Eps 1 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Sejauh mata memandang ke utara dari Pegunungan Ala-san.
yang tampak hanjalah pasir belaka, pasir yang kadang-kadang diam mati tak bergerak sama sekali, akan tetapi ada kalanya pasir itu bergerak hidup, berombak seperti air laut mengalun.
Inilah padang pasir Go-bi yang luasnya sukar diukur, yang panasnya sudah banyak mematikan para penyeberang yang kurang pengalaman dan yang terkenal sebagai lautan pasir karena memang kadang-kadang apabila angin bertiup, berombak, bergulung-gulung persis lautan, hanya bukan air yang dipermainkan oleh angin, melainkan pasir, pasir halus dan bersih.
Kalau orang sengaja berjaga di tepi laut pasir ini dan memperhatikan, kiranya belum tentu sebulan sekali ia melihat manusia di daerah ini.
Apa lagi semenjak pemerintah Goan-tiauw, yaitu kerajaan dari Bangsa Mongol, sudah roboh dan orang-orang Mongol sudah dihalau kembali dl tempat asal mereka, daerah ini jarang dilalui orang.
Akan tetapi pada pagi hari itu, dari afah utara kelihatan dua titik kehitaman yang bergerak ke selatan perlahan-lahan.
Setelah dua titik ini makin mendekati perbatasan atau pesisir laut pasir, ternyata bahwa mereka itu adalah dua orang yang menunggang onta yang berbulu kecoklatan.
Orang pertama adalah seorang kakek gundul yang berwajah keren gagah berpengaruh.
Pakaian dan kepalanya yang gundul itu seperti keadaan seorang hweslo (pendeta Buddha), akan tetapi sikapnya yang keren dan gagang pedang yang tersembul di balik punggungnya menandakan bahwa dia seorang ahli silat atau yang lebih terkenal dengan sebutan orang kang-ouw.
Orang ke dua adalah seorang nona muda seorang dara remaja berusia paling banyak lima belas tahun, cantik manis dengan Sepasang mata yang berseri dan berapi-api.
Mata dan bibirnya jelas membayangkan bahwa dia gadis periang yang memandang dunia ini dengan hati lapang, tabah dan penuh semangat kegembiraan.
Sepert juga kakek gundul itu, gadis ni membekal pedang yang tergantung di pinggang kirinya.
Hal ini memang tidak mengherankan karena pada waktu itu, pada masa peralihan dari Kerajaan Goan-tiauw yang hancur terganti oleh Kerajaan Beng di mana-mana tidak aman dan orang selalu melakukan perjalanan dengan membawa senjata untuk membela diri.
Akan tetapi, melihat cara gadis cilik itu duduk di atas ontanya, mudah saja diduga bahwa seperti kakek itu, gadis inipun memiliki kepandaian ilmu silat.
Agaknya setelah melakukan perjalanan yang jauh, lama, amat sukar dan sengsara menyeberangi lautan pasir itu, kini kakek gundul tadi menjadi gembira melihat pegunungan yang hijau indah terbentang di depan, tanda bahwa mereka sudah akan segera tiba di daratan di mana terdapat pohon dan rumput, terutama sekali air.
Kegembiraannya itu diperlihatkan dengan bernyanyi-nyanyi, suaranya keras, nyaring, jenggot dan kumisnya melambai-lambai tertiup angin yang kini tidak ditakutinya lagi karena mereka sudah hampir tiba di darat, akan tetapi kata-kata nyanyiannya itu berbeda dengan sikapnya yang gagah karena kata-kata nyanyiannya adalah sajak-sajak yang sebenarnya merupakan doa-doa dalam kitab Agama Budha.
"Kami ini suara angin mengeluh, merana, mencari ketenangan damai nan tak kunjung tiba. ah, bukankah penghidupan di duniapun demikian pula? Keluh-kesah, tangis, badai, juang, lara...!"
"lihh, kong-kong mengapa menyanyi lagu yang demikian menyedihkan?"
Gadis cilik yang kedua pipinya kemerahan karena bakaran matahari itu mencela, hidungnya yang kecil mancung dikernyitkan tanda tak setuju akan nyanyian kakeknya.
"Lagu apa sih itu?"
Sungguhpun kata-kata nyanyian itu menyedihkan, namun kakek itu tidak kelihatan sedih, bahkan nampak bersemangat. Dia tertawa lebar mendengar pertanyaan cucunya.
"Lee Ing, ini namanya lagu NYANYI ANGIN,"
Jawabnya lalu melanjutkan nyanyiannya dengan suara lebih keras lagi sehingga terdengar janggal di tempat yang amat sunyi itu.
"Dari mana dan untuk apa kita diadakan? Kita tak dapat memberi jawaban, kami dan kalian ini Sama saja, apa artinya semua kesusahan kita? Apa pula artinya semua kesenangan kita? Bahkan cinta kasihpun tidak kekal adanya Jalan hidup bagaikan angin lalu belaka Sebentar bertiup, segera hilang pula!"
"Sedih.....sedih! Kong-kong, siapa sih yang mengarang lagu sedih seperti itu? Cengeng benar pengarangnya, ah!"
Kembali gadis yang dipanggil Lee Ing itu mencela.
"Hush, Lee Ing. Jangan bicara sembrono. Nyanyian ini adaiah nyanyian dewata yang tersembunyi di dalam angin lalu,"
Jawab kakek itu dengan sikap sungguh-sungguh.
"Hee? Nyanyian dewata?"
"Benar. Bagi telinga manusia biasa, memang suara angin hanya terdengar biasa pula. Akan tetapi ketika Sang Buddha masih menjadi Pangeran Sidharta, beliau mendengar nyanyian dewata ini terbawa oleh angin lalu, dan ini menjadi doa suci yang mengingatkan manusia akan keadaan hidup yang tidak kekal."
"Ahhh, begitukah?"
Kata Lee Ing tertarik sekali.
""Kalau begitu harap kau lanjutkan nyanyianmu tadi, kong-kong."
Dua ekor onta itu berjalan perlahan-lahan.
Kaki-kaki mereka bergerak dengan irama tetap dan otomatis, leher yang panjang itu bergerak-gerak maju mundur dan bibir yang njedir (ujungnya memanjang) itu masih selalu tersenyum mengejek dan sepasang mata mereka bersinarkan segala tahu.
Derap kaki mereka di atas pasir tidak terdengar suaranya dan kembali kesunyian daerah pasir itu pecah oleh nyanyian kakek gundul yang melanjutkan nyanyiannya dengan suara lantang.
"Oh, putera Maya! Kami telah berkeliling dunia, kami telah melihat betapa banyaknya tangis dan duka nestapa di alam dunia"
Demikianlah, di padang pasir yang sunyi mati Itu terdengar nyanyian suci yang menjadi doa dalam kitab Buddha, di mana selanjutnya menuturkan betapa dalam pendengaran Pangeran Sidharta, sang angin memohon kepadanya untuk melepaskan hidupnya sebagai pangeran yang berenang dalam kebahagiaan duniawi untuk pergi berkelana, mencari kebenaran dan mencari jalan utama untuk membebaskan manusia dari pada ikatan hidup yang menimbulkan kesengsaraan.
Gadis cilik itu kini tidak mencela lagi, bahkan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Memang ia tahu bahwa kong-kongnya itu seorang alim yang amat tekun mempelajari Agama Budha akan tetapi baru kali ini ia mendengar doa yang dinyanyikan demikian menarik.
Mungkin karena keadaan sunyi di mana ia tidak dapat mendengar apa-apa itulah yang membuat nyanyian kong-kongnya menarik.
Padahal suaranya hanya nyaring saja, tidak merdu, dan isi atau kata-kata nyanyian itu termasuk "berat"
Dan sukar ditangkap inti sarinya bagi seorang gadis semuda itu.
Tak terasa lagi kakek dan cucu ini sudah sampai di kaki Pegunungan Ala-san dan sudah terasa kesejukan angin yang membawa hawa air Sungai Huang-ho yang berkelok di pegunungan itu.
Juga sudah mulai kelihatan pohon-pohon dan rumput-rumput di sana-sini.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan dua orang laki-laki muncul dari balik sebatang pohon besar.
"Orang tua, tinggalkan onta dan barang-barangmu!"
Teriakan ini keluar dari mulut seorang di antara mereka yang berjenggot, usianya empat puluh tahun lebih.
Orang ke dua masih belum, begitu tua, antara tiga puluh tahunan, matanya liar mengerling kepada Lee Ing, mukanya kekuningan.
Ia tersenyum-senyum ceriwis sambil berkata.
"Twako, kali ini kau jangan halangi lagi kalau aku mengambil nona ini sebagai kawan hidupku"
"Siauwte. tutup mulutmu!"
Hentak si jenggot yang cepat melompat menghadapi kakek gandul itu.
Gerakannya gesit sekali dan gerak-geriknya menandakan bahwa dia seorang ahli silat pandai, sungguhpun ia tidak kelihatan membawa senjata tajam.
"Hwesio, turunlah dari ontamu. Hanya kalau kau meninggalkan onta dan barang-barangmu saja kau dan nona ini boleh melanjutkan perjalanan,"
Kata pula si jenggot sambil memandang penuh ancaman. Tiba-tiba kakek gundul itu tertawa bergelak.
"Apakah kalian ini perampok?"
"Tak usah banyak tanya, lekas lakukan apa yang kuminta."
Jawab si jenggot "Omitohud!
Lucu sekali.
Kucing mencoba untuk menggonggong!
Bocah, sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa kau ini bukan sebangsa perampok, masa masih hendak main gertak?
Kalau kalian perampok, masa malu-malu mengaku kepadaku?"
"Twako. tak perlu banyak mengobrol. Aku hendak merampas nona manis ini lebih dulu!"
Seru perampok yang muda.
Dengan peringas-peringis ia menghampiri Lee Ing.
Sinar mata gadis ini mengeluarkan cahaya berapi biarpun mulutnya masih tersenyum manis dan tangan kanannya sudah meraba kantong hitam di dekat pinggang di mana tersimpan senjata rahasia piauw.
"Lee Ing. tahan!"
Seru kakek itu dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat turun dari atas punggung ontanya dan tahu-tahu ia sudah berada di depan perampok yang hendak mengganggu Lee Ing.
Berdiri tegak dengan gagahnya.
Melihat tubuh kakek yang tegap kuat dan sikapnya yang bersemangat ini, si ceriwis menjadi ragu-ragu dan mundur lagi mendekati kawannya yang berjenggot kambing.
Kakek gundul itu melangkah maju sampai ia berhadapan dengan dua orang perampok itu sedangkan Lee Ing tetap tenang duduk di atas ontanya.
percaya bahwa kakeknya tak perlu dibantu karena ia sudah maklum akan kelihaian kakeknya.
"Orang-orang muda, banyak pekerjaan baik dapat kalian lakukan, mengapa menjadi perampok? Banyak jalan terang mengapa memilih jalan gelap? Kulihat kalian belum biasa menjadi perampok. maka nasihatku, mundurlah sebelum terlanjur. Sekali melakukan kejahatan, nafsu akan menguasainya dan ia akan menjadi biasa, dikuasai oleh nafsu jahat. Mundur dan batalkanlah niat kalian merampok!"
"Di jaman sekacau ini, mana ada pekerjaan baik-baik? Mana ada pekerjaan halal? Pejabat-pejabat negeri melakukan korupsi, tiada bedanya dengan maling, pembesar-pembesar negeri mencekik rakyat, lebih jahat dari pada penyamun! Dari pada menjadi manusia-manusia seperti ini, lebih baik terang-terangan menjadi perampok, Sudahlah, jangan banyak cakap dan berikan barang-barang dan ontamu."
Kata si jenggot, suaranya mengandung kegetiran. Kakek itu menarik napas panjang.
"Sifatmu gagah namun pandanganmu sesat orang muda. Seratus tahun Tiongkok dijajah oleh Bangsa Mongol dan baru duapuluh lima tahun lebih negaramu terbebas dari pada penjajahan. Sudah tentu saja bangsa yang baru terbebas dari pada penjajahan mengalami banyak rintangan berupa racun-racun peninggalan penjajah. Banyak bangsa sendiri yang berjiwa penjajah sehingga pembesar-pembesar main korup tanpa memperdulikan akan nasib rakyatnya sendiri. Akan tetapi adalah menjadi kewajiban orang-orang muda seperti kalian untuk berjuang terus, melenyapkan penjajah-penjajah baru bermuka bangsa sendiri ini dan bukan sekali-kali pada tempatnya kalau kalian malah menambahkan beban rakyat dengan terjun sebagai perampok!"
"Setan tua jangan banyak mulut! Tinggalkan barang-barang dan nona itu untuk menjadi punyaku!"
Seru perampok muda bermuka kuning yang tidak sabar lagi menanti pidato kakek itu sampai habis, lalu secepat kilat ia menyerang dengan pukulan ke arah dada lawan. Kakek gundul itu menghela napas.
"Diajar dengan kata-kata tidak mempan, perlu dihajar dengan tangan kiranya!"
Cepat ia menangkis pukulan itu dan diam-diam ia kaget karena pukulan si muka kuning itu ternyata antep dan keras disertai tenaga Iweekang yang cukup lihai.
Maka ia tidak berani memandang ringan, cepat membalas serangan lawan Kalau perlu orang jahat harus diingatkan dan diinsyafkan, akan tetapi kalau jalan ini tidak berhasil, harus disingkirkan agar jangan mengganggu rakyat, pikirnya.
Memang kakek ini seorang penganut Agama Budha, akan tetapi sebetulnya dia bukan pendeta dan belum melakukan pantang membunuh, apa lagi karena sebagai seorang ahli silat dia mempunyai pandangan gagah, tidak pantang membunuh penjahat.
Seperti orang-orang gagah lain juga dia berpedoman "membunuh seorang penindas menolong seratus orang tertindas".
Melihat kawannya sudah bertempur dengan kakek gundul itu dan tahu bahwa kakek itu ternyata bukan "makanan empuk", si jenggot berseru keras dan maju menyerang pula.
Dengan jari-jari terbuka ia menyerang kakek itu dan dari gerakannya ini lawannya dapat melihat bahwa si jenggot adalah eorang ahli tiam-hoat (ilmu menotok dengan dua jari.
Sebaliknya, si muka kuning itu selalu melakukan gerakan tangan mencengkeram, tanda bahwa dia mahir Ilmu Kin-na-jiu-hoat atau ilmu mencengkeram (semacam yiu-yit-su).
Akan tetapi kakek gundul ini ternyata benar lihai sekali.
Biarpun dikeroyok dua dan di punggungnya tergantung pedang, dia tidak mau mencabut pedangnya, melainkan menyambut serangan dua orang lawannya dengan dua tangan kosong pula.
Ketika kakek ini menggerakkan kedua lengannya, angin dingin bersuitan dan dengan angin pukulan saja ia dapat menangkis serangan-serangan lawan.
Kaget sekali dua orang perampok itu.
Si muka kuning mengeluarkan pekik tinggi seperti seekor burung, kemudian tiba-tiba tubuhnya juga m a yang ke atas seperti burung terbang dan tangan kanannya mencengkeram ke arah kepala yang gundul dari lawannya.
Inilah gerak tipu Hui-eng-hian-jiauw (Burung Garudi Mengulur Cakar) yang amat lihai, juga digerakkan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya sehingga kalau kepala yang gundul kelimis itu terkena cengkeraman tentu akan bolong-bolong menjadi seperti sarang lebah!
Dan pada saat yang sama, bahkan lebih cepat datangnya, si jenggot memekik keras dan tangan kirinya menyambar ke depan dengan dua jari terpentang menusuk ke arah mata gundul itu dengan gerak tipu Pek-ho-tok-hi (Bangau Putih Mematuk Ikan).
Dapat dibayangkan betapa lihainya dua serangan berbareng dari depan dan atas ini sehingga Lee Ing yang duduk tenang-tenang di atas punggung ontanya menjadi kaget.
Diam-diam gadis ini menyiapkan dua batang piauw (senjata rahasia) untuk membantu kakeknya apa bila perlu.
Akan tetapi kakek gundul itu tenang sekali.
Kedua kakinya tidak berubah masih dalam keadaan bhesi terpentang tegak, akan tetapi tiba-tiba bagian tubuhnya yang atas tersentak ke belakang, ditekuk bagian pinggang sehingga serangan dua orang itu mengenai tempat kosong, lalu gerakan ini dilanjutkan dengan gerak tipu Heng-pai-Hud-ya (Tangan Miring Memuja Budha).
kedua tangan diturunkan berbareng dengan tubuh atasnya, dengan tangan miring ia menahan ke arah pergelangan lengan dua orang lawannya.
Si jenggot masih sempat menarik kembali tangannya akan tetapi si muka kuning terlambat karena tubuhnya masih belum turun di atas tanah.
"Krekk!"
Begitu lengannya tertabas oleh tangan kakek yang dimiringkan itu, ia menjerit dan pergelangan tangannya putus tulangnya.
"Pergilah menebus dosamu di depan Giam-kun (Malaikat Maut)!"
Bentak kakek itu yang mengirim tendangan kilat.
Kakek ini terkenal dengan ilmu tendangannya dan di utara ia terkenal dengan julukan Soan-hong-twi (Tendangan Berantai) karena ilmu tendangannya sukar dilawan.
"Aauuukk!"
Begitu kena tendang perutnya, tubuh si muka kuning terlempar dan jatuh berdebuk di atas tanah dengan perut seperti ditekuk, mukanya menjadi lebih kuning lagi dan ternyata nyawanya telah meninggalkan raganya!.
"Hwesio kejil Kau ini seorang pendeta akan tetapi hatimu kejam tidak pantang membunuhi"
Si jenggot berteriak marah melihat kawannya tewas.
"Omitohud, orang macam aku ini mana bisa menjadi pendeta? Aku bukan hwesio dan aku tidak pantang membunuh Ketika bangsa kami berjuang melawan orang Mongol, aku selalu ikut berjuang dan entah sudah berapa ratus anjing Mongol kubunuh Kawanmu tadi selain menjadi perampok juga mata keranjang dan menghina cucuku, kalau tidak dilenyapkan dari muka bumi, tentu menimbulkan banyak malapetaka, terutama sekali untuk para wanita cantik."
Mendengar bahwa kakek gundul ini juga musuh orang-orang Mongol, sikap si jenggot menjadi agak berubah.
"Orang tua, kau berbangsa apakah?"
"Aku adalah anggauta Suku Bangsa Hsi-sia,"
Berkata kakek itu, nada suaranya tinggi menandakan bahwa ia merasa bangga menjadi Bangsa Hsi-sia.
Memang orang boleh merasa bangga karena suku bangsa ini terkenal sebagai suku bangsa gagah perkasa yang pantang mundur menghadapi penjajahan Mongol Bangsa Hsi-sia melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan ketika bala tentara Mongol menyerbu mereka dan boleh dibilang seluruh suku bangsa ini habis musnah dibunuh oleh orang-orang Mongol yang jauh lebih banyak jumlahnya.
Hanya sedikit sekali orang Hsi-sia yang dapat meloloskan diri dari pembasmian ini.
di antaranya kakek gundul itulah.
Mendengar bahwa kakek itu Suku Bangsa Hsi-sia, lenyap sikap bermusuhan dari si jenggot.
Dengan nada ingin tahu sekali ia bertanya.
"Ah, siapakah nama lo-enghiong (pendekar tua)?"
"Namaku Haminto!"
Jawab kakek itu sederhana. Akan tetapi mendengar nama ini, si jenggot menjadi kaget sekali dan berteriak girang.
"Ah, kiranya Haminto lo-enghiong! Aku dan kawanku yang tewas ini adalah bekas anak buah Souw-taihiap."
Sekarang Haminto yang biasa disebut Haminto Losu itu yang kaget, juga gadis cilik itu tercengang lalu melompat turun dari ontanya menghampiri si jenggot itu.
"Apa kau bicara tentang Souw Teng Wi? Di mana ayahku itu sekarang?"
Laki-laki berjenggot itu memandang kepada Lee Ing dan berseru.
"Jadi nona ini puteri Souw-taihiap? Aduh celaka! Salah suteku sendiri sudah berani menghina Souw-siocia, pantas dia menerima hukuman mati. Haminto lo-enghiong dan Souw-siocia, kita adalah orang orang sendiri, harap maafkan kelancanganku dan suteku tadi."
Si jenggot lalu memberi hormat.
Mereka lalu saling menuturkan keadaan masing-masing.
Ternyata bahwa kakek gundul itu adalah Haminto Losu, seorang tokoh besar dari Suku Bangsa Hsi-sia yang tidak saja amat terkenal karena semangat dan kegagahannya bersama, bangsanya memerangi orang-orang Mongol, akan tetapi juga lebih terkenal lagi setelah Namilana, puteri tunggalnya, menikah dengan Souw Teng Wi.
Souw Teng Wi ini adalah seorang pahlawan bangsa yang tiada hentinya memimpin para patriot untuk mengusir penjajah Mongol.
Di dalam barisan pemimpin pemberontak Cu Goan Ciang yang terkenal dalam sejarah Tiongkok.
Souw Teng Wi tidak asing lagi karena dialah seorang di antara pembantu-pembantu Cu Goan Ciang yang amat besar jasanya.
Souw Teng Wi gagah perkasa, murid tersayang dari partai persilatan Kun-lun-pai, yang berjiwa patriot sejati.
Ketika gerakan Cu Goan Ciang mencapai puncaknya, Souw Teng Wi mengirim isterinya ke utara.
Dia sedang berjuang, tidak tentu tempatnya dan memang selama ini Namilana.
isterinya yang setia dan mencinta itu berjuang bersama di sampingnya.
Akan tetapi ketika melihat isterinya mengandung dan perang besar berkobar hebat Souw Teng Wi menitipkan isterinya itu kepada mertuanya, yaitu Haminto Losu Dibawalah Namilana yang sedang mengandung itu oleh ayahnya kt Utara melalui padang pasir Go-bi, ke tempat aman.
Akan tetapi sungguh malang nasib Namilana.
Ketika tiba saatnya ia melahirkan seorang anak perempuan, orang-orang Mongol yang terusir dari bumi Tiongkok membanjiri daerah utara dan dalam keadaan terjepit dan terusir.
Bangsa Mongol ini kembali melakukan perampokan dan pembunuh an sebagai pelampiasan marah karena terpukul hancur di selatan, Terpaksa Namilana yang baru saja melahirkan itu dibawa mengungsi oleh ayahnya, melakukan perjalanan jauh dan sukar, bersembunyi-sembunyi dan mengalami banyak ketegangan.
Hal ini mengguncangkan jantungnya dan karena tubuhnya masih lemah habis melahirkan anak pertama, ibu muda ini jatuh sakit yang membawa nyawanya pulang ke alam baka.
Kasihan Haminto Losu yang ditinggali seorang bayi berusia beberapa bulan.
Haminto Losu memelihara cucunya dengan penuh cinta kasih dan memberi pelajaran ilmu silat kepada cucunya itu yang diberi nama Souw Lee Ing.
Akan tetapi makin besar Lee Ing makin rewel menanyakan ayah bundanya.
Setelah mendengar bahwa ayahnya bernama Souw Teng Wi dan menjadi pejuang di selatan, ia merengek-rengek mengajak kong-kongnya menyusul.
Selalu Haminto Losu mencegahnya mengingat akan jauh dan berbahayanya perjalanan.
Baru setelah Lee Ing berusia lima belas tahun dan kepandaian silatnya sudah lumayan untuk menjaga diri, ia menuruti permintaan gadis itu dan berdua pergi melakukan perjalanan ke selatan bertemu dengan dua orang perampok itu.
Dengan amat terharu si jenggot itu mendengarkan penuturan singkat Haminto Losu, kemudian ia mengubur jenazah kawannya yang mati oleh kakek itu, dibantu oleh Haminto Losu.
Kakek ini merasa menyesal sekali telah menendang mati bekas anak buah mantunya sendiri, akan tetapi apa mau dikata, sudah terlanjur dan si muka kuning itu memang mencari kematian sendiri.
Si jenggot itu she Lo bernama Houw.
Kawannya juga bernama Houw akan tetapi she Can.
Setelah mereka menjadi perampok, mereka menyesuaikan nama menjadi Lo Houw (Macan Tua) dan Siauw Houw (Macan Muda).
Keduanya adalah bekas anak buah Souw Teng Wi di dalam pasukan pemberontak dan keduanya ikut pula berjuang mengusir pemerintah penjajah Goan-tiauw.
Akan tetapi, setelah pemerintah penjajah berhasil terusir, terjadi perebutan kekuasaan atau perebutan pahala Mereka yang kurang kuat dilempar ke samping dan mereka yang kuat berebutan pahala seperti anjing-anjing berebut tulang.
Lo Houw dan Siauw Houw termasuk mereka yang disebut "krucuk"
Dan terlempar ke samping, dilupakan oranglah jasa para krucuk ini, padahal di dalam pertempuran-pertempuran ketika perang dulu, justeru para krucuk ini yang akan lebih dulu mati karena berjuang paling depan!
Lo Houw dan Siauw Houw menjadi sakit hati lalu menjadi berandal di perbatasan utara itu.
Sayangnya Siauw Houw si muka kuning itu timbul nafsu jahatnya dan sering kali mengganggu para wanita di daerah itu, biarpun Lo Houw sudah sering kali menasihati dan melarangnya.
Akhirnya ia menemui kematiannya di tangan Haminto Losu yang gagah perkasa, mertua dari bekas pemimpinnya sendiri.
Haminto Losu menarik napas panjang.
"Memang itulah sayangnya, sicu. Di waktu tenaga kita diperlukan, kita disanjung-sanjung dengan kata-kata muluk dan manis. Akan tetapi setelah cita-cita tercapai dan tenaga kita tak diperlukan lagi, orang lupa sudah kepada kita, bahkan menganggap kita sebagai bahaya bagi mereka. Aah, manusia' Akan tetapi, benar-benar kau keliru kalau hendak memuaskan sakit hatimu dengan menjadi perampok. Lo-sicu. Kau terlalu mementingkan diri sendiri."
Biarpun merasa tanduk atas kata-kata bijaksana kakek itu. Lo Houw merasa penasaran juga disebut mementingkan diri sendiri, maka bantahnya.
"Lo-enghiong, mengapa aku disebut mementingkan diri sendiri? Bukankah para petugas yang korup itu yang terlalu mementingkan diri sendiri?"
"Betul, memang mereka itu manusia-manusia berhati busuk, akan tetapi kita sedang bicara tentang dirimu. Kalau sudah tahu mereka itu busuk, mengapa ditiru? Mereka memeras rakyat, mencatut uang negara demi kepentingan sendiri. Kalau sekarang kaupun merampok untuk kepentingan sendiri, apa bedanya itu? Dahulu kau rela mempertaruhkan nyawa untuk berjuang membebaskan rakyat dari pada penindasan kaum penjajah, mengapa setelah perjuangan itu berhasil baik, kau lalu merusak sendiri bangunan yang kau-bantu mendirikan dengan perjuangan? Lo-sicu, apakah kau tidak marah kalau ada orang mengatakan bahwa dahulu kau berjuang untuk diri pribadi?"
"Tentu saja' Seorang gagah berjuang demi bangsa dan negara"
Jawab Lo Houw tegas.
"Nah, kalau demikian, mengapa kau penasaran setelah sekarang tidak mendapat pahala? Bukankah perjuangan suci tidak mengharapkan balas jasa? Dan perjuangan belum selesai, Lo-sicu. Selama rakyat masih menderita, selama masih ada penghisapan dan penindasan antara manusia, perjuangan orang-orang gagah seperti Lo-sicu inilah untuk membasmi para koruptor, para pengisap darah dan keringat rakyat sampai tercapai kemakmuran rakyat jelata di mana tidak ada lagi penindasan, tiada lagi kelaparan dan ketidak-adilan."
Kali ini Lo Houw tunduk betul-betul atas kebijaksanaan kakek gundul berbangsa Hsi-sia yang terkenal gagah perkasa itu. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata sambil berlinang air mata.
"Lo-enghiong benar siekali! Selama ini boanpwe benar-benar tersesat dan percuma saja perjuangan bertahun-tahun di samping Souw-tai-hiap."
Haminto Losu tersenyum pahit.
"Betapapun juga, aku tidak terlalu menyalahkan kau yang disakitkan hatimu. Memang manusia-manusia yang hanya tahu enaknya saja, yang tidak ikut berjuang mati-matian membela negara akan tetapi sekarang tinggal nongkrong di atas kursi kebesaran menjilati darah dan peluh rakyat yang berceceran di sepanjang jalan, mereka itu terkutuk dan hina sekali. Yang sudah biarlah lalu, Lo-sicu. Belum terlambat bagimu untuk memperbaiki hidup untuk menebus dosa dan melanjutkan perjuanganmu sebagai seorang patriot bangsa, seorang ksatria yang gagah perkasa. Sekarang harap kau-beritahukan. di mana adanya Souw-taihiap mantuku?"
"Sayang sekali aku tidak dapat memberi keterangan di mana adanya Souw-taihiap, karena sudah lima tahun berpisah. Semenjak Souw-taihiap dimusuhi oleh para tokoh di istana dan melenyapkan diri, tak seorangpun mengetahui di mana dia berada. Ah, kalau ada Souw-taihiap, tak mungkin kami menjadi perampok dan tidak mungkin Siauw Houw tewas hari ini."
Lo Houw menarik napas panjang.
"Dimusuhi pembesar istana? Aneh sekali! Bukankah mantuku itu dahulu menjadi tangan kanan Thai Cu (Kaisar) ketika kaisar menjadi pemimpin pemberontak Cu Goan Gang?"
"Souw-taihiap agaknya hendak menghalangi para koruptor dan penjilat itu dan hendak membela rakyat, maka ia dimusuhi. Adapun Thai Cu sendiri mana bisa tahu akan keadaan rakyat jelata? Thai Cu terlampau dipengaruhi pembesar-pembesar korup itu agaknya. Ahh, kalau ada Souw-taihiap di sini...."
"Lo-sicu, kalau begitu marilah kau bersama kami pergi mencari mantuku itu. Di mana kiranya dia berada menurut pendapatmu?"
"Kaum bangsawan yang menjilat Thai Cu selalu mengelilingi kaisar dan sekarang kota raja dipindah dari utara ke selatan, yaitu di Nan-king. Tak salah lagi tentu Souw-taihiap juga berada tak jauh dari Nan king. Sebaiknya kita mencari ke selatan"
Jawab Lo Houw.
Berangkatlah mereka bertiga ke selatan, melalui Pegunungan Ala-san terus ke selatan.
Setelah tiba di tembok besar.
Haminto Losu lalu menjual dua ekor onta itu.
Perjalanan ke selatan memerlukan banyak biaya, pula dua ekor binatang ini tidak tepat lagi untuk melakukan perjalanan di pedalaman, terlalu lambat.
Setelah menyeberangi tembok besar, tiga orang ini melanjutkan perjalanan dengan ilmu lari cepat menuju ke selatan.
Tiga orang itu melakukan perjalanan cepat.
Ilmu lari cepat Lo Houw, biarpun tidak sehebat Haminto Losu, namun masih lebih tinggi daripada ilmu lari cepat Lee Ing sehingga perjalanan itu dapat dilakukan cepat.
Namun tetap saja mereka harus menempuh perjalanan berbulan-bulan sebelum tiba di Pegunungan Cin-ling-san pada pagi hari itu.
Pemandangan di pegunungan ini amatlah indahnya sehingga beberapa kali Lee Ing membujuk kakeknya supaya berhenti mengaso sambil menikmati pemandangan alam yang demikian indahnya.
Gadis yang semenjak kecilnya tinggal di daerah Go-bi yang penuh gunung pasir ini tentu saja amat terpesona menyaksikan pemandangan alam yang indah dari tanah yang amat suburnya.
Tak jauh dari tempat mereka berhenti mengaso, kelihatan sebatang anak sungai yang amat jernih airnya dan pada saat itu, sepasang kijang bersama tiga ekor anaknya, minum air sungai.
Tiga ekor kijang kecil itu berjingkrakan dengan lompatan-lompatan lucu dan aneh, membuat Lee Ing tertawa geli.
"Alangkah lucunya!"
Kata gadis ini dengan wajah berseri.
Akan tetapi pada saat itu terdengar lapat-lapat suara gendewa menjepret dan lima buah anak panah menyambar dan di lain saat lima ekor binatang yang cantik itu terjungkal dengan jantung tertembus anak panah!
Kijang jantan menggelepar gelepar, empat ekor kakinya bergerak-gerak lalu mengejang dan diam.
Akan tetapi kijang betina masih dapat memaksa empat kakinya bangkit berdiri, terhuyung-huyung menghampiri bangkai tiga ekor anaknya, mengeluarkan suara mengembik yang menyayat hati, lalu menciumi tiga ekor kijang kecil itu dan akhirnya iapun terguling, kakinya menyepak-nyepak dalam sakratul maut kemudianpun diam.
"Kejam sekali...!"
Lee Ing melompat bangun dan berdiri tegak dengan kedua tangannya yang kecil terkepal keras.
Dua titik air mata meloncat keluar di atas pipinya, la merasa ngeri dan tertusuk perasaannya melihat betapa lima ekor binatang yang indah itu terbunuh secara keji, terutama sekali ia merasa kasihan melihat induk kijang itu.
"Manusia keji!"
Makinya lagi.
Akan tetapi Haminto Losu dan Lo Houw melihat lain.
Mereka ini bukan tertarik oleh matinya lima ekor binatang itu, melainkan tertarik akan kelihaian orang yang melepas anak panah.
Dari suara menjepret tadi dapat diketahui bahwa yang melepas anak-anak panah itu hanya satu orang, dengan sekali lepas pula.
Sekali lepas dapat memanahkan lima buah anak panah yang tepat mengenai dada lima ekor kijang yang berpencaran, benar-benar merupakan kepandaian ilmu memanah yang hebat.
Apa lagi kalau diingat bahwa tiga ekor anak kijang tadi berpencaran dari induknya dan berloncat-loncatan amat sukar dipanah.
"Hebat ilmu memanah itu!"
Seru Lo Houw perlahan.
Muncullah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, mukanya segi empat, pakaiannya seperti pakaian pemburu, perawakannya tegap dan mukanya dicukur licin.
Dengan gerakan lincah orang ini melompat-lompat dari gerombolan pohon menghampiri lima korbannya yang menggeletak di tepi anak sungai.
"Suheng, lihat apa yang dihasilkan oleh anak-anak panahku!"
Teriak orang itu girang dan bangga.
"Makan besar kita kali ini!"
"Manusia keji, kau makan ini piauw-ku!"
"Lee Ing, jangan....!"
Haminto Losu mencegah, akan tetapi terlambat, tiga batang piauw menyambar cepat dari tangan Lee Ing ke arah tiga jalan darah di tubuh laki-laki yang memanah lima ekor kijang tadi.
Akan tetapi laki-laki itu ternyata lihai sekali.
Biarpun ia tengah membungkuk melihat lima korbannya dengan wajah girang sehingga tiga batang piauw itu menyambarnya dari belakang, namun dengan tenang-tenang saja ia menggerakkan gendewanya ke belakang tanpa menoleh dan "trak-trak-trak!"
Tiga batang piauw itu terpukul runtuh.
Haminto Losu kaget melihat ini.
Kalau tidak tinggi ilmunya dan sudah mempunyai pendengaran tajam sekali, tak mungkin menangkis datangnya senjata rahasia lawan secara demikian, tanpa menoleh tanpa melihat!
la memang sudah menduga bahwa pemburu itu tentulah seorang pandai, maka menyesal sekali tadi ia tidak keburu mencegah Lee Ing melepas piauw.
"Siluman betina dari mana berani bermain gila di depan Houw-cam-khoa?"
Pemburu itu membentak.
Ia belum melihat siapa yang melepas piauw, akan tetapi mendengar bentakan Lee Ing tadi tahulah ia bahwa yang menyerangnya secara menggelap adalah seorang wanita.
Lee Ing hendak bergerak akan tetapi lengannya sudah disentuh Haminto Losu yang menyabarkannya.
Akan tetapi Lo Houw tiba-tiba melompat keluar dan berseru.
"Kami yang melepas piauw karena muak melihat kekejamanmu membunuhi kijang kecil. Seorang pemburu yang gagah hanya akan membunuh binatang hutan yang buas, andaikata membunuh kijang tentu hanya membunuh yang tua, tidak nanti tega membunuh tiga ekor kijang kecil!"
Suara Lo Houw terdengar marah.
Memang Harimau Tua ini marah sekali mendengar orang itu memakai julukan Houw-cam-khoa yang berarti Algojo Harimau!
Sementara itu Haminto Losu yang khawatir kalau-kalau terjadi salah paham dan pertengkaran, cepat menarik lengan Lee Ing dan melompat keluar.
Sebelum pemburu itu sempat menjawab marah, lebih dulu Haminto Losu maju ke depan dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Sicu gagah sekali, memiiiki ilmu panah yang mengagumkan dan gerakan Sian-jin-siu-cu (Dewa Menyambut Mustika) tadi benar-benar hebat. Harap maafkan cucuku yang tergerak hatinya dan tidak tega menyaksikan kijang-kijang kecil terbunuh lalu berlancang tangan menyambitkan piauw-nya."
Melihat munculnya kakek gundul yang memujinya dan merendah minta maaf, apa lagi melihat kenyataan bahwa yang menyerangnya tadi hanyalah seorang dara cilik yang cantik manis, maka kemarahan di hati pemburu itu lenyap tiga perempat bagian, la hanya mengerling marah ke arah Lo Houw, kemudian iapun mengangkat tangan membalas penghormatan Hanfinto Losu.
Pemburu inipun menyangka bahwa kakek gundul ini tentu seorang hwesio maka katanya.
"Losuhu, aku Houw-cam-khoa Lie Siong sejak kecil menjadi pemburu dan belum pernah melihat orang mencegah pemburu membunuh korbannya. Akan tetapi oleh karena losuhu demikian ramah, biarlah urusan kecil ini dihabiskan saja. Tidak tahu losuhu ini siapakah dan dari golongan mana?"
Mata pemburu itu mengerling ke arah Lee Ing dengan senyum kemudian lirikannya menyambar ke arah Lo Houw penuh selidik.!
Sebetulnya Haminto Losu tidak ingin memperkenalkan diri, akan tetapi melihat pemburu itu sudah memperkenalkan nama, tidak baik kalau ia tidak menjawabnya.
Sambil tersenyum merendah ia menjawab.
"Lohu tidak mempunyai golongan atau partai, lohu seorang pengembara jauh dari utara, bernama Haminto dan cucuku ini.."
Tiba-tiba sikap pemburu itu berubah dan "sratt!"
Golok panjang di pinggangnya telah tercabut sehingga Haminto Losu menghentikan ucapannya saking heran dan kagetnya.
"Suheng, lekas ke sini ada musuh"
Teriak Houw-cam-khoa Lie Siong dengan nyaring, kemudian ia menudingkan ujung goloknya ke muka Haminto Losu sambil memaki, Kiraku siapa, tak tahunya sebangsa iblis biadab dari utara?"
"Sicu, aku dari Suku Bangsa Hsi-sia, bagaimana kau anggap biadab?"
Haminto Losu berseru marah, habis kesabarannya menyaksikan sikap pemburu itu.
"Bangsa Hsi-sia atau bangsa iblis neraka, siapa perduli? Paling baik kau lekas tinggalkan bumi di mana kau berpijak, tak boleh bangsamu yang hina menginjak tanah airku?"
Seru pemburu itu dengan angkuh sambil melintangkan golok di depan dada.
Haminto Losu menarik napas panjang.
Dia sudah mendengar berita angin bahwa semenjak orang selatan berhasil mengusir penjajah Mongol yang selama seabad lebih menjajah tanah air mereka dan membuat rakyat banyak yang menaruh dendam, maka banyak orang selatan menjadi mata gelap dan membenci setiap orang yang datang dari daerah utara di luar tembok besar.
Tidak hanya orang Mongol bekas musuh itu yang dibenci, juga suku bangsa-suku bangsa lain yang tinggal di utara mereka anggap musuh besar.
"Sicu, sabarlah. Kami Bangsa Hsi-sia sejak dulu bahu-membahu dengan Bangsa Han dalam perjuangan melawan bangsa penjajah Mongol. Dan kedatanganku di Tiong-goan sekarang ini bukan bermaksud buruk, melainkan hendak mencari mantuku....."
"Cukup! Lekas balikkan ekormu dan pergi kembali ke utara! Kalau tidak, golokku takkan memberi ampun!"
Bentak Lie Siong.
"Kong-kong, binatang ini menghina sekali, biar kuhajar dia!"
Seru Lee Ing yang sudah hampir tak dapat menahan kesabarannya.
"Omitohud, kau benar-benar mendesak sekali, orang muda. Apa boleh buat, aku Haminto bukanlah seorang yang suka mencari permusuhan, akan tetapi lebih-lebih lagi bukan seorang pengecut. Marilah, biar kurasakan bagaimana lihainya golokmu!"
Sambil berkata demikian, Haminto Losu mendahului cucunya, melompat ke depan menghadapi pemburu itu sambil mencabut pedangnya.
Orang tua ini dapat menduga bahwa Houw-cam-khoa Lie Siong adalah seorang lihai dan bukan lawan Lee Ing, maka ia maju sendiri dan ia sudah mencabut pedangnya untuk menghadapi golok panjang lawan.
Akan tetapi, dengan gerakan cepat sekali Lo Houw melompat dan mengeluarkan auman seperti harimau, pedang tajam sudah berada di tangan kanannya.
Itulah pedang Lee Ing yang dipinjamnya.
"Lo-enghiong, menghadapi anjing kecil mengapa mempergunakan tongkat besar? Biarkan aku menghadapi kirik (anjing kecil) ini!"
Bentaknya sambil terus menyerang Lie Siong dengan tusukan pedang.
Gerakannya Cepat dan kuat sekali karena datang-datang si jenggot ini sudah mainkan ilmu-pedang Kun-lun-pai, yang dulu ia pelajari dari pahwalan Souw Teng Wi.
Dengan gerak tipu Kim-ke-tok-siok (Ayam Emas Mematuk Gabah) ia menusuk perut lawannya, cepat dan mengandung tenaga besar sampai terdengar angin bersiut.
Biarpun tadi ia merasa marah kepada Lo Houw yang sudah bersikap galak kepadanya, akan tetapi melihat si jenggot ini seperti orang Han, Lie Siong cepat menangkis dan melompat mundur.
"Tahan dulu, si gundul ini memang bangsa biadab yang harus diusir atau dibunuh. Akan tetapi kau ini kulihat seorang Han, mengapa membantu bangsa biadab?"
"Jahanam tengik! Lo-enghiong ini jasanya seribu kali lebih besar dalam perjuangan mengusir orang Mongol dari pada kau yang hanya becus membunuhi kijang-kijang lemah. Cih, tak tahu malu! Kalau hendak memamerkan kepandaian, aku Lo Houw musuhmu!"
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Sudah sebulan lebih aku tidak bertemu dengan harimau, aku Houw-cam-khoa Si Algojo Harimau, dan sekarang ada harimau tua gila datang mencari mampus. Bagus, kau manusia tak tahu malu memang lebih baik mampus!"
Setelah mengeluarkan kata-kata sindiran ini, Lie Siong cepat mainkan goloknya dan sinar putih bergulung-gulung padat.
Inilah sinar golok yang dimainkan dengan baik sekali.
Diam-diam Lo Houw terkejut akan tetapi tidak mau berlaku ayal, cepat pedangnya digerakkan dan di lain saat dua orang ini sudah bertempur hebat dan seru.
"Sute, kau bertempur dengan siapa?"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan belum lenyap gema suaranya orangnya sudah datang di situ, seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, berusia tiga puluh lima tahun dan mukanya angker sekali.
Inilah Tiat-ciang-kui Yo Ban Si Iblis Bertangan Besi, suheng dari Lie Siong.
Tangan kirinya menyeret bangkai biruang yang besar dan masih hangat, binatang ini baru saja dibunuhnya.
Melihat bangkai biruang itu sama sekali tidak terluka, dapat diduga bahwa ia dibunuh bukan dengan senjata tajam.
Memang, Yo Ban yang memiliki kedua kepalan besi seperti julukannya, telah membunuh binatang liar yang kuat ini hanya dengan pukulan tangannya belaka!
Ketika muncul di situ melihat sutenya bertempur melawan seorang laki-laki berjenggot sedangkan di situ berdiri pula seorang kakek gundul dan seorang dara cilik, Yo Ban ragu ragu.
"Suheng, anjing tua gundul itu adalah Bangsa Hsi-sia, lekas usir atau bunuh dia!"
Aneh sekali, mendengar kata-kata sutenya ini.
Yo Ban lenyap keraguannya dan sikapnya berubah keren.
Ia melemparkan bangkai biruang ke samping, lalu menghampiri Haminto Losu.
Tangannya diulur hendak mencengkeram pundak sambil membentak.
"orang biadab pergilah kamu!"
Haminto Losu adalah seorang tua yang sedang meyakinkan pelajaran Agama Buddha.
Kesabarannya besar Namun dia masih manusia biasa dan kesabaran ada batasnya Beberapa kali setelah orang mendengar bahwa dia bukan Bangsa Han.
ia dihina.
Sebagai seorang Hsi-sia yang terkenal gagah perkasa dan berdarah panas serta patriotik, bangun semangatnya karena bangsanya dihina.
Cepat ia mengelak lalu mencabut pedangnya sambil membentak.
"Pemburu-pemburu yang kasar dan tidak tahu aturan! Jangan kira aku Haminto takut berkelahi!"
Cepat pedangnya digerakkan dan sinar kehijauan dari pedangnya bergulung-gulung mengurung lawannya yang juga sudah menggerakkan sebatang ruyung yang dicabutnya dari pinggang.
Biasanya Yo Ban hanya mengandalkan dua kepalan tangannya, bahkan ketika ia menghadapi biruang tadi, ia menjatuhkan binatang itu dengan pukulan tangan kosong.
Akan tetapi melihat cara kakek gundul ini menggerakkan pedangnya, tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli yang terlalu berbahaya kalau dilawan tanpa senjata maka ia cepat mencabut ruyungnya yang jarang ia gunakan itu.
Haminto Losu adalah seorang ahli silat terkenal di utara di antara Bangsa Hsi-sia.
Selain ia pandai dalam ilmu gulat utara yang hampir menyerupai Ilmu Kin-na-jiu-hwat (ilmu tangkap seperti yiu-yit-su), juga ia pandai dalam ilmu pedang dari barat.
Dari mantunya, Souw Teng Wi, ia pernah mendapat petunjuk-petunjuk dalam Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat.
maka kini ilmu pedangnya adalah gabungan ilmu pedang Kun-lun dan ilmu pedang dari See-thian (dunia barat), cukup cepat dan kuat gerakannya.
Bagaikan elang menyambar, pedang itu ia putar-putar di atas kepala kemudian menerjang turun bergerak membabat ke arah leher lawan disusul gerak tusukan ke arah dada.
Ilmu serangan ini kalau dalam Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat disebut Hun-ka-kim-liang (Memasang Penglari Emas), akan tetapi melihat diputar-putarnya pedang di atas kepala dan melihat kedudukan kaki, terang bahwa gerak tipu ini sudah berubah banyak sehingga hanya mata seorang ahli pedang yang paham tentang Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat saja yang akan dapat mengenal ilmu ini.
Tiat-ciang-kui Yo Ban tahu menghadapi serangan berbahaya.
Cepat ruyungnya diputar menangkis pedang sambil melompat mundur untuk menghindari serangan susulan yang menusuk dada itu, kemudian setelah tahu bahwa tenaganya hanya kalah sedikit oleh lawan, ia maju dengan beringas, mengirim hantaman ke arah pinggang lawan dengan gerak tipu Sabuk Kemala Melilit Pinggang, sedangkan tangan kirinya dikepal melakukan pukulan Hek-houw-to-sim (Macan Hitam Mengambil Hati) ke arah dada Haminto Losu.
Inilah serangan Pembalasan yang tak kalah hebatnya.
Haminto Losu menggerakkan pedangnya menangkis.
"Traanggg....!"
Bunga api memuncrat menyilaukan mata dan kedua orang itu melompat ke belakang memeriksa senjata masing-masing.
Bentrokan senjata tadi dapat membuat lengan tangan mereka tergetar.
Akan tetapi kalau Haminto Losu masih tetap pasangan kakinya, adalah Yo Ban tergempur bhesinya sehingga kaki kirinya agak tergeser, inilah menandakan bahwa Iweekangnya masih kalah setingkat oleh kakek gundul itu.
Diam-diam ia merasa kaget sekali dan berlaku lebih hati-hati, Pertempuran dilanjutkan dengan seru, akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus kelihatanlah bahwa memang Haminto Losu masih menang setingkat.
Baiknya kakek ini masih merasa sungkan untuk membunuh lawannya, maka beberapa kali ia membiarkan kesempatan baik terlewat begitu saja.
Di lain fihak, si jenggot Lo Houw terdesak hebat oleh Houw-cam-khoa Lie Siong.
Repot sekali ia melayani golok algojo harimau itu yang mendesaknya bertubi-tubi diselingi ketawa mengejek.
"Nah. nah, sebentar lagi kubeset kulitmu, macan ompong!"
Lee Ing menjadi gemas sekali melihat lagak Lie Siong.
Ia tahu bahwa ilmu silatnya masih terlampau rendah untuk membantu, apa lagi sekarang pedangnya sudah dipinjam oleh Lo Houw.
Akan tetapi dengan piauwnya ia dapat membantu juga dan beberapa kali ia melepaskan piauw dengan cepat untuk mengeroyok Lie Siong.
Bantuan ini merepotkan Lie Siong dan keadaan Lo Houw agak longgar dari pada desakan golok lawannya.
Akan tetapi, Lie Siong benar benar lihai sekali.
Semua serangan piauw dapat ia tangkis atau dielakkan dengan mudah dan tak lama kemudian habislah dua puluh batang piauw bekal Lee Ing, habis disambitkan tanpa guna.
"Haha-ha-ha, mana lagi piauwmu. bocah manis? Hati-hati kau, sekarang aku belum sempat membalas, akan tetapi nanti kau harus menebus setiap piauw dengan sebuah ciuman!"
Lie Siong mengejek Lee Ing sambil mendesak Lo Houw dengan goloknya.
"Jahanam keparat! Jangan kau menghina puteri dari Souw Teng Wi taihiap!"
Lo Houw membentak marah sekali sambil memutar pedangnya dengan nekat.
Disebutnya nama ini benar-benar mengagetkan hati Lie Siong.
Di sebelah sana terdengar jerit kesakitan dan Yo Ban terlempar ke belakang, pundaknya terluka oleh babatan pedang Haminto Losu sehingga Ruyungnya terlempar.
Di saat itu juga, setelah mendengar disebutnya nama Souw Teng Wi, Lie Siong berseru kaget, dan ia tak dapat mengelak lagi ketika Haminto Losu sudah maju membantu Lo Houw dan membabat pahanya sehingga terluka dan ia roboh terguling.
"Siapa tadi menyebut nama....... Souw Teng Wi taihiap....?"
Yo Ban bertanya dengan mata terbelalak lebar.
Haminto Losu berseru keras dan pedangnya menangkis pedang Lo Houw karena si jenggot yang marah sekali ini secara sembrono sudah melangkah maju untuk menusuk lawannya yang sudah roboh terluka.
"Lo-sicu, tahan senjata!"
Kata Haminto Losu dan pedang Lo Houw terpental karena tangkisannya yang keras. Kemudian Haminto Losu menghampiri dua orang lawan yang sudah terluka itu sambil berkata.
"Apakah ji-wi (tuan berdua) mengenal Souw Teng Wi?"
"Tentu saja kami tahu, dia seorang pahlawan bangsa yang terhormat, tidak seperti kau ini .... bangsa biadab...."
Kata Lie Siong sambil mendelik.
"Keparat, berani kau memaki kong-kongku!"
Bentak Lee Ing, akan tetapi Haminto Losu melarang dia berbuat sesuatu.
"Haminto, kau orang Hsi-sia jangan sombong! Tunggu guru kami datang mengambil nyawamu!"
Kata Yo Ban yang lalu bersuit keras sekali, memberi tanda kepada gurunya yang berada di tempat agak jauh dari situ.
"Sicu, kau yang tadi mencari urusan, bukan kami!"
Jawab Haminto Losu yang segera menarik tangan Lee Ing dan mengajak cucunya itu pergi.
"Lo-sicu, hayo kita melanjutkan perjalanan."
Haminto Losu tergesa-gesa pergi dari tempat itu. berlari cepat setengah menyeret tubuh cucunya. Berkali-kali Lee Ing menyatakan ketidak-puasannya, demikian pula kedengaran Lo Houw bersungut-sungut.
"Dua orang manusia itu sombong dan kurang ajar. Aku tidak puas kalau belum mengetok kepala mereka!"
"Benar sekali kau, paman Lo. Kong-kong terlalu sabar dan mengalah. Mereka yang kurang ajar, setelah mereka roboh mengapa kita yang melarikan diri terbirit-birit? Sungguh membuat penasaran dalam hati,"
Kata Lee Ing.
Akan tetapi anehnya.
Haminto Losu tidak menjawab, bahkan mempercepat larinya sehingga tubuh Lee Ing seakan-akan diangkatnya dan Lo Houw terengah-engah mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbangi kakek ini dan agar jangan ketinggalan.
Terus saja Haminto Losu mengajak mereka lari ke selatan, tidak memperdulikan cucunya sudah mahdi keringat dan kepalanya yang gundul itupun sudah penuh peluh, seakan-akan tidak mendengar betapa napas Lo Houw sudah mendengus-dengus seperti kerbau kepanasan.
Sementara itu, matahari sudah mulai turun ke barat.
"Lo-enghiong. aku.... aku tak kuat.... lagi...I"
Kata Lo Houw terputus-putus dengan napas senin kemis.
Setengah hari lebih berlari-lari secepat itu memang benar-benar menghabiskan napas.
Lee Ing sendiri sekarang sudah tidak lari lagi melainkan dikempit oleh kongkongnya yang juga sudah nampak lelah dan napasnya memburu.
Haminto Losu mengendorkan larinya, akan tetapi tetap tidak mau berhenti.
"Kita jalan saja..."
Kalanya dan demikianlah.
L o Houw dipaksa melanjutkan perjalanan dengan jalan, tidak lari lagi sehingga biarpun kedua kakinya lelah, namun ia dapat "mencari napas".
Lee Ing dan Lo Houw sudah tidak bertanya-tanya lagi karena selama itu Haminto Losu tidak menjawab semua pertanyaan mereka.
Setelah malam tiba, barulah Haminto Losu berhenti berjalan.
Mereka sudah melakukan perjalanan hampir dua ratus lie jauhnya dan kini tiba di lereng bukit batu karang.
Akan tetapi tak jauh dari i situ, di tepi sebuah jurang, mengalir sebatang anak sungai sehingga hawa di situ amat enak dan sejuk.
Bagaikan tidak bertulang lagi Lo Houw dan Lee Ing menjatuhkan diri di atas tanah dan bersandar pada batu karang melepaskan lelah.
Juga Haminto Losu duduk bersila mengatur napasnya diturut segera oleh L.o Houw dan Lee Ing.
Tak lama kemudian Lo Houw pergi mencari air yang mereka minum dengan enaknya.
Bulan purnama muncul dan pemandangan malain itu di lereng bukit batu karang sungguh indah.
Bulan bundar kuning emas merupakan lampu indah sekali, tidak saja menyinarkan cahaya yang lembut terang mengagumkan, juga mendatangkan hawa sejuk sekali.
Di sana-sini muncul bintang gemerlapan menghias angkasa biru, berkedap-kedip seperti mata gadis-gadis kahyangan bermain mata kepada Dewa Bulan, akan tetapi dewa itu teguh hatinya bercahaya tenang dan tenteram.
Batu-batu karang yang menjulang tinggi di lereng itu terkena cahaya bulan menjadi keputihan, indah seperti menara-menara kuno.
Juga tanah menjadi keputihan, putih dan bersih.
Benar-benar tempat yang pada siang harinya gundul dan kering ini sekarang disulap oleh cahaya bulan menjadi lempat yang hanya terdapat di alam mimpi.
Beginilah agaknya pemandangan di permukaan bulan itu sendiri!
"Kong-kong tadi berlari-larian seperti orang ketakutan, sebetulnya apakah gerangan yang ditakutkan?
Dua orang Iawan itu tidak mampu mengalahkan kong-kong, mengapa kita yang menang harus lari ketakutan?"
Akhirnya Lee Ing yang tak sabar lagi bertanya kepada kongkongnya.
Juga Lo Houw biarpun tidak berani bertanya, memandang kepada kakek itu dan menanti jawabannya dengan mata penuh pertanyaan.
Haminto Losu menarik napas panjang.
"Lee Ing, kau seperti burung yang keluar dari sarang, tidak tahu kelihaian orang-orang kang-ouw di daerah Tiong-goan ini. Aku sudah mendengar berita angin tentang adanya orang-orang kang-ouw yang anti kepada orang-orang utara yang bukan berbangsa Han, hal ini timbul sebagai akibat sakit hati dan dendam terhadap penindasan penjajah Mongoi. Kau lihat sendiri betapa dua orang pemburu tadi bernafsu sekali untuk mengusir atau membunuh aku sampai terjadi pertempuran. Kemudian aku berhasil mengalahkan mereka karena mereka terlengak dan terkejut mendengar nama ayahmu. Agaknya mereka mengindahkan ayahmu, sedangkan aku sudah melukai mereka. Coba saja bayangkan. Kalau mereka itu mengindahkan ayahmu berarti mereka itu orang segolongan sendiri dengan kau, dan aku yang lancang ini sudah melukai mereka! Kalau sampai kawan-kawan mereka datang dan memusuhi kita bukankah itu berarti aku menyeretmu ke dalam permusuhan dengan golongan sendiri? Karena aku tidak ingin hal itu terjadi, aku lebih baik pergi cepat-cepat dari tempat itu agar urusan tidak menjadi makin hebat."
Mengertilah kini Lee Ing dan Lo Houw mengapa kakek itu tadi berlari-larian sehari penuh seperti orang ketakutan.
Diam-diam Lo Houw memuji pandangan kakek ini yang jauh dan mendalam.
Akan tetapi Lee Ing menjadi penasaran "Kong-kong, kalau kita berada di fihak benar, mengapa takut menghadapi permusuhan?
Kalau kita benar, berarti mereka yang memusuhi kita dan kita hanya membela diri.
Biarkan mereka datang.
aku yang akan menghadapi mereka!"
Ucapan ini gagah, akan tetapi menggelikan.
Gadis yang belum seberapa kepandaiannya ini, yang sekarang kelelahan sampai hampir tak dapat berdiri sungguhpun tadi ia lebih banyak digendong dari pada lari sendiri, bagaimana akan menghadapi mereka yang lihai?
Baru dua orang itu tadi saja sudah amat lihai, apa lagi guru mereka!
"Enak saja kau bicara.
Lee Ing.
Kalau memang benar mereka itu tergolong kawan-kawan ayahmu masih mendingan karena aku dapat mengharapkan kau akan terlindung dan mereka tidak akan mau mengganggumu.
Akan tetapi siapa tahu kalau-kalau mereka itu bukan kawan-kawan mantuku Souw Teng Wi sebaliknya adalah musuh-musuhnya?
Tentu mereka takkan mau melepaskanmu dan aku melarikan diri tadi adalah untuk menjaga keselamatanmu cucuku.
Pendeknya, sebelum kita dapat bertemu dengan ayahmu dan sebelum kau berada di dekat ayahmu, hatiku akan selalu merasa gelisah.
Di Tiong-goan ini jauh sekali bedanya dengan di utara, di mana kita boleh merasa aman karena aku sudah mengenal betul keadaan dan watak orang-orang di sana.
Di sini, aahhh..., orang-orang kang-ouw terlalu banyak yang sakti dan hebat, mereka itu aneh-aneh wataknya, sukar diajak urusan."
Kata-kata Haminto Losu terhenti secara tiba-tiba dan wajahnya berubah pucat, tangannya cepat memegang lengan Lee Ing dan ia bersiap-siap melindungi cucunya yang dikasihinya sepenuh jiwa itu.
Ia mendengar sesuatu yang belum terdengar oleh Lee Ing, bahkan belum terdengar oleh Lo Houw.
Melihat sikap kong-kongnya seperti orang ketakutan, Lee Ing menghibur.
"Kong-kong. jangan takut. Andaikata mereka itu musuh ayah, biarlah mereka datang. Kebetulan sekali, kita mendapat kesempatan untuk membantu ayah membasmi musuh-musuhnya! Kalau kita kalah, sampai mati-pun aku tidak penasaran demi untuk membela ayah yang tak pernah kulihat itu, hitung-hitung aku berdarma bhakti kepada orang tua."
"Husshhh...."
Kata Haminto Losu, akan tetapi kata-katanya tertahan karena mendadak, seperti siluman saja, di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki gundul yang mukanya buruk dan menggelikan.
Orang itu sukar ditaksir usianya, melihat keriput-keriput pada mukanya itu tentu usianya sudah lanjut, sedikitnya limapuluh tahun, akan tetapi sepasang matanya kocak dan bening seperti mata bocah, kepalanya gundul akan tetapi tidak sekelimis kepala Haminto Losu, melainkan di sana ada titik rambut hitam menjongat seperti duri tumbuh di padang pasir, kepala itu kecil bundar seperti bola, hidungnya bengkok ke bawah seperti tidak bertulang, mulutnya mewek dan jenggotnya pendek-pendek jarang seperti rambut di kepalanya.
Ia mengenakan pakaian sederhana, gerombyongan tidak keruan bentuknya dan sikapnya seperti hwesio.
"Kau inikah puteri Souw Teng Wi?"
Hwesio itu yang tadinya berdiri dengan kedua lengan bersedakap, kini menudingkan telunjuk kanannya ke arah Lee Ing.
Karena munculnya orang gundul ini seperti setan, begitu tiba-tiba, Lee Ing, Lo Houw dan Haminto Losu untuk sejenak ternganga saja di atas tanah.
Kini mereka melompat bangun dan Lee Ing menjawab dengan suara nyaring.
"Betul aku Souw Lee Ing puteri Souw Teng Wi. Kau ini siapakah, orang tua?"
"Heh-heh-heb-heh...!"
Hwesio itu tertawa terkekeh-kekeh.
Suara ketawanya tidak keras akan tetapi mengandung pengaruh yang mendebarkan jantung sehingga Haminto Losu kaget bukan main.
Dari suara ketawanya dan munculnya yang tiba-tiba tadi saja sudah membuktikan bahwa hwesio ini adalah seorang sakti, Iweekangnya hebat dan ginkangnya tinggi sekali.
"Pantas pantas! Ayah naga tentu puterinya bukan sebangsa cacing. Kau berbakat dan bertulang baik, mari kau ikut dengan aku. nona!"
"Nanti dulu, orang tua. Kau siapakah dan mengapa aku harus ikut dengan kau? Aku hendak pergi mencari ayahku,"
Jawab Lee Ing, tetap tabah.
Kembali hwesio itu tertawa ngikik.
Mendengar suara ketawa ini, orang yang bernyali kecil akan meremang bulu tengkuknya, seperti mendengar suara ketawa setan atau orang gila.
"Pinceng bernama Bu Lek Hwesio dan aku mengajakmu menemui ayahmu. Marilah!"
Sambil berkata demikian. kedua tangannya bergerak-gerak maju dan iapun melangkah ke depan. (Lanjut ke
Jilid 02) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Lee Ing bergerak mundur dan Haminto Losu memegang lengan gadis itu.
Akan tetapi bukan main hebatnya, semacam tenaga menarik yang seperi angin puyuh datang membetot tubuh Lee Ing dan biarpun Haminto Losu mengerahkan Iweekangnya, di lain saat tangan gadis itu sudah dipegang oleh Bu Lek Hwesio yang masih tertawa-tawa.
"Nanti dulu, sahabat!"
Haminto Losu melompat ke depan menghadapi hwesio aneh itu.
Haminto Losu merasa curiga dan tidak percaya kepada hwesio thi yang lihai sekali.
Tidak bisa ia mempercayakan cucunya begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya baik baik.
"Tanpa bukti-bukti yang nyata tidak bisa kau membawa cucuku begitu saja"
"Apakah kau yang bernama Haminto dan yang tadi melukai dua orang anak muridku?"
Hwesio itu bertanya, matanya disipitkan, kepala ditarik ke belakang. Haminto Losu cepat mengangkat tangan memberi hormat.
"Memang betul, aku yang rendah bernama Haminto dan tidak kusangkal bahwa tadi aku telah bertempur dengan dua orang muda sampai mereka itu terluka. Akan tetapi, adalah mereka yang terlalu mendesak dan memaksaku. Sesungguhnya kami datang ke Tiong-goan bukan dengan maksud mencari permusuhan, melainkan hendak mencari mantuku, Souw Teng Wi ayah cucuku ini. Kalau betul sahabat dapat memberi keterangan di mana adanya Souw Teng Wi, aku akan menghaturkan terima kasih dan merasa bersyukur sekali dan biarlah aku sendiri mencarinya bersama cucuku."
Sudah jelas bahwa Haminto Losu berlaku mengalah dan merendah sekali, ia berlaku hati-hati karena belum tahu orang macam apakah yang ia hadapi ini, kawan ataukah lawan.
"Hemm..."
Bu Lek Hwesio mengeluarkan suara di hidung, nadanya memandang rendah sekali.
"dua orang muridku memang tidak keliru, semua orang utara yang biadab kalau berani menyeberangi tembok besar ke selatan, harus dibasmi habis agar jangan terulang kembali penjajahan oleh orang-orang biadab dari utara! Akan tetapi sayang mereka itu tidak teliti, kalau kau menjadi mertua Souw-taihiap tentu saja merupakan kekecualian dan boleh diampuni, akan tetapi tetap saja tidak boleh terus ke selatan. Sekarang nona Souw sudah bertemu dengan pinceng, serahkan dia kepada pinceng untuk dipertemukan dengan ayahnya. Dia bertulang baik, kiranya patut menjadi murid pinceng. Adapun kau sendiri, lebih baik lekas kembali ke utara sebelum bertemu dengan kawan-kawan lain yang takkan mau mengampunimu."
Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Lee Ing dan berkata "Hayo, nona Souw, kita pergi sekarang juga!"
Tangannya bergerak perlahan, namun Lee Ing tak dapat mengelak dan tahu-tahu pergelangan tangan kanannya sudah kena dipegang oleh hwesio itu.
"Nanti dulu, losuhu!"
Seru Lee Ing.
"Biarpun kau bermaksud baik, akan tetapi aku masih belum melihat buktinya. Losuhu hendak mengambil murid kepadaku, mudah saja. Akan tetapi kong-kongku inipun seorang ahli silat yang pandai Kalau losuhu tidak memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya, untuk apa aku belajar ilmu silat darimu?"
Hwesio itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Keras dan jujur seperti ayahnya! Souw-siocia, kau masih belum percaya kepada pinceng? Ha-ha, boleh sekali, suruh kongkongmu itu maju, biar kita main-main sebentar. Kalau aku tidak bisa mengalahkannya dalam sepuluh jurus, anggap saja aku tidak berharga menjadi gurumu."
Sikap yang sombong ini memanaskan perut Lo Houw. la mendahului Haminto Losu, melompat dan mengaum seperti harimau menghadapi Hu Lek Hwesio.
"Hwesio sombong, coba kau-hadapi aku lebih dulu!"
Katanya memasang kuda-kuda.
"Kau siapakah?"
Tanya Bu Lek Hwesio dan dari sepasang matanya yang tajam itu menyambar sinar berapi-api. Haminto Losu dapat melihat ini dan hatinya tidak enak, cepat ia mendahului Lo Houw menjawab.
"Dia adalah Lo Houw, seorang pahlawan patriot yang dahulu berjuang di bawah pimpinan Souw Teng Wi."
Bu Lek Hwesio mengangguk angguk.
"Baiknya dia menyebutkan hal ini, kalau tidak jangan harap kau akan dapat bernapas lagi. Majulah!"
Lo Houw tidak menjadi gentar, dengan auman keras ia menyerbu, kedua tangannya bertubi-tubi melakukan tusukan yang merupakan totokan berbahaya.
Bu Lek Hwesio tidak bergerak, tetap berdiri dengan kedua lengan menyilang di depan dada.
Padahal tangan kiri dan kanan dari Lo Houw sudah bergerak dan jari jarinya sudah menotok, yang kanan mengarah leher yang kiri mengancam dada!
Ketika jari-jari itu hampir menyentuh sasaran.
Bu Lek Hwesio hanya miringkan sedikit lehernya, totokan pada leher itu tidak mengenai sasaran sedangkan totokan pada dadanya diterima begitu saja!
"Krek!!"
Lo Houw menjerit dan melompat mundur sambil memegangi jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang ternyata sudah patah-patah tulangnya.
Bu Lek Hwesio tersenyum mengejek dengan mulutnya yang selalu merengek itu.
"Hanya begitu saja kemampuanmu?"
Lee Ing kagum bukan main, akan tetapi Haminto Losu sudah melompat sambil mencabut pedangnya.
""Sahabat, kepandaianmu hebat. Biarlah aku yang bodoh mencoba-coba untuk memuaskan hati cucuku, pula agar aku yakin bahwa cucuku berada di tangan yang cukup kuat untuk menuntunnya mencari ayahnya."
"Majulah, orang Hsi-sia!"
Bu Lek Hwesio menantang, masih tetap berdiri dengan dua lengan bersedakap tenang-tenang saja.
Agaknya ia tidak bersenjata dan hendak menghadapi pedang Haminto Losu dengan tangan kosong.
Haminto Losu maklum bahwa hwesio ini lihai sekali, maka ia cepat berseru "Lihat pedang!"
Dan melakukan serangan hebat dengan babatan pedang-nya disusul oleh tendangan Soan-hong-twi yang amat berbahaya itu.
"Bagus!"
Bu Lek Hwesio berseru dan benar-benar luar biasa sekali, tidak diketahui atau dilihat gerakannya tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke kiri sehingga babatan pedang dan tendangan yang dilakukan amat cepatnya itupun tidak mengenai sasaran.
"Satu jurus!"
Kata Bu Lek Hwesio sombong.
Haminto Losu menjadi penasaran sekali mendengar ini karena ternyata hwesio itu benar-benar hendak membuktikan bualnya kepada Lee Ing tadi bahwa dia akan dapat merobohkan Haminto Losu dalam sepuluh jurus!
Bagaimana juga, Haminto Losu bukanlah seorang ahli silat biasa, melainkan seorang tokoh yang memiliki ilmu pedang hebat, di samping ini ilmu tendangannyapun terkenal ditambah ilmu cengkeraman model Mongol.
Bagaimanakah ia akan dapat dirobohkan begitu saja dalam sebuluh jurus?
Hwesio sombong ini biarpun kepandaiannya lebih tinggi dari padaku, akan tetapi terlalu sombong dan harus diberi malu, pikir Haminto Losu dan ia berlaku hati-hati sekali.
Kembali ia menyerang dengan pedangnya, akan tetapi kali ini serangannya hanya mempergunakan tiga bagian saja dari pada kepandaiannya, yang tujuh bagian ia pergunakan untuk menjaga diri agar jangan sampai kalah dalam sepuluh jurus.
Biarpun dengan cara demikian ia tidak mungkin dapat mengirim serangan-serangan berarti, namun penjagaannya menjadi amat kuat dan kiranya tidak mungkin orang dapat merobohkan dalam sepuluh jurus, apa lagi orang itu bertangan kosong.
"Dua jurus!"
Bu Lek Hwesio menghitung lagi sambil mengelak perlahan, biarpun ia tahu akan perubahan ini namun ia bersikap biasa seolah-olah tidak tahu.
Kembali Haminto Losu menyerang, cepat sekali ia menyerang bertubi-tubi menggunakan jurus demi jurus akan tetapi semua ia lakukan dengan mengerahkan hanya tiga bagian ilmunya.
Maksudnya agar supaya cepat-cepat ia menghabiskan sepuluh-jurus karena kalau sudah lewat sepuluh jurus belumi juga hwesio itu mampu mengalahkan nya berarti ia menang!
"Tiga jurus!
Empat jurus.....
lima jurus...
enam jurus!"
Karena serangan-serangan Haminto Losu bertubi-tubi dan amat cepat datangnya sambil mengelak ke sana ke mari Bu Lek Hwesio menghitung dengan cepat pula.
Kembali Haminto Losu menyerang bertubi-tubi dengan gerak tipu menyerupai Kongciak-kai-peng (Merak Membuka Sayap) disusul Sian-jiu-hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan) kemudian Hun-in-toan-san (Awan Melintang Memutuskan Gunung).
Dengan gerakan perlahan namun selalu tepat sekali Bu Lek Hiwcsio mengelak lari dua seiangan pertama sambi I menghitung "Tujuh jurus.....
delapan jurus...."
Serangan ketiga, Hun-in-toan-san itu dilakukan dengan membabatkan pedang ke arah leher.
Serangan ini lebih berbahaya dari pada serangan yang sudah-sudah.
Namun Bu Lek Hwesio berdiri tegak tidak mengelak sama sekali, bahkan mulutnya dengan nada mengejek menghitung.
"Sembilan jurus!"
Tiba-tiba pedang yang menyambar itu terhenti di tengah udara dan ternyata punggung pedang sudah kena dijepit oleh dua jari tangan kiri Bu Lek Hwesio.
Karena pedangnya terhenti di tengah udara, Hamimo Losu tercengang dan tak dapat terus menyerang melainkan dengan kaget sekali berusaha menarik pulang pedangnya.
Namun pedang itu seakan-akan terkait oleh jepitan baja yang amat kuat.
Haminto Losu mengerahkan tenaga, kemudian hendak menggunakan saat terakhir itu menyelesaikan jurus ke sepuluh.
Namun, sebelum kakinya menendang, tiba-tiba jepitan pedang dilepaskan oleh Bu Lek Hwesio sambil berseru.
"Jurus ke sepuluh!"
Dan...
tubuh Haminto Losu terhuyung-huyung lalu roboh.
Ternyata ketika pedang dilepas tiba-tiba, tubuh Haminto Losu menjadi miring dan sebeluin ia dapat memperbaiki posisinya tangan kanan Bu Lek Hwesio bergerak perlahan ke depan menyentuh pundaknya, hanya dengan sebuah jari telunjuk.
Inilah ilmu totok It-ci-san (Totokan Satu Jari) yang lihai bukan main sampai Haminto Losu tak dapat mempertahankan dirinya lagi yang sudah terasa lumpuh dan jatuh duduk di atas tanah dengan lemas!
"Nona Souw, kau lihat, kongkongmu dalam sepuluh jurus roboh!"
Kata Bu Lek Hwesio yang berjingkrak-jingkrak kegirangan, berputar-putar dan bertepuk-tepuk tangan gembira sekali seperti bocah menang main bola!
Lee Ing yang mengkhawatirkan keadaan kong-kongnya, segera menghampiri kakek itu.
Haminto Losu duduk bersila mengumpulkan napas, ketika melihat Lee Ing mendekati, cepat ia berbisik di telinga gadis itu.
"Dia lihai, kau boleh turut dia dengan baik, akan tetapi hati-hati, dia tak boleh dipercaya..."
Kemudian Haminto Losu setelah memulihkan kembali jalan darahnya, melompat berdiri dan menjura sambil berkata.
"Bu Lek Losuhu benar-benar sakti, aku yang bodoh mengaku kalah dan sekarang amanlah hatiku menyerahkan cucuku dalam tanganmu. Harap kau orang tua dapat segera membawanya ke depan Souw Teng Wi mantuku!"
Memang Haminto Losu mempunyai pemandangan luas dan perhitungan yang masak.
Ia maklum bahwa kepandaiannya kalah jauh oleh Bu Lek Hwesio yang memiliki Ilmu totok It-ci-san yang lihai dan tenaga Iweekang yang hebat.
Kalau ia nekat melawan mempertahankan Lee Ing, takkan ada gunanya, bahkan akan mendatangkan sikap tidak enak terhadap Lee Ing.
Maka ia mengalah, mundur bukan karena takut, melainkan untuk mengatur siasat dan untuk "memberi muka"
Kepada Lee Ing.
la tahu akan watak gadis itu yang jujur dan berani mati, kalau sampai ia bersikap bermusuh terhadap hwesio itu, tentu Lee Ing akan membelanya dan akan memusuhi hwesio itu pula.
Dan ini berbahaya sekali bagi keselamatan cucunya itu.
"Nona Souw, mari kita pergi!"
Seru Bu Lek Hwesio tanpa memperdulikan lagi kepada Haminto Losu dan Lo Houw.
Lee Ing ingin sekali mengucapkan selamat berpisah kepada kongkongnya yang ia sayang, akan tetapi ia, tidak mempunyai kesempatan lagi.
Tubuhnya melayang dan seperti daun kering tertiup angin ia dipegang lengannya oleh hwesio lihai itu yang mengangkatnya lalu membawanya lari secepat terbang.
Kedua kaki gadis itu tidak menyentuh tanah dan angin bertiup kencang di pinggir kedua telinganya.
Setelah hwesio itu pergi, barulah Haminto Losu membanting-banting kaki dan wajahnya yang sudah tua menjadi berduka sekali.
Ditariknya napas panjang berkali-kali, lalu katanya perlahan.
"Celaka... hwesio itu aku masih ragu-ragu dan tidak percaya. Lo-sicu kita harus cepat-cepat pergi mencari Souw Teng Wi. dia harus tahu bahwa anaknya pergi bersama Bu Lek Hwesio... ah, mudah-mudahan saja kekhawatiranku ini keliru dan Bu Lek Hwesio benar-benar seorang sahabat mantuku..."
Lo Houw dapat mengerti perasaan orang tua ini, karena diapun merasa curiga dan kurang percaya kepada Bu Lek Hwesio yang aneh sikapnya dan lihai itu.
Tanpa menunda waktu lagi keduanya malam itu juga terus melanjutkan perjalanan ke selatan.
Setelah kekuasaan Mongol lenyap dan bumi Tiongkok dan pemerintah dikuasai oleh Kerajaan Beng-tiauw, orang-orang gagah yang tadinya ikut berjuang merasa berjasa.
Maka di mana mana timbullah perkumpulan-perkumpulan orang gagah seperti cendawan di musim hujan.
Segala sesuatu itu tentu berputar pada pokok atau sumbernya.
Pada waktu itu, pemerintah Beng-tiauw yang batu berdiri penuh dengan pembesar-pembesar yang korup dan palsu.
Mereka ini seporti anjing-anjing yang tadinya kelaparan sekarang berebut tulang.
Tadinya terjajah oleh Bangsa Mongol, sekarang mereka yang tadinya ketika terjadi perang sama sekali tidak berani muncul bahkan sebagian besar menjilat-jilat pantat kaisar dan para pembesar Bangsa Mongol, sekarang setelah kekuasaan dipegang oleh bangsa sendiri lalu berebutan muncul dan mengarang cerita menonjolkan jasa-jasanya.
Maka muncullah pembesar-pembesar korup, dan tentu saja para pembesar yang memang terdiri dari patriot-patriot tulen yang tadinya berjuang membela negara dan sekarang dalam jabatannya masih merupakan pemimpin yang setia dan bijaksana bagi rakyat, dimusuhi oleh para pembesar bermoral bejat itu.
Timbullah dua aliran di lingkungan pembesar, dua aliran yang memperebutkan simpati Kaisar Beng-tiauw yang pertama, Thai Cu.
Dalam hal menjilat dan merebut hati, memang orang-orang yang palsu wataknya lebih pandai dari pada orang-orang yang jujur, maka condonglah hati Thai Cu kepada mereka ini yang merupakan tikus-tikus berkaki dua.
Di luar istana, para orang gagah yang mendirikan perkumpulan-perkumpulan juga terjadi perpecahan Semua orang gagah maklum belaka bahwa pendekar atau pahlawan Souw Teng Wi adalah seorang pahlawan patriot yang telah berjuang mati-matian dalam pergerakan mengusir Bangsa Mongol dan tadinya merupakan tangan kanan dari Kaisar Thai Cu ketika kaisar itu masih menjadi pemimpin pemberontak Cu Coan C'iang.
Akan tetapi oleh karena para penjilat palsu itu maklum akan watak gagah perkasa dari Souw Teng Wi dan maklum pula bahwa kalau sampai orang she Souw ini mendapat kedudukan tinggi sudah tentu mereka akan dibasmi olehnya, dengan segala akal dan tipu daya mereka berusaha agar supaya Souw Teng Wi jangan diterima oleh kaisar.
Dan berhasillah mereka memfitnah Souw Teng Wi di depan kaisar sehingga ia dituduh hendak memberontak dan hendak merampas kedudukan kaisar.
Kaisar memerintahkan penangkapannya atas diri Souw Teng Wi bekas tangan kanannya ini sehingga pendekar ini melarikan diri dan selama ini ia bersembunyi, tak seorangpun tahu di mana tempat persembunyiannya.
Para pembesar durna itu sedemikian jauh pengaruh dan siasatnya sehingga mereka berhasil pula mempengaruhi kaisar untuk mengusir putera-nya.
pangeran yang gagah adil dan jujur, di mana pangeran inipun secara terang-terangan memusuhi para durna.
Hal ini membuai para durna itu merasa khawatir dan mencari akal sehingga akhirnya mereka berhasil membuat kaisar mengangkat Pangeran Yung Lo sebagai raja muda dan ditempatkan di Peking, bekas kota raja Kerajaan Goan-tiauw.
Pada lahirnya saja Pangeran Yung Lo diangkat sebagai raja muda, akan tetapi sebenar inilah hasil siasat para durna yang hendak menjauhkan pangeran itu dari kota raja yang baru, Nanking.
Karena timbulnya dua aliran ini, di mana tentu saja aliran pembesar-pembesar yang setia dan baik lemah sekali keadaannya, timbul pula dua aliran pada dunia kang-ouw dan terjadilah persaingan dan permusuhan.
Tadinya memang orang-orang kang-ouw ini tidak mencampuri urusan pemerintahan dan seperti biasanya para orang gagah ini tidak mengacuhkan hal itu.
Akan tetapi ada dua hal vang membuat orang-orang gagah bangkit dan terjadi perpecahan yang menimbulkan adanya dua aliran atau dua golongan.
Pertama-tama banyak orang gagah merasa penasaran melihat nasib pendekar besar Souw Teng Wi yang sudah demikian banyak jasanya dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman raksasa penjajah, sehingga diam-diam mereka siap sedia membantu Souw-taihiap.
Kedua kalinya, banyak orang kang-ouw yang berilmu tinggi terbujuk oleh kemilaunya emas permata sehingga orang-orang berilmu ini sudi menjadi kaki tangan para durna untuk membasmi siapa saja yang merintangi jalan mereka.
Hal ini yang sesungguhnya menimbulkan perpecahan antara orang-orang kang-ouw sendiri sehingga sering kali terjadi pertentangan-pertentangan dan salah paham, memancing timbulnya pertempuran-pertempuran yang kadang-kadang mengorbankan banyak nyawa orang-orang kang-ouw.
Di antara para pembesar durna, yang amat berkuasa di antara mereka adalah seorang menteri muda bernama Auwyang Peng atau lebih terkenal dengan sebutan Auwyang-taijin.
Usianya empat-puluh tahun lebih dan dahulu ketika Kaisar Thai Cu masih menjadi pemberontak Cu Goan Ciang, sebetulnya Auwyang Peng ini adalah seorang pembesar Kerajaan Mongol Biarpun ia seorang Han, namun dengan kepandaiannya bun dan bu (surat dan silat) ia berhasil menduduki pangkat di Kerajaan Mongol.
Ketika melihat pergerakan Cu Goan Ciang yang mendapat dukungan banyak tuan tanah makin lama makin besar dan mendekati hasil baik, Auwyang Peng tidak menyia-nyiakan kesempatan baik.
Diam-diam ia menghubungi Cu Goan Ciang dan membantunya dari sebelah dalam sampai akhirnya Kerajaan Mongol tumbang.
Mengingat akan jasa-jasanya inilah maka Cu Goan Ciang setelah menjadi kaisar lalu mengangkat Auwyang Peng sebagai menteri muda.
Sudah tentu saja karena Auwyang Peng menjadi pembesar dengan ada jasa betul-betul, para durna lainnya tunduk kepadanya dan ia seakan-akan diangkat menjadi pelindung dan kepala mereka.
Tentu saja Auwyang-taijin menerima banyak "hadiah"
Dan "tanda mata"
Sehingga istana Auwyang-taijin amat besar menyaingi istana kaisar, juga hampir di setiap kota besar menteri muda ini mempunyai gedung.
Auwyang Peng yang maklum bahwa sejak dahulu Souw Teng Wi membencinya dan menganggapnya seorang pengkhianat yang dulu telah mengekor kepada pemerintah Mongol, kini memusuhi Souw Teng Wi.
Kedudukan Auwyang-taijin kuat sekali dan di tangannyalah terletak kekuasaan besar di mana banyak orang berilmu tinggi menghambakan dirinya.
Auwyang-taijin mempunyai seorang putera bernama Auwyang Tek.
Pemuda ini bertubuh jangkung kurus, berwajah tampan dan halus.
Akan tetapi isi dada pemuda itu tidak setanpan wajahnya.
Pemuda ini berhati keji dan kejam melebihi ayahnya, dan selama ia mengandalkan kekuasaan ayahnya yang dibantu banyak oiang pandai, juga ia mengandalkan kepandaiannya sendiri yang memang hebat.
Auwyang Tek adalah murid termuda dari Tok-ong Kai Song Cinjin, seorang pendeta dari Tibet yang amat sakti.
Seperti dapat dimaklumi dari julukannya, yaitu Tok ong (Raja Racun), pendeta ini selain lihai ilmu silatnya juga amat pandai dalam menggunakan racun-racun berbahaya untuk mengalahkan musuh.
Juga Auwyang Tek memiliki kepandaian khusus yang istimewa yang disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), sebuah kepandaian yang amat dahsyat dan mengerikan, didasarkan tenaga lwee-kan tinggi dan hawa mujijat dari racun hitam.
Oleh karena Souw Teng Wi menyembunyikan diri, Auwyang-taijin tak dapat melampiaskan bencinya.
Ribuan orang mata-mata disebarnya untuk mencari musuh besarnya ini, namun sia-sia.
Souw Teng Wi seperti lenyap ditelan bumi tidak meninggalkan jejak.
Namun Auwyang-taijin masih belum puas dan tetap memasang penyelidik-penyelidik di setiap kota.
Maklum akan bahayanya, orang-orang gagah yang memihak Souw Teng Wi, tidak berani menyatakan secara berlerang.
Di antara banyak pendukung Souw Teng Wi di kota raja Nan-king, terdapat seorang gagah perkasa bernama Kwee Cun Gan yang berjuluk Kim-sin-kang-jiu (Berhati Emas Bertangan Baja).
Julukannya ini membuktikan bahwa pendekar ini biarpun memiliki kepandaian tinggi sehingga kedua tangannya diumpamakan tangan baja, namun ia berhati emas, tanda pribudinya yang luhur.
Sebetulnya Kwee Cun Gan ini masih seperguruan dengan pendekar besar Souw Teng Wi, yaitu dari partai persilatan Kun-lun-pai, akan tetapi tentu saja hal ini jarang ada orang yang mengetahuinya.
Mengingat akan jasa-jasa Souw Teng Wi terhadap tanah air, juga karena sampai sebegitu lama Souw Teng Wi tidak pernah muncul, Kwee Cun Gan diam-diam mendirikan sebuah perkumpulan rahasia di antara orang-orang gagah yang diberi nama perkumpulan Tiong-gi-pal (Perkumpulan Setia Ingat Budi).
Banyak orang gagah menyokong pendiriannya ini dan menjadi anggauta Tiong-gi-pai, dan di antara pembantu-pembantu Kwee Cun Gan adalah anak keponakannya sendiri yang sudah yatim piatu bernama Kwee Tiong, ia seorang pemuda teruna, baru berusia tujuh belas tahun, akan tetapi ia telah memiliki kepandaian tinggi, hampir menyamai kegagahan pamannya!
Ini tidak mengherankan oleh karena dia adalah murid terkasih dari Pek Mao Lojin, tokoh pantai timur yang terkenal sekali dan menjadi pula pendukung dari Tiong-gi-pai.
Selain guru dan murid ini, masih banyak pendekar-pendekar perkasa yang secara langsung maupun tidak membantu pergerakan Tiong-gi pai.
Akan tetapi manusia ini memang macam-macam pendiriannya.
Ada sebagian orang-orang gagah di dunia kang ouw, biarpun tidak langsung membantu Menteri Auwyang Peng, namun diam-diam mereka ini tidak setuju akan gerakan Tiong-gi-pai dan selalu mereka ini menganggap Tiong gi-pai sebagai perkumpulan yang tidak puas melihat negara dikemudikan oleh bangsa sendiri.
Penjajah terusir dan tanah air dikuasai oleh bangsa sendiri, mengapa masih hendak mengacau?
Bukankah itu berarti pro kepada penjajah Mongol?
Demikianlah pendapat kelompok orang ini dan mereka ini merupakan fihak netral yang biarpun tidak membantu Auwyang-taijin namun anti kepada Tiong-gi-pai.
Sukarnya bagi Auwyang-taijin untuk membasmi Tiong-gi-pai adalah karena perkumpulan ini tidak mempunyai markas yang tetap, dibentuk secara rahasia dan bergerak secara rahasia pula.
Yang sudah pasti, pusatnya berada di kota raja, di Nan-king.
Memang jarang terjadi bentrokan antara mereka.
Bentrokan besar-besaran yang pernah terjadi dan yang sekaligus membuka mata Auwyang-taijin, bahwa ada perkumpulan Tiong-gi-pai yang tak boleh dipandang ringan terjadi kurang lebih setahun yang lalu.
Ketika itu, putra Auwyang-taijin, yaitu Auw-yang Tek, baru saja turun gunung, karena tamat pelajaran silatnya dan kembali ke kota raja bersama gurunya, Tok-ong Kai Song Cin jin.
Dasar pemuda berwatak bejat, biarpun ia memiliki bakat ilmu silat yang luar biasa dan kini menjadi seorang pemuda yang kepandaiannya tinggi sekali, begitu sampai di kota raja, Auwyang Tek menjadi binal, beberapa tahun ia harus hidup terasing di atas gunung mempelajari ilmu silat, sekarang setelah tiba di kota nafsu binatangnya timbul.
Dia seorang pemuda mata keranjang yang tidak segan-segan mempermainkan anak bini orang lain.
Pada suatu hari di kota raja datang serombongan pemain akrobat terdiri dari seorang laki-laki setengah tua berjenggot panjang, dua orang gadis remaja dan seorang bocah laki-laki tanggung.
Empat orang ini menuju ke sebuah tempat yang ramai di pusat kota lalu menurunkan barang-barang bawaan mereka di tempat terbuka pinggir jalan, tak jauh dari jembatan Kim-niau (Jembatan Burung Emas).
Pemuda tanggung itu segera membuka buntalan-buntalan besar, lalu bersama laki-laki setengah tua ia memasangi alat-alat bermain akrobat, di antaranya sebatang gala bambu yang tingginya ada lima meter, sebuah tangga dan tiga buah guci arak besar.
Sementara itu, dua orang gadis yang berwajah manis-manis itu menabuh tambur dan gembreng.
Di kota raja memang banyak didatangi orang-orang dari luar kota yang mencari nafkahnya dengan jalan menjual kepandaian, ada guru-guru silat menjual obat ada pula tukang-tukang sulap dan pedagang-pedagang lain yang menarik perhatian orang dengan pelbagai pertunjukan.
Akan tetapi karena rombongan ini terdapat dua orang gadis manis, sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan orang-orang yang hendak menonton.
Terutama sekali menonton dua orang gadis manis itu, karena semenjak dunia berkembang, tidak ada daya penarik lebih memikat dari pada wajah dara-dara ayu.
Sehelai kain bertuliskan ROMBONGAN AKROBAT LIEM terpancang di situ seperti sebuah bendera.
Kemudian melihat di situ sudah berkumpul banyak sekali orang, dengan wajah ramah berseri laki-laki setengah tua berjenggot panjang melompat bangun, menjura ke empat penjuru lalu memberi isyarat kepada dua orang gadis yang segera menghentikan pemukulan tambur dan gembreng.
Mereka berdua lalu melompat pula menghampiri orang tua itu dan berdiri di sebelah kirinya, sementara itu pemuda tanggung tadi berdiri pula di sebelah kanannya.
Kalau dua orang gadis itu manis-manis berkulit putih berbibir merah, adalah pemuda tanggung itu tampan juga, keningnya lebar matanya bersinar-sinar Laki-laki berjenggo panjang itu sendiri berwajah tampan dan angker, ini semua menjadi tanda bahwa anggauta rombongan itu terdiri dari orang-orang yang bukan sembarangan.
"Cu-wi sekalian yang terhormat,"
Laki-laki berjenggot panjang itu mulai berpidato.
"terima kasih atas perhatian cu-wi yang sudi menonton pertunjukan kami yang tidak berharga. Pertama-tama kami hendak memperkenalkan diri. Siauwte (aku) sendiri adalah Liem Hoan dari daerah selatan, di sana dijuluki orang Sin-liong (Naga Sakti) akan tetapi di sini tentu saja siauwte tidak berani mempergunakan julukan itu. Di sebelah kiri siauwte ini adalah dua orang anak perempuan siauwte, Kui Lan dan Siang Lan, adapun di sebelah kanan riauwte adalah anak laki-laki siauwte bernama Liem Han Sin. Kami sekeluarga Liem bermaksud mengadakan sedikit hiburan kepada cu-wi, mudah-mudahan cu-wi tidak kecewa dan bermurah hari untuk sekedar memberi sokongan untuk penyambung perjalanan kami ke Peking."
Tepuk tangan riuh menyambut pidato ini.
bukan saking baiknya isi pidato, melainkan seperti biasa karena orang-orang bergembira menyambut pertunjukan akan segera dimulai.
Mula-mula dua gadis enci adik yang berusia enambelas dan tujuh-belas tahun itu memperlihatkan kepandaian mereka.
Kui Lan berseru nyaring, tubuhnya berjungkir balik, kedua tangan menapak tanah dan kedua kaki tegak di atas, tetap kaku seperti pilar.
Siang Lan-adiknya juga mengeluarkan seruan lembut dan tubuhnya yang langsing itu melayang naik merupakan lompatan indah.
Seperti seekor burung saja ia hinggap di atas kaki encinya, berdiri tegak tersenyum-senyum dan kedua tangannya melambai-lambai memikat ke arah penonton.
Pertunjukan ini sih tidak berapa hebat dan banyak orang yang sanggup melakukannya, akan tetapi yang menarik ialah karena yang melakukannya adalah dua orang gadis jelita, maka para penonton yang semua terdiri dari laki-laki itu mulai bertepuk tangan memuji!
Berbareng dengan bunyi tepuk tangan, tiba-tiba tubuh Siang Lan yang berada di atas itu mencelat ke udara, berjumpalitan, demikian pula Kui Lan dengan gerakan indah sekali berjungkir balik dan ketika tubuh Siang Lan turun, dua pasang tangan bertemu.
Kini Kui Lan berdiri tegak dan di atasnya, Siang Lan berdiri berjungkir balik dengan kaki di atas dan kedua tangan di atas telapak tangan enci-nya.
Dua orang gadis itu terus bermain akrobat, berjungkir balik dalam pelbagai posisi yang sulit-sulit, gerakan mereka ringan dan cepat sekali, menimbulkan gaya indah dan pemandangan yang menarik hati sehingga tepuk tangan tiada hentinya menyambut kecekatan mereka.
Setelah keduanya melompat turun dan memberi hormat kepada penonton, tiba giliran Liem Han Sin pemuda tanggung yang tampan itu memperlihatkan kepandaiannya.
Dengan lincah pemuda cilik ini mengambil tangga yang tingginya ada dua meter itu.
melompat ke anak tangga pertama.
Tentu saja tangga yang tidak dipegangi dan tidak disandarkan itu hampir roboh, akan tetapi dengan memegangi dua batang bambu tangga itu Liem Han Sin mengangkat dua kaki tangga mengatur keseimbangan badan seperti orang naik jangkungan.
Permainan ini lebih sukar dari pada tadi, membutuhkan keringanan tubuh dan tenaga besar, juga membutuhkan latihan matang.
Akan tetapi dengan enaknya Han Sin melompat dari tangga terbawah ke tangga sebelah atas, terus makin ke atas, sampai pada anak tangga paling atas ia terpaksa memendekkan tubuhnya karena jarak pegangan dan anak tangga amat dekat.
Makin sukarlah ia mempertahankan keseimbangan tubuhnya sehingga tangga itu berloncat-loncatan lucu ke sana ke mari.
Tepuk tangan riuh-rendah menyambut permainan ini dan dari sana-sini terdengar pujian.
Kemudian Liem Hoan sendiri memperlihatkan kelihaiannya.
Kini dia yang main keseimbangan tubuh, akan tetapi tidak mempergunakan tangga, melainkan mempergunakan gala bambu tadi yang begitu panjang.
Bagaikan seekor kera ia memanjat batang bambu itu yang didirikan begitu saja diatas tanah.
Gala bambu miring ke sana ke mari namun tidak sampai roboh dan sementara itu Liem Hoan sudah sampai di puncaknya yang lima meter tingginya itu, berdiri dengan sikap burung bangau berdiri dengan satu kaki, lalu merosot lagi ke bawah dengan cepatnya.
Pertunjukan ini hebat juga dan selain pecah tepuk sorak, juga kini uang kecil mulai membanjir di atas tanah di mana sudah disediakan kain kuning yang dibentangkan oleh Liem Han Sin.
Kui Lan dan Siang Lan tersenyum senyuin memandang ke arah uang yang beterbangan ke atas kain kuning, akan tetapi tiba-tiba mereka mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat tiga buah uang tembaga lain mengeluarkan bunyi nyaring terus melesak ke dalam menembus kain kuning masuk ke dalam tanah.
Kain kuning menjadi robek dan ada beberapa uang tembaga penyok-penyok kena pukulan uang tembaga yang dilemparkan dengan tenaga dalam hebat itu.
Kui Lan dan Siang Lan melirik ke arah orang yang melempar tiga mata uang itu dan mereka melihat wajah seorang laki-laki muda dan tampan bertubuh jangkung kurus memandangi mereka sambil tersenyum-senyum ceriwis dan pandangan matanya kurang ajar sekali.
Pada saat itu, terdengar suara "Permainan bagus sekali, patut disumbang!"
Dan melayanglah tiga buah mata uang perak ke arah tumpukan uang itu, tepat di atas tiga bagian yang tadi terusak oleh tiga buah mata uang tembaga pemuda kurus sehingga bolong-bolong pada kain tertutup oleh mata uang perak yang berkilauan.
Dua orang gadis ini melirik dengan penuh terima kasih kepada pelempar uang tadi, seorang laki-laki setengah tua yang memiliki pandang mata berpengaruh dan keningnya amat lebar.
Laki-laki ini tersenyum-senyum saja, seakan-akan tidak melihat betapa pemuda kurus jangkung tadi memandang kepadanya lengan kening berkerut.
Pemuda itu bukan lain adalah Auwyang Tek, putera Menteri Auwyang yang memang suka berkeliaran di antara rakyat kota raja.
Kalau saja kesederhanaannya tidak suka berlagak seperti putera menteri ini mengandung maksud untuk mendekati rakyat dan memang merasa satu dengan rakyat, itulah baik sekali.
Sayangnya Auwyang Tek yang tidak memakai peraturan dan berkeliaran seperti pemuda biasa ini mengandung maksud agar gerakannya bebas dan dia boleh berbuat apa yang ia suka!
Pemuda mata keranjang ini tertarik sekali kepada Kui Lan dan Siang Lan, maka tadi ia sengaja melepas mata uang sambil mengerahkan tenaga untuk menarik perhatian dua orang gadis itu.
Sedikit pun Auwyang Tek tidak pernah mengimpi bahwa orang setengah tua yang tadi melepaskan tiga mata uang-perak, yang secara "kebetulan'"
Menutupi bekas demonstrasi tenaganya di atas kain kuning, adalah Kwee Cun Gan, ketua dari Tiong-gi-pai yang ditakuti!
Sebaliknya, tentu saja Kwee Cun Gan yang berjuluk Kim-sin-kang-jiu ini tahu betul siapa adanya pemuda tampan kurus jangkung yang mendemonstrasikan tiga buah mata uang sambil cengar-cengir itu.
Sesuai dengan julukannya Kim-sin-kang-jiu, (Hati Emas Tangan Baja), tergeraklah hati Kwee Cun Gan dan merasa kasihan melihat keluarga yang kehabisan bekal uang di tengah jalan sehingga terpaksa menjual kepandaian itu, maka tanpa ragu-ragu ia menyumbangkan tiga mata uang perak dan sekaligus memperlihatkan keahliannya sehingga tiga mata uang yang dilemparkan itu menutupi bekas tangan Auwyang Tek.
Liem Hoan bukanlah seorang ahli silat biasa atau pemain akrobat pasaran.
Di selatan dia juga seorang tokoh kang-ouw yang terkenal Sudah banyak pengalamannya dan matanya amat tajam.
Maka apa yang terlihat oleh dua orang puterinya tadi pun tidak terlepas dari pandangan matanya, membuat ia berdebar tak enak dan maklum bahwa di kota raja baru di mana ia sudah mendengar terdapat banyak sekali orang pandai ini, kedatangannya tidak disuka orang.
Cepat ia memberi isyarat kepada tiga orang anaknya untuk mengumpulkan uang dan barang-barang, berkemas untuk segera pergi.
Kepada orang banyak ia menjura sambil berkata.
"Terima kasih banyak kami haturkan kepada cu-wi yang sudah menaruh kasihan kepada kami dan memberi sumbangan, terutama sekali kepada para eng-hiong yang memaafkan pertunjukan kami yang tidak ada harganya tadi."
Melihat pertunjukan akan dibubarkan, orang banyak menjadi kecewa.
Biarpun apa yang disuguhkan tadi sudah cukup menarik dan mengagumkan, akan tetapi terlampau sedikit dan mereka menghendaki lebih banyak lagi.
"Guci-guci besar sudah dikeluarkan dan belum dimainkan, apakah hanya untuk hiasan belaka?"
Terdengar seorang di antara para penonton mencela.
"Mungkin hanya untuk menarik hati kita supaya datang menonton!"
Kata orang ke dua.
"Aku ingin melihat demonstrasi silat!"
Orang ke tiga berteriak keras.
"Akur! Akur!! Guci harap dimainkan!"
Banyak orang kini berteriak-teriak karena mereka ingin melihat permainan guci yang biasanya amat menarik.
Liem Hoan saling pandang dengan anak-anaknya, kemudian dengan terpaksa sambil tersenyum ia berkata nyaring.
"Baiklah. kalau cu-wi menghendaki dan tidak mencela permainan kami yang masih rendah dan tidak berharga, siauwte akan memperlihatkan kebodohan, mengharap petunjuk-petunjuk dari cu-wi yang pandai!"
Setelah berkata demikian, Liem Hoan mengambil sebuah guci dan melemparkannya ke atas.
Lemparan ini disusul oleh guci ke dua, ke tiga, dan ke empat sehingga berturut-turut empat buah guci yang beratnya masing-masing ada lima puluh kati itu melayang turun.
Dengan cekatan ia menyambut guci pertama terus dilemparkan lagi ke atas.
Indah sekali pemandangan ini.
Guci-guci itu menari-nari di udara, ditangkap dilemparkan bergantian dengan amat teratur.
Setelah melakukan demonstrasi melempar guci, tiba-tiba Liem Hoan menerima sebuah guci bukan dengan tangannya melainkan dengan......
kepalanya di bagian jidat!
Memang kalau dilihat amat mustahil menerima guci seberat itu dengan jidat, akan tetapi kenyataannya memang demikian.
Seni permainan guci ini di Tiongkok merupakan seni rakyat yang sudah amat tua usianya dan agaknya Liem Hoan menguasai permainan itu baik baik.
Dengan guci berdiri di atas jidatnya, kedua tangannya tetap melempai lemparkan guci yang lain.
Pada saat yang baik, guci ke dua jatuh tepat di atas guci yang berada di atas jidatnya dan......
dapat diterima dengan baik hampir tidak mengeluarkan suara.
Tepuk sorak riuh-rendah menyambut permainan istimewa ini.
Guci ke tiga sudah "hinggap"
Pula di atas guci ke dua dan pada saat guci ke empat melayang turun hendak diterima oleh guci ke tiga, tiba-tiba terdengar suara keras dari sebelah kanan dan guci ke empat itu tahu-tahu meledak pecah.
Itulah pukulan Hek tok Ciang yang dilepas dari jauh oleh Auwyang Tek, akan tetapi hawa pukulannya saja sudah dapat membikin guci itu meledak pecah!
Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan dari sebelah kiri terdengar seruan keras dan guci yang sudah pecah itu terdorong ke samping sehingga jatuhnya tidak menimpa Liem Hoan.
Inipun merupakan pukulan istimewa dari Kwee Cun Gan yang menolong muka guru silat itu sehingga tidak tertimpa pecahan guci dan tidak menderita malu.
Dengan hawa pukulan yang dikerahkan menggunakan tenaga Iweekang tinggi, ia berhasil menolong Liem Hoan.
Akan tetapi diam-diam ketua Tiong gi-pai ini terkejut bukan main menyaksikan kedahsyatan pukulan pemuda tinggi kurus putera menteri itu dan diam-diam memuji.
Adapun Liem Hoan yang melihat kejadian itu, terkejut bukan main.
Cepat ia menurunkan tiga buah gucinya dan berdiri dengan muka pucat.
Sedangkan Auwyang Tek yang sengaja hendak mencari perkara dan ingin mendapatkan dua orang gadis Liem yang jelita itu, melihat ada orang pandai membantu mereka, timbul kecurigaannya.
Ia bersuit keras memberi tanda kepada orang-orangnya lalu berseru.
"Tangkap mata-mata pemberontak, tawan dua orang gadis itu!"
Ucapan ini bermaksud bahwa dua orang gadis itu harus ditawan hidup-hidup.
Memang, pada masa itu kaum durna berhasil menguasai kendali pemerintahan dengan jalan mempengaruhi kaisar dan sebuah di antara siasat mereka untuk menjatuhkan musuh-musuh mereka adalah fitnah busuk bahwa para musuh itu adalah pemberontak-pemberontak yang katanya hendak merebut kekuasaan Kerajaan Beng!
Juga dalam menghadapi rombongan akrobat karena ingin mendapatkan dua orang gadis itu, apa lagi melihat adanya orang pandai membantu, Auwyang Tek tidak segan-segan menggunakan fitnah ini dan menyiapkan orang-orangnya.
Belasan orang pengawal istana yang sudah siap selalu menanti perintah putera menteri itu, cepat menyerbu masuk.
Mereka ini seperti anjing-anjing disuruh mengambil tulang, saling berebut untuk menawan dan memeluk gadis-gadis cantik itu, dan berebut memperoleh pahala!
Liem Hoan berseru keras dengan marah sambil menyerbu dan seorang pengawal yang terdepan terlempar oleh pukulannya.
Juga dua orang gadis Liem itu tidak gampang-gampang ditangkap, mereka mencabut pedang dan melakukan perlawanan sengit.
Demikian pula Liem Han Sin yang ternyata memiliki ilmu silat yang lumayan juga.
Sementara itu, Auwyang Tek sendiri tidak mcmperdulikan lagi penyerbuan orang-orangnya untuk menawan dua orang gadis itu, melainkan melompat ke dekat orang setengah tua yang menolong Liem Hoan tadi sambil mengulur tangan kanan untuk mencengkeram dada orang itu!
Kwee Cui Gan maklum akan kelihaian pemuda yang memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang ini, maka ia mengerahkan tenaganya menangkis.
Dua tenaga Iweekang bertemu dan Auwyang Tek berseru keras sambil terhuyung-huyung ke belakang.
Tak pernah disangkanya bahwa orang setengah tua ini demikian lihai.
"Siapa kau..?"
Bentaknya, lalu mengeluarkan sepasang sarung-tangan yang mengeluarkan sinar dari dalam sakunya, langsung dipakainya.
Para penonton begitu melihat lapangan pertunjukan berubah menjadi lapangan pertarungan, lari simpang-siur dan panik.
Keadaan menjadi gaduh sekali dan ribut.
Sementara itu, ketika Kwee Cun Gan melihat putera menteri itu mengenakan sarung tangan, ia makin terkejut.
Tahulah ia bahwa pemuda ini merupakan lawan tangguh sekali, apa lagi tadi pertemuan tangan membuat ia merasa lengannya kesemutan Biarpun ia dapat membuat pemuda itu terhuyung dan ini menyatakan bahwa dalam hal tenaga Iweekang ia sedikit lebih kuat, namun kiranya untuk menghadapi pemuda ini.
ia membutuhkan ratusan jurus untuk mencapai kemenangan.
Dan bertempur melawan putera menteri berikut kaki tangannya di dalam kota raja bukanlah hal main-main.
Cepat ia nengayun tangannya dan tiga buah uang logam perak meluncur cepat menyambar tiga bagian tubuh Auwyang Tek.
Pemuda ini kelabakan ketika pertanyaannya tadi dijawab dengan tiga sambaran senjata rahasia.
Cepat ia menggerakkan tangannya yang sudah bersarung itu menangkis.
Terdengar suara nyaring dan tiga buah mata uang itu terpukul runtuh.
Akan tetapi ketika ia menengok, orang setengah tua yang berjenggot tadi sudah lenyap dari depannya.
Para pengawal istana itu rata-rata memilik kepandaian tinggi, pula sebentar saja di situ sudah berkumpul puluhan orang pengawal.
Tentu saja orang-orang muda seperti anak-anak Liem Hoan itu bukan lawan mereka dan sebentar saja Kui Lan dan Siang Lan sudah dapat tertawan dan diseret pergi atas perintah Auwyang Tek.
"Lepaskan saudara-saudaraku!"
Han Sin berseru sambil memburu cepat dengan pedang di tangan.
Akan tetapi ia dikeroyok dan terguling roboh dengan pundak terluka.
Namun dengan semangat tak kunjung padam pemuda tanggung ini melompat lagi dan berlari cepat mengejar Auwyang Tek yang membawa pergi dua orang gadis tawanan itu.
Sementara itu, Liem Hoan setelah merobohkan empat orang pengawal, akhirnya terpaksa tak dapat mempertahankan diri dari keroyokan lagi.
Sebuah bacokan pedang membuat ia terguling roboh.
Baiknya sebelum para pengawal menghujankan senjata ke arah tubuhnya, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu empat lima orang pengawal bergelimpangan dan di lain saat tubuh Liem Hoan sudah dikempit oleh Kwee Cun Gan yang membawanya pergi dengan lari cepat sekali.
Baiknya Auw-yang Tek sudah tidak berada di situ karena pemuda ini lebih mementingkan urusan dua tawanan wanita itu dari pada mengurus Liem Hoan, maka guru silat akrobat itu dapat diselamatkan oleh Kwee Cun Gan.
Adapun Liem Han Sin yang mengejar untuk menolong enci-encinya.
kembali roboh oleh keroyokan para pengawal.
Tubuh pemuda tanggung ini sudah mandi darah, pakaiannya sudah cobak-cabik dan pedangnya sudah terpental entah ke mana.
Namun dengan gigih ia menyerang terus, bersiap sedia mengadu nyawa untuk membela saudara-saudaranya.
Akan tetapi kepandaiannya belum tinggi, tubuhnya sudah lemas dan sebuah tendangan keras yang tepat mengenai lambungnya membuat ia roboh dan mengeluh kecil, terguling pingsan.
Lima enam buah golok gemerlapan menyambar ke arah tubuh pemuda tanggung yang sudah mandi darah itu.
"Triungg... traanggg..... aduh.... ahh.... uakk....! Ayaaaa....!"
Sekalian pengawal yang mengeroyok hendak membunuh Liem Han Sin roboh malang melintang ketika sebatang pit (alat tulis) menangkis senjata-senjata ini, kemudian pit itu mengamuk dengan totokan-totokan luar biasa.
Pit itu bergerak tanpa kelihatan orangnya.
Para pengawal seperti melihat setan di tengah hari dan mereka lari tunggang-langgang menyusul Auwyang Tek yang sudah lebih dulu membawa lari dua orang gadis tawanannya.
Dalam keadaan selengah pingsan Liem Han Sin melihat bahwa penolongnya adalah seorang kakek losu (pendeta lo) yang berwajah angker, tangan kanan memegang sebatang pit baja dan tangan kiri memegang sebuah kitab.
Wajah tosu tua ini halus dan sikapnya seperti seorang sasterawan, namun sinar matanya tajam mengiris jantung dan tarikan bibirnya dan dagunya keras membayangkan kegagahan luar biasa.
Dengan tenang kakek itu mengangkat tubuh Liem Han Sin dan membawanya pergi dari situ.
Langkahnya lambat saja namun Han Sin merasa angin menyambar di kedua telinganya, sebentar saja mereka sudah keluar dari kota raja.
Inilah peristiwa "perkenalan"
Pertama-dari pihak Auwyang-taijin dengan Kwee cun Gan, sedangkan Kwee Cun Gan sendiri yang menolong Liem Hoan, tidak berlaku kepalang tanggung.
Dia melarikan diri membawa Liem Hoan bukan karena takut, melainkan karena maklum bahwa ia sudah tidak akan dapat menolong dua orang gadis yang ditawan itu.
Maka ia membawa Liem Hoan ke luar kota dan bersembunyi di kelenteng tua yang menjadi tempat persembunyian sementara.
Cepat Kwee Cun Gan mengumpulkan kawan-kawannya dan pada malam hari itu dia bersama lima orang kawannya diam-diam memasuki kota raja dan berusaha menolong Kui Lan dan Siang Lan.
Dengan mudah Kwee Cun Gan mendapat keterangan bahwa dua orang gadis itu ditahan di dalam istana Menteri Auwyang Peng dan bahwa urusan ini tidak dilanjutkan kepada yang berwajib seperti yang ia sudah duga.
Memang Kwee Cun Gan mempunyai banyak kawan pula di kota raja.
Kawan sehaluan, yaitu anti pembesar korup dan jahat semacam Auwyang taijin Dia sudah mendengar akan watak jahat dan mata keranjang dari Auwyang Tek.
maka tadi melihat dua orang gadis itu tidak dilukai melainkan ditawan, ia sudah menduga akan maksud keji Auwyang Tek.
Kwee Cun Gan didampingi oleh Liem Hoan yang sudah diobati lukanya, dan lima orang kawannya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, mempergunakan ginkang mereka dan pada tengah malam mereka menuju ke istana Menteri Auwyang di sebelah barat kota.
Istana ini besar dan dikurung pagar tembok yang tinggi.
Para pengawal menjaga di depan pintu gcihang dan selalu meronda.
Namun enam orang yang tinggi kepandaiannya ini dengan mudah melompati pagar tembok dan langsung melompat ke atas genteng.
Dengan hati-hati mereka maju menyelidik.
Keadaan di atas genteng sunyi, bahkan di bawahpun amat sunyi.
Agaknya semua orang sudah tidur pulas.
Akan tetapi Kwee Cun Gan yang berpengalaman dan memiliki kepandaian yang paling lihai di antara mereka semua, merasa tidak enak hati.
Keadaan di situ terlampau sunyi sehingga tidak wajar.
"Tunggu dulu..."
Bisiknya dan seorang diri ia meninggalkan kawan-kawannya di atas genteng, melompat turun dengan gerakan seperti seekor burung walet menyambar, mengagumkan enam orang kawannya.
Tak lama kemudian ia melompat naik lagi ke atas genteng sambil mengempit tubuh seorang pengawal.
Tadi ia menyergap pengawal ini yang sedang meronda di bagian dalam, menotok-nya dan dibawanya melompat naik.
Setelah berada di atas genteng dengan pedang ditodongkan ke tenggorokan Kwee Cun Gan memaksa peronda itu mengaku di mana adanya dua orang nona yang siang tadi ditawan.
"Di.... di kamar... kongcu...."
Katanya dengan tubuh menggigil, kemudian peronda itu menunjuk ke kiri ke arah sebuah kamar yang masih bercahaya, tanda bahwa di dalamnya masih dinyalakan penerangan.
Liem Hoan tidak sabar lagi lalu melompat dan lari ke kamar itu.
"Liem-kauwsu, tunggu...""
Kata Kwee Cun Gan perlahan, akan tetapi guru silat yang amat mengkhawatirkan nasib dua orang puterinya itu cepat lari terus tanpa memperduiikan.
seruan kawannya.
Terpaksa Kwee Cun Gan.
cepat menusukkan pedangnya, peronda itu tewas tanpa sempat membuka suara, kemudian bersama lima orang kawannya iapun mengejar Liem Hoan.
Dengan dada berdebar guru silat ini mendorong daun pintu dengan tangan kirinya, dan tangan kanan siap dengan pedang di tangan.
Pintu terbuka dengan mudah.
Cahaya lilin menerangi kamar itu, dan menyambut mata Liem Hoan yang menjadi silau.
Dengan menggunakan tangan kiri melindungi matanya dari cahaya lilin, guru silat ini memandang ke arah ranjang besar yang diterangi oleh lilin di atas meja.
Tiba-tiba ia berteriak dan tubuhnya terhuyung-huyung.
"Kui Lan.... Siang Lan....!"
Ia mengeluh dan ia tentu roboh terlentang kalau saja Kwee Cun Gan tidak cepat-cepat memeluknya.
Kwee Cun Gan dan lima orang kawannya memandang ke dalam kamar, mereka menahan seruan marah dan merasa ngeri.
Pantas saja ayah yang bernasib malang itu hampir pingsan melihat pemandangan di dalam kamar itu.
Apakah yang dilihatnya dan yang dilihat pula oleh Liem Hoan?
Apakah betul-betul kedua orang anak daranya berada di dalam kamar itu, yang oleh peronda dikatakan bahwa itu adalah kamar Auwyang Tek?
Dapat dibayangkan betapa hancur hati seorang ayah seperti Liem Hoan ketika melihat pemandangan di dalam kamar yang serba indah perabotnya itu.
Di atas sebuah ranjang yang lebar, yang ditilami kain sutera merah muda dan bantal-bantalnya berkembang indah, menggeletak dua tubuh dara remaja dalam keadaan tidak bernyawa pula.
Itulah Liem Kui Lan dan Liem Siang Lan, kakak beradik yang tertawan oleh Auwyang Tek dan kini terdapat telah tewas di dalam kamar, putera menteri yang keji itu.
Ketika Liem Hoan dan kawan-kawannya memasuki kamar menghampiri dua jenazah itu, ternyata bahwa dua orang gadis itu tewas oleh pukulan Hek-tok-ciang.
Hal ini mudah dilihat karena pada dada dan pundak terdapat bekas tapak tangan menghitam yang menghanguskan pakaian dan kulit terus menembus daging dan tulang merenggut nyawa.
Pukulan keji yang mengerikan.
"Jahanam keparat Auwyang....!"
Liem Hoan memaki dan saking marahnya ia hanya melotot, napasnya memburu.
Ia dapat menduga apa yang telah terjadi di kamar ini.
Dua orang puterinya tentu menolak akan maksud keji putera menteri itu dan melakukan perlawanan sekuat tenaga untuk membela kehormatan dirinya, sehingga Auwyang Tek menjadi marah dan membunuh mereka dengan pukulan dahsyat itu.
Akan tetapi.
Kwee Cun Gan berpikir lain.
Tadinya iapun menduga seperti Liem Hoan meng ingat akan watak mata keranjang dan keji dari Auwyang Tek.
akan tetapi ia lebih teliti.
Kalau benar pemuda iblis itu membunuh dua orang gadis Liem karena mereka ini melawan kehendaknya, mengapa setelah dibunuh lalu dibiarkan saja menggeletak di dalam kamarnya di atas ranjang?
Mengapa pula kamar ini kosong dan sekeliling rumah gedung itu sunyi belaka?
"Awas mungkin musuh memasang perangkap!"
Katanya.
"Hayo lekas kita bawa pergi jenazah mereka."
Baru saja kata-kata ini diucapkan terdengar suara ketawa dan terdengar pula suara senjata dicabut.
Kwee Cun Gan kaget sekali, cepat ia menubruk ke depan, menyambar tubuh Kui Lan dan Liem Hoan menyambar tubuh Siang Lan.
Kemudian serentak tujuh orang ini menerjang keluar kamar.
Tempat yang tadinya sunyi sekarang ternyata telah terkurung rapat oleh barisan pengawal, dikepalai oleh Auwyang Tek sendiri.
Melihat Auwyang Tek sambil memaki Iblis kejam terima pakaian enam tujuh orang pengawal di dekatnya, dapat diduga bahwa mereka ini adalah pengawal-pengawal pilihan, karena lebih mewah dari pada pakaian pengawal biasa yang memenuhi dan mengurung tempat itu.
"Harha-ha-ha, kiranya kau yang bernama Kwee Cun Gan! Ha, kalau tahu demikian, tentu siang tadi tak kuberi ampun!"
Kata Auwyang Tek dengan sombongnya sambil menuding ke arah Kwee Cun Gan dengan tangannya yang keduanya memakai sarung tangan.
Diam-diam Kwee Cun Gan kaget..
Sekarang dia telah dikenal, dan itu artinya pergerakannya di kota raja tidak aman dan tidak mudah lagi.
Dan diam-diam dia memuji kecerdikan putera menteri ini yang selain cerdik juga memiliki kepandaian luar biasa, jarang ada seorang demikian muda telah memiliki kepandaian tinggi.
"Buka jalan darah!"
Seru Kwee Cun Gan kepada kawan-kawannya.
Pemimpin perkumpulan Tiong-gi-pai ini sudah cukup berpengalaman.
Sekilas pandang saja ia maklum akan bahayanya keadaan dia.
dan kawan-kawannya, maka membuang waktu dengan bercakap cakap takkan ada gunanya.
Lebih cepat lebih baik untuk segera menyelamatkan diri keluar dan kepungan.
Sambil berseru demikian, Kwee Cun Gan sudah menggerakkan pedangnya, cepat sekali ia menusuk Auwyang Tek sambil memaki "Iblis kejam terima pedangku"
Di lain fihak, Auwyang Tek sudah maklum akan kelihaian pemimpin Tiong-gi-pai ini, maka ia cepat mengangkat tangan menangkis pedang.
Sarung tangannya adalah benda istimewa, terbuat dari pada kulit ular putih yang sudah dimasak dengan obat dan racun.
Selain kulit ini kebal terhadap senjata tajam, juga amat lemas sehingga mudah disaluri tenaga Iweekang.
Sifatnya yang lemas akan tetapi kuat ini amat cocok bagi Auwyang Tek yang memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang, apa lagi karena kulit ular itu sendiri mengandung bisa sehingga menambah kelihaian Hek-tok-ciang.
Pemuda ini memang lihai sekali.
Telapak tangannya yang terbungkus sarung itu.
jangankan memukul orang, baru menampar dengan pengerahan Ilmu Hek-tok-ciang saja, sudah cukup untuk merenggut nyawa orang dan meninggalkan tanda telapak tangan hitam pada tubuh si korban.
Pedang Kwee Cun Gan yang ditangkis tangan terpental dan di lain saat kedua orang jago dari dua aliran ini sudah bertempur seru dan sengit.
Memang, Auwyang Tek masih kalah sedikit tenaga Iweekangnya, apa lagi ketua Tiong-gi-pai itu mempergunakan pedang panjang sehingga keadaannya lebih untung.
Akan tetapi sebaliknya, Kwee Cun Gan memondong mayat Liem Kui Lan sehingga gerakannya tidak begitu gesit.
Adapun Liem Hoan yang juga memondong tubuh puterinya yang ke dua, mengamuk pula mempergunakan pedangnya Tadinya ia hendak membantu Kwee Cun Gan saking bencinya ia melihat Auwyang Tek.
Akan tetapi seorang panglima pengawal sudah menyambutnya dengan senjata golok besar.
Lima orang kawan Kwee Cun Gan atau anggota dari Tiong-gi-pai telah bertempur pula dikeroyok oleh banyak orang pengawal pilihan sehingga ruangan itu sebentar saja tdah menjadi medan pertempuran yang ramai.
Berkali-kali Kwee Cun Gan mendesak hebat untuk membuka jalan darah, namun Auwyang Tek yang sudah dapat menduga, mencegahnya mencari kesempatan.
Pemuda ini mendesak hebat, melancarkan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang yang hawanya mempengaruhi keadaan di sekelilingnya.
Liem Hoan sendiri pada suatu saat terkena sambaran angin pukulan Hek-tok-ciang, mengeluh dan terhuyung-huyung.
Seorang pengawal menusuknya dengan tombak.
Baiknya Liem Hoan masih dapat menguasai diri, begitu melihat tombak meluncur, ia terus melempar diri ke belakang dan melakukan gerakan poksai (bersalto) sampai tiga kali.
"Bagus...!"
Panglima pengawal yang menombaknya itu berteriak memuji Memang indah sekali gerakan Liem Hoan tadi.
Dalam keadaan limbung dan lagi sedang memondong sebuah jenazah, masih dapat melakukan gerakan poksai seperti itu, benar-benar hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli akrobat yang pandai.
Juga Kwee Cun Gan mulai terdesak hebat.
Jenazah yang dipondongnya merintangi gerakannya, padahal ilmu pedangnya dari Kun Lun pai itu mengandalkan kelincahan dan kecepatan gerakan.
Betapapun juga, ilmu pedangnya benar-benar lihai.
Dua kali sudah seorang pengawal mencoba-coba untuk membantu Auwyang Tek, akan tetapi tiap kali seorang pengawal maju, ia roboh terkena sinar pedang yang gemilang itu.
Terpaksa pengawal-pengawal yang lain mundur tak berani sembrono mendekati pertempuran hebat itu Dua orang yang bertempur ini tingkatnya sudah terlampau tinggi sehingga hawa pukulan masing-masing saja sudah tak tertahankan oleh para pengawal.
Sementara itu, lima orang kawan Kwee Cun Gan sudah terdesak hebat oleh pengeroyokan para pengawal.
Biarpun mereka inipun gagah perkasa dan setiap orang dari mereka sudah merobohkan sedikitnya tiga orang lawan sehingga di tempat itu sudah bergelimpangan tubuh para pengawal, namun fihak lawan terlampau banyak dan mereka sendiri sudah luka-luka.
Jalan keluar tak mungkin dibuka, pengepungan terlampau rapat.
Oleh karenanya, sebuah serampangan toya membuat ia jatuh terguling bersama jenazah anaknya yang masih itu, para anggota Tiong-gi-pai ini menjadi nekat dan bertempur mati-matian.
Tingkat kepandaian mereka sedikit lebih rendah dari pada Liem Hoan dan dalam pertemputan mati-matian, seorang demi seorang dari lima anggota Tiong-gi-pai ini roboh!
Kwee Cun Gan menjadi marah dan jengkel sekali.
Untuk menolong anak-anak Liem Hoan, ternyata sekarang anak-anak itu tidak tertolong malah ia kehilangan kawan-kawannya!
Bukan itu saja, melihat keadaannya, agaknya dia sendiri dan Liem Hoan takkan mampu keluar dari sini.
Sebetulnya dia dan Liem Hoan masih dapat mempertahankan diri oleh karena Auwyang Tek berseru kepada orang-orangnya supaya yang dua ini ditawan hidup-hidup.
Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai, tentu saja Auwryang Tek menghendaki tokoh ini tertawan hidup-hidup agar ia dapat menikmati jasanya ini di depan ayahnya dan juga di depan kaisar.
Liem Hoan tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi.
Beberapa kali jenazah Siang Lan terlepas dari pondongannya, akan tetapi untuk ke sekian kalinya ia selalu menyambar pula jenazah puterinya sambil mengamuk terus, tidak perduli akan luka-luka di tubuhnya.
Hebat amukan guru silat ini sehingga sejak bertempur sedikitnya ada tujuh orang pengawal sudah dirobohkannya.
Akhirnya, sebuah serampangan toya membuat ia jatuh terguling bersama jenazah anaknya yang masih dipeluknya.
Juga Kwee Cun Gan sudah payah sekali keadaannya, Kini Auwyang Tek dibantu oleh empat orang panglima pengawal yang cukup tangguh menggunakan tombak dan toya panjang mengurung dan mendesaknya.
Ketua Tiong-gi-pai ini benar-benar gagah perkasa.
Ia sudah lelah sekali, dan dua kali sudah pundaknya kena serempet hawa pukulan Hek-tok-ciang yang membuat ia merasa panas, namun pedangnya masih diputar cepat melindungi seluruh tubuhnya.
Semua ini ia lakukan dengan memondong sebuah jenazah, benar-benar mengagumkan sekali.
"Ha-ha-ha, Kwee Cun Gan. Lebih baik kau melempar pedang dan berlutut menyerah Kalau kau menyerah kalah, takluk dan selanjutnya menunjukkan di mana adanya teman-temanmu, tentu kaisar akan mengampunimu,"
Kata Auwyang Tek mentertawakan.
Namun Kwee Cun Gan tidak menjawab, melainkan memainkan pedangnya lebih cepat lagi sehingga seorang pengawal roboh terbabat pedang, putus pinggangnya berikut tombak yang tadi dipegangnya!
"Setan, kau benar-benar sudah bosan hidup!"
Seru Auwyang Tek marah sekali dan secepat kilat ia mengerjakan kedua tangannya, bergantian melancarkan pukulan Hek-tok-ciang ke arah lawannya.
Saking marahnya, Auwyang Tek tidak perduli lagi apakah ketua Tiong-gi-pai itu akan mati terkena pukulannya.
Sudah terlalu banyak pengawal tewas dalam pertempuran ini.
Pada saat itu, Kwee Cun Gan sedang menangkis serangan dari kanan kiri dengan memutar-mutar pedangnya menjadi sinar melebar dari kanan ke kiri.
Ketika pukulan Auwyang Tek mencuit bunyi anginnya menyambar dari depan, ia cepat mengumpulkan tenaganya melakukan gerakan menangkis.
Namun ia sudah terlalu lelah dan pukulan bertubi-tubi itu terlalu kuat.
Biarpun Kwee Cun Gan berhasil menyelamatkan diri sehingga pukulan itu tidak tepat mengenai dadanya, namun hawa pukulan yang dahsyat itu membuatnya limbung.
Sodokan tombak yang hendak memasuki perutnya masih dapat ia tangkis dengan pedang sehingga tombak itu patah tengahnya, namun serampangan toya besi pada kakinya tak dapat ia hindarkan lagi dan ia roboh terguling dengan pedang masih di tangan.
Namun dalam robohnya Kwee Cun Gan masih berusaha menyelamatkan diri, cepat ia bergulingan menjauhkan diri dari musuh-musuhnya dan terpaksa ia melepaskan jenazah Kui Lan yang tak dapat dipertahankannva lagi.
Sambil tertawa-tawa mengejek Auwyang lek melangkah maju perlahan lahan menghampiri Kwce Cun Gan.
Pada saat itu, terdengar suara ketawa bergelak-gelak.
Suara ini datangnya dari jauh akan tetapi demikian nyaring sehingga suara ketawa Auwyang Tek tertindih.
Auwyang Tek tertegun, sejenak mengira bahwa gurunya yang datang.
Gurunya, Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang sakti yang kadang-kadang kalau ketawa juga mendatangkan pengaruh luar biasa sekali.
Akan tetapi ia tahu betul bahwa pada saat itu gurunya sedang pergi ke Tibet, baru dua pekan perginya, mana mungkin sudah kembali?
Betapapun juga, suara ketawa itu membuat Auwyang Tek berhenti sebentar dan (Lanjut ke
Jilid 03) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 melupakan Kwee Cun Gan.
Ternyata suara ketawa inilah yang menolong nyawa ketua Tiong-gi-pai itu karena kalau tidak tentu ia akan mati dalam tangan Auwyang Tek dan anak buahnya.
Selenyapnya gema suara ketawa, terdengar bentakan keras.
"Siokhu (paman), siauwtit (keponakan) datang membantu!"
Auwyang Tek tertegun karena entah dari mana datangnya tahu-tahu di depannya menghadang seorang kakek botak tua sekali yang membawa sebuah guci tuak.
Begitu ia muncul, di sekitar tempat itu berbau tuak yang amat wangi dan keras.
Kakek ini tertawa dan ternyata suara ketawa tadi adalah suaranya, ketawanya lembut namun nyaring menusuk telinga dan ketika ia tertawa, bau arak makin menyengat hidung sampai beberapa orang pengawal terbatuk-batuk, padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang tidak doyan arak.
Akan tetapi bau arak ini benar-benar amat kerasnya.
Hanya Auwyang Tek yang Iweekangnya sudah tinggi masih dapat menahan, dan ia marah sekali melihat kakek ini.
Sebelum ia menegur, melayanglah dari atas bayangan seorang pemuda berpakaian sasterawan yang halus gerak-geriknya, di tangan kanannya nampak sebatang pedang panjang.
Begitu pemuda itu turun, ia diserbu oleh para pengawal, akan tetapi sekali pedang berkelebat empat orang pengawal roboh dengan senjata patah-patah.
Auwyang Tek maklum bahwa ada orang pandai hendak menolong ketua Tiong-gi-pai, maka cepat ia berseru keras sainbil melancarkan pukulai Hek-tok-ciang sekuatnya ke arah kakek itu.
Pukulan ini bukan main kerasnya sehingga pemuda yang baru turun itu nampak terkejut sekali dan melompat ke samping agar jangan terkena hawa pukulan yang luar biasa itu.
Akan tetapi kakek yang dipukul itu tersenyum saja, guci arak yang berukir-kan gambar naga itu diangkat tinggi lalu dituang-nya ke mulutnya, setelah itu ia menyemburkan arak ke depan.
Semua ini dilakukan dengan gerakan lembut namun terjadi amat cepatnya.
Semburan arak ini mengandung kekuatan khikang yang tidak terukur kuatnya, namun ternyata pukulan Hek-tok-ciang itu tertahan.
Hawa pukulan itu tidak kelihatan, yang kelihatan hanyalah uap arak yang disemburkan itu terhenti di tengah-tengah untuk sesaat lalu maju lagi mengejar Auwyang Tek!
Karuan saja pemuda putera menteri itu kaget sekali.
Maklum menghadapi seorang lawan tangguh ia cepat memutar tubuh dan melompat keluar dari ruangan itu, dikejar oleh uap arak!
Akan tetapi sekejap mata Auwyang Tek sudah lenyap dari situ ditelan kegelapan malam.
Juga para pengawal melihat tuan mudanya lari, berserabutan lari tergesa-gesa.
Kakek botak itu tertawa lalu menyambar tubuh Liem Hoan yang pingsan dengan jenazah Siang Lan.
Adapun pemuda sasterawan yang tampan sekali itu memanggul tubuh Kwee Cun Gan yang patah tulang kakinya, tidak lupa mengempit jenazah Kui Lan.
Dengan cepat sekali, kakek dan pemuda itu berkelebat dan lenyap dari ruangan yang segera menjadi sunyi itu.
Pemuda tampan berpakaian sasterawan itu bukan lain adalah Kwee Tiong, seorang pemuda yatim piatu keponakan Kwee Cun Gan.
Kwee Tiong ini adalah putera Kwee Hai kakak Kwee Cun Gan, dan dahulunya juga seorang patriot pejuang yang gagah perkasa di samping isterinya, seorang murid Siauw-lim yang gagah pula.
Suami isteri yang gagah ini gugur di medan juang meninggalkan Kwee Tiong yang menjadi sebatangkara dan yatim piatu.
Kwee Cun Gan yang tidak menikah dan tidak mempunyai anak, lalu merawat Kwee Tiong dan memberi pelajaran ilmu surat kepada bocah itu sehingga Kwee Tiong berhasil menempuh ujian dan menjadi siucai.
Akan tetapi Kwee Cun Gan tidak memberi pelajaran ilmu silat kepada keponakannya ini, bukan karena ia tidak mau menurunkan ilmunya, melainkan karena ia ingin mencarikan guru yang pandai untuk keponakan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
Akhirnya, ketika Kwee Tiong berusia empat belas tahun, tercapailah cita-cita Kwee Cun Gan ini dan ia berhasil mencari Pek Mao Lojin seorang kakek tua tokoh pantai timur yang sakti.
Melihat Kwee Tiong, kakek itupun suka menjadi gurunya, bahkan kakek pemabokan yang luar biasa ini bersimpati kepada Tiong-gi-pai.
Demikianlah Kwee Tiong dibawanya ke pantai timur dan mendapat gemblengan ilmu silat tinggi oleh gurunya, Pek Mao Lojin.
Pada malam hari itu, kebetulan sekali Kwee Tiong pulang ke Nan-king untuk menjenguk pamannya yang sudah lima tahun ia tinggalkan la datang bersama suhunya.
Ketika tiba di kuil tua ia mendapat kabar bahwa pamannya itu sedang menyerbu ke istana Auw-yang-taijin.
Maka ia segera menyusul bersama gurunya dan berhasil menolong Kwee Cun Gan dan Liem Hoan pada saat yang tepat.
Pada keesokan harinya, mayat lima orang anggauta Tiong-gi-pai digantung oleh Auwyang Tek di tengah-tengah tempat ramai agar semua orang melihatnya dan membuat gentar mereka yang memusuhi golongannya atau golongan ayahnya.
Akan tetapi, juga di tempat yang ramai ini Kwee Tiong bersama suhunya memperlihatkan kepandaian, berhasil merampas lima jenazah itu yang dibawa lari keluar kota.
"Kwee-sicu harap jangan gegabah,"
Berkata Pek Mao Lojin memberi nasihat kepada Kwee Cun Gan setelah mengobati bekas pukulan Hek-tok-ang yang membuat tubuh ketua Tiong-gi-pai itu sedikit banyak kemasukan hawa beracun.
Pihak kaum bangsawan korup seperti Auwyang Peng itu tidak holeh dipandang ringan.
Selain mereka telah berhasil mempengaruhi kaisar, juga mereka ini dibantu oleh golongan shia pai (partai kotor) yang mempunyai banyak tokoh besar.
Lohu tadinya mendengar bahwa Tok ong Kai Song Cinjin.
itu raja racun dari Tibet sudah pula turun gunung dan membantu golongan kan-sin (menteri dorna) yang didukung oleh para ok pa (hartawan jahat), dan terus terang saja lohu masih kurang percaya.
Masa seorang tokoh besar sakti seperti Tok-ong sudi diperalat oleh orang-orang yang berkedudukan dan beruang.
Akan tetapi, melihat Hek-tok-ciang dari orang -muda tadi, keraguanku lenyap.
Hanya Tok-ong yang bisa mengajarkan ilmu pukulan sejahat itu."
"Memang benar apa yang diucapkan oleh locianpwe. Siauwte sudah mendengar bahwa Auwyang Tek putera Menteri Auwyang itu adalah murid Tok-ong Kai Song Cinjin,"
Jawab Kwee Cun Gan. Pek Mao Lojin mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak.
"Berbahaya sekali! Kalau Si Raja Racun itu kebetulan berada di sana, biarpun aku pertaruhkan kepalaku yang botak, sicu takkan dapat tertolong. Mulai sekarang harap sicu jangan mencari perkara dengan mereka. Memang harus menolong rakyat, akan tetapi hal ini dapat dilakukan secara sembunyi, jangan menentang mereka secara berterang sebelum fihak kita cukup kuat. Pula, lohu mendengar bahwa keadaan di Peking lebih baik, kalau Kaisar Thai Cu di sini terpengaruh oleh para kan-sin. sebaliknya para tiong-sin (menteri bijaksana) sebagian besar mengungsi ke utara untuk membantu raja muda di sana yang bijaksana. Kalau demikian halnya, bukankah lebih baik sicu sekalian membantu bintang baru yang gemilang dari pada menunggu bulan yang sudah tertutup mendung?"
"Locianpwe bicara tepat sekali, terima kasih banyak atas segala petunjuk dan pertolongan locianpwe. Akan tetapi siauwte dan kawan-kawan tidak tega meninggalkan rakyat selatan yang terhisap oleh lintah-lintah darat, buaya-buaya yang sekarang menjadi pembesar korup itu. Kami tidak akan bertindak secara berterang, akan tetapi kalau kami dapat membujuk orang-orang gagah dan menundukkan orang-orang sesat dari partai shia-pai, itupun merupakan bantuan yang besar artinya untuk mengangkai nasib rakyai dari lembah penindasan."
Setelah memberikan janjinya untuk mendukung pergerakan Tiong-gi-pai dan untuk kelak kalau perlu menyumbangkan tenaga di bawah pimpinan Souw-taihiap yang masih dicari-cari, Pek Mao Lojin lalu mengajak pergi muridnya.
Mereka hanya berkumpul tiga hari tiga malam dengan orang-orang Tiong-gi-pai.
Yang paling berduka adalah Liem Hoan.
Selain kehilangan dua orang puterinya.
juga Liem Han Sin tidak diketahui ke mana perginya.
"Jangan-jangan puteraku itu menjadi korban pula..."
Keluhnya.
"Kurasa tidak demikian,"
Kwee Cun Gan menghibur.
"kalau belul puteramu itu tewas, tentu jenazahnya akan digantung pula seperti jenazah kawan-kawan lain. Agaknya puteramu itu dapat melarikan diri."
Akan tetapi sepekan kemudian, pada menjelang tengah malam, Liem Hoan terbangun dari tidurnya mendengar seruan puteranya.
"Ayah......!"
La mengira sedang mimpi, akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat wajah Liem Han Sin di luar jendela tersenyum kepadanya.
Ketika ia melompat ke jendela, ia mendengar angin menyambar dan bayangan puteranya lenyap.
Cepat ia menyalakan lilin dan.....
di atas meja dalam kamar itu telah terdapat coretan-coretan huruf dengan tinta hitam yang indah sekali gayanya.
Itulah empat baris sajak yang berbunyi demikian.
Bertemu menteri dorna, menderita sakit hati seluas lautan Putera tunggal bertemu jodoh penuntun ke arah kemajuan Peristiwa suka dan duka sudah ditentukan Thian Ayah dan putera lima tahun lagi adakan pertemuan Membaca tulisan ini, Liem Hoan menjadi terhibur.
Ia maklum bahwa puteranya telah bertemu guru yang sakti dan puteranya itu akan dibawa selama lima tahun untuk menjadi murid guru itu.
Hanya sayangnya, ia tidak tahu siapakah gerangan orang sakti yang membawa pergi puteranya.
Akan tetapi ketika Kwce Cun Gan melihat tulisan ini, pendekar ini berseru kaget dan hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
"Betul-betul diakah yang datang? Aneh dan hampir tak masuk di akal!"
Katanya.
"Siapakah dia itu?"
Liem Hoan bertanya tak sabar. Kwee Cun Gan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku belum berani memastikan bahwa beliau yang menulis sajak ini, akan tetapi coba lihat saja. Biarpun huruf-huruf ini ditulis dengan pit bulu, akan tetapi bekas bulu menggurat dalam-dalam pada meja tanda bahwa penulisnya adalah seorang ahli Iweekeh yang jarang tandigannya, dapat membuat bulu pit menjadi seperti kawat kerasnya. Pula, bentuk huruf ini aneh, tintanya mendoyong dan menyiprat ke kanan kiri demikian rata seperti ditiup atau dikipasi selagi masih basah. Akan tetapi cipratannya demikian rata seperti kembang. Di dunia ini hanya ada seorang tokoh saja yang sudah terkenal dengan senjata anehnya, pit dan kipas ... akan tetapi ia kabarnya menghilang di luar daratan, di antara pulau-pulau kosong di lautan. Bagaimana dia bisa muncul di sini..........?"
Liem Hoan nampak kaget.
"Apakah yang kau maksudkan itu locianpwe Im-yang Thian-Cu...?"
Kwee Cun Gan mengangguk, kalau berkata.
"Kau beruntung, saudara Liem. Kalau betul puteramu itu menjadi murid beliau, benar-benar penasaranmu telah terobati. Pada masa ini, kedudukan Im-yang Thian-cu amat tinggi, kiranya tidak kalah saktinya kalau dibanding dengan Pek Mao-Lojin yang menjadi guru keponakanku."
Demikianlah, hati Liem Hoan agak terhibur dan ia mengharapkan puteranya kelak akan menjadi orang pandai dan selain dapat membalaskan sakit hatinya, juga dapat menjadi pahlawan rakyat yang patriotik.
Dan demikian pula "perkenalan"
Pertama antara fihak Tiong-gi-pai dengan fihak Auwyang-taijin dan semenjak itu.
Auwyang-taijin mengerahkan seluruh orangnya untuk menyelidiki dan mengawasi gerak gerik perkumpulan ini.
Setahun telah lewat dan Liem Hoan kini menjadi anggauta Tiong-gi-pai yang biarpun berdiri dalam rahasia, makin lama makin banyak pendukungnya yang terdiri dari orang-orang kang-ouv yang merasa prihatin melihat kesengsaraan rakyat di bawah penghisapan lintah-lintah darat berupa pembesar-pembesar korup.
Karena sudah mendapat petunjuk dari Pek Mao Lojin, Kwee Cun Gan membatasi gerakannya dengan membantu rakyat yang membutuhkan pertolongan, juga ia telah mengadakan hubungan dengan Raja Muda Yung Lo, putera selir dari Kaisar Thai Cu yang mendapat tugas menjaga tapal batas utara.
Raja Muda Yung Lo juga melarang orang-orang gagah memusuhi ayahnya, karena maklum bahwa ayahnya itu pada dasarnya seorang patriot, hanya pada waktu ini terpengaruh oleh para kan-sin (menteri dorna).
Raja Muda Yung Lo di Peking hanya minta kepada Kwee Cun Gan supaya berusaha mencari Souw Teng Wi, bahkan menjanjikan hadiah seribu tail emas bagi siapa yang dapat membawa Souw Teng Wi, menghadap kepadanya.
Di lain fihak, Auwyang-taijin juga menjanjikan hadiah lebih besar lagi, yaitu duaribu tail dan kedudukan tinggi bagi siapa yang dapat membawa ia "pemberontak"
Souw Teng Wi!
Dari dua janji ini saja dapat diukur bagaimana pentingnya seorang seperti pahlawan Souw Teng Wi itu.
Kurang lebih setahun setelah peristiwa yang di alami oleh keluarga Liem di kota raja.
Seperti sudah diceritakan, selama itu Liem Hoan menjadi anggauta setia dari Tiong-gi-pai.
la bekerja dengan baik, menjadi kepercayaan Kwee Cun Gan sendiri.
Pada Suatu hari Liem Hoan yang melakukan penyelidikan tentang Souw Teng Wi tiba di kota Ki-liang.
la pergi bersama seorang anggauta Tiong-gi-pai yang dulu pernah menjadi anak buah Souw-taihiap ketika berjuang melawan penjajah Mongol.
Secara kebetulan sekali mereka bertemu dengan Lo Houw yang berjalan tergesa-gesa.
Thio Sek Eng, kawan Liem Hoan itu mengenal Lo Houw bekas kawan seperjuangannya dan cepat menegur.
"Lo Houw, kau hendak ke mana?"
Lo Houw terkejut akan tetapi menjadi girang ketika mengenal Thio Sek Eng. Segera dua orang kawar, lama ini bercakap-cakap.
"Lo Houw, tahukah kau di mana adanya tai-hiap sekarang?"
Tanya Thio Sek Eng serta-merta.
"Akupun sedang mencarinya,"
Jawab Lo Houw, kemudian dengan suara perlahan ia melanjutkan.
"Juga Haminto Losu dan Souw-siocia mencarinya..."
Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan nampak menyesal sambil melirik ke arah Liem Hoan yang tak dikenalnya. Lo Houw merasa sudah bicara terlalu banyak.
"Apa kau bilang Haimnto Losuhu datang ke selatan bersama Souw-siocia....? Souw-siocia yang mana? Apakah benar isteri taihiap sudah mempunyai anak perempuan?"
Didesak demikian itu Lo Houw menjadi bingung.
"Aku.... hanya mendengar berita angin saja, benar tidaknya entahlah"
Kemudian dengan tergesa gesa ia minta diri dan pergi tanpa dapat ditunda lagi.
Mendengar berita itu.
Liem Hoan dan Thio Sek Eng cepat-cepat memberi kabar kepada Kwee Cun Gan yang menjadi girang sekali.
"Kita harus mencari orang tua itu, dia mertua Souw-taihiap dan terutama sekali puteri Souw-taihiap harus kita lindungi Kalau fihak shia-pai dan para kaki tangan kan-sin (menteri dorna) tahu bahwa Souw-taihiap mempunyai seorang puteri, mereka tentu akan mencoba untuk mengganggunya. Lekas panggil kawan-kawan untuk berkumpul malam nanti di Bukit Ratu Menara!"
Demikianlah, pada malam hari itu beberapa belas orang gagah para anggauta Tiong-gi-pai berkumpul di sebuah bukit di mana terdapat batu karang-batu karang yang bentuknya seperti menara.
Malam itu bulan hanya muncul sepotong kecil saja, namun orang-orang gagah ini membuat api unggun besar sehingga keadaan di bukit itu menjadi terang.
Tempat pertemuan mereka adalah di tempat terbuka, tempat duduk mereka hanya batu-batu gunung.
Seorang demi seorang datang dan tanpa banyak cakap mereka mencari tempat duduk di sekeliling api unggun.
Selelah cukup empat belas orang anggauta Tiong-gi-pai yang tergolong para pemuka berkumpul, Kwee Cun Gan yang memimpin pertemuan itu berkata.
"Kawan-kawan, kita berkumpul untuk membicarakan tiga hal yang amat penting. Pertama-tama adanya berita buruk bahwa para dorna telah membawa-bawa hongsiang (kaisar) sehingga beliau kena mereka pengaruhi dan menganggap Tiong-gi-pai sebagai partai pemberontak. Sekarang, thaicu (putera mahkota) sendiri yang mengepalai para suwi (pahlawan istana) berusaha menangkap kita, dibantu oleh Auw yang-taijin dan kaki tangannya."
"Ah, tidak aneh!"
Tiba-tiba seorang hwesio berkata lantang dan marah.
"Thaicu bukan manusia baik-baik, segolongan dengan manusia-manusia macam Auwyang Tek dan ayahnya!"
Hwesio yang usianya tiga puluh tahun lebih itu adalah Thian Le Hosiang, seorang anak murid Siauw-lim-pai yang menggabung pada Tiong-gi-pai karena bersimpati dengan usaha orang-orang gagah ini.
"Sudah banyak pinceng mendengar berita buruk tentang keganasan pangeran sulung itu."
Kwee Cun Gan menarik napas panjang.
"Memang sayang sekali, semenjak bergaul dengan Auwyang Tek, thaicu menjadi tersesat. Benar-benar merupakan awan gelap bagi Kerajaan Beng, mempunyai calon junjungan seperti itu. Akan tetapi kita tidak perlu takut, karena kita berada di fihak benar. Sekarang soal ke dua yang lebih menggembirakan. Raja Muda Yung Lo yang mulia telah berkenan mengirim utusan dari utara dan kabarnya pada malam hari ini akan tiba di sini Kita bersiap untuk menyambut utusan agung itu."
Mendengar ini, semua orang kelihatan gembira.
Berbeda sekali dengan putera sulung atau thaicu (putera mahkota) Kerajaan Beng, Raja Muda Yung Lo yang menjabat kedudukan raja muda di Peking itu adalah seorang gagah lahir batinnya, karenanya menentang pembesar-pembesar bawahan ayahnya sendiri yang korup dan menindas rakyat.
Karena didesak oleh para dorna yang meminjam tangan kaisar, kini Tiong-gi-pai berpaling ke utara dan minta bantuan raja muda itu.
Dengan gembira empat-belas orang itu bercakap-cakap membicarakan hal ini dan menduga-duga siapa gerangan yang dijadikan utusan Raja Muda Yung Lo.
"Di utara terdapat banyak sekali orang gagah,"
Kata Liem Hoan guru silat akrobat yang sering kali merantau ke utara.
"Dan dengan adanya raja muda bijaksana, tentu mereka semua serempak membantu beliau. Dapat diduga bahwa utusan itu tentulah seorang yang berilmu tinggi."
Setelah cukup mempercakapkan persoalan ini, Kwee Cun Gan bicara tentang soal ke tiga. Wajahnya berubah keren dan sungguh-sungguh ketika ia berkata.
"Kawan-kawan, setelah lama mencari-cari kini ada sedikit berita mengenai keluarga Souw-taihiap."
Suara berisik orang-orang itu tiba-tiba terhenti dan semua telinga mendengarkan penuh perhatian.
"Silahkan saudara Thio Sek Eng menceritakan pertemuannya dengan Lo Houw."
Kata pula Kwee Cun Gan. Thio Sek Eng yang duduk di dekat Liem Hoan lalu bercerita.
"Lo Houw adalah bekas kawan seperjuanganku ketika kami dahulu berjuang di bawah pimpinan Souw-taihiap. Kemarin ketika aku dan Liem lo-enghiong berada di Ki-liang, kami melihat Lo Houw berjalan dan cepat aku tanya dia tentang Souw-taihiap. Dari Lo Houw inilah aku mendengar bahwa Haminto Losu, ayah mertua Souw-taihiap seorang tokoh Bangsa Hsi-sia. telah masuk ke Tiong-goan bersama cucu perempuannya, puteri Souw-taihiap, untuk mencari Souw-tai hiap pula."
"Di mana mereka berada sekarang?"
Serentak orang-orang bertanya.
"Itulah sayangnya. Lo Houw tergesa-gesa dan segera berlari pergi, tak sempat memberi tahu dengan Jelas."
Semua orang juga merasa sayang dan menyesal karena mendengar berita tentang puteri Souw-taihiap, semua orang ingin bertemu dengan puteri pendekar besar itu.
"Betapapun juga, kita sudah mendengar bahwa Souw-taihiap mempunyai seorang anak perempuan, dan lebih penting lagi, anaknya itu bersama kongkongnya sekarang telah berada di Tiong-goan (pedalaman Tiongkok). Oleh karena itu kita jangan kurang waspada, harus memberi tahu kepada seluruh kawan kita untuk membuka mata dan telinga, di mana saja mendengar adanya Souw-sio-cia, kita harus segera mendapatkannya dan melindunginya,"
Kata Kwee Cun Gan.
Tiba tiba Kwee Cun Gan dan Thian Le Hosiang serentak berdiri, wajah mereka tegang memandang ke arah selatan.
Di antara semua yang hadir Kwee Cun Gan memiliki kepandaian yang paling tinggi, kemudian menyusul Thian Le Hosiang murid Siauw-lim-pai itu.
Oleh karena itu, hanya dua orang ini yang lebih dulu mendengar sesuatu yang mencurigakan.
"Heh-heh-heh, orang-orang gagah berkumpul mengelilingi api unggun, sungguh menarik dan asyik. Heh-heh-heh!"
Tiba-tiba terdengar suara ini dan Muncullah seorang gundul tua yang menggandeng tangan seorang dara cilik yang berpipi merah.
Orang gundul ini bukan lain adalah Bu Lek Hwesio dan dara cilik itu tentu saja Souw Lee Ing.
Sebelum datang ke tempat ini, lebih dulu Bu Lek Hwes o menotok ya-hiat di leher gadis itu sehingga seketika Souw Lee Ing kehilangan suaranya dan menjadi gagu!
Kemudian ia memegang pergelangan lengan gadis itu dengan erat.
Lee Ing tentu saja kaget sekali, juga heran mengapa orang gundul yang katanya hendak menjadi gurunya, juga hendak membawanya kepada ayahnya ini tahu-tahu mengandung maksud yang tidak baik, buktinya telah menotoknya dan memegang lengannya demikian erat.
Mau apakah orang gundul ini, akan tetapi Lee Ing tidak berdaya, tidak kuasa berteriak, tidak dapat bergerak.
terpaksa melangkah dan menurut saja sambil memandang ke arah orang-orang yang duduk mengelilingi api.
Mendengar suara Bu Lek Hwesio, orang-orang di situ menjadi kaget dan menoleh.
Liem Hoan yang duduknya paling dekat, memutar tubuh dan meraba gagang pedangnya, akan tetapi hwes o gundul itu hanya tertawa-tawa saja.
"Kawan-kawan, tenang jangan bergerak!"
Kata Kwee Cun Gan yang merasa khawatir kawan-kawannya akan turun tangan secara lancang. Kemudian ia menjura ke arah hwesio itu dan berkata.
"Losuhu yang baru datang ini siapakah dan apakah ada keperluan penting?"
Bu Lek Hwesio tertawa lagi.
"Heh-heh-heh pinceng Bu Lek Hwesio, ingin bertemu dengan Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai. Bukankah kalian ini anggauta-anggauta Tiong-gi-pai? Heh-heh-heh."
Mendengar pertanyaan ini. tahulah semua orang bahwa hwesio yang baru datang ini belum kenal Kwee Cun Gan, maka Liem Hoan cepat melangkah maju dan berkata.
"Losuhu ada keperluan apa mencari Kwee pangcu (ketua Kwee) Memang kami orang-orang Tiong-gi-pai dan kalau ada keperluan, cukup losuhu bicara dengan kami untuk disampaikan kepada ketua kami."
Liem Hoan mendahului kawan-kawannya karena ia berlaku hati-hati tidak ingin Kwee Cun Gan dikenal orang luar.
Bu Lek Hwesio memandang tajam kepada Liem Hoan dan matanya menyapu ke arah pedang yang tergantung di pinggang guru silat itu.
Ia pernah mendengar bahwa Kwee Cun Gan adalah seorang setengah tua yang berpakaian sederhana, berjenggot panjang dan selalu membawa pedang, persis seperti orang yang kini berdiri tegak di depannya ini.
Akan tetapi Bu Lek Hwesio masih ragu-ragu dan cepat ia mendorong dengan tangan kirinya ke arah dada Liem Hoan sambil berkata.
"Pergilah!"
Liem Hoan adalah seorang yang kepandaian silatnya sudah tinggi menghadapi dorongan dari jarak dua meter ini ia maklum bahwa hwesio itu seorang ahli Iweekeh, maka cepat ia menangkis dengan tangannya.
Akan tetapi, tetap saja dorongan angin pukulan yang dahsyat membuat kuda-kudanya tergempur dan tubuh Liem Hoan terhuyung mundur sampai tiga tindak tanpa dapat la cegah lagi.
"Heh-heh-heh-heh, kau bukan Kwee Cun Gan!"
Kata Bu Lek Hwesio tertawa mengejek dan maklumlah Liem Hoan dan yang lain-lain bahwa hwesio ini tadi hanya mencoba tenaga saja.
Namun Liem Hoan yang merasa terhina menjadi marah.
dicabutnya pedang dari pinggangnya dan cepat ia menyerang dengan tusukan ke leher hwesio itu.
"Bagus, ilmu pedangmu tidak buruki"
Seru Bu Lek Hwesio sambil mengelak ke kanan, akan tetapi dengan amat cepatnya Liem Hoan memutar pedang melakukan serangan membacok.
Dan pada saat itu Souw Lee Ing biarpun tak dapat bersuara dan lengan kirinya sudah dipegang erat-erat, melihat ada orang menempur hwesio ini, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik dan mengirim tendangan dengan kakinya ke arah lutut Bu Lek Hwesio,hal yang tak disangka sama sekali oleh Bu Lek Hwesio.
Biarpun kepandaian Lee Ing belum tinggi namun dara cilik ini pernah menerima gemblengan Haminto Losu dan tendangan merupakan kepandaian istimewa dari Haminto Losu, maka tendangan Lee Ing ini bukan tidak berbahaya.
Apa lagi gerakan pedang dari Liem Hoan juga cepat dan mantap.
Dengan marah.
Bu Lek Hwesio menyendal tangan Lee Ing sehingga tubuh gadis itu terayun, tendangannya gagal dan kini tubuh gadis itu dipergunakan oleh Bu Lek Hwesio untuk menangkis datangnya pedang Liem Hoan yang membacok ke arahnya.
Datangnya pedang dan tubuh demikian cepat sehingga biarpun Liem Hoan menjadi amat kaget, namun ia tak kuasa menarik kembali pedang itu.
Agaknya tak dapat dicegah lagi tubuh dara cilik itu tentu akan terbacok pedang.
"Traaanggg...!"
Pedang terpental dari tangan Liem Hoan dan menancap di atas lantai, bergoyang-goyang gagangnya.
Liem Hoan mencelat mundur dan memandang kepada Kwee Cun Gan yang kini sudah berdiri dengan tenang.
Pedangnya tetap berada di punggungnya, akan tetapi semua orang tadi melihat betapa dengan kecepatan kilat Kwee Cun Gan sudah menangkis pedang Liem Hoan lalu menyarungkan lagi pedang itu.
"Bagus sekali kiam-hoat itu."
Bu Lek Hwesio memuji melihat gerakan tadi, kemudian "sett... sett.."
Kedua kakinya melangkah maju ke arah Kwee Cun Gan dan kembali tangan kirinya mendorong ke depan, ke arah dada ketua Tiong-gi-pai itu..
Kwee Cun Gan tidak mengelak maupun menangkis, melainkan mengerahkan khikangnya bertahan.
Hawa pukulan Bu Lek Hwesio membalik ketika bertemu dengan sinkang yang dikerahkan oleh Kwee-pangcu, membuat Bu Lek Hwesio merasa telapak tangan kirinya tergetar.
"Heh-heh-heh-heh..."
Ia tertawa terkekeh girang sekali.
"Lweekangmu tinggi, kiam-hoatmu indah, tidak bisa lain, kaulah tentu orangnya yang bernama Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai yang pinceng cari!"
Mendengar ini, untuk sejenak Kwee Cun Gan berdebar hatinya. Inikah utusan Raja Muda Yung Lo? Mengapa begini macamnya? Ah. tak mungkin raja muda itu mengutus seorang kasar dan sombong macam ini!.
"Benar, aku bernama Kwee Cun Gan. Losuhu ini datang-datang membuat ribut ada urusan apakah dengan aku orang she Kwee?"
Katanya terus terang.
"Heh-heh, baru saja pinceng mendengar kalian bicara tentang anak perempuan Souw Teng Wi. Nah, pinceng datang untuk menyerahkan anak perempuan Souw Teng Wi yang kalian bicarakan itu. Heh-heh-heh!"
Ia berkata demikian sambil mendorong Lee Ing ke depan, akan tetapi pergelangan tangan kiri gadis itu masih dipegangnya, kini lebih erat lagi. Semua orang terkejut dan serentak mereka bersiap-siap.
"Lepaskan dia!"
Teriak beberapa orang yang sudah mencabut pedang dan senjata lain.
"Heh-heh, gentong-gentong kosong! Kalian mau apa?"
Bu Lek Hwesio mengejek sambil memencet pergelangan tangan Lee Ing lebih keras sehingga gadis itu mukanya mengernyit kesakitan.
"Saudara-saudara, tahan senjata!"
Kwee Cun Gan berseru, mukanya berubah pucat ketika ia memandang kepada Lee Ing. Kemudian kepada Bu Lek Hwesio ia berkata.
"Losuhu, bagaimana kami dapat yakin bahwa nona ini benar-benar Souw-siocia?"
Bu Lek Hwesio sambil terkekeh-kekeh lalu menggerakkan tangan membebaskan totokan pada leher Lee Ing. Dara ini biarpun merasa lehernya masih sakit dan serak, cepat berkata.
"Cu-wi jangan percaya pada hwesio ini. Dia penipu, katanya hendak membawa aku kepada Souw Teng Wi, ternyata dia malah menawanku. Serang saja dia!"
Akan tetapi Kwee Cun Gan yang menjadi girang, juga kaget mendengar pengakuan gadis itu. cepat berkata kepada Bu Lek Hwesio.
"Bu Lek Hwesio, kau datang membawa Souw-siocia kepada kami dengan maksud bagaimanakah?"
"Heh-heh Kwee Cun Can. Jangan kira aku menghendaki uang hadiah. Pinceng datang dengan maksud baik, mengadakan pertukaran yang adil. Pinceng hendak menukarkan bocah ini dengan Lian-cu-sam-kiam (Ilmu Pedang Tiga Tikaman Berantai)."
Kwee Cun Gan terkejut sekali.
Di antara ilmu pedang Kun-lun-pai, terdapat tujuh belas ilmu pedang yang paling lihai dan jarang sekali ada anak murid Kun-lun-pai mampu memainkan.
Dan Lian-Su-sam-kiam adalah tiga di antara tujuh-belas yang paling lihai itu, yang merupakan inti ilmu pedang Kun-lun-pai dan yang selama ini mengangkat nama besar Kwee Cun Gan.
Biarpun namanya hanya ""Tiga Tikaman Berantai"
Namun setiap tikaman mengandung dua belas pecahan sehingga ilmu pedang ini seluruhnya ada tiga puluh enam jurus yang sukar dilawan.
Bagaimana ia dapat memberikan ilmu ini begitu saja kepada seorang hwesio yang dari gerak-geriknya dapat diketahui bukan orang baik-baik?
"Lopek (paman tua), jangan dengarkan omongannya!
Serang dan bunuh dial"
Lee Ing berseru sambil meronta-ronta, tidak perduli tangannya terasa sakit sekali.
Orang-orang Tiong-gi-pai dibangunkan semangatnya oleh suara Lee Ing ini.
juga mereka menganggap permintaan hwesio itu kurang ajar, dan tidak patut, maka Serentak mereka bangkit.
Thian Le Hosiang yang tinggi kepandaiannya sudah memutar toyanya hendak menyerang.
Akan tetapi, sambil menggereng marah Bu Lek Hwesio menggerakkan tangan dan tubuh Lee Ing kembali terayun, diputar-putar seperti kitiran cepatnya, dipergunakan sebaga senjata!
"Cu-wi enghiong, jangan perdulikan aku.
Serang dia!
Bunuh dia.
biar aku matipun tidak apa!"
Benar-benar hebat semangat bocah perempuan itu.
Dia diputar-putar, selain lengannya sakit sekali rasanya, juga kepalanya menjadi pening, namun ia masih dapat memberi dorongan semangat kepada orang-orang Tiong gi pai.
Menyaksikan kegagahan luar biasa ini.
hati Kwee Cun Gan yang tadinya masih meragukan apakah betul bocah itu puteri Souw Teng Wi.
kini menjadi percaya dan yakin.
Hanya keturunan orang gagah luar biasa yang memiliki nyali dan semangat seperti dara remaja itu.
"Tahan!"
Serunya keras.
"Bu Lek Hwesio. aku terima syaratmu!"
Bu Lek Hwesio tertawa terkekeh-kekeh, lalu melepaskan tubuh Lee Ing. Begitu dilepas, Lee Ing terhuyung-huyung karena masih pusing. Tanah yang diinjaknya berputaran seperti ada gempa bumi besar.
"Bagus. Kwee Cun Gan. Lekas keluarkan Lian-cu-sam-kiam itu untuk pinceng lihat!"
Kwee Cun Gan dengan terpaksa lalu menyuruh kawan-kawannya pergi.
Kemudian dengan perlahan ia bersilat pedang yang tiga puluh enam jurus banyaknya itu di depan Bu Lek Hwesio yang memandang penuh perhatian.
Bagian-bagian yang kurang dimengertinya ia minta ketua Tiong-gi-pai itu mengulang.
Dengan terpaksa Kwee Cun Gan terus melayani permintaan Bu Lek Hwesio.
biarpun keringatnya sudah memenuhi muka dan lehernya.
Bu Lek Hwesio cerewet sekali dan ia menyuruh Kwee Cun Gan mengulang sampai setengah malam penuh.
Menjelang pagi barulah ia merasa puas.
"Nah, kau terimalah bocah ini!"
Serunya sambil mendorong Lee Ing ke arah Kwee Cun Gan.
Dara remaja yang sudah lemas karena menderita lahir batin itu roboh pingsan dalam pelukan Kwee Cun Gan, sedangkan Bu Lek Hwesio cepat melarikan diri.
Di kaki gunung ia disambut oleh Thian Le Hosiang dan kawan-kawannya yang tanpa banyak cakap segera menyerangnya!
"Heh-heh-heh, orang-orang Tiong-gi-pai tak tahu malu!
Mana sifat kegagahan kalian?"
Bentaknya sambil melawan.
Kepandaiannya yang tinggi membuat dia dengan mudah merobohkan dua orang pengeroyok dan Cepat ia melarikan diri.
Betapapun juga ia khawatir kalau sampai Kwee Cun Gan mengejar ke situ, sukarlah baginya meloloskan diri.
"Kawan-kawan, lepaskan dia! Janji laki-laki harus dipegang teguh!"
Terdengar Kwee Cun Gan berseru keras.
Mendengar ini, para anggauta Tiong-gi-pai menahan senjata dan mengurungkan niat mereka mengejar dan menyerang dengan senjata rahasia.
Kemudian mereka menolong kawan-kawan yang terluka lalu menghampiri Kwee Cun Gan.
"Nona ini harus kita rawat baik-baik, agaknya ia lelah sekali. Menurut pengakuannya tadi, dia benar-benar puteri Souw-taihiap."
Lee Ing membuka matanya dan melompat bangun.
"Aku memang benar puteri Souw Teng Wi, namaku Souw Lee Ing. Tadinya aku datang bersama kongkongku, Haminto Losu, akan tetapi kena tertipu oleh hwesio keparat tadi. Dia pura-pura hendak mengambil murid kepadaku dan mengajakku ke tempat ayah, tidak tahunya...."
Tiba-tiba terdengar bunyi "tarrr!!"
Tarrl!"
Seperti cambuk, akan tetapi lebih keras dan nyaring sekali, disusul suara gerengan seperti singa yang memekakkan telinga.
Semua orang terkejut.
Suara ini membuat jantung mereka merasa berhenti berdetik dan kedua kaki mereka emas.
"Apa itu....???"
Tanya seorang dengan suara gemetar. Memang hebat sekali suara tadi, membuat hati seorang yang bagaimana tabahpun menjadi takut.
"Celaka..."
Kata Thian Le Hosiang perlahan sekali, wajahnya pucat.
""Jangan-jangan iblis itu.."
Baru saja ia berkata demikian, terdengar suara... tar..!!"
Yang keras sekali, lalu kelihatan sinar hitam menyambar disusul pekik Thian Le Hosiang dan ketika semua orang melihat...
ternyata kepala hwesio itu sudah pecah berantakan dan tubuhnya terguling menjadi mayat.
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya semua orang melihat kejadian hebat ini.
Ilmu kepandaian Thian Le Hosiang hwesio Siauw-lim-pai itu bukannya rendah, kalau dibandingkan dengan yang lain, hanya Kwee Cun Gan seorang yang dapat mengatasinya.
Namun dengan sekali serang dapat menghangurkan kepalanya, benar-benar musuh hebat Sementara itu, Kwee Cun Gan dan yang lain-lain sudah mencabut pedangnya dan memandang tajam ke depan.
Entah dari mana munculnya, di dalam cuaca pagi yang remang-remang itu muncul seorang yang wajahnya seperti setan, atau lebih tepat lagi seperti singa.
Rambutnya hitam mengkilat dan panjang, digelung ke atas kepala dan dibungkus kain, matanya besar-besar dilindungi alis yang menjulang ke depan hidungnya besar dan mulutnya meringis seperti mulut singa, di dagunya tumbuh rambut menjungkat ke depan seperti janggut kambing bandot.
Tubuhnya tinggi besar, tertutup oleh pakaian yang longgar dan gedobyoran.
Di tangan kanannya terdapat sebatang cambuk yang mengerikan, yaitu cambuk kelabang yang pada kanan kirinya dipasangi duri-duri tajam.
Cambuk inilah yang tadi berbunyi nyaring dan cambuk ini pula yang sekali dipukulkan telah menghancurkan kepala Thian Le Hosiang.
Melihat cambuk dan muka orang itu, Kwee Cun Gan menjadi pucat.
Pernah ia mendengar seorang tokoh menyeramkan, seorang manusia yang dianggap iblis, bernama Toat-beng-pian Mo Hun.
Dari julukan Toat-beng-pian (Pian Pencabut Nyawa) saja dapat dibayangkan betapa hebatnya joan-pian (ruyung lemas) itu.
Kabarnya manusia iblis ini menyembunyikan diri di batu-batu karang dekat laut selatan, bagaimana ia bisa muncul di sini?
"Hayaaaa, si gundul lancang mulut, masa aku disebutnya iblis.
Dasar dia mencari mampus sendiri!"
Katanya bersungut-sungut, kemudian matanya yang besar itu menjuling dan tubuhnya digerakkan sehingga baju luarnya tersingkap.
Tersirab darah semua orang melihat bahwa baju luar yang tadi menggembung itu ternyata menutupi kepala seorang wanita.
Kini karena jubah itu tersingkap maka kepala itu terputar ke bawah dan tergantung pada ikat pinggang dengan rambutnya yang panjang, sebuah kepala wanita yang agaknya baru saja dipotong lehernya karena masih ada tanda-tanda darah merah basah.
Mata besar juling ini tertuju kepada Lee Ing yang biarpun amat tabah menjadi gemetar juga menyaksikan manusia iblis yang dahsyat ini.
"liiihhh. kepala manusia untuk apa...?"
Seru gadis itu tanpa terasa lagi saking jijik dan ngerinya.
Iblis itu tertawa, suara ketawanya seperti singa mengaum dan Kwee Cun Gan sendiri yang lwee-kangnya sudah kuat tergetar juga oleh suara ketawa ini.
Ia ingat bahwa ada ilmu lweekang yang disebut Saicu-hokang, yaitu ilmu mengeluarkan suara mengaum seperti singa yang dilakukan dengan tenaga lweekang serta khikang tinggi sekali.
Orang yang meyakinkan ilmu ini sampai sempurna, sekali menggertak akan cukup menaklukkan lawan yang menjadi mengkeret nyalinya.
Kalau saikong ini sudah memiliki Saicu-hokang, alangkah tinggi kepandaiannya dan tahulah Kwee Cun Gan bahwa mereka semua bukanlah lawan manusia aneh ini.
Orang aneh itu memang betul Toat-beng-pian Mo Hun, seorang tokoh besar selatan yang selama ini menyembunyikan diri di tepi laut selatan, memperdalam ilmu-ilmunya setelah ia pernah dikalahkan oleh seorang pendekar muda bernama Bu-beng Sin-kun (Tangan Sakti Tak Bernama).
Dengan tekun Mo Hun ini mempelajari bermacam-macam ilmu silat untuk kelak mencari Bu-beng Sin-kun dan menebus kekalahannya.
Bahkan akhir-akhir ini ia melakukan semacam ilmu hitam yang amat mengerikan Ilmu hitam ini kalau sudah dipelajari sempurna akan membuat tubuhnya kebal dan usianya panjang dan awet muda.
Akan tetapi syaratnya juga gila, yaitu ia harus makan otak orang-orang muda yang sehai, otak segar dari kepala yang baru dipenggal.!
"Sudah lama aku ingin mempunyai murid, kau selain cantik jelita dan bertulang bersih, juga nyalimu besar Kau ikut aku!"
Kata Toat-beng-pian Mo Hun dan begitu jari-jari tangannya bergerak, pian kelabangnya tergulung mengkeret dan lenyap di balik bajunya, kemudian mengulurkan tangan kanan ke arah Lee Ing.
Gadis ini kaget dan coba mengelak, akan tetapi lengan itu tiba-tiba mengeluarkan bunyi berkerotokan dan menjadi lebih panjang tiga puluh senti lebih!
Tanpa dapat dicegah lagi pinggang Lee Ing kena dijambret lalu ditarik sehingga pada lain saat gadis itu telah dikempit pinggangnya oleh lengan kanan kakek sakti itu yang tertawa-tawa gembira.
"Muridku, haa-ha, muridku."
Dengan langkah lebar kakek ini meninggalkan bukit batu karang itu. Tentu saja Kwee Cun Gian tidak mau tinggal diam saja dan cepat melompat mengejar. diikuti oleh Liem Hoan dan kawan-kawan lain.
"Locianpwe, harap sudi mendengarkan kami,"
Kata Kwee Cun Gan, tidak berani sembrono atau berlaku lancang. Toat-beng-pian Mo Hun menghentikan tindakannya, memutar tubuh menghadapi mereka, matanya berkedip-kedip menakutkan.
"Kalian mau apa? Ada yang iri melihat si gundul kuberi hadiah dan ingin ikut dengan dia?"
Kata kakek ini menyindir, mulutnya yang meringis itu makin lebar sehingga nampak dua gigi seperti taring di kanan kiri.
Benar-benar kakek ini dikurniai wajah seperti iblis!
"Kawan kami Thian Le Hosiang tewas oleh locianpwe karena dia bicara lancang dan karena kepandaian locianpwe yang tinggi.
Mana kami orang-orang lemah berani mengantarkan nyawa sia-sia?
Akan tetapi nona itu, kami harap locianpwe sudi melepaskan dan membebaskannya!"
"Dia muridku, keparat!"
Kata kakek itu memandang penuh ancaman kepada Kwee Cun Gan.
"Akan tetapi dia adalah puteri tunggal dari Souw Teng Wi taihiap, kami harus melindunginya, biarpun untuk itu kami harus berkorban nyawa. Kalau dia locianpwe bawa, bagaimana kami harus mempertanggungjawabkan kalau Souw taihiap kelak menanyakan dia?"
"Mana dia, Souw Teng Wi?"
Tiba tiba kakek ini bertanya penuh gairah.
"kami sedang mencari-carinya, ini hari bertemu dengan puterinya kami sudah merasa amat girang, maka harap locianpwe sudi melepas kannya."
"Ha ha, bagus sekali. Jadi ini puteri orang she Souw yang menjemukan? Ha-ha, biar anaknya menjadi muridku. dia anak baik, cantik manis berkulit halus pipinya merah. Ayahnya biar kutangkap belakangan..."
Jantung Kwee Cuu Gan dan yang lain-lain serasa berhenti berdetik Celaka, pikir mereka.
Tidak tahunya kakek iblis inipun memusuhi Souw Teng Wi.
Kalau begini percuma saja minta dia melepaskan Lee Ing.
Dengan nekat Kwee Cun Gan mencabut pedangnya, akan tetapi ia didahujui oleh Thio Sek Eng.
Orang she Thio ini seperti diketahui adalah bekas anak-buah Souw Teng Wi dan ia masih mempunyai hati setia kepada pendekar itu.
Mendengar ada orang memusuhi Souw Teng Wi dan menculik puterinya, timbul keberanian dan kenekatannya.
Sambil memaki.
"Saikong siluman lepaskan Souw-siocia!"
Ia menyerbu dengan senjata siang-to (golok kembar) dengan gerakan cepat dan kuat.
Golok menyambar dari atas dan tengah, akan tetapi Mo Hun tidak bergerak, hanya tertawa bergelak dengan suara ketawanya yang seperti setan-setan menangis di neraka.
Akan tetapi begitu dua batang golok itu mendekati bajunya, ia menggerakkan tangan kiri ke arah golok-golok itu dan....
bagaikan dipegang oleh tangan yang tidak kelihatan tiba-tiba saja dua batang golok itu membalik tanpa dapat dicegah lagi oleh pemegangnya dan langsung menyerang leher dan dada Thio Sek Eng sendiri.
Orang she Thio ini menjerit keras, dadanya tertancap golok lalu lehernya terbabat sampai hampir putus.
Dilihat begitu saja, Thio Sek Eng seakan-akan mati membunuh diri, padahal sebetulnya dia terkena hawa pukulan yang lihai sekali dari Toat-beng-pian Mo Hun.
Dengan nekat dan marah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya menyerbu.
Lagi-lagi kakek itu mengangkat tangan kiri, kini ujung lengan baju dikebut-kebutkan ke depan, angin dingin menyambar-nyambar, mula-mula dari depan menyambar keras membuat mereka tak dapat membuka mata, kemudian hawa pukulan yang mendatangkan angin itu berputaran seperti puyuh dan belasan orang itu terguncang dan terhuyung saling tabrak.
Di antara putaran angin ini terdengar suara pletak-pletok dan senjata-senjata di tangan mereka patah-patah.
Hanya Kwee Cun Gan dan Liem Hoan saja yang masih dapat memegang pedangnya, biarpun mereka juga limbung dan terhuyung kesana-kemari, ini menandakan bahwa Iweekang mereka sudah lebih tinggi dari pada kawan-kawan mereka.
Dan hanya Kwee Cun Gan seorang yang dapat melihat gerakan kakek itu dan dia pula yang melihat kakek itu pergi dengan langkah lebar sambil membawa Lee Ing.
Yang lain-lain hanya tahu kakek itu sudah lenyap setelah angin puyuh berhenti.
Dengan tubuh sakit-sakit mereka merangkak bangun, karena tadinya, kecuali Kwee Cun Gan dan Liem Hoan, sudah roboh saling tindih!
"Hebat...!"
Kwee Cun Gan menghela napas. Kemudian ia membanting-banting kaki dengan gemas.
"Souw-siocia dibawanya, bagaimana kita harus merampasnya kembali? Celaka... celaka, tak menduga nasib Souw-suheng (kakak seperguruan) demikian buruknya..."
Tak terasa lagi sepasang mata pendekar Berhati Emas Bertangan Baja ini mengalirkan air mata?
Kawan-kawannya yang mendengar dan melihat sikap ini menjadi terharu dan barulah mereka tahu bahwa sebetulnya Kwee Cun Gan masih terhitung saudara seperguruan dengan Souw Teng Wi.
Kenyataan ini saja sudah menimbakan kekaguman yang makin mendalam.
"Aku harus minta bantuan para locianpwe di Kun-Iun-san."
Katanya kemudian.
"Kalau manusia seperti Toat-beng-pian Mo Hun sudah turun gunung, ditambah lagi dengan Auwyang Tek yang menjadi murid Tok ong Kai Song Cinjin yang kiranya malah lebih sakti dari pada Mo Hun tadi, hanya para couwsu di Kun-lun-pai saja yang dapat menandingi mereka Souw suheng sekeluarga perlu ditolong, tidak saja karena dia seorang anak murid Kun-lun-pai, akan tetapi terutama sekali karena tenaga Souw-suheng perlu didatangkan untuk memimpin kita melawan para menteri dorna. Terutama sekali, kita harus memperkuat diri untuk menghadapi merajalelanya para menteri dorna dengan kaki tangan mereka yang demikian lihai "
"Mungkinkah Mo Hun tadipun kaki tangan para kan sin?"
Tanya Liem Hoan ragu-ragu.
"Siapa tahu? Para pembesar korup itu sudah kelebihan harta benda yang dapat mereka hamburkan untuk mempertahankan kedudukan mereka."
Kwee Cun Gan menarik napas panjang, lalu katanya.
"Aku Kwee r"un Gan hai i ini terpaksa membocorkan rahasia Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kam kepada seorang rendah semacam Bu Lek Hwesio, kemudian terpaksa kehilangan puteri Souw-suheng. Benar-benar penasaran, aku Kwee Cun Gan kalau belum dapat membunuh Bu Lek Hwesio selama ludup akan merasa menyesal. Kawan-kawan, mari kita segera pergi, siapa tahu mata-mata Auwyang taijiin mengetahui tempat pertemuan kita ini."
Dengan hati gelisah dan kecewa, orang-orang gagah itu berpencaran turun dari bukit itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dari jauh.
"Cu-wi enghiong, tunggu dulu!"
Mereka behenti dan menengok.
Dari kaki bukit itu datang berlarian dua bayangan orang yang amat cepat dan gesit gerakannya.
Kwee Cun Gan tertegun.
Lagi-lagi datang orang-orang yang tinggi kepandaiannya, lawan atau kawankah yang datang lagi ini?
Setelah dekat ternyata bahwa mereka itu adalah seorang laki-laki gagah setengah tua, kurang lebih empat puluh lima tahun usianya, memakai topi berbentuk batok, di sebelah kirinya berlari seorang wanita cantik dan gagah berusia empat puluh tahun lebih.
Begitu berhadapan dengan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya, orang itu menjura dengan hormat.
"Apakah siauwte berhadapan dengan para enghiong dari Tiong-gi-pai?"
Perkumpulan Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak boleh diperkenalkan kepada orang asing begitu saja, maka Kwee Cun Gan menjawab singkat.
"Sahabat siapa dan dari manakah, datang mencari siapa?"
Orang itu mengerling, kepada wanita gagah di sebelahnya sambil tersenyum, lalu memandang ke arah dua gundukan tanah yang baru digali, agaknya baru saja untuk mengubur orang, yaitu kuburan dari Thian Le Hosiang dan Thio Sek Eng yang dibuat oleh para anggauta Tiong-gi-pai baru saja sebelum mereka pergi.
"Saudara-saudara Tiong gi-pai benar-benar teliti dan hati-hati. Agaknya baru saja terjadi sesuatu yang hebat. Bekas-bekas tangan Toat-beng-pian Mo Hun masih nampak jelas, agaknya lagi-lagi pian pencabut nyawa dari iblis tua itu sudah mendapat korban di antara saudara-saudara Tiong-gi-pai. Cu-wi enghiong harap jangan menaruh curiga kepada kami, kiranya cu-wi mengenal tanda ini?"
Orang itu mengeluarkan sebuah lengki (bendera tanda utusan raja) kecil dari saku bajunya.
Melihat ini, Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya terkejut.
Kiranya dua orang inilah utusan-utusan dari Raja Muda Yung L o di Peking.
"Harap taijin maafkan kami yang tidak mengenal dan tidak menyambut sepatutnya,"
Kata Kwee Cun Gan yang hendak menjatuhkan diri berlutut di depan utusan raja itu. Akan tetapi orang itu cepat-cepat memegang pundaknya sambil berkata.
"Sahabat-sahabat Tiong-gi-pai jangan terlalu banyak sungkan. Bangunlah agar kita enak bicara."
Ketika kedua tangannya memegang pundak Kwee Cun Gan, ketua Tiong-gi pai ini merasa sepasang telapak tangan yang lunak, namun di dalamnya mengandung tenaga menarik yang dia sendiri tak mampu mempertahankan sehingga terpaksa ia bangkit lagi lalu menjura.
"Taijin benar-benar telah memberi pelajaran, hamba merasa tunduk."
"Adakah kau yang bernama Kwee Cun Gan?"
Tanya orang itu sambil memandang tajam.
"Betul, hamba yang rendah adalah Kwee Cun Gan."
Mendengar ini, orang itu memegang tangan Kwee Cun Gan dengan girang lalu berkata.
"Kwee sicu. Buang jauh-jauh itu segala sebutan taijin dan hamba-hambaan! Copot jantungku mendengar aku disebut-sebut taijin utusan raja. Dengarlah, aku bukan seorang pembesar biarpun kini terpilih menjadi utusan raja. Tentu Kwee-sicu dan kawan-kawan lain sudah mendengar namaku, Siok Beng Hui. Dan ini isteriku Tan Sam Nio."
Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya makin terkejut, akan tetapi bercampur girang.
Siapa pula yang belum mendengar nama Siok Beng Hui yang berjuluk Pek-kong-sin-kauw (Senjata Kaitan Sakti Bersinar Putih) dan isterinya, Tan Sam Nio yang berjuluk Ang-lian-ci (Biji Teratai Merah)?
Sepasang suami isteri yang mempunyai saham besar dalam jasa mengusir orang-orang Mongol di utara!
Baca Juga: Suling Emas 5
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 2