Pusaka Gua Siluman 5

Eps 5 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.

Ia tahu bahwa kalau dia menantang, kakek yang menjadi tokoh besar Kun-lun-pai ini pasti tidak dapat menolaknya dan ia tahu bahwa kelihaian terutama dari kakek ini adalah ilmu pedangnya.

Kalau kakek ini sudah memegang pedang, dia tidak tahu bagaimana dapat mengalahkannya.

Maka pendeta Tibet yang curang ini segera menggunakan tipu muslihat, la menantang Swan Thai Couwsu untuk menerima pukulannya sampai lima kali.

Ilmu pukulannya Hek-tok-ciang amat kuat dan ia hendak mengajak tosu yang sudah tua sekali ini untuk mengadu tenaga!

la tidak percaya bahwa tosu setua ini masih dapat menangkis Hek-tok-ciang, pukulannya yang belum pernah dapat ditangkis lawan itu.

Tepat seperti dugaan Kai Song Cinjin, ketua Kun-lun-pai itu sambil menarik napas panjang dan memandang ke atas, kembali mengucapkan sajak dari kitab To Tek Keng .

"Kata-kata jujur tidak bagus Kata-kata bagus tidak iujur. Orang baik tidak suka berbantahan Orang berbantahan tidak baik. Orang yang tahu tidak sombong Orang yang sombong tidak tahu. Orang bijaksana tidak menyimpan Ia menyumbang sehabts-habisnya Tapi makin menjadi kaya Ia memberi sehabis-habisnya Tapi makin berlebihan Jalan yang ditempuh Langit Selalu menguntungkan tidak merugikan. Jalan yang ditempuh orang bijaksana Bekerja, memberi tanpa mengharapkan pahala."

Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi tidak sabar lagi.

"Eh, tosu tua, dengan sajakmu itu apa yang kau maksudkan? Berani tidak kau menerima tantanganku tadi?"

"Kai Song Cinjin, kau mengandalkan Hek-tok-ciang, siapa yang tidak tahu? Kalau sudah setua pinto ini, siapa yang perduli lagi tentang mati hidup? Kau berniat menamatkan hidup pinto dengan Hek-tok-ciang lima kali berturut-turut, silahkan!"

"Kau menerima tantanganku untuk menghadapi lima kali pukulanku tanpa mengelak?"

Tanya lagi Kai Song Cinjin dengan suara keras agar terdengar oleh semua orang dan agar nanti ia tidak dianggap curang.

Swan Thai Couwsu hanya mengangguk dan masih berdiri bersandarkan tongkat bambunya.

"Kalau begitu kau bersiaplah, lihat pukulanku!"

Bentak Kai Song Cinjin yang sudah mengerahkan tenaga Iweekangnya dan dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu.

Tosu tua itu bersikap tenang sekali.

Tanpa merobah kuda-kuda kakinya, ia menggerakkan tongkatnya dari samping sambil miringkan tubuh.

Ujung tongkatnya itu tidak ditusukkan, akan tetapi otomatis kalau Kai Song Cinjin meneruskan pukulannya, tentu pergelangan tangannya akan tertusuk ujung tongkat.

Kalau orang lain yang memegang tongkat, tentu tongkat itu terkena hawa pukulan Hek-tok-ciang saja sudah akan remuk.

Akan tetapi Kai Song Cinjin cukup maklum akan kelihaian tongkat itu, maka terpaksa ia menarik kembali tangan kanannya yang memukul.

Padahal biasanya, tanpa tangannya mengenai tubuh orang, hawa pukulan Hek-tok-ciang sudah cukup merobohkan lawan.

Sekarang hawa pukulannya itu hanya menggerakkan pakaian tosu itu, sama sekali tidak mendatangkan akibat apa-apa seakan-akan tosu itu tidak merasainya.

Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu.

Begitu pukulan pertamanya digagalkan, kedua tangannya lalu melakukan pukulan-pukulan susulan secara bertubi-tubi.

Pukulan ke dua dengan tangan kiri dipapaki oleh tongkat tosu itu.

Kai Song Cinjin dengan berani melanjutkan pukulannya dan "krakk"

Tongkat itu bertemu dengan telapak tangannya menjadi remuk berkeping-keping, sebaliknya Kai Song Cinjin merasai lengan kirinya linu dan kesemutan. Swan Thai Couwsu berseru.

"Lihai sekali..."

Sambil melempar tongkat yang sudah tak dapat dipakai lagi itu, kini menghadapi serangan lawan yang masih tiga kali dengan tangan kosong.

Biarpun pertemuan antara telapak tangan kiri dan ujung tongkat tadi mendatangkan rasa sakit, namun melihat tongkat itu hancur, Kai Song Cinjin tertawa bergelak.

"Ingat, Swan Thai Tosu, pukulan pinceng masih tiga kali lagi."

"Silahkan,"

Jawab tosu tua itu dengan suara tenang sekali, la menggerak-gerakkan kedua tangannya dan Kai Song Cinjin menjadi kaget melihat betapa kedua tangan tosu itu sampai ke lengan menjadi merah sekali warnanya, la maklum bahwa kakek tua yang sudah mau mati ini tentu memiliki pukulan beracun pula, maka ia cepat-cepat menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai kedua lengan itu menjadi hitam sekali, tanda bahwa kekuatan Hek-tok-ciang sedang bekerja dan sepenuhnya disalurkan ke dalam kedua tangannya.

"Ha-ha-ha, tak disangka bahwa ketua Kun-lun-pai juga mempelajari ilmu hitam,"

Sindir Kai Song Cinjin melihat kedua tangan kakek itu menjadi merah sekali.

"Ilmu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, tergantung kepada cara dipergunakannya oleh si pemilik,"

Jawab Swan Thai Couwsu tenang sambil merendahkan tubuh memasang kuda-kuda karena kini tongkatnya sudah tidak ada lagi.

"Lihat pukulan!"

Kai Song Cinjin membentak dan sekaligus ia melakukan tiga kali pukulan mengandalkan kecepatan dan tenaga Iweekangnya yang luar biasa.

Pukulan pertama yang dilakukan dengan tangan kanan, ditangkis oleh Swan Thai Couwsu.

Tangkisan ini perlahan saja namun Kai Song Cinjin merasa ada tenaga besar menolak pukulannya dari samping, la menyusul dengan pukulan ke dua, dengan tangan kiri sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang ke tangan kiri sebanyak tujuh bagian.

Tubuh Swan Thai Couwsu sampai mendoyong karena hebatnya hawa pukulan ini, namun tangan kanan kakek tua ini masih sempat memukul tangan kiri lawannya dari samping, membuat pukulan ke dua inipun tidak mengenai sasaran.

Pukulan ke tiga atau pukulan terakhir datang, hebat bukan main, dilakukan dengan kedua tangan Kai Song Cinjin, sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang sepenuhnya memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu dengan jari-jari terbuka.

Bukan main hebatnya pukulan ini dan di dunia ini kiranya orang yang dapat menghadapi pukulan macam ini dengan selamat dapat dihitung dengan jari tangan saja.!

Angin pukulannya menderu dan anggauta rombongan dari kota raja sampai merasa panasnya hawa pukulan Hek-tok-ciang itu.

Baru sekarang mereka menyaksikan pukulan hebat ini dilancarkan sepenuhnya, karena biasanya jarang sekali Kai Song Cinjin mengeluarkan ilmunya ini.

mewakilkan pertunjukan Hek-tok-ciang kepada muridnya, Auwyang Tek yang terlalu sering mendemonstrasikan Hek-tok-ciang.

Akan tetapi tentu saja pukulan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin ini jauh lebih hebat.

Pukulan ini sedemikian hebatnya hingga tidak mungkin kalau ditangkis begitu saja Swan Thai Couwsu dalam menangkis pukulan terdahulu tadi sudah maklum akan kehebatan Hek-tok-ciang yang memang luar biasa.

Ia maklum bahwa pukulan terakhir ini tak mungkin ia tangkis begitu saja, maka cepat-cepat ia lalu mengulur kedua tangannya dan menerima pukulan lawan dengan pukulan pula!

"Plakkk....!"

Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur, demikian hebatnya sehingga hawa pukulan yang bertemu itu membuat orang-orang yang hadir di situ sempoyongan kehilangan keseimbangan badan karena hawa pukulan itu menyeleweng ke arah mereka!

"Plakk.....!"

Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur.

Swan Thai Couwsu mundur tiga tindak, akan tetapi Kai Song Cinjin terhuyung-huyung ke belakang lalu muntahkan darah.

Ia menjatuhkan badan duduk bersila sambil meramkan mata, mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaga dan mengobati keadaan dalam tubuh yang terguncang.

Adapun Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, akan tetapi juga kelihatan mengatur pernapasannya.

Tak lama kemudian Kai Song Cinjin membuka mata, bangkit berdiri dan berkata dengan senyum pahit.

"Swan Thai Tosu tua-tua masih lihai, benar-benar pinceng terpaksa harus menyudahkan urusan sampai di sini saja. Lain waktu kita bertemu pula."

Setelah berkata demikian ia lalu mengajak rombongannya untuk pergi turun gunung sambil membawa jenazah dan kawan-kawan yang terluka.

Setelah lama para penyerbu pergi, Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, memandang ke arah jenazah anak-anak murid Kunjun-pai.

Siok Ho muncul dari belakangnya, khawatir melihat couwsunya sejak tadi berdiri seperti patung.

Ketika ia memutar dan memandang wajah couwsu itu, ia melihat air mata mengalir turun dari sepasang mata Swan Thai Couwsu.

Kakek tua itu ternyata tak dapat menahan terharunya hati menyaksikan anak-anak murid Kun-lun-pai sebagian besar musnah, ia menangis tanpa mengeluarkan suara, tanpa menggerakkan tubuh.

Siok Ho merasa ada sesuatu naik ke tenggorokannya, dan ingin ia menjatuhkan diri berlutut di depan couwsunya sambil menangis, ikut berkabung atas kematian suhu-suhu dan suheng-suheng yang terkasih.

Akan tetapi bocah ini Menggigit bibirnya dan malah berkata.

"Sucouw, teecu bersumpah kelak akan mencari orang-orang jahat itu dan niembikin perhitungan untuk mengangkat kembali Kun-lun-pai kita."

Mendengar suara Siok Ho, agaknya baru Swan Thai Couwsu sadar dari keadaan melamun itu. Ia menengok dan tersenyum, lalu berkata.

"Penyelesaian kebencian yang dalam pasti akan meninggalkan bekas mendendam, bagaimana bisa dianggap memuaskan? Membalas dendam sama dengan mengikatkan diri kepada perputaran roda yang tiada habisnya..."

Kata-kata inipun merupakan pelajaran dalam Agama To. Siok Ho yang tidak berani membantah lalu berkata.

"Sucouw, harap sucouw beristirahat, biar teecu mencari para suheng yang pergi bersembunyi dan mengurus jenazah-jenazah ini...."

Siok Ho berusaha keras supaya jangan terisak.

Ia juga amat berduka, mungkin melebihi kedukaan Swan Thai Couwsu, apa lagi kalau ia melihat jenazah Kim Sim Cu yang selama ini menjadi guru dan walinya.

Swan Thai Couwsu menarik napas panjang.

"Kau betul, pinto harus beristirahat.. Siok Ho, tolong bantu pinto masuk...."

Siok Ho mendekat dan alangkah kagetnya melihat couwsunya itu sukar berjalan dan tangan yang menggelendot pada pundaknya nampak begitu lemah seperti Kehabisan tenaga.

Tanpa bicara mereka memasuki kuil dan terus ke kamar Swan Thai Couwsu, di mana kakek itu menjatuhkan diri di atas lantai dan bersila seperti biasa.

"Siok Ho, kau boleh lekas mengatur dan merawat jenazah-jenazah itu bersama anak murid yang masih ada. Setelah itu, lekas-lekas kau kembali ke sini. Mulai hari ini, kau akan kulatih. dan kau akan mewarisi semua ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini...."

Siok Ho kaget sekali, akan tetapi di samping kedukaan hatinya, ia juga merasa girang sekali.

Memang ia seorang bocah yang haus akan pelajaran dan mendengar sucouwnya akan mewariskan ilmu-ilmu silat tinggi, ia menjadi girang.

Demikianlah semenjak hari itu.

Siok Ho menerima latihan-latihan dari Swan Thai Couwsu sendiri yang menurunkan semua ilmunya, maklum bahwa bocah ini boleh dipercaya dan bahwa ia takkan lama lagi hidup di dunia.

Terutama sekali ia menurunkan Ang sin-ciang (Tangan Merah Sakti), ilmu pukulan yang amat hebat, karena dengan Ang-sin-ciang ini saja Siok Ho kelak dapat menghadapi Hek-tok-ciang.

Sampai tiga tahun Siok Ho menerima pimpinan langsung dari Swan Thai Couwsu dan akhirnya Swan Thai Couwsu yang sudah amat tua dan dalam keadaan tubuh sudah lemah harus menghadapi Kai Song Cinjin itu meninggal dunia.

Siok Ho meninggalkan suheng-suhengnya dan turun gunung.

Tentu saja cita-cita pertama dalam hatinya adalah mencari musuh-musuh Kun-lun-pai dan membalas dendam, biarpun berkali-kali Swan Thai Couwsu pernah melarangnya.

Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika ia turun gunung melakukan perantauan, namanya menjadi cepat terkenal dan ia mendapat julukan Ang-sin-ciang (Tangan Merah Sakti).

Juga telah dituturkan bagaimana ia betemu dengan Siok Bun dan menolong nyawa pemuda itu menyembuhkan lukanya akibat pukulan Hek-tok-ciang.

Sekarang mari kita kembali menengok keadaan Siok Ho yang secara kebetulan sekali bertemu di pinggir sungai dengan Lee Ing.

gadis perkasa jelita yang sekaligus jatuh hati dan tertarik oleh gerak-gerik Siok Ho, pemuda gagah yang amat ganteng itu.

"Aneh dan lucu sekali, bukan?"

Kata Siok Ho tersenyum memandang gadis di depannya.

"Apa yang aneh? Apa yang lucu?"

Lee Ing bertanya, menghentikan pekerjaannya mencuci tangan setelah habis makan daging ikan lee yang enak dan perutnya tidak begitu lapar lagi.

"Anehnya pertemuan kita tadi dan lucunya sekarang ini. Kita duduk sama-sama makan daging ikan, padahal kau dan aku tidak mengenal satu sama lain bahkan sampai sekarangpun aku tidak tahu siapa kau...?"

Merah muka Lee Ing. Pemuda ini biarpun peramah, kiranya pemalu sampai mau tahu nama saja caranya berputar-putar seperti angin puyuh! "Untuk apa sih kau mau tahu aku siapa?"

Tanyanya dan sepasang mata gadis ini menatap tajam, penuh selidik. Aneh, muka Siok Ho yang tampan menjadi merah sekali. Benar-benar seorang pemuda pemalu, pikir Lee Ing.

"Mengapa tidak? Kau sudah mengetahui namaku, sudah sepatutnya aku mengenal namamu pula. Kau siapakah, adik?"

Makin merah pipi Lee Ing. Biarpun pemalu, pemuda ini kadang-kadang memperlihatkan keberanian luar biasa, seperti sekarang ini belum apa-apa sudah berani menyebut "adik"! "Namaku Lee Ing..."

"Aduh bagusnya nama itu! Menyesal sekali namaku tidak seindah itu. Dan she-mu, siapakah ...?"

Akan tetapi Lee Ing tidak menjawab karena ia mendengar sesuatu.

Juga Siok Ho cepat menengok dan siap menanti datangnya segala kemungkinan seperti biasanya seorang ahli silat yang selalu waspada.

Dari balik batu karang tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki tua yang dari pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal istana di kota raja.

"Ha, ini tentu anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, Tangkap!"

Seru seorang di antara mereka sambil menubruk maju.

Memang, kaki tangan Auwyang-taijin sering kali bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan mereka dan pengaruh Auwyang-taijin, terutama sekali mengandalkan pengaruh Auwyang Tek, karena mereka ini memang kaki tangan Auwyang Tek.

Setiap kali melihat penduduk yang lemah, mereka selalu menggoda dan mengganggu.

Apa lagi kalau melihat gadis cantik, tentu mereka berlumba untuk menawan dan menculiknya, diserahkan kepada Auwyang Tek untuk menerima hadiah.

Tiga orang inipun merupakan kaki tangan Auwyang Tek yang memiliki kepandaian lumayan.

Mereka melihat Lee Ing yang jelita, tentu saja tidak mau melepaskan begitu saja.

Segera menyerbu Siok Ho untuk merobohkan pemuda ini dan selanjutnya hendak menculik Lee Ing.

Akan tetapi kali ini mereka memang sedang sialan.

Andaikata mereka bertemu dengan Lee Ing seorang diri saja mereka sudah sialan, apa lagi sekarang bertemu dengan Lee Ing yang berkawan Siok Ho, mereka benar-benar sedang sial dangkalan.

Siok Ho yang belum selesai makan daging ikan, tidak bergerak dari tempat duduknya.

Tangan kiri masih memegang ikan, tangan kanan menggerakkan pancingnya tiga kali.

"Aduh.... celaka.... mati aku......!"

Tiga orang itu dengan tepat sekali terkena serangan pancing istimewa itu pada leher dan tempat-tempat berbahaya sehingga biarpun jarum keci itu tidak sampai menewaskan mereka?

namun cukup membuat mereka kesakitan.

Tubuh mereka menggelundung dan Lee Ing secara main-main melempar-lemparkan tulang ikan ke arah mereka.

Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok disusul teriakan-teriakan kesakitan dan tanpa dapat dicegah lagi tiga orang yang kini mendapat tambahan hadiah dari Lee Ing, yaitu kepala mereka tertancap oleh duri-duri ikan, terus menggelinding dan tercebur ke dalam sungai!

"Ha-ha-ha, kau sekarang bisa memancing ikan kaki dua!"

Kata Lee Ing kepada Siok Ho.

Akan tetapi pemuda itu ternyata sudah melompat pergi, mengejar empat orang pengawal lain yang rupa-rupanya menjadi jerih melihat tiga orang kawan mereka roboh demikian mudah.

Lee Ing hendak ikut mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang dari tempat jauh.

Dua bayangan orang itu cepat sekali gerakannya, jauh lebih cepat dari pada gerakan para pengawal itu, maka tanpa banyak cakap lagi, Lee Ing lalu melompat dan mempergunakan ilmu lari cepat mengejar bayangan-bayangan itu yang lari ke lain jurusan.

Tak lama kemudian selagi ia celingukan mencari bayangan-bayangan itu yang memasuki sebuah dusun, ia mendengar jerit-jerit memilukan.

Lee Ing berlari mengejar dan masih terdengar olehnya beberapa orang penduduk menutup pintu rumah masing-masing dan di jalan-jalan sunyi sekali seakan-akan semua penduduk sudah sejak tadi menyembunyikan diri.

Lee Ing memasuki sebuah rumah kuno dari mana tadi ia mendengar teriakan menyayat hati.

Begitu ia menerjang pintu dan melompat masuk, Lee Ing berhenti dan memandang ke atas lantai dengan mata terbelalak.

Di depan kakinya, di atas lantai, rebah tiga orang yang kelihatannya gagah-gagah dalam keadaan sudah menjadi mayat.

Pada dada dan punggung mereka nampak tapak tangan menghitam dan muka mereka juga sudah mulai menghitam!

"Bekas tangan Hek-tok-ciang.."

Lee Ing berpikir dengan hati marah.

"Benar-benar jahat komplotan yang dipimpin oleh Kai Song Cinjin ini.."

Ia menengok ke arah dinding dan melihat tulisan di atas dinding.

BASMI SEMUA ANGGAUTA TIONG-GI-PAI Tulisan itu dibuat dengan guratan jari tangan sampai membekas dalam-dalam di tembok, tanda bahwa penulisnya memiliki tenaga lweekang yang cukup tinggi.

Membaca tulisan ini, sekali lagi Lee Ing memandang ke arah mayat tiga orang itu dan hatinya terharu.

Teringat ia akan rombongan Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan, orang gagah perkasa murid Kun-lun-pai yang dahulunya menjadi sahabat ayahnya, malah berusaha menolongnya dengan menukarkan Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kiam kepada Bu Lek Hwesio.

Teringat akan ini semua, hatinya menjadi mendongkol sekali melihat sekarang anggauta-anggauta Tiong-gi-pai dibunuh semuanya oleh pukulan Hek-tok-ciang.

Tanpa banyak cakap lagi Lee Ing lalu melesat keluar, naik ke atas genteng untuk mencari jejak musuh.

Akan tetapi keadaan sunyi saja, bahkan ia tidak tahu lagi ke mana perginya Siok Ho yang tadi mengejar para pengawal.

"Tentu diapun pergi ke kota raja,"

Pikirnya.

Lee Ing lalu berlari cepat menuju ke Nan-king, dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencari Tiong-gi-pai dan membantu perkumpulan patriot ini secara diam-diam dan mencari tahu perihal ayahnya.

Yang membuat ia merasa heran adalah bayangan Siok Ho yang selalu terbayang di depan matanya.

Sukar ia mencoba untuk mengusir bayangan ini, terutama sekali senyum manis dan pandangan mata penuh kejujuran dari pemuda itu merupakan sesuatu yang menggoda hatinya dan mendatangkan kesan mesra yang selama hidup belum pernah dirasainya.

Di luar kesadarannya, Lee Ing telah jatuh cinta kepada Oei Siok Ho, jago muda dari Kun-lun itu!

Dengan melakukan perjalanan cepat sekali Lee Ing segera memasuki Kota Raja Nan-king.

Mudah saja baginya mendengar dari tukang-tukang warung arak tentang pertandingan pertandirgan yang sering terjadi antara orang-orang Tiong-gi-pai melawan kaki tangan Auwyang taijin.

Juga ia mendengar tentang keganasan Auwyang Tek sebagai putera menteri dunia yang mengandalkan kepandaian silatnya dan kedudukan ayahnva.

Ketika mendengar bahwa Auwyang Tek adalah murid terkasih dari Kai Song Cinjin, Lee Ing dapat menduga bahwa orang yang melakukan pembunuhan di luar kota raja terhadap tiga orang anggauta Tiong-gi-pai itu tentu Auwyang Tek adanya.

Dia telah melihat dua bayangan yang cepat gerakannya, tentu Auwyang Tek bersama seorang kawannya yang pandai pula, entah siapa.

Ketika Lee Ing bertanya tanya tentang Tiong-gi-pai, tak seorangpun dapat memberi tahu kepadanya.

Memang Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak mempunyai tempat tertentu, pula, andaikata Tiong-gi-pai mempunyai tempat tertentu, pasti siang-siang sudah diserbu oleh kaki tangan Auwyang-taijin.

Selagi Lee Ing kebingungan ke mana harus mencari Tiong-gi pai atau ketuanya, Kwee Cun Gan, untuk menanyakan keadaan ayahnya, tiba-tiba di satu tikungan jalan di kota raja yang ramai itu ia melihat berkelebatnya bayangan yang amat dikenalnya, Oei Siok Ho!

Pemuda tampan itu berjalan dengan tenang-tenang saja dan agaknya tidak melihat Lee Ing.

Gadis ini cepat menyelinap bersembunyi dan diam-diam melakukan pengintaian.

Hendak mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh pemuda itu dan ingin ia melindungi pemuda itu secara diam-diam.

Tiba-tiba Lee Ing tersenyum geli ketika melihat setangkai daun kebiruan menghias topi pemuda itu.

"Benar-benar lucu,"

Pikirnya.

"Kalau hendak mempersolek diri, mengapa bukan kembang yang menghias topi, melainkan setangkai daun yang buruk pula bentuk maupun warnanya, juga sudah kering?"

Akan tetapi Lee Ing menahan ketawanya ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang tadinya duduk di tepi jalan bersandar tongkat dan berpakaian pengemis, sekarang berdiri terbongkok-bongkok dan tiba-tiba melangkah maju menghadang Siok Ho.

Pandangan mata Lee Ing awas sekali, maka ternyata olehnya bahwa pengemis yang kelihatannya lemah berpenyakitan itu, ketika bergerak bukan main cepatnya, tanda bahwa dia sebetulnya seorang ahli silat yang pandai.

Lee Ing merasa heran sekali, akan tetapi perasaan ini segera terganti kekagetan ketika pengemis itu terhuyung huyung mau jatuh ke arah Siok Ho yang sedang enak-enak berjalan.

Bagi mata orang biasa tentu dikira pengemis itu kelaparan atau kelelahan sampai tak kuat berdiri dan hendak jatuh menimpa orang di jalan, akan tetapi bagi Lee Ing, terang bahwa orang itu sengaja menubruk Siok Ho dan mengirim pukulan yang kuat sekali.

Tentu saja Siok Ho yang memiliki kepandaian tinggi, tahu pula bahwa dirinya bukan sembarangan ditubruk oleh seorang pengemis kelaparan, melainkan diserang deh seorang lawan yang lihai.

Akan tetapi ia menjadi girang ketika melihat bahwa serangan iiu adalah gerak tipu Pek-wan-hoan-hwa (Lutung Putih Mencari Bunga), jurus dari ilmu silat Kun-lun-pai yang dimainkan dengan gerakan buruk sekali.

Cepat Siok Ho miringkan tubuh, menangkap dua lengan orang itu sambil berseru.

"Lopek, hati-hatilah jangan jatuh!"

Setelah berkata demikian, Siok Ho pura-pura membantu dan menolong orang itu berjalan.

Banyak orang yang menyaksikan kejadian ini tentu mengira bahwa Siok Ho adalah seorang pemuda baik hati yang merasa kasihan kepada pengemis setengah tua itu dan berusaha menolongnya.

Akan tetapi Lee Ing yang memperhatikan dengan pandangan lain, melihat betapa mereka berbisik-bisik dan menyelinap pergi di antara orang banyak yang tidak memperhatikan lagi kejadian itu.

Lee Ing terus mengikuti dan akhirnya, benar seperti dugaannya, ia melihat Siok Ho dan '"pengemis"

Itu sudah keluar dari kota raja dan berlari cepat ke jurusan utara, masuk ke dalam sebuah hutan yang sunyi.

Dengan kepandaiannya yang luar biasa sekali Lee Ing dapat menyelinap dan mengikuti mereka tanpa diketahui oleh yang diikuti, bahkan dapat mengintai sambil bersembunyi ketika Siok Ho tiba di tengah hutan dan disambut oleh serombongan orang.

Bisikan-bisikan di antara pengemis dan Siok Ho tadi tak terdengar oleh Lee Ing.

Setelah pengemis itu tak berhasil menyerang Siok Ho bahkan kedua tangannya dipegang membuat dia tak berdaya tadi, ia bertanya perlahan.

"Kau dari Kun-lun-pai datang ke sini hendak mencari siapakah?"

Siok Ho berbisik girang.

"Mencari Tiong-gi-pai bertemu dengan ketuanya, Kwee Cun Gan."

"Mari kau ikut aku,"

Jawab pengemis itu sambil mengajak Siok Ho pergi ke luar kota raja.

Ketika mereka tiba di dalam hutan itu, tanpa menyadari bahwa semenjak tadi mereka terus diikuti oleh Lee Ing, mereka disambut oleh sembilan orang gagah yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan sendiri.

Kwee Cun Gan nampak agak tua dan rambutnya sudah banyak ubannya, tanda bahwa dia banyak menderita, namun sinar matanya tetap memancarkan semangat besar.

"Lo Kiam. kau datang membawa orang muda ini siapakah?"

Tegur Kwee Cun Gan kepada "pengemis"

Itu yang sebetulnya adalah seorang anggauta Tiong-gi-pai yang bertugas menyelidik di kota raja.

"Aku melihat dia memakai daun biru seperti yang pernah dipakai oleh Kwee-twako, dan aku teringat bahwa itu adalah tanda dari anak murid Kun-lun-pai yang hendak mencari hubungan. Oleh karena itu aku lalu menubruk dan menyerangnya dengan jurus Kun-lun-pai yang kudapat dari twa-ko, akan tetapi dia dapat menangkapku. Ketika kutanya apa maksud kedatangannya, dia bilang hendak mencari Kwee-twako."

Pengemis itu memberi laporannya.

Kwee Cun Gan memandang Siok Ho, matanya tajam menyelidik penuh kecurigaan.

Maklumlah Tiong-gi-pai sudah mengalami banyak kekalahan juga sudah banyak anak buahnya yang tewas.

Fihak kaki tangan Auwyang Tek amat berbahaya dan curang, siapa tahu kalau pemuda ini bukan lain mata-mata dari fihak musuh.

"Orang muda, kau siapakah dan datang dari mana?"

Tanyanya. Slok Ho tidak mau menduga-duga dengan siapa ia berhadapan, maka lalu berkata.

"Aku harap cuwi suka memberi tahu kepada Kwee Cun Gan lo-enghiong bahwa seorang anak murid Kun-lun-pai datang ingin bertemu. Aku bernama Oei Siok Ho dan aku datang langsung dari Kun-lun-pai untuk membantu Tiong-gi-pai."

Kwee Cun Gan mengerutkan keningnya.

Memang banyak sekali anak murid Kun-lun-pai dan dia sendiri tentu saja tidak mengenal murid-murid baru.

Akan tetapi kalau yang datang membantunya hanya seorang murid muda dan kelihatan begini lemah lembut, apa sih artinya?

Paling-paling hanya akan membikin malu saja, malah-malah dapat merendahkan nama besar Kun-lun-pai.

"Aku sendiri yang bernama Kwee Cun Gan,"

Katanya singkat. Siok Ho tersenyum lalu menjura dengan hormatnya.

"Kwee suheng. terimalah hormat siauwte Oei Siok Ho."

Kwee Cun Gan mengangguk dan keningnya berkerut.

"Bocah ini benar-benar tak tahu diri,"

Pikirnya di dalam hati.

"masa semuda dia menyebut suheng kepadaku?"

Karena tidak ada alasan untuk menyatakan kemendongkolan hatinya, ia bertanya dan terpaksa menyebut sute.

"Tidak tahu sute ini murid siapakah?"

"Siauwte yang bodoh tadinya mendapat latihan dari suhu Kim Sim Cu, akan tetapi selama tiga empat tahun ini siauwte mendapat petunjuk-petunjuk dari couwsu sendiri."

Kwee Cun Gan makin mendongkol. Sombongnya, pikirnya. Mana couwsu mau sembarangan memberi petunjuk kepada anak murid yang masih begini hijau? Akan tetapi ia menyelidik terus.

"Couwsu yang mana?"

Ia pikir tentu ji-couw-su atau sam-couwsu yang memberi sekedar petunjuk, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar jawaban Siok Ho.

"Siauwte mendapat petunjuk dari Swan Thai Couwsu sendiri."

Kesabaran Kwee Cun Gan ada batas.

Ia anggap pemuda ini terlalu sombong dan terlalu besar bohongnya.

Ia sendiri tahu bahwa Swan Thai Couwsu sudah puluhan tahun tidak mau mengajar, tidak mau tahu urusan dunia.

Mana Couwsu itu mau turun tangan mengajar bocah ini?

Dia sendiri adalah murid Swan Thian Couwsu, sedangkan Souw Teng Wi murid Swan Le Couwsu.

Kalau bocah ini murid Swan Thai Couwsu yang memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada Couwsu ke dua dan ke tiga, memang bocah ini terhitung sutenya, akan tetapi tentu sutenya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dia dan Souw Teng Wi.

Gila benar!

Siapa yang sudi percaya?

Akan tetapi Kwee Cun Gan adalah seorang yang halus budi pekertinya, tentu saja ia tidak mau bersikap kasar dan ia ingin menyelidiki terus dengan secara halus.

"Oei-sute, kalau kau benar murid Swan Thai Couwsu sendiri, memang kau suteku, karena aku adalah murid Swan Thian Couwsu. Sebagai murid Swan Thai Couwsu, tentu kepandaianmu hebat sekali. Sute, sudah lama aku tidak bertemu dengan anak murid partai kita, sebagai perkenalan dan oleh-oleh, maukah kau memperlihatkan ilmu silat kita barang dua jurus untuk kulihat apakah pelajaran dulu dan sekarang ada perubahan?"

Siok Ho tersenyum, Ia maklum bahwa suhengnya ini masih belum mau percaya kepadanya dan hal ini memang ia anggap sewajarnya dalam jaman seperti itu.

Ia juga belurn mau bercerita tentang keadaan Kun-lun-pai sebelum suhengnya ini betul-betul percaya kepadanya.

"Kalau suheng memerintahkan, bagaimana siauwte berani membantah? Akan tetapi harap saja suheng dan sekalian enghiong yang berada di sini tidak menertawakan kepandaian siauwte yang hanya patut disebut kebodohan ini. Dasar ilmu silat Kun-lun-pai tidak banyak dan tidak berapa sukar dipelajari, beginilah!"

Setelah berkata demikian.

Siok Ho lalu bersilat tangan kosong.

Begitu ia bersilat, Kwee Cun Gan kecewa bukan main.

Pemuda ini memperlihatkan permainan Ilmu Silat Pat-kwa-pouw atau Iangkah-langkah Pat-kwa yang menjadi dasar ilmu silat-ilmu silat Kun-lun-pai.

Setiap murid baru selalu dilatih langkah-langkah seperti ini dan biarpun seorang bocah umur empat tujuh tahun kalau menjadi murid Kun-lun-pai tentu saja diberi pelajaran Pat-kwa-pouw ini.

Sekarang bocah ini memperlihatkan permainan Pat-kwa-pouw, biarpun permainan itu tepat dan bagus gerakannya, apa sih anehnya diperlihatkan di depan dia dan para anggauta Tiong-gi-pai?

Belum apa-apa bocah ini sudah memalukan Kun-lun-pai saja dan dia berani mati mengaku murid Swan Thai Couwsu?

Setelah selesai mainkan Pat-kwa-pouw, Siok Ho menghentikan permainannya dan menjura sambil berkala dengan senyum.

"Harap suheng dan cuwi enghiong tidak mentertawakan permainanku tadi."

Orang-orang yang hadir di situ, anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, rata-rata adalah ahli silat lumayan.

Ada pula tiga orang murid Kwee Cun Gan sendiri yang tentu saja mengenal Pat-kwa-pouw itu, maka mereka semua merasa heran mengapa dari Kun-lun-san datang seorang bocah tolol macam ini yang datang-datang menyombongkan diri sebagai murid tokoh pertama dari Kun-lun-pai dan hendak membantu gerakan Tiong-gi-pai.

Orang macam ini saja bisa disuruh apakah?

Hanya gantengnya saja yang lebih dari orang lain, tentang kepandaian, aahh!

Wajah Kwee Cun Gan makin kelihatan kecewa.

Akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman, ia tidak mau segera bertindak sembrono.

la maklum bahwa jaman telah berubah dan banyak sekali orang-orang muda yang sekarang ini memiliki kepandaian tinggi.

Buktinya saja pemuda-pemuda seperti Auwyang Tek, keponakannya sendiri Kwee Tiong, lalu Liem Han Sin, dan Siok Bun, biarpun masih amat muda-muda namun kepandaian mereka masih lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri!

la teringat akan rahasia kang-ouw bahwa orang harus berhati-hati kalau berhadapan dengan orang orang yang kelihatannya lemah, seperti pemuda siucai (sasterawan), gadis lemah-lembut, nenek-nenek dan orang bercacad.

Mereka ini memang pada umumnya orang-orang lemah, namun kalau memiliki kepandaian, mereka bisa membuat salah hitung pada lawan yang tadinya memandang ringan.

"Bagus sekali, sute. Agaknya Swan Thai Couw-su mementingkan dasar dari ilmu silat kita. Aku mempunyai tiga orang murid yang terhitung murid keponakanmu sendiri. Kau yang baru saja lulus dari perguruan kita, maukah kau bermurah hati memberi petunjuk kepada mereka tentang kepentingan Ilmu Pat-kwa-pouw tadi?"

Setelah berkata demikian, Kwee Cun Gan memberi isyarat kepada tiga orang muridnya sambil berkata.

"Kebetulan sekali, susiokmu datang dan kalian boleh minta petunjuk untuk menambah pengertian."

Murid-murid Kwee Cun Gan ini adalah bekas-bekas pejuang.

Sebelum menerima pelajaran ilmu silat Kun-lun-pai dari Kwee-pangcu, mereka sudah memiliki ilmu silat yang lumayan juga.

Mereka adalah orang-orang lelaki yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih, dada bidang tenaga kuat dan pengalaman pertempuran yang sudah masak.

Yang pertama bernama Tan Kui, yang ke dua dan ke tiga adalah kakak beradik bernama Nyo Tat Sek dan Nyo Tat Sui.

Tiga orang ini terkenal sebagai orang-orang kuat dan termasuk jago-jago Tiong-gi-pai.

Tentu saja mereka memandang rendah kepada Siok Ho.

Akan tetapi oleh karena Siok Ho diperkenalkan oleh suhu mereka sebagai anak murid Kun-lun-pai dan malah masih terhitung susiok (paman guru) mereka tidak berani mengatakan perasaan mereka secara berterang.

Tan Kui, diikuti oleh saudara Nyo, melangkah maju dan dengan sikap menjura dengan hormat, mengerahkan tenaga ketika menjura sampai kedua lengannya memperdengarkan suara berkerotokan, tanda bahwa orang kuat ini sedang mengerahkan lweekangnya!

"Susiok, terimalah hormat teecu,"

Katanya, suaranya sungguh-sungguh akan tetapi jelas mata dan mulutnya mentertawakan. Siok Ho tersenyum, membalas penghormatan itu dan berkata.

"Sam-wi harap jangan terlalu sungkan. Biarpun harus kuakui bahwa aku adalah paman guru kalian, namun melihat usia, tidak enaklah dipanggil susiok!"

Tan Kui mendongkol. Biarpun suara pemuda itu ramah dan merendah, namun jelas menyatakan bahwa pemuda itu memang berhak menjadi paman guru, alangkah sombongnya.

"Oei-susiok, seperti yang dikatakan oleh suhu tadi, teecu mohon petunjuk tentang ilmu silat. Selain Pat-kwa-pouw tadi, ilmu silat apakah kiranya dapat susiok tambahkan kepada teecu?"

"Tentu kalian sudah mempelajari Pat-kwa-pouw, bukan?"

Tanya Siok Ho. Tiga orang itu saling pandang dan Tan Kui tertawa.

"Tentu saja, bukankah itu merupakan dasar yang harus dipelajari oleh murid bagaimanapun rendah tingkatnya?"

"Coba kalian mainkan Pat-kwa-pouw, barangkali aku dapat memberi sedikit petunjuk,"

Kata pula Siok Ho dengan sikap tenang. Sementara itu, Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain lalu duduk di atas (Lanjut ke

Jilid 13) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 rumput hendak menonton pertunjukan yang mereka anggap aneh dan lucu ini.

Kalau memang betul pemuda itu hanya orang yang mengaku-aku atau memang mata-mata fihak musuh, mereka akan mempermainkannya.

Disuruh mainkan Pat-kwa-pouw, tiga orang itu menoleh ke arah Kwee Cun Gan yang segera berkata.

"Paman gurumu sudah memberi perintah, mengapa kalian masih ragu-ragu?"

Tan Kui dan dua orang sutenya menjadi merah mukanya. Kalau tidak takut kepada Kwee Cun Gan, mau mereka menegur "paman guru"

Ini yang agaknya hendak mempermainkan mereka.

Masa mereka, tiga orang jagoan Tiong-gi-pai, disuruh mainkan Pat-kwa-pouw yang lebih patut dimainkan oleh anak-anak yang sedang belajar silat?

Terpaksa mereka bertiga lalu mulai bergerak, melangkah menurutkan Pat-kwa-pouw dan seperti dulu ketika mula-mula belajar silat, mereka melangkah sambil berseru.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!"

Demikian berturut-turut karena memang Pat-kwa-pouw terdiri dari delapan langkah yang berubah-ubah, delapan kali delapan langkah menjadi enam puluh empat langkah yang membentuk bermacam-macam bhesi atau kuda-kuda ilmu silat Kun-lun-pai.

Sambil memperhatikan langkah mereka, berkali-kali Siok Ho berkata.

"Terlalu lemah! Kurang tepat, Terlalu cepat!"

Dan kadang-kadang "terlalu lambat"

Sampai permainan mereka selesai Siok Ho menggeleng kepala sambil berkata.

"Kalian bertiga tentu tidak memperhatikan pelajaran suheng dengan baik. Pat-kwa-pouw yang kalian lakukan tadi benar-benar tidak tepat dan amat lemah! Bagaimana ilmu setinggi ini kalian abaikan saja? Mulai sekarang harap kalian suka berlatih lebih baik lagi, jangan membikin malu nama Kun-lun-pai dan harap banyak-banyak bertanya kepada suhu kalian."

Kwee Cun Gan melengak, Pat-kwa-pouw tiga orang muridnya itu, biarpun tidak sebaik dia, sudah termasuk baik dan kuat, bagaimana pemuda itu berani berlancang mulut mencelanya sampai begitu hebat?

Tan Kui yang berdarah panas segera berkata, nadanya mengejek.

"Oei-susiok, Pat-kwa-pouw hanya permainan dasar saja, hanya untuk melemaskan gerakan kaki dan melatih bhesi. Apa sih perlunya? Tak dapat dipakai menghadapi lawan berat."

Siok Ho mengerutkan alisnya.

"Hemmm, bagaimana kau berani bilang begitu? Itu tandanya kau mengabaikan pelajaran dan suheng terlalu lemah dan memanjakan kalian. Apa kalian mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari pada Pat-kwa-pouw.?"

"Pat-kwa-pouw bagi teecu bertiga bukan apa-apa, tentu saja kami mempunyai ilmu silat yatag betul-betul permainan orang-orang gagah,"

Jawab Tan Kui.

"Bodoh! Satu ilmu aseli saja tidak dipelajari baik-baik, sudah belajar lain ilmu. Kosong belaka. Kalian belum melihat kelihaian dasar ilmu silat Kun-lun-pai? Coba perlihatkan ilmu-ilmu silat tinggi kalian dan kalian coba pecahkan Pat-kwa-pouw yang kumainkan!"

Sambil berkata demikian Siok Ho segera memasang kuda-kuda bergerak dalam Pat-kwa-pouw.

Hampir saja Tan Kui dan dua orang sutenya tertawa bergelak.

Mereka anggap pemuda ini lucu sekali, lucu dan ngawur.

Bagaimana dengan Pat-kwa-pouw berani menghadapi mereka bertiga yang bersilat sesuka hati mereka?

Boleh jadi pemuda yang mengaku paman guru mereka ini lihai, akan tetapi dengan Pat-kwa-pouw, orang bisa apakah?

Pat-kwa-pouw tidak mengandung daya serang atau daya tahan, hanya mengandung peraturan perubahan kaki belaka!

"Susiok kalian sudah memberi perintah, hayo serang dia!"

Kata Kwee Cun Gan yang menjadi gembira melihat kenekatan pemuda itu.

Ia makin curiga dan tidak percaya kalau benar-benar pemuda itu murid Swan Thai Couwsu.

Dia sendiri sebagai murid Kun-lun-pai yang sudah berpengalaman tidak tahu bagaimana ia akan dapat mengahadapi tiga orang kosen seperti murid-muridnya itu hanya dengan gerakan Pat-kwa-pouw.

Mendengar perintah suhunya, Tan Kui bersama dua orang sutenya lalu mulai menyerang sambil berkata.

"Maaf, susiok sendiri yang menyuruh tee-cu menyerang!"

Cepat sekali penyerangan mereka bertiga.

Mula-mula hanya mendorong dan membetot saja untuk membuat pemuda itu roboh atau kacau gerakan kakinya.

Akan tetapi setelah berkali-kali menangkap angin, mereka mulai menyerang dengan sungguh-sungguh.

Aneh sekali!

Siok Ho hanya bergerak menurut Pat-kwa-pouw, hanya merobah-robah kaki menurut kedudukan yang amat sulit dan aneh, sambil mulutnya tiada hentinya menyebut nama langkah yang dilaluinya.

Dan lebih aneh lagi.

Tiga, orang penyerangnya itu seakan-akan menjadi bingung dan dalam pandangan mereka, tubuh pemuda itu lenyap setiap kali hendak dipukul dan tampak kembali setiap kali pukulan berlalu.

"Langkah pemuda itu nampak sewajarnya dan begitu tepatnya sehingga mereka sendiri menjadi bingung dan mati langkah. Makin cepat mereka bergerak mengurung, makin cepat pula Siok Ho bergerak dan pada jurus ke duabelas, Tan Kui terhuyung ke depan karena memukul angin. Tadinya ia melihat kesempatan dan sudah memukul dengan kuat, dan pada pendapatnya tentu akan mengenai sasaran. Celakanya, sebelum kepalannya menyerempet pakaian, pemuda itu sudah lenyap dan sebagai gantinya, tahu-tahu Nyo Tat Sek sudah berada di situ menggantikan Siok Ho hendak menerima pukulannya! Pada saat yang sama melangkah keluar, tiga orang itu tak dapat dicegah lagi saling bertumbukan dan roboh! Kwee Cun Gan sampai melongo menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana mungkin langkah-langkah Pat-kwa-pouw dapat merobohkan tiga orang muridnya yang selain faham langkah itu juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi? Ataukah mungkin tiga orang muridnya itu terlampau terburu nafsu sehingga terjadi saling tabrak dalam pengeroyokan itu? Karena masih penasaran, maka ia diam saja ketika melihat Tan Kui dan dua orang sutenya itu bangun berdiri dan tanpa banyak cakap menerjang lagi kepada Siok Ho.

"Anak-anak bandel,"

Terdengar Siok Ho berkata.

"apakah kalian masih belum merasa cukup? Masih belum percaya akan kelihaian Pat-kwa-pouw? Nah, rasakanlah!"

Dengan cekatan dan gesit seperti burung walet pemuda itu melangkah ke depan belakang dan ketika kakinya bergeser, secepat kilat kaki ini mengait kaki Tan Kui dan sute-sutenya.

Karena gerakan Siok Ho jauh lebih cepat dan tenaga Iweekangnya juga sudah masak, maka tanpa dapat dicegah lagi untuk kedua kalinya Tan Kui dan dua orang sutenya roboh terjengkang.

Kali ini mereka roboh agak keras sampai mereka mengaduh-aduh kesakitan bercampur dengan rasa heran yang tidak mereka sembunyikan dari muka mereka.

Kini baru mereka tunduk betul, dan Tan Kui memimpin sute-sutenya menjura di depan Siok Ho sambil berkata.

"Susiok benar hebat, teecu bertiga sudah menerima petunjuk dan pelajaran, harap maafkan kekuarangajaran teecu tadi."

Siok Ho menggerakkan tangan menyuruh mereka minggir sambil berkata.

"Tidak aneh kalau kalian memandang ringan kepadaku karena usiaku, akan tetapi kepandaian bukan bersandar kepada usia. Kepandaian kalian sudah cukup, hanya mungkin dahulu kurang memperhatikan petunjuk suheng."

Kwee Cun Gan masih penasaran, apa lagi ia yang menjadi guru tiga orang itu merasa malu sekali karena murid-muridnya sama saja seperti orang-orang tolol.

Bagaimana seorang guru tidak merasa tersinggung dan malu kalau melihat murid-muridnya tolol?

la bangkit berdiri, menghampiri Siok Ho dan berkata.

"Oei-sute, permainanmu Pat-kwa-pouw tadi benar-benar mengagumkan sekali dan terus terang saja aku sendiri belum pernah melihat Pat-kwa-pouw dimainkan seperti itu. Memang dengan pertunjukanmu tadi kau telah mengharumkan nama besar partai kita. Akan tetapi melihat tingkat kepandaianmu, tidak hanya murid-murid keponakanmu yang perlu dengan petunjukmu, bahkan aku sendiripun mengharapkan petunjukmu. Apakah selain Pat-kwa-pouw kau juga menerima pelajaran lain dari sucouw?"

Oei Siok Ho memandang tajam lalu berkata sambil menarik napas panjang.

"Kalau aku tidak ingat bahwa suheng sudah terlalu banyak menderita dalam perjuangan sehingga menjadi hati-hati dan selalu curiga, tentu aku akan merasa kecewa dengan penyambutan ini. Siauwte tahu bahwa suheng masih curiga terhadap siauwte dan ingin menguji. Tentu suheng maklum bahwa ilmu silat Kun-lun-pai tak boleh dimainkan untuk pamer begitu saja. Akan tetapi untuk meyakinkan hati suheng, boleh suheng minta siauwte mainkan ilmu silat yang mana saja dari partai kita"

Kwee Cun Gan menjadi makin tidak enak.

Kalau mendengar pembicaraannya dengan orang muda ini agaknya betul-betul anak murid Kun-lun, akan tetapi melihat.

usianya yang begitu muda mana mungkin menjadi murid Swan Thai Couwsu?

"Dugaanmu memang betul,"

Akhirnya ia berkata terus terang.

"Nah, kau puaskan hatiku, sute, coba kau mainkan Lian-cu-sam-kiam."

Siok Ho tersenyum.

"Sucouw pernah bilang bahwa di antara tujuh belas ilmu simpanan dari Kun-lun-pai, suheng telah mempelajari Lian-cu-sam-kiam. Siauwte yang bodoh mana bisa menandingi suheng? Biarlah suheng maafkan dan siauwte hanya mainkan beberapa jurus saja tanpa pedang."

Setelah berkata demikian, Siok Ho lalu bersilat dengan gerakan ringan sekali dan mulutnya menyebutkan jurus-jurus ke berapa yang dimainkan itu.

Gerakannya demikian cepat dan mengandung tenaga hebat, biarpun tidak menggunakan pedang namun getaran jari-jari tangannya melebihi getaran pedang, membuat Kwee Cun Gan makin kaget dan kagum.

"Cukup.... cukup....!"

Katanya dan cepat ia menghampiri Oei Siok Ho untuk dipeluk pundaknya saking girangnya. Akan tetapi Siok Ho dengan lincah miringkan pundak sehingga pelukan Kwee Cun Gan meleset.

"Suheng harap jangan terlalu memuji,"

Katanya sambil melangkah mundur.

Kwee Cun Gan mengira bahwa Siok Ho marah karena dicurigai tadi sehingga tidak mau dipeluk.

Ia berdiri memandang dan dari kedua mata ketua Tiong-gi-pai ini keluar dua butir air mata.

Hatinya amat terharu dan girang sekali.

"Oei-sute, sudah lama kukira bahwa Kun-lun-pai melupakan murid-muridnya yang berada di luar, dan kiraku hanya suheng Souw Teng Wi dan aku sendiri saja yang dibiarkan menghadapi orang-orang jahat menindas rakyat. Tidak tahunya sekarang sucouw mengirim kau, muridnya yang biarpun masih muda namun jempolan. Hati siapa tidak terharu dan girang?"

Dan kepada Tan Kui dan dua orang sutenya tadi, ia berkata.

"Dengar kalian, bahkan melihat tingkat kepandaiannya, ia pantas menjadi susiok-couw kalian!"

Mendengar kata-kata Kwee Cun Gan ini, barulah semua orang menjadi kaget sekali.

Sungguh di luar sangkaan mereka bahwa pemuda ganteng itu ternyata benar-benar anak murid Kun-lun-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sampai-sampai ketua memuji setinggi langit.

Tentu saja di samping keheranan ini, terdapat rasa kegembiraan besar karena Semenjak Liem Han Sin terluka, dalam pertandingamnya melawan Auwyang Tek dan keluarga Siok berangkat ke utara, maka kedudukan Tiong-gi-pai amat lemah, tidak mempunyai jago lagi.

Tentu saja kedatangan pemuda ganteng yang gagah perkasa ini membangunkan semangat mereka pula.

Sekarang mereka dapat mengangkat muka dan berani mengirim tantangan kepada Auwyang Tek si pemuda jahat.

Segera mereka mengerumuni Siok Ho dan menyatakan kegembiraan mereka.

Pada saat itu, terdengar suara.

"Aduuhhh..... kurang ajar, aduuuh....!"

Siok Ho dan Kwee Cun Gan kaget sekali karena suara ini kedengarannya dari dalam sebatang pohon besar.

Kwee Cun Gan melompat ke arah pohon, akan tetapi Siok Ho lebih cepat lagi, tangan kanannya bergerak dan sebuah kancing bajunya melayang cepat ke arah daun-daun pohon yang tadi nampak bergoyang-goyang.

Biarpun yang ia pakai sebagai senjata rahasia hanya sebuah kancing baju terbuat dari pada tulang, namun apa bila mengenai orang dapat menembus kulit daging seperti sebuah pelor baja.

Berbareng dengan masuknya senjata rahasia itu ke dalam gerombolan daun pohon, dari dalam rumpun itu melesat keluar bayangan orang yang sukar diikuti oleh pandangan mata, karena cepatnya laksana kilat saja.

Para anggauta Tiong-gi-pai malah tidak melihat apa-apa, hanya mata Siok Ho dan Kwee Cun Gan yang melihat bayangan orang berkelebat dan lenyap.

"Kita telah diintai oleh seorang sakti,"

Kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan dan semua orang menjadi kagum bukan main.

"Asal saja bukan fihak musuh...."

Kata Kwee Cun Gan penuh harap.

"Fihak musuh sudah terlalu banyak mempunyai orang sakti, kalau ditambah dengan yang tadi, benar benar sukar dilawan."

Mudah diduga siapa adanya orang di dalam pohon tadi.

Memang, dia itu bukan lain adalah dara perkasa kita, Souw Lee Ing yang sejak tadi mengikuti Siok Ho dan mengintai dari dalam gerombolan daun pohon besar itu.

Saking asyik dan kagumnya ia melihat Siok Ho mempermainkan orang-orang Tiong-gi-pai, ia sampai tidak memperhatikan dan tidak tahu betapa seekor semut merah merayap memasuki pakaiannya, menjadi bingung karena tidak dapat keluar dan akhirnya karena tergencet pakaian lalu menggigit kulit pahanya!

Rasa sakit, panas dan gatal membuat Lee Ing berseru kaget dan marah, lupa bahwa ia sedang mengintai dan karenanya tidak boleh mengeluarkan suara berisik.

Setelah Kwee Cun Gan melompat dan Siok Ho menyambit dengan senjata rahasia, barulah ia sadar dan menyesal.

Cepat laksana kilat ia melompat keluar, menyambar senjata kecil yang disambitkan oleh Siok Ho terus kabur secepatnya pergi dari tempat itu.

Setelah tiba di tempat sunyi, ia melihat "senjata rahasia"

Itu adalah sebuah kancing baju.

Entah apa sebabnya, tahu-tahu tangannya memasukkan kancing itu ke dalam saku baiunya dan setelah melaKuKan hal ini, Lee Ing celingukan ke kanan kiri, seakan-akan takut perbuatannya tadi dilihat orang lain!

Tiba-tiba ia menjadi kaget dan air mukanya berubah.

Baiknya ia celingukan ke sana ke mari, kalau tidak tentu ia takkan melihat bayangan-bayangan orang yang berseliweran di luar hutan.

Keadaan mereka mencurigakan sekali dan ketika Lee Ing menyelinap melakukan penyelidikan, ternyata bahwa hutan di mana anggauta-anggauta Tiong-gi-pai berada itu telah terkurung oleh banyak sekali pengawal kerajaan!

Celaka, pikirnya.

Tentu Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya akan diserbu oleh kaki tangan menteri durna ini.

Lee Ing kembali memasuki hutan untuk secara diam-diam membantu rombongan Tiong-gi-pai.

Di tengah perjalanan ia melihat seorang kakek yang mukanya seperti muka burung, membawa sebatang tongkat berkepala burung pula.

Orang aneh dan lucu ini sedang berdiri dan mendengarkan keterangan seorang gadis cilik yang menudingkan jari ke-arah sebatang pohon.

"Suhu, tadi aku melihat kakek botak itu di sini bersama pemuda itu dan lihat saja apa yang mereka perbuat kepada bendera tanda Auwyang-kongcu,"

Kata gadis cilik itu.

Kakek tadi bukan lain adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, memandang dan mengeluarkan seruan memaki-maki.

Dia sedang melakukan pengejaran terhadap seorang kakek botak bersama seorang pemuda yang mencurigakan.

Dalam pengejaran ini ia disertai gadis cilik itu yang sebetulnya adalah seorang di antara murid-muridnya yang bernama Liok Hwa.

Kebetulan sekali kakek botak dan pemuda yang dikejarnya itu memasuki hutan di mana rombongan Tiong-gi-pai sedang dikurung oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng-pian Mo Hun!

Juga Auw-yang Tek ikut dalam pengepungan ini.

Pemuda yang sombong ini telah menyuruh orang-orangnya memasang-masangi benderanya, yaitu bendera dengan cap tangan hitam, bendera Hek-tok-ciang!

Sebuah di antara benderanya itu adalah yang terpancang di situ dan kini bendera itu sudah berubah warna.

Dasar yang tadinya putih menjadi hitam dan jari-jari tangan hitam itu sudah menjadi putih karena sudah bolong!

"Kurang ajar!"

Terdengar Kui Ek memaki.

"Kalau benar si botak itu Pek Mao Lojin adanya, tidak perlu ia menghina bendera orang dan lebih baik muncul secara laki-laki! Liok Hwa, kau kembalilah ke pasukan, di sini berbahaya, aku akan mengejar mereka!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek bertongkat burung itu lenyap.

Liok Hwa hendak pergi dan kembali keluar dari hutan, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas pohon!

la hendak menjerit namun tidak ada suara dapat keluar dari mulutnya karena urat dagunya secara aneh telah dipencet orang.

Ketika tiba di atas cabang, ia melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis cantik yang tertawa-tawa.

"Jangan menjerit, aku hanya mau bertanya padamu,"

Kata gadis cantik itu yang bukan lain adalah Lee Ing adanya.

"Orang bertongkat burung tadi, yang menjadi gurumu, siapakah dia dan mengapa ia marah-marah?"

Liok Hwa hilang takutnya ketika melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis yang kelihatannya ramah.

"Dia adalah suhuku, Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, aku sendiri Bhe Liok Hwa dan kami sedang mengepung hutan ini untuk membasmi anggauta-anggauta pemberontak Tiong-gi-pai. Cici yang cantik siapakah, begini lihai? Kalau kau mau, mari ikut saja dengan aku menemui Auwyang-kongcu, dia pasti suka padamu...."

Ucapan gadis cilik itu menjadi berubah genit sekali ketika menyebut-nyebut nama Auwyang-kongcu.

Lee Ing merasa muak, karena ia dapat menduga bahwa murid Kui Ek ini tentu menjadi kaki tangan dan mungkin menjadi kekasih Auwyang Tek yang terkenal mata keranjang, akan tetapi ia menahan sabar dan bertanya.

"Aku tidak ada urusan dengan Tiong-gi-pai maupun dengan pasukan Auwyang, akan tetapi siapakah yang memimpin pasukan pengepung ini? Apa ada yang melebihi gurumu lihainya?"

"Hi-hi, cici tahu apa? Selain masih ada Auwyang-kongcu yang hebat kepandaiannya dan ahli Hek-tok-ciang, masih ada lagi Toat-beng-pian Mo Hun...."

Lee Ing sudah merasa cukup mendengar semua keterangan itu.

"Kau pergilah!"

Katanya sambil melempar tubuh gadis itu ke bawah, akan tetapi karena mengingat bahwa gadis cilik itu tidak bersalah apa-apa, ia melemparkan sedemikian rupa sehingga Liok Hwa jatuh dalam keadaan berdiri.

Ketika Liok Hwa menengok ke atas tidak melihat apa-apa, ia menjadi ketakutan.

"Ada siluman....!"

Teriaknya sambil berlari secepatnya keluar dari hutan.

Lee Ing yang sudah melesat pergi, tersenyum geli.

Ia lalu mengejar ke arah perginya Kui Ek tadi, khawatir kalau-kalau kakek ini akan mencelakai semua anggauta Tiong-gi-pai.

Ia maklum bahwa dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, Siok Ho mungkin mampu melindungi rombongan patriot itu dan dapat melawan Kui Ek, akan tetapi kalau Auwyang Tek dan Mo Hun serta para anggauta pasukan itu datang, dapatkah orang-orang Tiong-gi-pai menyelamatkan diri?

Tidak lama ia mencari cari, ia mendengar suara ribut-ribut orang bertempur, tanda bahwa fihak Tiong-gi-pai sudah mulai diserbu oleh Auwyang Tek dan kaki tangannya.

Di sana-sini terdengar pekik keras.

"Basmi pemberontak-pemberontak Tiong-gi-pai!"

Akan tetapi yang menjadikan heran hati Lee Ing bahwa pertempuran tidak terjadi di satu tempat.

Ketika ia maju ke arah suara orang bertempur yang paling dekat, ia melihat Siok Ho sedang bertanding mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek!

Seperti diceritakan di depan tadi, Siok Ho diterima dengan penuh kegembiraan oleh para anggauta Tiong-gi-pai.

Akan tetapi selagi mereka bergembira, tiba-tiba datang seorang anggauta penjaga yang melakukan perondaan di luar hutan dan anggauta ini datang melapor bahwa hutan itu sudah terkepung oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Auwyang Tek, Mo Hun, dan Kui Ek!

Tentu saja Kwee Cun Gan kaget bukan main, karena nama-nama yang disebutkan itu adalah nama-nama tokoh-tokoh musuh yang amat disegani.

Sedangkan di fihak Tiong-gi-pai, kecuali pemuda yang baru datang ini dan dia sendiri, tidak ada yang dapat diandalkan.

"Kita mundur melalui bukit selatan,"

Kata Kwee Cun Gan.

"Mengapa harus mundur? Biarlah siauwte menghadapi mereka, suheng dan kawan-kawan menggempur pasukan yang berani masuk secara pertempuran gerilya,"

Kata Sok Ho penasaran.

"Musuh datang tidak dilawan, mengapa lari?"

"Sute, kau tidak tahu. Mereka yang datang itu, terutama Mo Hun dan Kui Ek, bukanlah lawan-lawan kita. Mereka terlalu kuat."

Siok Ho tetap penasaran.

"Suheng, berlari sebelum kalah, sungguh siauwte tak dapat melakukannya. Kalau suheng dan kawan-kawan hendak mundur, silahkan, akan tetapi siauwte tetap hendak melawan mereka!"

Mendengar ucapan yang gagah ini, para anggauta Tiong-gi-pai timbul keberanian mereka. Juga Kwee Cun Gan menjadi nekat.

"Kau benar-benar patut menjadi anak murid Kun-liln yang gagah perkasa, sute,"

Ia memuji.

"Suheng belum mendengar cerita siauwte tentang partai kita, kalau sudah mendengar tentu suheng juga ingin membalas dendam. Ketahuilah bahwa empat tahun yang lalu, semua suhu dan sucouw di Kun-lun-pai telah tewas oleh Kai Song Cinjin yang dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek itulah!"

Ia dengan singkat lalu menceritakan pembasmian Kun-lun-pai oleh kaki tangan Auwyang-taijin. Bukan main kagetnya hati Kwee Cun Gan mendengar ini. Wajahnya pucat dan ia mengepal tinjunya.

"Kalau begitu, mari kita mengadu nyawa dengan keparat-keparat jahanam itu!"

Katanya singkat dan dengan berpencaran mereka menyambut serbuan musuh.

Kui Ek yang mengejar ke dalam hutan tiba-tiba berhadapan dengan seorang pemuda ganteng yang bertangan kosong dan sikapnya halus.

Tentu saja ia memandang rendah dan membentak.

"Aku tak pernah melihatmu, kalau kau bukan anggauta Tiong-gi-pai, lebih baik lekas kau minggat dari sini, jangan sampai mengorbankan nyawa secara sia-sia!"

Katanya, karena hatinya timbul rasa sayang melihat pemuda yang amat tampan ini.

Siok Ho tersenyum mengejek.

Tentu saja ia masih ingat muka orang ini, yang dahulu juga ikut menyerbu ke Kun-lun-pai dan sudah membunuh banyak anak murid Kun-lun.

"Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, apa kau sudah lupa akan perbuatan kejimu, dahulu di Kun-lun-san? Ketahuilah bahwa aku Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun. Kebetulan sekali kita bertemu di sini!"

Kui Ek tak dapat menahan ketawanya.

"Habis kau mau apa?"

"Tentu saja menagih nyawa suhu-suhu dan saudara-saudaraku di Kun-lun!"

Jawab Siok Ho sambil siap memasang kuda-kuda untuk menghadapi lawan yang ia tahu amat lihai ini.

Kui Ek tetap memandang ringan lawannya.

Sedangkan jago-jago tua Kun-lun-pai saja dapat terbasmi, apa lagi sekarang bocah yang masih hijau ini.

Sampai seberapakah kepandaiannya?

"Heh-heh, kalau begitu cepat keluarkan senjatamu!"

"Aku hanya mengandalkan kaki tanganku. Untuk melawan seorang jahat macam engkau tak perlu bersenjata,"

Jawab Siok Ho yang memang tidak membawa senjata.

"Ho-ho-ho, kau benar bermulut besar. Kau mau melawanku dengan tangan? Ah, kau membikin malu saja padaku. Lihat, tanpa tongkatpun dalam sepuluh jurus kau akan roboh."

Kui Ek melemparkan tongkatnya ke atas tanah, kemudian ia menerjang Siok Ho dengan pukulan-pukulan maut.

Ilmu silat Kui Ek sudah tinggi sekali, juga dalam petualangannya di dunia kang-ouw, ia sudah mendapatkan pengalaman pertempuran yang amat banyak.

Sebaliknya, biarpun Oei Siok Ho telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dan sakti dari Swan Thai Couwsu, namun ia masih muda dan kurang pengalaman.

Kalau menurut tingkat, ilmu silat yang dipelajari oleh Siok Ho memang lebih tinggi, akan tetapi kekalahan dalam hal pengalaman membuat Siok Ho amat berhati-hati menghadapi lawan yang sudah bangkotan ini.

la cepat mengelak dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Baru bergebrak lima enam jurus saja, Kui Ek kaget setengah mati dan merasa menyesal mengapa tadi ia tidak menggunakan tongkatnya dan memandang rendah lawan muda ini.

Dari pertemuan lengan dan melihat gerakan pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa lawannya ini benar-benar lihai, kiranya tidak kalah lihai oleh Auwyang Tek.

Akan tetapi ia sudah terlanjur memandang rendah, sudah terlanjur sombong melepaskan tongkatnya, maka dengan gerengan-gerengan marah Kui Ek melancarkan serangan-serangan dengan tenaga lweekang secara bertubi-tubi.

Menghadapi gelombang, serangan ini, Siok Ho kaget dan berlaku makin hati-hati.

Ia hanya mengelak dan kalau perlu sekali untuk menangkis dan ia tidak mau gegabah melakukan serangan kalau tidak melihat kesempatan baik.

Oleh karena sikapnya yang terlalu berhati-hati ini, ia terdesak oleh Kui Ek yang tidak mau menyia-nyiakan waktu, terus melakukan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan bertubi-tubi untuk segera menjatuhkan lawannya.

Akan tetapi ia kecele benar, kalau tadi ia mengatakan akan merobohkan dalam sepuluh jurus, sekarang sudah berjalan tiga puluh jurus ia hanya dapat sedikit mendesak saja sama sekali tidak dapat menindih apa lagi mengalahkan.

Saking penasaran dan marahnya, Kui Ek melakukan pukulan dahsyat dengan tenaga Iweekang sepenuhnya.

Tangan kanannya dengan jari terbuka melakukan dorongan ke arah dada Siok Ho dengan dibarengi pekik keras.

Inilah pukulan Iweekang yang akan dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.

Siok Ho yang sudah memiliki tenaga Ang-sin-ciang, tentu saja tidak takut menghadapi pukulan ini, bahkan ia lalu mengerahkan tenaga Ang-sin-ciang dan menerima dorongan ini dengan telapak tangan pula.

Di lain saat, telapak tangan kanan kedua orang ini saling tempel dan mereka berdiri bagaikan patung, saling dorong dan saling mengerahkan.

tenaga Iweekang untuk merobohkan lawan.

Pertandingan tenaga Iweekang terjadi dengan hebat dan mati-matian.

makin lama keduanya makin sadar bahwa mereka telah menemukan lawan yang berat dan tenaga Iweekang mereka seimbang.

Akan tetapi sayang sekali bagi Siok Ho.

Belum lama ini ia telah menyumbangkan sedikit darahnya untuk mengobati Siok Bun yang menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang.

Hal ini mempengaruhi tubuhnya dan dalam adu Iweekang ini, setidaknya ia kehilangan banyak tenaga karena kekurangan darahnya belum pulih kembali.

Cuma baiknya, biarpun dalam tenaga ia kalah sedikit oleh Kui Ek, sebaliknya tenaga Ang-sin-ciang yang mengandung hawa beracun itu telah membuat seluruh tubuh Kui Ek merasa gatal-gatal!

Keduanya mengerahkan seluruh tenaga.

Tangan yang saling tempel tak dapat dilepas pula.

Pendeknya, dalam pertandingan ini yang kalah akan tewas dan yang menang akan hidup, tidak ada jalan ke luar lagi.

Oleh karena maklum akan hal ini, keduanya saling mengerahkan seluruh tenaga sampai dari kepala mereka mengepul uap putih, muka sudah penuh peluh!

Dalam keadaan beginilah Lee Ing datang!

Gadis ini kaget sekali melihat bahwa kalau dilanjutkan, andaikata Siok Ho dapat menang sekalipun, ia akan terluka hebat.

Ketika ia menengok ke lain jurusan, orang-orang Tiong-gi-pai sudah saling gempur dengan para pasukan pengawal.

Tadinya Lee Ing hendak turun tangan merobohkan Kui Ek untuk menolong Siok Ho, akan tetapi ia teringat akan nasihat-nasihat kong-kongnya tentang kegagahan.

Seorang pendekar harus mengutamakan kegagahan yang disertai keadilan, pikirnya.

Kalau aku merobohkan Kui Ek dalam keadaan begini, sama saja dengan mengeroyoknya.

Ini sama sekali tidak adil.

Setelah berpikir demikian, ia mempersiapkan tiga buah batu kecil di kedua tangannya.

Setelah memusatkan panca inderanya, ia mengayun tangan dan tiga butir batu kecil itu meluncur cepat sekali ke arah dua orang yang sedang mengadu tenaga Iweekang dengan mati-matian.

Sebutir menghantam punggung Siok Ho, sebutir lagi menghantam punggung Kui Ek dengan kekuatan yang sama, sedangkan batu ke tiga, yang datangnya terakhir akan tetapi mengandung kekuatan lebih besar, menghantam ke arah dua tangan yang saling tempel itu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya dua orang jago yang sedang mengadu tenaga Iweekang itu ketika tiba-tiba mereka inerasa punggung mereka ada yang menepuk dan tiba-tiba saja lemas seluruh tenaga Iweekang mereka.

Sebelum mereka dapat menyalurkan lagi tenaga masing-masing, menyambar batu ke tiga ke arah tangan mereka yang saling tempel.

Otomatis mereka menarik tangan masing-masing yang kini tidak lengket lagi karena sudah tidak mengandung tenaga Iweekang dan tanpa mereka sengaja terlepaslah keduanya dari bahaya maut.

Maklum akan kelihaian lawan, Kui Ek cepat menyambar tongkatnya, akan tetapi sebelum ia sempat menyerang, kembali tongkatnya terlepas dan tangannya kejang tersambar batu kecil.

Napas Kui Ek masih terengah-engah karena tadi terlampau banyak mengeluarkan tenaga, kini menghadapi keanehan ini, ia menjadi gentar.

Sebagai seorang yang berpengalaman ia maklum bahwa ada orang pandai mempermainkannya.

Ia membungkuk untuk mengambil tongkatnya dan tiba-tiba saja "takk!"

Ujung pantatnya dihajar oleh sebuah batu kecil, rasanya sakit sekali sampai membuat ia bergulingan dan mengaduh-aduh.

Akan tetapi ia berhasil mengambil tongkatnya dan melompat berdiri, memutar tongkat untuk melindungi diri dari sambaran batu.

Benar saja, terdengar suara tak, tok, tak, tok ketika beberapa butir batu kena disampok oleh tongkatnya.

Akan tetapi, masih juga sebutir menerobos masuk dari lingkaran sinar tongkatnya dan tepat sekali mengenai tulang keringnya.

"Tokk!"

Kui Ek menahan rasa nyeri, namun bagaimana bisa ditahan kalau tulang keringnya terasa panas, perih dan ngilu? "Aduh.... bangsat pengecut.... aduh, keluarlah kalau berani...!"

Sambil mengaduh-aduh dan memutar tongkatnya ia berloncat-loncatan dengan sebelah kaki, dan kaki yang terkena sambitan itu digantung, akan tetapi biarpun mulutnya memaki-maki, Kui Ek dengan licik berloncat-loncatan mehjauhi tempat itu, kemudian berlari sipat-kuping.

Biarpun tidak tahu siapa yang membantunya, Siok Ho tersenyum geli melihat tingkah Kui Ek.

Tadi ia tidak mau turun tangan karena selain ia sendiri perlu beristirahat dan memulihkan tenaganya, juga ia tidak mau mengeroyok lawan yang sedang dipermainkan oleh orang pandai.

Setelah Kui Ek pergi, Siok Ho menjura ke empat penjuru dan berkata.

"Terima kasih atas pertolongan cianpwe, dan kalau sudi, harap cianpwe suka memperlihatkan diri."

Akan tetapi biarpun ia sudah mengulangi beberapa kali, tidak terdapat jawaban.

Maka ia lalu cepat berlari untuk membantu Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain yang masih bertempur.

Pertempuran di bagian lain tidak kalah ramainya.

Kwee Cun Gan dan sembilan orang kawannya yang terbangun semangat perlawanannya melihat keberanian Siok Ho, sudah menerjang para penyerbu dan terjadi pertempuran hebat.

Bagi Kwee Cun Gan sendiri, para pengawal itu bukan apa-apa dan sebentar saja ia sudah merobohkan dua orang pengawal.

Juga Tan kui, dan dua saudara Nyo telah merobohkan masing-masing seorang lawan.

Akan tetapi tiba-tiba terjadi keributan hebat ketika anggauta-anggauta Tiong-gi-pai menjadi kocar-kacir dan dalam sekejap mata saja roboh empat orang tak bernyawa lagi menjadi korban pian kelabang dan pukulan Hek-tok-ciang.

Ternyata Auwyang Tek dan Toat-beng-pian Mo Hun datang mengamuk dan di belakang dua orang ini, masih kelihatan Kui menyeret-nyeret tongkatnya!

Kwee Cun Gan melompat dan menyuruh anak buahnya mundur, dia sendiri menghadapi Auwyang Tek sambil menuding dan berkata nyaring.

"Auwyang Tek, kali ini benar-benar kau tidak tahu malu dan curang sekali, melakukan pengeroyokan dan penyerbuan mengandalkan orang banyak! Sejak kapan kau berlaku pengecut dan tidak menggunakan cara yang sudah-sudah, bertanding seperti orang-orang gagah di panggung lui-tai (panggung tempat mengadu kepandaian)?"

Auwyang Tek tersenyum mengejek.

Memang dahulu ketika Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui seanak isteri masih berada dengah Tiong-gi-pai, ia tidak berani sembarangan menyerang perkumpulan yang dimusuhinya ini karena khawatir kalau-kalau menyinggung perasaan Raja Muda Yung Lo dan menjadikan orang she Siok itu sebagai utusannya.

Akan tetapi sekarang, setelah Siok Beng Hui pergi, ia boleh membasmi Tiong-gi-pai tanpa khawatirkan sesuatu.

"Kwee Cun Gan! Orang buronan macam kau dan kaki tanganmu ini, mana masih perlu banyak aturan lagi? Diadakan pertempuran pibu sekalipun kau tak pernah muncul, karena kau sudah kehabisan jago-jagomu. Ha-ha-ha!"

Kemudian Auwyang Tek berkata kepada Mo Hun dan Kui Ek.

"Ji-wi lo-enghiong, setelah berada di sini, cabut saja nyawa orang she Kwee ini. Kalau dia mampus tentu yang lain takkan berani banyak tingkah lagi."

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Auwyang Tek langsung menyerang Kwee Cun Gan dengan pukulan Hek-tok-ciang.

Biarpun ketua Tiong-gi-pai ini merasa tidak sanggup menghadapi pukulan yang amat berbahaya ini, namun sebagai murid Kun-lun tentu saja ia masih dapat menyelamatkan diri.

Ia cepat mengelak dan melompat ke samping.

Auwyang Tek mengejar dan menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak hebat.

Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang pemuda tegap telah menghadapi Auwyang Tek dengan sepasang pedang yang hebat gerakannya.

"Kwee Tiong......!"

Ketua Tiong-gi-pai itu berseru girang.

"Harap paman mundur, serahkan saja bedebah ini kepadaku,"

Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Kwee Tiong, pemuda yatim piatu yang menjadi murid Pek Map Lojin.

Untuk kedua kalinya, kembali Kwee Tiong muncul menolong pamannya yang terancam bahaya maut.

Segera terjadi pertempuran antara Auwyang Tek dan Kwee Tiong, pertempuran hebat dan ternyata kepandaian dua jago muda ini seimbang.

Kui Ek melompat dan menggerakkan tongkatnya, akan tetapi sekarang Siok Ho menerjang maju.

Pemuda ini tadi telah dapat merampas sebatang pedang dari seorang pengawal yang dirobohkannya dan dengan pedang ini ia menangkis tongkat Kui Ek.

"Tua bangka, mari kita lanjutkan pertempuran tadi!"

Tantang Siok Ho dan segera keduanya juga terlibat dalam pertandingan mati-matian yang seru sekali. Mo Hun tertawa bergelak.

"Heh-heh-heh, kau mendatangkan jago-jago muda untuk memperkuat perkumpulan yang busuk? Sayang, tidak ada yang melindungi kepalamu, Kwee Cun Gan!"

Ia menggerakkan pian kelabangnya, terdengar suara "tar-tar-tar"

Di udara dan sinar merah pian itu berkelebat ke arah Kwee Cun Gan.

Ketua Tiong-gi-pai ini maklum akan keganasan senjata ini, maka ia tidak berani menghadapinya lalu melompat jauh.

Sambil tertawa-tawa Mo Hun mengejar terus dan membunyikan piannya yang menyambar-nyambar bagaikan kelabang raksasa melayang-layang mencari korban!

Akan tetapi, mendadak ia berseru kaget dan menahan gerakannya.

Mukanya menjadi basah dan tercium bau arak wangi sekali.

"Ha-ha, manusia iblis di mana-mana haus darah!"

Terdengar suara halus dan muncullah Pek Mao Lojin yang memegang sebuah guci arak dan tertawa-tawa lebar.

Tadi dialah yang menyemburkan araknya dari mulut sehingga menghujani muka Mo Hun yang terkejut sekali karena semburan arak itu membuat mukanya panas dan seperti ditusuki jarum.

Melihat bahwa orang itu bukan lain adalah Pek Mao Lojin yang selama ini tidak memperlihatkan keaktipan membantu Tiong-gi-pai akan tetapi yang kabarnya pernah mengacau kota raja, Mo Hun menjadi marah.

"Tua bangka botak, agaknya kau sudah bosan dengan botakmu. Biar kupenggal dari tubuhmul"

Piannya menyambar cepat.

"Ha-ha-ho-ho, biar botak aku masih sayang. Tak boleh dipenggal!"

Pek Mao Lojin mengangkat guci araknya.

"Traangg..!"

Pian kelabang itu mental kembali dan dari dalam guci arak muncrat arak merah yang langsung meluncur ke arah muka Mo Hian.

Toat-beng-pian Mo Hun maklum bahwa arak ini dapat melukai mukanya, maka ia cepat melompat mundur.

Kwee Cun Gan yang maklum bahwa biarpun kedudukan fihaknya kini cukup kuat akan tetapi kalau di situ muncul tokoh-tokoh fihak musuh yang lain seperti Kai Song Cinjin dan pasukan pengawal yang besar jumlahnya tentu fihaknya akan mengalami kehancuran, lalu berseru.

"Auwyang Tek, apakah kau berani menerima tantangan kami untuk mengadu pibu secara gagah tidak main keroyokan seperti ini? Kalau kau berani harap hentikan pertempuran ini!"

"Mengapa aku tidak berani?"

Jawab Auwyang Tek sambil melompat mundur, la rasa bahwa jago fihak lawan tentu pemuda yang melawannya ini dan ia tidak takut.

"Kalau begitu hentikan pertempuran ini!"

Seru Kwee Cun Gan. Mendadak berkelebat bayangan orang dan ada angin meniup keras membuat semua orang terhuyung ke belakang.

"Betul, pertempuran harus dihentikan dan sejak kapankah orang-orang kerajaan memerangi rakyat? Pertandingan pibu boleh, akan tetapi pertempuran seperti ini benar-benar tidak selayaknyal"

Semua orang memandang dan ternyata yang muncul adalah Im-yang Thian-cu yang tadi mengibas-ngibaskan kipasnya.

Setelah semua orang berhenti bertempur, Im-yang Thian-cu berpaling kepada Kwee Cun Gan sambil berkata.

"Aku mendengar muridku terluka oleh Hek-tok-ciang, di mana dia sekarang?"

Kwee Cun Gan memberi hormat sambil berkata.

"Harap totiang tunggu sebentar, nanti siauwte akan mengantar totiang menemui Han Sin yang masih merawat diri."

Auwyang Tek yang mendengar bahwa tosu kurus ini adalah guru dari Liem Han Sin yang beberapa hari yang lalu ia lukai, menjadi tidak enak.

Juga ia melihat bahwa fihak lawan sekarang menjadi amat kuat, maka ia memberi tanda kepada anak buahnya supaya mundur.

Ia sendiri menantang Kwee Cun Gan.

"Kalau kau benar mempunyai jago, boleh datang di pendapa Lian-bu-kwan di dalam kota di mana kita boleh mengadu ilmu sepuasnya secara adil."

Setelah Kwee Cun Gan mengangguk dan menyanggupi untuk datang pada besok siang menjelang tengah hari, Auwyang Tek dan rombongannya segera meninggalkan hutan itu.

Kwee Cun Gan cepat-cepat memberi hormat dan menghaturkan terima kasihnya kepada Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu.

Sungguh menarik jawaban dua orang kakek sakti itu, jawaban yang langsung memperkenalkan watak dan pandangan hidup masing-masing.

Jawab Pek Mao Lojin sambil tertawa-tawa lebar.

"Manusia terpisah menjadi dua kelompok, pertama menjadi hamba nafsu dan kesenangan duniawi, ke dua menjadi pembantu alam yang sifatnya adil dan penuh kebajikan. Aku memilih kelompok ke dua itulah!"

Dengan ucapannya yang tidak langsung ini Pek Mao Lojin menyatakan bahwa demi membela kebenaran dan keadilan ia tentu saja membantu Tiong-gi-pai dan melawan kejahatan.

Adapun Im-yang Thian-cu yang selalu bermuram durja itu, menjawab dengan merengut.

"Siapa sih perduli segala urusan dunia? Pinto datang untuk menengok murid yang terluka. Di mana dia?"

"Silahkan totiang ikut dengan kami ke tempat Han Sin beristirahat. Memang dia terluka dan sudah mempergunakan obat katak merah, akan tetapi karena ia kena pukulan agak keras, lukanya belum sembuh dan ia perlu beristirahat."

Kemudian kepada Kwee Tiong dan Pek Mao Lojin ia berkata.

"Harap locianpwe kali ini suka memberi ijin kepada Kwee Tiong untuk membikin terang nama Tiong-gi-pai dan memasuki pibu untuk menghadapi Auwyang Tek yang jahat."

Kwee Tiong berkata cepat kepada Pek Mao Lojin.

"Suhu, kalau tidak kali ini teecu mencurahkan tenaga untuk membela kebenaran dan membalas budi paman Kwee Cun Gan membasmi kejahatan, apa gunanya teecu menjadi murid suhu?"

Pek Mao Lojin tertawa bergelak mendengar semua ini.

"Sesukamulah, mana aku bisa melarang? Kalau kau terluka seperti murid Im-yang Thian-cu, dan aku tidak bisa menolong mengobati, jangan bilang aku guru tidak punya guna."

"Seorang gagah takut mati, mana patut disebut gagah?"

Im-yang Thian-cu berkata dengan muka merengut.

Pek Mao Lojin tertawa makin keras lagi karena dengan kata-kata yang baru diucapkan tadi, biarpun Im-yang Thian-cu bersikap seolah-olah tidak perduli akan semua pertempuran itu, namun ia tetap menghargai kegagahan dan ini berarti bahwa tosu kurus pemarah ini masih boleh diharapkan bantuannya untuk menghadapi kaki tangan Menteri Auwyang!

Berangkatlah rombongan ini memasuki hutan, keluar dari sebelah utara untuk memasuki hutan lain di mana Liem Han Sin sedang beristirahat di dalam sebuah pondok kecil, dijaga oleh ayahnya, Liem Hoan.

Lee Ing diam-diam mengikuti rombongan ini, setelah melihat tempat berkumpulnya para anggauta Tiong-gi-pai.

ia lalu pergi lagi dengan cepat sekali untuk menyusul rombongan Auwyang Tek.

Ia tidak mau turun tangan lebih dulu karena ingin ia mencari tahu tentang keadaan ayahnya, Souw Teng Wi.

Sudah jelas tadi bahwa ayahnya tidak berada dengan Tiong-gi-pai.

Sungguhpun harapannya tipis sekali untuk melihat ayahnya masih hidup, mengingat betapa dulu ayahnya tertawan oleh Kai Song Cinjin, namun ia ingin tahu sejelasnya apa yang terjadi atas diri ayahnya.

Oleh karena itu diam-diam ia mengikuti rombongan Auwyang Tek untuk memasuki kompleks bangunan istana dan mencari tahu perihal ayahnya sebelum ia menurunkan tangan terhadap musuh-musuh besarnya.

Menteri durna Auwyang Peng menjadi marah bukan main ketika ia mendengar laporan puteranya tentang gagalnya penyerbuan terhadap Tiong-gi-pai di hutan itu.

"Bodoh, masa terhadap beberapa gelintir manusia pemberontak itu saja kau tidak becus menangkap, padahal sudah dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek? Setidaknya kau sepatutnya sudah dapat menyeret Kwee Cun Gan ke sini sebagai tawanan!"

"Tidak begitu mudah, ayah. Harap diketahui bahwa orang she Kwee itu ternyata telah mendatangkan pembantu-pembantu baru yang cukup lihai, bahkan dua orang tokoh kang-ouw, Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu membantunya. Oleh karena itu, aku menerima baik tantangan pibu besok di Lian-bu-kwan."

Auwyang-taijin mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, kau panggil Cinjin dan yang lain-lain untuk berkumpul dan merundingkan pibu ini. Sekali ini kita harus dapat memaksa Kwee Cun Gan mengaku di mana adanya pemberontak Souw Teng Wi sekarang."

Auwyang Tek keluar untuk memanggil Kai Song Cinjin dan yang lain-lain.

Sedangkan Lee Ing yang semenjak tadi mengintai, menjadi kecewa sekali mendengar ucapan terakhir tentang ayahnya.

Jadi kalau begitu ayahnya tidak berada di sini?

Di samping kekecewaannya iapun girang karena ucapan Auwyang Peng tadi hanya berarti bahwa ayahnya tidak sampai tewas oleh Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.

Siapa yang telah menoIong ayahnya dari tangan musuh?

Apakah Kwee Cun Gan betul-betul tahu di mana adanya ayahnya sekarang?

Lee Ing sudah hendak pergi untuk mencari ketua Tiong-gi-pai itu dan bertanya tentang ayahnya, ketika tiba-tiba ia menunda niatnya karena mendengar suara yang dia masih ingat dan dikenalnya.

Suara Kai Song Cinjin, musuh besarnya!

"Taijin harap jangan khawatir, serahkan saja kepada pinceng untuk membereskan tikus-tikus Tiong-gi-pai itu!"

Ketika Lee Ing mengintai kembali, ternyata Kai Song Cinjin sudah berada di situ dan berturut-turut masuklah Mo Hun, Kui Ek dan lain-lain kaki tangan Auwyang-taijin seperti Manimoko dan Yokuto, dua orang guru silat yang berasal dari bajak laut Jepang itu.

Melihat musuh besarnya, Kai Song Cinjin, Lee Ing menjadi marah sekali.

Ingin ia sekali terjang membalas dendam kepada musuh besar ini.

Teringatlah ia betapa ayahnya dibikin buta oleh pendeta tinggi besar ini.

Sudah gatal-gatal tangannya dan ia sudah hendak melompat turun.

Akan tetapi Lee Ing adalah seorang gadis yang cerdik sekali.

Ia maklum akan kelihaian Kai Song Cinjin dan dia sendiri belum tahu apakah ia akan sanggup melawannya, apa lagi selain Kai Song Cinjin, di situ masih terdapat banyak tokoh besar yang berkepandaian tinggi.

Kalau ia lancang turun tangan dan tidak berhasil, itu masih belum berapa hebat karena mungkin dengan kepandaiannya ia dapat meloloskan diri dari tempat itu.

Akan tetapi celakanya, ia belum tahu di mana adanya ayahnya.

Kalau mereka ini mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi, tentu keadaan ayahnya akan makin terancam lagi.

Sebelum ia tahu di mana adanya ayahnya, sebelum ia tahu bahwa ayahnya betul-betul berada di tempat aman dan tidak berada dalam tangan musuh-musuh besar ini, ia tidak boleh memperkenalkan diri.

Dengan bekerja secara sembunyi ia akan lebih leluasa dan ayahnya tidak begitu terancam.

Gadis ini berpikir-pikir dan matanya memandang ke sana ke mari, mencari akal.

Sementara itu, hari telah mulai gelap dan para pelayan mulai memasang lampu penerangan.

Di dalam ruangan itu, Auwyang Peng masih mengadakan perundingan dengan para kaki tangannya.

Akhirnya diputuskan bahwa pertandingan pibu di Lian-bu-kwan pada besok hari akan dipimpin oleh Kai Song Cinjin sendiri mengingat bahwa di fihak Tiong-gi-pai muncul tokoh-tokoh besar.

"Biarlah hari esok itu akan merupakan hari terakhir bagi Tiong-gi-pai, akan pinceng tantang supaya mereka semua seorang demi seorang maju dan naik ke panggung luitai mengadu kepandaian."

"Inilah saatnya membasmi Tiong-gi-pai secara terbuka, tanpa menyinggung hati siapapun juga,"

Kata kakek dari Tibet ini dengan sombong seolah-olah ia sudah merasa yakin bahwa fihaknya tentu akan memperoleh kemenangan dan akan dapat menewaskan semua anggauta Tiong-gi-pai dalam pertandingan pibu itu.

"Harap saja Tok-ong jangan terlalu yakin dulu, karena di fihak mereka terdapat orang-orang pandai seperti Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu yang sama sekali tak boleh dipandang ringan!"

Kata Toat-beng-pian Mo Hun sambil meringis. Kui Ek mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Betul ucapan Toat-beng-pian. Selain dua orang tua bangka itu, masih ada murid Kun-Iun-pai yang masih muda namun kepandaiannya lumayan, juga aku sendiri sudah merasakan kehebatan kepandaian seseorang yang membantu secara diam-diam fihak mereka, entah seorang di antara dua tua bangka itu, entah ada orang lain lagi,"

Berkata demikian, Kui Ek teringat akan pertempurannya mengadu Iweekang dengan Siok Ho dan betapa kemudian ada orang memisahkan secara luar biasa sekali, yaitu hanya dengan sambitan kerikil-kerikil kecil!

Kalau ia teringat akan kepandaian orang tersembunyi ini, ia bergidik karena sukar dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang yang dapat memisah dia bertanding Iweekang hanya dengan sambitan batu kecil saja.

Kai Song Cinjin mengerutkan kening akan tetapi mulutnya tertawa mengejek.

"Kalian merengek rengek seperti anak cengeng. Memuji kepandaian musuh sama saja dengan merendahkan kekuatan sendiri. Pantas saja kalian tidak dapat membereskan soal pengepungan Tiong-gi-pai siang tadi! Apa sih itu Pek Mao Lojin? Hanya kakek gila yang selalu mabok arak. Dan itu Im-yaug Thian cu? Siucai (sasterawan) kelaparan! Kalian masih mengagulkan anak murid Kun-lun-pai setelah kita basmi mereka? Haaa! Selain Swan Thai Tosu, siapa lagi di Kun-lun yang boleh ditakuti? Dan Swan Thai Tosu sekarang sudah mampus!"

Mendengar ucapan ini, Mo Hun dan Kui Ek tidak berani bilang apa-apa lagi.

Memang dua orang ini yang ditakuti hanya Kai Song Cinjin seorang, maklum bahwa kakek Tibet ini memang kepandaiannya tinggi sekali.

Tok-ong Kai Song Cinjin agaknya masih panas perutnya karena tadi dua orang pembantunya memuji fihak lawan.

Apa lagi ia melihat Auwyang Peng mengangguk-anggukkan kepala tanda menyetujui ucapannya, Kai Song Cinjin menjadi makin sombong.

"Jangankarj ada orang-orang tersembunyi membantu mereka. Biar pahlawan Sam-kok Kwan-In Tiang menjelma lagi di dunia ini kita takut apa sih?"

Katanya penuh lagak jagoan.

Mendengar ini, Manimoko nampak gelisah.

Jago Jepang yang bertubuh gemuk bulat seperti bola ini memang amat tahyul.

Ia sudah lama merantau di Tiongkok dan sudah mendengar tentang dongeng-dongeng sejarah.

Mendengar Kai Song Cinjin menyebut-nyebut dan menantang nama pahlawan besar Kwan In Tiang, ia menjadi pucat dan berkata dengan lidah pelo dan menggoyang-goyangkan tangannya.

"Kai Song Cinjin boleh menantang orang akan tetapi jangan sekali-kali menantang malaikat! Kwan Kong (Kwan In Tiang) sudah diangkat menjadi malaikat, sudah disembah dan dipuja jutaan orang. Tidak baik kalau ditantang-tantang oleh manusia biasa!"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak.

"Pinceng adalah murid terkasih dari Sang Buddha, selain ilmu silat juga ilmu batin pinceng sudah cukup matang. Mengapa harus takut menghadapi segala macam malaikat? Kedudukan pinceng sebagai murid Buddha lebih tinggi, dan kelak di Nirwana, para malaikat menjadi pelayanku."

Ucapan macam ini benar-benar tidak patut keluar dari mulut seorang penganut Agama Buddha apa lagi dari seorang yang sudah menggunduli kepala menjadi hwesio.

Dari kata-katanya ini saja sudah dapat dinilai orang macam apa"

Adanya hwesio dari Tibet ini.

Dia menjadi hwesio di Tibet hanya untuk mencari kekuasaan, oleh karena di Tibet memang para pendeta itulah yang berkuasa.

Rakyat masih terlalu bodoh dan menganggap bahwa para hwesio atau murid Buddha adalah manusia-manusia yang lebih tinggi derajatnya dari pada mereka manusia-manusia biasa.

Setelah menjadi hwesio dan memiliki kepandaian tinggi, Kai Song Cinjin di Tibet boleh berbuat sesuka hatinya, memeras rakyat, hidup mulia dan mewah penuh kesenangan duniawi dan semua ini tidak ada yang melarang atau berani mencela karena kekuasaan berada di tangannya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini para hwesio di Tibet yang betul-betul melakukan penghidupan suci sesuai dengan ajaran Agama Buddha, mulai melihat kejahatannya.

Kai Song Cinjin merasa khawatir kalau-kalau kedudukannya akan terguling, maka dengan cerdik ia lalu mengadakan hubungan dengan pemerintah Beng di Nan-king, rela menjadi kaki tangan Menteri Auwyang Peng yang sebaliknya menjanjikan bahwa kelak ia akan dijadikan raja muda di Tibet.

Mendengar ucapan terakhir dari Kai Song Cinjin itu tidak hanya Manimoko yang menjadi makin pucat, bahkan Yokuto hwesio Jepang itupun mengerutkan kening.

Yokuto memang tidak berani banyak bicara oleh karena dia sendiri sebagai seorang hwesio telah tersesat masuk menjadi anggauta bajak laut.

Tadinya Yokuto dan Manimoko, keduanya jago jago yudo dan silat Jepang, menjadi sahabat baik.

Akan tetapi mereka mempunyai watak buruk, dan sering kali mengganggu wanita-wanita cantik.

Akhirnya mereka diusir oleh ksatria Jepang golongan Samurai.

Kaum Samurai yang gagah berani ini, yang seperti pendekar pendekar di Tiongkok selalu menghela kaum lemah terlindas, mengejar-ngejar mereka yang terus melarikan diri dan akhirnya menggabungkan diri menjadi bajak laut.

Kemudian mereka yang tidak berani kembali ke Jepang, menerima ajakan kaki tangan Auwyang-taijin untuk bekerja sebagai "tukang pukul"

Dari menteri itu.

Yokuto sendiri merasa sebagai hwesio dia menyeleweng, akan tetapi mendengar ucapan Kai Song Cinjin tadi, dia yang tahu akan pelajaran Buddha, di dalam hati merasa tidak enak.

Juga Auwyang Peng yang dahulunya seorang terpelajar, mencela omongan Kai Song Cinjin dengan kata-kata halus menyindir.

"Betapapun juga, harap saja Cinjin berhati-hati dan jangan terlalu memandang rendah fihak lawan."

Manimoko mengangguk-angguk dan menyambung kata-kata junjungannya.

"Memang betul, Cinjin jangan sembarangan menantang malaikat. Bisa kualat nanti!"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh karena ia sengaja mengerahkan khikangnya untuk memamerkan kepandaiannya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa lain, lebih besar dan lebih nyaring, malah mengalahkan gema suara ketawanya.

Suara ketawa ini terdengar besar dan aneh, bukan seperti ketawa manusia, seakan-akan suara ketawa yang datang dari angkasa raya.

Kai Song Cinjin otomatis menghentikan ketawanya, mulutnya masih menyeringai akan tetapi mukanya berubah, sepasang matanya berputar-putar mencari siapa orangnya yang tertawa itu.

"Aduh celaka...!"

Manimoko yang amat takut akan setan dan malaikat itu berkata, mukanya pucat, tubuhnya menggigil "Ini bukan suara manusia....!"

Tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke arah depan, tubuhnya yang gemuk itu makin menggigil, mulutnya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara, telunjuknya menuding-nuding seperti lakunya orang berotak miring melihat setan.

Semua orang memandang dan semua berseru kaget.

Auwyang-taijin sendiri sampai cepat-cepat bangun dari tempat duduknya dan melompat ke dalam bersembunyi!

Disusul oleh Auwyang Tek yang hendak melindungi ayahnya.

Semua orang terbelalak memandang dengan tubuh panas dingin, kecuali Kai Song Cinjin yang bangkit berdiri, biar mukanya berubah pucat namun ia masih tabah.

Apa yang mereka lihat?

Benar-benar aneh dan menyeramkan sekali.

Di ruang depan memang terdapat sebuah patung Kwan In Tiang yang tinggi besar.

Patung Itu terbuat dari pada tanah lempung, dalamnya kosong dan dicat indah sekali.

Di tangan patung itu memegang golok gagang panjang yang betul-betul senjata tajam.

Biasanya patung ini selain dipasang untuk alat hias ruangan, juga merupakan lambang kejujuran dan keadilan, banyak dipasang rumah para pembesar.

Juga untuk penolak setan dan penyakit.

Akan tetapi, palung ini sekarang bisa berjalan, datang ke ruangan di mana Auwyang Peng bersidang dengan kaki tangannya!

Yang hebat lagi, sepasang mata patung itu nelirak-lirik dengan pandang mata tajam sekali, dan golok panjangnya diayun-ayun seperti orang mengancam!

"Aduh celaka...

ampun dewa......"

Manimoko mundur-mundur sampai ke sudut ruangan di mana ia berdiri menggigil.

Juga Yokuto segera merangkap kedua tangan di depan dada dan mulutnya tiada hentinya bergerak-gerak, berkemak kemik membaca mantera pengusir iblis!

Kai Song Cinjin melangkah maju dan berkata dengan suara keras untuk menghilangkan suasana menyeramkan.

"Siluman jejadian dari mana berani main gila di depan pinceng? Pergilah kau!"

Kedua tangan pendeta ini didorongkan ke depan dengan gerakan ilmu pukulan Hek tok-ciang!

Patung itu mengangkat tangan kiri dan juga didorongkan ke depan.

Dari tangan ini keluar hawa pukulan yang dahsyat dan bertumbuklah dua hawa pukulan itu di udara Akibatnya, pukulan Hek-tok-ciang buyar sama sekali dan kembali patung itu tertawa!

Kai Song Cinjin melihat betapa bibir patung tidak bergerak sama sekali ketika tertawa, maka ia cepat berseru kepada kawan-kawannya.

"Jangan kalian takut. Dia itu hanya manusia biasa yang bersembunyi di dalam patung. Hayo serang!"

Biarpun mulutnya berkata begitu dia sendiri sebetulnya merasa kaget juga karena baik setan atau manusia, lawannya ini telah menangkis buyar pukulan Hek-tok-ciang!

Cepat ia maju menyerang lagi dan kali ini ia melakukan Ngo-tok-kun (Ilmu Silat Lima Racun) yang lihai bukan main.

Setiap pukulan ilmu silat ini dilakukan dengan pengerahan Iweekang yang berlainan dan ada lima macam hawa pukulan beracun yang terkandung dalam pukulan-pukulan Ngo-tok-kun, ada racun dari hawa Im-kang, ada dari Yang-kang, sehingga amat sukar bagi lawan untuk mengimbangi hawa pukulan Kai Song Cinjin yang berganti-ganti dan berubah sifatnya ini.

Patung bernyawa itu agaknya kaget juga menghadapi gelombang serangan ini, buktinya ia melompat mundur sambil memutar golok panjangnya.

Melihat betapa "siluman"

Itu mundur terdesak oleh (Lanjut ke

Jilid 14) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 rangkaian pukulan Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun dan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek mengeluarkan seruan keras dan dua orang ini menerjang maju sambil menggerakkan senjata masing-masing.

Pian kelabang di tangan Mo Hun lebih cepat gerakannya dari pada tongkat Kui Ek dan pian ini lebih dulu menyambar ke arah leher patung Kwan Kong itu.

Golok panjang patung itu terlalu kaku dan tidak dapat dipergunakan untuk menangkis pian yang sudah terlalu dekat.

Nampaknya leher patung pahlawan kuno itu akan kena hajaran piai.

yang dahsyat ini.

Tiba-tiba patung itu mengeluarkan suara keras tangan kirinya menyambar dan ujung pian kelabang telah ditangkapnya!

Kepandaian ini hebat sekali sampai Mo Hun berseru kaget.

Lebih-lebih lagi kagetnya ketika patung itu menarik piannya dan setelah senjata itu menegang, tiba-tiba dilepaskannya.

Pian itu ujungnya membalik cepat sekali ke arah muka Mo Hun!

"Ayaaaa....

celaka....!"

Mo Hun berseru namun masih sempat melepaskan senjata dan membuang diri ke kiri.

Betapapun cepatnya, ia masih tak dapat melindungi pundaknya.

Sebuah di antara duri-duri piannya sendiri menancap di pundaknya.

Mo Hun jingkrak-jingkrak dan berkuik-kuik kesakitan seperti anjing disiram air panas!

Cepat ia mencabut piannya dan mundur untuk mengobati luka di pundak oleh senjatanya sendiri.

Sementara itu tongkat Kui Ek juga sudah menimpa keras ke arah kepala patung itu.

Patung itu menggunakan kedua tangannya menggoyang golok bergagang yang dipegangnya.

"Krak!"

Gagang golok putus dan dengan golok yang sekarang menjadi golok pendek ia menangkis tongkat.

"Takk!"

Kui Ek mengeluh, kaget dan kesakitan, dan tak dapat mempertahankan lagi tubuhnya yang terhuyung mundur.

Patung itu mengeluarkan suara keras, seperti tertawa akan tetapi amat menyeramkan, membuat beberapa orang pengawai yang sudah menyerbu masuk menjadi roboh terguling.

"Souw Teng Wi....I"

Kai Song Cinjin berseru kaget.

Ia teringat bahwa dulu Souw Teng Wi juga mengeluarkan suara auman singa yang mengandung khikang luar biasa ini, dan ia mengira bahwa orang yang berada di dalam patung ini tentu Souw Teng Wi.

Siapa lagi kalau bukan Souw Teng Wi yang berkepandaian begini hebat?

Akan tetapi Souw Teng Wi sudah kehilangan dua biji matanya, kiranya tidak mungkin kalau orang ini Souw Teng Wi.

Akan tetapi ia tidak mau membuang waktu lagi dengan Ngo-tok-kun, sambil mengerahkan semua tenaganya.

Juga Mo Hun yang masih marah sudah menyerang lagi dengan piannya, diikuti oleh Kui Ek.

Dua orang jagoan Jepang yang tadinya ketakutan, sekarang merasa yakin bahwa di dalam patung ini tentu ada orangnya.

Mereka juga maju menyerang dengan pedang samurai mereka.

Patung itu melayani mereka dengan gigih, goloknya dimainkan dengan gaya yang luar biasa.

Akan tetapi karena patung itu terbuat dari pada tanah yang sudah kering, .gerakannya kaku sekali dan di sana-sini sudah mulai retak.

Juga goloknya ketika bertemu untuk ke sekian kalinya dengan tongkat Kui Ek, menjadi rusak dan akhirnya patah menjadi dua oleh pian kelabang Mo Hun!

Melihat dia tidak bersenjata lagi, Manimoko hendak memperlihatkan kepandaiannya dan mencari pahala.

"Biar aku menawannya,"

Katanya dan tubuhnya yang seperti bola itu menggelundung ke depan, pedangnya sudah ia lempar ke samping menancap pada sebuah tiang.

Patung itu nampak gugup menghadapi serangan aneh ini, dengan cara menggelinding, karena Manimoko menyerang dari bawah sambil menggelinding, patung itu memapakinya dengan sebuah, tendangan.

Akan tetapi tendangan yang amat kaku karena kaki itu terbungkus tanah kering.

Mendadak, seperti akan melompat, Manimoko bangun dan tangannya menyambar, ilmu yudo dan jiujitsu ia pergunakan.

Tanpa dapat dicegah lagi kaki patung itu sudah ia sambar dan tangkap.

Patung itu mengeluarkan jerit kaget dan semua orang melengak karena jerit ini mirip jerit seorang wanita.

Tangan patung itu memukul kepala Mani-moko, akan tetapi bagaikan seekor belut, Manimoko dapat mengelak dan kembali ia berhasil menangkap tangan patung itu.

Manimoko mengeluarkan seruan keras sekali dan tahu-tahu tubuh patung itu sudah ia angkat dengan gerakan membanting dan di lain saat patung itu melayang ke atas oleh bantingannya.

Heran dan ajaib.

Begitu berhasil melontarkan lawannya ke atas, Manimoko berdiri saja dalam posisi membanting dan ternyata ia telah kena ditotok oleh patung itu sampai dia sendiri yang sekarang diam kaku menjadi patung.

Adapun patung itu mengambil kesempatan baik ini, meminjam tenaga membanting dari Manimoko.

melompat ke atas, terdengar suara "brakkk,"

Dan tahu-tahu lampu-lampu penerangan sebanyak tiga buah di ruangan telah padam, disambit oleh patung itu menggunakan pecahan tanah kering dari "kulit"

Patung. Padamnya lampu-lampu yang menjadi pecah disusul suara berdebuk dan keadaan menjadi sunyi.

"Nyalakan lampu.....! Lekas...!!"

Tok-ong Kai Song Cinjin berteriak-teriak marah kepada para pengawal.

Orang ribut-ribut menyalakan lampu dan ketika ruangan itu menjadi terang lagi, yang kelihatan hanya Manimoko yang masih berdiri dalam posisi membanting dan sebuah patung Kwan Kong yang sudah pecah berantakan di atas lantai, kosong tidak ada orangnya!

Semua orang, kecuali Tok-ong Kai Song Cinjin, menjadi pucat.

Ada kembali timbul dugaan bahwa yang mengamuk tadi tentu roh Kwan Kong yang marah karena ditantang lalu memasuki patungnya sendiri!

Akan tetapi Kai Song Cinjin membentak marah.

"Gentong-gentong kosong, kalian mau apa pelotat-pelotot di sini saja? Hayo lekas meronda dan periksa setiap tempat, jangan-jangan bangsat itu masih bersembunyi di sini!"

Semua pengawal bubaran, akan tetapi biarpun mereka mentaati perintah ini melakukan perondaan, tidak urung bulu tengkuk mereka meremang dan para penjaga yang biasanya tabah dan sombong ini, sekarang mendengar suara tikus atau kucing lewat saja bisa menggigil karena kaget dan takut!

Kai Song Cinjin membebaskan totokan yang membuat Manimoko menjadi patung.

Begitu si gemuk ini melihat patung pecah berantakan dan kosong, ia segera berlutut di depan pecahan patung sambil mengeluh.

"Mohon hamba diampuni telah berani berlaku kurang ajar terhadap Kwan-thai-ciangkun (Panglima Besar Kwan)..."

Jagoan Jepang ini sekarang merasa yakin bahwa yang dilawannya tadi tentulah roh dari Kwan Kong, karena selain ada bukti bahwa patung itu kosong tidak ada orangnya, juga kalau seorang manusia biasa, bagaimana bisa melepaskan diri dari tangkapan dan bantingannya tadi yang sudah pernah merobohkan ratusan orang jago gulat di negerinya?

Kai Song Cinjin menjadi makin mendongkol, la mengeluarkan tangan dan sekali tarik tubuh Manimoko yang tadinya berlutut itu sudah berdiri lagi.

"Jangan melantur!",bentaknya marah. Lawan tadi menotokmu dan melompat ke atas, memadamkan lampu dan menggunakan kesempatan dalam gelap untuk lari minggat. Apa kau masih menganggap dia setan?"

Manimoko tak berani membantah, akan tetapi mukanya masih pucat dan bibirnya berkomat-kamit. Mendadak dari sebelah dalam gedung Auwyang-taijin terdengar teriakan-teriakan riuh.

"Tolong...! Taijin diserang siluman.....!!"

Kai Song Cinjin melesat ke dalam, diikuti oleh Mo Hun dan Kui Ek, juga Yakuto hwesio Jepang itu hendak berlari masuk.

Akan tetapi ia berhenti dan melihat kawannya Manimoko jatuh terguling dan berlutut sambil menyebut-nyebut nama segala macam dewata Jepang!

Dapat dibayangkan ketakutan Manimoko yang amat percaya akan tahyul.

Tadi ia memang masih ketakutan dan ngeri, sekarang mendengar orang berteriak ada siluman, semangatnya terbang dan ia menjadi ketakutan setengah mati.

Lenyap semua keberaniannya.

Padahal Manimoko adalah seorang bekas bajak laut yang selain memiliki kepandaian tinggi, juga amat kejam dan tidak segan-segan membunuh manusia dengan mata tidak berkedip.

Akan tetapi ia mempunyai kelemahan, yaitu amat takut kepada segala macam setan dan iblis.

"Manimoko, jangan seperti anak kecil. Hayo kita ikut menolong taijin,"

Kata Yokuto kepada kawan senegaranya itu.

"Ti.. tidak....ja.... jangan, Aku boleh melawan seratus orang manusia, akan tetapi setan...? Huh, jangan suruh aku melawannya!"

"Bodoh, apa kau ingin melihat taijin marah? Setan atau bukan, kalau kita maju beramai, takut apa sih? Hayo, di mana kegagahanmu?"

Hwesio Jepang itu mengajak Manimoko dan setengah menyeretnya, mengejar yang lain-lain memasuki ruangan dalam langsung menuju ke kamar Auwyang-taijin.

Setelah tiba di dalam, mereka melihat Auwyang Tek berada dalam keadaan seperti Manimoko tadi, berdiri tak bergerak menjadi patung!

Hal ini benar-benar amat mengejuikan.

Kalau Manimoko yang kena totokan, hal itu tidak begitu aneh oleh karena Manimoko ahli yudo ini tak pernah mempelajari ilmu tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah).

Akan tetapi Auwyang Tek adalah murid Kai Song Cinjin, tidak saja ahli pukulan Hek-tok-ciang dan memiliki ilmu silat tinggi, akan tetapi juga mahir tentang ilmu menotok jalan darah.

Bagaimana pemuda lihai ini bisa tertotok dan menjadi patung?

Adapun Kai Song Cinjin dan yang lain-lain tadi tidak sempat membebaskan Auwyang Tek dari keadaannya itu karena mereka buru-buru memasuki kamar Auwyang-taijin yang berteriak-teriak minta tolong.

Ketika Kai Song Cinjin sudah melompat masuk, ia mendapatkat menteri durna itu masih memandang dengan mata terbelalak dan menjerit-jerit.

"Am..... ampun..... tolong...... jangan cabut nyawaku.....I"

Kemudian ia menjerit lebih nyaring lagi.

"Ada setan....!"

Kai Song Cinjin sebagai seorang ahli tahu bahwa junjungannya ini mengalami kekagetan besar sampai mempengaruhi urat syarafnya.

Cepat ia menekan dan menepuk beberapa jalan darah, dan mengurut belakang kepala pembesar itu yang segera menjadi tenang kembali.

Begitu sadar ia lalu membentak-bentak marah.

"Mana semua pengawal? Apa saja kerjanya Kai Song Cinjin, apa kau juga tidak bisa menangkap setan itu?"

Sebetulnya apakah yang terjadi?

Mudah saja diduga siapa adanya orang yang mengganggu pembesar ini.

Bukan lain adalah orang yang tadi menyamar sebagai K wan Kong hidup dan menggempur para jagoan, yaitu Souw Lee Ing adanya!

Tadinya Lee Ing yang tidak mau memperlihatkan diri, tidak mau dirinya dikenal sebagai puteri Souw Teng Wi untuk menjaga keselamatan ayahnya.

Melihat patung Kwan Kong di ruangan depan, patung ini mendatangkan akal pada gadis cerdik ini, apa lagi setelah ia mendapatkan kenyataan bahwa patung itu dalamnya bolong.

Ia memasuki patung, tentu saja mematahkan bagian-bagian bersambung seperti siku, lutut, leher dan sebagainya agar ia dapat leluasa bergerak, kemudian ia muncul membikin kacau pertemuan dan berhasil menguji kepandaian Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.

Karena ia tak dapat bertanding dengan leluasa dalam "pakaian"

Seperti itu, apa lagi karena para pengeroyoknya memang rata-rata lihai, Lee Ing terpaksa meninggalkan tempat itu setelah menotok kaku Manimoko yang akan membantingnya, kemudian menyambit padam semua lampu dan terus pergi.

Ke mana?

Bukan terus lari keluar, sebaliknya gadis yang tabah dan penuh akal ini terus menyerbu masuk.

Sudah ia perhitungkan bahwa kalau ia pergi dari ruangan itu, para pengawal tentu akan mengejar dan mencari ke luar sehingga ia dapat leluasa menggeratak di dalam.

Lee Ing memasuki gedung dengan maksud mengancam Auwyang-taijin dan mendesak pembesar itu memberi tahu di mana adanya Souw Teng Wi ayahnya.

Akan tetapi begitu ia berkelebat, ia sudah diserang oleh Auwyang Tek yang menjaga kamar ayahnya.

Auwyang Tek adalah seorang pemuda dengan kepandaian tinggi, begitu melihat bayangan melesat masuk, ia maklum bahwa itu tentu musuh.

Cepat ia mengirim pukulan Hek-tok-ciang dengan maksud sekali pukul merobohkan maling ini.

Akan tetapi ia benar-benar kecele ketika ia merasa betapa pukulannya seperti memukul bayangan belaka.

Lawan yang tak dapat ia lihat tegas orangnya saking cepatnya gerakan lawan itu, tahu-tahu sudah menyambar dekat dari lain jurusan dan tahu-tahu Auwyang Tek sudah berdiri kaku karena jalan darahnya kena, ditutup oleh totokan istimewa.

Selanjutnya ia tidak berdaya dan tak dapat melihat apa-apa karena lehernya tak dapat ia gerakkan, namun ia tahu bahwa bayangan secepat setan itu telah memasuki kamar ayahnya.

Semenjak melarikan diri ke dalam kamarnya, Auwyang Peng naik ke atas ranjang dan berdiam di situ tak berani bergerak, tubuhnya gemetar ketakutan.

Ia cukup maklum akan kelihaian kaki tangannya, cukup yakin bahwa dirinya terlindung dan terjaga kuat.

Akan tetapi dasar nyalinya memang nyali tikus, beraninya cuma membentak-bentak orang sekawan, mendengar suara pertempuran di luar ia menjadi pucat ketakutan.

Apa lagi ketika ia mendengar suara gedebak-gedebuk di luar kamar, ia menjadi makin ngeri dan cepat menyembunyikan tubuh di bawah selimut, hanya mukanya saja tidak ditutupi selimut agar dapat bernapas.

Dalam keadaan takut setengah mati itu, dapat dibayangkan betapa terkejut dan ngerinya sampai semangatnya terbang entah ke mana ketika tiba-tiba ia melihat ada orang menerjang memasuki kamarnya dan orang itu memakai kerudung putih, tidak terlihat mukanya, hanya dua lubang pada kain itu memperlihatkan mata orang yang tajam bagaikan mata harimau di tempat gelap.

"Ses... se.. setan...!"

Bisik Auwyang-taijin dan tubuhnya menggigil seperti orang sakit demam.

Orang itu tentu saja adalah Lee Ing yang setelah menotok Auwyang Tek, lalu merobek kain tirai putih untuk menutupi mukanya.

Untuk mencegah pembesar itu menjerit, Lee Ing melompat dan di lain saat jari-jari tangannya yang halus sudah mencengkeram leher Auwyang Peng.

"Hayo cepat katakan di mana adanya Souw Teng Wi sekarang, kalau tidak mengaku lehermu akan kupatahkan!"

Kata Lee Ing, merobah suaranya menjadi besar seperti suara laki-laki.

Hal ini mudah saja baginya, karena berkat kepandaiannya yang tinggi, ia dapat mempergunakan khikahg untuk mengubah suara.

Jangankan hanya suara laki-laki, bahkan ia dapat melakukan Ilmu Auman Singa dengan baik.

"Aku.... aku tidak tahu.... sungguh mati..... ampun..... aku tidak tahu....."

Jawab Auwyang Peng dengan gagap-gugup.

"Dulu Souw Teng Wi dibawa oleh orang-orangmu, sekarang di mana? Hayo jawab, atau kau lebih suka lehermu patah?"

Lee Ing sengaja menyentuh jalan darah di leher, membuat kepala Auwyang Peng serasa terbakar.

"Am..... ampun..... Souw Teng Wi...... sudah dirampas oleh.... oleh Tiong-gi-pai.... ampun.... di tempat orang-orang...... Tiong-gi-pai itu..... itu... itulah...."

Saking takut dan sakit, Auwyang Peng tidak dapat melanjutkan kata-katanya, akan tetapi diam-diam ia dapat menduga bahwa orang ini bukan anggauta Tiong-gi-pai, karena kalau anggauta Tiong-gi-pai, masa mencari Souw Teng Wi di situ?

Lee Ing percaya akan keterangan ini, karena memang sebelumnya iapun sudah mendengar percakapan antara pembesar ini dengan orang-orangnya dan ternyata memang mereka tidak tahu di mana adanya Souw Teng Wi di waktu itu.

Apa lagi, seorang yang begini ketakutan tidak mungkin bicara bohong.

"Kali ini aku hanya mencabut kumismu, lain kali mungkin nyawamu!"

Kata Lee Ing dan sekali jari-jari tangannya yang halus bergerak, Auwyang Peng memekik keras, merasa seakan-akan semua kulit mukanya dibeset copot, begitu sakit dan pedas sampai "a menjerit minta tolong dan matanya nyerocos air mata.

Ketika ia memandang lagi "setan"

Itu sudah lenyap dan ketika ia meraba mukanya, ternyata kumis dan jenggotnya sudah terbang, mukanya menjadi halus dan berdarah.

Karuan saja ia makin ketakutan, berteriak-teriak, minta tolong.

Ketika Auwyang Peng membentak-bentak, Kai Song Cinjin cepat melompat keluar mengejar.

Ia merasa lega melihat bahwa pembesar itu hanya kehilangan jenggot dan kumisnya, tidak kehilangan kepalanya.

Dengan gerakan yang luar biasa gesitnya, kakek ini melompat ke atas genteng mendahului para pengawal yang melakukan pengejaran dengan hati dak-dik-duk ketakutan.

Kai Song Cinjin melihat bayangan hitam melesat di depan.

Ia cepat menggerakkan tangan melepas belasan batang jarum Toat-beng-ciam ke arah bayangan itu sambil berseru.

"Bangsat, hendak lari ke mana?"

Dengan jelas Kai Song Cinjin melihat betapa dengan mengebutkan ujung lengan baju saja, bayangan itu telah membikin runtuh semua jarum tanpa menengok, kemudian beberapa kali lompatan jauh membuat bayangan itu lenyap dari pandangan matanya.

Betapapun cepat ia mengejar, tak dapat ia menyusul dan dengan uring-uringan ia kembali ke gedung Auwyang-taijin.

Pembesar itu setelah diobati mukanya lalu mengadakan persidangan darurat.

Auwyang Tek marah sekali setelah dibebaskan dari totokan.

"Besok kita harus basmi bangsa-bangsat Tiong-gi-pai, membalas penghinaan ini!"

Katanya sambil membanting kaki.

"Masih belum dapat dipastikan apakah orang itu anggauta Tiong gi-pai,"

Kata Kai Sopg Cinjin.

"di sana hanya ada dua orang lihai, Pek Mao Lo-jin dan Im-yang Thian-cu. Pinceng pernah melihat dua orang itu, akan tetapi yang datang tadi perawakannya..... hemm, hampir pinceng percaya bahwa dia itu seorang wanita. Bentuk tubuhnya mengatakan demikian....."

"Tak mungkin! Semua dugaan keliru dan ceroboh!"

Auwyang Peng yang masih marah itu membantah.

"Pertama, dia itu bukan anggauta Tiong-gi-pai. Kalau dia anggauta Tiong-gi-pai apa perlunya dia datang mencari keterangan di mana adanya pemberontak Souw Teng Wi? Ke dua, dia itu sama sekali bukan wanita. Dia sudah memasuki kamarku, suaranya besar seperti setan. Mana bisa dia wanita? Dia itu laki-laki menakutkan. Tentu dia itu teman Souw Teng Wi yang berusaha menculik atau menolong pemberontak itu."

"Jangan-jangan orang dari utara.."

Kata Kai Song Cinjin hati-hati, la maksudkan dari utara itu adalah dari Peking, yaitu seorang pesuruh Raja Muda Yung Lo.

Mendengar ini, semua orang diam dan suasana menjadi tegang Memang kalau Raja Muda Yung Lo yang bergerak, itu berbahaya.

"Tak mungkin,"

Kata pula Auwyang-taijin.

"Utara sudah tahu bahwa Souw Teng Wi tidak berada di tangan kita, bagaimana orang dari utara mencari Souw Teng Wi ke sini?"

Tiba-tiba Auwyang Tek menepuk jidatnya.

"Ah, mengapa aku begitu pelupa? Tentu saja dia orangnya...!"

Semua mata memandangnya penuh harap.

"Siapa dia? Lekas terangkan,"

Kata Auwyang-taijin tak sabar lagi.

"Tentu dia itu Lui Siu Nio-nio ketua Hoa-lian-pai! Siapa lagi kalau bukan dia yang hendak menculik Souw Teng Wi untuk membalas dendam kepada suami muridnya yang terbunuh oleh Souw Teng Wi?"

Semua orang diam, berpikir dalam-dalam. Akhirnya Kai Song Cinjin menarik napas panjang.

"Mungkin sekali, wanita ketua Hoa-lian-pai itu memang lihai, akan tetapi aku masih sangsi apakah Lui Siu Nio-nio begitu berani menyerbu ke sini mengganggu taijin, setelah dia cukup maklum bahwa pinceng berada di sini."

Mulutnya berkata demikian, akan tetapi hati Kai Song Cinjin merasa yakin bahwa bukan Lui Siu Nio-nio orang itu, karena kalau Lui Siu Nio-nio, mana sanggup melarikan diri dari padanya dan sekali sampok meruntuhkan belasan Toat-beng-ciam yang dilepasnya?

Akan tetapi tentu saja ia tidak ada muka untuk bercerita tentang kegagalannya ini, hal itu menyinggung nama besar dan kegagahannya serta kesombongannya, bahwa dia tak dapat dikalahkan oleh siapapun juga.

Selagi mereka menduga-duga dan bersiap-siap untuk menghadapi pibu dengan fihak Tiong-gi-pai pada besok hari, Lee Ing sudah jauh meninggalkan istana dan gadis ini berlari-larian memasuki hutan sambil tersenyum-senyum puas dan juga geli kalau mengingat betapa ia telah mempermainkan musuh-musuhnya.

Akan tiba saatnya dia membalas kejahatan Kai Song Cinjin, pikirnya.

Sekarang yang terpenting mencari ayahnya dan agaknya fihak Tiong-gi-pai yang mengetahui di mana adanya Souw Teng Wi ayahnya tercinta itu.

Lee Ing langsung memasuki hutan ke dua di mana tadi ia sudah melihat para anggauta Tiong-gi-pai berkumpul dan di mana katanya jago muda yang bernama Liem Han sin dirawat.

Hutan itu sudah sunyi sekali dan agaknya tidak ada orangnya yang masih tinggal di pondok kecil di tengah hutan itu.

Bahkan lampu penerangan sedikitpun tidak ada.

Baiknya sinar bulan yang tadi menjadi penerangan bagi Lee Ing ketika memasuki hutan, masih tergantung di angkasa dan membuat ia dapat melihat keadaan di situ dengan nyata.

Memang para anggauta Tiong-gi-pai hanya menggunakan tempat itu sebagai tempat pertemuan belaka, tak pernah mereka bermalam di situ karena dalam beristirahat lebih baik mereka berpencaran agar jangan sampai diserang oleh musuh.

Hanya ketika Han Sin terluka dan perlu dirawat, tempat itu dipakai oleh Liem Hoan untuk merawat puteranya.

Selagi Lee Ing celingukan melihat ke kanan kiri di dekat rumah kecil itu, ia mendengar orang menarik napas panjang.

Gadis ini cepat menyelinap dan mendengarkan orang yang bicara seorang diri di dalam pondok gelap itu.

"Semoga Thian mengasihani hamba Nya yang bernasib malang ini. semoga Im Yang Thian Cu berhasil menyembuhkan Han Sin. Ahhh, nasib, si jahanam Auwyang Tek terlalu kejam dan kuat. Bagaimana sakit hati dua orang puteriku dapat terbalas..?"

Lee Ing tidak tahu siapa yang berada di dalam pondok, ia bermaksud minta paksa di mana adanya ayahnya, akan tetapi mendengar keluhan orang yang demikian menyedihkan, hatinya tidak tega untuk mempergunakan kekerasan mengagetkan orang yang sudah demikian sedih.

Ia dapat menduga bahwa putera orang ini yang bernama Han Sin tentulah jago muda yang terluka seperti yang dibicarakan oleh para tokoh Tiong-gi-pai siang tadi.

Di mana adanya jago muda itu yang sedang diobati oleh Im-yang Thian-cu?

Dan siapakah Im-yang Thian-cu yang namanya menunjukkan bahwa dia seorang pendeta?

Tentu seorang di antara dua kakek yang memegang kipas, karena dia telah menanyakan muridnya yang terluka.

Semua ini menarik pikiran Lee Ing dan tiba-tiba ia mendengar suara lapat-lapat dari arah kiri pondok.

Cepat ia lalu meninggalkan pondok itu menuju ke tempat datangnya suara.

Betul saja, di sebuah tempat terbuka, di mana rumput hijau tumbuh tebal dan segar, duduk bersila seorang pemuda yang berpotongan kekar dan tegap.

Dari cahaya bulan, Lee Ing melihat sepintas bahwa segala-galanya pada diri pemuda ini membayangkan kegagahan seorang pendekar.

Pakaiannya bersih dengan potongan sederhana saja, terbuat dari pada kain kasar lagi.

Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas dan dibungkus kain yang bersih.

Keningnya lebar dan tinggi, halus mengkilap terkena cahaya bulan, membayangkan otak sehat dan cerdik.

Sepasang mata yang bersinar tajam jujur dilindungi alis tebal dan bulu mata panjang.

Hidung, mulut, dan dagunya membayangkan sifat laki-laki, yang kuat hati dan besar semangat.

Pundaknya bidang, dadanya tegap.

Tubuhnya agak tinggi dan penuh dengan otot-otot yang membayangkan kesehatan jasmani..

Benar-benar seorang pemuda yang gagah perkasa, patut menjadi seorang pendekar.

Untuk sejenak Lee Ing memandang dengan hati tertarik, mau tak mau harus diakuinya bahwa selama ini belum pernah ia melihat seorang pemuda demikian gagahnya.

Sekaligus timbul rasa suka dan simpati, karena hatinya yakin bahwa seorang pemuda seperti itu tentu memiliki jiwa yang gagah dan ksatria.

Akan tetapi aneh bin ajaib, tiba-tiba saja wajah Oei Siok Ho terbayang di depan matanya.

Pemuda yang lemah-lembut, halus gerak-geriknya, sedap didengar tutur-sapanya, pemuda yang ganteng dan tampan sekali!

Dan merahlah muka Lee Ing.

Di dalam hatinya, ia menampar pipi sendiri dan membentak.

"Lee Ing gadis tak bermalu! Apa-apaan kau memikir-mikir dan membanding-bandingkan pemuda-pemuda? Cih, patut ditampar!"

Cepat ia memindahkan pandangan matanya ke arah seorang tosu yang duduk bersila di dekat pemuda itu.

Benar saja dugaannya, itulah tosu tinggi kurus yang mukanya selalu muram dan merengut, tosu yang siang tadi muncul dengan kipasnya.

Inilah Im-Yang Thian-Cu yang sedang mengobati muridnya.

"Dengan katak merah, sebetulnya racun Hek-tok-ciang di tubuhmu sudah hilang tenaganya dan tidak berbahaya lagi. Akan tetapi karena kau terlalu sembrono sehingga yang kena pukul adalah bagian tubuh yang berbahaya, maka akibatnya juga parah. Kalau kau beristirahat saja, tentu paling cepat dua bulan baru pulih kesehatanmu. Aku bukan seorang ahli pengobatan seperti Koi-Yok-Sian di Thian-mu-san, akan tetapi untuk cepat menyembuhkan luka di dalam tubuhmu, ada jalannya. Kalau aku membantumu dalam penyaluran tenaga dalam dan dengan sedikit latihan, kiranya dalam waktu kurang dari sebulan dan sedikitnya tiga minggu lukamu akan sembuh."

"Teecu menerima salah. Memang jahanam Auwyang Tek itu lihai sekali,"

Jawab Han Sin terus terang.

"Aku dulu bilang apa? Dasar kau yang bandel Bintang Kerajaan Beng sedang terang, biarpun ada pembesar-pembesar durna, namun kedudukannya kuat sekali. Kaisar tidak tahu bahwa Auwyang-taijin adalah pembesar durna, tahunya hanya bahwa menteri itu setia kepada negara. Dan Auwyang-taijin dilindungi oleh orang seperti Kai Song Cinjin. Aku sendiri yang menjadi gurumu sama sekali tidak mampu kalau harus menghadapi Kal Song Cinjin."

"Bagaimanapun juga. suhu. Teecu harus melawan Auwyang Tek lagi. Dua orang saudara perempuan teecu binasa di tangan Auwyang Tek secara keji dan memedihkan, apakah hal macam ini harus dibiarkan saja? Tidak, selama teecu masih bernapas, teecu akan berusaha membalas dendam kepada jahanam Auwyang Tek."

"Dan langsung menghadapi Kai Song Cinjin? Kau bodoh. Auwyang Tek adalah murid Kai Song Cinjin. mana bisa kau mengalahkan gurunya?"

Hau Sin menarik napas panjang.

"Apa boleh buat, kalau perlu teceu berani mengorbankan nyawa teeeu yang tidak berharga ini demi membela keadilan dan kebenaran teecu mendengar dari Kwee-pangcu bahwa Souw Teng Wi taihiap telah memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Biarlah teecu akan mencari Souw-taihiap dan mohon diberi pelunjuk oleh pendekar itu."

"Hmm, hmm, kau memang keras kepala. Jangan kau kira bahwa aku sebagai gurumu memberi semua nasihat ini karena aku seorang pengecut dan penakut. Kalau perlu, aku lidak takut menghadapi Kai Song Ciujin. Akan tetapi. apa gunanya? Han Sin. kau sudah kuceritakan tentang riwayatku dahulu, dan kau harus insaf bahwa hidup ini selalu diintai oleh karma Sekali aja kau lengah, kau akan diseret ke dalam roda karma dan balas-membalas akan terus berlangsung tiada habisnya. Dua orang saudara perempuanmu tewas di tangan Auwyang Tek. siapa tahu kalau kalau dahulu mereka memang hutang nyawa kepadanya? Kalau sekarang kau membalas sampai Auwyang Tek tewas di tanganmu, apa kau kira kelak kau lidak akan membayar kembali? Muridku, kau tahu betapa sayangku kepadamu, kalau kau menurut padaku, mari kau ikut aku memasuki hidup suci, melepaskan diri dari pada ikatan karma dan hidup bahagia.."

Suara lm Yang Thian Cu terdengar terharu. Han Sin memegang tangan suhunya dengan khidmat.

"Ampunkan teecu. suhu. Sungguhpun teecu dapat melihat akan maksud mulia dari suhu, namun teecu belum sanggup menjalani hidup demikian. Pertama-tama, teecu akan selalu dikejar-kejar oleh arwah enci Kui lan dan Siang Lan yang menuntut balas sebelum teecu berhasil menewaskan Auwyang Tek. kedua kalinya, ayah hanya mempunyai anak teecu seorang. Kiranya teecu tidak akan tega hati menjadi anak puthauw (tidak berbakti), meninggalkan ayah dan memutuskan keturunan Liem..."

"Huh! Perempuan lagi? Kau bahkan mempunyai pikiran untuk mendapatkan keturunan? Untuk beristeri.!"

"Kalau ayah menghendaki, untuk menyambung keturunan..."

Jawab Han Sin yang menjadi merah mukanya.

"Ahh, omong kosong belaka! Celakalah kalau kau nanti sampai bertemu dengan wanita yang dapat merampas hatimu. Celaka, hidupmu akan lebih terikat oleh karma, kau takkan bebas lagi. Celaka...."

Han Sin yang sudah pernah diceritai gurunya tentang riwayat gurunya ketika masih muda. maklum mengapa suhunya itu anti wanita, maka ia diam saja.

"Sudahlah, kau serahkan saja kepada nasib. Kau siap-siap, aku hendak membuka jalan darah-mu dan menjalankan hawa murni supaya dapat memperkuat bagian yang terluka."

Han Sin lalu duduk bersila dengan diam seperti orang bersamadhi, dan Im-Yang Thian-Cu mengeluarkan pit (alat tulis) dari ikat pinggangnya.

Kemudian tosu itu menggerakkan pit, menotok beberapa jalan darah di tubuh muridnya.

Lee Ing yang sejak tadi mengintai, menjadi makin kagum terhadap Han Sin, akan tetapi ia mendongkol kepada Im-Yang Thian-Cu yang menjelek-jelekkan kaum wanita.

Betapapun juga ketika tosu ini mengeluarkan pit dan menotok, ia memperhatikan dengan seksama, lalu gadis ini tersenyum mengejek.

Dia sendiri ketika di dalam gua telah mempelajari cara menotok tingkat tinggi yang luar biasa istimewanya maka melihat cara tosu itu mempergunakan pit-nya, ia tersenyum.

Masih jauh dari pada sempurna, pikirnya.

Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memperlihatkan diri dan terus menjadi penonton tersembunyi.

Tiba-tiba Lee Ing mendengar suara aneh dari pondok.

Juga Im-Yang Thian-Cu yang memiliki pendengaran tajam, mendengar juga, la menghentikan usahanya mengobati muridnya lalu berkata.

"Kau tetap memusatkan pikiran dan hati agar peredaran darahmu kuat, aku mendengar sesuatu dan hendak menengok ayahmu."

Secepat kilat tosu itu berkelebat dan lari ke arah pondok.

Lee Ing kagum melihat gerakan tosu yang masih cepat sekali itu.

segera iapun melesat dengan diam-diam mengikuti Im-Yang Thian-Cu karena iapun ingin tahu apa yang terjadi di dalam pondok di mana tadi ia mendengar suara ayah Han Sin berkeluh kesah.

Akan tetapi di dalam pondok tetap gelap, dan Lee Ing melihat Im-Yang Thian-Cu mengejar sesosok bayangan di belakang pondok itu.

Bayangan itu tadinya hendak melarikan diri akan tetapi tiba-tiba ia membalik dan menyerang Im-Yang Thian-Cu yang membentak marah.

"Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu seperti maling?"

Bayangan itu menunda serangannya lalu menjawab.

"Orang-orang Tiong-gi-pai, harap kalian memberikan Souw Teng Wi kepadaku, baru aku mau pergi dan takkan mengganggu Tiong-gi-pai lagi..!"

Ketika Lee Ing memperhatikan, ternyata bayangan itu adalah seorang wanita setengah tua yang masih nampak cantik sekali, di punggungnya terikat sebuah alat tetabuhan khim sedangkan tangannya memegang setangkai bunga terbuat dari pada emas murni Kalau Lee Ing masih menduga-duga siapa adanya wanita ini yang hendak merampas ayahnya, adalah Im-Yang Thian-Cu tiba-tiba terhuyung dan tidak tetap berdirinya seperti orang yang tiba-tiba menjadi lemas kakinya.

Ia,terhuyung maju mendekati wanita itu dan dari mulutnya keluar kata-kata yang bukan seperti suaranya sendiri.

"Siu-moi..., kaukah ini...?"

Wanita itu nampak terkejut sekali.

"Can-su-heng jadi kau di sini.....?"

Terdengar isak tertahan dan dua orang itu saling mendekati, Im-Yang Thian-Cu memegang pundak wanita itu yang menjatuhkan kepala ke atas dada tosu ini sambil menangis!

"Can suheng....

kau benar-benar kejam....

dua puluh lima tahun aku selalu menanti dan kau....

kau tak pernah muncul, tiada berita."

"Siu Nio, kau lihat pakaianku, kau lihat aku baik-baik, apa kau kira aku sendiri tidak menderita? Penderitaan batinku lebih besar dari padamu... Marilah kita bicara di lain tempat, tak baik kalau dilihat orang lain."

Setelah berkata demikian, Im-Yang Thian-Cu menggandeng lengan wanita itu dan keduanya lalu pergi dari situ.

Tentu saja Lee Ing bengong terlongong menyaksikan adegan yang romantis dari kakek setengah tua dan wanita itu.

Gadis yang mengintai ini matanya sampai terbelalak dan mulutnya ternganga saking herannya, akhirnya ia tertawa sendiri karena merasa lucu.

Setelah itu ia lalu berlari kembali ke tempat Han Sin duduk bersila tadi karena entah mengapa, sejak melihat Han Sin diobati oleh gurunya secara kurang sempurna, ia ingin sekali menolong pemuda itu.

"Gurunya bertemu dengan kekasih lama, melupakan keadaan muridnya,"

Kata Lee Ing dalam hati dan ia tertawa lagi seorang diri kalau mengingat bagaimana seorang tosu yang wajahnya selalu muram dan merengut itu ternyata mempunyai seorang kekasih dan ternyata dahulunya seorang pemuda yang romantis.

Setelah tiba di tempat di mana Liem Han Sin masih duduk bersila sambil meramkan mata dan mengatur pernapasan, Lee Ing menjadi bingung.

Bagaimana caranya untuk menolong pemuda ini?

Ia maklum bahwa luka pemuda ini tidak berat lagi dan dengan beberapa totokan membuka jalan darah yang penting di beberapa tempat, pemuda itu akan sembuh dengan cepat.

Tak perlu aku memperkenalkan diri, pikirnya.

Tentu saja Han Sin menjadi kaget sekali ketika tiba-tiba merasa punggungnya ditotok orang.

Ia tidak mendengar ada orang datang.

Ketika ia menengok, ia menjadi makin kaget dan terheran-heran karena di depannya sudah berdiri seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya.

Selama hidupnya biarpun di dalam mimpi, belum pernah ia melihat seorang gadis begini menarik.

Han Sin menjadi demikian terpesona sampai ia duduk bengong, tak kuasa lagi menggerakkan bibir untuk bertanya kecuali memandang dengan mata tak berkedip.

Alangkah lebar dan tajamnya mata itu, pikir Lee Ing yang menjadi bingung juga menghadapi sinar mata yang penuh kekaguman dan pertanyaan itu.

Biarpun ia seorang gadis yang tabah dan tidak pemalu, akan tetapi entah mengapa kali ini ia menjadi malu dan gugup menghadapi pandang mata pemuda ini.

la memeriksa keadaan Han Sin di bawah sinar bulan dengan cara mengelilingi pemuda itu, dan Han Sin hanya mengikuti semua gerakannya dengan pandang mata masih seperti orang gagu.

"Aku datang untuk membantumu menyembuhkan luka dalam dadamu,"

Akhirnya Lee Ing berkata perlahan lalu kedua tangannya bekerja cepat sekali melakukan tiga kali totokan ke arah dada, leher dan punggung.

Han Sin memang sedang terpesona dan mendengar ucapan itu, ia percaya penuh, maka tidak mengelak.

Andaikata ia tidak percaya dan mencoba mengelak sekalipun, tak ada gunanya, karena gerakan Lee Ing itu luar biasa cepatnya sampai bagi Han Sin tak kelihatan lagi, tahu-tahu tiga bagian tubuhnya sudah kena tertotok.

Mula-mula ia merasa bagian yang tertotok itu panas sekali, dan rasa panas mengalir di seluruh tubuhnya, lalu berkumpul di dada yang terluka, menimbulkan rasa hangat yang perlahan-lahan mengusir rasa sakit dan linu yang selama ini terasa olehnya di bagian yang dulu terpukul oleh Hek-tok-ciang!

Han Sin merasa girang, heran dan terkejut.

Masa ada seorang gadis muda memiliki ilmu demikian saktinya, melebihi gurunya?

Cepat ia mencari gadis itu dengan pandang matanya, akan tetapi ternyata gadis itu sudah lenyap dari situ tanpa ia ketahui kapan perginya.

Han Sin bangun berdiri, mencari-cari pandang matanya, namun sia-sia saja karena Lee Ing sudah bersembunyi di balik pohon-pohon dan mengintai ke arah pemuda itu sambil tersenyum geli.

Tak mungkin dia manusia, Han Sin berpikir.

Kalau manusia biasa, masa bisa bergerak begitu cepat dan bisa mengobati lukanya secara demikian luar biasa?

Pula seorang manusia biasa tidak mungkin begitu cantik.

Tentu dia seorang bidadari, seorang dewi dari kahyangan!

Berpikir demikian, tak terasa pula Han Sin menjatuhkan diri berlutut dan berdongak memandang ke arah bulan.

Mulutnya mengeluarkan kata-kata perlahan.

"Teecu telah berdosa besar, karena tidak tahu entah siapa yang tadi turun menolong teecu, Kwan Im Pouwsat yang menyamai, ataukah Dewi Bulan sendiri, maka teecu tidak menyambut dengan hormat. Mohon ampun sebesarnya. Dan teecu menghaturkan terima kasih atas pertolongan yang selama teecu bernapas takkan teecu lupakan!"

Han Sin sampai lama berlutut dan memberi hormat ke arah bulan!

Tentu saja Lee Ing menjadi geli sekali hatinya, hampir saja ia tertawa terkekeh kalau tidak cepat-cepat ditahannya.

Betapapun geli hatinya, ia merasa terharu juga, la lalu melompat pergi dari situ.

Pemuda baik, pikirnya, gagah perkasa dan berhati bersih, la sudah banyak bertemu dengan pemuda-pemuda yang dari pandang mata kepadanya saja sudah-memperlihatkan sifatnya.

Sebagian besar laki-laki yang memandangnya tentu memiliki sinar mata yang sama, penuh nafsu dan gairah.

Akan tetapi tidak demikian dengan pemuda ini, biarpun sinar matanya membayangkan kekaguman, namun bersih dari pada nafsu buruk.

Begitu pula sinar mata Siok Ho.

Lee lng merengut.

Lagi-lagi ia teringat akan Oei Siok Ho!

Kemudian ia teringat akan maksud kedatangannya di hutan itu.

Menyelidiki di mana adanya ayahnya.

Ia hendak kembali kepada Han Sin akan tetapi kalau ia teringat bagaimana Han Sin menganggapnya sebagai dewi kahyangan, ia tidak tega mengecewakan hati pemuda itu.

Kembali ke pondok?

Ah, tak perlu, pikirnya.

Mengapa ia begitu pelupa?

Wanita cantik tadi juga datang untuk menyelidiki perihal ayahnya, la dapat bertanya kepada Im-Yang Thian-Cu dan kalau memang wanita itu datang dengan maksud buruk terhadap ayahnya, ia akan sekalian mewakili ayahnya membereskan wanita itu!

Mudah saja baginya menemukan Im-Yang Thian-Cu dan wanita itu yang sedang bercakap-cakap tak jauh dari pondok itu.

"Tak mungkin, Siu-moi, tak mungkin usulmu itu dilaksanakan. Selain kita sudah tua, juga kau lihat, aku sudah menjadi seorang tosu. Kau sendiri sudah menjadi ketua Hoa-lian-pai yang dihormati. Apa akan kata orang-orang kang-ouw kalau kita melanjutkan perjodohan kita? Tentu hanya akan menjadi buah tertawaan belaka."

"Akan tetapi, suheng. Kau tahu betapa puluhan tahun aku menderita Juga kau sendiri menderita. Sekarang kita telah bertemu kembali kau hendak menolak untuk bersatu. Apakah kau tidak cinta lagi kepadaku dan tidak akan bahagia hidupmu kalau kita berdua melewatkan masa tua sampai datang saat kembali ke alam baka?"

Im-Yang Thian-Cu menakik napas panjang.

"Kau cukup tahu betapa besar cintaku kepadamu, sekarangpun masih sebesar dulu, akan tetapi sekarang perasaanku itu sudah berubah sifatnya. Kau tentu tahu bahwa orang-orang seperti kita ini lebih mengutamakan nama baik dari pada cinta atau kebahagiaan hidup, lebih menghargai nama baik dari pada nyawa. Apa artinya kita hidup kalau nama kita menjadi ejekan orang-orang. Apa artinya kita hidup bahagia dan berdekatan kalau kita menjadi bahan tertawaan orang? Apa lagi bagi kau, ketua Hoa-lian-pai. Tidak Siu-moi, tidak mungkin!"

Wanita itu mengerutkan kening, diam tak bergerak kemudian terdengai ia berkata dengan isak tertahan.

"Memang kau yang betul, suheng. Seperti biasanya, kau selalu yang betul. Aku.... aku...."

"Kau terlalu menurutkan nafsu hati. Sumoi, kau tadi bilang hendak mencari Souw Teng Wi, apa pula maksudmu?"

"Hendak kubunuh dia dan kubawa kepalanya!"

Jawab wanita itu yang bukan lain adalah Lui Siu Nio-nio, ketua Hoa-lian-pai yang lihai. Im-Yang Thian-Cu nampak kaget.

"Ayaaa! Kalau lain orang yang hendak kau bunuh, aku masih tidak ambil pusing. Akan tetapi Souw Teng Wi? Sumoi, tidak tahukah kau bahwa dia itu seorang patriot sejati dan yang dikagumi oleh banyak orang gagah di dunia ini? Mengapa kau hendak membunuhnya?"

"Dia telah membunuh suami muridku dan muridku itu, Hui ouw tiap Yap Lee Nio, menangisi aku supaya membalas dendam. Bukankah sudah sewajarnya kalau seorang guru membela muridnya?"

Im-Yang Thian-Cu membanting-banting kakinya.

"Sumoi, perasaan hatimu yang terlalu halus kadang-kadang membuat kau bertindak menurutkan nafsu belaka. Kalau tidak demikian, tak sampai dahulu kau membunuh kakakmu sendiri. Sekarang kau hendak mengulangi lagi kesalahanmu yang dulu-dulu. Dahulu kau membunuh saudara karena cintamu kepadaku, sekarang kau hendak membunuh seorang patriot besar hanya untuk menurutkan hati sayang kepada muridmu."

"Hemm, dengan mengingatkan aku akan peristiwa dahulu, bukankah itu sama dengan membuka kekejamanmu sendiri, suheng? Kau tahu aku membunuh saudaraku karena cintaku kepadamu, namun kau pada saat terakhir ini tetap menolak untuk hidup bersamaku. Sudahlah, biar urusanku kuurus sendiri, kau tak usah turut campur. Hanya barangkali kau dapat memberi tahu, di mana adanya Souw Teng Wi sekarang ini."

"Kau takkan berhasil surnoi, malah mungkin sekali waktu kau akan tergelincir karena maksud ini. Souw-taihiap sudah berada di utara, dilindungi oleh Raja Muda Yung Lo dan berdekatan dengan orang-orang gagah."

"Begitukah? Kita sama lihat saja nanti! Sudah, suheng, kita berpisah di sini untuk bertemu kembali di akhirat!"

Dalam mengucapkan kata-kata terakhir ini, sedu-sedan naik dari dada wanita itu. Im Yam Thian-Cu mengangkat tangan kanan ke atas lalu berkata lirih.

"Sumoi, untuk kenangan terakhir, untuk bekal aku menghadapi hidup yang penuh derita, untuk kupakai sebagai obor dalam perjalanan ke alam akhir kelak, maukah sekali lagi kau.. menurunkan khim itu dan mainkan lagu kenangan kita?"

Hening sejenak, Lui Siu Nio-nio nampak ragu-ragu, mulutnya yang ditarik keras hendak menolak, namun sinar matanya yang menatap Im-Yang Thian-Cu penuh rasa kasih itu membuat ia menarik napas panjang menurunkan khimnya dan berkata.

"Can-suheng, kau benar-benar orang aneh, bertindak sebaliknya dan berlawanan dengan suara hatimu...."

Setelah berkata demikian, wanita itu lalu mainkan jari-jari tangannya pada tali senar alat tetabuhan itu.

Maka terdengarlah lagu berirama merdu sekali, berdendang keluar dari khim yang dimainkan oleh tangan ahli itu.

Sungguh aneh dan janggal bahwa dalam hutan liar itu terdengar suara khim demikian indahnya, pada malam hari lagi.

Im-Yang Thian-Cu berdiri tak bergerak seperti patung, matanya menatap ke arah depan, tak terbatas dan jauh membawa dirinya ke dunia lamunan.

Kalau orang berada dekat di depannya, akan nampak betapa dua mata tosu ini menjadi basah dengan air mata.

Lui Siu Nio-nio tenggelam dalam permainannya yang penuh perasaan.

Suara binatang-binatang kecil yang tadinya memenuhi hutan itu.

menjadi sunyi dan hening seolah-olah semua binatang ikut mengagumi lagu merdu ini.

atau memang mereka takut oleh suara yang asing ini.

Akhirnya suara khim berhenti.

Namun Im-Yang Thian-Cu masih berdiri tegak tak bergerak.

Bahkan ketika terdengar suara Lui Siu Nio-nio terisak.

"Selamat tinggal, Can-suheng..."

Masih juga tosu itu diam tak bergerak.

Adapun Lee Ing ketika tadi mendengar bahwa wanita ini adalah Lui Siu Nio-nio ketua Hoa-lian-pai dan guru Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, tahulah dia mengapa wanita itu mencari ayahnya.

Timbul kegemasan dalam hatinya, akan tetapi ketika ia tadi hendak bergerak turun tangan memberi hajaran kepada wanita yang memusuhi ayahnya karena membela kematian Siang-pian Kai-liong Sim Kang, membatalkan niatnya karena ikut terharu oleh pemandangan di bawah, melihat pertemuan antara dua orang kekasih yang agaknya terpaksa harus berpisahan dan bertemu setelah terlambat itu.

Juga hati Lee Ing terharu oleh suara khim yang memang amat merdu itu.

Timbul hati sayang dan kasihan terhadap wanita ini, sungguhpun wanita ini memusuhi ayahnya.

Lui Siu Nio-nio meninggalkan tempat itu cepat-cepat dan di jalan ia menyusut air matanya.

Terbayang semua peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu, ketika itu ia masih seorang gadis remaja puteri yang cantik jelita menjadi pujaan banyak pemuda.

Dia puteri seorang tokoh kang-ouw, Lui Tee San yang menjadi tokoh besar di puncak Ta-pie-san, seorang sakti yang hidup bertiga dengan dua orang anaknya, Lui Cin puteranya dan Lui Siu Nio puterinya.

Selain dua orang anak ini juga ia mempunyai seorang murid yang amat dikasihinya, Can Hoat yang sekarang menjadi Im-Yang Thian-Cu.

Di antara tiga orang muda ini, tentu saja kepandaian Lui Cin yang paling lihai atau boleh dibilang seimbang dengan kepandaian Lui Siu Nio, sedangkan Can Hoat kepandaiannya kalah tinggi.

Watak Lui Siu Nio amat keras dan biarpun ayahnya membujuk padanya untuk memilih seorang di antara pemuda yang telah datang meminang, pemuda-pemuda hartawan, pemuda-pemuda bangsawan dan tidak kurang pemuda-pemuda kang-ouw, namun Siu Nio tetap menolak.

Apa sebabnya?

Tak lain karena Siu Nio jatuh hati kepada suhengnya sendiri.

Can Hoat!

Mereka saling mencinta dan menyatakan perasaan itu hanya melalui sinar mata.

Akan tetapi di dalam pandang mata ini mengandung seribu macam bahasa pernyataan cinta kasih yang mendalam, yang sekaligus mengikat janji tanpa kata-kata.

Melihat kekerasan kepala puterinya yang usianya sudah cukup masak untuk memasuki pintu pernikahan itu, Lui Tee San yang sudah tua jatuh sakit sampai membawanya ke lubang kubur.

Di ambang kematiannya, ia berpesan kepada puteranya untuk menjodohkan Siu Nio kepada seorang pemuda kang-ouw, putera seorang sahabatnya.

Akan tetapi, setahun setelah tokoh itu meninggal dunia, Siu Nio tetap menolak bujukan kakaknya untuk menikah, malah secara terang-terangan mengaku bahwa ia hanya mau menikah dengan Can Hoat!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Lui Cin.

Ia menduga bahwa Can Hoat telah main gila, berlaku tak patut terhadap adiknya, ia mendatangi Can Hoat, dimaki-maki sebagai seorang yang tak kenal budi, sebagai seorang pelanggar susila.

Kemudian dalam marahnya ia menghajar Can Hoat.

Pemuda ini tentu akan tewas dihajar oleh Lui Cin kalau saja Siu Nio tidak cepat datang menolong.

Saking marahnya melihat pemuda kekasihnya disiksa oleh kakaknya, Siu Nio mencabut pedang dan menyerang kakaknya sendiri.

Kepandaian mereka seimbang dan Lui Cin tidak menduga bahwa adiknya akan menyerang sungguh-sungguh maka ia tidak melawan dan akibatnya....

pedang adiknya amblas memasuki dadanya dan mencabut nyawa dari tubuhnya!

Siu Nio telah membunuh kakaknya sendiri dalam membela kekasihnya!

Can Hoat adalah seorang pemuda yang perasa sekali.

Ketika tadi dimaki-maki, ia mandah saja karena merasa salah, maka dipukul dan disiksapun oleh suhengnya ia tidak melawan.

Sekarang, melihat Siu Nio membunuh Lui Cin, kagetnya bukan main dan ia merasa menyesal sekali.

Ia menubruk mayat Lui Ciu, menangis sedih lalu minggat dari situ.

Hatinya kecewa sekali karena Siu Nio, wanita satu-satunya di dunia yang-dicintainya, ternyata telah membunuh kakak sendiri hanya untuk membela kekasih!

Can Hoat menyesal dan bersumpah selamanya takkan mendekati wanita.

Inilah sebabnya mengapa ia selalu membenci wanita.

Ia merantau, memperdalam ilmu silatnya sampai akhirnya ia menjadi tosu bernama lm-Yang Thian-Cu dan memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Di lain fihak, Lui Siu Nio-nio ternyata juga setia dalam cinta kasihnya, semenjak ditinggalkan kekasihnya ia tidak mau menikah, selalu menanti datangnya Can Hoat, bahkan setelah ia mendirikan perkumpulan Hoa-lian-pai, ia menyuruh anak buahnya mencari-cari Can Hoat.

Hasilnya sia-sia belaka karena di dunia sudah tidak ada lagi orang bernama Can Hoat, sudah berganti dengan lm-Yang Thian-Cu yang saina sekali tidak dikenalnya.

Demikianlah riwayat singkat dari dua orang tokoh itu yang sekarang terbayang kembali di depan mata Lui Siu Nio-nio ketika wanita ini meningalkan Ini-Yang Thian-Cu sainbil menangis.

Tiba-tiba ia merasa pundaknya disentuh orang.

Ketika ia memandang, ia melihat di depannya telah berdiri seorang gadis cantik sekali yang tersenyum-senyum manis kepadanya.

"Lui Siu Nio-nio, perlahan dulu,"

Kata gadis itu dengan suara merdu. Gadis ini adalah Lee Ing yang sengaja mengejarnya untuk berbicara tentang ayahnya.

"Kau siapakah dan apa maksudmu menghadang perjalananku?"

Tegur Lui Siu Nio-nio ketus.

Memang wanita ini adalah seorang ketua perkumpulan besar yang dihormati, biasanya ia amat disegani.

Sekarang ada seorang gadis muda berdiri di depannya dengan senyum-senyum, tentu saja ia tidak senang.

"Lui Siu Nio-nio, aku bernama Souw Lee Ing dan aku sengaja menyusulmu, hanya untuk menyatakan bahwa kau tidak boleh mengejar-ngejar Souw Teng Wi karena apa yang kau lakukan itu adalah hal yang salah sama sekali."

Lui Siu Nio-nio melengak.

"Apa maksudmu? Apamu Souw Teng Wi itu."

"Dia ayahku."

Ketua Hoa-lian-pai teringat akan cerita muridnya.

"Ehh, jadi kau inikah yang menjadi gara-gara semua itu sampai matinya suami muridku? Kau bocah tak kenal budi. Kau sudah ditolong oleh Sim Kang dari batu karang, akan tetapi balasmu malah menyuruh bapakmu yang gila membunuh Sim Kang, malah Sim Hong Lui juga hampir tewas. Kemudian kau mempermainkan muridku, Yap Lee Nio. Benar-benar kau seorang yang kurang ajar. Sekarang kau berani menghadangku untuk mencegah aku membunuh bapakmu yang gila itu?"

"Ssttt, nanti dulu. Sabar dan tenanglah, jangan buru-buru marah-marah dan memaki-maki orang tidak karuan. Lui Siu Nio-nio, biarpun aku lebih muda, akan tetapi aku merasa kasihan kepadamu, karena itulah aku sengaja mengajakmu bicara secara damai. Apakah kau tahu mengapa ayahku sampai membunuh bajak laut Sim Kang itu? Kau mau mendengar sebabnya? Nah, dengarlah baik-baik. setelah kau mendengar penuturanku nanti, terserah kepadamu apa yang akan kau lakukan."

"Hemm, kau boleh bicara. Cepat, jangan bikin aku kehilangan kesabaranku!"

Lui Siu Nio-nio membentak.

"Lui Siu Nio nio, apakah kau sudah tahu bahwa suami muridmu, Sim Kang yang terbunuh mati oleh ayah itu adalah seorang bajak laut yang jahat dan anaknya, Sim Hong Lui, malah lebih jahat dari pada ayahnya?"

Lee Ing mulai bicara hendak membela ayahnya.

"Jadi bajak atau apapun juga ada sangkut-paut apa dengan kau dan ayahmu? Kau dan ayahmu sudah ditolong oleh Sim Kang, menjadi tamu di perahunya, mengapa kau dan ayahmu malah membalas pertolongannya dengan pembunuhan? Bocah, jangan bikin aku kehilangan kesabaran. Aku tidak biasa membunuh orang muda yang lemah, akan tetapi sekali turun tangan kau akan menyesal!"

"Aduh galaknya!"

Lee Ing masih saja berjenaka.

"Nah dengarlah baik baik. Keputusan yang kau ambil setelah kau mendengar penuturanku tergantung dari sifat dan kepribadianmu. Memang benar bahwa aku telah ditolong oleh Sim Kang dari batu karang dan aku menjadi tamunya di perahu bajaknya. Juga ayah menjadi tamunya, sungguhpun aku masih belum tahu mengapa ayah bisa berada di perahu bajak. Kemudian aku tahu bahwa Sim Kang mempergunakan ayah untuk memperkuat kedudukannya. Ayah sedang menderita sakit lupa ingatan, maka mudah saja Sim Kang menipunya. Setelah aku berada di perahu, baru aku tahu akan semua itu, bahkan aku tahu pula bahwa Sim Kang hendak membawa ayah ke selatan, hendak diserahkan kepada para durna di Nan-king atau lebih lepat hendak dijualnya! Bukankah itu jahat sekali?"

Lui Siu Nio-nto mengerutkan alisnya.

"Pandangan orang tentang itu memang tidak sama. Mungkin Sim Kang memang menganggap Souw Teng Wi betul-betul seorang pemberontak yang harus diserahkan kepada pemerintah."

"Bukan itu saja, pai-cu yang baik. Selain pengkhianatan yang hendak dilakukan oleh Sim Kang, juga Sim Hong Lui mempunyai maksud keji terhadap aku, baiknya ada ayah yang melindungi-ku. Setelah itu, mereka itu ayah dan anak masih menggunakan siasat busuk hendak meracuni ayah sampai mati, kemudian hendak memaksa aku menjadi isteri Sim Hong Lui. Nah, kalau ayah mengamuk sampai membunuh Sim Kang dan anak buahnya. dan berusaha pula membunuh Sim Hong Lui, apakah kau masih hendak menyalahkan ayah dan aku?"

Kening ketua Hoa-lian-pai makin berkerut dan matanya memandang penuh selidik ke arah wajah gadis muda yang bicara dengan lancar di depannya ini.

Wajah yang cantik jelita, segar dan terbuka, sama sekali tidak membayangkan watak pembohong.

Lui Siu Nio-nio menjadi ragu-ragu.

"Hemmmmm, tidak demikian kalau menurut keterangan Sim Hong Lui. Sangat berlainan, sebaliknya malah...."

"Tentu saja! Mana ada maling mengaku? Apa lagi orang macam Sim Hong Lui yang berwatak rendah. Pai-cu sebagai ketua perkumpulan besar harap suka berpemandangan tajam jangan mudah tertipu oleh manusia macam dia!"

Lui Siu Nio-nio tersenyum dingin.

"Bocah bermulut lancang, masih hijau macam engkau ini masih hendak memberi nasihat kepadaku? Apa kau anggap aku macam orang yang suka bersikap sewenang-wenang? Hayo kau ikut aku menemui Lee Nio dan anaknya, biar diadukan keteranganmu dan keterangan Hong Lui. Siapa benar siapa salah akan ketahuan."

Lee Ing cemberut.

Tidak disangkanya wanita ini demikian keras hati sehingga percuma saja ia bicara sejak tadi.

Selain ia tidak mempunyai banyak waktu untuk berurusan dengan Lui Siu Nio-nio, Hui-ouw-tiap ataupun Sim Hong Lui, ia juga dapat menduga bahwa kalau diadu keterangan, tentu saja akhirnya ketua Hoa-lian-pai ini akan lebih percaya kepada cucu muridnya sendiri.

Apa lagi kalau diingat betapa ia telah mempermainkan Hui-ouw-tiap dan menelanjanginya untuk menukar pakaian.

Agaknya ketua Hoa-lian-pai ini belum mendengar tentang itu, atau Yap Lee Nio tentu malu bercerita kepada siapapun juga bahwa dia, Hui-ouw-tiap yang sudah terkenal di dunia kang-ouw, sampai dipermainkan dan ditelanjangi oleh seorang gadis muda dan hijau.

"Lui Siu Nio-nio, soal mana yang lebih benar antara penuturanku dan keterangan Sim Hong Lui menurut pendapatmu, terserah kepadamu untuk menyelidiki dan hal itu bukan urusanku. Aku sudah memberi keterangan demi kebaikanmu sendiri, kau percaya atau tidak terserah. Akan tetapi mengajak aku pergi bersamamu untuk diadu keterangan dengan Hong Lui? Terima kasih, selain tidak ada waktu, juga terus terang saja aku tidak sudi bertemu muka dengan pemuda bangsat itu. Nah, selamat berpisah. Hoa-lian Pai-cu, mudah-mudahan saja kau dapat merobah niatmu mencari ayah."

Lui Siu Nio-nio sebagai seorang ketua perkumpulan besar, biasanya setiap kata-katanya merupakan perintah dan selalu ditaati orang.

Sekarang ia memberi perintah kepada gadis muda ini untuk ikut dengannya, bukannya ditaati malah dibantah dengan ucapan yang penuh nasihat-nasihat untuknya.

Tentu saja ia menjadi marah sekali.

"Berhenti!"

Serunya keras.

Akan tetapi, Lee Ing tetap berlenggang meninggalkan tempat itu, jalannya lambat saja dan seenaknya.

Ia hanya menengok dan memberi senyum manis, seakan-akan seruan Lui Siu Nio-nio dianggapnya sebuah kelakar saja.

Malah sambil tersenyum manis Lee Ing mengeluarkan saputangan sutera dan menyusuli peluh di jidatnya tanpa memperdulikan seruan Lui Siu Nio-nio.

"Bocah berkepala batu, berhenti kau!"

Sekali lagi Lui Siu Nio-nio membentak, suaranya melengking tinggi penuh hawa khikang. Biasanya, kalau ia membentak dengan pengerahan tenaga khikang (Lanjut ke

Jilid 15) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 seperti ini, seorang lawan tangguh sekalipun akan menjadi gentar dan terpengaruh oleh wibawanya yang kuat sekali.

Akan tetapi, Lee Ing malah tertawa, menengok dan melambaikan saputangannya seperti orang menggoda..

Kedua kakinya tidak berhenti melangkah, malah jalannya menjadi lenggang-kangkung.

Memang Lee Ing masih muda dan berwatak jenaka, kadang-kadang timbul pula sifat kekanakan dan suka mempermainkan orang.

"Setan cilik, kau mencari celaka!"

Lui Siu Nio-nio berseru keras dan tangan kirinya bergerak perlahan.

Tiga Sinar putih meluncur seperti cahaya kilat ke arah tiga bagian tubuh Lee Ing, tepat mengancam jalan darah.

Inilah Lian-hwa-ciam (Jarum Teratai) yang amat lihai dari ketua Hoa-lian-pai itu.

Dia sudah memiliki kepandaian tinggi sekali dalam ilmu melepas jarum ini dan semua gerakan jarum-jaruninya selalu mengarah jalan darah lawan, la merasa yakin bahwa serangannya dengan Lian-hwa-cian ini pasti akan merobohkan gadis puteri Souw Teng Wi itu.

Memang serangan Lui Siu Nio-nio ini hebat sekali.

Kelihatannya hanya tiga gulung sinar putih yang menyerang, akan tetapi untuk mengelak dari serangan ini tak mungkin karena jalannya senjata rahasia itu cepat sekali, selain ini, setiap sinar mengandung tujuh batang jarum halus dan apa bila ditangkis, jarum-jarum ini dapat berpencaran dan menyerang penangkisnya secara liar dan beterbangan!

Akan tetapi tanpa menengok sedikitpun, Lee Ing melakukan gerakan-gerakan ke belakang dengan saputangan yang tadi ia pakai menyusuri peluh, dan....

semua jarum yang jumlahnya dua puluh satu batang iiu kena digulung dan di "tangkap"

Oleh saputangan tadi!

Karuan saja hal ini sama sekali di luar dugaan Lui Siu Nio-nio sampai ia berdiri melengak beberapa detik lamanya Siapa dapat menyangka seorang gadis muda seperti Lee Ing mampu menerima serangan Lian-hwa-ciam yang bagi banyak orang pandai merupakan jarum-jarum maut, apa lagi secara demikian mudah?

"Jangan menghambur-hambur jarummu, kalau kehabisan kau tidak bisa menjahit lagi.

Nih, kukembalikan!"

Lee Ing mengejek dan saputangannya dikebutkan.

Jarumnya itu kini melayang cepat ke arah Lui Siu Nio-nio dengan kecepatan yang tidak kalah oleh sambitan Lui Siu Nio-nio tadi.

Ketua Hoa-lian-pai itu terkejut sekali.

Dia seorang ahli am-gi (senjata gelap), tentu saja ia dapat menghadapi.

Tetapi jarum itu datangnya beterbangan ke seluruh tubuh, tak mungkin dapat ditangkap semua.

Oleh karena itu, Lui Siu Nio-nio hanya melompat ke samping mengelak.

Kemudian dua kali melompat ia sudah menyusul Lee Ing dan dua orang wanita itu kini saling berhadapan.

"Eh, kiranya kau memiliki sedikit kepandaian juga. Pantas saja kau berani bersikap sombong. Bagus, anak Souw Teng Wi, hayo kau cabut senjatamu. Setelah kau memperlihatkan kepandaianmu yang lumayan, aku tidak malu lagi bertanding denganmu."

Lee Ing tersenyum.

"Kau sudah tua dan aku masih muda, sudah sepatutnya kalau kau bersenjata dan aku tidak. Aku tidak ingin bertanding denganmu, akan tetapi karena kau berkeras hendak mencelakakan ayahku, baik kau coba dulu anaknya ini."

Lui Siu Nio-nio marah sekali.

Belum pernah ada orang berani memandang rendah kepadanya, apa lagi hanya seorang gadis muda seperti ini.

Tentu saja ia tidak sudi untuk menggunakan senjatanya melawan seorang gadis muda yang bertangan kosong.

"Kau sombong perlu dihajar!"

Bentaknya dan tubuhnya bergerak.

Gerakan Lui Siu Nio-nio cepat bukan main sampai hampir tidak kentara, akan tetapi tahu-tahu ia sudah melangkah maju dan kedua tangannya menampar dari kanan kiri ke arah muka Lee Ing.

Biarpun Lee Ing telah mewarisi ilmu yang aneh dan sakti dari Bu-beng Sin-kun, akan tetapi dia kurang pengalaman dan dibandingkan dengan Lui Siu Nio-nio, tentu.

saja dia kalah jauh sekali dalam hal latihan dan pengalaman.

Menghadapi gerak cepat yang dilakukan oleh Lui Siu Nio-nio ini, mana dia sanggup mengelak?

Untuk menangkispun sudah tidak ada waktu lagi dan....

"plak! piak!"

Kedua pipi gadis itu sudah kena ditampar oleh ketua Hoa-lian-pai.

Untuk kedua kalinya Lui Siu Nio nio kaget dan terheran-heran.

Menurut patut, tamparan itu akan membuat gadis itu terguling atau setidaknya kesakitan karena tidak banyak orang yang dapat menahan tamparan tangannya.

Akan tetapi anehnya, Lee lng sama sekali tidak bergeming malah merahpun tidak pipinya.

Sebaliknya, Lui Siu Nio-nio merasa telapak tangannya pedas sekali seakan-akan bukan pipi berkulit halus yang ditamparnya tadi melainkan papan baja yang keras!

Untuk beberapa detik ketua Hoa lian-pai ini berdiri terpaku seperti tidak percaya kepada perasaannya sendiri.

Akan tetapi segera sebagai orang pandai ia menyadari bahwa ia telah berhadapan dengan seorang gadis muda yang berkepandaian tinggi.

Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mencabut senjatanya yang istimewa, Hoa-lian Sin-kiam, pedang yang bentuknya seperti bunga teratai emas.

"Keluarkan senjatamu!"

Tantangnya karena betapapun juga, mengingat akan kedudukannya, Lui Siu Nio-nio masih merasa malu dan sungkan untuk menyerang gadis itu tanpa memberi kesempatan mengeluarkan senjatanya.

Lee Ing tadinya marah sekali ketika ditampar.

Baiknya ia telah memiliki sinkang yang luar biasa di dalam tubuhnya, berkat latihan-latihannya menurut petunjuk coretan-coretan Bu-beng Sin kun di dalam Gua Siluman Ketika tadi tamparan Lui Siu Nio nio menyambar, ia mengerahkan tenaga dalam melindungi pipinya sehingga tidak sampai terluka.

biarpun ia masih merasakan pedasnya bekas tangan lawan tangguh ini.

Akan tetapi ketika ia melihat ketua Hoa-lian-pai ini mencabut senjata aneh dan tidak terus menyerang, kemarahannyapun lenyap.

Lee Ing seorang gadis yang gembira dan perasa, ia dapat mengetahui bahwa wanita di depannya ini tidak jahat dan masih sungkan melawannya.

"Sudah kukatakan tadi bahwa aku yang muda sudah sepatutnya mengalah sedikit kepadamu. Kalau kau berkeras hendak berkelahi, majulah, aku tidak takut akan senjatamu yang bagus itu."

"Kau sendiri yang minta, jangan bilang aku terlalu menghina yang muda!"

Kata Lui Siu Nio-nio, sekarang ia sama sekali tidak berani memandang rendah kepada gadis muda itu.

Ia menggerakkan tangan kanannya dan Hoa-lian Sin-kiam itu tergetar, kembang dan dua langkai daunnya bergerak-gerak seperti setangkai bunga teratai tertiup angin dan daun-daun lebar di kanan kirinya bergerak seperti diraba ombak.

Kemudian senjata aneh ini meluncur ke depan dan sekaligus, kembang dan daun-daun itu menyerang ke arah tujuh jalan darah di tubuh Lee Ing secara bertubi-tubi dan cepat sekali.

"Hebat...!"

Lee Ing berseru memuji dan terpaksa ia mengeluarkan langkah-langkah aneh yang ia pelajart dari dalam Gua Siluman.

Tiba-tiba tubuhnya seperti orang mabok terhuyung-huyung atau seperti orang gila menari-nari tidak karuan akan tetapi...

ternyata semua serangan Hoa-lian-Sin-kiam di tangan Lui Siu Nio nio dapat dielakkan dan sedikitpun tidak menyentuh ujung bajunya!

"Aneh sekali ilmu silatmu....!"

Lui Siu Nio-nio tak tertahan lagi berseru setengah memuji setengah ragu-ragu karena melihat gerakan-gerakan nya, apa yang diperlihatkan oleh Lee Ing itu sukar disebut ilmu silat, begitu kacau tidak karuan sampai tubuhnya sendiri terhuyung-huyung.

Namun semua serangannya gagal!

Ia masih tidak percaya dan mengirim lagi gelombang serangan dengan senjatanya itu sampai tujuh kali beruntun.

Setiap serangan mempunyai tujuh tikaman, maka gelombang ini berarti empat puluh sembilan jurus mengurung tubuh Lee Ing dari semua jurusan seakan-akan ia dikeroyok oleh belasan orang lawan yang berpedang lihai.

Hebat bukan main ilmu silat yang dimainkan oleh Lui Siu Nio nio ini.

la telah mengeluarkan Ilmu Pedang Hoa lian sin Kiam-hoat yang paling tinggi karena penasaran tak dapat mengalahkan gadis itu.

Jarang ada orang sanggup menghadapi gelombang serangan ini.

Lagi-lagi Lee Ing mengeluarkan langkah-langkahnya yang luar biasa.

Gadis ini terhuyung-huyung seperti mau jatuh, bahkan kadang-kadang terjengkang atau terdorong ke kanan kiri sampai tubuhnya hampir rebah di tengah, kedua lututnya membuat gerakan pletat-pletot tidak karuan, kadang-kadang kakinya meloncat loncat seperti bocah menari kegirangan, kadang kadang berjongkok dengan kedua kakinya bergerak maju mundur.

Semua ini ia selingi seruan-seruan kecil seperti.

"aduh! lihai sekali! aya!"

Dengan suara yang nyaring berpengaruh.

Kali ini benar-benar Lui Siu Nio nio terheran-heran.

Selama hidupnya belum pernah ia mengalami hal seperti ini.

Sudah ratusan kali ia berhadapan dengan lawan, di antaranya banyak-pula yang tangguh-tangguh, akan tetapi ia harus akui bahwa belum pernah ia melihat lawan seperti gadis muda ini.

Gerakan-gerakan mengelak seperti lakunya seorang badut atau seorang gila ini saja sudah aneh sekali karena selalu dapat mengelak serangan Hoa-lian Sin-kiam.

Akan tetapi yang lebih aneh lagi, setiap kali daun atau bunga Hoa-lian Sin-kiam itu berhasil mendekati tubuh Lee Ing dan hampir melukainya, dengan seruan "aya!"

Atau "aduuhh!"

Itu saja, senjatanya seperti tertolak mundur dan tidak berhasil melukai lawan yang muda dan aneh ini!

Lui Siu Nio-nio teringat akan cerita ayahnya dahulu, bahwa di barat terdapat semacam ilmu yang mendekati ilmu sihir, yaitu bentakan-bentakan yang mengandung tenaga tersembunyi.

Pernah juga ia menjumpai tokoh-tokoh yang pandai Ilmu Sai-cu-hokang (Auman Singa), bahkan ia sendiri sudah mempelajari dan menyalurkan tenaga melalui Iweekang yang mengisi bunyi alat tetabuhan khimnya.

Akan tetapi suara-suara semua ini hanya mengandung getaran yang mempengaruhi semangat dan debaran jantung lawan saja, tidak mendatangkan tenaga tersembunyi yang dapat menangkis senjata seperti yang dilakukan oleh gadis ini.

Mungkinkah gadis semuda ini sudah memiliki ilmu tinggi itu?

Karena makin khawatir dan penasaran kalau-kalau ia takkan mampu menangkan gadis ini, Lui Siu Nio-nio cepat menggerakkan tangan dan tahu-tahu alat tetabuhan khim yang berada di punggung telah berada di tangan kanannya, sedangkan senjata Hoa-lian Sin-kiam sudah pindah ke tangan kirinya.

Senjata khim ini jangan sekali-kali dipandang ringan dan jangan dikira hanya merupakan alat tetabuhan belaka.

Sebetulnya khim ini merupakan senjata istimewa dari Lui Siu Nio-nio, maka ke manapun ia pergi, selalu ia bawa.

Malah kalau dibandingkan dengan pedangnya Hoa-lian Sin-kiam yang aneh, senjata khimnya ini lebih lihai lagi.

Hal ini terasa oleh Lee Ing ketika khim itu menyambar ke arahnya.

Hebat bukan main hawa pukulan yang mendahului senjata luar biasa ini.

Lee Ing maklum dari sambaran hawa pukulan ini bahwa senjata ini di tangan lawannya merupakan senjata hebat yang berbahaya dan selalu mendatangkan pukulan maut.

Gadis ini mulai menjadi marah.

Sudah terang ia mengalah sejak tadi, bahkan empat puluh sembilan jurus lawannya hanya ia elakkan dan tangkis saja tanpa balas menyerang.

Mengapa ketua Hoa-lian-pai ini tak tahu diri malah mengeluarkan senjata khim yang ampuh dan berbahaya?

Akan tetapi ia tak dapat berpikir-pikir lagi karena harus mencurahkan perhatiannya kepada senjata lawan.

Khim itu sekarang bergerak mengurung dirinya dan...

mengeluarkan bunyi aneh sekali, mengaung-ngaung seperti ada ribuan ekor lebah terbang mengelilinginya!

la merasa anak telinganya sakit, hatinya ngeres dan kepalanya pening mendengar suara ini, suara yang sebetulnya ditimbulkan oleh angin yang meniup senar-senar khim sehingga mengeluarkan suara aneh itu ditambah dengan tenaga khikang yang dikeluarkan oleh Lui Siu Nio-nio!

Hemm, orang ini harus diberi tahu rasa, pikir Lee Ing.

Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring dan panjang mengerikan, bukan seperti suara manusia.

Inilah pengerahan khikang yang amat tinggi, yang ia pelajari di dalam Gua Siluman, dan ilmu ini disebut "Jeritan Si Gila".

Mendengar suara ini lemah seluruh urat syaraf dan kaku rasanya semua buku tulang Lui Siu Nio-nio.

Selagi ia mengerahkan seluruh Iweekangnya untuk melawan pengaruh yang mengejutkan ini, tiba-tiba tangan Lee Ing bergerak menampar ke arah khim dengan kekuatan yang tak pernah terbayangkan oleh Lui Siu Nio-nio.

"Traaaaangggg! !"

Suara keras ini disusul oleh suara putusnya senar-senar khim dan Lui Siu Nio-nio terhuyung mundur.

Ketika wanita yang amat kaget dan heran ini memandang, ternyata bahwa alat tetabuhan khim yang disayangnya itu telah putus semua senarnya!

Benar-benar hebat sekali tamparan Lee Ing tadi dan Lui Siu Nio-nio menjadi pucat.

Kini ia mengakui bahwa ternyata gadis ini kepandaiannya luar biasa sekali dan ia tidak akan dapat melawannya.

Sampai lama saking herannya ia menjadi bengong, berdiri tak bergerak seperti patung memegangi khimnya yang sudah rusak.

"Kau terlalu mendesakku, terpaksa diberi tahu rasa sedikit. Kuharap saja kau bisa merobah niatmu mencari ayah, karena selain fihak muridmu yang salah juga tak mungkin kau dapat menangkan ayah."

Sebelum sempat menjawab.

Lui Siu Nio-nio melihat gadis itu berkelebat pergi dan lenyap dari situ dengan gerakan yang sukar dipercaya cepatnya.

Ia hanya bisa menarik napas dan menggendong lagi khimnya yang sudah rusak senarnya, berkali-kali menarik napas panjang lagi sambil berkata seorang diri.

"Dunia sudah berobah banyak. Ada bocah berkepandaian sehebat itu sampai aku tidak tahu. Kalau tidak karena Lee Nio, setelah pertemuanku dengan Can-suheng dan kekalahanku dari bocah ini, tentu aku lebih baik bersembunyi di Ta-pie-san."

Kembali ia menarik napas panjang dan berlalu dari situ dengan langkah perlahan, kepala tunduk, kening berkerut, sikap seorang wanita yang kecewa, putus asa, dan sudah mulai tua.

Adapun Lee Ing yang pergi meninggalkan tempat itu, tentu akan langsung menyusui ayahnya ke Peking utara kalau saja ia tidak teringat bahwa akan diadakan pibu antara fihak Tiong-gi-pai dan fihak Auwyang-taijin, dan ia tahu bahwa dalam pibu itu tentu Siok Ho akan maju menjadi jago.

Ia tidak tega meninggalkan pemuda itu menjadi jago menghadapi orang-orangnya Auwyang-taijin yang ia tahu banyak yang lihai dan keji.

Kalau saja tidak ada pemuda ini, kiranya Lee Ing sudah pergi menyusul ayahnya.

Akan tetapi bayangan Siok Ho selalu tak terlupakan olehnya, dan ia benar-benar merasa khawatir kalau pemuda itu akan mendapat celaka dalam pibu.

Maka ia menunda kepergiannya mencari ayahnya untuk menonton pibu itu lebih dulu.

Cinta telah mencengkeram hati Lee Ing.

Cinta pertama yang penuh keanehan bagi Lee Ing, karena gadis itu sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya, yaitu dengan perasaan hatinya.

Ia tidak mengerti apakah ia mencinta pemuda Siok Ho yang tampan, peramah dan gagah itu.

Hanya ia tahu bahwa bayangan pemuda itu tak pernah lenyap dari ingatannya, bahwa setiap kali ia mengenangnya mukanya terasa panas karena malu dan jengah, dan berbareng hatinya merasa bungah dan berdebar aneh.

Akan tetapi yang sudah jelas baginya, hatinya tidak merelakan pemuda itu terancam bahaya!

Lian-bu-kwan adalah sebuah gedung megah yang sengaja didirikan oleh Menteri Auwyang Peng dan tentu saja mendapat persetujuan kaisar yang memang suka akan kegagahan dan ilmu silat.

Tadinya Auwyang Peng mendirikan gedung megah ini dengan alasan untuk memajukan ilmu silat dan memelihara perkembangan ilmu menjaga diri nasional ini.

Akan tetapi akhirnya gedung itu ternyata dipergunakan untuk markas para kaki tangannya, yang dikumpulkan dengan maksud mengganyang semua musuh-musuh durna itu, di antaranya Tiong-gi-pai.

Di gedung inilah diadakan pertemuan-pertemuan, perundingan dan latihan-latihan.

Di gedung ini pula para musuh diundang untuk diajak pibu, dan entah sudah berapa banyak musuh yang tewas dalam pibu di gedung ini.

Oleh karena biarpun dari luar kelihatan mentereng dan megah, di sebelah dalamnya Lian-bu-kwan ini nampak serem dan angker, seperti rumah-rumah jagal.

Gedung itu terdiri dari empat buah kamar yang mengurung sebuah ruangan kosong yang amat luas.

Di tengah ruangan ini terdapat sebuah panggung yang biasa dipergunakan untuk adu kepandaian silat, tingginya hanya satu meter.

Di sekeliling panggung ini disediakan bangku-bangku untuk tempat duduk para penonton atau rombongan-rombongan dari kedua fihak.

Pilar-pilar yang terdapat di ruangan itu diukir indah, ukiran liong (naga) dan hiasan lain yang terdapat hanyalah lampu-lampu gantung dan tirai-tirai sutera.

Di pojok disediakan sebuah rak tempat menaruh senjata di mana terdapat delapan belas macam senjata dalam jumlah yang cukup banyak.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali Lian-bu-kwan sudah penuh orang.

Kaki tangan Auwyang-taijin sudah sibuk mengatur segala sesuatu untuk keperluan pibu.

Bangku-bangku sudah dibersihkan dan berturut-turut datang jago-jago dari kota raja seperti Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek.

Manimoko, Yokuto, dan beberapa orang panglima komandan pengawal.

Paling akhir datanglah Menteri Auwyang Peng sendiri, dikawal oleh puteranya, Auwyang Tek yang berjalan dengan penuh lagak, dan Tok-ong Kai Song Cinjin hwesio Tibet yang merupakan orang nomor satu dalam barisan jago-jago yang dipergunakan Auwyang Peng.

Mereka lalu mengambil tempat duduk di sebelah kanan panggung luitai, di baris depan duduk Auwyang-taijin sendiri bersama Kai Song Cinjin, Auwyang Tek, dan Toat-beng-pian Mo Hun, di belakang Mo Hun duduk Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, dua orang jago Jepang dan para panglima lain.

Tak lama kemudian datanglah rombongan Tiong-gi-pai yang terdiri dari Kwee Cun Gan, Kwee Tiong, Pek Mao Lojin.

Itn-yang Thian-cu, Liem Han Sin, Liem Hoan, ayah Han Sin, dan beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai.

Juga kelihatan Oei Siok Ho yang berjalan dengan langkah tenang dan wajahnya yang tampan sekali itu berseri-seri.

Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 2

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger