Eps 6 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
Tenak Giok Seng Cu sambil melompat dan mengejar.
Karena Giok Seng Cu memang hebat, dalam beberapa loncatan saja ia telah dapat mengejar Ah Kai dan terpaksa Si Bisu ini melepaskan peti yang dipanggulnya.
ia tidak berani menghadapi Giok Seng Cu, hanya memutar tongkatnya melindungi dirinya.
Karena Giok Seng Cu masih tidak enak hati untuk membunuh orang yang agaknya ada hubungan dengan Cam-kauw sin-kai, maka Giok Seng Cu tidak mau menjatuhkan serangan maut, sebaliknya berusaha menawan.
Namun, amat sukarlah mengalahkan Ah Kai tanpa membunuhnya, karena gerakan Ah Kai amat lincah dan ilmu tongkatnya memang tinggi sekali.
Tiga buah peti yang lain telah terampas pula, Giok Seng Cu akhirnya terpak ia meninggalkan Ah Kai untuk mengamuk dan membasmi para anggauta Hek kin-kaipang lebih dulu.
Sepak terjangnya mengerikan hati para pengemis karena setiap kali ia mengayun tangan, sedikitnya tentu dua orang pengemis roboh dengan dada pecah atau kepala remuk.
"Semua orang akan diampuni kalau menyatakan takluk! Aku akan menjadi ketua Hek-kin-kaipang dan akan membawa perkumpulan ke arah kemuliaan. Seru Giok Seng Cu yang mengerahkan tenaga dalamnya sehingga suaranya terdengar amat nyaring dan berpengaruh. Mendengar ini dan melihat betapa mereka sia-sia saja kalau melawan terus, banyak orang pengemis lalu melepaskan tongkat dan menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh yang lain-lain. Melihat ini, Ah Kai mengeluarkan seruan ah-ah, uh-uh beberapa kali, membanting-banting kakinya dengan gemas sekali, lalu cepat ia melarikan diri.
"Totiang, untuk menjadi ketua Hek-kin-kaipang, harus mempunyai po-tung (Tongkat pusaka) yang dipegang oleh Si Bisu itu!"
Kata seorang pengemis yang menakluk.
Mendengar ini Giok Seng Cu melomplat cepat dan mengejar Ah Kai yang tentu saja berlari makin kencang.
Dalam hal ilmu berlari cepat, Ah Kai sudah mencapal tingkat tinggi juga, maka untuk beberapa lama, Giok Seng Cu belum dapat menyusulnya.
"He... Bisu, kau berhenti dan serahkan tongkat butut kepadaku, baru aku akan membebaskan kau!"
Memang baginya lebih baik Si Bisu itu pergi dari situ dalam hal merampas tongkat pusaka itu ia pun akan merasa lebih senang kalau tak usah membunuh Ah Kai, karena Giok Seng Cu masih ragu-ragu siapa adanya orang bisu yang pandai mainkan ilmu tongkat Cam-kauw Tung-hoat itu.
Akan tetapi, sudah tentu saja Ah Kai tidak sudi memberikan tongkat pusaka itu kepada Giok Seng Cu.
Semenjak kecilnya, Ah Kai telah berada di perkumpulan Hek-kin-kaipang dan ia amat setia kepada ayah Cun Eng yang ketika itu menjadi ketua perkumpulan.
Setelah ayah Cun Eng meninggal, bocah bisu ini menjadi begitu berduka sehingga ia melarikan diri dan selama itu tak seorang pun tahu di mana adanya Ah Kai.
Sebetulnya, Ah Kai telah bertemu dengan orang-orang pandai di antaranya Cam-kau Sin-kai dan dari orang-orang pandai Ah Kai menerima pelajaran ilmu silat tinggi.
Setelah memiliki kepandaian Ah Kai mencari perkumpulan Hek-kin Kaipang yang sudah dipindahkan markasnya atu pusatnya oleh Kiang Cun Eng.
Di dalam hatinya, Ah Kai tetap setia kepada perkumpulan ini dan hendak menyerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk membantu dan membela Kiang Cun Eng.
Tidak disangkanya, begitu ia datang, ia menghadapi orang-orang jahat yang hendak merampas kedudukan di perkumpulan itu.
Lebih-lebih tidak disangkanya bahwa di antara orang-orang jahat itu muncul Giok Seng Cu yang amat lihai dan yang ilmu silatnya kiranya takkan kalah oleh guru-guru yang pernah mengajarnya.
Tadi ketika melihat Cun Eng tewas hart Ah Kai sudah marah sekali dan ia merasa sakit hati kepada Giok Seng Cu.
Sekarang Giok Seng Cu minta tongkat pusaka yang menjadi tongkat kekuasaan dari Hek-kin-kaipang, tentu saja ia tidak sudi menyerahkannya dan mengambil keputusan untuk melindungi tongkat itu sampai saat terakhir.
Melihat orang bisu itu tidak mau menyerahkan tongkat bahkan lari makin cepat Giok Seng Cu mulai hilang sabar.
Kalau perlu, ia tidak takut membunuh siapapun juga.
Andaikata benar dugaannya dan pengemis bisu itu murid Cam-kauw Sin-kai, ia pun tidak takut.
Pula di tempat sunyi ini siapakah yang akan tahu bahwa pengemis bisu itu di bunuh olehnya?
"Bisu, tinggalkan tongkat itu pengganti nyawamu!"
Sekali lagi Giok Seng Cu berseru ketika Ah Kai lagi-lagi tidak memperdulikannya, Giok Seng Cu menggerakkan kedua tangannya dan empat buah chi-piauw menyambar laksana kilat ke arah belakang leher, punggung, lutut dan mata kaki.
Ah Kai dapat mendengar sambaran angin senjata rahasia itu, maka cepat ia melompat ke kanan sejauh setombak lebth sehingga serangan amgi (senjat gelap) itu hanya mengenai angin belaka Namun, gerakannya ketika meiepaskan diri dari ancaman senjata rahasia tadi telah memperlambat gerakannya dalam berlari sehingga Giok Seng Cu sudah dapat menyusulnya.
Ah Kai membalikkan tubuh dan dengan secara mendadak ia menyambut kedatangan kakek itu dengan serangan bertubi-tubi dari tongkatnya.
Kembali Giok Seng Cu gelagapan dan sibuk menangkis dengan kibasan kedua ujung bajunya.
Ia menjaga diri dari ujung tongkat yang amat berbahaya itu, akan tetapi diam-diam ia pun mencari kesempatan untuk menjatuhkan pukulan maut pada lawan yang tangguh ini.
Kakek ini sudah kehilangan kesabarannya, bahkan kini rasa penasarannya memuncak menjadi kemarahan besar.
Ketika dengan tenaganya yang dahsyat ujung bajunya dapat membuat tongkat lawan terpental, ia cepat mengirim pukulan Tin-san-kang dengan tubuh merendah hampir berjongkok.
Inilah pukulan Tin-san-kang dalam jurus yang amat hebat, yaknt jurus Chun-luttong-tee (Geledek Musim Semi Menggetarkan Bumi)!
Ah Kat terkejut sekali.
Cepat ia mergerahkan tenaganya, menyalurkan tenaga lweekang sepenuhnya di lengan kin untuk menangkis pukulan itu sambil tubuhnya dimiringkan agar dadanya tidak terpukul oleh angin pukulan.
"Krek!"
Tubuh Ah Kai terlempar dan ia jatuh berdebuk terus bergulingan untuk menghindarkan diri dari pukulan susulan.
Kemudian secepatnya ia melompat berdiri dengan muka meringis.
Tongkat masih ia pegang di tangan kanan dadanya pun tidak terluka, akan tertapi lengan kirinya telah patah tulangnya, Demikian hebat pukulan Giok Seng tadi.
Di lain pihak, Giok Seng Cu memandang kagum.
Menangkis pukulannya tadi dan tidak tewas, hanya mendapat luka patah tulang lengan, benar-benar tak mungkin dapat dilakukan oleh sembarangan ahli silat.
"Bisu, kau lihai!"
Serunya.
"Sayang kau harus mampus karena berani melawanku!"
Kembali ia menubruk maju dengan serangannya, akan tetapi Ah Kai tidak mau melayaninya dan sekali berkelebat, pengemis bisu ini sudah kabur lagi.
Sekarang jarak antara mereka tidak begitu jauh lagi, maka keadaan Ah Kat amat terancam.
Baru saja ia lari belum setengah li, Giok Seng Cu sudah dapat menyusulnya lagi dan dari belakang mengirim pukulan lagi dengan dahsyat.
Ah Kai sudah mendapat pengalaman, maka kini ia tidak berani menangkis lagi, sebaliknya ia lalu membanting tubuhnya ke kiri dan terus bergulingan di atas tanah menjauhkan diri.
"Ha, ha, ha. Jembel bisu, kau hendak lari ke mana""
Giok Seng Cu tertawa mengejek sambil mengejar lagi.
Mereka main kejar-kejaran dan setiap kali Giok Seng Cu memukul, Ah Kai menghindarkan serangan dengan membanting diri dan bergulingan.
Sebegitu jauh pengemis bisu yang memiliki gerakan lincah ini dapat menyelamatkan diri, akan tetapi ia maklum bahwa kalau Giok Seng Cu mengejar terus, akhirnya ia takkan dapat mengelak lagi dan pasti akan terpukul oleh ilmu pukulan yang aneh dan dahsyat dan lawannya.
Betapapun juga, tidak ada sedikit pun pikirannya untuk mengalah dan menyerahkan tongkat.
Ia mengambil keputusan untuk melindungi tongkat itu dengan taruhan nyawa!
Setelah berkejaran sejauh lima li, mereka tiba di dalam sebuah hutan.
Ah Kai sudah mulai lelah, bukan karena berkejaran itu, karena ia telah memiliki ilmu ginkang yang tinggi dan takkan merasa lelah biarpun berlari sampai puluhan li.
Yang membuat ia lelah adalah luka pada lengannya.
Tulang yang patah itu setelah dipakai bergerak, apalagi waktu ia bergulingan kadang-kadang tergencet tubuh, terasa amat sakit.
Giok Seng Cu menjadi makin penasaran dan marah sekali.
Kemarahannya membuat kakek ini dapat berlari makin cepat dan baru saja mereka memasuk hutan, Giok Seng Cu sudah dapat menyusulnya lagi dan dengan mengeluarkan seruan seperti seekor harimau marah, kakek ini menyerang dari belakang menghantam punggung.
Ah Kai kembali membanting tubuh dan bergulingan.
Akan tetapi, Giok Seng Cu yang sudah tahu akan lawannya, menyerang dengan lontaran senjata rahasianya yang berupa uang logam.
Tiga buah chi-piauw meluncur dan menyambar ke arah tiga jalan darah yang mematikan.
Ah Kai mencoba untuk mengelak, akan tetapi ketika itu ia sedang bergulingan, mana ia dapat bergerak dengan leluasa?
Sebuah daripada am-gi berhasil mengenai pundaknya dan kembali tulang pundaknya sebelah kiri patah!
Ah Kai menahan rasa sakit dan melompat berdiri, Giok Seng Cu sudah berdiri di depannya.
Sambil menggigit bibir menahan marah dan sakit, Ah Kai menubruk dan mengirim serangan maut dengan tongkatnya.
Kembali dua orang itu bertempur.
Ah Kai marah sekali, Giok Seng Cu tertawa-tawa mengejek karena maklum bahwa Si Bisu ini sekarang tak mungkin dapat melarikan diri lagi dan pasti binasa.
"Jembel bisu, untuk tongkat butut dari Hek-kin-kaipang kau rela membuang nyawa, sungguh percuma hidupmu dan sayang sekali Cam-kauw Sin-kai telah menurunkan kepandaiannya kepadamu. Ha, ha, ha!"
Ah Kai menggigit bibir dan melawan terus.
Akan tetapi, dalam keadaan sehat saja ia masih bukan tandingan Giok Seng Cu, apalagi sekarang ia telah mendapat luka.
Tulang pundak dan lengan kirinya telah patah dan membuat seluruh lengannya sebelah kiri seakan-akan mati.
Mana mungkin ia dapat menghadapi desakan Giok Seng Cu?
Ketika Giok Seng Cu mengibaskan ujung lengan bajunya, Ah Kai terlambat menangkis dan dadanya terpukul.
Tubuhnya terlempar sampai dua tombak lebih.
Akan tetapi, pengemis bisu ini benar-benar kuat sekali karena pukulan-pukulan yang demikian dahsyatnya hanya membuat ia terlempar, tidak sampai mengakibatkan luka di dalam tubuh.
Namun, keadaannya sekarang berbahaya sekali.
Sebelum ia dapat melompat bangun, Giok Seng Cu sudah berada di dekatnya dan kini kakek ini mengangkat tangan untuk mengirim pukulan maut terakhir.
Pada saat itu, berkelebat bayangan yang cepat laksana burung, disusul bentakan halus dan nyaring.
"Kakek siluman jangan berbuat kejam!"
Giok Seng Cu melihat sinar yang menyilaukan matanya, menyambar cepat di depan mukanya.
Terpaksa ia mengurungkan niatnya memukul Ah Kai karena kalau ia teruskan pukulan itu, tentu tangannya akan bertemu dengan pedang yang luar biasa cepat gerakannya.
melompat mundur dan memandang.
Bukan main herannya ketika melthat bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis yang cantik jelita dan berwajah gagah dan berpengaruh.
Ah Kai melihat kesempatan baik ini, ia melompat berdiri dan memandang kepada gadis itu dengan mata penuh pernyataan terima kasih.
Kemudian ia menoleh kepada Giok Seng Cu, tertawa mengejek dan melompat jauh melarikan diri lagi.
"Jembel busuk hendak lari ke mana?"
Giok Seng Cu membentak marah dan tubuhnya sudah bergerak hendak mengejar. Akan tetapi sekali berkelebat, gadis itu telah menghadang di tengah jalan.
"Tidak boleh mendesak orang yang sudah lari!"
Kata gadis itu. Giok Seng Cu marah sekali.
"Jangan mencampuri urusanku!"
Bentaknya dan tangan kirinya bergerak, ujung lengan bajunya dikibaskan ke arah gadis itu dengan maksud mendorong gadis ini ke pinggir.
Akan tetapi, gadis itu tidak menangkis, bahkan mempergunakan jari tangan kirinya yang dikepretkan ke arah ujung baju sehingga ujung kain yang amat kuat karena digerakkan dengan tenaga Tin-sin-kang itu terpukul kembali.
Kejadian ini membuat Giok Seng Cu membatalkan kehendaknya mengejar Ah Kai.
Ia terlampau kagum dan heran sehingga tidak memperdulikan lagi kepada Ah Kai yang membawa lari tongkat pusaka Hek-kin-kaipang.
Bagaimana dengan jari-jari tangan yang kecil runcing itu seorang gadis semuda ini dapat menangkis pukulannya?
"Bocah, kau memiliki kepandaian juga.
Akan tetapi jangan dikira dengan sedikit kebisaanmu ini kau akan dapat menjual lagak di depan Giok Seng Cu!
Siapa kau?"
Akan tetapi, sebaliknya dari gentar mendengar nama besar Giok Seng Cu ini, gadis ini bahkan nampak marah sekali dan pedang yang tadinya telah disimpan, dicabutnya kembali.
Sikapnya bermusuh dan menantang, kemudian bibir yang manis tapi nampak membayangkan kekerasan hati bergerak.
"Kau Giok Seng Cu? Pantas! Sudah kuduga bahwa kau tentu bukan seorang baik-baik. Di dunia kang-ouw kau boleh menjadi raja iblis, akan tetapi bertemu dengan Gak Soan Li, berarti akan tamat riwayatmu!"
Setelah berkata demikian gadis ini menggerakkan pedangnya melakukan serangan yang datangnya cepat sekali dan melihat ujung pedangnya tergetar, membuktikan bahwa penyaluran tenaga lweekangnya sudah sampai ujung senjata, tanda dari keahlian yang tinggi.
Akan tetapi Giok Seng Cu adalah seorang kakek yang kepandaiannya amat tinggi.
Juga pengalamannya sudah luas sekali, mana ia mau memandang sebelah mata kepada seorang gadis semuda itu?
Ia tersenyum mengejek dan sambil mengelak dan menyampok ujung pedang dengan ujung Iengan baju, ia mengejek.
"Gak Soan Li, kau seperti anak kambing menantang harimau. Sayang kalau nyawamu terbang meninggalkan tubuhmu yang cantik. Lebih baik kau ikut aku nenjadi muridku, baru kau akan mendapatkan ilmu yang hebat."
Mendadak Giok Seng Cu menghentikan kata-katanya karena matanya menjadi silau melihat bergeraknya pedang di tangan gadis itu yang kini merupakan gulungan sinar pedang yang amat luar biasa gerakannya.
Serangan pedang datang bertubi-tubi, setiap langkah atau jurus berisi empat sampai lima tikaman dan sabetan semuanya mengarah bagian berbahaya dan cepatnya, mengimbangi sambaran kilat!
Karena tadi memandang rendah, Giok Seng Cu kurang cepat bergerak dan dalam kesibukannya mengelak dan menangkis, sehelai kain dan ujung lengan bajunya terbabat putus oleh pedang yang tajam.
Giok Seng Cu merasa kecele dan ia terkejut sekali, juga terheran-heran.
Ia tidak saja terkejut melihat kelihatan gadis muda ini terutama sekali karena ia mengenaI ilmu pedang itu yang dasarnya sama dengan ilmu silat yang ia pelajari dari mendiang suhunva, Pak Hong Siansu!
Tak bisa salah lagi ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis ini tentulah berasal dari orang yang paling ditakutinya sesudah See-thian Tok-ong yaitu Hwa I Enghiong Go Ciang Le, murid dari supeknya, Pak Kek Siansu.
"Eh, kau ada hubungan apa dengan Go Ciang Le,"
Tanya Giok Seng Cu sambil mengelak dari sebuah tusukan.
"Dia Suhuku, kau mau apa?"
Jawab Soan Li yang menyerang terus dengan gemas karena ia merasa penasaran betapa semua jurus-jurus terlihai dari ilmu pedangnya hanya berhasil menyerempet dan membabat putus sedikit kain saja.
"He, kau kurang ajar sekali! Aku adalah suheng dari Gurumu, bagaimana kau berani melawan Supekmu sendiri?"
Gak Soan Li menahan pedangnya dan berdirt memandang dengan mata penuh kebencian.
"Siapa sudi mempunyai Supek seperti engkau yang jahat ini? Suhu sudah banyaak menderita karena kejahatanmu, apakah kau masih hendak menipuku? Kata Suhu kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk dan tadi kau mendesak seorang pengemis merupakan kejahatanmu yang terakhir karenanya kau harus menebus dosa di depan Giam kun (Malaikat Maut)!"
Kembali Soan Li menyerang dengan pedangnya secara hebat.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.
Gak Soan Li adalah murid Go Ciang Le yang sudah mempelajari 1mu silat tinggi bahkan ia sudah pula menerima pelajaran silat worisan, yakni Pak-kek Kiam-hoat ciptaan mendiang Pak Kek Siansu.
Memang gurunya sendiri hanya mewarisi paling banyak enam bagian dari ilmu silat ini dan dia sendiri paling banyak hanya empat bagian, akan tetapi bagian ini sudah cukup untuk ia pergunakan menghadapi lawan yang tangguh.
Seperti kita sudah maklum, Soan Li diam-diam melarikan diri dari tempat tinggal suhunya di Pulau Kim-bun-to dan pergi mengembara untuk menyusul atau mencari sumoinya, Go Hui Lian yang lari bersama Liok Kong Ji.
Di dalam perjalanan, tidak lupa dara perkasa ini melakukan semua pesan dan cita-cita suhunya, yakni menolong orang-orang yang menderita kesengsaraan terutama sekali membela mereka dari para penjahat.
Soan Li berwatak keras, tenang dan pendiam maka kalau bertemu dengan orang jahat, ia bersikap keras dan ganas sekali tak pernah memberi ampun.
Oleh karena kekerasan hatinya ini dalam berapa bulan di perantauan ia telah banyak membasmi orang-orang jahat sehingga di kalangan hek-to (dunia penjahat) namanya terkenal sekali dan ia mendapat nama poyokan Kang-sim-li (Dara Berhati Baja).
Kini dalam perjalanannya, kebetulan sekali ia bertemu dengan Giok Seng Cu yang hendak membunuh Ah Kai.
Wataknya yang suka menolong orang lemah, membuat ia turun tangan menolong Ah-Kai dan setelah mendengar bahwa kakek rambut panjang itu adalah Giok Seng Cu tentu saja Soan Li menjadi marah dan ingin menewaskan kakek yang kejahatana telah banyak didengarnya dari penuturan Go Ciang Le dan Liang Bi Lan, subonya.
Akan tetapi, kalau selama perantauannya Soan Li tidak pernah menemui tandingan berat adalah sekarang ia bertemu dengan batunya.
Giok Seng Cu merupakan lawan yang amat tangguh.
Hal ini baru diketahui setelah Giok Seng Cu timbul marahnya dan kakek ini mulal mengeluarkan kesaktiannya yang amat diandalkan, yakni pukulan-pukulan Tin-san-kang!
Pukulan-pukulan pertama membuat Soan Li terkejut sekali karena hampir saja pedangnya terlepas ketika lengan kanannya terkena sambaran angin pukulan itu.
Ia terkejut dan juga heran karena dalam pukulan ini, ia mengenal ilmu pukulan aneh yang pernah ia lihat dimainkan oleh Hui Lian dan yang menurut pengakuan sumoinya itu mendapat pelajaran dari Liok Kong Ji!
"Jadi kaukah guru keparat dan jahanam Kong Ji?"
Bentaknya sambil mempercepat permainan pedangnya. Giok Seng Cu tertegun dan untuk sementara ia mengendurkan serangann dan hanya mengelak saja dari samsambaran pedang yang membuatnya kewalahan.
"Di mana adanya Kong Ji?"
Tanyanya.
"Di neraka dan kau sebentar lagi akan menyusulnya!"
Bentak Soan Li dengan ketus dan memperhebat serangannya.
Giok Seng Cu salah duga.
Dikiranya Kong Ji sudah tewas oleh gadis ini, maka sambil berseru keras ia membalas serangan Soan Li dengan ilmu silat Tin-san-kang.
Pertandingan hebat dan mati-matian terjadi dengan serunya.
Soan Li gesit dan cekatan seperti seekor rajawali, pedangnya menyambar-nyambar dengan aneh dan indah, setiap saat mengintai nyawa lawan.
Sebaliknya, Giok Seng Cu teguh kuda-kudanya, tubuhnya direndahkan dan kedua kaki hanya digeser maju tanpa diangkat kadang-kadang tubuhnya seperti berjongkok dan dari kedua lengannya menyambar hawa pukulan yang seperti gelombang dahsyat.
Betapapun gesit dan cepatnya Soan Li bergerak namun ia tidak berdaya menghadapi gelombang pukulan itu.
Baru angin pukulannya saja sudah membuat pedangnya beberapa kali terpental dan kalau menyerang dan menyambar (Lanjut ke
Jilid 16) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 tubuhnya membuat napasnya menjadi sesak.
Biarpun kepandaian lawannya hebat sekali, Soan Li takkan patut mengaku diri murid Go Ciang Le kalau ia menjadi jerih.
Seperti juga Hui Lian, gadis ini tidak pernah mengenaI artinya takut hanya bedanya dengan sumoinya itu, kalau Hui Lian berwatak gembira, jenaka dan ramantis adalah watak Soan Li pendiam, tenang, dan bersungguh-sungguh.
Kini menghadapi desakan Giok Seng Cu, Soan Li tidak menjadi takut, bahkan ia penasaran dan marah.
Pedangnya dtgerakkan cepat, tiba-tiba ia berseru keras dan tubuhnya seperti seekor walet terbang melambung ke udara dan dari atas, pedangnya diputar cepat menyerang Giok Seng Cu dengan tusukan maut.
"Ayaaa...!"
Giok Seng Cu berteriak kaget sekali.
Sekarang ini datangnya tidak tersangka-sangka dan amat hebatnya sukar untuk dielakkan lagi.
Namun kakek ini yang sudah memiliki pengalaman luas dalam ratusan pertandingan, dapat mencari siasat bagaimana harus menghadapi bahaya ini dengan pihak sendiri mendapat keuntungan.
Ia merendahk tubuh, miringkan pundak dan kepala hingga pedang yang menusuk leher hanya mengenai pundaknya, mengerahkan lweekang untuk menahan tusukan berbareng kedua tangannya bekerja, memukul dengan tenaga Tin-san-kang sepenuhnya ke arah dua kaki Soan Li yang tidak terlindung.
Terdengar suara tulang patah, tubuh Soan Li terlempar jauh dan gadis ini jatuh dalam keadaan duduk, kedua kakinya tak dapat digerakkan lagi karena tulang kedua pahanya telah remuk!
Sebaliknya, pedang gadis itu telah dapat menembus pertahanan tenaga Iweekang dari Giok Seng Cu dan melukai pundak kakek itu agak dalam juga.
Giok Seng Cu terhuyung mundur, kemudian ia tertawa bergelak ketika dengan tindakan kaki perlahan dan muka menyeringai seperti iblis menghampiri gadis yang sudah tak berdaya lagi.
Akan tetapi, biarpun kedua kakinya sudah lumpuh dan ia tidak dapat lari, Soan Li dengan mukanya pucat itu masih bersiap dengan pedang di tangan, matanya memandang kepada lawannya bagaikan seekor harimau marah.
"Ha-ha-ha! Nona manis, kau hendak berdaya apa lagi? Ha, ha, bersiaplah untuk menemui setan-setan di neraka agar kau dapat memilih seorang di antara mereka menjadi kekasihmu. Ha, ha, ha!"
Giok Seng Cu tertawa bergelak sambil mengangkat muka ke atas, gemas sekali menderita luka, maka ia merasa amat puas akan dapat membunuh gadis yang telah melukainya.
Dengan kedua tangan bertolak pinggang dan air muka seperti iblis ditambah dengan suara ketawa yang mengerikan, keadaannya benar-benar menyeramkan.
Setelah merasa puas mentertawakan Soan Li, kakek ini lalu menghentikan suara ketawanya dan bersiap hendak melakukan pukulan maut.
Akan tetapi ketika ia menundukkan kepala lagi dan memandang ke depan, matanya dibuka lebar-lebar dan ia hampir tidak percaya akan penglihatannya sendiri.
Apakah yang dilihatnya?
Di hadapannya, membelakangi gadis yang masih bersimpuh dengan kedua kaki lumpuh itu, berdiri seorang muda berusia sembilan belas tahun.
Pemuda ini wajahnya sederhana saja seperti juga pakaiannya yang terbuat dari kain kasar.
Akan tetapi kesederhanaan wajah dan pakaiannya tidak menyembunyikan ketampanannya dan sepasang matanya seperti sepasang bintang yang menyinarkan pandangan tajam menembus jantung.
Pemuda ini berdiri sambil memandangnya dengan bibir tersenyum.
Adapun Soan Li setelah mengerahkan tenaga dalam untuk mengusir rasa sakit pada kedua pahanya, kini duduk tak bergerak dengan mata dipejamkan tanda bahwa gadis ini dalam keadaan samadh atau setengah pingsan.
Hanya orang yang sudah matang latihan samadhi dan pengaturan napas saja yang dapat duduk dan tidak roboh biarpun berada dalam keadaan setengah pingsan.
"Setan cilik, siapa kau?"
Pemuda Itu menjawab dengan suara yang halus dan tenang.
"Sudah tahu aku setan cilik mengapa kau bertanya lagi? Aku setan cilik yang datang mencegah iblis gede yang hendak membunuh seorang gadis tak berdaya."
Dapat dibayangkan betapa marahnya Giok Seng Cu.
Tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw tidak ada yang berani main-main dengannya, akan tetapi pemuda yang datangnya amat mengherankan itu seperti setan yang datang tanpa menimbulkan suara sehingga telinga Giok Seng Cu yang amat terlatih sekalipun tidak dapat menangkap sesuatu suara kini berani bicara main-main dengannya seperti seorang anak nakal kepada temannya.
"Kau sudah bosan hidup!"
Bentaknya marah dan biarpun pundaknya sudah terluka oleh tusukan pedang, Giok Seng Cu memaksa diri mendorong pemuda ini dengan Ilmu Pukulan Tin-san-kang!
Dalam marahnya, ia hendak bikin mampus pemuda itu dengan sekali pukul.
Giok Seng Cu terkejut sendiri melihat pemuda itu sama sekali tidak bergerak untuk menangkis atau mengelak.
Pukulannya yang dahsyat itu diterima begitu saja dengan dada terbuka!
Akan tetapi, watak yang kejam dari Giok Seng Cu tidak membuat ia merasa menyesal atau mengurangi daya pukulannya.
Ia hanya merasa geli akan ketololan pemuda itu.
"Buk""
Dada itu kena pukul dan tubuh pemuda itu bagaikan sebuah bola karet terlempar jauh, bahkan terlemparnya agak ke atas seperti bola ditendang.
Giok Seng Cu merasa betapa kepalan tangannya mengenai dada yang empuk seakan-akan dada pemuda itu tidak bertulang.
Akan tetapi ia tidak peduli karena sudah merasa pasti bahwa dada itu tentu remuk sebelah dalamnya, maka tanpa menengok lagi bagaimana keadaan pemuda yang telah dipukulnya itu, ia melangkah maju hendak turun tangan terhadap Soan Li.
Akan tetapi, ia kembali menahan langkahnya dan hampir saja ia mengelukan seruan kaget dan herannya.
Entah kapan karena ia tidak melihat gerakanya, tahu-tahu pemuda aneh yang dipukulnya tadi telah berdiri di hadapannya lagi sambil tersenyum-senyum!
"Setan gede, masih ada lagikah pukulan tahumu?
Enak sekali rasanya, pingangku yang tadinya pegal-pegal menjadi sembuh seketika.
Terima kasih,"
Kata pemuda itu.
Giok Seng Cu memandang dengan mata terbelalak.
Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti ia takkan dapat percaya.
Ia biasanya membanggakan Tin-san-kang karena merasa yakin akan keampuhan ilmu pukulan itu.
Bahkan See-thian Tok-ong sendiri takkan mampu menerima pukulannya tadi tanpa menderita luka.
Akan tetapi pemuda ini secara gaib telah datang lagi dan minta tambahan!
Bahkan mendiang suhunya sendiri, Pak Hong Siansu, takkan mungkin sanggup menerima Tin-san-kang tanpa terluka.
Entah kalau Pak Kek Siansu supeknya, karena ia tahu bahwa supeknya itu memiliki sinkang yang hebat dan kesaktian seperti seorang dewa.
Akan tetapi, mungkinkah pemuda yang belum dua puluh tahun usianya ini dapat memiliki kepandaian seperti Pak Kek Siansu?
Tidak mungkin!
Barangkali ini hanya kebetulan saja dan mungkin tadi ia kurang tepat mengerahkan tenaganya.
Ataukah tenaga Tin san-kang-nya tiba-tiba bocor dan tidak ampuh lagi?
Giok Seng Cu menggerak-gerakkan kedua lengannya.
Terdengar suara berkerotokan dari tulang-tulangnya dan ia masih merasa hawa panas mengalir di kedua lengannya, tanda bahwa hawa Tin-san kang dalam tubuhnya masih belum lenyap.
Ia masih penasaran.
Dengan sembarangan kedua tangannya digerak-gerakkan ke kanan kiri dan batu-batu yang berada di atas tanah menjadi pecah!
"Eh, setan gede.
Apakah kau sedang menjual obat dan memamerkan ilmu sulap?"
Pemuda itu mengejek lagi.
Giok Seng Cu menjadi mata gelap saking marahnya.
ia mengeluarkan bentakan keras dan kedua tangannya yang dikepal kini sekaligus menghantam dada pemuda itu.
Seperti tadi, pemuda itu tidak mengelak sama sekali.
hanya kedua kakinya tiba-tiba menegang dan ia memasang bhesi (kuda-kuda) yang kokoh kuat.
"Bukk!!"
Suara bertemunya kedua kepalan tangan dan dada kini jauh lebih nyaring dari pada tadi dan akibatnya sungguh ajaib.
Bukan pemuda itu yang dadanya hancur atau tubuhnya mencelat, sebaliknya cubuh Giok Seng Cu yang kini terpental seakan-akan sehelai daun kering tertiup angin.
Kemudian tubuhnya jatuh berdebuk ke atas tanah, debu mengepul dan Giok Seng Cu duduk dengan mata terbelalak memandang kepada pemuda itu.
Kepalanya bergoyang-goyang karena ia merasa pening sekali, telinganya mendengar suara mengiang.
Ia tahu bahwa ia telah terluka oleh hawa pukulan Tin-san-kang.
Ketika kedua tangannya bertemu dengan pemuda itu, hawa pukulannya telah bertemu dengan tenaga yang luar biasa sehingga hawa pukulannya Tin-san-kang membalik lalu menyerang tubuhnya sendiri, senjata makan tuan!
Giok Seng Cu cepat memejamkan mata dan mengatur pernapasan dan tidak lama kemudian ia dapat mengatasi dirinya.
Kalau ia terlambat melakukan usaha ini, pasti isi perutnya akan luka-luka dirusak akibat membaliknya Tin-san-kang tadi.
Setelah dirinya terbebas dari ancaman maut, Giok Seng Cu membuka mata dan menengok.
ia melihat pemuda itu telah berlutut di dekat tubuh Soan Li yang kini telah berbaring telentang.
Pemuda itu demikian sibuk menolong Soal Li sehingga sama sekali tidak mempedulikan lagi, seakan-akan sudah lupa kepadanya.
Giok Seng Cu berbangkit perlahan berdiri dan memandang ke arah pemuda itu dengan muka menyatakan kengerian hatinya seperti seekor tikus melihat kucing.
Kemudian ia melompat dan lari tunggang langgang dari tempat itu.
"Siapa dia...?"
Pertanyaan ini berulang kali mengiang di telinga hati Giok Seng Cu.
Baru kali ini selama hidupnya melarikan diri ketakutan melihat seorang pemuda yang tidak terkenal sama sekali.
Padahal pemuda itu sama sekali belum pernah menggerakkan jari tangannya untuk menyerangnya.
"Sungguh memalukan""
Giok Seng Cu mengeluh kalau teringat akan keadaannya yang memalukan.
"Siapa dia begitu lihai?"
Mengingat kembali akan wajah pemuda itu, senyumnya, matanya, ia merasa pernah bertemu dengan pemuda itu, entah di mana ia lupa lagi.
Di dalam dunia ini sudah banyak sekali.
ia bertemu orang, maka tidak ingat lagi di mana ia pernah bertemu dengan muka itu, dengan senyum yang mengejek dan membayangkan ketabahan hati, dengan sinar mata yang demikian tajam menusuk kalbu.
Siapa dia...?
"Ya, siapa dia?
Siapa pemuda yang sederhana dan sakti ini?"
Pembaca tentu dapat mengenalnya.
Benar, dia bukan lain adalah Wan Sin Hong, pemuda yang semenjak kecilnya menderita hebat tiada hentinya.
Banyak kaum arif bijaksana berkata bahwa penderitaan pahit getir yang dialami di waktu kecil, akan mendatangkan kebahagiaan di waktu tua.
Bagi Wan Sin Hong yang di waktu masih kecil menderita banyak kesengsaraan hidup, siksaan lahir batin dan beberapa kali nyawanya tergantung di sehelai rambut, memang pada masa ini tak dapat dikatakan telah menemui bahagia.
Akan tetapi tidak dapat disangkal pula bahwa ia telah mendapatkan keberuntungan yang luar biasa besarnya.
Tidak saja ia telah mewarisi isi kitab Pak Kek Siansu dan telah mempelajari sampai sempurna betul isi kitab itu, yakni Ilmu Silat Pak kek Sin-ciang dan ilmu-ilmu lweekang sehingga di dalam tubuhnya telah mengalir sinkang (hawa sakti) yang dahsyat tenaganya, akan tetapi juga ia telah matang dalam ilmu pengobatan setelah ia menjadi murid dan ahli waris dari mendiang Kwa Siucai, raja pengobatan nomor satu di dunia pada waktu itu.
Di samping itu semua, sebagaimana telah dituturkan bagian depan dari cerita ini, Sin Hong keluar dari tempat pertapaan dan berhasil bertemu dengan Lie Bu Tek ayah angkatnya.
Kemudian Lie Bu Tek yang sudah buntung lengannya itu ikut dengan Sin Hong menuju ke puncak Luliang-san dan ikut pula memasuki gua rahasia sehingga kedua orang ini berlatih dan bertapa di dalam tempat rahasia itu sampai bertahun-tahun, tanpa diketahui oleh orang lain.
Kurang lebih lima tahun Sin Hong dan Lie Bu Tek bersembunyi di tempat itu, yakni di dalam jurang tak berdasar yang berada di puncak Luliang-san, yang sebetulnya merupakan lereng tersembunyi dari bukit itu.
Kalau Sin Hong memperdalam latihan ilmu silat berdasarkan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang sehingga ia dapat memperoleh kesempurnaan dalam ilmu silat itu, adalah Lie Bu Tek juga tidak tinggal diam.
Di bawah petunjuk anak angkatnya yang kini memiliki kesaktian tinggi itu, Lie Bu Tek telah dapat merangkai Ilmu pedang baru yang tentu saja berdasarkan ilmu pedang Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu pedang ini sekarang jauh lebih kuat dan cepat, dan ilmu pedang ini adalah ilmu pedang yang khusus dimainkan oleh seorang yang buntung sebelah tangannya.
Setelah lima tahun lewat, kini Lie Bu Tek sekarang bukan Lie Tek dahulu lagi.
Biarpun kini ia hanya mainkan pedang dengan tangan kiri dan tangan kanannya yang buntung tidak dapat melakukan gerakan sebagai imbangan, namun kalau dibandingkan dengan keadaannya dahulu sebelum lengannya buntung, kiranya lima orang Lie Bu Tek dahulu dengan 1ima pasang lengan belum tentu akan dapat menangkan seorang Lie Bu Tek sekarang dengan sebuah lengan kiri saja!
Hal ini bukan karena ilmu pedangnya memang menjadi jauh lebih kuat, akan tetapi juga sebagian besar karena tenaga lwee-kangnya sudah jauh lebih tinggi daripada dahulu.
Adapun kebaikan yang didapatkan oleh Sin Hong setelah ia berkumpul kembali dengan gihunya, adalah pelajaran ilmu bathin dan nasihat-nasihat berharga yang ia terima dari ayah angkatnya, yang membuat jiwanya lebih masak lagi dan pandangannya lebih jauh.
Apalagi karena sekarang Lie Bu Tek menjalani hidup suci seperti seorang pertapa, maka tentu saja ia mengajar anak angkatnya tentang filsafat-filasafat hidup yang dalam dan amat penting bagi bekal hidup seorang muda.
"Sin Hong, pengaruh yang amat berbahaya dan yang perlu kita kekang dan kalahkan adalah pengaruh yang timbul dari dalam diri sendiri. Pengaruh perasaan dan nafsu amat jahatnya sehingga orang-orang cerdik pandai jaman dahulu selalu menyatakan bahwa mengalahkan musuh tangguh bukanlah hal yang terlalu luar biasa, akan tetapi mengalahkan diri sendiri adalah hal yang patut dikagumi karena ini menandakan sifat seorang kuncu (budiman)."
"Apakah yang Gihu maksudkan dengan mengalahkan diri sendiri itu"
Tanya Sin Hong yang ingin tahu lebih jelas tentang filsafat.
"Mengalahkan diri sendiri berarti mengalahkan segala rasa dan pikiran yang ditunggangi oleh nafsu buruk. Rasa yang bersih adalah rasa perikemanusiaan yang tidak dipengaruhi oleh nafsu, dan bertindak menurutkan rasa yang bersih itu adalah tugas seorang manusia karena rasa ini datangnya dari Thian Yang Maha Kuasa dan sifatnya suci. Rasa yang bersih ini sudah disaring oleh kesadaran sudah ditimbang oleh pertimbangan akal budi, sesuai dengan suara dan kehendak Thian yang selalu berkembang di dalam batin seorang kuncu (budiman). Sebaliknya, kalau kita tidak dapat mengekang dan mengendalikan nafsu sehingga rasa ditunggangi oleh nafsu, tindakan kita akan menyeleweng. Nafsu membutakan kesadaran melemahkan pertimbangan dan menutupi telinga batin sehingga tidak mendengar kumandang suara Thian. Nah, karena itu ingatlah selalu, Sin Hong, bahwa musuh yang paling lihai di dunia adalah diri kita sendiri. Maka berhati-hatilah, karena musuh ini bekerja dengan halus, tidak peduli kau berada di mana, tiba-tiba saja ia akan menyerang tanpa dapat kau lihat atau dengar lebih dulu."
Sampai lama Sin Hong termenung untuk menangkap sari pelajaran dari ayah angkatnya ini.
"Gihu, bagaimanakah kalau nafsu amarah timbul apabila kita melihat musuh besar kita? Bagaimana harus anak lakukan kalau ada orang telah menyakitkan hati kita?"
Lie Bu Tek diam-diam maklum ke mana maksud tujuan pertanyaan ini.
Bocah ini memang mendendam sakit hati yang amat besarnya.
Ayah bundanya dibunuh orang, kemudian semenjak kecilnya telah mengalami berbagai hal yang menimbulkan sakit hati.
Peristiwa di Hoa-san-pai, terbunuhnya Liang Gi Tojin, terbuntungnya lengan tangan Lie Bu Tek sendiri, lalu perbuatan Liok Kong Ji sebagai siksaan yang diderita dan percobaan pembunuhan oleh orang-orang Im-yang-bu-pai, kemudian usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Giok Seng Cu kepadanya, semua itu merupakan pengalaman pahit getir yang tentu telah melukai hati anak ini, yang dapat menimbulkan dendam dan sakit hati yang amat mendalam.
"Sin Hong, dendam dan sakit hati juga timbul dari nafsu, atau lebih tepatnya itu adalah nafsu yang berganti rupa. Oleh karena itu, kita jangan terseret olehnya dan kita harus lebih mendengarkan suara batin yang disaring oleh kesadaran dan pertimbangan. Menurutkan suara dendam dan sakit hati secara buta, sama halnya dengan menutup mata dan membiarkan kita terseret oleh seekor kuda liar. Bagiku, kalau ada balas membalas yang harus dilakukan, maka hanya budi kebaikan saja yang kita harus balas. Budi kebaikan yang sudah dilepas orang kepada kita, harus kita ingat selalu dan kita balas sedapat mungkin. Ada pun tentang sakit hati, kalau sekiranya kita yang disakiti orang dan hal itu sudah lampau, tiada gunanya kita balas dengan kejahatan pula."
Sin Hong nampak tidak puas.
"Akan tetapi Gihu, apakah perbuatan manusia manusia jahat yang dilakukan kepada kita itu tidak harus kita balas? Apakah kejahatan mereka itu harus didiamkan saja? Kalau begitu akan tidak ada guna kita belajar ilmu kepandaian, Gihu."
Lie Bu Tek tersenyum, senyum ramah yang sekaligus mendinginkan otak Sin Hong yang panas.
"Sin Hong. Nabi pernah berkata bahwa kebaikan harus kita balas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus ditindas dengan keadilan! Untuk menanggulangi kejahatan, tidak baik dipakai istilah membalas atau balas dendam. Kalau orang berbuat jahat kepada kita lalu kita balas, bukankah itu berarti bahwa kita pun ketularan dan menjadi jahat? Tidak, Sin Hong. Kita harus sadar dan kita harus mempergunakan keadilan. Sudah tentu kewajiban orang gagah adalah membasmi kejahatan, akan tetapi ingat perbuatan ini sama sekali lain artinya dengan pembalasan. Kalau kita membasmi seorang penjahat tak baik kalau kita lakukan dengan dasar bahwa orang itu merugikan atau menjahati kita akan tetapi kita lakukan dengan dasar bahwa orang itu berbahaya untuk umum dan bahwa membasmi orang itu akan berarti keamanan bagi umum. Sebaliknya kalau orang yang tadinya kita anggap jahat kemudian ternyata bahwa ia telah berubah baik dan telah sadar akan kesesatannya, kita tidak berhak membunuhnya."
Sin Hong mengerti akan isi dari pada pelajaran ini, namun ia masih bingung karena dalam mengajukan pertanyaan tadi, ia teringat akan musuh-musuhnya yang demikian banyaknya.
"Gihu bagaimana pandangan Gihu tentang musuh?"
"Sin Hong yang punya musuh hanyalah negara. Bagi kita, tidak ada gunanya sama sekali. Thian melahirkan manusia-manusia untuk saling bekerja sama dan bersatu. Oleh karena itu, bagiku, seribu orang sahabat baik masih terlampau sedikit, sebaliknya, seorang musuh sudah terlampau banyak. Kalau kita berjuang membela negara kita memang sudah seharusnya membasmi musuh negara, bukan berdasarkan kebencian kita terhadap mereka sebagai manusia terhadap manusia, melainkan berdasarkan tugas suci kita sebagai pembela negara (patriot) terhadap musuh negara. Dengan selalu mengekang nafsu, segala perbuatan kita tidak ditunggangi oleh nafsu, melainkan perbuatan yang dilakukan penuh kesadaran dan perhitungan."
"Anak mulai mengerti dan terbuka mata anak oleh uraian Gihu. Akan tetapi, bagaimana aku harus bersikap terhadap seorang seperti Ba Mau Hoatsu yang telah membunuh Ayah Bundaku?"
"Ba Mau Hoatsu semenjak dahulu memang jahat. Entah berapa banyak manusia tidak berdosa yang menjadi korban kejahatannya. Kalau sampai sekarang dia tidak berubah dan masih jahat, jangankan dia membunuh Ayah Bundamu, biarpun tidak demikian, sudah menjadi kewajibanmu untuk membasmi dia demi menolong orang-orang lemah yang selalu menjadi korban."
"Bagaimana dengan Kong Ji manusia hianat itu, Gihu?"
Lie Bu Tek menarik napas panjang.
"Anak itu di waktu kecilnya memang telah memperlihatkan watak yang luar biasa kejamnya. akan tetapi kita harus menaruh hati kasihan kepadanya. Kasihan bahwa sekecil itu ia telah tersesat. Memang kalau menurutkan nafsu hati, aku dan kau yang sudah menjadi korban kekejiannya di waktu kecil, sudah sepatutnya kalau kau membalasnya. Akan tetapi ini tidak tepat, berlawanan dengan kebajikan. Kalau kelak kau bertemu dengannya dan ia sudah menjadi pemuda dewasa yang baik dan berwatak gagah sudah dapat merubah wataknya yang buruk, tidak benarlah kalau kau masih menaruh dendam kepadanya. Kita harus menyediakan banyak maaf kepada mereka yang memang patut dimaafkan, dan boleh turun tangan kepada si jahat bukan untuk kepentingan diri pribadi atau menurutkan nafsu hati sendiri, melainkan untuk kepentingan umum."
Demikianlah, seringkali Sin Ho mendapat nasihat-nasihat dari Lie Bu Tek yang sudah banyak mengalami pahit-getir hidup.
Sin Hong tahu akan kematangan pengalaman ayah angkatnya, karenanya ia selalu mencatat semua pesan gihunya ini di dalam hati.
Tentu saja sebagai seorang pemuda yang memiliki kecerdikan dan pandangan luas, ia tidak menelan mentah-mentah semua nasihat ini, melainkan ia olah di dalam kepala dan ia pertimbangkan untuk diambil mana yang dirasa tepat dan dipertimbangkan kembali mana yang dirasa kurang cocok.
Sesuai pula dengan pendapat Lie Bu Tek di antara semua tugas dan keharusan, ia merasa berhutang budi kepada Kiang Cun Eng ketua Hek-kin-kaipang.
"Budi kebaikan Kiang-pangcu terhatapmu itu harus selalu kau ingat di dalam hatimu, Sin Hong. Kewajibanmulah untuk mencari dia dan untuk membelanya seperti kau membela orang tuamu sendiri,"
Demikian Lie Bu Tek sering kali berkata.
Setelah lima tahun bersembunyi di tempat itu dan Sin Hong merasa bahwa pelajarannya sudah tamat, anak dan ayah angkat ini lalu keluar dari tempat tersembunyi itu dan turun gunung.
Tugas pertama yang mereka lakukan adalah mencari keterangan tentang Hek-kin-kaipang dan mencari tahu di mana tinggalnya Kiang Cun Eng.
Amat mudah mencari Hek-kin-kaipang oleh karena kumpulan ini mempunyai anak buah banyak tempat.
Dan Lie Bu Tek sudah terkenal baik oleh para pengemis Hek kin-kaipang, maka ketika ia berjumpa dengan mereka diberi tahu bahwa tak lama lagi akan diadakan pemilihan ketua baru.
Karena Bi-nam-bun masih amat jauh, kedua orang ini cepat-cepat melakukan perjalanan ke tempat itu agar jangan sampai terlambat menyaksikan pemilihan ketua baru.
Akan tetapi, betapapun pandai mereka mempergunakan ilmu berlari cepat karena jarak antara Luliang-san dan Bi nam-bun masih dua ribu li lebih, mereka terlambat juga.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka datang pada saat Giok Seng Cu mengejar-ngejar Gak Soan Li.
Setelah dekat dengan Bi-nam-bun dan mendapat kenyataan bahwa mereka datang tepat pada hari diadakannya pemilihan ketua Hek-kin-kaipang, Sin Hong menjadi tidak sabar.
Atas perkenan Lie Bu Tek, ia lalu mengerahkan kepandalanya dan sebentar saja ia telah meningalkan Lie Bu Tek sampai jauh.
Memang, dibandingkan dengan dulu, Lie Bu Tek sudah mendapat kemajuan luar biasa.
Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan Wan Sin Hong, dalam segala bidang ilmu silat masih kalah jauh sekali.
Tubuh Wan Sin Hong berkelebat cepat dan sebentar saja Lie Bu Tek sudah tak melihat bayangannya lagi.
Pendekar yang buntung lengannya ini menarik napas panjang dan bibirnya bergerak-gerak mendoa.
"Sin Hong telah memiliki kepandaian yang luar biasa. ia telah menjadi seorang sakti, kiranya lebih hebat danipada Ciang Le. Semoga ia tidak akan tersesat dan dapat tetap mengikuti jalan kebenaran,"
Demikianlah mengapa Sin Hong dapat bertemu dengan Giok Seng Cu yang sedang menghajar Soan Li dan dengan kepandaiannya yang istimewa Sin Hong berhasil mengalahkan Giok Seng Cu bahkan membikin kakek itu menjadi jerih dan lari ketakutan!
Sin Hong tidak tahu bahwa kakek itu adalah Giok Seng Cu yang dulu melemparnya ke dalam jurang.
Ia hanya menduga bahwa kakek itu seorang jahat yang hendak membunuh gadis itu, maka ia turun tangan dan hanya mengusir kakek itu.
Ia belum tahu akan duduknya perkara mengapa kakek itu hendak membunuh Soan Li, maka ia tidak berani berlaku lancang membunuh kakek tadi.
Ketika kakek itu pertama kali memukul, ia mengerahkan tenaga dan hawa sinkang tubuhnya membuat dadanya menjadi lunak dan lemas.
Tenaga "Im"
Yang amat kuat telah menghisap pukulan Tin-san-kang sehingga biarpun tenaga pukulan itu membuat tubuhnya terlempar jauh namun ia tidak terluka sedikitpun.
Sin Hong juga terkejut sekali menyaksikan tenaga pukulan yang demikian dahsyat dan ganasnya.
Ketika tubuhnya terlempar, cepat mempergunakan ginkang, berpoksai (berjungkir balik) di udara dan meluncur cepat kembali menghadapi Giok Seng Cu.
"Kakek ini ganas sekali,"
Pikirnya.
"begitu bertemu telah tega memukulku dengan tenaga yang dapat mematikan siapa saja yang terpukul."
Oleh karena itu, ketika kakek itu memukul dadanya untuk kedua kalinya, ia sengaja mengerahkan tenaga "Yang"
Dan hawa sinkangnya yang sudah kuat sekali itu ternyata dengan mudah dapat menahan tenaga Tin-san-kang lawan, bahkan dapat mengembalikan tenaga pukulan itu kepada si pemukul sendiri!
Setelah melihat kakek itu terluka oleh pukulannya sendiri, Sin Hong menengok ke arah Soan Li.
Pemuda ini setelah mewarisi kepandaian dari kitab pegobatan dari Kwa Siucai, sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis yang duduk setengah ptngsan itu menderita luka hebat.
Cepat ia berlutut dan dengan halus ia menolak tubuh Soan Lt sehingga gadis itu berbaring terlentang.
Sin Hong memeriksa urat nadi, tahu bahwa gadis ini mendenta tulang patah di kedua paha.
Cepat ia menotok jalan darah di punggung nona itu untuk mematikan rasa sakit pada kedua paha kemudian dengan mengurut belakang leher, nona itu siuman kembali dari pingsannya dan mengeluarkan suara keluhan.
Begitu ia membuka kedua matanya dan melihat seorang pemuda berjongkok di dekatnya, pemuda yang tersenyum dan memiliki mata seperti bintang, dengan gerakan otomatis Soan Li menggerakkan tubuh dan biarpun kedua kakinya sudah Iumpuh akan tetapi kedua tangannya masih dapat melakukan pukulan dahsyat ke arah dada Sin Hong.
Sin Hong cepat berseru.
"Eh, jangan pukul, Nona. Aku hanya bermaksud menolong!"
Sambil berkata demikian, ia memasang tenaga sinkang ke arah dada.
Kepalan tangan Soan Li yang hampir mengenai dada itu ditahan oleh gadis ini setelah ia mendengar seruan Sin Hong akan tetapi ia hanya dapat mengurangi tenaga saja, sudah tidak keburu menarik pulang tangannya.
Kepalan tangannya sudah menyentuh pakaian, akan tetapi tiba-tiba kepalan tangan itu menyeleweng dan tidak mengenai dada orang yang dipukul.
Soan Li terheran-heran, akan tetapi ia hanya mengira bahwa tenaganya yang sudah habis setelah menderita luka oleh Giok Seng Cu.
ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda yang bersahaja dan seperti seorang pemuda dusun itu memiliki kepandaian.
Muka gadis itu menjadi merah sekali.
"Maaf, aku sungguh bodoh dan tak kenal budi. Di mana Giok Seng Cu?"
Sin Hong terkejut mendengar nama ini, akan tetapi ia dapat menguasai perasaannya sehingga pada mukanya ia tidak tampak perubahan sesuatu. ia memang tidak menyangka bahwa kakek tadi dalah Giok Seng Cu.
"Giok Seng Cu?"
Tanyanya perlahan.
"Ya, manusia siluman yang tadi hampir membunuhku. Di mana dia?"
Sin Hong menengok ke arah kakek tadi melarikan diri.
Ia merasa kecewa sekali mengapa tadi ia membiarkan kakek itu lari.
Kalau ia tahu bahwa kakek tadi adalah Giok Seng Cu, tentu ia takkan membiarkan musuh besar itu melarikan diri.
Ia telah mendapatkan alasan kuat untuk menewaskan Giok Seng Cu, yakni karena kakek itu tadi hendak membunuh gadis ini.
"Kakek yang buruk rupa tadi?"
Katanya menjawab pertanyaan gadis cantik ini.
"Dia telah melarikan diri"
Soan Li memandang dengan heran "Tidak bohongkah kau, sobat?"
"Bohong?"
Aku...? Mengapa harus bohong?"
Sin Hong memandang dengan sinar mata tajam.
Ditatap sedemikian rupa oleh pemuda yang bermata bintang ini, tiba-tiba Soan Li menundukkan mukanya.
Ada sesuatu memancar keluar dari sepasang mata itu yang membuat gadis ini berdebar hatinya.
"Maaf, bukan maksudku menghinamu. Akan tetapi orang macam Giok Seng Cu kiranya takkan melarikan diri dengan mudah. Dia amat terlampau lihai untukku. Bagaimana dia bisa melarikan diri? Siapa yang membikin dia lari"?"
Sin Hong mengangkat pundak.
"Entahlah, mungkin ia takut dan menyesal akan perbuatannya sendiri setelah kau pingsan, Nona, dan ia melarikan diri melihat aku datang. Tentu ia takut kalau-kalau perbuatannya dilihat oleh orang lain."
Keterangan yang sederhana ini terdengar lucu oleh Soan Li sehingga ia tersenyum.
Sin Hong memandang kagum.
Bagaimana dalam keadaan terluka hebat gadis ini masih dapat tersenyum?
"Sobat, kau benar-benar belum tahu apa adanya kakek siluman tadi,"
Kata Soan Li sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Manusia macam dia mana kenal rasa menyesal atas perbuatan sendiri dan kenal takut? Membunuh manusia baginya seperti membunuh semut saja."
"Hebat...."
Sin Hong memperlihatkan muka ketakutan. Soan Li menarik napas panjang.
"Kau benar-benar tidak mengenal dunia kang-ouw, sobat. Alangkah bahagaanya menjadi seorang seperti engkau. Tak usah mengenal segala orang jahat, tak usah berurusun dengan segala kecurangan dan kekerasan, hidup bertani dan musuhmu hanya sawah ladang dan tanah subur. Kau tentu seorang petani, bukan? Bolehkah aku mengetahui namamu?"
Warna merah menjalar ke pipi Sin Hong. Diam-diam ia menjadi geli, akan tetapi ia tidak ingin memperkenalkan diri, maka ia mengangguk dan menjawab lirih.
"Aku seorang bodoh, aku... namaku dipanggil orang Gong Lam (Pemuda Tolol)."
Soan Li mengerutkan alisnya yang berbentuk indah.
"Ah, terlalu sekali orang yang menyebutmu demikian. Wajahmu sama sekali tidak kelihatan tolol."
"Memang aku tolol."
"Betul-betulkah kau tidak bisa apa-apa?"
Sin Hong menggeleng kepala dengan diam-diam ia kagum sekali melihat betapa gadis yang sudah patah kedua tulang pahanya ini dengan segala kekerasan hati melupakan rasa sakitnya.
ia maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang memillki kekuatan batin dan daya tahan yang luar biasa.
"Sayang,"
Kata Soan Li.
"kalau begitu kau tentu tidak bisa menolongku. Aku... aku terluka hebat dan tentu akan tewas di tempat ini kalau tidak ada yang menolongku. Sedikitnya kau tentu bisa mencarikan orang lain yang dapat menolong bukan? Misalnya membawaku ke sebuah kota terdekat agar aku dapat berobat."
"Kau kenapakah?"
"Kedua tulang pahaku remuk...."
Mau tidak mau biarpun ia sudah mengeraskan hatinya suara Soan Li agak gemetar ketika ia mengucapkan kata-kata ini.
Gadis mana yang takkan hancur hatinya mengingat bahwa kedua tulang pahanya telah remuk dan mungkin sekali selama hidupnya ia akan menjadi seorang gadis lumpuh.
"Aku akan mengobatinya, Nona."
Soan Li menggerakkan kepalanya cepat sekali.
Ia memandang dengan mata tajam bersinar, menatap muka yang tampan itu sampai lama.
Akan tetapi ia melihat muka itu tetap tenang dan sederhana dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu main-main atau berotak miring.
"Gong Lam-ko... kau tidak main-mainkah?"
Sin Hong dalam hatinya tersenyum merasa lucu mendengar panggilan itu.
Gadis ini menyebutnya Gong Lam-ko (Kakak Gong Lam), tentu hanya untuk menyatakan hormat sebagaimana layaknya seorang gadis yang tahu adat.
"Siapa berani main-main terhadapmu Nona? Ketahuilah, aku... aku sudah semenjak kecil mempelajari kepandaian menyambung tulang patah. Ini perlu sekali. Banyak kaki kerbau di dusun patah kakinya dan kalau seorang dusun tidak pandai menyambung tulang kerbau yang patah, ia akan menderita rugi besar. Lenyap rasa heran di dalam hati Soan Li, akan tetapi ia menghela napas kecewa.
"Tentu saja kau pandai menyambung tulang kerbau yang patah. Akan tetapi, kakiku bukan kaki kerbau. dan pula, kedua tulang pahaku bukan hanya patah, melainkan remuk oleh pukulan lihai dari Giok Seng Cu. Tidak ada harapan lagi..."
Di hadapan orang lain, biar sampai mati Soan Li yang berhati baja ini takkan sudi menangis.
akan tetapi di depan pemuda dusun ini, ia tidak malu-malu lagi dan bertitiklah dua butir air mata ke atas pipinya.
Sin Hong menjadi kasihan sekali.
"Percayalah, Nona. Aku sanggup mengobati kedua kakimu. Pernah dahulu kerbau kampungku ada yang kakinya remuk dan aku pun berhasil mengobatinya sampai sembuh sama sekali."
Soan Li tentu saja tidak percaya dalam hatinya, akan tetapi melihat muka yang bersungguh-sungguh itu, ia tidak tega untuk menyatakan ketidakpercayaannya. Ia tersenyum dan berkata.
"Kau baik sekali, Saudara Lam."
Tidak mau menyebut Gong Lam dan sengaja melenyapkan nama Gong yang yang artinya tolol. Dengan menyebut Saudara Lam berarti Saudara Pemuda"
"Boleh aku mencobanya menyembuh kan kedua kakimu, Nona"
"Tentu saja boleh,"
Kata Soan Li sambil memandang ke arah kedua kakinya yang dilonjorkan dan sama sekali tak dapat digerakkan.
Baru sekarang ia teringat dan merasa heran sekali mengapa kedua kakinya tidak menderita rasa sakit yang hebat.
ia mengerahkan tenaga dalam dan menyalurkan darah ke arah kaki, akan tetapi tiba-tiba ia menjad pucat.
Ia tidak berhasil dalam usahanya ini.
"Celaka..."
Dan gadis ini menangis! "Eh, eh, kau kenapa Nona?"
"Kakiku... sepasang kakiku sudah mati. biarpun tulang-tulangnya dapat disambung, tiada gunanya lagi. Darahnya sudah tidak dapat mengalir ke bawah..."
Sin Hong tentu saja tahu mengapa demikian.
Dia sendiri yang tadi menotok jalan darah dan menghentikan alian darah besar ke arah kedua kaki sehingga biarpun kedua kaki itu masah dialiri darah, hanya melalui urat-urat kecil untuk menahan daya hidup daging dan kulit saja, akan tetapi menghilangkan segala kekuatan gerak.
"Seorang gagah tidak mudah putus asa..."
Soan Li tiba-tiba berhenti menangis, merasa terpukul dan malu sekali. Dengan mata bersinar ia bertanya.
"Saudara Lam. kau tahu apa tentang orang gagah?"
Sin Hong merasa telah terlanjur bicara, maka ia segera melanjutkan.
"Aku hanya mendengar dari dongeng-dongeng orang kampung bahwa seorang gagah tak pernah mengeluarkan keluhan. Pernah aku mendengar dongeng tentang orang gagah yang dibuka kulit lengannva, diketok, kerik dan disambung tulang lengannya semua ini dakerjakan oleh tabib sedangkan orang gagah itu mengobrol sambil minum arak dan ketawa-ketawa!"
"Kau benar, Saudara Lam. Aku pun dapat menahan rasa sakit. Akan tetapi betul-betulkah kau sanggup mengobati kakiku?"
"Kita coba dan lihat saja, Nona."
"Baik, kau mulailah!"
Akan tetapa, ketika hendak turun tangan, San Hong nampak ragu-ragu dan tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali Melihat keraguan ini, Soan Li curiga.
"Eh, mengapa kau tidak lekas-lekas mulai?"
"Aku... ak... ah, ketahuilah, Nona. Sebuah kaki kerbau tak pernah ditutup oleh celana sedangkan kakimu...."
Muka Soan ia juga mendadak berubah merah sekali sampai ke telinganya. Akan tetapa ia memaksa diri tertawa dan berkata.
"Tolol dalam hal seperti ini, siapa peduli akan segala aturan yang sungkan?"
Kemudian ia teringat akan sebutan dan ditambahkannya cepat-cepat.
"Maaf, aku tidak maksudkan kau tolol..."
Sin Hong tersenyum.
"Tidak apa, Nona. Memang aku tolol. Memang benar kata-katamu, tidak seharusnya kita berlaku sungkan-sungkan, karena bukankah aku bermaksud mengobatimu? Nah, maaf aku harus memegang kedua kakimu tanpa dihalangi oleh kain ini."
Sambil berkata demikian, dengan kedua tangan yang cekatan ia mulai menggulung pipa celana dari kedua kaki gadis itu ke atas sampai di paha!
Dalam melakukan ini, beberapa kali ia harus mengerahkan tenaga batin untuk mengusir perasaan aneh dan untuk menekan jantungnya yang hendak melakukan tarian loncat-loncatan.
Selama hidupnya belum pernah Sin Hong mengalami perasaan seperti saat itu.
Selama hidupnya pula baru pertama kali melihat sepasang kaki yang bentuknya mungil, kulit yang demikian putih dan halus.
Apalagi ia terpaksa harus menjamahnya!
Kalau saja pemuda ini tidak memiliki tenaga batin yang kuat, kalau saja lweekangnya tidak amat tinggi, tentu sepuluh jari tangannya akan gemetaran.
Sebaliknya, Soan Li juga mengalami hal yang selama hidupnva belum pernah ia alami sekalipun dalam mimpi belum.
pernah ia merasa harus memperlihatkan kedua kaki sampai ke paha di depan mata seorang pemuda, apalagi harus dijamah dan bahkan dipijat-pijat!
Setelah memegang kedua paha gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa tulang kedua paha itu benar-benar telah remuk, Sin Hong tidak ragu-ragu lagi dan lenyap rasa malu dan sungkannya.
Ia cepat mempergunakan kepandaiannya yang ia warisi dari Kwa Saucai untuk membereskan letak hancuran tulang-tulang paha itu sehingga pulih kembali biarpun masih dalam keadaan retak-retak.
Kemudian ia lalu mengeluarkan bungkusan obat, mencampurnya dengan arak yang ia selalu bawa dalam guci arak.
Dengan obat campuran ini ia menggosok-gosok kedua paha itu dan ketika ia melihat wajah Soan Li menjadi pucat, giginya menggigit bibir dan beberapa titik air mata membasahi pipi, Sin Hong kagum sekali.
Ia tahu setelah menggosok paha itu, darah mulai jalan kembali dan sakitnya bukan main.
Akan tetapi tidak sedikit pun keluhan keluar dari mulut gadis itu.
Benar-benar seorang gadis yang berhati baja pikirnya.
Setelah selesai, Sin Hong tanpa ragu-ragu lagi lalu merobek sebuah bajunya yang dari buntalan, lalu membalutnya kedua paha itu dengan erat.
Lalu dibantunya gadis itu menurunkan gulungan kaki celana kembali bahkan ia memasang sepatu yang tadi dilepas.
Wajah Soan Li sebentar merah sebentar pucat, merasa geli dan seluruh bulu di tubuhnya meremang kalau ia mengingat bagaimana seluruh kakinya diraba-raba oleh pemuda tampan ini.
Setelah itu, Sin Hong lalu mengeluarkan obat bubuk, dicampurnya dengan arak lalu disuruhnya Soan Li meminumnya.
Bagaikan seorang anak kecil Soan Li minum obat itu tanpa bertanya lagi.
Ia segera merasa heran dan memandang kepada Sin Hong dengan mata kagum, karena begitu minum obat, semua rasa sakit lenyap dan kedua pahanya yang tadi terasa panas dan linu kini menjadi dingin seperti dimasukkan dalam air dingin.
"Seperti juga kerbau-kerbau yang telah kautolong, aku menghaturkan banyak terima kasih, Lam-ko. Kau benar-benar seorang tabib yang pandai."
Sin Hong tersenyum.
"Itu tandanya bahwa kau sudah menaruh kepercayaan besar sekali kepadaku, Nona. Padahal kau belum tahu apakah pengobatan ini benar-benar akan dapat menyembuhkan kedua kakimu atau tidak."
"Aku percaya sepenuh hatiku. Kau bukan orang yang kelihatan seperti seorang penipu. Sampai berapa lamakah kiranya aku akan dapat berjalan kembali?"
"Tubuhmu kuat sekali. Nona. Dalam waktu dua minggu kau pasti akan dapat berjalan seperti biasa. Sekarang bolehkah aku mengetahui namamu dan mengapa kau sampai bertempur dengan kakek tadi?"
"Aku Gak Soan Li dan aku bertempur dengan Giok Seng Cu karena melihat dia mengejar dan hendak membunuh seorang pengemis yang sudah kalah olehnya. Seandainya aku tidak melihat dia mendesak orang tentu akan menyerangnya juga, karena dia adalah musuh besar dari Guruku."
"Siapakah gurumu, Nona? Kau memiliki tubuh kuat, memiliki kepandaian tinggi, tentu gurumu seorang dewa."
Soan Li tersenyum.
"Biarpun bukan dewa, guruku tentu akan dapat merobohkan Giok Seng Cu. Guruku adalah Hwa I Enghiong Go Ciang Le."
Ketika itu, Sin Hong baru memberes-bereskan bungkusan obat.
Mendengar nama Go Ciang Le hampir saja guci arak yang sedang dipegangnya terlepas dari pegangannya.
Hatinya berdebar keras.
Tak disangkanya bahwa ia telah menolong nyawa murid dari Go Ciang Le, pendekar besar yang selama ini disebut-sebut oleh Lie Bu Tek, pendekar besar yang menjadi murid Pak Kek Siansu dan yang boleh dibilang masih terhitung suhengnya juga.
Dia mendengar bahwa Go Cilang Le adalah murid terpandai Pak Kek Siansu.
Biarpun ia ingin sekali bertemu muka dengan suhengnya akan tetapi ada sedikit tidak senang kepada pendekar ini, yaitu mengapa selama ini pendekar itu tidak muncul tidak membantu Hoa-san-pai dan Luliang-pai yang diobrak-abrik orang jahat.
"Kau sendiri hendak ke mana, Nona?"
"Aku seorang perantau yang tidak mempunyai tempat tujuan tertentu. Akan tetapi karena selama dua minggu aku tak akan dapat bergerak, aku akan merasa berterima kasih sekali kalau kau mau mencarikan kendaraan atau pemikul tandu agar aku dapat dibawa ke kota terdekat untuk beristirahat di dalam rumah penginapan,"
Kata Soan Li.
"Aku akan usahakan itu, Nona. Akan tetapi kau tunggulah sebentar, aku akan memanggil Gihu yang menanti di luar hutan ini. Baiknya kau menanti di bawah pohon itu agar jangan terserang panas."
Tanpa menanti jawaban Sin Hong lalu membungkuk dan memanggul tubuh Soan Li dipondongnya lalu diletakkan ke bawah sebatang pohon besar.
Kembali berdebar hati Soan Li ketika ia dipondong oleh sepasang lengan yang kuat dan yang gerakannya halus dan sopan itu.
Seketika itu juga jatuhlah hatinya dan ia menyerahkan hatinya bulat-bulat kepada pemuda dusun yang serhana ini.
Ia merasa begitu aman dan senang sehingga hampir saja ia menyandarkan kepalanya di pundak Sin Hong.
Hanya kesopanan yang mencegahnya dan sebaliknya ia hanya memandang kepada Sin Hong dengan mata penuh kasih dan hutang budi.
Namun, mana Sin Hong dapat mengerti ini semua?
Dalam hal hubungan dengan wanita, ia masih hijau dan tidak mengerti apa-apa.
Setelah menurunkan tubuh Soan Li sehingga duduk bersandar pohon, Sin Hong lalu berjalan pergi, menuju ke tempat dimana Lie Bu Tek dan dia datang.
Ia sudah merasa terheran-heran mengapa ayah angkatnya belum juga tiba di tempat itu.
Memang betul bahwa tadi ia meninggalkan Lie Bu Tek dan berlari cepat akan tetapi Lie Bu Tek juga bukan orang lemah dan kini ilmunya berlari cepat sudah amat maju.
Hati Sin Hong mulai tidak enak dan setelah ia pergi agak jauh ia lalu mempergunakan ilmu lari cepat.
Baru saja tiba di luar hutan dari jauh ia sudah melihat pemandangan yang membuat hatinya gelisah.
Ia melihat gihunya tengah bertempur hebat dengan seorang pengemis yang mempergunakan tongkatnya secara istimewa sekali.
Baiknya gihunya telah memperdalam ilmu pedangnya selama lima tahun di dalam dasar jurang di Luliangsan sehingga biarpun hanya bertangan kiri namun Lie Bu Tek dapat mendesak lawannya yang aneh itu.
Selama bertempur, pengemis itu mengeluarkan suara ah-ah uh-uh dan dari sini saja Sin Hong yang sudah mempelajari ilmu pengobatan tahu bahwa orang itu tentulah seorang yang bisu.
Bagaimana Lie Bu Tek tahu-tahu dapat bertempur dengan orang itu?
Para pembaca tentu dapat menduga bahwa orang itu adalah Ah Kai pengemis bisu yang merampas tongkat pusaka Hek-kin-kaipang dan yang baru saja terlepas dari desakan Giok Seng Cu, tertolong oleh Gak Soan Li.
Memang demikinlah.
Ketika Lie Bu Tek mengejar pureranya untuk segera tiba di Bi-nam-bun untuk mengunjungi Kiang Cun Eng, tiba-tiba ia melihat seorang berlari cepat dari jurusan depan, nampaknya tergesa-gesa dan mencurigakan.
Setelah mereka saling mendekati, Lie Bu Tek melihat longkat yang dipegang orang itu adalah tongkat pusaka Hek-kin-kaipang yang pernah ia lihat dahulu berada di tangan Kiang Cun Eng.
Timbul kecurigaan di hati Lie Bu Tek.
Orang ini sudah membawa tongkat pusaka perkumpulan pengemis itu, padahal yang memegang tongkat hanya ketuanya.
Andaikata orang ini, dipilih menjadi ketua baru, tak mungkin sekarang berlari-lari seperti orang dikejar setan.
Tak salah lagi orang ini tentu telah mencuri, atau merampas tongkat pusaka itu.
Apalagi ketika ia lihat bahwa orang ini tidak memakai sabuk hitam sebagai tanda dari anggauta Hek-kin-kaipang.
Cepat ia melompat dan menghadang Ah-Kai.
"Sahabat perlahan dulu! Siapakah sahabat dan mengapa berlari-lari membawa tongkat Hek-kin-kaipang? Kalau tidak dapat memberi jawaban yang tepat, terpaksa kau harus meninggalkan tongkat pusaka itu kepadaku untuk kubawa ke Bi-nam-bun."
Ah Kai dapat mengerti ucapan orang biarpun ia sendiri tidak dapat bicara.
Memang ia bukan bisu tuli, kedua telinganya masih dapat bekerja baik.
Mendengar ucapan Lie Bu Tek dan melihat betapa orang ini hanya memiliki sebelah tangan ia menjadi curiga.
Disangkanya bahwa Lie Bu Tek tentu seorang tokoh kangouw yang datang hendak memperebutkan kedudukan pangcu dari Hek-ki kaipang.
Ketika itu ia sedang terburu-buru untuk menjauhkan diri dan Giok Seng Cu.
ia maklum bahwa biarpun tadi telah ditolong oleh seorang dara perkasa, namun dara itu bukan tandingan Giok Seng Cu dan tak lama kemudian Giok Seng Cu pasti akan melanjutan pengejarannya.
Ia tidak mau diganggu dan diperlambat larinya, maka tanpa banyak cakap ia mengayun tongkatnya, memukul ke arah pundak Lie Bu Tek.
Lie Bu Tek terkejut melihat gerakan serangan itu aneh dan cepat, maka segera melompat ke samping.
Tahu bahwa pengemis itu memiliki kepandaian tinggi, ia lalu mencabut pedang dengan tangan kirinya dan sebentar kemudian dua orang itu telah bertempur seru.
Kalau Lie Bu Tek merasa terheran-heran dan kagum akan kelihaian ilmu tongkat lawannya, adalah Ah Kai menjadi penasaran dan gemas sekali.
Tak disangkanya bahwa hari itu ia akan bertemu dengan demikian banyaknya orang pandai yang kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.
Berkali-kali ia mengeluarkan suara ah-ah uh-uh untuk mencegah Lie Bu Tek mendesaknya, akan tetapi tentu saja pendekar buntung itu tidak mengerti dan bahkan mendesak cepat untuk mendapat kesempatan merampas tongkat yang disangkanya telah dibawa lari oleh pengemis ini.
Pada saat Sin Hong tiba di tempat itu, Ah Kai dan Lie Bu Tek sudah bertempur delapan puluh jurus lebih dan Ah Kai makin lama makin terdesak karena ia merasa kalah dalam kekuatan lwe-kang menghadapi pendekar buntung itu.
Ia mengirim tusukan cepat ke arah jalan darah maut di dada kira lawan dan ketika Lie Bu Tek mengelak ke belakang Ah Kai lalu melompat dan melarikan diri.
"Pencuri tongkat, kau hendak lari kemana?"
Lie Bu Tek berseru dan mengejar.
Tiba-tiba Ah Kai membalikkan tubuhnya dan sebatang piauw meluncur ke arah dada Lie Bu Tek.
Pendekar Buntung ini mengangkat tangan kiri dan menangkis dengan pedangnya, lalu melompat dan mengirim serangan lagi secepat kilat.
Ah Kai mengeluarkan seruan kaget, tongkatnya bergerak laksana ular terinjak ekornya.
Gerakannya berlenggak-lenggok dan sukar sekali.
diikuti atau diduga ke mana arah serangannya sehingga tahu-tahu ujung tongkat pusaka itu telah meluncur mengancam leher Lie Bu Tek.
Pendekar ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat merebahkan diri ke belakang dengan keringat dingin membasahi jidat.
Serangan si Bisu tadi benar-benar tak terduga dan hebat.
Ketika Ah Kai yang marah itu menubruk, Lie Bu Tek menangkis dengan pedang dan mereka melanjutkan pertempuran.
"Gi-hu, mengapa kau serang dia?"
Sin Hong berseru setelah is tiba dekat pertempuran.
"Tongkat itu adalah tongkat pusaka lek-kin-kaipang!"
Jawab Bu Tek. Mendengar ini, Sin Hong membentak.
"Lepaskan tongkat!"
Ia menerjang maju dengan tangan kosong.
Ah Kai melihat lawannya mendapat bantuan menjadi makin marah.
Sekali membalikkan tubuh, tongkatnya menyambar kaki Sin Hong.
Pemuda ini mengangkat kaki kanannya dan diam-diam ia pun memuji gerakan pengemis itu.
Tadinya tongkat itu berada di tangan kanan, akan tetapi ketika menyerang Sin Hong, tahu-tahu tongkat itu telah berpindah ke tangan kiri.
Pindahnya demikian cepat hingga takkan dapat terduga atau terlihat oleh lawan.
Tentu saja Sin Hong yang sudah amat tinggi ilmunya dapat melihat pergerakan itu maka ia memuji.
Sekali mengangkat kaki kanan tongkat itu meluncur lewat di bawah kaki, akan tetapi Sin Hong mengeluarkan seruan keras dan kakinya yang diangkat itu dengan cepat luar biasa menyambar turun dan di lain detik tongkat itu telah diinjaknya!
"Lepahkan tongkat!"
Teriaknya sekali lagi sambil mengerahkan tenaga dan Ah Kai terpaksa melepaskannya karena tidak tahan menghadapi tenaga injakan ini.
Ia memandang kepada Sin Hong dengan kedua mata terbelalak lebar saking heran dan kagumnya, kemudian ia memandang kepada Lie Bu Tek dengan marah karena dianggapnya Si Buntung itulah yang menghambat larinya sehingga kini ia bahkan kehilangan tongkat pusaka.
Sin Hong menjemput tongkat itu dan menyerahkan kepada Lie Bu Tek.
Lie Bu Tek menerimanya dan berkata kepada Ah Kai.
"Sekarang jelas bahwa tongkat ini nemang betul tongkat pusaka Hek-kin-kaipang. Dari manakah kau mendapatkan tongkat ini?"
"Gihu ,dia bisu dan tidak akan dapat bicara. Biar aku yang mengajaknya bicara,"
Katanya.
Ketika masih kecil dan dibawa merantau oleh Lie Bu Tek, sebagai orang anak kecil, Sin Hong amat suka memperhatikan gerak-gerik orang-orang bisu yang dijumpainya di jalan.
Tentu saja ia berbeda dengan orang-orang tua dan tidak malu-malu untuk bercakap-cakap melalui gerak jari tangan dan bersenda-gurau dengan orang bisu, maka sedikit banyak ia dapat mempergunakan bahasa tangan itu.
Sekarang ia menghampiri Ah Kai dan dengan jari tangan digerakkan dan menunjuk ke arah tongkat, akhirnya ia dapat menjelaskan kepada Ah Kai tentang pertanyaan gihunya.
Dengan gerakan jari tangan pula, Ah Kai menunjuk ke arah tongkat lalu merangkapkan kedua tangan, tanda bahwa ia menghormati tongkat itu dan bersiap ,membelanya dengan nyawa.
"Jadi kau membela Hek-kin-kaipang?"
Tanya Sin Hong. Ah Kai mengangguk-angguk dengan muka bangga.
"Di mana adanya Kiang Kaipangcu?"
Tanya Lie Bu Tek dan melihat mata pengemis itu memandangnya penuh curi ia menyambung cepat.
"Ketahuilah Lie Bu Tek adalah sahabat baik Kiang-pangcu dan semua anggauta Hek-kin-kaipang adalah sahabat baikku!"
Mendengar ini, tiba-tiba Ah Kai menjura dengan hormat kepada Lie Bu Tek lalu maju memeluk dan menangis terisak-isak tanpa mengeluarkan air mata!
"Eh, lekas........
apa yang terjadi dengan Kiang-pangcu?"
Karena tidak bisa menjawab dan gerakan jari tangan-tangannya demikian cepat sehingga Sin Hong sendiri tidak dapat menangkap artinya dengan jelas, Ah Kai lalu memegang ujung baju Lie Bu Tek dan menariknya, seakan-akan mengajaknya cepat-cepat ke tempat Kiang pangcu.
"Gihu, dia mengajak kita pergi ke tempat Kiang-pangcu. Marilah!"
Tiga orang itu lalu berlari-lari ke dalam hutan.
"Gihu, harap kau berangkat dulu dengan sahabat ini. Aku hendak menolong seorang lihiap yang terluka oleh Giok Seng Cu di dalam hutan. Aku akan menyusulmu segera."
Mendengar ini Lie Bu Tek terkejut, akan tetapi karena tidak ada waktu untuk bercakap-cakap, ia hanya mengangguk dan menunda pertanyaan yang sudah berada di ujung bibirnya.
Bersama Ah Kai lalu berlari cepat menuju ke dusun Bi-nam-bun, sedangkan Sin Hong lalu menuju ke tempat di mana Soan Li menantinya.
Melihat datangnya pemuda ini, wajah Soan Li berseri dan ia berkata girang.
"Lam-ko, kau cepat sekali datang. Mana kendaraan atau tukang pemikul tandu?"
"Di dalam hutan ini, dari mana bisa mendapatkan kendaraan atau pemikul tandu, Nona? Biarlah aku yang mengantar kau ke dusun Bi-nam-bun tak jauh dari sini dan di sana nanti akan kucarikan rumah penginapan untukmu. Jangan khawatir, aku akan menjaga dan merawatmu sampai sembuh, Gak-siocia."
Soan Li kelihatan girang sekali dan tersenyum manis.
"Ah, Lam-ko, kita baru saja bertemu akan tetapi kau telah melimpahkan budi bertumpuk-tumpuk. Bagaimana aku akan dapat membalasmu."
"Jangan berbicara tentang budi, Nona. Sudah kewajibanku untuk menolong sesama manusia yang menderita. Maukah... maukah kau kupondong ke dusun Bi-nam-bun?"
Soan Li menjadi jengah dan malu, tak dapat mengeluarkan suara hanya mengangguk. Melihat sikap ini, timbul sungkan dan malu dalam hati Sin Hong.
"Kalau kau malu-malu apabila terlihat orang lebih baik kupanggul saja, Nona. Biar kau duduk di atas pundakku sehingga dengan demikian tidak banyak bedanya dengan apabila aku memanggul tandu yang kau duduki. Hanya, duduk di atas pundak seperti itu tidak mudah. Aku mendapat pikiran demikian karena aku percaya bahwa kau berbeda dengan wanita umumnya, kau memiliki kepandaian hebat maka kiranya akan mudah saja kamu duduk di atas pundakku seperti itu.
"Bagaimana kau bisa menduga demikian? Kau tahu apakah tentang ilmu silat, Im-ko?"
"Aku tidak tahu apa-apa. Hanya dahulu aku pernah melihat rombongan tukang silat dan melihat seorang nona seperti engkau duduk di atas pundak kawannya, bahkan berjumpalitan di atas pundak duduk dan terdiri dengan enaknya."
Soan Li tersenyum lalu berkata.
"Sesukamulah. Dipondong atau dipanggul, bagiku sama saja karena aku sudah tahu betul bahwa kau memiliki isi dada yang bersih dan mulia."
Senang hati Sin Hong mendengar pujian ini.
Ia lalu berjongkok, dan Soan Li mempergunakan tenaganya menekan pundak pemuda itu dan biarpun kedua kakinya lumpuh akan tetapi sekali mengayun tubuh ias telah duduk di atas pundak kanan pmuda itu!
Sin Hong berdiri dan melihat Soan Li duduk dengan anteng dan enak sama sekali tidak usah dipegangi lagi, ia memang tidak merasa heran, akan tetapi mulutnya memuji.
"Gak-siocia, ternyata kau bahkan lebih pandai dari nona tukang silat itu. Kau duduk tidak bergoyang sedikitpun juga!"
Jari tangan Soan Li yang halus menyentuh pundak kiri Sin Hong.
"Lam-ko, bisa saja kau memuji. Sebaliknya kaulah yang memiliki tenaga besar mengagumkan. Kau seperti memanggul daun kering saja."
"Bukan aku yang amat kuat, sebaliknya kaulah yang amat ringan, Nona."
Demikianlah, dengan perasaan hati berdebar girang, Soan Li membiarkan dirinya dipanggul oleh Sin Hong, sebaliknya Sin Hong merasa beruntung karena sudah dapat menolong seorang murid dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le.
Ia membayangkan betapa akan girangnya hati Lie Bu Tek kalau tahu bahwa ia telah menolong murid pendekar besar itu.
Akan tetapi, karena ingin menyembunyikan kepandaiannya dari Soan Li, ia tidak berani mempergunakan ilmu lari cepatnya, bahkan berjalan dengan gaya seakan-akan ia merasa berat dan agak sukar.
Berkali-kali Soan Li yang merasa tidak enak hati minta supaya ia beristirahat, akan tetapi Sin Hong menolaknya.
Ketika Ah Kai tiba kembali di tempat pertempuran atau tempat pemilihan ketua baru dari Hek-kin-kaipang, ia disambut dengan serbuan dan Kim-tung Teng Gai bersama kaki tangannya!
Sebagaimana (Lanjut ke
Jilid 17) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 telah dituturkan di depan, setelah Giok Seng Cu mengamuk, Kim-tung Mo-kai merubah siasat dan mengekor kepada Giok Seng Cu yang memang menjadi ketuanya di waktu mereka masih bergabung dalam perkumpulan lm-yang-bu-pai.
Dengan kerja sama ini, banyak anggauta Hek-kin-kaipang kena dirobohkan dan yang lainnya lalu menakluk.
Akan tetapi ketika melihat Ah Kai datang bersama Lie Bu Tek yang banyak dikenal oleh para anggauta Hek-kin-kaipang, para pengemis yang tadinya menakluk lalu memberontak kembali.
Terjadi perang hebat antara Ah Kai yang dibantu oleh Lie Bu Tek melawan Kim-tung Mo-kai yang bercita-cita membentuk perkumpulan Pek-kin-kaipang itu.
Mereka rusak binasa oleh amukankan anggauta-anggauta Hek-kin-kaipang, apalagi ketika Ah Kai dan Lie Bu Tek mengamuk.
Kim-tung Mo-kai sendiri mendapat lawan tangguh ketika ia berhadapan dengan Lie Bu Tek.
Setelah pertempuran hebat, akhirnya dengan pedangnya Lie Bu Tek berhasil merobohkan orang jahat ini.
Kaki tangan Kim-tung Mo-kai melarikan dan cerai-berai.
Ke mana perginya Giok Seng Cu?
Mengapa ia tidak kembali untuk membantu anak buahnya?
Ternyata kakek ini tahu diri.
Setelah ia bertemu dengan Sin Hong dan menyaksikan kelihatan orang muda yang aneh dan sakti itu, ia menjadi ketakutan sekali.
Ia pikir bahwa urusan menjadi ketua Hek-kin-kaipang tidak akan ada gunanya kalau di dekat tempat itu muncul seorang pemuda seperti yang dijumpainya tadi.
Maka dari hutan itu ia langsung melarikan diri ke tempat jauh untuk mencari kedudukan yang lebih baik atau siasat lain untuk memperkuat kedudukannya.
Setelah orang-orang jahat yang hendak menghancurkan Hek-kin-kaipang itu dapat diusir semua, para anggauta Hek-kin-kaipang lalu mencentakan kepada Lie Bu Tek dengan sedih apa yang telah terjadi.
Lie Bu Tek menggeleng-geleng kepalanya dan memandang ke arah jenazah Kiang Cun Eng.
Tak tertahan pula air matanya bercucuran ketika ia melihat wanita yang pernah menolongnya, pernah pula menjadi kekasihnya, dan pernah pula menyelamatkan nyawa Wan Sin Hong itu.
Ia lalu membantu semua orang untuk mengurus jenazah bekas ketua Hek-kin-kaipang ini dan juga jenazah Yap Kong Ki tidak disia-siakan.
Di bagian lain dari dusun Bi-nam-bun, Sin Hong yang memanggul tubuh Soan Li tidak berhasil mencankan rumah penginapan.
Dusun itu itu terlalu kecil sehingga satu-satunva rumah penginapan kecil yang ada, telah penuh.
Terpaksa Sin Hong membawa Soan Li ke dalam sebuah kuil dan kuil tua yang hanya dijaga tiga orang hwesio tua itu dengan senang hati menerima Soan Li dan memberikan sebuah kamar untuk wanita beristirahat dan berobat.
Biarpun mereka itu tidak mengenal ilmu silat, namun pengalaman tiga orang hwesio ini amat luas dan mereka menghormati pendekar gagah, maka mendengar dari Sin Ho bahwa wanita itu adalah pendekar wanita murid Hwa I Enghiong, mereka menghormati sekali dan rela untuk menolong.
Setelah mendapat tempat untuk Soan Li, Sin Hong berpamitan kepada gadis itu untuk membereskan atau membantu urusan ayah angkatnya.
"Siapa ayah angkatmu dan mengapa dia tidak datang bersamamu?"
Tanya Soan Li yang merasa kecewa akan di tinggalkan pergi lagi.
"Ayah angkatku itu seorang she Lie seorang yang baik hati dan sekarang sedang pergi ke perkumpulan pengemis. Aku takkan pergi lama, Nona, setelah urusan Gihu beres, tentu aku akan datang kembali bersama dia dan memperkenalkan dia kepadamu."
"Tapi, kau akan... kembali, bukan?"
Wan Sin Hong tersenyum.
Kalau saja ia lebih dewasa, tentu kata-kata ini akan dapat ia tangkap isinya.
Akan tetapi ia tidak mengerti dan hanya merasa senang melihat gadis itu benar-benar membutuhkan pertolongannya dan takut ditinggalkan pergi.
"Jangan khawatir, sebagai pengobatmu, sebelum melihat kau sembuh dan dapat berjalan kembali, aku takkan berani meninggalkan kau, Siocia."
Soan Li memberi hadiah senyum manis untuk kata-kata ini dan pergilah Sin Hong dengan hati girang.
Dengan mudah saja ia dapat sampai di tempat pemilihan ketua Hek-in-kaipang.
Akan tetapi, kedatangannya disambut oleh warta yang amat menyedihkan hatinya.
Kiang Cun Eng, wanita yang dahulu menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut di tangan orang-orang Im-yang-bu-pai, ternyata telah tewas secara mengerikan.
Tewas dalam tangan Giok Seng Cu!
"Keparat jahanam Giok Seng Cu!"
Katanya perlahan di depan Lie Bu Tek.
"Kalau aku tahu akan hal ini, pasti akan kuhancurkan kepalanya!"
Sambil menangis Sin Hong bersembahyang di depan peti mati Kiang Cun Eng dan berjanji di depan peti mati itu bahwa ia pasti akan membalaskan sakit hati penolongnya itu.
Setelah penguburan jenazah Kia Cun Eng dan Yap Kong Ki selesai, semua anggauta Hek-kin-kaipang minta tolong dan menyerahkan kebijaksanaan Lie Bu Tek untuk memilih seorang pangcu baru bagi Hek-kin-kaipang.
Pendekar Buntung ini berkata.
"Menurut pendapat siauwte yang bodoh, seorang pangcu harus berkepandaian tinggi dan bijaksana seperti mendiang Kiang-pangcu. Di antara para saudara kulihat bahwa kepandaian Saudara Ah Kai boleh diandalkan, apalagi dialah yan telah menyelamatkan tongkat pusaka Hek kin-kaipang. Oleh karena itu, kiranya tepat sekali kalau Saudara Ah Kai diangat menjadi pangcu baru."
Para pengemis yang sudah menyaksikan kepandaian Ah Kai, setuju dengan usul ini, akan tetapi dan wajah mereka, ie Bu Tek dapat menduga bahwa mereka itu bersangsi apakah seorang ketua -ng bisu dapat bekerja baik.
"Sudah tentu Saudara Ah Kam perlu mendapat bantuan seorang saudara yang berpengalaman dan bijaksana. Dan dalam hal ini, baik sekali kalau Tan Lokai dipilih menjadi wakilnya, sedangkan pembantu utama dari kedua pangcu ini adalah Tiat-ciang-eng Lai Sek yang terkenal jujur. Bagaimana pendapat Saudara sekalian?"
Orang-orang bersorak gembira, menyatakan setuju. Memang, selain tiga orang ini, kiranya tidak ada yang lebih tepat untuk memegang pimpinan.
"Saudara sekalman telah tahu betapa besar jasa Sian-hud-tim Yap Kong Ki, oleh karena itu kita pun jangan melupakan jasanya. Sudah menjadi tugas Hek-kin-kaipang untuk menjaga peninggalannya, yakni Pulau Kim-te-tho. Alangkah baiknya kalau mulai sekarang Hek-ki kaipang mempergunakan pulau itu sebagai markas besar."
Kembali para anggauta Hek-kin-kaipang menerima usul ini, bahkan para pelayan dari mendiang Yap Kong Ki yang berjumlah lima puluh orang lebih, menerima baik usul ini.
Mereka ini sudah berkumpul di situ dan semenjak mendengar bahwa majikan mereka tewas serentak mereka menyatakan diri menjadi anggauta Hek-kin-kaipang!
Para pelayan di Pulau Kim-ke-tho ini sudah mengenaI baik akan sepak terjang Hek-kin-kaipang, maka mereka tidak ragu-ragu dan tidak merasa hina untuk menjadi anggauta perkumpulan pengemis yang sifatnya mulia ini.
Akan tetapi, tiga orang pemimpin Hek-kin-kaipang yang baru itu dengan berkeras minta kepada Lie Bu Tek untuk sementara waktu memimpin atau menjadi penasihat mereka.
Apalagi Tan Lo-kai pada waktu itu masih mendenta luka berat dan belum dapat bekerja, maka bantuan Lie Bu Tek amat dibutuhkan.
"Harap Lie Taihiap tidak menolak,"
Kata Tan Lo-kai yang masih rebah di pembaringan.
"setelah terjadi keributan ini, siapa tahu kalau-kalau pihak orang jahat akan datang mengganggu lagi. Kuharap Taihiap sudi mengawani kami sampai beberapa lama dan setelah keadaan aman kembali baru Taihiap meninggalkan Hek-kin-kaipang."
Sebelum Lie Bu Tek dapat menjawab, Sin Hong berkata.
"Gihu, kiranya demikianlah yang terbaik. Hitung-hitung kita beristirahat di sini. Selain itu aku pun masih mempunyai urusan penting di sini yang harus kubereskan."
Mendengar kata-kata anak angkatnya ini, Lie Bu Tek maklum bahwa tentu ada sesuatu yang menahan Sin Hong, maka ia lalu menyetujui. Setelah mereka berada di dalam kamar berdua, Lie Bu Tek bertanya.
"Sin Hong, urusan apakah yang begitu penting sehingga kau perlu tinggal beberapa lama lagi di tempat ini?"
"Aku perlu merawat seorang yang terluka berat, Gihu."
Lie Bu Tek memandang anak angkatnya dengan mata mengandung keheranaa.
Tidak biasanya pemuda ini merahasiakan sesuatu, akan tetapi mengapa sekarang seakan-akan segan menceritakan tentang orang yang dirawatnya itu?
"Sin Hong, siapakah dia?"
"Gihu akan terkejut kalau mendengarnya, dia adalah murid dan Hwa I Enghiong dan namanya Gak Soan Li."
Lie Bu Tek benar-benar terkejut mendengar ini, akan tetapi juga wajahnya berseri girang.
"Bagus! Kalau begitu dari dia kita akan dapat bertemu dengan Go Ciang Le!"
Sin Hong mengerutkan keningnya.
"Bagiku sendiri, Gihu, aku tidak begitu ingin bertemu dengan Hwa I Enghiong."
"Kau ini bagaimana, Sin Hong? Ciang Le adalah sahabatku terbaik, lebih kekal dari saudara sendiri. Dia seorang pendekar besar yang budiman, bahkan dia masih terhitung Suhengmu, karena dia sendiri pun murid Pak Kek Siansu. Bahkan istennya adalah murid Hoa-san pai, jadi masih terhitung Sumoiku sendiri yang amat baik."
"Justru hubungan dekat itulah yang membikin aku segan bertemu dengan mereka, Gihu. Kalau Hwa I Enghiong itu bukan sanak dekat atau tidak mempunyai hubungan dengan kita, tentu aku akan suka sekali bertemu dengan pendekar gagah itu. Akan tetapi mengapa kalau dia mempunyai hubungan demikian dekatnya dengan Gihu, selama ini dia sembunyi saja dan tidak mau tahu sama sekali tentang segala macam kejahatan yang dilakukan orang-orang atas diri Gihu? Mengapa Hoa-san-pai dan Luliang-san di basmi orang begitu saja tanpa dia turun tangan membela?"
Lie Bu Tek menghela napas panjang.
"Hal ini pun amat mengherankan hatiku sampai sekarang, Sin Hong. Biasanya waak Suhengmu itu tidak demikian. Akan tetapi, siapa tahu akan keadaannya? Siapa tahu kalau-kalau ia berhalangan untuk meninggalkan tempat tinggalnya?"
"Mungkin juga, Gihu. Baiklah, harap hal ini kita sama lihat saja nanti. Akan tetapi untuk sementara ini, aku tidak ingin memperkenalkan diri kepada siapa juga. Oleh karena itu maka Gak-siocia itu tidak tahu siapa adanya aku, hanya tahu bahwa aku adalah seorang pemuda dusun bernama Gong Lam yang kebetulan mengerti ilmu pengobatan dan kebetulan pula bertemu dengan dia sehingga dapat menolongnya."
Kemudian Sin Hong lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Gak Soan Li, betapa Soan Li menolong Ah Kai dari serbuan Giok Seng Cu sehingga gadis itu sendiri menjadi korban pukulan Ti san-kang dari Giok Seng Cu yang lihai.
"Gihu, aku sudah bertemu Giok Se Cu, dan pukulannya memang lihai bukan main. Juga, ketika aku dahulu pergi Hoa-san untuk menjemput Gihu, aku telah bertemu dengan See-thian Tok-ong dan anak isterinya. Mereka bertiga itu memiliki kekejaman dan kelihaian yang lebih hebat dari Giok Seng Cu. Di samping ini masih ada orang-orang sepert Ba Mau Hoatsu yang tangguh. Oleh karena itu, kupikir ada baiknya kalau untuk sementara ini Gihu beristirahat di pulau Kim-ke-tho, selain untuk memimpin dan membangun kembali Hek-kin-kaipang agar kedudukannya kuat kembali, juga untuk menjaga diri Gihu yang sudah dikenal oleh tokoh-tokoh jahat itu. Adapun aku sendiri, setelah merawat sembuh kedua kaki Gak-siocia yang patah, akan kulakukan penyelidikan di mana adanya siluman-siluman itu. Terutama sekali aku hendak mencari Giok Seng Cu, dan Ba Mau Hoatsu. Kalau Gihu tinggal di Kim-ke-tho, mudah saja bagiku untuk sewaktu-waktu datang apabila aku rindu kepadamu."
Lie Bu Tek tak dapat membantah.
memang ia harus akui bahwa Sin Hong ini biarpun amat penurut kepadanya, namun semua usul yang dikeluarkan oleh anak ini mempunyai dasar yang kuat dan menurutkan pertimbangan masak serta pandangan luas.
Ia tahu bahwa biarpun kini kepandaiannya sudah meningkat namun kalau dibandingkan dengan kepandaian musuh-musuh besar itu, masih disangsikan apakah ia akan dapat melawan mereka.
Dengan demikian maka akan berarti bahwa Sin Hong bukan mendapat bantuannya, bahkan mungkin akan menghalangi pelaksanaan tugas pemuda itu, pula kalau dipikir-pikir, memang tenaganya amat dibutuhkan oleh Hek-kin-kaipang yang baru saja kehilangan ketuanya.
Demikianlah setelah berunding dengan Lie Bu Tek, Sin Hong lalu meninggalkan Pulau Kim-ke-tho dan cepat menuju kuil di mana ia meninggalkan Gak Soan Li.
Ketika Wan Sin Hong tiba di dalam kamar di mana Soan Li masih rebah di atas pembaringan baru, ia disambut oleh Soan Li dengan wajah merengut dan marah-marah.
"Kenapa kau datang juga? Mengapa tidak tinggalkan saja aku biar mati di sini?"
Soan Li berkata dengan suara marah dan aneh sekali, air matanya menitik keluar dari sepasang matanya.
Gadis ini benar-benar di dalam hatinya merasa terheran-heran karena sepeninggal Gong Lam, ia merasa sunyi dan gelisah.
Apalagi setelah sehari semalam pemuda itu tidak datang, ia merasa berduka, khawatir, kecewa dan bingung.
Ia demikian bersedih sehingga ketika pendeta kelenteng itu datang memberi makanan, ia tidak mau makan.
Ketika pada keesokan harinya pemuda nu muncul di pintu kamarnya, hatinya sebenarnya girang bukan main, akan tetapi juga amat mendongkol karena sehari semalam ia merasa tersiksa, tidak tidur dan tidak mau makan.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berhal seperti ini.
Belum pernah selama hidupnya Soan Li merasa seaneh ini.
Memang pernah ia merasa berduka kalau ia teringat akan ayah bundanya.
Tadi sebelum Gong Lam datang, memang perasaannya pada saat itu terkenang akan ayah bundanya yang sudah meninggal dunia, akan tetapi tidak sama benar.
Kalau ia terkenang akan ayah bundanya, ia merasa berduka dan sunyi, akan tetapi di samping ini tidak ada ingatan atau keinginan dalam hatinya untuk menyusul mereka, bahkan ia merasa bahagia bahwa dalam keadaan yatim piatu, ada keluarga Go yang menolong dan mengangkatnya.
Sebaliknya, ketika ia tadi ketakutan ditinggal pergi selamanya oleh Gong Lam, ia tidak saja merasa berduka dan sunyi, akan tetapi juga ingin kali menyusul, ingin sekali segera bertemu dan tidak akan berpisah selamanya.
Ia merasa bahwa hidupnya akan kosong dan tidak menyenangkan kalau berada jauh dari pemuda dusun itu!
Aneh, memang aneh sekali perasaan orang yang hatinya tertembus panah asmara.
Tak boleh dikatakan bahwa Soan Li jatuh hati kepada Gong Lam karena ketampanan wajah, karena sudah banyak Soan Li bertemu dengan orang-orang muda yang gagah dan tampan, juga bukan karena tertarik oleh kepandaian karena menurut pengertian Soan Li, pemuda dusun ini hanya pandai mengobati tulang-tulang patah.
Sudah tentu sekali ada sesuatu dalam diri pemuda ini yang menarik dan menjatuhkan hati Soan Li, gadis yang keras dan tinggi hati, yang tidak menyerahkan hatinya kepada pemuda gagah dan tampan seperti Liok Kong .!
Kiranya tidak meleset jauh kalau diduga bahwa yang membuat gadis itu jatuh hati, adalah karena sikap dari pemuda yang mengaku bernama Gong Lam itu.
Memang, sikap berpengaruh besar sekali terhadap hubungan antara manusia.
Siapa yang pandai mengatur sikap sehingga sesuai dengan siapapun juga, sesuai dengan keadaan apapun juga, dia seorang yang berbahagia!
Sin Hong ketika melihat sambutan Soan Li, menjadi tercengang.
Akan tetapi ia masih terlalu muda untuk dapat menjenguk isi hati gadis itu.
Ia hanya menganggap bahwa Soan Li adalah seorang gadis yang gagah perkasa, keras hati dan juga agak aneh wataknya.
Maka ia lalu tersenyum dan menjura.
"Maafkan aku, Gak-siocia. Karena urusan Gihu belum beres dan aku harus membantunya, maka baru sekarang aku datang. Apakah Siocia sudah makan? Apakah mendapat pelayanan baik dari para Suhu di sini? Dan bagaimana dengan kedua pahamu, Siocia? Banyak baikkah?"
Mendengar pertanyaan yang penuh, perhatian serta melihat wajah pemuda itu yang nampaknya bersungguh-sungguh ingin mengetahui keadaannya, sekaligus lenyaplah kemendongkolan hati Soan Li., Wajahnya yang cantik nampak berseri dan bibirnya tersenyum manis.
"Mana bisa aku mendapat pelayanan baik? Sejak kemarin aku belum makan dan tidur sekejap mata pun!"
Sin Hong terkejut.
"Eh, eh, mengapa begitu? Aku sudah pesan kepada para Suhu untuk memperhatikan keperluanmu, Siocia. Aku akan menegur mereka."
"Sudahlah! Bukan mereka tidak memberi makan, aku sendiri yang tidak mau makan. Tidak makan sehari semalam bagiku bukan apa-apa tidak tidur satu malam saja sudah seringkali kulakukan, kau jangan ribut-ribut. Kedua pahaku tidak terasa sakit lagi, akan tetapi tak dapat digerakkan, sedikit saja bergerak, sakitnya bukan main. Eh, mana itu Ayah angkatmu? Mengapa tidak ikut datang?"
"Gihu masih sibuk dengan urusannya, maka menyesal sekali tidak dapat datang berkunjung ke sini. ia hanya menyampaikan hormatnya kepadamu, Siocia."
"Hm, Gihumu tentu orang baik."
"Mengapa kau berpendapat begitu, Siocia? Kau belum pernah bertemu dengannya."
"Kalau dia tidak baik, bagaimana bisa menjadi ayah angkatmu?"
Sin Hong tersenyum. ia suka kepada nona ini yang biarpun keras hati dan bisa mengeluarkan kata-kata terus terang dan keras, namun jujur dan menyenangan.
"Memang Gihu adalah seorang yang berhati mulia, lagi seorang jantan."
"Lam-ko, kau pun seorang jantan. Biarpun belum kenal, kau telah menolongku, telah mengobati dan sampai sekarang masih memperhatikan keadaanku."
Sin Hong seperti diingatkan.
"Nona, untuk melihat apakah sambungan tulang pahamu benar letaknya, terpaksa aku harus memeriksanya sekali lagi. Amat tidak enak kau kelak ternyata bahwa sambungannya tidak betul sehingga kakimu bengkok-bengkok."
Soan Li menjadi merah mukanya dan ia mempergunakan tangan untuk menutup mulut untuk menahan ketawanya "Mengapa mesti bilang terpaksa segala?
Kenapa terpaksa?
Bukankah kau ini tabibnya dan aku ini kerbaunya yang patah tulang kakinya?
Mau periksa, silahkan saja periksa, kapan saja kau suka."
Sambil berkata demikian, gadis ini yang tadinya sudah bangun duduk, kini membaringkan tubuhnya lagi tanpa menggerakkan kedua kakinya yang selalu dilonjorkan.
Sin Hong menghampiri nona itu.
Ia memang bersungguh-sungguh dengan kata-katanya tadi.
Ia tahu bahwa dalam waktu sehari semalam ini, tulang-tulang itu mulai bertumbuh dan merekat.
Kalau gadis ini melakukan banyak pergerakan sehingga tulang-tulang kakinya miring, tentu kelak paha gadis itu tidak benar letaknya dan kakinya mungkin akan menjadi bengkok.
Ia perlu memeriksa lagi karena kalau terjadi demikian, sekarang masih belum terlambat untuk membetulkan letaknya.
Dengan cekatan ia menggulung pipa celana itu ke atas.
Biarpun tidak sehebat kemarin akibatnya, tetap saja kedua tangannya masih gemetar dan dadanya berdebar aneh.
Namun ia tidak mau memperlihatkan perasaan aneh ini dan mempergunakan hawa batin untuk menekan perasaannya.
Sepuluh jari tangannya bergerak penuh keahlian mengurut dan meraba kedua paha tanpa melihatnya.
Betapapun sigap, ia takut memandang kulit paha itu, takut kalau-kalau perasaannya akan mengganggu pekerjaan ini.
Dengan hati puas ia mendapat kenyataan bahwa pertumbuhan tulang paha gadis itu ternyata baik dan diam-diam ia merasa kagum sekali.
Gadis ini sehari semalam tidak makan dan tidak tidur, dan sedikit pun tidak menggeser dan menggerakkan kedua kaki, benar-benar gadis ini telah mengalami penderitaan yang amat hebat.
Akan tetapi, sedikit pun tidak kelihatan sengsara.
"Bagus, pertumbuhannya baik sekali""
Kata Sin Hong sambil menurunkan gulungan pipa celana.
Ketika ia menbuka mata dan memandang ke arah gadis itu, ia melihat Soan Li meramkan kedua mata, menggigit bibir menahan isak tangis, akan tetapi air matanya mengucur keluar dan membasahi kedua pipinya!
"Eh, kau kenapa Nona?"
Sin Hong terkejut sekali sehingga ia menubruk maju, memegang pundak gadis itu dan mengangkatnya sehingga Soan Li kini duduk dengan kedua kaki tetap dilonjorkan.
"Nona, kau merasa sakitkah""
Kegelisahan Sin Hong sewajarnya, karena sebagai seorang ahli pengobatan, murid Kwa Siucai, ia tahu bahwa kalau pertumbuhan tulang paha itu sampai ada yang salah, yakni kalau ada pecahan tulang yang menusuk daging dan merusak urat, berbahaya sekali keadaan Soan Li.
Tadinya ia melihat gadis itu tenang-tenang saja maka ia sudah merasa lega.
Kalau terjadi hal yang ia khawatirkan itu, tentu gadis itu akan, mengalami saksaan rasa nyeri yang luar biasa.
Sekarang, melihat gadis itu tiba-tiba menangis dan menahan tangis dengan mengigit bibir, ia tentu saja terkejut dan mengkhawatirkan yang bukan-bukan.
Sebaliknya, ketika merasa pundaknya dipegang oleh Sin Hong, Soan Li tak dapat menahan tangannya dan ia terisak dengan kepala disandarkan di pundak pemuda itu!
Sin Hong terheran-heran.
Sekarang tahulah dia bahwa gadis itu bukan menangis karena rasa nyeri melainkan menangis karena sedih.
"Eh, kau kenapakah, Gak-siocia? Mengapa kau berduka dan menangis? Percayalah, aku... Gong Lam bertanggung jawab bahwa kedua pahamu akan sembuh dan pulih seperti sedia kala! Percayalah padaku dan jangan kau berduka."
Aneh sekali! Sin Hong sampai melongo dan memandang kepada gadis itu dengan sepasang mata terbelalak bodoh. Gadis itu tiba-tiba tersenyum manis di antara air matanya.
"Lam-ko aku bersumpah bahwa selama hidupku, takkan ada orang lain yang akan menyentuh pahaku""
Masih saja Sin Hong tidak mengerti.
"Tentu saja, Siocia,"
Jawabnya terheran.
"apalagi kalau yang menyentuhnya sampai mematahkan tulang-tulangnya, itu berbahaya sekali. Sekali lagi patah takkan ada obatnya!"
Senyum Soan Li melebar, akan tetapi sepasang matanya yang masih basah itu nampak kecewa.
"Sekarang aku tahu mengapa kau disebut Gong Lam (Pemuda Tolol), karena sesungguhnya kau memang tolol!"
Muka Sin Hong menjadi merah, betapapun juga ia merasa tidak enak disebut tolol.
Apa sebabnya ia dianggap tolol?
Kesalahan apakah yang ia lakukan, ataukah ada kesalahan dalam ucapannya tadi?
Akan tetapi, karena dia berusaha menyembunyikan keadaan dirinya, sambil tertawa bodoh ia menjawab.
"Memang aku tolol, barang kali karena... karena terlalu sering aku berdekatan dengan kerbau."
Soan Li yang jarang tertawa itu kini menjadi geli dan tertawa menutupi mulutnya.
Benar-benar mengherankan.
Kebodohan pemuda ini tidak menjemukan atau menyebalkan hatinya, sebaliknya, membuat ia gembira dan juga ia kasihan.
"Lam ko, jangan salah mengerti. Maksudku... kecuali engkau seorang, aku takan sudi membiarkan orang lain menyentuhku... aku... ah, sudahlah. Sukar memang bicara dengan engkau yang tidak mau mengerti...."
Sin Hong mengerutkan kening dan benar-benar tidak mengerti, seperti menghadapi teka-teki yang sulit. ia lebih bingung lagi ketika melihat gadis itu seakan-akan marah dengan tiba-tiba.
"Sudahlah, Lam-ko, kalau diteruska akan naik darahku dan penyakit di pahaku takkan menjadi sembuh. Lam-ko, sekarang harap kau jangan kepalang tanggung menolongku. Bawa aku ke dalam kota, dalam sebuah rumah penginapan yang besar dan bersih."
"Gak-siocia, bukankah di sini juga bersih? Beristirahat lebih baik di tempat yang sunyi, bukan di kota yang hawanya buruk dan suasana tidak tenang."
"Tapi di sini tidak ada restoran besar yang menjual makanan enak."
"Kalau kau ingin makanan enak, biar-aku carikan, Siocia."
"Lam-ko, mengapa berkeras? Aku hendak pindah ke kota, apakah kau tidak mau mengantarku? Kalau tidak mau, biarlah dengan merayap menggunakan dua tangan aku dapat pergi sendiri""
Melihat Soan Li bersikap marah, diam-diam Sin Hong menarik napas paniang.
Nona ini benar-benar pemarah sekali, agaknya segala kehendaknya harus diturut.
Dengan sikap apa boleh buat ia mengangkat kedua pundaknya.
"Baiklah, Nona. Kurang lebih tiga puluh li disebelah barat dusun ini ada sebuah kota yang cukup besar. Aku akan mengantarkanmu ke sana. Bila kita berangkat?"
"Sekarang juga!"
Jawab gadis itu tegas, akan tetapi ia merasa ketertaluan dan menyambungnya cepat-cepat.
"tentu saja kalau kau tidak keberatan, Lam-ko."
"Tentu tidak, Siocia. Kalau kau menghendaki sekarang, marilah."
Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara ribut-rebut di luar kamar, dan dari suara itu, Soan Li dan Sin Ho maklum bahwa tiga orang hwesio kelenteng itu sedang bertengkar mulut dengan beberapa orang.
Kemudian terdengar hwesio-hwesio itu berteriak kesakitan dan lari cerai berai diikuti dengan tindakan kaki beberapa orang yang memasuki kelenteng dan langsung menuju ke kamar Soon Li.
Sin Hong cepat menengok dan ia melihat tiga orang pengemis datang di tempat itu.
Tadinya ia merasa terheran karena mengira bahwa anggauta-anggauta Hek-kin-kaipang yang datang, akan tetapi ketika ia melirik ke arah ikat pinggang mereka yang berwarna putih, tahulah ia bahwa yang datang ini adalah pengemis dari golongan lain.
"Lam-ko, apakah yang terjadi di luar?"
Tanya Soan Li sambil menjulurka kepala hendak melongok keluar.
"Entah, Siocia. Ada tiga orang pengemis aneh datang menuju ke kamar ini."
"Agaknya para Suhu telah mereka paksa dan pukul, dan mereka masuk dengan kekerasan."
"Hm, kau minggirlah, Lam-ko. Biar aku sendiri menghadapi mereka. Eh, tolong kau ambilkan nasi dan sayur daging di meja itu, perutku lapar sekali."
Diam-diam Sin Hong merasa geli dan kagum.
Nona ini belum tahu siapa yang datang dan belum tahu pula sampai dimana kelihatan lawan, akan tetapi ia hendak menyambut kedatangan tiga orang pengemis itu sambil makan!
Akan tetapi, kemudian ia kagum kalau teringat bahwa gadis itu kedua kakinya belum dapat digerakkan sehingga sukar untuk menghadapi mereka dengan ilmu silat, maka sudah tentu mangkok terisi nasi dan sayur berikut sepasang sumpit itu sengaja diminta oleh Soan Li untuk dipergunakan sebagai senjata!
Ia cepat mengambilkan mangkok nasi dan sumpit yang diterima oleh Soan Li dengan senyum.
Pada saat Sin Hong melangkah minggir menjauhkan diri dari pintu, terdengar suara tindakan kaki yang berat.
Tak lama kemudian muncullah tiga orang pengemis setengah tua di ambang pintu kamar itu.
Pengemis yang tengah ternyata datang sambil memanggul sebuah patung batu besar.
Patung ini adalah patung barongsai yang tadinya berada di ruang tengah dari kelenteng itu, sebuah barang kuno yang amat berat karena terbuat dan pada batu hitam.
Dengan mengangkat dan memanggulnya sehingga tindakan kakinya menjadi berat, tanpa terlihat sukar sama sekali membuktikan bahwa pengemis ini memiliki tenaga yang besar.
Ketika melihat Soan Li duduk di atas pembaringan sambil makan nasi dengan sepasang sumpit digerakkan ke mulut, pengemis itu menurunkan patung itu.
Ternyata bahwa ia telah membanting patung itu ke atas lantai disertai tenaga hebat sehingga barang-barang yang berada di dalam kamar itu terpental ke atas.
Bukan hanya barang-barang bahkan Sin Hong yang berdiri di dekat pembaringan, juga, ikut terlempar ke atas sehingga pemuda ini mengeluarkan seruan kaget.
Akan tetapi, ketika pengemis itu tertawa bergelak, ia melirik ke arah pembaringan yang diduduki oleh Soan .
Seketika itu juga suara ketawanya berhenti dan wajahnya berubah.
Tidak saja gadis ini seakan-akan tidak merasa sesuatu, bahkan empat kaki pembaringannya telah amblas ke dalam lantai!
Memang amat mengherankan.
Getaran bantingan patung batu yang amat berat itu telah membuat barang-barang lain terpental ke atas, akan tetapi pembaringan yang diduduki oleh Nona itu sebaliknya telah amblas ke bawah, ini sudah membuktikan bahwa Gak Soan Li memiliki tenaga lweekang yang amat mengagumkan.
Tentu saja akan lebih mengagumkan lagi kalau pengemis-pengemis tahu bahwa gadis itu telah lumpuh kedua kakinya.
"Pengemis busuk, apa perlunya kalian datang mengganggu aku makan?"
Bentak Soan Li menunda makannya sambil memandang dengan sepasang mata bersinar-mar.
"Apakah hendak mengemis makanan?"
"Aha, Lihiap benar-benar hebat,"
Pengemis yang tadi memanggul patung berkata dengan senyum sindir.
"tidak salah apa yang dikatakan oleh Giok Seng Cu Locianpwe bahwa murid Hwa I Enghiong benar-benar tangguh sekali. Tidak salah pula kata-katamu tadi bahwa kami datang hendak mengemis makanan, yakni kalau saja Lihiap ada makanan enak. Ha, ha!"
Orang-orang kang-ouw memang sering kali mempergunakan kata-kata dan kalimat atau istilah yang aneh-aneh Mengemis makanan bisa diartikan minta petunjuk dalam ilmu silat, yakni maksudnya mencoba kepandaian tinggi.
Dengan kata-kata lain pengemis itu menantang Soan Li untuk mencoba kepandaian kalau saja gadis itu memiliki kepandaian tinggi!
Benar-benar ucapan yang tidak saja mengandung tantangan akan tetapi juga ejekan.
"Hem, kalau kalian benar-benar sudah lapar sekali, nah, terimalah ini dan makanlah!"
Sambil berkata demikian, kedua tangan gadis itu bergerak cepat sekali dan secara bertubi-tubi.
Gerakan ini disusul oleh berteriaknya tiga orang pengemis itu yang bergulingan jatuh kemudian merayap bangun dan lari sipat kuping tanpa berani menengok lagi!
Apakah yang terjadi?
Gerakan kedua tangan Soan Li tadi mengakibatkan menyambarnya butiran-butiran nasi yang cepat sekali menyambar muka tiga orang itu.
Biarpun hanya nasi, akan tetapi karena dilempar oleh tangan yang mengandung tenaga sinkang tinggi, kalau mengenai kulit, nasi-nasi itu sama dengan pelor-pelor besi.
Nasi-nasi ini disusul menyambarnya sayur kemudian sepasang sumpit menyambar ke arah dua orang pengemis di kanan kiri dan mangkok menyambar ke arah pengemis di tengah-tengah Akibatnya memang hebat.
Pengemis-pengemis itu selain dihajar oleh nasi dan sayur yang mendatangkan rasa perih dan pedas di kulit muka, juga masih terkena hajaran sepasang sumpit yang mengenai jalan darah di pundak kedua pengemis, sedangkan mangkok itu dengan tepat memukul dada pengemis yang di tengah-tengah.
Pengemis ini tadinya hendak mengerahkan tenaga dan menerima dengan dadanya, akan tetapi ia kecele.
Dadanya serasa terkena pukulan yang ribuan kati beratnya, membuat ia terhuyung-huyung dan dengan ketakutan ia lalu melarikan diri diikuti oleh dua orang kawannya.
"Benar-benar mereka sudah kelaparan sekali. Begitu mendapat nasi dan sayur mereka berebut dan melarikan diri,"
Kata Sin Hong, diam-diam ia memuji kepandaian Nona Gak ini.
Soan ia menoleh kepada Sin Hong "Lam-ko, kau tidak tahu.
Mereka itu mungkin sekali anak buah dari Giok Seng Cu yang disuruh menyelidiki keadaanku.
Kau tidak tahu bahwa mereka itu biarpun tidak usah dikhawatirkan karena kepandaian mereka tidak berapa hebat akan tetapi kedatangan mereka menjadi tanda bahwa Giok Seng Cu tidak pergi jauh.
Kalau Giok Seng Cu yang keluar dan turun tangan sendiri, kiranya aku dan kau pada saat ini tidak dapat bercakap-cakap lagi dan barangkali sudah menjadi mayat."
Sin Hong memperlihatkan wajah kaget dan takut.
"Kaumaksudkan kakek yang buruk rupa itu, Gak-siocia? Aduh, habis bagaimana baiknya?"
Ia memang ingin sekali mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh gadis ini selanjutnya. Soan Li menarik napas panjang.
"Bagaimana baiknya? Hm, kalau dia turun tangan, apa boleh buat, aku akan melawannya dengan sekuat tenagaku. Aku takkan menyerah sebelum mati, apa lagi... aku dekat dengan engkau, Lam-ko, aku tidak takut mati."
Kini hati Sin Hong berdebar aneh. ia mulai dapat merasa akan sikap gadis ini terhadapnya, dan hal ini membuatnya malu dan tidak enak hati.
"Kalau dekat dengan aku mengapakah? Apakah yang dapat kulakukan aku seorang lemah ini? Kalau kau sendiri tidak dapat mengalahkannya, apalagi aku?"
"Bodoh, kau pandai mengobati. Kalau Giok Seng Cu muncul dan ada beberapa tulang-tulangku patah lagi, aku takut apakah? Kau pasti akan dapat menyembuhkannya."
"Kalau aku dia pukul mampus, bagai mana aku dapat merawat luka-lukamu Nona""
"Kalau kau dipukul mati, tentu aku pun mati. Mati berkawan seorang yang balk hati seperti engkau tidak mendatangkan penasaran hati, Lam-ko."
Setelah berkata demikian, dengan kedua tangan menekan pembaringan, tahu-tahu tubuh Soan Li telah melayang ke arah pundak Sin Hong.
"Awas, Lam-ko, sediakan pundak kananmu!"
Sin Hong memasang pundaknya dan tahu-tahu nona itu telah duduk di atas pundaknya di sebelah kanan, tangan kiri nona itu menekan pundak kirinya seperti merangkul leher.
"Tidak berat, Lam-ko?"
"Tidak sama sekali. Heran benar kau seperti tidak ada lima kati badanmu Nona,"
Kata Sin Hong.
Tentu saja pemuda ini tahu bahwa Soan Li menggerakkan ginkangnya, maka sengaja ia memuji agar disangka ia tidak mengerti sama sekali akan hal itu.
Maka berangkatlah dua orang itu meninggalkan kelenteng menuju ke barat.
Sin Hong tidak berani mempergunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi ia juga segan untuk berjalan terlalu lambat.
Maka ia lalu berjalan dengan langkah tegap dan lebar.
"Lam-ko, kau kuat sekali!"
Soan Li memuji.
"Sebagai seorang gunung, aku sudah biasa berjalan kaki dan berlari, Nona. Kadang-kadang aku harus melalui puluhan li dengan pikulan berisi hasil bumi yang beratnya hampir seratus kati. Oleh karena itu, memanggulmu bukan beban yang berat bagiku, beratmu paling banyak beberapa belas kati saja."
"Orang gila, masa ada orang beratnya hanya belasan kati"
Kalau aku mau, aku lebih berat daripada pikulanmu yang ratusan kati itu""
Sin Hong merasa khawatir kalau-kalau nona ini benar-benar membuktikan ancamannya.
Kalau Soan Li mengerahkan tenaga dan memberatkan tubuhnya, kedudukannya tentu serba sulit.
Tentu saja ia takkan merasa berat dan betapapun juga, akan sanggup memanggul tubuh Soan Li, akan tetapi kalau ia lakukan hal ini, berarti ia membuka rahasianya sendiri.
Kalau gadis itu memberatkan tubuh, ia terpaksa harus "tidak kuat"
Dan hal ini akan membuat ia dan gadis itu roboh terpelanting.
"Jangan, Nona. Jangan main-main, kita bisa jatuh"
Eh, lihat, bukankah ada orang-orang datang dan depan itu?"
Katanya untuk mengalihkan perhatian Soan Li.
Gadis itu memandang ke depan dan terheran.
Benar saja, dari jauh datang lima orang penunggang kuda.
Bagai-mana pemuda ini bisa tahu akan kedatangan mereka itu?
Kalau dia sendiri telah memiliki sepasang mata terlatih dan juga ia duduk di pundak itu sehingga ia menjadi lebih tinggi.
Akan tetapi bagaimana pemuda ini bisa mengetahui dulu akan kedatangan lima orang itu "Eh, benar ada lima orang penunggang kuda datang dari depan.
Akan tetapi bagaimana kau bisa tahu, Lam-ko?"
Memang sebetulnya, tadi Sin Hong bukan secara kebetulan saja menyatakan bahwa ada orang datang dari depan.
Memang pemuda ini telah memiliki penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam daripada Soan Li, maka sebelum gadis itu melihat atau mendengar, ia lebih dulu telah mendengar derap kaki kuda dan melihat bayangan lima titik depan.
Kini ia terkejut dan menyesal sekali.
Otaknya yang cerdik diputar dan sebentar saja sambil tersenyum ia sudah menjawab senang.
"Mudah saja, Gak-siocia. Dan jauh mereka memang tidak tampak olehku akan tetapi debu yang mengepul itu sudah kelihatan dari jauh. Debu yang mengepul di atas jalan raya, sudah pasti disebabkan oleh orang bukan oleh kerbau."
Soan Li tersenyum. Mengapa ia begitu bodoh? Memang alasan ini kuat sekali Di belakang lima ekor kuda itu memang debu mengepul tinggi sehingga mudah di lihat dari jauh.
"Kau memang pandai, Lam-ko."
"Bukan pandai, hanya sudah biasa dengan kehidupan di tempat sunyi, Nona."
Sementara itu, lima orang penunggang kuda itu sudah tiba dekat dan mereka itu ternyata lima orang laki-laki.
Han Sin Hong berdebar ketika inelihat bahwa dua orang di.antara mereka adalah dua orang pengemis yang pundaknya terkena totokan sepasang sumpit yang dilemparkan oleh Soan Li di kelenteng tadi pagi.
Hmm, agaknya akan terjadi hal-hal tidak enak, pikirnya.
Apalagi kalau ia lihat tiga orang lainnya yang kelihatannya bukan orang sembarangan.
Yang dua orang adalah orang-orang setengah tua dengan pakaian piauwsu (pengawal barang kiriman), dan mereka ini kelihatan sebagai ahli-ahli lweekeh karena sepasang mata kedua orang ini berkilat-kilat dan berpengaruh.
Akan tetapi yang lebih niengkhatirkan hati Sin Hong adalah orang ketiga yakni seorang gundul yang seperti hwesio, akan tetapi mukanya memperlihatkan sifat jahat, sama sekali tidak patut seorang pertapa, apalagi tubuhnya tinggi besar dan nampakm ia kuat bukan main, sungguhpun usianya sudah amat tua.
Lima orang itu menghentikan kuda mereka dan dua orang yang berpakaian seperti piauwsu itu tertawa bergelak ketika melihat Sin Hong dan Soan Li.
Telunjuk mereka menuding ke arah Sin Hong dan mereka tertawa geli sampai memegang perut.
"Eh, kalian ini kenapa tertawa? Apa sih yang lucu?"
Sin Hong menegur karena ia mendongkol sekali. ia dapat menduga bahwa tentu dia yang ditertawai karena dia memanggul tubuh Gak Soan Li "Ayaa..!"
Seorang di antara dua piauwsu itu berpura-pura kaget untuk melawak.
"Kiranya kuda berkaki dua ini masih pandai bicara segala! He, kuda kaki dua, kau setiap hari makan rumput ataukah...?"
Baru saja ia bicara sampai di sini, piauwsu ini melompat kaget dari kudanya yang meringkik dan mengangkat kedua kaki depan, lalu meronta-ronta dan hendak minggat.
Akan tetapi, sekali menepuk pundak kuda itu dengan tangannya, piauwsu tadi dapat membuat kuda itu tidak berdaya dan lemas!
Kemudian piauwsu ini dengan muka berubah mencabut sebatang jarum halus dari leher kudanya dan memandang ke arah Soan Li dengan muka merah.
Memang, ketika tadi ia mengganggu Sin Hong, Soan Li marah sekali dan sekali tangan kirinya bergerak, dua batang jarum menyambar ke arah depan, yang sebatang menyambar muka piauwsu yang baru bicara mengejek Sin Hong, sedangkan jarum ke dua menyambar leher kudanya.
Piouwsu tadi memang lihai.
ia dapat mendengar datangnya jarum dan dapat cepat mengelak akan tetapi kudanya menjadi korban.
Baiknya ia memang berkepandaian tinggi sehingga ia dapat membikin kudanya tak berdaya sebelum kuda itu melarikan diri dan dapat mencabut jarum yang menancap di leher kudanya.
Melihat ini, diam-diam Soan Li mengeluh.
Ia menghadapi lawan yang tangguh.
Tentu saja ia tidak akan gentar menghadapi mereka ini kalau kedua kakinya dapat digerakkan.
Akan tetapi dengan duduk di atas pundak Gong Lam, ia dapat berbuat apakah?
"Inikah murid Hwa I Enghiong yang kalian maksudkan?"
Tanya piauwsu kedua yang lebih tua kepada dua orang pengemis di sampingnya. Dua orang pengemis itu mengangguk. Piauwsu itu lalu mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Soan Li.
"Benar-benar murid Hwa I Enghiong hebat sekali. Tidak saja kepandaiannya tinggi, akan tetapi juga memilikt keberanian yang luar biasa pula. Sayangnva. kepandaian yang tinggi itu dipergunakan untuk menghina dan merendahkan orang lain. Sampai-sampai memaksa seorang pemuda tampan menjadi kudanya. Ilmu ... memalukan benar!"
"Hei tutup mulutmu. kau kambing busuk! Aku memanggul Nona ini atas kehendakku sendiri, secara suka rela sama sekali tidak dipaksa! Juga aku bukan kuda, kau tahu? Enak saja kau bicara!"
Sin Hong memaki-maki marah sambil tangannya menuding-nuding ke arah piauwsu itu yang memang memiliki jenggot panjang meruncing seperti jenggot kambing.
Pada saat itu, Soan Li juga sudah menggerakkan tangannya mengirim tiga batang jarum ke arah piauwsu itu.
Piauwsu itu dengan senyum mengejek mengibaskan lengan bajunya untuk menyampok runtuh tiga batang jarum tadi.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit dan lengannya yang dipergunakan menyampok jarum-jarum tadi berdarah!
Ketika ia melihat ternyata bahwa dua batang di antara jarum-jarum itu biarpun menancap pada kulit lengannya, biarpun tidak begitu dalam, lengannya berdarah dan perih.
I benar-benar merasa heran karena tadi ia sudah mempergunakan tenaga lweekang untuk menyampok jarum-jurum itu, mengapa tiba-tiba tenaganya lenyap sebagian besar sehingga jarum-jarum itu masih mengenai lengannya?
Tentu saja tak seorang pun menduga bahwa ini adalah disebabkan oleh kedua telunjuk tangan Sin Hong yang digerak-gerakkan menuding ke arah piauwsu itu ketika ia memaki-maki.
Dari telunjuknya keluar hawa sinkang yang secara aneh telah dapat memukul piauwsu itu sehingga ketika piauwsu itu mengibaskan lengannya, tenaga lweekangnya lenyap terpukul oleh sinkang dari kedua telunjuk Sin Hong yang digerakkan!
Bagi piauwsu itu, tentu mengira bahwa Soan Li memang memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka ia tidak berani banyak cakap dan mukanya berubah.
Sebaliknya Soan Li mengira bahwa piauwsu ini kepandaiannya tidak berapa hebat.
Ia lalu berkata dengan suara nyaring.
"Aku Gak Soan Li selama hidupku belum pernah bertemu dengan kalian, mengapa kalian mengambil sikap bermusuhan? Memang betul bahwa aku adalah murid Suhu Go Ciang Le, habis kalian mau apakah?"
Dua orang pengemis itu sudah tahu akan kepandaian Soan Li, maka mereka tidak berani banyak bicara.
Adapun dua orang piauwsu itu kini berpaling kepada hwesio tinggi besar tadi, seakan akan minta keputusan.
Hwesio tinggi besar itu membuka mulut dan suaranya terdengar seperti desis ular ketika ia berkata.
"Kalian turun tangan dan coba tangkap dia!"
"Baik, Suhu!"
Dua orang piauwsu itu berkata girang, lalu keduanya melompat turun dari kudanya dan bersama piauwsu pertama melangkah maju menghadapi Soan l.i yang masih duduk di pundak Sin Hong.
"Nona Gak yang baik, kami adalah Po An Ci-heng-te (Kakak Beradik she Ci dari Po An) yang menjadi piauwsu di Po An. Tentunya kau sudah pernah mendengar nama kami berdua...."
"Eh, eh, kalian ini mau jual obat atau mau main wayang? Mau bicara lekas bicara ada keperluan apa pakai memperkenalkan nama segala! Mana Nona Gak mengenaI manusia-manusia seperti kalian?"
Sin Hong membentak marah.
ia merasa sebal sekali melihat lagak dua orang piauwsu yang sombong itu.
Soan Li menekan pundaknya memberi tanda agar pemuda ini jangan naik darah karena gadis itu tidak berani bersikap sembrono.
Ia maklum bahwa kalau dua orang muridnya saja sudah setangguh ini, apalagi hwesio tinggi besar itu, tentu memiliki kepandaian tinggi sekali.
"Kalian mau apakah?"
Tanyanya.
"Kau sudah mendengar sendiri bahwa Suhu menyuruh kami menawanmu, Nona. Kami merasa sayang untuk membikin kau lelah, juga tidak tega membiarkan kau terluka. Oleh karena itu lebih baik Nona menyerah saja tanpa perlawanan dan menurut saja kami tawan untuk memenuhi perintah Suhu."
"Manusia-manusia rendah, siapa sudi mendengar omonganmu?"
Bentak Soa Li dan kembali kedua tangannya bergerak.
Empat batang jarum yang sudah disiapkan menyambar ke arah dua orang piauwsu itu.
Akan tetapi kini kedua Ciheng-te itu sudah siap sedia, maka dengan mudah mereka dapat mengelak.
"Gadis keji, kau memang tidak patut dikasihani!"
Seru dua orang piauwsu itu yang mulai mendesak maju dengan sikap mengancam sekali.
"Lam-ko, ulur kedua lenganmu, biar, aku duduk di atas kedua lenganmu untuk melawan mereka!"
Kata Soan Li cepat.
Sin Hong maklum akan maksud gadis itu dan ia kagum atas ketabahan hati Soan Li.
Segera ia melonjorkan kedua lengannya ke depan dengan kedua siku mepet pinggang.
Soan Li lalu bergerak dan tubuhnya meluncur turun dari pundak ke atas lengan itu.
ia duduk di atas kedua lengan Sin Hong seperti orang duduk di atas kursi.
Tentu saja ia mempergunakan ginkangnya sebaik mungkin agar tubuhnya tidak terlalu memberatkan pemuda yang menyangganya.
Diam-diam Sin Hong mengeluh.
Kalau Soan Li terlalu mengerahkan tenaga untuk meringankan tubuh, tentu ia kurang kuat menghadapi lawan-lawannya.
Bagi dia tentu saja tidak terasa berat, biarpun andaikata ditambah lagi dengan lima orang Soan Li menindih kedua lengannya.
Di lain pihak, Ci Kong dan Ci Kwan, dua kakak beradik dari Po An itu, memandang heran dan ragu-ragu untuk turun tangan.
Apakah gadis ini main-main ataukah memang sudah gila?
Mana ada orang berkelahi dengan cara macam itu?
"Nona, jangan kau main gila.
Turunlah, mari kita bertempur sampai seribu jurus!"
Kata Ci Kwan. Tangan Soan Li bergerak dan pedangnya sudah berada di tangan kanan.
"Tikus sawah, kalau kalian ada kepandiaan, majulah jangan banyak cerewet,"
Jawab Soan Li.
Ci Kong dan Ci Kwan marah sekali.
Mereka merasa dipandang rendah oleh gadis ini.
Dengan garang mereka lalu mencabut senjata mereka, yakni sebatang golok besar yang tergantung di pinggang.
"Kwan-te (Adik Kwan), kautusuk mampus kuda kaki dua itu, biar aku yang menawan Nona ini!"
Kata Ci Kong kepada adiknya.
Kemudian mereka serentak maju menyerang.
Ci Kwan menggunakan goloknya untuk menyerang lambung Sin Hong dan samping, sedangkan Ci Kong mengerahkan tenaga membacok leher Soan Li untuk mencegah gadis ini melindungi pemuda yang menyangganya.
Serangan ini hebat.
Soan Li maklum bahwa untuk dapat menghindarkan dua serangan ini, harus digunakan gerak tipu Hiu-po-liu-hong (Pancuran Air Dilngkungi Pelangi).
Tentu saja ia dapat menggerakkan pedangnya melakukan gerakan ini, akan tetapi bagaimana ia harus menggerakkan tubuhnya?
Setelah duduk di atas kedua lengan Sin Hong sekarang ia tidak leluasa bergerak, boleh dibilang tubuh dan kedua kakinya telah dikuasai oleh pemuda yang menyanggahnya.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjadi girang dan juga terkejut heran karena pemuda yang menyangganya itu, yang agaknya ketakutan melihat golok menyambar-nyambar telah melangkah ke kiri dan tepat sekali ialah melakukan gerak kaki yang cocok betul dengan jurus Hia-po-liu-hong!
Soan Li telah menggerakkan pedangnya dan terdengar dua kali suara nyaring ketika pedangnya menangkis serangan dua golok itu.
Ci Kong dan Ci Kwan terkejut sekali.
hampir saja senjata mereka terlepas dari pegangan, demikian kuat tangan gadis itu.
Mereka merasa heran sekali bagaimana serangan dari dua jurusan dapat ditangkis sekaligus oleh Soan Li.
Akan tetapi mereka tidak diberi kesempatan untuk memkirkan hal ini.
Kini pedang Soan Li sudah berkelebat menyambar ke arah mereka.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Soan Li ketika Sin Hong mengajukan kaki ke depan dan gerakan Sin Hong tepat sekali bagi Soan Li untuk menyerang dengan gerak tipu Sianli-kai-in (Dewi Membuka Mega).
Demikian cepat gerakan pedang di tangan So Li sehingga biarpun Ci Kong dapat mengelak, namun Ci Kwan yang menggunakan golok menangkis, tiba-tiba berseru kesakitan, goloknya terlepas dari pegangan dan tiga jari tangannya terbabat putus!
Memang gerak tipu yang dimainkan oleh Soan Li ini berbahaya sekali, sebuah jurus silat dari Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-hoat yang lihai.
Pedang di tangannya ketika bertemu dengan golok yang menangkis, bukan terpental kembali, melainkan meluncur di sepanjang batang golok lawan yang memegang gagang golok.
Akan tetapi ketika Soan Li hendak maju untuk mengirim serangan maut kepada Ci Kwan, tiba-tiba Sin Hong melangkah ke jurusan lain!
Soan Li merasa kecewa sekali, akan tetapi ia tak dapat menyesal, karena bukankah Sin Hong memang tidak mengerti ilmu silat?
Kalau tadi pemuda itu melangkah ke jurusan yang tepat seperti yang ia kehendaki, adalah kebetulan saja.
"Ke kanan dua langkah!"
Soan Li berkata lirih kepada Sin Hong.
Pemuda tadinya sengaja melangkah ke lain jurusun oleh karena memang ia tidak suka melihat gadis itu menurunkan tangan maut kepada Ci Kwan.
Sekarang, setelah Ci Kwan melompat mundur ke dekat hwesio tinggi besar itu, barulah ia menurut perintah Soan Li dan melangkah ke kanan dua kali.
Ci Kong menyambutnya dengnan sambaran golok.
Ia marah sekali karena adiknva telah terluka pada gebrakan pertama dan ingin membalas dendam, maka serangan goloknya bertubi-tubi dan cepat sekali datangnya.
Namun ia memang bukan tandingan Soan Li.
Ke mana saja goloknya menyambar, selalu senjata ini terpental kembali.
Soan Lt terus berkali-kali memberi aba-aba kepada Sin Hong untuk mengatur gerakan tubuh seperti melangkah kekiri, merendahkan tubuh, mirmgkan tubuh dan lain lain.
Biarpun gerakannya kelihatan kaku, namun anehnya selalu Soan Li nendapat kedudukan yang menguntungkan dalam pertandingan menghadapi Ci Kong sehingga dalam jurus ke lima belas ia sudah berhasil menusuk dan melukai pundak Ci Kong.
Ci Kong penasaran dan marah sekali, akan tetapi tiba-tiba hwesto tinggi besar itu membentak.
"Ci Kong mundur kau!"
Bentakan yang mengguntur ini membuat Soan Li dan Sin Hong terkejut.
Dalam bentakan ini terkandung tenaga khi-kang yang besar sekali, tanda bahwa hwesio itu benar-benar bukan seorang yang boleh dipandang ringan.
"Hwesio tua bangka, kau seorang pendeta apakah tidak malu menghina seorang gadis muda! Tidak malukah kau melawan seorang yang jauh lebih muda dari padamu? Kalau mau mencari lawan carilah bangsa siluman dan pertapa, jangan mengganggu Nona Gak!"
Sin Hong mendamprat marah.
Soan Li merasa senang melihat sikap pemuda ini, akan tetapi gadis ini adalah murid dari Go Ciang Le dan ia memiliki watak yang keras.
Ia merasa malu karena ucapan Sin Hong tadi seakan-akan menyatakan bahwa dia takut menghadapi hwesio ini, maka ia cepat berkata.
"Lam-ko, biarlah. Kalau dia berkeras hendak maju aku pun tidak takut!"
Mendengar ini, diam-diam Sin Hong mengeIuh.
Kulau saja kedua kaki Soan Li tidak lumpuh, kiranya ia masih percaya gadis itu akan dapat melawan hwesio ini.
Akan tetapi dengan duduk di atas kedua lengannya, bagaimana Soan Li dapat melawan dengan baik?
Kalau ia terlalu membantu berarti membuka rahasianya sendiri, maka ia menjadi serba salah.
"Hm, begitukah? Biarpun begitu, kalau hwesio raksasa gundul ini hendak menggunakan senjata, benar-benar ia seorang yang tak tahu malu sama sekali. Ia lebih tua, lebih besar, lebih tinggi, pendeknya lebih kuat. Sedangkan Gak-siocia hanya duduk dan membela diri mana bisa disebut adil?"
Hwesto itu tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha, bocah ini dahulu tentu seekor kuda yang setia, sehingga sekarang setelah menjelma menjadi manusia, sifatnya masih sama. Kau beruntung sekali mendapatkan seekor kuda kaki dua seperti dia, Nona. Biarlah pinceng tidak akan mengeluarkan senjata dan akan menggunakan kedua tangan untuk menangkapmu dan melempar pergi kuda kaki dua ini."
Sin Hong sudah merasa girang mendengar ini.
Kalau hwesio ini tidak bersenjata, kiranya pedang di tangan Soan Li masih akan dapat menguasainya.
Akan tetapi, tak disangkanya bahwa Soan Li selain memiliki watak yang keras, juga mempunyai sifat kegagahan dan pantang mundur, lagi tak mengenal takut.
Melihat hwesio itu hendak maju dengan tangan kosong, ia merasa dipandang rendah sekali, maka ia pun cepat menyarungkan pedangnya sambil berkata.
"Lo-suhu, kau memiliki dua lengan apakah aku tidak? Kau pandai bersilat tangan kosong aku pun bisa. Majulah!"
Hwesio itu tertawa lagi dan sambil berseru keras ia memukul dengan kepalan tangannya yang besar, meninju ke arah kepala Sin Hong!
Melihat hebatnya pukulan yang bersembunyi di balik kepalan tangan itu tidak kalah banyak oleh tenaga pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu!
Ia tahu bahwa kalau Soan Li menangkis, lengan gadis itu akan terluka.
Di lain pihak Soan Li sendiri pun kaget dan tahu bahwa lawannya ini benar-benar memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi melihat hwesio itu memukul pala Sin Hong, ia tidak rela membiarkan begitu saja.
Ia tahu bahwa pemuda yang menyangganya tentu tak dapat mengelak dari pukulan itu, maka dengan nekat ia mengangkat tangan kanan menangkis pukulan hwesio itu.
"Plak...!"
Tubuh Soan Li di atas kedua lengan Sin Hong bergoyang-goyang seperti setangkai bunga tertiup angin.
Akan tetapi yang aneh dan luar biasa sekali, tubuh hwesio tinggi besar itu terlempar dan terjengkang sampai tiga tombak lebih jauhnya!
Soan Li tersenyum dingin menganggap bahwa hwesio itu ternyata hanya nampaknya saja gagah, akan tetapi tenaganya ternyata tidak sangat besar seperti yang ia khawatirkan tadi.
Sebaliknya, hwesio tinggi besar itu berdiri dengan kedua mata terbelalak heran juga gentar melihat Soan Li.
Baru menangkisnya sambil duduk saja, gadis telah berhasil membuatnya terlempar dan terjungkal!
Hwesio itu bergidik dan berkata kepada empat orang kawannya.
"Mari kita pergi!"
Ia melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu, diikuti oleh empat orang kawannya yang menjadi kecewa sekali.
Diam-diam Sin Hong merasa lega bahwa hwesio tadi telah dapat dibikin takut oleh akalnya.
Ketika tadi Soan Li menangkis lengan hwesio itu diam-dia Sin Hong mengerahkan tenaganya ke dalam sebuah lengan yang ia tempelkan di pinggang Soan Li.
Maka ketika kedua lengan bertemu, hwesao itu merasa betapa kuat tenaga lweekang yang keluar dari lengan gadis itu, akan tetapi ia tak kan terlempar begitu jauh kalau saja tiba-tiba ia tidak terdorong oleh hawa pukulan dari bawah.
Ini pun pekerjaan Sin Hong yang tanpa diketahui oleh yang lain, tangan kanannya melakukan gerakan mendorong dari bawah tubuh Soan Li ke arah perut hwesio itu!
"Ha, hwesio siluman, mana bisa melawan Gak-siocia yang gagah perkasa?"
Kata Sin Hong sambil mentertawakan hwesio itu dan empat orang kawannya yang membalapkan kuda melarikan diri.
"Lam-ko kauturunkan aku di bawah pohon sana itu."
Kata Soan Li.
"Eh, kenapa, Nona?"
Banyak orang jahat di sini, bukankah kita lebih baik lekas-lekas pergi ke kota?"
"Tidak, kauturunkanlah aku."
Desak Soan Li.
Sin Hong tak dapat membantah pula, namun ia ingin tahu mengapa tiba-tiba gadis ini minta beristirahat.
Lelahkah dia?
Ataukah terluka ketika bertempur tadi?
Setelah Soan Li diturunkan dan duduk di atas tanah yang ditilami daun-daun kering dan rumput, gadis itu memandang mesra kepadanya dan berkata.
"Aku minta beristirahat karena kau tentu lelah sekali, Lam-ko. Kalau sudah hilang lelahmu barulah kita akan melanjutkan perjalanan."
"Aku? Lelah? Ah, menyindir, Gak Siocia patutnya kaulah yang lelah, kau baru saja menghadapi pertempuran mati-matian."
Sin Hong merasa jantungnya berhenti berdetik. Celaka, gadis ini agaknya sudah tahu akan rahasianya, pikirnya. Maka hanya dapat menoleh dan menatap wajah gadis itu tanpa menjawab. Soan Li tersenyum.
"Lam-ko, apa artinya semua perlawananku tanpa menggerakkan tubuh dan kaki? Kedua tanganku yang bekerja, akan tetapi yang bergerak adalah tubuh dan kakimu. Kaulah yang (Lanjut ke
Jilid 18) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 menentukan kemenangan tadi!"
Sin Hong menghela napas lega. wajahnva berseri. Hal ini dianggap oleh Soan Li bahwa pemuda itu puas dan bangga mendapat pujiannya.
"Kau memang cerdik sekali, Lam-ko. Kalau saja kau tidak dapat mengikuti kehendakku dan kau sampai salah melangkahkan kaki pada saat berbahaya tentu kita berdua sudah menjadi korban pukulan lawan."
Pada saat Sin Hong kurang memperhatikan kata-kata Soan Li karena ia tengah bengong dan memandang ke langit.
Soan Li mengerutkan kening mengira pemuda itu tidak mengacuhkannya.
Akan tetapi ketika ia ikut pula memandang ke atas, melihat seekor burung rajawali yang amat besar sedang terbang di atas dengan amat megahnya.
"Burung rajawali..!"
Kata Soon Li kagum. Sin Hong sudah melompat dan berlari ke arah burung itu terbang.
"Eh, Lam-ko, kau hendak ke mana...??"
Soan Li bertanya kaget.
"Tunggu sebentar di situ, Siocia. Burung itu indah dan besar, aku ingin melihatnya dari dekat!"
Jawab Sin Hong sambil berlari terus. Setelah menghilang di jalan tikungan, pemuda ini lalu mengerahkan ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya.
"Lam-ko...!"
Ia mendengar panggilan Soan Li, akan tetapi tidak mempedulikannya. Panggilan itu berulang sampai beberapa kali, dan berakhir dengan seruan memanjang dan mengerikan.
"Lam koooo""
Akan tetapi sayang, pada saat seruan ini menggema, Sin Hong sudah terlalu jauh untuk dapat mendengar seruan Sin Hong meninggalkan Soan Li bukan tidak ada sebabnya.
Ketika ia melihat burung rajawali tadi, segera mengenal burung itu sebagai burung kim-tiauw yang dulu pernah ia tunggangi ke Hoasan, yakni burung peliharaan dari See-thian Tok-ong Si Raja Racun.
Melihat burung ini terbang ke jurusan Pulau Kim-ke-tho, Sin Hong menjadi gelisah sekali.
Ia tahu bahwa ke mana saja burung itu pergi, pasti ia menjadi pelopor dari Raja Racun itu.
Kalau burung itu terbang ke arah Pulau Kim-ke-tho dan kelihatan di daerah ini, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kedatangan See-thian Tok-ong di daerah ini tentu ada hubungannya dengan Hek-kin-kaipang.
Selain perkumpulan pengemis ini, tidak ada hal lain yang akan menarik hati seorang kang-ouw.
Karena ia merasa khawatir kalau-kalau Hek-kin-kaipang diganggu oleh Raja Racun yang keji, dan ia tahu betul bahwa gihunya dan yang lain takkan dapat menandingi See-thian Tok-ong seanak isteri, maka ia cepat-cepat menyusul ke Kim-ke-tho dan meninggalkan Soan Li untuk sementara waktu.
Tentu saja Sin Hong tidak pernah menduga bahwa Soan Li yang ditinggalkannya itu terancam bahaya hebat.
Belum lama setelah ia pergi, Soan Li yang duduk seorang diri sambil memanggil-manggil nama Gong Lam atau Sin Hong, tiba-tiba gadis ini melihat datangnya Giok Seng Cu!
Tak terasa pula, saking ngeri dan takut menghadapi kakek yang amat lihai ini, panggilannya kepada "Lam ko"
Menjadi makin nyaring dan panjang.
"Ha, ha, ha, ke mana perginya kau punya Koko yang baik, Nona manis?"
Giok Seng Cu tertawa bergelak sambil menghampiri Soan Li.
Gadis ini menggigit bibir dan siap dengan pedangnya, Giok Seng Cu menubruk maju.
Ketika pedang Soan Li menusuk dadanya, kakek ini menggunakan ujung lengan baju melibat pedang sehingga pedang itu seakan-akan dicengkeram oleh tangan yang amat kuat.
Mereka saling membetot dan pada saat itu, pukulan Tin-san-kang yang hebat telah mengenai pundak Soan Li membuat gadis itu mengeluarkan keluhan panjang dan pingsanlah ia!
Sambil terkekeh-kekeh, Giok Seng Cu mengempit pinggang gadis itu dan dibawanya lari dari situ.
Memang setelah ia dikejutkan oleh Sin Hong yang menerima pukulan Tin-san-kang dengan dada terbuka, Giok Seng Cu melarikan diri, akan tetapi diam-diam ia mengikuti dan mengintai keadaan Soan Li dengan amat terheran-heran ia melihat betapa pemuda aneh dan lihai itu berlaku seperti seorang pemuda tolol, menolong Soan Li dan mengobatinya.
ia pun mendengar pemuda itu dipanggil "Gong Lam-ko"
Oleh Soan Li.
Diam-diam Giok Seng Cu memutar otak.
Ia merasa sudah pernah melihat pemuda ini, akan tetampi sikap ketololan dari Sin Hong dan nama Gong Lam membikin Giok Seng Cu bingung dan ia lupa lagi dimana ia pernah bertemu dengan pemuda ini.
Tentu saja ia sama sekali tidak teringat lagi akan Wan Sin Hong, bocah yang dahulu telah ia lemparkan ke dalam jurang di puncak Luliang-san.
Betapapun juga di saat Sin Hong dekat dengan Soan Li.
Giok Seng Cu sama sekali tidak berani muncul.
Dari hasil pengintaiannya ia tahu bahwa gadis itu "jatuh cinta"
Kepada Gong Lam, dan ia menduga bahwa sebaliknya pemuda itu tentu jatuh hati pula kepada Soan Li.
Laki-laki manakah yang takkan jatuh hati kepada seorang gadis cantik ini?
Apalagi kalau ia ingat betapa pemuda itu sudah mengobati kedua paha gadis itu!
Ketika ia mengintai dan melihat Soan Li mengalahkan tiga orang pengemis yang sebetulnya disuruh mengganggu dan sengaja disuruhnya mencari perkara untuk memancing dan membuka rahasia pemuda Giok Seng Cu masih belum berhasil mengetahui siapa adanya Sin Hong.
Kemudian, ia melihat pula betapa hwesio tinggi besar itu juga kalah oleh Soan Li berkat bantuan secara sembunyi oleh pemuda tolol itu.
Ia benar-benar kaget sekali.
Hwesio tinggi besar itu bukan lain adalah Be Mau Hoatsu, tokoh besar dari Tibet yang kepandaiannya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri.
Akan tetapa dalam segebrakan saja dengan meminjam tangan Soan Li, pemuda itu dapat melemparkannya.
Benar-benar hebat sekali pemuda kecil ini!
Karena ia mengintai dan memperhatikan, mata Giok Seng Cu yang tajam dapat melihat semua gerakan diam-diam dari Sin Hong dan pada saat itulah terbuka mata Giok Seng Cu, membuat kakek ini hampir saja mengeluarkan seruan saking kaget dan herannya.
"Demi iblis!"
Pikirnya.
"Diakah anak itu??"
Giok Seng Cu mengingat-ingat.
Tak salah lagi gerak kaki dan pukulan pemuda itu yang ditujukan kepada Ba Mau Hoatsu, adalah gerakan dan Ilmu Pak-kek-sin-ciang yang paling sulit dan hebat.
Selain Go Ciang Le, siapa lagi manusia di muka bumi ini yang dapat melakukan pukulan macam itu?
Kalau pemuda ini putera atau murid Go Ciang Le, tak mungkin Gak Soan Li tidak mengenalnya, karena Soan Li adalah murid Ciang Le.
Akan tetapi, pemuda ini berlaku ketolol-tololan dan kepandaiannya lebih tinggi daripada Soan Li bahkan ia sangsikan apakah kepandaian Ciang Le sendiri sampai meningkat setinggi tingkat kepandaian bocah ini.
Akhinya ia teringat akan bocah yang ia lemparkan ke dalam jurang di puncak Luliangsan, Ah, ia sekarang ingat.
Wajah pemuda ini memang sama benar dengan wajah bocah yang bernyali besar, yang berada di puncak Luliang-san, menjaga makam Pak Kek Siansu.
Tentu bocah ini sudah mewarisi kepandaian Pak Kek Siansu, akan tetapi ..
dengan cara bagaimanakah?
Apakah ketika dilemparkan ke dalam jurang, bocah ini tidak mampus?
Giok Seng Cu benar-benar bingung.
kemudian ia melihat Ba Mau Hoatsu dan kawan-kawannya melarikan diri dan melihat pula burung kim-tiauw terbang lewat, kemudian dikejar oleh Sin Hong.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Giok Seng Cu.
Sebuah pikiran dan akal yang amat baik teringat olehnya.
Maka segera ia menyerang dan menawan Gak Soan Li, lalu dibawanya pergi dengan cepat sekali.
Apa yang dikhawatirkan oleh Sin Hong ternyata terbukti, ketika pemuda ini tiba di pantai, ia melihat burung kim-tiauw itu telah meluncur turun di Pulau Kim-ke-tho.
Ia cepat melompat ke dalam sebuah perahu anggauta Hek-kin-kaipang yang banyak menyediakan perahu di tempat itu.
"Apakah ada seorang tinggi besar gundul muka hitam bersama seorang nyonya dan seorang pemuda gundul menyeberang ke pulau?"
Tanyanya cepat kepada seorang pengemis.
Para pengemis sudah mengenal Sin Hong sebagai putera angkat Lie Bu Tek.
Mereka tidak ada yang tahu bahwa Sin Hong memiliki kepandaian yang amat tnggi, akan tetapi melihat Lie Bu Tek, maka anggauta Hek-kin-kaipang menghormatnya.
"Betul, tadi memang mereka menyeberang dan menyewa perahu dengan bayaran royal sekali,"
Kata seorang di antara mereka.
Tanpa mempedulikan mereka lagi, Sin Hong mendayung perahunya cepat sekali sehingga para pengemis itu melongo.
Bagaimana ada orang dapat mendayung perahu secepat itu sehingga leb"h cepat luncurannya daripada kalau digerakkan oeh layar yang tertiup angin?
"Aneh...
aneh..."
Kata mereka.
Sin Hong dengan gelisah sekali mendayung perahunva dan sebentar saja ia telah tiba di daratan Pulau Kim-ke-tho.
tanpa mempedulikan lagi perahu yang dipinjamnva, ia meloncat ke darat dan terus lari ke arah perkumpulan Hek-kin kaipang.
Ia masih gelisah ketika melihat orang-orang berlari ke sana ke maril dalam keadaan panik.
Ketika ia tiba di depan rumah perkumpulan, kemarahannya memuncak.
Da sana-sini menggeletak tubuh para anggauta Hek-kin-kaipang yang sudah menjadi mayat juga tubuh beberapa orang bekas pelayan Yap Kong Ki.
Sebagian besar lagi melarikan diri ketakutan.
Di depan rumah perkumpulan atau bekas rumah gedung Yap Kong Ki, masih terjadi pertempuran hebat.
Sin Ho melihat See-thian Tok-ong yang bertangan kosong sedang dikeroyok oleh Li Bu Tek, Ah Kai, Tiat-ciat eng Lai Sek, dan masih ada beberapa orang tokoh Hek-kin-kaipang.
Tan Lokai tidak muncul karena pengemis tua ini masih dalam keadaan terluka dalam pertempuran kemarin dulu.
Biarpun See-thian Tok-ong bertangan kosong, namun semua pengeroyoknya tak dapat mendekat, bahkan selalu terjengkang mundur kalau terkena sambaran angin pukulan Raja Racun yang lihai itu.
Ini baru See thian Tok-ong seorang diri yang turun tangan, sedangkan tak jauh dari situ, Kwan Ji Nio berdiri melihat-lihat rumah gedung yang megah itu.
Adapun Ban beng Sin-tong Kwan Kwan Kok Sun, pemuda gundul yang mukanya masih seperti bocah itu, sambil tertawa terkekeh melempar-lemparkan batu-batu kucil ke kanan kiri.
Setiap orang yang terkena lemparan batunya, biarpun baru itu kecil sekali, berteriak kesakitan sambil berlari tunggang langgang.
Ketika Sin Hong memandang lebih tegas, ternyata bahwa yang dilempar-lemparkan itu bukanlah batu-batu kecil, melainkan tawon-tawon hitam kecil yang diambilnya dari sebuah kantong.
Tawon-tawon ini berbisa dan kalau mengenai tubuh orang lalu menyengat.
Biarpun sengatannya tidak mematikan orang, akan tetapi menimbulkan rasa gatal-gatal dan sakit luar biasa sekali.
Tiba-tiba terdengar See-thian Tok-ong mengeluarkan suara pekik yang luar biasa tidak menyerupai suara manusia.
Akan tetapi akibatnya luar biasa sekali.
Sebagian besar anggauta Hek-kin-kai-pang kelihatan terjungkal sambil menutupi telinga dengan kedua tangan dan wajah mereka pucat sekali, kelihatan mereka menderita rasa sakit yang luar biasa.
Bahkan Lie Bu Tek dan Ah Kai yang berkepandaian paling tinggi di antara semua kawan, nampak menggigil dan otomatis mengundurkan diri, tidak berani mendekati kakek Raja Racun ini.
Lai Sek yang memiliki tenaga gwakang cukup besar akan tetapi tenaga lweekangnya kurang tinggi, jatuh dan bergulingan untuk menjauhkan diri.
Wajahnva pucat dan merasa jantungnya berdebar keras, telinganya seakan-akan pccah dari sebelah dalam!
"Ha-ha-ha, orang-orang Hek-kin-kai pang, dengarlah baik-baik!
Kami bertiga sesungguhnya datang bukan untuk menyebar kematian, melainkan untuk menduduki ketua Hek-kin-kaipang dan tinggal di pulau ini.
Kalau kalIan melepas senjata dan menakluk sebagai anak buah kami, kalian akan diampuni.
Akan tetapi kalau ada yang membantah, jangan tanya dosa, pasti akan mengalami kemataian yang mengerikan.
Ketahuilah, bahwa aku adalah See-thian Tok-ong, dia ini adalah isteriku dan yang itu puteraku!"
Mendengar ini semua orang kelihatan kaget setengah mati.
Para anggauta Hek-kin-kaipang ini tentu saja pernah mendengar nama iblis yang datang dari barat yang baru saja muncul di dunia kang-ouw dan nama mereka menggetarkan jagat.
Siapakah yang tidak takut mendengar nama See-thian Tok-ong, yang kabarnya dengan suara saja dapat membunuh puluhan orang?
Siapa tidak ngeri mendengar nama Kwan Ji Nio, yang kabarnya memiliki ilmu silat tidak kalah oleh suaminya dan wataknya ganas melebihi siluman?
Dan siapa yang tidak meremang bulu tengkuknya mendengar nama Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun yang semenjak kecil permainannya adalah membunuh orang secara keji, yakni menyuruh ular-ularnya memakan daging manusia?
Apalagi mereka tadi sudah melihat sepak terjang tiga orang ini yang benar-benar hebat.
Sebagian besar termasuk Tiat-ciang-eng Lai Sek, sudah gemetaran seluruh tubuh dan berturut-turut mereka ini menjatuhkan diri berlutut.
Lie Bu Tek dan Ah Kai yang tidak sudi berlutut.
Bahkan Ah Kai yang bisu itu dengan mata bernyala lalu menubruk maju mempergunakan tongkat pusaka perkumpulan untuk menotok jalan darah di leher See-thium Tok-ong.
Akan tetapi sekali menggerakkan tangan Raja Racun ini telah merampas tongkat itu dan begitu tangan kirinya bergerak, tubuh Ah Kai roboh berkelojotan sebentar terus tewas dengan tubuh berubah hangus!
Inilah pukulan Hek-tok-ciang (Pukulan Racun Hitam) yang amat mengerikan.
Terdengar suara ketawa See-thian Tok-ong yang menyeramkan dan keadaan menjadi sunyi.
Lie Bu Tek yang tangannya buntung melangkah maju dengan pedang di tangan.
"See-thian Tok-ong, kau telah datang bersama anak isterimu dan menyebar maut di antara anggauta Hek-kin-kaipang Sekarang kau merampas tongkat dan membunuh Kai-pangcu, benar-benar kau tidak mengindahkan peraturan kang-ouw. Bukan demikian caranya mengangkat diri menjadi pangcu."
"Habis, kau mau apa?"
Kata See-thian tok-ong mengancam.
"Kembalikan tongkat dan pergilah dari sini bentak Lie Bu Tek tanpa mengenal takut, sungguhpun ia maklum bahwa ia takkan menang menghadapi Raja Racun itu. Akan tetapi sebagai seorang gagah, Lie Bu Tek tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan sifat pengecut maka beberapa orang pengemis, dipelopori oleh Lai Sek, segera bangkit kembali dari tanah dan tidak mau berlutut. Mereka menjadi bersemangat melihat sikap gagah dan Lie Bu Tek. See-thian Tok-ong tertawa bergerak dan bagaikan seekor naga ia mengayun tongkat pusaka itu menyerang Lie Bu Tek. Serangannya ini hebat sekali dan sudah dapat dibayangkan bahwa andaikata Lie Bu Tek dapat menghindarkan diri orang-orang di dekatnya pasti akan terkena pukulan tongkat yang hawa pukulannya saja sudah cukup kuat untuk merobohkan seorang lawan yang kurang kuat! Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan yang sukar diikuti dengan pandangan mata, dibarengi bentakan nyaring.
"See-thian Tok-ong jangan menjual lagak di sini!"
See-thian Tok-ong menarik tongkatnya dan mengayun kaki menendang ke arah bayangan yang merampas tongkatnya.
Akan tetapi aneh dan ajaib tendangannya mengenai tempat kosong seakan-akan menendang bayangan, sedangkan tongkatnya tanpa dapat dicegah lagi telah berpindah tangan!
Ketika ia memandang, ia melihat seorang pemuda tanggung yang berdiri di hadapannya dengan muka memperlihatkan kemarahan.
Pemuda ini biasa saja dan pakaiannya pun sederhana sekali, tidak memegang senjata kelihatan lemah.
Sungguh sukar dipercaya.
Seorang pemuda tanggung dapat merampas tongkat dari tangan See-thin Tok-ong.
Jangankan orang lain, See-thian Tok-ong sendiri pun kalau tidak mengalami sendiri pasti takkan percaya!
Raja Racun ini memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya dan sudah mempunyai pengalaman yang amat luas maka ia tahu bagaimana pemuda itu tadi merampas tongkatnya.
Ia tahu bahwa pemuda telah melakukan gerakan berlawan, yakni tangan yang merampas tongkat mempergunakan tenaga kasar sedangkan perut yang menerima tendangan dijaga oleh tenaga lemas sehingga ketika kakinya menyentuh kulit, perut itu bisa ditarik masuk secara otomatis sehingga kaki yang menendang menyerang tempat kosong.
Tentu saja, bagi See-thian Tok-ong kepandaian macam ini saja bukan hal yang aneh, akan tetapi yang ia merasa aneh adalah seorang anak muda yang sudah begini pandai dalam usia semuda ini.
"Sin Hong, hati-hatilah, mereka ini lihai dan jahat sekali!"
Lie Bu Tek memperingatkan Sin Hong.
Sungguhpun pendekar buntung sudah percaya benar-benar akan kepandaian Sin Hong, namun melihat anak angkatnya menghadapi See, thian Tok-ong seanak isteri, tetap saja ia merasa gelisah.
Tiba-tiba Kwan Ji Nio berseru.
"Dia adalah bocah yang merampas kitab Kwa Siucay!"
Teringatlah See-thian Tok-ong.
Dahulu ketika ia berusaha merampas kitab dari tangan Kwa-siucai, ia telah bertemu dengan seorang bocah yang luar biasa sekali, yang seorang diri sudah dapat melarikan diri dari kejarannya dan Kwa Ji Nio.
"Kau kah ini?"
Serunya dan cepat sekali ia memukul dada Sin Hong dengan tangan kanan disusul pula oleh tamparan tangan kiri ke arah pipi anak muda itu.
Ia masih memandang rendah kepada Sin Hong, maka ia masih mempergunakan tangan kosong.
Biarpun hanya pukulan dan tamparan tangan kosong, namun bahayanya melebihi sambaran senjata tajam, oleh karena kakek gundul dari barat ini memiliki tenaga Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) hingga pertemuan antara lengan dengan lengan saja sudah dapat membuat lawan terluka oleh racun.
Sin Hong bukan seorang bodoh.
Dahulu ketika ia sedang menuju ke Hoa-san, sudah pernah bertemu dengan keluarga iblis ini, dan ia sudah menderita luka karena Hek-tok-ciang.
Akan tetapi Sin Hong dahulu bukanlah Sin Hong sekarang.
Ia telah mempelajari kitab pengobatan dari gurunya, yakni Kwa-siucai, dipelajarinya dengan amat tekun sampai bertahun-tahun di tempat persembunyiannya, yakni di dasar jurang Luliang-san.
Maka sekarang tanpa ragu-ragu lagi ia menggerakkan kedua tangan sekaligus, kedua tangannya menangkis pukulan dan tamparan itu.
"Ayaaa...!"
See-thian Tok-ong terhuyung mundur sampai tiga langkah, akan tetapi ia segera tertawa bergelak karena tadi ketika melihat anak muda itu berani menangkis, ia telah mengerahkan seluruh tenaga Hek-tok-ciang sehingga ia percaya bahwa kini kedua lengan pemuda itu tentu telah kemasukan racun yang banyak sekali sehingga tak lama kemudian pemuda itu akan roboh sendiri.
Memang benar ia tadi terkejut bukan main karena pertemuan dua pasang lengan itu membuatnya terhuyung tiga langkah, tanda bahwa tenaga sinkang dalam tubuh anak muda ini benar benar mengagumkan sekali, akan tetapi Raja Racun ini percaya bahwa Hek-tok-ciang pasti takkan mengampuni nyawa lawannya.
"Bocah, tenaganiu besar juga. Akan tetapi lekas kau berlutut agar aku dapat mengampuni dan memberi obat penawar untuk racun di kedua lenganmu!"
Sin Hong tersenyum.
Tadi sebelum turun tangan, ia telah menggosok kedua tangannya dengan obat penawar racun.
Ia tahu bahwa biarpun dalam hal kepandaian silat ia tak usah takut menghadapi keluarga iblis itu, akan tetapi ia harus berlaku hati-hati terhadap racun mereka.
Ini pula sebabnya maka ia agak terlambat turun tangan sehingga Ah Kai sampai tewas secara mengenaskan di tangan Raja Racun itu.
"See-thian Tok-ong siapa takut menghadapi racunmu? Majulah!"
See-thian Tok-ong tertegun.
benarkah bocah ini kuat menghadapi pengaruh Hek-tok-ciang?
Kemudian ia teringat dan berubahlah wajahnya.
Bocah ini dahulu telah membawa lari kitab peninggalan Kwa-siicai!
"Bocah sombong, siapakah namamu?
Kami tidak biasa bertempur dengan orang-orang tak bernama."
"Orang gila menganggap yang waras gila, itu sudah wajar. Orang sombong menyatakan orang lain sombong, itu pun tak aneh. See-thian Tok-ong, aku yang muda dan bodoh bernama Wan Sin Hong, anak angkat dan Gi-hu Lie Bu Tek ini."
Ia menunjuk ke arah Lie Bu Tek yang memandang kagum kepada putera angkatnya ini.
"Bagus! Wan Sin Hong, kami pun bukan orang yang tidak tahu urusan. Tadinya kami datang dengan maksud hendak menduduki kursi Ketua Hek-kin-kaipang. Akan tetapi melihat muka Gi-humu, kami membatalkan niat itu dan akan pergi dari sini apabila kau suka menyerahkan semacam benda kepadaku."
"Kau tentu minta kitab peninggalan Kwa Suhu, bukan?"
Kata Sin Hong sambil tersenyum.
Diam-diam See-thian Tok-ong terkejut.
Ah, bocah ini terlalu berbahaya, tidak saja berkepandaian tinggi, juga memiliki kecerdasan otak yang menjadikan bocah ini seorang lawan berat, pikirnya.
Tanpa diketahui oleh orang lain, See thian Tok-ong menggerakkan tangan bagai tanda rahasia kepada anak isterinya serentak membantunya apabila terjadi pertempuran.
Akan tetapi pada mulutnya ia tersenyum.
"Wan Sin Hong kau benar-benar cerdik. Memang kitab itulah yang kumaksudkan. Kau tahu aku paling suka main-main dengan racun, maka kitab itu amat kubutuhkan untuk mempelajari penawar racun, agar nyawaku tidak terancam bahaya."
"Kakek tua, kau memang pandai memutar omongan. Seorang yang sudah disebut Raja Racun seperti engkau ini mana mungkin takut akan racun lagi. Kau sendiri sudah merupakan racun dunia yang paling berbahaya! Tentang kitab, kitab itu kupindahkan dalam kepala. Kata-kata memindahkan kitab ke dalam kepala ini berarti bahwa dia sudah menghapal seluruh isi kitab ke dalam ingatan dan kitab itu sendiri mungkin sudah lenyap. Memang bukan maksud sebenarnya dari See-thian Tok-ong untuk minta kitab lalu pergi. Andaikata kitab itu benar ada dan oleh Sin Hong diberikan kepadanya, tak mungkin ia mau pergi begitu saja. Bukan watak See-thian Tok-ong seanak isteri untuk mengalah kepada orang lain. Maka begitu mendengar jawaban ini, ia berseru keras disusul gelak ketawanya yang menyeramkan dan di lain saat ia telah menyerang Sin Hong dengan senjatanya yang luar biasa dan hebat, yakni Ngo tok-mo-jiauw (Cakar Iblis Lima Racun) yang berupa sepasang tangan merupakan cakar dengan kuku masing-masing cakar mempunyai lima warna yang berbetla. Hampir berbareng, secara bertubi-tubi Kwan Ji Nio sudah melompat dan dari atas menyambar ke arah kepala Sin Hong, menyerang dengan rantingnya yang tak kalah lihainya. Adapun Ban beng Sin-tong Kwan Kok Sun sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu maju pula menyerang dengan senjatanya yang mengerikan yakni seekor ular yang dipergunakan bagai senjata pian lemas. Kalau kepala ular yang di depan dan diayun, kepala ular ini dapat menggigit, sedangkan kalau ekornya yang di depan maka ekor ini bisa dipergunakan sebagai cambuk. Yang hebat, baik gigitan maupun sabetan ekor keduanya dapat menewaskan lawan karena mengandung bisa yang kuat sekali. Dalam detik-detik yang hampir berbareng sepasang cakar di tangan See-thian Tok-ong menyerang ke arah muka dan perut, ranting di tangan Kwan Ji Nio menotok ubun-ubun kepala, sedangkan kepala ular yang dipegang oleh Kwa Kok Sun meluncur untuk menggigit leher Sin Hong! Tiga macam serangan ini dilakuka oleh ahli-ahli silat yang lihai, dan satu serangan berarti datangnya maut yang hendak mencengkeram nyawa. See-thian Tok-ong dan anak isterinya sudah merasa yakin bahwa pemuda yang mereka serang itu pasti akan roboh dan kiranya tak mungkin dapat menyelamatkan diri. Apalagi dalam pandangan mata para pengemis Hek kin-kaipang. Sungguhpun tadinya mereka melongo dan terheran-heran disertai rasa kagum besar terhadap pemuda anak angkat Lie Bu Tek yang tak mereka sangka-sangka ternyata memiliki kepandaian yang melebihi Lie Bu Tek dan Ah Kai sendiri, namun sekarang melihat pemuda itu dikeroyok tiga secara demikian hebat, mereka merasa gelisah dan khawatir. Hanya Lie Bu Tek seorang yang masih berlaku tenang, biarpun dadanya juga berdebar. Pendekar buntung ini sudah tahu betul bahwa anak angkatnya itu telah mewarisi kepandaian yang luar biasa dan tiada keduanya di kolong langit ini, kepandaian istimewa dari Pak Kek Siansu. Memang serangan dari See-thian Tok-ong seanak isteri itu bukan main dahsyatnya dan kalau tokoh kang-ouw yang manapun juga menghadapi serangan ini, pasti sukar dapat meloloskan diri. Namun dengan sekali menggerakkan tubuh, Sin Hong berkelebat dan lenyap dari kepungan senjata-senjata maut itu. Demikian cepat gerakan tubuh pemuda ini sehingga bagi mata para anggauta Hek-kin-kaipang dia seakan akan telah menghilang dan mempunyai ilmu siluman. Akan tetapi bagi mata Lie Bu Tek dan ketiga lawan yang mengeroyok Sin Hong pemuda itu telah mempergunakan ginkang yang istimewa menerobos di antara senjata sambil memutar tongkat, sedangkan tangan kiri membuat gerakan memutar dengan tenaga sinkang tinggi sehingga tiga orang lawannya tak dapat dekat! Tentu saja See-thian Tok-ong menjadi penasaran sekali. Sambil mengeluarkan suara menyeramkan, ia lalu mendesak Sin Hong dibantu oleh Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun. Di lain saat terjadilah pertandingan yang amat hebat. Pertandingan ini berjalan demikian serunya sehingga sukar diikuti oleh pandang mata. Bahkan Lie Bu Tek sendiri merasa pening menonton pertempuran itu. Tubuh Sin Hong lenyap terbungkus oleh gulungan sinar menghitam, yakni sinar tongkatnya yang digerakkan cepat sekali menurut gerak tipu dari jurus-jurus Ilmu Silat Pak-kek-kiam-sut. Bukan main hebatnya kepandaian pemuda mi. Kalau mempunyai pedang Pak-kek-sin-kiam ditangan, agaknya keadaannya menjadi lain. Biarpun hanya bersenjata sebatang tongkat pendek, namun desakan tiga orang tangguh itu selalu membentur benteng kuat dari tongkat hitam Hek-kin-kaipang. Adapun hawa beracun yang keluar dari ular Kwan Kok Sun dan dari sepasang Ngo-tok-mo-jiauw di tangan See-thian Tok-ong, yang amat berbahaya dan baunya saja cukup merobohkan lawan, agaknya tidak mempengaruhi pemuda itu sedikitpun juga. Memang, selain memiliki sinkang yang sudah tinggi tingkatnya, pemuda ini pun telah menelan sebutir pel merah yang mengeluarkan bau harum memenuhi mulut dan hidungnya, dan obat ini mempunyai khasiat mencegah hawa beracun yang hendak memasuki hidung dan mulut. Tiga puluh jurus telah lewat dan biarpun ia dapat melindungi tubuhnya dengan amat kokoh, namun sukar juga bagi Sin Hong untuk menembus kepungan lawan dan untuk membalas menyerang. Kedua belah pihak maklum bahwa kalau dilanjutkan, pertempuran ini akan berlangsung lama sebelum salah satu pihak menderita kerugian. Tiba-tiba sebatang tongkat butut meluncur dan menangkis ranting di tangan Kwan Ji Nio. Tongkat butut itu berada di tangan seorang pengemis tua yang datang-datang membantu Sin Hong sambil berkata.
"See-thian Tok-ong seanak isteri benar benar tak tahu diri, berani mengganggu calon bengcu (ketua) delapan penjuru!"
See thian Tok-ong dan anak isteri terkejut.
Terutama sekali Kwan Ji Nio kaget ketika merasa betapa rantingnya terpental karena bertemu dengan tongkat butut itu.
Mereka belum tahu siapa-kah adanya pengemis tua ini, akan tetapi harus diakui bahwa gerakannya cukup lihai, jauh lebih Iihai daripada Pendekar Buntung Lie Bu Tek.
Pada saat itu, kakek yang baru datang berseru kuat.
"Ayaaa, juga muridku Ah Kai telah kalian bunuh? Benar-benar keji dan jahat, tidak segan membunuh seorang gagu!"
Setelah berkata demikian kakek pengemis ini lalu memutar tongkanya menjadi makin seru.
Kepandaian kakek ini hampir seimbang dengan kepandaian Kwan ji Nio, maka See-thian Tok-ong dan puteranya tidak membantunya karena lebih penting mengeroyok Sin Hong yang benar-benar luar biasa tangguhnya.
Di dalam pengeroyokan tiga orang tadi, yang membuat Sin Hong agak sibuk adalah Kwan Ji Nio, karena nyonya ini amat gesit dan cepat gerakannya.
Memang ginkang dari nyonya tua ini lihai sekali sehingga ia disebut ahli Tee-in ciong (Loncat Tangga Awan).
Kini setelah nyonya ini meninggalkannya untuk menghadapi kakek pengemis yang mengaku guru Ah Kai, Sin Hong merasa agak longgar.
"Locianpwe yang mengaku guru Saudara Ah Kai, siapa nama Locianpwe yang mulia? Dan mengapa pula menyebut boanseng sebagai calon bengcu delapan penjuru?"
Biarpun dikeroyok oleh dua orang pandai, Sin Hong masih sempat bercakap-cakap dengan kakek itu! Kakek itu mengeluarkan suara ketawa aneh, nampaknya girang sekali.
"Sicu (Orang Gagah) seorang diri kuat menghadapi keroyokan See-thian Tok ong seanak isteri, orang gagah lain manakah yang sanggup melakukan hal ini? Sicu ternyata telah mewarisi kepandai, luar biasa dan kalau lohu tak salah lihat, Sicu telah mewarisi kepandaian PakKek Siansu. Maka sudah sepatutnya Sicu yang dicalonkan untuk menjadi bengcu delapan penjuru dalam pemilihan yang akan datang! Ketahuilah, lohu (aku yang tua) adalah Cam-kauw Sin-kai, seorang pengemis perantau yang miskin."
Semua orang terkejut mendengar ini.
Pantas saja demikian gagah, tidak tahunya dia adalah tokoh persilatan yang amat terkenal namanya, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri sebagai seorang jembel sengsara.
Ayah dari Kiang Cun Eng dahulu kenal kepada tokoh ini, bahkan seringkali mendapat petunjuk.
Semua anggauta Hek-kin-kaipang, biarpun belum pernah bertemu muka, di dalam hati mereka menghormat pengemis tua ini.
Namun, nama besar Cam-kauw Sin-kai tidak berarti banyak bagi See-thian Tok-ong seanak isteri.
Mereka terus saja mendesak dan Kwan Ji Nio juga tidak gentar.
Rantingnya bergerak laksana kilat menyambar-nyambar.
Dalam hal lweekang, boleh jadi ia masih kalah setingkat oleh kakek pengemis ini, namun ginkangnya terang lebih tinggi dan hebat.
Selagi pertempuran berjalan seru-serunya, tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan dari atas menyambar turun seekor burung kim-tiauw.
Suara ini disusul oleh suara mendesis dan muncullah puluhan ekor ular berbisa, berlenggang-lenggok menuju ke tempat pertempuran.
Akan tetapi selagi para pengemis Hek-kin-kaipang menjadi gempar, bayangan seorang laki-laki muda berkelebat.
Beberapa kali tangannya diayun dan matilah ular-ular itu.
Bahkan ketika kim-tiauw menyambar turun, pemuda ini memukul dengan kedua tangannya ke depan.
"Buk...!"
Burung itu terpental dan roboh dengan nyawa melayang.
Bukan main marahnya Kwan Kok Sun melihat ular-ularnya dan burung kesayangannya tewas.
ia memekik nyaring meninggalkan Sin Hong dan sekaligus menyerang pemuda baju biru itu dengan ularnya.
Pemuda itu tertawa mengejek.
"Kwan Kok Sun, apakah kau tidak kenal lagi kepadaku?"
Sambil berkata demikian, dengan berani ia mengulur tangan menyambar leher ular itu dan sekali meremas, leher ular itu hancur! "Kong .Ji.. !!"
Kwan Kok Sun berseru kaget.
Seruan ini keras sekali dan akibatnya aneh.
Semua pertandingan berhenti saketika.
See-thian Tok-ong dan isterinya melompat mundur sehingga Cam-kau Sin kai terheran-heran dan juga menghentikan gerakannya.
Sin Hong sendiri melompat dekat pemuda baju biru itu memandangnya dengan mata terbelalak.
Lie Bu Tek juga berlari menghampiri dan memandang kepada pemuda yang baru datang dengan sinar mata tajam.
Semua orang memandang kepada pemuda ini yang bukan lain adalah Liok Kong Ji.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Liok Kong Ji berhasil membawa lari Nalumei, puteri kepala suku bangsa Naiman itu.
Nalumei yang cantik itu yang tadinya tertawan oleh Kong Ji dan menganggap pemuda ini sebagai musuh membantu orang-orang Mongol, setelah dibawa lari oleh Kong Ji merasa suka dan kagum kepada pemuda ini.
Ia bahkan jatuh hati kepada Liok Kong Ji pemuda yang berwajah tampan dan pandai mengambil hati orang ini.
Apalagi ia tahu bahwa Kong Ji berkepandaian tinggi luar biasa dan sekarang, setelah ia menjadi kekasih pemuda ini, kiranya hanya Kong Ji seoranglah yang dapat melindungi dirinya, dapat membalas sakit hatinya kelak terhadap Temu Cin dan pasukannya yang sudah membunuh ayahnya dan membasmi bangsanya.
Di lain pihak, Kong Ji benar-benar boleh merasa puas mendapatkan seorang kawan atau kekasih seperti Nalumei.
Tidak saja nona suku bangsa Naiman ini cantik jelita dan gagah perkasa, juga nona ini amat penurut dan setia kepadanya.
Di samping menghiburnya, nona ini juga dapat menjadi seorang pembantu yang amat berharga dan boleh dipercaya.
Bersama kekasihnya ini, setelah meninggalkan daerah utara, Kong Ji berpesiar ke pelbagai tempat indah.
Di mana mana ia meninggalkan bekas tangannya merobohkan jago silat jago silat yang menjadi tokoh terutama di daerahnya, melakukan pencurian-pencurian barang-barang indah berharga dan emas permata untuk dihadiahkan kepada Nalumei.
Dan ada beberapa kali Kong Ji memuaskan nafsunya yang seperti iblis, mencuri, membunuh dan mengganggu anak bini orang!
Akan tetapi hebatnya, semua perbuatannya yang termasuk perbuatan busuk dan jahat, dilakukan tanpa diketahui orang lain, bahkan Nalumei sendiri yang menjadi kekasihnya atau boleh juga disebut isterinya sama sekali tak pernah mimpi bahwa Kong Ji telah melakukan semua perbuatan itu.
Tentu saja Nalumei tahu bahwa kekasihnya suka mengambil barang barang berharga dari kaum bangsawan untuk diberikan kepadanya, akan tetapi dia tidak menganggap hal ini sebagai kejahatan.
Kalau orang berhadapan dengan Kong Ji, ia pasti takkan pernah menyangka bahwa pemuda ini mempunyai watak buruk.
Sebaliknya, dipandang dari luar, pemuda ini mempunyai gerak-gerak yang halus dan sopan, tutur sapanya halus, dan senyumnya murah.
Baca Juga: Petualang Asmara 12
Baca Juga: Dewi Ular 1