Pusaka Gua Siluman 4

Eps 4 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.

bahkan kini di fihaknva terdapat dua orang jagoan Jepang yang sengaja ia pakai tenaganya untuk menghadapi jago-jago Tiong gi-pai Makin kuatlah kedudukan menteri durna ini dan makin sewenang-wenanglah tindakan para kaki tangannya mengganggu rakyat secara sembarangan saja, diganggu dan dicap pemberontak?

Kwee Cun Gan sebagai ketua Tiong-gi-pai dan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui merasa prihatin dan gelisah melihat keadaan yang amat tidak menguntungkan itu.

Putera Siok Beng Hui yang diharapkan.

yaitu Siok Bun.

sampai sekian lama belum kembali.

Kalau Siok Bun ada, biarpun masih disangsikan apakah pemuda gagah ini akan kuat menghadapi Auwyang Tek.

setidaknya kepandaian Siok Bun sudah cukup tinggi dan tidak nanti dapat dikalahkan dengan mudah.

Juga orang muda ke dua yang mereka harapkan bantuannya adalah Kwee Tiong, keponakan Kwee Cun Gan sendiri.

Namun juga pemuda ini tidak pernah muncul, entah dibawa ke mana oleh gurunya.

Pek Mao Lojin.

Berkali-kali Pihak Auwyang-taijin mengirim tantangan dan untuk kesekian kalinya Pihak Tiong-gi-pai terpaksa diam saja tidak dapat menerima tantangan itu.

tahu bahwa Pihak mereka jauh kalah kuat.

Kalau hanya tantangan yang datang masih mending.

Akan letapi fihak Auwyang-taijin berlaku lebih jauh lagi.

Mereka mulai berlaku kurang ajar dan keji.

Beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai telah tewas, baik di dalam rumah sendiri maupun di tengah perjalanan.

Ini bukan merupakan pibu lagi, melainkan pembunuhan yang sifatnya seperti dulu lagi, yaitu pembasmian Tiong-gi pai!

Kwee Cun Gan memanggil semua kawan orang gagah untuk mengadakan pertemuan di dalam hutan, la merasa gelisah, juga marah sekali.

"Kita harus bertindak!"

Katanya gemas di depan kawan-kawannya, di mana hadir pula Siok Beng Hui.

"Kalau kita diam saja, bukankah Itu memperlihatkan kelemahan kita?"

Siok Beng Hui menarik napas panjang.

Di antara mereka semua.

Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui inilah vang terhitung paling tinggi kepandaiannya.

Kepandaian isteri dan puteranya juga tinggi, sedikitnya setingkat dengan kepandaian Kwee Cun Gan sendiri.

"Memang betul sekali apa yang dikatakan saudara Kwee Cun Gan."

Katanya.

"Akan tetapi, di antara saudara-saudara muda kita, siapakah yang dapat melawan Auwyang Tek? Kalau aku sendiri yang maju menghadapinya, tentu saja amat baik kalau pemuda celaka itu mau melawanku, akan tetapi kita semua tahu bahwa hal itu takkan terjadi. Tentu dari fihak sana akan muncul orang-orang seperti Ma Thouw Koaitung Kui Ek. Aku sudah pernah bentrok dengannya dan terus terang saja dia terlalu berat untukku. Bukan berarti bahwa aku tidak berani, akan tetapi kalau sampai terjadi aku kalah, bukankah merupakan pukulan yang lebih berat bagi Tiong gi-pai, terutama sekali bagi nama dan kehormatan raja muda kita di Peking? Jangan lagi dibicarakan kalau Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri yang maju melawanku!"

Semua orang diam dan merasa gelisah. Tiba-tiba seorang setengah tua yang berjenggot pendek berdiri dan berkata keras.

"Kita ini orang-orang gagah-macam apakah begini ketakutan dan bernyali kecil takut kalah? Kalau Siok-taihiap dan Kwee-twako takut kalah, aku orang she The tidak takut mampus! Biar aku yang mencoba-coba menghadapi tantangan pibu mereka!"

Yang bicara ini adalah seorang anggauta Tiong-gi-pai bernama The Sun.

kepandaiannya tidak berapa tinggi akan tetapi semangatnya besar.

Dia dahulu juga bekas anak buah Souw Teng Wi.

Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar The Sun pergi hendak menghadapi tantangan fihak Auwyang-taijin.

Akan tetapi sekali melompat Kwee Cun Gan sudah menyusulnya dan memegang lengannya.

"The-te. kau terlalu sembrono!"

Tegur ketua ini sambil mengerutkan alisnya karena tak berdaya dalam pegangan Kwee Cun Gan, The Sun menurut saja diseret kembali ke tempatnya tadi.

"The-te, mengapa kau hanya mengandalkan keberanian yang bodoh? Di mana ketaatanmu sebagai anggauta Tiong-gi-pai? Jangan kau salah sangka. Baik aku, maupun Siok-taihiap dan semua saudara kita tidak ada yang takut mati untuk membela kebenaran dan membela negara, akan tetapi segala hal harus dilakukan berdasarkan perhitungan masak. Apa perlunya kalau kita semua mengurbankan nyawa dengan sia-sia hegitu saja? Apa faedahnya bagi negara? Menghadapi musuh-musuh berat seperti Auwyang-taijin. kita harus mempergunakan otak, bukan nafsu. Hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin. Bukan kau saja yang berani mati, kita semua adalah orang-orang yang bersiap sedia mengurbankan nyawa demi negara dan bangsa"

Ditegur demikian. The Sun menjadi terharu dan merasa menyesal bukan main, la menjura kepada ketuanya dan kepada Siok Beng Hui.

"Maafkan siauwte yang bodoh. Siauwte tidak sengaja menghina. hanya.... hanya kalau siauw-te teringat akan kegagahan Souw-taihiap dahulu... ah. agaknya di dunia ini tidak ada orang ke dua seperti Souw-taihiap..."

Siok Beng Hui mengerutkan kening.

"Saudara Kwee. kalau dipikir-pikir sikap kawan The ini ada betulnya juga. Kita dihina oleh fihak musuh, kalau tidak memperlihatkan gigi, tentu kita makin dihina. Biarlah aku akan mencoba-coba kekuatan mereka, membalas tantangan mereka sekarang juga!"

Berubah wajah Kwee C'un Gan.

la tahu bahwa ucapan ini terdorong oleh hati panas.

Sebagai utusan dan orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo, Siok Beng Hui merupakan orang penting.

Bagaimana kalau sampai tewas dalam pertandingan?

Sudah jelas pendekar ini bukan tandingan Tok-ong Kai Song Cinjin.

"Akan tetapi, taihiap..."

Siok Beng Hui tiba-tiba berpaling seperti mendengar sesuatu.

"Bun-ji (anak Bun), kau baru datang?"

Katanya girang dan muncullah seorang pemuda tampan dari balik batang pohon.

Semua orang tidak mendengar kedatangannya kecuali Siok Beng Hui.

Pemuda ini adalah Siok Bun!

Siok Bun segera memberi hormat kepada ayahnya, kemudian kepada Kwee Cun Gan dan yang lain-lain.

"Ayah, selama ini anak pergi mencari jejak nona Souw Lee Ing yang menghilang di daerah bukit Gua Siluman di pantai Laut Kuning. Anak melihat dia diancam dan diserang oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang hendak membalas dendam atas kematian suaminya. Anak membantu nona Souw dan berhasil mengundurkan Hui-ouw-tiap yang agaknya tidak bernafsu untuk bermusuhan dengan anak. Akan tetapi, ketika anak sedang bertempur itu, nona Souw menghilang. Sampai berbulan-bulan anak mencari di sekitar daerah batu-batu karang yang amat sukar dijelajahi itu, namun sia-sia. Kemudian anak merantau dan mencari-cari, juga sia-sia..."

Suara Siok Bun terdengar amat terharu dan berduka.

Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya memandang putera yang tunggal itu dengan penuh perhatian.

Pemuda ini menjadi amat kurus dan sinar matanya mengandung kesedihan besar.

"Bun-ji, agaknya.... hemmm, agaknya kau sudah jatuh hati kepada puteri Souw-enghiong...?"

Memang Siok Beng Hui orangnya jujur suka terus terang, maka tidak malu-malu membongkar rahasia hati puteranya di depan orang banyak.

Siok Bun menundukkan mukanya yang menjadi merah seperti udang direbus.

Pemuda ini wataknya lebih menurun dari ibunya, halus dan pemalu.

Maka ia segera menjawab untuk membantah ayahnya.

"Ayah, bukankah nona Souw Lee Ing itu puteri tunggal Souw-lo-enghiong? Bukankah sudah menjadi kewajiban anak dan kewajiban semua orang gagah untuk menolongnya? Harap ayah memberi petunjuk kalau sikap anak menolong dan mencarinya itu salah."

"Tidak, tidak salah,"

Kata ayahnya cepat-cepat.

"Bahkan tepat sekali. Sayang, kau tidak dapat membawanya ke sini. Betapapun juga, sudah baik dia tidak terjatuh ke dalam tangan Hui-ouw-tiap yang hendak mencelakakannya. Cuma anehnya, ke manakah dia pergi sehingga kau tidak dapat mencarinya?"

Semua orang juga merasa heran dan kecewa, mereka khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu atas diri nona itu.

"Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu dan dia dapat melarikan diri dengan selamat,"

Kata Siok Beng Hui.

"Bun-ji, sekarang kita menghadapi hal yang lebih penting."

"Anak tadi sudah mendengar semua, ayah. Bukankah fihak Auwyang-taijin yang selalu bertindak sewenang-wenang dan menantang kita? Kebetulan sekali aku ingin mencoba kelihaian si keji Auwyang Tek, biar anak yang melayaninya."

"Bagus, memang sudah sepatutnya kau menyumbangkan tenaga, kalau perlu jiwa, demi menjaga nama dan kehormatan junjungan kita. Akan tetapi kau harus berlaku hati-hati, Bun-ji. Sepasang sarung tangan dan Hek-tok-ciang dari putera menteri durna itu benar-benar tak boleh dipandang ringan."

Siok Bun mengangguk-angguk.

"Anak sudah mendengar akan keganasan Hek-tok-ciang itu, ayah. Karenanya kita harus melawannya sedapat mungkin. Benar pendapat The-lopek tadi, kejahatan harus dilawan."

Siok Beng Hui berkata kepada Kwee Cun Gan.

"Saudara Kwee, harap kau suka mengutus seorang saudara ke fihak musuh dan menetapkan hari pibu."

Wajah para anggauta Tiong-gi-pai nampak gembira.

Biarpun mereka maklum akan kekuatan fihak lawan, namun mereka menaruh harapan bahwa kali ini mereka telah mempunyai jagoan yang akan dapat mengalahkan Anwyang Tek.

Mereka tahu akan kelihaian Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan dapat menduga bahwa ilmu kepandaian putera pendekar ini tentu tinggi pula.

Kwee Cun Gan segera mengatur segalanya.

Menyampaikan surat yang menyatakan menerima tantangan Auwyang Tek yang berkali-kali dikirim kepada fihak Tiong-gi-pai itu dan menjanjikan akan bertemu di sebuah hutan di luar kota, di mana memang sering kali diadakan pertandingan-pertandingan antara jago-jago kedua fihak.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rombongan Tiong-gi-pai sudah berada di dalam hutan itu, di sebuah tempat yang terbuka karena memang pohon-pohon di bagian ini ditebangi sehingga terdapat sebuah lapangan yang cukup luas, pendeknya tempat yang enak untuk bertanding mengadu kepandaian silat.

Siok Bun berjalan diapit oleh ayah bundanya yang semenjak malam tadi sudah memberi banyak petunjuk kepadanya, terutama ayahnya.

"Jangan kau pandang ringan pada pukulan-pukulan Hek-tok-ciang,"

Antara lain ayahnya memberi nasehat.

"biarpun kedua tangannya tidak memegang senjata, namun dua buah sarung tangan yang membungkus tangannya itu merupakan senjata yang ampuh. Sarung tangan itu tidak dapat rusak oleh senjata tajam dan selain pukulan Hek-tok-ciang sendiri mengandung tenaga Iweekang yang ampuh, juga sarung tangan itu mengandung racun hitam yang amat berbahaya. Jangan kau biarkan tangannya menyentuh badanmu dan seberapa dapat desak dia dengan senjatamu. Mudah-mudahan kau dapat mengatasinya."

"Jangan khawatir, ayah. Anak akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama dan kehormatan kita,"

Jawab pemuda itu dengan sikap gagah.

Ketika rombongan Tiong-gi-pai ini tiba di lapangan pihu, di sana sudah menanti fihak musuh, yaitu Auwyang Tek sendiri yang berdiri sambil tertawa-tawa sombong, dikawani oleh belasan orang, di antaranya terdapat Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai tung Kui Ek, dua orang jago Jepang Manimoko yang berambut kaku dan bertubuh gemuk bundar dan Jokuto yang melihat kepala gundul dan pakaiannya adalah seorang hwesio.

Selain ini masih kelihatan pula Tok ong Kai Song Cinjin yang duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Melihat tokoh tokoh besar ini.

diam-diam fihak Tiong-gi-pai terkejut sekali.

Akan tetapi Siok Bun tidak kelihatan takut karena ia tahu bahwa yang akan ia hadapi adalah Auwyang Tek, bukan tokoh-tokoh besar itu.

Setelah rombongan Tiong-gi-pai mengambil tempat duduk di pinggir lapangan itu, berhadapan dengan fihak kai Song Cinjin, Siok Bun lalu melangkah -main menghadapi Auwyang Tck.

Sikapnya tenang namun sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan melihat pemuda putera menteri durna yang sudah terkenal amat keji dan jahat ini.

Auwyang Tek tertawa mengejek sambil memandang ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya.

"Ha-ha ha, orang-orang Tiong-gi-pai. Akhirnya ada juga jago muda yang berani menghadapi aku? Inikah orangnya?"

"Auwyang Tek manusia sombong. Sudah terlalu banyak kau mengganggu orang yang tak berdosa dan tidak berkepandaian. Sekarang akulah musuhmu,"

Kata Siok Bun dengan wajah tenang. Kembali Auwyang Tek tertawa mengejek dan menggosok-gosok kedua tangannya yang bersarung tangan. Terdengar suara seperti dua batang barang baja digosok.

"Ha-ha-ha, kau sudah bosan hidup? Apa kau tidak mendengar tentang lihainya kedua tanganku?"

"Orang lain boleh gentar menghadapi Hek-tok-ciang. akan tetapi aku Siok Him takkan mundur setapakpun."

Mendengar nama ini, semua orang di pihak Kai Song Cinjin memandang ke arah Siok Beng Hui. Ma-thouw Koai tung Kui Ek mengeluarkan suara di hidung dan berkata.

"Aha. kiranya Pek-kong Sin-kauw sudah mengajukan puteranya Sebentar lagi tentu ia sendiri akan maju. Ah, aku ingin sekali melihat kehebatan sepasang senjata kaitan yang terkenal itu!"

Memang semua orang tahu bahwa pemuda she Siok itu tentu putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, dan para tokoh besar yang bergabung menjadi kaki tangan menteri durna, ingin sekali mendapat kesempatan menghadapi Siok Beng Hui.

Akan tetapi karena Siok Beng Hui tak pernah maju, merekapun tidak berani gegabah, tahu bahwa pendekar kaitan ini adalah utusan dari Raja Muda Yung Lo Hanya di dalam pertandingan pibu mereka berani turun tangan, ini semua tentu saja menurut perintah Menteri Auwyang Peng yang tidak-mau dianggap mengganggu atau membunuh utusan Raja Muda Yung Lo.

Sementara itu.

mendengar bahwa pemuda tampan bertopi batok "tu putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui.

Anwyang Tek bersikap hati-hati, tidak berani memandang rendah.

la maklum bahwa Pek-kong Sin-kauw adalah seorang jago siang-kauw yang sudah ternama sekali, memiliki kepandaian tinggi dan sudah boleh dijajarkan setingkat dengan kaum cianpwe.

Tentu saja putera pendekar pedang kaitan ini memiliki kepandaian tinggi pula.

Akan tetapi Auwyang Tek tidak merasa takut, hanya berhati-hati Apa yang harus ia takuti sedangkan gurunya sendiri, Kai Song Cinjin yang kosen berada di situ, bahkan masih banyak lagi jago-jago tua di sampingnya yang tentu akan melindunginya?

"Bagus,"

Katanya sombong.

"memang aku sudah merasa bosan kalau bertanding dengan jago-jago Tiong gi-pai yang tidak becus apa-apa. Sekarang Tiong-gi-pai kehabisan jago sampai Pek-kong Sin-kauw sendiri mengajukan puteranya, ingin sekali aku melihat sampai di mana kelihaiannya!"

Kembali pemuda putera menteri yang sombong ini menggosok-gosok kedua telapak tangan yang tertutup sarung tangan itu dan warna sarung tangan itu menjadi makin menghitam.

Siok Bun mencabut senjatanya, sebatang kaitan perak dan memasang kuda-kuda, senjata di tangan kanan menyusup di bawah lengan kiri yang dilonjorkan dan jari telunjuk kiri menuding ke depan.

Inilah kuda-kuda Tit-ci-thian-lam (Telunjuk Menuding ke Selatan) yang mengandung tantangan dan kelihatannya gagah sekali.

"Auwyang Tek. majulah kau!"

Kata Siok Bun.

Auwyang Tek mengeluarkan suara ketawa lagi dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke depan.

Dalam gebrak pertama saja Auwyang Tek sudah memperlihatkan kecepatannya dan kedua tangannya bertubi-tubi melakukan pukulan dari kanan kiri.

Harus diketahui bahwa Hek tok-ciang pemuda ini memang sudah tinggi Jangankan sampai tangannya menyentuh tubuh orang, baru terkena hawa pukulan Hek-tok-ciang saja, lawan yang kurang tangguh Iweekangnya takkan kuat menahan.

Hawa pukulan ini panas mengandung tenaga berbisa, dapat menghanguskan kulit.

Kalau menyentuh tubuh, hawa berbisa itu dapat melukai sebelah dalam tubuh dan darah akan keracunan.

Siok Bun berlaku cepat dan bersikap waspada.

Serangan-serangan lawannya itu dielakkan sambil tak lupa kaitannya bekerja.

Dari samping ia membalas pukulan lawan dengan serangan pertama, menyabet iga kiri dilanjutkan dengan gerakan mengait.

Senjata di tangan Siok Bun inipun bukan senjata biasa yang dapat dipandang ringan.

Sekali saja ujung kaitan memasuki kulit lawan, senjata ini akan mengait keluar otot dan urat terpenting, dapat memecah tulang dan memutuskan urat.

Gerakannya tidak kalah gesitnya karena pemuda ini sudah mewarisi ginkang dari ibunya.

Auwyang Tek menghadapi serangan Kong-ciak-tiauw-wi (Burung Merak Menyabetkan Buntut) ini cepat melompat mundur, lalu dengan gerakan memutar dan kanan ia menerjang musuhnya lagi dan mengirim pukulan Hek-tok-ciang yang dahsyat dai kanan.

Siok Bun sampai dapat mencium bau amis dari pukulan tangan beracun ini.

Cepat pemuda ini menutup pernapasannya dan mengelak sambil memapaki tangan yang memukul itu dengan sin-kauwnya.

"Plak!"

Siok Bun terhuyung mundur, senjatanya terpental oleh pukulan lawan.

Auwyang Tek hanya tertangkis dan gagal saja serangannya.

Dari pertemuan senjata ini saja sudah dapat dilihat bahwa dalam hal Iweekang, Auwyang Tek masih menang setingkat.

Siok Bun kaget sekali dan melihat ujung kaitannya yang tadinya putih mengkilap ini sudah berubah agak kehijauan, ia makin terkejut Baru ia membuktikan sendiri kedahsyatan Hek-tok-ciang Kalau yang menangkis tadi bukan senjata melainkan tangannya, sudah pasti ia terkena racun Hek-tok-ciang dan sudah kalah.

Namun ia tidak menjadi gentar dan mengerjakan senjatanya secara cepat, diputar-putar dan mainkan ilmu kaitan warisan ayahnya Pek-kong-kauw-hoat (Ilmu Kaitan Sinar Putih).

Memang hebat sekali ilmu silat kaitan ini, dan indah pula kelihatannya.

Setelah kaitan dimainkan cepat, tiada bedanya dengan permainan pedang.

Senjata itu lenyap berubah menjadi segulung sinar putih yang berkelebatan menyambar ke sana ke mari!

Semua orang yang menyaksikan permainan ini menjadi kagum sekali.

"Permainan yang bagus!"

Terdengar Toat-beng-pian Mo Hun sendiri sampai memuji. Kakek siluman pemakan otak manusia ini memang suka akan ilmu silat dan tanpa ia sadari ra sampai memuji permainan fihak musuh.

"Hanya bagus dilihat, tidak ada isinya!"

Bantah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, panas hatinya karena sudah berkali-kali ia ingin mencoba kepandaian Pek-kong Sin-kauw, sekarang permainan kaitan itu dipuji, tentu saja ia tidak senang.

Celaan terhadap permainan anaknya sama dengan mencela dirinya sendiri.

Akan tetapi Siok Beng Hui tidak sempat memperdulikan ini semua.

Seluruh perhatiannya ia curahkan kepada puteranya yang sedang menghadapi pertandingan mati-matian dengan lawan yang amat tangguh itu.

Wajahnya nampak berseri ketika ia melihat puteranya mainkan sin-kauw dengan gerakan mempertahankan dan melindungi diri.

Memang, selama Siok Bun melindungi dirinya dengan sinar senjatanya, pukulan-pukulan Hek-tok-ciang dari Auwyang Tek takkan menembus sinar gulungan senjata itu.

Berkali-kali ayah ini mengangguk-angguk puas melihat ketangkasan anaknya yang kali ini benar-benar mempertahankan nama ayahnya, juga nama Tiong-gi pai dan nama Raja Mltida Yung Lo.

Memang perhitungan Siok Bun yang dibenarkan oleh ayahnya ini tepat.

Dengan mainkan sin-kauw yang luar biasa cepatnya itu, Siok Bun telah membentuk lingkaran sinar senjata yang mengandung hawa Iweekang, yang tak dapat ditembus oleh Auwyang Tek.

Karena dia sendiri bertangan kosong dan maklum akan bahayanya kalau sampai tubuhnya terkait, terpaksa Auwyang Tek hanya mengirim pukulan-pukulan Hek-lok-ciang dari jarak jauh dan semua hawa pukulan ini buyar, tak dapat menembus gulungan sinar senjata lawan.

Pertempuran berjalan seru dan mati-matian sampai hampir seratus jurus.

Keduanya sudah mulai nampak lelah namun belum juga ada ketentuan siapa yang kalah.

Fihak Tiong-gi-pai tersenyum-senyum, karena kali ini mereka sudah memukul kesombongan fihak lawan.

Biasanya, seorang jago muda dari Tiong-gi-pai sudah roboh dalam dua-tiga puluh jurus saja menghadapi Auwyang Tek, kalau tidak tewas tentu terluka berat.

Akan tetapi kali ini, Siok Bun berhasil membuat Auwyang Tek berloncatan ke sana ke mari tanpa dapat melakukan pukulan mautnya yang amat ampuh dan keji itu.

Sebaliknya, fihak Kai Song Cinjin berwajah muram dan penasaran.

Bahkan Kai Song Cinjin sendiri yang meramkan mata dan duduk bersila nampak mengerutkan kening.

Dengan meramkan mata dapat mengikuti jalannya pertempuran, sungguh hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah setinggi Kai Song Cinjin ilmu kepandaiannya.

Tiba-tiba Kai Song Cinjin menggerakkan bibirnya, berkemak-kemik seperti orang membaca doa, akan tetapi tidak terdengar ada suara keluar dari mulutnya.

Sikapnya benar benar amat menggelikan hati.

Beberapa orang anggauta Tiong-gi pai yang memperhatikan kakek mi sampai tak dapat menahan ketawanya, mengira bahwa kakek itu berdoa untuk kemenangan muridnya.

Akan tetapi Pek kong Sin kauw Siok Beng Hui menjadi pucat.

Di antara orang-orang Tiong-gi-pai, memang hanya dia yang memiliki kepandaian cukup tinggi untuk dapat menangkap arti gerak bibir Kai Song Cinjin itu.

la maklum bahwa kakek itu tengah mempergunakan ilmu semacam Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), akan tetapi dengan pengerahan Iweekang dan khikang sedemikian hebatnya sehingga suara ini dapat dikirim sesuka hatinya dan pada saat itu tentu kakek yang licik ini mengirim suaranya ke telinga muridnya untuk memberi nasihat dalam pertempuran itu.

Sayang Siok Beng IImu kepandaiannya tidak cukup tinggi untuk dapat menangkap kata-kata rahasia yang disampaikan secara aneh oleh Kai Song Cinjin kepada muridnya la tak dapat berbuat lain kecuali memandang ke arah pertempuran dengan hati hati sekali penuh perhatian dan mukanya menjadi pucat.

Ang lian ci Tan Sam Nio yang melihat kegelisahan terbayang pada muka suaminya menjadi heran sekali.

Padahal menurut penglihatannya, pada saat itu mendadak Auwyang Tek amat kendur gerakannya, kelihatannya lelah sekali dan Siok Bun sudah mulai mengirim serangan-serangan hebat dan keadaannya amat mendesak ke arah kemenangan.

Menurut perkiraan ibu ini, puteranya tentu sebentar lagi akan menang, mengapa suaminya nampak gelisah?

Tiba-tiba Siok Beng Hui berseru, menambah keheranan dan kebingungan hati isterinya.

"Bun-ji, jangan terlalu desak dia! Kau tertipu....!"

Pendekar yang sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran ini tahu bahwa Auwyang Tek bukan lambat gerakannya dan terdesak karena kekalahan, melainkan karena rnemang sengaja.

Dan otaknya yang cerdas dapat menangkap apa artinya ini.

Tentu Kai Song Cinjin tadi memberi nasihat kepada muridnya untuk menggunakan akal ini memancing supaya Siok Bun mendesak dengan serangan-serangan dahsyat sehingga pertahanan Siok Bun sendiri menjadi kurang kuat karena perhatian lebih banyak dicurahkan kepada serangan.

Dugaan ini memang tepat sekali.

Kai Song Cinjin sendiri sekarang sampai membuka matanya karena rahasianya dipecahkan oleh Siok Beng Hui.

Semua orang heran sekali mendengar seruan Siok Beng Hui tadi.

Akan tetapi Siok Bun adalah seorang pemuda yang masih berdarah panas, la sedang mendesak lawannya dan akan memperoleh kemenangan yang berarti menjunjung nama mereka dan juga merobohkan seorang pemuda jahat, mengapa ayahnya melarang?

Bagaimana dia bisa tertipu?

"Ayah, akan kubasmi si jahat ini....!"

Teriaknya gembira dan kaitannya menyambar makin ganas.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba Auwyang Tek tertawa dan dengan tubuh mendoyong ke depan sengaja menerima pukulan kaitan ke arah pundaknya itu, menggerakkan tangan kiri menyambar kaitan dan tangan kanannya dipukulkan ke depan.

Resiko ini diambil deh Auwyang Tek karena ia menang kedudukan.

Memang senjata lawan datang lebih dulu, akan tetapi dengan mendoyongkan tubuh, senjata itu akan menyambar ke pundak dan masih ada tangan kirinya yang menahan, sebaliknya pukulan Hek-tok-ciang dilancarkan oleh tangan kanannya secara hebat.

Siok Bun melihat datangnya bahaya ini, cepat mengelak.

Namun terlambat.

Terdengar baju Auwyang Tek di bagian pundak robek dan berdarah terkena ujung kaitan yang berhasil ia tangkap dengan tangan kiri, akan tetapi Siok Bun mengeluarkan jerit tertahan dan tubuhnya roboh bergulingan.

Tulang pundaknya remuk dan kulit pundaknya memperlihatkan tanda lima jari tangan menghitam, tanda pukulan Hek-tok-ciang.

Auwyang Tek tertawa terbahak-bahak melihat tubuh Siok Bun dipondong oleh Siok Beng Hui dan diperiksa pundaknya.

Siok Bun menggigit bibir, mukanya pucat.

"Kerahkan tenaga, dorong hawa murni ke atas melawan racun di pundak,"

Bisik Siok Beng Hui sambil memberi tiga bulir obat untuk ditelan oleh puteranya. Namun ia maklum bahwa obat ini hanya penahan sementara saja, dan bahwa putera-nya telah menderita luka hebat.

"Ha ha. orang-orang Tiong-gi-pai, kiranya hanya sebegitu saja kepandaian jago kalian. Jangankan baru sebegitu, biar ayah ibunya sekalipun aku takkan takut"

Tantang Auwyang Tek sambil tertawa-tawa sombong dan luka kecil pada pundaknya dibalut oleh seorang "juru rawat".

"Omitohud.... akhirnya datang juga kesempatan membalas dendam!"

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang hwesio tua berjenggot putih halus, sinar matanya menyinarkan pengaruh besar dan tangannya menyeret sebatang tongkat.

Anehnya, begitu ia muncul, ia tidak menoleh kepada orang lain, melainkan memandang ke arah Toat-beng pian Mo Hun dengan mata mengandung kemarahan.

Auwyang lek mengira bahwa hwesio ini adalah seorang jago Tiong-gi-pai yang muncul ke gelanggang hendak menantang berkelahi, maka tanpa banyak cakap lagi ia, memukul dengan Hek-tok-ciang sambil membentak.

"Anjing gundul,pergilah dari sini!"

Hwesio itu nampak terkejut sekali menghadapi pukulan yang anginnya menyambar hebat, mendatangkan hawa panas sekali.

Cepat ia mengibas dengan ujung lengan bajunya yang lebar ke arah jari-jari tangan Auwyang Tek.

"Brett!"

Ujung lengan baju itu putus dan ujungnya hangus seperti disambar api yang panas sekali. Akan tetapi Auwyang Tek terhuyung mundur dan tergetar.

"Omitohud, pukulan yang ganas bukan main."

Hwesio itu berkata dan menarik napas panjang sambil memandang ke arah Kai Song Cinjin yang masih bersila meramkan mata.

"Pukulan Hek tok-ciang sungguh lihai, hanya bisa diturunkan oleh tokoh besar seperti Tok-ong (Raja Racun). Kai Song Cinjin, harap kau menyuruh muridmu mundur karena pinceng tidak ada urusan dengan dia."

Kai Song Cinjin membuka matanya dan memberi isyarat dengan tangan supaya Auwyang Tek mengundurkan diri.

Pemuda ini yang sudah tahu bahwa ia berhadapan dengan orang yang lebih kosen, tidak membantah lagi, mengundurkan diri di belakang suhunya.

"Kiranya seorang sahabat dari Siauw-lim-pai yang datang. Sahabat yang datang ada kepentingan apakah?"

Tanya Kai Song Cinjin, suaranya halus dan senyumnya ramah, sungguh berbeda isi hatinya yang penuh tipu muslihat.

"Omitohud. benar-benar bukan nama kosong julukan Tok-ong Kai Song Cinjin. sekali melihat tangkisan pinceng sudah tahu bahwa pinceng dari Siauw-lim-pai."

Hwesio itu menjura kepada Kai Song Cinjin.

"Siauw-lim-pai termasuk partai persilatan besar, siapa tidak mengenal tangkisan Hong-tan-tiam-ci (Burung Hong Pentang Sebelah Sayap) tadi?"

Jawab Kai Song Cinjin tersenyum. Sebagai seorang cabang atas dalam kalangan persilatan, tentu saja ia mengenal banyak dasar ilmu silat lain partai.

"Kai Song Cinjin, dahulu pinceng mempunyai seorang murid yang amat baik bernama Thian Le Hosiang. Sayang sekali murid pinceng yang selalu patuh akan ajaran Nabi itu pada suatu hari tewas secara mengenaskan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau pinceng mencari pembunuhnya dan menuntut balas agar roh muridku itu tidak menjadi roh penasaran."

"Siapa yang membunuhnya?"

Tanya Kai Song Cinjin. Hwesio itu menuding ke arah Toat-beng-pian Mo Hun, itulah, siluman pemakan otak manusia. Toat-beng pian Mo Hun yang membunuhnya!"

Suaranya berubah nyaring berpengaruh, mengejutkan siapa yang mendengarnya. Toat-beng-pian Mo Hun berdiri dari tempat duduknya, cambuknya digerakkan dan berbunyi "tar! tar!"

Keras sekali, disusul suara ketawanya mengakak, hanya terdengar suara "kak-kak-kak"

Saja.

"Hwesio Siauw-lim-pai, kau siapakah datang-datang mencari penyakit dengan aku?"

Tanya Mo Hun, matanya disipitkan. mulutnya menyeringai. (Lanjut ke

Jilid 10) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Pinceng adalah Wat Siok Hosiang, sengaja jauh-jauh datang ke sini untuk membalaskan kematian murid pinceng Thian Le Hosiang yang kau bunuh secara keji "

Kembali Mo Hurt tertawa "Aku tidak pernah mencatat nama musuh-musuh yang lelah tewas oleh pianku. Mungkin sekali muridmu itu berani menentangku dan mampus di tanganku, habis kau mau apakah?"

Wat Siok Hosiang marah sekali.

Dia adalah tokoh Siauw-lim-pai dari tingkat empat, kepandaiannya tinggi, tugasnya di Siauw-lim-pai sebagai seorang di antara para penjaga tata lertib, maka wataknya juga keras.

Tongkatnya dipukulkan ke atas tanah sampai batu-batu yang terpukul pada ambles, dan ia membentak.

"Yauwkoai (siluman) jahat, kalau pinceng tidak mampu membasmi percuma saja pinceng belajar silat sejak kecil!"

"Ho-ho-ho, lagaknya! Mari ku antar kau ke akhirat menjumpai roh muridmu!"

Jawab Toat-beng-pian Mo Hun dan secepat kilat menyambar, pian kelabang di tangannya sudah menyambar tanpa mengeluarkan suara Pian kelabang ini bukan main berat dan tajamnya, sekali saja mengenai leher akan putuslah leher orang.

Entah sudah berapa puluh atau ratus manusia tewas oleh pian ini sehingga begitu menyambar, hawa yang berbau amis dan busuk keluar dari senjata mengerikan Ini.

Namun Wat Siok Hosiang tidak menjadi gentar.

Tongkatnya bergerak mantep menangkis senjata lawan.

"Traang....!"

Pian kelabang terpukul mundur dan Toat-beng pian Mo Hun meringis, telapak tangannya terasa gemetar.

Tahulah ia bahwa dalam hal tenaga Iweekang, ia masih kalah oleh jago tua Siauw-lim-pai ini Memang Siauw-lim-pai terkenal dengan Iweekangnya, akan tetapi ilmu silat Siauw-lim-pai terlalu jujur, tidak seperti Mo Hun yang memiliki tipu-tipu licik dalam ilmu silatnya yang tinggi.

Ketika untuk selanjutnya kedua senjata bertemu, Wat Siok Hosiang yang menjadi kaget karena tiap kali senjata tongkatnya berhasil menangkis pian itu, tentu ujung pian masih bergerak ke arah muka atau tubuhnya dengan kecepatan luar biasa.

Beberapa kali ia hampir menjadi korban karena tidak menyangka pian itu masih dapat menyerang biarpun sudah ditangkis.

Sementara itu.

Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui setelah memeriksa keadaan luka di pundak Siok Bun secara teliti, lalu berkata kepada putera-nya.

"Bun-ji, lukamu tidak ringan, racun Hek-tok-ciang amat jahat. Obat penawarnya hanya ada pada Auwyang Tek dan gurunya yang tentu saja tidak mungkin mau menolong. Satu-satunya orang yang dapat menolongmu hanya Yok-sian (Dewa Obat) di Thien-mu-san..."

Suara pendekar ini terdengar gelisah.

"Ayah maksudkan Koai yok-sian (Dewa Obat Aneh) orang gila yang berada di puncak Thien-mu-san itu? Aah, kalau begitu sama artinya bahwa anak takkan dapat tertolong lagi..."

Siok Bun tidak menjadi berduka atau takut, hanya tersenyum pahit.

"Biarlah, ayah. Anak sudah berusaha sekuat tenaga..."

Dua titik air mata jatuh menetes dari sepasang mata Ang-lian-ci Tan Sam Nio.

Nyonya yang gagah ini tidak menangis.

Air mata dua titik itupun cepat ia hapus dengan saputangan.

Siok Beng Hui menarik napas panjang.

"Mati hidup berada di tangan Thian, mengapa takut-takut? Koai-yok-sian memang dianggap seperti orang gila, akan tetapi kiranya tidak percuma dia diberi nama Yok-sian (Dewa Obat). Biarpun aku sendiri belum pernah menyaksikan, namun sudah terlalu sering dibicarakan orang aneh yang seperti gila itu menyembuhkan pelbagai penyakit secara ajaib. Mengapa kau tidak coba-coba mendatanginya? Thien-mu-san tidak begitu jauh."

"Mari kuantar kau ke sana. Bun-ji."

Kata Tan Sam Nio.

"Jangan,"

Mencegah suaminya.

"Aku mendengar bahwa orang aneh itu tak pernah mau menolong orang sakit yang datangnya diantar dan selalu yang ia tolong adalah orang sakit yang berada seorang diri. Agaknya ia tidak mau cara pengobatannya disaksikan orang lain."

"Pergilah, anakku, pergilah mencari obat! Semoga Thian melindungimu..."

Suara Tan Sam Nio terdengar sayu, tanda kegelisahan dan keharuan hatinya.

Siok Bun mentaati permintaan ayah bundanya dan pemuda ini berjalan pergi sambil meraba-raba pundaknya yang terasa sakit sekali.

Hanya beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai saja yang memperhatikan kepergian pemuda ini, disertai pandang mata yang mengandung keharuan dan rasa kasihan.

Yang lain-lain tidak memperhatikannya karena sedang menonton pertandingan yang lebih hebat lagi antara hwesio tokoh Siauw-lim pui melawan Toat-beng-pian Mo Hun.

Memang pertempuran itu hebat sekali, dilakukan oleh dua orang ahli silat kelas tinggi.

Kadang-kadang saking cepatnya mereka mainkan senjata, sampai tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar senjata masing-masing.

Ada kalanya dalam pengerahan adu tenaga Iweekang, senjata mereka saling tempel dan tubuh mereka tegang tidak bergerak, hanya terdengar suara "krek-krek"

Dari tulang-tulang mereka yang berkerotokan dan senjata mereka yang hampir tidak kuat menahan dorongan tenaga dalam.

Para anggauta Tiong-gi-pai diam-diam mengharapkan kemenangan Wat Siok Hosiang, karena biarpun hwesio Siauw-lim-pai ini tidak bertempur di fihak mereka, namun setidaknya hwesio itu melawan musuh mereka.

Akan tetapi harapan inereka ini sia sia belaka.

Setelah pertandingan berlangsung lima puluh jurus lebih dengan mati-matian.

segera ternyata bahwa Mo Hun masih terlampau kuat bagi jago tua Siauw-lim-pai itu.

Perlahan namun pasti, pian kelabang itu mendesak Wat Siok Hosiang, melakukan tekanan-tekanan berat dengan serangan-serangan mendadak dan cepat.

Kasihan sekali hwesio yang sudah tua itu, hanya mengelak atau menangkis dengan tongkatnya, sama sekali tidak mampu membalas lagi.

Mo Hun terus melakukan serangan bertubi-tubi sambil tertawa-tawa mengejek.

Setelah keadaannya terdesak sekali.

Wat Siok Hosiang berlaku nekat dan mainkan Ilmu Tongkat Lo-han-tung di selingi Ilmu Tongkat Tee-tong-tung dari Siauw-lim-pai.

Ilmu Tongkat Lo-han-tung ini adalah ilmu tongkat yang digerakkan secara lambat namun mengandung daya tahan yang besar, karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Iweekang dan gwakang diselang-seling.

Adapun Ilmu Tongkat Tee-tong-tung dimainkan dengan cara bergulingan dan tongkat menyambar-nyambar dari bawah dalam penyerangannya.

Hanya karena terdesak saja maka hwesio itu mainkan ilmu tongkat ini, karena ilmu tongkat ini adaiah ilmu vang amat berbahaya.

Kalau berhasil, lawan dapat dirobohkan, namun kalau tidak, berarti kakek yang sudah tua itu akan kehabisan tenaga sendiri dan kalah.

Memang beberapa kali Mo Hun menjadi kelabakan menghadapi dua ilmu silat tangguh dari Siauw-lim-pai ini.

Pian kelabangnya sering kali terpukul mental dan pahanya sudah kena hantaman tongkat ketika lawannya bergulingan itu.

Namun kepandaian Mo Hun memang tinggi.

Pukulan pada pahanya belum cukup kuat untuk merobohkannya dan biarpun ia tadinya terdesak.

namun ia dapat membela diri secara baik dan cukup lama sampai lawannya akhirnya kehabisan tenaga.

Akhirnya Wat Siok Hosiang tidak kuat lagi mainkan Lee-tong-tung dan berdiri dengan napas kempas-kempis menyenen kemis.

"Heh-heh-heh, hwesio berpenyakitan. Apa sudah siap memasuki alam baka bertemu dengan arwah muridmu?"

Mo Hun mengejek, pian kelabang nya menyambar dahsyat!

Wat Siok Hosiang sekuat tenaga mengangkat tongkatnya menangkis.

Akan tetapi pian yang panjang itu hanya bagian tengahnya tertangkis, sedangkan bagian ujungnya masih terus menyerang ke arah leher hwesio Siauw-lim-pai itu!

Wat Siok Hosiang mencoba untuk mengelak, namun terlambat.

Pundaknya terkena sambaran pian yang runcing, bajunya robek berikut kulit dan daging pundak, bahkan tulang pundak ikut remuk.

Hwesio tua itu menjadi pucat, terhuyung ke belakang.

Pian kelabang menyambar lagi!

"Cukup!"

Terdengar Kai Song Cinjin berseru dan tiba-tiba pian itu terhenti gerakannya di tengah udara, terpukul oleh semacam tenaga tidak kelihatan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin dari tempat duduknya.

Diam-diam Mo Hun kaget bukan main, la memang tahu bahwa Raja Racun itu lihai bukan main akan tetapi menahan piannya hanya dengan hawa pukulan, itulah benar-benar di luar dugaannya!

la tidak berani membantah, hanya ha-hah-he-heh melangkah mundur.

Kai Song Cinjin kini sudah berdiri, ternyata tubuhnya tinggi besar dan sikapnya keren.

"Wat Siok Hosiang. pinceng sengaja datang melerai, oleh karena Mo Hun sicu pada waktu ini bekerja sama dengan pinceng melindungi keangkeran kerajaan. Oleh karena di antara pinceng dan Siauw-lim-pai memang tidak pernah ada permusuhan, pinceng anggap habis sampai di sini saja. Kecuali kalau Mo Hun sicu mengadakan pertempuran dengan orang-orang Siauw-lim-pai tidak di depan pinceng, hal itu adalah urusan pribadi dan masa bodoh. Harap kau suka menerima kata-kata pinceng ini dan mengundurkan diri."

Wat Siok Hosiang sudah merasa dikalahkan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya memandang kepada Mo Hun dengan mata berkilat.

"Lain kali kita bertemu kembali,"

Katanya kepada Mo Hun lalu menyeret tongkatnya pergi dari situ.

Mo Hun tertawa bergelak dan suara ketawanya segera diikuti oleh kawan-kawannya ketika mereka melihat fihak Tiong-gi-pai juga mengundurkan diri tanpa bersuara lagi.

Kekalahan dnri fihak Tiong-gi-pai kali ini benar-benar menyakitkan hati, terutama sekali bagi Siok Beng Hui.

Juga Kwee Cun Gan merasa penasaran tidak mendapat perkenan dari Raja Muda Yung Lo yang masih segan memusuhi pembesar pembesar yang disayang oleh ayahnya, untuk menghadapi pertandingan pibu, mereka selalu menderita kekalahan.

Siok Bun dalam keadaan lerluka berat mendaki Bukit Thien-mu-san.

Bukit ini letaknya tidak jauh dari kota raja Nan-king, merupakan bukit yang subur dan mengandung hutan-hutan lebat.

Sudah belasan tahun di dalam sebuah di antara hutan-hutan di gunung ini terdapat seorang aneh yang keadaannya lebih tepat disebut gila.

Para pemburu dan penebang kayu kadang-kadang melihat orang ini tertawa-tawa dan bicara seorang diri di dalam hutan, ada kalanya sampai berbulan-bulan orang tidak melihatnya-Kadang-kadang ia kedapatan berada dalam sebuah rumah gubuk di dalam hutan itu, duduk samadhi seorang diri.

Sukar sekali mengajak orang ini bicara, karena selain ia jarang bicara dengan orang, kalau sudah bicara ngacau tidak karuan.

Akan tetapi karena sudah banyak sekali orang mengaku ditolong nyawanya dari semacam penyakit berat, ia mendapat julukan Koai-yok-sian atau Dewa Obat Gila, karena kepandaiannya mengobati seperti dewa akan telapi wataknya seperti orang gila!

Pada siang hari itu, ketika Siok Bun mendaki Bukit Thien-mu-san, keadaan di perjalanan sunyi sekali.

Tiba-tiba kesunyian terpecah oleh suara orang yang berlari-lari dari bawah dan terkejutlah hati Siok Bun menyaksikan belasan orang berlari-lari cepat mendaki bukit.

Melihat cara orang-orang itu berlari cepat, mudah dikenal bahwa mereka adalah orang-orang kang ouw yang berkepandaian tinggi.

Cepat Siok Bun menyelinap ke dalam semak-semak dan membiarkan mereka itu lewat, la melihat dua belas orang yang sikapnya gagah, tujuh orang masih muda, yang empat sudah tua dan seorang lagi adalah nenek bongkok, berlari sambil bercakap-cakap.

"Dia aneh dan gila, bagaimana kalau tidak mau menolong?"

Kata seorang.

"Kita paksa dan siksa dia sampai menuruti"

Kata nenek itu yang menyeret tongkatnya.

Setelah mereka lewat dekat, baru ketahuan oleh Siok Bun bahwa mereka itu masing-masing menderita luka, baik luka luar badan maupun luka dalam.

Agaknya mereka baru saja mengalami pertempuran dan menderita kekalahan, seperti dia!

Anehnya, luka pada tubuh mereka itu bertanda jari tangan merah.

Siok Bun benar-benar heran sekali, keadaan mereka tak jauh dengan keadaannya sendiri, hanya bedanya, kalau ia dilukai oleh tangan hitam, mereka itu agaknya dilukai oleh tangan merah.

Melihat cara mereka bergerak itu menunjukkan bahwa mereka berkepandaian, dan dapat dibayangkan betapa lihainya orang genangan merah yang mengalahkan mereka.

Siapakah dia yang bertangan merah?

Siok Bun sudah banyak mendengar tentang tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, akan tetapi belum pernah mendengar tentang orang yang memiliki tangan merah.

Hemmm, sikap mereka ini bukan seperti orang baik-baik, pikir Siok Bun.

Tentu mereka akan minta pertolongan Koai-yok-sian, akan tetapi mereka hendak memaksanya Diam-diam ia lalu mengikuti mereka itu naik ke puncak, karena hutan di mana ahli pengobatan gila itu tinggal adalah hutan dekat puncak.

Benar saja dugaannya.

Rombongan dua belas orang itu memasuki hutan dan tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gubuk butut.

Mereka berkumpul di depan pintu gubuk yang tertutup dan menggedor-gedor pintu itu.

"Hee, Koai-yok-sian, bukalah pintu, kami mau bicara!"

Kata seorang di antara mereka yang masih muda.

"Koai yok sian, keluarlah untuk mengobati kami!"

Kata nenek bongkok yang menyeret tongkat.

Nenek ini terluka pada pipi kirinya yang ada tanda lima jari tangan merah.

Wajahnya jadi menggelikan sekali.

Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara parau terkekeh-kekeh mentertawakan mereka, disusul kata-kata yang tidak karuan.

"Heh-heh-heh, banyak lalat busuk. He-he-heh!"

Nenek itu nampaknya menjadi marah. Tangan kirinya didorongkan ke depan dan"brakk!"

Pintu itu pecah berantakan.

"Orang gila, jangan kau berani mempermainkan kami. Dengarlah, kami Hek-lim Ngo-tai-ong (Lima Raja Hutan Hitam) yang datang, minta kau mengobati kami. Kami akan memberi hadiah banyak emas kalau kau mau. kalau tidak, hemmm, jangan harap bisa hidup dengan badan utuh lagi. Hayo keluar!"

Tiba-tiba terdengar suara yang tenang namun berpengaruh dari dalam, di sebelah belakang gubuk itu.

"Koai-yok-sian, biarkan saja mereka itu. Kalau ada yang berani masuk, pinto yang akan usir."

Suara ini menandakan bahwa selain si gila, masih ada orang lain di dalam gubuk itu.

Hal ini membuat dua belas orang itu tercengang.

Seorang di antara mereka, laki-laki tua bercambang bauk, menjadi marah.

Dengan golok terhunus ia melompat ke dalam gubuk melalui pintu yang sudah ambruk daun pintunya itu.

Akan tetapi, begitu ia melompat masuk, ia terlempar keluar kembali dalam keadaan tubuh lemas lumpuh terkena totokan yang luar biasa hebatnya!

Beberapa orang kawannya maju menolong, akan tetapi akhirnya hanya nenek bertongkat itu saja yang mampu membebaskan totokan itu.

Mereka menjadi panik, hendak menyerbu tidak berani.

"Bakar saja gubuknya! Bakar, tentu si gila mau keluar,"

Kata seorang. Semua setuju dan hendak membakar gubuk itu. Pada saat itu Siok Bun melompat keluar dari sembunyinya, mencabut keluar senjata kaitannya dan membentak.

"Kalian ini perampok-perampok sungguh tak tahu malu! Beginikah cara orang datang minta tolong? Benar bocengli (tidak tahu aturan)! Kalau kalian nekat hendak membakar rumah orang yang kalian hendak mintai tolong, terpaksa aku Siok Bun tidak mau tinggal diam begitu saja!"

Melihat yang muncul adalah seorang pemuda yang pundak kirinya sudah terluka hebat, tentu saja kawanan perampok itu tidak takut.

Malah tiga orang muda di antara mereka sambil tertawa mengejek lalu menyerbu dengan golok di tangan.

Seorang di antara yang tiga ini membentak.

"Kau ini tikus dapur yang sudah mau mampus, masih banyak tingkah!"

Akan tetapi begitu Siok Bun menggerakkan kaitannya, tiga orang itu menjerit dan golok mereka terlempar, lengan tangan mereka sudah tergores ujung kaitan!

Empat orang kakek dan seorang nenek yang menjadi kepala-kepala rampok itu, menjadi kagum dan juga marah.

Segera mereka semua maju untuk mengeroyok Siok Bun, namun Siok Bun tidak menjadi gentar.

Sudah kepalang, pikirnya.

Biarpun dia terluka parah dan tenaganya tinggal setengah bagian saja, namun lebih baik mati mempertahankan kebenaran daripada berpeluk tangan saja menyaksikan kejahatan dilakukan orang.

Ia memutar kaitannya dan di lain saat ia telah dikeroyok.

Ternyata kepandaian lima orang itupun lihai.

Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, biarpun Siok Bun sudah terluka.

tentu SioK Bun dapat melawan mereka Akan tetapi celakanya, orang-orang itu maju bersama dan mendesaknya.

Keadaan Siok Bun benar-benar berbahaya sekali.

"Orang muda sombong, kepandaianmu boleh juga "

Nenek itu berkata sambil mendesak dengan tongkatnya.

"Kau juga terluka, lebih baik kita sama-sama menyeret keluar Koai-yok-sian untuk mengobati kita."

Memang nenek itu kurang nafsunya berkelahi dalam keadaan terluka hebat oleh tangan merah.

"Cih! Siapa sudi bersekutu dengan sekawanan perampok jahat yang tidak mengenal perikemanusiaan? Jangan kata kalian hendak minta pertolongan tuan rumah, baru datang sebagai tamu saja sudah berlaku kurang patut. Kalian pantas dihajar!"

"Pemuda goblok, dalam keadaan begini kau masih tinggi hati? Kau yang patut dihajar. Hayo pukul mampus anjing ini!"

Nenek itu menjerit dan mempercepat gerakan tongkatnya.

Juga kawan-kawannya bergerak makin cepat dan dalam jurus-jurus berikutnya Siok Bun sudah tak dapat membalas serangan mereka, hanya memutar kaitannya membela diri.

Akan tetapi karena luka di pundak kirinya sakit sekali, ia telah mendapat bacokan yang menyerempet pahanya.

Darah mengalir membasahi celananya.

Namun pemuda yang gagah perkasa ini pantang mundur atau menyerah, terus melakukan perlawanan.

Tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan dua orang terlempar dari tempat pertempuran.

Ketika kawanan perampok itu menengok, si nenek berseru kaget.

"Celaka... Ang-sin-jiu datang...!"

Dan berlari-larianlah mereka sambil menyeret kawan yang terluka.

Sebentar saja tempat itu ditinggalkan oleh kawanan perampok tadi.

Siok Bun melihat seorang pemuda yang tampan sekali mengejar mereka.

Iapun ikut mengejar..

menyeret kakinya yang terluka karena ingin tahu siapa Ang-sin-jiu dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dengan gerakan yang cepat dan ringan, pemuda tampan itu sudah dapat menyusul kawanan perampok.

Sekali melompat ia telah melewati nenek yang galak tadi dan begitu ia mengulur tangan memegang pundak nenek itu, si nenek tak dapat bergerak dan berdiri gemetar!

"Ang-sin-jiu ampunkan aku yang sudah tua..."

Katanya.

Pemuda itu tersenyum dan sekarang Siok Bun dari tempat intaiannya melihat wajah yang ganteng sekali, dengan mata jeli dan tajam, hidung mancung dan bibir yang merah tersenyum-senyum.

Bukan main tampannya pemuda ini, pikir Siok Bun.

tampan dan gagah.

Akan tetapi mengapa kedua telapak tangannya itu putih bersih saja, tidak merah?

"Hek-lim Ngo-tai ong, kalian sudah menerima hajaran dari aku.

Hajaran itu bukan membikin kalian kapok, malah di sini kalian berani mengganggu dan mengeroyok orang Apakah kalian baru kapok kalau nyawa kalian sudah meninggalkan raga?"

Suara pemuda itu halus.namun mengandung pengaruh dan ancaman, membuat dua belas orang itu menjadi pucat.

"Siauw-hiap, mohon sudi memberi ampun kepada kami,"

Kata seorang di antara empat kakek dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuiti oleh sebelas orang kawannya.

"Sesungguhnya kami tidak bermaksud mengganggu Koai-yok-sian atau pemuda ini, akan tetapi kami merasa khawatir dan gelisah karena, karena kami sudah terluka oleh siauw-hiap"

Pemuda itu tersenyum dan biji matanya dimainkan, seakan-akan merasa geli.

"Apakah kalian menganggap aku ini raja akhirat yang suka mencabut nyawa? Memang kalian sudah kuberi tanda, akan tetapi aku masih belum tega untuk mencabut nyawa. Entah kalau kelak melihat kekejian kalian lagi, sudah pasti aku takkan memberi ampun."

Ia mengeluarkan bungkusan kertas dari saku bajunya dan melemparkannya ke tanah.

"Di dalam bungkusan ini terdapat duapuluh empat butir obat. Makanlah seorang dua butir dan tanda-tanda merah itu dalam Waktu sebulan akan lenyap. Tanpa obat ini, biarpun kalian takkan mati, tanda itu selamanya takkan bisa hilang lagi. Nah, pergilah!"

Duabelas orang itu menjadi girang sekali, ber-kali-kali mengucap terima kasih lalu beramai-ramai pergi turun gunung.

Siok Bun keluar dari tempat sembunyinya.

Ia amat tertarik oleh kegagahan pemuda itu dan ingin berkenalan.

Melihat Siok Bun muncul, pemuda itu tersenyum, dan menjura.

"Saudara benar gagah perkasa dan berbudi mulia. Siauwte (adik) merasa kagum sekali. Bolehkan siauwte mengetahui nama saudara yang terhormat?"

Siok Bun makin tertarik dan suka kepada pemuda yang amat sopan dan ramah ini.

Melihat keadaannya, memang pemuda ini tidak lebih tua dari padanya, bahkan lebih patut kalau masih disebut remaja, sungguhpun sikap yang sopan merendah itu membuktikan adanya pendidikan baik dan pengalaman luas.

Iapun balas menjura dengan kaku karena pundak dan pahanya sakit-sakit.

"Aku yang bodoh bernama Bun she Siok. Tentangkepandaianku amat memalukan untuk dibicarakan, sebaliknya saudaralah yang patut dipuji dan amat mengagumkan hatiku. Siapakah saudara dan apa betul saudara yang mereka sebut-sebut... Ang-sin-jiu (Si Tangan Merah Sakti)?"

Sejak mendengar nama Siok Bun, pemuda itu sudah mengangkat muka memandang penuh perhatian.

"Saudara she Siok....? Masih ada hubungan kiranya dengan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, melihat senjata yang saudara bawa itu?"

"Dia adalah ayahku."

"Aah, pantas... pantas. Nama besar Siok lo-cianpwe sudah lama kudengar di mana-mana. Kiranya puteranyapun demikian gagah perkasa."

Tiba-tiba wajah pemuda tampan itu nampak kaget alisnya yang hitam sekali berkerut.

"Aah.. luka di pundakmu itu... bukankah itu bekas Hek-tok-ciang...?"

Pada saat itu Siok Bun sudah hamipir tidak kuat menahan rasa sakit di pundaknya.

Apa lagi ia habis bertempur hebat, peredaran darahnya cepat sehingga hawa racun itu menggelapkan pikirannya.

Akan tetapi ia menggigit bibir menahan diri.

"Betul... Hek-tok-ciang. aduh... maaf.... kepalaku pening... tak kuat lagi..."

Dan Siok Bun selanjutnya sudah tidak ingat lagi.

la terguling dan tentu roboh terbanting di atas tanah kalau saja pemuda itu dengan tangkasnya tidak segera menyambar tubuhnya dan merebahkannya di atas rumput.

"Kasihan... pemuda gagah perkasa..."

Terdengar pemuda itu berbisik.

Dengan cepat tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu merobek baju di bagian pundak yang terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang.

Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak ketika dengan teliti ia memeriksa, la nampak ragu-ragu dan gelisah dan terdengar ia berkali-kali berkata seorang diri.

"Haruskah aku...?"

Lalu dijawabnya sendiri.

"Mengapa tidak? Dia gagah perkasa lagi bijaksana dan mulia hatinya, putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui yang dipuji puji namanya oleh sucouw..."

Dengan cekatan ia memijit jalan darah di sana-sini sampai akhirnya Siok Bun siuman kembali dari pingsannya.

Melihat ia rebah dan pemuda tampan tadi duduk di dekatnya, Siok Bun segera melompat bangun.

Akan tetapi pemuda itu cepat menekan pundaknya dan berkata lirih namun keren.

"Siok-twako, jangan bergerak. Lukamu hebat dan darahmu mulai keracunan, karena tadi kau mengerahkan tenaga ketika bertempur. Tenanglah, biar siauwte mencoba mengobatimu. Jangan membantah dan jangan bicara, biar siauwte menerangkan. Siauwte bernama Oei Siok Ho murid Kun-lun-pai. Oleh sucouw, siauwte sudah dilatih memiliki Ilmu Ang-sin-ciang, di dalam darah siauwte mengandung racun merah yang dapat melawan keganasan racun hitam. Kita dari satu golongan, kau percayalah, siauwte sanggup mengobati lukamu dan mengusir racun Hek-tok-ciang dari pundakmu."

Siok Bun memandang dengan mata kagum, juga terharu melihat orang yang baru saja dijumpainya sudah suka menolongnya.

Akan tetapi ketika pemuda yang bernama Oei Siok Ho itu mulai melakukan cara pengobatannya, hatinya menjadi terharu sekali dan ia merasa kaget.

Siok Ho ternyata mulai menyedot darah dari luka di pundak itu dengan mulutnya!

Kalau tidak mendengar kata-kata tadi, tentu ia tidak akan membiarkan orang berlaku sedemikian berbahaya.

Ia tahu bahwa racun Hek-tok-ciang amat berbahaya dan lihai.

Bagaimana pemuda ini berani menyedotnya dengan mulut?

la meramkan matanya.

Tak sanggup menyaksikan pertolongan yang mengandung pengorbanan besar ini.

Tidak saja pemuda ini terancam keselamatannya, juga siapa orangnya tidak merasa jijik menyedot darah keracunan dari luka orang lain?

Apa lagi baru saja bertemu!

Ketika ia meramkan matanya, dengan kagum ia merasa betapa tenaga sedotan, mulut pemuda itu kuat sekali.

Bibir pemuda itu hangat-hangat menempel kulit pundaknya dan dari mulut terdapat tenaga menyedot yang memaksa darahnya mengalir ke pundak.

Tak lama kemudian Siok Ho meludahkan darah yang sudah menghitam dan berbau busuk.

Tak terasa lagi mengalir dua titik air mata dari mata Siok Bun yang dimeramkan.

Jangankan sampai tertolong nyawanya, andaikata tidak tertolong sekalipun dan ia mati, rohnya akan selalu berhutang budi kepada pemuda luar biasa ini.

Tiga kali Siok Ho menyedot dan banyak darah yang keluar, akan tetapi Siok Bun menjadi makin lemas tubuhnya.

Dengan jari-jari tangan cekatan Siok Ho lalu membungkus luka itu setelah menempeli obat bubuk.

Kemudian ia duduk bersila di depan Siok Bun yang juga bersila di atas tanah.

"Siok-twako, sekarang kau harus mengumpulkan seluruh perhatian dan tenaga dalam, buka serhua jalan darahmu, terutama di lengan kiri karena aku akan memberikan darahku, yang mengandung racun merah ke dalam tubuhmu."

"Akan tetapi. ."

Bantah Siok Bun kaget.

"Ssttt, diamlah! Itulah cara pengobatan satu-satunya Andaikata Koai-yok-sian suka menolongmu, hal ini kuragukan, karena orangnya sinting, belum tentu ia sanggup mengusir racun hitam di pundakmu, kecuali kalau ia memiliki katak merah. Sudah, kau bersiaplah, aku hanya menolong karena kita sama-sama manusia segolongan pula, menolongmu bukan berarti aku menyumbang nyawaku."

Setelah berkata demikian, pemuda itu mengambil sebatang jarum perak yang cepat ia tusukkan ke lengannya, tepat pada jalan darah besar, kemudian iapun melubangi kulit lengan kiri Siok Bun.

Setelah itu menempelkan lengannya pada lengan Siok Bun, tepat pada kulit yang sudah dilubangi dari mana darahnya mengalir keluar memasuki lengan Siok Bun.

Pemindahan atau pengoperan darah macam ini tak dapat dilakukan secara begitu saja kalau kedua orang itu tidak memiliki k pandaian tinggi.

Andaikata yang memiliki kepandaian tinggi hanya Oei Siok Ho seorang, takkan mungkin ia dapat memindahkan darahnya kalau si penerima tidak memiliki tenaga dalam untuk menyedot darah itu ke dalam lengannya sendiri.

Dengan cara bersila keduanya mengerahkan tenaga, Oei Siok Ho mendorong darahnya keluar, sebaliknya Siok Bun mengerahkan tenaga menerima darah itu.

Siok Bun merasa darah yang panas sekali memasuki lengannya, membuat kepalanya pening sekali.

Akan tetapi ia bertahan dan berkat latihan Iweekangnya yang sudah dalam ia dapat menahan juga.

Tiba tiba Siok Bun muntah-muntah dan karena mereka berhadapan, tentu saja ia mengotori pakaian Oei Siok Ho.

Akan tetapi pemuda aneh yang menolongnya itu malah tertawa puas.

"Tertolong sudah... syukur..!"

Dan ia melepaskan lengannya.

Ketika Siok Bun sudah sehat kembali dari rasa pusing dan muak, ia memandang dan....

pemuda itu nampaknya lelah bukan main, duduk sambil meramkan mata, napas memburu dan mukanya yang tampan menjadi agak pucat, peluhnya memenuhi muka dan leher.

Tergerak hati Siok Bun.

la mengulurkan tangan dan menggunakan ujung lengan baju menyusuti peluh di muka dan leher itu, akan tetapi Oei Siok Ho cepat menolak tangannya, lalu memandang dan tersenyum.

"Selamat, Siok-twako. Kau sudah tidak terancam maut lagi."

Dan pemuda luar biasa ini bangkit berdiri. Siok Bun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan penolongnya.

"In-kong (tuan penolong), aku Siok Bun sampai mati takkan melupakan budi yang mulia ini. Andaikata di dunia ini aku tidak dapat membalas budimu, biarlah di penjelmaan kelak aku menjadi kuda atau anjingmu...."

Oei Siok Ho dengan gagap-gugup mengangkat bangun Siok Bun.

"Aih...aih... kenapa kau memakai sungkan-sungkan seperti ini, Siok-twako? Tak baik dilihat orang. Aku sudah merasa puas kalau kau mengaku aku sebagai seorang sahabatmu."

"Sahabat? Kau lebih dari adikku sendiri! Biarlah mulai saat ini, kalau aku tidak terlalu kurang ajar dan lancang, kau kuanggap saudaraku. Saudara Oei. berapakah usiamu, tua mana kau dengan aku?"

Oei Siok Ho tersenyum.

"Usiaku delapan belas tahun."

Siok Bun menggeleng-geleng kepala.

"Usia delapan belas tahun sudah memiliki kepandaian sehebat ini, bukan main! Oei-siauwte, kau adalah adikku. Aku sudah berusia dua puluh tahun. Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara...."

Akan tetapi, aneh sekali. Oei Siok Ho menggeleng kepala.

"Tak usah, cukup kalau kita bersahabat atau bersaudara, tak perlu mengangkat saudara dan bersumpah. Hati manusia selalu berubah, tidak akan tetap. Alangkah mengecewakan kalau kelak seorang di antara kita melanggar sumpah. Eh, Siok-twako, apakah kau cukup kuat untuk bertanding?"

"Apa...? Bertanding dengan siapa?"

Siok Bun cepat menengok ke kanan kiri khawatir kalau-kalau muncul musuh.

"Dengan aku!"

Siok Bun sampai melongo mendengar ini.

"Aku...? Bertanding dengan.. dengan... kau...? Apa artinya?"

Oei Siok Ho bicara dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Dengarlah, Siok-twako. Sesungguhnya akupun mempunyai permusuhan dengan musuh-musuhmu, dengan pemilik Hek-tok-ciang. Baik kuceritakan secara ringkas saja."

Maka berceriteralah Oei Siok Ho tentang keadaan di Kun-lun-san beberapa tahun yang lalu.

Seperti pembaca tentu masih ingat, beberapa tahun yang lalu.

Tok-ong Kai Song Cinjin pergi menantang ke Kun-lun-pai untuk melampiaskan kemarahan hatinya terhadap Souw Teng Wi yang menjadi anak murid Kun-lun-pai.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mulut Tok-ong Kai Song Cinjin sampai rusak dalam pertempurannya melawan Souw Teng Wi.

Dengan hati geram Kai Song Cinjin menuju ke Kun-lun dikawani oleh Ma thouw Koai-tung Kui Ek membawa pasukan.

Di tengah perjalanan Kai Song Cinjin bertemu dengan Toat-beng-pian Mo Hun yang akhirnya ikut pula ke Kun-lun-pai untuk mengobrak-abrik partai persilatan itu.

Pertempuran hebat terjadi di Kun-lun-pai di mana orang-orang Kun-lun-pai banyak sekali yang tewas.

Yang lain melarikan diri dan hanya Swan Thai Couwsu guru besar Kun-lun-pai berhasil mengusir Kai Song Cinjin (bagian ini akan diceritakan di bagian belakang), akan tetapi guru besar yang sangat tua ini juga menderita luka berat.

Di antara anak murid Kun-lun-pai, terdapat Oei Siok Ho yang masih muda sekali akan tetapi bersemangat besar, tak pernah meninggalkan couw-sunya dalam pertempuran itu.

Melihat bakat baik dalam diri Oei Siok Ho dan melihat bahwa dirinya takkan lama lagi hidup di dunia, Swan Thai Couwsu lalu mewariskan kepandaiannya kepada Oei Siok Ho, bahkan memberi ilmu pukulan Ang -sin-ciang untuk melawan Hek-tok-ciang dari Kai Song Cinjin.

"Demikianlah Siok-twako, pengalaman dan riwayat ringkasku. Karena kau terluka oleh Hek-tok-ciang, aku harus tahu sampai di mana kepandaian orang yang mempergunakannya. Cara terbaik adalah mengukur kepandaianmu."

"Dia itu murid Kai Song Cinjin, namanya Auwyang Tek, putera Menteri Auwyang Peng yang jahat. Kepandaiannya tidak berapa tinggi, setingkat dengan aku, hanya Hek-tok ciang yang dipergunakan memang hebat."

Siok Bun lalu menuturkan jalannya pertandingan.

Kemudian ia memaksa diri bertanding dua puluh jurus melawan Oei Siok Ho, sampai pemuda itu merasa puas karena dapat mengira-ngira sampai di mana tingkat kepandaian Auwyang Tek.

"Aku harus berlatih lagi, sedikitnya setahun. Melihat kepandaianmu, tingkatku juga tidak banyak lebih tinggi dari tingkat Auwyang Tek,"

Kata Oei Siok Ho. Pada saat itu, dari gubuk Koai-yok-sian berkelebat bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya. Melihat ini, Oei Siok Ho berkata.

"Selamat berpisah, twako. Lebih baik kita berpisah sekarang, sampai bersua kembali!"

Siok Bun hendak mencegah, akan tetapi pemuda itu sudah berkelebat lenyap dari depannya.

Siok Bun masih merasa lemah sekali tubuhnya, pula merasa takkan sanggup mengejar.

Ia hanya menghela napas dan menanti datangnya dua orang tadi.

Mereka itu benar-benar memiliki gerakan yang cepat sekali dan sekali lagi Siok Bun menghela napas.

Terlalu banyak orang pandai di dunia ini dan ia makin lama makin merasa dirinya tidak berarti.

Dua orang itu adalah pemuda tinggi tegap yang berwajah gagah dan tampan, bersama seorang kakek berpakaian tosu yang sikapnya angker, matanya mengandung sinar galak dan selalu muram.

Tosu itu memandang kepada Siok Bun dan bertanya, suaranya bernada kaku.

"Di mana tikus-tikus tadi?"

Siok Bun merasa heran, juga tidak senang melihat sikap orang demikian kasar, akan tetapi ia menjawab juga.

"Kalau lotiang maksudkan para perampok tadi, sudah lama mereka melarikan diri."

Jawaban ini juga mengandung sindiran bahwa setelah bahaya lewat baru orang datang!

Tosu itu mengibaskan tangannya ke kiri dan...

sebatang pohon besar yang tumbuh di situ tumbang mengeluarkan suara keras.

"Kalau tidak terlambat, mereka akan terbasmi habis!"

Kata tosu itu yang kemudian.

berdiri menjauh tidak perduli lagi kepada Siok Bun.

Pemuda ini menjadi pucat Baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa tosu itu benar-benar hebat, malah jauh lebih lihai dari pada Oei Siok Ho!

Ia memandang kepada pemuda ganteng yang masih berdiri di depannya dan ternyata pemuda ini sudah menjura kepadanya.

Sikap pemuda ini tidak sehalus Oei Siok Ho, namun cukup hormat dan sinar matanya mengandung kejujuran.

"Saudara yang gagah, kaukah yang sudah berhasil mengusir mereka?"

Tanya pemuda itu. Siok Bun menggeleng kepalanya "Bukan, aku malah hampir tewas oleh mereka kalau tidak tertolong orang lain."

Pada saat itu, terbongkok-bongkok keluar dari gubuknya, Koai-yok-sian berjalan menyusul dan sudah tiba di situ. Siok Bun memandang penuh perhatian dan melihat orang yang dijuluki "Dewa Obat"

Itu benar-benar tidak seberapa, bahkan tidak patut menjadi orang pandai.

Orangnya sudah tua, paling sedikit enam puluh tahun, rambutnya seperti sarang burung, pendek awut-awutan di atas kepala, kering keriting seperti habis didekatkan api panas atau mungkin karena kepalanya selalu panas maka rambut itu tumbuhnya seperti rumput di musim kering.

Tubuhnya bongkok, bongkoknya menjuru di punggung seperti telah putus tulang punggungnya dan bersambung kembali dalam keadaan bengkong.

Kepalanya kecil, leher panjang, dan mukanya penuh keriput dan tahi lalat sehingga sukar sekali melihat bayangan perasaan pada mukanya.

Mulutnya yang sudah ompong sama sekali itu nyoprat-nyaprut selalu bergerak-gerak seperti orang mengunyah sesuatu.

Pendeknya, gambaran orang yang tidak mendatangkan kesan istimewa pada hati.

Akan tetapi, seburuk itu rupanya, datang-datang kakek bongkok ini mengeluarkan ucapan yang mengejutkan dan mengagumkan hati Siok Bun.

"Heh-heh-heh racun Hek-tok-ciang terusir pergi oleh racun merah! Hebat... hebat... orang muda, bagaimana bisa ada racun merah dalam darahmu?"

Kakek itu memandang kepada Siok Bun penuh perhatian.

Mendengar ucapan ini, Siok Bun segera menaruh hormat kepada kakek yang tak seberapa itu, karena benar-benar pandang mata kakek ini berbeda dengan orang lain.

"Ucapan lo-sinshe memang tepat sekali. Aku telah menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang dan baru saja ada orang menolongku. Tadinya aku berniat datang pada lo-sinshe memohon obat, akan tetapi terhalang oleh adanya gerombolan orang jahat tadi. Baiknya aku bertemu dengan seorang anak murid Kun-lun-pai dan mendapat pertolongan darinya."

"Aneh... aneh, apakah kau bertemu dengan Swan Thai Couwsu? Apa mungkin Swan Thai Couwsu keluar dari lubang kubur untuk menolongmu?"

Sebelum Siok Bun menjawab, pemuda di depannya tadi telah melangkah maju dan dengan penuh gairah bertanya.

"Saudara yang gagah, katakanlah, apakah betul kau terkena Hek-tok-ciang? Kau telah dilukai oleh siapakah?"

"Memang aku telah bertempur melawan Auwyang Tek dan terluka...."

Pemuda ini kini memegang tangannya dan bertanya, wajahnya berseri.

"Saudaraku, kau tentu membela Tiong-gi-pai maka kau sampai bertempur dengan iblis Auwyang Tek itu...!"

Siok Bun tercengang "Memang, aku bertempur di fihak Tiong-gi-pai...."

"Bolehkah aku mengetahui namamu? Aku bernama Liem Han Sin, ayahku Liem Hoan pernah ditolong oleh Tiong-gi-pai..."

Siok Bun menjadi girang sekali dan memeluk pundak pemuda ganteng itu.

"Ah, kiranya kau saudara Liem Han Sin? Tentu saja aku mengenal Liem-lopek beliau menjadi anggauta kami. Aku Siok Bun........"

"Hemmm, kau putera Siok Beng Hui....?"

Tiba tiba tosu yang sejak tadi diam saja itu bertanya kepada Siok Bun.

Siok Bun mengangguk membenarkan, la masih belum tahu siapa adanya tosu itu dan melihat sikap yang kaku dan kasar, ia mendongkol juga.

Akan tetapi tosu itu segera berkata kepada Liem Han Sin dengan suara ketus.

"Nah, kau dengar tidak? Putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui juga tidak mampu melawan, terluka dan ayahnya tidak mampu menolong. Mana bisa kau melawan Kai Song Cinjin? Perlu apa semua pertempuran itu, hanya menyia-nyiakan nyawa saja? Han Sin, lebih baik kau pergi ikut aku. mencucikan diri melepaskan Ikatan duniawi!"

Han Sin menjatuhkan diri berlutut di depan losu itu.

"Suhu, tak mungkin teecu dapat melakukan hal itu. Harap ampunkan bahwa kali ini teecu tidak memenuhi perintah suhu. Auwyang Tek si laknat telah membunuh dua orang saudara perempuanku, sudah membuat keluarga teecu cerai-berai dan kocar-kacir. Kalau bukan teecu yang membasmi manusia itu siapa lagi! Bahkan teecu mohon bantuan suhu dalam usaha teecu ini...."

"Huh, gila kau! Pinto tidak sudi berurusan dengan segala keruwetan dunia dengan kekejiannya. Perduli apa pinto dengan pertentangan antara Raja Beng dan puteranya?"

"Kalau begitu, teecu mohon doa restu, karena teecu hendak pergi bersama saudara Siok Bun ini, menuju ke kotaraja menghadapi Auwyang Tek."

Siok Bun sekarang baru tahu bahwa tosu galak ini bukan lain adalah guru Liem Han Sin, maka iapun tidak berani berlaku kurang hormat.

"To-liang, biarpun pada pangkalnya pertentangan itu merupakan pertentangan kaisar dan puteranya, namun sesungguhnya merupakan pertandingan antara yang baik dan yang jahat. Menteri durna Auwyang Peng telah mengumpulkan orang-orang jahat menindas rakyat dan para patriot, kalau bukan orang-orang gagah di dunia yang membasminya, tentu keadaan rakyat akan terjepit dan tertindas oleh kekuasaan jahat."

"Hayaaa, kau ini anak kecil tahu apa tentang baik dan jabat?"

Tosu itu mencela Siok Bun, kemudian ia menarik napas panjang, memandang muridnya.

"Kau ada bakat baik menjadi pendeta suci, akan tetapi memang nasib manusia itu tak dapat diubah lagi, seluruhnya berada di tangan Yang Kuasa. Kau hendak kembali ke dunia ramai, baiklah. He, si gila, orang Kun-lun telah dapat mengobati luka bekas Hek-tok-ciang. Pinto masih belum percaya apakah orang segila kau juga dapati"

Tiba-tiba ia menegur dan membentak Koai-yok-sian.

"Heh-heh-heh, Im-yang Thian-cu iblis muram, kau sejak mudamu masih begitu saja. Apa hanya Swan Thai Couwsu saja yang dapat mencari katak merah? Aku si gila juga dapat. Kau lihat ini?"

Koai-yok-sian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya yang tidak karuan itu dan ternyata yang dikeluarkan itu adalah sebuah katak merah yang sudah mati dan kering.

Tiba-tiba tangan tosu yang bernama Im-yang Thian-cu itu menyambar dan...

bangkai katak itu sudah berpindah tangan.

Gerakan Im-yang Thian-cu itu cepat bukan main sampai Siok Bun sendiri tidak melihat gerakan tangannya.

Dewa Obat itu tidak menjadi kaget, malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Memang obatku hanya boleh diambil dengan kekerasan. Heh-heh-heh, kau masih selalu tangkas, iblis muram! Akan tetapi jangan kira kau bisa menangkan aku. Kau sudah mengambil katak merah untuk muridmu, akan tetapi tanpa mengerti cara penggunaannya, apa sih artinya? Paling-paling muridmu akan mampus terkena racun merah. Heh-heh-heh!"

Im-yang Thian-cu terkejut sekali.

Cepat tangannya menyambar dan ia telah menyambar tongkat yang dipegang oleh Koai-yok-sian, kemudian sekali menggentak, tubuh kakek bongkok itu bersama tongkatnya melambung tinggi ke atas, lalu bergulingan turun kembali seperti hendak terbanting ke atas tanah.

Anehnya, begitu dekat dengan tanah, secara otomatis tubuh bongkok itu bisa membalik dan kedua kakinya turun lebih dulu dengan ringan.

Diam-diam Siok Bun meleletkan lidah.

Biarpun tidak sehebat kepandaian Im-yang Thian-cu.

namun dewa obat itu juga bukan orang sembarangan.

"Apa kau menghendaki aku menggunakan kekerasan memaksamu memberi keterangan sampai roh mu melayang keluar dari tubuh?"

Im-yang Thian-cu membentak.

"Heh-heh-heh, ada kalanya dahulu kumelihat kau meminta-minta kalau terpaksa. Mengapa sekarang tidak?"

Aneh sekali, tiba-tiba Im-yang Thian-cu lalu i mengangkat kedua tangan dan menjura sampai dalam di depan Si Dewa Obat.

"Twako yang baik, tolonglah adikmu kali ini. Biar kelak aku sembahyang dengan tiga batang hio harum di depan makammu."

Kata Im-yang Thian-cu. Siok Bun melihat ini semua seperti orang melihat dua badut berlagak, akan tetapi anehnya mereka itu bersungguh-sungguh. Si Dewa Obat lalu berkata.

"Kalau orang makan katak itu, ia akan mampus. Jemur kering, tumbuk hancur, bagian kepala obat luka, bagian badan obat minum. Segala Hek-tok saja sih apa artinya?"

Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuh dan pergi menuju ke gubuknya.

"Kau sudah mendengar semua, bukan? Nih, terimalah katak merah untuk melindungimu dari ancaman Hek-tok-riang."

Kakek itu memberikan katak dan membalikkan tubuh hendak pergi, akan tetapi ia menoleh kembali dan berkata.

"Ingat, Han Sin. Gurumu masih selalu menantimu untuk memimpinmu ke arah jalan terang. Insyaflah bahwa segala keduniawian takkan mendatangkan bahagia abadi."

Kemudian kakek itu berkelebat dan lenyap.

"Gurumu itu hebat, akan tetapi kelihatan galak,"

Kata Siok Bun kepada Liem Han Sin. Pemuda ini menarik napas panjang.

"Memang wataknya keras dan aneh, akan tetapi dialah manusia terbaik bagiku di dunia ini. Saudara Siok, mari kita kembali ke kota raja, bawa aku kepada ayah dan kepada Kwee-lo-enghiong."

Berangkatlah dua orang!

muda perkasa ini, menuruni Bukit Thien mu-san yang pada hari itu benar-benar tidak seperti biasanya, mengalami peristiwa-peristiwa aneh dan cukup hebat.

Di bagian depan sudah diceritakan tentang Liem Han Sin, pemuda yang mula-mula memasuki Nan-king bersama ayahnya, Liem Hoan, dan dua orang saudara perempuannya, Liem Kui Lan dan Liem Siang Lan.

Seperti telah kita ketahui, Auwyang Tek tertarik oleh kecantikan dua dara remaja ini, lalu mengganggunya sehingga terjadi pertempuran hebat.

Namun dua orang gadis cantik itu tidak tertolong, diculik oleh Auwyang Tek dan terdapat telah mati dua-duanya di dalam kamar Auwyang Tek.

Liem Hoan sendiri tertolong oleh Tiong-gi-pai dan Liem Han Sin pemuda yang gagah itu ditolong oleh Im-yang Thian-cu yang kebetulan berada di kotaraja.

Im-yang Thian-cu adalah seorang tokoh aneh di dunia kang-ouw sebelah selatan.

Tosu ini selain berwatak keras dan aneh, juga tidak mau tahu akan urusan dunia.

Sikapnya tidak membela siapa-siapa tidak menentang siapa-siapa akan tetapi juga keras hati dan tidak mau kalah, la amat sayang kepada Han Sin dan menurunkan kepandaian silatnya, terutama sekali menurunkan ilmu silatnya yang paling terkenal yang menggunakan sepasang senjata yang berlainan sama sekali bentuknya, di tangan kanan sebatang pit (alat tulis) dan di tangan kiri adalah sebuah kipas, la menamai senjatanya ini Yang-pit Im-san (Pensil Yang dan Kipas Im) sesuai dengan ilmu silat itu sendiri yang mempergunakan tenaga campuran Im dan Yang.

Di sini letaknya kelihaian ilmu silat ini, karena dua senjata itu berlainan tenaga yang dipergunakannya.

Liem Han Siu adalah seorang pemuda yang cerdas dan tekun belajar.

Sampai jauh malam ia mempelajari ilmu ini bertahun-tahun, di bawah bimbingan suhunya yang juga tidak mengenal lelah.

Latihan puncak dilakukan di depan sebatang lilin yang dinyalakan.

Im-yang Thian-cu yang sudah mencapai puncak kesempurnaan ilmu ciptaannya ini, kalau bersilat di depan api lilin sedikitpun tidak berguncang dan lilin yang mencair segera menjadi keras kembali terkena hawa dingin yang keluar dari kebutan kipas.

Sebaliknya, biarpun ia berdiri jauh dari lilin itu, sekali ujung pit-nya melakukan gerakan menotok ke arah api lilin, api itu akan terdorong dan bergoyang.

Setelah tamat belajar, Liem Han Sin mulai mengajukan isi hatinya di depan suhunya, yaitu hendak membalas kejahatan Auwyang Tek.

Gurunya selalu mencegahnya, menyatakan bahwa Auwyang Tek sebagai murid Kai Song Cinjin tidak mudah dihadapi dan pula, dengan filsafatnya yang aneh Im-yang Thian-cu hendak menarik murid ini menjadi seorang pendeta dan pertapa yang menyucikan diri.

Namun Han Sin terus-menerus menyatakan ketetapan hatinya sehingga akhirnya Im yang Thian-cu kalah.

"Yang dapat melindungi nyawamu dari Hek-tok-ciang hanya katak merah dan di dunia ini kiranya dalam waktu sepuluh tahun belum tentu kita bisa mencarinya. Kecuali kalau kita pergi kepada Koai-yok-sian, si gila itu tentu mempunyainya. Tidak ada obat aneh di dunia ini yang tidak dipunyai si gila itu. Demikianlah karena sayang kepada muridnya, Im-yang Thian-cu membawa muridnya pergi ke Thien-mu-san untuk mencari Koai-yok-sian yang sebetulnya adalah kenalan baik semenjak ia masih muda. Seperti kita semua ketahui, kebetulan sekali di Thien-mu-san mereka bertemu dengan Siok Bun. Tentu saja perampok yang begitu masuk gubuk lalu tertotok itu adalah perbuatan Im-yang Thian-cu yang menotoknya dengan pit dari jarak jauh. Kedatangan Liem Han Sin bersama Siok Bun yang sudah sembuh disambut dengan penuh kegembiraan oleh Tiong-gi-pai Apalagi Liem Hoan yang bertemu kembali dengan puteranya Dipeluknya puteranya itu dan diajaknya ke kamar di mana ayah dan anak ini berkongkouw sampai puas. Siok Bun juga menceritakan segala pengalamannya kepada ayahnya. Siok Beng Hui menarik napas panjang.

"Orang yang berada di fihak benar selalu akan mendapat pertolongan Thian, karena inilah keadilan Thian. Swan Thai Couwsu dari Kun-lun-pai sudah memiliki seorang ahli waris yang tepat sekali, karena kalau menurut penuturanmu itu, pemuda itu tentulah seorang yang memiliki pribudi mulia."

Ang-lian-ci Tan Sam Nio yang kegirangan melihat puteranya sembuh kembali juga berkata.

"Bun-ji, orang seperti itu patut kau jadikan kawan selama hidupmu."

"Memang, ibu. Anak juga merasa berhutang budi kepadanya dan anak tadinya hendak mengangkat sumpah untuk menjadikannya saudara angkat. Akan tetapi anehnya, dia tidak mau menerimanya."

"Memang aneh, dia sudah berkurban seperti itu, mengapa tidak mau mengangkat saudara?"

Tanya ibunya lagi.

"Dia bilang bahwa persumpahan mengangkat saudara merupakan ikatan yang akan amat mengecewakan kelak apa bila seorang di antaranya melanggarnya."

Siok Beng Hui dan isterinya saling pandang dan mengangguk-angguk memuji.

Benar seorang pemuda pilihan yang mempunyai pandangan jauh dan luas, pikir mereka.

Sementara itu, Liem Hoan merasa bangga sekali bahwa puteranya menjadi murid Im yang Thian-cu tokoh besar yang terkenal itu.

Lebih-lebih girang dan bangga hatinya bahwa pulangnya Han Sin ini adalah untuk membalaskan sakit hati kedua anak perempuannya yang tewas secara menyedihkan dalan tangan Auwyang Tek.

"Bagus, Han Sin. Memang sudah menjadi tugasmu untuk melawan Auwyang Tek si manusia laknat. Bukan saja untuk membalaskan sakit hati kita dahulu, akan tetapi juga untuk mengangkat nama Tiong-gi-pai, perkumpulan bercita-cita luhur yang setia kepada kepahlawanan Souw-taihiap."

Ayah ini lalu menceritakan kepada anaknya tentang perjuangan Tiong-gi-pai, juga tentang Souw Teng Wi yang kini sudah selamat berada di Peking, dilindungi oleh Raja Muda Yung Lo.

"Sayang Souw-taihiap sekarang sudah berubah ingatan, sudah seperti gila Kalau tidak, tentu dia akan dapat memimpin Tiong-gi pai, karena menurut penuturan Pek kong Sin-kauw, kepandaian Souw-taihiap luar biasa sekali, jauh lebih lihai dari pada Pek-kong Sin-kauw Siok taihiap sendiri."

Liem Hoan menutup penuturannya.

Kwee Cun CJan dan semua anggauta Tiong-gi-pai mengucapkan selamat dan menyatakan kegirangan hati mereka melihat kembalinya Liem Han Sin yang menjadi murid orang pandai dan Siok Bun yang sudah sembuh kembali.

Lebih besar rasa girang mereka ketika mendengar bahwa Han Sin mengajukan diri untuk menjadi jago dalam pibu melawan Auwyang Tek yang sombong.

Segera tantangan diajukan dan pada keesokan harinya, kembali rombongan yang bermusuhan sudah saling berhadapan di dalam hutan.

Kali ini, fihak Auwyang Tek hanya dihadiri oleh pengawal-pengawalnya saja, dan sebagai tetuanya hanya nampak Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, sedangkan Mo Hun dan Kai Song Cinjin tidak kelihatan.

Juga dua orang jagoan dari Jepang tidak nampak.

Agaknya fihak Auwyang Tek memandang rendah kepada fihak Tiong-gi-pai yang memang selalu kalah saja itu.

Akan tetapi ketika Auwyang Tek mengenal bahwa penantangnya adalah pemuda saudara dua orang dara yang dahulu menjadi korbannya, mukanya menjadi agak pucat Ia maklum bahwa kini ia bukan menghadapi pibu yang sifatnya mengadu kepandaian, melainkan mengadu nyawa karena persoalannya adalah persoalan sakit hati dan membalas dendam.

Namun sifat sombongnya mengalahkan kegelisahannya dan ia tersenyum-senyum ketika berkata kepada Liem Han Sin.

"Aha, kiranya anak wayang yang dahulu itu, mau mengantarkan nyawa agaknya! Majulah!"

Ia tidak bertanya nama tidak apa karena memang ia sengaja bersikap memandang rendah.

Wajah Liem Han Sin sudah menjadi merah saking marahnya melihat musuh besarnya.

Cepat ia mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu sebatang pit dan sebatang kipas, bentaknya penuh geram.

"Auwyang Tek manusia busuk. Biarlah hari ini menjadi hari kematianmu atau kematianku! Lihat serangan!"

Auwyang Tek biarpun mulutnya tersenyum mengejek, namun matanya awas memandang dan sekali lihat saja ke arah dua macam senjata lawan, ia tahu bahwa lawannya telah mempelajari ilmu silat tinggi.

Ia berlaku hati-hati dan cepat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan andalannya, yaitu Hek-tok-ciang.

Han Sin yang sudah maklum dan mendengar akan kelihaian pukulan ini juga tidak berani berlaku sembrono, cepat ia mengebut dengan kipasnya dan membarengi mengirim totokan dengan pitnya.

Pertempuran segera berjalan seru sekali.

Kali ini Auwyang Tek benar-benar menemui tandingannya.

Pertempuran berjalan lebih ramai dari pada ketika ia melawan Siok Bun.

Maka Auwyang Tek juga tidak berani main-main lagi, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya yang ia perdalam setiap hari dari gurunya,Kai Song Cinjin.

Auwyang Tek lebih tua beberapa tahun dari Han Sin.

Juga putera Menteri ini menang pengalaman karena dia sudah terlalu sering bertempur.

Berbeda dengan Han Sin yang baru saja turun dari perguruan.

Namun oleh karena Han Sin mendapatkan guru yang mengajarnya dengan sungguh-sungguh dan dia sendiri belajar penuh ketekunan dan cita-cita untuk membalas dendam, maka oleh gurunya ia memang digembleng untuk menghadapi pukulan-pukulan berbisa seperti Hek-tok-ciang dan kini ia tahu bagaimana harus menghadapi Auwyang Tek musuh besarnya.

Dengan kipas di tangan kirinya, Han Sin selalu berhasil mengebut serangan pukulan lawan.

Hawa pukulan Hek-tok-ciang kandas dan buyar setiap kali terkena kebutan kipas yang penuh dengan hawa Im-kang itu.

Di lain fihak, sasaran pit di tangan kanan Han Sin sebegitu jauh selalu mengenai tempat kosong atau dapat tertangkis oleh tangan Auwyang Tek yang dilindungi oleh sarung tangan yang tidak takut menghadapi senjata tajam.

Dua orang pemuda ini saling serang dengan seru dan mati-matian.

Kepandaian mereka ternyata setingkat.

Pertandingan berjalan dalam tempo cepat, membuat mereka yang menonton menjadi tegang dan kagum.

Liem Hoan yang tentu saja menjagoi puteranya itu kelihatan tidak mau diam, seperti seorang botoh jago melihat jagonya bertanding.

Auwyang Tek benar-benar tangguh.

Sebagai murid Kai Song Cinjin, dia benar-benar merupakan lawan berat bagi Han Sin.

Kalau saja Liem Han Sin tidak memegang sepasang senjata Yang-pit Im-san yang luar biasa itu, tentu dia sendiri takkan sanggup menghadapi Hek-tok-ciang yang hebat itu.

Baik kipas maupun pit merupakan senjata yang dapat melakukan serangan maut, maka sebegitu lama Auwyang Tek tidak berani berlaku sembrono, selalu menangkis atau mengelak dari sambaran sepasang senjata itu.

Setelah seratus jurus lebih bertanding mati-matian, Auwyang Tek menjadi penasaran sekali dan timbul kenekatannya.

Pada saat pit di tangan kanan Han Sin menyambar, ia cepat menangkapnya dengan gerak tipu Kauw-ong-pok-sit (Raja Kera Menyambar Makanan).

Gerakan ini cepat sekali dan tahu-tahu pit itu telah dapat ia tangkap.

Untuk dua detik keduanya saling betot merampas senjata itu.

Han Sin mempergunakan kesempatan ini untuk menghantam dengan kipasnya ke arah kepala lawannya!

Auwyang Tek mengeluarkan seruan keras, tangan kanannya menerima pukulan kipas itu.

Saking hebatnya pertemuan antara tangan dan kipas, keduanya terpental mundur dan pegangan Auwyang Tek pada pit tadi terlepas.

Namun pengaruh Hek-tok-ciang tadi benar-benar hebat, membuat Han Sin tergetar ketika terpental mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Auwyang Tek untuk berkelebat cepat ke sebelah kanan lawannya dan mengirim pukulan Hek-tok-ciang dengan tangan (Lanjut ke

Jilid 11) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 kanan! Han Sin maklum akan datang bahaya besar, kipas dan pitnya digerakkan berbareng menapaki musuh dan...

"plak! plak! tak!"

Kedua orang pemuda itu mengeluh, keduanya terhuyung ke belakang lalu roboh!

Ternyata bahwa pukulan Hek-tok-ciang yang ampuh dari Auwyang Tek telah meninggalkan bekas di pundak kanan Han Sin.

Baju di bagian ini hitam menghangus, tembus sampai ke kulit dagingnya.

Han Sin terluka berat, menderita luka dalam terkena racun Hek-tok-ciang yang jahat.

Di lain fihak, Auwyang Tek juga tak dapat menghindarkan pukulan-pukulan Han Sin tadi.

Tangan kirinya, pada pergelangannya, terkena totokan pit sedangkan dadanya dihajar oleh kipas sehingga darah segar mengalir dari mulutnya, ia muntah darah!

Liem Hoan ccpa melompat dan menubruk pu-teranya, dibantunya puteranya itu supaya bangun berdiri.

Di lain fihak.

Auwyang Tek yang sudah tak dapat bangun itu juga ditolong oleh seorang pengawalnya yang menggendongnya.

Sarung tangan kiri Auwyang Tek sampai terlepas oleh totokan tadi.

Keduanya payah dan hanya dapat saling pandang dengan penuh kebencian Hebatnya, Auwyang Tek masih dapat menyeringai dan berkata mengejek.

"Kalau kau besok masih hidup, kita lanjutkan penandingan ini!"

Liem Han Sin lebih parah lukanya karena keracunan. namun pemuda ini mengepal tinjunya dan berkata.

"Sekarangpun aku masih bersedia mengadu nyawa!"

Akan tetapi tentu saja ayahnya tidak mengijinkan dan begitulah, pertandingan hari itu boleh dibilang berakhir dalam keadaan "seri."

Kedua rombongan kembali ke tempat masing-masing dan pertandingan berakhir.

Kedua orang muda itu mendapat perawatan di tempat masing-masing, namun ternyata bahwa keadaan Han Sin lebih payah.

Biarpun ia mempunyai katak merah, namun oleh karena pukulan yang dilakukan Auwyang Tek tadi mengenai secara tepat, ia harus beristirahat paling cepat setengah bulan baru kiranya dapat bertanding lagi.

Celakanya, tiga hari kemudian Auwyang Tek sudah menantang-nantang lagi!

Ketika tidak ada pelayanan, pemuda ini membabi-buta, membunuhi orang-orang yang dianggapnya bersimpati kepada Tiong-gi-pai.

Memang belum berani dia menyerang sarang Orang Tiong-gi-pai begitu saja tanpa seijin ayahnya, namun ia tidak ragu-ragu membunuh orang-orang yang ia anggap musuhnya, atau sedikitnya orang-orang yang menaruh simpati kepada Tiong-gi-pai.

Tentu saja dengan alasan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang jahat yang hendak mengacau kota raja!

Fihak Tiong-gi-pai mendenga r ini semua hanya bisa menggigit bibir dan membanting-banting kaki.

Orang-orang gagah ini sebetulnya sudah tidak sabar lagi dan ingin mereka mengadakan perang total terhadap kaki tangan Auwyang-taijin.

Biarpun fihak musuh banyak yang kuat, namun dalam perang total berbeda dengan pibu yang dilakukan seorang lawan seorang.

Tentu saja karena mereka memang kalah banyak, fihak Auwyang-taijin selalu dapat mengeluarkan jago yang lebih kuat.

Berbeda dalam perang terbuka, di mana mereka dapat melakukan perlawanan gerilya seperti ketika menghadapi pasukan Mongol dahulu.

"Kita serbu saja gedung menteri durna itu malam hari!"

Kata seorang.

"Kita bakar gedungnya dan hujani anak panah dari tempat gelap,"

Kata orang ke dua. Kalau didiamkan saja, siapa yang kuat menahan tindasan mereka!"

Protes orang ke tiga.

Semua orang Tiong-gi pai hanya segan bertindak karena mereka ini masih menaruh harapan kepada Raja Muda Yung Lo di Peking.

Dan oleh karena Raja Muda Yung Lo telah mengirim utusannya, yaitu Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, para anggauta Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan ini mendesak pendekar kaitan itu.

Siok Beng Hui sendiri memang sudah tak dapa menahan kemarahan hatinya menyaksikan sepak terjang Auwyang Tek dan kawan-kawannya.

Demikianlah, setelah Han Sin terluka, Pek-kong Sin kauw Siok Beng Hui berkata kepada Tiong-gi-pai.

"Baiklah, sekarang aku akan pergi ke utara, minta perkenan yang mulia dan minta bala bantuan. Di utara juga banyak terdapat orang pandai dan kalau yang mulia mengijinkan, kita gempur menteri-menteri durna itu."

Orang-orang Tiong-gi-pai bersorak gembira.

Hari itu juga Siok Beng Hui, Tan Sam Nio, dan Siok Bun berangkat ke utara menunggang kuda.

Orang-orang Tiong-gi pai sementara itu tidak mau melakukan gerakan apa-apa.

Diam-diam mereka bersembunyi dan merawat luka Han Sin yang sudah mulai sembuh Biarpun fihak Auwyang Tek gembar-gembor menantang pibu, mereka berlaku pura-pura tidak mendengar saja.

Kalau ada beberapa orang Tiong-gi-pai yang berada di kota kebetulan bertemu dengan kaki tangan Auwyang Tek yang sengaja mencari-cari dan memancing-mancing keributan, orang-orang Tiong-gi-pai ini menyingkirkan diri dan menelan segala penghinaan dengan sabar.

Semua mentaati pesan ketua mereka, Kwee Cun Gan yang melarang anak buahnya bentrok dengan fihak musuh sebelum mendapat berita dari utara.

Tentu saja dengan tidak adanya pergerakan dari fihak Tiong-gi-pai, fihak Auwyang Tek menjadi makin berani dan binal.

Auwyang Tek makin sewenang-wenang, merampasi anak bini orang lain semaunya saja.

Kaki tangannya juga berlaku lebih sewenang-wenang lagi, mengambili harta dan sawah orang seperti mengambil warisan nenek moyangnya sendiri saja.

Untuk kesekian kalinya sejak sejarah berkembang, rakyat kecil pula yang menanggung akibat semua ini.

Rakyat kecil, petani miskin yang tidak mempunyai apa-apa yang dapat melindungi hidup mereka dari perasan fihak yang lebih kuat.

Biarpun dunia sudah ada kaisar, ada orang-orang berpangkat, ada bala tentara, tetap saja hukum rimba masih berlaku di mana-mana, seolah-olah dunia ini masih merupakan hutan belantara yang hanya ditinggali oleh binatang binatang penghuni rimba belaka.

Bagaimana dapat dikatakan hukum rimba?

Si jagoan menindas si Iemah si kaya memeras si miskin, orang berpangkat memeras pedagang, majikan memeras buruhnya dan mereka yang tertindas dan terperas itu tidak mempunyai pelindung sama sekali.

Bukankah ada petugas-petugas keamanan dan hakim?

Demikian orang bertanya.

Memang ada.

Bahkan petugas-petugas keamanan yang berpakaian mewah dan hakim-hakim dengan pakaian kebesaran dan gedung-gedung indah.

Namun petugas-petugas hamba hukum ini sudah berjiwa pedagang.

Hanya untung rugi saja yang terdapat dalam kamus haii mereka.

Ada tuntutan?

Ada perkara?

Nanti dulu, dilihat siapa yang bisa "menguntungkan"

Siapa salah siapa benar?

Nanti dulu, itu soal sepele, yang perlu, siapa yang menguntungkan bisa berhak menang perkara!

Inilah keadaan kerajaan baru di Nan-king pada masa itu.

Penjahat, hartawan, bangsawan dan pembesar bersekutu menjadi iblis-iblis penindas.

Mereka berpesia-pora di atas kepala rakyat kecil.

Sungguh menyedihkan.

Hanya para pendekar dan patriot gagah perkasa yang terbuka mata hatinya dan dapat meneropong ini semua.

Namun apa daya mereka?

Persekutuan, penjahat-hartawan-bangsawan pembesar itu terlampau kuat.

Setiap perlawanan ditindas dan entah sudah berapa banyak pendekar-pendekar tewas oleh komplotan ini.

Kaisar bukan seorang jahat, bahkan bekas patriot dan pejuang rakyat, akan tetapi, seperti kebanyakan manusia di atas bumi ini, hati dan pikiran mudah terpengaruh oleh keadaan.

Dahulu pejuang rakyat ketika hidup dalam perjuangan di samping atau di tengah-tengah rakyat.

Sekarang sesudah menjadi kaisar, yang mendampingi bukan rakyat lagi melainkan pembesar korup, menteri-menteri durna.

Mana kaisar tahu akan penderitaan rakyat?

Hidup rakyat dinilai dari hidup sendiri.

Dia sekarang sudah mulia, sudah makmur, hidup serba cukup berlimpah-limpah penuh kebahagiaan, tentu rakyat juga begitu keadaannya!

Manusia!

Memang serba bodoh, lalim, mahluk kurang penerima yang kadang-kadang menyulap diri sendiri seperti pintar, bijaksana dan budiman.

Hanya pada lahirnya saja kelihatan demikian, namun pada batinnya tetap mahluk bodoh, lalim dan kurang penerima!

Seperti badut di belakang topeng.

Seperti kudis tertutup baju baru.

Rakyat sudah kehabisan pilihan.

Pindah ke utara, biarpun di sana berkuasa Raja Muda Yung Lo yang lebih bijaksana, tetap saja selalu terganggu oleh penjahat-penjahat bangsa sendiri yang merajalela di samping penyerbuan orang-orang Mongo!

yang hendak membalas dendam atas kekalahan mereka.

Pindah ke selatan, terdapat gangguan srigala-srigala dalam negeri, di samping gangguan-gangguan anjing-anjing dari luar daratan berupa bajak-bajak laut Jepang Tinggal di pedalaman, diterkam oleh lintah-lintah darat berupa hartawan-hartawan tuan tanah yang merupakan raja-raja kecil karena terlindung oleh petugas-petugas negara yang sudah gendut perutnya karena makan sogok!

Serba susah, serba sulit!

Tiong-gi-paii pada masa itu merupakan satu satunya perkumpulan yang menentang kekuasaan sewenang-wenang dari pada menteri-menteri durna.

Namun apa artinya Tiong-gi-pai yang hanya beberapa puluh orang saja anggautanya?

Menghadapi Auw-yang Tek dan kaki tangannya saja sudah kewalahan.

Bahkan akhir-akjiir ini semenjak perginya Siok Beng Hui ke Peking, Tiong-gi-pai tidak berani sembarangan bergerak lagi.

Setelah sembuh dari sakitnya, Liem Han Sin secara nekat menyerbu ke gedung Menteri Auw-yang Peng dengan maksud membunuh dan membalas dendam kepada Auwyang Tek.

Mula-mula ayah nya melarangnya, namun pemuda yang bersemangat baja ini diam-diam pada suatu malam menyerbu juga.

Berhasil memasuki gedung, merobohkan empat lima orang penjaga.

Akan tetapi sial baginya, sebelum bertemu dengan Auwyang Tek, lebih dulu ia tersasar memasuk kamar Kai Song Cinjin!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya pemuda gagah itu ketika ia berhadapan dengan Kai Song Cinjin yang duduk bersila sambil meramkan mata di atas pembaringan yang bertilamkan kain sutera halus.

Ia cepat-cepat hendak keluar lagi, akan tetap sekali Kai Song Cinjin menggerakkan tangan ke arahnya, pemuda ini tidak mampu keluar lagi!

Ada sambaran tenaga dan tangan kakek tua itu yang membetotnya kembali.

''Orang muda, kau datang mau apa?"

Tanya Kai Song Cinjin tenang-tenang saja.

Liem Han Sin bukan seorang penakut, la sudah memperhitungkan ketika hendak menyerbu bahwa ia menghadapi bahaya besar dalam penyerbuan ini.

dan bahwa ia bertaruh dengan nyawa.

Tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang pandai dari fihak musuh, ia tidak sudi membohong.

"Aku datang hendak mencari Auwyang Tek, hendak minta ganti nyawa dua orang saudara perempuanku yang sudah ia bunuh!"

Kai Song Cinjin tersenyum. Ia sudah mendengar tentang pertandingan pibu antara muridnya dan pemuda bernama Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu.

"Hmm, jadi kau murid Im-yang Thian-cu? Benar-benar tosu kurang makan itu tidak tahu diri dan tak dapat mengajar adat kepada muridnya. Kau sudah kalah pibu, mengapa nekat menyerbu ke sini? Kau mengandalkan apa? Kalau tidak pinceng beri hajaran, kau bisa menimbulkan keributan di rumah Auwyang taijin. Pergilah!"

Kai Song Cinjin mengebutkan tangannya ke arah Han Sin.

Pemuda ini kaget bukan main, karena biarpun tangan kakek itu tidak menyentuhnya.

namun ia merasa dadanya sakit sekali, sebelah tubuhnya serasa lumpuh, la tahu bahwa ia telah menderita luka dalam akibat pukulan yang luar biasa dari seorang sakti.

Sambil menggigil bibir menahan sakit pemuda ini bertanya.

"Kau sudah melukai seorang muda. Siapakah kau?"

"Ha-lia, kau hendak mengadu kepada Im-yang Thian-cu? Boleh, katakan bahwa kau menerima pelajaran dari Tok-ong!"

Diam-diam Han Sin mengeluh.

Pantas saja begini sakti.

Tidak tahunya inilah orangnya yang bernama Tok-Ong Kai Song Cinjin Si Raja Racun!

Gurunya sendiri, lm-yang Thian-cu, sudah berkali-kali mengaku tak dapat menandingi hwesio dari Tibet ini.

Apa lagi dia Dengan tubuh dan hati sakit, Liem Han Sin memaksa diri keluar dari gedung itu dan kembali ke tempat ayahnya, tentu saja ayahnya terkejut melihat puteranya pulang dengan wajah pucat.

Setelah bajunya dibuka, ternyata di dada sebelah kanan pemuda itu terdapat tanda titik-titik merah.

Kwee Cun Gan cepat memanggil ahli pengobatan untuk memeriksa luka ini, akan tetapi semua ahli pengobatan di kota itu tidak ada yang mampu menyembuhkan luka Liem Han Sin.

Hanya memberi obat penahan nyeri saja.

Pemuda ini makin lama makin lemah dan sebelah kanan tubuhnya sudah lumpuh seperti orang terkena penyakit pianswi.

Keadaannya benar-benar amat menyedihkan.

Liem Hoan tak suka makan, tak nyenyak tidur, setiap saat berada di samping puteranya sambil menghela napas panjang pendek.....

Souw Lee Ing menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanannya setelah ia keluar dari Gua Siluman, la boleh diumpamakan sebagai seorang yang baru keluar dari hukuman atau sebagai seekor burung yang baru terlepas dari kurungan.

Selama empat lima tahun ia mengeram diri di dalam Gua Siluman, hidup seorang diri dan terasing sama sekali dari dunia ramai.

Sekarang ia melihat segala sesuatu nampak indah menarik, bahkan orang-orang dan suara mereka merupakan hal yang amat menyenangkan hatinya.

Tentu saja ini adalah akibat dari pada pengasingannya yang bertahun-tahun itu, karena memang manusia dapat menghargai segala sesuatu di permukaan bumi itu kalau sudah merasa betapa rindunya ia akan semua itu apa bila ia berada seorang diri di tempat terasing dan sunyi.

Umpamanya saja, setiap orang akan merasa jijik dan segan mendekati apa bila bertemu dengan seorang pengemis kotor berpenyakitan, apa bila pertemuannya itu terjadi di dunia ramai, di kota misalnya.

Akan tetapi apa bila pertemuan itu terjadi di tempat sunyi, di tempat yang membuat ia terasing dari dunia ramai, kiranya pertemuan dengan seorang sesama hidup, seorang manusia, betapa kotor dan rendah menurut ukuran orang kota sekalipun, ia akan suka sekali mengajaknya bicara.

Demikian juga dengan Lee Ing.

Begitu keluar dari Gua Siluman, biarpun ia bertemu dengan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang dulu berkeras hendak membunuhnya dan menjadi musuh besar ayahnya, ia tidak tega untuk mencelakainya.

hanya merampas pakaiannya dan mempermainkannya sedikit.

Akan tetapi setelah berbulan-bulan ia berada di dunia ramai dan melihat betapa jahat dan palsunya sebagian besar manusia di dunia ini, hatinya mulai tawar lagi dan mulailah ia membedakan antara manusia baik-baik dan manusia-manusia jahat.

Apa lagi setelah ia melakukan perjalanan makin dekat dengan kota raja, la melihat rakyat yang tertindas, pembesar pembesar korup dan jahat yang bersekongkol dengan tuan-tuan tanah yang merupakan raja-raja kecil di dusun masing-masing, melihat orang-orang yang berkepandaian dan kuat menindas yang lemah.

Hatinya menjadi panas dan timbul sifat ksatrianya.

Di mana-mana Lee Ing turun tangan memberi hajaran kepada orang-orang yang mengandaikan kepandaian menindas, si lemah, memberi hukuman kepada hartawan-hartawan atau okpa-okpa yang jahat, yang demi kemurkaan hati yang tak kenal puas itu tidak segan-segan untuk memeras darah dan keringat rakyat petani.

Tidak segan pula gadis remaja ini turun tangan membasmi para pembesar yang korup dan mengandalkan kekuasaannya dan pasukannya untuk bertindak seperti kaisar sendiri terhadap rakyat yang menjadi makin payah terjepit.

Gerak-gerik Lee Ing demikian cepat sampai-sampai tidak ada orang yang melihatnya, baik mereka yang ia tentang maupun mereka yang ia tolong?

Ia datang dan pergi seakan-akan tanpa bayangan, hanya meninggalkan bekas sepak terjangnya yang cukup mengecilkan nyali para orang jahat dan membesarkan hati rakyat yang tertindas.

Sering kali terjadi seorang pembesar tinggi, tanpa mengetahui siapa yang melakukannya tahu-tahu telah digantung di tengah kota, atau hartawan tuan tanah yang tahu-tahu kehilangan daun telinganya, kehilangan sebagian emas simpanannya atau mendapatkan surat ancaman supaya mengembalikan tanah yang dirampasnya dari para petani dusun.

Ada pula yang tahu tahu telah tewas di dalam kamarnya dan gadis dusun yang diculik dan hendak dijadikan selir secara paksa tahu-tahu telah lenyap dan telah berada kembali di rumah orang tuanya.

Juga di dusun-dusun banyak terjadi hal aneh, misalnya di rumah keluarga miskin yang hampir mati kelaparan tahu-tahu terdapat beberapa potong emas.

Semua ini bekas tangan Souw Lee Ing gadis remaja puteri yang telah mewarisi kepandaian tinggi sekali dan ternyata begitu keluar dari Gua Siluman tidak menyia-nyiakan kepandaian yang diwarisinya dan jiwa ksatria ayahnya yang mengalir di tubuhnya itu menuntut supaya ia turun tangan dan bertindak langsung membantu rakyat kecil.

Melihat betapa makin dekat kota raja makin banyak terjadi kejahatan dan penindasan, Lee Ing menjadi ingin sekali cepat-cepat memasuki kota raja.

Pada suatu hari ia telah berada di pantai Sungai Huai.

Pemandangan di sepanjang pantai sungai ini amat indahnya, juga hawanya amat sejuk.

Lee Ing yang merasa kepanasan timbul keinginan hatinya hendak mandi..

Tempat itu memang sunyi sekali, tidak kelihatan ada orang, karena memang bagian yang penuh batu karang ini tidak didatangi oleh para nelayan.

Lee Ing mencari tempat yang cukup bersih, lalu menanggalkan pakaiannya dan menaruh pakaian itu di atas batu karang.

Dia sendiri lalu turun ke dalam air yang amat jernih, di bagian di mana air sungai sukar didatangi orang karena tempat itu penuh batu karang yang tinggi dan licin, maka di situ sunyi saja tidak ada orang lain.

Lee Ing tidak merasa ragu-ragu untuk mandi tanpa pakaian.

Ia tidak mempunyai pakaian lain kecuali yang dipakainya, yaitu pakaian hijau yang ia ambil dari badan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

Melihat air jernih kehijauan yang membayangkan batu-batu karang dan tetumbuhan itu mendatangkan rasa sejuk dan segar, Lee Ing tertawa girang dan berenang ke sana ke mari sambil memukul-mukul air seperti anak bermain-main dengan riang gembiranya.

"Heeeiii....! Kau benar-benar gadis nakal, terlalu sekali!"

Tiba-tiba terdengar suara orang menegur.

Lee Ing terkejut.

Tak disangkanya sama sekali bahwa di tempat seperti itu ada orangnya.

Ia menengok ke kanan dan....

melihat seorang pemuda tampan sekali sedang duduk dengan enaknya memegangi sebatang bambu pancing.

Pemuda itu memandang kepadanya dengan kening berkerut tanda hati kesal.

Tentu saja Lee Ing cepat-cepat selulup, menyembunyikan tubuhnya di dalam air sampai ke dagunya.

Pantas saja ia tadi tidak melihat pemuda itu, karena pemuda itu duduk di atas batu karang di balik batu karang besar sehingga tadi antara dia dan pemuda itu teraling batu karang yang menonjol ke sungai.

Juga tentu saja ia tidak mendengar apa-apa karena pemuda itu duduk seperti patung memancing ikan!

Wajah Lee Ing menjadi merah seperti udang direbus.

Dia seorang dara berusia sembilan belas tahun dan tentu saja hatinya berdebar tidak karuan karena ada seorang pemuda melihat ke arahnya sedangkan ia sama sekali tak berpakaian.

Sungguhpun tubuhnya tersembunyi di dalam air, namun air itu jernih sekali.

"Kau. manusia kurang ajar!""

Bentak Lee Ing sambil melototkan matanya. Pemuda mi membelalakkan matanya terheran-heran, kemudian bertanya dengan suara penasaran.

"Eh, eh, kau yang nakal dan mengganggu orang lain, sekarang tiada hujan tiada angin memaki aku kurang ajar, coba jelaskan alasannya."

"Laki-laki tak tahu diri! Ada seorang wanita mandi di sini dan kau... matamu melotot tak tahu malu, Hayo kau melihat ke jurusan lain, kalau tidak, awas kau akan kukorek keluar biji matamu yang kurang ajar itu!"

Lee Ing makin marah karena dalam anggapannya ia melihat sepasang mata pemuda itu yang jernih dan tajam seperti bintang nampak bersinar-sinar dan wajah yang tampan itu berseri seakah-akan merasa geli dan senang hati menggodanya.

Pemuda itu tersenyum mendengar makian ini, senyumnya manis sekali membuat pipi Lee Ing menjadi makin merah.

Akan tetapi baiknya pemuda itu tidak menggoda lebih lanjut dan benar saja memalingkan muka ke lain jurusan.

Mendapat kesempatan baik ini.

Lee Ing lalu berenang ke tempatnya yang tadi Kini ia teraling oleh tonjolan batu karang dan pandangan pemuda itu, cepat-cepat melompat ke darat dan memakai lagi pakaiannya.

"Akan kuhajar dia...!"

Pikirnya dan di dalam kepalanya sudah di rencanakan cara bagaimana sebaiknya memberi hajaran kepada pemuda itu.

Di tampar pipinya sampai biru atau dilempar saja dia ke air?

Sambil memikirkan rencana ini, tak terasa Lee Ing menggerakkan kedua tangannya untuk membereskan rambutnya yang awut-awutan dan basah, membereskan pula pakaiannya.

Seakan-akan kedua tangan itu bergerak tanpa ia kehendaki untuk membuat ia nampak cantik menarik!

Sayang aku tidak mempunyai pakaian lain untuk berganti sehabis mandi, pikirnya.

Ah, mengapa pula harus berganti pakaian, dan mengapa pula aku harus bersolek?

Lee Ing berdebar jantungnya dan ia mencela diri sendiri.

"Lee Ing, sejak kapan kau menjadi pesolek? Genit benar!"

Ia memukul pipinya sendiri perlahan lalu berlari-lari menuju ke tempat pemuda pengail ikan itu.

la lihat pemuda itu masih duduk anteng seperti tadi, sepasang matanya ditujukan ke air, atau lebih tepat ke ujung tali pancing yang berada di permukaan air.

Setelah dekat Lee Ing mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar ganteng, terutama?

sekali bibir dan matanya amat manis menarik hati.

Belum pernah Lee Ing melihat pemuda setampan ini.

Tampan, ganteng dan halus gerak-genknya, seperti seorang pemuda terpelajar.

Tadinya ia sudah gemas dan sudah gatal-gatal tangannya hendak memberi hajaran atas sikap pemuda yang dianggapnya kurang ajar itu.

Pemuda itu menengok sambil tersenyum dan berkata.

"Ah, kau jelita sekali!"

Pujian ini demikian sewajarnya dan pada mata pemuda ini tidak nampak sinar mata yang biasanya berpancaran keluar dari mata laki-laki yang melihatnya.

Biasanya mata laki-laki memandangnya seperti pandangan singa kelaparan dan pujiannya mengandung nafsu dan gairah.

Akan tetapi pujian pemuda tampan ini sewajarnya, terus terang dan sederhana.

Kembali Lee Ing merasa mukanya panas dan ia tidak tahu betapa sepasang pipinya menjadi kemerahan, membuat ia nampak makin cantik.

Biarpun pada pandang mata pemuda itu tidak ada tanda-tanda ceriwis, namun pujiannya membuat Lee Ing marah.

Ia sudah mengepal tinju dan membentak.

"Kau pemuda tak tahu aturan!"

Pemuda itu tertegun.

"Lho, kau memaki aku lagi. Tadi kau memaki aku kurang ajar karena aku sudah duduk di sini melihatmu mandi, sungguhpun aku yang datang lebih dulu dan bukan aku yang sengaja melihat kau mandi di depanku. Sekarang kau bilang aku tak tahu aturan. Apa lagi alasannya!"

"Kau seorang laki-laki berani memuji-muji kejelitaan wanita, bukankah itu tak tahu aturan dan menandakan bahwa kau seorang yang kurang ajar sekali?"

Pemuda itu tersenyum dan kembali jantung Lee Ing berdetak lebih cepat Senyum pemuda ini seakan-akan dapat membetot jantungnya dan meruntuhkan semangatnya.

"Nona yang jelita, kau benar-benar tidak adil dan keliru sekali pandanganmu itu. Aku seorang yang suka akan keindahan, kalau aku melihat tamasya alam yang indah, aku suka memujinya, kalau melihat bunga mekar semerbak, aku suka pula memuji-mujinya. Sekarang aku melihat kau begini cantik jelita, tak tertahan lagi mulutku memuji, pujian yang keluar dari lubuk hati. Mengapa hal ini dianggap tak tahu aturan? Malah ini menandakan bahwa aku tahu akan keindahan, tahu menghargai yang indah-indah."

"Hemmm, kau..... penyair?"

Pemuda itu menggeleng kepala dan memandang dengan lucu, agaknya geli hatinya.

"Bukan, aku kau lihat sendiri, aku pengail pada saat ini. Mengapa kau mengira aku penyair?"

Lee Ing gelagapan. Tadi ia bertanya karena mendengar kalimat-kalimat yang amat indah bagi pendengarannya dan ia teringat akan ayahnya yang suka membuat syair.

"Karena.... karena... seorang penyair cinta akan keindahan."

Pemuda itu mengangguk angguk.

"Memang, setiap orang seniman selalu dapat menghargai keindahan alam dan akupun tak berani mengaku sebagai seorang seniman..."

"Kau pengail? Itukah pekerjaanmu?"

Tanya Lee Ing yang entah bagaimana sudah lupa lagi akan niatnya hendak memberi "hajaran"

Tadi. Pemuda itu tersenyum.

"Kau bicara sambil berdiri saja seperti hakim memeriksa penjahat. Di sini banyak batu halus, enak diduduki. Kalau kau mau duduk bukankah akan lebih enak kita mengobrol! Jangan kau takut, aku hanya seorang biasa saja, seorang pemuda yang tidak berbahaya. Namaku Oei Siok Ho. Timbul rasa kagum dalam hati Lee Ing akan sikap pemuda ini yang makin lama makin tampak kejujuran dan kesederhanaannya, namun amat pandai bicara yang indah-indah. Timbul sifatnya sendiri yang polos dan jujur.

"Aku tadi ingin sekali memberi hajaran kepadamu,"

Katanya sambil duduk di depan pemuda itu. di alas sebuah batu yang hitam halus dan bersih. Siok Ho tersenyum lagi.

"Begitukah? Mengapa tidak kau lanjutkan keinginanmu itu? Kau tentu marah dan hendak melemparkan aku ke dalam air, bukan?"

Lee Ing kaget, akan tetapi melihat sinar mata yang berseri penuh tawa itu, ia tertawa gembira.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanyanya sambil tersenyum juga.

"Tentu demikian kira-kira perasaan seorang gadis kalau merasa diperlakukan kurang ajar oleh seorang pria yang tidak dikenalnya. Akan tetapi jangan kau lakukan hal itu, karena kalau aku tercebur di dalam air, tentu ikan-ikan akan lari lagi dan tidak mau mendekati pancingku. Sedangkan perutku sudah lapar bukan main. Tadinya ikan-ikan besar sudah ada yang mendekat, sebelum aku berhasil, eh, muncul kau dari balik sana dan membikin takut ikan-ikan besar. Sekarang ikan-ikan itu sudah mulai mendekat, jangan kau ceburkan aku!"

Lee Ing tersenyum geli.

Pemuda ini pandai juga melucu, pikirnya.

Karena kini Siok Ho memandang ke arah air, Lee Ing mulai memperhatikannya.

Benar tampan, pikir Lee Ing dan ia merasa malu kepada hatinya sendiri mengapa begitu tertarik dan tergila-gila kepada pemuda yang tidak dikenalnya ini.

Seperti seorang siucai (mahasiswa) muda, pikirnya.

Akan tetapi mengapa memancing seorang diri di tempai sunyi ini?

Dan alangkah asyiknya, nampaknya senang bukan main menanti ikan besar mendekat.

Sampai lama Siok Ho tak bergerak-gerak anteng dan seperti sudah lupa bahwa di sampingnya terdapat seorang gadis jelita memandanginya dari samping.

"Apa sih umpannya untuk memancing?"

Lee Ing akhirnya bertanya karena sudah tidak sabar lagi menanti orang yang diam saja seperti patung itu.

Siok Ho tidak menjawab, melainkan mengangkat bambu pancingnya untuk memperlihatkan ujung tali pancing kepada Lee Ing.

Kalau tadi Lee Ing tersenyum, sekarang mata gadis ini terbelalak lebar dan ia menjadi terheran-heran.

Ternyata bahwa pada ujung tali pancing itu hanya terdapat sebuah pancing yang aneh sekali.

Pancing yang bentuknya lurus runcing seperti sebatang jarum saja.

Juga di situ tidak dipajangi umpan apa-apa seperti biasanya orang mengail.

Mana di dunia ini ada orang memancing dengan sebatang jarum tanpa umpan pula?

Biarpun bukan ahli memancing, Lee Ing juga tahu kalau orang memancing ikan itu menggunakan pancing yang ada kaitannya dan memakai umpan pula.

Tak tertahan pula meledak suara ketawa Lee Ing, suara ketawa yang tidak disembunyikan atau ditutup-tutupi seperti biasanya gadis kota tertawa.

Nampak deretan giginya yang putih bersih dan mengkilat seperti mutiara, bahkan kelihatan lidahnya yang kecil merah bergerak-gerak.

Gadis ini memang sejak kecil hidup dengan kong-kongnya di utara, di mana tidak banyak peraturan kesopanan mengikat kebebasan seorang wanita.

Siok Ho menengok dan kini dia yang bingung dan heran, tidak tahu!

apa sebabnya gadis jelita itu tertawa sedemikian gelinya.

"Eh, eh, kenapa kau tertawa-tawa seperti orang digelitik perutnya?"

Tanyanya mendongkol. Lee Ing dapat menekan dan meredakan gelinya, lalu dengan mulut masih tersenyum dan mata basah air mata ketika ketawa. ia bertanya.

"Kau tadi bilang she Oei, akan tetapi lebih pantas kalau kau she Kiang. Apakah kau masih keturunan dari Kiang Cu Ge (tokoh besar dalam dongeng Hong-sin-pong)?"

Di dalam dongeng Hong-sin pong, yaitu ketika jaman Kaisar Tiu Ong, Kiang Cu Ge adalah tokoh besar yang memancing datangnya raja muda baru dengan perlambangnya memancing ikan dengan pancing lurus seperti jarum, persis seperti yang dipergunakan oleh Siok Ho sekarang ini.

Kini Siok Ho yang memandang kagum.

"Eh nona, kiranya kau seorang yang paham akan sejarah. Sungguh mengagumkan!"

Lee Ing tersenyum.

"Aku hanya mendengar dongeng dari kakekku. Dengan pancing macam itu, bagaimana kau bisa mendapatkan ikan?"

"Kau tunggu saja,"

Jawab Siok Ho yang kembali mengalihkan perhatiannya ke air.

Tiba-tiba ia mengangkat bambu pancingnya sampai jarum itu terangkat dari permukaan air, lalu dengan gerakan hebat sekali bambu itu digerakkan ke bawah.

Tali pancing yang membawa pancing bergerak pula dan pancing lurus seperti jarum itu meluncur ke bawah menembus permukaan air.

Nampak air berombak dan bambu di tangan Siok Ho itu bergerak-gerak seperti ada yang menarik-narik di ujung tali pancing.

"Ikan lee yang besar juga....!"

Teriak Siok Ho girang.

Ia menarik bambunya secara tiba-tiba ke atas dan...

seekor ikan lee yang gemuk menggelepar-gelepar di atas tanah dekat Lee Ing.

Sekarang tahulah Lee Ing bahwa pemuda yang memancing ikan ini ternyata memiliki kepandaian silat dan bahwa ia bukan memancing, melainkan mencari ikan dengan cara "menombak"

Ikan besar dengan sebatang jarum yang diikat seperti pancing. Diam-diam ia merasa geli akan kebodohan sendiri, juga geli melihat Siok Ho "mendemonstrasikan"

Kepandaian yang bagi dia sendiri tentu saja tidak berarti apa-apa itu.

Kalau hanya begitu saja, itu permainan anak kecil baginya.

Akan tetapi untuk tidak membikin pemuda itu berkurang kegembiraannya, iapun memuji.

"Ah, ternyata kau seorang yang lihai!"

Seperti telah kita ketahui, Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang amat tinggi kepandaiannya dan di dunia kang-ouw dia mendapat julukan Ang-sin-jiu (Si Tangan Merah).

Biarpun masih muda, dia sudah banyak pengalamannya, apa lagi ia sering diberi nasihat oleh sucouw-nya agar jangan memandang rendah orang lain.

Maka sekarang bertemu dengan seorang gadis muda seperti Lee Ing yang membawa pedang dililitkan di pinggang, ia dapat menduga bahwa Lee Ing tentu juga seorang kang-ouw.

"Aah, kepandaian memancing ikan seperti ini saja, masa patut dipuji?"

Katanya merendah.

"Lihat, ikan itu gemuk dan segar. Perutku sudah lapar sekali. Mau kau makan bersamaku?"

Perut Lee Ing juga sudah amat lapar. Melihat sikap pemuda yang ramah dan jujur ini, lenyap keinginan hendak memberi hajaran. Dia tersenyum dan mengangguk.

"Boleh, asal kau bisa memasaknya."

Dengan kata-kata ini Lee Ing hendak menggoda Siok Ho, karena ia mendahului pemuda itu agar Siok Ho jangan minta dia memasakkan ikan. Akan tetapi, di luar dugaannya, pemuda itu menjawab sambil tertawa.

"Tunggu saja. Sekali kau merasai masakanku, kau akan minta tambah lagi."

Dengan cekatan, jari-jari tangan pemuda itu memotong dan membersihkan ikan, mempergunakan sebatang pisau kecil yang memang sudah ia sediakan, kemudian ia mengeluarkan bungkusannya yang ternyata berisi garam, merica, dan lain-lain bumbu.

Dibuatnya api dan tak lama kemudian tercium bau sedap sekali dari panggang daging ikan, membuat perut Lee Ing menjadi makin lapar memberontak.

Benar-benar pandai pemuda itu memanggang ikan, cekatan dan bumbunya sedap.

"Kau tentu orang selatan,"

Kata Lee Ing. Siok Ho mengangkat alis.

"Bagaimana kau bisa menduga begitu?"

Ia balas bertanya tanpa menjawab.

"Karena kau pandai memasak. Hanya di bagian selatan saja laki-laki pandai masak, sedangkan wanitanya tidak bisa masak. Laki-laki di bagian selatan mau menang sendiri saja. Bersekolah, memasak, bermalas-malasan. Sedangkan kaum wanitanya di suruh bekerja berat mati-matian di sawah dan melakukan semua pekerjaan kasar. Benar-benar seperti terbalik keadaan di sana."

Siok Ho tersenyum.

"Sebaliknya, di bagian agak ke utara wanitanya hanya disuruh mengeram di dalam kamar, bersolek dan hidup seperti boneka cantik yang hanya untuk perhiasan atau permainan belaka."

"Jadi kau lebih membenarkan laki laki di selatan yang memperkuda wanita?"

Tanya Lee Ing mengerutkan kening dan pandang matanya mengandung penasaran. Siok Ho menggeleng kepala.

"Tidak begitu. dan akupun bukan orang selatan Aku hanya menceritakan keadaan orang utara sebagai perbandingan. Menurut aku kedua duanya keliru. Memang wanita tidak selayaknya seperti wanita yang menjadi boneka di dalam katnar, mengikat kakinya sampai tak pandai berjalan, bersolek setiap saat untuk menyenangkan hati laki laki. Wanita harus pula bekerja, akan tetapi tentu saja tidak seperti wanita selatan yang harus membanting tulang di sawah sedangkan kaum laki laki hanya bersolek, bersekolah dan memasak. Pendeknya, laki-laki dan wanita harus saling bantu, bekeria sama dengan seadil-adilnya sesuai dengan tenaga dan kemampuan masing-masing. Tidak boleh saling menindas, tidak boleh saling mendewakan. Lee Ing girang sekali mendengar ini "Akur! Aku benci melihat laki-laki yang menindas wanita, akan kupukul kepalanya kalau aku melihat suami memperkuda isterinva"

Katanya bernafsu dan giiang karena mengetahui isi hati Siok Ho.

Akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi merah dan ia merasa penasaran sekali mengapa tak pernah pemuda ini menanyakan namanya.

Biasanya, setiap pemuda yang bertemu dengan gadis cantik, segera hendak mengetahui nama, mengetahui alamat, dan mengetahui segalanya.

Alangkah jauh bedanya Siok Ho ini dengan pemuda-pemuda Iain.

Akan tetapi Siok Ho seakan-akan tidak mengetahui isi hati Lee Ing.

Ikan sudah matang dan ia menurunkannya dari atas api.

disodorkannya kepada L ee Ing.

"Ambillah, masih hangat-hangat dan enak dimakan selagi masih panas."

Kalanya.

Karena pikirannya masih termenung, Lee Ing menerima dan merobek daging ikan itu segumpal besar, tidak teringat sama sekali bahwa ikan itu dagingnya masih panas sekali dan tak mungkin kuat terpegang oleh sembarang orang.

Dengan perbuatannya ini, tanpa disadari ia telah memperlihatkan kepandaiannya.

Hanya seorang dengan Iweekang tinggi saja dapat menahan panas seperti itu.

Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa hal ini memang disengaja oleh Siok Ho yang ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian gadis lincah di depannya ini.

"Aha. kiranya kaupun seorang gadis yang memiliki kepandaian,"

Kata Siok Ho sambil makan daging ikan bagiannya. Lee Ing memandang heran.

"Apa sebabnya kau menduga begitu?"

"Daging ikan begini panas seakan-akan dingin saja bagimu."

Lee Ing sadar dan diam-diam ia memuji kecerdikan Siok Ho.

Heem.

pikirnya, kau sengaja hendak mengujiku, tunggulah saja, akan tiba saatnya aku yang menguji kepandaianmu.

la hanya tersenyum dan melanjutkan makan daging ikan yang benar-benar lezat itu.

la makin suka kepada pemuda yang ramah, berkepandaian lumayan serta pandai memasak ini.

Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang sedang duduk menikmati panggang daging ikan lee itu dan mari kita menyelidiki keadaan Oei Siok Ho.

Sebenarnya siapakah pemuda ganteng ini?

Di bagian depan sudah pernah kita temui pemuda ganteng ini sebagai Ang sin-jiu, pemuda berbudi mulia yang lelah menolong nyawa Siok Bun ketika pemuda ini terluka oleh Hek-tok-ciang dari Auwyang Tek Di bagian itu sudah dituturkan bahwa Oei Siok Ho adalah anak murid Kun-lun-pai yang menerima warisan ilmu dari couwsu Kun-lun-pai, yaitu Swau Thai CouWsu Apa yang telah terjadi di Kun-iun pai?

Mari kita mundur empat tahun.

Telah dituturkan di dalam

Jilid yang terdahulu betapa Kai Song Cinjin, tokoh nomor satu dari barisan kaki tangan Menteri Auwyang Peng, menjadi marah sekali kepada Kun-lun-pai karena dalam pertempurannya melawan Souw Teng Wi, biarpun ia berhasil membuat jari tangan Souw Teng Wi-patah dua buah dan menawan Souw Teng Wi, namun gigitannya pada jari tangan Souw Teng Wi juga membuat bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok.

Hal ini mendatangkan malu besar kepadanya, dan ia menimpakan kemarahannya kepada Kun-lun-pai, partai dari Souw Teng Wi.

Membasmi musuh harus sampai ke akar-akarnya, pikir kakek ini.

Tentu Souw Teng Wi mendapat dukungan guru-gurunya di Kun-lun-pai, maka sebelum Kun-lun-pai bergerak, lebih baik ia mendahului mereka menyerang ke Kun-lun-san.

Dalam gerakan penyerbuan ke Kun-lun-pai ini ia disertai oleh Ma thouw Koai-lung Kui Ek dan di tengah jalan rombongannya diperkuat pula oleh Toat-beng-pian Mo Hun, manusia yang seperti iblis pemakan otak manusia itu.

Juga rombongan itu sendiri merupakan pasukan kota raja pilihan yang terdiri dari pengawal-pengawal Menteri Auwyang Peng yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi.

Pada waktu itu, kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat terkenal.

Akan tetapi sayangnya, partai ini tidak mempunyai banyak anak murid.

Hal ini adalah karena yang menjadi guru besarnya, yaitu Swan Thai Couwsu yang sudah berusia seratus tahun, melarang para muridnya untuk menerima sembarangan orang menjadi anak murid Kun-lun-pai-Bukan tidak ada sebabnya Swan Thai Couwsu berlaku keras dalam menerima murid.

Sudah beberapa kali kalau ada anak murid melakukan penyelewengan maka nama baik partai yang terseret ke dalam lumpur dan Swan Thai Couwsu tidak menghendaki hal ini terjadi atas partainya.

Maka biarpun Kun-lun-pai merupakan partai persilatan ternama dan besar, kedudukannya pada waktu itu tidak begitu kuat.

Yang tinggal di kelenteng besar hanya Swan Thai Couwsu.

dua orang sutenya (adik seperguruan), lima orang murid yang kesemuanya sudah berusia lima puluh tahun, bersama sebelas orang saja anak murid Kun-lun-pai.

Masih ada belasan orang lagi anak murid, akan tetapi mereka ini sudah turun gunung dan hidup berpencaran.

Jadi yang memperkuat Kun-lun-pai pada waktu itu hanya sembilanbelas orang anggauta Kun-lun-pai dan beberapa orang kacung pelayan.

Kacung-kacung ini terdiri dari anak-anak yatim piatu yang di pungut oleh partai Kun-lun-pai, disuruh bekerja sebagai pelayan dan ada kemungkinan mereka ini kelak diambil murid karena yang dijadikan kacung rata-rata adalah anak-anak yang memiliki bakat baik.

Tosu-tosu Kun-lun-pai bukan orang-orang penganggur.

Tidak saja anak-anak murid yang masih muda, bahkan lima orang murid yang sudah tua itupun masih sering pergi ke lereng gunung mencari daun-daun obat atau mencari kayu-kayu kering.

Ada pula yang membantu anak-anak murid bertani untuk mengisi bahan makanan mereka sehari-hari.

Oleh karena anak-anak murid Kun-lun-pai setiap hari turun dari puncak, maka kedatangan rombongan Kai Song Cinjin segera terlihat oleh mereka.

Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari dua puluh orang lebih, dipimpin oleh tiga orang kakek yang kelihatannya aneh dan luar biasa, anak-anak murid Kun-lun-pai cepat-cepat naik ke puncak memberi laporan kepada Ngo-tai-su, yaitu lima guru besar di puncak.

Lima guru besar ini adalah murid-murid Swan Thai Couwsu dan dua orang sutenya.

Memang dalam mengurus semua hal, lima orang murid inilah yang mengatur.

Sedangkan Swan Thai Couwsu, jarang sekali keluar.

Sungguhpun tidak setua Swan Thai Couwsu, dua orang tosu inipun usianya sudah tujuh puluh tahun lebih.

Ngo-taislu atau lima guru besar ini bernama Giok Cin Tosu, Giok Kong Tosu, Thian Po Tosu, Thian Kong Tosu, dan Kim Sim Cu, rata-rata sudah berusia lima puluh tahun kecuali Kim Sim Cu yang baru berusia empat puluh tahun.

Biarpun yang termuda di antara lima orang itu.

namun Kim Sim Cu mempunyai kepandaian yang paling tinggi karena dialah murid tunggal Swan Thai Couwsu, sedangkan yang empat orang adalah murid-murid Swan Thian dan Swan Le Couwsu.

Ketika Kai Song Cinjin dan rombongannya tiba di depan kuil besar, ia disambut oleh lima orang tosu yang memimpin belasan orang-orang muda yang kelihatannya gagah-gagah, la tahu bahwa inilah tosu-tosu Kun-lun-pai, maka sambil tertawa bergelak ia membuka mulut besar.

"Mana Swan Thai si tua bangka? Apakah dia sudah mampus maka tidak keluar sendiri menyambut kedatanganku?"

Melihat pemimpin rombongan itu seorang hwe-sio tinggi besar bermuka menyeramkan yang datang-datang membuka mulut besar dan mengeluarkan kata-kata kasar, tentu saja para tosu Kun-lun-pai menjadi marah.

Siapa yang tidak menjadi marah mendengar ketua dan guru besar yang amat mereka hormati itu dimaki-maki orang?

"Siancai..

dari mana datangnya orang jahat berkedok hwesio?

Ataukah kau ini memang seorang hwesio yang mabok keduniawian?"

Kata Giok Cin Tosu.

Kalau dia dimaki hwesio jahat, kiranya Tok-ong Kai Song Cinjin takkan marah.

Akan tetapi ketika Giok Cin Tosu memaki dia seorang hwesio mabok keduniawian, ia menjadi marah sekali.

Makian ini tepat menusuk perasaannya, karena memang sebagai seorang hwesio kelas tinggi dia telah mengabdi kepada menteri durna karena ia mabok keduniawian!

Tidak ada makian yang lebih menyakitkan hati dari pada pernyataan yang tepat dengan keadaannya.

Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Kai Song Cmjin melangkah tiga tindak dan kedua tangannya bergerak-gerak ke depan dan sekaligus ia mengirim empat kali pukulan Hek-tok-ciang yang luar biasa lihainya!

Biarpun Giok Cin Tosu sudah memiliki kepandaian yang cukup lihai namun kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin, ia masih kalah jauh sekali.

Jangan lagi dia, biarpun suhunya.

Swan Le Couwsu belum tentu sanggup menerima pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan empat kali beruntun dari jarak dekat ini Giok Cin Tosu mencoba untuk menangkis.

Akan tetapi ia hanya dapat menghindarkan pukulan pertama.

ke dua dan ke tiga.

Pukulan ke empat tak dapat ia elakkan lagi karena kedudukannya sudah kacau oleh tiga pukulan tadi.

Dengan tepat sekali dadanya terkena pukulan Hek-tok-ciang.

la mengeluarkan pekik mengerikan, tubuhnya terdorong ke belakang dan Giok Cin Tosu roboh telentang dengan nyawa putus dan dadanya memperlihatkan bekas tapak lima jari tangan hitam.

Dapat dibayangkan betapa terkejut dan marahnya tosu-tosu yang lain.

Serentak mereka maju dan mencabut pedang masing-masing.

Kun-lun-pai memang terkenal dengan ilmu pedangnya.

"Hwesio jahanam!"

Bentak Giok Kong Tosu marah sambil menudingkan pedangnya.

"Siapakah kau dan mengapa datang-datang kau membunuh orang?"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak.

"Tosu-tosu bau tak perlu kalian mengenal siapa pinceng. Lebih baik suruh Swan Thai Couwsu keluar atau pinceng akan masuk dan menyeretnya keluar."

"Untuk menghadapi manusia jahat macam kau tak perlu couwsu harus turun tangan. Kau kira kami takut padamu?"

Bentak Thian Kong Tosu sambil bergerak maju, la berlaku hati-hati kareha maklum bahwa hwesio asing ini memiliki ilmu pukulan beracun yang amal berbahaya.

Akan tetapi Kai Song Cinjin mana mau melayani segala tosu yang tidak sebanding dengan tingkatnya?

Juga Kui Ek tidak membiarkan semua jasa diborong oleh Kai Song Cinjin.

la tertawa terkekeh-kekeh sambil melangkah maju, tongkat burung di tangannya siap sedia.

"Tosu siapa namamu dan apa pangkatmu di sini? Ketahuilah, aku Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek dan aku mewakili Tok-ong untuk membasmi tosu-tosu cilik sebelum yang gede muncul."

Kagetlah para anak murid Kun-lun-pai mendengar disebutnya nama orang buruk rupa ini.

Nama Ma-thouw Koai-tung bukanlah nama yang tidak terkenal.

Akan tetapi nama Tok-ong malah tidak mendatangkan kesan apa-apa, karena Tok-ong Kai Song Cinjin memang seorang tokoh dari Tibet dan jarang dikenal.

Hanya tokoh-tokoh besar saja yang sudah mendengar namanya.

Melihat bahwa orang-orang ini datang sengaja hendak mencari permusuhan, Giok Kong Tosu menggerakkan pedang di depan dada dan berkata keren.

"Pinto Giok Kong Tosu dan Swan Thai Couwsu adalah supekku. Kalian ini rombongan dari mana dan apa alasannya kalian datang hendak membikin ribut Kun-lun-pai?"

"Heh-heh heh, segala tosu cilik tak perlu banyak bicara. Hanya Swan Thai Couwsu saja yang boleh bicara tentang itu. Kau dan orang-orangmu ini mundur saja, lekas panggil losu-tosu gede keluar kalau kalian tidak ingin mampus."

Tentu saja Giok Kong Tosu menjadi marah sekali.

Ngo-taisu sudah mempunyai kedudukan istimewa di Kun-lun-pai dan mereka berwenang untuk membereskan segala urusan.

Sekarang, seorang di antara mereka sudah tewas, bagaimana mereka, mau menghabiskan urusan begitu saja?

Apa lagi Giok Kong Tosu sudah kehilangan suhengnya, marahnya tak dapat ditahan lagi.

"Sudah lama pinto mendengar tentang kebusukan hati Ma-thouw Koai-tung. Sekarang bertemu muka, ternyata berita itu betul adanya. Kalau pinto berhasil melenyapkan orang seperti engkau, berarti pinto membersihkan kotoran dari dunia ini."

"Tosu babi, kau harus mampus!"

Kui Ek marah bukan main, tongkat burungnya berkelebat menyambar.

Namun Giok Kong Tosu cukup cekatan dan dapat mengelak sambil membalas dengan serangan pedangnya.

Ilmu pedang Giok Kong Tosu cukup kuat dan cepat.

Namun menghadapi Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, ia masih kalah jauh.

Permainan tongkat dari Kui Ek selain aneh dan cepat, juga mengandung tenaga yang jauh lebih besar dari pada tenaga Giok Kong Tosu.

Kalau mau dibuat perbandingan, kiranya guru Giok Kong Tosu baru seimbang kepandaiannya dengan Kui Ek!

Pertempuran inipun tidak lama.

Dalam jurus ke dua puluh.

Giok Kong Tosu terlempar ke samping dengan kepala remuk terkena pukulan tongkat burung yang lihai itu.

Para tosu menjadi marah.

Sudah terang bahwa rombongan ini datang untuk menyebar maut, bukan semata-mata hendak menguji kepandaian seperti halnya partai-partai lain kalau datang hendak menantang pibu.

Kim Sim Cu mengeluarkan suitan nyaring untuk memberi tanda ke tempat suhunya bersamadhi.

Dia sendiri bergerak maju dengan tangan kiri mencengkeram ke arah kepala Kui Ek dan tangan kanan mencabut pedangnya.

"Jahanam keji, rasakan pembalasanku!"

Bentaknya.

Seperti sudah di ceritakan tadi, di antara lima orang tokoh Kun-lun-pai ini, Kim Sim Cu biarpun paling muda, namun tingkat kepandaiannya paling tinggi, la adalah murid dari Swan Thai Couwsu dan memang ia memiliki bakat besar.

Belasan lahun ia merantau di dunia kang-ouw dan mendapat nama besar.

Selain tinggi ilmunya, juga dia amat mulia, suka sekali menolong orang sehingga ia mendapat nama, baru Kim Sim Cu (Si Hati Emas).

Para tokoh Kun-lun-pai merasa bangga akan sepak terjangnya, maka ia diperbolehkan menggunakan nama Kim Sim Cu dan namanya yang dulu, yaitu Thian Kim Tosu, dilupakan.

Kui Ek memandang ringan terhadap cengkeraman ini, apa lagi ia melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang tosu muda.

Dengan tenang ia membarengi untuk menangkap tangan yang mencengkeram ini.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tangan yang hendak ditangkapnya itu, begitu teraba oleh tangannya terus melejit ke depan dan sambungan sikunya kena dicengkeram.

"Cialat (celaka)!"

Teriaknya.

Akan tetapi Kui Ek adalah seorang tokoh besar.

Kalau bukan dia.

tentu sudah putus sambungan tulang sikunya dan mungkin nyawanya juga terancam.

Kemudian secepatnya ia memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga Iweekang ke arah sikunya yang dicengkeram.

"Breettt!"

Sungguhpun Kui Ek dapat menyelamatkan sikunya, tidak urung ia mengalami kekagetan besar karena bajunya di bagian siku putus dan kulit lengannya sedikit lecet-lecet, la melompat mundur untuk mengatur kembali kedudukannya yang agak kacau oleh serangan hebat tadi.

Akan tetapi sementara itu, sambil tertawa-tawa aneh, Toat-beng-pian Mo Hun sudah menghadang di depan Kim Sim Cu.

Pian kelabangnya mengeluarkan suara menjetar dan menyambar ke arah leher tosu muda itu!

Kim Sim Cu kaget sekali melihat gerakan luar biasa ini dan mencium bau amis yang memuakkan dari sambaran pian itu.

Cepat ia menundukkan kepalanya dan menangkis pian dengan pedangnya sambil melompat merobah kuda-kudanya.

Tepat sekali gerakannya ini, karena kalau ia tidak melompat pergi dan merobah kuda-kudanya, tentu ia akan menjadi korban kelihaian pian kelabang itu.

Begitu tertangkis pedang, ujung pian masih meluncur ke arah lawan!

Sementara itu, Kui Ek yang sudah hilang kagetnya kini melihat bahwa kepandaian Kim Sim Cu, biarpun ilmu pedangnya cepat dan lihai, sesungguhnya masih tidak sukar untuk dikalahkan.

Ia melompat maju pula dan menantang.

"Tosu bau mana lagi yang sudah bosan hidup? Majulah!"

Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu yang menjadi sakit hati sekali melihat tewasnya dua orang suheng mereka, berbareng melompat maju dengan pedang terhunus.

Mereka sejenak ragu-ragu karena betapapun juga mereka adalah orang-orang gagah yang segan melakukan pengeroyokan dalam pibu.

"Ho-ho, kalian boleh maju berbareng. Kalau perlu boleh tambah dua lagi."

Kui Ek mengejek dari langsung tongkatnya menyambar dahsyat.

Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu terpaksa melawan dan mengeroyok, tidak saja karena lawan sudah menantang mereka berdua, juga kalau dipikir-pikir keadaan di waktu itu bukan merupakan pertandingan-pertandingan pibu yang harus terlalu banyak memakai aturan.

Fihak lawan datang untuk mengacau dan membunuh, tentu saja mereka harus melawan mati-matian.

Pertempuran berjalan seru dan mati-matian, akan tetapi hanya pertempuran antara Kui Ek melawan dua orang murid Swan Thian Couwsu itu yang ramai sekali.

Dua orang tosu itu karena maklum akan ketangguhan lawan, lalu bekerja sama dan mainkan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam.

Ilmu pedang ini sebetulnya adalah ilmu pedang pasangan, yaitu seorang dengan dua batang pedang.

Akan tetapi oleh Swan Thian Couwsu telah diciptakan menjadi ilmu pedang tunggal dan hebatnya, dua, tiga atau empat orang anak murid Kun-lun-pai kalau mainkan ilmu pedang ini dapat saling mengisi dan bantu-membantu seolah-olah semua pedang itu hanya dimainkan oleh seorang saja.

Dengan Liang-sian Siang-kiam, dua orang tosu itu dapat mengimbangi kehebatan tongkat burung dari Kui Ek.

Boleh jadi kalau seorang lawan seorang, tosu Kun-lun-pai itu seakan-akan berhadapan dengan gurunya, akan tetapi kalau maju berdua, kekuatan mereka menjadi berlipat dan tidak saja mereka dapat menolak serbuan tongkat di tangan Kui Ek, bahkan mereka dapat pula membalas dengan serangan-serangan mematikan.

Akan tetapi, Kim Sim Cu payah sekali menghadapi pian kelabang dari Mo Hun.

Biarpun Kim Sim Cu memiliki ilmu pedang yang lebih matang dari pada tosu-tosu lain, namun bertemu dengan Mo Hun ia kalah segala-galanya.

Senjata pian di tangan Mo Hun benar-benar hebat dan sudah sepatutnya kalau Mo Hun mendapat julukan Toat-beng-pian (Pian Pencabut Nyawa).

Hanya dengan pengerahan tenaga dan kepandaian seluruhnya Kim Sim Cu dapat bertahan sampai tiga puluh jurus lebih.

Namun pedangnya sudah makin sempit sinarnya, makin terbatas gerakannya karena ia kini hanya dapat menangkis saja tanpa mampu membalas.

Mo Hun mulai timbul kesombongannya dan tertawa-tawa mengejek sambil menyerang lebih hebat lagi.

"Heh-heh, serahkan saja kepalamu, heh-heh-heh..."

Pada saat Kim Sim Cu menangkis sambaran pian ke arah kepalanya, tiba-tiba tangan kiri Mo Hun yang berkuku panjang itu menyelonong ke depan hendak mencengkeram perutnya.

Kim Sim Cu kaget sekali, tahu-tahu tangan itu sudah amat dekat dengan perutnya.

Untuk menghindarkan diri tak ada waktu lagi.

Tosu muda ini mengambil keputusan kilat.

Dari pada mati konyol lebih baik menyeret lawan ke lubang kubur bersama, pikirnya.

Ia tidak perduli lagi akan tangan kiri lawan yang mencengkeram ke arah perutnya, sebaliknya ia malah membarengi untuk membacokkan pedangnya ke arah kepala lawan untuk mengadu nyawa, mati bersama!

Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya, tangan kiri yang tadinya mencengkeram ke arah perutnya itu kini diangkat naik dan mencengkeram ke arah pedangnya, dan pada saat yang bersamaan, pian kelabang telah menyambar pula ke leher!

Inilah hebat!

Benar benar serangan pancingan yang lihai sekali dari Mo Hun, sama sekali tidak dapat diduga lebih dulu oleh Kitn Sini Cu yang sudah berpengalaman.

Kim Sim Cu tak dapat berbuat lain kecuali cepat-cepat merobohkan diri ke kanan sambil menarik kembali pedangnya, karena dalam saat seperti itu tak mungkin ia dapat melakukan serangan balasan lagi.

Sayang sekali, betapapun cepatnya ia merobohkan diri, pian kelabang lebih cepat datangnya dan biarpun lehernya dapat diselamatkan, namun pundak kirinya terbabat pian.

Terdengar suara mengerikan dibarengi suara ketawa Mo Hun dan pundak Kim Sim Cu sebelah kiri terbabat putus berikut lengannya.

"Suhu, celaka.."

Kim Sim Cu mengeluh, namun tosu muda yang gagah ini masih dapat melompat jauh sekali, lalu berlari cepat untuk memberi laporan kepada suhunya.

Akan tetapi ia melihat berkelebatnya dua bayangan orang dari depan dan ia roboh di depan kaki dua orang itu yang ternyata adalah Swan Thian Couwsu dan Swan Le Couwsu.

"Ji-wi susiok.. Kun-lun-pai... terancam...... bahaya...."

Setelah mengeluarkan kata-kata terakhir ini, Kim Sim Cu menghembuskan nafas terakhir di depan kaki kedua orang pamannya.

Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu berkelebat cepat ke tempat pertempuran, namun terlambat sudah.

Thian Po Iomi dan Thian Kong Tosu yang tadi mengeroyok Kui Ek, sekarang juga sudah menggeletak tak bernyawa lagi di atas tanah, menjadi korban senjata Kui Ek dan Mo Hun yang sudah datang membantu kawannya sehingga pertempuran itu dapat cepat diselesaikan.

Anak-anak murid Kun-lun-pai yang muda-muda, yang tadinya merasa ngeri dan tidak berdaya melihat ngo-taisu mereka tewas semua, kini mulai maju mendekat lagi dengan semangat baru ketika mereka melihat Ji-couwsu dan Sam-couwsu sudah datang.

Dapat dibayangkan betapa sakit hati dua orang tosu tua ini melihat lima orang murid mereka menggeletak tak bernyawa di depan kaki rombongan yang dipimpin oleh tiga orang aneh yang kini menanti kedatangan mereka dengan senyum-senyum mengejek.

Melihat hadirnya Kui Ek dan Mo Hun di antara rombongan musuh, dua orang tosu ini diam-diam menjadi marah sekali.

Pantas saja terjadi keributan, tak tahunya ada dua orang iblis ini.

"Siancai.. siancai.... kiranya Ma-thouw Koai-tung dan Toat-beng-pian yang datang meng-, ganggu ketenteraman Kun-lun-san. Sebetulnya apakah maksud kalian datang-datang menyebar maut membunuhi murid-murid pinto?"

Tanya Swan Le Couwsu dengan suara tenang akan tetapi mengandung pengaruh besar. Kui Ek dan Mo Hun saling pandang lalu tertawa besar.

"Heh-heh-heh, benar saja sekarang muncul tosu-tosu gede setelah yang cilik-cilik mampus. Swan Le Couwsu, kedatangan kami berdua ini mengantar Tok-ong untuk menjumpai suheng kalian, Swan Thai Couwsu, untuk menuntut tua bangka itu yang menyimpan dan mendidik pemberontak."

Swan Le Couwsu mengerutkan keningnya.

Dengan mengeluarkan kata-kata pemberontak, tahulah ia bahwa dua orang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang jahat ini sekarang telah menjadi kaki tangan pemerintah Beng-tiauw.

Biarpun tinggal di puncak gunung, Swan Le Couwsu cukup maklum bahwa pemerintah Beng-tiauw praktis dikuasai oleh durna-durna jahat dan bahwa kaisar sendiri yang dahulu benar-benar seorang patriot rakyat bernama Cu Coan Ciang, sekarang setelah menjadi kaisar tak berdaya sama sekali, terpengaruh seluruhnya oleh para menteri durna.

Berpikir sebentar saja Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu dapat menduga mengapa rombongan kaki tangan durna ini datang mengacau di Kun-lun-pai.

Tentu ada hubungannya dengan Souw Teng Wi, anak murid Kun-lun-pai yang terkenal sebagai seorang pejuang rakyat yang pantang mundur, dahulu menjadi kawan seperjuangan Cu Goan Ciang akan tetapi sekarang dimusuhi oleh karena hasutan para menteri durna.

"Suheng sedang siulian dan selama bertahun-tahun ini beliau tidak mau berurusan dengan dunia. Beliau sudah terlalu tua dan tidak mungkin diminta keluar. Kalau ada urusan, cukup dirundingkan dengan pinto berdua,"

Jawab Swan Le Couwsu. Melihat murid-murid menggeletak tak bernyawa namun masih bicara setenang itu benar-benar membuktikan bahwa tosu ini sudah mencapai tingkat (Lanjut ke

Jilid 12) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 tinggi dalam ilmu kebatinan.

Tiba-tiba Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa bergelak, lalu berkata keras dan nyaring sekali karena maksudnya agar supaya suaranya dapat terdengar oleh Swan Thai Couwsu yang tidak mau keluar.

"Ha-ha-ha, Kun-lun-pai yang dibangun dengan susah payah, sekarang menghadapi kehancuran karena perbuatan anak muridnya yang menjadi pemberontak dan penghianat! Kalau Swan Thai Couwsu mau keluar dan menghadap kaisar dan minta maaf, itu masih baik dan ada harapan. Akan tetapi kalau terhadap Kaisar Beng-tiauw masih menjual lagak dan keangkuhan, berarti benar-benar Kun-lun-pai akan lenyap dari muka bumi!"

Swan Le Couwsu memandang Kai Song Cinjin dan berkata marah.

"Mendengar suaramu, kau adalah seorang hoanceng (pendeta asing), bagaimana kau bisa bicara tentang memberontak atau menghianat? Kalau benar kaisar sendiri yang memanggil suheng, mana lengki (bendera utusan kaisar) dan firmannya?"

Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi gelagapan. Memang dia bukan utusan kaisar, melainkan utusan Menteri Auwyang Peng, pula memang Kai Song Cinjin tidak mengerti tentang peraturan ini.

"Pinceng adalan orang kepercayaan pertama dari Menteri Auwyang, perlu apa pakai lengki segala? Tosu tua bangka, tak usah banyak cerewet. Lekas panggil Swan Thai Couwsu mu keluar sebelum pinceng kehabisan kesabaran dan turun tangan membunuh kalian dan rnenyeret keluar Swan Thai si tua bangka."

Sesabar-sabarnya Swan Le Couwsu. dia seorang manusia biasa, tidak kuat ia mendengar kata-kata yang amat menghina ini.

"Hwesio palsu, kotor sekali mulutmu!"

Ia membentak dan melompat maju. Tiba-tiba dari samping Kui Ek melayangkan tinjunya mendorong Swan Le Couwsu sambil memaki.

"Tosu bau, menggelindinglah!"

Pukulan Kui Ek amat hebat dan jarang ada orang sanggup menerimanya.

Akan tetapi ia keliru kalau mengira bahwa ia akan dapat membuat tosu itu roboh hanya dengan sekali pukul.

Swan Le Couwsu sudah disebut couwsu atau guru besar di Kun-lun-pai, tentu saja memiliki kepandaian yang tinggi dan luas.

Melihat berkelebatnya Kui Ek dan merasa angin pukulan mendorongnya dari pinggir, Swan Le Couwsu mengebutkan lengan bajunya ke arah pergelangan tangan Kui Ek.

"Plakkl"

Kui Ek mengeluh kesakitan dan cepat melompat mundur, memegangi tangan kanannya yang menjadi sakit dan kesemutan.

Baiknya tadi ia masih keburu mengerahkan Iweekang dan menarik mundur tangannya, kalau tidak, ujung lengan baju tosu tua itu yang melakukan totokan tentu akan memuluskan urat nadinya!

Saking marah dan malunya, Kui Ek lalu mengerahkan tongkatnya dan menyerang tanpa mengeluarkan suara lagi.

Tongkat di tangan Kui Fk benar-benar aneh bentuknya.

Kepala tongkat itu berukirkan seekor burung yang patuknya meruncing ke atas.

Selain aneh, juga amat lihai gerakannya.

Swan Le Couwsu juga tidak berlaku sungkan lagi.

Ia mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan.

Inilah Cheng-hong-kiam (Pedang Hong Hijau), sebuah di antara pedang pusaka Kun-lun-pai.

Ketika ia menangkis sambaran tongkat, terdengar suara keras dan bunga api berhamburan akan tetapi dua senjata yang bertemu itu tidak rusak, tanda bahwa keduanya adalah senjata-senjata yang ampuh dan kuat.

Sementara itu, Mohun juga tidak mau tinggal diam.

Ia memutar pian kelabang di tangannya, langsung ia menyerang Swan Thian Couwsu yang juga sudah mencabut pedangnya.

Terjadilah pertarungan yang seru dan seimbang antara dua orang tokoh besar ini.

Anak-anak murid Kun-lun pai yang melihat couwsu mereka sudah bertempur, tidak mau tinggal diam pula.

Dengan pedang di tangan mereka maju, semua mainkan Ilmu Pedang Liang-sian-siang-kiam sehingga dapat saling membantu dan menjadi barisan yang kuat sekali!

Mereka disambut oleh pasukan pengawal dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat.

Suara senjata beradu tercampur pekik dan maki memenuhi udara puncak Kun-lun-pai yang biasanya sejuk dan bersih itu.

Mula-mula Tok-ong Kai Song Cinjin hanya berdiri menonton saja.

Ia terlalu angkuh untuk turun tangan apa bila lawan tidak setingkat dengan dirinya, kecuali kalau anak buahnya terdesak.

Ia melihat betapa para pengawal yang rata-rata berkepandaian tinggi itu bertempur ramai dengan para anak murid Kun-lun-pai.

Akan tetapi ketika ia melirik ke arah Kui Ek dan Mo Hun, ia tersenyum mengejek.

Kui Ek dan Mo Hun nampak terdesak.

Di dalam hatinya Tok-ong Kai Song Cinjin tidak suka kepada Kui Ek dan Mo Hun, akan tetapi ia yang tidak suka adalah pribadinya.

Mereka itu kawan-kawannya, atau lebih tepat anak buahnya dan ia masih amat membutuhkan bantuan mereka.

Dua orang locianpwe dari Kun-lun-pai itu memang benar-benar hebat ilmu pedangnya.

Sayang mereka sudah amat tua, tubuh mereka sudah tidak sekuat dulu lagi.

Kalau Kui Ek dan Mo Hun melawan mereka dua puluh tahun yang lalu, jangan harap akan dapat menahan serangan pedang mereka.

Sekarangpun biar menang kuat tenaga, tetap saja Kui Ek dan Mo Hun terdesak dan tertindas oleh kurungan sinar pedang.

Melihat betapa dua orang anak buahnya itu terdesak, Tok-ong Kai Song Cinjin berseru.

"Kui Ek, kau bantu anak-anak membereskan mereka! Serahkan saja dua orang tua bangka ini kepada pinceng dan Mo-sicu!"

Dengan cepat Kai Song Cinjin menyerbu ke dalam pertempuran sambil memutar senjatanya yang istimewa, yaitu tasbehnya.

Sekali ia ayun tasbehnya, Swan Le Couwsu kena terdesak mundur.

Melihat kesempatan ini, Kui Ek cepat melompat keluar dan sambil terkekeh-kekeh ia mengamuk menyebar maut dengan tongkatnya di antara anak-anak murid Kun-lun.

Kai Song Cinjin sengaja menahan Mo Hun untuk membantunya karena ia dapat memperhitungkan bahwa tenaga Kui Ek seorang saja akan mampu menghancurkan pertahanan para anak murid Kun-lun, sedangkan kalau ia seorang diri menghadapi dua orang kakek itu, kiranya biarpun ia dapat rnenang akan memakan waktu lama.

Ia lihat tadi Mo Hun dengan piannya yang lemas dapat mempertahankan diri lebih baik dari pada Kui Ek, maka ia menyuruh Kui Ek yang keluar.

Swan Le Couwsu yang diserbu oleh Kai Song Cinjin segera mengerahkan seluruh kepandaiannya, pedang Cheng-hong-kiam diputar cepat sekali sampai tubuhnya lenyap dalam gulungan sinar hijau.

Akan tetapi ketika gulungan sinar pedangnya kena terjang tasbeh, menjadi buyar dan segera Swan Le Couwsu terdesak hebat.

Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu.

Hwesio Tibet ini terlalu mengandalkan kepandaiannya.

Kalau ia sudah mau terjun dalam pertempuran, harus ia dapat cepat-cepat merobohkan dan membinasakan lawan.

Maka selain tasbehnya yang mendesak juga tangan kirinya terus-menerus melakukan pukulan Hek-tok-ciang.

Memang tingkat kepandaian Swan Le Couwsu masih kalah kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin.

Biarpun dengan ilmu pedangnya yang luar biasa ia selalu dapat menangkis tasbeh, namun pukulan Hek-tok-ciang membuat ia sibuk sekali.

Benar beberapa kali Swan Le Couwsu masih sanggup melakukan dorongan untuk menolak hawa pukulan Hek-tok-ciang itu dengan ilmu pukulan Iweekang dari Kun-Iun-pai yang disebut Pek-hwa-ciang (Tangan Sakti Bunga Putih), namun ia kalah tenaga dan tasbeh itu amat menindihnya sehingga pada saat ia agak terlambat gerakannya, sebuah pukulan Hek-tok-ciang yang amat keras datangnya telah mendorong dadanya.

Sebagai seorang ahli Iweekeh, Swan Le Couwsu dapat mengerahkan Iweekang di dada untuk menerima pukulan ini.

Akan tetapi bukan hanya tenaga pukulannya yang lihai, terutama sekali hawa beracun dari Hek-tok-ciang yang sukar dilawan.

Swan Le Couwsu merasa dadanya terbakar, tenaganya habis, pedangnya masih dipegang erat-erat namun tubuhnya terhuyung dan ia tak dapat menangkis lagi ketika tasbeh di tangan Kai Song Cinjin mampir di kepalanya.

Swan Le Couwsu guru besar ke dua dari Kun-lun-pai, roboh tak berkutik lagi dan napasnya telah putus.

Namun Kai Song Cinjin masih harus mengerahkan tenaga untuk membetot pedang dari tangan Swan Le Couwsu yang sudah tak bernyawa lagi itu.

Tiba-tiba Kai Song Cinjin mendengar Mo Hun berseru kesakitan.

Cepat ia menengok dan ternyata Swan Thian Couwsu yang melihat suhengnya tewas, menjadi marah dan memperhebat gerakan pedangnya.

Mo Hun berusaha melibat pedang yang gerakannya luar biasa itu dengan ujung piannya.

Akan tetapi begitu ujung pedang terlibat, Swan Thian Couwsu memutar pedangnya sekuat tenaga.

Mo Hun tak dapat mempertahankan lagi dan piannya ikut terputar.

Dalam kagetnya ia hendak melepaskan libatan piannya, namun tak dapat karena pedang di tangan Swan Thian Couwsu seakan-akan mengeluarkan tenaga menyedot yang kuat sekali.

Telah payah Mo Hun mempertahankan piannya supaya jangan terlepas dari tangan dan telapak tangannya sudah terasa panas dan sakit-sakit sampai ia mengeluarkan seruan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin.

Memang, orang seperti Toat-beng-pian Mo Hun tingkatnya tentu merasa malu untuk minta tolong dalam pertandingan.

Merupakan pantangan besar karena hal itu akan menjatuhkan namanya.

Oleh karena itu ia menggunakan siasat, mengeluarkan seruan kesakitan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin.

Siasatnya berhasil baik.

Kai Song Cinjin yang sedang mengamat-amati pedang rampasannya itu, mendengar seruannya menengok.

Melihat betapa keadaan Mo Hun terancam bahaya, ia cepat melompat maju dan sekali tasbehnya melayang, pedang Swan Thian Couwsu berhenti gerakannya memutar, bahkan kini terlibat oleh tasbeh tak mampu bergerak atau terlepas lagi!

"Mo-sicu, kau boleh habiskan tua bangka ini,"

Kata Kai Song Cinjin sambil tertawa bergelak.

Mo Hun menjadi girang sekali.

Cepat ia menarik piannya dan sekali menggerakkan pian itu, senjata mengerikan ini menyambar ke arah leher Swan Thian Couwsu!

Biasanya, leher siapapun juga yang terkena sambaran pian ini, pasti akan putus seperti rambut terbabat arit.

Entah sudah berapa puluh atau ratus buah kepala yang copot oleh pian ini.

"Cratt!"

Tanpa mengeluarkan keluhan lagi, Swan Thian Couwsu roboh, akan tetapi pian itu hanya melukai lehernya dan menewaskannya saja, tidak mampu membuat lehernya putus! "Lihai betul tosu kura kura ini!"

Mo Hun terpaksa memuji karena selama ia menjadi tukang penggal leher orang dengan piannya, baru kali ini ia melihat senjatanya itu gagal membabat leher.

Akan letapi tidak lama ia berdiri menganggur karena melihat betapa Kui Ek mengamuk, Mo Hun tertawa bergelak, memutar pian di atas kepala sambil berseru.

"Tua bangka she Kui, jangan kau habiskan sendiri! Aku perlu kepala orang muda yang segar!"

Sambil berlari-lari ia menerjunkan diri dalam pertempuran mati-matian itu.

Celakalah nasib para anak murid Kun-lun-pai.

Tadi ketika menghadapi pasukan pengawal, dengan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam mereka masih mampu melakukan perlawanan hebat bahkan berhasil merobohkan seorang dua orang lawan.

Akan tetapi semenjak Kui Ek menerjunkan diri dan menga-muk dengan tongkatnya, kedudukan anak-anak murid Kun-lun-pai menjadi kacaubalau.

Sebentar saja sudah ada empat orang anak murid Kun-lun-pai tewas oleh tongkat kakek yang amat ganas ini.

Apa lagi sekarang Toat-beng-pian Mo Hun juga menyerbu masuk ke dalam gelanggang pertempuran.

Dalam hal keganasan, Mo Hun jauh lebih ganas dari pada Kui Ek.

Berkali-kali piannya menyambar mengeluarkan bunyi berdetar dan dibarengi suara ketawanya yang seperti burung kukuk beluk itu, menggelindinglah beberapa buah kepala anak murid Kun-lun-pai!

Banjir darah terjadi di lereng yang bersih itu.

Anak-anak murid Kun-Iun-pai mati berserakan dalam perjuangan mempertahankan partai mereka.

Setelah anak-anak murid yang melakukan perlawanan habis, menyerbulah rombongan ini ke dalam pekarangan kuil.

Anak-anak murid yang sudah tak dapat melawan lagi lari cerai-berai.

Tiba-tiba Mo Hun berteriak girang ketika melihat seorang bocah berusia kurang lebih empat belas tahun ikut pula melarikan diri. .

"Kepala bagus! Bocah tampan, ke sinilah kau!"

Bocah itu adalah seorang kacung di Kun-lun-san.

Dia dibawa oleh Kim Sim Cu ke Kun-lun-san ketika masih berusia sepuluh tahun dan selama itu ia memperlihatkan watak yang rajin dan penurut.

Juga otaknya cerdik sekali sehingga ia disuka oleh semua tosu.

Dia seorang anak yang tampan sekali, berkulit muka putih halus dan gerak-geriknyapun lemah lembut.

Kim Sim Cu melatihnya sendiri bahkan juga memberi pelajaran membaca menulis.

Ternyata bahwa dalam ilmu kesusasteraan bocah ini lebih berbakat lagi.

Dia bukan lain adalah Oei Siok Ho.

Biarpun usianya baru empat belas tahun, karena mendapat pimpinan yang serius dari Kim Sim Cu, Siok Mo sudah memiliki kepandaian lumayan dan dasar-dasar ilmu silat Kun-lun-pai sudah ia miliki.

Oleh karena itu, berbeda dengan kacung-kacung lain yang pergi melarikan diri bersembunyi ketika terjadi pertempuran hebat tadi, Siok Ho sebaliknya malah membawa pedang dan ikut bertempur dengan anak-anak murid lain.

Setelah semua guru besar roboh tewas, dan para anak murid juga tewas dan sisanya melarikan diri, dia terpaksa juga melarikan diri.

Akan tetapi kalau orang-orang lain melarikan diri turun gunung, sebaliknya Siok Ho lari ke arah kuil untuk menemui Swan Thai Couwsu.

Guru besar yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini amat sayang kepada Siok Ho yang menjadi kacung pelayannya.

Selain Siok Ho, orang lain tidak diperbolehkan memasuki kamarnya tanpa dipanggil.

Toat-beng-pian Mo Hun yang sudah haus otak manusia, melihat bocah yang amat tampan ini sekaligus tertarik untuk memiliki kepala itu dan makan otaknya, maka tanpa memperdulikan apa-apa lagi ia memanjangkan langkah mengejar Siok Ho.

Siok Ho tadi sudah melihat keganasan Mo Hun, tentu saja ia menjadi ngeri dan mepercepat larinya.

Namun mana bisa ia melawan Mo Hun dalam ilmu lari cepat?

Sebentar saja Mo Hun sudah berada di belakangnya.

Pian kelabang mengeluarkan suara berdetar dan menyambar ke arah leher yang berkulit putih halus dari Siok Ho dan...

"Plakk...! Aduuhh.....!"

Toat-beng-pian Mo Hun roboh bergulingan karena kesakitan.

Pundaknya termakan oleh piannya sendiri sampai terluka mengeluarkan darah dan tulang pundaknya ada yang patah!

Apa yang telah terjadi, ia sendiri tidak tahu.

Tadi ketika piannya sudah hampir mengenai leher Siok Ho, tiba-tiba nampak berkelebat sinar putih dan tahu-tahu piannya membalik memukul pundaknya sendiri.

Ketika Mo Hun mengangkat muka, ia melihat seorang tosu yang tua sekali berada di situ, mengelus-elus kepala Siok Ho yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek tua renta itu.

"Siok Ho, minggirlah kau,"

Kata kakek itu dengan suara perlahan.

Setelah pemuda cilik itu mengundurkan diri di belakang, kakek yang bukan lain adalah Swan Thai Couwsu ini maju, memandang kepada Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah tiba di depannya.

"Siancai, siancai... sungguh tidak nyana sekali Cu Goan Ciang setelah berhasil menjadi raja, mempergunakan iblis-iblis sebagai kaki tangannya. Tok-ong Kai Song Cinjin, kau sudah baik-baik menyebar Agama Buddha di Tibet, mengapa tahu-tahu berada di Tiong-goan dan menumpuk dosa?"

Tok-ong Kai Song Cinjin yang bermata tajam melihat bahwa Swan Thai Couwsu benar-benar-sudah tua sekali, bahkan berdiripun harus ditunjang tongkat dan kelihatan kakinya sudah buyutan (seperti menggigil).

Dulu memang ia jerih mendengar nama besar Swan Thai Couwsu, akan tetapi sekarang melihat betapa tokoh besar Kun-Iun-pai itu sudah tua sekali dan lemah, ia tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha-ha, Swah Thai Tosu, kau benar sudah pikun saking tuamu. Sejak tadi kau bersembunyi tak berani keluar, membiarkan anak muridmu terbasmi habis. Sekarang, untuk seorang kacung saja kau keluar dari tempat sembunyi. Ha-ha-ha, sungguh pinceng tidak tahu harus menganggap kau bodoh atau pengecut."

Swan Thai Couwsu memandang ke atas udara, menarik napas panjang dan berkata seperti berdoa.

"Pikiran seorang bijaksana adalah bebas merdeka. Namun sesuai dengan kehendak rakyat jelata. Terhadap yang baik maupun yang jahat juga Kuperlakukan dengan baik tiada beda. Karena kebajikan adalah kebaikan belaka. Terhadap yang jujur maupun yang tidak kuperlakukan dengan jujur tiada beda Karena kebajikan adalah kesetiaan belaka."

Jawaban berupa sajak ini sebetulnya adalah sebagian dari pada pelajaran dalam Agama To, yaitu sajak dalam kitab To Tek Keng pelajaran Nabi Lo Cu.

"Kai Song Cinjin, anak murid Kun-lun-pai tewas sebagai ksatria-ksatria perkasa, tewas dalam pertempuran melawan kejahatan. Hidup atau mati bukan di tangan kita, mengapa pinto harus mencemarkan kehormatan anak murid yang membela kehormatan? Di dalam pertempuran, kalah menang mati hidup bukan merupakan soal yang perlu diributkan. Anak murid Kun-Iun-pai gugur karena membela nama partai, juga karena kalah tinggi kepandaiannya. Tidak lain pinto hanya bisa menarik napas panjang. Akan tetapi, melihat dia ini hendak membunuh seorang anak kecil, ini bukan pertempuran lagi namanya, melainkan usaha membunuh dan terpaksa pinto harus turun tangan."

"Swan Thai Tosu, kiranya begitu anggapanmu. Sudahlah semua itu, Kedatangan pinceng ini ada hubungannya dengan sepak terjang Souw Teng Wi murid Kun-lun-pai. Dia sudah berdosa terhadap kaisar, sudah berani menjadi pemberontak dan pengkhianat. Karena dia murid Kun-lun-pai, harus kau yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Atas perintah kaisar, pinceng dengan pasukan terpaksa mengadakan pembasmian ke Kun-lun-pai agar jangan terulang lagi pemberontakan seperti yang dilakukan Souw Teng Wi. Akan tetapi melihat kau sudah begitu tua, tak lama dalam beberapa hari lagi tentu mati, pinceng mau memberi ampun asal kau suka berlutut ke arah kota raja dan minta ampun."

Kalau Swan Thai Couwsu belum mencapai tingkat yang amat tinggi dalam ilmu batin, tentu ia akan menjadi marah sekali mendengar penghinaan ini.

Akan tetapi dia hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya.

Siok Ho, bocah yang berada di belakangnya itu tiba-tiba berdiri dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Kai Song Cinjin dan membentak.

"Kakek gundul, kau benar-benar kurang ajar sekali! Kau kira sucouw akan sudi melakukan perbuatan menurut obrolan kosongmu itu? Jangankan sucouw, aku sendiri lebih baik mampus dari pada menurut kata-katamu yang kotor seperti najis!"

Semua orang marah, juga, heran menyaksikan bocah yang begitu berani memaki Kai Song Cinjin.

Kakek gundul ini membelalakkan matanya, akan tetapi ia tidak berani sembarangan turun tangan karena bocah itu berada di belakang Swan Thai Couwsu.

"Hemm, kau tunggu sajalah. Sebentar lagi otakmu tentu akan dimakan oleh Mo Hun,"

Katanya menyindir. Mo Hun girang sekali mendengar janji Kai Song Cinjin ini dan air liurnya sudah memenuhi mulutnya, sakit di pundaknya sudah tak dirasakannya lagi.

"Kai Song Cinjin, kau sudah mendengar ucapan bocah ini. Biarpun dia masih kecil, dia ini pelayanku yang kusayang, pantang bagiku membikin dia kehilangan muka. Terpaksa pinto tak dapat memenuhi permintaan tadi, malah pinto harap kau membawa anak buahmu pergi cepat-cepat dari sini sekarang juga agar pinto dapat mengurus semua jenazah ini."

Kui Ek yang wataknya sombong itu menjadi tidak sabar lagi.

"Totiang, kenapa melayani tua bangka mau mampus seperti ini? Bunuh mampus saja supaya tidak banyak rewel!"

Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tongkatnya menubruk maju, diikuti oleh lima orang pengawal lain yang juga menjadi tidak sabar mengapa Tok-ong mau melayani seorang kakek yang berdiri saja sudah hampir tidak kuat.

"Siancai.. siancai...!"

Swan Thai Couwsu berkata sambil mengangkat kedua tangan seperti hendak melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan senjata tajam itu.

Segera terdengar suara mengaduh dan berdebukan ketika Kui Ek dan lima orang kawannya itu terlempar dan terpukul oleh senjata-senjata mereka sendiri!

Kui Ek yang kepandaiannya paling tinggi masih dapat mengelak sehingga hanya telinga kirinya yang terkena serempetan tongkatnya sendiri sampai mengeluarkan darah dan lecet-lecet.

Yang celaka adalah para pengawal itu.

Yang hendak menyerampang kaki Swan Thai Couwsu, goloknya membalik menyerampang kaki sendiri sampai terluka parah, demikian pula yang membacok kena bacok, yang menusuk kena tusuk.

Tentu saja para anggauta rombongan menjadi kaget dan gentar menghadapi kakek yang lihai seperti ahli sihir ini.

Kui Ek dan Mo Hun sudah dikalahkan dengan mudah, apa lagi para pengawal.

Semua orang kini memandang ke arah Kai Song Cinjin dan mengharapkan hwesio ini yang akan turun tangan.

Kai Song Cinjin menjadi serba salah.

Melihat sepak terjang Swan Thai Couwsu tadi, jelas ternyata bahwa kakek itu biarpun sudah tua sekali masih amat lihai, belum tentu ia dapat mengalahkannya.

Kalau tidak maju, ia merasa malu.

Kalau maju resikonya terlalu besar.

Menangkan kakek tua ini tidak akan mengangkat namanya, kalau kalah sebaliknya memalukan sekali.

Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa tinggal diam.

"Swan Thai Couwsu, kau tidak mau menurut juga tidak apa, karena hal itu sama saja. Kun-lun-pai sudah terbasmi habis, tinggal kau yang menanti mampus ini bisa apakah? Akan tetapi kalau tidak diberi hajaran, kau yang sudah tua ini akan menjadi tak tahu diri dan mengira tidak ada orang yang berani melawanmu. Kakek tua, beranikah kau menerima pukulanku sampai lima kali tanpa mengelak dan tanpa pergi dari tempat kau berdiri?"

Kai Song Cinjin memang licik sekali.

Baca Juga: Raja Pedang 9

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 16

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger