Eps 4 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
"Apakah namanya obat tadi, Kwa Siucai? Bolehkah aku bertanya agar kelak kalau ada aku dapati orang tergigit olehnya, boleh aku mencoba menolonginya?"
Kwa Siucai tersenyum.
"Tidak mudah, To-yu. Tidak mudah untuk mempelajari ilmu pengobatan, jauh lebih sukar daripada mempelajari ilmu silat. Kalau tidak demikian, mengapa aku lebih suka mempelajari ilmu pengobatan? Obat tadi adalah sari bunga bwee biru dari utara. Sudahlah, kita bertmtung sekali bertemu dengan ular ini. Memanggangnya sampai hangus, arangnya dapat menjadi obat penawar racun yang manjur."
Kwa siucai memasukkan ular itu ke dalam saku bajanya yang lebar, lalu menyimpan kembali bungkusan obatnya.
Di rumah ke dua dan ke tiga, ternyata bahwa racun yang tersebar di situ adalah racun ular mata putih juga.
Akan tetapi di rumah ke empat, baru saja memasuki rumah, Kwa Siucai mengeluarkan seruan tertahan.
"To-yu, mundurlah, Jangan masuk dalam rumah ini. Berbahaya sekali!"
Serunya.
Kim Kong Tojin melompat mundur akan tetapi mengintai dari balik daun pintu, melihat apa yang hendak dilakukan oleh sasterawan tua itu.
Kwa Siaucai berhenti di tengah ruangan rumah yang agak gelap ini, lalu mengeluarkan sebungkus garam dan mencampur garam halus itu dengan obat bubuk warna putih.
Kemudian ia menyebarkan bubukan ini ke sudut-sudut ruangan, ke atas dan ke tempat-tempat yang dapat dipakai bersembunyi binatang kecil.
Bau apek memenuhi ruangan itu tiba-tiba melayang sebuah bayangan kecil yang berwarna kuning emas dan sebelum ia dapat mengelak, tahu-tahu lengan kiri Kwa Siucai telah tergigit oleh seekor kelabang yang besarnya melebihi Ibu jari kaki!
Kelabang itu menggigit lengan di bawah saku dan tidak mau melepaskan lagi.
Baju Siucai bukan apa-apa baginya dan segera gigitannya telah mengenai kulit.
Kwa Siucai terhuyung-huyung dan cepat ia berlari keluar.
Sampai di luar, ia cepat menjatuhkan diri duduk dan dengan langan kanan, ia mengeluarkan bungkusan obatnya.
Kim Kong Tojin memburu dan bendak mencahut pedangnya, akan tetapi Kwa Siucai berseru.
"Jangan sentuh!!"
Kwa Siucai mengeluarkan sebungkus obat bubuk warna putih, mengambil guci araknya dan menuangkan sedikit arak ke dalam tutup guci.
Obat bubuk warna putih itu ia tuangkan pula setengahnya ke dalam tutup guci yang dijadikan cawan, kemudian ia mengambil pula sebutir pil warna merah yang segera ditelannya.
Setelah itu ia minum arak yang bercampur obat itu.
Sehabis minum obat itu ia menjadi tenang.
Sambil tersenyum ia mengamat-amati kelabang yang masih melingkar di lengannya dan ia mengangguk-angguk.
"Benar-benar aneh. Apakah dunia utara dan selatan sudah kiamat sehingga binatang-binatang berbisa macam ini bisa berkumpul di sini?"
Ia menengok ke arah Kim Kong Tojin yang memandang kepadanya dengan gelisah.
"To-yu, tahukah kau binatang apa ini? Inilah kelabang kulit emas yang hanya terdapat di daerah selatan yang panas. Sekali gigit saja ia mencwaskan orang dan setiap makanan yang dilaluinya juga akan mengandung racun jahat."
"Akan tetapi kau... kau telah digigitnya, Kwa Siucai...."
"Tidak apa, bukankah aku tukang mengobati gigitan-gigitan binatang berbisa? Aku takkan apa-apa, sebaliknya binatang ini akan menjadi milikku."
Sambil tertawa-tawa girang Kwa Siucai lalu menjatuhkan beberapa banyak bubuk obat putih itu ke arah kepala dan tubuh kelabang yang masih menempel pada lengannya.
Tiba-tiba kelabang itu melepaska gigitannya.
Jatuh di atas menggeliat-geliat dan kemudian diam tak bergerak, mati!
"Ha, minyak dari tubuhnya akan menjadi obat yang manjur bagi penyakit gatal,"
Kata Kwa Siucal girang dan cepat ia masukkan kelabang yang sudah menjadi bangkai itu ke dalam saku bajunya yang lain lagi.
Semua rumah itu dimasuki oleh Kwa Siucai dan makin besar keheranannya ketika di rumah-rumah ia mendapatkan binatang-binatang berbisa yang amat berbahaya seperti kalajengking, segala macam ular dan kumbang.
Baiknya Kwa Siucai benar-benar ahli dalam hal pengobatan, bahkan beberapa kali ia terkena gigitan binatang berbisa.
Dalam menghadapi binatang-binatang berbisa yang datang dari segala penjuru itu memang aneh dan berbahaya, ia sampai beberapa kali membuka kitab tebal kecil yang selalu dibawanya di dalam saku untuk mempelajari kembali agar jangan sampai salah memperrgunakan obat penolaknya.
"Heran, heran, apakah yang terjadi di dusun ini? Apakah benar-benar ada siluman yang datang mengganggu? Tak mungkin binatang-binatang itu dapat datang dari jarak yang ribuan lie jauhnya!"
Beberapa kali sasterawan itu menggeleng-gelengkan kepalanya akan tetapi tiba-tiba ia melangkah mundur ketika pandangan matanya bertemu, dengan pandang mata Kim Kong Tojin.
Ia melihat sesuatu yang mengerikan dalam pandang mata tosu itu.
Tosu itu tersenyum menyeringai.
"Kwa Siucai, bukankah kau tadi menantang See-thian Tok-ong? Nah, sekarang kau telah mencoba kelihayannya, apakah kau merasa ngeri? Ha, ha, ha!"
Kwa Siucai menjadi pucat.
"Jadi. semua ini adalah perbuatan See-thian Tok-ong? Jadi dia sengaja mengorbankan dusun ini untuk mencoba kepandaianku? Dan kau... tentu bukan bernama Kim Kong Tojin! Celaka, aku telah tertipu...!"
"Ha-ha-ha, kau benar-benar pandai sekali menerka, Kwa Siucai. Aku memang bukan bernama Kim Kong Tojin, melainkan Tek Goan It dari Im-yang-bu-pai."
"Apa kehendak See-thian Tok-ong? Apa kehendakmu dariku?"
"Kehendak kami? Ini!"
Secepat kilat Tek Goan It memukulkan tangan kanannya ke arah dada Kwa Siucai sedangkan tangan kirinya merampas kitab kecil dan bungkusan obat.
Kejadian ini terjadi dengan cepat dan tak terduga sekali dan tahu-tahu Kwa Siucai sudah roboh.
Sin Hong yang semenjak tadi mengintai dari jauh, tadinya terheran-heran dan ngeri menyaksikan semua binatang berbisa itu dan kagum bukan main melihat kepandaian Kwa Siucai.
Dia masih kecil dan biarpun semenjak kanak-kanak ia telah mengalami banyak penderitaan akibat perbuatan orang -orang jahat, namun ia masih tidak mengira bahwa akan ada orang yang dapat berlaku securang tosu yang datang bersama Kwa Siucai itu.
Oleh karena inilah maka ia tidak sempat mencegah terjadinya penyerangan Tek Goan It kepada Kwa Siucai.
Setelah Kwa Siucai terpukul jatuh, Sin Hong melompat keluar dan membentak.
"Bangsat berbatin rendah!"
Akan tetapi, sebelum ia turun tangan ia melihat wajah Tek Goan It menjadi pucat sekali dan terhuyung-huyung lalu roboh.
Ketika Sin Hong mendekati, ia segera melompat mundur kembali dengan penuh keheranan dan kengerian.
Ternyata bahwa entah apa sebabnya Tek Goan It telah tak bernyawa lagi.
Kitab dan bungkusan obat masih dicengkeram oleh tangan kirinya!
Terdengar keluhan perlahan dan Sin Hong cepat menghampiri Kwa Siucai, lalu berlutut.
"Sayang sekali aku datang terlambat Kwa Siucai. Apakah lukamu hebat?"
Kwa Siucai mencoba untuk bangun akan tetapi tak dapat karena tulang-tulang iganya telah remuk terkena pukulan Tek Goan It.
Kwa Siucai sudah tua dan memang tidak mengerti ilmu silat maka mudah saja ia terpukul, sedangkan Tek Goan It adalah tokoh lm-yang-bu pai yang berkepandaian tinggi.
Mungkin pembaca masih ingat bahwa dulu Tek Goan It inilah yang mengejar Liok Sun, dan kemudian bertempur dengan Lie Bu Tek di Bukit Hoa-san.
Sin Hong membantu Kwa Siucai duduk.
Sasterawan ini muntahkan darah segar, kemudian napasnya terengah-engah.
Setelah ia melihat tubuh Tek Goan It rebah tak bernyawa lagi.
Kwa Siucai tertawa!
Sin Hong merasa heran atas kematian Tek Goan It, kini melihat sastewan itu tertawa, ia merasa makin heran lagi.
"Ha, dikira aku seorang sasterawan yang lemah dan tak mampu membalas? Sayang hanya orang macam Tek Goan It ini yang bertukar nyawa dengan aku, sungguh tidak berharga! Kalau saja See-thian Tok-ong yang mati bersamaku, aku tidak akan penasaran!"
Kwa Siucai memandang dan agaknya baru sekarang ia memperhatikan bocah itu.
"Kau bocah aneh, kau bukan bocah sembarangan. Matamu tajam, kau cerdik dan wajahmu membayangkan budi yang luhur. Eh, siapakah kau sebenarnya? Nama Tan A Kai tentu palsu!"
Merah wajah Sin Hong.
"Sesungguhnya, Kwa Siucai, aku adalah Wan Sin Hong, seorang anak perantau. Aku adalah murid Pak Kek Siansu."
"Apa...? Pak Kek Siansu sudah meninggal dunia...."
"Betul, akan tetapi akulah yang mewarisi kitabnya."
Wajah Kwa Siucai menjadi terang dan ia nampak girang sekali.
"Bagus! Pak Kek Siansu adalah sahabatku yang baik. Bagus, Sin Hong, kau pun menjadi muridku pula. Terimalah kitab ini, ambil bungkusan obat-obat itu Pelajari baik-baik... tolonglah orang-orang yang menderita sengsara dengan kepandalanniu dari Pak Kek Siansu dan dari aku...."
Tiba-tiba tubuh saterawan itu menjadi lemas, ia muntahkan daral segar lagi dan matanya tertutup untuk selamanya.
Sin Hong menjadi terharu sekali, dan juga ia merasa bingung.
Sasterawan ini mengangkat ia sebagai murid dan memberi warisan berupa kitab pengohatan dan sebungkus obat-obatan yang amat manjur dan yang tadi sudah ia saksikan kehebatan khasiat obat-obat itu.
Akan tetapi, ia pun mcnyaksikan betapa tosu yang bernama Tek Goan It itu terus saja tewas begitu menyentuh kitab.
Ia dapat menduga bahwa tentu sampul kitab itu diberi racun yang amat hebat.
Bagaimana ia dapat menyimpan kitab itu tanpa terkena racunnya?
Memang bisa mengambil dengan tangan ditilami kain, akan tetapi selanjutnya bagaimana ia dapat membaca kitab itu kalau ia takut terkena racunnya?
"Bagaimana nanti sajalah, sekarang paling perlu menyimpannya,"
Pikir Sin Hong.
ia lalu mengambil kain pembungkus obat-obatan itu dan menghampiri mayat Tek Goan It.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa tangannya panas seperti terbakar.
Ia telah memberi tilam kain itu pada tangannya namun begitu menyentuh kitab, ia merasa jari-jari tangannya seperti dibakar api yang luar biasa panasnya!
"Celaka, racun ini hebat sekali!"
Serunya sambil melepaskan lagi kitab itu yang jatuh di atas tanah.
Ketika ia melihat tangannya, ternyata kulit tangannya menjadi hangus.
Cepat Sin Hong mengeruhkan tenaga simkang di tubuhnya ke arah jari itu dan akhirnya ia berhasil mengusir hawa panas yang membakar tangannya.
"Lihai sekali..."...... katanya perlahan sambil menengok ke arah jenazah Kwa Siucai.
"Suhu, maafkan teecu. Terpaksa teecu tidak berani membawa kitab dan akan teecu tanam saja di sini agar jangan terjatuh ke dalam tangan orang lain. Hanya obat-obat ini saja yang akal teecu bawa, sungguhpun tanpa kitab itu teecu tidak tahu bagaimana harus mempergunakannya."
Sambil berkata demikian, Sin Hong lalu mengumpulkan bungkusan kecil dari obat-obatan itu untuk dimasukkan ke dalam kain pembungkus besar yang tadi dipakai untuk mengambil kitab.
Dalam pekerjaan ini ia melihat tulisan-tulisan di atas kertas pembungkus dari tiap bungkusan.
Ia segera meneliti tulisan dan alangkah girangnya ketika ia melihat tulisan pada sebuah bungkusan yang berbunyi .
PENAWAR RACUN SAMPUL KITAB.
Dengan gtrang ia membuka bungkusan ini yang terisi bubuk warna hijau.
Ia menjemputnya sedikit dan menggosok-gosokkan obat int pada tangannya yang terbakar.
Seketika itu juga hangus pada tangannya lenyap dan tangan itu terasa nyaman dan sejuk sekali.
"Terima kasih, Kwa Siucai. Kau benar benar seorang suhu yang baik!" (Lanjut ke
Jilid 10) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Sin Hong mempergunakan bubuk obat hijau itu untuk menggosok kedua tangannya dan kini tanpa ragu-ragu lagi ia mengambil kitab kecil yang terlempar di atas tanah.
Tak terjadi sesuatu pada kedua tangannya.
Sin Hong tidak mau bekerja kepalang tanggung, sebelum ia mempelajari tentang pengobatan dan penolak racun, untuk menjaga keselamatan, ia lalu mempergunakan obat hijau itu untuk dibalurkan kepada seluruh permukaan sampul buku sehingga kini ia akan selalu aman kalau menjamah kulit buku itu.
Setelah melakukan semua ini, ia menyimpan kitab dan obat-obatan di dalam saku bajunya, kemudian ia menggali untuk menanam jenazah Kwa Siucai.
Kebaikan dasar watak Sin Hong terbukti ketika tanpa ragu-ragu ia menggali lubang untuk mengubur jenazah Tek Goan It.
Akan tetapi baru saja ia menyelesaukan penggalian lubang untuk tokoh Im-yang-bu-pai ini, tiba tiba terdengar bentakan keras.
"Bocah lancang kau berbuat apa?"
Pada saat itu menyambar angin dari belakangnya.
Sin Hong cepat miringkan tubuh dan bersiap sedia untuk menjaga diri.
Akan tetapi orang yang baru datang itu tidak jadi menyerangnya ketika melihat bahwa ia hanya seorang bocah biasa saja.
Yang datang ternyata adalah kakek tanggi besar yang berwajah bengis.
Sin Hong tidak kenal siapa adanya orang ini, akan tetapi ia dapat menduga bahwa yang berhadapan dengan dia ini tentu bukan orang baik-baik.
Maka sambil tersenyum ia menjawab tenang.
"Orang tua, aku melihat dua orang ini saling bunuh di tempat ini, maka karena kasihan aku lalu mengubur jenazah mereka. Apakah ini salah dan lancang?""
Kakek tinggi besar yang kepala gundul dan berhidung panjang bengkok itu memandang dengan matanya yang tajam, kemudian membentak bengis.
"Jembel cilik, hayo katakan siapa namamu!"
"Namaku? Aku bernama Tan A Kai."
"Apa kerjamu di sini?"
"Suda kukatakan tadi, aku mengubur mayat ini, adapun pekerjaanku, karena kau bilang aku jembel tentu saja seorang jembel pekerjaannya mengemis."
"Kau hilang tadi! mereka itu saling bunuh? Betulkah? Awas, jangan kau membohong!"
"Bagaimana aku berani membohong? Aku melihat dengan kedua mata sendiri betapa kakek tua itu dipukul dadanya oleh tosu jahat ini."
"Kwa Siucai tak mungkin mampu membunuh Tek Goan It!"
Kata kakek gundul yang baru datang. Sin Hong memang cerdik, maka ia tidak menyebut nama dan pura-pura ttdak tahu siapa adanya dua orang yang saling membunuh. ia hanya berkata.
"Memang Kakek tua itu tidak balas membunuhnya, akan tetapi begitu pembunuh itu merampas kitab milik Si Tua, ia lalu jatuh dan mati scketika."
Kakek gundul nampak kaget sekali.
"Apa...? Di mana kitab itu? llayo katakan, di mana kitab itu sekarang?"
Sin Hong memang cerdik, akan tetapi di samping kccerdikannya, ia pun tabah dan jujur. Ia menjawab dan masih kelihatan tenang saja.
"Kitab itu oleh Kakek Tua telah diwariskan kepadaku."
Mendengar ini, tiba-tiba kakek gundul itu mengulurkan tangan hendak memegang pundak Sin Hong.
Akan tetapi sebelum sambaran tangannya mengenai sasaran, dengan enak Sin Hong sudah meloncat setombok ke belakang, gerakannya seperti kapas ringannya.
Kakek itu melongo, akan tetapi tadi ia memandang rendah kepada anak ini dan sama sekali tidak mengira bahwa anak itu mengerti ilmu silat, maka bentaknya.
"Kau sebenarnya siapakah?"
"Tan A Kai namaku, anak jembel....! "Setan, berani kau main-main terhadap See-thian Tok-ong? Kalau tidak melihat kau akan mengubur mayat Tek Goan It, sudah tadi-tadi kau kubikin mampus. Berikan kitab itu kepadaku? Kini Sin Hong benar-benar terkejut. inikah orangnya yang bernama See-thian Tok ong, yang amat terkenal dan juga yang sudah ia saksikan kekejian dan kejahatan bekas tangannya? Untuk memancing keluar kepandaian Kwa Siucai See-thian Tok-ong telah membasmi sebuah dusun dengan mempergunakan binatang berbisa yang amat keji. Akan tetapi Sin Hong memang tidak kenal takut. ia merasa dirinya tidak bersalah, maka perlu apa ia harus takut? "See-thian Tok-ong atau siapapun juga tidak boleh minta kitab yang sudah diwariskan oleh Kwa Siucai kepadaku. Dan aku tidak ada urusan apa-apa dengan See-thian Tok-ong."
Sehabis berkata demikian, Sin Hong lain melompat pergi.
"Bocah Setan. perlahan dulu!"
Tubuh See-thian Tok-ong bergerak cepat, melompat sambil menggerakkan tangan kanan memukul ke arah punggung Sin Hong.
Namun karena See thian Tok-ong masih belum mengenal siapa sebetulnya anak ini dan hanya mengira bahwa bocah ini tentu murid seorang pandai yang kalau dibandingkan dengan tingkatnya sendiri tentu amat jauh, ia tidak mempergunakan seluruh tenaga, bahkan pukulannya juga tidak amat bcrbahaya bagi Sin Hong.
Sin Hong mendengar sambaran angin pukulan yang tidak berapa hebat, cepat membalikkan tubuh dan mengangkat tangan kirinya menangkis, sambil mengerahkan tenaga lweekang dan berbareng kedua kakinya menotol tanah dengan gerakan Garuda Terbang ke Langit, semua gerakan yang disertai ginkang amat tinggi "Plak!"
Kedua lengan, yang satu besar yang satu kecil itu beradu amat kerasnya.
"Ayaaa..."
See-thian Tok-ong berseru saking terkejutnya.
Ia merasa betapa lengan bocah yang kecil itu empuk seperti kapas dan amat dingin seperti salju sehingga tenaganya sendiri lenyap disedot oleh hawa dingin yang keluar dari lengan kecil itu.
Ia menjadi terkejut dan amat terheran oleh karena maklum bahwa itulah penggunaan lweekang tingkat tinggi.
Orang yang dapat mempergunakan lmkang (tertaga Im) sampai mengeluarkan hawa dingin, atau mempergunakan Yang-kang sampai mengeluarkan hawa panas, bukanlah orang sembarangan, dan hanya dapat dilakukan oleh ahli silat kelas tinggi.
Bagaimana seorang bocah sekecil ini dapat menangkis serangannya dengan tenaga Im-kang dengan hebatnya?
Lebih-lebih ketika ia melihat betapa sambil menangkis tadi, tubuh bocah itu telah mencelat seperti kilat cepatnya, melompat dengan kedua tangan dikembangkan seperti sayap dan berapa kali kedua lengan bergerak sehingga tubuh yang kecil itu pun terapung sebelum kedua kaki menginjak tanah.
Benar-benar seperti seekor burung garuda yang sedang terbang dan menggerak-gerakkan sepasang sayapnya.
Hal ini tentu saja bukan hal yang amat aneh bagi seorang sakti seperti See-thian Tok-ong, Akan tetapi yang bikin ia bengong terlongong adalah karena bocah yang sekecil itu mana mungkin melakukan hal ini semua?
Sebaliknya, Sin Hong juga terkejut sekali ketika merasa lengan tangan kirinya yang bertemu dengan lengan See-thian Tok ong, terasa gatal, dan sakit.
Ketika ia melihat tangannya, ternyata kulit lengannya telah menjadi merah sekali, tanda bahwa pukulan lawan tadi mengandung hawa beracun yang amat berbahaya!
Ia diam-diam bergidik.
Ia maklum bahwa kakek gundul itu tadi memandang rendah kepadanya sehingga tidak mengerahkan seluruh tenaga serta tidak mempergunakan ilmu pukulan yang berbahaya.
Akan tetapi baru sedikit tenaga dan semacam ilmu pukulan biasa saja akibatnya telah membuat ia terluka oleh hawa beracun, apalagi kalau kakek itu menyerangnya sepenuh hati!
Maka ia tidak berani lagi mencoba untuk mengadu kepandaian, dan melarikan din secepat mungkin.
Girang hatinya karena ternyata bahwa dalam hal ginkang, ia masih mengatasi kepandaian kakek itu.
See-thian Tok ong mengejar terus akan tetapi makin lama makin tertinggal jauh.
Akan tetapi, sambil mengejar, See-thian Tok-ong berseru berkali-kali.
"Ji Nto..., Kok Sun...! Anak itu membawa kitab Kwa Siucai, tangkap...!"
Mendengar ini, Sin Hong maklum bahwa See-thian Tok-ong masih mempunyai kawan-kawan yang tentu berkepandaian amat tinggi pula, maka ia lalu mempercepat larinya sehingga tak lama kemudian ia telah jauh meninggalkan See-thian Tok-ong yang menjadi bingung karena kehilangan jejak bocah yang dikejarnya.
Akan tetapi, tiba-ttba Sin Hong mendengar bentakan keras dari belakang.
"Bocah nakal tinggalkan kitab dan kepalamu!"
Ia menoleh dan melihat seorang perempuan tua yang berwajah cantik mengejarnya dengan lari cepat seperti terbang, di tangannya memegang sebatang tongkat kecil!.
Sin Hong terkejut menyaksikan cara nenek itu berlari cepat.
ia telah mempelajari ilmu berlari cepat dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu, akan tetapi sebetulnya biarpun anak ini sudah menghafal seluruh isi kitab di luar kepala, namun dalam waktu empat tahun saja, bagaimana ia dapat melatih diri dengan sempurna?
Sebaliknya, Kwan Ji Nio adalah seorang tokoh kang-ouw yang memang amat terkenal akan kepandaiannya berlari cepat dan dalam hal ginkang suaminya sendiri pun tidak dapat menangkan dia.
Kini, biarpun ia amat terheran-heran menyaksikan bocah yang dapat berlari cepat, akhirnya ia setelah mengerahkan seluruh tenaga dapat juga menyusul Sin Hong.
"Jangan harap dapat melarikan diri!"
Kwan Ji Nio berseru keras dan rantingnya bergerak cepat, menotok ke arah pinggang Sin Hong.
Seperti juga kesalahan suaminya tadi, Kwan Ji Nio ternyata amat memandang ringan kepada bocah ini, yang dikiranya hanya pandai berlari cepat saja.
Oleh karena itu, totokan rantingnya juga tidak berbahava, hanya cukup untuk merobohkan bocah itu.
Sin Hong yang sudah tajam sekali pendengarannya, tahu bahwa totokan ranting itu tidak berbahava baginya, maka ia mengerahkan sinkangnya sambil berlari terus.
Ujung ranting mengenai jalan darah di pinggangnya, akan tetapi alangkah terkejutnya hati Kwan Nio ketika merasa betapa rantingnya itu melengkung dan terpental seakan-akan menotok baja!
Akan tetapi dengan pekik nyaring nyonya tua ini telah mencelat lagi dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Sin Hong, mencegat larinya.
Adapun Sin Hong pada saat itu sudah memegang sebatang ranting yang dipungutnya di bawah pohon ketika ia tadi melarikan diri lagi.
Kini menghadapi Kwan Ji Nio yang gerakannya luar biasa cepatnya itu, ia tidak membuang waktu lagi dan cepat ia menggerakan rantingnya dengan tipu terlihai dari Pak-kek-sin-kiam-sut!
Kwan Jii Nio memutar rantingnya, akan tetapi segera ia berseru kaget ketika tiba-tiba tangannya terasa lemas dan ranting yang dipegangnya terlepas dari tangan.
Ternyata bahwa dalam segebrakan itu Si Bocah yang aneh telah dapat menotok urat nadinya secara demikian ajaib.
Hal ini tentu saja amat mengejutkan hati Kwan Ji Nio sehingga ia berdiri bengong dan tidak mengejar lagi ketika melihat Sin Hong melarikan diri lebih cepat lagi.
Di sepanjang jalan, Sin Hong merasa menyesal dan kecewa bukan main.
"Mengapa aku berani-berani keluar dari gua sebelum kepandalanku sempurna? Hm, benar-benar seperti katak dalam sumur. Baru saja bertemu dengan dua orang, haI tenaga dan ilmu silat sudah terang aku bukan tandingan See-thian Tok-ong, sedangkan dalam ilmu ginkang aku tak mampu mengatasi nenek tadi!"
Ia berlari terus dan berjanji di dalam hatinya bahwa kalau sudah selesai tugasnya mencari ayah angkatnya.
ia akan kembali ke dalam gua di jurang Jeng-in-thia di puncak Luliang-san untuk menyempurnakan ilmu kepandaiannya.
Anak yang baru berusia kurang lebih tiga betas tahun ini tidak sadar bahwa di dalam tuhuh dan otaknya, ia telah memiliki dasar kepandaian yang jauh melebihi kepandaian See-thian Tok-ong maupun Kwan Ji Nio.
Ilanya tentu saja kurang matang melatihnya, apalagi ia berlatih ilmu tanpa ada yang memberi petunjuk, kecuali sebuah kitab peninggalan Pak Kek Siansu.
Setelah jauh meninggalkan Kwan Ji Nio dan See-thian Tok-ong yang mengejarnya, Sin Hong merasa lega.
ia berhenti di bawah pohon dan membuka-buka kitab peninggalan Kwa Siucai.
Dengan cepat matanya menelan huruf-huruf yang tertulis di dalam kitab, terutama sekali ia mencari cara-cara pengobatan untuk luka akibat pukulan beracun.
Alangkah girangnya bahwa di dalam kitab itu terdapat daftar yang menuturkan tentang ratusan macam luka akibat pukulan beracun.
Dengan mudah ia mendapatkan catatan tentang luka yang dideritanya ketika lengannya bertemu dengan lengan See-thian Tok ong tadi.
Kulit lengannya merah sekali dan berbintik-bintik terasa gatal dan perih.
Berkat petunjuk di dalam kitab, ia dapat mengambil obat penawarnya dari bungkusan-bungkusan obat dan benar saja, sekali dioleskan, obat itu telah mengusir rasa gatal dan warna merah.
Sin Hong lalu menjatuhkan diri berlutut menghadapi kitab dan bungkusan berisi obat itu.
"Suhu Kwa Siucai, teecu menghaturkan terima kasih atas warisan yang Suhu tinggalkan untuk teecu. Teecu bersumpah akan mempergunakan kepandaian dan obat-obat serta petunjuk kitab ini, bukan saja untuk menjaga diri, juga untuk .mengobati orang lain yang perlu dengan pertolongan teecu."
Baru saja Sin Hong menyimpan kitab serta bungkusan obat, hendak melanjutkan perjalanannya menuju Hoa san, tiba-tiba terdengar pekik nyaring dan dari atas menyambar turun seekor rajawali yang amat besar!
Sin Hong mengelak cepat dan debu mengebul tinggi ketika burung itu menghantam tanah dengan sayapnya.
Kembali burung itu menyerang Sin Hong dengan sepasang cakarnya yang berkuku tajam meruncing, dan dengan sepasang sayapnya yang lebar lagi kuat.
Juga paruhnya mengancam hebat.
"Kaukah ini, kim-tiauw yang baik...?"
Sin Hong berseru girang ketika mengenal burung rajawali yang dahulu telah menyelamatkan nyawanya ketika ia dilemparkan ke dalam jurang oleh Giok Seng Cu.
Akan tetapi burung itu tidak mengenalnya lagi, dan tentu saja kim-tiauw ini hanya tunduk akan perintah See-thian Tok-ong dan anak isterinya.
ia memang disuruh mencari Sin Hong, maka begitu bertemu ia menyerang dan hendak mencengkeram bocah itu.
Sin Hong mengelak ke sana ke mari.
Kalau ia mau, dengan pukulan ia akan dapat menghancurkan kepala burung atau memecahkan dadanya akan tetap ia tidak tega melakukan ini.
Ia telah di tolong oleh burung ini dan tentu saja masih ingat baik akan budi ini, bahkan ingin sekali membalas.
Ketika burung itu terus menerus menyerangnya, Sin Hong mendapatkan akal.
ia mengelak dan tiba-tiba dengan gerakan kilat, tubuhnya telah berada di atas rajawali, duduk di punggung di antara sayap-sayap!
Kim-tiauw kebingungan.
Tidak dapat menyerang bocah yang sudah duduk di atas punggungnya itu.
Akan tetapi ia tidak bodoh.
Cepat ia meniekik dan terbang tinggi, lalu bergulingan di udara"
Kalau saja Sin Hong bukan anak yang tabah, tentu ia akan jatuh terguling, atau akan takut setengah mati.
Akan tetapi Sin Hong cepat memegang leher kim-tiauw dan ketika tubuh itu bergulingan, ia tidak meramkan mata, bahkan tertawa-tawa.
Kim-tiauw menjadi kewalahan.
Akhirnya ia berlaku cerdik dan cepat terbang, hendak membawa bocah ini ke hadapan majikannya.
Sin Hong yang tahu ke mana arah terbang burung ini terkejut sekali.
Ia teringat bahwa burung yang dapat merampas pedang Pak-kek Sin-kiam ini, tentulah bukan sembarangan dan mungkin sekali peliharaan orang pandai.
Kini burung itu menyerangnya, bahkan membawanya kembali ke tempat See thian Tok-ong berada.
Tentu burung ini binatang peliharaan See-thian Tok-ong, pikirnya.
"Kim-tiauw, jangan terbang ke sana. Bawa aku ke Hoa-san!"
Serunya keras di dekat kepala burung itu.
Akan tetapi mana burung itu mau mendengar perintahnya?
Ia bahkan terbang makin cepat.
Terpaksa Sin Hong menepuk punggung binatang itu yang tiba-tiba kehilangan tenaga sepasang sayapnya sehingga ia meluncur jatuh ke bawah seperti sebuah batu.
Cepat Sin Hong membebaskan totokannya dan membentak lagi.
"Bawa aku ke Hoa-san!"
Begitu punggungnya ditepuk, kim-tiauw itu sembuh kembali dan mendapatkan kembali tenaganya yang hilang, maka cepat terbang menuju ke tempat See-thian Tok-ong sambil memekik ketakutan.
Akan tetapi Sin Hong tentu saja tidak mau membiarkan hal ini terjadi.
Berkali-kali, asalkan burung itu membawanya terbang ke tempat musuh, ia menepuk punggungnya, dan baru membebaskan setelah mereka meluncur ke bawah mendekati pohon-pohon.
Akhirnya kim-tiauw itu maklum bahwa bocah yang menunggangnya harus diturut perintahnya.
Binatang hanya mau mngerti dan tunduk kepada kekerasan.
Kali ini kim-tiauw tidak melanjutkan terbang membalik dan berputaran di udara.
Sin Hong masih ingat jurusan mana yang harus ia ambil, maka sambil menunjuk ke utara ia berkata.
"Hayo bawa aku terbang ke sana!"
Kim-tiauw itu tidak banyak rewel lagi dan segera terbang ke arah yang dikehendaki oleh Sin Hong.
Alangkah senangnya hati bocah itu.
Ia merangkul leher kim-tiauw, menepuk-nepuk dan mengelus-elus kepalanva sambil berkata.
"Kim-tiauw yang balk. Kita telah menjadi sahabat sekarang. Percayalah, aku takkan melupakan budimu dan kelak mudah mudahan aku akan dapat membalasmu."
Kim-tiauw tidak dapat menjawab, hanya mempercepat terbangnya karena takut kalau-kalau anak itu akan mencuri tenaga sepasang sayapnya lagi.
Kalau ada orang yang kebetulan melihat Sin Hong naik di atas punggung seekor burung rajawali yang demikian besarnya, tentu orang itu akan menyangka bahwa ia melihat dewa atau iblis.
Karena, siapakah pernah melihat atau mendengar, kecuali dalam dongeng, orang menunggang burung?
Akan tetapi burung kim-tiauw itu memang bukan sembarangan burung, melainkan binatang peliharaan See thian Tok-ong yang sudah jinak dan lagi memang ia seekor burung besar yang amat kuat.
Adapun penunggangnya, Wan Sin Hong, juga bukan sembarangan bocah, melainkan murid dari mendiang Pak Kek Siansu, bocah yang sudah mewarisi kitab peninggalan dari pertapa sakti itu.
Dengan amat tepatnya Sin Hong dapat mengarahkan terbangnya burung kim-tiauw menuju Hoa-san.
Lie Bu Tek telah semhuh dari luka-lukanya dan kini ia menjadi seorang yang buntung sebelah tangannya, yakni pada pangkal lengan kanan dekat pundak.
Dengan kekuatan batin yang luar biasa Lie Bu Tek berhasil juga menahan semua kesengsaraan.
ia harus hidup terus tidak untuk membalas semua perbuatan jahat dari orang-orang lm-yang bu-pai, akan tetapi terutama sekali untuk mencari Wan Sin Hong, anak angkatnya.
Seringkali ia turun gunung dan bertanya-tanya di dunia kangouw kalau-kalau ada orang yang mellhat anak itu, akan tetapi usahanya sia-sia belaka.
Tak seorang pun dapat memberi keterangan kepadanya di mana adanya anak itu.
Di dalam usahanya mencari Sin Hong, Lie Bu Tek mendengar pula banyak hal terjadi di dunia kang-ouw, di antaranya mendengar betapa Luliang Sam-lojin tewas ketika orang-orang kang-ouw menyerbu ke gunung itu untuk mencari pusaka peninggalan Pak Kek Siansu.
Ia hanya bisa menarik napas panjang dengan duka sekali, karena dengan kepandaiannya yang terbatas, apalagi setelah sebelah lengannya putus, ia bisa berbuat apakah?
Yang membikin ia merasa duka sekali adalah keadaan Sin Hong yang masih belum diketahuinya sama sekali.
Tak seorang pun tokoh kang-ouw pernah melihat anak itu, dan sudah lama ia mencari Kian Cun Eng ketua Hek-in-kaypang, namun sia-sia belaka.
Bahkan para anggauta Hek-kin-kaipang yang dijumpainya, mempunyai kedukaan yang sama yakni mereka kehilangan ketua itu yang tidak mereka ketahui ke mana lenyapnya!
Dalam pikiran Lie Bit Tek, tentu Kiang Cun Eng membawa Sin Hong ke tempat rahasia dan hal ini merupakan hiburan baginya.
Selama ia tidak mendengar bahwa anak itu telah binasa, masih mempunyai harapan untuk kelak berjumpa pula.
Ia percaya penuh akan kesetiaan Kiang Cun Eng yang agaknya merasa lebih aman untuk menyembunyikan sendiri anak itu dari ancaman malapetaka musuh-musuhnya.
Setelah bertahun-tahun mencari, Lie Bu Tek mendengar berita tentang dibasminya Im-yang-bu-pai oleh See-thian Tok ong, dan hal ini amat menggembirakan hatinya.
Apalagi ketika ia mendengar bahwa dua orang musuh besarnya, yakni Lai Tek dan Kwa Siang, tokoh ke dua dan ke tiga dari Im-yang-bu-pai yang telah menyerbu Hoa-san, tewas pula oleh See-thian Tok-ong, hatinya memuji keadilan Thian yang membasmi orang-orang jahat.
Tanpa turun tangan ada orang lain yang membalaskan sakit hati Hoa-san-pai.
Ia merasa puas, lalu ia kembali ke Hoa san-pai di mana Lie Bu Tek mengasingkan diri dari dunia ramai, bertapa untuk memperdalam ilmu batinnya.
Lie Bu Tek adalah seorang ahli pedang tunggal dari ilmu pedang Hoa-san-pai.
Sekarang setelah tangan kanannya tidak ada lagi dan ia sudah malas berlatih, tentu saja ilmu silatnya banyak mundur.
Akan tetapi sebaliknya, oleh karena tekun bersamadhi dan memperkuat tenaga batin, lweekangnya otomatis maju dengan pesat.
Lima tahun lewat dengan cepat.
Lie Bu Tek tak pernah meninggalkan tempat pertapaannya di puncak Hoa-san lagi, sungguhpun ia masih belum melupakan Sin Hong dan selalu kalau ia tidak bersamadhi, pikirannya penuh dengan bocah yang dikasihinya itu.
Pada suatu hari, selagi ia duduk di depan tempat pertapaannya sambil merenungkan nasib dan pengalaman yang lalu, tiba-tiba dari udara terdengar pekik keras.
Lie Bu Tek memandang ke atas dan amat heranlah ketika melihat titik hitam jauh di angkasa yang bergerak-gerak dan kemudian meluncur turun.
Kini baru ia melihat bahwa titik itu adalah seekor burung rajawali yang besar dan indah.
Makin besar keheranannya ketika burung itu sudah terbang dekat, ia melihat bahwa di punggung burung raksasa itu duduk seorang pemuda cilik.
"Gihu...!"
Sebelum burung itu hinggap di atas tanah, Sin Hong sudah mendahuluinya melompat turun dan langsung berlutut di depan Lie Bu Tek yang duduk di atas batu.
Burung itu setelah bebas dari penunggangnya, memekik keras dan terbang tinggi, kemudian menghilang di balik puncak.
Lie Bu Tek duduk bengong, hampir tak dapat percaya kepada mata sendiri.
Bahkan beberapa kali ia menggosok kedua matanya merasa seperti dalam mimpi.
"Sin Hong...?"
Suaranya setengah berbisik.
"Gi-hu, ampunkan anak yang tidak berbakti, baru sekarang dapat menghadap Gi-hu, membiarkan Gi-hu hidup dalam kesengsaraan,"
Kata Sin Hong yang tak dapat menahan keharuan hatinya sehingga air matanya bercucuran.
"Hong ji, anakku...!"
Lie Bu Tek menubruk dan di lain saat mereka berpelukan, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Lie Bu Tek dapat menekan perasaannya lebih cepat, dan tiba-tiba ia tertawa di antara air matanya.
"Sin Hong"
Ha-ha-ha, mengapa kita bertangisan? Ahh... lima tahun lebih ku menanti dan kini kau tiba-tiba jatuh dari udara! Kau benar-benar mengejutkan hatiku, anakku. Biarkan aku melihatmu baik-baik!"
Ia berdiri dan memegang dua pundak Sin Hong, menjauhkan tubuh anak itu agar la dapat memandang wajahnya.
Keduanya berpandangan, wajah mereka penuh keharuan akan tetapi dua pasang mata berseri penuh kebahagiaan.
"Sin Hong, lima tahun... aku hampir putus asa... dan sekarang, kau sudah begini besar...!"
Kembali pendekar Hoa-san pai ini mendekap dan memeluk anak angkatnya.
"Gi-hu, apakah kau sehat-sehat dan balk-baik saja"
Sin Hong bertanya sambil memandang ayah angkatnya dengan penuh keharuan, apalagi ketika tak disengaja ia memandang ke arah lengan kanan yang sudah buntung sehingga lengan baju yang kanan tergantung kosong di samping pinggang.
Bu Tek tersenyum.
"Baik-baik dan sehat anakku. Eh, ke mana perginya burung rajawali tadi?"
"Burung itu bukan punyaku, Gi-hu. Dapat kupinjam dari See thian Tok-ong."
Lie Bu Tek terkejut.
"Apa? Kau bersahabat dengan siluman tua dari barat itu?"
Sin Hong tersenyum.
"Jangan khawalir, Ayah. Aku dapat mcmilih siapa yang patut dijadikan sahabat dan siapa pula yang tidak. Aku meminjamnya tanpa ia ketahui."
"Mari kita masuk ke dalam, Nak. Aku ingin sekali mendengar semua pengalamanmu."
Mereka berdua sambil bergandengan tangan lalu masuk kembali ke dalam pondok kecil di puncak Hoa-san itu.
Sin Hong lalu menuturkan semua pengalamannya dengan sejelasnya.
Bukan main girangnya hati Lie Bu Tek mendengar betapa anak angkatnya telah menjadi ahli waris dari Pak Kek Siansu.
Ketika ia mendengar tentang Kwi Siucai yang terbunuh oleh Im-yang-bu-pai yang bernama Tek Goan It, ia mengerutkan kening.
"Sudah kudengar bahwa lm-yang-bu pai dibasmi oleh See-thian Tok-ong, akan tetapi sekarang seorang tokoh Im-yang-bu-pai bekerja sama dengan siluman dari barat itu, benar-benar aneh. Apakah bisa jadi See thian Tok-ong mempergunakan orang-orang bekas anggauta Im-yang-bu-pai? Sin Hong, biarpun kau sudah mempelajari ilmu yang tinggi, namun kita terkurung oleh orang orang jahat yang berilmu tinggi dan keselamatanmu masih terancam. Apalagi kalau Ba Mau Hoat tahu bahwa kau adalah keturunan dari Wan-yen Kan tentu kau akan dibunuhnya. Oleh karena itu mari kita pergi mencari Hwa I Enghiong Go Ciang Le, hanya dia lah kiranya yang akan dapat melindugimu. Apalagi, dia juga murid Pak Kek Siansu, jadi masih terhitung Suhengmu. Dia pasti akan suka memberi bimbingan padamu kalau kau ceritakan bahwa kau yang mendapatkan kitab peninggalan Pak Kek Siansu."
Akan tetapi Sin Hong menggelengkan kepalanya.
"Tidak Gi-hu. Sudah terang bahwa sehingga kini Hwa I Enghiong yang tersohor sebagai pendekar gagah budiman, tidak muncul, biarpun dunia sudah kotor oleh orang-orang jahat. Untuk apa kita mencari-cari dia. Aku bahkan ingin memperdalam kepandaianku di tempat persembunyianku itu, karena aku sudah merasa bahwa kepandaian See-thian Tok-ong dan yang lain-lain amat tinggi. Marilah kau ikut dengan aku, Gi-hu."
Lie Bu Tek tentu saja tidak mau berpisah lagi dari putera angkatnya setelah kini bertemu, maka ia tidak membantah ketika Sin Hong mengajaknya pergi ke Luliang-san.
Tadinya Lie Bu Tek masih ragu-ragu untuk percaya bahwa anak angkatnya ini, memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi setelah Sin Hong membawanya lari cepat, terutama sekali ketika mereka harus melompati jurang "jurang lebar, bukan main kagumnya hati pendekar Hoa-san-pai ini.
Tidak saja kepandaian anak itu jauh melebihi dirinya sendiri bahkan Sin Hong tanpa ragu-ragu memegang tangannya dan menariknya melompat, jurang yang terlalu lebar dan berbahaya bagi Lie Bu Tek.
"Hebat sekali, anakku. Memang Suhu Liang Gi Tojin sendiri agaknya takkan mampu melompat sambil menarik aku seperti yang kaulakukan ini."
Sin Hong tersenyum bangga dan girang mendengar pujian ayah angkatnya.
"Gihu, aku telah menerima budi mendiang Pak Kek Siansu. Kepandaian Suhu Pak Kek Siansu tak terbatas, dan kitab peninggalannya itu mengandung sari pelajaran yang takkan ada habisnya biarpun kumelatih diri sampai puluhan tahun. Oleh karena itu, biarlah kita berdua bersembunyi di sana dan selain aku memperdalam ilmu silatku, Gi-hu bisa mempelajari ilmu silat yang sesuai de ngan Gi-hu."
Lie Bu l ek menarik napas panjang mukanya memperlihatkan sinar kecewa.
"Tak mungkin, Hong-ji. Ilmu silat mengandalkan kecepatan gerak kaki tangan, terutama sekali gerakan kedua tangan untuk mengimbangi gerakan tubuh. Dengan tanganku tinggal sebelah, biarpun andaikata aku mempelajari ilmu silat amat tinggi, kiranya takkan dapat mainkan ilmu silat itu dengan sempurna."
"Gi-hu terlalu memandang rendah kepada diri sendiri. Mengapa Gi-hu harus berputus asa? Ilmu yang ditinggalkan Suhu Pak Kek Siansu, jangankan dipelajari oleh seorang seperti Gi-hu yang biarpun sudah kehilangan sebelah lengan, akan tetapi memiliki bakat dan kepandaian silat, bahkan andaikata dipelajari oleh seorang yang sudah buntung dua lengannya dan tidak sepandai Gi-hu, orang itu tentu akan memetik sari pelajaran yang amat berguna bagi dirinya."
Lie Bu Tek tertegun.
la mcndapat kenyataan bahwa biarpun anak angkatnya ini masih belum dewasa, namun cara bicaranya demikian keras, bersemangat, dan juga berisi.
Ia dapat menduga bahwa ini semua dilahirkan oleh pengalaman pengalaman dan derita-derita pahit getir yang dialami oleh anak itu.
"Baiklah, Hong-ji,"
Katanya dan memaksa supaya suara dan mukanya mengandung kegembiraan.
"Aku akan belajar lagi dan kaulah sekarang yang harus memberi pimpinan kepadaku dalam ilmu silat""
Padahal kata-kata ini bagi Lie Bu Tek hanya untuk menghibur dan menyenangkan hati Sin Hong belaka, karena ia masih tidak percaya kalau ia akan dapat mewarisi ilmu silat tinggi setelah tangan kanannya buntung.
Setelah tiba di puncak Luliang-san Sin Hong mengajak Lie Bu Tek menuju ke Jeng-in-thia (Ruang Awan Hijau), dan jago Hoa-san-pai ini mengagumi keindahan tempat itu.
"Benar-benar patut menjadi tempat kediaman seorang sakti dan suci seperti Pak Kek Siansu,"
Ia memuji berkali-kali.
"Sin Hong, di manakah tempat rahasia yang menjadi tempat tinggalmu selama lima tahun itu?"
"Di sana, Gi-hu. Di dasar sana itu."
Sin Hong menunjuk ke jurang yang tidak kelihatan dasarnya. Lie Bu Tek terkejut.
"Jadi kau telah dilempar oleh Giok Seng Cu ke dalam jurang ini?"
Ia memandang ke dalam jurang dan bergidik.
"sekarang... bagaimana kita bisa masuk ke sana? Kau sendiri bilang bahwa jalan menuju ke sana sudah tertutup ketika kau keluar dari gua."
"Memang tadinya aku berpikir demikian, Gi-hu. Akan tetapi aku telah mempelajari keadaan di dasar jurang dan kurasa dengan menggunakan akal, aku dapat turun ke dasar jurang ini."
"Apa katamu? Turun dari sini? Kau bilang dasar jurang ini dari sini jauhnya tak dapat diukur!"
"Memang betul demikian, Gi-hu. Ketika kim-tiauw terbang membawaku ke dalam jurang, mengingat waktunya yang lama sebelum ia tiba di dasar, kiranya dalamnya jurang ini tidak kurang dari pada setengah li! Akan tetapi, aku mempunyai akal untuk turun ke bawah, mempergunakan sebatang tambang yang kuat dan dibantu dengan sebatang pedang yang tajam."
"Tentang pedang, kiraku pedang ini cukup tajam, kalau dugaanku cocok bahwa pedang itu hendak kaupergunakan untuk membacok batu karang atau pohon di lereng jurang. Akan tetapi tentang tambang di manakah kita bisa mendapatkan tambang yang panjangnya sampai tengah lie"
Tanya Lie Bu Tek sambil lebarkan matanya, karena ia menganggap akal dari anak angkatnya itu tak masuk akal dan tak mungkin dilaksanakan lagi pula amat berbahaya.
"Di sini terdapat akar pohon yang amat kuat, Gi-hu. Memang panjangnya tidak mungkin ada yang sampai setengah lie, akan tetapi kiranya ada yang panjangnya sampai lima tombak. Dengan akar itu pun sudah cukup bagiku. Harap Gi-hu jangan khawatir, aku sudah perhitungkan masak-masak bahwa aku pasti akan dapat mencapai dasar jurang dengan aman dan selamat. Kemudian aku akan membuka gua itu dari terowongan agr Gi-hu dapat masuk. Baiklah sekarang Gi-hu melihat gua rahasia tempat bertapa mendiang Suhu Pak Kek Siansu dan menunggu aku di sana."
Dengan perasaan tidak nyaman, Lie Bu Tek mengikuti Sin Hong ke gua yang menjadi pintu masuk ke tempat persembunyian dan yang kini tertutup oleh tempat tidur baja yang tak mungkin digeraki dan dipindah karena menjadi satu dengan palang baja penutup pintu gua itu.
"Harap Gi-hu menanti di sini, dengan sabar dan tenang, tak lama tentu aku akan datang membukakan pintu rahasia untuk Gi-hu,"
Kata Sin Hong. Akan tetapi ketika ia hendak meninggalkan ayah angkatnya, Lie Bu Tek berkata.
"Sin Hong, biarpun aku percaya penuh akan kecerdikan dan kemampuanmu, namun usaha menuruni jurang yang hendak kaulakukan itu amat berbahaya. Bagaimana kalau... sampai terjadi sesuatu yang mengerikan? Apakah tidak lebih baik kita tanggal di puncak yang indah ini saja dan kau pun dapat menyempurnakan pelajaranmu di sini? Bukankah seluruh isi kitab itu telah kauhafal semua?"
"Maksud Gi-hu ini memang baik. Akan tetapi kurang tepat. Gi-hu sendiri maklum bahwa orang-orang jahat seperti See thian Tok-ong itu amat berbahaya. Kita tidak tahu apakah mereka takkan menyusul ke tempat ini, dan kalau sampai mereka mendapatkan kita di sini sebelum kita membuat persiapan dan kepandaian kita belum maju, apakah hal itu takkan lebih berbahaya lagi? Tidak, Gi-hu harap tenang. Lebih baik kita menyembunyikan diri di dasar jurang. Di sana aman, buktinya aku berada di sana sampai lima tahun tanpa ada gangguan dari siapapun juga."
"Akan tetapi kalau gagal... kalau tambang itu putus...."
Sin Hong tersenyum. Sepasang matanya yang tajam itu bersinar-sinar penuh semangat.
"Jangan khawatir, Gi-hu. Aku akan menjaga diri baik-baik dan bukankah ujar-ujar kuno menyatakan bahwa, siapa yang bercita-cita dan berkemauan baik, selalu akan mendapat perlindungan dari pada Thian Yang Maha Kuasa?"
Akhirnya Lie Bu Tek tak dapat membantah lagi dan ia hanya menarik napas panjang dan diam-diam berdoa untuk keselamatan anak angkatnya itu ketika dengan gerakan lincah sekali Sin Hong berkelebat pergi dari situ.
Sin Hong membawa pergi pedang Lie Bu Tek, sebuah pedang yang cukup baik dan tajam.
Ia mencari sebatang akar pohon yang kuat dan ulet, memilih yang paling panjang.
Betapapun panjangnya sebatang akar, tidak lebih dari empat tombak.
Dengan hati tabah ia lalu menghampiri jurang, mencari batu karang yang kuat lalu membuat pengait.
Ujung akar itu ia talikan sedemikian rupa sehingga merupakan lingkaran yang dapat dikaitkan pada batu karang.
Kemudian ia merayap turun melalui tambang akar itu.
Setelah tiba di ujung akar yang tergantung di udara, ia lalu mempergunakan kakinya menginjak batu karang di lereng jurang, dengan pedangnya ia membuat tempat untuk mengaitkan tambang.
Pedang yang tajam itu baik sekali untuk membacok batu karang sehingga terdapat tempat untuk mengaitkan akar yang cukup kuat.
Setelah kepastian bahwa tempat itu kuat, ia lalu menancapkan pedang pada lereng jurang, bergantung dengan tangan kiri pada gagang pedang kedua kaki menekan batu karang di lereng jurang dan tangan kanan digerakkan sedemikian rupa pada akar yang masih bergantung sehingga ujung akar atas yang tadi dikaitkan pada batu karang terlepas ke bawah.
Dengan amat cekatan, Sin Hong kembali memasang ujung tambang itu pada batu karang ke dua dan meluncurlah ke bawah seperti tadi.
Usaha ini ia lakukan berulang kali, lebih dari lima belas kali sebelum ia berhasil menginjakkan kaki di dasar jurang.
Pekerjaan sehebat itu memang amat berbahaya.
Sekali saja tambang putus atau kakinya tergelinci pasti tubuhnya akan hancur di bawah jurang.
Untuk dapat melakukan hal seperti itu, tidak hanya membutuhkan kecerdikan, keuletan dan kepandaian tinggi, akan tetapi juga membutuhkan ketabahan yang luar biasa.
Agaknya sukar mencari orang ke dua, apa lagi yang masih belum dewasa seperti Sin Hong yang berani melakukan pekerjaan seperti itu.
Lie Bu Tek merasa tidak enak sekali menanti di gua itu.
Tubuhnya sebentar panas sebentar dingin kalau ia membayangkan bahaya yang dapat mengancam diri anak angkatnya selagi menuruni jurang yang demikian curamnya.
Hatinya angin sekali membawa dia keluar dari gua, berlari ke tepi jurang untuk melihat keadaan Sin Hong, akan tetapi ia menguatkan hatinya dan tetap menanti di situ sambil berdoa kepada Thian agar supaya anak angkatnya itu selamat.
Tentu saja ia harus menunggu lama.
Tidak saja pekerjaan menuruni jurang dengan cara seperti yang dilakukan oleh Sin Hong itu memakan waktu lama juga setelah anak itu berhasil mendarat di dasar jurang, ia harus mempergunakan waktu yang cukup lama untuk berjalan memasuki terowongan sehingga tiba di gua di mana Lie Bu Tek menantinya dengan hati tidak karuan rasanya.
Akhirnya Lie Bu Tek mendengar sesuatu di balik tempat tidur bekas tempat Pak Kek Siansu.
Batu karang yang menjadi dinding di belakang tempat tidur bergerak dan terbuka dan...
muncullah Sin Hong dengan wajah berseri.
"Hong-ji...!"
Lie Bu Tek melompat dan memeluknya dengan kedua mata basah dan muka pucat.
"Gi-hu, kau amat khawatir dan cemaskah? Lihat, anakmu Sin Hong tidak kurang sesuatu!"
Kata anak itu dengan jenaka, padahal kedua telapak tangannya masih ada tanda darah karena betapa pun kuatnya, kulit telapak tangannya lecet-lecet ketika ia menuruni tambang dari tempat setinggi itu.
Cepat mereka masuk ke dalam pintu rahasia dan Sin Hong lalu menutup kembali pintu rahasia gua itu dari sebelah dalam.
Lenyaplah mereka dari pandangan mata, bahkan lenyap dari dunia ramai, berada di tempat yang tak mungkin didatangi oleh manusia lain.` Sebagaimana telah dituturkan di dalam cerita Pendekar Budiman, pemerintah penjajah Kin makin lama menjadi makin lemah karena gempuran-gempuran perjuangan rakyat jelata yang patriotik yang dipimpin oleh orang-orang gagah di seluruhnya propinsi yang terjajah.
Serangan dari barisan-barisan rakyat yang memberontak di mana mana membuat pemerintah Kin menjadi lemah sekali sehingga terpaksa Raja Kin menarik kembali bala tentaranya dari selatan, timur dan barat, lalu mengumpulkan kekuatan induk pasukan untuk menjaga keselamatan istana dan daerahnya yang terdekat.
Hanya di daerah utara saja mereka aman.
Akan tetapi, pemerintah Kin yang sudah berada di jurang keruntuhan itu tidak tahu atau tidak mengira sama sekali bahwa justru dari daerah utara inilah datangnya malapetaka yang akan menamatkan sejarah kejayaan mereka.
Bagaikan awan-awan hitam yang kecil-kecil bertemu dan berkelompok lalu berkumpul menjadi satu gumpalan awan besar menghitam, kekuatan baru ini mengancam angkasa di sebelah utara.
Kekuasaan baru ini bukan lain adalah orang-orang Mongol yang tadinya tidak dipandang mata oleh pemerintah Kin.
Bangsa Mongol adalah suku bangsa pengembara dan pemburu yang gagah berani.
Mereka hidup berkelompok, tidak mempunyai tempat tanggal tertentu, melainkan menjelajah di sepanjang tapal batas Mongol.
Mereka hidup bebas menguasai daerah yang amat luas, daerah yang dijadikan tempat mereka mendapatkan makanan, daerah di mana mereka hidup berkeluarga berpindah-pindah, sesuka hati mereka, menurut keadaan.
Apabila di suatu tempat mereka mendapatkan penghasilan cukup, pindahlah mereka di daerah lain dalam wilayah itu juga untuk mencari hasil yang lebih mencukupi untuk keluarga mereka.
Wilayah mereka ini, dari Pegunungan Altai-san di barat sampai ke pegunungan yang subur dan yang cocok untuk pekerjaan mereka.
Suku bangsa Mongol ini, sebagaimana telah dituturkan di atas, adalah pemburu-pemburu yang gagah berani.
Di samping memburu binatang hutan, mereka melihara hewan ternak, terutama lembu, domba dan kuda.
Oleh pekerjaan inilah mereka rata-rata merupakan penunggang kuda yang pandai.
Keadaan hidup mereka yang boleh di bilang sukar kalau dibandingkan dengan orang-orang di pedalaman Tiongkok sebelah selatan, penghidupan yang penuh kekerasan dan penderitaan itulah agaknya yang menjadikan mereka sebagai bangsa yang keras hati, bersatu dan kuat.
Kekuatan mereka semata-mata hanyalah hewan ternak dan kuda.
Makanan mereka yang terutama adalah daging sapi atau domba dan susu merupakan kegemaran mereka pula, terutama sekali susu domba.
Betapapun kasar dan keras hati, suku bangsa Mongol ini harus diakui mempunyai semangat persatuan yang kokoh kuat, berdisiplin dan jujur.
Semboyan mereka "bersatu kita kokoh, bercerai kita roboh".
Hal ini memang bukan hanya semboyan kosong belaka, namun sudah sering kali terjadi sebagai kenyataan.
Daerah itu merupakan daerah pegunungan yang amat sukar, dan agaknya orang akan sukar hidup menyendiri saja, selain sukar mendapatkan makan, juga sukar karena bahaya mengintai dari mana-mana, bahaya diterkam binatang buas, diterkam kelaparan dan kehausan.
Tadinya suku bangsa Mongol memang tidak begitu kuat, bahkan bisa disebut lemah.
Bukan lemah saja, melainkan suku bangsa Mongol pernah tunduk kepada suku bangsa lain yang lebih besar dan kuat seperti suku bangsa Kerait dan Naimad.
Akan tetapi, semenjak akhir abad ke sebelas terjadi perubahan hebat pada suku bangsa Mongol yang tadinya hidup berkelompok-kelompok dan berpencar itu.
tiba tiba saja mereka menjadi amat kuat bahkan suku-suku bangsa lain satu demi satu digempur dan ditundukkan dan ditarik menjadi anggauta sehingga suku-suku bangsa itu bersatu dan menjadi satu bangsa!
Mengapa demikian?
Tak lain oleh karena di dalam keluarga suku bangsa Mongol ini lahir seorang Mongol yang berjiwa besar seorang yang oleh mereka dianggap mendapat wahyu dari sekalian Dewa.
Orang inilah yang dalam usia kurang lebih lima belas tahun, sudah dapat merampas kekuasaan dan menjadi pimpinan suku bangsa Mongol dan membawa bangsanya itu ke arah kemajuan dan kekuatan yang maha hebat.
Siapakah dia?
Bukan lain adalah Temu Cin, pemuda perkasa yang bercita-cita tinggi.
Temu Cin inilah pemuda yang kelak akan menggemparkan dunia Tiongkok dan namanya takkan pernah terhapus dari catatan sejarah, karena dialah kelak terkenal sebagai Khan atau raja besar, raja pertama dari sekalian suku bangsa di wilayah Mongol!
Pada suatu hari, ketika matahan baru saja muncul dan memancarkan cahayanya yang kemerahan di permukaan Padang Pasir Gobi, kelihatan serombongan manusia berjalan, didahului oleh bayangan mereka.
Dari letak bayangan yang berada di depan mereka, dapat diketahui bahwa rombongan ini sedang menuju ke barat.
Mereka itu terdiri dan seratus orang lebih, semua laki-laki dan masih muda-muda.
Melihat dan cara mereka berjalan, dapat diduga bahwa mereka adalah sebarisan orang muda yang terlatih baik.
Biarpun pakaian mereka tidak seragam namun jelas tampak dan mudah diduga bahwa mereka adalah sepasukan tentara atau orang-orang yang sedang dalam perjuangan.
Memang benar demikian.
Mereka itu adalah rombongan orang Mongol dan ialah pasukan pilihan yang dipimpin sendiri oleh Temu Cin, seorang pemuda yang berusia paling banyak dua puluh tahun.
Temu Cin kelihatan gagah sekali dengan tubuhnya yang kekar kuat, wajahnya yang segi cmpat dengan dagu jelas memperlihatkan kekerasan hatinya.
Dadanya membusung, pundaknya bidang dan langkahnya seperti seekor harimau.
Sepasang matanya sipit dan kecil, namun selalu seperti ada dua titik api bernyala dalam sepasang mata itu.
Telinganya lebar dan panjang dan biarpun wajahnya tak dapat disebut tampan, namun ia benar-benar kelihatan gagah.
Rombongan itu nampak lelah.
Biarpun pagi hari itu matahari belum naik tinggi, namun hawa panas dart lautan pasir itu membakar dan membuat napas menjadi sesak.
Telah semalam penuh mereka berjalan, didahului oleh Temu Cin yang berjalan terus tanpa berhenti, juga tak pernah mengeluarkan kata-kata.
Seorang Mongol yang tinggi besar akan tetapi kurus, dengan jenggot pendek, mendahului kawan-kawannya menyusul Temu Cin.
"Kawan-kawan sudah kelihatan lelah sekali. Apakah tidak baik kalau kita beristirahat sebentar?"
Ia melapor sambil mengusulkan kepada pimpinan muda itu. Tanpa menghentikan langkahnya, Temu Cin menjawab, matanya mengerling tajam penuh celaan kepada kawan yang melapor ini.
"Obika, kita takkan mengaso sebelum sampai di Telaga Gasyun Nor, di mana kawan-kawan kita menanti dengan kuda-kuda yang sudah dipersiapkan. Kalau kita berjalan cepat, menjelang tengah hari kita akan sampai di sana."
"Akan tetapi lihatlah, kawan-kawan kita sudah lelah". Boleh jadi kita berdua kuat, akan tetapi mereka tidak sekuat kita. Apakah kau tidak kasihan?"
Kata-kata ini diucapkan keras oleh Obika sehingga terdengar oleh semua anak pasukan yang segera mengeluarkan suara menggumam, tanda setuju dengan usul Obika.
Temu Cin ketika mendengar betapa suara derap kaki pasukannya menjadi kacau dan mehhat mereka ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya.
Ia melihat beberapa orang sudah amat payah dan kelelahan, akan tetapi masih saja terus berjalan.
Tiba-tiba tangan kanan Temu Cin bergerak dan tahu-tahu telah mencabut sebatang golok yang bersinar merah.
Semua orang terkejut, terutama sekali Obika, akan tetapi sebelum ada yang sempat menduga-duga, golok itu bergerak dan leher Obika telah putus kena sambaran golok.
tubuhnya terhuyung dan sebuah tendangan dari Temu Cin membuat tubuh itu terlempar.
Darah mengalir keluar, diisap oleh pasir yang kehausan.
"Dia ini pengecut dan pengacau. Kata-katanya beracun, melemahkan semangat kawan-kawan, tak patut pengecut ini berada di barisan kita! Kita terkalahkan oleh musuh yang ribuan jumlahnya, yang sampai sekarang masih mengejar kita. Kalau kita beristirahat berarti kita akan mampus semua di tangan musuh. Kita berjalan cepat selama setengah hari lagi dan kalau kita sudah tiba di Telaga Gasyun Nor, tidak saja kita akan selamat, bahkan kita akan dapat menggempur dan menghancurkan musuh yang telah menghina kita. Siapa sekarang mau bicara tentang mengaso? Siapa.??"
Semua orang diam, tak berani bergerak. Mereka semua tahu bahwa tak seorang pun yang mampu melawan Temu Cin, baik dalam ilmu berkelahi, dalam ilmu berperang, maupun dalam perdebatan.
"Yang masih kuat bantu kawan yang lemah, kalau perlu yang sudah tidak kuat boleh digendong, dipanggul, atau di seret. Betapapun juga, kita harus cepat-cepat tiba di Gasyun Nor!"
Kembali rombongan itu maju, bahkan lebih cepat dari tadi.
Kata-kata pemimpin muda itu membangkitkan semangat anak buah dan jenazah Obika ditinggalkan di situ, terlentang dengan leher putus, membuat tempat yang sesunyi itu nampak makin sepi.
Ketika rombongan ini tiba di dekat Telaga Gasyun Nor, dari jauh Temu Cin sudah melihat bahwa di situ terjadi suatu.
Ia melihat orang-orangnya bertempur, mengeroyok beberapa orang yang bermain pedang secara luar biasa hebatnya.
Banyak sudah kawan-kawannya yang mengeroyok menggeletak mandi darah.
Temu Cin yang biarpun sudah melakukan perjalanan semalam suntuk dan setengah hari, masih dapat berlari cepat menghampiri tempat pertempuran di dekat telaga itu.
Dan ia melihat pertempuran yang amat menarik hatinya.
Sepasang orang muda bangsa Han sedang dikeroyot oleh puluhan orang anak buahnya, akan tetapt anak buahnya itu dapat diumpamakan sebagai nyamuk-nyamuk menyerang dua nyala api lilin.
Pemuda dan gadis bangsa Han itu bukan main hebatnya, di mana juga pedang mereka berkelebat, tentu seorang pengeroyok roboh.
"Tahan semua senjata...!"
Suara Temu Cin memang amat berpengaruh dan seketika itu juga, semua pengeroyok mengundurkan diri.
Siapakah adanya pemuda dan gadis yang demikian luar biasa ilmu silatnya hingga anak buah Temu Cin yang terkenal gagah perkasa itu seakan-akan nyamuk menghadapi api bagi mereka?
Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya jangkung kurus wajahnya tampan akan tetapi kepucatan, sepasang matanya bersinar-sinar dan selalu bergerak-gerak bola matanya, menandakan bahwa ia amat cerdiknya, pakaiannya mewah dan menambah anggun sikapnya yang memang gagah.
Adapun gadis itu paling banyak berusia tujuh belas tahun, lincah dan manis, pada wajah yang jelita itu terbayang kejenakaan dan kegembiraan hidup, sepasang matanya bersinar terang membayangkan hati yang jujur dan terbuka, mulutnya mungil kemerahan selalu tersenyum akan tetapi kadang-kadang tertarik garis yang membayangkan kekerasan hati luar biasa.
Kadang-kadang sikap gadis cilik ini agak kasar dan tidak pedulian, bahkan masih kekanak-kanakan, namun semua ini tidak mengurangi kelucuannya dan membikin orang menaruh rasa sayang.
Pemuda ini bukan lain Liok Kong Ji, sedangkan gadis itu adalah Go Hui Lian.
Bagaimanakah dua orang muda ini bisa tiba-tiba berada di dekat Telaga Gasyu Nor, di tempat yang demikian jauhnya, jauh di utara di perbatasan Negara Mongol?
untuk mengetahui semua ini baiklah kita mundur dulu dan mengikuti perjalanan Liok Kong Ji, anak yang amat cerdik itu.
Telah dituturkan di bagian depan betapa dengan akal dan kecerdikannya Kong Ji dapat menarik hati Pendekar Besar Go Ciang Le dan isterinya sehingga dia kemudian dibawa oleh Ciang Le untuk dididik sebagai muridnya!
Dengan hati girang sekali Kong Ji ikut dengan Ciang Le dan isterinya, juga bersama Hui Lian, menuju ke tempat tinggal pendekar besar itu.
Ciang Le tinggal bersama isteri dan puteri tunggalnya di atas sebuah pulau kecil di selatan.
Pulau ini disebut Pulau Kim-bun atau Pulau Pintu Emas karena pulau ini memang seakan-akan merupakan pintu dari daratan Tiongkok sebelah selatan.
Disebut pintu emas karena para saudagar yang datang berlayar membawa barang-barang dagangan yang amat berharga yang membuat perdagangan di situ ramai sekali sehingga pintu berupa pulau ini amat penting kedudukannya, amat berharga seperti emas.
Di atas pulau ini tinggal seratus lebih keluarga dan merupakan tempat yang ramai.
Rumah pendekar ini berada di sebelah utara dari pulau itu, dengan pekarangan yang amat luas karena Cilang Le sengaja membeli tanah yang luas di mana ia menghibur diri dengan hidup bercocok tanam.
Selain itu, ia memang memilih tempat yang sunyi, jauh dari kota dan di tempat ini ia hidup berbahagia dengan isterinya yang tercinta, yakni Liang Bi Lan, dan puterinya yang mereka sayang Go Hui Lian.
Selain mereka bertiga masih ada seorang gadis cantik yang bernama Gak Soan Li karena memang bakatnya besar luar biasa.
Juga anak ini amat penurut, dan biarpun ia seorang murid terkasih dari Ciang Le dan isterinya, namun ia seorang anak tahu diri dan hidup di dalam rumah gurunya tak pernah menganggur.
Setiap saat orang melihat dia bekerja membantu pekerjaan para pelayan sehingga boleh dibilang bahwa semua pekerjaan rumah tangga berada di tangan Soan Li.
Bi Lan atau.
Nyonya Go suka sekali melihat kerajinan anak itu, dan semua pekerjaan rumah tangga beres oleh Soan Li tanpa dia sendiri turut campur, sedangkan semua pelayan amat taat kepada gadis ini yang memang manis budi dan pandai mengatur rumah tangga.
Seringkali, kalau sedang bercakap-cakap, Ciang Le menyatakan kekagumannya terhadap murid tunggalnya ini dan di samping ini ia menyatakan kekerasan hatinya melihat puterinya sendiri semakin manja dan malas, sungguhpun harus mereka akui bahwa watak Hui Lian jauh lebih gembira dan jenaka daripada Soan Li yang pendiam.
Tanpa adanya Soan Li di situ, pekerjaan rumah tangga akan repot sekali.
Sebaliknya tanpa adanya Hui Lian di situ, kegembiraan akan lenyap karena kejenakaan anak ini seakan-akan cahaya matahari yang menyinar dan menggembirakan hati semua orang.
Kalau Hui Lian anaknya gembira dan jenaka, cerewet dan manja, adalah Soan Li amat pendiam, halus gerak geriknya, dan amat sopan santun terhadap suhu dan subonya.
Gak Soan Li adalah seorang anak yatim piatu.
Rumah ayah bundanya yang bekerja sebagai buruh di Pulau Kim-bun, pada waktu ia baru berusia enam tahun, terbakar dan kedua orang tuanya tewas dalam malapetaka ini.
Hanya Soan Li seorang diri yang selamat.
Karena menaruh hati kasihan terhadap anak yatim piatu ini, Bi Lan dan Ciang Le lalu mengulurkan tangan dan menolong anak ini membawanya ke rumah mereka dan Ciang Le yang melihat bakat baik anak ini lalu mengambilnya sebagai murid.
Peristiwa itu terjadi belum lama sejak Ciang Le dan isterinya tinggal di pulau itu dan pada masa itu, Hui Lian baru berusia setengah tahun.
Soan Li memperlihatkan sikap baik sekali dan ia mencinta Hui Lian setelah Hui Lian menjadi besar.
Akhirnya, setelah Ciang Le dan Bi Lan berkali-kali menegurnya, baru ia mau menyebut "sumoi"
Kepada Hui Lian, sedangkan Hui Lian menyebutnya "suci" (kakak seperguruan).
Bakat Soan Li dalam ilmu silat luar biasa sekali sehingga ia mendapat kemajuan pesat.
Bersama dengan Hui Lian ia berlatih silat, juga ia menerima pelajaran pekerjaan kerajinan tangan seperti nyulam dan lain lain.
Hui Lian selalu mendapat petunjuk dari Soan Li, maka tidak mengherankan apabila hubungan kedua orang gadis cilik itu menjadi makin erat saja.
Di luar dugaan semua orang makin besar Soan Li kelihatan makin cantik manis, dan Ciang Le serta Bi Lan sendiri menjadi kagum dan girang.
Mereka mempunyai seorang murid yang tidak mengecewakan.
Slapakah yang takkan bangga dan girang melihat dua orang gadis cilik itu?
Masing-masing memiliki keistimewaan sendiri.
Soan Li lemah lembut tidak akan ada yang menduga bahwa dia mempunyai kepandaian silat yang tinggi, gerak-geriknya halus, pakaiannya seperti wanita lemah, bicaranya halus dan sikapnya pendiam.
Sebaliknya, Hui Lian lincah sekali, baru dari gerak-geriknya saja.
orang tentu akan tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian tinggi, bicaranya terus terang dan jujur, suka ketawa mudah menangis.
Kalau Soan Li boleh diumpamakan setangkai bunga teratai putih yang indah dan tenang, adalah Hui Lian seperti setangkai mawar hutan yang merah, penuh semangat.
Ketika Ciang Le dan Bi Lan sambil mengajak Hui Lian pergi meninggalkan pulau untuk merantau dan mengunjungi Luliang-san, Soan Li menunggu di rumah untuk menjaga rumah.
Hati gadis amat kecewa dan berduka.
Baru kali ini ia ditinggal seorang diri dan ia merasa amat kehilangan.
Setelah tiga orang itu pergi barulah ia tahu bahwa mereka bertiga itu amat disayangi, bahwa ia merasa seperti menjadi sebagian daripada keluarga Go, dan hidupnya akan sengsara tanpa mereka.
Oleh karena itu, alangkah girang hati Soan Li ketika beberapa bulan kemudian Ciang Le bersama anak isterinya datang kembali dari perjalanan mereka.
Dan bersama tiga orang ini, Soan Li melihat seorang pemuda tanggung yang sebaya dengan dia, yakni Liok Kong Ji.
Pada waktu itu, Kong Ji telah berusia empat belas tahun dan Soan Li telah berusia lima belas tahun, sedangkan Hui Lian baru berusia sepuluh tahun.
Kalau Soan Li menyambut kedatangan guru seanak isteri itu dengan penuh kegembiraan akan tetapi sama sekali tidak memperhatikan kepada Kong Ji, adalah sebaliknya Kong Ji berdebar hatinya dan diam-diam pemuda cilik ini mengaku bahwa ia berhadapan dengan seorang bidadari yang lemah lembut.
Ia menduga-duga siapakah gerangan gadis yang cantik dan halus gerak-geriknya ini.
Hui Lian yang amat gembira bertemu dengan Soan Li segera memeluk dan berkata.
"Soan Li Suci, lihatlah dia ini adalah murid baru dari Ayah. Namanya Liok Kong Ji, orangnya cerdik dan kepandaiannya sudah lihai sekali. Eh, Kong Ji Suko, inilah Gak Soan Li Su-ci, murid Ayah Ibu yang cantik lemah lembut dan dalam hal kepandaian, ia tidak kalah olehmu""
Ciang Le hanya menggeleng-geleng kepala saja menyaksikan kejenakaan putrinya sedangkan Bi Lan hanya tersenyum akan tetapi diam-diam ia memperhatikan muka kedua orang murid itu.
Kong Ji berseri wajahnya dan dari sinar matanya dapat tertangkap kekaguman besar, sebaliknya Soan Li bersikap dingin, bahkan tidak melirik ke arah Kong Ji.
Akan tetapi ia balas menjura ketika Kong Ji memberi hormat dan berkata.
"Gak-sumoi, aku yang bodoh kelak mohon banyak petunjuk darimu."
Soan Li tidak menjawab, hanya tersenyum hormat. Di dalam hatinya ia tidak senang mendengar sebutan sumoy yang diucapkan dengan nada manis dibuat-buat itu. Hui Lian menghadapi Kong Ji sambil tertawa.
"Kong Ji Suko, bagaimana sih kau ini. Biarpun kau nampaknya lebih jangkung, namun kau bilang bahwa usiamu lebih tua empat tahun dari aku, sedangkan Suci lebih tua lima tahun, jadi kau lebih muda setahun dari Suci. Maka kau harus menyebut Suci pula, tidak boleh Sumoi. Apalagi baru sekarang kau menjadi murid Ayah, sedangkan Suci sudah delapan tahun""
"Benarkah begitu?"
Kong Ji berkata sambil tersenyum, lalu menjura kepada Soan Li.
"Suci, mohon maaf sebanyaknya atas kekeliruan siauwte."
Soan Lt merah mukanya, dan ia hanya menjawab lambat.
"Tidak mengapa."
Kemudian gadis ini berpaling kepada Ciang Le dan berkata.
"Suhu kemarin ada datang seorang tamu yang mengaku sebagai kenalan baik dari Suhu. Sekarang dia menanti di kamar tamu. Namanya...."
Tiba-tiba dari dalam rumah gedung keluar berlari seorang laki-laki setengah tua dan begitu melihat Ciang Le, ia berseru girang. (Lanjut ke
Jilid 11) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11
"Go-taihiap, akhirnya kau pulang juga...!"
Ciang Le menengok, demikian pun semua orang dan yang hebat adalah Kong Ji.
Begitu melihat orang ini, mukanya berubah pucat, namun dengan ketabahannya yang luar biasa serta tenaga lwee-kang yang sudah dimilikinya, ia dapat menekan perasaannya dan dapat menyalurkan darah ke mukanya sehingga muka ini menjadi merah kembali.
"Liok San-twako, kiranya kau yang datang? Kebetulan sekali. lihat siapa yang ikut datang bersama ini!"
Ciang Le menunjuk kepada Liok Kong Ji.
Liok San laki-laki setengah tua menengok ke arah Kong Ji dan kalau sekiranya ia melihat iblis, agaknya ia tak demikian kaget seperti ketika ia memandang kepada Kong Ji.
"Kau...??"
Tiba-tiba, bagaikan seekor harimau ganas yang melihat mangsanya, ia menubruk dan mengirim pukul keras ke arah dada Kong Ji yang sedang berdiri tegak.
Ciang Le dan Bi Lan terkejut sekali.
Ciang Le hendak mencegah, namun tidak keburu karena serangan ini memang tidak terduga sama sekali.
Sedangkan Kong Ji semenjak tadi sudah mengawasi gerak-gerik pamannya ini, akan tetapi melihat cara Liok San memukul, ia tidak menghindar dan memasang dadanya.
"Bukk...!"
Dada Kong Ji terpukul keras dan akibatnya, anak itu terpental dan bergulingan sampai dua tombak lebih, akan tetapi Liok San meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya.
Liok Kong ji tidak terluka hanya terpental saja.
Ia lalu melompat berdiri maju menghampiri Liok San dan menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
"Siokhu (Paman), kalau anak bersalah, bunuhlah...."
Liok San memandang dengan mata terbelalak. Dari pukulannva tadi maklumlah ia bahwa kepandaian keponakan ini sudah amat tinggi, jauh leblh tingi daripada kepandaiannya sendiri! "lblis". setan...."
Kemudian ia berpaling kepada Ciang Le yang memandang keheran-heranan "Go taihiap, harap maafkan aku akan tetapi... bolehkah bicara dengan kau dan anak ini bertiga saja?"
Ia lalu berpaling kepada Bi Lan dan menjura.
"Go-hujin, maafkan aku sebanyak-banyaknya atas tingkah laku yang, amat tidak sopan ini."
Liang Bi Lan nampaknya tidak senang akan tetapi ketika melihat isyarat mata suaminya, ia menggerakkan pundak.
"Tidak apa... mari Hui Lian, dan Soan Li kita masuk ke dalam dan istirahat!"
Maka tanpa mengeluarkan sepatah kata terhadap tamu itu, Bi Lan lalu berjalan masuk diikuti oleh Hui Lian dan Soan Li, juga para pelayan yang tadi ikut menyambut, sekarang disuruh masuk semua.
Hanya Hui Lian yang mengomel panjang pendek, terdengar oleh Liok San karena cukup keras.
"Benar-benar tamu yang aneh dan kasar!"
Akan tetapi Bi Lan mendelik kepadanya dan gadis cilik tidak berani membuka mulut lagi.
Kini Ciang Le tinggal di luar bersama Liok San dan Liok Kong ji.
Anak ini masih berlutut sambil menangis sedih, tidak berani mengangkat mukanya.
Hatinya berdebar penuh kekhawatiran karena masih belum tahu apa sebabnya pamannya datang-datang memukulnya.
Namun otaknya yang licin bekerja keras dan tangisnya itu adalah siasat untuk melemahkan pamannya yang sedang marah itu.
Liok San tidak mempedulikan keadaan Kong Ji sebaliknya lalu berpaling kepada Ciang Le sambil berkata.
"Go-tayhiap, tentu kau merasa heran melihat perbuatanku."
Ia menghela napas dan memandang ke arah Liok Kong ji yang masih berlutut sambil membuka telinganya baik-baik.
"Sebetulnya kedatanganku ke pulau ini untuk mencarimu justru hubungan dengan setan ini, siapa ia malah datang bersamamu."
"Apakah yang terjadi, Liok-toako. Terangkanlah dulu apa sebabnya kau datang mencariku dan apa sebabnya marah-marah kepada Kong Ji."
"Belum lama ini aku naik ke Hoa-san untuk menengok bocah ini yang sudah lama kutinggalkan untuk berguru kepada Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek Taihiap.
"Siapa kira di Hoa-san telah kosong aku tidak mendapatkan siapapun juga di puncak itu. Tidak kusangka bahwa Hoa-san-pai yang begitu besar telah musnah.
"Aku pun tahu akan hal itu, Liok twako,"
Kata Ciang Le karena melihat tamunya itu menunda bicaranya.
"Kemudian aku mendengar Hoa-san-pai telah dimusnakan oleh dua orang tokoh Im-yang-bu-pai. Liang Gi Tojin telah tewas oleh mereka dan Lie Bu Tek Taihiap "...."
Liok San memandang kepada Kong Ji dengan sinar mata penuh kebencian.
Kong Ji diam-diam terkejut sekali.
Dengan kepala tunduk ia mendengarkan semua cerita ini dan kini otaknya yang sangat cerdik dapat menduga bahwa pamannya tentu telah mendengar tentang perbuatannya membuntungi lengan Lie Bu Tek.
Akan tetapi secepat kilat, otaknya sudah mempersiapkan jawaban yang tepat.
Memang anak ini lihai luar biasa.
Adapun Ciang Le yang mendengar kata-kata Liok San kemudian melihat orang itu memandang kepada Kong Ji menjadi terheran, maka ia lalu berkata.
"Bukanlah Lie Bu Tek Toako juga telah terluka hebat? Tahukah kau di mana adanya dia sekarang?"
Liok San menggeleng kepalanya dengan sedih.
"Aku tidak tahu dia berada di mana, akan tetapi yang hebat sekali adalah berita yang kudengar bahwa ketika orang-orang Im-yang-bu-pai itu menyerbu ke Hoa-san dan membasmi Hoasan-pai, anak ini, iblis kecil yang tak berjantung ini, dia telah... telah membuntungi sebelah lengan kanan Lie Bu Tek Taihiap!"
Kembali Liok San bernafsu sekali dan amarahnya meluap-luap. Scpasang matanya menjadi merah dan ia seperti hendak menelan bulat-bulat bocah yang berlutut di depannya.
"Kau keparat jahanam. Ketika masih kecil, Ayah Bundamu tewas oleh orang-orang Im-yang-bu-pai, kemudian kau kubawa ke Hoa-san-pai, ditolong oleh Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek Taihiap, diterima menjadi murid. Bagaimana kau begitu keji untuk membantu orang-orang Im yang bu pai musuh-musuh besarmu dan bahkan kau berani sekali membuntungi lengan Lie Bu Tek Taihiap?"
Setelah berkata demikian, Liok San sudah mengangkat tangannya untuk memukul kepala Kong Ji yang masih tunduk.
Akan tetapi Ciang Le cepat menangkap tangannya dan mencegahnya.
Pendekar ini juga berubah air mukanya.
Hatinya berguncang dan berita ini adalah berita yang luar biasa hebatnya.
"Kong Ji, kau bangkitlah. Berdirilah dan jawab tuduhan Pamanmu tadi. Benar-benarkah kau telah melakukan hal keji itu?"
Kata Ciang Le.
Dengan perlahan Kong Ji bangun berdiri.
Lalu ia berdiri tegak dengan tenang menghadapi Ciang Le dan Liok San.
Ia telah mencari jalan dan otaknya yang cerdik sudah mendapat siasat yang berbahaya namun berani sekali.
Dengan pandang mata tenang penuh keberanian untuk membuktIkan kejujuran hatinya, ia menghadapi Ciang Le.
Anak ini maklum bahwa Ciang Le memiliki pandangan mata yang tajam dan seandainya mulutnya dapat membohong, namun kalau pandang matanya tidak diatur lebih dulu, mungkin akan dapat diketahui oleh Ciang Le.
Maka sebelum membuka mulut, lebih dulu ia menenteramkan hati dan mengerahkan tenaga sehingga sepasang matanya memandang tenang penuh kejujuran.
Bahkan kini bibirnya tersenyum sedikit sehingga wajahnya nampak cakap dan senang.
"Suhu dan Siokhu, seorang laki-laki harus berani bertanggung jawab atas semua perbuatannya, apalagi kalau perbuatan itu berdasarkan sesuatu yang memaksanya melakukannya. Teecu juga tidak akan menyangkal, memang teecu telah mempergunakan pedang dari Siang mo-kiam Lai Tek tokoh Im-yang-bu-pai untuk menabas putus lengan kanan dari Lie Bu Tek Twa-suheng!"
Kata-kata ini diucapkan dengan sikap begitu sewajarnya dan berani sehingga Ciang Le dan Liok San berdiri ternganga keheranan.
"Setan jahat, kau benar-benar keji dan tidak punya liangsim!"
Liok San membentak, suaranya tergetar saking marahnya. Akan tetapi Ciang Le berkata dengan suaranya yang mengandung pengaruh hebat.
"Kong Ji mengapa kau lakukan itu? Hayo lekas katakan apa alasannya dan bagaimana hal itu terjadi!"
Liok Kong Ji merasa lebih gentar menghadapi kata-kata Ciang Le ini dari pada bentakan Liok San, namun ia dapat menguasai diri dan tetap tenang.
"Suhu dan Siokhu, andaikata jiwi (Anda berdua) yang menjadi teecu pada waktu seperti itu apakah yang jiwi lakukan? Anak tanggung ini bertanya, sikapnya seakan-akan dia bukan sedang diperiksa dan dituntut, melainkan seperti ia bercakap-cakap seenaknya dengan dua orang tua itu.
"Lebih baik aku mati daripada berlaku pengecut""
Liok San berseru marah.
"Teruskan saja ceritamu dan majukan alasanmu, Kong ji, dan jangan menyinggung yang bukan-bukan!"
Kini suara Ciang Le mulai mengancam.
"Suhu, agaknya Suhu lebih mengerti akan keadaan daripada Siokhu yang tak dapat mengendalikan hawa kemurahan. Seperti telah teecu tuturkan kepada Su-hu, dua orang tokoh Im-yang-bu-pai, yakni Siang-mo-kiam Lai Tek dan Thian-te Siang-tung Kwa Siang, tokoh ke dua dan ke tiga dari Im-yang-bu-pai, menyerbu Hoa-san-pai. Suhu Liang Gi dan Suhu Lie Bu Tek membela diri, namun mereka kalah. Suhu Liang Gi Tojin tewas Sian Suheng sendiri terluka hebat. Tinggal teecu dan Sin Hong yang berada di sana menghadapi mereka."
"Kau maksudkan Sin Hong putera angkat Lie Bu Tek Toako?"
Tanya Ciang Le penuh perhatian.
"Ya, betul dia, Suhu. Karena Adik Sin Hong yang dibawa ke Hoa-san untuk belajar bersama-sama teecu."
"Hayo teruskan!"
Ciang Le mendesak.
"Setelah begitu, mengapa kau membuntungi lengan Suhengmu itu dengan pedang lawan?"
"Suhu, teecu seringkali mendengar nasehat dari Suhu Liang Gi Tojin dan Suheng Lie Bu Tek bahwa siapa yang lemah harus berakal, sehingga kekalahan tenaga dapat ditebus dengan kemenangan siasat. Teecu pada saat itu maklum bahwa nyawa Suheng takkan dapat ditolong lagi dan pasti akan terbunuh oleh dua orang Im-yang-bu-pai itu, demikian pula nyawa teecu dan Sin Hong pasti akan tewas. Oleh karena itu terpaksa teecu mempergunakan siasat, menyatakan kepada dua orang lm-yang-bu-pai itu bahwa teecu dan Sin Hong menaruh hati dendam kepada Hoa-san-pai, teecu sengaja memutar balikkan kenyataan dan menyatakan hendak berguru kepada Im-yang-bu-pai."
"Bangsat rendah!"
Liok San memaki marah, akan tetapi Ciang Le memberi isyarat agar supaya Kong Ji melanjutkan ceritanya.
"Sebelum mereka itu menyatakan sesuatu teecu mendahului mereka agar mereka jangan membunuh Suheng, akan tetapi agar mereka memberi kesempatan kepada teecu untuk membunuhnya membalas sakit hati teecu."
"Keparat jahanam!"
Kembali Liok San memaki.
"Teecu lalu dicoba oleh dua orang takoh lm yang-bu-pai, diberi pinjam pedang oleh Siang-mo-kiam Lai Tek untuk melakukan pembunuhan itu. Teecu tidak membunuh Suheng Lie Bu Tek, melainkan membuntungi sebelah lengannya yang sudah terluka itu."
"Setan kecil, kau memang jahat!"
Liok San tak dapat menahan kemarahana lagi.
"Kalau kau memang seorang yang mengenal budi, seharusnya kau melawan sekuat tenaga dan lebih baik kau mati dalam membela Hoa-san-pai daripada kau melakukan hal yang amat pergecut dan khianat itu!"
Adapun Ciang Le memandang kepada Kong Ji penuh kekaguman.
Ia heran sekali melihat keberanian anak ini, berani mengaku semua perbuatan itu seakan-akan tidak merasa bersalah.
Apakah anak ini mempunyai alasan yang kuat mengapa ia melakukan semua itu.
"Kong Ji, sekarang ceritakan mengapa kau lakukan hal yang sekeji itu."
"Suhu, seperti sudah teecu sebut tadi, seorang yang lemah harus dapat mempergunakan siasat halus. Pada waktu itu, Suhu sudah tewas dan Suheng terluka berat. Teecu sendiri bersama Sin Ho ada mempunyai daya apakah? Kalau teecu menurutkan nafsu seperti dinyatakan oleh Siokhu tadi, tentu teecu dan Sin Hong dalam sejurus saja akan tewas pula, dan Suheng Lie Bu Tek juga tentu akan mereka bunuh. Kalau terjadi demikian, bukankah itu berarti bahwa semua murid Hoa-san-pai akan terbinasa dan siapakah kelak yang akan membalaskan sakit hati itu? Harap Suhu suka pertimbangkan dengan adil. Kalau teecu menurutkan nafsu hati dan melawan, tidak akan ada gunanya sama sekali kecuali mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Sebaliknya, dengan siasat yang telah teecu lakukan, tidak saja Suheng Lie Bu Tek terlepas daripada bahaya maut dan hanya kehilangan lengan sebelah, juga tee-cu dan Sin Hong selamat."
"Akan tetapi, dengan berbuat demikian kau telah merendahkan diri dan menyeret namamu ke dalam lumpur kehinaan, Kau dapat dianggap pengecut besar dan orang berkhianat yang amat rendah! Ini lebih hebat daripada maut!"
Kata Ciang Le dan hati pendekar ini berdebar, heran dan kagum ia mendengar siasat yang amat cerdik itu, namun ia pun ragu-ragu karena hanya orang yang rendah budi saja yang kiranya dapat mempergunakan dan menjalankan siasat seperti itu.
"Apa boleh buat, Suhu. Sakit hati teecu terhadap Im-yang-bu-pai begitu besar, cita-cita teecu untuk kelak membalas dendam demikian hebat sehingga tee-cu berani mengorbankan apa saja. Teecu berani mengorbankan nama baik, berani mengorbankan perasaan yang hancur ketika teecu membuntungi lengan Suheng. Bahkan kalau sekarang Suhu dan Siok menganggap teecu berdosa dan harus bunuh, teecu rela karena dalam kematian ini pun merupakan pengorbanan teecu yang hendak membalas dendam kepada musuh-musuh kita itu. Suheng sendiri pasti akan memaafkan teecu karena dengan perbuatan itu tidak saja Suheng bebas dari kematian, juga telah memberi kesempatan kepada Suheng, teecu dan Sin Hong untuk kelak mencari musuh-musuh besar dan membalas dendam."
Ciang Le kini merasa kagum sekali.
Liok San sendiri bengong, karena setelah ia pikir-pikir, memang apa yang dilakukan oleh Kong Ji itu masuk akal dan bahkan cerdik sekali!
Oleh karena itu sekarang ia tidak dapat mengeluarka kata-kata, hanya memandang kepada keponakannya dengan mata terbelalak dan kadang-kadang ia menoleh kepada Ciang Le untuk melihat apa yang akan dikatakan oleh pendekar besar ini.
"Kong Ji, jadi kau melakukan semua itu bukan karena kau ingin hidup dan menyelamatkan diri sendiri?"
"Bukan, Suhu. Demi Tuhan Yang Maha Kuasa, teecu melakukan itu bahkan demi kelamatan Suheng, keselamatan Sin Hong, dan agar teecu mendapat kesempatan membalas dendam."
"Jadi kau benar-benar bercita-cita membalas dendam atas kehancuran Hoa-san-pai?"
"Teecu bersumpah, bukan hanya untuk membalas dendam atas kehancuran Hoa-san-pai, akan tetapi juga untuk luka yang diderita oleh Suheng Lie Bu Tek, untuk kematian Suhu Liang Gi Tojin, untuk kematian Ayah Bunda teecu dan untuk kejahatan orang-orang Im-yang-bu-pai."
Kata Liok Kong Ji penuh semangat, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut lagi dan menangis.
Tangisnya demikian sedih dan sama sekali tidak kelihatan dibuat-buat sehingga Ciang Le yang demikian awas pandangan matanya, masih kalah dan dapat tertipu oleh anak yang memang lihai dan berbahaya sekali itu.
"Liok toako, kau mendengar sendiri keterangan Kong Ji. Anak ini bersemangat besar, dan menurut pendaputku. perbuatannya atas diri Lie Bu Tek Toako itu bukanlah hal yang jahat, bahkan menunjukkan bahwa ia cerdik sekali. Aku berani tanggung bahwa Lie Bu Tek Toako pasti takkan marah kepadanya. Liok San menarik napas, kelihatan lega sekali.
"Sesungguhnya, Taihiap, tiada kesenangan yang lebih besar bagiku daripada mendengar keponakanku bebas dari kesalahan. Akan tetapi, tidak ada kedukaan yang lebih besar bagiku dari pada mendengar dia berdosa. Kalau dia dianggap berdosa, aku sendiri yang akan membunuhnya, akan tetapi sukurlah kalau Taihiap berpendapat demikian. Aku hanya menyerahkan anak kakakku ini kedalam bimbingan Taihiap."
Ciang Le memandang kepada Kong Ji yang masih berlutut.
"Kong Ji, selanjutnya apa yang terjadi dengan Lie Bu Tek Toako dan dengan Sin Hong?"
"Tentang Lie Bu Tek Suheng, teecu tidak tahu lagi karena semenjak itu, teecu dibawa pergi oleh orang-orang Im-yang-bu-pai dan ketika teecu pergi, Suheng masih rebah di puncak Hoa-san dalam keadaan pingsan. Adapun Adik Sin Hong memang karena tertarik dan percaya kepada teecu, dua orang tokoh lm-yang-bu-pai itu membawa teecu dan Sin Hong pergi, dengan maksud untuk diambil murid. Akan tetapi Adik Sin Hong ternyata tidak dapat menahan nafsunya. sepanjang jalan ia memaki-maki dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu sehingga mereka menjadi hilang kesabaran. Tentu Adik Sin Hong dibunuh oleh mereka kalau saja tidak keburu datang orang-orang Hek-kin-kaipang yang menolongnya dan membawanya pergi."
"Hek-kin-kaipang? Siapa yang memimin mereka?"
Ciang Le bertanya.
"Teecu tidak kenal, hanya pemimpinnya seorang wanita cantik, dan pemimpin itu berhasil membawa lari Sin Hong, akan tetapi anak buahnya, puluhan orang yang tewas dalam tangan kedua tokoh Im-yang-bu-pai itu."
"Kiang Cun Eng"."
Ciang Le berkata lirih dan terkenanglah ia akan pengalamannya ketika masih muda.
Pernah ia digoda oleh Cun Eng yang cantik genit (baca Pendekar Budiman).
Ia menarik nafas panjang dan merasa bersukur bahwa akhirnya wanita itu melakukan sesuatu yang baik, yakni menolong Sin Hong putera dari Wan-yen Kan.
"Jadi kau selama ini menjadi murid Im-yang-bu-pai?"
Tanya Liok San di hatinya tetap saja tidak senang kalau mengingat betapa anak ini, yang orang tuanya terbunuh oleh Im-yang-bu-pai, bahkan menjadi murid musuh besar mereka.
"Tidak, Siokhu, anak hanya sebentar saja tinggal di sana. Kemudian datang See-thian Tok-ong yang menghancurkan Im-yang-bu-pai."
Ia lalu menceritakan secara singkat kepada pamannya ini tentang semua pengalamannya tentu saja ia atur demikian rupa sehingga ia tidak melakukan sesuatu pelanggaran yang memburukkan namanya.
Ia bahkan menceritakan betapa dengan akalnya ia dapat membikin musuh besar yang membunuh ayah bundanya, yakni Sin-chio Thio Seng, tokoh ke lima dari Im-yang bu-pai, terbunuh sendiri oleh Giok Se Cu.
"Demikianlah, Siokhu. Dengan masuknya anak di dalam Im-yang-bu-pai, tidak saja anak dapat membalas dendam kepada orang yang membunuh Ayah Bunda, juga dengan pertolongen See-thian Tok ong, Im-yang bu-pai dapat dihancurkan."
Selanjutnya ia menceritakan pengalamannya ketika ikut See-thian Tok-ong dan apa kemudian ia tertolong oleh Go Ciang Le ketika hendak dibunuh oleh Raja Racun itu dan kemudian ikut dengan Ciang Le sebagai muridnya.
Liok San menarik napas panjang, hatinya lega sekali.
"Sudahlah, baiknya Go Taihiap berpemandangan luas. Aku merasa tenteram hatiku kalau kau berada di bawah pengawasannya. Belajarlah baik-baik dan kau harus taat kepada Suhumu."
Ciang Le yang masih teringat akan nasib Lie Bu Tek dan Sin Hong berkata kecawa.
"Sayang sekali kita tidak tahu bagaimana dengan nasib Lie-twako dan anak Sin Hong. Apakah mereka masih hidup? Kalau masih hidup di mana mereka bersembunyi?"
"Go-talhiap, biarlah aku akan mengembara dan mendengar-dengar. Kita agak mudah untuk mencari Sin Hong, biarlah aku mencari di mana adanya Kiang-kaipangcu, ketua Hek kin-kaipang itu. Mungkin anak itu dapat ditemukan, hanya aku masih bingung ke mana harus mencari Lie Bu Tek Taihiap."
Ciang Le girang sekali. Ia baru datang di rumah dan tak dapat ia pergi lagi dalam waktu dekat.
"Terima kasih kalau kau mau menyelidiki tempat mereka,"
Katanya.
Liok San hanya satu hari tinggal di Pulau Kim-bun, dan pada keesokan harinya setelah banyak meninggalkan nasihal bagi keponakannya ia lalu pergi.
Sebelum ia pergi, lebih dulu Ciang Le diam-diam mengajak ia berembuk tentang maksud hati Ciang Le dan isterinya, yakni hendak menjodohkan Liok Kong Ji dengan Gak Soan Li.
Tentu saja Liok San menerima dengan girang dan segera menyetujui, maka antara dua orang tua ini telah mengadakan ikatan perjodohan yang belum saatnya diberitahukan kepada dua orang muda yang bersangkutan.
Kong Ji berlatih ilmu silat di bawah gemblengan Ciang Le dengan penuh ketekunan.
Sebegitu jauh ia dapat menyembunyikan kepandaiannya sehingga Ciang Le sendiri tidak tahu bahwa anak itu telah pandai ilmu silatnya, bahkan telah dapat mempelajari Ilmu Pukulan Tin-san-kang yang lihai dan ilmu silatnya yang aneh dari See-thian Tok-ong.
Bersama-sama Hui Lian dan Soan Li, Kong Ji berlatih siang malam dan ketekunannya benar-benar mengagumkan hati Ciang Le dan isterinya.
Dalam kelicinan dan kecerdikan, Kong Ji dapat membuat dirinya seakan-akan paling bodoh antara tiga orang anak muda yang belajar ilmu silat dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le.
Makin lama, Kong Ji merasa makin tertarik kepada Soan Li akan tetapi sebaliknya gadis ini entah mengapa mempunya i rasa tidak suka kepada pemuda mi.
Kalau dekat dengan Kong Ji, ia merasa seakan-akan dekat dengan seekor ular yang berbahaya dan sukar dimengerti isi hatinya.
Namun di luarnya ia tentu saja bersikap biasa seperti lajimnya seorang terhadap saudara seperguruannya.
Kong Ji adalah seorang yang cerdik, biarpun Soan Li tidak menyatakan isi hatinya namun pemuda ini dapat menduga bahwa gadis cantik itu tidak suka kepadanya.
Maka ia pun dapat membatasi diri, dan pada umumnya, sikap Kong terhadap siapapun juga amat sopan dan menghormat serta taat terhadap Ciang-Le dan Bi Lan, pendiam dan tak pernah berkelakar di hadapan Soan Li, akan tapi ia amat rapat hubungannya dengan Hui Lan.
Memang Hui Lan berwatak gembira dan jujur dan Kong Ji adalah seorang ahli dalam mengatur sikap, seorang yang dapat menyesuaikan diri dengan siapapun juga ia berhadapan, maka ia dapat mengambil hati semua orang.
Bahkan Soan Li sendiri tidak mempunyai alasan mengapa ia tidak suka kepada Kong Ji.
Pemuda itu cukup tampan, sikapnya baik dan sopan santun, namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan membuat ia merasa tidak enak kalau berhadapan dengan Kong Ji.
Setelah mendengar penuturan Kong Ji tentang peristiwa di Hoa-san.
Ciang Le berlaku amat hati-hati.
Diam-diam ia sering kali mengamat-amati kelakuan Kong-Ji, dan biarpun selama bertahun-tahun Kong Ji tidak pernah memperlihatkan watak yang jahat, namun pendekar ini tetap berlaku hati-hati dalam memberi pelajaran ilmu silat.
Kalau ia mwnurunkan seluruh kepandaiannya kepada puterinya dan kepada Soan Li, dan bahkan menurunkan ilmu silat Pak-kek Sinkang kepada dua orang gadis ini, adalah pada Kong Ji ia hanya memberi latihan ilmu silat.
Ia tidak berani menurunkin Pak-kek Sin-ciang kepada murid ini, hanya menurunkan Ilmu Silat Thian-hong ciang-hoat yang juga lihai.
Namun selihai-lihainya Thian-hong-ciang-hoat, tentu saja tidak dapat menyamai kehehatan ilmu Silat Pak-kek Sin-Ciang.
Sebagaimana telah dituturkan di dalam cerita Pendekar Budiman.
Go Ciang Le hanya menerima sedikit saja Ilmu Silat Pak-kek sin-Ciang, namun bagian yang tidak seberapa ini sudah cukup untuk mengangkat tinggi namanya dan jarang ada orang kang-ouw yang dapat menghadapi ilmu silat ini.
Kong Ji bukan seorang yang mempunyai kccerdasan luar biasa kalau ia tidak tahu.bahwa ia dibeda-bedakan oleh gurunya.
Namun ia tidak berkecil hati.
"Aku sudah tahu di mana tempat penyimpanan kitab peninggalan Pak Kek Siansu, biarpun aku tidak diberi pelajaran Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang, kelak ia dapat mempelajari sendiri."
Pikirnya. Akan tetapi ia masih belum puas kalau belum dapat "mencuri"
Pelajaran ini, maka ia pada suatu hari mendekati Hui Lian. Bercakap-cakap di dalam taman yang luas sambil berlatih silat seperti biasa.
"Sumoi, aku heran sekali mengapa sampai sekarang aku belum mendapat latihan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang,"
Demikian Kong Ji memancing.
"Jangan kecil hati, Suheng. Ilmu silat itu tidak mudah. dan untuk dapat mainkan ilmu silat itu, diperlukan dasar yang kuat. Kau baru beberapa tahun berlatih di bawah bimbingan Ayah, tentu saja belum waktunya bagimu untuk mempelarinya. Menurut Ayah, ilmu silat ini kalau dipelajari oleh orang yang belum kuat dasarnya, bukannya mendatangkan keuntungan, bahkan amat berbahaya, akan merusak dasar yang sudah ada dan yang masih lemah."
Melihat betapa gadis itu bicara sunguh-sungguh, tidak seperti biasanya bergurau, Kong Ji percaya bahwa Hui Lian bicara sebenarnya.
"Sumoi, biarpun aku tidak akan berlatih ilmu silat itu, akan tetapi aku ingin sekali mempelajari kauw-koatnya (teori silatnya). Apa sih salahnya mempelajari teorinya saja? Sumoi, bcrlakulah murah kepadaku dan harap kau suka mengajarkan teorinya kepadaku."
"Aku tidak berani, Suheng."
"Tidak berani? Mengapa tidak berani Sumoi?"
"Ayah akan marah. Aku dan juga Suci sudah bersumpah takkan membuka rahasia Pak-kek Sin-ciang kepada orang lain."
"Akan tetapi, Sumoi, aku toh bukan orang lain? Kelak aku pun tentu akan menerima ilmu itu dari Suhu. Kalau kau memberi tahu tentang teorinya kepadaku, itu bukan berarti kau melanggar sumpah, karena aku bukan orang lain"
Hu Lian orangnya jujur sekali.
Memang ia berotak terang dan cerdik, akan tetapi bukan kecerdikan seperti yang dipunyai oleh Kong Ji, yakni kecerdikan yang sifatnya curang.
Kecerdikan Hui Lian hanya untuk mempelajari sesuatu, dan karena wataknya jujur, maka sekali ia percaya orang ia akan percava habis-habisan.
Demikian pun terhadap Kong Ji yang pandai membawa diri, ia sudah menaruh kepercayaan sebulatnya.
"Kalau dipikir-pikir memang betul kata-katamu, Suheng. Akan tetapi sebaiknya kutanyakan dulu kepada Ayah."
"Tak usah, Sumoi. Kalau begatu lebih baik kau jangan mengajarku. Suhu tentu akan marah kepadamu dan kepadaku yang dianggap lancang. Sebetulnya aku pun tak amat terburu-buru, karena...."
Kong Ji menghentikan sebentar kata-katanya dan memandang kepada Hui Lian seakan-akan hendak menyampaikan sesuatu yang penting.
"Sumoi, dapatkah kau menyimpan rahasia?"
"Tentu saja!"
Pada waktu itu, Hui Lian baru berusla empat belas tahun sifatnya masih kekanak-kanakan, maka ia ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan oleh Kong Ji.
"Sumoi, harap jangan katakan kepada siapa juga. akan tetapi sebetulnya, ketika ikut dengan See-thian Tok-ong, aku pun menerima beberapa pelajaran ilmu silat yang kiranya tidak kalah lihai oleh Pak-kek Sin-ciang. Kalau kau mau menuturkan kepadaku tentang teori Pak-kek Sin-ciang aku akan mengganti dengan beberapa ilmu pukulan yang aneh-aneh. Boleh kaupilih, kalau kau menolak, bagiku tidak ada ruginya karena kelak aku pun pasti akan menerima Ilmu Pak-kek Sin ciang dari Suhu, sebaliknya kaulah akan rugi karena kau tidak jadi mempelajari ilmu dari See-thian Tok-ong."
Hui Lian bukan anak bodoh, dia maklum bahwa kepandaian Kong Ji masih jauh kalau hendak dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri, maka kata-kata ini tentu saja menimbulkan senyumannya.
"Suheng, ilmu aneh apakah yang kau sebutkan tadi? Coba kauperlihatkan dulu, hendak kulihat apakah cukup berharga untuk ditukar dengan Pak-kek Sin-ciang?"
Kong Ji menunjuk kepada sebatang pohon yang berbunga. Bunganya berwarna, putih dan berada agak tinggi, paling rendah tiga tombak dari tanah.
"Sumoi, kalau kau mengambil bunga di tangkai pohon itu, bagaimana caramu yang terbaik?"
Tanyanya. Hui Lian menggerakkan sepasang alisnya sambil memandang ke atas, lalu tersenyum.
"Banyak caranya, Suheng. Pertama kali dengan jalan memanjat pohonnya."
"Tidak pantas bagi seorang gadis memonjat pohon!"
Kong Ji mencela.
"Aku dapat melompat ke atas dan memetik bunga-bunga itu sambil duduk di atas cabang."
Hui Lian berkata lagi.
"Memang bisa dengan jalan itu, akan tetapi cabang pohon itu basah dan kotor, pakaianmu tentu akan kotor. Belum lagi banyak semutnya, kau dikeroyok dan digigit."
"Habis, kalau kau bagaimana akan kaulakukan, Suheng?"
Tanya Hui Lian.
"Itulah, aku mempunyai semacam ilmu pukulan yang sambil duduk di sini aku dapat dipergunakan untuk memukul runtuh semua bunga yang kauinginkan tanpa memanjat pohon atau membiarkan diri dikeroyok semut."
Hui Lian tertawa dan merasa kasihan kepada Kong Ji. Baru kepandaian seperti itu saja dibanggakan, pikirnya.
"Ah, Suheng. Apa sih sukarnya itu? Kalau yang kaumaksudkan aku pun dapat runtuhkan semua kembang itu dengan pukulan-pukulan lweekang dari tempat ini."
"Dengan pukulan Pak-kek Sin-ciang?"
Tanya Kong Ji tertarik.
"Ya, dan kau boleh saksikan ini!"
Hui Lian menggerak-gerakkan kedua lengannya secara aneh, tiba-tiba ia memukul ke arah atas pohon.
Angin pukulan dahsyat menyambar, cabang-cabang pohon bergoyang-goyang seperti ada tangan kuat yang menggoyangnya.
Beberapa kembang jatuh ke bawah, bersama banyak yang melayang-layang.
"Tidak baik, tidak balk!"
Kong Ji menggeleng-geleng kepalanya mencela.pukulan itu terlalu kasar, hanya baik untuk membinasakan musuh dan mengusir ulat dari pohon.
Kalau untuk memetik bunga terlalu kasar dan merusak bungga-bunga.
Lihat bunga-bunga yang runtuh itu pada rusak, bukan?"
"Apa kau bisa memukul dan menjatuhkan kembang-kembang seperti yang lakukan tadi, Suheng?"
Hui Lian penasaran karena dicela, padahal pukulannya hebat sekali dan patut dipuji, sedangkan ia tahu bahwa ilmu kepandaian Kong Ji belum sampai pada tingkat penggunaan tenaga lweekang seperti tadi.
Ia telah mempergunakan jurus pukulan dari Pak-kek Sin-ciang yang disebut Angin Laut Memukul Ombak", dan dengan tenaga lweekang yang dikerahkan, hawa pukulannya telah berhasil merontokkan bunga-bunga dan daun.
"Kau lihat saja Sumoi, dan nanti boleh menilai sendiri apakah ilmu pukulanku ini patut untuk ditukar dengan teori Pak-kek Sin-ciang!"
Sambil berkata demikian, Kong Ji duduk bersila di bawah pohon, menahan napas, mengerahkan tenaga Tin-san-kang, kemudian dua tangannya digerak-gerakkan mengeluarkan bunyi seperti tulang patah patah setelah itu, dengan gerakan halus dan lambat ia meluncurkan tangan dengan telunjuk ke atas, gerakannya cepat dan ia hanya menudingkan telunjuknya ke arah setangkau bunga.
Benar-benar aneh dan seperti ilmu sihir apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
Tiap bunga yang ditunjuk oleh jarinya, segera patah tangkainya dan melayang perlahan ke bawah, lalu diterima dengan tangannya dan benar saja bunga-bunga itu masih utuh!
Kong Ji dengan gerakan seperti itu telah meruntuhkan sepuluh tangkai bunga, kemudian ia tersenyum, memegang bunga-bunga itu pada tangkainya menjadi satu dan memberikannya kepada Hui Lian.
"Kau lihat, bukankah bunga-bunga ini seperti baru habis dipetik saja!"
Hui Lian menerima bunga-bunga itu dan terkejut dan heran bukan main.
tidak percaya bahwa apa yang diperlihatkan tadi adalah demonstrasi tenaga lwekang yang luar biasa, dan mengira bahwa Kong Ji memang mempelajari ilmu sihir.
"Itulah hoatsut (ilmu sihir)!"
Seru gadis cilik ini. Kong Ji tertawa.
"Boleh kausebut apa saja, akan tetapi bukankah ilmu ini berguna sekali dan sukakah kau mempelajarinya untuk ditukar dengan teori Pak-Sin-ciang"
"Iloatsut termasuk ilmu sesat atau ilmu hitam, dan Ayah melarangku mempelajari ilmu sesat!"
Katanya dengan mata masih terheran-heran.
"Jangan bilang begitu, Sumoi. Yang kuperithatkan tadi sama sekali bukan hoatsut, melainkan ilmu pukulan yang amat berguna."
"Berguna untuk pertandingan? Bukan hanya untuk mengambil kembang?"
"Ya, berguna untuk menghadapi yang bagaimanapun juga."
"Bagus, kalau begitu, mari kita coba. Kau hadapi Pak-kek Sin-ciang dengan ilmu yang aneh tadi, kalau benar-benar kulihat ilmu itu berguna, aku tidak keberatan untuk menukar dengan teori Pak-kek Sin-ciang."
Sebetulnya Kong Ji hendak menyembunyikan kepandaiannya dan ia merasa takut sekali kalau-kalau suhunya melihat dia telah mahir ilmu Tin-san-kang Giok Seng Cu dan ilmu silat barat dipelajarinya dari See-thian Tok-ong.
Akan tetapi ia tidak takut kalau Hui Lian akan membocorkan rahasianya ini karena kalau gadis itu sudah menukarnya dengan Pak-kek Sin-ciang, bukankah berarti gadis itu melanggar larangan ayahnya dan tentu tidak berani membocorkan rahasia itu?
"Baik, marilah kita main-main sebentar, Sumoi.
Akan tetapi, Pak-kek-sin-ciang amat berbahaya dan hebat, jangan kau memukul benar-benar sehingga aku akan tewas dt tanganmu!"
Hui Lion tersenyum manis.
"Orangnya gagah akan tetapi takut mati! Suheng, kau belum tahu akan sifat Pak-kek-sin-ciang. Ilmu ini adalah ilmu bersih, ilmu silat yang luar biasa ciptaan seorang suci seperti Sucouw Pak Kek Siansu, mana dapat disamakan dengan ilmu memukul dan membunuh orang? Jangan kamu khawatir, aku hanya akan melihat sampai di mana gunanya ilmu yang hendak kau ajarkan kepadaku itu. Bersiaplah!"
Kong Ji slap dengan kuda-kuda yang dipelajarinya dari See-thian Tok-ong.
Ia gemmbira sekali karena sebelum mempelajari kauwkoat dari Pak--kek Sin-ciang, ia memang hendak lebih dulu menguji sampai di mana kehebatan ilmu yang amat terkenal namun amat dirahasiakan ini.
Pertama-tama ia hendak menghadapi Hui Lian dengan ilmu silat barat yang empat tahun lamanya ia pelajari dari Raja Racun itu.
Kuda-kudanya kuat sekali dan tubuhnya miribf, kedua lengan diatur sedemikian rupa sehingga seluruh bagian tubuh yang berbahaya atau lemah terlindung rapat-rapat.
Hui Lian memandang sebentar, kemudian Kong Ji mehhat sesuatu yang aneh.
Gadis itu berdiri tegak lalu meramkan mata, tak bergerak seperti patung untuk beberapa detik, kemudian tanpa membuka matanya ia berseru.
"Suheng, terimalah seranganku!"
Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, tubuhnya bergerak secepat kilat dan sebelum Kong Ji tahu apa yang terjadi, telinganya terasa pedas dan panas karena sudah kena disentil oleh tangan Hui Liab!
Ia kaget setengah mati, gerakan gadis itu tidak terduga sama sekali dan biarpun matanya masih belum dibuka gadis itu ternyata telah dapat menyentil telinganya!
Hui Lian sudah melompat mundur dan berkata.
"Hati-hatilah, Suheng, jaga baik-baik dan pergunakan ilmumu yang tadi!"
Kong Ji mendongkol sekali kepada See-thian Tok -ong.
ia sudah melatih diri selama empat tahun dengan ilmu silat yang diajarkan oleh See-thian Tok-ong akan tetapi sekarang ilmu silat itu sewaktu menghadapi Hui Lian, baru segebrakan saja sudah kelihatan tidak ada gunanya!
Tentu saja ia tidak tahu bahwa bukan ilmu silat dan See thian Tok-ong yang kurang lihai, yang menjadi sebab adalah karena dia belum tahu akan sifat Ilmu silat Pak Kek Sin-ciang.
Kalau ia tidak berlaku sembrono, baru melihat Hui Lian bergerak dengan mata meram saja, ia sudah akan berlaku lebih hati-hati.
Memang Ilmu Silat Pak kek Sin-ciang bukanlah ilmu silat biasa saja.
Latihannya amat berat dan benar seperti dikatakan oleh Hui Lian, tidak sembarangan orang dapat mempelajarinya.
Harus memiliki dasar yang kuat dulu, bukan dasar jasmaniah saja melainkan terutama sekali dasar yang kuat dalam batinnya.
Ketika Soan Li dan Hui Lian mulai melatih untuk mempelajari ilmu ini, dengan susah payah barulah mereka berhasil.
Tiga hari tiga malam tak pernah bergerak pindah dari tempatnya, hidup hanya dari udara yang dihisap saja, ini masih belum hebat, yang paling berat adalah menjalankan latihan menghindarkan cahaya matahari selama tiga hari tiga malam.
Si murid harus tinggal dalam kamar atau gua yang gelap dan tidak dapat ditembusi sinar matahari, dan bersamadhi di situ.
Dan di dalam latihan itu, yang menjadi guru lalu menggoda murid itu dengan berbagai jalan.
Setelah kuat menghadapi semua ini dan karenanya kekuatan batin si murid sudah cukup teguh, barulah perlahan-lahan ia boleh menerima latihan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang!
Inilah sebabnya maka tadi Hui Lian bersilat sambil menutup matanya, oleh karena tingkat gadis ini masih rendah dalam ilmu ini.
Tanpa menutup matanya, ia kurang dapat memusatkan perhatiannya dan makin rapat matanya ditutup, gerakan ilmu silatnya makin sempurna.
Seluruh panca indera dapat dipusatkan dan dengan pendengaran dan perasaan saja ia sudah dapat menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun.
Oleh karena itu, biarpun matanya meram, dengan mudah ia dapat menyentil telinga suhengnya!
"Balk, Sumoi, kau boleh menyerang lagi."
Kata Kong Ji dan kini ia memasang kuda-kuda rendah sekali dan mulailah mainkan Ilmu Silat Tin-san-kang!
Hui Lian mulai menyerang lagi, cepat dan dahsyat sekali, akan tetapi sifatnya lemah dan lembut.
Memang Ilmu Silat Pak-Sin-ciang itu dapat dimainkan menurut sikap pemainnya, dan sesuai pula dengan wataknya.
Hui Lian seorang wanita, maka sifat ilmu silatnya itu lemah-lembut, namun ia berwatak gembira dan jenaka, maka cepat dan dahsyat gerakan kaki tangannya.
Kong Ji cepat mengelak dan menggerakkan lengan untuk menangkis, sambil mengerahkan tenaga Tin-san-kang, namun tidak sepenuh tenaga.
Dalam gebrakan pertama ini, akibatnya keduanya terkejut bukan main.
Biarpun sudah mengelak dan menangkis, tetap saja tangan Hui Lian menyerempet pundak Kong Ji, demikian cepat dan tidak terduga serangan ilmu dilat itu.
Sebaliknya, ketika hawa tangkisan tangan Kong Ji menolaknya Hui Lian merasa ada tenaga luar biasa mendorongnya, sehingga kuga-kuda kakinya sang teguh itu menjadi miring.
Hui Lian tidak membuang waktu dan menyerang terus karena tangkisan tadi membuat ia penasaran, juga gembira.
mulai menduga bahwa ilmu silat yang diperlihatkan oeh Kong Ji ini "ada isinya"
Juga ia heran melihat ilmu silat yang dilakukan dengan kuda-kuda demikian rendahnya sehingga kadang-kadang Kong Ji sampai hampir menyentuh tanah.
Kini terjadilah pertandingan yang hebat sekali.
Biarpun hanya latihan yang sifatnya main-main atau hanya menguji ilmu silat, namun keduanya benar-benar bersilat dengan baiknya sehingga bagi orang yang tidak begitu paham dengan ilmu silat tinggi pasti mengira bahwa mereka sedang bertempur mati-matian!
Kong Ji kagum bukan main oleh ilmu silat itu.
Gerakannya demiklan sepat dan aneh, sama sekali tidak dapat diduga perubahannya dan tahu-tahu setiap gerakan merupakan ancaman hebat.
Kalau saja tidak memiliki tenaga Tin-san-kang yang memang sudah ia pelajari secara mendalam dan sempurna pasti takkan mampu menghadapi Hui Lian secara berimbang.
Tidak ada ilmu silat yang pernah dipelajarinya, yang akan dapat menandingi Pak-kek Sin-ciang ini.
Sebaliknya Hui Lian juga kagum dan terheran-heran.
Memang, gerakan dari Kong Ji tidak begitu lihai, kurang cepat dan banyak terdapat lowongan-lowongan, namun yang membikin ia terkejut dan heran adalah hawa pukulan yang keluar dari sepasang lengan suhengnya.
Hawa itu demikian kuat sehingga tanpa menyentuh tangannya, suhengnya sudah dapat menangkis dan menolak semua serangannya!
Hal ini tIdak aneh, Kong Ji pernah diberi penjelasan yang amat lengkap dari Giok Seng Cu tentang Tin-san-kang dan pemuda Ini sudah melatih diri dengan amat tekun sehingga biarpun belum boleh dikatakan bahwa ilmunya Tin-san-kang sudah dapat mengimbangi Giok Seng Cu, namun sedikitnya ia telah mempelajari delapan bagian dan tenaganya sudah terkumpul sedikitnya enam bagian.
Kalau dia mau, dengan pukulan maut agaknya ia dapat merobohkan Hui Lian.
Sebaliknya, biarpun sudah bertahun-tahun belajar Pak-kek Sin-ciang, namun ilmu ini amat luas dan sukar dipelajari sehingga kepandaian Hui Lian, dalam ilmu ini masih kurang baik.
Ilmunya bermain pedang warisan ayahnya jauh lebih baik dari ilmunya bertangan kosong.
Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang bukan sembarang ilmu, Go Ciang Le sendiri yang mendapat julukan pendekar besar dan semua orang takluk menghadapi ilmu silatnya Pak kek Sin-ciang, sebetulnya, belum mempelajari seluruh ilmu silat hebat ini.
Ketika ia berguru kepada Pak Kek Siansu dan menerima latihan ilmu silat ini, ia mencapai tingkat enam atau tujuh bagian, karena keburu disuruh turun gunung oleh suhunya (baca Pendekar Budiman).
Apalagi, setelah mendekati kematiannya, Pak Kek Siansu memperbaiki lagi ilmu silatnya yang semuanya ia tuliskan di dalam kitab rahasia yang akhirnya ditemukan oleh Wan Sin Hong.
Kembali pada pertandingan antara Kong Ji dan Hui Lian, keduanya saling mengagumi dan pada suatu detik, Hui Liang mendesak hebat dengan pukulan kearah lambung Kong Ji dengan tangan kanan, dibarengi dengan tangan kiri menotok pundak.
Kong Ji terkejut menghadapi serangan hebat ini, terpaksa melompat ke belakang dan mendorong dengan kedua tangannya ke depan.
namun kurang cepat, pundaknya masih terkena totokan, namun meleset dan hanya bajunya di pundak yang robek, sedangkan Hui Lian terkena dorongan hawa pukulan itu sehingga tersentak mundur sampai tiga tindak!
Kong Ji tertawa sambil memegangi baju yang robek di bagian pundaknya.
"Sumoi, benar-benar hebat Pak kek-Sin-ciang tadi. Aku takluk benar-benar!"
Akan tetapi Hui Lian tidak tertawa, bahkan memandang dengan tajam dan sikapnya sungguh-sungguh.
"Suheng, kau hebat. Bagaimana kau dapat menyembunyikan ilmu kepandalanmu yang sudah tinggi itu? Kalau kau mau memukul kiranya aku takkan kuat melawanmu, bahkan Suci Soan agaknya tidak bisa menangkan kau! Ilmu silat apakah yang dimainkan sambil merendahkan tubuh seperti itu?"
Kong Ji tertawa sambil memegangi baju yang robek di bagian pundaknya.
Kong Ji berpikir bahwa kalau dia menyebut Tin-san-kang dari Giok Seng Cu, boleh jadi gadis ini akan terkejut, maka sengaja memutarbalikkan kenyatan dan membohong.
"Ah, itulah ilmu silat yang dipelajari dari Sce-thian Tok ong, entah apa namanya, akan tetapi ilmu silat ini dari barat datangnya dan sama sekali bukan ilmu sesat."
Memang, Tin-san-kang bukan ilmu sesat, berbeda dengan ilmu silat yang ia pelajari dari See-thtan Tok-ong, karena pukulan dari ilmu silat Raja Racun itu mengandung hawa beracun yang jahat dan yang tentu saja tidak diperlihatkan oleh Kong Ji.
"Hebat benar ilmu silat itu, hawa pukulannya tidak kalah oleh Pak-kek Sin-ciang."
Hui Lian memuji.
"Sumoi, kuharap dengan sangat kau sudi memegang teguh perjanjian, dan jangan membocorkan hal ini kepada Suhu. Aku takut Suhu akan marah. Bagaimana sekarang pendapatmu? Sukakah kau belajar ilmu silat ini dan sebagai gantinya kau memberi tahu kepadaku tentang teori Pak-kek Sin-ciang. Setujukah?"
"Boleh, dan ini bukan berarti bahwa aku mengajar PaK-kek Sin-ciang kepadamu, Suheng, karena kau pun kelak akan diberi pelajaran oleh Ayah. Dan tentu ilmu silatmu itu aku senang sekali kau dapat mempelajarinya."
Hui Lian memandang ke wajah suhengnva yang kini sudah merupakan pemuda berusia delapan belas tahun itu dengan kagum.
Ia kini mulai mempunyai pandangan lain terhadap Kong Ji, tidak lagi berani memandang rendah bahkan ia kagum sekali karena keadaan pemuda itu benar-benar jauh daripada persangkaannya semula.
Demikianlah, dengan diam-diam, tanpa diketahui oleh Go Ciang Le dan yang lain-lain, kedua orang muda ini saling menukar ilmu silat dan mereka mempunyai hubungan yang makin erat.
Setelah merima Ilmu Silat Tin-san-kang dari Kong Ji, sikap Hui Lan terhadap pemuda ini-lebih erat dan rapat, dan ia yang berwatak jujur benar-benar percaya akan kebaikan dan kesayangan hati Kong Ji terhadapnya.
Bahkan dalam usahanya untuk membalas kebaikan Kong Ji, Hui Lian seringkali bertanya kepada Soan Li tentang Sin-ciang yang ia belum tahu betul, untuk kemudian diberikan dan dijelaskan kepada Kong Ji.
Dengan jalan inilah, Kong Ji yang amat cerdik itu akhirnya dapat mengenaI Pak-kek Sin-ciang, walaupun hanya teorinya.
Setelah tahu dari Hui Lian betapa sukarnya mempelajari Pak-kek Sin-ciang, Kong Ji merasa kecewa sekali.
Memang betul ia telah mencoba menjalani syarat-syaratnya, akan tetapi memang pada dasarnya watak pemuda ini tidak bersih, maka ia selalu gagal menghadapi godaan daripada nafsu dan perasaan sendiri dalam samadhi.
Oleh karena itu ia memang dapat mainkan Pak-kek Sin-ciang yang ia pelajari dari Hui Lian, akan tetapi yang ia miliki hanya "kulitnya"
Saja dan isinya bukan Pak-kek Sin-ciang sesungguhnya, melainkan ia isi dengan tenaga Tin-san-kang dan lweekang yang ia dapat pelajari.
dari See-thian Tok ong.
Oleh campuran ini, maka ilmu silat Pak-kek-sin-ciang yang dimiliki oleh Kong Ji menjadi berubah sifatnya, sudah menyeleweng daripada aselinya, namun harus diakui bahwa tidak berkurang kelihaiannya bahkan boleh dibilang lebih ganas dan berbahaya bagi lawan, sungguhpun intinya tidak sekuat aselinya.
Empat tahun telah lewat dengan cepatnya.
Kong Ji telah menjadi seorang pemuda dua puluh dua tahun, tubuhnya jangkung dan wajahnya tampan.
Soan Li telah menjadi seorang gadis yang usianya dua puluh tiga tahun, sifatnya lemah-lembut, namun pada wajahnya yang cantik itu terbayang kematangan jiwa yang membuat ia makin pendiam dan hemat dengan kata-kata.
Sebaliknya Hui Lian Iaksana sinar matahari yang bercahaya terang, telah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun yang tentu saja cantik jelita, namun juga manja, nakal dan gembira.
Dalam waktu empat tahun ini, kepandaian mereka bertiga telah meningkat tinggi.
Selama delapan tahun Kong Ji menerima latihan-latihan dari Ciang Le dan selain itu, ia pun telah menguasai ilmu Pak-kek Sin-ciang yang dapat ia pelajari dari Hui Lian.
Hatinya diam-diam mendongkol sekali dan timbul kebencian, terhadap Ciang Le karena ternyata bahwa suhunya ini benar-benar tidak menurunkan Pak-kek Sin-ciang kepadanya!
Namun, dengan amat pandainya ia menyembunyikan perasaannya itu, bahkan makin mendekati Hui Lian.
Terhadap Soan Li, diam-diam hatinya masih menaruh cinta, namun karena Soan Li makin dingin terhadapnya, lama-lama perhatian itu ditujukan kepada Hui Lian.
gadis yang jujur dan berhati polos itu.
Adapun Hui Lian seorang gadis remaja yang masih hijau, tidak dapat menangkap maksud buruk di hati Kong Ji, dan menghadapi rayuan dan sikap mengasih dari Kong Ji pun percaya bahwa hatinya telah terpikat oleh pemuda ini.
Pada suatu malam, Hui Lian tidak dapat tidur karena hawa terlalu panas.
Musim panas telah tiba dan kamarnya demikian panas tidak enak sehingga ia membuka pintu dan berjalan ke belakang, dengan maksud hendak pergi ke taman mencari hawa segar.
Ketika ia lewat dekat ruangan belakang, ia mendengar ayah bundanya bercakap-cakap dengan Soan Li.
Ia mendengar Soan Li terisak, maka tertariklah hatinya.
Dian-diam mendekati pintu dan mendengarkan percakapan itu.
Kalau saja sucinya tidak menangis, tentu dia tidak mau melakukan pengintaian, akan tetapi karena sucinya menangis, sebagai seorang wanita, sudah sewajarnya kalau ia ingin tahu sekali.
tidak berani muncul begitu saja, maka tiada lain jalan baginya kecuali berdiri di luar pintu dan mendengar percakapan mereka.
"Soan Li mengapa kau menangis. Ingat kau sudah berusia dua puluh tiga tahun, sudah lebih cukup bagimu untuk berumah tangga,"
Kata Bi Lan dengan suaranya yang halus.
"Semenjak kau berusia tujuh belas tahun, banyak sudah orang ternama di dunia kang-ouw dan orang-orang bangsawan kaya raya di daerah ini datang meminangmu, akan tetapi kau selalu menolak. Hal itu memang kami anggap betul, karena kami sendiri pun ingin memilihkan seorang suami yang baik untukmu, Soan Li. Akan tetapi, menurut pandanganku, Kong Ji seorang yang cukup baik dipandang dari sudut kepandaiannya maupun dari sikapnya. Dia tepat sekali menjadi suamimu, dan ketahuilah, semenjak kami bertemu dengan Kong Ji, memang aku dan Subomu telah merencanakan hendak menjodohkan kau dan Kong Ji. Hanya karena kami menganggap bahwa sebelum kalian tamat belajar belum tepat melangsungkan perjodohan, maka baru sekarang ini kami memberitahukan padamu,"
Kata Ciang Le panjang lebar sehingga Soan Li dan Bi Lan merasa agak heran.
Tidak biasanya Ciang Le bicara demikian banyaknya.
Mendengar ini, Soan Li makin terengah-engah menangisnya.
Kemudian ia dapat menguasai dirinya dan berkata lirih.
"Suhu, dan juga Subo, mohon ampun sebanyaknya. Suhu dan Subo maklum bahwa teecu tidak hanya menganggap Suhu dan Subo sebagai guru, bahkan teecu menganggap sebagai ayah bunda sendiri."
Sampai di sini, Soan Li kembali mengalirkan air mata karena terharu.
Adapub Hui Lian yang mendengarkan percakapan dari luar, wajahnya berubah pucat sekali, hatinya perih dan tak terasa pula dua titik air mata melompat ke atas sepasang pipinya.
Ia merasa telah jatuh cinta kepada Kong Ji, dan percaya pula bahwa pemuda itu suka kepadanya, ada pun hubungan Kong Ji dengan Soan Li demikian jauh dan dingin.
Sekarang mendengar bahwa Kong Ji hendak dijodohkan dengan Soan Li, maka ia merasa terkejut sekali.
Dadanya berdebar-debar dan ia ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan oleh Soan Li.
"Muridku yang baik, kau pun kami anggap sebagai anak sendiri. Kami menganggapmu sebagai kakak dari Hui Lian oleh karena itulah maka kami sengaja memilih-milih jodoh yang tepat untukmu,"
Kata Bi Lan dengan suara menghibur dan ia mengelus-elus rambut gadis itu yang duduk di atas bangku rendah di sebelahnya.
Mendengar ini, makin membanjir air mata dari mata Soan Li.
Gadis ini menjatulikan diri berlutut dan menyembunyikan mukanya di pangkuan Bi Lan.
"Anak. mengapa kau kelihatan begItu berduka? Apakah yang mengganggu pikiranmu?"
Tanya Ciang Le yang bermata tajam dan yang dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang terkandung di dalam hati muridnya ini.
"Teecu, layak dipukul mati...."
Kata Soan Li.
"Seharusnya teecu berterima kasih atas budi kecintaan Suhu dan Subo, rela untuk mengorbankan nyawa teecu yang tidak berharga untuk Suhu dan Subo, akan tetapi sekarang, baru urusan perjodohan saja teecu sudah memperhkatkan sikap tidak menyenangkan...."
"Katakanlah, apa yang kaupikirkan, Soan Li?"
Tanya Bi Lan, kini ingin tahu juga apa yang hendak diajukan Soan Li sebagai alasan keberatan terhadap perjodohan itu.
"Sesungguhnya amat sukar teecu bicara, dan seyogyanya teecu minerima saja tanpa banyak rewel. Akan tetapi, karena teecu anggap bahwa hal ini harus teecu kemukakan demi kebaikan Suhu dan Subo sendiri, terutama demi kebaikan Adik Hui Lian, terpaksa teecu memberanikan diri membuka mulut. Teecu rela menerima hukuman setelah teecu bicara, dan setelah Suhu mendengar keterangan teecu, teecu pun siap menerima semua keputusan."
Hui Lian makin terkejut dan detak jantungnya menghebat.
Apa maksud Soat Li maka membawa-bawa namanya dalan urusan itu?
"Semenjak Liok-sute datang ke sini entah mengapa teecu selalu merasa tidak suka kepadanya.
Teecu sering kali menegur perasaan sendiri dan menganggap bahwa teecu tentu keliru.
Akan tetepi akhir-akhir ini, ternyata perasaan teecu itu tidak membohongi teecu.
Ada sesuatu yang membuat teecu terpaksa harus berterus terang kepada Suhu dan Subo tentang din Liok-sute...."
Sampai di sini, kembali Soan Li kelihatan ragu-ragu dan pada saat itu tiba-tiba Ciang Le menengok ke arah pintu sambil membentak dengan alis berkerut.
"Hui Lian sejak kapan kau belajar menjadi pengintai? Hayo kau masuk saja!"
Hui Lian kaget bukan main.
ia memang tahu betul akan kelihaian ayahnya, namun dapat mengetahui kedatangannya biarpun ia telah mempergunakan ginkangnya, itulah hebat!
Ia makin kagum kepada ayahnya dan dengan muka merah sekali ia masuk melalui pintu ke dalam ruang belakang ini.
"Ayah, aku merasa panas di kamar dan hendak ke taman...."
Katanya gagap.
"Aku tahu, kau mendengar percakapan kami dan berdiri di luar pintu. Hui Lian, jangan sekali-kali kau berbuat hal seperti itu lagi. Kalau mau masuk, masuk saja, kalau tidak lebih baik pergi menjauh, jangan mendengar percakapan orang!"
Kata ayahnya.
Hui Lian menundukkan mukanya dan ia lalu duduk di atas sebuah bangku rendah tak jauh dan ayahnya.
Melihat munculnya Hui Lian, Soan menjadi makin tidak enak hati.
Ia berkali-kali memandang kepada Suhunya kemudian kepada Hui Lian, hatinya berat sekali untuk bicara.
"Soan Li kauteruskan keteranganmu. Tak usah kau berlaku sungkan dan tak usah kau menyembunyikan sesuatu. Biar pun Hui Lian berada di sini, namun adalah Sumoimu atau seperti Adikmu sendiri. Kita semua adalah sekeluarga dan sekarang ini adalah percakapan keluarga yang tak boleh diadakan segala macam rahasia!"
Kata pula Ciang Le dan biarpun suaranya halus dan tenang, namun mengandung pengaruh besar dan membuat hati Soan Li dan Hui Lian tunduk dan takut.
"Suhu dan Subo, demi kebahagian rumah tangga Suhu, teecu akan berterus-terang. Ada sesuatu dalam diri Liok-sute yang ganjil, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu rahasia yang aneh dan menakutkan."
Ciang Le mengangguk.
"Sejak dulu aku pun mempunyai keraguan, dari sinar matanya memang ada sesuatu yang aneh. Karena itu aku tidak mau menurunkan Ilmu Pak kek Sin-ciang kepadanya. Akan tetapi sikapnya selama delapan tahun ini baik sekali sehingga keraguanku lenyap dan dia mendatangkan kesan baik dalam hatiku."
"Akan tetapi Suhu, belum lama ini tecu kebetulan sekali melihat dia... melatih diri dengan Pak-kek Sin-ciang!"
Keterangan ini demikian mengejutkan hingga keadaan di situ sunyi, Hui Lian menundukkan mukanya. Ciang Le memandang kepada Soan Li dengan mata terbelalak, sedangkan Bi Lan mengerling ke arah puterinya.
"Apa kaubilang? Betul-betulkah itu? Apakah boleh jadi dia mengintai ketika aku memberi latihan kepada kau dan Hui Lian?"
"Entahlah, Subo. Hanya teecu mellhat gerakannya itu, biarpun boleh dibilang baik sekali, namun isinya tidak seperti sebagaimana mestinya. Isi pukulan dan jurus-jurus Pak-kek Sin ciang yang dia mainkan itu adalah hawa pukulan yang aneh dan dahsyat."
"Aneh, aneh sekali. teruskan keteranganmu, Soan Li. Apa pula yang kau ketahui tentang Sutemu itu."
"Teecu memberitahukan hal ini karena itu adalah sesuatu yang amat ganjil sehingga teecu pikir Suhu akan dapat berlaku hati-hati. Dan soal ke dua, membuat teecu berani menyatakan tidak setuju akan perjodohan itu, bukan sekali kali hanya berdasarkan rasa tidak suka teecu kepadanya, akan tetapi sesungguhnya...."
Sampai di sini Soan Li memandang kepada Hui Lian dan mukanya menjadi sedih.
"Teruskan saja, Soan Li. Kau tidak mengadu atau bicara jahat, akan tetapi demi kebaikan bersama,"
Kata Bi Lan. Nyonya ini maklum bahwa tentu ada suatu dengan diri Hui Lian, dan ia sudah merasa tegang dan cemas.
"Sumoi, kauampunkan Cicimu ini yang jahat dan rendah budi. Namun aku terpaksa... demi kebaikanmu sendiri...."
Hu Lian mengangkat mukanya. Gadis ini mempunyai kejujuran dan di samping ini juga ketabahan, maka sambil tersenyum akan tetapi mukanya pucat ia berkata,"
"Teruskanlah Suci. Tak usah khawatir kalau memang yang keluar dari mulut adalah hal-hal yang sebenarnya."
"Suhu, dan juga Subo. Teecu melihat bahwa hubungan antara Adikku Hui Lian dan Liok Sute amat erat, amat rukun dan baik. Bahkan, kalau teecu tidak salah kira di antara mereka ada rasa suka yang besar. Dan selain itu... mereka sering kali berlatih bersama dan Sumoi seakan-akan amat tertarik kepadanya. Hal inilah yang menggelisahkan hati teecu selama ini. Menurut anggapan teecu, Sute hendak mempermainkan Sumoi, sangat boleh jadi dia sengaja menarik hati Sumoi yang masih amat muda ini untuk".. untuk dapat belajar Pak-kek Sin-ciang." (Lanjut ke
Jilid 12) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Suci kau tak tahu malu!"
Hui Lian membentak sambil berdiri, mukanya merah dan matanya bersinar-sinar.
"Kau... kau iri hati...!!"
"Hui Lian, diam kau!!"
Ciang Le membentak marah. Pendekar ini sekarang lenjadi pucat wajahnya, sedangkan Bi Lan juga pucat sekali. Terdengar Soam Li menangis.
"Suhu dan Subo, juga kau Adikku Hui Lian, aku bersumpah kepada Thian bahwa tidak sekali-kali dalam hatiku ada maksud jahat Suhu, sesungguhnya teecu khawatir kalau sampai Adik Hui Lian masuk perangkap dan teecu khawatir kalau kalau Suhu salah pilih ketika mengambil Sute sebagai murid. Kalau semua dugaan teecu keliru boleh bunuh teecu sekarang juga! Sebaliknya kalau Suhu tetap hendak menjodohkan teecu dengan dia, biarpun tercu tidak suka kepadanya, teecu akan menerima dengan hati berdarah. Apa saja untuk membalas budi Suhu dan Subo"
Hati Ciang Le tidak karuan rasanya. Seakan-akan hendak meledak dadanya, Ia marah sekali, marah kepada Kong Ji kepada Hui Lian, juga kepada Soan Li.
"Hui Lian, apakah engkau memberi pelajaran Pak-kek Sin-ciang kepadanya?""
Tanyanya kepada puterinya itu yang membelalakkan mata, takut kalau-kalau ayahnya akan memukulnya saking marah.
Hui Lian menjadi pucat sekali, namun ia tidak gentar.
ia berdiri menghadap ayahnya dan berkata tegas.
"Memang betul, Ayah! Akan tetapi bukan sekali-kali anak membuka rahasia Pak-kek Sin-ciang karena anak sengaja tidak membocorkannya dan melanggar sumpah. Anak pikir bahwa akhirnya sebagai murid Ayah, Suheng tentu akan menerima pelajaran Pak-kek Sin-ciang pula. Dan selain ini, Suheng tidak menerima begitu saja, hanya mendengar teorinya dari anak dan sebagai imbalannya, anak diberi pelajaran olehnya..."
Sampai di sini Hui Lian tiba-tiba menghentikan kata-katanya karena baru ia ingat bahwa ia tidak boleh membocorkan rahasia suhengnya itu!
Akan tetapi sudah terlanjur dan tak dapat ditarik kembali.
Ayahnya menahan kemarahannya dan di dalam hatinya, pendekar yang bijaksana ini memang dapat menganggap bahwa alasan Hui Lian memang tepat.
"Pelajaran apakah yang dapat ia berikan kepadamu?"
Tanyanya. Terpaksa Hui Llan mengaku terus terang karena ia sudah tak dapat mundur lagi.
"Ayah, sesungguhnya Suheng bukanlah seorang yang bodoh seperti yang kita kira. Dia mempunyai banyak ilmu silat yang aneh-aneh, dan teecu menerima sebuah di antaranya, yakni Ilmu silat yang mempunyai kelihatan hampir sama dengan Pak kek Sin-ciang, bahkan dalam penggunaan tenaga agaknya lebih hebat. Ciang Le mengerutkan alisnya, nampaknya tertarik sekali. ia lalu melompat berdiri.
"Coba kau serang aku dengan ilmu aneh itu!"
Perintahnya.
Hui Ltan tidak ragu-ragu lagi karena ia maklum akan kelihaian ayahnya di dalam kesempatan ini ia hendak memperlihatkan kehebatan ilmu pukulann yang ia peroleh dari Kong Ji, maka ia lalu mengerahkan tenaga Tin-san-kang dan menyerang dengan sungguh-sungguh.
Dengan begini ia harap ayahnya akan menghargai ilmu ini dan tidak akan terlalu menyalahkannya bahwa ia telah menukarnya dengan teori Pak kek Sin ciang.
"Jagalah, Ayah!"
Katanya gembira dan ia lalu memukul, dengan kedudukan tubuh rendah.
Dengan kedua tangan ia mendorong dada ayahnya, inilah pukulan yang terkuat daripada Tin-san-kang.
Ciang Le terkejut sekali ketika merasa sambaran hawa pukulan yang amat dahsyat ke arah dadanya.
Ia lalu mengerahkan tenaga lweekang, mempergunakan hawa murni menjadi tenaga lemas dan dadanya menerima dorongan itu.
Dada itu terasa oleh kedua tangan Hui Lian amat lunak, akan tetapi tenaga Tin-san-kang di tangannya dihisap lenyap dan ia sendiri yang terhuyung-huyung setelah terpental ke belakang oleh kembalinya tenaganya sendiri"
"Pukulan apakah ini"
Ciang Le benar-benar terkejut karena dengan Pak-kek-sin-ciang, tak mungkin putertnya mempunyai hawa dorongan yang demikian dahsyatnya.
ia memang belum pernah melihat Tin-san-kang yang diciptakan oleh Giok Seng Cu belum lama berselang, sedangkan dahulu ketika ia menghadapi Seng Cu (baca Pendekar Budtman).
Giok Seng Cu belum mempunyai Tin-san-kang.
"Coba kau bersilat dengan ilmu itu sampai habis."
Perintahnya kepada Hui Lian.
Gadis ini tadi terkejut sekali karena ternyata bahwa pukulan Tin-san-kang itu tidak ada artinya bagi ayahnya, maka kini ia bersilat sebaiknya mainkan ilmu silat yang selalu mengambil kedudukan rendah itu.
"Cukup!"
Kata Ciang Le.
"Dari mana dia mendapatkan ilmu silat ini?"
"Menurut Suheng, katanya ia belajar dari See-thian Tok-ong,"
Jawab Hui Lian perlahan.
Ciang I.e berpikir keras.
ia tahu bahwa See-thian Tok-ong adalah orang dari See-thian (barat) sedangkan ilmu silat yang baru saja dimainkun oleh puterinya itu, biarpun gerakan-gerakan aneh, namun kedudukan kakinya jelas sekali menunjukkan gaya dari utara bahkan satu sumber dengan Pak-kek Sin-ciang!
"Panggil Kong Ji ke sini.
Lekas!"
Bentaknya kepada Hui Lian.
Gadis ini segera berlari keluar menuju ke kamar Kong Ji yang terletak di bangunan sebelah kiri, agak jauh dari bangunan pusat, terhalang oleh taman.
Akan tetapi, ketika Hui Lian tiba di kamar Kong Ji melihat kamar itu kosong.
Sunyi sekali di situ karena memang situ tidak ada pelayan dan biasanya Kong Ji berada seorang diri saja di kamarnya.
Hui Lian berdiri bagaikan patung, hatinya tidak karuan rasanya.
"Liok-suheng...!"
Ia memanggil perlahan, keluar dari kamar itu, berdiri di tengah taman.
"Sumoi, aku di sini. Kau keluarlah...!"
Terdengar suara Kong Ji dari luar pagar tembok taman!
Hui Lian berlari dan melompat tembok pagar itu.
Ketika ia tiba di luar pagar tembok, ia melihat bayangan Kong Ji di situ, dan pemuda ini telah menggendong buntalan pakaian yang besar.
"Sumoi, hayo kita pergi agak jauh untuk bicara!"
Sambil berkata demikian pemuda itu lalu berlari cepat menuju ke utara di mana terdapat sebuah hutan kecil. Hui Lian ragu-ragu.
"Suheng, Ayah hendak bicara denganmu...."
"Marilah ikut sebentar, kita dapat bicara di tempat agak jauh,"
Kata Kong Ji tanpa menoleh. Terpaksa Hui Lian berlari mengejar Setelah tiba di dekat hutan, barulah Kong Ji menghentikan larinya.
"Sumoi, aku tak dapat bertemu dengan Ayahmu. Suhu tentu marah besar kepadaku. Suci sudah mengadu yang bukan-bukan, sungguh memalukan dan menyedihkan."
Sampai di sini Kong Ji terisak, dan karena keadaan gelap Hui Lian tidak dapat melihat wajah suhengnya, namun ia tahu bahwa suhengnya menangis saking sedihnya.
"Kau tahu semua yang dibicarakan Suheng?"
"Aku tahu, aku sudah sejak tadi mendengar dari atas genteng."
Diam-diam Hui Lian memuji dan kagum sekali.
Dia yang hanya berdiri di luar pintu, ayahnya tahu akan kehadirannya.
Akan tetapi suhengnya ini dapat mengintai dari atas genteng tanpa diketahui ayahnya!
"Lebih baik kau berterus terang kepada Ayah.
Kau toh tidak ada kesalahan apa-apa.
Kau belajar Pak kek Sin ciang dariku, dan akulah yang bersalah,"
Kata Lian Hui menghibur.
"Tidak, Sumoi. Biarpun Suhu tidak akan marah kepadaku, akan tetapi aku malu dan sakit hati sekali kepada Suci yang sudah menghinaku dan mengira yang akan-bukan. Lagi pula aku... aku tidak suka dijodohkan dengan dia...."
Suara Kong Ji perih sekali karena mendengar penolakan Soan Li.
Ketika ia mendengar bahwa ia akan dijodohkan dengan Soan Li, ia, bisa berjingkrak-jingkrak saking girangnya, akan tetapi alangkah hancur hatinya ketika ia mendengar betapa Soan Li tidak saja menolak, bahkan memburuk-burukkan namanya dan dengan jelas sekali menelanjangi dadanya sedemikian rupa.
Berbahaya benar Soan Li agaknya yang dapat tahu segala isi hatinya itu.
"Suheng, Suci adalah seorang yang baik...."
"Tidak, Sumoi, apakah kau masih belum tahu bahwa bukan dia yang menawan hatiku?"
Berdebarlah hati Hui Lian mendengar ini.
Ia maklum bahwa suhengnya ini sayang atau cinta kepadanya, hal ini sering dapat ditangkap dari kata-kata dan sikap pemuda itu terhadapnya.
Diam-diam ia bersyukur mendengar kata-kata terakhir ini.
"Habis, kalau pergi. bagaimana, Suheng....? hendak ke manakah kau, dan apakah Ayah takkan marah...?"
"Sumoi, aku benar-benar sakit terhadap hinaan Suci. Aku harus melakukan sesuatu, melakukan sesuatu untuk membuktikan kepala Suhu bahwa tidak percuma aku menjadi muridnya. Aku hendak pergi mencari orang-orang jahat dari Im-yang-bu-pai, hendak kuhancurkan Im yang-bu-pai, hendak kubasmi Bu-cin pang yang sudah menjadi biang keladi kehancuran Hoa-san-pai, hendak kucari See-thian Tok-ong dan Giok Seng Cu, akan kukalahkan mereka untuk menjunjung nama besar Suhu. Juga akan kucari di mana adanya Lie Bu Tek Suheng, akan kucari pula Adik Sin Hong dan terutama sekali... akan kucari kitab-kttab rahasia peninggalan Sucouw Pak Kek Siansu. Akulah yang akan menjadi ahli warisnya dan aku yang akan menjunjung tinggi nama Luliang-san juga nama Suhu."
Hui Lian mendengarkan dengan hati berdebar.
Alangkah gagah dan mulianya hati suhengnya ini.
Sucmya, Soan Li benar-benar tolol dan salah duga.
Orang begini mulia dan gagah dicaci maki sedemiktan rupa!
"Sumoi, kalau kau...
suka turut kepadaku kau pun akan mengambil bagian dalam tugas-tugas suci ini.
Siapa tahu kita berdua yang akan mendapatkan kitab rahasia itu, kita berdua yang akan menghancurkan musuh-musuh besar yang dibenci Ayahmu.
Marilah kau ikut dengan aku, Sumoi."
Berdebar lebih keraslah hati Hut Lian.
"Akan tetapi, Ayah...."
"Sumoi, bukan aku saja yang dihina oleh Suci Soan Li. Kau pun dihinanya, dibuka rahasiamu mengajar Pak-kek Sinkang kepada Suhu. Suci ternyata memunyai hati yang penuh iri dan dengki, dan celakanya, agaknya Suhu dan Subo percaya kepadanya. Biarlah Suhu dan Subo kelak melihat bahwa kau dan aku yang betul, bahwa Suci tidak bisa apa-apa hanya bisa mengacaukan saja. Marilah kita pergi, Sumoi."
Pada saat itu bulan tersembul di balik awan dan Hui Lian melihat pedang tergantung di pinggang Kong Ji.
"Eh, kau membawa Pak-kek-sin kiam?"
Tanyanya terkejut.
"Hanya pinjam untuk menunaikan tugas ini, Sumoi. Pedang ini dahulu aku yang mendapatkan, bahkan kalau tidak aku yang memberi tahu, Suhu juga tidak akan tahu bahwa pedang ini berada di tangan See-thian Tok-ong. Sekarang aku bukan mencuri, hanya akan meminjam dan mewakili Suhu menghajar kepada orang-orang jahat itu, untuk membalas dendam ayah bundaku, membalas dendam Ayah Bunda Adik Sin Hong, dan membalas dendam Hoa-san-pai serta kematian Suhu Liang Gi Tojin. Hayo ikut saja, Sumoi. Akulah yang menjamin bahwa kelak Ayahmu tidak akan marah bahkan bangga melihat puterinya demikian gagah perkasa dan berjiwa pendekar seperti ayahnya!"
Hui Lian memang masih berhati kanak-kanak.
Ia mudah sekali dibujuk dan timbulnya ialah karena ia sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Kong Ji.
Melihat keraguan Hui Lian, Kong Ji mulai merasa mendapat angin.
"Sumoi, tanpa bantuanmu, mungkin aku kurang kuat. Mungkin aku akan tewas dalam melakukan tugas ini. Akan tetapi dengan kau di sampingku, aku merasa kuat sekali, biar raja iblis keluar dari neraka, dengan kau di sampingku, aku akan sanggup mengalahkannya. Kalau kau tidak mau ikut, aku pun tidak dapat memaksa, dan dalam setiap pertempuran berbahaya, aku hanya akan membayangkan wajahmu dan menganggap kau disampingku sehingga aku akan kuat. Kalau aku kalah dan tewas.... sudahlah, kita takkan bertemu kembali, Sumoi. Selamat tinggal...."
Kembali suara Kong Ji terdengar seperti orang terisak menangis dan pemuda ini lalu berjalan pergi. Untuk beberapa lama Hui Lian berdiri termenung, kemudian ia memanggil.
"Tunggu dulu, Suheng...."
Kong Ji cepat membalikkan tubuhnya.
"Jadi kau mau ikut, Sumoi...?"
Tanyanya girang.
"Akan tetapi Ayah dan Ibu... tak mungkin aku pergi begini saja tanpa. memberi tahu mereka..."
"Kalau memberi tahu, tentu Ayah Bundamu mencegah. Kita pergi bukan untuk berbuat jahat, kita berjuang, menunaikan tugas suci, mengapa harus ragu-ragu dan memberi tahu? Lebih baik tidak memberi tahu dan kelak kalau kita sudah berhasil pulang, tentu mereka akan lebih bangga lagi."
"Hui Lian.....!. terdengar panggilan. Itulah suara Soan Li. Agaknya gadis itu menyusul dan mencarinya, tentu disuruh oleh Ciang Le untuk menyusul Hui Lian yang begitu lama belum juga kembali dari memanggil Kong Ji. Memang benar demikian, Soan Li tadinya disuruh menyusul Hui Lain, akan tetapi ketika mendapatkan sumoinya itu tidak ada, sedangkan Kong Ji juga tidak dapat dicari, Soan Li menjadi curiga dan gelisah sekali. ia melompat ke atas pagar tembok dan memandang ke sekelilingnya, akan tetapi karena malam itu agak gelap, ia tidak melihat sesuatu, juga tak mendengar suara orang. Soan Li lalu melompat turun dan mengejar ke utara, karena ia pikir bahwa hanya di utara terdapat hutan, jadi kalau ada orang melarikan diri, hutan itulah yang paling tepat untuk dituju. Dengan gerakannya yang gesit dan ringan sekali, Soan Li bergerak maju. Di dalam gelap, ia kelihatan seperti bayangan iblis menghitam yang terbang karena kedua kakinya tertutup oleh pakaian yang panjang dan longgar. Akan tetapi, di waktu bulan muncul keluar dari balik mega dan meyinari gadis yang baru lari cepat ini, nampak seperti seorang bidadari yang turun dari bulan untuk bermain-main di tempat sunyi itu. Sambil berlari, Soan Li menengok ke sana ke mari dan memasang telinga, kadang-kadang memanggil nama Hui Lian.
"Hui Lian...! Hui Lian Sumoi...!!"
Tiba-tiba dari belakang sebatang pohon berkelebat bayangan hitam dan Kong Ji muncul di hadapannya.
"Gak-suci, mencari siapakah?"
Tanya pemuda ini. Melihat munculnya pemuda ini begitu tiba-tiba mau tak mau Soan Li menjadi terkejut juga dan hatinya berdebar.
"Kau...? Suhu memanggilmu lekas pulang. Di mana Hui Lian Sumoi yang tadi mencarimu atas perintah Suhu?"
Akan tetapi sebagai jawaban tiba-tiba kedua tangan Kong Ji bergerak menyerangnya!
Tangan kiri pemuda ini dengan jari terbuka menotok ke arah lambungnya, dilakukan dengan cepat dan bertenaga.
Soan Li kaget sekali.
Di dalam gelap ia tidak begitu dapat melihat gerak Kong Ji namun gadis ini telah terlatih baik, pendengarannya amat tajam, dan dari sambaran angin yang dahsyat, maklum bahwa Kong Ji telah menyerang lambungnya dengan tenaga yang akan dapat menewaskannya, sedikitnya melukainya dengan hebat.
"Bangsat!"
Bentaknya dan gadis ini cepat menggunakan lengan kanan menangkis mengerahkan tenaga lwekangnya dan siap untuk menyusulkan tangan kiri membalas serangan Kong Ji.
Akan tetapi, ia tadi tidak melihat gerakan tangan kanan pemuda itu yang tiba-tiba mengebutkan sesuatu di depan mukanya.
Soan Lt mengelak dan dengan mudah kebutan itu dapat dihindarkan dan mukanya tidak terkena serangan aneh itu.
Namun tiba-tiba Soan Li mengeluh, matanya berkunang, hidungnya mencium bau harum yang amat menyesakkan dada dan kepalanya seperti berputar.
Ia kaget bukan main dan biarpun ia belum mempunyai banyak pengalaman pertempuran dan tidak pernah menghadapi orang-orang kang-ouw, namun ia sudah banyak mendengar penuturan Suhunya.
Oleh karena itu ia maklum bahwa ia telah terkena hawa beracun yang disebar oleh Kong ji.
Dengan sekuat tenaga ia menahan napas dan mengerahkan hawa murni di dalam tubuh untuk mengusir pengaruh bisa itu, namun Kong Ji sudah mendahuluinya.
Sekali saja tangan Kong Ji bergerak, jalan darah thi hu-hiat di tubuhnya telah kena ditotok dan seketika itu juga lemaslah tubuh Soan Li.
Kong Ji memeluknya, memeluk dengan erat lalu berbisik di dekat telinganya.
"Soan Li, kau sungguh kejam, kau menghinaku semau dan seenaknya saja. Kau keterlaluan, Soan Li. Semenjak dulu aku tergela-gila kepadamu. Alangkah cantiknya wajahmu, akan tetapi hatimu kejam terhadapku. Biarpun demikian, Soan Li aku tetap cinta padamu dan aku bersumpah bahwa pada suatu hari kau tentu akan tunduk kepadaku, kau pasti akan menjadi kekasihku yang taat."
Terdenga Kong Ji tertawa menyeramkan, tertawa perlahan dan lambat dan tangannya membelai-belai muka yang halus itu, membelai rambut yang lemas dan hitam itu.
Bergidiklah Soan Li ketika mendengar suara ketawa ini.
Semenjak kenal dengan Kong Ji belum pernah ia mendengar pemuda itu tertawa seperti ini, seperti suara ketawa iblis.
Terpaksa ia meramkan mata ketika merasa betapa pemuda itu meraba-raba mukanya, membelai-belai rambutnya.
Selama hidupny ia belum pernah Soon Li tersentuh oleh tangan laki-laki, dan sekarang berada dalam pelukan Kong Ji dan dirayu sedemikian itu, ia hampir pingsan karena muak dan benci!
"Suheng, lekaslah, aku khawatir kalau-kalau Ayah akan menyusul ke sini,"
Terdengar suara Hui Lian dan dalam hutan. Kong Ji tersentak kaget dan sadar kembali dari pengaruh hawa nafsunya yang membuatnya seperti iblis.
"Baik, Sumoi, tunggu sebentar!"
Jawabnya kemudian ia mendckatkan mukanya di telinga Soan Li dan berbisik.
"Soan Li, kau tinggi hati dan sombong, Kau memandang rendah kepadaku, akan tetapi kelak aku akan mematahkan kesombonganmu itu. Kelak kau akan tahu bahwa Kong Ji bukanlah orang yang boleh kauhina begitu saja. Rebahlah!"
Ia mendorong tubuh Soan Li yang segera terguling dan rebah di atas tanah yang basah dan dingin.
Kong Ji kembali tertawa perlahan seperti tadi, kemudian sekali berkelebat ia menghilang di dalam hutan.
Dengan sekuat tenaga, Soan Li mengerahkan lweekangnya.
Setelah bergulat dengan pengaruh totokan, akhirnya ia dapat membebaskan diri dan begitu sadar, ia segera bangun duduk dan menangis tersedu-sedu.
Ia merasa malu, kecewa, gemas, dan benci.
Ia merasa terhina luar biasa sekali dan ingin ia segera membunuh diri karena gemas terhadap diri sendiri mengapa ia begitu sembrono sehingga mudah saja diserang secara menggelap oleh Kong Ji.
Kalau saja Kong Ji tidak mempergunakan hawa beracun yang lihai dan tidak terduga datangnya tadi, tak mungkin ia akan kalah.
Ia merasa kulit mukanya yang tadi diraba-raba oleh Kong Ji amat panas, merasa seakan-akan kulit muka itu menjadi kotor sekali dan ingin ia membeset membuang kulit muka yang telah dijamah itu.
Bahkan rambut yang dibelai-belai terasa gatal dan kotor dan ingin menjambak dan mencabuti rambut itu.
"Jahanam Kong Ji... tunggulah saja, aku bersumpah akan membalas penghinaanmu ini!"
Sambil menangis tersedu-sedu ia berkata seorang diri penuh kebencian terhadap Kong Ji.
Kadang-kadang ia bergidik kalau memikirkan peristiwa tadi.
Kong Ji benar-benar seorang iblis suara tawanya, suara bicaranya, benar-benar mendirikan bulu tengkuk.
Kalau ia membayangkan apa yang akan terjadi dengannya kalau Hui Lian tidak memanggil Kong Ji, gemetarlah tubuh Soan Li.
"Aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri, Jahanam...."
Berkali-kali ia mengambil keputusan.
"Soan Li, mengapa kau menangis di sini?"
Tiba-tiba terdengar suara teguran di belakangnya dan hampir saja Soan Li berseru kaget.
Ia tersentak dan cepat memandang.
Ketika melihat bahwa yang berdiri di situ adalah subonya, ia cepat menjatuhkan diri berlutut dan menangis lagi.
"Soan Li, apa yang telah terjadi?"
Bi Lan bertanya.
"Tenangkan hatimu dan bicaralah."
"Sumoi telah,.. pergi bersama dia. Teecu berhasil mengejar dan tak terduga-duga manusia busuk itu menyerang, teecu... roboh dan tak dapat mengejar lebih lanjut."
"Kau maksudkan Kong Ji? Dia merobohkanmu lalu melarikan diri bersama Hui Lian!"
Bi Lan berseru keras dan nyonya ini mulai marah.
"Betul, Subo. Kalau jahanam itu berkelahi dengan jujur, belum tentu teecu mudah dikalahkan, akan tetapi dia curang sekali dan dia mempergunakan sesuatu entah apa, hanya tiba-tiba teecu mencium bau yang harum menyesakkan napas dan kepala teecu pusing, maka teecu tidak berdaya dan kena ditotok."
Tiba-tiba Ciang Le mendekati Soan Li dan hidungnya berkembang-kempis di dekat rambut gadis itu.
"Hmm, dia telah mempergunakan racun Bunga Ang-goat-hoa (Bunga Bulan Merah) yang hanya terdapat di barat. Racun ini tentu dia dapatkan dan pelajari dari See-thian Tok-ong."
"Kemana lari mereka?"
Tanya Bi Lan bernafsu.
"Ke dalam hutan, Subo, selanjutnya entah ke mana karena teecu tidak berdaya dan lama baru berhasil membebaskan diri dari totokan."
"Keparat!"
Bi Lan berkelebat dan menghilang ke dalam hutan. Ciang Le melompat dan berseru.
"Isteriku, takkan ada gunanya! Malam begini gelap dan hutan itu banyak sekali jurusannya, ke mana kita harus mengejar?"
Akhirnya Bi Lan terpaksa menyerah dan tak melanjutkan pengejarannya, karena mengejar di dalam gelap tanpa mengetahui arah tujuan mereka yang dikejar, benar-benar merupakan hal tak masuk di akal.
"Suhu dan Subo, biarlah teecu yang akan mencari mereka sampai dapat, kalau belum bertemu, teecu takkan kembaIi."
Kata Soan Li menahan tangisnya.
"Aku sendiri yang akan pergi, Soan Li bersama Subomu. Kalau benar seperti dugaanmu bahwa dia jahat sekali, dia amat berbahaya dan terlalu kuat bagimu. Ilmu silat yang diperlihatkan Hui Lian saja sudah amat berbahaya apalagi kalau dia masih mempergunakan hawa pukulan beracun. Dia bukan Iawanmu, Soan Li."
Gadis itu tidak membantah, Ciang Le lalu mengajak isterinya untuk pulang dan berkemas, karena pada keesokan harinya mereka akan berangkat mencari Hui Lian dan Kong Ji.
Soan Li diperkenankan terus ke kamarnya untuk beristirahat, karena gadis itu baru saja menghadapi hal sangat menggelisahkan dan menegangkan hati.
Akan tetapi, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, Ciang Le dan Bi Lan mendapatkan kamar Soan Li sudah kosong!
Mudah saja bagi Ciang Le dan isterinya untuk menduga bahwa gadis itu tentu telah pergi untuk mencari Hua Lian.
Ciang Le menarik napas panjang "Benar-benar tidak baik kejadian Kong Ji pergi membawa Pak-kek Sin kiam, dan dengan kepandaian serta pedang itu kalau dia benar-benar amat jahat seperti yang diduga oleh Soan Li, dia merupakan bahaya besar.
Hui Lian amat bodoh dan kini dia ikut pergi dengan Kong Ji.
Sekarang ditambah Soan Li pergi lagi seorang diri, aah benar-benar sekarang kita tidak boleh menyembunyikan diri dan berpeluk tangan saja.
Mari kita berangkat, siapa tahu kalau-kalau mereka semua itu, anak-anak yang masih hijau, akan menghadapi bahaya."
Maka pada hari itu juga.
berangkatlah Ciang Le bersama isterinya meninggalkan Pulau Kim-bun-to (Pulau Pintu Emas).
Mereka mendapat keterangan dari tukang-tukang perahu bahwa memang mereka melihat Soan Li menyeberangi selat dengan menyewa perahu layar, akan tetapi tak seorang pun tahu atau melihat Kong Ji dan Hui Lian.
Kong Ji memang diam-diam menyeberangi selat pada malam hari mempergunakan sebuah perahu kecil yang didayungnya sendiri.
Setelah menyeberangi selat dan tiba di daratan Ttongkok, Ciang Le dan isterinya lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan menunggang kuda.
Kong Ji yang pergi bersama Hui Lian, membatalkan niatnya ke Luliang-san untuk mencari kitab rahasia peninggalan Pak Kek Siansu yang pernah dilihatnya di dasar jurang, ia pikir bahwa pada waktu itu, amat berbahaya untuk pergi ke Luliang-san.
ia merasa pasti bah suhu dan subonya tentu akan mengejarnya, dan sungguh besar kemungkinannya suhu dan subonya akan langsung menuju ke bukit itu.
Untuk sementara ini, ia ingin jangan sampai bentrok dengan suhu dan subonya, karena sungguhpun ia tidak takut menghadapi siapapun juga, namun menghadapi suhunya, ia merasa gentar juga.
Apalagi Hui Lian berada di sampingnya dan kalau sampai terjadi pertentangan antara ia dan Ciang Le, tentu gadis ini akan memihak ayahnya.
"Liok-suheng, kita sekarang hendak menuju ke manakah?"
Tanya Hui Lian pada Kong Ji.
Mereka juga melakukan perjalanan berkuda karena begitu tiba didaratan Tiongkok, Kong Ji lalu membeli dua ekor kuda yang dibelinya dengan sepasang gelang di tangan Hui Lian.
Mereka tidak membawa uang dan untuk mencuri kuda tentu saja Hui Lian tidak sudi, maka gadis ini rela menukarkan sepasang gelangnya yang indah dengan dua ekor kuda yang kuat.
"Sumoi, aku mendengar bahwa musuh-musuh kita terutama sekali orang-orang Im-yang-bu-pai berada di daerah utara. Maka sekarang kita harus menyusul mereka ke sana."
Sebetulnya, Kong Ji mempunyai rencana lain.
Pemuda ini pernah mendengar suhunya bercakap-cakap dengan sahabat yang baru datang dari pedalaman, tentang adanya bangsa Mongol yang mulai berkembang, dan tentang surutnya pemeintah Kin.
Diam-diam pemuda ini memptinyai cita-cita yang besar sekali.
ia dahulu seringkali mendengar dari para anggauta Im-yang-bu-pai ketika ia masih berada di perkumpulan itu sebagai wakil suhunya, bahwa orang-orang Mongol memang merupakan pasukan yang kuat dan gagah berani, dan betapa orang-orang gagah saling berlumba untuk meruntuhkan pemeritah Kin.
Mendengar semia ini, diam-diam Kong Ji berpikir bahwa kalau saja ia dapat menggulingkan pemerintah Kin dan dapat memimpin orang-orang Mongol, ada harapan ia akan menggantikan kedudukan kaisar!
Memang aneh, di dalam otak anak ini terdapat lamunan-lamunan yang luar biasa dan tidak sewajarnya.
Hui Lien baru beberapa kali mengadakan perjalanan dengan ayah bundanya di daratan Tiongkok, itu pun hanya ketika ia masih belum dewasa dan semua gerakannya terbatas.
Kini ia telah dewasi, telah berusia delapan belas tahun dan di samping suhengnya, ia merasa sudah dapat kekuatan sendiri.
Oleh karena itu, ia merasa amat gembira melakukan perjalanan jauh ini dan kesedihannya karena harus berpisah dari ayah bundanya, perlahan-lahan mengurang.
Kong Ji juga tidak bodoh.
Pemuda ni pandai sekali mengambil sikap dan dia tetap memperlihatkan kasih sayang dan sopan-santun bagaikan seorang kakak seperguruan terhadap adiknya, sungguhpun beberapa kali ia memperlihatkan sikap dan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya sehingga gadis itu mengerti bahwa suhengnya benar-benar cinta kepadanya, bukan hanya cinta seorang kakak terhadap adik seperguruan, melainkan terutama sekali cinta seorang pria terhadap seorang wanita.
Namun Hui Lian yang masih bersifat kanak-kanak itu seakan-akan tidak merasa atau tidak tahu, dan sikapnya tetap lincah jenaka, tidak ada perubahan sama sekali.
Tentu saja Kong Ji sama sekali tidak mengira bahwa di dalam kepala Hui Lian yang cantik jelita itu, tersembunyi kecerdikan ayah bundanya.
Ketika malam hari itu ia diajak pergi oleh Kong Ji hatinya memberontak dan perasaannya tidak mengijinkan ia pergi meninggalkan ayah bundanya begitu saja.
Akan tetapi, ketika mendengar suara panggilan Soan Li, tiba-tiba ia melihat sikap Kong Ji berubah.
"Sumoi, kautunggu dulu di situ, biar aku yang menghadapi Suci,"
Kata Kong Ji yang cepat meloncat untuk menyambut kedatangan Soan Li.
Gadis ini merasa curiga sekali dan diam-diam ia memutar otaknya.
Ia memang jujur dan ia percaya penuh bahwa suhengnya itu se-orang yang bersemangat gagah dan baik budinya, akan tetapi kini ia mulai menaruh hati curiga.
"Suheng memang mempunyai sikap yang agak aneh,"
Pikirnya sambil mengenang segala peristiwa yang baru terjadi.
"dia pandai ilmu bahkan lebih tinggi dari aku atau Suci, akan tetapi merahasiakan semua kepandaiannya itu, bahkan terhadap Ayah ia berlaku pura-pura bodoh. Kemudian ia berkeras hendak mempelajari Pak-kek Sin--ciang, benar-benar sikapnya aneh sekali. Lebih baik aku menyelidiki dan kebetulan ia mengajak aku pergi melakukan tugas membasmi musuh-musuh besar, alangkah baiknya kalau aku ikut dan diam-diam memperhatikan semua sepak terjangnya. Kalau ia memang baik dan Suci yang salah sangka, berarti aku menjadi saksi akan kebaikannya itu, dan sebaliknya kalau ternyata ia berbahaya dan jahat, mudah aku turun tangan""
Demiklanlah, Hui Lian mengambil keputusan untuk ikut dengan Kong Ji.
Dengan adanya perasaan ini di hati Hui Lian maka biarpun luarnya kedia orang muda ini kelihatan akur sekalI, namun mereka menyimpan suara hati dan rahasia masing-masing.
Akan tetapi, di sepanjang perjalanan itu, selama berpekan-pekan sampai berbulan-bulan, Kong Ji selalu memperlihatkan sikap yang amat baik dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia mempunyai niat jahat.
Setiap kali bermalam di sebuah kota, mereka selalu menyewa dua buah kamar di rumah penginapan dan tak pernah pemuda itu memperlihatkan sikap tidak sopan.
Akan tetapi terjadilah hal-hal di luar tahunya Hui Lian.
Gadis ini merasa heran ketika pada suatu pagi, setelah mereka meninggalkan kota di mana mereka menginap dalam sebuah hotel, tahu tahu pemuda itu mempunyai sekantong uang emas.
"Suheng, dari mana kau mendapatkan uang begitu banyak?"
Tanyanya terheran-heran. Kong Ji tersenyum.
"Malam tadi aku tidak dapat tidur, Sumoi, dan melihat kamarmu sudah gelap dan sunyi, aku tidak berani mengganggu dan keluar seorang diri untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat. Ketika aku sedang berjalan di bagian yang sunyi, tiba-tiba aku melihat berkelebatnya bayangan hitam atas genteng. Aku bercuriga dan cepat mengejarnya. Dia itu seorang yang memakai kedok hitam dan membawa pedang. Ternyata dia seorang maling yang pandai, maka aku lalu membekuknya, mengancam agar dia tidak melakukan pencurian lagi. Ia tunduk kepadaku dan sebagai tanda takluk, ia menyerahkan kantong ini kepadaku."
Kong ji tertawa gembira.
"Kebetulan sekali karena memang kita membutuhkan bekal dalam perjalanan ini."
"Akan tetapi uang itu uang curian, Suheng!"
"Belum tentu, dan kalau sekiranya memang betul demikian, bukan kita yang mencurinya. Misalnya ini uang curian, tentu yang kecurian seorang hartawan besar yang takkan terasa diambil hartanya hanya sekian ini. Bukankah sudah biasa para pendekar perantau kalau kekurangan bekal suka mengambil dari milik hartawan yang jahat?"
Hui Lian tidak berkata apa-apa lagi hanya ia merasa menyesal mengapa tidak ikut menghadapi peristiwa itu.
Baiknya mereka pagi-pagi sudah meninggalkan kota, kalau tidak tentu Hui Lian akan mendengar kabar yang menggegerkan, bahwa semalam rumah seorang hartawan didatangi penjahat yang selain mengambil uang emas hartawan itu juga mengambil nyawa hartawan itu tanpa alasan.
Kalaupun ia mendengar berita ini, tentu tidak akan mengira bahwa yang membunuh dan mencuri uang itu sebetulnya adalah Kong Ji sendiri.
Apakah sebenarnya yang terjadi?
Memang Kong Ji keluar dari kamarnya, mempergunakan kepandaiannya untuk berjalan di atas rumah-rumah orang, dan tiba-tiba ia melihat sinar terang di rumah seorang hartawan.
Rumah itu besar dan indah dan lapat-lapat terdengar suara nyanyian wanita diiringi oleh tetabuhan yang merdu.
Kong Ji tertarik lalu mengintai dari atas genteng yang tinggi sekali.
Kiranya hartawan yang sudah setelah tua itu sedang menghibur diri di atas loteng dihibur oleh isteri-isterinya yang lima orang jumlahnya.
Isteri-Isteri inilah yang bernyanyi dan menabuh gamelan.
Entah mengapa, tiba-tiba Kong Ji merasa iri hati dan benci kepada hartawan itu, kebencian yang timbul dalam hatinya tanpa sebab-sebab yang ia ketahui.
ia hanya benci sekali melihat kesenangan yang dimiliki oleh hartawan itu, apalagi kalau memikirkan nasib sendiri yang semenjak kecil tidak pernah mengalami kesenangan sama sekali.
Menurutkan perasaan yang timbul tiba tiba Kong Ji melayang turun, tanpa banyak cakap ia memukul kepala hartawan itu dengan kepalan tangan sehingga tanpa dapat berteriak lagi hartawan itu roboh binasa dengan kepala pecah.
Kemudian, entah apa yang menyebabkannya, Kong Ji mencabut pedangnya, digerak-gerakan di sekitar leher lima orang wanita yang tadi menghibur hartawan itu.
Karuan saja para wanita yang sudah merasa ngeri melihat pembunuhan itu, kini menjadi ketakutan sampai mereka roboh pingsan, karena mengira, bahwa si pedang itu akan menebas leher merekai Kon Ji tertawa bergelak-gelak merasa lucu sekali, kemudian ia memeriksa ke dalam kamar hartawan itu dan menggondol pergi sekantong uang emas.
Memang semenjak kecil, di dalam diri Kong Ji mengalir watak yang amat aneh yang membikin dia seakan-akan merasa gembira dan senang sekali kalau melihat orang mengalami penderitaan.
Akan tetapi ia dapat menyembunyikan perasaan yang ganjil ini dengan selimut sikap yang sewajarnya, bahkan sikap seorang yang amat baik hati.
ia dapat menangis tersedu sedu, dapat bicara halus dan lemah lembut, dan dapat kelihatan terharu dan sebagainya.
Namun di lubuk hatinya, selalu terkandung perasaan iri hati dan dengki melihat orang lain bahagia dan selalu ia rindu akan penglihatan menyedihkan yang menimpa diri orang lain.
Perasaannya terhadap Soan Li, yang sudah menarik hatinya, yang membuat rindu dan tergila-gila, dan selalu ditahan-tahannya, mendatangkan penyakit lain dalam lubuk hatinya.
Mendatangkan atau membangkitkan nafsu buruk, nafsu hewani dan yang membuat ia mempunyai watak seperti orang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga).
Oleh karena itu, di waktu malam, kalau Hui Lian yang tidak menyangka sesuatu sudah pulas di dalam kamarnya sendiri, pemuda ini pergi pada tengah malam dan kembali menjelang fajar.
Dan pada keesokan harinya, tentu ada kehebohan di dalam kota atau dusun itu karena seorang wanita cantik kedapatan tewas atau membunuh diri di dalam kamarnya sendiri!
Namun Hui Lian sama sekali tidak tahu akan hal ini dan masih mengira bahwa suhengnya itu bukanlah seorang jahat sebagaimana sangkaan Soan Li.
Sampai pada suatu malam terjadi hal yang menimbulkan kecurigaan hati gadis itu.
Ketika itu, mereka telah tiba di kota Keng-sin-bun di kaki Bukit Mao-san.
Ketika hendak memasuki pintu kota itu, mereka berdua bertemu dengan serombongan orang berkuda dan ternyata bahwa mereka itu adalah serombongan piauwsu (pengantar barang) yang sedang mengawal sebuah kereta.
Di dalam kereta itu kelihatan dari balik tirai, kepala seorang wanita muda yang cantik bersama seorang laki-laki yang dari pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pembesar.
Rupa-rupanya mereka baru saja meninggalkan Keng-sin-bun dan hendak pergi jauh dan agaknya mereka membawa barang-barang berharga pula, buktinya piauwsu yang mengawal mereka sampai belasan orang jumlahnya.
Hui Lian tidak begitu memperhatikan mereka, akan tetapi tiba-tiba ia tertarik sekali oleh gerakan tangan Kong Ji yang seakan-akan melambaikan tangannya ke arah kuda.
Terjadilah hal yang menimbulkan keributan karena dua ekor kuda yang menarik kereta itu tiba-tiba meringkik dan berjingkrak-jingkrak!
Pengemudi kereta mencoba untuk menarik kendali kuda dan menenangkan sepasang binatang yang mengamuk itu, namun sia-sia, bahkan kuda-kuda itu lalu kabur tak terkendalikan lagi!
Pembesar dan isterinya yang berada di kereta berteriak-teriak minta tolong, sedangkan belasan orang piauwsu itu lalu membedal kuda mengejar.
Hui Lian tadinya masih duduk di atas kudanya dengan bengong karena ia masih belum tahu apakah yang terjadi, akan tetapi tiba-tiba ia menjadi pucat ketika ia melihat wajah suhengnya, Kong Ji seperti orang tertawa bergelak-gelak, mulutnya terbuka dan bergerak-gerak, matanya bersinar-sinar akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya.
Melihat keadaan suhengnya ini berdirilah bulu tengkuk Hui Lian.
Muka suhengnya begiu berubah pada saat itu sehingga ia tentu takkan mengenalnya kalau tidak yakin betul bahwa pemuda yang kini mukanya demikian mengerikan adalah Kong Ji.
Sementara itu, kereta yang dibawa kabur oleh kuda-kuda yang marah itu mulai miring dan hampir terguling.
Hui Lian melihat ini lalu membedal kudanya dengan cepat sekali.
Ia melalui beberapa orang piauwsu, kemudian setelah dekat dengan kereta, secepat kilat Hui Lian meloncat.
Sekali loncatan saja sudah berdiri di tempat pengemudi yang sedang duduk dengan muka pucat memegangi kendali tanpa berdaya lagi.
Hui Lian merampas kendali, mempergunakan lweekangnya yang disalurkan pada kendali-kendali itu, menycntak kuda dan sepasang kuda itu tak dapat menahan tenaga hebat ini.
Mereka terpaksa menghentikan larinya dan mengangkat kaki depan tinggi-tinggi, mengeluarkan suara meringkik-ringkik dan keringat mereka membasahi punggung dan paha.
Para piauwsu cepat-cepat membuka pintu kereta dan menolong bangsawan dan isterinya turun dari kereta, sedangkan piauwsu-piauwsu lain lalu memegang kendall, kuda di dekat hidung.
Hui Lian meloncat turun dan ketika ia menghampiri kuda, ia menjadi kaget bukan main.
Ternyata bahwa pada leher kuda itu kelihatan tanda-tanda menghitam.
Tanda ini hanya dapat didatangkan oleh pukulan Tin-san-kang yang hebat.
Suami isteri bangsawan itu menghampiri Hui Lian dan hendak menjatuhkan diri berlutut, namun Hui Lian memegang tangan wanita cantik tadi dan berkata.
"Sudahlah, tak perlu banyak melakukan sungkan. Lebih baik suruh orang mengganti kuda dan melanjutkan perjalanan."
Akan tetapi, melihat isterinya pucat dan menggigil ketakutan setelah mengalami peristiwa tadi, pembesar yang usianya sudah tua itu berkata.
"Tak usah diteruskan sekarang. Perjalanan ditunda dan mari kita bermalam di Keng-sin-bun menghilangkan kekagetan."
Para piauwsu memandang kepada Hui Lian dengan penuh kekaguman. Seorang di antara mereka, yang tertua dan yang membawa golok di pinggangnya, menjura dan berkata.
"Lihiap sungguh mengagumkan sekali. Kami berterima kasih atas pertolongan Lihiap. Kami adalah piauwsu-piauwsu dari Bu-cin-pang dan bolehkah kami mengetahui nama Lihiap yang mulia?"
Sebelum Hui Lian menjawab, Kong Ji sudah membalapkan kudanya menghampiri tempat itu sambil berkata.
"Ha, aku mendengar bahwa Bu-cin-pang adalah perkumpul orang-orang gagah, tidak tahunya yang mengawal kereta ini hanya gentong-gentong kosong belaka,"
Ia berpaling kepada pembesar itu sambil berkata.
"Taijin, kalau kau melakukan perjalanan jauh bersama puterimu, kalian akan mengalami bencana, karena pengawal-pengawal ini sama sekali tidak becus!"
Pembesar itu menjadi merah mukanya.
Wanita muda yang cantik itu adalah isterinya, akan tetapi oleh Kong Ji disebut "puterimu"!
Akan tetapi, biarpun para piauwsu menjadi pucat dan marah sekali mendengar ejekan ini, Kong Ji tidak pedulikan mereka, bahkan lalu berkata kepada Hui Lian.
"Sumoi, hayo pergi"
Mendengar pemuda tampan itu menyebut "sumoi"
Kepada Hui Lian, para piauwsu terpaksa menahan marah mereka.
Baru sumoinya saja demikian lihai apalagi suhengnya.
Adapun Hum Lian yang terheran-heran dan tidak senang atas sikap suhengnya, tidak mau bercekcok dengan Kong Ji di depan orang maka ia hanya mengagguk kepada mereka dan melompat ke atas kudanya menyusul Kong Ji.
"Suheng, mengapa kau begitu kasar terhadap mereka?"
Kong Ji tersenyum manis ketika menoleh kepada Hui Lian dan gadis ini kembali teringat betapa jauhnya perbedaan wajah ini dengan tadi ketika kereta itu kabur.
"Sumoi kaumaksudkan terhadap piauwsu-piauwsu tadi?"
"Ya, mereka tidak mengganggumu, mengapa kau menghina dan mengejek?"
"Sumoi yang baik, apakah kau tadi tidak mendengar bahwa mereka itu adalah piauwsu-piauwsu dari perkumpulan Bu-cin-pang?"
"Habis mengapa?"
"Ah, kau tidak mengerti, Sumoi. Ho-san-pai yang kelihatan dari sini itu yang menjulang tinggi di sana. Tahukah kau mengapa Hoa-san-pai rusak binasa?""
"Ya, sudah kudengar penuturanmu dari orang-orang Im-yang-bu-pai."
"Akan tetapi yang membawa naik orang-orang Im-yang-bu-pai adalah ketua dari Bu-cin-pang yang bernama Sian pian Giam-ong Ma Ek ini, atau lebih tepat perkumpulan Bu-cin-pang, pernah bentrok dengan Suheng Lie Bu Tek dan karenanya ketika orang-orang Im-yan bu pai hendak menyerbu ke Hoa-san-pai. Ma Ek yang menjadi penunjuk jalan. Dengan demikian berarti bahwa Bu-cin-pai termasuk musuh-musuh dari Hoa-san-pai yang harus kuberi pengajaran. Inilah sebabnya mengapa aku tadi bersikap kasar terhadap mereka."
Hui Lian menarik napas lega.
Setelah mendengar ini, ia tidak dapat menyalahkan suhengnya karena memang sudah sepatutnya Bu-cin-pang dibalas untuk menebus dosa mereka terhadap Hoa-san-pai dan terutama sekali atas kematian Liang Gi Tojin dan terlukanya Lie Bu Tek.
Akan tetapi ia masih teringat akan pukulan Tin-san-kang kepada sepasang kuda itu, dan tentang perubahan air muka Kong Ji, maka sambil memandang kagum ia bertanya lagi.
"Akan tetapi, apakah kesalahan pembesar dan isterinya yang duduk di dalam kereta?"
Baca Juga: Asmara Berdarah 11
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 2