Eps 5 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
"Mereka mengapa""
"Suheng, jangan berpura-pura. Aku tahu bahwa kau memukul kuda-kuda itu dengan pukulanmu dari jauh."
Kong Ji memang terkejut dalam hatinya, namun pada mukanya tidak terbayang sesuatu, bahkan ia tersenyum dan sepasang matanya berseri.
"Sumoi, kau benar-benar lihai dan matamu amat awas! Pukulan itu aku lakukan dengan sengaja karena hendak kupermainkan orang orang Bu-cin-pang itu. Aku takkan mencelakakan suami isteri itu, karena andaikata kau tidak turun tangan, aku tentu akan menolong mereka."
Kembali alasan ini masuk di akal dan Hun Lian tentu akan merasa puas kalau saja tadi ia tidak melihat muka Kong Ji yang menyeramkan.
"Akan tetapi mengapa kau sengaja menyebut isteri bangsawan itu sebagai puterinya? Mengapa harus membuat diaI malu?"
Kong Ji tertawa geli.
"Sumoi, kaulihat. Bangsawan itu usianya sudah lima puluh tahun lebih, sedangkan isterinya masih begitu muda. ia tentu bukan seorang bangsawan yang baik. Siapa tahu ia adalah seorang di antara golongan bangsawan yang setelah melakukan korupsi besar-besaran, lalu melarikan diri bersama isterinya yang amat muda. Apa salahnya menggodanya agar ia tahu diri?"
Mau tidak mau Hui Lian tersenyum mendengar ini.
Kecurigaannya lenyap dan ia hanya masih merasa seram kalau mengingat perubahan wajah pemuda itu tadi.
Mereka masuk ke kota Keng-sin-bun dan menyewa dua kamar yang letaknya agak berjauhan, terhalang oleh dua taman yang sudah diisi oleh tamu lain.
Dua orang saudara seperguruan ini lalu membersihkan diri dan memesan makanan.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara berisik di luar dan ternyata bahwa rombongan tadi telah memasukl pekarangan hotel.
"Cu-taijin telah datang kembali..."
Terdengar pelayan berseru. Lalu terdengar suara pembesar itu.
"Ya, kami akan bermalam di sini lagi untuk satu dua malam. Sediakan kamar yang bersih."
Muncullah pembesar itu bersama isterinya yang muda dan cantik.
Melihat Kong Ji dan Hui Lian sedang duduk di depan meja makan, pembesar itu nampak gembira, akan tetapi ia mengelakkan pandang mata Kong Ji.
"Ah, Lihiap kau pun bermalam di sini?"
Katanya gembira. Hui Lian berdiri.
"Taijin, harap kau berdua tidak banyak mengalami kekagetan."
Tiba-tiba Kong Ji juga berdiri dan berkata.
""Taijin, Hujin (Nyonya), mari makan bersama kami."
Mendengar pemuda itu menyebut "hujin"
Kepada "jsterinya, pembesar itu hilang kemendongkolan hatinya dan ia menghampiri meja mereka sambil menuntun tangan isterinya.
"Ah, kebetulan sekali, kami pun belum makan. Apa? Kalian menjamu kami. Tak mungkin. Heei, pelayan! Lekas sediakan meja dengan lengkap, datangkan hidangan yang paling enak untuk empat orang"
Pembesar itu lalu menarik tangan isterinya dan mengajaknya duduk di depan meja itu.
Sikapnya amat ramah-tamah dan isterinya yang ternyata memang cantik itu tidak likat-likat lagi melihat keramahan Hui Lian kepadanya.
"Jiwi yang gagah, perkenalkanlah, aku adalah Cu Hian, tadinya menjadi Tihu di Kian-kang, akan tetapi sekarang sudah pensiun dan hendak kembali ke selatan bersama isteriku, hendak hidup tenteram di dusun menunggu sawah."
Ia tertawa puas.
"Bolehkah kami mengenal nama jiwi yang gagah?"
"Aku Ta Kauw dan ini Sumoiku Bi Hoa"
Kong Ji menjawab cepat sebelum Hui Lian menjawab.
Diam-diam Hui Lian merasa geli sekali akan jawaban ini, Suhengnya benar-benar kadang-kadang suka berjenaka dan juga aneh.
Menyebut diri sendiri dengan nama Ta Kauw (Pemukul Anjing), dan baiknya ia diberi nama Bi Hoa (Bunga Cantik) sehingga Hui Lian tidak berkecil hati.
Pembesar itu nampak tercengang, karena nama yang diperkenalkan ini memang agak aneh terdengarnya.
Akan tetapi ia tersenyum dan memandang kepada Hui Lian.
"Lihiap benar-benar gagah perkasa. Kalau tidak mehhat sendiri, siapa dapat percaya bahwa seorang dara semuda lihiap dapat melakukan hal yang hebat itu?"
Hui Lian mengucapkan kata-kata merendahkan diri.
Hidangan datang dan mereka makan minum dengan gembira.
Ternyata bahwa biarpun sudah tua, pembesar itu.
pandai sekali bergaul dan amat gembira.
Selain ini ia amat mencinta isterinya, sehingga dalam makan minum ini, dengan penuh perhatian ia menyumpit potongan-potongan daging yang paling baik untuk dimasukkan ke dalam mangkok di depan isterinya.
Mulutnya tiada hentinya menghibur isterinya ini supaya jangan gelisah, supaya makan agar jangan sakit dan sebagainya.
Setelah makan minum selesai, pembesar itu minta maaf kepada Kong Ji dan Hui Lian, menggandeng tangan isterinya dan berkata.
"Isteriku baru saja mengalami kekagetan, harap jiwa maafkan, kami hendak beristirahat."
Setelah mereka pergi, Kong Ji nampak murung. Diam-diam Hui Lian memperhatikan dan kemudian ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Kau mengapa, Suheng? Agaknya tidak senang hatimu...."
"Bukan tidak senang, Sumoi, hanya aku berduka memikirkan nasib diriku. Melihat suami isteri tadi... mereka begitu rukun dan saling mencinta... aah..."
Ia memandang tajam kepada Hui Lian dengan pandang mata penuh arti. Merahlah wajah Hut Lian. ia bangkit dari duduknya dan mengalihkan percakapan.
"Suheng, aku pun hendak mengaso sebentar. Perjalanan tadi, telah membikin mataku agak pedas mungkin banyak debu membikin kotor mata."
Ia lalu meninggalkan suhengnya, masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi ternyata Kong Ji mengikutinya dan kini berdiri di pintu.
"Boleh aku masuk, Sumoi?"
"Mengapa tidak? Asal daun pintu kau biarkan terbuka."
Kong Ji melangkah masuk dan duduk diatas bangku. Hui Lian duduk di atas pembaringan.
"Suheng,"
Kata Hui Lian tidak enak melihat pemuda itu diam saja.
"kau pergilah ke kamarmu, lebih baik kita mengaso dulu."
Akan tetapi Kong Ji tidak bergerak dari tempat duduknya dan menatap wajah sumoinya dengan mata penuh kerinduan.
"Sumoi, apakah kau tidak mau bersikap agak manis kepadaku? Sumoi, kau tahu akan perasaan hatiku kepadamu, kau tahu bahwa aku amat rindu kepadamu, aku... aku...."
"Hush, Suheng, aku tidak suka bicara tentang ini, sekarang bukan waktunya!"
Hui Lian mengerutkan keningnya.
Kong Ji menundukkan mukanya, kelihatan sedih sekali sehingga tak terasa pula Hui Lian menjadi terharu.
Demikian pandai, pemuda itu menarik mukanya sehingga nampak amat berduka dan putus asa.
"Memang aku Liok Kong Ji semenjak kecil bernasib buruk. Pembesar bandot tua itu, tukang korupsi dan manusia tiada guna masih lebih bahagia dari padaku. Ada seorang wanita yang mencintaya, akan tetapi aku... hanya kebencian yang ada dalam dada semua wanita terhadapku...."
"Suheng jangan bicara begitu, kau mengasolah di kamarmu. Tenangkan pikiranmu dan jangan berpikir yang tidak-tidak."
Kong Ji, berdiri, kelihatan lemas.
"Maaf, Sumoi, aku tadi melantur. Akan tetapi aku tidak akan beristirahat, aku harus pergi ke Bu-cin-pang untuk menagih hutang lama. Kau mau ikutkah?"
Tentu saja Hu, Lian tidak mau ditinggalkan dalam urusan ini, ia segera berkemas dan tak lama kemudian berangkatlah mereka berdua menuju perkumpulan Bu-cin-pang.
Dengan mudah saja mereka mendapat keterangan di mana adanya rumah perkumpulan ini.
Rumah perkumpulan Bu-cin-pang atau Bu-cin-pai adalah rumah perkumpulan yang besar dan megah, karena memang perkumpulan ini yang paling besar dan berpengaruh di dalam kota itu.
Sebagai-mana pembaca masih ingat, di dalam permulaan cerita ini, telah dituturkan serba sedikit tentang Bu-cin-pang yang mengeluarkan barongsai yang kemudian menjagoi dan betapa timbul bentrokan antara Bu-cin-pang dan tiga pengemis dari Hek-kin-kai-pang.
Kemudian Lie Bu Tek membela para pengemis itu, mengalahkan orang orang Bu-cin-pang sehingga Hoa-san-pai dimusuhi oleh Bu-cin-pang.
Kong Ji dan Hui Lian tiba di depan gedung itu.
Hui Lian ikut dengan suhengnya, bukan semata-mata karena ingin menghadapi urusan pembalasan sakit hati, juga ia ingin menyaksikan sepak terjang Kong Ji dan ingin menjaga agar suhengnya itu tidak terlalu ganas.
"Suheng, menurut penuturanmu itu, yang bersalah dan berdosa terhadap Hoa-san-pai, hanyalah Ma Ek itu. Maka harap kau suka maafkan anggauta-anggauta lain yang tidak berdosa,"
Pesannya ketika mereka pergi ke rumah perkumpulan ini.
Kong Ji hanya mengangguk.
Beberapa orang anggauta Bu-cin-pang melihat kedatangan mereka.
Di antara mereka terdapat orang-orang yang tadi mengawal kereta pembesar Cu, maka melihat kedatangan Hui Lian, mereka benar-benar menyambut dengan muka berseri.
Akan tetapi melihat Kong Ji, merek.a bersikap dingin.
"Lihiap, ini merupakan kehormatan besar sekali bagi Bu-cin-pang,"
Kata seorang di antara mereka kepada Hui Lian.
"Jangan banyak cerewet!"
Kong Ji memotong.
"Lekas panggil keluar Si Moyet Tua Ma Ek!"
Orang-orang itu melongo, kemudian mereka menjadi marah sekali.
Seorang di antara mereka melangkah maju menghadapi Kong Ji dan berkata tak senang "Sahabat, mengapakah kau bersikap begini tidak patut terhadap kami?
Tadi kau sudah menghina kami dan kami diam saja karena kami mengingat akan pertolongan Lihiap ini, sekarang kau datang-datang memaki ketua kami."
"Jangan banyak cakap, lekas panggil bangsat tua Ma Ek kesini, aku mau bicara""
Kata Kong Ji dan kedua tangannya digerakkan secara sembarangan ke depan, akan tetapi akibatnya empat orang anggauta Bu-cin-pang seperti tertiup badai dan terlempar ke kanan kiri.
Keadaan menjadi rebut, sebagian menjauhkan diri dan ada beberapa orang lagi berlari masuk ke dalam.
Kong Ji tersenyum kepada Hui Lian melihat gadis ini agak khawatir kalau-kalau Kong Ji menyebar maut.
Akan tetapi, setelah anggauta Bu-cin pang yang berlari masuk tadi keluar lagi, mereka bukan mengiringkan ketua Bu cin-pang, melainkan seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah.
Pemuda ini adalah putera dari Ma Ek bernama Ma Hoat.
ia menjura kepada Hui Lian karena ia sudah mendengar dari anak buahnya tentang kegagahan nona ini, kemudian ia menghadapi Kong Ji.
"Siapakah yang ingin bertemu dengan Ma-lo-pangcu (Ketua Ma)"
Tanyanya ragu-ragu. Kong Ji maju selangkah.
"Aku Toat-ma-beng (Pencabut Nyawa Kuda) hendak bertemu dengan Lo-ma (Kuda Tua), di mana dia?"
Dengan kata-kata ini, terang sekali Kong Ji menghina Ma Ek.
Nama keturunan Ma Ek adalah Ma atau boleh diartikan kuda, maka dengan menyebut diri Pencabut Nyawa Kuda, jelas bahwa ia datang hendak memusuhi Ma Ek.
Merahlah wajah Ma Hoat mendengar ini.
"Kau ini manusia kurang ajar sekali. Ayahku Siang-pian Giam-ong (Raja Maut Senjata Sepasang Ruyung) bukan orang orang boleh dipermainkan dan aku puteranya, Tiat-jiu (Si Tangan Besi) Ma Hoat juga tidak suka menelan hinaan orang begitu saja. Ayah sedang keluar kota, dan kau mau apakah?"
Kong Ji mengeluarkan ketawa kecil, lagaknya menghina sekali.
"Hem, kau kuda kecil jangan banyak berlagak. Ketahuilah bahwa Ayahmu itu dosanya sudah setinggi bukit dan aku datang untuk mencabut nyawanya."
"Bedebah!"
Ma Hoat tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia memaki dan cepat menerjang maju dengan sepasang "tangan besinya"!
Akan tetapi mana bisa ia melawan Kong Ji.
Andaikata ada seratus Ma Hoat, kiranya takkan mudah merobohkan Kong Ji.
Maka semua orang Bu-cin-pang terheran-heran ketika terdengar suara "duk"
Dan biarpun mereka melihat jelas betapa kepalan tangan kanan dari Ma Hoat dengan tepat mengenai dada Kong Ji, namun bukan pemuda ini yang roboh melainkan Ma Hoat sendiri yang terpental ke belakang lalu jatuh bergulingan sampai lima kali.
Ma Hoat berdiri sambil meringis kesakitan.
"Masih ada yang gatal tangan hendak memukulku? Boleh, hayo silakan maju!"
Kong Ji menantang sambil melangkah maju dan membusungkan dadanya. Ma Hoat dan kawan-kawannya otomatis melangkah mundur ketakutan. Akan tetapi dengan mendongkol sekali Ma Hoat berkata.
"Kau lihai sekali, akan tetapi siapakah kau dan mengapa kau memusuhi kami? Mengakulah terus terang agar kelak dapat kami laporkan kepada Ayah kalau ia datang."
"Hem, tikus-tikus bernyali kecil...."
Kata Kong Ji dan ketika Hui Lian melihat suhengnya itu menggerak-gerakkan tangan mengerahkan tenaga Tin-san-kang seakan-akan siap untuk menyebar pukulan ia cepat berkata.
"Suheng tidak perlu membunuh orang yang tidak berdosa. Ma Ek tidak ada, biarlah lain kali datang lagi."
Kong Ji menoleh kepada sumoinya, kemudian ia tersenyum kepada para anggauta Bu-cin pang.
"Kau dengar itu? Kalau tidak taat kepada Sumoiku yang berhati emas, kalian sudah hancur seperti ini!"
Ia menggerakkan kedua tangan memukul ke atas di depannya dan "bra braak!"
Papan nama Bu-cin-pang berikut sebagian payon rumah di depan jatuh berantakan ke bawah.
Ma Hoat dan kawan-kawannya menjadi pucat mereka tak bergerak seperti patung memandang kepada dua orang saudara seperguruan itu yang meninggalkan mereka.
(Lanjut ke
Jilid 13) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 Tiba-tiba Kong Ji menoleh kepada Ma Hoat dan berkata.
"Kalau kau masih penasaran, aku bermalam di hotel Sen an-koan, di kamar nomor tujuh!"
Setelah jauh dari situ, Hui Lian bertanya heran.
"Suheng, nomor kamar adalah sembilan dan nomor kamarku belas. Kamar nomor tujuh adalah kamar Cu-taijin dan isterinya. Mengapa menyebut nomor kamarmu nomor tujuh? Kong Ji tersenyum dan berkata.
"Begitukah? Ah, aku sudah lupa lagi akan nomor kamar-kamar kita, Sumoi. Akan tetapi tidak mengapa, kukira mereka takkan begitu goblok untuk datang ke hotel Seng-an-koan."
Biarpun mulutnya bicara demikian, namun sesungguhnya Kong Ji ketika memberitahukan tempat menginap tadi ia mengandung maksud yang amat mengerikan.
Memang otak pemuda ini, dapat merangkai dan mengatur siasat secara kilat, yang bagi orang lain merupakan siasat yang masak selama berhari-hari.
Tentu saja Hui Lian sudah puas dengan jawaban itu dan tidak mengira sama sekali bahwa pada malam hari itu akan terjadi hal-hal yang amat menyeramkan di kamar tujuh hotel Seng-an-koan........Sukar sekali untuk mengikuti jalan pikiran Kong Ji, juga amat sukar untuk nengenal dan mengerti wataknya yang amat aneh.
Pemuda ini, kalau dilihat dan didengar begitu saja, nampak seperti seorang pemuda tampan dan halus, sopan dan lemah lembut tutur katanya, bahkan kadang-kadang kelihatan seperti seorang yang amat baik hati.
Akan tetapi, hanya iblis yang mengetahui keadaan di dalam ruang kepala dan dadanya.
Ruang dadanya penuh dengan hawa dan nafsu jahat, penuh dendam dan dengki, iri hati dan suka melihat orang lain menderita.
Kepalanya penuh dengan siasat-siasat busuk yang amat cerdik dan licik, penuh dengan kecerdikan yang langka, sehingga boleh jadi pikiran pemuda aneh ini sudah mendekati kegilaan.
Malam hari itu Hui Lian tidak dapat tidur.
Ia memikirkan keadaan suhengnya.
Mulai tampak olehnya keanehan watak suhengnya itu, dan kalau ia ingat betapa suhengnya menyatakan cinta kasih begitu terus terang ia merasa terharu, juga kasihan dan bingung.
Ia sendiri suka kepada Kong Ji, akan tetapt ia tidak tahu apakah dia cinta kepada pemuda itu atau tidak.
Memikirkan bahwa suhengnya menjadi suaminya, bagi Hui Lian adalah hal yang amat tidak mungkin, hal yang amat memalukan, hal yang tidak disukanyai.
Tentu saja gadis yang masih muda ini belum dapat membedakan antara suka dan cinta, bahkan ia masih belum tahu apakah sebetulnya cinta kasih itu.
Kemudian ia teringat akan ayah bundanya dan mengalirlah air mata Hui Lian teringat kepada ibunya dan merasa amat rindu.
Mengapa ia telah berlaku lancang, minggat dari rumah bersama Kong Ji?.
Akan tetapi ketika ia teringat akan percakapan antara ayah bundanya dan Soan Li sucinya, hatinya menjadi panas dan ia merasa kasihan kepada Kong Ji.
Selama ini, ia tidak mendapat bukti kebenaran tuduhan Soan Li terhadap Kong Ji.
Sudah jelas bahwa suhengnya itu seorang gagah yang berjiwa pendekar.
Menjelang tengah malam, barulah Hui Lian dapat tidur pulas.
Akan tetapi tidak lama ia tidur nyenyak karena tiba-tiba ia mengimpi mendengar suara orang-orang ketawa.
Suara ketawa ini demikian aneh dan menyeramkan sehingga ia menjadi gelagapan dan terbangun dari tidurnya.
Namun, biarpun Hui Lian sudah telentang, dengan mata terbuka lebar, masih saja ia mendengar suara ketawa yang menyeramkan itu!
Bulu tengkuk gadis ini berdiri.
Selama hidupnya belum pernah ia mendengar suara ketawa yang demikian anehnya.
Ayahnya seringkali mendapat kunjungan tokoh-tokoh kang-ouw yang aneh-aneh, dan ada pula di antaranya mereka itu yang suara ketawanya aneh sekali, namun tidak seperti suara ketawa yang ia dengar pada malam ini, yang ia dengar dalam mimpi dan juga dalam keadaan sadar!
Kemudian suara itu lenyap dan kini terdengar suara orang menangis perlahan.
Hui Lian yang mempunyai pendengaran tajam terlatih ini tahu bahwa itulah suara seorang wanita terisak-isak ketakutan.
Karena masih terpengaruh oleh suara ketawa yang menyeramkan tadi dan masih terheran-heran mengapa di dalam mimpi ia juga mendengar suara itu, Hui Lian sampai lama berbaring telentang.
Setelah ia yakin betul bahwa ia sudah sadar dan bahwa suara wanita terisak isak itu jelas terdengar keluar dari kamar Cu-taijin, pembesar dan isterinya yang bermalam di kamar nomor tujuh hotel itu, ia melompat turun.
Hui Lian menjadi serba salah.
ia melompat turun dari pembaringan dan duduk di atas bangku, mendengarkan suara isak tangis itu.
Apa yang harus ia lakukan?
Ia tidak tahu mengapa nyonya itu menangis.
Apakah cekcok dengan suaminya?
Apakah yang terjadi?
Memang amat mudah bagi Hui Lian untuk mengintai ke dalam kamar nomor tujuh itu, akan tetapi ia tidak sudi mengintai kamar di mana menginap sepasang suami isteri!
Akan tetapi, Hui Lian teringat akan sesuatu dan pucatlah dia.
Bukankah suhengnya tadi memberi tahu kepada Ma Hoat dan orang orang Bu-cin-pai bahwa suhengnya bermalam di hotel ini di kamar nomor tujuh?
Siapa tahu kalau orang Bu-cin-pai datang menyerbu kamar itu!
Pikiran ini membuat Hui Lian cepat-cepat menyambar pakaian luarnya, memakai pakaian itu lalu membawa pedangnya, melompat keluar dari jendela setelah membuka daun jendela itu perlahan-lahan.
ia melompat terus ke atas genteng dan dengan beberapa kali gerakan kaki saja ia sudah tiba di atas kamar nomor tujuh.
Kini jelas terdengar suara isak tangis itu dan tiba-tiba terkejutlah Hui Lian karena mendengar suara Nyonya Cu itu menjerit keras sekali, disusul pula oleh teriakan mengaduh nyonya itu.
Sebelum hilang kagetnya, Hui Lian mendengar pula suara pembesar she Cu itu.
"Aduh... mati aku...!"
Hui Lian hendak menerjang masuk melalui jendela yang hendak ditendangnya, akan tetapi ia mendengar suara gaduh di kamar itu, dan terdengar pintu, tertendang roboh dan disusul suara Kong Ji.
"Bangsat she Ma, kau benar-benar berani datang mengantar kematian?"
Cepat Hui Lian menendang jendela dan meloncat ke dalam.
Ia melihat pemandangan yang amat mengerikan sehingga biarpun ia tabah, tetap saja gadis ini membuang muka dan tidak berani memandang ke atas pembaringan.
Di atas pembaringan itu, tubuh Nyonya Cu yang berkulit putih dengan pakaian tidak keruan menggeletak dengan leher putus!
Juga pembesar she Cu itu menggeletak di atas lantai dengan kepala pisah dan tubuhnya.
Di atas tempat tidur dan di lantal darah.......
membanjir, menimbulkan pemandangan yang amat menyeramkan.
Ma Hoat, pemuda tinggi besar putera Siang-pian Giam-ong Ma Ek, berdiri di sudut dengan tangan kanan masih memegang sebatang golok yang berlumur darah, dan dari cara pemuda ini berdiri, maklumlah Hui Lian bahwa pemuda ini sudah kena ditotok oleh Kong Ji sehingga berdiri kaku seperti patung.
Namun mata pemuda she Ma itu ditujukan kepada Kong Ji penuh kebencian.
Adapun Kong Ji sendiri, telah menyalakan lilin dan kini memegang tempat lilin, wajahnya agak pucat.
"Sayang kita terlambat, Lian-moi"."
Katanya perlahan ketika ia mellhat Hui Lian melayang masuk dari jendela.
Hui Lian tak dapat berkata apa-apa pada saat itu, ia masih terpengaruh oleh pemandangan yang amat mengerikan.
Sementara itu, dan luar terdengar tindakan kaki banyak orang yang tentu saja tertarik oleh jerit dan teriakan tadi.
"Bangsat seperti ini harus dibikin mampus!"
Kata Kong Ji dan tangan kirinya yang tadi bergerak memasuki saku bajunya, menyambar ke arah kepala atau ubun-ubun kepala pemuda she Ma itu.
Hui Lian tidak mencegah karena memang ia juga benci melihat kekejaman Ma Hoat.
Akan tetapi aneh, ketika jari jari tangan Kong Ji menimpa kepala Ma Hoat, tidak terjadi sesuatu.
Bahkan pemuda itu tidak kelihatan sakit, sehingga Hui Lian menjadi heran, lalu memandang kepada suhengnya.
Akan tetapi sebenarnya Kong Ji telah melakukan semacam pukulan keji yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, yakni pukulan yang disebut pukulan "merampas ingatan"
Dan pukulan perlahan ini telah merusak urat-urat saraf di antara otak sehingga untuk selamanya pemuda she Ma ini akan menjadi lupa keadaan atau gila!
Perubahan hanya terlihat kepada sinar matanya yang tiba-tiba menjadi layu dan bengong.
"Mari kita keluar, Moi moi,"
Kata Kong Ji. Hui Lian tanpa menjawab ikut keluar dari pintu kamar itu. Banyak orang datang di depan pintu, dengan lampu di tangan. Juga semua pengurus hotel datang di tempat itu.
"Telah terjadi pembunuhan hebat, pembunuhnya telah kami tangkap dan kini berada di kamar dalam keadaan tidak berdaya. Kalian uruslah hal ini dan serahkan pembunuh itu kepada yang berwajib,"
Kata Kong Ji senang, kemudian ia bersama Hui Lian meninggalkan tempat itu, pergi duduk di ruang depan.
Orang-orang menyerbu masuk ke dalam kamar dan mereka bergidik menyaksikan pemandangan yang amat menyeramkan itu.
Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika mereka melihat bahwa yang menjadi pembunuh keji itu bukan lain adalah Ma Hoat, seorang tokoh yang amat disegara di Keng-sin-bun.
Siapakah yang tidak kenal dengan putera dui ke-tua Bu-cin-pai ini?
Akan tetapi, mereka makin terheran-heran ketika melihat pemuda she Ma ini tertawa ha-ha-hi-hi dan tidak dapat btrgerak, tidak melawan ketika golok yang berlumur darah itu di ambil orang.
Tubuhnya kaku dan tidak bertenaga sama sekali.
Ributlah semua orang dan urusan ini lalu diserahkan kepada pembesar yang berkuasa di kota itu.
"Suheng bagaimanakah terjadinya itu semua?"
Tanya Hui Lian kepada Kong Ji dengan suara masih menyatakan kengeriannya.
Kong Ji menarik napas panjang dan wajahnya yang tampan itu nampak agak pucat.
Kelihatannya ia menaruh hati kasihan sekali kepada pembesar dan isterinya itu.
"Sebetulnya aku sudah tidur, akan tetapi tiba-tiba aku mendengar suara kaki di atas genteng. Aku cepat bangun dan bersiap sedia, karena aku mengira bahwa ada orang jahat hendak memasuki kamarku. Ternyata aku salah duga dan sama sekali tidak tahu bahwa bangsat she Ma itu memasuki kamar nomor tujuh. Kemudian aku mendengar tangis nyonya muda itu sehingga aku menjadi curiga. Cepat aku keluar dan mengintai di dalam kamar. Remang-remang aku mehhat bahwa she Ma itu telah berada di dalam kamar dengan golok di tangan! Aku tidak tahu apa yang ia lakukan akan tetapi agaknya ia melakukan perbuatan yang tidak patut dan mengancam nyonya itu dengan goloknya, sedangkan suami tua bangka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mungkin nyonya muda itu melawan, maka tiba-tiba sebelum aku dapat mencegah, bangsat she Ma itu telah mengayun goloknya, membunuh Cu-hujin dan suaminya. Melihat ini, aku cepat menendang daun pmtu, ia hendak menyerang akan tetapi aku mendahuluinya, menotoknya dan memasang lilin. Dan pada saat itulah kau menendang daun jendela dan melompat masuk."
Hui Lian bergidik. ia merasa heran sekali mengapa Ma Hoat melakukan pembunuhan ini. Agaknya Kong Ji dapat membaca apa yang dipikirkan oleh sumoinya, buktinya pemuda ini menarik napas dan berkata.
"Tentu ia mengira bahwa yang berada di dalam kamar itu adalah aku dan... dan kau...."
Merah wajah Hut Lian mendengar ini -dan untuk menyembunyikan rasa jengahiya, ia berkata mencela suhengnya.
"Semua adalah gara-garamu, Suheng. Kalau kau tidak salah memberi tahu bahwa kamarmu nomor tujuh, suami isteri itu takkan mengalami nasib yang demikian menyedihkan."
Kong Ji menarik muka menyesal sekali.
"Memang aku yang bodoh, mari aku pergi membasmi orang-orang Bu-cin-pai!"
Ia bangun berdiri seakan-akan hendak melaksanakan ancamannya ini, akan tetapi Hui Lian mencegahnya.
Pada saat itu, orang-orang mengangkat jenazah Nyonya Cu untuk diurus seperlunya.
Kong Ji duduk kembali dan memandang.
Bibirnya bergerak-gerak sedikit dan hatinya berkata.
"Kalau kau tidak melawan, aku takkan membunuhmu!"
Jenazah ke dua datang digotong orang, yakni Cu-taijin yang juga ditutup dengan kain, Kong Ji menyeringai dan hatinya berkata.
"Kalau isterimu tidak muda dan cantik, kau takkan mampus!"
Kini orang menggiring keluar pemuda she Ma yang dituduh menjadi pembunuh kejam itu, Hui Lian semenjak tadi melihat rombongan itu dengan hati ngeri, menjadi terheran-heran.
Ma Hoat berjalan terhuyung-huyung, kedua tangannya diikat orang dan yang mengherankan sinar mata pemuda ini layu dan matanya terbelalak memandang kosong ke depan, babirnya bergerak-gerak seperti orang bicara perlahan dan kadang-kadang ia tertawa menyeringai!
"Dia telah gila..."
Bisik Hui Lian.
"Ya, dia gila dan tentu akan dihukum. Pembalasan yang baik sekali bagi tokoh Bu-can-pai,"
Kata Kong Ji. Hui Lian menengok kepadanya.
"Suheng kau tadi menggerakkan tangan ke arah kepalanya, kau telah memukulnya dengan pukulan apakah"
Kong Ji tersenyum.
"Tadinya aku hendak membunuhnya karena hatiku panas sekali melihat kekejamannya, akan tetapi aku lalu ingat bahwa kalau aku membunuhnya, orang akan mengira aku yang membunuh suami isteri itu, maka aku menahan tenagaku dan hanya menepuk kepalanya. ia terluka akan tetapi tidak mati.
"Hm, kau sudah menghukum dia, Suheng. Tentu dia takkan lama hidup."
"Entahlah, mungkin beberapa pekan..."
Jawab Kong Ji kurang peduli.
Hui Lian tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya kepada suhengnya.
Semua nampak begitu wajar.
Peristiwa mengerikan itu pun wajar.
Semua orang dapat melihat bahwa Ma Hoat memasuki kamar suami isteri itu, agaknya hendak mengganggu Nyonya Cu, kemudian membunuh mereka.
Mungkin juga tadinya Ma Hoat mengira bahwa kamar itu didiami oleh Kong Ji dan Hui Lian.
Tentu demikian terjadinya pembunuhan itu, tak bisa lain.
Hui Lian juga percaya, hanya ia masih bingung dan terheran bagaimana Ma Hoat yang tidak berapa tinggi kepandaiannya itu begitu berani mati untuk datang menuntut balas!
Tentu saja Hui Lian tidak mendengar suara hati Kong Ji tadi, juga tidak dapat melihat apa yang tersembunyi di balik senyuman wajah tampan itu.
Kalau gadis ini tahu apa yang sebetulnya telah terjadi, mungkin ia akan roboh pingsan saking kagetnya, dan mungkin ia akan menjauhi suhengnya seperti orang menjauhi ibis!
Tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kong Ji telah mempergunakan kepandaiannya, pada tengah malam itu ia keluar dari kamarnya tanpa diketahui oleh siapa pun juga.
Kemudian ia mengunjungi rumah Ma Hoat, juga tanpa diketahui orang ia memasuki kamar Ma Hoat menotok pemuda ini dan membawanya Iari ke rumah penginapan itu, kemudian ia melompat ke dalam kamar nomor tujuh dan melemparkan tubuh Ma Hoat ke lantai.
Cu-taijin terbangun akan tetapi ia segera ditotok dan tak berdaya.
Dalam kegilaannya, Kong Ji yang malam itu sudah berubah menjadi iblis, hendak mengganggu nyonya muda yang membikin dia tergila-gila karena kecantikannya.
Hanya seorang iblis yang bisa melakukan hal ini mengganggu isteri orang di depan suaminya dan di depan orang lain!
Nyonya Cu mengecewakan hatinya karena meronta dan menangis, maka ia lalu mengambil golok yang tadi dibawanya dari kamar Ma Hoat membabat putus leher Nyonya Cu, kemudian membebaskan totokannya pada Cu-taijin untuk memberi kesempatan kepada orang tua ini berteriak, membunuhnya pula dengan golok yang masih berlumur darah itu.
Kemudian, ia menekan gagang golok ke dalam tangan kanan Ma Hoat sambil menotoknya sehingga tubuh pemuda ini menjadi kaku!
Semua itu memang sudah direncanakan lebih dulu, bahkan telah direncanakan ketika ia mengaku menginap di dalam kamar nomor tujuh di hotel itu pada saat ia hendak meninggalkan Bu-cin-pai bersama Hui Lian.
Oleh karena siasat ini diatur amat licin, biar Hui Lian sendiri kena ditipu dan sama sekali tidak menyangka bahwa pembunuhan itu adalah perbuatan Kong Ji.
Betapapun juga, setelah terjadinya peristiwa ini, di waktu malam Hui Lian suka gelisah.
Ia mendapat perasaan bahwa kadang-kadang suhengnya itu kelihatan amat aneh, penuh rahasia dan ada sesuatu yang amat seram menakutkan terbayang pada diri pemuda itu.
Mereka melanjutkan perjalanan dan dalam usaha mereka mencari Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, dan See thian Tok-ong yang menurut Kong Ji harus dibalas, mereka makin mendekati tapal batas di daerah utara.
Memang, orang-orang kang-ouw mengabarkan bahwa tokoh-tokoh besar pada pergi ke utara, di mana mulai panas suasananya dengan adanya tanda-tanda memberontak dari bangsa Mongol.
Pada suatu malam, ketika dua orang muda ini bermalam di sebuah rumah penginapan besar di kota Potouw di lembah Sungai Kuning, kota yang sudah mendekati perbatasan dengan Mongol, terjadi hal ke dua yang membuat gadis ini makin berlaku hati-hati terhadap suhengnya.
Makin ke utara, makin berkuranglah wanita-wanita cantik dan biarpun hal ini bagi Hui Lian tentu saja tidak ada artinya, namun bagi Kong Ji merupakan siksaan besar!
Semenjak meninggalkan Pulau Kim-bun-to dan melakukan perjalanan dengan Hui Lian, secara diam-diam di luar tahu sumoinya ini, entah sudah berapa kali Kong Ji melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk.
Sepak terjangnya lebih jahat dan mengerikan daripada perbuatan seorang jai-hwa-ciat (bangsat pemetik bunga) biasa, dan lebih kejam daripada seorang perampok biasa.
Di mana-mana ia meninggalkan maut sebagai bekas tangannya dan semua ini di lakukan demikian cepat dan licin tanpa meninggalkan bekas sehingga biarpun perbuatan-perbuatannya menyebar maut di mana-mana ini menggegerkan dunia kang-ouw, namun tak seorang yang dapat menerka perbuatan siapakah yang demikian keji itu.
Apalagi orang lain bahkan Hui Lian yang melakukan perjalanan bersama dengan Kong Ji, masih tidak tahu sama sekali akan segala perbuatan pemuda ini!
Wanita-wanita utara memang tidak secantik wanita-wanita selatan dan daerah utara ini jauh kalau dibandingkan dengan daerah selatan yang kaya dan penuh kota-kota perdagangan.
Juga hawanya tidak menyenangkan, amat dingin sewaktu musim salju dan luar biasa panasnya di waktu musim panas.
Oleh karena ini, Kong Ji merasa tersiksa dan setiap hari ia membujuk Hui Lian untuk mempercepat perjalanan agar mereka segera sampai di tempat yang mereka tuju, yakni Telaga Gasyun Nor, tempat yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Mongol di bawah pimpinan Temu Cin yang gagah perkasa.
Kong Ji dan Hui Lian mendengar bahwa di sana banyak berkumpul orang-orang kang-ouw dan kiranya di tempat inilah mereka akan dapat bertemu dengan tokoh-tokoh yang mereka cari.
Memang mencari tokoh-tokoh yang dianggap musuh besar itu dipergunakan oleh Kong Ji sebagai alasan, padahal sebenarnya ia mempunyai cita-cita lain.
Ia ingin mengadakan hubungan dengan pemimpin-pemimpin orang Mongol, untuk bersekutu dengan mereka dan mencari kesempatan mendapatkan kekuasaan dan pengaruh!
Malam hari itu, ketika berbaring di dalam kamarnya, Kong Ji tak dapat pulas.
ia gelisah sekali bergulik ke kanan kiri.
Hawa di dalam kamar panas bukan main dan beberapa kali pemuda ini mengeluarkan suara keluhan panjang pendek.
Kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar.
Keadaan sunyi karena waktu itu sudah menjelang tengah malam.
Rumah penginapan yang besar dan kuno itu tidak banyak tamunya sehingga kamar-kamar banyak yang kosong.
Para pelayan sudah tidur nyenyak dan keadaan gelap.
Kong Ji melompat dan sebentar saja ia sudah berada di luar jendela kamar Hui Lian!
Untuk beberapa lama ia ragu-ragu menggeleng-geleng kepala dan melangkah menjauhi jendela, hendak kembali ke kamarnya sendiri.
Akan tetapi kembali berhenti bertindak, menoleh dan mendekati jendela lagi.
Sampai lama ia berdiri di situ, ragu ragu dan sangsi.
Kalau orang melihat mukanya tentu akan melihat pertentangan keras di dalam batin pemuda ini terbayang pada mukanya, pertentangan antara dua pikiran atau dua suara yang bertempur di dalam dadanya.
Akhirnya wajahnya berubah beringas dan sekali ia menggerakkan tangan daun jendela kamar Hui Lian terbuka.
Kemudian tubuhnya berkelebat dan melompatlah ia memasuki kamar itu dari jendela yang sudah terpentang lebar.
Akan tetapi tiba-tiba ia berseru kaget dan cepat mengelak ketika dari sampingnya menyambar pedang yang hampir saja menembusi dadanya.
"Bangsat hina dina! Apakah kau mencari mampus berani mengganggu Nonamu?"
Terdengar bentakan Hui Lian.
Kong Ji merasa terkejut dan juga bingung, ia malu sekali.
Cepat ia melompat keluar akan tetapi bayangan Hui Lian mengejarnya.
Kong Ji tak dapat melarikan diri lagi dan ia berdiri sambil menundukkan mukanya.
Ketika Hui Lian tiba di luar kamar dan melihat siapa orangnya yang membongkar jendela kamarnya dan memasuki kamarnya tadi, gadis ini berdiri bengong dan wajahnya sebentar pucat sebentar merah.
Dadanya berombak dan sampai beberapa lama ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
Memang ia sudah menaruh hati curiga dan setiap malam ia berlaku hati-hati sekali, tak pernah melepaskan pakatan luar dan selalu berkawan pedang.
Hal ini adalah karena ia selalu merasa ngeri apabila teringat akan nyonya pembesar she Cu itu.
Malam itu mendengar suara jendela kamarnya dibongkar orang, maka ia telah bersiap siap dia dan begitu melihat sesosok bayangan orang melompat masuk, ia segera menyerang dengan tusukan pedangnya.
Tidak disangkanya bayangan itu lihat sekali, di dalam lompatan masih sempat mengelak dan melompat keluar lagi.
Dan kini ternyata bahwa orang itu adalah Kong Ji.
"Suheng... apa... apa yang hendak kau lakukan tadi...?"
Tanyanya, suaranya bengis, akan tetapi agak gemetar dan perlahan.
"Sumoi... kaubunuhlah aku... aku... aku merasa kesepian dan gelisah... aku cinta, kepadamu... aku rindu kepadamu... hatiku terslksa karena ingin dekat dengan mu... aku lupa daratan. Ampunkan aku Sumoi, atau kau boleh bunuh saja aku.."
Kata-kata ini dakeluarkan dengan suara menggetar dan dari celah-celah jari tangan yang menutupi muka itu mengalir butiran-butiran air mata! Hui Lian menyarungkan pedangnya kembali.
"Suheng mengapa kau berlaku begitu rendah? Sungguh tak kunyana, Su heng..."
Di dalam hati Hui Lian mulai ingat akan penuturan sucinya, yakni Gak Soan Li tentang watak buruk dari suhengnya ini, penuturan yang tadinya tidak dipercayanya, yang dianggapnya sebagai pernyataan iri hati dan dengki dari Soan Li.
"Sumoi, aku cinta padamu, dan aku tak tahan lagi... karena itulah aku menjadi gelap pikiran. Sumoi, aku bersumpah takkan melakukan lagi. Marilah kita lekas melanjutkan perjalanan agar lekas selesai tugas kita, kemudian kita kembali ke Pulau Kim-bun to. Atau... kalau kau tidak percaya lagi kepadaku, cabut pedangmu itu dan kau boleh bunuh aku, aku takkan melawan!"
Hui Lian tidak menjawab, ia tahu bahwa kalau suhengnya ini mau melawan, ia takkan dapat menangkan terhadap suhengnya ia juga tidak yakin benar apakah yang akan dilakukan pada saat itu.
Melihat gadis itu diam saja.
Kong ji mencabut Pak-kek Sin-kiam yang selalu berada di punggungnya, memberikan pedang pusaka itu kepada Hui Lian.
"Sumoi aku bersumpah, disaksikan oleh pokiam ini, bahwa aku takkan melakukan perbuatan itu lagi. Kau percayalah...."
"Bagaimana aku bisa yakin akan isi hatimu?"
Akhirnya Hui Lion berkata lirih.
"Kalau kau sudah tidak percaya lagi kepadaku, nah, ambil pedang ini dan kau boleh tusuk dadaku, Sumoi."
Hui Lian menggerakkan tangannya dan di lain saat pedang Pak-kek Sin-kiam sudah berada di tangannya.
Kong Ji diam-diam terkejut dan pemuda ini siap untuk menggunakan pukulan maut kalau gadis ini menyerang.
Akan tetapi Hui Lian tidak menyerangnya, hanya memandang kepada Pak-kek Sin-kiam, lalu berkata.
"Suheng, aku maafkan kau. Mungkin kau tadi kemasukan iblis yang berkeliaran di daerah asing ini. Akan tetapi, sebagai hukuman, aku merampas Pak-kek Sin-kiam. Biarlah aku yang membawa pedang ini dan untukmu, biar kau memakai pedangku,"
Hui Lian mencabut pedang dan sarung pedangnya, pedang yang juga baik akan tetapi tentu saja kalah jauh kalau dibandingkan dengan Pak-kek Sin-kiam, lalu memberikan pedangnya kepada Kong Ji.
Gadis ini berpikir bahwa dengan pedang itu di tangan, ia takkan khawatir lagi menghadapi Kong Ji.
Hal ini pun dibenarkan oleh kata-kata Kong Ji yang agaknya dapat membawa pikirannya.
"Terima kasih, Sumoi, kau memang berhati mulia. Sekarang Pak-kek Sin-kiam sudah berada di tanganmu, dengan Pak kek Kiam-sut, tentu sewaktu-waktu kau dapat membunuhku kalau aku tidak memegang teguh janjiku."
Hui Lian merasa lega.
Memang, biar pun pemuda ini sudah mempelajari Pak-kek Sin-ciang-hoat, akan tetapi baru teorinya belaka dan kalau ia memegang Pak-kek Sin-kiam dan mainkan ilmu pedang itu, apakah yang dapat dilakukan oleh Kong Ji terhadapnya?
Seujung rambut pun gadis ini tidak pernah mengira bahwa jangankan dia dengan Pak-kek Sin-kiam dan ilmu pedang Pak-kek Kiamsut, biarpun ada lima orang seperti dia, belum tentu akan dapat menangkan Kong Ji.
Pemuda ini diam-diam telah melatih semua teori dari Pak-kek Sin-ciang, dan agaknya dalam ilmu ini ia tidak kalah oleh Hui Lian.
Apalagi dia sudah mempunyai Tin-san-kang yang hebat, sudah mempunyai ilmu silat dari See-thian Tok-ong dan juga telah mendapat dasar-dasar yang kuat dari ilmu silat Hoa-san-pai serta Kwan-im-pai, bahkan semua ini masih ditambah lagi oleh gemblengan dari Go Ciang Le yang melatihnya dengan sungguh-sungguh dalam ilmu silat tinggi lain kecuali Pak-kek Sin-ciang.
Demikianlah, perjalanan dilakukan terus dengan cepat.
Mereka mempergunakan kuda untuk melewati tapal batas dan akhirnya tibalah mereka di Telaga Gasyun Nor atau juga disebut Cu yen-hu.
Di sekitar telaga ini terdapat tanah yang subur dan karena inilah maka Temu Cin mempergunakannya sebagai markas besar sementara.
Di sini terdapat tempat yang subur pula, sedangkan daerah itu sebagian besar terdiri dan padang pasir yang gundul.
Selain ini, dan telaga ini ia pun dapat melakukan perjalanan melalui air sungai yang ada hubungannya dengan Sungai Kurang sehingga tempat ini memang dapat disebut amat strategis.
Akan tetapi, tentu saja Temu Cin takkan menjadi seorang pemimpin besar kalau dia tidak mempunyai siasat yang amat cerdik.
Di luarnya saja kelihatan bahwa tempat itu ia jadikan markas besar, namun pada hakekatnya, markas besarnya dipecah-pecah dan berada di mana-mana.
ia maklum bahwa bangsanya menghadapi banyak saingan dan musuh yang selalu mengintai dan yang bertujuan menghancurkannya, maka ia tidak begitu bodoh untuk memusatkan tenaga di suatu tempat.
Selain ini, ia pun menghubungi orang-orang pandai dari pedalaman, yang dibujuknya dan diberi hadiah hadiah besar untuk membantu perjuangannya.
Ketika Hui Lian dan Kong Ji tiba di tempat itu, mereka berdua segera dikurung oleh barisan penjaga yang tentu saja merasa curiga.
Mereka mengira bahwa dua orang muda ini tentulah penyeldik atau mata-mata dari pemerintah Kin yang masih berkuasa di selatan.
Maka para penjaga itu mengurung dan membentak.
"Turun dart kuda dan menyerah! Tanpa perlawanan kami akan menangkap kalian hidup-hidup untuk dihadapkan kepada kepala penjaga"
Akan tetapi, mana Kong Ji dan Hui Lian takut menghadapi ini? Kong Ji tersenyum mengejek dan berkata.
"Orang liar, tutup mulutmu yang kotor dan lebih baik kau lekas-lekas panggil keluar pemimpinmu yang bernama Temu Cin!"
Pada waktu itu, nama Temu Cin sudah amat dipandang tinggi oleh orang-orang Mongol, sudah dianggap sebagai penjelmaan dewata agung yang datang ke dunia untuk memimpin bangsa Mongol.
Oleh karena itu, mendengar pemuda bangba Han ini tidak menghormati pimpinan mereka, para penjaga menjadi marah sekali.
"Manusia kurang ajar! Kau sudah berani datang di wilayah kami tanpa ijin dan datang-datang kau bersikap kurang ajar. Apakah kau mempunyai nyawa cadangan maka begitu tak takut mampus?"
Para orang-orang Mongol itu mulai mengurung dan mereka telah mencabut senjata.
Sikap mereka mengancam sekali dan di sana-sini terdengar teriakan orang menyuruh Kong Ji dan Hui Lan menyerah baik-baik.
Namun Kong Ji tiba-tiba tertawa bergelak dan berkata penuh suara menyindir.
"Ha, ha, begini sajakah macamnya anak buah dari Temu Cin yang tersohor gagah? Tidak tahunya sejajar gentong-gentong nasi yang tiada guna""
Tentu saja orang Mongol itu menjadi marah sekali dan serentak mereka menyerbu.
Kong Ji mencabut pedangnya dan melompat turun dari kuda, diturut oleh Hui Lian yang menjadi bingung melihat sikap suhengnya itu.
Menurut suhengnya, mereka datang ke tempat itu bukan saja ntuk mencari orang-orang kang-ouw yang menjadi musuh besar, akan tetapi juga hendak bertemu dengan Temu Cin pemimpin orang-orang Mongol yang terkenal sekali.
Akan tetapi mengapa sekarang suhengnya itu seakan-akan sengaja mencari urusan?
Namun Hui Lian tidak sempat memusingkan semua ini karena banyak sekali orang Mongol menyerang dan mengeroyoknya sehingga ia terpaksa mencurahkan perhatiannya untuk membela diri.
Orang-orang Mongol itu ternyata rata-rata bertenaga besar dan gerakan senjata mereka juga kuat dan cepat sekali.
Akan tetapi, oleh karena gerakan mereka itu hanya gerakan cepat dan nekad, tidak teratur seperti gerakan ahli silat, tentu saja bagi Kong Ji dan Hui Lian yang berilmu tinggi, mereka ini merupakan makanan yang empuk.
Hui Lian tidak mau membunuh orang tanpa ada sebab tertentu.
Di dalam pertempuran dan percekcokan ini, di dalam hati ia mengaku bahwa pihaknya yang salah.
Ia hanya membela diri karena ikut dikeroyok, akan tetapi ia hanya murobohkan orang tanpa melukai berat, atau menabas kutung senjata mereka saja.
Pak-kek Sin-kiam bagaikan sebatang pisau tajam bertemu buah labu menghadap golok dan pedang para pengeroyok itu.
Setiap kali pedang pusaka ini bertemu dengan senjata lawan, pasti senjata lawan itu terbabat putus dengan amat mudahnya.
Oleh karena kejadian ini orang-orang Mongol menjadi gentar dan mereka mengalihkan pengeroyokan mereka kepada Kong Ji.
Akan tetapi, inilah kesalahan mereka.
Kalau mereka mengeroyok Hui Lian saja, paling hebat senjata mereka rusak dan mereka roboh terluka ringan.
Sekarang setelah mereka mengeroyok pemuda itu, sama halnya dengan mencari mati sendiri.
Kong Ji benar-benar telengas dan kedua tangannya menyebar maut.
Setiap sambaran tangan kiri meremukkan kepala atau menotok jalan darah kematian!
Hui Lian sampai bergidik melihat sepak terjang suhengnya ini.
Baiknya baru ada tujuh orang yang tewas ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menahan semua orang yang bertempur.
Bentakan itu demikian berpengaruh, karena semua orang Mongol lalu melompat mundur dan berlutut.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, yang datang itu adalah Temu Cin sendiri bersama pasukannya yang terpukul mundur oleh pasukan musuh yang besar jumlahnya.
Pada waktu itu Temu Cin sedang memimpin bangsanya untuk menundukkan suku suku bangsa lain yang tadinya menindas mereka.
Di antara suku-suku bangsa yang besar dan kuat adalah suku-suku bangsa Kerait dan Naiman.
Dua suku bangsa ini bersatu dan menghadapi pemberontakan Temu Cin.
Baru-baru ini, Temu Cin dengan hanya seratus lima puluh orang pasukannya, bertemu dengan rombongan musuh yang jumlahnya seribu orang lebih.
Tentu saja pasukan Temu Cin menjadi kewalahan dan dikejar-kejar.
Dengan amat cerdiknya, Temu Cin melarikan pasukann menuju ka Gasyun Nor, di mana telah bersiap sedia kawan-kawan untuk menyambut musuh.
Dengan keras hati dan tidak mengenal lelah Temu Cin terus melakukan perjalanan yang amat jauh melalui padang pasir untuk memancing musuhnya yang banyak jumlahnya.
Akan tetapi, ketika tiba di Telaga Cu-yen-hu atau Telaga Gasyun Nor, ia melihat orang-orangnya tengah mengeroyok seorang pemuda dan seorang dara yang amat luar biasa permainan pedangnya, Temu Cin paling suka melihat orang gagah, dan memang termasuk kecerdikannya untuk memikat hati orang-orang pandai agar cita-citanya mendapat bantuan mereka.
Oleh karena ini, sekelebat saja melihat jalannya pertempuran, Temu Cin sudah tahu bahwa dua orang muda itu bukanlah ahli silat sembarangan.
Di lain pihak, ketika Kong Ji dan Hui Lian memandang orang yang baru tiba, mereka diam-diam merasa kagum dan tertarik.
Ada sesuatu dalam diri Temu Cin yang menarik perhatian orang dan menimbulkan kekaguman, ada sesuatu dalam sikapnya yang berbeda dengan semua orang.
Selain ini, pemuda Mongol ini juga gagah sekali, dengan wajah seperti harimau dan sepasang mata sipit yang tajam dan bergerak-gerik penuh kecerdikan.
Temu Cin menjura kepada Kong Ji dan Hui Lian, sedangkan matanya bersinar kagum ketika melihat pedang Pak-kek Sin-kiam di tangan gadis itu.
"Ji-wi Enghiong yang mulia, maafkan aku tidak sempat menyambut lebih siang kedatangan Ji-wi yang merupakan penghormatan bagi kami. Dan lebih-lebih lagi maafkan atas kelancangan orang-orangku yang tidak tahu bahwa dua orang gagah datang sebagai sahabat. Biarlah aku akan memberi hukuman kepada mereka!"
Mendengar ini, Kong Ji melengak dan Hui Lian merasa tidak enak sekali.
Sebetulnya, pihaknya yang seharusnya ditegur dan pihaknya yang keterlaluan, akan tetapi tuan rumah mengeluarkan kata-kata yang demikian sungkan.
"Sahabat, harap kau yang maafkan kami, dan harap jangan memberi hukuman kepada orang-orangmu. Mereka itu hanya menjalankan kewajiban dan kamilah yang datang mengganggu. Maaf, maaf...."
Kata Hui Lian. Temu Cin berpaling kepada orang-orangnya.
"Kaudengarkan itu? Lihiap ini bukan orang sembarangan, baru melihat pokiamnya saja, seharusnya kalian dapat menduga. Hayo lekas singkirkan mayat-mayat ini dan bersihkan tempat untuk menyambut dua tamu agung""
Sekarang Kong ji melangkah maju dan menjura.
"Kami memang berlaku lancang, untungnya Tuan Rumah begitu sopan santun dan baik hati. Sebetulnya, kedatangan kami adalah untuk bertemu dengan pimpinan besar kalian yang bernama Temu Cin."
Orang Mongol muda yang bertubuh tegap itu tertawa bergelak.
"Alangkah bahagia hatiku mendapat perhatian dua orang muda begini gagah perkasa. Tai-hiap, akulah Temu Cin!"
Kong Ji dan Hum Lian kali ini benar-benar terkejut.
Sama sekali tidak mereka sangka bahwa pemimpin besar itu masih begitu muda, dan lagi begitu sederhana!
Melihat keheranan mereka, kembali Temu Cin tertawa.
"Marilah duduk di dalam tenda, Ji-wi Enghiong. Mari kita bercakap-cakap di dalam dan minun arak."
Karena tidak baik dan tidak enak bicara di luar, apalagi setelah terjadi pertempuran tadi, Kong Ji dan Hui Lian menurut saja.
Mereka mengikuti Temu Cin yang masuk ke dalam sebuah tenda besar sekali di mana telah tersedia meja dan bangku serba lengkap.
Tidak disangka bahwa biarpun hanya bangunan tenda, namun di sebelah dalamnya lengkap dan menyenangkan, patut menjadi tempat tinggal seorang pemimpin besar.
Setelah duduk dan arak dikeluarkan oleh pelayan yang cepat pergi lagi, Temu Cin bertanya.
"Tidak tahu siapakah Jiwi yang muda dan gagah?"
"Aku bernama Liok Kong Ji, dan nona ini adalah Go Hui Lian, sumoiku. Kami datang dari selatan, dari Pulau Kim bun-to."
Mendengar sepasang mata yang sipit itu terbelalak dan wajah Temu Cin berseru.
"Aha, Lihiap ini she Go, ada hubungan apakah kiranya dengan Taihiap Ciang Le yang berjuluk Hwa I Enghiong dan juga tinggal di Kim-bun-to?"
"Dia adalah ayahku,"
Jawab Hui Lian cepat. Temu Cin cepat berdiri dari tempat duduknya dan menjura dalam-dalam kepada Hui Lian.
"Ah, benar-benar kehormatan besar sekali bagiku dapat bertemu dengan Lihiap di sini, dapat menerima kunjungan puteri dari Taihiap Go Ciang Le. Guru-guruku yang demikian banyak jumlahnya tak seorang pun di antara mereka yang tidak mengagumi dan menjunjung tinggi nama ayahmu, Nona."
"Terima kasih, Taijin terlampau menghormat,"
Jawab Hui Lian yang sebaliknra menyebut "taijin", karena menurut pendapatnya bukankah pemuda Mongol itu seorang yang berkedudukan tinggi, menjadi pemimpin besar seluruh rakyat Mongol?
Temu Cin sebaliknya tidak merasa aneh disebut taijin dan sikapnya biasa serta ramah-tamah.
"Adapun maksud kedatangan kami,"
Kata Kong Ji kemudian.
"Karena sudah lama sekali kagum mendengar nama besar Taijin, kagum mendengar pergerakan saudara-saudara bangsa Mongol untuk memperbaiki nasib. Apalagi mendengar berita bahwa Taijin bercita-cita untuk membebaskan rakyat kami dari penindasan bangsa Kin, benar-benar menimbulkan hati kagum dan berterima kalis. Oleh karena itu, kami sengaja datang bukan saja untuk menyaksikan kebenaran berita ini, juga untuk berkenalan dengan Taijin dan kalau mungkin menyediakan tenaga membantu perjuangan suci ini. Berseri wajah Temu Cin mendengar ini. Untuk menarik hati dan menarik bantuan orang-orang gagah di dunia kang-ouw, ia tidak segan-segan mengeluarka banyak harta. Apalagi pemuda yang gagah ini datang-datang menawarkan tenaga bantuannya sendiri. Hal ini benar-benar menyenangkan hatinya sehinggga ia tersenyum-senyum gembira. Akan tetapi sebaliknya Hui Lian menjadi amat terheran-heran. Mengapa sekarang suhengnya menyatakan maksud yang amat jauh bedanya daripada semula? Ia menoleh kepada suhengnya dengan pandang mata penuh pertanyaan, akan tetapi Kong ji pura-pura tidak melihatnya. Hati Hui Lain menjadi mendongkol sekali dan ia kehilangan kesabarannya.
"Taijin, menurut kabar yang kudapat, di utara ini banyak perkumpulan orang-orang pandai dan tokoh-tokoh kang-ouw dari segala macam golongan. Oleh karena inilah maka kami sengaja datang ke sini bukan hanya untuk berkenalan denganmu, akan tetapi terutama sekali hendak mencari beberapa orang tokoh kang-ouw yang menjadi musuh besar kali. Kami mengharapkan keterangan dan taijin apakah mereka berada di daerah utara ini."
Temu Cin menekan perasaan tidak senangnya mendengar ini.
Ia amat membutuhkan bantuan orang-orang pandai untuk melaksanakan cita-citanya yang besar, yakni selain mempersatukan suku-suku bangsa di utara sehingga menjadi suku bangsa besar, juga untuk menyerbu ke selatan dan menguasai seluruh Tiongkok.
Tentu saja mendengar adanya pertentangan antara orang gagah, ia tidak senang karena itu berarti merugikan perjuangannya.
Akan tetapi dengan pandai dapat menyembunyikan perasaannya itu dan pada wajahnya yang gagah tidak terbayang sesuatu.
"Siapakah gerangan nama musuh-musuh besar Lihiap itu?"
"Mereka adalah orang-orang tingkat tinggi di dunia kang-ouw, yakni Giok Seng Cu ketua Im-yang-bu-pai, Ba Mau Hoatsu dari Tibet dan See-thian Tok ong beserta anak isterinya."
Temu Cin benar-benar terkejut mendengar ini.
"Mereka adalah orang-orang luar biasa di dunia kang-ouw!"
Katanya.
"Sudah lama sekali aku mendengar nama mereka sebagai iblis-iblis yang sakti, akan tetapi sayang belum pernah bertemu muka, juga mereka tidak ada di sini. Lihiap bermusuhan dengan orang-orang seperti itu, alangkah berbahayanya! Baiklah, aku akan membuka mata dan memasang telinga, kalau aku mendengar di mana adanya mereka, pasti aka kuberi tahu kepada Lihiap."
Kemudian pemimpin orang Mongol ini berpaling kepada Kong Ji.
"Liok Taihiap, tentang maksudmu hendak membantu kami benar-benar amat kuhargai. Tentu saja kelak tidak akan melupakan budi yang besar dari Taihiap ini. Akan tetapi aku pun bersama seluruh kawanku minta bukti pembelaan dari Taihiap. Tak lama lagi akan datang serombongan barisan musuh, yakni dari suku bangsa Naiman dan Kerait yang jumlahnya seribu orang lebih, dipimpin sendiri oleh kepala suku bangsa Naiman yang gagah perkasa. Mereka mengejar-ngejar kami dan kalau mereka tiba aku akan mengadakan perlawanan besar-besaran. Untuk serbuan mereka ini aku sudah memasang jebakan dan aku yakin mereka akan dapat kuhancurkan. Kawan-kawanku di sini berjumlah tiga ribu orang lebih dan sekarang sudah kusiapkan. Bahkan aku sudah memanggil beberapa orang panglima dan pembantu dari barat. Maukah kau dan Lihiap membantu kami?"
"Tentu saja, Taijin. Serahkan saja pemimpin barisan musuh kepadaku, hendak kuperlihatkan bahwa kedatangan kami ini tidak percuma belaka!"
Jawab Kong Ji gembira.
Tiba-tiba terdengar sorak sorai yang hebat dari jurusan timur dan pada saat itu seorang pengawal masuk bersama seorang Mongol yang usianya, kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap sekali akan tetapi agak pendek, sepasang matanya lebar dan kumisnya kecil panjang.
Orang ini berpakaian perang dan di pinggangnya tergantung sebuah golok yang gagangnya amat indah ukirannya.
Dengan matanva yang lebar itu ia menatap Kong Ji dan ia tidak menyembunyikan kekagumannya ketika ia melihat Hui Lian yang cantik manis.
"Bouw Ang Gempo, bagus kau datang pada saat yang tepat!"
Temu Cin berkata girang ketika panglima itu memberi hormat kepadanya.
"Perkenalkan dulu kepada dua orang pendekar ini. Dia ini adalah Liok Kong Ji Taihiap, murid dari pendekar besar Go Ciang Le di Kim bun-co, sedangkan Nona ini adalah puteri dari Go-talhiap itu yang bernama Go Hui Lian. Jiwi Enghiong, inilah Bouw Ang Gempo panglima perangku yang sudah bayak berjasa."
Matanya terhadap Kong Ji agak bercuriga, akan tetapi terhadap Hui Lian, jelas sekali terbayang kekagumannya.
"Bouw Ang Gempo, berapa banyak pasukan yang kaubawa?"
"Dua ribu lima ratus orang, Khan Muda!"
Kata panglima itu.
Kong Ji dan Hui Lian terkejut mendengar sebutan Temu Cin yang disebut Khan Muda atau Raja Muda itu.
Tak mereka sangka bahwa kedudukan orang Mongol muda ini sudah meningkat demikian tinggi.
"Bagus, kau dan anak buahmu harus menjaga agar jangan terlampau banyak terjadi pembunuhan. Taklukkan orang-orang Naiman dan Kerait itu dalam keadaan hidup sehingga mereka akan menggabungkan diri dengan kita. Adapun tentang kepala suku bangsa Naiman beserta putennya yang keras kepala itu, kau serahkan saja kepada Liok-taihiap dan Go Lihiap. Mereka ini sudah sanggup untuk menghadapi mereka!"
Bouw Ang Gempo menggerakkan sepasang alisnya yang gombyok.
"Akan tetapi, Lima Honggan kepala suku bangsa Naiman itu lihai sekali! Apalagi puterinya bukanlah orang yang tidak boleh di-buat main-main!"
Sambil berkata demikian ia memandang kepada Kong Ji dengan pandang merendahkan dan kepada Hui Lian dengan pandang mata khawatir. Temu Cinn tersenyum.
"Ha, ha, ha, panglimaku, kaulah yang kurang awas. Sekarang tidak ada waktu lagi, kelak setelah selesai mengalahkan musuh, boleh kau belajar kenal dengan kelihaian dua orang pendekar muda ini!"
Panglima itu memberi hormat dan berjalan keluar.
Temu Cin juga mengajak dua orang tamunya untuk keluar, karena suara musuh yang mendatangi tempat itu kini sudah terdengar jelas, Mereka sudah berbaris di dekat telaga dan terdengar suara menantang-nantang.
Barisan yang datang hendak menyerbu suku bangsa Mongol ini kelihatan tidak teratur.
Sungguhpun mereka itu rata-rata memiliki perawakan yang gagah dan kuat, namun sebagian besar nampak amat lelah, bahkan ada beberapa orang yang cepat mengambil air dari telaga untuk menghilangkan rasa haus.
Mereka dipimpin seorang tua yang berjenggot panjang dan tangan kanannya memegang tongkat kuningan yang dipegang seperti toya.
Kelihatannya gagah sekali dan dari tindakannya nyata bahwa ia memiliki kepandaian silat yang tinggi.
Kakek ini diam saja, hanya memandang ke depan dengan mata tajam, sedangkan yang berteriak-teriak menantang adalah pembantu-pembantunya yang berdiri di bagian depan dari barisan itu.
Setelah menghadapi mereka dari jarak tiga puluh tombak Temu Cin berkata, suaranya nyaring sekali sehingga diam-diam Hui Lian dan Kong Ji memuji dan tahu bahwa pemimpin muda ini ternyata memiliki tenaga lweekang dan khikang ang tinggi juga.
"Paman Lima Honggan! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa tiada gunanya kau dan kawan-kawanmu memusuhiku. Kau takkan menang! Bagaimana kau bisa mengalahkan bangsa Mongol yang besar? Daripada membuang nyawa cuma-cuma, bukanlah lebih baik kau dan kawan-kawanmu menggabungkan diri dengan kami! Hawa begini panas, kalian sudah melakukan perjalanan jauh, apakah tidak lebih baik datang minum arak menghilangkan lelah? Lihatlah anak buahmu sudah kehausan, apakah kau tidak hendak memberi kesempatan kepada mereka untuk minum dulu? Lihat, aku dan kawan-kawanku sengaja tidak menjaga telaga, untuk memberi kesempatan kepada orang-orangmu melepaskan lelah!"
"Temu Cin, siapa sudi mendengar bujukanmu? Kau sudah menghina keluarga kami, kau hendak mengajak kami menyerang ke selatan? Huh, orang macam kau akan menyerang ke selatan? Tengoklah tingginya Gunung Thai-san, apa kaukira akan dapat menghadapi orang selatan yang banyak memiliki ahli-ahli silat yang tinggi? Sudahlah, jangan banyak cerewet. Kalau kau memang laki-laki, pertanggung jawabkan semua perbuatanmu dan menyerah untuk kubelenggu!"
Akan tetapi pada saat itu, Temu Cin tertawa bergelak.
"Paman Lima Hong-on. lihatlah, apa yang sudah terjadi dengan anak buahmu? Apakah kau masih keras kepala hendak melawan?"
Lima Honggan menengok dan mukanya menjadi pucat.
Sebagian besar anak buahnya tadi tak dapat menahan haus dan beramai-ramai mereka minum air telaga Gasyun Nor, juga kuda-kuda yang kepayahan diberi minum.
Mereka minum dengan bernafsu sekali, lupa akan segala apa di sekeliling mereka.
Hanya para pemimpin yang di tengah jalan masih kebagian air, dan mereka yang memang bersemangat baja, tidak tergesa-gesa minum ketika menghadapi musuh.
Dan sekarang mereka yang tadi minum air telaga, semua roboh bergelimpangan dalam keadaan lemas dan tak berdaya, seperti orang mabok atau orang mengantuk.
Bahkuda yang minum air itu pun sekarang rebah miring, mengeluarkan ringkik panjang seperti keluhan.
Sebentar saja lebih dari separuh barisan rebah malang melintang dan keadaan menjadi panik.
Tiba-tiba dari dalam barisan Lima Honggan, melompat keluar seorang wanita yang bertubuh ramping.
Wanita bermuka manis sekali, dengan rambut dipotong pendek.
Bajunya biru dan celananya merah berkibar tertiup angin ketika ia melompat ke depan dengan sinar mata memancarkan kemarahan.
Tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yakni sebuah bola baja yang diikat dengan rantai kecil.
Nona yang usianya paling banyak tujuh belas tahun, masih amat muda dan amat cantik menggiurkan ini, setelah mengayun bola baja itu di atas kepalanya, diputar-putarnya sehingga menimbulkan suara nyaring.
Ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah Temu Cin.
"Temu Cin, bangsat curang manusia tak berbudi! Kau telah meracuni orang-orang kami!"
Sambil berkata demikian sekali melompat gadis ini telah melapaui sepuluh tombak dan berdiri menantang dengan marah! Temu Cin menoleh kepada Kong Ji dan Hui Lian, tersenyum dan berkata.
"Itulah Lima Nalumei, puteri Paman Honggan yang tadinya hendak dijodohkan dengan aku. Dia lihai sekali, apakah di antara Ji-wi ada yang sudi mewakiliku?"
Hui Lian memandang kepada Temu Cin dan matanya ragu-ragu ketika ia memandang dan bertanya.
"Taijin, betul-betulkah kau meracuni orang itu!"
Temu Cin tersenyum.
"Aku sayang orang-orang di utara, bagaimana aku mau meracuni mereka? Mereka hanya telah minum air yang dicampuri obat bius yang melemahkan dan memabokan saja."
Sementara itu, sejak tadi Kong Ji memandang ke arah Nalumei dengan mata berseri dan penuh gairah.
Gadis itu memang cantik sekali, dan memiliki sifat kecantikan yang lain sekali dari pada kecantikan seorang gadis Han.
Rambutnya yang dipotong pendek itu agak kecoklat-coklatan dan matanya agak kebiruan seperti mata seorang nona bangsa Semu.
Mendengar permintaan Temu Cin, ia lalu berkata.
"Biar aku yang menghadapinya!"
Ia melompat dengan gembira sambil mencabut pedangnya.
"Saudara Liok, jangan bunuh dia, tangkap hidup-hidup!"
Temu Cin masih sempat memberi ingat pemuda ini. Kemudian ia berpaling kepada Hui Lian.
"Go lihiap, kalau Paman Lima Honggan maju, harap kau suka menghadapinya. Aku mau membantu Bouw Ang Gempo menaklukkan barisan mereka!"
Belum sempat Hui Lian menjawab sekali berkelebat Temu Cin sudah melompat jauh untuk memimpin pasukan menghadapi musuh yang masih hendak mengadakan perlawanan.
Ketika Kong ji berhadapan dengan nona bangsa Naiman itu, ia merasa girang sekali.
Makin dekat, makin nampak kecantikan nona ini yang benar-benar masih amat muda, namun sudah mempunyai sikap gagah.
Nona ini melihat kedatangan Kong Jil dengan pedang di tangan sudah tahu bahwa pemuda tampan bangsa Han ini tentulah jagoan dari Temu Cin, maka tanpa banyak cakap lalu menggerakkan senjatanya menyerang dengan hebat.
"Bagus, Nona manis, gerakanmu indah sekali!"
Kong ji memuji sambil mengelak. Akan tetap"
Baru saja ia mengelak, bola baja itu sudah datang menyambar lagi amat cepatnya, mengarah kepalanya.
Kong ji tentu saja tidak mau membiarkan kepalanya dihancurkan oleh benda itu, dan tidak berani pula berlaku semberono karena sambaran bola itu mendatangkan angin mengiuk.
Cepat pedangnya bergerak menangkis dan bahkan inengerahkan tenaga untuk memutuskan tali bola itu.
Akan tetapi, tali itu tidak terputus, bahkan ketika pedangnya menahan tali, bola itu dapat memukul terus, menukik ke bawah mengancam dadanya.
Kong Ji benar-benar kaget sekarang.
Tak disangkanya bahwa nona ini demikian lihainya.
ia cepat menarik kembali pedangnya dan mengelak ke kiri melangkah maju dan tangan kirinya diulur untuk merampas senjata lawan yang lihai itu.
Akan tetapi, nona itu telah mendahuluinya, menotok ke arah Iambungnya dengan dua jari tangan kiri.
Gerakannya cepat dan kuat sehingga kembali Kong Ji terkejut sampai berseru sambil melompat mundur.
Jelas baginya bahwa gerakan tadi adalah ilmu menotok jalan darah dari selatan!
Bagaimanakah seorang nona bangsa Naiman yang tinggal jauh di utara dapat mainkan ilmu silat selatan seperti orang Han?
Namun ia tidak sempat melamun terlalu lama karena Nalumei menyerangnya lagi, kini senjatanya diputar hebat dan mendesak kuat setelah diketahuinya bahwa pemuda berpedang ini dapat menghalau semua serangannya.
Kong Ji juga melayaninya dengan hati-hati.
Pemuda ini tidak mau menjatuhkan tangan besi, karena selain tidak mau melukai gadis manis yang menarik hatinya ini, juga.
ia ingin sekali menyaksikan ilmu sang gadis ini lebih jauh.
Pertempuran berjalan seru sekali.
Tiba-tiba kakek yang menjadi ayah gadis ini berteriak keras, memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu.
Dia sendiri membawa tongkatnya melompat untuk membantu puterinya.
Tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang gadis Han -yang lincah, seorang gadis yang memegang pedang pusaka yang berkilauan cahayanya.
Lima Honggan tidak gentar, sambil membentak keras ia mengayun tongkatnya ke arah Hui Lian.
Gadis ini menangkis.
"Traangg!"
Bukan main kagetnya Lima Honggan ketika ujung tongkatnya somplak, terbabat putus oleh pedang lawannya itu.
ia mencelat mundur kemudian menghadapi Hui Lian lebih hati-hati.
Tidak berani lagi ia mengadu tongkatnya dengan pedang itu dan selalu menghindarkan bertemunya kedua senjata.
Namun tongkatnya selalu mengancam jalan darah yang berbahaya.
Seperti juga Kong Ji.
Hui Lian mendapat kenyataan bahwa ilmu silat dari selatan gerakannya hampir sama dengan ilmu silat cabang Bu-tong-pai.
Adapun pasukan Naiman dan Kerait setelah melihat pemimpin dan puterinya itu turun tangan, sambil bersorak sorak mereka lalu maju menyerbu, disambut oleh Bouw Ang Gempo yang memimpin anak buahnya.
Namun sia-sia belaka bagi pihak penyerang, karena jumlah mereka sudah berkurang banyak.
Kini mereka menghadapi sambutan dari pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya sehingga sebentar saja mereka dikurung dan dikeroyok.
Banyak yang roboh bergelimpangan dan lebih banyak lagi yang tertangkap hidup-hidup.
Adapun mereka yang terterkena minuman yang mengandung obat bius, siang-siang sudah dibelenggu oleh pihak Mongol.
Pertempuran antara pihak Kong Ji dan Nalumei hanya berlangsung selama dua puluh jurus.
Kalau Kong Ji mau, dalam beberapa belas jurus saja akan dapat merobohkan lawannya akan tetapi ia merasa sayang kalau melukai nona ini.
Maka setelah mendapat kesempatan baik ia memukul hancur bola besi itu dengan tenaga Tin-san-kang, kemudian sebelum Nalumei sempat mengelak, ia telah menepuk pundak gadis itu sehingga Nalumei jatuh lemas tak berdaya.
Kong Ji menyambar tubuhnya dan mengempitnya, lalu membawanya ke dalam markas orang-orang Mongol.
Adapun pertandingan antara Hui Lian.
dengan Lima Honggan juga tidak berjalan seimbang.
Tidak saja pedang pusaka Pak-Kek Sin-kiam terlalu ampuh buat kakek itu, juga ilmu pedang gadis itu terlalu tinggi baginya.
Sebentar saja, melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata, Lima Honggan menjadi kabur pandangan matanya dan berkunang-kunang.
Ia merasa bahwa kali ini ia dan anak buahnya pasti akan kalah.
Apalagi setelah ia melihat puterinya tertawan musuh, hatinya menjadi kalut dan ia berlaku nekat.
Ketika itu, pedang di tangan Hui Lian tengah menyerang ke arah dadanya.
Kakek ini menangkis dengan tongkat sekuat tenaga.
Terdengar suara nyaring dan tongkatnya patah menjadi dua.
Namun ia tidak mundur, sebaliknya bahkan merangsek maju dengan kedua tangan diulur merupakan cengkeraman.
Tangan kiri mencengkeram ke arah pedang dan tangan kanan mencengkeram ke arah dada Hui Lian!
Hui Lian terkejut sekali.
Tak disangkanya bahwa kakek ini demikian nekat.
Kalau ia membabat, kedua lengan itu, pasti putus, namun ia tidak tega berlaku sekeji itu.
Ia hanya mengelak untuk menghindarkan cengkeraman ke arah dadanya dan karena ia berlaku lambat, pedangnya telah kena dipegang oleh cengkeraman kakek itu.
Lagi-lagi Hui Lian terkejut.
Kalau orang tidak memiliki lweekang yang tinggi, baru mencengkeram Pak-kek Sin-ciang saja jari-jari tangannya tentu akan putus semua!
Agaknya kakek ini mempergunakan tenaga lemas sehingga tidak terpengaruh oleh tajamnya pedang yang keras.
Kalau Hui Lian mau, ia dapat menyalurkan tenaga lemas pada pedangnya dan dengan demikian dapat melukai tangan kakek itu, akan tetapi ia tidak tega.
Sebaliknya, ia hanya mencoba untuk membetot terlepas pedang itu.
Mereka saling membetot dan tiba-tiba kakek itu menjerit, tangannya yang mencengkeram pedang terlepas dan ia roboh terlentang mandi darah.
Tepat di ulu hatinya tertancap oleh sebatang anak panah yang kecil.
Hui Lian tertegun dan menengok ke belakangnya.
Ia melihat Temu Cin bediri memandangnya dengan senyum, di tangan pemuda Mongol ini terlihat busur kecil dan anak-anak panah yang kecil pula.
Jelaslah bahwa Temu Cin sudah turun tangan mengirim anak panah tadi ke ulu hati Lima Honggan"
"Dia harus dibinasakan, Lihiap, terlalu berbahaya untuk pergerakanku!"
Kata Temu Cin yang cepat lenyap pula di antara orang-orang yang sedang berperang tanding.
Orang-orang suku bangsa Kerait dan Naiman sebentar saja dapat dikalahkan dan hanya beberapa belas orang saja yang tewas, semua dapat ditawan dan diikat kedua tangannya.
Mereka ini tidak dibunuh, akan tetapi perlahan-lahan akan mendapat bujukan dan penerangan dari Temu Cin sehingga kelak mereka bahkan akan menjadi pembantu dan anggauta pasukan yang setia.
Di sinilah terletak kekuatan Temu Cin.
ia tidak mau sembarangan menewaskan suku-suku bangsa utara kecuali yang dianggap berbahaya.
Ia pandai mengambil hati dan pandai ia mengatur sehingga kelak seluruh suku bangsa di utara yang amat banyak macam dan jumlahnya itu dapat bersatu menjadi satu bangsa Mongol yang besar dan jaya.
Sehabis perang Temu Cin menghampiri Hui Lian dan mereka berdua berjalan kembali ke perkemahan, di sepanjang jalan disambut dan dihormati oleh semua orang Mongol.
Diam-diam Hui Lian mengakui bahwa pemuda Mongol ini memang tepat untuk menjadi pemimpin.
Gagah perkasa dan pandai memimpin, keras hati dan ramah tamah.
Hui Lian memandang ke sana ke mari dan merasa heran mengapa ia tidak melihat Kong Ji.
Ke manakah perginya Kong Ji?
Setelah ia mengalahkan Nalumei, ia menawan gadis cantik itu dan membawanya keperkemahan Mongol.
Akan tetapi, sebagai tamu di tempat itu, ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya dan terpaksa memberikan gadis tawanannya kepada para penjaga yang sudah menyediakan tempat tahanan khusus untuk para pimpinan pasukan musuh.
(Lanjut ke
Jilid 14) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Jaga dia balk-baik dan jangan ganggu. lni perintah Temu Cin!"
Kata Kong Ji yang merasa khawatir kalau-kalau gadis yang menggiurkan hatinya itu mendapat perlakuan buruk dari para penjaga tahanan.
Akan tetapi begitu ia kembali ke medan pertempuran dan hendak melampiaskan nafsunya yang suka membunuh, Temu Cin sudah mendekatinya dan tertawa.
"Liok-taihiap, harap kau jangan mencampuri perang kecil ini. Cukup orang-orangku saja. Ke mana kau membawa Nalumei tadi?"
Merah muka Kong Ji. Pandang mata temu Cin demikian tajam seakan-akan orang ini dapat menjenguk ke dalam isi hatinya.
"Aku serahkan kepada penjaga tawanan."
"Hem, kau agaknya tertarik kepdanya, Taihiap?"
Makin merah muka Kong Ji. Orang ini benar-benar berbahaya, mempunyai pandangan mata yang amat tajam dan otak yang cerdik sekali.
"Dia memang manis, anehkah kalau seorang laki-laki tertank kepada seorang gadis manis seperti dia?"
Kong Ji menjawab dan sikapnya kurang senang. Temu Cin tertawa bergelak.
"Jangan salah mengerti, Taihiap. Kalau aku mau, gadis itu dulu sudah menjadi isteriku, dia adalah bekas tunanganku ketika aku masih kecil!. Kalau aku mau menjadi suaminya, takkan ada perang hari ini dan aku pun tidak akan dapat maju, mungkin sekarang menjadi ayah yang baik. Ha, ha, ha! Akan tetapi, Taihiap seorang gagah takkan terlalu memusingkan urusan macam ini, dan kiranya seorang gadis suku bangsa Naiman kurang cocok dengan seorang pendekar Han seperti kau. Bouw Ang Gempo sudah lama tergila-gila kepada Nalumei, dan dia seorang yang berjasa besar. Aku akan merasa girang sekali kalau dapat menjodohkan Nalumei kepadanya sebagai pemberian jasa."
"Taijin, akulah yang mengalahkannya, aku yang menawannya, sudah sepantasnya kalau Nona itu diberikan kepadaku,"
Kata Kong Ji dan kalau Hui Lian mendengar ini, gadis itu tentu akan merasa aneh sekali bagaimana suhengnya dapat berkata demikian tanpa merasa sungkan dan malu sedikitpun juga.
Temu Cin diam-diam juga terkejut.
Penilaiannya terhadap Kong Ji merosot keras dan pemimpin ini biarpun masih muda, namun ia memiliki pertimbangan yang masak dan pandangan yang luas sekali.
"Taihiap, apakah Sumoimu tidak akan marah kalau kau mengambil Nalumei?"
Tanyanya tiba-tiba.
Merah wajah Kong Ji.
Pemuda ini teringat akan semua pengalamannya dengan Hui Lian dan ia sudah yakin sekarang bahwa Hui Lian tidak cinta kepadaya, walaupun sumoinya itu belum membencinva seperti yang dilakukan oleh Soan Li.
"Mengapa mesti marah"
Aku suhengnya dan dia sumoiku, tidak ada hubungan lain kecuali itu."
Temu Cin berseri wajahnya.
"Benarkah begitu, Taihiap? Bagus kalau begatu. Apakah sumoimu itu belum bertunangan dengan orang lain"
Kong Ji menggelengkan kepalanya.
"Belum...."
Dan diam-diam dia menduga apakah pemimpin bangsa Mongol ini suka kepada Hui Lian?
"Kalau begitu, biarlah aku melamar sumoimu itu untuk...
Bouw Ang Gempo.
Dengan begitu, biarpun Nalumei kau ambil, dia tidak akan terlalu berduka!
Ha ha, ha, bukankah ini baik sekali, Taihiap?"
Demikianlah, di luar tahunya Hui Lian, persoalan ini dibicarakan oleh Kong Ji dan Temu Cin, kemudian bahkan Bou Ang Gempo dipanggil dan panglima diberi tahu, secara terus terang.
Bouw Ang Gempo mengurut-urut kumisnya yang kecil panjang.
"Nona Nalumei sudah kuketahui watak dan keahliannya dalam berperang, sedangkan Nona Hui Lian itu, biarpun tidak kalah cantik oleh Nalumei, aku belum melihat sendiri sampai di mana kepandaiannya. Aku paling tidak suka mempunyai isteri yang lemah!"
Temu Cin khawatir kalau Kong Ji merasa tidak senang dan tersinggung. Maka ia tertawa dan berkata.
"Bouw Ang Gempo ini paling menghargai kegagahan, dia sendiri juga memiliki kepandaian tinggi, apalagi dibantu oleh goloknya yang ampuh dan sakti, untuk suku bangsa kami, kiranya tidak ada keduanya!"
Mendengar ini, Kong ji melirik ke arah golok yang tergantung di punggung Bouw Ang Gempo.
Golok itu sarungnya indah, juga gagangnya merupakan kepala mahluk aneh, singa bukan naga juga bukan, namun harus diakui bahwa gagangnya amat indah, dengan sepasang mata dari batu kemala hijau.
"Bouw Ang Gempo, marilah kaubuktikan ketajaman golokmu itu dengan pedang ini,"
Kata Kong Ji sambil memungut sebatang pedang yang terlempar ke atas tanah.
Di sekitar tempat itu memang banyak sekali senjata-senjata tajam dari mereka yang jatuh dalam perang.
Bouw Ang Gempo tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak, ia telah mencabut goloknya.
Kong Ji kagum bukan main melihat golok yang putih berkilauan seperti perak, akan tetapi ketika digerakkan membawa cahaya kehijauan itu.
Benar-benar golok mustika yang luar biasa, pkirnya, Bouw A Gempo mengambil pedang dari tangan Kong Ji dan sekali ia memukulkan pedang pada goloknya, terdengar suara nyaring dan pedang itu putus bagaikan tangkai kembang teratai beradu dengan pisau tajam saja"
"Bouw Ang Gempo, mari kita bertaruh!"
Kong Ji berseru sambil memandang kepada golok itu dengan mengilar.
"Aku akan menyuruh Sumoiku melayanimu mengadu kepandaian agar kau puas dan melihat sampai di mana kepandaian Sumoiku. Kalau Sumoi kalah, terserah kepadamu dan aku takkan keberatan apa-apa, biar pun kau akan mengambil pedang pusaka yang dibawa oleh Sumoi, yang tidak kalah oleh golok ini baiknya. Akan tetapi kalau Sumoi menang, golok ini harus kau serahkan kepadaku, dan aku berhak mengambil pedang pusaka kami itu. Bagaimana?"
Bouw Ang Gempo sudah kegirangan karena ia boleh menguji Hui Lian yang memang amat dikaguminya, apalagi kalau mengingat bahwa gadis Han yang cantik itu akan menjadi isterinya, maka serta merta ia menyanggupinya dan menerima pertaruhan itu.
Temu Cin menggosok-gosok tangannya dengan hati girang.
"Bagus sekali,"
Pikirnya.
"kalau Go Hui Lian menjadi isteri Bouw Ang Gempo dan Liok Kong Ji menjadi suami Nalumei, berarti aku dapat tambahan dua tenaga pembantu yang tangguh. Bagi Temu Cin, tidak ada yang lebih penting daripada cita-citanya, dan segala apa yang ia lakukan ialah demi tercapainya cita-citanya yang dikandung di dalam hatinya semenjak kecil. Cita-cita ini adalah, menaklukkan seluruh negeri dan merajai seluruh dunia! "Sumoi, Bouw Ang Gempo itu harus diberi sedikit hajaran agar terbuka matanya dan jangan memandang rendah kepada kita."
Kong Ji berkata kepada Hui Lian ketika malam hari itu Temu Cin mengadakan pesta untuk merayakan kemenangannya.
Yang memenuhi tenda besar tempat pesta itu berlangsung adalah panglima-panglima dan pembantu-pembantu Temu Cin dan di antaranya terdapat beberapa orang kang-ouw dari selatan, orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Akan tetapi di antara mereka tidak kelihatan adanya -orang-orang yang dicari oleh Kong Ji dan Hui Lian.
"Mengapa kau berkata begitu, suheng?"
Tanya Hui Lian.
"Kau tunggu saja, ia pasti akan menantangmu menguji senjata. Tadi aku telah bercakap-cakap dengannya dan karena ia memamerkan golok pusakanya, aku menyatakan bahwa goloknya itu takkan menang dengan pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang kaubawa. ia marah-marah dan menyatakan bahwa kelihaian senjata bukan tergantung sepenuhnya dari kebaikan senjata itu sendiri melainkan dari orang yang memegangnya. Aku pun marah dan menyatakan bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya. Oleh karena ini, aku berani pastikan dia akan menantangmu. Kuharap kau jangan berlaku sungkan-sungkan menghadapinya, Sumoi."
Hui Lian menghela napas.
"Kau ini mencari perkara saja. Pihak tuan rumah begitu ramah dan baik terhadap kita dan kau membangkitkan kemarahan dalam hati panglima yang dipercaya oleh Temu Cin."
"Akan tetapi aku harus menjaga nama apalagi menjaga nama besar Suhu!""
Hui Lian hanya menarik napas panjang.
"Baiklah, kalau memang ia menantang, akan kulihat sikapnya. Kiranya tak perlu melukainya, cukup kalau membuktikan bahwa Pak-kek Sin-kiam lebih bagus daripada segala macam golok!"
Pesta berjalan penuh kegembiraan dan di dalam kesempatan ini Temu Cin bahkan angkat bicara, membentangkan siasat-siasat dan rencana-rencana selanjutnya.
Bukan main hebatnya hasil yang sudah dicapai oleh pemimpin muda ini.
Ternyata bahwa pasukan-pasukan yang berada di bawah kekuasaannya sudah banyak sekali tersebar di mana-mana, dan siap untuk mempergunakan di segala waktu.
Kini tugas dari setiap pasukan yang berpencaran itu adalah mengumpulkan kawan-kawan atau lebih tepat memperbesar jumlah anggauta pasukan, baik dari suku-suku bangsa lain yang menyetujui pergerakan mereka maupun dari tawanan-tawanan yang sudah diinsyafkan!
Setelah itu, hidangan dikeluarkan dan orang mulai makan minum gembira.
Pujian-pujian diucapkan oleh Temu Cin untuk para panglimanya, terutama sekali Bouw Ang Gempo dipuji-puji, disambut tepuk sorak oleh kawan sejawatnya.
Panglima ini berdiri, mengurut kumisnya dan menoleh ke sana ke mari dengan bangga, terutama sekali ia beberapa kali menoeh ke arah tempat duduk Hui Lian dan Kong Ji, sehingga diam-diam gadis ini merasa gemas dan mendongkol.
"Kepandaianku apa sih artinya kalau dibandingkan dengan kepandaian dua tamu agung kita?"
Kata Bouw Ang Gempo sambil menjura ke arah Kong Ji.
"Liok taihiap telah dapat menawan puteri kepala suku bangsa Naiman yang terkenal pandai, itu sudah membuktikan bahwa kepandaian Liok-taihiap benar-benar hebat. Apalagi kepandaian Go-lihiap. Aku mendengar bahwa ia telah menghadapi Lima Honggan, bukankah itu hebat? Oleh karena itu untuk menggembirakan pesta malam hari ini, dan untuk menambah pengalaman dan meluaskan pandangan mata kami, aku minta dengan hormat sudilah kiranya Go-lihiap memberi sedikit petunjuk dan pelajaran dalam ilmu pedang kepadaku."
Setelah berkata demikian, Bouw Ang Gempo melompat ke dekat meja Hui Lian dan menjura, matanya memandang penuh arti kepada Kong Ji.
Semua orang bertepuk tangan menyatakan gembira.
Tentu saja mereka sudah mendengar bahwa nona bangsa Han yang cantik dan yang menjadi tamu pemimpin mereka itu lihai sekali, dan kini mereka ingin sekali menyaksikan apakah Hui Lian kuat menandingi Bouw Ang Gempo yang sudah amat terkenal di kalangan bangsanya sendiri.
"Go-lihiap,"
Tiba-tiba terdengar suara Temu Cin keras ketika ia memandang kepada Hui Lian dengan senyum lebar.
"Harap kau jangan salah terima. Bou Ang Gempo tidak berniat buruk, dan betul-betul hanya untuk minta petunjuk darimu. Terus terang saja, panglima ini memiliki sebatang golok pusaka yang amat baik, maka ia ingin sekali menguji goloknya itu dengan pedang pusakamu dan selain itu, ingin pula menguji ilmu silatnya dengan ilmu silatmu. Untuk meramaikan pesta ini, harap kau jangan menolak""
Bouw Ang Gempo gembira sekali mendengar ini, maka ia mendahului melompat ke tengah ruangan itu yang memang sudah dikosongkan dan dipersiapkan lebih dulu untuk tempat bersilat.
"Orang menantangku, sungguhpun tanpa maksud buruk,. bagaimana aku dapatmenolaknya?"
Kata Hui Lian.
Mukanya agak merah, tanda bahwa nona ini menongkol sekali.
Kalau Bouw Ang Gempo hendak mencoba kepandaian mengapa justru memilih dia?
Mengapa tidak memilih Kong Ji?
Ia merasa seperti hendak dijadikan tontonan!
Aku akan menghajar babi berkumis ini,"
Pikirnya gemas!
Di lain saat gadis ini telah meninggalkan mejanya dan sekali ia melompat, telah menghadapi Bouw Ang Gempo dengan pedang di tangan.
Semua orang kagum sekali melihat cara melompat yang amat lincah ini, apalagi melihat pedang yang berkilauan itu, mereka memuji dan menyatakan bahwa itulah pedang mustika yang amat baik.
"Bouw Ang Gempo, agaknya kau amat membanggakan golokmu dan mengandalkan ilmu silatmu, baiklah aku akan mencobanya,"
Kata gadis ini dan ia menekan rasa mendongkolnya karena tidak baik memperlihatkan kemarahan di muka umum, apalagi ia dan suhengnya adalah tamu-tamu yang dihormati.
Bouw Ang Gempo tersenyum dibuat-buat agar kelihatan gagah.
"Lihiap, aku adalah pihak tuan rumah dan juga laki-laki, tidak patut menyerang lebih dahulu. Kau majulah dan mari kita main-main sebentar!"
"Baik, kaulihat pedangku!"
Hui Lian tidak mau berlaku sheji (sungkan-sungkan) lagi, pedangnya digerakkan dan segulung sinar meluncur ke arah dada panglima Mongol itu.
"Mari mengadu ketajaman senjata!"
Bouw Ang Gempo berteriak keras tiba-tiba dari samping goloknya menyambar dan membacok ke arah pedang.
Hui Lian tentu saja tidak mau membiarkan pedangnya terbacok dari samping, cepat merubah arah pedang dan sengaja memapaki datangnya golok.
Gadis ini amat percaya akan ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin-kiam, maka tanpa ragu-ragu ia memapaki golok itu dengan maksud membuat golok itu rusak.
"Traaang...,"
Bunga api yang banyak sekali berpijar menyambar ke sana ke mari ketika dua senjata itu bertemu dan bunga-bunga api muncrat ke arah muka Hui Lian dan Ang Gempo.
Keduanya terkejut sekali dan cepat masing-masing melompat mundur untuk melihat apakah senjata mereka rusak.
Akan tetapi baik Pak-kek Sin-kiam maupun golok di tangan Bouw Ang Gempo itu tidak rusak sedikitpun juga sehingga mereka menjadi lega.
Diam-diam kedua orang ini memuji senjata lawan dan tadi ketika bertemu senjata, Hui Lian merasakan tenaga raksasa yang membuat pedangnya terpental kembali.
Ia maklum bahwa panglima Mongol ini memiliki tenaga gwakang yang amat besar maka kalau selalu beradu senjata, biarpun pedangnya takkan rusak, namun karena senjata itu sama baiknya, jika terus menerus beradu senjata, pihaknyalah yang rugi.
Kemungkinan rusaknya senjata di pihaknya lebih besar.
Oleh kaena ini, ia lalu melompat maju dan cepat melakukan penyerangan dengan ilmu pedangnya yang lihai, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengadukan senjata.
ia mengandalkan kelincah dan kecepatannya, setiap kali mengganti jurus dan menghindarkan pertemuan senjata.
Bouw Ang Gempo terkejut bukan main ketika melihat tubuh lawannya seakan-akan berubah menjadi tiga orang.
Di kanan kiri dan depan terdapat berkelebatnya bayangan nona itu dan dimana-mana ia melihat pedang yang berkeredepan menusuk, membacok dan menabasnya!
Panglima Mongol ini menjadi bingung sekali.
Dalam hal senjata, ia boleh mengandalkan goloknya yang ternyata memang ampuh dan bukan senjata sembarangan, juga dalam hal tenaga, tak usah khawatir karena tenaganya lebih besar.
Akan tetapi dalam hal silat, ia masih kalah jauh, apalagi menghadapi kecepatan gadis itu, ia benar-benar menjadi bingung dan sebentar sa ja matanya berkunang dan kepalanya serasa terputar-putar!
Baiknya Hui Lian ingat bahwa ia meghadapi seorang panglima yang disayang oleh Temu Cin, dan ingat bahwa pertandingan ini hanyalah sekedar menguji kepandaian belaka.
Kalau dia mau, memang dengan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu pedangnya, ia dapat merobohkan atau membunuh Bouw Ang Gempo.
Akan tetapi tentu saja ia tidak mau lakukan hal ini dan hanya berusaha untuk melukai sedikit atau kalau mungkin merampas senjata lawan.
Ia hanya mengharap supaya panglima ini mengakui kelemahannya dan akan mengaku kalah.
Siapa kira bahwa panglima ini sama sekali tidak mau kalah, bahkan dengan berkat Bouw Ang Gempo menggerakkan goloknya, menangkis pedang nona itu sekuat tenaga.
"Traaaang... criiiing...!"
Kembali sepasang senjata ini bertemu dan kali ini burga api yang muncrat lebih banyak lagi, mengagetkan para kadirin di situ.
Kembali Hui Lian melompat ke belakang karena ia tidak mau kalau sampai ada bunga api yang mengenai kulit mukanya.
Sambil melompat ia memeriksa pedangnya yang ternyata masih utuh akan tetapi diam-diam ia merasa mendongkol sekali.
Kau keras kepala, pikirnya gemas, baiklah, aku akan memberi hajaran kepadamu!
Akan tetapi, Bouw Ang Gempo sudah melompat ke belakang, memeriksa golok dan kemudian memasukkan golok itu ke dalam sarungnya di pinggang.
Ia menjura sambil tertawa.
"Go-lihiap, aku harus akui bahwa pedangmu itu benar-benar luar biasa hebat, tidak kalah bagusnya daripada golok mustikaku. Karena senjata kita ini senjata pusaka, sayanglah kalau sampai rusak. Bagaimana kalau kita melanjutkan adu kepandaian ini dengan tangan kosong?"
Sebetulnya Hui Lian tidak sudi meladeni orang ini lebih lanjut, akan tetapi gadis ini masih muda dan darahnya masih panas.
ia masih belum puas karena kemenangannya tadi hanya dapat dilihat oleh mata seorang ahli saja.
Bagi orang-orang lain tentu belum mengakui bahw ia lebih unggul daripada panglima Mongol ini.
Oleh karena itu, ucapan Bouw Ang Gempo yang bersifat tantangan itu tak dapat dttolaknya.
"Baiklah, ilmu golokmu sudah kulihat, aku pun ingin melihat ilmu silatmu sampai di mana sih tingginya!"
Katanya dengan nada mengejek sambil menyarungkan Pak-kek Sin-kiam.
Sebetulnya, Bouw Ang Gempo bukanlah seorang bodoh yang bermata buta.
Dar pertandingan tadi ia sudah maklum bahwa kepandaian gadis ini memang luar biasa sekali dan ia kalah jauh, bahkan harus mengakui bahwa kepandaian Nalumei yang sudah pernah dilihatnya, tidak mungkin dapat mengatasi kepandaian nona Han ini.
Akan tetapi karena ia sudah mengadakan perundingan dengan Kong Ji dan sudah mendapat janji bahwa nona ini akan dijodohkan dengan dia, ia ingin menguji sampai sepuasnya.
Bahkan dalam pertandingan tangan kosong ini, ia akan dapat beradu tangan dan kalau mungkin ia akan menangkap calon isterinya ini"
"Lihiap kau mulailah!"
Katanya sambil tersenyum-senyum.
Hui Lian melangkah maju dan mengirim serangan dengan pukulan ke arah telinga kiri lawan.
Inilah jurus dan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang yang amat lihai, kelihatannya memukul telinga, akan tetapi sebenarnya leher lawanlah yang diarah.
Akan tetapi tiba-tiba Bouw Ang Gempo menubruknya dengan kedua lengan dikembangkan dan sepasang tangan panglima Mongol itu yang penuh bulu hitam panjang, mencengkeram ke arah pergelangan tangannya yang memukul itu.
Hui Lian terkejut karena hampir saja pergelangan tangannya kena dicengkeram.
Cepat ia lalu membuka jari-jari tangannya dan mengibaskan jari-jarinya ke arah tangan yang mencengkeram.
Inilah jurus mengibaskan jari tangan yang lihai sekali, karena jari-jari tangan yang dikibaskan itu dapat memutuskan otot dan mematahkan tulang.
Akan tetapi, Bou Ang Gempo yang sudah melatih kedua tangannya sudah merendamnya dengan obat dan melatihnya tak kenal lelah memiliki sepasang tangan yang kulit telapaknya sudah mengeras dan menguat.
Kibasan jari-jari tangan nona itu tidak melukainya, namun cukup membuat ia merasa telapak tangannya pedas kedua tangannya terpental.
Jari-jari tangan yang dikibaskan ini adalah jurus pukulan Pak-kek Sin-ciang yang disebut Sin-ci-coan-hoa (Jari Sakti Menembus Bunga) dan merupakan semacam ilmu yang sukar dipelajari.
Ilmu ini tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan yang pandai Ilmu Silat Kin-jia -hoat, semacam ilmu mencengkeram dan menangkap (seperti Judo).
Bouw Ang Gempo merasa penasaran dan beberapa kali ia menubruk dengan mengeluarkan seruan keras.
Hui Lian pernah mendengar dari ayahnya bahwa di Mongol terdapat ilmu gulat yang lihai, maka ia menduga bahwa panglima Mongol ini tentulah mempergunakan ilmu gulat.
Ayahnya pernah berkata.
"Kalau kau menghadapi lawan yang mempergunakan ilmu gulat, hati-hati dan jagalat jangan sampai kau kena tertangkap. Lawan dia dengan tendangan dan pukulan yang mempergunakan tenaga lweekang dari jauh!"
Oleh karena itu, Hui Lian mempergunakan ginkangnya, selalu menjauhi Bouw Ang Gempo.
Kemudian ia teringat akan ilmu pukulan yang ia pelajari dari Kong Ji, yakni yang sebetulnya adalah Ilmu Pukulan Tin-san-kang akan tetapi yang ia sendiri tidak tahu namanya.
Ketika ia melihat lawannya menubruk lagi cepat Hui Lian mengerahkan tenaga, rendahkan tubuh dan mendorong dengan kedua tangannya.
Kong Ji terkejut sekali melihat sumoinya mempergunakan Ilmu Pukulan Tin-san-kang, akan tetapi kemudian ia lega karena ia ingat bahwa tenaga dari sumoinya belum berapa hebat.
ia tidak menurunkan semua ilmu ini kepada Hui Lian.
Betapapun juga, terdengar teriakan kaget dan tubuh Bouw Ang Gempo terjengkang, atau lebih tepat teelempar ke belakang sampai dua tombak lebih.
Akan tetapi panglima Mongol ini benar-benar kuat.
ia melompat berdiri lagi, tersenyum-senyum dan membersihkan pakaiannya, lalu menjura kepada Hui Lian dengan wajah berseri.
"Go-lihiap, sekarang baru aku percaya bahwa kepandaianmu memang benar-benar hebat. Saudara-saudara, tepuk tangan untuk Nona Go Hui Lian"
Semua orang yang berada di situ bertepuk tangan dan bersorak memuji.
Hal ini tidak disangka-sangka oleh Hui-Lian.
Ia merasa tidak enak hati melihat sikap yang demikian tutus dari diri Bouw Ang Gempo, maka ia pun menjura.
"Saudara Bouw Ang Gempo, terima kasih bahwa kau sudah berlaku mengalah kepadaku,"
Katanya. Kong Ji menghampiri Bouw Ang Gempo dan menarik tangannya ke arah mejanya.
"Kau benar-benar kuat, dapat menahan dorongan Sumoiku sehingga tidak terluka. Sekarang, setelah mengadu kepandaian barulah perkenalan kita disebut erat, karena bukanlah orang-orang gagah di dunia baru dapat bergaul bebas setelah menguji kepandaian masing-masing? Hal ini harus dirayakan!"
Hui Lian tidak keberatan melihat Bouw Ang Gempo duduk semeja dengannya, karena memang ia merasa kagum melihat sikap yang demikian jujur dan berani mengakui kekalahannya dari panglima Mongol ini.
Kalau orang kang-ouw di selatan, kekalahan tentu dianggap bagai penghinaan dan hal yang memalukan serta menjatuhkan nama, akan tetapi bagaimana orang ini menerimanya dengan wajah gembira saja?
Tentu saja ia tidak tahu bahwa panglima Mongol ini merasa puas melihat kepandaian orang yang dianggap sebagai calon isterinya!
Temu Cin sendiri berkenan memberi selamat kepada Hui Lian dengan secawan arak atas kemenangan dan kepandaiannya yang lihai.
Kemudian Temu Cin memerintahkan anak buahnya bubar.
"Di dalam kegembiraan kita harus tetap waspada,"
Kata pemimpin muda ini.
"musuh-musuh kita masih selalu mengintai. Kalau kita tidak membatasi diri dan berpesta pora mabok-mabokan kemudian pada lewat tengah malam ada musuh menyerbu, bagaimana nasib kita?"
Demikianlah semua orang bubaran, kecuali meja yang dihadapi Kong Ji, Hui Lian, Bouw Ang Gempo dan juga Temu Cin sendiri yang pindah mendekati mereka.
Beberapa kali Kong Ji bertukar isarat dengan pandangan mata dengan Bouw Ang Gempo, di luar tahunya Hui Lian.
Ang Gempo melepaskan tali pinggang yang mengikat sarung goloknya, kemudian menyerahkan golok itu kepada Kong Ji sambil berkata.
"Liok-taihiap, aku kalah bertaruh, golok ini lebih pantas berada di tanganmu. Terimalah""
Kong ji menerima sambil tertawa girang.
"Saudara Bouw Ang Gempo, kau benar-benar seorang laki-laki sejati. Terima kasih."
Hui Lian memandang semua ini dengan heran.
"Suheng, pertaruhan apakah yang kau adakan dengan Saudara Bouw Ang Gempo?"
Suhengnya hanya tersenyum saja dan panglima Mongol itu yang menjawab sambil tertawa lebar.
"Liok-taihiap bertaruh bahwa aku pasti akan kalah menghadapimu, Lihiap, sebagai taruhannya, aku menawarkan golokku."
"Dan andaikata aku kalah?"
Tanya Hui Lian mengerutkan kening.
"Sumoi, aku tahu bahwa kau takkan kalah, maka aku berani mempertaruhkan pedang Suhu."
Hui Lian hanya tersenyum, akan tetapi di dalam hatinya ia mencela suhengnya yang begitu sembrono, berani mempertarukan pedang ayahnya!
Adapun Temu Cin yang mendengar semua itu hanya tersenyum penuh rahasia.
Pemimpin muda ini maklum akan perjanjian antara kedua orang ini dan ia pun sudah setuju sekali, maka ia telah siap untuk membicarakan tentang perjodohan antara Bouw Ang Gempo dengan Hui Lian.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak tahu bahwa telah diatur rencana yang amat keji oleh Kong Ji terhadap sumoinya.
Tiba-tiba Bouw Ang Gempo mengangkat cawan araknya.
"Lihiap, aku Bou Ang Gempo benar-benar kagum terhadapmu, maka biarlah sekali lagi dengan secawan arak aku menghaturkan selamat sebagai pernyataan takluk!"
Hui Liman tidak enak sekali.
"Ah, kau berlebih-lebihan. Dalam sebuah pertandingan, kalah menang bukanlah hal yang aneh. Kepandalanmu juga amat lihai, terutama sekali ilmu gulat itu benar-benar berbahaya sekali."
Biarpun mulutnya berkata demikian, namun Hun Lian tak mungkin dapat menampik penghormatan orang, maka ia mengangkat cawannya yang sementara itu telah dipenuhi oleh Kong Ji.
"Minumlah, Sumoi. Penghormatan orang secara tulus iklas tak boleh ditolak."
Kata Kong Ji yang mengangkat cawannya sendiri, diikuti pula oleh Temu Cin yang menganggap hal yang wajar saja.
Akan tetapi, begitu Hui Lian menenggak cawan araknya, tiba-tiba gadis ini melompat dari bangkunya.
"Aaaa...! Siapa berani main-main dengan aku...?"
Ia hendak mencabut pedangnya, akan tetapi tiba-tiba bumi yang diinjaknya serasa berputar dan ia roboh pingsan di atas lantai"
Temu Cin terkejut sekali, akan tetapi pemimpin ini dapat menekan perasaannya dan memandang tajam, menanti sabar, apa yang akan terjadi selanjutnya. Bouw Ang Gempo dan Kong Ji tertawa bergelak.
"Liok-taihiap, kau benar-benar memegang janji. Terima kasih"
Kong Ji menghampiri tubuh Hui Lian dan mengambil pedang Pak-kek Sin-kiam berikut sarungnya.
Pedang Hui Lian yang tadinya terikat di punggungnya, ia lepaskan dan lemparkan di atas lantai.
Kini ia memakai dua senjata, yakni golok dari Bouw Ang Gempo yang diikat di pinggang dan pedang Pak-kek Sin-kiam di punggung.
"Segala apa sudah dirundingkan dan sudah dilakukan beres. Temu Cin Taijin perkenankan aku melanjutkan perjalananku pada malam hari ini juga. Nalumei akan kubawa serta. Masa bodoh dengan Sumoi, harap ia diperlakukan baik-baik di sini!"
Ia menjura kepada Temu Cin, yang berdiri dan tersenyum pula.
"Baiklah, Taihiap. Selamat jalan dan aku masih mengharapkan bantuanmu kelak."
Kong Ji melompat ke arah tenda di mana Nalumei ditawan. Gadis ini berbaring dan masih berada dalam keadaan terikat kaki tangannya. Melihat kedatanga Kong Ji, matanya bersinar marah.
"Nalumei, tahukah bahwa kau hendak dikawinkan dengan Bouw Ang Gempo? Dan tahukah kau pula bahwa aku sengaja menebusmu dengan sumoiku karena aku cinta padamu? Marilah kita berangkat, untuk apa tinggal di tempat yang berbahaya ini. Mari kau ikut aku merantau dan mengecap kebahagiaan hidup"
Ia lalu menyambar tubuh gadis itu, memanggul atau memondongnya lalu berlari cepat, pergi dari situ.
Nalumei menerima nasib.
Memang ia kagum sekali akan kepandaian pemuda bangsa Han ini dan kalau dibandingkan dengan Bouw Ang Gempo, tentu saja pemuda ini jauh lebih tampan, sungguhpun sikapnya tidak segagah Temu Cin yang tadinya ia kagumi sekali.
Setelah Kong Ji pergi, Bouw Gempo yang sudah terlalu banyak minum arak itu, memandang kepada Temu Cin sambil menyeringai, kemudian ia berkata.
"Dengan perkenan Khan Muda yang mulia, hamba hendak mengaso bersama isteri hamba..."
Ia membungkuk dan menghampiri tubuh Hui Lian yang hendak dipondongnya.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras, disusul oleh suara berdebum dan tahu-tahu tubuh Bouw Ang Gempo telah terlempar jauh!
Ia tadi telah ditangkap dan dilemparkan Temu Cin yang mempergunakan ilmu gulat yang luar biasa!
Bagaikan anjing yang jatuh dilemparkan Bouw Ang Gempo kerengkangan bangun dan memandang kepada raja mudanya itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Bangsat!"
Temu Cin memaki-maki dan tangannya meraba-raba gagang goloknya.
"Kalau aku tidak ingat akan jasamu sekarang kau sudah tak bernyawa lagi!"
"Apa". apakah kedosaan hamba...?"
Bouw Ang Gempo berkata ketakutan.
"Jahanam! Kau merendahkan martabat kita! Aku memang setuju kalau nona ini menjadi isterimu, akan tetapi bukab dengan cara serendah ini. Mana sifat laki-lakimu sebagai seorang pahlawan Mongol?"
"Hamba... hamba... ini adalah siasat dari Liok-taihiap... dan kalau... kalau dengan jalan halus siapakah yang dapat menghadapi Go-lihiap...?"
Kata pula panglima itu ketakutan dan bingung.
"Celaka, Kau menjadi kotor dan rendah setelah dekat dengan orang she Lok yang khianat itu! Sekali kau menjamah tubuh Nona Go, golokku akan minum darahmu! Bodoh sekali! Nona ini adalah puteri dari Taihiap Go Ciang Le yang amat kubutuhkan bantuannya. Kalau kita melakukan hal serendah ini, apa kau kira cita-cita kita akan tercapai? Kita akan dimusuhi oleh seluruh orang gagah di dunia dan kita akan mampus tertumpas sebelum melangkah maju. Orang she Liok itu jahanam sekali, hal ini sudah kucurigai semula, akan tetapi sekarang buktinya. Kepada sumoinya sendiri, telah berlaku khianat dan biadab, apalagi terhadap kita. Lekas kau bawa seribu orang pasukan, susul dan cegat dia. Rampas kembali Nalumei yang lebih patut menjadi isterimu, rampas kembali pedang Nona ini. Kalau dapat bunuh saja orang jahanam itu! Lekas!"
Bagaikan anjing dipukul Bouw Ang Gempo pergi. Temu Cin menepuk tangan tiga kali. Pelayan-pelayan wanita datang dan pemimpin muda yang keras hati dan berdisiplin ini memberi perintah .
"Bawa Nona ini ke dalam kamar tamu, rawat baik-baik dan setelah sadar, katakan bahwa dia tidak perlu takut. Aku akan bicara dengan dia sendiri kalau dia sudah sadar."
Setelah berkata demikian pemimpin besar ini lalu kembali ke kamarnya dengan uring-uringan.
ia tidak mengira bahwa di dalam minuman yang di suguhkan oleh Kong Ji kepada Hui Lian tadi diberi obat membikin mabok, dan tidak menyangka bahwa Kong Ji telah menjalankan siasat yang demikian busuknya, terutama sekali ia marah karena panglimanya yang paling disayang telah kena dibujuk oleh pemuda she Liok itu untuk menjalankan perbuatan serendah itu.
Sementara itu, Liok Kong Ji berlari-lari meninggalkan Telaga Gasyun Nor.
Bulan bercahaya terang sehingga ia dapat melakukan perjalanan dengan senang.
Akan tetapi, karena ia masih asing dengan daerah ini, ia tidak tahu mana yang terdekat, dan hanya mengikuti jalan yang dahulu ia lalui bersama Hui Lian.
Hatinya girang sekali.
Tidak saja ia mendapatkan Nalumei nona manis bangsa Naiman itu, akam tetapi ia juga mendapatkan Pak-kek Sin-kiam dan golok mustika dari Bouw Ang Gempo.
Pula telah terbebas dan Hui Lian, gadis yang telah menolak cinta kasihnya, berarti musuhnya dan harus dilenyapken.
Ia tersenyum girang kalau mengingat akan nasib Hui Lian, terjatuh ke dalam tangan seorang Mongol yang kasar dan buruk rupa.
"Hem, kau menolakku dan sekarang mendapatkan orang Mongol itu, ha, ha ha,"
Ia ketawa seorang diri sehingga Nalumei yang berada dalam pondongannya menjadi terheran-heran.
Tiba-tiba pemuda itu menghentikan larinya.
ia mendengar suara kaki kuda yang banyak sekali.
Ketika ia memperhatikannya, derap kaki kuda itu datang dari belakang, kanan kiri dan dari depan!
Agaknya ia telah terkurung oleh barisan kuda yang banyak sekali jumlahnya.
Memang betul demikian, Bouw Ang Gempo yang telah mendapat perintah, dengan hati mengkal terhadap Kong Ji telah mengerahkan seribu orang pasukan berkuda untuk menyusul Kong Ji, bahkan dengan jalan mengambil jalan terdekat, dapat mengurung pemuda yang lari itu.
Waktu itu telah menjelang fajar.
Keadaan masih remang-remang dan suram.
Cahaya matahari tipis berlawanan dengan cahaya bulan yang sudah lemah, nampak udara keabu-abuan menimbulkan bayang-bayang yang menyeramkan.
Di dalam kesuraman ini, Kong Ji melihat banyak sekali penunggang kuda muncul dari mana-mana.
"Liok Kong Ji manusia curang, kau sudah terkurung dan nyawamu berada di tangan kami. Kembalikan Nalumei dan pedang pusaka. Golok mustikaku boleh kaubawa ke neraka. Ha, ha, ha!"
Itulah suara Bouw Ang Gempo, yang kasar dan besar, yang bergema sekitar tempat itu amat menyeramkan.
Mendengar kata-kata ini, Kong Ji maklum bahwa ia telah terjebak, bahwa telah tertipu oleh orang orang Mongol.
Ia cepat membebaskan Nalumei dan menurunkan gadis itu.
"Kalau ingin selamat, bantu menghadapi mereka. Boleh kau pilih, bersuamikan aku atau orang kasar itu!"
Kata Kong Ji sambil mencabut golok dan pedang.
Akan tetapi, golok itu amat ringan sehingga ia terheran sekali.
Ketika melihat lebih nyata, ia terkejut dan marah.
Golok ini sama sekali bukan golok mustika yang dipakai Bouw Ang Gempo melainkan golok palsu yang hanya gagangnya sama dengan golok panglima itu.
Ia cepat menyerahkan golok itu kepada Nalumei.
"Biarpun golok palsu, lumayan untuk menjaga diri. Bersiaplah!"
Nalumel mengangguk.
ia memang sakit hati sekali kepada suku bangsa Mongol yang telah membunuh ayahnya dan mengalahkan bangsanya, bagaimana ia sudi diambil isteri oleh seorang kasar seperti Bouw Ang Gempo?
Lebih baik ikut dengan pemuda Han yang gagah perkasa ini.
"Bouw Ang Gempo ternyata kau seekor ular busuk yang harus mampus. Biar-pun kau dan orang-orangmu sudah mengurungku, kau dapat berbuat apakah?"
Baru saja ia bicara demikian, cepat seperti kilat Kong Ji melompat dan ia telah berada di depan kuda Bouw Ang Gempo.
Setelah pedangnya berkelebat, putuslah sepasang kaki depan kuda itu dan terpaksa Bouw Ang Gempo melompat, Ia dan kudanya sambil mengayun senjata rahasia berupa pisau-pisau terbang, sebanyak tiga buah.
Namun dengan mudah Kong Ji membabat putus pisau-pisau itu dengan pedangnya.
Bouw Ang Gempo sudah siap dan sambil memberi aba-aba kepada anak buahnya.
ia menyerbu dengan goloknya.
"Bunuh anjing ini dan tawan putri Nalumei, jangan lukai calon isteriku itu,"
Perintahnya dengan suara garang.
Terjadilah pertempuran yang hebat sekali.
Kong Ji menggerakkan pedangnya dan baru sekarang Bouw Ang Gempo melihat kelihaian pemuda ini.
Baru beberapa gebrakan saja lima orang anak buahnya menjerit dan roboh mandi darah.
Ia marah sekali dan sambil memberi dorongan semangat kepada anak buahnya untuk mengcroyok, ia mengobat-abit golok pusakanya dengan tenaga sekuatnya.
Kong Ji merasa kewalahan juga.
Biarpun pedangnya banyak merobohkan lawan, akan tetapi jumlah lawan terlampau banyak dan mereka ini nekat tidak takut mati, sedangkan mereka rata-rata juga orang-orang yang banyak pengalaman dalam pertempuran.
Apalagi Bouw Ang Gempo bukannya lawan yang boleh dipandang rendah.
"Kalau begini terus, belum merobohkan seratus orang tenagaku sudah habis,"
Keluhnya.
Kemudian ia mengambil keputusan untuk merobohkan Bouw Ang Gempo lebih dulu.
Segera ia mendesak dan pedangnya bagaikan bintang melayang meluncur mengarah dada Bouw Ang Gempo.
Panglima ini cepat menangkis, akan tetapi tangkisannya ini gagal karena goloknya tersampok ke samping.
Baiknya pada saat berbahaya itu, seorang anak buahnya dengan nekat menubruk Kong Ji sehingga terpaksa Kong Ji mengubah gerakan pedangnya, tidak dapat membunuh Bouw Ang Gempo sebaliknya membabat penyerang ini yang segera roboh dengan tubuh menjadi dua potong.
Demiklanlah, setiap kali ia hampir berhasil membunuh Bouw Ang Gempo, selalu dihalangi oleh seorang pengeroyok.
Diam-diam Kong Ji merasa mendongkol dan juga kagum akan kesetiaan orang-orang Mongol ini terhadap pemimpin mereka.
Keadaannya seperti seekor harimau dikeroyok banyak tikus.
Roboh seorang maju dua orang roboh dua orang maju lima orang sehingga ia menjadi sibuk juga.
Tiba-tiba ia mendengar Nalumei menjerit.
Ketika ia melirik, ternyata bahu gadis itu telah kena ditangkap.
"Lepaskan dia!"
Kong Ji marah, sekali melompat ia telah berada dekat Nalumei.
Pedangnya bergerak dan robohlah empat orang yang tadi menangkap Nalumei!
Dari belakang orang-orang mengejarnya.
Kong Ji merendahkan diri, menyarungkan pedang dan kedua tangannya memukul bertubi-tubi ke depan.
Bukan main hebatnya akibat dari pukulan Tin-san-kang.
Bagaikan daun kering tertiup badai belasan orang perajurit Mongol roboh tak bernyawa lagi dari telinga mereka mengalir darah!
Kong Ji memukul terus dan untuk sesaat orang-orang Mongol itu menjadi gentar.
Mereka menganggap bahwa ini adalah ilmu siluman.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kong Ji.
ia menyambar tubuh Nalumei, melompat keatas kuda yang telah kehilangan penunggangnya, lalu membalapkan kuda itu!
Dari belakang orang orang Mongol mengejarnya sambil berteriak-teriak.
Ratusan batang anak panah menghujani Kong Ji.
Anak muda ini dengan mudah dapat mengibas runtuh semua anak panah, akan tetapi kudanya tak dapat mengelak dan tak lama kemudian kudanya roboh bimasa dengan tubuh belakang penuh anak panah yang menancap dalam-dalam.
"Keparat! Kubasmi kalian!"
Bentak Kong Ji marah.
"Nalumei kau bersembunyilah di belakang batu karang itu. Diam-diam kaurobohkan seorang musuh dan pakailah pakaiannya lalu siapkan dua ekor kuda untuk kita,"
Kata Kong Ji bersiasat.
Nalumei mengangguk.
Ia amat kagum kepada pemuda ini yang ternyata luar biasa gagahnya.
Juga sekarang ia melihat bahwa pemuda ini benar-benar tampan dan gagah, maka hatinya jatuh.
ia mengambil keputusan untuk ikut dengan pemuda ini dan kelak akan dapat membalas dendam kepada orang-orang Mongol atas kematian ayahnya.
Dengan bantuan pemuda ini, ia berbesar hati.
Cepat Nalumei menyelinap dan menyembunyikan diri di belakang batu karang yang besar.
Mereka telah tiba di daerah yang kering, akan tetapi masih ada pohon-pohon sedikit dan batu-batu karang menonjol tinggi.
Para pengejar sudah datang dekat Kong Ji memapaki mereka dan dengan pedang di tangan kanan ia siap sedia.
Para pengejarnya itu, juga Bouw Gempo menahan kuda mereka.
Betapa pun juga, kegagahan pemuda ini mengecilkan hati mereka.
"Liok Kong Ji, kalau kau menyerahkan Nalumei baik-baik kami akan kembali dan kau boleh melanjutkan perjalananmu,"
Kata Bouw Ang Gempo. ia merasa gentar terhadap Kong Ji dan hendak mempergunakan cara damai. Kong Ji tersenyum.
"f3ouw Ang Gempo, tak kusangka kau ternyata seorang yang rendah budi. Bukankah aku sudah meninggalkan sumoiku dalam keadaan tidak berdaya? Bukankah kita sudah berjanji untuk saling bertukar antara Sumoiku dan Nona Nalumei? Kau ternyata tidak saja memalsu golok, bahkan sekarang kau mengejar dan hendak merampas Nalumei dan membunuhku. Anjing dan ular kiranya tidak sejahat engkau!"
"Enak saja kau bicara! Memang golokku ada dua, mengapa kau tidak melihat baik-baik di waktu kau menerimanya itu tandanya kau goblok. Tentang sumoimu itu, siapa yang sudi? Kau boleh mengambilnya kembali asal kau memberikan Nalumei calon isteriku itu kepadaku."
Kong Ji memperlihatkan wajah berseri.
Bouw Ang Gempo kebetulan sekali, aku memang baru saja merasa menyesal telah meninggalkan Sumoi.
Kalau kau benar-benar hendak menukarnya kembali, boleh kau membawa Nalumei"
Nalumei yang bersembunyi di balik batu karang, terkejut sekali dan mukanya menjadi pucat.
ia tidak tahu akan siasat yang dijalankan oleh Kong Ji dan ia memang belum mengenal kelihatan siasat Kong Ji.
Bouw Ang Gempo tertawa mengejek.
"Orang she Liok, siapa tidak tahu bahwa kau mempunyai tipu muslihat dan akal busuk? Siapa bisa percaya kepadamu?"
"Kalau kau tidak percaya boleh kau menyuruh seorang anak buahmu mengambil Nalumei. Boleh naikkan dia di atas kuda untuk kaubawa pulang, siapa yang akan menipumu?"
Mendengar ini, Bouw Ang Gempo menyuruh seorang anak buahnya membawa kuda menghampiri Kong Ji.
"Itu, dia di balik batu karang,"
Kata Kong Ji.
"ambil saja dia."
Orang berkuda itu membalapkan kudanya sampai di belakang batu karang itu, akan tetapi tiba tiba ia menjerit dan dadanya ditembusi oleh ujung golok di tangan Nalumei.
Bouw Ang Gempo terkejut sekali, akan tetapi kejadian ini membuat ia kurang waspada sehingga ia tidak melihat bahwa Kong Ji sudah mendekatinya.
Sebelum ia tahu apa yang harus dilakukan tiba-tiba pundaknya sudah dicengkeram oleh Kong Ji yang melakukan ini sambil melompat sejauh lima tombak lebih!
Benar-benar hebat pemuda ini karena dari jatak lima tombak lebih ia dapat menangkap lawannya tanpa diketahui lebih dulu oleh orang begitu banyak.
Bouw Ang Gempo hendak melawan, akan tetapi sudah kehilangan tenaga, karena jalan darahnya sudah ditekan oleh Kong Ji yang duduk di atas kudanya.
Sambil mengempit tubuh Bouw Ang Gempo, Kong Ji membalikkan kudanya menghadapi orang-orang Mongol yang tercengang melihat kejadian itu.
"Kalau kalian bergerak, pemimpinmu ini akan kupatahkan barang lehernya!"
Ia mengancam.
"Biarkan aku dan Nalumei pergi, kalau kalian tidak mengganggu, aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo dalam keadaan hidup."
"Siapa bisa tanggung kalau kau tidak akan menipu kami?"
Teriak seorang pembantu Bouw Ang Gempo.
"Bagaimana kalau kau pergi dan kemudian tetap memhunuh komandan kami? Lekas lepaskan dia kalau tidak, kami akan menghujani anak panah dan akan menyerangmu mati-matian. Biarpun sampai di neraka, sebelum habis pasukan kami, kami akan mengejarmu!"
Kong Ji maklum bahwa ancaman ini bukan ancaman kosong, maka ia cepat mengatur siasat.
"Aku tidak menipu kalian. Kalau tidak percaya, biarlah barisan anak panah kalian mengikuti kami dengan jalan kaki. Begitu kami membalikan kuda, kalian boleh menghujani anak panah, apa salahnya? Nah, kalau sudah lima li dan sini, aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo dan kami akan melarikan kuda. Dengan demikian menjadi adil bukan? Kalian tidak dapat mengejar kami karena tidak berkuda, sedangkan kami tidak dapat menipu karena kalau aku membunuh komandanmu, barisan anak panah itu dapat menghujani kami dengan anak panah."
Para pembantu Bouw Ang Gempo mengadakan perundingan, akhirnya setuju.
Bagi mereka, nyawa Bouw Ang Gempo lebih berharga daripada Nalumei.
Seratus dua puluh orang ahli panah lalu turun dari kuda dan berbaris, siap mengantar Kong Ji.
Pemuda ini tertawa sambil mengempit tubuh Bouw Ang Gempo yang tak berdaya itu, ia berseru.
"Nalumei, keluarlah dan situ, dan melanjutkan perjalanan"
Nalumei girang sekali karena tadi ia mendengar semua dan tahu bahwa semua kata-kata pemuda itu hanyalah siasat belaka untuk menipu musuh.
ia menjadi semakin girang dan muncullah dari balik batu karang itu seorang pemuda yang ganteng menunggang kuda dengan gagah.
Dia inilah Nalumei yang sudah merobohkan penunggang kuda yang hendak menjemputnya tadi dan memakai pakaian luarnya!
Semua orang Mongol tercengang, akan tetapi Nalumei berkata sambil tersenyum manis.
"Bagus sekali, orangmu tadi kurang ajar dan hendak menggangguku, terpaksa aku membunuhnya dan mengambil kuda dan pakaiannya, amat perlu bagi perjalananku. Biarpun mendongkol, orang-orang Mongol itu tidak berdaya. Keselamatan Bouw Ang Gempo jauh lebih penting dari pada urusan kematian seorang anak buah biasa. Kong Ji dan Nalumei lalu menjalankan kuda perlahan untuk memberi kesempatan kepada seratus dua puluh orang atilt panah itu mengikuti mereka sambil berjalan kaki.
"Nalumei, kau manis sekali dalam pakaian itu,"
Kata Kong Ji perlahan sambil memandang Nalumei yang menjalankan kudanya di sebelahnya.
Nalumei tercengang, akan tetapi ia girang sekali.
Luar biasa pemuda ini, dalam keadaan seperti itu, terancam oleh seratus dua puluh orang ahli panah di belakang, masih sempat bercumbu.
"Dan kau gagah perkasa sekali. Taihiap,"
Balasnya lirih dengan kerling mata penuh arti.
Kong Ji girang.
Nona ini benar-benar jauh bedanya dengan Hui lian, dan melakukan pejalanan bersama dia tentu akan amat menyenangkan.
Setelah jarak lima li dilewati, Kong Ji menghentikan kudanya dan memutar binatang tunggangannya itu, menghadapi seratus dua puluh orang yang mengikutinya.
"Aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo di sini seperti yang telah kita janjikan. Harap saja kalian dapat dipercaya."
Katanya.
"Janji orang-orang Mongol takkan dilanggarnya,"
Jawab seorang di antara para ahli panah itu. Kong Ji menoleh kepada Nalumei.
"Kekasihku, kau pergilah dulu, nanti kususul engkau. Dengan seorang diri, lebih mudah bagiku untuk menyelamatkan diri, kalau kalau mereka nanti menyerang."
Nalumai tidak ragu-ragu untuk mentaati perintah ini karena tadi ia sudah menyaksikan betapa lihainya Kong Ji.
Sambil tersenyum manis, gadis suku bangsa Naiman yang kini sudah menyamar dalam pakaian pria ini lalu mengangguk dan membalapkan kudanya, lari ke depan.
"Nah, sekarang kalian boleh menerima kembali Bouw Ang Gempo. Lihat, dia tidak aku apa-apakan dan masih sehat,"
Kata Kong Ji setelah melihat Nalumei berada di tempat aman, takkan tercapai oleh anak panah yang dilepaskan dari tempat itu.
Ia menurunkan Bouw Ang Gempo dari atas kuda, dan panglima Mongol itu karena didorong lalu terhuyung ke depan dan terus berjalan dengan langkah cepat ke arah kawan-kawannya.
Melihat betapa panglima mereka benar benar dilepas dan dapat berjalan serta keadaannya memang tidak terluka para ahli panah itu tidak mengganggu ketika sambil tertawa Kong Ji membalapkan kuda menyusul Nalumei.
Gadis itu telah menanti di tempat jauh.
Melihat kedatangan Kong Ji, ia girang sekali dan menyambut dengan senyum mains.
Hatinya girang bahwa pemuda ini tidak menemui halangan sesuatu.
"Nalumei, hayo kita balapkan kuda jangan sampai tersusul oleh mereka,"
Kata Kong Ji dengan wajah berseri.
"Mereka tentu akan mencak-mencak dan pasti akan berusaha mengejar kita."
Nalumei menyabat kudanya dan kedua orang muda ini lalu mengaburkan kuda sehingga debu mengepul di belakang ke dua binatang itu.
"Apa sih yang kau lakukan terhadap Bouw Ang Gempo"
Tanya Nalumei.
Gadis ini adalah seorang gadis yang terlahir di tengah-tengah suku bangsa menungang kuda, maka dia sendiri sudah semenjak kecil dapat menunggang kuda, kini menjadi seorang penunggang kuda yang amat pandai.
Oleh karena itu, biarpun berada di atas punggung seekor kuda yang membalap, dia masih enak saja dan masih sempat bercakap-cakap.
Kong Ji tersenyum.
"Tidak apa hanya aku memutuskan urat syaraf kepalanya sehingga babi kunirsan itu takkan dapat mengingat dengan baik lagi. Nalumei diam-diam merasa ngeri akan tetapi ia juga girang sekali. Sekalian orang Mongol yang membantu Temu Cin berarti musuh besarnya, maka kematian atau terlukanya seorang seperti Bouw Ang Gempo merupakan pembalasan dendam baginya.
"Kuharap saja lain kali kau dapat melakukan hal seperti itu terhadap Temu Cin dan lain-lain manusia Mongol yang telah membasmi suku bangsaku, Tauhiap."
Akan tetapi Kong Ji hanya tersenyumdan demikianlah, sepasang orang muda melakukan perantauan mereka, dan Halumei tidak sadar bahwa diam-diam ia telah menyerahkan diri kepada seorang muda yang berwatak aneh, kejam, dan licin sekali.
Memang betul apa yang diucapkan oleh Kong Ji kepada Nalumei itu.
Dengan cara diam-diam ia telah menepuk ubun-ubun kepala Bouw Ang Gempo dan dengan ilmu pukulan keji yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, ia telah merusak urat syaraf di kepala panglima Mongol itu sehingga, seperti halnya pemuda Ma Hoat tempo hari, panglima ini pun menjadi lupa ingatan dan seperti orang gila.
Kawan-kawannya yang tadinya girang menyambutnya, setelah Bouw Ang Gempo datang dekat, menjadi terheran-heran melihat panglima itu memandang kepada mereka seperti orang mimpi.
Ketika di-tanya dan ditegur, panglima Mongol ini hanya tersenyum menyeringai dan akhirnya tahulah mereka bahwa panglima ini telah berubah ingatannya!
Tak seorang pun di antara mereka yang menduga bahwa ini adalah perbuatan Kong Ji, dalam kebingungan, mereka segera membawa Bouw Ang Gempo kepada Temu Cin.
Ketika itu, Temu Cin sedang bercakap-cakap dengan Hui Lian.
Gadis ini telah mendengar semua penuturan Temu Cin tentang kekejian dan pengkhianatan Kong Ji, tak dapat menahan air matanya.
Ia merasa amat kecewa kepada diri sendiri yang salah tafsir akan Kong Ji, merasa penasaran mengapa ayahnya dapat mengambil murid sejahat itu, merasa sakit hati dan marah sekali kepada suhengnya.
Juga ia ngeri memikirkan betapa ia pernah mengajar Pak-kek Sin-ciang kepada Kong Ji dan ia maklum bahwa pemuda itu merupakan seorang manusia iblis yang amat lihai, apalagi setelah pedang Pak-kek Sin-kiam dibawanya!
Di samping ini, Hui Lian merasa bersukur dan berterima kasih sekali ke pada Temu Cin.
Kalau tidak karena sifat yang gagah dan adil dari pemimpin besar ini entah bagaimana jadinya dengan nasibnya.
"Aku akan mencarinya! Aku akan membunuhnya!"
Hanya inilah kata-kata yang keluar dan mulut Hui Lian.
"Sabar Lihiap. Aku pun sudah mengutus Bouw Ang Gempo dan seribu orang pasukan panah untuk menghadang dan membunuhnya, sekalian merampas kembali Nalumei dan pedang pusakamu."
"Kau baik sekali, Taijin. Kalau tidak kau yang menolongku...."
"Sudahlah, antara orang sendiri mengapa banyak sungkan? Aku selalu mengharmati orang-orang gagah dan membenci orang yang jahat dan curang. Apalagi aku ingat bahwa nama ayahmu sudah menjulang tinggi di dunia kang-ouw, bagaimana aku dapat membiarkan kau mengalami celaka? Biarpun aku tidak minta balas jasa kepada siapapun -juga, namun aku kelak masih banyak mengharapkan bantuan-bantuan dari orang-orang gagah seperti kau, Ayahmu dan yang lain-lain,"
Jawab Temu Cin yang pada hakekatnya amat cerdik itu.
Kecerdikan dan kegagahan serta pengaruhnya yang amat besar inilah yang kelak dapat menghasilkan perjuangan dan cita-citanya sehingga ia mencapai kedudukan tertinggi menjadi raja besar yang terkenal dengan nama Jengis Khan!
Tengah mereka bercakap-cakap datanglah rombongan ahli panah yang tadinya mengikuti Kong Ji bersama ratusan perajurit sisa dari seribu orang yang tadinya dipimpin oleh Bouw Ang Gempo.
Pasukan yang lain menanti di luar, yang masuk adalah pemimpin barisan berpanah sebanyak tiga orang yang menggandeng Bouw Ang Gempo di tengah-tengah.
Dilihat dari jauh, seakan-akan tiga orang ini mengawal seorang tangkapan yang keadaannya menyedihkan kali.
Temu Cin mengerutkan kening dan berkata perlahan kepada Hui Lian.
"Ah, agaknya suhengmu telah dapat menggagalkan pengejaran Bouw Ang Gempo...."
Tiga orang itu menghadap Temu Cin, memberi hormat secara militer, kemudian menuturkan semua pengalaman mereka.
Menjelaskan betapa dengan amat cerdik dan licinnya, Kong Ji yang dikejar-kejar itu telah berhasil menawan Bauw Ang Gempo sehingga terpaksa mereka melepaskan pemuda itu asal Bouw Ang Gempo tidak dibunuh.
"Akan tetapi sungguh aneh, Khan Muda yang mulia, memang Panglima Bouw Ang Gempo telah dilepas dan tidak terluka sama sekali, akan tetapi aneh... Paduka dapat melihatnya sendiri, keadaannya tidak sewajarnya... agaknya seperti berubah ingatan!"
Temu Cin memandang kepada panglimanya.
Dadanya berdebar menahan kemarahan.
Benar-benar merupakan tamparan baginya.
ia tentu akan ditertawai orang sedunia kalau mereka mendengar betapa seorang panglimanya dengan pasukan seribu orang jumlahnya, telah gagal untuk mengejar dan menangkap seorang buronan!
"Bouw Ang Gempo l Hayo jelasnya semua ini!"
Bentaknya marah. Akan tetapi Panglima Mongol yang tegap pendek dan berkumis kecil panjang itu hanya menyeringai, mulutnya berkemak-kemik dan yang terdengar hanya kata-kata mengaco tidak karuan.
"Ah, Kong Ji benar-benar manusia Iblis!"
Tiba-tiba Hui Lian menggebrak meja.
"Tak perlu diperiksa orang ini telah kehilangan ingatannya. Dulu dalam perjalanan, dia membikin seorang pemuda she Ma seperti ini, yakni ditotok putus urat-urat syaraf di kepalanya!"
Temu Cin minta penjelasan.
Setelah mendengar penuturan Hui Lian, tiba-tiba ia melompat berdiri, mencabut golok dan sekali tabas saja putuslah leher Bou Ang Gempo.
Hui Lian terkejut sekali dan gadis ini menegur.
"Apakah artinya ini? Mengapa orang yang harus dikasihani ini dibunuh? Ini keterlaluan sekali!!"
Temu Cin menyarungkan goloknya wajahnya nampak gelap dan berduka. Kemudian ia memandang kepada Hui Lian sambil tersenyum pahit.
"Go-lihiap, kalau kau seorang tamu yang pernah diperlakukan secara curang dan jahat oleh Bouw Ang Gempo dapat menaruh hati kasihan kepadanya bagaimana aku tidak? Bouw Ang Gempo adalah seorang kepercayaanku yang selalu taat dan setia, aku kasihan dan sayang kepadanya,"
Kata Temu Cin kepada Hui Lian yang terheran-heran dan tidak senang melihat pemimpin orang Mongol ini membunuh Bouw Ang Gempo.
"Kalau kasihan, mengapa Taijin bahkan membunuhnya?"
"Adakah jalan yang lebih baik untuk membebaskannya dari penderitaan daripada membunuhnya? Kalau ia dibiarkan hidup, ia akan menjadi seorang gila yang tidak ada gunanya. Bagi seorang gagah, lebih baik mati daripada hidup tak berguna, bahkan hanya akan mendatangkan malu belaka,"
Kata Temu Cin dan wajah pemimpin besar ini nampak muram.
Akhirnya Hut Lian terpaksa mengakui dalam hati bahwa perbuatan Temu Cin terhadap diri Bouw Ang Gempo tadi memang tepat.
Dan bertambahlah kebenciannya terhadap Liok Kong Ji, pemuda berwatak iblis itu.
"Aku akan mencari keparat itu, Tai-jin, dan percayalah bahwa dengan bantuan Ayah Bundaku, kelak aku akan dapat menewaskannya, dan dengan demikian sakit hatimu dan sakit hati Bouw Ang Gempo akan terbalas."
"Kau baik sekali, Lihiap, dan kami merasa beruntung sekali dapat berkenalan denganmu. Sampaikan saja hormatku pada ayahmu pendekar besar yang sudah lama kujunjung tinggi namanya."
Hui Lian bersiap-siap kemudian meninggalkan tempat itu setelah berjanji bahwa kelak ia akan membantu pemimpin ini bersama ayah bundanya dan sahabat-sahabatnya di dunia kang-ouw.
Temu Cin memberi seekor kuda yang amat baik berikut bekal makanan, minuman dan emas.
Selain ini, ia memerintahkan sepasukan berkuda untuk mengawal Hui Lian keluar dari daerah kering yang amat sukar itu, untuk mencegah agar gadis ini jangan sampai tersesat dan menderita kesulitan di jalan.
Tentu saja Hui Lian menjadi girang dan merasa berterima kasih sekali, maka berangkatlah rombongan itu mengawal Hui Lian menuju ke selatan.
Debu mengepul tinggi dari bawah kaki rombongan berkuda ini, menutupi cahaya matahari yang masih lemah.
Kurang lebih seratus orang pengemis sabuk hitam, yakni anggauta-anggauta penting dari perkumpulan pengemis Hek-kin-kaipang, berkumpul di luar kota Bi nam-bun.
Sebagaimana pembaca tentu masih ingat, perkumpulan Hek-kin-kaipang adalah perkumpulan pengemis yang paling besar dan berpengaruh, dan telah memiliki nama yang terkenal di dunia kang-ouw.
Ketua dari Hek-kin-kaipang adalah Kiang Cun Eng, wanita cantik yang genit, akan tetapi yang pada dasarnya memiliki watak gagah dan baik.
Ketua Hek-kin-kaipang inilah yang telah menolong Wan Sin Hong dan yang membawanya ke puncak Luliang-san, menyehkannya kepada Luliang Sam lojin.
(Lanjut ke
Jilid 15) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Setelah menyerahkan Sin Hong kepada dua orang kakek sakti di Luliang-san itu, Kiang Cun Eng lalu memindahkan pusat perkumpulannya di Bi-nam-bun dan semenjak itu ia hidup menyendiri, bahkan setengah bersembunyi.
Ia maklum bahwa setelah merampas Sin Hong dari tangan orang-orang Im-yang-bu-pai, berada dalam keadaan terancam.
Ke pada para anggauta Hek-kin-kaipang pun berpesan agar menjauhkan diri bentrokan dengan Im-yang-bu-pai.
Telah berpuluh tahun Cun Eng menjadi ketua Hek-kin-kaipang.
Ketua perkumpulan ini dipilih dalam lima tahun sekali dan selalu mereka memilih Cun Eng.
Bukan saja karena wanita ini memang memiliki kepandaian tinggi, juga karena selama dipimpin oleh Cun Eng perkumpulan ini dapat berkembang dengan baik dan dalam diri Cun Eng mereka mendapatkan seorang pemimpin yang baik dan tegas.
Pada hari itu, kembali lima tahun telah lewat dan hari itu mereka berkumpul di Bi-nam-bun untuk menguasai perkumpulan itu agar dapat menjadi ketua perkumpulan yang besar dan berpengaruh ini.
Akan tetapi beberapa orang yang hendak mencari kedudukan ini semua kena dikalahkan oleh Kiang Cun Eng yang lihai.
Namun sekarang lain lagi.
Selama ini, Hek-kin-kaipang telah maju pesat dan diantara anggautanya telah terdapat baik orang-orang pandai yang dengan suka rela menggabungkan diri.
Maka sekarang banyak sekali calon-calon ketua yang memiliki kepandaian tinggi.
Apalagi, telah tersiar desas-desus bahwa ketua Hek-kin-kai-pang, yakni Kiang Cun Eng, hendak melepaskan kedudukannya dan memberikan kepada seorang laki-laki gagah perkasa yang menjadi sahabat baiknya.
Bahkan ada desas-desus lain yang menggemparkan yakni, bahwa Kiang Cun Eng bukan saja hendak menyerahkan kedudukan kapada orang itu, akan tetapi juga hendak menyerahkan jiwa raganya atau jelasnya hendak...
menikah dengan orang itu!
Tentu saja hal inl menggemparkan para anggauta Hek-kin-kaipang.
Mereka tahu bahwa ketua mereka itu semenjak dulu tidak mau menikah, biarpun banyak orang-orang muda yang tergila-gila kepada Cun Eng yang cantik jelita dan pandai.
Bagaimana sekarang setelah ketua ini usianya sudah tidak muda lagi, biarpun masih cantik, tiba-tiba hendak memilih suaminya?
Laki-laki itu bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang pendekar yang ternama, penghuni atau pemilik dari pulau Kim-ke-tho (Pulau Ayam Emas).
Kim-ke-tho adalah sebuah pulau di dekat pantai timur dan orang ini termasuk seorang tuan tanah kaya raya yang memiliki pulau itu.
Ia hidup seorang diri di pulau itu, tidak berkeluarga hanya dibantu oleh puluhan orang nelayan dan pekerja.
Namanva terkenal sebagai seorang gagah yang banyak menolong orang dan kiranya di dunia kang-ou nama julukan Sian-hud-tim (Kebutan Dewa) bukan julukan asing lagi.
Nama sebenarnya dari orang gagah ini adalah Yap Kong Ki, usianya sudah empat puluh tahun lebih, wajahnya terang dan mukanya putih.
Rambutnya digelung seperti seorang tosu, gerak-geriknya halus akan tetapi langkahnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli silat pandai.
Di dalam perantauannya, Kiang Cun Eng bertemu dengan orang ini dan ternyata olehnya bahwa ilmu silat yang dimiliki oleh Yap Kong Ki jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.
Akhirnya keduanya saling "jatuh hati"
Dan diam-diam mereka merencanakan sebuah rumah tangga berdua.
Banyak orang kang-ouw datang di Bi-nam-bun pada hari itu, ada yang datang untuk memenuhi undangan sebagai saksi, ada pula yang sengaja untuk melihat-lihat keadaan dan kalau kiranya mungkin akan mencalonkan diri menjadi ketua.
Tidak sedikit yang datang hendak melihat Kiang Cun Eng, ketua pekumpulan yang cantik itu yang biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih masih menarik hati banyak pria.
Tak lama setelah seratus lebih anggauta Hek-kin-kaipang berkumpul, datanglah Kiang Cun Eng bersama Yap Kong ki.
Memang sudah lama Cun Eng selalu bersama Yap Kong Ki, juga seringkali tinggal di atas Pulau Kim-ke-tho tidak jauh letaknya dan Bi-nam-bun dusun di pantai laut itu.
Semua mata memandang dan banyak yang kagum melihat Kiang Cun Eng karena wanita ini masih saja memiliki bentuk tubuh yang langsing dan padat, wajah yang riang gembira dan senyumnya masih amat manis.
Kemudian orang mulai memperhatikan Yap Kong Kim.
Harus mereka akui laki-laki ini pun gagah dan cocok berjalan di sebelah Cun Eng.
Akan tetapi banyak pula di antara mereka yang merasa iri hati dan cemburu, yakni mereka yang menginginkan kedudukan ketua dan terutama sekali yang suka kepada Cun Eng.
Para anggauta Hek-kin-kaipang menyambut kedatangan Kiang Cun Eng dengan penghormatan dan seruan.
"Hidup Kiang-pangcu (Ketua Kiang) dari Hek kin-kaipang!"
Kiang Cun Eng tersenyum, mencabut keluar sebuah tongkat hitam kecil, yakni tongkat pusaka dari Hek-kin-kaipang mengangkat tongkat itu tinggi di atas kepala sambil berseru.
"Hidup Hek-kin-kaipang!"
Kemudian Cun Eng mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang sudah disediakan di situ. Yap Kong Ki berdiri di belakangnya, memandang kepada para pengemis yang hadir dengan sikap tenang.
"Kawan-kawanku sekalian,"
Kiang Cun Eng berkata dengan suara penuh perasaan terharu.
"saat pemilihan ketua baru telah tiba. Akan tetapi sebelum kita mengadakan pemilihan perkenankan saya bicara sedikit. Sudah empat kali pemilihan, selalu aku yang mendapat kehormatan dipilih menjadi ketua. Selama ini kawan-kawan telah membantuku dan perkumpulan kita makin berkembang. Akan tetapi, sekarang tiba saatnya bagiku untuk mengundurkan diri...."
Terdengar suara celaan dan pernyataan kecewa dari sana-sini, disusul dengan suara.
"Kami memilih Kiang-pangcu...!"
Cun Eng mengeleng-geleng kepala sambil tersenyum pahit.
"Berilah waktu kepadaku untuk beristirahat. Kepandaianku terbatas sekali, dan sekarang keadaannya berbeda dengan dahulu. Di dunia kang-ouw muncul banyak orang jahat yang lihai sekali, maka perkumpulan kita perlu dipimpin oleh orang yang pandai. Aku tidak sanggup lagi dan sekarang aku menyerahkan kepada kawan-kawan yang cakap."
"Curang...!"
Terdengar teriakan di tengah-tengah kumpulan pengemis, sukar dicari siapa yang bicara itu.
"Kiang-pangcu hendak mundur sambil menggasak semua kekayaan Hek-kin-kaipang!"
Sepasang mata Kiang Cun Eng bersinar marah dan berusaha mencari si pembicara tadi, akan tetapi sia-sia karena suara para pengemis yang simpang siur itu menyembunyikan pembicaraan tadi.
"Begitu rendahkah orang menganggapku?"
Cun Eng menggerakkan kedua tangan dan tiga kali ia bertepuk tangan maka datanglah delapan orang anggauta Hek-kin-kaipang menggotong empat buah peti besar yang ditaruh di tengah-tengah tempat pertemuan itu.
Cun Eng menghampiri peti-peti itu dan membukanya satu demi satu.
Ternyata bahwa peti itu penuh dengan uang dan barang-barang berharga.
"Kawan-kawan sekalian, lihatlah baik-baik. Empat peti ini adalah seluruh harta kekayaan perkumpulan yang kita semua kumpulkan selama puluhan tahun. Aku telah menukar-nukarkan dan meringkaskan menjadi barang-barang berharga untuk keperluan perkumpulan. Bahkan yang sepeti di antaranya adalah milik pribadiku, warisan dari orang tuaku. Akan tetapi, kalau aku mengundurkan diri, aku pun akan meninggalkan milikku itu untuk perkumpulan. Nah, siapa berani bilang aku hendak mundur membawa lari harta perkumpulan?"
Cun Eng berdiri tegak menyapu semua orang dengan mata menentang. Keadaan sunyi untuk beberapa lama.
"Kami memilih Kiang-pangcu! Kalau Kiang-pangcu memaksa mengundurkan diri, itu berarti pengkhianatan terhadap partai!"
Terdengar suara seorang pengemis. Cun Eng menoleh ke arah suara itu.
"Tak dapat dianggap pengkhianatan. Aku mundur bukan melarikan diri, melainkan hendak memberikan kepada orang yang lebih cakap. Sebelum aku mundur hari ini aku akan membantu kawan-kawan memilih ketua baru dan percayalah biarpun aku sudah mengundurkan diri, sewaktu-waktu aku siap sedia membela kehormatan Hek-kin kaipang!"
Kembali terdengar suara bercampur aduk tidak karuan. Keadaan sampai lama begitu saja sehingga Cun Eng mengangkat tangan kanan dengan marah.
"Kawan-kawan, kalian bukan anak kecil yang berpikiran sempit. Baru saja kata-kataku tadi dapat diterima dengan baik dan sekarang aku mengusulkan seorang calon untuk mengganti kedudukanku sebagai ketua baru"
Semua suara terhenti dan keadaan menjadi sunyi.
Semua orang ingin sekali mendengar siapa gerangan calon yang dipilih oleh ketua itu.
Ada yang menyangka bahwa Cun Eng tentu akan menunjuk Yap Kong Ki yang berdiri seperti patung itu, dan hati para anggauta berdebar menanti.
Ada yang tidak setuju dan ada pula yang setuju, akan tetapi semua mata kini diarahkan kepada Yap Kong Ki.
Akan tetapi, jawaban atau lanjutan kata-kata Cun Eng ternyata jauh berbeda dengan dugaan mereka.
"Aku mengusulkan supaya Tan Lokai tuggantikan aku menjadi pangcu baru!"
Sambil berkata demikian, Cun Eng melompat ke kanan dan menggandeng keluar tangan seorang pengemis tua yang tinggi kurus dan berwajah ramah.
Semua orang tertegun, akan tetapi ada sebagian yang setuju.
Tan Lokai (Pengemis Tua she Tan) terkenal sebagai pembantu ketua yang selain tinggi kepandaiannya, juga amat ramah dan sabar.
Akan tetapi karena jarang sekali ia bertempur orang-orang belum menyaksikan sendiri sampai dimana kelihaiannya, bahkan ada yang memandang rendah.
"Kiang-pangcu benar-benar membikin lokai menjadi malu,"
Kata Tan Lokai sambil membungkuk-bungkuk, akan tetapi lalu berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh.
"Aku yang sudah tua telah dapat mengerti akan semua alasan Kiang-pangcu, maka apabila tidak ada yang mengajukan keberatan, demi menyelamatkan perkumpulan dari tangan orang jahat, aku bersedia menjadi ketua dan bekerja dengan bantuan para kawan yang setia!"
Kiang Cun Eng kelihatan gembira kali.
"Bagaimana kawan-kawan? Setujukah kalian?"
Terdengar jawaban bersimpang siur di sana-sini.
"Yang tidak setuju harap angkat tangan! Pengangkatan ketua harus diterima dengan suara bulat seperti biasa!"
Kata pula Cun Eng.
Tak lama kemudian, kagetlah Cun Eng melihat rombongan di sebelah kiri semua mengangkat tangan, lebih dari tiga puluh orang!
Dan yang lebih menggelisahkannya lagi, justru yang mengangkat tangan itu adalah tokoh-tokoh yang belum lama menggabungkan diri ke dalam perkumpulan Hek-kin-kai-pang!
Kemudian, dua orang pengemis melompat keluar dan menghadapinya.
Yang seorang adalah pengemis tinggi besar yang terkenal dengan sebutan Tiat-ciang-eng (Pendekar Tangan Besi) dan bernama Lai Sek.
Dia adalah seorang anggauta pimpinan Hek kin-kaipang yang sudah tinggi tingkatnya, orangnya tinggi besar bermuka kuning, dan mempunyai watak yang jujur.
Sudah lama Lai Sek tergila-gila kepada ketuanya sendiri dan semenjak tadi ia sudah merasa cemburu dan iri hati sekali melihat Yap Kong Ki, maka sekarang ia melompat maju setelah mendapat kesempatan.
"Aku tidak setuju kalau Kiang-pang-cu, mundur! Kalau mundur apa alasannya? Dan pula aku mendengar desas-desus tentang perjodohan! Inipun harus dijelaskan, orang gagah tidak perlu merahasiakan sesuatu. Ketiga, aku tidak setuju ada orang luar hadir di dalam pertemuan Hek-Kin-kaipang ini, kecuali kalau dia hendak mencoba untuk merebut kedudukan ketua,"
Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar ini memandang ke arah Yap Kong Ki dengan mata melotot.
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap Lai Sek, wajah Cun Eng menjadi merah sekali.
Ia maklum akan isi hati orang kasar ini dan tahu bahwa Lai Sek sudah lama jatuh hati kepadanya.
Bahkan pada setiap kali pemilihan ketua Lai Sek inilah yang tampil ke depan berkeras memilih dia melanjutkan kedudukan ketua.
Adapun Tan Lokai, mendengar betapa Kiang Cun Eng dihina, menjadi tidak senang.
Ia menghadapi Lai Sek dan berkata.
"Lai Sek, mengapa kau begitu kurangajar terhadap Kiang-pangcu? Ingat, sebelum ada ketua baru, dia masih ketua kita! Kalau kau tidak setuju akan pilihan pangcu, kau boleh mengajukan calon. Ataukah kau sendiri hendak mencalonkan diri sendiri? Tentang orang luar tentu kaumaksudkan Yap-sicu. Dan dalam hal ini pun kau benar-benar keliru Yap Sicu adalah seorang gagah yang selalu membantu Hek-kin-kaipang dan sudah banyak ia menyumbang, sungguhpun dia bukan anggauta perkumpulan kita. Katakan, apakah kau ingin menjadi pangcu dan sanggupkah kau memimpin perkumpulan kita?"
Diserang begini oleh Tan Lokai, Lai Tek menjadi gagap.
"Aku... aku... betapapun juga, kalau Tan Lokai menjadi pangcu, aku harus menguji dulu kepandaiannya!"
Akhirnya ia berkata untuk menutupi malunya.
"Bagus! Itulah seharusnya ucapan seorang laki-laki!"
Memuji orang ke dua yang tadi melompat maju.
Dia ini adalah orang pengemis tua berusia lima puluh tahun lebih yang bernama Teng Gai berjuluk Kim-tung Mo-kai (Pengemis Setan Tongkat Mas).
Tongkatnya berwarna kuning seperti emas, sungguhpun amat disangsikan apakah benar-benar dari pada logam mahal itu.
Setelah berkata demikian ia melompat mundur untuk me-nanti giliran.
Sudah menjadi kebiasaan dalam perkumpulan Hek-kin-kaipang, tiap kali ada pemilihan pengurus baru, semua anggauta berhak untuk menguji kepandaian ketua yang dipilih, maka kata-kata Lai Sek tadi menggembirakan semua orang.
Adapun Tan Lokai sendiri yang tahu bahwa kali ini ia menghadapi banyak orang yang menentangnya, sudah siap menghadapi setiap lawan.
"Lai Sek kalau kau penasaran, majulah lohu melayanimu bermain-main sebentar!"
"Awaslah, Tan Lokai!"
Lai Sek yang jujur itu tidak mau banyak bicara dan secepat angin ia menggerakkan tongkatnya menyerang ke arah dada Tan Lokai.
Pengemis tua ini memiliki ilmu tongkat yang lihai sekali.
Cun Eng tahu bahwa ilmu tongkat pengemis ini mengatasi semua ilmu tongkat yang dimiliki oleh para anggauta Hek-kin-kaipang, maka tidak khawatir dan karena itu pula tadi memilihnya sebagai calon ketua.
Dengan cepat sekali Tan Lokai membuktikan kelihaiannya.
Biarpun Lai Sek bertenaga besar seperti kerbau dan tongkatnya mengeluarkan angin saking kerasnya serangan-serangan yang dilakukannya namun dengan enak dan mudah semua serangan digagalkan.
Dalam beberapa belas jurus saja terdengar Lai Sek berteriak kesakitan dan jatuh terjengkang ketika kakinya kena dicongkel oleh tongkat Tan Lokai yang gerakannya cepat sekali!
Tan Lokai dengan senyum ramah membantu Lai Sek bangun.
Pengemis kalap ini meringis kesakitan, lalu menjura.
"Tan Lokai benar-benar lihai, siauwte yang muda bermata buta. Urusan ketua terserah saja kepada pemilihan orang banyak!"
Katanya sambil menyerat tongkatnya dan mengundurkan diri.
"Ha, ha, ha! Tidak kusangka Tiat-tiang-eng demikian lemahnya! Dan nama Tan Lokai tidak kosong belaka. Biar aku yang mencoba kepandaiannya,"
Kata Kim-lung Mo-kai sambil mclompat maju dengan tongkat kuning di tangan.
Tan Lokai mengerutkan kening.
Pengemis di depannya ini baru beberapa bulan menjadi anggauta, akan tetapi selalu bersikap mencurigakan.
Bahkan sekarang, sabuk yang dipakainya bukanlah sabuk hitam melainkan sabuk putih.
"Sahabat Teng Gai, mengapa kau memakai sabuk putih?"
Tegurnya. Kim Lung Mo-kai Teng Gal tertawa geli.
"Tan Lokai, nama Hek-kin kaipang kuanggap tidak baik dan kurang tepat. Mengapa memakai nama hitam? Bukankah lebih patut kalau diganti saja dengan Pek-kin-kaipang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Putih). Kalau aku yang menjadi ketuanya, tentu akan segera kuganti nama perkumpulan kita."
Kata-kata ini disambut oleh suara tawa menyatakan setuju dan ketika Tan Lokai dan Cun Eng menengok ke arah mereka yang tertawa, ternyata bahwa mereka itu adalah puluhan orang yang tadi mengangkat tangan dan di antara mereka banyak yang memakal sabuk putih!
Tan Lokai marah sekali.
"Teng Gak kau hendak mengujiku, atau merampas kedudukan ketua, ataukah hendak mengkhianatt perkumpulan?"
"Yang pertama dan kedua memang tepat, aku hendak mengujimu dan kalau kau kalah, akulah yang lebih patut menjadi ketua. Soal pengkhianatan, aku bukan hendak memperbaiki keadaan perkumpulan, mana bisa disebut mengkhianati?"
"Bagus, kau majulah!"
Seru Tan Lokai.
Teng Gak mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tongkatnya ini seperti gerakan garuda memukulkan sepasang sayap, yakni ia memegang tongkat di tengah-tengah dan mengirim pukulan dengan ujung tongkat kiri ke atas kepala, kemudian disusul dengan ayunan ujung tongkat kanan ke arah perut lawan.
Akan tetapi ketika Tan Lokai menangkis, kakek ini terkejut sekali.
Ujung tongkat itu memukulnya dengan tenaga lweekang yang lemas dan mempunyai daya membetot, sebaliknya pukulan ujung tongkat kanan yang menyusul, dilakukan dengan penyaluran tenaga gwakang yang amat kuat dan keras!
Melihat cara pukulan ini, Tan Lokai yang sudah banyak pengalamannya terkejut dan terheran-heran.
Inilah cara ilmu silat dari orang Im-yang-bu-pai, yang mendasarkan pada ilmu Silat Im-yang-ciang-hoat atau Ilmu Silat Im-yang!
"Eh, kau orang Im-yang-bu-pai!"
Tegurnya sambil membalas serangan lawan.
Teng Gak hanya tertawa mengejek, dan pada saat itu, tiga puluh orang yang tadi mengangkat tangan, mendengar kata-kata Tan Lokai ini, serentak bangkit berdiri tegak dan bersiap-siap, sikap mereka angker sekali.
Keadaan menjadi riugh dan orang-orang Hek kin-kaipang juga cepat memisahkan diri dari mereka.
"Teng Gai apa kehendakmu?"
Tanya Tan Lokai, akan tetapi Teng Gai terus saja mendesaknya dengan pukulan pukulan maut.
Tan Lokai yang mengalami kekagetan, tak dapat menjaga diri dengan baik, maka terdengar suara keras ia mencelat ke belakang sampai tiga tombak lebih ketika tongkat kuning lawannya berhasil menyodok dadanya!
Baiknya Tan Lokai telah mengerahkan lweekang, sehingga biarpun terluka berat, tidak sampai membahayakan nyawanya.
"Teng Gai, betulkah kau orang Im yang-bu-pai dan apakah maksudmu memasuki perkumpulan kami?"
Cun Eng melompat maju dengan pedang di tangan menghadapi pengemis sabuk putih itu.
"Ha, ha, ha, Kiang-pangcu! Im yang-bu-pai sudah tidak ada dan aku sekarang calon ketua dari Pek-kin-kaipang! Aku menuntut hakku sebagai pemenang calon ketua. Akulah yang berhak menjadi nama baru dan aku akan mengganti nama perkumpulan menjadi Pek-kin kaipang!"
Sebelum Kiang Cun Eng menjawab, berkelebat bayangan orang dan sosok bayangan ini begitu tiba lalu menonjok ke arah Teng Gai yang cepat menangkis.
Akan tetapi to terhuyung-huyung dan hal ini mengejutkan hatinya.
Ketika ia memandang, yang menyodoknya adalah seorang pengemis setengah tua yang bajunya tambal-tambalan, kumis dan jenggotnya malang melintang tidak karuan.
Pengemis ini berdin dengan dua tangan digerak-gerakkan, sambil lulutnya mengeluarkan bunyi "ah-ah, uh-uh"
Tidak karuan. Ternyata bahwa dia adalah seorang pengemis bisu.
"Ah Kai, biar aku menghadapinya!"
Kata Cun Eng, kaget melihat datangnya pengemis ini yang dahulu di waktu masih kanak-kanak adalah pelayan dari ayahnya.
Pengemis ani biasa disebut Ah Kai atau Si Bisu yang semenjak kecil sudah mempunyai kesukaan belajar ilmu silat.
Setelah ayah Cun Eng meninggal, A-Kai melarikan diri dan baru hari ini muncul kembali dalam saat yang tidak tersangka-sangka.
Akan tetapi Ah-Kai tidak mau mundur, bahkan ia lalu memberi isyarat dengan tangan, minta Cun Eng mundur, kemudian sekali ia mengulur tangan, tongkat pusaka Hek-kin-kaipang di tangan Cun Eng telah pindah ke dalam tangannya, Cun Eng heran bukan main.
Tidak sembarangan orang akan dapat merampas tongkatnya demikian mudah seperti sihir saja.
"Biarkan saja, dia takkan kalah,"
Kata Yap Kong Ki kepada Cun Eng yang sudah berdiri di dekatnya.
Sian-hud-ti Yap Kong Ki tokoh Pulau Kim-ke-tho yang semenjak tadi diam saja, mempunyai penglihatan yang awas sekali.
Sekali pandang saja ia maklum bahwa pengemis bisu itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada kepandaian Cun Eng.
Maka ia memberi nasehat kepada Cun Eng untuk membiarkan pengemis bisu itu menghadapi orang-orang Im-yang-bu-pai.
Sementara itu, Ah Kai telah menyerang Teng Gai kalang kabut dan mulutnya tak pernah berhenti mengeluarkan "ah-ah-ah uh-uh.
Biarpun tongkat hitam di tangannya itu digerak-gerakkan dengan kacau, akan tetapi kembali terdengar Yap Kong Ki memuji dan berkata kepada Cun Eng dengan nada suara terheran-heran.
"Eh, darimana ia mendapatkan ilmu tongkat itu? Cam-kauw-tung-hwat (Ilmu tongkat Pemukul Anjing) tidak sembarang orang dapat mainkan!"
Memang ilmu tongkat yang dimainkan oleh Ah Kai itu luar biasa sekali.
Kelihatannya memang kacau balau dan tidak teratur sama sekali, akan tetapi yang amat mengherankan, kekacauan gerakan tongkat ini mengurung dan mematikan semua gerakan tongkat kuning di tangan Teng Gai!
Yang paling merasa heran dan penasaran adalah Teng Gai sendiri, karena ia yang memiliki ilmu Silat Im-yang-kun mengapa sekarang tidak berdaya sama sekali?
Setiap serangan menemukan tempat kosong, atau kadang-kadang tertangkis oleh tongkat hitam butut itu dan tergetarlah telapak tangannya, tanda bahwa Si Bisu itu memiliki tenaga lweekang yang mengatasinya!
Para anggauta perkumpulan Hek-ki kaipang yang berada di situ menonton pertempuran itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Banyak di antara mereka kecuali beberapa orang anggauta baru, kenal baik kepada Ah Kai yang di waktu kecilnya merupakan pelayan ketua Hek-kin-kaipang yang sering kali digoda oleh para anggauta.
Setelah ketua Hek-kin-kai-pang meninggal dunia bocah itu lenyap dan sekarang tiba-tiba muncul dalam keadaan yang tak terduga-duga dan yang lebih aneh lagi memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.
Maka kini mehhat Teng Gai terdesak dan kebingunan, orang-orang mulai bersorak-sorak.
Makin keras suara orang-orang itu bersorak dan bertepuk tangan ketika pada jurus ke lima puluh, setelah Teng Gai kebingungan dan pening kepalanya menghadapi serangan bertubi-tubi dan aneh dari lawannya, terdengar suara keras dan tubuh belakang dari Kim-tung Mo-kai Teng Gai kena dihajar dengan sekali gerakan!
Teng Gai jatuh terguling-guling dan tongkat hitam di tangan Ah Kai terus bergerak memukulnya, lagak Si Bisu benar-benar seperti seorang yang memberi hajaran kepada seekor anjing.
"Lihai sekali... lihai sekali...""
Yap Kong Ki beberapa kali memuji.
"Agaknya ia telah beruntung mewarisi kepandaian dari Cam-kauw Sin-kai yang telah lama hilang dari dunia kang-ouw."
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gerengan keras dan mendadak tubuh Ah Kai terhuyung ke belakang, seakan-akan ia kena dorongan keras dari depan.
Tubuh Teng Gai juga terdorong sampai bergulingan seperti seekor trenggiling.
Bahkan orang-orang yang duduknya terdekat dengan mereka, semuanya terguling karena terdorong oleh angin pukulan yang dahsyat sekali.
"Ayaaaa...!"
Yap Kong Ki berseru terkejut.
ia melihat datangnya seorang kakek yang menyeramkan berambut panjang dan bermata liar.
Yang membuat Yap Kong Ki terkejut adalah daya pukulan dari jauh yang dilakukan oleh kakek ini.
Bagaimanakah sebuah pukulan dari jarak jauh mempunyai tenaga yang demikian dahsyatnya?
Ini membuktikan bahwa orang yang baru datang adalah seorang ahli silat tinggi yang lihai sekali.
Ketika Ah Kai memandang, pengemis bisu itu mengeluarkan suara ribut-ribut nampaknya ia marah dan juga gentar menghadapi kakek itu.
Adapun Teng Gai ketika melihat kakek ini mukanya berubah pucat sekali dan matanya terbelalak seolah-olah ia melihat setan.
Kakek itu melihat semua orang diam dan memandangnya dengan gentar, tertawa terkekeh, lagaknya memandang rendah.
Ketika ia memutar tubuh dan matanya mencari-cari, akhirnya ia melihat Kiang Cun Eng dan suara ketawanya berhenti.
"Heh, belum mampus? Kiang pangcu, kalau kau ingin menebus dosamu terhadapku, lekas berlutut den berjanji hendak menjadi pembantuku dan menyerahkan tongkat ketua Hek-kin-kaipang kepadaku."
Suara kakek ini terdengar perlahan saja, namun di dalamnya mengandung pengaruh dan ancaman besar.
"Giok Seng Cu Totiang, mengapa seorang tokoh besar seperti Totiang dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu? Memang aku pernah berdosa terhadap Im-yang-bu-pai ketika menolong seorang bocah, akan tetapi bukankah dosa itu telah tertebus dengan tewasnya banyak sekali anak buahku? Pula, kedosaan itu tidak ada artinya kalau dtingat bahwa hal itu aku lakukan untuk menolong nyawa seorang anak yang tak berdosa."
Kakek ini memang Giok Seng Cu.
Sebagaimana telah dttuturkan di bagian depan, berkali-kali Giok Seng Cu mengalami kegagalan.
Tidak saja perkumpulan yang dipimpinnya, yakni Im-yang-bu-pai, telah dibasmi oleh See-thian Tok-ong dan anak isterinya, akan tetapi juga pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang sudah terjatuh di tangannya itu, dapat terampas oleh See thian Tok Ong.
Hal ini amat menyakitkan hatinya.
Selama beberapa tahun ini ia tidak mau muncul, bersembunyi sambil memperdalam kepandaiannya.
K emudian setelah ia muncul melihat bahwa lm-yang-bu-pai sudah hancur dan anak buahnya sudah kocar-kacir, timbul di dalam pikirannya untuk mendirikan perkumpulan baru.
Tanpa perkumpulan dan anak buah yang banyak jumlahnya, kedudukannya takkan kuat.
Kemudian teringatlah ia akan perkumpula Hek-kin-kaipang sebuah perkumpulan yang amat besar dan kuat dan ia segera mengambil keputusan untuk merampas kedudukan ketua di perkumpulan ini.
Kini ia telah berhadapan dengan Cu Eng.
Mendengar Cun Eng membela diri ia tertawa mengejek.
"Ha, enak saja kau bicara! Dengar mengandalkan siasat licin, kau pernah menentang Im-yang-bu-pai yang berarti menentangku pula. Sekarang, aku datang membunuhmu, bahkan hendak memimpin perkumpulan jembel ini agar dapat kemajuan dan nama besar, dan bahkan kuangkat menjadi pembantu. Bukankah hal ini membuktikan bahwa aku sekarang telah berhati lemah dan mudah menaruh hati kasihan? Kau tak perlu berterima kasih, asal kau dapat memperlihatkan kasih sayang terhadap aku, cukuplah."
Kata-kata ini ditutup dengan lirikan mata yang penuh arti dan tentu amat menjemukan karena main mata itu dilakukan kakek yang sudah begitu tua!
Antara Yap Kong Ki dan Kiang Cun Eng memang terdapat pertalian hati dan keduanya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari urusan kang-ouw untuk mengecap kenikmatan rumah tangga dalam usia mereka yang sudah agak terlambat itu.
Maka mendengar kata-kata Giok Seng Cu, hati Kong Ki mendongkol bukan main.
Terang-terangan kekasihnya dihina orang dan hal ini tak mungkin dapat ia biarkan saja.
Yap Kong Ki belum pernah bertemu muka dengan Giok Seng Cu, akan tetapi tentu saja ia dulu sudah seringkali mendengar nama kakek pemimpin Im-yang bu-pai yang lihai Kalau saja tidak karena urusan Cun Eng, agaknya ia akan lebih suka pergi menjauhi Giok Seng dan tidak mencari urusan dengan orang yang berbahaya itu.
Sekarang melihat wanita yang dikasihinya dihina, Yap Kong tak dapat menahan sabar lagi.
ia melompat ke depan dan kebutan di tangan kanannya tergetar.
"Totiang, telah lama sekali aku yang bodoh mendengar nama besar dari Giok Seng Cu sebagai ketua Im yang-bu-pai yang berilmu tinggi. Sudah lajim di dunia kang-ouw seorang tokoh yang berilmu tinggi selalu memiliki pandang yang amat luas dan bijaksana. Akan tetapi hari ini aku mendengar ucapan yang kau tujukan kepada Kiang-pangcu, benar benar membuat aku terheran-heran dan hampir tak dapat mempercayai telingaku sendiri."
Giok Seng Cu memutar tumit kakinya dan menghadapi Yap Kong Ki.
Ia melihat seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bersikap gagah dan tenang, dengan alis dikerutkan tanda tak senang hati dan kebutan yang terpegang di tangan kanan bulu-bulunya tergetar, tanda bahwa lweekang orang yang memegangnya sudah mencapai tingkat tinggi dan sudah dapat disalurkan melalui gagang kebutan itu sampai ke ujung bulu kebutan.
"Hm, hm, kau sudah mengenaI namaku, akan tetapi sebaliknya aku belum pernah melihat mukamu. Siapakah kau dan berdasarken apakah kau hendak mencampuri urusanku?"
Tanya Giok Seng Cu.
Kalau menghadapi kebanyakan orang, Giok Seng Cu lebih banyak mempergunakan tangannya daripada mulutnya.
Akan tetapi melihat Yap Kong Ki sekelebatan saja tahulah Giok Seng Cu bahwa yang dihadapi bukanlah orang biasa, maka ia masih mempergunakan mulut untuk bertanya nama.
"Aku yang bodoh disebut orang Sian-hud-tim Yap Kong Ki, urusan Hek-kin-kaipang adalah urusanku juga, maka hinaan totiang terhadap Hek-kin-kaipang berarti penghinaan terhadapku pula."
"Begitu??"
Pertanyaan ini hampir bersamaan datangnya dengan kibasan tangan kanan Giok Seng Cu yang mempergunakan ujung lengan baju untuk menyerang Kong Ki.
Majikan Pulau Kim-ke-tho ini tak berani berlaku lengah.
Ia tahu bahwa setiap gerak serangan dari kakek ini tak boleh dipandang ringan.
Benar saja dugaannya, karena biarpun kibasan ujung lengan baju ini dilakukan perlahan saja dan seakan-akan tidak memakai tenaga, akan tetapi tiba-tiba angin pukulannya menyambar, mengandung hawa panas dan bukan main kuatnya"
Yap Kong Ki memiliki ilmu silat turunan dan ia pun sudah memiliki tenaga Iweekang yang tinggi.
Menghadapi serangan lawan yang ia tahu dilakukan dengan tenaga sebagian saja, sifatnya hanya untuk mencoba dulu, ia pun tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
Cepat ia mengebutkan hudtimnya ke arah lawan dan dari hudtim ini pun menyambar hawa pukuian yang sekaligus menangkis pukulan lawan dan langsung menyambar ke arah jalan darah di pundak Giok Seng Cu.
"Hem, cacing tanah berani menjual lagak di depanku?"
Bentak Giok Seng Cu, marah karena pukulannya tadi dapat ditangkis lawan yang bahkan mengirim serangan balasan.
Ia sama sekali tidak mengelak dari totokan ujung hudtim, sebaliknya tangan kirinya maju memukul dada lawan.
Ujung hudtim tepat sekali mengenai jalan darah di pundak Giok Seng Cu, akan tetapi Yap Kong Ki berseru kaget karena ujung kebutannya terpental balik seperti menotok baja hitam saja.
Sebaliknya, pukulan tangan kakek itu telah menyerang dadanya dan biarpun masih hawa pukulannya saja sudah terasa di dalam dadanya"
"Lihai sekali...!"
Kong Ki berseru dan cepat Kebutan Dewa ini memutar senjatanya sehingga kebutan itu berubah menjadi segulungan sinar yang amat berbahaya.
Biarpun ujungnya terdiri dari bulu-bulu yang lemas, namun kalau dipergunakan dalam serangan, dapat diperlemas atau diperkeras menurut saluran tenaga dalam.
Totokan-totokan yang dilakukan oleh ujung kebutan ini pun bahaya sekali karena selalu mengarah jalan darah yang mematikan.
Memang sukar menyerang seorang seperti Giok Seng Cu yang memiliki Ilmu Kebal Tiat-pouw-san, akan tetapi di antara jalan-jalan darah yang berada di dalam tubuh, terdapat banyak bagian yang tak dapat dilindungi oleh ilmu kebal, seperti misalnya jalan darar hai-yang-hiat, ong-cu-hiat dan lain-lain.
Dan Yap Kong Ki yang cerdik tahu harus memilih yang mana, maka kini setiap serangannya selalu mengarah jalan darah mematikan yang berbahaya sehingga betapapun lihainya, Giok Seng Cu tidak berani lagi mengandalkan ilmu kebalnya.
Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka karena tingkat kepandaian Giok Seng Cu masih lebih tinggi, apalagi dalam ilmu lwekang, kepandaiannya jauh melampaui lawannya.
Melihat betapa Yap Kong Ki amat sukar dirobohkan, timbul kemarahan dalam hati Giok Seng Cu, kakek ini mengeluarkan suara keras mulailah ia bersilat dengan gaya merendah.
Dia telah mulai mengeluarkan ilmu silatnya yang paling diandalkan yakni Ilmu Pukulan Tin-san-kang"
Yap Kong Ki terkejut sekali.
Dari sepasang tangan kakek itu menyerang angin pukulan yang jauh bedanya dengan tadi.
Kini setiap kali kakek itu menyerang tidak saja kebutannya terpental ke belakang, bahkan tubuhnya juga sampai terdorong seakan-akan ada gelombang tenaga yang dahsyat mendorongnya dari depan.
Setelah Giok Seng Cu mengeluarkan Tin-san-kang mulailah Kong Ki terdesak hebat dan dalam belasan jurus kemudian ia telah terkurung oleh pukulan-pukulan maut dari Tin-san-kang!
Ia mulai sibuk ke manapun juga ia melompat untuk mengelak, selalu ada hawa pukulan yang menghadangnya.
Tiba-tiba terdengar seruan dari Ah-Kai yang semenjak tadi menonton pertempuran itu.
Si Bisu ini berdiri dengan mata terbelalak saking kagumnya melihat kehebatan Giok Seng Cu.
Akan tetapi karena biarpun bisu ia tahu bahwa Kong Ki membela Hek-kin-kaipang, kini melihat majikan Pulau Kim-ke-tho ini terdesak hebat dan berada dalam bahaya, ia lalu melompat maju dan mengirim serangan dengan tongkatnya ke arah pusar dari Giok Seng Cu.
Giok Seng Cu cepat menyampok tongkat itu dengan tangan kirinya, akan tetapi begitu kena disampok, tongkat yang terpental itu segera menyeleweng dan melanjutkan serangannya dengan totokan kilat ke arah ulu hati.
Serangan ini masih dilanjutkan secara bertubi-tubi dan gerakannya yang amat aneh membuat Giok Seng Cu mengeluarkan seruan tertahan.
"Ayaa, bukankah ini Cam-kauw-tungwat? Pernah apa kau dengan Camauw Sin-kai?"
Tanya Giok Seng Cu.
Hatinya agak tidak enak karena dahulu ia pernah bertemu dengan Cam-kauw Sinkai dan mengingat akan Pengemis Sakti yang lihai dan tidak boleh dibuat main-main ini, Giok Seng Cu merasa tidak enak kalau pengemis yang menyerang ini masih ada hubungan dengan Ca kauw Sin-kai.
Akan tetapi, Ah Kai yang bisu mana dapat menjawab pertanyaannya?
Ah Kau hanya mengeluarkan suara ah, ah, uh uh, dan tongkatnya menyerang terus dengan gencarnya, dibantu pula oleh kebutan di tangan Kong Ki.
Yang juga bergerak cepat.
Melihat betapa dua orang ini masih saja belum dapat mengalahkan Giok Seng Cu, Kiang Cun Eng berseru keras dan ketua perkumpulan kaipang ini melompat maju pula dan menyerang Giok Seng Cu dengan pedangnya.
Giok Seng Cu marah sekali.
"Kiang Cun Eng, kau dahulu telah mempermainkan orang-orangku, sekarang kau tidak lekas-lekas menakluk? Apakah kau memilih jalan mampus?"
"Giok Seng Cu pendeta busuk, memang lebih baik mati daripada melihat kau menjadi Ketua Hek-kin-kaipang!"
Jawab Cun Eng. Melihat Cun Eng sudah turun tangan, para anggauta Hek-kin-kaipang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, mulai mengangkat tongkat mereka dan beramai-ramai mereka mengurung Giok Seng Cu.
"Teng Gai, kau tidak lekas menyuruh anak buahmu turun tangan, mau tunggu kapan lagi? Apakah benar-benar kalian berani mengkhianatiku?"
Kata Giok Seng Cu.
Mendengar ini, Kim-tung Mo-kai segera memberi tanda kepada kawan-kawannya yang berjumlah tiga puluh orang.
Tadinya Kim-tung Mo-kai Teng Gai memang bermaksud hendak merampas kedudukan dalam perkumpulan itu, akan tetapi setelah ia kalah oleh Ah Kat dan tak tersangka-sangka di situ muncul Giok Seng Cu bekas pemimpinnya di 1m-yang-bu-pai dahulu pikirannya berubah dan ia mengambil siasat lain.
Begitu mendapat isyaratnya, kawan-kawannya yang memang sebagian besar adalah bekas anggauta Im-yang-bu-pai, segera menyerbu dan sebentar saja di tempat itu terjadi pertempuran hebat.
Pihak Hek-kin-kaipang jauh lebih banyak orangnya, maka melihat ini, Seng Cu mengeluarkan gerengan keras dan beberapa kali ia melancarkan pukulan-pukulan Tin-san-kang yang paling hebat.
Terdengar pekik mengerikan dan tubuh Kiang Cun Eng terlempar sampai tiga tombak lebih dalam keadaan tak bernyawa lagi!
Bukan main marahnya Kong Ki dan Ah Kai.
Dua orang ini memiliki kepadaian yang jauh lebih tinggi daripada Cun Eng, maka mereka berdua biarpun kalah lihai oleh Giok Seng Cu, sebegitu jauh masih dapat mempertahankan diri dan belum roboh oleh pukulan-pukulan Tin-san-kang.
Kini melihat Giok Seng Cu telah membunuh Cun Eng secara mengerikan, keduanya menjadi makin nekat dan menyerang mati-matian.
Lebih-lebih Kong Ki yang terasa hancur melihat kekasihnya tewas.
Tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, Sian-hud-tim Yap Ko Ki menyerbu Giok Seng Cu dengan serangan-serangan maut.
Giok Seng Cu berteriak kesakitan ketika daun telinganya pecah oleh pukulan kebutan di tangan Yap Kong Ki.
ia marah dan kedua rangannya bergerak ke depan menghantam dada lawan ini, maka tubuh Kong Ki terpental dan ia pun tak jauh dari tubuh Cun Eng dalam keadaan mati pula.
Ah Kai yang bisu dapat melihat keadaan, ia melompat jauh ke belakang, memberi tanda dengan tongkat pusaka kepada para kawan yang masih bertempur, lalu melarikan diri cepat meninggalkan tempat itu.
Ah Kat biarpun bisu amat cerdik.
Dalam berlari, ia menyambar peti yang tadinya ditumpuk oleh Cun Eng di tempat itu.
Melihat perbuatan Ah Kai ini, para anggauta Hek-kin-kaipang lalu meniru perbuatannya dan sebentar saja empat buah peti berisi harta benda Hek-kin-kaipang telah dibawa lari oleh para pengemis.
"Kejari Bunuh mereka yang melawan! Rampas kembali peti-peti dan tangkap hidup-hidup Si Bisu!"
Baca Juga: Mutiara Hitam 13
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 6