Eps 3 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Auwyang Tek dan pasukannya tidak jadi turun mengeroyok Souw Teng Wi ketika mendengar seruan Kai Song Cinjin tadi dan mereka memandang dengan gembira, hendak melihat bagaimana caranya tokoh Tibet yang disegani ini menangkap pemberontak itu dengan kedua tangan sendiri.
Selama Kai Song Cinjin menjadi jagoan dan pembantu Menteri Auwyang Peng, belum pernah ada orang menyaksikan kepandaiannya, akan tetapi semua orang yang mengenal dan tahu betapa hebatnya ilmu silat Auwyang Tek.
tidak ragu-ragu lagi bahwa tingkat kepandaian gurunya tentu tinggi luar biasa.
Tingkat kepandaian Kai Song Cinjin memang sudah termasuk tingkat tokoh besar dan jarang ada orang dapat menandinginya.
Di dunia ini orang yang memiliki kepandaian ilmu silat setara dengan Kai Song Cinjin boleh dihitung dengan jari.
Bahkan mendiang Thian Te Cu dan suhengnya, Ma-thouw-koai-tung Kui Ek, dua orang yang sudah termasuk jagoan-jagoan kelas berat, amat segan dan takutkepada hwesio tokoh besar dari Tibet ini.
Selain ilmu silatnya yang sangat tinggi, juga kepandaiannya tentang racun amat ditakuti orang.
Melihat julukannya saja, yaitu Tok-ong (Raja Racun), sudah dapat dibayangkan betapa lihainya kakek ini mempergunakan racun berbahaya.
Muridnya, Auwyang Tek yang baru mempelajari satu macam ilmu pukutan beracun, yaitu Hek-tok-ciang (Pukulan Racun Hitam) sudah menggemparkan dunia persilatan.
Apa lagi gurunya Si Raja Racun ini, selain memiliki ilmu sakti Hek-tTok-ciang, masih mempunyai beberapa macam pukulan-pukulan berdasarkan Iweekang beracun seperti Ngo-tok-kun (Ilmu Sakti Lima Racun) dan Coa-tok-sin-ciang (Tangan Sakti Racun Ular), belum lagi segala macam senjata rahasia beracun seperti Toat-beng-ciam (Jarum Pencabul Nyawa), asap beracun hitam, dan lain-lain.
Pendeknya menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin sebagai lawan adalah hal yang amat berbahaya karena setiap serangan yang dilakukan hwesio gundul dari Tibet mi merupakan jangkauan tangan setan maut yang benar-benar sukar dihindarkan.
Baiknya, sebagai seorang tokoh besar, hwesio ini tidak mau sembarangan mempergunakan racun-racunnya kalau tidak amat terpaksa.
Apa lagi sekarang ia menghadapi Souw Teng Wi, seoriang buronan yang diharapkan dapas ditawan hidup-hidup untuk dibawa ke kota raja, maka iapun tidak segera mengeluarkan racunnya.
Dengan tenang dan senyum memandang rendah ia melangkah maju menghampiri Souw Teng Wi.
Biarpun ia tadi sudah menyaksikan betapa Souw Teng Wi dapat melawan Hek tok-ciang muridnya dengan mudah yang berarti bahwa Souw Teng Wi memiliki kepandaian tinggi, namun hwesio ini sama sekali tidak menjadi jerih.
"Souw Teng Wi, kau mengandalkan apakah melawan? Berhadapan dengan orang lain mungkin kau lihai. Akan tetapi kalau kau hendak mempergunakan kekerasan terhadap pinceng (aku), ooo.... kau keliru sekali! Lebih baik kau menyerah dan biar pengadilan kerajaan memberi keputusanya secara adil, dari pada kau harus mengalami hajaran pinceng."
"Hwesio gundul penghianat! Aku Souw Teng Wi adalah seorang jantan sejati, mana aku takut menghadapi gertak sambal seorang kaki tangan penghianat macam kau dan kawan-kawanmu? Ha-ha-ha! Seorang patriot menghadapi perjuangan seperti mempelai menghadapi pasangannya, tahukah kau?"
Merah wajah Kai Song Cinjin mendengar makian lawannya di depan pasukan.
"Pemberontak she Souw! Mulutmu kotor dan kurang ajar. Kau sendiri yang menjadi pemberontak dan buronan, kau memaki orang lain penghianat. Kerajaan sudah berdiri megah, kerajaan bangsa sendiri yang sudah merobohkan kerajaan penjajah Mongol dan pinceng membantu pemerintah bangsa sendiri. Bagaimana kau berani lancang mengatakan penghianat? Kaulah penghianat bangsa."
Akan tetapi Souw Teng Wi menerima ucapan ini dengan tertawa lebar.
Ha-ha-ha-ha, tukang pukul berselimut jubah pendeta!
kau kira aku tidak tahu?
Seekor domba biasa berobah tabiatnya setelah masuk ke kandang penuh srigala!
Seorang patriot yang berjiwa besar menjadi rusak moralnya setelah di sekelilingnya terdapat menteri-menteri durna yang jahat!
Dan kau menjadi kaki tangan para durna yang hanya di mulut saja membela negara, namun pada hakekatnya hatinya palsu, penghianat-penghianat keji tak tahu malu!
Semenjak kecil aku menyerahkan jiwa raga untuk membela negara dan bangsa, untuk berjuang mati-matian, akan tetapi sekarang...
aku dijadikan buronan, dianggap pemberontak, siapa lagi biang keladinya kalau bukan majikan-majikanmu para durna keparat?
Ha-ha-ha.
majulah!"
Makin lama suara ketawa Souw Teng Wi makin serem dan aneh, sepasang matanya mulai menjadi merah dan berputar-putar liar.
Bicara tentang nasib dan sakit hatinya membuat bekas pahlawan ini kambuh pula penyakit otaknya.
Kini Tok-ong Kai Song Cinjin tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Tentu saja hwesio ini tidak tahu akan segala urusan negara, dan ia juga tidak perduli akan segala macam politik, yang ia ketahui hanya bahwa dia mengabdi kepada Auwyang Peng, seorang Menteri Kerajaan Beng yang berpengaruh, juga kaya raya dan banyak hadiahnya.
ayah dari muridnya yang ia sayang.
"Kau memang minta dihajar!"
Bentaknya dan kakinya bergerak maju dua langkah.
Begitu Kai Song Cinjin menggerakkan kedua lengannya, dari tangan kirinya menyambar angin pukulan yang dahsyat dan lengan kanannya tiba-tiba terulur panjang!
Lengan ini bisa "molor" (memanjang) sampai satu kaki lebih, kuku-kuku jarinya mencengkeram pundak Souw Teng Wi.
Biarpun penyakit bingung dan gila sudah kambuh pula di kepala Souw Teng Wi, namun dalam kegilaannya ia makin lihai.
Dengan gerakan aneh seperti orang mabok, ia dapat mengelak secara tepat sekali dari dua serangan ini dan Kai Song Cinjin sampai melengak kaget dan heran.
Sepasang serangannya ini bernama Kwi-liong-jut-hai (Naga Siluman Keluar Dari Laut).
Pukulan dengan hawa Iweekang di tangan kiri merupakan ombak lautnya dan tangan kanannya merupakan naga silumannya.
Sepasang lengannya ini biasanya jarang sekali gagal kalau menangkap orang dengan gerak, tipu Kwi-liong-jut-hai, dan andaikata ada yang dapat lolos sekalipun, orang itu harus mempergunakan ilmu yang lihai dan kecepatan yang luar biasa baru dapat selamat.
Akan tetapi, Souw Teng Wi yang miring otaknya itu hanya bergerak-gerak aneh seperti orang mabok,berjingkrak-jingkrak tidak karuan dan...
dapat menghindarkan serangannya.
Memang kegilaan Souw TengWi bukan kegilaan biasa.
Bekas tokoh besar dalam perjuangan rakyat melawan penjajah ini adalah seorang pendekar yang berhati baja, besar semangatnya dan tak kenal takut.
Akan tetapi, melihat betapa pemimpin pejuang Cu Goan Ciang yang dahulu berjuang bahu-membahu dengannya kini menjadi permainan para durna penghianat setelah menjadi kaisar, dan dalam kesesatannya kaisar itu bahkan menangkapi dan membunuhi bekas pejuang yang gagah perkasa, hati Souw Teng Wi menjadi penasaran dan berduka sekali di samping kemarahannya yang meluap-luap.
Apa lagi setelah para durna itu berhasil menghasut kaisar di mana bekas kawan seperjuangan itu mengeluarkan perintah untuk menangkapnya, hati Souw Teng Wi merasa sakit sekali.
Dengan hati terluka ia melarikan diri, menjadi buronan.
Tadinya Souw Teng Wi, hanya memiliki kepandaian yang tidak begitu tinggi sebagai seorang murid Kun-lun-pai, hanya ilmu pedangnya yang cukup kuat karena ilmu pedang Kun-lun memang sudah tersohor kelihaiannya.
Akan tetapi setelah ia merantau di lautan, setelah ia lenyap dari dunia ramai untuk bertahun-tahun lamanya, tahu-tahu ia sekarang muncul sebagai seorang yang berotak miring namun memiliki kepandaian hebat sekali.
Sesungguhnya kepandaian maupun kegilaannya ia dapatkan di dalam Gua Siluman dan hal ini akan dituturkan kemudian.
Anehnya, kelihaiannya baru muncul dan mencapai puncaknya apa bila kegilaannya kambuh.
Agaknya kegilaan dan ilmu kesaktiannya itu menjadi dwi tunggal yang sekarang menguasai hati dan pikirannya.
Sementara itu, Kai Song cinjin yang dibikin penasaran karena serangan Kwi-liong-jut-hai tadi dengan secara aneh dan amat mudah dihindarkan oleh Souw Teng Wi, kini sudah melangkah maju setindak dan menyerang lagi, lebih hebat dan ganas.
Jarak antara dia dan Souw Teng Wi ada dua meter dan kedua lengannya yang memukul ke depan itu tidak mengenai tlubuh lawannya, akan tetapi dari kedua tangannya yang dibuka jarinya itu menyambar angin pukulan yang dahsyat sekali.
Souw Teng Wi mengerahkan Iweekangnya ke arah dada dan perut yang disambar angin pukulan.
Semenjak mendapat ilmu di dalam Gua Siluman, sinkang di dalam tubuhnya secara ajaib telah menjadi kuat bukan main, membuat tubuhnya menjadi kebal luar dalam.
Dengan Iweekang sehebat ini, benar saja angin pukulan lawannya yang lihai tidak dapat melukainya, hanya membuat kuda-kudanya tergempur dan ia terdorong sedikit ke belakang.
Akan tetapi, pada saat itu ia merasa hawa dingin seperti salju memasuki tubuhnya melalui tempat yang disambar hawa pukulan.
Souw Teng Wi mengeluarkan suara gerengan keras dan belasan orang anak buah pasukan yang berdiri dekat bergelimpangan roboh.
Juga hawa dingin yang meresap ke dalam tubuhnya lenyap terusir oleh pengerahan ilmu ini.
Kai Sonj Cinjin benar-benar terkejut kali ini.
Tak disangkanya bahwa pukulannya kembali kena ditangkis, bahkan robohnya belasan orang anak buah pasukan merupakan tamparan baginya.
"Setan!"
Makinya marah.
"Kalau delapan jurus lagi pinceng tidak dapat merobohkanmu, pinceng terima kalah."
Sebagai seorang tokoh besar, ia membatasi diri dan memberi kesempatan sampai sepuluh jurus kepada lawan yang dianggapnya bukan setingkat.
Bahkan ada kalanya kakek gundul ini memberi kesempatan dalam dua tiga jurus saja kepada lawannya.
Tentu saja ia tidak akan begini sombong kalau ia menghadapi orang setingkat.
Akan tetapi.
Souw Teng Wi hanya seorang anak murid Kun-lun-pai dan seorang buronan yang otaknya miring, tentu ia malu tidak mengeluarkan omongan besar memberi kesempatan sampai sepuluh jurus.
Tinggal delapan jurus lagi dan ia tahu bahwa delapan jurus itu harus ia pergunakan sebaiknya untuk merobohkan lawan yang memiliki kepandaian aneh ini.
Sekarang ia tidak berlaku sungkan lagi dan secepat kilas jurus ke tiga ia isi dengan pukulan Hek-tok-ciang.
Begitu kedua tangannya memukul dengan ilmu ini, saking marahnya ia tidak memakai kira-kira lagi, bahkan tidak melihat bahwa di belakang Souw Teng Wi, kurang lebih dalam jarak lima meter, berdiri beberapa orang anak buah pasukan yang tadi mengepung Souw Teng Wi.
Menghadapi Hek-tok-ciang yang lihai bukan main, Souw Teng Wi dengan gerakan otomatis merendahkan tubuhnya dan cepat miring lalu menggunakan kedua tangannya mendorong dari samping sebagai tangkisan terhadap serangan musuh.
Terdengar jerit mengerikan dan...
tiga orang anggauta pasukan yang tadinya berdiri di belakang Souw Teng Wi terjengkang dan tewas seketika.
Pada leher dan muka mereka terdapat tanda jari-jari menghitam, tanda yang menyeramkan dari korban pukulan Hek-tok-ciang.
Harus diketahui bahwa kehebatan Hek-tok-ciang dari kakek gundul ini sama sekali tak boleh disamakan dengan pukulan Hek-tok-ciang muridnya, Auwyang Tek.
Memang betul pukulan Hek-tok-ciang pemuda inipun sudah menggemparkan dunia persilatan karena lihai dan kejinya.
Namun dalam hal tenaga lweekang, ia hanya setengahnya dan tingkat gurunya.
Maka dapat dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Kai Song Cinjin.
Sampai-sampai Souw Teng Wi yang pikirannya kacau-balau itu meleletkan lidah melihat betapai tiga orang yang tadi berada jauh di belakangnya telah tewas, hanya karena "keserempet"
Hawa pukulan maut itu! "Lihai, lihai... gundul jahat benar keji!"
Katanya dan ia mengeluarkan pula suara gerengan lalu menubruk ke depan, membalas serangan lawan yang sudah tiga kali ia terima itu.
Serangannya nampaknya kacau-balau seperti seekor monyet besar menyerang secara buas dan tak teratur, asal mencakar dan memukul sekenanya saja.
Akan tetapi Kai Song Cinjin melihat bahwa inti gerakan ini luar biasa lihainya, mendatangkan hawa pukulan yang berputaran dan saling labrak seperti hawa pukulan dalam Ilmu Silat Soan-hong-kun-hoat (Ilmu Pukulan Angin Puyuh).
Kakek dari Tibet ini tidak berani berlaku sembrono dan cepat ia mengebutkan ujung lengan bajunya sambil mengelak.
Souw Teng Wi menyerang terus sambil tertawa-tawa.
Suara ketawanya seperti orang gila tertawa, akan tetapi jauh bedanya, karena suara ini mengandung daya serang yang luar biasa pula, yang akan melemahkan semangat lawan yang kurang kuat tenaga lweekangnya.
"Heh-heh-lieh, keledai gundul. Kau takut menerima pukulanku, ya? Ha-ha!"
Ejeknya sambil mendesak terus.
Diejek begini, Kai Song Cinjin menjadi panas hatinya.
Serangan kedua datang dan ia cepat menyambutnya dengan kedua tangan, la berusaha menangkap tangan lawan dan mengirim totokan pada iga.
Anehnya, Souw Teng Wi agaknya tidak perduli tangan kanannya ditangkap, malah dengan mudah saja pergelangan tangan kanannya kena dicengkeram oleh Kai Song Cinjin dan iga kanannya juga agaknya mau saja menerima totokan.
Akan tetapi, secara tiba-tiba sekali tangan kiri Souw Teng Wi bergerak macam ular dan tahu-tahu jari-jari tangan kiri ini sudah menyerang ke arah tenggorokan kakek dari Tibet itu dengan totokan maut!
Baiknya Kai Song Cinjin sudah menaruh curiga Segila-gilanya Souw Teng Wi, melihat kelihaian ilmu silatnya, tak mungkin tangan diberikan saja kepada lawan untuk ditangkap dan iga dibiarkan untuk ditotok tanpa ada maksud-maksud tersembunyi.
Kiranya orang gila ini sengaja memancing untuk mengadu nyawa!
Memang Souw Teng Wi juga cukup maklum bahwa lawannya bukan orang biasa melainkan seorang ahli silat nomor satu yang amat sukar dikalahkan.
Karena itu ia sengaja menantang supaya tangannya terpegang untuk dapat mengadu nyawa.
Tidak rugi mengadu nyawa dengan Kai Song Cinjin, pikirnya.
Kakek Tibet ini amat lihai dan tentu merupakan tangan kanan para menteri durna maka harus dilenyapkan.
Dengan pikiran ini di samping kegilaannya, Souw Teng Wi lalu melakukan serangan maut itu tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri.
Akan tetapi, kepandaian Kai Song Cinjin benar-benar sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi.
Sebetulnya, tingkat Souw Teng Wi masih jauh kalah tinggi olehnya, hanya saja karena Souw Teng Wi mewarisi ilmu silat yang sakti dan aneh maka bekas pahlawan ini dapat melawannya.
Kalau saja tidak menemukan ilmu kesaktian yang luar biasa, biarpun ia akan belajar lagi sampai lima puluh tahun di Kun-lun-san, belum tentu ia dapat menangkan Kai Song Cinjin.
Kiranya di antara sekalian tokoh besar Kun-lun-pai, hanya Swan Thai Couwsu, Ciangbunjin (ketua) Kun-lun-pai seoranglah yang akan dapat menandingi Kai Song Cinjin!
Menghadapi totokan maut yang dilakukan secara tiba-tiba dan tidak terduga oleh Souw Teng Wi yang mengancam tenggorokannya, Kai Song Cinjin masih dapat menolong dirinya.
Ia tahu bahwa untuk mengelak tak ada waktu lagi, untuk menangkis juga tidak dapat karena kedua tangannya sedang bekerja, yang kiri menangkap pergelangan tangan kanan lawan dan yang kanan sedang melakukan totokan pada iga.
la malah menundukkan muka mengkeretkan leher sehingga totokan yang ditujukan kepada tenggorokannya itu kini menyambar ke arah mulutnya.
Kakek Tibet ini membuka mulut dan menerima jari-jari Souw Teng Wi dengan gigitan.
"Krakk!"
Souw Teng Wi mengeluh, dua jari tangannya putus dan tubuhnya lemas karena jalan darah di dada kena totokan, lalu roboh pingsan.
Adapun Kai Song Cinjin juga harus menderita akibat kelihaian Souw Teng Wi yang Iweekangnya sudah tinggi sekali.
Bibir mulutnya robek dan giginya yang tinggal tujuh buah lagi itu kini berkurang empat buah, rontok ketika dipergunakan menggigit jari tangan Souw Teng Wi sampai putus.
Biarpun seorang tokoh besar dunia persilatan yang sudah tersohor, namun Kai Song Cinjin adalah seorang manusia yang mempunyai watak rendah dan kejam.
la bisa berlaku lemah lembut dan alim sebagai seorang hwesio beradat kalau hatinya senang, akan tetapi dalam kemarahan, ia bisa berobah menjadi seorang iblis yang keji.
Karena bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok, kemarahan dan kebenciannya terhadap Souw Teng Wi meluap.
Dengan langkah lebar ia menghampiri tubuh Souw Teng Wi yang sudah pingsan itu, dua jari tangan kanannya digerakkan (Lanjut ke
Jilid 07) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 dan...
sepasang biji mata Souw Teng Wi sudah dicukil keluar.
Souw Teng Wi menjadi seorang tuna netra (buta) mulai saat itu!
"Belenggu dia!
Gusur binatang ini ke kota raja!
terdengar perintah Awyang Tek yang pelantang-petenteng seperiti seorang jagoan setelah melihat buronan itu tak berdaya lagi.
Beberapa orang serdadunya lalu datang membelenggu Souw Teng Wi selagi dia ini masih pingsan.
Namun mereka melakukan pekerjaan ini dengan hati dag-dig-dug, karena jerih.
Memang andaikata Souw Teng Wi tidak pingsan, kiranya orang-orang ini akan menemui maut kalau berani mendekatinya.
Teriakan Auwyang Tek yang memberi perintah kepada pasukannya dan bergeraknya pasukan itu menyelimuti suara jerit dan tangis tertahan yang terdengar dari balik batang-batang pohon.
Inilah suara Lee Ing.
Gadis ini hampir pingsan ketika ia menahan dirinya untuk tidak melompat dan mengamuk.
Akan tetapi dia seorang gadis cerdik yang amat patuh kepada ayahnya.
Ia disuruh pergi oleh ayahnya dan maklum bahwa ayahnya menghendaki ia selamat untuk mempelajari ilmu agar kelak dapat membalas kepada para penghianat itu.
Dapat dibayangkan betapa hancur perasaannya melihat ayahnya dicongkel matanya dan digusur seperti orang menggusur bangkai macan saja.
Terutama sekali sikap sombong Auwyang Tek setelah ayahnya tak berdaya lagi itu amat menyakitkan hati Lee Ing, membuat ia benci sekali melihat wajah pemuda itu.
"Tunggu saja kalian... kelak akan datang saatnya aku membalas sakit hati ayah....!"
Sambil menggigit bibir dan menahan air mata, Lee Ing lalu pergi menyelinap di antara pohon-pohon, pergi untuk memenuhi keinginan hati ayahnya. Mencari Gua Siluman.
"Auwyang-kongcu, kau bawa binatang ini ke kota raja dan jaga baik-baik. Pinceng hendak berangkat lebih dulu!"
Kata Tok-ong Kai Song Cinjin kepada muridnya, kemudian sekali berkelebat orang tua yang sakti ini lenyap dari depan muridnya.
Di dalam hatinya, Kai Song Cinjin mengandung sakit hati yang amat mendalam.
Dia seorang tokoh besar, kini bibirnya sampai pecah-pecah dan giginya rontok oleh Souw Teng Wi.
Semua ini terjadi di depan muridnya dan pasukannya, sungguh membuat ia kehilangan muka.
Biarpun ia menang, namun terbukti bahwa kepandaian Souw Teng Wi juga hebat.
Rasa sakit pada mulutnya menimbulkan sakit hati yang hebat dan membuat ia mengambil keputusan untuk menyerbu ke Kun-lun-san.
Tentu di sana ada orang pandai yang melatih Souw Teng Wi dan ke sanalah ia hendak menumpahkan sakit hatinya.
Inilah pendirian seorang sesat yang hanya mencari enaknya sendiri.
Dia sudah merobohkan Souw Teng Wi, sudah mencongkel keluar biji matanya, dialah yang menyiksa Souw Teng Wi, akan tetapi dia yang bersakit hati karena bibirnya pecah dan giginya copot!
Kai Song Cinjin padahal tahu bahwa ilmu silat aneh yang dimainkan oleh Souw Teng Wi ketika menghadapi dia itu sekali-kali bukan ilmu alat Kun-lun-pai.
Akan tetapi oleh karena Souw Teng Wi anak murid Kun-lun, sakit hatinya tertuju kepada partai persilatan itu.
Memang manusia itu biasanya suka bermata gelap dan berhati buta kalau sudah mencapai kedudukan mulia dan tinggi.
Seperti halnya Kai Song Cinjin, karena dia itu seorang tokoh besar yang terkenal, juga seorang tangan kanan Kerajaan Beng, guru dari putera seorang menteri, ia menjadi sombong.
Dia boleh menyebar maut, boleh membunuh atau menyiksa siapa saja, akan tetapi sedikit saja dia terganggu, baru bibirnya pecah-pecah dan giginya dibikin rompal.
dia sudah menerima dendam hebat!
Dia menganggap diri sendiri yang paling menonjol, paling penting dan tidak boleh diganggu.
Dengan ilmunya yang tinggi sekali, Kai Song Cinjin mendahului pasukan itu pulang ke kota raja, menceritakan kepada Auwyang-taijin tentang penawanan atas diri Souw Teng Wi, lalu berkata.
"Souw Teng Wi adalah anak murid Kun-lun-pai. Selama ini dia menghilang dan tahu-tahu telah memiliki kepandaian tinggi. Siapa lagi yang menyembunyikan dan mengajarnya kalau bukan losu-tosu biadab dari Kun-lun-san? Oleh karena iiu, harap taijin memperkenankan pinceng membawa Kui-sicu untuk membantu pinceng menghukum losu-tosu biadab di Kun-lun-san."
Tentu saja Auwyang Peng meluluskan permintaan ini, dan orang yang disebut Kui-sicu adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang merupakan orang ke dua setelah Kai Song Cinjin.
Ma-thouw Koai-tung Kui Ek adalah seorang tokoh besar pula dalam dunia liok-lim.
Kepandaiannya tinggi sekali, karena dia ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari mendiang Thian Te Cu, atau guru dari mendiang Hui-houw Twa-to Ma Him yang keduanya sudah tewas di tangan Souw Teng Wi.
Oleh karena itu, ketika ia mendengar ajakan Kai Song Cinjin untuk menggempur Kun-lun-pai sebagai pembalasan dendam terhadap Souw Teng Wi, ia segera bersiap sedia dengan hati girang.
Selain membawa kawan Kui Ek yang lihai, Kai Song Cinjin juga mempersiapkan sepasukan tentara, la tahu bahwa menghadapi sebuah partai besar seperti Kun-lun-pai.
ia tidak boleh berlaku sembrono.
Selain untuk menghadapi anak buah Kun-lun-pai yang besar jumlahnya, juga pasukan itu dapat ia pergunakan sebagai perisai, sehingga dunia kang-ouw akan mendapat kesan bahwa Kun-lun-pai diserbu oleh pasukan kerajaan karena anak murid Kun-lun-pai menjadi pemberontak, bukan Kai Song Cinjin pribadi yang mencari permusuhan dengan partai besar itu.
Memang agaknya sudah takdirnya partai persilatan besar Kun-lun-pai harus menghadapi bencana besar.
Kai Song Cinjin adalah seorang yang kepandaiannya jarang tandingannya di kolong langit, ditambah lagi oleh Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang juga seorang tokoh besar yang lihai, masih ada lagi pasukan pilihan dari kota raja.
Semua ini sudah merupakan bahaya besar bagi Kun-lun-pai, akan tetapi kebetulan sekali kekuatan ini masih ditambah lagi dengan seorang dahsyat dan berbahaya yang bukan lain adalah Toat-beng-pian Mo Hun.
Seperti diketahui, Toat-beng-pian Mo Hun gagal mencari Souw Teng Wi karena ketika ia membawa Lee Ing yang menipunya, gadis itu berhasil meloloskan diri dan melompat ke dalam laut.
Terpaksa Toat beng-pian Mo Hun kembali ke darat dan tidak jadi mencari Souw Teng Wi.
la kembali ke selatan dan di sepanjang perjalanan tidak lupa untuk mencari obat yang menjadi makanan kesukaannya, yaitu otak manusia.
Ketika itu, rombongan Kai Song Cinjin telah tiba di sebuah dusun Tsang-si di sebelah barat kota Si-ning di Propinsi Cing hai.
Mereka sudah tak jauh lagi dari Pegunungan Kun-lun-san yang berada di barat.
Tiba-tiba mereka mendengar teriakan-teriakan dan jerit tangis, disusul berlarinya para penduduk dusun yang ketakutan.
Melihat ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek berlari meninggalkan pasukan memasuki dusun.
Dan mereka segera melihat apa yang menyebabkan orang-orang dusun itu melarikan diri ketakutan.
Di tengah kampung itu nampak seorang tua yang mengerikan tengah mengamuk.
Ia memegang sebatang pian yang bentuknya seperti binatang kelabang.
Sambil tertawa-tawa dan menggereng seperti binatang buas, ia mengejar dan setiap kali senjatanya bergerak, putuslah leher seorang penduduk dan kepalanya yang copot itu ia sambar sebelum jatuh ke tanah.
Dengan cara demikian ia telah mengumpulkan empat buah kepala orang.
"Toat-beng-pian Mo Huni"
Seru Ma-thouw Koai-tung Kui Ek kaget.
Ia telah mengenal Mo Hun, akan tetapi baru sekarang ia melihat keganasan tokoh ini yang membuat dia sendiri sampai merasa ngeri.
Kai Song Cinjin berkelebat dan pada saat pian kelabang menyambar ke arah leher calon korban ke lima, tiba-tiba pian itu berhenti setengah jalan dan tak dapat digerakkan lagi.
Mo Hun terkejut bukan main dan cepat ia memandang.
Kiranya ujung pian kelabang yang lihai itu telah terpegang oleh seorang hwesio yang sikapnya angker Dua kali Mo Hun menger ahkan kekuatan Iweekangnya pada tangan yang memegang cambuk dan membetot, namun tetap saja pian itu tak dapat terlepas dari tangan hwesio itu.
Selagi ia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menyerang karena marah, ia melihat adanya Kui Ek di situ.
Kagetlah dia dan tidak berani ia berlaku gegabah.
Hwesio tua ini lihai sekali dan agaknya menjadi kawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek.
"Eh, Kui Ek si tongkat butut, siapakah hwesio ini? Kawan atau lawan?"
Tanyanya.
"Sahabat Mo Hun, jangan main-main. Kau berhadapan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin utusan Auwyang-taijin!"
Kata Kui Ek. Mo Hun menjadi makin kaget. Sudah lama ia mendengar nama besar hwesio Tibet ini, maka ia berkata.
"Maaf, maaf!"
Dan mengendurkan betotannya. Kai Song Cinjin tersenyum dan melepaskan ujung pian yang dipegangn a lalu berkata perlahan.
"Kiranya sahabat Kui-sicu, makan otak manusia untuk menguatkan tulang baik-baik saja, akan tetapi tidak boleh membunuh rakyat yang tak berdosa"
Kembali Mo Hun tercengang.
Bagaimana kakek gundul itu tahu bahwa ia makan otak manusia untuk memperkuat tulang-tulangnya?
Mo Hun yang biasanya amat sombong dan berani mati, tidak takut kepada siapapun juga, sekarang bersikap hormat, ia tahu bahwa tingkat kepandaian Kai Song Cinjin jauh lebih tinggi dari padanya dan untuk masa itu kiranya kakek tokoh dari Tibet ini merupakan jago nomor satu di dunia.
Biarpun ia belum pernah bertanding melawannya, tadi pegangan kakek itu pada ujung piannya saja sudah membuktikan bahwa tenaga Iwcekang kakek itu jauh melebihinya.
"Harap Cinjin sudi memaafkan. Pada waktu sekarang ini, dari mana lagi aku dapat mencari obat? Kalau saja peruntunganku baik, tentu otak pemberontak Souw Teng Wi ayah dan anak menjadi obatku dan tak usah aku mengganggu penghuni dusun ini."
Mendengar ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek menaruh perhatian besar dan segera Kui Ek bertanya.
"Eh, orang she Mo. Apa hubungannya Souw Teng Wi dan anaknya dengan makananmu itu?"
Mo Hun tertawa bergelak sehingga kepala-kepala orang yang tergantung di pinggangnya bergoyang-goyang, menyeramkan sekali dan membuat pasukan yang sudah tiba di situ bergidik ngeri dibuatnya.
"Dasar nasibku yang sial. Ma-thouw Koai tung, kalau nasibku tidak sial, kiranya sekarang ini aku sudah menghadap ke kota raja, menyeret Souw Teng Wi dan puterinya."
Ia lalu menceritakan pengalamannya betapa ia telah berhasil menawan Souw Lee Ing dan sedang mencari ayah anak dara itu ke lautan.
Akan tetapi, demikian ia membohong, ombak besar telah membuat perahu terguling dan gadis itu tenggelam, sedangkan ia terpaksa menyelamatkan diri ke pantai.
"Sayang sekali,"
Ia menutup ceritanya.
"Dan sekarang ini kau dan Cinjin hendak kemanakah? Mengapa membawa-bawa pasukan? Apakah kau sudah menjadi seorang jenderal?"
Kui Ek menjawab dengan muka sungguh-sungguh.
"Toat-beng-pian Mo Hun, pada masa sekarang ini, setelah kerajaan bangsa sendiri berdiri dan kaum penjajah terusir, bagaimana kau masih bisa berkeliaran seperti orang gila? Auwyang-taijin atas nama kaisar telah mengumpulkan para orang gagah untuk membuat pahala membangun Kerajaan Beng menjadi besar, melawan penghianat-peng-hianat dan para pemberontak macam Souw Teng Wi dan yang lain-lain. Aku sendiri sudah lama membantu Auwyang-taijin dan bekerja di bawah petunjuk Kai Song Cinjin. Kami telah berhasil menawan Souw Teng Wi ke kota raja dan sekarang ini kami hendak ke Kun-lun-pai memberi hukuman kepada guru-guru pemberontak Souw Teng Wi."
Toat beng-pian Mo Hun berseri wajahnya.
"Bagus! Kebetulan sekali! Memang sejak lama aku ingin mengabdi kepada pemerintah Beng di Nan-king namun belum ada kesempatan. Oleh karena itu pula maka aku berusaha menawan Souw Teng Wi. Sekarang kalian hendak menyerbu Kun-lun-pai. Baik sekali, masih ada perhitungan lama dengan Swan Thai Couwsu si tua bangka Kun-lun-pai yang belum dibereskan. Aku ikut kalian, hendak membantu kalian agar kelak dapat diterima oleh Auw-yang-taijin."
Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa senang.
"Kau sudah diterima! Siapapun juga asal ada pinceng yang menanggung, tentu diterima oleh Auwyang-taijin. Mari kita berangkat."
Memang kakek Tibet ini cerdik.
Tadi ia telah mengukur kekuatan Mo Hun dan ia maklum bahwa Toat-beng-pian Mo Hun tidak kalah lihai oleh Kui Ek, maka tentu saja orang seperti ini akan dapat menjadi seorang pembantu yang kuat dan boleh diandalkan.
Demikianlah, rombongan itu berangkat dalam keadaan yang lebih kuat lagi dengan adanya Toat-beng-pian Mo Hun, merupakan ancaman besar bagi partai persilatan Kun-lun-pai.
Kita tinggalkan dulu Tok-ong Kai Song Cinjin dan pasukannya yang sedang menyerbu Kun-lun-pai dan mari kita mengikuti keadaan yang amat sengsara dari bekas pahlawan besar Souw Teng Wi.
Dalam keadaan payah sekali, tubuhnya menderita luka dalam, sepasang matanya kehilangan bijinya dan dari lubang mata masih mengalir darah, Souw Teng Wi diborgol kedua tangannya dan diseret-seret oleh pasukan yang dipimpin oleh Awyang Tek.
Setelah Souw Teng Wi tertawan barulah Auwyang Tek yang mata keranjang teringat akan gadis jelita yang datang bersama Souw Teng Wi.
la tahu bahwa gadis cantik itu adalah puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing dan ia merasa menyesal sekali mengapa tadi membiarkan gadis itu melarikan diri.
Ia mulai mencari dan menyebar anak buahnya, namun Lee Ing menghilang tak dapat dicari lagi.
Dengan hati kesal dan makin gemas kepada Souw Teng Wi.
Auwyang Tek berangkat kembali ke selatan, di sepanjang jalan menyiksa Souw Teng Wi akan tetapi menjaga agar orang tawanan ini jangan sampai mati.
Agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat, ia menyuruh orang-orangnya membuat sebuah kerangkeng besi dan Souw Teng Wi diangkut seperti membawa seekor binatang liar.
Di sepanjang jalan rakyat melihat keadaan pahlawan ini dengan hati marah dan berduka.
Akan tetapi apakah daya mereka?
Kaisar telah menganggap bekas pahlawan ini sebagai pemberontak yang harus dihukum.
Akan tetapi, di antara rakyat jelata terdapat banyak bekas pejuang yang gagah perkasa, yang dahulu ikut dalam perang gerilya melawan penjajah Mongol.
Mereka ini mengenal Souw Teng Wi, mengenal orangnya dan mengenal perjuangan serta sepak terjangnya yang gagah perkasa.
Mereka sendiri tentu saja tidak berdaya menghadapi pasukan kerajaan yang kuat, dipimpin oleh Auwyang Tek yang berkepandaian tinggi, yang amat ditakuti karena ilmunya Hek-tok-ciang.
Akan tetapi, diam diam ada beberapa orang yang cepat mempergunakan kuda, mendahului rombongan ini menuju ke selatan, mencari hubungan dengan perkumpulan Tiong-gi-pai yang mendukung Souw Teng Wi.
Beberapa orang yang bangkit setia kawannya bahkan mengumpulkan kawan-kawan dan nekat berusaha merampas dan menolong Souw Teng Wi.
Akan tetapi orang-orang ini seperti serombongan nyamuk menyerang api lampu.
Mereka merupakan makanan empuk bagi Auwyang Tek dan bergelimpanganlah di sepanjang jalan para orang gagah yang berusaha menolong Souw Teng Wi.
Tubuh mereka kaku dan terdapat tanda lima jari tangan hitam, inilah tanda bahwa mereka tewas sebagai korban tangan racun hitam yang ganas dari Auw yang Tek Dengan sikap garang sekali Auwyang Tek terus memimpin pasukannya menuju ke Nan-king.
Ia sudah membayangkan betapa ia akan disambut dengan segala kehormatan atas hasilnya penangkapan pemberontak Souw Teng Wi.
Tentu kaisar akan menjadi girang sekali dan memberi hadiah besar, atau bahkan pangkat ayahnya akan dinaikkan.
Pada suatu hari, rombongan ini tiba di sebelah utara Sungai Yang-ce, sudah dekat dengan kota raja.
Mereka memasuki sebuah hutan besar terakhir yang akan membawa mereka ke lembah sungai.
Makin dekat dengan kota raja, hati Auw yang Tek makin girang, demikian pula anak buahnya.
Pasukan itu tadinya sudah gentar kalau-kalau ada musuh mencegat, mereka maklum bahwa orang macam Souw Teng Wi tentu mempunyai kawan-kawan yang lihai Kini kota raja hanya tinggal beberapa ratus li lagi, terpisah Sungai Yang-ce.
Mereka mulai tertawa-tawa dan bernyanyi gembira.
Tiba-tiba mereka berhenti dan terheran-heran mendengar suara khim (tetabuhan seperti siter) yang amat merdu dan indah.
Siapakah orangnya yang menabuh khim di tengah hutan?
Juga Auwyang Tek merasa heran sekali, timbul kecurigaannya.
Akan tetapi mereka maju terus, mengambil jalan lain supaya tidak melewati orang yang menabuh khim.
Akan tetapi anehnya, ke manapun juga mereka menuju, selalu suara khim itu berada di depan menghadang mereka, seakan-akan orangnya memang sengaja berpindah-pindah menghadang perjalanan rombongan ini.
"Perkuat penjagaan sekeliling kerangkeng!"
Kata Auwyang Tek hati-hati dan ia sendiri cepat memajukan kudanya mendahului rombongan.
Tak lama kemudian sampailah ia di tempat terbuka dan dari pinggir jalan ia melihat seorang wanita cantik duduk di atas sebuah alat tetabuhan khim yang terletak di atas pangkuannya dan ia mainkan khim itu dengan asyik.
Wanita ini tidak muda lagi, akan tetapi masih mempunyai kecantikan yang membuat hati Auwyang Tek berdebar.
Dapat ia membayangkan betapa jelitanya wanita ini ketika masih muda dulu, raut wajah yang elok masih nampak jelas.
sepasang mata bening berbulu mata panjang lentik, mulut berbibir merah masih tersenyum manis.
Jari-jari tangan yang bermain-main di atas kawat khim juga masih mungil terawat, bergerak lincah dan lemah gemulai seperti menari-nari.
Lega hati Auwyang Tek ketika melihat bahwa yang menabuh khim hanyalah seorang wanita lemah, sungguhpun ia agak terheran mengapa di tempat sesunyi itu terdapat seorang wanita menabuh khim.
Menilik pakaiannya, wanita ini adalah wanita gunung karena pakaiannya sederhana saja seperti pakaian pendeta namun potongan rambutnya tidak seperti pendeta.
Tentu seorang wanita dusun yang istimewa pikirnya, atau dahulu bekas perempuan lacur yang pandai menabuh khim dan sekarang di hari tua kembali ke dusun, pikir Auwyang Tek.
Karena tidak melihat sesuatu yang membahayakan, ia bahkan turun dari kuda, menghampiri wanita itu, menonton orang main khim sambil menanti datangnya rombongannya.
Para anak buah pasukan juga menjadi lega bahwa pemain khim itu hanya seorang wanita dusun yang sederhana, cantik lembut dan sudah setengah tua.
Malah ada yang tertawa-tawa.
"Aduh merdunya, benar-benar membuat orang ingin mengaso dan tidur!"
Kata seorang anggauta pasukan.
"Dan dia menemanimu sambil main khim. bukan?"
Orang ke dua berolok-olok.
"Benar, biarpun sudah tua akan tetapi masih hebat....!"
Menyambung orang ke tiga.
Wanita itu agaknya tidak mendengar atau tidak mau memperdulikan segala macam olok-olok kotor yang menghinanya, terus saja bermain khim.
Auwyang Tek yang memperhatikan permainan khim itu, kagum bukan main.
Pemuda ini adalah putera seorang menteri, sebagai putera bangsawan tentu saja ia tidak asing akan seni suara, bahkan ia mengerti bagaimana cara menabuh khim biarpun ia bukan seorang ahli.
Melihat gerak jari wanita itu dan mendengar suara khim, tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli, la makin tertarik lalu berkata sambil tertawa.
"Enci, kau mainkan lagu Dewi dan Gembala nanti kuberi hadiah banyak!"
Suara khim berhenti dan wanita itu mengangkat kepala memandang.
Auwyang Tek tercengang melihat sinar mata yang amat tajam dan sepasang mata yang jernih.
Benar-benar wanita ini dulu tentu cantik jelita sekali, pikirnya kagum.
Wanita itu menggerakkan biji matanya, menyapu semua orang, juga mengerling ke arah kerangkeng di mana Souw Teng Wi duduk bersandar ruji besi dan matanya yang tak berisi itu nampak mengerikan sekali.
Wanita itu mengangguk ke arah Auwyang Tek, kemudian ia menunduk kembali, jari-jari tangannya bergerak lagi, kini dengan lemah gemulai menciptakan suara khim yang merdu merayu dan romantis.
Memang yang diminta oleh Auwyang Tek tadi adalah sebuah lagu romantis yang mengisahkan percintaan antara seorang pemuda penggembala dan seorang dewi kahyangan.
Lagu romantis ini menjdi kesayangan para kongcu (pemuda) hidung belang dan populer di tempat-tempat pelesir.
Namun wanita itu dapat memainkannya dengan amat indahnya, terang bahwa wanita ini dahulunya tentu bukan seorang wanita baik-baik.
Semua anggauta pasukan terbawa oleh pengaruh suara khim yan luar biasa ini sehingga tubuh mereka bergoyang-goyang mengikuti irama, bahkan ada yapg bernyanyi perlahan mengikuti lagu itu.
Semua orang, termasuk Auwyang Tek, seperti kena pesona.
Lagu itu makin lama makin memikat, suaranya melengking tinggi dan aneh sekali, beberapa orang anak buah pasukan ada yang jatuh tertidur!
Banyak yang sudah menguap hampir tak dapat menahan kantuknya.
Auwyang Tek sendiri merasa dadanya berdebar, telinganya mengiang dan matanya mengantuk.
Kagetlah dia.
Pernah dia mendengar akan kehebatan tenaga Iweekang yang disalurkan ke dalam suara dan bunyi-bunyian dan suara yang mengandung tenaga sakti ini dapat mempengaruhi pendengarannya.
Melihat para anak buahnya seorang demi seorang roboh pulas dalam cara aneh sekali, ia menjadi cemas dan mengerahkan seluruh tenaga dalam tubuhnya untuk melawan kantuk yang hampir tak dapat tertahankan lagi itu.
Benar saja setelah pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu mengerahkan Iweekangnya, pengaruh suara itu buyar sebagian.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras dari dalam kerangkeng.
Souw Teng Wi yang kumat gilanya itu agaknya juga terkena serangan suara khim dan biarpun ia buta, namun pendengarannya masih baik sekali.
Maka untuk melawan pengaruh itu, ia mengeluarkan ilmunya, menggereng keras dan tiba-tiba saja terdengar suara "tring-tring-tring!"
Senar khim putus tiga buah.
Ini menandakan bahwa gema suara gerengan yang mengandung getaran itu masih lebih kuat dari pada getaran suara khim.
Bagaikan diguyur air dingin setelah suara khim lenyap, para anak buah pasukan yang tertidur tadi berloncatan bangun dan saling pandang terheran-heran melihat kawan-kawannya sedang bangkit dan bangun dari tidur.
Auwyang Tek sudah dapat menduga bahwa wainita pemain khim ini tentu bukan orang sembarangan.
Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan hendak cepat-cepat pergi dari depan wanita aneh itu.
la merogoh sakunya, mengeluarkan tiga potong perak dan dilemparkan di depan wanita itu sambil berkata.
"Enci, permainanmu bagus sekali. Nah, ini hadiahku."
Ia menoleh kepada pasukannya dan memberi perintah untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi wanita itu memungut tiga potong perak sambil berkata.
"Untuk apa benda tak berharga macam ini?"
Sambil berkata demikian, sekali jari-jari tangannya yang halus itu mencengkeram.
tiga potong perak telah menjadi segumpal perak yang tak karuan bentuknya.
Auwyang Tek makin terkejut dan membelalakkan matanya sambil berkata.
"Habis, kau minta apa?"
Wanita itu tersenyum manis sekali, mencantolkan khim di belakang pundaknya lalu berkata sambil menudingkan telunjuk yang mungil ke arah kerangkeng.
"Kau minta aku bermain khim dan kau berjanji memberi hadiah. Nah, aku minta hadiah binatang di dalam kerangkeng itu!"
Auwyang Tek tahu bahwa wanita ini mencari gara-gara dan tentu seorang di antara kawan Souw Teng Wi atau seorang anggauta perkumpulan Tiong-gi-pai. Maka ia berkata dingin.
"Hemmm, apa kau tidak tahu bahwa binatang itu adalah tawanan kami dan hendak dibawa ke pengadilan kerajaan. Apakah kau begitu berani mampus untuk merampas tawanan yang berarti pemberontakan besar? Toanio. kau seorang wanita dan aku Auwyang Tek tidak bisa melawan wanita, apakah kau anggauta Tiong-gi-pai dan kawan pemberontak Souw Teng Wi ini?"
Wanita itu meludah.
"Jadi kaukah yang disebut Auwyang-kongcu. ahli Hek-tok-ciang? Hah, kiranya matamu buta tidak dapat membedakan orang. Kau menuduh aku kawan setan Souw Teng Wi, benar-benar kau menghina sekali. Aku minta dia dari tanganmu bukan untuk menolong, melainkan untuk membunuhnya. Tahukah kau?"
Memang Auwyang Tek tidak tahu bahwa wanita ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua dari perkumpulan Hoa-lian-pai yang bermarkas di kaki Gunung Ta-pie-san.
Lui Siu Nio-nio ini adalah guru dari Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio isteri Siang-pian-hai-liong Sim Kang.
Biarpun Yap Lee Nio sudah berpisah atau bercerai dari suaminya, namun berita tentang terbunuhnya Sim Kang oleh Souw Teng Wi membuat hatinya berduka dan sakit.
Ia mengadu kepada gurunya dan gurunya menyanggupi untuk membalaskan sakit hati ini.
Oleh karena itulah Lui Siu Nio-nio ketika mendengar bahwa Souw Teng Wi telah tertawan dan hendak dibawa ke kota raja, sengaja menghadang di tengah jalan untuk merampasnya.
Memang penawanan Souw Teng Wi sebentar saja sudah tersiar luas dan setiap orang kang-ouw sudah mendengarnya.
Auwyang Tek tentu saja tidak mau percaya akan keterangan Lui Siu Nio nio.
Ia bersiap sedia dan membentak.
"Siapa percaya omonganmu? Kau siapakah?"
"Aku Lui Siu Nio-nio ketua Hoa-lian-pai"
Kembali Auwyang Tek melengak Ia memang pernah mendengar akan nama perkumpulan Hoa-lian-pai dan ketuanya yang berilmu tinggi, akan tetapi ia tidak menyangka sama sekali bahwa ketua Hoa-lian-pai demikian cantik dan lemah lembut, pandai bermain khim pula!
Setelah mendengar bahwa ia berhadapan dengan ketua Hoa-lian-pai, Auwyang Tek tidak berani cengar-cengir lagi, tidak berani bersikap kurang ajar seperti kalau ia menghadapi seorang wanita cantik biasa.
Akan tetapi, ia juga tidak mau tunduk dan mengalah begitu saja, apa lagi mendengar bahwa nenek ini hendak merampas tawanannya.
Ia tidak mau percaya begitu mudah akan keterangan nenek itu bahwa Souw Teng Wi hendak dirampas untuk dibunuh.
Siapa tahu kalau-kalau itu hanya siasat belaka dan nenek ini menggunakan akal untuk menolong Souw Teng Wi karena untuk menggunakan kekerasan merasa jerih padanya.
Ini mungkin sekali.
Siapa yang tak pernah mendengar kelihaian Hek-tok-ciang?
Apa lagi sekarang dia mengawal tawanan.
"Aha, kiranya Lui Siu toanio, ciangbunjin Hoa-lian-pai yang terhormat! Selamat bertemu. Telah lama siauwte mendengar bahwa Hoa-lian-pai adalah sebuah perkumpulan bersih yang selalu membantu pemerintah membersihkan orang jahat. Tidak heran sekarang toanio hendak membunuh pemberontak Souw Teng Wi. Akan tetapi, untuk urusan ini harap toanio ikut dengan kami ke kota raja, di sana toanio dapat mengajukan permohonan kepada ayah agar toanio diberi, kesempatan melaksanakan hukuman mati yang pasli dijatuhkan kepada pemberontak ini. Bagaimana?"
Lui Siu Nio-nio tersenyum sindir. Hatinya panas sekali mendengar betapa ia disuruh "mengajukan permohonan"
Seakan-akan kedudukan Menteri Auwyang Peng begitu tinggi sampai-sampai ia harus merendahkan diri.
Jangankan terhadap seorang menteri seperti Auwyang Peng, terhadap kaisar sendiripun belum tentu ia sudi merendahkan diri.
"Auwyang-kongcu, usulmu itu terbalik. Aku harus membawa binatang ini kepada muridku, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang hendak membalas sakit hatinya. Setelah muridku melakukan pembalasannya, baru kau boleh membawa mayat binatang ini ke kota raja untuk dijadikan bukti jasamu. Bukankah kau akan mendapat pahala yang sama besarnya?"
Auwyang Tek mendongkol sekali karena diejek.
"Toanio, harap kau ingat bahwa pada saat ini aku adalah seorang yang memanggul tugas dari kaisar. Oleh karena itu, harap kau tidak menghambat perjalanan kami ke kota raja."
Ketua Hoa-lian-pai memperlebar senyumnya, berkata halus akan tetapi menyengat hati.
"Sudah lama aku mendengar tentang Hek-tok-ciang yang lihai, agaknya kau orang muda hendak mengandalkan Hek-tok-ciang untuk mengabaikan usulku, ya?"
"Toanio, kalau aku orang muda berani menentang toanio, anggap saja hal itu sebagai keinginanku menambah pengalaman dan pelajaran, sebaliknya kalau tonaio berani menentang utusan kaisar, bukankah itu sama halnya dengan memberontak dan berdosa besar?"
Jawab Auwyang Tek.
"Bagus! Kau hendak berlindung di balik nama kaisarmu! Aku tidak mengenal segala kaisar, bagaimana bisa memberontak? Tak usah banyak cakap tinggalkan binatang dalam kerangkeng itu, habis perkara!"
Auwyang Tek melihat wanita itu sudah mengambil khim yang tergantung di punggungnya.
Pemuda ini marah sekali dan tanpa banyak cakap ia lalu menggerakkan tangan kiri mengirim pukulan Hek-tok-ciang!
Biasanya, sekali pukulan saja sudah cukup membuat lawan roboh binasa.
Lui Siu Nio-nio maklum akan kehebatan pukulan Hek-tok-ciang ini.
la tidak berani menerima begitu saja, cepat mengangkat khim yang dipegang di tangan kanannya, menangkis pukulan yang datangnya dekat, bukan dilakukan dari jarak jauh, pukulan yang pasti akan mengenai dadanya.
"Brakk....!!"
Khim yang terbuat dari pada kayu hitam pilihan itu pecah berantakan, melayang ke sana ke mari pecahannya.
Adapun senar-senarnya juga putus semua dan mawut.
Akan tetapi di lain fihak, Auwyang Tek terhuyung mundur.
Dari tangkisan khim tadi menyambar tenaga yang amat dahsyat, membuat kuda-kudanya tergempur dan terpaksa ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya dan terhuyung-huyung.
Lui Siu Nio-nio menjadi pucat saking marahnya melihat alat tetabuhan yang disayangnya itu hancur oleh sekali pukulan pemuda itu.
Di samping kemarahannya, juga ia terkejut sekali.
Memang ia telah mendengar akan kelihaian Hek-tok-ciang, akan tetapi tak pernah menyangka sehebat itu.
Maka ia lalu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah memegang sebatang senjata yang amat aneh, yaitu berupa setangkai kembang terbuat dari pada emas.
Tangkainya panjang dan ada tiga helai daun terbuat dari pada perak.
Inilah senjata yang amat diandalkan oleh Lui Siu Nio-nio yang ia beri nama Hoa-lian-sin-kiam (Pedang Sakti Hoa-lian).
Sebetulnya disebut pedang bukan pedang karena hanya merupakan setangkai bunga emas dengan tiga helai daunnya, akan tetapi cara memegang dan mempergunakannya memang seperti orang bermain pedang.
Itulah sebabnya mengapa senjata aneh ini disebut Hoa-lian-sin-kiam dan penggunaannya yang istimewa khusus diciptakan oleh ketua Hoa-lian pai itu.
Dengan senjata ini Lui Siu Nio-nio telah merobohkan entah berapa banyak lawan dan senjata ini pula di samping senjata khimnya telah mengangkat namanya menjadi terkenal.
Mereka bertempur lagi.
Sekarang keduanya berlaku hati-hati setelah mengenal kehebatan tenaga lawan.
Akan tetapi setelah sekarang Lui Siu Nio-nio mainkan senjatanya yang aneh, kelihatanlah bahwa kepandaian Auwyang Tek masih kalah sedikitnya dua tingkat oleh ketua Hoa-lian-pai yang lihai ini.
Pukulan-pukulan Hek-tok-ciang tak dapat dipergunakan secara cepat lagi karena Auwyang Tek tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk melancarkan pukulan Hek-tok-ciang.
Ternyata senjata bunga emas dengan tiga helai daunnya ini selelah dimainkan malah lebih berbahaya dari pada sebuah pedang pusaka!
Bunga emas itu berupa setangkai bunga teratai yang baru mekar, mempunyai tujuh belas daun bunga dan setiap daun bunga ujungnya runcing seperti pedang hingga sama dengan tujuh belas pedang digabungkan menjadi satu.
Belum lagi helai daun putihnya amat berbahaya karena daun-daun ini merupakan senjata-senjata tersendiri yang tak terduga arah serangannya akan tetapi yang selalu menyusul serangan bunga.
Sebentar saja, belum tiga puluh jurus, Auwyang Tek sudah kebingungan karena tubuhnya terkurung rapat oleh senjata lawan yang berubah menjadi sinar kuning emas dikelilingi sinar putih.
Sinar-sinar itu mengurung tubuh Auwyang Tek dan selalu mengarah jalan jalan-darah yang paling berbahaya.
Hanya berkat Hek-tok-ciang saja Auwyang Tek belum roboh karena Lui Siu Nio-nio agaknya juga jerih dan selalu melompat mundur apa bila pemuda itu mempergunakan pukulan-pukulan jari jari tangannya yang sudah berubah hitam, tanda bahwa daya racun hitam sudah mengalir penuh di tangan yang bersarung tangan itu.
"Kepung! Serbu!!"
Auwyang Tek dengan tak sabar memberi aba-aba dan pasukannya yang terdiri dari lima puluh orang mulai bergerak mengepung hendak membantunya menyerang ketua Hoa-lian-pai itu.
Lui Siu Nio nio maklum bahwa menghadapi lawan sebegitu banyaknya bukanlah hal yang mudah, apa lagi kalau di situ masih ada Auiw-yang Tek yang amat lihai pukulan Hek-tok-ciaing-nya.
la bersuit keras dan senjatanya bergerak makin cepat mengurung tubuh Auwyang Tek.
Akan tetapi para pemimpin pasukan sudah mulai bergerak menyerangnya dari semua penjuru.
Terpaksa Lui Siu Nio nio memecah perhatiannya dan pada saat itu, pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan sekuat tenaga oleh tangan kanan Auwyang Tek datang menghantam, dadanya!
Ketua Hoa-lian-pai itu kaget bukan main.
Untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi karena kedudukannya sudah sulit sekali dalam menghindarkan keroyokan tadi.
Terpaksa ia malah mendekati Auwyang Tek, dengan tangan kiri dibuka ia menyambut pukulan itu dan pada saat yang sama senjata anehnya menyambar leher Auwyang Tek.
"Plakk...!!"
Lui Siu Nio-nio mengeluarkan jerit tertahan.
Akan tetapi Auwyang Tek terguling roboh tak dapat bangun pula!
Seluruh telapak tangan Lui Siu Nio-nio menjadi hitam, sebaliknya Auwyang Tek terkena pukulan pada jalan darah di pundaknya, membuai ia pingsan.
Ketua Hoa-lian-pai ini maklum bahwa tangannya sudah terkena racun, maka ia tidak mau membuang banyak waktu lagi, la tidak mau melayani para perajurit.
Sekali senjatanya menyambar, lima orang perajurit yang paling dekat roboh.
Yang lain menjadi gentar dan ragu-ragu.
Lui Siu Nio-nio melompat ke dekat kerangkeng dan menggunakan tangan kanannya menghantam pintu kerangkeng.
Terdengar suara keras dan pintu kerangkeng menjadi putus-putus dan bejat.
Akan tetapi sebelum ia turun tangan, kembali ia telah dikurung oleh pasukan kerajaan.
Terpaksa ia mengamuk lagi dan beberapa orang roboh pula tak dapat bangun lagi Sementara itu, tangan kirinya terasa gatal-gatal dan sakit.
Tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan muncullah sepasukan orang terdiri dari anggota-anggota Tiong-gi-pai, dipimpin oleh Kwee Cun Gan sendiri, di belakangnya kelihatan Pek-kong Sin-kauw dan isterinya Ang-lian-ci Tan Sam Nio!
Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya sudah mengenal Lui Siu Nio-nio maka tanpa banyak cakap lagi mereka ini lalu maju menggempur pasukan kerajaan, diikuti pula oleh Kwee Cun Gan dan anak buahnya.
Melihat datangnya bala bantuan pasukan kerajaan lari kocar-kacir sambil membawa tubuh Auwyang Tek yang masih pingsan.
Hanya mayat-mayat saja yang mereka tinggalkan.
Kwee Cun Gan melompat ke dekat kerangkeng dan sambil bercucuran air mata ia memeluk Souw Teng Wi.
"Aduh kasihan sekali kau, Souw-suheng.."
Tiba-tiba kwee Cun Gan merasa betapa pundaknya dipegang erat sekali oleh tangan Souw Teng Wi, sampai ia merasa tulang-tulangnya hampir remuk.
"Siapa kau....? Siapa kau yang menyebut suheng padaku?"
Pada saat itu Souw Teng Wi sudah siuman dan otaknya sedang waras.
"Souw-suheng, siauwte adalah Kwee Cun Gan, murid termuda dari Kun-lun-pai. Sayang siauwte datang terlambat sehingga suheng menjadi korban keganasan kaki tangan menteri durna.."
Pada saat itu menyambar sinar kuning.
Ternyata Lui Siu Nio-nio yang melihat bahwa yang datang adalah kawan-kawan Souw Teng Wi dan di antara mereka terdapat Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, merasa khawatir kalau-kalau pembalasan untuk muridnya kepada Souw Teng Wi akan gagal lagi Tanpa banyak cakap lagi ia melancarkan serangan maut ke arah kepala Souw Teng Wi dengan senjata bunga emasnya.
Melihat ini, Kwee Cun Gan cepat mengangkat tangan kanannya untuk menangkis dan menolong keselamatan suhengnya Souw Teng Wi terkejut sekali, hendak mencegah tidak keburu lagi.
Biarpun ia sudah buta, namun kepandaiannya yang tinggi dan luar biasa membuat ia maklum bahwa datangnya sambaran angin pukulan hebat ini tak dapat ditangkis oleh Kwee Cun Gan tanpa membahayakan keselamatan ketua Tiong-gi-pai ini.
Maka menahan napas dan mempererat pegangannya pada pundak kanan sutenya itu.
"Plak!"
Senjata bunga emas itu kena ditangkis oleh lengan Kwee Cun Gan dan putuslah daunnya sedangkan Lui Siu Nio-nio terhuyung mundur!
Adapun Kwee Cun Gan sendiri hanya merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar, la merasa ada tenaga dahsyat sekali datang dari pundaknya dan tenaga ini bertemu dengan tenaga hebat senjata nenek itu.
bertemu di telapak tangannya yang menangkis bagaikan dua kilat bertumbuk di udara.
Sekarang setelah ia berhasil menangkis serangan nenek yang galak itu, ia merasa tubuhnya, terutama sekali tangan yang menangkis tadi, lemah seperti dilolosi urat-uratnya!
Adapun Lui Siu Nio-nio menjadi pucat mukanya.
la kaget setengah mati, juga merasa malu sekali sehingga muka yang pucat itu sebentar-sebentar berubah merah sekali.
Sebagai seorang dari golongan cianpwe (tingkat atas), ia tidak mau berlaku membabi-buta dan nekat.
Sekali gebrakan saja sudah mudah diketahui bahwa terhadap orang setengah tua yang memanggil Souw Teng Wi "suheng"
Ini memiliki kepandaian atau tenaga yang lebih tinggi.
Diam-diam ia merasa heran sekali karena tidak mengira bahwa sute dari Souw Teng Wi demikian lihainya.
Pantas saja suami Lee Nio binasa olehnya dan Thian Te Cun juga tewas oleh Souw Teng Wi, tidak tahunya baru sutenya saja sudah begini hebat.
Menghadapi Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui suami isteri saja ia tidak takut dan merasa yakin takkan kalah, akan tetapi tangkisan tadi benar-benar membuat ia mengaku kalah.
Ia melirik dengan matanya yang indah kepada Kwee Cun Gan sambil bertanya.
"Aku sudah mendapat pelajaran yang berharga, tidak tahu siapakah nama enghiong yang gagah?"
Seorang anggauta Tiong-gi-pai menyaksikan betapa wanita itu sekali gebrak saja kalah oleh ketuanya, dengan bangga ia menjawab.
"Wanita gunung mana kau tahu? Inilah ketua kami Kwee Cun Gan taihiap. ketua dari Tiong-gi-pai. Jangan kau berani main main di depan kami orang-orang gagah Tiong-gi-pai"
Mendengar ini, Lui Siu Nio-nio tersenyum kecut, lalu mengibaskan bunga emasnya.
"Brakkk!"
Batu sebesar kepala kerbau yang berada di dekat orang yang bicara ini menjadi remuk dan debunya mengebul tinggi.
Orang itu karuan saja menjadi pucat dan kedua kakinya gemetaran, akan tetapi ketua Hoa-lian-pai itu pergi tanpa pamit lagi..
"A Liok, lain kali kau tidak boleh bicara mengacau-balau secara sembrono!"
Bentak Kwee Cun Gan menegur anak buahnya yang menjadi makin kuncup haitinya.
"Wanita itu hebat sekali, entah siapa gerangan dia?"
Terdengar Siok Beng Hui menarik napas panjang.
"Kwee-sicu benar-benar memiliki tenaga simpanan. Dia itu adalah ciangbunjin (ketua) Hoa-lian-pai bernama Lui Siu Nio-nio dan senjatanya tadi yang disebut Hoa-lian Sin-kiam, hebatnya bukan main. Terus terang saja aku orang she Siok suami isteri belum tentu bisa menangkan dia. Sekali lagi, Kwee-sicu, aku merasa kagum dan takluk padamu, entah dengan ilmu pukulan apa tadi kau sekali tangkis dapat membuat ia tunduk."
"Semua anggauta Tiong-gi-pai meleletkan lidah mendengar kehebatan nenek tadi. Kwee Cun Gan sendiri melompat bangun dengan mata terbelalak. Tak mungkin kalau Pek-kong Sin-kauw suami isteri tak dapat melawan nenek itu, ia dapat menang dalam segebrakan saja, la lalu menubruk Souw Teng Wi dan memeluk suhengnya itu.
"Harap Siok-taihiap jangan terlalu memuji siauwte. Sebenarnya, tadi siauwte berlancang tangan menangkis karena merasa khawatir akan keselamatan Souw-suheng. Siapa kira bahwa ketika itu suheng mencengkeram pundak siauwte dan tahu-tahu ada tenaga luar biasa mengalir dari pundak ke tangan siauwte dan dapat mengundurkan ketua Hoa-lian-pai. Bukan siauwte yang lihai, melainkan Souw-suheng ini yang ternyata telah memiliki kepandaian hebat sekali."
Siok Beng Hui mengangguk-angguk dan memandang orang bula itu dengan kagum.
"Hemm, pantas saja orang seperti Thian Te Cu sampai tewas. Ah, tentu Lui Siu Nio-nio tadi hendak membalaskan kematian suami muridnya, yaitu Siang-pian Hai-liong Sim Kang."
Semua orang sekarang mengerti akan duduknya perkara.
Memang berita yang dibawa oleh anak buah bajak tentang sepak terjang Souw Teng Wi yang luar biasa tidak hanya terdengar oleh fihak Auwyang-taijin.
juga terdengar oleh kawanan Tiong-gi-pai.
Dengan penuh penghormatan namun tergesa-gesa, Souw Teng Wi lalu dibawa oleh rombongan Tiong-gi-pai menuju ke utara, yaitu ke Peking.
Kawanan Tiong-gi-pai hendak mengantarkan bekas pahlawan itu kepada Raja Muda Yung Lo agar terlindung dari pada ancaman kawanan durna.
Souw Teng Wi masih dalam keadaan tidak ingat, tidak mau banyak bicara dan ditanya apa-apa, tak dapat menjawab betul.
Kwee Cun Gan sering kali mengucurkan air mata menyaksikan keadaan su-hengnya yang benar-benar amat menyedihkan hati itu.
Seratus lie lebih sebelah selatan muara Sungai Huai adalah pantai batu karang yang amat sukar didatangi manusia.
Daerah ini merupakan daerah mati, jangankan manusia yang lemah, bahkan binatang-binatang liarpun sukar mendatangi batu-batu karang raksasa yang merupakan pegunungan yang menjulang tinggi ini.
Pegunungan itu amat curamnya, yang berada di tepi laut saja tidak kurang dari seribu kaki tingginya Kalau orang naik perahu di pinggir laut, mereka selalu menghindari daerah ini karena ombak selalu mengalun buas dan perahu akan dihempaskan remuk pada pantai batu karang.
Dari jauh akan nampak batu-batu karang sebesar gunung dengan gua-gua hitam menyeramkan.
Gua-gua ini mungkin sekali buatan ombak yang menghantam batu karang selama ribuan tahun lamanya.
Air laut yang mengandung garam itu menggerogoti batu karang dan membentuk gua-gua yang amat aneh, bahkan banyak di antaranya berbentuk tengkorak manusia raksasa yang menghadap ke arah laut, mengerikan.
Inilah yang disebut Gua Siluman oleh para nelayan.
Akan tetapi tidak seorangpun tahu yang manakah gerangan Gua Siluman, saking banyaknya gua yang tampak dari laut.
Juga untuk mendekati gua-gua itu tak mungkin.
Didatangi dari darat, terlampau curam.
Siapakah dapat menuruni jurang batu karang di tepi pantai yang selain licin dan tajam, juga terjal sekali itu?
Didatangi dari laut lebih tak mungkin lagi karena perahu akan hancur dihempaskan ombak ke batu karang.
Oleh karena tak mungkin orang mendatangi daerah ini, maka pantai laut Kuning ini merupakan daerah mati dan kalau para nelayan ditanya apakah namanya daerah itu, mereka akan menjawab singkat.
"Gua Siluman."
Kecuali burung-burung darat dan laut, hanya dua binatang buas yang dapat mendatangi daerah itu, yakni ular-ular dan kera.
Menurut berita angin, di daerah ini terdapat ular-ular yang paling besar dan berbisa, juga terdapat monyet-monyet yang aneh dan jarang terlihat di daerah ini.
Di waktu malam, dari jauh orang dapat mendengar teriakan-teriakan monyet yang aneh dan menyeramkan.
saling sahut dengan pekik ayam hutan dan burung-burung laut.
Para nelayan atau penduduk pesisir sekitar daerah itu sering kali bercerita dengan wajah ketakutan bahwa dahulu, puluhan tahun yang lalu di waktu para kakek-kakek ini masih kecil, di puncak batu-batu karang itu sering kali kelihatan sinar bergerak-gerak dan kadang-kadang terdengar pekik yang membuat bulu tengkuk berdiri meremang.
Bukan pekik binatang hutan, bukan pekik burung hantu, melainkan pekik yang luar biasa anehnya dan yang membuat daerah itu seakan akan tergetar karenanya!
Ada pula yang bercerita betapa sekawanan bajak sungai ketika dengan berani mencoba untuk mendaki daerah ini, kedapatan telah mati semua dan mayat mereka mengambang di pesisir seakan akan mereka itu dilemparkan ke bawah oleh kekuasaan hebat.
Juga katanya ada seorang nelayan tua yang miskin dan jujur, ketika perahunya terbawa ombak dan ia tidak kuasa lagi sehingga perahu kecilnya dibantingkan ke arah batu-batu karang menghadapi kehancuran, tiba-tiba perahunya itu diseret oleh tenaga dahsyat ke tempat aman!
Semua ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, kini tinggal merupakan dongeng-dongeng dan orang berkata bahwa di tempat aneh itu tentu ada silumannya atau juga mungkin dewa laut sendiri yang tinggal di dalam gua.
Malah ada yang berbisik-bisik mengatakan bahwa ia pernah melihat seekor naga bermahkota, mungkin Hai-liong-ong sendiri (Raja Naga Laut), terbang dari laut menuju ke gua-gua itu.
Oleh cerita cerita, tahyul macam ini, tempat itu menjadi makin terasing dan ditakuti orang.
Tak seorangpun berani mencoba-coba untuk mendatanginya.
Pula, berusaha payah-payah mempertaruhkan nyawa mendaki tempat berbahaya itu untuk apakah?
Biarpun anggapan umum demikian, akan tetapi akhir-akhir ini kadang-kadang kelihatan orang-orang gagah mendaki pantai.
batu karang, tidak sampai ke daerah gua yang memang luar biasa sukarnya didatangi, melainkan ke bagian pantai batu karang yang banyak lubangnya.
Mereka ini adalah orang-orang berkepandaian yang datang uniuk mencari sarang burung di tempat seperti itu.
Yang datang hanya orang orang kang-ouw yang membutuhkan bahan obat ini dan mereka mencari sarang burung bukan untuk diperdagangkan, melainkan untuk kepentingan pribadi.
Biarpun yang datang itu sebagian besar adalah orang-orang kong-ouw yang berilmu, tetap saja banyak di antara mereka yang tergelincir dan menemui kematian mengerikan di bawah, di mana ombak sudah siap menanti mereka untuk dibanting dan dihempaskan ke atas batu batu yang runcing dan tajam.
Semua orang kang-ouw yang datang ke tempat itu adalah orang-orang lelaki kasar belaka yang bertubuh kuat.
Akan tetapi pada suatu hari, dari arah barat, datang gadis cantik berjalan seorang diri menuju ke pegunungan batu karang ini.
Dia masih amat muda, tidak lebih enam belas tahun, berpakaian sederhana bersih, cantik luar biasa dengan sikap yang lincah gembira.
Kalau ada nelayan atau penduduk di situ melihatnya, pasti mereka akan lari tunggang-langgang mengira gadis jelita ini seorang siluman, penghuni Gua Siluman!
Memang amat aneh dan sukar dipercaya bahwa seorang dara muda yang masih remaja ini berani datang di tempat yang berbahaya seperti daerah Gua Siluman, kalau dia sendiri bukan seorang siluman.
Dara jelita itu bukan lain adalah Souw Lee Ing Dengan hati yang penuh dendam dan duka melihat nasib ayahnya yang mengerikan, gadis ini mengambil keputusan untuk mencari Gua Siluman dan memenuhi pesan ayahnya.
Ia dapat menduga bahwa ayahnya tentu telah mendapatkan pusaka Gua Siluman, pusaka yang berupa pelajaran ilmu kesaktian yang luar biasa.
Buktinya, menurut kong-kongnya, kepandaian ayahnya biarpun tinggi akan tetapi ayahnya hanya menjadi murid Kun-lun-pai.
Akan tetapi setelah ayahnya mendapatkan Gua Siluman, ayahnya menjadi seorang sakti dan..
gila!
Tentu ada rahasia hebat di balik ini semua, ada rahasia dahsyat di dalam Gua Siluman yang harus ia datangi dan bongkar rahasia itu.
Kalau dugaannya tidak keliru, ia akan mendapat pelajaran ilmu kesaktian seperti ayahnya di dalam gua itu.
Ia hendak mempelajari sampai sempurna, sampai ia memiliki kepandaian seperti ayahnya atau lebih lihai lagi agar kelak ia dapat membalaskan sakit hati ayahnya.
Dengan semangat besar dan hati tabah akhirnya Lee Ing tiba di daerah Gua Siluman.
Di sepanjang jalan ia sudah mendengar kehebatan daerah ini yang ditakuti semua orang, daerah yang katanya banyak silumannya.
Akan tetapi biarpun semua orang mengatakan bahwa bagi manusia biasa, tak mungkin dapat menjelajahi daerah itu, Lee Ing tidak merasa kecil hati, la mempunyai peta ayahnya dan dengan peta ini ia percaya akan dapat mencari Gua Siluman yang dimaksudkan oleh ayahnya.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak dari Ki-tong, kota kecil di sebelah selatan An-hwi, ia telah diikuti orang dengan diam-diam.
Bahwa gadis ini tidak merasa dan tidak tahu bahwa dia diikuti orang, menunjukkan betapa lihai orang itu.
la juga sama sekali tidak pernah mengira bahwa ia diikuti oleh seorang perampok tunggal yang terkenal dan ditakuti orang, yaitu Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.
Sebagai seorang perampok tunggal yang ulung, sekali lihat saja Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tahu bahwa dara muda cantik jelita yang melakukan perjalanan seorang diri ini membawa barang-barang berharga terdiri dari emas permata.
Tadinya ia berniat merampok nona muda ini di tengah jalan yang sunyi.
Akan tetapi melihat sikap gagah perkasa dan wajah yang cantik jelita itu, timbul rasa suka di dalam hati perampok tunggal wanita ini.
la melihat seorang calon mantu yang amat baik dalam diri dara jelita ini.
Alangkah akan senang hatinya mempunyai seorang anak mantu demikian cantik dan gagah, sebagai isteri puteranya, Sim Hong Lui.
Oleh karena inilah diam-diam ia terus mengikuti perjalanan Lee Ing, hendak mengetahui ke mana nona itu pergi.
Alangkah kaget hati Yap Lee Nio ketika ia melihat bahwa dara jelita yang diikutinya itu menuju ke daerah Gua Siluman, daerah yang penuh rahasia dan dia sendiri merasa ngeri dan tidak berani mencoba memasuki daerah yang disohorkan amat liar itu.
Melihat gadis itu hendak memasuki daerah batu karang, dari jauh Yap Lee Nio berseru nyaring.
"Nona yang di depan, tunggu dulu....!"
Lee Ing cepat menengok dan melihat seorang nyonya cantik berlari cepat sekali, ia terkejut.
Gadis ini semenjak menjelajah ke selatan bersama kakeknya, selalu menemui orang-orang jahat dan ia selalu menaruh hati curiga kepada orang kong-ouw.
Apa lagi melihat betapa wanita itu seruannya amat nyaring mengandung tenaga Iwee-kang tinggi dan larinya juga cepat sekali, Lee Ing menjadi makin curiga.
Tanpa menjawab dan tanpa menoleh lagi ia cepat lari ke depan memasuki daerah batu karang dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.
"Hee, nona yang di depan......! Berhenti, kau memasuki daerah berbahaya........!"
Kembali ia mendengar seruan.
Lee Ing makin curiga.
Jangan-jangan orang itu hendak merampas petanya, pikirnya, maka gadis ini berlari makin cepat tanpa menghiraukan seruan orang berkali-kali.
Akan tetapi jalan mulai sukar dan selain menanjak, juga tanah mulai tertutup batu-batu karang yang tajam dan runcing.
Kalau dibandingkan dengan orang biasa, kiranya kepandaian Lee Ing sudah cukup tinggi dan kalau yang mengejarnya itu seorang ahli silat biasa saja, jangan harap gadis ini dapat disusul.
Akan tetapi pengejarnya adalah Hui-ouw-tiap (Kupu-kupu Terbang) Yap Lee Nio yang terutama terkenal sekali akan ginkangnya yang tinggi sehingga mendapat julukan Kupu-kupu Terbang Sebentar saja Lee Ing sudah tersusul.
Lee Ing hanya melihai bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita setengah tua berbaju hijau cantik wajahnya, berdiri di depannya sambil tersenyum dan mengangkat tangan kanan menyuruhnya berhenti.
Karena tak dapat melalui wanita itu, terpaksa Lee Ing menghentikan kakinya dan sambil terengah-engah kelelahan ia menegur.
"Kau.ini orang tua mau apakah mengejar aku seperti Orang menagih hutang?"
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio sendiri adalah seorang yang berwatak lincah jenaka.
Teguran setengah berkelakar ini tidak membuatnya marah, ia hanya berdiri bertolak pinggang sambil melihat wajah dan bentuk tubuh gadis itu, lalu mengangguk-angguk dan berkata memuji.
"Cantik!.... patut menjadi mantuku!"
Muka Lee Ing merah dan ia berkata mendongkol.
"Jangan bicara yang bukan-bukan. Kau mengejarku ada keperluan apakah?"
Akan tetapi Hui-ouw-tiap terus saja menatap wajah orang lalu berkata lagi.
"Memang cantik sekali, entah kepandaiannya sampai bagaimana tingginya."
Lee Ing makin mendongkol.
Ia merasa seperti menjadi seekor domba yang ditaksir-taksir oleh seorang calon pembeli.
Tanpa banyak cakap ia lalu menggerakkan kedua kakinya dan berlari lagi melewati sebelah kanan wanita itu.
"Eiit, nanti dulu, nona. Aku mau bicara!"
Kata Yap Lee Nio yang cepat mengulur tangan menangkap pergelangan lengan Lee Ing.
Gadis ini semenjak kecil hidup di daerah Mongol dan ia pernah mempelajari ilmu gulat Bangsa Mongol.
Mungkin kalau bertempur dalam ilmu alat, ia bukan lawan Hui-ouw-tiap, akan tetapi dalam ilmu gulat, ia jauh lebih menang.
Begitu lengannya tertangkap, sekali membalikkan tubuh dan membungkuk, ia berbalik sudah menangkap lengan Hui-ouw-tiap dan sekali gentakan saja tubuh Hui-ouw-tiap sudah terlempar jauh!
"Ayaaaa...!"
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio menjerit seperti wajarnya seorang perempuan terkejut.
Akan tetapi di lain saat, Lee Ing yang menjadi bengong terlongong-longong melihat tubuh wanita itu dalam keadaan terlempar dapat bersalto beberapa kali lalu turun kembali ke depannya seperti terbang saja.
Benar-benar hebat dan indah gerakan itu, seperti bersayap saja!
Di lain pihak, Yap Lee Nio merasa terheran-heran dan mengira bahwa gadis cantik ini benar-benar memiliki kepandaian yang lihai sekali.
Memang selama hidupnya baru kali ini Hui-ouw-tiap menghadapi ilmu gulat Mongol, maka ia sangat kaget.
"Kau lihai betul, coba sekali lagi!"
Katanya sambil menubruk maju.
Wanita itu yang menaksir Lee Ing dan ingin mencari mantu untuk puteranya, menjadi makin gembira melihat bahwa gadis cantik ini ternyata lihai kepandaiannya, maka ia sengaja hendak mencoba.
Dengan cepat ia mengirim tiga kali serangan beruntun dengan ilmu silat Hoa-lian-pai.
Akan tetapi alangkah herannya ketika melihat gadis itu mengelak dengan gerakan biasa saja, sungguhpun kedudukan dan perubahan kaki Lee Ing menunjukkan ilmu yang aneh dan tinggi.
Hal ini tidak mengherankan.
Lee Ing sudah menerima petunjuk-petunjuk dari ayahnya dan sedikit banyak ia telah mempelajari ilmu aneh yang didapat ayahnya dari Gua Siluman.
Akan tetapi ia belum dapat mempergunakan ilmu ini dengan baik, maka hanya kedudukan dan perubahan kaki saja yang tepat sedangkan gerakan tangan dan tubuhnya masih dalam posisi ilmu silat biasa yang pernah ia pelajari dari Haminto Losu.
Kalau Yap Lee Nio menghendaki, mudah saja ia merobohkan Lee Ing dengan pukulan-pukulannya.
Akan tetapi bukanlah kehendak Hui-ouw-tiap.
Melihat Lee Ing tidak berdaya menghadapi serangannya, kembali ia mencengkeram dan kali ini kedua pundak Lee Ing kena ia pegang.
"Apa kau tidak menyerah sekarang?"
Kata Yap Lee Nio sambil tertawa girang.
Akan tetapi itulah kesalahannya.
Ia masih belum sadar bahwa gadis itu biarpun tidak lihai ilmu silatnya, namun hebat ilmu gulatnya.
Kalau diserang dengan ilmu silat, memang Lee Ing tidak berapa kuat.
Akan tetapi jangan sekali-kali berani memegangnya karena begitu terpegang, ilmu gulatnya keluar dan orang yang memegang menderita kerugian besar.
Demikian pula dengan Yap Lee Nio.
Tanpa ia ketahui bagaimana gadis itu bergerak, tiba-tiba pegangannya sudah meleset dari pundak dan sebaliknya pangkal lengannya terpegang, disusul pergelangan lengannya dan sekali lagi tubuh Yap Lee Nio terlempar tanpa ia dapat mencegah lagi, malah terlempar jauh dengan cara aneh dan cepat!
Dengan terheran-heran dan bingung Yap Lee Nio mengeluarkan ilmu ginkangnya yang luar biasa.
Ia dapat membalik di udara, berjungkir-balik beberapa kali dan berhasil melayang kembali ke depan Lee Ing.
Benar-benar seperti seekor burung walet cepat dan gesitnya.
"Eh, eh, kau mempergunakan ilmu apakah?"
Tanyanya dengan mata terbuka lebar.
Lee Ing juga kagum sekali melihat kepandaian Yap Lee Nio.
Gadis ini tahu diri dan maklum bahwa kalau wanita itu menghendaki, beberapa jurus saja ia akan dapat dihajar roboh, la lalu menjura dan berkata.
"Harap bibi jangan main-main dengan aku orang muda. Orang sebodoh aku mana bisa melawan bibi yang lihai sekali ilmu silatnya? Aku hanya bisa sedikit ilmu gulat Mongol, akan tetapi terhadap bibi mana bisa aku membanting?"
Yap Lee Nio makin tercengang mendengar gadis ini pandai ilmu gulat Mongol.
"Apakah kau seorang gadis Mongol? Aah, tak mungkin, tulang pipimu tidak malang, hidungmu tidak seperti burung. Kau seorang gadis Han tulen, bukan?"
Suara pertanyaan ini terdengar penuh harapan.
Biarpun gadis itu cantik jelita dan ia cocok sekali untuk mengambilnya sebagai mantu, kalau ternyata gadis itu seorang gadis Mongol, ia tak mungkin bermantu seorang Mongol!
Sementara itu, melihat sikap nyonya ini, timbul kenakalan Lee Ing.
la tersenyum manis, tubuhnya digoyang-goyangkan seperti sikap seorang gadis dusun Mongol yang kemalu-maluan, lalu menggigit ciunjuk dengan giginya yang putih dan berkata.
"Aku memang seorang gadis Mongol......"
Sikap seperti ini dulu sering ia lihat pada diri gadis-gadis Mongol. Yap Lee Nio mengerutkan keningnya, kecewa bukan main.
"Ah. aku hampir tak dapat percaya. Namamu siapa?"
"Namaku Bayin Kilan....."
Lee Ing mengambil nama seorang gadis Mongol yang pernah dikenalnya.
"Aneh.... aneh.... pernah kulihat gadis-gadis Mongol, akan tetapi tidak ada yang seperti kau. Dan bicaramu bukan seperti gadis Mongol.."
Yap Lee Nio menghentikan kata-katanya dan menengok ke kiri.
Ia lebih dulu mendengar kedatangan seorang pemuda yang berlari cepat sekali.
Melihat orang menengok, Lee Ing ikut pula menengok dan melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah..
Siok Bun, putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui!
"Nona Souw Lee Ing....!"
Siok Bun memanggil, girang sekali melihat gadis yang sekali bertemu telah merenggut semangatnya itu berada dalam keadaan selamat di tempat itu.
"Apa...? Kau bernama Souw Lee Ing...?"
Yap Lee Nio bertanya, wajahnya berubah merah sekali dan (Lanjut ke
Jilid 08) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 dipandangnya Lee Ing dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Dan Kau puteri Souw Teng Wi...?"
Karena tadipun ia hanya bergurau dan sekarang namanya sudah disebut oleh Siok Bun, Lee Ing yang biasanya jujur tidak mau main-main lagi.
"Memang Souw Teng Wi pendekar besar itu adalah ayahku!"
Katanya bangga.
"Tiba-tiba Yap Lee Nio tertawa, suara ketawa-nya meninggi dan menyeramkan sekali, kemudian mendadak pula ia menangis terisak-isak menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata. Lee Ing melenggong dan mulutnya celangap saking herannya.
"Kau....kau kenapakah...?"
Tanyanya, melangkah maju menghampiri.
"Nona Souw, awas......!"
Siok Bun berseru keras dan tubuhnya melayang dekat dan di lain saat senjata gaetannya sudah menangkis pedang di tangan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang ditusukkan ke arah dada Lee Ing!
Pemuda itu terhuyung ke belakang dan tangannya tergetar, akan tetapi juga Yap Lee Nio mundur dua langkah.
Tingkat tenaga Iweekang mereka seimbang, atau kalau pemuda itu kalahpun tidak berapa banyak.
Lee Ing kaget bukan main.
Ia harus mengakui bahwa kalau Siok Bun tidak menangkis serangan itu dadanya tentu sudah disate oleh pedang nyonya aneh ini.
Ia menjadi marah sekali.
"Eh, eh, apa kau sudah menjadi gila? Mengapa kau menyerangku? Siapa kau dan apa sih kesalahanku?"
Bentaknya. Yap Lee Nio melirik ke arah Siok Bun, lalu katanya.
"Aku Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, suamiku Siang-pian-hai-liong Sim Kang sudah dibunuh oleh si keparat Souw Teng Wi ayahmu, maka kau harus mengganti nyawa!"
Kembali pedangnya berkelebat ke arah Lee Ing.
Gadis itu cepat meloncat ke belakang.
Ketika Yap Lee Nio mengejar, bayangan Siok Bun berkelebat dan pemuda ini sudah menghadang di depannya.
Kembali Yap Lee Nio melirik, kini penuh ancaman.
"Siapa kau?"
Siok Bun adalah putera suami isteri pendekar yang lihai, ia amat tabah dan juga sikapnya halus. Lebih dulu ia menjura sebelum memperkenalkan diri, lalu menjawab.
"Sudah lama siauwte mendengar nama besar Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tokoh Hoa-lian-pai. Siauwte adalah putera Pek-kong Sin-kauw bernama Siok Bun."
Gentar juga hati Hai-ouw-tiap mendengar nama Pek-kong Sin-auw sebagai ayah pemuda tampan ini.
Akan tetapi pemuda ini hanya puteranya, betapapun lihai tak mungkin ia kalah.
Namun ia tidak berani sembrono menyerang pemuda ini, tidak mau ia menanam bibit permusuhan dengan seorang tokoh besar seperti Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio.
"Ayah bundamu dengan aku tak pernah ada permusuhan sesuatu. Sekarang aku hendak membalas dendam kematian suamiku kepada bocah setan anak Souw Teng Wi ini, harap kau mundur dan jangan ikut campur,"
Katanya, suaranya halus.
"Toanio, hal itu tak mungkin. Pertama, Souw-taihiap adalah seorang besar, seorang pahlawan yang patut dihormati dan dikagumi, maka anaknya-pun harus dibela. Ke dua, tidak mungkin aku yang sudah mempelajari ilmu silat, diam saja berpeluk tangan melihat seorang gadis hendak dibunuh oleh orang lain yang mengandalkan kekuatannya, ini sudah menjadi pegangan seorang gagah bahwa kita harus melindungi si lemah dari tindasan si kuat."
Mendengar ini Souw Lee Ing bertepuk tangan memuji.
"Nah-nah, kau dengar tidak, kupu-kupu belang? Seorang nenek seperti kau masih harus diberi kuliah oleh orang muda, bahh. sungguh harus malu!"
Muka Yap Lee Nio menjadi pucat saking marahnya.
Ia dimaki kupu-kupu belang dan nenek-nenek, padahal banyak orang muda masih memuji kecantikannya.
Karena Siok Bun menghalang-halangi, kemarahannya ditumpahkan kepada pemuda ini.
"Pemuda sombong, kau kira kalau sudah menjadi putera Pek-kong Sin-kauw lalu tidak ada orang berani kepadamu? Lihat pedang!"
Secepat kilat wanita itu menyerang.
Siok Bun tidak berani berlaku lambat karena maklum bahwa nyonya itu memiliki ginkang yang luar biasa sekali.
Senjata gaetannya digerakkan dan berkali-kali terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu.
Lee Ing diam-diam merasa girang bahwa pancingannya berhasil.
Ia memang sengaja hendak mengadu dua orang itu agar mendapat kesempatan melarikan diri.
Ia tahu akan kebaikan hati Siok Bun dan kalau ia terlepas dari ancaman Yap Lee Nio, ia masih tidak dapat terlepas dari pertanyaan-pertanyaan Siok Bun.
Tentu pemuda itu heran sekali melihat dia berada di situ dan mendesak dengan pertanyaan.
Setelah pemuda itu menolongnya, bagaimana dia bisa menutup mulut?
Dan dia tidak ingin membuka rahasia Gua Siluman, tidak mau membuka rahasia ayahnya yang sudah dipercayakan kepadanya.
Melihat dua orang itu sudah mulai bergerak dan makin lama makin seru pertempuran mereka, Lee Ing mempergunakan kesempatan itu untuk diam-diam pergi dari situ, terus naik ke pegunungan batu karang.
Peta itu sudah ia musnahkan akan tetapi sebagai penggantinya, di dalam otaknya sudah hafal dan sudah tergambar peta itu.
Ia tahu ke mana ia harus pergi.
Sementara uu, ketika Lee Ing.
sudah tidak kelihatan lagi, baru Siok Bun terkejut dan bertanya.
"Nona Souw, kau berada di mana..?"
Pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, masih belum ada yang dapat mendesak lawan.
Mendengar bahwa nona musuhnya itu sudah tidak ada di situ, nafsu bertempur Yap Lee Nio lenyap seketika dan iapun melompat mundur, sedangkan Siok Bun cepat melompat dan lari mencari Lee Ing.
Akan tetapi gadis itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Juga Yap Lee Nio mencari dengan maksud lain, namun iapun tidak berhasil, akhirnya Yap Lee Nio tidak sabar lagi dan turun gunung, sedangkan Siok Bun yang merasa khawatir akan keselamatan gadis itu, masih terus berputaran mencari-cari.
Tentu saja dua orang itu tidak dapat mencari Lee Ing.
Gadis ini mencari sebuah batu karang yang paling tinggi dan paling besar, berbentuk menara.
Dengan berani dan tanpa ragu-ragu ia mendaki naik, melalui sisi sebelah kiri dan merayap terus sampai di puncak kiri.
Ia melihat daun-daun pohon tersembul di puncak dan giranglah hatinya.
Itulah tanda-tanda di dalam peta tak salah lagi.
Tanpa takut-takut ia lalu merayap turun dari puncak batu karang itu melalui tebing yang amat curam.
Orang lain, bagaimana tinggipun kepandaiannya, tak mungkin berani merayap turun ke tebing ini yang sama sekali tidak kelihatan bawahnya.
Akan tetapi Lee Ing sudah tahu betul keadaan tebing itu dari peta ayahnya, la melihat ke bawah yang kosong dan hanya ada cabang pohon yang tidak kelihatan pohonnya.
Orang lain akan ragu-ragu karena tidak tahu apakah pohon yang tidak kelihatan batangnya itu cukup kuat.
Akan tetapi Lee Ing sudah tahu betul bahwa pohon itu amat kuat biarpun hanya kecil.
Tanpa ragu-ragu ia melompat ke cabang itu.
Benar saja, cabang pohon itu kuat sekali, batangnya yang putih amat ulet dan keras.
Lee Ing merayap terus, berpegang pada batang pohon itu.
la bergerak turun melalui tebing curam itu dengan amat hati-hati, akan tetapi dengan tabah.
Ia sudah hafal dari petunjuk peta, ke mana kakinya harus melangkah.
Memang orang lain akan merasa ngeri kalau belum yakin betul bahwa batu yang diinjaknya cukup kuat dan takkan terlepas.
Sekali tergelincir, tubuh akan melayang jatuh ke bawah, ke permukaan air laut ganas yang dalamnya dari tempat itu ada ratusan kaki!
Sambil melangkah Lee Ing menghitung.
Pada langkah ke tujuh puluh tujuh, sudah dekat dengan permukaan laut yang menggelombang ganas, ia melihat gua berbentuk tengkorak miring.
Mulut gua merupakan telinga tengkorak itu dan lebarnya ada satu setengah tombak, bentuknya lonjong.
Keadaannya gelap sekali.
Amat sukar bagi Lee Ing untuk melangkah ke gua ini, karena air laut yang sedang mengganas itu melontarkan ombak yang tingginya hampir sampai di kakinya.
Akan tetapi dengan keberanian luar biasa gadis yang selalu ingat akan kesengsaraan ayahnya itu terus mendekati gua kemudian melompat ke dalam telinga tengkorak besar itu.
Gelapnya bukan main setelah ia melangkah masuk.
Jangankan hendak melihat isi gua, melihat tangan sendiri saja tidak kelihatan.
Lee Ing tidaK menjadi gugup.
Ia sudah bersiap sedia untuk mengatasi kesukaran ini.
Dikeluarkannya sebuah lilin dan batu api dan sebentar saja ia sudah memegang sebatang lilin yang menyala terang.
Ia harus menutupi lilin itu dengan tubuhnya untuk melindungi api dari pada tiupan angin kencang yang datang dari laut.
Dinginnya bukan kepalang.
Akan tetapi Lee Ing melangkah maju terus pantang mundur.
Setelah melangkah maju kurang lebih seratus tindak ke dalam gua yang merupakan terowongan panjang itu, ia tiba di jalan simpang empat.
Menurut peta ayahnya, ia harus membelok ke kanan, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara di sebelah kiri.
Lee ing seorang gadis tabah sekali.
Mendengar suara ini, ia mengalihkan perhatian ke kiri dan otomatis kakinya membelok ke kiri.
Suara itu makin terdengar nyata, seperti desis dan terasa olehnya angin perlahan bertiup dari depan.
Keheranannya bertambah dan ia melangkah terus.
Tibalah ia di depan sebuah pintu batu yang berbentuk bundar.
Nyata sekali guratan pintu itu dan dari balik pintu inilah keluar suara mendesis dan angin itu.
Lee Ing mendorong pintu dengan tangan kiri, ternyata daun pintu mudah saja dibuka.
Tangan kanannya tetap memegang lilin itu tinggi-tinggi di atas kepala, matanya memandang ke depan.
Di balik pintu itu ternyata merupakan sebuah ruangan yang bentuknya bulat pula.
Di tengah ruangan terdapat meja batu berwarna putih dan di atas meja itu terletak sebatang pedang yang sudah terhunus dari sarungnya.
Sarung pedang menggeletak di samping pedang.
Pedang itu mengeluarkan cahaya putih berkilauan seakan-akan terbuat dari pada mutiara.
Lee Ing kaget dan girang sekali.
Tak salah lagi dan tak dapat diragukan lagi, itu tentu sebuah pedang pusaka.
Ia melangkah lebih dekat dan menjulurkan tangan yang memegang lilin ke depan untuk memandang lebih teliti.
Tiba-tiba...
"Sssssstttt ....!"
Uap putih menyambar, angin berkesiur membuat api lilin di tangannya bergoyang-goyang.
Lee Ing mengangkat kepala memandang ke depan.
Matanya terbelalak lebar, lilin yang dipegangnya terlepas dari angan dan padam!
Gadis itu cepat menyambar pedang terhunus tadi dan melompat ke belakang.
Di dalam gelap tangannya meraba-raba saku mengeluarkan lilin dan batu api lain.
Apa yang dilihatnya tadi benar-benar membuat semangatnya terbang melayang saking kaget dan takutnya.
Ternyata bahwa yang bersuara mendesis itu adalah dua ekor ular yang besarnya hanya dapat ditemukan dalam alam mimpi.
Segera ia menyalakan lilin ke dua dengan tangan gemetar.
Setelah lilin terpasang, Lee Ing mengangkat lilin dengan tangan kiri dan pedang di tangannya sudah siap di depan dada.
la memandang dan melihat dua ekor ular besar itu masih seperti tadi, mengangkat kepala tinggi-tinggi dan mendesis-desir, akan tetapi tidak berpindah dari tempatnya.
Ketika ia memandang lebih teliti, ternyata olehnya bahwa dua ekor ular raksasa itu berada dalam keadaan terbelenggu oleh rantai baja yang panjang dan besar.
Siapa orangnya yang dapat membelenggu dua ekor ular sehebat itu, hanya setan yang tahu!
Ular itu mekar di bagian lehernya seperti ular kobra, hanya luar biasa sekali besarnya, tubuhnya seperti batang pohon cemara.
Lee Ing timbul keberaniannya setelah melihat bahwa dua ekor binatang raksasa itu terbelenggu, la melirik ke arah sarung pedang dan baru terlihat olehnya ada corat-coret di atas meja batu itu.
la mendekat dan menerangi dengan lilin.
Itulah tulisan tangan yang dibuat dengan mengguratkan jari di atas permukaan meja batu, terang dar besar.
SETELAH DAPAT MEMBEBASKAN DUA EKOR ULAR BARU BOLEH MENGAMBIL PEDANG DAN TAMAT BELAJAR.
Demikian bunyi huruf-huruf itu.
Cepat Lee Ing menaruh kembali pedang terhunus tadi di atas meja di dekat sarung pedang, la memandang kearah ular, heran memikirkan bagaimana ular itu dapat hidup dalam keadaan terbelenggu.
Tiba-tiba seekor di antara ular-ular itu menggerakkan kepala ke bawah dan tak lama kemudian kepalanya kelihatan lagi, sekarang sudah menggigit seekor ikan sebesar paha.
Kiranya air laut mencapai tempat itu dari lubang di batu karang yang besar dan kalau air pasang, ikan-ikan laut terbawa masuk.
Ikan-ikan itulah yang menjadi santapan dua ekor ular raksasa ini.
Lee Ing cepat mundur, keluar dari kamar ular dan menutup pintunya.
Bagaimana mungkin membebaskan dua ekor ular itu?
Akan tetapi, kalau orang sudah bisa membelenggu, tentu dapat pula membebaskannya.
Dan ini membutuhkan kepandaian yang tinggi.
Lee Ing amat cerdik.
Ia dapat menangkap maksud orang sakti yang dahulu menjadi penghuni gua ini.
Dua ekor ular ini selain bertugas menjaga dan menakut-nakuti orang yang datang ke gua ini.
juga sekalian dipergunakan untuk ujian bagi murid yang hendak menamatkan pelajarannya.
Dan pedang ini merupakan hadiah tamat belajar!
Mengapa ayahnya tidak menyebut-nyebut adanya dua ekor ular ini dalam petanya?
"Tentu ayah sudah melihatnya pula, akan tetapi tidak dapat membebaskannya, buktinya ayah tidak mengambil pedang ini.
Ayah hanya memberi petunjuk tentang jalan masuk ke Gua Siluman, sama sekali tidak menceritakan keadaan di dalamnya, aku harus berlaku hati-hati."
Lee Ing kembali ke terowongan dan tiba di jalan simpang empat tadi.
Kini ia mengambil jalan seperti disebutkan dalam peta, yaitu dari jalan semula ia membelok ke kanan.
Lilin itu masih menyala dan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.
Ia berlaku hati-hati sekali dan dengan penuh perhatian memandang ke kanan kiri, melihat kalau-kalau di sepanjang dinding batu di kanan kiri ada apa-apanya.
Benar saja sangkanya bahwa ia akan menemukan sesuatu.
Setelah ia melangkah tiga puluh tindak, mulai kelihatan huruf-huruf yang diukir pada dinding batu karang.
Tulisannya berbeda dengan tadi bentuknya dan ia mengenal tulisan ayahnya.
Gadis ini sudah hafal akan tulisan ayahnya karena banyak kitab berisikan tulisan ayahnya berada di tangan Haminto Losu.
Ia berhenti sebentar dan membaca tulisan ayahnya di bagian dinding terdekat.
Dengan lilin didekatkan pada dinding, ia membaca beberapa huruf berupa sajak.
Tiba-tiba tubuhnya bergoyang-goyang dan gadis itu menangis tersedu-sedu Sekali lagi dibacanya sajak ayahnya itu dengan isak tertahan.
Berjuang mempertaruhkan nyawa demi membela nusa dan bangsa!
Isteri pujaan menanti di utara bersama seorang puteri ataukah putera?
Namilana.
dewi pujaan kalbu...
masih ingatkah kau akan daku....?
Mengapa kau tidak datang mencariku?
Di mana kau.....
di mana kau Namilana isteriku?
Hati Lee Ing terharu sekali dan kembali ia teringat akan keadaan ayahnya.
Terbayang betapa ayahnya dibikin buta oleh Kai Song Cinjin.
Saking tak dapat menahan keharuan dan kesedihan katinya, Lee Ing terguling dan roboh pingsan, api lilinpun padam!
Ketika siuman kembali dari pingsannya, Lee Ing segera mencari lilinya yang tadi terlempar dan padam.
Keadaan di situ tidak gelap benar, remang-remang karena ada cahaya matahari masuk.
Dinyalakannya lilin yang sudah didapatnya kembali itu dan ia melanjutkan penyelidikannya.
Di ujung terowongan yang penuh tulisan ayahnya ini ia mendapatkan sebuah meja penuh kertas yang sudah dicoret-coret, ada gambar-gambar orang bersilat, ada tulisan sajak-sajak yang makin diperiksa makin tidak karuan bunyinya, seakan-akan membayangkan kekusutan dan kekacauan pikiran ayahnya.
Selain ini ia mendapatkan pula sebatang pit (pensil) yang gagangnya terbuat dari pada baja murni.
Jelas bahwa pit ini selain dipergunakan untuk menulis, juga dapat dipakai sebagai senjata penotok yang cukup kuat dan panjang.
Lee Ing mengambil pit ini karena ia pikir, lebih baik mempunyai senjata dalam tempat mengerikan ini dari pada bertangan kosong.
Ketika ia maju terus ke arah ruang yang tadinya dijadikan kamar ayahnya, tiba-tiba dari pintu menyambar sebuah benda hitam kecil panjang ke arah lehernya.
Lee Ing kaget bukan main, cepat ia mengelak dan dijaganya agar lilin yang dipegangnya tidak padam.
Ternyata benda itu adalah seekor ular hitam yang kini berenggak-lenggok di atas lantai, siap untuk menyerangnya lagi.
Gadis itu bergidik.
"Tempat berbahaya,"
Pikirnya "pantas saja ayah melarang aku bicara tentang Gua Siluman."
Akan tetapi ia sudah siap-siap dan ketika ular itu tiba-tiba mengangkat kepala dan bagaikan seekor naga dapat melompat untuk menyerang lehernya, ia menebasnya dengan pit baja itu.
"Tak!"
Ular itu terlempar dengan kepala remuk, tubuhnya menggeliat-geliat dalam sekarat. Lee Ing jalan terus memasuki pintu ruangan batu yang ternyata merupakan sebuah "kamar"
Yang cukup bersih dan menyenangkan. Juga pada dinding kamar ini penuh tulisan ayahnya. Yang paling menyenangkan hatinya, pada dinding ini terdapat sebuah "jendela"
Yang berbentuk bulat lonjong.
Sinar matahari dan hawa masuk dari lubang ini.
Ketika ia menjenguk keluar, ia meletkan lidah karena ia melihat gelombang laut amat dahsyat menghantam pantai karang, menimbulkan buih-buih keputihan yang bentuknya seperti setan-setan kelaparan yang hendak mendaki pantai karang itu.
Benar-benar pemandangan yang amat menyeramkan dan menakutkan.
"Aku harus membuat penutup lubang ini,"
Pikirnya.
Karena takut bangkai ular tadi akan menimbulkan bau busuk kalau sudah membusuk, Lee Ing mengambilnya dengan pit dan melemparkan keluar jendela.
Setelah itu ia kembali lagi ke lorong simpang empat dan kini melanjutkan penyelidikannya ke depan.
Lorong itu makin lama makin sempit sampai ia terpaksa berjalan dengan membungkuk.
Setelah berjalan seperempat lie lebih, jalan menjadi sedemikian sempitnya sampai gadis itu terpaksa harus merangkak.
Lebih dari seratus langkah ia merangkak dan akhirnya lorong menjadi tinggi lagi, lebarnya ada tiga kaki, tingginya sampai dua kaki lebih tinggi dari kepala Lee Ing.
Lee Ing maju terus dan tiba-tiba ia amat terkejut mendengar suara luar biasa sekali, datangnya dari kanan kiri.
Suara itu mirip suara wanita menangis dan laki-laki meraung duka dan tiba-tiba api lilinnya padam.
Bulu tengkuk Lee Ing berdiri semua karena segera ia merasa angin bertiup perlahan, seperti tangan-tangan halus mengusap muka dan lehernya.
Hui....
tangan-tangan iblis dan siluman, pikir Lee Ing yang menjadi takut juga.
Gadis ini semenjak kecil dilatih berjiwa gagah perkasa tak kenal takut, akan tetapi memasuki Gua Siluman ini benar-benar membuat ia bergidik ketakutan.
Dengan tangan menggigil, setelah angin itu lenyap, Lee Ing menyalakan lilin lagi.
Akan tetapi baru saja menyala, datang lagi suara-suara itu, kini suaranya menggelegar seperti ada orang-orang disiksa dan menangis meraung-raung kesakitan, angin kembali bertiup dan lilinnya padam.
Kini bukan hanya tangan-tangan halus yang mengusap muka dan lehernya, bahkan agaknya ada siluman yang begitu kurang ajar untuk meludahinya karena muka dan lehernya menjadi basah-basah, baunya memuakkan dan terasa asin pada bibirnya!
Lee Ing timbul marahnya dan untung baginya kalau ia marah.
Karena kemarahanlah obat satu-satunya yang amat manjur untuk mengusir rasa takut.
Ia merasa dipermainkan dan dihina, sampai-sampai muka dan mulutnya diludahi.
Setan atau iblis, siluman atau apa saja tidak boleh menghinanya sampat begini!
"Siluman jahat, kau berani menghinaku?
Keluarlah, mari kita bertanding sampai seribu jurus!"
Lee Ing menjerit-jerit marah sambil memegang pit peninggalan ayahnya itu erat-erat.
Akan tetapi suaranya hanya dijawab oleh suara-suara meraung aneh yang kini datang dari kiri kanan depan belakang, bahkan dari depan ada suara iblis mentertawakannya!
Beberapa kali ia menyalakan lilin akan tetapi beberapa kali padam lagi.
Akhirnya ia melangkah maju terus tanpa penerangan lilin.
Ia hendak mencari siluman itu untuk mengadu nyawa!
Aneh sekali, setelah ia bertemu sebuah tikungan dan membelok, suara-suara dan angin itu lenyap.
Ia menyalakan lilin melakukan penyelidikan.
Baru ia ketahui bahwa di lorong yang dilaluinya tadi, kanan kirinya terdapat lubang-lubangan dan angin menyambar dari lubang-lubang yang seperti lubang sarang tawon ini.
Juga suara-suara aneh itu timbul karena tiupan angin melalui lubang-lubang inilah!
Bahkan apa yang disangkanya air ludah siluman itu bukan lain adalah air laut y ang memercik ke atas terbawa angin memasuki lubang-lubang itu.
Pantas saja baunya amis dan rasanya asin.
Setelah maju beberapa puluh langkah lagi.
sampailah ia di depan sebuah ruangan berbentuk suara mendesis tadi yang disangkanya keluar dari kamar seperti bekas kamar ayahnya tadi, akan tetapi kamar ini lebih besar Lee Ing mengangkat lilin tinggi-tinggi dan masuk dengan hati-hati.
Begitu ia melangkahkan kaki memasuki ruangan ini, matanya terbelalak dan untuk kedua kalinya ia merasa ngeri dan takut.
Apa yang dilihatnya?
Lantai kamar itu kotor dan penuh batu-batu karang tajam meruncing di rnana kelihatan empat ekor ular belang yang beracun.
Pada dinding kamar penuh dengan lukisan orang dalam bermacam-macam sikap, ada yang terlentang, ada yang bersila dan banyak sekali yang sedang bersilat dengan gerakan aneh sekali, bukan seperti orang bersilat, lebih pantas discbui gerakan badut dalam menari-nari.
Akan tetapi yang paling menarik perhatian Lee lpg pada saai itu dan membuatnya merasa ngeri adAlah sebuah rangka manusia yang terlentang di atas sebuah dipan batu.
Pada saat Lee Ing sedang bengong memandang ke arah tengkorak itu, tiba-tiba terdengar suara mendesis di sebelah kanannya, la menengok dan...
gadis ini mengeluarkan jerit perlahan saking kagetnya dan otomatis kakinya melompat ke kiri.
Ternyata, dekat sekali di sebelah kanannya berdiri sebuah rangka manusia lagi dengan sepasang mata bolong yang hitam bundar dan besar seakan-akan melotot kepadanya, mulutnya meringis menyeramkan.
Yang amat mengejutkan hati Lee Ing adalahmulut tengkorak itu.
Kalau memang demikian halnya, tidak bisa lain bahwa tengkorak ini tentulah iblis penjaga Gua Siluman.
Baiknya ia segera melihat seekor ular yang melingkar di pilar batu karang dan mendesis-desis mengancamnya.
Melibat ular ini timbul keberanian Lee Ing.
Gadis ini memang tidak kenal takut kalau menghadapi mahluk hidup yang bagaimana menyeramkan sekalipun, asal jangan dia disuruh menghadapi iblis-iblis jadian atau siluman-siluman yang mengerikan!
"Kau mengagetkan orang saja!"
Bentak Lee Ing, pitnya bergerak dan di lain saat ular kecil itu sudah berkelojotan dengan kepala pecah terpukul pit baja.
"Aku harus bersihkan tempat ini dari ular-ular itu,"
Pikir Lee Ing.
la tidak mau bekerja kepalang tanggung.
Ia takkan dapat melakukan penyelidikan dengan seksama sebelum membasmi ular-ular ini yang amat berbahaya.
Segera ia bergerak ke sana ke mari dan pit bajanya menghancurkan kepala semua ular yang berada di situ.
Sebentar saja tujuh ekor ular mati dan bangkainya dibuang oleh Lee Ing melalui jendela yang tadi.
Setelah tempai itu bersih dari ular, Lee Ing mulai melakukan penyelidikan Alangkah girang hatinya ketika pada kamar ke dua inipun ia mendapatkan sebuah "jendela", bahkan jendela ini ada tutupnya, yaitu batu-batu tipis bundar yang dapat dilepas dan ditutupkan pada jendela.
Begitu batu itu dilepas, kamar ini menjadi terang oleh cahaya matahari yang masuk melalui lubang jendela.
Lee Ing segera meniup padam lilin yang dipegangnya dan menyimpannya.
Ia harus menghemat pemakaian lilin, karena ketika memasuki gua, ia hanya membekal sepuluh batang.
Baiknya di waktu siang tak perlu ia menyalakan lilin.
Lee Ing mulai melakukan penyelidikan.
Ketika ia memperhatikan, lukisan lukisan di dinding yang amat luas itu banyak sekali macamnya dan dimulai dari pintu ruangan terus memutar ke kanan sampai di pintu lagi.
Dari tanda-tanda tulisan di situ ia dapat mengetahui bahwa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan itu adalah pelajaran Imu silat yang luar biasa anehnya dan lengkap, dimulai dari tingkat pertama sampai tamat.
Namun sekali pandang saja gadis ini dapat menduga bahwa untuk mempelajari ilmu silat ini bukanlah hal yang mudah.
Sikap dan gerakan yang dilukiskan benar-benar amat sukar diikuti dan membutuhkan pencurahan pikiran dan latihan yang tekun tak kenal bosan.
Maka dapat dibayangkan betapa girang hatinya.
Kemudian ia memperhatikan dua buah rangka manusia yang berada di ruangan itu.
Di utara ia sering kali melihat rangka manusia dan ketika mempelajari dasar-dasar ilmu silat, oleh kakeknya Haminto Losu ia diberi penjelasan tentang letak-letak tulang, sambungan tulang dan otot-otot penting.
Oleh karena itu, Lee Ing tahu bahwa rangka yang rebah di atas pembaringan batu itu adalah rangka seorang wanita sedangkan rangka yang berdiri adalah rangka seorang laki-laki.
Anehnya, rangka laki-laki itu masih dapat berdiri lurus dan lebih mengherankan lagi kedudukan kedua kaki rangka ini seperti orang memasang kuda-kuda ilmu silat, sedangkan tangannya juga dalam keadaan bengkok, yang kanan jari-jarinya menghadap ke bawah dan yang kiri menghadap ke atas!
Bagaimana sebuah rangka dapat berdiri dan lengannya dapat bengkok seperti itu?
Hal ini selama hidupnya belum pernah disaksikan oleh Lee Ing dan menurut teori juga tidak mungkin tulang-tulang itu masih bersambung dan kuat berdiri tanpa sandaran.
Ketika ia memeriksa lebih dekat, ia terkejut sekali karena tulang-tulang itu seperti berisi sesuatu yang aneh.
Tentu orang ini dahulunya seorang manusia sakti yang sudah dapat membuat tulangnya kuat sekali dan terisi semacam hawa sinkang yang hebat sehingga setelah mati tulang-tulang itu seperti lengket sambungan-sambungannya dan menjadi kaku!
Ini hanya dugaannya saja.
Setelah puas menyelidiki dua rangka manusia itu, Lee Ing menghampiri sebuah lubang besar yang berbentuk almari dan di situ ia menemukan dua buah kitab yang sudah kuning.
Kitab pertama pada sampulnya terdapat tulisan tangan yang kasar dan mengandung tenaga, berbunyi.
Riwayatku yang busuk, contoh seorang yang dikuasai oleh nafsu sendiri.
Di bawah tulisan ini terdapat nama si penulis.
Bu-beng Sin-kun (Tangan Sakti Tiada Bernama).
Ketika Lee Ing membuka lembaran kitab ini, ia mendapat kenyataan bahwa itu adalah sebuah catatan harian dari seorang jago silat.
Kitab ke dua adalah sebuah kitab catatan-catatan tentang ilmu silat yang dilukis di atas dinding.
Karena keadaan mulai gelap dan senja telah mendatang, Lee Ing lalu membawa dua buah kitab itu, menutup jendela batu dan keluar dari kamar yang menyeramkan ini, kembali ke kamar ayahnya yang akan ia jadikan kamarnya untuk berlatih ilmu silat yang terlukis pada dinding.
Melihat banyaknya tulang-tulang ikan di depan kamar ayahnya, ia tahu bahwa selama berada di situ ayahnya hidup dari daging ikan.
Maka iapun tidak merasa khawatir.
Malam itu ia boleh menahan lapar dan besok ia akan mencari ikan.
Teringat akan keadaan dua ekor ular besar, ia percaya bahwa di dalam Gua Siluman ini tentu terdapat tempat-tempat di mana ikan laut mudah ditangkap.
Ia menyalakan lilin dan mulailah ia membaca kitab harian Bu-beng Sin-kun.
Segera ia tertarik sekali dan hampir semalam suntuk ia tidak tidur, terus membaca kitab itu sampai habis.
Menurut catatan-catatan harian itu, diceritakan bahwa dahulu, entah berapa puluh atau ratus tahun yang lalu disebutkan di situ.
Bu-beng Sin-kun bersama suhengnya yang disebut Coa-suheng, mencinta seorang gadis.
Adik dan kakak seperguruan yang tadinya hidup rukun dan saling mencinta itu, setelah adanya gadis ini lalu bermusuhan dan berebutan, bersaing dan berlumba memperebutkan hati si jelita.
Akan tetapi si jelita agaknya memilih Coa-suhengnya itu seperti terbukti dari catatan yang berbunyi.
"....sayang sekali Li Lian tidak mengacuhkan aku dan agaknya tertarik oleh ketampanan wajah Coa-suheng. Kebencian terhadap Coa-suheng makin meluap. Pada suatu hari aku tantang suheng. Kami bertempur sampai lima ratus jurus. Agaknya suheng tidak tega membunuhku, dia lengah dan.. pedangku menembus dadanya! Coa-suheng tewas dan Li Lian kubawa dengan paksa. Dia tetap tidak mau, terpaksa kubawa ke gua ini.."
Lee Ing menarik napas panjang, kasihan mengingat nasib orang she Coa itu. Hemm, pikirnya. Orang yang menyebut diri Bun-beng Sin-kun ini ternyata seorang yang tidak baik hatinya.
"....aku menyesal sekali,"
Demikian Lee Ing membaca lebih lanjut.
"Semua ini salah Li Lian. Aku sudah membuat obat Mati Dua Hari yang kubungkus kain merah, aku menyuruh Li Lian minum untuk membuktikan siapa di antara aku dan suheng yang lebih mencinta. Akan tetapi ia menolak sehingga aku terpaksa menantang suheng berkelahi mati-matian. Aku tahu suheng tidak cinta kepadanya, akan tetapi Li Lian mencinta suheng mati-matian, dan aku....akupun mencinta Li Lian yang sebaliknya tidak cinta padaku.."
Kembali Lee Ing menarik napas.
"Tolol,"
Pikirnya.
"mengapa mencinta orang yang tidak membalas cintamu? Kau menyiksa diri sendiri."
Akan tetapi ia amat tertarik dan membaca terus.
"..... Li Lian.... aku hanya mengharapkan sedikit kasihan darimu.. akan tetapi kau benar tega sekali...gadis pujaanku ini selalu berduka dan sebulan kemudian meninggal dunia karena duka nestapa..... wahai, hancur hatiku, lemah seluruh tubuh.... aku menanggung derita ini..."
Tak terasa lagi Lee Ing mengusap matanya yang menjadi basah.
bagaimanapun juga, ia merasa kasihan kepada orang itu.
Mengapa hati Li Lian demikian kaku?
Apakah Bu-beng Sin-kun itu demikian buruk rupanya maka menimbulkan kebencian?
Ataukah demikian besar cintanya terhadap orang she Coa sehingga ia menjadi sakit hati terhadap Bu-beng Sin-kun?
"...aku jadi gila.
Hari ini tubuh yang cantik Jelita dari Li Lian mulai membusuk.
Cairan berwarna kuning keruh menetes-netes turun dari bangku batu.
Bau yang amat busuk membuat aku sukar bernapas.
Hampir aku mati karena itu, kupecahkan dinding, kubuat jendela agar bau itu dapat terbang keluar.
Aku tak kuat lagi....
Li Lian, kau bawalah aku serta...."
Bergidik bulu roma Lee Ing membaca bagian ini dan ia menengok ke kanan kiri, takut kalau-kalau dua rangka itu berubah menjadi iblis dan memasuki kamarnya.
Akan tetapi ia amat tertarik dan membaca terus.
"Dasar Thian Maha Adil. Aku harus menjalani hukuman hebat. Sebulan lebih aku hidup mendampingi mayat kekasihku yang membusuk, sampai cairan kuning itu menjadi ulat-ulat putih kuning gemuk beratus, beribu banyaknya. Ulat-ulat itu merayap-rayap di kakiku, di tanganku, tak kuganggu... aku tahu ulat-ulat itu penjelmaan dari darah dan daging Li Lian kekasihku.. sampai bau busuk itu tak terasa lagi olehku."
Kembali Lee Ing menarik napas panjang.
"Jarang ada laki-laki sedemikian hebat cinta kasihnya...."
Kebenciannya terhadap Bu-beng Sin-kun yang lelah membunuh suheng sendiri karena memperebutkan wanita mulai hilang.
".... hari ini aku seperti baru sadar dari mimpi buruk. Kupeluk dan kubelai-belai rambut panjang kekasihku, kutatap wajahnya yang sudah menjadi tengkorak. Kulit daging sudah habis, hanya tinggal tulang-tulangnya saja. Akan tetapi apa bedanya? Rangka Li Lian, kekasihku.... aku makin lemah akan tetapi dalam kelemahan ini aku mendapatkan hawa ajaib memasuki tubuhku. Kalau kupergunakan hawa itu. sekali tusuk saja jari-jariku memasuki batu-batu karang yang paling keras. Sekali mengibaskan tangan, hawa pukulan membuat batu karang hancur berantakan! Aku tak dapat hidup lagi, akan tetapi ilmu ini sia-sia saja kalau kubawa mati...."
Pada lembar terakhir, tahulah Lee Ing bahwa coretan-coretan berupa gambar dan tulisan pada dinding itu adalah buatan Bu-beng Sin-kun dan bahwa rangka laki-laki yang masih berdiri tegak itupun adalah rangka Bu-beng Sin-kun.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lee Ing sudah berada di kamar maut itu.
la mencari-cari lagi dan menemukan segumpal besar rambut yang halus hitam dan panjang.
Rambut ini masih berbau sedap dan terlilit pada lengan tengkorak Bu-beng Sin-kun.
Selain itu.
juga Lee Ing menemukan bungkusan kecil merah yang terisi bubuk berwarna hijau.
Pada bungkusan ini terdapat tulisan.
"Bubuk Obat Mati Dua Hari". Entah untuk apa, hampir tanpa ia sadari Lee Ing menyimpan bungkusan merah ini. Kemudian ia lalu mulai memperhatikan lukisan-lukisan pada dinding dari bagian pertama dekat pintu. Alangkah girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang terlukis di situ adalah ilmu silat yang pernah ia pelajari dari ayahnya, walaupun hanya beberapa jurus saja. Tak salah lagi, ayahnva lelah mempelajari ilmu silat luar biasa di dalam kamar ini. Akan tetapi mengapa ayahnya menjadi gila? Teringat ia akan kata-kata terakhir dari Bu-beng Sin-kun di dalam buku catatannya.
".... dia yang berjodoh boleh mewarisi ilmu silatku ini. Akan tetapi jangan dia yang terkena penyakit rindu seperti aku mempelajarinya. Ilmu silat ini adalah Ilmu Silat Si Gila Merindu. Aku takkan menjadi segila ini kalau dulu sudah menamatkan ilmu silat ini. yang sebagian besar kudapatkan di samping mayat kekasihku. Aku takkan kalah oleh nafsu. Hanva dia yang bersih dari nafsu dan cinta berahi boleh mempelajari ilmu ini..."
"Aku tahu sekarang."
Pikir Lee Ing.
"ayah memasuki gua ini dalam keadaan rindu kepada ibu. dalam keadaan berduka dan lemah batinnya. Tanpa disengaja ayah mempelajari ilmu ini dan sebelum tamat, ayah sudah terpengaruh pikirannya. Keadaannya yang sengsara, ditambah rindu, dendam kepada ibu, ditambah lagi kehancuran hatinya karena dianggap pemberontak padahal dia seorang patriot besar, lalu terutama sekali ditambah sifat pelajaran ilmu silat yang mengandung pengaruh aneh, telah membuat ayah tidak kuat dan menjadi gila...! Sayang sekali.....!"
Kalau bukan seorang yang berhati besar dan mempunyai nyali besar di samping kecerdikan dan ketekunan, takkan sanggup mempelajari ilmu silat hanya dari lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan di dinding tanpa ada orang yang membimbingnya.
Dipandang sepintas lalu saja memang ilmu silat itu seperti ilmunya orang gila.
Mana ada ilmu silat yang menurut gambarnya, si murid harus duduk menangis, membanting-banting kaki, mengurut-urut dada dan menjambak-jambak rambut seperti orang gila menangisi sesuatu?
Malah ada yang diharuskan tertawa sambil menangis.
Akan tetapi, setelah satu tahun belajar di situ, bukan main girangnya hati Lee Ing.
Semua lukisan itu bukan lelucon, juga bukan perbuatan gila, karena di situ mengandung sifat menyerang yang dilakukan dengan Iweekang luar biasa.
Memang agaknya ada hawa ajaib di dalam kamar itu bagi orang yang mempelajari ilmu silat.
Entah itu disebabkan oleh hawa dua rangka yang tadinya orangnya mati dan membusuk sampai menjadi rangka di situ, entah karena hawa sinkang yang ditinggalkan oleh Bu-beng Sin-Kun, akan tetapi melatih Iweekang di kamar ini benar-benar mendatangkan kemajuan yang luar biasa.
Mungkin juga makanan merupakan sebab penting.
Setiap hari Lee Ing makan daging ikan yang bentuk badannya seperti ular, kepalanya seperti kepala singa dan ada dua tanduknya.
Ikan-ikan sebesar lengan ini yang terbanyak bisa ia dapatkan di samping ikan-ikan lain.
Akan tetapi, daging ikan aneh ini yang paling gurih dan enak maka Lee Ing selalu menangkap ikan-ikan ini.
Seperti dugaannya, tidak sukar mendapatkan ikan di dalam gua.
Di dekat kamar ular itu terdapat banyak lubang-lubang besar dan air laut sering kali memasuki tempat-tempat ini.
membawa ikan-ikan dan meninggalkan ikan ikan itu di situ, tinggal menangkapi saja.
Dengan penuh ketekunan Lee Ing setiap hari mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-beng Sin-kun dan makin lama menjadi makin bersemangat dan gembira karena mendapat kenyataan bahwa ia telah menemukan serangkaian ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa.
Selain ilmu silat yang gerakan-gerakannya aneh dan lucu namun memiliki daya hebat, juga di situ terdapat latihan-latihan Iwee-kang, peraturan bernapas, membersihkan darah dan tulang dan di pojok ruangan terdapat lukisan lukisan yang merupakan pelajaran llmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah) yang luar biasa pula.
Memang tidak mudah mempelajari itu semua tanpa petunjuk seorang guru.
Akan tetapi rangka Bu-beng Sin-kun yang berdiri di dalam ruangan ini dianggap guru oleh Lee Ing.
Tiap sekali ia menghadapi kesukaran, tidak dapat menangkap arti sebuah jurus silat, ia berlutut di depan rangka Bu-beng Sin kun dan berdoa.
"Suhu, teecu mohon petunjuk suhu......"
Dan ia lalu bersamadhi di depan rangka ini sampai pikiran dan hatinya menjadi tenang dan terang.
Biasanya setelah cukup lama ia bersamadhi lalu menujukan semua pikiran, dicurahkan kepada jurus yang sulit itu, akan terbukalah mata hatinya dan ia akan dapat memecahkan kesulitan mempelajari jurus itu.
Dua tahun kemudian pelajarannya sudah sampai di tengah-tengah dinding ruangan itu.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali ia sudah memasuki kamar yang masih gelap Dinyalakannya lilin dan ditaruhnya di atas batu dekat bangku panjang di mana tergolek rangka manusia yang dahulu adalah si gadis Li Lian yang cantik jelita.
Mulailah Lee Ing berlatih, membaca semua catatan yang tertulis di atas dinding lalu mempelajari gambar-gambarnya.
la meniru semua gerakan gambar yang terlukis di situ, dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.
Sehari penuh ia belajar, lupa untuk mengisi perutnya, karena yang ia pelajari itu adalah bagian-bagian yang amat menarik hati, la belajar dari pagi gelap, sampai datang malam gelap pula.
Dinyalakannya lagi lilin dan Lee Ing melanjutkan latihannya.
Sudah habis sebaris lukisan ia pelajari akan tetapi ia tertumbuk kepada kesulitan besar Bangku rangka itu terletak merapat dinding, menutupi sebagian dari pada tulisan keterangan tentang ilmu yang sedang dilatihnya.
Betapapun ia memeras otak, tetap saja ia gagal menangkap arti gambar yang kelihatan di dekat bangku rangka itu.
Akhirnya Lee Ing takluk dan ia duduk mengaso di atas batu.
"Besok terpaksa harus kubongkar meja itu. Akan tetapi rangka Li Lian bagaimana? Tidak ada jalan lain, paling baik kukuburkan,"
Pikir Lee Ing.
la lalu meninggalkan kamar itu, kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan makan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lee Ing sudah kelihatan bekerja keras, menggali lubang di lantai kamar maut.
Cara gadis ini menggali lantai yang terdiri dari batu karang dan pasir, sungguh luar biasa sekali.
Gadis ini tidak mempunyai senjata, hanya menggunakan ujung gagang pit ayahnya.
Dengan baja kecil ini ia mencokeli batu-batu karang dengan amat mudah, seakan-akan ia menggunakan cangkul mencongkeli tanah lempung berlumpur saja!
Semua ini tidak terasa oleh Lee Ing sendiri yang merasa biasa dan tidak ada keanehan apa-apa.
Akan tetapi kalau orang lain yang menyaksikannya, tentu orang akan menjadi heran dan kagum sekali.
Tanpa memiliki tenaga dalam yang hebat, tak mungkin orang akan dapat menggali lubang pada lantai sekeras itu, apa lagi kalau hanya menggunakan kuku-kuku jari dan dibantu oleh sebatang gagang pit baja!
Tanpa ia sadari sendiri, dalam dua tahun ini Lee Ing telah memperoleh kemajuan yang langka dan sukar dipercaya.
Setelah menggali lubang cukup dalam.
Lee Ing menghampiri meja panjang atau bangku itu, lalu berkata.
"Li Lian cici. harap kau tidak menganggap aku lancang dan kurang ajar. Selain kau dan bangku ini menghalangi coretan dinding, juga kurasa lebih baik kalau rangkamu ini ditanam, bukan? Asal dari tanah kembali menjadi tanah. Kau mengasolah tenang-tenang cici Li Lian yang buruk nasib."
Ia menggunakan tangan kanan memegangi bangku, tangan kirinya dengan jari tangan diluruskan semua mengibas ke arah kaki bangku dan....
"krakk!"
Setiap kali ia mengibaskan tangan kirinya, sebuah kaki bangku batu remuk dan patah, empat kali ia mengibaskan tangan kirinya, empat buah kaki bangku itu hancur, tinggal bangkunya Saja yang masih ia pegang.
Kemudian dengan hati-hati Lee Ing memondong bangku batu yang kini merupakan papan batu itu, membawanya ke lubang yang digalinya, lalu dimasukkan perlahan-lahan.
Rangka Li Lian dikubur tidak di dalam peti melainkan di atas papan batu!
Dengan khidmat Lee Ing lalu berlutut di depan rangka Bu-beng Sin-kun dan berkata.
"Suhu, teecu minta perkenan mengubur sisa jenazah Li Lian cici, harap suhu menyetujui dan tidak marah kepada teecu."
Setelah itu mulai ditimbunlah lubang itu, mula-mula dengan pasir sampai rangka itu tertimbun pasir dan tidak kelihatan lagi, baru ia menggunakan pecahan-pecahan batu karang.
Karena tanah galian yang terdiri dari pasir dan batu karang itu dikembalikan ke dalam lubang tidak sepadat tadi, apa lagi dalamnya sudah ada papan batu dan rangka, tempat itu kini merupakan gundukan batu karang, makam dari rangka manusia yang dikenal oleh Lee Ing dalam tulisan Bu-beng Sin-kun sebagai seorang gadis bernama Li Lian..
Benar saja, setelah bangku panjang itu tidak ada lagi nampaklah tulisan-tulisan kecil yang jelas yang menerangkan semua gerak-gerik ilmu silat dalam lukisan yang tadi membingungkan Lee Ing.
Akan tetapi alangkah terkejut hati Lee Ing ketika ia membaca tulisan lain yang berbunyi.
"Kalau muridku sudah belajar sampai di sini dan terpaksa membongkar tempat tidur Li Lian, dia harus mengubur jenazah Li Lian di lantai ruangan ular."
Lee Ing berdiri bengong, lalu memandang ke arah gundukan yang menjadi makam Li Lian.
Ia telah mengubur rangka Li Lian itu di lantai kamar ini, karena dia tidak tahu akan pesan Bu-beng Sin-kun.
Sialan benar, dia telah bersusah payah menggali lubang dan mengubur, apakah dia harus menggalinya kembali untuk dipindahkan ke kamar ular?
Mengapa ia harus memenuhi pesan gila ini?
Kalau ia tidak memindahkan rangka itu, siapa yang akan tahu!
Bagaimanapun juga, dia sudah terhitung baik mau mengubur rangka itu.
Akan tetapi suara hati Lee Ing berbisik lain.
Sungguhpun suhu sudah meninggal dan aku selama hidupku belum pernah bertemu dengan suhu, namun seorang guru tetap seorang guru, baik masih hidup maupun sudah meninggal.
Pesannya tetap harus dijunjung tinggi, hati ini tetap harus berbakti dan setia.
Suara hati ini menggugah nurani Lee Ing.
Biarpun ia tadi sudah bekerja setengah hari dan sudah lelah, namun ia memaksa diri, menggali lagi kuburan itu dengan hati-hati sekali, la khawatir kalau-kalau rangka itu sudah rusak terpendam dan tertimbun batu-batu karang yang berat.
Baiknya sebelum ia tadi menimbunnya dengan batu karang, lebih dulu ia menggunakan pasir sehingga setelah dibongkar, ternyata rangka itu masih baik, tetap terlentang tenang di atas papan batu.
"Kau tunggulah sebentar, cici Li Lian. Biar aku menggali tempat mengaso untukmu di kamar ular, sesuai dengan pesan suhu, orang yang mencintaimu sampai dunia kiamat!"
Lee Ing berlari-lari menuju ke kamar ular.
Sering ia memasuki tempat ini, untuk melihat dua ekor ular besar itu dan melihat pedang yang luar biasa indahnya.
Kalau menurutkan nafsu dan pikirannya, ingin ia segera mengambil pedang itu untuk berlatih.
Namun hatinya mencegahnya, biarpun di dalam Gua Siluman itu tidak terdapat lain manusia kecuali dia dan dua rangka itu, tetap ia harus berlaku jujur dan adil, la takkan mau mengambil "hadiah"
Pedang ini sebelum membebaskan dua ekor ular seperti yang diajukan sebagai syarat oleh Bu-beng Sin-kun. Dua ekor ular itu mendesis-desis marah melihat Lee Ing memasuki kamar itu. Lee Ing tertawa.
"Selamat siang, paman dan bibi ular. Aku datang bukan untuk membebaskan kalian karena terus terang saja padaku belum ada keberanian itu. Aku datang hanya untuk menggali lubang di lantai kamar ini untuk mengubur rangka cici Li Lian."
Tanpa memperdulikan lagi kepada dua ekor ular itu Lee Ing mulai menggali lantai kamar ular itu.
Ternyata lantai di sini lebih keras lagi dan amat kering, tidak seperti lantai di kamar belajar.
Namun Lee Ing tidak menjadi jengkel karenanya, terus menggali tak kenal lelah, menggunakan pit baja dan jari-jari tangannya.
Setelah menggali batu-batu karang sedalam dua kaki, ia menjadi girang karena di bawahnya adalah pasir yang lunak dan kering.
"Hmmm,"
Pikirnya.
"agaknya suhu sudah tahu bahwa tanah di sini lebih baik maka minta supaya jenazah cici Li Lian dipendam di sini."
La menggali terus dan tiba-tiba ketika tangan kanannya menggaruk pasir, jari-jari tangannya meraba sesuatu yang lunak.
Ia mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah kantung kulit kecil, di luarnya terdapat guratan-guratan berupa huruf-huruf yang berbunyi .
"Tiga biji Sian-le untuk muridku."
Lee Ing tertawa dan membuka kantung itu, dan ternyata di dalamnya berisi tiga biji buah yang menyerupai buah le. sudah mengeras akan tetapi baunya wangi.
"Suhu aneh-aneh saja, aku seperti anak kecil diberi hadiah buah. Hi-hi-hi. buahnya sudah sekeras batu. Akan tetapi wangi sekali.......!"
La mengantongi tiga biji buah kekuningan itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
Setelah lubang itu cukup dalam, ia Ialu memindahkan rangka berikut papan batunya, dan menguburnya ke dalam lubang galian baru ini.
Setelah selesai barulah hatinya lega, akan tetapi sementara itu hari telah terganti malam dan ia merasa lelah sekali Sambil rebahan di atas pembaringan batu di kamarnya, Lee Ing mengingat-ingat pelajaran yang ia latih kemarin.
Tak disengaja tangannya meraba kantung baju dan dikeluarkannya tiga biji buah le itu.
"Aduh enaknya baunya, harum sekali,"
Katanya dan tiba-tiba ia merasa amat lapar.
Memang sehari kerja keras, belum makan, sekarang mencium bau buah yang harum.
Sudah dua tahun lamanya setiap hari hanya makan daging ikan, jangankan merasai buah, melihat pun tak pernah.
Sekarang melihat buah, yang berbau enak itu, timbul seleranya.
Dimasukkannya sebiji buah itu ke dalam mulut.
Buah itu memang keras membatu, akan tetapi Lee Ing menggerakkan gigi menggigit, buah itu menjadi pecah!
Di luar kesadarannya, Lee Ing sekarang bukan Lee Ing dulu lagi.
Kekuatan sakti telah mengeram di dalam tubuhnya, bahkan otot-otot yang menggerakkan mulut dan gigi-giginya amat kuat sehingga sekali gigit buah yang keras itu menjadi pecah, la mengunyah dan buah sebesar telur ayam itu hancur.
Rasanya manis dan baunya harum.
Ketika ia menelannya, terasa dada dan perutnya dingin seperti kemasukan salju!
"Enak..!"
Lee Ing tertawa-tawa seorang diri dengan senang.
Lalu sekaligus dimakannya pula dua biji buah yang masih ada.
Sebentar saja tiga buah yang disebut buah sian-le (buah le dewata) oleh Bu-beng Sin-kun itu lenyap ke dalam perut Lee Ing.
Tiba-tiba rasa dingin pada dada dan perutnya tadi makin menghebat sampai tubuh Lee Ing menggigil.
Cepat gadis ini bersila dan mengerahkan lweekangnya untuk melawan dan mengusir hawa dingin ini.
Akan tetapi bukan main cemasnya ketika makin dilawan, tenaga yang mengandung hawa dingin ini makin menghebat sampai tenaga Iweekangnya sendiri menjadi buyar dan kalah!
Dinginnya tak tertahankan lagi.
Lee Ing dengan tubuh menggigil cepat-cepat membuat api.
Sebentar saja ia telah menghidupkan api unggun yang biasa ia pakai untuk membakar ikan dan mengusir dingin dan nyamuk.
Ia duduk di dekat api unggun ini namun tetap kedinginan.
Akhirnya Lee Ing melompat ke pembaringannya, tubuhnya menggigil dan ia mengeluh.
"Aduuuhhh, suhu, mengapa begini......?"
Ia bergulingan di atas pembaringannya, rasa dingin membuat ia serasa akan membeku.
Ia tidak tahu bahwa buah yang ia makan tadi semacam buah yang langka terdapat di dunia ini.
Memang Bu-beng Sin-kun menghendaki supaya tiga butir buah itu dimakan sekaligus.
Akan tetapi, setelah terpendam seratus tahun lebih, buah itu khasiatnya menjadi berlipat-lipat.
Khasiat buah ini adalah untuk mencuci darah dan membangkitkan pusat hawa dalam tubuh yang bersembunyi di dalam pusar, juga menguatkan tulang menyuburkan sumsum.
Lee Ing yang sekaligus makan tiga butir, setelah buah ini khasiatnya berlipat ganda, sama halnya dengan makan enam atau sembilan butir dan khasiatnya buah ini sedemikian hebatnya sehingga berubah seperti racun jahat.
Saking kuatnya pengaruh buah obat ini membangkitkan tenaga di pusat, sampai hawa dan tenaga Iweekang yang sudah dilatihnya itu buyar semua dan kalah kuat.
Setelah menggeletak tak berdaya lagi dan mukanya sudah membiru saking dinginnya, Lee Ing menyerahkan diri kepada nasib.
Ia masih berusaha untuk melompat bangun dan berlatih silat supaya tubuhnya panas, akan tetapi semua otot-ototnya kaku dan ia rebah lagi di atas pembaringannya.
Aneh, setelah ia tidak mengadakan perlawanan dan diam saja berbaring, melemaskan semua urat-uratnya, rasa dingin berangsur-angsur hilang, bahkan terganti oleh rasa hangat yang menyenangkan.
"Ah, enak sekali... aduh nyaman badanku..."
Lee Ing tertawa-tawa senang dan dari atas pembaringan ia meniup ke arah api unggun supaya api itu padam karena sekarang tidak ia perlukan lagi.
Akan tetapi, ujung api unggun hanya bergerak sedikit dan tidak menjadi padam.
Wajah yang tadinya berseri tersenyum itu tiba-tiba berkerut dan malah agak pucat.
Sekali lagi ia meniup dan kini bahkan mengerahkan tenaga di dalam perut, namun tetap saja api hanya bergoyang sedikit, sama sekali tidak padam.
"Celaka, ke mana larinya tenagaku?"
Pikir Lee Ing.
Biasanya, jangankan dari jarak tidak begitu jauh, biar lebih jauh lagi ia sanggup meniup padam api unggun itu sekali tiup.
Ia terpaksa turun dan menggunakan pasir memadamkan api.
Tiba-tiba, seperti serangan hawa dingin tadi, hawa hangat di tubuhnya menjadi makin panas.
Makin lama makin panas.
Peluh memenuhi muka dan leher Lee Ing, juga pakaiannya sudah basah semua.
Gadis ini gelisah, menggaruk sana menggaruk sini karena rasa panas dan gerah mengakibatkan gatal-gatal.
"Aduh celaka, mengapa begini.....?"
La mulai mencopoti pakaiannya, tadinya hanya pakaian luar saja agar tidak begitu gerah, akan tetapi rasa panas makin menghebat sampai akhirnya ia mencopoti dengan paksa semua pakaiannya.
Ia melihat seluruh tubuhnya merah sekali dan panasnya bukan main.
Napasnya menjadi sesak, matanya menjadi kabur dan tak dapat ditahan lagi ia rebah di atas pembaringan dan pingsan.
Proses yang hebat dan aneh sekali sedang terjadi di dalam tubuh gadis itu.
Hawa Im dan Yang di dalam tubuhnya, hawa dingin dan panas, bergolak semua sebagai akibat dari bangkitnya pusat tenaga sakti di tubuh.
Hawa Im dan Yang ini saling kuasa-menguasai, kadang-kadang hawa Im menang membuat tubuh Lee Ing kedinginan seperti direndam di dalam salju, kadang-kadang hawa Yang menang, membuat tubuhnya panas seperti dibakar.
Kedua hawa ini saling dorong dan seakan-akan mendapat gemblengan dari dalam, menjalar sampai ke ujung-ujung jari.
Keadaan Lee Ing seperti orang terserang penyakit demam panas.
Di dalam pingsannya ia mengigau.
kadang-kadang kepanasan kadang-kadang kedinginan.
Sehari semalam Lee Ing berada dalam keadaan seperti ini dan hanya karena Thian belum menghendaki dia tewas saja yang membuat Lee Ing masih dapat hidup sampai saat ini.
Pada hari ke dua.
pagi-pagi sekali Lee Ing siuman dari pingsannya.
Ia merasa dingin dan sejuk dan alangkah herannya ketika melihat bahwa ia sedang rebah telanjang di atas pembaringan batu.
Pakaiannya mawut dan berserakan di lantai.
"Apa aku sudah gila?"
Pikir Lee Ing dengan perasaan jengah sambil melompat dari atas pembaringan.
Akan tetapi segera ia berseru kaget karena tubuhnya mencelat jauh dari pada tujuannya ketika melompat turun tadi.
Dalam melompat ia hanya mempergunakan tenaga biasa saja, akan tetapi entah tubuhnya yang berubah menjadi ringan sekali ataukah tenaganya yang terlampau besar, ia merasa tubuhnya seperti dilemparkan oleh tenaga raksasa ketika melompat tadi.
"Heran,"
Pikirnya sambil cepat mengambil pakaiannya dan memakai pakaian itu.
Setelah itu ia lalu mencoba lagi dan dengan girang mendapat kenyataan bahwa baik Iweekangnya maupun ginkangnya memperoleh kemajuan yang luar biasa.
Malah demikian hebat tenaga di dalam tubuh itu sampai hampir ia tak dapat menguasainya.
Hal ini memerlukan latihan-latihan untuk dapat membiasakan diri dengan keadaan baru ini.
Lee Ing lalu berlari ke dalam kamar maut dan berlutut di depan rangka Bu-beng Sin-kun untuk menghaturkan terima kasih atas pemberian hadiah tiga biji buah sian le itu.
Semenjak hari itu.
Lee Ing berlatih lagi dengan lebih tekun dan giat.
Untuk latihan pedang ia mempergunakan pit peninggalan ayahnya Betapapun rajinnya, tetap saja memerlukan waktu dua tahun lagi untuk menamatkan latihan-latihannya.
Hanya jurus-jurus terakhir dari lukisan-lukisan dinding itu membuat ia bingung.
Sampai sebulan ia mempelajarinya namun tetap ia tak dapat menemui kuncinya.
Dianggapnya jurus ini tidak teratur.
Setelah payah mempelajari, akhirnya Lee Ing tak sanggup lagi dan menganggap bahwa gurunya sudah terlampau lelah atau pikun ketika melukis jurus-jurus terakhir ini.
Maka ia lalu mengambil keputusan untuk mencoba kepandaiannya.
Pergilah Lee Ing ke dalam kamar ular.
Dua ekor ular itu.
seperti empat tahun yang lalu, masih nampak liar dan mendesis desis menakutkan ketika melihat gadis itu memasuki kamar.
"Paman dan bibi ular, tenanglah. Aku datang untuk membebaskan kalian dari hukuman."
Dengan berani Lee Ing maju mendekat.
Ular jantan yang lebih galak cepat membuka mulutnya yang lebar.
Kepala Lee Ing kiranya akan dapat masuk sekali telan.
Giginya runcing-runcing seperti gergaji besar, matanya bersinar-sinar menakutkan.
Namun Lee Ing tetap tenang, tersenyum-senyum sambil melangkah dekat, la memperhatikan dengan seksama.
Kalau ia membuka belenggu yang melilit leher ular itu begitu saja, tentu tangannya akan tergigit.
Cepat ia melompat ke atas batu karang di depan ular jantan.
Kepala ular meluncur maju dan menggigitnya.
Dengan gerakan ringan Lee Ing miringkan tubuh dan mengulur tangan hendak meraih belenggu.
Akan tetapi kepala ular itu bergerak dan lehernya melebar, menghantam ke arah pinggang Lee Ing dari samping.
Lee Ing terpaksa melompat mundur dan turun kembali.
"Sukar juga...."
Pikirnya, la mencoba lagi.
Kini ia melompat tinggi ke atas melampaui kepala ular.
Ketika ular itu membalikkan kepala dan menyambar dengan mulut terbuka lebar, Lee Ing menyampok dengan tangannya dari samping, perlahan saja.
Gadis ini memang tidak berniat mencelakakan binatang itu.
Sampokannya yang amat perlahan itu cukup kuat, membuat ular itu terpental mundur, Lee Ing menggunakan kesempatan itu untuk memegang belenggu dengan kedua tangan, mengerahkan tenaga dan...
"trakk!"
Belenggu ular jantan itu putus!
Dasar binatang, mana tahu bahwa orang sedang menolongnya?
Ular jantan menjadi marah karena sampokan tadi, kini setelah tubuhnya bebas ia makin leluasa bergerak.
Cepat sekali tubuhnya menggeliat bergerak dan di lain saat kepalanya sudah menyambar leher Lee Ing dan ekornya yang kuat dan besar sudah bergerak pula menyambar pinggang untuk dililit.
Lee Ing maklum akan bahayanya kalau sampai kena digigit atau dililit.
Bagaikan sinar kilat ia menghindarkan diri, melompat ke tengah kamar.
Ular jantan mengejarnya!
Khawatir kalau-kalau pedang dan sarungnya itu rusak karena amukan ular.
Lee Ing menyambar pedang, lalu memasukkan ke dalam sarung pedang dan menyelipkannya di pinggang.
Kini ia menanti datangnya serangan ular jantan.
Ular itu merayap keluar dari kubangan dan Lee Ing kagum melihat besar dan panjangnya.
Karena seringkali melihat, kini ia tidak takut lagi.
"Paman ular, kau benar-benar tak tahu terima kasih!"
Ia mencela ketika ular itu menyerangnya lagi dengan ekor yang disabetkan ke depan. Lee Ing melompat dan ekor itu menyabet batu karang yang menjadi hancur. Lee Ing meleletkan lidah.
"Aduh, kau hebat juga."
Melihat besarnya tenaga sabetan ekor, gadis itu ingin sekali mencoba dan mengadu tenaga.
Ia menanti sampai ular itu menyabet lagi dengan ekornya.
Ia mengumpulkan tenaga dan menangkis sabetan ekor itu dengan lengan kiri.
"Dukk!"
Ekor dan lengan bertemu keras sekali, akibatnya ekor ular itu terpental kembali, sedangkan Lee Ing hanya merasakan guncangan hebat saja, namun kuda-kudanya tidak bergeming.
"Aha, tidak berapa hebat tenagamu, paman ular,"
Katanya gembira.
Akan tetapi ia tidak sempat untuk mengejek karena ular itu sudah menyambar lagi, kini dengan kepalanya.
Lee Ing mencelat ke samping lalu melompat ke atas punggung ular.
Ekor ular itu menyambar, gadis itu menangkap ekor (Lanjut ke
Jilid 09) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 tersebut dan terus ditekuk ke atas, mendekati kepala.
Dengan berani gadis ini melebatkan ekor itu pada leher ular beberapa kali lalu diikatkan seperti orang mengikat leher karung saja!
Sungguh lucu kelihatannya ular itu.
Lehernya dililit dan diikat oleh ekornya sendiri, la menggeliat-geliat, akan tetapi makin ia perkeras lilitan nya.
makin tercekik lehernya.
Agaknya binatang ini tidak tahu bahwa yang melilit dan mencekik lehernya adalah ekornya sendiri, juga tidak tahu bahwa ekornya bukan melilit pinggang gadis yang ramping itu, melainkan melilit leher sendiri.
Lee Ing tertawa.
Selagi ular itu berdaya melepaskan diri dari keadaan yang lucu dan aneh itu, Lee Ing sudah melompat ke ular betina.
Seperti tadi, ia disambut oleh moncong yang terbuka lebar hendak menggigitnya.
Lee Ing mengelak dan moncong itu menggigit angin.
Sebelum mulut yang kini tertutup itu terbuka kembali, lengan kiri Lee Ing sudah memeluknya sehingga mulut itu kini dijepit.
"Bibi yang berani, terpaksa aku harus menahan dulu mulutmu yang cerewet dan suka terbuka saja."
Lee Ing berkata tertawa-tawa, lalu tangan kanannya dimiringkan dan disabetkan ke arah rantai yang membelenggu ular ini.
Sekali tebas saja rantai itu patah.
Lee Ing melepaskan ular ini dan melompat.
Ternyata ular jantan sudah berhasil melepaskan diri.
Biarpun binatang-binatang ini tidak tahu terima kasih, agaknya mereka tahu akan arti takut.
Tanpa banyak aksi lagi keduanya lalu merayap keluar dari kamar itu melalui kubangan dan lubang.
Kebetulan air laut yang dilempar oleh ombak memasuki kubangan itu dan di lain saat dua ekor ular itu telah kembali ke tempat asalnya, yaitu di dasar laut.
Memang dua ekor ular raksasa itu dahulunya ditangkap oleh Bu-beng Sin-kun ketika mereka terbawa ombak masuk ke dalam gua itu melalui lubang lalu dibelenggu oleh Bu-beng Sin-kun.
Itu adalah ular-ular laut yang jarang muncul dan jarang pula dilihat orang.
Setelah membebaskan dua ekor ular itu.
baru Lee Ing berani mencabut pedang dan mengamat-amatinya.
Pedang ini tipis sekali dan ternyata dapat digulung seperti orang menggulung sutera.
"tentu saja cara menggulungnya harus menggunakan tenaga Iweekang. Pendeknya sebuah pedang yang tajam indah dan dapat digulung. Lee Ing mencobanya. Diayunnya pedang yang ringan seperti bulu itu, dan sekali sabet saja rantai-rantai yang tadi membelenggu ular terputus-putus seperti rambut dipotong. Ia girang sekali, lalu melibatkan pedang pada pinggangnya. Pedang itu dipakai seperti orang memakai sabuk oleh Lee Ing! Lee Ing berlutut kembali di depan rangka Bu-beng Sin-kun.
"Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas warisan ilmu dan pedang. Teecu tak sampai hati meninggalkan suhu dalam keadaan begini. Maafkanlah teecu yang mengambil keputusan untuk mengubur rangka suhu di sebelah rangka cici Li Lian."
Kemudian ia bangun berdiri dan hendak mengangkat rangka itu.
Tiba-tiba ia melihat kedudukan kaki tangan rangka itu.
Baru sekarang ia memperhatikan dan ia mendapatkan sesuatu yang aneh.
Kaki dan tangan itu berada dalam kedudukan pasangan jurus yang luar biasa, tentu bukan tidak sengaja Bu-beng Sin-kun mati dalam keadaan berdiri seperti itu.
Lee Ing membatalkan niatnya mengangkat rangka itu dan melangkah mundur, memperhatikan kedudukan kaki tangan itu lalu menirunya.
Wajahnya berseri dan ia tertawa.
Orang akan menganggapnya gila, tertawa-tawa di depan sebuah rangka!
"Ha-ha, betul sekali!
Terima kasih, suhu.
Inilah kuncinya!
Alangkah bodohku, tidak melihat selama ini."
Setelah meniru kedudukan kaki tangan ini, lengkaplah pelajarannya.
Itulah jurus terakhir dari ilmu silat tangan kosong yang merupakan puncak dari pelajaran-pelajaran itu, jurus yang menurut corat-coret itu diberi nama Lo-thian-tong-te (Mengacau Langit Menggetarkan Bumi).
Setelah mendapatkan kunci rahasia pukulan terakhir dari ilmu silat warisan Bu-beng Sin-kun yang disebut Thian-te-kun (Ilmu Silat Langit Bumi) ini, Lee Ing lalu mengangkat rangka gurunya dan menguburnya di dalam kamar ular, di sebelah kuburan Li Lian.
Kemudian ia keluar dari lorong rahasia yang dulu-ia masuki.
Tidak seperti dulu ketika masuk, kini jalan keluar itu bagi Lee Ing mudah sekali.
Tanpa disadari dan dirasainya, kepandaiannya sudah menjadi hebat dan ginkangnya sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi.
Inilah hasil dari latihan samadhi dan membangkitkan tenaga dalam yang luar biasa, yang membuat Lee Ing dapat membuat tubuhnya serasa seringan bulu dan dapat pula membuat tubuhnya serasa seberat gunung karang!
la berlompat-lompatan dan sebentar saja sudah keluar dari gua itu dan tiba di bukit batu karang di tepi pantai yang amat curam itu.
Matanya menjadi silau dan terpaksa Lee Ing berdiri memejamkan kedua mata.
Tak tahan ia menghadapi sinar matahari yang demikian terangnya.
Selama empat tahun ia tidak pernah melihat sinar matahari sepenuhnya seperti ini.
Lambat-laun matanya menjadi biasa juga dan ia membukanya perlahan.
Teriakan bahagia terlompat dari kerongkongannya ketika ia melihat pemandangan alam yang sudah sering kali terlihat olehnya di alam niinipi.
Laut terbentang luas di kakinya, di atas nampak menjulang tinggi batu-batu karang.
Tempat itu amat berbahaya, namun bagi Lee Ing bukan apa-apa, bahkan yang nampak hanya keindahannya saja.
Sambil berlompatan dari puncak batu karang ke puncak lain, sedikitpun tidak merasa sakit ketika kulit kakinya yang sudah jebol sepatunya itu menginjak batu karang yang runcing, Lee Ing mulai merayap naik.
Sepatunya jebol, pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut tidak karuan, mukanya amat pucat karena jarang bertemu sinar matahari.
Orang tentu akan menganggapnya seorang gadis berotak miring.
Namun Lee Ing tidak merasa akan ini semua.
Ia terus berlompatan bagaikan seekor kera, dan sebentar saja ia sudah tiba di atas, keluar dari daerah berbahaya itu.
Teringat olehnya betapa dulu ia diserang oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio dan ditolong oleh Siok Bun.
Teringat akan hal ini ia tiba-tiba tertawa.
Kalau ia ingat-ingat, lucu juga dulu itu, bagaimana ia mempermainkan Hui-ouw-tiap dan mengaku seorang gadis Mongol.
Waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai hal itu seperti baru terjadi kemarin saja.
Ketika itu usianya baru lima belas tahun, sekarang ia sudah berusia sembilan belas tahun, namun Lee Ing tidak merasa akan hal ini.
la sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang bertubuh ramping, berwajah cantik jelita, akan tetapi iapun tak sadar akan hal ini.
Dunia seperti baru bagi Lee Ing.
Burung terbang saja merupakan tontonan menarik baginya.
Ia duduk di atas sebuah batu, melihat burung laut terbang melayang dengan kagum, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum.
Ombak laut yang membuih juga merupakan pandangan yang sedap dipandang, tidak membosankan.
Apa lagi pohon-pohon hijau yang kelihatan dari situ, membuat Lee Ing termangu memandangnya.
"Aduh indahnya... aduh indahnya...!"
Berkali-kali ia berseru keras dan menengok ke sana ke mari.
Melihat semacam rumput yang mengeluarkan kembang kuning kecil sekali, Lee Ing tertawa dan berlutut mengamat-amati kembang itu yang dianggapnya amat indah menakjubkan.
Padahal dahulu kembang macam itu takkan ia hiraukan.
"Bagus sekali.. ."
Ia memuji.
"Sialan, tidak bertemu siapa-siapa, yang ada hanya anak gila...!"
Tiba-tiba terdengar suara orang menggerutu.
Lee Ing melompat bangun dan menengok.
Matanya terbelalak lebar, girang dan kagum.
Seorang wanita cantik setengah tua berdiri di depannya.
Siapa lagi kalau bukan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio!
Lee Ing tertawa dan mengucek-ucek matanya, seperti tidak percaya pandang matanya sendiri.
"Kau...? Kau masih..... masih di sini...?"
Karena sudah empat tahun berdiam seorang diri di dalam gua tak pernah bicara, suara Lee Ing menjadi kaku dan biarpun otaknya sudah penuh kata-kata, mulutnya terasa sukar mengeluarkan kata-kata itu.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio mengerutkan keningnya.
"Anak gila, pergi kau dari sini. Jangan berani kau kurang ajar Aku sedang tak senang, kalau kau membikin aku marah, bisa kau kulempar ke dalam jurang ini!"
Lee Ing tertawa makin senang.
Suara yang keluar dari mulut Yap Lee Nio terdengar amat merdu Seperti musik!
Sudah lama ia rindu akan suara orang, dan sekarang mendengar nyonya itu bercakap-cakap, biarpun merupakan makian marah, ia senang sekali mendengarnya.
"Bicara lagi, bicara terus...."
Mintanya sambil memandangi nyonya itu dari sanggul rambutnya yang teratur rapi sampai pakaiannya yang indah dan sepatunya yang baru.
Hui-buw-tiap Yap Lee Nio memang sedang marah.
Seperti diketahui, dulu ketika ia bertemu dengan Lee Ing, tahu bahwa gadis itu puteri Souw Teng Wi musuh besarnya, ia segera turun tangan hendak membunuhnya.
Akan tetapi muncul Siok Bun menolong Lee Ing.
Karena segan bermusuhan dengan putera Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tidak mau melanjutkan pertempuran itu, terus menyusul dan mencari Lee Ing.
Akan tetapi usahanya sia-sia belaka.
Demikian pula dengan Siok Bun.
Pemuda ini yang amat tertarik kepada gadis itu juga mencari Lee Ing.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio diam-diam mendongkol sekali karena tidak berhasil membalas dendamnya.
Ketika mendengar bahwa Souw Teng Wi telah berada di utara, nyonya yang mendendam ini menyusul ke utara, bermaksud mencari tempat kediaman Souw Teng Wi dan membunuhnya untuk membalas dendam kematian suaminya.
Siang-pian Hai-liong Sim Kang.
Akan tetapi kembali ia tertumbuk batu karang ketika maksud hatinya ini tidak saja gagal, malah ia mendapat malu besar karena dikalahkan oleh Pek kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri yang tidak membiarkan nyonya ini mencoba untuk membunuh Souw Teng Wi.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio makin merasa sakit hati.
Ia teringat akan puteri Souw Teng Wi yang pernah ia temui di pantai laut itu.
la melakukan penyelidikan dan tak seorangpun tahu di mana adanya nona Souw itu.
Maka ia mendapat pikiran bahwa mungkin sekali selama ini nona Souw itu masih berada di pantai dan mungkin berada di dalam gua-gua yang terkenal dengan sebutan Gua Siluman.
Pikiran ini yang membuat Yap Lee Nio tidak mengenal lelah dan mendatangi tempat yang amat berbahaya lagi sukar itu.
Biarpun sudah lewat empat tahun, siapa tahu kalau-kalau ia berhasil menemukan nona itu di dalam gua, menangkapnya dan menggunakan nona itu untuk ditukar dengan nyawa Souw Teng Wi?
Dapat dibayangkan betapa kecewa dan marah hatinya ketika ia tiba di daerah Gua Siluman, ia tidak dapat menemukan seorang manusiapun.
Daerah ini demikian mati dan sunyi sehingga berhari-hari Hui-ouw-tiap mencari ke dalam gua-gua, melakukan perjalanan sukar sekali dan mengalami kesengsaraan lahir batin.
Ketika akhirnya ia menyerah dan hendak pergi meninggalkan daerah mati ini, ia bertemu dehgan seorang gadis berpakaian compang-camping, sepatu tinggal sebelah, rambut riap-riapan dan tertawa-tawa serta bicara seorang diri, pendeknya seorang gadis gila.
Ia menjadi marah dan menyesal sekali alas kesialannya.
Sekarang melihat gadis gila ini mempermainkannya dan mentertawakannya, ia makin marah.
Akan tetapi ia tertarik juga.
"Setan, kau siapakah dan mengapa kau berada di tempat seperti ini?"
Tanyanya sambil mengamat-amati muka yang sebagian besar tertutup rambut yang tidak terurus itu.
la dapat melihat sebagian wajah yang berkulit halus sekali, dan mata kiri yang bersinar-sinar ganjil akan tetapi amat bagus.
Juga hidung yang mancung kecil dan mulut yang manis sekali.
Lee Ing makin geli mendengar pertanyaan ini.
Ia masih mengenal Yap Lee Nio, orang yang dulu menyerangnya Juga ia masih ingat bahwa wanita ini adalah isteri Sim Kang yang sudah tewas di tangan ayahnya.
Akan tetapi aneh sekali, hatinya tidak mengandung kebencian terhadap wanita ini.
Tak mungkin ia dapat membenci seorang manusia yang dijumpai untuk pertama kali setelah ia keluar dari gua.
Manusia pertama ini amat menarik hatinya, bahkan ia merasa suka kepadanya.
"Mengapa kau berada di tempat seperti ini?"
Lee Ing mengulang pertanyaan itu, susunan kalimatnya dan lagu bicaranya ia tiru. Amat merdu terdengarnya bunyi pertanyaan wanita itu.
"Bocah gila, kalau tidak melihat kau gila, siang-siang sudah kuhancurkan kepalamu!"
Kembali Hui-ouw-tiap memaki sambil melompat pergi.
Ia tidak sudi melayani seorang gila lebih lama lagi.
Akan tetapi alangkah terperanjatnya ketika melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu bocah gila itu telah berdiri di depannya.
Berdiri bulu tengkuk Hui-ouw-tiap.
Ini tak mungkin, pikirnya.
Apakah aku mengimpi?
Ia mengerahkan tenaga dan melompat lagi.
Kali ini bahkan melompati atas kepala Lee Ing untuk pergi dari tempat sunyi mati menyeramkan itu.
Memang Hui-ouw-tiap mempunyai ginkang yang hebat sehingga ia mendapat julukan Hui-ouw-tiap (Kupu-kupu Terbang).
Ia mengira bahwa perempuan gila itu tentulah mengerti sedikit ilmu silat dan sekarang tak mungkin dapat mengejar dan mengganggunya lagi.
Jagoan-jagoan di dunia kang-ouw jarang ada yang sanggup mengejarnya, bahkan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri tidak mampu mengejarnya ketika ia dikalahkan dan melarikan diri.
Akan tetapi, di lain saat Hui-ouw-tiap mengeluarkan jerit ketika melihat orang gila itu dengan gerakan luar biasa sekali dari belakang telah melompati kepalanya dan tahu-tahu sudah menghadang di depan pula.
Saking herannya, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio sampai berdiri terpaku dan memandang dengan mata melotot.
Adapun Lee Ing hanya tertawa-tawa saja, malah mendekat dan meraba-raba ujung baju wanita itu seakan-akan hendak melihat kebagusan baju orang.
"Siluman gila!"
Yap Lee Nio menjadi marah.
Sebetulnya ia diam-diam merasa takut dan seram.
Coba saja bayangkan!
Di tempat seperti itu berternu dengan seorang gila yang ginkangnya dapat melebihinya.
Untuk mengusir rasa seram ini Yap Lee Nio menjadi marah dan memaki.
"Kau ini perempuan gila mau apakah?"
Lee Ing menyingkap rambut yang menutupi sebagian muka dan mengganggu matanya sanibil tersenyum.
"Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio ternyata makin tua makin cantik, akan tetapi juga makin galak."
Hui-ouw-tiap kembali melengak.
Ia menatap wajah yang kini kelihatan nyata itu, wajah yang cantik manis sekali, yang matanya bersinar-sinar ganjil penuh pengaruh, akan tetapi juga penuh kejenakaan.
Mata itu ia tidak kenal, mata yang membuat bulu tengkuknya berdiri karena sinar yang memancar dari mata itu benar-benar membuat ia silau.
Akan tetapi hidung yang kecil mancung tipis itu, bibir yang tersenyum manis mengejek itu, serasa ia pernah melihatnya, pernah dikenalnya.
"Ba... bagaimana kau bisa mengenal namaku? "Kau.... siapakah....?"
Tanyanya gugup karena heran dan kaget bahwa gadis gila ini tidak saja mengenal namanya, juga mengenal julukannya.
"Kau memang seorang wanita terkenal, tentu saja aku mengenal."
Lee Ing tertawa-tawa lagi, senang sekali ia bertemu dan dapat bercakap-cakap dengan seorang manusia lagi, sungguhpun manusia ini memusuhinya, dan kembali ia merasa kagum melihat pakaian Yap Lee Nio yang bagus sekali kalau dibandingkan dengan pakaiannya sendiri yang sudah tidak karuan dan sepatunya yang tinggal sebelah lagi.
Baju Hui-ouw-tiap yang serba hijau memang indah sekali.
"Habis, kau mau apa?"
Hui-ouw-tiap yang sudah kembali ketenangannya bertanya marah.
"Ooh, apa-apa aku juga mau."
Jawab Lee Ing jenaka.
"kau punya apa sih hendak diberikan kepadaku?"
Hui-ouw-tiap rnakin mendongkol karena dipermainkan oleh bocah gila ini.
"Apa-apa kau mau? Nah, aku punya ini!"
Sambil berkata demikian, Hui-ouw-tiap memperlihatkan tinjunya dan terus menyerang Lee Ing dengan kepalan tangan kanan.
Serangannya cepat sekali, tahu-tahu pukulan itu sudah hampir mengenai leher Lee Ing.
"Hayaaa... kau galak benar!"
Lee Ing mengeluh dan bukan main herannya hati Hui-ouw-tiap.
la tidak melihat gadis itu mengelak atau menangkis, akan tetapi tiba-tiba pukulannya yang sudah hampir mengenai Ieher itu menyeleweng dan mengenai tempat kosong.
Kembali Hui-ouw-tiap menyerang, kali ini ia mengerahkan tenaga dan kecepatannya.
Jurus yang ia mainkan juga jurus yang tinggi tingkatnya dan amat berbahaya, yaitu jurus Chun-lui-tong-te (Geledek Musim Semi Menggetarkan Bumi).
Hui-ouw-tiap memiliki gerakan yang arnat cepat biarpun tenaganya tidak dapat dibilang sangat besar.
Akan tetapi kali ini ia benar-benar dibikin bingung karena tanpa ia dapat mengetahui bagaimana tangan gadis itu bergerak, tahu-tahu dua tangannya sudah tertangkis dan anehnya kedua tangannya sendiri itu bisa saling bertumbukan!
Saking kaget dan sakitnya ia melompat mundur dan mengeluarkan seruan tertahan.
Lee Ing hanya berdiri sembarangan dan tertawa-tawa.
"Siapa suka tanganmu yang usil? Aku lebih menyukai pakaianmu yang hijau itu."
"Bocah kurang ajar, kau siapakah sebenarnya?"
Yap Lee Nio bertanya karena ia sekarang dapat menduga bahwa bocah ini tentu bukan orang sembarangan. Lee Ing tersenyum manis, lalu berkata dengan lidah utara.
"Toanio. aku adalah seorang gadis Mongol. namaku Bayin Kilau..."
Baru terbuka mata Yap Lee Nio sekarang, la teringat akan sikap Lee Ing ketika bertemu dengan dia dulu, juga gadis itu mempermainkannya seperti sekarang ini.
Jauh-jauh ia datang mencari Lee Ing puteri Souw Teng Wi untuk ditawannya dan sekarang gadis yang dicari-carinya iiu telah berada di depan mata masih ia belum mengenalnya.
Cepat laksana kilat ia mencabut pedangnya dan membentak.
"Aha, kiranya kau puteri Souw Teng Wi? Bagus, rasakan tajamnya pedangku!"
Ia cepat menyerang karena menduga bahwa gadis ini takkan begitu mudah ditawan, lebih baik dilukai dulu.
"Aha, baru sekarang kau tahu?"
Kata Lee Ing dan dengan tenang dan mudahnya ia mengelak dari sambaran pedang.
Bagi orang lain gerakan serangan Hui-ouw-tiap ini cepat bukan main, akan tetapi dalam pandang mata Lee Ing amat lambat maka mudah saja ia mengelak ke sana ke mari.
"Eh, kupu-kupu tua, aku ingin menukar pakaian ini dengan pakaianmu. Kau mau tambah berapa?"
Di dalam kemarahan dan kemendongkolan hatinya, Yap Lee Nio juga terheran-heran.
Empat tahun yang lalu, ketika untuk pertama kali ia bertemu dengan puteri Souw Teng Wi ini, gadis yang kurang ajar dan nakal ini hanya memiliki sedikit ilmu silat ditambah ilmu gulat Mongol.
Bagaimana sekarang dengan tangan kosong dapat menghadapi pedangnya sambil mengobrol?
Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengeluarkan ilmu pedang dari Hoa-lian-pai yang bersifat ganas dan berbahaya.
Namun Lee Ing tetap saja enak-enak, bahkan berdirinya juga tidak teratur, hanya kalau diserang kelihatan terdesak sempoyongan seperti orang mabok namun semua serangan dapat ia hindarkan dengan baik.
Malah gadis ini masih terus mengeluarkan kata-kata jenaka.
"Hui-ouw-tiap, bagaimana? Pakaian yang kupakai ini ditukar dengan pakaian hijaumu, kau berani tambah berapa?"
Terlalu sekali gadis itu, pikir Hui-ouw-tiap.
Masa pakaian yang dipakai gadis itu compang-camping dan kotor seperti lap dapur, hendak ditukar dengan pakaiannya yang indah-indah, malah minta tambahan?
Benar-benar gila!
Karena penasaran tidak dapat mengalahkan gadis itu, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio menjadi marah sekali.
Tangan kirinya bergerak.
Lima batang Tiat-lian-ci menyambar ke arah lima bagian jalan darah yang mematikan.
Ini masih disusul pula dengan tusukan pedang ke dada nona itu.
Menggunakan senjata rahasia Tiat-lian-ci (Biji Teratai Besi) adalah kepandaian istimewa Hui-ouw-tiap Senjata rahasia yang kecil-kecil ini amat cepat jalannya, juga tidak terduga-duga, apa lagi dilepaskan dari jarak dekat.
Namun, Lee Ing menggerakkan kedua tangannya dan lima butir Tiat-lian-ci itu sudah ditangkapnya semua.
Serangan pedang ia hindarkan dengan jalan melompat mundur.
"Hui-ouw-tiap, kalau tidak mau bertukar pakaian secara baik, terpaksa aku mengambilnya sendiri!"
Kata Lee Ing dan tangannya bergerak.
Berturut-turut lima butir Tiat-lian-ci menyambar ke arah Yap Lee Nio.
Tiat-lian-ci yang pertama tepat sekali mengenai tai-twi-hiat, yang ke dua menyambar yan goai-hiat.
Dua jalan darah yang terkena timpukan Tiat-lian-ci ini membuat Yap Lee Nio berdiri kaku tak mampu bergerak lagi.
Sambitan ke tiga membuat pedang di tangannya terpental.
Dua Tiat-lian-ci terakhir menyambar ke arah tali pengikat baju di pinggang dan dada, membuat tali-tali itu terlepas!
Sambil tenawa-tawa Lee Ing lalu melepaskan semua pakaian hijau yang menempel di tubuh Hui-ouw-tiap.
Tentu saja Hui-ouw-tiap merasa malu dan marah sekali, akan tetapi apa dayanya?
Bergerak sedikitpun ia tidak sanggup.
"Bagus sekali bajumu ini, ditukar dengan pakaianku kau masih harus tambah sedikit."
Lee Ing memandang lawannya yang sudah tak berpakaian lagi itu, melihat ke arah rambut.
"Rambutnya terhias emas dan permata, akan tetapi aku lebih menyukai ini. Nah, biar sutera pengikat rambutmu ini saja yang menjadi tambahan tukar-menukar ini!"
Sekali renggut ia telah mengambil tali pengikat rambut dari sutera merah.
Kemudian, sambil tersenyum girang Lee Ing menanggalkan semua pakaiannya di depan Yap Lee Nio yang mau tidak mau memandang dengan kagum, la melihat betapa Lee Ing memakai pakaian hijaunya dan mengikat rambutnya dengan sutera merah.
Sekarang baru terlihat kecantikan gadis itu dan baru Hui-ouw-tiap tak ragu-ragu lagi bahwa memang ia berhadapan dengan puteri Souw eng Wi.
Bagaimana gadis ini sekarang menjadi begini hebat kepandaiannya?
Diam-dam Hui-ouw-liap Yap Lee Nio bergidik dan mengerti bahwa jiwanya berada di tangan gadis ini.
"Wah, susah. Celana dan bajunya pas betul akan tetapi tangan bajunya terlalu panjang. Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, agaknya tanganmu panjang sekali!"
Merah muka Hui-ouw-tiap mendengar sindiran ini. Memang dia seorang perampok tunggal yang terkenal, jadi termasuk golongan si tangan panjang juga.
"Waah, aku harus menggulungnya atau memotongnya..."
Lagi-lagi Lee Ing bicara. Kemudian ia mengambil pakaian bututnya, diletakkan di depan Yap Lee Nio, lalu ia berkata.
"Nah, pertukaran sudah beres. Aku rela memberikan pakaianku kepadamu. Kau berdirilah dulu di sini, paling lama dua jam lagi kau akan pulih dan dapat memakai pakaian ini. Kau terlalu galak, sudah sepatutnya diberi pelajaran sedikit. Selamat tinggal!"
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tak dapat bicara tak dapat bergerak dan ia hanya bisa memandang dengan mata mengandung penuh kebencian.
Ia hanya melihat gadis di depannya berkelebat terus lenyap.
Diam-diam Yap Lee Nio memuji dan juga lega bahwa gadis itu tidak membunuhnya.
Akan tetapi kemendongkolannya dapat dibayangkan.
Dia berdiri kaku seperti patung dalam keadaan telanjang.
Baiknya tempat itu sunyi sepi, kalau ada orang lewat, apa lagi kalau laki-laki, alangkah akan malunya.
Ia harus berdiri seperti itu dua jam.
lagi dan selama ini yang dapat dilakukan oleh Yap Lee Nio hanya berdoa supaya jangan ada orang lewat di situ Kalau ia sudah dapat bergerak, tentang pakaian sih bukan apa-apa.
Tentu saja pakaian butut yang ditinggalkan Lee Ing itu ia tidak sudi memakai, dan untuk mendapatkan pakaian baik, ia dapat mengambil dari rumah orang lain dengan mudah.
Sungguh amat patut disayangkan bahwa kaisar pertama dari Kerajaan Beng-tiauw terpengaruh oleh orang-orang berahlak rendah seperti Menteri Auwyang Peng dan lain-lain pembesar durna.
Pahlawan rakyat Cu Goan Ciang setelah menjadi kaisar mungkin karena banyaknya persoalan negara yang harus diurusnya, menjadi kurang waspada dan mudah saja dipermainkan oleh para durna yang memperebutkan kedudukan dan kekuasaan.
Sedemikian besar pengaruh para durna itu sampai-sampai Cu Goan Ciang yang sekarang menjadi Kaisar Thai Cu itu, menjauhkan puteranya yang berjiwa patriot, yaitu Yung Lo yang diangkat menjadi raja muda di Peking.
Pengangkatan ini adalah usul para menteri durna yang menganggap Yung Lo terlalu berbahaya maka perlu disingkirkan.
Akan tetapi, Yung Lo maklum benar akan hal-hal yang terjadi di sekitar ayahnya.
Raja muda ini maklum bahwa Kerajaan Beng yang dibangun oleh ayahnya itu amat kotor, penuh dengan tikus-tikus yang berupa para menteri durna.
Ia hanya bisa menghela napas panjang setiap kali teringat akan kelemahan hati ayahnya yang dahulu terkenal sebagai pahlawan yang bersemangat baja itu.
Betapapun juga, selama ayahnya masih menjadi kaisar di Nan-king.
Yung Lo tidak berani bertindak apa-apa.
la amat berbakti kepada ayahnya dan segan melawan ayah sendiri.
Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Raja Muda Yung Lo mendiamkan saja para menteri durna melakukan perbuatan sewenang-wenang di selatan.
Antara Raja Muda Yung Lo dan para menteri durna itu terdapat permusuhan yang hebat.
Biarpun pada lahirnya Raja Muda Yung Lo tidak memusuhi mereka karena ia merasa sungkan terhadap ayahnya, namun diam-diam para pembantu raja muda ini mengadakan permusuhan dengan kaki tangan para menteri yang dikepalai oleh Menteri Auwyang Peng.
Sering kali terjadi tantangan-tantangan dan pertempuran di antara jago-jago kedua fihak yang bermusuhan ini.
Kedua fihak memang sudah dapat menjaga sehingga tidak merembet-rembet fihak atasan.
Fihak utara tidak membawa-bawa nama Raja Muda Yung Lo, sebaliknya fihak selatan tidak mau membawa-bawa nama kaisar atau menteri-menteri.
Maka semua pertempuran itu terjadi dalam sebuah tantangan pibu (mengadu kepandaian).
Diatur cara begini, luka atau tewas dalam pibu tidak menimbulkan keributan dan tidak menyeret-nyeret nama Raja Muda Yung Lo maupun kaisar sendiri.
Raja Muda Yung Lo yang tidak mau secara terang-terangan memusuhi menteri -menteri yang menjadi pegawai ayahnya, mempergunakan Tiong-gi-pai untuk menggempur mereka.
Ia sengaja mengirim orang kepercayaannya, Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui seanak isteri membantu Tiong-gi-pai dan berusaha membasmi orang-orang jahat seperti Auwyang-taijin dan kaki tangannya.
Berkali-kali pihak Tiong-gi-pai dan fihak Menteri Auwyang Peng mengadakan tantangan di mana dilakukan pibu antara jago-jago kedua fihak.
Akan tetapi sering kali pibu itu diakhiri dengan kekalahan fihak Tiong-gi-pai.
Banyak sudah jago-jago Tiong-gi-pai terluka atau tewas.
Pibu-pibu yang dilakukan hanya sampai di tingkat orang-orang mudanya saja, para cianpwe belum maju karena kedua fihak masih menjaga nama masing-masing.
Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri maklum bahwa kalau dia turun tangan tentu fihak musuh akan menurunkan para cianpwe yang tingkatnya jauh lebih tinggi.
Oleh karena itu fihak Tiong-gi-pai mengeluarkan jago-jago mudanya yang tentu saja dilawan oleh jago-jago muda pula dari fihak Auwvang-taijin.
Akan tetapi, ternyata seringkali fihak Auwyang-taijin lebih kuat, apa lagi di antara orang mudanya terdapat putera Auwyang-taijin sendiri, Hek-tok-ciang Auwyang Tek Si Tangan Racun Hitam.
Jangankan orang-orang mudanya di fihak Tiong-gi-pai, bahkan para jago tuanya jarang yang mampu menandingi kelihaian Auwyang Tek.
Pada masa itu.
biarpun nampaknya pemerintah Beng dapat mendatangkan kembali kebesaran Tiongkok selelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, dan negara menjadi kaya dan makmur, namun pengaruh Kerajaan Beng di luar Tiongkok menjadi musnah.
Kalau dahulu di jaman penjajahan Mongol negara-negara tetangga pada tunduk di bawah pengaruh kekuasaan Raja-raja Mongol yang membentangkan sayap lebar-lebar, kini para kerajaan tetangga bangkit dan tidak mengakui kedaulatan Kerajaan Beng.
Orang-orang Mongol yang sudah terusir itu biarpun mengalami kekalahan di Tiongkok namun di utara mereka masih menjagoi.
Sering kali mereka mengadakan kerusuhan dan penyerbuan ke daerah perbatasan.
Hanya setelah Raja Muda Yung Lo memegang kekuasaan di Peking, serbuan-serbuan ini dapat dibendung.
Namun, pengacauan lain terjadi di selatan, di pantai laut timur, dilakukan oleh para bajak laut Jepang.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Auwyang Peng menteri durna itu bersama kaki tangannya untuk mengadakan kongkalikong dengan beberapa orang jago kate dari Jepang itu.
Dengan jalan menyogok Menteri Auwyang Peng berhasil "membaiki"
Bajak laut ini.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 8
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 3