Ceritasilat Novel Online

Pedang Penakluk Iblis 2

Eps 2 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

"Ketua Hoa-son.pai, Liang Gi Tojin, telah tewas oleh dua orang tokoh Im-yang-bu pai, yaitu Thian-te Siang tung Kwa Siang dan Siang-mo-kiam Lai Tek, dibantu oleh Siang-pian Giam-ong Ma Ek ketua Bu-cin-pai. Juga Lie Bu Tek Taihiap telah terluka hebat dan menjadi penderita cacad. Anak ini adalah murid termuda dari Hoa-san-pai, juga menjadi anak angkat dari Lie Bu Tek Taihiap. Dia ini bernama Wan Sin Hong, putera tunggal dari Wan Kan dan Ling In yang tewas oleh Ba Mau Hoatsu."

Kemudian Cun Eng menuturkan tentang pesanan Lie Bu Tek dan menutup penuturannya dengan suara memohon.

"Sam-wi Locianpwe, oleh karena keselamatan anak ini selalu terancam oleh pihak Im-yang-bu-pai, maka untuk memperkuat pesanan Lie Bu lek Taihiap, teecu mohon dengan hormat sudilah Sam-wi Locianpwe menaruh hati kasihan dan menolong anak ini. Hanya di tempat inilah Sin Hong dapat terhindar dari kekejaman Im-yang-bu-pai."

"Tidak bisa! Kami bukan pengasuh anak-anak!"

Bentak Luliang Ciangkun dengan suara keras sambil membuka lebar matanya.

"Dengan Im-yang-bu-pai kami tidak ada sangkut paut kami sudah mengasingkan diri dari dunia ramai!"

Kata Luliang Nungjin. Liuliang Siucai juga menyambung tenang.

"Kiang-pangcu, kami sudah mencuci tangan dari urusan dunia dan tidak mau terlibat dengan permusuhan dan urusan orang-orang kang-ouw. Menyesal sekali kami tak dapat menerima permintaan Hoa-san-pai atau permintaanmu."

"Sam-wi Locianpwe..., harap Sam-wi tolonglah! Im yang-bu-pai amat jahat dan menjagoi di dunia (Lanjut ke

Jilid 04) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 kang-ouw. Banyak yang sudah menjadi korban keganasan mereka, teecu tidak minta banyak, hanya minta perlindungan dan tempat bagi anak ini...."

"Sekali tidak bisa tetap tidak bisa!"

Luliang Ciangkun membentak marah..

"Kalian berdua pergilah!"

Kiang Cun Eng tak dapat menahan kekecewaan hatinya, sampai dua butir air mata menitik turun di atas pipinya.

Ia hendak memohon dan membantah lagi, akan tetapi tiba-tiba Sin Hong bangkit berdiri dan menarik bangun Kian Cun Eng sambil berkata keras.

"Pangcu, mengapa begini merendahkan diri seperti pengemis-pengemis kelaparan?"

Tidak saja Cun Eng yang terkejut, bahkan tiga orang kakek itu mengerling ke arah Sin Hong.

Anak itu berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar dan dua tangan terkepal, matanya tertuju ke arah tiga orang kakek itu dengan pandangan marah.

"Kiang-pangcu, Gihu telah menjatuhkan kepercayaan dan harapannya di tempat yang salah dan pada orang-orang yang bukan semestinya. Mencari perlindungan dari orang orang jahat harus datang pada orang-orang bijaksana dan gagah perkasa, bukan pada orang-orang jahat pula!"

Cun Eng menjadi pucat.

"Sst, Sin Hong, jangan kurang ajar!"

Luliang Ciangkun menggerakkan tangannya dan dalam sedetik saja leher baju Sin Hong sudah ia pegang dan anak itu kini tergantung pada tangan Panglima Luliang-San, seperti seekor kelinci dipegang pada kedua telinganya.

"Setan cilik, kau bilang apa? Kauanggap kami orang-orang jahat?"

"Locianpwe,"

Kata Sin Hong dengan suara sama sekali tidak takut.

"kalau kau membantingku sekali saja kau dapat membunuhku?"

"Tentu, setan cilik. Sekali banting kaupasti mampus!"

Kata Luliang Ciangkun marah.

"Nah, kalau terjadi demikian, bukankah kau jahat sekali? Seorang tua gagah menangkap dan membunuh anak kecil."

Mendengar ini, lemaslah tangan Luliang Ciangkun dan ia melepaskan Sin Hong.

"Bocah kurang ajar. Lekas kaukatakan mengapa kau anggap kami jahat. Tanpa alasan berarti kaulah yang jahat, menuduh orang sesuka hati."

"Tentu saja teecu mempunyai alasan yang kuat. Locianpwe tidak memandang persahabatan dengan Hoa-san-pai dan tidak mau membantu Kiang-pangcu yang memohon tolong, itu boleh dibilang belum jahat. Akan tetapi, Locianpwe bertiga tahu bahwa Im-yang-bu-pai jahat sekali, akan tetapi berpeluk tangan saja tidak mau membantu mereka yang tertindas. Ada pepatah kuno yang menyatakan bahwa orang yang tidak mau mencegah dilakukannya perbuatan jahat, orang yang melihat seorang penjahat tanpa turun tangan dan membiarkan saja berarti bahwa orang itu membantu penjahat dan dengan sendirinya menjadi penjahat juga. Teecu mendengar bahwa para pendekar perkasa di dunia kangouw siap mengorbankan nyawa sendiri untuk memberantas kejahatan dan menolong orang-orang yang menjadi korban kejahatan. Akan tetapi Sam-wi Locianpwe tinggal diam saja bahkan menolak permohonan tolong, tentu saja mendatangkan kesan bahwa Sam-wi juga jahat."

Tiga orang kakek itu saling pandang dengan alis terangkat. Mereka merasa "bohwat" (Tak berdaya membantah) terhadap kata-kata Sin Hong dan kemudian mereka tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, setan cilik ini lihai sekali lidahnya!"

Kata Luliang Ciangkun.

"Biarkan dia di sini membantu mencangkul sawah!"

Kata Luliang Nungjin.

"Tidak, kalau dia di sini, berarti kita akan mengundang keributan saja,"

Kata Luliang Siucai yang berpikiran lebih luas.

"biarlah ia tinggal di Jeng-in-thia di puncak, mengurus makam dan membersihkan pondok. Di sana takkan ada orang dapat melihatnya."

"Bagus, begitupun baik. Kita tak usah repot setiap hari membersihkan tempat itu. Biar dia menjadi bujang kecil!""

Kata Luliang Ciangkun dan Luliang Nungjin.

"Teecu mohon belajar silat dari Sam-wi Locianpwe!"

Sin Hong membantah.

"Untuk apa kalau hanya menjadi bujang? Teecu kelak akan menuntut balas, kalau tidak ada yang memberi pelajdran ilmu silat dan kelak tak dapat menuntut balas, lebih baik sekarang juga musuh-musuh teecu mendapatkan teecu agar tee-cu dapat mengadu nyawa. Apa artinya tinggal di tempat ini kalau tidak diberi pelajaran ilmu silat?"

Kiang Cun Eng merasa gelisah sekali menyaksikan kekebalan dan keberanian Sin Hong, akan tetapi Luliang Ciangkun sambil tertawa bergelak, kembali menangkap leher baju Sin Hong dan membawanya berlari seperti terbang menuju ke puncak.

"Belajar silat? Lihat dulu sampai di mana kemampuanmu!"

Kata Panglima dari Luliang-san ini.

"Pangcu, sekarang lebih baik kau lekas lekas pergi dari sini dan jangan kau memberi tahu kepada siapapun juga bahwa anak itu berada di sini,"

Kata Luliang Siucai.

Kiang Cun Eng berlutut dan menghaturkan terima kasihnya.

Akan tetapi ia teringat akan anak itu dan setelah melakukan perjalanan dengan Sin Hong, ia merasa sayang dan suka kepadanya.

"Locianpwe, anak itu mempunyai penasaran besar, maka teecu mohon kemurahan hati Sam-wi Locianpwe untuk memberi bimbingan kepadanya,"

Katanya.

"Bodoh!"

Luliang Nungjin membentak.

"Anak itu sudah berada di sini, kalau ia menjadi orang bodoh kelak, apakah kami tidak akan malu?"

Bukan main girangnya hati Cun Eng mendengar ini, ia menghaturkan terima kasihnya lagi, lalu cepat-cepat turun dari lereng Gunung Luliang-san.

Sin Hong adalah anak yang jujur, tabah dan mempunyai banyak sifat sifat baik.

Ia juga amat cerdik dan tahu bahwa biarpun tiga orang kakek Luliang-san itu wataknya aneh, namun mereka amat lihai dan memiliki kepandaian tinggi.

Oleh karena itu, setelah ia dibawa oleh Luliang Ciangkun ke Jeng-in-thia (Ruang awan hijau), ia tidak memperlihatkan sikap melawan lagi, bahkan tanpa diperintah lagi ia lalu bekerja, membersihkan ruangan yang berupa pondok sederhana itu.

Juga ia merasa amat hormat kepada dua buah makam tua yang berada di depan pondok.

Ia tidak tahu makam siapakah itu, akan tetapi ia merawat kedua makam itu, mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam dan menanam bunga-bunga yang indah.

Setelah membawa dia ke puncak, Luliang Ciangkun lalu meninggalkannya tanpa pesanan sesuatu.

Akan tetapi Sin Hong tidak merasa takut ditinggalkan seorang diri di puncak.

Biarpun ia tidak diberi makan dan tidak diberi tahu ke mana harus mencari makan, anak ini mempergunakan akalnya sendiri.

Ia mencari dan mendapatkan pohon-pohon berbuah di puncak itu dan ia dapat mencari makannya sendiri, sungguhpun hanya berupa buah-buahan belaka.

Setelah sepekan lebih tinggal di Jeng-in-thia, Sin Hong merasa heran dan juga girang sekali.

Entah mengapa, biarpun hanya makan buah-buahan.

la tidak merasa perutnya lapar dan perih, bahkan ia merasa tubuhnya sehat dan selalu segar.

Tentu saja ta tidak tahu bahwa pohon-pohon berbuah yang berada di puncak itu adalah tanaman dari mendiang Pak Kek Siansu yang menanam buah-buahan yang amat besar khasiatnya bagi kesehatan tubuh.

Juga hawa di puncak itu bersih serta baik sekali, maka anak ini merasa semangatnya terbangun dan tubuhnya tak pernah terasa lesu.

Saking gembira berada di tempat aman dan menyenangkan, Sin Hong setiap hari melatih ilmu silatnya yang empat tahun lamanya ia pelajari di Hoa-san.

Tidak lupa setiap pagi, sambil menghadapi cahaya matahari, ia bersilat di Jeng-in-thin, di atas tanah datar yang bersih dan sepenuhnya menerima cahaya matahari.

Di belakangnya menjulang tinggi batu karang, dan di sebelah kanannya terdapat jurang yang amat curam dan dalam.

Di sebelah kirinya terdapat dua makam yang berhadapan di belakang makam-makam itu adalah pondok bekas tempat tinggal Pak Kek Siansu yang kini ia jadikan tempat bermalam.

Kalau sudah berlatih silat, Sin Hong lupa waktu.

Baru ia berhenti setelah sinar matahari membakar kulitnya sehingga peluhnya memenuhi seluruh tubuh serta membuat pakaiannya basah semua.

Biasanya, sudah dekat tengah hari baru ia berhenti dan merasa lapar lalu makan buah-buah yang mudah didapat di puncak itu.

Oleh karena ini, Sin Hong tak pernah merasa sunyi dan bosan, bahkan ilmu silatnya dari Hoasan-pai maju pesat sekali.

Sebulan kemudian, pada suatu hari Sin Hong asyik bersilat di tempat biasa, yakni di pinggir jurang.

Matahari sudah naik tinggi sehingga bayangannya menjadi pendek.

Saking asyiknya ia tidak tahu bahwa sejak tadi tiga orang kakek Luliang-san tengah memandang ke arahnya dengan kagum.

Setelah Sin Hong berhenti bersilat dan duduk bersila sambil mengatur pernapasan sebagaimana diajarkan oleh mendiang Liang Gi Tojin kepadanya, barulah tiga orang kakek Luliangsan itu bertindak menghampirinya.

Melihat mereka, Sin Hong segera menjatuhkan diri berlutut.

"Sam-wi Locianpwe, banyak terima kasih teecu haturkan atas kebaikan budi Sam-wi membolehkan teecu tingggal di sini. Teecu merasa seperti tinggal di dalam sorga."

"Bocah gendeng, apakah kau pernah melihat sorga?"

Luliang Ciangkun mencela, akan tetapi kini kakek ini tidak marah lagi, bahkan matanya memandang dengan penuh rasa suka kepada Sin Hong.

Memang, tiga orang kakek itu merasa suka sekali kepada Sin Hong.

Hal ini tidak mengherankan karena tadi pagi-pagi benar mereka sengaja naik untuk melihat anak yang mereka perbolehkan tinggal di puncak sampai sebulan lamanya.

Hal pertama-tama yang menyambut mereka adalah pemandangan indah di sekitar pondok.

Apalagi di depan pondok di mana terdapat dua makam, terjadi perubahan istimewa.

Rumput-rumput liar dan alang-alang telah dilenyapkan dan sebagai gantinya, di situ tertanam bunga-bunga yang mulai mekar.

Juga batu-batu putih dikumpulkan dan diatur di sepanjang pingir lorong dan pondok ke makam sehingga merupakan jalan kecil yang amat manis dan indah.

Ketika mereka mendekat, makam-makam itu sendiri amat bersih dan terpelihara.

Demikian pula pondok kecil bekas tempat tinggal suhu mereka itu terawat baik-baik dan amat bersihnya.

"Hm, benar-benar tidak rugi membolehkan anak itu tinggal di sini,"

Kata Luliang Ciangkun.

"Bukan tidak rugi, malah menguntungkan. Memang anak itu tahu diri dan berbakat baik,"

Kata Luliang Nungjin.

"Akan tetapi di manakah dia? Mengapa tidak kelihatan? Di dalam pondok pun tidak ada,"

Kata Luliang Kemudian mereka mencari dan kemudian mereka melihat anak itu sedang berlatih silat di dekat jurang.

Diam-diam tiga orang kakek itu melihat dan memuji bahwa anak itu memang memiliki bakat yang amat baik.

Ilmu silat Hoa-san-pai yang dimainkan tidak ada yang tercela, bahkan gerakan-gerakannya mengandung dasar yang amat kuat.

"Hm, tidak percuma anak itu menerima latihan dari mendiang Liang Gi Tojin sendiri. Di antara murid-murid Hoasan-pai, boleh dibilang tidak ada yang sebaik dia bakatnya. Biarpun kembangan-kembangan ilmu silat Hoa-san-pai masih belum dikuasai sepenuhnya, akan tetapi gerakan kaki tangannya sudah mempunyai dasar yang amat kuat,"

Kata Luliang Ciangkun yang memang amat suka melihat tunas baik.

"Kalau diberi pelajaran, anak itu tentu dapat menerima dengan amat mudah dan baik,"

Kata Luliang Nungjin perlahan sambil menonton terus.

"Aku memang hendak memberi pelajaran satu dua ilmu pukulan padanya, hitung-hitung untuk upahnya merawat tempat ini,"

Kata Luliang Ciangkun gembira.

"Aaah... apakah kiranya dia ini yang berjodoh dengan Suhu?"

Kata Luliang Siucai perlahan. Dua orang saudara seperguruannya tertegun mendengar ini dan mereka saling pandang penuh arti.

"Siapa tahu...."

Kata Petani Luliang-san.

"Betapapun juga, biarkan Suhu sendiri memberi keputusan. Kalau memang ia berjodoh, seperti pesan Suhu, tentu ia akan bisa mendapatkan pusaka peninggalan Suhu."

Kata Luliang Ciangkun.

Tiga orang kakek ini menonton terus.

sampai anak itu berhenti berlatih kelelahan.

Diam-diam mereka kagum sekali melihat betapa anak itu berlatih dengan penuh ketekunan dari pagi sampai hampir tengah hari.

Jarang terdapat seorang anak kccil berlatih ilmu silat seorang diri tanpa ada yang memberi bimbingan dengan demikian rajin.

Apalagi kalau mendapat bimbingan guru pandai!

"Sin Hong, suka benarkah kau belajar ilmu silat?"

Tanya Luliang Ciangkun. Dengan wajah berseri girang Sin Hong yang masih berlutut mengangkat kepalanya.

"Tentu saja, locianpwe. Teecu akan belajar dengan giat dan rajin dan teecu berjanji kelak akan menjunjung tinggi semua perintah dan nasihat serta pelajaran Sam-wi Locianpwe dengan sumpah bahwa teecu akan mampus sebagai seorang rendah kalau teecu melanggarnya, asal saja Sam-wi Locianpwe sudi memberi bimbingan kepada teecu yang bodoh."

"Hm, hm, kau mudah sekali bersumpah dan berjanji. Akan tetapi, tidak apa, kaulah sendiri yang bersumpah, bukan kami yang minta. Memang kami bermaksud memberi pelajaran kepadamu, karena kau sudah berada di sini."

"Samwi Suhu yang mulia, teecu memberi hormat!"

Kata Sin Hong sambil berlutut dan mengangguk-angguk delapan kali sebagai tanda pengangkatan guru.

"Eh, eh, nanti dulu. Kau boleh belajar ilmu silat, akan tetapi kau harus menganggap kami sebagai saudara-saudara seperguruan!"

Kata Luliang Ciangkun. Sin Hong mengangkat muka memandang heran. Luliang Siucai memberi penjelasan,.

"Jangan kau heran atas ucapan Suheng tadi, Sin Hong. Ketahuilah bahwa kami bertiga memang tidak berhak mengangkat murid. Hanya mendiang Suhu yang berhak mengambil murid, kami tidak! Oleh karena kau sudah berada di sini dan merawat makam Suhu, kau boleh dianggap sebagai murid Luliang-san dan berhak pula mempelajari dasar ilmu silat kami. Akan tetapi, kau boleh menganggap sebagai murid bungsu dari mendiang Suhu Pak Kek Siansu, sedangkan kami hanya Suheng-suhengmu yang memberi bimbingan mewakili Suhu yang sudah tidak ada lagi. Nah, kalau hendak berjanji, berjanjilah di depan makam Suhu."

Sin Hong melirik ke arah dua makam di depan pondok.

"Yang manakah makam Suhu? Dan makam yang satu lagi, makam siapakah?"

Luliang Siucai menarik napas panjang.

"Kau agaknya memang berjodoh untuk tinggal di sini dan mengetahui semua. Ketahuilah, yang berada di sebelah kanan itu adalah makam Suhu Pak Kek Siansu, adapun yang di sebelah kiri adalah makam Pak Hong Siansu, yakni Susiok (Paman Guru) kita. Suhu dan Susiok saling serang dan saling bunuh di tempat ini."

Kemudian dengan singkat Luliang Siucai menceritakan peristiwa yang dahulu terjadi (Baca Pendekar Budiman) yakni tentang Pak Hong Siansu yang menyerbu ke Luliang-san dan bertemu dengan Pak Kek Siansu sehingga keduanya mengalami kebinasaan.

"Susiok telah menempuh jalan sesat. Suhu takkan dapat dikalahkannya kalau saja Susiok tidak berlaku curang. Dan sampai sekarang, dari pihak Susiok masih saja terdapat ancaman, yakni muridnya yang bernama Giok Seng Cu. Tahukah kau siapa Giok Seng Cu? Bukan lain adalah ketua dari Im-yang-bu-pai yang sekarang, yang sudah menghancurkan Hoa-san-pai."

Pucat wajah Sin Hong mendengar Kalau begitu, musuh besarnya yang membunuh Liang Gi Toon adalah anak buah dari Giok Seng Cu yang menurut hubungan sekarang masih terhitung saudara seperguruan dengan dia!

"Giok Seng Cu yang kini menjadi ketua Im-yang-bu-pai amat lihai, karena dia telah mewarisi kepandaian Susiok Pak Hong Siansu.

Akan tetapi biarpun ia tersesat seperti gurunya, kita harus memandang muka Suhu dan jangan bermusuhan dengan dia.

Oleh karena itulah kami juga tidak mau turun gunung untuk memperbesar permusuhan yang mula-mula terjadi antara Suhu dan Susiok.

Amat tidak pantas permusuhan antara keluarga sendiri diperbesar,"

Kata Luliang Siu-cai.

"Teecu dapat inengerti ucapan dan pendirian Sam-wi Suhu. Teecu berjanji akan mentaati dan takkan mencari permusuhan dengan Im-yang-bu-pai, kecuali kalau mereka yang mulai terlebih dahulu. Adapun tentang sakit hati Hoa-sanpai, hanya akan teecu balas kepada mereka yang bersangkutan, yakni Than te Siang-tung Kwa Siang dan Siang-mo-Thian Lai Tek, juga Siang-pian Giam-ong Ma Ek,"

Kata Sin Hong.

Mendengar kata-kata ini, tiga orang kakek itu menjadi girang sekali.

Tak mereka duga bahwa biarpun masih kecil, Sin Hong ternyata memiliki pemandangan luas dan pertimbangan yang matang.

Demikianlah, sejak hari itu, Sin Hong menerima latihan dan gemblengan ilmu silat dari Luliang Sam-lojin.

Dasar anak ini memiliki kecerdikan otak yang luar biasa, maka biarpun ia menerima latihan dan tiga orang, akan tetapi karena tiga orang ini memang memiliki kepandaian dan sumber yang sama, ia dapat menerima dengan baik.

Dasar ilmu silat Luliang-san yang diciptakan oleh Pak Kek Siansu telah dipelajarinya dan dengan amat girang anak ini mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang baru ini jauh lebih hebat deripada ilmu silat Hoa-sanpai yang pernah dipelajarinya.

Kini kerajinannya makin menghebat.

Tidak hanya di waktu pagi ia berlatih, bahkan setiap saat kalau ia sudah selesai mengerjakan tugasnya merawat tempat itu, ia berlatih ilmu silat.

Tidak jarang di waktu malam gelap ia berlatih ilmu silat seorang diri.

Tiga orang kakek itu secara bergiliran naik ke puncak dan setelah memberi petunjuk serta melihat anak itu berlatih, mereka turun lagi.

Tidak pernah mereka bermalam di puncak dan meninggalkan anak itu berlatih seorang diri.

Setahun berjalan dengan amat cepatnya dan kini kepandaian Sin Hong sudah maju pesat.

Selain dasar-dasar ilmu silat tinggi dari Luliang-san, juga Sin Hong dalam waktu setahun itu menerima pelajaran istimewa dari ketiga suhengnya.

Dari Luliang Nungjin ia menerima latihan ilmu menimpuk dengan "senjata rahasia"

Yang aneh, yakni tanah lempung yang menempel di kakinya, sudah cukup tangguh untuk menghadapi lawannya.

Biarpun hanya tanah lempung, akan tetapi kalau sudah ia pergunakan sebagai senjata rahasia, kehebatannya sama dengan pelor besi.

Sin Hong melatih diri dengan ilmu menimpuk ini dan karena tenaga lwekangnya memang belum hebat, tentu saja ia tidak dapat meniru Luliang Nungjin yang mampu menembus kulit dan daging lawan dengan tanah lempungnya!

Sin Hong sebaliknya melatih diri menimpuk dengan jitu ke arah jalan darah-jalan darah dari tubuh lawan sehingga biarpun "pelor lumpur"

Di tangannya takkan menembusi kulit lawan, namun dapat dipergunakan untuk menimpuk jalan darah"

Dari Luliang Ciangkun, ta menerima latihan ilmu silat pedang dan untuk latihan ini, Sin Hong mempergunakan sebaang ranting pohon sebagaimana disuruh oleh suhengnya itu.

Ia mempelajari Ilmu Pedang Soan Hong-kiam hoat (Ilmu Pedang angin Puyuh) dan kini mengertilah Sin long mengapa Panglima Gunung Luliang demikian hebat kalau main pedang karena pedangnya itu mengeluarkan angin berputar-putar yang dahsyat sekali.

Ia ahu bahwa kalau ia sudah mahir mengatur tenaga lweekang dan gwakang (halus dan kasar), ia pun akan dapat main pedang sehebat suhengnya.

Sebaliknya, Luliang Siucai memberi pelajaran ilmu silat yang berdasarkan huuf-huruf tulisan indah!

Biarpun pelajaran ini kelihatannya lucu namun justeru pelajaran inilah yang akan membuat Sin Hong cepat maju.

Sasterawan Gunung Luliang itu memberi tahu bahwa gerakan ilmu silat mempunyai keselarasan dengan gerakan menulis huruf.

Sebagai contohnya sasterawan tua ini dengan ke dua tangannya menuliskan huruf-huruf pertama dari ayat kitab Tiong Yong (Sebuah di antara Empat pelajaran dari Nabi Khong Hu Cu).

Thian Beng Ci Wi Seng Siu Seng Ci Wi To Siu To Ci Wi Kouw Dalam gerakan menuliskan huruf-huruf ini yang dilakukan amat indah, kaki tangan Luliang Siucai teratur rapi sehingga merupakan gerakan ilmu silat yang luar biasa.

Coretan-coretan diganti dengan pukulan atau tangkisan, coretan pertama dilakukan dengan tangan kiri sedangkan coretan berikutnya dengan tangan kanan.

Kedudukan kaki disesuaikan dengan huruf yang sedang ditulisnya.

Misalnya menulis huruf pertama yang berbunyi "Thian", kuda-kuda kaki dipentang, tubuh tegak tangan kiri melakukan pukulan rata dengan kepala sedangkan tangan kanan menyusul pukulan sebatas pundak.

Demikian pula dengan gerakan selanjutnya, menurutkan sifat coretan dari huruf yang dituliskan dengan gerakan silat.

Pelajaran ini amat menarik hati Sin Hong, karena di waktu dahulu ia memang pernah mempelajari dan membaca kitab Tiong Yong.

Oleh karena ia sudah hafal akan bunyi ayat-ayat di dalam kitab Tiong Yong, maka lebih mudah baginya untuk mempelajari ilmu pukulan ini.

Teringat akan coretan hurufnya saja memudahkan dia untuk mengingat gerakan silatnya.

Ia pun tahu akan maksud ayat pertama tadi yang artinya kurang lebih seperti berikut, Karunia Tuhan adalah Watak Aseli.

Selaras dengan Watak Aseli disebut Jalan Kebenaran Mencari Jalan Kebenaran disebut Pelajaran.

Anak yang amat cerdik ini setelah menerima pelajaran ilmu silat berdasarkan huruf-huruf indah ini, diam-diam mengerti bahwa kalau ia sudah mahir dalam ilmu silat tinggi, tentu ia dapat menggubah ilmu silat sendiri berdasarkan huruf-huruf lain.

Tentu saja ia harus mencari ayat atau sajak yang kiranya takkan dikenal oleh orang lain, karena kalau sekali saja lawan mengenaI barisan sajak atau huruf-huruf yang dimainkan sebagai ilmu tentu gerakan-gerakannya sudah diketahui lebih dulu oleh lawan!

Tiga orang kakek Luliangsan itu, ketika melihat betapa cerdik dan luar biasa adanya "sute"

Mereka, diam-diam merasa makin kagum dan girang sekali.

Mereka hampir yakin bahwa inilah orang atau anak yang dimaksudkan oleh suhu mereka dalam pesanannya, agaknya anak inilah yang patut menerima warisan ilmu silat dan pedang dan Pak Kek Siansu.

Akan tetapi, sesuai dengan pesanan suhu mereka, mereka tidak berani membuka rahasia.

Hanya mereka telah memberi jalan kepada Sin Hong, yakni dengan memberi tahu kepada anak itu bahwa anak itu kini boleh mencari tahu keadaan di puncak, boleh melihat dan membuka apa saja, bahkan kalau anak itu mendapatkan sesuatu, yang didapatkan itu boleh menjadi milik dan haknya.

Tentu saja biarpun amat cerdik, Sin Hong sama sekali tak pernah menduga bahwa tiga orang "suheng"

Itu menyindirkan sesuatu.

Anak ini sudah merasa amat puas karena dapat belajar ilmu silat tinggi, hanya satu hal yang membuat hatinya penasaran, yakni tentang Inti Ilmu SIlat Pak-kek Sin-ciang.

Menurut tiga orang suhengnya, ilmu silat ini turunan dari Pak Kek Siansu.

Akan tetapi, tiga orang kakek itu hanya baru mempelajari tiga bagian saja dan Pak-kek-Sin-ciang, bahkan menurut mereka Hwa I Enghiong Go Ciang Le yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka pun baru menerima enam bagian saja dari Pak-kek Sin-ciang!

"Bagaimana siauwte dapat mempelajari Pak kek Sin-ciang?"

Tanya Sin Hong. Tiga orang suhengnya saling pandang.

"Kiranya hanya Sute Go Ciang Le yang dapat mengajarkannya kepadamu,"

Kata Luliang Siucai.

"Akan tetapi Suheng Go Ciang Le hanya memiliki enam bagian. Bagaimana caranya kalau siauwte ingin mempelajari Pak -kek Sin-ciang sampai sempurna dan lengkap?"

Mendesak anak itu.

Luliang Siucal menarik napas panjang.

Ia maklum bahwa untuk dapat mempelajari ilmu itu selengkapnya, harus mendapatkan kitab yang disembunyikan dan dirahasiakan oleh suhunya, pula dengan bantuan kitab itu pun belum tentu orang dapat mempelajari selengkapnya karena Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang bukan sembarang ilmu.

Amat sukar dan membutuhkan ketekunan luar biasa.

"Hanya mendiang Suhu yang mempunyai ilmu itu selengkapnya. Pada masa ini tidak ada seorang pun di dunia yang dapat memainkan Pak-kek Sin-ciang,"

Kata Luliang Siucay.

"Suheng, kalau begitu, selain mendiang Suhu, apakah tidak ada orang lain yang lihai sekali seperti Suhu kepandaiannya?"

Tanya Sin Hong. Luliang Ciangkun tertawa, demikian Luliang Nungjin dan Luliang Siucay.

"Jangan melantur!"

Kata Panglima Luliang san.

"Gunung Thai-san yang tersohor tinggi pun, tak berani menganggap diri sendiri paling karena di atasnya masih ada awan. Di atas awan masih ada bulan, di atas bulan masih ada matahari dan bintang. Tentu saja ada banyak sekali orang-orang lihai yang kepandaiannya setingkat dengan Suhu akan tetapi karena kami sudah lama tidak turun gunung, kami tidak tahu lagi si-apakah jago-jago ternama di waktu ini."

"Menurut pendapatku, kiranya tidak ada lagi locianpwe yang kepandaiannya setingkat dengan Suhu,"

Kata Luliang Siucay.

"kalau pun ada, tentu dia sudah tua atau sudah mati. Di antara jago-jago sekarang, kiranya sukar mencari tandingan seperti Sute Go Ciang Le."

Sin Hong menjadi makin kagum.

Kalau Suhengnya, Go Ciang Le yang baru mempelajari enam bagian dari Pak-kek Sin-ciang sudah dapat menjagoi dunia, apalagi kalau sudah mempelajari ilmu silat itu sepenuhnya!

"Bagaimana dengan kepandaian Ba Mau Hoatsu?"

Tanyanya tiba-tiba. Luliang Siucai mengerutkan alisnya.

"Hm, kau teringat akan musuh besarmu? Kepandaian Ba Mau Hoatsu amat tinggi, kiranya tidak kalah oleh kepandaian Giok Sang Cu ketua Im-yang-bu-pai. Akan tetapi dibandingkan dengan kepandaian Go sute, ia tentu masih kalah."

"Bicara tentang Go-sute, mengapa sudah tiga tahun lebih dia tidak datang ke Luliang-san?"

Tanya Luliang Nungjin dengan suara kecewa dan menyesal.

Tiba-tiba terdengar suara keras sekali dan sekaligus percakapan itu berhenti.

Semua orang memasang telinga baik-baik.

Suara itu terulang lagi dan kini terdengar lapat-lapat suara orang berteriak.

"Luliang Sam-lojin...! Keluarlah menemui kami...!"

"Ada orang naik Luliang-san!"

Pang-lima Luliang-san berkata sambil mengerutkan ails.

"Sin Hong, kau jangan pergi ke mana-mana. Kiranya bukan orang baik yang berani naik ke sini!"

Ia lalu berkelebat dan lenyap dan diikuti oleh dua orang sutenya yang turun dari puncak sambil mengerahkan ilmu lari cepat mereka.

Sin Hong berdiri dengan bengong, hatinya berdebar.

Siapakah mereka yang datang ke gunung ini?

Ia merasa menyesal sekali bahwa kepandaiannya masih jauh daripada sempurna, sehingga ia tidak dapat membantu tiga orang suhengnya untuk bersiap sedia, kalau-kalau yang datang adalah pihak musuh.

Luliang Sam-lojin yang herlari cepat, seperti terbang menuruni puncak Jeng-in-thia, sudah maklum bahwa yang datang adalah orang berkepandaian tinggi.

Baru suara yang dapat dikirim dari lereng sampai terdengar ke puncak itu saja sudah menyatakan betapa tingginya Ilmu Coan im-jip-bit (Mengirim Suara dari Tempat Jauh) dari orang itu.

"Ji-sute dan Sam-sute, hati-hatilah. Kurasa kedatangan mereka bukan mengandung maksud baik,"

Kata Luliang Ciangkun. Ketika mereka telah tiba di lereng, mereka melihat dua orang kakek berdiri tegak.

"Hm, sudah kuduga, tentu dia yang datang,"

Kata Luliang Ciangkun perlahan.

"Benar, Giok Seng Cu datang tentu tak mengandung maksud baik. Apalagi dia datang dengan Ba Mau Hoatsu!"

Kata Luliang Siucai.

"Celaka,"

Kata Luliang Nungjin.

"Jangan-jangan Ba Mau Hoatsu sudah tahu bahwa putera Wanyen Kan berada di sini."

"Kita harus membelanya mata-matian!"

Kata Luliang Ciangkun yang sudah merasa sayang sekali kepada Sin Hong.

Dua orang sutenya menyatakan setuju.

Mereka kini telah berhadapan dengan dua orang kakek itu yang bukan lain adalah Giok Seng Cu ketua Im-yang-bu-pai dan Ba Mau Hoatsu seorang hwesio tinggi besar, tokoh Tibet yang kenamaan.

Karena tidak ada hubungan sesuatu dengan Ba Mau Hoatsu, ketiga Luliang Sam lojin tidak memperdulikannya akan tetapi Luliang Ciangkun menegur Giok Seng Cu yang bagaimanapun juga masih sutenya sendiri, yakni murid dari Pak Hong Siansu, paman gurunya.

"Giok Seng Cu sute, tidak sari-sarinya kau datang ke Luliang-san, tidak tahu ada keperluan apakah?"

Sambil berkata demikian Luliang Ciangkun dan dua orang saudaranya memandang kepada Giok Seng Cu dengan penuh keheranan.

Alangkah besar perubatan pada diri murid Pak Hong Siansu ini setelah menjadi ketua lm-yang-bu-pai.

Wajahnya jadi amat menyeramkan dengan rambutnya yang panjang, seperti seorang iblis saja.

Giok Seng Cu tertawa bergelak dan dari suara ketawa ini timbul getaran yang hebat, tanda bahwa kakek ketua lm-yang -bu-pai ini sekarang telah memiliki khikang yang jauh lebih tinggi daripada dahulu.

"Ha, ha, ha! Luliang Sam-lojin, apa-apaan kau menyebutku Sute? Gurumu dan Guruku sudah bermusuhan, tidak ada alasannya mengapa kita masih ada ikatan saudara seperguruan lagi."

Luliang Ciangkun mendongkol sekali, akan tetapi ia menahan sabar.

"Baiklah, sesukamu Giok Seng Cu. Akan tetapi ketahuilah bahwa biarpun dari pihakmu ada perasaan bermusuh, dari pihak kami tidak ada perasaan seburuk itu. Sekarang katakan, apakah maksud kedatanganmu dan mengapa pula Ba Mau Hoatsu ikut datang ke tempat ini? Kami sudah lama mencuci tangan dan tidak mau berhubungan dengan dunia ramai, oleh karena itu kami harap kalian suka pergi dan jangan mengganggu kami lagi."

Ba Mau Hoatsu mengeluarkan suara di hidung bernada mengejek sekali.

"Aha, benar-benar Luliang Sam-lojin bukan merupakan tuan rumah yang ramah tamah,", katanya menyindir. Adapun Giok Seng Cu yang mendengar pengusiran ini, menjadi marah dan sepasang matanya yang lebar itu menjadi makin melotot.

"Luliang Ciangkun, omongan apakah yang kau keluarkan itu? Aku sengaja datang untuk menengok makam Guruku, apakah engkau berani melarangku?"

Kata kata ini disusul oleh suara ketawa mengejek dari Ba Mau Hoatsu sedangkan Luliang Sam-lojin itu saling pandang dengan tak berdaya.

Alasan yang diambil oleh Glok Seng Cu memang tepat dan mereka bertiga merasa tidak enak hati untuk melarang orang ini naik ke puncak menengok makam suhunya yang memang berada di dalam ruang puncak Jeng-in-thia.

Pada saat itu, terdengar suara orang berkata dari bawah.

"Aha, di atas sudah ramai kiranya""

Semua orang memandang dan ketiga Luliang Sam-lojin tertegun ketika mereka melihat tiga orang kakek berlari naik dengan kecepatan seperti terhang saja.

Setelah tiga orang itu dekat mereka mengenal bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan ciang-bu-jin (ketua) dari partai-partai besar.

Orang pertama adalah seorang tosu berjenggot panjang yang tubuhnya tinggi kurus dan dia ini bukan lain adalah Bu Kek Siansu ketua dari Bu-tong-pai.

Orang ke dua adalah seorang hwesio gundul, yakni Kian Hok Taisu ketua dari Go-bi-pai, sedangkan orang ke tiga adalah tosu jenggot pendek bertubuh gemuk yang terkenal sebagai ketua Teng-san-pai bernama Pang Soan rojin.

Luliang Sam-lojin benar-benar kaget sekali mehhat kedatangan tiga orang ketua partai-partai besar karena mereka tahu bahwa mereka adalah ketua-ketua partai yang berkepandaian tinggi dan yang jarang sekali mau meninggalkan gunung apabila tidak menghadapi urusan besar.

Ada keperluan apakah gerangan maka tokoh-tokoh besar dunia persilatan itu turun dari pertapaan dan datang ke Luliang-san?

Juga wajah Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu berubah ketika mereka lihat orang-orang yang baru datang.

Juga mereka ini masih belum tahu apakah gerangan maksud kedatangan tiga orang ketua partai persilatan yang kepandaiannya tak boleh dipandang ringan ini.

"Luliang Sam-lojin, kebetulan sekali Sam-wi berada di sini. Semoga semua sehat-sehat saja selama ini,"

Kata Bu Kek Siansu sambil menjura, diikuti oleh dua orang yang lain. Tiga orang kakek Luliang-san itu membalas penghormatan mereka, lalu Luliang Ciangkun bcrtanya.

"Sungguh kunjungan dari tamu-tamu agung yang tak terduga dulu oleh kami. Para ciangbujin dan Bu-tong, Gobi, dan Teng-san datang memberi penghormatan yang besar, tidak tahu apakah yang dapat kami lakukan untuk Sam wi yang terhormat"

Bu Kek Siansu dengan muka merah menjawab gagap, pinto (aku)... pinto hanya ingin melihat dan menikmati keindahan puncak Luliang-san yang tersohor!"

"Pinceng (Aku)... ingin menyaksikan makam dari Pak Kek Siansu yang mulia,"

Kata Kian Hok Taisu ketua Go-bi-pai dan seperti juga Bu Kek Siansu, jawabannya ragu-ragu dan gugup serta mukanya merah.

Ketiga kakek Luliang-san yang benar-benar tidak dapat menduga apakah gerangan maksud kedatangan mereka semua, menjadi main heran dan mereka kini memandang kepada orang ke tiga, yakni Pang Soon Tojin, mengharapkan jawaban yang lebih terus terang dan jujur.

Pendeta ketua Teng-san-pai ini terkenal sebagai seorang kasar yang jujur sekali, akan tetapi pada saat itu ia pun agaknya merasa ragu-ragu untuk berterus terang, maka jawabnya.

"Maksud kedatangan pinto". hemm, agaknya tidak jauh bedanya dengan maksud kedatangan ketua lm-yang bu-pai!"

Sambil berkata demikian, ia memandang kepada Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu. Giok Seng Cu menjadi marah.

"Kau... pemakan rumput dan Teng-san-pai, apakah hubungan Im yang-bu-pai dengan Teng-san-pai? Aku datang untuk menengok makan guruku, tak seorang pun di dunia ini boleh melarangku! Akan tetapi kau... tentu mempunyai maksud tertentu yang tidak baik"

Setelah berkata demikian, Giok Seng Cu lalu berlari cepat menuju ke puncak gunung. Luliang Sam lojin saling pandang dan Luliang Ciangkun menghela napas.

"Dia berkata benar. Kami tak dapat melararig seorang murid mengunjungi makam Suhunya. Akan tetapi untuk orang lain, menyesal sekali kami tidak membolehkan naik ke puncak. Harap Cuwi suka kembali saja dan membatalkan niat Cuwi mengganggu ketentraman Puncak Luliangsan."

Sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba dari bawah naik pula serombongan orang dan mereka ini ternyata adalah tokoh-tokoh dan Siauw-lim, Khongtong-pai, Thian-san-pai, dan Kun lun-pai!

Bahkan ada pula beberapa orang gagah dan dunia kung-ouw seakan-akan mereka naik ke Luliang san untuk memenuhi undangan pesta"

Melihat mereka tiba-tiba Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak sampai perutnya yang gendut itu tergoyang-goyang.

"Ha, ha, ha, Luliang Sam-lojin. Karena semua orang sudah datang lebih baik aku terus terang saja. Aku yakin bahwa mereka semua ini naik untuk mencari pusaka peninggalan Pak Kek Siansu, yakni pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam, kitab rahasia Pak-kek Sin-ciang!"

Tiga orang murid Pak Kek Siansu berubah air mukanya.

Bagaimana rahasia ini dapat bocor dan diketahui orang-orang gagah di dunia?

Kemudian mereka teringat kepada Giok Seng Cu.

Ah, tentu Giok Seng Cu telah mendengar dari Pak Hong Siansu dan orang itu secara sembrono telah membuka mulut sehingga semua orang mengetahuinya dan kini, mereka berbondong-bondong datang untuk mencari pusaka itu.

Luliang Ciangkun dan dua orang sutenya maklum pusaka itu memang tak ternilai harganya bagi ahli silat.

Siapa yang memilikinya akan menjagoi di dunia kang-ouw!

"Bohong belaka berita itu!"

Kata Luliang Ciangkun.

"Tidak ada apa-apa di sini dan terus terang saja, kami sendiri pun tidak tahu apakah betul-betul ada -pusaka itu. Kalaupun ada, bukan diperuntukkan seorang di antara Cuwi, bahkan kami sendiri tidak melihatnya."

"Berani kau bersumpah bahwa pusaka itu tidak berada di tanganmu?"

Tanya seorang pendatang baru, murid Kun-lunpai. Luliang Ciangkun memandangnya dengan mata mendelik.

"Aku tidak biasa bersumpah, juga tidak biasa membohong"

Mungkin Suhu meninggalkan pusaka, akan tetapi bukan untuk kami, juga bukan kau atau siapa saja"

Pendeknya, kami melarang siapapun juga naik ke puncak mengotorkan tempat peristirahatan Suhu"

Sambil berkata demikian, Luliang Ciangkun menghunus pedangnya, Luliang Nungjin siap dengan paculnya dan Luliang Siucai telah mengeluarkan senjatanya yang berupa alat tulis (pit).

Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak ia telah mememegang sepasang senjata roda yang menyeramkan.

Pendeta murtad ini memang lihai sekali dengan senjata rodanya itu dan ia berkata.

"Cuwi sekalian. Sudah terang bahwa Pak Kek Siansu meninggalkan pusaka, dan kalau pusaka itu tidak diwariskan kepada Luliang Sam-lojin, berarti bahwa siapa pun yang mendapatkan pusaka itu berarti menjadi ahli warisnya pula. Oleh karena itu, sudah menjadi hak kita untuk mencari pusaka itu, untuk melihat siapa yang berjodoh. Tentang Luliang Samlojin, bagaimana mereka bisa melarang kita kalau aku sudah mengeluarkan senjataku? Ha, ha, ha!"

Suara ketawa dari Ba Mau Hoatsu terdengar sampai jauh dan menyakitkan anak telinga.

Tiba-tiba suara ini dijawab oleh suara lain, suara yang nyaring dan keras sekali, yang mengatasi suara ketawa Ba Mau Hoatsu.

Semua orang memandang ke atas karena suara itu datang dan atas.

Tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat luar biasa, terbang di atas kepala mereka.

Itulah seekor burung raksasa, seekor rajawali emas (kim-tauw) yang indah dan kuat.

Tanpa menoleh ke bawah, sambil mengeluarkan pekik yang keras tadi, burung itu meluncur cepat menuju ke puncak Luliang-san!

Orang-orang yang berada di situ tidak mengenaI burung ini, akan tetapi Ba Mau Hoatsu berubah air mukanya.

"Celaka kalau dia datang juga, habis harapan kita","

Tanpa terasa dia berkata perlahan.

"Siapakah yang kau maksudkan, Ba Mau?"

Kian Wi Taisu dari Go-bi-pai bertanya.

"Kim-tiauw itu adalah binatang peliharaan See-thian Tok-ong...."

Jawab Ba Mau Hoatsu dan suaranya agak gemetar.

Semua orang terkejut sekali.

Biarpun nama See-thian Tok-ong (Raja Racun dari Dunia Barat) baru beberapa tahun muncul di dunia kang-ouw, namun setiap orang sudah mendengarnya.

Tokoh besar ini datang dari barat dan kini tinggal di Tibet.

Pengaruhnya luar biasa besarnya sehingga sekarang pun dapat dilihat betapa Ba Mau Hoatsu yang datang dari Tibet pula kelihatan jerih melihat burung kim-tiauw itu.

Kalau seorang tokoh seperti Ba Mau Hoatsu sampai takut, apalagi yang lain!

"Pinto pernah mendengar bahwa See-Thian Tok-ong Locianpwe kalau bepergian menunggang kim-tiauw.

Akan tetapi burung tadi tidak ditunggangi orang,"

Kata Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai hati-hati.

"Mungkin akan datang belakangan...."

Kata Ba Mau Hoatsu perlahan. Tiba tiba di antara para pendatang yang berdiri paling belakang, tersentak kaget dan melompat menjauhkan diri dari jalan kecil yang membawa mereka ke lereng itu.

"Ular... ular berbisa...!"

Ceriak mereka.

Serentak mereka mencabut senjata untuk membinasakan ular-ular itu.

Serombongan ular yang banyaknya tidak kurang dari tiga puluh ekor merayap naik dengan cepat luar biasa.

Ular-ular itu macam-macam warna kulitnya, ada yang merah, loreng-loreng hitam putih, kuning, dan lain-lain.

Akan tetapi semuanya kecil-kecil, tidak lebih satu setengah kaki panjangnya.

Biarpun demikian, uap kehitaman yang tersembur keluar dari mulut mereka menandakan bahwa ular-ular ini adalah ular-ular berbisa yang amat berbahaya.

Ular-ular itu melihat banyak orang, tidak menjadi takut, bahkan lalu bergerak siap-siap hendak menyerang.

Kepala mereka diangkat tinggi dari tanah dan sikap mereka seperti hendak menyerbu.

"Jangan turun tangan...!"

Tiba-tiba Ba Mau Hoatsu berseru dan mukanya menjadi pucat. Semua orang terkejut dan memandang kepada hwesio Tibet ini dengan heran.

"Ban-beng Sintong putera dari See-thian Tok-ong telah datang..."

Kata pula Ba Mau Hoatsu.

Sebelum semua orang tahu siapa adanya Ban-beng Sin-tong (Bocah Sakti Bernyawa Selaksa) Ba Mau Hoatsu sudah menghadap ke bawah dari mana ular-ular itu merayap naik samba berkata.

"Ban-beng Sin-tong, sejak kapan menyusul ke sini?"

Hening sesaat dan ular-ular itu seperti patung, tidak bergerak.

Semua orang memandang dengan hati berdebar.

Pemandangan ini memang amat menyeramkan.

Tak lama kemudian terdengar suara ketawa anak kecil, disusul dengan teguran.

"Paman Ba Mau ternyata telah tiba di sini!"

Kata-kata ini disusul dengan suara mendesis yang aneh.

Lebih aneh lagi, setelah ular-ular itu mendengar suara mendesis, lalu mereka bergerak dan berkumpul menjadi satu, melingkarkan tubuh dan tidak bergerak.

Lalu muncullah seorang anak tanggung yang berkepala gundul.

Anak ini usianya ada lima belas tahun,.

akan tetapi tubuhnya pendek seperti orang yang sudah matang pikirannya, mulutnya tersenyum mengejek.

Melihat kepala yang gundul, orang akan mengira dia seorang hwesio kecil.

Dengan tindakan perlahan lahan melewati kumpulan ular tadi dan menghadapi Ba Mau Hoatsu.

"Paman Ba Mau, aku mewakili Ayah untuk menyampaikan pesannya yang ditujukan kepadamu atau kepada siapa saja yang berada di Luliang-san,"

Katanya tanpa memperdulikan sekian banyaknya tokoh kang-ouw yang berada di situ.

"Apakah pesannya?"

Tanya Ba Mau Hoatsu dengan suara merendah.

"Ayah pesan bahwa siapa saja yang mendapatkan pedang atau kitab, harus diserahkan kepadaku untuk kubawa pulang ke barat."

Kata-kata yang sederhana ini membuat para tokoh kang-ouw yang berada di situ menjadi merah mukanya.

Mereka amat marah mendengar kesombongan luar biasa ini.

Apalagi kalau dilihat bahwa yang mengeluarkan kata-kata itu hanya seorang bocah gundul yang berusia belasan tahun.

Biarpun See-thian Tok-ong terkenal sekali, namun di antara mereka kecuali Ba Mau Hoatsu, belum ada yang membuktikan sendiri, bahkan bertemu dengan orangnya pun belum.

Kalau saja See thian Tok-ong sendiri yang datang dan bersikap sesombong itu belum tentu mereka mau menurut, apalagi sekarang yang datang hanya seorang anak kecil yang sombong?

Seorang kakek dari Khong-tong-pai yang bernama Ciu Kak, berjuluk Sin-ciang (Tangan Sakti), melompat maju dan membentak.

"Kau ini badut cilik dari mana mau menjual lelucon di sini? Pergilah, siapa takut ular-ularmu."

"Jangan kurang ajar...!"

Ba Mau Hoatsu membentak marah dan hendak menampar kakek itu, akan tetapi bocah gundul itu tersenyum dan mengangkat tangannya mencegah Ba Mau Hoatsu membelanya.

Dengan senyum sindir ia menghadapi Ciu Kak dan bertanya.

"Kau betul-betul tidak takut kepada ular-ularku? Berani kauperlihatkan bahwa kau tidak takut?"

Ciu Kak adalah seorang tokoh Khongtong-pai yang sudah memiliki kepandaian tinggi, selain ilmu silatnya yang tinggi juga ia terkenal pandai mempergunakan senjata rahasia piauw.

"Mau bukti? Lihat kubunuh seekor ularmu!"

Katanya dan ketika tangan kanannya bergerak, berkelebatlah sebatang piauw, meluncur ke arah ular-ular yang masih melingkar dan tidak bergerak di atas tanah!

Akan tetapi, berbareng dengan suara mendesis yang keluar dari mulut Ban-beng Sin-tong, serentak ular-ular itu bergerak.

Ular yang terserang piauw, tiba-tiba melejit dan dengan cepat luar biasa dapat mengelak dari serangan piauw yang kini menancap dan amblas di dalam tanah.

Kemudian ular itu bergegerak dan...

bukan main hebatnya.

Ular berwarna kehitaman yang kecil itu melakukan gerakan menyambar, melompat seakan-akan terbang dan bagaikan sebatang anak panah ia menuju ke arah leher Ciu Kak.

Tokoh Khong-tong-pai ini sudah tinggi kepandaiannya maka biarpun amat terkejut, ia mengelak dan tangan kirinya menyambar untuk memukul ular itu.

Namun pada saat itu ia membuka lebar-lebar matanya dan wajahnya menjadi pucat sekali.

Ternyata bahwa ketika ular itu menyerangnya, ular-ular yang lain serentak melompat dan menyambar ke arahnya, berjumlah tiga puluh ekor.

Kini tak mungkin lagi ia mengelak, tubuhnya penuh dengan ular yang menggigit.

Jangankan digigit demikian banyak ular, baru seekor dari sekian banyaknva ular itu saja kalau menggigit akan mendatangkan maut yang merampas nyawa.

Sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati, Ctu Kak roboh.

Seluruh kulit muka dan tubuhnya berubah hitam, busa hitam pula keluar dari mulutnya dan ia tidak bernyawa lagi!

Ular-ular itu merayap turun dan kembali berkumpul di tempat yang tadi seperti anjing-anjing peliharaan yang mendekam puas dan bangga setelah memenuhi perintah tuannya.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan merasa ngeri sekali.

Seorang laki-laki gemuk dan rombongan Khong-tong-pai melompat maju dengan marah sekali.

Dia adalah Song Can Gi, suheng dari Ciu Kak dan di dalam Khong tong-pai ia terhitung tokoh ke lima yang amat lihai.

Sambil membentak keras ia mengeluarkan senjatanya, yakni sebatang toya yang berat dan besar.

Telunjuknya yang besar dan bergajih menuding ke arah muka anak gundul itu dan ia memaki.

"Iblis kecil kau sungguh keji! Kau datang-datang membunuh orang! Biarpun kau putera See-thian Tok-ong atau anak siluman siapapun juga. aku tidak takut. Song Can Ci memang mempunyai kebiasaan membunuhi iblis-iblis macam kau!"

Tanpa memberi peringatan toya besarnya menyambar ke arah kepala Banbeng Sin-tong.

Semua orang terkejut karena keadaan itu benar-benar amat menggelisahkan.

Song Can Gi adalah seorang tokoh besar dari Khong-tong-pai dan tentu saja mereka dapat memaklumi kemarahan Song Can Gi melihat sutenya tewas oleh keroyokan ular-ular itu.

Sebaliknya, anak itu adalah putera dari See-thian Tok-ong, maka semua orang tidak ada yang berani campur tangan.

Mereka hanya memandang dengan hati berdebar karena toya di tangan Sung Can Gi sudah terkenal kehebatannya.

Akan tetapi anak itu sambil terseyum mengejek, bahkan memasukkan ke-dua tangan di saku bajunya dan mengelak dengan gerakan kaki yang amat ringan.

Toya yang mengenai tempat kosong itu menyambar lagi, kini terputar bagaikan ombak mengamuk, mengancam tubuh anak itu yang masih saja mengelak ke sana ke mari.

Ba Mau Hoatsu merasa khawatir sekali.

"Saudara Song Can Gi, melihat mukaku, jangan kau teruskan seranganmu itu"

Beberapa kali ia berseru.

Ia tahu bahwa kalau sampai anak itu mendapti celaka sedangkan dia berada di situ tanpa membantu atau mencegah orang mencelakakannya, pasti ia akan mendapat marah besar dari See-tlitan Tok-ong!

Akan tetapt Song Can Gi sudah naik darah.

Melihat beberapa belas jurus serangannya gagal mengenai tubuh Ban bong Sin-tong, ia menjadi amat penasaran dan makin marah, toyanya kini menyambar-nyambar hebat, mengeluarkan angin dan bunyi bersuitan, mengancam hebat tubuh bocah gundul itu.

Akan tetapi benar-benar gerakan Ban-beng Sin-tong amat mengagumkan.

Dengan amat gesitnya ia dapat selalu meluputkan dari ancaman toya.

Kini kedua tangan anak itu tertarik keluar dari saku bajunya dan di kedua tangannya kelihatan dua ekor ular kecil yang berwarna merah.

"Celaka...."

Seru Ba Mau Hoatsu dan kakek luar biasa ini meloncat maju, sepasang rodanya bergerak ke atas.

"Praaang...!"

Song Can Gi berseru kaget dan toyanya patah menjadi dua bertemu dengan senjata roda di tangan Ba Mau Hoatsu. Ia melompat mundur dengan kaget sekali, lalu menegur.

"Ba Mau Hoatsu, mengapa kau mencampuri urusanku?"

Ba Mau Hoatsu tidak menjawab, sebaliknya ia menjura kepada anak gundul itu dan berkata.

"Ban-beng Sin-tong, harap kau suka menahan marahmu dan jangan menimbulkan urusan besar. Khong-tong-pai selama ini tidak pernah memusuhi kami, tidak perlu menanam bibit permusuhan besar dengan mereka."

Semua orang memandang kepada Banbeng Sin-tong yang berdiri tegak.

Dua tangannya masih terangkat dan kini kelihatan dua ekor ular merah yang panjangnya hanya setengah kaki itu menggeliat-geliat di antara jari-jari tangannya.

Sepasang mata bocah gundul ini bagaikan mengeluarkan api, memandang kepada Song Can Gi yang menjadi bergidik ngeri.

Mata itu seperti bukan mata manusia, mata siluman agaknya yang dapat memandang seperti itu.

Anak itu ragu-ragu mendengar omongan Ba Mau Hoatsu.

"Hm, melihat muka Paman Ba Mau aku mau mengampunt nyawa anjing tua itu. Akan tetapi sekali Ang-coa-ong (Raja Ular Merah) dan isterinya keluar dari saku, sebelum makan jantung musuhku ia akan gelisah."

Semua orang berdiri bulu tengkuknya mendengar ini. Pandangan mata bocah itu beredar, menatap muka para tokoh itu seorang demi seorang.

"Kwan-kongcu (Tuan Muda she Kwan), harap kau jangan mencari korban lain orang...."

Kata Ba Mau Hoatsu. Mendengar ini, bocah gundul itu tiba-tiba memandang kepada mayat Ciu Kak.

"Ah, biarpun sudah hitam, jantungnya belum busuk."

Ia lalu melepaskan sepasang ular merah itu ular itu terbang ke arah mayat Ciu Kak.

Benar-benar ular itu terbang karena dari dekat punggungnya kelihatan sepasang sayap merah yang kecil seperti ikan.

Inilah semacam hut-coa (ular terbang) yang terdapat di pegunungan barat dekat Go-bi san, ular yang jarang sekali terlihat manusia, namun terkenal amat jahat dan bisanya tiada obat penolaknya lagi.

Sepasang ular merah itu luncur dan seperti berebutan mereka nienyerang dada kiri mayat Ciu Kak dan...

tak lama kemudian mereka telah membuat lubang pada dada itu dan lenyap ke dalam dada!

Semua orang me mandang dengan muka pucat.

Ketika dua ekor ular Itu keluar mulut mereka menggigtt benda merah kehitaman yang telah terbagi dua oleh mereka.

Ternyata bahwa benda itu adalah jantung dari mayat Ciu Kak!

Dengan lahapnya kedua ekor ular itu makan jantung itu, menelannya habis lalu, mengembang kan sayapnya, terbang kembali ke tangan Ban-beng Sin-tong yang mengangkat ke dua tangannya.

Setelah sepasang ular itu dimasukkan ke dalam saku dan lenyap dari pandangan mata, barulah para tokoh bernapas lega.

Pertstiwa tadi benar-benar mendebarkan jantung karena selama hidup belum pernah mereka menyaksikan pemandangan yang demikian mengerikan.

"Bagaimana, Paman Ba Mau. Sudah adakah di antara kalian mendapatkan pedang dan kitab?"

Bocah itu bertanya sambil memandang ke sekelilingnya.

Pandangannya tajam menyelidik dan seandainya di antara mereka ada yang sudah mendapatkan benda-benda yang disebutkannya tadi, agaknya dia akan menjadi gentar dan mungkin akan menyerahkan benda benda itu.

"Belum Kwan-kongcu. Kami bahkan sedang berunding, karena kami tidak diperbolehkan naik ke puncak oleh Luliang Sam-lojin."

Mata kecil yang bundar itu mencari-cari.

"Luliang Sam-lojin? Yang manakah mereka? Mengapa mereka melarang?"

Luliang Ciangkun dan dua orang sutenya setelah menyaksikan peristiwa tadi, merasa amat benci dan muak di dalam hati terhadap bocah gundul ini.

Bocah seperti ini adalah calon siluman jahat yang kelak hanya akan menimbulkan bencana di dunia, pikir mereka.

"Kami bertiga yang disebut Luliang Sam-lojin. Sesuai dengan nama sebutan ini, kami bertigalah yang tinggal di sini dan berkewajiban menjaga ketenteraman Luliang-san."

"Oho, jadi kalian bertiga yang disebut Luliang Sam-lojin? Ayah sering kali menyebut nama kalian sebagai orang-orang gagah ternyata benar kata Ayah. Kalian adalah tiga orang yang aneh, seorang panglima, seorang petani, dan seorang sasterawan. Ha, ha, benar-benar hebat! Ah, Luliang Sam-lojin, aku bernama Kwan Kok Sun, putera dan Ayah yang disebut See-thian tok-ong. Benar sekali pendapatmu bahwa orang-orang yang hanya membikin ribut ini kalian larang naik ke puncak, bukan?"

Kata-kata bocah ini terclengar manis budi. akan tetapi mengandung tantangan dan ancaman hebat. Biarpun hatinya berdebar, Luliang Ciangkun membusungkan dada dan berkata.

"Sudah menjadi tugas kami menjaga keteraman puncak Luliang-san. Oleh karena puncak itu menjadi puncak peristirahatan mendiang Suhu di waktu hidup dan sesudah mati, maka kami terpaksa melarang siapapun juga pergi ke sana, biarpun untuk itu kami mempertanggung dengan nyawa kami. Maaf saja, Siauhiap, kami tak dapat membiarkan siapapun juga naik ke puncak!"

Terdengar suara ketawa ganjil dari anak itu, akan tetapi sebelum ia melakukan sesuatu tiba-tiba terdengar pekik burung kim-tiauw, dan burung itu terbang cepat sekali, lalu turun di depan Ban beng Sin-tong Kwan Kok Sun.

Burung ini besar sekali, kepalanya hampir setinggi kepala orang dewasa dan paruhnya yang kuat kini menggigit sebatang pedang dengan sarungnya.

"Kim-tiauw yang baik, ternyata kau telah berhasil mendapatkan pokiam (pedang pusaka)!"

Kata Kwa Kok Sun sambil mengambil pedang itu dari paruh kim-tiauw.

"Pak-kek Sin-kiam...""

Tak terasa lagi Luliang Ciangkun berseru heran ketika melihat pedang ini.

Dia dan dua orang sutenya tentu saja mengenaI pedang pusaka milik suhunya ini dan alangkah besar keheranan mereka mengapa pedang yang disembunyikan oleh suhunya itu kini bisa berada di paruh kim-tiauw.

Mereka sendiri sudah pernah mencoba untuk mencari kitab dan pedang, namun sia-sia.

Bagaimana pedang itu kini berada di paruh kim-tiauw?

Untuk mengetahui hal ini baiklah kita menengok keadaan di puncak Luliang-san dan peristiwa yang terjadi di situ semenjak terjadi keributan di lereng gunung.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah melihat bahwa Luliang Sam-lojin tak dapat melarangnya, Giok Seng Cu berlari cepat sekali naik ke puncak Luliang-san.

Baru satu kali ia naik ke sini akan tetapi ia sudah tahu di mana letak pondok dari Pak Kek Siansu yang berada di Jeng-in-thia (Ruang Awan hijau).

Pandangan pertama yang dilihat oleh matanya mengherankan dia.

Beda benar keadaan Jeng-in-thia di waktu sekarang dengan dulu.

Apalagi ketika ia melirik ke arah dua makam yang berada di depan pondok.

Ia tertegun.

Tak disangkanya bahwa bukan saja makam Pak Kek Siansu terawat baik-baik, bahkan makam Pak Hong Siansu gurunya juga terawat sekali.

Tadinya ia hendak nielewati saja dua makam itu karena sesungguhnya ia naik ke Jeng-in-thia bukan bermaksud menengok kuburan suhunya seperti yang dikatakan di lereng gunung terhadap Luliang Sam-lojin, melainkan untuk mencari peninggalan Pak Kek Siansu, yakin pedang Pak-kek dan kitab Pak-kek Sin-ciang.

Akan tetapi ketika ia melihat seorang anak berusia kurang lebih sembilan tahun sedang mencabuti rumput-rumput di sekitar dua makam itu, ia menghentikan tindakan kakinya dan memandang dengan mata melirik.

"Eh. kau siapakah?"

Bentaknya mendekat Anak itu adalah Wan Sin Hong.

Ketika tiga kakek Luliang-san turun dari puncak, hati anak ini penasaran sekali dan-menyesal mengapa ia tak diperbolehkan ikut.

Untuk menghilangkan kekesalan hatinya, ia mencabuti rumput membersihkan makam.

Kini tiba-tiba saja, tanpa diketahui, di situ muncul seorang kakek berambut panjang yang berwajah menyeramkan.

Ia segera bangun berdiri dan membalas pertanyaan orang.

"Locianpwe, kau siapakah? Bagaimana bisa naik ke sini? Di mana adanya Luliang Sam-lojin?"

La menyebut Locianpwe karena ia dapat menduga kakek ini tentulah seorang tokoh kang-ouw yang lihai dan ia cukup berhati-hati untuk tidak tidak menyebut "suheng"

Kepada Luliang Sam-lojin. Mendengar anak itu balas bertanya tanpa menjawab pertanyaannya, Giok Seng Cu bergerak maju (Lanjut ke

Jilid 05) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 dan di lain saat Sin Hong sudah tertangkap baju lehernya.

Gerakan ini luar biasa cepatnya namun kalau Sin Hong mau, tentu saja ia dapat mengelak karena anak ini pun tidak percuma menerima latihan-latihan selama setahun di puncak Luliang san.

Akan tetapi ia amat cerdik dan sengaja tidak mau mengelak agar jangan menimbulkan kecurigaan di hati Giok Seng Cu.

Benar saja, kakek menyeramkan ini ketika mendapat kenyataan bahwa anak itu tidak bisa silat sama sekali, hilang kecurigaannya dan memandang rendah.

Ia mengira bahwa anak ini tentulah anak dusun yang dipekerjakan di situ untuk membersihkan tempat ini.

Maka dengan sebal ia lalu melemparkan tubuh anak itu ke atas tanah sehingga Sin Hong jatuh bergulingan.

"Ha-ha-ha, seorang kacung berani kurang ajar, ditanya tidak menjawab sebaliknya balas bertanya. Bocah nakal, hayo bilang apa kerjamu di sini"

Sin Hong memutar otaknya, lalu menjawab berani.

"Seperti Locianpwe katakan tadi, aku bekerja sebagai kacung tukang membersihkan kedua makam ini. Locianpwe siapakah dan mau apa datang ke sini?"

"Anak setan, kau tidak tahu dengan siapa berhadapan maka berani bersikap kurang ajar! Hayo lekas berlutut di depan Giok Seng Cu Sucouw, ketua Imyang-bu-pai dan beritahukan namamu!"

Bukan main kagetnya hati.

Sin Hong mendengar bahwa kakek ini adalah ketua Im-yang-bu-pai, musuh besar perkumpulan yang sudah membinasakan dan membasmi Hoa-san-pai.

Wajahnya merah dan ia harus menekuk perasaan hatinya yang ingin sekali memberontak dan menyerang kakek ini.

Ia maklum bahwa kakek ini lihai sekali, maka ia harus berlaku hati-hati.

Akan tetapi berlutut?

Ia tidak sudi!

"Aku bernama Tan A Kai dan aku tidak kenal apa itu Im-yang-bu-pai.

Dimana adanya Luliang Sam-loheng?"

Sin Hong terkejut bukan main.

Perasaan hatinya yang marah itu ternyata membuat ia lupa akan sebutannya terhadap Luliang Sam-lojin yang hendak disembunyikan sehingga tanpa disadarinya ia menyebut Sam-loheng!

Giok Seng Cu tentu saja juga terkejut.

"Apa? Jadi kau adalah sute dari Luliang Sam-lojin?"

Tiba-tiba ia mendapat pikiran lain.

Kalau anak ini menyebut loheng atau suheng kepada Luliang Sam-lojin, berarti anak ini pun menjadi murid Pak Kek Siansu yang sudah tewas.

Hal ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa anak ini agaknya akan mempelajari ilmu silat dari kitab Pak kek Sinciang!

Tiba-tiba ia menubruk ke depan hendak menangkap Sin Hong.

Akan tetapi anak ini sekarang karena kesalahan lidahnya, maklum akan datangnva bahaya, lalu cepat mengelak sehingga Giok Seng Cu menubruk tempat kosong.

Memang Sin Hong memiliki tubuh yang ringan dan gerakan yang cepat sekali, apa lagi ia memang berbakat baik maka setelah menerima gemblengan ilmu silat dari Liang Gi Tojin kemudian dari Luliang Samlojin, ia telah memiliki kepandaian yang lumayan.

Kecurigaan Giok Seng Cu makin menebal melihat anak "dusun"

Itu dapat mengelak dari tubrukannya.

Ia menubruk lagi dengan cepat akan tetapi dengan mainkan Ilmu Silat Jiauw pouw-poan-Soan (Tindakan Kaki Berputaran) ia selalu dapat meluputkan diri dari terkaman kakek itu.

Namun tentu saja ia kalah jauh oleh Giok Seng Cu dan hal ini Sin Hong maklum amat baiknya, maka ia cepat melarikan diri setelah mendapat kesempatan.

"Setan cilik, lekas serahkan Pak kek-Sin kiam dan Pak-kek Sin-ciang-pit-kip (Kitab Rahasia Ilmu Silat Pak-kek Sinciang), baru aku mengampunimu!"

Bentak Giok Seng Cu sambil mengejar.

Sin Hong menjadi bingung.

Dengan beberapa lompatan saja Giok Seng Cu sudah mendahuluinya dan menghadang di depannya, lalu cepat menubruk lagi.

Kini tubrukannya bukan tubrukan sembarangan, karena kakek ini sudah merasa tidak sabar lagi dan mempergunakan tenaganya.

Hampir saja tubuh Sin Hong dapat diterkam, baiknya anak ini cepat sekali mempergunakan Ilmu Silat Juikut-kang (Ilmu Lemaskan tulang), sehingga begitu diterkam, kulitnya menjadi licin dan gerakannya yang gesit membuat ia dapat membebaskan diri lagi.

Giok Seng Cu yang tadinya sudah merasa girang dapat menangkap anak itu, terkejut sekali ketika tiba-tiba anak itu terlepas dan ia kena peluk sebuah batu karang yang berada di belakang Sin Hong.

Terdengar suara keras dan batu karang itu remuk dalam pelukan Giok Seng Cu.

Inilah kehebatan tenaga Tin-san-kang dari kakek itu yang amat mendongkol kena memeluk batu karang sehingga ia menge rahkan tenaga membikin remuk batu itu.

Sementara itu, Sin Hong sudah berlari cepat naik ke atas puncak.

Giok Seng Cu mengejar terus dan kini kakek ini makin marah.

"Setan cilik, apa kau ingin mampus?"

Bentaknya dan dengan ginkangnya yang sudah sempurna itu tentu saja ia kembali dapat menyusul Sin Hong.

Kini anak ini sudah tiba di tebing jurang di puncak bukit, tempat di mana ia biasa berlatih silat.

"Kau mau lari ke mana?"

Tiba-tiba Sin Hong mendengar bentakan ini dan sebuah tangan yang besar menyambar ke arah lehernya.

Sin Hong maklum bahwa ia harus melawan mati-matian dan tahu pula akan kekejian kakek ini, maka cepat ia menyelundup ke bawah untuk menghindarkan diri dari tangkapan ke arah leher ini.

Ia berhasil mengelak, akan tetapi tangan kiri Giok Seng Cu menyambar dari belakang dan sebelum Sin Hong dapat mengelak, pundaknya sudah kena dicengkeram.

Sin Hong meringis dan mengigit bibir agar mulutnya jangan mengeluarkan jeritan.

Bukan main sakitnya pundaknya yang dicengkeram itu, serasa tulang-tulangnya hancur dan rasa sakit menembus sampai ke dalam tulang-tulangnya.

"Anak setan, lekas katakan dimana adanya pedang dan kitab peninggalan Pak Kek Siansu?"

Bentak Giok Seng Cu.

Kalau menurutkan wataknya, karena ia sudah marah dan dibikin jengkel oleh Sin Hong, tentu ia akan membunuh anak ini tanpa banyak cingcong lagi.

Akan tetapi oleh karena ia naik ke puncak ini adalah hendak mencari pedang dan kttab itu, maka ia tidak membunuh Sin Hong.

Ia kini menaruh harapannya pada keterangan anak ini.

Sin Hong menggeleng kepalanya.

"Aku tidak tahu tentang pedang dan kitab!"

Suaranya masih lantang dan penuh ketabahan sungguhpun rasa sakit membuat wajahnya penuh peluh.

"Bohong...! Kau menjadi sute Luliang Sam-loan, tentu kau mempelajari ilmu peninggalan Pak Kek Siansu!"

"Aku tidak bohong!"

Kata Sin Hong, kini keberaniannya meluap-luap karena rasa sakit dan kekejaman kakek ini membuatnya marah dan membangkitkan semangat perlawanannya.

"Memang betul aku belajar ilmu silat peninggalan Suhu Pak Kek Siansu, akan tetapi aku dibimbing oleh Suheng-suhengku. habis kau mau apa? Aku tidak tahu tentang kitab dan pedang yang kau obrolkan!"

"Bangsat cilik, kau benar-benar tidak takut mampus!"

"Siapa takut mampus kalau semua keluargaku sudah habis? Kalau semua orang yang kucinta sudah kau basmi? Kau penjahat terbesar di dunia ini!"

Tangan Giok Seng Cu sudah diangkat ke atas untuk menjatuhkan pukulan, akan tetapi ia menahan tangannya dan memandang dengan mata terbuka lebar.

"Eh, eh, kau mengacobelo! Baru kali ini kita hertemu. Kapan aku membinasakan keluargamu?"

"Giok Seng Cu, bukan tanganmu, akan tetapi anak buahmu yang membunuh Liang Gi Tojin dan melukai Lie Bu Tek. Liang Gi Tojin adalah Suhuku dan Lie Bu Tek adalah ayah angkatku."

"Kau... kau siapakah? Dan bagaimana bisa berada di sini?"

"Tentang bagaimana aku bisa berada di sini bukan urusanmu. Aku bernama Wan Sin Hong dan Lie Bu Tek adalah ayah angkatku."

Tiba-tiba Giok Seng Cu tertawa bergelak.

"Ha, ha, aku sudah mendengar tentang kau! Bagus, sekarang kau berada di sini, sebetulnya aku harus membunuhmu, akan tetapi kalau kau bisa memberi petunjuk kepadaku di mana adanya pedang dan kitab, aku takkan membunuhmu."

"Aku tidak tahu!"

Giok Seng Cu maklum dari pandangan mata anak ini bahwa ia menghadapi seorang anak yang bersemangat baja dan memiliki keberanian besar, maka sambil menyeringai masam ia menggerakkan tangan menekan pundak kiri Sin Hong.

Kim Sin Hong tak dapat menahan lagi rasa sakit yang menembus jantungnya.

Seakan-akan ia merasa sesuatu yang amat dingin menusuk jantungnya dan seketika itu ia menggigil kedinginan dan mukanya menjadi biru.

"Aduh...."

Ia mengeluh dan ketika Giok Seng Cu melepaskan tangannya, Sin Hong roboh terguling dan duduk dengan tubuh terasa dingin sekali.

Anak ini diam-diam merasa terkejut karena ia sudah pernah mendengar dari Luliang Sam-lojin bahwa di antara tokoh-tokoh kang-ouw, terdapat orang-orang yang memiliki pukulan-pukulan keji sekali, di antaranya pukulan yang penuh dengan tenaga "yang"

Sehingga lawan yang terkena pukulan ini akan terbakar oleh tenaga yang membikin darah menjadi panas dan korban ini akan tewas di saat itu juga.

Akan tetapi pula pukulan yang mengandung tenaga "im", yang merangsang ke dalam tubuh dan menghancurkan tenaga "yang"

Di dalam tubuh, memperbesar tenaga "im"

Sehingga jalan-jalan darah terpengaruh dan akibatnya orang itu akan terserang rasa dingin.

Di dalam tubuh terdapat dua macam hawa panas dingin yang bertentangan.

Kalau dua tenaga yang bertentangan ini seimbang kekuatannya, orangnya akan sehat-sehat saja.

Sebaliknya kalau tenaga "im"

Jauh lebih besar, orang itu akan menderita kedinginan hebat dan akhirnya ia akan menjadi penderita yang takkan dapat hidup lama.

Sekarang Sin Hong dapat menduga bahwa ia terserang oleh pukulan yang mengandung tenaga "im"

Dan pukulan ini ia rasakan sedemikian hebatnya sehingga ia merasa tubuhnya kaku-kaku saking dinginnya.

Ketika ia melihat ke arah tangannya, kuku jari tangannya sudah menjadi biru!

Melihat bahwa dirinya takkan tertolong lagi, Sin Hong menjadi nekad.

"Bangsat tua bangka yang keji seperti siluman. Biar hari ini aku Wan Sin Hong bertempur mati-matian dengan kau!"

Ia menggigit bibir, sedapat mungkin menahan serangan hawa dingin di tubuhnya dan melompat lalu menyerang kakek itu dengan pukulan-pukulan yang ia pelajari dari Luliang Siucai.

Ia mainkan pukulan yang digerakkan dari tulisan huruf-huruf sehingga Giok Seng Cu memandang dengan kagum dan juga kaget.

Sekecil ini sudah dapat mempelajari ilmu silat huruf, benar-benar menunjukkan bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang lihai.

Biarpun Sin Hong baru berusia sembilan tahun, namun pukulan seorang anak yang telah melatih diri dengan ilmu silat tinggi tak boleh dibuat main-main, apalagi pukulan itu ditujukan kepada jalan darah kematian di dada Giok Seng Cu.

Menghadapi serangan Sin Hong, Giok Seng Cu tertawa bergelak.

Tentu saja sebagai seorang tokoh besar, dapat menghadapi serangan ini dengan mudah.

Ia menangkap tangan Sin Hong yang memukulnya, memegang tangan itu erat-erat sambil mengerahkan tenaga.

"Krak!"

Tulang lengan Sin Hong patah! "Ha-ha-ha, biarlah kau setan cilik sekarang menjadi setan penasaran di lembah Luliang-san... ha-ha-ha!"

Sambil berkata demikian, Giok Seng Cu lalu melepaskan anak itu ke dalam jurang dari tebing yang amat curam itu!

Tubuh Sin Hong melayang ke bawah dan sungguhpun pengalaman ini membuat nyawanya seakan-akan sudah meninggalkan tubuhnya dan semangatnya juga terbang, namun kesadaran anak ini masih penuh!

Ia tidak mau pingsan dan kemauannya yang keras ini benar-benar luar biasa dan mengatasi perasaannya sehingga ia masih dapat bertahan!

Anak ini ingin menghadapi kematian dengan kedua mata terbuka.

Pada saat itu, selagi Giok Seng Cu tertawa bergelak, tiba-tiba dari atas terdengar pekik yang nyaring dan seekor burung yang besar menyambar turun menyerang dengan paruhnya yang kuat itu ke arah kepala Giok Seng Cu!

Kakek ini kaget sekali, cepat ia melompat ke samping sambil menangkis dengan tangannya.

"Plak!"

Tubuh Giok Seng Cu terhuyung saking kerasnya gerakan burung akan tetapi burung itu sendiri terpental jauh dan beberapa helai bulunya rontok, melayang-layang ke bawah.

Hajaran yang keras dari tangan Giok Seng Cu membikin binatang itu menjadi jerih.

Sambil mengeluarkan pekik keras ia melayang terus dan terbang meluncur ke bawah mengejar tubuh Sin Hong yang sedang melayang turun.

Binatang tetap binatang.

Betapapun ia dilatih oleh orang-orang pandai, kim-tiauw itu tetap saja seekor binatang yang bodoh.

Melihat ada sesuatu melayang turun, ia hanya menurutkan nalurinya dan cepat ia menyambar turun, tidak tahu apakah yang melayang itu.

Pada saat itu, Sin Hong sudah hampir pingsan karena sukar baginya untuk bernapas dalam keadaan melayang cepat sekali itu.

Tiba-tiba ia merasa pundaknya sakit dan tubuhnya seakan-akan dirobek menjadi dua, tersentak keras sekali, akan tetapi kini ia tidak melayang ke bawah.

Ketika ia memandang, ternyata ia berada dalam cengkeraman seekor burung kim-tiauw yang besar sekali.

Ia kaget akan tetapi berbareng girang, karena ia mendapat harapan untuk hidup.

Kalau ia terbanting ke bawah, tak dapat disangkal lagi bahwa ia tentu akan mati dengan tubuh hancur lebur.

Kini di dalam cengkeraman kim-tiauw, belum tentu ia akan mati.

Memang Sin Hong amat pemberani dan berhati keras, tidak mudah putus asa.

Sebaliknya, ketika burung itu melihat bahwa yang dicengkeramnya adalah seorang anak manusia, ia lalu melayang turun perlahan di dasar jurang, melepaskan tubuh itu setelah berada tiga kaki di atas tanah.

Tubuh Sin Hong terbanting perlahan di atas tanah yang lunak hingga ia kaget dan heran.

Ternyata tempat itu bukan merupakan dasar jurang yang menyeramkan, sebaliknya merupakai tempat yang indah sekali.

Ia terjatuh di atas tanah yang mengandung rumput hijau dan tebal.

Keadaan di situ terang karena mendapat sinar matahari dan atas dan dari sebelah kanan, sedangkan di sana-sini tumbuh pohon-pohon yang mengandung buah-buahan.

Dasar jurang itu ternyata merupakan sebuah lereng bukit Luliang-san yang tak dapat didatangi orang dari kaki gunung, karena terhalang oleh jurang-jurang yang luar biasa dalamnya dan lebarnya.

Agaknya jalan satu-satunya untuk tiba di tempat itu hanyalah dari atas tebing itulah!

Sin Hong teringat akan burung itu, maka buru-buru ia menghampiri sambil menjatuhkan diri berlutut di depan kim-tiauw.

"Kim-tiauw-koko, aku Wan Sin Hong telah menerima budi pertolonganmu dan nyawaku telah kau selamatkan. Mudah -mudahan kelak aku dapat membalas budi-mu ini, tiauw koko!"

Burung itu agaknya terlatih sekali dan aguknya mengerti akan maksud anak ini.

Akan tetapi ia hanya mengeluarkan bunyi tidak karuan lalu beterbangan berputar-putar di sekitar tempat itu, mencari sesuatu.

Melihat burung itu kebingungan dan seperti mencari sesuatu, Sin Hong lalu bangun berdiri.

"Tiauw-ko, apakah yang kaucari?"

Tanyanya berulang-ulang, akan tetapi tentu saja burung itu tidak dapat menjawab.

Memang burung ini sedang mencari sesuatu.

Majikan kecilnya, yaitu Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun, berkali-kali menyuruhnya mencari sebatang pedang dan sebuah kitab agar burung ini mengerti maksudnya.

Kim burung itu terbang ke sana ke mari melihat-lihat kalau-kalau di tempat itu ada dua barang yang dikehendaki majikannya.

Melihat burung itu terus mencari-cari biarpun tubuhnya sendiri terasa sakit-sakit dan hawa dingin terus menerus menyerang dadanya, Sin Hong lalu bangkit berdiri dan ikut pula mencari.

Anak ini memang berperasaan halus, mudah dendam dan mudah mengingat budi.

Ia berjalan terhuyung-huyung ke sana-sini akhirnya ia melihat sebuah gua di depan.

"Hm, siapa tahu kalau-kalau di dalam gua itulah benda yang dicari oleh tiauw-ko,"

Pikirnya.

Tanpa takut-takut atau ragu-ragu ia lalu memasuki gua itu dan berjalan perlahan ke dalam.

Ternyata gua itu merupakan terowongan yang tidak begitu gelap.

Ia masuk terus dan berjalan maju.

Setelah berjalan ada seratus tindak, tibalah ia di sebuah ruangan gua yang lebar dan berbentuk bundar.

Disitu terdapat sebuah batu yang sudah licin agaknya dahulu seringkali dipakai duduk orang, dan di sebelah baru itu terdapat sebuah peti hitam.

Sin Hong tertarik sekali dan ia lalu menghampiri peti itu.

Ia membuka tutupnya, akan tetapi tidak kuat, ia menjadi penasaran dan mengerahkan tenaga, namun tetap saja tidak dapat ia membuka tutup peti itu.

Bahkan dadanya terasa sakit.

Akan tetapi setelah ia mengerahkan tenaga lweekang, biarpun dadanya sakit, rasa dingin yang menyerang jantungnya berkurang.

Ini adalah karena pengerahan tenaga itu mempercepat jalan darahnya sehingga biarpun hanya sedikit, ada hawa "yang"

Mengalir di jalan darahnya.

"Aku telah berada di tempat ini secara kebetulan sekali, dan tidak mati terbanting juga karena kehendak Thian. Masa aku tidak dapat membuka peti ini?"

Kembali Sin Hong mengerahkan tenaganya dan kali ini berhasil.

Peti itu memang tidak dikunci hanya agak sukar dibuka karena sudah terlalu lama tidak dibuka sehingga berkarat.

Ternyata bahwa peti itu terbuat daripada besi.

Setelah peti terbuka Sin Hong melihat dua benda di dalamnya, yaitu sebatang pedang dan sebuah kitab yang sudah kuning!

Hatinya berdebar keras.

"Ah... inikah agaknya dua macam benda yang dicari oleh Giok Seng Cu... ? Dia bilang... dua benda ini peninggalan dart Pak Kek Siansu""

Guruku...."

Dengan hati gembira, lupa akan tubuhnya yang sudah terluka berat dan tidak ada harapan untuk hidup lagi itu Sin Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan peti yang terbuka itu.

"Suhu, banyak terima kasih atas kemuliaan Suhu yang sudah meninggalkan pedang dan kitab ini untuk teecu...."

Karelia di dalam ruangan itu agak gelap, tak mungkin baginya membuka dan membaca kitab itu, maka ia lalu mengambil pedangnya dan membawa pedang itu keluar.

Biarpun ia belum mempelajari isi kitab, akan tetapi ia sudah belajar ilmu pedang dari Luliang Ciangkun dan dengan adanya pedang itu di tangannya, ia akan mempunyai pembantu yang boleh diandalkan.

Ia tidak tahu keadaan di tempat aneh itu, maka untuk melindungi dirinya, ada baiknya kalau ia membawa pedang itu keluar.

Ketika ia mencabut pedang itu dari sarugnya, ia terkejut dan matanya menjadi silau.

Di tempat agak gelap, pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Girang sekali hatinya.

"Pedang pusaka yang hebat...."

Pikirnya cepat ia memasukkan pedang itu ke dalam sarung dan menalikan tali sarung ke pinggangnya.

Setelah itu Sin Hong berjalan keluar.

Kegirangan besar membuat ia melupakan serangan hawa dingin yang seperti hendak membikin tubuhnya kaku.

"Hee, tiauw-koko, apakah kau belum menemukan barang yang kaucari-cari?"

Tanya Sin Hong sambil berdiri dan tiba-tiba ia mengeluarkan bunyi ke arah Sin Hong.

Anak itu masih tertawa-tawa dan mengira bahwa burung itu hendak turun di dekatnya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba burung itu menyerangnya dengan pukulan sayap!

Andaikata Sin Hong tahu bahwa ia akan diserang dan sudah berjaga diri, agaknya ia pun takkan dapat menghadapi burung ini dan takkan dapat mengelak dari serangannya, karena burung itu amat kuat dan serangan sayapnya benar-benar cepat sekali.

Apalagi Sin Hong tidak mengira sama sekali, maka tubuhnya terkena pukulan sayap yang besar sehingga sambil berseru kesakitan dan kaget anak ini terguling sampai jauh.

Dalam bergulingan ini, ia merasa sesuatu direnggut dari tubuhnya dan ketika ia dapat mclompat berdiri, ia melihat bahwa pedang dan sarungnya yang tadi diikatkan di pinggang, telah dirampas oleh burung itu dengan cakarnya dan kini pedang itu telah berada di paruh kim-tiauw.

"He, tiauw-ko, itu pedangku...! Kembalikan...!"

Sin Hong menahan rasa sakit-sakit pada tubuhnya dan mengejar, tetapi burung itu sudah mementang sayap dan sekejap mata saja ia telah terbang tinggi, lalu lenyap dari pandanga mata.

Sin Hong membanting-banting kakinya lalu menangis!

"Sin Hong, kau manusia gublok!

Kau tak berotak!"

Ia memaki diri sendiri berkali-kali.

"Seharusnya kau tahu bahwa Kim-tiauw itu mencari-cari pedang dan kitab...."

Teringat akan kitab, hatinya terhibur.

Baiknya kitab itu tidak dibawa ke luar.

Akan tetapi hatinya juga menjadi gelisah.

Tentu burung aneh itu dipelihara oleh seorang kang-ouw yang berkepandaian tinggi pula.

Kalau burung itu membawa pedang kepada majikannya, tentu majikannya itu akan tahu bahwa kitabnya pun berada di situ, lalu datang mengambilnya.

Berpikir demikian, anak ini cepat berlari masuk ke dalam gua, akan tetapi kelelahan dan sakit di tubuhnya demikian hebat sehingga setibanya di dekat peti, ia terhuyung-huyung dengan kepala terasa pening, tubuh sakit-sakit dan dada dingin bukan main.

Ia cepat menghampiri batu licin itu dan merebahkan diri di situ.

Pada saat itu ia roboh pingsan di atas batu!

Kim-tiauw yang berhasil merampas pedang Pak kek Sin-kiam, terbang keluar fari jurang.

Pada saat itu, Giok Seng Cu masih berdiri di tebing bertolak pinggang dan memandang ke bawah, ke dalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu.

Hatinya juga gelisah sekali, karena ia sekarang teringat bahwa kim-tiauw itu tentu binatang peliharaan dari See-thian Tok-ong, tokoh di Tibet yang seringkali disebut-sebut oleh sahabatnya Ba Mau Hoatsu.

Burung rajawali emas mana lagi yang dapat membuat ia terpental dalam sekali serangan?

Tiba-tiba ia melihat burung itu terbang dari bawah dan di paruhnya terlihat sebatang pedang dengan sarungnya yang buruk.

"Celaka, burung keparat itu telah mendapatkan Pak-kek Sin kiam,"

Kata Giok Seng Cu dan ia cepat berlari turun dari puncak.

Akan tetapi secepat-cepatnya seorang dapat berlari mempergunakan ilmu lari cepat, tak mungki ia dapat mengejar seekor burung rajawali terbang.

Maka burung itu tentu saja sudah lama tiba di lereng sebelum Giok Seng Cu keluar dari puncak.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, burung rajawali emas telah memberikan pedang itu kepada Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun.

Bocah gundut yang aneh itu mencabut pedang dari sarungnya.

Semua orang menjadi silau melihat cahaya keemasan keluar dari pedang yang amat indah itu.

"Kau telah mencuri pedang Guru kami!"

Luliang Ciargkun berseru marah.

Sambil berkata demikian ia mencabut pedangnya dengan sikap hendak menyerang.

Gurunya sudah berpesan agar ia dan sutenya menjaga supaya pedang dan kitab jangan terjatuh ke dalam tangan penjaat.

Dan anak siluman ini benar-benar jahat dan berbahaya sekali kalau Pak-Sin-kiam terjatuh di dalam tangannya.

Ban-beng Sin-tong Kwa Kok Sun tertawa menyeringai, akan tetapi pandangan matanya penuh ancaman.

"Luliang Ciangkun, pedang ini disembunyikan oleh Gurumu dan kau sendiri mengaku tidak mengetahui tempat penyimpanannya. Sekarang ditemukan oleh burungku, berarti bahwa aku berjodoh dengan pedang ini. Kau ribut ribut mau apa sih?"

Lain-lain tokoh yang berada di situ juga memandang kepada pedang itu dengan mata mengilar.

Akan tetapi mereka tidak berani bergerak karena maklum akan kelihaian anak gundul itu dan ular-ularnya.

Bahkan Ba Mau Hoatsu memandang dengan hati berdebar.

Ingin sekali ia mengulur tangan merampas pedang.

Kalau ia lakukan hal ini, ia percaya bahwa ia sanggup merampas pedang.

Ia tahu bahwa kepandaiannya sendiri jauh melampaui kepandaian bocah gundul itu, akan tetapi kalau ia teringat akan ayah dan ibu anak ini ia bergidik dan membuat ia ragu-ragu untuk turun tangan.

Sementara itu, Luliang Sam-tojin sudah memegang senjata masing-masing, dan Luliang Ciangkun membentak.

"Bagaimana juga. tidak boleh orang mengambil pusaka Luliang-san begitu saja dari tempat ini. Kembalikan pedang Pak kek Sin-kiam,"

Kwan Kok Sun sambil tersenum sindir menggerak-gerakkan pedang pusaka itu di tangan kanan sedang tangan kirinya sudah dimasukkan ke dalam saku baju dimana tersimpan sepasang ular merah tadi, lalu melirik ke arah Bau Hoatsu.

"Paman Ba Mau, kau pikir bukankah kakek Luliangsan ini tidak tahu aturan sama sekali?"

Ba Mau Hoatsu semenjak tadi memandang ke arah pedang di tangan bocah gundul itu, dan ia hampir tidak mendengar kata-kata ini.

Memang dia sendiri ingin sekali merampas pedang itu, maka jawabnya perlahan dan ragu-ragu.

"Hmm...."

Luliang Ciangkun sudah tidak dapat menahan sabar lagi.

"Serahkan pedang kami!"

Bentaknya sambil menyerang ke depan, berusaha merampas Pak-kek Sin-kiam.

Akan tetapi, biarpun sikapnya tenang, bocah gundul itu ternyata gesit luar biasa.

Sekali tangannya bergerak berkelebat bayangan keemasan dan pedang Pak-kek Sin-kiam sudah digerakkan dari samping, memapaki dan menyabet pedang besar di tangan Luliang Ciangkun.

Panglima Gunung Luliang ini terkejut sekali karena gerakan lawan yang masih muda ini benar-benar cepat luar biasa.

Ia tahu bahwa sekali saja pedangnya ber temu dengan Pak-kek Sin kiam, pedangnya yang besar dan juga bukan sembarangan pedang itu pasti akan terbabat putus!

Ia menarik kembali pedangnya dan kini menyerang dengan sambaran dari bawah.

Lagi-lagi Kwan Kok Sun menangkis, lalu membalas menyerang.

Luliang Ciangkun kembali menghindari pertemuan pedang dan sekarang kedua orang ini bertanding pedang dengan hebatnya.

Sama sekali di luar dugaan para tokoh kang-ouw yang berada di situ, ilmu pedang dari Ban-beng Sin-tong benar-benar luar biasa sekali.

Memang dia telah mendapat gemblengan dari ayah bundanya, maka tentu saja ia memiliki kepandaian tinggi.

Apalagi sekarang dia memegang Pak-kek Sin-kiam, kelihatan bertambah hebat.

Luliang Ciangkun yang tidak berani mengadu pedang, segera didesak dengan hebat oleh bocah itu.

Yang lebih hebat Kwan Kok Sun sama sekali tidak mengeluarkan tangan kiri dari saku bajunya.

Oleh karena ini, gerakan pedang di tangan kanannya kelihatan kaku tidak ada imbangannya.

Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi kehebatan gerakan pedangnya, bahkan Luliang Ciangkun dan yang lain-lain maklum bahwa tangan kiri itu lebih berbahaya daripada tangan kanan.

Sekali tangan kiri itu keluar, tentu akan membawa sepasang ular terbang dan hal itu benar-benar merupakan bahaya maut yang mengerikan sekali!

Melihat suheng mereka terdesak, Luliang Nungjin dan Luliang Siucai tidak tanggal diam.

"Kembalikan pedang kami, kalau tidak kita harus bertempur mengadu nyawa di sini!"

Kata Luliang Nungjin sambil menggerakkan pacutnya yang aneh, disusul oleh Luliang Siucai yang menggerakkan pitnya.

Pacul dari Luliang Nungjin berujung enam dan sekali gagangnya digerakkan, enam mata cangkul menyerang tubuh Kwan Kok Sun dari enam jurusan!

Bocah gundul itu terkejut sekali, apalagi ketika pedang Luliang Ciangkun dan pit Luliang Siucai menyusul pula dengan serangan dari ilmu silat tinggi yang amat berbahaya!

Biarpun ia berpedang pusaka, namun bagaimana ia dapat menangkis sekaligus senjata-senjata hebat ini?

Sambil memutar pedangnya, ia melompat mundur, dan terdengar suara keras.

Ternyata bahwa di antara enam mata cangkul, dua buah terbabat putus oleh Pak-kek Sin-kiam.

Akan tetapi pit di tangan Luliang Siucai hampir saja mengenai sasaran, dan baju Kwan Kok Sun robek di bagian pundaknya.

Bocah gundul itu menjadi pucat.

Ia melirik ke arah Ba Mau Hoatsu, akan tetapi hwesto tinggi besar ini diam saja tidak bergerak membantunya.

Hal ini membikin mendongkol hati Kwan Kok Sun.

Ia mengeluarkan suara keras seperti pekik seekor binatang buas, lalu pedangnya diputar sedemikian rupa, tangan kirinya mengeluarkan dua ekor ular merah.

Pada saat itu juga, atas perintah pekikan tadi, burung kim-tiauw ikut menyerbu dan puluhan ular yang tadi melingkar di tanah, mulai bergerak menyerbu ke arah Luliang Sam-lojin!

Inilah serangan yang hebat sekali!

Ketiga kakek dari Luliang-san ini cepat memutar senjata mereka.

Luliang Nungjin mengajukan diri menghadapi kim-tiauw, karena dengan paculnya yang masih bermata empat itu ia dapat menghadapi serangan burung itu dari atas.

Beberapa kali ia terhuyung-huyung karena beturan pacul dengan sayap burung, akan tetapi ia berhasil membuat rontok beberapa helai bulu sayap dari burung itu sendiri berkali-kali memekik kesakitan.

Luliang Ciangkun dan Luliang Siucai sibuk sekali menghadapi serbuan puluhan ekor ular itu.

Mereka melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari gigitan ular dan pedang serta pit kedua kakek ini telah berhasil membunuh beberapa ekor ular.

Tiba-tiba dua bayangan merah berkelebat ke arah mereka.

Ternyata bahwa Ban-beng Sin-tong telah melepaskan sepasang ular terbangnya yang langsung menyerang dengan luncuran hebat ke arah Luliang Ciankun dan Luliang Siucai.

Dua orang kakek ini maklum akan bahaya besar ini.

Cepat mereka melompat jauh sambil memutar senjata, tetapi Kwan Kok Sun tidak tinggal diam.

Anak gundul ini segera melompat maju dan menggerakkan pedang pusaka membantu perjuangan anak-anak buahnya yang mengerikan itu.

Keadaan Luliang Sam lojin benar-benar terdesak hebat kali ini.

Juga Luliang Nungjin sudah pening kepalanya karena sebuah tamparan sayap telah nyerempet pelipisnya, terasa bagaikan dipukul oleh palu godam dan sakitnya bukan main.

Tenaga pukulan itu sedikitnya ada lima ratus kati dan kalau orang lain yang terkena sambaran ini tentu sudah pecah kepalanya.

Pada saat itu sesosok bayangan yang cepat sekali gerakannya terbang berlarian dari puncak gunung.

Dia bukan adalah Giok Seng Cu.

Setelah tiba ditempat pertempuran, ia melihat semua tokoh kang-ouw menonton pertempuran yang sedang berjalan dengan amat seru dan hebatnya.

Namun Giok Seng Cu tidak memperhatikan semua itu.

Seluruh perhatiannya ditujukan kepada pedang Pak Sin-kiam yang terpegang dan dimainkan oleh seorang bocah gundul.

Melihat bocah ini, biarpun belum bertemu muka, dapat menduga bahwa ini tentulah putera See-thian Tok-ong karena ia pernah dengar penuturan Ba Mau Hoatsu.

Tiba-tiba ia melompat maju ke dalam medan pertempuran.

"Sahabat kecil bukankah kau putera dari See-thian Tok-ong yang mulia? Pinto adalah Giok Seng Cu ketua Im yang-bu-pai. Marilah Pinto bantu kau menghabiskan Luliang Sam-lojin yang sombong itu"

Tentu saja Ban-beng Sin-tong Kwan kok Sun menjadi girang sekali. Memang ia ingin melihat ketiga orang lawannya itu lekas-lekas binasa karena ia mendongkol melihat ular-ularnya banyak yang mati.

"Terima kasih, Totiang. Ayah tentu akan berterima kasih kepadamu,"

Jawabnya gembira.

Giok Seng Cu sengaja melompat di dekat Kwa Kok Sun, kemudian ia merendahkan tubuhnya dan mengerahkan tenaga Tin sang-kang yang hebat.

Sambil mengeluarkan seruan dahsyat kedua tangannya memukul ke depan, ke arah Luliang Nungjin yang sedang sibuk menghadapi serbuan kim-tiauw.

Angin pukulan yang hebat sekali menyambar ke arah dada Luliang Nungjin.

Kakek ini tahu akan datangnya serangan pukulan, akan tetapi oleh karena perhatiannva ditujukan kepada kim-tiauw yang menyambar-nyambar di atasnya, ia tidak sempat mengelak dan tiba-tiba ia merasa dadanya digempur oleh tenaga tidak kelihatan yang hebat sekali.

Ia menahan napas dan mengerahkan lwee-kangnya, namun terlambat.

Tubuhnya tersentak dan ia muntah-muntah "..

darah merah tersembur keluar dari mulutnya.

Pada saat itu, seeker ular merah menyerbunya dan sekali patok pada lehernya, robohlah Luliang Nungjin dan tubuhnya seketika itu juga berubah menjadi merah!

Ia tewas dalam saat itu juga dan ular merah itu lalu merayap masuk dari mulutnya untuk segera keluar kembali menggigit sebuah jantung yang masih berlepotan darah!

Pemanclangan ini mengerikan sekali hingga semua orang menjadi pucat.

Adapun Kwan Kok Sun mengeluarkan suara seperti iblis.

Pada saat itu, terjadilah hal yang sama sekali tidak diduga-duga olehnya.

Giok Seng Cu melihat kesempatan baik, kembali menggerakkan kedua tangannya.

Tangan kanan memukul dengan tenaga Tin-san-kang, sedangkan tangan kiri maju merampas pedang Pak-kek Sin-kiam!

Kwan Kok Sun mana kuat menghadapi pukulan Tin-san kang?

Ia sudah berusaha mengelak, akan tetapi pundaknya masih terkena pukulan itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, pedangnya dirampas oleh gerakan tangan kiri Giok Seng Cu yang mainkan ilmu Silat Kin-na-jiu!.

Kwan Kok Sun terhuyung-huyung dengan muka pucat.

Bocah gundul ini telah menderita luka di dalam tubuh maka ia cepat-cepat bersila untuk mengumpulkan napas dan mengerahkan tenaga dalam.

Giok Seng Cu melompat jauh dan berlarit seperti terbang cepatnya turun gunung!

"Giok Seng Cu, kau curang...!"

Bentak Ba Mau Hoatsu dan hendak mengejar, akan tetapi melihat Kwan Kok Sun terluka, ia khawatir akan keadaan anak itu.

Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak itu, ia ikut bertangung jawab di hadapan See-Thian Tok-ong, maka ia membatalkan niatnya mengejar Giok Seng Cu.

Lagi pula, andaikata ia dapat mengejar, apakah dia dapat mengalahkan ketua Im-yang-bu-pai itu?

Tadi ia melihat kehebatan Tin-san-kang.

Kalau kiranya Giok Seng Cu tidak memegang Pak-kek Sin-kiam, mungkin ia masih dapat melawannya.

Akan tetapi dengan pedang pusaka itu di tangan, berbahaya sekali!

Semua tokoh kang-ouw melihat Giok Seng Cu kabur membawa pedang serentak berlari mengejar.

Kini setelah pedang itu berada di tangan ketua Im-yang-bu-pai, mereka berani untuk mencoba-coba merampas.

Adapun Ba Mau Hoatsu setelah melihat Kwan Kok Sun bersila meramkan mata, lalu mengeluarkan sepasang rodanya.

Ia melihat Luliang Ciangkun dan Luliang Siucai mengamuk hebat membunuh-bunuhi ular itu, sedangkan sambaran-sambaran ular merah tak pernah mengenai sasaran.

Tanpa banyak cakap lagi, Ba Mau Hoatsu lalu menggerakkan sepasang rodanya dan menyerbu, menyerang dua orang kakek Luliang-san itu.

"Ba Mau Hoatsu, semenjak dahulu kau memang iblis jahat!"

Seru Luliang Ciangkun marah sekali.

Pedangnya berkelebat menyambar-nyambar dan kini ia benar-benar nekad.

Tanpa memperdulikan serangan-serangan ular ia menyerbu dengan hebat kepada hwesio gundul itu.

Ba Mau Hoatsu menyambuti serangannya dan kedua orang ini bertempur seru.

Memang tingkat kepandaian Ba Mau Hoatsu masih lebih tinggi daripada Luliang Ciangkun, maka sebentar saja Si Gundul mendesaknya.

Apalagi Luliang Ciangkun sudah lelah dan ular-ular yang telah dididik dapat membedakan kawan atau lawan itu masih tetap menyerangnya dari bawah.

Luliang Siucai kini menghadapi kim-tiauw yang dibantu oleh beberapa ekor ular pula.

Dalam keadaan amat terdesak ini, kedua kakek itu masih mengamuk hebat.

mereka tidak mengharapkan hidup lagi setelah melihat kematian Luliang Nungjin yang amat mengerikan.

Cita-cita mereka hanya membasmi lawan sebanyak-banyaknya.

Akan tetapi, pada saat itu Kwan Kok Sun sudah berdiri lagi.

Lukanya biarpun cukup hebat namun tidak membahayakan jiwanya.

Kini melihat Ba Mau Hoatsu membantunya dan melihat dua orang kakek Luliang-san masih mengamuk, semua kemarahannya akibat hilangnya pedang, dijatuhkan kepada dua orang kakek itu.

"Paman Ba Mau, minggir...! serunya sambil menggerakkan kedua tangannya, Ba Mau Hoatsu cepat melompat ke samping dan dari kedua tangan Kwan Kok Sun tersebar debu hijau yang menyambar ke arah Luliang Siucai dan Luliang Ciangkun. Dua orang kakek ini cepat mengelak, akan tetapi mereka segera terbatuk-batuk karena debu itu ternyata dengan cepatnya telah mempengaruhi mereka. Sedikit saja debu itu memasuki mulut, celakalah orangnya. Luliang Siucai dan Luliang Ciangkun merasa tenggorokan mereka gatal-gatal sekali dan tak tahan pula mereka terbatuk-batuk dan tak dapat menggerakkan senjata. Pada saat itu, tentu saja ular-ular tidak tinggal diam dan menyerbu. Juga sepasang ular terbang itu menyambar seperti kilat dibarengi dengan sambaran kim-tiauw dari atas! Dalam sekejap mata saja, Luliang Ciangkun dan Luliang Siucai roboh tak bernapas lagi. Kepala mereka pecah terhantam sayap kim-tiauw, kaki mereka bengkak-bengkak tergigit oleh ular dan dada mereka bolong disambar oleh sepasang ular merah! "Sin-tong, apakah kau terluka berat?"

Ba Mau Hoatsu cepat menghampin Kwan Kok Sun. Bocah gundul itu menggeleng kepala sambil mengerutkan keningnya.

"Kurang ajar sekali bangsat tua Giok Seng Cu! Aku bersumpah untuk membasminya!"

"Tenanglah, Sin-tong. Tadi pun aku hendak mengejarnya, akan tetapi aku tidak tega meninggalkan kau yang terluka. Apalagi kepandaian Giok Seng Cu amat tinggi, lebih-lebih setelah ia dapat merampas Pak-kek Sin-kiam. Mari kita pulang saja, agaknya Ayah Bundamu akan mudah sekali merampas pedang itu dari tangan Giok Seng Cu."

Kwan Kok Sun mengangguk-angguk.

"Seluruh Im-yang-bu-pai harus dibasmi habis sampai ke akar-akarnya""

Diam-diam Ba Mau Hoatsu bergidik.

Ia kenal watak anak ini, kenal pula kehebatan orang tuanya, maka ia merasa beruntung bahwa bukan dia yang diancam.

Baiknya aku tadi membantunya pada saat terakhir, pikirnya puas.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika bocah itu menegurnya.

"Paman Ba Mau, mengapa tidak sejak tadi-tadi kau membantuku menghadapi Luliang Sam-lojin?"

Ba Mau Hoatsu dengan muka merah dan hati berdebar-debar cepat menjawab.

"Ah, Sin-tong. Mengapa aku harus turun tangan? Hal ini hanya akan merendahkan namamu dan nama besar Ayah Bundamu. Tanpa aku pun kau tidak akan kalah. Akan tetapi tentu saja aku seta siap sedia dan pasti akan niembantumu kalau tadi kau terdesak oleh Luliang Sam-lojin. Serangan Giok Seng Cu kepadamu sama sekali di luar dugaanku. Siapa yang mengira demikian sedangkan tadinya ia membantumu"

Kwan Kok Sun puas dengan jawaban ini.

Ia lalu mengumpulkan ular-ularnya yang masih hidup, mengantongi sepasang ular merah yang sudah kenyang makan jantung manusia, kemudian bersuit memanggil kim-tiauw yang turun di depannya.

"Kim-tiauw, kau terbanglah pulang dan berikan surat kepada Ayah Bundaku,"

Kata Kwan Kok Sun setelah mencoret-coret sepotong kertas.

Kim-tiauw menerima kertas itu yang oleh Kwan Kok Sun diikatkan kepada kakinya, kemudian setelah mengangguk-anggukkan kepalanya, rajawali besar itu terbang melayang dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata.

"Eh, Ban-beng Sin-tong, apakah kau sendiri tidak pulang?"

Bocah itu menggelengkan kepalanya.

"Mengapa pulang? Nanti tentu harus kembali ke Tiong-goan (pedalaman Tiongkok). Daripada membuang waktu, lebih baik Ayah dan Ibu yang datang ke sini, sementara itu kita dapat menyelidiki di mana adanya Giok Seng Cu!"

"Akan tetapi, yang didapatkan oleh kim-tiauw hanya pedang saja, di mana adanya kitab ilmu silat itu? Apakah tidak lebih baik kalau kita mencoba mencari kitab itu di puncak?"

"Kau benar, Paman Ba Mau! Mengapa aku sebodoh ini"?"

Kwan Kok Sun timbul kembali kegembiraannya dan kedua orang ini lalu mendaki puncak Luliang-san, sama sekali tidak memperdulikan mayat-mayat yang bergelimpangan di situ dalam keadaan mengerikan sekali.

Ban-beng Sin-tong dan Ba Mau Hoatsu mencari-cari di puncak Luliang-san, membongkar pondok bekas tempat tinggal Pak Kek Siansu.

Pondok itu didirikan di bawah puncak batu karang yang menjulang tinggi, kokoh kuat seperti sang raksasa hitam.

Yang amat mengagumkan, batu karang ini berbentuk seperti kepala naga sehingga setelah kini pondok yang merupakan penutupnya terbongkar, batu karang ini nampak dari jauh amat menyeramkan.

Ba Mau Hoatsu meraba-raba batu karang itu dan matanya memandang penuh perhatian.

"Agaknya bentuk kepalanya ini buatan manusia,"

Katanya.

"Lihat, bukankah bentuk mata dan tanduk di atas itu ada bekas guratan senjata tajam?"

Kwan Kok Sun memandang, kemudian tubuhnya bergerak melompat ke atas Dalam sekejap mata ia telah berada di puncak batu karang itu dan memeriksanya.

"Benar, memang buatan manusia. Akan tetapi entah apa maksudnya maka batu karang ini diukir sebagai kepala naga, lalu ditutup dengan bangunan pondok,"

Katanya.

Mereka memeriksa dengan teliti karena menduga bahwa di dalam batu karang ini agaknya terletak tempat rahasia penyimpanan kitab.

Akan tetapi, biarpun dengan sepasang rodanya Ba Mau Hoatsu sudah memecahkan bagian-bagian batu karang, sia-sia saja hasilnya.

Akhirnya Kwan Kok Sun berkata gemas.

"Setan tua itu pintar sekali menyembunyikan kitabnya. Siapa tahu kalau-kalau ia bawa kitab itu ke dalam lubang kuburannya?"

Ba Mau Hoatsu ragu-ragu dan merasa ngeri.

Betapapun jahatnya, selama hidupnya belum pernah ia menggalil kuburan orang.

Anak ini, yang usianya masih begitu muda, sudah mengusulkan membongkar kuburan dengan suara demikian dingin, seakan-akan membicarakan sebuah hal biasa saja.

Akan tetapi ia harus akui bahwa usul itu baik sekali, karena siapa tahu kalau-kalau kitab rahasia itu benar-benar disembunyikan di dalam kuburan.

Kalau tadi ketika masih melihat pedang pusaka, biarpun hatinya ingin merampas, Ba Mau Houtsu belum berani melakukannya, karena biarpun ada pedang itu di tangan, percuma saja ia menghadapi See-Thian Tok ong dan isterinya serta anaknya ini.

Akan tetapi, kalau ia dapat memiliki kitab kek-sin-clang-pit-kip dan telah mempelajari isinya sampai tamat, kiranya ia tidak usah takut lagi menghadapi Raja Racun itu.

Ia tahu bahwa ilmu silat dari Pak Kek Siansu sangat tinggi, kalau ia dapat mewarisi ilmu silat dari Pak Kek Siansu, ia tidak takut lagi menghadapinya.

"Baik sekali Sin-tong. Mari kita mencari di dalam kuburan itu."

Demikianlah, dua orang manusia jahanam ini tanpa ragu-ragu lagi lalu membongkar kuburan Pak Kek Siansu dan Pak Hong Siansu.

Dengan sepasang rodanya Ba Mau Hoatsu menghantam batu-batu nisan sampai hancur, kemudian dibantu oleh Kwan Kok Sun, ia mulai menggali tanah bergunduk yang saling berhadapan.

Berkat kepandaian dan tenaga mereka yang sudah tinggi, sebentar saja dua buah makam itu sudah terbongkar.

Dahulu ketika mengubur jenazah Pak Kek Siansu dan Pak Hong Siansu, pendekar besar Go Ciang Le tidak sempat mempergunakan peti mati karena di tempat seperti puncak Gunung Luliang-san itu, dari mana bisa mendapatkan peti mati?

Maka Hwa I Enghiong Go Ciang Le hanya mengubur mereka begitu saja dengan penuh penghormatan dan kesedihan.

Kini setelah kuburan dibongkar, Ba Mau Hoatsu dan Kwa Kok Sun hanya mendapatkan tulang belulang yang hampir sama besar dan bentuknya sehingga mereka tidak dapat membedakan mana tulang kerangka Pak Kek Siansu dan yang mana Pak Hong Siansu.

Dilihat begitu saja, selain tulang-tulang ini, tidak terdapat apa-apa lagi di kuburan itu.

Namun Kok Sun masih merasa penasaran.

Ia tanpa ragu-ragu lagi menggunakan kakinya untuk menendang tulang-tulang itu keluar dari lubang kuburan lalu memeriksa dasar lubang.

Namun kembali usahanya sia-sia karena di situ betul-betul tak tersembunyi sesuatu.

"Jahanam betul, kita bersusah payah tanpa guna!"

Kok Sun memaki dan menyepaki tulang-tulang itu sehingga berserakan ke mana-mana.

Diam-diam Mau Hoatsu mengutuk Kok Sun.

Anak ini terlalu keji hatinya, pikirnya.

Betapa pun juga, ia tidak sampai hati memperlakukan tulang-tulang manusia seperti itu, setidaknya ia masih menghormati bekas-bekas terakhir dari tubuh orang-orang besar seperti Pak Kek Siansu dan Pak Hong Siansu.

"Lebih baik sekarang kita mencari Giok Seng Cu,"

Katanya perlahan.

Anak gundul itu mengangguk dan keduanya lalu berlari cepat turun dari puncak Lulian-san, meninggalkan tulang-tulang yang berserakan itu.

Ketika mereka tiba di lereng tempat pertempuran tadi, Kok Sun masih dapat menyeringai dan melempar ludah ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di situ dan yang mengeluarkai hawa busuk.

Tentu saja mereka tidak pernah mimpi bahwa di balik batu karang yang mereka amuk di puncak terdapat terowongan yang menuju ke bawah dan yang tersambung dengan terowongan di mana Sin Hong menemukan pedang dan kitab.

Anak ini setelah sadar dari pingsannya, merasa tubuhnya dingin sekali.

Ia teringat bahwa ia telah menderita luka hebat akibat pukulan Giok Seng Cu.

Ia merasa malas untuk bangun.

Alangkah nikmatnya tidur di atas batu itu, nikmat sekali dan kalau ia teruskan tak lama lagi ia akan terbebas daripada hidup yang penuh pendentaan dan kekecewaan.

Akan tetapi aku harus berusaha menghajar yang berkeliaran di muka bumi sebelum melakukan hal-hal yang merusak manusia-manusia lain yang tidak berdosa.

Sin Hong merayap keluar dari gua dan mencari buah-buah dari pohon yang banyak tumbuh di sekitar lereng tersembunyi itu.

Setelah makan beberapa butir buah yang manis rasanya, ia merasa tubuhnya tidak begitu sakit-sakit dan tidak terlalu dingin lagi.

Ia cepat kembali ke gua dan dibawanya keluar kitab dari dalam peti itu.

Sin Hong mulai membalik-balik lembaran kitab yang berisi pelajaran Pak-kek Sin-ciang dan alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa dalam buku selain ilmu silat juga terdapat petunjuk-petunjuk untuk melatih lweekang yang tinggi.

Hlarapannya untuk sembuh timbul kembali.

Ia pernah mendengar dari Liang Gi Tojin, juga dari Luliang Sam-lojin bahwa kalau orang sudah melatih diri dengan ilmu lweekang yang sempurna, tubuhnya akan dapat terlindung dari pada pukulan lweekang dan dapat memperkuat hawa di dalam tubuhnya.

Maka pertama kali yang dilatihnya adalah lwee-kang dan cara-cara bersamadhi serta peraturan bernapas.

Benar saja, beberapa pekan kemudian setelah melatih diri dengan tekun dan rajin, dapat menahan rasa dingin sehingga tidak sangat menderita, biarpun tidak dapat mengusir rasa dingin itu yang berarti bahwa racun atau luka yang diderita oleh bagian dalam dadanya ternyata masih belum lenyap.

Berkat latihan lweekang yang tinggi, ia dapat bertahan terus dan racun pukulan Giok Seng Cu itu tidak dapat menjalar.

Ia dapat hidup akan tetapi mukanya selalu pucat seperti tidak berdarah dan sekali-sekali ia mengalami serangan hawa dingin yang membuatnya menggigil kedinginan di dalam gua yang sudah diterangi oleh api unggun besar yang dibuatnya.

Demikianlah, terasing dari dunia ramai, Wan Sin Hong melatih diri dengan amat tekunnya.

Di luar gua ia melatih ilmu silat Pak-kek Sin-ciang yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus.

Akan tetapi setiap jurus mempunyai pecahan yang bermacam-macam dan tanpa disadari anak ini telah melatih bagian-bagian tertinggi daripada ilmu silat dari berbagai cabang persilatan.

Memang, Pak Kek Siansu menciptakan ilmu silat ini berdasarkan pengalaman-pengalaman dan pengertiannya akan ilmu silat tinggi dari berbagai cabang.

Ia mengumpulkan jurus-jurus terlihai dari cabang persilatan yang ada, kemudian menggabung jurus-jurus ini menjadi Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang.

Setiap jurus ilmu silat ini, baru dapat dimainkan masak-masak oleh Sin Ho setelah dilatihnya setiap hari selama sebulan lebih, Setiap hari di depan gua yang merupakan terowongan itu Sin Hong bermain silat.

Gcrakannya perlahan agar setiap gerakan tidak salah, lambat-lambat dan diperhatikannya baik-baik.

Akan tetapi kalau jurus ini sudah dihafal dan dikuasainya benar-benar ia bersilat dengan cepat dan orang yang melihatnya akan merasa kagum sekali karena tubuh anak kecil ini sukar dlikuti gerakannya dengan mata saking cepatnya!

Tanpa ia ketahui sendiri, ia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sekali dan berkat latihan lweekang dan khikang menurut petunjuk kitab itu, telah mempunyai sinkang di dalam tubuhnya, yakni tenaga sakti yang telah terkandung dalam jalan darahnya sehingga tenaga ini telah ada dalam setiap gerakannya tanpa ia mengerahkan lwekang.

Akan tetapi tentu saja semua ini tidak diketahui oleh Sin Hong sendiri.

Yang membuat anak ini kecewa adalah pedang pusaka yang telah dirampas oleh burung rajawali emas, karena justeru di dalam kitab pelajaran ilmu silat itu terdapat pelajaran ilmu pedang yang luar biasa dan sukar dipelajari.

Biarpun jalan gerakan dan ilmu pedang itu didasarkan Ilmu Silat Pak kek-sin-ciang-hoat, namun akan lebih sempurna kalau ia berlatih mempergunakan pedang yang aselinya, yakni Pak kek Sin-kiam yang memang disesuaikan dengan ilmu pedang itu.

Sebagai gantinya, ia mempergunakan sebatang ranting pohon dan berlatih dengan amat tekunnya.

Kita tinggalkan dulu Wan Sin Hong yang tanpa diketahui oleh seorang pun berlatih ilmu silat tinggi di tempat tersembunyi itu, dan mari kita menengok keadaan Liok Kong Ji yang kini sudah berganti nama keturunan, yakni menjadi Lui Kong Ji untuk menyembunyikan keadaan sebenarnya.

Seperti telah kita ketahui, putera dari ketua Kwan-im-pai dengan amat licik dan curangnya, telah dapat mengangkat diri dan dipercaya oleh tokoh-tokoh Im-yang-bu-pai.

Untuk menyelamatkan diri sendiri, Kong Ji tidak segan-segan untuk membabat putus sebelah lengan Lie Bu Tek dan menyiksa Sin Hong.

Memang dalam diri Kong Ji terdapat watak yang luar biasa jahatnya, sungguh hal yang amat aneh apabila diingat akan watak ibunya yang gagah perkasa dan mulia.

Kong Ji merupakan seorang anak yang luar biasa sekali, tidak saja hatinya kejam, curang dan jahat, akan tetapi ia memiliki kecerdikan yang luar biasa, serta bakat yang tinggi untuk menjadi seorang ahli silat.

Dengan kecerdikannya, Kong Ji dapat menyesuaikan diri dengan apa saja yang berada di sekitarnya.

Ia pandai membawa diri sehingga kalau tadinya para tokoh Im-yang-bu-pai dan juga ketuanya masih menaruh curiga kepadanya, sekarang kecurigaan mereka lenyap dan berganti oleh kasih sayang besar.

Karena Giok-Seng Cu sendiri tanpa ragu-ragu mengangkatnya menjadi murid sehingga mulai saat itu Kong Ji menjadi murid termuda dari Im-yang-bu-pai.

Akan tetapi, biarpun paling muda, ilmu kepandaiannya meningkat jauh lebih cepat dari pada yang lain-lainnya, karena ia berkenan mendapat pimpinan dan latihan-latihan dari Giok Seng Cu sendiri!

Kecerdikan dan bakat yang luar biasa membuat ia mudah saja memahami pelajaran ilmu silat partai ini dan melihat kemajuannya, tokoh-tokoh lm-yang-bu-pai makin sayang kepadanya.

Dalam waktu setahun ia telah menerima dasar-dasar ilmu silat yang diturunkan oleh Giok Seng Cu, kemudian ketika Giok Seng Cu pergi ke Luliang san, Kong Ji menerima latihan-latihan dari Siang-mo-kiam Lai Tek dan Thian-te Siang-tung Kwa Siang, tokoh ke dua dan ke tiga dari Im-yang-bu-pai.

Dalam menerima pelajaran dari dua orang tokoh ini saja Kong Ji telah dapat mempergunakan kecerdikan serta kelicinannya sedemikian rupa sehingga dua orang tokoh itu seakan-akan berlumba menuangkan segala kepandaian mereka kepadanya.

Caranya demikian.

Pada suatu hari dengan sengaja ia memancing percakapan dengan Thian-te Siang-tung Kwa Siang dengan sebuah pertanyaan.

"Ji-suheng (Kakak Seperguruan dua), di antara saudara saudara di perkumpulan kita yang kepandaiannya paling tinggi di bawah Suhu hanya kau dan Twa-suheng (Kakak Seperguruan Pertama). Akan tetapi mengapa Twa-suheng bersenjata pedang dan kau bersenjata sepasang tongkat? Siapakah yang terlebih lihai antara kau dan Twa-suheng?"

Kwa Siang tidak sadar bahwa dia sedang "dibakar", maka sambil tersenyum ia menjawab "Siauw-sute, kau ini aneh aneh saja.

Biarpun Suheng lebih tua menjadi murid Suhu daripadaku, namun kami memilika keahlian masing-masing.

Pedangnya lihai, namun tongkatku yang sepasang ini pun jarang menemukan tandingan."

"Aku percaya, Ji-suheng, kepandaian dalam ilmu silat memang hebat sekali dan aku tidak percaya bahwa pedang Twa suheng akan dapat menangkan sepasang tongkatmu. Akan tetapi Twa-suheng berulang-ulang menyatakan bahwa raja sekalian senjata adalah pedang dan karenanya Twa-suheng memaksaku untuk lebih memperhatikan pelajaran ilmu pedang."

Kwa Siang menjadi penasaran dan mengerutkan kening. Biarpun terhadap suhengnya sendiri, merasa tidak senang kalau ilmu tongkatnya direndahkan dan dianggap kalah oleh ilmu pedang.

"Siapa bilang? Aku berani menghadapi lawan berpedang yang manapun juga!"

Serunya tak senang. Kong Ji cepat-cepat memegang lengan Kwa Siang.

"Aku percaya sepenuhnya, Ji-suheng. Oleh karena itu, biarpun di depan Twa-suheng aku menyatakan kesanggupanku untuk memperhatikan nasihatnya, namun di dalam hatiku aku mengambil keputusan untuk mempelajari tongkat dengan mendalam. Dengan memiliki kepandaian ilmu tongkat seperti kau, kelak aku akan memperlihatkan kepada Twa-suheng bahwa ilmu tongkatmu tak boleh dipandang ringan!"

Girang hati Kwa Siang mendengar ini dan tanpa ragu-ragu lagi ia mulai mempelajari ilmu tongkat yang menjadi kebanggaannya itu kepada Kong Ji.

Harus diketahui bahwa baik Kwa Siang maupun Lai Tek menjadi murid Giok Seng Cu setelah mereka tua dan telah memiliki kepandaian tinggi.

Mereka hanya menerima tambahan ilmu silat dari Giok Seng Cu, sedangkan ilmu tongkat dari Kwa Siang itu pun hasil pelajaran yang dahulu, bukan yang didapatkannya dari Giok Seng Cu.

Oleh karena itu, tentu saja Kong Ji menjadi untung dan menerima pelajaran-pelajaran tinggi dari Kwa Siang.

Demiklanlah, di hadapan Lai Tek, anak ini bicara lain dan ia pun berhasil membakar hati Lai Tek sehingga twa-suhengnya ini betul-betul mencurahkan tenaga untuk membimbingnya mempelajari ilmu pedangnya agar tidak kalah oleh Kwa Slang!

Dengan siasat yang amat licin, Kong Ji dapat membuat dua orang tokoh itu seakan-akan bersaingan dan berlumba menurunkan kepandaian masing-masing kepadanya dan hal itu sudah tentu dia yang untung dan menjadi tukang tadah!

Kedatangan Giok Seng Cu dari Luliang-san disambut dengan gembira oleh anak buahnya.

Akan tetapi tosu rambut panjang ini datang dalam keadaan kelihatan amat lelah dan wajahnya memperlihatkan tanda bahwa ia amat gelisah dan khawatir.

Ia segera mengumpulkan murid-muridnya yang paling tua, yakni Siang mo-kiam Lai Tek, Thian-te Siang-tung Kwa-siang, dan dua orang murid lain yang kepandaiannya sudah tinggi.

Juga Kong Ji tidak ketinggalan karena biarpun ia murid termuda, namun ia amat disayang dan Giok Seng Cu tahu bahwa kelak yang boleh diharapkan hanyalah Kong Ji ini.

Semua orang duduk menghadap guru besar itu yang berkata dengan suara lambat.

"Mulal saat ini, kalian jangan lengah. Semenjak dari Luliang-san, aku telah dihejar-kejar oleh banyak sekali tokoh kang-ouw yang lihai. Mungkin sekali di antara mereka ada yang terus mengejar ke sini, biarpun aku masih bersangsi apakah mereka begitu tidak tahu malu untuk mengacau Im-yang-bu pai di sarang sendiri. Betapapun juga, kalian harus menjaga dan mengerahkan kawan-kawan untuk menyelidik. Rumah perkumpulan ini pun harus dijaga siang malam secara bergilir. Pendeknya, sekarang kita menghadapi bahaya dan sekali-kali jangan lengah."

"Suhu, mengapa mereka itu memusuhi Suhu? Mengapa mereka mengcjar-ngejar terus secara tak tahu malu""

Tanya Kwe Siang. Lai Tek juga memandang dengan mata mengandung pertanyaan. Akan tetapi sebelum Giok Seng Cu menjawab, Kong Ji mendahuluinya.

"Tentu untuk merampas Pak-kek Sin-kiam, apa lagi?"

Semua orang terkejut, termasuk Giok Seng Cu yang menoleh kepada murid cilik yang berdiri di sebelah kirinya ini. Tangannya terulur dan tahu-tahu pergelangan tangan Kong Ji sudah dipegang erat-erat.

"Bagaimana kau bisa menduga begitu?"

Tanyanya keras dengan mata memandang tajam. Kong Ji tidak takut, bahkan tersenyum.

"Suhu, apa sih sukarnya menebak teka-teki ini? Teecu sudah mendengar bahwa Suhu pergi ke Luliang-san untuk mencari pedang dan kitab dan teecu sudah tahu pula bahwa pedang itu adalah Pak-kek Sin-kiam sedangkan kitab itu adalah kitab rahasia peninggalan Pak Kek Siansu. Kemudian Suhu pulang dengan pakaian kusut dan tubuh lelah serta membayangkan kegelisahan, tanda bahwa Suhu menghadapi sesuatu yang memusingkan. Akan tetapi suara Suhu itu tenang dan sinar mata Suhu membayangkan kegembiraan. Mudah bagi teecu untuk menduga bahwa Suhu tentu telah berhasil mendapatkan dua benda itu. Hanya teecu masih belum mengerti mengapa Suhu kelihatan gelisah. Kemudian Suhu menyatakan bahwa orang-orang kang-ouw mengejar-ngejar Suhu, maka apa lagi kehendak mereka itu kalau bukan mengejar Suhu untuk merampas sesuatu yang bcrharga? Karena inilah tee-cu menduga bahwa Suhu tentu telah berhasil dan mereka itu mengejar untuk merampas pedang Pak-kek Sin-kiam!"

Giok Seng Cu menjadi kagum luar biasa. Ia melirik ke pakaiannya, akan tetapi dari luar pedang pusaka yang disembunyikan di balik baju itu tidak kelihatan.

"Di antara kedua benda berharga mengapa kau menyangka bahwa pedang pusaka yang kau dapatkan?"

Tanyanya curiga.

"Teecu menduga sembarangan Suhu. Karena bagi teecu, apa sih artinya kitab ilmu silat bagi Suhu yang sudah berkepandaian tinggi? Tentu bagi Suhu pedang itu yang lebih penting, maka teecu menduga bahwa Suhu tentu telah mengambil pedangnya."

Giok Seng Cu melepaskan cekalannya tertawa girang dan memandang kepada murid-muridnya.

"Di antara kita, tak seorang pun yang mampu menandingi kecerdikan Kong Ji! Kau benar sekali Kong Ji, dan aku girang melihat kecerdikanmu. Akan tetapi bagaimana dengan ilmu silatmu? Apakah selama aku pergi, kedua Suhengmu telah melatihmu baik-baik?"

Kwa Siang ingin memamerkan hasil latihannya kepada sute yang disayang itu, maka ia berkata.

"Sute, mengapa kau tidak niemperlihatkan ilmu tongkat yang telah kaupelajari kepada Suhu?"

"Haruskah teecu memperlihatkan sedikit kepandaian yang teecu terima dari Jiwi-suheng?"

Tanya Kong J i kepada gurunya. Anak ini sengaja berkata "sedikit kepandaian"

Agar suhunya tidak puas dan menurunkan ilmu silatnya yang lihai, terutama Tin san-kang! (Lanjut ke

Jilid 06) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Giok Seng Cu mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya riap-riapan itu.

"Coba kau perlihatkan kepandalanmu."

Kwa Siang melemparkan sepasang tongkat hitam putih ke arah Kong Ji yang menerimanya dengan gaya indah.

Kemudian anak ini bersilat di ruangan itu, bersilat dengan cepat dan baik sekali sesuai dengan petunjuk dan ajaran Kwa Siang.

Thian-te Siang-tung ini melirik-lirik ke arah Lai Tek sambil tersenyum-senyum bangga.

Sebagai penerima ilmu silatnya ternyata sute yang kecil itu tidak mengecewakannya.

Biarlah Lai Tek melihat bahwa ilmu tongkat yang ia turunkan kepada Kong Ji tak boleh dipandang rendah.

Giok Seng Cu mengangguk-angguk.

"Hmm, Kwa Siang baik sekali sehingga mau menurunkan kepandaian tunggalnya kepadamu, Kong Ji. Akan tetapi, apa yang kaupelajari dan Lai Tek?"

Tanyanya setelah anak itu berhenti bersilat dan mengembalikan sepasang tongkat itu kepada Kwa Siang.

"Teecu juga mempelajan sedikit ilmu pedang dari Twa suheng."

"Kau mainkan Sute, agar Suhu dapat memeriksa dan menilainya."

Lai Tek mendesak sambil meloloskan pedangnya untuk dipergunakan oleh sutenya.

Akan tetapi Kong Ji pura-pura tidak melihat twa-suheng ini menyodorkan pedang.

Ia bahkan menghampiri Giok Seng Cu dan berkata.

"Bolehkah teecu memperlihatkan ilmu pedang dan Twa-suheng dengan mempergunakan Pak-kek Sin-kiam, Suhu?"

Tiba-tiba Giok Seng Cu meloncat dan menangkap leher baju Kong Ji dan diangkatnya tubuh anak itu ke atas.

Hampir saja ia membanting bocah ini dan semua sudah menjadi pucat.

Kwa Siang dan Lai Tek cukup mengenaI watak suhu mereka, yakni kalau sudah marah, belum puas kalau belum membunuh orang.

Akan tetapi aneh, anak itu diturunkan lagi dan Giok Seng Cu duduk sambil menarik napas panjang.

"Kong Ji jangan sekali-kali kau menyebut-nyebut Pak-kek Sin-kiam lagi. Mengerti?"

Kong Ji yang sudah pucat itu mengangguk-angguk dan berlutut di depan suhunya. Kemudian ia menerima pedang dari Lai Tek dan bersilat pedang, ditonton oleh Giok Seng Cu.

"Hm, kau sudah mendapat kemajuan lumayan. Kau harus lebih banyak berlatih lweekang agar siap sedia menerima latihan-latihan langsung dari aku sendiri."

Kong Ji menjadi girang sekali dan buru-buru berlutut menghaturkan terima kasth kepada gurunya.

Semenjak hari itu, benar saja rumah perkumpulan Im-yang-bu-pai yang amat besar itu dijaga rapi dan kuat oleh para anggauta Im-yang-bu-pai.

Sedangkan Giok Seng Cu selalu mengeram diri di dalam kamarnya dan pedang Pak-kek Sin kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya.

Yang dipercaya hanya Kong Ji seorang.

Hanya murid termuda inilah yang mengawaninya tidur di kamarnya.

"Kong Ji, aku sewaktu-waktu perlu beristirahat dan tidur. Kalau aku tidur pulas, kau berjaga dan cepat membangunkan aku kalau-kalau ada musuh datang,"

Katanya.

Oleh karena itu, semenjak hari itu Kong Ji tidur di dalam kamar itu bersama Giok Seng Cu.

Bahkan guru besar ini sudah demikian percaya sehingga ia pernah memperlihatkan Pak kek Sin-kiam yang membuat anak itu bergidik ketika melihat cahaya terang keluar dari mata pedang itu.

Biarpun Kong Ji berwatak jahat dan curang, namun ia tak dapat melupakan pembunutian kepada ayah bundanya dilakukan oleh orang-orang Im-yang-bu-pai.

Dengan amat cerdik, ketika bercakap-cakap dengan Lai Tek dan Kwa Siang.

Ia memancing percakapan tentang perkumpulan-perkumpulan kang-ouw dan menyinggung-nyinggung perkumpulan Kwan-im-pai.

Akhirnya ia berhasil memancing dan mendapat keterangan bahwa yang membinasakan ayah bundanya adalah seorang tokoh Im-yang-bu-pat ang berjuluk Sin chio (Tombak Sakti), Thio Seng juga murid dart Giok Seng Cu dan dalam urutan murid-murid Giok Seng Cu, ia terhitung murid ke lima dan kepandaiannya tidak kalah jauh oleh Kwa Siang atau Lai Tek.

Semenjak mendapat keterangan bahwa suheng yang inilah pembunuh ayah bundanya, diam-diam Kong Ji mencari ketika untuk membalas dendam.

Akan tetapi tentu saja amat sukar baginya, karena selain ia kalah jauh dalam hal kepandaian silat, juga tak mungkin ia membunuh suheng sendiri di Im-yang-bu-pai.

Kini setelah suhunya pulang dan ia mendapat kepercayaan tidur di dalam kamar suhunya, diam-diam otaknya yang penuh akal itu bekerja.

Pada siang hari diam-diam ia menemui Sin-chin Thio Seng dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Ngo-suheng (Kakak Seperguruan Lima), setiap malam aku merasa ngeri tidur di kamar Suhu,"

Katanya perlahan setelah mereka bercakap-cakap agak lama dan suasana sudah hangat dan ramah-tamah. Thio Seng memandangnya heran.

"Eh mengapa, Sute? Apakah Suhu suka mengigau? Ataukah dengkurnya terlalu keras?"

Kong Ji tersenyum, menggelengkan kepala.

"Bukan demikian, yang membikin aku merasa ngeri adalah... Pak-kek Sin-kiam itulah...."

Anak ini sengaja memperlihatkan sikap ketakutan.

Sin-chio Thio Seng tertarik sekali.

Kalau tidak dimulai oleh Kong Ji bicara tentang pedang pusaka itu saja ia tidak akan berani, mengingat akan larangan suhunya.

"Kenapa sih?"

Ia mendesak.

"Kalau diceritakan kepadamu kau tentu tidak percaya, Suheng. Pedang itu di waktu tengah malam buta, bisa keluar dari sarungnya dan beterbangan seperti naga bernyala-nyala di dalam kamar...."

Kembali Kong Ji bergidik dan mukanya menjadi pucat.

Inilah kelihaian anak itu, setelah mempelajari lweekang ia dapat menahan jalan darah yang mengalir naik ke mukanya sehingga wajahnya menjadi pucat.

Tentu saja kepandaian ini dimiliki pula oleh Thio Seng yang sudah lihai namun pada saat itu ia mengira bahwa sutenya benar-benar merasa ngeri dan pucat.

"Aah, mana ada kejadian seperti itu? Kau terpengaruh oleh dongeng, Sute."

"Aku berani bersumpah, Ngo-suheng. benar-benar hal itu terjadi, kalau kau tidak percaya, kau boleh membuktikan sendiri."

Thio Seng makin tertarik akan tetapi tentu saja ia tidak berani membuktikan, karena tidak ada jalan untuk dia membuktikan peristiwa itu.

"Tak mungkin, Suhu tentu akan marah besar kalau tengah malam buta aku datang ke kamarnya,"

Katanya menyesal. Sebenarnya ia pun merasa iri hati melihat suhunya demikian sayang dan percaya kepada Kong Ji.

"Mengapa harus masuk ke kamar? Aku mau menolongmu, Ngo-suheng. kalau kau benar-benar hendak mcmbuktikan omonganku tadi. Malam ini Suhu tentu akan tidur nyenyak, karena malam tadi dia tidak tidur sama sekali. Nah, lewat tengah malam kau boleh datang dan berdiri di luar jendela kamar. Aku akan membuka daun jendela kalau pedang itu sudah beterbangaan di dalam kamar nanti kau dapat melihat sendiri."

"Bagaimana kalau Suhu mengetahui aku berada di sana?"

"Tak mungkin. Suhu setelah percaya bahwa aku berada dan menjaga di sampingnya, kalau tidur pulas sekali. Dan pula, apa salahnya kalau kau hanya menyaksikan keanehan itu? Mungkin Suhu sendiri kalau bangun dan melihat pedang itu beterbangan, takkan memperhatikan hal yang lain lagi."

Karena amat tertarik, Thio Seng menyanggupi dan berjariji akan datang dan berdiri di luar jendela menjelang tengah malam hari itu.

Kong Ji girang bukan main di dalam hatinya dan diam-diam mencaci maki suhengnya ini.

"Jahanam keparat, sekarang tibalah saatnya ku membalas dendam atas kematian Ayah Bundaku!"

Malam hari itu, ketika suhunya hendak tidur ia berbisik.

"Suhu, malam ini harap Suhu jangan tidur."

Giok Seng Cu terkejut sekali.

"Eh, mengapa? Apa yang terjadi?"

Kong Ji menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya.

"Mohon ampun kalau tee-cu kali ini salah menduga, Suhu. Akan tetapi teecu mempunyai dugaan bahwa seorang murid Suhu sedang merencanakan untuk mencuri Pak-kek Sin-kiam Selain ini...."

"Gila! Siapa dia? Hayo lekas ceritakan!"

"Harap Suhu bersabar. Teecu hanya menduga saja dan kalau tidak ada buktinya tidak enaklah kalau Suhu terburu nafsu memanggilnya. Ada seorang murid yang selalu bertanya tentang Pak-kek Sin-kiam, bahkan menanyakan apakah malam hari ini Suhu akan tidur dan pada saat apa Suhu biasanya tidur pulas. Ia bertanya pula di mana Suhu menyimpan pedang itu, pendeknya sikapnya amat mencurigakan. Oleh karena itu, harap Suhu jangan tidur dan kita lihat bersama siapa orangnya yang akan muncul."

Giok Seng Cu marah sekali.

"Baik aku akan pura-pura tidur mendengkur dan dia yang berani datang akan kupenggal lehernya dengan pedang ini!"

Kakek itu naik ke pembaringan dan pedang Pak-kek, Sin-kiam telah dilolos dari sarungnya dipegang olehnya.

Kong Ji menunggu dengan hati berdebar.

Bagaimana kalau Thio Seng tidak berani datang?

Menjelang tengah malan Giok Seng Cu memperkeras dengkurnya dan tiba-tiba Kong ji mendengar tindakan kaki yang amat ringan di luar jendela kamar itu.

Ia berdebar girang, diam-diam mendekati suhunya dan menowel lengannya.

Suhunya masih mendengkur, akan tetapi membuka mata dan berkedip kepadanya.

Kong Ji berjalan ke jendela dan membuka daun jendela itu.

Di luar berdiri seorang laki-laki dan bukan lain orang itu adalah Thio Seng.

Begitu jendela dibuka dan melihat bahwa yang datang adalah muridnya ke lima, yakni Sin-chio Thio Seng, Giok Seng Cu tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.

Sambil berseru keras ia melompat dan tubuhnya melayang melalui jendela.

Memang benar pada saat itu Thio Seng melihat pedang terbang Pedang Pak-kek Sin kiam yang sudah terhunus dari sarungnya, mengeluarkan cahaya terang dan kini pedang yang berada di tangan Giok Seng Cu itu seakan-akan terbang keluar jendela, dan dalam sekelap mata saja menggelindinglah kepala Thio Seng yang sudah terbabat putus lehernya oleh Pak-kek Sin-kiam"

Ada saat itu tiba-tiba terdengar seruan.

"Giok Seng Cu, serahkan pedang Pak-kek Sin kiam itu kepada kami!"

Seruan ini disusul oleh melayangnya lima bayangan orang yang gesit sekali dari atas genteng.

Giok Seng Cu menggerakkan pedangnya.

Sinar emas berkelebat di antara cahaya penerangan yang keluar dari jendela kamar.

Terdengar suara "Trang!

Trang!

Trang!"

Dan tiga batang golok yang dipegang oleh para penyerang itu telah terbabat menjadi dua potong!

Tiga orang ini terkejut sekali dan cepat melompat ke atas genteng, akan tetapi yang dua orang lagi tak sempat melarikan diri karena kembali Pak-kek Sin kiam telah digerakkan dan kini yang terbabat bukan senjata mereka, melainkan tubuh mereka!

Seorang terbabat putus pinggangnya dan yang ke dua terbelah dadanya.

Demikian hebatnva Pak-kek Sin-kiam pedang pusaka itu.

Pada saat itu, di atas genteng terdengar sayap burung menggelepar dan bayangan burung yang amat besar meluncur lewat.

Melihat ini tiba-tiba Giok Seng Cu memegang tangan Kong Ji.

"Lekas siapkan diri, kita pergi malam ini juga!"

Dengan cepat Giok Seng Cu mengumpulkan anak buahnya yang sudah datang ke tempat itu.

"Thio Seng hendak berkhianat dan dua mayat ini adalah mayat musuh yang hendak merampas pedang. Aku akan pergi bersama Kong Ji. Kalau ada orang-orang kang-ouw datang, jangan mencari permusuhan dengan mereka. Bilang saja aku pergi membawa pedang Pak-kek Sin-kiam, kalau tidak percaya mereka boleh menggeledah. Akan tetapi sekali lagi, jangan menyerang mereka, apalagi kalau ada bocah gundul membawa ular dan burung rajawali, jangan sekali-kali mencari permusuhan dengan mereka. Nah, urus mayat-mayat ini dan jaga perkumpulan baik-baik. Untuk sentara, Lai Tek boleh memimpin saudara-saudaramu."

Setelah berkata demikian, Giok Seng Cu lalu menyambar tubuh Kong Ji yang sudah membawa buntalan pakaian, dan lenyap di dalam gelap malam.

Lai Tek, Kwa Siang dan yang lain-lain tahu bahwa tentu telah terjadi penyerangan dari luar, akan tetapi biarpun mereka akui akan kelihaian para penyerang yang dapat menerobos masuk tanpa diketahui oleh penjaga, sudah terbukti suhunya menang.

Mengapa sekarang suhunya melarikan diri seperti orang ketakutan?

Mereka tak menemukan jawaban, maka setelah pagi tiba, mereka diam-diam mengurus jenazah Thio Seng dan dua orang yang ternyata adalah orang-orang muda dengan tubuh gagah.

"Suhu dengan mudah merobohkan lima orang lawan. mengapa takut menghadapi seekor burung?"

Tanya Kong Ji pada keesokan harinya ketika suhunya mambawanya berlari jauh sekali meninggalkan kota Lam-si di kaki Bukit Kim-san.

Setelah setengah malam Giok Seng Cu berlari cepat sambil menggendong Kong Ji.

"Anak bodoh, aku tidak takut menghadapi tokoh kang-ouw dari manapun juga, akan tetapi kau tak tahu. Burung kim-tiauw yang terbang di atas rumah kita malam tadi adalah milik dari Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun, bocah gundul yang seperti iblis!"

"Ban-beng Sin tong? Bocah sakti macam apakah dia, Suhu?"

"Dia benar-benar lihai, memelihara ular-ular berbisa dan burung kim-tiauw. Akan tetapi aku tidak takut menghadapinya, yang harus ditakuti adalah ayah bundanya, kabarnya kepandaian mereka luar biasa tingginya."

"Suhu, kepandaian Suhu sudah menjulang setinggi langit. Dengan Tin-san-kang dan pedang pusaka itu di tangan, siapakah kiranya yang dapat menandingi Suhu ?"

Giok Seng Cu tertawa sambil melepaskan lelah, duduk di bawah pohon besar.

"Kong Ji, jangan kau bermimpi di tengah hari! Kepandaian manusia tidak ada batasnya dan biarpun Gunung Thai-san amat tinggi, masih saja ada awan dan langit di atasnya, belum bicara tentang bulan, matahari dan bintang-bintang! Memang belum tentu aku kalah oleh iblis tua See-thian Tok-ong ayah dari Ban-beng Sin-tong, akan tetapi aku ngeri mendengar namanya. Dugaanmu dahulu bahwa aku lebih mementingkan pedang Pak-kek Sin-kiam tidak betul. Kalau saja aku bisa mendapatkan kitab yang berisi ilmu silat dari Pak Kek Siansu dan sudah mempelajari isinya aku tak usah berlari pergi dari ancaman siapapun juga"

Kakek ini lalu menceritakan tentang kitab peninggalan Pak Kek Siansu seperti yang pernah ia dengar dari mendiang gurunya, yakni Pak Hong Siansu.

"Kepandaian Pak Kek Siansu yang masih terhitung Supekku (Uwa Guruku) sendiri itu dahulu itu terhitung di tingkat paling atas. Oleh karena itu, siapa yang dapat menemukan kitabnya dan mewarisi ilmu silatnya, tentu akan menjagoi dunia. Melihat betapa putera See-thian Tok-ong jauh-jauh dari Tibet datang mencari kitab itu, dapat dibayangkan betapa hebatnya kitab itu dan ajarannya. Tentu lebih tinggi dan kepandaian See-thian Tok-ong sendiri. Sayang aku tidak dapat menemukan kitab itu."

Kong Ji kagum bukan main.

Tadinya ia mengira bahwa suhunya adalah orang yang paling lihai, tidak tahunya masih ada See-thian Tok-ong dan anak isterinya, bahkan kini masih ada yang lebih hebat lagi, yakni kitab pusaka peninggalan Pak Kek Siansu.

Mendengar adanya sekian banyak orang-orang lihai di dunia Kong Ji menjadi mengilar dan nafsunya untuk menjadi murid Giok Seng Cu agak mendingin.

Ia inginl menjadi orang yang menjagoi seluruh dunia kang-ouw, akan tetapi cita-citanya takkan tercapai kalau ia hanya terima menjadi murid kakek ini, pikirnya.

"Suhu apakah Pak Kek Siansu tidak meninggalkan murid-muridnya?"

Tanyanya hati-hati agar suara hatinya tidak ddengar oleh suhunya.

"Ada, Luliang Sam-lojin adalah muridnya, akan tetapi tiga orang tua dari Luliang-san itu biarpun lihai belum mewarisi Ilmu Silat Pak-kek Sin ciang seluruhnya."

"Kalau begitu, di dunia tidak ada yang dapat mainkan Pak-kek Sin-ciang?"

"Ada, yakni murid termuda dan Pak Kek Siansu bernama Go Ciang Le dan disebut Hwa I Enghiong. Dia pun baru mempelajari setengahnya lebih namun ia sudah bisa menjagoi dunia kang-ouw sampai bertahun-tahun."

"Apakah dia lebih lihai dan See-thian Tok-ong?"

"Mungkin, dahulupun ilmu silatnya sudah hebat sekali. Hayo kita lanjutkan perjalanan."

Kata Giok Seng Cu dan kini tidak menggendong Kong Ji lagi karena merasa bahwa ia sudah jauh meninggalkan orang-orang yang mengejarnya.

Kong Ji makin kagum.

Tak disangkanya bahwa di atas See-thian Tok-ong masih ada Go Ciang Le yang dipuji-puji gurunya, padahal Go Ciang Le mempelajari setengahnya dari Ilmu Pak-kek Sin-ciang!

Alangkah beruntungnya kalau dia bisa mempelajari ilmu silat itu.

Sepekan kemudian mereka tiba di sebuah kota kecil dan Giok Seng Cu mengajak Kong Ji bermalam dalam sebuah hotel.

Mereka lelah sekali karena melakukan perjalanan jauh siang malam jarang beristirahat.

Dalam perjalanan ini, Giok Seng Cu selalu berlaku hati-hati juga ketika bermalam di hotel.

Ia tidur bergantian dengan muridnya.

Menjelang tengah malam, telinga Kong Ji yang sudah tajam pendengarannya, tiba-tiba menangkap suara tindakan kaki di atas genteng.

Ia cepat menggoyang-goyang tubuh suhunya, akan tetapi ternyata Giok Seng Cu juga sudah bangun dan menaruh jari tangan di depan mulut.

"Shh, sejak tadi aku sudah mendengar,"

Bisik kakek ini.

Kong Ji menjadi merah mukanya.

Dia baru saja mendengar akan tetapi suhunya sudah sejak tadi tahu bahwa ada orang datang di atas genteng hotel.

Mereka diam tak bergerak, menahan napas dan memasang telinga.

Di atas genteng terdengar gerakan kaki tiga orang dan gerakan itu amat lincah dan ringan tanda bahwa orang-orang itu memiliki kepandaian tinggi sekali.

Yang terdengar hanya gerakan antara sepatu dan genteng kalau orang-orang itu tidak bersepatu, tentu takkan mengeluarkan suara sedikit pun juga.

Terdengar bisik-bisik di atas genteng.

Kong Ji tak dapat mendengar jelas, akan tapi Giok Seng Cu segera tertawa bergelak.

"Tua bangka-tua bangka dari Bu-tong, Go-bi dan Teng-san, kalian benar-benar tak tahu malu. Malam-malam seperti maling datang di sini mau apakah?"

Bentaknya sambil melompat bangun dengan Pak-kek Sin-kiam di tangan.

Tadinya Giok Seng Cu bersangsi dan amat gelisah karena mengira bahwa yang datang adalah See-thian Tok-ong, akan tetapi setelah mendengar bisik-bisik mereka dan tahu bahwa yang datang adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, Kian Hok Taisu ketua Go-bi dan Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai, ia memandang rendah dan berani menegur mereka.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Giok Seng Cu melompat keluar dari kamarnya dan terus berlari keluar hotel.

Kong ji mengikutinya dari belakang.

Di luar hotel, di bawah penerangan lampu di depan pintu pekarangan hotel berdiri tiga orang kakek.

Seorang tojin tinggi kurus berjenggot panjang, yakni Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, seorang hwesio tinggi besar ketua Go-bi-pai yang bernama Kian Hok Taisu dan orang ke tiga adalah Pang Soan Tojin, tosu jenggot pendek bertubuh gemuk, ketua Teng-san-pai.

Kian Hok Taisu ketua Go-bi-pai menjura kepada Giok Seng Cu.

"Toyu (sahabat), kami datang hanya untuk bertanya secara terang-terang kepadamu tentang kitab Pak-kek Sin ciang-pit-kip."

Giok Seng Cu mengeluarkan senyuman menyeringai.

"Siapa yang tahu tentang kitab itu? Kalau kalian datang hendak merampas pedang, boleh kalian coba. Ini dia pedangnva sudah kupegang!"

Mendengar tantangan ini, tiga ciangbunjin (ketua partai besar) menjadi merah mukanya.

"Giok Seng Cu, kau sombong,"

Kata Pang Soan Tojin.

"Kami tidak begitu tertarik oleh pedang, di tempat kami sendiri sudah banyak. Yang membuat kami datang ini adalah untuk bertanya apakah benar-benar kau tidak mendapatkan kitab itu ketika naik ke puncak Luliang-san?"

"Aku tidak mendapatkan kitab itu. Nah, kau percaya atau tidak bukan urusanku, akan tetapi aku tidak sudi kalian minta aku bersumpah. Habis kalian mau apa?"

Giok Seng Cu tetap bersikap menantang.

"Nanti dulu, Toyu,"

Kata Kian Hok Taisu yang lebih sabar.

"Kami sama sekali tidak bermaksud bermusuhan denganmu. Kalau betul kau tidak mendapatkan kitab itu, marilah kita berempat membawa pedangmu itu kembali ke Luliang-san. Hanya dengan pedang itu kiranya kita akan dapat menemukan kitab peninggalan Pak Kek Siansu Locianpwe."

Giok Seng Cu mengerutkan kening.

"Omongan apa ini? Mengapa harus membawa pedang ini untuk mendapatkan kitab itu?"

Kian Hok Taisu menarik napas panjang.

"Kabar tentang pedang dan kitab amat bersimpang siur. Boleh jadi sekarang apa yang kami dengar berbeda dengan apa yang kaudengar, Giok Seng Cu. Akan tetapi kami mendengar bahwa pedang dan kitab itu tak pernah berpisah. Sekarang pedang sudah di tanganmu, untuk mencari kitab, sebaiknya kau bersama kami membawa pedang itu naik kembali ke puncak Luliang-san."

Giok Seng Cu berpikir sejenak, kemudian berkata.

"Pedang sudah di tanganku, yang berhak mencari dan mendapatkan kitab hanya aku seorang. Andaikata kita berempat naik ke sana kemudian kitab itu kita dapatkan, siapakah yang akan berhak memiliki kitab itu?"

Tiga orang kakek itu saling pandang dengan tersenyum, lalu dengan suara tegas Kian Hok Taisu berkata.

"Tentu saja akan kita bakar musnah sesuai dengan rencana tokoh-tokoh kang-ouw dan ketua-ketua partai persilatan besar."

"Gila...!"

Giok Seng Cu membentak marah.

"Apakah kalian sudah gila? Semua orang mencari dan memperebutkan kitab itu dan kalian hendak membakarnya kalau dapat menemukannya?"

Kian Hok Taisu mengangguk.

"Pak Kek Siansu adalah seorang tokoh besar yang budiman dan seorang guru besar yang patut dihormati dan patut dijadikan locianpwe yang nomor satu di dunia. Ilmunya yang terdapat dalam kitab itu amat tinggi dan memang tepat kalau dimiliki oleh seorang gagah seperti Pak Kek Siansu. Akan tetapi siapa berani tanggung kalau ilmu itu terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak cocok? Bagaimana kalau kepandaian itu terjatuh ke dalam tangan yang berwatak jahat? Bukankah itu hanya akan menimbulkan kekacauan dan akhirnya akan memusingkan kami semua?"

"Gila...! Aku tidak setuju. Kitab kelak pasti akan terjatuh ke dalam tanganku, seperti halnya pedang ini,"

Kata Giok Seng Cu. Diantara tiga orang kakek itu, paling berangasan wataknya adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai. Mendengar ini lalu mengeluarkan suara di hidung berkata.

"Lebih celaka lagi kalau jatuh ke dalam tanganmu."

Biarpun kata-kata ini sangat singkat saja, namun mendengar ucapan yang tadi dikatakan oleh Kian Hok Taisu, sama halnya dengan memaki Giok Seng Cu sebagai seorang jahat yang berbahaya!

Naik darah Giok Seng Cu mendengar itu.

"Ini pedangku, dan akulah yang berhak membawanya ke mana saja. Aku tidak mau ikut kalian ke Luliang-san habis kau mau apa?"

Kian Hok Taisu melangkah maju "Kalau begitu, berlakulah baik kepada kami, memandang persahabatan lama.

Toyu, Berilah kami pinjam Pak-kek Sin-kiam itu untuk sementara waktu, kami bersumpah bahwa pedang ini pasti akan kami kembalikan apabila kami sudah berhasil membasmi kitab peninggalan Pak Kek Siansu."

"Ha-ha-ha, enak saja kau bicara, Kian Hok Taisu. Mulut manusia bisa didengar, akan tetapi siapakah yang bisa mendengar suara hati manusia? Sedangkan biasanya, suara mulut dan hati selalu bertentangan! Tidak, pedang ini adalah milikku, siapapun juga tidak boleh pinjam."

Sambil berkata demikian Giok Seng Cu menyarungkan pedang itu kembali di balik bajunya yang lebar.

"Giok Seng Cu, kau sendiri merampas pedang itu dari tangan Ban-beng Sin-tong secara curang"

Teriak Pang Soan Tojin. Sinar mata Giok Seng Cu penuh ancaman dan sindiran.

"Habis kau mau apa"

Kalau kau mampu merampas dari tanganku, baik dengan jalan curang atau tidak, kau boleh coba-coba"

"Kau menantang?"

Sambil berkata demikian, Pang Soan Tojin lalu bergerak memukul, ke arah dada Giok Seng Cu.

Giok Seng Cu tidak inengelak, sebaliknya lalu menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

Dua lengan yang kuat bertemu dan Pang Soan Tojin terhuyung-huyung tiga tindak ke belakang.

"Ha, ha, tidak berapa berat tenagamu!"

Giok Seng Cu mengejek dan cepat seperti kilat ia mengirim pukulan dengan tubuh hampir berjongkok.

Inilah ilmu pukulan dengan tenaga Tin-san-kang yang hebat!

Sebagai ahli-ahli silat tinggi, Bu Kek Siansu dan Kian Hok Taisu maklum akan hebatnya serangan ini, maka keduanya sambil berseru keras maju menangkis untuk menolong Pang Soan Tojin.

"Duk...!"

Sepasang lengan Giok Seng Cu yang dipukulkan tertangkis oleh ketua Bu-tong dan ketua Go-bi dan akibatnya Bu Kek Siansu dan Kian Hok Taisu terjengkang hampir roboh.

Baiknya mereka telah memiliki tenaga lweekang yang tinggi, kalau tidak mereka tentu akan mendenta luka atau tulang lengan mereka akan sakit dan dingin sekali, maka cepat-cepat mereka menggunakan tangan kiri untuk mengurut pangkal lengan ini membereskan jalan darah masing-masing.

"Lihai sekali..."

Kata Pang Soan Tojin pucat.

Baru sekarang tiga orang tokoh ini mengenal Tin-san-kang dan tahu bahwa kepandaian Giok Seng Cu masih lebih tiggi daripada mereka.

Maka ketiganya cepat mengeluarkan senjata masing-masing.

Pang Soan Tojin mengeluarkan sebuah pian baja, Bu Kek Siansu mengeluarkan sebatang pedang yang dipegang tangan kiri sedangkan Kian Hok Taisu mengeluarkan sepasang senjata kaitan.

"Ha. ha, ha! Hendak mengadu senjata? Bagus. majulah!"

Giok Seng Cu menantang tanpa mengeluarkan senjata.

Tiga orang ketua partai besar itu maju menubruk dan menggerakkan senjata mereka yang lihai.

Tiba-tiba berkelebat sinar keemasan dan terdengar suara keras.

Tahu-tahu sebuah pian baja dan sebuah senjata kaitan terbabat putus sedangkan Bu Kek Siansu sendiri kalau tidak cepat-cepat menarik kembali pedangnya, tentu akan terbabat putus pula pedangnya oleh pedang Pak-kek Sin-kiam yang dengan cepat sekali telah dikeluarkan oleh Giok Seng Cu dan digerakkan sekaligus membabat senjata-senjata lawan!

Bukan main kagetnya tiga orang kakek itu.

Dalam ilmu silat, mungkin mereka tidak kalah jauh oleh Giok Seng Cu dan dengan melakukan pengeroyokan mereka tentu akan menang.

Akan tetapi tanpa senjata, amat berbahaya menghadapi ketua Im-yang-bu-pai yang memiliki tenaga Tin-san-kang yang ganas itu, sedangkan dengan senjata juga payah menghadapi pedang Pak-kek Sin kiam yang ampuh sekali.

Mereka berseru dan sekali berkelebat tiga orang kakek itu melarikan diri, lenyap ditelan gelap malam.

Giok Seng Cu tertawa berkakakan lalu membetot dengan tangan Kong Ji dan pada saat itu juga ia kabur pergi meninggalkan hotel itu.

Ia tidak takut akan datangnya lawan-lawannya, hanya ia merasa khawatir kalau-kalau tersusul oleh Ban-beng Sin-tong dan ular-ularnya apalagi kalau ayah bunda anak iblis itu datang!

Suhu, Tin-san-kang dan Pak-kek Sin-kiam hebat sekali...."

Kong Ji mecmuji suhunya setelah mereka pergi jauh. Giok Seng Cu menarik tangan Kong Ji dan berkata.

"Muridku, kau sekarang menghadapi tugas berat. Kau tidak boleh ikut dengan aku, karena ada pekerjaan yang harus kau lakukan. Kau dengar tadi bahwa para tokoh kang-ouw dengan mati-matian mencari kitab peninggalan Pak Kek Siansu. Kalau mereka merampas dan memilikinya saja masih tidak apa, aku dapat mencoba merampasnya kembali. Akan tetapi celakalah kalau sampai mereka membakarnya. Karena itu, kau harus kembali ke Lam-si. Kau membawa suratku dan mulai saat ini kaulah yang mewakili aku memimpin kawan-kawan lm-yang-bu-pai."

"Akan tetapi, Suhu, kepandaianku masih amat rendah ....."

"Tidak apa-apa, bukankah ada aku di belakangmu? Selama aku masih hidup, siapa yang berani membantahmu?"

"Biarpun demikian, sedikitnya Suhu harus menurunkan Tin-san-kang ke teecu agar teecu tidak malu untuk mewakili Suhu."

Giok Seng Cu tersenyum.

"Bocah tolol. Kau kira gampang saja memiliki Tin-san-kang? Kau harus melatih diri sampai bertahun-tahun. itu pun kalau kuat."

"Tidak apa, Suhu. Biarlah teecu mempelajari kauw-koat (teori) saja dulu, perlahan-lahan teecu akan melatih diri."

"Baiklah, baiklah. Sebentar kau akan kuajar kauw-koatnya. Sekarang dengarlah pesanku dan perhatikan baik-baik. Orang-orang kangouw berusaha mendapatkan kitab itu. Aku tidak dapat keluar karena See-thian Tok-ong tentu mencariku untuk merampas pedang ini. Maka aku akan bertapa di Lembah Maut.

"Lembah Maut? Di manakah itu, Suhu?"

"Lembah Maut yang kumaksudkan berada di lembah Sungai Wei-ho di barat kota Sian, di kaki Gunung Cin-leng-san. Adapun kau kembali ke Lam-si, kumpulkan kawan-kawan dan suruh mereka menyelidiki ke Luliang-san. Suruh kedua Suhengmu, Thian-te Siang tung Kwa Siang dan Siang-mo-kiam Lai Tek untuk memimpin kawan-kawan ke Luliang-san. Syukur kalau kalian dapat mencari sendiri kitab peninggalan Pak-kek Siansu, kalau sampai terdapat oleh tokoh kang-ouw, rampas saja. Kemudian setelah berhasil, bawa kitab itu kepadaku di kaki Gunung Cin-leng-san di Lembah Maut. Mengerti?"

"Baik, Suhu. Teecu mengerti."

Kong Ji lalu mengulang pesan suhunya ini dengan cermat sehingga Giok Seng Cu menjadi puas.

"Awas, di antara semua murid lm-yang bu-pai kalau sampai berani mengkhianatiku dan tidak menjalankan perintah, aku akan datang menghancurkan kepalanya. termasuk kau, Kong Ji"

Kong Ji berlutut.

"Mana berani tee-cu mengkhianati Suhu? Teecu bahkan akan membela dengan selembar nyawa teecu agar cita-cita Suhu ini tercapai."

"Bagus sekali, muridku. Memang, terus terang saja kunyatakan kepadamu bahwa apabila kitab itu sudah terdapat olehku, kelak kaulah orang yang akan mewarisi pedang dan isi kitab. Aku sudah tua dan hanya kau muridku yang akan menjadi ahli warisku dan menjagoi di dunia kang-ouw. Nah, sekarang perhatikan baik-baik Ilmu Silat Tin-san kang yang hendak kuajarkan kauw-koatnya padamu."

Di dalam hutan itu Kong Ji mendengarkan ajaran suhunya.

Otaknya memang cerdik luar biasa sehingga seluruh teori Tin-san-kang dapat dihafalkan baik baik diluar kepala dalam waktu dua hari!

Kemudian gurunya bersilat memperguna Tin-san-kang, juga gerakan-gerakan untuk memudahkan latihannya, dapat dihafalkan dalam waktu sehari.

Tentu saja kalau ia yang bersilat tenaga Tin-san-kang belum timbul, hal ini membutuhkan latihan lweekang yang lama.

Gtok Seng Cu puas sekali, lalu membuat surat yang menyatakan bahwa selama ia tidak ada, maka mengangkat Ko Ji menjadi wakilnya di Im-yang-bu-pai sehingga boleh dibilang Kong Ji yang masih kecil itu diangkat menjadi ketua sementara!

Setelah menerima pesanan-pesanan suhunya, Kong ji dengan hati girang lalu meninggalkan suhunya, pulang ke Lam-si.

Thian-te Siang tung Kwa Siang, Siang-mo-kiam Lam Tek dan yang lain-lain menyambut kedatangan Kong ji dengan gembira karena mendengar bahwa suhu mereka selamat, akan tetapi diam-diam kedua tokoh ini mendongkol juga melihat bahwa suhu mereka lebih percaya kepada Kong Ji daripada kepada mereka sehingga mengangkat anak itu menjadi wakil ketua.

Akan tetapi, mereka tentu saja tidak berani membantah kehendak suhu mereka dan beramai-ramai mereka menjura tanda menghormat kepada Kong Ji.

Tentu saja anak itu menjadi girang bukan main.

"Sebelum aku menyampaikan pesan dari Suhu, lebih dulu aku ingin tahu apakah yang telah terjadi semenjak Suhu pergi,"

Tanya Kong Ji kepada Lai Tek, dengan lagak seorang atasan bertanya kepada bawahannya.

Lai Tek terpaksa menceritakan bahwa ada beberapa tokoh kang-ouw yang datang, akan tetapi sesuai dengan nasehat Giok Seng Cu, mereka tidak mencari permusuhan dengan orang-orang kang-ouw itu bahkan memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan penggeledahan, kemudian orang-orang kang-ouw itu pergi lagi tanpa terjadi sesuatu keributan.

"Bagus, dengan demikian untuk sementara waktu kita aman,"

Kata Kong Ji.

"Akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam. Mereka itu semua berdaya mencari kitab peninggalan Pak Kek Siansu, dan menurut pesan Suhu, kita pun harus mencari kitab itu mendahului mereka."

Anak ini lalu menceritakan semua pesanan suhunya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh para anggauta Im-yang bu pai.

Kong Ji berulang-ulang menekankan ancaman Giok Seng Cu kepada mereka yang berkhianat dan tidak menurut kepadanya sehingga semua anak murid, termasuk Lai Tek, menjadi gentar dan biarpun mendongkol terhadap Kong Ji, mereka tidak berani menyatakannya berhadapan.

"Kalau begitu biarlah aku dan Kwan Jiwi memimpin saudara-saudara kita pergi ke Luliang-san untuk mencari kitab itu,"

Kata Lai Tek menyatakan usulnya. Akan tetapi Kong Ji menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak Twa-suheng. Tidak demikian caranya mendapatkan kitab rahasia itu."

Lai Tek dan semua orang memandang kepada anak itu dengan heran dan juga tak mengerti.

Anak sakecil ini menjadikan pemimpin partai demikian besar.

Ah, celaka, salah-salah samua bisa kacau-balau, pikir mereka.

"Sute, bagaimana pendapatmu?"

Tanya Lai Tek.

Di antara mereka semua hanya Lai Tek dan Kwa Siang saja yang berani menyebut sute kepada Kong Ji.

Yang lain-lain, biarpun Kong Ji terhitung saudara muda seperguruan, menyiebutnya Siauw-pangcu (ketua kecil).

"Begini, kita harus menyebar beberapa orang kawan dan mereka ini harus mendesas-desuskan di luaran bahwa Suhu tidak saja mendapatkan pedang Pak-kek Sin-kiam, akan tetapi diam-diam juga telah mendapatkan kitab peninggalan Pak Kek Siansu."

Tiba-tiba Kwa Siang bangkit berdiri dan mengeluarkan sepasang tongkatnya.

"Sute, kau hendak mengkhianati Suhu?"

Bentaknya. Kong Ji tersenyum dan memandang rendah.

"Ji suheng, apakah kau hendak membantah pesan Suhu bahwa kau harus tunduk kepada perintahku? Kau ingat akan ancaman Suhu?"

Kwa Siang menjadi pucat. Ia kalah gertak dan duduk kembali.

"Akan tetapi kau.... usulmu ini...? "Tenang dan dengarkan baik-baik. Aku sama sekali tidak mengkhianati Suhu. Pertama, karena sesungguhnya Suhu tidak mendapatkan kitab itu, ke dua, karena selain aku, tidak ada orang lain yang mengetahui dimana tempat Suhu bersembunyi. Aku sengaja hendak menyebarkan berita ini sehingga tokoh-tokoh kangouw tidak ribut mencari kitab di atas puncak Luliang-san, akan tetapi perhatiannya terpecah dan kini mereka mencari Suhu yang tidak mereka ketahui tempatnya! Dengan akal ini, bukanlah kita akan lebih mudah mencari kitab itu di Luliang-san, tanpa ada saingannya?"

Semua orang melongo.

Benar-benar seperti siluman anak ini, pikir Lai Tek.

Bagaimana seorang bocah belasan tahun mempunyai siasat yang demikian lihai?

Memang tepat sekali siasat ini.

Kalau semua tokoh kang-ouw, apalagi See-tin Tok-ong, ikut mencari ke Luliangan tentu pihak lm-yang-bu-pai akan menghadapi saingan hebat dan sukarlah mendapatkan kitab itu.

Andaikata terdapat oleh tokoh lain lalu mereka merampas, juga hal ini bukan pekerjaan mudah, karena tokoh yang berhasil mendapatkan kitab tentulah seorang yang berkepandaian amat tinggi.

"Kau memang benar, Sute. Baiklah dan Sute Kwa Siang menjalankan tugas menyebar berita palsu ini,"

Katanya. Kembali Kong Ji menggelengkan kepala menyatakan tidak setuju.

"Keliru, Twa-suheng. Kau keliru. Kalau kau dan Ji-suheng yang keluar mengabarkan berita ini, para tokoh kang-ouw pasti takkan percaya. Bahkan kau dan Ji-suheng yang menjadi tokoh-tokoh utama di Im-yang-bu-pai, akan menimbulkan kecurigaan mereka dan tentu mereka akan mengira bahwa ini hanya siasat belaka. Hal ini amat berbahaya. Lebih baik menyuruh kawan-kawan tingkat rendah sehingga para tokoh kang-ou mengira bahwa mereka itu bocor mulut. Kembali semua orang kagum sekali. Pantas saja Giok Seng Cu memberi kekuasaan kepada anak ini untuk memimpin Im-yang-bu-pai karena memang otaknya cerdik luar biasa. Namun, seorang di antara para murid Im-yang-bu-pai yang bernama Sio Cin, menjadi penasaran dan marah sekali. Ia tidak percaya bahwa bocah kecil ini mampu menjalankan kemudi perkumpulan mereka yang demikian besar dan berpengaruh. Tiba-tiba ia melompat berdiri dan berkata.

"Aku Siong Cin hanya menduduki tingkat ke delapan, akan tetapi kiranya kepandaianku tidak akan kalah oleh Lui Kong Ji Sute yang masih bocah. Apakah -kita semua kaum tua bangka yang sudah kenyang makan asam garam dunia harus menuruti segala ocehan seorang bocah yang masih hijau? Hm, bagaimana kalau orang-orang kang-ouw mendengar tentang ini? Kita mesti menjadi buah tertawaan belaka"

"Siong-suheng apakah kata-katamu ini berarti bahwa kau hendak mengingkari perintah Suhu?"

Tanya Kong Ji dan sepasang matanya bercahaya.

"Sudah bertahun-tahun aku ikut Suhu dan selalu setia. Aku sudah membuktikan bahwa aku seorang Im-yang-bu-pai tulen, setia lahir batin dan siap sedia mengorbankan nyawa demi kebaikan perkumpulan kita. Akan tetapi kau ini siapakah? Baru juga setahun lebih berada disini. Kepandaian apa yang kauandalkan sehingga kau berani menerima menjadi wakil ketua Im-yang-be-pai? Bagaimana kalau ada musuh datang? Kiraku kau akan bersembunyi terlebih dulu. Ha, ha, ha!"

Merah wajah Kong Ji. Ia melompat turun dari bangkunya, memandang tajam kepada Siong Cin.

"Begitu anggapmu, ya? Siong-suheng, tahukah kau kepandaian apa yang paling hebat dari Suhu?"

"Tentu saja aku tahu. Baru saja Sughu mendapatkan Ilmu Pukulan Tin-san-kang. Kiraku melihat saja kau pun belum pernah...!"

"Hm, tua bangka bodoh. Kaulihat baik-baik, kenalkah kau ini...??"

Setelah berkata demikian, Kong Ji menggerakkan tubuhnya yang berputar-putar sebentar di atas tumitnya.

kemudian tubuhnya itu hampir berjongkok dan kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah Siong Cin sambil mengeluarkan seru "haaaiii...!"

Siong Cin adalah murid Giok Seng dan kepandaiannya sudah tinggi, biarpun tidak selihai Lai Tek atau Kwa Siang, namun jarang ada orang dapat menang darinya.

Kini dengan mata terbelalak melihat gerakan sutenya yang kecil dan tahu-tahu ia merasa dadanya terdorong hebat sekali.

Ia mengerahkan tenaga dan mencoba menerima tenaga ini, namun ia tidak kuat dan roboh terjengkang!

Inilah pukulan Tin san-kang, gerakan ke tujuh.

Kong Ji memang cerdik sekali!.

Setelah halal akan kauw-koat (teori) Ilmu Silat Tin-san-kang, disepanjang jalan ia melatih diri terus menerus pada bagiaan ke tujuh ini, bagian yang dianggap paling mudah.

Oleh karena itu, ia mendapatkan hasil dan apabila mainkan jurus ke tujuh ini, ia telah dapat mengeluarkan tenaga Tin-san-kang, walaupun tentu saja belum hebat.

Namun cukup kuat untuk merobohkan seorang seperti Siong Cin.

Bukan main kagetnya semua orang, terutama sekali Lai Tek dan Kwa Siang.

Mereka sendiri belum pernah diberi pelajaran Tin-san-kang, namun mereka sudah tahu bahwa gerakan tadi benar-benar ilmu Tin-san-kang dari suhu mereka.

Biarpun tenaga pukulan Kong Ji belum hebat, masih kalah jauh lweekangnya dengan mereka, namun mereka harus akui bahwa mereka tidak dapat melakukan gerakan tadi dan tidak dapat memiliki atau membangunkan tenaga Tin-san-kang.

"Itulah Tin-sang-kang...!"

Lai Tek berkata kagum.

Siong Cm merangkak bangun.

Baiknya tenaga dari Kong Ji masih belum hebat, sehingga ia hanya terdorong dan roboh terjengkang saja, tidak sampai mengalami luka di dalam dadanya.

Akan tetapi wajahnya menjadi pucat sekali keringat dingin mengalir dari dahinya.

"Maaf, Siauw-pangcu. Mataku seperti buta. Biarpun masih kecil, ternyata kau patut sekali menjadi ketua mewakili Suhu,"

Katanya sambil duduk kembali, tidak berani berkutik lagi.

Kong Ji tersenyum lalu duduk kembali "Masih baik aku mengetahui bahwa bukan maksudmu mengkhianati Suhu, kalau tidak, aku tadi dapat mempergunakan seluruh tenagaku dan kiranya kau tak kan hidup lagi."

Kata-kata ini tentu saja bohong belaka, karena tadi ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi tak seorang pun mengetahui dan semua orang memandangnya makin kagum.

Benar-benar lucu sekali, para anggauta pengurus yang rata-rata sudah berusia empat puluh tahun ke atas itu sekarang tunduk terhadap bocah berusia tiga belas tahun!

"Nah, sekarang harap lekas-lekas bersiap-siap.

Aku tugaskan Siong Cin Suheng dan empat orang kawan lain untuk menyiarkan berita bohong itu, kemudian kita menanti sampai sebulan barulah kita mencari kitab di Luliang-san.

Untuk tugas ini, aku sendiri bersama Twa-suheng dan Ji-suheng akan berangkat ke Luliang-san."

Kim tak ada yang berani membantah dan Siong Cin segera berangkat mengajak empat orang saudaranya.

Sambil menanti hasil daripada siasatnya Kong Ji tidak membuang waktu secara sia-sia.

Ia melatih diri dengan Ilmu Pukulan Tin-san-kang, dan tentu saja bocah yang cerdik ini melatih diri di tempat yang tersembunyi agar jangan ada lain orang dapat melihatnya.

Berkat keuletan, dan ketekunannya, dalam beberapa hari saja ia telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Ia melatih ilmu pukulan ini sejurus demi sejurus, tidak meningkat kepada yang lain jurus sebelum yang sejurus itu baik betul gerakannya.

Juga ia dengan rajin melatih lweekangnya agar dapat segera memiliki sinkang sehingga dapat melakukan pukulan Tin-san-kang sebaiknya.

Kong Ji maklum akan kehebatan ilmu pukulan ini, buktinya baru saja mempelajari sejurus, dan jarak setombak lebih ia telah berhasil merobohkan Siong Cin.

Padahal kalau ia bertanding silat dengan suhengnya itu, belum tentu ia dapat bertahan dua puluh jurus!

Maka ia berlatih dengan amat rajin tak kenal lelah.

Berita bohong sebagai siasat yang di sebarkan oleh Siong Cin dan kawan-kawannya, ternyata berhasil baik sekali sebagaimana diperhitungkan oleh Kong Ji.

Para tokoh kang-ouw yang tadinya masih ubek-ubekan mencari di sekitar Luliangsan, kini menujukan perhatiannya kepada Giok Seng Cu.

Mereka tahu bahwa ketua Im-yang-bu-pai ini tidak berada di sarangnya, maka mereka mulai mencari tempat persembunyian kakek ini.

Akan tetapi siapakah yang mengira bahwa Seng Cu bersembunyi di Lembah Maut, sebuah tempat yang kabarnya menjadi tempat tinggal siluman dan iblis belaka.

Jarang ada orang berani masuk ke lembah karena andaikata berhasil masuk, belum tentu dapat keluar kembali dengan tubuh masih bernyawa.

Tempat itu menjadi sarang dari binatang buas dan ular-ular serta binatang berbisa yang lain, belum terhitung rawa-rawa beracun dan jurang-jurang dalam yang berbahaya sekali.

Kurang lebih sebulan setelah berita itu tersiar luas, Kong Ji dengan gembira dan bangga mendapat berita dari penyelidiknya bahwa kini Luliang-san telah kosong ditinggalkan oleh para tokoh yang hendak mencari kitab rahasia.

Ia telah bersiap-siap dengan Lai Tek dan Kwa Siang untuk segera berangkat ke bukit itu.

Akan tetapi, pagi-pagi hari sebelum ia berangkat, terjadilah peristiwa hebat sekali.

Pada pagi hari itu, seperti biasa para anggauta Im-yang-bu-pai siap sedia menjalankan tugas masing-masing.

Mereka ini memang masing-masing mempunyai pekerjaan, ada yang menjadi piaw-su (pengawal barang antaran), ada yang menjadi pegawai, ada pula yang mengurus kelenteng dan sebagainya.

Nama Im-yang-bu-pai sudah amat terkenal, maka untuk menjaga keselamatan harta benda dan nyawa, banyak kaum hartawan mempekerjakan anggauta Im-yang-bu-pai, biarpun dengan bayaran tinggi.

Matahari belum kelihatan, namun sinarnya telah mengusir embun pagi.

Keadaan di luar Im-yang-bu-pai masih sunyi.

Bahkan jalan-jalan di kota Lam-si masih sepi.

Rumah dan toko-toko masih belum membuka pintu.

Dari jauh terdengar suara anjing menggonggong riuh-rendah, akan tetapi tiba-tiba suara anjing itu berhenti dan lenyap, seakan-akan leher anjing-anjing itu dicekik.

Dan kalau kiranya ada orang yang datang di tempat anjing-anjing itu menggonggong, yakni pintu gapura kota, orang itu tentu akan ketakutan setengah mati melihat beberapa ekor anjing menggeletak di jalan dengan tubuh hitam seluruhnya dan sudah mati.

Pagi hari itu memang terjadi hal yang paling aneh dan mengerikan sekali.

Seorang penduduk kota yang bangun terlalu pagi, keluar dari rumah hendak mengeluarkan kuda yang kandangnya berada di belakang rumahnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara menggeleparnya sayap burung yang keras sekali.

Ketika ia menengok ke atas, ia menjadi pucat melihat seekor burung rajawali besar sekali melayang di atasnya.

Yang membikin ia ketakutan hebat adalah ketika ia melihat bahwa di atas punggung burung itu ada seorang nenek tua yang duduk!

"Ada siluman...!"

La berteriak keras.

Tiba-tiba burung itu menyambar turun dan sekali mengulur kuku, leher orang itu sudah kena dicengkeram oleh burung rajawali, tubuhnya dibawa terbang agak tinggi, lalu dilemparkan ke bawah.

Orang itu jatuh di atas tanah dengan leher hampir putus dan kepala pecah!

Seorang lain yang pagi-pagi menunggang kudanya hendak keluar kota setibanya di dekat pintu gapura, terkejut sekali melihat anjing-anjing kota menggeletak tak bernyawa di tengah jalan.

Ia menarik kendali kudanya hendak melompati bangkai-bangkai anjing itu akan tetapi tiba-tiba kudanya berjingkrak sambil mengeluarkan ringkik ketakutan mengangkat kedua kaki depan.

Tiba-tiba beberapa ekor ular meluncur cepat menggigit kuda itu yang meringkik-ringkik lalu roboh, berkelojotan lalu mati.

Penunggang kuda itu terlempar dan mukanya pucat sekali.

Ia melihat belasan ekor ular mengeroyok kuda itu, seakan-akan berpesta hendak menikmati daging kuda.

Orang itu melompat bangun dan hendak lari.

Pada saat itu ia melihat seorang bocah gundul memandang kepadanya dengan menyeringai.

Bocah ini biar pun sikapnya aneh, tidak begitu menakutkan boleh dibilang bersih dan tampan akan tetapi seorang kakek yang berdiri belakang bocah gundul itu benar-benar membuatnya terbelalak dan tak dapat bergerak seperti patung, hanya berdiri memandang,.

Kakek ini kepalanya juga gundul seperti botak, hidungnya panjang sekali, matanya lebar dan mulutnya besar, kulitnya kehitaman dan yang paling menakutkan adalah sinar matanya yang berwarna kebiruan!

Bocah gundul itu tertawa.

"Ayah, ada santapan pagi yang baik untuk siang-coa-ong (sepasang raja ular)."

Kakek itu hanya menyeringai sehingga wajahnya menjadi makin menakutkan.

Bocah gundul itu lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dan ternyata bahwa yang dikeluarkan adalah dua ekor ular merah yang amat kecil.

Ia menggerakkan tangan, dua ekor ular itu terbang meluncur dan tahu-tahu sudah menempel di dada penunggang kuda tadi.

Orang ini menjerit merasa dadanya sakit.

Ia masih sempat melihat dua ekor ular itu masuk ke dalam dadanya, melalui lubang yang entah kapan terdapat di dadanya.

Orang itu merasa sakit luar biasa.

Ia memegang dan membetot buntut ular akan tetapi tiba-tiba ia merasa sakit yang membuat semua uratnya pecah kepalanya pening, lalu jatuh dan nyawanya melayang pada saat dua ekor ular itu memperebutkan jantungnya yang masih hidup"

Keadaan sunyi kembali.

Bocah gundul itu dan kakek yang menyeramkan tadi berjalan dengan tenang menuju ke rumah besar perkumpulan Im-yang-bu-pai.

Ketika mereka tiba di depan rumah itu, dari atas melayang turun seekor burung rajawali merah yang ditunggangi oleh nenek tadi.

Sebelum burung tiba di tanah, nenek itu sudah meloncat ke bawah dan gerakannya bahkan lebih gesit dan ringan dan pada burung itu sendiri.

Nenek ini ternyata tidak menyeramkan.

Bahkan masih jelas kelihatan bahwa dahulunya tentu cantik molek.

Hanya sekarang di dahi dan pipinya terdapat lekuk-lekuk dan keriput-keriput yang membuat wajah yang cantik itu menjadi aneh dan galak.

Sepasang matanya seperti kunang-kunang, kecil dan bergerak selalu.

Mereka inilah See-thian Tok-ong (Raja Racun dari Negara Barat), seorang manusia iblis yang luar biasa kejamnya.

Bersama isterinya yang bernama Kwan ji Nio dan puteranya yang bernama Kwan Kok Sun yang dalam hal keganasan tidak kalah oleh See than Tok-ong sendiri.

Baca Juga: Pendekar Sadis 3

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert