Eps 2 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Nama mereka amat terkenal karena selain Siok Beng Hui merupakan "raja kaitan"
Yang memiliki sepasang senjata kaitan atau gaetan luar biasa lihainya, isterinya juga terkenal dengan senjata rahasia Ang-lian-ci dengan timpukan-timpukan seratus kali lepas seratus kali kena".
"Ah, kiranya kami berhadapan dengan Siok-taihiap dan toanio yang gagah perkasa!"
Seru Kwee Cun Gan girang sekali.
"Apakah benar dugaan kami bahwa tadi Mo Hun si kakek iblis datang ke sini dan menjatuhkan korban?"
"Memang betul, yang baru kami kubur adalah jenazah dua orang kawan kami yang tewas oleh iblis itu. Bagaimana Siok-taihiap bisa tahu?"
"Ketika kami berangkat, kami diikuti oleh putera kami Siok Bun. Tadi ketika kami tiba di kaki bukit, kami melihat seorang kakek yang berlari cepat Kakek itu mengempit tubuh seorang gadis remaja dan di pinggangnya tergantung sebuah kepala orang wanita. Kami menjadi curiga dan menahannya, akan tetapi ia malah menyerang dengan cambuk kelabang. Melihat kelihaiannya dan melihat cambuk itu, tahulah aku bahwa dia adalah Toat-beng-pian Mo Hun. Kami bertiga lalu mengeroyoknya karena tahu bahwa orang macam dia selalu di mana-mana melakukan hal-hal yang tidak baik. Biarpun kami tidak mengenal siapa gadis itu, kami berusaha menolongnya. Akan tetapi dia benar-benar amat lihai. Setelah kami bertiga mengurung rapat, barulah ia merasa kewalahan dan melarikan diri. Kami mengejar, isteriku melepas beberapa Ang-lian-ci akan tetapi senjata rahasia itu dipukul hancur oleh kibasan tangan kirinya. Benar-benar iblis yang jahat dan berbahaya sekali. Karena kami sedang menjalankan tugas, terpaksa kami tidak mengejar lebih jauh, hanya menyuruh putera kami Siok Bun untuk diam-diam mengikuti jejaknya dan sedapat mungkin menolong gadis remaja yang dibawa lari itu."
Orang-orang Tiong-gi-pai girang mendengar bahwa putera pendekar ini mengikuti Mo Hun untuk berusaha menolong Lee Ing.
"Apa yang taihiap lakukan benar-benar tepat sekali. Hendaknya diketahui bahwa gadis itu adalah Souw Lee Ing, puteri tunggaI Souw Teng Wi taihiap,"
Kata Kwee Cun Gan yang kini mendapat giliran menceritakan apa yang telah terjadi di situ. Siok Beng Hui menarik napas panjang.
"Ayaa, para kan-sin itu benar-benar menjemukan sekali! Tapi lebih rendah adalah orang-orang kang-ouw yang dapat diperalat oleh mereka. Kwee-sicu, kami mendapat tugas untuk menyampaikan surat pribadi Raja Muda Yung Lo kepada kakak tirinya, putera mahkota di istana. Surat pribadi ini harus dapat kusampaikan sendiri kepada thaicu (putera mahkota). dan kami hanya menyerahkan hal ini kepada kebijaksanaan Tiong-gi-pai bagaimana harus diaturnya agar kami dapat bertemu dengan thaicu. Demikianlah pesan baginda kepada kami."
Dengan girang Kwee Cun Gan lalu mengajak suami isteri pendekar itu menuju ke tempat persembunyiannya, yaitu di sebuah kelenteng tua di mana mereka akan membicarakan tugas itu.
Kawan-kawan lain lalu bubaran, siap menanti tugas-tugas selanjutnya di tempat masing-masing.
Hubungan Kwee Cun Gan di kota raja memang luas sekali.
Orang-orang yang bersimpati kepada pergerakan Tiong-gi pai bukan hanya orang-orang kang-ouw.
Juga banyak pembesar-pembesar yang jujur dan berjiwa patriot menaruh simpati kepada pergerakan Tiong-gi-pai yang membela Souw Teng Wi dan memusuhi para kan-sin yang mempengaruhi para kaisar.
Dengan mempergunakan hubungan inilah, hubungan dengan "orang-orang dalam", mudah saja bagi Kwee Cun Gan untuk mempertemukan utusan Raja Muda Yung Lo dengan putera mahkota, atau lebih tepat mendapatkan kesempatan untuk menghadap putera mahkota itu.
Biarpun ia sendiri tidak terpengaruh oleh para kan-sin dan kadang-kadang juga tahu bahwa para kan-sin itu adalah koruptor-koruptor besar yang menjilat-jilat hati ayahnya, namun putera mahkota tak dapat banyak bertindak.
Ayahnya, kaisar, sudah terlalu mendalam menaruh kepercayaan kepada menteri-menteri dorna macam Auwyang Peng, maka kalau putera mahkota berani menentangnya, bisa berbahaya untuk diri calon pengganti kaisar itu sendiri.
Putera mahkota bukannya seorang pangeran muda, melainkan seorang yang sudah berusia hampir empat puluh tahun, la menerima kedatangan Siok Beng Hui dan isterinya di waktu senja hari di mana istana sedang sunyi.
Oleh perantara dikabarkan bahwa yang datang menghadap adalah utusan raja muda di Peking yang mnembawa hadiah-hadiah bagi saudaranya, putera mahkota, maka para dorna tidak menaruh hati curiga.
Kalau saja para dorna dan kaki tangannya tahu bahwa utusan itu adalah Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui, tentu mereka akan menjadi curiga dan akan berusaha mengorek rahasia kunjungan ini.
Siok Beng Hui tidak lama menghadap putera mahkota.
Setelah surat pribadi Raja Muda Yung Lo diterima oleh tangan putera mahkota sendiri, suami isteri pendekar ini lalu meninggalkan istana dan segera kembali ke utara sekalian mencari tahu tentang putera mereka yang menyusul jejak kakek iblis Mo Hun.
Adapun putera mahkota setelah membaca surat dari adik tirinya, mengunci diri di dalam kamarnya dan termenung-menung laksana patung.
Wajahnya berkerut membayangkan prihatin besar.
Berkali-kali ia menarik napas panjang dan mengeluh seperti orang berduka.
Di dalam suratnya itu adik tirinya yang menjadi raja muda di utara secara terang-terangan menggambarkan keadaan pemerintah Beng yang amat menyedihkan, betapa ayahnya.
Kaisar Thai Cu, telah menaruh kepercayaan yang keliru, berada di bawah pengaruh para kan-sin (menteri dorna) dan pembesar-pembesar busuk.
"Sungguh amat disayangkan,"
Demikian antara lain Raja Muda Yung Lo menulis.
"Kerajaan Beng yang susah payah dibangun oleh ayah, yang dengan taruhan nyawa seluruh rakyat berhasil menggulingkan kekuasaan penjajah Mongol, kini dirusak dan diinjak-injak oleh para menteri dorna. Dahulu sudah sering kali ayah kuperingatkan akan bahaya yang mengancam dari para kan-sin, akan tetapi akibatnya aku malah dijauhkan atau setengah diusir, diharuskan menempati kedudukan di utara yang amat berat, setiap waktu menghadapi serbuan pembalasan dari para Mongol. Namun demi keselamatan negara dan bangsa, aku berusaha sekuat tenaga untuk berbakti kepada tanah air. sekuat tenaga kuhantam setiap usaha musuh yang hendak menyerbu ke Tiong-goan."
Putera mahkota menghela napas panjang.
Adiknya memang betul.
Dahulu sebelum Yung Lo dipindahkan ke utara, ia masih tabah dan semangatnya besar.
Namun semenjak adiknya yang gagah berani itu tidak ada, putera mahkota merasa dirinya lemah sekali, tidak berdaya sungguhpun ia maklum sedalam-dalamnya akan tipu muslihat para menteri dorna yang menguasai kepercayaan ayahnya.
"Ayah sudah tua, tidak akan ada gunanya lagi bagiku untuk memperingatkan beliau, takkan beliau turut. Akan tetapi kau, saudaraku. Kau adalah putera mahkota yang tak lama lagi akan menggantikan kedudukan ayah, kalau tidak dari sekarang kau bertindak, kelak kaupun akan menjadi seorang raja yang lemah tak berdaya. Namanya saja raja namun pada hakekatnya tiada lain hanya sebagai boneka di tangan para kan-sin! Tahukah kau bahwa seluruh orang gagah di negeri kita ini marah-marah kepadamu? Kau dibenci karena kelemahanmu. Karena kelemahanmu kau dianggap segolongan dengan para dorna! Lekaslah bertindak, pergunakan kedudukanmu sebagai putera mahkota. Basmi sampai habis para dorna dan pembesar korup sebelum terlambat. Hanya kalau kau berani menempuh perjuangan berbahaya melawan para penjilat itu, kerajaan kita dapat diselamatkan. Lebih baik kita sendiri cepat-cepat membersihkan kotoran yang menempel di badan sebelum rakyat yang bertindak mendaulat kita. Bukankah kelak kau menjadi raja juga demi rakyat? Rakyat sekarang terhisap oleh koruptor-koruptor yang menggantikan kedudukan penjajah, mereka amat menderita, jangan kau enak-enak saja."
Isi surat Raja Muda Yung Lo yang penuh berisi peringatan pedas itu menggugah hati putera mahkota, membuatnya semalam suntuk tak dapat tidur.
Beberapa kali pintu terketuk oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang datang hendak melayaninya, namun semua ia usir pergi lagi.
Pada keesokan harinya, dengan muka pucat tubuh layu karena semalam tidak tidur, putera mahkota terus berdandan dan mohon menghadap ayahnya.
Di depan ayahnya, dengan wajah sungguh-sungguh ia menyatakan kekhawatirannya tentang keadaan pemerintahan.
Tentang berita yang didengarnya bahwa para menteri banyak yang tidak melakukan tugas sebaiknya, banyak yang berkorupsi, bahkan banyak peraturan berat di luar peraturan raja telah dilakukan oleh para pembesar untuk menindas rakyat.
Bahwa banyak orang gagah merasa tidak puas.
"Bodoh, kau tahu apa?"
Raja membentaknya sambil menghirup arak hangat yang disuguhkan oleh selir-selir cantik dan muda untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah tua dan suka sakit-sakit tulang pada hawa dingin itu.
"menteri-menteriku semua setia dan baik, bagaimana kau bisa mendengarkan hasutan-hasutan orang luar yang merasa iri kepada kita? Itulah omongan para musuh yang hendak memberontak, manusia-manusia macam Souw Teng Wi yang berkepala dua, ingin merebut tahta kerajaan. Kau harus hati-hati kelak kalau kau menggantikan aku, harus banyak minta nasehat menteri-menteri kita yang sudah banyak pengalaman menghadapi manusia-manusia durjana itu. Rakyat tertindas? Hah! Siapa bilang? Kita sudah berjuang mati-matian mcmbebaskan rakyat dari pada penindasan penjajah, bagaimana sekarang bisa tertindas setelah merdeka? Lihat saja keadaan rakyat di luar istana, bukankah mereka jauh lebih baik keadaannya dari pada dahulu di jaman penjajahan?"
Putera mahkota menghela napas.
Diam-diam ia membenarkan isi surat Yung Lo bahwa percuma saja berunding dengan ayahnya yang sudah tua.
Ayahnya hanya melihat kehidupan di dalam kota raja, pusat keramaian dan pusat perdagangan di mana orang hidup serba cukup.
Apa lagi memang para menteri dorna tidak berani menjalankan peranannya di kota raja di depan hidung kaisar.
Akan tetapi coba saja lihat keadaan di kampung-kampung, di dusun-dusun, biarpun ayahnya sendiri tentu akan kaget setengah mati melihat penderitaan rakyat yang tak jauh bedanya dengan masa penjajahan pemerintah Mongol.
Dengan hati berat dan semangat patah kembali, putera mahkota mengundurkan diri dari depan ayahnya, sama sekali tidak tahu betapa beberapa pasang mata yang indah jeli dari selir dan pelayan mengerling ke arahnya dengan tajam.
Kerlingan maut yang amat berbahaya karena beberapa orang di antara sekian banyak juita yang setiap hari siang malam melayani dan mendampingi kaisar ini adalah kaki tangan Auwyang-taijin!
(Lanjut ke
Jilid 04) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 Malam hari berikutnya terjadi hal yang hebat dan ngeri.
Putera mahkota kedapatan telah tewas di dalam tempat tidurnya sendiri!
Tidak terdapat tanda-tanda pembunuhan, tidak ada setetes darah-pun mengalir, tidak ada luka sedikitpun.
Para ahli pengobatan yang datang memeriksa hanya menyatakan bahwa putera mahkota meninggal dunia karena keracunan, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka tahu cara bagaimana pangeran sulung itu terkena racun.
Yang bisa menjawab hanyalah Auwyang-taijin, karena menteri dorna inilah yang minta pertolongan guru puteranya, yaitu Tok-ong Kay Song Cinjin yang luar biasa tinggi kepandaiannya.
Hwe sio Tibet yang sakti ini memberikan beberapa helai senjata rahasia Sai-cu-kim-mau (Bulu Emas Singa) kepada muridnya dan sebetulnya Auwyang Tek yang menyelundup ke dalam istana.
Tentu saja sebagai putera menteri yang disayang kaisar, mudah saja baginya untuk memasuki bangunan istana tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dan pada malam harinya, Mempergunakan kepandaiannya yang tinggi, Auwyang Tek berhasil menyelinap ke atas genteng kamar putera mahkota dan menyerangnya dari atas dengan senjata rahasia Sai-cu-kim-mau itu.
Senjata rahasia ini berupa jarum-jarum halus seperti bulu yang menembus kulit dan memasuki jalan darah, terbawa oleh aliran darah bergerak sampai ke jantung.
Senjata rahasia ini mengandung racun hebat yang hanya dapat dibuat oleh seorang Raja Racun seperiti Kai Song Cinjin, dan hebatnya, saking lembutnya ketika memasuki kulit tidak meninggalkan bekas apa-apa, seperti bekas gigitan seekor nyamuk saja.
Auwyang-taijin dan para menteri menyatakan duka citanya atas meninggalnya putera mahkota ini dan mereka mempergunakan kesempatan ini untuk menimbulkan prasangka terhadap orang-orang Tiong-gi-pai!
"Hamba mendengar bahwa Tiong-gi-pai mempunyai banyak orang pandai.
Siapa tahu kalau-kalau kematian thaicu bukan kematian wajar, melainkan perbuatan keji dari pada Tiong-gi-pai.
Siapa lagi kalau bukan Tiong-gi-pai yang menghendaki kematian putera mahkota karena bermaksud merebut tahta kerajaan?"
Demikianlah antara lain suara-suara berbisa dari Auwyang-taijin dan para menteri sehingga kaisar menjadi makin benci dan marah, lalu memberi perintah kepada seluruh panglima untuk membasmi Tiong-gi-pai.
Sementara itu, para menteri juga mengusulkan agar kedudukan putera mahkota diberikan kepada putera thaicu yang sudah meninggal dunia, jadi kepada cucu baginda yang masih muda.
Kaisar yang sudah terlalu percaya kepada para dorna itu berbalik curiga kepada putera-puteranya sendiri.
terutama sekali kepada Raja Muda Yung Lo, maka tanpa ragu-ragu kaisar menerima usul ini.
"Orang tua, kau hendak membawaku ce mana?"
Lee Ing bertanya ketika ia dapat memutar kepalanya sehingga tiupan angin kencang tidak menyesakkan napasnya.
Tubuhnya masih dikempit oleh kakek iblis Toat beng-pian Mo Hun, dibawa lari cepat bukan main melalui bukit-bukit yang penuh hutan menuju ke timur.
Akan tetapi kakek itu hanya terkekeh saja tanpa menjawab, berlari-lari terus dengan cepatnya.
Kepala yang tergantung di pinggangnya bergerak-gerak dan rambut yang panjang itu melambai-lambai mengerikan.
Oleh tiupan angin rambut itu menyapu-nyapu muka Lee Ing yang mencium bau rambut harum tercampur bau amis darah.
Menjijikkan sekali, Apa lagi ketika kepala itu bergeser ke belakang sehingga muka mayat tak bertubuh itu berhadapan dengan mukanya, melihat kulit pucat pasi, mata setengah terbuka dan bibir yang tadinya manis itu seperti menyeringai kepadanya, Lee Ing menjadi muak dan takut.
Baru kali ini selama hidupnya ia merasa takut dan ngeri.
"Kakek tua, kau yang berkepandaian tinggi ternyata berhati kecil. Pengecut!"
Makinya tanpa berdaya karena kempitan kakek itu benar-benar erat sekali membuat ia tak dapat bergerak sama sekali.
Apa lagi karena pundaknya sudah ditotok membuat kedua tangannya lumpuh.
Mendengar dimaki pengecut, kakek itu menghentikan larinya, ia melempar tubuh Lee Ing ke atas tanah seperti orang membenci.
Matanya yang lebar melotot seperti mau copot dari pelupuknya.
mulut yang tak pernah tertutup bibirnya itu menyeringai makin lebar.
"Selama hidup belum pernah ada orang berani memaki aku pengecut. Kau bocah setan berani berlancang mulut!"
Bentaknya marah sekali.
Lee Ing sudah berlaku nekat.
Lebih baik segera dibunuh dari pada hidup tersiksa di tangan iblis ini.
Ia tertawa nyaring, suara ketawanya menggema di hutan itu.
Ketika tadi terlempar ke atas tanah yang penuh rumput, ia merasa betapa enaknya rebah di situ, lebih baik rebah di situ selamanya dari pada dibawa lari seperti tadi.
Ia melihat di atasnya pohon-pohon raksasa dan tanpa menoleh ke sana ke mari ia dapat menduga bahwa mereka berada di sebuah hutan besar.
"Kakek iblis saikong busuk Kau lebih pengecut dari pada pengecut yang paling hina!"
Rasa heran akan keberanian gadis mi mengalahkan kemarahannya, bahkan kemarahan Mo Hun berangsur-angsur lenyap, terganti oleh keinginan tahu sampai di mana keberanian gadis cilik ini.
"Gadis bernyali naga, mengapa menganggap aku pengecut?"
"Seorang dengan kedudukan tinggi seperti ini, beraninya hanya menghina seorang anak perempuan kecil seperti aku. Tadi menghadapi tiga orang gagah kau tidak berani banyak tingkah dan melarikan diri. Huh, apakah sikapmu itu bukan sikap seorang pengecut? terhadap mereka kau takut, beranimu hanya terhadap aku bocah cilik!"
Mo Hun menjadi marah sekali, akan tetapi karena takut dianggap benar-benar hanya berani terhadap gadis itu, ia melampiaskan marahnya pada kepala wanita yang tergantung di pinggangnya.
la merenggut putus rambut kepala itu, memegang kepala di tangan kiri, lalu tangan kanannya bergerak memukul dengan jari-jari tangan terbuka dimiringkan.
"Krakkk!"
Pecahlah kepala itu dan di lain saat tangan kanannya sudah menjumputi benda putih-putih lunak dan dimasuk kau ke mulut, terus dikunyah kelihatan enak sekali.
Akan tetapi muka yang mengerikan itu nampak muram dan marah, matanya terus memandang Lee Ing.
Dapat dibayangkan betapa hebat guncangan hati gadis itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini.
Perutnya seperti diaduk-aduk rasanya.
hawanya naik ke dada terus ke tenggorokan.
Hanya dengan ketabahan luar biasa saja gadis itu dapat menekan perasaannya hendak muntah-muntah karena ia merasa muak sekali.
Ia maklum bahwa di samping kesukaannya makan otak manusia, kakek iblis ini sengaja hendak membikin dia ketakutan.
"Bocah lancang, siapa bilang aku takut kepada mereka? Jangankan baru ada Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui bersama anak dan isterinya, biarpun ada sepuluh Siok Beng Hui aku takkan takut! Aku. Toat-beng-pian Mo Hun selama hidup tidak takut siapa-siapa, dengan pian kelabangku ini aku sanggup memenggal leher siapapun juga!"
Setelah berkata demikian, Mo Hun mencabut piannya dan "tar-tar-tar!!"
Pian kelabang itu berbunyi dan menyambar dekat leher Lee Ing. Akan tetapi gadis itu hanya tersenyum, bahkan berkata.
"Kau kira aku takut terhadap senjata brengsekmu itu? Hah, mau bunuh lekas bunuh, siapa takut? Sebaliknya kau yang takut kepadaku."
"Ha-ha-ha, aku takut kepadamu?"
"Buktinya, mengapa kau menotok membikin lumpuh aku? Tentu kau takut kalau-kalau aku menyerangmu kau takkan mampu membela diri."
Kakek iblis itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini.
Masa dia takut kepada bocah yang diculiknya ini?
Benar-benar lucu, dan bocah ini benar-benar amat besar nyalinya.
Pian kelabangnya bergerak cepat menyambar tubuh Lee Ing tanpa mengeluarkan bunyi dan tahu-tahu Lee Ing merasa terbebas dari pada totokan.
Diam-diam gadis ini merasa makin kagum melihat kelihaian iblis itu dan maklum bahwa memang Toat-beng-pian Mo Hun seorang yang memiliki kesaktian luar biasa.
Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
Sambil berseru keras ia melompat maju dan memukulkan tangan kanannya ke arah ulu hati kakek itu.
"Mampuslah!"
Bentaknya.
Seperti seorang dewasa menghadapi bocah cilik yang nakal, Mo Hun hanya tertawa cengar-cengir, seakan-akan ia tidak melihat datangnya pukulan.
Kalau saja Lee Ing melanjutkan pukulannya, tentu setidaknya kepalan tangannya yang kecil akan bengkak atau tulang jarinya akan patah-patah bertemu dengan dada yang sudah diisi penuh dengan tenaga Iweekang yang tinggi itu.
Akan tetapi, biarpun maklum akan kerendahan ilmu silat gadis itu, Mo Hun masih belum tahu akan kecerdikan Lee Ing.
Gadis cilik inipun maklum bahwa memukul seorang sakti seperti Toat-beng-pian Mo Hun adalah berbahaya sekali, maka begitu kepalan tangannya menyambar lengan kakek itu dan dengan gerakan amat aneh, cepat dan tidak terduga ia telah melemparkan tubuh kakek itu.
Toat-beng-pian Mo Hun tadi memang sengaja diam saja tidak melawan.
Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cilik ini akan melakukan serangan aneh ini.
bukan memukul melainkan melemparkannya dengan gerakan aneh yang tidak dikenalnya.
Memang itulah gerakan ilmu silat yang dipelajari oleh Lee Ing dari kakeknya, Haminto Losu ahli gulat di utara.
Karena tidak mau kelihatan lucu dan kaget, Mo Hun terpaksa diam saja dan tubuhnya terlempar ke depan.
Orang lain tentu akan terbanding ke atas tanah, akan tetapi Mo Hun jatuh berdiri, masih menggeragoti otak dari kepala wanita tadi.
Melihat Lee Ing berdiri memandangnya dengan ejekan menantang, ia membanting kepala itu yang otaknya sudah habis dimakan, kemudian ia mengejek.
"Bocah macam kau ini masih berani banyak tingkah? Melihat kepalamu yang mempunyai mata demikian terang indah, tentu otakmu luar biasa enaknya dan segarnya. Akan tetapi sayang kalau kepalamu dipisahkan dan tubuh yang indah itu. Aduh sayang, kalau saja aku tidak sedang meyakinkan l-jwe-hoat-sut (Ilmu Gaib Mengganti Sumsum), tentu kau dapat memberi banyak kesenangan kepadaku. Ha-ha-ha!"
Lee Ing marah sekali dan cepat melompat ke depan menyerang lagi, la telah nekat dan hendak melawan sampai mati.
Kedua kepalan tangannya yang kecil bergerak-gerak memukul bertubi-tubi.
Akan tetapi, sekali tangan kiri Mo Hun yang berjari panjang-panjang seperti cakar itu diangkat, dua pergelangan tangan Lee Ing sudah ditangkapnya dan gadis itu ditarik dekat.
"Aduh bagusnya kepala ini..."
Tangan kanan Toat-beng-pian Mo Hun membelai-belai rambut dan kepala Lee Ing dengan mulut berliur seperti seorang kelaparan melihat kepala babi panggang.!
Setiap saat dapat timbul seleranya untuk mencaplok kepala itu dan makan otak di dalamnya.
Lee Ing yang tak berdaya lagi, yang ditarik sedemikian rupa sehingga mukanya terdekap di atas dada kakek itu, menjadi kelabakan, pengap dan hampir tak dapat bernapas karena bau apak yang memuakkan keluar dari balik baju kakek iblis itu.
Agaknya sudah bertahun-tahun kakek ini tak pernah mandi, jangan kata lagi memakai sabun mandi yang harum.
Bajunya juga mendekil penuh bekas peluh kehitaman dan inenjadi sarang kutu.
"Kepala bagus... enak... enak... enak... hem...."
Selera Mo Hun sudah timbul dan sudah gatal-gatal tangannya untuk meremukkan kepala itu mencari oraknya.
Tiba-tiba tampak olehnya pipi yang kemerahan dan kulit muka yang halus itu.
Dijambaknya rambut Lee Ing yang hitam panjang dan ditariknya ke belakang sehingga muka gadis itu menengadah ke atas.
Alangkah ngerinya hati Lee Ing ketika mukanya berhadapan dengan muka iblis itu.
Terasa olehnya dengus napas yang panas sekali dari hidung dan mulut Mo Hun, tercium olehnya bau amis dan busuk dari mulul itu, bau bangkai!
Apa lagi ketika muka itu menyeringai terkekeh, hampir tak tertahan pula bau menjijikkan itu.
"Heh-heh, sayang kalau dirusak. Kau cantik sekali, cantik sekali... pipimu kemerahan. Aaahh, seperti buah masak... cantik...!"
Saking tak kuat menahan bau busuk dan kemarahannya, Lee Ing mengumpulkan kekuatan lalu meludah ke arah muka itu! "Iblis busuk, lepaskan nona itu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tampan yang langsung menyerang Mo Hun dari belakang dengan sebuah senjata gaetan di tangan kanannya.
Pemuda ini bukan lain adalah Siok Bun, putera Pek-kong sin kauw Siok Beng Hui yang ditugaskan oleh ayahnya untuk mengikuti perjalanan Toat beng-pian Mo Hun.
Karena tadinya Mo Hun melakukan perjalanan dengan berlari cepat sekali, Siok Bun tertinggal jauh.
Akan tetapi pemuda yang gigih ini terus mengejar sehingga akhirnya ia dapat juga menyusul.
Siok Bun maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi kakek itu, namun melihat Lee Ing diperlakukan seperti itu, ia tak dapat menahan gelora darah mudanya, dengan nekat lalu maju menerjang.
Entah mengapa, melihat sikap yang berani dan kegagahan luar biasa dari gadis itu, Siok Bun menjadi terharu dan tertarik, bahkan siap membela dengan mempertaruhkan nyawanya.
Sungguhpun tingkat kepandaian Toat-beng-pian Mo Hun masih jauh lebih tinggi dari pada pemuda itu, namun ilmu kauw hoat dari Siok Bun tak boleh dipandang ringan.
Dia adalah putera tunggal dari Pek-kongsin-kauw Siok Beng Hui, maka gerakan gaetannya cepat dan mengeluarkan sinar putih menyilaukan mata.
Ga"tan ini dengau cepat dan kuatnya menyambar ke arah kepala Mo Hun.
Toat-beng-pian Mo Hun mengibaskan tangan kanannya dan ujung lengan bajunya membentur gaetan.
Senjata itu terpental kembali dan Siok Bun kaget sekali karena dalam gebrakan pertama ini saja hampir senjatanya terlepas dari pegangan Sementara itu, Toat-beng-pian Mo Hun menggereng saking marahnya dan mendorong Lee Ing ke samping.
Gadis ini begitu bebas lalu mencari batu dan membantu pemuda itu dengan, menyambitkan batu ke arah Mo Hun.
Namun, batu-batu itu seperti, mengenai menara baja saja, terpental kembali dan ada yang pecah-pecah begitu mengenai tubuh kakek sakti itu.
"Bocah lancang, apa kau ingin menyumbangkan kepalamu? Bagus, ke sinikanlah!"
Pian kelabang meluncur seperti kilat, mengeluarkan suara meledak keras dan melayang ke arah leher Siok Bun.
Kalau mengenai, leher pemuda itu pasti akan tertabas putus.
Siok Bun mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan gaetan.
"Traaanggg...!"
Gaetan itu terlempar dan tubuh Siok Bun terhuyung-huyung ke belakang.
"Orang muda, tinggalkan kepalamu!"
Pian menyambar lagi mengarah leher Siok Bun.
Pemuda itu dalam keadaan terhuyung ternyata masih berlaku gesit, cepat merendahkan tubuh mengelak.
Lee Ing menjerit melihat pian itu membawa kepala Siok Bun, akan tetapi menjadi lega ketika ternyata kemudian bahwa yang "diambil"
Oleh pian kelabang itu bukannya kepala Siok Bun, melainkan topinya.
Memang pemuda ini memakai sebuah topi batok model utara yang bentuknya bundar dan ketika ia mengelak tadi, pian itu menyambar topinya membuai rambutnya awut-awutan.
"Iblis, jangan membunuh dia!"
Lee Ing berseru marah dan dari belakang ia menyerang dengan tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Berantai) ajaran Haminto Losu kakeknya.
"Plak-plek-plak-plek!"
Bertubi-tubi tendangannya mengenai betis, paha dan pantat kakek itu, akan tetapi yang ditendang tidak apa-apa, malah Lee Ing merasa kakinya sakit.
Bagaimanapun juga, tendangannya ini memperlambat gerak Mo Hun sehingga sebelum pian kelabang melayang kembali, Siok Bun sudah keburu menyambar kembali gaetannya yang tadi terlempar dan dapat bersiap untuk mempertahankan diri, Ia mengerling ke arah Lee Ing yang masih pringisan karena kakinya sakit sekali menendang pantat kakek itu, lalu berkata.
"Nona, kau baik sekali..."
"Siapa yang baik? Kaulah yang terlalu baik. Lebih baik lekas lari sebelum nyawamu dicabut pula. Kakek ini jahanam benar!"
Jawab Lee Ing.
Akan tetapi, mana Siok Bun mau lari?
Diapun seorang pemuda yang berjiwa gagah perkasa tak kenal arti takut dalam membela kebenaran.
Tadi ia melihat sendiri betapa gadis itu biarpun kepandaiannya tidak seberapa, telah berani menentang kakek iblis itu untuk membantu dan menolongnya, bagaimana sekarang dia mau lari meninggalkan gadis itu seorang diri menghadapi kakek iblis yang lihai ini?
Dengan gerakan cepat kembali Siok Bun menggerakkan gaetannya menyerang.
Akan tetapi ia berlaku amat hati-hati.
Kini tidak berani sembarangan mengadu senjatanya dengan senjata aneh dari Toat beng-pian Mo Hun.
la mengerahkan seluruh ginkangnya dan mengandalkan kelincahannya untuk menyerang sambil mempertahankan diri.
Di lain flhak, Mo Hun menghadapi pemuda itu seperti seekor kucing menghadapi tikus.
Ia tak pernah menggeser kaki, hanya berdiri menyeringai dan setiap kali gaetan datang menyambar, ia menangkis dan berusaha untuk melibat gaetan itu dengan pian kelabangnya.
Biarpun ia berlaku lambat dan tenang-tenang seenaknya saja, namun payahlah Siok Bun untuk maju.
Angin pukulan pian yang menyambar-nyambar dahsyat cukup membuat ia terhalang dan serangan-serangannya tidak ada artinya, bahkan beberapa kali hampir saja gaetannya terlibat dan terampas lagi.
"Ha-ha-ha, nona cilik. Kau lihat saja tingkah pemuda goblok ini. Kepandaiannya tidak ada artinya akan tetapi berani dia mengganggu Toat-beng-pian Mo Hun. Ha-ha-ha, biar dia keluarkan semua peluhnya dulu baru kuambil kepalanya agar otaknya tidak berbau keringat!"
Sungguhpun kepandaian Lee Ing masih terlampau rendah untuk dapat menilai pertempuran itu, namun dengan otaknya yang cerdik begitu melihat sikap Mo Hun, tahulah dia bahwa pemuda tampan itu bukan lawan kakek sakti ini.
"Tahan dulu"
Serunya nekat sambil melompat di depan Mo Hun. Kakek ini terpaksa menahan senjatanya.
"Aku mau bicara sebentar dengan dia!"
Dengan enaknya Lee Ing menghentikan dua orang yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya dari pertempuran, benar-benar hal yang lucu dan aneh.
Lee Ing menghampiri Siok Bun yang juga terheran-heran.
"Kau baik sekali, siapa sih namamu?"
Melihat sikap polos gadis berpipi merah ini, makin terharu dan tertariklah hati Siok Bun. la harus membela mati-matian, tidak boleh gadis seperti ini dikorbankan kepada manusia iblis macam Mo Hun.
"Aku bernama Siok Bun, nona...."
"Aku Lee Ing. Souw Lee Ing anak tunggal Souw Teng Wi."
Pemuda itu kelihatan terkejut sekali mendengar disebutnya nama pahlawan besar ini, saking herannya ia sampai tidak dapat berkata apa-apa.
"Siok Bun. kau percayalah kepadaku, kau tidak akan menang melawan iblis jahat ini. Lebih baik kau lekas lari menyelamatkan diri."
"Aku harus melindungimu. nona, biarpun harus mengorbankan nyawa."
Ucapan ini keluar dari hati pemuda itu karena begitu mendengar bahwa nona ini puteri Souw Teng Wi, ia menjadi makin kagum dan tertarik.
"Bodoh, dari pada kita dua-duanya mampus, lebih baik seorang saja. Kelak kalau bertemu dengan ayah, katakan bahwa aku mati di tangan iblis busuk bau. bangkai Mo Hun. Nah, kau pergilah cepat!"
Namun Siok Bun tetap tidak mau pergi.
Sementara itu.
Mo Hun yang mendengarkan percakapan ini, tertawa menyeringai penuh ejekan.
Tiba-tiba pian kelabangnya berdetak di udara dan di lain saat ujung pian sudah melihat pinggang Lee Ing dan sekali disentakkan, tubuh nona itu sudah tergulung dan tertarik ke dalam kempitan lengan kirinya lagi.
Benar-benar hebat sekali kepandaian Mo Hun.
Pian itu penuh duri meruncing di kanan kiri, duri-duri yang amat runcing dan tajam.
Akan tetapi dapat digunakan untuk melibat pinggang gadis itu tanpa melukainya.
Hal ini membutuhkan Iweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi baru dapat orang melakukan hal itu.
Namun Siok Bun tidak kenal takut dan senjata kauw-nya sudah bergerak lagi mengeluarkan sinar putih.
"Sekarang roboh kau!"
Mo Hun membentak dan piannya menangkis dengan tenaga sepenuhnya.
Terdengar suara keras karena Siok Bun tidak berhasil menarik kembali senjatanya sehingga gaet-an itu kena digempur terlepas dari pegangannya.
Pian menyambar lagi ke arah leher pemuda itu yang cepat melompat mundur hampir dua tombak jauhnya.
Namun mana Mo Hun mau melepaskannya.
Dengan lompatan seperti harimau melompat, kakek ini mengejar dan piannya menyambar lagi.
Sekali lagi dengan susah payah Siok Bun mengelak dengan jalan melempar diri ke atas tanah dan bergulingan.
Hanya satu dim terpisahnya pian itu dari leher.
"Ha-ha-ha, kau boleh juga. Dua kali dapat menghindarkan pian-ku, akan tetapi sekali lagi kepalamu pasti putus!"
Toat-beng-pian Mo Hun memutar-mutar pian kelabang di atas kepalanya, kakinya cepat melompat mendekat, sedangkan Siok Bun mencoba untuk melompat menjauhi. Pada saat itu, tiga sinar merah menyambar.
"Traang traanggg. .!"
Tiga buah senjata rahasia Ang-lian-ci terpukul oleh pian kelabang, pecah berantakan di atas tanah.
Akan tetapi serangan ini menyelamatkan nyawa Siok Bun karena tadi pian itu tidak jadi menyerang pemuda itu melainkan ditarik kembali untuk mcnyampok senjata rahasia.
Menyusul sinar merah ini, dua sinar putih meluncur cepat menyerang Toat-beng-pian Mo Hun.
Inilah sepasang gaetan di tangan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui yang bersama isterinya pelepas senjata rahasia tadi sudah berada di situ.
Melihat ayah bundanya sudah datang, dengan girang Siok Bun lari mengambil gaetannya yang tadi terlempar, kemudian ia membantu ayah bundanya mendesak Mo Hun.
Ternyata bahwa suami isteri gagah ini dalam perjalanan kembali ke Peking, kebetulan sekali mengambil jalan ini dan tepat dapat menyelamatkan nyawa putera mereka dari jangkauan maut Seperti ketika turun dari bukit batu karang menara, kini Mo Hun menghadapi keroyokan Siok Beng Hui seanak isteri.
Biarpun kepandaian Mo Hun masih lebih tinggi, namun ia tidak ada nafsu untuk bermusuhan dengan keluarga gagah ini.
Apa lagi Ang-lian-ci yang bertubi-tubi dilepas oleh nyonya Siok Beng Hui benar-benar merupakan bahaya.
Oleh karena itu selelah memutar piannya sehingga tiga orang lawannya terpaksa melompat mundur, sambil mengeluarkan suara ketawa panjang Toat-beng-sin-pian Mo Hun melarikan diri.
Tiga orang itu tidak dapat mengejarnya, karena memang dalam hal ilmu lari cepat, Mo Hun masih menang setingkat dari Siok Beng Hui.
sedangkan ilmu silatnya masih jauh lebih unggul.
Kalau saja Siok Beng Hui maju sendiri tanpa bantuan isterinya yang selain ahli senjata rahasia Ang-lian-ci juga seorang ahli pedang yang tidak rendah kepandaiannya, tentu pendekar she Siok itu tidak akan dapat menandinginya.
Kembali Lee Ing dibawa lari cepat oleh Mo Hun.
Akan tetapi gadis ini sekarang agak terhibur mengingat bahwa Siok Bun.
pemuda yang gagah tampan dan baik hati itu, selamat dan tentu pemuda itu kelak akan membalaskan sakit hatinya dan menyampaikan kepada ayahnya sehingga iblis tua ini akan terbalas.
"Pengecut, menghadapi musuh kuat melarikan diri. Cih, tak tahu malu!"
Kembali ia mengejek.
Lee Ing sudah putus harapan untuk dapat menyelamatkan diri.
Dia sama sekali tidak takut mati, biarpun nanti kepalanya dipecah dan otaknya dimakan, gadis keturunan pahlawan ini tidak gentar menghadapi maut.
Yang membuat ia gelisah dan meremang bulu tengkuknya adalah sikap Mo Hun yang agaknya suka kepadanya.
Bahaya ini jauh lebih besar dari pada bahaya maut, dan gadis ini maklum bahwa di tangan iblis ini, ia selemah lilin, tidak berdaya apa-apa.
Oleh karena itu ia sengaja memancing-mancing kemarahan iblis ini agar dia lekas dibunuh, habis perkara, tidak menanggung kegelisahan yang hebat ini.
Kali ini Mo Hun menjawab sambil masih tetap berlari.
"Siapa takut? Aku hanya tidak mau melepaskan kau. Kalau tidak ada kau yang merepotkan tentu mereka bertiga sekarang sudah menjadi setan-setan tanpa kepala. Ha-ha-ha!"
"Hemmm, hanya menyombong saja pandai! Beraninya hanya menghina anak kecil seperti aku. Coba kau bertemu dengan ayah, kutanggung dalam sepuluh jurus kau akan terjungkal dan pian bobrokmu itu patah-patah menjadi selusin!"
"Tidak mungkin!"
Kini Mo Hun berhenti dan melepaskan Lee Ing.
"Tidak percaya? Coba saja! Ayah baru seorang jantan gagah perkasa, tidak sudi menghina perempuan kecil. Pantas saja kau berani kepadaku, seorang bocah yang tidak berkepandaian. Coba ada ayah di sini, kau diganyang habis dalam sepu..... eh tidak, dalam tujuh jurus saja!"
Memang Lee Ing pandai bicara dan sikapnya begitu sungguh-sungguh sehingga Mo Hun terkena bakarannya dan menjadi panas perutnya.
"Kau bohong! Aku mendengar Souw Teng Wi itu murid Kun-lun-pai biasa saja, hanya terkenal berani dan pandai mengalur barisan. Apanya yang lihai?"
"Hah, orang macam kau mana mengenal ayah? Ketika aku masih kecil, aku menyaksikan sendiri betapa seribu orang tentara Mongol diganyang habis oleh ayah seorang diri dalam waktu kurang dari setengah hari saja. Kau mampu berbuat begitu?"
Mo Hun tertegun.
Hebat juga, pikirnya.
Dia ini memang hanya pandai silat, otaknya tidak dapat dikata cerdik, bahkan mendekati tolol.
Kalau tidak manusia tolol, mana ada meyakinkan ilmu yang syaratnya harus makan otak manusia?
Kini ia mulai terpengaruh oleh "gertak sambal"
Lee Ing.
"Betul demikian lihaikah Souw Teng Wi ayah-mu itu? Lihai mana dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui tadi?"
Tanyanya untuk mencari perbandingan. Lee Ing masih ingat akan ucapan Mo Hun yang tadi bersumbar tidak takut menghadapi sepuluh orang Siok Beng Hui, maka tanpa ragu ragu ia menjawab.
"Kau maksudkan laki-laki setengah tua bertopi batok bersenjata kaitan tadi? Uhh! Dua puluh orang seperti dia masih dapat dilawan oleh ayah dengan sebelah tangan kiri saja."
Mo Hun benar-benar terpukul oleh ucapan sombong ini. Dicabutnya pian kelabangnya, diayun ke atas berkali-kali.
"Tar-tar-tar!"
Hawa dingin pian ini menyerempetnya.
Pian itu bergerak terus, kadang-kadang menyambar tanah, debu mengebul tinggi.
Menyambar pohon sebesar tubuh manusia, dengan suara keras pohon itu tumbang!
Akhirnya menyambar ke arah sebuah batu besar di pinggir jalan.
Terdengar suara keras disusul oleh bunga api berhamburan dan......
batu itu telah pecah di tengah!
Ngeri juga hati Lee Ing menyaksikan kehebatan ilmu silat semacam ini.
Akan tetapi gadis ini tertawa bergelak dengan suara nyaring.
"Tak mungkin ayahmu dapat melawan pian-ku. Tak mungkin!"
Seperti orang gila Mo Hun marah-marah dan kakinya mencak-mencak dibanting di atas tanah.
"Huh. pian bobrokmu ini hanya bisa untuk menakut-nakuti anjing dan babi. Tentu saja aku anak kecil tidak menang melawannya, jangan melotot macam itu kepadaku. Akan tetapi bagi ayah, yang kau perlihatkan tadi hanya mainan anak kecil belaka!"
"Bohongi Aku tidak percaya!"
Mo Hun membentak marah.
"Tidak percaya? Coba kau hadapi ayah kalau minta dibeset kulitmu."
"Mana.....? Mana dia.....? Suruh ke sini!"
Tantang Mo Hun.
Pada saat itu terselip sebuah akal yang cerdik dalam kepala Lee Ing.
Biarpun dia sudah tidak mempunyai harapan terlepas dari iblis ini, akan, tetapi kalau waktunya diperpanjang, mungkin sekali waktu ia akan dapat mengakali kakek bodoh ini.
"Betul-betul kau berani kepada ayahku? Mari kuantar menjemputnya."
Tiba-tiba pian yang masih diayun-ayunkan itu berhenti, mata Mo Hun menyinarkan cahaya aneh.
Dia memang sedang mempertimbangkan permintaan Tok-ong Kai Song Cinjin untuk membantu Auwyang-taijin dan kata Tok-ong, kalau dia bisa menangkap Souw Teng Wi dan menyeretnya kehadapan Auwyang-taijin, tentu ia akan mendapat hadial besar dan mungkin pangkat tinggi.
Kini mendengar bahwa gadis ini hendak membawanya kepada Souw Teng Wi, tentu saja ia menjadi tertarik dan penuh perhatian.
"Gadis bernyali naga, betul-betulkah kau mengetahui di mana tempat tinggal ayahmu sekarang? Ke mana kau hendak membawaku menjumpai ayahmu?"
"Kalau kau memang jantan dan betul-betul berani bertempur melawan ayah, kau tentu tidak akan segan melakukan perjalanan jauh. Ayah tinggal di sebuah pulau kosong di laut timur."
"Di pulau kosong yang mana? Pulau apa itu dan di mana? Ada ribuan pulau di laut timur."
Tentu saja Lee Ing tidak tahu pulau apa itu karena dia sendiripun hanya mengarang saja dan selama hidupnya belum pernah melihat laut, hanya mendengar dongeng kakeknya.
Akan tetapi ia tahu bahwa sungai-sungai besar memuntahkan airnya di laut timur, maka tanpa ragu-ragu dan dengan sikap sungguh-sungguh ia menjawab.
"Pulau itu letaknya tidak jauh dari pantai, dekat muara Sungai Huang-ho. Nama pulau kosong itu tentu saja menurut nama keturunan ayah, Souw-eng-to (Pulau Pendekar Souw)"
"Bagus, mari kita pergi mengunjungi ayahmu!"
Kata Mo Hun yang cepat mengempit Lee Ing dan membawanya lari cepat menuju ke Sungai Hoang-ho Berhari-hari, bahkan berpekan-pekan mereka melakukan perjajanan.
Dengan akal bulusnya lee Ing dapat membuat kakek itu percaya, bahkan kakek itu berjanji takkan mengganggunya sebelum bertanding dengan Souw Teng Wi.
"Kalau ayah sampai kalah olehmu, benar-benar kau seorang jantan yang gagah luar biasa dan aku akan suka menjadi apa saja yang kau inginkan. Jadi muridmu, atau isterimu, atau... menyerahkan otakku dengan suka rela, tentu takkan membantah lagi."
Bukan main girangnya hati Toat-beng-pian Mo Hun mendengar janji ini.
Akhirnya mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho yang airnya sedang pasang.
Mo Hun mencari tempat nelayan, membunuh seorang nelayan tua dan merampas perahunya yang masih baru dan besar, kemudian sambil mengempit tubuh Lee Ing ia melompat ke dalam perahu dan perahu itu hanyut terbawa aliran sungai yang deras.
Mo Hun tidak pandai berlayar, akan tetapi kalau mengatur jalannya perahu yang sudah hanyut terbawa arus itu, tenaganya cukup besar.
Berhari-hari mereka berlayar.
Kadang-kadang mendarat untuk mencari buah-buah atau binatang hutan.
Dengan penuh kesabaran Lee Ing memasak daging untuk mereka berdua, setiap saat tidak lengah untuk menjaga diri dan untuk mencari lubang guna menyelamatkan diri.
Namun kakek itu biarpun bodoh tahu pula bahwa ia tidak boleh lupa menjaga agar gadis itu jangan lari.
Makin lama kakek ini makin tertarik oleh Lee Ing, makin tergiur oleh kecantikan aseli gadis ini.
Sudah bertahun-tahun dia tidak perduli akan kecantikan wanita lagi, akan tetapi sekarang, berpekan-pekan dekat dengan Lee Ing membangkitkan cintanya terhadap wanita muda ini.
Bukan cinta suci, melainkan cinta seorang berwatak rendah, cinta yang terdorong oleh nafsu.
Pada suatu malam mereka tiba di dekat muara, hanya beberapa li saja dari laut.
Kebetulan udara bersih, bulan purnama menyinarkan cahayanya yang lembut.
Air mengalir tenang dan angin sejuk menyegarkan badan.
Entah karena angin itu, entah karena pengaruh bulan yang katanya dapat membangkitkan nafsu binatang dalam diri manusia, sejak tadi Mo Hun memandang kepada Lee Ing penuh gairah.
Yang dipandang bukan apa-apanya, melainkan kepalanya.
Salahnya pada saat itu Lee Ing sedang menyisiri rambutnya, sehingga bentuk kepala yang indah, kulit kepala keputih-putihan nampak di antara rambut, membuat penyakit Mo Hun kambuh pula.
Penyakit selera makan otak wanita muda.
"Lee Ing...kepalamu bagus sekali."
Suaranya serak, membuat Lee Ing kaget bukan main.
Sudah lama setan itu tidak pernah mengeluarkan suara seperti ini.
Cepat Lee Ing menggulung rambutnya lagi dan dari bawah ia melirik ke arah kakek itu.
Bulan purnama memancarkan cahaya sepenuhnya sehingga ia dapat melihat betapa wajah kakek itu berseri, matanya berapi-api mengerikan dan mulutnya meneteskan air liur!
"Orang tua.
tunggu sampai kau bertemu dengan ayahku.
Sudah dekat dengan laut dan sebentar lagi tentu kau akan bertemu dengan dia!"
Katanva memperingatkan.
Akan tetapi agaknya iblis malam yang katanya suka muncul melalui cahaya bulan, sudah menguasai hati kakek ini.
la menubruk dan sebelum Lee Ing dapat menghindarkan diri, tangannya sudah disambar dan ditarik.
Di lain saat, kakek itu sudah membelai-belai rambut dan kepala Lee Ing, nampaknya sudah tidak tahan lagi hendak segera menggerogoti kepala itu.
Merasa betapa kuku-kuku jari tangan itu mencengkeram kepalanya menimbulkan rasa nyeri, Lee Ing sibuk bukan main.
""Locianpwe, kau...kau mau apakah.....?"
"Ha-ha-ha, aku tak tahan lagi, anak manis. Sudah tercium olehku otakmu yang manis, yang gurih, yang menyegarkan badan. Sudah terlalu lama aku tidak makan otak... ha-ha-ha!"
"Locianpwe, ingat Ayah setiap saat akan muncul!"
Ucapan ini ada pengaruhnya juga.
Toat-beng-pian Mo Hun memandang ke kanan kiri dan air sungai kini mulai berombak-ombak, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu.
Ia tertawa dan mengangkat muka gadis itu untuk diejeknya bahwa gadis itu telah membohonginya, akan tetapi begitu melihat wajah gadis itu, melihat bibir yang kemerahan, melihat mata yang bening, melihat kecantikan Lee Ing, sikapnya berubah lagi.
"Kau cantik....cantik manis....sayang kalau dibunuh. Kau patut menjadi isteriku... ha-ha, kau cantik manis...!"
Seketika wajah Lee Ing menjadi pucat sekali.
Kengerian kali ini hampir membuatnya pingsan.
Jari-jari tangan itu tidak lagi mencengkeram kepalanya, kini mulai membelai-belai rambutnya, mukanya digerayangi dengan sikap halus.
Mata kakek itu bercahaya lembut, mulut yang mengerikan itu tersenyum iblis.
Lee Ing lebih takut dari pada tadi.
Lebih baik kepalanya dipecahkan dan otaknya dimakan dari pada ia dijadikan isteri kakek iblis macam ini.
Secepat kilat Lee Ing meronta, mempergunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Haminto Losu.
Bagaikan seekor belut, gadis ini berhasil melepaskan pelukan kakek itu.
Bukan karena ia lebih kuat, melainkan karena Toat-beng-pian Mo Hun memang sengaja melepaskannya, untuk mempermainkannya seperti tikus dipermainkan kucing.
Di perahu sekecil itu di tengah sungai, hendak lari ke manakah?
"Ha-ha-ha, manisku!
Jantung hatiku, jangan kau menggoda.
Kau hendak lari ke manakah?
Mari, ke sinilah, Lee Ing...!"
Suara Mo Hun ini seperti pisau mengiris-iris jantung, membuat tubuh Lee Ing menggigil Hampir saja gadis ini tidak kuat melakukan hal yang sudah lama direncanakan.
Ketika itu perahu mulai cepat jalannya, dan air mulai berombak.
Ketika ia melihat kakek itu bangkit dan bayangannya di atas perahu nampak besar dan panjang, siap hendak menubruknya, tiba-tiba Lee Ing mengerahkan seluruh tenaganya menekan pinggiran perahu sambil terus menyebur ke dalam air.
"Byuurrr....!"
Perahu itu terbalik tak dapat dicegah lagi, biarpun Mo Hun sudah berusaha menekan keseimbangan perahu.
Di darat kakek ini boleh jadi kuat bukan main, namun di air tidak berdaya.
Ia tidak dapat mencegah perahunya terbalik, akan tetapi kakek ini memang lihai bukan main.
Cepat ia dapat menyambar dayungnya dan melompat ke atas.
Melihat perahu itu timbul kembali dalam keadaan terbalik, ia melompat turun di atas perahu sambil memaki-maki.
"Bocah setan, apa kau mencari mati menjadi setan air?"
Serunya sambil memukul-mukul dengan dayungnya ke kanan kiri sehinga air muncrat tinggi-tinggi.
Kalau dayung itu mengenai Lee Ing, tentu akan pecah kepala gadis itu.
Akan tetapi Lee Ing sudah lebih dulu menyelam.
Tidak tahunya di bawah permukaan air terdapat arus yang amat kuat dan cepatnya sehingga tubuh gadis itu terbawa arus ke depan.
Memang belum nasib Lee Ing untuk terjatuh ke dalam tangan kakek iblis ini.
Dalam saat itu, ketika Mo Hun sedang mencari-cari dengan matanya, tiba-tiba ada awan menutupi bulan sehingga ketika Lee Ing timbul ke permukaan air untuk mengisap hawa, keadaan demikian gelap dan kakek itu tidak dapat melihatnya.
Arus makin santer.
Tubuh Lee Ing terbawa aliran air terus ke laut!
Adapun Toat-beng-pian Mo Hun yang merasa tertipu, dengan marah mendayung perahu terbalik itu ke pinggir dan melompatlah ia ke darat sambil menyumpah-nyumpah.
Dari darat ia melihat-lihat kalau gadis itu timbul, akan tetapi jaraknya sudah terlampau jauh sehingga ia tidak melihat Lee Ing lagi.
Ia membanting-banting kakinya lalu pergi cepat-cepat dari tempat itu.
Bagaimana dengan Lee Ing?
Malang baginya, arus sungai yang terjun ke laut membawanya ke tengah dan ombak besar menerima tubuhnya, dipermainkan, diayun ke sana ke mari, dibanting ke kanan ke kiri, gadis itu kehabisan tenaga dan payah sekali!
Baiknya ia di utara dulu pernah belajar berenang sehingga ia masih dapat mempertahankan diri tidak sampai tenggelam.
Setelah melalui enam propinsi besar-besar, berliku-liku naik turun gunung dan menempuh jarak puluhan ribu lie, Sungai Huang-ho atau Sungai Kuning akhirnya menumpahkan airnya di laut Po-hai.
Setiap hari banyak sekali air dimuntahkan sungai itu ke dalam laut, tak pernah berhenti beratus, beribu tahun lamanya.
Tidak hanya Sungai Huang-ho, masih banyak ratusan batang sungai besar kecil menumpahkan airnya ke dalam laut.
Terus mengalir tiada hentinya.
Namun laut tak pernah terlalu penuh, tidak pernah meluap sampai merendam pulau-pulau.
Aneh benar, sama anehnya dengan sungai-sungai yang tak pernah kehabisan air biarpun airnya terus dibuang ke dalam laut.
Jarang ada orang sudi memusingkan otak memikirkan hal ini.
jarang ada yang mengagumi Pengatur Maha Besar yang mengatur semua ini demikian beres dan lancar.
Dan sama sekali tak mungkin kalau ada orang yang sedang terapung di tengah laut memikirkan hal itu.
Akan tetapi benar-benar ada orang terapung-apung di tengah samudera yang pada saat itu memikir akan semua ini, Dan orang itu adalah Souw Lee Ing, gadis yang berhasil nielepaskan diri dari kekuasaan manusia iblis Toat-beng-pian Mo Hun untuk merelakan diri diterima oleh kekuasaan air laut yang ganas.
Tadinya ia lelah bukan main dan sudah hampir habis harapan untuk hidup, dipermainkan oleh ombak laut yang menggelora.
Pada saat tubuhnya dihempaskan ke kanan kiri bagaikan sehelai daun ringannya, tiba-tiba betisnya terasa sakit tertumbuk sebilah papan kayu tebal.
Cepat Lee Ing menerkam kayu ini dan selanjutnya ia dapat bernapas lega.
Papan itu merupakan penolong nyawanya, penolong sementara sebelum ia ditelan ombak memasang.
Baiknya air laut mulai tenang dan ia memeluk papan itu melepaskan lelah, membiarkan dirinya dibawa hanyut oleh papan sambil...
melamun!
Lee Ing seorang gadis yang berhati baja, tabah dan ia dapat menghadapi maut tanpa berkedip mata.
Gemblengan kakeknya, Haminto Losu bukan percuma, kakek ini menempa dan menggemblengnya menjadi seorang gadis remaja yang berhati baja bersemangat gagah perkasa sungguhpun tingkat ilmu silatnya masih jauh untuk membuat ia patut disebut wanita gagah perkasa.
Selain ketabahan, pada dasarnya Souw Lee Ing berwatak periang, memandang dunia dan sudut terang, selalu bergembira dan dalam segala hal masih dapat mengecap kenikmatan kejadian itu, masih dapat menemukan "untung"
Dalam semua peristiwa, sungguhpun bagi orang lain tak mungkin ada keuntungan itu.
Sebagai contoh, biarpun dirinya sudah tak berdaya, berada di tengah laut yang tidak kelihatan tepinya, tak diketahui bagaimana nasib dirinya selanjutnya, namun mendapatkan sebatang papan itu Lee Ing masih merasa beruntung!
Untung ada papan ini, pikirnya gembira lahir batin, sama sekali lupa akan "rugi"
Yang dideritanya, yakni diombang-ambingkan di tengah samudera tanpa harapan tertolong.
Tidak mengherankan apa bila seorang dara seperti Lee Ing dapat melamun dan memikirkan tentang keanehan alam.
Tentang air sungai yang tiada habisnya mengalir ke laut, tentang laut tidak menjadi penuh walau menerima tumpahan air dari ratusan sungai.
Pernah ia diceritai oleh Haminto Losu bahwa air sungai terjadi dari pada hujan dan air hujan adalah penjelmaan dari pada air laut.
Jadi kalau air sungai tertumpah semua ke dalam laut, sama halnya dengan "kerbau pulang ke kandang"
Lee Ing adalah seorang gadis sederhana, tidak terpelajar seperti gadis-gadis jaman sekarang yang mendapat pelajaran tentang ilmu alam, mana ia dapat mengerti akan "kesederhanaan"
Peristiwa ini? Dianggapnya hal itu ajaib dan membuat ia makin kagum kepada Yang Maha Kuasa.
"Yang mengatur semua itu adalah Thian (Tuhan),"
Biasa Haminto Losu memberi penjelasannya.
"Juga yang mengatur jalannya matahari bulan dan bintang di langit, yang mengatur segala benda, hidup atau mati. Mengapa burung yang bersayap dan bukan ikan? Mengapa ikan yang hidup di air dan bukan manusia? Semua ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Juga hidup kita ini sudah ditentukan dan diatur, kita hanya tinggal menjalani saja. Oleh karena itu Lee Ing, dalam segala hal, kita harus menyerahkan nasib sebulatnya kepada Tuhan sebagai penentu dan pemutus terakhir di atas segala daya upaya dan ikhtiar, kita sebagai manusia hidup yang berakal budi."
Dalam keadaan tak berdaya itu, semua kata-kata Haminto Losu mengiang ke dalam telinganya, membuat Lee Ing berbesar hati.
Gadis ini memandang ke sekelilingnya.
Air, air dan air, tidak kelihatan tepi laut, yang nampak hanya buih buih air dan kepala ombak keputih-putihan seperti iblis-iblis mengerikan mengelilingi dirinya.
"Aku tidak takut,"
Katanya keras kepada buih dan kepala ombak yang kadang-kadang membentuk benda aneh seperti binatang atau setan.
"seperti juga aku, kalian semua inipun terjadi karena kekuasaan Thian. Aku tidak takut Aku masih hidup dan aku akan berusaha sedapatku sebelum menyerah kepada maut!"
Benar-benar hebat gadis ini.
berani menantang maut seperti itu dalam keadaan yang sudah tidak berdaya sama sekali.
Tiba-tiba kakinya tersentuh sesuatu yang bergerak dan kuat.
Perasaan, dan otak gadis ini bekerja cepat.
Dengan sigap ia menarik kedua kakinya dan melompat ke atas papan.
Baiknya ia berlaku cepat karena seekor ikan besar dua kali dirinya menyambar lewat dekat papan dengan moncong dibuka lebar-lebar, membuai air berombak dan papan terdorong jauh.
Lee Ing tidak menjadi takut melihat ikan besar ini, bahkan ia tertawa-tawa sambil berkata.
"Hi-hi, ada makanan datang! Terima kasih kakek laut atas antaranmu daging empuk, memang perutku lapar bukan main!"
Ia lalu menggerak-gerakkan tangannya ke dalam air di dekat papan untuk menarik perhatian ikan itu.
Betul saja, ketika ikan itu melihat tangan Lee Ing bergerak-gerak di dalam air, ia berenang kembali dan menyambar dengan mulut terpentang lebar "Prakk!"
Secepat kilat Lee Ing membalikkan tangannya dan menghantam kepala ikan itu dengan kepalannya yang kecil tetapi keras seperti baja.
Ikan itu terputar-putar di dalam air, menyabet-nyabet dengan ekornya membuat air mengalun tinggi dan hampir saja papan yang ditumpangi Lee Ing terbalik.
"Ha. enak ya pukulanku?"
Lee Ing "mendayung"
Papan dengan tangan kirinya mendekati ilkan yang masih "pening", mencari kesempatan baik lalu kembali tangannya bergerak.
Kini ia telah mencabut saputangan pembungkus rambutnya yang panjang.
Saputangan ini setelah terkena air laut dan kering kembali, menjadi kaku.
Di dalam tangan Lee Ing yang sudah melatih diri dengan tenaga Iweekang, saputangan itu merupakan senjata yang cukup kuat.
Saputangan diayun, menjadi kaku seperti penggada dan "krakkl"
Kembali kepala ikan dihantam, sekarang lebih keras dari pada tadi.
Pecahlah kepala ikan itu dan binatang yang sial ini berputaran sebentar, air menjadi merah terkena darah.
Akan tetapi alangkah kecewa hati Lee melihat tubuh ikan itu tenggelam.
"Sialan!"
Gerutunya.
"Makanan tinggal memasukkan mulut menghilang."
Tiba-tiba ia melihat sirip-sirip ikan bergerak cepat sekali dari depan.
Ternyata itulah serombongan ikan hiu, ikan liar yang haus darah.
Mau tidak mau Lee Ing bergidik melihat ini.
Hiu yang panjangnya rata-rata dua meter ini kalau mengeroyoknya.
tentu akan dirobek-robek dan dibagi-bagi oleh mereka.
Baiknya hiu itu datang karena bau darah ikan yang telah dibunuhnya, maka mereka menyerbu ke bawah dan sebentar saja tubuh ikan besar tadi telah dibuat bancakan (dikeroyok dan dimakan).
Kepingan-kepingan daging ikan bercampur darah timbul ke permukaan air.
Lee Ing timbul juga kegembiraannya melihat daging putih kemerahan yang terapung di dekat papan.
Akan tetapi sebentar saja ikan-ikan hiu itu timbul kembali dan menyambari potongan-potongan daging itu.
"Haya.... hayooo.... binatang-binatang gembul. Jangan habiskan sendiri, dong..!"
Lee Ing cepat menyambar segumpal daging yang cukup besar, mendahului moncong ikan yang sudah menyambar pula.
"Ayaa, tidak kena, bung! Kau sudah cukup kenyang, bagi sedikit untuk nonamu, mengapa sih?"
Sambil tertawa-tawa Lee Ing memandang ikan yang berenang ke sekeliling "perahunya"
Kemudian ia membawa daging itu ke mulutnya terus digigit sepotong dan dikunyah.
Mula-mula ia mengunyah dengan penuh nafsu dan selera karena perutnya memang sudah amat lapar, akan tetapi begitu daging yang dikunyah itu dimasukkan tenggorokan, kontan ia muntah-muntah.
Rasa manis tercampur bau amis membuainya muntah-muntah.
Akan tetapi ia dapat berpikir panjang.
Keadaannya sudah cukup menderita dan berbahaya sekali, kalau ditambah lagi dengan perut kosong dan kelaparan, harapan tertolong makin tipis.
Dengan nekat Lee Ing meramkan mata dan kembali ia menggigit daging besar yang masih dipegangnya, lalu tangan kirinya memencet hidung dan daging itu dikunyah cepat terus ditelannya begitu saja.
Sebelum habis segumpal besar daging itu memasuki perutnya, belum dilepasnya hidung yang dipencet, baru setelah ia mengambil air laut dengan sendokan tangan kanan dan diminumnya ia melepaskan pencetan hidungnya.
Dengan cara demikian barulah ia dapat makan daging ikan mentah itu.
Penciuman memegang peranan penting bagi rasa.
Dengan memencet hidung, rasa yang tidak enak akan lenyap sebagian besar.
Akan tetapi setelah perutnya diisi, ia menghadapi kesukaran lain.
Minum air laut membuat tenggorokannya menjadi kering dan tidak enak sekali.
Rasa haus mengganggunya dan membuat leher serasa tercekik.
Lee Ing menjadi kelabakan dan bingung sekali.
Akan tetapi dasar ia memang tabah dan selalu gembira.
Ia menghibur rasa yang amat tidak enak ini dengan berjenaka.
Memandang ikan-ikan hiu yang berenang ke sana ke mari nampak segar itu.
ia berkata.
"Ya Tuhan, alangkah senangnya menjadi ikan. Pada saat sekarang ini aku akan berterimakasih sekali kalau dijadikan ikan...!"
Sifatnya yang gembira menolong banyak.
Betapapun payah keadaannya, dengan sifat periang ini tidak begitu menekan hati.
Berhari-hari Lee Ing hidup dalam keadaan amat sengsara di atas papan itu.
Yang paling hebat mengganggunya adalah panas terik matahari dan rasa dahaga yang mengamuk, dapat ia puaskan dengan minum air laut.
Bahkan sekarang ia sama sekali tidak berani minum air laut karena setiap kali ia minum tenggorokannya makin sakit tercekik rasanya.
Agaknya Thian belum menghendaki Lee Ing tewas di situ.
Buktinya, pada hari ke tiga selagi gadis ini sudah empas-empis seperti ikan dilempar di darat saking hausnya, mendung yang sudah lama membubung di udara itu pecah menjadi air hujan.
Lee Ing menari-nari di atas papannya sampai hampir ia terguling kalau ia tidak buru-buru mengatur keseimbangan tubuhnya.
Terguling di air di antara sekelompok ikan hiu itu sama dengan memberi umpan!
Berhari-hari itu ikan hiu tetap membuntuti papan, agaknya siap menanti!
saatnya makanan empuk ini tergelincir ke air.
Sambil tertawa sampai keluar air matanya Lee Ing menerima air hujan dengan mulut dan tangannya dan minum sepuas hatinya, mandi sampai basah kuyup.
Akan tetapi hujan tiada hentinya dan sebentar saja suasana menggembirakan itu berubah menjadi mjenyedihkan ketika datang badai mengamuk.
Cuaca menjadi gelap sekali, air bergelombang.
makin lama makin tinggi dan dahsyat.
Papan kecil mulai terayun-ayun, dipermainkan secara hebat, dilempar ke sana ke mari seperti sebuah bola kecil dibuat main-main oleh banyak anak nakal.
Lee Ing sudah memeluk papannya lagi erat-erat, kepalanya pening, seluruh tubuh sakit-sakit dan mata tak dapat dibuka karena gempuran air laut membuat matanya sakit dan perih.
Kalau Lee Ing tidak memiliki kekerasan hati yang luar biasa sekali, tentu ia telah direnggut terlepas dari papannya yang berarti maut baginya.
Akan tetapi gadis ini benar-benar hebat.
Pelukannya pada papan erat sekali.
Ia maklum sepenuhnya bahwa nyawanya tergantung pada papan itu.
pelukannya demikian erat sehingga andaikata dia mati, kiranya kedua tangannya akan tetap memeluk papan!
Sampai semalam penuh badai mengamuk, membawa papan sampai jauh ke selatan di luar kesadaran Lee Ing.
Gadis itu sudah setengah pingsan.
tubuhnya lemas tak bertenaga lagi, rambutnya awut-awutan dan tangan kanannya sudah terlepas dari papan.
Akan tetapi tangan kirinya masih tetap memeluk papan kuat-kuat, bahkan sudah kaku tangan kiri itu.
Keadaannya menyedihkan sekali.
Melihat dari jauh, orang akan mengira dia itu peri atau dewi laut yang bermain-main dengan ombak, akan tetapi dilihat dari dekat, keadaannya amat menyedihkan.
Kedua matanya meram, napasnya terengah-engah dan rambutnya tidak karuan lagi letaknya.
Masih untung baginya bahwa ikan-ikan juga ketakutan dan tidak berdaya dalam badai hingga tak seekor ikanpun sempat mengganggunya.
Kalau pada saat itu, dalam keadaan tak berdaya dan setengah pingsan, ada seekor ikan hiu saja lewat dekat, tentu binatang itu akan menyambar kaki Lee Ing yang tenggelam dalam air.
Akan tetapi semua ikan bersembunyi jauh jauh di dasar laut.
Timbulnya Matahari pagi menenangkan laut, agaknya mengusir kekuatan-kekuatan gaib yang mengguncang dan mengamuk semalam suntuk itu.
Air laut menjadi tenang, hanya bekas amukan itu masih tampak dengan adanya keriput-keriput pada permukaan laut dan kadarig-kadang ada pula pertemuan keriput air yang menimbulkan percik air membusa keputihan ke atas.
Lee Ing masih setengah pingsan memeluk papan dengan tangan kirinya.
Kemudian perlahan-lahan ia menggerakkan kepala dan membuka mata Terik matahari pagi menyengat kulit leher dan mukanya, la sadar kembali dan dengan gerakan sukar ia menarik kedua kakinya, duduk di atas papan.
Tangan kirinya yang memeluk papan dan yang semalam suntuk direnggut-renggut oleh ombak diluruskan ke depan Ialu digerakkan perlahan-lahan untuk melemaskan urat-urat yang kaku.
"Heran, aku masih hidup....."
Komentarnya dengan suara berat "Yang berkuasa mengatur ombak laut, kuasa pula melindungi nyawaku. Hebat. ..!"
Tiba tiba pandang matanya tertumbuk pada benda hitam yang menjulang tinggi di tengah laut, tak jauh di sebelah kanannya Benda itu adalah dua buah batu karang yang berbentuk menara.
Dilihat dari jauh tentu dikira menara buatan manusia, akan tetapi sebenarnya batu-batu karang buatan alam.
Girang hati Lee Ing.
Biarpun yang tampak itu bukan sebuah pulau yang subur, akan tetapi jauh lebih aman dari pada papan yang selama beberapa hari ini menjadi kawan dan penolong satu-satunya, la mendayung dengan tangannya, papan meluncur perlahan menuju batu karang.
Mendapatkan batu karang ini, timbul tenaga baru dalam diri Lee Ing.
Ia memanjat dan girang melihat batu karang yang kokoh kuat itu, yang tidak bergeming menghadapi hantaman air mengombak.
Lee Ing tidak melupakan papannya yang telah menolong nyawanya dan menjadi kawannya.
Dibawanya papan itu naik ke atas batu karang.
Memang dalam keadaan seperti itu orang akan memperhatikan hal-ha!
kecil dan remeh, Juga Lee Ing demikian, timbul rasa sayang dan setia kawan dalam hatinya terhadap papan itu.
Sampai tiga hari tiga malam Lee Ing berada di sepasang menara batu karang itu.
Keadaan yang amat tidak enak, akan tetapi bagi Lee Ing yang berwatak periang itu dianggap amat menguntungkan, jauh sekali lebih baik, lebih aman, dan lebih "enak"
Dari pada di atas papan.
Di situ ia bisa tidur nyenyak, bisa berlindung dari terik matahari dengan bersembunyi di dalam celah yang terdapat di antara dua buah menara batu karang, dan dapat menangkap ikan-ikan kecil yang kebetulan lewat dekat.
Di situ ia tidak khawatir akan diganggu dan dibuntuti oleh hiu-hiu yang mengancam.
Biarpun pikirannya tenang dan api kegembiraan hidupnya tak pernah padam, namun Lee Ing tidak pernah lupa untuk memikirkan jalan keluar dari "penjara"
Ini.
Setiap kali ia naik ke puncak batu karang, memandang ke empat penjuru untuk melihat tanda-tanda apakah di dekat situ terdapat pulau atau daratan.
Pada hari ke lima, ketika ia sedang melihat-lihat ke empat penjuru seperti biasa, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan girang, la melihat titik hitam yang makin lama membesar dan mulai kelihatanlah bentuk-bentuk layar.
Sebuah perahu layar.
Benar-benar mengharukan sekali melihat sikap Lee Ing pada saat itu.
Gadis ini kebingungan, dengan gagap-gagap seperti ayam hendak bertelur ia naik turun menara batu karang itu sambil memutar-mutar kain ikat rambutnya dan berteriak-teriak sekuat tenaga.
"Heeeeeiii, tukang perahu... ke sinilah...! Sahhabat baik, putar perahumu ke sini...! Aku hendak ikut...!"
Demikian teriakannya berulang-ulang sambil memutar-mutar kain di tangannya.
Beberapa ekor burung belibis laut sampai kaget dan terbang meninggi.
Tentu rnereka ini kaget dan takut melihat mahluk aneh di atas batukarang itu!
Perahu layar makin mendekat.
Lee Ing berjingkrak-jingkrak di atas batu karang, dibilang tertawa air matanya bercucuran, kalau menangis mengapa suaranya bergelak tertawa.
Saking girangnya gadis ini menangis sambil tertawa.
Baru ia tenang kembali setelah perahu datang dekat dan ia melihat dua orang laki-laki tinggi besar berdiri di dek, memandangnya dengan mata terbelalak.
Dua orang itu yang seorang berusia tiga puluh tahun lebih, yang ke dua sudah lima puluh tahun.
Muka mereka menghitam terbakar panas matahari.
Mereka bukan nelayan, karena pakaian mereka seperti pakaian ahli silat.
"Benarkah apa yang kulihat ini?"
Akhirnya yang tua dapat mengeluarkan kata-kata, suaranya besar dan kasar.
"Seorang gadis muda cantik seorang diri di atas batu karang ini?"
"Entah cantik entah tidak, akan tetapi aku memang seorang gadis muda. Orang tua baik, lekas dekatkan perahumu, aku hendak ikut menumpang ke darat!"
Jawab Lee Ing.
Akan tetapi dua orang yang bertugas sebagai juru mudi itu tidak bergerak mendekatkan perahu, kini yang muda bertanya, suaranya kecil tinggi tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.
"Kau ini siluman, peri atau manusia? Kau wanita muda cantik jelita seorang diri di sini, mana bisa jadi? Jangan-jangan kau siluman ikan...."
Kini tiga orang lain datang ke dek itu, pakaian mereka serupa, seperti pakaian tentara seragam. Melihat Lee Ing, tiga orang inipun bengong terheran.
"Sam-ko, dia itu ikan duyung!"
Seru seorang.
"Mana bisa Ikan duyung tak berbaju, di atas gadis di bawah ikan. Dia itu lengkap gadis dari atas ke bawah, berpakaian pula,"
Bantah yang lain.
"Tentu siluman.... siluman ikan atau siluman ular....."
Lee Ing membanting-banting kaki dengan gemasnya. Pada saat itu terdengar suara keras sekali dan parau dari sebelah dalam "Mengapa haluan perahu diputar? Ada apa ribut-ribut di atas itu?"
Lima orang anak buah perahu besar itu menghentikan keributan dan yang tua menjawab hormat.
"Loya, di atas batu karang terdapat seorang gadis cantik."
"Dekatkan perahu, biarkan dia naik kalau dia orang baik-baik."
Suara parau tadi terdengar pula.
Beramai perahu didekatkan, akan tetapi sebelum mereka menurunkan tali, Lee Ing yang sudah naik ke puncak batu karang dan melihat jarak perahu tidak jauh lagi, mengumpulkan seluruh kekuatan yang masih ada, mengerahkan ginkangnya dan melompat ke atas dek.
Karuan saja lima orang itu menjadi kaget setengah mati, mengira "siluman"
Ini hendak menyerang dan makan mereka. Dayung digerakkan, golok dicabut akan tetapi Lee Ing mengangkat tangan dan berkata.
"Aku hanya mau menumpang, ikut ke darat. Mengapa kalian begini tolol? Aku orang biasa apa mata kaIian suudah buta?"
Mendengar gadis jelita itu bisa memaki-maki seperti wanita biasa, lima orang itu saling pandang lalu (Lanjut ke
Jilid 05) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 tertawa bergelak dengan perasaan lega. Banyak lagi anak buah perahu mendatangi, ada belasan orang banyaknya. Mereka ini orang-orang kasar dan menghujankan pertanyaan kepada Lee Ing.
"Siapa nona? Bagaimana bisa berada di batu karang?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini diajukan bertubi-tubi sampai Lee Ing sukar menjawab.
"Satu-satu.. satu-satu kalau bertanya. Masa menggonggong menyalak seperti anjing-anjing kelaparan. Mulutku hanya sebuah mana bisa melayani begini banyak orang?"
Kembali semua orang tertawa riuh-rendah mendengar jawaban-jawaban dan sikap Lee Ing yang lincah dan lucu.
"Cantik sekali.."
"Manis, menggiurkan!"
"Anak yang lucu!"
Banyak pujian semacam ini dilontarkan orang yang rata-rata merasa tertarik, bukan hanya oleh kecantikan Lee Ing dan sikapnya yang lincah, akan tetapi juga ingin sekali tahu bagaimana gadis itu dapat berada di atas batu karang seorang diri.
Sebelum Lee Ing menuturkan riwayatnya, tiba-tiba semua orang berdiam dan membuka jalan.
Terdengar orang berkata perlahan.
"Minggir, loya datang!"
Dari balik pintu manusia itu muncul seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, pakaian nya juga seperti seorang ahli silat, malah dipunggungnya nampak tersembul dua gagang ruyung dan di pinggangnya tergantung kantong piauw, akan tetapi sikapnya lembah lembut.
Ia mengerutkan kening ketika melihat Lee Ing.
tanyanya tenang.
"Nona siapa? Bagaimana bisa berada di atas batu karang?"
Akan tetapi, pertanyaan yang sudah sering didengarnya bertubi-tubi dari para anak buah perahu itu tidak mengherankan hati Lee Ing, bahkan tidak dihiraukan sama sekali.
Sebaliknya, orang yang baru datang itu berikut anak buahnya memandang heran kepada Lee Ing yang tidak menjawab melainkan celingukan ke kanan kiri dan hidungnya yang kecil mancung itu berkembang-Kempis, mencium-cium sesuatu seperti anjing mencium bau tulang.
Hidung belasan orang itu ikut berkembang-kempis mencium-cium, mencari apakah ada apa-apa dan kembali mereka memandang Lee Ing.
Gadis ini masih mengembang kempiskan hidungnya yang bagus, lalu berkata.
"Enak.... enak.... masakan ca-udang ini enak sekali, sayang terlalu banyak jahe.... hemmm, enak, perutku lapar..!"
Pecah suara gelak ketawa mendengar ucapan Lee Ing ini.
Tidak tahunya hidung kecil mancung itu mencium-cium bau masakan yang keluar dari dapur perahu ini.
Orang yang dipanggil loya itu mengamat wajah Lee Ing yang agak pucat dan tubuhnya nampak lemas, lalu katanya memberi perintah.
"Sediakan makan minum untuk nona ini. kemudian bawa dia menghadapku di ruang dalam."
Setelah berkata demikian, ia pergi mentastiki bilik perahu yang besar.
Dengan gembira dan tertawa-tawa para anak buah perahu mengajak Lee Ing memasuki ruangan makan dan di situ Lee Ing dijamu dengan makanan enak.
Penciumannya memang tajam dan betul saja yang tercium olehnya tadi adalah masakan ca-udang.
Tanpa sungkan-sungkan lagi Lee Ing menyerbu hidangan, makan sekenyangnya.
Selama delapan hari ia hanya makan daging ikan mentah dan minum air hujan, air embun dan kadang-kadang air laut.
Setelah perutnya kenyang oleh makanan dan hangat oleh arak, timbul rasa mengantuk yang luar biasa.
Ia membersihkan mulut dan bibir dengan mata melenggut, kemudian tak tertahankan lagi la merebahkan kepala di atas meja berbantal tangan.
Di lain saat gadis ini sudah pulas di situ!
Anak buah perahu tidak ada yang berani mengganggu, hanya tertawa tawa lalu pergi memberi laporan kepada majikan mereka.
Yang-dilapori hanya mengangguk saja dan memesan agar supaya nona itu jangan diganggu dan cepat diajak nenghadap untuk diperiksa dan ditanyai Setelah bangun dari tidurnya.
Akan tetapi, selama berhari-hari Lee Ing yang menderita kesengsaraan lahir batin, mengalami ketegangan hebat dan beberapa kali terlepas dari cengkeraman maut.
Sekarang ia menemukan obatnya, karena obatnya bukan lain hanya tidur disertai hati aman dan perut kenyang, maka sampai sehari semalam ia tidur pula di atas kursi berbantal meja, tidak tahu bahwa perahu besar yang ditumpaningnya sudah berlayar pergi melanjutkan pelayarannya.
Perahu apakah itu dan siapa mereka yang menjadi penghuni perahu layar besar ini?
Sudah bertahun-tahun perahu layar besar yang pada puncak tiang layar terdapat bendera tengkorak merah ini menjadi momok yang ditakuti oleh semua perahu-perahu besar yang berlayar di perairan Laut Po-hai.
Inilah perahu bajak laut yang dikepalai oleh orang berusia empat puluh tahun lebih tadi, yang bernama Sim Kang berjuluk Siang-Pian-hai-liong (Naga Laut Bersenjata Sepasang Pian).
Tidak saja Siang-pian-hai-liong Sim Kang amat terkenal akan kekejaman dan kelihaian senjata piannya, juga anak buahnya yang berjumlah tiga puluh orang rata-rata adalah bajak-bajak laut berpengalaman yang ganas dan kuat.
Di samping ini, Sim Kang masih mengandalkan putera tunggalnya, Sim Hong Lui yang juga amat lihai ilmu silatnya, kalau tak boleh dibilang lebih lihai dari ayahnya.
Selain mendapatkan ilmu silat dari ayahnya, juga pemuda berusia dua puluh tahun ini mewarisi ilmu silat dari ibunya yang sudah hidup terpisah dari ayahnya, lsteri Sim Kang adalah seorang pendekar wanita anak murid Hoa-lian-pai, murid terkasih dari Lui Siu Niang-niang ketua Hoa-lian-pai di kaki Pegunungan Ta-pie-san.
Dahulu sebelum menjadi kepala bajak, Sim Kang bekerja sebagai seorang piauwsu (pengawal kiriman) yang terkenal gagah dan disegani para kaum liok-lim (golongan penjahat).
Dalam usia dua puluh tahun ia telah menjunjung tinggi namanya sebagai seorang gagah.
Kemudian ia berjumpa dengan pendekar wanita Yap Lee Nio yang berjuluk Hui-ouw-tiap (Kupu-kupu Terbang) dan yang menjadi seorang perampok budiman tunggal.
Sesuai dengan ajaran gurunya, Lui Siu Niang-niang ketua Hoa-lian-pai.
Yap Lee Nio membantu rakyat miskin dengan jalan mencegat para saudagar, merampas sebagian barangnya dan membagi-bagikan kepada fakir miskin!
Pada suatu hari ia bertemu dengan piauwsu muda Sim Kang, terjadi perebutan dan pertempuran.
Keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi suami isteri!
Akan tetapi semenjak Kerajaan Beng berdiri, perusahaan Sim Kang menjadi bangkrut.
Isterinya hendak kembali menjadi perampok.
Sim Kang tidak setuju dan terjadi percekcokan dalam krisis rumah tangga ini.
Yap Lee Nio memang berwatak keras, apa lagi memang kepandaiannya lebih tinggi dari pada suaminya, la menjadi marah dan meninggalkan suami dan putera tunggalnya, yaitu Sim Hong Lui.
Ditinggal oleh isterinya yang tercinta, Sim Kang menjadi rusak hatinya dan ia bahkan lalu nekat menjadi...
bajak laut.
Mula-mula perbuatannya ini hanya untuk mengimbangi kesesalan isterinya, akan tetapi lambat-laun setelah ia mendapat nama terkenal, ia tidak bisa lagi melepaskan pekerjaan ini.
Demikianlah, yang wanita menjadi perampok tunggal, si suami menjadi bajak laut, dan puteranya..
ke sana ke mari mengunjungi ayah bundanya untuk menerima pelajaran ilmu silat.
Watak seorang anak dibentuk oleh keadaan orang tuanya sendiri.
Perpisahan suami isteri ini membuat Sim Hong Lui kurang pendidikan moral, dan pergaulan dengan para anak buah bajak membuat ia tersesat dan terkenal sebagai pemuda...
ugal-ugalan perusak anak bini orang.
Sayang sekali!
Wajahnya tampan sikapnya halus dan kepandaiannya tinggi.
Karena Sim Hong Lui sering kali mendarat untuk menemui ibunya, dari pemuda ini Sim Kang mengetahui daratan dan mengetahui pula tentang keadaan negara, la juga mendengar tentang Souw Teng Wi yang dikejar-kejar oleh kaisar dan kaki tangannya.
Sim Kang dahulu pernah menjadi sahabat baik Souw Teng Wi ketika ia masih menjadi piauwsu.
la hanya ikut menyesal mendengar akan nasib buruk sahabatnya itu.
Akan tetapi lebih dari itu, tidak.
Sim Kang dahulu berbeda dengan Sim Kang sekarang.
Dahulu sebelutn menikah ia adalah seorang pendekar gagah, akan tetapi hidup di atas lautan sebagai bajak, ditambah penderitaan dan sakit hatinya ditinggal isterinya, membuat Sim Kang berubah menjadi seorang manusia yang buas, kejam, dan gila harta.
Sebagai bajak laut yang malang-melintang di perairan Laut Po-hai.
Sim Kang tentu saja mempunyai beberapa pulau kecil kosong tempatnya menyembunyikan hasil rampasannya.
Pada Suatu hari ketika ia singgah di pulau kosong terpencil ini dan dari atas dek perahunya melihat anak buahnya menurun-nurunkan barang yang baru ia dapat rampas dari perahu pedagang, tiba-tiba ia melihat anak buahnya lari cerai-berai ketakutan, kembali ke perahu.
"Celaka, loya. Di depan gua penyimpan barang ada seorang gila yang lihai. Dua orang kawan telah ia bunuh,"
Seorang di antara para bajak itu melapor.
Sim Kang dan puteranya, Sim Hong Lui cepat melompat ke darat, membawa senjata dan cepat berlari ke tempat itu.
Dari jauh mereka sudah mendengar suara orang berteriak-teriak.
"Serbuuu...! Kawan-kawan seperjuangan, serbu dan ganyang habis musuh-musuh kita! Jangan takut mati. Mari kita pertahankan tanah air dengan titik darah penghabisan. Mati dalam perjuangan membela nusa bangsa adalah mati mulia. Serbuuu..!!"
Mendengar suara ini, Sim Kang terkejut.
Kemudian ia dan puteranya melihat seorang laki-laki pakaiannya kotor dan compang-camping tidak karuan, rambutnya awut-awutan, mukanya penuh cambang yang tidak terpelihara, matanya liar.
Orang ini usianya sebaya dengan Sim Kang perawakannya sedang.
Berdiri dengan kedua kaki terpentang gagah di depan gua, tangannya menuding ke sana ke mari seakan-akan seorang jenderal perang memberi aba-aba kepada deretan pohon-pohon yang dianggap laskarnya.
Tidak jauh dari kakinya menggeletak mayat dua orang anak buah bajak.
"Dari mana datangnya orang gila itu?"
Sim Hong Lui membentak marah sambil mencabut pedangnya.
"Hong Lui, tunggu...!"
Sim Kang mencegah namun terlambat.
Gerakan pemuda itu cepat sekali.
Ia telah mewarisi ginkang ibunya yang lihai, sekali tubuhnya berkelebat ia telah berada di depan orang gila itu dan pedangnya yang lebih menyerupai golok itu dikerjakan cepat menyerang.
Sekaligus ia telah menyerang dengan tiga tikaman dan dua bacokan.
Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja dapat memecah sejurus serangan dengan lima kali pukulan berbahaya.
Pemuda itu sengaja melakukan serangan ini untuk cepat-cepat membunuh orang gila yang telah menewaskan dua orang kawannya.
Orang gila itu berdiri miring, tangan kirinya masih bertolak pinggang dan tadi tangan kanannya yang menuding ke sana ke mari memberi aba-aba.
Sekarang menghadapi serangan ini, ia seperti tidak tahu, tubuhnya tetap seperti tadi, tangan kirinya tetap bertolak pinggang.
Hanya tangan kanan yang tadi menuding-nuding itu kini dibuka jari-jari tangannya dan lima kali ia menyentil dengan jari-jari telinjuk dan ibu jarinya.
"Ting-ting-ting-ting-ting!"
Lima kali serangan pedang itu "bertemu"
Atau dipapaki oleh kuku jari telunjuk orang gila itu dan tiap kali pedang itu membalik bagaikan ditangkis oleh tongkat baja!
Sim Hong Lui kaget setengah mati, cepat melompat ke belakang.
Akan tetapi tiba-tiba tangan kanan orang gila itu seperti karet molor ke depan, lebih panjang satu kaki dari pada biasanya dan tahu-tahu pundak Sim Hong Lui sudah dipegang dan sekali banting Hong Lui jatuh terguling.
"Ha-ha-ha-ha! Musuh sudah kehabisan orang! Kutu rambut macam ini dijadikan panglima. Ha-ha-ha!"
Dengan bulu roma berdiri semua menghadapi kehebatan orang ini, Sim Hong Lui mencoba untuk meraih pedangnya yang tadi terlepas dari tangan saking kerasnya ia terbanting.
Kalau ia tidak memiliki kekebalan, tentu tulang-tulangnya hancur akibat bantingan tadi.
Akan tetapi, sebelum tangannya sempat menyambar pedangnya, kaki telanjang orang gila itu sudah mendahului menginjak pedang dan "krakkk!"
Pedang itu diinjak patah-patah menjadi lima potong!
Kemudian orang gila itu mengangkat kaki, menginjak kepala Hong Lui!
Pemuda ini masih dapat mengelak sambil menggelundung ke kanan, akan tetapi sambil tertawa-tawa orang itu terus melangkah mengejarnya, mengancam hendak menginjak kepalanya.
Tadinya Sim Kang bengong terlongong-longong melihat kesaktian orang gila itu.
Ilmu kepandaian puteranya bukanlah kepandaian biasa saja.
Bahkan jarang ada orang mampu menandingi ilmu pedang Sim Hong Lui.
Akan tetapi bagaimana orang gila itu dengan mudah dapat menangkis pedang dengan kuku jari kemudian merobohkan anaknya itu bagaikan orang merobohkan batang padi saja?
Dan injakan pada pedang itu!
Bukan main!
Pedang itupun terbuat dari pada baja yang kuat sekali bagaimana kaki telanjang mampu menginjaknya sampai patah-patah menjadi lima?
Dan sekarang kaki yang ampuh dan kuat melebihi kaki gajah itu sedang berusaha menginjak kepala puteranya!
"Souw Teng Wi...!!"
Sim Kang berseru keras memanggil.
Tadinya ia sudah ragu-ragu bahwa ia tentu menduga keliru.
Memang betul begitu bertemu dengan orang gila itu, ia mengenal wajah dan potongan tubuh sahabat baiknya Souw Teng Wi, pendekar besar yang menjadi buronan.
Akan tetapi menyaksikan kesaktian tadi ia sudah ragu-ragu.
Ia tahu betul sampai di mana kepandaian Souw Teng Wi murid Kun-lun-pai itu, biarpun lihai, hanya setingkat dengan dia dan setingkat pula dengan Sim Hong Lui karena kepandaian pemuda itu sudah menyusulnya.
Akan tetapi, benar Souw Teng Wi atau bukan, tiada salahnya mencoba memanggilnya.
Apa lagi ia memang tidak ada daya lain untuk menolong nyawa puteranya.
Ternyata usahanya berhasil!
Orang gila itu mendadak menghentikan pengejarannya kepada Hong Lui dan memutar tubuh menghadapi Sim Kang dengan mata terbelalak.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Hong Lui yang melompat bangun dan....
lari menjauhi orang gila itu, berhenti agak jauh untuk menonton apa yang selanjutnya akan terjadi.
Selama hidupnya baru kali ini Hong Lui merasa ngeri!
"Siapa.....
siapa memanggil namaku.....?"
Orang gila itu berkata dan aneh sekali, ia kelihatan ketakutan!
Sim Kang menjadi girang sekali, la melangkah maju di depan orang gila itu.
Tak salah lagi, ia berhadapan dengan Souw Teng Wi, bekas sahabat baiknya.
"Souw Teng Wi, jangan takut. Lupakah kau kepadaku? Aku sahabat baikmu, Sim Kang! Dahulu menjadi piauwsu di Leng-an."
Memang benar orang gila itu adalah Souw Teng Wi!
Sungguh mengenaskan nasib pendekar besar, pejuang rakyat yang berjiwa patriot ini.
Karena di fitnah ia menjadi buronan, menderita sengsara di perantauan, menyeberang laut dan tinggal di pulau-pulau kosong.
Akhirnya ia menghilang dan kini ia muncul kembali dalam keadaan menyedihkan, pikirannya terganggu, seperti orang gila akan tetapi ilmu kepandaiannya meningkat beberapa kali dan menjadi orang sakti!
Kini ia menatap wajah Sim Kang dengan mata liar dan tajam, kemudian agaknya ia teringat dan kenal wajah ini.
"Kau Sim Kang kenalanku? Mengapa kau menjadi anjing Mongol?"
"Tidak, tidak, kawan! Jangan salah sangka. Aku, dan puteraku tadi, juga kawan-kawanku semua sama sekali bukan kaki tangan Mongol. Juga bukan kaki tangan kaisar yang mengejar-ngejarmu! Tidak, kami adalah orang-orang sendiri, semua kawan baik. Seperti juga kau, kami memusuhi orang-orang Mongol dan memusuhi pembesar-pembesar jahat penjilat kaisar, sahabatku Souw Teng Wi."
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Souw Teng Wi menangis menggerung-gerung, menggosok-gosok kedua mata dengan tangannya seperti anak kecil.
"Kasihan kaisar buta, kaisar bodoh dipermainkan oleh dorna celaka. Kasihan rakyatku......."
Ia meratap-ratap.
Sim Kang adalah seorang cerdik.
Dia yang menjadi bajak laut, bagaimana mau bicara tentang rakyat?
Namun dia mempunyai pikiran yang amat baik, yaitu baik bagi dirinya sendiri.
Ia melihat bahwa bekas pendekar besar Souw Teng Wi ini benar-benar sudah menjadi gila dan percaya kepadanya.
Melihat kepandaian Souw Teng Wi yang demikian hebat, bukankah akan menguntungkan sekali baginya apa bila ia dapat mempergunakan tenaganya?
Di samping itu, puteranya akhir-akhir ini mendengar berita bahwa Kaisar Thai Cu di Nan-king menyediakan jumlah hadiah yang amat besar bagi siapa yang dapat menangkap pemberontak Souw Teng Wi.
Dengan sikap ramah-tamah dan suara halus lembut yang sudah menjadi sifatnya menyembunyikan kekejian hatinya, Sim Kang memeluk pundak Souw Teng Wi dan ikut mengeluarkan air mata.
Apa lagi Souw Teng Wi yang sudah tidak beres otaknya, andaikata ia tidak gila sekalipun kiranya akan sukar melihat bahwa yang keluar dari mata Sim Kang adalah air mata buaya!
Demikianlah, terbujuk oleh sikap baik Sim Kang dalam usahanya untuk menyembunyikan diri dari kejaran kaisar, Souw Teng Wi yang sudah linglung itu menurut saja dibawa oleh "sahabat baiknya"
Ini ke perahu.
Mulai saat itu ia ikut berlayar di atas perahu bajak.
Tak seorangpun anak buah bajak berani main-main dengan Souw Teng Wi yang setiap hari hanya duduk melamun, kadang-kadang bicara seorang diri itu.
Mereka menyebutnya Souw-suhu.
Beberapa hari kemudian semenjak Souw Teng Wi berada di atas perahu, Sim Kang sudah dapat memetik hasil dari pada siasatnya.
Kebetulan sekali perahunya bertemu dengan perahu besar yang tiga buah banyaknya.
Dari jauh saja sudah dapat dilihat bahwa itulah perahu-perahu Kerajaan Beng yang megah dan kuat.
Memang Kaisar Beng sedang mengutus orangnya menuju ke seberang laut untuk mengadakan hubungan baik dengan penduduk pulau-pulau seberang lautan yang sering kali merupakan gangguan, terutama bangsa kate dari Jepang.
Dalam perjalanan muhibah ini, utusan itu membawa banyak harta yang hendak dipergunakan sebagai hadiah-hadiah persahabatan.
Sudah tentu saja "ikan"
Segemuk ini tidak dilewatkan begitu saja oleh Sim Kang.
Biarpun setiap perahu besar dijaga oleh sepasukan tentara kerajaan berjumlah lima puluh orang yang amat kuat, hati Sim Kang tidak menjadi gentar.
Ia mempersiapkan anak buahnya dan memotong jalan yang ditempuh oleh tiga buah perahu layar besar itu.
"Hee, kalian ini mau apa? Apakah tidak tahu bahwa kami membawa utusan kaisar? Hayo minggir, atau kalau ada keperluan lekas panggil pemimpinmu datang menghadap taijin,"
Tegur seorang penjaga perahu terdepan dengan suara keras. Sim Kang tertawa bergelak, tangan kirinya bergerak dan penjaga di perahu depan itu menjerit terus roboh ke dalam air.
"Ada bangsat... ada bajak...!"
Riuh-rendah suara di atas kapal layar itu.
"Dengarkan baik-baik, para utusan kaisar!"
Suara Sim Kang terdengar mengatasi kegaduhan-kegaduhan itu.
"Aku Siang-pian Hai-Iiong memerintahkan agar sebuah di antara tiga kapal layar ini diserahkan kosong kepadaku. Orang-orangnya-boleh lekas pindah ke kedua perahu yang lain, baru boleh melanjutkan perjalanan tanpa gangguan. Kalau tidak segera mentaati perintah, terpaksa senjata-senjataku bicara dan contohnya sudah kalian lihat tadi!"
"Waduh, waduh sombongnya!"
Terdengar bentakan dari atas perahu.
"Mana sih cecongornya Siang-pian Hai-liong? Hendak kulihat sampai di mana lihainya sepasang piannya. Kalau dapat mengalahkan aku Hui-houw Twa-to (Harimau Terbang Golok Besar) baru boleh menyombongkan kepandaian!"
Sim Kang belum pernah mendengar julukan ini maka ia tertawa besar dan menantang.
"Harimau terbang atau babi terbang aku tidak takut! Kalau mau mengantarkan nyawa datanglah di sini, kita boleh mengadu kepandaian."
"Kau tentu akan mengeioyok."
Terdengar pula suara tadi.
"Dalam pertandingan pibu seorang gagah pantang mengeroyok. Satu lawan satu!"
Jawab Sim Kang.
"Ha-ha, memangnya aku takut dikeroyok? Su-siok, mari kita mencoba bajak laut itu!"
Tiba-tiba dari kapal layar besar itu melayang turun dua orang.
Yang seorang adalah seorang laki-laki tinggi besar bermuka kuning, inilah agaknya yang berjuluk Hui-houw Twa-to karena di pinggangnya tergantung golok besar.
Orang ke dua adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, rambutnya sudah putih semua, tidak bersenjata apa-apa kecuali sebatang tongkat bambu.
Gerakan dua orang ini ketika melayang turun demikian ringannya, membuktikan adanya ginkang yang lihai.
Akan tetapi Sim Kang yang percaya akan kepandaiannya sendiri tidak menjadi gentar.
Laki-laki tinggi besar bermuka kuning itu segera menantang.
"Bajak tak tahu diri, berani mencoba membajak perahu-perahu utusan kerajaan. Mana itu Siang-pian Hai-liong, boleh mencoba kepandaian aku orang she Ma!"
Memang si tinggi besar ini adalah kepala pengawal yang bernama Ma Him berjuluk Hui-houw Twa-to dan ia segera meloloskan golok besarnya yang mengkilat, berat dan tajam.
Sim Hong Lui memapakinya sambil mencabut keluar goloknya yang kecil dan panjang.
Sambil tersenyum mengejek ia membentak.
"Segala gentong kosong berani menantang ayahku? Tak usah ayah yang maju, aku puteranya cukup untuk menyadarkan kau dari mimpi muluk. Terimalah ini!"
Tanpa memberi kesempatan lagi Hong Lui menyerang, gerakannya cepat sekali dan golok setengah pedang itu bergerak-gerak aneh dan cepat.
"Ha-ha, anak masih bau bawang berani berlagak? Bagus!"
Si Harimau Terbang menggerakkan golok besarnya menangkis keras dengan maksud sekali tangkis membuat senjata lawan terlepas.
Akan tetapi terdengar suara keras dibarengi muncratnya bunga api dan keduanya merasa tangan mereka tergetar.
Baru kagetlah hati Ma Him dan ia tidak berani banyak membuka mulut lagi, melainkan membalas serangan lawan dengan pukulan-pukulan berat.
Di saat lain kedua orang jagoan ini telah bertempur seru.
Lima puluh jurus telah lewat namun keduanya masih belum ada yang kalah.
Biarpun begitu, mata para ahli di situ sudah melihat perbedaan permainan kedua orang ini.
Sim Hong Lui menang cepat dan menang lihai ilmu silatnya, sebaliknya Ma Him menang tenaga.
Kakek bertongkat bambu itu mengerutkan alisnya.
Ia maklum bahwa murid keponakannya yang kasar dan bermulut besar itu akan kalah kalau dilanjutkan.
Benar saja dugaannya.
Pedang di tangan Hong Lui bergerak cepat sekali sampai tak terlihat oleh Ma Him yang sudah pening.
Terdengar ia mengeluh dan goloknya terlepas, lengannya keserempet senjata lawan dan berdarah, akan tetapi hanya luka kulit dagingnya saja.
Hong Lui tidak mau melepaskan lawan begitu saja.
Biarpun sudah jelas bahwa lawannya kalah, akan tetapi ia belum puas kalau tidak membunuhnya.
Cepat ia menerjang lawan yang sudah terluka dan tidak bersenjata itu dengan senjata yang seperti pedang setengah golok itu.
dibabatkan cepat ke arah leher Ma Him.
"Traanngg!"
Senjata di tangan Hong Lui terlepas ketika tertangkis oleh sebatang tongkat bambu. Ternyata kakek berambut putih sudah menolong Ma Him.
"Curang!"
Seru Sim Kang marah sambil melompat maju.
"Mengapa perwira kerajaan tidak tahu aturan dan melakukan pengeroyokan?"
Kakek berambut putih itu tersenyum ramah.
"Bukan mengeroyok, melainkan mencegah anakmu yang melanggar peraturan pibu. Sudah terang bahwa Ma Him kalah, mengapa masih mendesak hendak membunuh? Kulihat orang muda ini mewarisi ilmu pedang Hoa-lian-pai. Benar-benar Lui Siu Niang-niang sudah tersesat terlampau jauh, mengajarkan ilmunya kepada segala perampok dan bajak laut."
Sim Kang terkejut.
Seperti diketahui, Lui Siu Niang-niang adalah guru dari isterinya dan ketua dari Hoa-lian-pai.
Sekali melihat ilmu silat Hong Lui yang campuran itu dapat mengenal ilmu pedang Hoa-lian-pai, tentu kakek ini bukan orang sembarangan.
Apa lagi agaknya malah sudah mengenal Lui Siu Niang-niang.
"Kau orang tua siapakah?"
"Lohu dipanggil Thian Te Cu, nama asli sudah lupa. Sekarang membaktikan diri kepada raja baru yang arif bijaksana, kau ini anak masih hijau hendak merajalela. Lebih baik kau dan anak buahmu menaluk dan membantu negara, memperkuat negara dari serangan lawan. Bukankah lebih baik? Kalau kalian menaluk lohu suka mintakan ampun."
Sim Kang marah sekali.
"Orang tua pikun jangan mengacau! Bukankah dalam pibu tadi murid keponakanmu sudah kalah oleh puteraku?"
"Akan tetapi masih ada aku yang belum kalah..."
Sim Kang tidak menanti sampai kakek itu habis bicara.
Dilihatnya bahwa kakek itu hanya memegang tongkat bambu.
Tadi pedang anaknya terlepas mungkin karena anaknya sudah terlampau lelah menghadapi Ma Him yang bertenaga besar.
Cepat ia menyerang kakek itu dengan sepasang piannya yang selama ini menjunjung tinggi namanya.
Pertama-tama pian di tangan kirinya menyabet ke arah leher memancing kakek itu menangkis.
Karena gerakannya memang cepat dan mantap, benar saja Thian Te Cu mengangkat tongkat bambu menangkis.
Inilah yang diharapkan oleh Sim Kang.
Ia menggerakkan pergelangan tangan kirinya dan senjata pian seperti pecut itu segera melibat tongkat bambu dan pian di tangan kanannya bekerja menghantam pinggang orang selagi lawan tidak dapat berjaga karena senjatanya terlibat pian kiri!
Sim Kang terlalu gegabah memandang ringan kakek berambut putih yang hanya memegang sebatang tongkat bambu butut itu.
Thian Te Cu adalah seorang tokoh besar dunia kang-ouw yang terkena bujukan menteri dorna Auwyang Peng.
Bersama suhengnya (kakak seperguruannya) Ma-thouw Koai-tung Kui Ek guru Ma Him dia juga merupakan sekutu Auwyang Taijin dan tingkat kepandaiannya tinggi sekali.
Mana Sim Kang mampu mengalahkannya?
Diserang hebat seperti itu oleh Sim Kang, Thian Te Cu tertawa bergelak.
"Ilmu siang-pian permainan bocah ini mana ada gunanya?"
Dengan tenang sekali ia mengangkat tangan kiri menangkis pian yang mengancam pinggangnya.
Kembali Sim Kang menggerakkan pergelangan tangannya dan pian kedua inipun melibat lengan kakek itu.
Akan tetapi begitu kakek ini menggerakkan kedua tangan membetot, terdengar suara keras dan sepasang pian lemas itu putus di tengah-tengah seperti disambar gunting tajam!
Sim Kang terhuyung-huyung ke belakang dan Thian Te Cu tertawa bergelak-gelak.
"Ha ha-ha, kepala bajak. Apakah kau masih belum mau menakluk?"
"Tunggu dulu,"
Kata Sim Kang dengan muka pucat.
"Kita masih seri. Kita masing-masing kalah satu kali menang satu kali. Tunggu, aku akan mendatangkan kawan dan pembantuku yang setia."
"Ha-ha, boleh kalau masih ada lagi,"
Tantang Thian Te Cu memandang rendah.
Sim Kang lari memasuki bilik perahunya dan menghampiri Souw Teng Wi yang sedang duduk melenggut, sama sekali tidak ambil perduli akan suara ribut-ribut di luar tadi, la baru membuka mata ketika pundaknya dipegang dan di-guncang-guncang oleh Sim Kang yang kelihatan cemas sekali.
"Celaka, Souw-twako celaka sekali..!"
"Memang celaka anjing-anjing Mongol, biar mereka mampus. Ha-ha-ha!"
Jawab Souw Teng Wi.
"Bukan, bukan begitu, saudaraku. Yang datang ini adalah utusan kaisar dari Nan-king, hendak menangkapmu....."
"Celaka dua belas! Aku harus bersembunyi!"
Souw Teng Wi melompat hendak lari. Memang semenjak ingatannya terganggu, selalu Souw Teng Wi hendak menyembunyikan diri, takut ditangkap.
"He, Souw-twako. Mengapa lari? Mereka bukan hanya hendak menangkapmu, juga hendak membunuh aku dan semua kawan. Kau berkepandaian tinggi, takut apakah? Kalau kau melawan, mereka itu bukan apa-apa bagimu!"
Souw Teng Wi menggeleng kepala dengan sedih.
"Tidak bisa aku melawan. Kaisar bukan seorang jahat, hanya bodoh mau dipengaruhi para durna. Bagaimana aku bisa melawan Kaisar Thai Cu yang membangun Kerajaan Beng? Tak mungkin, tak mungkin. Lebih baik aku lari."
"Husshh, nanti dulu, sahabat baik. Kau tidak tahu, biarpun mereka itu utusan kaisar, namun mereka ini adalah kaki tangan para durna. Kaisar sendiri tak pernah hendak menangkapmu, semua adalah gara-gara pembesar durna. Kalau sekarang kau membalas dendam kepada kaki tangan para durna bukankah berarti kau membebaskan kaisar dari pengaruh busuk?"
Memang Sim Kang cerdik sekali dan sebaliknya Souw Teng Wi sudah tak dapat berpikir apa-apa. Mendengar ini merahlah mukanya dan diangkat dadanya.
"Mana mereka? Mana anjing-anjing busuk penghianat bangsa itu?"
Katanya. Dengan langkah tegap dan gagah seperti seorang jenderal perang Souw Teng Wi berjalan keluar diantar oleh Sim Kang. Seluruh anak buah bajak menahan napas. Mereka memang tahu bahwa "tamu"
Aneh ini lihai bukan main, seorang berotak miring, tetapi mana mampu menandingi kakek yang demikian lihainya, yang dengan sekali gebrak saja sudah mengalahkan kepala mereka?
Di lain fihak, Thian Te Cu dan Ma Him menjadi bengong ketika melihat bahwa "jago"
Yang dibawa datang oleh kepala bajak itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang pakaiannya tidak karuan, rambutnya riap-riapan dan penuh bulu tak terpelihara, matanya merah liar dan menyeramkan.
Begitu tiba di tempat itu.
Sim Kang lalu berkata kepada Souw Teng Wi.
"Souw-twako, itulah kapal mereka dan kakek inilah kaki tangan durna-durna itu!"
Souw Teng Wi memandang kepada Thian Te Cu dengan muka merah kemudian ia menggereng keras sekali.
Beberapa orang anak bajak yang berdir.
dekat terpelanting mendengar suara ini, bahkan Ma Him sendiri, juga Sim Kang dan Sim Hong Lui, menggigil seluruh tubuhnya!
Hanya Thian Te Cu yang dapat menahan getaran sinkang dan khikang yang hebat ini, yang keluar dari suara Souw Teng Wi yang sedang marah.
Akan tetapi kakek ini menjadi pucat karena selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan orang yang begini pandai mempergunakan gerengan singa.
"Siapa hendak menangkapku? Aku Souw Teng Wi tidak takut menghadapi segala penghianat!"
Ma Him pernah melihat Souw Teng Wi. Tadipun ia merasa kenal orang gila ini, dan baru sekarang ia yakin bahwa inilah Souw Teng Wi.
"Dia pemberontak Souw Teng Wi...!"
Dalam ketegangan dan kegembiraannya melihat orang buronan yang akan menghasilkan hadiah besar sekali kalau tertangkap itu, Ma Him menjadi lupa bahwa yang hendak ditangkapnya memiliki kepandaian tinggi.
Kembali terdengar gerengan dan sebelum Ma Him sempat mengelak, ia telah kena dipegang oleh Souw Teng Wi.
Memang aneh sekali.
Jarak antara Souw Teng Wi dan Ma Him masih ada dua meter lebih.
Akan tetapi hanya dengan mengulur badan dan lengan tanpa mengubah kedudukan kaki, Souw Teng Wi telah berhasil mencengkeram pundak Ma Him dan ditariknya mendekat tanpa Ma Him dapat berdaya apa-apa.
"Kau kaki tangan durna! Ha-ha, pergilah menghadap Giam-ong!"
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ma Him telah disempal menjadi dua.
Dengan memegang pundak kanan kiri, Souw Teng Wi telah menyempal tubuh itu hingga pecah di tengah-tengah, darah muncrat membasahi mukanya tanpa diperdulikannya.
la tertawa terbahak-bahak seperti iblis yang amat menyeramkan.
Thian Te Cu marah dan kaget sekali.
Ia segera menggerakkan tongkat bambunya dan menotok ke arah ulu hati Souw Teng Wi.
Totokannya tepat mengenai dada yang setengah telanjang itu, akan tetapi anehnya, ujung tongkat bambu itu meleset seperti mengenai kulit ular yang licin.
"Kau juga penghianat bangsa?"
Kata Souw Teng Wi sambil menggeser kakinya maju.
"Kau juga harus mampus!"
Akan tetapi Thian Te Cu adalah seorang ahli silat yang lihai sekali.
Serangan balasan Souw Teng Wi yang memukul kepalanya dapat ia elakkan dan lapun membalas.
Segera keduanya bertempur seru dan ramai.
Sementara itu di kapal layar terdengar terikan-teriakan.
"Pemberontak Souw Teng Wi..... pemberontak Souw Teng Wi......!"
Adapun Sim Kang melihat bahwa Souw Teng Wi sudah mulai "mengamuk, juga tidak tinggal diam.
Ia memerintahkan anak buahnya untuk mendekatkan perahu pada kapal besar itu.
Seorang anggauta bajak yang berlaku lancang hendak mencari jasa, menggunakan tombak menyerbu Thian Te Cu membantu Souw Teng Wi.
Akan tetapi tombaknya yang mengenai punggung Thian Te Cu patah menjadi dua, dia sendiri tertangkap pinggangnya dan sekali banting tubuh bajak itu melesak ke dalam papan dan tewas, hebat sekali tenaga yang diperlihatkan oleh kakek itu dan semua bajak tidak berani sembarangan bergerak.
"Serbu kapal!"
Sim Kang memberi aba-aba dan ia bersama puteranya memimpin tiga puluh orang anak buahnya mulai menyerbu kapal keraja-an.
Terjadi perang tanding yang ramai karena anak buah kapal itupun tidak mau menyerah begitu saja.
Pertempuran antara Souw Teng Wi dan Thian Te Cu tidak berlangsung lama.
Tongkat bambu di tangan Thian Te Cu amat lihai dan sudah puluhan tahun entah berapa banyak korban roboh oleh senjata ini.
Akan tetapi menghadapi Souw Teng Wi yang memiliki ilmu aneh dan sakti, tongkat bambu itu tidak ada artinya sama sekali.
Baru dua puluh jurus Thian Te Cu mendesak secara bertubi-tubi dengan gerakan yang aneh dibarengi gerengan seperti setan, tongkat itu sudah dapat dirampas oleh Souw Teng Wi dan diremas-remas hancur menjadi bubuk.
Kemudian Souw Teng Wi melancarkan serangannya, menubruk seperti harimau.
Dilihat begitu saja, agaknya serangan ini dilakukan dengan membabi-buta, tidak memakai peraturan silat, akan tetapi Thian Te Cu kaget bukan main karena melihat gerakan yang aneh dan lihai dibarengi hawa pukulan yang mendatangkan hawa dingin menyusup tulang.
Tahulah ia bahwa Souw Teng Wi mempergunakan pukulan sakti yang mengandung hawa "Im"
Atau yang disebut lm-kang, sari dari pada hawa dingin.
Cepat ia menangkis, dua tangan bertemu dan masing-masing mengerahkan Iweekangnya.
Namun, muka Thian Te Cu makin lama makin pucat, tubuhnya mulai menggigil.!
Tidak kuat ia menerima Im-kang yang amat kuat dan dahsyat dari lawannya.
Dari pucat mukanya berubah menjadi biru, matanya mendelik dan tak lama kemudian ia menjerit lalu roboh, tubuhnya kaku dan dingin tak bernyawa pula seperti ikan direndam es!
Souw Teng Wi tertawa bergelak.
"Mampuskan semua penghianat! Hayo maju, Serbuuu..........!!"
Sikapnya seperti seorang pemimpin pasukan memberi aba-aba, kemudian sekali menggerakkan kaki, tubuhnya berkelebat dan melayang ke atas kapal layar kerajaan di mana telah terjadi pertempuran hebat antara anak buah bajak melawan anak buah kapal layar itu.
Tadinya memang para pengawal sudah kewalahan menghadapi serbuan bajak laut yang dipimpin oleh Sim Kang dan Sim Hong Lui yang gagah perkasa.
Sekarang, kedatangan Souw Teng Wi benar-benar membikin mereka jerih sekali.
Sepak-terjang Souw Teng Wi bukan sepak-lterjang manusia biasa, mayat bergelimpangan ke mana saja orang ini bergerak.
Mulailah anak buah kapal melarikan diri, melompat ke dalam air laut dan berenang sedapatnya.
Akan tetapi sebagian besar dari mereka tewas disambar ikan hiu yang banyak terdapat di perairan itu.
Dua buah kapal layar lain sudah mendekat untuk membantu.
Akan tetapi begitu mendengar bahwa Thian Te Cu dan Ma Him, dua orang kepala pengawal yang diandalkan melindungi keselamatan para utusan itu sudah tewas, para pembesar yang berada di dalam kapal pertama cepat memberi perintah supaya dua kapal itu melarikan diri, kembali ke pantai.
Hanya beberapa orang saja anak buah kapal yang diserbu itu dapat ditolong, yaitu mereka yang melompat ke laut dan yang beruntung tidak menjadi santapan ikan-ikan hiu.
Dari mereka inilah semua orang mendengar tentang munculnya Souw Teng Wi si pemberontak sebagai seorang gila yang menyeramkan.
Ramai hal ini dibicarakan dan tak lama kemudian setelah dua kapal itu berlabuh dan orang-orangnya kembali ke kota raja, semua orang di kota raja mendengar bahwa pendekar besar Souw Teng Wi masih hidup, menjadi seorang pemimpin bajak laut yang ganas!
tentu saja Auwyang-tajjin merasa kaget sekali, apalagi berita bahwa Souw Teng Wi telah membunuh Thian Te Cu.
benar-benar mengejutkan semua orang, terutama jago-jago menteri dunia itu seperti Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan lain-lain Thian Te Cu memiliki kepandaian yang tinggi dan di dunia ini amat jarang ada orang dapat melawannya.
Bagaimana Souw Teng Wi yang dulu diketahui berkepandaian biasa saja dapat menewaskannya?
Sementara itu, Sim Kang giiang bukan main, la mendapatkan sebuah kapal layar yang amat baik, juga beberapa orang anak buah kapal rampasan itu menyatakan takluk dan menjadi anak buah bajak.
Mulai saat itu Sim Kang mempergunakan kapal rampasan itu dan anak buahnya bertambah banyak.
Terhadap Souw Teng Wi ia menyatakan terima kasihnya, akan tetapi Souw Teng Wi mana mau tahu tentang terima kasih.
"Mereka itu penghianat-penghianat bangsa, harus dibasmi habis!"
Katanya.
Biarpun dengan adanya Souw Teng Wi, keadaan bajak laut Sim Kang makin kuat lagi, namun diam-diam ia tidak suka kepada bekas pemimpin pejuang ini.
Watak Souw Teng Wi terlalu aneh dan kepandaiannya terlalu tinggi sehingga amat berbahaya.
Dan dia sama sekali tidak dapat menguasainya.
Pernah terjadi Sim Kang menghukum seorang anak buah bajak yang diketahui mencuri barang rampasan, yaitu sebuah mainan batu giok.
Sim Kang menyuruh seorang pembantunya melaksanakan hukumannya, yaitu memaku jari-jari tangan kanan orang itu pada sebuah papan, disaksikan oleh semua anggauta bajak agar yang lain takut untuk melakukan pencurian.
Jari tangan di bagian kuku dipaku atau dipantek pada papan, dapat dibayangkan nyerinya.
Pantekan pertama adalah ibu jari.
Baru sekali paku itu dipukul menembus kuku dan menancap papan, pencuri itu sudah melolong-lolong kesakitan dan sambatnya menyayat hati para pendengarnya.
Pantekan ke dua pada kuku jari telunjuknya membuatnya meraung seperti kerbau disembelih.
Pada saat pekik ke dua ini terdengar, tiba-tiba muncul Souw Teng Wi yang tadinya ditinggal seorang diri melcnggut di ruang bawah kapal.
Mata Souw Teng Wi merah berputaran liar, kemudian ia melompat, menubruk bajak yang melaksanakan hukuman, mengangkatnya dan menjungkir balikkannya, kemudian sekali banting tubuh bajak ini ambles ke dalam papan dek yang menjadi ambrol.
Kepala dan tubuh bajak itu masuk terus ke bawah, hanya kelihatan dua kakinya sebatas lutut saja dan orang ini mati seketika itu juga.
Sebelum Sim Kang berani mencegah, bajak ke dua yang tadi bekerja sebagai pembantu algojo, memegangi orang yang terhukum, mendapat giliran.
Souw Teng Wi nengulur tangan, orang itu menjerit ketakutan, akan tetapi orang-orang melihat tubuhnya melayang tinggi ke atas, sampai hampir sama tingginya dengan puncak tiang layar, kemudian dari atas ia jatuh melayang ke bawah dengan kecepatan luar biasa.
Semua orang menahan napas menanti kepala orang itu remuk terbanting ke lantai.
"Souw Teng Wi, jangan bunuh dia...!"
Sim Kang berseru.
Nampaknya sudah terlambat karena begitu ucapan ini berakhir, orang yang dilontarkan itu sudah hampir terbanting ke papan dek.
Akan tetapi dengan langkah lebar Souw Teng Wi sudah berada di situ dan dengan enak saja ia menerima tubuh yang terbanting itu lalu dilemparkan ke atas dek di mana orang sial ke dua itu rebah dengan muka pucat seperti mayat dan tak dapat berkata apa-apa kecuali memandang Scuw Teng Wi dengan mata terbelalak dan mulut celangap.
Sim Kang sudah menghampiri Souw Teng Wi.
alisnya berkerut, hatinya tidak senang.
"Souw-twako, mengapa kau membunuh orang sendiri?"
Tanyanya, biarpun hatinya panas dan tidak senang namun suaranya tetap halus, tidak berani ia bermain kasar terhadap orang aneh itu.
"Dia manusia kejam, menyiksa orang. Aku tidak suka melihat orang disiksa, menyiksa hanya perbuatan binatang buas yang keji!"
Jawab Souw Teng Wi bersungut-sungut, agaknya tidak puas mengapa ia tidak boleh membunuh orang yang tadi dilontarkan ke atas.
"Kau tidak suka melihat orang dihukum, akan tetapi kau membunuh seorang pembantuku, bahkan yang seorang pula hampir kau bunuh juga. Bukankah kau keliru dengan perbuatanmu itu?"
Souw Teng Wi tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, membunuh berbeda dengan menyiksa. Membunuh musuh berarti berjasa terhadap negara, membunuh orang keji berarti menyelamatkan rakyat dari pada kekejiannya. Akan tetapi menyiksa adalah perbuatan yang membuktikan akan kerendahan budi si penyiksa. Mana kau tahu akan sifat membunuh dan menyiksa?"
Bagi Sim Kang, jawaban ini adalah jawaban kacau-balau dari seorang gila. Maka ia menjadi penasaran dan membantah lagi.
"Kau tidak tahu, Souw-twako. Akulah yang menyuruh orang ini dihukum. Dia adalah seorang pencuri, mencuri sebuah barang berharga di atas kapal ini. Bukankah sudah sepatutnya seorang pencuri dihukum?"
Katanya sambil menudingkan jari telunjuk kepada pencuri yang kini duduk menggigil ketakutan itu.
Saking takutnya melihat sikap Souw Teng Wi yang sedang kumat itu, pencuri ini sampai lupa akan rasa nyeri pada ibu jari dan telunjuknya yang terpantek pada papan.
"Mencuri apa?"
Tanya Souw Teng Wi, matanya yang merah ditujukan kepada Sim Kang yang menjadi bergidik melihatnya.
Sim Kang mengeluarkan batu giok berbentuk burung hong yang amat indah itu, memperlihatkannya kepada Souw Teng Wi sambil berkata.
"Inilah benda berharga yang coba dicuri."
Sekali menggerakkan tangan. Souw Teng Wi sudah merampas batu giok itu. menimang-nimangnya dan memandangnya sambil tertawa bekakakan.
"Ha-ha-ha-ha, bukan salahnya, melainkan salahmu sendiri. Mengapa benda seperti ini dianggap berharga? Jangan menganggap benda ini berharga dan orang lain takkan mencurinya. Jangan diperlihatkan benda ini kepada orang lain, agar tak akan ada pencuri datang. Lebih tepat lagi, jangan mengadakan barang-barang yang kau sebut berharga, siapakah yang timbul keinginan mencuri? Ha-ha-ha ha!"
La menghampiri pencuri itu yang menggigil makin keras.
"Kau suka benda ini? Kau anggap berharga? Lihat!"
Sekali meremas, batu giok burung hong itu hancur menjadi bubuk putih.
"Lihat, ini benda yang tadi, tahu? Masih inginkah kau mencurinya?"
Pencuri itu menggelengkan kepala dengan muka pucat.
Souw Teng Wi tertawa lagi sambil melemparkan bubukan batu giok ke atas, ia lalu menari-nari di sekeliling dek kapal itu."Siapa sudi mencuri kalau orang menyatakan bahwa benda itu tidak berharga?
Tentu tak ada yang ingin mencurinya!"
La mengayun tangan kanannya dan "prak!"
Debu mengepul dan kepala singa-singaan batu itu sudah lenyap, hancur menjadi debu, yang tinggal hanya tubuh singa yang tak berkepala.
"Ha-ha-ha, sekarang siapa bilang dia berharga? Dan siapakah yang sudi mencurinya? Ha-ha-hal"
"Gila!"
Suara ini terdengar dari mulut Sim Hong Lui yang saking gemasnya tak dapat menahan lidahnya.
Souw Teng Wi mengerling ke arahnya dan tahu-tahu telah berada di depan pemuda itu yang menjadi pucat seketika.
"Pakaianku ini, siapa yang sudi mencurinya? Karena tidak berharga. Pakaian orang muda ini dikatakan berharga dan bagus, hati-hati, nanti ada yang mencurinya. Lebih baik dibikin tidak berharga!"
Cepat sekali kedua tangan Souw Teng Wi bergerak-gerak dan di lain saat hanya terdengar suara "brett-brett-brettt!"
Ketika ia menghentikan gerakan tangannya, keadaan Hong Lui lucu sekali.
Celananya tinggal sepotong, bajunya compang-camping.
ikat rambutnya putus, tali pinggangnya bolong-bolong, pendeknya semua barang indah yang menempel di tubuhnya tidak utuh lagi.
Bahkan pedangnya sudah tidak bergagang lagi, karena gagangnya sudah remuk.
"Lihat, lihat, siapa mau mencuri barangnya? Ha-ha-ha!"
Sim Kang terkejut bukan main. Benar-benar susah mengurus orang gila ini. Ia menghampiri dan menjura kepada Souw Teng Wi.
"Souw-twako memang berkata benar. Aku menerima salah dan maafkan semua kesalahan kami yang sudah membikin hatimu tidak senang."
Souw Teng Wi menudingkan telunjuknya kepada Sim Kang sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, siapa bicara tentang salah benar? Kau tidak becus memimpin, tentu anak buahmu brengsek!"
Setelah berkata demikian, sambil berjingkrakan orang gila ini kembali ke kamarnya di bawah dek. Sim Kang menjadi bingung sekali, la segera berunding dengan Sim Hong Lui.
"Dia harus segera diserahkan ke Nan-king,"
Bisik si ayah.
"Kalau dia terus di sini, biarpun keadaan kita kuat, akhirnya kita bisa celaka. Lebih baik kau pergi ke Nan-king mencari hubungan untuk urusan penyerahan orang gila ini. Kalau bisa diserahkan kepada Auwyang taijin. tentu hadiahnya lebih besar lagi."
"Akan tetapi kita sudah mendapat nama buruk dengan tewasnya Thian Te Cu di kapal kita,"
Bantah puleranya.
"Bisa diatur. Katakan bahwa yang membunuh adalah Souw Teng Wi dan bahwa kita tadinya dipaksa olehnya, habis perkara Melihat kepandaiannya, siapa yang tidak percaya kalau kita akui dia sebagai kepala kita?"
Hong Lui mengangguk-angguk dan demikianlah, mereka mencari kesempatan baik untuk "menjual"
Souw Teng Wi.
Akan tetapi sebelum Hong Lui pergi meninggalkan kapal untuk mencari hubungain ke kota raja Nan-king, terjadi hal yang hebat lagi di kapal itu.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, dari pergaulan yang tidak sehat dengan anak buah bajak, Hong Lui menjadi seorang pemuda binal dan ugal-ugalan.
Pada suatu hari dia bersama beberapa orang anak buah bajak dengan perahu-perahu kecil turun ke darat dan kembalinya membawa seorang wanita muda yang cantik sebagai tawanan.
Sim Kang tahu akan hal ini, akan tetapi ia mendiamkannya saja karena sudah biasa puteranya itu membawa gadis-gadis dan wanita-wanita muda sebagai tawanan ke kapal.
Akan tetapi kali ini, wanita muda itu tidak turut dengan suka rela, melainkan dipaksa.
Wanita ini adalah isteri seorang nelayan yang diculik dengan paksa oleh Hong Lui, tertarik akan kecantikan wanita ini.
Suaminya, si nelayan yang malang, dipukul sampai pingsan di tepi pantai.
Tak seorangpun menghiraukan hal ini.
Para anak buah bajak hanya tertawa-tawa melihat Hong Lui menyeret wanita itu ke dalam kamarnya.
Akan tetapi Souw Teng Wi yang seperti biasa duduk melamun di kamarnya, tiba-tiba melompat bangun.
Telinganya yang tajam mendengar suara wanita menangis.
Alangkah kagetnya hati Hong Lui ketika ia sedang duduk makan minum bersama dua orang bajak kaki tangannya di dalam kamar dan memaksa wanita itu untuk makan minum pula bersamanya, tiba-tiba pintu kamarnya roboh tertendang dan masuklah SouwTeng Wi!
Sekali pandang saja Souw Teng Wi yang biarpun sudah gila namun jiwa ksatrianya tetap tidak meninggalkannya, tahu bahwa wanita ini tentu orang yang diculik ke situ.
"Siapa wanita ini? Mengapa menangis?"
Tegurnya kasar.
Dua orang bajak dan Heng Lui tak dapat menjawab dan wanita itu yang melihat masuknya seorang laki-laki aneh dan menyeramkan, jatuh berlutut dan berteriak-teriak "Kembalikan aku ke pantai...
kembalikan aku kepada suamiku...!"
Souw Teng Wi meloncat ke dalam, sekali tendang meja penuh makanan itu terbalik ke atas pembaringan.
"Siapa menculik dia ke sini?"
Bentaknya. "
"Souw-pek-pek. mereka ini.... dua orang durhaka ini yang menculiknya .. aku tidak tahu apa-apa...!"
Baru saja Hong Lui menghentikan kata-katanya, terdengar suara keras dari dua buah kepala orang yang diadu satu kepada yang lain.
Dua orang bajak itu roboh terkulai dengan kepala pecah dan tak bernapas lagi.
"Antar dia kembali kepada suaminya!"
Bentak Souw Teng Wi dan Hong Lui tak berani berayal pula, cepat menyuruh seorang bajak njembawa wanita itu dengan perahu ke darat.
Sim Kang juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Kalau begini naga-naganya, anak buahku bisa habis dibunuhi orang gila ini,"
Pikirnya. Semenjak itu, mereka menjaga diri hati-hati sekali agar jangan menyinggung perasaan Souw Teng Wi, menjaga agar orang gila itu tidak "kumat."
Sementara itu, Hong Lui meninggalkan kapal untuk mencari hubungan dalam urusan menyerahkan pemberontak Souw Teng Wi.
Demikianlah, kapal layar itu sedang dalam perjalanan untuk menjemput Hong Lui kembali di pantai Po-hai ketika kapal ini kebetulan sekali lewat di dekat batu karang di mana Souw Lee Ing terdampar dan Sim Kang menolong gadis itu naik ke kapalnya.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, saking lelahnya karena penderitaan selama delapan hari di tengah laut, setelah makan kenyang Souw Lee Ing tidur pulas di atas kursinya.
Suara gaduh di perahu itu sama sekali tidak didengarnya.
Ia tidak tahu bahwa kapal itu telah menuju ke pantai dan tidak tahu pula bahwa seorang pemuda tampan yang baru naik ke kapal itu memandangnya dengan sepasang mata penuh gairah, seperti mata pencuri melihat emas.
Pemuda itu adalah Hong Lui yang menjadi kagum bukan main menyaksikan gadis secantik itu berada di atas kapal.
Belum pernah ia melihat seorang gadis secantik ini dan sekaligus hatinya jatuh bangun.
"Ayah, aku harus mendapatkan gadis ini. Dia patut menjadi isteriku! Inilah gadis idaman hatiku yang sering kujumpai di alam mimpi,"
Katanya. Sim Kang hanya tersenyum dan berkata.
"Itu urusan mudah, urusan nanti. Sekarang lebih baik kita bicara tentang urusan yang lebih penting lagi."
Dengan ogah-ogahan Hong Lui meninggalkan gadis yang masih tidur pulas itu dan ikut dengan ayahnya ke kamar untuk bicara tentang urusan "penjualan"
Souw Teng Wi.
Sementara itu, malam tiba dan keadaan di kapal sunyi sekali.
Tanpa diketahui oleh siapapun juga.
Lee Ing terbangun dari tidurnya karena pundaknya ditekan orang.
Ketika gadis ini tersentak kaget, sebuah tangan yan berbulu dan kasar mendekap mulutnya, mencegah ia berteriak, kemudian pemilik tangan itu, seorang anak buah bajak tinggi besar, hendak memeluk dan memondongnya.
Lee Ing adalah seorang gadis kang-ouw yang cerdik.
Ia maklum akan niat jahat orang ini, maka iapun tidak mau berteriak.
Siapa tahu kalau ia berteriak, kawan-kawan orang ini malah hendak mencelakakannya.
Ia dapat mengerti bahwa orang ini hanya bertenaga besar akan tetapi tidak pandai silat atau hanya seorang yang mengerti silat biasa saja, ini dapat dibuktikan dari gerak-gerik orang itu.
Maka ia menurut saja tubuhnya dipondong dan pada saat yang baik, tangannya meluncur, terus menotok jalan darah kai-hu-hiat di pundak orang itu.
"Bukk!"
Orang itu roboh tak berkutik lagi.
Juga tidak dapat mengeluarkan suara.
Lee Ing marah bukan main.
Ia ingin memukul pecah kepala orang kurang ajar ini, akan tetapi takut kalau mendatangkan urusan besar.
Segera ia meninggalkan orang itu dan menyelinap pergi.
Ia tidak tahu jalan, akan tetapi ia ingin bertemu dengan majikan kapal yang kemarin bersikap lemah lembut itu, untuk melaporkan tentang kekurang-ajaran anak buahnya.
Berindap-indap ia berjalan menuruni anak tangga ke ruangan tengah dan tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap perlahan dari sebuah kamar.
Yang membuat hatinya berdebar dan cepat ia mengintai mendengarkan, adalah terdengaraya nama "Souw Teng Wi"
Disebut-sebut.
Kapal sedang bergerak-gerak perlahan dipukul ombak maka biarpun Sim Kang dan puteranya berkepandaian tinggi, mereka tidak mendengar gerakan Lee Ing yang mengintai dari balik jendela bilik kapal.
Lee Ing melihat dua orang duduk menghadapi meja yang dipasang di tengah bilik.
Lampu minyak tergantung di pojok bergoyang-goyang.
mendatangkan bayang-bayang menyeramkan di dalam kamar yang suram itu.
Lee -Ing mengenal seorang laki-laki setengah tua yang membawa senjata pian dan di depan laki-laki ini duduk seorang laki-laki muda yang tampan.
"Semua sudah diatur beres, ayah. Hadiah sudah disediakan dan begitu kita menyerahkan Souw Teng Wi, mati atau hidup, kita tinggal membawa hadiah itu. Akan tetapi, kiranya tidak mungkin menyerahkan orang gila itu dalam keadaan hidup,"
Terdengar pemuda itu berkata dan Lee Ing tahu bahwa pemuda itu adalah putera orang yang ramah itu. Sim Kang mengangguk-angguk.
"Memang tidak mungkin, kepandaiannya hebat dan ia susah diurus. Akan tetapi bagaimana bisa membuat dia tidak berdaya? Jangankan dia dalam keadaan sadar, sedang tidur saja tak mungkin bisa didekati. Telinganya amat tajam pendengarannya, ada tikus lewat saja ia terbangun, marah-marah dan belum mau tidur lagi sebelum ia dapat menangkap dan membunuh tikus itu. Bagaimana kita bisa menawannya?"
Pemuda itu tersenyum lalu berkata, suaranya bisik-bisik.
"Jangan khawatir, ayah. Aku sudah bertemu dengan Auwyang kongcu yang terkenal dengan ilmunya Hek-tok-ciang Auwyang-kongcu adalah seorang ahli racun dan ia sudah memberi racun yang apabila di campur dengan minuman arak, sama sekali tidak kentara ataupun terasa. Nyawa si gila sudah di tanganku!"
Sim Kang tertawa girang dan ayah serta anak itu nampaknya puas sekali.
Adalah Lee Ing yang berdiri menggigil di luar.
Ayahnya masih hidup!
Ayahnya telah gila dan sekarang hendak diracun oleh ayah dan anak ini!
Ayahnya berada di dalam kapal ini!
Dengan kaki gemetar Lee Ing meninggalkan tempat pengintaiannya dan berindap-indap menuruni tangga menuju ke bilik yang paling bawah.
Anak buah bajak sudah pada tidur, ada yang bermain kartu di ruangan atas, akan tetapi keadaan di bawah sunyi sekali.
Tiba-tiba Lee Ing mendengar suara orang bersungut-sungut.
"Pejuang-pejuang sekarang gentong kosong belaka. Tingkahnya seperti rampok, mana bisa disebut patriot sejati? Ah, masa kejayaan telah lampau... di mana pasukanku? Mengapa aku berada di kapal ini?"
Kemudian disusul makian perlahan.
"Bangsat Mongol penjajah laknat...! Pembesar-pembesar durna penghianat bangsa yang harus mampus!"
Berdiri bulu tengkuk Lee Ing mendengar suara ini.
Semenjak ia dilahirkan, belum pernah melihat wajah ayahnya, belum pernah mendengar suara ayahnya.
Bahkan ibunyapun ia tidak pernah mengenalnya karena ibunya sudah meninggal dunia ketika ia baru berusia dua bulan!
Akan tetapi suara ini membuat hatinya berdebar keras.
Benar-benarkah ayahnya yang bicara di dalam bilik itu?
Ia menahan napas dan menolakkan pintu bilik perlahan-lahan.
Pintu tidak terkunci dan terbuka.
Ia melihat seorang laki-laki berpakaian compang-camping dan berambut awut-awutan dengan muka penuh berewok, duduk bersandar dinding menghadapi lilin dalam keadaan melamun.
"Siapa kau berindap-indap mengintaiku?"
Tanya laki-laki itu acuh tak acuh, kemudian mengangkat muka memandang.
Alangkah menyedihkan muka itu bagi Lee Ing, muka yang kotor bermata merah, mulutnya membayangkan kehancuran hati.
Sebaliknya, ketika Souw Teng Wi melihat gadis itu di depannya, ia tersentak kaget bagaikan disambar petir.
Ia menjadi seperti lumpuh, tak mampu berdiri hanya memandang dengan bengong.
Bibirnya yang kering bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan aneh sekali bagi Lee Ing dari (Lanjut ke
Jilid 06) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 sepasang mata yang merah itu bercucur an airmata!
Lee Ing bertindak menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Souw Teng Wi.
Entah mengapa, biarpun belum yakin benar apakah orang ini ayahnya, ada perasaan aneh yang memaksanya untuk berlutut dan hatinya penuh diliputi rasa kasihan kepada orang terlantar ini.
Mereka kini berhadapan, saling pandang, Lee Ing berlutut dan Souw Teng Wi duduk.
"Namilana... Milana isteriku sayang... kau.... kau datang menyusulku....?"
Bisik-bisik ini terdengar oleh Lee Ing dan seketika itu juga air mata bercucuran dari kedua mata Lee Ing.
"Milana isteriku manis... kau masih ingat kepadaku, Souw Teng Wi suamimu...?"
Ucapan-ucapan ini adalah kata-kata yang seringkali keluar dari mulut Souw TengWi baik dalam tidur niaupun kalau sedang melamun, penuh rasa rindu kepada isterinya yang tercinta, isterinya yang terpaksa berpisah dari padanya ketika sedang mengandung.
Kini Lee Ing tidak ragu-ragu lagi.
Tak salah lagi, orang inilah adanya Souw Teng Wi, ayahnya, la menubruk ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah... ayahku...! Aku Souw Lee Ing puteri-mu! Aku adalah anakmu, dan Namilana adalah ibuku.... ayah, ibu... ibu sudah..."
Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia terisak-isak di dalam pelukan ayahnya Terjadi keanehan dalam detik-detik itu.
Kegilaan seakan-akan lari pergi untuk sementara dari kepala Souw Teng Wi.
Agaknya pertemuan yang amat mengharukan hatinya ini, melihat wajah gadis yang seperti pinang dibelah dua dengan wajah Namilana isterinya, mendengar pengakuan bahwa gadis ini adalah puterinya, seketika itu juga ia menjadi waras.
"Apa kau bilang...? Kau ...kau anakku? Kau anak Namilana yang sedang mengandung ketika pulang ke utara....?"
Souw Teng Wi berkata campur tangis sambil memandang muka puterinya.
Lee Ing tak mampu mengeluarkan suara saking terharunya.
Ia hanya menatap wajah ayahnya matanya penuh air mata, bibirnya komat-kamit tanpa mengeluarkan suara.
lalu mengangguk-angguk.
"Ya, Thian Yang Maha Kuasa!"
Souw Teng Wi memuji nama Tuhan.
"Kau... kau anakku...? Siapa namamu tadi....? "Souw Lee Ing ....... sudah lama aku mencarimu, ayah."
Souw Teng Wi menciumi jidat puterinya, air matanya jatuh membasahi jidat itu dan ia mendekap kepala puterinya ke dadanya yang serasa hampir meledak saking bahagianya.
"Souw Lee Ing. aduh, bagus sekali namamu, anakku. Kau seperti ibumu benar.... eh, mana ibumu? Mana Namilana isteriku dan mana Haminto Losu mertuaku?"
Ia teringat dan bertanya sambil memandang muka puterinya. Lee Ing menangis makin keras sampai sesenggukan, lama baru ia bisa menjawab.
"Ayahku, ibu Namilana sudah meninggal dunia ketika aku baru berusia dua bulan dan... dan kong-kong....."
Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terdengar Souw Teng Wi mengeluh panjang dan tubuhnya menjadi lemas.
Ternyata ia pingsan menyandar dinding.
Pada saat itu, terdengar tindakan kaki orang dan muncullah Sim Kang dan Sim Hong Lui di depan pintu.
Muka mereka pucat dan mereka memandang dengan mata terbelalak lebar.
Melihat gadis itu memeluk Souw Teng Wi, benar-benar merupakan penglihatan yang luar biasa bagi mereka.
Tadi ayah dan anak ini selesai bicara dan Hong Lui mengundurkan diri untuk kembali kepada gadis yang telah menarik hatinya.
Akan tetapi ia melihat tempat duduk gadis itu kosong dan melihat pula seorang anggauta bajak menggeletak tak berdaya karena tertotok jalan darahnya.
Tentu saja Hong Lui menjadi kaget sekali dan cepat ia pergi ke kamar ayahnya memberi laporan.
Berdua lalu keluar mencari dan akhirnya mereka mendengar suara di kamar Souw Teng Wi yang berada di tingkat bawah.
Ketika Lee Ing melihat ayah dan anak ini menyusul datang ia melepaskan pelukannya dari pundak ayahnya dan melompat berdiri, siap melindungi ayahnya.
"Jangan sentuh ayahku! Jangan kalian mengganggu ayah!"
Desisnya marah dengan mata mengancam. Tentu saja Sim Kang dan Sim Hong Lui melengak melihat sikap gadis ini.
"Ayahmu...?"
Sim Kang berkata heran.
"Kau... kau ini siapakah, nona?"
"Aku Souw Lee Ing dan dia ini ayahku. Awas kalau kalian berani mengganggunya, lebih dulu kubunuh kalian!"
Menggelikan sekali sikap Lee Ing ini dan Sim Kang tersenyum. Tentu saja ia sama sekali tidak takut terhadap gadis muda remaja ini, biarpun gadis ini mengaku sebagai anak Souw Teng Wi.
"Gadis gila jangan kau main-main! Minggirlah!"
Kata Sim Kang yang sama sekali tidak mau percaya bahwa gadis yang ia dapatkan terdampar di atas batu karang ini adalah anak Souw Teng Wi.
la melangkah maju hendak menangkap pundak gadis itu.
Akan tetapi biarpun gerakan itu cepat sekali sehingga pundak Lee Ing tertangkap tanpa gadis itu sempat mengelak sekali menggerakkan pundaknya Lee Ing telah dapat melepaskan diri!
Inilah ilmu gulat yang ia pelajari dari kakeknya.
"Jangan bunuh ayahku, kalian orang-orang jahat"
Selagi Sim Kang dan Sim Hong Lui hendak menangkap gadis itu, terdengar suara "uuhh"
Dan tubuh ayah dan anak itu terhuyung mundur sampai ke pintu.
"Apakah kalian sudah bosan hidup hendak mengganggu Namilana isteriku?"
Bentak Souw Teng Wi yang sudah meloncat berdiri, sikapnya menyeramkan.
"Ayah, aku bukan ibu. Aku Souw Lee Ing anakmu..."
Kata Lee Ing sedih melihat ayahnya telah "kumat"
Pula gilanya.
"Ah, yaaa... kau Lee Ing anakku...., aduh Namilana ...Namilana isteriku, kau berada di mana....?"
Dan Souw Teng Wi menangis lagi, Lee Ing ikut menangis melihat keadaan ayahnya itu.
Diam-diam Sim Kang terkejut setengah mati.
Sungguh tak pernah disangkanya bahwa gadis ini ternyata benar-benar puteri orang gila ini.
Akan tetapi dasar ia cerdik sekali.
Cepat ia merobah sikap dan menjufa sambil berkata dengan muka berseri.
"Ahh, kiranya betul puteri Souw-twako? Sungguh kebetulan. Ini namanya berkah Thian kepada kita semua. Secara tidak terduga kami telah menolong puteri Souw-twako yang terdampar di batu karang. Ah, Souw-twako. Kionghi (selamat), kiong-hi! Pertemuan yang amat membahagiakan, mengapa harus menangis sedih? Sudah sepatutnya dirayakan. Souw-twako, aku permisi dulu untuk menyiapkan perayaan pertemuanmu dengan puterimu yang cantik ini."
Ia lalu mengundurkan diri bersama Hong Lui yang terpaksa kali ini menggigit jari.
Tentu saja kalau nona ini puteri Souw Teng Wi, ia tidak berani main gila di depan Souw Teng Wi.
yang lihai sekali itu.
Namun diam-diam ia masih mengandung harapan besar.
Souw Teng Wi diracun, mayatnya dijual kepada Auwyang-taijin dan puterinya menjadi miliknya.
Aduh senangnya!
Sementara itu, setelah menangis Souw Teng Wi menjatuhkan diri di lantai dan tidur pulas, sama sekali tidak bangun lagi.
Lee Ing yang merasa amat kasihan melihat ayahnya, tidak mau mengganggu, bahkan duduk menjaga ayahnya dan menatap wajah ayahnya dengan cinta kasih yang besar.
Setelah ia pahdang dengan seksama, hatinya girang mendapat kenyataan bahwa sebetulnya ayahnya mempunyai wajah yang tampan dan gagah sekali.
Sayang ayahnya agaknya terserang penyakit ingatan, pakaiannya tidak karuan, wajahnya kotor dan penuh rambut yang tidak terpelihara Berkali-kali Lee Ing meneteskan air mata mengenangkan penderitaan ayahnya dan ia juga merasa gelisah kalau teringat akan percakapan Sim Kang dan puteranya yang mempunyai rencana hendak membunuh ayahnya dengan racun.
Aku harus menggagalkan usaha keji mereka, aku harus membela ayah biarpun aku kehilangan nyawa untuk itu, demikian Lee Ing mengambil keputusan.
Pada keesokan harinya, ketika Souw Teng Wi bangun, ia pertama-tama kaget melihat seorang gadis cantik duduk di dekatnya.
Akan tetapi Lee Ing segera memegang tangannya dan berkata lemah lembut penuh kesayangan.
"Ayah, aku Lee Ing anakmu. Souw Lee Ing puteri tunggalmu."
Untuk sejenak Souw Teng Wi melongong dan memandang kepada Lee Ing dengan sinar mata kosong, kemudian ia mengangguk-angguk dan bersungut-sungut.
"Ya.... ya.. kau Lee Ing anakku dan ibumu Namilana telah mati...."
Suara ini kosong dan sinar matanya membayangkan kedukaan dan kekecewaan besar sekali.
Lee Ing terkejut dan berduka, Ia mengerti bahwa kegirangan pertemuan antara ia dan ayahnya itu menjadi hampa bagi ayahnya karena mendengar bahwa ibunya telah mati.
"Ayah, hati-hatilah, ayah. Dua orang majikan kapal itu hendak membunuhmu,"
Bisiknya sambil memegang lengan ayahnya.
"Apa...? Hemm, biarlah. Tak seorangpun dapat membunuh aku. Ha-ha-ha!"
Suara ketawanya keras menggema di kamar itu, mengagetkan Lee Ing dan gadis ini segera jatuh terduduk dengan badan serasa lumpuh.
Ia telah terkena pengaruh suara ketawa penuh tenaga Iweekang yang tinggi Souw Teng Wi menariknya bangun dan mengamat-amatinya, keningnya berkerut.
"Kau Lee Ing anakku, akan tetapi tubuhmu lemah sekali. Kau perlu dilatih supaya jangan selemah ini."
Lee Ing girang sekali.
"Baik, ayah. Aku ingin sekali belajar ilmu agar menjadi kuat seperti ayah dan dapat menjaga keselamatan ayah."
"Nah, kau siaplah!"
Pada saat itu dan di tempat itu juga Souw Teng Wi mulai memberi latihan ilmu silat kepada anaknya!
Akan tetapi latihan ini tidak karuan awal mulanya, amat sukar bagi Lee Ing untuk mengikutinya.
Ilmu silat yang diajarkan oleh ayahnya itu demikian aneh, gerakan-gerakannya sukar diikuti sehingga ia harus mencurahkan segenap perhatiannya, baru ia dapat menangkap satu dua jurus.
Selagi ayah dan anak ini sibuk berlatih, muncul Sim Kang yang tersenyum sambil menjura.
"Wah, kalau ayah dan anak memiliki kegagahan, pagi-pagi sudah berlatih silat. Hebat... hebat!"
Ia lalu menjura kepada Souw Teng Wi dan berkata.
"Souw-twako, perjamuan untuk merayakan pertemuanmu dengan puterimu telah kami siapkan. Mari kita naik ke ruangan atas."
Souw Teng Wi mengangguk-angguk dan menggandeng tangan anaknya.
Lee Ing menjadi pucat dan hatinya berdebar tidak karuan.
Ia merapatkan tubuhnya kepada ayahnya dan diam-diam ia membenci orang she Sim ini yang dianggapnya sopan santun dan halus pada lahirnya, namun di dalam hati mengandung maksud keji sekali.
Melihat sikap mereka yang takut-takut terhadap ayahnya, Lee Ing dapat menduga bahwa ilmu kepandaian ayahnya tentu hebat dan tentu ayahnya sanggup melindungi diri.
Maka ia hendak melihat dulu perkembangannya, baru turun tangan kalau sekiranya ayahnya terancam bahaya.
Di atas dek sudah disediakan meja perjamuan, meja besar dan penuh barang hidangan.
Sim Hong Lui menyambut dengan senyum ramah.
Pemuda ini mengenakan pakaiannya yang paling indah hingga ia kelihatan makin tampan dan gagah.
Agaknya pemuda ini mempersolek diri agar kelihatan menarik dalam pandangan gadis itu.
Juga lima orang pelayan dipilih di antara bajak yang tidak begitu keren kelihatannya, termasuk orang-orang yang cukup tampan.
Sim Kang segera menarik bangku mempersilahkan Souw Teng Wi dan Souw Lee Ing duduk.
Lee Ing tidak mau berjauhan dari ayahnya duduk di sebelah kiri ayahnya.
Kemudian Sim Kang dan Sim Hong Lui mengambil tempat duduk berhadapan dengan mereka.
"Souw-twako. atas berkumpulnya kembali ayah dan anak, sekali lagi aku menghaturkan kionghi,"
Kata Sim Kang sambil menuang arak dengan kedua tangannya sendiri ke dalam cawan arak di depan Souw Teng Wi dan Lee Ing, juga ke dalam cawannya sendiri, lalu ia mengangkat cawan mengajak minum.
Souw Teng Wi tertawa bergelak.
"Sudah berapa tahun aku tak minum arak, hari ini mendapat rejeki, tak baik ditolak."
Ia mengangkat cawannya, juga Lee Ing mengangkat cawannya.
Gadis ini dengan amat teliti mengawasi gerak-gerik Sim Kang dan melihat bahwa tuan rumah juga minum arak yang sama, ia tidak curiga.
Apa lagi ia telah mencium arak itu dan tidak mencium bau yang mencurigakan.
Ia menanti sampai Sim Kang minum araknya, baru ia minum pula araknya dengan sekali teguk menyusul ayahnya.
"Arak enak, arak enak..."
Kata Souw Teng Wi sambil mengecap-ngecap mulutnya. Sim Hong Lui tertawa.
"Souw-pek-pek. akupun memberi selamat kepada pekpek dan kepada Souw-siauwmoi atas pertemuan yang amat menggembirakan hati ini. Harap sudi menerima penghormatan."
Pemuda inipun menuang arak ke dalam cawan masing-masing.
Kali ini Lee Ing lebih hati-hati dan menaruh perhatian sepenuhnya, namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Makanan lalu ditawarkan dan mulailah mereka makan minum.
Lee Ing melihat jelas betapa Sim Kang makan semua hidangan, maka iapun cepat mengambilkan setiap hidangan yang dimakan oleh Sim Kang, diambil dengan sumpit dan ditaruh ke dalam mangkok ayahnya.
Sikapnya seperti melayani ayahnya, padahal ia menjaga agar ayahnya jangan sampai mengambil masakan yang tidak disentuh ayah dan anak she Sim itu.
Memang Lee Ing amat cerdik dan pandai mengatur sikap sehingga semua perbuatannya ini nampak wajar.
Setelah minum banyak arak, timbul kegembiraan hati Souw Teng Wi dan ia tertawa-tawa.
"Kau orang baik, saudara Sim, orang baik...."
Sim Kang tertawa.
"Apakah kau sudah puas Souw-twako?"
"Ha-ha, puas sekali. Arakmu enak... enak benari"
"Souw-pek-pek sambil makan minum, sudikal kau menceritakan dari mana kau mendapatkan ilmu silat yang hebat itu? Hitung-hitung penambah pengetahuan keponakanmu yang bodoh ini,"
Tiba-tiba Sim Hong Lui bertanya. Pertanyaannya ini sebetulnya wajar, akan tetap Lee Ing mengerutkan kening.
"Ilmu silat tentu saja didapat dari gurunyu mengapa harus ditanya lagi? Ayah sudah cukup minum, biarlah dia beristirahat. Ayah, mari kuantar ayah kembali ke kamar."
Akan tetapi Souw Teng Wi sudah setengah mabok dan kegembiraannya timbul.
"Ilmu silat? Ha-ha-ha, baru kupelajari seperdelapan bagian saja. Kalau sudah kupelajari semua, di kolong langit ini mana ada durna berani mengganggu aku? Ilmu sakti dari Gua Siluman tiada taranya di dunia ini, tiada keduanya. Baru mempelajari seperdelapan bagian, kepandaian silatku meningkat beberapa kali lipat. Ha-ha-ha!"
"Ayah, mari beristirahat."
Memang ayah dan anak itu hendak membongkar rahasia kepandaian Souw Teng Wi sebelum membunuhnya. Mendengar ucapan Souw Teng Wi tentang ilmu sakti di Gua Siluman, mereka bertukar pandang penuh arti.
"Gua Siluman? Ha. aku pernah mendengar tentang itu dan pernah melihatnya, Souw-twako."
Kata Sim Kang. Tiba-tiba sikap Souw Teng Wi berubah sungguh-sungguh.
"Tidak mungkin. Di dunia ini hanya aku seorang yang pernah melihatnya."
Melihat kecurigaan Souw Teng Wi Sim Kang cepat memancing.
"Bukankah gua berbentuk tengkorak yang terdapat di Pulau Naga Hitam?"
Souw Teng Wi tertawa.
"Ha-ha-ha. bukan di Pulau Naga Hitam. Gua Siluman itu adalah...."
Lee Ing menarik tangan ayahnya.
"Ayah, tak tahukah kau bahwa orang hendak mengetahui di mana adanya gua itu dan kemudian mengambil ilmu itu?"
Sim Kang terkejut sekali dan Souw Teng Wi memandang dengan mata mulai liar.
"Tidak, tidak, Souw-twako, puterimu salah sangka. Mana aku ada keberanian berbuat seperti itu? Aku hanya ingin tahu saja dan kalau kau keberatan menceritakan, sudahlah."
Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi dan menowel pipi Lee Ing.
"Bocah nakal, pamanmu Sim itu orang baik-baik. Ha-ha-ha. araknyapun enak...!"
"Souw-twako, arak yang kau minum tadi masih belum enak betul. Aku mempunyai simpanan secawan lagi arak yang usianya sudah seratus tahun lebih. Orang bilang siapa yang meminumnya tentu akan bertambah panjang usianya. Selama ini kusimpan saja karena aku sayang meminumnya. sekarang. dalam kesempatan sebaik ini, aku ingin kau sudi menerimanyal"
"Arak baik seratus tahun usianya? Aduh, mana dia. Lekas bawa ke sini!"
Seorang di antara para pelayan datang membawa sebuah guci kecil terisi arak yang hanya ada secawan.
Untuk menghilangkan kecurigaan, Sim Kang menyuruh pelayan menuang arak itu ke dalam cawan Souw Teng Wi sampai penuh.
Bau yang amat harum keluar dari cawan itu dan Souw Teng Wi kelihatan girang sekali.
"Arak bagus sekali!"
Katanya dan ia mengulur tangan. Akan tetapi Lee Ing menjerit dan menangkap tangannya.
"Ayah, jangan sentuh arak itul"
Katanya cepat.
"Biar kucoba dulu!"
Sebelum Sim Kang dan Sim Hong Lui hilang kagetnya, Lee Ing menotok pelayan yang menuang arak tadi dan cepat menuangkan sisa arak dari guci kecil ke dalam mulut yang terbuka karena totokan pada leher.
Begitu arak yang tinggal sedikit memasuki kerongkongan, pelayan itu berkelojotan dan mukanya berubah hitam, napasnya putus!
Sim Kang dan Sim Hong Lui kaget setengah mati, akan tetapi mereka berubah girang ketika melihat betapa Souw Teng Wi yang sudah tidak beres otaknya itu telah menyambar cawannya dan sekali tenggak saja habislah arak beracun itu ke dalam perutnya.
Ternyata Souw Teng Wi tak dapat menahan seleranya, tanpa memperdulikan anaknya yang sedang merobohkan pelayan, ia mempergunakan kesempatan itu untuk menghabiskan araknya.
"Ayah...!"
Lee Ing menjerit dan melompat hendak merampas cawan.
Akan tetapi terlambat, cawan itu sudah kosong dan ayahnya berdiri tegak, memandangnya dengan senyum lebar.
Tiba-tiba Souw Teng Wi tersedak dan tubuhnya terguling roboh, miring di atas lantai.
"Berhasil...!"
Sim Hong Lui dan Sim Kang bersorak girang.
"Ayah..!!"
Lee Ing memeluk tubuh ayahnya dan melihat betapa mata ayahnya dipejamkan mulutnya terbuka dan bau arak yang wangi memenuhi ruangan.
Tubuh ayahnya kaku, hanya mukanya tidak menjadi hitam seperti muka pelayan tadi.
Mendengar suara ketawa ayah dan anak yang keji dan curang itu, Lee Ing meloncat berdiri, matanya berlinang air mata, mukanya pucat, sikapnya mengancam, kedua tangan terkepal keras.
"Iblis-iblis keji....! Kalian ayah dan anak berhati binatang! Aku harus mengadu nyawa dengan kalian!"
Sim Hong Lui tertawa.
"Manis sekali bukan, ayah? Makin manis kalau marah Ayah boleh berbuat sesuka ayah dengan Souw Teng Wi si manusia gila, akan tetapi puterinya ini adalah bagianku! Aku bisa mati merana kalau tidak mendapatkan nona ini, ayah!"
Ayahnya hanya tersenyum saja.
Lee Ing tak kuat menahan lagi dan dengan marah, ia menerjang, menyerang Sim Hong Lui dengan pukulan keras.
Akan tetapi kepandaian Lee Ing masih jauh lebih rendah dari pada kepandaian Hong Lui yang lihai.
Sekali tangkap ia telah berhasil mencengkeram tangan gadis itu dan segera menotok pundak Lee Ing Gadis itu menjadi lumpuh akan tetapi masih sempat menjerit.
"Ayaaaahhhh....!"
Sim Hong Lui tertawa-tawa dan memeluk serta memondong tubuh gadis itu, dibawa pergi berjalan meninggalkan ruangan itu hendak ke kamarnya.
Lee Ing berteriak-teriak keras, namun tidak berdaya.
Tiba-tiba terdengar suara yang membuat Hong Lui merasa betapa seluruh bulu dan rambut di tubuh dan kepalanya berdiri satu-satu.
Suara gerengan yang sudah ia kenal baik, gerengan Souw Teng Wi kalau sedang marah!
Ia cepat menoleh ke belakang dan andaikata saat itu ada kilat dari angkasa menyambarnya, ia takkan begitu kaget seperti ketika melihat pemandangan di depan matanya pada saat itu.
Souw Teng Wi telah bangun kembali!
Di depannya.
Sim Kang dengan muka pucat seperti mayat telah mencabut sepasang pian-nya.
Souw Teng Wi menggereng-gereng, matanya merah, mulutnya berbuih, melangkah maju setindak demi setindak ke arah Sim Kang.
Kepada bajak ini menyurut mundur selangkah demi selangkah pula.
Tiba-tiba saking ngerinya ia merenggut kantong piauw dan menghujankan senjata-senjata rahasia ini ke arah Souw Teng Wi.
Akan tetapi hanya terdengar suara "tak-tok-tak-tok"
Dan semua piauw itu runtuk ke bawah setelah mengenai tubuh Souw Teng Wi, bagaikan mengenai menara baja saja.
"Souw-twako,... am...... ampun.... ampun...kan aku...."
Dapat juga suara ini keluar dari bibir yang sudah membiru ketakutan.
"Bangsat rendah, kau apakan Namilana isteri-ku...? Kau apakan Milanaku yang tercinta...?"
Ternyata kegilaan Souw Teng Wi sudah kambuh pula dan kini semua kemarahan hatinya ia tumpahkan kepada Sim Kang!
Sim Kang menjerit dan dengan nekat ia mendahului lawan, menyerang dengan sepasang pian-nya.
Akan tetapi dengan kedua tangan diangkat, Souw Teng Wi telah menangkap ujung pian dan sekali betot dua batang pian itu telah kena dirampas.
Sim Kang hendak lari, akan tetapi Souw Teng Wi menggerakkan sebatang pian rampasan yang tepat sekali melilit leher Sim Kang, f Ditariknya pian itu dengan gerakan menyentak dan...
leher Sim Kang putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan tubuhnya roboh.
Darah mengucur seperti pancuran dari lehernya yang bolong.
Sim Hong Lui menjerit ngeri, lalu...
lari secepatnya ke pinggir dek.
Tanpa menoleh lagi ia lalu melempar diri ke laut.
Byuurrr...!
Air muncrat tinggi dan tubuh pemuda itu tenggelam tidak kelihatan lagi.
Pemuda ini adalah seorang ahli dalam air maka ia terus menyelam menyelamatkan diri.
Souw Teng Wi melihat pemuda itu lari dan menceburkan diri, tak dapat mencegahnya dan mengamuk.
Setiap orang anak buah bajak yang dapat dipegangnya, lalu dibanting atau dilemparkan ke dalam laut.
Yang lain-lain bubar dan memilih mati di laut dari pada dalam tangan orang gila yang mengganas itu.
Biarpun demikian, dua puluh orang lebih tewas di tangan Souw Teng Wi, yang lain melarikan diri, ada yang mati di laut, ada pula sebagian kecil yang dapat menyelamatkan diri.
Souw Teng Wi membungkuk di atas tubuh anaknya dan sekali pencet saja Lee Ing sudah terbebas dari totokan.
Gadis ini memeluk ayahnya dan menangis sesenggukan.
"Diamlah, Namilana isteriku sayang, diamlah."
Souw Teng Wi membelai-belai rambut anaknya, suaranya mengandung kesayangan besar, lemah lembut, jauh sekali bedanya dengan tadi ketika mengganas. Hati Lee Ing menjadi perih.
"Ayah, aku Lee Ing anakmu....."
"Hush, diamlah, Namilana. Kelak kita mencari anak kita Lee Ing....."
Bicara Souw Teng Wi menjadi tidak karuan.
"Ayah, mari kita beristirahat. Kau lelah, tidurlah..."
Anak ini dengan sabar menuntun ayahnya memasuki kamar dan Souw Teng Wi seperti anak kecil yang menurut mau saja disuruh berbaring dan tidur.
Tak lama kemudian iapun sudah tidur mendengkur.
Bagaimanakah Souw Teng Wi tidak mati terkena racun?
Sebetulnya, orang biasa saja, bagaimana gagahpun, tentu takkan dapat menahan kalau minum racun yang berasal dari Auwyang Tek ini.
Racun itu adalah Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam) yang luar biasa jahatnya.
Akan tetapi, Souw Teng Wi telah mendapatkan ilmu yang amat aneh, yang menurut pengakuannya tadi baru dipelajari seperdelapan bagian saja.
Akan tetapi yang seperdelapan bagian ini saja sudah membuat ia lihai bukan main, mendatangkan hawa sinkang yang amat hebat di dalam tubuhnya sehingga racun jahat macam Hek-coa-tok sekalipun tidak dapat merusak isi perutnya.
Ia tadi pingsan karena hawa racun itu naik dan memenuhi kepalanya, akan tetapi setelah hawa racun itu keluar dari mulut dan hidung, ia siuman kembali.
Sekarang, setelah ia tertidur, arak yang bercampur racun tadi perlahan-lahan mengalir keluar dari mulutnya.
Inilah kehebatan sinkang yang sudah hampir sempurna, yang dapat mencegah masuknya barang yang tak dikehendaki ke dalam perut, hanya berhenti di pencernaan dan di "retour"
Kembali.
Lee Ing cepat meninggalkan ayahnya, naik ke ruangan atas, la merasa ngeri juga melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan yang amat menyeramkan.
Akibat amukan ayahnya memang hebat sekali.
Sambil menahan kegelian hatinya, ia melempar-lemparkan semua mayat itu ke dalam laut, lalu membersihkan lantai kapal dengan air yang ia timba dari pinggir dek.
Setelah ia memeriksa baik-baik, ia mendapatkan tiga orang anak buah bajak yang bejum mati, juga tidak terluka.
Mereka ini ternyata roboh pingsan sebelum disentuh oleh Souw Teng Wi saking takutnya.
Girang hati Lee Ing la mengguyur kepala mereka dengan air dan mereka menjatuhkan diri berlutut dan minta-minta ampun.
"Kalian akan diampuni asal kalian mulai sekarang menurut perintahku. Betulkan tiang dan layar, jalankan terus perahu ini menuju pantai daratan."
Tiga orang itu cepat melakukan perintah ini karena mendapat jaminan dari gadis itu bahwa mereka takkan diganggu asalkan menurut perintah.
Perahu berlayar lagi dengan cepat menuju ke barat.
Akan tetapi menjelang senja setelah setengah hari Lee Ing berpikir-pikir, ia memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk memutar kemudi, kembali ke timur.
Tiga orang itu saling pandang, mengangkat pundak dan terpaksa melakukan perintah aneh ini.
Mengapa Lee Ing berlaku seaneh itu?
Gadis ini berpikir bahwa ayahnya menjadi buronan.
Seperti yang ia dengar dari percakapan Sim Kang dan puteranya, ayahnya dikehendaki para durna dan kalau ia membawa ayahnya mendarat, bukankah itu sama saja dengan ular mencari penggebuk?
Lebih baik sementara ini ia membawa ayahnya merantau menyusul kakeknya.
Itulah sebabnya maka ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke timur, ke tengah samudera supaya jauh dari pantai, kemudian setelah cukup jauh, memutar kemudi ke utara.
Setiap hari ia melayani ayahnya yang masih bingung.
Kadang-kadang Souw Teng Wi menganggap Lee Ing seperti Namilana isterinya, ada kalanya ia teringat dan menganggap Lee Ing seperti anaknya.
Berkat rawatan yang setia dan berbakti dari Lee Ing, keadaannya menjadi banyak lebih baik.
Melihat pakaian ayahnya yang tidak karuan, Lee Ing mengambil se-stel pakaian Sim Kang dan menyuruh ayahnya bertukar pakaian.
Souw Teng Wi tertawa geli, akan tetapi dipakainya juga pakaian itu.
la nampak gagah, hanya mukanya masih penuh berewok.
Lee Ing mengambil pakaian ayahnya yang compang-camping itu, hendak ia cuci kemudian ia simpan untuk kenang-kenangan dan bahan cerita kelak kalau bertemu dengan kakeknya.
Juga kelak kalau ayahnya sembuh benar, tentu ayahnya suka melihat pakaian compang-camping yang membawa riwayat itu.
Akan tetapi ketika gadis ini sedang mencuci pakaian kumal itu, tiba-tiba tangannya menyentuh benda di balik lipatan baju ayahnya.
Ia cepat memeriksanya dan ternyata itu adalah sehelai kulit pohon yang digambari peta.
Ada tulisan di gambar itu yang berbunyi .
GUA TENGKORAK TEMPAT PUSAKA RAHASIA.
Lee Ing menjadi girang sekali dan cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu membawa kulit pohon bergambar peta itu kepada ayahnya.
"Ayah, aku mendapatkan ini di dalam saku bajumu sebelah dalam. Apakah artinya ini?"
Souw Teng Wi cepat menyambar benda itu, celingukan ke kanan kiri, lalu menarik napas panjang.
"Apa tidak ada orang melihatnya tadi? Kalau seorang di antara pelayan itu melihat, dia harus dibunuh!"
Lee Ing kaget dan menggeleng kepala.
"Tidak ada yang melihat, ayah. Mengapakah segala rahasia ini?"
Souw Teng Wi kebetulan sedang dingin otaknya.
"Kalau saja yang menemukan barang ini bukan kau anakku, kau tentu sudah kubunuh. Benda ini adalah rahasiaku yang tak boleh diketahui oleh siapapun juga. Sudah belasan tahun kusimpan sampai aku sendiri lupa di mana aku menaruhnya."
Lee Ing maklum akan watak ayahnya yang aneh, maka ia bersabar dan tidak bertanya lebih lanjut.
Akan tetapi ia amat memperhatikan pelajaran-pelajaran ayahnya dan benar hebat, kepandaian Lee Ing meningkat hebat sekali setelah ia mempelajari latihan Iweekang, ginkang dan ilmu pukulan yang diberikan oleh ayahnya dengan cara yang kacau-balau.
Ia maklum bahwa peta itu tentu ada hubungannya dengan kepandaian ayahnya, maka ia menanti saat yang baik.
Setelah berkumpul dengan ayahnya, Lee Ing berhasil mempelajari ilmu silat tinggi yang amat aneh.
Juga gadis itu dapat menduga apa yang telah menimpa diri ayahnya.
Dari ocehan-ocehan Souw Teng Wi di waktu kambuh gilanya, ditambah keterangan-keterangan ayahnya ini di waktu dingin otaknya, Lee Ing dapat menduga bahwa secara aneh ayahnya yang menjadi buronan dan merantau di luar daratan Tiongkok telah mendapatkan sebuah gua yang disebut Gua Siluman.
Tentu ada rahasia hebat di dalam gua ini, di antaranya terdapat ilmu kesaktian yang baru seperdelapan bagian dipelajari ayahnya.
Peta itu adalah peta yang menunjukkan di mana adanya Gua Siluman itu.
Timbul keinginan besar di hati Lee Ing untuk membongkar rahasia ini, untuk mencari Gua Siluman dan melihat dengan mata sendiri.
Tentu saja sebagai seorang ahli silat yang tak pernah merasa puas dengan kepandaian sendiri, iapun ingin sekali mewarisi ilmu kesaktian yang terdapat dalam Gua Siluman.
Akan tetapi, beberapa kali ia pancing-pancing, ayahnya tetap tidak mau membuka rahasia itu.
Malah memperingatkan Lee Ing.
"Lee Ing, jangan sekali-kali kau bicara tentang Gua Siluman dengan orang lain. Tempat itu berbahaya sekali, dapat masuk tak dapat keluar."
Dan orang tua ini kelihatan ketakutan dan ngeri.
Setelah kapal tiba di pesisir Propinsi Liao-ning, Lee Ing menyuruh tiga orang anak buah kapal untuk minggir dan mendarat.
Ia sengaja mengumpulkan dan mengambil barang-barang berharga peninggalan Sim Kang untuk dibawa sebagai bekal, lalu mengajak ayahnya, mendarat di pesisir yang amat sunyi.
Girang hatinya melihat tanah gunung dan pohon.
"Kalian boleh ambil kapal ini dan pergi sesuka hati kalian,"
Kata Lee Ing kepada tiga orang itu.
"Akan tetapi kalau ada yang bertanya tentang kami, awas jangan kalian ceritakan kalau kalian masih sayang nyawa!"
Tentu saja tiga orang anak buah bajak itu girang sekali mendapat kebebasan dan cepat mereka berlutut dan berjanji akan mentaati-perintah.
"Nona telah memperlakukan kami dengan baik, tentu saja kami takkan membuka mulut. Nona dan Locianpwe ini adalah orang-orang gagah, mana berani kami membocorkan rahasia?"
Kata seorang di antara mereka.
Tiba-tiba terdengar suara angin bersuitan, berkelebat sinar-sinar berkeredepan datang dari daratan dan....
tiga orang anak buah bajak itu menjerit dan roboh tersungkur!
Ternyata mereka telah terserang oleh anak-anak panah dan tewas seketika itu juga!
Lee Ing kaget sekali dan cepat mencari-cari dengan matanya ke empat penjuru, akan tetapi sunyi saja.
Hanya pohon-pohon dan batu-batu karang tinggi yang kelihatan, tidak ada gerak-gerik manusia di sekitar tempat itu.
Padahal sudah jelas bahwa tentu pelepas anak-anak panah itu seorang ahli panah yang lihai.
Ketika ia menoleh kepada ayahnya, orang tua ini berdiri tegak tak bergerak, nampak tenang-tenang saja akan tetapi matanya tertuju kepada sebuah bukit batu karang yang berada di depan.
Lee Ing juga menaruh perhatiannya ke situ dan benar saja, dari balik batu karang itu terdengar suara yang keras dan berpengaruh.
"Souw Teng Wi pemberontak hina, menyerahlah kau dan anakmu secara baik sebelum kami turun tangan membunuh kalian!"
Dari balik bukit itu muncullah seorang hwesio gemuk yang berkepala bundar berkalung tasbeh putih dan sikapnya angker sekali.
Di sebelah kirinya berdiri seorang pemuda jangkung kurus yang bermuka tampan dan kejam.
Itulah Tok-ong Kai Song Cinjin Si Raja Racun, tokoh besar dari Tibet yang menjadi tangan kanan para menteri durna.
Pemuda di sebelahnya itu bukan lain adalah Auwyang Tek, muridnya.
Di belakang dua orang ini muncul pula sepasukan tentara yang jumlahnya ada seratus orang, di bagian depan berjajar pasukan panah yang sudah siap mementang gendewa masing-masing!
Melihat banyak musuh, hati Lee Ing menjadi gentar.
"Ayah, mari kita lari...."
Bisiknya. Akan tetapi dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba Souw Teng Wi berbisik dan sikapnya kelihatan waras.
"Lee Ing, bawa ini dan carilah rahasia ini, letaknya di pantai Laut Kuning, di pantai batu karang seratus lie jauhnya di sebelah selatan mulut Sungai Huang-ho. Kau warisi segala isinya!"
Lee Ing tidak tahu kapan ayahnya bergerak, akan tetapi tahu-tahu ia merasa ada sesuatu dimasukkan ke dalam tangannya dan ternyata itu adalah kulit pohon bersurat itu Cepat ia menyimpannya ke dalam saku baju dalam.
"Ayah, musuh terlampau banyak...."
Bisik Lee Ing khawatir, tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Tiba-tiba Souw Teng Wi tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, apa kau kira aku takut Souw Te ng Wi tak pernah mengenal takut terhadap penghianat-penghianat bangsa! Ha-ha-ha!"
"Souw Teng Wi, kau berhadapan dengan Kai Song Cinjin yang menjadi koksu (guru negara) dari Kerajaan Beng!"
Terdengar pula suara yang tadi berseru dan ternyata itu adalah suara Auw-yang Tek.
"Lekas kau berlutut dan menyerah sebelum terlambat"
"Ayah, mari kita lari saja...."
Kata pula Lee Ing yang amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Ia tahu betapa ayahnya dicari sebagai pemberontak dan kalau tertangkap tentu akan menderita bencana hebat.
"Tidak!"
Souw Teng Wi membentak dan mendelikkan matanya kepada Lee Ing sehingga gadis ini terkejut sekali.
"Kaulah yang harus lari pergi. Hayo cepat! Apa kau tidak mentaati ayahmu dan hendak menjadi seorang anak yang tidak berbakti? Pergi lekas, pergi..!"
Lee Ing menjadi pucat dan air matanya, menitik turun ke atas pipinya.
Dengan lemas ia tak dapat membantah lagi, terus melangkah mundur dan memandang kepada ayahnya dengan hati tidak karuan.
Tiba-tiba ayahnya tersenyum kepadanya, senyum penuh kasih sayang dan ayahnya mengangguk-angguk, kelihatan senang sekali bahwa puterinya menuruti perintahnya, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berkata mengejek.
"Aku tidak mengenal Kai Song Cinjin atau siapapun juga Aku tidak sudi mengenal para penghianat dan tidak mau berlutut atau menyerah. Kalian mau apa?"
Sekali lagi ia menoleh dan makin berseri wajah Souw Teng Wi melihat bahwa betul-betul Lee Ing sudah pergi tidak kelihatan bayangannya lagi, menghilang di dalam hutan di sebelah kanan.
Oleh karena perhatian Auwyang Tek dan Tok-ong Kai Song Cinjin dicurahkan kepada Souw Teng Wi, maka kepergian gadis itu tidak begitu diperdulikannya, dianggap tidak begitu penting.
Yang penting adalah pemberontak Souw Teng Wi yang harus ditangkap, mati atau hidup.
Inilah perintah Auwyang-taijin yang menerima laporan dari para anak buah bajak yang dapat menyelamatkan diri bahwa Souw Teng Wi yang tadinya hendak diantar ke kota raja oleh Sim Kang telah memberontak dan merampas kapal.
Auwyang-taijin adalah seorang cerdik, juga ia memiliki pembantu-pembantu yang lihai dan cerdik.
Ia dapat menduga bahwa satu-satunya tempat yang mungkin didatangi oleh Souw Teng Wi dalam buronannya, tentulah ibu kota Peking di mana ia mempunyai banyak kawan, atau ke utara di mana menjadi tempat tinggal keluarga isterinya.
Oleh karena itu, Tok-ong Kai Song Cinjin dan Auwyang Tek melakukan pencegatan di pantai utara Laut Po-hai.
Biarpun sudah mendengar penuturan para anak buah bajak betapa lihainya Souw Teng Wi yang sudah dapat membunuh Thian Te Cu dan membasmi hampir semua anak buah kapal, namun melihat Souw Teng Wi hanya seorang laki-laki biasa saja yang kelihatan tidak waras otaknya, Auwyang Tek timbul keberaniannya.
Mendengar kata-kata Souw Teng Wi yang menantang tadi, ia lalu menerjang maju dan mengirim pukulannya Hek-tok-ciang yang amat lihai.
Tok-ong Kai Song Cinjin menyesal sekali melihat kecerobohan muridnya, akan tetapi ia tahu bahwa ilmu pukulan Hek-tok-ciang muridnya ini sudah cukup tinggi dan kuat, maka ia mendiamkan-nva saja.
Adapun Souw Teng wi yang menghadapi pukulan Hek-tok-ciang ini sama sekali tidak mengelak.
hanya mengangkat tangan kanan menangkis.
Dua pasang tangan kanan kiri bertemu "plak-plak!"
Dan tubuh Souw Teng Wi terhuyung mundur dua langkah.
Akan tetapi Auwyang Tek terlempar ke belakang, dan jatuh terjengkang dengan muka pucat.
Tok-ong Kai Song Cinjin kaget sekali dan cepat ia menotok kedua pundak muridnya sambil menyalurkan hawa sinkang untuk membantu memperkuat pertahanan dalam diri-putera menteri ini agar hawa Hek-tok-ciang yang membalik tidak menyerang jantung sendiri.
Bagi yang mengerti, memang tangkisan Souw Teng Wi tadi aneh sekali.
Ilmu pukulan Hek-tok-ciang sama sekali tidak boleh ditangkis dan sama sekali tidak boleh menyentuh kulit tubuh.
Tersentuh oleh pukulan Tangan Racun Hitam ini tentu akan mengakibatkan kulit menjadi hangus dan tulang-tulangnya terkena racun yang amat berbahaya.
Akan tetapi dengan enaknya Souw Teng Wi berani menangkis yang mengakibatkan orang aneh ini hanya terhuyung mundur, akan tetapi ternyata tangkisan itu telah membuat hawa pukulan Auwyang Tek membalik dan memukul dirinya sendiri!
Cara Souw Teng Wi bergerak tadi amat kacau dan aneh, sama sekali tidak membayangkan adanya ilmu silat tinggi, akan tetapi harus diakui bahwa ia memiliki tenaga dalam istimewa yang membuat kulitnya kebal terhadap Hek-tok-ciang, suatu tingkat yang kiranya hanya dimiliki oleh Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri!
Hanya Raja Racun ini yang kiranya berani menangkis pukulan Hek-tok-ciang.
"Serbu dan bunuh dia!"
Auwyang Tek dengan marah memberi perintah kepada pasukan di belakangnya yang sudah siap dengan gendewa mereka.
"Nanti dulu!"
Kai Song Cinjin mencegah sambil mengangkat tangannya ke atas.
Sebagai seorang tokoh besar di empat penjuru dunia kang-ouw, tentu saja ia merasa malu kalau harus mengalahkan seorang musuh saja dengan bantuan pasukan.
Belum pernah selama hidupnya hwesio Tibet ini dikalahkan orang, kecuali dua puluh tahun yang lalu akan tetapi hal itu sudah lewat dan orang yang pernah mengalahkannya sekarang sudah tidak ada di permukaan bumi lagi.
Tentu saja menghadapi Souw Teng Wi ia tidak menjadi jerih dan malulah ia kalau ia harus berpeluk tangan melihat Auwyang Tek mengerahkan pasukannya.
Baca Juga: Rajawali Emas 9
Baca Juga: Jodoh Rajawali 17