Eps 4 Pendekar Tongkat Dari Liong San - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Tongkat Dari Liong San - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Tongkat Dari Liong San - Kho Ping Hoo.
Orang kampung itu memandang heran, kemudian ia dapat menduga bahwa orang tua ini tentu datang dari tempat lain dan belum tahu akan nama Si Tosu Sakti.
"Namanya ialah Bong Ki Tosu,"
Jawabnya singkat lalu memandang ke arah tosu yang kini berdiri di atas panggung itu dengan penuh penghormatan.
Bagi Liong-san Lo-kai nama ini bukan nama asing, karena ia pernah mendengar bahwa Bong Ki Tosu adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan datang dari pegunungan Tibet.
Akan tetapi Kong Lee terkejut sekali mendengar nama ini dan ia memandang dengan penuh perhatian.
Bong Ki Tosu?
Ini adalah nama tosu yang mencelakakan Leng Tin Ong dan anak isterinya, yang membuat pangeran itu serta isteri dan anaknya menjadi gila dan yang kini menjadi keluarga gila dan berkeliaran di dalam hutan!
Inikah tosu jahat yang dulu membantu Beng Hwat Ong mencelakakan Pangeran Leng Tin Ong sekeluarganya itu?
Sementara itu, setelah mengangkat kedua lengannya untuk memberi tanda bahwa semua orang boleh berdiri kembali, Bong Ki Tosu lalu memberi tanda dengan tangannya dan seorang pembantunya yang tinggi besar maju ke arah deretan gadis yang berjumlah dua puluh orang lebih itu!
Kemudian, seorang demi seorang, gadis-gadis itu disuruh menaiki panggung melalui sebuah anak tangga dan mereka ini untuk beberapa lama berdiri di depan tosu itu yang memandangnya dengan penuh perhatian!
Dengan hati berdebar Thio Eng juga mengikuti gadis-gadis itu menaiki anak tangga.
Ketika ia berdiri di depan tosu itu, ia melihat betapa mata tosu tua itu memandangnya dengan tajam tiba-tiba lemaslah tubuh Thio Eng.
Seakan-akan ada tenaga gaib keluar dari kedua mata itu dan tenaga itu dengan kuat sekali menekan dan menundukkan segala kehendak dan tenaganya!
Thio Eng merasa terkejut sekali dan mencoba untuk melawan, Akan tetapi makin ia lawan makin kuatlah tenaga itu dan akhirnya ia menundukkan muka di depan tosu itu dan sama sekali tidak membantah ketika tosu itu menaruh tangan kanannya di atas kepalanya!
Terdengar sorak-sorai ramai sekali karena ternyata bahwa malaikat gunung yang diwakili oleh tosu itu telah menjatuhkan pilihannya, yakni kepada gadis asing yang cantik jelita itu!
Beberapa orang pembantu lalu naik ke atas panggung sambil membawa jubah pengantin dan Thio Eng lalu dikerobongi jubah pengantin itu, sedangkan di atas kepalanya dipasang sebuah mahkota yang indah!
Bukan main terkejut dan heran Kong Lee ketika melihat betapa Thio Eng nampak lemas dan seakan-akan menurut dengan segala senang hati, kedua matanya memandang ke bawah seperti mata orang mengantuk dan sedikitpun tak pernah menengok kepada suaminya!
"Suhu, celaka!
Thio Eng tentu kena sihir tosu siluman itu!"
Liong-san Lo-kai tersenyum tenang.
"Tenanglah, muridku. Aku tahu akan hal itu. Biarlah untuk membuka kedok imam durhaka itu, kita harus mendapatkan buktinya. Kalau kita bertindak sembrono, tentu orang-orang kampung ini akan marah kepada kita. Biarlah, kita tunggu sampai Thio Eng dimasukkan ke dalam lubang. Kemudian kau cepat meloncat dan menyusul ke dalam lubang itu sedangkan aku hendak bergerak dari luar. Mengerti?"
Kata kakek ini sambil berbisik.
Setelah Thio Eng selesai dirias, dengan diikuti oleh semua penduduk yang berada di situ, Thio Eng lalu diarak ke atas puncak!
Puncak ini berada tepat berada di belakang kuil dan di situ terdapat panggung kecil pula, dan di tengah-tengah panggung terdapat sebuah lubang yang garis tengahnya kira-kira tiga kaki lebarnya!
Lubang ini kalau dilihat dari luar tidak nampak dasarnya, karena gelap sekali.
Di atas panggung ini lalu diadakan sembahyang pengantin yang dipimpin oleh Bong Ki Tosu.
Kemudian Thio Eng dipondong oleh seorang pelayan tinggi besar dan setelah Bong Ki Tosu membaca doa maka tubuh Thio Eng dilempar ke dalam sumur yang gelap itu!
Semua penduduk kampung lalu berlutut di atas tanah untuk memberi penghormatan terakhir kepada pengantin malaikat gunung!
Sementara itu, dengan diam-diam Liong-san Lo-kai telah menggunakan kepandaiannya dan menyerbu masuk ke dalam kuil tanpa terlihat oleh seorang pun.
Sedangkan Kong Lee yang sudah mendapat petunjuk suhunya, ketika melihat betapa isterinya telah dilempar ke dalam sumur, lalu menggunakan kepandaiannya pula.
Ia menanti sampai Bong Ki Tosu berada agak jauh dari sumur itu agar jangan menghalang-halangi perbuatannya.
Kemudian ia berseru.
"Cu-wi, semua jangan kena ditipu oleh tosu siluman ini!"
Ia lalu meloncat dan langsung terjun ke dalam sumur itu menyusul Thio Eng!"
Bukan main terkejutnya Bong Ki Tosu melihat ini. Ia hampir saja lupa dan hendak menyusul ke dalam sumur, akan tetapi ia teringat bahwa orang-orang kampung masih berada di situ, maka ia lalu berkata.
"Lihatlah, tadi itu adalah orang yang dimasuki roh jahat dan yang hendak melawan malaikat gunung, akan tetapi akan menemui kematiannya dan besok kalian akan melihat mayatnya di atas panggung ini! Sekarang kalian pulanglah karena malaikat gunung tentu tak senang dengan adanya gangguan tadi!"
Maka pulanglah orang-orang kampung itu dengan rasa takut.
Setelah semua orang pergi, buru-buru Bong Ki Tosu mencabut pedang dan kebutannya dan lari masuk ke dalam kuil kembali!
Sementara itu, ketika Kong Lee terjun ke dalam sumur, ia terjeblos ke dalam tempat yang dalam sekali sehingga mau tidak mau hatinya menjadi cemas.
Akan tetapi, seperti yang ia telah duga, tiba-tiba tubuhnya menimpa sebuah jala yang dipasang di sini.
Cepat ia meloncat keluar dan tiba di dalam sebuah ruang yang luas.
Di situ ia melihat betapa tiga orang laki-laki tinggi besar baru saja menurunkan Thio Eng yang telah pingsan dari jala itu juga.
Ketiga orang laki-laki tinggi besar itu melihat kedatangan Kong Lee, mereka terkejut dan cepat menyerbu, akan tetapi dalam beberapa jurus saja Kong Lee telah dapat merobohkan mereka!
Sementara itu, Thio Eng telah siuman kembali dan ia memandang dengan heran bagaikan orang baru saja bangun dari sebuah mimpi yang menyeramkan.
Semenjak berdiri di depan Bong Ki Tosu tadi, ia telah kehilangan kemauan dan pikirannya dan tidak ingat apa-apa lagi.
Kong Lee lalu mengajak isterinya menyerbu keluar, melalui sebuah jalan di bawah tanah yang berliku-liku.
Kemudian mereka tiba di sebuah kamar yang merupakan kamar tidur terhias indah dan mewah.
Ini agaknya kamar pengantin dari Bong Ki Tosu sendiri yang tentu mewakili pula malaikat gunung untuk menyambut isterinya!
Di dalam kamar itu terdapat sebuah anak tangga yang tinggi dan Kong Lee serta Thio Eng lalu menaiki tangga ini ke atas.
Ternyata bahwa anak tangga itu membawa mereka keluar dari dalam tanah dan tiba di dalam ruang belakang kuil itu!
Tiba-tiba terdengar suara pertempuran hebat di dalam ruang sebelah dalam.
Mereka lalu lari menghampiri dan melihat Liong-san Lo-kai sedang bertempur melawan dua orang tosu, yakni Bong Ki Tosu sendiri dan seorang tosu lain yang menjadi sutenya, yakni Bong Bi Tosu.
Kepandaian kedua orang tosu ini tinggi juga, dan agaknya Liong-san Lo-kai terdesak.
Kong Lee memesan isterinya agar supaya jangan ikut bertempur melawan kedua orang yang hebat itu.
Kemudian ia menarik keluar tongkatnya dan menyerbu untuk membantu suhunya.
Bong Bi Tosu menyambutnya dan segera Kong Lee maklum bahwa kepandaian tosu ini tinggi juga.
Dengan Liong-san Koai-tung-hwat ia membela diri dari pedang dan kebutan lawan, akan tetapi masih saja ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya agar jangan sampai terdesak.
Sementara itu, Liong-san Lo-kai yang menghadapi Bong Ki Tosu, dengan mudah dapat mendesak Bong Ki Tosu ini, Karena memang kepandaiannya masih lebih tinggi setingkat daripada kepandaian tosu siluman ini.
Dengan tongkatnya, pengemis tua dari Liong-san ini mendesak lawannya yang hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat balas menyerang!
Thio Eng melihat pertempuran itu dengan hati cemas.
Ia tidak dapat menentukan siapa kalah siapa menang, karena keempat orang itu telah lenyap dari pandangan matanya dan tertutup oleh sinar-sinar pedang dan tongkat.
Demikian hebat mereka bertempur!
Ketika Thio Eng sedang menonton pertempuran, tiba-tiba ia merasa ada orang yang menubruknya dari belakang.
Ia cukup waspada dan gesit, maka cepat ia mengelakkan diri dari tubrukan ini dan ternyata bahwa yang menubruknya adalah seorang pembantu tosu siluman itu.
Thio Eng lalu mengirim tendangan yang hampir saja mengenai lambung orang itu.
Melihat bahwa Thio Eng pandai ilmu silat, orang itu menjadi marah dan mencabut pedangnya lalu menyerang.
Akan tetapi, ternyata bahwa kepandaian orang itu tidak berapa tinggi.
Tak lama kemudian, Thio Eng berhasil merobohkannya dengan sebuah tendangan dan merampas pedangnya.
Beberapa orang pelayan lain mencoba untuk mengeroyok dan menangkap Thio Eng, akan tetapi dengan adanya sebuah pedang di tangan, Thio Eng merupakan seekor harimau betina yang galak.
Ia mengamuk dan tak lama kemudian dua orang pelayan itu roboh mandi darah, sedangkan yang lain lalu lari ketakutan!
Kong Lee merasa bahwa Liong-san Koai-tung-hwat yang baru dipahami delapan bagian itu, takkan dapat merobohkan lawan.
Maka ia lalu mencampur ilmu tongkatnya dengan ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab Raja Gila!
"Eh, ilmu silat macam apakah yang Kau keluarkan ini?"
Mula-mula lawannya mengejek melihat betapa Kong Lee bergerak-gerak dengan aneh dan ganjil sekali.
Akan tetapi, segera ia merasa terkejut sekali karena ilmu silat anak muda itu kini menjadi hebat dan tak terduga gerakan-gerakannya!
Sementara itu, dengan sebuah totokan kilat, Liong-san Lo-kai telah berhasil membuat Bong Ki Tosu rebah tak berdaya.
Kakek tua inipun heran melihat ilmu silat Kong Lee dan ia menonton dengan kedua mata terbelalak.
Akhirnya, Kong Lee berhasil pula menendang roboh Bong Bi Tosu, tepat di lututnya sehingga sambungan tulang lututnya terlepas!
Tiba-tiba Bong Ki Tosu mengeluh dan siuman dari pingsannya, lalu tosu tua itu mengeluh.
"Jangan bunuh aku... jangan bunuh..."
Kong Lee merasa jijik melihat sifat pengecut ini, tapi tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran.
"Kau tidak ingin mati? Baik, kami akan ampunkan jiwamu, akan tetapi kau harus serahkan obat pemunah gila!"
"Apa... apa maksudmu?"
Tanya Bong Ki Tosu yang meringis-ringis karena dadanya terasa sakit sekali akibat totokan. Liong-san Lo-kai merasa heran, akan tetapi diam-diam muridnya memberi isyarat dengan matanya.
"Kau telah menggunakan obat untuk membikin gila orang-orang di kampung maka kau harus menyembuhkan mereka."
"Baik, baik..."
Keluhnya.
"lepaskan dulu pengaruh totokan ini..."
Liong-san Lo-kai lalu menggunakan tongkatnya menotok pula dan sembuhlah Bong Ki Tosu. Tosu tua ini sudah takluk betul dan ia lalu mengeluarkan sebungkus obat berwarna putih.
"Inilah obat pemunah itu. Campur dengan arak dan suruh mereka minum, tentu mereka akan sembuh..."
Katanya. Kong Lee merasa ragu-ragu.
"Apakah kau tidak menipu kami?"
Bong Ki Tosu memandang marah.
"Kau kira aku ini orang macam apa? Tidak percuma aku merantau puluhan tahun di puncak Tibet! Obat yang membuat orang gila itu terbuat dari akar pohon di Tibet dan ini adalah otak semacam monyet yang telah dikeringkan. Monyet putih yang memiliki otak ini hanya hidup di puncak Tibet dan khasiatnya manjur sekali."
Bong Ki Tosu dan Bong Bi Tosu lalu diarak keluar dari kuil oleh Liong-san Lo-kai dan muridnya.
Guru dan murid ini lalu memberi penerangan kepada orang-orang kampung yang merasa keheran-heranan dan marah sekali melihat betapa mereka telah menjadi korban penipuan.
Gadis-gadis yang menjadi gila itu lalu didatangkan, dan Kong Lee atas petunjuk Bong Ki Tosu lalu mencampurkan otak monyet itu dengan seguci arak.
Benar saja, setelah diberi minum secawan arak obat, gadis-gadis itu lalu roboh pingsan dan tak lama kemudian mereka sadar kembali dan sembuh!
Kong Lee merasa girang sekali, kemudian ia lalu menceritakan kepada suhunya tentang keadaan keluarga gila yang menjadi korban dari Bong Ki Tosu pula.
Dan niatnya kini hendak membawa sisa obat itu untuk menyembuhkan mereka karena menurut kata-kata Bong Ki Tosu, obat itu dapat juga digunakan untuk menyembuhkan sakit gila yang sudah puluhan tahun akibat bekerjanya racun akar yang luar biasa itu.
Bong Ki Tosu dan Bong Bi Tosu lalu dilepas setelah mendapat nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan keras, kemudian kuil di puncak bukit itu dihancurkan serta para pengikut Bong Ki Tosu diusir pergi.
"Muridku, sekarang kita harus berpisah. Aku hendak merantau lagi dan kau bawalah isterimu pulang. Jangan terlalu banyak membuat musuh-musuh di kalangan kang-ouw dan jangan bertempur kalau tidak terpaksa sekali. Akan tetapi, jika tenagamu diperlukan untuk menolong sesama hidup, janganlah kau ragu-ragu untuk menolong."
Kakek yang sakti itu lalu pergi dari situ, sedangkan Kong Lee mengajak Thio Eng untuk pulang sambil membawa seguci arak obat.
Kim Nio dengan tiga orang gila berlari cepat ke Liong-san dan alangkah kecewa mereka ketika mengetahui bahwa tempat pertapaan itu kosong!
Mereka lalu turun gunung dan pergi mencari sambil bertanya-tanya di jalan kalau-kalau ada sepasang suami-isteri muda lewat di situ.
Pada suatu hari, setelah Kim Nio menyatakan kekecewaannya kepada suami dan mertuanya, tiba-tiba dari depan tampak mendatangi dua orang, dan ketika dekat, dengan girang sekali Kim Nio mengatakan bahwa mereka ini adalah Kong Lee dan Thio Eng!
"Itulah mereka!
Itulah musuh-musuhku yang harus dibunuh!
Ayo, kita tangkap dia!
tapi jangan dibunuh, tangkap hidup-hidup!"
Teriak wanita itu dengan girang sekali.
"Kim Nio, tunggu dulu, biarkan aku memberi keterangan penting."
Akan tetapi, Kong Lee tidak diberi kesempatan bicara lagi, karena ketiga orang gila itu telah maju menyerbu.
Kong Lee merasa terkejut sekali.
Tak pernah disangkanya bahwa Kim Nio berhasil memperalat tiga orang berbahaya dan hebat ini.
Ia dan Thio Eng terpaksa melawan sekuat tenaga, akan tetapi, mana ia dapat melawan tiga orang hebat yang maju serempak itu?
Tak lama kemudian Kong Lee dan Thio Eng telah tertotok dan roboh tak berdaya serta menjadi orang-orang tawanan!
"Ha, ha, ha!
Musuh-musuhmu orang begini lemah!"
Raja Gila tertawa tergelak-gelak.
"Telah lama kita tidak makan daging domba, sekarang kita harus mengadakan pesta!"
Kata Ratu Gila.
"Isteriku, musuh-musuhmu telah kita tangkap. Lekas bunuh mereka dan berikan dagingnya kepadaku!"
Kata Pangeran Gila.
Kong Lee dan Thio Eng telah lumpuh melihat keluarga gila itu dengan hati ngeri.
Pengharapan mereka telah habis dan mereka maklum bahwa kali ini mereka tentu akan mengalami kebinasaan di tangan orang-orang gila ini.
hanya ada satu hiburan bagi Kong Lee dan Thio Eng, yakni bahwa mereka akan mati bersama!
Tiba-tiba Raja Gila melihat guci arak di dalam bungkusan pakaian Kong Lee yang tadi dibuka-bukanya.
Ia girang sekali dan sambil mencium tutup guci ia berkata.
"Arak... arak..."
Isteri dan anaknya memburu dan mereka ini pun girang sekali.
Ketiganya lalu bergantian minum arak itu tanpa mempedulikan lagi kepada tawanan mereka atau kepada Kim Nio!
Melihat kesempatan ini, Kim Nio lalu menghampiri Kong Lee dan tersenyum mengejek.
"Kong Lee, akhirnya kau jatuh juga ke dalam tanganku!"
"Kim Nio kau telah dapat menawan kami, mengapa tidak lekas kaubunuh saja?"
"Untuk apa banyak cakap lagi?"
Berkata Kong Lee sambil memandang ke arah tiga orang gila yang sedang bergembira minum arak obat itu dengan penuh perhatian!
"Ha, ha!
Tentu saja akan kubunuh!
Dan kedua tanganku sendiri yang akan membunuh kau dan perempuan ini!"
Kata Kim Nio dengan gemas.
Kim Nio mencabut pedangnya dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, tapi melihat wajah Kong Lee yang baginya tampak makin tampan dan menarik hati itu, ia menurunkan kembali pedangnya.
"Kong Lee, kau tahu betapa aku sangat mencintamu. Ya, aku tak perlu malu mengaku di depan isterimu. Aku cinta padamu dan dengarlah, kalau kau sudi menerimaku sebagai isterimu, aku akan bebaskan kalian dan aku turut kalian pergi. Biarlah aku menjadi pelayan di rumahmu, asal kau suka menerimaku sebagai isterimu."
"Kim Nio, sudahlah jangan berkata-kata yang tiada gunanya ini."
Tiba-tiba Kim Nio melihat perubahan pada wajah Kong Lee.
Ia cepat membalikkan tubuh memandang, dan ternyata bahwa ketiga orang gila itu telah rebah menggeletak di atas tanah!
Kim Nio tidak pedulikan mereka ini karena menyangka bahwa mereka hanya mabuk dan tidur saja.
Ia tidak tahu bahwa ketiga orang itu telah pingsan akibat pengaruh obat!
Sementara itu, Kong Lee dan Thio Eng memandang kepada tiga orang gila itu dengan hati berdebar-debar!
"Kong Lee, pikirkanlah baik-baik usulku tadi,"
Kata Kim Nio pula tanpa memperhatikan sedikit pun kepada keluarga gila itu.
"Tak mungkin hatimu sekejam ini dan tidak merasa kasihan kepadaku."
"Sudahlah, Kim Nio. Tak perlu kau membujuk-bujuk karena takkan ada gunanya. Apakah kau kira aku seorang yang takut mati dan orang serendah itu? Kau telah bersuami, lebih baik kau kembalilah kepada suamimu!"
Mata Kim Nio bersinar marah.
"Kong Lee, benar-benarkah kau tidak sayang kepada jiwamu?"
"Kau tahu bahwa aku tidak takut mati, apalagi kalau harus mati bersama isteriku yang tercinta!"
Sambil berkata demikian, Kong Lee mengerling kepada Thio Eng dengan pandangan mata penuh cinta.
"Hm, kau sangka akan demikian enak untuk kalian? Dengar, kau akan kubunuh di depan mata isterimu dan isterimu akan kuberikan kepada Pangeran Gila untuk menjadi isterinya! Ha, ha!"
Kim Nio lalu berdiri dan pedangnya telah siap di tangan.
Kali ini ia takkan ragu-ragu lagi, karena sudah maklum bahwa betapapun juga Kong Lee tidak mau menerima permintaannya.
Ia pegang gagang pedang erat-erat dan siap menusuk dada Kong Lee.
Orang muda ini sedikitpun tidak gentar, bahkan ia pandang muka Kim Nio dengan tajam dan dadanya diangkat untuk menerima datangnya tusukan.
Pedang telah digerakkan, tapi...
tiba-tiba tangan Kim Nio gemetar dan ia tak kuat menentang wajah Kong Lee lebih lama lagi.
Sambil mengeluh, Kim Nio melempar pedangnya dengan wajah pucat, lalu ia jatuhkan dirinya dan memeluk tubuh Kong Lee sambil menangis sedih!
"Kong Lee...
aku tidak tega membunuhmu...
melukaimu saja aku takkan sanggup...
Kong Lee...
benar-benar demikian kejam dan keraskah hatimu...?"
Kong Lee tidak menjawab hanya membuang muka.
Ia tak dapat melepaskan diri dari pelukan Kim Nio karena tidak kuasa menggerakkan tangan dan kakinya.
Sementara itu, Thio Eng memandang dengan rasa terharu.
Betapapun juga, perasaan hatinya sebagai seorang wanita lebih halus dan ia dapat membayangkan betapa sedih dan hancur hati Kim Nio.
Melihat betapa Kong Lee sama sekali tidak mempedulikannya, Kim Nio tiba-tiba bangkit berdiri.
"Baiklah, Kong Lee. Kau tidak sudi menerimaku dan aku tidak sampai hati membunuhmu. Akan tetapi kau akan menderita selama hidupmu karena sekarang aku hendak membinasakan isterimu yang kaucinta!"
Sambil berkata begitu, Kim Nio memungut kembali pedangnya dan kini menghampiri Thio Eng yang sama sekali tidak gentar.
Kim Nio mengangkat pedangnya dan menusuk!
Tapi pada saat itu, tiba-tiba pedang di tangan Kim Nio terlepas dan suara yang halus membentaknya.
"Eh, menantuku, kau hendak berbuat apa? Jangan kau sembarangan membunuh orang!"
Kim Nio terkejut sekali dan menengok.
Alangkah kaget dan herannya melihat bahwa yang menghalangi maksudnya dan yang menegurnya itu tidak lain ialah Ratu Gila!
Akan tetapi, betapa nenek ini telah berubah sekali!
Gerakannya lemah lembut, wajahnya nampak sungguh-sungguh dan lenyaplah bayangan-bayangan kegilaannya!
Juga Raja Gila Leng Tin Ong telah siuman kembali, hampir bersaam dengan Leng Ki Pok Si Pangeran Gila!
Leng Tin Ong duduk memandang ke kanan kiri sambil berkata.
"Eh, eh, apa yang terjadi!"
Sementara itu, Ki Pok segera maju dan berlutut di depan ayahnya, lalu berkata.
"Ayah..."
Kedua orang ini lalu berpelukan bagaikan dua orang yang baru saja bertemu setelah berpisah puluhan tahun!
Kemudian mereka teringat akan Ratu Gila dan keduanya segera melompat menghampiri Ratu Gila yang masih menghadapi Kim Nio dan mencegahnya membunuh Thio Eng.
Ternyata bahwa obat pemunah racun ini bekerja baik dan ketiganya sembuh dari pengaruh kegilaan mereka!
"Menantuku, kedua orang ini harus dibebaskan dan marilah kita segera kembali ke kota raja,"
Kata Leng Tin Ong yang cepat membebaskan Kong Lee dan Thio Eng dari totokan. Kong Lee dan Thio Eng cepat menjura memberi hormat dan menghaturkan terima kasih.
"Anak muda, tak perlu kau berterima kasih. Seharusnya kami yang berterima kasih kepadamu, karena kau telah membawa obat penolong kami sekeluarga. Perkenalkanlah, nona ini adalah menantu kami dan isteri anak kami Ki Pok."
Kemudian Kong Lee menceritakan betapa ia dapat minta obat itu dari Bong Ki Tosu sehingga keluarga Pangeran yang bernasib malang itu menjadi kagum sekali dan menyatakan terima kasih mereka.
Kong Lee tidak membuka rahasia Kim Nio dan wanita ini terpaksa diam saja menyesali nasibnya yang selalu mendapat kemalangan.
Akan tetapi melihat betapa ketiga orang itu kini telah sembuh dan hendak kembali ke kota raja, diam-diam ia merasa senang juga.
Ia telah menjadi isteri Ki Pok, berarti menjadi menantu pangeran yang berkedudukan tinggi.
Ia tentu akan menjadi seorang nyonya bangsawan yang terhormat!
Dan selain itu, ia pun akan dapat mempelajari ilmu silat tinggi dari kedua mertuanya!
Setelah saling memberi hormat, Kong Lee dan Thio Eng minta diri dan kembali ke Lam-sai, sedangkan Leng Tin Ong lalu mengajak isteri serta anak dan menantunya untuk segera kembali ke kota raja di mana mereka disambut dengan segala kehormatan dan kegirangan oleh para keluarga dan kenalan mereka!
Sementara itu, dalam perjalanan pulang ke Lam-sai, di tengah jalan Kong Lee dan Thio Eng bertemu dengan Thio Sui Kiat.
Bukan main girangnya Thio Sui Kiat melihat bahwa anak dan menantunya selamat dan terlepas dari bencana maut.
Ia menghela napas dan sambil mengelus-elus jenggotnya, orang tua ini berkata.
"Memang demikianlah, anak dan menantuku, tidak ada pohon baik berbuah masam dan juga tak mungkin pohon buruk berbuah manis! Perbuatan-perbuatan baik pasti akan menghasilkan akibat baik pula dan kejahatan-kejahatan tentu akan mendatangkan bencana! Siapa menolong pasti tertolong dan siapa berbuat jahat akan dijahati orang pula! Tuhan memang adil!"
Demikianlah, Thio Sui Kiat beserta anak dan menantunya lalu kembali ke Lam-sai.
Kedatangan mereka disambut dengan girang dan Nyonya Thio dan Nyonya Lim.
Selanjutnya mereka hidup dalam kerukunan dan kebahagiaan sampai di hari tua.
TAMAT Solo, Hari Lahir Pancasila 1966 dino,
http.//indozone.net
/literatures/literature/421 24 September 2008 jam 6.24am
Baca Juga: Jodoh Rajawali 10
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 1