para penjahat yang lihai itu datang kembali. Perabot rumah ini banyak dijual untuk biaya pemakaman dan semua harta sesuai dengan pesan lo-cian-pwe Coa Song, telah dibagi-bagi di antara para anggota."
"Ahhhh.....!"
Lan Ci merasa jantungnya seperti ditusuk.
Perih sekali rasanya dan sungguh aneh, ia te ringat pada pendekar tinggi besar yang te lah menolongnya dan baru sekarang ia te ringat bahwa ia belum mengenal penolongnya itu!
Betapa sama benar penderitaan antara ia dan penolongnya itu.
Penolongnya kehilangan isteri dan keluarganya, hanya tinggal hidup berdua dengan pute rinya, sedangkan ia juga kehilangan suami dan keluarga suaminya, dan iapun hidup berdua dengan Thian Ki "Thian Ki......!"
Ia merangkul putranya, dan ia te ringat akan keadaan puteranya.
Susah payah ia dan mendiang suaminya mendidik Thian Ki menjadi seorang anak yang tidak mengenal ilmu silat, tidak mengenal kekerasan.
Akan te tapi te rnyata putera mereka itu menjadi Tok-tong, dan biarpun tidak disengaja, puteranya itu telah membunuh tiga orang jagoan lihai dengan tubuhnya yang beracun!
"I bu, kenapa te rjadi hal ini?
Kenapa ayah dan para anggota He k-houw-pang dibunuhi orang?
Siapa pembunuh ayah?
Dia jahat sekali dan sepatutnya dia dihukum!"
Mendengar ucapan ini, Lan Ci mencium pipi pute ranya tanpa menjawab, bahkan ia menoleh kepada pelayan itu.
"Paman, di mana suamiku dimakamkan? Juga di mana kong-kong dimakamkan?"
"Me reka semua dimakamkan di tanah kuburan luar dusun ini, dan sudah diberi tanda papan nama di depan makam-makam yang banyak itu. Mudah untuk mencarinya. Mari kuantarkan..........."
"Tidak usah, paman. Katakan di sebelah mana tanah kuburan itu berada?"
Pelayan itu menunjuk ke utara.
"Di sebelah utara dusun, dekat pintu gerbang utara."
"Terima kasih, paman. Kami hendak bersembahyang di sana."
Lan Ci lalu bangkit dan bertanya lagi.
"Apakah pakaian kami di kamar sana itu masih ada paman?"
"Masih, nyonya. Kami tidak berani mengganggu dan semua masih lengkap."
Lan Ci memasuki kamar di rumah itu, kamar yang tadinya ia pakai dengan suaminya.
Melihat pembaringan itu, kursi-kursi itu, air matanya bercucuran, rasanya suaminya masih berada di situ, rebah di pembaringan itu, duduk di kursi itu.
Melihat ibunya menangis, Thian Ki yang baru berusia lima tahun itu agaknya mengerti dan dia mendekati ibunya, merangkul pinggang ibunya.
"I bu, ayah sudah tidak ada. Untuk apa ditangisi lagi?"
"Thian Ki.....!"
Ibunya merangkul dan tangisnya semakin keras, akan tetapi tak lama kemudian ia mampu menekan perasaannya.
Ia memilih pakaiannya lalu berganti pakaian, menggulung jubah milik penolongnya dan menjadikan satu dengan pakaiannya yang dibuntal kain kuning.
Pakaian Thian Ki juga dibuntal menjadi buntalan lain untuk dibawa anak itu sendiri.
Kemudian merekapun keluar dan menuju ke tanah kuburan.
Dari pelayan itu, Lan Ci mendapatkan kelebihan sisa hio (dupa biting) untuk keperluan sembahyang.
Tanah kuburan itu sunyi dan menyeramkan walaupun hari telah menjelang siang.
Betapa tidak menyeramkan melihat tanah kuburan yang penuh dengan kuburan baru sebanyak itu?
Biarpun Lan Ci seorang wanita yang gemblengan, bahkan ia pute ri seorang datuk sesat yang keras hati, namun sejak menjadi istri Siang Lee dan hidup sebagai petani yang te nang dan te nteram, perasaannya peka dan kini ia tidak dapat menahan air matanya yang te rus bercucuran.
Melihat deretan makam yang amat banyak itu, hatinya terasa sedih bukan main.
Akhirnya ia dapat menemukan makam suaminya yang mengapit makam kakek Coa Song, sedangkan di sebelah lain adalah makam Kam Seng Hin, ketua Hek-houw-pang.
Melihat makam suaminya, Lan Ci membayangkan segala kebaikan suaminya dan kedua lututnya menjadi le mas.
Ia menjatuhkan diri berlutut di depan makam itu, memeluk gundukan tanah sambil menangis menyedihkan sekali sampai sesenggukan.
Kata-kata yang tidak je las keluar dari mulutnya, bercampur isak tangisnya.
Thian Ki juga menjatuhkan diri berlutut di samping ibunya.
Kadang dia menoleh memandang wajah ibunya yang ditutupi kedua tangan, lalu menoleh memandang gundukan tanah yang masih baru.
Wajah ibunya yang basah air mata itu kini menjadi kotor terkena tanah, membuat wajah itu nampak menyedihkan sekali.
Thian Ki mengerutkan alisnya dan tidak berani bicara.
Dia dapat merasakan betapa sedihnya hati ibunya, dan dia merasa kasihan sekali kepada ibunya.
Akan tetapi tetap saja dia berpendapat bahwa tidak ada gunanya menangisi kematian ayahnya.
Ditangisi bagaimanapun ju ga, ayahnya tidak akan dapat bangun kembali.
Setelah agak lama dia hanya membiarkan saja ibunya menangis dan berkeluh kesah, merintih-rintih dengan suara yang tidak jelas apa maknanya, akhirnya Thian Ki menyentuh le ngan ibunya.
"I bu, apakah lilin dan hio ini tidak dinyalakan dan dibakar?"
Mendengar pertanyaan pute ranya itu, barulah Lan Ci sadar bahwa ia te rseret kedukaan dan iapun menoleh kepada pute ranya, menyusut air matanya dan mencoba untuk te rse nyum, senyum yang bahkan nampak amat mengharukan dan sedih.
"Kau nyalakan lilinnya dan pasang di depan makam ayahmu dan kakek buyutmu, Thian Ki. Ibu yang akan membakar hio-nya."
Ibu dan anak itu lalu bersembahyang di depan makam Coa Siang Lee dan makam kakek Coa Song, kemudian keduanya duduk di depan makam Coa Siang Lee sambil termenung.
Hidup dikuasai pikiran dan suka-duka merupakan permainan pikiran.
Jarang sekali pikiran dalam keadaan hening tidak te rpengaruh suka ataupun duka.
Pikiran selalu mengejar kesukaan, menjauhi kedukaan.
Namun, suka-duka merupakan dua permukaan dari mata uang yang sama, tak terpis ahkan.
Dimana ada suka di sana pasti ada duka, seperti terang dan gelap, siang dan malam, merupakan pasangan yang membuat kehidupan pikiran menjadi lengkap.
Pikiran seperti air samudra, tak pernah diam, selalu berubah.
Oleh karena itu, tidak ada keadaan pikiran yang abadi.
Sukapun hanya sementara, demikian pula duka, walaupun biasanya, duka le bih panjang usianya dibandingkan suka.
Bahkan suka biasanya berekor duka, walaupun duka belum te ntu disambung suka.
Apa yang hari ini mendatangkan kesukaan, besok sudah berubah mendatangkan kedukaan.
Keadaannya tidaklah berubah.
Keadaan apa adanya merupakan kenyataan yang tidak berubah.
Yang berubah adalah keadaan pikiran kita sehingga karena dasar pemikirannya berubah, maka penilaiannya juga berubah-ubah.
Yang hari ini menyenangkan pikiran, besok dapat berubah menjadi menyusahkan.
Kalau nafsu yang memperdaya hati akal pikiran sudah mencengkeram kita, maka kita selalu tenggelam, baik dalam suka maupun dalam duka.
Dikala suka, kita dapat menjadi mabok kesenangan dan lupa diri, sebaliknya, di waktu duka kitapun menjadi mabok kedukaan dan merana.
Keduanya merupakan keadaan di mana kita dipermainkan ole h nafsu melalui hati akal pikiran kita.
Bagaimana kita dapat mencari jalan keluar dari lingkaran setan ini?
Bagaimana kita dapat te rbebas dari nafsu hati dan akal pikiran?
Siapa yang bertanya ini?
Siapa yang ingin bebas dari nafsu yang menguasai hati dan akal pikiran?
Jelas bahwa yang bertanya adalah pikiran juga, pikiran yang sama yang bergelimang nafsu.
Melihat bahwa nafsu mendatangkan ketidakbahagiaan, maka pikiran lalu ingin agar bebas dari nafsu.
Bagaimana mungkin nafsu dapat bebas dari dirinya sendiri?
Semua usaha yang dilakukan nafsu tentu mengandung pamrih menyenangkan diri sendiri, membebaskan diri dari susah.
Dengan usaha ini, berarti kita terjatuh ke dalam lingkaran setan yang sama, atau bahkan lebih kuat!
Kiranya tidak ada jalan lain bagi kita kecuali MENYERAH!
Menyerah kepada Tuhan, kepada Sang Maha Pencipta, Maha kuasa dan Maha Kasih!
Kita ini, berikut hati dan akal pikiran, berikut nafsu-nafsu kita, kita ini seluruhnya diciptakan oleh kekuasaan Tuhan!
Maka, tidak ada yang lebih benar dari pada menyerahkan segala-galanya kepada yang mengadakan kita, yang menciptakan kita.
Di waktu mengalami suka, kita selalu ingat dan bersyukur kepadaN ya sehingga tidak mabok.
Di waktu mengalami duka, kita selalu ingat dan menyerah padaN ya sehingga tidak tenggelam.
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang mampu meluruskan yang bengkok dalam batin kita, membersihkan yang kotor.
Setiap kehendak Tuhan jadilah!
Bukan pikiran yang ingin menyerah karena kalau demikian te ntu ada pamrih yang te rsembunyi di balik penyerahan itu.
Nafsu selalu berpamrih untuk memperole h keuntungan bagi diri sendiri.
Tidak ada si aku atau pikiran yang ingin menyerah.
Yang ada hanya penyerahan itu saja, titik.
Seolah-olah mati di depan Tuhan.
Nah kalau nafsu hati dan akal pikiran tidak bekerja lagi, maka segalanya terserah kepada Tuhan.
Tuhan Maha Bijaksana, Tuhan Maha Kas ih, dan hanya kekuasaa Nya sajalah yang akan mampu mengadakan atau menjadikan yang tidak mungkin bagi pikiran.
"I bu, kita sekarang akan kemana?"
Tiba-tiba Thian Ki berkata, suaranya yang lirih memecah kesunyian dan menarik kembali semangat ibunya yang melayang-layang.
Lan Ci memandang anaknya.
Thian Ki mendekati ibunya dan menggunakan tangannya untuk membersihkan tanah dari wajah ibunya.
"Ke mana lagi kalau tidak pulang! Kita pulang ke Mo-kim-cung, Thian Ki!"
Anak itu mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, rumah sudah tidak ada ayah.! Aku tidak suka kembali ke sana, akan selalu te ringat kepada ayah."
Lan Ci menarik napas panjang.
Ia juga merasa ragu untuk tinggal di dusunnya itu, dekat dengan ibunya!
Bersusah-payah ia menjaga agar anak tunggalnya tidak mengenal kekerasan, akan tetapi setelah ibunya tiba dan menjadi nikouw di kuil Thian-ho-tang, anaknya malah dijadikan Tok-tong oleh ibunya!
Kalau ia mengajak Thian Ki kembali ke sana, tidak urung ibunya te ntu akan berusaha keras agar Thian Ki mempelajari ilmu-ilmu yang keji dan anaknya ini kelak akan menjadi seorang manusia racun yang amat berbahaya bagi kehidupan orang lain.
"Thian Ki, malapetaka yang menimpa kita ini mengingatkan aku bahwa mungkin sekali aku telah keliru mendidikmu. Sejak kecil, ayahmu dan aku yang pandai ilmu silat selalu berusaha agar engkau tidak mempelajari ilmu silat. Bahkan kami bertahun-tahun hidup bagai petani yang penuh damai. Siapa tahu, di sini kita bertemu malapetaka! Andaikata ayahmu dan aku lebih te rlatih, belum te ntu ayahmu te was. Dan engkau sendiri.....ah, engkau bahkan telah menewaskan tiga orang tokoh persilatan yang lihai."
"I bu, sebetulnya apakah yang te lah te rjadi? Aku tidak bermaksud membunuh orang. Aku hanya ingin menolongmu, aku hanya menggigit, dan yang lain itu hanya mencengkeram aku, kenapa mereka semua roboh dan te was? Ibu pernah mengatakan kepadaku bahwa aku sakit, tubuhku beracun dan kalau aku mendekati wanita, ia akan mati. Apakah itu sebabnya maka tiga orang itu tewas, ibu. Dan kalau benar begitu, mengapa tubuhku beracun?"
Lan Ci merangkul puteranya.
"Thian Ki, kelak engkau akan mengerti sendiri. Aku harus mencarikan obat untukmu, untuk melenyapkan racun itu dari tubuhmu."
"I bu, di dunia ini te rdapat begitu banyak orang jahat. Mereka telah membunuh ayah, membunuh para paman He k-houw-pang, bahkan hampir membunuh ibu dan aku. Mereka tidak dapat membunuhku karena tubuhku beracun. Kalau ibu hendak melenyapkan racun dari tubuhku, bukankah kalau a da orang jahat, aku akan mudah mereka bunuh?"
"Ha, tepat sekali ucapanmu itu, Thian Ki!"
Tiba-tiba Pangeran Cian Bu Ong muncul bersama pute rinya.
"Thian Ki......!"
Kui Eng berseru gembira dan segera menghampiri Thian Ki dan memegang tangan anak itu. Melihat munculnya penolongnya, Lan Ci cepat memberi hormat.
"Mengapa tai-hiap mengatakan bahwa ucapan Thian Ki te pat? Tidak mungkin dia dibiarkan begitu saja, menjadi Tok-tong dan membahayakan nyawa setiap orang yang berdekatan dengannya. Bahkan sekarang juga, nyawa puterimu dapat terancam bahaya, tai-hiap."
Mendengar ucapan ibunya, Thian Ki terkejut dan cepat dia melepaskan tangannya yang saling gandeng dengan tangan Kui Eng. Akan te tapi Kui Eng memegang lagi tangan Thian Ki.
"Kui Eng, lepaskan tanganku. Tubuhku beracun dan engkau dapat celaka keracunan!"
Kata Thian Ki, kembali mele paskan tangannya.
"Aah, engkau te ntu tidak akan mencelakai aku, te ntu aku tidak akan keracunan. Aku tidak takut berdekatan denganmu, Thian Ki."
Pangeran Cian Bu Ong tersenyum, walaupun senyumnya masih nampak pahit karena hatinya masih tertekan kedukaan.
"Anakku benar, Lan Ci. Justru kekuatan dahsyat dalam diri Thian Ki harus dipelihara, dirawat dan dipupuk. Kalau dia dapat menguasainya, tentu dia tidak akan mencelakai orang tanpa disengaja. Aku ingin mengajarkan dia untuk menguasai kekuatan dahsyat itu dan mengajarkan semua ilmuku, bersama Kui Eng."
Lan Ci cepat memberi hormat.
"Harap Thai-hiap memaafkan saya. Sesungguhnya, sejak kecil Thian Ki tidak pernah kami ajari ilmu silat dan tidak memperkenalkan dia dengan kehidupan dunia persilatan."
"Sungguh aneh sekali. Engkau dan suamimu memiliki ilmu silat yang cukup baik. Kenapa tidak diwaris kan kepada anak tunggal kalian?"
"Kami ingin agar anak kami hidup dalam keadaan aman te nteram dan penuh damai, jauh dari kekerasan dan permusuhan seperti yang dialami para ahli silat,"
Kata Lan Ci dengan tegas.
"Aih, nyonya muda. Alangkah lucunya omonganmu itu. Engkau tidak mengajarkan ilmu silat kepada pute ramu, ingin agar dia hidup dalam keadaan tenang tenteram. Akan tetapi apa yang telah terjadi? Masih kecil saja dia tertimpa malapetaka! Ayahnya tewas, ibunya hampir celaka, dan dia sendiri, kalau tidak memiliki kekuatan beracun itu tentu sudah tewas pula!"
"Kalau tidak ada tai-hiap yang menolong, memang kami ibu dan anak tentu telah tewas,"
Kata Lan Ci, ia bergidik membayangkan bahaya mengerikan yang mengancam dirinya ketika itu.
"Sim Lan Ci, engkau seorang ahli silat, kenapa pendirianmu seperti itu? Karena mungkin engkau dahulu hidup penuh kekerasan dan permusuhan, maka engkau hendak menjauhkan pute ramu dari ilmu silat? Ingatlah, seorang ahli silat setidaknya dapat membela diri, bahkan dapat mempergunakan ilmunya untuk membela yang le mah, untuk melakukan perbuatan baik sesuai dengan jiwa seorang pendekar dan pahlawan. Kalaupun dia tewas dalam pertempuran, maka dia mati seperti orang gagah. Sebaliknya, seorang le mah akan selalu ditindas dan ditekan tanpa mampu membela diri sehingga kalau sampai dia mati, maka dia akan mati konyol! Matinya seorang pendekar adalah matinya seekor harimau, sebaliknya matinya seorang yang le mah seperti matinya seekor babi. Aku ingin mengambil Thian Ki sebagai murid, kuharap engkau tidak menolak, kalau engkau tidak ingin anakmu kelak membunuh lebih banyak orang lagi tanpa sengaja."
"Tapi.... tapi .... saya akan mencarikan obat penawar racun dalam tubuhnya Lan Ci mencoba untuk membantah dengan lemah.
"Nyonya muda, dari gerakanmu dan pukulanmu, aku tahu bahwa engkau seorang ahli pukulan beracun. Aku te lah memeriksa keadaan pute ramu dan aku tahu bahwa tidak ada obat apapun di dunia ini yang akan mampu membersihkan racun dari tubuh pute ramu, kecuali kalau dia menularkan atau memindahkan racun itu kepada banyak wanita yang akan menjadi korban. Seluruh darahnya te lah mengandung racun, dari ujung rambut sampai ke jari kakinya. Satu-satunya cara untuk menghindarkan dia menjadi pembunuh besar kepada semua orang yang dekat dengannya, hanya dengan memberinya ilmu agar dia dapat menguasai kekuatan itu dan hanya menggunakan kekuatan itu kalau diperlukan saja."
Sejak tadi Thian Ki mendengarkan percakapan antara ibunya dan laki-laki gagah itu. Dia masih kecil, akan tetapi dia memang cerdas dan dapat mempertimbangkan apa yang dibicarakan tadi.
"I bu, aku tidak mau menjadi pembunuh. Aku harus dapat menguasai racun ini!"
Lalu dia maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Cian Bu Ong sambil berkata,"Suhu, teecu (murid) akan mentaati semua perintah suhu!"
Pangeran Cian Bu Ong tersenyum.
"Bagus, Thian Ki. Mulai sekarang engkau menjadi muridku, menjadi suheng dari Kui Eng. Kalian berdua akan kugembleng menjadi orang-orang yang berguna kelak."
Lalu pangeran itu menoleh kepada Lan Ci.
"Kuharap sekali engkau sekarang tidak akan berkeberatan lagi, Lan Ci."
Sebetulnya, Lan Ci merasa berhutang budi kepada penolongnya itu, yang bukan saja telah menyelamatkannya dari bahaya maut, menyelamatkan kehormatannya, akan tetapi juga yang selalu bersikap ramah dan baik, bahkan akrab sekali dengan sebutan yang kadang-kadang menyebut namanya begitu saja.
Diapun tahu bahwa penolongnya ini seorang sakti, dan bahwa pute ranya te ntu akan menjadi seorang yang berilmu tinggi kalau menjadi muridnya.
Akan tetapi iapun tidak ingin berpis ah dari puteranya.
"Tentu saja saya merasa senang dan berte rima kasih kalau tai-hiap sudi mendidik Thian Ki. Akan tetapi dia anak tunggal saya, dan saya hanya mempunyai dia seorang. Bagaimana mungkin saya dapat berpisah darinya, Tai-hiap?"
"Kenapa harus berpisah? Sim Lan Ci, kau tidak perlu berpisah dengan anakmu. Engkau ikut bersama kami, bahkan engkau dapat ikut membantu aku dan mendidik anakmu."
Mendengar penawaran ini, di dalam hatinya Lan Ci merasa girang sekali.
Kalau ia tidak berpisah dengan pute ranya, maka tidak ada hal lain lagi yang perlu dirisaukan.
Hanya saja ia seorang wanita, bahkan janda pula.
Dan penolongnya seorang pria, dan duda!
Akan janggal sekali nampaknya kalau ia mengikuti penolongnya itu, walaupun penolongnya sudah menjadi guru pute ranya.
Dan ia tidak ingin berpisah dari pute ranya.
"Tapi .... tapi...."
Ia meragu, menerima merasa sungkan dan malu, menolak juga tidak berani.
"I bu,"
Kata Thian Ki dengan suara Iantang.
"Kenapa ibu menolak? Suhu bermaksud baik sekali. Aku dapat mempelajari ilmu tanpa harus berpisah dari ibu."
"Aih, engkau ini enak saja bicara. Kita hanya akan menjadi beban dan akan memberatkan gurumu saja!"
Kata Lan Ci sambil melirik pute ranya dengan sikap menegur.
"Sama sekali tidak, bibi dan Thian Ki, eh ... suheng! Ayahku seorang yang kaya raya, kalau hanya ditambah dengan kalian berdua, sama sekali tidak berat!"
Tiba-tiba Kui Eng berkata.
"Nah, s umoi Kui Eng sudah berkata begitu, ibu, walaupun aku tidak mengerti bagaimana suhu dapat menjadi seorang yang kaya raya. Padahal keluarga suhu telah dihancurkan orang, hartanya dirampok, tidak banyak bedanya dengan kita."
"Suheng, engkau tahu apa? Ayahku adalah seorang pangeran, di mana-mana mempunyai rumah gedung!"
Kata pula Kui Eng.
"Hushh, Kui Eng. Jangan membual kau!"
Ayahnya menegur.
Akan te tapi ucapan anak perempuan itu amat mengejutkan hati Lan Ci.
Ia terbelalak melihat wajah penolongnya, raut wajah yang tampan gagah penuh wibawa, memang pantas menjadi wajah seorang pangeran!
"Paduka.....paduka seorang pangeran?
Bolehkah saya mengetahui siapa nama paduka?"
Pangeran Cian Bun Ong menghela napas panjang. Mereka masih duduk di depan makam, di atas batu-batu yang banyak terdapat di tempat itu. Keadaan di keliling itu s unyi.
"Me mang sudah sepantasnya kalau kita saling mengenal lebih dekat lagi, karena puteramu telah menjadi muridku, akupun hanya tahu bahwa engkau bernama Sim Lan Ci, keluarga dari pimpinan He k-houw-pang. Akan te tapi melihat gerakan ilmu silatmu, jelas engkau bukan murid He k-houw-pang."
"Yang keluarga Hek-houw-pang adalah mendiang suami saya. Dia adalah keturunan para pemimpin atau ketua He k-houw-pang, yaitu keluarga Coa."
"Oh, begitukah? Pantas ilmu silatmu berbeda."
Pangeran itu lalu memandang kepada Thian Ki dan Kui Eng.
"Thian Ki, kauajak sumoimu pergi bermain-main ke ujung tanah kuburan di sana. Jangan te rlalu jauh. Aku ingin bicara dengan ibumu dan ana k-anak tidak boleh ikut mendengarkan."
"Baik, suhu. Mari, sumoi!"
Kata Thian Ki sambil menggandeng tangan Kui Eng. Mereka pergi meninggalkan dua orang tua itu dan memetik bunga liar yang bertumbuhan di sudut tanah kuburan.
"Nah, sekarang le bih leluasa kita bicara. Tidak semua hal boleh didengar oleh anak-anak kita."
Lan Ci mengangguk, membenarkan.
"Ilmu silatmu selain berbeda, juga mengandung hawa pukulan beracun. Siapakah gurumu?"
Pangeran itu kembali bertanya.
Demikian pandainya dia mengatur percakapan sehingga Lan Ci tidak sadar bahwa pertanyaan tentang nama pangeran itu sama sekali belum te rjawab, bahkan kini orang itu yang menguras keterangan darinya.
"Guru saya adalah ibu kandung saya sendiri."
Ia te rpaksa mengaku.
"Ah, kiranya begitu? Siapakah nama ibumu? Tentu ia seorang tokoh dunia persilatan yang amat te rkenal."
Sungguh tidak enak rasanya memperkenalkan ibunya, seorang datuk sesat yang namanya te rsohor.
Akan tetapi ia tidak dapat mengelak lagi.
Biarlah penolongnya ini tahu segala tentang dirinya, te ntang Thian Ki yang sudah menjadi muridnya.
"Dahulu ibu bernama Phang Bi Cu, berjuluk Ban-tok Mo-li akan tetapi sekarang telah menjadi seorang Ni-kouw."
Benar seperti dugaannya, penolongnya itu nampak te rkejut sekali. Nama ibunya te rlalu te rsohor untuk tidak dikenal orang.
"Ban-tok Mo-li? Ibumu Ban tok Mo-li? Aahh, sekarang aku mengerti mengapa anakmu menjadi Tok-tong Ibumu seorang wanita yang amat lihai dan nama besarnya sudah lama sekali kudengar!"
Pangeran itu memandang kagum, lalu cepat menyambung dengan pertanyaan.
"Dan ayahmu?"
"Ayah telah tiada sejak saya kecil sekali. Saya tidak ingat lagi. Paduka belum menceritakan siapa sebenarnya paduka."
"Me mang aku seorang bekas pangeran. N amaku Cian Bu Ong Lan Ci melompat berdiri dan wajahnya berubah pucat, matanya te rbelalak memandang kepada laki-laki itu dan kedua tangannya dikepal.
"Paduka Pangeran Cian Bu Ong? Jadi.........paduka ini yang mengirim lima orang penjahat yang telah membasmi Hek-houw-pang dan membunuh suami saya?"
"Duduklah, nyonya, duduk dan te nanglah agar anak-anak kita tidak menjadi kaget "
Katanya dan sungguh aneh, suara le mbut dan berwibawa itu membuat Lan Ci menjadi tenang kembali dan iapun kini sudah duduk lagi, walaupun pandang matanya penuh selidik dan mengandung kemarahan.
"Siapakah yang melempar fitnah itu dan mengatakan bahwa aku yang membasmi He k-houw-pang?"
"Bukan fitnah! Lima orang penjahat itu sendiri yang mengaku. Ketika mereka muncul di dusun Ta-bun-cung, mereka mencari ketua atau pimpinan He k-houw-pang untuk dipanggil menghadap Pangeran Cian Bu Ong. Padahal Pangeran Cian Bu Ong adalah seorang pemberontak yang menjadi buruan pemerintah, maka te ntu saja Hek-houw-pang tidak mau, bahkan hendak menangkap lima orang itu sehingga te rjadi pertempuran. Jadi paduka ini seorang pemberontak yang telah mengutus pembunuh-pembunuh itu untuk membasmi Hek-houw-pang?"
Pangeran itu menghela napas panjang.
"Nanti dulu, nyonya. Beginilah nasib orang yang kalah. De ngarkan dulu keteranganku, baru nanti engkau boleh menilai. Tidak kusangkal bahwa aku te lah melakukan perlawanan terhadap pemerintah baru. Akan te tapi coba pertimbangkan, siapakah sesungguhnya yang memberontak? Aku adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sui, saudara dari mendiang Kaisar Yang Ti. Pemberontakan yang dipimpin Li Si Bin dan ayahnya berhasil menjatuhkan Kerajaan Sui. Sebagai seorang pangeran, aku berjuang melawan pemberontak yang mendirikan krrajaan baru. Nah, siapakah yang pemberontak? Justeru aku menentang pemberontak! Dan kami kalah. Aku menjadi pelarian bersama keluargaku. Kalau orang sudah kalah, selalu menjadi bulan-bulanan fitnah, dijadikan keranjang sampah untuk menampung semua kekotoran dan kesalahan pihak lain. Tidaklah mengherankan kalau lima orang penjahat itu mempergunakan namaku, agar pasukan keamanan mencariku, bukan mereka. Engkau melihat sendiri bagaimana sikapku ketika menolongmu. Aku membunuh anak buah penjahat. Bahkan keluargaku juga te rbasmi oleh pasukan keamanan. Nyonya muda Lan Ci, apakah engkau sekarang masih tega untuk menuduh aku menjadi pembasmi keluarga Hek-houw-pang? Aku sudah cukup menderita, maka kalau engkau sekarang menuduhku jahat, maka penderitaanku le ngkaplah, bahkan berlebihan, kalau engkau menganggap a ku yang menyuruh bunuh suamimu, nah, di depan makam suamimu ini, engkau boleh membalas dendam, boleh membunuhku dan aku tidak akan melawan. Aku hanya titip puteriku, Kui Eng......."
Luluh semua kekerasan di hati Lan Ci mendengar keterangan itu.
Semua keterangan itu masuk akal.
Pangeran ini bahkan seorang pahlawan yang gigih menentang pemberontak yang menjatuhkan Kerajaan Sui.
Kalau kini dia dicap pemberontak, hal itu hanya karena Kerajaan Sui telah jatuh.
Dengan demikian memang sukar mengatakan siapa yang memberontak kepada siapa!
Apa lagi melihat wajah yang gagah itu menjadi muram oleh kedukaan, Lan Ci teringat akan nasibnya sendiri dan ia menunduk lalu berkata lirih.
"Maafkan saya, pangeran. Saya percaya kepada paduka."
Wajah yang muram itu menjadi cerah kembali, dan senyum kegembiraan te rsembul di wajah Pangeran Cian Bu Ong.
"Syukurlah, Lan Ci. Syukurlah masih ada orang yang percaya kepadaku. Mari kita cepat pergi dari sini. Kalau sampai ketahuan pasukan keamanan, te ntu kita akan te rancam bahaya. Kita harus menyelamatkan Kui Eng dan Thian Ki."
"Ke mana kita akan pergi, pangeran?"
"Di perbatasan utara, di sebuah lereng bukit ada sebuah dusun besar orang-orong suku bangsa Hui. Di sana aku mempunyai sebuah rumah. Dan di sana kita akan aman dari jangkauan pengejaran pasukan pemerintah Tang."
Mereka memanggil dua orang yang sedang bermain-main itu dan berangkatlah mereka meninggalkan tanah kuburan, menuju ke utara.
Pangeran Cian Bu Ong menjadi penunjuk jalan dan dia mengambil jalan melalui bukit dan le mbah, melalui hutan-hutan yang sunyi.
Dan di sepanjang perjalanan Sim Lan Ci menjadi semakin kagum dan te rtarik karena sikap pangeran itu sungguh le mbut, halus dan sopan.
Iapun diam-diam menyerahkan nasibnya dan pute ranya ke tangan pria yang berwibawa itu.
o-ooo0dw0ooo-o "Lepaskan aku......atau bunuh saja aku.
Biarkan aku mati menyusul suamiku......!"
Wanita itu meronta-ronta dalam pondongan Lie Koan Tek ketika pengaruh totokan membuatnya mampu bergerak kembali.
Mereka tiba di dalam sebuah hutan.
Lie Koan Tek melepaskan pondongannya dan wanita itu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
Wanita itu adalah Poa Liu Hwa, isteri Kam Seng Hin ketua He k-houw-pang.
Ketika lima orang penjahat lihai menyerbu Hek-houw-pang, ia membantu suaminya.
Melihat suaminya roboh dan te was, nyonya muda ini mengamuk dengan pedangnya, nekat menyerang penjahat lihai.
Akan tetapi tiba-tiba ia te rkulai lemas, te rtotok dan dibawa lari oleh seorang di antara lima penjahat itu.
Kini ia berada di tangan seorang penjahat lihai dan melawanpun tidak ada gunanya.
Teringat akan kematian suaminya, te ringat pula akan nasib pute ranya yang entah bagaimana, Poa Liu Hwa hanya dapat menangis sedih.
"Tenanglah, nyonya, dan harap jangan salah sangka. Aku sengaja melarikanmu dengan dua maksud........"
"Huh, penjahat keji macam engkau, maksudmu te ntu keji dan jahat! Lebih baik bunuh saja aku!"
Liu Hwa berseru marah.
"Diam dulu dan dengarkan keteranganku"
Lie Koan Tek membentak marah.
Agaknya.
Liu Hwa dapat menangkap kekerasan dan ketegasan dalam suara itu dan iapun menurunkan kedua tangan yang tadi menutupi mukanya, memandang dengan mata basah, akan tetapi dengan sinar kebencian seolah hendak membakar.
Melihat wanita itu sudah agak te nang dan mau menghentikan tangisnya, Lie Koan Tek menghela napas panjang.
"Tidak ada yang le bih menyakitkan hati dari pada tuduhan orang bahwa aku keji, jahat dan sudah menjadi seorang penjahat. Ketahuilah bahwa aku bernama Lie Koan Tek, aku seorang murid Siauw-lim-pai yang belum pernah melakukan kejahatan."
Liu Hwa te rkejut, juga heran.
Tentu saja ia pernah mendengar nama Lie Koan Tek, murid Siauw-lim-pai yang gagah-perkasa, yang merupakan sis a para tokoh Siauw-lim-pai yang berhasil lolos ketika kuil Siauw-lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah Kerajaan Sui, beberapa tahun yang lalu.
Semua orang gagah di dunia persilatan memuji dan kagum kepada Lie Koan Tek dan lima orang saudaranya.
"Tapi........tapi kenapa engkau ikut menyerbu He k-houw-pang dan menawanku?"
"Dengar saja dulu baik-baik. Engkau mungkin tidak tahu. Aku adalah seorang yang dimusuhi Kerajaan Sui, dan karena aku selalu menentang kesewenang-wenangan para pembesar Sui, akhirnya aku te rkepung dan te rtawan, lalu dihukum penjara. Ketika kerajaan itu jatuh oleh pasukan Li Si Bin yang memberontak, aku masih di dalam penjara. Lalu aku dibebaskan oleh Pangeran Cian Bu Ong yang sebaliknya sebagai balasannya minta kepadaku untuk membantunya melawan pemberontak Li Si Bin yang sudah berhasil mendirikan Kerajaan Tang. Mula-mula aku menyetujuinya karena aku sendiri biarpun dimusuhi Kerajaan Sui juga menentang pemberontakan. Akan tetapi, ketika kami diperintah oleh Pangeran Cian Bu Ong menyerbu He k-houw pang yang membantu pemerintah pemberontak, aku melihat kegagahan orang-orang He k-houw-pang dan melihat kekejian para rekanku. Timbullah kesadaranku bahwa orang-orang yang membantu Pangeran Cian Bu Ong adalah orang-orang jahat. Apalagi melihat suamimu ketua He k-houw-pang te rbunuh, dan engkau te rancam, aku lalu turun tangan melarikanmu, dengan hanya satu niat saja, yaitu menyelamatkanmu."
"Aku tidak butuh kauselamatkan! Aku tidak takut mati, bahkan aku ingin mati bersama suamiku!"
Liu Hwa berseru lalu iapun bangkit dan lari meninggalkan Koan Tek.
"Haiii, nyonya, engkau hendak pergi ke mana?"
Koan Tek meloncat dan mengejar.
"Perduli apa denganmu?"
Wanita itu membalik dan menegur, penuh kemarahan.
Walaupun ia percaya akan keterangan Lie Koan Tek tadi, tetap saja kebenciannya tidak hilang karena ia menganggap bahwa pria ini menjadi satu di antara sebab tewasnya suaminya.
"Aku......aku memang tidak ada sangkutan denganmu, tapi.........amat berbahaya untuk melakukan perjalanan sendiri kembali ke dusunmu. Bagaimana kalau sampai engkau berte mu dengan anak buah Pangeran Cian Bu Ong?"
"Aku tidak takut. Aku akan melawan sampai napas terakhir!"
Nyonya muda itu menjawab tegas. Koan Tek kagum. Wanita ini memang gagah, pikirnya, walaupun ilmu silatnya tidak begitu tangguh.
"Engkau sudah nekat, nyonya. Engkau bukan lawan mereka. Sebaiknya engkau menanti satu dua hari sebelum kembali ke dusunmu."
"Tidak! Aku harus pergi sekarang juga. Aku harus mencari anakku!"
"Anakmu? Ahh, jadi ada anakmu te rtinggal di dusun?"
Kini hati Lie Koan Tek merasa khawatir bukan main.
Kas ihan wanita ini.
Suaminya te was dan ia masih meninggalkan anak di dusun yang dihancurkan anak buah Pangeran Cian Bu Ong itu.
Kini Liu Hwa mengangguk dan hampir ia menangis lagi ketika te ringat akan pute ranya.
"Anak tunggalku, Kam Cin yang baru berusia lima tahun, entah bagaimana nasibnya. Aku harus mencarunya sekarang juga,"
Katanya dan iapun lari lagi.
Sejenak Lie Koan Tek termangu.
Hatinya makin iba terhadap wanita itu dan setelah menarik napas panjang dia pun lari membayangi.
Pendekar perkasa ini merasa heran sekali kepada dirinya sendiri.
Entah mengapa.
Baru sekarang ini dia merasa tertarik dan kasihan sekali kepada seorang wanita.!
Seorang janda yang mempunyai anak lagi!
Sungguh aneh.
Akan te tapi dia hanya mengikuti perasaan hatinya dan membayangi karena dia tahu bahwa wanita itu melakukan perjalanan yang penuh bahaya.
Apa yang dikhawatirkan pendekar Siauw-lim-pai itu memang tidak berlebihan.
Ketika para penjahat di sekitar dusun Ta-bun-cung mendengar bahwa He k-houw-pang te rbasmi, ketuanya tewas, bahkan kakek Coa juga tewas dan semua anggota Hek-houw-pang meninggalkan dusun karena perkumpulan orang gagah itu dibubarkan, mereka bagaikan gerombolan tikus yang ditinggalkan kucing-kucing penjaga!
Mereka seperti berpesta-pora dan menjadi berani.
Matahari telah naik tinggi ketika Liu Hwa tiba di bukit te rdekat dengan dusun Ta-bun-cung.
Ia tahu bahwa di balik bukit itulah terletak dusunnya.
Biarpun tubuhnya sudah le lah sekali, namun ia memaksa diri untuk berjalan terus.
Kekhawatiran akan puteranya membuatnya dapat bertahan.
Akan te tapi, ketika ia tiba di lereng bukit itu, di jalan tikungan yang tertutup te bing bukit, tiba-tiba ia di kejutkan oleh munculnya banyak orang yang segera mengepungnya.
Tidak kurang lari duapuluh orang laki-laki yang sikapnya kasar, mengepung dan memandang kepadanya dengan mata seperti binatang buas yang kelaparan, mulut mereka menyeringai kurang ajar.
Mereka semua memegang senjata golok, pedang atau ruyung dan sikap mereka buas.
"Aha, bukankah ini nyonya ketua Hek-houw-pang yang terhormat?"
"Dan cantik manis? Lihat kedua pipinya segar kemerahan!"
"Ha-ha-ha, nyonya muda yang segar dan mole k! Di mana suamimu?"
"Hei, nyonya ketua. Dimana sekarang Hek-houw-pang?"
Melihat orang-orang itu mulai mendekat dan tangan mereka mulai jahil dan kurang ajar, ada yang hendak mengelus dagunya, ada yang hendak menyentuh tubuhnya, Liu Hwa menangkis sambil berkata keras membentak.
"Heii! Kalian mau apa? Minggir atau terpaksa akan kubunuh kalian semua!"
Ternyata suara nyonya muda ini masih cukup berwibawa sehingga beberapa orang yang kurang kuat nyalinya, melangkah mundur sambil menyeringai.
"Biar kuhadapi si manis ini!"
Tiba-tiba terdengar suara parau dan seorang yang bertubuh tinggi besar melangkah maju menghadapi Liu Hwa.
Dia seorang laki-laki yang usianya kurang le bih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, suaranya parau dan ketika Liu Hwa mengangkat muka memandang, diam-diam nyonya ini merasa ngeri.
Wajah laki-laki ini memang menyeramkan.
Rambutnya awut-awutan, agaknya tidak pernah dicuci apalagi disisir, sehingga nampak kotor dan jorok sekali.
Mukanya kasar, dengan bintik-bintik hitam dan nampak keras seperti kulit buaya, hidungnya besar dan mulutnya lebar.
Yang lebih menyeramkan adalah matanya.
Mata itu tinggal sebelah kanan saja karena yang kiri te rpejam dan agaknya tidak ada biji matanya lagi.
Liu Hwa te ringat sekarang.
Biarpun belum pernah melihat orangnya, namun pernah suaminya dan para anggota He k-houw-pang bercerita tentang seorang perampok ganas yang berjuluk It-gan Tiat-gu (Kerbau Besi Mata Satu).
Perampok ini pernah meraja-lela di luar daerah Ta-bun-cung, akan tetapi setelah Hek-houw-pang membuat gerakan pembersihan, dia tidak berani muncul.
Agaknya sekarang dia mengumpulkan penjahat-penjahat lain untuk dipimpin menjadi gerombolan perampok.
"Ha-ha-ha, manis. Ketua He k-houw-pang sudah mampus, dan He k-houw-pang sendiri sudah bubar. Daripada menjadi seorang janda kembang yang te rlantar lebih baik engkau menjadi isteriku, he heh-heh!"
Berkata demikian, dia menjuIurkan le ngan kanannya yang panjang dan besar, dan tangannya hendak merangkul leher Liu Hwa.
Akan tetapi nyonya ini mengelak dan menepiskan tangan tangan mata satu itu dengan pengerahan tenaga.
"Plakk!"
Tangan penjahat itu terpental.
"Aku tidak sudi! Lebih baik aku mati dari pada menjadi isterimu!"
"Mati? Ha-ha, sayang kalau orang semanis engkau mati. Engkau sudi atau tidak, mau atau tidak, harus menjadi isteri It-gan Tiat-gu, he h-heh-heh!"
Dan tiba-tiba si mata satu itu menubruk bagaikan seekor beruang menubruk kambing.
Poa Liu Hwa mengelak dengan loncatan ke kiri, lalu kaki kanannya mencuat dalam sebuah te ndangan ke arah perut raksasa mata satu itu.
Akan tetapi, Tiat-gu atau Si Kerbau Besi itu te rnyata cukup lihai.
Tangannya bergerak menangkis te ndangan itu dan tangan kanan kembali mencengkeram ke arah pundak Liu Hwa.
Liu Hwa te rpaksa meloncat lagi ke belakang dan diam-diam terkejut karena kakinya yang te rtangkis terasa nyeri, tanda bahwa raksasa mata satu itu memiliki tenaga seperti seekor kerbau!
Ketika ia meloncat ke belakang dua orang anggota gerombolan menyergapnya.
Liu Hwa membalik dan kaki tangannya bergerak, menendang dan menampar.
Dua orang anggota gerombolan itu jatuh tersungkur.
Akan te tapi lebih banyak orang lagi mengeroyoknya, semua dengan tangan kosong karena mereka ingin membantu pemimpin mereka menangkap calon korban ini, bukan hendak melukai atau membunuhnya.
"Tikus-tikus busuk!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan bagaikan seekor garuda menyambar dari angkasa, Lie Koan Tek sudah te rjun ke dalam perkelahian itu dan dia mengamuk.
Sekali dia menerjang, dua orang perampok te rpelanting keras.
Melihat ini, para perampok segera menggunakan senjata mereka untuk mengepung dan mengeroyok.
Pendekar Siauw-lim-pai itupun melolos rantai bajanya yang dipakai sebagai ikat pinggang, dan diapun memutar rantai baja itu, mengamuk di antara pengeroyokan banyak orang.
Melihat munculnya seorang pria yang gagah perkasa, It-gan Tiat-gu segera menubruk Liu Hwa dari belakang dan karena pada saat itu Liu Hwa sedang menghadapi pengeroyokan dua orang maka ia tidak mampu mengelak.
Kedua lengan Kerbau Besi telah merangkulnya dan karena tenaga kepala perampok itu memang besar, Liu Hwa sama sekali tidak mampu berkutik.
It-gan Tiat-gu sudah menotoknya dan memanggul tubuh Liu Hwa yang menjadi lemas, dan kepala perampok ini menyelinap pergi, menggunakan kesempatan selagi Lie Koan Tek sibuk menghadapi pengeroyok yang banyak jumlahnya.
Karena sibuk menghadapi pengeroyokan kurang le bih duapuluh orang yang semuanya bersenjata tajam, Lie Koan Tek sendiri tentu s aja tidak sempat untuk memperhatikan Liu Hwa.
Dia mengamuk dan memutar rantai bajanya, merobohkan bayak pengeroyok sehingga para perampok menjadi gentar.
Sisanya yang belum roboh lalu melarikan diri cerai-berai ke segala jurusan.
Baru setelah para perampo k pergi, Lie Koan Tek mendapat kenyataan bahwa Liu Hwa tidak berada di situ!
Dia menjadi bingung.
He ndak mengejar ke mana?
Para perampok itu lari ke empat penjuru!
Apakah Liu Hwa telah berhasil melarikan diri ketika dia datang menyerbu para penjahat itu?
Mengingat akan kemungkinan ini, dia lalu cepat mendaki bukit dan pergi ke dusun Ta-bun-cung.
Sebagai seorang di antara para penyerbu dusun itu malam tadi, tentu saja dia tidak berani memasuki dusun secara terang-terangan.
Dia menanti sampai hari menjadi gelap, baru dia melakukan penyelidikan.
Diam-diam dia merasa menyesal juga mendapat keterangan bahwa puluhan orang anggota Hek-houw-pang telah te was dalam perte mpuran ketika anak buah Pangeran Cian Bu Ong datang menyerbu.
Biarpun dia tidak bersungguh-sungguh membantu pangeran itu, dia tetap merasa ikut berdosa.
Dia tidak menyelidiki te rlalu banyak mengenai He k-houw-pang.
Yang dicarinya hanya Liu Hwa.
Kalau nyonya muda itu sudah kembali ke dusun, hatinya akan merasa lega dan diapun akan pergi tanpa mene muinya.
Akan te tapi, betapa bingung hatinya ketika dia mendapat kenyataan bahwa Poa Liu Hwa tidak pernah pulang!
Nyonya muda itu telah lenyap.!
Masih baik kalau le nyapnya itu karena ia telah pergi dan tidak ingin kembali ke dusun, akan tetapi bagaimana kalau sampai ia tertawan penjahat?
Lie Koan Tek cepat meninggalkan dusun itu dan kembali memasuki hutan di lereng bukit, di mana siang tadi dia membantu Liu Hwa yang dikepung penjahat.
Akan tetapi hutan itu s unyi saja.
Dia tidak tidur semalam suntuk melainkan menjelajahi bukit itu, namun tidak menemukan jejak, bahkan tidak berte mu dengan seorangpun manusia.
Agaknya anggota gerombolan perampok yang dia robohkan dalam keadaan terluka atau tewas sudah diangkut pergi kawan-kawan mereka.
Terpaksa pada keesokan harinya, dia menuruni bukit dan menuju ke dusun yang nampak paling dekat di kaki bukit.
Dia menjelajahi dusun-dusun dan akhirnya, pada hari ke tiga ketika dia memasuki sebuah dusun, dia melihat lima orang se dang ribut dengan pemilik rumah yang cukup besar di dusun itu.
Ia melihat lima orang itu memukuli tuan rumah, dan yang lain sedang mengangkut barang-barang berharga dari rumah itu.
Seorang di antara mereka yang menjadi pemimpin mempunyai luka melintang di mukanya dan te ringatlah Lie Koan Tek bahwa orang itu pernah dilihatnya di antara para pengeroyoknya ketika ia menolong Liu Hwa malam itu.
Cepat ia lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi dia menerjang si codet yang sedang memukuli tuan rumah.
"Plakk!"
Dipukul pundaknya, si codet te rpelanting.
Tentu saja dia marah sekali dan mencabut golok, lalu meloncat bangun dan hendak menyerang pemukulnya.
Akan te tapi, begitu dia mengenal Koan Tek, mukanya yang codet menjadi pucat.
Dia mengenal pendekar ini yang membuat dia dan belasan orang kawannya lari tunggang-langgang tiga hari yang lalu.
Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat lari lagi, maka te rpaksa dia memberanikan diri dan menyerang dengan bacokan goloknya ke arah kepala Koan Tek.
Pendekar ini menggeser kaki sehingga tubuhnya miring dan ketika golok lawan meluncur le wat di samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan tangan memukul pundak kanan lawan.
"Krekkkl"
Tulang pundak itu hancur.
Golok te rlepas dan si codet yang berteriak kesakitan hendak melarikan diri.
Akan te tapi sebuah te ndangan membuat sambungan lutut kanannya te rlepas dan diapun roboh tak mampu bangkit lagi, hanya duduk dan mengaduh-a duh dengan muka pucat ketakutan.
Lie Koan Tek tidak berhenti sampai disitu saja.
Dia berkelebat ke sana-sini dan terdengar teriakan-te riakan ketika empat orang penjahat yang lain roboh terpukul olehnya.
Ada yang remuk tulang le ngan atau kakinya, ada yang benjol-benjol kepalanya atau matang biru mukanya.
Akan tetapi mereka semua tidak mampu melarikan diri lagi dan hanya mengaduh-aduh, ada pula yang pingsan.
Lie Koan Tek tidak memperdulikan penduduk yang datang berlarian ke te mpat itu, juga tidak memperdulikan anggota perampok yang lain.
Dia menyeret tubuh si codet dan membawanya lari keluar dari dusun.
Si codet merintih-rintih ketakutan dan minta-minta ampun, Namun Koan Tek tidak perduli dan te rus menyeretnya keluar dusun sampai tiba di te mpat sepi, baru dia melepaskan cengkeramannya sehingga tubuh si codet terhempas ke atas tanah.
"Ampun......ampunkan hamba......,tai-hiap......."
Kata si codet sambil berlutut menyembah-nyembah.
"Mudah saja mengampuni dan membunuhmu, akan te tapi cepat katakan di mana adanya nyonya yang kalian rampok tiga hari yang lalu itu. Katakan dengan sejujurnya kalau engkau tak ingin kusiksa sampai mati!"
"Ampun, tai-hiap. Bukan saya yang mengganggunya, akan te tapi nyonya itu dibawa pergi oleh toako........, ampunkan saya......."
"Siapa itu toako?"
"It-gan Tiat-gu......."
"Di mana dia sekarang? Nyonya itu dibawa ke mana? Hayo katakan sejujurnya."
"Mungkin ke sarangnya yang baru......Saya.....saya hanya menjadi pembantunya sementara saja, dan malam itu... dia pergi melarikan nyonya itu......"
"Hemm, cepat antarkan aku ke sarangnya!"
"Jauh sekali, tai-hiap, perjalanan sehari penuh....."
"Cerewet! Kau ingin mampus!"
Koan Tek menendang dan tubuh orang itu te rle mpar sampai beberapa meter jauhnya. Dia mengerang dan merangkak bangun.
"Ampun, saya..... saya mau mengantarkan tai-hiap, tapi........... saya takut, tentu dia akan marah kepada saya dan membunuh saya."
"Huh, ada aku di sini, tidak perlu takut. Kalau engkau mengantar aku sampai berhasil menemukan nyonya itu, aku akan mencegah dia membunuhmu. Sebaliknya, kalau engkau tidak memenuhi permintaanku, engkau akan kusiksa sampai mati. Hayo cepat!"
Si codet itu takut sekali dan diapun cepat bangkit lalu menjadi penunjuk jalan.
Lie Koan Tek berjalan di belakangnya dan mendorong-dorongnya sehingga si codet, walaupun menderita nyeri di pundaknya, terpaksa berlari-lari.
Untung bahwa karena gelisah memikirkan keselamatan Poa Liu Hwa, Koan Tek memaksa si codet berlari-lari sehingga dia tidak datang te rlambat.
Karena kepala perampok yang berjuluk It-Gan Tiat-gu (Kerbau Besi Mata Satu) itu, setelah berhasil melarikan Liu Hwa dan meninggalkan Koan Tek dikeroyok anak buahnya, melakukan perjalanan yang santai menuju ke sarangnya, puncak sebuah bukit yang sunyi.
Dia telah menotok wanita tawanannya itu hingga Liu Hwa tidak mampu meronta, tidak mampu pula berte riak.
Dengan hati bangga dan girang, si mata satu itu memondong tubuh Liu Hwa, dibawa ke sarangnya dengan jalan kaki biasa saja tidak berlari-lari.
Dia bangga karena telah berhasil menawan isteri ketua Hek-houw-pang dan akan memaksa wanita itu menjadi isterinya.
Masih ada belasan orang anak buahnya di sarang itu.
Mereka menyambut kedatangan It-gan Tiat-gu dengan gembira apa lagi ketika melihat bahwa wanita yang ditawan pemimpin mereka adalah isteri ketua Hek-houw-pang!
"Siapkan pesta.
Malam ini aku akan menikah dengan isteri ketua He k-houw-pang.
Ha ha-ha!"
It-gan Tiat-gu berkata lantang kepada anak buahnya dengan bangga, dan anak buahn ya yang belasan orang itupun tertawa gembira.
Karena It-gan Tiat-gu hanya berjalan, sedangkan si codet yang didorong oleh Koan Tek itu berlari-lari, maka tidak jauh selisih waktu antara kedatangan It-gan Tiat-gu dan mereka berdua di puncak bukit itu.
Mereka tiba di puncak itu pada sore hari dan segera belas an orang anak buah Kerbau Besi Mata Satu yang tentu saja mengenal si codet sebagai rekan mereka.
Melihat si codet datang sambil meringis kesakitan dan memegangi pundaknya, mereka segera merubungnya dan bertanya-tanya.
Si codet maklum bahwa sedikit saja ia mengkhianati pendekar yang menawannya, pendekar itu tentu akan membunuhnya.
Maka ketika kawan-kawannya membanjirinya dengan pertanyaan, dia menggerakkan tangan dengan tidak sabar "Sudahlah, jangan banyak bertanya dulu.
Aku ingin menghadap toako, di mana dia?
Aku akan melaporkan sesuatu yang amat penting."
"Aihhh, toako sedang bersenang-senang dengan calon isterinya, jangan diganggu,!"
Kata seorang di antara mereka sambil menunjuk ke arah sebuah pondok tak jauh dari situ.
"Malam nanti kita pesta untuk pernikahan toako, ha-ha-ha!"
Kata yang lain.
Mendengar ini, tanpa menanti lagi Lie Koan Tek meloncat ke depan pondok dan sekali tendang, daun pintu pondok itu roboh dan diapun menyerbu ke dalam.
Apa yang dilihatnya di dalam kamar pondok itu membuat wajah Koan Tek jadi merah saking marahnya.
Dia melihat Liu Hwa rebah telentang dalam kedaan te rtotok dan pakaiannya tidak karuan, karena It-gan Tiat-gu sedang te rkekeh-kekeh sambil mulai membukai pakaian wanita itu.
"Ehh?"
It-gan Tiat-gu terkejut bukan main ketika tiba-tiba pintu pondok jebol.
Dia meloncat sambil menyambar senjatanya, sebatang golok yang tadi ditaruh di atas meja.
Dia terkejut ketika mengenal pria yang tadi mengamuk dan dikeroyok oleh anak buahnya.
"Jahanam busuk!"
Koan Tek membentak dan biarpun lawan memegang golok dia tidak takut dan bahkan Koan Tek yang menyerang dengan dahsyatnya.
Mata Satu menyambutnya dengan bacokan golok ke arah kepalanya.
Koan Tek miringkan tubuh menghindar, dan tangannya terus melanjutkan serangannya dengan pukulan tangan te rbuka ke arah dada It-gan Tiat-gu.
Kepala perampok itu mengelak dengan loncatan ke samping dan goloknya berkelebat, kini membabat ke arah pinggang tokoh Siauw-lim-pai itu.
Koan Tek yang sudah marah bukan main melihat penjahat ini tadi nyaris memperkosa wanita yang selalu berada dalam ingatannya itu, menyambut serangan golok dengan te ndangan kaki dari samping.
"Trangggg....!"
Golok terlepas dan membentur dinding.
It-gan Tiat-gu terkejut bukan main dan merasa jerih, hendak melarikan diri.
Akan tetapi Koan Tek mendahuluinya dengan tendangan yang mengenai belakang lututnya, kepala perampok itupun terpelanting.
Sebelum dia sempat bangun, kaki Koan Tek menyusulkan tendangan yang diarahkan ke te ngkuknya.
"Krekkkk!"
Patahlah tulang leher It-gan Tiat-gu dan diapun te was seketika.
Pada saat itu, anak buah perampok sudah menyerbu dari luar pondok.
Koan Tek cepat meloncat ke dekat pembaringan dan sekali tangannya bergerak, bebaslah totokan pada diri Liu Hwa.
Sebelum wanita ini sempat berkata sesuatu, Koan Tek sudah meloncat keluar lagi dan mengamuklah dia dikeroyok belasan orang anak buah perampok itu.
Dia melihat bahwa si codet yang tadi dipaksanya mengantar telah tewas, te ntu dibunuh oleh rekan-rekannya sendiri setelah dia lari menjebol daun pintu tadi.
Lie Koan Tek mengamuk dan biarpun ia bertangan kosong, belas an orang anak buah perampok itu bukan tandingannya.
Mereka kocar-kacir dan le bih-lebih ketika Liu Hwa muncul dari dalam pondok memegang sebatang golok milik It-gan Tiat-gu.
Kini pakaian Liu Hwa telah rapi kembali dan dengan golok di tangan, wanita ini mengamuk membantu Koan Tek.
Tentu saja para perampok menjadi gentar dan merekapun lari cerai-berai meninggalkan yang terluka.
Mereka saling pandang, berhadapan dalam jarak tiga meter.
Lalu tiba-tiba Liu Hwa melepaskan goloknya, lari menghampiri Koan Tek dan menjatuhkan diri sambil menangis.
Koan Tek cepat menyambutnya, memegang kedua pundaknya dan menariknya berdiri, melarangnya berlutut.
Liu Hwa kini menangis di atas dada pendekar Siauw-lim-pai itu.
Hampir saja kepala perampok mata satu itu memperkosanya.
Ia sudah tidak berdaya sama sekali.
Dalam saat te rakhir, muncul pula pendekar Siauw-lim-pai ini menyelamatkannya.
Ia begitu bersyukur, te rharu dan juga bersedih karena ia te ringat lagi akan keadaannya yang kehilangan seluruh keluarganya, maka ia lupa diri dan menangis di atas dada yang bidang itu.
Koan Tek juga seperti lupa, dengan sendirinya mendekap dan mengelus rambutnya dengan perasaan penuh kasih sayang!
Setelah menumpahkan perasaan haru dan dukanya, Liu Hwa sadar akan dirinya dan iapun melepaskan diri, melangkah dua tindak ke belakang dan mukanya berubah merah sekali.
"Ahhh.......apa yang kulakukan......aih, tai-hiap, maafkan aku........aku te lah membuat bajumu basah....."
Katanya memandang kepada baju pendekar itu yang basah di bagian dada oleh air matanya. Koan Tek te rsenyum.
"Tidak apa, engkau memang perlu dapat menangis sepuas hatimu, nyonya. Nah, marilah kita melanjutkan perjalanan. Kuantar engkau sampai ke dusunmu."
Liu Hwa mengangguk dan merekapun kini meninggalkan bukit itu, menuju dusun Ta-bun-cung.
Malam telah tiba ketika mereka tiba di luar dusun, dan di luar pintu gerbang yang nampak sunyi, Koan Tek berhenti.
"Nyonya, pergilah engkau ke dalam. Aku le bih baik menanti saja di sini. Mereka tentu mengenaliku sebagai seorang di antara para penyerbu, dan mereka akan menyerangku."
"Tidak, tai-hiap. Mari masuk saja, biar aku yang akan memberi penjelasan kepada mereka nanti."
Kata Liu Hwa, akan tetapi Koan Tek merasa tidak enak.
Memang kalau dia ingat akan peristiwa yang te rjadi di dusun itu, betapa dia membantu para penjahat untuk membasmi Hek-houw-pang, dia merasa menyesal bukan main dan merasa malu kepada dirinya sendiri.
"Aku menanti saja di sini. Kalau engkau perlu berte mu dengan aku besok, aku akan berada di sini."
Terpaksa Liu Hwa meninggalkan pendekar Siauw-lim-pai itu dan memasuki dusun Ta-bun-cung yang nampak sunyi.
Akan te tapi begitu ada orang melihatnya, orang itu segera berseru akan munculnya nyonya ketua He k-houw-pang dan semua orangpun berlarian keluar menyambut.
Dan hujan tangispun te rjadi.
Liu Hwa menangis lagi mendengar betapa banyaknya korban jatuh.
Bahkan Coa Siang Lee yang menjadi tamu, juga yang menjadi ahliwaris keluarga Coa yang selalu menjadi ketua perkumpulan itu, ikut tewas.
De mikian pula Coa Song, kakek yang dihormatinya itu.
Malam hari itu juga, Liu Hwa membawa perle ngkapan sembahyang dan ia bersembahyang di depan makam suaminya.
Ia tdak mau dite mani orang lain, bahkan ia menyuruh semua orang yang mengantarnya untuk meninggalkannya agar ia dapat meratapi nasibnya di depan kuburan suaminya.
Ia hanya mempunyai satu saja hiburan, yaitu bahwa pute ranya, Cin Cin, selamat dan kini menurut pesan terakhir kakek Coa Song, Cin Cin diantar oleh Lai Kun, sute suaminya, untuk menjadi murid pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning).
la bersembahyang bukan saja di depan makam suaminya, juga ia bersembahyang di depan makam kakek Coa Song dan di depan makam Coa Siang Lee, bahkan ia menyembahyangi makam para murid atau anggota Hek-houw-pang yang te was dalam serbuan itu.
Ketika ia menghampiri makam yang paling ujung sambil membawa hioswa (dupa biting) dan sekeranjang kembang, ia melihat sesosok tubuh kecil melingkar di depan makam itu.
Ternyata ada seorang anak laki-laki yang usianya paling banyak enam tahun rebah miring dan melingkar di atas tanah, agaknya tertidur!
Liu Hwa memandang ke arah makam itu.
Sinar bulan cukup te rang dan tulisan huruf-huruf di atas kayu yang sementara dipasang sebagai nisan itu cukup besar.
Ia membaca nama korban itu.
Ah, kiranya itu makam The Ci Kok, seorang anggota He k-houw-pang tingkat atas .
The Ci Kok bahkan menjadi suheng dari suaminya yang memiliki kepandaian seimbang dengan suaminya.
Kalau Kam Seng Hin yang dipilih menjadi ketua adalah karena The Ci Kok ini orangnya pendiam dan agak bodoh.
Kiranya dia juga tewas!
Kini Liu Hwa dapat menduga siapa anak kecil itu dan hatinya seperti ditusuk.
Anak itu te ntu The Siong Ki pute ra suheng suaminya itu.
Iapun tahu bahwa ibu anak itu te lah tiada sejak anak itu masih kecil sekali.
Berarti bahwa anak itu kini menjadi seorang anak yatim piatu.
"Siong Ki......Siong Ki.......! Bangunlah, jangan tidur di sini, nak!"
Katanya lembut sambil mengguncang pundak ana k itu.
Akan te tapi, anak itu tidak terbangun.
Betapa kuatpun dia mengguncang, te tap saja anak itu tidak te rjaga.
la mulai curiga, lalu memeriksanya.
Anak itu seperti dalam keadaan tidur, akan te tapi kini ia tahu bahwa anak itu sebenarnya jatuh pingsan!
Makin te rtusuk rasa hati Liu Hwa.
Diletakkannya bunga dan dupa di atas makam dan ia lalu mengangkat dan memangku anak itu, mengurut te ngkuk dan dadanya.
Akhirnya, anak itu menggeliat lalu menggumam.
"Ayah......ayah.....jangan tinggalkan Siong Ki sendirian, ayah......! Jahanam, aku akan membunuh kalian semua.!"
Anak itu meronta bangkit dan dengan kedua tangan te rkepal dia menyerang Liu Hwa! De ngan hati te rharu sekali Liu Hwa menangkap pukulan-pukulan itu dengan lembut sambil berkata.
"Siong Ki, lihatlah siapa aku ini......"
"Tidak perduli engkau siapa, setan atau iblis. Aku tidak takut! Biar kau membunuhku, a ku tidak takut. Aku ingin mati dan bersama ayah dan ibuku!"
Dan dia menyerang terus. Setelah Liu Hwa menangkap kedua lengannya dan merangkulnya, baru anak itu mengamati Liu Hwa dan diapun merangkul dan menangis.
"Bibi.......ah. bibi.......! Aku.......aku ingin mati saja, bibi..!"
Biarpun hatinya sendiri seperti diremas-remas, penuh kedukaan dan keharuan yang membuat ia ingin menjerit-jerit dan menangis seperti anak kecil, akan tetapi Liu Hwa menahan perasaannya, menggigit gigi sendiri dan merapatkan bibir dengan kuat-kuat sambil merangkul anak itu.
Kemudian ia bicara.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 5
"Siong Ki, jangan bicara seperti itu!"
De ngan muka basah air mata dan mata merah, anak itu mengangkat mukanya, memandang kepada wanita itu.
"Bibi, apa yang harus kulakukan kalau aku dibiarkan hidup? Aku seorang diri, tiada ayah ibu, tiada keluarga. Melihat ayah te was, juga para paman......ah, apa gunanya lagi aku hidup? Tiada lagi yang melindungi aku, bibi....."
"Hushh.....! Omongan apa itu? Disini masih ada aku, Siong Ki. Aku yang akan melindungimu, dan engkau boleh ikut denganku selamanya karena mulai saat ini, engkau menjadi muridku."
Siong Ki membelalakkan matanya seperti orang yang tidak percaya.
"Benarkah ini..... ? Benarkah, bibi? Atau hanya hiburan kosong belaka?"
"Tentu saja benar, Siong Ki. Apakah kau tidak percaya kepadaku dan menyangka aku membohongimu?"
Anak itu nampak gembira sekali.
"Kalau begitu, berjanjilah di depan makam ayah, bibi. Biar ayah menjadi saksi, biar ada semangat lagi bagiku untuk hidup!"
Lalu anak itu berlutut di depan Liu Hwa dan kini suaranya terdengar lantang dan penuh semangat.
"Ayah saksikanlah, ayah. Mulai saat ini anakmu, The Siong Ki, mempunyai pelindung baru, yaitu bibi Poa Liu Hwa yang menjadi guruku. Subo, te rimalah hormat tcecu (murid)!"
Dan diapun memberi hormat delapan kali kepada wanita itu.
"Siong Ki, muridku yang baik, bangkitlah."
"Teecu tidak akan bangkit sebelum subo (ibu guru) berjanji di depan makam ayah!"
Liu Hwa menatap makam itu dan diam-diam ia bergidik.
Ia sendiri kehilangan segala-galanya, bahkan puteranya Cin Cin, yang selamat, kini telah dibawa pergi ke te mpat jauh.
Ia sendiri sebatangkara, dan kini ia telah mengambil Siong Ki sebagai murid, siap melindunginya dan menjadi pengganti orang tuanya.
Suatu tu gas yang amat berat.
Sedangkan untuk melindungi diri sendiri saja ia sudah jelas tidak kuat.
Buktinya, hampir saja ia celaka dan mungkin sekarang sudah te was te rbunuh atau membunuh diri kalau saja ia tidak dibebaskan dari tangan lt-gan Tiat-gu oleh pendekar Siauw-lim pai itu!
Akan tetapi, ia tidak dapat undur kembali, sudah berjanji, dan kalau ada anak ini di sampingnya, setidaknya ia akan te rhibur.
Maka iapun lalu mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk ke arah makam The Ci Kok dan berkata dengan lirih.
"Suheng The Ci Kok. Aku berjanji bahwa mulai saat ini pute ramu The Siong Ki telah menjadi muridku. Semoga arwahmu ikut pula melindungi kami berdua."
Setelah mendengar janji gurunya itu, Siong Ki bangkit dan kini wajahnya menjadi cerah.
Liu Hwa juga memandang kepadanya.
Anak ini nampaknya cerdik dan seingatnya, Siong Ki bukan seorang anak yang bandel, tidak nakal dan pandai membawa diri.
"Siong Ki, setelah engkau selesai bersembahyang di sini, susullah aku di makam suamiku."
"Aku sudah selesai, subo. Aku selalu berada di sini sejak ayah dimakamkan dan baru satu kali aku pulang ke rumah,"
Katanya sambil mengambil sebuah buntalan yang tadi dia gantungkan di cabang sebatang pohon.
"Engkau sudah siap dengan buntalan pakaianmu? Apakah engkau tidak ingin pulang ke rumah mendiang ayahmu?"
Siong Ki menjawab dengan wajah sedih.
"Tadinya aku sudah ingin pergi saja, subo. Untuk apa kembali ke dusun Ta-bun-cung dimana kita hanya akan diingatkan selalu akan peristiwa menyedihkan itu? Akan te tapi kalau subo ingin kembali.........."
Liu Hwa melangkah ke arah makam suaminya, lalu duduk di depan makam, te rmenung.
Siong Ki mengikutinya dan anak itupun duduk di depan subonya.
Setelah berulang kali menghela napas panjang, Liu Hwa juga berkata dengan sura sendu.
"Akupun tidak mungkin dapat bertahan tinggal di dusun dimana aku te lah kehilangan segala-galanya. Apalagi, sebelum meninggal, kakek Coa Song telah membagi-bagikan seluruh isi rumah kepada para murid. Aku tidak dapat tinggal di rumah kosong itu, yang setiap saat akan mengingatkan aku kepada suamiku dan anakku."
"Lalu, ke mana kita akan pergi, subo?"
Wanita itu menundukkan mukanya dengan sedih.
"Aku tidak tahu, Siong Ki, ....aku tidak tahu......"
Siong Ki bicara lagi, kini suaranya terdengar gembira.
"Subo, aku mendengar bahwa adik Cin Cin telah diajak pergi oleh susiok Lai Kun ke rumah pendekar sakti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng. Bagaimana kalau kita menyusul kesana?"
Wajah wanita itu agak cerah mendengar ucapan itu. Sudah diduganya, anak ini cerdik dan penuh semangat, dan senang akan keputusannya mengambil anak ini menjadi murid.
"Benar, Siong Ki. Agaknya memang sebaiknya kalau kita menyusul adikmu Cin Cin lebih dulu. Setelah itu......setelah bertemu dengan Cin Cin, baru kita mencari tempat tinggal baru. Akan tetapi, ah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan senjatapun tidak punya lagi....."
"Subo, jangan khawatir?"
Kata Siong Ki dan anak ini segera menurunkan buntalan pakaiannya yang besar, lalu membukanya. Pertama-tama dia mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya.
"I ni pedang milik ayah, subo. Kuambil dari tangan je nazah ayah, lalu sarung pedangnya kucari. Nah, te rimalah pedang ini subo, agar subo dapat melindungi diri kita berdua dalam perjalanan."
De ngan girang Liu Hwa menerima pedang itu dan memeriksanya. Ternyata sebatang pedang yang cukup baik, te rbuat dari baja yang baik. Ia merasa kuat ketika memegang pedang ini.
"Dan ini, subo. Ini peninggalan ayah, kukumpulkan semua dan kubawa serta. Subo boleh menggunakannya semua untuk biaya apa saja, biaya perjalanan kita, biaya mencari te mpat tinggal baru......."
Liu Hwa te rbelalak. Anak itu membuka sebuah buntalan kecil yang isinya potongan emas dan perak, cukup banyak! "Siong Ki,"
Ia berkata dengan terharu.
"Ternyata bukan aku yang menolongmu, melainkan engkau yang menolongku."
"Sama sekali tidak, subo. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa degan pedang dan emas perak itu. Kuserahkan kepada subo agar subo dapat melindungi kita berdua."
Liu Hwa tiba-tiba teringat kepada pendekar Siauw-lim-pai yang menunggunya di luar pintu gerbang.
Ah, sudah terlalu banyak ia menyusahkan pendekar itu.
Sungguh ia merasa malu kepada Lie Koan Tek.
Pula, sungguh tidak pantas dilihat orang kalau ia berdua saja dengan pendekar itu.
Ia kini seorang janda!
Dan pendekar Siauw-lim pai Lie Koan Tek, sepanjang yang didengarnya, belum pernah menikah.
Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun le bih, masih membujang.
Pasti akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan dalam benak orang yang melihat seorang janda berduaan saja dengan seorang pria yang masih membujang.
Tidak, aku tidak boleh mengganggunya lagi.
Akan tetapi, bagaimana ia harus mengatakan kepada pendekar itu bahwa ia tidak mau melanjutkan perjalanan bersama dia?
"Siong Ki, mari kira pergi."
"Pergi? Sekarang juga, subo?"
Liu Hwa mengangguk.
"Sekarang ini juga, kita pergi meninggalkan dusun kita dan pergi menyusul Cin Cin."
Tentu saja Siong Ki merasa heran. Malam itu biarpun ada bulan, namun te tap saja cuaca hanya remang-remang. Mengapa subonya demikian te rgesa-gesa. Akan tetapi dia tidak berani membantah.
"Baik subo. Mari!"
Dia lari ke makam ayahnya, memberi hormat lagi untuk yang terakhir kalinya, kemudian membawa buntalan pakaiannya dan berjalan di samping subonya.
Ketika Siong Ki hendak mengambil jalan keluar dari pintu gerbang, Liu Hwa memegang tangannya, dan menariknya ke kiri.
"Kita ambil jalan ini saja, Siong Ki."
Kembali anak itu te rheran.
Jalan keluar dari dusun itu memang ada beberapa buah, a kan tetapi yang paling enak adalah jalan keluar melalui pintu gerbang.
Akan te tapi subonya mengajak ia keluar dari dusun melalui jalan setapak yang penuh semak belukar!
Akan tetapi diapun tidak berani banyak bertanya dan dengan hati-hati mereka keluar dari dusun itu.
Sama sekali Poa Liu Hwa tidak pernah menduga bahwa hanya tiga hari setelah dia pergi, Sim Lan Ci dan Thian Ki datang ke dusun itu pula!
Kalau saja hal itu terjadi, pasti jalan hidupnya akan menjadi lain!
Hati Liu Hwa menjadi lega setelah mereka keluar dari dusun dan tiba di le reng bukit.
Matahari pagi memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat dan segar menghidupkan.
Biar pun merasa lelah sekali karena selain baru saja mengalami ancaman malapetaka dan te rpendam kedukaan, apa lagi semalam sama sekali tidak tidur, namun Liu Hwa tidak mau berhenti berjalan.
Siong Ki berjalan di sebelahnya sambil menggendong buntalan pakaiannya.
Kantung berisi emas dan perak oleh Liu Hwa juga dititipkan kepadanya dalam buntalan.
Hanya pedang itu kini tergantung di punggung nyonya muda itu.
Sudah sejak malam tadi Liu Hwa melihat betapa anak itu kelelahan, juga mungkin sekali kelaparan.
Namun, biarpun jalannya kadang te rhuyung, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh.
Hal ini saja membuat Liu Hwa semakin suka kepada anak yang kini menjadi muridnya itu.
Anak ini keras hati dan tabah bukan main, pikirnya.
Ia merasa kasihan akan te tapi tidak mau mengajak Siong Ki berhenti karena ia khawatir kalau sampai bertemu dengan Lie Koan Tek yang ingin dihindarinya.
Ia sendiri juga le lah, akan tetapi ia memaksa diri untuk melewati sebuah bukit lagi, baru akan mengaso dan mencari makanan.
Ketika ia mulai mendaki bukit itu dan tiba di sebuah hutan kecil, tiba-tiba saja di depannya muncul seorang pria muda yang tam pan sekali.
Usianya sekitar duapuluh tujuh tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan pakaian pelajar yang mewah.
Wajahnya tampan dan ganteng, dengan hidung besar mancung, bibir merah seperti diberi pemerah bibir, matanya hitam sekali maniknya.
Dan kepalanya yang berambut hitam tebal itu te rtutup sebuah caping le bar.
Di pinggangnya te rselip sebatang suling dan melihat penampilannya, Liu Hwa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pemuda kaya yang te rpelajar.
Namun kemunculannya yang tiba-tiba itu mengejutkan hatinya dan ia memandang dengan khawatir.
Pemuda itu bukan lain adalah Can Hong San.
Setelah dia berpis ah dari Pangeran Cian Bu Ong dan memperoleh sekantung emas, Hong San lalu sengaja pergi ke dusun Ta-bun-cung.
Dia masih merasa penasaran, ingin melihat apa yang te rjadi di dusun itu, terutama sekali dia ingin mencari Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai bekas rekannya itu yang dia lihat melarikan seorang wanita cantik ketika mereka menyerbu dusun itu.
Kini, bertemu dengan Liu Hwa dan seorang anak laki-laki, dia segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah dilarikan Lie Koan Tek, maka cepat dia menghadang wanita itu dan dia tersenyum girang ketika melihat bahwa wanita yang usianya sekita tigapuluh tahun ini juga cukup cantik untuk menggelitik wataknya yang memang mata keranjang.!
Hong San tersenyum dan wajahnya nampak tampan dan menarik sekali.
Karena sikapnya memang sopan dan halus Liu Hwa juga te rsenyum malu-malu dan nyonya ini menggandeng tangan Siong Ki untuk diajak melewati pemuda itu sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan.
Melihat ini, Hong San cepat melangkah dan menghadang lagi.
"Perlahan dulu, enci. Kalau aku tidak salah sangka, enci tentu datang dari dusun Ta-bun-cung, bukan?"
Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat. Melihat sikap yang sopan dan ramah itu, Liu Hwa membalas penghormatan pemuda itu dan menjawab.
"Benar, kongcu. Kami memang penduduk Ta-bun-cung."
"Bukankah enci wanita yang dilarikan oleh Lie Koan Tek malam itu?"
Bukan main kagetnya Liu Hwa mendengar pertanyaan itu dan ia memandang Hong San dengan pernuh perhatian.
Malam terjadinya penyerbuan di dusun itu te rlalu gelap sehingga ia tidak mengenal para penyerangnya.
"Bagaimana engkau bisa tahu, kongcu?"
Tanyanya penuh selidik.
"Ha-ha-ha, aku tahu segalanya, enci. Beberapa malam yang lalu, He k-houw-pang di dusun Ta-bun-cung diserbu oleh pembunuh-pembunuh bayaran, bukan? Dan seorang di antara para pembunuh itu adalah Lie Koan Tek. Kemudian, setelah membunuhi banyak orang, mungkin yang te rbanyak di antara rekan-rekannya, Lie Koan Tek agaknya te rtarik kepadamu dan membawamu lari! Apakah kini Lie Koan Tek sudah bosan denganmu dan membiarkanmu pergi, enci yang baik?"
Wajah Liu Hwa menjadi merah sekali. Merah karena marah dan merah karena malu. Juga ia merasa dihina ole h pemuda halus ini.
"Tidak! Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah dan bukan pembunuh bayaran. Dia telah tertipu. Juga dia melarikan aku karena dia ingin menyelamatkan aku!"
"Ha-ha-ha-ha! Enci yang baik, agaknya engkau telah tergila-gila kepada pembunuh itu! Aku yang le bih tahu bahwa dialah yang membunuh banyak tokoh Hek-houw-pang!"
"Paman yang baik, apakah Lie Koan Tek itu pula yang te lah membunuh ayahku? Ayahku bernama The Ci Kok, dia suheng dari mendiang ketua He k-houw-pang...."
"Siong Ki!"
Liu Hwa menegur muridnya.
"The Ci Kok? Ha, siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Lie Koan Tek? Aku melihatnya sendiri....."
"Engkau bohong! Sudahlah, jangan mengganggu kami. Kami akan melanjutkan perjalanan kami!"
Liu Hwa kini berkata dengan marah.
"Mari, Siong Ki, kita pergi!"
Ia menggandeng tangan muridnya dan menariknya pergi.
"Nanti dulu, enci yang manis. Engkau cukup manis untuk menemaniku. Jangan kau pergi dulu. Kalau anak ini mau pergi, biarkan dia pergi, akan tetapi engkau harus menemaniku bercakap-cakap. Aku kesepian sekali, enci yang manis."
Kini tahulah Liu Hwa dengan orang macam apa ia berhadapan.
Biarpun pemuda ini amat tampan dan dapat bersikap halus dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pria yang suka memandang rendah dan mempermainkan wanita.
"Singg...!"
Ia mencabut pedangnya dan matanya mencorong marah.
"Manusia rendah, jangan ganggu kami atau te rpaksa aku akan menggunakan pedang ini!"
Akan te tapi tentu saja gerakan itu merupakan sesuatu yang lucu bagi Hong San sehingga dia te rtawa.
"Ha-ha-ha, sungguh aneh dan lucu. Seekor kelinci betina yang gemuk mengancam seekor harimau! Ha-ha-ha !"
Liu Hwa tidak sabar lagi dan iapun menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada pemuda yang kurang ajar itu.
Akan tetapi, dengan amat mudahnya Hong San mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia telah menyentuh dada Liu Hwa secara kurang ajar sekali.
"I hhhh......!"
Liu Hwa menjerit dan meloncat ke belakang.
Wajahnya menjadi merah karena malu dan marah, akan tetapi iapun terkejut karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat lihai.
lapun menjadi nekat dan dengan ganas wanita itu memutar pedangnya melakukan penyerangan bertubi-tubi.
Namun, semua serangan itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Hong San.
Kalau pemuda ini menghendaki, dalam satu dua jurus saja tentu ia mampu merobohkan Liu Hwa.
Akan tetapi watak pemuda ini memang aneh.
I a ingin menjadi seperti seekor kucing mempermainkan tikus.
Dia akan membekuk wanita ini setelah mempermainkannya.
Ia hanya mengelak, menangkis sambil mencolek dagu, dada, mengelus pipi sambil tertawa, membuat Liu Hwa menjadi semakin marah dan nekat.
Siong Ki melihat ini dengan alis berkerut.
Hatinya kecewa.
Wanita yang diangkatnya sebagai guru itu te rnyata tidak berdaya sama sekali melawan pemuda itu!
Mempunyai guru se le mah itu sungguh tidak ada untungnya baginya.
"Can Hong San, jangan kurang ajar kau!"
Tiba-tiba te rdengar bentakan dan muncullah Lie Koan Tek yang langsung menyerang dengan rantai baja yang selalu dipakai sebagai ikat pinggang.
Pendekar ini menanti Liu Hwa di luar pintu gerbang.
Ketika pagi tadi dia tidak melihat Liu Hwa keluar dia lalu mencari-cari, menyusul ke tanah kuburan dan melihat bekas peralatan sembahyang.
Ketika dia tidak menemukan lagi wanita itu di dusun, tahulah dia bahwa Liu Hwa tentu telah pergi meninggalkan dusun, meninggalkan dia melalui jalan lain.
Dia cepat melakukan pengejaran dengan hati merasa aneh dan heran.
Mengapa Liu Hwa meninggalkan dia?
Andaikan tidak ingin bersamanya, setidaknya wanita itu akan memberi tahu kepadanya lebih dulu.
Akhirnya dia menemukan Liu Hwa yang sedang dipermainkan oleh Hong San.
Biarpun dia tahu bahwa Hong San amat lihai, melihat wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu dipermainkan, dia menjadi marah dan langsung menyerang dengan rantai bajanya.
Hong San meloncat ke belakang dan mencabut sulingnya.
"Ha-ha , Lie Koan Tek!. Engkau pengkhianat besar. Engkau hendak melindungi wanita yang kau larikan ini, ya? Bagus, aku memang sedang mencarimu untuk memberi hukuman atas nama Pangeran Cian Bu Ong!"
Lie Koan Tek yang sudah nekat itu tidak menjawab melainkan segera menyerang dengan dahsyatnya.
Liu Hwa tidak mau tinggal diam dan iapun membantu pendekar Siauw-lim-pai itu dengan pedangnya.
Melihat ini, kembali Hong San te rtawa sambil memutar suling untuk menangkis kedua senjata pengeroyoknya.
"Ha ha, si penculik dan yang diculik saling bantu! Bagus, agaknya kalian sudah saling jatuh hati. Ha-ha-ha!"
Dan sulingnya diputar sedemikian rupa sehingga amat merepotkan Lie Koan Tek.
Apa lagi Liu Hwa.
Setiap kali pedangnya berte mu suling, ia pasti terdorong dan te rhuyung.
Untung baginya bahwa Hong San tidak ingin membunuh wanita ini, kalau demikian halnya, tentu ia sudah roboh dan tewas.
Hong San hendak membunuh Lie Koan Tek akan tetapi ingin menangkap Poa Liu Hwa hidup-hidup.
Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang sudah matang dalam pengalaman.
Dia pernah diuji kepandaiannya melawan Hong San dan dia tahu betapa lihainya suling di tangan pemuda itu.
Maka pengalamannya ketika dia bertanding melawan Hong San kini dia pergunakan untu k berjaga diri, tidak menuruti kemarahan hatinya sehingga dia dapat bertahan ketika Hong San mulai membalas dengan desakan sulingnya.
Sementara itu, biarpun beberapa kali pedangnya hampir te rlepas dari tangannya yang kadang seperti lumpuh kalau pedang itu bertemu suling, Liu Hwa tidak pernah mundur dan dengan nekat ia membantu Lie Koan Tek tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya sendiri.
Ia merasa yakin bahwa Lie Koan Tek adalah seorang pendekar tulen, sedangkan pemuda yang bernama Can Hong San ini seorang penjahat yang berbahaya sekali.
Kiranya Can Hong San ini yang memimpin penyerbuan te rhadap He k-houw-pang itu dan kini ia pun ingat.
Can Hong San inilah yang telah merobohkan dan membunuh suaminya, Kam Seng Hin!
Maka iapun menyerang dengan mati-matian.
Namun, kini Hong San juga sudah mencabut pedangnya.
Dia mempergunakan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, dan desakan-desakannya membuat Lie Koan Tek makin repot.
Pada saat itu te rdengar bentakan nyaring.
"Penjahat dari mana berani mengganggu paman Lie Koan Tek?"
Dan muncullah seorang wanita muda yang usianya sekitar duapuluh empat tahun, wajahnya bulat berkulit putih, hidungnya mancung dan matanya tajam.
Gerakannya ringan bukan main dan begitu muncul, ia telah menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang Hong San dengan cepat dan kuat!
Hong San terkejut sekali.
Dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membuat pedang kiri gadis itu patah atau te rpental.
Akan tetapi, tangkisannya luput dan tubuh gadis itu sudah meloncat ke atas, bagaikan seekor burung rajawali ia sudah menyerang lagi dengan tubuh menukik ke arah Hong San!
"Trang!
Tranggg........!"
Hong San menangkis dan te rpaksa melangkah ke belakang.
Diam-diam gadis itupun terkejut karena tangkis an pemuda tampan itu membuat kedua tangannya terasa panas dan te rgetar hebat.
Mengertilah ia mengapa pamannya, Lie Koan Tek pendekar Siauw-lim pai itu tadi te rdesak hebat, iapun turun dan menyerang lagi dengan dahsyatnya, membantu Lie Koan Tek dan Liu Hwa yang juga sudah menyerang lagi.
Lie Koan Tek terheran-heran, tidak mengenal gadis yang menyebutnya paman itu.
Akan te tapi dia tidak sempat banyak berpikir, hanya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bersama gadis itu dan Liu Hwa mengeroyok Hong San.
Ternyata kepandaian gadis yang baru datang itu hebat pula, bahkan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kepandaian Lie Koan Tek sendiri.
Biarpun belum te ntu kalau dikeroyok tiga dia akan kalah, Hong San merasa tidak ada gunanya untuk berkelahi te rus.
Gadis itu cukup lihai, dan kalau mereka itu nekat, diapun mungkin akan te rluka.
Maka, setelah mendapatkan kesempatan, diapun meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri dengan cepat.
Gadis itu hendak mengejar sambil berseru.
"Jangan lari !"
Akan tetapi Lie Koan Tek cepat mencegahnya.
"Nona, jangan kejar dia. Dia berbahaya!"
Gadis itu tidak jadi mengejar. Iapun agaknya tahu bahwa seorang diri saja, ia bukanlah lawan pemuda tampan yang lihai tadi, maka iapun berhenti dan kini menghadap Lie Koan Tek sambil memberi hormat.
"Paman, bertahun-tahun saya mencari paman tanpa hasil. Sekarang, secara kebetulan kita dapat berte mu di sini!"
Katanya dengan nada suara girang.
"Nanti dulu, maafkan aku, nona. Akan tetapi, siapakah engkau?"
Gadis itu memandang aneh.
"Paman Lie Koan Tek lupa kepada saya? Saya Bi Lan, paman, Kwa Bi Lan."
"Bi Lan......? Ah, Bi Lan, kiranya engkau ini?"
Lie Koan Tek memandang dengan wajah berseri dan girang.
"Tentu saja aku lupa. Engkau sudah begini dewasa dan ilmu kepandaianrau hebat sekali."
"Aih, paman terlalu memujiku. Siapakah enci ini, paman?"
Tanya Bi Lan sambil menunjuk kepada Liu Hwa.
"I a? Ah, ia ini adalah isteri mendiang ketua Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung. Panjang ceritanya, Bi Lan, dan......eh, engkau mencari siapakah, nyonya?"
Koan Tek mengalihkan pembicaraannya kepada Liu Hwa yang nampak kebingungan dan mencari-cari dengan pandang matanya.
"Saya mencari Siong Ki! Di mana dia? Siong Ki......! Siong Ki, di mana engkau.......?"
"Siapa Siong Ki?"
Tanya Koan Tek heran.
"Dia muridku, anak laki-laki berusia enam tahun, putera dari suheng suamiku yang juga menjadi korban pembunuhan....."
Liu Hwa mencari-cari dan kini dibantu oleh Koan Tek dan diikuti pula oleh Bi Lan.
Akan tetapi sia-sia saja usaha pencarian mereka.
Siong Ki lenyap dan tidak meninggalkan je jak.
Melihat Liu Hwa bingung dan khawatir, Koan Tek juga ikut merasa khawatir.
"Can Hong San itu jahat dan licik bukan main. Jangan-jangan dia yang menculik anak itu dan membawanya lari."
Liu Hwa mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya.
"Kurasa tidak begitu. Agaknya anak itu memang.......sengaja hendak meninggalkan saya, tai hiap. Tadi, ketika pemuda itu muncul, sebelum tai-hiap datang pemuda itu menyebut-nyebut nama tai-hiap sebagai pembunuh ayah Siong Ki. Ole h karena itu,ketika tai-hiap datang dan membantuku, a gaknya dia lalu diam-diam pergi meninggalkan aku. Dia anak yang cerdik sekali, tai-hiap. Aku berte mu dengan dia di depan makam ayahnya dalam keadaan pingsan, lalu kuajak dia sebagai muridku."
"Hemmm......."
Lie Koan Tek menggumam marah kepada Hong San.
"Hong San memang dapat melakukan kejahatan apa saja. Biar nanti aku yang membantumu mencari anak itu, nyonya. Sekarang perkenalkan, ini keponakanku bernama Bi Lan, pute ri dari enciku. Bi Lan, ini adalah nyonya......."
"Namaku Poa Liu Hwa, adik Bi Lan. Terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga pemuda yang jahat sekali itu dapat diusir,"
Kata Liu Hwa.
"Aih, enci jangan terlalu sungkan. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat enci dan paman didesak, maka aku te ntu saja segera membantu. Masih untung ada paman dan enci sendiri, kalau aku seorang diri harus melawannya, kurasa aku tidak akan mampu menang."
"Akan tetapi kulihat ilmu kepandaianmu sudah maju pesat, Bi Lan, dan bukan sepenuhnya ilmu silat Siauw-lim-pai. Oya, bagaimana dengan ibumu? Sekarang di manakah ia tinggal?"
Ditanya tentang ibunya, Bi Lan menarik napas panjang.
"Aih. paman. Ibu sudah meninggal lima tahun lebih yang lalu."
"Ah, kasihan! Engkau menjadi yatim piatu....."
"Karena kematian ibu itulah aku lalu pergi mencarimu, paman. Aku hidup sebatangkara setelah ibu meninggal, dan satu-satunya keluarga hanyalah paman. Akan te tapi, sia-sia aku mencari paman........"
"Tentu saja. Aku ditangkap pemerintah dan dipenjarakan, bagaimana engkau dapat menemukan aku? Lalu, bagaimana engkau sampai le wat di s ini? Ceritakanlah pengalamanmu, Bi Lan. Setelah itu, baru nanti kuceritakan semua pengalamanku dan tentang nyonya ini."
Mereka lalu memilih tempat yang te duh di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu.
Mereka duduk di atas batu dan Bi Lan menceritakan pengalamannya.
Kwa Bi Lan adalah seorang gadis Siauw-lim-pai pula, pute ri tunggal dari kakak perempuan Lie Koan Tek.
Ibunya seorang janda karena ayahnya sejak ia kecil telah meninggal dunia.
Ketika ibunya meninggal dunia, Bi Lan menjadi sebatangkara.
Ia lalu meninggalkan rumahnya, bahkan menjual semua miliknya dan mulai merantau mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang ada.
Namun, segala jerih payahnya sia-sia belaka karena ia tidak pernah berhasil menemukan pamannya yang menjadi buruan pemerintah karena Siauw-lim-pai dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Sui yang ketika itu belum jatuh.
"Setelah hampir putus-asa mencarimu, paman, pada suatu hari aku hampir celaka menghadapi segerombolan perampok. Untung ada bintang penolong, yang kemudian menjadi guruku. Dia adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki."
"Ah, dia seorang pendekar besar!"
Kata Lie Koan Tek.
"Namanya terkenal sekali di dunia persilatan."
"Aku menjadi muridnya, bahkan kemudian aku dijodohkan oleh suhu kepada seorang muridnya yang ketika itu belum pernah kujumpai karena murid itu sudah turun gunung. Karena suhu amat baik kepadaku, seolah menjadi pengganti orang tuaku, maka akupun menurut saja, yakin bahwa suhu tentu telah mengatur sebaiknya untuk diriku. Akan tetapi....."
"Bagaimana selanjutnya, Bi Lan?"
Tanya Koan Tek yang melihat wajah gadis itu berubah muram.
"Ternyata kemudian bahwa suhengku yang menjadi calon suamiku itu, yang ketika itu sudah menyetujui, di luar tahu suhu te lah menikah dengan seorang wanita lain. Mendengar berita itu kemudian, suhu menjadi marah sekali, juga menjadi sakit hati. Akan tetapi dia tidak mampu berbuat sesuatu, karena dia maklum bahwa ketika itu kepandaian murid pertama itu sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Agaknya, kalau tidak ada aku, suhu te ntu telah membunuh diri. Dia merasa dikhianati, merasa tidak dipandang dan hina oleh muridnya sendiri yang amat disayang dan dibanggakan. Aku merasa kasihan sekali, aku menangis dan menderita batin bersama suhu. Sejak mudanya suhu sudah banyak menderita karena ditinggal isterinya yang tercinta.! Suhu tidak mempunyai anak, tidak mempunyai siapa-siapa. Akhirnya......sudah kehendak Thian agaknya, kami........maksudku, suhu dan aku....... kami menikah dan menjadi suami isteri."
Gadis itu menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka.
Koan Tek memandang heran, akan te tapi tidak sampai hati untuk memberi komentar.
Lima tahun yang lalu, pikirnya.
Tentu keponakannya ini baru berusia sembilanbelas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuhpuluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya te ntu usianya sudah enampuluh tahun lebih!
Llu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai.
Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu.
Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih.
"Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman. Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta. Akan te tapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati. Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun le bih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya."
Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata.
"Ah. Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?"
Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba.
Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal.
"I ni semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencari nya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!"
"Bi Lan!"
Koan Tek berseru kaget.
"Apa maksudmu? Si Han Beng? Kau maksudkan Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)? Ada apa pula dengan dia?!"
"Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!"
"Akan tetapi.....Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!"
"Aku tidak perduli, dan tidak takut. Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!"
Kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras.
"Dan dia te rkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!"
Kata pula pamannya.
"Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu? Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng. Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya. Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu. Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu te ntu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!"
"Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya te rdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan. Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu.....eh, suamimu!"
"Tidak, paman. Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya. Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!"
Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong.
"Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku. Selamat tinggal, paman!"
Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
"Bi Lan.....!"
Lie Koan Tek hendak mengejar.
"Tidak ada gunanya dikejar. Ia takkan mau membatalkan niatnya,"
Kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggele ng-gelengkan kepalanya.
"Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa. Aku dapat melihat pada pandang matanya,"
Kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu. Kembali Koan Tek menghela napas panjang.
"Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang le mbut hati. Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya te lah menular kepadanya. Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan. Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia berte mu dengan Huang-ho Sin-liong?"
"Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan le mbut. Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka."
"Mudah-mudahan begitu. Sekarang kita bicara te ntang dirimu sendiri, nyonya Kam......."
"Tay-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam. Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya. Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja."
Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira.
"Baiklah, akan te tapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap. Se but saja namaku, Lie Koan Tek."
Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu.
"Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik. Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie)."
"Baik sekali, adik Liu Hwa. Nah, sekarang, katakan. Kenapa engkau meninggalkan dusun Ta-bun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?"
Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah.
Ia merasa malu sekali.
Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini.
"Tai-hiap......eh, toako. Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan perte muan denganmu.......maafkan aku, toako."
Lie Koan Tek mengerutkan alisnya.
"Ehh? Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?"
Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan "adik Hwa"
Yang demikian le mbut.
"Maaf, toako. Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku te rus? Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk? Siapa tahu, di sini aku berte mu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku. Toako, maafkan aku......"
Lie Koan Tek menarik napas panjang.
Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin te rpuji.
'Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku?
Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya?
Aku sanggup melindungimu se lamanya, Hwa-moi."
Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri.
Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya.
Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya!
Ia juga te rkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam te rnyata mengandung perasaan cinta kepadanya.
"Taihiap......?"
Ia berkata lirih sambil te rbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak.
"Aku......aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi. Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu. Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi. Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu? Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kaucari-cari."
Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya te rusir.
"Siong Ki bukan ana kku, toako. Sudah kukatakan tadi, aku berte mu dengannya di depan makam ayahnya. Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku. Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid. Adapun ana kku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song."
"Dibawa pergi? Ke mana, Hwa-moi?"
"Ke dusun Hong-cun di te pi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu."
"Ah, kalau begitu bagus sekali. Anakmu te ntu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sin-liong!"
Seru Lie Koan Tek dengan girang.
"Lalu, apa, kehe ndakmu sekarang, Hwa-moi. Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?"
"Aku hendak menyusul Cin Cin."
"Apa? Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?"
"Bukan begitu, toako. Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap. Akan te tapi.........sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap. Bagaimana aku dapat berpisah darinya? Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya."
Lie Koan Tek mengangguk-angguk.
"Me mang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi. Nah, karena te mpat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat berte mu dengan puterimu."
Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang.
Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan.
"Terima kasih. Lie-toako. Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu. Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako. Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu,"
Katanya terharu.
"Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu. Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu. Memang akupun ingin sekali berte mu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu. Mari kita berangkat."
Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya.
Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya.!
Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main.
Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!.
Hampir Liu Hwa menangis saking girang dan te rharunya mendapatkan bekal ganti pakaian yang amat dibutuhkannya itu.
Dan disepanjang perjalanan, seperti telah diduganya, Lie Koan Tek selalu berlaku sopan dan lembut.
Setiap kali menginap di rumah penginapan, pendekar ini selalu menyewa dua buah kamar yang berpisah, walaupun berdekatan.
Tak pernah sedikitpun pendekar Siauw-lim-pai itu memperlihatkan sikap kurang ajar.
Kalaupun ada tanda-tanda bahwa pendekar itu te rtarik kepadanya, maka hal itu hanya nampak pada pandang matanya yang kadang seperti orang terpesona, dan pada sikapnya yang le mah lembut.
Diam-diam, sebagai seorang wanita yang berperasaan peka, Liu Hwa mengerti bahwa pendekar itu jatuh hati kepadanya, atau setidaknya menaruh perhatian besar sekali kepadanya.
Hal ini membuat ia merasa te rharu sekali, akan tetapi juga bingung dan selagi tidur sendiri di waktu malam, ia suka menangis dan meratap kepada mendiang suaminya.
Ia seorang wanita yang cantik dan sehat, usianya baru tigapuluh tahun.
Mungkinkah ia akan menyiksa diri, menjanda selama hidupnya?
-ooo0dw0ooo-"Susiok, katanya susiok hendak membawaku kepada ibu.
Mana ibu?
Kenapa kita belum juga tiba di tempat ibu?
Kita sudah melakukan perjalanan selama berhari-hari!
Paman, jangan bohongi aku!
Mana ib, susiok (paman guru)?"
Anak itu kini mulai merengek dan hampir menangis.
Ia seorang anak perempuan berusia lima tahun yang manis.
Akan te tapi pada saat itu ia nampak marah, sedih dan juga kecewa.
Ia adalah Kam Cin yang diajak Lai Kun meninggalkan dusun Ta-bun-cung, memenuhi pesan kakek Coa Song.
Amat sukar membujuk Kam Cin untuk ikut bersamanya, akan tetapi Lai Kun mempunyai akal.
Setelah ia mengatakan bahwa dia mengajak anak itu untuk mencari dan menyusul ibunya yang menghilang pada malam te rjadinya penyerbuan penjahat itu, tentu saja Kam Cin menjadi girang sekali dan seketika ia menyatakan setuju.
Kini Lai Kun menghadapi anak yang mulai rewel dengan alis berkerut.
Sebagai sute dari ayah anak itu, mendiang Kam Seng Hin, dia mengenal benar watak Kam Cin.
Seorang anak yang dapat menjadi manis sekali, akan tetapi kalau sudah marah, juga menjadi anak yang rewel dan sulit diatur!
Mereka sudah melakukan perjalanan selama sepuluh hari, dan mulai pada hari kelima saja Kam Cin sudah selalu merengek dan marah kepadanya.
"Sabarlah, Cin Cin. Tempat ibumu jauh sekali dan kita belum sampai, terpaksa bermalam di rumah penginapan ini. Mari kita makan. Lihat, masakan yang kupesan ini enak sekali, bukan? Mari kita makan, lalu tidur dan besok pagi-pagi kita lanjutkan perjalanan!"
Kata pria itu dengan suara membujuk sambil menyodorkan mangkok dan sumpit ke arah anak yang sedang marah itu.
Dia seorang pria berusia empatpuluh tahun, kurus jangkung dengan hidung agak besar dan mata kecil.
Dia adalah Lai Kun, murid Hek-houw pang, sute mendiang Kam Seng Hin.
Karena diapun masih membujang, dan tidak mempunyai keluarga lagi, maka setelah terjadi penyerbuan para penjahat yang membasmi Hek-houw-pang itu, Lai Kun tentu saja tidak betah lagi tinggal di Ta-bun-cung.
Maka, ketika menerima tugas dari kakek Coa Song, untuk mengantar murid keponakan itu kepada Huang-ho Sin-liong di dusun Hong-cun, dia merasa gembira sekali.
Pertama, dia akan meninggalkan dusun Ta-bun-cung yang kini nampak menyedihkan itu, apa lagi Hek-houw-pang sudah dibubarkan, dan kedua dia akan berte mu dengan pendekar sakti Si Han Beng yang sudah lama didengar nama besarnya dan dikaguminya itu.
Tak disangkanya, baru ju ga setengah perjalanan, Cin Cin sudah mulai rewel dan kini malah mogok makan.
"Tidak, aku tidak lapar! Susiok makan saja sendiri!"
Kata Cin Cin sambi mendorong kembali mangkok nasi itu.
"Aku mau tidur!"
Anak itu lalu turun dari bangku dan lari ke pembaringan, langsung saja ia meloncat ke atas pembaringan, menghadap ke dinding.
Lai Kun mengerutkan alisnya memandang ke arah murid keponakan itu dan menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah beberapa hari ini dia selalu jengkel menghadapi Cin Cin dan mulai dia menyesali tugasnya yang te rnyata tidak menyenangkan ini.
Beberapa kali bahkan dia sudah membentak Cin Cin kalau te rlalu rewel.
Akan tetapi anak ini memang keras dan sukar diatur.
Dihadapi dengan sikap halus, tetap marah.
Kalau dikasari , bertambah marah!
Sulit memang!
Dia mengangkat ke dua pundaknya dan melanjutkan makan sendiri.
Sejak siang tadi, Cin Cin tidak mau makan.
Hanya pagi tadi saja makan bubur semangkuk.
Anak itu memang bandelnya bukan kepalang.
Tiba-tiba Cin Cin membalik sedikit dan menengok kepadanya.
Lai Kun sudah merasa girang karena mengira anak itu mulai kelaparan dan mau mengubah sikapnya, mau makan.
Akan tetapi Cin Cin yang kedua matanya merah karena tangis yang ditahan-tahan itu berkata ketus.
"Susiok, kalau besok kita belum tiba di tempat ibu. Jelas bahwa engkau berbohong dan aku tidak mau lagi melakukan perjalanan bersamamu!"
Makin mendalam kerut di antara alis Lai Kun. Hatinya mulai panas oleh kejengkelan melihat sikap menantang anak itu.
"Hemm. lalu apa yang akan kau lakukan kalau engkau tidak mau melakukan perjalanan bersamaku?"
Tanyanya menahan marah.
"Tidak perlu susiok tahu! Pendeknya, aku akan mencari sendiri ibuku!"
Lai Kun menggebrak meja di depannya sehingga mangkok piring berdentingan.
"Anak bandel! De ngar kau baik-baik. Kaukira aku kesenangan mengantarmu? Aku hanya mentaati perintah kakek Coa Song untuk membawamu kepada Huang-ho Sin-liong Si Han Beng, kautahu? Kita sedang melakukan perjalanan ke sana! Dan engkau harus mentaati pesan kakek Coa Song!"
Cin Cin melompat turun dari pembaringan, berdiri memandang wajah Lai Kun dengan marah.
"Nah, benar saja! Susiok te lah bohong kepadaku! Aku tidak mau pergi ke manapun! Aku hendak mencari ibuku. Bawa aku kembali ke Ta-bun-cung, aku mau mencari ibuku!"
Melihat anak itu berteriak-te riak marah, hampir saja Lai Kun menamparnya. Akan te tapi dia te ringat dan menahan kemarahannya. Mukanya merah sekali dan diapun mengangguk.
"Baiklah, besok pagi kita pulang!"
Katanya singkat.
Agaknya Cin Cin juga puas dengan keputusan itu dan iapun kini mau duduk menghadapi makanan di atas meja.
Ia mengambil nasi dan sayur, mulai makan.
Agaknya timbul semangat anak itu ketika akan diajak pulang!
Akan te tapi Lai Kun sudah marah sekali maka diapun mendiamkan saja.
Dia merasa bingung.
Bagaimana dia dapat mengajak anak itu pulang ke Ta-bun-cung setelah melakukan perjalanan setengahnya menuju ke dusun Hong Cun?
Dan dia tidak ingin pulang ke dusun Ta-bun-cung!
Sehabis makan dan setelah pelayan menyingkirkan mangkok piring, dia hanya berkata singkat kepada Cin Cin.
"Kau tidurlah, aku hendak jalan-jalan dulu. Besok pagi-pagi kita berangkat!"
"Pulang?"
Cin Cin menegas.
"Ya, pulang!"
Jawab Lai Kun singkat, lalu dia keluar dari kamar, menutupkan daun pintu kamar itu dari luar.
De ngan hati mengkal dia lalu berjalan-jalan di sepanjang jalan raya kota itu.
Kota Ji-goan merupakan kota yang cukup besar, te rletak di sebelah utara Sungai Huang-ho, sedangkan Lok-yang, kota raja, te rletak tidak te rlalu jauh dari pantai selatan Sungai Kuning itu.
Bahkan penyeberangan sungai dari utara ke selatan dan sebaliknya berada di kota Ji-goan, maka te ntu saja kota yang menjadi pusat lalu-lintas ke kota raja itu cukup besar, mempunyai banyak los men dan rumah makan.
Sudah lazim bahwa jika sebuah kota dikunjungi banyak tamu, maka selain perdagangan menjadi ramai, juga usaha hiburan berkembang biak dengan cepat sekali.
Para tamu itu membutuhkan hiburan dan mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesenangan.
Apa lagi mereka adalah pedagang-pedagang yang mempunyai uang.
Sete lah memperoleh keuntungan, mereka tidak sayang menghamburkan sebagian kecil keuntungannya di rumah-rumah judi dan rumah pelesir.
Karena dia tidak mengenal jalan, tanpa disadari Lai Kun memasuki lorong yang terkenal di kota itu sebagai lorong pusat te mpat hiburan.
Dia melihat rumah-rumah ju di akan te tapi tidak te rtarik.
Dia sedang mengkal, sedang marah karena kerewelan Cin Cin.
Ketika melihat sebuah rumah minum yang dihias indah, dia te rtarik.
Dipesannya arak dan kueh kering, lalu diapun minum untuk menghilangkan rasa je ngkelnya.
Kehadirannya sejak tadi diikuti sepasang mata yang je li, mata seorang wanita muda yang wajahnya dirias cantik, sikapnya genit dan wanita itu memang seorang pelacur yang sedang mengintai korban di rumah makan itu.
Melihat Lal Kun minum-minum seorang diri, dan nampak jelas bahwa pria ini adalah orang luar kota, pelacur itu melihat,seorang calon korban yang akan menguntungkan dirinya.
Ia menanti sampai Lai Kun menghabis kan seguci kecil arak dan kepalanya sudah agak bergoyang-goyang.
Ketika Lai Kun minta tambah arak, pelacur itu menghadang pelayan yang datang membawakan arak.
"Biar aku yang mengantarkan kepadanya,"
Bisik pelacur yang dikenal dengan nama Sui Su itu.
Pelayan itu te rsenyum.
Kalau pelacur itu berhasil, dia pasti akan menerima imbalannya nanti.
Diberikannya guci arak itu kepada Sui Su yang dengan langkah gontai, bibir tersenyum-senyum dan sikap memikat membawa guci arak itu kepada meja Lai Kun.
"Silakan, tuan. Ini tambahan araknya,"
Katanya dengan suara merdu. Lai Kun memandang kepadanya dengan alis berkerut.
"Eh? Siapakah nona....?"
Sui Su te rsenyum sehingga nampak giginya berkilat di balik sepasang bibir yang merah, akan tetapi dengan luwes ia menutupi mulutnya dengan saputangan sute ra.
"Nama saya Sui Su, tuan dan saya menjadi pelayan tuan untuk malam ini....."
Matanya mengerling tajam dan penuh daya pikat.
Lai Kun sudah setengah mabok.
Akan te tapi dia bukan ana k kecil.
Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun dan biarpun sudah setengah mabok, namun dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pelacur yang memiliki wajah cukup cantik dan bentuk tubuh yang menggiurkan.
"Hem, maaf, nona. Aku tidak ingin melacur malam ini......"
Katanya akan tetapi dia tidak menolak ketika wanita itu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan araknya. Sui Su pura-pura marah.
"Aih, jangan menghina, tuan. Saya bukan pelacur! Saya memang suka menghibur tamu yang kesepian dan yang sedang menderita sedih, akan tetapi saya bukan pelacur murahan!"
Lai Kun te rsenyum sedikit dan minum araknya.
Bukan pelacur murahan te ntu pelacur mahalan, pikirnya.
Akan te tapi dia memang sedang je ngkel, membutuhkan hiburan dan agaknya wanita ini amat ramah sikapnya, menyenangkan kalau diajak bercakap-cakap.
"Duduklah, nona. Mungkin aku membutuhkan teman bercakap-cakap malam ini."
Wanita itu duduk di bangku, dekat dengannya dan melayaninya makan kue kering dan minum arak.
Dan memang benar dugaan Lai Kun, wanita itu amat pandai bicara, pandai bercerita dan pengetahuan umumnya juga banyak.
Pandai bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang te rjadi di kota Ji-goan.
Karena terpikat oleh gaya bicara Sui Su yang ramah, Lai Kun mempergunakan kesempatan itu untuk berse nang-senang.
Dari kakek Coa Song, dia menerima sekantung emas yang kelak harus diserahkan kepada pendekar sakti Si Han Beng, sebagai biaya hidup Cin Cin kalau menjadi murid pendekar itu agar jangan memberatkan penanggungan keluarga Si Naga Sakti Sungai Kuning.
Akan te tapi kemurungan dan kemarahannya te rhadap Cin Cin membuat murid He k-houw-pang ini lupa diri, bahkan dia agaknya seperti sengaja hendak menghamburkan uang itu untuk menumpahkan kemarahannya te rhadap Cin Cin.
Dan Sui Su memang seorang wanita yang berpengalaman dan cerdik.
Dari cara Lai Kun yang sudah setengah mabok itu membayar harga makanan dan minuman secara royal, iapun gembira sekali dan tahu bahwa dugaannya benar.
Korbannya ini memang golongan "kakap", maka iapun memperhebat usahanya untuk menjatuhkan hati Lai-kun dan akhirnya ia berhasil membujuk Lai Kun untuk mengantarnya pulang!
De ngan senang hati Lai Kun mengantarnya, dan te rnyata bahwa te mpat tinggal Sui Su adalah sebuah rumah pelesir yang cukup te rkenal di kota itu, yaitu rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah).
Karena sudah mabok arak dan mabok kecantikan dan rayuan maut Sui Su, Lai Kun tidak memperdulikan banyaknya tamu dan para wanita muda yang cantik yang memenuhi ruangan tamu yang luas itu.
Juga dia acuh saja ketika seorang wanita berusia limapuluh tahun yang bertubuh gendut menyambutnya dengan ramah sekali.
Samar-samar dia mendengar bahwa Sui Su memperkenalkan wanita itu sebagai Cia Ma, yang diperkenalkan sebagai ibu angkatnya!
Tentu saja Cia Ma ini adalah sang mucikari, pemilik dan pengurus rumah pelesir itu yang te rsenyum-senyum melihat Sui Su mendapatkan seorang korban.
Ini berarti reje ki baginya, tentu saja!
Lai Kun, biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, pengalamannya dalam pergaulan dengan wanita tidaklah terlalu banyak, maka mudah saja dia jatuh oleh Sui Su yang pandai dan berpengalaman itu.
Untuk beberapa jam lamanya, dia lupa diri dan dapat mereguk kesenangan, merasa terhibur dan lupa akan segala kemurungan hatinya tadi.
Namun, setelah semua itu lewat, dia te ringat lagi kepada Cin Cin yang ditinggalkannya di rumah penginapan, teringat betapa besok pagi-pagi anak itu te ntu akan menagih janji dan akan marah-marah lagi.
Maka, teringat akan ini, Lai Kun kembali menjadi murung, bangkit dan duduk di te pi pembaringan, tidak lagi menengok kepada Sui Su yang baru saja melayaninya dan membuat dia merasa senang dan te rhibur.
Melihat ini, Sui Su memandang penuh perhatian, ikut bangkit dan merangkul dengan sikap manja.
"Lai-toako (kakak Lai), engkau kenapakah? Mengapa engkau tiba-tiba saja menjadi murung? Sejak engkau minum seorang diri di rumah makan, aku sudah melihat engkau murung dan kelihatan marah. Tadi engkau dapat melupakan semua kemurunganmu, akan te tapi sekarang kembali engkau murung. Toako yang baik, apakah yang menyebabkan engkau murung? Ceritakan kepada Sui Su, pasti aku akan dapat menghiburmu!"
Lai Kun menghela napas panjang.
Teringat akan tugasnya, teringat akan kerewelan Cin Cin, dia merasa penasaran dan je ngkel sekali dan dia memang memerlukan seseorang untuk menumpahkan semua rasa penasaran di hatinya.
Maka, dia lalu menceritakan semua itu kepada Sui Su.
Dianggapnya bahwa Sui Su adalah seorang wanita yang baik sekali, yang amat mencintanya!
De mikianlah bodohnya pria kalau sudah berhadapan dengan wanita yang pandai mengambil hatinya.
Betapapun gagahnya seorang pria, sekali berhadapan dengan wanita yang mampu menjatuhkan hatinya, dia akan berte kuk lutut dan menyerah!
Lai Kun tidak menyembunyikan sesuatu, mengharapkan nasihat dari wanita itu.
Diceritakannya tentang He k-houw-pang yang dibasmi penjahat-penjahat lihai; tentang kematian para pimpinan He k-houw pang, kemudian te ntang tugasnya mengajak Cin Cin pergi ke Hong-cun dan te ntang kerewelan Cin Cin yang membuat dia pusing sekali.
Setelah Lai Kun mengakhiri ceritanya, Sui Su merangkulnya dan te rsenyum, akan tetapi suaranya te rdengar sungguh-sungguh ketika ia bertanya.
"Lai-toako, apakah anak perempuan itu cantik? Dan berapa usianya?"
"Usianya baru lima tahun, akan te tapi ia memang seorang anak yang cantik mungil, akan tetapi keras hati dan keras kepala seperti setan!"
Lai Kun menjawab.
"Bagus kalau ia cantik, akan te tapi sayang usianya baru lima tahun. Toako, engkau tadi berkata bahwa engkau hidup sebatangkara dan tidak ingin kembali lagi ke Ta-bun-cung, dan bahwa He k-houw-pang sudah dibubarkan. Tentu engkau sudah tidak ingin lagi kembali ke sana, bukan?"
Lai Kun menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa aku kembali ke sana? Sudah tidak ada apa-apanya yang menarik kecuali kenangan pahit."
"Nah, kalau begitu, mengapa susah-susah engkau hendak mengantar Cin Cin ke tempat jauh, sedangkan anak itu rewel dan membuatmu pusing? Kenapa tidak mempergunakan kesempatan yang tadinya menjengkelkan ini berubah menjadi menguntungkan dan menyenangkan? Engkau akan te rbebas dari pada kejengkelan, dan akan mendapatkan keuntungkan besar."
"Eh? Apa maksudmu, Sui Su?"
"Dengar baik-baik, toako. Ibu angkatku, Cia Ma, tidak mempunyai anak kandung dan ia ingin sekali mengangkat anak perempuan yang mungil. Biarpun ia s udah mempunyai beberapa orang anak angkat, akan te tapi mereka sudah dewasa dan Cia Ma merasa tidak senang. Ia ingin merawat dan mendidik seorang anak angkat yang masih kecil. Nah, kau serahkan Cin Cin itu kepada Cia Ma, anak itu akan berada di tangan yang penuh kasih sayang, akan dididik menjadi seorang wanita yang pandai dengan segala pekerjaan wanita, dan kelak akan memperoleh jodoh seorang pria yang baik-baik, kalau tidak bangsawan tinggi tentu hartawan besar. Dan sebagai pengganti uang le lah, kalau benar anak itu cantik jelita, engkau akan menerima im balan sedikitnya seratus tail perak.! Kalau lebih cantik dari pada yang kuduga, mungkin lebih dari itu!"
"Ahhh......?"
Lai Kun terbelalak dan kalau bukan Sui Su yang bicara, dia te ntu marah sekali mendengar usul untuk "menjual"
Cin Cin itu. Akan tetapi, dia sudah te rpengaruh ole h Sui Su yang dianggapnya amat baik, maka usul itu menjadi bahan pertimbangannya.
"Tapi.....hal itu tak dapat kulakukan,"
Akhirnya dia berkata.
"Kenapa, toako? Apakah usulku itu tidak amat baik?"
"Kalau kelak hal ini diketahui orang, tentu aku dipersalahkan."
"Mana mungkin? Engkau tidak menyia-nyiakan Cin Cin, bahkan menyerahkannya ke tangan orang yang benar-benar dapat merawat dan mendidiknya. Mereka bahkan akan berterima kasih kepadamu, toako."
"Akan te tapi, menurut kakek Coa Song, Cin Cin akan diserahkan kepada seorang pendekar sakti untuk menjadi muridnya."
"Aihh, toako. Cin Cin seorang anak perempuan, dan cantik pula menurut ceritamu. Betapa sayangnya seorang wanita cantik kelak menjadi tukang pukul, galak, menjadi pembunuh dan tukang berkelahi! Sayang kulitnya yang putih halus menjadi kasar dan keras. Tidakkah seorang wanita le bih baik dan menyenangkan kalau menjadi wanita sepenuhnya, penuh kelembutan, kehangatan, penuh dengan kemesraan dan pandai dalam hal kesenian dan kebudayaan, bukan menjadi tukang berkelahi yang mengerikan?"
Lai Kun te rsenyum.
Percuma bicara dengan seorang wanita yang sama sekali tidak mengerti silat, tentang perlunya seorang wanita menjadi pendekar.
Akan tetapi kini hatinya tertarik.
Kalau Cin Cin diserahkan kepada tangan yang baik, yang akan mendidiknya dan merawatnya baik-baik sehingga kelak Cin Cin menjadi seorang wanita yang pandai dan berguna, berarti dia telah melakukan usaha yang baik untuk pute ri suhengnya itu!
Dan dia tidak perlu pusing menghadapi kerewelan Cin Cin yang berkeras minta pulang karena ingin mencari ibunya, tidak mau diajak menghadap Huang-ho Sin-liong.
Ditambah pula dia mendapat seratus tail perak yang dapat dia pergunakan sebagai modal kerja atau berdagang!
-ooo0dw0ooo-
Jilid 6 Apakah engkau berani menjamin bahwa Cin Cin akan diperlakukan dan dirawat dengan baik oleh Cia Ma?"
Melihat pancingannya berhasil, Sui Su menjadi girang sekali.
Kalau jual beli itu jadi, ia tentu Mendapat imbalan dari Cia Ma!
"Tentu saja, kujamin dengan nyawaku, toako!
Kau kira aku ini orang yang akan diam saja kalau melihat anak perempuan itu diperlakukan tidak baik?
Aku yang akan menjaga dan melindunginyal Akan te tapi, kalau engkau setuju, aku harus melihat dulu wajah anak Itu, agar aku dapat melapor kepada Cia Ma!"
Pada hal, Sui Su Ingin melihat agar la dapat memasang harga untuk anak itu.
Demi keuntungannya, tentu saja!
Lai Kun jatuh!
Dia memang sedang kebingungan Cin Cin berkeras tidak mau diantar ke rumah pendekar Si Han Beng, berkeras minta pulang untuk mencari ibunya.
Ini saja sudah merupakan masalah merepotkan baginya.
Belum lagi kerewelan anak itu.
Bagaimana dia akan mempertanggung-jawabkan kepada penduduk dusun Ta-bun-cung kalau dia pulang lagi bersama Cin Cin ke sana?
Malam itu Juga, Lai Kun mengajak Sui Su untuk pergi ke rumah penginapan.
Hari sudah larut malam dan Sui Su le bih dahulu menemui Cia Ma, berbisik-bisik dan Cia Ma dengan wajah cerah mengijinkan Sui Su pergi bersama Lai Kun.
De ngan hati-hati Lai Kun membuka pintu kamarnya dan te rnyata Cin Cin tidur pulas , te rlentag di atas pembaringan tanpa membuka sepatunya.
Lai Kun menyalakan dua batang lilin lagi di atas meja sehingga sinar lilin cukup te rang, menerangi wajah Cin Cin yang agak menghadap keluar sehingga Sui Su dapat mengamati wajah itu sepenuhnya.
Diam-diam ia kagum bukan main!
Wajah itu demikian cantik, manis dan mungil, dan kulit muka dan le her itu demikian putih mulus!
Seorang anak yang kelak pasti akan menjadi gadis yang cantik je lita Ini berarti la untung besar!
Sedikitnya Cia Ma akan berani membayar duaratus perak untuk anak seperti ini, apalagi kalau disertai surat pernyataan "Jual beli '.
Dan ia akan menerima imbalan pula di samping keuntungannya sendiri!
Sui Su memberi is yarat kepada Lai Kun untuk meniup lilin-lilin itu agar jangan mengganggu Cin Cin, kemudian mengajak pria itu keluar kamar.
"Bagaimana pendapatmu?"
Tanya Lai Kun dengan hati tegang, khawatir kalau s ampai Cin Cin ditolak. Ketegangan Lai Kun ini saja membuat Sui Su diam-diam bersorak.
"Hemrn, tidak buruk, juga tidak terlalu istimewa. Akan te tapi akan kuusahakan agar Cia Ma suka membayar seratus duapuluh lima tail perak untuk anak itu."
"Seratus duapuluh lima tail? Aihhh kalau benar, akan kuhadiahkan sepuluh tail untukmu, Sui Su!"
Sui Su te rsenyum. Hujan keuntungan berjatuhan dari depan belakang! Ia.berbisik.
"Harus diatur agar anak itu tidak curiga dan mau kau tinggalkan di sana. Aku malam ini juga akan bicara dengan Cia Ma. Engkau besok pagi-pagi bawa anak itu ke sana. Katakan bahwa engkau akan melakukan penyelidikan karena mendengar bahwa ibu anak itu berada di sekitar daerah ini, dan kautitipkan anak itu kepadaku, untuk sehari saja. Kalau mendengar bahwa engkau akan menyelidiki tentang Ibunya, tentu la tidak banyak rewel. Kemudian, engkau akan kute mui, akan kuserahkan uang itu dari Cia Ma. dan engkau hanya tinggal menandatangani surat penyerahan anak Itu."
Lai Kun diam-diam merasa girang sekali. Dia akan menerima seratus duapuluh lima tail perak! Akan te tapi mendengar tentang penandatanganan itu alis nya berkerut.
"Harus menanda tangani' Sui Su mengusap dagu pria itu dengan sikap mes ra.
"Tentu saja, toako Kalau tidak, salah-salah kami akan di tuduh menculik anak itu!"
Lai Kun mengangguk-angguk maklum, walaupun dia sama sekail tidak mengerti tentang urusan seperti itu.
Sui Su memasuki tandu dan dipikul ole h empat orang pemikul tandu, pulang ke rumah pele sir Ang-hwa, sedangkan Lai Kun masuk lagi ke kamarnya.
N amun, semalam dia tidak dapat tidur pulas .
Bagaimanapun juga.
dia merasa te gang.
Pertama, dia akan menyerahkan Cin Cin kepada orang lain, bukan kepada pendekar sakti Si Man Beng.
Untuk ini, kalau kelak ada pertanyaan, mudah saja baginya untuk membela diri.
Dia akan menyatakan bahwa karena Cin Cin tidak mau diajak kesana, terpaksa dia menyerahkan kepada orang lain yang berbalk hati untuk merawat dan mendidik Cin Cin.
Dan dia tidak berbohong karena memang Cin Cin tidak mau diajak melanjutkan perjalanan berkeras ingin pulang mencari ibunya.
Ke dua, dia akan menerima uang yang banyak.
Sudah ada uang yang dite rimanya dari kakek Coa Song, kini ditambah seratus duapuluh lima tail.
Dia menjadi kaya!
Tentu saja dia menganggap demikian karena dia memang selama hidupnya bellum pernah memegang uang sebanyak itu.
Dia membayangkan menjadi pedagang yang berhasil dengan modal itu, hidup senang di te mpat lain, hidup baru dan mungkin dia akan mengambil seorang wanita untuk menjadi isterlnya.
Yang secantik Sui Su, selembut dan sehangat Sui Su!
Dan hidupnya akan berbahagia.
Lamunan ini yang membuat dia tidak dapat tidur.
Sebetulnya, dia merasa kasihan kepada Cin Cin.
murid keponakan yang sudah dekat dengan dia sejak kecil itu.
Akan tetapi, akan le bih menyedihkan lagi kalau Cin Cin diajak pulAng ke Ta-bun-cung.
Ayahnya sudah te was dan ibunya dilarikan penjahat!
Lebih baik Cin Cin hidup dekat Cia Ma dan te rutama dekat Sui Su yang demikian lembut dan ramah.
Tentu ia akan menjadi seorang gadis yang cantik dan bahagia kelak!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Cin sudah bangun, dan ia sudah menghampiri pembaringan Lai Kui dan menggoyang pundak orang itu.
"Susiok. bangun! Susiok...... cepat bangun!"
Belum ada dua jam Lai Kun dapat tertidur dan te ntu s aja ia terkejut ketika pundaknya diguncang.
Ia te rbangun dan bangkit duduk, memandang anak itu "Susiok, mari kita berangkat.
Pulang!' "Hemm, nanti dulu, Cin Cin.
Aku mempunyai kabar yang baik sekali."
Anak Itu mengerutkan alis nya dan menatap tajam, penuh curiga.
"Kabar baik a pa, Susiok? Aku ingin pulang dan mencari ibu!"
"Justeru ini kabar mengenai ibumu Cin Cin. Semalam aku berjalan-jalan dan aku mendengar te ntang ibumu."
Wajah anak itu berseri dan pandang matanya penuh ketegangan.
"Benarkah itu, paman? Di mana ibu?"
"Sabarlah, Cin Cin. Aku baru mendengar beritanya saja semalam dari orang-orang yang kupercaya. Katanya mereka melihat ibumu yang diculik oleh penjahat, di sekitar daerah ini....."
"Kalau begitu, mari sekarang juga kita ke sana, Susiok!"
"Ahh, bagaimana mungkin mengajakmu, Cin Cin? Ka utahu, penjahat itu berbahaya sekali. Aku harus menyelidikinya sendiri. Mungkin aku harus menyerang penjahat itu untuk menyelamatkan lbumu Karena itu, untuk satu hari saja engkau akan kutitipkan kepada orang-orang yang kupercaya itu."
"Engkau pergilah sekarang juga menolong ibuku, susiok. Aku akan menunggumu di sinil"
"Aih, mana bisa begitu? Kalau penjahat itu tahu engkau pute ri ibumu, mungkin engkau akan diculiknya pula untuk memaksa ibumu! Tidak, sebaiknya engkau kutitipkan di rumah te man-te manku itu, agar hatiku tenang, ada yang menjagamu"
"Aku di sini saja! Aku tidak mau di tempat lain!"
Cin Cin berkeras.
"Hemm, Cin Cin! Kenapa engkau selalu rewel dan tidak menurut kata-kataku. Aku harus melindungimu, bagaimana aku dapat meninggalkanmu seorang diri ditempat umum begini? Tidak, kalau engkau tidak mau kutitipkan kepada orang-orang yang kupercaya, akupun te rpaksa tidak berani pergi meninggalkanmu. Aku tidak akan menyelidiki keadaan Ibumu!"
"I h, jangan begitu, Susiok! Apakah Susiok te ga membiarkan ibu di tangan penjahat? Baiklah, aku akan menunggu di rumah te man-te manmu. Akan tetapi siapakah mereka? Bagaimana Susiok yang baru saja tiba di sini dapat mempunyai teman-te man baik di sini?"
"Hemm, anak ini cerdik luar biasa. Aku harus berhati-hati, demikian pikir Lai Kun.
"Me mang baru semalam aku bertemu dengan mereka. Dan mereka itulah yang memberi kabar te ntang ibumu itu kepadaku. A ku berte mu dengan seorang wanita di rumah makan. Me lihat aku murung, ia bertanya dan kami bercakap-cakap. Dan iapun memberi kabar tentang ibumu itu. Kau bisa bertanya sendiri padanya kalau bertemu dengannya."
"Seorang wanita? Ah, aku mau pergi ke sana. Mari sekarang juga kita pergi Susiok, agar engkau dapat segera mencari ibuku."
Lai Kun lalu berkemas, membayar sewa kamar, kemudian mengajak Cin Cin pergi ke rumah pelesir.
Ang-hwa.
Pagi hari itu, rumah itu sunyi tidak ada tamu berkunjung, dan para gadis penghibur juga enggan keluar dari kamar di mana mereka masih tidur kelelahan.
Akan te tapi Sui Su sudah berdandan rapi dan menunggu di ruangan depan.
Begitu Lai Kun muncul bersama Cin Cin wanita Itu lalu menyambut dengan sikap ramah sekali.
"Aih, Lai-toako. Pagi benar engkau datang!"
Katanya.
"Dan anak ini, siapakah ia? Anak yang baik, mari, duduk di sini, dekat bibi."
"Nona Sui Su, aku datang pagi-pagi untuk menitipkan murid keponakanku ini di sini, untuk sehari saja. Aku akan segera menyelidiki tentang isteri suhengku itu. Dan anak ini bernama Kam Cin, panggilannya Cin Cin, la puterl mendiang suheng."
"Aihh, Jadi Inikah yang kaucerita kan semalam? Kasihan sekali. Baiklah biar di sini la menunggu kau. Aku akan menjaganya baik-baik. Engkau cepat cari Ibu anak Ini, toako. Kasihan sekali"
Pada saat Itu, Cia Ma muncul.
Wanita yang gembrot ini mengamati Cin Cin dengan penuh selidik dan agaknya ia merasa puas.
Ia tersenyum dan berkata "Ah, kiranya tuan Lai Kun yang datang.
Selamat pagi!
Dan siapa anak ini?"
Ia mendekat dan mengelus kepala Cin Cin dengan sikap menyayang.
"Anak manis siapa namamu?"
Cin Cin merasa senang. Orang-orang di sini ramah, pikirnya.
"N amaku Cin Cin!"
Lai Kun lalu berkata kepada Cin Cin "Cin Cin, engkau di sini dulu, ya' Tunggu aku sehari di sini, setelah berhasil aku akan menje mputmu "
"Cin Cin, mari main-main di dalam! Engkau belum makan pagi, bukan? Ada bubur ayam di dalam, enak sekail mari kita makan minum di dalam, biar paman gurumu mencari ibumu. Mari, anak manis!"
Cia Ma menggandeng tangan anak itu dan Cin Cin bangkit dari tempat duduknya.
Akan tetapi sebelum masuk, la menoleh kepada Susioknya "Susiok, berhasil atau tidak, aku menunggumu sampai sore.
Kalau sampai malam nanti engkau tidak datang, aku akan mencari sendiri!"
Katanya dengan nada mengancam. Lai Kun mengangguk dan lapun keluar bersama Sui Su yang membawa buntalan berat. Sui Su menyerahkan uang seberat seratus limabelas tali perak dan berkata.
"I ni seratus limabelas, sudah kupotong sepuluh tail seperti yang kau janjikan dan harap engkau suka menandatangani surat penyerahan ini."
Lai Kun membaca surat itu yang mengatakan bahwa dia menyerahkan anak bernama Kam Cin kepada Cia Ma dengan Imbalan uang sebanyak duaratus tail perak dan bahwa sejak saat itu dia tidak boleh menemui Cin Cin, apa lagi mengajaknya pergi karena Cin Cin telah menjadi anak angkat Cia Ma!
"Dua ratus tail?"
Tanyanya dengan heran. Sui Su te rsenyum manis.
"Aih seperi engkau tidak tahu saja urusan dagang, toako Dengan surat ini, andaikata ada orang yang mau menebus Cin Cin maka Cia Ma tentu saja menghendaki keuntungan."
Lai Kun percaya, apa lagi dia sudah merasa puas dengan jumlah yang di te rimanya.
Hanya te ntu saja dia tidak menyangka bahwa yang tujuhpuluh lima tail merupakan bagian Sui Su yang mencatut harga itu!
Karena dalam surat itu tidak diutarakan jual-bell maka diapun dapat pergi dengan hati ringan.
Dia tidak menjual Cin Cin.
melainkan menyerahkan kepada orang yang akan dapat merawatnya dengan baik.
Dia tidak menjual, hanya menyerahkan dan dia menirma imbalan, bukan hasil penjualan!
Demikian dia menghibur diri sendiri dan diapun cepat pergi meninggalkan rumah pelesir itu, dan langsung rneninggalki kota Ji-goan!
"Aku harus pergi dari sini!
Sekarang juga!"
Kata Cin Cin pada keesokan harinya, setelah malam tadi Cia Ma dan Sui Su berhasil membujuknya untuk meliwati semalam itu.
Cin Cin sudah marah-marah dan semalam hampir tidak tidur.
Maka pagi-pagi la te rbangun, langsung la menanyakan apakah paman-gurunya sudah kembali.
Ketika dijawab belum, la lalu marah dan nekat untuk meninggalkan te mpat itu, membawa buntalan pakaiannya.
"Cin Cin, anak baik, engkau hendak pergi ke mana? Engkau tidak membawa bekal uang, dan perjalanan amat jauh!"
Sui Su mencoba untuk membujuk.
"Semua uang dibawa oleh Susiok! Aku sekarang tahu, dia pasti menipuku! Aku tidak sudi bersama dia lagi. Aku mau pulang, aku mau mencari ibu!"
Kata anak itu sambil mengenakan sepatunya dan setelah mengikat buntalan pakaian di punggungnya, la lalu bergegas hendak keluar dari pintu kamarnya.
"Tidak, engkau tidak boleh pergi!' Sui Su kini tidak sabar lagi. Bagaimanapun juga, tentu saja anak Ini tdak boleh pergi.Ia sudah menyimpan delapanpuluh lima tali sebagal keuntungan nya! Ia kini memegang lengan anak itu untuk menahannya.
"Bibi Sui Su, le paskan aku! Aku mau pergi dan siapapun tidak boleh menahan dan menghalangiku!"
Cin Cin membentak marah.
"Cin Cin, engkau tidak boleh pergi sebelum paman gurumu kembali! Dia menitipkan engkau di sini. Kami bertanggung-jawab dan harus menahanmu di sini sampai dia kembali. Engkau tidak boleh pergi!"
Kata Sui Su dan pegangan pada le ngan anak itu semakin kuat.
"Bibi Sui Su, sekali lagi. lepaskan aku. Engkau sudah bersikap baik jangan membuat aku marah dan menganggap engkau Jahat!"
"Cin Cin, engkaulah yang jahat kalau memaksa pergi. Kami bertanggung-jawab dan harus menahanmu di sini."
Kini Cin Cin memandang marah.
"Bagus! Agaknya bibi bersekutu dengan susiok untuk menahanku di sini, ya?"
Tiba-tlba Cin Cin menarik tangannya yang memegang kuat sehingga Sui Su mengerahkan tenaga menahan dan menarik.
Mendadak Cin Cin memutar le ngannya dan mendorong!
Karena-saat Itu.
Sui Su sedang mempertahankan dan menarik, maka dorongan yang tiba-tiba itu membuat ia te rje ngkang dan te rhuyung, pegangannya terlepas!
Cin Cin yang sejak kecil sudah dilatih I lmu silat oleh mendiang ayahnya itu, segera meloncat ke arah pintu untuk melarikan diri.
Akan te tapi tiba-tiba di pintu muncul Cia Ma.
Tubuhnya yang gembrot memenuhi pintu sehingga Cin Cin tidak dapat keluar.
"Eh, anak manis. Engkau hendak pergi ke manakah?"
Tanya Cia Ma sambil mengembangkan kedua le ngannya sehingga makin penuhlah lubang pintu itu.
"Cia Ma, biarkan aku pergi dari sini! Susiok Lai Kun menipuku!"
Kata Cin Cin dengan sabar karena sejak kemarin nenek gendut itu bersikap amat baik dan ramah kepadanya.
"Cia Ma, tahan anak itu! Ia hendak memaksa melarikan diri!"
Sui Su yang tadi terjatuh dan pantatnya te rbanting agak keras di atas lantai sehingga terasa nyeri, kini merangkak bangun dan berte riak kepada Cia Ma.
"Ehh? Cin Cin, engkau tidak boleh pergi dari sini! Engkau sudah menjadi anak angkatku. De ngar, engkau sudah jadi anakku. Tempat tinggalmu disini dan engkau tidak boleh pergi dari sinl!"
Kata Cia Ma, kini tidaklagi manis dan lembut melainkan keras karena la tahu bahwa sekarang saatnya menggunakan kekerasan untuk menakut-nakuti Cin Cin.
Akan te tapi ia salah besar kalau hendak menakut-nakuti anak perempuan berusia lima tahun itu.
Melihat sikap dan mendengar ucapan Cia Ma, Cin Cin membelalakkan matanya dan mengepal tinjunya.
"Ah, kiranya engkaupun bersekongkol dengan suslok, nenek gendut Siapapun tidak boleh menahanku disini!"
Dan lapun menerjang nenek itu, kakinya menendang.
"Tukk!"
Sepatunya menendang te pat mengenai tulang kering kaki kiri Cia Ma.
"Aduh h.....aduh, aduhh....... anak setan ......aduhh.....!"
Cia Ma berjingkrak dengan kaki kanannya sambil berusaha mengelus atau memegang kaki kiri dengan kedua tangannya yang agaknya terlalu pendek.
"Minggir kau!"
Cin Cin membentak dan ia menyeruduk ke depan, menggunakan pundaknya untuk menerjang nenek yang sedang berjingkrak dengan sebelah kaki itu.
"Aughhh..... brukkk.....!"
Tentu saja Cia Ma te rjatuh, terpelanting dan pinggulnya yang besar itu menimpa meja tepat pada ujung meja segi empat yang runcing. Melihat kesempatan ini, Cin Cin lari keluar dari dalam kamar itu.
"Cin Cin, jangan lari!"
Teriak Sui Su sambil mengejar.
Dari ruangan luar menerobos masuk dua orang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap garang.
Mereka adalah dua orang tukang pukul yang dipelihara oleh Cia Ma.
Mereka mendengar teriakan majikan mereka, maka mereka la-i l ke dalam.
Melihat mereka, Cia Ma berteriak-teriak.
"Tangkap anak itu! Tangkap, jangan sampai ia lari!"
Dua orang laki-laki itu segera menghadang di te ngah jalan.
"Mlnggir!"
Te riak Cin Cin berani dan menerjang di antara dua orang laki-laki itu.
Akan tetapi, dua orang tukang pukul itu te rtawa, Disangkanya ada bahaya, tidak tau hanya hanya seorang anak perempuan kecil yang hendak melarikan diri!
Seorang di antara mereka, yang brewok dan bermuka hitam, menggerakkan tangan kiri dan sekali cengkeram, dia sudah menangkap punggung baju Cin Cin dan begitu tangannya diangkat keatas, tubuh Cin Cin tergantung di udara!
"Lepaskan aku, kau babi hitam!
Lepaskan aku!"
Cin Cin meronta-ronta dan memaki-maki, kakinya mencoba untuk menendang-nendang, kedua tangannya mencakar dan memukul.
"Ha-ha-ha-ha-ha! "
Laki-laki ke dua yang bermuka bersih dan pucat kekuningan te rtawa-tawa melihat anak perempuan itu memaki-maki te mannya dengan sebutan babi hitam!
Si muka hitam mulai marah.
Bukannya karena makian itu, akan te tapi juga karena Cin Cin menendang, mencakar memukul, bahkan mencoba untuk menggiglt le ngnnnya dan meludah ke arah mukanya!
"Eh-eh, anak setan, anak liar.
Engkau minta ditampar, ya?"
Tangan kanannya yang le bar sudah siap untuk memukul dengan tamparan.
"Heii, Hek-gu (Kerbau Hitam), Jangan pukul anakku! Awas kau, kalau berani memukulnya!"
Cia Ma mengancam muka hitam sambil terseok-seok la menghampiri karena pinggulnya te rasa nyeri.
"Ah, tidak. Cia Ma, aku hanya menakut-nakuti Habis , ia liar sekali"
Kata si muka hitam yang berjuluk Kebau Hitam itu.
"Kau, Kerbau Hitam, Anjing Hitam, Babi Hitam, le paskan aku!"
Kembali Cin Cin meronta-ronta dengan marah.
Anak ini memang memiliki keberanian luar biasa.
Melihat ini, Cia Ma mengerutkan alisnya.
Celaka, pikirnya.
Ia sudah mengeluarkan uang duaratus tali perak dan memang anak ini mungil sekail, kelak pasti menjadi seorang gadis cantik yang menjadi sumber keuangan besar baginya.
Akan te tapi sungguh tidak disangka, anak ini memiliki watak yang demikian keras dan bandel, sukar diurus.
Harus dipergunakan kekerasan untuk anak sebengal ini.."Sekap ia dalam kamarnya.
Jaga jangan sampai dapat lari.
Kalau perlu, Ikat kakinya dengan rantai!"
Cin Cin tidak dapat meronta pula karena kedua kaki tangannya diikat dengan sabuk dan ia dilempar ke atas pembaringan dalam kamarnya.
Ia melotot, memakl-maki, akan te tapi tidak mampu meronta lagi.
Anak ini memang bandel bukan main dan juga amat tabah.
Dalam keadaan seperti itu, la tidak pernah menangis, hanya marah-marah dan memaki-maki!
Kalau Cia Ma tidak berpesan kepada dua orang tukang pukulnya agar Jangan memukul anak itu, tentu Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pek-gu (Kerbau Putih) sudah menamparnya karena mereka dimaki-maki.
Sampai habis suara Cin Cin dipakai memaki dan berte riak-te riak.
Juga kedua kaki tangannya terasa nyeri dan lelah.
Ia haus sekali, juga lapar, akan tetapi ia tidak mau mengatakan penderitaannya ini.
Setelah tubuhnya le maa, ia mendiamkan diri dan mencoba untuk tidur.
Sementara itu, dua orang tukangi pukul menjaga di luar pintu.
Ketika siang hari itu seorang wanita pelayan datang mengantar makanan, Cin Cin tidak mau makan, tidak mau minum dan tidak mau bicara, hanya rebah dengan muka cemberut.
Sebetulnya ia menangis, akan tetapi tangisnya ditahan!
dan hanya kedua matanya saja basah, tidak ada keluhan keluar dari mulutnya.
Ia merasa haus bukan main, dan lapar, dan lelah.
Akan tetapi semua itu ditahannya dan iapun mengenangkan semua peristiwa yang terjadi dengan diri nya.
Biarpun ia baru berusia lima tahun akan tetapi la seorang anak cerdas.
Ia kini yakin bahwa Susioknya, Lai Kun, telah menipunya.
Ia memang oleh Susioknya diberikan kepada Cia Ma, dan kini entah ke mana perginya Susiok itu.
Ia marah kepada Susioknya.
Akan te tapi iapun tidak berdaya.
Andaikata ia dapat kembali ke Ta-bun-cung, kepada siapa ia akan melaporkan perbuatan susioknya itu?
Kakek Coa Song telah tiada, demikian pula ayah dan ibunya.
Supeknya, Coa Siang Lee juga te was dan isteri supeknya bersama Thian Ki lenyap pula.
Tidak, ia tidak dapat melaporkan kepada siapapun.
Akan tetapi yang te rpenting sekarang adalah mencari jalan untuk membebaskan diri dari kurungan ini.
Akan te tapi, sampai terasa pening kepalanya, anak itu tidak dapat menemukan jalan.
Ia disekap dalam kamar, kaki tangannya diikat rantai, dan di depan kamarnya ada dua orang jahat dan kejam itu melakukan penjagaan secara bergiliran.
Ia sungguh tidak berdaya.
Ingin rasanya ia menangis, akan te tapi ditahannya.
Ia demikian benci kepada mereka semua sehingga tidak ingin menyenangkan hati mereka dengan memperlihatkan kelemahannya!
Sejak kecil, ayahnya menekankan perlunya sikap gagah bagi seorang calon pendekar!
' Beberapa kali dalam sehari itu, Cia Ma menjenguknya dari pintu dan bicara lirih dengan penjaga.
Dan nenek itu mengerutkan alis, menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.
Melihat nenek itu marah-marah dan kecewa, ada perasaan lega yang merupakan hiburan di hati Cin Cin.
Setidaknya, ia mampu membalas dengan membuat orang itu kecewa, pikirnya.
Malam itu, yang datang mengantar makanan, selain seorang pelayan wanita itu juga ikut masuk ke kamar itu Sui Su.
Melihat wanita ini, Cin Cin membuang muka.
Biarpun selama ini Sui Su memperlihatkan sikap baik kepadanya, namun mengingat bahwa pertama kali susioknya membawanya ke situ yang menerima adalah Sui Su, maka la menduga bahwa tentu wanita genit ini ikut pula menjadi komplotan yang menipunya.
Sui Su duduk di te pi pembaringan Cin Cin menggulingkan tubuhnya, menghadap dinding membelakanginya.
"Sstt......Cin Cin, aku mau bicara denganmu. Penting untuk kebaikanmu sendiri........"
Cin Cin tidak perduli, atau setidaknya mengambil sikap tidak perduli walaupun kedua telinganya dipasang baik-baik untuk memperhatikan apa yang akan dikatakan wanita itu.
"Anak baik, Jangan engkau bersikap seperti ini. Engkau menyiksa dirimu sendiri. Susiokmu bermaksud baik, menitip engkau di sini, dan kalau engkau taat, tentu engkau akan diperlakukan dengan baik, engkau akan dapat makan enak setiap hari, dapat pakaian yang bagus-bagus, dan engkau akan dihormati semua orang karena engkau telah menjadi anak angkat Cia Ma."
"Aku tidak sudi! Lebih baik aku mati!"
Kata Cin Cin ketus, akan tetapi kini ia membalikkan tubuhnya untuk memandang kepada wanita itu.
"Hussh, Cin Cin, jangan begitu bodoh,"
Bisik Sui Su.
"kalau engkau mati, berarti engkau akan membikin gembira hati mereka yang membencimu. Bodoh sekail "
Kata-kata ini tepat sekali dan membuat Cin Cin te rbelalak memandang kepada wanita itu.
"Tapi........ aku tidak mau di sini. Aku tidak mau menjadi anak Cia Ma. Aku ingin pulang, mencari ibuku!"
"Sssst ..jangan berteriak-teriak"
Bisik lagi Sui Su.
"Dengar baik-baik Cin Cin. Aku ingin menolongmu. Kalau engkau berkeras, bagaimana mungkin dapat lolos dari sini? Kalau engkau tidak mau makan minum tubuhmu akan menjadi le mas, mungkin akan sakit dan mati. Engkau harus makan minum agar kuat dan mencari kesempatan untuk kelak melarikan diri......"
"Apa......apa maksudmu, bibi...."
Senang rasa hati Sui Su.
Sepanjang hari Cia Ma hanya marah-marah saja te rutama kepadanya, mengatakan bahwa ia merasa tertipu dengan membeli anak itu.
Tentu saja Sui Su merasa tidak enak hati, apa lagi mengingat bahwa ia memperoleh keuntungan banyak dalam jual beli anak itu.
Sui Su diam-diam merasa kasihan kepada Cin Cin.
I a teringat akan nasibnya sendiri.
lapun dahulu dijual oleh ayah ibunya yang melarat kepada Cia Ma, ketika la berusia lima tahun.
la dirawat, dipelihara dan dididik menjadi pelacur oleh Cia Ma.
Setelah ia dewasa, ia dijual oleh Cia Ma, diperas habis-habis walaupun ia dapat hidup dalam kemewahan.
Kini, setelah memperoleh banyak uang karena jual beli Cin Cin, ia ingin berdikari, ingin kembali ke dusun dan dengan modalnya itu la dapat hidup tanpa harus menjual dirinya.
Ia merasa kasihan kepada Cin Cin, maka sambil berusaha untuk meredakan kemarahan Cia Ma dengan membujuk Cin Cin, iapun ingin memberi jalan dan nasehat bagi anak itu agar kelak dapat melarikan diri sebelum te rjeblos seertl yang dialaminya.
"Cin Cin,"
Kata Sui Su berbisik sambil berlagak mellrik ke luar seolah-olah ia tidak ingin suaranya te rdengar oleh tukang pukul yang berjaga diluar "Engkau harus pura-pura mentaati dan menjadi anak yang baik di sini.
Engkau menjaga kesehatanmu dengan makan yang cukup, tidur yang cukup dan seolah-olah menikmati kehidupan di sini.
Dengan sikapmu itu, lambat laun tentu Cia Ma akan percaya kepadamu.
Nah, kalau engkau sudah mendapat kepercayaan sehingga tidak lagi dikeram, tidak lagi dijaga, dan mendapat kebebasan, pada suatu hari yang baik kalau ada kesempatan engkau te ntu akan dapat melarikan diri dengan mudah.
Bukankah ini akal yang baik sekali?
Kalau kita tidak dapat menggunakan kekerasan, kita harus menggunakan akal, anak yang manis."
Wajah anak itu semakin cerah dan pun te rsenyum sambil menganggukkan "Engkau benar, bibi, engkau benar, te rima kasih. Aku harus bersabar menggunakan akal itu....."
Katanya lirih.
"Bagus, nak aku akan menyuruh mereka melepaskan ikatan kaki tanganmu dan engkau harus berlagak penurut, superti seekor anak harimau yang memakai bulu domba. 'perumpamaan itu menyenangkan hati Cin Cin. Ia anak harimau! Akan te tapipi demi keselamatannya, ia harus mengenakan bulu domba. I a mengangguk-angguk maklum. Sui Su menoleh ke pintu dan berteriak kepada Pek-gu yang kebetulan berjaga di situ, menggantikan He k-gu "heii paman lPek-gu. Tolong kau le paskan rantai-rantai ini. Cin Cin kini sudah mengerti dan ia tidak akan memberontak lagi"
Pek-gu memasuki kamar dan memandang kepada Cin Cin.
"Benarkah? Anak setan ini tidak akan memaki-maki dan meronta lagi ?"
Sepasang mata Cin Cin mengandung api kemarahan dan hampir saja ia memaki lagii kalau saja Sui Su tidak cepat merangkulnya.
"Paman, hati-hatilah dengan omonganmu. Ingat, ia ini adalah Cing Siocia (nona Cing), puteri Cia Ma. Engkau harus menghormatinya kalau tidak ingin dimarahi Cia Ma!"
Pek-gu menghampiri Cin Cin dan melepaskan rantai-rantai yang mengikat kaki dan tangan anak itu.
Melihat anak itu diam saja tidak meronta dan tidak mengeluarkan suara, Pek-gu yang berwajah putih pucat kekuningan itu te rsenyum.
"Nah, begini baru anak baik, tidak membikin repot orang. Nona kecil, engkau kelak tentu akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan hidup serba kecukupan dan senang seperti nona Sui Su. Lihat, nona Sui Su ini cantik sekali, bukan? Eh, nona Sui Su. Sekali-kali perbolehkan aku bermalam di kamarmu! Bukankah kita sudah lama menjadi rekan sekerja di sini?"
Sui Su tersenyum mengejek.
"Sudah terlalu banyakkah uangmu, paman? Setahuku, semua, uangmu kau ha biskan di meja Judi!"
"Aih, sesama rekan masa pakai uang segala?"
"Enaknya! Sudah, keluar sana dan jangan ganggu kami. Nona Cin harus makan sekarang."
Sui Su mengusir tukang pukul Itu yang keluar sambil menyeringai, biarpun menjadi pelacur, mereka yang anak angkat Cia Ma menang dihormati orang karena Cia Ma yang galak itu selalu melindungi anak-anaknya.
Oleh bujukan Sui Su, Cin Cin mau makan dan minum.
Baru te rasa olehnya betapa lapar dan hausnya, sehingga ia makan dengan gembul, dite mani Sul Bu yang melayaninya dengan sabar.
Setelah makan kenyang, muncullah Cia Ma.
Ia sejak tadi sudah diberitahu dan mengintip.
Girang sekali ia melihat Sui Su berhasil membujuk Cin Cin.
Tadi, Sui Su berkata kepadanya bahwa ia akan membujuk Cin Cin dengan halus, dan kalau berhasil, la minta diijinkan untuk mengambll cuti selama seminggu karena ia hendak pulang ke dusun menengok keluarga di dusun, walaupun kini ayah dan ibunya sudah tiada.
Cia Ma menyanggupi, akan memberi ijin itu kalau benar Sui Su berhasil.
Nenek ini sudah terlalu pusing melihat sikap Cin Cin dan ia membayangkan uangnya yang dua ratus tail perak itu!
Cin Ma memasuki kamar itu dengan wajah berseri "Aduh, anakku yang baik ana kku yang manis.
Cin Cin, engkau sudah suka makan dan minum.
Bagus, aku datang membawakan pakaian yang bagus-bagus untukmu, nak!"
Cin Cin mengerling kepada Sui Su yang berkedip kepadanya.
Biarpun ia merasa tidak senang kepada nenek gembrot itu, namun ia menahan perasaannya, teringat akan nasihat Sui Su tadi.
la harus bersikap penurut dan manis memperoleh kepercayaan sehingga kelak dengan mudah ia akan dapat melarikan diri.
Maka, ketika buntalan pakaian yang serba indah itu dibuka, Iapun memaksakan diri untuk te rsenyum dan memperihatkan muka girang De mikianlah, Cin Cin yang biar berhati keras namun amat cerdik ia bersikap penurut dan ia mau saja ketika disuruh belajar menulis dan menyulamm, melukis , bahkan bernyanyi , menari, dan menabuh yang-kim (gitar) dan suling.
Iapun acuh saja ketika pada suatu hari Sui Su berpamlt kepadanya, katanya hendak cuti seminggu untuk menengok keluarganya di dusun.
"I ngat, jangan lari sebelum mendapat kesempatan yang baik sekail, karena kalau engkau te rtangkap lagi, tentu akann dlperlakukan dengan buruk ,"
Demikian nasihatnya kepada Cin Cin.
dengan suara bisik bisik Benar saja seperti yang dikatakan Sui Su, setelah Cin Cin bersikap taat dan penurut, Cin Ma bersikap lembut dan manis kepadanya, bahkan memanjakanya.
Apa lagi ketika ia melihat betapa Cin Cin amat cerdas.
Segala yang diajarkan kepada anak itu, sebentar saja dapat dikuasainya.
Dalam waktu setahun saja, anak Itu sudah pandal meniup suing, bermain yang-kim, bahkan menari.
Juga dalan hal ilmu baca tulis , karena memang tadinya ia sudah mendapat pelajaran dari orang tuanya, ia maju pesat Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Cin Cin sudah menyelinap keluar dari rumah itu.
Biarpun ia masih kecil, namun karena setiap hari melihat wanit wanita muda dan cantik bersenda-gurau dengan kaum pria, ia sudah dapat meraba bahwa para wanita itu tidak mengenal rasa malu dan menyebalkan sekali.
Ia makin tidak betah dan setelah mendapatkan kepercayaan dan kebebasan, maka pada pagi hari itu iapun menyelinap luar ketika semua orang belum bangun tidur.
Malam tadi ia telah mempersiapkan segalanya.
Membawa pakaian untuk bekal, dibuntalnya, juga meloloskan perhiasan yang diberikan Cia Ma kepadanya juga dimasukkan ke dalam buntal untuk bekal biaya perjalanannya.
Tentu saja ia tidak ingat lagi jalan pulang ke Ta-bun-cung.
Yang diingatnya hanyalah bahwa ketika ia melakukan perjalanan bersama Susiok-nya, mereka berjalan te rus ke barat.
Maka kini la tahu bahwa ia harus menuju ke timur, menyusuri tepi sebelah utara dari Sungai Hua ho untuk kembali ke dusunnya.
Pada waktu itu, pergantian pemerintahan dari dinasti Sui ke dinasti Tang baru berjalan kurang le bih tiga tahun saja.
Keamanan belum pulih, te rutama sekali di luar kota raja Lok-yang Pemerintah baru belum sempat mengatur daerah daerah dan belum membentuk pasukan keamanan untuk mengamankan kota-kota dan dusun-dusun.
Biarpun kota Ji-goan masih termasuk daerah Lok-yang, namun pemerintahan di daerah itupun belum lancar benar sehingga keamanannya masih buruk.
Para penjahat masih merajalela, melakukan pemerasan di sana sini, perampokan dan gangguan te rhadap rakyat.
Jaminan keamanan dari pemerintah belum lancar benar dan hampir setiap hari terjadi kejahatan.
Cin Cin sama sekali tidak tahu akan hal ini.
Selama ini ia merasa aman semenjak melakukan perjalanan bersama susioknya karena Susioknya adalah murid He k houw-pang yang memiliki kepandaian cukup tangguh.
Apa lagi ketika ia berada dalam rumah besar Cia Ma, la tidak pernah keluar tanpa pengawalan.
Di dalam rumah itu yang ada hanya kemewah dan pesta, maka ia selalu merasa aman.
Dalam pikiran anak berusia enam tahun itu te ntu saja belum mengerti tentang kejahatan manusia yang kadang melebihi kekejaman mahluk apapun juga binatangpun tidak sekejam manusia, dan hukum yang berlaku adalah siapa kuat dia menang dan siapa menang dia berkuasa, lalu siapa berkuasa dia selslu benar !
Sepagi itu selagi kota Ji-goan belum bangun, seorang anak perempuan berusia enam tahun melakukan perjalanan seorang diri, membawa buntalan besar tentu saja segera menarik perhatian orang yang kebetulan bertemu dengan Cin Cin.
Kalau yang bertemu dengannya itu orang atau penduduk biasa, tentu orang itu hanya merasa heran saja.
Akan tetapi, sebelum ia keluar dari pintu gerbang kota Ji-goan, di sebuah lorong yang membelok, tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang laki-laki kurus kering yang pakaiannya penuh tumbalan seperti je mbel.
Laki-laki itu berusia sekitar tiga puluh tahun dan matanya liar seperti mata maling.
Ketika ia melihat Cin Cin, anak perempuan yang membawa buntalan besar, sedangkan di sekitar situ belum ada rumah yang membuka daun pintu, belum nampak ada orang di jalan.
dia lalu menyeringai dan menghadang di depan Cin Cin.
"Aih, anak manis, engkau hendak kemanakah seorang diri di pagi buta ini ?"
Tanpa menyangka buruk, Cin Cin menjawab.
"Aku hendak keluar kota dan pergi ke timur......"
Sebelum anak itu habis bicara, tahu-tahu orang itu sudah menyambar dan merenggut le pas buntalan di punggung Cin Cin. Tentu saja anak itu te rkejut dan marah sekali.
"Hei! Kembalikan buntalanku!"
Teriaknya dan Cin Cin mencoba untuk meraih dan merampas kembali.
Akan te tapi orang itu sambil menyeringai memegang bunntalan dengan tangan kiri tlnggl-tinggi di atas kepala sehingga te ntu saja Cin Cin tidak mampu meraihnya.
"Bukk!"
Tangan kecil itu kini memukul mengenai lambung orang kurus yang merampas buntalannya "Kembalikan buntalanku, keparat!"
Ia memaki.
"Ehh......?"
Laki-laki itu merasa nyeri terpukul lambungnya dan diapun marah.
"Anak setan, kau ingin mampus?"
"Kembalikan buntalanku"
Cin Cin kembali menerjang dengan pukulan kedua tangan.
Akan tetapi sekali ini, laki laki yang sedikit banyak pernah belajar silat itu dapat mengelak, kemudian dari samping, kakinya menendang, keras sekali.
"Bukk.....!"
Dada Cin Cin bagian samplng kena dite ndang dan anak itupun te rje ngkang dan te rbanting jatuh.
"Hei, A-kew, ada apakah?"
Tiba-tita muncul seorang laki-laki lain, juga pakaiannya penuh tambalan dan tubuhnya agak pendek, mukanya bulat dan kotor. Si kurus yang dipanggil A-kew itu sibuk membuka buntalannya.
"Wah, makanan empuk. A-cauw, lihat, pakaian bagus bagus dan ada perhiasan emas pula. Wah pesta sekali ini aku!"
"Hussh, engkau tidak melihat sesuatu yang lebih berharga lagi, A-kew?"
"Apa maksudmu?"
"Lihat itu!"
Si pendek itu menuding kearah Cin Cin yang masih rebah setengah duduk sambil menyeringai kesakitan. Napasnya menjadi sesak te rkena tendangan tadi "Anak itu cantik sekali!"
"Ha-ha, A-cauw, mata keranjangmu tidak ketulungan lagi rupanya! Anak itu paling banyak baru enam tahun usianya, untuk apa? Ha-ha!"
"Hussh, dasar engkau yang tolol! Anak perempuan cantik itu akan mendatangkan uang sedikitnya duapuluh atau tigapuluh tali perak!"
Mata Akew yang sipit itu agak melotot.
"Ehh?-Apa maksudmu?"
"Dasar bodoh, tetap tolol! Setiap orang majikan rumah pelesir akan suka membelinya."
"Ah, benar! Aku sampai lupa karena kegrangan mendapatkan pakaian bagus dan perhiasan ini. Mari kita tangkap anak ini, kita bawa kepada rumah pelesir te ntu diterima."
"Lebih baik ke rumah pelesir Ang-hwa, Cia Ma suka sekali membeli anak-anak yang cantik."
Dan si pendek it menghampiri Cin Cin Mendengar percakapan mereka, wajah Cin Cin menjadi pucat.
Percuma melarikan diri.
Melawan seorang saja dari mereka, ia kalah, apa lagi dikeroyok dua.
Maka iapun menjatuhkan diri berlutut setelah tadi mencoba bangun.
"Paman-paman yang baik, kasihanilah aku..jangan bawa aku kepada Cia Ma.."
Ia memohon. Dua orang itu s aling pandang.
"Eh Engkau anak kecil sudah mengenal Cia Ma?"
Tanya Akew.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 1
Baca Juga: Si Bangau Merah 4