Ceritasilat Novel Online

Pedang Penakluk Iblis 7

Eps 7 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Bahkan pedang Pak-kek Sin-kiam yang dirampasnya dari Go Hui Lian, tak pernah diperlihatkannya kepada umum dan selalu disembunyikan di balik baju luarnya.

Dalam sepak terjangnya yang sudah-sudah menghadapi para tokoh besar di dunia kang-ouw yang ia tantang berpibu dan ia kalahkan, ia selalu mempergunakan kedua tangan kosong.

Tak seorang pun tokoh kang-ouw dapat menghadapinya lebih dari lima puluh jurus.

Kepandaian pemuda ini memang lihai sekali yang tentu saja tidak amat mengherankan apabila diingat bahwa Liok Kong Ji telah mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari tokoh-tokoh besar.

Ia pernah menjadi murid pamannya sendiri, yakni Liok San tokoh Kwan-im-pai lalu mendapat gemblengan dari Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek tokoh-tokoh Hoasan-pai.

Setelah itu, ia menerima warisan ilmu silat tinggi dengan Ilmu Pukul Tin-san-kang dari Giok Seng Cu, bahkan selama empat tahun dilatih secara hebat oleh See-thian Tok-ong.

Kemudian dan yang terakhir ini membikin kepandaiannya memuncak tinggi, ia menerima gemblengan bertahun-tahun lamanya dari Hwa l Enghiong Go Ciang Le.

Semua ditambah lagi dengan kecerdikan otaknya yang luar biasa sehingga dia dapat menciptakan sendiri ilmu silat tinggi dengan cara merangkai dan menyusun semua ilmu silat itu dijadikan satu.

Setelah terbebas dari kejaran pasukan Monggol, dalam perantauannya, sesuai dengan desakan dan bujukan Nalumei kekasillnya, setiap kali mengalahkan lalu berkenalan dengan tokoh kang-ouw, Kong Ji membicarakan cita-cita Temu Cin yang hendak menguasai benua Tiongok.

Ia bicara seperti seorang patriot yang hendak membela tanah air, maka di mana-mana ia dihormati orang, mendapat dukungan banyak orang-orang gagah dan dianggap sebagai seorang pendekar muda yang sakti dan berjiwa patriot.

Padahal semua ini dilakukan untuk memusuhi Temu Cin dan untuk memuaskan hati dan perasaan Nalumai yang tentu saja makin mencintainya.

Juga di samping maksud-maksud ini, masih ada cita-cita lain yang selalu menggerogoti hatinya, yang selalu membuat ia termenung.

Ia merasa iri kalau mendengar orang memuji-muji dan menjunjung tinggi nama besar Hwa I Enghiong Go Ciang Le.

Ia ingin menggantikan nama ini, ingin duduk di tempat tertinggi dari golongan silat.

Ingin ia mengepalai seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang yang paling dihormati dan paling pandai.

Untuk mencapai cita-cita ini, ia harus mempunyai banyak pendukung agar pada kesempatan para orang gagah memilih bengcu ia akan mendapat suara terbanyak.

Kemudian ia mendengar bahwa di pusat perkumpulan Hek-kin-kaipang, yakni di Bi-nam-bun, diadakan pemilihan untuk ketua baru.

Mendengar berita ini Kong Ji tergerak hatinya.

Ia tahu bahwa Hek kin kaipang adalah sebuah perkumpulan yang besar dan berpengaruh besar.

Kalau ia berhasil menduduki kursi ketua perkumpulan besar ini, sebentar saja namanya tentu akan terangkat tinggi dan ini akan memudahkan tercapainya cita-citanya.

Oleh karena waktu diadakan pemillhan ketua itu sudah amat dekat, sedangkan Nalumei tidak memiliki kepandaian setinggi dia, maka kalau ia pergi dengan Nalumei tentu akan terlambat.

Ia lalu menyuruh Nalumei menunggunya di tempat itu yakni di dalam sebuah kamar hotel besar di kota Kun-leng, dan ia sendiri mempergunakan kepandaiannya untuk melakukan perjalanan secepatnya ke Bi-nam-bun.

Nalumei yang tahu akan maksud dan cita-cita kekasihnya, tidak membantah.

Demikianlah ketika ia tiba di Bi-nam-bun, ternyata ia telah terlambat satu hari, ia mendengar bahwa ketua Hek-kin-kaipang telah terpilih dan kini perkumpulan itu pindah ke Pulau Kim-ke-tho.

Dengan kecewa akan tetapi tidak putus asa, pemuda yang bercita cita besar ini lalu menyusul ke Kim-ke-tho dan secara kebetulan sekali ia menyaksikan pertempuran besar.

Ia tidak mengenaI pemuda yang dikeroyok See-Thian Tok-ong dan Kwan Kok Sun, akan tetapi melihat seorang pengemis tua bertempur melawan Kwan Ji Nio, Kong Ji berpendapat bahwa tentu pengemis tua itu seorang tokoh Hek-kin-kaipang.

Maka untuk menonjolkan diri dan untuk mencari nama baik di kalangan pengemis, ia segera turun tangan, membunuh burung rajawali dan ular-ular kemudian membunuh pula ular yang dipakai sebagai senjata oleh Kwan Kok Sun.

Ketika Lie Bu Tek berlari menghampirinya, wajah Kong Ji berubah, hatinya berdebar.

Akan tetapi ia tidak takut, bahkan tanpa malu-malu ia lalu menjura kepada pendekar yang sudah buntung tangannya.

Sementara itu.

See thian Tok-ong yang melihat betapa pihak lawan telah bertambah dengan Liok Kong Ji dan melihat bahwa sekali gebrak saja Kong Ji sudah berhasil mengalahkan Kwa Kok Sun, mengertilah ia bahwa pihaknya menghadapi bencana kalau pertempuran itu dilanjutkan.

Sudahlah, di sini bukan tempat kami!"

Kata See-thian Tok-ong sambil melompat pergi, diikuti oleh isteri dan anaknya.

Lie Bu Tek, Wan Sin Hong, dan lain-lain orang masih tertegun menghadapi Kong Ji, maka mereka tidak berbuat sesuatu untuk menghadapi kepergian See-thian Tok-ong dan anak isterinya.

Apalagi karena Sin Hong dan Bu Tek benar-benar terpengaruh sekali oleh munculnya Kong Ji sehingga mereka tidak pedulikan See-thian Tok-ong dan anak isterinya yang melarikan diri, orang-orang lain juga tidak berani turun tangan sendiri.

Bahkan Cam-kauw Sin-kai sendiri merasa tidak mampu melawan See-thian Tok-ong yang lihai, maka ia pun diam saja, hanya memandang kepada Kong Ji dengan mata penuh pertanyaan.

"Suheng, alangkah besarnya hatiku mendapat kebahagiaan bertemu dengan Suheng di sini. Kukira... kusangka... Suheng sudah tidak ada lagi di dunia ini,"

Suara Kong Ji terdengar menggetar saking terharunya.

Senyum yang mengembang di bibir Lie Bu Tek benar-benar sukar dilukiskan dan sukar pula dimengerti, akan tetapi Sin Hong tahu betapa perih hati gi-hu bertemu dengan orang yang dulu telah membuntungkan sebelah lengannya.

Sambil mengerak-gerakkan pundak kanannya yang tak berlengan lagi, Bu Tek berkata.

"Hm, tentu kau kecewa mengapa dulu tidak membuntungi leherku saja hingga sekarang tak usah malu-malu melihat lenganku yang butung, bukan?"

Tiba-tiba Kong Ji berlutut dan menangis.

Bukan main pandainya anak muda ini bermain sandiwara.

Tak seorang pun yang hadir di situ, juga Sin Hong sendiri tidak, yang tak ikut merasa terharu melihat kesedihan pemuda ini dengan kata-kata yang keluar terputus-putus penuh kesayuan.

"Suheng... Suheng yang mulia, mengapa Suheng berkata demikian? Ah, sudah lama siauwte merasa betapa semua perbuatan siauwte itu tentu akan mendatangkan salah sangka.... Kalau Suheng tidak sudi mendengar omongan dan alasan siauwte, dan menganggap siauwte benar-benar telah bertindak jahat, Suheng boleh turun tangan sekarang juga membunuhku...."

Apalagi seorang muda seperti Sin Hong, sedangkan Lie Bu Tek yang sudah banyak pengalamannya, mendengar kata-kata dan getaran suara penuh keharuan menjadi ragu-ragu dan ingin sekali mendengar selanjutnya apa yang akan dikatakan oleh Kong Ji.

"Ada musuh besar datang membasmi partai, kau tidak membela nama baik partai dan tidak membela pihak sendiri. Bahkan mengkhianati, lari ke musuh dan membuntungi lenganku. Apakah kau sekarang hendak bilang bahwa semua perbuatan itu tidak berdosa?"

Tanyanya.

Kong Ji bangkit dan berdiri, lalu menjura.

Memang, berlutut tadi hanya siasatnya belaka agar supaya ia dapat mengatur rencananya dan dapat bermain sandiwara lebih mudah lagi karena ketika berlutut mukanya tersembunyi.

Kini ia menjura dan berkata dengan suara lega.

"Banyak terima kasih bahwa Suhe sudi mendengar alasanku. Tidak akan siauwte sangkal bahwa siauwte memang telah melakukan hal yang kelihatannya amat penakut, dan pengkhianat. Akan tetapi di balik semua perbuatan siauwte ini, sebenarnya siauwte mempunyai maksud dan cita-cita yang tertentu. Kalau siauwte tidak melakukan hal itu, yakni tidak berlari kepada musuh, pasti siauwe akan tewas dan apakah gunanya itu? Kalau siauwte masih hidup dan mengumpulkan kepandaian, bukankah siaute berarti masih mempunyai kesempat untuk membalas dendam ? Untuk membuang nyawa secara sia sia dan mati dalam penasaran? Hal kedua yang amat mendukakan hati siauwte, adalah tentang pembuntungan lengan Suheng.! Memang nampaknya keji, akan tetepi hendaknya Suheng berani akui bahwa kalau siauwte tidak melakukan pembuntungan lengan itu, kiranya pada waktu itu juga Suheng sudah dibunuh oleh musuh-musuh kita! Siauwte sengaja membuntungi Suheng sebenarnya dengan maksud untuk menyelamatkan nyawa Suheng!"

Lie Bu Tek tertegun dan melenggong.

Tentu saja ia tidak mau menerima alasan di dalam hatinya, akan tetapi oleh karena pada lahirnya semua alasan ini memang tepat sekali dan bahkan berbukti, yakin sampai sekarang dia sendiri masih hidup hanya karena dahulu Kong Ji membuntungi lengannya, maka ia tak berkata apa-apa.

"Alasan bagus sekali! Dan tentang usahamu untuk membunuhku, apakah ada alasannya pula?"

Mendengar suara im, bagaikan kilat cepatnya tubuh Kong Ji bergerak membalik.

Lie Bu Tek kagum bukan main melihat gerakan itu dan ia dapat menduga bahwa Kong ji benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi.

Tadi pun dengan sekali pukul dapat menewaskan kimtiauw, ia sudah kagum sekali.

Kong Ji yang mendengar suara teguran itu kaget, karena ia mengenal suara itu.

Setelah berhadapan dengan orangnya ia terheran.

Ternyata ia berhadapan dengan pemuda yang lihai, yang tadi dikeroyok oleh See-thian Tok-ong dan Kwa Kok Sun!

Setelah kini berhadapan baru ia mengenal bahwa pemuda ini bukan lain adalah Wan Sin Hong!

"Sute..., kau juga berada di sini..?"

Katanya agak gagap karena ia tidak menyangka sama sekali bahwa akan bertemu dengan Sin Hong di tempat itu.

Sin Hong tersenyum dan pada saat ia dapat menangkap kerling mata gi-hunya.

Dalam kerling mata itu ia membaca cegahan agar ia tidak terburu nafsu dan teringatlah Sin Hong akan nasehat-nasehat gi-hunya bahwa ia tidak boleh secara serampangan dan mudah menaruh dendam atas perbuatan jahat orang kepada diri sendiri.

"Kau masih mengaku aku sebagai Sutemu sesudah kau gagal dalam usahamu membunuhku?"

Ejeknya. Kong Ji mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu nampak muram, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Memang nasibku yang amat buruk, sudah ditinggal mati Ayah Bunda, masih dibenci oleh banyak orang pula. semua perbuatanku dianggap keliru, padahal apakah salahku dalam semua perbuatan itu? Sute memang betul pada hari itu aku berusaha membunuhmu, akan tetapi kau harus ingat bahwa aku melakukan hal itu, karena tentu kau akan dibunuh pula oleh mereka. Dan untuk dapat mencapai cita-citaku membalas dendam, sudah tentu aku perlu memperbaiki pihak mereka agar aku lebih dulu dapat terbebas dari bencana. Murid-murid Hoa-san-pai hanya tinggal aku dan kau pada waktu itu. Kalau aku pun bersikap keras seperti engkau dan kita berdua dibunuh, siapakah kelak yang membalas dendam suhu Liang Gi Tojin?"

Seperti juga Lie Bu Tek, Sin Hong merasa kalah bicara, maka ia diam saja. Lie Bu Tek lalu bertanya.

"Dan kau datang ke sini dengan maksud apakah?"

"Siauwte mendengar bahwa Hek-kin-kaipang memilih pengurus baru. Mengingat. bahwa Kiang-pangcu Ketua Hek n-kaipang adalah sahabat baik dari Suheng, maka siauwte sengaja datang untuk menyaksikan pemilihan itu dan kalau perlu, siauwte dengan suka rela hendak menyumbangkan tenaga."

"Tak perlu..."

Lie Bu Tek menggeleng-gelengkan kepalanya.

"tak perlu bantuanmu..."

Kemudian ia memberi perintah kepada para pengemis Hek-kin-kaipang untuk mengurus para korban.

Akibat amukan See thian Tok-ong banyak anggauta Hek-kin-kaipang yang tewas dan luka!

Kong Ji merasa betapa sikap Lie Bu Tek terhadapnya masih dingin sekali dan ia tahu bahwa biarpun kesalahannya yang lalu sudah agak terhapus oleh alasan-alasannya namun ia tetap menjadi seorang yang tidak disuka.

Ia mengangkat pundaknya dan berkata lagi.

"Tidak apalah kalau begitu. Setidaknya siauwte mengharap kepada Suheng agar kelak Hek-kin-kaipang suka menyokong suara untuk siauwte dalam pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng-san!"

Tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai mengeluarkan suara ejekan daei hidung, kemudian, kakek ini tersenyum dan berkata, ?Bagus sekali.

Sekaligus ada dua orang muda lihai di Pulau Kim-ke-tho yang dicalonkan menjadi bengcu.

Betapapun juga, aku jauh lebih suka memilih ahli waris dari Pak Kek Siansu!"

Sambil berkata demikian ia mengangguk ke arah Sin Hong. Kong Ji mehrik ke arah Sin Hong, senyum di bibirnya mengejek dan masam.

"Begitukah? Adikku Wan Sin Hong yang telah menjadi calon bengcu dan mendapat sokongan segala macam pengemis dan jembel? Selamat, selamat! Adapun tentang ahli waris Pak Kek Siansu, aku yang bodoh tidak berani membantah. Akan tetapi aku pun berhak menyebut diri sebagai ahli warisnya, karena aku adalah murid terkasih dan Hwa I Enghiong Go Ciang Le."

Lie Bu Tek yang tadinya memimpin orang-orang mengurus jenaiah dan mereka yang terluka, dan tidak mau memperdulikan lagi kepada Kong Ji, ketika dengar omongan ini, seketika melompat dan menghadapi Kong Ji.

"Apa katamu? Kau murid Ciang Le? Tak mungkin"

Kong Ji tersenyum.

"Dia adalah guruku, bagaimana Suheng mengatakan tak mungkin? Siauwte adalah murid aseli, murid terkasih dari Hwa I Enghiong, dan oleh karena itu, siauwte-lah yang menjadi ahli waris sejati dari Pak Kek Siansu."

Sambil berkata demikian ia menggerakkan tangan kanannya dan sekejap kemudian, pedang Pak-kek Sin-kiam telah berada di tangannya.

"Inilah Pak-kek klam, pedang pusaka peninggalan Kek Siansu, yang diberikan kepadaku oleh Suhu Go Ciang Le. Apakah bukti ini masih belum cukup?"

Semua orang tertegun, lebih-lebih Sin Hong.

ia ingat betul bahwa dahulu dialah yang menemukan pedang itu bersama kitab di dasar jurang di puncak Luliang-san, kemudian pedang itu dirampas oleh kim-tiauw yang bangkainya masih meringkuk di situ karena pukulan Kong Ji tadi.

Terampasnya pedang oleh kim-tiauw berarti pedang itu terjatuh ke dalam tangan See-thian Tok-ong, bagaimana sekarang oleh Kong Ji dikatakan bahwa ia menerimanya dari Ciang Le?

Lie Bu Tek tak bisa berkata sesuatu, hanya memandang dengan mata terbelaIak.

Kong Ji tersenyum kemenangan lalu menyarungkan pedangnya kembali di dalam sarung yang tersembunyi di balik bajunya.

"Nah, Suheng. Setelah Suheng tahu bahwa siauwte adalah murid Hwa I Enghiong, ahli waris dari Pak Kek Siansu dan keturunan yang berhak memiliki pedang Pak-kek Sin-kiam, apakah Suheng kelak tidak membawa Hek-kin-kaipang untuk menyokong suara kepada siauwte dalam pemilihan bengcu?"

"Kau mau menjadi bengcu atau tidak, apa sangkut pautnya dengan aku? Aku tidak mau pedull."

Setelah berkata demikian, Lie Bu Tek mengundurkan diri untuk melanjutkan pekerjaannya mengurus para korban. Cam-kauw Sin-kai tertawa.

"Aku tetap menyokong putera Lie-hiap ini!"

Kong ji menjadi panas perutnya.

Agaknya semua orang menaruh hormat dan suka kepada Sin Hong, dan hal ini menggelisahkai hatinya.

Dia boleh menghadapi puluhan orang saingan dalam pemilihan bengcu, akan tetapi Sin Hong?

Menggemaskan sekali!

Namun, Kong Ji dapat menekan perasaannya, bahkan sambil tersenyum ia menghampiri Sin Hong lalu menjura sambil berkata.

"Adikku Wan Sin Hong yang baik! Kau. benar-benar beruntung sekali dan dipilih sebagai calon bengcu. Haa... siauw-beng-cu (ketua cilik) kionghi-kionghi, biarlah aku yang bodoh memberi selamat kepdamu!"

Sambil merendahkan diri dan menjura, Kong Ji mengangkat kedua tangannya seperti orang memberi hormat.

Akan tetapi diam-diam ia telah mengerahkan tenaga dan ini adalah semacam jurus Pukulan Tin-san-kang yang amat hebat.

Dulu Sin Hong pernah menerima pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu, akan tetapi pukulan itu adalah pukulan langsung dengan kepalan tangan mengenai dada.

Pukulan semacam ini adalah pukulan dengan tenaga kasar.

Akan tetapi sekarang, pukulan Tin-san-kang yang dilakukan dari jarak terpisah tanpa mengena kulit, jauh lebih hebat dan berbahaya.

Semua orang terkejut sekali melihat betapa tubuh Sin Hong tiba-tiba terhuyung-huyung mundur sampai empat langkah, dan mukanya kelihatan pucat.

Sin Hong terpengaruh oleh pukulan Tin-san-kang yang hebat itu, pukulan yang sekali tonjok saja sudah membikin tewas burung kim-tiauw, karena pemuda ini tidak pernah menyangka bahwa Kong Ji memiliki kepandaian sehebat ini.

Akan tetapi.

hawa sinkang di dalam tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi berkat latihan-latihan menurut petunjuk kitab peninggalan Pak Kek Siansu, sehingga hawa sakti dalam tubuh ini dapat bergerak dan bekerja secara otomatis.

Ketika kulit dan daging dadanya menerima sambaran hawa pukulan lawan dan merasa betapa hebat adanya pukulan itu, hawa sinkang secara otomatis bergerak ke arah dada dan melindungi isi dada.

Akan tetapi, kehebatan pukulan itu tetap saja.

membuat Sin Hong terhuyung-huyung ke belakang sampai empat langkah.

Mukanya menjadi pucat karena pengerah sinkang yang dahsyat untuk melindungi dada.

Sebaliknya, Kong Ji melongo.

Hampir saja ia tidak dapat percaya akan penglihatannya sendiri.

Ia tahu betul sampai di mana dahsyatnya pukulan Tin-san-kang tadi.

See-thian Tok-ong sendiri agaknya akan terluka berat kalau berani menerima pukulan ini seperti yang dilakukan oleh Sin Hong, tanpa menangkis atau mengelak.

Akan tetapi, Sin Hong hanya terhuyung empat langkah ke belakaug, dan kini sudah maju lagi perlahan-lahan sambil tersenyum.

"Kong Ji, ternyata kau pernah belajar kepada Giok Seng Cu! Tenma kasih atas pemberian selamat, akan tetapi, siapakah yang ingin menjadi bengcu? Mungkin kau yang sudah kegilaan, akan tetapi aku tidak. Karena itu, aku tidak berani menerima pemberianmu selamat tadi, terimalah kembali!"

Sin Hong menjura dan mengangkat kedua tangan ke depan seperti yang dilakukan oleh Kong Ji tadi.

Kong-Ji maklum bahwa ia akan menerima serangan balasan, maka ia bersiap-siaga.

ia mengumpulkan lweekangnya yang sudah dilatih bertahun-tahun dan menggeser sedikit tubuhnya agar serangan hawa pukulan dari Sin Hong itu tidak terlalu tepat kenanya.

Akan tetapi, biarpun ia tidak merasa sambaran angin dahsyat, tiba-tiba ia merasa dadanya dingin sekali dan rasa dingin ini menyerang sampai ke dalam jantungnya.

Dengan muka pucat Kong Ji mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua kaki, tubuhnya berjungkir balik, kedua kaki di atas dan kepalanya di bawah!

Ia berdiri dengan cara terbalik seperti dahulu kalau berlatih Iweekang di bawah asuhan See-thian Tok-ong.

Inilah cara untuk memulihkan kesehatan dan untuk menolak hawa pukulan lawan yang sudah melukai dalam tubuh.

Sampai beberapa kali tubuhnya berputaran, membuat semua orang terheran-heran dan diam-diam Sin Hong juga tertegun karena ilmu dari Kong Ji benar-benar sudah amat tinggi dan berbahaya.

Tak lama kemudian, setelah hawa diangin terusir dan dalam dada, Kong Ji berkata tanpa membalikkan tubuh.

"Sin Hong, kita sama lihat saja nanti, siapa yang menang di antara kita!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang masih berjungkir balik itu bergerak dan sekali melompat, tubuh itu sudah berada di tempat yang jauhnya hampir sepuluh tombak dengan kedua kaki di atas tanah!

Kemudian, sebelum semua orang sempat mencegah.

Kong ji sudah lenyap dari situ dengan cepat sekali.

Lie Bu rek menjadi pucat.

"Sin Hong, bocah itu telah menjadi seorang iblis yang berbahaya!"

Cam-kauw Sin-kai juga berkata kagum.

"Kepandaiannya benar-benar hebat, tidak kalah oleh tokoh-tokoh besar yang lain. Akan tetap,, aku tetap percaya bahwa mereka semua takkan dapat menandingi Wan-situ. Karena besok pada saat pemilihan bengcu baru, kuharap Wan-sicu tidak mengecewakan harapan orang banyak di dunia orang gagah, yakni seorang bengcu baru yang lihai bijaksana harus terpilih agar dunia kang-ouw dapat terpelihara dari pada malapetaka yang didatangkan oleh orang-orang jahat."

Sin Hong tadinya tidak tertarik sama sekali tentang hal.

Ia juga sama sekali tak pernah mendengar tentang urusan ini, maka sedikitpun juga ia tidak tertarik untuk menjadi bengcu, apalagi ketika ia mendengar bahwa bengcu yang dimaksud bukanlah seperti halnya seorang ketua perkumpulan seperti Ketua He kin kaipang misalnya, melainkan seorang ketua yang mengepalai partai persilatan di seluruh Tiongkok.

Seorang bengcu yang diangkat ini disahkan dan dtakuti oleh semua ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain.

Dahulu memang tidak ada bengcu seperti ini.

Setiap perkumpul atau partai persilatan mempunyai ketua dan aturan-aturan sendiri.

Akan tetapi setelah beberapa kali timbul keributan antara partai-partai itu sendiri sehingga selalu terjadi pemecah-belahan, lalu diadakan pemilihan bengcu itu, sehingga di bawah pimpinan satu orang, para partai itu dapat bekerja sama dengan baik.

Apalagi di waktu menghadapi bencana yang mengancam rakyat dan negara, maka tenaga seluruh orang kangouw dapat dikerahkan pada saat yang sama dan di bawah komando satu saja.

Kalau Sin Hong tadinya tidak tertarik, adalah Lie Bu Tek yang amat tertarik.

Setelah penguburan dan perawatan para korban selesai, Lie Bu Tek menjamu Cam-kauw Sin-kai dan minta kepada kakek ini untuk memberi penjelasan lebih lanjut tentang pemilihan bengcu.

Cam-kauw Sin-kai adalah seorang tokoh besar yang selalu menyembunyikan diri, maka jarang ada orang bertemu dengannya.

Akan tetapi diam-diam pengemis tua ini adalah bekas seorang panglima di waktu mudanya, yakni sebelum tentara Kin menguasai Tiongkok.

Oleh karena itu, selalu ia memperhatikan keadaan tanah airnya, ia pun selalu memperhatikan keadaan rakyat dan negara.

Kepandaian Cam kauw Sin-kai memang tinggi, kiranya dapat disejajarkan dengan kepandaian Ba Mau Hoatsu atau Giok Seng Cu, kalau kalah pun kiranya tidak banyak.

Sebegitu lama, Cam-kauw Sin-kai hanya menerima dua orang murid.

Yang pertama adalah seorang muda rupa tampan dan gagah dan kini sudah melakukan tugas merantau dan membela keadilan dan peri kebenaran sebagai seorang pendekar.

Yang kedua adalah Ah Kai yang baru saja gugur oleh See-thian Tok-ong.

Di dalam perantauannya, Cam-kau Sin-kai mendengar tentang majunya pihak hek-to atau kaum hitam yang selalu mengganggu ketenteraman umum.

Semenjak dahulu, biarpun banyak orang jahat, namun mereka itu selalu bekerja sama secara sembunyi karena takut akan kejaran para pendekar gagah.

Akan tetapi lambat laun keadaan berubah.

Di pihak mereka itu banyak muncul orang-orang pandai, atau mungkin juga orang-orang yang tadinya tergolong pendekar-pendekar gagah entah mengapa terjeblos dan bahkan menggabung dalam kelompok kaum jalan hitam ini.

Apalagi setelah munculnya tokoh-tokoh seperti Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, keluarga See-thian Tok-ong, dan juga munculnya perkumpulan-perkumpulan jahat seperti Bu-cin-pang, Im-yang-bu-pai dan lain-lain, maka pihak hek-to makin berani saja.

Ada tanda-tanda bahwa pihak "kaum putih"

Akan terdesak.

Bahkan sudah ada beritanya bahwa partai-partai besar seperti Kunlun-pai dan Go bi pai akan diserbu oleh kaum hitam!

Dahulu memang masih ada seorang pandai seperti Pak Kek Siansu, Thian Te Siang-mo, dan lain-lain orang yang namanya cukup ditakuti oleh para penjahat.

Akan tetapi sekarang, siapakah yang boleh diandalkan?

Ada murid Pak-Kek Siansu yang cukup ternama, yakni Hwa I Enghlong Go Ciang Le dan isterinya Liang Bi Lan.

Akan tetapi mereka sudah lama tidak muncul di dunia kangouw sehingga nama mereka tidak begitu terkenal lagi.

Di samping munculnya orang-orang jahat yang mengancam kedudukan kaum pendekar pembela kebenaran, ada juga yang amat menggelisahkan hati Ca kauw Sin-kai, yakni penyerbuan dari tentara Mongol di bawah pimpinan seorang gagah perkasa seperti Temu Cin itu.

Tentu saja pengemis tua bekas panglima ini tidak peduli andaikan pemerintah Kin akan hancur lebur oleh tentara Mongol.

Akan tetapi sebagai seorang bekas panglima ia maklum bahwa setiap peperangan pasti akan mendatangkan sengsara kepada rakyat jelata!

Dan perang perlu dicegah.

Untuk mencegah ini, tidak ada jalan lain, kecuali membantu pemerintah Kin untuk mengusir orang-orang Mongol!

Inilah scbabnya maka terpaksa Cam-kauw Sin-kai keluar dari tempat sembunyinya mengadakan hubungan dengan orang-orang gagah di seluruh tanah air, dan mengusulkan pengangkatan bengcu baru.

Kemudian ia teringat akan muridnya, Ah Kai yang sedang menuju ke Ba-nam-bun untuk menghadiri pemilihan Ketua Hek-kin-kaipang yang baru.

Maka lalu menyusul ke Bu-nam-bun, karena ia hendak menarik Hek-kin-kaipang agar supaya ikut membantu mencari calon bengcu dan untuk ikut pula menghubungi partai-partai lain sehingga mereka dapat satu padu.

"Demikianlah, kebetulan sekali di pulau ini aku melihat ilmu silat Wan-sicu luar biasa. Tidak betulkah dugaanku bahwa kau adalah ahli waris tunggal dari Pak Kek Siansu, Wan-sicu?"

Sin Hong terpaksa mengaku bahwa dialah penemu kitab peninggalan Pak Kek Siansu.

"Bagus! Kalau begitu, sesuai pula dengan sifat dan watak mendiang gurumu, kau harus turun tangan menyelamatkan orang-orang gagah sedunia dan juga meyelamatkan rakyat dan negara dari serbuan orang-orang Mongol, Wan-sicu." (Lanjut ke

Jilid 19) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19

"Bagaimana Locianpwe bisa berkata demikian? Boanseng adalah seorang yang masih bodoh dan hijau, bagaimana boanseng berani lancang mengangkat diri menjadi bengcu, mengepalai orang-orang gagah sedunia?"

"Bukan kau mengangkat diri sendiri, Wan-sicu. Akan tetapi kamilah yang mengangkat mu."

"Akan tetapi bukanlah banyak orang lain seperti Liok Kong Ji tadi, yang ingin pula menjadi bengcu?"

"Itulah bahayanya. Memang banyak orang-orang yang tidak bersih hatinya ingin menduduki kehormatan tertinggi di dunia ilmu silat itu, akan tetapi justru inilah yang harus dilawan dan diberantas. Kiranya hanya kau seorang yang akan dapat menghadapi mereka sehingga kedudukan bengcu dapat diselamatkan."

Bicara tentang Kong Ji, kembali Sin Hong teringat akan keadaan pemuda aneh itu.

Bagaimana Kong Ji bisa menjadi murid Go Ciang Le?

Ah, mengapa ia begitu bodoh?

Ia bisa tanyakan hal ini kepada Gak Soan Li!

Teringat akan ini, Sin Hong lalu minta permisi dan meninggalkan pulau itu untuk sebentar dan sementara itu, Cam-kauw Sin-kai bercakap-cakap dengan Lie Bu Tek.

Ketika Sin Hong tiba di tempat dimana ia meninggalkan Soan Li seorang diri, ia menjadi bmgung.

Soan Li tidak kelihatan lagi, sudah lenyap dari tempat itu.

Ia memanggil-manggil beberapa kali dan berjalan ke sana ke mari, namun tidak dapat melihat gadis itu.

Ia mulai gelisah, dan menjadi makin bingung dan cemas sekali ketika ia melihat pedang Soan Li menggeletak di atas tanah.

Tak salah lagi, gadis itu pasti telah tertawan oleh orang jahat.

"Celaka...! Dan semua ini gara-gara aku yang meninggalkannya seorang diri. Aku harus mencarinya...."

Cepat Sin Hong kembali ke Kim-ke-tho dan dengan singkat ia menuturkan kepada gihunya tentang hilangnya Gak Soan Li murid Go Ciang Le.

"Gihu, dia tertawan karena kelalaianku. Aku harus pergi sekarang juga mencarinya, siapa tahu kalau-kalau aku masih akan dapat mengejar dan menolongnya dari tangan penjahat yang menculiknya."

"Memang seharusnya demikian. Sayang sekali dia sudah hilang, kalau tidak tentu aku cepat bertanya tentang tempat tinggal Ciang Le. Kalau saja aku tahu tempatnya, tentu akan kudatangi ia dapat kutarik untuk membantu semua usaha kita,"

Tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai menepak pahanya.

"Ah, mengapa Lie-taihiap tidak tadi tadi bertanya kepada lohu? Kalau Lohu tahu bahwa kalian ada hubungan erat dengan Hwa I Enghiong, tentu sudah kuberi tahu dari tadi. Memang kau dapat menarik bantuannya, kiranya hal itu jauh lebih berharga daripada mencari bantuan sepuluh orang ciangbunjin yang ternama ! Lohu tahu tempat tinggalnya akan tetapi karena tidak ada hubungan erat, lohu tidak berani mengganggunya. Hwa I Enghiong tinggal di Pulau Kim-bun-to."

"Nah, kalau begitu, biar aku pergi mencari Gak-siocia dan menolongnya. Gihu pergi mencari Hwa I Enghiong, sedangkan Cam-kauw Locianpwe dapat menggantikan kedudukan ketua Hek-kin kaipang. Bukankah ini tepat sekali?"

Kata Sin Hong.

Karena menghadapi urusan penting dan pula melihat bahwa Hek-kin-kaipang memang perlu dipegang oleh seorang pandai seperti Cam-kauw Sin-kai agar jangan mudah diganggu orang jahat Lie Bu Tek segera menyatakan persetujuannya.

Para anggauta dikumpulkan, juga Tan Lokai dipondong keluar dalam keadaan masih terluka, kemudian setelah diumumkan bahwa Cam-kauw Sin-kai diangkat menjadi ketua, semua orang menyatakan setuju.

Cam-kauw Sin-kai sendiri tidak mau berlaku sungkan-sungkan atau pura-pura lagi, lalu menerima pengangkatan itu.

Ia berpesan kepada Lie Bu Tek agar supaya betul-betul berusaha membujuk Go Ciang Le suami isteri agar suka turun tangan dan membantu, bahkan kiranya lebih baik kalau Hwa I Enghiong mau dicalonkan sebagai bengcu.

Maka berangkatlah Sin Hong mencari Soan Li dan pada hari itu juga Lie Bu Tek berangkat menuju ke Pulau Kim-bun-to, mencari Hwa I Enghiong Go Ciang Le.

Sampai sepekan lebih Sin Hong mencari-cari tanpa hasil.

Ia sudah mendengar sana-sini bertanya kepada penduduk, namun Soan Li hilang tak meninggalkan jejak.

Ia seperti meraba-raba di tempat gelap.

Akhirnya di sebuah kota ia mendengar bahwa di kota itu beberapa hari yang lalu memang kelihatan ada orang wanita cantik bersama seorang muda dan seorang kakek, akan tetapi Sin Hong tidak dapat memastikan apa Soan Li ada di antara mereka ini.

Betapapun juga, ia lalu melanjutkan perjalanannya mengejar orang-orang itu.

Akan tetapi baru saja ia keluar dari rumah penginapan di mana ia bermalam, belasan orang anggauta polisi mengejar dan mengepungnya.

"Penjahat keji, kau hendak lari ke mana?"

Bentak mereka. Sin Hong melongo dan memandang kepada mereka dan dengan muka bodoh.

"Kalian ini ada apakah, siang hari bolong memaki-maki orang tanpa alasan,"

Tanyanya mendongkol sekali karena memang hatinya sedang risau memikirkan Soan Li.

"Masih berpura-pura lagi? Lebih baik menurut saja kami tangkap agar kami tak usah mempergunakan kekerasan!"

Sin Hong menjadi heran sekali.

Karena ingin tahu latar belakang kejadian ini, ia membiarkan kedua tangannya dibelenggu tanpa melawan.

Kemudian digiring ke sebuah rumah gedung di mana banyak penduduk berdiri di luar.

Jelas kelihatan dari luar bahwa di dalam rumah gedung itu pasti terjadi peristiwa hebat.

Ketika Sin Hong digiring masuk, orang yang menonton memaki-maki padanya dan ternyata di dalam gedung itu juga terjaga oleh anggauta polisi.

Beberapa orang pembesar sedang melakukan pemeriksaan.

Seorang di antara anggauta-anggauta polisi yang menangkap Sin Hong memberi laporan dan ributlah mereka.

Sin Hong diseret masuk dan dihadapkan pada seorang pembesar yang berkumis tebal.

"Siapa namamu?"

Bentaknya.

"Namaku Gong Lam,"

Jawab Sin Hong, ingat akan nama yang diperkenalkan keida Soan Li. Alangkah kaget hatinya ketika pembesar itu menggebrak meja dan membentak.

"Jangan main-main"

Namamu Wan Sin Hong, bagaimana kau berani membohong di depan kami? Pengawal tampar dulu mulutnya yang membohong agar tidak berani membohong lagi!"

Sin Hong terlampau kaget dan sehingga ia tidak mengelak ketika seorang penjaga menampar mulutnya tiga kali.

Ia tidak merasa apa-apa, sedangkan penamparnya menyeringai karena ia seakan-akan menampar karet yang membuat telapak tangannya pedas.

"Taijin, bagaimana Taijin mengetahui namaku? Memang benar namaku Wa Sin Hong, akan tetapi dari mana kalian tahu? Dan untuk perkara apakah aku ditangkap?"

Pembesar itu tertawa bergelak.

"Tak mudah kau menipu orang seperti kami,"

Katanya menyombong.

"Kau memang penjahat besar dan berani sekali. Kau masih pura-pura tanya mengapa kau ditangkap, Nah, mari kita bersama menyaksikan bekas tanganmu yang jahat dan berlumur darah."

Setelah berkata demikian, pembesar itu memberi tanda kepada para polisi dan kembali Sin Hong diseret memasuki sebuah kamar yang besar.

Di tengah kamar itu menggeletak seorang laki-laki dan seorang wanita setengah tua dalam keadaan tak bernyawa lagi dan berlumur darah, sedangkan peti uang yang telah kosong berserakan di sudut, meja kursi terbalik.

Jelas menandakan bahwa semalam telah ada perampok masuk dan merampas uang lalu membunuh dua orang tua itu, Sin Hong membelalakkan matanya, lalu memandang kepada pembesar itu dengan mata bertanya.

Akan tetapi pembesar itu tidak pedulikan pandang matanlya bahkan menariknya ke dalam kamar di sebelah kamar itu sambil berkata.

"Masih mau menyaksikan yang lain yang lebih hebat lagi? Hayo,"

Di kamar ke dua ini, Sin Hong menyaksikan pemandangan yang membuat darahnya bergolak saking marahnya.

Di atas pembaringan menggeletak tubuh seorang nona muda yang cantik.

Nona ini telah tewas pula dengan leher putus terbabat senjata tajam dan dari keadaan di situ mudah diduga bahwa yang datang mengganggu adalah seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga).

Ini semua masih belum hebat, yang betul-betul membuat Sin Hong marah bukan main adalah ketika ia disuruh membaca tulisan di tembok putih.

Tulisan yang dibuat dengan darah nona itu, yang bunyinya seperti berikut .

Memetik bunga merampas harta membunuh hartawan tanggung jawab pendekar Luliang san.

Di bawah barisan tulisan ini ada tanda tangannya yang jelas sekali berbunyi WAN SIN HONG.

Kemudian bagaikan mimpi ia mendengar pembesar itu bicara.

"Biarpun berani sekali dan kejam, akan tetapi kau tolol. Kau membiarkan dirimu terlihat oleh pelayan, yang tentu saja mengenal potongan tubuhmu dan warna pakaianmu, kemudian kau berjalan pergi seenakmu kembali ke dalam hotel Lianghoa likoan. Ha, ha, selama hidupku baru kali ini aku bertemu dengan seorang penjahat yang berani dan kejam namun tolol sekali!"

Tiba-tiba semua anggauta polisi berteriak kaget ketika melihat Sin Hong sekali bergerak saja sudah melayang melewati kepala mereka dan telah berada di luar rumah!

Kemudian dengan gerakan tangannya belenggu itu putus dengan mudah.

"Taijin, dan kalian semua, ketahuilah bahwa aku Wan Sin Hong bukan seorang penjahat. Semua itu tentu perbuatan seorang yang secara diam-diam memusuhi dan hendak membikin buruk namaku. Aku bersumpah untuk mencari dan membekuk penjahat pengecut itu!"

Ketika para orang memburu keluar, sekali berkelebat saja Sin Hong telah lenyap dari situ.

Tentu saja seluruh penduduk kota itu gempar.

Setiap mulut bicara tentang Wan Sin Hong penjahat besar yang berilmu tinggi.

Memang sudah menjadi kebiasaan manusia-manusia gatal mulut untuk menyampaikan warta buruk akan seseorang seluas mungkin.

Tentang kebaikan orang, takkan ada seseorang pun setan yang membicarakan, akan tetapi tentu keburukan orang, agaknya orang-orang yang mengaku sendiri suci pun suka pula mempercakapkan!

Sebentar saja, berita bahwa penjahat muda yang bernama Wan Sin Hong dan berkepandaian amat tinggi berkeliaran mencari korban"

Sin Hong marah dan mendongkol bukan main.

ia menduga-duga siapakah gerangan orangnya yang begitu curang memburukkan namanya secara begitu keji?

Ia tidak berani sembarangan menduga, dan diam-diam ia bersumpah untuk mencari orang itu, yang akan diseretnya di depan orang banyak agar membuat pengakua sehingga namanya bersih kembali.

Akan tetapi, bukan penjahat yang merusak namanya yang ia temukan, bahkan peristiwa-peristiwa yang membuatnya terheran-heran dan marah, juga tidak berdaya!

Beberapa hari kemudian ketika melanjutkan perjalanannya, hampir dalam setiap kota ia mendengar kejahatan yang dilakukan oleh...

Wan Sin Hong!

Pencurian besar-besaran, pembunuhan kejam, gangguan pada wanita-wanita secara mengerikan, pendeknya perbuatan sang iblis keji!

Saking ngeri dan bingungnya, Sin Hong buru-buru meninggalkan tempat itu dan di sepanjang jalan ia mencari-cari keterangan.

Tiap kali mendengar ada kejahatan terjadi di sebuah kota, ia menyusul cepat-cepat untuk segera membekuk penjahatnya.

Namun, selalu ia tidak berhasil.

Bahkan beberapa pekan kemudian, ia mengalami peristiwa yang membuatnya benar benar tidak berdaya dan bingung.

Di tengah perjalanan antara sebuah kota dan kampung di jalan kecil berbukit yang sunyi, ia berjalan perlahan dengan pikiran kusut.

Tiba-tiba ia melihat dua orang pendeta tosu yang berdiri di tengah jalan dengan senjata pedang di tangan dan siap mereka mengancam sekali.

"Wan Sin Hong, akhirnya kami dapat juga membalas dendam!"

Kata seorang di antara mereka, seorang tosu tua tinggi kurus berjenggot putih.

"Siancai... siancai... selama hidup pinto belum pernah melihat seorang penjahat semuda ini telah sedemikian jahatnya. Wan Sin Hong, dosamu telah terIampau banyak, lebih baik kau lekas berlutut dan menyerah,"

Kata tosu ke dua yang bertubuh gemuk pendek dan mukanya kuning.

Sudah terlalu banyak Sin Hong melihat kejadian-kejadian aneh akhir-akhir ini, kejadian yang merugikan namanya, maka sekarang menghadapi dua orang tosu yang datang-datang memaki dan menuduhnya, ia bersikap adem saja, menarik napas panjang dengan sebal ia bertanya.

"Jiwi Totiang ini siapakah, dan partai persilatan mana dan apa alasannya hendak mencelakakan aku?"

"Pinto Im Yang Cu dari Kun-lun dan toyu ini adalah Tek Gwat Tosu d Thian-san-pai. Kiranya tak perlu berpanjang lebar lagi, dan tak ada gunanya berpura-pura memperlihatkan muka bersih dan keheranan. Tepat seperti dikatakan oleh Tek Gwat Toyu tadi, lebih baik kau lekas menyerah untuk kami bawa ke persidangan ketua-ketua partai."

Kata Im Yang Cu tosu yang kurus itu.

Sin Hong mendongkol bukan main.

akan tetapi ia tidak bisa merasa gemas pada dua orang tosu ini, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya menjadi korban dari perbuatan seorang jahat yang sengaja meminjam namanya dalam perbuatan jahatnya.

Ia sekarang malah ingin sekali tahu perbuatan apa lagi gerangan yang dilakukan oleh siluman itu.

"Jiwi Totiang, kalau Jiwi Totiang berhak melakukan penangkapan atas diriku, kiranya aku yang tertuduh juga berhak untuk mengetahui apakah gerangan kejahatan yang orang sangka kulakukan. Apa kesalahanku terhadap Kun-lun-pai dan apa pula perbuatanku yang membikin marah Thian-san-pai?"

Im Yang Cu menghela napas dan mengelus-elus jenggotnya yang putih.

"Hm, memang berbahaya sekali seorang muda mempelajari ilmu silat tinggi, batin belum kuat sehingga kepandaiannya dipakai untuk melakukan perbuatan jahat dan menyombongkan diri. Lebih berbahaya lagi kalau orangnya masih semuda engkau, memiliki muka yang baik dan yang menyenangkan. Benar-benar banyak yang palsu di dunia ini. Wan Sin Hong kau masih berpura-pura tanya? Baiklah agar jangan kelak orang bilang Kun lun-pai tidak adil, baik pinto tuturkan perbuatanmu yang jahat terhadap murid Kun-lun-pal yang bernama Thio Beng. Muridku itu sedang merayakan hari pernikahannya, kau datang merampas pengantin wanita, membunuh Thio Beng, kemudian membunuh pengantinnya sekali karena ia melawan. Dengan jelas kau menuliskan surat tantangan di atas tembok, perbuatanmu selain terkutuk juga amat sombong. Apakah masih banyak bicara lagi?"

Nama Wan Sin Hong sebagai penjahat besar, siapakah yang tidak mendengar?"

Sin Hong mengerutkan alisnya.

Benar-benar hebat.

Orang jahat yang sudah melakukan banyak kejahatan mempergunakan namanya, ternyata bukan orang biasa, melainkan seorang yang berkepandaian tinggi, kalau tidak demikian tak mungkin ia dapat membunuh anak murid Kun-lun-pai demikian mudahnya.

"Apakah ada saksi yang melihat aku melakukan perbuatan itu, Totiang? Menuduh orang berbuat jahat tanpa ada saksi, benar-benar amat gegabah dan tidak adil."

Tiba-tiba Tek Gwat Tosu tertawa bergelak.

"Masih kurang banyakkah saksi-saksi yang melihat sepak terjang penjahat muda Wan Sin Hong? Kalau masih kurang, pinto mempunyai seorang saksi utama yang akan melucuti kedokmu, penjahat muda! Kau menyerah untuk kami bawa ke persidangan, dan saksi utama itu telah menanti di sana. Tentu kau mengenal Kim Nio, bukan?"

Tentu saja Wan Sin Hong tidak mengenalnya. Hatinya makin penasaran.

"Baiklah, aku akan ikut dengan Jiwi Totiang, akan tetapi bukan dalam arti kata menyerah, melainkan aku hendak ikut untuk menyelidiki persoalan ini lebih mendalam."

"Bocah jahat, kau benar-henar sombong sekali. Apa kaukira kami tak sanggup menangkapmu?"

Lm Yang Cu tokoh Kun-lun-pai dengan marah lalu melangkah maju, pedangnya dikelebatkan di depan muka Sin Hong, akan tetapi yang sungguh-sungguh menyerang adalah jari tangan kirinya, mencengkeram ke pundak pemuda itu.

Sin Hong sama sekali tidak mau menangkis atau mengelak.

Terdengar bunyi kain robek disusul oleh seruan kaget tokoh Kun-lun-pai itu.

Ketika jari-jari tangan kirinya mencengkeram pundak Sin Hong, kain baju pada pundak itu robek dan hancur, akan tetapi kulit pundak itu terasa oleh Im Yang Cu seakan-akan terbuat dan baja dilumuri lemak.

Demikian keras dan licin.

Hal ini benar-benar tidak masuk akal.

Tosu ini terkenal memiliki kepandaian Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Garuda) dari Kun-lun-pai, jangankan tubuh manusia, batu karang juga akan hancur kalau dicengkeramnya.

Akan tetapi bagaimana pundak pemuda itu tidak dapat dicengkeram?

"Totiang, apakah sudah menjadi kebiasaan seorang tosu untuk merusak pakaian orang?"

Kata Sin Hong menyindir.

Juga Tek Gwat Tosu menjadi pucat mukanya dan diam-diam ia gelisah sekali.

penjahat muda ini benar-benar lihai sekali dan kalau memberontak, apakah dia dan Tek Gwat Tosu dapat menahannya?

Im Yang Cu dapat melihat bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan.

Ia berlaku cerdik dan tidak mau kehilangan muka, maka ia berkata.

"Wan Sin Hong, biarpun di dunia penjahat, orang mengenal kegagahan dan nama. Apakah kau mau berjanji untuk ikut dengan kami ke persidangan?"

"Aku memang hendak ikut, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mendengar persoalan ini lebih lanjut."

"Kalau begitu, mari kita berangkat!"

Dengan senang Sin Hong mengikuti kedua orang tosu itu menuju ke scbuah bukit batu karang yang banyak terdapat jurang-jurang curam.

Dua orang tua itu dalam perjalanan ini kembali mengakui kelihaian penjahat muda ini, karena biarpun mereka berdua mengerahkan ginkang dan mempergunakan ilmu berlari cepat, tetap saja orang muda itu berada di dekat mereka, Sedikit pun tak pernah tertinggal, bahkan berlari seenaknya saja.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak bukit itu, di mana terdapat sebuah kelenteng kuno dan di depan kelenteng itu terdapat lapangan rumput.

Di kanan kini nampak jurang-jurang ternganga amat curamnya.

Ketika tiba di situ, Sin Hong melihat beberapa orang pendeta, ada tosu ada pula hwesio, tengah duduk bercakap-cakap dan nampaknya membicarakan hal yang amat penting.

Kedatangan Im Yang Cu dan Tek Gwat Tosu membawa Wan Sin Hong mendapat sambutan hangat.

Mereka semua berdiri memandang kepada Sin Hong dengan penuh perhatian.

Sin Hong dihadapkan kepada dua orang tosu yang paling tua.

Dan laporan Im Yang Cu dan Tek Gwat Tosu, ia dapat menduga bahwa mereka ini adalalah ketua Kun-lun-pai dan ketua Thian-san-pai.

Hatinya berdebar dan ia terkejut sekali.

Ada apakah ketua-ketua partai persilatan besar berkumpul di bukit?

"Wan Sin Hong kau telah berhadapan dengan persidangan ketua ketua partai persilatan besar, apakah kau masih tidak lekas-lekas berlutut dan mengakui dosa dosamu?"

Tanya ketua Kun-lun-pai dengan suaranya yang lemah lembut dan bibir tersenyum, namun sepasang mata dan suaranya berpengaruh sekali.

"Boanpwe Wan Sin Hong menghaturkan hormat kepada Locianpwe sekalian. Akan tetapi, boanpwe sungguh tidak mengerti apakah artinya persidangan ketua ketua partai dan tidak tahu pula mengapa boanpwe disuruh menghadap. Juga mohon diberi tahu siapakah sebenarnya Locianpwe sekalian?"

Ketua Thian-san-pai yang berdiri di sebelah ketua Kun-lun-pai, seorang kakek berusia delapan puluh yang bertubuh kecil bongkok, bermuka merah sekali, kepalanya botak dan tidak berjenggat memukul-mukulkan tongkat hitamnya di atas tanah lalu berkata.

"Dunia telah berubah aneh sekali. Mana ada penjahat bersikap sebaik ini? Heran, heran!"

Ketua Kun-lun-pai yang juga usianya sudah delapan puluhan, bertubuh tinggi kurus, rambut dan jenggotnya panjang dan putih, sikapnya lemah lembut, berkata lagi kepada Sin Hong.

"Pinto Tai Wi Siansu ketua Kun-lu pai, biarlah sebelum kami mendengar pengakuan-pengakuan dosamu, pinto perkenalkan dulu kepadamu agar kau tahu bahwa di sini kau tidak boleh main-main. Di sebelahku ini adalah Leng Hoat Tai su ketua Thian-san-pai, tiga saudara lain itu adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, Kian Hok Taisu ketua Go-bi-pai, dan Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai. Saudara-saudara yang lain adala tokoh-tokoh semua partai besar. Kami berkumpul di sini untuk keperluan lain, akan tetapi secara kebetulai kami mendengar munculnya seorang penjahat muda bernama Wan Sin Hong, bahkan hampir semua dari kami telah bertemu dengan peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh Wan Sin Hong. Setelah berada di sini dan mendengar kau menantang, apakah kami dapat tinggal diam?"

"Ah, tidak tahunya boanpwe dihadapkan kepada Ciangbunjin-ciangbunjin (Keitia-ketua) dan partai-partai besar. Benar-benar merupakan kehormatan bagi boanpwe. Akan tetapi boanpwe mendengar bahwa biasanya para Locianpwe suka berlaku adil dan teliti tidak sembrono. Maka boanpwe mengharap sukalah kira-kira dosa-dosa boanpwe itu disebutkan lalu diselidiki lebih dulu sebelum boanpwe dijatuhi hukuman, dan agar boanpwe diberi kescmpatan untuk membela diri."

Semua orang tua yang berada di situ saling pandang. Sikap pemuda ini benar-benar bukan seperti sikap seorang penjahat. Akan tetapi bukti-bukti banyak dan saksi pun ada.

"Dosamu terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Buktinya di mana-mana, tulisan darah di tembok masih belum kering, saksi-saksi yang melihat melakukan kejahatan masih belum mati. Bahkan baru-baru ini kau telah membunuh murid partai kami Thio Beng membunuh isterinya pula. Kemudian pihak Thai-san juga mendapatkan seorang wanita yang telah kau ganggu. Mereka dapat mencegah wanita itu membunuh diri dan sekarang wanita itu pun berada di sini sebagai saksi. Apakah kau hendak menyangkal bahwa kau tidak kenal wanita itu?"

Tat Wi Siansu ketua Kun-lun pai menudingkan telunjuknya ke arah seorang wanita muda dan cantik sekali yang berdiri di pinggir dekat jurang bersandar pada batu karang.

Sin Hong mengerahkan ingatannya akan tetapi ia tidak pernah bertemu muka dengan wanita ini.

Wanita ini masih muda dan cantik sekali.

Pakaiannya kusut demikian pula rambutnya, mukanya agak pucat dan kelihatannya sedih sekali.

Akan tetapi semua ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan menambah jelita dan manis.

Setelah bertemu pandang, wanita itu tiba-tiba terisak dan berkata.

"Memang dia inilah Si Keparat yang telah menggangguku. Dia ini yang memasuki kamarku, membawaku keluar dengan paksa, membawaku ke hutan dan mengancam hendak membunuhku kalau aku berteriak. Dia membawaku masuk keluar hutan dan memperlakukan aku secara kurang ajar dan keji, ia meninggalkan aku seorang diri di dalam hutan."

Wanita itu menangis lagi dengan sedih.

Sin Hong tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Bohongkah wanita itu?

Ataukah memang ada kejadian seperti itu yang dilakukan oleh pemuda lain yang serupa benar dengan dia?

"Kau bohong...!

Kau memfitnah...

harus dibunuh...!"

Teriaknya marah.

Timbul niatnya untuk menangkap wanita itu kemudian memaksanya mengaku sejujurnya.

Benar juga, pikirnya.

Siapa tahu kalau-kalau orang yang selalu berusaha merusak namanya itu mempergunakan wanita ini untuk menjadi saksi palsu?

Kalau benar demikian dan aku dapat memaksanya bicara, tentu Si Penjahat itu dapat diketahui siapa orangnya.

Secepat kilat tubuh Sin Hong berkelebat ke arah wanita itu berdiri.

"Jahanam keji, apakah kau masih hendak membunuhnya lagi?"

Terdengar suara halus dan sebatang tongkat kecil hitam menyambar dan menghadang di depan tubuh Sin Hong. Pemuda ini mengibaskan tangannya ke arah tongkat itu sambil berkata.

"Biarkan boanpwe menangkap pembantu Si Jahat itu, Locianpwe!"

Baik Sin Hong maupun Leng Hoat Taisu pemegang tongkat itu, terkejut akan akibat pertemuan tongkat dan tangan.

Sin Hong merasa tangannya tergetar, demikian besar tenaga Iweekang yang disalurkan dalam tongkat itu, akan tetapi sebaiknya Ketua Thian-san-pai ini terkejut bukan main karena tongkatnya telah terpental mundur setelah kena dikibas tangan pemuda.

Tosu tua maklum bahwa di dunia kang-ouw, larang ada orang yang kuat menangkis tongkatnya hanya dengan kibasan tangan belaka, maka tidak anehlah bahwa ia terheran-heran melihat tongkatnya ditangkis oleh seorang yang masih semuda ini.

Namun, ia menjadi penasaran dan malu pula, maka tanpa banyak cakap ia lalu menyerang Sin Hong dengan tongkat hitamnya.

Sin Hong menjadi sibuk sekali.

Dari angin pukulan tongkat, tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang yang berilmu tinggi.

Mengingat kedudukan kakek ini sebagai ketua Thian-san-pai, ia merasa sungkan untuk melawannya, apalagi merobohkannya.

"Taisu, harap jangan salah memukul orang tak berdosa,"

Katanya sambil cepat mengelak dari serangan tongkat yang amat lihai itu.

"Mana ada maling mengaku dosa!"

Bentakan ini disusul dengan menyambarnya pedang yang berkelebat menusuk leher Sin Hong.

Yang menyerang ini adalah ketua Bu-tong-pai, yakni Bu Kek Siansu.

Sin Hong mengeluh di dalam hatinya.

Baru menghadapi serangan seorang saja di antara para ciangbunjin ini, merupakan hal yang tidak saja berat, akan tetapi juga tidak enak baginya.

Antara dia dan mereka ini tidak terdapat permusuhan sesuatu, dan seringkali gihunya memberi nasihat agar ia menaruh hormat kepada para ciangbunjin.

Oleh karena itu ia tidak mau membalas dan hanya mengelak dan kadang-kadang menggunakan tangannya untuk menyampok dan menangkis.

Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai mengalami hal yang amat aneh.

Dia tidak akan berani mengaku bahwa dialah orang terpandai, akan tetapi dia dapat memastikan bahwa di dunia kang-ouw tidak ada orang yang berani dengan seenaknya menghadapi pedangnya.

Akan tetapi biarpun ia mengeroyok bersama Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai, namun pemuda yang dikeroyok ini dengan tangan kosong dapat menghadapi mereka, nampaknya sama sekali tidak terdesak dan seenaknya saja.

Lebih-lebih heran dan kagetnya ketika pemuda itu sanggup menangkis sambaran pedangnya dengan menyentilkan jari telunjuknya.

Kalau saja Bu Kek Siansu tidak memiliki lweekang yang kuat tentu pedang itu telah terlepas dari tangan demikian dahsyat dan kuatnya tenaga sentilan itu!

Sementara itu, ketika Sin Hong memandang ke arah gadis cantik yang mendakwanya tadi, ia melihat gadis itu melompat ke dalam kurang yang curam di dekatnya!

"Heeii..., jangan Iari kau..."

Sin Hong tak peduli lagi ketika tongkat hitam di tangan Leng Hoat Taisu mengarah pundaknya.

"Plak!"

Tongkat itu membalik ketika bertemu dengan pundak Sin Hong, dan dibarengi oleh teriakan kaget ketua Thian-san-pai, Sin Hong sudah dapat meloloskan diri dari kepungan dan melompat cepat ke tempat di mana gadis tadi berdiri.

"Dia sudah membunuh diri karena perbuatanmu yang jahat!"

Kata Tai Wi Siansu Ketua Kun-lun-pai yang juga melihat tubuh gadis tadi melayang ke dalam jurang.

Akan tetapi Sin Hong berpendapat lain.

Tadi karena ia merasa gemas kepada gadis itu, di dalam pertempuran selalu memperhatikan sehingga ia melihat betul gerakan gadis di pinggir jurang.

Matanya yang awas dapat melihat bahwa ketika bergerak melompat ke dalam jurang, gadis itu mempergunakan ginkang yang lumayan dan gerakan dalam melompat jelas sekali membuktikan bahwa gadis itu adalah seorang ahli silat tinggi!

"Gadis penipu, kau hendak lari kemana?"

Bentak Sin Hong sambil mengejar ke pinggir jurang.

Akan tetapi jurang itu dalam sekali sehingga tidak kelihatan dasarnya.

Juga dari atas tidak kelihatan lagi bayangan gadis itu, seakan-akan ditelan jurang yang ternganga.

"Jangan berpura-pura, ataukah sudah gila? Sudah jelas Nona Kim Nio membunuh diri di dalam jurang karena perbuatanmu yang keji dan jahat!"

Seru pula Tai Wi Siansu dan dibantu oleh yang lain-lain para kakek yang berkepandaian tinggi itu siap untuk menangkap Sin Hong.

"Cuwi Locianpwe, maafkan boanpwe tak dapat melayani lebih lama lagi. Boan-pwe perlu mencari Nona tadi!"

Tubuhnya melesat dan bagaikan kilat ia telah lompat dan berlari cepat turun bukit.

Dengan mendongkol sekali Sin Hong berlari memutar dan menuju ke jurang yang tadi kelihatan dari puncak.

Akan tetapi, seperti yang sudah ia duga, ia tidak dapat menemukan tubuh gadis itu.

Kalau gadis itu benar benar terjun untuk membunuh diri, tentu ia akan dapat menemukan mayatnya yang sudah hancur.

Bagaimana gadis itu dapat melompat dari tempat yang begitu tinggi tanpa terancam bahaya maut?

Sin Hong berpikir keras namun tak menemukan jawabannya.

Dia sendiri biarpun sudah memiliki ginkang tinggi, kiranya takkan mungkin dapat melompat dari atas puncak itu ke bawah jurang.

Pasti tubuhnya akan hancur.

Kecuali seekor burung, kiranya tidak ada manusia yang dapat melompat dari tempat yang tingginya tak kurang dari lima puluh tombak itu.

Kecuali kalau ada yang membantunya, pikir Sin Hong.

Akan tetapi bagaimana caranya?

Makin marah hati pemuda ini.

Kini ia yakin bahwa ada seorang atau lebih musuh rahasia yang berusaha keras untuk merusak namanya di dunia kang-ouw bahkan agaknya sengaja menarik perhatian para tokoh besar dunia persilatan seperti ketua-ketua partai itu agar dianggap sebagai seorang penjahat keji.

Siapakah musuh rahasia itu?

Apakah wanita tadi?

Tak mungkin, karena selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan gadis tadi.

Apakah gadis tadi hanya menjadi alat?

Siapakah gerangan yang mengatur semua ini?

"Kurang ajar, aku harus mendapat rahasia mi.

Aku harus dapat menangkap penjahat itu dan menyeretnya di depan para ciangbunjin."

Hati dan pikiran Hong menjadi kusut karena ia merasa khawatir sekali.

Kalau para ciangbunjin sampai menganggap dia sebagai seorang penjahat, dengan saksi-saksi yang hidup, benar-benar urusan ini bukan urusan kecil lagi.

Sampai berbulan-bulan Sin Hong merantau dengan pikiran kusut, tidak saja ia merasa amat gelisah memikirkan keadaan Soan Li yang hilang tanpa meninggalkan jejak, juga ia amat gelisah memikirkan keadaan yang terjadi di sekitarnya.

Tiada hentinya terdengar di mana-mana tentang penjahat keji bernama Wan Sin Hong yang tidak segan-segan meninggalkan nama di atas dinding kamar tempat ia melakukan kejahatan.

Bahkan beberapa kali Sin Hong terpaksa harus mempergunakan kepandaiannya untuk melarikan diri ketika ia dikejar-kejar oleh para tokoh kang-ouw yang berusaha manangkapnya.

Ia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena segan untuk melawan.

Ia maklum bahwa tokoh kang-ouw itu bermaksud baik, yakni menangkap seorang penjahat keji Pada suatu hari ia masuk ke dalam kota Liang-si.

Ia sudah kehilangan jejak Soan Li sama sekali dan kini ia mencari Soan Li dan juga penjahat yang mengguaakan namanya itu secara membuta, meraba-raba di dalam gelap, yakni di mana saja ia berada dicarilah keterangan.

Kota Liang-si amat ramai dan besar karena di situ pusat perdagangan yang menghubungkan dua propinsi.

Sin Hong bermalam di sebuah hotel dan mendapat kamar di belakang.

Hari telah mulai senja maka Sin Hong terus saja memasuki kamar untuk mandi dan bertukar pakaian.

Akan tetapi baru saja masuk kamar ia mendengar gerakan-gerakan orang dan disusul bisikan-bisikan.

"Ini dia orangnya, tak salah lagi...!"

Sin Hong sudah terlalu sering mengalami dirinya diintai dan diserbu orang maka hal ini tidak mengherankannya.

tenang-tenang saja minta air hangat dari pelayan dan tanpa menghiraukan suara gerakan orang banyak yang ia tahu mengurung kamarnya, pemuda ini membersihkan diri dan bertukar pakaian.

Kemudian ia memesan masakan kepada pelayan.

"Bawa saja ke kamar, aku hendak makan di dalam kamar,"

Katanya sambil menyerahkan beberapa potong uang.

Setelah makanan yang dipesan tiba, ia makan lalu memadamkan api dan siap untuk istirahat.

Tiba-tiba di dalam gelap itu ia mendengar suara senjata rahasia menyambar ke arah pembaringannya, Sin Hong dengan mudah mengelak dan tanpa banyak cakap ia menyambar bungkusan pakaiannya dan membuka daun pintu.

Ternyata di depan pintu kamarnya telah berdiri belasan orang yang berpaksian sebagai polisi dan memegang senjata tajam, siap untuk menyerangnya.

Sin Hong menarik napas.

Ia merasa malas untuk melayani para petugas keamanan itu, maka ia lalu menutupkan lagi daun pintu, membuka jendela untuk melarikan diri dari situ.

Akan tetapi di sini telah ada yang menjaga pula, bahkan pakaian mereka ini seperti ahli-ahli silat dan gerakan mereka jauh lebih tangguh daripada yang menjaga di depan pintu.

Jumlah mereka yang berpakaian seperti kauwsu (guru silat) ini sedikitnya ada dua belas orang pula.

"Kalian membosankan benar-benar!"

Sin Hong berkata perlahan, menutup kembali daun pintu dan sekali kedua kakinya bergerak, tubuhya sudah mencelat ke atas.

Kedua tangannya digerakkan terdengar suara keras ketika pian dan genteng menjadi bobol dari mana tubuhnya menjeblos genteng"

Akan tetapi, Sin Hong benar-benar keliru kalau ia mengira bahwa di atas genteng ia akan terlepas dari kepungan, bahkan begitu tubuhnya berada di wuwungan rumah, beberapa buah senjata menyambar dan menyerangnya dengan cara yang amat dahsyat.

Ternyata bahwa yang menjaga di atas genteng adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, jumlahnya ada delapan orang di antara mereka itu bahkan samar-samar melihat ketua Kun-lun-pai dan Thian san-pai.

Celaka, sekarang yang mengurungnya adalah tokoh-tokoh besar.

"Wan Sin Hong bangsat keji, menyerahlah untuk menebus dosa,"

Terdengar suara Tai Wi Siansu dan pedangnya dah berkelebat dengan amat lihainya meluncur ke arah dada Sin Hong.

Sin Hong tidak mau melayani, sebaliknya ia menggulingkan tubuhnya di atas genteng, bergulingan ke bawah dan disusul dengan gerakan Hui-mau-jip-lim (Burung Terbang Masuk Hutan) tubuhnya sudah melayang ke bawah dan melarikan diri dengan cepat sekali.

"Kejar! Tangkap penjahat Wan Sin Hong ".!"

Terdengar suara orang mengejar dari segala jurusan.

Sin Hong tidak mau melayani dan terpaksa ia melarikan diri ke luar kota.

Ia pikir takkan ada gunanya kalau melawan para pengejarnya, karena yang menjadi persoalan penting bukanlah ia dan para pengejar, melainkan antara dia dan penjahat yang merusak namanya.

Percuma belaka kalau ia akan menyangkal semua tuduhan itu.

Yang penting adalah mencari penjahat yang mengkhianatinya, karena penjahat itulah musuhnya, bukan orang-orang kang-ouw yang mengejarnya.

Sebentar saja ia sudah dapat melenyapkan diri dari para pengejarnya di dalam gelap.

Baru saja ia melompat turun di luar tembok kota, tiba-tiba ia mendapatkan dirinya dikurung oleh belasan orang.

Ketika ia melihat dengan bantuan sinar bulan yang remang-remang ia terkejut dan juga girang karena di antara orang orang yang tidak dikenalnya, ia melihat Liok Kong Ji, Ha Mau Hoatsu, Giok Seng Cu, dan ada juga...

Soan Li!

"Gak.......

kau di sini...?"

Tak terasa pula ia berseru girang. Akan tetapi, bukan main kagetnya, ketika ia melihat Soan Li tiba-tiba mencabut pedang dan dengan cepat melompat dan menyerangnya dengan ganas! "Nona Soan Li...!"

Sin Hong berseru kaget.

"Wan Sin Hong, kau telah menghinaku ".. kau telah merusak hidupku... kau harus mampus di tanganku...""

Soan Li menyerang kalang kabut!

Bukan kepalang kagetnya hati Sin Hong melihat ini.

Terpaksa ia mengelak dan beberapa kali memandang dengan penuh perhatian, khawatir kalau-kalau yang dianggap Soan Li bukan gadis itu.

Akan tetapi tak salah lagi, inilah Gak Soan Li.

Andaikata ia lupa akan orangnya, ia takkan lupa akan ilmu pedangnya.

Benar-benar Sin Hong merasa dalam mimpi menghadapi hal yang aneh-aneh ini.

Sementara itu, dalam kota terdengar suara mereka mengejar, bahkan terdengar Suara Tat Wi Siansu yang dikerahkan dengan tenaga lweekang.

"Wan Sin Hong, lebih baik kau menyerah. Tiada gunanya kau biar sampai ke neraka sekalipun kau akan berhadapan dengan seluruh orang gagah di dunia"

Sin Hong benar-benar menjadi bingung. Ia masih diserang kalang kabut oleh Soan Li yang nampaknya nekat itu. Tiba-tiba Kong Ji melangkah dan berkata keras, bengaruh.

"Soan Li kekasihku, sudahlah. Tinggalkan dia!"

Aneh di atas aneh!

Sin Hong sampai berdiri bengong ketika melihat betapa Soan Li tiba-tiba melempar pedangnya, berlari dan menubruk Kong Ji yang memeluknya, kemudian gadis itu menangis terisak-isak di atas dada Kong Ji.

Lebih hebat lagi kekagetan hati Sin Hong yang terheran-heran itu ketika mendengar suara Soan Li penuh kemanjaan.

"Lam-ko, Wan Sin Hong telah merusak hidupku, telah menghinaku...."

Sin Hong sampai tak dapat mengeluarkan suara saking heran dan terkejutnya, ia masih merasa dalam mimpi ketika ia mendengar suara Kong Ji berkata.

"Sin Hong. demi persaudaraan kita, Aku sanggup menolongmu, dan mari kita bersama menghancurkan para pengejarmu itu. Mari kita gempur habis-habisan mereka itu asal kau suka bekerja sama dengan aku. Marilah, Sin Hong saudaraku...."

Sambil berkata demikian, Kong Ji melepaskan pelukan Soan Li dan menghampiri Sin Hong dengan senyum ramah.

Sin Hong masih bingung, serasa mimpi.

Akan tetapi ia masih cukup sadar untuk mengingat bahwa pengejarnya itu adalah tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang ternama dan termasuk pendekar-pendekar budiman.

Ia tadi melihat di antara mereka dua orang tokoh besar, yakni Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai dan Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai dan baru.

dua orang ini saja sudah meyakinkan hati bahwa mereka benar-benar merupakan tokoh-tokoh besar yang paling dihormati.

Dan ia masih ingat akan sikap Kong Ji ketika bertemu dengannya, di atas Pulau Kim ke-tho, sikap yang tidak mencerminkan persaudaraan.

Kini Kong Ji mengulurkan tangan hendak membantunya, yakni dengan cara menumpas para pengejarnya, tokoh-tokoh kang-ouw itu!

Semua ini membingungkannya.

Tokoh-tokoh besar kang-ouw memusuhinya, sebaliknya Kong Ji mengulurkan tangan kepadanya.

Dan masih ada lagi soal Soan Li yang tiba-tiba benci kepadanya, menuduh yang bukan-bukan.

Lebih aneh dan hebat lagi, Soan Li menyebut Kong Ji dengan panggilan Lam-ko, padahal sebutan ini adalah sebutan untuknya karena ia memperkenalkan diri kepada Soan Li sebagai Gong Lam!

Di samping semua kebingungan yang membuat Sin Hong bengong terlongong masih ada lagi hal lain yang membuat ia menjadi pucat, yakni dengan adanya Giok Seng Cu di situ bersama-sama Kong Ji.

Giok Seng Cu !

inilah yang telah mematahkan tulang kaki Soan Li, dan orang ini pula yang harus dibinasakannya, karena bukanlah Giok Seng Cu pula yang menjadi ketua Im-yang-bu-pai yang telah membasmi Hoa-san-pai dan menjadi biang keladi kemusnahan Lu-liang-pai?

Akan tetapi mengapa sekarang Giok Seng Cu berada di situ bersama Kong Ji dan mereka ini justru merupakan orang-orang yang hendak membelanyanya dari kejaran dan ancaman tokoh-tokoh besar dan ketua dari Kun-lun-pai, Thian-san-pai dan lain-lain?

Tanpa banyak cakap lagi, Sin Hong mengerakkan tubuhnya dan tanpa dapat diduga lebih dulu ia telah mengirim pukulan ke arah Giok Seng Cu.

Kakek yang sudah pernah merasai kelihaian tangan Sin Hong tentu saja tidak mudah diserang.

Dia adalah murid dari Pak Hong Thiansu, ketua dari perkumpulan lm-yang-bu-pai.

Dia seorang ahli silat tinggi yang sudah memiliki pengalaman luas sekali dan kepandaiannya tidak boleh dipandang ringan.

Maka tentu saja biarpun diserang secara tiba-tiba oleh Sin Hong, ia dapat melihat hal ini dengan baik, maka cepat-cepat ia miringkan tubuh sambil menangkis sekuat tenaga.

Biarpun Giok Seng Cu mengerahkan tenaga Tin-san-kang dalam tangkisannya ini, namun tetap saja terhuyung beberapa langkah ketika hawa pukulan Sin Hong mendorongnya.

Ia benar-benar merasa heran sekali, juga terkejut karena secara aneh sekali pemuda itu kembali telah menyerangnya.

"Sin Hong, jangan kau kurang ajar,"

Kong Ji membentak dari samping dan sinar kuning emas yang menyilaukan mata meluncur ke arah punggung Sin Hong dari belakang!

Sin Hong terpaksa menarik kembali serangannya terhadap Giok Seng Cu dan membalikkan tubuh.

Ia melihat serangan pedang di tangan Kong Ji hebat juga sedangkan pedang itu sendiri membikin agak jerih.

Sin Hong maklum bahwa pedang Pak-kek Sin-kiam yang berada di tangan Kong Ji adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh sekali dan tidak boleh dibuat main-main.

Maka ia pun hanya mengelak dan melangkah mundur.

Kong Ji mendesak, sedangkan Giok Seng Cu juga mengirim pukulan Tin-san-kang dari samping.

Serangan-serangan ini sebenarnya tidak membingungkan hati Sin Hong.

Yang membikin ia gugup adalah ketika Soan Li kembali menyerangnya, dan selain Ba Mau Hoatsu juga mengeluarkan sepasang senjatanya, kini para pengejarnya telah datang dekat.

"Para Locianpwe yang baru tiba, biarlah kami membantu Cuwi (Tuan Sekalian) menangkap penjahat besar Wan Sin Hong ini".!"

Kata Kong Ji dengan nada suara gembira sekali.

Kembali hati Sin Hong terkejut.

Ia tidak mengerti sama sekali akan sikap Kong Ji.

Baru saja menawarkan tenaga untuk membelanya dari para pengejarnya, sekarang serentak mengajak kawan-Sementara itu, Tai Wi Siansu, Leng Hoat Taisu dan yang lain-lain tentu saja tertegun melihat Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu.

Dua orang tokoh ini tentu saja sudah amat dikenal dan dapat dibilang bukanlah orang-orang yang berdiri di pihak Tai Wi Siansu sekalian.

Akan tetapi mengapa mereka itu juga memusuhi penjahat muda Wan Sin Hong.

Betapapun juga, kerena mereka sedang mengejar Wan Sin Hong dan sekarang pemuda jahat itu sedang dikeroyok oleh Giok Seng Cu dan kawan-kawannya, Tai Wi Siansu dan rombongannya tidak banyak bertanya, langsung menyerbu dan mengeroyok Sin Hong pula"

Sin Hong boleh jadi gagah perkasa dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, akan tetapi mana bisa ia tahan menghadapi semua orang tokoh besar di dunia kang-ouw ini""

Pengeroyoknya adalah Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, Liok Kong Ji. Gak Soan Li, Tai Wi Siansu, Leng Hoat Taisu dan masih banyak tokoh besar lainnya yang rata-rata memiliki kepandaian ilmu silat tinggi.

"Penasaran.... penasaran"

Para Locianpwe jaman sekarang sudah terlaluan sehingga tidak awas pemandangan mata, tidak tajam pendengaranrya."

Berkali-kali Sin Hong berseru keras dengan kecewa dan sedih, kemudian karena menghadapi desakan yang amat hebat, terpaksa ia menyambar sebatang ranting yang terletak di atas tanah dan mengamuklah ia dengan Ilmu Pedang Pak kek-kiam-sut yang amat luar biasa!

Untung baginya, melihat ilmu pedang yang dimainkan dengan sebatang ranting ini, Kong Ji demikian tertarik dan tertegun, sehingga pemuda ini menghentikan serangannya dan menonton cara Sin Hong bersilat pedang!

Kesempatan baik ketika semua pengeroyoknya mundur saking gentar menghadapi gerakan ranting yang tidak saja amat cepat, akan tetapi juga amat kuat itu tidak disia-siakan oleh Sin Hong.

Sekali berkelebat lenyaplah ia dari depan para pengeroyoknya!

Diam-diam Kong Ji terkejut sekali.

Kepandaian Sin Hong, ternyata telah meningkat sedemikian hebatnya sehingga ia harus mengaku takkan dapat melawan pemuda itu.

Apakah dia telah mempelajari Pak-kek Kiam-sut?

Demikian pikir Kong Ji.

Aneh sekali, kitab itu masih berada di dasar jurang dan hanya aku yang mengetahui tempatnya, bagaimana Sin Hong dapat mempelajari ilmu pedang aneh itu?

Tak salah tentu yang tadi dimainkan oleh Sin Hong adalah Pak-kek Kiam sut, karena gerakan dasarnya hampir sama dengan ilmu silat yang ia pelajari dari Hui Lian, yakni Pak-kek Sin ciang hoat, Jangan-jangan kitab yang di dasar jurang itu telah diambil oleh Sin Hong...!

"Hebat benar kepandaian penjahat Wan Sin Hong itu..."

Terdengar Tai Wi Siansu memuji.

"Dia itu murid siapakah?"

Mendengar kata-kata ketua Kun-lun-pai ini cepat-cepat Kong Ji berkata.

"Locianpwe, dia itu adalah Wan Sin Hong yang selama ini merajalela melakukan berbagai kejahatan. Dia adalah putra angkat Lie Bu Tek murid Hoa-san pai dan hendaknya Locianpwe maklum bahwa ada serombongan orang yang berniat mengangkatnya menjadi bengcu pada pemilihan bengcu baru nanti."

Warta ini benar-benar mengagetkan Tai Wi Siansu.

Kalau dunia kang-ouw dipimpin oleh seorang bengcu sejahat itu, benar-benar berbahaya sekali!

Dan kepandaian pemuda jahat tadi memang benar-benar luar biasa dan hebat, seakan-akan seorang iblis saja.

"Siapa yang memilihnya?"

Tanyanya sambil memandang wajah tampan pemuda yang belum dikenalnya ini.

"Yang memilihnya adalah perkumpulan Hek kin-kaipang di bawah pimpinan Cam-kauw Sin-kai,"

Jawab Kong Ji.

Kembali Ketua Kun-lun-pai ini terkejut.

Akan tetapi yang lebih kaget lagi adalah Leng Hoat Taisu Ketua Teng-san-pai.

Cam-kauw Sin-kai adalah kakak seperguruan yang paling tua dan yang paling pandai.

"Tak mungkin Cam-kauw Sin-kai memilih penjahat untuk menjadi bengcu. Orang muda, kau siapakah berani berlancang mulut menuduh Cam-kauw Sin-kai memilihnya?"

Tegur Leng Hoat Taisu sambil memandang Kong Ji dengan mata penasaran. Kong Ji menoleh kepada Giok Seng Cu dan kakek yang berambut putih itu maju sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Tai Wi Siansu dan Leng Hoat Taisu ketahuilah! Pemuda ini adalah calon bengcu dan kamilah pemilih-pemilihnya. Calon bengcu tidak lancang menuduh, memang benar bahwa antara Cam-kauw Sin-kai dan penjahat muda Wan Sin Hong terdapat perhubungan yang erat. Hal ini baiktiya kau orang tua pikun suka pergi menyelidiki."

Leng Hoat Taisu masih penasaran akan tetapi ia juga ingin sekali segera menyelidik apakah hal ini benar adanya.

Sebaliknya Tai Wi Siansu memandang pada Kong Ji dengan ragu-ragu, maklum bahwa Giok Seng Cu bukan orang baik-baik akan tetapi tahu pula akan kelihaian kakek yang menjadi ketua lm-yang-bu-pai ini.

Kalau sampai Giok Seng Cu dan orang seperti Ba Mau Hoatsu memIilihnya, tak dapat disangkal tentu yang ia pilih itu seorang yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi, mungkinkah seorang yang masih begini muda memiliki kepandaian berarti?

Kong ji orangnya memang cerdik sekali.

Sekali pandang saja tahulah ia apa yang terdapat dalam hati ketua Kun-Lun pai itu.

Maka sambil tersenyum ia menjura kepada Tai Wi Siansu dan Leng Hoat Taisu berkata dengan suara lemah lembut.

"Jiwi Locianpwe sebagai ciangbunjin partai-partai besar, tentu saja tak dapat dibandingkan dengan aku yang rendah. Untuk menjadi Bengcu bukanlah mudah, dan aku yang muda merasa dihormati oleh kata-kata Giok Seng Cu Locianpwe. Menjadi bengcu memang sukar bukan main, tidak semudah merobohkan pohon pek di kiri itu dengan tangan kosong."

Tai Wi Siansu melirik ke arah kiri dimana terdapat pohon pek yang besarnya sepelukan orang lebih.

Merobohkan pohon itu dengan tangan kosong?

Hem, kalau ia mengerahkan seluruh tenaganya, agaknya dapat juga ia merobohkan pohon itu, akan tetapi tidak berani memastikan, karena untuk dapat melakukan hal itu, orang harus memiliki tenaga seribu kati.

"Merobohkan pohon itu dengan tangan kosong kauanggap mudah? Ah, ingin kali aku yang tua menyaksikan kelihaian orang muda sekarang."

Kong Ji kembali menjura dan berkata.

"Aku yang muda Liok Kong Ji memperlihatkan kebodohan, maaf...""

Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar ia menghampiri pohon pek itu, mengerahkan tenaga Tin-san-kang dan sekali ia merendahkan tubuh dan mendorong terdengar suara keras dan pohon terlempar ke atas.

Belum juga pohon itu turun, tubuh Kong Ji sudah berkelebat dan nampak sinar menyilaukan berkelebatan, disusul oleh robohnya pohon yang kini batangnya telah menjadi lima potong!

Tai Wi Siansu dan Leng Hoat Taisu dua orang ketua partai besar yang tentu saja memiliki kepandaian tinggi, menyaksikan demonstrasi ini menjadi kaget bukan main.

Mereka yang berpemandangan awas, tentu saja melihat betapa tadi pemuda itu mempergunakan pedang yang luar biasa tajamnya, melompat dengan gerakan Sin liong-seng-thian (Naga Sakti naik ke Langit) dan dengan empat kali sabatan telah berhasil menabas batang pohon menjadi lima potong!

"Hebat sekali!"

Leng Hoat Taisu memuji.

"Apakah ia bermaksud hendak menduduki kursi bengcu?"

Tanya Tai Wi Siansu yang masih menaruh hati curiga karena pemuda yang lihai ini dipilih oleh orang-orang seperti Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu.

Apalagi setelah ia kini mengenal itu sebagai pedang Pak-kek Sin-kiam yang dulu pernah dibuat perebutan dan pernah dibawa lari oleh Giok Seng Cu.

Bagaimana pedang itu terjatuh ke dalam tangan pemuda ini?

Giok Seng Cu tersenyum.

"Tai Wi Siansu, apakah kau tidak mengenal Pak-kek Sin-kiam? Dahulu mendiang Supek Pak Kek Siansu pernah berkata bahwa siapa yang mewarisi Pak-kek Sin-kiam, adalah jago nomor satu di dunia dan patut menjadi bengcu."

Tentu saja kata-kata dari Giok Seng Cu ini hisapan jempolnya sendiri, akan tetapi para tokoh besar yang mendengar diam-diam menjadi terheran dan kagum.

"Jadi dia ini murid Pak Kek Siansu yang mewarisi peninggalan pedang dan kitab locianpwe itu?"

Tanya Tai Wi Siansu. Giok Seng Cu tertawa bergelak.

"Kalian sudah tahu sekarang, apakah tidak betul pilihan kami mengangkat dia sebagai calon bengcu?"

Sementara itu, Tai Wi Siansu melihat sinar mata yang sombong sekali dari Kong Ji, maka diam-diam kakek yang awas ini menjadi terkejut. ia memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk pergi, lalu berkata.

"Hal itu tergantung dengan keadaan pada saat nanti pemilihan dilakukan. Sementara itu, sudah menjadi kewajiban kita hersama, lebih-lebih kewajiban murid dari mendiang Pak Kek Siansu, untuk menangkap seorang penjahat seperti Sin Hong. Ataukah... Liok-sicu ini tidak mampu menangkapnya?"

Merah telinga Kong Ji mendengar ini. Wan Sin Hong pasti akan mampus di tanganku. Kalau sekarang tak dapat melakukannya, kelak pada pemilihan bengcu, apa salahnya membekuknya?"

"Kita sama lihat sajalah nanti..."

Kata Tai Wi Siansu sambil berlari pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh kawan-kawannya. Di tengah jalan, Leng Hoat Taisu berkata.

"Toyu, sakapmu terhadap Liok Kong Ji tadi tepat sekali. Pinto juga tidak menaruh kepercayaan terhadap pemuda seperti itu."

"Siapa bisa percaya kepada pilihan Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu? Anehnya pemuda itu benar-benar lihai. Bagaimana kepandaian Luliang-pai bisa jatuh ke dalam tangannya?"

Kata Tai Wi Siansu. Adapun Kong Ji yang ditinggal pergi oleh rombongan Tai Wi Siansu, merasa gembira bukan main.

"Biarpun Sin Hong tak dapat kita tarik, dia sudah tidak berdaya, pasti dikejar-kejar terus karena kejahatannya. Giok Seng Cu Suhu harap bersama Mau Suhu pergi mencari See-thian Tok-ong dan berusaha menariknya agar bersama kita membuat pahala. Harus diberi tahu bahwa pihak Hwa I Engihiong Go Ciang Le sudah pula keluar dan kalau kita tidak bersatu, sukarlah bagi kita untuk berhasil mengejar cita-cita kita."

"Jangan khawatir, kami akan berusaha. Kurasa See-thian Tok-ong takkan begitu bodoh memakai jalan sendiri,"

Jawab Giok Seng Cu yang tak lama kemudian pergi pula bersama Ba Mau Hoatsu.

Memang mengherankan sekali.

Bagai mana orang-orang ternama dalam dunia kang-ouw seperti Giok Seng Cu dan ba Mau Hoatsu dapat demikian tunduk hadap Kong Ji?

Dan bagaimana pula Gak Soan Li sekarang berada bersama Kong Ji dan kelihatan begitu mencintai dan menurut?

Untuk melenyapkan keheranan ini, baiklah kita ikuti pengalaman Soan Li semenjak ia ditawan dan dibawa pergi oleh Giok Seng Cu dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, Gak Soan Li yang kedua pahanya masih belum sembuh, sama sekali tidak berdaya menghadapi Giok Seng Cu dan akhirnya ia kena ditawan oleh kakek jahat itu.

Giok Seng Cu pada dasarnya bukanlah seorang bandot tua yang suka akan daun kembang muda, dia bukan-seorang mata keranjang.

Akan tetapi, Gak Soan Li adalah seorang gadis yang manis dan memiliki bentuk tubuh yang menarik hati.

Biarpun seorang kakek seperti Giok Seng Cu yang tidak berwatak mata keranjang, kiranya tidak mengherankan kalau sampai tertarik pula.

Semua ini ditambah lagi oleh kenyataan bahwa gadis ini adalah murid Go Ciang Le yang dianggap sebagai musuhya.

Maka ia menawan Soan Li bukan saja untuk memuaskan nafsu hatinya juga sekalian untuk membalas dendam, atau setidaknya menyusahkan murid musuh besarnya itu.

Sementara itu, di tempat lain tak jauh dart situ, terjadi hal yang mengherankan pula.

Hwesio gundul tinggi besar yang dipukul mundur secara mengherankan oleh Gak Soan Li yang duduk di atas dua tangan Sin Hong, dengan hati penasaran sekali pergi naik kuda bersama dua orang muridnya Ci Kong dan Ci Kwan.

Ia benar-benar merasa sudah dihina sekali.

Dengan malu dan marah-marah hwesio tinggi besar ini membalapkan kudanya, di belakangnya diikuti oleh dua orang muridnya yang tak berani banyak cakap karena maklum bahwa guru mereka sedang marah.

"Minggir kau, jahanami"

Tiba-tiba hwesio tinggi besar itu membentak ketika melihat seorang pemuda berjalan seenaknya di tengah jalan.

Kuda tunggangan hwesio itu sedang berlari cepat sekali, sedangkan pemuda itu seperti seorang buta yang tak melihat datangnya kuda.

Agaknya tubuh pemuda yang tidak besar itu akan diterjang oleh kuda dan hal ini pasti berakibat hebat.

Hwesio itu yang sedang marah dan uring uringan, menjadi gemas melihat pemuda ini.

karena pemuda ini mengingatkan ia akan pemuda yang memanggul Gak Soan Li.

"Kau cari mampus!"

Bentaknya lagi.

biarpun tidak menaruh hati kasihan sedikit pun terhadap pemuda ini, akan tetapi kalau sampai kudanya menerjang, ada kemungkinan kudanya akan roboh pula.

Maka bentaknya ini dibarengi dengan sabetan cambuk yang berada di tangannya ke arah leher pemuda itu dengan maksud melemparkan pemuda itu ke pinggir jalan.

Akan tetapi akibatnya hebat bukan main dan hampir saja hwesio itu terkena celaka.

Pemuda yang disabetnya, dengan enak sekali mengulur tangan kiri menyambar ujung pecut dan membarengi gerakan ini dengan tangan kanan.

yang dipukulkan ke depan dengan jari-jari terbuka.

Hwesio itu merasa tubuhnya tersentak, demikian kuat pegangan pemuda itu pada pecutnya.

Kemudian tiba-tiba ia merasa desir angin pukulan yang hebat sekali ke arah dadanya.

Maklumlah hwesio berilmu ini bahwa ia menghadapi pukulan lweekang yang dapat mendatangkan maut.

Cepat tubuhnya dilempar ke belakang.

Dengan gerakan berjumpalitan berhasil membebaskan diri dari pukul istimewa yang dilepaskan oleh pemuda itu.

Akan tetapi, terdengar suara meringkik keras dan kuda itu roboh berkelojotan lalu mati.

Ternyata bahwa kuda itu tak dapat mengelak seperti tuannya, sekali terkena pukulan istimewa itu terus mati!

Hwesio itu terkejut sekali, akan tetapi kedua orang muridnya, Po-an Ci-heng-te menjadi marah sekali.

Mereka ini sudah melompat dari kuda dan mencabut golok dengan muka beringas.

"Bocah kurang ajar, apa kau buta berani membunuh kuda Suhu kami" (Lanjut ke

Jilid 20) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Pemuda Itu tersenyum mengejek.

"Aku Liok Kong Ji selamanya belum pernah bertemu dengan kalian, akan tetapi datang-datang gurumu yang berkepala gundul keras itu hendak menghinaku. Hanya kepala kudanya, bukan kepala gundulnya yang remuk, itu masih amat badus baginya."

Pemuda yang lihai ini memang Kong Ji adanya.

Seperti telah diketahui, di atas Pulau Kim-ke-tho, Kong Ji bertemu dengan Sin Hong dan telah meningdalkan pulau dengan hati kecewa dan dendam.

ia harus menjatuhkan Sin Hong, baik secara kasar maupun dengan jalan halus.

Kebetulan sekali di tengah perjalanan ia tertemu dengan hwesio tinggi besar beserta dua orang muridnya yang sedang urang-uringan karena habis dihajar oleh Soan Li beberapa hari yang lalu.

Po-an Ca-heng-te yakni dua saudara Ci Kong dan Ci Kwan, mendengar jawaban Kong Ji yang menghina itu, marah bukan main.

Serentak mereka menerping maju dengan golok digerakkan cepat.

"Jangan sembrono...""

Hwesao gundul itu mencegah murid-muridnya, namun terlambat.

Dalam segebrakan saja, ketika dua orang bersaudara yang terkenal ahli-ahli golok ini menerjang, Kong Ji melakukan gerakan yang aneh.

Tubuhnya mendadak jungkar balik, kepalanya di atas tanah, kedua tangan kakinya bargerak dan terdengar seruan kesakitan, disusul oleh robohnya saudara Ci itu!

Dengan cara yang amat aneh dan cepat sekali, Kong ji yang berdiri dengan kaki di atas dan kepala di bawah itu telah bergerak secara cepat melakukan serangan tanpa dapat ditangkis oleh kedua orang saudara Ci yang tentu saja tidak mengira akan menghadapi serangan macam itu.

Inilah ilmu silat yang aneh yang dapat dipelajari oleh Kong Ji dari See-thian Tok-ong!

Hwesio itu terkejut sekali melihat betapa dalam satu gebrakan saja, dua orang muridnya telah dirobohkan secara aneh.

Juga ilmu silat yang diperlihatkan oleh Kong Ji ini pernah dilihatnya, maka sambil melangkah maju ia bertanya.

"Orang muda, pernah apakah kau dengan See-thian Tok-ong?"

Kong Ji tersenyum mengejek.

"See thian Tok-ong? Aku bukan apa-apa dengan dia, mungkin dia itu calon pecundangku. Kau ini hwesio gundul kepundaianmu boleh juga, siapakah kau dan apakah kau berniat buruk ataukah baik terhadap aku Liok Kong Ji? Kalau niatmu buruk, kau akan kurobohkan seperti dua orang muridmu yang goblok ini, kalau niatmu baik, marilah kita bersahabat untuk mencari kedudukan bersama di dunia ini."

"Kau mengoceh! Kaukira aku takut menghadapi seorang bocah seperti engkau? Tak usah membicarakan soal niat, coba kaukalahkan sepasang rodaku ini, kalau memang gagah,"

Hwesio itu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah memegang sepasang senjata yang aneh yakni sepasang roda.

"Eh, eh, bukankah kau ini Ba Mau Hoatsu dari Tibet? Sudah lama aku ingin sekali bertemu dan bersahabat denganmu. Ba Mau Suhu, harap menyimpan kembali senjatamu dan mari kita bercakap-cakap. Tak perlu kita mengadu kepandaian; kau takkan menang."

Hwesio itu memang bukan lain Ba Mau Hoatsu adanya.

Sebagaimana telah diketahui, Ba Mau Hoatsu adalah seorang tokoh besar dunia persilatan dan kepandaiannya sudah amat terkenal, apalagi sepasang rodanya yang jarang menemui tandingan.

Hanya beberapa orang yang dapat mengalahkannya, maka ketika ia kalah oleh Gak Soan Li yang bertanding di atas lengan tangan seorang pemuda tolol, tentu saja Ba Mau Hoatsu merasa terhina sekali.

Sekarang ia bertemu dengan seorang lain yang kata-katanya seakan-akan seorang jagoan bahkan yang berani memastikan bahwa dia takkan menang melawan pemuda ini, tentu saja hati hwesio Tibet ini menjadi makin mendongkol.

"Liok Kong Ji kau ini orang macam apakah berani betul membuka mulut besar? Biarlah aku berjanji, kalau aku Ba Mau Hoatsu kalah olehmu, aku akan suka menjadi sahabatmu. Akan tetapi sebaliknya, kalau kau tidak menang, aku pasti akan menghancurkan kepalamu sebagai hukuman atas kesombonganmu."

Kong Ji tersenyum, menghampiri dua orang saudara Ci yang masih menggeletak lemas di atas tanah karena totokannya.

ia menggerakkan kedua kakinya menendang dan bergeraklah dua orang saudara itu, karena telah terbebas dari totokan!

Kalian mendengar kata-kata Suhumu tadi?

Nah, kalianlah yang menjadi saksi,"

Katanya sambil mendorong dua orang itu ke pinggir.

Kemudian Kong Ji menghadapi Ba Mau Hoatsu.

Pemuda ini sudah seringkali mendengar nama besar Ba Mau Hoatsu, maka ia tidak berani berlaku sembrono, sungguhpun gerak-gerik dan kata-katanya memandang ringan.

Dengan gerakan indah ia menghunus pedangnya yang begitu dihunus membuat Ba Mau Hoatsu berubah air mukanya.

"Pak-kek Sin-kiam...l"

Serunya kaget tercengang sehingga ia lupa untuk membuka serangannya.

"Memang betul, awas sekali matamu. Ba Mau Hoatsu. Pak-kek Sin-kiam berada di tanganku, apakah kau masih belum percaya bahwa kau takkan menang melawanku?"

"Bocah sombong, coba kau terima siang-lun (sepasang roda) di tanganku""

Bentak Ba Mau Hoatsu marah.

Memang ia merasa kaget dan agak gemetar melihat pedang pusaka perunggalan Pak Kek Siansu akan tetapi karena yang memegangnya hanya seorang bocah yang sangat muda sekali, mana ia sudi mengalah?

Dengan cepat ia mulai membuka serangannya, roda di tangan kanan dipukul ke arah dada sedangkan roda kiri meluncur ke atas, terus menimpa kepala Kong Ji.

Terdengar suara nyaring dua kali susul-menyusul, dan bunga api berpijar menyilaukan mata ketika sekaligus pedang pusaka itu berhasil menangkis sepasang roda yang menyerang dari depan dan atas.

Gerakan pedang di tangan Kong Ji cepat sekali dan diam-diam Ba Mau Hoatsu harus mengaku bahwa pemuda itu memang mempunyai tenaga besar dan gerakan cepat.

"Awas pedang!"

Kong Ji berseru keras.

Dalam gebrakan pertama setelah berhasil menangkis, pedangnya tidak tinggal diam dan melakukan serangan balasan yang tak kalah lahainya.

Pemuda itu telah mempelajari pelbagai ilmu silat dari guru-guru pandai ditambah pula dengan otaknya yang luar biasa cerdik sehingga ia dapat merangkai semua ilmu silat tinggi itu, kini dengan pedang pusaka di tangan, tentu saja ia hebat sekali.

Dengan otak cerdik luar biasa, ketekunan jarang tandingan, dan ditambah bakatnya yang baik, kini tingkat kepandaian pemuda ini sudah mengatasi Ba Mau Hoatsu, bahkan kalau dibandingkan dengan kepandaian Giok Seng Cu atau See-thian Tok-ong sekalipun, belum tentu kalah!

Biarpun ia hanya mempelajari Pak-kek Sin-ciang-hoat dari teorinya yang ia dapat dari Nona Go Hui Lian saja, namun karena otaknya memang luar biasa tajamnya, Kong Ji telah dapat mainkan jurus-jurus Pak-kek Sin-ciang yang dilakukan dengan pedang secara mengagumkan sekali.

Agaknya, kepandaian Hui Lian atau Soan Li sekalipun dalam ilmu silat ini takkan dapat menang dari pemuda ini.

Tentu saja kemenangannya atau keunggulannya ini sebagian besar dikarenakan pengertiannya yang luas dan dalam ilmu silat setelah ia digembleng oleh banyak orang pandai seperti Giok Seng Cu, See-thian Tok-ong, dan Hwa I Enghiong Go Ciang Le sendiri.

Akan tetapi Ba Mau Hoatsu juga bukan seorang lawan yang empuk.

Pendeta gundul ini selain memiliki ilmu silat tinggi juga memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran, apalagi pernah mempelajari ilmu hoatsut (ilmu "sihir).

Sayang sekali bahwa hwesio ini memiliki watak yang rendah sehingga batinnya menjadi kotor.

Kalau tidak demikian pasti akan memiliki tenaga batin yang kuat dan menjadi seorang sakti yang sukar dilawan.

Kini segala macam ilmu sihirnya yang tidak begitu kuat, tidak ada artinya bagi Kong Ji, pemuda yang sudah banyak mempelajari tentang ilmu ngendalikan napas dan samadhi.

Melihat ketangguhan Ba Mau Hoatsu, Kong Ji menjadi marah dan penasaran sekali.

Sudah empat puluh jurus ia masih belum mampu mengalahkan lawannya.

Cepat ia merubah ilmu pedangnya dan kini mainkan ilmu pedang gubahan sendiri yang ia ambil dari sari-sari gerak ilmu silat yang pernah ia pelajari.

Imu pedang ini amat aneh dan tidak terduga datangnya sehingga sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu menjadi kalut.

Semua ini masih ditambah dengan dorongan-dorongan tangan kiri yang mengandung tenaga Tin san-kang hebat sehingga beberapa kali roda dari Ba Mau Hoatsu terkena dorongan tangan kiri itu hampir saja runtuh"

Pada kesempatan terakhir ketika Ba Mau Hoatsu menyerang dengan sepasang roda dari atas dan bawah, Kong Ji memutar pedangnya seperti kitiran angin dan tahu-tahu pedangnya telah menempel dengan roda kiri lawannya.

Betapa-pun Ba Mau Hoatsu hendak menarik senjatanya itu, tetap saja sia-sia karena Kong Ji telah mempergunakan tenaga menyedot yang kuat sekali.

Dengan marah Ba Mau Hoatsu mengerahkan tenaga menyerang dengan roda kanannya.

Kong Ji mendahuluinya, mengirim tendangan ke tempat berbahaya sedangkan tangan kirinya menembak dengan tenaga Tin-san-kang sepenuhnya.

"Lepas senjata atau nyawa!"

Bentak pemuda itu.

Ba Mau Hoatsu benar-benar terkejut kali ini.

Roda kirinya telah macet, menempel dengan pedang lawan.

Kini Pukulan Tin-san-kang lawannya membentur roda kanannya dan membuat senjatan ini membalik hendak memukul dadanya sendiri.

Masih disusul lagi dengan tendangan yang kalau mengenai sasaran pasti akan mendatangkan bencana hebat.

Cepat ia melakukan gerakan Sam-hoat to-goat (Tiga Lingkaran Membungka Bulan) dengan maksud untuk menyelamatkan diri dari tiga macam serangan lawan itu.

Namun, ia kalah cepat.

Biar pun tendangan kaki dapat dielakkan oleh Ba Mau Hoatsu dan dengan miringkan tubuh ia dapat menguasai roda kanannya yang membalik, namun pedang Pak kek Sin-kiam yang amat tajam itu, tiba-tiba melepaskan diri dari tempelan roda dan bagaikan segaris kilat menyambar ke arah tenggorokan hwesio itu!

Kalau saja Kong Ji tidak mempunyai cita-cita untuk memakai tenaga hwesio kosen dari Tibet ini tentu ia akan melanjutkan tusukannya dan leher hwesio itu akan tertembus oleh pedang pusaka.

Akan tetapi Kong Ji tidak melakukan hal ini, melainkan menyelewengkan tusukannya dan akibatnya, hanya baju di bagian leher saja yang terbabat hanya satu senti selisihnya dari kulit leher Ba Mau Hoatsu!

Sebagai seorang ahlt silat tinggi, Ba Mau Hoatsu mengerti bahwa lawannya telah mengampuni nyawanya.

Mukanya menjadi pucat dan berubah merah sekali.

Ia kaget dan juga malu.

Dalam beberapa hari saja ia telah dikalahkan oleh dua orang muda secara aneh dan memalukan sekali.

Akan tetapi, melihat sikap pemuda yang bernama Liok Kong ji ini, dan melihat ilmu silatnya yang mirip sekali dengan ilmu silat Giok Seng Cu dan kadang-kadang mirip pula dengan ilmu silat See-thian Tok-ong pula mengingat bahwa pemuda ini memegang pedang Pak-kek Sin-kiam dan tak dapat diragukan lagi tentu ahli waris pedang dan kitab peninggalan Pak Kek Siansu, lebih baik kiranya kalau ia bersahabat dengan pemuda aneh dan lihai ini.

Oleh karena berpikir demikian, Ba Mau Hoatsu menarik napas panjang dan berkata kagum.

"Liok-sicu kau benar-benar lihai sekali. Aku yang tua dan bodoh mengaku kalah dan merasa terhormat sekali kalau dapat menjadi sahabatmu."

Kong Ji tersenyum dan cepat menjura.

"Terima kasih bahwa Losuhu telah sudi mengalah dan memberi pelajaran kepada aku yang muda, Ba Mau Suhu, marilah kita duduk di bawah pohon sambil bercakap-cakap tentang cita-citaku yang akan mengangkat tinggi nama kita bersama kalau saja Ba Mau Suhu suka membantu."

Ba Mau Hoatsu menurut dan di bawah pohon besar itu.

Kong Ji menceritakan cita-citanya.

Ia menuturkan betapa kedudukan Temu Cin pemimpin orang Mongol menjadi makin kuat dan betapa pemerintah Kin sudah kocar-kacir.

"Mengapa pada kesempatan ini kita tidak mempergunakan kepandaian mengumpulkan orang-orang gagah untuk merampas kerajaan? Dengan alasan hendak mempertahankan negara dan membangkitkan lagi kekuasaan bangsa sendiri, kurasa mudah saja kita mencari dukungan dari orang-orang gagah dan rakyat jelata. Kita robohkan pemerintah Kin, kemudian bersama rakyat kita menggempur Temu Cin. Kalau kelak aku yang muda terpilih menjadi Cin-beng Thian-cu (Putera Tuhan yakni sebutan untuk Kaisar!), bukanlah Ba Mau Suhu juga akan mendapat bagian kedudukan tinggi?"

Ba Mau Hoatsu mengangguk-angguk.

jelas kelihatan amat tertarik karena siapakh orangnya tidak suka menerima kedudukan tinggi dan mulia?

Akan tetapi ia ragu-ragu.

Ia pernah membantu pemerintah Kin merobohkan pemerintah lama dahulu, kalau sekarang ia membantu Kong Ji merampas kedudukan bukankah namanya akan rusak dan ia dianggap seorang pengkhianat yang berkepala dua?

Kong Ji yang berpemandangan tajam itu, sekali pandang saja sudah dapat menduga akan keraguan hati Ba Mau Hoatsu, maka katanya.

"Ba Mau Suhu, kau telah membunuh mati muridmu sendiri, seorang pangeran keluarga Raja Kin. Dengan perbuatan itu, berarti secara langsung kau termasuk musuh besar Kerajaan Kin dan tentu tidak disuka oleh mereka. Pada hal, kau membunuh muridmu Wan-yin Kan itu adalah hal yang sudah sepatutnya kalau menurut pendapatku. 0leh karena itu kita akan melakukan perbuatan gagah apabila dapat menggempur Kerajaan Kin."

Ba Mau Hoatsu tertegun. Bagaimana bocah ini dapat mengetahui hal yang telah terjadi belasan tahun yang lalu itu? Kong Ji tersenyum.

"Ba Mau Hoatsu harap kau jangan curiga dan heran. Biar pun masih muda, aku telah mempunyai pengalaman dan hubungan yang amat luas. Aku pernah menjadi murid Giok Seng Cu Suhu, pernah menjadi murid Hoa-san-pai, Kwan-im-pai, juga pernah menerima gemblengan dari See-thian Tok-ong dan juga dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le. Semua ini masih ditambah pula oleh kepandaian yang kuperoleh dari Pak Kek Siansu dengan bukti adanya pedang ini di tanganku,"

Pemuda itu menyombongtin diri dan Ba Mau Hoatsu yang sudah merasai kelihaian tangannya percaya belaka bahwa pemuda inilah ahli waris kitab dan pedang peninggalan Pak Kek Siansu kakek sakti itu.

Namun, Ba Mau Hoatsu tercengang juga ketika mendengar bahwa Kong Ji pernah digembleng Go Ciang Le.

Teringatlah ia akan gadis cantik yang mengalahkannya sambil duduk di atas lengan seorang pemuda aneh.

"Kalau begitu, Liok-sicu masih terhitung murid Hwa I Enghiong? Belum lama ini pinceng telah bertemu dengan seorang murid wanita dari Hwa I Enghiong...."

"Siapa dia...?"

Kong Ji memotong tak sabar.

"Namanya Gak Soan Li, kepandalannya tinggi dan...."

Kong Ji melompat dan memegang lengan Ba Mau Hoatsu dengan erat sehingga hwesio itu menjadi kaget.

Kalau bukan Ba Mau Hoatsu yang memiliki kepandaian tinggi, lengan orang lain pasti akan remuk tulangnya digenggam sedemikian eratnya oleh Kong Ji.

"Di mana dia? Hayo kita susul...!"

Ba Mau Hoatsu hendak bicara, akan tempi Kong Ji memutus omongannya dengan kata-kata tak sabar.

"Mari berangkat menyusulnya kita bicara sambil berjalan."

Dengan ilmu lari cepat, kedua orang ini lalu menyusul gadis yang diceritakan oleh Ba Mau Hoatsu.

Di tengah jalan Ba Mau Hoatsu menuturkan pengalamannya ketika bertemu dengan Gak Soan Li.

Tentu saja ia merasa malu untuk mengaku cara bagaimana ia telah dikalahkan oleh gadis itu, dan hanya menceritakan bahwa ia beradu kepandaian dengan Gak Soan Li dan mendapat kenyataan bahwa kepandaian gadis itu memang tinggi sekali.

Tentang pemuda tolol yang menjadi "kuda"

Dan ditunggangi sepasang lengannya oleh Soan Li, Ba Mau Hoatsu hanya mengatakan bahwa gadis itu mempunyai seorang pelayan pemuda tolol yang agaknya berotak miring.

Kong Ji tersenyum, bibirnya bergerak-gerak dan matanya bersinar, wajahnya berseri kemerahan.

Seluruh dirinya dikuasai nafsu dan timbul cinta kasihnya yang selama ini terpendam.

"Dia memang amat pandai, Suciku itu memang lihai sekali..."

Katanya memuji sambil mempercepat larinya sehingga Ba Mau Hoatsu harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk dapat mengimbangi kecepatannya.

Baru dua hari mereka melakukan perjalanannya untuk menyusul Gak Soan Li, pada hari ke tiga, mereka melihat seorang pertapa rambut pandang berlari mendatangi sambil memanggul tubuh seorang gadis.

Kakek ini tertawa tawa seorang diri dan nona yang dipanggul itu kelihatan lemas tak berdaya.

"Giok Seng Cu...!"

Kong Ji dan Ba Mau Hoatsu berseru hampir berbareng. Sebaliknya, ketika Giok Seng Cu melihat Ba Mau Hoatsu, ia berlari menghampiri sambil tersenyum.

"Eh, hwesio tua, kau hendak ke manakah?"

Akan tcrtapi kata-katanya terhenti ia terkejut bukan main ketika tiba-tiba pemuda yang datang bersama Ba Mau Hoatsu itu tubuhnya berkelebat tahu-tahu nona yang dipondongnya itu telah kena dirampas oleh pemuda itu!

Gerakan yang demikian cepatnya benar-benar membuat ia kaget sekali dan sekaligus mengingatkan ia akan "pemuda tolol"

Yang tadinya melindungi Gak Soon Li.

Melihat pemuda itu telah mendukung tubuh Soan Li dan kini meletakkan tubuh itu di atas rumput sambil memeriksa nadi, Giok Seng Cu hendak menyerang pemuda itu.

Akan tetapi Kong Ji menoleh dan berkata dengan suara berpengaruh.

"Suhu Giok Seng Cu, jangan ganggu Soan Li, dia kekasihku!"

Giok Seng Cu tertegun mendengar suara ini.

Ia seperti sudah pernah mengenal pemuda ini dan suaranya amat dikenalnya.

Karena pemuda ini datang bersama Ba Mau Hoatsu, maka Giok Seng Cu lalu menoleh kepada hwesio Tibet itu dan menunda niatnya untuk menyerang.

"Giok Seng Cu Toyu, kau seorang tua bangka apakah masih hendak bermain gila terhadap seorang Nona muda? Lebih baik kau membiarkan muridmu mewakilimu ha-ha-ha!"

"Muridku...?"

"Tidak kenal lagikah kau kepada muridmu sendiri? Dia itu Liok Kong Ji muridmu, akan tetapi juga murid See-thian Tok-ong, murid Hwa l Enghiong dan akhirnya murid atau ahli waris dari Pak Kek Siansu!"

Giok Seng Cu membuka matanya lebar-lebar.

"Kong Ji, tidak saja kau sudah menjadi besar tubuhmu, akan tetapi juga besar hatimu dan besar pula nyalimu. Bagaimana kau begitu berani kurang ajar terhadap guru sendiri? Hayo lekas berlutut minta ampun, baru pinto dapat mempertimbangkan hukumanmu!"

Bentaknya marah.

Kong Ji telah memeriksa keadaan Gak Soan Li dan maklumlah ia bahwa gadis yang masih pingsan itu tidak menderita luka parah dalam tubuhnya, tidak terganggu oleh Giok Seng Cu, melainkan tulang pahanya sedang mulai mulai tersambung dari keadaannya yang patah.

"Suhu Giok Seng Cu, siapakah yang mematahkan tulang-tulang paha kekasihku ini?"

Tanyanya dengan mata mengancam.

"Aku yang mematahkannya, eh, mau apa bicara begitu kurang ajar kepadaku"

Biarpun ia marah sekali, namun Kong-ji masih ingat akan cita-citanya, maka ia tidak mau bermusuhan dengan bekas gurunya ini. Ia bahkan harus menarik tenaga kakek ini menjadi pembantunya.

"Kalau kau sendiri yang melukainya tidak apalah. Baiknya kau tidak mengganggunya, kalau terjadi hal yang demikian, kiranya aku akan melupakan hubungan kita yang sudah-sudah."

Sejak tadi, Giok Seng Cu sudah marah bukan main.

Kata-kata bekas muridnya itu diucapkan dengan nada demikian memandang rendah.

Tak patut sekali seorang murid bersikap sedemikian rupa terhadap gurunya, maka dengan muka merah, Giok Seng Cu berkata.

"Kong Ji, kau benar-benar harus dihajar adat""

Setelah berkata demikian, ia lalu menggerakkan lengan bajunya menampar muka muridnya.

"Plak, brettt,"

Ujung lengan baru itu bertemu dengan tangan Kong Ji dan hancur.

"Kurang ajar, kau berani melawan?"

Giok Seng Cu marah dan cepat menyerang, kini sungguh-sungguh bukan sekedar untuk menampar.

"Aku tidak melawan, hanya untuk memperlihatkan bahwa aku bukanlah Kong Ji yang dahulu lagi, dan aku ingin -bekerja sama dengan kau, Suhu Giok Seng Cu,"

Kata Kong Ji sambil mengelak cepat.

"Tunjukkan dulu kepandaianmu. bocah sombong!"

Giok Seng Cu mcnyerang lagi, kini tubuhnya merendah dan ia mulai melakukan pukulan-pukulan Tin-san-kang!

Kong ji tentu saja maklum akan kelihaian ilmu silat ini, akan tetapi ia telah mempelajari ilmu pukulan ini sepenuhnya, bahkan telah melatih dengan giat dan mencampur Ilmu pukulan itu dengan ilmu pukulan ganas yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong.

Oleh karena itu ia menghadapi ilmu pukulan bekas gurunya ini dengan ilmu pukulan Tin-san-kang pula!

Tidak itu saja, ia bahkan berani menerima pukulan dengan pukulan .pula, berarti ia berani mengadu tenaga.

Barkali-kali dua pasang lengan bertenmu dengan tenaga yang serupa dan keduanya tergeser mundur, tanda bahwa tenaga mereka seimbang!

"Bagus, kau mendapat kemajuan pesat sekali!"

Seru Giok Seng Cu berkali-kali sambil mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan muridnya ia merasa penasaran sekali.

Masa seorang guru tak dapat mengalahkan muridnya sendiri?

Akan tetapi biarpun ia telah mainkan Tin-san-kang sampai habis, tetap saja ia tak dapat mengalahkan Kong Ji, bahkan Kong Ji merubah Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang yang ia pelajari dari Hui Lian.

"Ini Pak-kek Sin-ciang tulen...!"

Seru Giok Seng Cu terkejut sekali.

Ia pernah menyaksikan ilmu silat ini ketika dimainkan oleh supeknya, Pak Kek Siansu.

Biarpun pada dasarnya ilmu silat yang pelajari mendiang suhunya, Pak Hong Siansu, sama dengan Pak-kek Siansu, akan tetapi jurus dan gerakannya jauh berbeda, hanya gerakan kaki saja yang serupa.

"Memang aku murid Pak Kek Siansu!"

Seru Kong ji sombong dan menyerang terus dengan hebatnya.

Sebenarnya, yang ia mainkan itu bukanlah Pak-kek Sin-ciang aseli yang baru sedikit ia pelajari.

Ia mainkan ilmu silat campuran antara Tin-san-kang, Pak-kek Sin-ciang, dan Hek-tok-ciang yang ia pelajari dart See-Thian Tok-ong!

Namun, kepandaian Kong Ji sudah demikian hebat dan lihainya, sehingga seorang tokoh seperti Giok Seng Cu sampai kewalahan menghadapinya.

Tmgkat ilmu silat dari Giok Seng Cu memang lebih tinggi daripada tingkat Ba Mau Hoatsu dan kini di depan Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu merasa malu dan tidak sudi kalau sampai ia kena dirobohkan oleh muridnya sendiri.

Ia maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran yang sudah makan waktu seratus jurus itu, ia akhirnya akan kalah juga karena kehabisan tenaga dan napas.

"Kong Ji kau hebat. Biar pinto mendengar omonganmu..."

Katanya sambil melompat mundur. Kong Ji juga menghentikan serangannya dan menjura dengan hormat.

"Suhu Giok Seng Cu biarpun sudah tua, makin kuat saja..."

Ia memuji. Giok Seng Cu menarik napas panjang.

"Siapa bilang? Menghadapi Wan Si Hong seorang bocah aku kalah, kau pun aku tak dapat mengalahkan...."

"Sin Hong? Di mana Suhu bertemu dengannya"

Dan bagaimana Suhu dapat membawa Soan Li ke sini?"

Giok Seng Cu lalu menceritakan pengalamannya.

Betapa ia bertemu dengan Gak Soan Li dan bertanding ketika nona itu mengaku sebagai murid Go Ciang Le.

Ia didesak oleh nona itu, akan tetapi akhirnya dapat melukai sepasang paha Soan Li dan pada saat itu ia dipukul oleh Sin Hong.

Kemudian ia mencentakan lagi bahwa pemuda tolol yang kemudian dapat menduga Sin Hong adanya, pergi meninggalkan Soan Li, maka ia lalu menawan gadis itu dan membawanya pergi, bukan saja untuk membalas dendam kepada Go Ciang Le akan tetapi juga membalas dendam kepada Sin Hong yang agaknya saling cinta dengan Soan Li.

"Wan Sin Hong saling mencinta dengan dia...?"

Kong Ji mukanya sebentar pucat serta marah dan ia memandang ke arah Soan Li yang masih menggeletak dalam keadaan pingsan.

Memang nona itu setiap kali siuman, ditotok pingsan oleh Giok Seng Cu agar jangan banyak ribut di perjalanan.

"Begitulah kelihatannya, yang pasti, Nona ini cinta sekali kepada pemuda yang ia sebut Lam-ko,"

Giok Seng Cu tertawa sambil memandang kepada Ba Mau Hoatsu.

"Ba Mau-suhu, ketika dikalahkan Nona ini, apakah kau tidak sadar bahwa yang mengalahkanmu bukanlah Nona ini melainkan pemuda yang menyangganya?"

Ba Mau Hoatsu tercengang.

"Begitukah?"

"Kau yang berkelahi tentu tidak begitu memperhatikan, akan tetapi aku yang mengintai tahu betul bahwa kau telah dipermainkan oleh Wan Sin Hong pemuda tolol itu!"

Ba Mau Hoatsu menjadi merah mukanya.

"Kau ini sahabat macam apa? Mengapa tidak keluar membantu bahkan mentertawakan?"

Melihat Ba Mau Hoatsu marah-marah dan khawatir kalau-kalau timbul keributan di antara dua orang kakek itu Kong Ji lalu mengajak Giok Seng Cu berunding tentang cita-cita mereka bersama.

Giok Seng Cu, seperti halnya Ba Mau Hoatsu, mempunyai hati dan cita-cita yang tidak bersih, maka ia pun tertarik sekali dan segera menyatakan persetujuannya untuk membantu agar kelak mendapat bagian kedudukan tinggi.

Kemudian kedua orang kakek itu mendengar siasat yang diatur dan direncanakan oleh Kong Ji, siasat untuk menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Wan Sin Hong, Go Ciang Le, dan juga Temu Cin.

Mendengar siasat ini, Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu takjub bukan main, akan tetapi juga merasa ngeri.

"Bocah ini benar benar iblis cilik yang hebat..."

Pikir Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu.

"Memang sebaiknya kalau kau lebih dulu menjadi bengcu, dengan demikian lebih mudah bagi kita untuk melanjutkan cita-cita,"

Kata Giok Seng Cu.

Demikianlah, dengan rela Giok Seng Cu memberikan Soan Li kepada Kong Ji dan ia pun siap sedia membantu usaha bekas muridnya yang kini berubah menjadi kepala atau pemimpin itu.

Adapun Kong Ji setelah mendapatkan Soan Li dan sesuai dengan rencana yang tadi diaturnya, segera membawa gadis yang tak berdaya itu ke sebuah rumah penginapan kota Kun-long di mana Nalumei telah menantinya dengan hati sabar dan penuh cinta kasih.

Melihat kekasihnya datang bersama dua orang kakek dan seorang gadis cantik jelita yang dipondong oleh Kong ji, hati Nalumei berdebar gelisah, akan tetapi wajahnya yang jelita tidak memperlihatkan sikap sesuatu.

Bahkan ia cepat-cepat menolong Soan Li memondongnya ke dalam kamarnya dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutulikan oleh Kong Ji.

"Nalumei, tinggalkan itu semua. Kau tak perlu sibuk, kau kutugaskan untuk melakukan sesuatu yang lebih penting lagi."

Ia menarik lengan kekasihnya, memeluknya mesra untuk menyenangkan hatinya, lalu berbisik menceritakan tugas itu.

Nalumei mengangguk-angguk.

Gadis ini sudah tahu akan keadaan kekasihnya dan tahu pula bahwa ia tidak boleh membantah, harus selalu siap sedia melakukan apa saja yang diperintahkan kepadanya oleh Kong Ji.

"Nalumei. kekasihku. Demi kebahagiaan kita kelak, demi tercapainya cita-cita kita yang besar, kau harus dapat melakukan pekerjaan mudah ini dengan hasil baik. Hanya kau harus berhati-hati jangan sekali-kali memperlihatkan bahwa kau mengerti ilmu silat, karena kau berhapan dengan ahli-ahli silat tinggi."

Demikian pesannya.

Nalumei menyatakan kesanggupannya dan pergilah wanita ini melakukan tugasnya yang diperintahkan oleh Kong Ji.

Setelah Nalumei pergi dan menyediakan kamar untuk Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu, Kong Ji lalu merawat dan mengobati Soan Li.

Pada para pelayan rumah penginapan, ia menyatakan bahwa Soan Li adalah isterinya yang sedang menderita sakit, maka tak seorang pun menaruh hati curiga.

Apalagi karena kedatangan Kong Ji bersama dua orang pendeta tua yang tentunya orang-orang suci alim!

Karena itu tak seorangpun menaruh hati curiga ketika pada malam harinya terdengar suara Soan Li memaki-maki.

"Wan Sin Hong,......... keparat jahanam, kubunuh engkau...!"

Disusul oleh tangis gadis itu.

Para pelayan mengira bahwa wanita yang datangnya dipondong itu kini panas dan mengigau.

Juga tidak ada yang mengherankan ketika pada keesokan harinya, Soan Li menangis terisak-isak sambil menyandarkan kepalanya di dada Kong Ji dan berkata.

"Engko Gong Lam, alangkah buruknya nasibku...."

Kong Ji tersenyum dan membelai rambut Soan Li, mengambil secawan arak yang berbau harum sekali dari meja dan mendekatkan cawan itu di bibir Soan Li sambil berkata.

"Tenanglah, manisku. Aku sudah mengusir Wan Sin Hong bajingan rendah itu. Jangan kau susah hati, percayalah kepadaku, kelak kita akan dapat membalas dendam kepada bajingan Sin Hong...."

Soan Li yang keadaannya sudah normal lagi itu, minum arak dari cawan tanpa banyak pikir lagi kemudian ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Kong Ji dengan pandangan mata penuh kasih sayang!

Beberapa hari kemudian, keadaan Soan Li seperti sebuah patung bernyawa saja.

Ia telah diberi minum racun oleh Kong Ji, racun yang amat keji, yang hasiatnya bukan merampas nyawa melainkan merenggut ingatan orang.

Dalam pandangan Soan Li, orang yang telah menghinanya dan menodainya adalah seorang bernama Wan Sin Hong, sedangkan Kong Ji yang mengaku sebagai penolongnya ia anggap sebagai Gong Lam.

Demikianlah maka pada saat Sin Hong dikejar-kejar oleh para tokoh kang-ouw, ia bertemu dengan Kong Ji yang menyerangnya dengan bantuan Soan Li, Giok Seng Cu, dan Ba Mau Hoatsu.

Sampai saat itu, Nalumei masih belum kelihatan bersama Kong Ji semenjak gadis ini melakukan tugasnya.

Tentu saja Sin Hong merasa penasaran, heran dan juga cemas menyaksikan sikap Soan Li yang tiba-tiba saja membencinya setengah mati dan alangkah herannya melihat gadis itu bekerja sama dengan Kong Ji, Giok Seng Cu dan Bau Mau Hoatsu.

Terutama sekali ia benar-benar tidak mengerti melihat gadis itu bersama Giok Seng Cu, padahal orang yang dahulu mematahkan kedua tulang pahanya adalah kakek berambut panjang inilah!

Mari kita melihat keadaan Go Hui Lian yang sudah amat lama kita tinggalkan.

Gadis puteri Hwa I Enghiong melakukan perjalanan seorang diri, meninggalkan daerah utara menuju pedalaman Tiongkok kembali.

Hatinya penuh kekaguman kepada Temu Cin, pemimpi muda yang gagah perkasa dari bangsa Mongol itu, dan di samping kekaguman terhadap Temu Cin juga ia merasa sakit hati dan marah sekali kepada Liok Kong ji.

Diam-diam ia merasa menyesal sekali mengapa dahulu ia dapat ditipu oleh Kong ji.

Menyesal mengapa ia telah mengeluarkan kata-kata keji terhadap sucinya, Gak Soan Li.

Kini tahulah mengapa Soan Li membenci Kong Ji.

Tahulah ia bahwa sebenarnya ia dahulu masih seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang mengukur hati orang melihat wajah dan mendengar suaranya.

Hui Lian merasa menyesal bukan main akan tetapi apa gunanya?

"Aku harus segera menemui ayah dan melaporkan tentang Kong Ji.

Manusia itu benar benar seorang manusia berbahaya sekali.

Apalagi sekarang Pak-kek sin-kiam berada di tangannya.

Kepandaiannya amat tinggi dan kalau orang macam dia tidak ditundukkan, akan celakalah dunia...."

Sambil berpikir seorang diri, Hui Lian mengenangkan kembali segala kejadian yang ia alami ketika ia melakukan perjalanan bersama Kong Ji.

Kini terbayang kembali peristiwa di hotel Keng-siu-bun di mana bangsawan Cu yang tua beserta isterinya yang muda dan cantik telah terbunuh dalam keadaan mengerikan sekali.

Tentang Ma Hoat yang menjadi gila.

Kemudian tentang berita di mana-mana tentang munculnya seorang jai-hoa-cat dan peneuri yang amat ulung dan sakti".

Teringat pula tentang sikap Kong ji yang beberapa kali hendak mengganggunya di tengah malam.

Teringat akan ini, Hui Lian bergidik dan mulai timbul dugaan di dalam hatinya bahwa Kong Ji yang melakukan semua perbuatan terkutuk itu.

Semua menambahkan kebencian di dalam halnya terhadap bekas suhengnya itu.

Akan tetapi, dasar Hui Lian seorang wanita muda yang sedang remaja, berhati riang gembira, sebentar saja ia telah dapat melupakan kemendongkolan hatinya ketika ia melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang indah.

Biar pun ia masih muda dan cantik jelita sehingga menarik hati setiap orang, namun sikapnya yang gagah dan wajahnya yang selalu tersenyum ramah, membuat setiap orang laki-laki yang tadinya mengandung niat kurang ajar menjadi tunduk dan tidak berani berlaku sembrono.

Pada suatu hari ketika Hui Lian tiba di kota Ceng-si-kwan dan bermalam di penginapan, ia mendengar dari pelayan sebuah peristiwa yang membuat gadis ini menjadi panas dingin saking marahnya.

Mula-mula pelayan itu yang menyambut kedatangannya dan menyediakan kamar serta melayaninya, berkata setengah bergurau.

"Nona, harap Nona suka berlaku hati-hati. Baru kemarin malam di kota ini terjadi peristiwa mengerikan sekali."

"Peristiwa mengerikan? Apakah yang terjadi?"

Pelayan itu bicara perlahan.

"Siapa lagi kalau bukan penjahat muda yang baru-baru ini menimbulkan kerusuhan hebat sekali di kota-kota besar? Nona, penjahat cabul Wan Sin Hong telah mendalangi kota ini!"

Hui Lian benar-benar terkejut sekali. Bukan terkejut karena ia pernah mendengar kejahatan "penjahat cabul"

Itu.

Melainkan terkejut karena nama Wan Sin Hong disebut sebagai penjahat.

Seingataya, Wan Sin Hong adalah putera angkat Lie Bu Tek seperti pernah ia mendegar dari ayah bundanya, juga Kong Ji.

Bahkan dengan hati kasihan ia pernah mendengar penuturan dari ayah bundanya bahwa Wan Sin Hong adalah putera tunggal Wanyen Kan atau Wan Kan dengan Thio Ling In suci (kakak seperguruan) ibunya yang keduanya telah tewas di tangan Ba Mau Hoatsu, dan bahwa semenjak kecil Wan Sin Hong dipelihara oleh Lie Bu Tek.

Kemudian ia mendengar bahwa mungkin sekali Wan Sin Hong telah tewas sebagaimana diceritakan oleh Kong ji.

Akan tetapi bagaimana sekarang tahu-tahu muncul nama Wan Sin Hong sebagai seorang penjahat cabul?

Apakah barangkali ada nama yang sama?

"Apa yang telah terjadi di kota ini?

Apa yang dilakukan oleh penjahat bernama Wan Sin Hong itu?"

Tanya Hui Lian kepada pelayan yang menjadi pucat mendengar Hui Lian menyebut nama penjahat itu keras-keras.

"Ssst, Siocia, jangan keras-keras. Kalau dia mendengar... dan kau begitu begitu...."

"Begitu apa? Teruskan!"

Kata Hui Lian sambil tersenyum geli melihat keadaan pelayan tua itu demikian ketakutan.

"Siocia, terus terang saja, kau begitu cantik jelita dan... penjahat itu di setiap kota selalu mendatangi gadis tercantik...."

"Aku tidak takut! Biar ada sepuluh penjahat seperti dia jangan kau khawatir, dengan sepasang tanganku ini akan dapat kubekuk semua"

Tiba-tiba terdengar suara orang menarik napas panjang, disusul oleh kata-kata yang terdengar berduka.

"Aahhh... kalau saja omongan itu dapat dibuktikan, alangkah baiknya...."

Pelayan itu terkejut bukan main karena tadinya di situ tidak ada orang. Mukanya pucat, tubuhnya gemetar dan memutar tubuh memandang.

"Aduuhh... Can-piauwsu benar-benar Membikin aku kaget setengah mati!"

Katanya dengan lega ketika melihat yang bicara tadi adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berpakaian sebagai seorang guru silat dan sikapnya sabar, akan tetapi matanya berpengaruh.

Hui Lian tentu saja sejak tadi sudah dapat melihat kedatangan orang hanya ia pura-pura tidak mellhatnya karena disangkanya orang ini seorang tamu biasa saja.

Kini mendengar kata-kata orang itu, ia memandang dengan tajam, matanya penuh pertanyaan.

"Lo-enghiong, apa maksudmu dengan kata-kata tadi?"

Can-piauwsu (Pengawal Can) tersenyum pahit dan berkata.

"Maaf, Nona. Kiranya tidak patut kalau aku yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kata-katamu secara lancang menyatakan pendapat. Akan tetapi agaknya kau terlalu besar bicara dan kata-katamu hendak membekuk sepuluh Wan Sin Hong benar-benar menggelikan sekali."

Ia menarik napas, berulang-ulang dan sambil menggeleng gelengkan kepalanya ia hendak pergi dan situ.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ia merasa punggungnya ditowel orang dan tahu-tahu seluruh tubuhnya kaku tak dapat digerakkan!

Can piauwsu terkejut sekali karena ia maklum bahwa jalan darahnya bagian tat-twa-heat telah kena ditotok orang secara ajaib sekali, karena ia tidak melihat atau mendengar gerakan tangan orang sama sekali!

Kembali ia merasa pinggungnya diraba orang dan tahu-tahu totokan tadi telah dibebaskan dan ia dapat bergerak kembali.

Cepat Can-piauwsu menoleh dan melihat gadis jelita yang tadi ia pandang rendah berdiri sambil tersenyum kepadanya, senyumnya luar biasa manisnya!

"Can-piauwsu, benar-benar lihai sekalikah keparat yang mengganggu kotamu sehingga kau menjadi putus asa?"

Kalau tidak mengalaminya sendiri tentu Can-plauwsu takkan percaya bahwa ada orang dapat menotoknya sedemikian rupa tanpa ia mengetahui lebih dulu, apalagi kalau yang melakukan hal ini adalah seorang gadis yang demikian mudanya.

ia kini maklum bahwa ia berhadapan dengan murid orang pandai, maka buru-buru ia menjura.

"Lihiap, mohon maaf sebesarnya bahwa aku lamur tidak dapat melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata. Mohon tanya siapakah Lihiap dan dari perguruan mana?"

"Aku seorang pelancong biasa saja namaku Go Hui Lian. Kiranya dunia kang-ouw tidak mengenal nama kecilku ini, akan tetapi sangat boleh jadi kau telah pernah mendengar nama Ayahku Can-piauwsu."

"Siapakah nama Ayahmu yang mulia?"

"Ayah disebut Hwa I Enghiong..."

Sekaligus berubah air muka piausu itu mendengar nama besar pendekar sakti ini. ia mula-mula memandang kepada Hui Lian dengan mata terbelalak, kemudian tersipu-sipu ia memberi hormat lagi.

"Ah, kiranya Lihiap adalah puteri dari Go-taihiap. Tentu saja aku yang bodoh sudah mendengar nama besar Hwa I Enghiong. Sering kali aku berpikir bahwa kalau Go-taihiap suka keluar pintu dan turun tangan, kiranya penjahat Wan Sin Hong ini akan dapat dibelenggu."

"Can-piauwsu, benar-benarkah ada penjahat yang bernama Wan Sin Hong mengacau kota ini?"

Kembali mata Can-plauwsu menatap wajah nona itu, akan tetapi kini agak terheran-heran. Ia lalu menoleh kepada pelayan dan berkata.

"Kau boleh pergi!"

Setelah pelayan itu keluar dan ruangan itu, Can-piauwsu mempersilakan Hui Lian duduk dan dengan wajah sungguh-sungguh ia berkata.

"Lihiap, sesungguhnya aneh kalau kau belum pernah mendengar nama Wan Sin Hong yang dalam beberapa bulan ini telah menggernparkan dunia kang-ouw dengan perbuatan-perbuatannya yang amat keji melebihi iblis. Telah banyak tokoh-tokoh besar persilatan menggulung lengan baju untuk membasmi penjahat tunggal ini, akan tetapi ia mempunyai gerakan seperti iblis sehingga sukar sekali ditangkap. Bahkan tak ada yang pernah mempergoki perbuatannya yang dilakukan seakan-akan sengaja menantang orang-orang gagah untuk mencarinya! Akan tetapi, sudahlah, itu tak perlu bicara tentang Wan Sin Hong, karena biasanya, setelah melakuKan sesuatu dalam sebuah kota, ia pun menghilang hanya meninggalkan bekas tangannya yang amat mengerikan. Di kota Ceng-sin-kwan penjahat itu pada suatu malam telah membunuh seorang pembesar berpangkat tihu dengan isterinya, mengganggu lalu membunuh putri seorang hartawan dan perginya membawa ratusan tael uang emas dari hartawan itu. Dalam satu malam saja sudah melakukan perbuatan sebanyak itu, benar benar merupakan kejahatan yang mengerikan sekali. Kiranya bagi kita sukarlah untuk mencari jejaknya karena seperti biasa, aku yakin bahwa dia tentu sudah meninggalkan kota ini dan sukar diketahui ke mana perginya."

"Kalau begitu, aku harus mengejar dan mencarinya di kota lain. Mustahil manusia tak dapat dicari,"

Kata Hui Lian bersemangat dan amat marah mendengar kejahatan sehebat itu sunguhpun ia meragukan apakah itu benar-benar perbuatan Wan Sin Hong putera Wanyen Kan.

"Sudah banyak yang mencari, di antaranya bahkan ciangbunjin-ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar telah mencarinya. Kalau kau hendak mencarinya, hendaknya kau ketahui bahwa Wan Sin Hong itu masih amat muda dan berwajah tampan, tidak memegang senjata akan tetapi ilmu silatnya luar biasa. Ini pun aku hanya mendengar dari orang lain, Nona. bagiku Wan Sin Hong bukanlah makananmu. Seorang seperti aku yang tua dan lemah ini bisa apakah? Tak usah bicara tentang seekor harimau mengganas, gangguan seekor anjing dan kawan-kawannya di dalam kota ini saja aku Si Bodoh tak dapat berbuat apa apa."

"Anjing macam apakah yang mengganggu kota ini? Coba kaukatakan kepadaku, Can-piauwsu, barangkali aku akan dapat membantumu."

Can-piauwsu menarik napas panjang akan tetapi wajahnya kini membayangkan harapan.

"Di kota ini tinggal seorang okpa (hartawan jahat) she Lee yang sudah lama merajalela melakukan segala macam kejahatan mengandalkan pengaruh dan uangnya. Ia seringkali merampas tanah dan rumah orang, bahkan merampas dan mengganggu anak bini orang lain, semua itu dilakukannya dengan berterang."

"Ini lebih jahat dari perbuatan Wa Sin Hong yang dilakukan dengan menggelap!"

Kata Hui Lian yang sudah naik darah mendengar penuturan itu.

"Sama jahatnya... sama jahatnya. Hanya saja, kalau Wan Sin Hong selalu mengganggu orang-orang besar, hartawan Lee ini mengganggu orang-orang miskin.

"Mengapa tidak ada orang menentangnya?"

"Siapa berani menentangnya? Pengaruhnya besar, Tihu dan Tikoan, juga pembesar-pembasar lain di kota ini telah makan suapannya dan mereka semua pada hakekatnya telah menjadi kaki tangannya. Mengadukannya kepada pembesar? Yang mengadu akan ditangkap dan dihukum! Menyerangnya mengandalkan tenaga? Yang menyerang akan menghadapi tukang-tukang pukul yang pandai serta menghadapi pula kepungan anak buah tikoan barisan penjaga kota!"

"Jahat sekali! Can-piauwsu, kautunjukkan di mana rumah hartawan Lee itu, juga di mana rumah tikoan dan tihu!"

"Tihu telah tewas bersama isterinya dibunuh oleh Wan Sin Hong. Kejadian ini pun dipergunakan oleh tikoan untuk bertindak sewenang-wenang, menggeledah setiap rumah, menerima sogokan dan menangkapi orang-orang yang tidak disukai oleh Lee-wangwe. Aah, sayang sekali Wan Sin Hong berlaku setengah-setengah. Mengapa ia tidak membunuh juga sekalian tikoan dan hartawan itu? Kalau ia lakukan ini, aku akan menganggapnya sebagai seorang penjahat yang baik dan gagah!"

Malam harinya terjadi kegemparan lain ketika hartawan Lee yang rumahnya terjaga kuat oleh puluhan orang tukang pukul itu kemasukan penjahat yang tidak mengambil sesuatu yang berharga itu.

Inilah perbuatan Hui Lian yang malam itu juga memasuki rumah hartawan Lee, dengan mudah mendapatkar kamarnya lalu menabas putus dua buah daun telinga Lee-wangwe sambil mengancam.

"Kalau aku mendengar lagi bahwa kau melakukan kejahatan di kota ini mengandalkan uang dan pengaruhmu, awas lain kali aku datang lagi mengambil kepala-mu!"

Kemudian ia berkelebat lenyap meninggalkan Lee-wangwe yang roboh pingsan saking takut dan sakitnya!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali terjadi hal lain yang lebih menghebohkan.

Ketika itu Su-taijin, pembesar berpangkat tikoan di kota itu, sedang duduk di ruang belakang dekat kebun kembang dihadap oleh Teng Sian seorang kepala tukang pukulnya yang berpakaian seperti guru silat.

Kalau orang melihat Su-taijin pasti ia takkan mengira bahwa pembesar ini seorang mata keranjang dan jahat.

Orangnya sudah setengah tua, sikapnya halus, pendeknya sikap seorang terpelajar.

Akan tetapi siapa kira, di balik dari segala kesopanan dan kehalusan itu tersembunyi watak yang gila harta gila pangkat, dan mata keranjang!

Entah sudah berapa banyak orang yang menderita karena perbuatan Tikoan ini.

"Teng-kauwsu, bagaimana jawaban Kwee-wangwe?"

Terdengar pembesar itu bertanya kepada jagoannya yang baru saja datang melakukan tugas.

"Kwee-wangwe minta waktu sepekan untuk berpikir-pikir, Taijin,"

Jawab jagoan itu. Su-taijin mengangguk-angguk.

"Hmm, kuharap saja ia tidak keras kepala. Beri waktu tiga hari kalau tidak meluluskan permintaanku, kautangkap saja ia sekeluarga dengan tuduhan bersekongkol dengan penjahat Wan Sin Hong!"

"Baik, Taijin,"

Jawab Teng Sian.

"Memang Lee-wangwe sudah berpesan agar cepat-cepat membereskan urusan ini."

Apakah yang sedang mereka bicarakan?

Tak lain adalah permintaan hartawan Lee yang menaruh hati kepada puteri keluarga Kwee yang kaya pula hingga ia tidak dapat mempergunakan hartanya untuk mendapatkan gadis yang diidamkan itu.

Kini setelah muncul penjahat Wan Sin Hong, hartawan Lee mendatangi tikoan dan mereka merencanakan akal bulus untuk memfitnah keluarga Kwee kalau saja Nona Kwee tidak diberikan kepada Lee-wangwe untuk menjadi bini mudanya.

Memang pada saat muncul penjahat besar yang melakukan pembunuhan dan pencurian besar, tikoan sebagai pembesar setempat dengan mudah sekali menangkap siapa saja dengan alasan bercurigai atau menuduh orang itu bersekongkol dengan penjahat yang membunuh tihu dan mencuri.

Kwee-wangwe menerima lamaran Lee wangwe yang sudah setengah tua, maklum pula akan bahayanya lamaran ini, apalagi karena yang menjadi "jembatan"

Adalah tikoan sendiri. Dalam bingungnya ia minta waktu sepekan untuk berpikir, atau lebih tepat untuk mencari jalan keluar daripada bencana yang mengancam itu.

"Memang betul, urusan ini harus cepat dibereskan,"

Kata pula Su-taijin, sambil mengelus-elus jenggotnya.

"Dengan menangkap Kwee-wangwe, sekali pukul kita dapat membunuh tiga lalat. Pertama kita dapat menyerahkan Kwee-siocia yang jelita itu kepada Lee-wangwe, ke dua kita dapat menyita harta bendanya, dan ketiga kita dapat melaporkan ke kota raja, bahwa biarpun kita belum berhasil menangkap Wan Sin Hong, namun kita sudah berhasil menangkap sahabatnya di mana penjahat itu bermalam, yakni keluarga Kwee!"

Dua orang itu bergembira membayangkan hasil yang mereka akan dapat dari siasat keji ini, tidak tahu bahwa semenjak tadi, di atas genteng mendekam tubuh seorang yang mendengarkan percakapan mereka.

"Tikoan bangsat tak tahu malu"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh yang langsing padat melayang turun dari atas genteng, tepat di atas lantai di tengah-tengah antara Su-taijin dan Teng-kauwsu.

Dua orang itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba melihat seorang gadis cantik jelita dan membawa pedang tergantung di pinggang tahu-tahu telah berdiri di situ.

Gadis ini bukan lain adalah Go Hui Lian yang baru kembali dari rumah gedung Lee-wangwe.

Setelah berhasil membuntungi sepasang daun telinga hartawan busuk itu.

Dari rumah hartawan itu ia langsung mendatangi rumah tikoan.

Su-taijin sudah seringkali menghadapi para penjahat kejam yang tertangkap dan diadili, maka sebetulnya ia sudah tabah sekali berhadapan dengan segala macam orang kasar.

Akan tetapi sekarang ia duduk bengong bagaikan patung, bukan karena kaget dan takut melainkan saking kagumnya melihat seorang gadis yang cantik ini, dan yang turun dari atas seperti seorang bidadari baru turun dari kahyangan.

Juga Teng Sian untuk beberapa detik duduk melongo.

Guru silat atau jagoan tangan kanan Su-taijin ini"

Lain lagi.

Ia melongo saking heran dan kagetnya, karena sebagai seorang ahli silat tahulah dia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli yang ulung, sehingga suara kakinya ketika berada di atas genteng tak dapat didengar sama sekali.

Akan tetapi di lain saat ia telah melompat berdiri dan sekali menyambar ke dekat tembok, ia telah memegang toyanya yang tadi disandarkan di tembok.

"Penjahat wanita dari manakah berani main gila di rumah pembesar?"

Bentaknya sambil melompat maju mengancam Hui Lian. Hui Lian membalikkan tubuh dan memandang kepada guru silat itu dengan senyum sindir.

"Aduh gagahnya tukang pukul ini. Ke mana kau bersembunyi ketika muncul penjahat yang niengacau kota> Bagus betul, ada penjahat muncul mengganggu kota, tikoan dan jagoannya bukannya berusaha menangkap penjahat, bahkan menambah kekacauan hendak memfitnah orang baik-baik. Kalian harus diberi tahu rasa sedikit!"

Cepat sekali tubuh Hui Lian bergerak dan di lain saat terdengar suara gaduh ketika toya di tangan Teng-kauwsu terlepas dari tangan sedangkan guru silat itu sendiri terlempar jauh sampai tiga tombak dan roboh pingsan dengan tulang pundak dan lulang kaki patah!

Hui Lian telah memukul dan menendang sekaligus sehingga guru silat itu roboh pingsan sebelum ia tahu bagaimana nona jelita itu bergerak.

"Tolong...! Tangkap penjahat!"

Tikoan itu berteriak teriak ketakutan.

Baru sekarang ia benar-benar merasa takut ketika melihat betapa mudah gadis itu merobohkan orang kepercayaannya.

Akan tetapi, sebelum ia sempat lari dan sebelum para penjaga yang berlari-lari datang di tempat itu, Hui Lian sudah mencahut pedangnya dan dua kali pedang berkelebat, tikoan itu kehilangan lengan kiri dan ujung hidungnya.

Pembesar itu menjerit-jerit seperti babi disembelih, lari ke sana ke mari saking perih dan sakitnya, kemudian roboh setelah menumbuk dinding.

Belasan orang penjaga datang dengan golok di tangan.

Bagaikan sekawanan anjing galak mereka ini mengepung dan menyerang Hui Lian.

"Kalian anjing-anjing jahat berkedok penjaga keamanan, harus dihajar semua!"

Dara perkasa itu membentak marah, tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedangnya yang berkelebatan.

Bukan main hebatnya sepak terjang Hui Lian ini.

Di sana-sini terdengar jerit dan pekik kesakitan.

Pedang dan golok beterbangan ke kanan kiri dan tubuh para pengeroyok terlempar dan saling bertumbukan.

Baiknya dara perkasa ini masih mengingat kasihan, mengingat bahwa para pengeroyok ini hanyalah kaki-tangan atau alat belaka.

Oleh karena itu, ia tidak tega untuk berlaku kejam dan hanya merobohkan mereka seorang demi seorang dengan luka ringan saja.

Namun ini sudah cukup untuk membuat semua orang menjadi jerih dan sebagian pula mundur teratur.

Tiba-tiba Hui Lian mendengar suara datang tanpa melihat orangnya.

"Cukup, Lihiap cukup. Tak baik menghina alat pemerintah. Lebih baik pergunakan kepandaian untuk mencari penjahat besar Wan Sin Hong!"

Hui Lian terkejut sekali.

Cepat ia melompat keluar dari tempat itu dan di antara teriakan orang-orang Su-taijin, Hui Lian menghilang.

Gadis ini menoleh kesana ke mari, mencari orang yang tadi mengeluarkan suara mencegahnya melanjutkan amukannya.

Sebagai seorang ahli silat tinggi, maklumlah Hui Lian bahwa yang tadi menegurnya adalah seorang ahli lweekeh yang pandai mempergunakan Ilmu Coan-im-jap-bit, yakni ilmu mengirim suara dari jauh yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli silat tinggi yang memiliki tenaga lweekang tingkat tinggi.

Akan tetapi, ke manapun ia mencari dengan pandang matanya, ia tidak melihat adanya orang yang kiranya melakukan hal tadi dan hanya bertemu dengan Can-piauwsu.

Pendekar ini merasa gembira dan berterima kasih melihat hasil sepak terjang Hui Lian.

"Lihiap, kau patut sekali menjadi puteri Hwa I Enghiong! Mudah-mudahan saja dengan usahamu yang amat gagah ini keadaan kotaku akan menjadi aman dan tenteram,"

Kata piauwsu itu sambil menjura. Hui Lian tersenyum.

"Aku hanya membantumu, Can-piauwsu. Kalau kotamu menjadi aman dan tenteram, itu sepenuhnya adalah karena jasamu yang besar bagi kota ini."

Oleh karena semua kaki tangan Su-tikoan sudah melihatnya, Hui Lian tidak mau lama-lama tinggal di kota itu agar jangan menimbulkan keributan lain.

Pada keesokan harinya ia meninggalkan kota Ceng-sin-kwan, menuju ke kota Tiang-si, kurang lebih tiga puluh lima li dari Cengsin -kwan.

Ia sengaja menyimpang dari perjalanannya pulang dan ingin ke Tiang si karena dari Can-piauwsu ia mendengar bahwa sehari setelah Ceng-sin-kwan kacau oleh Wan Sin Hong, kota Tiang-si mendapat gilirannya.

Penjahat yang mengaku bernama Wan Sin Hong itu telah mengacau pula di Tiang-si, melakukan perbuatan terkutuk.

"Aku harus berusaha mencari dan menangkapnya,"

Kata Hui Lian di dalam hatinya dan ia menjadi makin panas kalau teringat akan kata-kata orang yang tidak menampakkan diri ketika ia dikeroyok oleh anak buah tikoan.

Perjalanan ke Tiang-si ia lakukan secepatnya.

Kurang lebih sepuluh li dari Ceng-sin-kwan, Hui Lian memasuki sebuah kampung dan perutnya tiba-tiba menjadi lapar sekali ketika mencium asap masakan yang amat sedap yang keluar dari sebuah rumah makan dalam dusun itu.

Ketika Hui Lian tiba di ambang pintu rumah makan, seorang pelayan tua dengan kain lap putih bersih tergantung di pundaknya menyambutnya dengan ramah-tamah.

"Ah, Lihiap telah datang! Silakan duduk di meja terbesar."

Tadinya Hui Lian terkejut, akan tetapi melihat muka yang ramah itu, ia mengira bahwa memang sudah menjadi kebiasaan pelayan ini untuk berlaku ramah dan bersikap seakan-akan telah mengenal setiap pengunjung rumah makan.

Juga tidak mengherankan kalau pelayan menyebutnya "lihiap"

Karena memang Hui Lian tidak menyembunyikan pedang yang digantung di pinggang. Dengan tenang ia lalu mengambil tempat duduk.

"Keluarkan nasi dan masakan yang asapnya tercium olehku sekarang ini,"

Katanya. Pelayan itu tertawa, kelihatan gasinya yang ompong sebelah kanan.

"Ha, Siocia tidak beda dengan yang lain. Memang masakan bebek panggang di restoran kami amat terkenal. Biarpun restoran kecil dan di dusun kecil pula, namun para bangsawan dan hartawan dari kota Ceng-sin-kwan dan Tiang-si sudah mengenaI bebek panggang kami. Dua hari yang lalu rombongan orang-orang gagah yang tampan dan cantik yang amat royal dengan hadiahnya juga telah menghabiskan lima ekor bebek panggang!""

Hui Lian merasa jemu juga mendengar pelayan yang suka bicara ini.

"Cukup, lekas kau keluarkan masakan itu, aku sudah lapar!"

Katanya.

Pelayan itu mengangguk-angguk dan mengundurkan diri.

Memang tentang kelezatan masakan bebek panggang tidak terlalu dilebih-lebihkan oleh pelayan tadi.

Harus diakui oleh Hui Lian bahwa jarang ia makan bebek panggang seenak itu, empuk gurih dan sedap.

Setelah selesai makan, ia berdiri dan memanggil pelayan tadi hendak membayar.

Akan tetapi (Lanjut ke

Jilid 21) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 alangkah herannya ketika pelayan itu menggeleng kepala dan menggoyang kedua tangan sambil berkata.

"Sudah dibayar... sudah dibayar, bahkan hadiahnya juga sudah cukup banyak, harap Lihiap jangan membikin hamba sungkan dan malu."

"Siapa yang membayar? jangan kau main main, Lopek!"

"Siapa berani main-main, Lihiap? Memang sudah dibayar pagi tadi, oleh seoang hwesio tinggi besar dan lucu. Dia meninggalkan uang dan berkata bahwa uang itu untuk membayar semua makanan yang dimakan oleh seorang dara perkasa!"

"Ah, aku tidak mengenaI segala macam hwesio. Mungkin yang dimaksudkan bukan aku."

Hui Lian membantah.

"Tidak bisa salah, Losuhu itu sudah menerangkan tentang wajah dan pakaianmu, juga pedang yang tergantung di pinggangmu. Mana kami bisa salah dan demikian sembrono? Harap Lihiap sudi membebaskan kami daripada keadaan tidak enak. Kalau Lihiap membayar, tentu kami akan mendapat marah besar dari hwesio itu. Kalau sampai di marah, waah, celakalah kami."

"Galakkah dia?"

Hui Lian tertarik.

"Galak? Bukan main! Baru saja dia makan, datang dua orang pemimpin barisan pengawal tikoan. Losuhu itu tanpa banyak cakap lalu menendang meja di depan dua orang menjambak rambut dan mengadu kepala mereka sampai keduanya roboh pingsan beberapa jam lamanya."

Hui Lian makin terheran.

"Bagaimana macam hwesio itu? Membawa apa dan siapa namanya?"

"Entahlah, namanya kami tidak tahu. Tak seorang pun di antara kami mendengar ia menyebut namanya. Ia bertubuh tinggi besar, pakaiannya lebar, mukanya putih dan di punggungnya tergantung sebatang penggada pendek dan besar mengerikan sekali. Ia menghabiskan arak tiga guci besar kemudian setelah merobohkan dua orang komandan itu, ia berpesan untuk membayarkan uang yang ia tinggalkan untuk makanmu, Lihiap. Kemudian ia masih berpesan lagi bahwa Lihiap sebaiknya melanjutkan perjalanan ke Tiang-si secepatnya. kemudian seperti mengigau hwesio itu berkata berulang-ulang bahwa ia pun hendak mencari orang she Wan."

Mendengar ini, Hui Lian cepat melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Ketika pelayan itu mengejar keluar untuk melihat, gadis itu telah lenyap dari situ.

Pelayan itu memutar matanya sampai menjuling, menggaruk-garuk belakang kepala, lalu mengomel seorang diri.

"Banyak iblis dan siluman sekarang ini! Iblis dan siluman muncul di pagi hari. Kemudian ia menggeleng kepalanya dan memasuki restoran lagi. Sementara Itu, Hui Lian mempergunakan ilmu lari cepat menuju ke Tiang-si. Ia tidak meragukan lagi bahwa orang yang telah menegurnya ketika ia dikeroyok oleh orang-orang tikoan, adalah orang yang kini membayar makanannya pula. Seorang hwesio tinggi besar. Siapakah gerangan dia? Akan tetapi diam-dam ia selain penasaran melihat orang itu tidak secara langsung menghubunginya, juga merasa heran mengapa orang itu seakan-akan mengajaknya mengejar dan menangkap penjahat yang bernama Wan Sin Hong. Ilmu lari cepat yang dipergunakan oleh Hui Lian adalah lari cepat Liok-te-hui-teng (Terbang di Atas Bumi) ajaran ayahnya, maka cepatnya bukan main. Bagi pandang mata seorang yang bukan ahli silat tinggi, tentu yang tampak hanya berkelebatnya bayangan belaka. Oleh karena itu, tak lama kemudian ia sudah tiba di luar tembok kota Tiang-si. Tiba-tiba Hui Lian melihat bayangan orang berlari cepat di sebelah depan. Yang berlari-lari itu adalah seorang hwesio tinggi besar, dan berdebarlah hati Hui Lian ketika melihat hwesio tinggi besar itu membawa sebuah senjata seperti penggada pendek yang dipanggul di atas pundaknya. Melihat cara hwesio itu berlari sebelah tangan memanggul penggada dan sebelah lagi dipentang dan digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah, kembali Hui Lian terkejut karena ia mengenal gerakan tangan itu sebagai ilmu lari cepat Hui-eng-coan-in (Garuda Terbang Menembus Mega), semacam ilmu lari cepat yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ginkang tingkat tinggi. Akan tetapi Hui Lian bukan puteri tunggal Hwa I Enghiong kalau ia tidak dapat mengejar hwesio itu. Dengan ilmu lari cepatnya yang jarang tandingannya, Hui Lian mengerahkan tenaganya dan sebentar saja ia dapat mengimbangi kecepatan hwesio itu. Setelah mereka berlari sampai di tembok kota Tiang-si, Hui Lian mehhat hwesio itu mendahului seorang laki-laki yang berjalan seenaknya kemudian tanpa mengeluarkan kata-kata sesuatu, hwesio itu membalikkan tubuh dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian, setelah itu menggerakkan penggadanya yang besar dan berat itu menghantam kepada orang itu. Hampir saja Hui Lion mengeluarkan suara teriakan kaget ketika ia melihat bahwa yang diserang oleh hwesio tinggi besar itu adalah seorang pemuda yang kelihatan lemah sederhana, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang. Celaka, pikir gadis ini, pukulan hwesio demikian lihainya, pemuda itu tentu akan roboh dengan kepala pecah! Sementara itu, pemuda yang tiba-tiba diserang oleh hwesio tinggi besar itu terdengar berseru.

"Toa-suhu, kenapa kau datang-datang memukul orang""

Akan tetapi tanpa menjawab hwesio tinggi besar itu menyerang terus dengan hebatnya.

Penggadanya yang berat bagaikan seekor biruang menubruk dengan cepat dan dahsyat.

Pemuda itu dengan gerakan lambat mengelak ke sana ke mari.

Hui Lian kaget sekali melihat serangan-serangan yang amat dahsyat itu!

Ia maklum bahwa kepandaian hwesio itu lihai dan bahwa setiap pukulan yang dilakukan apabila mengenai tubuh pemuda itu tentu akan merenggut nyawanya.

Timbul hati tak senang dalam dada Hui Lian melihat peristiwa itu, tidak senang terhadap Si Hwesio.

Melihat seorang pemuda yang kelihatan lemah, datang-datang diserang mati-matian oleh hwesio itu tanpa diketahui atau diselidiki dulu kesalahannya, Jiwa ksatria dalam dada Hui Lian memberontak.

Siapa pun adanya hwesio itu, baik dia orangnya yang selama ini secara rahasia menghubungiku atau bukan, perbuatannya yang sekarang ini menyatakan bahwa dia bukan seorang baik-baik, pikir Hui Lian.

Ia mencabut pedang dan sekali berkelebat tubuhnya telah melayang ke tempat perpuran.

Hwesio tua, jangan kau berlaku kejam curang...!"

Bentaknya dan di lain saat terdengar suara berdentang yang amat nyaring ketika pedang Hui Lian bertemu dengan penggada di tangan hwesio itu.

Hui Lian terkejut sekali.

Pertemuan senjata itu membuat telapak tangannya terasa tergetar dan hampir saja pedangnya terlepas dori pegangan kalau saja ia tidak lekas mengatur tenaganya.

Sementara itu, pemuda yang tadi diserang bertubi-tubi oleh hwesio tinggi besar, kini berdiri bagaikan patung hidup, memandang kepada Hui Lian dengan mata terbuka lebar-lebar penuh kekaguman.

"Nona, jangan menghalangi pinceng. Kau bahkan harus membantu pinceng menangkapnya. Dialah penjahat besar Wan Sin Hong""

Kata hwesio itu sambil bergerak maju menyerang lagi mengirim serangan dengan tendangan kaki kanan yang dilakukan amat cepat dan kuatnya.

Akan tetapi pemuda tampan itu dengan amat mudah menggerakkan kaki dan tendangan itu mengenai tempat kosong.

Muka Hui Lian menjadi merah karena jengah ketika tadi ia menengok, ia melihat pandang mata pemuda itu.

Entah mengapa sudah biasa baginya melihat pandang mata ditujukan kepadanya dengan sinar kekaguman, akan tetapi baru kali ini pandang mata seorang pemuda membuat ia bermerah muka, jengah dan berdebar.

Kemudian rasa jengah terganti oleh rasa kaget dan kagum lihat cara pemuda itu menggerakkan kaki untuk mengelak dari tendangan lawan.

Tak salah lagi itulah gerakan Sha-gak jiauw-po (Langkah Segi Tiga) yang kadang-kadang dipergunakan dalam Ilmu Silat Pak-kek-sin-ciang!

"Nona, bukankah dari Ceng-sin-kwan kau sengaja datang ke sini hendak membasmi penjahat Wan Sin Hong?

Nah, ini dia orangnya!

Tidak lekas turun tangan mau tunggu kapan lagi?"

Kembali hwesio tinggi besar itu berseru sambil mempercepat gerakan penggadanya. Lagi lagi pemuda itu mengelak tanpa memandang pada lawannya karena sepasang matanya masih saja menatap wajah Hui Lian.

"Go-lihiap, lekas turun tangan! Ayahmu Hwa I Enghiong tentu akan marah kalau melihat keraguanmu ini!"

Kembali hesio tinggi besar itu berkata keras untuk melanjuckan serangannya.

Sebetulnya, hwesio ini sengaja menyebut-nyebut nama ayah Hui Lian dengan maksud tertentu.

Ketika sampai hampir sepuluh kali penggadanya selalu mengenai angin, ia sudah terkejut sekali dan maklum bahwa pemuda yang diserangnya itu benar-benar seorang berkepandaian tinggi.

Oleh karena itu, ia sengaja menyebut nama Hwa I Enghiong untuk menakut-nakuti lawannya.

Sadarlah Hui Lian dari lamunannya.

Ia cepat menggerakkan pedang yang ditusukkan ke arah tenggorokan pemuda itu.

Pemuda itu mengeluarkan suara mengeluh kecewa dan berduka, kemudian sekali ia berkelebat, Hui Lian dan hwesio itu hanya berdiri melongo karena gerakan pemuda itu bukan main cepatnya seperti terbang saja.

Hanya suara pemuda itu yang terdengar jelas sebelum lenyap dari pandangan mata.

"Semua orang membenci Wan Sin Hong. Baiklah. Wan Sin Hong akan lenyap, kalau masih ada Wan Sin Hong dia itu palsu!"

Hui Lian dan hwesto itu saling pandang dengan bengong.

Baik Hui Lian maupun hwesio yang lihai itu sendiri, baru kali ini menghadapi seorang pemuda yang demikian aneh dan luar biasa kepandaiannya.

Tidak saja pemuda itu dengan tangan kosong dapat menghadapi penggada hwesio itu sampai beberapa jurus, juga pemuda itu dalam kepungan hwesto dan Hui Lian dapat melarikan diri sedemikian mudahnya.

Padahal menilik kepandaian, hwesio itu agaknya memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh Hui Lian, dan kiranya tidak sembarang orang yang akan sanggup melarikan diri dari kepungan dua orang ini.

"Hebat, hebat...! Kalau tidak menyaksikan sendiri, pinceng tidak akan dapat percaya ada seorang muda berkepandaian sedemikian tinggi. Benar-benar penjahat muda itu berbahaya sekali, seorang iblis yang akan menggemparkan dunia kang-ouw...! Nona Go, kali ini Ayah Bundamu harus turun tangan, kalau tidak, pinceng khawatir takkan ada orang lain yang sanggup menandingi penjahat muda Wan Sin Hong itu."

"Lo-suhu siapakah? Bagaimana bisa tahu bahwa aku adalah puteri Hwa l Enghiong?"

Hwesio tinggi besar itu menyeringai. Memang hwesio ini semenjak tadi mukanya seperti orang gembira selalu hingga nampaknya lucu.

"Go-lihiap, kau memang mengagumkan, masih muda sudah berkepandaian tinggi. Akan tetapi, agaknya usiamu yang amat muda itulah yang membuat kau agak sembrono. Apakah sukarnya mengenalmu setelah kau bicara dengan piauwsu itu dan kau mengamuk di kota Ceng-sin-wan? Nama pinceng tidak ada orang kenal, bahkan ayah bundamu sendiri kiranya belum pernah mendengar namaku. Pinceng selamanya bertapa di dalam kelenteng dan tidak mau mencampuri urusan dunia. Sekarang ini karena nama Wan Sin Hong menggetarkan dunia menembus dinding kamarku, terpaksa pinceng keluar untuk berusaha menangkapnya. Telah beberapa hari pinceng mengikuti jejaknya akan tetapi melihat gerak-geriknya yang menyatakan bahwa Wan Sin Hong tak boleh dibuat sembarangan, pinceng menanti saat baik. Kebetulan di Ceng-sin-kwan pinceng melihatmu, maka setelah mendapat bantuanmu barulah pinceng turun tangan. Akan tetapi... ternyata tetap saja sia-sia. Wan Sin Hong manusia iblis yang sukar dilawan."

"Betapapun juga, kuharap Lo suhu sudi memperkenalkan nama yang mulia,"

Kata Hui Lian.

"Aku sendiri adalah Go Hui Lian dan kedua orang tuaku Lo-suhu sudah mengenalnya."

Kalau tadi hwesio itu menyeringai dan tersenyum saja, sekarang ia menarik napas biarpun bibirnya masih tersenyum "Baiklah kali ini pinceng terpaksa membuka pantangan.

Pinceng adalah seorang pertapa keliling, yang hidupnya dari kelenteng ke kelenteng, namaku Tang Hwesio."

Hui Lian memang belum pernah mendengar nama ini, nama yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.

"Lo-suhu, memang namamu sama sekali tidak pernah kukenal. Akan tetapi Ayah sering kali bilang bahwa orang-orang gagah di dunia ini yang tidak mau memperkenalkan diri dan sama sekali tidak terkenal banyaknya tidak terhitung. Sekarang bertemu dengan Lo suhu, tahulah aku apa yang dimaksudkan oleh Ayah."

"Ha, ha, Ayahmu memang orang bijaksana. Biarpun belum pernah bertemu muka, hati emasnya sudah lama pinceng dengar."

"Tang-lo-suhu, mari kita kejar penjahat tadi sebelum ia pergi jauh!"

Tiba-tiba Hui Lian berkata. Setelah kini mengenal Tang Hwesio ia merasa menyesal mengapa tidak tadi-tadi ia dapat mengeroyok penjahat muda yang matanya "bisa bicara"

Itu. Akan tetapi Tang Hwesio menggeleng kepalanya.

"Tidak lihatkah kau tadi bahwa penjahat muda itu memiliki ilmu lari cepat yang amat luar biasa? Mungkin hanya Ayahmu yang dapat mengimbangi kecepatan larinya, akan tetapi pinceng selamanya baru satu kali pernah melihat ilmu lari cepat Siang-seng-hui (Sepasang Bintang Beterbangan) dari Partai Siauw-lim. Tadinya pinceng anggap ilmu lari cepat itu yang paling unggul, tidak tahunya penjahat tadi telah memperlihatkan ilmu lari cepat yang agaknya tidak kalah oleh Siang-seng-hui."

"Habis bagaimana kita bisa mengejarnya?"

"Dia pasti kembali ke kota Tiang-si. Mari kita menyelidik ke sana. Kiraku, kalau kita berdua maju menyerangnya, tak mungkin dia masih dapat mempertahankan diri. Hanya pinceng harap, kau tidak ragu-ragu dan lambat seperti tadi Nona."

Setelah berkata demikian, dengan langkahnya yang lebar, Tang hwesio berjalan cepat.

Hui Lian mengejarnya dengan muka merah.

Kata-kata terakhir hwesio tadi memang teguran yang wajar.

Kalau saja dia tadi tidak ragu-ragu dan cepat menyerang, belum tentu penjahat Wan Sin Hong tadi dapat melarikan diri.

Akan tetapi, mata itu!

Sepasang mata pemuda tadi seakan-akan bicara kepadanya, menyatakan rangkaian kata-kata mencerminkan suara hati yang mendebarkan jantungnya.

Dia itukah putera angkat Lie Bu Tek?

Betulkah pemuda itu menjadi penjahat?

Kelihatan begitu sederhana, lemah lembut dan tampan.

Akan tetapi matanya memang agak kurang ajar pikir Hui Lian.

Dan kata-katanya itu?

Bagaimanakah maksudnya?

Apa artinya pemuda itu berkata bahwa Wan Sin Hong akan lenyap dan kalau ada hanya Wan Sin Hong palsu?

Semua ini membingungkan Hui Lian, akan tetapi ia tidak mengeluarkan pernyataan sesuatu kepada Tang Hwesio yang berjalan cepat memasuki kota tanpa bicara pula.

"Nona, malam ini kita harus berpencar. Kau menyelidik bagian utara dan aku bagian selatan kota. Kita bertemu di kelenteng Ho-an-tang. Kalau kau bertemu dengan penjahat itu, kau lepaskan panah api ini, demikian pula kalau kau melihat panah api yang kulepaskan, harap kau cepat datang membantu. Kali ini kita harus dapat menangkapnya, mati atau hidup,"

Kata Tang Hwesio sambil menyerahkan beberapa batang panah api kepada gadis itu.

Hui Lian menyatakan setuju, menerima panah menyimpannya di dalam buntalan pakaian kemudia mereka berpisah.

Tang Hwesio terus ke sebuah kelenteng di tengah kota, yakni kelenteng Hok an-tang, sedangkan Hui Lian mencari kamar di rumah penginapan.

Semenjak masuk ke dalam rumah penginapan, Hui Lian menaruh hati curiga kepada serombongan orang terdiri dari enam orang yang pakaiannya seperti jago-jago silat.

Ia menduga bahwa enam orang itu tentulah sebangsa tukang pukul atau anak buah bangsawan atau hartawan okpa.

Mungkin juga anggauta-anggauta perkumpulan silat yang menjaga di kota Tiang si.

Akan tetapi, tak lama kemudian mereka itu main mata dan lenyap meninggalkan rumah penginapan itu tanpa mengganggunya.

Hui Lian menarik napas lega.

Ia tidak ingin mencari keributan dalam tugasnya yang lebih penting ini.

Dan penuturan yang ia dengar selama ia tiba di Ceng-sin-kwan sampai Tiang-si, nama Wan Sin Hong memang tersohor sekali sebagai seorang penjahat yang kejam.

Tidak saja membunuh-bunuhi orang seperti membunuh ayam saja, juga ia merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang lalu dibunuh secara mengerikan.

Kejahatan yang terakhir inilah yang membuat Hui Lian menjadi marah sekali.

Tidak peduli yang melakukan kejahatan itu putera pungut Lie Bu Tek, tak peduli yang melakukan itu seorang pemuda yang tampan, yang mempunyai mata pandai menyatakan isi hati, yang wajahnya mendebarkan hatinya, orang sekeji itu harus ia basmi!

Oleh karena itu, Hui Lian bersemangat sekali dalam menjalankan tugas yang diserahkan kepadanya oleh Tang Hwesio.

Setelah makan malam, Hui Lian mengenakan pakaian yang ringkas, membawa pedang dan panah api.

Ia menanti sampai rumah penginapan itu sunyi dan jalan raya juga sepi.

Tanpa diketahui oleh seorang pun tamu lain, gadis perkasa ini melompat keluar melalui jendela yang ditutupnya kembali dari luar.

Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung walet ia melompat ke atas genteng, Ia hati hati sekali, tidak segera pergi dari situ, melainkan mendekam di atas genteng sambil memandang ke sana ke mari, memasang mata dan telinga, takut kalau-kalau ada orang yang melihat gerakan-gerakannya.

Akan tetapi keadaan di sekelilingnya sunyi belaka, hanya angin malam bertiup perlahan membelai pipi dan rambutnya.

Dengan hati lega Hui Lian lalu mulai melompat dan sebentar saja sesosok bayangan yang gesit berlompatan dan berlarian melalui genteng-genteng rumah di kota Tiang si.

Ketika ia memutar ke bagian utara diam-diam ia kecewa dan mengecam Tang Hwesio di dalam hatinya.

Ternyata bahwa ia mendapat tugas di bagian yang sunyi, rumah-rumah di situ kecil dan merupakan daerah penduduk miskin.

Agaknya Tang Hwesio sengaja memilih daerah ramai untuk bagiannya sehingga tugas yang terberat berada di punggungnya.

Sebagaimana telah diketahui, penjahat Wan Sin Hong itu selalu melakukan kejahatan di daerah orang kaya dan bangsawan-bangsaan.

Di daerah yang miskin itu, seorang penjahat hendak mencari apakah?

Tidak ada harta untuk dirampok, tidak ada gadis cantik untuk diganggu, dan tidak ada bangsawan untuk dibunuh.

"Tang Ilwesio terlalu memandang rendah kepadaku..."

Kata Hui Lian bersungut-sungut.

Sambil berjalan di atas jalan yang sunyi itu ia sering kali menegok ke selatan mengharapkan tanda panah dari Tang Hwesio.

Akan tetapi angkasa sunyi pula, hanya beberapa butir bintang di langit mengiringkan bulan sepotong yang sudah timbul.

Hui Lian merasa jemu lalu tubuhnya digerakkan, meloncat naik lagi ke atas genteng rumah.

Dan rumah ini ia melihat ke sekeliling dan pada saat itulah ia melihat di bawah sinar bulan bayangan seorang laki-laki berlari cepat mengejar seorang wanita.

Wanita itu pun pandai ilmu silat dan pandai pula berlari cepat.

Hal ini mudah dilihat dan gerakannya ketika melarikan diri.

Kebetulan sekali dua orang yang berkejaran itu berlari melewati dekat rumah di mana Hui Lian bersembunyi dan bulan bersinar terang.

Ketika wanita itu lewat dekat rumah dan terkena cahaya lampu yang tergantung di situ, Hui Lian melihat bahwa yang melarikan diri adalah seorang gadis yang cantik.

Sekelebat ia seperti pernah melihat wajah perempuan ini akan tetapi ia lupa lagi entah di mana dan bilamana.

Kemudian menyusul pengejar gadis itu, dan Hui Lian berdebar, mukanya merah.

Ternyata pemuda itu adalah pemuda yang tadi siang ia lihat bersama Tang Hwesio, yakni pemuda yang oleh Tang Hwesio disebut Wan Sin Hong.

"Gadis keji, jangan harap bisa terlepas dan tanganku...!"

Terdengar pemuda itu berseru dan kini larinya cepat sekali.

Dengan beberapa lompatan saja ia telah menyusul gadis yang lari di depannya.

Gadis itu tiba tiba membalikkan tubuh menyerang dengan pukulan yang tidak boleh dipandang ringan.

Akan tetapi tanpa mempedulikan jatuhnya pukulan pada tubuhnya, pemuda itu mengulur tagan dan di lain saat gadis itu telah roboh dengan tubuh lemas!

Ketika pemuda Itu membungkuk hendak mengangkat tubuh gadis yang sudah tak berdaya tiba-tiba terdengar bentakan di belakangnya.

"Bangsat tak tahu malu, kau memang harus mampus!"

Sebatang pedang meyambar cepat sekali ke arah punggungnya.

Hui Lian sudah memastikan bahwa pedangnya tentu akan merobohkan lawan, karena selain kedudukan pemuda itu selang sukar dan kepalang, juga serangannya itu merupakan serangan dari jurus ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang yang terlihai.

Akan tetapi hebat sekali pemuda itu.

Biarpun ia juga terkejut sekali melihat datangnya serangan yang luar biasa cepat dan berbahayanya, namun sekali mengelak secara otomatis dan tangannya masih juga dapat menyambar tubuh gadis yang telah pingsan dan dikempitnya.

Akan tetapi, ketika pemuda itu membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang menyerangnya, ia nampak gugup sekali.

"Kau... Nona..."

Dan tak terasa pula tubuh gadis yang dikempitnya diletakkan kembali ke atas tanah.

Hui Lian tidak mau peduli akan sikap yang aneh dari pemuda ini.

Ia merasa penasaran karena tadi serangan yang sudah begitu pasti ternyata menemui tempat kosong.

Dengan gemas lalu menubruk maju menyerang dengan pedangnya, mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling sulit dan lihai karena ia maklum bahwa ia menghadapi seorang lawan lihai.

"Jangan serang aku... jangan kau ikut membenciku..."

Pemuda itu mengelak kesana ke mari sambil mengeluh.

Siapakah pemuda ini?

Memang bukan lain dia adalah Wan Sin Hong sendiri!

Seperti telah diketahui, Sin Hong merasa penasaran dan juga gemas sekali karena namanya dirusak orang.

Di mana-mana terdengar perbuatan-perbuatan jahat yang katanya dilakukan oleh Wan Sin Hong, atau berarti olehnya!

Oleh karena itu ia menggerahkan seluruh perhatian untuk menyelidiki persoalan ganjil ini.

Sampai jauh ia merantau dan akhirnya ia melihat gadis yang dulu mengaku telah diganggu!

Setelah Wan Sin Hong bertemu dengan Tang Hwesio dan Go Hui Lian kemudian dikeroyoknya, Sin Hong melarikan diri dengan hati berduka sekali.

Entah mengapa, melihat Go Hui Lian, hatinya tergerak dan bayangan gadis jelita itu tidak pernah dapat terusir dari depan matanya.

Ia menjadi makin kecewa dan berduka.

Tadinya ia merasa gembira juga melihat puteri Hwa I Enghiong Go Ciang Le yang sering kali dipuji oleh gihunya, ternyata merupakan seorang gadis yang demikian cantik jelita dan perkasa.

Akan tetapi, kalau ia teringat betapa gadis manis ini pun menganggap dia orang penjahat, benar-benar Sin Hong, menjadi bingung dan sedih, dan makin bernafsulah ia untuk mencari orang merusak namanya.

Alangkah girang hatinya ketika ia sedang melarikan diri meninggalkan Hui Lian dan akan memasuki kota Tiang an ia melihat bayangan seorang gadis cantik yang dikenalnya sebagai gadis yang dia pernah mengaku menjadi korbannya!

Gadis inilah yang dulu di depan para tokoh kang-ouw dan para ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar, mengaku telah diganggu dan yang agaknya sengaja hendak mencoret mukanya di depan tokoh-tokoh besar itu, entah karena kehendak sendiri ataukah disuruh oleh orang lain.

Dahulu gadis itu melompat ke dalam jurang dan disangka mati oleh para tokoh besar tanpa menyelidiki lebih dulu.

Dia sendiri sudah mencari ke bawah, akan tetapi tidak menemukan mayat gadis itu, tanda bahwa gadis itu bukannya membunuh diri dengan cara yang luar biasa sekali.

Sin Hong menahan gelora hatinya dan tidak mau berlancang tangan menyerang.

Ia maklum bahwa gadis itu bukan orang biasa saja, dan kalau diingat bahwa selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan gadis itu, maka mustahil kalau itu sengaja merusak namanya begitu saja.

Pasti ada apa-apanya di belakang atau dengan lain perkataan, pasti ada orang lain yang menggerakkan gadis ini melakukan fitnahan keji terhadap dirinya.

Kalau memang ada orang di belakang layar itu, maka dia itulah orangnya yang selama ini merusak namanya.

Hati Sin Hong berdebar.

Diam-diam lalu mengikuti gadis itu karena menduga bahwa gadis itu tentu akan membawanya ke tempat orang yang selama ini merusak namanya.

Akan tetapi wanita muda yang cantik itu menyewa kamar di sebuah hotel.

terpaksa Sin Hong juga menyewa kamar dan diam-diam ia terus menguntit.

Bukan main mendongkol hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak pernah keluar dari kamarnya, bahkan memesan kepada pelayan untuk mengirim masakan ke kamar.

Sampai jauh malam Sin Hong mengintai dari kamarnya sendiri ke arah kamar gadis ini.

Menjelang tengah malam, ia melihat bayangan orang melompat-lompat di atas wuwungan rumah dan ketika bayangn itu menggerakkan tangan, ia melihat sebuah benda hitam kecil melayang masuk ke dalam kamar wanita muda tadi melalui celah-celah antara daun jendela.

Sin Hong cepat melompat keluar kamar, akan tetapi dengan beberapa gerakan saja bayangan itu telah lenyap.

Sin Hon penasaran, cepat ia mendekati jendela kamar wanita itu dan mengintai ke dalam.

dilihatnya wanita itu tengah memegang sehelai kertas yang ditulis dengan huruf-huruf besar.

"DIA MENGINTAIMU, LEKAS LARI, TERPISAH DAN TUTUP MULUT"

Pandang mata Sin Hong yang tajam dapat membaca tulisan itu dan ia menggigit bibir dengan mendongkol sekali.

Tak disangkanya bahwa musuh yang merusak namanya itu benar-benar amat lihai.

Tadi pun ia telah menyaksikan gerakannya yang luar biasa cepat dan kini yakinlah dia bahwa musuhnya itu adalah bayangan tadi.

Dan wanita ini hanyalah kaki tangan dan musuh rahasianya.

Ia mendengar wanita itu mengeluarkan keluhan dan nampak seperti ketakutan.

Kemudian ia cepat menyelinap ketika melihat wanita itu berbenah, membungkus pakai"n dan memanggulnya di punggung, kemudian wanita itu memadamkan api lilin dan melompat keluar melalui jendela dengan gerakan yang cukup lincah!

Kemudian wanita muda yang cantik itu berlari cepat sekali ke arah utara, agaknya hendak keluar dari kota Tiangsi.

Sin Hong maklum bahwa gadis ini tentu taat akan surat perintah tadi, maka untuk berhadapan dengan musuh rahasianya ia harus menangkap gadis ini.

Akan tetapi siapa kira, baru saja ia hendak membekuk gadis itu, tiba-tiba muncul Go Hui Lian menyerangnya, dengan hebat.

Biarpun Sin Hong harus mengaku bahwa ilmu pedang dari Hui Lian tak boleh dipandang ringan, namun bukan serangan itulah yang membuat ia menjadi gugup, bingung, dan berduka.

Ia maklum bahwa perbuatannya merobohkan gadis di tengah malam buta tentu akan mendatangkan kecurigaan besar sekali dan tentu Hui Lian kini akan merasa yakin bahwa Wan Sin Hong benar-benar seorang penjahat keji pengganggu wanita!

Di samping kedukaan ini.

juga Sin Hong ingin sekali menguji sampai di mana kehebatan ilmu silat dari puten pendekar yang sudah amat terkenal dan selalu dipuji-puji oleh gihunya.

Maka lalu memperhatikan dan menghadapi pedang Hui Lian dengan tangan kosong.

Di lain pihak, Hui Lian merasa amat penasaran, mendongkol, dan juga heran, Dia adalah puteri tunggal Go Ciang Le jagoan nomor satu di dunia persilatan.

Dia sudah mewarisi Ilmu Silat Pak-kek, Sin-ciang yang belum seratus prosen akan tetapi hanya di bawah tingkat ayahnya.

Dia mempelajan ginkang darinya yang telah mewarisi ilmu ginkang luar biasa dari mendiang Thian Te Siang-mo (Sepasang Iblis Kembar).

Bagaimana sekarang dengan pedangnya, ia hanya dihadapi dan dilawan dengan tangan kosong belaka oleh pemuda keji bernama Wan Sin Hong ini?

Ia benar-benar penasaran, mendongkol dan heran.

Baru ini kali selama hidupnya Hui Lian mengalami hal yang amat aneh dan tak masuk akal.

Di samping keheranan dan penasaran ini, ia pun diam diam merasa amat kecewa.

Rasa kecewa yang sudah terasa di dalam lubuk hatinya semenjak ia berjumpa dengan Sin Hong, kecewa karena melihat seorang pemuda yang demikian "baik"

Ternyata telah sesat menjadi seorang penjahat keji yang demikian tersohor.

Kini, melihat sendiri betapa kejinya pemuda itu mengejar-ngejar seorang gadis dan merobohkannya, ditambah dengan kenyataan betapa tinggi ilmu silat pemuda rasa kecewa di dalam hatinya meningkat.

Harus ia akui bahwa hatinya tergerak dan tcrtarik sekali terhadap pemuda mi.

Betapa tidak?

Selama hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian gagah dan tinggi ilmu silatnya.

Tampan pula!

Tidak kalah oleh Kong Ji dalam kelihaian maupun dalam ketampanan.

Akan tetapi...

sayangnya tidak kalah pula dalam kejahatan!

Baca Juga: Si Tangan Sakti 4

Baca Juga: Jaka Lola 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert