Ceritasilat Novel Online

Pedang Penakluk Iblis 3

Eps 3 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

See-thian Tok ong adalah tokoh besar dari dunia barat yang melawat ke timur dan ketika ia tiba di Tibet, dengan cepat ia menjagoi di daerah itu.

Bahkan Ba Mau Hoatsu sendiri ketika menyaksikan kelihaiannya, tidak berani turun tangan dan secara pengecut sekali menyembah dan mengangkatnya menjadi tokoh pertama di Tibet!

Karena Ba Mau Hoatsu memang cerdik dan pandai mengambil hati, maka begitu lama ia masih selamat, bahkan dianggap sebagai pembantu yang baik hati oleh See-thian Tok-ong.

Dari Ba Mau Hoatsu inilah ia mengetahui keadaan Tionggoan (pedalaman Tiongkok) serta semua hal tentang dunia kang-ouw di Tionggoan.

Adapun isterinya yang bernama Kwan ti Nio sebenarnya adalah seorang wanita Han.

Ayah dari Kwan Ji Nio adalah seorang penjahat besar yang dimusuhi oleh pemerintah dan tokoh-tokoh kang-ouw sehingga penjahat she Kwan ini melarikan diri bersama isterinya ke dunia barat.

Di sana isterinya melahirkan anak perempuan, yakni Kwan Ji Nio yang akhirnya menjadi isteri dari See thian Tok-ong.

Kwan Ji Nio memiliki ilmu silat yang amat tinggi pula biarpun tidak dapat menang dari suaminya namun dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh), suaminya masih kalah olehnya!

Wanita ini sudah memiliki ilmu Tee in-ciang (Lompatan Tangga Awan) sehingga di udara dapat menggerakkan tubuh untuk mumbul lagi atau berganti arah lompatan.

Ilmu ini hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli silat yang sudah tinggi sekali ginkangnya.

Pada saat ayah bunda dan anak ini tiba di pintu pekarangan rumah perkumpulan Im-yang-bu-pai, beberapa ekor ayam telah keluar dan berkokok sambil berkejar-kejaran di halaman itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi.

"Keok! Keok! Keok"

Dan ayam-ayam itu diam tak bergerak lagi, menjadi makanan dua puluh ekor lebih ular-ular beracun yang berjalan mendahului majikan mereka.

Mendengar suara ayam yang aneh ini, lima orang anggauta Im yang bu-pai memburu keluar.

Mereka menjadi pucat sekali melihat ayam-ayam itu mati dikeroyok ular.

Ketika mereka mengangkat kepala mereka melihat tiga orang aneh memasuki pintu pekarangan.

Sebagai ahli-ahli silat tentu saja mereka tidak takut dan cepat berlari keluar untuk menegur siapa gerangan orang-orang aneh yang membawa ular-ular jahat itu.

"Siapa kalian? Hayo usir ular-ular jahat kalian itu dan...."

Baru saja berkata sampai di sini, See-thian Tok-ong menggerakkan kedua tangannya berulang-ulang ke depan dan lima orang itu roboh terjungkal tak bernapas lagi!

Lima orang anggauta Im-yang-bu-pai itu telah terkena pukulan maut dari See-thian Tok-ong yang disebut Hek-tok ciang (Pukulan Racun Hitam).

Begitu mereka roboh, seluruh tubuh mereka menjadi hitam dan mereka tewas pada saat itu juga, tanpa mendapat kesempatan berteriak sama sekali.

See-thian Tok-ong dan anak isterinya berjalan perlahan, terus maju menghampiri rumah perkumpulan Im-yang-bu-pai.

Burung rajawali merah berloncat-loncatan di belakang mereka, sedangkan ular-ular yang kini sudah kenyang makan bangkai-bangkai ayam, mulai merayap menghampiri mayat lima orang anggauta Im-yang-bu-pai itu.

Mendengar suara orang jatuh di luar, beberapa orang anggauta Im-yang-bu-pai memburu keluar dan alangkah terkejut hati mereka melihat lima orang kawan mereka telah tewas dengan muka hitam, sekali, menggeletak di pekarangan dan ular-ular yang menjijikkan merayap-rayap di sekeliling mayat-mayat itu.

Mereka juga memandang kepada tiga orang pendatang yang sikapnya tenang itu, maka tahulah mereka bahwa yang datang adalah musuh-musuh.

Cepat mereka berlari masuk dan tak lama kemudian gembreng tanda bahaya dipukul gencar di ruang -belakang.

Dalam sekejap mata saja, pekarangan rumah perkumpulan Im-yang-bu-pai telah penuh orang.

Ada empat puluh lebih anggauta Im-yang-bu-pai berkumpul di situ, mengurung pekarangan dan di tangan mereka terlihat bermacam senjata.

See-thian Tok-ong dan anak isterinya tidak bergerak, hanya berdiri di tengah pekarangan sambil tersenyum-senyum dan memandang ke sekeliling mereka.

Makin banyak anggauta Im-yang-bu-pai yang datang, makin bersinar-sinar mata mereka.

"Datanglah yang banyak! Datanglah semua jangan ada yang ketinggalan!"

Berkali-kali Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun berkata perlahan.

Im-yang bu-pai adalah perkumpulan yang amat berpengaruh dan besar serta memiliki anggauta yang ratusan orang jumlahnya.

Akan tetapi anggauta-anggauta itu tidak semua berada di Lam-si dan pada waktu itu yang berada di situ hanya lima puluh orang lebih.

Kemudian munculiah Lui Kong Ji bersama Lai Tek Kwa Siang dan beberapa orang pengurus Im-yang-bu-pai atau murid-murid Giok Seng Cu.

Melihat ular-ular dan burung kim-tiauw, semua pengurus dapat menduga bahwa mereka berhadapan dengan See-thian Tok-ong sehingga mereka rata-rata menjadi jerih dan wajah mereka pucat.

Hanya Kong ji seorang yang bersikap tenang dan bocah ini bertindak maju dengan tabah sekali, bahkan berada di tempat terdepan menghadapi See-thian Tok-ong.

Hal ini tidak saja mengagumkan para anggauta Im-yang-bu-pai, bahkan See-thian Tok-ong dan isterinya juga memandang dengan kagum atas keberanian bocah tampan itu.

"Sam-wi yang baru datang ini bukankah See-thian Tok-ong Locianpwe bersama isteri dan putera yang terhormat? Kami dari Im-yang-bu-pai tak mengetahui lebih dulu akan kunjungan ini dan terlambat menyambut, mohon maaf sebesarnya,"

Kata Kong Ji.

Kwan Kok Sun cemberut, lbunya memandang dengan mata bersinar marah, akan tetapi See-thian Tok-ong tiba-tiba tertawa bergelak "Ha-ha-ha, alangkah lucunya mendengar kata-kata tadi keluar dari mulut seorang bocah.

Ha-ha-ha "

Bocah ini lucu sekali...!"

Akan tetapi isterinya membentak sambil mendelik kepada Kong Ji.

"Setan cilik! Mulutmu lancang sekali. Mana ketuamu? Hayo suruh dia keluar!"

Dengan tenang Kong Ji menjura.

"Mohon maaf, ketua kami tidak ada di sini, dia sedang pergi...."

Tiba-tiba See-thlan Tok-ong yang tadi tertawa-tawa membentak keras.

"Tutup mulutmu! Kaukira aku tidak tahu bahwa Giok Seng Cu pergi melarian diri secara pengecut sekali? Yang kami maksudkan adalah ketua yang menjadi pemimpin di saat ini, atau wakil dari Giok Seng Cu."

Suaranya mengancam dan wajahnya nampak bengis sekali jauh berbeda dengan tadi ketika ia tertawa-tawa.

Namun Kong ji memiliki ketabahan luar biasa.

Ia menghadap ke arah See-hian Tok-ong dan berkata, suaranya tegas dan sedikit pun tidak gemetar.

"Terimalah hormatku, Locianpwe. Pada saat ini, boanpwe (aku yang rendah) yang menjadi ketua lm-yang-bu-pai menggantikan Giok Seng Cu pangcu kami yang sedang pergi."

See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun tertegun.

Mereka sudah seringkali mendengar dan melihat hal yang aneh-aneh di dunia kang-ouw, akan tetapi melihat seorang bocah paling hanya berusia dua-tiga belas tahun mengaku menjadi ketua Im-yang-bu-pai, mereka benar-benar merasa (Lanjut ke

Jilid 07) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 geli, heran, aneh dan tidak percaya.

"Jangan main gila, bocah nakal. Apakah kau sudah bosan hidup berani mempermainkan See-thian Tok-ong?"

Bentak tokoh barat itu.

"Ayah, biar Ang-coa-ong mengambil jantung!"

Kata Kwan Kok Sun sambil merogoh saku hendak mengeluarkan ular merah. Akan tetapi ayahnya mencegah.

"Nanti dulu, Kok Sun. Aku hendak mendengar apakah dia benar-benar berani membohongi kita."

Melihat keberanian Kong Ji, Lai Tek menjadi kagum sekali dan kini ia khawaIir kalau kalau anak ini dibunuh oleh tiga orang tamu aneh itu, maka ia lalu maju menjura.

"Saya bernama Lai Tek dan menjadi murid tertua dari Suhu Giok Seng Cu. Memang benar bahwa anak ini adalah Siauw-pangcu kami, menggantikan Suhu. Dia tidak membohong. Mohon Locianpwe sudi memaafkan kalau ia terlalu berani bicara mengingat usianya yang masih muda. Perkenankan saya mewakili Im yang-bu-pai bertanya kepada Sam-wi apakah gerangan maksud kedatangan Sam-wi di sini?"

Dengan matanya yang bundar, See-hian Tok-ong menyapu semua orang yang berada di situ, kemudian mulutnya menyeringai kejam ketika ia berkata.

"Pertama-tama, si jahanam Giok Seng Cu telah berani merampas pedang dari tangan anakku, maka kami harus mengambil pedang itu kembali berikut kepalanya."

Tiba, tiba suara ketawa Kong Ji menjawab kata-kata ini.

"Locianpwe,"

Kata Kong Ji selagi semua orang heran memandangnya.

"Boanpwe rasa Locianpwe takkan dapat membuktikan ancaman itu."

Kembali See-thian Tok-ong melengak "Setan cilik, apa maksudmu? Hati-hati menjaga mulutmu, kau!"

"Kalau Locianpwe tahu di mana adanya Suhu pada saat ini, masa Locianpwe bertiga susah payah datang ke sini"? Di dunia, betapa pun lihai dia, tak mungkin ada orang mengetahui di mana adanya Suhu."

Sepasang mata See thian Tok-ong terputar-putar, kemudian ia berkata lagi kepada Lai Tek.

"tadi maksud kedatanganku yang pertama sudah kunyatakan, adapun yang ke dua, karena ketua Im-yang-bu-pai telah berani menghina puteraku, maka hari ini Im-yang-bu-pai harus terbasmi sampai ke akar-akarnya. Kami datang untuk membinasakan kalian semua... kecuali dia ini!"

Berbareng denga ucapan terakhir ini, tangan kirinya menyambar dan tahu-tahu Kong Ji telah dipegang tengkuknya oleh See-thian Tok-ong.

Kong Ji merasa tubuhnya lemas seluruhnya.

Percuma saja ia mencoba untuk mengerahkan lweekang agar terlepas dari pegangan kakek ini.

Ia tidak berdaya sama sekali bagaikan sehelai rumput kering dalam tangan See thian Tok-ong.

Kakek ini melemparkan tubuh Kong-Ji ke dekat burung rajawali sambil berseru.

"Kim-tiauw, kau jaga dia jangan boleh lari!"

Kemudian, didahului oleh bentakan-bentakan menyeramkan, See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun mulai mengamuk.

Semenjak tadi, Lai Tek, Kwa Siang dan kawan-kawannya sudah siap sedia mendengar omongan See-thian Tok-ong.

Lai Tek dan Kwa Siang dapat -menduga bahwa di antara tiga orang aneh ini, yang paling berbahaya tentulah See-thian Tok-ong sendiri, maka Lai Tek segera mencabut sepasang pedangya.

Kwa Siang mencabut sepasang tongkatnya.

Mereka berdua lalu menyerbu dan menghadapi See-thian Tok-ong.

Adapun anggauta-apggauta Im-yang-bu-pai lainnya yang kepandaiannya sudah tinggi mengurung Kwan Ji Nio.

See-thian rok-ong tertawa bergelak sama sekali ia tidak mengeluarkan senjata dan menghadapi dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu dengan tangan kosong saja.

Lai Tek berjuluk Siang-mo-kiat (Sepasang Pedang Iblis) sedangkan Kwe-Siang berjuluk Thian-te Siang-tung (Sepasang Tongkat Langit Bumi).

Ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi dan ini sudah terbukti ketika mereka berdua menyerbu ke Hoa-san-pai, Liang Gi Tojin ketua Hoa-san-pai sendiri tidak kuat menghadapi mereka dan sampai tewas demikian pula Hui-liong Lie Bu Tek Naga Terbang sampai roboh terluka berat.

Kini menghadapi See-thian Tok-ong tokoh baru yang menggegerkan dunia kang-ouw, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian.

Akan tetapi, See-thian Tok-ong hanya menghadapi mereka dengan tangan kosong belaka.

Tentu saja Lai Tek dan Kwa Siang menjadi penasaran sekali.

Mereka merasa dipandang rendah dan dihina.

Masa mereka berdua dengan senjata mereka yang sudah terkenal itu kalah dikeroyok seorang lawan bertangan kosong?

Mereka berbesar hati karena pihak lawan hanya ada tiga orang ditambah ular-ular kecil dan seekor burung, sedangkan mereka berkawan sampai lima puluh orang.

Akan tetapi, ilmu silat dari See-thian Tok-ong benar-benar hebat.

Tidak saja gerakannya amat lihai dan kuat serta gesit, juga ilmu silatnya yang dimainkan untuk menghadapi desakan dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu amat luar biasa, jauh berbeda dari ilmu-ilmu silat yang pernah dilihat oleh Lai Tek dan Kwa Siang.

Juga dalam menggerakkan tangan kaki, tiada hentinya Raja Racun ini mengeluarkan suara yang aneh, memekik-mekik dan menggereng seperti seekor binatang buas.

Setiap gerakan tangan dilakukan sambil mengeluarkan pekik yang berlainan, akan tetapi dari suara ini seakan-akan timbul tenaga mujijat yang menahan gerakan senjata lawan, bahkan kadang-kadang membuat kacau gerakan ilmu silat Lai Tek dan Kwa Siang.

Akibatnya, beberapa kali dua orang tokoh Im-yang-bu-pai ini beradu senjata dengan kawan sendiri.

Jari-jari tangan See-thian Tok-ong amat cekatan dan kuat, juga orang ini berani mati sekali sehingga beberapa kali ia berani menerima sabetan pedang Lai Tek dengan tangan!

Jari-jari tangannya dengan tepat dapat menyentil pedang itu sehingga terpental membalik atau menyeleweng menghantam tongkat Kwa Siang yang sudah menyambar pula.

Benar-benar hebat dan sukar untuk dapat dipercaya.

Kwan Ji Nio, isteri dari See-thian Tok-ong dikeroyok oleh lima orang.

seperti juga suaminya, nyonya tua ini tidak mempergunakan senjata, akan tetapi melihat gerakannya, ia lebih mengagumkan daripada suaminya, walaupun tentu para pengeroyok tidak selihai Lai Tek dan Kwa Siang yang mengeroyok See thian Tok-ong.

Gerakan nyonya ini cepat bukan main, sebentar-sebentar melompat dan terapung di udara bagaikan seekor burung menyambar.

Karena kegesitannya yang luar biasa, ia lebih cepat berhasil daripada suaminya.

Baru belasan gebrakan saja ia telah berhasil menjambret kepala seorang pengeroyok dan entah dengan pukulan apa, orang ini roboh terguling dengan tubuh tak berdaya lagi.

Ternyata bahwa jalan darah dan urat terpenting di kepalanya telah kena ditotok putus oleh nyonya lihai ini!

Gentarlah para pengeroyoknya, namun anggauta-anggauta Im-yang-bu-pai tidak mundur, bahkan kini ada sepuluh orang maju membantu untuk mengeroyok nyonya tua yang lihai sekali ini.

Tiba-tiba terdengar jerit dan pekik menyeramkan dari para anggauta Im-yang bu-pai.

Anak-anak murid yang kepandaiannya kurang lihai, bagaikan rumput dibabat roboh menjerit-jerit dan tubuh mereka menjadi hitam.

Inilah akibat yang hebat dan perbuatan Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun.

Bocah gunclul ini setelah melihat ayah bundanya mengamuk, sambil tersenyum-senyum menyeringai sehingga wajahnya yang tampan itu ada persamaannya dengan ayahnya, lalu mengeluarkan suara mendesis dengan mulutnya.

Serentak ular-ular kecil yang tadinya menggerogoti mayat lima orang anggauta Im-yang-bu-pai, bergerak dan menyerang orang-orang yang masih hidup.

lebih hebat lagi.

Kok Sun mengeluarkan sepasang ular merah dari sakunya dan sekali melepas ular-ular itu terdengarlah pekik menyeramkan dari orang-orang yang terkena gigitan ular merah berbisa ini.

Para angauta Im-yang-bu-pai seorang demi seorang roboh dalam keadaan yang mengerikan.

Kong Ji memandang semua ini dengan hati berdebar.

Ia tadi dilempar jatuh dan sudah duduk, akan tetapi ia tidak berani bergerak karena di dekatnya berdiri burung kim-tiauw yang besar dan kelihatan galak itu, yang memandangnya tanpa berkedip.

Anak ini tadi sengaja mengeluarkan kata-kata yang terdengar kurang ajar, akan tetapi sebetulnya melakukan semua itu dengan siasat yang rapi, Kong Ji ketika mendengar bahwa See-thian Tok-ong hendak merampas pedang dan membunuh Giok Seng Cu, maklum bahwa tentu Raja Racun ini belum mengetahui di mana tempat sembunyi Giok Seng Cu.

Kemudian ia mendengar bahwa tiga orang luar biasa itu datang hendak membasmi Im-yang-bu-pai maka sengaja menyindir kepada See-thian Tok-ong bahwa Raja Racun ini tak mungkin dapat merampas pedang karena tidak tau di mana Giok Seng Cu bersembunyi.

Dengan kata-kata ini, sama halnya dengan menyatakan bahwa di dunia tidak ada orang lain yang mengetahui di mana adanya Giok Seng Cu, kecuali dia sendiri!

Kata-kata ini sengaja ia keluarkan untuk menolong diri sendiri, untuk melepaskan diri dari bahaya maut.

Otaknya yang cerdik sudah memperhitungkan bahwa dia takkan dibunuh karena See-thian ok-ong pasti akan membutuhkannya untuk mencari Giok Seng Cu.

Ia yakin bahwa yang menyindir tadi dapat dimengerti oleh See-thian Tok-ong, bahwa hanya anak inilah yang tahu tempat persembunyian Giok Seng Cu.

Dan perhitungannya memang tidak meleset.

Buktinya ia mendengar sendiri bahwa See-thian Tok-ong hendak membunuh semua orang Im-yang-bu-pai, kecuali dia sendiri."

Kini melihat sepak terjang See-thian Tok-ong dan anak isterinya, diam-diam Kong Ji merasa kagum sekali.

Inilah baru pantas disebut orang-orang berkepandaian tinggi, pikirnya.

Aku harus dapat mewarisi kepandaian See-thian Tok-ong.

Maka sambil menonton pertempuran otak anak ini bekerja dan ia sudah mempersiapkan siasat untuk dapat mempelajari ilmu silat dari See-thian Tok-ong.

Pertempuran berjalan makin seru dan hebat.

Orang-orang Im-yang-bu-pai yang menjadi korban bertumpuk-tumpuk, mayat bergelimpangan di sana-sini, menimbulkan pemandangan yang amat mengerikan.

Lam Tek dan Kwa Siang tahu bahwa mereka menghadapi bencana hebat sekali, akan tetapi karena tidak ada jaIan keluar, mereka mengamuk dengan nekad mendesak See-thian Tok-ong dengan sekuat tenaga.

Betapapun juga dua orang tokoh lm-yang-bu-pai ini memang berkepandaian tinggi, maka tiba-tiba See thian Tok-ong yang mulai marah karena belum juga dapat mengalahkan mereka, berseru keras sekali.

Tahu-tahu ia telah mengeluarkan dua buah senjata yang amat aneh.

Senjata ini merupakan sepasang tangan manusia yang sudah kering, dengan kuku-kuku panjang.

Kedua tangan ini dalam keadaan mencengkeram, seperti kuku-kuku burung garuda yang sedang menyerang.

Adapun kuku pada jari-jari tangan itu berwarna macam-macam, ada yang hitam, putih, kuning, merah dan hijau.

Inilah sepasang senjata yang oleh pemiliknya dinamai Ngo-tok-mo-jiauw (Cakar Iblis Berbisa Lima), sepasang senjata dari See-thian Tok-ong yang amat lihai dan jarang sekali dikeluarkan.

Begitu sepasang tangan ini menyambar, Lam Tek dan Kwa Siang mencium bau yang busuk sekali dan mereka cepat melompat ke belakang dan kepala mereka terasa pening karena bau yang keras itu.

Akan tetapi, tiba-tiba sepasang tangan itu "terbang"

Mengejar, terlepas dari pegangan See-thian Tok-ong!

Inilah kejadian yang amat tidak mereka duga dan kedua orang tokoh lm-yang-bu-pai saking kagetnya tidak keburu menangkis lagi.

Mereka hanya mengelak cepat namun masih saja sepasang tangan itu menyerang mereka, Lai Tek kena tergores pundaknya, sedangkan Kwa Siang tergores oleh kuku tangan kedua pada tangannya.

Seketika itu juga, Kwa Siang menjerit dan roboh.

Tubuhnya berubah merah sekali dan ia berkelojotan terus mati.

Ia terkena Ang tok (Racun Merah) dari kuku merah, sedangkan Lai Tek tak sempat menjerit lagi karena ia sudah roboh, dengan tubuh berubah kuning, terkena guratan kuku yang mengandung Oei-tok (Racun Kuning), See-thian Tok-ong tertawa bergelak dan sepasang cakar iblis itu tiba-tiba tersentak dan terbang kembali kepadanya, disambut oleh kedua tangan dan disimpan kembali ke dalam saku bajunya!

Pertunjukan yang diperlihatkan oleh See-thian Tok-ong ini sebetulnya tidak aneh.

Bagi orang yang melihatnya, memang tentu mengira bahwa sepasang cakar iblis itu dapat "terbang"

Menyerang musuh dan terbang kembali kepada pemiliknya, akan tetapi sebetulnya bukan demikian.

Sepasang tangan itu bukanlah tangan iblis, melainkan tangan manusia biasa yang secara kejam dipenggal di tengah-tengah bagian lengan oleh See-thian Tok-ong.

Raja Racun ini memilih tangan yang kuat tulangnya dan sehat kulit serta urat-uratnya, memotongnya, lalu mengeringkannya.

Memang sebelum pemilik tangan itu dipotong lengannya, kuku-kukunya dibiarkan panjang lebih dulu.

Setelah kedua tangan itu kering, kuku-kukunya, juga jari-jarinya lalu direndam air racun, setiap kuku semacam racun yang amat luar biasa.

Kemudian, See-thian Tok-ong mempergunakan sehelai tali hitam yang halus sekali, besarnya hanya serambut, akan tetapi kuat dan tak dapat putus.

Dengan tali ini ia dapat membuat tangan itu seakan-akan terbang.

Ujung tali yang agak panjang terikat pada kancing di saku bajunya dan apabila ia melemparkan dua tangan itu lenyap.

Juga dengan menggerakkan tali-tali halus itu ia dapat menarik kembali senjatanya.

Setelah Lai Tek dan Kwa Siang roboh binasa keadaan orang-orang lm yang-bu-pai makin kacau-balau.

Berturut turut mereka roboh binasa dan akhirnya sebagian kecil tak dapat menahan ketakutan mereka lagi, terus melarikan diri tunggang-langgang.

Akan tetapi, suami isteri dan anak-anak itu memang berwatak kejam seperti iblis.

Mereka tidak membiarkan orang-orang Im-yang-bu-pai itu melarikan diri, cepat mengejar dan menjatuhkan serangan maut sehingga akhirnya habislah semua orang Im-yang-bu-pai yang jumlahnya ada lima puluh orang itu.

Semua menggeletak tak bernyawa lagi, kecuali Kong Ji yang mau tak mau terpaksa memandang semua itu dengan kedua matanya sendiri.

Akan tetapi, benar-benar aneh dan luar biasa, melihat kejadian yang bagi orang lain akan menimbulkan kengerian hebat di dalam hati ini, bagi Kong Ji sama sekali tidak demikian.

Di dalam hatinya, bocah ini bahkan bersorak girang karena ia memang selalu menganggap lm-yang-bu-pai sebagai musuh-musuh yang membinasakan ayah bundanya.

Ia bahkan girang dan puas, serta memuji tinggi kegagahan See-thian Tok-ong dan anak isterinya.

Sesungguhnya, betapapun kejamnya ayah ibu anak itu, kalau dibandingkan dengan watak dasar di dalam dada Kong Ji mereka masih kalah jauh.

Kong Ji selalu memperlihatkan sikap baik hanya dengan satu maksud, yakni mencari ilmu yang tinggi untuk diri sendiri.

Orang lain, baik orang itu memusuhinya maupun melepas budi baik kepadanya, ia tidak ambil perduli sama sekali.

Kekejian See-thian Tok-ong dan anak isterinya hanya ditujukan kepada musuh-musuhnya atau kepada mereka yang dianggap merintangi kehendaknya.

Sebaliknya kekejian Kong Ji tidak memilih bulu, sudah dibuktikan betapa ia dapat berlaku keji terhadap Lie Bu Tek, orang yang telah menolongnya!

Setelah semua orang lm-yang-bu-pai tewas, tiba-tiba Kwan Ji Nio melompat dan menyambar leher Kong Ji.

"Ini yang paling jahat harus dibikin mampus!"

Bentaknya sambil mengangkat tangan kanan. Kong Ji terkejut sekali, akan tetapi ia tidak berdaya dan hanya memandang kepada nenek itu dengan mata tak kenal takut.

"Isteriku jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba See-thian Tok-ong berseru. Tangan yang sudah diangkat ke atas diturunkan kembali, juga tubuh Kong Ji dilepas ke bawah dan nyonya tua itu menoleh kepada suaminya.

"Kenapa setan cilik ini tidak boleh dibunuh?"

Tanyanya.

"Ibu, dia harus membawa kita ke tempat persembunyian Giok Seng Cu,"

Kata Kok Sun dengan suara menyesal, seolah-olah ia kecewa melihat kebodohan ibunya. See-thian Tok-ong tertawa bergelak.

"Nah, kau lihat. Bukankah Kok Sun sekarang sudah cerdik sekali! Ia telah melampaui Ibunya dalam kecerdikan. Ha, ha, ha !"

Kwan Ji Nio cemberut dan mendelik kepada puteranya, kemudian ia menudingkan ke telunjuknya di depan hidung Kong Ji.

"Setan cilik, benarkah kau dapat menunjukkan tempat persembunyian Giok Seng Cu? Hayo mengaku yang betul, kalau tidak kuhancurkan kepalamu."

Menghadapi tiga orang aneh yang amat ganas itu, tentu saja Kong Ji merasa berdebar hatinya.

Akan tetapi ia memang seorang bocah yang memiliki kecerdikan luar biasa sekali.

Dengan tersenyum-senyum ia mengelus-elus leher kim-tiauw yang berdiri di dekatnya, lalu berkata.

"Sungguh tidak enak bicara di dekat mayat-mayat yang bercumpukan ini. bagaimana kalau kita pergi dari sini dan mencari tempat yang enak untuk bicara. Lagi pula, aku ingin sekali naik ke punggung burung ini."

Kwan Ji Nio marah sekali mendengar kekurangajaran Kong Ji, akan tetapi See-thian Tok-ong tertawa bergelak.

"Bocah ini ada isinya. Kepalanya tidak kosong!"

Adapun Kok Sun juga tertarik sekali melihat keberanian Kong Ji. Sambil tersenyum mengejek ia berkata.

"Benar-benar kau berani naik ke punggung kim-tiauw bersamaku?"

"Mengapa tidak berani? Aku pun laki-laki,"

Jawab Kong Ji.

"Ayah mari kita bicarakan saja di luar kota ini, di hutan sebelah selatan. Biar dia merasai dijungkir-balikkan oleh kim-tiauw!"

Kata Kok Sun sambil tertawa. Ayahnya tertawa juga dan mengangguk-anggguk. Kwan Ji Nio mengomel.

"Anak ini kalau tidak dibikin mampus kelak akan menimbulkan kerewelan belaka."

Diam-diam Kong Ji mencatat semua ini dan ia telah mendapat kepastian bahwa di antara tiga orang itu, yang paling bahaya baginya adalah Kwan Ji Nio, maka diam-diam ia telah berjanji kepada diri sendiri bahwa kelak ia harus melenyapkan wanita tua ini lebih dulu dari muka bumi!

"Isteriku, sabarlah.

Pedang dan kitab belum terdapat, mengapa tidak bisa bersabar?"

Kata See-thian Tok-ong yang memberi tanda kepada Kok Sun untuk melanjutkan niatnya. Kok Sun tersenyum dan berkata kepada Kong Ji.

"Kalau kau benar-benar bukan perempuan, hayo naiki punggung kim-tiauw dan terbang bersamaku."

Kong Ji tanpa memperlihatkan muka takut, segera melompat ke atas pungung kim-tiauw, akan tetapi baru saja ia tiba di punggung, burung itu menggoyang badannya dan...

tubuh Kong Ji terlempar seakan-akan dilontarkan oleh tenaga kuat sekali.

Baiknya Kong Ji sudah melatih diri dengan tekun sehingga ia memiliki kepandaian yang boleh juga, maka ia dapat mengatur keseimbangan badannya, mempergunakan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Meloncat) dan dapat tiba di atas tanah pada kedua kakinya.

"Berbahaya sekali...."

Tak terasa lagi ia berkata perlahan. Kok Sun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Kau curang!"

Kong Ji berkata marah.

"Mengapa tidak menyuruh burungmu diam?"

"Naiklah lagi, tadi aku hanya ingin melihat apakah kau takkan terbanting matang biru oleh kim-tiauw,"

Kata Kok Sun dan kali ini ia memegangi leher burung itu.

Kong Ji tanpa ragu-ragu melompat lagi dan kali ini burung itu tidak bergerak.

Kok Sun juga melompat duduk di belakang Kong Ji, kemudian menepuk leher burung itu.

"Kim-tiauw, terbanglah ke selatan!"

Sebelum Kong Ji dapat bersiap-siap, tahu-tahu burung itu telah membuka sayapnya dan Kong Ji merasa seperti jantungnya ditarik-tarik ketika tiba-tiba ia mumbul ke atas cepat sekali.

Hampir ia terengah-engah karena sukar bernapas ketika angin bertiup keras dari depan.

Ketika ia memandang ke bawah, semua tampak kecil.

Kepalanya pening akan tetapi ia memiliki kekerasan hati.

Sambil menggigit bibir ia menekan perasaannya.

Masa ia harus kalah oleh bocah gundul yang duduk di belakangnya?

Tiba-tiba terdengar suara See-thian ok-ong dan bawah.

"Kok Sun, jangan sampai ia jatuh terbanting mampus, kita masih memerlukan bantuannya!"

Terdengar Kok Sun tertawa dan berdebarlah jantung Kong Ji.

Kini setelah berada di punggung burung, dibawa terbang di angkasa, i merasa tak berdaya sama sekali.

Akan tetapi, burung ini takkan dapat menggangguku, pikirnya.

Aku berada di punggungnya dan kalau ku mau, aku dapat memukul lehernya dengan tenaga Tin-san-kang, masa ia tidak mampus?

Ia menjadi lega dengan pikiran ini, dan dengan erat ia memegang leher burung kim-tiauw.

Sebentar saja mereka telah tiba di atas hutan kecil di sebelah selatan kota Lam-si.

Tiba-tiba Kok Sun tertawa dan mengeluarkan suara bersuit tiga kali.

Ini merupakan perintah bagi kim-tiauw karena burung itu segera menukik ke bawah kepala di bawah ekor di atas!

Hampir saja Kong Ji terjungkal dari tempat duduknya.

Ia memegang erat-erat leher burung dan hatinya berdebar keras.

Terpaksa ia meramkan matanya ketika melihat betapa pohon di bawah seakan-akan terbang naik hendak menubruknya.

"Ha, ha, ha, kau takut?"

"Siapa takut? Kalau kau tidak takut masa aku harus takut?"

Jawab Kong Ji sambil membuka matanya.

"Bagus, awas kali in"!"

Seru Kok Su yang kembali bersuit pandang dua kali Burung itu kini memukulkan sayapnya dan tahu-tahu berjungkir balik dengan punggung di bawah!

Hal ini sama sekali tidak terduga oleh Kong Ji.

Ia mempererat pelukannya pada leher burung, akan tapi karena pelukannya mencekik leher burung itu menggerakkan lehernya dan terlepaslah pegangannya.

Tubuh Kong Ji melayang ke bawah!

Ketika tubuh Kong Ji berputaran dari atas ke bawah dan hatinya tidak karuan rasanya, semangatnya sudah terbang, tiba-tiba ia merasa kakinya dipegang orang dan terdengar suara Kok Sun.

"Sekarang masih tidak takut?"

Kong ji berada dalam keadaan berbahaya dan menakutkan sekali.

Kini burung itu telah biasa lagi terbangnya.

Kok Sun duduk di atas punggungnya dan sebelah tangannya memegangi Kong Ji yang berada dalam keadaan tergantung di bawah.

Namun Kong Ji yang cerdik masih teringat akan teriakan Tok-ong.

Dirinya dibutuhkan oleh keluarga iblis ini dan takkan dibunuh, maka dengan suara keras ia menjawab.

"Seorang gagah tidak takut mati!"

Kok Sun benar-benar kagum. Dia sendiri kalau dibegitukan tentu akan merasa amat takut.

"Kau benar-benar patut dijadikan kawan. Siapa namamu?"

"Namaku Lui Kong Ji."

Burung itu telah turun dan hampir mendarat, Kok Sun menggerakkan tangannya dan tubuh Kong Ji terdorong oleh tenaga besar, lalu tiba di tanah dengan kaki di atas.

Diam-diam Kong Ji kagum sekali.

Hebat sekali tenaga Kok Su dan ia masih kalah dengan pemuda gundul ini.

Yang membuat Kong Ji lebih terheran dan kagum adalah ketika ia melihat bahwa See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio telah berada di situ pula!

Dapat berlari cepat mendahului seekor kim-tiauw yang terbang, benar-benar dapat dibayangkan betapa tingginya ginkang dua orang aneh ini.

"Nah, bocah yang tabah, sekarang ceritakan di mana tempat sembunyinya Giok Seng Cu,"

Kata See-thian Tok-ong kepada Kong Ji.

"Nanti dulu, Locianpwe. Boanpwe Lui Kong Ji sama sekali bukan hendak membangkang terhadap perintah Locianpwe. Akan tetapi kalau Locianpwe ada permintaan terhadap boanpwe, agaknya sudah sepatutnya pula kalau boanpwe juga mengajukan permintaan sebagai imbalannya kepada Locianpwe."

Sepasang mata yang bundar dari See-thian Tok-ong memandang tajam dan hatinya mulai curiga.

"Hemm, siapa bisa percaya omonganu? Kau agaknya licik dan cerdik sekali Lui Kong Ji, coba kau ceritakan dulu hubunganmu dengan Giok Seng Cu. Kamu pernah apakah dengan dia dan bagaimana kau bisa dipilih menjadi wakilnya di Im-yang-bu-pai?"

"Boanpwe adalah muridnya. Dan boanpwe suka menjadi muridnya bukan sekali-kali karena boanpwe suka kepada Im-yng-bu-pai, akan tetapi oleh karena boanpwe sengaja hendak mencari ilmu kepandaian agar kelak dapat membalas musuh besar boanpwe. Dengan susah payah boanpwe melayani Suhu sehingga mendapat kepercayaan dari Suhu, akan tetapi sebelum boanpwe mendapatkan ilmu kepandaian, keburu datang urusan pedang dan kitab sehingga boanpwe menjadi gagal dalam cita-cita boanpwe. Ada pun tentang pedang Pak-kek Sin-kiam dan kitab peninggalan Pak-kek Sianseng boanpwe sudah mendengar keterangan sejelasnya dari Suhu, oleh karena itu kalau Locianpwe menghendaki dua benda itu kiranya boanpwe seorang yang akan dapat memberi petunjuk."

See-thian Tok-ong mengelus-elus jenggotnya. Bocah ini benar-benar cerdik sekali dan berbahaya, pikirnya.

"Kong Ji, kau bicara berputar-putar. Katakan apa kehendakmu untuk penukaran petunjuk tempat sembunyi Giok Se Cu?"

Tiba-tiba Kong Ji menangis dan jatuhkan diri berlutut di depan See-thu Tok-ong.

"Boanpwe tidak minta banyak hanya mohon imbalan sedikit berupa pelajaran ilmu silat tinggi agar kelak boanpwe dapat membalas dendam kepada musuh besar boanpwe."

"Hm, hm, jadi kau minta diterima menjadi muridku?"

"Demikianlah permohonan teecu. Kalau Locianpwe sudi menerima teecu menjadi murid tidak saja teecu akan menunjukkan di mana tempat persembunyian Giok Seng Cu, bahkan teecu akan membantu sampai Locianpwe mendapatkan pedang dan kitab."

"Enak saja kau bicara!"

Kwan Ji Nio membentak.

"Aku bahkan akan membunuhmu!"

See-thian Tok-ong memberi tanda dengan matanya kepada Kwan Ji Nio, kemudian ia bertanya kepada Kong Ji.

"Bagaimana kalau aku menolak permintaanmu?"

"Terpaksa teecu pun akan membungkam."

"Bangsat, kau harus mampus!"

Kembali Kwan Ji Nio membentak, akan tetapi pandang mata suaminya mencegah turun tangan.

"Kong Ji, kau mendengar sendiri. nyawamu berada di tangan kami, dan kalau kau menolak memberi tahu di mana tempat sembunyi Giok Seng Cu, kami akan membunuhmu."

"Akan menyiksamu sampai mati,"

Kata Kwan Ji Nio.

"Ayah, kalau ular-ular disuruh mengeroyoknya, tentu ia akan mengaku,"

Kata Kok Sun. Akan tetapi Kong Ji sama sekali tidak takut.

"Locianpwe, sudah teecu nyatakan tadi bahwa hidup teecu hanya untuk membalas dendam terhadap musuh besar. Kalau Locianpwe tidak mau menerima teecu sebagai murid dan teecu tidak bisa memiliki kepandaian tinggi untuk dapat membalas dendam terhadap musuh besar, hidup juga percuma. Teecu lebih baik mati. Mati sekarang atau besok sama saja. Mati sekaligus atau siksa pun sama juga. Kalau Locianpwe menolak mau membunuh teecu, mau mengubur hidup-hidup, diberi makan ke ular atau membakar hidup-hidup teecu akan terima. Teecu tidak takut mati."

Tertegun juga See-thian Tok-ong mendengar ini.

Tiba-tiba Kok Sun bicara dalam bahasa asing dengan ayahnya untuk beberapa lama tiga orang itu bercakap-cakap dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Kong Ji.

Mereka ini bicara dalam bahasa India dan Kok Sun menuturkan bahwa Kong Ji memang benar-benar tidak takut mati, hal ini sudah dibuktikannya ketika mereka naik di punggung kim-tiauw.

Kemudian mereka bertiga berunding bagaimana untuk menghadapi bocah bandel ini.

Akhirnya See-thian Tok-ong tertawa bergeIak dan berkata kepada Kong Ji.

"Eh, Lui Kong Ji. kau ini memang bocah cerdik dan licik seperti iblis. Akan tetapi jangan kaukira bahwa kami takut kepadamu. Sekarang begini saja. Kami menerima permintaanmu, akan tetapi kami anggap bahwa kau menggadaikan nyawa kepada kami selama lima tahun. Bagaimana?"

Kong Ji terkejut. Ia maklum bahwa ia pun menghadapi tiga orang yang cerdik sekali, maka ia harus berlaku amat hati-hati.

"Menggadaikan nyawa bagaimana maksud Locianpwe?"

"Begini. Kau menunjukkan tempat persembunyian Giok Seng Cu dan membantu kami mencari kitab dan pedang. Sementara itu, kami tidak membunuhmu menitipkan nyawamu kepadamu selama lima tahun. Dalam waktu lima tahun itu kau boleh menerima pelajaran ilmu silat dariku. Akan tetapi, selewatnya lima tahun, kami tidak bertanggung jawab atas nyawamu lagi dan kau sudah bukan muridku lagi."

Kong Ji berpikir keras.

"Jadi kalau sudah lewat lima tahun, Locianpwe akan membunuh teecu?"

See-thian Tok-ong bergelak.

"Hal itu tidak dapat dibicarakan sekarang. Mungkin sekali tergantung sepenuhnya kepadamu sendiri dan baru lima tahun kemudian aku dapat memastikan apakah harus dibunuh atau tidak."

"Kalau teecu menolak syarat mi?"

"Kau dibunuh sekarang juga dan kami akan mencari sendiri tempat sembunyi Giok Seng Cu,"

Kata See-thian Tok-ong dengan suara dingin, hatinya sudah mendongkol sekali terhadap bocah yang selalu cerdik dan licik ini.

Kong Ji bukan seorang bocah luar biasa kalau ia tidak dapat menangkap nada suara Raja Racun maka cepat-cepat ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.

"Teecu terima syarat itu!"

"Kau harus bersumpah!"

Kata See-thian Tok-ong dan suaranya terdengar gembira.

"Bersumpah bagaimana, Suhu?"

Tanya Kong Ji yang menyebut "suhu"

Kepada See thian Tok-ong.

"Bersumpah bahwa kau benar-benar akan membantu mencari pedang dan kitab, bahwa kau tidak akan menipuku dan benar-benar menerima penggadaian nyawa selama lima tahun!"

Kong Ji berpikir cepat. Celaka, tua bangka ini benar-benar pintar sekali dan mengikat diriku. Kalau begini aku tigi besar, pikirnya.

"Suhu untuk bersumpah teecu tidak keberatan, akan tetapi teecu juga minta imbalannya untuk sumpah."

"Anak setan! Kau berani supaya aku bersumpah pula? Kau tidak percaya bahwa aku telah menerimamu sebagai murid?"

Bentak See-thian Tok-ong dan kedua tangannya terkepal keras. Kalau Kong Ji membenarkan dugaan ini, tentu ia akan memukul hancur kepala bocah ini.

"Mana teecu berani tidak percaya pada Suhu? Hanya teecu minta Suhu berjanji akan menurunkan ilmu-ilmu tinggi kepada teecu selama lima tahun itu."

See-thian Tok-ong menghela napas panjang.

"Kau memang pintar dan cerdas. Baiklah, aku berjanji akan menurunkan kepandaian tinggi, tentu saja kalau otakmu tidak terlalu tumpul."

Dengan girang Kong Ji lalu bersumpah. Kemudian menceritakan semua pengalamannya dengan Giok Seng Cu, menceritakan pula akan pertemuan Giok Se Cu dengan ketua ketua partai besar.

"Kitab rahasia itu hanya dapat dicari dengan menggunakan pedang Pak-kek Sinkiam!"

Tambahnya.

"dan teecu yakin pula bahwa agaknya pedang itu merupakan kunci yang dapat membawa Suhu ke tempat tersimpannya kitab rahasia peninggalan Pak Kek Siansu."

See-thian Tok-ong girang sekali.

"Bagus, mari kita menyusul Giok Seng Cu di Lembah Maut!"

Giok Seng Cu bersembunyi di dalam sebuah gua yang terdapat di Lembah Maut.

Ia merasa aman dan setiap hari Giok Seng Cu berlatih ilmu silat dengan pedang Pak-kek Sin-kiam.

Kepandaiannya memang tinggi sekali maka setelah memiliki pedang pusaka itu, dengan mudah ia dapat menciptakan semacam ilmu pedang yang lihai.

Ia hendak mempertinggi kepandalannya karena ia maklum bahwa sebelum mendapatkan kitab rahasia peninggalan Pak Kek Siansu, keadaannya masih berbahaya.

Di dalam lembah ia boleh merasa aman.

Memang keadaan lembah itu bukan main berbahayanya.

Letaknya di tepi Sungai Wei-ho, di kaki bukit Cin-leng san.

jarang ada orang berani memasuki Lembah Maut, karena biarpun ia berkepandaian tinggi, sekali saja kurang hati-hati, ia dapat tewas terjerumus ke dalam jurang atau rawa tertutup rumput.

Baiknya Giok Seng Cu pernah satu kali datang ke tempat ini dengan gurunya, Pak Hong Siansu.

Kalau bukan gurunya itu yang mencarikan jalan, biar Giok Seng Cu sendiri agaknya akan ragu-ragu untuk memasuki daerah ini.

"Takkan ada musuh berani memasuki Lembah Maut."

Pikirnya.

"biarpun andai kata See-thian Tok-ong yang lihai sanggup memasuki daerah ini, belum tentu ia dapat menemukan tempat sembunyiku."

Pada suatu hari, ketika ia sedang berdiri di depan guanya, ia mendengar suara sayup-sayup sampai, datang dari luar hutan.

"Suhuuu...!"

Giok Seng Cu tidak mengenaI suara itu, karena hanya terdengar lapat-lapat.

Hm, agaknya ada musuh datang mencariku, pikirnya.

Akan tetapi ia tidak takut, bahkan lalu menyelundup dan dengan jalan bersembunyi di balik rumpun, ia berindap indap menghampiri tempat dari suara itu datang.

Suhu...

teecu Lin Kong Ji berada di sini...!"

Kembali terdengar suara itu. Giok Seng Cu girang sekali dan cepat ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, lalu berlari cepat menghampiri Kong Ji.

"Kong Ji, kau sudah datang?"

Serunya dan diam-diam kakek ini merasa kagum melihat muridnya yang kecil itu sudah berhasil tiba di tempat ini.

"Baiknya kau tidak lancang masuk ke dalam lembah ini, sungguh berbahaya kalau kau masuk ke sini."

Dengan matanya yang tajam Kong Ji melihat bahwa Giok Seng Cu tidak membawa pedang Pak-kek Sin-kiam.

Anak ini dengan siasatnya telah berunding dengan See-thian Tok-ong untuk memancing keluar suhunya, karena daerah itu amat sukar lagi berbahaya.

"Suhu, lekas bawa teecu ke tempat yang aman, teecu ada pembicaraan yang amat penting bagi keselamatan Suhu!"

Giok Seng Cu kaget mendengar ini. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu memegang tangan muridnya dan dibawa ke dalam hutan, terus menuju ke goa tempat sembunyinya.

"Ada apakah? Ceritakan lekas!"

Katanya setelah mengambil Pak kek Sin-kiam yang disembunyikan di dalam gua.

Giok Seng Cu memang berlaku hati-hati sekali.

Tidak berani ia membawa-bawa pedang itu keluar lembah agar jangan menimbulkan perhatian orang lain yang melihatnya.

"Celaka, Suhu. See-thian Tok-ong telah membunuh semua saudara di Lam-si dan sekarang ia bersama anak isterinya yang lihai telah mengejar ke sini dengan napas terengah-engah dan cepat Kong Ji menuturkan betapa Lai Kwa Siang dan semua murid Im-yang-bu-pai yang berada di Lam-si telah dibunuh oleh keluarga See-thian Tok-ong.

"Baiknya teecu sempat melarikan terlebih dulu untuk memberi tahu kepada Suhu. Kalau tidak tentu teecu akan tewas pula dan tidak ada orang yang memberi tahu kepada Suhu."

Pucat wajah Glok Seng Cu mendengar ini.

"Di mana mereka sekarang?"

"Mereka kabarnya mengejar teecu, karena mereka tidak tahu tempat Suhu bersembunyi. Akan tetapi teecu rasa ada baiknya kalau Suhu lekas-lekas keluar dari tempat ini dan mencari tempat -persembunyian lain."

"Kalau begitu, hayo kita pergi cepat-cepat, Kong Ji."

"Suhu, janganlah Suhu repot-repot karena teecu. Pergilah Suhu sendiri. Dengaan adanya teecu, Suhu hanya akan terhalang dan tak dapat bergerak cepat. Kalau sampai teecu menjadi penghalang dan Suhu dapat dikejar oleh mereka, apakah artinya teecu bersusah payah mencari Suhu? Biarlah, tinggalkan teecu di sini. Kalau mereka mendapatkan tee-cu, mereka toh tidak mempunyai kepentingan apa-apa terhadap diri teecu?"

Giok Seng Cu terharu.

"Anak baik... murid yang berbakti! Kau melepas budi sar untuk membela Suhumu. Apakah yang dapat kuberikan untuk membalas jasamu."

"Sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk berbakti kepada gurunya. Teecu tidak mengharapkan sesuatu, hanya teecu minta sedikit petunjuk tentang ilmu mempergunakan Tin-san-kang, karena telah teecu latih namun masih teecu belum dapat mainkan dengan sempurna. Mempelajari kauw-koat (teori) saja benar-benar sukar."

Giok Seng Cu tertawa.

"Memang dulu aku belum memberitahukan rahasia pukulan itu. Nah, sekarang dengar baik-baik dan lihat!"

Giok Seng Cu lalu memberi petunjuk dan bersilat di depan Kong Ji, diperhatikan baik-baik oleh anak yang cerdik ini. Setelah Kong ji mengerti betul, Giok Seng Cu lalu meninggalkannya.

"Biar teecu tinggal di sini seorang diri untuk melatih Tin-san-kang,"

Kata Kong Ji sebelum ia berangkat.

Sambil berlari cepat, Giok Seng Cu keluar dari Lembah Maut itu.

Akan tetapi, alangkah kagetnya tiba-tiba dari balik pohon-pohon besar melompat keluar tiga bayangan orang dan tahu-tahu See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio, Kwan Kok Sun, burung rajawali emas dan puluhan ekor ular berbisa telah berjejer menghadang perjalanannya!

Inilah siasat yang dijalankan oleh Kong Ji.

Dengan cerdik ia memancing Giok Seng Cu keluar dari lembah untuk dihadapi oleh See-thian Tok-ong, sedangkan untuk pengkhianatannya, ia tidak dicurigai oleh Giok Seng Cu, sebaliknya, malah mendapat tambahan pelajaran ilmu silat dan dipuji-puji!

Sampai saat itu pun, Giok Seng Cu tak pernah mengira bahwa muridnya itu yang mengkhianatinya.

Setelah Giok Seng Cu pergi diam-diam Kong Ji juga keluar dari gua itu dan mengikuti perjalanan suhunya ini, maka kini ia yang bersembunyi di balik rumpun alang-alang dapat melihat apa yang terjadi di situ.

"Siapakah kalian yang berani menghadang perjalanan pinto?"

Tanya Giok Seng Cu dengan suara dibikin tenang sedapatnya.

Ia sudah pernah melihat Kwan Kok Sun, akan tetapi belum pernah bertemu dengan See-thian Tok-ong dan isterinya.

Biarpun iz sekarang dengan mudah dapat mengerti bahwa yang dihadapinya adalah keluarga iblis itu, namun ia pura-pura tidak tahu.

Kwan Kok Sun tertawa menyeringai.

"Giok Seng Cu, apakah kau sudah lupa lagi kepadaku atau pura-pura lupa? Kau telah merampas pedang itu dari tanganku, sekarang kami datang untuk mengambilnya kembali berikut kepalamu!"

"Hm, agaknya pinto berhadapan dengan See-thian Tok-ong dan keluarganya,"

Kata pula Giok Seng Cu. See-thian Tok-ong mengeluarkan suara di hidungnya, lalu berkata.

"Giok Seng Cu pernah satu kali bertemu dengan mendiang Suhumu, Pak Hong Siansu. Dia adalah seorang yang mengutamakan persahabatan. Aneh sekali kau ini muridnya mengapa begitu curang dan sampai hati menipu puteraku pura-pura membantu kemudian bahkan merampas pedang dan memukulnya. Kau sudah terang harus dihukum, mau kata apa lagi?"

Merah muka Giok Seng Cu.

Memang dalam hal berebut pedang dengan Kok Sun ia telah berlaku licik.

Kalau saja dalam perebutan dahulu itu ia berlaku secara laki-laki dan mengandalkan kepandaian, belum tentu See-thian Tok-ong hendak membunuhnya.

Akan tetapi, sudah menjadi bubur, hal itu telah terjadi dan tak dapat diubah pula, maka ia tidak dapat mundur lagi.

"Sesukamulah, See-thian Tok-ong. Hanya hendaknya kauingat bahwa pedang ini adalah peninggalan Supek Pak Kek Siansu, maka akulah yang berhak mewarisinya. Sekarang pedang sudah di tanganku, kalau ada yang menghendakinya, boleh mencoba mengambilnya dan tanganku."

Inilah sebuah tantangan.

Kwan Ji Nio sudah tak sabar lagi dan hendak menyerang, akan tetapi suaminya mengangkat tangan mencegahnya.

See-thian Tok-ong maklum bahwa sebagai murid Pak Hong Siansu, Giok Seng Cu memiliki kepandaian tinggi, apalagi pedang pusaka di tangan, ia merupakan lawan berbahaya bagi isterinya.

"Kim-tiauw, rampas pedangnya""

Bentaknya kepada burung yang berdiri di dekat Kok Sun.

Burung itu mengeluarkan pekik yang nyaring sekali, membuka sayap terbang ke atas lalu menyambar ke arah Giok Seng Cu.

Kakek ini tidak gentar dan cepat mengerahkan tenaga, memukul dengan tenaga Tin-san-kang.

"Bruk!"

Tubuh burung itu terpental sebelum bertemu dengan tangan Giok Seng Cu.

Beberapa helai bulu sayapnya rontok dan sambil mengeluarkan bunyi cecuitan, burung itu tidak berani maju lagi hanya terbang berputaran di atas.

See-thian Tok-ong marah sekali, mengeluarkan suara mendesis sebagai perintah kepada ular-ular yang berada dibelakang Kok Sun.

Empat puluh lebih ular merayap cepat dan menyerang Giok Seng Cu.

Kakek ini bergidik dan jijik sekali melihat sekian banyaknya ular menyerangnya.

Kembali ia mengerahkan tenaga, kedua tangannya didorong ke depan, ke arah ular-ular itu.

Hebat sekali tenaga Tin-san-kang.

Debu mengepul, batu-baru kecil terlempar dan sedikitnya ada tujuh ekor ular yang hancur tubuhnya terkena hawa pukulan Tin-san-kang!

Ular-ular yang lain terlempar ke belakang dan mereka juga jerih menghadapi kakek yang berkepandaian tinggi itu.

Kong Ji yang mengintai dari balik rumpun alang-alang, kagum bukan main dan ia merasa girang bahwa kini ia telah dapat memiliki Tin-san-kang yang sempurna, tinggal melatihnya saja.

Ia memandang terus dan kali ini Kok Sun rogoh sakunya.

Agaknya bocah gundul ini hendak mengeluarkan sepasang ular merahnya yang lihai, akan tetapi See-thian Tok-ong mencegahnya.

Raja Racun ini maklum, bahwa betapapun lihai Siang ang-coa, tak mungkin dapat melawan Giok Seng Cu dan ia merasa sayang kalau sepasang ular itu akan mati.

"Biarkan aku sendiri menghadapinya!"

Tiba-tiba tubuh See-thian Tok-ong bergerak dan ia telah menyerang dengan pukulan berat ke arah dada Giok Seng Cu.

Kakek rambut panjang ini tidak berani berlaku ayal karena ia dapat menduga akan kehebatan lawannya.

Cepat ia merendahkan tubuh dan mendorongkan kedua tangan ke depan, mempergunakan hawa pukulan Tin-san kang untuk memukul lawan.

Giok Seng Cu yang sudah berpengalaman maklum bahwa ia tidak boleh beradu tangan dengan kakek ini, karena ia mehhat bahwa kedua tangan See-thian Tok-ong mengeluarkan sinar menghitam yang mencurigakan, tanda bahwa sepasang tangan itu tentu mengandung racun jahat.

Dua hawa pukulan yang dahsyat bertemu di udara dan akibatnya Giok Seng Cu terhuyung tiga tindak, akan tetapi See-thian Tok-ong juga terdorong ke belakang.

Tenaga mereka seimbang!

Bukan main kagetnya Kong Ji yang menonton dari tempat sembunyinya.

Tenaga sin-kang dari Giok Seng Cu sudah hebat, akan tetapi kini dapat dilawan See-thian Tok-ong.

Ia makin gembira karena ia telah menjadi murid See-thian Tok-ong yang ternyata memiliki kepandaian yang tinggi pula.

"Biar kita mengadu nyawa di sini seru Giok Seng Cu marah. Ia maklum bahwa lawannya tidak dapat dirobohkan dengan Tin-san-kang dan kalau ia melayani dengan tangan kosong, ia tentu akan kalah, karena lawannya itu bertangan maut. yakni kedua tangannya mengandung hawa pukulan yang berbisa. Cepat dicabutnya pedang Pak-kek Sin-kiam dan berkelebatlah sinar yang menyilaukan mata ketika ia melakukan serangan pertama. See thian Tok-ong terkejut melihat hebatnya serangan ini, cepat ia membanting tubuh ke kiri dan di lain saat ia telah mencabut sepasang tangan, senjatanya yang mengerikan itu. Baru saja kedua tangan kering itu digerakkan, Giok Seng Cu sudah mencium bau yang amat keras sehingga ia menjadi gentar. Ia teringat akan nama julukan lawannya, yakni Raja Racun, maka tahulah ia bahwa sepasang tangan kering itu tentu mengandung bisa yang amat berbahaya. Cepat ia menggerakkan pedangnya, diputar sedemikian cepatnya sehingga merupakan segulungan sinar yang menyelimuti tubuhnya. Kong Ji makin kagum dan diam-diam timbul keinginannya untuk memiliki pedang luar biasa itu.

"Benar-benar senjata pusaka yang ampuh,"

Pikirnya.

Namun, betapapun hebat gerakan pedang Giok Seng Cu, ia menghadapi lawan yang amat tangguh.

Ilmu silat dari See-thian Tok-ong amat luar biasa dan aneh gerakannya, sepasang tangan kering itu bergerak-gerak ke atas dan ke bawah, bahkan tidak takut kadang-kadang beradu dengan pedang!

Hal ini adalah karena gerakan yang amat tepat sehingga tiap kali bertemu dengan pedang, tangan itu beradu dengan pinggiran pedang, bukan dengan mata pedang, karena kalau bertemu dengan tajamnya pedang tentu akan terbabat putus.

Pertempuran berjaIan amat serunya dan Giok Seng Cu harus mengakui bahwa kalau ia tidak memegang Pak-kek Sin-kiam, tentu ia takkan dapat bertahan demikian lamanya.

"Aku harus dapat lari dari sini...,"

Pikirnya sambil memutar pedang makin cepat.

Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu sebatang tongkat kecil menyambar ke arah kepala Giok Seng Cu.

Hampir saja ujung tongkat itu mengenai kepalanya.

Bukan main kagetnya ketua Im-yang-bu-pai ini.

Sudah terasa ujung tongkat itu menggores rambutnya ketika ia cepat mengelak.

Ketika ia melihat bahwa penyerangnya itu adalah Kwan Ji Nio, hatinya makin gentar.

Dari gerakan serangan tadi ia menduga bahwa kepandaian Kwan Ji Nio ini kiranya lebih lihai daripada kepandaian suaminya!

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Kwan Ji Nio memang lebih lihai dalam hal ilmu meringankan tubuh, maka penyerangannya cepat bukan main dan kelihatannya memang lebih lihai dari suaminya, akan tetapi sebetulnya tingkat kepandaiannya masih kalah jauh oleh See-thian Tok-ong.

Karena hatinya sudah gentar, permainan pedang Giok Seng Cu agak kalut dan tiba-tiba sebuah kuku senjata tangan dari See-thian Tok-ong berhasil menggoes kulit lengan kanannya.

Giok Seng Cu merasa kulit lengannya gatal-gatal bukan main sehingga hampir saja pedangnya terlepas.

Ia cepat memutar pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya melancarkan pukulan-pukulan Tin san-kang ke arah dua orang musuhnya.

Kwan Ji Nio telah maklum akan kehebatan Tin-san-kang dan tahu pula bahwa ia takkan kuat menahan pukulan-pukulan ini, maka cepat ia meloncat mundur mengandalkan ginkangnya yang luar biasa.

Adapun See-thian Tok-ong juga menggerakkan tangan kiri untuk menolak hawa pukulan lawan.

Akan tetapi kesempatan itu tidak dilewatkan percuma oleh Giok Seng Cu.

Sekali ia melompat, ia telah berlari masuk hutan.

"Tinggalkan pedang!"

Teriak See-thian Tok-ong mengejar.

Juga Kwan Ji Nio ikut pula mengejar.

Giok Seng Cu tadinya hendak mengandalkan keadaan di lembah itu untuk menyelamatkan diri.

Ia sudah mengenal baik keadaan di lembah yang liar itu dan kalau ia dapat masuk ke dalam hutan yang lebat, agaknya dua orang lawannya takkan berhasil mengejarnya.

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara sayap burung dan ketika ia memandang ke atas, ia melihat kim-tiauw tadi beterbangan di atas dan mengeluarkan bunyi nyaring.

"Burung jahanam...!"

Makinya.

Ia menahan gemas dan menyesal mengapa ia tak mempunyai gendewa dan anak panah untuk membunuh burung itu.

Dengan adanya kim-tiauw yang terus mengikutinya, tak mungkin lagi ia bersembunyi.

dan dua orang suami isteri itu telah menyusulnya dan mengirim serangan-serangan hebat.

See-thian Tok-ong menyetang dengan tangan berbisa, sedangkan Kwan Ji Nio menggerakkan tongkat bambunya dengan cepat sekali.

"Celaka aku kali ini...."

Giok Seng Cu mengeluh ketika tiba-tiba merasa tangan kanannya makin gatal-gatal, dan rasa gatal itu menyerang sampai ke pundaknya.

Ia maklum bahwa itu tentulah akibat dari serangan tangan berbisa yang dipegang oleh See-thian Tok-ong dan kini racunnya telah masuk ke dalam lengannya.

Tiba-tiba ia berseru keras dan dari tangan kanannya menyambar sinar keemasan ke arah leher See-thian Tok-ong.

Kakek ini terkejut sekali.

Cepat ia mengelak akan tetapi tetap saja sinar itu telah melanggar ujung baju di lengannya sehingga ujung baju itu terbabat putus.

Baiknya ia cukup cepat mengelak sehingga tidak terluka.

Ketika ia memandang ke depan, Giok Seng Cu telah lari jauh masuk ke dalam hutan.

See-thian Tok-ong tidak mau mengejar.

"Tidak perlu mengejar dia, pokiam (pedang pusaka) telah diberikan kepadaku. Ia menghampiri pedang Pak-kek Sin-kiam yang tadi dilontarkan kepadanya dan kini pedang itu tertancap ambles ke dalam batang pohon. Dicabutnya pedang itu dan dipandanginya dengan penuh kesayangan.

"Kau yang akan membawaku ke tempat kitab dan akulah yang akan dapat mewarisi Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang hoat. Ha, ha, ha...!"

See-thian Tok-ong tertawa gembira.

"Suhu, teecu menghaturkan kionhi (selamat)!"

Tiba-tiba Kong Ji keluar dari tempat persembunyiannya berlutut di depan See-thian Tok-ong.

"Ha, anak baik, kau telah membantu banyak."

Tentu saja See-thian Tok-ong dan isterinya sudah tahu bahwa Kong Ji bersembunyi di situ.

"Mari sekarang kita mencari kitab di puncak Lulilang-san,"

Ajaknya.

Siasat Kong Ji untuk memancing keluar Giok Seng Cu, oleh See-thian Tok-ong dianggap sebagai bukti kebaktian anak itu kepadanya.

Oleh karena itu, ia makin merasa suka kepada Kong Ji.

Bahkan anak ini dengan sikapnya yang mengasih dan pandai mengambil hati, akhirnya dapat juga menangkan hati Kok Sun yang menganggapnya sebagai seorang sahabat yang baik sekali.

Hanya Kwan Ji Nio seorang yang masih bersikap dingin kepadanya, sungguhpun rasa benci dari nenek ini tidak sehebat dulu.

Rasa sayang dari See-thian Tok-ong kepadanya terasa oleh Kong Ji karena ia dapat mengetahui hal ini dari cara Raja Racun itu memberi pelajaran silat kepadanya.

Kini mulailah See-thian Tok-ong menurunkan rahasia latihan ilmu lwee kang dari barat dan di sepanjang perjaianan menuju ke Luliang-san tiap kali ada kesempatan.

Kong Ji selalu melatih diri dengan pelajaran baru ini.

Setelah tiba di puncak Luliang-s See thian Tok-ong dan isterinya merasa amat kagum dan suka sekali melihat puncak yang indah itu.

"Benar-benar tempat yang amat menyenangkan,"

Katanya.

"pantas sekali tempat seperti ini disukai oleh mendiang Pak Kek Siansu. Memang amat baik untuk menjadi tempat bertapa dan istirahat."

Ia segera mengambil keputusan untuk tinggal di puncak itu.

Bahkan lalu memperbaiki bekas pondok Pak Kek Siansu yang sudah diobrak-abrik dan dirusak oleh Kok Sun, puteranya sendiri ketika bersama Ba Mau Hoatsu mencari kitab rahasia.

Agar tidak membingungkan pembaca baik diceritakan bahwa Ba Mau Hoatsu telah kembali ke Tibet seteLah See-thian Tok-ong menyusul puteranya ke Tiong-goan.

Dengan adanya See-thian Tok-ong sekeluarga turun dari Tibet untuk mencari kitab, Ba Mau Hoatsu merasa ada harapan baginya lagi untuk ikut-ikut mencari kitab itu, maka ia pun lalu berpamit dan kembali ke Tibet, di mana melatih diri dengan ilmu silatnya.

See-thian Tok-ong dan anak isterinya, dengan bantuan Kong Ji mulailah mencari kitab peninggalan Pak Kek Siansu.

Akan tetapi usaha mereka sia-sia.

Seluruh puncak telah mereka jelajahi dan periksa, namun tidak ada hasilnya.

Kitab rahasia itu tak dapat ditemukan.

Berbulan-bulan mereka mencari dan selama itu Kong Ji mulai menerima latihan-latihan ilmu silat dari See-thian Tok-ong.

Raja Racun ini tertarik sekali melihat kecerdikan Kong Ji dan setelah melatih beberapa bulan, ia mendapat kenyataan bahwa bakat dalam diri anak ini bahkan lebih besar daripada puteranya sendiri.

Setiap gerakan dan latihan lwee-kang dapat ditangkap dengan mudah oleh Kong Ji.

Akan tetapi tentu saja See-thian Tok ong belum berani menurunkan kepandaiannya yang sejati dan hanya memberi pelajaran ilmu-ilmu silat yang tidak begitu hebat.

Namun Kong Ji tetap sabar.

Anak ini pandai sekali menyembunyikan lepandaian-kepandaian yang pernah dipelajarinya, bahkan suhunya sendiri tidak tahu bahwa ia kini telah mulai dapat menjalankan Ilmu Pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu!

Dalam pandangan See-thian Tok-ong, Kong Ji masih dangkal Ilmu pengetahuannya dalam ilmu silat, padahal anak ini diam-diam telah memiliki ilmu-ilmu silat, dari Kwan-im-pai dari Hoa-san-pai, dan juga dari Giok Seng Cu.

Pelajaran lweekang yang agak dalam telah mulai diturunkan oleh See-thian Tok-ong kepada Kong Ji setelah hampir setahun mereka tinggal di puncak Jeng in-thia (Ruang Awan Hijau).

Lweekang ini berbeda cara melatihnya dengan lweekang di Tiong-on karena untuk siulian (bersamadhi), Kong Ji harus berdiri dengan kaki di atas dan kepala di bawah.

Mula-mula hal ini amat sukar.

Baru sebentar saja kepalanya terasa pening dan darah turun ke bawah membuat mukanya merah sekali.

Juga ia tak dapat tahan lama membiarlan kakinya lurus ke atas, sehingga ia harus mencari bantuan batu karang untuk menyangga kedua kakinya.

Namun berkat latihan yang amat tekun, beberapa bulan kemudian ia telah dapat berdiri berjam-jam dengan kepala di bawah dan kaki di atas.

Kemudian ia diberi pelajaran melakukan gerakan kaki tangan dengan keadaan tubuh berjungkir balik, yakni kepala di bawah dan kaki di atas.

Ini adalah gerakan-gerakan untuk melatih tenaga dalam tubuh dan untuk memperkuat lweekangnya.

Semenjak menerima pelajaran itu, setiap pagi, tanpa mengenaI lelah, Kong Ji terlihat berlatih seorang diri di dekat jurang di Jeng-in-thia, dengan kepala di bawah, kedua kali di atas, kedua lengan dibentangkan kemudian ia bergerak-gerak dan berputar-putar cepat sekali!

Hatinya penuh cita-cita yakni untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan.

Ia tidak tahu bahwa tempat di mana ia berlatih, kadang-kadang seorang diri dan kadang-kadang berdua dengan Kok Sun, dahulu adalah tempat berlatih Wan Sin Hong di bawah pimpinan Luliang Sam lojin.

Juga, ia tidak pernah mengimpi bahwa pada saat ia berlatih di tempat itu, tak jauh dari situ, yakni di dalam jurang, kurang lebih seratus tombak dalamnya dari tepi jurang, seorang anak laki-laki lain tengah berlatih ilmu yang dilatihnya, dan anak itu bukan lain adalah Wan Sin Hong yang sedang berlatih ilmu silat menurut petunjuk kitab peninggalan Pak Kek Siansu!

Tiga tahun telah berlalu amat cepatnya.

Selama itu, See-thian Tok-ong dan anak isterinya tinggal di puncak Luliang san dan mereka tiada henti dan bosannya mencari kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang tanpa hasil.

Mereka mulai putus asa dan sikap See-thian Tok-ong terhadap Kong Ji mulai berubah, kini seringkali ia mengeluarkan kata-kata kasar.

Namun kakek ini menepati janjinya.

Ia melatih Kong Ji dengan sungguh-sungguh sehingga anak ini mewarisi ilmu silat yang amat tinggi.

Kong Ji tidak menyia-nyiakan waktunya, siang malam tiada bosannya ia melatih diri sehingga biar lambat akan tetapi tentu ia mulai mengejar kepandaian Kwan Kok Sun si Bocah Gundul yang kini telah menjadi orang pemuda, namun tetap saja kepalanya selalu digunduli.

Kong Ji sendiri pun sudah menjadi seorang pemuda tanggung yang tampan dan bertubuh jangkung.

Memang kalau dilihat begitu saja agaknya Kong Ji masih kalah oleh Kok Sun, akan tetapi andaikata mereka bertempur, sudah dapat dipastikan bahwa Kok Sun akan kalah.

Hal ini adalah karena di samping pelajaran ilmu silat yang ia dapat dari See-thian Tok-ong, juga Kong Ji diam-diam telah menyempurnakan ilmu-ilmunya yang lain yang didapat dari ajaran mendiang Liang Gi Tojin dan Giok Seng Cu, terutama sekali ilmu pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu.

Akan tetapi dengan amat cerdiknya, ilmu ini ia simpan rapat-rapat dan keluarga itu tidak mengetahuinya.

Pada suatu malam Kong Ji mendengar percakapan antara See-thian Tok-ong dan isterinya, percakapan yang amat mengejutkan hatinya.

"Kita membuang waktu percuma saja, dasar kau yang mudah ditipu oleh anak setan itu!"

Kata Kwan Ji Nio kepada suaminya.

"Ahh, kau tahu apa?"

Jawab See-thian Tok-ong sambil tertawa.

"Kalau ada dia, bagaimana kita bisa mendapatkan pedang pusaka dari Pak Kek Siansu."

"Untuk apa pedang pusaka itu? Yang penting adalah kitab itu, ternyata tidak ada di sini."

Kemudian Kwan JI Nio menyambung dengan suara perlahan.

"bocah setan itu kulihat amat maju. Kelak kalau hatinya membalik, kitalah yang akan bertambah seorang musuh yang membahayakan."

"Ha, ha, isteriku, kau terlalu kecil hati. Apa sih bahayanya bocah itu? Tidak bisa didapatkannya kitab sungguh-sungguh bukan salahnya. Dan aku sudah berjanji menerimanya sebagai murid selama lima (Lanjut ke

Jilid 08) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 tahun.

Masih setahun lebih aku harus melatihnya, kemudian, andaikata kau hendak membunuhnya, apa sih sukarnya.

Biar dia belajar dua atau tiga tahun lagi, menghadapi Kok Sun saja belum tentu menang.

Apa yang perlu kita takuti?"

Percakapan itu terhenti dan Kong Ji menjauhkan diri.

Ia duduk termenung di pinggir jurang tempat ia berlatih silat.

Celaka, pikirnya.

Apa artinya aku belajar setahun dua tahun lagi kalau akhirnya aku akan mereka bunuh juga?

"Ah, kalau saja aku bisa mempelajan ilmu dari kitab peninggalan Pak Kek Siasu, aku tidak akan takut menghadapi mereka!"

Sudah lama bocah yang cerdik ini sering kali memandang ke dalam jurang dan timbul pikirannya bahwa besar sekali kemungkinan kitab rahasia itu disembunyikan di dasar jurang.

Bukankah pedang itu pun menurut Kok Sun, didapatkan oleh kim-tiauw di dasar jurang?

Ia sengaja tidak menyatakan dugaannya ini kepada See-thian Tok-ong, karena memang ia tidak ingin keluarga iblis itu mendapatkan kitab yang ia sendiri ingin memilikinya.

Akan tetapi setelah mendengar percakapan antara suami isteri itu, ia mendapatkan akal.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri untuk menarik simpati dan kasih sayang mereka, adalah membantu mereka mendapatkan kitab, sehingga dengan jalan ini ia dapat membuktikan kesetiaan dan kebaktiannya.

"Suhu,"

Katanya pada keesokan harinya kepada See-thian Tok-ong.

"bagaimana dengan hasilnya mencari kitab rahasia itu?"

Kening kakek itu berkerut dan sepasang matanya kelihatan marah.

"Perlu apa kau bertanya-tanya? Membantu pun tidak becus!"

Tegurnya marah.

"Maaf, Suhu. Sudahkah dicari di dasar jurang itu?"

"Kau ngelindur! Jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu, bagaimana bisa periksa?"

"Teecu sanggup menuruni jurang itu!"

See-thian Tok-ong tertegun, demikian juga Kwan Ji Nio dan Kok Sun.

"Jangan kau main-main, kupatahkan batang lehermu nanti!"

Bentak Kwan Ji Nio.

"Subo, mana teecu berani main-main Dulu yang mendapatkan Pak-kek Sin kiam adalah kim-tiauw, kalau sekarang teecu naik di punggung kim-tiauw dan menyuruh burung itu terbang turun ke jurang apakah sukarnya? Siapa tahu kalau-kalau di dalam jurang itulah tempat disimpannya kitab rahasia peninggalan Pak Kek Siansu."

"Bagus, bagus! Kau betul sekali, muridku yang baik!"

Kata See-thian Tok-ong dan sepasang matanya yang lebar itu memandang kepada isterinya seakan-akan berkata bangga.

"Apa kataku? Muridku ini bukannya seorang yang tidak ada gunanya!"

Kim-tiauw dipanggil dengan siutan keras. Burung yang sedang beterbangan di atas itu meluncur turun dan hinggap di atas tanah, di depan See-thian Tok-ong.

"Kim tiauw, kaubawa Kong Ji ke dasar jurang, ke tempat di mana dahulu kau mendapatkan pedang ini!"

Kata See-thian Tok-ong sambil memperlihatkan Pak-kek Sin-kiam kepada burung itu. Adapun Kong Ji sudah meloncat ke atas punggung kim-tiauw dan berkata.

"Kim-tiauw yang baik, hati-hatilah kau terbang ke dalam jurang."

Anak ini kelihatannya gembira sekali, memang sebenarnya dia gembira karena ia memang ingin sekali mendapatkan kitab yang dicari-cari oleh semua orang kang-ouw itu.

Burung rajawali emas itu mengeluarkan pekik nyaring, lalu membuka sayap dan terbang tinggi.

Setelah berputar beberapa kali di atas jurang, ia lalu menukik turun dengan cepatnya.

Kong Ji hampir tak berani membuka matanya saking ngeri melihat betapa burung itu membawanya meluncur turun ke dalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu.

Akan tetapi, ia segera berseru girang dan heran ketika burung itu tiba di atas sebuah lereng Bukit Luliang-san yang indah sekali pemandangannya.

Burung itu turun dan Kong Ji juga meloncat turun dari punggungnya sambil memandang ke kanan kiri, mengagumi keindahan tamasya alam di sekitar itu.

"Kim-tiauw, di manakah kau dahulu mendapatkan pedang?"

Tanyanya berulang ulang.

Burung itu tentu saja tidak dapat menjawab, akan tetapi agaknya ia mengerti akan maksud pertanyaan Kong Ji.

Ia meloncat-loncat dan tiba di depan gunung karang di mana terdapat sebuah batu besar sekali tersandar pada lamping batu karang yang menjadi gunung itu.

Ia berbunyi berkali-kali dan kelihatan bingung.

Memang, dahulu ia merampas pedang dari tangan anak kecil yang keluar dari gua, akan tetapi sekarang di situ tidak kelihatan ada gua lagi.

Kong Ji amat cerdik.

Agaknya burung ini memberi tanda bahwa pedang didapatkan di batu ini, pikirnya.

Ia lalu mendorong batu besar itu akan tetapi berat batu itu ada seribu kati kiranya maka biarpun ia mendorong kuat-kuat, batu itu tidak bergeming.

Kim-tiauw itu mengangguk-angguk dan berbunyi terus, maka makin curigalah Kong Ji.

"Mundurlah, Kim-tiauw!"

Bentaknya.

Burung itu sudah pandai mendengar perintah dan suara Kong Ji sudah dikenal olehnya, maka ia cepat meloncat dan terbang menjauhi tempat itu, Kong Ji berjumpalitan, berdiri dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas, berlatih sebentar mengumpulkan lweekangnya.

Sekarang, setelah jauh dari See-thian Tok-ong dan anak isterinya barulah ia mendapatkan kesempatan untuk mencoba kepandaian, yakni Tin sa kang yang ia pelajari dari Giok Seng Cu.

Setelah tulang-tulang berbunyi berkerotokan.

Kong Ji meloncat berdiri seperti biasa, merendahkan tubuh, mengerahkan seluruh tenaga lweekang yang ada di tubuhnya, lalu mendorong batu yang bersandar pada gunung karang itu sambil mengeluarkan Ilmu Tin-san-kang.

Dan dia berhasil!

Batu itu bergoyang-goyang, namun tidak dapat menggelinding pergi.

Kong Ji merasa yakin bahwa di balik itu atau bawahnya terdapat rahasia yang akan membawariya ke tempat penyimpanan kitab peninggaian Pak Kek Siansu.

Ia berhenti untuk bernapas dan beristirahat.

"Masa aku kalah oleh batu ini?"

Pikirnya.

Dengan sekuat tenaga, kembali ia mendorong batu itu, melakukan gerakan mendorong Ilmu Tin-san-kang jurus terakhir yang paling besar tenaganya yakni dengan kedua kaki menjejak tanah dan kedua tangannya mendorong ke depan, kepala tunduk dan tubuh hampir jongkok.

Kini ia berhasil!

Batu itu bergeser sedikit dan alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa di belakang batu itu terdapat sebuah gua yang gelap!

Biarpun batu penutup gua itu hanya tergeser sedikit, akan tetapi cukup lebar untuk dia menyelinap masuk.

Tanpa ragu-ragu dan tidak kenal takut, Kong Ji masuk ke dalam gua.

Akhirnya ia tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, dan alangkah girangnya ketika ia melihat di dalam ruangan itu ada batu-batu licin seperti tempat duduk, dan sudut ruangan terdapat sebuah peti!

Berdebarlah hatinya.

Tak salah lagi, inilah tempat rahasia itu, pikirnya.

Ia memandang sekeliling dengan siap sedia, kalau-kalau ada orang di dalam gua itu, akan tetapi keadaannya sunyi sekali.

Kong Ji sudah memiliki kepandaian yang tinggi sehingga kalau di dekat situ terdapat orang tentu ia akan dapat mendengar jalan pernapasan orang itu.

Dengan hati kebat-kebit ia menghampiri peti dan membuka tutupnya.

Tutup peti itu berat sekali, akan tetapi dengan lweekangnya yang sudah tinggi, ia berhasil membukanya tanpa banyak sukar.

Hampir saja ia berteriak girang ketika ia melihat sebuah kitab tebal di dalam peti"

Itu.

Kegirangannya meluap-luap karena ia dapat membaca huruf-huruf sampul buku yang ditulis besar-besar dengan jelas dan berbunyi .

PAK KEK SIN CLANG HOAT PIT KIP (Kitab Pelajaran Ilmu Silat Pak-kek-sin-ciang).

Akan tetapi ia merasa menyesal sekali ketika membuka kitab itu, karena ia tidak dapat membacanya.

Hanya beberapa buah huruf saja dapat dibacanya karena sesungguhnya Kong Ji sudah banyak lupa akan huruf-huruf yang belum lama dipelajari dan tidak pernah ia pergunakan.

Ia termenung sebentar, kemudian mengembalikan kitab di dalam peti, menutupnya kembali, kemudian ia memeriksa keadaan di dalam gua.

Setelah merasa yakin bahwa ia tidak mendapatkan apa-apa lagi, ia lalu keluar dari dalam gua.

Dari luar gua ia mempergunakan kepandaian dan tenaganya untuk menggeser kembali batu itu menutupi gua dan sama kali tidak kelihatan dari luar.

Dipandang dari luar batu itu tidak menimbulkan kecurigaan, seperti batu besar biasa yang terletak di dekat batu karang seperti gunung itu.

Dengan kakinya Kong Ji meratakan tanah di mana jejak kakinya nampak, kemudian ia memanggil kim-tiauw dan melompat ke atas punggungnya.

"Kim-tiauw, mari kita naik lagi ke tempat Suhu,"

Katanya.

Kim-tiauw terbang ke atas dan di -sepanjang penerbangan naik Kong Ji memperhatikan pinggiran jurang, karena sudah mengambil keputusan untuk kelak kembali seorang diri di dalam jurang ini dan mempelajari isi kitab itu setelah ia pandai membaca.

Setelah tiba di depan See-thian Tok-ong dan anak isterinya yang menanti sampai kehilangan sabar, Kong Ji berkata.

"Tidak ada apa-apa, Suhu. Hanya lereng bukit kosong, penuh batu karang besar-besar. Kim-tiauw juga kelihatan bingung, agaknya pedang Pak-kek Sin-kiam itu ia pungut begitu saja dari dasar jurang yang ternyata merupakan lereng juga itu. Kitabnya kalau memang ada tentu tidak disimpan di tempat seperti itu."

See-thian Tok-ong nampak kecewa sekali. Kwan Ji Nio menyumpah-nyumpah lalu berkata kepada suaminya.

"Kalau kitab itu memang tidak ada mengapa susah-susah dipikirkan? Dengan kepandaian yang ada pada kita, siapakah yang mampu mengalahkan kita?"

Tiba-tiba Kok Sun berkata.

"Ayah siapa tahu kalau Kong Ji kurang teliti mencarinya. Biar aku sendiri yang melihat keadaan di bawah sana bersama kim-tiauw."

Kong Ji terkejut sekali akan tetapi dengan cerdiknya ia dapat menekan perasaan hatinya sehingga mukanya tidak menunjukkan sesuatu, bahkan ia berkata dengan lagak mendongkol.

"Kalau Kok Sun Twako tidak percaya kepadaku, baiklah kaulihat sendiri!"

Kok Sun hanya tertawa dan cepat melompat ke punggung kim-tiauw dan menyuruh burung itu terbang masuk kedalam jurang.

Hati Kong Ji berdebar.

Celaka, pikirnya, kalau sampai setan gundul ini mendapatkan kitab, tidak saja kitab itu akan terjatuh ke tangan See-thian Tok-ong, bahkan dia sendiri tentu akan dibunuh oleh Raja Racun.

"Kau bilang tidak menemukan apa-apa di bawah sana? Betulkah itu? Hm, kau akan melihat sendiri akibatnya kalau kau membohongi kami."

Kwan Ji Nio berkata sambil tersenyum dan memandang kepada Kong Ji.

Nyonya ini merasa benci kepada Kong Ji, benci yang ditimbulkan oleh iri hati, karena bocah ini lebih tampan daripada puteranya sendiri.

"Subo, memang teecu tidak mendapatkan sesuatu. Kalau teecu mendapat sesuatu di bawah sana, tentu sudah teecu bawa naik. Andaikata Kok Sun Twako mendapat kitab itu di bawah sana, itulah karena Twako memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada teecu,"

Jawab Kong Ji merendah.

Ia pikir bahwa jawaban ini mungkin akan menolongnya terbebas daripada kecurigaan andaikata benar-benar Kok Sun mendapatkan kitab rahasia itu.

Di dalam hati Kong Ji timbul ketegangan luar biasa selama menanti munculnya kim-tiauw dan Kok Sun.

Ia gelisah sekali, akan tetapi diam-diam ia berpikir, takkan mungkin Kok Sun kuat mendorong batu besar itu.

Ia tahu bahwa tenaga lweekang dari Si Gundul itu sudah kuat sekali, akan tetapi tidak banyak selisihnya dengan tenaganya sendiri.

Tadi pun kalau tidak mengerahkan Tin-san-kang takkan mungkin ia dapat menggeser batu.

Dengan pikiran ini, hatinya menjadi lega.

Tak lama kemudian terdengar suara kim tiauw dan muncullah burung besar itu.

Kok Sun duduk di atas pungungnya dan dari muka Si Gundul ini dapat diduga bahwa ia pun gagal dalam usahanya mencari kitab.

"Benar, Kong Ji, di sana tidak apa-apa melainkan batu-batu besar dan batu karang,"

Kata Kok Sun setelah melompat turun.

Kong Ji tanpa disadarinya tersenyum mengejek dan merasa girang sekali, hanya dia masih khawatir kalau-kalau See-thian Tok-ong sendirilah yang mencoba karena Raja Racun itu pasti dapat meggeser batu yang menutupi gua di mana tersimpan kitab itu.

Tiba-tiba Kwan Ji Nio menyambar memegang pundaknya dengan kuat sekali.

Kong Ji terkejut dan memandang.

"Bocah setan, mengapa kau tersenyum sindir melihat kegagalan anakku? Kau senyembunyikan rahasia apakah? Hayo mengaku!"

Kong Ji terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa nenek ini demikian cerdik dan demikian tajam pandangan matanya.

Kalau ia tidak dapat memberikan alasan, tentu mereka akan menjadi curiga dan akan memaksanya mengaku akan rahasia hatinya.

"Maaf...,"

Ia sengaja berkata gagap.

"teecu... teecu tadi merasa penasaran karena Kok Sun Twako tidak percaya kepada teecu dan pergi memeriksa sendiri. Sekarang melihat Twako tidak mendapatkan apa-apa, tanpa disengaja teecu tersenyum, mohon Subo sudi memaafkan."

"Kau anak setan, kau sekarang saja sudah berani menghina anakku, apalagi kelak kalau sudah pandai. Kok Sun, hayo beri hajaran kepadanya yang sudah berani mentertawakanmu!"

Kata nyonya tua itu dengan marah.

See-thian Tok-ong diam saja, bahkan membuang muka ketika Kong Ji memandang kepadanya untuk minta bantuan.

Hati Kong Ji mulai gelisah.

Setan tua ini karena sekarang melihat aku tak dapat membantunya mendapatkan kitab, tak mau perduli lagi kepadaku.

Ia memandang kepada Kok Sun.

Si Gundul ini hanya tersenyum saja dan memandang juga kepadanya dengan mata menyelidik.

"Kong Ji kau memang kurang ajar kepadaku. Akan tetapi aku sebenarnya takkan melakukan sesuatu. Hanya karena Ibu yang minta maka terpaksa aku harus mentaatinya. Bangunlah, dan mari kita berlatih sebentar!"

Kong Ji tidak mengerti akan maksud Kok Sun.

Biasanya Si Gundul ini amat baik terhadapnya dan ia pun sudah merasa yakin bahwa ia telah berhasil menarik hati Kok Sun dan mendapatkan kasih sayangnya sebagai saudara.

Tiba-tiba mata Kok Sun berkejap.

Kong Ji memang cerdik, maka tahulah ia akan maksud Kok Sun.

Si Gundul ini mengajak ia mengadu kepandaian untuk menghilangkan kemarahan hati ibunya dan kalau Kong Ji sudah terkalahkan olehnya, agaknya kemarahan ibunya akan berkurang terhadap Kong Ji.

Memang hal ini perlu sekali karena kalau kemarahan ibunya tidak dipadamkan, ada kemungkinan Kong Ji akan dibunuh pada saat itu juga.

"Baiklah, Twako, kalau kau hendak memberi hukuman padaku, silakan,"

Kata Kong Ji sambil melompat berdiri.

"Kong Ji kaulawan dia. Tidak boleh puteraku memukul lawan tanpa lawannya itu membalas,"

Tiba-tiba See-thian Tok-ong berkata.

Kakek ini biarpun tentu saja membela putera sendiri, namun ia merasa tersinggung kehormatannya kalau melihat Kong Ji dipukul tanpa memperlihatkan perlawanan.

Setidaknya anak ini pernah belajar kepadanya dan sekaranglah waktunya untuk menguji sampai di mana hasil pelajaran itu.

Memang aneh watak orang seperti See-thian Tok-ong.

Ia tidak akan peduli andaikata isterinya membunuh Kong Ji, ia tidak ingat sama sekali tentang nasib anak ini.

Akan tetapi ia ingin melihat hasil daripada ajarannya dan dapat bangga karena hasil yang baik.

"Nah, Kong Ji, Ayah sudah mengijinkan kita mengadu kepandaian, hitung-hitung latihan!"

Kata Kok Sun gembira, memang Si Gundul ini tidak mempunyai maksud buruk terhadap Kong Ji, hanya ingin mengalahkan dalam pertempuran agar ibunya puas.

Terpaksa Kong Ji bersiap sedia menanti serangan Kok Sun.

Serangan tiba ketika Kok Sun berseru keras dan memukul dengan tangannya yang kecil tetapi kuat.

Kong Ji cepat mengelak dan membalas serangan lawan.

Bertempurlah dua orang pemuda tanggung ini dengan seru dan hebatnya.

Masing-masing mengeluarkan tipu-tipu dan gerak silat yang mereka pelajari dari See-thian Tok-ong.

Kakek ini berdiri tegak menonton dan mulutnya tersenyum, kepalanya beberapa kali mengangguk-angguk.

Dan sambaran angin pukulan-pukulan kedua orang pemuda itu, tahulah ia bahwa kepandaian mereka sudah amat maju dan mengagumkan.

Setiap gerakan tidak ada yang salah.

Akan tetapi diam-diam ia terkejut sekali.

Tidak pernah disangkanya bahwa Kong Ji yang secara terpaksa menjadi muridnya itu, benar-benar hebat sekali.

Gerakannya tenang, tetap, dan penuh tenaga.

Tipu-tipunya amat licin dan cerdik sehingga kalau saja Kok Sun tidak mewarisi kepandaian ginkang (ilmu meringankan tubuh) dari ibunya, tentu sudah terkena tipu dalam pertempuran itu.

Memang Kong Ji dalam pertempuran ini tidak mau mengalah.

Inilah penyakitnya.

Kalau saja ia mengalah dan mandah dipukul dan dikalahkan dalam pertempuran ini, agaknya kemarahan Kwan Ji Nio akan padam dan ia akan selamat.

Akan tetapi, selain cerdik sekali, Kong Ji mempunyai kelemahan, yakni tak mau menyerah kalah terhadap siapapun juga.

Biasanya, di dalam menyerah ia menyembunyikan siasat yang membuat ia menarik keuntungan besar, yakni yang disebut siasat mengalah untuk menang.

Akan tetapi menghadapi Kok Sun ia lupa akan siasat ini.

Darah mudanya membuat ia tidak mau kalah begitu saja terhadap Kok Sun.

Nafsunya untuk menjadi jagoan dan menangkan semua orang, menguasai seluruh tubuhnya.

Ia bertempur dengan hati-hati dan penuh semangat.

Hanya kecerdikan otaknya saja yang menahannya sehingga ia tidak mempergunakan Tin-san-kang terhadap Kok Sun melainkan mainkan ilmu silat yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong.

Kwan Kok Sun merasa penasaran sekali.

Kong Ji baru paling lama, empat tahun belajar silat dari ayahnya, sedangkan ia digembleng sejak kecil.

Bagaimana sampai lima puluh jurus belum juga ia dapat mengalahkan Kong Ji?

Tentu saja ia tidak tahu bahwa sebelum belajar kepada See-thian Tok-ong, Kong Ji sudah menerima latihan sejak kecil dari ayah bundanva, kemudian menerima latihan Liang Gi Tojin dan yang terakhir dari Giok Seng Cu.

Kok Sun mulai marah.

Beberapa kali ia mengejapkan mata kepada Kong Ji akan tetapi Kong Ji agaknya tidak mengerti dan selalu menghadapi serangannya dengan sungguh-sungguh.

Padahal Kok Sun hanya main-main saja dan ingin mengalahkan Kong Ji dengan menolongnya.

Melihat bahwa sudah terang Kong Ji tidak mau mengalah, timbul kemarahan di dalam hati pemuda gundul ini.

Ia mengeluarkan seruan keras dan kini ia menyerang dengan sungguh-sungguh.

Kagetlah Kong Ji karena kini sambaran angin pukulan Kok Sun amat berbahaya ditujukan kepada anggauta tubuhnya yang lemah dalam pukulan-pukulan maut.

Tadinya, biarpun ia juga bersungguh-sungguh tentu saja tidak bermaksud bertempur sampai dapat membinasakan lawan, cukup kalau ada yang kalah saja.

Akan tapi sekarang Kok Sun bertempur untuk membunuhnya.

Perubahan gerakan Kok Sun int tentu saja membuat ia terdesak.

Kok Sun mendesak terus dan pada suatu saat, pemuda gundul ini melakukan pukulan dengan kedua tangan, setelah tendangan berantai yang ia lakukan dapat ditangkis oleh Kong Ji.

Pukulan kedua tangan ini amat cepat, kuat dan ganas sehingga tidak mungkin dapat ditangkis lagi oleh Kong Ji.

Pukulan ini mengarah dada dan kalau ia sampai terkena pukulan ini, ia tentu akan tewas atau sedikitnya akan menderita luka di dalam tubuh yang amat berbahaya.

Dalam keadaan yang amat terdesak itu, Kong Ji tidak mempunyai daya lain kecuali mempergunakan Tin-san-kang dan menangkis pukulan tadi.

Dua pasang telapak tangan bertemu amat kerasnya dan tubuh Kok Sun terjengkang ke belakang.

Begitu ia melompat bangun, darah segar keluar dari mulut Kwan Kok Sun!

"Jahanam, kau telah melukai anakku!"

Bentak Kwan Ji Nio dan cepat ia menyerang dengan sebuah totokan ke arah kepala Kong Ji.

Kali ini Kong Ji tidak dapat berpura-pura lagi, untuk melinclungi tubuhnya, kembali ia mempergunakan Tin-san-kang memukul ke arah nyonya tua itu.

Baiknya kepandaian Kwan Ji Nio sudah amat tinggi sehingga cepat sekali ia dapat menghindarkan diri, akan tetapi diam-diam ia terkejut sekali karena pukulan Kong Ji tadi benar-benar berbahaya sehingga ia masih dapat merasai sambaran angin yang luar biasa ketika mengelak.

"Dari mana kau mempelajari pukulan itu?"

See-thian Tok-ong berseru dan sekali ia bergerak, ia telah berhasil menotok pundak Kong Ji sehingga tubuhnya menjadi lemas dan ia roboh duduk tanpa berdaya lagi.

"Teecu mendapatkan pelajaran dari Suhu Giok Seng Cu,"

Katanya perlahan.

"Celaka dia memperdayai!"

Kata Kwat Ji Nio.

"Dengan kepandaian yang ia dapat dan sana-sini, ia kelak merupakan orang yang berbahaya bagi kita. Baik bikin mampus saja bocah ini!"

See-thian Tok-ong merasa setuju dengan maksud isterinya.

ia pun tadi terkejut sekali.

Ternyata bahwa kepandaian Kong Ji sudah demikian tangguhnya sehingga bocah ini dapat menghadapi isterinya dengan Tin-san-kang sehingga hampir saja istennya roboh pula.

Ia tidak berkata apa-apa hanya menghampin puteranya dan menotok dada puteranya di bagian tai-kong-hiat untuk menyembuhkan luka bekas akibat benturan tangan Kong Ji yang mengandung tenaga Tin-san-kang.

"Tahan dulu, Ibu!"

Kok Sun tiba-tiba berseru ketika melihat ibunya mengangkat tangan hendak membinasakan Kong Ji.

"Aku yang ia hina, aku pula yang berhak membunuhnya. Biar ia dijadikan makanan untuk ang--coa (ular merah)."

Sambil berkata demikian, Kok Sun merogoh saku baju mengeluarkan sepasang ular merah yang membelit-belit di antara jari tangannya.

Kong Ji maklum bahwa nyawanya takkan tertolong lagi, akan tetapi ia memandang dengan berani kepada Kok Sun.

Hampir saja ia membuka mulut dan membuka rahasia tentang kitab yang berada di dalam gua di dasar jurang, Akan tetapi ia menahan mulutnya.

Apa gunanya?

Ia telah yakin bahwa biarpun ia memberi kitab itu kepada See-thian Tok-ong, harapannya sedikit sekali baginya untuk dapat membebaskan diri dari mereka itu.

Akhirnya ia pun akan dibunuh juga dan kalau sampai terjadi demikian dia yang rugi besar.

"Kwan Kok Sun, kau sudah kalah olehku, sekarang hendak membunuh secara curang. Baik, lepaskan ang-coa itu, aku tidak takut mati. Aku mati sebagai seorang gagah, akan tetapi kau, kecuranganmu ini akan membikin busuk namamu selama kau hidup!"

Kok Sun menjadi merah mukanya.

Dengan gemas ia lalu melepaskan ular-ularnya ke arah Kong Ji yang memandang datangnya dua ekor ular merah terbang itu dengan mata terbuka lebar.

Nasib Kong Ji sudah tak dapat diulur lagi agaknya"

Akan tetapi, pada saat yang amat berbahaya itu, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu seorang anak perempuan kecil dengan sebatang ranting bambu di tangan telah berdiri di dekat Kong Ji.

Dengan dua kali menggerakkan ranting bambu, ia dapat memukul sepasang ular merah itu.

Dua ekor ular itu terpelanting dan tak bergerak lag"

Karena kepala mereka telah remuk Hanya ekor mereka yang bergerak-gerak lemah dan menggeliat-geliat sebelum nyawa mereka meninggalkan tubuh.

Semua orang, termasuk Kong Ji terbelalak memandang ke arah anak perempuan itu.

Dia adalah seorang anak perempuan berusia paling banyak sepuluh tahun, rambutnya diikat dengan pita dan dibagi dua sehingga rambut yang panjang itu tergantung di atas pundak, yang satu di belakang yang satu di depan.

Mukanya mungil dan lucu, mulutnya selalu tersenyum akan tetapi sepasang matanya amat tajam.

Bajunya berwarna merah dan pakaiannya longgar sekali dengan baju lebar, akan tetapi tidak mengganggu gerakannya yang amat lincah.

Gadis cilik itu memandang kepada dua bangkai ular, lalu dengan muka memperlihatkan kejijikan, ia membuang ranting itu jauh-jauh.

"Siauw Suhu, kau benar-benar curang dan betul kata Saudara ini bahwa namamu akan membusuk sepanjang masa kalau tadi kau jadi membunuhnya!"

Katanya kepada Kok Sun. Dan sebutannya terhadap Kok Sun, ia mengira bahwa Kok Sun yang berkepala gundul adalah seorang hwesio cilik.

"Kau siluman cilik dari manakah berani mencampuri urusanku?"

Bentak Kok Sun dengan marah sekali melihat sepasang ular yang disayanginya telah mampus. Sikapnya seperti hendak menerjang gadis cilik itu.

"Hm, kau kok galak amat? Tentu kau hwesio jahat!"

Kata anak perempuan itu sambil tersenyum mengejek.

"Kalah menang dalam pertempuran bukan hal aneh akan tetapi membunuh lawan dengan cara keji seperti yang akan kaulakukan tadi siapakah yang tidak penasaran hatinya? Ular-ular itu busuk dan jahat akan tetapi yang melepasnya lebih busuk dan jahat lagi."

"Siluman bermulut kotor, kau minta dihancurkan kepalamu!"

Kok Sun membentak sambil memukul.

Akan tetapi, sekali kedua kakinya digerakkan, anak perempuan itu telah lompat ke belakang jauh sekali, gerakannya gesit seperti seekor burung walet saja sehingga Kok Sun menjadi melongo, bahkan Kwan Ji Nio yang memiliki gin-kang tinggi tak terasa mengeluarkan suara pujian.

"Kaukira aku takut padamu"

Aku hanya merasa jijik beradu tangan dengan kau manusia busuk dan jahat!"

Gadis cilik itu melakukan gerakan seperti orang menari, akan tetapi dalam pandangan mata See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio, gadis itu bukannya menari, melainkan melakukan ilmu silat yang luar biasa sekali dan telah siap menghadapi lawannya.

"Kok Sun tahan dulu...!"

Kata See thian Tok-ong kepada puteranya.

Puteranya itu telah terluka oleh Tin-san-kang dari Kong Ji, dan anak perempuan agaknya bukan bocah sembarangan, maka ia khawatir kalau Kok Sun akan kalah.

Juga ia tertarik sekalI kepada bocah ini.

"Anak, siapakah kau? Dan dengan siapa kau datang?"

Tanyanya. Sebelum anak itu menjawab, dari jauh terdengar suara keras.

"Hui Lian, kautunggu kami...!` Baru saja suara itu lenyap gemanya tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan di situ telah berdiri sepasang suami isteri setengah tua yang amat gagah. Yang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun dan wajahnya tampan sikapnya gagah sekali, biarpun nampak kehalusan budi dari gerak-geriknya yang halus. Pakaiannya sederhana, ditutup oleh baju luar yang lebar, yang aneh sekali sedikit baju dalamnya yang kelihatan di dekat leher, berwarna dan berkembang-kembang seperti baju wanita! Adapun yang wanita juga amat gagah sikapnya, wajahnya cantik manis dan lemah lembut, akan tetapi bibirnya yang bentuknya indah itu membayangkan kekerasan hati. Di punggungnya kelihatan gagang pedang dengan ronce-ronce berwarna merah. Sepasang suami isteri ini, begitu tiba di tempat itu, lalu mcnyapu keadaan di situ dengan pandang mata mereka. Laki-laki gagah berbaju kembang itu memandang tajam kepada See-thian Tok-ong. Kwan Ji Nio, dan Kwan Kok Sun, kemudian matanya bercahaya seperti berapi. Ia melangkah malu menghampiri See-thian Tok-ong dan berkata, suaranya lemah lembut akan tetapi matanya berkilat.

"See-thian Tok-ong, kiranya kau dan anak isterimu berada di puncak Luliang san. Tentu kau dapat menceritakan kepadaku siapa orangnya yang telah menewaskan ketiga Luliang Sam-lojin?"

See-thian Tok-ong terkejut.

Bagaimana orang ini dapat mengenalnya begitu bertemu muka?

Ia selamanya belum pernah melihat suami isteri ini, akan tetapi melihat sikap mereka, ia hampir dapat menduga.

Untuk melenyapkan keraguannya ia balas bertanya.

"Kau telah tahu bahwa aku adala See-thian Tok-ong, sebaliknya kau ini siapakah? Ada hubungan apa kau dengan Luliang Sam-lojin?"

Laki-laki itu menjawab.

"Aku bernama Go Ciang Le, dia ini isteriku dan Hui Lian itu adalah puteri kami, Lulian Sam-lojin adalah suheng-suhengku...."

"Ah, jadi kau yang disebut Hwa Enghlong (Pendekar Baju Kembang) dan isterimu ini Sianli Engcu (Bayangan Bidadari)?"

Tanya See-thian Tok-ong dengan terheran-heran dan sikap mengejek.

Ia sudah mendengar nama besar Hwa I Enghiong atau Go Ciang Le sebagai seorang pendekar besar dan jarang tandingannya pada masa itu, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa pendekar besar ini ternyata hanyalah seorang yang masih muda dan kelihatannya tidak mengesankan sama sekali.

"See-thian Tok-ong, kau tentu sudah mendengar bahwa aku adalah murid Pak Kek Siansu dan sute dari Luliang Sam-lojin, oleh karena itu aku berhak untuk bertanya mengapa kau berada di sini dan apakah kau yang telah menewaskan ketiga orang suhengku?"

Kata pula Ciang Le. Sebelum See-thian Tok-ong menjawab, Kwan Ji Nio mendahuluinya. Nenek ini melangkah maju, menudingkan telunjuk tangan kirinya ke muka Ciang Le sambil nemaki.

"Macam inikah yang disebut Hwa I Enghiong? Kiraku orangnya hebat seperti namanya, tidak tahunya hanya seorang yang sombong dan tak tahu aturan. Kalau kami tanggal di sini kau mau apa? Andaikata benar Luliang Sam-lojin kami yang menewaskannya, kau mau apa?""

Baru saja nyonya tua ini habis mengucapkan kata-kata itu, terdengar bentakan nyaring dan Liang Bi Lan, isteri dari Go Ciang Le, melompat maju dan menampar dengan tangannya ke arah muka Kwan Ji Nio!

Kwan Ji Nio merasa ada sambar angin ke arah mukanya, cepat ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Plak!"

Dua tangan beradu, disusul suara "plak"

Yang lain dan tubuh Kwan Ji Nio terhuyung ke belakang.

Ternyata bahwa biarpun tamparan tangan kanan dapat ditangkis, tangan kiri Liang Bi Lan dapat menyusul cepat dan tanpa dapat dicegah lagi, pipi kanan Kwan Ji Nio telah kena ditampar"

"Kau ini siluman wanita tua sungguh tak tahu malu!"

Bi Lan memaki sambil tersenyum sindir.

"Dengarlah jawabanku. Kalau memaksa hendak merampas tempat tinggal orang, kami akan mengusir kalian dari Puncak Luliang-san. Adapun andaikata benar-benar kalian telah membunuh Luliang Sam-lojin, kami akan menghancurkan kepala kalian sebagai pembalasan dendam!"

Berbeda dengan suaminya yang tenang dan sabar sekali, Bi Lan memang berwatak keras, mudah gembira dan mudah marah.

Kwan Ji Nio marah dan juga terkejut sekali.

Ia merasa heran bagaimana lawannya itu berhasil menamparnya, gerakan tangan lawannya benar-benar amat aneh dan tidak terduga.

Dia tidak tahu bahwa Bi Lan adalah murid Hoa-san-pai yang paling lihai, selain itu ia pun menjadi murid dan Coa-ong Sin-kai dan telah mempelajari pula ilmu silat dan ilmu pedang dari Thian-te Siang-mo.

Kepandaiannya amat tinggi dan gerakannya tadi adalah jurus dari ilmu Silat Ouw-wan ciang yang lihai.

"Bangsat, kau hendak bertempur? Baik, bersiaplah untuk mampus"

Kwan Ji Nio sudah mengeluarkan tongkatnya yang kecil dan berbahaya, akan tetapi pada saat itu, See-thian Tok-ong memegang lengannya, mencegahnya memulai perketahian.

See-thian Tok-ong adalah seorang yang cerdik.

Ia dapat melihat kelihaian Bi Lan dan melihat sikap yang tenang dari Ciang Le, ia pun agak keder juga.

Dengan tersenyum ia menjura kepada Ciang Le dan berkata.

"Hwa I Enghiong, memang pihakku yang tak tahu diri. Tempat ini adalah bekas tempat tinggal Pak Kek Siansu kau sebagai murid Luliang-san tentu saja berhak menyuruh kami pergi. Kami pun hendak pergi karena di tempat ini kami tidak ada urusan apa-apa. Adapun tentang tewasnya Luliang Sam-lojin, See-thian Tok-ong tidak tahu menahu bukan aku yang membunuh mereka."

Ciang Le melangkah maju.

"See-thin Tok-ong. Kita berdua adalah laki-laki sejati dan bukan anak-anak yang suka membohong. Benar-benarkah kau tidak membunuh ketiga suhengku""

"Kau tidak percaya kepadaku? Aku bersumpah bahwa bukan aku yang membunuh mereka. Selamat tinggal!"

See thian Tok-ong mengajak isteri dan puteranya untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Ciang Le tak dapat berbuat sesuatu dan hanya memandang dengan kecewa.

Telah bertahun-tahun pendekar ini tak pernah naik ke Luliang-san.

Sekarang selagi ada kesempatan, sambil membawa isterinya ia naik ke Luliang-san untuk mengunjungi ketiga orang suhengnya, akan tetapi alangkah marah, menyesal dan dukanya ketika ia menemukan ketiga suhengnya telah menjadi rangka yang berserakan di lereng gunung.

Adapun puterinya Hui Lian yang merasa amat gembira melihat pemandangan alam yang amat indah di puncak, mendahului ayah bundanya dan berlari-lari naik bagaikan seekor burung cepatnya.

Kebetulan sekali Hui Lian melihat Kong Ji yang hendak dibunuh oleh Kok Sun, maka ia lalu menolongnya.

Ketika mehhat See-thian Tok-ong dan anak isterinya pergi, Ciang Le hanya berdiri memandang.

See-thian Tok-ong telah bersumpah bahwa ia tidak membunuh Luliang Sam-lojin, maka Ciang Le merasa bahwa tak pantas sekali kalau mendesak dan mencari permusuhan dengan tokoh yang amat terkenal itu.

Akan tetapi, tiba-tiba Kong Ji berseru keras.

"Go-locianpwe, jangan percaya kepada Raja Racun itu. Dia telah membawa pergi pedang Pak-kek Sin-kiam dari puncak ini!"

Mendengar seruan ini, Ciang Le tidak membuang waktu lagi, cepat melompat dan lari mengejar See-thian Tok-ong. Liang Bi Lan dan puterinya juga berlari cepat mengejar.

"See-thian Tak-ong, tunggu dulu!"

Seru Ciang Le ketika ia sudah hampir dapat menyusul rombongan See-thian Tok-ong.

See-thian Tok-ong terkejut dan berhenti.

Ia tidak takut karena ia yakin bahwa pendekar besar itu tentu percaya kepada sumpahnya.

Lagi pula, biarpun yang mcmbunuh Luliang Sam-lojin adalah puteranya, namun ia tidak membohong kalau ia bersumpah bahwa ia tidak membunuh mereka.

"Hwa I Enghiong, ada urusan apa maka kau menyusulku?"

Tanyanya.

"See-thian Tok-ong, kau telah mengambil dan membawa pergi pusaka Luliang-pai, harap kau suka mengembalikannya kepadaku,"

Kata Ciang Le dengan suara tenang.

See-thian Tok-ong cukup cerdik.

Ia dapat menduga bahwa tentulah Kong Ji telah membuka rahasia dan memberi tahu kepada Ciang Le tentang Pak-kek Sin kiam, maka ia pun tidak mau berpura-pura lagi dan bertanya.

"Apakah kau maksudkan Pak-kek Sin-kiam?"

"Betul! Pedang itu adalah pusaka peninggalan Suhu Pak Kek Siansu, maka tidak boleh kau membawanya pergi dari sini."

"Hwa I Enghiong, kau benar-benar keterlaluan. Apakah kau pura-pura tidak mendengar bahwa Pak Kek Siansu diam-diam meninggalkan sebatang pedang dan sebuah kitab? Apakah kau tidak mendengar bahwa semua orang di dunia kang-ouw berebutan untuk mendapatkan dua benda itu? Siapa yang mendapatkannya, berarti sudah berjodoh. Aku memang mendapatkan pedang Pak-kek Sin-kiam, akan tetapi bukan mencuri darimu. Itu menandakan bahwa akulah yang berjodoh memiliki Pak-kek Sin-kiam."

"Hm, See-thian Tok-ong, enak saja kau bicara, seolah-olah kau tidak mengerti akan peraturan dan kesopanan kang-ouw. Pedang itu adalah milik Suhu dan sebuah pedang pusaka partai persilatan takkan jatuh ke dalam tangan orang lain, melainkan kepada murid atau cucu muridnya. Apakah kau sengaja hendak melanggar peraturan ini`"

"Ha-ha-ha, Hwa I Enghiong, kau bukan bicara dengan seorang bocah! Kalau memang Pak Kek Siansu meninggalkan pedang dan kitab untuk murid-muridnya mengapa disembunyikan sehingga Luliang Sam-lojin sendiri tidak tahu di mana tempat penyimpanannya? Kalau andaikata Pak Kek Siansu meninggalkan untukmu, mengapa dua macam benda itu tidak berada di tanganmu?"

"Sungguhpun begitu, See-thian Tok-ong, akan tetapi tak seorang pun boleh membawa pergi pusaka Luliang-pai begitu saja. Kau telah melanggar wilayah Luliang-pai, bahkan telah mencuri pedang kalau sekarang kau tidak mau mengembalikan sama halnya dengan kau mencari permusuhan dengan Luliang-pai."

"Perduli apa?"

Kwan Ji Nio membentak marah.

"Kalau kau becus, kau boleh merampas pedang itu kembali dan kami"

"Hm, kalau begitu maafkan aku yang muda terpaksa menggunakan kekerasan!"

Kata Ciang Le dan sebelum See-thian Tok-ong dapat menjawab, tangan kanan Ciang Le telah menyerangnya dengan sebuah dorongan kuat sekali dan tangan kirinya meluncur ke arah pinggang di mana tergantung pedang Pak-kek Sin-kiam.

Bukan main kagetnya See-thian Tok-ong.

Gerakan dari Ciang Le demikian kuat dan cepat, baru anginnya saja sudah terasa olehnya.

Cepat ia melompat ke belakang sambil menangkis dan begitu kedua kakinya menginjak bumi ia terus saja mencabut keluar Pak-kek Sin-kiam.

Ciang Le kagum sekali melihat pedang itu, pedang suhunya yang belum pernah dilihatnya.

Akan tetapi ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada pokiam itu karena segera sinar pedang itu telah menyambar-nyambar menyerangnya.

Namun dengan amat gesitnya Ciang Le dapat mengelak, bahkan beberapa kali kedua tangannya yang kosong bergerak merampas pedang.

Dihadapi dengan tangan kosong, See-thian Tok-ong terkejut dan juga kaget.

Tak disangkanya bahwa ilmu kepandaian pendekar Luliang-san ini benar-benar hebat.

Siapa orangnya yang dapat menghadapinya dengan tangan kosong apalagi kalau mempergunakan pedang Pak-kek Sin-kiam?

Sebaliknya, Ciang Le diam-diam harus mengakui pula kelihaian ilmu pedang lawannya.

Ia sengaja bertangan kosong dan mainkan Ilmu Silat Thian-hong-ciang-hwat yang ia pelajari dari Pak Kek Siansu karena ia tidak bermaksud membunuh lawannya, hanya akan merampas kembali pedang suhunya.

Tetapi tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari Kwan Ji Nio telah bergerak menyerang dengan sebatang ranting bambu.

Serangannya cukup berbahaya, lagian amat cepatnya sehingga Ciang Le benar-benar merasa tak sanggup lagi menghadapi dengan tangan kosong.

Terpaksa ia mencabut keluar pedang Kim-kong-kiam.

Kilauan sinar keemasan yang hanya kalah sedikit oleh sinar Pak-kek Sin-kiam nampak bergulung-gulung.

Kwan Kok Sun yang melihat dua orang tuanya sudah mengeroyok Ciang Le, hanya berdiri menonton.

Ia maklum bahwa kepandaiannya masih terlampau rendah untuk mencampuri pertempuran itu.

Tak lama kemudian, datanglah Liang Bi Lan dan Go Hui Lian di tempat itu.

*Melihat suaminya telah dikeroyok, Bi Lan segera mencabut pedang dan menggempur Kwan Ji Nio.

Terpaksa nyonya tua ini menghadapi Bi Lan dan kini pertempuran terbagi menjadi dua.

"Hwesio cilik, apakah kau juga ingin kepalamu benjut? Majulah, tanganku sudah gatal-gatal!"

Kata Hui Lian sambil mengejek kepada Kok Sun.

Kok Sun tidak meladeni bocah perempuan ini, pura-pura tidak melihatnya dan asyik menonton orang tuanya.

Akan tetapi.

Hui Lian sambil tertawa-tawa mengejek, melompat di depannya, menaruh telunjuk di pucuk hidung dan menjulurkan lidahnya.

"Aha, hanya galak menghadapi orang yang lemah, akan tetapi pengecut kalau bertemu dengan lawan yang gagah,"

Kata Hui Lian.

Kok Sun merasa panas perutnya.

Ia bersuit keras dan serentak ular-ularnya merayap maju mengepung Hui Lian.

Bahkan burung kim-tiauw yang tadinya beterbangan di atas kini turun menyambar ke arah nona cilik itu dengan sepasang kaki siap mencengkeram dan patuknya yang besar terbuka mengerikan.

Hui Lian tidak takut menghadapi kim-tiauw, akan tetapi ia merasa jijik dan ngeri melihat puluhan ekor ular itu.

"Kau memang siluman ular!"

Bentaknya dan tangannya cepat merogoh dan beberapa kali tangannya bergerak.

Jarum-jarum halus yang bersinar emas melayang ke arah ular-ular itu.

Sebentar saja enam ekor ular menggeliat-geliat dengan kepala tertembus jarum-jarum Kim-kong-touw-kut-ciam (Jarum-jarum Sinar Emas Penembus Tulang), kepandaian tunggal dari ayahnya yang telah diwarisinya semenjak ia masih sangat kecil!

Ular-ular yang lain menjadi marah sekali, akan tetapi kembali beberapa ekor ular mampus terkena sambaran jarum-jarum itu.

Kim-tiauw pada saat itu menyambar.

"Lian Ji, awas dari atas..."

Teriak Bi Lan yang biarpun sedang menghadapi Kwan Ji Nio, namun masih memperhatikan keadaan puterinya.

Hui Lian tentu saja sudah tahu akan .datangnya sambaran burung, cepat ia mengelak sambil menangkis dengan tangan kirinya.

"Jangan...!"

Bi Lan berseru namun terlambat, Hui Lian sudah menangkis sambaran burung.

Lengannya yang kecil bertemu dengan sayap burung itu dan tubuh Hui Lian terpental jauh bergulingan bagaikan seekor trenggiling.

Ciang Le mengerti bahwa kini kalau pertempuran dilanjutkan, ia harus terpaksa membunuh tiga orang lawannya ini, maka dengan gerakan yang cepat sekali, pedangnya membuat lingkaran menyerang See-thian Tok-ong yang cepat meloncat mundur.

Kcsempatan itu dipergunakan oleh Ciang Le untuk meloncat ke dekat Kok Sun.

Sekali tangannya bergerak, bocah gundul itu telah ditotok lemas dikempit tubuhnya.

Kemudian Ciang Le meloncat lagi mendekati puterinya yang ternyata telah bangun berdiri, tidak menderita luka hanya kaget saja.

Bi Lan sudah meloncat mendekati puterinya.

"See-thian Tok-ong, aku tidak kalau permusuhan dilanjutkan sampai berlarut-larut karena urusan pedang saja. Kau telah mencuri pedang Luliang pai, sekarang terpaksa aku menangkap puteramu."

"Hwa I Enghiong, mengapa kau demikian curang? Lepaskan putera kami!"

Seru Kwan Ji Nio.

"Kembalikan dulu pedang Pak-kek Sin-kiam,"

Kata Ciang Le.

"Aku berlaku sabar dan menghendaki kembalinya pedang itu dengan jalan damai."

See thian Tok-ong tersenyum mengejek, lalu melemparkan pedang itu kearah Ciang Le yang menyambut dengan tangannya.

Setelah itu, Ciang Le membebaskan totokannya pada Kok Sun dan melepaskan Si Gundul itu yang cepat-cepat berlari mendekati orang tuanya.

"Untuk apa pedang macam itu? Tanpa pedang pun kalau aku mau, aku masih mampu mengalahkanmu!"

Kata See-thian Tok-ong. Ciang Le tersenyum.

"Mungkin juga, See-thian Tok-ong. Kepandaianmu memang tinggi."

Mendengar jawaban ini, merahlah muka See-thian Tok ong.

Sikap Ciang Le benar-benar amat mengherankan hatinya dan bahkan memukul kesombongannya.

Dalam jawaban yang sederhana dan memuji ini tersembunyi ejekan yang bahkan lebih menikam hati daripada kalau Ciang Le menjawab dengan sombong.

"Hayo kita pergi!"

Katanya dengan hati mengkal kepada anak isterinya.

"Kok sun, kauseret dan bawa bajingan kecil itu!"

Kok Sun tidak menjawab, melainkan berlari cepat naik ke puncak untuk mengambil Kong Ji yang masih duduk dalam keadaan tidak berdaya karena telah tertotok jalan darahnya.

"Jangan ganggu dia...!"

Tiba-tiba Hui Lian berseru keras dan dengan tiga kali loncatan jauh ia telah mendahului Kok Sun dan menghadang di tengah jalan sambil bertolak pinggang.

"Kalau kau terus naik dan hendak mengganggu korbanmu itu, lebih dulu kepalamu yang gundul akan kuhajar!"

Merah sekali muka Kok Sun, akan tetapi ia tidak berani berlaku lancang menyerang bocah perempuan yang galak ini. Ia hanya menoleh kepada ayahnya untuk minta pertimbangan.

"Lian-ji, anak di atas itu tiada sangkut pautnya dengan kita, biarkan mereka membawanya pergi!"

Kata Hwa I Enghiong Go Ciang Le kepada putennya.

"Tidak, Ayah! Tak dapat kita biarkan saja orang disiksa dan dibunuh oleh mereka ini,"

Bantah Hui Lian yang memang manja dan berani membantah orang tua kalau ia menganggap dia sendiri betul.

"Bagus. bagus!"

See-thian Tok-ong mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum mengejek.

"Hwa I Enghiong berkata tidak mencari permusuhan, akan tetapi sengaja hendak menghina kami! Bocah setan di atas puncak itu adalah muridku, apakah aku sebagai gurunya tidak boleh membawanya pergi?"

Ciang Le tak berdaya, pula tadi sekali saja melihat wajah Kong ji yang tampan dengan sepasang mata yang aneh, ia sudah mempunyai perasaan tidak suka yang ias sendiri tidak tahu apa sebabnya.

"Hm, kalau dia muridmu, ambillah,"

Katanya. Kok Sun hendak melangkah lagi, akan tetapi Hui Lian tetap menghadangnya.

"Siapa saja yang maju, baik kau setan gundul atau Ayah maupun Ibumu; harus merobohkan aku lebih dulu!"

Bentak Hui Lian marah sekali.

"Hwa I Enghiong, bagus sekali sikap putrimu"""

Kwan Ji Nio menyindir dan nyonya tua ini sebetulnya sudah marah sekali, hanya ia tidak berani mendahului suaminya bertindak.

"Hui Lian...!"

Ciang Le membentak telinganya merah.

"Ayah, aku tidak lega melihat mereka membunuh orang yang tidak berdaya."

Hui Lian berkata kepada ayahnya dengan suara memohon.

"Bodoh, bocah di atas itu adalah muridnya. Kita tidak berhak mencampuri urusan mereka. Mau dibunuh atau tidak terserah kepada gurunya, apa hubungannya dengan kita!"

"Akan tetapi, Ayah...."

"Hui Lian, jangan kau membantah Ayahmu!"

Ciang Le mulai marah.

"Akan tetapi, anak tidak suka kalau kelak ada yang mengira bahwa kita adalah orang-orang yang bong-im pwe-gi (tidak mengenaI budi)."

Ciang Le membuka lebar matanya bahkan Bi Lan caper bertanya.

"Lian-ji (Anak Lian), mengapa kau berkata demikian?"

"Ayah dan Ibu, bukankah tadi orang di puncak itu yang memberi tahu tentang pedang Pak-kek Sin-kiam? Bukankah dia telah melepas budi kepada kita sehingga pedang pusaka Luliang-pai telah dapat dirampas kembali? Masa sekarang melihat dia terancam bahaya maut, kita diam saja. Anak khawatir sekali kelak dunia kang-ouw akan mencela nama kita."

Ciang Le tertegun. Benar juga kata-kata puterinya! Apalagi ketika tiba-tiba See-thian Tok-ong mengeluarkan makian keras.

"Anak setan tak kenal budi! Jadi dia pula yang membuka rahasia tentang pedang? Anak macam itu harus kucekik lehernya!"

Ia melompat hendak menuju ke puncak, akan tetapi tiba-tiba bayangan Ciang Le berkelebat dan tahu-tahu pendekar ini telah berdiri di depannya.

"Sabar See-thian Tok-ong! Daerah ini termasuk daerah Luliang-pai, dan aku tidak memperbolehkan kau naik ke puncak. Sudah terlalu lama kau mengacau dan mengotorkan tempat kami."

"Jadi kau tetap hendak melindungi -muridku, hendak mencampuri urusan antara guru dan murid?"

Sebelum Ciang Le menyahut, kembali terdengar kata-kata Hui Lian yang nyaring.

"Biarpun dia itu muridnya, kurasa dia jauh lebih baik daripada gurunya. Aku pernah mendengar bahwa siapa yang dimaki-maki dan dicela orang jahat, itu adalah seorang baik-baik, sebaliknya siapa yang dipuji dun disayang oleh orang jahat, dia itu pun seorang yang busuk!"

"Hui Lian, diam kau!"

Bentak Ciang Le, kemudian ia berkata kepada See thian Tok-ong.

"See-thian Tok-ong, jangan katakan bahwa kami yang mencari gara-gara. Kau sendiri yang sudah melakukan pelanggaran di tempat kami. Sekarang aku tidak memperbolehkan kau naik ke puncak. Kalau kau mau panggil anak itu turun ke bawah aku takkan ambil peduli lagi."

See-thian Tok-ong maklum bahwa alasan ini hanya dicari-cari saja, akan tetapi kuat juga, dan ia tidak berdaya untuk melanggarnya. Maka ia lalu berseru, ditujukan ke arah puncak.

"Kong Ji, hayo kau turun dan ikut aku pergi dari sini!"

Sunyi sesaat lalu terdengar jawaban Kong Ji.

"Suhu, teecu tidak dapat menggerakkan tubuh""

"Bergulinglah ke kanan, benturkan jalan darah di pundak kanan ke atas batu runcing setelah tangan kananmu dapat -bergerak pijatlah jalan darah di punggung!"

Sunyi pula agak lama, dan semua orang tahu bahwa Kong Ji tentu sedang melakukan perintah gurunya membebaskan diri daripada totokan itu.

Tak lama kemudian, terdengar Kong Ji berkata dengan nada suara girang.

"Teecu sudah bebas!!"

"Lekas kau turun ke sini dan berangkat turun gunung bersamaku!"

Kong Ji tertawa dan tetap tidak mau memperlihatkan dari.

"Suhu, apakah Suhu kira teecu tidak tahu? Begitu teecu berada di depan Suhu, tentu nyawa teecu akan dicabut!"

"Turunlah dan jangan banyak cakap! Aku, gurumu yang memerintah supaya kau turun!"

"Tidak mungkin, Suhu. Bagaimanapun juga, teecu masih suka hidup!"

Memang Kong Ji amat cerdik.

Ia tadinya merasa heran mendengar suara suhunya menyuruh dia membuka totokan dan menyuruhnya dia turun gunung.

Kemudian ia dapat menduga bahwa tentu Hwa I Enghiong tidak mengijinkan mereka naik ke puncak, maka ia juga mempergunakan kesempatan ini untuk menolong nyawanya.

"Kong Ji, kau hendak murtad terhadap Gurumu sendiri? Tidak ingatkah kau betapa kami selalu sayang kepadamu dan telah menurunkan banyak ilmu silat kepadamu?"

Kembali Kong Ji tertawa lalu berkata.

"See-thian Tok-ong, sekarang aku bukan muridmu dan kaukira aku tidak tahukah bahwa selama ini kau tidak menganggap aku sebagai murid yang betul? Kau mau mengajarku hanya karena telah berjanji. Orang gagah bilang bahwa It-gan-ki-jut, su-ma-lam-twi (Sekali perkataan keluar, empat ekor kuda tak dapat menarik kembali)"

Akan tetapi, apa yang kaulakukan? Baru empat tahun lebih dengan keji kau dan anak isterimu tadi hendak membunuhku. Siapa mau turut mengantarkan nyawa padamu?"

Mendengar jawaban Kong Ji yang berkukuh tidak mau turun dari puncak Luliang-san dan tak mau menurut kehendaknya untuk pergi bersama dari situ, See-thian Tok-ong menjadi mendongkol sekali.

Ia merasa telah ditipu oleh Kong Ji dan kini ia baru merasa menyesal mengapa dulu-dulu ia tidak bunuh mampus saja bocah yang cerdik itu.

Sementara itu mendengar kata-kata Kong Ji, timbul rasa suka di hati Ciang Le terhadap bocah yang ditanggapnya berani dan tabah itu.

Ia melangkah maju menghadapi See-thian Tok-ong dan berkata.

"See-thian Tok-ong, kau sudah mendengar sendiri bahwa anak itu tidak mau turun dari puncak, dan kau tidak bisa memaksanya. Oleh karena itu, kuharap kau dan anak isterimu segera turun dari sini, jangan sampai terjadi salah paham diantara kita."

See-thian Tok-ong membanting kakinya dan sebuah batu yang berada di bawah kakinya menjadi hancur. Ia menyeringai pahit dan sambtl memandang tajam ia menjawab.

"Bukan karena kami takut kepadamu, Hwa I Enghiong, hanya karena kami tidak mau disebut pendatang yang mengacaukan tempat tinggal orang lain maka kali ini aku mengalah. Biarlah lain kali kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik dan di sana kita akan menentukan siapa yang lebih unggul antara kita."

"Hm, soal nanti tak usah dibicarakan sekarang,"

Bi Lan menyahut.

"kami akan selalu melayani tantanganmu, di manapun juga kami berada, See-thian Tok-ong. Terdengar Kwan Ji Nio tertawa bergelak, suara tertawa yang mengandung kemaralian besar, kemudian menarik tangan putranya dan berlari turun gunung, Suaminya lalu menggapai ke arah ular-ular dan kim-tiauw, lalu dia pun menyusul istri dan anaknya. Ular-ular merayap cepat turun gunung dan di atas, kimtiauw terbang meluncur dengan gagah. Ciang Le menarik napas panjang.

"Mereka itu benar-benar merupakan lawan-lawan yang tangguh. Baiknya tidak terjadi pertempuran yang lebih hebat. Aku khawatir sekali, karena kalau sampai terjadi demikian tidak ringan menghadapi racun-racun."

Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, tiba-tiba terdengar suara gaduh di puncak gunung.

Ciang Le, Bi Lan dan Hui Lian cepat berlari naik dan mereka melihat Kong Ji seperti orang gila mencabut beberapa batang pohon muda.

"Eh, apa yang kau lakukan?"

Hui Lian bertanya heran.

Kong Ji menoleh dan melihat Ciang Le dan anak isterinya, Kong Ji serta merta menjatuhkan diri berlutut sambil menangis!

"Locianpwe, kalau tidak Iocianpwe bertiga yang datang menolong, pasti tee-cu sudah mampus sekarang.

Terima kasih banyak atas budi pertolongan Locianpwe.

Sungguh tidak salah kalau dulu Ayah Bunda teecu, juga Ayah angkat teecu serta Guru teecu sendiri menyatakan bahwa Go-locianpwe adalah seorang pendekar yang paling mulia dan gagah di waktu ini."

Mendengar kata-kata ini, Ciang Le mengerutkan kening. Anak ini mempunyai sifat penjilat, pikirnya.

"Kau cabuti pohon-pohon itu ada apakah?"

Tanyanya.

"Locianpwe, See thian Tok ong yang jahat itu telah menyebar racun pada pohon-pohon ini. Lihat saja, pohon-pohon ini telah layu dan kering, kalau sampai pohon-pohon ini membusuk di sini, maka racunnya akan menjalar dan akhirnya seluruh tetumbuhan di puncak Luliang-san ini akan musnah!"

Ciang Le melihat dan ia terkejut sekali.

Sebagai seorang kang-ouw yang telah berpengalaman luas ia pernah mendengar akan adanya racun yang dapat membasmi tetumbuhan dengan jalan menyebarkan semacam penyakit pohon yang menular.

Memang betul bahwa pohon-pohon kecil yang dicabuti oleh Kong Ji telah pada kering dan layu.

Yang berbahaya sekali, kalau tetumbuhan di situ sudah dijalari penyakit ini, siapa saja yang makan daun pohon-pohon yang sakit, baik manusia maupun binatang akan tewas terkena racun yang amat berbahaya!

"Hayo kita kumpulkan pohon-pohon, sekitar tempat ini dan bakar habis!"

Kata Ciang Le cepat-cepat.

Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu bekerja dan berkat kepandaian Ciang Le dan Bi Lan yang tinggi, sebentar saja pohon-pohon di sekitar tempat yang disebari racun itu telah bersih tercabut, ditumpuk disitu.

Ciang Le lalu membakar semua pohon yang sebentar saja sudah menjadi kering itu dan tak lama kemudian asap hitam mengepul di puncak Luliang-san.

Keadaan di puncak menjadi gundul dan buruk, akan tetapi bersih daripada bahaya racun yang sengaja disebar oleh See-thian Tok-ong sebelum ia meninggalkan puncak itu.

Kong Ji yang amat cerdik sudah dapat mempelajari sedikit banyak tentang racun yang menjadi keistimewaan suhunya, maka melihat keadaan beberapa batang pohon di tempat itu, ia dapat menduga bahwa See-thian Tok-ong telah menyebar racun.

Apalagi kalau ia teringat bahwa memang See-thian Tok-ong tadi berdiri di dekat pohon-pohon itu.

Maka untuk mencari muka baik, ia segera turun tangan mencabuti pohon-pohon itu sebelum Ciang Le naik ke Luliang-san.

Setelah pekerjaan membasmi racun pada pohon-pohon itu beres.

Kong Ji kembali berlutut di depan Ciang Le.

"Oleh karena See thian Tok-ong tentu akan selalu berurusan untuk membunuh teecu, maka teecu mohon dengan sangat sudilah kiranya Locianpwe menaruh belas kasihan kepada teecu dan sudi menerima teecu menjadi murid." (Lanjut ke

Jilid 09) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Sudah berada di ujung lidah Cia Le untuk segera menolak permintaan ini karena selain ia memang timbul rasa tidak suka kepada pemuda cilik ini, juga memang tidak berhasrat menerima murid baru.

Akan tetapi ia merasa kasihan juga melihat keadaan bocah ini, apalagi kalau ia teringat betapa anak ini tadi menyatakan bahwa ayah bunda dan gurunya pernah mengenalnya.

"Kau siapakah dan putera siapa? Mengapa bisa menjadi murid See-thian Tok ong?"

Tanyanya. Sambil kadang-kadang mengusap kedua matanya dengan ujung lengan baju Kong Ji menjawab.

"Teecu bernama Liok Kong Ji. Mendiang ibu teecu pernah mengenaI Locianpwe dan Ibu teecu bernama Liok Hui, ketua dan Kwan-im-pai."

Kemudian Kong Ji menuturkan betapa ibu dan ayahnya itu terbunuh oleh orang-orang Im-yang-bu-pai dan betapa ia dibawa lari oleh pamannya, yakni Liok San dan dibawa mengungsi ke Hoa-san di mana ia belajar ilmu silat kepada Lie Bu Tek dan Liang Gi Tojin.

Baru bercerita sampai di sini, Ciang Le sudah memegang pundaknya dan bertanya dengan suara bergetar.

"Apa yang terjadi di Hoa-san dan ke mana perginya Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek Twako?"

Juga Bi Lan ingin sekali mendengar tentang bekas gurunya dan suhengnya itu.

Sebelum naik ke Luliang-san, memang mereka telah mengunjungi Hoa san, akan tetapi mereka tidak menemukan seorang pun di puncak Hoa-san dan keadaan di situ yang sudah rusak tak terpelihara membuat mereka merasa bingung dan juga sedih sekali.

Mendengar pertanyaan ini, Kong Ji mengucurkan air matanya dengan deras.

"Ah, Locianpwe, memang orang-orang jahat merajalela di dunia ini dan karenanya teecu bersumpah untuk belajar ilmu silat setinggi-tingginya agar kelak dapat membasmi musuh-musuh besar itu!"

Bi Lan tidak sabar lagi.

"Hayo ceritakan apa yang terjadi di puncak Hoa-san!"

"Suhu Liang Gi Tojin yang sudah menerima teecu sebagai murid telah... telah tewas oleh dua orang anggauta Im-yang-bu-pai, juga Twa-suheng Lie Bu Tek; terluka hebat, barangkali sudah tewas pula."

Bi Lan tak dapat menahan air matanya, sedangkan Ciang Le menjadi pucat.

"Keparat betul Im-yang-bu-pai. Awas, akan kubasmi kalian!"

Teriak Hui Lan.

"Teruskan ceritamu, Kong Ji. Apa, yang terjadi selanjutnya?"

Kong Ji lalu bercerita betapa ia dipaksa oleh orang-orang Im-yang-bu-pai untuk menjadi pelayan.

Kemudian ia bercerita pula tentang usaha Giok Seng Cu ketua Im-yang-bu-pai untuk mencari pedang dan kitab peninggalan Pak Kek -Siansu di puncak Luliang-san.

"Jadi Giok Seng Cu yang menjadi ketua Im-yang-bu-pai? Pantas saja kalau begitu...!"

Kata Bi Lan sambil mengerling ke arah suaminya.

Diam-diam Ciang Le merasa tidak enak sekali karena biarpun telah mengambil jalan masing-masing yang bertentangan.

Giok Seng Cu adalah murid Pak Hong Siansu.

"Teruskan!"

Katanya singkat kepada Kong ji.

Kong Ji melanjutkan ceritanya.

Ia menuturkan betapa Giok Seng Cu berhasil merampas pedang, kemudian menyembunyikan diri.

Betapa See-thian Tok-ong dan anak isterinya yang marah kepada Giok Seng Cu lalu membasmi orang-orang lm-yang bu-pai, akan tetapi memaksanya ikut untuk menunjukkan tempat sembunyi Giok Seng Cu.

"Teecu terpaksa membawa mereka ke tempat sembunyi Giok Seng Cu, oleh karena biarpun ketua lm-yang-bupai itu telah berlaku baik dan tidak membunuh teecu, namun anak buahnya yang membanasakan Ayah Bunda teecu, maka ia pun merupakan musuh besar teecu pula. Selain ini, teecu juga dipaksa oleh See thian Tok-ong bahkan diberi janji bahwa teecu akan diberi pelajaran ilmu silat selama lima tahun."

Kemudian ia menuturkan betapa Giok Seng Cu terpaksa menyerahkan pedang Pak-kek Sin-kiam kepada See-thian Tok ong dan betapa See-thian Tok-ong dan anak isterinya mencari-cari kitab peninggalan Pak Kek Siansu dengan sia-sia belaka sehingga akhirnya marah kepadanya dan hendak membunuhnya, akan tetapi baiknya keburu datang Hui Lian yang menolongnya.

"Kalau begitu, kau juga tahu pula apa yang terjadi dengan Luliang Sam-lojin. Siapa yang telah membunuh mereka?"

Tanya Ciang Le. Kembali sepasang mata Kong Ji bercucuran air mata ketika ia mendengar pertanyaan ini, sehingga sukar baginya untuk bicara. Akhirnya dengan suara terputus-putus ia berkata.

"Locianpwe, kalau diingat sungguh. membikin sakit sekali hati teecu. Sakit hati teecu bertumpuk-tumpuk setinggi langit dan teecu bersumpah kelak akan menuntut balas. Hanya seorang bodoh macam teecu bagaimanakah dapat memenuhi harapan itu? Kecuali kalau Locianpwe menaruh hati kasihan kepada teecu dan sudi menurunkan sedikit ilmu kepada teecu yang bodoh...."

"Soal itu kita bacarakan nanti, sekarang ceritakan dulu apa yang telah terjadi dengan Luliang Sam lojin"

Tanya Ciang Le kurang sabar.

Dengan pandai sekali Kong Ji mengarang cerita, agar ia dapat terlibat ke dalam penstiwa pembunuhan itu dan agar ia menarik perhatian Ciang Le.

Memang dia sudah mendengar dari Giok Seng Cu sendiri bagaimana Luliang Sam-lojin terbinasa oleh Kwan Kok Sun atas bantuannya dan bantuan Ba Mau Hoatsu ketika mereka semua memperebutkan pedang Pak-kek Sin-kiam.

"Ketika itu, teecu diajak oleh Giok Seng Cu naik Luliang-san,"

Kong Ji mulai menutur dengan gaya sedemikian rupa sehingga ia nampak bersungguh-sungguh dan berduka sekali.

"Akhirnya dengan bantuan Kim-tiauw, rombongan See-thian Tok-ong berhasil mendapatkan pedang Pak-kek Sin-kiam dalam perebutan pedang dan usaha mencari kitab itu. Melihat ini, Giok Seng Cu merampas pedang itu dan tangan putera See-thian Tok-ong sehingga akhirnya menimbulkan sakit hati dan pihak See thian Tok-ong. Dalam keributan itu diam diam teecu memberi tahu hal perebutan pedang kepada Luliang Sam-lojin yang berada di puncak bukit, karena teecu merasa tidak patut sekali pedang pusaka Luliang-san diperebutkan oleh orang luar. Juga teecu yang menganggap Giok Seng Cu sebagai musuh besar, tidak rela melihat dia mendapatkan pedang itu. Akan tetapi, sayang sekali Giok Seng Cu mengetahui perbuatan teecu itu dan teecu pasti akan dibunuh mati kalau saja tidak Luliang Samlojin yang menolong teecu. Kemudian terjadi pertempuan antara Luliang Samlojin melawan orang-orang jahat yang hendak merampas pedang itu. Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, Kwan Kok Sun dibantu oleh ular-ular clan burungnya mengeroyok sehingga akhirnya Luliang Sam-lojin tewas. Pedang dibawa pergi oleh Giok Seng Cu, dan teecu juga dipaksa olehnya dibawa pulang. Hanya nasib baik saja yang mencegah teecu terbunuh mati oleh Giok Seng Cu. Selanjutnya, seperti sudah teecu ceritakan tadi, pedang itu terampas olah See-thaan Tok-ong, dan teecu juga dtbawa ke tempat ini."

Setelah menuturkan semua ini, kembali Kong Ji menangis.

Kong Ji tahu bahwa dalam semua penuturan itu, banyak membohong.

Akan tetapi ia berani melakukan itu karena ia merasa aman.

Wan Sin Hong bocah satu-satunya yang mengetahui rahasianya, telah mampus dilemparkan ke dalam jurang.

Hanya Lie Bu Tek orang ke dua yang kiranya tahu akan perbuatannya di puncak Hoa-san.

Akan tetapi tak mungkin, ketika mempergunakan pedang membabat putus pangkal lengan Lie Bu Tek, jago Hoa-san itu sedang pingsan dan tidak akan tahu siapa yang membabat putus lengannya.

Andaikata Lie Bu Tek tahu akan hal ini dan akhirnya Ciang Le atau orang-orang lain mendengar pula, Kong Ji juga tidak amat, khawatir karena ia telah mempunyai alasan dan jawaban yang tepat untuk membela.

Memang anak ini luar biasa sekali cerdik dan licinnya, akan tetapi biarpun Ciang Le sendiri yang biasanya bermata tajam dan berperasaan halus, dapat ditipu oleh Kong Ji yang wajahnya tampan dan halus sehingga kalau tadinya dalam hati Ciang Le timbul sedikit rasa curiga dan tidak suka, perasaan itu lenyap oleh cerita dan penuturan Kong Ji yang menarik hati.

Hui Lian mewarisi hati budiman seperti ayahnya, maka mendengar semua penuturan Kong Ji yang tentu saja menonjolkan penderitaannya, menjadi kasihan sekali sampai mengucurkan air mata.

Kalau ayah bundanya berlinang air mata karena menyedihi kematian Liang Gi Tojin, Lie Bu Tek yang tak ada beritanya lagi, kematian Luliang Sam-lojin dan kehancuran Hoa-san-pai dan Luliang-pai, Hui Lian menyedihi nasib buruk Kong Ji.

Memang anak ini belum pernah bertemu lengan orang-orang tua yang sudah tewas itu, maka bagaimana mana bisa merasa sedih?

"Ayah, nasib Kong Ji ini amat menyedihkan, mengingatkan aku akan nasib Enci Soan Li,"

Katanya dan dalam suaranya mengandung permohonan agar ayahnya suka menolong bocah ini. Ciang Le menarik napas panjang.

"Terlalu banyak orang bersengsara karena perbuatan jahat orang-orang yang rendah budi. Kalau aku menerimanya sebagai murid, bukan karena ia bernasib buruk, melainkan mengingat bahwa ia adalah putera dari ketua Kwan-im-pai, apalagi ia telah berguru kepada Liang Gi Tojin sehingga anak ini boleh dibilang masih terhitung sute (adik seperguruan) dari Ibu mu."

Hum l_ian melompat kegirangan dan menghampiri Kong Ji.

"Kau diterima menjadi murid Ayah. Kau kini menjadi Suhengku!"

Kong Ji berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala delapan kali di depan Ciang Le sambil menyebut "Suhu"! Kemudian ia pun berlutut di depan Bi Lan yang disebut sebagai "Subo"

Olehnya.

"Orang-orang jahat terlalu banyak. Sudah bertahun-tahun aku mengasingkan diri dari dunia kangouw karena merasa jemu mendengar kejahatan-kejahatan yang tiada habisnya itu. Akan tetapi orang-orang seperti Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, See-thian Tok-ong dan kaki tangan mereka memang patut dibasmi. Belajarlah baik-baik, siapa tahu kaulah orangnya yang akan mampu membasmi, mereka."

Bukan main girangnya hati Kong Ji.

"Teecu akan perhatikan baik-baik ajaran Suhu, bahkan kalau Suhu sudi, teecu juga ingin sekali belajar ilmu surat agar kelak tidak tersesat menjadi orang jahat."

Biarpun mulutnya bicara demikian, namun hati Kong Ji berpendapat lain.

Ia ingin belajar ilmu surat hanya dengan maksud agar kelak ia dapat membaca dan mempelajari ilmu di dalam kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang ia dapatkan di dalam gua di dasar jurang di puncak Luliang-san itu!

Semenjak saat itu Kong Ji ikut dengan Ciang Le, dibawa ke selatan untuk belajar ilmu silat dari pendekar besar ini, bersama-sama dengan Go Hui Lian.

Kong Ja sama sekali tidak tahu bahwa diam-diam Ciang Le bersama isterinya merencanakan untuk menjodohkan dia dengan Gak Soan Li, murid dan suami isteri pendekar ini.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Wan Sin Hong yang berada di dasar jurang di puncak Luliang-san.

Baiklah kita tinggalkan dulu Kong Ji yang demikian baik nasibnya sehingga setelah menjadi murid dan Liang Gi Tojin, Giok Seng Cu, dan See thian Tok-ong, kini kembali dengan kecerdikannya diterima menjadi murid dari Ciang Le!

Mari kita ikuti perjalanan Wan Sin Hong, bocah yang benar-benar telah mengalami penderitaan hebat itu.

Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, Sin Hong yang dilempar jatuh ke dalam jurang oleh Giok Seng Cu telah tertolong oleh kim-tiauw, kemudian secara kebetulan sekali anak ini mendapatkan gua di mana ia melihat pedang Pak-kek Sin-kiam dan kitab peninggalan Pak Kek Sian-su.

Sudah dituturkan di bagian depan betapa pedang itu dibawa keluar gua oleh Sin Hong dan kemudian dirampas oleh kim-tiauw yang membawanya terbang pergi.

Tubuh Sin Hong terluka hebat.

Tulang lengannya telah patah oleh pukulan Giok Seng Cu, bahkan tubuhnya dibagian dalam telah menderita luka hebat akibat pukulan tenaga lweekang sehingga anak ini merasa seringkali terserang demam yang membuat tulang-tulangnya dingin sekali.

Berkat latihan-latihan ilmu silat dan cara bersamadhi dan pengaturan napas yang ia pelajari dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu, ia memperoleh kemajuan yang amat luar biasa tanpa disadarinya sendiri.

Luka di dalam tubuhnya telah terusir dan ia telah memperoleh hawa sinkang di dalam tubuhnya, bahkan tulang lengannya yang patah dapat tersambung kembali dalam keadaan baik dan wajar.

Bertahun-tahun ia berlatih dengan rajin dan tekunnya.

Seluruh isi kitab telah dihafalkannya diluar kepala dalam waktu dua tahun, setelah hafal ia lalu membakar habis kitab itu, karena di halaman terakhir dari kitab itu terdapat tulisan Pak Kek Siansu yang berbunyi.

"Setelah isi kitab habis dipelajari, bakarlah kitab ini agar jangan terjatuh ke dalam tangan orang jahat."

Sin Hong adalah seorang anak cerdik.

Ia tahu bahwa kitab ini dicari oleh orang-orang kang-ouw, maka setelah hafal betul-betul ia membakar kitab itu sambil berlutut menghaturkan terima kasih kepada Pak Kek Siansu.

Kemudian ia menaruh kitab tebal sebagai penggantinya di dalam peti dan disampul kitab yang sebetulnya hanya sebuah kitab sejarah ia tulis huruf-huruf besar, PAK KEK SIN CIANG HOAT PIT KIP".

Memang di dalam gua itu terdapat beberapa

Jilid kitab tebal dan kuno peninggalan Pak Kek Siansu.

Pada suatu hari, baru saja ia selesai berlatih di lereng bukit yang tersembunyi itu, terdengar suara keras dan dari puncak gunung kelihatan debu mengepul dan terdengar suara hiruk-pikuk.

Tiba-tiba Sin Hong melihat sebuah batu yang besar sekali menggelinding turun dengan kecepatan luar biasa, menghancurkan batu-batu kecil yang tertimpa di bawahnya.

Ketika tiba di dasar jurang yang sebetulnva merupakan lereng itu, batu besar itu masih terus menggelundung ke arah dia sendiri!

Sin Hong terkejut sekali.

Tempat di mana ia berdiri sempit sekali, di kanan kirinya terdapat jurang, maka tidak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari serbuan batu besar yang memenuhi tempat itu.

Terpaksa ia lalu memasang kuda-kuda dan sesuai dengan petunjuk di dalam kitab, ia melakukan dorongan ke depan.

Inilah gerakan yang disebut Sin-ciang-tut-san (Tangan Sakti Mendorong Bukit).

Melihat bahwa pada waktu itu Sin Hong baru berusia kurang lebih sebelas tahun, tubuhnya kecil dan batu itu amat besarnya yang menggelundung dengan kekuatan ribuan kati, gerakan Sin Hong ini menggelikan hati.

Akan tetapi, dengan latihan yang tekun berkat petunjuk dan kitab yang mengandung ilmu luar biasa sekali, di dalam tubuh Sin Hong telah mengalir hawa sinkang yang hebat dan gerakannya adalah gerakan dan ilmu mendorong yang amat tinggi, maka ketika batu besar itu telah dekat dan bertemu dengan kedua telapak tangannya, batu itu tertahan dan diam tak bergerak!

Sin Hong girang sekali dan dia lalu mendorong dan bermain dengan batu besar itu.

Akhirnya dia mendapat pikiran yang baik sekali.

Gua itu terbuka saja, mudah dilihat dan dimasuki orang.

Maka ia lalu mendorong batu besar itu dan pergunakan sebagai penutup gua.

Semenjak pengalaman ini, terbukalah mata Sin Hong bahwa latihan-latihannya di tempat itu telah menghasilkan tenaga yang luar biasa.

Cepat ia mengingat ingat bagian latihan sinkang dan mulai hari itu, ia tekun mempelajari dan memperdalam latihan dengan jalan bersamadhi, mengatur pernapasan dan berlatih sinkang.

Ia rajin sekali dan tidak jarang ia kelihatan duduk menghadapi batu karang, bersamadhi dan menahan napas.

sampai akhirnya napas yang keluar dari lubang hidungnya mendatangkan getaran aneh.

Sampai sehari penuh ia duduk bersila menghadapi batu karang.

Tidak jarang timbul kenakalannya sebagai kanak-kanak ketika ia merasa bahwa tenaga sinkang sudah berkumpul di dalam tubuh berputar-putar cepat merupakan bola api panas yang dapat perintah dengan daya cipta ia menyalurkan hawa ini ke jari-jari tangannya dan menggunakar jari-jari tangan menggurat-gurat batu karang.

Hebat sekali akibatnya.

Setelah tenaga sinkang itu terkumpul di jari tangannya, baginya batu karang itu merupakan tanah lempung yang lunak sekali!

Pakaiannya sudah sobek sana-sini.

Kadang-kadang ia memotong bagian bawah untuk menambal bagian yang sobek sehingga pakaiannya itu tidak karuan macamnya.

Namun semua kesederhanaan pakaian ini tidak mengurangi ketampanan wajahnya yang berkulit putih dengan sepasang mata yang bersinar sinar bagaikan bintang.

Tiga tahun lewat dengan cepatnya dan selama itu, Sin Hong hidup di tempat rahasia ini seorang diri, tak pernah bertemu dengan seorang pun manusia.

Akan tetapi anak ini biarpun hidup dalam keadaan kesepian dan sengsara, namun tidak kecil hati.

Semangat dan cita-citanya besar sekali.

Kalau ia teringat akan nasibnya, teringat akan kematian orang tuanya, kemudian tentang Hoa-san-pai yang rusak oleh orang-orang lm-yang-bu-pai, teringat betapa ayah angkatnya yang tercinta, yang menjadi pengganti orang tuanya itu telah dihina dan disiksa oleh orang Im-yang-bu-pai, kematian Liang Gi Tojin, kemudian teringat pula akan kekejian Kong Ji, semua ini membangkitkan semangatnya.

Bangkitnya rasa penasaran dan menguatkan cita-citanya untuk membalas semua kejahatan yang dilakukan orang kepadanya dan kepada orang-orang yang dikasihinya.

Setelah tinggal empat tahun lebih di dalam gua itu, pada suatu hari selagi Sin Hong bersamadhi di sebelah dalam dari gua yang ditutupnya dengan batu besar, ia mendengar suara di luar gua.

Cepat ia masuk ke dalam terowongan dan bersembunyi, menanti dengan hati berdebar.

Apakah yang akan terjadi."

Manusia manakah yang dapat datang di tempat itu?

Tak lama kemudian, ia melihat batu penutup gua bergeser sedikit, seperti didorong orang dari luar.

Kemudian ia melihat tubuh seorang pemuda tanggung memasuki gua.

Sebagaimana pembaca dapat menduga, yang masuk itu adalah Kong ji yang turun ke dalam jurang naik kim-tiauw.

Keadaan di situ suram, maka Sin Hong tidak dapat mengenal siapa orang yang masuk ke dalam gua.

ia mengintai saja dan dengan hati geli ia melihat orang itu membuka peti dan melihat kitab sejarah yang ia letakkan di dalam peti untuk menipu orang.

Ia melihat anak tanggung itu mengembalikan buku, berjalan keluar dan menutupkan kembali batu penutup gua.

Diam-diam Sin Hong memuji, karena tidak sembarang orang, apalagi masih pemuda tanggung, dapat mendorong batu itu.

Setelah terjadi peristiwa ini, legalah hatinya.

Biarkan semua orang kang-ouw datang ke sini dan mendapatkan kitab itu.

Kitab aselinya toh sudah ia bakar, sudah ia "pindahkan"

Isinya ke dalam otaknya.

ia berlatih makin giat karena maklum bahwa kalau ia sudah keluar dari tempat sembunyi ini kelak, ia akan mejumpai orang-orang yang pandai dan jahat.

Setelah tinggal bertahun-tahun di tempat itu, Sin Hong sering kali melakukan pemeriksaan di daerah yang terasing ini.

Benar-benar daerah itu tak mungkin dapat didatangi orang lain.

Untuk keluar dari jurang itu, biar orang memiliki kepandaian tinggi, kalau dia tidak bersayap, tak mungkin dilakukannya.

Jalan keluar dari lereng itu sama sekali tidak ada karena lereng itu dikelilingi oleh jurang yang amat curam.

Pendeknya tempat ini merupakan tempat terkurung yang memisahkan orang dari luar.

Tidak ada jalan keluar lagi bagi mereka yang jatuh ke dalamnya.

Akan tetapi Sin Hong tidak merasa khawatir.

Ia maklum bahwa pasti ada jalan keluar, karena kalau tidak, bagaimana Pak Kek Siansu dapat menyimpan pedang dan kitab di dalam gua itu?

Setelah hapal akan semua isi kitab ia mulai mencari rahasia jalan keluar itu.

Ia berjalan terus ke dalam gua yang di sebelah dalamnya merupakan terowongan itu.

Memang tidak mudah berjalan melalui terowongan yang demikian gelapnya.

Namun berkat kemauannya, Sin Hong sekarang dapat bergerak dengan ringan dan panca inderanya luar biasa tajamnya.

Dari suara angin ia dapat menangkap lubang manakah yang membawa dia ke arah pembebasan.

Di dalam terowongan itu terdapat lubang-lubang yang menjurus ke lain tempat dan orang lain pasti akan tersesat jalan dan sukar untuk keluar kembali.

Akhirnya Sin Hong tiba di jalan buntu setelah melalui jalan terowongan yang menaik.

Ketika ia meraba dengan tangannya, hatinya berdebar.

Ternyata bahwa akir jalan terowongan ini adalah sebuah daun pintu!

Ia mendorong terus dengan pengerahan tenaga.

Daun pintu terbuka dan ia berada di balik sebuah pembaringan, dalam sebuah kamar!

Akan tetapi, ketika ia mencoba untuk mendorong pembaringan itu, ia gagal.

Pembaringan itu terbuat daripada baja dan agaknya dipasangi alat rahasia sehingga tak mungkin dapat dipindahkan dari depan pintu rahasia ini.

Ia mencoba lagi namun tetap saja sia-sia.

Sebagai seorang anak yang cerdik, Sin Hong tidak mau mengerahkan semua tenaga untuk merusak pembaringan itu, melainkan ia masuk kembali ke dalam terowongan.

"Kalau Pak Kek Siansu bisa mondar-mandir di tempat ini, mengapa aku tidak? Tentu ada rahasianya untuk membuka penghalang pikirnya. Sin Hong memang amat tekun dalam menghadapi sesuatu. Ia meraba-raba di dalam gelap di sepanjang dinding terowongan di belakang daun pintu itu. Lama sekali setelah mencari dengan susah payah, akhirnya ia mendapatkan pemecahan rahasianya. Ternyata bahwa tempat tidur ini mempunyai palang-palang baja yang menancap dan menembus ke dalam gua dan dipalang dari dalam sehingga tentu saja takkan dapat dibuka dari luar. Palang itu pun tertutup oleh batu karang dan berada di tempat yang bersembunyi sekali. Dengan merogohkan lengan sampai ke siku, barulah Sin Hong dapat menyentuh palang itu dan menariknya ke atas. Terdengar suara bergerit dan terbukalah jalan keluar karena tempat tidur itu bergeser ke kanan! "Bagus, jalan keluar ke dunia ramai, terbuka bagiku!"

Seru Sin Hong girang sekali.

Ia tidak ingin kembali, karena di dalam jurang itu tidak ada apa-apanya lagi yang penting baginya.

Seluruh isi kitab telah pindah ke dalam kepalanya, kitab itu sendiri telah dibakarnya habis.

Di dalam peti bekas tempat kitab rahasia, kini terletak sebuah kitab sejarah kuno yang tiada artinya, sedangkan gua tempat penyimpanan kitab itu pun telah tertutup dengan batu besar yang dulu menggelinding dari atas.

Orang biasa saja takkan mungkin dapat menggeser batu itu dan mendapatkan gua.

Andaikata ada yang mendapatkan gua itu pun, apa artinya?

Paling-paling mendapatkan kitab sejarah!

Sin Hong melangkah keluar melalui pinggir tempat tidur yang sudah tergeser ke kanan.

Dengan tangannya ia lalu mendorong tempat tidur itu kembali ke tempat semula dan terdengar suara hiruk-pikuk di balik gua terowongan itu Sin Hong terkejut dan ia hendak melihat apa yang terjadi.

Ditariknya tempat tidur itu, akan tetapi sia-sia!

Ternyata bahwa palang yang berada di dalam gua telah turun sendiri mengunci ke bawah sehingga sekarang tempat itu takkan mungkin dapat dibuka orang dari luar.

"Lebih baik lagi,"

Kata Sin Hong.

"Tempat ini takkan dapat diganggu orang lain."

Ia lalu berjalan ke arah pintu kamar itu dan ketika ia membuka daun pintu, kembali ia tertegun.

Ternyata bahwa kamar itu berada pula di dalam sebuah gua.

Akhirnya ia teringat dan dengan girang ia berjalan keluar gua.

Tidak salah dugaannya, ia telah berada di puncak Luliang-san, di Puncak Jeng-in-thia (Ruang Awan Hijau) sebelah timur!

Dahulu sering kali melihat-lihat gua dan tempat-tempat lain di sekitar Jeng-in-thia, bahkan pernah ia masuk ke dalam gua ini.

Ia teringat akan penuturan Luliang Sam-lojin bahwa gua ini adalah tempat bersamadhi Pak Kek Siansu.

Siapa mengira bahwa di dalam gua yang sederhana yang hanya terdapat sebuah tempat tidur kuno yang kotor, terletak rahasia daripada tempat penyimpanan kitab dan pedang?

Seorang pun takkan dapat mengira bahwa di belakang dinding batu kurang di mana tempat tidur itu berada, terdapat pintu rahasia yang dapat membawa orang ke dasar jurang yang berada di Jeng-in-thin!

Sin Hong berlari masuk kembali ke dalam gua, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tempat tidur yang dahulu dipergunakan oleh Pak Kek Siansu untuk bersamadhi.

"Suhu Pak Kek Siansu, teecu Wan Sin Hong menghaturkan terima kasih atas segala kemurahan hati Suhu."

Setelah bersamadhi beberapa lama, ia lalu keluar dari gua.

Angin puncak yang sejuk menampar mukanya dan ia merasa sehat dan segar.

Melihat keadaan di puncak Luliang-san yang dikenalnya amat baik ini, teringatlah ia akan Luliang Sam-lojin.

Hatinya berdebar kalau ia teringat akan peristiwa empat tahun lebih yang lalu.

Puncak ini diserbu oleh orang-orang jahat seperti Giok Seng Cu dan yang lain-lain, dan kalau sampai Giok Seng Cu dapat tahu di puncak, pasti Luliang Sam lojin niengalami bencana ia maklum akan watak ketiga orang kakek itu yang pasti takkan memperbolehkan siapapun juga naik ke puncak Luliang-san.

Teringat akan semua ini, Sin Hong lalu berlari cepat turun dan puncak.

Baru beberapa langkah saja ia berhenti dan merasa heran sekali.

ia telah berlatih lweekang dan ginkang menurut petunjuk dan kitab peninggalan Pak Kek Siansu, akan tetapi tak disangkanya bahwa tubuhnya sekarang demikian gesit dan ringan sehingga baru melompat beberapa kali saja ia sudah berada di tempat jauh dari puncak!

Tentu saja Sin Hong menjadi girang sekali dan anak ini sengaja mengambil jalan yang sukar.

ia melompati jurang yang dulu dianggapnya tak mungkin ia lompati, bahkan Luliang Sam Lojin sendiri kalau melompati jurang ini mengerahkan tenaga ginkang mereka.

Akan tetapi sekarang dengan amat enak dan mudah ia melompat dan di lain saat ia telah berada di seberang jurang!

Sambil menari kegirangan Sin Hong berlari terus ke arah lereng gunung di mana dahulu menjadi tempat tinggal Luliang Sam-lojin.

Di sana sunyi saja, tidak kelihatan bayangan seorang pun manusia.

"Apakah mereka pergi turun gunung? Ataukah "

Ada sesuatu yang hebat terjadi?"

Tanya Sin Hong di dalam hatinya sambil memandang ke sekeliling tempat itu.

Sunyi saja di situ, dan biarpun biasanya Sin Hong berada di dasar jurang yang amat sepi, namun pada saat itu ia benar-benar merasa betapa sunyi tempat itu, sunyi yang mendebarkan hati.

Biasanya ia mendengar Luliang Siucai bernyanyi atau membaca sajak,.

mendengar Luliang Ciangkun tertawa-tawa sambil minum arak atau mainkan pedang, melihat Luliang Nungjin bekerja rajin di sawahnya.

Kini semua itu lenyap dan keadaan di situ seperti mati.

"Luliang Sam-loheng...""

Tak terasa lagi Sin Hong berteriak dengan hati duka.

Hanya gema suaranya saja yang menjawabnya dari jurusan hutan batu karang.

Dengan hati berat Sin Hong berlari naik ke atas dan melompat ke atas sebuah batu karang yang tinggi.

Dari tempat tinggi itu ia memandang ke sekelilingnya, dan tiba-tiba ia melihat gundukan tanah sebanyak tiga gunduk!

Itula tanda bahwa ada tiga makam di tempat itu!

"Sam-loheng...."

Dan ia melompat turun dari batu karang dan terus berlari menghampiri tempat itu.

Benar saja, di depannya terdapat kuburan berjajar dan biarpun di situ tidak terdapat tanda sesuatu maupun bongpai (batu nisan) namun Sin Hong seakan-akan melihat mayat tiga orang tua yang dikasihinya itu membujur di bawah tanah.

Memang sesungguhnya tempat ini adalah tempat di mana Ciang Le mengubur jenazah Luliang Sam Lojin yang telah menjadi tulang-tulang berserakan ketika pendekar besar itu tiba di Luliang-san.

"Sam-loheng, siauwte bersumpah akan mencari orang-orang yang membunuh Sam-wi Lo-heng dan akan membalas sakit hati ini..."

Sin Hong menangts di depan tiga kuburan itu.

Betapa ia takkan merasa duka?

Di dalam dunia ini, selain Luliang Sam-lojin, tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian kepadanya, kecuali Liang Gi Tojin dari Hoa-san-pai yang sudah tewas dan Lie Bu Tek, ayah angkatnya.

Tiba-tiba Sin Hong melompat berdiri ketika teringat kepada ayah angkatnya.

"Gihu telah dianiaya oleh orang-orang Im-yang-bu-pai dan lengannya dibacok putus oleh jahanam keparat Kong Ji Bagaimana sekarang keadaannya? Apakah masih hidup?"

Setelah bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri dengan perasaan gemas terhadap Kong Ji, ia lalu melompat dan berlari turun dari bukit Luliang-san bagaikan terbang cepatnya.

Setelah melakukan perjalanan jauh, makin terbuka mata Sin Hong bahwa sungguhnya ia telah mewarisi ilmu yang amat luar biasa dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu.

Di antara ilmu-ilmu silat tinggi yang ia pelajari, terdapat pula pelajaran ilmu lari dan ilmu melompat jauh yang disebut Liok-te-hui-teng-kang hu.

Ketika berada di dasar jurang tidak ada tempat yang cukup luas bagi Sin Hong untuk mencoba kepandaian ini akan tetapi sekarang setelah ia keluar dari tempat itu, ia mendapat kesempatan banyak untuk mencobanya.

Dan ia sendiri merasa tertegun ketika melihat hasil daripada latihan-latihannya selama.

tiga tahun lebih itu.

Ilmu melompat jauh ini setelah ia coba, tubuhnya bagaikan dilemparkan oleh tenaga yang kuat sekali sehingga ia setengah melayang-layang di udara!

"Alangkah senangnya hati Gi-hu kalau ia melihat kemajuanku,"

Katanya perlahan dan kembali air matanya berlinang dengan penuh keharuan kalau ia teringat akan nasib Lie Bu Tek.

Maka dipercepatlah larinya untuk segera dapat tiba di Hoa-san karena ia berniat pergi ke Hoa-san untuk mencari ayah angkatnya itu.

Pada suatu pagi, setelah keluar dari drretan hutan-hutan besar, tibalah ia di sebuah dusun yang rumah-rumahnya amat sederhana.

Tak sebuah pun di antara rumah-rumah itu yang beratap genteng, semua beratap daun kering.

Alangkah miskinnya penduduk dusun ini, pikir Sin Hong.

Akan tetapi, setelah ia memasuki dusun, ia menjadi heran sekali.

Ternyata bahwa dusun itu kosong, tidak ada seorang pun kelihatan diluar pintu yang terbuka, dan keadaannya amat sunyi.

Akan tetapi, jelas nampak bahwa rumah-rumah ini belum lama ditinggalkan para penghuninva.

Pelatarannya masih bersih bekas disapu.

Sin Hong merasa perutnya lapar sekali.

Semenjak kemarin sore ia tidak bertemu dengan dusun dan tidak bisa mendapatkan pohon bcrbuah di dalam hutan yang dilaluinya.

Harapannya akan mendapatkan makan di dusun itu lenyap seketika setelah ia melihat bahwa dusun itu benar-benar kosong melompong.

Apa akal?

Ia tidak bisa membiarkan saja perutnya yang kelaparan.

Kalau ia tidak mempergunakan hawa di dalam tubuh melindungi perut dan dadan)a, mungkin sekali ia telah terserang penyakit.

"Sebetulnya amat memalukan, akan tetapi apa daya, terpaksa kulakukan juga...."

Dengan muka merah, Sin Hong mulai mencari cari di dalam rumah-rumah kosong itu, untuk melihat kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dimakan.

"Sial dan memalukan sekali...."

Gerutunya berkali-kali ketika ia keluar-masuk rumah tanpa mendapat apa-apa.

"ntuk minta-minta seperti pengemis, ia tak merasa hina dan rendah apabila ia merasa perutnya lapar, akan tetapi untuk mencari-cari makanan di dalam rumah orang seperti seorang maling, benar-benar Sin Hong merasa rendah dan malu sekali. Akan tetapi setelah memasuki sepuluh buah rumah lebih. Sin Hong tak menemukan sesuatu kecuali seguci arak yang dibawanya keluar. ia merasa amat lapar dan haus dan juga terheran-heran mengapa sedikit sisa makan yang ia lihat ternyata sudah merupakan abu di depan setiap rumah, agaknya ketika para penghuni rumah pergi, mereka membakari makanan yang ada di situ. Terlihat periuk-periuk hangus dengan isinya yang sudah menjadi abu dan arang di depan pintu.

"Apa yang terjadi di tempat ini?"

Pikirnya.

Kemudian karena ia tak mungKin dapat memecahkan teka-teki ini, ia lalu mengangkat guci araknya dan menempelkan mulut guci pada bibirnya, siap hendak minum araknya.

Tiba-tiba ia mendengar desir angin dan dengan tenang Sin Hong menggerakkan tangan yang memegang guci ke samping, menunda minumnya.

Sebatang senjata rahasia piauw meluncur lewat di samping guci.

Kalau ia tidak menggerakkan guci, pasti guci arak itu akan terpukul pecah oleh piauw tadi.

Ia heran sekali.

Sudah jelas bahwa pelempar piauw itu seorang ahli yang pandai, akan tetapi kalau mau menycrang secara menggelap kenapa piauw itu ditujukan kepada guci arak?

la mendengar seruan keheranan dan cepat Sin Hong membalikkan tubuhnya.

Yang berseru keheranan adalah seorang tosu berjenggot dan berambut hitam, orang yang agaknya melepaskan piauw tadi dan kini terheran karena melihat piauwnya tidak mengenai sasaran.

Adapun di sebelah tosu ini berthri seorang tosu lain, seorang tosu yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua akan tetapi mukanya demikian sehat dan segar sehingga kulit mukanya itu nampak kemerahan.

tosu tua ini berseru.

"Anak yang baik, lekas kaulempar jauh-jauh guci arak itu dan jangan minum isinya!"

Telinga Sin Hong tajam luar biasa setelah ia berlatih ilmu silat tinggi dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu.

ia mendengar suara ini amat mengandung perasaan ngeri dan cemas luar biasa.

Maka otomatis ia cepat melempar pergi guci arak itu ke tempat jauh.

Guci itu pecah dan isinya mengalir keluar.

"Bagus! Senang hatiku melthat kau baru. saja terlepas daripada bahaya maut yang mengerikan,"

Kata pula kakek berjenggot putih itu dan kini mukanya menunjukkan keramahan yang sekaligus menawan hati Sin Hong. Anak ini cepat menghampin mereka dan menjura.

"Jiwi Totiang (Bapak Pendeta Berdua) siapakah dan mengapa aku harus membuang guci arak itu pada saat aku merasa amat lapar dan haus?"

Tanyanya.

Sin Hong pernah belajar ilmu surat dari Luliang Siucai dan telah banyak membaca kitab tentang sejarah dan kebatinan, telah pula mendengar banyak nasihat dari Luliang Siucai tentang pribadi dan sopan santun, maka sikapnya tidak mengecewakan sebagai seorang bocah yang tahu akan aturan.

Kakek berjenggot itu tersenyum mengangguk-angguk dan mengelus-elus jenggotnya sambil berkata.

"Aneh... aneh... kau bukan bocah dusun! Dari manakah kau? Dan siapa namamu, bocah yang kelaparan akan tetapi baik budi bahasamu?"

Sin Hong tidak ingin namanya diketahui orang karena ia maklum bahwa banyak sekali musuh yang pasti akan mencari dan menewaskannya kalau mengetahui bahwa ia masih hidup, maka ia lalu menjawab.

"Aku bernama Tan A Kai, seorang anak perantau yang tak tentu tempat timggalku. Aku kebetulan lewat di sini lalu perutku lapar sekali, maka karena tidak ada seorang pun di dusun ini, aku"

Aku lancang memasuki rumah untuk mencari makanan."

Muka Sin Hong menjadi merah sekali ketika mengucapkan pengakuan ini. Kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Anak baik, kau masih dapat merasa malu untuk perbuatan itu, bagus sekali! Nah, kaumakanlah ini kalau lapar!"

Dari saku bajunya, kakek itu mengeluarkan sebutir buah berwarna merah yang diberikannya kepada Sin Hong.

Sambil mengucapkan terima kasih Sin Hong menerima buah itu dan segera dimakannya.

Alangkah girangnya ketika mendapat kenyataan bahwa buah itu amat manis dan wangi dan yang lebih mengherankan lagi habis satu saja perutnya menjadi kenyang!

"Bolehkah aku mengetahui nama Ji wi Totiang?"

Tanya Sin Hong seteLah menghabiskan buah itu.

"Untuk apa kau tanya-tanya? Pergilah, kanii ada pekerjaan!"

Tosu berjenggot hitam membentaknya.

Sin Hong melirik.

Baru sekarang ia memperhatikan tosu ini, karena tadi seluruh perhatiannya tertarik oleh keadaan tosu yang ramah tamah dan bermuka terang itu.

Sekali lihat saja Sin Hong merasa tidak suka kepada tosu ini.

Alis tosu ini tebal, matanya tajam dan wajahnya cukup tampan akan tetapi tekukan bibirnya membayangkan sesuatu yang tak disukainya.

Dari sikap dan kedudukan kedua kakinya, Sin Hong dapat menduga bahwa tosu nil adalah seorang ahli silat kelas tinggi.

"Maaf kalau aku berlancang mulut,"

Jawabnya tenang.

"Aku bertanya karena aku ingin sekali mengetahui keadaan di dusun ini yang amat aneh. Aku adalah seorang bocah perantau, bagaimana akan jawabku kalau kelak ada orang bertanya?, Sebuah dusun kosong, lalu ada dua orang pendeta datang dan melarang aku minum arak dari guci yang kudapatkan di dusun. Benar-benar bisa bikin orang lain menaruh hati curiga. Akan tetapi, kala Ji-wi tidak mengaku, sudahlah, biarkan aku pergi dan sini pun tidak apa!"

Akan tetapi sebelum Sin Hong berjalan pergi, kakek tua yang berjenggot putih itu menahannya dengan ketawanya yang ramah tamah dan suaranya yang halus.

"Anak, tidak baik bagi seorang anak kecil untuk marah-marah dan mendongkol. Kau ingin tahu siapa kami? Dengarlah, aku disebut orang Kwa Siucai (Sasterawan she Kwa) tukang mendongeng dan juga tukang mengobati orang sakit. Adapun toyu (Sahabat) ini baru kemarin kujumpai dan kenal, namanya Kim Kong Tojin, menurut keterangannya seorang tosu dan Kun-lun-san. Adapun tentang dusun ini, juga menurut penuturan Kim Kong To-yu ini, telah kedatangan iblis penyebar racun dan maut, maka aku diminta datang untuk menyelidiki dan kalau perlu menolong mereka yang menjadi korban."

Sambil berkata demikian, dengan wajahnya yang jujur dan ramah tosu berjenggot putih itu memandang kepada Kim Kong Tojin dengan tajam.

Sin Hong adalah seorang anak yang mempunyai kecerdikan dan kecepatan berpikir.

Melihat sikap Kim Kong Tojin, dapat menduga bahwa tosu ini bukan seorang baik, sebaliknya mellhat sikap Kwa Siucay"

Yang ramah tamah ia dapat menduga pula bahwa ahli pengobatan tentu secara terpaksa berada di tempat ini, dipaksa oleh Kim Kong Tojin.

"Akan tetapi ke mana perginya semua penghuni dusun, dan siluman apakah yang mengganggu tempat ini?"

Sin Hong pura-pura ketakutan dan memandang ke kanan kiri.

"Sebagian besar penghuni dusun telah tewas dan yang lain telah melarika diri karena takut,"

Kata Kim Kong Tojin dengan sikap menakut -nakuti Sin Hong sungguh pun ia merasa mendongkol sekali terpaksa harus bercakap-cakap dengan seorang bocah di tempat itu.

"Segala sesuatu di tempat ini mengandung racun, kalau tadi terus minum arak itu, sekarang kau tentu sudah menjadi mayat!"

"Dan tidak dapat mengganggu engkau "."

Di dalam hatinya Sin Hong berkata.

"Tosu ini tentu mengandung maksud tertentu. Dengan adanya aku di sini, ia akan bercuriga dan akan melakukan sesuatu dengan bersembunyi. Agaknya ada sesuatu yang mengancam kakek sasterawan ini. Lebih baik aku mengamati dari jauh."

Setelah berpikir demikian ias lalu berkata dengan suara takut-takut.

"Aduh celaka! Kalau begitu apa perlunya aku lama-lama berada di tempat terkutuk ini. Terima kasih Ji-wi Totiang, aku mau pergi saja!"

Tanpa menanti jawaban, ia lalu berlari-lari seperti seorang anak yang ketakutan.

Terdengar kedua orang kakek itu tertawa melihat ia lari ketakutan.

Memang apa yang diduga oleh Sin Hong tidak meleset jauh.

Sebagaimana mungkin masih ada pembaca yang ingat.

Kwa Siucai adalah seorang tersohor sebagai seorang ahli dongeng cerita-cerita rakyat dan juga amat tinggi ilmunya dalam hal pengobatan.

Di dalam cerita Pendekar Budiman, Kwa Siucai ini pernah menolong jiwa pendekar besar Ciang Le ketika pendekar ini terluka oleh senjata rahasia beracun.

Kwa Siucai adalah seorang perantau dan ketika merantau sampai di dekat dusun itu, ia bertemu dengan Kim Kong Tojin yang menceritakan bahwa di dusun itu berjangkit penyakit yang aneh.

Banyak penduduk tewas karena siapa pun juga yang tinggal di dusun itu sehanis makan atau minum lalu mati.

Hal ini tentu saja menarik perhatian Kwa Siucai sebagai ahli pengobatan, akan tetapi mata kakek ini masih tajam dan ia merasa bercuriga terhadap Kim Kong Tojin.

Ia sudah luas pengalamannya dan banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang dikenalnya, namun belum pernah ia mengenaI tosu ini yang mengaku sebagai orang dari Kun-lun san.

ia hendak menolak, akan tetapi Kim Kong Tojin berkata dengan nada suara tidak senang.

"Kwa Siucay kau sebagai seorang ahli pengobatan, mendengar akan adanya malapetaka ini bagaimana bisa menolak permintaanku untuk menyelidiki dan memberi pengobatan? Orang yang mati telah kusingkirkan, bahkan yang masih hidap sudah pada pergi meninggalkan dusun. Kalau racun atau siluman penyebar racun itu tidak dibasmi, bagaimana aku bisa disebut ahli silat yang menjunjung tinggi kegagahan dan kau sebagai seorang ahli pengobatan yang suka menolong orang?"

Kwa Siucai dapat mendengar nada ancaman dalam kata-kata ini maka ia tertawa dan berkata.

"Baiklah, To-yu, aku akan ikut kau ke sana. Akan tetapi, biarpun soal pengobatan adalah tanggunganku, namun kalau muncul siluman-siluman jahat kaulah yang menghadapinya."

"Jangan khawatir, Kwa Siucai, siluinan-siluman jahat adalah makananku sehari-hari. Akan tetapi apakah kiranya kau dapat membereskan wabah yang aneh itu? Apakah betul-betul kau ahli dalam hal pengobatan racun seperti yang sering kali kudengar? Menurut pendengaranku di dunia kang-ouw banyak sekali tokoh tokoh mempergunakan ribuan macam bisa yang aneh-aneh seperti halnya tokoh besar See-thian Tok-ong."

Kwa Sweat mainkan bibirnya dan sepasang matanya bersinar-sinar.

"Hmm, orang semacam See thian Tok-ong amat sombong. Biarpun aku belum pernah melihat mukanya, namun aku dapat membayangkan bahwa orang-orang yang memakai nama Raja Racun bukanlah orang yang baik, mungkin bukan manusia. Penggunaan racun untuk merobohkan orang lain adalah kejahatan yang securang-curangnya."

"Akan tetapi dapatkah kiranya Kwa Siucai menyembuhkan dan menolak semua racun dari Raja Racun itu dengan pengobatan?"

"Mengapa tidak?"

Jawab Kwa Siucay menantang.

"Semua racun yang ia keluarkan akan dapat kulawan dengan pengetahuanku tentang obat-obatan pemberian alam yang maha kuasa."

Demikianlah, dua orang itu berangkat ke dusun dan kebetulan sekali mereka melihat Sin Hong hendak minum arak dari guci-guci yang didapatkannya dari dalm rumah.

Kwa Siucai cepat menyuruh Kim Kong Tojin mencegah bocah itu melanjutkan minumnya dan Kim Kong Tojin cepat melemparkan piauwnya, akan tetapi tak tersangka-sangka bocah itu menggerakkan guci sehingga piauwnya tidak mengenai sasaran.

Mula-mula Kim Kong Tojin merasa terkejut dan heran.

Ia telah terkenal dengan ilmunya menimpuk dengan senjata rahasianya, mengapa dalam jarak yang paling jauh empat puluh kaki ia tidak dapat menimpuk guci yang demikian besarnya?

Akan tetapi ia segera mendapat pikiran bahwa gerakan bocah itu adalah kebetulan saja, bukan karena ia kurang pandai menimpuk atau karena bocah itu memiliki kepandaian, semua tentu hanya kebetulan saja.

Setelah Sin Hong lari pergi dari situ Kwa Siucai bersama Kim Kong Tojin lalu masuk ke dalam dusun dan sasterawan itu mulai melakukan pemeriksaan.

Dalam rumah pertama, begitu masuk ia menggerakkan hidungnya dan mengerutkan kening.

"Hm, aneh sekali. Bagaimana di tempat seperti ini bisa terdapat seekor Pek-gan-coa (Ular Mata Putih)?"

"Apa maksudmu, Kwa Siucai?"

Tanya Kim Kong Tojin dan air mukanya berubah.

"Diam dan tunggulah saja,"

Kata sasterawan itu yang segera duduk bersila di tengah ruangan rumah yang berlantai tanah itu.

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah bungkusan besar yang ketika dibuka terisi beberapa puluh macam bungkusan kertas kecil-kecil.

ia memilih sebuah bungkusan kecil setelah membaca tulisan-tulisan di atas setiap bungkusan.

Bungkusan itu dibukanya dan ia menjemput sedikit bubuk warna biru yang disebarkan di depannya.

Tercium bau yang wangi oleh Kim Kong Tojin ketika sasterawan itu menyebarkan bubuk biru ini, dan kepalanya menjadi pening.

Buru-buru ia melangkah mundur menjauh dan menonton semua itu dari jarak jauh dengan hati berdebar.

Sunyi beberapa lama.

Kwa Siucai duduk tak bergerak sambil meramkan mata seperti orang bersamadhi.

Kim Kong Tojin juga tidak berani bergerak.

Tak lama kemudian terdengar suara mendesis dari atas.

Kwa Siucai tetap tidak bergerak, akan tetapi Kim Kong Tojin menggerakkan mata memandang ke atas.

Alangkah ngerinya ketika ia melihat seekor ular yang kecil akan tetapi panjangnya tidak kurang dari dua kaki, merayap turun tiang.

Ular itu warnanya biru, akan tetapi sepasang matanya putih mengerikan.

Lidahnya yang hitam terjulur keluar masuk dari mulutnya.

Dengan perlahan ular itu merayap turun terus menghampiri Kwa Siucai!

Kim Kong Tojin tetap tidak bergerak, akan tetapi diam-diam ia telah memegang sebatang senjata rahasia piauw di tangan kanan, siap untuk memmpuk ke arah ular itu kalau binatang berbisa ini menyerang Kwa Siucai.

Akan tetapi ular itu tidak menyerang Kwa Siucai, melainkan menghampiri bubuk biru yang tersebar di depan sasterawan itu lalu...

bagaikan seekor binatang yang jinak ia menjulurkan lidah dan menjilati tepung biru itu!

Kelihatan enak sekali ia makan tepung itu sehingga sebentar saja tepurg itu sudah habis.

Ular itu masih menggunakan lidah untuk menjilati tanah bekas tempat tepung tersebar, akan tetapi tiba-tiba ia diam tak bergerak"

Kwa Siucai tertawa dan melompat berdiri.

"Hm, seekor ular ini saja sudah cukup membunuhi semua penghuni dusun, ia lalu membungkuk dan memegang ular itu pada lehernya. Ular itu masih hidup akan tetapi tubuhnya lemas tak bertenaga sedikitpun juga.

"Eh, Kwa Siucai, bagaimana ia bisa menjadi begitu lemas?"

Tanya Kim Kong Tojin dengan kagum.

"To-yu, kau tidak tahu. Pek-gan-coa ini adalah ular yang paling berbahaya dan gigitannya sukar diobati. Entah bagaimana ia dapat datang ke suni, pada hal biasanya ular macam ini hanya hidup di daerah utara yang dingin. Kau lihat bukankah dengan obatku aku mampu bikin dia tak berdaya? Juga orang yang menjadi korban gigitannya, kalau belum lewat sehari semalam, aku sanggup mengobatinya."

Kim Kong Tojin mengangguk angguk kagum.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 12

Baca Juga: Jodoh Rajawali 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert