Eps 6 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Juga Kwee Tiong yang berjalan di sebelah pamannya, nampak gagah dan ganteng.
Han Sin juga sudah banyak sembuh setelah diobati oleh "dewi bulan"* dan sekarang ikut datang dengan penuh semangat.
Pemuda yang gagah ini tidak menjadi jerih, malah ia bersedia untuk berpibu sekali lagi melawan Auwyang Tek untuk mengadakan pertandingan revance (ulangan)!
Dengan adanya tiga orang pemuda yang ganteng dan gagah ini, rombongan Tiong-gi-pai nampak bersemangat dan hati Kwee Cun Gan menjadi besar.
Apa lagi di situ terdapat Pek Mao Lojin dan (Im-yang Thian-cu yang tadinya tidak mau ambil perduli, kiranya menjadi tidak tega juga membiarkan muridnya pergi lagi ke sarang musuh yang berbahaya.
Oleh karena di situ terdapat Auwyang-taijin yang bagaimanapun juga adalah seorang menteri, pembesar tinggi yang diangkat oleh kaisar, Kwee Cun Gan dan yang lain-lain memberi hormat selayaknya.
Hanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu sebagai tokoh-tokph kang-ouw, hanya mengangguk saja kepada pembesar itu.
Sebaliknya, karena maklum bahwa orang-orang Tiong-gi-pai ini mendapat kepercayaan dan sokongan Raja Muda Yung Lo di utara.
Menteri Auwyang juga memperlihatkan sikap agung, balas mengangguk dan dengan tangannya mempersilahkan mereka mengambil tempat duduk di deretan bangku sebelah kiri panggung luitai.
Auwyang Tek yang menjadi juru bahasa rombongannya, segera berdiri dan melompat ke atas panggung menghadapi Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya lalu berkata, suaranya nyaring, nadanya sombong.
"Kwee Cun Gan, bagus sekali kau sudah memenuhi undangan kami dan agaknya kau telah mendatangkan rombonganmu yang lengkap! Fihak Tiong-gi-pai selama ini tiada hentinya mengadakan permusuhan dengan kami orang-orang pemerintah. Hanya karena mengingat bahwa kalian termasuk orang-orang kang-ouw yang tidak saja mendapat simpati dari kaisar sendiri yang suka kepada orang-orang gagah, akan tetapi juga boleh dibilang segolongan dengan kawan-kawan kami, maka selama ini kami hanya melayani pertandingan pibu kecil-kecilan saja. Tidak nyana sekali fihak Tiong-gi-pai menganggap kami sebagai musuh dan sifat pibu lenyap menjadi permusuhan. Oleh karena itu, agar permusuhan ini tidak berkepanjangan dan berlarut-larut, menurut kehendak ayahku menteri yang mulia, hari ini diadakan pibu terakhir yang merupakan keputusan siapa yang dinyatakan menang dan siapa kalah. Harap kalian menentukan berapa kali pertandingan diadakan dan yang lebih banyak menderita kekalahan dinyatakan kalah dan harus tunduk dan memenuhi permintaan yang menang."
Kwee Cim Gan berdiri dari bangkunya dan berkata, suaranya lantang dan tegas.
"Sebelum kami menerima usul ini, harap jelaskan dulu seandainya fihak kami kalah bagaimana dan kalau fihakmu yang kalah lalu bagaimana?"
Auwyang Tek mengangkat hidungnya dengan lagak sombong.
"Kami adalah orang-orang pemerintah yang mengerti aturan, tentu saja untuk itu diadakan peraturan sesuai dengan keadilan. Karena kalian kami anggap membikin rusuh, maka kalau kalian kalah, kalian harus pergi dari kota raja dan jangan menginjakkan kaki lagi di sini, jangan memperlihatkan diri lagi, karena kami lalu akan menangkap kalian secara resmi sebagai pemberontak-pemberontak. Sebaliknya kalau kalian yang menang, kalian boleh tinggal di kota raja dan kami takkan menganggap kalian sebagai musuh, malah kalau kalian suka, kami bersedia memberi kesempatan kepada kalian mencari kedudukan sebagai hamba pemerintah."
"Aduh, semua orang kota memang pandai sekali bicara,"
Terdengar Im-yang Thian-Cu mengeluh.
Kakek ini yang biasanya tidak suka bicara, merasa pening mendengarkan begitu banyak kata-kata.
Biarpun bernada sombong, kata-kata Auwyang Tek itu memang cukup baik dan dapat diterima.
Agaknya Menteri Auwyang memang bersikap hati-hati dan kali ini berusaha mengalahkan fihak Tiong-gi-pai untuk dapat mengusir mereka dari kota raja tanpa banyak menyinggung perasaan, yaitu dalam sebuah pibu vang disertai taruhan.
Bagi Kwee Cun Gau tidak ada pilihan lain kecuali menerima usul atau taruhan ini.
"Boleh, dan pertandingan hendak diatur bagaimana?"
Tanyanya.
"Diatur seorang lawan seorang, berapa orang jagomu boleh kau ajukan, asal jumlahnya ganjil, jangan genap. Boleh tiga atau lima atau tujuh,"
Jawab Auwyang Tek yang mengandalkan banyak kawan.
Kwee Cun Can lalu menoleh kepada kawan-kawannya.
Sudah terang bahwa Kwee Tiong, Oei Siok Ho dan Liem Han Sin mengajukan diri, dan di situ masih ada Pek Mao Lojin yang sambil tertawa menyanggupi menjadi seorang calon, akan tetapi ketika Kwee Cun Gan hendak minta bantuan lm-yang Thian-cu, ia menjadi ragu-ragu.
Han Sin maklum akan perasaan ketua Tiong-gi-pai ini karena memang semua orang sudah tahu akan watak suhunya yang aneh, maka ia cepat menghampiri gurunya dan berkata perlahan.
"Suhu harap suka memperkuat kedudukan kita, hitung-hitung untuk membela teecu dan terutama sekali membela kebenaran."
Im-yang Thian-cu cemberut dan menarik napas panjang.
"Di sana ada Kai Song Cinjin, siapa yang kuat melawannya? Biarpun kita maju semua, tidak mungkin bisa mengalahkan Tok-ong."
"Suhu, tentang itu jangan khawatir. Pibu diadakan seorang lawan seorang, biarlah kita memakai siasat 'Jiai mereka mengajukan jago-jagonya dulu, nanti kalau Kai Song Cinjin yang keluar, teecu yang akan maju melawannya!"
Semua orang kaget, juga lm-yang Thian-cu menatap wajah muridnya dengan heran. Han Sin lalu berbisik-bisik sambil tersenyum.
"Apa suhu lupa akan siasat Sun Pin ketika menghadapi Ban Koan?"
Mendengar ini, lm-yang Thian-cu mengangguk dan semua orang menyatakan kekagumannya atas kecerdikan, terutama keberanian pemuda itu.
Sun Pin dan Ban Koan adalah dua orang tokoh yang dalam cerita kuno diceritakan sebagai dua orang tokoh yang bermusuhan, masing-masing memimpin barisan.
Sun Pin terkenal sebagai tokoh budiman dan cerdik bukan main, adapun Ban Koan biar cerdik, mempunyai hati jahat.
Yang dimaksud oleh Liem Han Sin tentang siasat Sun Pin adalah ketika Sun Pin memberi nasihat kepada seorang raja yang bertaruhan mengadu lomba kuda-kudanya.
Demikian siasat Sun Pin.
"Lawanlah kuda terbaik lawan dengan kuda nomor tiga, kuda lawan yang nomor dua dengan kuda terbaik, dan kuda lawan nomor tiga dengan kuda, nomor dua kita. Dengan demikian kita akan kalah sekali menang dua kali."
Demikian pula Han Sin hendak menjalankan siasat ini.
Karena Tok-ong Kai Song Cinjin sudah terang tidak ada lawannya, biar dia saja mengorbankan diri menghadapi hwesio itu dan kalah, akan tetapi dengan demikian ia memberi kesempatan gurunya dan Pek Mao Lojin untuk mencari kemenangan dari lawan-lawan yang lain.
Setelah bermufakat dengan kawan-kawannya, Kwee Cun Gan lalu berkata kepada Auwyang Tek.
"Kami mempunyai lima orang jago dan biarlah pibu ini diatur seorang lawan seorang sampai lima kali. Yang mendapat kemenangan sampai tiga kali berarti menang!"
Auwyang Tek tertawa girang.
"Bagus, kita siapkan jago masing-masing!"
Pemuda ini sudah merasa pasti akan menang, karena di fihaknya ada Tok-ong Kai Song Cinjin, ada Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan dua orang jago Jepang. Takut apa? Pasti menang.
"Karena kami adalah sebagai tamu, harap tuan rumah segera mengajukan jagonya yang pertama!"
Kwee Cun Gan menantang, mulai menjalankan siasatnya.
yaitu hendak melihat lebih dulu jago mana yang diajukan oleh lawan agar dapat mengimbanginya.
Dari fihak Auwyang Tek muncul seorang pendek gemuk dan kepalanya gundul bundar, jubahnya gedombyangan seperti jubah pendeta.
Inilah Yokuto yang sudah diberi isyarat oleh Tok-ong Kai Song Cinjin untuk maju.
Juga fihak Auwyang Tek ini biarpun yang menjadi juru bicara Auwyang Tek, namun dalam pibu yang mengatur adalah Tok-ong sendiri.
Seperti halnya fihak Tiong-gi-pai, tokoh besar ini tentu saja memiliki pengalaman dan siasat yang licin, lapun tidak mau mengajukan Mo Hun atau Kui Ek, melainkan mengajukan seorang jago Jepang yang tentu saja kepandaiannya tak dapat ditaksir oleh fihak lawan dan dapat membikin lawan menjadi ragu-ragu.
Memang tepat perhitungan Kai Song Cinjin.
Majunya jago Jepang ini membingungkan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya dan merusak siasat mereka.
Mereka dapat menduga dari siang-siang bahwa urutan kepandaian fihak lawan adalah pertama Tok-ong sendiri, ke dua Mo Hun, ke tiga Kui Ek dan selanjutnya Auwyang Tek dan lain jago.
Akan tetapi sekarang yang maju seorang jago asing yang rupanya seperti katak gemuk, demikianpun ketika jago Jepang ini berdiri di panggung sambil merendahkan tubuh seperti kodok hendak meloncat!
Sukar untuk menilai sampai di mana kepandaian jago lawan ini dan siapa kiranya yang tepat untuk diajukan.
Kalau mengajukan Pek Mao Lojin atau Im-yang Thian-cu, bagaimana kalau fihak lawan ini makanan empuk?
Berarti terkena siasat lawan!
Kwee Tiong melangkah maju di depan pamannya.
"Biarlah aku yang melayaninya,"
Katanya tenang. Karena masih ragu-ragu, Kwee Cun Gan menganggukkan kepala, sukar baginya untuk memilih lain orang.
"Majulah dan hati-hati, agaknya dia memiliki kepandaian istimewa."
Kwee Tiong menggerakkan kedua kakinya dan dengan ringan sekali ia melompat ke atas panggung Gerakannya sederhana, namun ginkangnya membuktikan bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi.
Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika ia berada di depan dan memasang kuda-kuda, merangkap kedua tangan ke depan dada dan berkata.
"Aku Kwee Tiong mendapat kehormatan untuk menemani lo-enghiong main-main. Tidak tahu siapakah nama besar lo-enghiong?"
Yokuto tertawa, giginya yang hitam dan kecil-kecil itu kelihatan sekilat di tengah mukanya yang bulat seperti bola. Ia mengangguk-angguk sambil membongkok dalam, matanya sipit hampir tertutup.
"Orang muda yang gagah... aku hwesio miskin Yokuto."
Mendengar suara yang asing ini dan mendengar nama Yokuto, tahulah Kwee Tiong dan semua orang yang berada di situ bahwa jago kate ini adalah seorang Jepang.
Diam-diam Kwee Tiong menjadi gemas sekali.
Sudah terang orang-orang Jepang banyak yang menjadi bajak dan mengganggu rakyat di pantai timur, bagaimana Auwyang Peng sudi mempergunakan tenaga orang Jepang?
Sudah jamaknya orang memandang rendah kepada bangsa yang memusuhi negara dan bangsanya, apa lagi seorang muda seperti Kwee Tiong.
Melihat hwesio Jepang yang menyeringai sungkan-sungkan itu, Kwee Tiong memandang rendah segera ia membentak.
"Bangsa bajak lihat seranganku!"
Dengan cepat pemuda ini melangkah maju dan mengirim pukulan keras ke arah dada lawan.
Biarpun tubuhnya besar bundar, ternyata hwe-Sio Jepang ini memiliki gerakan yang lincah sekali.
Menghadapi serangan itu, dengan tenang namun cepat kakinya menggeser ke samping, tubuhnya meliuk ke bawah dan mengelak dengan mudah dan gerakannya itu amat aneh, asing bagi Kwee Tiong.
Dan hebatnya, Yokuto dengan kontan membalas serangan lawan dengan cepat, kedua tangannya bertubi-tubi memukul ke depan dengan jari-jari tangan terbuka.
Tangannya dipergunakan sebagai pedang atau golok, membabat dan menusuk, dan melihat jari tangan yang kaku keras itu, Kwee Tiong dengan hati kecut dapat menduga bahwa lawannya tentu memiliki tenaga terlatih semacam Tiat-see-jiu (Tangan Bubuk Besi).
Setiap serangan selalu diikuti dengan teriakan-teriakan "haait!
yaaah!"
Dan Kwee Tiong maklum betapa berbahayanya pukulan tangan miring ini.
Namun, betapa keras dan cegatnya serangan berantai dari Yokuto, dengan mudah murid Pek Mao Lojin dapat mengelaknya.
Pada suatu saat yang tepat, Kwee Tiong sengaja menangkis dengan jari tangan dimiringkan pula, mengadu lengan untuk mengukur sampai di mana kekuatan lawan.
"Plak! Plak!"
Hampir berbareng dua serangan tangan kanan kiri sampai akan tetapi keduanya dapat disampok oleh Kwee Tiong sehingga kedua lengan mereka saling bertemu.
Akibatnya, Yokuto terhuyung mundur karena terdorong dan kesakitan, sedangkan Kwee Tiong juga melangkah mundur karena terdorong dan merasa kedua lengannya sakit dan ngilu.
Tahulah ia bahwa kalaupun ia menang tenaga, kemenangan itu tidak ada artinya atau boleh dibilang hampir sama seimbang.
Pada saat keduanya mundur, Kwee Cun Gan melompat ke pinggir panggung dan menggunakan isyarat dengan tangannya diangkat ke atas dan mulutnya berseru.
"Harap yang pibu berhenti dulu!"
Auwyang Tek mengerutkan kening. Biarpun belum dapat dilihat siapa yang akan menang dalam pibu pertama ini, namun sikap Kwee Cun Gan mencurigakan..
"Kwee Cun Gan, kau mau apa menghentikan pibu?"
Tanyanya tak senang.
"Sebelum pibu dilanjutkan, aku perlu mengetahui dulu sampai di mana batas pibu ini? Dalam keadaan bagaimanakah dianggap kalah?"
Kwee Cun Gan bertindak tepat sekali.
Ia tadi melihat bahwa biarpun ilmu kepandaian keponakannya amat tinggi, namun ternyata lawannya, orang jepang itu, juga lihai, la khawatir kalau-kalau fihak Auwyang Tek hendak mempergunakan siasat keji, yaitu membasmi semua orang Tiong-gi-pai.
Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi orang muda seperti Kwee Tiong yang masih panjang cerita, masih belum kenyang hidup di dunia, sayang kalau sampai tewas.
Auwyang Tek tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, Kwee Cun Gan. Masa begitu saja kau masih bertanya lagi? Kalau orang sudah memasuki pibu, apa artinya darah mengalir dan nyawa melayang?"
"Betul katamu, akan tetapi harus diingat bahwa pibu ini sekedar hendak menentukan siapa yang menang siapa kalah dan di samping itu ada pertaruhannya. Kalau sifatnya mau bunuh-membunuh, mengapa kau tadi bicara lunak dan menginginkan habisnya permusuhan?"
Kwee Cun Gan balas mengejek.
Auwyang Tek menengok ke arah Tok-ong Kai Song Cinjin, akan tetapi hwesio itu diam saja.
Auwyang-taijin menggerakkan tangan ke arah puteranya.
Auwyang Tek menghampiri dan pembesar itu berbisik sesuatu.
"Kwee Cun Gan, kalau menurut kehendakmu bagaimana?"
Tanya pemuda itu setelah mendengar bisikan ayahnya.
"Siapa yang terlempar ke bawah panggung, dia yang kalah. Tentu saja kalau terlempar sampai mati atau tewas di atas panggung, itu bukan soal. Hanya siapa yang sudah terlempar ke bawah panggung, dianggap kalah dan yang menang tidak sekali-kali boleh menyerang terus untuk membunuh."
Auwyang-taijin mengangguk-angguk dan Auwyang Tek menjawab.
"Baik, kami terima usulmu itu. Memang biasanya dalam pibu demikian aturannya. Mengapa kau mengajukan usul yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua?"
"Dalam segala hal lebih baik dijanji dulu dan orang-orang yang merasa diri gagah biasanya tidak mau melanggar janji,"
Jawab Kwee Cun Gan dengan suara dingin menyindir, membuat Auwyang Tek menjadi merah.
Kwee Cun Gan lalu melompat turun, kembali ke tempat duduknya.
Sementara itu, Kwee Tiong sudah mencabut senjatanya, yaitu sepasang pedang.
Memang oleh Pek Mao Lojin pemuda ini diberi pelajaran ilmu siang-kiam yang lihai.
Kwee Tiong sengaja mencabut pedangnya karena ia melihat gurunya berkedip kepadanya dan memandang ke arah punggungnya, tanda bahwa gurunya menghendaki ia mempergunakan senjata.
"Yokuto, keluarkan senjatamu, mari kita main-main dengan pedang,"
Tantang Kwee Tiong yang tentu saja tidak mau bersikap curang dan mempersilahkan lawannya mengambil senjata.
"He-he-he, kiranya orang muda juga pandai main pedang? Aku sih selamanya mengandalkan sepuluh jari tangan dan dua kaki, akan tetapi kalau kau ingin main-main dengan senjata tajam, boleh kita coba-coba."
Tubuhnya yang gemuk pendek itu menoleh, ke arah Manimoko yang melemparkan sebuah pedang kepada kawannya itu.
Pedang ini berbeda dengan pedang yang dipegang oleh Kwee Tiong, jauh lebih panjang dan lebih besar, bahkan tidak lurus melainkan agak bengkok.
"Pedangku lebih panjang dan besar, akan tetapi hanya sebatang, sedangkan pedangmu yang kecil ada dua batang, jadi sudah adil. Mulailah, orang muda!"
Kata Yokuto sambil memegang pedang itu dengan cara yang lucu, yaitu dipegang dengan kedua tangannya!
Kwee Tiong melihat ujung pedang lawan yang dilonjorkan ke depan itu bergerak-gerak menjadi beberapa buah, tanda bahwa pegangan lawannya kuat dan menggelar penuh tenaga dalam.
Ia lalu mendahului dengan serangannya, menusuk sambil menggeser kaki ke kanan sehingga tusukannya "tu masuk dari samping.
"Heeeiitt!"
Yokuto berteriak dan pedangnya melayang ke kiri, menangkis pedang lawan dengan kuat sekali.
Akan tetapi Kwee Tiong tidak mau mengadu senjatanya yang kecil.
Cepat ia menarik kembali pedangnya dan pedang kirinya kini menyambar dengan babatan ke arah pinggang.
Hebatnya, pedang Yokuto yang tadi diayun untuk menangkis, dengan gerakan melayang dan memutar sudah muncul dari kiri melalui belakang kepala dan dapat menangkis pedang kiri Kwee Tiong dengan baiknya.
Pemuda itu kaget karena hampir saja pedangnya terlepas.
Demikian berat dan kuat pedang lawan itu.
Ia mulai berlaku hati-hati sekali, lalu mempergunakan ginkangnya untuk mengurung lawan dengan sinar pedangnya.
Ilmu pedangnya memang hebat dan ia mempergunakan dua buah pedang yang jauh lebih kecil dan ringan dari pada pedang lawan, maka tentu saja gerakannya jauh lebih cepat.
Bagi para penonton yang kurang pandai ilmu silat tinggi, tentu kagum sekali melihat tubuh pemuda itu lenyap digelung sinar pedangnya sendiri dan kelihatan dua gulung sinar pedangnya menyerang dan mengurung Yokuto yang menjadi mandi keringat!
"Permainan pedang bagus!"
Berkali-kali Yokuto berseru memuji.
Ia terpaksa harus memutar-mutar pedangnya yang besar dan berat untuk melindungi dirinya dari ancaman sepasang pedang lawan.
Akan tetapi, hal ini membuat ia lelah sekali, bermandi keringat dan tak dapat membalas serangan lawan.
Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup, akan tetapi ia benar boleh dipuji karena sudah lima puluh jurus lamanya dikurung, tetap saja sepasang pedang Kwee Tiong belum dapat menembus pertahanannya yang kuat.
Terang sudah bahwa dalam ilmu pedang, jago Jepang itu tidak nempil melawan Kwee Tiong, murid Pek Mao Lojin yang lihai itu.
Yokuto sendiri maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran pedang ini, ia pasti akan kalah.
Demikian pula kawan-kawannya sudah menjadi gelisah.
Tok-ong Kai Song Cinjin mengerutkah kening sedangkan Auwyang Tek membanting-banting kakinya.
Oleh karena tahu bahwa bertanding pedang ia takkan menang, Yokuto lalu mempergunakan siasat yang nekat.
Ketika sepasang pedang lawannya yang muda datang menyambar, yaitu yang kiri menusuk dada dan yang kanan menabas leher, ia cepat menerjang pedang yang menusuk dada itu dengan tangkisan yang amat kuat.
Ini ia lakukan dengan tangan kanan saja yang memegang pedang, sedangkan tangan kiri ia pergunakan untuk menyambar pedang yang membacok lehernya sambil merendahkan tubuh mengelak.
"Traanggg...!"
Sabetan pedang besar itu hebat bukan main dan seluruh tenaga Yokuto dikerahkan, berbeda dengan Kwee Tiong yang membagi tenaga di antara kedua lengannya.
Tidak heran apa bila pedang kiri pemuda itu tak dapat dipertahankan lagi, terlepas dari pegangan dan meluncur ke bawah panggung.
Akan tetapi, pedang kanannya terus menyabet dan biarpun Yokuto sudah mengelak tetap saja pedang itu mengenai pundak, menyerempet dan melukai kulit daging.
Biarpun luka ini tidak berbahaya, namun cukup hebat sehingga Yokuto juga melepaskan pedang besarnya.
Akan tetapi, orang Jepang ini hebat sekali.
Cepat tangannya menyambar ke depan dan di lain saat ia sudah menangkap tangan Kwee Tiong untuk merampas pedang.
Dalam pergulatan berebut sebatang pedang ini, keduanya mengerahkan tenaga dan...
pedang itu terlepas jatuh.
Kwee Tiong mengirim pukulan ke depan.
Yokuto mengelak ke samping.
Saat ini dipergunakan oleh Kwee Tiong untuk mengambil pedangnya yang tinggal sebatang itu, akan tetapi ia didahului oleh Yokuto yang menggunakan kaki menyepak pedang itu ke bawah panggung.
Dengan demikian sekarang semua pedang telah hilang dan dua orang jago ini saling berhadapan dengan tangan kosong lagi!
Darah mengalir dari pundak Yokuto, membasahi jubahnya bercampur dengan keringat.
Juga Kwee Tiong nampak lelah, mukanya sudah basah oleh keringat.
Dari fihak Tiong-gi-pai terdengar tepuk tangan gembira ketika tadi Kwee Tiong berhasil melukai pundak Yokuto.
Akan tetapi oleh karena Yokuto tidak roboh dan masih berada di atas panggung, pula masih mengadakan perlawanan maka belum boleh dianggap dia kalah.
Jago Jepang ini marah sekali, mukanya yang bundar menjadi pucat kehijauan dan matanya yang sipit mengeluarkan sinar berapi, penuh dendam.
Akan tetapi pada saat itu Kwee Tiong sudah datang lagi mendesak dengan serangan hebat.
Pukulan-pukulan keras dan cepat dilakukan pemuda ini bertubi-tubi dengan kedua tangan untuk mendesak lawannya yang sudah terluka pundaknya.
Yokuto mencoba untuk mengelak dan menangkis, namun sebuah pukulan mengenai pangkal lengannya, membuat ia terlempar ke sudut panggung.
Kembali fihak Tiong-gi-pai bersorak.
Akan tetapi Yokuto ternyata kuat sekali.
Ia berdiri lagi dan dengan terhuyung-huyung maju menerjang lawannya.
Mukanya menjadi mengerikan karena dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa pukulan tadi telah mendatangkan luka hebat di sebelah dalam.
Karena ia belum roboh atau menyerah atau terlempar ke bawah panggung, ia masih belum dapat dianggap kalah.
Rupanya Yokuto sudah nekat betul.
Biarpun ia sudah terhuyung-huyung, akan tetapi sambil mengeluarkan pekik yang mengerikan, bukan seperti suara manusia lagi, tubuhnya menubruk maju dengan serangan hebat ke arah Kwee Tiong.
Pemuda ini menggeser kaki ke samping dan membalas dengan puku)an tangan kanan.
Yokuto menggerakkan tangan dan menangkap tangan Kwee Tiong secara istimewa.
Pemuda itu kaget, mencoba menarik tangannya, akan tetapi tidak dapat.
Pegangan Yokuto itu luar biasa sekali dan dalam ilmu yang menyerupai Sin-na-jiu ini orang Jepang itu ternyata lihai sekali.
Pegangannya kuat dan sukar dilepaskan lagi.
Kwee Tiong memukul lagi, kembali tangan kirinya kena dipegang!
Dengan kaget Kwee Tiong mengirim tendangan sampai dua kali yang mengenai lambung lawan biarpun tidak amat telak, namun cukup membuat Yokuto mengaduh kesakitan.
Pegangannya masih tetap kuat dan tiba-tiba sekali dengan gerakan aneh Yokuto berhasil mengangkat tubuh Kwee Tiong ke atas dan sekali lempar tubuh Kwee Tiong melayang ke luar panggung dan jatuh di bawah.
Kwee Tiong mempergunakan ginkangnya berpoksai sehingga jatuhnya berdiri.
Dengan gemas dan marah ia melompat lagi ke atas panggung untuk menghadapi lawannya, akan tetapi Auwyang Tek sudah berada di situ dan bertolak pinggang sambil menyindir.
"Kau sudah kalah dan menjadi pecundang, mau apa masuk panggung lagi?"
"Siapa kalah? Aku tidak merasa kalah!"
Kwee Tiong membentak marah sambil memandang kepada Yokuto yang berdiri di sudut dengan muka pucat dan lemas tubuhnya, sedangkan mulut dan hidungnya mengucurkan darah.
"Jahanam, melawan macammupun aku masih berani, bagaimana dibilang kalah?"
Kwee Tiong menerjang maju dan menyerang Auwyang Tek yang cepat menangkisnya.
"Tiong-ji, tahan!"
Tiba-tiba Kwee Cun Gan berteriak dari bawah panggung. Terpaksa Kwee Tiong menahan serangannya dan menoleh kepada pamannya itu.
"Turunlah, kau memang kalah oleh lawan,"
Kata Kwee Cun Gan.
Kwee Tiong tadi memang sudah mendengar akan syarat-syarat pertandingan dan dia bukan seorang yang hendak berlaku curang.
Akan tetapi oleh karena menurut kenyataan, lawannya menderita luka-luka berat sedangkan dia sendiri belum terluka, tentu saja ia merasa amat penasaran kalau dinyatakan kalah hanya karena lawannya kebetulan memiliki ilmu tangkap dan ilmu gulat aneh sehingga ia dapat dilempar ke bawah panggung.
Ia menengok ke arah Pek Mao Lojin, akan tetapi orang tua inipun mengangguk-angguk kepadanya.
Kwee Tiong merasa kecewa sekali.
Wajahnya menjadi merah sekali ketika ia melompat turun dengan tubuh lemas.
Tepuk tangan dan sorak gemuruh kini terdengar di fihak Auwyang Tek menyambut kemenangan pertama.
Yokuto yang sudah payah itu dibimbing turun dari gelanggang.
"pihakmu sudah kalah satu kali, Kwee Cun Gan!"
Kata Auwyang Tek gembira.
"Masih ada empat kali lagi. Majukan jagomu, Auwyang Tek,"
Jawab Kwee Cun Gan tenang.
Jago ke dua dari fihak Auwyang Tek adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek!
Tokoh ini melompat ke atas panggung dengan mulut menyeringai dan mukanya yang seperti muka burung itu memandang ke kanan kiri dengan lagak sombong.
Tongkatnya yang terkenal berada di tangan, karena tongkat ini memang tidak pernah terpisah dari tangannya.
"Aku, orang she Kui ingin main-main sebentar dengan orang Tiong-gi-pai. Siapa suka temani aku?"
Katanya memandang ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya.
Im-Yang Thian Cu berdiri dari bangkunya, la memang sudah mengambil keputusan untuk membela muridnya yang telah terluka hebat.
Tentu saja ia merasa malu kalau harus menghadapi seorang muda seperti Auwyang Tek, dan ia merasa berat kalau harus menghadapi Tok-ong, guru Auwyang Tek.
Sekarang melihat Kui Ek maju, ia cepat berdiri karena sudah lama ia mendengar akan kejahatan orang ini dan ingin ia mencoba lihainya tongkat burung itu.
"Muka burung, pinto-lah lawanmu!"
Katanya dan tubuhnya melayang ke atas panggung.
Melihat tosu kurus tinggi yang mukanya muram memegang kipas dan alat tulis ini, Kui Ek memperlebar senyumnya untuk menutupi hatinya yang menjadi agak jerih.
"Eh-eh-eh, kiranya Im-Yang Thian-Cu si tosu cengeng! Bagus sekali kalau kau yang mengawaniku, cocok.... cocok...!"
Memang di dunia kang-ouw, Im-Yan Thian-Cu dijuluki tosu cengeng, karena mukanya selalu muram seperti orang mau menangis.
Mendengar ucapan ini, Im-Yang Thiian-Cu yang tidak suka banyak cakap lalu menggerakkan pit-nya di tangan kanan untuk menotok dada lawan.
Kui Ek tentu saja tidak berani memandang ringan kepada senjata pendek ini, cepat ia mengelak dan tongkatnya bergerak menyapu.
Di lain saat, terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik antara dua orang tokoh besar ini, membuat kagum kepada mereka yang menyaksikannya.
Dipandang sepintas lalu, agaknya Kui Ek lebih kuat dan untung dengan senjatanya yang panjang dan berat, serangannya ganas dan cepat sekali.
Akan tetapi bagi mata ahli tidak demikian keadaannya.
Biarpun lm-Yang Thian-Cu hanya memegang sepasang senjata yang pendek dan ringan yaitu sebuah kipas dan sebuah pit, namun dua senjatanya ini hebat sekali.
Tongkat lawannya dapat ditahan oleh kipas, bahkan senjata pit selalu mencari sasaran di antara jalan darah dli tubuh lawan.
Kui Ek berusaha melebarkan jarak antara mereka dan mengajak bertempur dalam jarak jauh agar ia dapat menyerang dengan ujung tongkatnya yang panjang tanpa dapat didekati lawan.
Akan tetapi Im-Yang Thian-Cu mana mau membiarkan dirinya diakali?
Tokoh ini mendesak dan merangsek terus mengajak lawan bertempur jarak dekat.
Oleh karena usaha kedua fihak ini, sekarang kelihatan seakan-akan Kui Ek berusaha menjauh kan diri, sebaliknya lm-Yang Thian-Cu mendekat, sehingga Kui Ek seperti terdesak terus oleh lawannya.
Pertempuran yang dilakukan oleh dua orang ahli ilmu silat tinggi memang sukar diramalkan siapa akan kalah siapa pula yang akan menang.
Setiap serangan tentu merupakan tangan maut yang amat berbahaya.
Biarpun sudah terdesak, seorang ahli silat tinggi dapat menewaskan pendesaknya dengan sekali pukul saja.
Oleh karena itu, sukar pula meramalkan siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan seru antara Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan Im-Yang Thian-Cu ini.
Tingkat mereka hampir seimbang, hanya dalam tenaga Iweekang agaknya Im-Yang Thian-Cu lebih matang.
Pertempuran ini sungguh hebat.
Seratus jurus telah lewat tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan keduanya masih kelihatan segar dan sungguh-sungguh dalam usaha mereka mencari kemenangan.
Hanya untung bagi Im-Yang Thian-Cu.
bahwa selama berpuluh tahun ia hidup sebagai seorang yang menjauhkan segala nafsu keduniawian, tubuhnya bersih hatinya jernih, maka daya tahannya juga lebih kuat dari pada Kui Ek yang menjadi hamba nafsu dan pengejar kesenangan sesat.
Gerakan tongkat burung makin menjadi lemah sedangkan gerakan kipas dan pit makin kuat saja.
Pada suatu saat Kui Ek mendapat kesempatan, tongkatnya menyambar ganas dan keras sekali.
Im-Yang Thian-Cu sudah memperhitungkan bahwa tanpa spekulasi ia sukar memperoleh kemenangan dari lawan yang ulet dan tangguh ini.
Melihat tongkat menyambar dengan pengerahan tenaga sekuatnya itu.
Im-yang Thian-Cu mengangkat kipasnya menerima pukulan itu.
"Brakkk!"
Kipasnya pecah, akan tetapi berhasil "menangkap"
Tongkat itu di antara tulang-tulang kipas sehingga tidak mudah ditarik kembali.
Saat inilah yang dinanti oleh Im-Yang Thian-Cu karena secepat kilat pit-nya menyambar ke depan, digunakan sebagai senjata rahasia yang disambitkan ke arah jalan darah di pundak lawan.
"Takkl"
Tepat sekait pit itu menghantam jalan darah dan memang oleh Im-Yang Thian-Cu disambitkan dengan tenaga menotok maka pit itu tidak terlalu keras hingga tidak menembus daging, akan tetapi cukup kuat untuk menotok jalan darah!
Kui Ek mengeluh, tongkatnya terlepas dari tangan dan tubuhnya sempoyongan.
Im-Yang Thian-Cu maklum bahwa seorang lawan setangguh Kui Ek, tentu tidak akan lama terpengaruh oleh totokan tadi yang membuat semua urat seperti kejang, dan tentu akan dapat mengatasi dirinya lagi.
Maka ia tidak mau membuang waktu, sekali tendang tubuh Ma-thouw Koai-tung Kui Ek terlempar ke arah rombongan lawan dan tentu akan menimpa Auwyang-Taijin kalau saja Auwyang Tek tidak lekas-lekas maju ke depan dan menyambar tubuh itu.
"Satu-satu..!"
Terdengar teriakan dan sorak-sorai rombongan Tiong-gi-pai untuk menyatakan kegembiraan mereka bahwa keadaan kini menjadi satu-satu.
"Tai! Tar! Tar!"
Pecut kelabang Toat-beng-pian Mo Hun berbunyi nyaring ketika kakek iblis ini naik ke atas panggung atas perintah Tok-ong Kai Song Cinjin.
Sementara itu Im Yang Thian-Cu sudah turun dari panggung, disambut oleh Kwee Cun Can dan yang lain dengan wajah berseri.
Melihat munculnya manusia iblis pemakan otak manusia itu, kening Im Yang Thian-Cu berkerut, dan ia kelihatan menyesal sekali.
"Sayang aku sudah maju menghadapi Kui Ek. Kalau boleh aku ingin sekali melawan manusia siluman ini,"
Katanya seperti kepada diri sendiri.
"Ha-ha ha, Im Yang Thian-Cu, jangan begitu tamak kau! Mana boleh diborong sendiri?"
Kata Pek Mau Lojiu yang sudah berdiri dari bangkunya dan berkata kepada Kwee Cun Gan.
"Kwee-enghiong, kali ini biarkan lohu Si Botak mempergunakan kesempatan ini menawarkan isi kepala botakku kepada pemakan otak itu."
Tentu saja Kwee Cun Gan setuju, karena memang selain Pek Mao Lojin, siapa lagi yang sanggup melawan Mo Hun?
la mengangguk dan mengharapkan kemenangan bagi jago tua itu.
Dengan lenggang dan lagak seorang pelawak, Pek Mao Lojin menaiki panggung, la tidak berkata apa-apa, begitu tiba di depan Mo Hun, ia menurunkan guci araknya dari atas punggung dan minum arak itu, dituangkan ke dalam mulut begitu saja dan kelihatan amat enaknya.
Setelah ia menggelogok arak dan membiarkan Mo Hun memandangnya dengan tidak sabaran, ia baru menurunkan gucinya lagi, mengusap bibir dengan lengan baju.
memandang kepada Mo Hun lalu berkata, menyodorkan guci araknya.
"Kau tukang makan otak perlu banyak minum arak untuk mencegah keracunan. Kau mau minum arak?"
Mo Hun mendongkol, merasa dipermainkan tiba-tiba tangan kirinya menyampok guci arak yang diangsurkan Akan tetapi kakek botak itu sudah menariknya kembali sehingga tamparan atau sampokan Mo Hun itu hanya mengenai angin.
"Waah, kau benar-benar tamak sekali. Mau minta ya minta, masa ingin ambil semua dengan guci-gucinya? Nih, kalau kau sudah terlalu haus, minumlah!"
Sambil berkata demikian, kakek botak yang lucu dan lihai sekali itu melakukan gerakan memencet gucinya dan....
arak memancur keluar dari mullut guci ke arah muka Mo Hun!
Tentu saja Mo Hun cepat mengelak, akan tetapi ke manapun juga ia pergi, pancuran arak itu mengejarnya terus sampai kepalanya akhirnya kecipratan arak.
Pemandangan yang lucu ini disambut gelak oleh banyak orang, terutama oleh fihak Tiong-gi-pai.
"Tar! Tar! Tar!"
Pian kelabang di tangan Mo Hun menyambar-nyambar dengan ganasnya ke arah kepala Pek Mao Lojin, menyatakan betapa marahnya Mo Hun yang sudah dipermainkan orang.
Bau amis menyambar-nyambar dan diam-diam Pek Mao Lojin terkejut, cepat ia melangkah mundur sambil mengayun guci araknya ke kanan kiri untuk menangkis.
"Lihai sekali senjata mautmu.....!"
Katanya sambil mengeluarkan sebuah guci lain lagi, dipegang di tangan kiri Dua buah guci arak yang beraada di tangan Pek Mao Lojin itu bukanlah guci biasa.
Guci itu terbuat daripada logam istimewa, berukirkan gambar naga dan guci ini dahulu berada di dalam gudang pusaka Kaisar Jengis Khan di jaman Dinasti Goan berkuasa.
Ketika Jengis Khan memimpin pasukannya br barat, di dunia barat ia mendapatkan banyak sekali barang rampasan yang ameh-aneh dan sepasang guci ini adalah di antara pusaka-pusaka rampasan itu.
Setelah melihat indah dan kuatnya guci, Jengis Khan lalu menyuruh tukang ukir menghias guci ini dengan gambar naga, kemudian sepasang guci ini menjadi tempat arak di waktu kaisar besar ini makan.
Setelah melalui jalan berliku-liku, akhirnya sepasang guci Ini terjatuh ke dalam tangan Pek Mao Lojin dan.
tidak hanya menjadi tempat arak, malah oleh kakek botak ini disulap menjadi sepasang senjata yang ampuh!
Logam guci itu amat kuat, tidak rusak oleh senjata tajam yang manapun juga.
Mo Hun yang sudah bangkit kemarahannya, terus menggerakkan piannya yang mengerikan, tidak memberi kesempatan kepada lawan, menyerang terus dengan cepat dan kuat.
Piannya yang berbentuk kelabang itu menyambar-nyambar menimbulkan angin dan bunyi keras dan celakalah kalau sampai kepala yang botak itu terkena pukulan, pian!
Akan tetapi Pek Mao Lojin lihai sekali.
Sambil berloncatan ke sana ke mari dan menangkis dengan sepasang guci araknya, semua pukulan pian dapat ia hindarkan.
Dihujani pukulan itu, kakek botak ini masih sempat mengejek dan menggoda lawannya.
"He, siluman kelabang! Apa kau sudah mengilar untuk makan otakku? Otakku lebih enak dari pada otak lain, lebih matang, gurih dan manis. Akan tetapi tidak gampang mengambilnya, harus ditukar dengan kepalamu yang buruk itu!"
Digoda begini, makin naik darah Mo Hun, membuat mukanya merah sekali.
Ia membabat kaki Pek Mao Lojin, akan tetapi kakek ini melompat ke atas sambil tertawa-tawa, kemudian ia menggerakkan guci araknya balas menyerang.
Ketika gucinya bergerak menyambar, terdengar bunyi "ngguuunggg...!"
Yang ditimbulkan oleh angin yang memasuki mulut guci.
Mo Hun yang melihat serangan ini dengan senyum mengejek lalu menggerakkan piannya.
sengaja menangkis dan menghantamkan senjata itu sekuatnya ke arah guci lawan.
"Traanggg....!"
Guci dan pian bertemu keras sekali, akibatnya Mo Hun tergetar telapak tangannya dan melangkah mundur satu tindak, sedangkan dari guci arak itu muncrat sedikit araknya ke atas yang cepat diterima oleh kakek botak itu dengan mulutnya.
"Heh-heh, sayang kalau arak baik dihambur-hamburkan...."
Katanya tertawa-tawa, lalu maju lagi menyerang makin hebat!
Pertandingan dilanjutkan lebih seru, dan pertandingan ini biarpun tidak sehebat dan seramai pertandingan antara Im-Yang Thiain-Cu dan Kui Ek tadi, namun amat menarik karena aneh dan lucunya.
Kalau tadi, pertandingan antara Im-Yang Thian-Cu dan Kui Ek dilakukan dengan sengit, dengan penuh semangat dan kesungguhan hati, adalah sekarang Mo Hun menghadapi lawan yang bertempur sambil tertawa-tawa dan mengejek, nampaknya Pek Mao Lojin tidak bertanding dengan sungguh-sungguh.
Ini hanya kelihatannya saja, karena sesungguhnya kakek botak ini sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk dapat mengimbangi Toat-being-pian Mo Hun yang lihai dan amat ganas gerakan senjatanya itu.
Seperti juga dengan pertandingan tadi, tingkat kepandaian dua orang tokoh inipun seimbang dan amat sukarlah bagi masing-masing fihak untuk dapat merobohkan lawan cepat-cepat.
Mo Hun amat penasaran.
Masa ia tidak dapat mengalahkan kakek botak yang tertawa-tawa, dan senjatanya hanya sepasang guci arak ini?
Ia mendesak terus, penuh semangat dan marah sampai lubang hidungnya kembang kempis dan seakan-akan keluar uap putih dari lubang hidungnya itu.
Sebaliknya, Pek Mao Lojin mengganda ketawa saja sambil kadang-kadang menggoda mempermainkan.
Semua ini kelihatannya seakan-akan Pek Mao Lojin memandang rendah dan tidak berkelahi sungguh, padahal kakek botak ini sudah "ngepiah" (berusaha keras) betul!
Dia cuma menang batin dalam pertandingan ilmu silat dicampur pertandingan urat syaraf ini.
Mo Hun makin lama makin panas dan penasaran sampai menjadi setengah nekat gerakannya.
Dan inilah kemenangan Pek Mao Lojin.
Melihat lawannya sudah marah sekali, ia mulai menjalankan siasat dan mengejek.
"Eh, setan pemakan otak! Apa kau suddh bosan otak manusia maka tidak segera merobohkan aku? Kalau begitu ganti saja doyananmu itu dengan otak anjing, lebih mudah carinya. Tinggal tangkap anjing tetangga dan kau sembelih!"
Kakek botak itu tertawa bergelak sambil melompat ke samping untuk mengelak sambaran pian yang makip ganas itu.
Ejekan itu membuat hati Mo Hun makin panas dan ia sama sekali tidak sadar bahwa memang kakek botak itu hendak membuat ia menjadi marah sekali.
Sebab kemarahan mengurangi kewaspadaan.
Pek Mao Lojin setelah menghadapi Mo Hun selama lima puluh jurus lebih, maklum bahwa kalau dia hendak mengalahkan siluman itu, sedikitnya ia membutuhkan dua tiga ratus jurus, inipun belum dapat dipastikan karena memang permainan pian dari Mo Hun luar biasa kuatnya.
Oleh karena itu ia hendak mencari kemenangan mempergunakan akal dan sengaja ia "mengobori"
Terus biar hati lawan makin panas.
Benar saja, Mo Hun makin panas dan makin hebat serangan piannya.
Akan tetapi, kehebatan ini hanya kelihatannya saja, padahal kalau dilihat oleh seorang ahli, makin hebat makin ngawurlah serangan-serangannya, lebih banyak menurutkan nafsu marah dari pada menurutkan jalannya ilmu silat.
Pada saat yang telah diperhitungkan masak-masak, ketika pian menyambar, Pek Mao Lojin menerima pian itu dengan guci kiri yang diputar sehingga ujung pian melihat leher guci.
Mo Hun girang sekali dan mengerahkan tenaga menarik untuk merampas guci itu, akan tetapi guci kanan Pek Mao Lojin sudah menyusul dan menjepit pian itu.
Kemudian, selagi Mo Hun berkutetan hendak menarik kembali piannya yang melibat dan terjepit, Lek Mao Lojin tertawa dan........
menyemburkan arak dari mulutnya secara bertubi-tubi ke arah muka lawannya!
Di "hujani"
Arak dari mulut Pek Mao Lojin, Mo Hun menjadi repot sekali.
Untuk melompat menghindari semburan arak, piannya masih terjepit.
Untuk menerima begitu saja, berarti ia menerima hinaan ditambah rasa celekat-celekit pada mukanya seperti ditusuki jarum.
Terpaksa ia melangkah mundur sambil membetot piannya.
Pek Mao Lojin menurutkan lawannya dan melangkah maju dua tindak menahan lagi, menyerang dengan semburan arak, lalu maju lagi.
Akhirnya tanpa disadari Mo Hun sudah sampai di pojok dan di pinggir panggung, tidak ada jalan mundur lagi.!
Mo Hun melihat hal ini akan tetapi sudah terlambat, karena tiba-tiba Pek Mao Lojin menghentikan godaannya dan mengirim serangan serentak sambil melepaskan jepitan pian, menyerang dengan (Lanjut ke
Jilid 16) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 guci araknya yang dipukulkan dari kanan kiri lalu digerakkan dari atas dan bawah!
Empat penjuru tempat mengelak sudah ditutup, jalan satu-satunya hanya melompat mundur!
Apa boleh buat, dari pada kepalanya remuk dihantam guci, terpaksa Mo Hun melompat mundur!
Turun dari panggung!
"Ha-ha-ha, tak kusangka pemakan otak manusia masih mempunyai hati murah, mau mengalah terhadapku.
Terima kasih, terima kasih!"
Sambil berkata demikian, Pek Mao Lojin turun dari panggung disambut oleh para anggauta Tiong-gi-pai dengan sorak sorai.
"Dua satu untuk kemenangan kita!"
Orang-orang Tiong-gi-pai bersorak gembira.
Mo Hun yang melompat turun dari panggung memandang ke arah fihak Tiong-gi-pai dengan mata melotot.
Ingin sekali ia mengamuk dan menyerang orang-orang itu.
akan tetapi Tok-ong memberi isyarat kepadanya supaya mundur.
Kemudian Tok-ong kai Song Cinjin sendiri melompat ke atas panggung dan berkata, suaranya besar berpengaruh.
"Sungguh tidak pinceng nyana orang Tiong-gi-pai, terutama tua bangka seperti Pek Mao Lojin, tidak malu menggunakan akal yang curang untuk memperoleh kemenangan."
"Lho, curang bagaimana? Pemakan otak anjing itu melompat turun dari panggung dan menurut perjanjian itu berarti kalah, apa yang curang?"
Kata Pek Mao Lojin tertawa tawa.
"Aku belum kalah, botak jahat! Lihat aku masih segar belum terluka, aku melompat turun karena kena kau tipu. Siapa bilang aku kalah?"
Mo Hun dari tempat duduknya membentak dengan mata merah.
"Ha-ha-ha, dasar di situ yang licik. Apa kalian tidak ingat bagaimana tadi Kwee Tiong tidak terluka, malah bajak pendek itu yang empas-empis mau mampus. Akan tetapi karena Kwee Tiong kena diakali dengan terpaksa turun dari panggung, tetap saja dianggap kalah. Kemenanganku sekali ini hanya membalas kekalahan pertama tadi, siapa yang curang dan siapa yang tidak?"
Tok-ong Kai Song Cinjin tak dapat berkata apa-apa lagi.
Sukarlah untuk berbantahan dengan Pek Mao Lojin yang pandai bicara, dan memang sudah ditentukan sebelumnya bahwa siapa meninggalkan panggung dinyatakan kalah, maka Mo Hun tidak bisa lain harus dianggap kalah juga.
Dengan demikian fihaknya telah menderita kekalahan dua kali.
Sekali lagi kalah berarti keseluruhannya akan dianggap kalah.
Oleh karena itu Tok-ong maju sendiri untuk menentukan kemenangan dan menebus kekalahan tadi.
"Pinceng sekarang yang maju, hayo siapa yang mau mencoba pinceng?'' tantangnya dengan lagak sombong. Tak seorangpun di fihak Tiong-gi-pai yang merasa kuat menghadapi Raja Racun yang berilmu tinggi ini. Liem Han Sin melompat ke atas panggung, sikapnya tenang biarpun wajahnya agak pucat, la telah mengambil keputusan untuk mengorbankan diri. Biarlah kalau sampai ia binasa di tangan Tok-ong, asal kawan-kawannya yang lain dapat memperoleh kemenangan.
"Kai Song Cinjin, biarkan aku yang muda melawanmu!"
Kata pemuda yang tabah ini dengan sikap gagah.
Kai Song Cinjin mengerutkan keningnya dan merasa tertipu oleh fihak lawan.
Ia maklum bahwa lawan mempergunakan siasat "menghadapi yang terpandai dengan yang terlemah"
Untuk memperoleh kemenangan.
Akan tetapi ia tak dapat mundur Iagi, selain itu iapun sudah mempunyai siasat untuk akhirnya memperoleh kemenangan terakhir.
Kalau sekarang, dan ini sudah pasti, ia menangkan pertandingan ini, berarti keadaan menjadi dua-dua dan pertandingan terakhir nanti yang memutuskan, la melihat fihak lawan sudah tidak ada jagonya lagi yang boleh diandalkan, maka kiranya kalau ia mengajukan muridnya saja, ia yakin pasti akan menang.
Pertandingan ke empat ini memang harus menang, berbahaya kalau bukan dia sendiri yang maju.
Soal yang terakhir nanti, mudah diatur belakangan.
"Orang muda, kau yang melawan murid pinceng saja sudah mau mati, bagaimana sekarang berani menghadapi pinceng? Apa ini bukan berarti mengantar nyawa dengan sia-sia?"
"Tidak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia, Tok-ong,"
Jawab Han Sin gagah.
"Dan orang gagah tidak sayang nyawa untuk membela kebenaran, nama dan kehormatan."
"Kau memang sudah bosan hidup. Nah,terimalah!"
Dengan secara sembarangan saja Kai Song Cinjin menampar, akan tetapi angin tamparannya sudah cukup membuat Han Sin yang mengelak itu terhuyung huyung!
"Ha ha, kau bersikap seperti orang gagah.
Hendak pinceng lihat sampat di mana kau mempertahankan kegagahanmu dan tidak melompat turun panggung menerima kalah!"
Hwesio ini memang pandai sekali mempermainkan perasaan orang, la maklum bahwa pemuda di depannya ini memiliki kegagahan dan keberanian luar biasa, akan tetapi karena tak mungkin dapat melawan dia, kiranya nanti akan menyerah.
Oleh karena itu, ia sengaja mendahului dengan ucapan itu yang tentu saja membuat Han Sin merasa malu kalau harus menyerah dan turun panggung!
Ucapan ini sama saja dengan keputusan hukum mati bagi Han Sin.
"Jangan percaya padanya, Han Sin. Kalau kau tidak kuat, kau boleh lompat turun dan mengalah,"
Kata Im-Yang Thian-Cu yang amat mengkhawatirkan keselamatan muridnya, la maklum akan watak Han Sin yang gagah dan berani, dan maklum pula bahwa ucapan Tok-ong itu dapat membuat Han Sin menjadi nekat dan pantang mundur.
Memang betul seperti yang dikehendaki oleh Tok-ong.
Mendengar ucapan itu, Han Sin mencabut Yang-pit Im-san, yaitu sepasang senjata pit dan kipas.
"Tok-ong, kau kira aku takut mati? MajuIah"
Pemuda ini menerjang dengan kipas dan pitnya, melakukan serangan hebat sekali.
Akan tetapi hanya dengan sampokan ujung lengan bajunya, kembali Tok-ong dapat membuat pemuda itu terhuyung ke samping.
Semua orang fihak Tiong-gi-pai mengerutkan kening.
Pemuda gagah itu benar-benar bukan lawan Tok-ong Kai Song Cinjin yang lihai.
Sampai tiga kali Han Sin menyerang dan selalu ia disampok sampai hampir roboh oleh Kai Song Cinjin.
Hwesio Tibet ini sengaja hendak menghina Han Sin.
Kalau ia mau, sebentar saja ia bisa merobohkan pemuda itu, akan tetapi ia ingin memaksa Han Sin melarikan diri untuk kemudian dipukul sebelum turun.
Ia ingin fihak Tiong-gi-pai mendapat malu.
Kalau ia bisa membikin pemuda ini ketakutan dan melarikan diri!
la tidak khawatir pemuda itu akan terlepas dan tangan mautnya, karena andaikata pemuda itu melompat turun, sebelum kakinya menginjak tanah ia dapat menyusulkan pukulan jarak jauh untuk menewaskannya.
Akan tetapi, biarpun sampai terhuyung-huyung tiga kali, Han Sin masih tetap bersemangat.
la maju dan melakukan serangan lebih hebat pula.
Kai Song Cinjin kini tidak mengebutkan lengan bajunya, melainkan menangkis dengan tangannya.
"Krakkkl"
Kipas di tangan Han Sin hancur berantakan.
"Ha-ha, pemuda gagah. Kau tidak menyerah?"
Tok-ong mengejek.
Namun ia belum mengenal watak Han sin kalau ia mengira pemuda itu akan menjadi gentar.
Pemuda itu menyerang lagi dengan pitnya, melakukan totokan yang bukan tidak berbahaya.
Karena totokan itu benar lihai, terpaksa Tok-ong mengelak ke samping dan ujung lengan bajunya yang kiri menyambar, tepat mengenai pundak Han Sin, membuat pemuda itu roboh bergulingan di atas panggung.
Akan tetapi secepat kilat Han Sin melompat bangun lagi dan mengirim tusukan pitnya, lagi sama sekali tidak memperdulikan rasa nyeri pada pundaknya.
"Kau bandel!"
Tok-ong berseru dan sekali tangannya bergerak, pit yang dipegang pemuda itu sudah kena dirampasnya, lalu ditekuk patah dan dilempar ke bawah panggung.
Kini Han Sin berdiri dengan tangan kosong, menghadapi kakek itu dengan mata beringas, sedikitpun tidak kelihatan takut atau jerih.
Tok-ong meringis mentertawakan.
"Bocah cilik, kau masih belum menyerah?"
"Liem Han Sin hanya sudi menyerah kepadamu kalau sudah putus nyawa!"
Jawab pemuda itu dengan sikap gagah.
Keadaan menjadi tegang sekali dan hampir semua orang di fihak Tiong-gi-pai memandang dengan muka pucat.
Im-Yang Thian-Cu kelihatan lebih merengut dari pada biasanya, hatinya penuh kemarahan dan kedukaan melihat muridnya berada di pinggir jurang kematian tanpa ia sanggup menolong.
Sedangkan Liem Hoan duduk dengan muka pucat dan dua titik air mata menetes di atas pipinya.
Dapat dibayangkan betapa pilunya hati bapak ini melihat puteranya, anak yang tinggal satu-satunya, menghadapi maut dengan sikap demikian jantan, rasa duka dan bangga bercampur aduk menimbulkan keharuan yang luar biasa.
Jiwanya menjerit, menangis melihat puteranya sudah tidak ada harapan lagi.
Tok-ong menjadi merah mukanya.
Ia mulai marah dan ingin ia sekali pukul menewaskan pemuda di depannya itu.
Sementara itu.
Han Sin sudah menyerang lagi dengan pukulan tangan kanan ke arah dada Tok-ong Kai Song Cinjin.
"Plak! Plak!"
Tok-ong menangkis dan berbareng menampar, hanya merupakan dorongan ke arah pundak Han Sin, namun cukup membuat pemuda itu mengeluarkan suara "uuuhhh......!"
Dan tubuhnya terguling di atas lantai panggung. Akan tetapi pemuda itu bangkit lagi biarpun dengan merangkak, dan mengerahkan kekuatan lagi untuk memasang kuda-kuda! "Han Sin, kau menyerahlah!"
Liem Hoan berseru keras, tidak kuat lagi menyaksikan puteranya disiksa.
"Im-Yang Thian-Cu, kalau Han Sin menyerah kalah, dia kan bukan pengecut dan kau takkan marah, bukan?"
Pertanyaan ini diajukan oleh Liem Hoan dengan suara keras dengan maksud supaya terdengar oleh anaknya.
"Tentu saja tidak, karena memang dia bukan lawan Tok-ong,"
Jawab lm-Yang Thian-cu yang juga merasa kasihan kepada muridnya.
Akan tetapi Han Sin adalah seorang pemuda yang berhati baja.
Selama ia masih kuat bergerak, tidak nanti ia sudi menyerah kepada musuh jahatnya, musuh besarnya, guru Auwyang Tek yang telah membunuh dua orang saudaranya itu.
la harus melawan urus, biarpun ia harus berkorban nyawa!
Tiba-tiba ia teringat akan "dewi"
Yang telah datang mengobatinya, la mendapatkan pikiran aneh.
Dewi yang sakti itu betul-betul muncul dalam hidupnya, bukan dongeng bukan pula mimpi.
Kalau dewi ini sudah berhasil menolongnya dan menyembuhkan lukanya, apa anehnya kalau sekarang juga datang menolongnya dengan kesaktiannya?
Mengingat akan hal ini Han Sin berbisik.
"Dewi yang mulia, bantulah hamba..!"
Tok-ong yang mendengar suara ini, tertawa bergelak.
la merasa sudah cukup menyiksa karena sekarang ternyata olehnya bahwa sampai matipun pemuda bandel ini kiranya takkan suka lari, maka ia lalu mengerahkan tenaga di tangan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh sambil berseru.
"Mampuslah!"
Pukulan yang dahsyat ini menghantam Han Sin dari depan dan Im-Yang Thian Cu sebagai ahli silat tinggi yang melihat ini sudah menahan napas dan meramkan mata, la maklum bahwa pukulan lweekang dari seorang Raja Racun seperti Tok-ong itu tentu sekaligus akan menewaskan muridnya itu.
Juga Pek Mao Lojin berkata perlahan.
"Habislah riwayat seorang pemuda perkasa!"
Han Sin sendiri merasa dadanya disambar angin dahsyat, akan tetapi pada saat itu juga, dari punggungnya juga menyambar angin yang tidak kalah dahsyatnya, hanya bedanya, kalau sambaran angin dari depan itu berhawa panas, adalah sambaran angin dari belakangnya berhawa dingin.
Ia merasa betapa dua tenaga raksasa itu bergulat dan bertemu di sekitar tubuhnya, akhirnya tenaga dari depan itu mundur kembali dan Tok-ong Kai Song Cinjin mengeluarkan seruan kaget sambil mundur satu tindak ke belakang.
Bagaimana kakek ini tidak akan merasa kaget kalau melihat pemuda yang dipukulnya tidak bergeming sedikitpun juga, bahkan tenaga pukulannya mental kembali!
Anehnya, pemuda yang sudah dapat menahan pukulannya itu biarpun tidak bergeming, namun kelihatan lemas menahan sakit pada pundak yang terluka.
Bagaimana mungkin pemuda yang sudah terluka dan lemah ini dapat menahan pukulannya?
Dengan marah sekali Tok-ong lalu melangkah maju dan kali ini ia mengeiahkan seluruh tenaga, mengirim pukulan Hek-iok-ciang!
"Celaka...!"
Teriak Pek Mao Lojin yang tadi pun duduk bengong terlongong.
Tiba-tiba tubuh Han Sin kelihatan melayang di udara seperti terbawa angin keras dan pukulan Hek-tok-ciang itu tidak mengenai sasaran.
Agaknya tubuh Hau Sin akan terlempar jauh ke bawah, maka cepat Tok-ong yang menyangka pemuda itu melarikan diri, mengirim susulan dengan pukulannya paling hebat, yaitu Ngo-tok-ciang.
Pukulan ini ditujukan kepada tubuh Han Sin yang masih melayang di udara.
Terjadi hal yang aneh lagi.
Han Sin yang tidak merasa melompat tahu-tahu merasa dirinya terlempar, tadinya mengira bahwa itu adalah akibat hawa pukulan lawan.
Kini ketika Ngo-tok-ciang dipukulkan, kembali tubuh Han Sin yang sudah di udara itu terpental lagi, sekarang melayang ke arah tempat duduk rombongan Tiong-gi-pai dan kembali pukulan Ngo-tok-ciang mengenai angin.
Sementara itu, tubuh Han Sin sudah disambar oleh lm-Yang Thian-Cu dalam keadaan pingsan.
Akan tetapi Im-Yang Thian-Cu terheran-heran juga girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda ini sama sekali tidak menderita luka hebat dan nyawanya tidak terancam bahaya.
Benar-benar amat mengherankan.
Tentu saja Liem Hoan juga girang sekali mendengar keterangan ini dan segera Han Sin dirawat baik-baik.
Sementara itu, Tok-ong sampai lama berdiri bengong di atas panggung, tidak ada habisnya ia memikirkan keganjilan tadi.
Akhirnya, tak sanggup memecahkan teka-teki itu, ia berpikir.
"Kalau tidak pemuda itu mahir ilmu sihir, tentu ada orang pandai menolongnya."
Untuk dugaan terakhir ini ia merasa khawatir sekali, akan tetapi melihat kenyataan bahwa kalau ada orang pandai membantu orang itu sembunyi-sembunyi, tentu takkan muncul dan bukan orang fihak Tiong-gi-pai.
la lalu turun dari panggung, disambut sorak-sorai kawan-kawannya yang kegirangan karena sekarang keadaan pertandingan menjadi dua-dua.
Pertandingan terakhir akan menentukan fihak mana yang kalah atau menang.
Auwyang Tek maju sebagai jago ke lima.
"Hayo mana jago muda Tiong-gi-pai yang belum maju. Mari lawan aku!"
Katanya tertawa-tawa sambil mengenakan sepasang sarung tangannya yang terkenal ampuh.
Siok Ho berdiri dan setelah menjura kepada Kwee Cun Gan, ia lalu melompat ke atas panggung, sikapnya tenang dan mukanya yang tampan sekali itu tersenyum-senyum.
Melihat pemuda ini, Kui Ek terkejut dan cepat ia berseru kepada Auwyang Tek.
"Auwyang-Kongcu, hati-hatilah. Dia itu murid Kun-lun-pai, kepandaiannya boleh juga!"
Auwyang Tek mengerutkan kening, tidak senang karena Kui Ek memuji musuh berdepan. Ia mengeluarkan senyum menghina, lalu berkata.
"Kaya apa sih lihainya murid Kun-lun? Bocah masih ingusan, kau siapa dan sejak kapan kau menjadi anggauta Tiong-gi-pai?"
Siok Ho tetap tersenyum dan menjawab tenang.
"Auwyang Tek, sudah lama sekali aku mendengar nama busukmu dan kebetulan sekali sekarang kita berhadapan sebagai lawan terakhir dari pibu ini. Aku Oei Siok Ho, murid Kun-lun-pai dan sebagai seorang yang menjunjung kebenaran, tentu saja aku membantu Tiong-gi-pai."
Sejak tadi Auwyang Tek sibuk menggosok-gosok kedua tangannya dengan bubuk hitam yang ia keluarkan dari selampai hitam di saku bajunya, dan Siok Ho mencium bau yang keras sekali.
"Oei-sicu, hati hati dia menambah bubuk racun pada sarung tangannya!"
Seru Pek Mao Lojin kepada Siok Ho. Auwyang Tek tertawa bergelak.
"Kalau bocah ingusan ini takut, boleh pulang dan ganti lain orang saja!"
Diam-diam Siok Ho merasa menyesal sekali mengapa ia tidak membawa pedang, karena menghadapi lawan ini dengan tangan kosong merupakan bahaya juga.
"Saudara Oei, kau boleh memakai siang-kiam-ku ini!"
Kwee Tiong berseru dari bawah panggung.
Akan tetapi Siok Ho tidak bisa menggunakan siang-kiam, maka pemuda ini ragu-ragu.
Tiba-tiba, entah dan mana datangnya, muncul seorang gadis cantik yang berlari-lari seperti lagak seorang bocah ke arah panggung dan berkata.
"Saudara Siok Ho, kau pakailah pedangku ini, pasti menang!"
Siok Ho menoleh dan pemuda ini tertawa gembira. Pedang di tangan gadis itu kelihatan cocok sekali kalau ia pakai, pendek dan tipis ringan.
"Kau? Di sini? Sejak kapan, mengapa aku tadi tidak melihatmu?"
Tanyanya. Gadis itu adalah Lee Ing yang tertawa kecil "Aku sembunyi dan mengintai saja, takut melihat pertandingan-pertandingan yang begitu hebat."
"Baik, kupinjam pedangmu, terima kasih. Kau duduklah menonton dengan kawan-kawan di sana,"
Kata pemuda itu menuding ke arah rombongan Tiong-gi-pai.
Lee Ing mengangguk, lalu berjalan menuju ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya yang memandang kepada gadis ini dengan curiga dan heran.
Lee Ing hanya tersenyum-senyum, lalu berdiri di pinggiran, tidak begitu dekat dengan rombongan Tiong-gi-pai, akan tetapi jauh dari rombongan Auwyang -taijin.
Kwee Tiong berdiri dan membawa sebuah bangku, menghampiri Lee Ing dan berkata sopan.
"Nona, silahkan duduk di bangku ini. Sebagai kawan saudara Oei, kaupun sahabat kami."
Pemuda ini menjura dan wajahnya yang jujur tidak memperlihatkan perasaan apa-apa yang tidak baik.
Lee Ing menjura dan menghaturkan terima kasih, lalu menduduki bangku itu.
Orang-orang di fihak Auwyang-taijin juga memandang, akan tetapi tak seorangpun mengenal Lee Ing, maka mereka hanya menganggap bahwa gadis itu tentu kawan baik pemuda yang menghadapi Auwyang Tek.
Sementara itu, Auwyang Tek tertawa bergelak.
"Aduh, sedang dimabok asmara berani naik panggung luitai? Orang she Oei, kalau kau nanti mampus dalam pibu ini, apa kau tidak kasihan kepada kekasihmu yang jelita itu? Siapa yang akan menghiburnya kelak....?"
"Jangan menghina dia ...!"
Siok Ho membentak, mukanya menjadi merah sekali.
"Saudara Siok Ho, biarkan saja dia mengoceh. Sebangsa binatang kalau mau mampus selalu ocehannya paling merdu. He, lutung tangan hitam, kau mengocehlah lagi yang baik!"
Kata Lee Ing sambil tersenyum-senyum dan wajahnya memperlihatkan watak yang jenaka sekali. Ditantang begitu, Auwyang Tek bungkam.
"Orang she Oei, kalau mampus, jandamu itu kuoperi"
Siok Ho mengayun pedangnya dan membentak.
"Tutup mulut dan lihat pedang!"
Dengan gerakan Hun-in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Bukit) ia mulai menyerang, pedangnya menyambar ke arah kepala lawan sedangkan tangan kirinya lurus ke belakang.
"Bagus!"
Auwyang Tek berseru dan menggunakan tangan kirinya menangkis ujung pedang lawan.
"Trangg!"
Bunga api berpijar ketika ujung pedang bertemu dengan sarung tangan yang melindungi tangan kiri Auwyang Tek.
Bukan main hebatnya sarung tangan itu, tahan menerima senjata tajam dan runcing sampai mengeluarkan bunga api!
Akan tetapi alangkah kagetnya hati Auwyang Tek ketika pedang itu seakan-akan menempel di tangannya, la terheran heran dan kaget sampai mengeluarkan seruan dan melompat ke belakang.
Juga diam-diam Siok Ho kaget sekali, mengira lawannya menggunakan tenaga istimewa untuk menempel pedangnya.
Akan tetapi melihat lawannya terkejut dan melompat ke belakang, pemuda yang cerdik ini dapat menduga bahwa memang pedang ini yang aneh, dapat menempel sarung tangan.
Ia menggunakan keuntungan ini untuk mendesak terus.
Auwyang Tek terdesak mundur sampai tujuh jurus, ia betul-betul repot sekali mengelak ke sana ke mari, tidak berani menangkis lagi.
Tentu saja Auwyang Tek, juga Siok Ho sendiri, tidak tahu bahwa pedang pusaka yang jarang ke duanya di dunia ini.
pedang pusaka peninggalan Bu-Beng Sin-Kun.
Bahkan Lee Ing sendiri belum tahu betul akan kehebatan pedang ini yang sebetulnya mengandung tenaga semberani.
Inilah sebabnya sarung tangan yang dipakai Auwyang Tek selalu menempel apa bila dipakai menangkis, karena sarung tangan itu terbuat dari pada bahan yang mengandung besi pula.
Hebatnya lagi, tanpa disadari oleh dua orang yang sedang bertanding itu, bubuk hitam atau bubuk racun yang tadi digosok-gosokkan kepada sepasang sarung tangan itu, sedikit demi sedikit mulai menempel pada pedang setiap kali pedang dan sarung tangan bertemu.
Oleh karena itu, makin lama pedang itu berubah hitam!
Setelah mengelak dan mundur terus sampai belasan jurus, akhirnya Auwyang Tek dapat menguasai kekagetannya dan mulai menyerang sekali-kali dengan pukulan Hek-tok-ciang.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika setiap pukulannya itu dilawan oleh dorongan pukulan tangan kiri Siok Ho.
Makin lama tangan kiri Siok lio juga berubah menjadi merah!
"Dia mempunvai Ang-sin-jiu........!"
Terdengar Tok-ong Kai Song Cinjin berseru kaget, sengaja berseru keras-keras.
"Dikiranya orang sana saja yang bisa mengecat tangan?"
Lee Ing menyindir.
"L.aginya, jauh lebih bagus bertangan merah dari pada bertangan hitam!"
Tiba-tiba terdengar seorang berseru.
"Kwan Im Pouwsat ...... betul dia...!"
Yang berseru ini adalah Liem Han Sin yang baru siuman dari pingsannya.
Ketika ia siuman, iia masih lemas dan pundaknya terasa sakit, la hanya melirik ke arah panggung dan melihat pertandingan antara Siok Ho dan Auwyang Tek, diam-diam kagum melihat Siok Ho mendesak lawannya.
Akan tetapi betapa kaget dan girangnya ketika ia melihat gadis yang selalu terbayang di depan matanya itu duduk menongkrong dengan enaknya di situ, menonton pertempuran sambil memberi komentar-komentar bahkan berani menyindir untuk menjawab kata-kata Tok ong Kai Song Cinjin.!
Kaget, girang, dan terheran-heran membuatnya, tanpa ia sadari, berseru tadi, bahkan ia lalu turun dari bangku panjang di mana ia direbahkan tadi, menghampiri L ee Ing dan berlutut di depannya!
Tadinya Im-Yang Thian-Cu dan Pek Mao Lojin yang menyaksikan tangan merah dari Siok Ho, saling pandang.
"Kiranya kakek tua Kun-lun menurunkan kepandaiannya kepada bocah itu,"
Kata Im-Yang Thian-Cu kagum.
Mereka tidak memperhatikan Han Sin.
Akan tetapi, setelah melihat kelakuan aneh dari Han Sin, Im-Yang Thian-Cu lalu menarik muridnya dan menyuruh Kwee Cun Gan mencari orang untuk mengantar pulang pemuda ini lebih dulu.
Liem Hoan lalu menarik tangan anaknya diajak pergi dari situ untuk dirawat.
Semua orang mengira Han Sin sudah bersikap aneh itu karena luka-lukanya mendatangkan demam.
Tak seorangpun, kecuali Lee Ing, yang tahu bahwa Han Sin sedikitpun tidak demam dan bahwa ia tadi bersikap demikian dengan sungguh-sungguh dan sewajarnya!
"Dia....
dewiku...
betul berada di sini.!"
Han Sin masih berkata seperti orang mengigau ketika Liem Hoan menarik anaknya ini keluar dari Lian-bu-koan.
Memang hanya Han Sin saja yang tahu bahwa dia tadi telah ditolong lagi oleh gadis cantik seperti dewi kahyangan yang pernah mengobatinya itu.
Ketika ia tadi menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin dengan tangan kosong dan nyawanya seolah-olah berada di telapak tangan Tok-ong, ia berdoa kepada "dewinya"
Untuk membantunya, dan memang telah terjadi hal yang amat aneh.
Tadinya ia terlempar dari atas panggung, mengira bahwa ia terkena pukulan Tok-ong.
Akan tetapi kemudian ia tahu bahwa ia terlempar dari panggung sama sekali bukan oleh pukulan lawannya, melainkan ada tenaga ajaib yang memang menolong dan menyeretnya sehingga ia terluput dari pukulan Raja Racun itu.
Setelah tadi ia melihat munculnya gadis itu, baru Han Sin merasa yakin bahwa tadi ia telah dibantu secara ajaib oleh kesaktian "dewi"
Itu!
Akan tetapi lain orang tidak tahu dan mereka sudah mencurahkan perhatian kepada pertandingan terakhir yang menentukan ini, sudah melupakan sikap aneh dari Han Sin.
Hanya seorang saja yang menaruh perhatian khusus akan sikap itu dan kini orang itu memandang ke arah Lee Ing dengan penuh selidik.
Orang ini adalah Tok-ong Kai Song Cinjin.
Sebagai seorang sakti, Tok-ong sudah menaruh dugaan bahwa tadi ketika ia hendak membunuh Han Sin, rencananya gagal karena mungkin sekali Han Sin ditolong orang sakti.
Gadis inikah orang sakti itu?
Teringat pula Tok-ong akan tokoh aneh yang mengacau gedung Auwyang-Taijin, menyaru sebagai patung setan.
Ini pulakah orangnya?
Tak masuk di akal sekali.
Masa seorang gadis semuda ini dapat memiliki kepandaian setinggi itu?
Oleh karena bantahan hatinya sendiri ini, Tok-ong mengalihkan perhatiannya dan kini ia memperhatikan jalannya pertempuran antara muridnya dan murid Kun-lun-pai itu.
Ia mengerutkan keningnya.
Benar-benar Auwyang Tek terdesak hebat, terkurung oleh sinar pedang yang berkilauan seperti gulungan sinar perak itu.
Pedang itu memang hebat sekali, lemas ringan dan ampuh.
Siok Ho sendiri girang bukan main, juga kagum mempergunakan pedang pusaka yang ia pinjam dari gadis muda jenaka itu.
"Bagus! Hantam terus! Ganyang terus sampai mampus!"
Lee Ing berteriak-teriak sambil tertawa-tawa dan bertepuk tangan, nampaknya gembira sekali melihat Siok Ho mendesak Auwyang Tek yang menjadi sibuk setengah mati.
Kegembiraan gadis ini menulari orang-orang Tiong-gi-pai yang juga menjadi girang melihat jago mereka mendesak musuh.
Sorak-sorai bergemuruh membesarkan semangat Siok Ho.
Auwyang Tek betul-betul kewalahan menghadapi terjangan-terjangan jago muda Kun-lun-pai ini.
Semua pukulan Hek-tok-ciaug yang ia lakukan sebagai pembalasan, dapat dipunahkan oleh Siok Ho dengan pukulan-pukulan Ang-sin-jiu Sementara itu, pedang pusaka yang menyambar-nyambar laksana seekor naga benar-benar membuat Auwyang Tek mati kutu.
Ia mulai main mundur, mengandalkan dua sarung tangannya untuk menangkis atau mengelak.
Semua bubuk hitam yang tadi ia ulas-ulaskan ke sarung tangan itu sudah "pindah"
Ke ujung pedang, disedot oleh besi sembrani.
Sama sekali Auwyang Tek tak dapat membalas serangan lawan dan agaknya kekalahan baginya hanya tinggal soal waktu saja.
Tiba-tiba terjadi perobahan yang aneh.
Kalau tadi Auwyang Tek bergerak cepat untuk menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang Siok Ho yang bergulung-gulung, sekarang putera menteri itu bergerak lambat-lambat saja, akan tetapi anehnya, setiap gerakannya merupakan kunci yang mematikan serangan lawan.
Malah lebih dari itu, hanya dengan gerakan kaki mundur maju saja Auwyang Tek sudah berhasil mulai melakukan serangan-serangan balasan yang ampuh.
Seolah-olah Auwyang Tek telah menemukan cara baru untuk menghadapi Siok Ho, atau seolah-olah pemuda itu mengeluarkan ilmu simpanannya yang lihai.
Semua orang terkejut dan terheran-heran.
Bahkan Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu yang berilmu tinggi, hanya bisa menduga-duga saja sambil nemandang ke arah Tok-ong Kai Song Cinjin.
Pendeta Tibet itu kelihatan anteng, duduk tenang dan tekun seperti orang bersamadhi sambil matanya tajam menatap ke atas panggung.
Dua orang tokoh itu hanya bisa menduga bahwa Tok-ong yang mempergunakan ilmunya membantu Auwyang Tek.
Akan tetapi oleh karena andaikata membantu, bantuan itu tidak kelihatan dan tidak terbukti, mereka tak dapat berbual sesuatu, hanya memandang ke arah pertempuran dengan hati khawatir.
Memang tidak salah dugaan Pek Mao Lojin dan Int-Yang Thian-Cu.
Ketika melihat keadaan muridnya terdesak dan berbahaya, Tok-ong Kai Song Cinjin tentu saja tidak mau tinggal diam.
Beberapa kali Auwyang-taijin melirik ke arahnya dengan wajah khawatir, akan tetapi Raja Racun itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Lalu ia mengeluarkan ilmunya yang hebat.
Biarpun ia duduk diam tidak bergerak dari tempatnya, biarpun bibirnya tidak kelihatan bicara, hanya bergerak sedikit saja, namun ia telah membantu muridnya.
Hal ini hanya terasa oleh Auwyang Tek sendiri yang dalam kesibukannya mendengar suara gurunya, berbisik-bisik di dekat telinganya menyuruh ia tenang dan selanjutnya memberi petunjuk-petunjuk untuk menghadapi pedang lawan.
Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang tokoh ilmu silat yang memiliki kepandaian tinggi dan pengetahuan luas sekali.
Boleh dibilang semua cabang ilmu silat ia kenal baik, di antaranya Kun-lun Kiam-hoat (Ilmu Pedang Kun-lun) pernah ia selidiki dan pelajari sehingga ia dapat mengetahui dasarnya.
Maka sekarang melihat permainan pedang Siok Ho, setelah lewat puluhan jurus ia dapat mengenal pula dasar-dasar dan rahasianya.
Maka dengan Ilmu Hoan-im-sin-kang (Tenaga Sakti Pindahkan Suara) ia membisikkan ke telinga muridnya semua gerakan-gerakan yang perlu dilakukan untuk mengimbangi permainan Siok Ho.
Inilah sebabnya mengapa tiba-tiba keadaan menjadi berobah, sekarang malah makin lama gerakan-gerakan Auwyang Tek makin mantap dan teratur, mendesak Siok Ho dengan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang!
Biarpun Siok Ho selalu dapat menangkis dengan Ang sin-jiu dan menangkis dengan pedang, namun gerakan Siok Ho sekarang terbatas karena langkah-langkah dan gerakannya selalu tertutup seakan-akan Auwyang Tek sudah mengetahui ke mana ia hendak bergerak!
Kini fihak Auwyang-Taijin bernapas lega, malah ada yang bersorak-sorak, sedangkan fihak Tiong-gi-pai memandang dengan muka pias dan bingung penuh kegelisahan.
Tiba-tiba terdengar Auwyang Tek berseru bingung.
"Bagaimana, suhu....?"
Gerakannya tidak karuan dan sebentar lagi putera menteri ini bergerak-gerak seperti orang menari bingung, ilmu silatnya kacau balau tidak karuan!
Apa yang terjadi?
Ternyata bahwa telinga Auwyang Tek mendengar dua macam suara, kalau tadi suara Tok-ong Kai Song Cinjin berbisik-bisik di telinga kirinya, adalah sekarang pada saat yang Sama ada suara lain berbisik-bisik di telinga kanannya!
Celakanya, suara yang terdengar di telinga kanannya itu bicara berbisik bisik tidak karuan, memberi petunjuk-petunjuk yang sama sekali berlawanan dengan petunjuk suara Tok-ong di telinga kirinya.
Tentu saja Auwyang Tek menjadi bingung.
Bagaimana ia tidak akan menjadi bingung kalau mendengar suara di telinga kiri.
"Melangkah mundur dua tindak!"
Lalu pada saat itu juga mendengar suara di telinga kanan.
"Maju terus dua tindak!"
Dengan suara yang keras?
Mendengar dua suara yang berlainan, keduanya dekat benar dengan telinganya.
membuat Auwyang Tek bingung dan pening kepala, apa lagi setelah suara di telinga kanannya itu tiba-tiba dengan nada mengejek menyakitkan hati!
Dalam keadaan kacau balau itu.
Auwyang Tek tak dapat mengelak lagi ketika ujung pedang Siok Ho membabat dan "brett...!"
Bajunya di bagian punggung sobek sampai lebar.
Untung tadi ia masih ingat untuk menyampok pedang itu, kalau tidak tentu kulit dagingnya ikut robek!
Yang paling kaget melihat perobahan ini adalah Tok-ong Kai Song Cinjin.
la maklum bahwa ada orang mengacaukan bantuannya pada Auwyang Tek.
Cepat ia menengok ke arah rombongan Tiong-gi-pai.
Di antara rombongan itu, orang-orang yang paling pandai hanyalah Pek Mao Lojin dan lm-Yang Thian-Cu.
Akan tetapi dua orang ini duduk dengan muka tak bergerak, hanya memandang ke atas panggung dengan wajah berseri akan tetapi mata membayangkan keheranan besar.
Juga mereka ini tidak mengerti mengapa terjadi hal-hal aneh dalam pertandingan itu.
Akhirnya seperti orang diingatkan, Tok-ong menengok ke arah gadis muda yang duduk menyendiri.
Wajah Kaja Racun ini tiba-tiba menjadi pucat, matanya berapi-api ketika ia melihat Lee Ing tertawa-tawa sambil bibirnya berkemak-kemik!
Tak salah lagi, gadis itulah yang mengirim suara dari jauh mengacaukan Auwyang Tek dengan Ilmu Mengirim Suara Dan Jauh (Coan-ini-jim-bit)!
"Orang-orang Tiong-gi-pai berlaku curang!
Serang dan bunuh semua pemberontak ini!"
Tiba-tiba Kai Song Cinjin memberi tanda dengan seruan keras.
Memang sebelum pertandingan pibu dimulai, Auwyang-Taijin sudah mengatur siasat yang amat curang dan busuk.
Kalau fihaknya menang dalam pibu, tidak akan terjadi apa-apa, akan tetapi kalau kalah, sudah diatur untuk menangkap atau membunuh semua orang Tiong-gi-pai!
Tok-ong begitu melihat ada orang pandai membantu Siok Ho, dapat menduga bahwa muridnya akan kalah, maka ia mendahului dan memberi aba-aba menyerang.
Mendengar teriakannya itu tidak hanya semua orang yang duduk di rombongan Auwyang-Taijin yang bangkit menghunus senjata, bahkan dari luar lian-bu-koan berbondong-bondong masuk banyak perwira dengan senjata di tangan, siap untuk mengeroyok dan menggempur musuh!
Adapun Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri melompat ke depan Lee Ing.
terus menyerang sambil membentak.
"Pengacau cilik, kau mengandalkan apamu berani main gila di depan pinceng?"
Lee Ing tertawa.
"Setan gundul, siapa sih takut padamu maka kau membuka mulut besar?"
Pukulan atau lebih tepat hawa pukulan Tok-ong tiba dan Lee Ing dengan enaknya menggerakkan tubuh yang sekaligus melayang ke kiri.
"Brakk!"
Bangku yang tadi diduduki gadis itu hancur berkeping-keping bagaikan dihantam palu besar! "Memukul bangku, cucuku pun bisa!"
Lee Ing mengejek sambil membuat gerakan menari di depan kakek gundul itu.
Kai Song Cinjin menjadi makin marah, la menyerang terus sambil mengerahkan tenaga Iweekangnya.
Kini ia dapat menduga siapa yang tadi membantu Liem Han Sin meluputkan diri dari pukulan-pukulan.
Tentu gadis yang aneh dan lihai ini.
Sungguhpun hal itu nampaknya tidak masuk di akal, namun menjadi kenyataan.
Buktinya sekarang dengari tarian-tarian aneh gadis ini mempermainkannya dan mengelak dari semua pukulannya, seakan-akan pukulan-pukulan seperti Hek-tok-ciang, Coa-tok-sin-ciang dan Ngo-tok-kun yang serba beracun itu dianggap ringan dan main-main saja.
Akan tetapi, Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang sakti yang tingkat kepandaiannya sukar diukur lagi sampai bagaimana tingginya.
Dia bukan seorang yang boleh dibuat main-main.
Melihat gerakan-gerakan aneh dari Lee Ing, gerakan yang ia tidak mengenal sama sekali, ia mengeluarkan geraman keras menggetar untuk -melumpuhkan tenaga dalam gadis itu dan berbareng ia melakukan dorongan keras dengan kedua tangan menggunakan pukulan jarak jauh.
Lee Ing biarpun belum banyak pengalamannya kalau dibandingkan dengan Tok-ong, namun berkat kepandaian sakti yang ia warisi, dapat berlaku waspada dan maklum bahwa serangan ini tak boleh dibuat main-main.
Terhadap gerengan kakek itu ia mengeluarkan suara ketawa nyaring untuk melawannya, kemudian karena ingin coba-coba iapun mendorong dengan kedua tangannya ke arah Kai Song Cinjin.
Hebat sekali pertemuan dua tenaga raksasa itu.
Tenaga Kai Song Cinjin hebat bukan main, Iweekangnya sudah matang dan untuk masa itu kiranya tidak banyak orang dapat, melawan tenaganya.
Akan tetapi Lee Ing telah mewarisi ilmu aneh yang luar biasa, pula ia telah makan tiga buah sian-li yang telah ratusan tahun umurnya.
Di dalam tubuhnya mengalir hawa lm-Yang murni yang amat kuat, apa lagi ditambah oleh latihan-latihan ilmu silatnya yang aneh.
Menghadapi dorongan tenaga Tok-ong Kai Song Cinjin, tubuhnya terpental ke belakang seperti daun kering tertiup angin.
Akan tetapi ia masih tertawa-tawa dan turun ke atas tanah kurang lebih empat tombak di belakangnya.
Sebaliknya, biarpun ia hanya mundur dua langkah, Tok-ong Kai Song Cinjin merasa dadanya sesak seakan-akan dorongannya tadi bertemu dengan bukit baja dan tenaganya membalik.
Akan tetapi Lee Ing tidak memperdulikannya lagi.
Gadis ini melihat betapa orang-orang Tiong-gi-pai dikeroyok dan maklum bahwa biarpun di situ ada Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu yang lihai dan sukar didekati oleh para perwira, akan tetapi kalau pertempuran diteruskan, orang-orang Tiong-gi-pai akhirnya akan kalah, la menggunakan kesempatan ketika tubuhnya terlempar jauh karena gelombang tenaga hawa pukulan Tok-ong Kai Song Cinjin tadi, terus saja ia menyerbu dan merobohkan empat orang pengeroyok Kwee Cun Gan, sambil berseru.
"Paman Kwee, kau dan kawan-kawanmu larilah, biarkan aku menahan mereka!"
Kwee Cun Gan kagum bukan main melihat ketangkasan gadis ini.
"Kawan-kawan, mundur semua!"
Teriaknya dengan keras, mengajak kawan-kawannya melarikan diri.
Akan tetapi desakan fihak Auwyang-Taijin membuat perintah ini sukar dilaksanakan.
Auwyang-Taijin sendiri, sesuai dengan rencana siasat, secara diam-diam telah pergi menyelamatkan diri ke dalam begitu mendengar aba-aba Tok-ong tadi.
Pertempuran antara Auwyang Tek dan Siok Ho sudah selesai.
Dengan sebuah tendangan kilat Siok Ho membuat Auwyang Tek terlempar ke bawah panggung di mana ia segera ditolong dan dibawa masuk oleh anak buahnya.
Siok Ho lalu mengamuk ketika melihat kawan-kawannya dikeroyok.
Pedang pinjamannya berkelebatan menimbulkan sinar bergulung-gulung yang merobohkan banyak orang.
Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu sudah dikeroyok pula oleh Yokuto dan Manimoko, dibantu pula oleh beberapa orang perwira.
Orang-orang Tiong-gi-pai lainnya sudah terseret dalam pertempuran hebat dan mati-matian.
Terdengar teriakan-teriakan dan pekik kesakitan, orang-orang terjungkal mandi darah.
"Saudara-saudara Tiong-gi-pai, larilah sebelum terlambat!"
Terdengar pula Lee Ing berseru keras.
Tubuhnya berkelebat lenyap mendekati Siok Ho.
Pemuda ini yang sedang enak membabat dengan pedang pinjamannya, tahu-tahu merasa dirinya ditarik ke tempat aman, pedangnya sudah pindah tangan dan terdengar suara halus.
"Saudara Siok Ho yang baik, sudah terlalu banyak kau membunuh orang. Keselamatanmu sendiri terancam, lekas kau lari!"
Siok Ho menoleh dan melihat Lee Ing sudah memegang pedang pusaka itu, kemudian terlihat gadis itu menggerakkan pedangnya.
Sekali bergerak saja enam orang pengeroyok roboh dan luka-luka sehingga yang lain menjadi kaget dan gentar.
Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu, harap mundur dan melindungi saudara-saudara Tiong-gi-pai melarikan diri!"
Kata pula Lee Ing sambil melompat mendekati tempat dua orang tokoh ini bertempur.
Dua kali tubuhnya berkelebat dan terdengar suara nyaring sampai dua kali ketika pian kelabang di tangan Mo Hun dan tongkat burung di tangan Kui Ek terpental kena tangkisan pedang Lee Ing.
Pek Mao Lojin tertawa.
"Mataku yang tua sudah lamur, tidak melihat seorang muda yang sakti. Setelah orang seperti kau di sini, apa lagi gunanya kakek-kakek lemah seperti kami? Im-Yang Thian-cu, mari pergi!"
Selain merasa tidak ada gunanya untuk melanjutkan pertempuran dengan orang-orang kerajaan karena salah-salah oleh kaisar mereka bisa dicap pemberontak-pemberontak, juga dua orang kakek ini melihat betapa pentingnya mereka melindungi orang-orang Tiong-gi-pai pergi dari situ.
Di antara tiga puluh orang lebih anggauta Tiong-gi-pai sudah ada delapan orang yang roboh tewas dan di antaranya malah Kwee Tiong sudah menggeletak mandi darah.
Pemuda yang amat marah ini sudah mengamuk hebat dan sudah merobohkan banyak lawan.
Akan tetapi akhirnya ia harus mengakui keunggulan dua orang pengeroyok utamanya, yaitu Manimoko dan Yokuto.
la roboh terkena bacokan pedang panjang dari jago-jago Jepang itu!
"Celaka..!"
Pek Mao Lojin berseru ketika melihat muridnya roboh terguling!
Dengan gerakan cepat sekali ia melompat dan sekali menggerakkan kedua tangan ia berhasil membuat Manimoko dan Yokuto mundur terhuyung, lalu ia menyambar tubuh muridnya.
Bersama Im-Yang Thian-Cu, kakek botak ini lalu membuka jalan darah dan melindungi Kwee Cun Cian dan kawan-kawannya keluar dari kepungan.
"Tok-ong Kai Song Cinjin tak tahu malu!"
Teriak Lee Ing.
"Kalah pibu lalu mengeroyok, apa ini namanya orang gagah? Benar-benar pengecut hina dina! Kalau benar laki-laki, keroyoklah aku, jangan orang-orang Tiong-gi-pai!"
Akan tetapi sambil berkala demikian, Lee Ing selalu melindungi orang-orang Tiong-gi-pai dari belakang, merobohkan setiap orang yang hendak mengejar.
"Tar-tar-tar!"
Mo Hun menyambarkan pian kelabangnya ke arah leher Lee Ing.
"Oho, ini si pemakan bangkai muncul lagi!"
Kata Lee Ing sambil menangkis dengan pedangnya dan....
pian itu lengket saja di situ!
Mo Hun membetot keras dan tiba-tiba Lee Ing menggerakkan pedangnya dan sinar hitam menyambar ke arah Mo Hun berbareng dengan terlepasnya pian.
Sinar hitam itu adalah bubuk beracun yang tadi melengket pada ujung pedang, dari sarung tangan Auwyang Tek ketika bertempur melawan Siok Ho tadi.
Mo Hun gelagapan, tidak saja ia diserang sinar hitam, juga ia diserang oleh piannya sendiri.
Ia pikir lebih berbahaya sinar hitam yang tidak diketahui apa itu, maka ia mengelak sambil merobohkan diri, dan tak dapat mencegah lagi ujung cambuk kelabangnya sendiri yang menyambar mukanya.
Ia masih dapat miringkan kepalanya dan ini baik sekali karena hanya telinga kirinya saja yang robek, bukan mukanya!
Darah mengalir dan daun telinganya terasa perih sekali.
Tok-ong Kai Song Cinjin dan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, juga jago-jago lain segera menyerbu untuk mengeroyok Lee Ing.
"Tangkap.....!"
Mo Hun berteriak, mulutnya menyeringai kesakitan.
"Dia itu puteri Souw Teng Wi....! Tangkap dia...!"
Seruan ini menyelamatkan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya, karena mendengar bahwa gadis muda itu adalah puteri Souw Teng Wi, semua orang membalik dan beramai mengepung Lee Ing, dan orang-orang Tiong-gi-pai mendapat kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Beberapa orang penjaga yang berusaha menghadang mereka, mana bisa melawan orang-orang gagah ini, apa lagi di situ terdapat Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu?
Lee Ing sendiri yang tadi sudah merasai kehebatan pukulan Tok-ong Kai Song Cinjin, tidak berani memandang rendah kepada musuh besar ini.
Apa lagi sekarang di samping Tok-ong, masih terdapat banyak sekali orang-orang pandai seperti Mo Hun, Kui Lk, dan lain-lain.
Pula, perwira-perwira dan pengawal-pengawal istana mulai berdatangan.
Tidak akan ada gunanya melawan, pikirnya.
la hanya menghendaki dapat bertempur satu lawan satu dengan musuh besarnya, Tok-ong Kai Song Cinjin.
Akan tetapi pada saat seperti itu tak mungkin ia dapat berhasil membalas dendam ayahnya kepada Raja Racun itu.
Karena tidak ingin membunuh banyak orang yaug tak dikenalnya, Lee Ing hanya menggunakan kelincahannya untuk mengelak ke sana ke mari di antara keroyokan banyak lawan itu sambil menabas putus banyak senjata dengan pedangnya, la maklum bahwa kalau ia dekat dengan Tok-ong, sukar untuk lolos, apa lagi sekarang Tok-ong menyerukan pengepungan yang lebih rapat, la selalu menjauhkan diri dari Tok-ong dan hal ini mudah baginya setelah Lian-bu-koan itu penuh orang.
Setelah Lee Ing memperhitungkan bahwa orang-orang Tiong-gi pai sudah lari jauh, ia berseru.
"Tok-ong, biar aku titip kepalamu itu di lehermu dulu. Lain kali aku datang mengambilnya!"
Tok-ong Kai Song Cinjin marah sekali karena tidak berhasil mendekati gadis itu.
"Hadang dia! Jangan boleh lari! Serbu, kepung.!"
Akan tetapi siapa dapat mencegah gadis itu pergi?
Setiap orang yang berani mencoba-coba untuk menghadang, segera roboh dengan tulang kaki patah-patah!
Dengan kecepatan yang mengagumkan, gadis itu sudah dapat menyelinap di antara para pengeroyoknya dan melarikan diri ke luar, la terus dikejar, namun tanpa kesukaran apa-apa Lee Ing dapat meninggalkan para pengejarnya dan lari ke luar kota.
Tok-ong membanting-banting kaki dan menyumpah-nyumpah.
"Tolol semua!"
Makinya.
"Kalau tidak terhalang oleh kalian babi-babi tiada guna, pinceng sendiri bisa mengejar dan menangkapnya!"
Kalau Tok-ong memaki-maki marah merasa kecewa dan juga malu sekali terhadap Auwyang-Taijin bahwa dia tidak bahasil membasmi semua orang Tiong-gi-pai maka di lain fihak Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya yang sudah berhasil melarikan diri ke hutan, juga menderita kesedihan besar.
Ternyata ada sembilan orang anggauta Tiong-gi-pai tewas, di antaranya Kwee Tiong!
Pemuda gagah ini biarpun sudah tertolong oleh Pek Mao Lojin dan dibawa lari, namun luka-lukanya amat parah dan ia tak tertolong lagi.
Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Kwee Cun Gan.
Perkumpulannya terancam, banyak kawan tewas dan kini tidak aman lagi berada di tempat itu.
"Tidak ada lain jalan. Kita harus ke utara dan menggabungkan diri dengan Raja Muda Yung Lo. menanti saat baik untuk menghancurkan durna-durna jahat itu,"
Kata Kwee Cun Gan setelah pemakaman jenazah Kwee Tiong diurus beres, disaksikan oleh semua anggauta Tiong-gi-pai, juga Pek Mao Lojin dan lin-Yaug Thian-Cu hadir dalam upacara pemakaman.
"Sudahlah, sudah cukup kiranya pinto mengotorkan tangan, mencampuri urusan dunia. Pinto minta permisi Kwee sicu dan betapapun juga, pinto tidak menyesal telah membantu pergerakanmu yang memang mulia,"
Kata lm-Yang Thian-Cu sambil menarik napas panjang. Kwee Cun Gan menjura dalam ke arah Im-Yang Thian-Cu.
"Totiang telah banyak menolong karni, dan tanpa bantuan totiang, kiranya Tiong-gi-pai telah terbasmi di Lian-bu-koan. Terima kasih dan selamat jalan, totiang, mudah-mudahan kelak kita saling bertemu pula."
"Han Sin, apakah kau masih belum ingin ikut dengan pinto mencari perdamaian abadi?"
Im-Yang-Thian-cu menengok ke arah muridnya. Han Sin sudah sembuh dari lukanya, kini kelihatan sehat dan segar, la berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara dan wajah bersungguh-sungguh.
"Suhu, harap maafkan kalau teecu terpaksa belum dapat ikut. Pula, teecu merasa bahwa perdamaian abadi tidak ada gunanya kalau hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri saja, seperti halnya kebahagiaan takkan ada artinya kalau hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja. Perdamaian abadi baru timbul kalau pengacau dan perusuh, penindas manusia dan pemeras rakyat kecil sudah terganyang habis! Bagaimana hati ini bisa damai kalau mata melihat rakyat diperas habis-habisan oleh kaum durna? Tidak, suhu. Teecu hendak melanjutkan perjuangan, membantu Tiong-gi-pai, membantu Raja Muda Yung Lo, dan kelak kalau perdamaian dan kebahagiaan sudah dimiliki oleh semua orang, terutama rakyat kecil bukan orang-orang besar seperti Menteri Auwyang dan kaki tangannya, baru teecu suka ikut dengan suhu."
Im-Yang Thian-Cu mengerutkan kening.
"Agaknya kaulah yang betul, muridku. Sesukamulah, lanjutkan perjuanganmu. Adapun aku sendiri... ah, untuk apa semua itu....? Untuk apa.....?"
Tosu itu menggeleng-geleng kepalanya dengan muka sedih, lalu pergi dari situ tanpa bicara apa-apa lagi, kepalanya masih digeleng-gelengkan dan elahan napasnya terdengar. Pek Mao Lojin juga minta diri.
"Lohu juga mau melanjutkan perantauan,"
Katanya kepada Kwee Cun Gan.
"senang sekali dapat membantu kalian dan biarpun aku kehilangan murid, namun dia tewas sebagai seorang gagah, seorang pahlawan yang berjuang demi kebenaran dan untuk memusuhi pengaruh-pengaruh jahat yang menindas rakyat. Yang baik-baik saja menjaga diri agar kalian dapat sampai di utara dengan selamat. Kelak apa bila tiba saatnya, pasti lohu tidak segan-segan untuk membantu lagi."
Kakek botak ini dengan mulut tersenyum-senyum seperti biasa lalu pergi dari situ tanpa menghiraukan ucapan terima kasih dari Kwee Cun Gan.
"Kalau kita semua ke utara untuk membantu Raja Muda Yung Lo, sebaiknya kita jangan datang dengan tangan kosong. Menurut keterangan Pek-kong-Sin-kauw Siok-taihiap dahulu, raja muda di Peking sudah membuat persiapan-persiapan untuk memperkuat kedudukan berhubung dengan makin meluasnya pengaruh para dunia. Kaisar Thai Cu agaknya tidak menghiraukan puteranya itu karena hasutan para durna, maka menurut dugaanku, kelak akan terjadi perebutan kedudukan. Sudah tentu kalau terjadi hal itu, kita akan memihak utara, karena kita tahu bahwa Raja Muda Yung Lo yang paling bijaksana dan tepat untuk memimpin rakyat, ke arah kemakmuran. Oleh karena itu, kita harus bekerja, sebelum ke utara, kita harus menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan ini, memberi dorongan semangat kepada mereka agar jangan sampai masuk perangkap Auwyang Kansin (Menteri Korup Auwyang). Dengan demikian, mereka tidak akan dapat dibujuk oleh Tok-ong dan kelak dapat diharapkan bantuan mereka."
Semua orang memuji buah pikiran Kwee Cun Gan ini. Memang Kwee Cun Gan mempunyai bakat menjadi pemimpin serta memiliki kecerdikan dan pemandangan luas.
"Siauwte bersiap sedia melakukan petunjuk suheng."
Kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan yang ia anggap suheng (kakek seperguruan).
"Juga saya bersiap menanti perintah paman Kwee."
Kata Liem Han Sin dengan penuh semangat. Yang lain-lain juga meniru kesanggupan dua orang muda itu. Kwee Cun Gan mengangkat tangan menyuruh semua orang diam.
"Kita semua sekarang telah menjadi orang-orang buronan, tentu fihak Auwyang Kansin tidak mau tinggal diam saja dan sekali kita dilihat, tentu akan ditangkap sebagai pemberontak-pemberontak. Oleh karena itu, di selatan ini kita sudah tidak dapat bergerak bebas lagi. Berbahaya sekali kalau kita masih berkeliaran di sini. Oleh karena itu hanya sute Oei Siok Ho dan Han Sin yang tepat untuk menemui tokoh tokoh kang-ouw di selatan dan mengajak mereka bersama-sama membantu gerak an Raja Muda Yung Lo kalau saatnya sudah tiba. Dua orang ini selain muda, juga berkepandaian tinggi dan kiranya lebih mudah menjaga diri. Yang lain-lain secara berpencaran, mengajak kawan-kawan. sehaluan untuk bersama mengadakan persiapan. Akan tetapi yang kemarin ikut ke Lian-bu-koan, harus mengungsi ke utara."
Demikianlah Kwee Cun Gan mengatur kawan-kawannya.
Siok Ho dan Han Sin diberi tugas menghubungi orang-orang kang-ouw.
Dua orang muda ini akan Melakukan perjalanan ke selatan, kemudian mengambil jalan memulai, seorang melalui barat dan seorang timur, untuk menyusul ke utara.
"Jangan lebih dari enam bulan melakukan perjalanan ini,"
Kata Kwee Cun Gan.
"dan di dalam waktu itu apa bila kalian mendengar tentang pergerakan dari utara sudah dimulai, jangan membuang waktu, terus kalian menyusul kami untuk bersama-sama membantu Raja Muda Yung Lo."
Agak berat hati Liem Hoan melepas puteranya, akan tetapi oleh karena puteranya pergi melakukan tugas mulia ia merelakan harinya, hanya memesan agar puteranya dapat menjaga diri baik-baik dan berhati-hati.
"Gadis puteri Souw-taihap itu hebat, aku akan girang dan bangga kalau kelak kau bisa berjodoh dengan dia,"
Kata Liem Hoan sebagai penutup.
Merah wajah Han Sin la juga sudah mendengar tentang puteri Souw Teng Wi, gadis muda yang tadinya ia kira Kwan lm Pouwsat, akan tetapi ternyata seorang gadis yang berkepandaian tinggi itu.
Juga mendengar bahwa sekarang Kwee Cun Gan dan lain lain angganta Tiong-gi-pai lama termasuk ayahnya sendiri, mengenal gadis itu sebagai Souw Lee lng yang dulu diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun.
Memang tak dapat disangkal Iagi bahwa hati Liem Han Sin sekaligus jatuh cinta kepada gadis ini.
Akan tetapi ia menjadi ragu-ragu kalau mengingat betapa mesra dain rukun agaknya hubungan antara Lee Ing dan Siok Ho!
Setelah segalanya dirundingkau masak-masak, rombongan Tiong-gi-pai dibubarkan dan masing-masing mulai melakukan perjalanan sendiri-sendiri.
Kwee Cun Gan berdua Liem Hoan langsung menuju ke utara untuk menghadap Raja Muda Yung Lo dan memberi laporan.
Liem Han Sin dan Oei Siok Ho, dua orang muda gagah perkasa itu bersama dengan yang lain, malah menuju ke selaian.
Mereka sudah bersepakat untuk mengambil jalan sendiri-sendiri ke selatan.
Siok Ho hendak menghubungi orang-orang gagah di sepanjang Sungai Kan-kian sedangkan Han Sin hendak melakukan perjalanan di sepanjang Sungai Siang kian terus ke barat.
ke Bukit Ta-liang san.
Liem Han Sin berjalan seorang diri keluar dari wilayah Nanking menuju ke selatan, la berjalan dengan tenang dan sunyi.
pikirannya masih penuh dengan bayangan gadis lincah jenaka yang telah menguasai hatinya, Souw Lee Ing.
Di samping ini, juga ia merasa amat penasaran karena sebegitu jauh belum juga ia dapat membalaskan sakit hati atas kematian dua orang saudara perempuannya yang dibunuh oleh Auwyang Tek.
"Aku harus belajar lagi,"
Pikirnya.
"harus memperdalam ilmu silatku yang ternyata masih amat rendah. Aku harus berlatih keras, pertama-tama untuk dapat mengatasi Auwyang Tek, ke dua kalinya..."
Jalan pikirannya berhenti dan terbayanglah ia kepada Lee Ing yang menurut orang-orang Tiong-gi-pai memiliki kepandaian yang amat tinggi! Ia harus dapat mengimbangi Lee Ing! "Siapa tahu,"
Pemuda itu melanjutkan lamunannya.
"siapa tahu dalam perjalanan menghubungi orang-orang kang-ouw ini aku akan bertemu dengan orang sakti yang suka menurunkan kepandaiannya kepadaku...."
Akan tetapi hatinya menjadi gelisah kecewa kalau ia teringat akan Oei Siok Ho.
Pemuda itu hebat, tampan sekali dan ilmu silatnya juga tinggi, lebih tinggi dari padanya.
Bagaimana ia mampu bersaing dengan Siok Ho?
Melihat sikap Lee Ing ketika meminjamkan pedang kepada Siok Ho, sudah dapat dilihat bahwa gadis itu suka kepada Siok Ho.
Dia sendiri tidak melihat hal ini karena ketika terjadi ia masih pingsan.
Akan tetapi kawan-kawan di Tiong-gi-pai yang tiada habisnya bicara tentang Lee Ing, mengatakan demikian.
Bagaimana dengan Siok sendiri?
Pemuda itu hanya tersenyum dengan wajahnya yang ganteng, tidak mau memberi komentar apa-apa.
Hanya kata Siok Ho kepadanya.
"Saudara Han Sin, kita bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nona Souw. Kepandaiannya sepuluh kali lebih menang dari kita."
Anehnya, Siok Ho nampaknya tidak begitu memperhatikan Lee Ing, malah kelihatan jemu dan tidak senang kalau ada orang bicara penuh pujian terhadap gadis puteri Pendekar Besar Souw Teng Wi itu!
Cemburu ataukah memang tidak ada perhatian?
Masih sukar bagi Han Sin untuk menerkanya.
Saking asyiknya melamun sambil berjalan perlahan, pemuda ini tidak merasa bahwa semenjak tadi ada orang mengejarnya dari belakang.
Baru setelah orang itu dekat, ia mendengar gerakannya dan menoleh.
Berubah wajah Han Sin dan ia cepat mencabut kipas dan pitnya.
Sepasang senjata ini adalah senjata suhunya.
Im-Yang Thian-Cu meninggalkan sepasang senjatanya kepada muridnya ini untuk bekal dalam perjalanan karena senjata pemuda ini telah rusak oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.
Pengejarnya bukan lain orang, adalah Ma-thouw-Koai-iung Kui Ek!
Kakek bermuka burung ini menyeringai penuh ejekan, nampaknya girang sekali karena ia berhasil mendapatkan seorang buronan yang cukup berharga.
Memang tidak salah dugaan Kwee Cun Gan, Menteri Auwyang menjadi marah sekali mendengar bahwa orang-orang Tiong-gi-pai dapat meloloskan diri.
Pembesar ini segera memberi perintah kepada orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan mengerahkan sejumlah besar tentara penjaga keamanan.
Juga menteri yang berhati palsu ini melapor kepada kaisar bahwa gerombolan pemberontak bernama Tiong-gi-pai dipimpin oleh Kwee Cun Gan telah membunuh banyak perwira.
Kaisar yang mendengar laporan ini tentu saja memberi ijin untuk membasmi gerombolan itu.
Tok-ong Kai Song Cinjin mengerahkan pembantu-pembantunya, melakukan pengejaran secara berpencar.
Dia sendiri segera mengejar ke utara karena Tok-ong maklum bahwa orang-orang Tiong-gi-pai mengandalkan pengaruh Raja Muda Yung Lo untuk memusuhi fihak Menteri Kerajaan Beng.
Akan tetapi Kui Ek dan Mo Hun berpikir lain.
Dua orang ini suka membantu Menteri Auwyang hanya karena mereka ingin memperoleh kedudukan mulia dan kemewahan hidup belaka, berlindung di bawah kewibawaan kaisar.
Akan tetapi kalau pemerintah Beng-tiauw akan berperang dengan Raja Muda Yung Lo misalnya, mereka tentu merasa enggan untuk membantu.
Bagi mereka, tidak ada pikiran sedikitpun tentang tata negara dan tidak berfihak kepada siapapun.
Pokoknya asal dapat hidup senang dan siapa yang dapat menjamin kesenangan dialah yang akan mereka bantu.
Akan tetapi kalau sampai harus bermusuhan dengan raja muda di utara yang kabarnya didukung oleh orang-orang gagah di utara nanti dulu.
Itu terlalu berbahaya!
Maka keduanya tidak mengejar ke utara agar jangan sampai berganti musuh dengan tokoh-tokoh utara.
Mo Hun melakukan pengejaran ke timur sedangkan Kui Ek ke barat.
Mereka juga hendak melanjutkan kesenangan mereka merantau, karena di kota raja sudah tidak ada apa-apa lagi.
Kalau orang-orang Tiong-gi-pai sudah pergi semua, ada apa lagi sih harus tinggal di kota raja?
Inilah sebabnya maka Kui Ek secara kebetulan dapat bertemu dengan Han Sin.
Tentu saja kakek bermuka burung itu girang sekali karena terbuka kesempatan baginya utnuk membuat jasa dan menerima pahala dengan menangkap Liem Han Sin, seorang tokoh Tiong-gi-pai yang sudah dicap pemberontak-pemberontak, la sudah melihat sendiri kepandaian pemuda ini ketika melawan Tok-ong Kai Song Cinjin, karenanya ia memandang rendah.
"Aha, murid lm-Yang Thian-Cu! Kebetulan sekali, agaknya sudah nasibmu untuk mati dalam usia muda setelah kau terlepas dari tangan Tok-ong!"
Kata Kui Ek tertawa-tawa dan menggoyang-goyangkan tongkatnya. Liem Han Sin sama sekali tidak kelihatan takut, malah bibirnya menyungging senyum mengejek. (Lanjut ke
Jilid 17) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17
"Kukira siapa, tidak tahunya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang kemarin dulu keok dalam pibu oleh suhu."
Mendengar kata-kata ini dan melihat senjata kipas dan pit di tangan pemuda itu. Kui Ek menjadi marah sekali. Panas hatinya karena diejek tentang kekalahannya melawan Im-Yang Thian-Cu.
"Bagus, sekarang kau muridnya yang harus membayar hinaan itu!"
Serunya dan cepat sekali tongkatnya sudah digerakkan menyerang kepala Han Sin.
Tentu saja pemuda itu tidak berani berlaku lambat.
Cepat ia mengelak dan balas menyerang dengan pit di tangan kanannya.
Pemuda ini pernah bertanding melawan Tok-ong, sama sekali tidak gentar biarpun nyawanya terancam bahaya maut, apa lagi sekarang hanya melawan Kui Ek.
Biarpun tingkat kepandaian Kui Ek memang lebih tinggi darinya, namun pemuda yang gagah berani ini sama sekali tidak menjadi jerih.
Dengan sepenuh tenaga ia mengerahkan kepandaiannya, mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek.
Ketabahan dan kenekatan pemuda ini banyak membantunya, membuat gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dan berbahaya sehingga Kui Ek sendiri terpaksa berlaku hati-hati menghadapi lawan yang tabah ini.
"Gurumu saja sudah payah melawanku, apa lagi kau!"
Kui Ek sengaja mengejek untuk membuyarkan pencurahan perhatian (konsentrasi) lawannya yang benar-benar ulet itu.
Akan tetapi Han Sin sama sekali tidak terpengaruh, bahkan la tiba-tiba mengibaskan kipasnya ke arah muka lawan, tubuhnya menyelinap di bawah tongkat yang menyambar-nyambar, terus maju sambil "memasukkan"
Pitnya mencoba menotok lambung lawannya.
Kui Ek terkejut dan cepat ia membanting tubuhnya ke belakang, menggunakan tongkatnya yang ditekan pada tanah untuk melambung lagi dan berjungkir balik ke belakang.
Hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan diri.
Bukan main marahnya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek.
Serangan tadi hampir saja mencelakakannya.
Kalau sampai lambungnya terkena totokan tadi, amat boleh jadi ia akan roboh!
"Bangsat cilik lihat pembalasanku!"
Teriak Kui Ek dan tongkatnya menyambar ganas.
Tongkat yang ujungnya dipasangi kaitan itu kini bergerak dengan cepat dan kuat, membuat Han Sin repot menangkis dan mengelak.
Sebentar saja Han Sin yang memang kalah tinggi tingkatnya, hanya mampu mempertahankan diri saja.
Kui Ek mulai lagi dengan ejekan-ejekannya sambil mendesak terus dengan pukulan pukulan mautnya.
Han Sin dalam kerepotannya dan Kui Ek dalam kesombongannya itu tidak dapat melihat adanya seorang gadis yang baru datang dengan gerakan yang cepat sekali, Gadis ini adalah Lee Ing.
Setelah menolong orang-orang Tiong-gi -pai melarikan diri dari kepungan Tok ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.
Lee Ing segera meninggalkan Nanking hendak mencari ayahnya di utara.
Akan tetapi kalau ia teringat akan sikap Han Sin, ia menjadi tidak enak sekali.
Pemuda itu menganggapnya seorang dewi, menganggapnya Kwan lm Pouwsat, benar benai menggelikan dan juga mengharukan.
Ia harus menemui pemuda itu, pemuda yang berjiwa gagah perkasa, dan membuktikan bahwa dia bukan seorang dewi kahyangan, melainkan seorang gadis biasa.
Sikap yang diperlihatkan oleh Han Sin ketika menghadapi Tok-ong, benar-benar sikap seorang pemuda gagah perkasa yang menjamah hati nurani gadis ini.
Lee Ing paling menghargai kegagahan, dan sikap Han Sin memang sikap seorang ksatria, membuat gadis itu tertarik sekali dan timbul rasa suka dan simpati.
Maka ia merasa tidak enak kalau pemuda itu mendewi-dewikan dia.
Di samping ini, iapun hendak memancing keterangan dari Han Sin tentang ayahnya.
Ketika orang-orang Tiong-gi-pai meninggalkan hutan ternpat persembunyian mereka, Lee Ing yang bersembunyi di luar hutan menjadi terheran-heran melihat Siok Ho dan Han Sin menuju ke selatan, tidak seperti lain-lain kawan yang menuju ke utara.
Lee Ing juga maklum bahwa orang-orang gagah ini tentu akan menggabungkan diri dengan pemerintah di utara, maka ia merasa heran mengapa dua orang pemuda ini malah berangkat ke selatan, la segan untuk muncul karena setelah apa yang ia lakukan di Lian-bu-koan, tentu ia menjadi pusat perhatian dan pujian, dan hal ini Lee Ing paling benci.
Ia datang ke Nan-king hanya untuk mencari ayahnya dan untuk membalas dendam kepada Tok-ong, yang lain ia tidak perduli.
la membantu Tiong-gi-pai adalah perserikatan yang membela ayahnya.
Ketika ia melihat Siok Ho dan Han Sin berjalan ke selatan, ia diam-diam mengikuti mereka.
Diam-diam gadis remaja ini membuat perbandingan.
Benar-benar dua orang muda yang hebat, sama-sama gagah perkasa dan keduanya tampan.
Akan tetapi Lee Ing tetap saja lebih terpikat oleh Siok Ho, pemuda yang gerak-geriknya halus dan ganteng sekali itu.
Di luar tahunya dua orang muda itu, Lee Ing terus mengikuti mereka dengan diam-diam dan gadis ini menjadi merah mukanya, jengah dan malu kepada diri sendiri yang sebagai seorang gadis membanding-bandingkan dua orang pemuda!
Akan tetapi di persimpangan jalan, dua orang pemuda itu berpisahan, Siok Ho ke timur dan Han Sin ke barat.
Lee Ing menjadi bingung.
Hatinya ingin ia mengikuti Siok Ho, akan tetapi pikirannya menyuruhnya menemui Han Sin.
Sampai lama ia berdiri di persimpangan jalan, sebentar memandang ke timur, sebentar ke barat.
Hatinya bimbang sekali dan ia belum dapat mengambil keputusan harus menyusul siapa setelah dua orang muda itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Tiba-tiba gadis itu melompat dan menyelinap di balik rumpun karena telinganya yang tajam pendengarannya itu mendengar tindakan orang dari jauh.
Benar saja, tak lama kemudian kelihatan kakek bertongkat burung berlari-lari cepat.
Lee Ing terkejut melihat bahwa kakek ini adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek Sampai di persimpangan jalan Kui Ek ragu-ragu sebentar lalu membelok ke kanan, ke arah barat ke mana Han Sin tadi melanjutkan perjalanannya.
Tentu saja Lee Ing mengkhawatirkan Han Sin yang akan menghadapi bencana kalau sampai tersusul oleh kakek ini.
Akan tetapi, gadis ini tidak segera mengejar, menanti sampai beberapa lama untuk melihat apakah selain Kui Ek tidak ada orang lain lagi yang melakukan pengejaran terhadap dua orang muda itu.
Akhirnya, setelah yakin bahwa tidak ada musuh lain, ia lalu mengejar ke barat dan melihat betapa Kui Ek seperti dugaannya, telah mendesak Han Sin dengan tongkat burungnya yang lihai.
Gadis ini dengan marah hendak turun tangan, akan tetapi ia mendapatkan pikiran lain dan membalikkan tubuh, menyelinap di belakang batang pohon lalu melompat dengan gerakan seringan burung walet ke atas pohon di atas tempat dua orang itu bertempur.
Sementara itu, Han Sin makin terdesak, tongkat Kui Ek makin hebat mengurungnya dan agaknya sebentar lagi pemuda itu tentu akan roboh.
Wajah Han Sin penuh keringat, demikian pula leher dan kedua lengannya, akan tetapi biarpun ia sudah lelah sekali, biarpun napasnya sudah agak terengah-engah, sepasang matanya masih bersinar penuh keberanian dan gerakan sepasang senjatanya masih dahsyat dan berbahaya.
Mau tidak mau di dalam hatinya Kui Ek terpaksa memuji kegagahan pemuda ini.
Juga ia merasa penasaran sekali.
Masa dia tidak mampu merobohkan lawan muda ini dalam tiga puluh jurus?
Dengan gemas Kui Ek merobah ilmu silatnya.
Sekarang ia menggunakan tangan kanan saja untuk mainkan tongkatnya menyerang lawan, sedangkan tangan kirinya melakukan serangan-serangan pula dengan pukulan dahsyat.
Ternyata Kui Ek telah mengeluarkan ilmu tongkatnya yang paling dahsyat, seperti yang ia mainkan ketika ia menghadapi Im-yang Thian-cu.
Ia selalu menyerang dengan pukulan maut, mempergunakan ujung tongkat sehingga pemuda itu tidak sempat membalas, dan pukulan-pukulan tangan kirinya disertai tenaga Iweekang sepenuhnya sampai angin pukulannya menyambar-nyambar dan membuat baju Han Sin berkibar.
"Kalau dalam sepuluh jurus kau tidak jatuh, biar aku orang she Kui dianggap kalah saja!"
Kata Kui Ek mengejek sambil memperhebat serangannya Han Sin sampai terhuyung-huyung ke belakang karena sambaran angin serangan lawannya benar-benar hebat tak tertahankan.
"Celaka,"
Pikir Han Sin. kali ini aku tewas...! Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berseri dan matanya bersinar, terdengar ia menjawab.
"Begitukah? Baik, mari kita menghitungnya!"
Kui Ek benar-benar kagum.
Pemuda itu sudah terdesak hebat.
Baru terkena sambaran angin pukulann saja sudah terhuyung ke belakang dan kiranya dalam satu dua jurus takkan kuat menahan serangannya, namun masih dapat menjawab dengan nada menantang!
la mengirim pukulan pertama setelah tongkatnya membuat gerakan melingkar tiga kali di atas kepala sendiri, lalu meluncur ke arah kepala, Han Sin dengan dahsyat.
Pukulan ini disebut Rajawali Menyambar Ular Laut, hebatnya bukan main.
Kalau Han Sin menangkis, tentu kipas atau pitnya yang dipakai menangkis akan hancur berikut lengan dan pundaknya karena di dalam pukulan ini tersembunyi tenaga Iweekang yang dahsyat dan jauh lebih kuat dari pada tenaga pemuda itu.
Kalau hendak mengelak, tidak mungkin karena semua jalan keluar sudah dihadang oleh tangan kiri Kui Ek yang siap mengirim pukulan maut!
Akan tetapi hebatnya, Han Sin malah berkata lagi.
"Jurus ke satu...."
Dan mengibaskan kipasnya ke arah ujung tongkat yang menyambar sambil mengajukan kaki dan merendahkan tubuh, menikam dengan pitnya ke arah lutut lawannya, la menangkis berbareng menyerang!
Kui Ek hampir tertawa terbahak melihat kenekatan pemuda yang dianggapnya amat tolol ini.
Menangkis saja tak mungkin kuat, bagaimana masih dibarengi dengan serangan pula?
Sebelum pemuda itu tahu akan kesalahannya, kepalanya pasti sudah hancur!
Akan tetapi tiba-tiba ia terpaksa menelan kembali ketawanya, malah hampir ia berseru kaget ketika merasa tongkatnya itu terpental mundur oleh kibasan kipas Han Sin.
Ini sama sekali tidak disangka-sangkanya dan ia terpaksa mencelat mundur untuk meluputkan diri dari tusukan pit di lututnya.
Hebat sekali, pikirnya.
Bagaimana pemuda ini tiba-tiba jadi sekuat itu?
Kibasan kipas tadi malah lebih kuat dari pada kibasan Im-yang Thian-cu!
Kenapa baru sekarang pemuda itu mengeluarkan ilmunya?
Ataukah hanya kebetulan saja?
Kui Ek penasaran sekali, tak mungkin pemuda ini tiba-tiba saja berobah menjadi orang yang bertenaga Iweekang kuat sekali.
Tentu ada apa-apa yang tidak beres, la memutar tongkatnya dan menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada tadi.
Kini tongkatnya menghantam ke arah lambung Han Sin dari arah kiri.
Batu karang saja akan hancur agaknya oleh pukulan ini, apa lagi lambung manusia dari kulit daging!
Datangnya saja sudah membawa angin dingin dan amat mengerikan.
Akan tetapi, pemuda itu memandang dengan mata tidak berkedip, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut, malah ia tersenyum-senyum sambil berkata lagi.
"Jurus ke dua.!"
Memang hebat pemuda ini.
Tidak saja ia tidak takut, bahkan ia menghitung serangan lawan dan pukulan tongkat itu ia tangkis dengan pitnya di tangan kiri.
Hampir saja Kui Ek menarik kembali pukulannya saking heran dan gelinya.
Agaknya pemuda ini sudah miring otaknya, pikirnya.
Bagaimana pukulan tongkat sehebat yang ia lakukan itu, hendak ditangkis dengan sebatang pit kecil?
Akan tetapi karena penasaran mengingat serangannya yang pertama tadi, ia malah melanjutkan pukulannya dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
"Traakkl"
Tongkat itu terpental dan Kui Ek melompat mundur sampai tiga langkah.
Mukanya pucat sekalil Ia memandang kepada Han Sin yang berdiri tersenyum-senyum di depannya seperti orang melihat setan di tengah hari.
Bagaimana mungkin ini?
Tongkatnya yang kuat itu tertangkis oleh pit Han Sin menjadi terpental seakan-akan bertemu dengan bukit baja!
Dari mana pemuda itu tiba-tiba memperoleh tenaga sehebat itu?
Kalau memiliki tenaga seperti ini, mengapa tadi terdesak dan baru sekarang mempergunakannya?
Kalau memang pemuda itu memiliki tenaga seperti itu, tentu tadi-tadi ia sudah kalah!
Kui Ek benar-benar tidak mengerti.
Ia memandang kepada tongkatnya, tidak ada apa-apa yang aneh.
Apa tiba-tiba ia kehilangan tenaganya?
Merasa ragu-ragu akan diri sendiri, Kui Ek mengayun tongkatnya ke kiri.
Terdengar suara keras dan batu karang pecah berhamburan.
"Eh, Kui Ek, apa kau sudah berubah ingatan? Batu tidak apa-apa kau pukul?"
Han Sin menegur. Kui Ek makin-tidak mengerti. Tenaganya masih baik, la mengeluarkan suara menggeram lalu menyerang lagi, kini lebih cepat dan lebih hebat dari pada tadi.
"Jurus ke tiga!"
Han Sin menghitung terus sambil menangkis atau menyampok dengan seenaknya ke arah ujung tongkat, akan tetapi tiap kali ia menangkis, tongkat Kui Ek pasti terpental kembali.
Kui Ek terus menyerang dan Han Sin terus menangkis sambil menghitungi jurus dan sepuluh kali Kui Ek dibikin terheran-heran karena tongkatnya selatu kena ditangkis, juga karena sampai telapak tangannya sendiri pecah-pecah kulitnya dan berdarah sedangkan pemuda itu segar bugar berdiri di depannya tanpa mengganti langkah atau berpindah tempat.
Hal yang ajaib telah terjadi dan ini terlalu hebat bagi Kui Ek.
"Sudah sepuluh jurus dan kau harus mengaku kalah, Kui Ek,"
Kata Han Sin.
"Aku melihat setan....!"
Kui Ek menggerutu, memutar tubuhnya dan... lari pergi dari tempat itu, dikejar oleh suara ketawa Han Sin. Kui Ek tidak mendengar kata kata Han Sin perlahan.
"Sayang, kalau dengan tenagaku sendiri, tak mungkin kubiarkan tikus busuk itu melarikan diri!"
"Kita bukan Giam lo-ong. tak baik mencabut nyawa orang lain!"
Terdengar suara halus dan tahu-tahu Lee Ing sudah berdiri di depan Han Sin. Pemuda ini memandang penuh kekaguman, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Berkali-kali aku menerima pertolongan lihiap hingga aku masih dapat bernapas sampai saat ini, entah bagaimana aku dapat membalas budi itu."
Lee Ing tersenyum.
"Saudara Han Sin, kalau kau tidak nemandang aku sebagai seorang dewi atau bersikap sungkan-sungkan seperti ini, aku sudah senang. Orang-orang segolongan seperti kita ini, tolong-menolong sudah jadi kebiasaan dan sewajarnya, mengapa kau membikin aku menjadi malu dan tidak enak saja. Harap kau suka berdiri, kita bicara seperti kawan sendiri."
Han Sin bangkit berdiri mengangkat muka menatap wajah gadis itu penuh kekaguman, juga mukanya menjadi merah, entah mengapa ia merasa sungkan-sungkan dan malu sekali.
"Nona memiliki kepandaian tinggi seperti Kwan Im Pouwsat, memiliki kemuliaan seperti seorang dewi, bagaimana aku berani mengangkat diri sejajar dengan nona dan mengaku Segolongan?"
Katanya perlahan sambil menarik napas panjang.
Biarpun mulutnya bilang begitu, di dalam hatinya pemuda itu merasa sedih dan menyesal sekali mengapa ia tidak dapat mengimbangi kepandaian nona yang telah menundukkan hatinya ini!
Lee Ing cemberut, pura-pura marah.
"Saudara Liem, belum pernah selama hidupku bertemu dengan orang yang begitu pandai memuji seperti kau. Kalau aku tidak yakin bahwa kau. seorang pemuda jujur, tentu kuanggap semua pujianmu ini bujukan-bujukan belaka! Eh, saudara Han Sin, apa kau tidak suka menganggap aku seperti orang biasa dan sebagai kawan saja?"
Han Sin menjadi gugup.
"Tentu saja..."
Jawabnya cepat.
"tentu saja aku suka sekali. Agaknya aku yang bodoh dan tidak berharga ini sedang dikasihani oleh Thian sehingga menemukan nasib begini baik. Menjadi sahabatmu, nona? Aduh, tentu saja aku senang sekali! Kalau saja aku bisa berbuat sesuatu untukmu, katakan saja, aku siap melakukan perintahmu "
Wajah Lee Ing menjadi merah, apa lagi ketika ia melihat betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya, mata yang memandang mesra, penuh kasih, penuh kekaguman.
Ahh, mengapa bukan mata Oei Siok Ho yang memandang seperti itu kepadanya?
He, mengapa teringat kepada Siok Ho lagi?
Lee Ing mencela diri sendiri dalam hatinya.
"Saudara Han Sin, aku memang sengaja mencarimu untuk minta tolong sedikit saja...."
"Katakan lekas, aku siap melakukannya!"
Lee Ing tersenyum geli melihat sikap pemuda ini, betapapun juga sikap ini menyenangkan hatinya.
"Aku tidak minta kau melakukan sesuatu, hanya minta keterangan tentang ayahku, mungkin kau mengetahui di mana sebetulnya ayahku dan bagaimana keadaannya?"
"Aku mendengar bahwa kau adalah puteri Souw-taihiap, pahlawan yang gagah perkasa itu, nona. Semenjak dahulu aku sudah merasa kagum sekali kepada Souw-taihiap, seorang pejuang rakyat perkasa yang rela dimusuhi para menteri dorna, rela dikejar demi membela rakyat. Pantas saja kau ini puterinya dan...."
"Setop! Kau mulai memuji-muji lagi, bagaimana sih? Aku tanya tentang dia, dan kau memuji-muji saja!"
Han Sin cepat-cepat menjawab.
"Maaf nona. Maafkan aku yang bicara menurutkan perasaan hati. Sebetulnya aku sendiri juga tidak begitu mengerti jelas apa yang telah terjadi dengan Souw-taihiap. Menurut yang kudengar dari kawan-kawan di Tiong-gi-pai, Souw-taihiap telah berhasil diselamatkan dan kini berada di utara. Akan tetapi, agaknya tempatnya itu tersembunyi karena tak seorangpun yang mengetahui. Hal inipun tidak aneh karena banyak orang memusuhi Souw-taihiap, malah banyak orang kang-ouw yang berusaha mendapatkannya karena pengkhianat-pengkhianat macam Auwyang-taijin menjanjikan hadiah besar sekali bagi siapa yang dapat menangkap Souw-taihiap, hidup atau mati. Tentu saja tempatnya itu disembunyikan dan dirahasiakan oleh raja muda di utara."
Lee Ing mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian mengangguk-angguk.
"Terima kasih atas keteranganmu ini, saudara Han Sin. Bagaimanapun juga, kalau mengetahui bahwa ayah tidak berada di tangan musuh, hatiku sudah menjadi lega. Aku akan menyusul dan mencari ke utara."
"Akupun sedang menuju ke Peking!"
Seru Han Sin gembira sekali mendengar gadis itu hendak pergi setujuan dengan dia. Lee Ing mengerling dan tersenyum mengejek.
"Hemm, menurut pendapatku, kau sekarang ini tidak sedang menuju ke utara, melainkan ke selatan, saudara Han Sin!"
Han Sin sadar akan kesalahannya bicara, maka ia cepat-cepat menyambung.
"Aku memang akan menyusul kawan-kawan ke utara, hanya aku bertugas untuk menghubungi orang-orang gagah di sepanjang Sungai Hsiang-kang, terus ke Bukit Ta-liang-san untuk mencari kawan-kawan satu haluan dan memperingatkan orang-orang gagah agar mereka jangan sampai terbujuk membantu menteri-menteri durna di Nan-king."
Lee Ing mengerutkan kening.
"Mengapa begitu? Apakah di utara kekurangan orang gagah?"
Dengan muka sungguh-sungguh Han Sin memberi penjelasan kepada nona yang agaknya tidak mengerti sama sekali tentang keadaan pemerintahan.
"Begini nona. Biarpun tadinya Kaisar Thai Cu adalah pahlawan rakyat Cu Goan Ciang yang berjuang mengusir Bangsa Mongol bersama dengan ayahmu, akan tetapi setelah menjadi kaisar menjadi amat lemah, Kekuasaan di istana boleh dibilang berada dalam tangan menteri durna seperti bangsa Auwyang-taijin itu. Oleh karena itu sudah dapat diramalkan bahwa rakyat yang tertindas takkan mau menerima begitu saja. Dulu rakyat berjuang mati-matian mengusir penjajah untuk membasmi kaum penindas dan penghisap, sekarang biarpun yang memegang kekuasaan bangsa sendiri, namun segala macam penindas harus pula dibunuh tanpa memilih bulu! Coba saja bayangkan, siapa yang takkan marah melihat pahlawan besar seperti ayahmu itu dikejar-kejar seperti seorang pengkhianat? Coba kau tengok keadaan rakyat tani, lalu bandingkan dengan kedudukan para pembesar macam Auwyang-taijin. Padahal dahulu yang berjuang mati-matian melawan penjajah Mongol adalah anak-anak para petani itu, bukan orang-orang macam Auwyang-taijin! Sekarang sinar terang kelihatan memancar dari utara. Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pemimpin besar yang selalu mengangkat penghidupan rakyat kecil. Kepada beliau kita menyerahkan nasib, juga kepada beliau kita hendak menyerahkan tenaga membantu usaha merobohkan musuh rakyat. Oleh karena perjuangan kita selalu berdasarkan kerakyatan, maka sekarang pun aku diberi tugas untuk menghubungi orang-orang gagah di dunia kang-ouw untuk membantu kalau kelak tenaga mereka dibutuhkan."
Lee Ing inengangguk-angguk biarpun ia hanya mengerti setengah-setengah saja.
Persoalan yang dikemukakan oleh Han Sin tadi terlampau sulit dan ruwet baginya.
Akan tetapi ia amat kagum dan menganggap pemuda itu.
benar-benar seorang gagah yang jarang keduanya.
"Apa kau sudah yakin bahwa orang-orang gagah di dunia kang-ouw mau membantu?"
Tanyanya. Han Sin mengerutkan keningnya.
"Hal itu masih amat diragukan. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan sebangsanya, biarpun mereka itu tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal, masih mau menjual diri kepada menteri-menteri durna. Tentu saja segala sesuatu itu ada yang membantu ada yang menentang."
Tiba-tiba terdengar suara keras dan dari depan nampak debu mengepul.
Ketika Lee Ing dan Han Sin memandang penuh perhatian, ternyata Ma-thouw Koai-tung Kui Ek nampak berlari-lari seperti orang ketakutan, menyeret tongkatnya dan lewat di dekat mereka tanpa menoleh.
Di belakangnya kelihatan debu mengepul tinggi, akan tetapi debu ini bergerak cepat ke depan, mengejar Kui Ek!
"Bocah aneh.....!"
Kata Lee Ing perlahan.
Han Sin yang pandang matanya masih tertutup debu tidak melihat apa-apa, menjadi heran.
Akan tetapi setelah gulungan debu yang bergerak itu datang dekat, iapun melihat bahwa di dalam gulungan debu itu memang terdapat orangnya, seorang bocah laki-laki paling banyak dua belas tahun.
Bocah ini memakai pakaian aneh berwarna merah, kepalanya gundul, matanya benar-benar seperti gundu.
Tangannya memegang sebuah gelindingan surung yang patah sebelah rodanya.
Karena ia menyurung gelindingan yang rodanya sudah patah sebelah, maka mainan nu menimbulkan debu yang bergulung tinggi.
Tentu saja hal ini sudah aneh sekali, kalau bocah biasa paling-paling membuat debu mengepul sedikit, tidak seperti ini.
Bocah itu berlari cepat dengan kedua kakinya yang telanjang, sambil bersungut-sungut.
"Kalau tidak kau ganti gelindinganku, biar lari ke laut akan kukejar kau!"
"Adik kecil, kalau roda gelindinganmu rusak, mana kubikin betul!"
Han Sin berkata.
Pemuda ini merasa kasihan melihat bocah itu dan entah mengapa, ia ingin menghibur dan menolongnya.
Tentu saja ia sama sekali tidak mengira bahwa Kui Ek tadi lari ketakutan karena bocah ini!
Lee Ing yang lebih tajam pandangan matanya, hanya tersenyum dan menoleh kepada Han Sin.
"Kau memang berhati mulia."
Bocah itu berhenti berlari, menatap wajah Han Sin dengan alis berkerut.
Setelah berhadapan muka baru Han Sin tercengang melihat sinar mata yang amat tajam dan luar biasa dari bocah itu, sama sekali tidak seperti pandang mata kanak-kanak.
"Kau bisa membikin betul? Nih!"
Anak itu memberikan gelindingannya kepada Han Sin.
Han Sin menerima gelindingan itu dan menahan seruan kaget dan heran, la tadinya mcngira bahwa gelindingan itu tentu gelindingan kayu seperti biasa barang permainan kanak-kanak, akan tetapi gelindingan ini ternyata terbuat seluruhnya dari pada besi!
Roda besi patah-patah mana bisa ia membikin betul?
Sementara bocah itu, seakan akan tidak melihat sinar kebingungan di mata Han Sin, terus berkata sambil merengut.
"Kakek muka ayam itu menyebalkan sekali Gelindinganku dia injak. Kumaki dia, dia memukul dengan tongkat. Aku menangkis dan gelindinganku rusak terpukul oleh tongkatnya. Baiknya ada kau orang baik yang bisa membikin betul gelindinganku, kalau tidak tentu aku tak mau sudah dan terus mengejarnya sampai dapat."
Dari bingung.
Han Sin menjadi kaget sekali mendengar omongan itu.
Tidak bohongkah anak ini?
Mungkinkah anak yang masih belum dewasa ini mampu menangkis pukulan tongkat Ma-thouw Koai-tung Kui Ek?
"Lekas bikin betul!
Katanya mau membikin betul, kok hanya ditimang-timang saja?"
Anak itu menegur Han Sin yang menjadi makin bingung. Akhirnya dengan muka merah Han Sin mengembalikan gelindingan itu sambil berkata.
"Menyesal sekali, aku tidak bisa. Kukira tadi gelindingan kayu, tidak tahunya gelindingan besi. Aku tidak bisa bikin betul."
"Kalau tidak becus, kenapa tidak dari tadi-tadi bilang?"
Anak itu menegur dengan mulut merengut.
"Kau juga menyebalkan seperti si muka burung!"
Karena merasa sudah salah janji, biarpun hatinya mendongkol kena dimaki oleh seorang bocah, Han Sin diam saja.
Akan tetapi bocah itu agaknya tidak puas kalau hanya memaki.
Diangkatnya gelindingan yang bergagang panjang itu, lalu disodokkan ke perut Han Sin!
"Eh.
adik kecil, jangan kau kurang ajar!"
Seru Han Sin yang menjadi gemas juga.
Akan tetapi karena yang menyerang hanya anak kecil, tentu saja ia merasa enggan untuk melawan, maka ia hanya menggeser kaki ke pinggir, mengelak sambil tangannya menyampok gagang gelindingan.
Tak dinyana tak dikira, gagang gelindingan itu ditarik kembali dan dari samping mendorong lagi mengenai paha Han Sin yang tiba-tiba merasa pahanya kaku dan sakit sekali.
Kagetlah ia, cepat-cepat ia mengerahkan Iweekang ke arah paha untuk menahan dorongan keras itu dan menarik kakinya.
Tetap saja ia terdorong sampai terhuyung huyung ke belakang!
Dengan mata terbelalak heran, terkejut, dan kagum tercampur marah Han Sin memandang bocah itu setelah dapat berdiri tegak.
"Bocah kepala besar, kau ini anak siapa begini tidak tahu aturan?"
Lee Ing membentak sambil melangkah maju mendekati anak itu, Anak laki-laki itu menengok, gerakannya cepat sekali.
Melihat yang menegurnya seorang gadis jelita yang mengerutkan kening, dia mengeluarkan suara ketawa aneh.
"Aduh cantiknya! Paman tentu senang melihatmu. Hayo kau ikut aku bertemu dengan paman, biar aku diberi hadiah!"
Katanya menyeringai, matanya yang besar itu berputaran. Merah wajah Lee Ing.
"Bocah gelandangan, kotor sekali pikiran dan mulutmu!"
Bentaknya dan tangannya digerakkan untuk menjewer telinga anak itu.
Akan tetapi Lee Ing juga kecele seperti Han Sin tadi karena memandang rendah.
Jewerannya biarpun dilakukan dengan gerakan tangan cepat sehingga tahu-tahu jari tangannya sudah dekat dengan telinga anak itu, namun dengan gerakan aneh anak itu masih dapat menyelamatkan telinganya dan jari tangan Lee Ing hanya menyentuh kulit daun telinga sedikit saja.
"Eh, kau melawan? Nona manis kalau melawan ditawan saja, kata paman!"
Kata bocah nakal itu. Gagang gelindingannya digerakkan dan tiga serangan beruntun merupakan totokan-totokan lihai mengancam jalan darah di tubuh Lee Ing! "Anak iblis, jangan main gila!"
Kini Lee Ing benar-benar marah. Sekali tangannya bergerak. gelindingan itu dapat dirampasnya dan ditekuk patah lalu dilempar ke atas tanah.
"Cialat (celaka)! Kiranya lihai amat....l"
Bocah itu berseru sambil mengambil langkah seribu, lari secepatnya ke barat.
"Anak setan, sebelum minta ampun, jangan harap dapat lari pergi!"
Lee Ing mengejar.
Juga Han Sin ikut mengejar dengan hati tertarik sekali.
Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang bocah berusia dua belas tahun selihai bocah ini.
Bocah yang aneh sekali dan berkepandaian tinggi.
Tentu orang tuanya memiliki kepandaian luar biasa, atau mungkin juga gurunya, pikir Han Sin.
Dia sedang melakukan tugas menghubungi orang-orang pandai di selatan untuk kelak diajak membantu meruntuhkan kekuasaan yang menindas rakyat.
Siapa tahu kalau dari bocah ini, ia bertemu dengan tokoh-tokoh sakti yang akan dapat membantu kelak.
"Bocah setan, ini terima kembali gelindinganmu!"
Teriak Lee Ing sambil melemparkan gagang gelindingan yang tadi dipungutnya ketika melakukan pengejaran.
Gagang gelindingan itu meluncur seperti anak panah melayang di atas kepala yang gundul pelontos itu dan menunjam ke bawah menancap di atas tanah depan anak itu!
Lee Ing melakukan perbuatan ini untuk menakut-nakuti bocah itu agar tidak berlari terus.
Akan tetapi anak itu benar-benar luar biasa.
"Benar-benar gouwsu (berbahaya)!"
Terdengar ia berseru.
Lain orang akan jatuh tersungkur kalau berlari terus menumbuk gagang gelindingan yang sudah tertancap seperti batang pohon di depannya.
Akan tetapi tubuh anak itu mencelat ke atas dan jauh ke depan seperti seekor kijang melompat, setibanya di tanah kembali ia mengenjot tubuhnya melompat-lompat jauh ke depan.
Dengan cara begini ia dapat melompat seperti kijang, meloncati semak-semak dan jurang dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata!
"Nona Souw....., jangan lukai dia....!"
Han Sin mencegah ketika melihat Lee Ing menyambar sebuah batu kecil dengan maksud hendak menimpuk bocah itu dengan batu. Lee Ing menunda niatnya dan memandang heran.
"Bocah setan masih kecil sudah jahat, apa lagi kelak kalau sudah dewasa, kalau tidak sekarang diberi hajaran supaya takut, kelak sudah terlambat,"
Omel gadis ini yang merasa tidak puas akan cegahan Han Sin tadi.
"Anak itu masih begitu kecil sudah lihai sekali, tentu dia anak atau murni orang sakti. Aku sedang bertugas menghubungi orang-orang pandai, bukankah ini kesempatan baik sekali?"
Lee Ing mengangguk-angguk.
"Betul juga katamu itu. Mari kita susul dia!"
Han Sin menoleh ke kanan kiri, akan tetapi anak tadi sudah tidak kelihaian bayangannya.
"Dia cepat sekali, sudah menghilang..."
Katanya kecewa.
"Biarpun cepat, masa kita tak dapat mengejarnya? Dia tadi lari ke sana,"
Kata Lee Ing sambil menudingkan telunjuk kirinya.
Han Sin memandang dan melihat bahwa di luar hutan terdapat lembah hijau Sungai Yang-ce kiang terbentang luas dan kelihatan segar kehijauan.
Di sana-sini terdapat rawa tertutup gerombolan pohon yang merupakan hutan-hutan, ada yang kecil dan banyak pula yang lebat.
Lembah hijau penuh rumput itu terletak di tengah-tengah, dan di beberapa bagian kelihatan air Sungai Yang-ce-kiang yang mengalir tenang dan megah.
"Dia tadi lari ke jurusan hutan di sebelah kiri lembah rumput hijau itu, mari kita lekas susul, akupun ingin berkenalan dengan guru atau orang tuanya,"
Kata Lee Ing.
Dua orang muda ini lalu berlari cepat menuju ke tempat itu.
Akan tetapi ilmu lari cepat Lee Ing jauh lebih menang dari pada Han Sin.
Biarpun Han Sin mengerahkan semua tenaganya, tetap saja tertinggal.
Lee Ing menoleh ke belakang dan sengaja memperlambat larinya agar Han Sin dapat menyusulnya, akan tetapi Han Sin yang merasa khawatir takkan dapat mengejar anak itu, berkata.
"Nona Souw, kau teruslah. Kejar dia dulu jangan sampai kehilangan jejaknya. Aku menyusul di belakangmu!"
Lee ing mengangguk dan sekali tubuhnya melesat, ia telah berada jauh di depan dan sebentar lagi ia sudah menghilang di dalam hutan lebat itu.
Han Sin kagum bukan main, menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
"Hebat.... hebat sekali dia... mana aku patut di sampingnya?"
Kata-kata terakhir ini keluar dari bibirnya ketika pemuda ini teringat akan kata-kata ayahnya yang ingin sekali mengambil Lee Ing sebagai mantunya.
"Dia cantik jelita seperti bidadari, dia sakti seperti dewi... Han Sin... Han Sin.... kau tolol sekali merindukan dia. Seperti si gila merindukan bulan...."
Tiba-tiba hati pemuda ini menjadi sedih sekali.
Akan tetapi ia segera teringat akan tugasnya dan cepat ia lari mengejar.
Sementara itu, dengan kepandaiannya yang luar biasa serta keringanan tubuhnya, cepat sekali Lee Ing melakukan pengejaran memasuki hutan lebat itu.
Akan tetapi ia tidak melihat bayangan bocah aneh itu, juga tidak melihat jejaknya.
Hutan yang liar dan luas itu penuh pohon-pohon besar dan kelihatannya sunyi menyeramkan, tidak kelihatan tanda-tanda ada manusia pernah menginjaknya.
Lee Ing penasaran, Tidak mungkin matanya menipunya.
Biarpun tadi ia tidak mengejar dan berhenti untuk bicara dengan Han Sin, namun jelas betul ia melihat bocah gundul itu berlari masuk ke hutan ini.
la terus maju dan mencari-cari.
Kemudian Lee Ing yang cerdik itu melompat naik ke atas pohon, terus merayap ke puncaknya dan berdiri di atas cabang yang paling tinggi.
Bagaikan seekor burung besar ia berdiri tegak, kepalanya menonjol keluar antara daun-daun hijau dan ia memandang ke sana ke mari.
Usahanya berhasil.
Dari puncak pohon ini ia melihat samar-samar genteng rumah di depan, di pinggir hutan ini sebelah barat Tentu di sana rumah si gundul kurang ajar tadi, pikirnya.
Ketika ia hendak melompat turun, tiba-tiba pandang matanya tertarik oleh empat bayangan orang yang bergerak cepat sekali dari belakang.
Lee Ing menanti sampai bayangan-bayangan itu datang dekat.
Dari jauh sukar mengenal muka mereka.
Hanya seorang yang berlari di tengah nampaknya berpotongan tubuh yang sudah dikenalnya.
Ketika mereka sudah datang dekat, dengan heran sekali Lee Ing melihat bahwa orang yang berlari di tengah itu bukan lain adalah Liem Han Sin.
Akan tetapi keheranannya berkurang bahkan terganti kemarahan ketika ia melihat betapa kedua tangan Han Sin dipegangi oleh dua orang yang berlari di kiri kanannya.
Jelas bahwa Han Sin merupakan seorang tawanan.
Lee Ing sudah gatal-gatal tangannya hendak menerjang dan menolong Han Sin, akan tetapi melihat cara tiga orang itu berlari, Lee Ing tidak berani berlaku sembrono.
Mereka itu ternyata adalah orang-orang berilmu tinggi dan andaikata dia turun tangan, bagaimana kalau mereka menyerang Han Sin?
Kenyataan bahwa mereka menawan Han Sin dan tidak melukainya menjadi bukti bahwa mereka itu tidak bermaksud buruk, la memandang dengan penuh perhatian kepada tiga orang yang menawan Han Sin dengan hati agak lega karena mereka itu ketiganya bukanlah anggauta kaki tangan Auwyang-taijin.
Orang pertama yang berlari di depan adalah seorang perempuan muda, berwajah manis dan berpakaian indah, usianya paling banyak dua puluh lima tahun, tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang gendewa kecil.
Gerak-gerik dan cara ia berdandan menandakan bahwa wanita ini adalah seorang pesolek dan genit.
Dua orang yang memegangi lengan Han Sin di kanan kiri adalah dua orang laki-laki berusia tiga puluhan, bertubuh tinggi besar dan sikapnya kasar.
Seorang memegang ruyung dan seorang lagi di pinggangnya tergantung sepasang senjata gembolan yang kelihatannya berat.
Melihat cara mereka berlari, Lee Ing dapat mengetahui bahwa wanita itu kepandaiannya paling tinggi di antara mereka, sedangkan dua orang laki-laki kasar itu juga bukan orang sembarangan, cara mempergunakan ilmu lari cepat tidak kalah oleh Han Sin.
Setelah tiga orang itu lewat, Lee Ing cepat melayang turun dari atas pohon dan diam-diam melakukan pengejaran.
Tepat seperti dugaannya, tiga orang itu membawa Han Sin menuju ke rumah yang tadi terlihat gentengnya dari atas pohon.
Setelah dekat Lee Ing menjadi makin terheran-heran Rumah itu terletak di pinggir hutan dan dikelilingi tembok tebal, akan tetapi tidak terlalu tinggi Dari luar tembok kelihatan bangunan yang indah dan di tengah-tengah kelompok rumah itu terlihat bangunan loteng yang bentuknya seperti menara.
Pohon-pohon berbuah tumbuh di belakang tembok dan tempat itu benar-benar menyenangkan dan enak ditempati.
la melihat mereka membawa Han Sin memasuki pintu gerbang yang segera ditutup kembali.
Pintu gerbang merah terbuat dari pada besi yang amat kuat.
Lee Ing menanti sebentar lalu menyelinap ke samping, berdiri di luar tembok dan berpikir-pikir apa yang harus dilakukannya.
Di atas tembok yang mengelilingi bangunan itu terdapat gambar-gambar orang yang lucu dan sudah jelas bahwa penggambarnya tentu seorang bocah.
Tentu bocah gundul kurang ajar itu yang menggambar, pikir Lee Ing.
Selagi ia berdiri memandangi gambar corat-coret di tembok itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang dari balik tembok.
Lee Ing hendak bersembunyi akan tetapi sudah tidak keburu lagi karena dari balik tembok melompat dua orang laki-laki dengan senjata di tangan.
Segera ia mengenal dua orang yang tadi memegangi lengan Han Sin, dua orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan kasar dan kuat.
Orang yang pertama memegang ruyung dan yang ke dua memegang sepasang gembolan.
"Betul tajam pandang mata Ciong-kongcu, gadis ini benar cantik jelita!"
Kata si pemegang gembolan sambil tertawa menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning.
Sebal dan jijik Lee Ing melihatnya, akan tetapi juga ia menjadi geli dan hampir tak dapat menahan ketawanya.
Siapakah yang mereka maksudkan dengan Ciong-kongcu?
Apakah si gundul itu yang mereka panggil kongcu?
Dengan senyum mengejek Lee Ing memandang pada dua orang itu.
"Kalian ini pringas-pringis (menyeringai kuda) seperti monyet mau apakah?"
Tegur Lee Ing yang merasa makin sebal melihat dua orang itu hanya tersenyum-senyum sambil memandang kepadanya secara kurang ajar. Dua orang itu saling pandang.
"Galak, kok?"
Kata si pemegang gembolan.
"Bunga indah tentu berduri, kuda baik tentu liar, gadis cantik tentu galak dan sukar didekati. Ini ucapan Ciong-siauw-ya (Tuan Muda Ciong) dan ternyata cocok sekali. Ha-ha-ha!"
Kata si pemegang ruyung.
"Loheng (kakak tua), kita mendapat tugas mencobanya. Marilah!"
Kata si pemegang ruyung pula dan tiba-tiba ia menggerakkan senjatanya menyerang Lee Ing sambil berkata.
"Awas, nona manis, jangan sampai kulitmu yang halus lecet oleh ruyungku!"
Lee Ing marah sekali.
Cepat ia mengelak, akan tetapi sepasang gembolan orang ke dua sudah menyambar dari atas dengan gerakan yang dahsyat dan amat berbahaya.
Dalam sekejap mata saja Lee Ing sudah dikurung dan didesak hebat oleh dua orang itu yang biarpun sikapnya main-main akan tetapi ternyata serangannya sungguh-sungguh dan tidak boleh dipandang ringan.
Tentu saja Lee Ing tidak gentar biarpun kepandaian dua orang itu memang betul-betul lihai sekali dan memiliki ilmu silat yang sifatnya ganas dan aneh.
Akan tetapi ia menjadi marah dan mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada dua orang yang sama kurang ajarnya dengan bocah gundul tadi.
"Kalian mau coba-coba? Boleh!"
Sinar berkilauan membuat dua orang itu terkesiap dan silau ketika Lee Ing mencabut pedangnya yang tipis dari pinggangnya.
Dua orang itu mendesak maju lagi dengan serangan-serangan mereka yang ganas.
Lee Ing tertawa perlahan, tubuhnya mencelat dan berkelebat cepat sekali, disusul dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa.
Dua orang itu mengeluarkan seruan kaget, senjata mereka diputar cepat dan kacau karena mereka sudah dibikin bingung oleh gerakan pedang Lee Ing.
Alangkah kaget hati mereka ketika mereka tak dapat lagi menggerakkan senjata yang telah menempel pada pedang nona itu Ditarik-tarik sekuat tenaga, didorong-dorong bagaimanapun juga, senjata-senjata itu tidak dapat terlepas..
"IImu siluman....!"
Si pemegang gembolan sudah berteriak kaget dan ketakutan, mukanya sudah berubah pucat.
Juga si pemegang ruyung nampak takut-takut dan ngeri.
Lee Ing tertawa lagi, kaki kanan dan tangan kirinya bergerak ringan dan...
dengan teriakan-teriakan kesakitan dua orang itu terpental ke belakang sampai menubruk tembok, sedangkan senjata-senjata mereka tetap menempel pada pedang Lee Ing!
Dengan kepala benjol-benjol dan tubuh sakit semua, dua orang itu merayap bangun, memandang ke arah Lee Ing dengan mata terbelalak dan mulut celangap, kemudian seperti mendapat komando, mereka melompat ke atas tembok.
"Dia siluman....!"
Terdengar lagi si pemegang ruyung berseru.
Dapat dibayangkan betapa takut hati mereka ketika ruyung dan gembolan itu terbang mengikuti dan memukul punggung dan kepala mereka.
Si pemegang ruyung terpukul kepalanya oleh ruyungnya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa, sedangkan si pemegang gembolan terpukul punggung dan kepalanya dari kiri kanan sampai pipinya bengkak-bengkak sebesar gembolannya sendiri!
Mereka mengaduh-aduh sambil berlari-lari terus ke dalam.
Tentu saja kalau tadi ia mau, dengan mudah la dapat membunuh dua orang lawannya itu, akan tetapi Lee Ing tidak menghendaki hal ini.
Pertama karena ia memang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan penghuni rumah itu, kedua kalinya dan ini yang terutama, Han Sin berada di tangan mereka.
Dia harus menyelamatkan dulu pemuda itu.
Lee Ing menyimpan kembali pedangnya dan tanpa ragu-ragu ia melompat ke atas tembok dan terus melompat ke dalam, la melihat taman yang indah dan melalui sebuah lorong kecil ia berlari terus menuju ke ruangan depan yang lebar.
Rumah itu amat indah dan mewah, perabot-perabotnya juga serba indah.
Benar amat mengherankan di tempat sesunyi itu terdapat sekelompok rumah yang indah ini.
Ruangan depan sunyi saja dan Lee Ing dengan berani maju terus melalui sebuah pintu, memasuki ruangan tengah.
Ruang tengah ini lebih luas dari pada ruang depan, lantainya mengkilap dan dindingnya dihias lukisan-lukisan indah.
Begitu Lee Ing memasuki ruang ini, ia berdiri terpaku keheranan.
Ia melihat Han Sin berdiri, baru saja bangkit dari bangkunya melihat ia masuk.
Yang duduk berhadapan dengan pemuda ini ada tiga orang.
Seorang laki-laki berusia empat-puluh lima tahun, tinggi kurus berjenggot pendek dan matanya yang melotot lebar serupa benar dengan mata bocah gundul tadi.
Orang ke dua adalah seorang pemuda berusia kurang dari tiga puluh tahun, mukanya panjang dan matanya liar agak kekuningan kulit mukanya, sedangkan orang ke tiga adalah wanita yang menawan Han Sin.
Selain tiga orang ini, juga bocah gundul tadi duduk di pojok, menghadapi meja penuh makanan dan agaknya tidak memperdulikan kedatangan Lee Ing karena sedang makan dengan lahapnya.
Juga di depan meja Han Sin dan tiga orang itu terdapat hidangan-hidangan.
"Nona Souw, kita berada di rumah orang-orang segolongan. Tuan rumah ini adalah Sin-jiu Ciong Thai, orang gagah nomor satu di lembah Sungai Yang-ce-kiang. Ciong-hujin (Nyonya Ciong) ini juga seorang wanita gagah yang sudah terkenal dengan julukan Bu-eng-sin-kiam (Pedang Sakti Tanpa Bayangan) tokoh Go-bi-pai. Saudara ini adalah adik Ciong-enghiong bernama Ciong Sek."
Orang yang diperkenalkan itu hanya memadang tajam kepada Lee Ing, sama sekali tidak berkata apa-apa dan juga tidak berdiri menyambut.
Sikap mereka dingin saja, hanya Ciong Sek memandang dengan mata liar penuh taksir!
Lee Ing yang baru saja turun di dunia kang-ouw, mana mengenal nama-nama ini?
Berbeda dengan Han Sin yang sudah sering kali menjelajah dunia kang-ouw bersama suhunya, ia mengenal nama-nama ini biarpun baru sekarang bertemu muka.
Nama Sin-jiu Ciong Thai adalah nama yang sudah tersohor.
Seperti dapat diduga dari julukannya, yaitu Sin-jiu atau Tangan Sakti, tokoh kang-ouw ini adalah seorang ahli silat tangan kosong yang tangguh.
Selain ilmu silatnya, juga ia terkenal sebagai seorang aneh dari golongan hek-to (jalan hitam), seorang yang tidak berpartai, tidak tunduk kepada siapapun juga dan berwatak aneh.
Ilmu silatnya juga termasuk ilmu silat hitam, atau ilmu silat yang diwarisi dari golongan Sia-pai (Golongan Jahat) biarpun lihai dan aneh sekali akan tetapi tidak dihargai oleh orang-orang kang-ouw partai besar seperti Kun-lun-pai atau Go-bi-pai.
Sudah lama Sin-jiu Ciong Thai tidak pernah muncul di dunia kang-ouw dan hal ini terjadi semenjak ia kehilangan isterinya.
Ciong Thai yang terkenal ganas dan kejam itu hampir gila ketika isterinya yang ia cinta meninggal dunia, meninggalkan seorang anak laki-laki yang sudah berusia sepuluh tahun.
Akhirnya, atas bujukan adiknya, Ciong Sek, ia menikah lagi dengan seorang wanita muda cantik dan gagah, yaitu Bu-eng-sin-kiam Giam Loan.
Karena Giam Loan memang cantik dan genit, dahulunya sebelum menjadi isteri Ciong Thai sudah merupakan seorang perempuan liar, maka sebentar saja Ciong Thai terjatuh di bawah pengaruhnya.
Apa lagi memang isteri barunya ini jauh lebih muda dari padanya.
Celakanya, adiknya Ciong Sek juga seorang pemuda yang tidak sehat jiwanya sehingga pemuda ini tidak malu-malu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk mengkhianati kakaknya dan melakukan perhubungan yang tidak senonoh dengan Giam Loan, iparnya sendiri!
Hal ini terjadi hampir secara berterang, dan Ciong Thai tidak bisa berbuat apa-apa!
Ia terlalu takut dan terlalu sayang kepada isterinya yang muda, takut kalau ditinggal pergi.
Yang paling buruk nasibnya adalah Ciong Swi Kiat, putera Ciong Thai, bocah gundul itu.
Ia tidak diperhatikan lagi, tidak mendapat pendidikan yang baik, dan ayahnya hanya memperhatikan makan pakaiannya saja, asal cukup makan cukup pakaian, sudah!
Tidak mengherankan apa bila anak itu tumbuh besar dan menjadi rusak.
Tidak saja amat nakal, juga kurang ajar dan meniru segala perbuatan dan sikap tidak baik dari ayah dan pamannya, juga dari dua orang anak buah atau murid pamannya yang bernama Thio San dan Ho Kai Reng yaitu dua orang yang tadi mengeroyok Lee Ing.
Demikianlah keadaan penghuni rumah mewah itu secara singkat telah dituturkan dan sekarang kembali kita menengok keadaan Lee Ing yang menghadapi mereka.
Melihat sikap dingin pemilik rumah, apa lagi mengingat sambutan tuan rumah yang menyuruh orang mengeroyoknya, Lee Ing tersenyum mengejek mendengar Han Sin memperkenalkan mereka.
"Liem-twako (kakak Liem). kau bilang tuan rumah sekeluarga adalah orang-orang segolongan dan orang-orang gagah, akan tetapi jelas mereka itu tidak pandai menyambut tamu. Masa begitu datang mengerahkan dua ekor anjingnya untuk menggigit tamunya. Laginya, kau datang dengan tangan dicengkeram, apa kau masih bisa bilang mereka itu pandai menerima tamu?"
Dengan matanya Han Sin memberi tanda supaya Lee Ing menghentikan bicaranya dan jangan bersikap demikian, namun mana gadis ini mau menurut?
Tadi melihat Han Sin diseret orang, hatinya sudah panas, lalu ditambah lagi dengan pengeroyokan dua orang terhadap dia, sekarang melihat sikap tuan rumah yang dingin itu membuat ia cukup mendongkol.
"Liem twako, aku tidak ingin berkenalan dengan mereka dan kalau kau sudah selesai dengan. urusanmu, mari kita melanjutkan perjalanan!"
Kata pula Lee Ing sambil memandang ke arah Han Sin. Aneh sekali, mendengar ucapan Lee Ing itu Han Sin cepat-cepat berdiri menghadapi tuan rumah sambil menjura dan berkata penuh hormat.
"Ciong-enghiong, harap kau sudi memaafkan, nona Souw masih terlalu muda dan terburu nafsu. Kalau dianggap bersalah, biarlah siauwte yang akan menanggung hukumannya...."
Akan tetapi kata-katanya tidak diperdulikan orang karena tiba-tiba tuan rumah, yaitu Ciong Thai, menggerakkan tubuhnya dan "brakkkk!"
Bangku yang ia duduki amblas ke dalam tanah sampai dua dim lebih!
Hebat sekali pengerahan Iweekang untuk memberatkan tubuh ini.
Lantai itu keras, akan tetapi kaki bangku dari kayu toh dapat amblas sebegitu dalamnya!
Di lain saat Ciong Thai sudah melompat dan berdiri di depan Lee Ing, matanya yang besar-besar itu melotot dan sinarnya seperti sepasang mata lembu tersorot lampu.
"Bocah sombong! Apakah setelah mengalahkan dua orang itu kau anggap tidak ada orang berani melawanmu? Mari, mari, kita coba-coba, Kau boleh membunuh aku kalau kau mampu!"
Setelah berkata demikian, Ciong Thai berdiri dengan dua kaki dipentang dan tubuh sedikit membongkok.
"Ciong-enghiong, jangan! Nona Souw bukan lawanmu, dia lihai sekali, kau akan celaka....!"
Kembali Han Sin mencegah dan Lee Ing yang mendengar ini menjadi terheran-heran dan juga tidak puas.
Mengapa dalam kata kata ini agaknya Han Sin mengkhawatirkan keselamatan Ciong Thai?
"Nanti mati, sekarang juga mati, apa bedanya?
Nona, aku sudah mendengar bahwa kepandaianmu tinggi sekali, coba kau terima doronganku hendak kulihat sampai di mana tingginya ilmumu!"
Kata Ciong Thai sambil melangkah maju dan mendorongkan kedua lengannya dengan telapak tangan di depan. Lee Ing tersenyum mengejek.
"Siapa sih takut menghadapi Sin jiu (Tangan Sakti)?"
Dengan secara sembarangan iapun mendorongkan kedua lengannya menyambut dorongan lawan.
Terjadilah adu kepandaian yang hebat dan yang membuat semua orang memandang dengan bengong, kagum dan tegang.
Bagi orang yang belum tinggi Iweekangnya, kalau mengadu tenaga saling mendorong dengan dua pasang tangan yang menempel.
Akan tetapi ketika Lee Ing mendorongkan kedua lengannya ke depan, tenaganya yang merupakan hawa murni dari dalam tubuhnya telah menjadi hawa pukulan yang menyambar ke depan dan bertemu dengan hawa pukulan yang timbul dari dorongan Ciong Thai.
Dalam jarak setengah meter, dua pasang lengan itu terhenti dan keduanya mengerahkan tenaga untuk mengalahkan lawan dengan hawa pukulan dari jauh.
Begitu merasa benturan tenaga pukulan yang kuat dari depan.
Lee Ing sudah maklum bahwa lawannya ini benar-benar tangguh sekali, jauh lebih tangguh dari pada orang-orang yang pernah ia hadapi seperti Mo Hun, Kui Ek, atau Lui Siu Nio-nio!
Sebaliknya, begitu bertemu dengan hawa pukulan tangan gadis itu, diam-diam Ciong Thai terkejut bukan main.
Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi seorang lawan yang masih begini muda namun sudah memiliki tenaga sehebat ini, hampir tak mungkin dapat dipercaya.
"Hebat....!"
Terdengar ia berseru sambil melompat mundur cepat sekali dan jauh. Mukanya penuh peluh namun ada sinar gembira.
"Betul hebat dan aku mengaku kalah tenaga, akan tetapi mari kita coba coba mengadu ilmu silat!"
Kata Ciong Thai sambil menerjang maju, kini gerakannya cepat bukan rnain, tahu tahu ia telah mengirim serangkai pukulan secara bertubi-tubi dan sambung-menyambung!
"Nona Souw, dia tidak bermaksud jahat...!"
Kembali Han Sin berseru, merasa khawatir kalau nona itu akan mencelakai tuan rumah.
Mendengar ini, Lee Ing mendongkol.
Sudah jelas tuan rumah ini yang tiada hujan tiada angin menyerang dan mendesak dia, mengapa Han Sin malah hendak mencegahnya memberi hajaran?
Padahal pemuda itu sudah ditawan oleh fihak tuan rumah.
Benar-benar Lee Ing tidak mengerti dan ia cepat mempergunakan kepandaiannya menghadapi rangkaian serangan yang sungguh tak boleh dipandang ringan itu.
ilmu silat tangan kosong dari Ciong Thai benar-benar aneh gerakannya, dan tidak mengecewakan kalau dia dijuluki Sin-jiu (Si Tangan Sakti).
Akan tetapi kali ini ia ketemu batunya.
Ilmu silat yang dimainkan oleh Lee Ing lebih aneh lagi, mirip gerakan-gerakan orang mabuk atau orang gila!
Benar benar Ciong Thai belum pernah bertemu dengan ilmu silat seperti ini.
"Hemmm, kau menderita luka hebat, kematian sudah di depan mata masih banyak lagak?"
Tiba-tiba terdengar Lee Ing berseru sambil melompat mundur.
Ciong Thai berdiri dan kelihatann lemas, menarik napas panjang lalu kembali ke tempat duduknya semula dan tiba-tiba saja isterinya menangis terisak-isak!
Ciong Thai menggeleng geleng kepala, juga Ciong Sek kelihaian berduka sekali.
Tentu saja Lee Jng menjadi terheran-heran.
"Ciong-enghiong, sudah siauwte katakan tadi bahwa kepandaian nona Souw tinggi bukan main. Kiranya kalau nona Souw sudi membantu, urusanmu ini dalam sekejap mata saja dapat dibikin beres."
Mendengar ucapan ini, Ciong Thai berdiri menatap wajah Lee Ing dengan sinar mata penuh pertanyaan dan harapan di balik linangan air mata, kemudian dengan menundukkan muka ia berjalan masuk tanpa berkata apa-apa.
Isterinya juga sudah menyusut air mata dan tanpa berkata apa-apa mengikuti suaminya masuk pula ke dalam.
Ciong Sek juga berdiri, memandang kepada Lee Ing penuh kekaguman juga penuh harapan, akan tetapi mulutnya juga tidak berkata apa-apa, lalu dia masuk ke dalam menyusul kakak dan iparnya.
Tinggal Ciong Swi Kiat bocah gundul itu yang duduk bengong, la tadi menyaksikan penandingan antara ayahnya dan nona itu dan kini ia memandang kagum bukan main.
Tadinya bocah ini mengira bahwa di dunia hanya ayahnya yang paling hebat dan tidak ada yang akan dapat menangkan ayahnya.
Baru sekarang ia melihat orang yang dapat menandingi ayahnya dan orang itu hanya seorang gadis muda!
Memang Ciong Thai amat mengabaikan anaknya ini sehingga boleh dibilang-bocah ini tidak pernah tahu apa-apa, tidak diberi tahu tentang segala sesuatu.
Pendidikan satu-satunya dari Ciong Thai hanyalah ilmu silat yang ia ajarkan kepada puteranya itu sewaktu-waktu.
Kalau saja ia lebih memperhatikan nasib anaknya, tentu ia akan melihat bahwa sebetulnya bocah ini memiliki bakat yang besar sekali.
"Nona selain cantik juga lihai, cocok sekali dengan paman...."
Bocah gundul itu berkata sambil matanya terbelalak memandang Lee Ing.
"Swi Kiat, masuk kau...!"
Terdengar seruan nyonya Ciong.
Swi Kiat bocah gundul itu meleletkan lidah memandang ke arah dalam, akan tetapi agaknya ia sudah biasa dengan perintah dan teguran ibu tirinya yang tidak boleh dibantah, maka ia-pun bangkit berdiri dan masuk setelah melempar kerling dan senyum main-main ke arah Lee Ing.
Melihat ini timbul rasa kasihan dalam hati Lee Ing terhadap bocah itu.
la sudah dapat menduga sebagian besar dari keadaan anak ini.
Akan tetapi pada saat itu ia lebih memperhatikan Han Sin yang dianggapnya bersikap aneh sekali.
Begitu melihat di situ tidak ada orang lain lagi, Lee Ing segera membuka mulut menegur.
"Liem-twako, kau ini bagaimana sih...?"
Tanpa disadari, sekarang Lee Ing tidak lagi menyebut saudara Liem, melainkan menyebut twako (kakak), sebutan yang membuat hati Han Sin berdebar bangga dan girang.
"Dan kulihat orang she Ciong itu menderita luka dalam atau racun yang amat hebat, mengapa sikapnya begitu aneh dan apa pula artinya segala tangis-tangisan tadi?"
"Duduklah, nona Souw. Memang amat membingungkan kalau kau belum mendengar duduk perkaranya. Tadipun aku sendiripun bingung sebelum mendengar penuturan mereka."
Lee Ing duduk menghadapi Han Sin dan pemuda itu mulai menuturkan pengalamannya semenjak tadi berpisah dengan nona ini.
Ketika mereka berdua mengejar Ciong Swi Kiat si bocah gundul.
Han Sin sudah mempunyai dugaan bahwa bocah itu tentulah anak atau murid orang sakti.
Oleh karena ia sedang bertugas menghubungi dan menarik bantuan orang-orang sakti di daerah selatan, maka ia mencegah Lee Ing melukai bocah itu, kemudian ia mengejar Lee Ing yang jauh meninggalkannya.
Ketika ia memasuki hutan lebat, tiba-tiba muncul Bu-eng-sin-kiam Giam Loan dan dua orang pembantunya, yaitu Thio Sam dan Ho Kai Beng.
Tiga orang ini mengambil sikap mengancam, akan tetapi Han Sin tenang-tenang saja.
"Siapa kau dan mengapa kau berani sekali menghina Ciong-kongcu?"
Bentak Ho Kai Beng yang memegang gembolan dengan muka galak. Han Sin dapat menduga bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan bocah gundul tadi, maka ia menjura sambil menjawab.
"Kalau sam-wi (tuan bertiga) maksudkan anak kecil gundul tadi, siauwte mengharap banyak maaf. Justeru siauwte hendak menemui sam-wi untuk menghaturkan maaf dan memberi penjelasan agar jangan timbul salah mengerti. Siauwte Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu dan siauwte datang ke daerah ini sengaja hendak mencari persahabatan dengan orang-orang gagah di daerah selatan."
"Siapa mau bersahabat dengari kau?"
Ho Kai Beng yang berangasan membentak dan sepasang gembolannya bekerja, menyerang dada dan kepala Han Sin dengan hebat! (Lanjut ke
Jilid 18) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Han Sin kaget sekali. Serangan itu hebat benar. Baiknya ia sudah siap dengan kipasnya, maka cepat ia mengelak sambil mengebutkan kipas menangkis. Serangan Ho Kai Beng gagal, cara baik-baik,"
Kata Han Sin karena memang sesungguhnya ia tidak menghendaki pertempuran dan permusuhan.
Akan tetapi tanpa menjawab, saking penasaran, Ho Kai Beng menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak Han Sin.
Dua orang temannya hanya berdiri menonton saja.
Karena serangan-serangan orang kasar ini memang berbahaya dan tidak boleh dipandang ringan, Han Sin terpaksa melakukan perlawanan dengan sepasang senjatanya.
Dia juga masih muda, tentu saja dia tidak bisa mengalah terus-terusan, apa lagi terhadap lawan yang memiliki kepandaian tinggi.
Di lain saat mereka sudah bertempur seru.
"Kai Beng, berhenti!"
Tiba-tiba Bu-eng sin-kiam Giam Loan berseru keras dan benar-benar suaranya berpengaruh sekali karena si pemegang gembolan itu cepat melompat mundur dan menahan sepasang senjatanya Han Sin juga tidak mau mendesak, hanya bersiap sedia sambil memandang tajam kepada wanita muda berwajah manis yang kini melangkah maju menghadapinya.
"Kau murid Im-yang Thian-cu?"
Tanya wanita itu, suaranya halus akan tetapi sikapnya keren.
"Mau apa kau memasuki daerah ini?"
Han Sin menjura dan berkata.
"Aku adalah utusan Tiong-gi-pai untuk mencari hubungan dengan orang-orang gagah di daerah selatan yang tidak sudi menyaksikan rakyat ditindas oleh menteri-menteri durna."
Giam Loan menatap tajam dan penuh perhatian kepada wajah pemuda yang gagah dan tampan itu. Mata bersinar-sinar dan alisnya berkerut, akhirnya ia berkata.
"Bagus, kalau begitu mari kau bertemu dengan suamiku, Sin-jiu Ciong Thai. Sudah pernah mendengar namanya?"
Han Sin terkejut.
Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama ini, yang pernah disebut-sebut oleh gurunya sebagai seorang tokoh Hek-to yang berilmu tinggi, tokoh Ching-pai (Partai Bersih) maupun Sia-pai (Partai Kotor) yang berilmu tinggi, sebaiknya jangan sampai terpengaruh oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan mengabdi kepada durna-durna, pikir Han Sin.
Biarpun dalam faham kepartaian berbeda faham, namun dalam mengabdi bangsa dan rakyat harus satu hati.
"Kebetulan sekali,"
Jawabnya.
"sudah lama siauwte mendengar nama besar Ciong-enghiong disebut-sebut oleh suhu. Tentu saja siauwte suka sekali menghadap untuk memberi hormat."
Demikianlah, Han Sin lalu diajak masuk ke dalam hutan.
Thio Sam dan Ho Kai Beng memegang kedua lengannya di kanan kiri atas perintah Giam Loan.
Diperlakukan begini, Han Sin tidak membantah karena selain maklum bahwa ia menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, juga ia percaya bahwa andaikata terjadi apa-apa dengan dirinya.
tentu "Dewi Pelindungnya."
Yaitu Souw Le Ing, tidak akan berpeluk tangan.
Di sepanjang jalan ia telah mendengar sedikit tentang keadaan lokoh besar lembah Yang-ce-kiang itu dan ketika ia bertemu dengan Ciong Thai sendiri, ia segera memberi hormat dan berkata.
"Siauwte Liem Han Sin menghaturkan hormat kepada Ciong-enghiong dan membawa salam dan hormat para sahabat dari Tiong-gi-pai."
Ciong Thai mengangguk dan mempersilahkan duduk tamunya itu sambil mendengar bisikan-bisikan isterinya yang bicara di dekatnya perlahan sekali.
Mereka berdua memandang kepada Han Sin penuh perhatian, kemudian Ciong Thai berkata.
"Liem-hiante dari Tiong-gi-pai datang ke sini ada keperluan apakah? Sepanjang ingatanku, kami belum pernah berhubungan dengan Tiong-gi-pai."
Han Sin lalu menceritakan bahwa setelah menjadi kaisar di Nan-king, pahlawan dan pejuang rakyat Cu Goan Ciang lalu menjadi lemah dan mudah dipengaruhi para menteri durna sehingga nasib rakyat tidak lebih baik dari pada ketika dijajah oleh pemerintah Mongol.
Juga menteri-menteri durna itu memusuhi orang-orang gagah bekas pejuang, malah pahlawan besar Souw Teng Wi juga diperlakukan secara keji dan tidak adil.
"Oleh karena itu, demi penderitaan rakyat, Tiong-gi-pai dibentuk dan didirikan untuk membasmi para durna. Sayang sekali para menteri durna itu kedudukannya amat kuat, malah sekarang dibantu oleh orang-orang seperti Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, dan lain lain. Siauwte mendapat tugas dari Tiong-gi-pai untuk menghubungi orang-orang gagah termasuk Ciong-enghiong, mohon bantuan semangat, kalau mungkin tenaga apa bila kelak tiba masanya kekuasaan yang menindas rakyat itu ditentang."
Selanjutnya Han Sin lalu menceritakan apa yang lelah terjadi, tentang bentrokan-bentrokan antara orang-orang menteri durna dan Tiong-gi-pai.
"Malah sekarang siauwte datang bersama puteri pahlawan besar Souw Teng Wi, sayangnya tadi terpisah dari siauwte (saya yang muda),"
Demikian kata-kata penutup Han Sin. Ciong Thai memberi isyarat kepada kedua orang pembantunya. Thio Sam dan Ho Kai Beng.
"Keluarlah kalian, sambut kedatangan puteri Souw Teng Wi dan coba sarnpai di mana kelihaiannya."
Setelah dua orang itu pergi keluar, ia berkata kepada Han Sin.
"Tidak ringan apa yang kau minta itu, apa lagi di sana ada Tok-ong Kai Song Cinjin yang bukan tidak berkepandaian dan berpengaruh. Akan tetapi kami tidak akan keberatan memenuhi permintaanmu asalkan ada imbangannya. Kamipun sekarang ini sengaja mengundangmu ke sini dari dalam hutan untuk minta pertolonganmu. Apakah kau suka membantu kami?"
"Tentu saja siauwte suka membantu asal siauw-te dapat dan urusannya tidak berlawanan dengan kebenaran,"
Jawab Han Sin dengan suara tetap.
"Akan tetapi siauwte yang muda dan dangkal kepandaian, bagaimana bisa menolong Ciong-enghiong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"
Ciong Thai menarik napas panjang "Kau ndak tahu, Liem-hiante.
Sebetulnya aku, isteriku dan adikku, semua menderita luka hebat sekali akibat pukulan Pek-kong-sin-ciang.
Kalau tidak mendapat obatnya, dalam waktu lima hari lagi kami takkan tertolong lagi...."
Han Sin terkejut bukan main, apa lagi ketika melihat wajah tuan rumah, adiknya, dan isterinya nampak berduka sekali.
Bukan hanya ia kaget mendengar hal hebat ini, terutama sekali kaget dan heran mengapa orang-orang berkepandaian tinggi seperti mereka ini sampai bisa dilukai orang dan kalau mereka saja kalah, dia sendiri bisa berbuat apakah?
"Dalam suatu pertengkaran, kami telah kesalahan tangan membunuh seorang pemuda yang kami sama sekali tidak sangka adalah calon mantu Pek-kong-sin-ciang Bu-lohiap.
Setelah hal ini terjadi baru kami tahu.
Kami menyesal dan pergi minta maaf kepada Bu-lohiap, akan tetapi anak perempuannya itu tidak mau memberi maaf.
Terjadi pertempuran dan kami akhirnya dilukai oleh pukulan Pek-kong-sin-ciang yang lihai Sekarang Liem-hiante lewat di sini, benar-benar ini kehendak Thian bahwa kami tidak harus mati sekarang "
"Ciong-enghiong, siauwte memang pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari suhu, akan tetapi siauwte sama sekali tidak pernah belajar ilmu pengobatan. Bagaimana siauwLe bisa tolong?"
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 3
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 4