Eps 1 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
(Lanjutan Naga Sak ti Sungai Kuning) Karya . Kho Ping Hoo Scan djvu oleh Syaugy_ar Ebook by Dewi KZ, Sukanta & Budi S
http.//k angzusi.com/
Jilid 1 Thian ho-tang (Kuil Pardamaian Langit) di lorong Coa-san (Bukit Ular) merupakan sebuah kuil yang dihuni belasan orang nikouw (pendeta Buddhis wanita) dan kuil ini dikunjungi banyak tamu yang berdatangan dari dusun-dusun di sekitar daerah pegunungan itu.
Mereka datang untuk bersembahyang, mohon bermacam-macam berkah.
Ada yang minta kesembuhan bagi orang sakit, minta ringan jodoh, minta bertambahnya rejeki , naik pangkat dan segala macam keinginan lagi.
Bahkan diam-diam banyak pula yang minta kutukan bagi orang lain yang dibencinya.
Kuil Thian ho tang berada di luar dusun Mo-kim cung, sebuah dusun yang makmur karena tanah di pegununagn itu s ubur.
Pe nduduknya semua petani dan mungkin kuil Thian ho-tang merupakan satu di antara sebab yang mendatangkan ketenteraman pada penduduk dusun itu.
Selain tiga belas orang nikouw yang bekerja di kuil itu, melayani para pengunjung, terdapat pula seorang nikouw tua yang pekerjaannya hanya membaca kitab, berdoa dan bersamadhi saja.
Para nikouw di kuil itu menyebutnya Lo Nikouw (Nikouw Tua) dan tidak pernah mengusiknya.
Lo Nikouw berada di situ sejak dua tahun yang lalu dan ia tinggal di kuil itu sebagai tempat peristirahatan atau pertapaan, dan kehadirannya ini dibiayai oleh pute rinya yang tinggal di dusun Mo kim-cung.
Puterinya bernama Sim Lan Ci, berusia tigapuluh dua tahun yang tinggal di dusun itu bersama suaminya bernama Coa Siang Lee, dan anak tunggal mereka bernama Coa Thian Ki yang berusia lima tahun.
Mantu dan pute rinya itulah yang membawanya ke kuil, dan minta kepada para nikouw di situ untuk menerima nenek itu menjadi seorang nikouw dan bertapa di kuil itu.
Mereka membiayai keperluan hidup nenek itu dengan sumbangan yang memadai sehingga biarpun Lo Nikouw tidak bekerja, namun para nikouw yang lain menghormatinya.
Hal ini bukan saja karena Coa Siang Lee dan isterinya membiayai kebutuhan hidup Lo Nikouw, akan tetapi juga karena suami isteri itu terkenal di dusunnya dan di daerah sekitarnya sebagai suami isteri yang budiman.
Mereka juga hidup sebagai petani sederhana, namun suami isteri itu te rkenal pandai ilmu pengobatan dan selalu meno long penduduk dusun itu yang menderita sakit, bahkan ada yang mengabarkan bahwa suami is teri itu selain budiman dan pandai mengobati, juga memiliki ilmu untuk menolak segala ancaman bahaya.
Pernah dusun itu diganggu beberapa ekor harimau yang suka menerkam kambing milik para penghuni dusun.
Setelah pada suatu malam suami isteri itu pergi menyelidik sedangkan para penghuni lain bersembunyi di dalam rumah karena takut, binatang-binatang buas itupun menghilang dan tidak pernah datang lagi.
Tidak ada seorangpun penghuni yang tahu bahwa suami isteri itu sebetulnya memiliki ilmu kepandaian s ilat tinggi yang amat kuat!
Andaikata para nikouw mengetahui, siapa sebetulnya Lo Nikouw yang tampak alim itu, tentu mereka akan merasa ngeri.
Ibu dari Nyonya Coa Siang Lee yang mereka kenal sebagai Lo Nlkouw yang nampaknya le mah ini, pada dua tahun yang lalu masih merupakan seorang datuk sesat yang ditakuti orang dan berjuluk Ban tok Mo li (I blis wanita Selaksa Racun).
Dari nama julukannya sudah dapat diketahui bahwa ia adalah Iblis Betina yang amat kejam.
Para pembaca kisah Naga Sakti Sungai Kuning te ntu mengenal siapa Ban-tok Mo-li, siapa pula puterinya dan mantunya itu.
Ban-tok Mo li bernama Phang Bi Cu, seorang wanita yang berwajah cantik jelita namun berhati kejam.
Bahkan setelah menjadi nlkouw di Thian ho-tong masih nampak bekas kecantikannya walaupun usianya sudah hampir enam puluh tahun.
Dua tahun yang lalu, ia masih meraja lela, bersekongkol dengan orang-orang lihai lainnya di dunia sesat.
Putrinya, Sim Lan Ci, walaupun putri seorang datuk sesat, namun tidak menjadi penjahat.
Apalagi setelah Sim Lan Ci bertemu dan jatuh cinta dengan Coa Siang Lee.
Ban tok Mo li menentang perjodohan putrinya dengan Coa Siang lee.
Mereka nekat dan minggat meninggalkan Ban tok Mo li, kemudian hidup sebagai suami istri petani di dusun Mo kim cung, tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan.
Kini mereka telah mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Coa Thian Ki, sudah berusia lima tahun.
Karena suami isteri ini pernah menderita sengsara akibat kekerasan yang selalu terjadi dalam kehidupan para ahli silat, maka setelah mereka mempunyai seorang anak, mereka berdua bersepakat untuk tidak mengajarkan ilmu silat kepada Thian Ki, pute ra mereka.
Mereka menganggap bahwa kehidupan seorang ahli silat penuh dengan perte ntangan, permusuhan dan perkelahian, balas membalas dan dendam mendendam.
Mereka hendak menjauhkan anak mereka dari semua kekerasan itu, maka sejak kecil Thian Ki hanya belajar membaca menulis dan kebudayaan lain, akan tetapi sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan ilmu silat.
Dalam ilmu silat, Coa Siang lee cukup lihai karena dia te lah mewarisi ilmu-ilmu dari He k-houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam) dari kakeknya sendiri, Cou Song yang menjadi ketua Hok-houw-pang yang berada di dusun Ta-bun-cung dekat kota Po-yang sebelah utara sungai Huang ho di Propinsi Ho-nan.
Adapun is terinya, Sim Lan Ci, bahkan lebih lihai lagi karena wanita ini adalah puteri dan murid Ban tok Mo li Phang Bi Cu, memiliki ilmu silat dari golongan sesat yang penuh tipu daya, bahkan juga menguasai pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun.
De mikianlah keadaan suami isteri ahli silat yang hidup te nte ram sebagai petani di dusun Mo-kim-cung itu.
Tak seorangpun penduduk dusun tahu bahwa suami isteri ini sesungguhnya merupakan orang-orang yang amat lihai sehingga tidak mengherankan kalau mereka dengan mudahnya dapat mengusir harimau-harimau yang mengusik dusun itu.
Akan te tapi dua tahun yang lalu, ketika itu Thian Ki berusia tiga tahun muncullah pada suatu malam tanpa diketahui orang lain, Ban-tok Mo-li di dalam rumah keluarga itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya suami isteri itu melihat munculnya orang yang tidak pernah mereka sangka akan datang berkunjung itu.
Bagaimanapun juga, Ban tok Mo-li Phang Bi Cu adalah ibu kandung Sim Lan Ci, maka nyonya ini segera menghampiri ibunya dan mereka berangkulan.
"I bu......!"
Dan Sim Lan Ci menangis dalam rangkulan ibunya yang pernah mengusirnya karena ia hendak berjodoh dengan Coa Siang Lee.
Sejak itu ia tidak pernah bertemu dengan Ibunya.
Dan ia merasa heran akan tetapi juga te rharu ketika melihat bahwa ibunya juga menangis!
Hampir ia tidak percaya ibunya menangis!
Bahkan sejak ia kecilpun belum pernah ia melihat ibunya menangis.
Akan tetapi kini ibunya menangis seperti anak kecil.
Melihat ini Siang Lee yang berhati le mbut juga menjadi terharu, I bu mertuanya itu adalah seorang datuk sesat yang amat kejam seperti iblis.
Kini menangis seperti anak kecil dan hal ini membuktikan bahwa ibu mertuanya itu te rnyata juga seorang wanita biasa yang berhati le mah dan cengeng.
"I bu, selamat datang di rumah kami."
Diapun memberi hormat, tidak mau mengingat lagi betapa dahulu Ban-tok Mo-li ingin membunuhnya karena dia meminang Lan Ci.
Hanya karena Lan Ci melindunginya maka dia tidak sampai terbunuh oleh wanita iblis itu.
Mendengar suara Siang Lee, nenek itu menghentikan tangisnya, melepaskan rangkulannya dan memandang kepada mantunya.
"Coa Siang Lee, kau maafkanlah sikapku dahulu kepadamu."
Kembali Siang Lee dan isterinya merasa terkejut dan heran.
Sungguh te rjadi perubahan sikap yang luar biasa pada wanita itu!
Dahulu, jangan harap Ban-tok Mo-li akan sudi minta maaf, apalagi kepada seorang muda yang menjadi mantunya!
Siang Lee memberi hormat.
"Ibu, harap jangan ingat lagi urusan yang lalu. Mari silakan duduk, ibu."
"Duduklah, ibu, dan ceritakan apa yang ibu kehe ndaki maka datang mengunjungi kami,"
Kata pula Lan Ci yang masih merasa heran, bahkan diam-diam ia rasa curiga.
I a sudah mengenal benar bagaimana watak ibunya ini yang penuh kelicikan dan kekejaman!
Ban-tok Mo-li duduk dan menghela napas panjang.
Terbayanglah semua pengalaman yang pahit.
Semenjak ditinggal pute rinya, ia berulang kali mengalami kegagalan.
Bahkan yang te rakhir sekali ia nyaris tewas di tangan para pendekar ketika perkumpulan di mana ia menjadi ketuanya, yaitu Thian-te-pang, dibasmi oleh para pendekar.
Ia menjadi putus asa, lalu melarikan diri ke rumah pute rinya yang selama ini tidak di akuinya lagi.
Semua cita-citanya kandas dan ia hampir putus asa.
"Lan Ci, aku datang minta tolong kepada engkau dan suamimu."
Suami isteri itu s aling pandang.
Hampir mereka tak dapat mempercayai pendengaran mereka.
Ban-tok Mo-li minta tolong kepada mereka?
"Tentu saja, ibu.
Kalau kami dapat membantumu, te ntu akan kami lakukan, ada apakah, ibu?"
"Aku sudah bosan dengan kehidupan lama. Hanya kegagalan, kehancuran dan kekecewaan saja yang kurasakan. Aku sudah muak, Lan Ci. Aku ingin beris tirahat, aku ingin hidup te nteram. Aku ingin........menebus dosa-dosaku dan menjadi nlkouw. Aku minta tolong agar kalian dapat mencarikan te mpat yang baik untukku. Aku ingin bertapa, aku ingin menjadi nikouw untuk mene bus dosa."
Nenek yang masih cantik itu menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Ia tidak berpura-pura dan jelas sekali bahwa ia memang sedang berduka dan te rtekan perasaannya.
Suami isteri itu kembali saling pandang.
"Di luar dusun ini, tak jauh dari sini terdapat sebuah kuil yang dihuni beberapa orang nikouw, ibu. Kalau ibu suka............"
"Bagus!"
Ban-tok Mo-li berseru.
"Usahakan agar aku dapat dite rima menjadi nikouw di sana dan dapat bertapa mengasingkan diri di sana."
De mikianlah, Siang Lee dan Lan Ci akhirnya berhasil membujuk para nikou w di Kuil Thian ho-tang untuk menerima Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sebagai seorang nikouw dan bertapa di sebuah kamar belakang kuil itu.
Mereka menerima dengan senang hati ketika mendengar bahwa yang akan menjadi nikouw adalah ibu dari Sim Lan Ci yang mereka kenal sangat dermawan dan baik hati, apa lagi karena suami isteri itu memberi biaya secukupnya untuk keperluan nikouw tua yang kini disebut Lo Nikouw (Pendeta Wanita Tua) itu.
Lo Nikouw digunduli kepalanya dan mengenakan jubah pendeta.
Kerjanya setiap hari hanyalah mempelajari agama, berdoa dan bersamadhi.
Dan menurut pengamatan Siang Lee dan Lan Ci, agaknya ibu mereka itu benar-benar sudah bertobat, sehingga diam-diam mereka bersyukur kepada Tuhan dan mengharapkan agar nenek itu akan te rus menjadi orang beribadat sampai akhir hayatnya.
Mereka seringkali datang berkunjung ke kuil bersama Coa Thian Ki sehingga Lo Nikouw merasa te rhibur.
Setelah lewat dua tahun, Thian Ki begitu akrab dengan neneknya dan seringkali Lo Nikouw minta agar cucuny itu diperbolehkan bermalam di kuil bersamanya.
Karena merasa kasihan kepada ibunya yang hidup te rasing, Lan Ci dan suaminya menyetujuinya, namun diam-diam mereka minta ibu mereka berjanji agar tidak mengajarkan ilmu silat kepada Thian Ki.
"I bu sendiri sudah mengalami, juga kami berdua, betapa ilmu silat hanya mendatangkan malapetaka bagi kita. Setelah kami berdua meninggalkan dunia kangouw, tidak lagi berkecimpung dalam dunia persilatan, kami merasa tenteram dan damai. Karena itu, ibu, kami sudah mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan ilmu silat kepada Thian Ki, agar dia kelak hidup dalam suasana yang tente ram dan damai."
"Omitohud.....!"
Lo Nikouw merangkap kedua tangan di depan dada.
"Sungguh pikiran kalian, itu baik sekali. Pin-ni (aku) setuju sekail dengan pendapat kalian."
Setelah Lo Nikouw berkata seperti itu, le galah hati Siang Lee dan Lan Ci dan mereka dapat meninggalkan pute ra mereka di kuil itu dengan le ga.
Ada kebaikan dapat diperoleh kedua pihak.
Bagi Lo Nikouw, kehadiran Thian Ki merupakan penghibur yang akan membuatnya tidak kesepian dan gembira.
Sebaliknya, sering bermain di kuil juga amat baik bagi Thian Ki, karena anak ini mulai didekatkan kepada aran-ajaran yang baik.
Dan agaknya, setelah dua tahun tinggal di kuil, Lo Nikouw mulai nampak sehat dan segar, wajahnya nampak le mbut dan alim dan tidak lagi kelihatan ia berduka atau tenggelam dalam kekecewaan.
Juga Thian Ki amat akrab dengan neneknya sehingga sedikitnya seminggu sekali anak ini tidur di kamar neneknya, di bagian belakang kuil.
oo0000oo Suatu malam yang sunyi dan menyeramkan.
Hujan turun sejak sore.
Udara te ramat dinginnya dan menjelang te ngah malam, tidak ada suara liam-keng (membaca doa) lagi di dalam Kuil Thian-ho-tang, tanda bahwa semua nikouw sudah tidur.
Semua daun pintu sudah tertutup sejak tadi karena udara yong dingin menyerang ke dalam.
Pula, di malam sedingin itu, tidak akan ada tamu datang berkunjung yang perlu mereka layani.
Akan te tapi, di malam dingin dan sunyi itu, ketika semua nikouw sudah tidur pulas , di dalam kamar bagian belakang kuil itu, kamar yang menyendiri terjadi kesibukan luar biasa tanpa mengeluarkan suara.
Kesibukan yang te rjadi di kamar Lo N ikouw itu kalau te rlihat orang lain akan menimbulkan perasaan ngeri dan seram.
Kamar itu memang besar.
Di sudut terdapat sebuah dipan kayu yang cukup besar untuk ditiduri berdua.
Di sudut yang lain te rdapat sebuah almari pakaian dari kayu pula.
Sebuah meja dan dua buah kursi te rdapat di dekat pembaringan.
Selain itu, tidak terdapat perabot lain lagi sehingga kamar itu nampak kosong dan luas.
Akan te tapi di atas perapian yang biasanya dinyalakan untuk mendatangkan hawa hangat di kamar itu, kini terdapat sebuah panci besar yang te risi air setengahnya dan sedang digodok.
Belum mendidih.
Agaknya udara yang dingin dan menembus ke dalam kamar itu membuat air yang dimasak lebih lama mendidih dari pada biasanya.
Lo Nikouw duduk bersila, di atas pembaringan.
Wajahnya yang kini nampak lembut itu tersenyum.
Matanya tak pernah berkedip memandang kepada anak yang rebah terlentang di atas pembaringan, di depannya.
Anak itu te lanjang bulat, pulas dan tidak akan bangun sebelum dikehe ndaki nenek itu, karena Thian Ki, anak itu, memang pulas secara tidak wajar.
Bahkan le bih tepat dikatakan pingsan dari pada tidur.
Tangan kanan nenek itu memegang sebuah mangkok yang te risi cairan merah seperti darah.
Kemudian, ia menggunakan tangan kiri untuk membaluri seluruh tubuh anak itu dengan cairan merah.
Seluruh tubuh dibaluri, sampai ke mukanya, kepalanya, ujung kakinya dan telapak kakinya.
Dibalikkan tubuh Thian Ki dan bagian belakang juga dilumuri cairan merah itu sampai habis dan seluruh permukaan tubuh anak itu menjadi merah seperti dicat!
Ia membiarkan sampai cairan merah itu mengering di tubuh Thian Ki, kemudian ia memeriksa air di panci yang di godok.
Air itu mulai mendidih dan ia menuangkan cairan hitam ke dalam air itu.
Nampak uap hitam mengepul tebal dari dalam panci dan tercium bau yang harum tapi aneh.
Lo Nikouw lalu menghampiri pembaringan, memondong tubuh Thian Ki yang telanjang bulat dan berwarna merah itu, kemudian ia.........
memasukkan tubuh anak itu ke dalam panci air mendidih!
Mula-mula tubuh bagian atas, dari kepala ke pinggang yang dimasukkan panci, tidak lama, lalu dibalikkan dari pinggang ke kaki.
Juga hanya sebentar, kemudian tubuh itu direndam sampai ke le her dan Lo Nikouw menggunakan tangan untuk memercikkan air yang kehitaman dan panas itu ke muka dan kepala Thian Ki!
Warna merah itu terhapus dan setelah seluruh tubuh bersih dari warna merah, Lo Nikouw menurunkan panci dan membawa tubuh yang kini mengepulkan uap panas itu ke pembaringan kembali.
Tubuh anak itu te lentang.
Anehnya, kulitnya tidak melepuh dan anak itu masih pingsan dan pulas , dadanya turun naik dengan halus, dan kulit tubuhnya yang te rkena air mendidih itu hanya nampak kemerahan dan segar.
Hanya di bagian bawah pusar dan sekitarnya, nampak ada warna hitam kemerahan yang membayang di bawah kulit!
Kini Lo Nikouw dengan penuh perhatian, dan dengan mata tak pernah berkedip duduk bersila di dekat anak itu, tangan kanannya memegang sebatang jarum yang berwarna kehijauan.
Jarum yang mengandung racun berbahaya sekali.
Sekali tusuk saja dengan jarum itu, orang biasa akan te was seketika!
Akan tetapi kini ia menggunakan jarum beracun itu untuk menusuki bagian-bagian tertentu dari tubuh cucunya!
Apa yang se dang dilakukan Lo Ni-kouw?
Apakah nenek ini hendak mencelakai cucunya sendiri?
Sama sekali tidak!
Peristiwa seperti terjadi pada malam ini sudah dilakukannya sejak ia pertama kali mengajak Thian Ki tidur di situ.
Diam-diam nenek ini merasa penasaran sekali mendengar bahwa pute rinya, Lan Ci dan mantunya Siang Lee, mengambil keputusan untuk tidak mengajarkan silat kepada Thian Ki Ia merasa penasaran.
Padahal ia sudah siap untuk mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya kepada cucunya.
Untuk berte rus membantah keputusan anak dan mantunya, la tidak berani.
Ia sedang bersembunyi dan mencari ketenangan di situ, tidak boleh ia memulai dengan memusuhi anak dan mantunya.
Maka, diam-diam timbul gagasannya yang ia anggap amat baik dan menguntungkan bagi cucunya yang amat disayanginya itu.
Ia ingin membuat cucunya menjadi seorang Tok-tong (Anak Beracun)!
Biarpun oleh ayah ibunya tidak diberi pelajaran ilmu silat, kalau cucunya itu memiliki tubuh yang kebal kuat dan beracun,maka dia akan menjad seorang yang mampu menjaga diri dari serangan orang lain!
De mikianlah, semenjak dua tahun yang lalu, diajaknya cucunya kadang-kadang tidur bersamanya di kuil dan kesempatan ini ia pergunakan untuk menggemble ng cucunya itu agar menjadi Tok-tong!
Mula-mula, ia membuat cucunya pingsan dengan totokan sehingga apapun yang ia lakukan kepada cucunya, anak itu tidak mengetahui atau menyadarinya.
Ia mulai memasukkan racun, hawa beracun ke dalam tubuh cucunya melalui obat, melalui penggodokan dan juga penyaluran hawa sakti dari tubuhnya.
Dan pada malam hari ini merupakan proses te rakhir bagi cucunya.
Perut di bawah pusar sudah memperlihatkan tanda merah kehitaman, hal itu berarti bahwa kekuatan atau tenaga dalam di pusar sudah bangkit, dan warna hitam itu menunjukkan bahwa te naga itu sudah mengandung hawa beracun!
Setelah selesai menusuki jalan darah te rte ntu di tubuh cucunya dengan jarum beracun sehingga racun itu mulai beredar di seluruh tubuhnya, Lo Nikouw memandang dengan puas, lalu mengenakan kembali pakaian pada tubuh cucunya, membebaskan totokan sehingga kini Thian Ki tidur pulas dengan wajar.
Akan te tapi, anak ini mulai mengigau dan mengeluh karena dia merasa tubuhnya panas.
Pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi anak itu te rbangun, kemudian disuruh mandi oleh Lo Nikouw, dan rambutnya disis iri oleh neneknya, banyak rambut kepalanya yang rontok te rlepas.
Lo Nikouw tidak merasa heran, bahkan gembira karena maklum bahwa hal itu menandakan bahwa hawa beracun sudah mengalir sampai ke kepala.
Iapun menyembunyikan rontokan rambut itu sehingga Thian Ki tidak mengetahuinya.
Anak ini tidak menderita lagi, tubuhnya bias a saja tidak lagi te rasa panas.
Wajahnya nampak kemerahan dan segar, matanya bersinar tajam.
Sepintas lalu anak ini nampak sehat dan takkan ada orang menyangka bahwa sejak malam tadi, dia sudah menjadi Tok-tong yang memiliki kelainan pada tubuhnya!
"Cucuku, engkau akan menjadi orang yang kokoh kuat, seorang yang gagah perkasa kelak,"
Katanya setelah selesai menyisiri rambut Thian Ki. Anak itu memandang neneknya dengan sinar mata yang je rnih akan te tapi juga mengandung kehe ranan.
"Untuk apa Nek? Bukankah dalam kitab, agama disebutkan bahwa jalan utama adalah tanpa kekerasan dan tidak melakukan perlawanan?"
"Omitohud......engkau benar sekali, cucuku. Akan te tapi lihatlah contoh di luar kamar. Mari, mari kita melihat keluar."
Nenek itu membimbing cucunya dan mereka keluar dari kamar, melihat ke kebun di mana te rdapat sis a akibat hujan semalam.
Air hujan membuat selokan kecil di situ penuh air yang menghanyutkan daun-daun kering dan lumpur.
"Lihat itu, cucuku. Batu-batu itu, sepertl juga daun-daun itu, tidak melakukan kekerasan, tidak melawan. Akan tetapi, alangkah gagahnya batu-batu itu, diterjang air masih tetap te guh dan kokoh kuat, sebaliknya lumpur dan daun-daun itu hanyut dan dipermainkan air. N ah, bukankah jauh le bih baik menjadi seperti batu itu daripada seperti tanah lumpur dan segala kotoran yang dihanyutkan air? Engkau tidak perlu melakukan perlawanan, tidak perlu menggunakan kekerasan, namun apabila dirimu kokoh kuat, engkau tidak akan mudah dipermainkan orang lain."
Thian Ki mendengarkan dengan alis berkerut, tidak mengerti mengapa neneknya bicara seperti itu.
Sejak kecil, ayah ibunya selalu menekankan bahwa hidup haruslah lemah lembut dan menjauhi kekerasan dan baginya, orang gagah perkasa yang mempergunakan kekerasan adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan karenanya jahat.
Kenapa kini neneknya mengatakan bahwa dia akan menjadi seorang yang kokoh kuat dan gagah perkasa?
"Lihat pula pohon-pohon itu, cucuku."
Lo Nikouw menuding ke arah pohon-pohon yang tumbuh di kebun. Angin pagi itu masih bertiup kuat membuat pohon-pohon itu bergoyang-goyang dnn banyak daun rontok.
"Nah, biarpun sama-sama tidak melakukan perlawanan, namun daun-daun yang kokoh kuat tidak gugur, sebaliknya daun yang ringkih akan rontok te rtiup angin. Apakah engkau tidak le bih suka menjadi batu karang yang kokoh daripada menjadi lumpur, tidak lebih senang menjadi daun yang kokoh daripada daun yang lemah? Hujan dan angin badai itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan angin dan badai kehidupan yang akan menerjangmu, cucuku."
Tentu saja anak berusia lima tahun itu belum dapat membayangkan makna dari ucapan nenek itu.
"Aku akan mentaati nasehat ayah dan ibu, nek, yaitu aku akan menentang setiap terjangan angin dan badai, namun bukan dengan kekerasan."
Percakapan terhenti karena terdengar suara Lan Ci memanggil-manggil putranya.
"Thian Ki......! Sudah bangunkah engkau......?"
"I buuuu......!"
Thian Ki berseru dan berlari keluar.
Kiranya ayah dan ibunya sudah datang menjemputnya seperti biasa kalau dia bermalam di kuil.
Lo Nikouw juga menanggalkan sikap yang tadi bersungguh-sungguh dan ia melangkah keluar perlahan-lahan dengan wajah tersenyum lembut.
Siang Lee dan Lan Ci memberi hormat kepada Lo Nikouw yang mempersilakan mereka duduk di dalam.
"I bu."
Kata Lan Ci.
"kami ingin pamit dari ibu karena kami akan berkunjung ke Ta-bun-cung."
Lo Nikouw memandang kepada puterinya, lalu kepada mantunya, dengan sinar mata tak mengerti.
"Sudah bertahun-tahun saya tidak berkunjung ke Hek-houw-pang di Ta-bun cung, ibu. Saya ingin menengok keadaan kakek saya dan para paman."
Lo Nikouw mengangguk-angguk. Teringatlah ia bahwa mantunya adalah cucu ketua He k-houw-pang.
"Hemmm, bukankah kalian pernah bercerita bahwa ketua He k-houw-pang yang menjadi kakek Siang Lee tidak merestui perjodohan kalian?"
"Benar, ibu itu dahulu. Sekarang setelah kami mempunyai seorang pute ra saya yakin bahwa kong-kong (kakek) akan menerima kami dengan baik. Saya te lah rindu sekali kepada kampung halaman, dan saya juga ingin bersembahyang di makam ayah."
Kata Siang Lee.
Kembali nikouw itu termenung.
Ia tahu benar siapa mendiang ayah mantunya ini.
Nama ayah Coa Siang Lee adalah Coa Kun Tian, putera ketua He k-hou-pang, seorang pria yang tampan dan ganteng dan berwatak mata keranjang.
Adik kandungnya yang bernama Phang Hui Cu telah menikah dengan Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki, akan te tapi adiknya itu te rgoda oleh Coa Kun Tian sehingga terjadi hubungan gelap di antara mereka.
Ketika penyelewengan Phang Hui Cu itu diketahui ole h Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka pendekar itu menjadi marah dan membunuh isterinya sendiri dan Coa Kun Tian, kekasih isterinya.
Ia boleh merasa tidak suka kepada Coa Kun Tian.
Akan tetapi orang itu sudah meninggal dunia, dan bagaimanapun juga, mantunya adalah pute ra kandung Coa Kun Tian.
Sudah sewajarnya kalau sekarang mantunya ingin bersembahyang di makam ayahnya.
"Apakah kalian hendak mengajak Thian Ki? Lebih baik tinggalkan saja dia di sini bersamaku, perjalanan itu jauh dan te ntu akan melelahkan dia."
"Akan te tapi, ibu. Justru kami pergi ke sana untuk memperkenalkan Thian Ki kepada keluarga nenek-moyangnya, keluarga Coa dan ju ga kepada He k-houw-pang,"
Kata Siang Lee. lsterinya mengangguk membenarkan. Melihat sikap pute ri dan mantunya itu, Lo Nikouw hanya menghela napas panjang.
"Omitohud..........kalau begitu terserah kepada kalian. Akan tetapi berhat-hatilah menjaga Thian Ki. Cucuku itu kelak akan menjadi orang yang hebat I"
Suami isteri itu tidak dapat menangkap makna yang te rsembunyi di balik kata-kata itu, akan tetapi mereka girang mendengar pujian Lo N ikouw.
Mereka berpamit lalu mengajak Thian Ki pulang ke dusun.
Dan pada keesokan harinya, mereka bertiga meninggalkan dusun Mo-kim-cung melakukan perjalanan jauh menuju ke Ta bun-cung, yang menjadi kampung halaman Siang Lee.
oo0dw0oo Tiga tahun yang lalu terjadi peristiwa hebat dalam Kerajaan Sui.
Kaisar dinasti Sui, yaitu Kaisar Yang Ti, terlalu suka berperang dan mendirikan is tana yang indah-indah.
Semua ini makan biaya yang amat besar dan tentu saja sumber biaya itu didapat dari penghis apan te rhadap rakyat jelata.
Ditambah lagi dengan pembangunan Terusan Besar yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Yang-ce, maka kehidupan rakyat je lata semakin tertindas.
Hal ini menimbulkan ketidaksenangan, dan te rjadilah pemberontakan-pemberontakan di mana-mana.
Pemberontakan yang paling hebat dan yang akhirnya menghancurkan dinasti Kerajaan Sui adalah pemberontakan yang dilakukan ole h Li Si Bin, pute ra Li Goan, kepala daerah Shan-s i.
Sebagal seorang perwira tinggi, Li Si Bin pernah berjas a besar terhadap Kais ar Yang Ti.
Yaitu ketika dalam petualangannya memimpin pasukan untuk memerangi semua negara te tangga dan menundukkan suku-suku bangsa, pernah Kaisar Yang Ti te rjebak dalam perangkap musuh di daerah Shan-si utara.
Dalam keadaan te rancam bahaya inilah muncul Li Si Bin bersama pasukannya yang menyelamatkan Kaisar Yang Ti.
Akan tetapi, di samping kegagahannya.
L i Si Bin juga te rkenal sebagai seorang yang keras dan dia berani menentang kebijaksanaan kaisar dengan menegur peraturan yang mencekik le her rakyat.
Sikap ini membuat Kaisar Yang Ti tidak suka kepadanya, bahkan mencurigainya.
Apa lagi kalau diingat bahwa biarpun ayahnya seorang Han, namun ibu dari Li Si Bin adalah keturunan Bangsa Turki di utara.
Pada tahun 617, Li Si Bin mengadakan persekutuan dengan Bangsa Turki dan dia melakukan penyerbuan ke Tiang-an (Tiongkok).
Pemberontakan ini berhasil.
Kaisar Yang Ti melarikan diri ke selatan, ke Yang-couw akan tetapi di te mpat ini, Kaisar Yang Ti disambut oleh para pemberontak sehingga dia te rbunuh dalam perte mpuran.
Adapun kotaraja diduduki oleh Si Bin.
Untuk menarik dukungan para pembesar yang masih setia kepada dinasti Sui, Li Si Bin mengangkat seorang cucu dari Yang Ti untuk dijadikan kaisar.
Akan tetapi sesungguhnya, dialah yang berkuasa dan kaisar itupun hanya menjadi kaisar boneka.
Dan kedudukan inipun hanya beberapa bulan saja.
Setelah suasana mereda dan semua kekuasaan mutlak berada di tangannya, semua pejabat tinggi diganti dengan orang yang mendukungnya, Li Si Bin membujuk ayahnya sendiri untuk menjadi kaisar dan menurunkan kaisar boneka cucu Yang Ti itu.
Ayah Li Si Bin itu menjadi kaisar dan berjuluk Tang Kao Cu sebagai kaisar pertama dari dinasti Tang (Kais ar Tang Kao Cu 618-627).
Akan te tapi karena dia menjadi kaisar karena pengaruh pute ranya, maka biarpun dia menjadi kaisar selama sembilan tahun, tetap saja yang berdiri di belakang layar sebagai pengaturnya dan pemegang kekuasaan adalah pute ranya sendiri yang menjadi pute ra mahkota!
Cerita ini dimulai dalam tahun 620 dan sudah dua tahun Kaisar Tang Kao Cu menduduki tahta Kerajaan Tang.
Adapun Li Si Bin sendiri selain menjadi pangeran atau putera mahkota, juga masih melanjutkan kedudukannya yang semula, yaitu mengepalai seluruh angkatan perang dinasti Tang.
Di bagian manapun di dunia ini, peperangan menimbulkan kekacauan.
Bukan saja kekacauan karena pertempuran antara kedua pihak, dan dilandanya kota-kota dan dusun-dusun oleh perte mpuran, akan tetapi terutama sekali munculnya para penjahat dari dunia sesat yang melihat kesempatan baik sekali untuk merajalela.
Dalam perang, pemerintah tidak dapat lagi mengendalikan keamanan.
Apalagi tempat-tempat yang jauh dari pasukan pemerintah, menjadi medan pesta pora bagi para penjahat, seolah-olah semua tikus keluar karena tidak ada kucing.
Celakanya, dalam waktu perang, agaknya setan dan iblis merajalela menguasai benak kebanyakan manusia sehingga pasukan kedua pihak yang berperangpun tiba-tiba saja berubah ganas dan kejam, membunuhi penduduk tanpa alas an yang kuat.
Sedikit saja sebuah pasukan mencurigai sebuah desa yang dianggap berpihak kepada lawan, te ntu disikat habis.
Banyak pula yang mempergunakan kesempatan selagi keadaan kacau seperti itu untuk bertindak sendiri-sendiri membalas dendam.
Hanya mereka yang te guh imannya kepada Tuhan sajalah yang masih selalu s adar untuk tetap berdiri di jalan yang benar.
Bahkan para pendekar bermunculan seolah menjadi imbangan dari munculnya para tokoh sesat.
Para pendekar ini yang menentang kejahatan yang terjadi di mana-mana.
Ada pula para pendekar yang membentuk perkumpulan di te mpat masing-masing untuk menjaga keamanan penduduk, menggantikan tugas pasukan keamanan pemerintah yang tidak ada pada waktu perang itu.
Perkumpulan orang gagah He k-houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam) merupakan satu di antara perkumpulan-perkumpulan orang gagah yang mengerahkan anggotanya untuk menjaga keamanan penduduk di dusun mereka, bahkan siap pula membantu penduduk dusun-dusun di sekitarnya.
Kakek Coa Song yang selama puluhan tahun menjadi ketua Hek-houw-pang, kini berusia tujuhpuluh sembilan tahun, sudah te rlalu tua untuk aktif dalam perkumpulan.
Karena kakek ini hanya mempunyai seorang pute ra yang sudah lama tewas, yaitu Coa Kun Tian, dan tidak mempunyai anak laki-laki lainnya kecuali tiga orang anak perempuan, maka dia lalu menunjuk Kam Seng Hin untuk menggantikannya, semenjak kerajaan Sui jatuh dan diganti Kerajaan Tang tiga tahun yang lalu.
Kam Seng Hin berusia empatpuluh tahun, tinggi besar dan gagah.
Dia juga murid He k-houw pang yang menikah dengan seorang cucu perempuan dari Coa Song, maka biarpun dia bukan keturunan Coa, diapun bukan orang luar.
Pertama masih murid He k-houw-pang.
Kedua masih cucu mantu dari kakek Coa Song.
Karena hanya pendekar inilah yang dianggap mampu, diapun diangkat oleh Coa Song untuk memimpin Hek-houw-pang.
Dan memang pilihan kakek Coa Song ini tidak keliru.
Kam Seng Hin yang dibantu isterinya, Poa Liu Hwa, cucu-luar kakek Coa Song, te rnyata mampu mengangkat nama He k-houw pang sebagai sebuah perkumpulan orang gagah.
Ketika terjadi kekacauan akibat perang, Kam Seng Hin dan Poa Liu Hwa memimpin semua anggota Hek houw pang yang jumlahnya kurang le bih limapuluh orung itu untuk menjadi pasukan keamanan yang mempertahankan keamanan penduduk dusun Ta-bun-cung dan dusun-dusun di sekitarnya.
Mereka menentang dan mengusir setiap penjahat atau gerombolan perampok yang hendak mengacau di daerah itu.
Karena sepak terjang orang-orang Hek-houw-pang ini, maka nama perkumpulan itu menjadi harum, dipuji semua penghuni dusun-dusun di sekitarnya, dan mengalirlah sumbangan-sumbangan dari para penduduk yang berte rima kasih.
Kam Seng Hin dan Poa Liu Hwa hanya mempunyai seorang anak yang pada waktu itu usianya sudah lima tahun.
Seorang anak yang mungil, berwajah tampan dan berotak cerdas sekali.
Dan sejak kecil oleh orang tuanya, juga oleh kakek Coa Song sendiri, anak yang diberi nama Kam Cin ini digemble ng ilmu silat keluarga Coa yang menjadi ilmu dari He k houw-pang.
Baik kakek Coa Song maupun ketua He k-houw-pang dan isterinya, menanamkan jiwa kependekaran ke dalam hati dan pikiran Kam Cin, sehingga sejak kecil anak ini memiliki watak yang gagah, pemberani, dan lincah.
Semua anak buah atau murid He k-houw-pang menyayangi Kam Cin yang amat tampan dan gagah ini.
Ketampanan dan kemungilannya membuat dia disebut dengan nama kesayangan Cin Cin.
Biarpun dia disayang dan dimanja oleh semua orang, namun Cin Cin atau Kam Cin tidak menjadi manja, tidak pernah merengek dan kemanjaannya hanya nampak pada wataknya yang lincah gembira saja.
Segala kekacauan yang te rjadi dunia ini sesungguhnya hanya merupakan akibat belaka dari ulah manusia sendiri.
Yang merasakan kekacauan adalah manusia sendiri pula.
Perang te rjadi karena ulah manusia.
Setiap perbuatan manusia hampir selalu didorong ole h nafsu daya rendah sehingga dengan sendirinya mendatangkan akibat yang menyengsarakan manusia sendiri.
Perang merupakan konflik antara manusia karena didorong nafsu daya rendah masing-masing, hingga timbul bentrokan kepentingan diri sendiri dan te ntu saja terjadi perang untuk mempertahankan kebenaran masing-masing.
Kebenaran masing-masing adalah kebenaran yang dilandasi kepentingan diri sendiri.
Kesadaran akan kelemahan dan kesalahan diri sendiri hanya te rdapat kalau kita mau mawas diri tanpa penilaian, melihat keadaan diri sendiri, mengamati pikiran sendiri, karena pikiran yang menimbulkan perbuatan dan ucapan.
Kalau kita mau melakukan pengamatan diri sendiri setiap saat, akan nampaklah betapa suara setan menguasai pikiran dan hati kita, membujuk merayu dan menipu, menyeret kita ke dalam kesesatan melalui kesenangan-kesenangan panca-indra kita yang le mah karena bergelimang nafsu.
Demikian lemah dan kotornya hati dan akal pikiran kita sehingga biarpun kita sudah sadar akan kesalahan dan kesesatan diri sendiri, namun kita tetap tidak kuasa, tidak mampu untuk menghentikan penyelewengan kita yang sudah kita sadari itu!
Satu-satunya jalan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Kasih, menyerah dengnn penuh keikhlasan dan ketawakalan, memohon kemuruhan Tuhan karena hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan kita dan mampu membebaskan jiwa kita dari cengkeraman nafsu daya rendah.
Setelah dinasti Sui jatuh dua tahun yang lalu, dan atas desakan Li Si Bin yang usianya baru tujuhbelas tahun itu, ayahnya mengangkat diri menjadi kaisar baru, yaitu Kaisar Tang Kao Cu sebagai kaisar pertama dari dinasti Tang, perang tidak juga berhenti.
Kerajaan Sui memang sudah roboh, diganti Kerajaan Tang.
Akan tetapi banyak gubernur dan raja muda yang bangkit dan tidak mau mengakui dinasti Tang yang baru itu.
Maka selama beberapa tahun, Si Bin memimpin pasukan mengadakan pembersihan di mana-mana, te rutama memadamkan pemberontakan para pembesar daerah Lok-yang.
De mikianlah, He k-houw-pang juga harus melakukan keamanan selama pemerintah yang baru masih sibuk mengadakan operasi pembersihan di mana-mana sehingga roda pemerintahan belum dapat berjaIan lancar.
Banyak dusun, te rmasuk Ta bun cung yang tidak mempunyai kepala dusun angkatan pemerintah.
Maka penduduk Ta bun-cung dan juga penduduk dusun-dusun sekitarnya, sepakat untuk mengangkat pangcu dari He k-houw-pang untuk sementara menjadi kepala dari semua dusun itu.
De mi menjaga ketertiban dusun-dusun itu, Kam Song Hin, ketua He k-houw-pang, terpaksa menerima pengangkatan yang amat penting dan juga berat itu sebagai kepala dari semua dusun, te ntu saja kini tanggung-jawabnya menjadi mutlak!
Biarpun pada waktu itu Li Si Bin haru berusia sekitar duapuluh tahun, namun ternyata dia sudah menunjukkan bakat besar untuk menjadi seorang pemimpin besar pula.
Memang, baru dua tahun dinasti Tang didirikan, dan pemerintah belum dapat mengatur seluruh daerah kerajaan yang amat luas itu, keamanan dan ketertiban belum terlaksana dengan baik, apalagi karena dia sendiri masih sibuk melakukan pembersihan menumpas mereka yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Tang yang baru.
Namun dia mendengar laporan para penyelidik yang disebarnya, dan memperhatikan keadaan yang sekecil-kecilnya.
Dia mendengar pula akan sepak te rjang Hek-houw-pang, dan dia amat menghargai usaha Hek-houw-pang yang membantu pemerintah secara tidak langsung dengan menjamin keamanan daerah dekat kota Po-yang itu.
Pada suatu hari, tampak kesibukan di dusun Ta-bun-cung, te rutama sekali di rumah perkumpulan He k houw-pang yang cukup besar.
Perumahan He k-houw pang terdiri dari beberapa buah bangunan yang bagian induknya dijadikan te mpat tinggal keluarga pang-cu (ketua) Kam Seng Hin.
Keluarga ini terdiri dari Kam Seng Hin, isterinya Poa Liu Hwa, pute ra mereka Kam Cin dan kakek Coa Song.
Dan di bangunan-bangunan samping tinggal para murid atau anggota Hek-houw-pang yang belum berkeluarga, tidak kurang dari limabelas orang jumlahnya.
Mengapa nampak kesibukan di dusun itu?
Ternyata pada pagi hari itu seorang perwira diiringkan dua losin prajurit yang merupakan pasukan dari pemerintah, datang berkunjung.
Sikap perwira ini dan pasukannya baik, sehingga menghilangkan kecurigaan dan kekhawatiran penduduk, apa lagi ketika perwira itu mengatakan bahwa dia diutus oleh panglima di kota raja untuk berte mu dengan Hek-houw-pang.
Perwira itu lalu dite rima oleh Kam Seng Hin dan istrinya, diajak bicara di dalam sedangkan pasukannya menanti dan beristirahat di luar, di pekarangan yang cukup luas dan dilayani oleh para anak buah He k houw-pang.
"Sribaginda Kaisar sendiri yang mengutus Panglima untuk menghubungi He k-houw pang, pangcu. Sribaginda Kaisar sangat berkenan mendengar akan perjuangan Hek-houw pang mengamankan daerah ini. Jasa He k-houw-pang sudah dicatat di kota raja."
Tentu saja pangcu Kam Seng Hin dan isterinya merasa bergembira sekali mendengar pujian ini.
Hati siapa tak merasa gembira mendengar bahwa Kaisar sendiri menaruh perhatian kepada mereka yang berada di dusun?
"Aih, ciangkun.
Sebetulnya yang kami lakukan ini hanyalah untuk memenuhi tugas kami sebagal perkumpulan orang gagah yang selalu menentang kejahatan.
Saya kira ini merupakan tugas setiap warga negara."
Perwira itu tersenyum.
"Pangcu memang seorang pendekar yang gagah, maka dapat memimpin anak-buahnya menjadi orang-orang yang gagah dan baik pula. Karena itu, kami dari pasukan pemerintah, atas nama Kaisar, ingin minta bantuan pangcu."
Kam Seng Hin dan is terinya saling pandang, lalu ketua itu memandang kepada perwira itu dengan sikap heran.
"Pemerintah hendak minta bantuan kami? Ciangkun (perwira), bantuan apakah yang dapat kami berikan? Kami hanya perkumpulan kecil di dusun yang sepi."
"Justru itulah He k-houw-pang dapat membantu pemerintah, pangcu. Ketahuilah bahwa pasukan pemerintah yang baru saja menghancurkan kekuatan pemberontak yang dipimpin oleh seorang raja muda dari Po-yang, keluarga kerajaan Sui yang sudah jatuh. Akan tetapi, raja muda itu dapat meloloskan diri bersama para pengikutnya dan selama dia belum tertangkap, akan selalu ada bahaya pemberontakannya. Dia seorang yang berbahaya, amat pandai, bahkan Panglima sendiri memberi peringatan kepada para perwira agar berhati-hati dan sedapat mungkin menangkapnya, hidup atau mati."
"Apa hubungannya semua itu dengan Hek-houw-pang, ciangkun? Apa yang dapat kami lakukan untuk membantu Sribaginda Kaisar?"
"Pangcu, seperti kukatakan tadi, raja muda itu melarikan diri dari Po-yang dan menurut penyelidikan, dia dan para pengikutnya melarikan diri ke sepanjang lembah Sungai Huang-ho dan mungkin sekali berada di sekitar daerah ini, maka pangcu dapat membantu pemerintah untuk ikut mencari dan menangkap raja muda itu, hidup ataupun mati."
Barulah Kam Seng Hin mengerti.
"Siapakah nama raja muda itu, ciangkun. Biarpun kami tinggal di dusun ini, tidak jauh dari Po-yang, akan tetapi kami tidak mengenal para pembesar dan bangsawan."
"Namanya Pangeran Cian Bu Ong. Dia masih saudara dari Kaisar Yang Ti dari dinasti Sui ynng dijatuhkan. Usianya sekitar limapuluh tahun dan te ntu jarang ada yang mengenalnya karena tadinya dia berada di kota raja. Setela dinasti Sui jatuh, dari kota raja dia melarikan diri ke Po-yang dan di sana dia menyusun pemberontakan. Bukan hanya dia yang lihai sekali, dia mengajak beberapa orang jagoan yang sedang menjalani hukuman selama hidup di penjara Po-yang."
Lalu perwira itu menggambarkan bentuk muka dan keadaan pangeran pelarian itu kepada Kam Seng Hin.
Setelah perwira itu bersama pasukannya meninggalkan dusun Ta-bun-cung, Kam pangcu lalu mengajak istrinya untuk menghadap kakek Coa Song di dalam kamarnya yang juga menjadi te mpat pertapaannya.
Mereka menceritakan semua yang baru saja terjadi berkenaan dengan kunjungan pasukan pemerintah dan minta nasehat dari kakek yang sudah lama le bih banyak bertapa di dalam kamarnya itu.
"Pangeran Cian Bu Ong? He mmm. Aku pernah mendengar nama itu, belas an tahun yang lalu. Memang kabarnya mendiang Kaisar Yang Ti mempunyai banyak jagoan istana dan di antaranya te rdapat pangeran yang memiliki tubuh kebal dan ilmu silat yang lihai. Mungkin itulah orangnya. Kalian harus berhati-hati dan mulai sekarang, sebaiknya kalau kalian mengerahkan semua te naga orang muda di dusun-dusun agar mereka melakukan penjagaan di dusun masing-masing. Ada baiknya memberi latihan ilmu silat kepada mereka untuk menambah semangat mereka. Hek houw-pang tidak pernah mencampuri urusan pemerintah, akan tetapi kalau ada ancaman bagi rakyat, kita harus bertindak untuk mengamankan kehidupan rakyat "
Mendengar nasihat kakek mereka itu, Kam Seng Hin dan isterinya lalu mengumpulkan semua murid atau anak buah Hek houw-pang, membagi-bagi tugas kepada mereka untuk mengumpulkan para pemuda di dusun-dusun sekitarnya, membentuk pasukan penjaga keamanan dan melatih silat kepada mereka.
Dusun Ta-bun-cung sendiri dijaga ketat siang malam.
Sebetulnya, apakah yang terjadi di Po-yang?
Dan kenapa Panglima Besar, juga Putera Mahkota seperti Li Si Bin sampai memerintahkan panglimanya melakukan pengejaran bahkan minta bantuan He k-houw-pang untuk melakukan pencarian dan penangkapan?
Seperti telah diceritakan ole h perwira yang mengunjungi He k-houw-pang di Po-yang, seperti juga di banyak daerah lain, te rdapat pemberontakan dari mereka yang masih setia kepada Kerajaan Sui atau mereka yang tidak mau mengakui kekuasaan kerajaan baru dan hendak berdiri sendiri.
Pemberontakan itu dipimpin oleh Pangeran Cian Bu Ong yang melarikan diri dari kota raja setelah kotaraja terjatuh ke tangan pasukan Li Si Bin.
Akan te tapi, pemberontakan itupun dapat dilumpuhkan oleh pasukan kerajaan Tang karena jumlahnya yang jauh kalah besar.
Pangeran Cian Bu Ong sendiri adalah seorang yang sakti, akan tetapi apa artinya kesaktian seseorang menghadapi pasukan yang puluhan ribu orang jumlahnya?
Dia melibat betapa pasukannya hancur dan sebentar lagi pasukan musuh tentu akan menyerbu Po-yang, maka dia segera mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia kepadanya untu k lari mengungsi dari Po-yang membawa semua harta yang dimilikinya, juga dia cepat memasuki penjara besar di Po-yang.
Pada masa itu, penjara di Po-yang merupakan penjara te rbesar di seluruh negeri.
Para penjahat terbesar dihukum dalam penjara ini, dan hampir semua penjahat yang dihukum seumur hidup berada di situ.
Pangeran Cian Bu Ong memerintahkan kepala penjara untuk menghadapkan lima orang penjahat yang paling lihai dengan kaki tangan diborgol.
Setelah lima orang penjahat itu berdiri di depannya, dia menyuruh semua penjaga keluar, membiarkan dia sendiri berhadapan dengan mereka.
De ngan teliti dia mengamati lima orang laki-laki yang berdiri di depannya itu, lalu dia melihat catatan nama-nama mereka di sehelai kertas.
Sebelum menyuruh mereka menghadap, te ntu saja lebih dahulu dia telah mempelajari te ntang mereka dengan teliti.
"Siapa yang bernama Gan Lui?"
Tanya bangsawan itu dengan sikap berwibawa dan suara keren. Seorang di antara lima orang hukuman itu melangkah maju.
"Saya yang bernama Gan Lui,"
Katanya.
Cian Bu Ong mengamati orang itu dan alisnya berkerut.
Gan Lui seorang laki-laki yang usianya sekitar tigapuluh lima tahun, bermuka kuning dan matanya sipit, kumisnya jarang seperti kumis tikus, dan mulutnya selalu cemberut.
Menurut catatan, Gan Lui dihukun seumur hidup karena telah membunuh belasan orang prajurit Kerajaan Sui ketika dia mencoba untuk menyelundup ke istana.
Gan Lui ini adalah putera mendiang Kiu-bwe-houw Gan Lok (Harimau Ekor Sembilan) yang te was oleh pasukan pemerintah.
Maka Gan Lui mendendam kepada kaisar Kerajaan Sui, dan berusaha menyelundup ke is tana untuk membunuh kaisar!
Akan te tapi, dia dikeroyok dan biarpun belasan orang prajurit pengawal te was di tangannya, namun dia sendiri tertangkap dan dihukum se umur hidup!
"Kalau engkau suka membantuku, sekarang juga aku akan dapat membebaskanmu,"
Kata Cian Bu Ong sambil mengamati wajah itu dengan sinar mata penuh selidik.
Gan Lui yang tadinya hanya cemberut saja, ketika mendengar ucapan ini, seketika sepasang mata yang sipit itu bersinar-sinar dan wajahnya berseri penuh harapan.
"Benarkah itu? Dan siapakah paduka?"
Tanyanya penuh gairah.
"Belum tiba saatnya engkau mengetahui siapa aku. Jawab dulu, apakah engkau suka membantuku kalau kubebaskan?"
"Tentu saja saya akan senang sekali!"
"Hemm, hendak kulihat dulu apakah engkau cukup memiliki kemampuan untuk menjadi pembantuku. Rantai bele nggu kaki dan tanganmu itu tidak berapa kuat kulihat. Nah, engkau boleh mematahkannya."
Gan Lui membelalakkan matanya, demikian pula empat orang hukuman yang lain.
Andaikata mereka mampu mematahkan belenggu sekalipun, mereka tidak berani melakukan hal itu karena ini dianggap pemberontakan dan mereka akan te rtangkap kembali dan mengalami siksaan hebat.
"Saya tidak berani melakukannya........"
"Aku yang menyuruh, takut apa? Tak kan ada yang berani melarangku!"
Kata Pangeran Cian Bu Ong. Mendengar ini Gan Lui lalu mengumpulkan napas dan mengerahkan sin-kangnya.
"Krekk.! Krekk!"
Rantai belenggu pada kaki dan tangannya itu patah! Biarpun pergelangan kaki dan tangannya masih dibelenggu, namun kaki tangan itu sudah dapat bergerak bebas karena rantainya patah.
"Nah, sekarang coba engkau menyerangku! Keluarkan semua kepandaianmu, dan kerahkan semua te nagamu!"
Kata pula pangeran itu sambil bangkit dan menuju ke te ngah ruangan yang cukup lebar itu.
Kembali lima orang hukuman itu te rbelalak.
Akan te tapi Gan Lui sudah maklum betapa orang tinggi besar dan gagah perkasa itu hendak mengujinya.
Maka diapun tldak meragukan lagi.
Dia harus memperlihatkan kepandaiannya kalau ingin dibebaskan dan dapat membantu orang yang tidak dikenalnya ini.
"Baiklah, harap paduka berhati-hati! Lihat serangan!"
Gan Lui sudah melompat dan menyerang dengan kedua tangannya membentuk cakar harimau.
Ternyata dia sudah menggunakan kepandaian simpanannya, yaitu Houw-jiauw kun (Silat Cakar Harimau).
Ketika memainkan ilmu silat ini, kedua tangan membentuk cakar harimau dan gerakan kedua le ngan itu mirip gerakan sepasang kaki depan harimau, mencakar dan memukul.
Juga dia mengerahkan te naga sin kangnya sehingga ketika dua tangan itu bergerak, te rdengar suara angin berciutan.
Pangeran Cian Bu Ong mengikuti gerakan Gan Lui ini dengan pandang mata penuh selidik.
Tidak buruk, pikirnya girang dan diapun menggerakkan kedua le ngannya.
Gan Lui te rkejut bukan main, juga te rheran-heran ketika merasa betapa kedua tangannya itu selalu membalik sebelum mengenai tubuh lawan, seolah ada tenaga tidak nampak yang menjadi perisai melindungi tubuh lawan yang tinggi besar itu.
Dan tubuh itupun bergerak mengelak dengan sedikit gerakan saja, namun membuat semua serangannya menyeleweng dan tidak pernah dapat menyentuhnya.
Pangeran Cian Bu Ong te rus mengelak dan melindungi tubuhnya dengan sin-kang yang amat kuat sampai belasan jurus lamanya untuk menilai kepandaian Gan Lui.
Kemudian, tiba-tiba dia membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.
Serangan balasan ini demikian cepat dan tidak te rduga datangnya sehingga Gan Lui te rkejut dan cepat diapun melindungi dirinya dengan kedua le ngan yang menangkis ke sana-sini, juga kakinya bergeser dengan gesit untuk menghindarkan diri dari hujan serangan lawan.
Barulah dia tahu bahwa orang yang seperti bangsawan dan yang mengujiny ini ternyata lihai bukan main!
"Terima ini!"
Pangeran Cian Bu Ong berseru dan tangannya menghantam dengan tamparan dari atas.
Gan Lui terkejut, karena datangnya tamparan demikian cepatnya, maka dia lalu mengangkat kedua le ngannya untuk menangkis sambil mengerahkan sin-kang sekuatnya.
"Plakkk!"
Kedua tangan Gan Lui bertemu dengan tangan kanan Pangeran Cian Bu Ong dan akibatnya tubuh Gan Lui te rjengkang dan te rguling-guling seperti dilanda angin badai yang amat kuat.
Gan Lui terkejut bukan main.
Untung lawannya tidak ingin mencelakainya sehingga dia tidak te rluka.
Dia melompat bangun dan cepat memberi hormat dengan hati tulus.
"Saya mengaku kalah!"
Pangeran Cian Bu Ong hanya te rsenyum dan memberi isyarat kepada Gan Lui untuk duduk di atas bangku. Kemudian ia kembali ke mejanya, memeriksa kertas catatan.
"Siapa yang bernama Lie Koan Tek?"
Orang ke dua maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Saya yang bernama Lie Koan Tek, Pangeran."
Kata orang ini dengan lantang.
Cian Bu Ong mengamati penuh perhatian.
Dari catatannya dia mengetahui bahwa laki-laki berusia empatpuluh lima tahun yang tinggi besar dan gagah perkasa ini adalah seorang pendekar gagah murid Siauw-lim-pai.
Dia dihukum karena bersikap memberontak terhadap Kerajaan Sui, dan hal ini mudah dimengerti kalau diingat betapa kuil Siauw lim-pai pernah dibakar oleh pasukan pemerintah dan banyak se kali murid Siauw lim-pai yang tewas.
"Lie Koan Tek, bagaimana engkau tahu bahwa aku seorang pangeran?"
"Nama besar paduka sudah te rkenal di seluruh penjuru,"
Kata Lie Koan Tek yang berwatak keras dan jujur itu.
"Kalau engkau mau kubebaskan dan membantuku, perlihatkan kemampuanmu Lie Koan Tek,"
Kata Pangeran Cian Bu Ong. Lie Koan Tek mengerahkan te naga dan rantai pada belenggu kaki tangannya juga patah-patah seperti yang terjaadi pada Gan Lui tadi.
"Bagus.! Sekarang, kau boleh menyerangku dan keluarkan semua kepandaian dan tenagamu!"
Tanpa sungkan lagi Lie Koan Tek lalu menggerakkan kaki tangannya menyerang, mengeluarkan jurus-jurus Siauw lim-pai yang paling tangguh yang dikuasainya.
Pangeran Cian Bu Ong gembira sekali.
Pendekar ini lebih unggul dibandingkan Gan Lui.
Walau selisihnya hanya sedikit.
Diapun melayani sampai belasan jurus, kemudian sapuan kakinya membuat Lie Koan Tek te rpelanting.
Pendekar ini kagum bukan main.
Jarang dia berte mu dengan orang selihai pangeran ini, dan dia mengakui kebesaran nama Pangeran Cian Bu Ong.
Dia menjura dan mengaku kalah.
Pangeran Cian Bu Ong persilakan dia duduk di samping Gan Lui.
Orang ke tiga adalah Thio Ki Lok, berusia limapuluh tahun, dihukum karena dia perampok tunggal yang sadis dan lihai., Tubuhnya pendek dengan perut gendut, wajahnya kekanak-kanakan, akan te tapi pandang matanya licik dan kejam.
Selain ilmu silat, dia pandai ilmu gulat Mongol, dan senjata andalannya adalah golok gergaji.
Karena tingkat kepandaiannya masih sedikit di bawah Gan Lui, maka dalam belasan jurus diapun dikalahkan Pangeran Cian Bu Ong.
Orang ke empat adalah seorang peranakan Turki, bernama Gulana.
Kulitnya hitam seperti arang, tubuhnya tinggi besar dan rambutnya yang hitam panjang digelung, ditutup sorban putih.
Dia menguasal ilmu silat yang aneh, lengannya yang panjang itu berbahaya sekali, karena dia pandai menangkap dan membanting lawan.
Juga kakinya yang panjang pandai mengirim tendangan kilat.
Senjata yang biasa dia mainkan adalah tongkat baja.
Diapun memiliki kepandaian yang setingkat dengan Gan Lui, dan dirobohkan oleh Pangeran Cian Bu Ong dalam belasan jurus.
Sikapnya yang angkuh berubah setelah dia merasakan sendiri kehe batan pangeran itu dan diapun mengaku kalah.
Kini Pangeran Cian Bu Ong menghadapi orang ke lima.
Dari catatannya dia tahu bahwa orang ini yang paling tangguh di antara mereka semua, maka sengaja dia menghadapinya sebagai orang te rakhir.
Sebelum bicara, dia mengamati dengan penuh perhatian dan memandang kagum.
Orang itu masih muda sekali, tidak akan le bih dari duapuluh tujuh tahun usianya.
Wajahnya tampan sekali dan sikapnya juga lembut, sama sekali tidak pantas menjadi orang hukuman.
Matanya mencorong seperti mata naga.
Hidungnya agak besar dan mancung, bibirnya merah penuh gairah.
Melihat tubuhnya yang sedang dan sikapnya yang le mbut, orang takkan menyangka dia pandai ilmu silat.
Lebih pantas menjadi seorang siu-cay (pelajar) yang pandai menulis sajak.
"Namamu Can Hong San?"
Tanya Pangeran Cian Bu Ong.
Pemuda itu mengangguk, sikapnya angkuh.
Pemuda ini memang bukan orang sembarangan.
Dia adalah putera tunggal mendiang Cui-beng Sai-kong, seorang datuk besar dunia sesat, pendiri dari agama sesat Thian te-kauw.
Pemuda yang tampan dan nampak halus lembut ini adalah seorang yang memiliki watak aneh, hampir tidak normal, bahkan dia telah membunuh ayahnya sendiri.
Kemudian, dia pernah menjadi pemimpin besar perkumpulan sesat dari agama Thian-te-kauw yang didirikan ayahnya.
Ketika perkumpulan sesat ini diserbu oleh pasukan pemerintah yang dibantu para pendekar, diapun te rtawan, perkumpulannya hancur dan dia dijatuhi hukuman seumur hidup.
"Bagaimana, Can Hong San. maukah engkau membantu kami seperti empat orang gagah lainnya ini?"
Tanya Pangeran Cian Bu Ong.
"Nanti dulu, Pangeran. Sebelum aku memberi jawaban, aku harus mengetahui dulu, bantuan apa yang harus kuberikan kepadamu?"
Biarpun ucapannya le mbut dan sopan, namun kata-katanya menunjukkan bahwa dia tidak mau merendahkan diri kepada pangeran ini.
Dia tahu bahwa Kerajaan Sui sudah jatuh, sehingga pangeran ini sekarang sudah bukan pangeran lagi namanya!
Dan bukan watak Coa Hong San untuk merendahkan diri kepada siapapun juga.
Melihat sikap pemuda ini yang tidak menghormatinya, Pangeran Cian Bu Ong tidak menjadi marah, bahkan te rsenyum.
Lebih baik menghadapi orang yang te rang-terangan tidak menghormatinya dari pada orang yang bersikap menjilat namun tidak diketahuinya benar bagaimana keadaan is i hatinya!
Akan tetapi ia masih memancing dan pura-pura kurang senang, dan mengerutkan alisnya.
"Can Hong San. tahukan engkau bahwa kalau tidak kami tolong, engkau te ntu akan dihukum mati, atau bahkan dibunuh oleh penguasa baru yang tidak mau memelihara orang hukuman seumur hidup?"
"Pangeran tentu tahu bahwa orang seperti aku tidak takut mati. Katakan dulu, bantuan apa yang harus kuberikan padamu, baru aku akan memutuskan mau atau tidak!"
Makin kagumlah hati Pangeran Cian Bu Ong.
Seorang seperti pemuda inilah yang dapat diharapkan menjadi seorang pembantunya yang setia dan baik!
"Baiklah, Hong San.
Ketahuilah bahwa Kerajaan Sui telah jatuh oleh Li Si Bin yang memberontak sehingga kini ayahnya yang menjadi kaisar dan mendirikan dinasti Tang.
Usahaku untuk memberontak di Po-yang juga gagal.
Terpaksa aku harus melarikan diri dan menjadi buruan pemerintah yang baru.
Akan te tapi, aku tidak putus asa dan akan berusaha untuk menghimpun kekuatan.
Nah, kalau engkau suka, mari bekerja sama denganku.
Kalau kita berhasil kelak, kita sama-sama menikmati hasilnya.
Setidaknya engkau akan bebas dan mempunyai harapan, dari pada sampai mati menjadi orang hukuman, bukan?"
"Hemm, baiklah kalau begitu, Pangeran. Aku menerima uluran tanganmu,"
Jawab Can Hong San yang sebenarnya sejak tadi sudah merasa girang sekali bahwa dia akan dibebaskan dan mendapatkan harapan baru. -ooo0dw0ooo-
Jilid 2
"Kalau begitu, mari kita main-main sebentar, karena aku harus melihat dulu kemampuanmu, apakah pantas menjadi pembantuku atau tidak,"
Kata Pangeran Cian Bu Ong sambil bangkit dari te mpat duduknya. Akan tetapi Hong San cepat berkata .
"Pangeran, sungguh tidak baik kalau aku yang akan menjadi pembantu utamamu ini bertanding denganmu, walaupun hanya untuk menguji kepandaian. Aku akan merasa tidak enak kalau sampai kesalahan tangan melukaimu. Sebaiknya, biarkan empat orang calon pembantu yang lain ini maju bersama mengeroyokku, sehingga selain pangeran dapat menilai kepandaianku, juga mereka itu dapat menerima bahwa aku lebih unggul dari mereka dan kelak aku yang menjadi pembantu utama dan mereka itu harus tunduk dan taat kepadaku."
Pangeran Cian Bu Ong tersenyum dan makin kagum.
Apakah ucapan itu hanya merupakan bual kosong belaka?
Atau benarkah pemuda itu ma mpu menandingi pengeroyokan empat orang calon pembantunya yang cukup lihai itu?
Dia sendiripun harus berhati-hati kalau dikeroyok empat orang itu!
Inilah kesempatan baik untuk benar-benar menguji Can Hong San.
"Baik. Nah, kalian berempat sudah mendengar sendiri. Wakililah aku untuk bersama maju menandingi dan menguji ke pandaian Can Hong San!"
Perintahnya kepada empat orang itu.
Gan Lui, Gulana, dan Thio Ki Lok segera bangkit.
Ini merupakan perintah pertama, maka mereka segera bangkit dengan penuh semangat, bukan saja untuk mentaati perintah pangeran Cian Bu Ong, akan te tapi juga untuk menundukkan pemuda yang mereka anggap te rlalu sombong itu.
Akan tetapi, Lie Koan Tek tidak bangkit berdiri.
"Lie Koan Tek, kenapa engkau tidak bangkit? Majulah dan ikutlah mengeroyok untuk menguji kepandaian Can Hong San,"
Kata sang pangeran.
"Maaf, Pangeran. Saya bukanlah seorang pengecut. Kalau diperintahkan menguji pemuda ini, biarlah saya lakukan sendiri saja. Kalah atau menang merupakan hal yang biasa dalam pertandingan silat. Akan tetapi untuk mengeroyok, saya merasa malu dan enggan. Maaf !"
Pangeran Cian Bu Ong maklum akan sikap seorang pendekar sejati seperti murid Siauw-lim-pai ini.
"Kalau begitu biarlah nanti saja kalau perlu engkau menguji sendiri. Kini yang tiga orang kuperintahkan untuk mengeroyok dan menguji kepandaian Can Hong San!"
Tiga orang itu tidak memiliki pendapat yang sama dengan Lie Koan Tek.
Mereka tadi sudah membuktikan sendiri betapa saktinya pangeran itu dan mereka sudah merasa tunduk benar.
Di dalam hati mereka te lah menjadi pembantu yang setia, karena mereka melihat harapan baik sekali bagi keuntungan mereka sendiri kalau mereka mengabdi kepada pangeran itu.
Maka, begitu menerima peritah ini, mereka bertiga berloncatan dan berhadapan dengan Can Hong San.
Disamping ketaatan mereka te rhadap pangera Cian Bu Ong, mereka juga ingin menghajar pemuda yang amat sombong itu, yang berani memandang rendah kepada mereka dengan menantang agar mereka mengeroyoknya!
"Orang muda,"
Kata Thio Ki Lok yang pendek gendut.
"Kami bertiga sebagai orang-orang yang le bih tua darimu, sebetulnya juga merasa tidak enak kalau harus mengeroyokmu. Akan te tapi kami mentaati perintah Pangeran yang kami hormati. Sekarang, apakah engkau masih tetap menantang kami bertiga untuk maju bersama? Hati-hati, orang muda, jangan sampai tulang-tulangmu yang masih muda akan menjadi patah-patah menghadapi serangan kami."
"Lebih baik engkau menghadapi kami satu demi satu, orang muda,"
Kata pula Gan Lui.
"Akupun setuju satu lawan satu!"
Sambung Gulana.
Bagaimanapun juga, tiga orang ini sudah menganggap diri sendiri terlalu pandai sehingga kalau mereka harus mengeroyok seorang lawan muda, mereka merasa malu dan hal ini akan menurunkan derajat mereka sebagai ahli-ahli silat tingkat atas.
"Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi. Aku menantang kalian semua maju berbareng untuk mempersingkat waktu, juga untuk memudahkan Pangeran dalam menilai kepandaianku. Kalau aku kalah, anggap saja aku tidak pantas membantu Pangeran!"
Sungguh ucapan ini amat sombong te rdengarnya oleh tiga orang jagoan itu.
Akan te tapi sesungguhnya Can Hong San bukan seorang pemuda yang sebodoh itu.
Dia bukan sekedar menyombongkan diri, melainkan ingin menimbulkan kesan dalam hati sang pangeran dan kalau dia sudah berani bicara seperti itu adalah karena dia s udah yakin akan mampu mengalahkan tiga orang pengeroyok itu, atau bahkan empat orang bersama Lie Koan Tek.
Dia sudah dapat mengukur sampai di mana tingkat kepandaian mereka itu ketika tadi mereka satu demi satu diuji oleh Pangeran Cian Bu Ong.
Tiga orang itu merasa penas aran mendengar tantangan Hong San dan merekapun serentak mengambil sikap menyerang, memasang kuda-kuda, mengurung Hong San dengan kedudukan tiga sudut.
"Mulailah!"
Kata Hong San, masih berdiri biasa saja tanpa memasang kuda-kuda, a kan tetapi pada saat itu, seluruh otot dan syaraf di tubuhnya menggetar dan dalam keadaan siap siaga.
"Heiillittttt..........!"
Thio Kie Lok menyerang lebih dulu dengan pukulan tangan kirinya dengan le ngan yang pendek.
Kalau Hong San menangkis, tangan yang memukul itu tentu akan berubah menjadi mencengkeram.
Pada saat yang hanya sedetik selisihnya, Gan Lui juga sudah menyerang dari samping kiri, menampar dengan telapak tangan ke arah kepala pemuda itu.
"Hemmmn.....!"
Tiba-tiba saja tubuh Hong San bergerak, kedua kakinya bergeser dan dua serangan itu dapat hindarkannya dengan amat mudahnya, dengan meliuk dan miringkan tubuh.
"Haahhhh......!"
Gulana menyambut dengan te ndangan kakinya yang panjang.
"Wuuuut......!"
Tendangan itupun dapat dielakkan ole h Hong San sehingga melayang dengan cepat mengeluarkan angin keras.
Thio Ki Lok dan Gan Lui sudah menerjang lagi, demikian pula Gulana.
Tiga orang yang merasa penasaran karena serangan pertama mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh Hong San, kini menyerang le bih dahsyat dari tiga jurusan.
Dan kini Pangeran Cian Bu Ong kagum.
Tubuh pemuda itu demikian lincahnya sehingga bagaikan seekor burung walet saja, berkelebatan di antara sambaran pukulan dan tendangan.
Sampai belasan jurus tiga orang itu menghujamkan serangan mereka, namun selalu dapat dielakkan oleh Hong San.
"Hyeeeehhh........!"
Gan Lui yang merasa semakin penas aran, menubruk dari samping kiri dan kedua tangan yang membentuk cakar harimau itu sudah menerkam ke arah leher dan dada.
"Pergilah!"
Hong San membentak dan kini le ngan kirinya diputar menangkis , pergelangan tangannya berputar dan tangan dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah Gan Lui.
Orang tinggi kurus ini berseru kaget karena lengannya terasa sakit bukan main ketika ditangkis Hong San dan sebelum dia dapat mencegahnya, tubuhnya terdorong keras dan diapun terjengkang!
Saat itu, sebatang kaki yang panjang dan besar menyambar ke arah perut Hong San.
Itulah te ndangan kaki Gulana.
Hong San hanya miringkan tubuh sedikit sehingga kaki itu menyerempet bajunya.
Secepat kilat dia menangkap tumit dan mendorongnya ke atas dan Gulana terlempar sampai beberapa meter.
Thio Ki Lok hendak mempergunakan kesempatan selagi Hong San diserang Gulana tadi untuk menerkam dari samping dan dia sudah berhasil merangkul leher Hong San, menggunakan ilmu gulatnya, kedua tangan memasuki bawah ketiak dan mencengkeram di belakang te ngkuk Hong San.
Agaknya dia hendak membuat pemuda itu tidak berdaya dengan kuncian gulat Mongol itu.
Akan te tapi, tiba-tiba dia berteriak kesakitan ketika kaki Hong San menendang ke belakang, mengenai kedua lututnya sehingga otomatis kakinya kehilangan tenaga dan kembali dia berte riak karena tangan Hong San sudah menangkap ibu jari kedua tangan yang mencengkram te ngkuk pemuda itu, sehingga tentu saja cengkeramannya mengendur karena kekuatan setiap tangan terletak pada ibu jarinya.
Dalam keadaan kaki kehilangan tenaga dan cengkeraman mengendur itu, begitu Hong San membuat gerakan membungkuk dan melempar dengan pundak, tubuh pendek gendut itupun te rlempar melalui atas punggung Hong San dan jatuh te rbanting ke depan pemuda itu!
Ketika tiga orang pengeroyok itu bangkit dengan muka menyeringai kesakitan.
Pangeran Cian Bu Ong berte puk tangan memuji.
"Bagus, bagus! Engkau memang te lah membuktikan kemampuanmu, Hong San! Kami girang sekali mendapat bantuanmu dan mulai saat ini, engkau kami angkat menjadi pembantu utama! Akan tetapi jangan mengira bahwa dengan ilmumu itu, engkau akan dapat mengalahkan aku, ha ha ha!"
Can Hong San adalah seorang cerdik.
Dari cara pangeran itu tadi mengalahkan empat orang calon pembantu itu, diapun tahu bahwa pangeran itu lihai dan memiliki sin-kang yang kuat sekali, sehingga dia sendiri tidak berani yakin akan mampu mengalahkannya.
Pula setelah dia diangkat menjadi pembantu utama, te ntu saja dia harus bersikap tunduk.
"Aku tahu bahwa engkau adalah seorang yang berilmu tinggi, Pangeran. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin kusuka untuk membantumu? Akan te tap kuharap engkau suka berhati-hati te rhadap murid Siauw-lim-pai ini."
Hong San menunjuk kepada Lie Koan Tek.
Pendekar ini menentang pandang mata Hong San dengan penuh keberanian.
Walapun dia tahu bahwa dia tidak akan menang kalau bertanding dengan pemuda yang lihai luar biasa itu, akan tetapi bukan watak pendekar Siauw-lim-pai ini untuk memperlihatkan perasaan takut.
"Hemm, aku adalah seorang laki-laki sejati yang sekali berjanji akan menepatinya sampai mati. Kurasa Pangeran harus berhati-hati te rhadapmu,Can Hong San."
"Keparat! Majulah kalau engkau berani melawan aku dan kalau engkau sudah bosan hidup!"
Hong San menantang dengan muka merah.
"Hemm, biarpun engkau lihai sekali jangan dikira aku akan takut menghadapi maut di tanganmu!"
Lie Koan Tek bangkit berdiri dan membusungkan dadanya. Pangeran Cian Bu Ong cepat melangkah maju menengahi.
"Ah, apa yang kalian lakukan ini? Kalian akan kubebaskan untuk membantuku, bukan untuk berkelahi dan saling bermusuhan sendiri! Apa gunanya aku membebaskan kalian, kalau hanya untuk melihat kalian saling bunuh?"
"Maafkan saya, Pangeran,"
Kata Lie Koan Tek yang segera melihat betapa tidak baiknya sikapnya tadi terhadap sang pangeran.
"Maaf,"
Kata pula Hong San yang tentu saja tidak ingin kalau Pangeran itu menjadi tidak suka kepadanya.
"Ketahuilah, aku sekeluarga dan para pengikut sedang hendak menyelamatkan diri keluar dari Po-yang dan kalian kuminta membantu untuk melindungi. Kemudian kelak kalian membantuku menegakkan kembali kerajaan baru sebagai pengganti Kerajaan Sui yang telah jatuh. Dan selama kalian membantuku, kalian tidak boleh mementingkan perasaan dan urusan pribadi, harus mentaati semua perintahku. Sekarang tiba saatnya kalian berjanji. Kalau kalian mau taat, aku akan membebaskan kalian, kalau tidak mau, akupun akan meninggalkan kalian di s ini."
Lima orang itu serempak menyatakan janji mereka untuk menaati Pangeran Cian Bu Ong.
Mereka maklum bahwa, jika mereka tidak dibebaskan oleh pangeran itu, tidak mungkin mereka melarikan diri atas usaha sendiri, karena mereka akan menghadapi ribuan orang prajurit penjaga, dan kalau mereka ditinggalkan di situ, mereka hanya akan menghadapi ancaman mati konyol.
Tidak ada pilihan kecuali membantu pangeran ini.
Lie Koan Tek sendiri menaruh harapan besar pada diri pangeran itu.
Pemerintahan kaisar Kerajaan Sui yang lalu telah mendatangkan banyak kesengsaraan terhadap rakyat, bahkan Siauw-lim-si juga diserbu dan dibakar karena Siauw-lim-si membela rakyat jelata.
Dia mengharapkan kalau Pangeran Cian Bu Ong berhasll merebut tahta kerajaan, dia akan menjadi seorang kaisar yang baik budi dan memakmurkan kehidupan rakyat jelata.
De mikianlah, lima orang hukuman yang lihai itu dibebaskan dengan mudah oleh Pangeran Cian Bu Ong dan mereka menjadi pengawal-pengawal keluarga pangeran itu yang melarikan diri dari Po yang.
-ooo0dw0ooo-"Kongcu datang......!"
Teriakan-teriakan gembira te rdengar dari para anggota Hek-houw-pang di gardu penjagaan pintu gerbang dusun Mo-kim-cung.
Biarpun sudah belasan tahun meninggalkan He k-houw-pang, namun para anggota He k-houw-pang masih ingat kepada Siang Lee dan begitu Siang Lee muncul di depan pintu gerbang dusun, mereka menyambut dengan gembira sekali.
Pemuda cucu ketua lama Hek houw-pang itu yang merupakan keturunan langsung dari keluarga Coa, meninggalkan He k-houw-pang karena urusan pribadi, karena kakeknya melarang dia menikah dengan pute ri Ban-tok Mo-li.
Terhadap He k-houw pang Siang Lee tidak mempunyai kesalahan apapun, maka para anggota He k houw-pang masih memandangnya sebagal keluarga pimpinan mereka.
Segera para murid He k-houw-pang merubung Siang Lee yang datang bersama isterinya, Sim Lan Ci dan pute ra mereka, Coa Thian Ki.
Akan tetapi mendengar bahwa kakeknya, Coa Song, yang sudah tua sekali masih hidup, Siang Lee tidak mau berlama-lama bicara dengan para suheng dan sutenya, melainkan langsung saja mengajak anak isterinya berkunjung ke rumah induk perkumpulan itu, yang menjadi tempat tinggal ketua Hek-houw-pang.
Karena pada waktu itu keadaan sedang tegang, para murid He k-houw-pang yang melakukan penjagaan ketat sehubngan dengan pesan dari komandan pasukan yang datang berkunjung, maka berita tentang kedatangan Coa Kongcu segera tersiar dengan cepat.
Mendengar bahwa Coa Siang Lee pulang, ketua He k-houw-pang, Kam Seng Hin dan isterinya, Poa Liu Hwa segera keluar menyambut.
Ketika Coa Siang Lee dengan isteri dan anaknya tiba di ruangan depan rumah keluarga Coa itu, dia disambut oleh Kam Seng Hin dan isterinya, juga anak mereka, Kam Cin.
Beberapa orang murid He k-houw-pang yang tadi mengikuti tamu itu sudah membisikkan kepada Siang Lee bahwa ketua He k-houw-pang sekarang adalah murid Hek-houw-pang yang bernama Kam Seng Hin dan yang menikah dengan Poa Liu Hwa, cucu luar Coa Song atau adik misannya.
Tentu saja dia mengenal keduanya dan dia merasa bergembira.
Dia mengenal Kam Seng Hin sebagai sutenya (adik seperguruannya) yang gagah perkasa.
"Coa suheng (kakak seperguruan Coa)!"
Kam Seng Hin dan isterinya menyambut dengan gembira sambil member hormat.
"Kam sute, engkau menjadi pangcu dari He k-houw-pang sekarang? Dan engkau menjadi suami dari adikku Liu Hwa ini? Ah, aku girang sekali, sute. Perkenalkan, ini isteriku, dan ini anakku Coa Thian Ki."
Kam Seng Hin memberi hormat kepada Lan Ci dan menyebut "toa-so" (kakak ipar).
Liu Hwa juga menyambut Lan Ci dengan sikap ramah dan manis, lalu ia memperkenalkan pute ranya, Kam Cin.
Ketika Kam Cin diperkenalkan dengan Thian Ki, dengan sikap ramah dan lincah Cin Cin, demikian panggilan akrabnya lalu memegang tangan Thian Ki.
Mereka sebaya, sama-sama lima tahun usianya.
"Thian Ki, mari kita bermain di taman belakang. Kami mempunyai kolam ikan di sana dan kemarin seorang paman memberi sepasang ikan emas yang lucu bermata besar. Mari......!"
"Kam Cin...."
Panggil Siang Lee melihat betapa keponakannya itu sudah menarik Thian Ki diajak bermain-main. Cin-Cin berhenti dan memandang kepada Siang Lee dengan sikap tidak malu-malu.
"Supek (uwa guru), semua orang memanggilku Cin Cin, harap supek , pek-bo dan ju ga Thian Ki menyebut aku Cin Cin saja."
Siang Lee dan isterinya te rtawa. Kam Cin atau Cin Cin itu seorang anak yang mungil, tampan, tabah dan kelihatan cerdik sekali.
"Baiklah, Cin Cin, kuminta engkau jangan mengajak Thian Ki pergi bermain-main dulu. Dia harus lebih dulu kuperkenalkan kepada kakek buyutnya."
"Ah, jangan khawatir, supek. Sekarang juga akan kuajak Thian Ki menghadap kakek buyut!"
Setelah berkata demikian, Cin Cin sudah menarik tangan Thian Ki, berlari keluar dari ruangan itu. Melihat ini Siang Lee dan Lan Ci te rtawa, demikian pula ayah dan ibu Cin Cin.
"Cin Cin memang bandel dan manja sekali,"
Kata Liu Hwa.
"Baiknya dia tidak nakal,"
Sambung suaminya.
"Kulihat anak kalian itu cerdik dan lincah. Mari kita menghadap kongkon g (kakek) lebih dulu,"
Kata Siang Lee dan mereka berempat lalu pergi ke kamar kakek Coa Song yang berada di bagian belakang.
Ketika mereka memasuki kamar yang besar itu, te rnyata dua orang anak itu sudah berada di situ, duduk di atas lantai dekat kedua kaki kakek Coa Song yang nampak gembira bukan main.
Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek itu, diiringkan ole h Kam Seng Hin dan Poa Liu Hwa.
"Kong-kong......"
Kata Siang Lee dengan suara penuh keharuan.
Dia tadi sudah mendengar sepintas dari Kam Sen Hin bahwa kakeknya seringkali menanyakan dirinya, dan nampaknya kakeknya sudah melupakan perte ntangan yang telah lampau.
Melihat betapa kakeknya menarik Thian Ki dengan wajah gembira itu sudah membuktikan kebenaran keterangan Kam Seng Hin itu.
"Kong-kong......"
Lan Ci juga memanggil dengan sikap hormat. Sejak tadi kakek Coa Song yang usianya sudah mendekati delapanpuluh tahun itu telah menyambut kemunculan cucunya itu dengan wajah cerah dan mata berseri.
"Siang Lee, engkau baru datang? Dan itu isterimu yang dulu? Aku sudah berkenalan dengan pute ra kalian, Thian Ki. Aku girang sekali kalian sehat-sehat saja dan masih ingat untuk pulang ke sini.........."
Mendengar suara kakeknya yang agaknya menyesali sikapnya yang dahulu itu. Siang Lee segera mengalihkan percakapan.
"Kong-kong, saya merasa girang sekali melihat kong-kong masih sehat. Semoga Tuhan selalu memberkahi kong-kong dengan panjang usia dan sehat selalu."
"Sudah lama sekali aku merindukanmu, Siang Lee. Dan sekarang engkau datang bersama isterimu dan puteramu yang tampan gagah ini. Ah, betapa gembira hatiku. Seng Hin, suruh buatkan masakan dan minuman, kita adakan pesta keluarga untuk menyambut Siang Lee!"
Kakek itu kelihatan gembira bukan main.
Tak lama kemudian, Kam Seng Hin dan isterinya meninggalkan Siang Lee dan Lan Ci bertiga saja dengan kakek mereka, sedangkan Thian Ki sudah diajak pergi ke taman oleh Cin Cin.
Kakek Coa Song menghujani Siang Lee dengan pertanyaan dan suami isteri itu menceritakan semua pengalaman mereka semenjak berpis ah dari kakek itu.
Ketika mendengar pengakuan Siang Lee dan Lan Ci bahwa mereka tidak mengajarkan ilmu silat sama sekali kepada Thian Ki, kakek Coa Song mengerutkan alisnya tanda tidak setuju.
"Eh, kenapa begitu? Aku tahu bahwa ilmu silatmu sudah maju pesat, tentu sekarang tingkat kepandaianmu tidak ada yang dapat menandinginya di Hek-houw-pang ini. Juga isterimu memiliki kepandaian yang tinggi. Kenapa kalian tidak mengajarkan ilmu silat kepada putra kalian?"
"Kong-kong, kami berdua sudah mengalami cukup banyak kesengsaraan yang disebabkan oleh kehidupan sebagai ahli Silat. Betapa di dunia ini penuh degan permusuhan dendam mendendam yang menjadi bunga kehidupan di dunia persilatan. Tidak, kong-kong, kami tidak ingin melihat pute ra kami te rlibat dalam dunia yang penuh kekerasan itu. Kami tidak sanggup membayangkan dia kelak menjadi orang yang hidupnya selalu te rancam bahaya, hidupnya dikelilingi oleh permusuhan, kekerasan, darah dan maut!"
Kakek itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kangouw, te ntu saja dia dapat merasakan kebenaran yang te rkandung dalam ucapan cucunya itu.
"Akan te tapi, cucuku yang baik. Justru karena dunia ini penuh kekerasan, penuh orang-orang jahat yang menggunakan kekerasan te rhadap orang lain untuk memaksakan kehendak mereka, maka kita perlu membekali diri dengan ilmu silat untuk membela diri sendiri dan untuk membela orang-orang le mah tertindas, untuk menentang kejahatan."
Kakek itu berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Apakah kalian ingin melihat putra kalian kelak menjadi seorang yang le mah dan menjadi korban penindasan orang-orang jahat?"
"Tidak, kong-kong. Justru karena tidak bis a silat maka dia akan hidup aman dan te nteram. Kami sudah mengalaminya sendiri. Semenjak kami berdua hidup sebagai petani di dusun kecil, kami tidak pernah mengalami kekerasan lagi. Orang-orang yang hidup di dusun dan tidak mengenal ilmu silat, tidak pernah berkelahi, tidak pernah bermusuhan. Kami ingin anak kami kelak hidup berbahagia, tenteram dan aman."
Kakek itu menghela napas panjang.
"Dia adalah anak kalian, tentu saja kalian yang paling berhak untuk menentukan. Akan te tapi, Siang Lee, ingatlah, Thian Ki satu-satunya pene rus keluarga Coa. Bagaimana kelak jadinya dengan He k-houw-pang kalau tidak ada seorang she Coa yang melanjutkan? Bahkan engkau sendiri sepantasnya sekarang menggantikan sutemu untuk menjadi ketua Hek-houw-pang. Itu sudah menjadi hakmu, dan dalam hal ilmu silat, engkau le bih unggul darinya."
"Aih, terima kasih, kong-kong. Akan tetapi, kami sudah mengambil keputusan untuk tidak lagi memasuki dunia persilatan. Kami hendak melupakan kehidupan yang lam pau, memulai dengan kehidupan baru yang bebas dari kekerasan dan ilmu silat."
Diam-diam kakek Coa Song merasa kecewa, akan tetapi dia tidak menyatakan hal ini.
Sementara itu, selagi orang tuanya bercakap-cakap dengan kakek buyutnya, Thian Ki diajak Cin Cin bermain-main di dalam taman yang cukup luas itu.
Di tengah taman itu terdapat sebuah kolam ikan dan Cin Cin dengan bangga memperlihatkan ikan-ikannya yang beraneka warna di kolam itu.
Setelah bosan melihat ikan, Cin-Cin lalu mengajak Thian Ki duduk di atas bangku yang dilindungi payon seperti payung bentuknya.
Mereka segera jadi akrab sekali karena Cin Cin adalah seorang anak yang lincah je naka dan pandai bicara, pandai bergaul, beda dengan Thian Ki, yang biarpun juga cerdik sekali, namun Thian Ki lebih pendiam dibandingkan Cin Cin yang kalau bicara seperti air terjun yang tak kunjung putus.
"Thian Ki, mari kita latihan,"
Tiba-tiba Cin Cin berkata. Thian Ki memandang kawan barunya itu dengan heran.
"Latihan? Latihan apa?"
Cin Cin tertawa.
"Aih, pakai tanya segala! Latihan apa lagi kalau bukan latihan silat? Kita adalah anak ahli silat, tentu saja aku mengajak latihan silat. Tentu engkau jauh le bih pandai daripadaku, karena aku dengar bahwa supek Coa Siang Lee dan supek-bo memiliki ilmu silat yang tinggi."
Thian Ki tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak pernah belajar silat, Cin Cin."
Cin Cin memandang dengan sepasang matanya yang je rnih itu terbelalak le bar.
"Aih, tidak mungkin!"
Serunya heran. Thian Ki te rtawa.
"Apanya yang tidak mungkin? Ayah dan ibu tidak pernah mengajarkan ilmu silat kepadaku, dan akupun tidak suka mempelajarinya. Maka, sedikitpun aku tidak bisa bermain silat Cin Cin."
"Tapi.....tapi.....mengapa?"
Cin Cin tertegun heran, memandang kepada Thian Ki dengan sikap masih belum dapat percaya. Thian Ki tersenyum.
"Cin Cin, andaikata aku bisa silat, tentu kita sekarang sudah saling serang yang kaukatakan latihan tadi. Dalam latihan silat te ntu ada yang kena pukul dan hal ini bisa mendatangkan perasaan tidak senang dan dendam. Akan te tapi sebaliknya, karena aku tidak bisa silat, tentu engkau tidak bisa memaksa aku untuk berlatih. Kita tidak saling serang, tidak saling pukul, tidak saling tendang dan kita tidak mungkin merasa marah dan dendam, dan tetap bergaul dengan akrab. Nah, itulah sebabnya mengapa aku tidak diajar ilmu silat oleh ayah ibuku."
Cin Cin mengangguk-angguk, akan te tapi tetap saja masih merasa penasaran sekali.
Dia akan menanyakan hal yang dianggapnya aneh ini kepada ayah ibunya.
Ketika mereka semua menghadapi meja dan makan minum bersama, suasananya sungguh menggembirakan.
Sudah lama kakek Coa Song tidak memperlihatkan diri dan kini dia nampak gembira sekali, bukan hanya kakek Coa Song, Kam Seng Hin dan anak is terinya yang menyambut kedatangan Siang Lee dan anak isterinyapun hadir dalam pesta keluarga itu.
Juga para murid tingkat tinggi sebanyak enam orang ikut pula hadir.
Dalam kesempatan ini Siang Lee memberi kete rangan te rhadap segala macam pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
Kemudian diapun bertanya akan perubahan s uasana di dusun itu kepada Kam Seng Hin.
"Kam-sute, ketika aku memasuki dusun Ta-bun-cung, aku melihat betapa para anak buah Hek-houw-pang melakukan penjagaan dengan ketat. Apakah yang telah terjadi? Seolah-olah ada bahaya mengancam dusun kita ini."
Mendengar pertanyaan ini, Kam Seng Hin memandang kepada kakeknya dan kakek Coa Song yang menjawab.
"Benar, memang ada bahaya mengancam kita, Siang Lee.
Bukan hanya mengancam kita, akan tetapi mengancam seluruh penduduk dusun ini dan dusun-dusun di sekitarnya.
Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu, kami kedatangan pasukan Kerajaan Tang yang minta bantuan kami untuk ikut mencari seorang buronan pemerintah yang amat berbahaya.
Buronan itu adalah seorang pangeran, masih keluarga dengan kaisar Kerajaan Sui yang sudah jatuh."
"Akan te tapi, kong-kong. Bukankah selama ini He k-houw-pang tidak mencampuri urusan pemerintah?"
"Me mang benar, akan tetapi sekali ini kita tidak boleh tinggal diam saja, Engkau tahu betapa buruknya pemerintah Kerajaan Sui dan kita mendengar pula te ntang kegagahan Panglima Li Si Bin yang te lah menjatuhkan kaisar yan lalim itu. Kini, seluruh harapan rakyat digantungkan kepada kebijaksanaan dinasti Tang. Karena itu, kalau ada sisa keluarga Kerajaan Sui yang membuat kekacauan, sudah sepatutnya kalau kita membantu pemerintah baru yang hendak membasminya."
"Kalau buronan itu hanya seorang pangeran saja, kenapa He k-houw-pang harus mengerahkan semua tenaga untuk melakukan penjagaan ketat?"
"Aih, engkau tidak tahu siapa buronan itu, Siang Lee. Bukan saja dia mempunyai anak buah dan pengikut, juga dia adalah seorang yang amat lihai, dulu merupakan seorang di antara jagoan istana Kerajaan Sui yang sakti."
"Hemm, begitukah? Siapa dia, kongkong?"
"Dia adalah Pangeran Cian Bu Ong. Dia sendiri seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan kita belum tahu berapa banyak pengikutnya dan orang macam apa adanya mereka. Kebetulan sekali engkau dan is terimu datang, Siang Lee., maka kuharap kalian akan dapat membantu sutemu untuk menangkap buronan yang berbahaya itu."
Siang Lee dan isterinya saling pandang, merasa aneh.
Bertahun-tahun mereka hidup rukun dan damai di dusun mereka, dan kini, dalam perjalanan menengok kakek mereka, begitu tiba di situ mereka dihadapkan dengan kekerasan lagi.
Diam-diam mereka merasa khawatir, bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk Thian Ki yang te rpaksa akan dihadapkan dengan kekerasan.
"Tentu saja kami akan membantu semampu kami, kong-kong. Hanya sudah bertahun-tahun kami tidak pernah berkelahi, tidak pernah berlatih,"
Kata Siang Lee.
Mereka mengharapkan bahwa selama mereka berada di situ, yang mereka rencanakan beberapa hari lamanya, tidak akan terjadi sesuatu, dan mereka mengambil keputusan untuk tidak tinggal te rlalu lama di dusun itu.
"Mari ke sini, Thian Ki. Di si banyak kataknya dan besar-besar!"
Kata Cin Cin sambil menggerak-gerakkan obor di tangannya.
Thian Ki menghampiri, dengan obor di tangan kiri dan sebatang kayu pemukul di tangan kanan.
Malam itu Cin Cin mengajaknya untuk menangkap katak hijau.
Dalam bulan itu memang banyak katak hijau yang gemuk-gemuk dan Cin Cin suka sekali makan daging katak hijau yang le zat.
Setelah mendapat perkenan ayah ibu mereka, dua orang anak ini pergi menangkap katak hijau di tepi sungai.
Cin Cin sudah hafal te mpat di mana te rdapat katak gemuk dalam jumlah bes ar, yaitu di te pi sungai yang merupakan rawa.
Sebuah kantung kain yang mereka bawa sudah hampir penuh katak hijau.
Ketika Cin Cin ingin mengajak Thian Ki pulang, tiba-tiba dia mendengar saudara misannya itu berteriak kesakitan.
Dia cepat meloncat ke dekat Thian Ki.
"Ada apa, Thian Ki?"
Tanyanya sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi agar dapat melihat lebih jelas.
"Ah, kakiku.......agaknya digigit sesuatu....."
Kata Thian Ki yang tadi melepaskan obornya. Dia mengambil obornya yang masih menyala, lalu mereka berdua melihat ke arah kaki Thian Ki.
"I hhhhh! Ular.......!"
Teriak Cin Cin yang melihatnya lebih dulu. Thian Ki juga melihat seekor ular melilit betisnya dan menggigit betis bagian bawah. Dia menggerakkan tangan hendak menangkap ular itu.
"Jangan sentuh!"
Cin Cin berseru.
"Itu ular belang hitam, beracun sekali!"
De ngan mendekatkan obor, Cin Cin hendak menggunakan kayu pemukul katak untuk melepaskan ular itu dari kaki Thian Ki .
Akan tetapi, dia merasa heran karena ular itu agaknya sudah menempel di kaki Thian Ki dan sama sekali tidak bergerak-gerak biarpun sudah ia congkel-congkel dengan kayu.
"Ehhhhhh......? Ular ini sudah mati!"
Teriaknya heran.
"Tapi jangan pegang, Thian Ki. Lebih baik mari le kas pulang, lapor kepada orang tua kita. Engkau dapat berlari?"
"Dapat.......!"
Dan keduanya berlari-larian pulang, meninggalkan kantong te risi katak yang sejak tadi mereka kumpulkan.
Dan ular itupun masih menempel di kaki kiri Thian Ki.
Tentu saja keluarga itu terkejut ketika dua orang anak itu datang berlari-larian, apalagi ketika Cin Cin berteriak "ular, ular!"
Setelah memasuki perkampungan mereka. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat ular yang membelit betis kiri Thian Ki.
"Jangan sentuh! Itu ular belang hitam yang amat berbahaya!"
Teriak kakek Coa Song ketika melihat ular sebesar ibu jari kaki dan yang panjangnya hanya satu setengah kaki itu.
Wajah kakek ini pucat ketika melihat betapa kepala ular itu masih menempel di betis cucu buyutnya, masih menggigit!
Dia tahu bahwa gigitan ular itu boleh dibilang tidak ada obatnya!
Dia cepat mengambil kain, menggunakan kain untuk melindungi tangan dan menangkap ular itu pada le hernya lalu dia menarik.
Ular itu terlepas dan kakek itu terbelalak.
"Ular ini sudah mati!"
Lan Ci sudah merangkul pute ranya dan Siang Lee juga memegang pergelangan tangan puteranya.
Dia juga pucat dan khawatir sekali karena sebagai penduduk dusun itu diapun tahu bahwa gigitan ular belang hitam ini berarti maut.
Kakek Coa Song, Kam Seng Hin dan Poa Liu Hwa juga merasa gelisah sekali.
Mereka cepat mengambilkan air panas dan obat anti racun.
Akan tetapi tiba-tiba Lan Ci berseru.
"Harap mundur dan biarkan aku memeriksa anakku. Minta lampu yang te rang, air panas dan pis au tajam!"
Siang Lee maklum bahwa iste rinya adalah puteri Ban-tok Mo-li, karenanya isterinya te ntu ahli te ntang racun.
Kakek Coa Song ingat akan hal itu, demikian pula Kam Seng Hin dan is te rinya yang sudah mendengar tentang toa-so mereka.
Cepat mereka mundur dan memper siapkan semua yang diminta Lan Ci.
De ngan tenang namun sigap Lan Ci mengangkat tubuh anaknya dan merebahkannya di atas meja.
Lampu-lampu di dekatnya sehingga semua orang dapat melihat ular itu dengan jelas.
Lan Ci cepat membalurkan obat bubuk kuning pada tangannya, lalu dengan berani ia memegang ular yang tadi sudah ditarik lepas dari kaki pute ranya.
Ia harus memeriksa dulu racun macam apa yang ada pada ular itu agar dapat menentukan obat penawarnya.
Akan tetapi ia terbelalak ketika memandang ular mati di tangannya itu.
Tubuh ular itu seperti te rbakar hangus!
Ia memandang kepada Cin Cin.
"Apakah engkau tadi membakar ular itu, Cin Cin? Membakar dengan obormu?"
Tanyanya sambil menoleh kepada Cin Cin.
"Tidak, supek-bo!"
Siang Lee juga mendekat untuk memeriksa.
Ular itu benar sudah mati, mati te rbakar!
Karena sukar memeriksa racun dari ular yang sudah gosong itu, Lan Ci lalu memeriksa luka di betis Thian Ki.
Dan kembali ia terbelalak!
Tidak nampak keracunan pada luka itu.
Hanya luka kecil yang mengeluarkan sedikit darah.
Bekas gigitan itu tidak ada tanda keracunan, seperti tertusuk duri saja!
Ia memandang kepada Thian Ki yang juga memandangnya.
Siang Lee kembali memeriksa te kanan nadi anaknya.
N ormal!
"Thian Ki....."
Lan Ci memanggil anaknya.
"Kenapa, ibu? Tidak apa-apa, bukan?"
Lan Ci menggeleng kepalanya.
"Bagaimana rasanya? Apakah panas? Atau ada perasaan nyeri yang luar biasa, apakah kepalamu pening dan jantungmu berdenyut keras?"
Thian Ki tersenyum, menggelengkan kepala dan bangkit duduk.
"Sama sekali tidak, ibu. Aku tadi hanya te rkejut dan rasa gigitan itu hanya perih sedikit, akan tetapi sekarang sudah sembuh lagi. Ular apakah itu, ibu?"
Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran, akan tetapi juga gembira bukan main.
Kakek Coa Song seperti tidak percaya dan dia bahkan kini memeriksa sendiri.
Akhirnya dia tersenyum le bar penuh kelegaaan hati.
Cucu buyutnya itu memang sama sekali tidak keracunan, betapapun tidak mungkinnya hal itu.
"Apakah ular itu sudah kehilangan racunnya ketika menggigit anakmu?"
Tanyanya kepada Lan Ci.
Nyonya muda itu mengambil ular itu, lalu sebatang tusuk sanggul perak dicabutnya dari sanggulnya.
Di bawah pandang mata semua orang, nyonya muda itu menggosok-gosok ujung tusuk sanggul perak itu ke mulut ular, di antara taring-taringnya.
Dan semua orang mengeluarkan seruan ngeri karena segera tusuk sanggul yang tadinya putih bersih itu tiba-tiba menjadi kehijauan lalu menghitam!
Lan Ci juga terbelalak menoleh kepada pute ranya yang hanya ikut memandang tidak mengerti.
"Racun di mulut ular ini cukup kuat untuk membunuh sepuluh orang dewasa!"
Kata Lan Ci.
"Aku akan memeriksa apa yang membuat binatang ini mati terbakar."
Lan Ci menggunakan pis au menyayat tubuh ular itu, memeriksa di bawah sinar lampu yang te rang. Dan iapun memandang kepada suaminya dengan mata terbuka le bar, penuh keheranan dan kekagetan.
"Ada apa?"
Siang Lee bertanya khawatlr.
"Ular ini....... terserang racun yang amat hebat!"
Tentu saja ucapan ini membuat semua orang te rkejut dan terheran-heran dan bertanya-tanya. Lan Ci diam saja, hanya mengerling sejenak kepada suaminya lalu kepada puteranya.
"Bangkai ular ini harus dikubur yang dalam. Kalau ada anjing makan dagingnya, anjing itu akan mati."
Kam Seng Hin lalu menyuruh seorang anggota He k-houw-pang untuk melakukan penguburan itu di kebun belakang.
Peristiwa ini membuat semua orang bertanya-tanya.
Akan tetapi mereka semua memaklumi ketika Lan Ci mengajak pute ranya itu memasuki kamar.
Siang Lee yang masih berkhawatir mengikuti dari belakang.
Kini Cin Cin yang dirubung semua orang dan anak ini menceritakan te rjadinya peristiwa yang mengejutkan dan menggelisahkan tadi.
Setelah semua orang memasuki kamar masing-masing, Kam Seng Hin memberi nasehat kepada Cin Cin.
"Anakku, engkau lihat tadi sikap Thian Ki. Biarpun nyawanya te rancam maut, dia begitu te nang, begitu tabah. Engkau harus mencontoh sikapnya itu. Menjadi seorang gagah haruslah te nang dan tabah, biar menghadapi maut sekalipun. Jangan cengeng seperti seorang perempuan lemah."
"Benar kata ayahmu, Cin Cin. Engkau harus menjadi orang yang gagah perkasa dan sikap Thian Ki tadi memang mengagumkan sekali. Sungguh heran kalau anak seperti itu tidak diajar ilmu silat,"
Kata Poa Liu Hwa.
Sementara itu, setelah Thian Ki tidur pulas , Lan Ci memberi is yarat kepada suaminya.
Mereka turun dari pembaringan dan bercakap-cakap dengan suara berbis ik di sudut kamar, menjauhi pembaringan itu.
Tadi mereka berdua melakukan pemeriksaan lagi dengan teliti kepada tubuh putera mereka, sampai mereka merasa yakin benar bahwa Thian Ki tidak keracunan.
"Aku khawatir sekali,"
Kata Sim Lan Ci dengan suara berbisik.
"Hemm, kenapa? Bukankah dia sama sekali tidak keracunan? Kita sepantasnya bersyukur, kenapa engkau malah khawatir?"
Tanya Siang Lee, juga berbisik. Lan Ci mengerutkan alisnya.
"Tadinya aku sendiri merasa heran melihat gigitan ular yang amat berbisa itu tidak membuat dia keracunan. Akan tetapi setelah aku memeriksa keadaan ular itu, mengertilah aku dan akupun merasa khawatir bukan main."
"Apa yang kaukhawatirkan?"
Siang Lee yang melihat wajah isterinya berubah pucat, merangkulnya dengan penuh sayang.
"Jangan membikin aku bingung, katakan apa yang mengkhawatirkan hatimu."
Dan begitu dirangkul suaminya, Lan Ci menangis di dada suaminya! Tentu saja Siang Lee menjadi semakin kaget dan heran. Didekapnya isterinya dan diusapnya air matanya.
"Aih, e ngkau membikin aku menjadi semakin bingung. Kenapakah, sayang?"
Lan Ci mengeraskan hatinya dan membiarkan suaminya mengusap air matanya. Kemudian ia berhasil menenangkan hatinya dan beberapa kali ia menghela napas panjang.
"Dahulu, sebelum aku ikut denganmu, ibuku pernah bercerita bahwa ibu senang mempelajari cara membuat seorang anak menjadi Tok-tong (Anak Beracun). Aku tidak begitu memperhatikannya dan sudah melupakan hal itu lagi ketika ibu menjadi nikouw. Akan tetapi melihat keadaan Thian Ki, aku tahu bahwa anak kita telah menjadi Tok-tong!"
"Ahh.....!!!"
Siang Lee te rbelalak memandang kepada is terinya, lalu ke arah Thian Ki yang tidur pulas di pembaringan.
"Tok-tong.....? Apa artinya itu.....?"
"Artinya, anak kita yang kita ingin didik menjadi orang yang tidak mengenal ilmu silat itu kini telah memiliki tubuh yang membuat dia menjadi orang yang amat berbahaya! Engkau lihat saja tadi buktinya. Seekor ular berbisa yang amat berbahaya, setelah menggigit dia, tidak membuat Thian Ki keracunan, bahkan ular itu sendiri yang keracunan dan mati seperti terbakar. .Apalagi kalau ada manusia yang menyerangnya!"
"Aduhh.......! Ba.....Bagaimana ini......?"
Siang Lee menjadi pucat dan dia memandang ke arah pute ranya.
"Dia harus disembuhkan. Racun itu harus dibuang dari tubuhnya!"
De ngan sedih Lan Ci menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin. Aku te ringat sekarang semua keterangan ibu. Anak yang akan dijadikan Tok-tong itu bukan saja diberi minum racun, juga tubuh digodok dengan air beracun, kemudian ditusuki jarum beracun dan dimasuki hawa beracun yang hanya dapat dilakukan oleh ibu. Otomatis badan anak itu menjadi beracun, seperti binatang beracun lainnya dan tidak ada yang dapat menghilangkan racun itu dari tubuhnya."
"Celaka! Ya Tuhan, kenapa ia melakukan itu kepada anak kita?"
Siang Lee mengepal tinju dan mukanya berubah merah karena marah.
"I bumu jahat sekali! Sudah menjadi nikouw masih mencelakai anak kita!"
Kini Lan Ci yang merangkul suaminya.
"Tenanglah, koko. Dalam keadaan seperti ini kita harus tetap tenang agar dapat mencari jalan keluar yang tepat untuk anak kita."
Sejenak mereka berangkulan dan akhirnya Siang Lee dapat menenangkan hatinya.
"Ceritakan semua, apa akibatnya setelah anak kita menjadi Tok-tong,"
Kata Siang Lee dan suaranya mengandung kepahitan yang hebat.
Anak satu-satunya, yang disayangnya dan yang diharapkan akan menjadi seorang anak yang jauh dari kekerasan dan ilmu silat, kini bahkan telah menjadi anak beracun yang berbahaya!
"Thian Ki telah menjadi Tok-tong dan tidak ada obat yang dapat memulihkannya.
Dia akan tumbuh dewasa secara normal.
Akan tetapi tubuhnya te lah mengandung racun.
Kalau dia tidak diberi tahu, tanpa disengaja dia bisa mengeluarkan hawa beracun, ludah beracun, bahkan pukulan tangannya dapat mengandung racun.
Kita hanya dapat melatihnya agar dia dapat mengendalikan diri, mengendalikan hawa beracun di tubuhnya itu."
"Apa tidak ada akibat lain? Benarkah tidak ada cara untuk menghilangkan racun itu?"
"Akibat yang amat menakutkan, kalau dia tahu akan kemampuan hebat dalam dirinya untuk merobohkan orang lain, kalau dia berambisi untuk menjadi jagoan, tentu dia akan mencelakai banyak orang. Dan ada satu cara untuk menghilangkan racun itu, akan tetapi.."
"Tidak ada tapi! Apa cara itu? Akan kute mpuh lautan api sekalipun untuk mencarikan obatnya."
"Racun itu akan dapat berkurang sedikit demi sedikit kalau dia.......berhubungan badan dengan wanita. Akan tetapi, setiap orang wanita yang berhubungan dengan dia akan mati keracunan. Entah berapa banyak wanita yang akan mati sebelum dia bersih dari racun itu."
"Ya Tuhan.......!!! Siang Lee seketika menjadi le mas. Kalau obatnya macam itu, sampai matipun dia tidak akan mengijinkan pute ranya membunuh banyak wanita.
"Tidak ada lain jalan, suamiku. Kita harus memberitahu anak kita sekarang juga, agar jangan sampai te rlambat. Bayangkan saja kalau dia tidak tahu dan besok pagi bermain-main dengan Cin Cin, kesalahan tangan memukulnya, dapat saja tanpa disengaja hawa beracun itu bekerja dan Cin Cin tewas di tangannya!"
Siang Lee nampak te rkejut sekali.
"Celaka, engkau benar! Dia harus diberitahu agar menyadari keadaan dirinya dan tidak sembarangan membunuh orang. Akan te tapi baru saja mereka mendekati tempat tidur, di luar kamar mereka te rdengar suara gaduh, disusul ketukan pintu kamar mereka dari luar.
"Suheng! Coa-suheng dan toa-so, harap buka pintu, cepat! Ada hal yang penting sekali!"
Te rdengar suara Seng Hin, ketua Hek-houw-pang.
Tentu saja Siang Lee dan Lan Ci te rkejut, mereka menduga bahwa ini te ntu ada hubungannya dengan keadaan anak mereka yang mengejutkan itu.
Siang Lee cepat membuka daun pintu dan te rnyata Seng Hin sudah berdiri di situ bersama Poa Liu Hwa yang memondong tubuh Cin Cin.
Mereka kelihatan panik.
"Ada apakah, s ute?"
Tanya Siang Lee.
"Coa-suheng, mereka telah menyerbu dusun kita!"
Kata Kam Seng Hin.
"Mereka siapa?"
Tanya Siang Lee.
"Mungkin anak buah orang buruan itu. Mereka lihai sekali dan beberapa orang anak buah kita telah roboh. Karena suheng dan toaso tidak mau berkelahi, maka kami hendak menitipkan Cin Cin di sini. Mohon suheng suka menjaga dan melindungi anak kami ini."
Poa Liu Hwa menurunkan Cin Cin dan mereka berdua lalu berloncatan keluar dari dalam kamar itu.
"Ayah! Ibu! Aku ikut......!"
Cin Cin berseru dan lari mengejar.
Akan tetapi Siang Lee telah menangkap le ngannya, lalu mengangkat dan memondong anak itu "Tidak boleh, Cin Cin.
Ayah ibumu akan berte mpur, berbahaya sekali kalau kau ikut dengan mereka."
"Aku tidak takut, supek! Aku akan membantu ayah dan ibu menyerang musuh!"
Cin Cin meronta.
"Tidak boleh, Cin Cin. Ayah ibumu telah menitipkan engkau kepada kami, kami harus menjaga dan melindungimu. Mereka akan marah kalau engkau menyusul ke sana. Di sinilah bersama kami dan Thian Ki."
"Ayah, apakah yang terjadi? Apa ribut-ribut itu?"
Thian Ki yang te rbangun oleh suara gaduh di luar itu sudah turun dari pembaringan dan menghampiri ayah ibunya.
"Eh, Cin Cin disini?"
"Cin Cin, berjanjilah bahwa engkau akan berada di sini bersama Thian Ki dan tidak akan mencari ayah ibumu,"
Kata Siang Lee sambil menurunkan Cin Cin yang sudah tidak meronta lagi setelah anak itu melihat Thian Ki.
"Baik, supek. Aku akan berada di sini bersama Thian Ki."
Dari situ te rdengar suara orang berte mpur di luar. Siang Lee dan istrinya saling pandang.
"Kita harus menengok keadaan kong-kong, dan melihat apa yang terjadi,"
Kata Siang Lee kepada isterinya. Lan Ci mengangguk dan Siang Lee kini menghadapi dua orang anak yang sudah saling berpegang tangan dengan wajah te gang itu.
"Thian Ki dan Cin Cin, kalian dengar baik-baik. Dusun ini diserbu orang-orang jahat, kami orang-orang tua harus melawan mereka, akan te tapi kalian berdua tidak boleh keluar. Kalian harus bersembunyi di sini sampai kami kembali dan jangan sekali-kali keluar. Mengerti?"
"Baik, ayah."
"Baik, supek."
Suami isteri itu hendak melangkah ke luar, akan tetapi di ambang di ambang pintu, Lan Ci kembali memasuki kamar itu dan memegang tangan Thian Ki lalu menariknya dan berkata.
"Thian Ki, engkau ke sini sebentar, ibu mau bicara penting!"
Thian Ki menurut saja diajak ibunya ke sudut kamar dan ibunya berbisik-bisik di telinganya.
"Thian Ki, di tubuhmu te rdapat hawa beracun. Ingat ular tadi mati ketika menggigit kakimu. Kelak engkau harus mencari obat penawarnya, dan jangan sekali-kali engkau menikah sebelum sembuh. Setiap wanita akan mati kalau berdekatan denganmu. Ingat baik-baik ini,"
Kata Lan Ci dengan suara berbisik dan sebelum Thian Ki yang menjadi bengong itu sempat bertanya, ia sudah meninggalkannya dan bersama suaminya ia lalu keluar dari dalam kamar itu setelah menutupkan daun pintunya.
Cin Cin menghampiri Thian Ki yang masih te rtegun bingung.
"Thian Ki, apa yang dipesankan ibumu tadi?"
Tanya Cin Cin sambil memegang tangan Thian Ki. Thian Ki menggeleng kepala.
"Tidak apa-apa Cin Cin. Ibu hanya pesan agar kita tidak keluar dari sini karena di luar amat berbahaya, dan bahwa aku harus melindungimu."
"Thian Ki, engkau tidak pandai silat, bagaimana akan dapat melindungiku? Akan te tapi jangan khawatir, aku dapat melindungi diriku sendiri, bahkan aku yang akan melindungimu, kalau ada orang jahat berani masuk ke sini akan kuhajar!"
Cin Cin mengepal kedua tinjunya.
Akan tetapi Thian Ki tidak te rsenyum melihat kelucuan Cin Cin itu.
Dia sedang bingung.
Ucapan ibunya masih te rngiang di telinganya dan dia tidak mengerti artinya.
Dia keracunan.
Ular itu tadi mati sendiri begitu menggigit kakinya.
Akan tetapi, apa artinya setiap wanita akan mati kalau berdekatan dengannya?
Ibunya juga seorang wanita dan selama ini dekat dengannya, akan tetapi ibunya tidak mati!.
Dia sungguh tidak mengerti.
Akan tapi dia berjanji kepada diri s endiri untuk mencari obat kalau benar di tubuhnya terdapat hawa beracun.
Sebetulnya, apakah yang te rjadi di dusun itu?
Benar seperti dugaan He k-houw-pang-cu yang mendengar laporan para anggotanya, malam itu rombongan Pangeran Cian Bu Ong tiba di dusun itu!.
Mula-mula, pada malam hari yang gelap itu, menjelang tengah malam, lima orang menghampiri gardu penjagaan di pintu gerbang dusun Ta bun-cung.
Mereka itu bukan lain adalah lima orang pembantu Utama Pangeran Cian Bu Ong, lima orang bekas narapidana yang dia bebaskan, yaitu Gan Lui, Lie Koan Tek, Thio Ki Lok, Gulana dan Can Hong San.
Mereka diutus Pangeran Cian Bu Ong untuk melakukan penyelidikan sebagai pembuka Jalan di dusun itu.
Dari mata-matanya, pangeran itu sudah mendengar bahwa daerah itu dilindungi oleh He k-houw-pang dan bahwa perkumpulan orang gagah ini sudah didatangi pasukan Kerajaan Tang dan dimintai bantuan untuk menghadang dan menangkapnya.
Maka dia bersikap hati-hati dan lebih dulu mengirim orang-orang kepercayaan sebelum mengajak rombongannya masuk ke dusun itu.
Tentu saja para anggota He k-houw pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang itu menjadi te rkejut dan curiga ketika melihat munculnya lima orang asing secara tiba-tiba di tengah malam itu.
"Heii, berhenti! Siapa kalian dan hendak ke mana?"
Kepala jaga berseru dan bersama duabelas orang anggota He k-houw-pang lainnya dia meloncat menghadang lima orang itu sambil mengamati dengan penuh s elidik.
Seorang penjaga menyalakan sebuah lampu lain yang le bih besar sehingga tempat itu tidak segelap tadi.
Biarpun dia yang paling muda, namun Can Hong San secara resmi telah diangkat sebagai pembantu utama oleh pangeran Cian Bu Ong, dan empat orang yang lain diwajibkan untuk membantunya.
Karena ini merupakan perintah pangeran itu, maka Lie Koan Tek mentaati perintah itu dan dia menganggap orang muda itu sebagai atasannya.
Tiga orang jagoan yang lain te ntu saja tunduk kepada Hong San karena mereka bertiga sudah pernah dikalahkan oleh pemuda perkasa ini.
Kini Hong San melangkah maju dan dengan sikap angkuh dia menghadapi kepala jaga yang berkepala botak itu.
"Apakah kalian ini anak buah perkumpulan yang dinamakan He k-houw-pang?"
Tanya Hong San, suaranya dingin mengandung ejekan yang memandang rendah.
Sudah lazim bagi orang-orang muda.
DaI am keadaan melakukan penjagaan keamanan itu, timbul sikap gagah-gagahan karena bangga dan merasa kuat.
Demikian pula dengan orang-orang He k-houw-pang itu.
Mereka mengangkat dada dan tangan mereka siap meraba gagang senjata yang te rgantung di pinggang seperti pedang dan golok, atau tombak yang berada di rak senjata di gardu itu.
"Benar sekali. Kami adalah murid-murid He k-houw-pang yang melakukan penjagaan untuk keamanan dusun kami!"
Jawab si botak.
"Siapakah kalian?"
"Hemm, bagus kalau kalian ini orang-orang Hek-houw-pang. Nah, sekarang cepat beritahukan kepada ketua kalian bahwa kami ingin bertemu karena urusan yang amat penting,"
Kata Hong San, sikapnya masih dingin.
Para murid He k-houw-pang itu saling pandang dan si botak bersikap hati-hati.
Siapa tahu, lima orang ini adalah sahabat-s ahabat ketua mereka yang datang berkunjung sebagai tamu.
Orang-orang kang-ouw memang banyak yang aneh.
Berkunjung di te ngah malam seperti itu bukan suatu pantangan bagi mereka.
"Jadi cu-wi (anda sekalian) ingin bertemu dengan pang-cu kami?"
Tanya si botak, kini sikapnya agak menghormati dan ragu-ragu.
"Akan tetapi, kami harus melaporkan dulu siapa cu-wi dan apa keperluan cu-wi hendak menghadap pang-cu kami."
"Katakan saja kepada pang-cu kalian bahwa kami berlima diutus oleh pangeran Cian Bu Ong....."
Baru bicara sampai di situ, para murid He k-houw-pang sudah terkejut sekali.
"Pemberontak!"
"Tangkap!"
"Kepung......!"
Tigabelas orang itu serentak mencabut senjata dan mengepung lima orang yang bersikap te nang itu.
Si botak yang memegang sebatang pedang, menudingkan te lunjuk kirinya ke muka Can Hong San dan dia berseru dengan nyaring.
"Lebih baik kalian lima orang pemberontak menyerah kepada kami daripada harus kami tangkap dengan kekerasan!"
Hong San mengerutkan alisnya.
Pangeran Cian Bu Ong sudah marah ketika mendengar bahwa He k-houw-pang mengambil sikap bermusuhan dengan dia dan a kan membantu pasukan Ke rajaan Tang untuk menangkapnya.
Dia sudah berpesan kepada Hong San bahwa kalau ketua Hek-houw-pang mau diajak kerja sama, hal itu baik sekali.
Akan te tapi kalau mereka berkeras menentangnya, maka lebih baik perkumpulan itu dibasmi saja!
"Hemm, orang He k-houw-pang.
Sekali lagi, panggil ketuamu ke sini agar kami dapat bicara.
Atau kami akan mengambil jalan berdarah untuk menangkap ketua kalian!"
"Serbuuuu! Hancurkan pemberontak!"
Teriak si botak dan dia sendiri sudah menyerang Hong San dengan pedangnya, karena pemuda itu berdiri paling depan.
Juga para murid lain sudah menggunakan senjata mereka untuk menyerang empat orang rekan Hong San.
Hong San adalah seorang muda yang amat lihai.
Ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, maka te ntu saja serangan murid tingkat ke dua dari He k-houw-pang itu tidak ada artinya bagi dirinya.
Bahkan kalau dia mau melindungi tubuhnya dengan sin-kang, pedang itu tidak akan mampu menyentuhnya, akan tetapi, Hong San sama sekali tidak mengelak, bahkan menangkap pedang si botak yang menyerang dengan bacokan.
Tangan kirinya menangkap pedang itu seolah pedang itu bukan benda baja tajam yang digerakkan dengan te naga besar, melainkan sebatang pedang kayu tumpul yang digerakkan tangan seorang anak kecil saja.
Dan tangan kanannya dibarengi dengan tamparan ke arah kepala botak itu.
"Prakkkk!"
Si botak te rjengkang dan ro boh tewas seketika karena kepalanya retak-retak dan pedangnya te rampas berada dalam cengkeraman tangan kiri Hong San.
Pemuda ini tidak berhenti sampai di situ saja.
Sekali dia melemparkan pedang rampasan itu ke kiri, seorang pengeroyok roboh dan pedang itu menancap di dadanya sampai menembus punggung!
Empat orang rekannya juga sudah di keroyok banyak murid Hek-houw-pang.
Gan Lui merobohkan seorang pengeroyok yang te was seketika oleh senjata cambuknya, Thio Ki Lok juga menewaskan seorang pengeroyok dengan golok gergaji.
De mikian pula Gulana meremukkan kepala seorang pengeroyok dengan tongkat bajanya.
Hanya Lie Koan Tek yang tampak ragu-ragu.
Melihat betapa sudah ada lima orang roboh te was, dia melompat ke depan.
"Tahan semua senjata!"
Teriaknya dengan suara lantang sekali karena tokoh Siauw-lim-pai ini mengerahkan khi-kang sehingga suaranya keluar dari perut dan amat nyaring.
"Kami utusan pangeran Cian Bu Ong datang untuk mengajak bekerja sama, bukan bermusuhan. Kerajaan telah dirampas pemberontak, apakah kalian hendak membantu pemberontak Tang? Mari kita bicara dengan baik dan kami persilakan ketua Hek-houw-pang untuk keluar bicara dengan kami!"
"Akulah ketua Hek-houw-pang!"
Tiba-tiba te rdengar suara keren dan Kam Seng Hin telah berdiri di situ, didampingi oleh isterinya, Poa Liu Hwa.
Ketua yang berusia empatpuluh tahun ini, yang bertubuh tinggi besar dan gagah, nampak marah sekali melihat betapa lima orang murid Hek-houw-pang telah roboh tewas.
"Kailan anjing-anjing penjilat Pangeran Cian Bu Ong yang memberontak! Kami adalah rakyat yang tunduk dan taat kepada pemerintah yang sah!"
Lie Koan Tek merasa khawatir sekali melihat sikap ketua Hek-houw-pang itu.
Dia tahu benar betapa lihainya empat orang rekannya, te rutama sekali Can Hong San yang masih muda itu, dan betapa kejamnya hati mereka.
Kalau dibiarkan saja perkelahian berlangsung lagi, tentu semua orang He k-houw-pang akan terbunuh mati.
Maka diapun cepat mendahului dengan suaranya yang lantang.
"Ketua Hek-houw-pang te rnyata masih muda dan gagah. Pangcu, ketahuilah bahwa pendirianmu itu keliru. Pemerintah yang sah adalah kerajaan Sui yang jatuh ke tangan pemberontak yang kini mendirikan Kerajaan Tang. Kalau engkau ingin menjadi seorang pahlawan, seharusnya engkau membela Kerajaan Sui, bukan Kerajaan Tang yang didirikan para pemberontak!"
"Tidak perlu memutar-balikkan kenyataan!"
Bentak pula Kam Seng Hin marah.
"Setiap orang te ntu tahu betapa lalimnya kaisar te rakhir kerajaan Sui, menindas dan mencekik rakyat. Panglima Li Si Bin adalah seorang pejuang rakyat, seorang pahlawan yang mengenyahkan kaisar lalim dan sekarang membangun pemerintahan baru yang bersih dan adil. Kemudian Pangeran Cian Bu Ong memberontak di Pohai, lalu sekarang menjadi pelarian. Siapa tidak tahu akan hal itu? Sebaiknya kalau kalian menyerah agar kami tangkap dan kami hadapkan kepada pemerintah."
"Jahanam sombong!"
Bentak Can Hong San marah dan diapun sudah menerjang dengan tangan kirinya, menampar ke arah kepala Kam Seng Hin.
Ketua Hek-houw-pang ini merupakan seorang murid kepala dan te ntu saja sudah memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Namun, kini dia berhadapan dengan seorang pemuda yang kepandaiannya jauh le bih tinggi dari dia, maka melihat tamparan itu, Kam Seng Hin cepat menangkis sambil mengeluarkan seluruh tenaga.
"Plukkkk!"
Begitu tangkis annya bertemu dengan tangan Hong San, tubuh tinggi besar ketua itu te rpelanting dan terbanting keras!
Tentu saja semua anggota Hek-houw-pang terkejut.
Poa-Liu Hwa menolong suaminya dan beberapa orang anggota He k-houw-pang menyerang Hong San dengan senjata mereka.
Juga para anggota He k-houw-pang lainnya yang sudah berkumpul telah mengepung dan mengeroyok empat orang yang lain dengan senjata mereka.
Biarpun dengan hati yang berat, karena dikepung dan dikeroyok, Lie Koan Tek terpaksa membela diri.
Akan tetapi, kalau dia hanya mengelak dan menangkis saja dan merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh atau melukai dengan berat, empat orang lainnya sebaliknya seperti berpesta-pora menyebar maut di antara para anggota Hek-houw-pang.
Poa Liu Hwa yang menolong suaminya mendapat kenyataan bahwa suaminya tidak terluka, maka mereka berdua lalu menghunus senjata dan ikut pula mengeroyok.
Terjadilah perte mpuran yang seru dan mati-matian.
Can Hong San tidak menggunakan pedangnya.
Pihak lawan dianggap te rlalu lemah sehingga cukup dengan suling di tangan kiri dan tangan kanan yang kosong saja, dia sudah menyebar maut.
Sudah enam orang roboh dan tewas oleh totokan suling di tangan kiri atau hantaman tangan kanannya.
Dia mengamuk sambil te rsenyum gembira seperti orang yang sedang membunuhi tikus saja.
Melihat ini, Kam Seng Hin yang bersama isterinya tadi mengeroyok Gulana, menjadi marah sekali.
Sambil berteriak nyaring dia membalik dan menerjang Can Hong San, membantu anak buahnya mengeroyok pemuda tampan ini.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 3 Kam Seng Hin terlampau marah dan hal ini membuatnya kehilangan kewaspadaan.
Seharusnya dia tahu bahwa dia sama sekali bukan lawan pemuda lihai ini.
Tadipun dalam segebrakan saja, dia telah roboh walaupun tidak terluka.
Kini, dengan kemarahan meluap, Kam Seng Hin menggunakan pedangnya untuk menyerang Hong San.
Padahal, para anak buah Hek-houw-pang sudah mulai gentar untuk mendekati pemuda itu, karena tadi mereka melihat betapa setiap lawan yang berani mendekat atau menyerang, tentu roboh dan tewas!
"Haiiitttt ....!"
Kam Seng Hin menerjang dengan ganas, pedangnya menyambar ke arah dada Hong San dengan tusukan maut.
"Hemm, kau sudah bosan hidup!"
Kata Hong San sambil tersenyum mengejek.
Tubuhnya mendoyong ke kiri dan ketika pedang meluncur dekat tubuhnya, dia menggerakkan tangan kanannya ke arah kepala Kam Seng Hin.
Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga tidak nampak oleh ketua Hek-houw-pang yang tingkat kepandaiannya kalah jauh itu.
"Prakkk!"
Kam Seng Hin mengeluh dan terkulai roboh, tewas seketika dengan kepala retak!
Melibat suaminya roboh, Poa Liu Hwa menje rit dan dengan nekat ia menggerakkan pedangnya, menyerang Hong San.
Namun sambil te rsenyum pemuda ini menggerakkan kakinya menendang dan tubuh wanita itu te rje ngkang jauh ke belakang.
Ia bangkit lagi, hendak mengadu nyawa membela kematian suaminya, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya le mas karena ditotok orang dari belakang.
Se belum ia roboh, sebuah lengan yang kuat menyambutnya dan di lain saat ia telah berada di dalam pondongan dua le ngan yang kuat, kemudian orang itu melarikan diri dengan loncatan jauh dan menghilang dalam kegelapan malam.
Hong San melihat bahwa orang yang menotok dan melarikan wanita itu adalah seorang rekannya, yaitu Lie Koan Tek.
Dia hanya te rsenyum mengejek, mengira bahwa tentu rekannya itu te rtarik pada wanita cantik isteri Hek-houw-pang-cu dan menculiknya untuk dipermainkan sebelum dibunuh.
Dia tidak perduli dan pada saat itu nampak dua bayangan berkele bat dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik.
Dia memandang heran karena merasa pernah mengenal mereka, akan tetapi lupa lagi entah di mana dan kapan.
Mereka itu adalah suami isteri Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci.
Suami is teri ini tadi ikut keluar dan sejenak mereka bingung melihat lima orang yang amat lihai itu dikeroyok oleh puluhan anggota He k-houw-pang.
Mereka memang sudah lama tidak mau mencampuri urusan dunia kangouw, bahkan tidak pernah mau mempergunakan ilmu silat untuk berkelahi.
Kini mereka ragu-ragu, akan tetapi ketika melihat Kam Seng Hin roboh te was dan Poa Liu Hwa dilarikan orang, Siang Lee tidak dapat menahan dirinya lagi dan diapun maju mendekati tempat pertempuran.
"Aih, dia adalah jahanam itu ..."
Tiba-tiba isterinya, Sim Lan Ci berseru kaget.
Siang Lee memandang dan kini diapun mengenal Can Hong San.
Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu ketika Thian Ki berusia tiga tahun.
Pada suatu malam, seorang Jai-hoa-cat (penjahat cabul) muncul dalam kamar mereka, dan penjahat itu lihai bukan main.!
Mereka berdua mengeroyoknya dan tiba-tiba penjahat itu menangkap Thian Ki sebagai sandera, memaksa Sim Lan Ci untuk menotok roboh Coa Siang Lee, kemudian dengan mengancam nyawa Thian Ki penjahat itu memaksa Lan Ci untuk menyerah digaulinya!
Pada saat yang amat berbahaya bagi kehormatan wanita itu muncul seorang pendekar sakti, yaitu Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng sehingga perbuatan terkutuk itu dapat digagalkan dan penjahat itu melarikan diri, tidak kuat melawan Si Naga Sakti Sungai Kuning.
Penjahat itu bukan lain adalah Can Hong San yang kini mereka hadapi!
"Keparat, kiranya engkau jai-hoa-cat hina!"
Siang Lee memaki dan diapun cepat maju menyerang bersama isterinya.
Semenjak mereka mengambil keputusan untuk hidup sebagai petani dan tidak pernah mau melibatkan diri dalam perkelahian atau permusuhan, suami isteri ini tidak pernah membawa senjata, Sekarangpun mereka tidak bersenjata lagi.
Padahal Lan Ci memiliki sebatang pedang pusaka yang bernama Cui-mo Hok-kiam (Pedang Hitam Pengejar I blis) dan biasanya dahulu ia membawa sekantung Toat-beng Tok-piauw (Piauw Beracun Pencabut Nyawa).
Akan tetapi sekarang, wanita itupun seperti suaminya hanya menyerang dengan tangan kosong.
Biarpun demikian, ia memiliki Ban-tok Hwa-kun ( Silat Tangan Kosong Selaksa Racun) yang dipelajarinya dari ibunya, yaitu Ban-tok Mo-li, maka tentu saja serangannya hebat dan hawa pukulan tangannya mengandung racun.
Juga Siang Lee menyerang dengan pukulan-pukulan ampuh.
Pria ini, selain mewarisi ilmu-ilmu dari keluarganya, yaitu para pimpinan He k-houw-pang, juga pernah mempelajari banyak macam ilmu silat dari tokoh-tokoh kangouw, maka serangannya juga berbahaya sekali.
Diam-diam Can Hong San terkejut melihat gerakan suami isteri itu.
Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak mengenal mereka.
Dan serangan mereka itu membuat dia tidak sempat untuk banyak mengingat lagi.
Serangan mereka te rlalu berbahaya, maka diapun cepat mencabut pedangnya, diputar pedangnya itu untuk membela diri dan balas menyerang.
Pedang dan sulingnya menyambar nyambar dan kini suami isteri itu yang te rdesak, walaupun tidak begitu mudah bagi Hong San untuk merobohkan mereka dalam waktu singkat seperti yang tadi dilakukan te rhadap lawannya.
Gulana, jagoan peranakan Turki yang tinggi besar hitam, juga sejak tadi mengamuk dan sudah membunuh banyak lawan, ketika melihat betapa Can Hong San dikeroyok dua orang laki-laki dan perempuan yang lihai, segera membantu.
Jagoan ini wataknya sombong, maka melihat bahwa biarpun lihai sekali, pria dan wanita yang mengeroyok rekannya itu bertangan kosong, dia lalu te rtawa dan menancapkan tongkat bajanya di atas tanah.
Dia sudah melihat kecantikan Sim Lan Ci dan timbul niatnya untuk menangkap wanita cantik itu.
Tadipun ia melihat bahwa seorang rekannya, Lie Koan Tek, telah menangkap dan melarikan seorang wanita cantik, maka timbul keinginannya untuk menangkap wanita yang kini mengeroyok Can Hong San itu.
Sambil tertawa, bagaikan seekor binatang, dia menubruk dari belakang.
Sim Lan Ci adalah puteri Ban-tok Mo-li, tingkat kepandaiannya bahkan lebih tinggi dibandingkan suaminya.
Biarpun sudah bertahun-tahun ia tidak pernah berkelahi, namun gerakannya masih sigap dan pendengarannya masih tajam, mendengar gerakan dari belakang itu, padahal saat itu, suling di tangan Hong San sedang meluncur dan menotok ke arah dadanya.
Ia cepat membalik, mengelak dari totokan suling sambil memutar tubuh dan lengan untuk menyambut serangan yang datang dari arah belakang itu.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika kedua pergelangan tangannya ditangkap oleh dua buah tangan yang berjari panjang dan besar, kuat bukan main sehingga kedua pergelangan tangannya itu seolah dicengkeram je pitan besi!
Dan Gulana menyeringai le bar karena kini dia mendapat kenyataan bahwa wanita yang ditangkapnya itu luar bias a cantiknya!
"Heh-heh-heh, manis, marilah padaku.........heh-heh!"
Dan sambil masih mencengkeram kedua pergelangan tangan Lan Ci, dia membungkuk dengan maksud untuk mencium muka wanita itu.
Kalau saja dahulu Lan Ci mempelajari ilmu-ilmu yang amat jahat dari ibunya sehingga bukan saja tangannya mengandung pukulan beracun, juga kuku, gigi dan ludahnya dapat menjadi senjata beracun, te ntu dalam keadaan te rtangkap kedua le ngannya itu ia masih dapat menyerang dengan ludah beracun.
Akan te tapi Sim Lan Ci memang berbeda dengan ibunya.
Biarpun ia mewarisi ilmu-ilmu ibunya, namun ia tidak pernah mau mempelajari ilmu yang keji itu.
Kini, dicengkram kedua pergelangan tangannya, ia meronta-ronta dan mencoba untuk melepaskan diri dengan te ndangan.
Akan tetapi raksasa hitam itu menariknya dekat sehingga tidak mungkin menendang, dan yang lebih mengerikan lagi karena raksasa itu mendekatkan mukanya dan mulut yang le bar itu seolah moncong harimau yang hendak menggigitnya!
Lan Ci merasa ngeri sekali.
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang anak kecil.
"Lepaskan ibuku!"
Anak itu adalah Coa Thian Ki!
Tadi dia dan Kam Cin dipesan oleh orang tua mereka untuk berdiam saja di kamar dan tidak boleh keluar.
Akan tetapi ketika mendengar suara perte mpuran semakin gaduh di luar, te rdengar te riakan-te riakan kesakitan, dua orang anak itu tak mampu lagi menahan diri untuk tidak luar.
Mereka mengkhawatirkan orang tua masing-masing dan akhirnya, seperti dikomando saja, mereka bergandeng tangan untuk membesarkan hati dan berlari keluar dari rumah itu.
Dan mereka melihat pemandangan yang mengerikan.
Mayat berserakan, darah bergelimang di mana-mana dan mereka melihat empat orang yang mengamuk, membunuhi para anggota He k-houw-pang seperti empat ekor kucing mengamuk dan membunuh tikus-tikus yang mengeroyok mereka.
Ketika Thian Ki melihat ibunya tak berdaya ditangkap oleh seorang raksasa hitam, dan ibunya meronta-ronta lemah, dia menjadi marah bukan main.
Melupakan segala, kecuali hanya ingin menolong ibunya, Thian Ki lalu berlari dan berte riak.
"Lepaskan ibuku!"
Dan diapun sudah meloncat ke arah punggung raksasa itu.
Dia sendiri tidak tahu betapa gerakannya meloncat itu sungguh luar bias a sekali, cepat dan ringan.
Hal ini merupakan suatu keanehan yang seringkali terjadi pada orang yang sedang takut atau sedang diancam bahaya.
Dalam keadaan biasa, kiranya tidak mungkin sekali Ioncat anak itu dapat tiba di atas punggung Gulana yang tinggi itu.
Dan karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong ibunya, begitu tiba di punggung, Thian Ki menggunakan kedua le ngannya merangkul leher Gulana kemudian membuka mulutnya dan dia menggigit te ngkuk raksasa itu!
Tiba-tiba saja sepasang mata yang besar dari raksasa Turki itu te rbelalak melotot le bar, cengkeraman kedua tangannya pada pergelangan tangan Sim Lan Ci te rlepas dan kini kedua tangannya yang membentuk cakar itu bergerak ke arah punggungnya sendiri, tentu saja dengan maksud untuk menyingkirkan mahluk yang menggigit tengkuknya dan yang membuat seluruh tubuhnya te rasa seperti dibakar itu.
Akan tetapi, dia hanya mampu mengangkat kedua tangan ke atas dan sebelum cakar kedua tangan itu sempat menyentuh tubuh Thian Ki, Gulana sudah roboh te rsungkur ke depan.
Biarpun tu buhnya kini sudah menjadi kaku, mukanya menjadi hangus seperti dibakar, dan tubuhnya rebah miring, namun Thian Ki masih berada di punggungnya, merangkul dan menggigit te ngkuk, seperti lintah yang menempel di tubuh yang gemuk dan banyak darahnya.
Melihat betapa rekannya roboh dengan muka hangus, dan seorang anak laki-laki kecil masih melekat di punggung mayat Gulana dan menggigit te ngkuk raksasa itu, Thio Ki Lok terbelalak.
Bekas kepala rampok ini selain ahli silat, juga ahli gulat Mongol.
Dia lalu maju dan mencengkeram ke arah punggung Thian Ki.
De mikian kuat cengkeramannya sehingga baju di punggung anak itu robek dan jari tangan si pendek gendut itu mencengkeram kulit punggung Thian Ki, lalu melemparkan anak itu sampai melayang sejauh enam meter!
Akan tetapi, Thio Ki Lok mengeluarkan te riakan seperti seekor babi disembelih, matanya terbelalak memandang tangan kiri yang mencengkeram tadi.
Tangan itu kini te lah hangus dan rasa nyeri menjalar dari tangan itu ke atas!
Dia adalah seorang yang berpengalaman, maka tahulah dia bahwa entah bagaimana, tangannya itu te lah kena racun yang amat hebat seperti racun ular berbisa yang paling berbahaya, tanpa ragu-ragu lagi, tangan kanan yang memegang golok bergerak dan.........."crokkk!"
Dia telah membuntungi tangan kirinya sendiri sebatas pergelangan tangan!
Akan tetapi, kembali dia meraung karena rasa nyeri itu telah menjalar ke le ngannya.
Kembali goloknya bergerak dan kini dia membuntungi le ngan kirinya sampai sebatas siku!
Darah muncrat dan darah ini menghitam.
Namun usaha yang nekat ini terlambat.
Thio Ki Lok melempar goloknya, jatuh terpelanting, bergulingan sambil meraung-raung dan tubuhnya berubah menghitam, diapun tewas seperti Gulana!.
"Thian Ki.....!"
Sim Lan Ci menghampiri pute ranya yang kini terlempar dan terbanting.
Pada saat itu, terdengar suara riuh rendah dan te mpat itu diserbu oleh pasukan pemerintah!
Kiranya tadi ada seorang anggota He k-houw-pang yang lari melapor kepada pasukan keamanan yang kebetulan berada tidak jauh dari dusun Ta-bun-cung.
Melihat ini, Can Hong San terkejut dan maklum bahwa sudah tiba saatnya ia dan teman-te mannya harus pergi, Lie Koan Tek sudah pergi melarikan seorang wanita.
Thio Ki Lok dan Gulana telah te was secara aneh oleh seorang anak kecil.
Kini hanya tinggal dia dan Gan Lui saja, dan dia harus mempertanggung-jawabkan kegagalan ini kepada Pangeran Cian Bu Ong!
Maka, secepat kilat dia menggerakkan suling dan pedangnya, mengirim serangan dahsyat sekali kepada Coa Siang Lee.
Serangan ini terlalu hebat bagi Siang Lee.
Biarpun dia berusaha mengelak dengan loncatan ke belakang, namun te rlambat dan ujung pedang menusuk lehernya.
Robohlah Siang Lee dan dia hanya sempat mengeluarkan keluhan menyebut nama Thian Ki.
Sim Lan Ci yang masih merangkul pute ranya, te rkejut mendengar suara suaminya.
Ia menoleh dan te rbelalak melihat suaminya roboh mandi darah.
Sim Lan Ci menje rit sambil memondong putranya, meloncat ke dekat tubuh Siang Lee yang sudah te was, menubruk tubuh itu dan menje rit.
Akan te tapi pada saat itu, ujung sulingnya bergerak cepat dua kali dan ibu dengan pute ranya lalu roboh pingsan.
Can Hong San adalah seorang yang amat cerdik.
Melihat betapa anak itu mampu membunuh Gulana dan Thio Ki Lok, dia dapat menduga bahwa anak itu te ntu memiliki suatu keane han dan mungkin menggunakan racun, maka dia merobohkannya dengan suling.
Andaikata dia tidak berhati-hati dan mencoba untuk menotok Thian Ki dengan tangan, mungkin diapun akan menjadi korban dan keracunan.
Di lain saat, Hong San sudah memondong tubuh ibu dan anak itu dan meloncat ke dalam gelap sambil berte riak kepada Gan Lui.
"Mari kita pergi!"
Kiu-bwe-houw Gan Lui juga khawatir karena munculnya pasukan, maka mendengar ajakan ini diapun cepat meloncat dan mereka berdua menghilang di dalam kegelapan malam, meninggalkan mayat dua orang rekan mereka yang tak dapat ditolong lagi.
Andaikata dua rekan itu matinya wajar, mungkin mereka masih dapat membawa je nazah mereka.
Akan tetapi mereka te was dalam keadaan keracunan yang aneh.
Amat berbahaya untuk menyentuh tubuh yang keracunan seperti itu.
Setelah pasukan keamanan datang menyerbu dan dua orang itu melarikan diri, pertempuran te rhenti dengan sendirinya.
Dan mulailah hujan tangis.
Lebih dari tigapuluh orang anggota Hek-houw-pang te was dalam perkelahian itu, dan saking marahnya, sis a anak buah He k houw-pang menghujani mayat Thio Ki Lok dan Gulana dengan senjata tajam sehingga dua buah mayat itu yang sudah hangus menjadi hancur lebur!
Sungguh kasihan sekali melihat Kam Cin atau Cin Cin.
Anak ini juga keluar dari kamar bersama Thian Ki.
Kalau Thian Ki segera lari menyerang Gulana untuk menolong ibunya, Cin Cin lari ke arah mayat ayahnya, menubruk dan menangisi mayat itu tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya.
Setelah pertempuran berhenti dan dia ditolong, kembali anak ini menangis karena ibunya le nyap, apa lagi dia mendengar bahwa ibunya ditangkap penjahat dan dibawa lari.
Dusun Ta-bun-cung berkabung.
Tiga puluh enam orang anak buah He k-houw pang dimakamkan, diiringi tangis sanak keluarga mereka.
Lebih dari setengah jumlah anak buah He k-houw-pang tewas, bahkan ketuanya juga te was dan istri ketua le nyap.
Lebih dari itu, Coa Siang Lee juga tewas, isteri dan pute ranya juga dilarikan penjahat.
Pukulan ini terlalu hebat bagi kakek Coa Song yang usianya sudah tujuh puluh sembilan tahun.
Berkali-kali kakek ini jatuh pingsan dan setelah siuman, dia tidak mampu lagi bangkit dari te mpat tidurnya.
Ketika dia minta Cin Cin dibawa kepadanya, dia merangkul cucu buyutnya itu dan mereka bertangisan.
Kakek itu jatuh sakit payah.
Sebelum dia meninggal dunia, dia mengumpulkan sisa anak buah He k-houw-pang.
Cin Cin duduk di te pi pembaringan dengan mata merah dan bengkak.
Kakek itu lalu meninggalkan pesan.
Dia menugaskan seorang cucu murid bernama Lai Kun, yaitu seorang sute (adik seperguruan) mendiang Kam Seng Hin, untuk mengantar Cin Cin pergi mencari Si Han Beng, Si Pendekar N aga Sakti Sungai Huang-ho di dusun Hong-cun di tepi sungai Huang-ho dan menyerahkan Cin Cin untuk menjadi murid pendekar sakti itu.
De ngan tangan gemetar, untuk terakhir kalinya kakek itu menulis surat singkat kepada Si Han Beng.
Dia sendiri tidak mengenal Si Han Beng secara langsung, akan te tapi cucunya, Coa Siang Lee telah menceritakan kepadanya bahwa pendekar sakti Si Han Beng adalah adik angkat cucunya itu.
Maka, dia mengambil keputusan untuk mengirim cucu buyutnya, Kam Cin kepada pendekar sakti itu agar menjadi muridnya dan kelak dapat membalaskan kematian ayahnya dan mencari ibunya yang dilarikan penjahat.
Juga di dalam suratnya dia menceritakan bahwa Coa Siang Lee tewas di tangan penjahat yang sama, dan istri Siang Lee juga dilarikan penjahat.
Setelah membuat surat itu, kakek Coa Song lalu berpesan kepada semua anak buah Hek-houw-pang bahwa mulai hari itu, He k-houw-pang dibubarkan dan semua murid boleh mengambil jalan hidup masing-masing.
Semua harta milik Hek-houw-pang dibagi-bagikan kepada para murid.
Sete lah meninggalkan semua itu, kakek Coa Song menghembuskan napas terakhir, ditangisi Kam Cin yang seolah telah kehabis an air mata, sehingga anak ini hanya merintih dan mengeluh dengan bingung.
Semua murid Hek-houw-pang patuh pada pesan te rakhir kakek Coa Song.
Setelah mengurus je nasah kakek Coa Song, Lai Kun yang menerima tugas mengantar Kam Cin ke dusun Hong-cun, segera mengajak anak itu berangkat.
Cin Cin meninggalkan dusun Ta-bun-cung dengan menangis memilukan.
Dia menangisi kematian ayahnya, kehilangan ibunya, dan kematian kakek buyutnya.
Keberangkatan anak ini diantar sampai ke luar dusun oleh semua bekas anggota He k-houw-pang, dan tak seorangpun yang tidak ikut menangis saking terharu dan kasihan melihat nasib Kam Cin, anak yang baru berusia lima tahun dan yang bias anya lincah jenaka dan periang itu.
oo000oo Can Hong San dan Gan Lui, dengan tubuh le su karena lelah, menghadap Pangeran Cian Bu Ong di te mpat persembunyian pangeran itu sambil membawa Sim Lan Ci dan Thian Ki yang masih pingsan, karena setiap kali mereka siuman, Hong San menotok mereka dengan seruling membuat mereka pingsan kembali.
Dia menyuruh Gan Lui untuk memanggul tu buh Thian Ki, sedang dia sendiri memanggul tubuh Lan Ci.
Rekannya itu mengomel panjang pendek.
Pemuda itu memanggul tubuh wanita yang hangat dan cantik sedangkan dia harus memanggul tubuh seorang laki-laki, tubuh yang amat berbahaya karena beracun!
Tadinya dia ingin membunuh saja anak itu yang hanya menjadi beban, akan tetapi Hong San melarangnya.
"Jangan tolol,"
Demikian Hong San menegur rekan yang menjadi pembantu atau bawahannya itu.
"Tugas yang kita lakukan biarpun berhasil membasmi Hek houw-pang, akan te tapi juga mengalami kegagalan besar dengan te wasnya Thio Ki Lok dan Gulana. Bagaimana kita harus membela diri di depan pangeran kalau kita tidak membawa anak ini hidup-hidup? Biar pangeran melihat sendiri bahwa dua rekan kita itu te was oleh anak setan ini. Kalau engkau membunuhnya dan meninggalkannya, apa yang kaujadikan alas an kepada pangeran?"
Mendengar ucapan itu, Gan Lui hanya cemberut, akan te tapi dia tahu bahwa memang alas an yang dlkemukakan Hong San itu masuk akal.
Dia dapat membayangkan betapa Pangeran Cian Bu Ong akan kecewa mendengar betapa dua orang pembantunya te was, dan seorang lagi yaitu Lie Koan Tek bahkan melarikan diri membawa seorang wanita keluarga Hek houw-pang.
Setelah mereka membawa ibu dan anak itu ke depan Pangeran Cian Bu Ong dan menceritakan hasil pelaksanaan tugas mereka, pangeran itu menjadi marah dan menggebrak meja di depannya.
''Bodoh, sungguh bodoh sekali!
Menghadapi perkumpulan kecil seperti Hek-houw-pang saja kalian sampai kewalahan dan dua orang tewas?
Dan ke mana perginya Lie Koan Tek?"
Hong San dan Gan Lui saling pandang, lalu Hong San berkata.
"Tadinya kami mengira bahwa dia telah pulang lebih dulu membawa tawanannya, seorang wanita cantik. Kalau tidak salah istri ketua He k-houw-pang. Kalau dia tidak kembali ke sini, berarti dia te ntu melarikan diri dan membawa wanita itu. Memang sejak semula aku tidak percaya kepada murid Siauw-lim-pai itu, pangeran!"
Pangeran Cian Bu Ong mengerutkan alisnya.
"Hem, kalau benar dia melarikan diri dan mengkhianatiku, masih ada waktu untuk mencarinya dan dia akan menyesali perbuatannya! Akan te tapi, bagaimana Thio Ki Lok dan Gulana sampai tewas, dan mengapa pula kalian tidak membawa mayat mereka, sebaliknya membawa wanita dan anak ini?"
Karena takutnya, Kiuw-bwe-houw Gan Lui diam saja hanya menundukkan kepala, membiarkan Hong San yang menghadapi pangeran yang sedang kecewa dan marah itu.
Hong San bersikap tenang saja.
Tidak seperti para pembantu lainnya, dia tidak pernah merasa gentar terhadap pangeran itu.
Kalau dia merendahkan diri menjadi pembantu, hal itu dilakukannya karena pangeran itu telah menolongnya keluar dari penjara.
Juga karena dia mengharapkan kelak akan mendapat jas a kalau pangeran itu berhasil dalam perjuangannya.
"Hendaknya paduka ketahui bahwa dua orang rekan kami itu te was keracunan sehingga amat berbahaya untuk membawa mayat mereka ke sini, bahkan menyentuhnyapun berbahaya. Mereka te was secara tidak wajar dan yang membunuh mereka adalah anak ini. Maka aku menangkap dia dan juga ibunya, kemudian terserah keputusan paduka, pangeran."
Pangeran itu te rbelalak.
"Anak ini? Membunuh Thio Ki Lok dan Gulana? Hong San, siapa dapat percaya laporanmu? Jangan bohong?"
Akan te tapi Hong San menentang pandang mata pangeran itu dengan berani.
"Aku tidak pernah berbohong, pangeran. Ketika Gulana berhasil menangkap tangan wanita ini yang memiliki ilmu silat lumayan, anak ini muncul dan meloncat ke punggung Gulana, menggigit tengkuknya dan Gulana roboh dan tewas dengan tubuh menghitam. Thio Ki Lok mencengkeram anak ini dan tangannya sendiri yang keracunan, dibuntunginya tangan itu namun racunnya sudah menjalar ke seluruh tubuh dan diapun te was keracunan. Karena kami ingin membawa bukti, kami menangkap ibu dan anak ini untuk dihadapkan paduka."
"Ehhhh......?"
Pangeran Cian Bu Ong turun dari kursinya dan menghampiri ibu dan anak yang masih pingsan itu.
Dia mula-mula memeriksa tubuh Thian-Ki, meraba dadanya, nadinya, membuka mulutnya dan memeriksa kuku tangannya, lalu meletakkan telapak tangan di pusar anak itu.
Hanya sebentar karena dia sudah melepaskan tangannya dan meloncat ke belakang, matanya te rbuka lebar.
"Anak ini.......dia.....dia Tok-tong (Anak Beracun)!"
Serunya.
"Tok-tong? Apa artinya itu, pangeran?"
Biarpun dia sendiri berpengalaman luas, namun selama hidupnya belum pernah Hong San mendengar te ntang Anak Beracun.
Akan tetapi pangeran itu tidak menjawab karena dia sedang memeriksa keadaan Sim Lan Ci yang masih rebah pingsan.
Wanita berusia tigapuluh dua tahun ini memang memiliki kecantikan yang khas, manis dan je lita.
Pangeran Cian Bu Ong bukan seorang mata keranjang yang mudah te rtarik kecantikan wanita.
Di waktu mudanya, sebagai seorang pangeran, adik tiri mendiang Kaisar Yang Ti, wanita manapun yang dikehendakinya tentu dapat diperoleh.
Maka kini, dalam usia limapuluh satu tahun dia tidak lagi haus akan wanita cantik.
Akan te tapi, sekali ini dia mengerutkan alis nya yang te bal, memutar otaknya dan diapun mengangguk-angguk sambil menatap wajah Sim Lan Ci.
"Hong San, bagaimanapun ju ga, aku merasa girang bahwa engkau memutuskan membawa wanita dan anak ini kepadaku. Engkau benar dan jas amu ini cukup besar. Akan tetapi, hubungan antara kita sampai di sini dan kau terimalah ini sebagai imbalan jasamu!"
Pangeran itu mengeluarkan sebuah kantung kecil dan melemparkan benda itu ke arah Hong San.
Pemuda ini memandang heran, menyambar bungkusan atau kantung kain itu dengan tangan kiri dan membukanya.
Isinya potongan-potongan emas murni!
"Pangeran, apakah artinya ini?
Mengapa paduka memutuskan hubungan?"
Tanyanya, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa gembira karena keputusan ini berarti kebebasannya dan dia masih menerima hadiah yang demikian berharga pula. Pangeran itu menarik napas panjang.
"Perjuanganku tidak akan berhasil selama aku tidak dapat mengumpulkan orang yang cukup banyak untuk membentuk pasukan. Tidak enak kalau hidup sebagai pelarian yang te rus diburu, dikejar-kejar. Maka kubebaskan engkau, boleh engkau pergi ke manapun engkau suka."
Can Hong San adalah seorang yang amat cerdik.
Dia hanya mempunyai satu saja pertimbangan, yaitu asal baik dan menguntungkan untuk dirinya sendiri yang lain dia tidak perduli lagi.
Maka dia lalu memberi hormat kepada pangeran itu.
"Terima kasih, Pangeran. Kalau begitu, sekarang juga aku hendak pergi."
"Pergilah, Can Hong San. Engkau seorang pembantu yang baik. Mudah-mudahan kelak, kalau keadaanku mengijinkan, engkau dapat pula membantuku. Kalau aku sudah kuat, engkau carilah aku, engkau akan kuberi tugas dan kedudukan yang baik."
Hong San mengangguk dan diapun pergi meninggalkan pondok darurat di dalam hutan itu.
Gan Lui kini mengangkat muka memandang kepada Pengeran Cian Bu Ong.
Dia pun mengharapkan untuk dibebaskan seperti Hong San dan diberi hadiah.
Diapun selalu merasa khawatir kalau harus mengikuti pangeran yang menjadi pelarian dan dikejar-kejar pasukan pemerintah itu.
Apalagi kini dari lima orang pembantu utama, hanya tinggal dia seorang.
Hal ini amat mengecilkan hati.
"Apakah hamba juga harus pergi, pangeran?"
Dia memberanikan diri bertanya.
Gan Lui ini sejak mudanya memang selalu menjadi penjahat dan pemberontak.
Dia tidak suka kepada Kerajaan Sui yang kini te lah jatuh itu karena dahulu ayahnya yang bernama Gan Lok dan berjuluk Kiu-bwe-houw, tewas ole h pasukan pemerintah Kerajaan Sui.
Dia sendiri juga mempergunakan julukan ayahnya dan ketika dia bersama kawan-kawannya melakukan pemberontakan, dia akhirnya te rtangkap dan dihukum sampai akhirnya dia dibebaskan oleh Pangeran Cian Bu Ong.
"Nanti dulu, Gan Lui. Sebelum engkau kubebaskan, aku mempunyai tugas untukmu. Kaulihat ibu dan anak ini. Mereka adalah orang-orang Hek-houw-pang yang kubenci karena mereka membantu pemerintah Tang. Juga anak ini telah membunuh Thio Ki Lok dan Gulana. Karena itu, ibu dan anak ini harus dihukum dan engkau yang harus melakukannya."
Kata sang pangeran sambil te rsenyum kejam. Sepasang mata Gan Lui mengeluarkan sinar bengis.
"Ah, serahkan saja kepada hamba, pangeran! Akan hamba cincang tubuh ibu dan anak ini. Hamba juga dendam kepada mereka atas kematian dua orang rekan hamba!"
Akan tetapi pangeran itu menggelengkan kepala.
"Tidak begitu caranya Gan Lui. Terlampau enak untuk mereka kalau dibunuh begitu saja. Mereka harus disiksa dulu lahir batin sebelum dibunuh. Engkau tahu caranya menghukum dan menyiksa seorang wanita, bukan? Dia cantik, tidak sukar bagimu untuk mempermainkan sesuka hatimu dan semua harus kaulakukan di depan anaknya."
"Anak setan itu harus melihat ibunya dipermainkan orang! Engkau tidak boleh membunuh anak itu, juga tidak boleh membunuh ibunya sebelum kuber ijin. Mengerti apa yang kumaksudkan?"
Gan Lui adalah seorang penjahat besar.
Sampai usia tigapuluh lima tahun itu, entah kejahatan macam apa yang belum pernah dia lakukan.
Dia sudah biasa merampok, membunuh, memperkosa, menyiksa dan dia te rkenal sebagai seorang datuk atau tokoh besar dunia kang ouw.
Mendengar ucapan pangeran itu, ia menyeringai dan otomatis tangannya meraba kumisnya yang jarang seperti kumis tikus, dan matanya yang sipit menjadi semakin sipit seperti terpejam.
"Hamba mengerti, Pangeran. Harap jangan khawatir, ia akan mengalami penghinaan yang takkan dapat ia lupakan selama hidupnya! Dan terima kasih, paduka te lah menyerahkan si cantik manis ini kepada hamba."
"Nah, aku hendak pergi, kaulakukanlah perintahku baik-baik. Akan tetapi ingat, jangan sentuh wanita ini sebelum ia sadar, agar ia merasakan siksa batin yang paling hebat. Dan jangan lupa, engkau tidak boleh membunuhnya, juga tidak boleh membunuh anak ini. Aku sendiri yang a kan membunuh mereka. Awas kalau engkau melanggar perintahku, engkau akan kuhukum berat!"
Gan Lui menyeringai. Apa sukarnya tugas memperkosa wanita cantik? "Jangan khawatir, pangeran. Hamba akan melaksanakan perintah sebaiknya, ha-ha-ha!"
Pangeran Cian Bu Ong meninggalkan pondok itu dan dengan kecepatan luar biasa dia mengunjungi orang-orang yang berkumpul tak jauh dari pondok bersembunyi di te ngah hutan.
Setelah memberi perintah kepada belasan orang pembantunya, dia lalu kembali ke pondok.
Ge rakannya demikian ringan sehingga tidak terdengar oleh Gan Lui yang mulai beraksi di dalam pondok itu untuk melaksanakan perintah yang baginya amat menyenangkan itu.
Gan Lui mengamati wajah wanita yang rebah miring di atas lantai itu sambil te rsenyum-senyum, kemudian dia membungkuk dan memondong tubuh itu.
"Manisku, mari kita pindah ke pembaringan, heh-heh-heh!"
Ingin dia mencium mulut itu, akan tetapi dia ingat akan ancaman Pangeran Cian Bu Ong dan ia bergidik.
Tidak, dia tidak akan berani melanggar.
Dia harus menanti sampai wanita ini siuman, baru dia akan memperlakukannya sesuka hatinya.
Dia harus bersabar.
Direbahkannya wanita itu di atas pembaringan tunggal yang te rdapat di sudut ruangan.
Anak itu ia biarkan rebah di lantai.
Kemudian ia duduk di atas kursi dan melihat ada seguci arak di atas meja, dia menyambarnya dan mulai dia minum arak sambil menoleh ke arah pembaringan, menanti sampai Sim Lan Ci siuman dari pingsannya.
Sudah agak lama sejak Hong San menotoknya pingsan dan Gan Lui tidak lama menunggu.
Kini terdengar wanita itu mengeluh lirih.
"... Siang Lee... Thian Ki......ah, Siang Lee......."
Wanita itu mengeluh dan menggerakkan tubuhnya. Gan Lui sudah meloncat dan duduk di te pi pembaringan.
"Heh heh heh, manis, engkau sudah bangun? Engkau cantik sekali!"
Katanya dan diapun merangkul.
Lan Ci membuka matanya dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika melihat dirinya didekap seorang laki-laki yang tinggi kurus bermuka kuning dan berkumis tikus dan bermata sipit.
Orang itu mendekap dengan kurang ajar, tangannya meraba dadanya dan mukanya begitu dekat, siap untuk menciumnya!
"Lepaskan aku, keparat!"
Bentaknya dan ia menggerakkan kedua tangan untuk memukul.
Namun sambil te rkekeh Gan Lui yang sudah siap itu menangkap kedua le ngan Lan Ci dengan cengkeraman cakar harimau, satu di antara kepandaiannya yang dia andalkan.
Namun, Lan Ci meronta dengan mengerahkan seluruh tenaganya bahkan mengerahkan te naga Ban-tok Sin kang.
Ilmu dari ibunya yang membuat hawa yang mendorong te naganya itu mengandung racun.
Walaupun tidak te rlalu kuat karena Lan Ci tidak melatihnya selama bertahun-tahun, namun cukup membuat Gan Lui terkejut ketika merasa betapa telapak tangannya seperti memegang le ngan yang te rbuat dari baja panas.
Kesempatan selagi cengkeraman Gan Lui mengendur dipergunakan oleh Lan Ci untuk meronta lepas dan ia meloncat turun dari atas pembaringan.
Melihat Thian Ki roboh pingsan di atas lantai, hatinya khawatir bukan main.
Ia dan pute ranya telah terjatuh ke tangan seorang penjahat keji yang hendak memperkosanya!
Demi keselamatan pute ranya, demi kehormatannya, ia harus membela dirinya mati-matian.
"Thian Ki... .!"
Ia berseru akan tetapi tidak dapat mendekati anaknya karena ia maklum bahwa lawannya amat berbahaya.
"Ha-ha-ha, sungguh seperti seekor kuda betina liar! Ha, makin liar makin menyenangkan. Engkau memang harus merasakan kelihaianku, harus menderita siksaan lahir batin."
Tar-tar-tar.......
Cambuk yang ujungnya berekor sembilan itu meledak-ledak di udara.
Cambuk itu memang sengaja diberi ekor sembilan yang dahulu merupakan senjata andalan ayah Gan Lui, sesuai pula dengan julukan mereka Kiu-bwe-houw (Harimau Ekor Sembilan).
Kini, cambuk itu meledak-ledak, kemudian meluncur turun menyerang ke arah tubuh Lan Ci.
"Tar-tarrr......!"
Lan Ci bertangan kosong dan biarpun ia memiliki gerakan lincah, namun tingkat kepandaian penyerangnya berimbang dengan tingkatnya, bahkan le bih tinggi sedikit dan kini lawan itu menggunakan cambuk yang panjang, sedangkan ia bertangan kosong.
Lan Ci berloncatan mengelak, akan tetapi sembilan ekor cambuk itu seperti ular-ular hidup te rus mengejarnya dan melecut-lecut.
"Tar-tar-tarr.....I"
De ngan kelincahannya, Lan Ci berhasil meloncat ke sana sini, menyusup di antara sinar ujung cambuk dan bahkan ia meloncat mendekat dan kakinya melakukan te ndangan kilat ke arah pusar lawan!
"Ehh.......?"
Gan Lui te rkejut juga.
Tak disangkanya bahwa calon korbannya itu sedemikian lincahnya.
Terpaksa ia mengelak ke kiri, akan tetapi, kembali tangan kiri wanita itu menyambar dengan pukulan yang mendatangkan hawa panas.
Hawa beracun!
Demikian berbahayanya pukulan yang mengandung hawa beracun itu sehingga te rpaksa Gan Lui melempar tubuh ke atas lantai, bergulingan dan cambuknya menyambar-nyambar ke atas.
Tanpa setahu dua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu, sepasang mata sejak tadi mengikuti semua gerakan mereka dan ketika Lan Ci menyerang dengan te ndangan dan disusul pukulan yang mengandung hawa beracun, pemilik sepasang mata itu memandang kagum.
Pengintai itu bukan lain adalah Pangeran Cian Bu Ong!
Pangeran itu sejak mendengar cerita Hong San, merasa tertarik sekali kepada Thian Ki.
Apa lagi setelah dia memeriksa sendiri keadaan tubuh anak itu.
Seorang Tok-tong (Anak Beracun)!
Dia sendiri hanya mempunyai seorang anak perempuan yang usianya juga masih kecil, kurang dari lima tahun.
Kalau saja dia dapat mengambil Tok-tong ini sebagai anak, atau setidaknya sebagai murid.
Akan digemble ngnya anak itu dan kelak pasti akan menjadi jagoan nomor satu di dunia.
Jagoan yang akan le bih hebat dari pada dia sendiri, dan dalam waktu belasan tahun saja, mungkin anak ini yang akan dapat membuat cita-citanya te rwujud!
Dan diapun sudah melihat ibu anak itu.
Seorang wanita yang masih muda, berwajah cantik manis, bertubuh berisi dan indah.
Kini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa wanita itu memiliki tingkat kepandaian silat yang hebat, sebanding dengan para pembantu utamanya kecuali Can Hong San.
Ah, dia melihat keuntungan besar baginya.
Dia sejak tadi mengikuti gerak-gerik kedua orang itu dan setiap saat siap untuk melindungi Lan Ci.!
Kini Lan Ci kembali terdesak oleh serangan bertubi-tubi dari cambuk itu.
Gan Lui yang maklum bahwa wanita ini sungguh tidak boleh dipandang ringan hanya ingat bahwa Pangeran Cian Bu Ong tak menghendaki dia membunuh wanita Itu.
Dia mempercepat gerakan cambuknya dan kini ujung sembilan ekor cambuknya itu mematuk-matuk ke arah pakaian Lan Ci.!
"Bret-bret-bret....
tar-tarr....
Mulailah pakaian wanita itu cabik-cabik tergigit ujung cambuk.
Lan Ci berte riak marah, akan te tapi ia tidak berdaya menghadapi hujan le cutan sembilan ekor ujung cambuk itu.
Ia seolah-olah ditelanjangi sedikit demi sedikit oleh cambuk itu dan mulai nampak pakaian dalamnya yang tipis berwarna merah muda.
Bahkan bagian atas dadanya sudah nampak, dan ada bagian kulit tubuhnya yang babak belur!
Tiba-tiba ada sebuah batu kerikil melayang dan mengenai tengkuk Thian Ki yang sedang rebah pingsan.
Anak itu nampak te rkejut, bergerak dan bangkit duduk.
Dia te rbelalak melihat ibunya dihajar cambuk oleh seorang laki-laki tinggi kurus muka kuning.
Ibunya sudah hampir te lanjang.
"I buuu.....!"
Dia meloncat bangun. Tentu saja Lan Ci te rkejut bukan main mendengar teriakan anaknya. Tanpa menoleh karena ia harus mengelak dan mencoba untuk menangkap ujung cambuk iapun berse ru.
"Thian Ki! Larilah....! Selamatkan dirimu. Lari......!"
Akan tetapi Thian Ki sama sekali tidak lari keluar, bahkan lari menghampiri! "Engkau jahat! Engkau mencambuki ibuku.! Engkau jahat sekali! He ntikan serangan itu!"
"Tar-tarrr!"
Ujung cambuk menyambar ke arah tubuh Thian Ki.
Leher dan dada anak itu terkena cambuk, akan te tapi anak itu seperti tidak merasakan biarpun kulit lehernya berdarah.
la menerjang te rus, berusaha untuk menangkap kaki Gan Lui.
"Anak Setan! Minggatlah!"
Gan Lui berseru marah.
Kalau dia menghendaki, tentu sekali pukul atau tendang dia akan dapat membunuh anak itu.
Akan te tapi dia tidak berani melakukannya karena ingat akan ancaman Pangeran Cian Bu Ong.
Kembali cambuknya meledak-Iedak, akan te tapi anak itu di bawah hujan cambuk, te tap saja menerjangnya.
Dan ketika cambuknya menyambar ke arah anak itu, Lan Ci yang terbebas dari desakan cambuk, sudah mengirim pukulan-pukulan beracun!
Gan Lui menjadi sibuk sekali.
Dia mengelak dari hantaman Lan Ci, kemudian dengan cambuknya dia menahan serangan Lan Ci dan tangan kirinya menyambar dan menangkap kedua le ngan Thian Ki.
Dia pikir bahwa anak itu agaknya memiliki pukulan beracun seperti ibunya.
Kalau sudah ditangkap kedua le ngannya te ntu tidak akan mampu bergerak.
Mudah menotoknya agar anak itu pingsan.
Akan te tapi, begitu kedua le ngannya dicengkeram, Thian Ki yang hendak menolong ibunya itu menggigit tangan yang mencengkeramnya.
Dengan sekuat tenaga, giginya menghunjam ke tangan yang amat kuat itu.
"Aughhh......!"
Teriakan yang keluar dari kerongkongan Gan Lui seperti suara seekor binatang buas yang ketakutan.
Dia memandang ke arah tangan yang te rgigit dan yang kini menjadi hitam hangus dan nyerinya sampai menusuk jantung.
Dia terhuyung ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lan Ci untuk mengirim serangan kilat, pukulan maut ke arah dada lawan.
"Plakk.....!"
Dan tubuh Gan Lui terjengkang, matanya mendelik dan dia te was seketika pada saat tubuhnya te rbanting ke atas lantai ruangan itu.
Ulu hatinya terkena hantaman pukulan yang mengandung hawa beracun.
Tanpa pukulan itupun dia akan mati dalam waktu cepat karena dari tangan yang te rgigit itu menjalar racun yang amat kuat, yang membuat seluruh jalan darahnya keracunan dan menghitam seperti hangus te rbakar.
"Thian Ki.....!"
"I bu......!"
Mereka berangkulan dan Lan Ci menangis, te ringat akan suaminya yang tewas, juga menangis karena lega bahwa ia dan pute ranya terlepas dari ancaman bahaya yang mengerikan di tangan si tinggi kurus muka kuning itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara gaduh dan agaknya banyak orang mengepung pondok itu.
Lan Ci merangkul anaknya, dan melihat cambuk milik Gan Lui menggeletak di lantai, memungutnya, kemudian ia berbisik.
"Thian Ki, agaknya masih banyak musuh di luar. Mari naik ke punggungku, kita harus lari dari tempat ini."
Thian Ki tidak membantah dan digendong di punggung ibunya.
Kakinya menje pit pinggang, kedua le ngannya merangkul pundak dengan kuat.
Lan Ci membawa cambuk itu dan melompat keluar.
Benar saja, di luar terdapat belasan orang yang memegang bermacam senjata.
Begitu ia tiba di luar, orang-orang itu berte riak-te riak dan mengepung lalu menyerang dengan ganas.
Dan te rnyata bahwa mereka semua rata-rata memiIiki ilmu silat yang cukup kuat sehingga kepungan itu ketat dan tangguh, membuat ibu dan anak itu kembali terancam.
Lan Ci mengamuk dengan cambuknya.
Ia merasa canggung dan kaku karena keadaan pakaiannya yang sete ngah telanjang, padahal belasan orang pengeroyoknya itu semua adalah laki-laki.
Juga senjata yang dipegangnya itu merupakan senjata yang asing baginya.
Maka, ia hanya menggunakan cambuk itu untuk menangkis i hujan senjata.
Diputarnya cambuk itu melindungi dirinya dan pute ranya, namun karena ia kurang mahir memainkan cambuk, dalam waktu sebentar saja pundak kirinya sudah te rcium ujung golok sehingga terluka.
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat.
Bagaikan seekor burung rajawaIi, bayangan ini menyambar-nyambar dan Lan Ci te rbelalak.
De mikian hebat gerakan bayangan itu dan kemanapun dia menyambar, te ntu ada pengeroyok yang roboh dan dalam waktu singkat saja, belasan orang pengeroyok itu roboh semua dan te was seketika!
Ketika bayangan itu berhenti bergerak, baru nampak je las oleh Lan Ci bahwa dia seorang pria yang bertubuh tinggi besar, bermuka merah, berje nggot panjang dan nampak gagah perkasa, juga penuh wibawa.
Usianya sekitar limapuluh tahun dan pria itu berdiri memandang kepadanya sambil tersenyum.
Dari gerakan tadi saja dan melihat akibatnya, Lan Ci maklum sepenuhnya bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti.
Orang ini dengan kedua tangan kosong te lah membunuh belasan orang bersenjata yang kuat.
Dan iapun tahu bahwa tanpa pertolongan orang sakti ini, ia dan pute ranya tentu akan tewas dikeroyok.
Maka, tanpa ragu lagi iapun melepaskan Thian Ki dari atas punggungnya dan mengajak pute ranya menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu.
"Tai-hiap (pendekar besar) yang budiman. Saya Sim Lan Ci dan anak saya Coa Thian Ki menghaturkan te rima kasih atas pertolongan tai-hiap kepada kami......"
Pada saat itu, terdengar suara gaduh yang datangnya dari arah barat, seperti suara banyak orang bersorak dan berte riak-teriak.
Mendengar ini, orang gagah itu menanggalkan jubahnya yang le bar dan mempergunakan jubah itu untuk menyelimuti tubuh Lan Ci yang setengah telanjang, kemudian dia memegang tangan Lan Ci dan ditariknya bangkit berdiri.
"Sudah, tidak perlu banyak bicara, kita harus cepat pergi dari sini. Mari ikuti aku!"
Dan pria tinggi besar yang gagah perkasa itu sudah meloncat ke arah barat darimana suara gaduh itu te rdengar.
Lan Ci berterima kasih sekali karena kini tubuhnya te rtutup.
Ia mengikatkan sabuk di luar jubah yang kebesaran itu, kemudian sambil menggandeng tangan Thian Ki dengan tangan kiri dan memegang cambuk di tangan kanan, iapun mengikuti orang tinggi besar itu dengan penuh kepercayaan.
Siapakah pendekar yang gagah perkasa ini?
Tentu saja Lan Ci sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang itu bukan lain adalah Pangeran Cian Bu Ong sendiri!
Ketika pangeran yang amat cerdik ini mendengar laporan Can Hong San te ntang ibu dan anak itu, hatinya te rtarik sekali dan setelah dia memeriksa tubuh Thian Ki dan melihat kecantikan Lan Ci, timbul suatu keinginan di hatinya untuk memiliki anak dan ibunya itu.
Maka, melihat betapa gerakannya ini sudah gagal sehingga dia sekeluarga menjadi orang-orang buruan, diapun ingin mengubah keadaan itu dan memulai hidup baru yang lain sama sekali.
Dia membebaskan Hong San, lalu menyuruh Gan Lui memperkosa Lan Ci yang sesungguhnya hanyalah merupakan ujian bagi ibu dan anak itu untuk meyakinkan hatinya.
Juga diam-diam dialah yang menyuruh belasan orang pengikutnya untuk mengeroyok Lan Ci.
Dia mengintai dan melihat betapa dugaannya memang benar.
Wanita itu selain cantik menarik juga memiliki ilmu silat yang cukup timggi dan boleh diandalkan, dan te rutama sekali Thian Ki sungguh membuat dia kagum dan girang.
Anak itu benar-benar seorang Tok-tong, seorang anak beracun, yang sekali gigit saja membuat Gan Lui keracunan hebat!
Ketika belasan orang-orangnya sendiri melakukan pengeroyokan te rhadap Lan Ci, dia lalu muncul dan membunuh mereka semua, sesuai dengan siasat yang sudah direncanakan sebelumnya.
Menurut rencananya, setelah dia menolong ibu dan anak itu, tentu besar kemungkinan Lan Ci yang berhutang budi padanya akan menerima pinangannya untuk menjadi isteri ke dua.
Isterinya sendiri bersama kurang le bih belasan orang sanak keluarganya, dia kumpulkan di dalam hutan itu, bersama pute rinya yang masih kecil, tadinya dikawal oleh belasan orang yang dia perintahkan untuk mengeroyok Lan Ci itu.
Akan te tapi, tidak seluruh rencananya berjalan baik.
Tanpa diduga sama kali, ketika belasan orang pengikutnya menyerbu pondo k untuk melaksanakan perintahnya, yaitu mengeroyok Lan Ci, tempat persembunyian keluarganya itu diketahui pasukan pemerintah dan suara gaduh itu adalah suara pasukan yang jumlahnya kurang le bih seratus orang menyerbu hutan di mana keluarganya berse mbunyi!
Ketika Pangeran Cian Bu Ong tiba di tempat itu, diikuti oleh Lan Ci dan Thian Ki, mereka melihat betapa keluarga pangeran itu te lah dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali perajurit kerajaan.
Keluarga pangeran yang te rdiri dari wanita, kanak-kanak dan beberapa orang laki-laki itu melakukan perlawanan dengan gigih karena mereka maklum bahwa sebagai keluarga pemberontak, menyerah berarti penyiksaan dan kematian pula.
Maka dari pada menyerah mereka lebih baik melawan sampai mati.
Pangeran Cian Bu Ong datang setelah terlambat.
Dia melihat isterinya, seorang wanita berusia hampir limapuluh tahun, dengan pedang di tangan, melawan pengeroyokan empat orang perwira.
Isterinya pernah belajar ilmu silat, akan tetapi tidaklah terlalu pandai, maka dikeroyok empat orang perwira yang lihai itu, ia telah menderita luka-luka parah walaupun masih melakukan perlawanan dengan gigih.
Sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, Pangeran Cian Bu Ong menyerbu dan begitu bayangannya berkelebat dan kaki tangannya bergerak, empat orang perwira yang mengeroyok isterinya itu te rlempar ke sana-sini dengan kepala remuk atau dada pecah dan tewas seketika.
Isteri pangeran itu mengeluh dan te rhuyung.
Pangeran Cian Bu Ong cepat merangkulnya.
Dada, perut dan punggung is te rinya sudah berlumuran darah.
"Aku.....aku.....melawan sampai akhir... tolong.... tolong......anak kita.... ia di.....sana...."
Kata wanita itu dan iapun te rkulai pingsan dalam rangkulan suaminya.
Pangeran Cian Bu Ong memondong tubuh is terinya dan menole h ke kiri, ke arah yang ditunjuk isterinya tadi dan dia melihat Cian Kui Eng, pute rinya yang baru berusia empat tahun, dipondong oleh seorang prajurit bermuka hitam yang te rtawa-tawa merangkul anak yang meronta-ronta mencakar dan menggigit itu.
Sebelum pangeran ini turun tangan, tiba-tiba te rdengar suara bentakan Thian Ki yang sudah tiba di situ bersama ibunya.
"Orang jahat! Lepaskan anak perempuan itu!"
Dan Thian Ki sudah meloncat ke dekat perajurit yang memondong Kui Eng, pute ri atau anak tunggal pangeran Cian Bu Ong.
Melihat anak kecil itu berada di depannya sambil mengepal tinju dan menegurnya, prajurit itu te rtawa.
"Ha-ha-ha. engkau anjing kecil pergilah!"
Dan kakinya menendang ke arah dada Thian Ki.
Anak ini memang tidak pernah mempelajari ilmu silat, tidak pernah berkelahi, akan tetapi semangatnya untuk menolong Kui Eng besar sekali, maka biarpun dia terkena te ndangan sampai te rguling-guling, dia bangkit lagi dan meloncat dekat lagi.
Prajurit itu marah, tangan kiri tetap memondong tubuh Kui Eng dan tangan kanan kini menjambak rambut kepala Thian Ki, dijambak keras untuk dijebol.
Akan tetapi tiba-tiba dia meraung, melepaskan jambakannya, bahkan Kui Eng juga te rlepas dari pondongannya.
Orang itu te rhuyung, memegangi tangan yang tadi menjambak rambut.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 12
Baca Juga: Mutiara Hitam 3