Eps 8 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
Rasa kecewa ini membuat Hui Lian menjadi makin gemas.
Pedangnya berkelebat-kelebat menyambar bagaikan naga mengamuk, akan tetapi yang diamuknya tenang-tenang saja mengelak ke sana ke mari, kadang-kadang menyampok perlahan dan beberapa kali terdengar pemuda itu memuji ilmu pedangnya.
Lima puluh jurus telah lewat tanpa satu kali pun Sin Hong membalas serangan Hui Lian.
"Keparat, kaubalaslah!"
Hut Lian membentak dengan penasaran dan gemas.
Hatinya sakit sekali dan mau ia menangis sambil membanting-banting kaki kalau ia tidak malu kepada Sin Hong.
Baru kali ini dia, puteri Hwa I Enghiong!
dipermainkan orang seperti ini.
Akan tetapi tiba-tiba Sin Hong berseru keras.
"Celaka, dia tari...!"
Hui Lian mengerling dan benar saja, gadis yang tadi dikejar-kejar dan dirobohkan oleh Sin Hong telah lenyap dari situ, tidak kelihatan lagi bayangannya.
Ketika ia memandang lagi ke depan, Sin Hong juga telah lenyap.
Tentu pemuda itu pergi mencari gadis tadi, pikirnya dan aneh sekali, timbul rasa tidak enak seperti orang iri hati dan cemburu didalam dadanya.
Sin Hong agaknya tergila-gila dan suka sekali kepada gadis tadi sampai-sampai meninggalkan gelangang pertempuran, seakan-akan tidak ada gadis cantik lain di dunia ini, seakan-akan dia....
Go Hui Lian...
bukan seorang gadis atau bukan seorang gadis cantik!
Sayang aku tadi tidak melihat wajah gadis itu, demikian bisikan hati Hui Lian.
Tiba-tiba gadis ini merah mukanya dan mau ia menampar pipinya sendiri untuk pikiran yang dianggapnya tak bermalu itu.
Cepat dikeluarkan panah api dan tak lama kemudian di udara meluncur cahaya kekuningan.
Tak lama kemudian datanglah Tang Hwesio sambil memanggul penggadanya.
Langkahnya lebar dan larinya cepat seperti seekor singa.
"Mana dia...?"
Tanyanya dari jauh begitu dia melihat bayangan gadis itu.
"Dia telah lari, Lo-suhu. Sayang sekali."
Kemudian dengan singkat Hui Lian menceritakan betapa ia melihat penjahat itu mengejar dan merobohkan seorang gadis.
Kemudian ia menyerang penjahat itu yang melarikan diri setelah melihat gadis tadi sudah lenyap dan situ, agaknya sudah lari lebih dulu.
"Aneh sekali, pinceng juga melihat bayangan seorang laki-laki memondong seorang gadis wanita, cepat sekali larinya dan telah lenyap sebelum penceng dapat melihat apakah dia itu Wan Si Hong atau bukan."
Makin panas dan tidak enak hati Hui Lian.
"Ah, tentu dia sudah menangkap lagi perempuan tadi. Sayang aku tidak mempunyai kemampuan untuk merobohkan dan membikin mampus dia!"
Tang Hwesio menarik napas panjang.
"Siapa yang akan menyalahkan kau, Nona? Kita berdua sudah sama tahu betapa lihainya penjahat muda itu. Kau bertemu dengan dia seorang diri dan dia tidak mengganggumu, itu sudah amat bagus untukmu. Nona, sekarang tidak ada lain jalan bagi kita. Kau lebih baik lekas mencari Ayah bundamu, suruh mereka turun tagan menangkap penjahat keji ini. Pinceng sendiri akan menemui kawan-kawan di dunia kang-ouw untuk mengajak mereka beramai-ramai turun gunung membersihkan dunia dari kejahatan Wan Sin Hong!"
Memang tidak ada jalan lain yang lebih baik.
Mereka berdua tidak berdaya menghadapi Wan Sin Hong.
Dengan lemas dan kecewa Hui Lan berpisah dan Tang Hwesio.
kembali ke hotelnya mengambil pakaian, meninggalkan uang pembayaran sewa kamar di atas meja dan pergi pada saat itu juga.
Tengah malam telah lama lewat dan fajar sudah hampir menyingsing.
Di sana-sini, jarang-jarang, sudah terdengar suara kokok ayam yang kepagian.
Di angkasa sudah tidak ada buIan, hanya bintang-bintang masih menghias langit hitam, berkedap-kedip seakan-akan bermain mata dengan Hui Lian.
Aneh, kedipan bintang mengingatkan Hui Lian akan kedipan mata Sin Hong dan ia mengutuk bintang-bintang itu dalam hatinya, tidak mau memandang ke atas lagi dan berjalan meninggalkan kota Tiang-si yang masih tidur.
Hawa pagi itu dingin benar.
Ah, mengapa aku keluar sepagi ini?
Dingin amat, pikir Hui Lian.
Akan tetapi kalau ia teringat akan peristiwa tengah malam tadi, ia berpikir lain.
Biarlah, biar aku kedinginan, hitung-hitung untuk menghukum kebodohan sendiri.
Aku harus melupakan dia sebagai pemuda menarik hati, harus ingat dia sebagai seorang penjahat keji!
Biarlah hawa dingin mencuci otakku yang keruh, pikirnya gema kepada diri sendiri.
Kokok ayam saling bersahutan menyambut fajar menyingsing ketika Hui Lian tiba di luar kota yang sunyi.
Sawah dan tegal para petani membentang luas di kanan kini jalan yang sunyi itu.
Kadang-kadang saja ia melihat pohon yang tumbuh di pinggir jalan, pohon-pohon tua yang batangnya sudah terbengkok-bengok membawa berat dahan dan daun.
Ketika tiba di jalan membelok, ia melihat sinar api di depan.
Dari jauh dapat dilihat bahwa itu adalah api unggun yang dibuat orang, sedangkan orangnyapun kelihatan berjongkok di dekat api, agaknya seorang petani membuat api untuk mengusir hawa dingin yang menggerogoti tulang.
Hut Lian tentu saja dapat mengusir serangan hawa dingin dengan pengerahan sinkangnya, akan tetapi pada saat itu semangatnya sedang lelah dan tidak mempunyai niat untuk berusaha sesuatu.
Kini melihat orang mengusir dingin dengan api unggun, nampaknya begitu hangat dan enak, ia ingin sekali ikut menghanatkan tubuh di dekat api unggun.
Tak terasa lagi ia lalu membelokkan tujuan kakinya dan menghampiri api unggun itu.
"Mari, silahkan duduk, Nona. Aku sengaja mcnunggumu di sini. Kita bercakap-cakap sambil menghangatkan tubuh. Silakan."
Orang yang tadinya dikira petani itu menggeser sebuah batu besar ke dekat api unggun sambil mempersilahkan Hui Lian dengan tangan kanannya dibentangkan.
Hui Lian membelalakkan matanya hampir saja berteriak saking kagetnya.
"Kau...?"
Serunya dan secepat kilat telah mencabut pedangnya!
Ternyata bahwa orang itu bukan lain adalah Wan Sin Hong yang malam tadi diserangnya mati-matian dan yang semenjak kemarin bayangannya selalu mengganggunya.
Sin Hong menundukkan mukanya dia menarik napas panjang.
"Alangkah buruknya kebiasaan seorang ahli silat. Di waktu sedingin ini pun mencabut pedang. Aahhh, kalau aku tidak mengerti ilmu silat, alangkah baiknya namaku tidak rusak... aku tidak dibenci orang...."
"Kau jahanam busuk pura-pura menyesal?"
Hui Lian menodongkan ujung pedangnya di depan dada Sin Hong.
"Jangan kau berusaha hendak menipuku. mana gadis malam tadi?"
Bibir Sin Hong tersenyum duka.
"Tahukah kau di mana dia? Aku ingin sekali tahu, ingin sekali, karena aku harus dapat merangkap dia."
Kemudian sambil menatap wajah Hui Lian yang nampak luar biasa cantiknya dalam cahaya api unggun. Sin Hong berkata tenang.
"Kau duduklah baik-baik, Nona. Aku ingin bicara dari hati ke hati denganmu, aku merasa bahagia sekali dapat bertemu dengan puteri Hwa I Enghiong."
"Jangan coba berputar lidah! Hayo keluarkan senjatamu kalau kau memang laki-laki. Keparat jahanam, penjahat rendah, aku tidak begitu rendah untuk membunuh orang yang tidak melawan. Hayo kita bertempur seribu jurus sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa di sini!"
Tangan Hui Lian yang memegang pedang sudah menegang, siap untuk menyerang. Sin Hong memandang ke arah api dan menarik napas lagi, wajahnya agak pucat dan sinar matanya layu.
"Simpan kembali pedangmu. Nona. Tiada gunanya lagi, aku bukan orang jahat."
"Mana ada penjahat mengaku jahat? Harimau ganas pun langkahnya perlahan, jejaknya tak terdengar orang. Hayo lekas berdiri dan siap untuk bertempur mati-matian!"
Hui Lian menantang sambil membanting kakinya.
"Sesukamulah, kau boleh memaki aku apa saja. Akan tetapi yang jelas, aku takkan mau melawanmu bertempur. Sekali saja bagiku cukuplah, karena yang sekali itu pun sudah membuat aku merasa sengsara sekali."
"Pengecut jangan kau menghinaku! Apa kaukira aku takut kepadamu? Biar pun kau seribu kali lebih lihai, aku Go Hui Lian tidak takut mati, tahu? Bangkitlah dan mari kita tetapkan siapa yang harus menggeletak tak bernyawa di sini. Mati untuk membela para wanita yang kauganggu, aku rela!"
Sin Hong menggeleng-gelengkan kepaIanya.
"Ucapanmu lebih tajam dan menyakitkan daripada tusukan pedangmu, Nona. Sudah kukatakan bahwa aku tidak sanggup lagi melawanmu. Hanya pintaku kalau kau memang mempunyai perikemanusiaan, duduklah dan dengarkan semua penjelasanku. Aku bersumpah bahwa Wan Sin Hong bukanlah seorang keji, bukan seorang hina yang melakukan segala, perbuatan terkutuk. Karena kau puteri Hwa I Enghiong yang sudah lama kukagumi, maka aku ingin menceritakan semua ini kepadamu. Karena kau... kau seorang yang ingin kujadikan kawan, maka aku mau menceritakan semua ini kepadamu. Akan tetapi kalau kau tidak percaya dan tetap hendak membunuhku, tusukkan saja pedangmu itu. Aku takkan melawan...."
Sin Hong kembali memandang ke arah api.
Ia sedih sekali.
Benar-benar ia pun merasa heran mengapa begitu banyak orang menganggapnya jahat, ia bahkan merasa penasaran.
Akan tetapi sekali saja gadis ini menganggapnya jahat, ia menjadi lemas dan berduka, dan ingin mati saja!
"Keparat jahanam!
Berdirilah, lawanlah aku...
jangan kau menghina!
Sikapmu yang tak hendak melawan ini menghinaku.
Kautahu, aku puteri pendekar besar Go Ciang Le, aku tidak takut mati.
Berdirilah...
atau kalau tidak...
demi Tuhan, kutusuk dadamu dengan pedangku!"
Hui l.ian kini membanting-banting kedua kakinya dan mau dia menangis.
Tangannya yang memegang pedang mulai gemetar, sedangkan ujung pedang yang runcing mendekat sampai menempel di baju Sin Hong, tepat di dada kiri di mana jantungnya berada, jantung yang berdebar lemah karena duka.
Sin Hong menggeleng-gelengkan kepala menengok dan menatap wajah Hui Lian sebentar, kemudian memandangi api lagi.
"Mati di tangan dara perkasa puteri Hwa I Enghiong cukup berharga...."
Katanya perlahan.
"Bedebah, lihat pedang!"
Hui Lian yang sudah marah sekali karena merasa dihina dengan semua kata-kata Sin Hong yang dianggapnya seorang penjahat besar pengganggu banyak wanita, menggerakkan tangan kanan.
Pedangnya ditarik ke belakang lalu ditusukkan ke depan.
Sin Hong tidak bergeming, bergerak sedikit pun tidak.
Akan tetapi terdengar baju robek dan darah mengucur keluar dari pundak kirinya, membasahi bajunya yang putih.
Sebentar saja baju Sin Hong menjadi merah oleh darahnya sendiri!
"Mengapa kau selewengkan ke pundak, Nona?"
"Kau... kau... mengapa tidak mengelak...?"
Hui Lian berdiri dengan muka pucat matanya terbelalak lebar, bibirnya gemetar dan tangan yang memegang pedang menggigil. Ngeri ia melihat darah membasahi baju di dada Sin Hong.
"Sudah kukatakan tadi, aku takkan melawan. Aku rela mati di tangan Nona Go Hui Lian, seorang dara perkasa yang gagah dan budiman...."
Dua titik air mata melompat keluar dari sepasang mata Hui Lian ketika ia mendengar suara yang halus ini. Akan tetapi ia menggigit bibir mengeraskan hatinya.
"Kau jahat dan aneh. Apa artinya sikapmu ini? Kau demikian jahat, mengapa sekarang kau berpura-pura baik? Biarpun memakai bulu domba bertopeng muka kelinci, harimau tetap harimau buas dan liar. Siapa percaya kepadamu"
"Tidak ada yang percaya kepadaku, Nona. Oleh karena itulah maka harapanku satu-satunya kujatuhkan kepadamu. Aku mengharapkan kau suka mendengarkan ceritaku dan... percaya kepadaku..."
"Mengapa...? Mengapa kepadaku?"
Sin Hong tersenyum, menggcrakkan jari tangan kanan menotok pundaknya sendiri untuk menghentikan darah yang mengalir.
Hui Lian memandang kagum melihat pemuda itu menerima tusukan pedang dan menahan luka tanpa berkedip sedikit pun.
"Karena kau puteri Hwa I Enghiong. sudah semenjak kecil aku mendengar dari Gihu tentang Ayah Bundamu yang gagah perkasa dan budiman. Karena itu aku percaya bahwa puterinya tentu juga seorang gagah dan budiman pula."
"Apa yang hendak kau ceritakan lagi? Bukti banyak, semua orang di dunia kang-ouw mengetahui bahwa..."
Hui Lian tidak melanjutkan kata-katanya. Teringat akan segala perbuatan keji yang dilakukan oleh pemuda ini, perasaan terharu yang tadi menipis.
"Memang demikian, Nona. Aku dianggap jahat, dan sudah banyak bukti-buktinya. Akan tetapi semua ini bukan atas kehendakku sendiri, ada orang yang sengaja merusak namaku.
"APA maksudmu?"
"Ada musuh rahasia yang sengaja melakukan semua perbuatan terkutuk dengan menggunakan namaku dan...."
"Bohong"
Siapa bisa percaya?
Wan Sin Hong, tak perlu kau mengarang dongeng, apakah para locianpwe di dunia kang-ouw semua sudah bodoh dan buta?
Aku sendiri melihat kau mengejar dan merobohkan...
seorang gadis.
Apa kau masih belum mati dan mempunyai muka untuk menyangkal?"
"Sayang gadis itu terlepas lagi,"
Sin Hong menghela napas.
"Dia itu kaki tangan musuh rahasiaku. Sudah tertawan terlepas lagi".."
Hui Lian tertegun.
"Ceritakan semua!"
Sin Hong menengok dan menatap wajah yang cantik dan kini tegang itu.
"Nona, percayakah kau kepadaku?"
"Mengingat kau anak angkat Lie Bu Tek Pekhu, seharusnya aku percaya, akan tetapi mendengar nama busukmu dan melihat bukti sendiri malam tadi"."
"Jadi kau juga tidak percaya kepadaku?"
Hui Lian menggelengkan kepalanya, sungguhpun agak ragu-ragu. Sin Hong mengeluh, lalu duduk menghadapi apa lagi.
"Kalau begitu tidak ada gunanya bagiku untuk bercerita. Kau boleh tusuk aku sampai mati atau... tinggalkan aku pergi!"
Hui Lian melengak, mukanya menjadi merah.
Tangan yang memegang pedang sudah menggigil lagi, akan tetapi bagaimana ia bisa membunuh orang yang membuat hatinya tidak karuan rasanya ini?
Orang yang membuat ia merasa bukan seperti diri sendiri, merasa lemah dan tidak dapat menguasai hati dan pikiran, tak tentu pendirian?
Hati dan pikirannya bertempur hebat.
Menurutkan kesadarannya sebagai seorang pendekar, ia harus membunuh manusia jahat ini akan tetapi menurut suara hatinya...
ia tidak tega, bahkan baru melukai pundaknya saja ia merasa menyesal bukan main.
Akhirnya, sambil mengeluarkan jerit tertahan, pedangnya berkelebat dan robohlah sebatang pohon tak jauh dari situ, tumbang oleh sabetan pedangnya!
Kemudian, dengan suara aneh di kerongkongan, tangis bukan tawa bukan akan tetapi menyerupai keduanya.
Gadis itu mengerahkan tenaga dan lari meninggalkan Sin Hong yang masih duduk menghadapi api unggun bagaikan patung batu!
Sin Hong benar-benar menderita hebat.
Sudah hampir lima hari ia sampai lupa makan lupa tidur saking marahnya kalau ia mengingat betapa namanya dirusak benar-benar oleh musuh rahasia itu.
Selain marah, ia juga jengkel dan sedih.
Pertemuannya dengan Tang Hwesio dan Hui Lian menambah kesedihan dan kejengkelannya.
Begitu bertemu, ia telah jatuh hati kepada Hui Lian, hal ini ia tak dapat menyangkal pula, sungguh ia sendiri belum sadar perasaan apa yang menyelinap di dalam sanubari terhadap gadis itu.
Akan tetapi yang pasti, ia merasa sedih sekali karena gadis itu pun menuduh dia seorang jahat bahkan membencinya dan hampir saja membunuhnya.
Sin Hong adalah seorang yang amat kuat tubuhnya.
Apalagi ia seorang ahli pengobatan yang luar biasa, tahu cara bagaimana menjaga diri.
Akan tetapi, betapapun kuat tubuhnya, ia masih muda dan batinnya masih belum masak.
Oleh karena itu, lima hari tidak makan tidur, ditambah dengan tekanan batin yang berat, kini ditambah lagi dengan pukulan batin dalam pertemuannya dengan Hui Lian, ia hampir tak kuat menahan.
Setelah Hui Lian meninggalkannya pergi membawa rasa benci, ia merasa pilu dan sedih sehingga tanpa dirasa ia telah pingsan di dalam duduk bersila di depan api unggun!
Kalau orang lain yang berhal seperti ini, amat berbahaya keadaannya karena kalau ia terguling ke dalam api berarti akan menemui maut.
Akan tetapi Sin Hong bukan seorang biasa, tubuhnya telah terisi tenaga singkang yang hebat, yang dapat bekerja otomatis seperti bekerjanya paru-paru dan jantung.
Biarpun ia dalam keadaan tidak sadar, namun tubuhnya tetap bersila seperti tadi!
Sin Hong sudah setengah siuman ketika ia mencium bau harum sekali dan bagaikan dalam mimpi ia melihat seorang gadis sedang berlutut di dekatnya dan menaruh obat semacam koyo, ditempelkan pada pundaknya yang terluka oleh pedang.
"Aku gila... aku telah gila... aku gila"..!"
Telinga Sin Hong mendengar gadis itu berbisik berulang kali sambil mengobati pundaknya dengan jari-jari tangan gemetar.
Semua ini terjadi seperti dalam mimpi dan Sin Hong sampai tidak berani membuka mata, khawatir kalau-kalau mimpi indah dan tak mungkin ini akan lenyap.
Nona Go Hui Lian telah mengobati pundaknya, telah berlutut di dekatnya dan rambut yang hitam halus dan harum itu demikian dekat dengan mukanya.
Alangkah indah mimpi ini terlampau indah untuk dipercaya.
Maka Sin Hong tidak berani membuka matanya hanya mengintai dari balik bulu mata.
Tiba-tiba Hut Lian melompat berseru keras.
"Suci, jangan...!"
Seruan ini ia susul dengan gerakan pedang, menangkis sebatang pedang yang meluncur menyerang leher Sin Hong! "Traang...!"
Baik Hui Lian maupun penyerang itu terhuyung ke belakang saking kerasnya tenaga yang mereka keluarkan, satu menyerang yang lain melindungi.
"Wan Sin Hong manusia biadab! telah merusak hidupku, kau harus menebus dengan nyawamu!"
Kembali gadis itu menyerang dan Hui Lian menjadi bingung. Ditangkisnya lagi serangan itu sambil berkata.
"Nanti dulu, Suci........ dia terrluka...."
Kata Hui Lian. Gadis itu memang Soan Li adanya yang muncul di pagi hari dan langsung menyerang Sin Hong. Dengan mata aneh Soan Li memandang kepada Hui Lian, membentak.
"Siapa berani membela manusia keji ini?"
Hui Lian menjadi merah mukanya.
memang amat janggal dan sulit kedudukannya kalau ia membela seorang penjahat besar seperti Sin Hong.
Pula, kata-kata yang diucapkan oleh Soan Li membuat Hui Lian merasa jantungnya seperti mau terlepas.
Apakah gerangan yang telah diperbuat oleh Sin Hong terhadap Soan Li?
"Suci, apakah...
apakah...
kau menjadi korban...?"
Tiba-tiba Soan Li menangis! Selagi Hui Lian memandang dengan pilu dan bingung, Soan Li melompat lagi dan marah-marah seperti orang mabok.
"Wan Sin Hong, kau harus mampus!"
Dengan pedang di tangan ia menubruk ke depan, melakukan serangan hebat sekali dengan menusukkan pedang ke dada pemuda itu!
Kini Hui Lian tidak mau bergerak menangkis.
Mukanya berubah pucat sekali dan ia yakin apa yang telah terjadi atas diri Soan Li.
Pasti kakak seperguruannya itu telah menjadi korban dari penjahat muda yang keji ini.
Kalau tidak demikian tak mungkin sucinya akan bersikap semarah itu dan sebenci itu terhadap Sin Hong.
Kalau Sin Hong sudah bertindak keji terhadap sucinya ia tak boleh melindunginya lagi, bahkan sudah seharusnya kalau ia membantu sucinya membunuh manusia jahanam itu.
Dengan.
isak tertahan dan kedua kaki menggigil Hui Lian meramkan mata dan menyerang Sin Hong membarengi serangan Soan Li mengirim tusukan maut ke arah lambung pemuda itu!
Di lain saat ketika Hui Lian membuka matanya karena tusukannya mengenai angin, ia melihat tubuh Sin Hong berkelebat dan tahu-tahu Soan Li telah dikempit oleh pemucla itu.
Ia mendengar Sin Hong berkata.
"Tenang, Gak Siocia! Aku akan menyembuhkanmu...."
Di saat itu berkelebat bayangan orang dan sebatang pedang yang cahayanya menyilaukan mata meluncur cepat menyerang Sin Hong.
Pemuda ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat mengelak.
Hui Ilan juga kaget ketika mendengar kenyataan bahwa yang menyerang kali ini adalah Liok Kong Ji.
Selagi Hui Lian terheran, kembali berkelebat dua bayangan orang yang gerakannya membuktikan bahwa mereka ini adalah ahli-ahli silat kelas satu.
Ternyata mereka ini adalah seorang hwesio gundul tinggi besar dan seorang kakek berambut panjang yang wajahnya menyeramkan.
Biarpun keduanya bertangan kosong, namun serangan mereka terhadap Sin Hong bukan main hebatnya.
Sin Hong yang mengempit tubuh Soan Li agaknya tidak mau melayani mereka, mungkin karena terhalang gerakannya oleh tubuh Soan Li yang dipondongnya.
Akan tetapi ini tentu saja dalam pandangan Hui Lian, padahal sebenarnya, pemuda ini yang sejak pertemuannya dengan Soan Li di samping Kong Ji telah menaruh curiga, tadi ketika diserang oleh Soan Li, ia cepat menyambar pergelangan tangan gadis itu dan sekali tekan saja ia tahu bahwa di dalam tubuh Soan-Li mengalir darah yang kotor oleh racun!
Maka terbukalah matanya dan tahulah ia bahwa ia berhadapan ngan Soan Li yang sudah terganggu jalan pikiran dan ingatannya oleh racun berbahaya.
Tanpa membuang waktu lagi lalu menangkap Soan Li dan bermaksud membawa pergi gadis int untuk diobati.
Soal pembalasan terhadap Ba Mau Hoatu hwesio gundul itu dan Giok Seng Cu, kakek berambut panjang yang keduanya datang bersama Kong Ji, dapat dilakukan kemudian, pikirnya.
Akan tetapi ada yang meragukan hati Sin Hong.
ia melihat Kong Ji bersama dua kakek jahat di situ.
Tidak berbahayakah keadaan Hui Lian apabila ia pergi membawa Soan Li.
Bagaimanakah hubungan antara Hui Lian dan Kong Ji?
Akan tetapi Kong Ji, Ba Mau Hoatsu, dan Giok Seng Cu tidak memberi banyak waktu kepadanya.
Tiga orang ini cepat menyerang dengan hebatnya, bahkan kini Ba Mau Hoatsu telah mengeluarkan sepasang rodanya yang lihai dan Giok Seng Cu mengeluarkan Ilmu Pukulan Tin-san-kang.
Aku harus menyelamatkan Soan Li lebih dulu, pikir Sin Hong yang merasa tidak leluasa menghadapi gempuran tiga orang lihai ini.
Secepat kilat ia melompat dan melarikan diri.
"Bangsat rendah, lepaskan suciku...!"
Hui Lian membentak marah ketika melihat Sin Hong melarikan diri sambil membawa pergi Soan Li.
"Hui Lian, Sumotku yang manis, mari kita bersama mengejar bangsat Wan Sin Hong...!"
Kata Kong Ji sambil melompat menyusul.
"Pergi"
Siapa sudi bicara denganmu?"
Jawab Hui Lian sambil menyabetkan pedangnya ke arah Kong Ji.
Pemuda ini tertawa dan mengelak, akan tetapi saat itu dipergunakan oleh Hui Lian untuk mempercepat larinya mengejar bayangan Sin Hong yang sudah jauh.
Ia hanya mendengar Kong Ji tertawa bergelak, suara ketawa yang dulu pernah membuat bulu tengkuknya berdiri, kemudian ia mendengar suara kakek gundul.
"Liok-sicu, mengapa tidak tawan saja Nona galak itu?"
"Tak usah, biarkan dia pergi mengejarnya,"
Terdengar jawaban Kong Ji Hui Lian tidak mendengar lagi apa yang selanjutnya mereka ucapkan karena ia takut tertinggal jauh oleh Sin Hong.
Dengan cepat ia mempergunakan ilmu lari cepat mengejar bayangan Sin Hong yang bukan main cepat larinya, akan tetapi jarak antara dia dan Sin Hong tidak berubah.
Pemuda itu sambil memondong tubuh Soan Li tetap saja berada di depannya.
Hui Lian merasa dipermainkan lalu mempercepat larinya.
Namun, orang yang dikejarnya juga mempercepat larinya sehingga tetap saja ia tidak menjadi makin dekat.
Mereka lari berkejaran sampai hampir setengah hari lamanya.
Matahari telah naik tinggi dan Hui Lian tidak tahu ia telah tiba di mana, karena agaknya Sin Hong sengaja mengambil jalan yang tidak pernah dilalui manusia masuk hutan, keluar hutan, naik bukit turun bukit.
Tiba-tiba Sin Hong berhenti dan membalikkan tubuh, menanti Hui Lian yang mendatangi dengan muka penuh keringat dan napas agak terengah.
Merah muka Hui Lian, merah karena panas darahnya dan juga karena malu dan marah.
"Jahanam keparat, kalau tidak kaulepaskan suciku, biar sampai mati aku takan berhenti mengejarmu!"
"Nona, kau benar-benar aneh. Tadi kau bersikap amat baik kepadaku, obat pada lukaku ini masih menempel...."
Muka yang merah itu makin merah lagi dan untuk sejenak Hui Lian tak berani menentang mata Sin Hong. Akan tetapi kepala yang ditundukkan itu tiba-tiba diangkat, sepasang matanya bersinar-sinar.
"Keparat, kau benar-benar seorang yang rendah budi, seorang kurang ajar yang curang! Kau hendak mempergunakan rasa kasihan demi peri kemanusiaan di dalam hatiku untuk alat mengejekku! Jadi tadi kau berpura pura pingsan, padahal kau sadar dan tahu bahwa aku mengobati luka di pundakmu? Keparat betul! Kalau aku tahu demikian halnya, aku pasti akan membikin mampus padamu. Hayo lepaskan Suci, mau apa kau menawan dan membawanya lari? Tak tahu malu!"
Suara Sin Hong terdengar bersungguh-sungguh.
"Go siocia tetap tak percaya kepadaku dan tetap menuduhku sebagai seorang jahat. ternyata kau juga sebodoh orang-orang itu. Tak tahukah kau bahwa Sucimu ini dalam keadaan sakit berat? Bahwa Sucimu ini mengeluarkan kata-kata menuduhku dalam keadaan tidak sadar? Ingatannya telah berubah karena racun di dalam tubuhnya."
"Bohong besar! Tadi dengan jelas Suci menyatakan bahwa kau telah... telah merusak hidupnya, kau bangsat besar harus dibunuh... kau... kau..."
Hui Lian teringat akan semua ini dan aneh sekali, di samping nafsu amarah yang naik memenuhi dadanya, juga tanpa ia rasa air matanya mengucur keluar!
Ia menggigit bibir dan di lain saat pedangnya telah menyerang Sin Hong.
"Suci sadar dan berontaklah, mari kita bunuh dia..."
Hui Lian berseru akan tetapi Soan Li nampak lemas tidak sadarkan diri. Sin Hong mengelak cepat dan menarik napas panjang.
"Kau keras kepala dan bodoh!"
Kemudian disambungnya dengan pandangan mata penuh perasaan.
"Akan tetapi aku suka kepadamu, aku makin suka kepadamu!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan di lain saat ia telah lari jauh sekali.
Hui Lian terkejut dan ternganga.
Tahulah dia bahwa tadi Sin Hlong tidak mempergunakan ilmu larinya, maka ia masih dapat inengimbanginya.
Sekarang, andaikata ia mengejar, takkan ada gunanya karena kecepatan lari pemuda itu benar-benar luar biasa sekali, tak kuasa ia menyusul.
Dengan perasaan lelah lahir batin, Hui Lian menjatuhkan dirinya terduduk di atas rumput lalu...
menangis!
Sakit sekali hatinya kalau membayangkan Sin Hong, pemuda yang menggemaskan namun mendebarkan hatinya itu.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk membenci Sin Hong, namun perasaan lain yang amat kuat dan aneh membuat kebenciannva selalu buyar sebelum membulat di hatinya.
Ia tahu bahwa Sin Hong adalah seorang pemuda biadab.
Agaknya pemuda itu gila perempuan.
Buktinya malam hari itu mengejar dan menawan seorang gadis, sekarang begitu melihat Soan Li, lalu menculiknya pula.
Akan tetapi perasaan aneh dan membantah jalan pikirannya sendiri, lalu kalau dia benar gila perempuan dan mengganggu setiap orang perempuan yang dijumpainya, mengapa terhadapku dia tidak mengganggu?
Hui Lian menjadi bingung seakan-akan menghadapi teka-teki.
Kemudian teringat ia kepada Kong Ji suhengnya yang muncul secara tiba-tiba dan tidak terduga.
Siapakah dua orang kakek teman suhengnya itu yang demikian lihai?
Membayangkan semua ini, kembali ia terkesan kepada Sin Hong.
Alangkah hebatnya ilmu kepandaian Sin Hong ini, biarpun sedang memondong tubuh Soan Li dan bertangan kosong, namun serangan tiga orang kosen itu tidak berhasil merobohkannya!
(Lanjut ke
Jilid 22) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22 Tiba-tiba Hui Lian tersentak kaget.
Pertemuannya dengan Liok Kong Ji membuka ingatannya dan terbukalah rahasia yang selama ini merupakan teka-teki baginya.
Gadis yang pada tengah malam itu dirobohkan oleh Sin Hong, biarpun ia tidak melihat wajahnya dengan jelas namun ia merasa sudah pernah melihatnya.
Sudah pernah melihat wajah yang memiliki kecantikan tersendiri itu, potongan rambut yang dikuncir lurus ke belakang, kemudian bentuk tubuh yang langsing kecil, seorang gadis yang cantik akan tetapi kecantikannya membawa sesuatu yang ganjil, agaknya bukan kecantikan gadis dusun biasa.
Tadinya payah memikirkan di mana ia pernah melihat gadis itu.
Sekarang, setelah bertemu dengan Kong Ji, tiba-tiba saja ia teringat.
Tak salah lagi, gadis yang dikejar oleh Sin Hong di tengah malam itu, yang hampir saja "diculik"
Oleh Sin Hong, tentu Nalumei adanya!
Puteri suku bangsa Neiman yang dulu ditaklukkan oleh Temu Cin, kemudian gadis itu, Lima Nalumei yang cantik dan bermata biru dihadiahkan kepada Kong Ji!
Berpikir sampai di sini, wajah Hui Lian memucat.
Apa artinya semua ini?
Wan Sin Hong memang dikabarkan di dunia kang-ouw sebagai penjahat muda yang suka mengganggu wanita, akan tetapi sekarang, justru ia sendiri melihat bukti buktinya, mengapa bukti-bukti itu kebetulan sekali ada hubungannya dengan Kong Ji?
Mengapa justru Nalumei dan Soan Li yang ditawan oleh Sin Hong.
Dan apa kata Sin Hong pada tengah malam itu?
Pemuda itu menangkap Nalumei karena dikatakan bahwa Nalumei adalah kaki tangan musuh rahasianya!
Dan sekarang, Sin Hong menyatakan bahwa Soan Li terkena racun yang merampas ingatannya!
Siapa yang meracun Soan Li?
Dan tiba-tiba muncul Kong Ji.
Apa artinya semua ini?
Apa hubungannya Kong Ji dengan kejahatan Sin Hong?
Hui Lian tak sanggup lagi memikirkan semua ini.
Tidak kuasa ia membuka semua rahasia yang berbelit itu.
"Benar kata Tang Hwesio. Ayah dan Ibu harus turun tangan. Andaikata benar Sin Hong penjahat keji, kelihaiannya hanya dapat ditandingi oleh Ayah! Kalau tidak dan di balik semua ini ada rahasia lain, kiranya hanya Ayah dan Ibu yang dapat memecahkannya,"
Demikian Hui Lian berpikir.
Kermudian ia bangkit dari rumput, membetulkan pakaiannya yang kusut, membereskan pula rambutnya, ia menghai bekas-bekas air mata In ia berjalan menuju pulang ke Kim-bun-to.
Sin Hong memondong tubuh Soan Li dan lari dengan cepat.
Ia mengambil ke putusan untuk membongkar rahasia yang dihadapinya dari Soan Li.
Soan Li juga dijadikan korban untuk memfitnah dirinya, pikirnya.
Dan gadis ini ternyata telah diberi racun yang luar biasa, yang telah merampas ingatan gadis ini.
Kalau aku bisa menyembuhkannya dan bisa menuturkan pengalamannya, tentu akan terbuka kedok musuh rahasia itu.
Biarpun belum mendapatkan bukti dan belum berani memastikan, namun sudah timbul bayangan Kong Ji di dalam hati Sin Hong.
Pemuda itu mencurigakan sekali, gerak-geriknya aneh dan mengapa ia selalu muncul di saat-saat yang genting dalam urusan pengrusakan namanya itu?
Akan tetapi, dugaan ini ia bantah sendiri.
Tak mungkin Kong Ji sampai hati melakukan semua itu, dan pula apakah latar belakangnya maka Kong Ji hendak merusak namanya?
Ia akan lebih percaya kalau sekiranya yang merusak namanya itu orang-orang macam See-thiat Tok-ong atau Giok Seng Cu yang sudah ia ketahui kejahatannya dan kekejamannya.
Di tengah jalan, Sin Hong berdaya untuk menyadarkan Soan Li dan keadaannya yang seperti bukan maunya sendiri, seperti orang kemasukan setan.
Akan tetapi, tiap kali ia membebaskan totokan gadis itu, Soan Li langsung menyerangnya sambil memaki-makinya sebagai penjahat keji yang telah menghinanya, menodainya dan merusak hidupnya.
Terpaksa Sin Hong membuatnya tidak berdaya dengan totokan-totokan, kemudian mempergunakan jarum perak untuk menusuk jalan-jalan darah yang penting.
Ini perlu dilakukan untuk mengembalikan kekuatan dan daya darah murni sehingga pengaruh racun itu dapat dilawan.
Kemudian ia mengurut-urut urat-urat besar kecil di bagian kepala Soan Li.
Semua ini dilakukan dengan amat hati-hati, karena kepala adalah bagian tubuh yang paling sukar dirawat dan diobati.
Selain itu Sin Hong juga belum berpengalaman, dan terpaksa ia mengerahkan pikiran untuk mengingat kembali isi kitab peninggalan Kwa-siucai di bagian menyembuhkan orang dari pengaruh racun-racun berbahaya.
Beberapa pekan kemudian.
Sin Hong baru dapat menghilangkan sifat liar dan marah dari gadis itu.
Kini Soan Li tidak lagi mengamuk dan menyerangnya, bahkan gadis ini seakan-akan lupa lagi siapa dia.
Akan tetapi tetap saja gadis ini sering kali memaki-maki dan menangis, mengutuk perbuatan Wan Sin Hong atas dirinya dan dengan suara mesra menyebut-nyebut nama Lam-ko atau Gong Lam!
Sin Hong merasa terharu bukan main.
Jelas sekarang baginya bahwa Soan Li jatuh cinta kepada Gong Lam dan membenci Wan Sin Hong.
Hal ini benar-benar aneh, benar benar lucu dan membingungkan.
Gong Lam adalah Wan Sin Hong dan Wan Sin Hong juga Gong Lam.
Bagaimana Soan Li bisa mencinta Gong Lam dan membenci Sin Hong?
Kalau memikirkan semua ini, makin menghebat rasa marah dan penasaran di hati Sin Hong terhadap musuh rahasia yang agaknya demikian benci kepadanya sehingga berusaha sekuat tenaga untuk merusak namanya.
Sin Hong duduk melamun di pinggir jalan menunggu Soan Li sadar dari tidurnya, hatinya penuh harapan.
Sudah semenjak pagi tadi gadis ini tertidur.
Kini perjalanan dapat dilakukan lebih leluasa, karena Soan Li biarpun keadaannya seperti orang gila, namun kepandaiannya tidak hilang.
Kepandaian silat yang sudah mendarah daging tidak terhapus lenyap oleh berubahnya ingatannya, maka gadis ini masih dapat berlari cepat seperti biasa.
Wataknya seperti anak kecil dan ia tidak ingat siapa-siapa lagi, yang diingatnya hanya Wan Sin Hong yang dibencinya dan Gong Lam yang dicintanya!
Menjelang tengah hari Soan Li menggeliat lalu membuka matanya, berkedip-kedip karena matanya tertusuk cahaya matahari.
Sin Hong harus mengakui bahwa biarpun keadaannya seperti itu, Soan Li tetap merupakan seorang gadis yang amat cantik dan menarik.
Akhirnya gadis itu membuka mata lagi, kini pandang matanya bertemu dengan Sin Hong.
Ia bangkit duduk, memandang ke kanan lalu bertanya.
"Mana Lam-ko? Ke mana dia pergi? Mengapa dia meninggalkan aku? Ah, Lam-ko, bantulah aku mencari dan membalas dendamku kepada manusia keparat Wan Sin Hong!"
Sin Hong menggeleng-geleng kepalanya.
Ia tidak mau memperkenalkan sebagai Lam-ko atau Gong Lam, karena dengan jalan memperkenalkan diri sebagai Gong Lam, sama artinya dengan menyangkal bahwa dia sebenarnya Wan Sin Hong!
Maka ia lalu menghampiri Soan Li dan berkata membujuk.
"Gak-siocia, Engko Lam yang kaucari-cari itu sedang pergi mengejar Wan Sin Hong. Hari telah siang, marilah kita menyusul mereka, dan kita membuat Engko Lam menangkap Wan Sin Hong."
Bersinar mata Soan Li dan cepat sekali ia telah melompat bangun.
"Baik sekali, mari".!"
Katanya dan di lain saat ia telah berlari cepat.
"Gak-siocia, bukan ke sana jurusannya, ke sini".!"
Seru Sin Hong sambi memegang tangan gadis itu.
Soan Li tidak membantah dan memutar langkahnya, bersama Sin Hong lari ke kiri.
Sin Hong membawanya menuju ke Kim-ke-tho, karena ia ingin gadis ini beristirahat di pulau itu, di mana gadis itu akan terjaga dan aman.
Selain itu, ia pun ingin bertemu dengan gihunya, karena menghadapi urusan yang sulit itu ia perlu minta nasehat dan petunjuk Lie Bu Tek ayah angkatnya.
Selain ini, ada satu hal yang membuat Sin Hong nampak bingung dan juga membuat hatinya perih, kebenciannya memuncak.
Ketika ia memeriksa Soan Li lebih teliti untuk melihat sampai di mana racun itu menguasai tubuh gadis ini, ia mendapat kenyataan yang amat mengejutkan, yaitu bahwa Gak Soan Li ternyata telah mengandung!
Ia benar-benar merasa bingung sekali dan tidak berani ia bertanya siapakah ayah anak yang dikandung oleh Soan Li, karena ia takut bayangan sendiri, takut mendengar jawaban yang sudah dapat diduga.
Soan Li pasti akan menjawab bahwa ayah anak itu kalau bukan Wan Sin Hong tentu Gong Lam.
Apa pun jawabannya, Sin Hong atau Gong Lam berarti...
dia sendiri!
Benar-benar Sin Hong menghadapi hal yang dapat membuat kepalanya berdenyut pusing.
Pada suatu hari Sin Hong dan Soan li tiba di dekat pantai dan tiba-tiba Sin Hong melihat kakek pengemis tua datang dari depan.
"Cam-kauw Locianpwe...!"
Sin Hong berseru memanggil ketika ia mengenal orang tua ini.
Memang benar pengemis tua itu adalah Cam kauw Sin Kai, kakek yang sudah diangkat menjadi ketua dari Hek-kin-kaipang dan tinggal di Pulau Kim-ke tho.
Biarpun kalau bertempur, mata kakek pengemis ini masih awas sekali melebihi mata orang muda, akan tetapi kalau mehhat jauh ia sudah kurang awas.
Baru ia mengenaI Sin Hong setelah mendengar suaranya, maka cepat ia berlari menghampiri.
Wajahnya muram dan nampaknya ada sesuatu yang amat penting sedang dipikirkan.
"Wan-sicu, selama ini kau dari mana saja dan siapa pula Nona ini?"
Tanyanya dengan suara keren dan juga pandang mata penuh kecurigaan. Melihat sekelebat saja Sin Hong dapat menduga bahwa berita tentang "kejahatannya"
Tentu sudah tersiar luas dan kiranya sudah sampai di Pulau Kim-ke tho. Maka ia tersenyum duka ketika menjawab.
"Sudahlah, Cam-kauw Locianpwe, aku benar-benar mengharap kau orang tua tidak ikut-ikutan menyangka aku melakukan hal yang bukan-bukan. Aku sendiri sedang bingung memikirkannya siapa iblisnya yang sudah merusak namaku dan aku banyak mengharapkan bantuan Locianpwe untuk memecahkan rahasia ini."
Lenyap bayangan muram di wajah Cam-kauw Sin-kai.
"Lohu memang percaya penuh kepadamu, Sicu. Aku telah mencalonkan Sicu sebagai bengcu, tak mungkin aku memilih keliru. Coba kau katakan apa yang telah terjadi, dan siapa pula Nona ini?"
"Dia ini adalah Gak Soan Li Siocia, murid dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le."
Sin Hong memperkenalkan Soan Li yang berdiri termenung tanpa memandang kakek itu dan seakan-akan tidak mendengar semua percakapan tadi.
Kemudian tanpa menyembunyikan sesuatu, dengan singkat Sin Hong menuturkan pengalamannya.
"Di mana-mana aku mendengar tentang kejahatan kejahatan keji yang dilakukan oleh seorang penjahat bernania Wan Sin Hong. Aku sudah berdaya sekuatnya untuk mencari orang yang merusak namaku, namun sia-sia. Penjahat itu benar-benar lihai dan cepat gerakannya atau mungkin juga ia mempunyai banyak kaki tangan sehingga selalu aku menangkap angin. Bahkan ia telah menggunakan seorang gadis kaki tangannya untuk sengaja mengaku telah kuganggu, mengadu di depan para locaianpwe dan Ciangbunjin dari partai-partai besar. Dan Nona Gak ini, dia telah pula mengaku bahwa dia dirusak oleh Wan Sin Hong, ketika aku memeriksanya ternyata dia telah dirusak ingatannya oleh racun jahat. Oleh karena itu aku membawanya ke sini untuk mencoba mengobatinya."
Cam-kauw Sin-kai mendengarkan semua itu dengan muka berkerut.
"Jahanam betul iblis itu!"
Makinya.
"Dan keadaan untukmu buruk sekali, Sicu. Kalau sudah ada saksi yang mengaku menjadi korbanmu, mengaku di depan para ciangbunjin, hmm, hal ini bukan urusan kecil!"
Kemudian ia berkata perlahan.
"Kulihat Nona Gak ini seperti berada di bawah pengaruh sihir, biar aku akan mencoba menghilangkan pengaruh itu kalau dapat."
Setelah berkata demikian, ia melangkah ke depan mcnghampiri Soan Li, lalu memanggil dengan suara berpengaruh dan pandang mata tajam menatap nona itu.
"Nona Gak Soan Li...!!"
Sin Hong merasa betapa besar wibawa yang terkandung dalam suara panggilan ini, maka ia berdiri menonton dengan kagum.
Tak disangkanya bahwa pengemis ini ternyata seorang ahli hoatsut (sihir) yang memiliki Iweekang dan khikang tinggi.
Tadinya Soan Li seperti tidak memperdulikan sesuatu, namun mendengar suara panggilan ini, tiba-tiba ia memutar tubuh menghadapi Cam-kauw Sin-kai.
Padahal biasanya ia telah lupa akan namanya sendiri!
Cam-kauw Sin-kai kini memandang dengan mata seperti mengeluarkan api, bibirnya berkemak-kemik, jari-jari tangannya membuat gerakan-gerakan aneh ke arah Soan Li.
Ajaib, nona itu berdiri bagaikan patung dan kedua matanya perlahan-lahan dipejamkan, tubuhnya bergoyang-goyang seperti pohon cemara tertiup angin, seperti hendak roboh ke kanan ke kiri.
Setelah mengeluarkan kata-kata pelahan, kata-kata rahasia dalam ilmu hoatsut yang tak dimengerti oleh Sin Hong Cam-kauw Sin-kai lalu mengeluarkan kata-kata pertanyaan.
"Kau bernama Gak Soan Li. ingat kau bernama Gak Soan Li, Gak Soan Li...."
Suaranya demikian berpengaruh menyeramkan sehingga Sin Hong sampai merasa kulit punggungnya dingin menebal.
"Aku Gak Soan Li...."
Gadis ini menjawab dengan suara lemah menyerah.
"Kau murid Hwa I Enghiong Go Ciang Le...."
Kembali Cam-kauw Sin-kai menuntun untuk mengembalikan ingatan Soan Li.
"Aku murid Hwa I Enghiong Ciang Le Suhu...."
Gadis itu menjawab. Cam-kauw Sin-kai berkemak-kemik matanya makin tajam menatap wajah Soan Li, kemudian tangan kanannya diangkat dan telunjuknya menuding, lalu katanya berpengaruh sekali.
"Nona Gak Soan Li, sekarang ceritakan apa yang telah kaualami, siapa yang telah merusak dan mengganggumu!"
Sin Hong merasa tegang, seluruh perhatiannya dicurahkan.
Ingin sekali ia mendengar apa yang hendak diucapkan oleh gadis itu.
Gadis itu kembali tubuhnya bergoyang-goyang, wajahnya perlalahan menjadi pucat dan tiba-tiba mengeluarkan suara mengeluh dan terisak sedih sekali!
Sin Hong merasa kasihan dan hendak melangkah maju, akan tetapi tangan kiri Cam kauw Sin-kai memberi isyarat menahannya.
Kemudian terdengar Soan Li bicara, suaranya perlahan setengah berbisik, matanya masih meram dan tubuhnya menggigil.
"Gelap sekali... kepalaku pening... tubuhku lemas kedua pahaku masih sakit. Dia... jahanam keparat Wan Sin Hong... dia mengaku bernama Wan Sin Hong, aku harus membunuhnya, harus membalas dendam, mencuci noda dengan darahnya!"
Soan Li nampak bersemangat, kedua tangannya dikepalkan, tubuhnya menegang kemudian ia nampak lemas dan lemah kembali, wajahnya berubah, menjadi manis dan tersenyum-senyum berkata lambat-lambat.
"Lam-ko, kau oranglah yang baik terhadapku... biar pun rupamu agak berubah, karena kau bernama Gong Lam, aku... aku cinta kepadamu... Lam-ko, tahukah kau... tak lama lagi kita mempunyai anak...!"
"Cukup!"
Sin Hong membentak sambil melompat maju.
"Sicu, jangan...!"
Cam-kauw Sin-kai melarang dan tangannya bergerak mendorong.
Akan tetapi Sin Hong menyampok tangan ini dan akibatnya Cam-kauw Si kai mencelat sampai dua tombak terhuyung-huyung ke belakang!
Soan Li menjerit, pengaruh yang mencengkeram dirinya terlepas, tubuhnya terguling dan ia pingsan dalam pelukan Sin Hong!
"Wan-situ, mengapa kau menghalangi usahaku menyembuhkannya?"
Tanya Cam kauw sambil memandang heran kepada pemuda itu.
"Locianpwe, dia sudah menderita hebat, apakah masih perlu dia harus membuka rahasianya yang memalukan?"
Cam-kauw Sin-kai mengangguk-angguk, lalu mengelus elus jenggotnya dan berkata lambat.
"Sudah jelas sekarang, Gak-Siocia telah dinodai oleh seorang penjahat yang ditempat gelap mengaku bernama Wan Sin Hong. Tentu seorang penjahat yang sengaja menggunakan namanya untuk merusak namamu, Sicu. Di samping itu, agaknya Gak-siocia mempuui kekasih bernama Gong Lam dan...dan agaknya hubungan mereka itu mendalam sehingga Gak-siocia sampai"
Mengandung...."
Ia mengerutkan kening.
"Hanya aku masih heran dan tidak mengerti siapakah Gong Lam ini...."
Pada saat itu, Soan Li membuka matanya. ia berada di dalam pelukan Sin Hong, tiba-tiba ia berteriak dengan suara girang.
"Lam ko...!"
Soan Li kegirangan bukan main sampai ia memeluk leher Sin Hong dan menciumi pemuda itu sambil bercucuran air mata! Sin Hong terharu.
"Gak-siocia, agaknya kau telah ingat kembali...."
Tiba-tiba Sin Hong melepaskan pelukannya membalikkan tubuh memandang kepada Cam kauw Sin-kai dengan muka kemerahan.
Seperti telah diduganya, Cam kauw Sin kai berdiri dengan mata terbelalak memandang pemuda itu, sinar matanya memperlihatkan kemarahan.
"Jadi... jadi kaukah orangnya, Sicu...? Sin Hong cepat mengangkat kedua lengannya dan menggoyang-goyangkan kedua tangan "Tidak, tidak, bukan aku, Locianpwe! Aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk itu...!"
Sin Hong menjadi bingung dan gagap.
"Aku tidak pernah mengganggu Gak-siocia...."
Soan Li melompat dekat dan memegang lengan Sin Hong.
"Lam-ko, bagai mana kau berkata demikian? Bukankah aku sudah menjadi isterimu...? Lam ko siapa Locianpwe ini? Dan mengapa kau bicara seperti itu?"
Sin Hong tak dapat menjawab karena Cam-kauw Sin-kai sudah menjadi marah sekali mendengar kata-kata Soan Li dan sudah menyerang Sin Hong dengan tongkatnya.
Dan lagi, bagaimana ia menjawab?
ia berada dalam kedudukan yang amat sulit.
Terpaksa Sin Hong melayani Cam kauw Sin-kai karena serangan-serangan kakek itu bukanlah serangan yang boleh dipandang ringan.
Ilmu tongkat kakek ini luar biasa sekali dan Sin Hong harus mengeluarkan kepandaiannya kalau tidak ingin mendapat kemplangan pada kepalanya atau bagian lain yang berbahaya.
Cam-kauw Sin-kai merasa kecewa jengkel, dan marah sekali.
Tadinya ia amat kagum kepada pemuda itu, dan sudah diambil keputusan untuk memilih pemuda itu sebagai calon bengcu.
Ia kagum karena dalam usia sedemikian muda, pemuda itu telah memiliki kepandaian luar biasa, dan sebagai ahli waris dari Pak Kek Siansu, memang sudah tepat kiranya kalau Wan Sin Hong menjadi Bengcu, mengepalai seluruh orang gagah di dunia kang-ouw.
Bahkan ketika ia mendengar desas-desus tentang penjahat muda yang baru muncul dan bernama Wan Sin Hong, ia merasa kaget akan tetap masih tidak percaya.
Oleh karena itu ia sengaja meninggalkan Pulau Kim-ke-tho untuk menyelidikinya sendiri.
Ternyata kepercayaannya tidak sia-sia pemuda itu sama sekali bukan penjahat dan ia percaya bahwa tentu ada musuh rahasia yang sengaja merusak nama baik Wan Sin Hong.
Akan tetapi siapa kira, tak tahunya pemuda itu ternyata merupakan seorang hidung belang, seorang rendah watak dan lemah iman sehingga sampai hati merusak dan mempermainkan seorang gadis seperti Ga Soan Li yang berada dalam keadaan setengah gila!
Apalagi kalau ia ingat bahwa Gak Soan Li adalah murid Hwa I Enghiong!
Saking kecewa dan marahnya, Cam-kauw Sin-kai mengerahkan seluruh kepandaian untuk merobohkan pemuda ini, yang melawannya dengan tangan kosong dan hanya main kelit saja.
"Locianpwe, kau salah sangka, hentikanlah serangan-seranganmu,"
Kata Sin Hong berkali-kali.
Akan tetapi sebagai jawaban, tongkat yang lihai dan Iawannya itu meluncur cepat menotok ke arah lehernya.
Sebuah serangan yang amat berbahya.
Namun, dengan hanya mendoyongkan tubuh ke kanan dan menyampok dengan tangan kirinya, Sin Hong dapat menghindarkan bahaya dan tongkat itu menyeleweng.
Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai menyerang terus, mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya sehingga tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar yang membungkus tubuhnya dan yang menyambar-nyambar mengurung Sin Hong.
Setelah mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu, Sin Hong menjadi "keranjingan"
Ilmu silat.
Kini menghadapi desakan Cam-kauw Sin-kai, ia menjadi gembira melihat ilmu silat yang aneh dan lihai ini, maka diam-diam ia memperhatikan bahkan mempelajari dasar-dasar gerakannya sambil mengelak ke sana ke mari mengandalkan kegesitan tubuhnya yang luar biasa.
Soan Li tadinya menjadi bengong.
Kini ingatannya mulai bekerja kembali dan seingatnya, Gong Lam adalah seorang pemuda yang bodoh, tolol.
Bagaimana sekarang dapat menghadapi serangan yang demikian dahsyat dari kakek ini?
Bukan main girang dan juga terkejut campur kagum rasa hatinya melihat bahwa kekasihnya itu ternyata memiliki kepandaian silat yang amat tinggi.
Melihat Sin Hong makin dikurung oleh sinar tongkat, ia lalu mencabut pedangnya yang memang tidak diambil oleh Hong Ji dan masih tersembunyi di balik bajunya, lalu melompat ke dalam kalangan pertempuran sambil membentak.
"Jembel tua bangka, jangan ganggu suamiku!"
Pedangnya berkelebat dan menyerang Cam-kauw Sin-kai yang menjadi terkejut sekali karena serangan gadis itu memang cepat dan dahsyat.
Hal tidak aneh karena Soan Li mempergunakan ilmu pedang warisan gurunya yaitu berdasarkan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang.
Melihat Soan Li turun tangan terhadap Cam-kauw Sin-kai, Sin Hong menjadi makin bingung dan ia segera mundur.
Ia merasa jengkel sekali, jengkel terhadap Cam-kauw Sin-kai yang menuduhnya yang bukan-bukan, juga marah terhadap Soan Li yang mendadak menganggapnya sebagai suaminya!
Lebih baik kutinggalkan mereka, pikirnya dengan gemas.
Akan tetapi tiba-tiba ia melihat bayangan tiga orang dan bukan main girang hatinya ketika melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Lie Bu Tek.
Dua orang lain adalah sepasang pendekar setengah tua yang amat gagah sikapnya.
Yang wanita segera membentak.
"Soan Li jangaa kurang ajar! Hentikan seranganmu!"
Soan Li tersentak kaget mendengar suara ini. Ia menahan pedangnya, menengok dan melihat sepasang pendekar itu, ia cepat menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
"Suhu".. suhu..."
Sementara itu, Lie Bu Tek menegur dengan suara yang tidak enak sekali didengar.
"Sin Hong, dari mana saja kau?"
Ketika Sin Hong memandang ternyata Lie Bu Tek dan sepasang pendekar itu memandangnya dengan sinar mata marah dan ragu.
Sin Hong maklum apa yang mereka pikirkan.
Tentu telah mendengar berita tentang "kejahatannya,"
Pikirnya.
Dan ia dapat menduga siapa adanya sepasang pendekar itu setelah mendengar sebutan Soan Li tadi.
Inilah kiranya Hwa I Enghiong Go Ciang Le dan isterinya, pendekar besar yang tiada taranya.
Sin Hong memperhatikan dan memandang tajam kepada Ciang Le.
Dua pasang mata yang tajam berpengaruh bertemu, dua pasang mata dari dua orang murid Pak Kek Siansu.
Sementara itu, Soan Li yang berlutut dan menangis, tiba-tiba menahan tangisnya dan memandang dengan pucat, sebentar ke arah Lie Bu Tek lalu kembali kepada Sin Hong.
Panggilan yang diucapkan oleh Lie Bu Tek tadi membuatnya bingung dan kaget.
Mengapa Gong Lam disebut "Sin Hong"
Oleh orang tua buntung itu? "Gihu, aku telah mengalami hal-hal yang amat pahit dan tidak menyenangkan,"
Jawab Sin Hong kepada ayah angkatnya sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi. Cam-kauw Sin-kai melangkah maju dan berkata dengan suara keras.
"Lie Bu Tek Taihiap, di dunia ini memang banyak terjadi hal-hal yang mengecewakan dan bertentangan dengan harapan kita. Puteramu ini ternyata telah tersesat jauh sekali dan mengecewakan hati, sayang sekali. Lie Bu Tek menjadi pucat, dan memandang kepada Sin Hong dengan mata terbelalak.
"Jadi benar-benarkah semua berita yang kudengar di mana-mana tentang dirimu"..?"
"Semua itu bohong, Gihu...!"
Kata Sin Hong dengan tenang dan tetap.
"Memang mungkin sekali dia tidak melakukan semua kejahatan itu, mungkin ada orang lain yang segaja merusak namanya. Akan tetapi dia... ah, Sam-wi (Tuan Bertiga) tanya saja kepada Gak Siocia apa yang telah ia lakukan terhadap diri Gak-Siocia."
Kim Ciang Le yang membuka mulut, menghampiri Soan Li sambil bertanya, suaranya tenang berpengaruh.
"Soan Li, apakah yang terjadi? Apakah yang telah dilakukan oleh pemuda ini terhadapmu?"
Kembali Soan Li terisak menangis. Ia masih merasa pening kepalanya, lagi dibingungkan oleh panggilan Lie Bu Tek terhadap pemuda yang dianggapnya bernama Gong Lam dan menjadi "suaminya"
Itu. Ia makin bingung dan kwatir menghadapi pertanyaan gurunya, ia menangis.
"Suhu dan Subo... ampunkan dosa teecu..."
Kemudian ia menyusut air matanya menekan perasaannya dan melanjutkan.
"dalam perjalanan teecu menemui bencana, teecu bertemu dengan Giok Seng Cu, bertempur dan kedua tulang paha teecu dipukul remuk oleh Giok Se Cu."
Sampai di sini terdengar Liang Bi Lan berseru perlahan mengutuk Giok Se Cu, akan tetapi Ciang Le tenang-tenang saja, memandang kepada muridnya tanpa berkedip seakan-akan hendak menyelidiki sampai di mana kebenaran cerita muridnya.
"Teruskan!"
Katanya.
"Teecu tentu binasa kalau tidak ditolong oleh Lam-ko... oh, oleh pemuda itu yang bernama Gong Lam yang ternyata memiliki kepandalan mengobati tulang patah."
Ia menunjuk kepada Sin Hong yang berdiri sambil menundukkan muka.
Semua orang memandang kepada Sin Hong dengan kening dikerutkan, akan tetapi tidak ada yang membuka mulut karena ingin mendengar lanjutan penuturan Soan Li.
"Kemudian Engko Gong Lam ini meninggalkan teecu dan teecu diculik oleh Giok Seng Cu. Teecu melawan akan tetapi tidak berdaya karena kedua paha teecu masih luka. Teecu pingsan dan tahu-tahu teecu telah terjatuh ke dalam tangan penjahat Wan Sin Hong, teecu tak berdaya...."
Ciang Le dan Bi Lan saling pandang. Lie Bu Tek memandang kepada Sin Hong dengan wajah sebentar merah sebentar pucat.
"Tenanglah dan lanjutkan penuturanmu,"
Kata Ciang Le kemudian sambil mengerling ke arah Sin Hong.
Pemuda itu masih menundukkan kepalanya, agaknya amat memperhatikan cerita Soan Li.
Ia diam-diam girang sekali dapat mendengar penuturan yang jelas setelah Soan Li pulih ingatannya, karena tadi Soan Li tak pernah dapat menceritakan pengalamannya ini.
"Kembali muncul Lam-ko ini. Soan Li menoleh ke arah Sin Hong, pandang matanya agak ragu-ragu, lalu melanjutkan.
"entah mengapa, teecu rasa pening sekali mungkin karena teecu merasa sakit hati dan benci kepada penjahat Wan Sin Hong. Baiknya Engko Gong Lam berlaku amat... mencinta, merawat luka di paha teecu sampai sembuh. Bukan itu saja, bahkan... bahkan dia masih tetap... mencinta teecu sungguhpun teecu telah dinodai oleh penjahat Wan Sin Hong. Kemudian... kemudian teecu dan Lam-ko bersumpah menjadi suami-isteri, kami saling mencinta dan... teecu telah telah mengandung. Suhu, Subo.... mohon ampun atas segala dosa teecu, dan mohon dibalaskan sakit hati teecu kepada Wan Sin Hong si keparat jahanam!"
Sunyi di situ setelah Soan LI berhenti bercerita, hanya terdengar isak tangis Soan Li. Semua mata memandang Sin Hong, penuh kebencian.
"Nah, itulah!"
Kata Cam-kauw Sin-kai "Mungkin sekali ada orang memakai nama Wan Sin Hong, akan tetapi kalau ada pula yang memalsu nama Gong Lam, ini tak masuk di akal"
"Sin Hong, apa jawabmu terhadap ini semua? Benarkah kau menolong Nona Gak dengan mengaku bernama Gong Lam?"
Tanya Lie Bu Tek, suaranya gemetar saking menahan amarah. Sin Hong mengangguk.
"Memang betul, Gihu. Memang akulah yang menolongnya dari ancaman Giok Seng Cu, aku pula yang mengobati kedua pahanya. Akan tetapi selanjutnya, semua cerita itu bohong dan tidak betul! Harap diingatbahwa Nona Gak ini telah diracun orang, ingatannya sampai hilang dan baru tadi saja ia ingat kembali setelah mendapat pengobatan sihir dari Cam-kauw Locianpwe. Akan tetapi ingatannya masih belum baik betul dan ia bicara secara mengaco. Semua tidak betul!"
"Lam-ko...!"
Soan Li berdiri dan menghampiri Sin Hong, memeluk pundaknya dan memandang mesra, tercampur gelisah.
"Lam-ko... kau suamiku mengapa bicara seperti itu? Bukankah kau telah bersumpah bahwa apa pun telah terjadi dengan diriku, kau tetap mencintaiku? Lam-ko, ingat... anak kita...."
Sin Hong menggigit bibirnya. Ia marah dan jengkel sekali, akan tetapi tidak tega untuk melemparkan Soan-Li. Hanya dilepaskan lengan tangan Soan Li yang memeluknya, dilepaskan dengan perlahan.
"Nona. kau tenang dan mengasolah baru kelak bercerita kalau kau tidak pusing. Pandanglah aku baik-baik, benar-benarkah aku orang yang kauanggap sebagai Gong Lam suamimu itu? Jangan kau ikut-ikutan merusak namaku, Nona. Aku kasihan kepadamu, akan tetapi kalau untuk menolongmu aku harus mengaku yang bukan-bukan, nanti dulu...."
Soan Li menjerit dan melangkah mundur dengan muka pucat.
"Lam-ko...!"
Suaranya setengah berbisik, keadaannya amat memilukan. Liang Bi Lan menggerakkan kedua kakiya dan bagaikan seekor burung ia telah berada di depan Sin Hong.
"Orang muda, muridku sudah bicara jelas. Apakah kau begitu rendah untuk menyangkal pula?"
Bentaknya tegas. Sin Hong menjura.
"Sudah lama siauw-te mendengar kebesaran nama Hwa I Enghiong Go Ciang Le dan Sian-Li Liang Bi Lan, sepasang pendekar besar yang adil dan bijaksana. Mana siauw-te berani berlaku kurang ajar? Tentang Gak Siocia ini, dia memang benar-benar masih belum waras ingatannya, kalau tidak percaya siauwte dapat membuktikannya."
Kemudian Sin Hong menghampiri Soan Li dan bertanya halus.
"Nona, kau mengaku bahwa kau telah diganggu oleh Wan Sin Hong, bukan?"
Soan Li mengangguk, memandang kepada Sin Hong dengan sepasang mata terbelalak dan muka pucat, seperti orang terheran-heran.
"Dan kau mengaku telah menjadi isteri dari Gong Lam?"
"Lam ko, bagaimana kau bisa bertanya begini?......... Kau sendiri orangnya yang...."
"Dengarlah, Gak Siocia. Siapa kaukira aku ini? Aku adalah Wan Sin Hong tulen, orang yang kautuduh telah menodaimu! Kau bilang telah dinodai oleh Wan Sin Hong dan telah diperisteri oleh Gong Lam. Akulah Wan Sin Hong dan aku pula Gong Lam, akan tetapi bukan orang yang menodaimu dan bukan aku pula orang yang memperisterimu!"
Saking jengkelnya, lenyap rasa kasihan di hati Sin Hong dan pemuda ini membentak bentak marah.
Soan Li seperti disambar petir mengeluarkan suara ah-ah, uh-uh, memandang ke sana ke mari seperti kelinci ketakutan minta perlindungan, bingung dan tidak mengerti, remuk rendam kalbunya dan akhirnya gadis yang bernasib malang ini menjadi lemas dan roboh tak sadarkan diri!
Liang Bi Lan menolong muridnya dan Go Ciang Le maju menghadapi Sin Hong.
Kening pendekar ini berkerut tanda hatinya risau dan tak senang.
"Wan Sin Hong, aku telah banyak mendengar dari Lie Bu Tek Toako tentang dirimu dan aku kecewa melihat kenyataannya. Kau telah beruntung menjadi ahli waris kitab peninggalan Suhu Pak Kek Siansu akan tetapi sebagai murid Suhu kau mengecewakan. Dahulu mendiang Suhu sering kali berkata bahwa seorang laki-laki sejati tidak diukur dari kepandalannya, melainkan dari sikapnya, berani bertanggung jawab dan memikul akibat daripada segala macam perbuatannya. Dengan menggunakan nama Gong Lam kau telah menjatuhkan hati Soan Li dan memperlakukannya sebagai isteri, bahkan dia telah mengandung calon anakmu. Akan tetapi kau tidak mau mengaku hmm, benar-benar rendah sekali."
"Suheng, siauwte masih terhitung adik seperguruanmu, maka siauwte menaruh rasa hormat terhadap Suheng seperti hormatku kepada mendiang Suhu yang belum pernah siauwte lihat. Biarpun masih muda dan bodoh, siauwte mengerti pula tentang pribadi dan kebenaran, tentang kegagahan dan keadilan. Siauwte benar benar tidak pernah melakukan semua perbuatan yang dituduhkan oleh Nona Gak, bagaimana siauwte harus mengaku?"
"Soan Li semenjak kecil ikut dengan kami, dia seperti anak kami sendiri. Aku mengenaI betul wataknya. Dia bukan orang wanita yang suka membohong, bukan pula seorang yang sudi memfitnah orang lain. Apa yang ia katakan tentu benar. Kalau bukan kau orangnya, mustahil dia mengaku kau sebagai orang yang telah memperisterinya."
Sin Hong menentang pandang mata Go Ciang Le tanpa keder sedikit pun bahkan ia pun memandang tajam karena merasa penasaran sekali.
"Jadi Suheng ikut pula menuduh? Betapapun juga, biarpun seluruh dunia menuduhku, aku tetap menyangkal karena memang aku tak pernah melakukan hal itu!"
Katanya hampir berteriak.
"Buktikan kalau kau memang bersih dari dosa!"
Ciang Le mulai marah.
"Kalau tidak dapat membuktikan, biar aku mewakill mendiang Suhu memberi hajaran kepadamu!"
"Bagaimana siauwte dapat membuktikan? Harap Suheng jangan terlalu mendesak."
"Kalau kau tidak dapat membuktikan berarti kau bersalah dan kalau dalam kebodohanmu kau tidak mau mengaku...."
"Habis, kalau menurut Suheng, siauw-te harus bagaimana?"
Sin Hong memotong penasaran.
"Kau harus bertanggung jawab, dan melihat keadaan Soan Li tidak ada jalan lain kecuali kau harus menikah dengan dia. Kalau kau menolaknya, berarti kau menghina keluarga kami dan terpaksa aku harus turun tangan menghajarmu."
"Suheng tidak adil! Suheng berat sebelah. Siauwte tidak merasa bersalah, terserah kepada Suheng, siauwte tetap menolak!"
"Aha, agaknya kau sudah merasa diri cukup kuat maka kau tidak menghargai suhengmu sendiri. Baiklah, barangkali saja aku takkan menang melawanmu, akan tetapi sebagai wakil Suhu, aku harus nenghajarmu. Terimalah pukulan ini!"
Ciang Le menggerakkan tubuhnya ke depan memukul dengan tamparan ke arah pipi Sin Hong.
Ia sengaja berlaku Iambat untuk memberi kesempatan kepada Sin Hong bersiap dan mengelak, akan tetapi ternyata pemuda itu tidak mengelak sama sekali.
"Plak""
Pipi kiri Sin Hong terkena tamparan kulit pipinya menjadi merah sekali, akan tetapi dia tidak bergeming.
Ciang Le kaget.
Tamparan tadi, biarpun tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya namun cukup berat dan tidak sembarang orang akan kuat menahannya, apalagi dengan pipi.
Akan tetapi bocah ini menerima tamparan begitu saja dan hanya kulit pipi yang menjadi merah, sama sekali tidak kelihatan sakit.
"Eh, eh, kau menantang? Sin Hong jangan kau sombong. Hayo kaulawan aku!"
"Suheng tadi menyatakan bahwa Suheng mewakili mendiang Suhu, bagaimana siauwte berani melawan? Terserah kepada Suheng, mau pukul boleh pukul mau bunuh boleh bunuh!"
Ucapan Sin Hong ini sebetulnya memang sejujurnya, akan tetapi diterima keliru oleh Ciang Le dan dianggap bahwa Sin Hong memamerkan kepandaiannya dan sengaja membikin malu kepadanya di depan orang banyak.
Ia harus mengeluarkan kepandaian karena kalau tidak ia benar-benar akan mendapat malu.
"Bocah kurang ajar, kalau begitu terimalah pukulanku!"
Ia mengayun tangan kiri, menepuk pundak kanan Sin Hong dengan gerakan cepat dan mengerahkan lweekangnya.
Tepukan ini bukan sembarangan tepukan, melainkan ilmu pukulan, yang berbahaya sekali.
Ciang Le mengira bahwa kini Sin Hong tentu akan mengelak atau menangkis karena kalau kini Sin Hong benar-benar sudah mempelajari Pak-kek Sin-ciang, tentu tahu bahwa serangan ini adalah ilmu pukulan Pak-kek Sin-ciang jurus ke sebelas.
Namun kembali ia kecele.
Alangkah kagetnya ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak menggerakkan pundaknya atau tangannya untuk mengelak atau menangkis dan agaknya sengaja menerima pukulannya begitu saja.
Saking kagetnya, Ciang Le sampai berseru dan cepat ia mengurangi tenaganya karena kalau diteruskan, seorang yang kepandaian tinggi pun dapat roboh binasa terkena pukulan yang disebut Cun lui-tong-te (Geledek Musim Semi Menggetarkan bumi) ini, yang dapat menggetarkan jantung dan melukai isi dada!
"Buk!"
Tubuh Sin Hong terhuyung dua langkah ke belakang namun ia masih tersenyum dan kini mukanya menjadi agak pucat.
"Terima kasih atas kebaikan hati Suheng yang telah mengurangi tenaga dalam pukulan tadi,"
Kata Sin Hong, kembali dengan sejujurnya.
Ia amat kagum menyaksikan gerak tipu Cun-lui-tong-te yang dilakukan dengan amat baiknya oleh suhengnya ini dan ia maklum bahwa agaknya sinkangnya takkan dapat menahan, akan tetapi tiba-tiba ia melihat gerakan tangan itu berkurang tenaganya maka tak terasa ia mengucapkan terima kasih.
Namun kembali Ciang Le menjadi salah terima dan dikira Sin Hong mengejeknya.
Memang ia merasa terkejut dan heran.
Biarpun ia sudah mengurangi tenaganya, namun pukulan tadi berbahaya sekali.
Dia sendiri kalau terkena pukulan itu, pasti akan roboh, biarpun belum tentu tewas.
Maka merasa diejek, kemarahannya memuncak.
ia melangkah maju dua tindak dan rnengayun tangan kanan.
"Bocah jahat, terimalah yang terakhir ini!"
Tangan kanannya menonjok lambat dan perlahan akan tetapi Sin Hong tahu bahwa pukulan ini adalah jurus ke tiga belas dari Pak-kek Sin-ciang, jurus yang disebut Kong-ciak-te-ko (Merak Menotol buah) dan yang berbahaya sekali karena pukulan ini langsung menyerang jantung!
Ia meramkan mata dan menahan napas, mengumpulkan seluruh tenaga sinkangnya.
"Bukk...!!"
Tubuh Sin Hong mencelat empat dua tombak, akan tetapi jatuh dalam keadaan masih berdiri.
Matanya masih meram dan bibirnya rapat akan tetapi dari kanan-kiri mulutnya keluar darah mengalir di antara celah bibirnya!
Sebaliknya Ciang Le mengelus-elus kepalan kanannya yang terasa sakit ternyata telah bengkak!
Lie Bu Tek melihat keadaan putra angkatnya, cepat melompat maju, pedang di tangan kiri.
"Cukup, dia putera angkatku, bukan orang lain, aku sendirilah yang berhak membunuhnya!"
Dengan air mata berlinang Lie Bu Tek menghampiri Sin Hong dengan pedang di tangan.
"Sin Hong,"
Katanya berbisik dengan bibir gemetar.
"Kalau kau tahu betapa dahulu aku mencinta Ibumu. Kalau kau tahu betapa aku sayang kepadamu. Betapa aku telah banyak menderita karena Ibumu dan karenamu. Batapa aku bertahan hidup hanya untuk melihatmu dewasa".. sekarang kau menghancurkan hatiku. Sin Hong, biar aku sendiri membunuhmu, kemudian kita bersama menyusul ibumu...."
Sin Hong membuka matanya.
ia melihat Lie Bu Tek berdiri bagaikan mayat hidup di depannya, tangan kanan buntung, tangan kiri memegang pedang itu tergantung saja di udara , agaknya orang tua tidak sampai hati menggerakkan pedang.
"Gihu...!"
Sin Hong menubruk dan berlutut, memeluk kedua kaki Bu Tek.
"Gihu, percayalah, anakmu tidak berdosa. Biarlah anak bersumpah bahwa anak takkan pulang sebelum dapat menyeret orang yang telah merusak nama anak, orang yang telah menganiaya Gak-siocia, di bawah kaki Gihu...! Selamat tinggal, Gihu!"
Setelah berkata demikian, Sin Hong bangkit berdiri mengusap darah yang mengalir dari bibirnya dan dengan langkah limbung ia pergi dari tempat itu.
Biarpun jalannya terhuyung-huyung, akan tetapi sebentar saja ia telah lenyap dari pandang mata.
"Sin Hong, aku tidak sampai hati mmbunuhmu, aku lemah dan akulah yang melepas pergi seorang penjahat besar. Biar aku saja menggantikan kau menebus dosa, Nak...!"
Pedang di tangan kiri Bu Tek berkelebat ke arah lehernya sendiri.
"Cring...!"
Pedang terlepas dari tangan dan Ciang Le memeluk pundak Lie Bu Tek.
"Toako, mengapa kau begini nekat?"
"Go-siauwte. aku malu... aku malu...."
"Jangan terburu nafsu, Toako. Terus terang saja, aku tadi pun terburu nafsu dan sekarang aku menyesal. Setelah melihat anakmu itu dengan terbuka menerima pukulan-pukulanku yang paling berbahaya sehingga menderita luka di dalam, aku mulai ragu-ragu. Tak mungkin dia begitu mudah menerima pukulan kalau dia memang berdosa. Dugaanku sekarang bercabang dua. Kalau Wan Sin Hong bukan seorang penjahat besar yang pandai bersandiwara, tentu dia seorang pendekar perkasa yang tiada taranya di dunia ini, yang memiliki pribadi luhur dan patut sekali menjadi pengganti mendiang suhu Pak Kek Siansu. Jangan kau putus harapan, Toako. Biarlah kita sama menanti saja bagaimana akhirnya peristiwa ini."
Lie Bu Tek menundukkan mukanya dan ketika ia mengangkatnya kembali, ia nampak jauh lebih tua.
Mereka beramai lalu pergi ke Pulau Kim-ke-tho di mana Soan Li akan dirawat Cam-kauw Sin-kai.
Sin Hong pergi dengan tubuh sakit semua.
Tiga pukulan Ciang Le yang diterimanya itu adalah pukulan-pukulan paling berat yang pernah ia rasai.
Tamparan pertama pada pipinya membuat mukanya terasa panas seperti dibakar.
Pundaknya sampai sekarang masih linu dan sakit.
Akan tetapi yang paling hebat adalah pukulan yang mengenai dadanya.
Pukulan ini sampai membuat ia muntah darah, karena jantungnya memang tergetar hebat sekali.
Baiknya tenaga sinkang di dalam tubuhnya sudah begitu kuat sehingga jantung itu tidak sampai rusak, hanya terguncang saja.
Memang hampir saja nyawanya direnggut maut dalam pukulan ketiga tadi.
Ciang Le benar-benar lihai sekali pukulannya.
Namun semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
Ia mendapat penghinaan besar.
Namanya sudah rusak dan tidak dipercaya orang.
Bahkan ayah angkatnya sendiri sudah yakin bahwa dia menjadi orang jahat!
"Ini semua gara-gara musuh rahasia manusia terkutuk yang rendah budi dan curang itu!"
Sin Hong menggigit bibir, kemudian ia menenteramkan hatinya karena dalam marahnya kembali darah mengalir keluar dari mulutnya.
Ia lalu mencari tempat sunyi, duduk bersila dan mengatur napas, mempergunakan sin-kang untuk menyembuhkan luka pukulan.
Di samping usaha ini, ia pun menelan tiga butir pel merah peninggalan Kwa Siucai, pel itu manjur sekali, apalagi ditambah oleh pengerahan hawa dalam tubuh, maka sebentar saja kesehatannya sudah pulih kembali.
Setelah merasa dadanya tidak sakit lagi, Sin Hong mulai memutar otaknya, mengenangkan kembali apa yang telah dilihat dan didengarnya tadi.
Tak salah lagi, yang menyaru sebagai Gong Lam dan yang memperisteri Soan Li tentu Kong Ji orangnya.
Dahulu ketika diserang oleh Kong Ji, ia melihat betapa Soan Li menyebut "Lam-ko"
Kepada Kong Ji dan sikap Soan Li amat mesra.
Tak salah lagi aku harus mencari Kong Ji dan menyeretnya di depan gihu, memaksa dia mengaku.
Demikian Sin Hong berpikir dan mengambil keputusan dengan hati gemas.
Sayang ia masih belum dapat menentukan siapa orangnya yang telah merusak namanya, yang telah mempergunakan nama Wan Sin Hong untuk melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.
Sayang sekali dulu ia tidak dapat mcnangkap wanita yang dijadikan alat oleh musuh gelapnya itu.
Sayang ia tidak dapat mengenal wajah wanita itu, karena ketika hendak ditangkapnya, keadaan tidak begitu terang dan wanita itu agaknya sengaja menyembunyikan mukanya.
Teringat akan wanita yang hendak ditangkapnya di tengah malam itu, terbayanglah wajah Hui Lian dan tiba-tiba Sin Hong nampak berduka sekali.
Tidak hanya gadis itu yang menganggap jahat bahkan ayah-bunda gadis itu pun menuduh ia melakukan perbuatan yang jahat.
Mereka semua membencinya!
Hatinya menjadi panas.
Baiklah, biar kelak mereka lihat bahwa mereka semua itu bodoh dan salah sangka.
Biarlah mereka semua lihat bahwa Wan Sin Hong bukanlah seorang jahat seperti yang mereka kira, dan pada suatu hari ia akan memperlihatkan siapa dia sebenarnya, orang macam apa!
Dengan pikiran yang memanaskan hatinya ini, Sin Hong melompat berdiri dan di lain saat ia telah lari seperti terbang cepatnya, memulai perjalanannya untuk menangkap Kong Ji dan menangkap orang yang merusak namanya.
Serombongan orang naik ke Bukit Luliang-san.
Mereka ini terdiri dari seorang wanita dan tiga orang laki-laki.
Melihat cara mereka berlari cepat mendaki gunung itu mudah diketahui bahwa mereka adalah ahli-ahli silat kelas tinggi yang memiliki kepandaian lihai.
Orang takkan merasa aneh kalau sudah melihat dan mengenaI mereka karena mereka itu bukan lain adalah Liok Kong Ji, Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu dan Nalumei.
Memang Kong Ji sudah memesan kepada Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu untuk mengadakan pertemuan di Gunung Luliang-san.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kong Ji menyuruh Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu pergi mencari See-thian Tok-ong untuk mengadakan hubungan dan kalau mungkin menarik See-thian Tok-ong untuk bekerja sama mencari kedudukan.
Adapun Kong Ji sendiri diam-diam mengikuti perjalanan Sin Hong, dan dia pula yang sudah mengatur agar Soan Li keluar pada saatnya untuk membunuh Sin Hong.
Dia pula yang muncul untuk membantu Hui Liang dalam menghadapi Sin Hong dan pada waktu itu, Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu belum meninggalkannya.
Selelah kedua kakek ini pergi dan Kong Ji bersama Nalumei melanjutkan siasat -mereka menyeret nama Sin Hong ke dalam lumpur kehinaan.
Semua peristiwa telah dituturkan di bagian depan dan kiranya tidak sukar diduga bahwa semua pengalaman Sin Hong itu sudah diatur oleh Kong Ji yang licin dan cerdik sekali.
Kemudian, setelah melihat Sin Hong membawa lari Soan Li, Kong Ji menjadi menyesal sekali.
Diam-diam dia merasa sayang, karena selain Soan Li merupakan senjata yang ampuh untuk menjadi bukti akan kejahatan Sin Hong, juga ia telah merasa suka kepada bekas sucinya itu.
Bahkan ia tahu bahwa Soan Li telah mengandung dan betapapun juga, ia merasa khawatir akan keselamatan Soan Li.
Andaikata ia tidak menaruh kasihan kepada Soan Li setidaknya ia memikirkan keadaan anak keturunannya yang dikandung oleh Soan Li.
"Sin Hong terlalu lihai,"
Pikirnya.
"kiranya aku sendiri tak dapat menangani kalau bertempur dengan dia."
Timbul khawatirannya dan teringatlah ia akan kitab yang dulu pernah dilihatnya di dasar jurang di puncak Luliang-san, kitab peninggalan Pak Kek Siansu.
Oleh karena itu ia lalu pergi ke Luliang-san bersama Nalumei, bukan hanya untuk mengambil kitab, juga untuk mengadakan pertemuan dengan Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu.
Pada waktu itu, Kong Ji telah menjadi seorang tokoh yang banyak kaki tangannya.
Ia telah menjadi seorang kaya dan dengan harta curiannya ia telah dapat memikat hati banyak orang kang-ouw di dunia, tentu saja orang-orang yang lemah.
Pembantu-pembantunya banyak sekali dan boleh dibilang di setiap kota besar dan dusun yang ramai, ia menaruh orangnya untuk memata-matai gerak gerik orang yang ia anggap berbahaya.
Setelah ia meninggalkan pesan bagi para pembantunya untuk mengawasi gerak-gerik Sin Hong dan orang-orang yang dianggapnya musuh seperti Go Ciang Le seanak isteri, Cam-kauw Sin-kai dan semua anggauta Hek-kin-kaipang, juga Lie Bu Tek, barulah Kong Ji pergi ke Luliang-san bersama Nalumei.
Taklupa ia mengirim utusan menyusul Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu, minta kepada mereka untuk cepat pergi ke Luliang-san.
Berbeda dengan Kong Ji yang melakukan perjalanan seenaknya bersama Nalumei, sekalian berpesiar bersama kekasihnya ini yang sudah banyak berjasa membantunya.
Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu melakukan perjalanan secepatnya begitu mendengar pesan Kong Ji.
Maka tidak mengherankan apabila empat orang ini dapat bertemu di kaki Bukit Luliang-san.
"Syukur Jiwi Suhu sudah datang!"
Kong Ji menyambut gembira.
"Bagaimana hasilnya? Sukakah See-thian Tok-ong bekerja sama?"
"Orang seperti See-thian Tok-ong tidak mudah diajak berunding,"
Kata Giok Seng Cu.
"Bahkan hampir saja ia membunuhku dan tidak mau melupakan urusan lama. Baiknya ada Ba Mau Hoatsu yang menyabarkan hatinya dan dapat menuturkan maksud kedatangan kami. Akhirnya mau juga ia mendengar kata-kata kami."
"Bagaimana? Sukakah dia?"
Ba Mau Hoatsu menggeleng kepalanya.
"Sukar membujuknya. Dia tentu saja tidak mau membantu sebelum melihat segi-segi kebaikannya untuk dirinya sendiri. Dia seorang yang biasa berkuasa mana dia suka menurut kepada bekas muridnya sendiri?"
Merah wajah Kong Ji.
"See-thian Tok-ong manusia keparat sombong! Apa dia kira aku takut menghadapinya?"
"Bukan begitu, Liok-sicu. Dia tidak mengucapkan kata-kata menghina, hanya dia nyatakan bahwa kelak pada waktu pemilihan Bengcu, dia akan hadir dan akan melihat gelagat. Banyak kemungkinan dia dapat bekerja sama dengan kita demikian janjinya."
Kong Ji merasa puas.
Biarpun belum pasti, akan tetapi dengan adanya janji ini, berarti ia telah menarik Pihak See-thian Tok-ong sebagai kawan, karena memang sesungguhnya bukan hal yang amat baik kalau menjadikan tokoh barat itu sebagai lawan.
"Kalau begitu mari kita untuk sementara ini, selagi masih ada waktu beberapa bulan, kita beristirahat di puncak Luliang-san untuk memperdalam ilmu silat. Kita menghadapi pertentangan besar dan berat kelak di puncak Ngo-heng-san."
Kedua orang kakek itu setuju, oleh karena memang mereka tahu bahwa Luliang-san adalah tempat yang amat indah dan amat baik untuk bertapa dan untuk memperdalam ilmu silat.
Kalau tidak demikian, tak mungkin mendiang Pak Kek Siansu memilih tempat di situ.
Gunung itu memiliki banyak puncak yang indah dan di antaranya yang paling indah adalah bekas tempat kediarnan Pak Kek Siansu, yakni Jeng-in-thia (Ruang Awan hijau).
Kong Ji bersama Nalumei menempati Jeng-in-thia dan dia tidak membuang waktu sia-sia segera ia berusaha menuruni jurang di puncak Jeng-in-thia.
Akan tetapi, melihat jurang demikian curam hingga tidak nampak dasarnya, ia menjadi ngeri.
Dicarinya akal, namun sia-sia belaka.
"Jurang macam ini tak mungkin dituruni dengan jalan biasa,"
Kata Nalumei, gadis utara yang sudah biasa dengan jurang-jurang yang amat curam.
"Memang betul katamu,"
Jawab Ko Ji.
"Dahulu aku pernah menuruninya akan tetapi, dengan pertolongan seekor burung rajawali."
Dengan singkat ia lalu menceritakan pengalamannya dahulu ketika mengunjungi puncak ini bersama See-thian Tok-ong.
"sayang burung itu telah kutewaskan. Tanpa bantuan burung itu, agaknya sukar sekali untuk mengambil kitab itu."
"Akan tetapi, kurasa pasti ada jalan tembusan yang menuju ke gua itu. Kalau tidak demikian, bagaimana Pak Kek Siansu menaruh dan menyimpan kitab dan pedang di tempat itu?"
Kata Nalumei.
Kong Ji yang juga mempunyai kecerdikan luar biasa, sudah mempunyai dugaan seperti itu, maka bersama Nalumei menyelidiki keadaan puncak itu.
Sampai hampir dua bulan ia menyelidiki setiap hari, melakukan usaha dengan diam-diam dan tidak memberi tahu kepada Giok Seng Cu atau Ba Mau Hoatsu, akan tetapi mereka bukan orang-orang bodoh.
Kedua orang kakek ini mengerti akan kehendak Kong Ji mendatangi bukit itu, maka diam-diam mereka berdua juga memasang mata.
Bahkan di luar tahu Kong Ji, keduanya berjanji hendak bekerja sama membiarkan pemuda itu mencari kitab dan kalau sudah dapat mereka akan merampasnya bersama.
Kedua orang kakek ini tunduk kepada Kong Ji hanya karena terpaksa dan kalah kepandaian.
Dalam diri Kong Ji mereka melihat tenaga bantuan yang amat kuat yang akan melindungi mereka dari musuh-musuh lain, dan yang mungkin akan dapat mengangkat derajat mereka di tempat tinggi.
Akan tetapi, kalau ada kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang akan membuat mereka memiliki kepandaian tertinggi di kolong langit, tentu saja mereka akan berusaha merampasnya dan tidak sudi lagi diperintah oleh pemuda itu!
Demiklanlah, masing-masing bersiap demi kepentingan sendiri, dan kadang-kadang kedua orang kakek itu mengunjungi Kong Ji di Jeng-in-thia, bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa tentang usaha Kong Ji mencari jalan tembus ke tempat penyimpanan kitab.
Akhirnya Kong Ji dapat juga menemukan terowongan yang menuju ke gua dasar jurang.
Hal ini terjadi secara kebetulan saja.
Karena sia-sia mencari sampai berbulan-bulan, kesabarannya habis dan Kong Ji mulai marah-marah.
Di dalam gua di mana terdapat tempat tidur Pak Kek Siansu, ia memaki-maki kakek yang sudah meninggal itu yang dikatakannya penipu dan pembohong besar.
Kemudian ia mencabut pedang Pak-kek Sin kiam dan dengan marah ia mengamuk.
Seperti orang gila ia membacok-bacok pembaringan itu sampai tanpa disengaja pedang di tangannya membacok palang besi rahasia yang mengganjal di belaka pembaringan.
Terdengar suara berkerotokan dan ribut-ribut di belakang tempat tidur.
Kong ji terkejut dan memandang penuh keheranan.
Kemudian ia memanggil Nalumei yang menanti di luar gua.
Wanita ini telah kenal baik akan watak Kong Ji yang kadang-kadang seperti iblis, maka ia pun tidak peduli ketika Kong Ji mengamuk dan merusak kamar gua itu.
Mendengar panggilan Kong Ji, ia cepat berlari masuk dan bukan main girangnya ketika ia bersama Kong Ji melihat sebuah pintu rahasia terbuka dan bergerak di belakang pembaringan!
"Ah, inilah pintu rahasianya!"
Kata Kong Ji sambil melompat dan mendorong dengan tangannya yang kuat.
Pintu terdorong dan terbukalah jalan terowongan.
Kong Ji yang sudah tak sabar lagi melompat masuk, akan tetapi tiba-tiba legannya dipegang oleh Nalumei.
"Perlahan dulu! Bagaimana kalau nanti kedua orang tua itu datang mencari kita?"
Kong Ji menengok, tersenyum dan menowel pipi Nalumei.
"Kau manis, hampir aku lupa."
Ia lalu berlari cepat turun dari puncak dan mencari dua orang kakek itu di lereng. Setelah bertemu ia berkata.
"Jiwi Suhu, waktu untuk berkumpul di Ngo-heng-san sudah hampir tiba, sekarang satu setengah bulan lagi. Oleh karena itu, kurasa lebih baik Jiwi Suhu turun gunung lebih dulu untuk mengumpulkan kawan-kawan kita yang akan memperkuat dan memperbanyak suara di sana. Juga penting sekali mencoba lagi untuk menarik See-thian Tok-ong di pihak kita."
"Dan kau sendiri, apakah tidak turun gunung, Sicu? "
Tanya Ba Mau Hoatsu sedangkan Giok Seng Cu pura-pura tidak mengacuhkan, akan tetapi sebetulnya ia menaruh perhatian besar dan merasa amat bercuriga.
"Aku dan Nalumei akan menyusul kemudian. Nalumei agak kurang enak badan, harus beristtrahat beberapa hari lagi baru dapat berangkat. Harap Jiwi suka berangkat lebih dulu mengatur persiapan,"
Kata Kong Ji.
Dua orang kakek itu menyatakan baik lalu berkemas dan pergi turun gunung.
Kong Ji cepat kembali ke gua di mana Nalumei menanti dengan tak sabar lagi.
Dalam hal ini Kong Ji berlaku sembrono dan ia sudah menaruh kepercayaan besar kepada dua orang kakek itu.
Padahal Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu sebetulnya tidak terus turun gunung, melainkan berhenti, berunding kemudian keduanya secara diam-diam naik lagi ke puncak melalui lereng lain!
Dengan hati berdebar Kong Ji dan Nalumei mengikuti jalan terowongan yang amat panjang dan gelap.
Kong Ji berjaIan di depan dan Nalumei memegang ujung bajunya di belakang, sedangkan Kong Ji bersiap sedia dengan pedang di tangan menjaga kalau-kalau ada serangan dari depan.
Jalan terowongan itu berliku-liku dan kadang-kadang menurun, karena gelap maka rasanya jauh sekali dan seakan-akan tiada habisnya.
Akhirnya mereka melihat cahaya dan tak lama lagi keluarlah mereka dari terowongan dan tiba di tempat yang indah sekali, yakni di lereng gunung Luliang-san, lereng tersembunyi, tempat indah yang dulu menjadi tempat kediaman Wan-Sin Hong.
Kong ji mengenaI tempat ini dan segera ia berlari mencari gua tempat penyimpan kitab peninggalan Pak-Kek Siansu.
"Di sinilah tempatnya!"
Katanya berkali-kali ke arah sebuah batu besar yang menutup mulut gua.
Kong ji kelihatan gembira sekali dan tegang sehingga tidak memperhatikan keadaan lain di sekitarnya.
Ketika ia tidak mendengar jawaban Nalumei, ia menengok dan melihat wajah kekasihnya itu pucat sekali.
"Kau kenapa?"
Tanyanya heran. (Lanjut ke
Jilid 23) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 Nalumei menggeleng-geleng kepalanya.
"Mungkin aku agak pening setelah melalui terowongan yang gelap tadi. Baru saja aku seperti melihat berkelebatnya bayangan orang!"
Kong Ji melirik ke kanan kiri.
"Tak mungkin, kalau kau sampai dapat melihat mengapa aku tidak? Setidaknya tentu aku mendengar kalau ada orang bergerak."
Memang Kong Ji amat mengandalkan kepandaiannya sendiri dan tidak memandang mata kepada orang lain.
Nalumei tak berkata apa-apa lagi, melainkan ikut dengan Kong Ji yang sudah menghampiri batu besar yang menutup mulut gua.
Dengan tenaga Tin-san-kang yang sudah sempurna, sekali dorong saja batu itu menggelinding ke samping.
Tenaga Kong Ji benar-benar jauh bedanya dengan dulu ketika ia turun di tempat ini bersama burung rajawali.
Dulu ia harus mengerahkan tenaga untuk nenggeser batu, sekarang ia merasa amat mudah menggulingkan batu itu.
Dengan senyum bangga ia melangkah masuk diikuti oleh Nalumei yang berjaIan di belakangnya.
Kong Ji berlari, tak sabar lagi.
Alangkah girangnya ketika dari jauh ia sudah melihat peti itu, masih seperti dulu terletak di dalam kamar gua.
Dihampirinya peti itu, dibukanya tutupnya dan dengan girang ia mengambil kitab kuno yang terdapat di dalam peti.
Sambil tertawa-tawa ia membaca huruf huruf yang menghias sampul kitab, yang berbunyi, PAK KEK SIN CIANG HOAT PIT KIP.
"Mari kita memeriksa isinya di luar, di sini terlalu gelap,"
Kata Kong Ji pada Nalumei yang mendekat-dekat untuk ikut membaca. Mereka berjalan sambil tertawa-tawa keluar dari gua, seperti dua orang anak kecil mendapatkan mainan baru yang menarik.
"Aku akan menjagoi dunia, aku akan menundukkan dunia kang-ouw. Ha, ha, ha, tunggu sebentar lagi kau Sin Hong. Aku akan membekuk batang lehermu scperti kucing menangkap tikus. Ha, ha!"
Kong Ji tertawa bergelak dan suara ketawanya bergema menyeramkan karena ia masih berada di dalam gua.
Setelah tiba di luar gua, Kong Ji cepat-cepat membalik-balik lembaran kitab dan matanya terbentur lalu terpaku pada huruf-huruf besar di lembaran pertama.
Mukanya menjadi pucat.
Nalumei yang belum lama mempelajari huruf-huruf dari Kong Ji, membaca tulisan itu lambat-lambat.
"Liok Kong Ji, apakah kau mau menjadi ahli sejarah?"
Demikian bunyi huruf huruf itu ketika dibaca oleh Nalumei.
Kong Ji cepat membalik-balik lembaran berikutnya dan sekali pandang saja, tahulah ia bahwa buku itu adalah sejarah kuno, dan hanya disampulnya saja ditulis bahwa kitab itu adalah kitab ilmu silat!
Ia telah ditipu orang!
Siapa yang telah menipunya?
Dan siapa dia yang telah tahu bahwa kitab itu akan terjatuh di tangannya sehingga berani menuliskan kalimat yang mengejeknya itu?
"Bedebah!"
Kong Ji memaki sambil membanting kitab itu ke atas tanah.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari jauh, seakan-akan menjawab makian dan kemarahan Kong Ji, seakan-akan mentertawakannya.
Kemudian suara ketawa itu diikuti oleh bentakan-bentakan dan suara orang bertempur.
Kong Ji terkejut mendengar suara Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu, maka cepat ia melompat dan berlari cepat menuju ke tempat ribut-ribut itu yang agaknya timbul dari balik gunungan batu.
Ketika ia mengitari gunungan itu muncul di belakangnya, ia melihat Giok Seng Cu merintih-rintih dan sedang merayap bangun.
Sedangkan Ba Mau Hoatsu yang tinggi besar itu tengah bertempur melawan seorang pemuda yang bukan lain adalah Wan Sin Hong!
Sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu telah terlempar jauh dan pada saat Kong ji muncul Ba Mau Hoatsu telah terdesak hebat tiba-tiba hwesio tinggi besar ini menggerakkan kedua tangannya dan memukul kepala Sin Hong dengan kedua tangan itu dengan sekuat tenaga.
Agaknya ia sudah berlaku nekat karena maklum takkan menang menghadapi pemuda aneh ini.
Sin Hong mengeluarkan suara mengejek, kedua tangannya bergerak dan di lain saat kedua tangannya itu telah menangkap dua pergelangan lengan Ba Mau Hoatsu.
"Pendeta keparat yang keji, bersiaplah menghadap Ayah Bundaku untuk menebus dosamu!"
Terdengar Sin Hong berkata dan pemuda itu mengerahkan sin-kangnya melalui jari-jari tangannya.
Tiba-tiba Ba Mau Hoatsu membelalakkan matanya, mengeluarkan pekik menyeramkan sekali, tubuhnya seperti kaku dan rasa sakit menjalar dari pergelangan tangan, terus menembus jantung dan isi perutnya!
Sin Hong membentak keras dan tubuh yang tinggi besar dari hwesio itu telah diangkatnya di atas kepala, lalu dibanting.
"Brukkk!"
Ba Mau Hoatsu terguling-guling akan tetapi sudah tak dapat mengeluarkan suara lagi, karena sebelum diangkat dan dibantingpun ia sudah tewas.
Dengan tenaga dalam yang mengerikan hanya menggencet pergelangan lengan, Sin Hong sudah dapat menewaskan hwesio kosen ini, hwesio yang menjadi pembunuh ayah bundanya, yang baru sekarang ia dapat membalasnya.
Ketika Sin Hong memandang ke depan, ternyata Giok Seng Cu, juga Kong Ji dan Nalumei telah lenyap dan situ, Sin Hong mengejar ke dalam terowongan, akan tetapi tiba-tiba menyambar batu-batu besar yang disambitkan dari dalam.
Sambitan ini dilakukan oleh orang-orang yang bertenaga besar, maka tentu saja amat berbahaya dan terpaksa Sin Hong tidak dapat mendesak terus.
Di dalam terowongan yang demikian gelap dan berbahaya, tentu saja ia tidak berdaya dan kalau ia nekat mendekati musuh-musuhnya ia mungkin akan terkena celaka oleh serangan gelap.
Bagaimanakah tahu-tahu Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu dapat bertempur dengan Sin Hong?
Mari kita mundur sebentar.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sin Hong yang marah besar mencari jejak Kong Ji, ingin sekali ia menangkap Kong Ji dan menyeretnya ke depan Soan Li untuk membuat pengakuan.
Akhirnya ia mendengar bahwa Kong Ji berada di Luliang-san.
Ia menjadi girang sekali, karena ia tahu apa kehendak Kong Ji ke Luliang-san.
Tentu akan mengambil kitab peninggalan Pak Kek Siansu, pikirnya.
Oleh karena itu, dia diam ia mengejar ke puncak Luliang-san.
Sambil bersembunyi ia mendapat kenyataan bahwa biarpun di puncak Lulian-san, ternyata Kong Ji belum mendapat tempat rahasia untuk masuk ke dalam jurang.
Ia menanti dengan sabar sampai tiba saatnya Kong Ji mendapatkan terowongan itu.
Dengan kepandaiannya Sin Hong mendahului masuk ke dalam jurang dengan bantuan akan-akar seperti dahulu pernah ia lakukan ketika membawa gihunya ke dalam jurang.
Dengan cepat ia lalu menuliskan kalimat di lembar pertama dari kitab sejarah yang sengaja ia taruh di situ menggantikan kitab ilmu silat peninggalan Pak Kek Siansu yang sebenarnya ia bakar habis.
Setelah itu, ia mengintai dari luar guha dan melihat betapa Kong Ji kecele.
Pada saat itu ia melihat Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu muncul dari terowongan.
Bukan main girang hati Sin Hong melihat musuh besarnya, Ba Mau Hoatsu, orang yang sudah membunuh ayah bundanya.
Saking girangnya ia tertawa bergelak, sebagian untuk mentertawakan dan mengejek Kong Ji, sebagian pula untuk menyatakan kegirangan hatinya mendapat kesempatan bertemu dengan musuh besarnya.
Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu ketika melihat munculnya Sin Hong secara tiba-tiba menjadi kaget sekali.
Seperti telah kita ketahui, dua orang kakek ini diam-diam memasuki terowongan mengikuti Kong Ji, bermaksud untuk merampas kitab peninggalan Pak Kek Siansu apabila benar-benar terdapat di tempat rahasia itu.
Tak mereka sang sangka bahwa mereka akan bertemu dengan Sin Hong di tempat itu.
Giok Seng Cu sudah pernah merasai kelihaian Sin Hong, maka ia merasa agak gentar amat kaget.
Sebaliknya, Ba Mau Hoatsu yang mengenaI Sin Hong sebagai bocah tolol yang dulu dijadikan kuda oleh Gak Soan Li, memandang rendah dan tidak senang karena dianggapnya pemuda ini merupakan gangguan.
"Tolol, apa kerjamu di sini?"
Serunya dan cepat Ba Mau Hoatsu menendang ke arah perut Sin Hong dengan maksud sekali tendang menewaskan pemuda itu agar selanjutnya jangan menjadi gangguan.
Akan tetapi, di lain saat tubuhnya terlempar dan jatuh berdebuk di atas tanah.
Ia terkejut bukan main.
Ketika menghadapi tendangan tadi, Sin Hong hanya menggerakkan tangan, menyambut kakinya yang menendang lalu mendorong dan Ba Mau Hoatsu, tokoh Tibet yang ditakuti banyak orang, terlempar dan terjengkang!
Sambil mengeluarkan gerengan marah Ba Mau Hoatsu mengambil senjatanya yang lihai, yakni sepasang roda.
Melihat Ba Mau Hoatsu hendak menyerang dengan senjatanya yang lihai, Giok Seng Cu merasa malu untuk tinggal diam.
Apalagi ia melihat Ba Mau Hoatsu bersenjata dan ia tahu pula akan kelihatan kawan ini, maka ia pikir mustahil kalau mereka berdua tak mampu menewaskan bocah aneh ini.
Maka otomatis ia pun melompat dekat dan berbareng pada saat Ba Mau Hoatsu menyerang dengan sepasang roda ke arah kepala Sin Hong, Giok Seng Cu juga mengirim serangan pukulan Tin-san-kang ke arah dada pemuda itu.
Serangan ini bukan main hebatnya.
Sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu bagaikan dua ekor garuda liar menyambar-nyambar dari atas dan sekali saja kepalanya terkena pukulan roda, pasti akan pecah dan isi kepala berantakan.
Apalagi pukulan yang dilakukan oleh Giok Seng Cu.
Dia ini adalah pencipta Ilmu Pukulan Tin-san-kang yang mempunyai tenaga ribuan kati, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya.
Baru angin pukulannya saja sudah mampu merobohkan seorang ahli silat kenamaan.
Akan tetapi Sin Hong yang juga maklum bahwa menghadapi dua orang tokoh besar ini maju bersama, bukanlah hal yang ringan.
Ia berlaku cerdik.
Melihat betapa sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu amat ganas, ia cepat berkelebat dan sekali melompat ia telah menjauhi Ba Mau Hoatsu dan berada di depan Giok Seng Cu.
Pada saat itu, kakek rambut panjang ini tengah melakukan pukulan Tin-san-kang dan sambil melompat Sin Hong berpoksai membuat salto sehingga hawa pukulan itu lewat di bawah tubuhnya dan ia telah mendahului Giok Seng Cu, mengirim pukulan balasan dari udara sebelum kakek itu menarik kembali tangannya.
Giok Seng Cu mengeluarkan teriakan kaget.
Cepat ia menangkis dengan tangan kiri, namun terlambat.
Gerakan pemuda itu terlalu cepat dan tidak terduga datangnya, maka lehernya telah terkena hawa pukulan dari atas dan ia menderita luka dalam dada.
Ia terhuyung dan roboh, mengeluh dan merintih-rintih karena pukulan yang dilakukan oleh Sin Hong tadi benar-benar luar biasa kuatnya.
Setelah merobohkan.
Giok Seng Cu, Sin Hong menghadapi Ba Mau Hoatsu.
Dua kali tangannya tergerak, terdengar suara keras dan sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu telah kena ia patahkan dengan pukulan tangan.
Sepasang roda itu terlempar ke atas tanah dan Ba Mau Hoatsu menjadi pucat.
Hwesio tinggi besar ini tidak melihat jalan keluar, maka ia berlaku nekat dan menyerang Sin Hong dengan tangan kosong.
Selanjutnya Ba Mau Hoatsu tewas di tangan Sin Hong seperti telah diceritakan di depan.
Akan tetapi, ternyata Kong Ji berlaku amat cerdik.
Melihat betapa Giok Seng Cu terluka dan Ba Mau Hoatsu sudah didesak hebat oleh Sin Hong, Kong Ji lalu menyeret tubuh Giok Seng Cu, bersama Nalumei ia melarikan diri keluar dari tempat itu melalui terowongan.
Ketika Sin Hong mengejar ia menghujani pemuda itu dengan batu-batu karang dari tempat gelap.
Juga Nalumei membantunya menyambitkan batu-batu ke arah Sin Hong sehingga Sin Hong terpaksa mundur kembali.
Dengan cepat Kong Ji mengajak Nalumei dan Giok Seng Cu keluar, kemudian ia menutup gua atau kamar di mana terdapat pintu rahasia terowongan itu dengan batu karang yang besar.
Tidak hanya satu atau dua buah saja, akan tetapi puluhan banyaknya.
Dengan bantuan Nalumei, kemudian Giok Seng Cu yang sudah mengatur napas dan mengobati lukanya juga membantu.
Kong Ji mematikan jalan keluar terowongan itu dengan menimbun batu-batu karang yang amat banyak.
Tak mungkin orang dapat membongkar batu-batu karang yang ditumpuk-tumpuk itu dari dalam terowongan dan kiranya Sin Hong takkan dapat keluar dari dasar jurang itu kalau tidak ada orang yang menolongnya dari luar!
Kong Ji tertawa bergelak.
"Ha, ha, Sin Hong, sekarang kau telah dikubur hidup-hidup! Giok Seng Cu Suhu, sakit hatimu karena terluka olehnya sudah balas. Dia tentu akan mampus kelaparan, atau kalau tidak, dia akan menjadi penghuni dasar jurang itu selama hidupnya. Ha, ha, ha!"
"Sayang Ba Mau Hoatsu tewas...."
Hanya ini yang dapat diucapkan oleh Giok Seng Cu karena ia sedang memutar otak untuk menghadapi kecurigaan Kong Ji.
Akhirnya yang dikhawatirkan itu terbukti juga, karena tiba-tiba Kong Ji menghentikan suara ketawanya dan dengan pandang mata tajam ia bertanya.
"Aku masih merasa heran dan tidak mengerti mengapa jiwi Suhu yang kusangka sudah turun gunung seperti yang kita rencanakan, tahu-tahu bisa berada di tempat itu?"
Baiknya Giok Seng Cu telah lebih dulu mencari alasan, maka tanpa ragu-ragu dan tidak gugup sedikitpun juga ia menjawab.
"Baru saja aku dan Ba Mau Hoatsu hendak turun gunung, di jalan kami melihat berkelebatnya bayangan orang. Kami mengejar dan orang itu memasuki pintu rahasia di terowongan ini. Kami mengejar terus sampai di bawah dan di sanalah kami disambut oleh Wan Sin Hong. Kau turun ke sana hendak apakah Aha, aku ingat sekarang, tentu untuk mengambil kitab peninggalan Pak Kek Siansu, bukan?"
Kong ji teringat akan kitab yang telah dipalsu, maka ia merasa mendongkol sekali kepada Sin Hong, hanya mengangguk. Akan tetapi Giok Seng Cu tentu saja tidak puas dengan jawaban ini, lalu mendesak.
"Sudah kaudapatkankah? Boleh melihat sebentar kitab peninggalan Supek itu?"
Kong Ji cemberut.
"Kitab apa? Bangsat itu tiada guna. Aku telah dipermainkan olehnya Si bedebah. Akan tetapi dia sudah dikubur hidup-hidup, puas sudah!"
"Apa...? Bagaimana...?"
Giok Seng Cu memandang ragu dan curiga, akan tetapi matanya yang tajam dan berpengalaman itu memang sudah tahu bahwa Kong Ji keluar dari tempat itu tidak membawa kitab.
"Apakah Suhu begitu bodoh hingga tidak dapat menduga? Dari mana bangsat Wan Sin Hong itu mendapatkan kepandaiannya yang tinggi. Siapa gurunya? Bukankah semua itu kesalahan Suhu semula?"
Giok Seng Cu berubah air mukanya.
"Kesalahanku? Apa maksudmu?"
Kong Ji mengejek dengan nada suara kurang ajar.
"Kalau Suhu dahulu tidak melemparkan Sin Hong ke dalam jurang dari puncak Jeng-in-thia, bagaimana bocah itu bisa mewarisi kitab dari Pak Kek Siansu?"
Giok Seng Cu melengak.
Kini tahulah ia mengapa tadi dalam pertempuran hanya Ba Mau Hoatsu yang ditewaskan oleh Sin Hong dan dia diampuni.
Ini tadinya ia heran benar, akan tetapi sekarang baru ia ingat bahwa mungkin sekali Sin Hong mengampuninya karena dialah yang sesungguhnya berjasa.
Kalau dia dahulu tidak melemparkan Sin Hong ke dalam jurang, bagaimana bocah itu bisa menjadi seorang demikian sakti?"
"Akan tetapi sudahlah, sekarang Sin Hong tak mungkin dapat keluar dari kuburannya,"
Kata Kong Ji.
"Biarpun Ba Mau Hoatsu sudah tewas akan tetapi dengan kawan-kawan lain kita pasti akan berhasil dalam cita-cita kita. Apalagi kalau See-thian Tok-ong dapat didekati, siapa yang dapat melawan kita? Suhu mari bawa aku menemui See-thian Tok-ong, biar aku sendiri yang bicara dengan dia."
Berangkatlah tiga orang itu.
Kong Ji, Giok Seng Cu, dan Nalumei menuruni Gunung Luliang-san, meninggalkan Sin Hong yang terpendam hidup-hidup di dalam jurang.
Setibanya di kaki gunung Kong ji berkata kepada Nalumei.
"Nalumei,........ kekasihku......... Sekaranglah waktunya kawan-kawan dari utara bersiap sedia. Pemilihan bengcu di Ngo-beng-san sudah dekat waktunya, kita perlu menyiapkan bantuan. Lebih baik kau sekarang juga pergi ke utara dan membawa pasukan bantuan kita ke Ngoheng-san. Biar kita berjumpa di sana."
Nalumei tidak membantah karena memang inilah cita-citanya.
Memimpin Suku bangsa yang masih setia kepadanya untuk mencari kedudukan dan kalau mungkin kelak menumpas pasukan yang dipimpin oleh Temu Cin sebagai pembalasan dendam.
Juga karena Ngo-heng-an letaknya di sebelah utara, maka dua tempat dimana ia akan bertemu dengan suku bangsanya tidak jauh lagi, hanya kembali ke selatan beberapa ratus li saja.
Dari kaki Gunung Luliang-san itu, berpencarlah mereka.
Nalumei seorang diri menuju ke utara, adapun Kong Ji dan Giok Seng Cu menuju ke barat untuk mencari See thian Tok-ong dan mengumpulkan kawan-kawan, yakni orang-orang kang-ouw yang sudah menjadi kaki tangan Kong Ji.
Pada masa itu, kerajaan bangsa Kin sudah hampir runtuh.
Kekuasaannya sudah mulai menyuram.
Banyak gubernur propinsi-propinsi di bagian selatan sudah memberontak, berdiri sendiri dan tidak lagi mengakui kekuasaan Kerajaan Kin.
Namun, di kota raja sendiri, kerajaan ini masih berdiri karena terjaga kuat oleh bala tentara Kin yang memang tadinya merupakan pasukan-pasukan gagah perkasa dan kuat sekali.
Pemberontakan rakyat yang tiada hentinya semenjak barisan Kin menguasai Tiongkok, hanya dapat bergerak di luar kota raja saja.
Keluarga Kerajaan Kin sudah dapat meraba dan menduga bahwa kekuasaan mereka takkan dapat bertahan lama lagi.
Oleh karena itu, para pangeran dan bangsawan yang tadinya memegang Jabatan di daerah-daerah luar kota raja telah sama berkumpul atau mengungsi di kota raja memperkuat kedudukan di kota pusat itu.
Oleh karena para bangsawan ini meninggalkan daerah sambil membawa harta benda, maka keadaan di kora raja makin ramai saja.
Perdagangan makin menjadi dan keadaan kota makin mewah.
Penjagaan kota amat kuat.
Mata-mata yang diambil dari barisan pengawal disebar di seluruh kota, memeriksa dan menyelidiki siapa saja yang dicurigai juga ahli-ahli silat kelas tinggi yang menjadi pengawal-pengawal istana dan pengawal pribadi kaisar, berkumpul di istana setiap saat siap waspada menjaga keselamatan keluarga raja.
Kini setiap bangsawan gelisah.
Berita tentang gerakan Temu Cin yang memimpin bangsa Mongol di utara sudah terdengar oleh mereka.
Ancaman dari selatan masih di ambang pintu, kini dari pintu belakang datang pula ancaman yang lebih mengerikan lagi.
Setelah bahaya mengancam dari mana-mana, barulah kaisar dan keluarganya maklum bahwa dalam keadaan bahaya, harta benda tidak ada gunanya dan bahkan harta benda itulah yang memancing datangnya bahaya.
Mereka segera berunding dan pada hari-hari berikutnya, di mana-mana terpasang surat pengumuman yang menyatakan bahwa kaisar membutuhkan pasukan baru.
Dibutuhkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi untuk menjadi anggauta pasukan dengan bayaran yang amat tinggi, sepuluh kali lebih tinggi upah yang biasa terima oleh seorang anggauta pasukan pengawal!
Mengalirlah ahli-ahli silat yang tertarik oleh bayaran tinggi, karena memang pada masa itu, mencari uang bukanlah hal yang amat mudah, apalagi bagi mereka yang kepandaiannya hanya mainkan senjata.
Pasukan pengawal dan barisan penjaga kota raja ditambah dengan seribu orang lebih, sebagian besar dari mereka ini adalah ahli-ahli silat.
Ada pula orang-orang yang kepandaian silatnya tinggi, diterima menjadi busu pengawal kaisar pribadi atau menjadi komandan-komandan pasukan penjaga keamanan.
Dengan adanya tambahan pasukan penjaga ini, kotanya makin terjaga kuat dan boleh dikata setiap orang penduduk atau tamu yang berada di kota raja, mempunyai seorang pengawas atau penyelidik sendiri.
Pendek kata, mata-mata kaisar berserakan di kota raja sehingga ke mana juapun seorang pendatang kota raja berada, akan bertumbukan dengan seorang mata-mata istana!
Akan tetapi, sungguh di luar persangkaan kaisar bahwa di antara sekian banyaknya busu, terdapat di antara mereka itu mata-mata dari utara, utusan-utusan dari Temu Cin yang sengaja mengirim orang cerdik pandai menyelundup ke kota raja untuk menyelidiki keadaan kota raja musuh!
Dan tidak ini saja, juga di antara mereka terdapat mata-mata dari rakyat pejuang atau rakyat yang semenjak dahulu bergerak untuk menumbangkan Kerajaan Kin.
Dan para mata-mata dari dua musuh ini bayak yang menjadi busu atau pengawal istana!
Ada pula di antatanya yang bercampuran dengan penduduk dan bekerja sebagai pedagang dan lain-lain.
Pendek kata, kota raja di masa itu merupakan tempat yang aneh.
Aneh dan mengerikan, di mana kadang-kadang terdengar pekik di waktu malam dan seorang dua orang lenyap.
Ada kalanya yang lenyap hanya nyawanya, kadang-kadang dengan tubuhnya sama sekali, lenyap tak meninggalkan bekas.
Kota raja di waktu itu sama dengan arena pertempuran di mana mata-mata mengadu siasat dan berperang melawan pengawal istana.
Pada suatu hari itu, seorang gadis yang memasuki pintu gerbang kotaraja.
Semua orang yang bertemu dengan gadis ini pasti memandang dan menengok dengan kagum.
Tidak saja wajahnya cantik manis, juga sikapnya gagah sekali.
Mudah saja diduga bahwa gadis ini tentu seorang ahli silat, tidak hanya kentara dari sikapnya yang gagah, juga terbukti oleh pedang yang tergantung di pinggangnya.
Gadis itu berjalan dengan langkah tegap dan gagah, memandang lurus ke depan, sama sekali tidak menaruh peduli terhadap pandang mata kaum pria yang mengikuti setiap gerak-geriknya.
Sudah terlalu banyak dan terlalu sering ia mengalami hal ini, dipandang dengan kagun dan penuh gairah oleh mata lelaki, maka kini hal itu dianggapnya sudah jamak.
Di dalam kamus hatinya sudah ia catat bahwa memang begitulah sifat mata kaum pria dan kalau ada mata yang tidak mengikuti dan mengagumi gerak-gerik seorang gadis cantik baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, maka bukan mata laki-laki itu!
Tak pernah ia membalas pandang mata orang.
Kalau ada ia memandang sesuatu, itu adalah papan nama toko dan rumah-rumah, seperti mencari sesuatu.
Memang, dia sedang mencari sebuah rumah penginapan yang patut disewa kamarnya oleh seorang gadis yang datang seorang diri.
Akhirnya gadis itu memasuki sebuah hotel yang nampaknya bersih dan besar, yakni hotel Thian Lok Likoan.
Seorang pelayan setengah tua yang berpakaian bersih dan bersikap sopan ramah menyambutnya, melirik sedetik ke arah gagang pedang yang tergantung di pinggang nona itu.
"Ada keperluan apakah, Nona?"
Tanyanya singkat akan tetapi sikapnya sopan, kedua tangannya menjura dan memberi hormat.
"Aku mau sewa kamar,"
Jawab gadis itu singkat pula sambil matanya menyambar ke sekeliling ruangan depan yang nampak sunyi, akan tetapi matanya yang tajam menangkap gerakan-gerakan orang di ruang dalam, agaknya banyak yang berada di dalam gedung itu.
"Nona seorang diri-saja? Ataukah masih ada banyak orang?"
"Seorang diri. Sediakan kamar sedang untuk aku sendiri."
"Baiklah, Nona. Silakan Nona ikut ke kantor untuk mengisi nama lebih dulu."
Gadis itu mengerutkan kening dan sepasang alisnya yang hitam dan indah bentuknya itu bergerak-gerak.
Hatinya tidak senang.
ia sudah lama merantau sudah banyak kota besar dijelajahi, dan sering menginap di hotel besar, namun belum pernah ada aturan macam ini.
Akan tetapi karena ia sudah mendengar bahwa kota raja memang berlaku peraturan-peraturan keras, ia diam saja dan berjalan tegap mengikuti pelayan itu ke ruang dalam.
Benar seperti diduganya tadi, di ruang dalam terdapat banyak sekali orang.
Hotel itu ternyata menerima banyak sekali tamu dan tamu-tamu inilah yang memenuhi ruangan tengah.
Mereka terdiri dari bermacam-macam orang, riuh rendah suara bicara mereka dalam berbagai bahasa daerah.
Melihat gadis itu masuk bersama pelayan, semua suara berhenti dan semua mata memandang ke arah gadis itu penuh gairah.
Namun gadis itu tidak peduli, terus berjalan sambil mengangkat dada dan muka, bibir dirapatkan dan hidung agak diangkat mengejek.
Empat orang laki-laki yang kelihatan seperti tamu-tamu biasa, berpakaian seperti pedagang, segera berdiri dan mengikuti gadis itu ke kantor.
Mereka ini sebetulnya adalah mata-mata kota raja yang bertugas di ruang dalam itu, tugasnya menyelidiki para tamu dan diam-diam mendengarkan isi percakapan mereka.
Pelayan itu membawanya ke sebuah kantoran yang cukup besar dan di situ terdapat tiga orang laki-laki yang duduk menghadapi meja besar.
Seorang di antaranya adalah seorang juru tulis biasa yang memegang pit dan menghadapi buku tamu, sedangkan yang dua lagi adalah orang-orang bertubuh tinggi, tegap pakaiannya seperti biasa dipakai oleh tukang-tukang pukul!
Makin tak enak dan tak senang hati gadis itu, namun pada mukanya ia memperlihatkan sikap tenang saja.
Juru tulis yang kurus kering dan bermata sipit itu mengangkat muka memandang ke arah gadis itu.
Bibirnya yang tipis kering terbuka yang dimaksudkan sebagai senyum menarik, akan tetapi jadinya hanya menyeringai memperlihatkan sederet gigi kuning kehitaman.
"Ah, Ciang lopek, ada tamu baru?"
Katanya kepada pelayan yang mengantarkan gadis itu.
"Silakan, Nona, salahkan masuk dan duduklah. Siapa nama Nona berapa usia, dan di mana tempat tinggal dari mana hendak ke mana?"
Melihat kalimat yang keluar secara cepat otomatis ini, mudah diduga bahwa kalimat itu adalah penggunaan sehari-hari, setiap kali ada tamu masuk sehingga si cecak kering ini sudah menjadi hafal.
Gadis itu mendongkol bukan main.
Kalau hanya ditanya nama saja, masih mending.
Akan tetapi cecak kering itu menanyakan usia, tempat tinggal segala macam!
Ia mulai marah, kentara dari kulit mukanya yang putih halus itu kini merah dan sinar matanya menjadi tambah berkilat.
Celakanya, ada orang yang menyiram minyak pada api, ada orang yang membikin kemarahannya menjadi-jadi.
Orang ini adalah seorang di antara tukang pukul yang tadi duduk bercakap-cakap dengan Si Juru Tulis.
Dia yang bicara ini selain bertubuh tinggi besar, juga matanya lebar seperti gundu dan kumisnya tebal menghitam, membuat wajahnya nampak angker menakutkan.
"Pedang itu harus ditinggalkan di kantor, hanya akan dikembalikan kalau Nona akan meninggalkan hotel kami. Tak seorang pun boleh membawa-bawa senjata dalam hotel kami,"
Katanya sambil menudingkan telunjuk yang besar ke arah pedang gadis itu.
"Dan pula,"
Menyambung tukang pukul ke dua, yang juga tinggi besar, akan tetapi mukanya licin mengkilap seperti dipelitur dan sikapnya menunjukkan sifatnya yang mata keranjang dan ceriwis "untuk apa sih Nona manis membawa-bawa pedang?
Kalau terkerat pedang kan sayang?"
Nona itu menjadi makin marah.
Hampir saja ia tak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi ia hanya melirik ke arah tempat senjata yang berada di pojok kantoran itu, agaknya senjata para tamu yang dititipkan di situ.
Juga ia melihat empat orang laki-laki berpakaian pedagang berdiri di luar kantor mendengarkan.
Sikap empat orang ini lebih menarik perhatiannya dan membuatnya bersikap hati-hati.
Dua orang tukang pukul itu hanya bangsa kasaran saja, mudah dihadapi.
Akan tetapi empat orang pedagang yang berdiri memandang itu, gerak-gerak mereka bukan sembarangan.
Hm, benar-benar banyak orang pandai di kota raja, pikir gadis itu.
Ia menyapu wajah dua orang tukang pukul, juru tulis dan pelayan itu dengan sinar mata tajam, kemudian sambil tersenyum-senyum ia berkata.
"Begitukah aturannya? Haruskah nama dan segala macam dituliskan di buku tamu? Hm, kesinikan pit itu. Kau ini cecak kering mana bisa menulis dengan baik! Jangan-jangan salah namaku kau tuliskan!"
Sebelum Juru tulis itu dapat menutup kembali mulutnya yang celangap bengong mendengar kata-kata ini, pit di tangannya sudah berpindah ke tangan gadis itu!
Kemudian dengan tenang gadis itu mencelupkan pit ke dalam tinta hitam dan berkata.
"Namaku"
Nah, inilah namaku, baca baik-baik!"
Pitnya digerakkan dan ia menuliskan huruf besar yang berbunyi Go, yakni nama keturunannya, akan tetapi bukan ditulis di atas buku, melainkan di atas muka Si Juru Tulis!
Gerakannya demikian cepat sehingga juru tulis itu tidak sempat mengelak, hanya mulutnya ngeluarkan suara "Uh...
ah...!"
Dan... terjadilah huruf itu, besar dan jelas di mukanya dari papi kiri ke pipi kanan dan jidat sampai ke dagu! "Nah, itulah namaku,"
Kata gadis itu tersenyum manis, sambil berpaling kepada pelayan.
"Eh. Lopek, apakah kau juga ingin mengetahui usiaku pula?"
Pelayan itu menjadi pucat dan cepat-cepat menggeleng kepalanya.
"Tidak, Nona... tidak..."
Ia keluar dari kantoran dengan kaki gemetar. Setelah tiba di luar, pelayan ini berkata dengan suara memohon.
"Nona, sudah menjadi peraturan untuk mengisi buku tamu, harap Nona tidak membikin susah kami..."
Nona itu memandang kepada dua orang tukang pukul yang sudah berdiri marah.
"He, kau monyet berkumis, nama nonamu akan kutulis di sini, baca baik-baik."
Sambil berkata demikian, Nona itu menuliskan pit di atas meja kayu dan nampak guratan-guratan dalam di meja itu seperti digurat pisau!
Tiga huruf GO HUI LIAN tergurat di atas meja!
Dua orang tukang pukul tinggi besar yang tadinya berdiri marah, melihat demonstrasi tenaga lweekang dari gadis manis ini, menjadi tertegun.
Sebagai ahlisilat mereka maklum bahwa gadis yang remaja dan cantik ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian tinggi.
Oleh karena itu, mereka berlaku hati-hati dan tidak berani bersikap sembrono.
Penjaga yang kumisan segera menjura dengan hormat kepada Hui Lian dan berkata.
"Cukup, Go-lihiap. Sekarang kami tahu bahwa kau adalah seorang pandai. Maafkan kalau kami bersikap lancang. Akan tetapi hendaknya kau tahu bahwa setiap orang tamu yang bermalam di hotel kami, harus mendaftarkan nama dan alamat. Ini termasuk peraturan dari istana yang harus ditaati oleh seluruh penduduk kota raja dan harus ditaati pula oleh kami."
Melihat sikap ini, kemarahan Hui Lian reda.
Akan tetapi ia masih mendongkol, kini kemendongkolannya ditujukan kepada peraturan kaisar yang memang tidak disukainya.
Untuk memuaskan kemendongkolannya, gadis ini berlaku sembrono dan tanpa disadarinya ia berkata lantang.
"Hem, begitukah peraturan di kota raja? Bagus! Semua orang agaknya tidak percaya. Mau tahu alamatku? Baiklah cacat yang jelas. Aku adalah Go Hui Lian, puteri dari Hwa I Enghiong Ciang Le yang bertempat tinggal di Ka bun-to. Masih kurang jelas?"
Dua orang tukang pukul yang menjaga kantoran hotel itu tiba-tiba mmenjadi pucat mendengar nama Hwa I Enghiong Ciang Le disebut sebut, apalagi setelah tahu bahwa gadis ini adalah puteri dari tokoh besar pemberontak itu.
Go Ciang Le adalah seorang pemberontak besas yang pernah mengacaukan istana kotaraja (Baca Pendekar Budiman).
"Ah, baik".. baik, Go lihiap. Harap kau ikut dengan pelayan untuk diantar ke dalam kamar terbaik di hotel ini. Maafkan kami... dan harap saja Lihiap tidak marah-marah dan mengeluarkan omongan keras karena kami benar-benar tidak mengharapkan keributan di hotel ini,"
Kata Si kumisan dengan sikap takut.
Hui Lian tersenyum mengejek.
Hatinya panas karena dengan mendengungkan nama besar ayahnya ia telah berhasil membikin orang menjadi ketakutan.
Tanpa menoleh lagi ia lalu mengikuti pelayan tua yang tadi mengantarnya ke kantor hotel yang kini cepat mengantarkannya ke sebuah kamar kosong yang benar-benar bersih menyenangkan.
Hui Lian masih terlampau muda sehingga kadang-kadang ia menurutkan nafsu hatinya dan kehilangan sifat hati-hati.
Apalagi ia memang tidak tahu akan keadaan kota raja di waktu itu, maka secara sembrono saja ia memperkenalkan dari sebagai puteri dari Hwa I Enghiong.
Kalau ia tahu, biarpun Hui Lian seorang dara perkasa yang tidak kenal arti takut, namun tentu ia takkan begitu sembrono untuk memancing kesulitan.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, gadis ini setelah bertemu dengan Sin Hong dan amat kecewa hatinya melihat pemuda aneh yang dibencinya akan tetapi juga yang membuat hatinya selalu berdebar kalau teringat kepadanya, kecewa karena melihat Sin Hong membawa lari Gak Soan Li, lalu berlari cepat pulang ke Kim-bu-to.
Ia ingin menuturkan semua pengalamannya kepada ayah bundanya, juga tentang diri Sin Hong yang aneh serta tentang sikap Soan Li yang amat janggal dan aneh pula.
Karena ia melakukan perlalanan cepat sekali, tak lama kemudian ia tiba di Kim-bu-to.
Akan tetapi Hui Lian kecewa lagi mendapatkan ayah bundanya tidak berada di rumah.
Maka ia cepat pergi lagi menuju ke kota raja karena ia mengira bahwa ayah bundanya pergi ke tempat ini.
Sudah seringkali ia mendengar ibunya bercerita tentang keindahan kota raja dan sering pula ibunya menyatakan rindunya kepada kota besar ini.
Maka ia dapat menduga bahwa ayah bundanya tentu pergi menyusulnya dan menyusul Soan Li, akan tetapi ke manakah ia harus mencari mereka?
Karena tidak mempunyai pegangan dan tidak dapat menduga pasti ke mana ayah bundanya pergi, lalu menuju ke kota raja dengan harapan barangkali ayah bundanya juga pergi ke sana.
Tanpa disadarinya, di kota raja begitu tiba ia telah memancing kesulitan.
Benar-benar ia memancing kesulitan di kantor hotel tadi, karena ketika ia menuju ke kantor diantar oleh pelayan, empat orang yang berpakaian seperti pedagang dan yang tadi mendengar dari luar kantoran saling pandang penuh ketegangan, kemudian mereka berempat ke luar dari hotel dengan cepat!
Baru saja Hui Lian meletakkan buntalan pakaiannya di atas meja dan hendak bertukar pakaian, pintunya diketuk orang perlahan sekali.
"Siapa?"
Tanyanya, kening berkerut.
"Lihiap, bukalah. Penting sekali...."
Terdengar suara orang, kedengarannya penuh kegelisahan.
Hui Lian menunda niatnya berganti pakaian, lalu membuka daun pintu.
Begitu daun pintu terbuka, seorang laki-laki pendek kecil sehingga sepintas lalu seperti seorang anak berusia sepuluh tahun, menyelinap memasuki kamarnya.
Lalu secepat kilat orang itu menutup kembali daun pintu kamar Hui Lian"
Bukan main marahnya gadis ini dan tangannya sudah gatal-gatal hendak memukul, bibirnya sudah bergemetar hendak memaki. Akan tetapi orang itu menaruh telunjuk di depan bibirnya, dan berkata perlahan.
"Ssstt, Lihiap, jangan salah sangka, Aku adalah mata-mata yang dikirim oleh Temu Cin!"
Hui Lian melengak. Keterangan membuatnya terheran, akan tetapi tidak melenyapkan rasa kurang senangnya.
"Biarpun kau dikirim oleh Giam-lo-ong (Raja maut), tidak patut kau memasuki kamarku secara ini!"
Bentaknya.
"Sssttt, jangan keras-keras, Lihiap. Kau berada dalam bahaya maut! Aku datang karena mendengar namamu tadi nama yang dijunjung tinggi oleh Temu Cin. Kau tidak tahu keadaan di sini, dan sekali kau tadi menyebut nama Ayahmu yang mulia, celakakalah kau. Lekas kau lari dari sini dan pergi keluar dari kotaraja sebelum bahaya datang menimpa."
Hui Lian tenang-tenang saja, bahkan memandang kepada orang kate dengan curiga dan kurang percaya.
Ia memang tidak takut mendengar bahaya mengancamnya, dan lebih khawatir kalau-kalau ia akan tertipu oleh orang yang belum dikenalnya ini daripada mengkhawatirkan bahaya yang mengancam, kalau benar-benar ada bahaya.
"Mengapa aku harus keluar dan kota raja? Lebih baik kau yang segera keluar dari kamar ini sebelum aku kehabisan kesabaran dan melemparmu keluar seperti anjing!"
Orang itu menghela napas panjang "Lahiap, kau tidak percaya kepadaku.
Kau tidak tahu bahwa kawan-kawanku banyak sekali yang dikirim oleh Temu Cin di kota raja.
Aku bukan seorang bahkan ada beberapa orang yang menjadi busu.
Kau percayalah kepadaku, Lihiap karena mendatangimu ini saja sudah merupakan bahaya besar bagiku, sudah merupakan pekerjaan dengan taruhan nyawa.
Kalau mereka melihat aku berada di sini, tentu besok aku tidak akan berada dunia ini lagi."
Melihat kesungguhan sikap orang kate itu, Hui Lian mulai menaruh perhatian.
"Siapakah mereka yang kau anggap sebagai bahaya yang mengancam diriku?"
Tanyanya.
"Para busu... mereka itu lihai dan bermata tajam... lekas kau lari Lihiap. Lekaslah, aku tidak dapat lama-lama berada di sini."
Orang kate itu membuka daun pintu, akan tetapi baru dibuka sedikit saja, ia telah menutupkan kembali dan mukanya menjadi pucat.
"Celaka...."
Katanya ketakutan.
"Hayo keluar dan kamarku. Kau takut apa?"
Hui Lian menegurnya.
Hampir saja ia menendang laki-laki itu saking jengkelnya.
Orang ini ketakutan tidak karuan dan tidak berani keluar dari kamarnya.
Kalau ada orang melihat seorang laki-laki berada di kamarnya, bukankah hal itu merupakan suatu aib yang memalukan sekali?
Seorang laki-laki berada di kamar seorang gadis, biarpun lelaki itu seorang kate yang tidak berharga maupun seorang pelayan misalnya asal dia seorang lelaki dewasa hal sudah jauh melebihi kepantasan!
"Lahiap, celaka sekali.
Kita sudah terkurung oleh pasukan busu dan tidak ada jalan keluar lagi!"
Hui Lian kehabisan sabarnya.
Ia mendorong daun pintu dan tidak melihat apa-apa, hanya dari jauh kelihatan empat orang pedagang yang tadi mendengarkan percakapan di kantor hotel.
Dengan gemas ia melangkah lagi ke dalam kamarnya dan menendang orang kate itu sambil membentak.
"Keluarlah kau!"
Hui Lian tidak mau berlaku keji kepada orang kate yang tidak dikenalnya ini, yang disangkanya tentu orang berotak miring maka ia menendang biasa saja, hanya untuk membuat orang itu terpental keluar.
Akan tetapi alangkah herannya ketika dengan kesigapan luar biasa, orang kate itu dapat mengelak dari tendangan Hui Lian dengan sangat mudahnya dan sebelum Hui Lian hilang keheranannya dan dapat menyerang lagi, si Kate itu sudah cepat melompat ke atas.
Terdengar suara keras dari kayu patah dan genteng pecah, dan ternyata si Kate itu telah menerobos melalui langit-langit kamar itu, menembus ke atas rumah!
Hui Lian berdiri terpukau.
Kelihaian si Kate itu tidak terlalu mengherankan baginya, akan tetapi yang ia tidak sangka adalah Si Kate yang dikiranya orang gila itu ternyata memiliki kepandaian sedemikian tingginya.
Mulailah ia percaya akan kata-kata Si Kate tadi dan kini Hui Lian membuka pintu kamarnya untuk mengintai keluar.
Apa yang dilihatnya?
Empat orang berpakaian pedagang tadi masih berdiri di sana, akan tetapi sekarang dikawani oleh belasan orang berpakaian sebagai perwira istana yang berdiri tegak bagaikan patung, mengurung kamarnya!
Hati Hui Lian berdebar.
Betulkah kata-kata orang kate tadi?
ia menyapu belasan orang itu dengan kerling matanya dan mendapat kenyataan bahwa setiap orang membawa senjata tajam di pinggang atau punggungnya sedangkan mereka semua memandang kepadanya dengan mata tak pernah berkedip.
Akan tetapi dengan matanya yang berpandangan tajam, Hui Lian melihat tangan mereka bergerak perlahan ke arah gagang senjata atau kantung senjata rahasia, siap menghadapi pertempuran!
Melihat ini Hui Lian cepat menutupkan kembali daun pintu kamarnya.
Kalau semua orang itu menyerangnya dengan senjata rahasia ia bisa celaka pikirnya.
Ia memandang ke atas, ke arah langit-langit yang sudah berlubang karena diterjang oleh tubuh orang kate tadi.
Pada saat itu ia mendengar suara gaduh di atas genteng, disusul suara pekik kesakitan dan dua orang roboh berdebum di atas genteng kamarnya.
Hui Lian memandang ke atas penuh perhatian, tidak mengerti apakah yang telah terjadi di atas genteng itu.
Kemudian ia melihat benda cair menitik turun dari atas, melalui lubang yang dibuat oleh tubuh si Kate tadi.
Ketika ia memandang penuh perhatian, Hui Lian bergidik.
Benda cair itu berwarna merah berbau amis...
darah!
Hui Lian berdebar hatinya, tegang.
Tahulah ia kini bahwa Si Kate tadi bukan orang gila, bukan pula main-main dan benar-benar memang ada bahaya mengancam.
Cepat ia menyambar buntalan pakaiannya, diikatkan di punggungnya.
Ia meraba gagang pedangnya siap menghadapi segala kemungkinan.
Ketika hendak berlaku nekat dan melangkah keluar dari kamar melalui pintu terdengar suara bentakan dari luar pintu.
"Go Hui Lian, kami datang atas perintah Kaisar untuk menangkapmu. Lebih baik kau menyerah saja. Kami tidak suka mempergunakan kekerasan terhadap seorang wanita!"
Hui Lian mencabut pedangnya. Tanpa membuka pintu ia menjawab, suaranya lantang, sedikit pun tidak takut.
"Aku Go Hui Lian tidak merasa melakukan dosa di sini, mengapa hendak ditangkap?"
"Ayahmu Go Ciang Le seorang pemberontak, sejak dahulu menjadi musuh besar istana, sedangkan kau sendiri mengadakan hubungan dengan bandit besar Temu Cin, bagaimana kau bilang tidak berdosa? Pula, mata mata orang Mongol Si Kate baru saja meninggalkan kamarmu, apakah kau masih hendak menyangkal lagi? Dia hendak lari dan kini mayatnya menggeletak tak bernyawa di atas genteng kamarmu. Maka lebih baik menyerah untuk kami tangkap agar kami tak usah mempergunakan kekerasan terhadap seorang wanita,"
Suara lantang itu menjawab dari luar kamar. Hui Lian menjadi marah. Ia melompat ke arah pintu dan menendang daun pintu sehingga terbuka lebar-lebar. Dengan gagah ia berdiri di tengah.
"Tikus-tikus istana, buka telingamu lebar-lebar! Ayahku seorang pendekar gagah perkasa, seorang patriot sejati Pembela rakyat, tikus-tikus macam kalian mana ada harga untuk menyebut namanya? Aku memang pernah bertemu dengan Temu Cin pemimpin bangsa Mongol akan tetapi hal ini apa hubungannya dengan istana? Kalian peduli apakah aku bertemu dengan Temu Cin atau dengan Raja Neraka sekali pun? Tentang orang kate yang tadi memasuki kamarku, aku tidak mengenalnya dan mengira dia seorang berotak miring. Dia mampus atau tidak, sama sekali aku tidak peduli. Siapa mau menangkap aku? Silakan maju untuk berkenalan dengan pedangku!"
Mendengar suara lantang dan melihat sikap yang gagah berani dari gadis ini, para busu tercengang dan untuk beberapa lama tidak berani sembarangan bergerak. Kemudian terdengar aba-aba "tangkap saja!"
Dari atas genteng. Yang pertama kali bergerak adalah empat orang yang berpakalan pedagang tadi. Mereka berempat melompat maju dan berhadapan dengan Hui Lian, masing-masing memegang golok tipis.
"Nona, bukankah menyerah lebih baik? Mungkin hakim istana akan meringankan hukumanmu, menimbang bahwa kau hanyalah puteri dan Hwa I Enghiong dan bukan kau sendiri yang memberontak,"
Kata seorang di antara mereka yang bermuka panjang dan suaranya lunak seperti suara orang perempuan. Hui Lian mengeluarkan suara ejekan dan tersenyum simpul.
"Mengapa sungkan-sungkan? Bukankah kalian ini anjing-anjing istana yang suka menangkap orang-orang tidak berdosa? Mau tangkap tangkaplah kalau kalian ada kepandaian."
Gadis ini melintangkan pedangnya di depan dada, sikapnya menantang sekali.
Memang ia tidak takut sama sekali, bahkan ada kegembiraan hatinya untuk nguji sampai di mana kelihaian para busu istana yang terkenal kebuasan sampai di mana-mana itu.
"Hem, kau sombong dan tak tahu diri. Terpaksa kami turun tangan!"
Kata busu itu dan berbareng dengan habisnya kata-kata terakhir, bersama tiga orang kawannya ia menyerbu.
Empat batang golok tipis yang berkilau saking tajamnya menyambar ke arah Hui Lian dalam gerakan mengancam karena empat orang ini masih merasa sungkan untuk membunuh seorang gadis remaja demikian cantiknya.
Kalau boleh dan dapat, mereka akan lebih suka menangkap saja dan menghadapkan gadis ini di depan pengadilan, daripada membawa mayatnya.
Akan tetapi dalam sekejap mata mereka sadar daripada mimpi enak ini.
Begitu Hui Lian menggerakkan pedangnya, terdengar suara nyaring dan dua golok menjadi buntung, sedangkan yang dua lagi hampir terlepas dari pegangan karena tangan mereka tergetar hebat!
Sampai memekik kaget empat orang busu berpakaian pedagang ini melompat mundur, muka mereka berubah pucat dan keringat dingin membasahi leher dan jidat.
Hui Lian tersenyum dan menahan pedangnya, tidak mau membalas serangan mereka.
"Masih ada yang hendak menangkapku?"
Tantangnya sambil menyapu ruangan itu dengan kerling matanya yang tajam.
Empat orang busu yang berpakaian pedagang itu bukanlah busu tingkat tertinggi.
Mereka itu tugasnya hanya menjadi mata-mata dan pengawas di hotel Thian Lok Likoan, dan biarpun kalau diukur dengan kepandaian ahli-ahli biasa saja mereka itu sudah termasuk jago-jago silat yang sukar dilawan, tetapi bagi Hui Lian mereka itu tidak ada artinya sama sekali.
Para pengepung adalah busu-busu yang terdiri beberapa tingkatan.
Sebagian besar terdiri dari busu yang tingkatnya sama dengan empat orang yang dalam segebrakan dikalahkan oleh Hui Lian.
Tiga orang busu mempuyai tingkat yang jauh lebih tinggi dapada mereka ini, dan terhitung busu-busu pilihan dari Istana.
Masih ada seorang lagi yang terpandai dari mereka, karena dia ini menjadi pemimpin dan sudah termasuk seorang perwira tinggi di kalangan busu istana.
Komandan atau pimpinan inilah yang tadi merobohkan dan menewaskan orang kate yang melarikan diri dari kamar Hui Lian melalui genteng.
Mengingat betapa dengan mudahnya ia dapat menewaskan Si Kate yang lihai dapat diduga betapa tinggi kepandaian perwira busu itu.
Busu lain yang kepandaiannya hanya setingkat dengan kepandaian empat orang busu yang berpakaian pedagang, melihat betapa dalam segebrakan saja Hui Lian sudah dapat membuntungkan dua batang golok dan membuat empat orang pengeroyoknya melompat mundur dengan perih, hati mereka sudah gentar.
Tiga orang busu yang tingkatnya lebih tinggi, yang terdiri dari tiga orang tua berusia sedikitnya lima puluh tahun kini melangkah maju menghadapi Hui Lian.
Pada saat itu, pintu-pintu kali hotel itu bergerit dan semua penghuni kamar mengintai dengan hati kebat-kebit.
Yang nyalinya besar keluar pintu dan menonton, yang kecil nyalinya menyembunyikan diri ketakutan.
Bahkan ada yang buru-buru keluar meninggalkan hotel itu.
Para pelayan menjadi kebingungan ke sana ke mari tak tentu tujuan.
Sebetulnya, menangkap seorang dua orang tamu hotel itu oleh pasukan biasa bukanlah hal yang amat aneh.
Akan tetapi, baru kali ini ada seorang gadis muda cantik hendak ditangkap, dan baru kali ini juga seorang gadis berani menghadapi sekalian busu itu dengan pedang di tangan!
Sebagian besar dari mereka merasa ngeri kalau membayangkan betapa gadis semuda dan secantik itu menjadi korban kekejaman para busu, menjadi korban senjata-senjata tajam yang tak pernah mengenaI ampun dari para pengawal istana itu!
Tiga orang busu kini sudah menghadapi Hui Lian.
Seorang di antara mereka yang paling tua, berkepala botak dan memegang sebatang toya yang disebut Long-gee-pang (Toya Gigi Srigala), berkata kepada Hui Lian.
"Benar-benar puteri Hwa I Enghiong lihai seperti ayahnya. Akan tetapi kau takakan mungkin dapat menang menghadapi kami, Nona. Andaikata kau berhasil mengalahkan aku, masih banyak lagi busu yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padaku, dan jumlahnya banyak sekali. Kau tidak percaya? Lihatlah!"
Busu ini bersuit keras dan terdengar jawaban dari empat penjuru, bahkan orang-orang berpakaian busu bermunculan dari setiap sudut.
Jumlah mereka semua entah berapa, akan tetapi kiranya tidak kurang dari lima puluhan orang!
"Nah, apa artinya kau melawan, nona?
Lebih baik menyerah.
Kami menawanmu dan membawamu menghadap ke depan Hakim Istana.
Di sanalah boleh membela kalau kau dianggap tidak berdosa, kau tentu akan dibebaskan."
Kata pula busu bersenjatakan Long gee-pang itu.
Hati Hui Lian tergerak.
Kata-kata busu ini dianggapnya masuk di akal, memang, melihat banyaknya busu yang mengepung tempat itu, agaknya tak mungkin ia dapat menyelamatkan diri melawan dan membunuh mereka ini apa artinya kalau akhirnya ia akan tertawan juga?
Ini berarti dosanya akan lebih besar.
Kalau menyerah, siapa tahu kalau ia dapat dibebaskan atau setidaknya mendapat keringanan?
tentu saja ia hanya mau menyerah dengan syarat, yakni tidak mau diikat dan tidak mau dilucuti senjatanya.
Berarti, sewaktu-waktu kalau perlu ia akan dapat melawan dan mengamuk!
Akan tetapi, belum juga ia menjawab kata-kata busu bersenjata Long gee pang itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar hotel dan tak lama kemudian dari luar berlari masuk seorang hwesio tinggi besar yang memanggul penggada besar pula.
Suaranya parau dan nyaring ketika ia berteriak-teriak.
"Busu-busu keparat, jangan berani mengganggu Nona Go Hui Lian!"
Hui Lian girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang datang ini bukan lain adalah Tang Hwesio! "Tang Lo-suhu""
Hui Lian berseru girang.
Lenyaplah seketika niatnya untuk menyerah ketika ia melihat hwesio tua yang bersemangat ini.
Apalagi ketika ia melihat betapa Tang Hwesio segera terjun di tengah-tengah para busu yang mengepung dan penggadanya segera mengamuk laksana seekor harimau galak, Hui Lian lalu menggerakkan pedangnya membantu.
Sebentar saja Hui Lian dan Tang Hwesio dikeroyok oleh puluhan orang busu dalam sebuah pertempuran yang luar biasa ramainya!
Gada di tangan Tang Hwesio benar-benar mengerikan sekali.
Beberapa kali terdengar suara keras dan kepala beberapa orang busu pecah berantakan tersambar oleh penggada.
Mayat-mayat para pengeroyok bertumpang tindih dan membanjiri ruangan itu.
Juga pedang di tangan Hui Lian amat lihai.
Sedikitnya ada enam orang pengeroyok yang roboh oleh pedang ini dan biarpun akibat dari pada serangan pedang ini tidak sehebat serangan penggada, namun yang roboh tak dapat bangun pula dengan tubuh utuh.
Akhirnya Hui Lian dan Tang Hwesio hanya dikeroyok oleh enam orang busu yang kepandaiannya tinggi.
Hui Lian keroyok dua sedangkan Tang Hwesio dikeroyok empat.
Yang mengeroyok Hui Lian adalah busu yang memegang Lot gee-pang dan seorang kawannya yang juga sudah berusia lima puluh dan yang memegang siang-kiam (sepasang pedang).
Kepandaian dua orang busu ini benar-benar hebat.
Long-gee-pang itu gerakannya lambat namun membawa tenaga yang luar biasa kuatnya tanda bahwa pemegangnya seorang ahli lwekeh yang jempolan.
Adapun siang-kiam di tangan orang ke dua amat cepat dan lincah gerakannya sehingga dalam diri dua orang pengeroyoknya ini.
Hui Lian mendapatkan lawan seimbang dan baginya malah menggembirakan.
Dengan ilmu pedang berdasarkan Pak-kek Sin-kiam-hwat, bepapun lihainya kedua lawan itu, dapat juga akhirnya pada jurus-jurus ke lima puluh lebih Hui Lian mendesak mereka.
Ataukah kedua lawannya yang sengaja memmperlambat gerakan?
Hui Lian merasa aneh karena entah mengapa setelah lima puluh jurus terlewat, kedua lawannya itu seakan-akan menjadi lemah dan ia tidak merasai tekanan lagi.
Lebih aneh lagi ketika dua orang itu bertempur sambil mundur sehingga tak lama kemudian pertempuran terpecah menjadi dua rombongan yang jauh jaraknya.
Setelah tertempur seru lagi beberapa jurus, tiba-tiba terdengar pemegang toya Long-gee-pang itu berkata perlahan.
"Lihiap, kami berdua adalah orang-orang pejuang rakyat. Kau boleh melukai dan merobohkan kami berdua, kemudian kau dapat melarikan diri melalui pintu di belakang itu lalu melompn naik ke atas genteng. Kalau nanti kau dikejar-kejar, dan tidak ada jalan keluar dari kota raja, jalan yang paling aman larilah ke dalam istana sekali. Banyak kawan di sana. Lekas!"
Hui Lian seketika menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Ia sejak tadi memang sudah melihat datangnya banyak sekali perwira-perwira busu dan maklum bahwa kalau para busu itu kepandaiannya setingkat dengan dua orang pengeroyoknya ini, akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan tertawan juga.
Kini mendengar omongan busu pemegang Long-gee-pang ini, pertama-tama menjadi bingung, akan tetapi melihat dia orang lawannya sengaja membuka pertahanan, Hui Lian cepat menggerakkan pedangnya dua kali dan pundak dua orang lawannya terluka ringan dan mengeluarkan darah.
Akan tetapi dua orang ini memekik dan senjata mereka terlepas dari tangan lalu mereka merobohkan diri seakan-akan terluka hebat.
Hui Lian tadinya hendak lari menurut jalan yang ditujukan oleh pemegang Long-gee-pang itu, akan tetapi ketika ia melirik ke depan, ia melihat Tang Hwesio sedang terdesak hebat.
Tang Hwesio dikeroyok oleh empat orang.
Tiga orang pengeroyoknya biarpun berkepandaian tinggi, namun masih di bawah tingkat hwesio itu, karena tingkat dua orang ini seimbang dengan tingkat dua orang pengeroyok Hui Lian.
Akan tetapi orang ke empat adalah busu komandan yang tadi melayang turun dari atas genteng dan ternyata dia ini seorang hwesio pula, hwesio yang kepala gundulnya tertutup topi busu berbulu garuda dan yang kini sudah menjadi seorang panglima!
Ilmu silat dari hwesio yang sudah malih rupa ini benar-benar lihai.
Dia memegang toya pula dan ketika ia menyerang Tang Hwesio, hwesio tua ini kaget sekali karena maklum bahwa lawan ke empat ini tak boleh dipandang ringan.
Apalagi setelah lawannya itu mainkan toya, ia mengenal Ilmu Toya Tat Mo Kun-hwat yang lihai dari Siauw lim-si.
Baiknya Tang Hwesio adalah seorang tokoh besar yang berilmu tinggi, kalau tidak, kiranya tak kan lama ia dapat bertahan menghadapi keroyokan empat orang lawan yang berkepandaian tinggi ini.
Ia melawan mati-matian dan biarpun dikeroyok empat oleh lawan-lawan yang tangguh, tetap saja penggada Hwesio masih berbahaya sekali.
Ada seorang busu rendahan yang mencoba untuk menyerangnya dari belakang, akan tetapi kedua orang pembokong ini roboh dengan kepala pecah!
Setelah itu tidak ada lagi lain busu, yang kepandaiannya belum tinggi betul berani coba-coba untuk menyerangnya.
Akan tetapi Tang Hwesio adalah seorang hwesio yang sudah tua, tenaganya masih besar akan tetapi daya tahan dan keuletannya tidak seperti dulu-dulu lagi.
Menghadapi empat orang pengeroyok yang amat tangguh dan yang sukar sekali dirobohkan, lambat -laun tenaga dan keuletannya berkurang dan ia mulai terdesak hebat.
Bahkan dalam sebuah serangan yang bertubi-tubi dari empat lawannya, ia kurang cepat karena sudah lelah sekali sehingga toya di tangan komandan busu dengan keras mengenai pundak kirinya, menyebabkan tulang pundaknya patah!
Pada saat itulah Hui Lian berhasil merobohkan dua orang pengeroyoknya dan selagi gadis ini hendak melarikan diri, ia melihat keadaan Tang Hwesio.
Seketika itu juga lenyaplah niatnya untuk lari.
Sambil berseru nyaring, gadis ini melompat dan dengan tepat sekali menangkis toya yang menyambar ke arah kepala Tang Hwesio.
"Tang Lo-suhu, jangan khawatir, aku membantu!"
Teriak Hui Lian sambil memutar pedangnya dengan cepat menghadap empat orang lawan itu. Ilmu pedang dari gadis ini memang ilmu pedang pilihan, empat orang lawannya tidak berani memandang ringan.
"Nona, hati-hati, mereka itu lihai kata Tang Hwesio yang timbul kembali semangat dan kegagahannya, dan biarpun lengan kirinya lumpuh, ia masih mengamuk dengan penggada di tangan kanannya. Lakunya seperti seekor harimau terluka dan dengan pukulan yang luar biasa hebatnya ia membuat golok di tangan seorang pengeroyok terlempar dan pemegangnya sendiri terpental karena dorongan penggada! Akan tetapi pada saat itu, di dalam pertempuran bertambah tiga orang lagi, busu yang kepandaiannya hampir setingkat dengan komandan bertoya! Dalam segebrakan saja, tahulah Tang Hwesio dan Hui Lian bahwa keadaan mereka berbahaya sekali.
"Nona, kau larilah! Biar pinceng yang menahan mereka!"
Tang Hwesio membentak keras sambil memutar penggadanya.
Hwesio tua ini setelah melihat bahwa mereka berdua takkan dapat lolos berlaku nekat dan hendak mengorbankan diri agar memberi kesempatan kepada Hui Lian melarikan diri.
Akan tetapi Hui Lian adalah keturunan orang gagah, ia seorang gadis yang tidak saja memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi juga memiliki watak yang gagah dan berbudi baik.
Mana ia sudi meninggalkan kawan dalam keadaan bahaya niengancam?
"Kita melawan terus, Tang-losuhu.
Menang atau mati!"
Pedangnya diputar makin cepat dan seorang pengeroyok terjungkal dengan lengan terbabat putus sebatas siku.
"Bodoh kita takkan menang! Jangan buang nyawa sia-sia.... lekas lari dan...!"
Kata-katanya terhenti dan tubuh Tang Hwesio terjengkang ke belakang.
Toya di tangan lawannya yang paling tangguh telah memasuki dadanya.
Tang Hwesio roboh terlentang dan tewas sebagai seorang gagah.
Melihat Tang Hwesio tewas, baru Hui Lian ingat akan petunjuk dari busu bersenjata Long-gee-pang.
Setelah kawannya binasa, memang tidak ada perlu membuang nyawa cuma-cuma.
Ia harus dapat melarikan diri.
Melawan sama dengan membunuh diri.
Cepat ia melompat ke belakang dan ginkangnya yang sempurna membuat ia dapat mendahului para pengeroyoknya.
Dengan ringan sekali ia melompat-lompat melalui pintu belakang hotel.
Sekali ia mengerahkan tenaga, tubuhnya sudah melayang naik ke atas genteng.
Tiba-tiba dari samping menyambar tiga sinar hitam.
Hui Lian tidak mau menangkis dengan pedangnya karena takut mengeluarkan suara berisik, hanya mengelak dengan mudah saja.
Tiga batang piauw menyambar lewat di dekat kepalanya.
Gadis itu berlari terus.
Para busu berteriak-teriak mengejarnya.
Petunjuk dari busu yang mengaku sebagai mata-mata pejuang rakyat agar ia melarikan diri ke Istana.
bagi Hui Lian masih meragukan.
Bagaimana orang disuruh melarikan diri justeru ke Istana, dimana menjadi pusatnya para busu?
Bukankah itu sama halnya dengan menyuruh domba memasuki gua harimau?
Hui Lian bersangsi dan takut kalau-kalau itu hanya siasat saja dari musuh.
Maka ia melarikan diri ke selatan, dengan maksud lari keluar pintu selatan kotaraja.
Akan tetapi, para busu itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga sebentar saja ada belasan orang busu yang sudah mengejarnya dengan kecepatan yang tidak kalah jauh olehnya!
Baiknya waktu itu senja hari telah lewat dan keadaan udara sudah remang-remang, sehingga menguntungkan bagi Hui Lian.
Gadis ini tidak mengambil jalan diatas rumah-rumah penduduk saja, kadang-kadang ia melompat turun dan berlari cepat diatas jalan, dan dijalan yang ramai ia melompat lagi keatas genteng.
Akan tetapi, baru berlari dia li dari hotel itu, pada sebuah tikungan, ia melihat lima orang busu mencegatnya!
Mereka ini bersenjata pedang dan serentak menyerang dan mengurungnya.
Hui Lian menyambut serangan mereka dan setelah merobohkan seorang diantara mereka, ia lari lagi secepatnya.
Akan tetapi, lagi-lagi dari kanan-kiri berdatangan busu yang mencegatnya, sehingga larinya terhalang dan para pengejarnya sudah mendekat.
"Celaka,"
Pikirnya.
"di kota raja agaknya penuh dengan pasukan pengawal kaisar."
Hui Lian mengamuk lagi, saking gemasnya ia sampai lupa akan lelehan dan kembali ia berhasil merobohkan dua orang lawan.
Namun, pertempuran dengan para pencegat baru ini membuat ia kehilangan (Lanjut ke
Jilid 24) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 waktu dan para pengejar yang semenjak tadi mengikutinya, telah tiba di situ dan sebentar saja Hui Lian sibuk melayani keroyokan belasan orang yang berilmu tinggi.
la masih mencoba untuk mengamuk akan tetapi tenaganya tidak mengijinkan lagi dan lawan terlampau banyak.
Sebuah pukulan ruyung mengenai lengan kanannya, membuat pedangnya terlepas di lain saat ia telah kena totokan yang lihai dari belakang sehingga nona gagah ini akhirnya roboh.
Di lain saat ia telah dibelenggu kedua tangannya ke belakang dan di pergelangan kaki kanannya dipasangi rantai yang kuat.
Biarpun tubuhnya terasa sakit-sakit namun sebentar saja Hui Lian sudah dapat membebaskan diri dari totokan dan bangkit berdiri.
Ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan muka menderita atau takut, berdiri tegak dengan gagahnya.
"Aku telah kalah, mau bunuh boleh bunuh"
Katanya lantang.
"Kau siluman wanita benar-benar membuat kami repot,"
Kata komandan bekas hwesio yang memegang toya.
"Hayo ikut kami ke istana, menghadap Hakim Istana."
Akan tetapi pada saat itu, semua busu berdiri tegak memberi hormat dan memandang ke arah sebuah kendaraan yang ditarik oleh empat ekor kuda besar.
Kendaraan itu indah sekali dan setibanya di tempat itu, pengendara menghentikan kudanya.
Pintu kendaraan terbuka dan dua orang pemuda melompat keluar.
Hui Lian yang semenjak tadi memandang ke arah kendaraan itu, hampir saja mengeluarkan teriakan kaget ketika melihat seorang di antara dua pemuda ini.
Pemuda yang turun lebih dulu adalah seorang pemuda berbaju hijau yang berajah tampan dan bersikap gagah.
Usianya paling banyak dua puluh lima tahun, alisnya tebal dan ia memegang sebatang tongkat pendek yang gagangnya diukir kepala ular.
Bajunya yang hijau terbuat daripada kain sutera tipis yang berkibar ketika ia menuruni kendaraan sehingga ia benar-benar nampak gagah menarik.
Akan tetapi pemuda kedua yang turun kemudian, bahkan melampaui pemuda pertama.
Pemuda yang kedua ini lebih muda, kurang lebih dua puluh tiga tahun usianya, pakaiannya indah sekali, terbuat daripada sutera biru putih, dijahit dengan benang emas, wajahnya tampan sekali dan sikapnya halus.
Melihat pemuda ini, Hui Lian benar-benar terkejut karena pemuda itu dikenalnya sebagai...
Wan Sin Hong!
Ketika pemuda ini turun, semua busu memberi hormat.
Pemuda itu mengangkat tangan dan berkatalah ia dengan suaranya yang halus.
"Ada terjadi ribut-ribut apa lagikah ini?"
Kemudian busu bekas hwesio maju selangkah, memberi hormat dan memberi laporan singkat.
"Seorang pemberontak memasuki kota raja dan membunuh banyak anggauta siwi. Akhirnya di sini berkat kerja sama, hamba sekalian dapat menawannya hidup-hidup."
"Mana dia?"
Tanya pemuda tampan ini.
"Inilah orangnya, Siauw-ongya."
Kemudian bekas hwesio ini mendorong Hui Lian maju.
Pemuda itu mengerutkan kening.
Hui Lian memandang tajam, sinar matanya dingin sekali karena ia mengira bahwa pemuda itu tentulah Wan Sin Hong yang entah dengan cara bagaimana kini dia menduduki pangkat tinggi di kota raja.
Akan tetapi, pemuda itu memandang kepadanya seperti orang baru bertemu muka kali ini, dan jelas nampak kekaguman membayang di matanya yang bagus dan agak kebiruan.
Kemudian katanya kepada komandan busu itu.
"Kalian ini kerjanya hanya bikin ribut saja dan mencari perkara. Bagaimana seorang nona muda seperti ini kalian katakan pemberontak? Coba ceritakan, bagaimana mula-mulanya"
Nada suara yang tIdak senang itu membuat Si Komandan berubah air mukanya.
"Ampun, Siauw-ongya. Gadis ini memang betul pemberontak. Dia puteri dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le dan dia pernah mengadakan hubungan dengan Temu Cin!"
Pemuda tampan itu menengok kepada Hui Lian, nampaknya terkejut dan heran, juga tertarik. Kemudian ia bertanya kepada Hui Lian dengan suara halus.
"Nona, betulkah kau pernah mengadakan hubungan dengan Temu Cin? Sukakh kau menerangkan hal ini kepadaku?"
Tadinya Hui Lian bersabar dan ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan Wan Sin Hong karena ia dapat menduga bahwa pemuda ini pasti akan menolongnya, sungguhpun ia tidak terlalu menghapkan pertolongannya.
Akan tetapi ketika mendengar pertanyaan itu, darahnya meluap.
Sepasang matanya melotot dan in mendamprat.
"Wan Sin Hong, jangan kau hendak membadut di depanku! Aku sudah tertangkap oleh tikus-tikus istana hendak di bunuh. Biar dibunuh, kau perduli apakah? akupun tidak mengharapkan pertolonganmu, tahu?"
Pemuda itu membuka lebar-lebar kedua matanya, menengok ke kanan-kiri seakan-akan mencari orang yang didamprat oleh Hui Lian.
Ketika tidak melihat ada orang lain, ia menudingkan telunjuknya kepada dadanya sendiri dan bertanya kepada Hui Lian, terlalu heran untuk dapat marah.
"Eh, nona. Kau tadi mendamprat akukah?"
Sebelum Hui Lian sempat menjawab karena nona inipun terheran melihat sikap pemuda itu yang kini memperlihatkan perbedaan menyolok dengan sikap Sin Hong yang jantan dan gagah, komandan bekas Hwesio sudah membetot rantai belenggunya dan membentak.
"Setan perempuan, jangan kau kurang ajar! Kau berhadapan dengan Pangeran Muda Wanyen, apa kau sebut-sebut Wa Sin Hong?!"
Saking marahnya dan dalam usahanya agar menyenangkan hati Pangeran itu, si komandan bekas Hwesio mengangkat tangan hendak menampar uka Hui Lian akan tetapi pemuda baju hijau itu berseru.
"Jangan pukul dia!"
Komandan itu bersikap hormat kepada Pangeran Wanyen, akan tetapi sama sekali tidak mengindahkan perintah pemuda baju hijau, maka iapun membalas dengan bentakan.
"Kau siapakah?"
Selagi dua orang ini saling pandang dengan marah, Pangeran Wanyen berkata kepada komandan itu.
"Memang tak boleh memukul seorang wanita didepanku. Lebih baik kau ceritakan bagaimana mula-mula kau menangkap dia."
Komandan itu melanjutkan ceritanya.
"Dia bermalam di Hotel Thian Lok Likoan. Beberapa orang penyidik mendengar ia mengaku bernama Go Hui Lian puteri dari pemberontak Go Ciang Le. Hamba membawa anak buah datang ke Hotel hendak menangkapnya. Kebetulan sekali didalam kamarnya hamba melihat ada seorang mata-mata Mongol yang bertubuh kate. Ketika kami datang, mata-mata itu hendak lari, akan tetapi berhasil hamba tewaskan. Gadis liar ini tidak mau menyerah, melainkan melawan dan menewaskan banyak anak buah hamba. Akhirnya datang kawannya, seorang hwesio yang kosen dan yang dapat pula kami tewaskan itu telah dia membunuh banyak kawan hamba. Gadis ini sendiri baru dapat ditangkap di sini. Mohon petunjuk selanjutnya dari Siauw-ongya."
"Kau lepaskan dia!"
Perintah yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya ini membuat komandan itu dan semua busu mengangkat muka terheran-heran, juga penasaran.
Gadis itu akhirnya dapat ditangkap dengan susah payah setelah mengorbankan dua puluh lebih anak buah pasukan, bagaimana sekarang disuruh melepaskan lagi?
"Tapi...
ampun, Siauw-ongya...
tapi"
Dia pemberontak berbahaya dan... dan"."
"Cukup omong kosong ini"
Dia putri Go Ciang Le, bukan berarti dia pemberontak!
Apa buktinya dia memberontak?
Dia baik-baik melancong ke kota raja, tanpa kesalahan apa apa kau yang terlalu pintar ini sudah mencurigainya.
Kemudian kau datang dengan gentong-gentong nasi itu hendak menangkapnya.
Dia seorang gadis kang-ouw yang gagah, tentu saja tidak sudi ditangkap.
Kemudian kalian mengeroyoknya dan dia melawan sampai ada beberapa orang gentong nasi tewas.
Salah siapakah itu?
Hm, kalau saja busu-busu istana tidak begitu goblok, menangkap-nangkapi orang tidak berdosa sebaliknya tidak becus menangkap penjahat-penjahat yang sesungguhnya "..!"
Pangeran Wanyen menarik napas panjang kemudian perintahnya.
"Lepaskan dia!"
"Akan tetapi hamba... hamba tidak bertanggung jawab kalau dia mengamuk di kota raja. Siauw-ongya,"
Kata komandan bekas hwesio itu ragu-ragu dan takut.
"Siapa mendengar mulut busukmu? Aku yang menyuruh lepas, aku pula yang tangung jawab! kau ini siapakah berani membantah perintahku? Hm... benar benar tidak beres. Seorang komandan kecil saja sudah mulai berani menentangku."
Komandan itu menjadi pucat dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut.
"Tidak sama sekali, Siauw-ongya. Mohon ampunkan dosa hamba. Baik, hamba mentaati perintah!"
Ia buru-buru berdiri dan dengan tangan-tangan gemetar melepaskan ikatan tangan dan kaki Hui Lian.
"Sekarang pergilah, bawa anak buahmu dan rawat mereka yang luka, urus yang sudah tewas. Selanjutnya, kalau tidak sudah nyata bukti-buktinya, kalian tidak boleh sembarangan menangkap-nangkapi orang."
Komandan itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri bersama anak buahnya sambil menundukkan kepala.
Mereka semua berkecil hati karena tadinya mengharapkan pujian dan pahala, tidak tahunya bahkan mendapat celaan dan makian!
Sementara itu, Hui Lian melihat semua peristiwa ini dengan hati tidak karuan.
Sudah semenjak kecil ia didongengi ayah bundanya bahwa pemerintah Kin amat jahat, bahwa pembesar-pembesar Kin amat kejam sehingga telah timbul rasa benci di dalam hatinya terhadap Pemerintah Kin, dan karenanya dahulu ia bersimpati terhadap Temu Cin yang bermaksud menumbangkan Pemerintah Kin.
Akan tetapi sikap pangeran muda bangsa Kin pangeran yang semuanya serupa benar dengan Wan Sin Hong, hanya warna matanya yang berbeda, membuat ia ragu-ragu.
Mata Sin Hong tajam dan maniknya hitam arang, sedangkan mata pangeran ini tajam akan tetapi maniknya agak kebiruan.
Alangkah jauh bedanya sikap pangeran ini dengan apa yang ia dengar dari ayah bundanya tentang kekejaman orang-orang bangsa Kin!
Dengan jengah, terpaksa Hui Lian melangkah malu, menjura kepada pangeran Wanyen sambil berkata.
"Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih kepadamu, Siauw-ongya, karena pertolongan dan pembelaanmu, tadi benar-benar membuat aku tidak mengerti. Akan tetapi betapapun juga, aku harus minta maaf atas kekasaranku tadi, karena aku tadinya mengira Siauw ongya adalah seorang lain...."
"Dengan Wan Sin Hong? Benar-benarkah dia seperti aku? Orang macam apakah dia? Aku ingin sekali bertemu dengan dia!"
Kata Pangeran itu dan pandang matanya terhadap Hui Lian membuat gadis ini menundukkan mukanya karena jelas sekali terpancar sinar kagum dan tertarik.
Hui Lian tidak mau bicara lebih banyak tentang Wan Sin Hong, dan pada saat itu, pemuda baju hijau berkata, suaranya juga halus dan sopan.
"Go-lihiap, kau menghaturkan terima kasih atau tidak bagi Pangeran Wanyen tidak ada bedanya. Ketahuilah bahwa Pangeran Wanyen adalah satu-satunya orang di kota raja yang boleh kau percaya penuh kemuliaan hatinya yang suka menolong siapa saja yang mengalami kesusahan."
"Aah, Coa-sicu, kau ini bisa saja!". Pangeran itu mencela, kemudian berkata kepada Hui Lian.
"Nona, dia itu berdusta. Sesungguhnya, dialah yang menolongmu. Kalau tidak ada dia yang datang kepadaku, yang menyatakan bahwa kau ini puteri seorang pendekar besar, menyatakan pula bahwa Ibumu adalah Sumoi dari pendekar wanita Thio Ling In isteri dari Pamanku Wanyen Kan, bagaimana aku bisa tahu dan bisa menolongmu? Dan pula, dialah orangnya yang akan mengantarmu keluar dari kota raja agar kau jangan sampai diganggu orang di sini. Maka kalau mau bicara tentang terima kasih, agaknya kepada dia lah kau harus berterima kasih. Nah, selamat jalan, Nona, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Coa-sicu, kauantar nona Go keluar dari kota raja dan setelah ia berada dalam keadaan aman betul baru kau kembali ke istanaku memberi laporan."
"Baik Siauw-ongya,"
Jawab pemuda she Coa itu, nampaknya gembira sekali. Pangeran Wanyen itu naik kembali ke dalam kendaraannya dan Hui Lian mengejar dengan ucapan.
"Terima kasih banyak atas budi kebaikan Siauw-ongya."
Pangeran muda itu menengok, tersenyum, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup pintu kendaraan.
Kemudian ia memberi perintah kepada pengendara dan kendaraan itu bergerak maju, ditarik oleh empat ekor kuda yang besar dan kuat.
Pemuda baju hijau itu menjura kepada Hui Lian dan berkata perlahan.
"Go lihiap, mari kita berjalan sambil bercakap-cakap. Tidak baik di sini, terlalu diperhatikan orang."
Hui Lian maklum karena memang semenjak tadi, orang-orang menonton dari jauh, tidak berani mendekat Pangeran Wanyen yang di kota raja mempunyai kedudukan tinggi itu.
Sambil berjalan pemuda baju hijau itu berkata, sikapnya ramah tamah dan sopan.
"Go-lihiap, kau tentu bertanya-tanya di dalam hati siapakah aku ini maka aku berusaha untuk membantumu."
"Memang aku merasa heran sekali dan juga tidak enak hati karena tidak mengenal siapa orang yang sudah berlaku baik kepadaku."
"Aku yang rendah bernama Coa Hong Kin. Suhuku Cam-kauw Sin kai kenal baik dengan Ayahmu."
"Ah, jadi kau murid Cam-kauw Sin-kai? Aku pernah bertemu dengan dia ketika dahulu mengunjungi rumah Ayah."
Kata Hui Lian dengan girang karena ia tahu bahwa Cam-kauw Sin-kai adalah seorang pendekar tua yang disukai oleh ayahnya.
Kini bertemu dengan muridnya, berarti bertemu dengan orang segolongan.
Coa Hong Kin mengangguk.
"Suhu juga banyak bicara dengan aku dan mendongeng tentang Ayah Bundamu, tentang kau dan tentang Sucimu yang bernama Gak Soan Li. Sudah lama sekali aku amat kagum terhadap keluarga Ayahmu. Oleh karena itu, tadi secara tidak mengaja aku mendengar tentang keributan di hotel, tentang seorang nona bernama Go Hui Lian puteri Go Ciang Le yang dikeroyok oleh para busu. Aku tahu apa artinya itu, dan tahu bahwa para busu di sini amat kuat dan berbahaya. Oleh karena itu, aku sengaja pergi mencari dan menarik tangan Pangeran Muda Wanyen untuk menolongmu."
"Kalau begitu betul Pangeran Wanyen,"
Kata Hui Lian sambil tersenyum "Agaknya aku berhutang terima kasih kepadamu, Saudara Coa."
"Ah, tak perlu sungkan, Nona. Di antara kita, apakah artinya saling bantu? Aku pun di dunia kangouw entah sudah berapa ratus kali dibantu oleh kawan-kawan segolongan."
Jawaban ini menyenangkan hati Hui Lian.
Dalam diri Coa Hong Kin ia mendapatkan seorang pemuda yang tidak saja tampan dan gagah, juga amat jujur dan bersikap sederhana sungguhpun pakaiannya rapi dan bersih selalu.
"Amat menarik hatiku untuk mengetahui bagaimana kau bisa kenal begitu baik dengan Pangeran itu, Saudara Coa,"
Kata Hui Lian. Coa Hong Kin menghela napas panjang.
"Aku pujikan kelak dia yang akan menjadi kaisar. Jika demikian halnya agaknya hidup ini akan banyak senang karena keadilan selalu dikemukakan oleh Kaisar. Dia itu banyak persamaannya dengan Wanyen Kan yang pernah kudengar sifat dan wataknya dari Suhu. Pangeran Wanyen ini bernama Ci Lun, atau panjangnya Wanyen Ci Lun. Dengan Wanyen Kan ia adalah keponakan karena ayahnya yang sudah meninggal adalah kakak dari Wanyen Kan. Seperti juga Wanyen Kan dahulu, Pangeran Wanyen Ci Lun ini tidak bersikap sombong dan suka bergaul dengan rakyat, bahkan amat menyukai kebudayaan rakyat jelata sehingga gerak geriknya tiada ubahnya seperti seorang Han terpelajar. Hanya bedanya, kalau Wanyen Kan dahulu seorang gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya, adalah Wanyen Ci Lun ini tidak pernah mempelajari ilmu silat, hanya ilmu keusasteraannya amat tinggi. Dia amat mengagumi orang-orang gagah dan banyak membaca cerita tentang orang-orang gagah. Maka tidak heran apabila ia mendengar permintaanku dan cepat-cepat pergi menolongmu. Aku kenal dengan Pangeran Wanyen Ci Lun ketika pada suatu hari ia menyamar sebagai penduduk desa dan keluar dari kota raja, kemudian hampir menjadi korban penjahat karena dikira seorang pemuda kaya raya hendak dirampok. Kebetulan aku melihatnya dan turun tangan mengusir para penjahat itu. Semenjak itu, sudah dua tahun yang lalu, kami bersahabat dan setiap kali aku datang di kota raja, aku pasti berkunjung dan bahkan menginap di gedungnya."
Hui Lian mengangguk-angguk, bukan hanya untuk memuji dan menyatakan kagum kepada Pangeran Wanyen Ci Lun, akan tetapi diam-diam juga lenyap keheranannya tadi ketika melihat persamaan wajah pangeran itu dengan wajah Wan Sin Hong.
Ia tahu bahwa Wan Sin Hong adalah putera Thio Ling In dan Wanyen Kan atau Wan Kan, maka antara Sin Hong dan Pangeran Wanyen Ci Lun masih ada pertalian darah, yakni saudara seketurunan Wanyen.
Pada hakekatnya she Wanyen.
Percakapan mereka tertunda ketika lima orang berpakaian penjaga menyetop mereka dan dengan suara angkuh bertanya.
"Kalian siapa dan hendak ke mana? Beri keterangan jelas, kalau tidak terpaksa kami tahan"
Kata seorang di antara mereka.
Hong Kin dan Hui Lian maklum bahwa karena peristiwa tadi maka di seluruh kota diadakan penjagaan ketat dan pemeriksaan.
Coa Hong Kin dengan tenangnya mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, mendekati kepala penjaga dan memperlihatkan benda itu.
Kepala penjaga setelah melihat benda itu lalu berdiri tegak, memberi hormat dan berkata.
"Taijin dan Toanio dipersilakan melanjutkan perjalanan""
Hong Kin tersenyum dan membetot tangan Hui Lian untuk segera pergi.
Setelah jauh dari tempat penjagaan, baru ingatlah pemuda itu bahwa ia masih memegangi tangan Hui Lian yang halus kulitnya, maka buru-buru ia melepaskan tangan itu dan wajahnya menjadi merah.
Hui Lian sendiri karena tadi melihat perbuatan Hong Kin ini amat wajar dan disangkanya untuk mengelabuhi mata para penjaga tidak keberatan tangannya di betot, maka ia pun tidak merasa apa-apa.
"Saudara Hong Kin, benda apakah yang begitu besar pengaruhnya, sehingga para penjaga itu nampak ketakutan? Mengapa pula kau disebut taijin, pangkat apakah yang kaupegang?"
Hong Kin mengeluarkan benda itu dan memperlihatkannya kepada Hui Lian.
Ternyata itu adalah sebuah kancing baju terbuat daripada emas yang diukir merupakan seekor liong melingkari huruf "WANYEN".
Pemegang kancing ini berarti seorang kepercayaan dari Pangeran Wanyen Ci Lun, maka penjaga tadi menjadi takut dan tidak berani mengganggu.
"Karena memegang kancing ini aku disangka pembesar dan disebut taijin, benar-benar lucu sekali."
Hong Kin tertawa dan Hui Lian juga ikut tertawa.
Diam diam Hui Lian merasa suka kepada pemuda baju hijau yang patut dijadikan sahabat yang baik dan menyenangkan.
Beberapa kali mereka ditahan dan dperiksa, akan tetapi selalu kancing wasiat yang dibawa oleh Hong Kin membuka semua jalan dengan lancarnya.
Bahkan ketika mereka menghadapi pintu gerbang tembok kota raja yang tertutup kancing itu pun cukup berkuasa untuk membukanya.
Dengan lega mereka berdua berlari keluar dari pintu gerbang kota sebelah selatan.
"Saudara Coa, kita sekarang harus lari ke mana?"
Tanya Hui Lian yang tidak mengenal daerah ini.
"Aku mempunyai kenalan baik, Nona, yakni seorang hwesio yang bernama Hoan Ki Hosiang di kelenteng Kwan te-bio tak jauh dari sini, di luar sebuah kampung. Mari kita pergi dan bermalam di sana. Besok kau baru dapat melanjutkan perjalananmu dan aku harus kembali ke istana."
Kalimat terakhir ini keluar dari mulut Hong Kin dengan nada kecewa.
Baca Juga: Suling Emas 4
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 2