Ceritasilat Novel Online

Pedang Penakluk Iblis 9

Eps 9 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Memang pemuda ini merasa amat kecewa harus sudah meninggalkan Hui Lian pada esok hari.

Biarpun baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hui Lian, namun ia amat tertarik dan diam-diam ia telah jatuh hati kepada gadis perkasa ini.

Mereka berjalan terus menuju ke kelenteng yang dimaksudkan oleh Hong Kin sambil bercakap-cakap.

"Saudara Hong Kin, sudah lamakah kau berada di kota raja?"

Tiba tiba Hui Lian bertanya.

"Sudah beberapa bulan, ada apakah?"

"Pernahkah kau mendengar tentang Ayah Bundaku di kota raja? Sebetulnya aku sedang mencari mereka dan kukira tadinya bahwa mereka pergi ke kota raja."

"Orang-orang besar seperti Ayah Bundamu kalau tiba di kota raja siapakah yang takkan tahu? Tidak, Nona. Ayah Bundamu pasti tidak ada di kota raja. Baru kau saja yang datang semua orang sudah mengetahui, apalagi kalau yang datang Ayah Bundamu, pasti timbul kegemparan hebat."

Hong Kin berhenti sebentar, kemudian dia teringat akan penuturan komandan busu di depan Pangeran Wanyen, maka ia lalu bertanya.

"Nona, tentang orang Mongol kate yang dikatakan berada dikamarmu, bagaimanakah persoalannya? Setelah kita menjadi sahabat, kiranya tidak berhalangan kalau aku bertanya tentang ini kepadamu."

"Tentu saja, tidak ada rahasia apa-apa, dan juga dengan orang aneh itu."

Hui Lian lalu menuturkan sejujurnya tentang semua yang ia alami di hotel Thian Lok Likoan, bahkan ia menuturkan pula tentang dua orang busu yang mengaku sebagai pejuang rakyat dan yang telah menolongnya pula.

Ia menuturkannya dengan kata-kata menyatakan herannya.

"Saudara Hong Kin, baru sehari saja di kota raja aku merasa seperti berada dalam mimpi, berada dalam sebuah tempat yang penuh rahasia dan aneh sekali. Ada mata-mata Mongol, lalu ada busu yang mengaku pejuang rakyat dan membelaku, ada komandan busu gundul dan kemudian muncul orang seperti Pangeran Wanyen yang menolong orang yang dianggap pemberontak, kemudian, aku bertemu pula dengan orang seperti kau ini. Apakah sih artinya semua rahasia di kota raja?"

Hong Kin tersenyum.

"Memang membingungkan bagi yang tidak tahu, Nona. Keadaan di kota raja memang rusuh dan menggelisahkan. Memang pada saat ini ada tiga macam pengaruh saling bertentangan di kota raja, bahkan lebih dari tiga karena masing-masing pengaruh terpecah pula menjadi dua golongan. Pertama adalah pengaruh dari Pemerintah Kin sendiri, yakni kaisar yang didukung oleh para pangeran dan mempergunakan pasukan busu yang amat besar untuk melindungi keselamatan keluarga Kaisar. Akan tetapi pihak ini sendiri boleh dibilang terpecah dua karena ada golongan yang mempunyai cita-cita sendiri, yaitu hendak bekerja sama dengan rakyat. Kau tentu dapat menduga bahwa Pangeran Wanyen Ci Lun termasuk golongan ke dua ini. Dia tidak anti Kaisar hanya tidak setuju akan cara kerja Kaisar, tidak mau menindas rakyat bahkan hendak mengambil hati rakyat untuk diajak memperkuat negara!"

Hui Lian mengangguk-angguk.

"Sifat yang amat baik. Aku pernah mendengar cerita Ayah tentang Wanyen Kan, demikian sifat pangeran itu dahulu."

Hong Kin melanjutkan penuturannya.

"Adapun pengaruh ke dua adalah pengaruh dan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Temu Cin, dan pada waktu ini di kota raja banyak sekali pengikutnya, menyamar sebagai pedagang dan penduduk biasa, bahkan ada yang menyamar sebagai busu, Mata-matanya, tersebar luas dan orang kate yang kaulihat itu adalah seorang di antara mata-matanya. Karena kau pernah ke utara dan bertemu dengan Temu Cin, mendapat penghargaan pemimpin Mongol itu seperi yang kauceritakan tadi. Maka tentu saja mata-mata Mongol menaruh hormat dan suka membelamu."

"Temu Cin memang lihai sekali, dia patut menjadi pemimpin besar."

Hui Lian memberi komentar.

"Kedudukan Pemerintah Kin tentu terancam oleh munculnya pemimpin ini."

"Memang demikianlah."

Hong Kin membenarkan.

"Kemudian pengaruh yang ketiga, yakni terdiri daripada penyelidik-penyelidik dan mata-mata para pejuang rakyat yang semenjak dahulu tiada hentinya mengadakan pemberontakan menentang kekuasaan Pemerintah Kin Dan pengaruh inilah yang terpecah-pecah, sebagian adalah yang bercita cita sendiri menggulingkan kekuasaan Pemerintah Kin, ada pula yang hendak bersekongkol dengan orang-orang Mongol dalam menentang Pemerintah Kin, ada pula yang sebaliknya, yakni mau bersekongkol dengan Pemerintah Kin untuk menentang ancaman orang-orang Mongol.Pendeknya, di kota raja terjadi pertentangan-pertentangan yang ruwet dan yang amat merugikan saja."

"Hm, memang enak sekali bagi orang-orang jahat untuk memancing di air keruh,"

Kata Hui Lian. Hong Kin memandang kagum.

"Ternyata kau cerdik sekali dan mengerti hal yang demikian ruwetnya dengan menangkap inti sarinya. Memang demikianlah Nona. Pertentangan-pertentangan yang ruwet itu dijadikan kesempatan luas sekali oleh orang-orang bermoral bejat untuk menggaruk keuntungan sebesar-besarnya, mengadu domba sana sini dan memeras mereka yang lemah."

Sementara itu, bulan telah muncul tinggi. Kebetulan sekali bulan purnama, maka keadaan menjadi indah menimbulkan kegembiraan, dan hawanya sejuk sekali.

"Mari kita mempercepat perjalanan. Kelenteng Kwan-te-bio sudah dekat. Paling jauh lima li lagi,"

Kata Hong Kin.

"Ssst, ada suara derap banyak kuda dari belakang!"

Hui Lian berkata, Hong Kin yang kalah tajam pendengarannya, menghentikan tandakan kakinya.

Setelah menyatukan perhatiannya, ia pun mendengar pula derap kaki kuda itu, bahkan telinganya yang sudah berpengalaman dapat menduga bahwa yang datang itu sedikitnya ada dua puluh ekor kuda.

"Celaka, kita dikejar juga!"

Katanya.

"Lebih baik kita lari sebelum tersusul."

Hui Lian menggelengkan kepalanya.

"Apa gunanya? Kalau betul mereka yang mengejar, biarpun kita lari akhirnya akan tersusul juga. Bagaimana kita dapat mengadu kekuatan berlari dengan kuda pilihan? Tidak, Saudara Coa. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan seperti tadi. Kalau sampai tersusul dan mereka menyerang, kita lawan sedapatnya. Dan lagi, belum tentu mereka itu adalah para busu yang mengejar kita."

Hong Kin tidak membantah lebih lanjut karena ia tidak suka kalau nona ini akan menganggapnya pengecut.

Dua orang muda ini melanjutkan perjalan seperti tadi dengan tenang.

Suara derap kaki kuda makin lama makin jelas dan tak lama kemudian muncullah serombongan orang menunggang kuda dengan cepat, Hong Kin dan Hui Lian berdiri di pinggir jalan dan dua puluh lebih penunggang kuda itu lewat dengan cepat.

Hong Kin sudah menarik napas lega karena kecepatan kuda itu tidak memungkinkan mata mengenal mereka dan melihat mereka lewat tanpa menoleh, besar harapannya bahwa mereka memang bukan para busu yang mengejar.

Akan tetapi tiba-tiba penunggang kuda yang paling belakang berseru.

"Ini mereka! Berhenti...!"

Serentak mereka menahan kendali kuda dan debu mengepul tinggi.

Di lain saat para penunggang kuda sudah memutar kepala kuda dan seorang yang bertubuh tinggi akan tetapi punggungnya bongkok, duduknya di atas kuda miring tak seperti layaknya orang menunggang kuda, menggerakkan kuda dan maju menghadapi Hong Kin dan Hui Lian.

"Nona, dia itu adalah kepala busu kaisar, bernama Liok-te Mo-ong Wie It."

Hong Kin berbisik kepada Hui Lian, suaanya menyatakan kekhawatiran besar.

Pemuda ini tidak takut dan tidak mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri, akan tetapi ia benar-benar khawatir akan keselamatan nona yang telah merampas hatinya itu.

Hui Lian memandang, ingin sekali tahu bagaimana macamnya orang memakai julukan Liok-te Mo-ong (Raja Iblis Bumi) itu.

Ternyata orangnya tidak sehebat nananya, bahkan melihat orangnya, menimbulkan kesan bahwa orang itu adalah seorang sarang penyakit yang sudah mendekati lubang kubur.

Tubuhnya tinggi sekali, punggungnya bongkok seperti tongak patah, kepalanya yang tertutup topi seperti komandan-komandan busu lain nampak benjol-benjol, hidungnya melenceng ke kiri dan sepasang matanya juling.

Hanya pakaiannya yang berharga karena memakai pakaian indah dan lebih gagah daripada pemimpin-pemimpin pasukan busu lainnya.

Ini tidak mengherankan oleh karena dia adalah kepala busu di istana, orang yang menjadi pelindung Kaisar dan pengaruh serta kekuasaannya amat besar.

Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang yang sarungnya indah sekali, inilah pedang pemberian Kaisar dan yang lucu sekali di pinggang depan terselip sebatang suling.

Diam-diam Hui Lian merasa geli dan bertanya-tanya apakah orang macam ini bisa meniup suling dan berlagu?

Apalagi kalau melihat cara orang itu menunggang kuda benar-benar menggelikan.

Duduknya miring dengan kedua kaki ke samping kiri seperti cara puteri-puteri harus menunringgang kuda!

"Hm, kau inikah yang bernama Hui Lian puteri Go Ciang Le?"

Kata Iblis Bumi ini mengeluarkan suaranya yang tinggi kecil dan parau, buruk sekali seperti orangnya.

Hui Lian tidak dapat menahan geli hatinya dan ia tersenyum.

Memang lucu sekali orang ini.

Mukanya menghadap ke lain jurusan, akan tetapi dia yang ditanyainya padahal matanya juga diarahkan ke jurusan lain.

Ini disebabkan karena kejulingan mata busu ini memang agak berat sehingga kalau mukanya menoleh ke kiri, yang dipandang adalah sebelah kanam.

Dan ini pula yang membuat ilmu silatnya lebih berbahaya karena lawan yang bertempur menghadapinya seringkali menjadi bingung!

"Akulah Go Hui Lian, kau ini siapa mau apa datang-datang menyebut namaku dan nama Ayahku?"

Orang itu masih menengok ke lain jurusan dan Hui Lian sendiri tidak tahu bahwa sebetulnya sepasang mata yang juling itu langsung menatap wajahnya. Tiba-tiba orang itu berkata.

"Kau harus ikut dengan kami ke istana!"

Dan tangan kanan diulur ke depan, lima jari tangan yang bengkok-bengkok menyambar ke arah pundak Hui Lian!

Gadis itu kaget sekali.

Tak pernah disangka-sangkanya bahwa orang aneh itu akan menyerangnya demikian cepat.

Bagaimana orang dapat menyerang tanpa memandang.

Orang itu masih menengok ke lain jurusan, bagaimana bisa menyerangnya begitu cepat dan tepat.

Akan tetapi ia tidak mempunyai waktu untuk mengherankan hal itu.

Cepat ia mengelak ke belakang.

Akan tetapi, tetap saja pundaknya kena dicengkeram oleh jari-jari tangan itu.

Hui Lian mengeluarkan seruan kaget cepat mengerahkan lweekangnya mempergunakan Ilmu Sia-kut-hoat menggerakkan pundak secara berputar hingga ia dapat membebaskan diri dari cengkeraman itu.

Akan tetapi terdengar suara kain pecah karena pakaian di bagian pundaknya robek dan hancur!

Hui Lian benar-benat terkejut sekali.

Tadi ia telah mengelak dan menurut perhitungan, tak mungkin orang itu dapat mengulur tangan sampai dipundaknya.

Jarak antara orang itu di atas kuda dan dia terlampau jauh.

Betapapun panjang lengan orang itu, kiranya tidak mungkin dapat mencapai pundaknya.

Kemudian ia teringat akan penuturan ayahnya bahwa dunia kang-ouw memang ada ilmu semacam Jiu-kut-kang, yakni ilmu melepas dan melemaskan tulang dan urat sehingga lengan tangan kalau dipergunakan dapat diulur sampai melebihi ukuran panjang yang semestinya, bahkan yang sudah ahli betul dapat memperpanjang ukuran lengannya sampaI dua kali!

Kiranya manusia seperti setan ini memiliki ilmu semacam itu, pikir Hut Lian.

Dengan marah ia lalu mencabut pedangnya, siap untuk melawan.

Akan tetapi Hong Kin mendahuluinya.

Pemuda ini melompat maju dan berdiri di depan Hui Lian sambil berkata.

"Nanti dulu, Lo-ciangkun. Nona Go ini bukan musuh lagi, dia sudah dibebaskan oleh Wanyen Siauw-ongya dan dianggap tidak berdosa. Bahkan Siauw-ongya menitahkan kepadaku untuk mengantar Nona Go keluar dari kota raja. Mengapa sekarang Lo-ciangkun menyusul dan hendak menangkapnya?"

We It kini menengok ke arah Hui Lian, akan tetapi ia bicara kepada Hong Kin dengan suara dan gaya memandang rendah.

"Kau ini siapakah?"

"Sudah kukatakan tadi, aku Go Hui Lian. Mengapa tanya-tanya lagi?"

Jawab Hui Lian dengan mendongkol.

Ia sudah diserang sampai pakaiannya di bagian pundak robek, kini baru dipandang dan ditanya nama, sungguh ia merasa dipermainkan.

Akan tetapi ada kejadian yang amat lucu.

Wie It tetap memandang ke Hui Lian, akan tetapi mulutnya bertanya dengan nada tak sabar.

"Aku tak tanya kepadamu! Hei kau baju hijau, siapakah kau berani menghalangi niatku?"

Hui Lian tercengang, kemudian setelah ia memandang dengan penuh perhatian, hampir meledak suara ketawanya.

Kini baru ia sadar dan tahu bahwa sebetulnya biarpun muka dan mata orang aneh itu ditujukan kepadanya, orang ini bukan sedang memandangnya, melainkan memandang kepada Hong Kin!

"Lo-ciangkun, siauwte adalah sahabat baik dari Wanyen Siauw-ongya."

Sambil berkata demikian Hong Kin mengeluarkan kancing emas yang tadi telah dijadikan barang wasiat dan pelindung.

"Hmm, Wanyen Siauw-ongya masih terlalu muda maka amat sembrono,"

Katanya dengan suara di hidung.

"Bagaimanapun juga gadis ini harus kutawan dan kubawa ke istana!"

"Lo-ciangkun, apakah kau tidak memandang kepada kancing baju Wanyen Siauw-ongya?"

"Tidak peduli, aku melakukan tugasku."

Kembali tubuhnya bergerak dan targannya diulur, akan tetapi kini Hui Lian sudah bersiap sedia sehingga ia melompat mundur sambil mengibaskan pedangnya.

"Lo-ciangkun terpaksa aku harus melindunginya. Aku sudah menerima perintah dari Wanyen Siauw-ongya untuk melindungi Nona ini, biarpun harus berkorban nyawa, aku harus setia dan taat akan perintah itu!"

Sambil berkata demikian Hong Kin sudah mencabut tongkat pendeknya dari ikat pinggang dan berdiri dengan sikap menantang.

"Ho-ho-ho-ho, kau berani melawan kami?"

Tanya Wie It dengan muka menghadapi Hui Lian.

"Siapa takut kepadamu, setan?"

Hui Lian mendamprat karena lagi-lagi ia mengira bahwa Wie It bicara kepadanya.

"Bocah lancang, aku tidak bicara padamu!"

Wie It membentak sambil menoleh kepada Hong Kin.

"Aku bicara dengan pemuda ini"

Kembali ia menoleh kepada Hui Lian dan melanjutkan pertanyaannya.

"Benar-benarkah kau berani melawan kami?"

Memang amat membingungkan bagi yang belum biasa.

Kalau Wie It menoleh kepada Hong Kin berarti dia bicara kepada Hui Lian dan demikian sebaliknya.

Julingnya memang terlalu sekali dan suka menipu orang sehingga Hui Lian yang terkenal cerdik sampai kecele dua kali!

"Lo-ciangkun, aku harus melindungi gadis ini sebagai pelaksanaan tugas yang diperintahkan oleh Wanyen Siauw-ongya, dan untuk melaksanakan perintah itu aku tidak bisa memandang siapa-siapa,"

Jawab Hong Kin.

"Ha, ha, ho, ho, kau seperti anak domba menantang harimau. Kau murid siapakah?"

Tanya Wie It dengan lagak sombong.

"Cam-kauw Sin-kai adalah suhuku yang mulia,"

Jawab Hong Kin.

"Aha, pantas, pantas! Pantas kau begini besar hati dan tabah, tidak tahunya murid Pengemis Pembunuh Anjing itu."

Memang nama julukan Cam-kauw Sin-kai berarti Pengemis Sakti Pembunuh Anjing maka Wie It berkata demikian.

Kemudian kepala busu istana ini menoleh kepada perwira busu yang duduk di atas kuda di sebelah kirinya.

"Bu Tong kauwakili aku mendorong pergi bocah ini!"

Busu yang berada di sebelah kirinya diam saja, akan tetapi yang berada di sebelah kanannya yang menjawab.

"Wie-taiciangkun, manusia macam ini saja mengapa mesti aku sendiri yang turun tangan? Kalau harus menangkap nona she Go itu baru pantas namanya. Untuk bocah sombong murid jembel ini kiranya cukup pembantuku yang turun tangan!"

Ia lalu memberi isyarat ke belakang dan majulah seorang busu yang pendek gemuk seperti gentong arak.

Busu yang bernama Bu Tong itu memang memandang rendah kepada Hong Kin karena belum mengenal pemuda ini, sedangkan ia merasa lebih patut melawan Hui Lian, pertama karena memang ia sudah mendengar akan kelihatan nona ini, ke dua karena ia merasa lebih suka kalau ditugaskan menangkap Hui Lian daripada melawan pemuda yang memegang tongkat pendek itu.

"Sesukamulah, akan tetapi hati-hati dia murid Cam-kauw Sin-kai, gurunya lihai,"

Kata Liok-te Mo-ong Wie It. Busu yang pendek gemuk itu melompat turun dari kudanya dan di lain saat ia telah "menggelundung"

Ke depan Hong Kin.

Kedua kakinya pendek, gerakannya gesit sehingga saking gemuk dan pendeknya ia kelihatan tidak berjalan, melainkan menggelundung.

Seperti tukang sulap saja, tahu-tahu ia pun sudah memegang sebatang toya yang tingginya melebihi kepalanya.

Ia berdiri dengan tangan kiri di pinggang, tangan kanan memegang toya, matanya yang sipit berkedip-kedip memandang Hong Kin, mulutnya tak dapat tertutup rapat dan melongo seperti sumur.

Hui Lian tak dapat menahan ketawanya.

"Saudara Hong Kin, awas, lawanmu seekor katak."

Biarpun menghadapi ketegangan, mendengar ini Hong Kin ketawa juga.

"Nona jangan memandang ringan, dia ini biarpun kelihatan seperti seorang bayi gemuk, akan tetapi ilmu toyanya terkenal di kota raja."

Kemudian Hong Kin menghadapi lawannya dan berkata.

"Ciangkun, bukankah kau yang bernama Wong Sit dan berjuluk Kauw-ce-thian?"

Julukan ini diberikan orang kepadanya karena kelihaian toyanya, karena Kauw-ce-thian Si Raja Monyet juga sakti karena toyanya yang bernama Kim kauw-pang.

"Bet-bet-betul...! Akulah K-Ka-Kauw"

Ce-thian Wong Sss...Sit! He, bocah she Coa, sss... sebelum ku-ku kuhancurkan kepalamu, lebih ba-ba-ba-baik kau serah kan n-n-nona itu ke-ke-kepadaku!"

Hui Lian tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya.

Benar-benar banyak busu yang lucu di istana, seperti sekumpulan badut.

Yang tinggi bongkok dan juling itu sudah aneh dan lucu, sekarang muncul busu seperti katak yang bicaranya gagap tidak karuan.

"Saudara Hong Kin, ini Kauw-ce-thian model mana? Dia tidak patut berjuluk Raja Monyet, lebih tepat diberi julukan Siluman katak, atau kalau mau mengambil julukan tokoh di dalam cerita See-yu, dia ini lebih tepat menjadi Ti Pat Kai-nya!"

Hong Kin tertawa lagi. Tak disangkanya nona ini demikian jenaka dan pandai bicara. Akan tetapi Kauw-ce-thi Wong Sit sudah merah mukanya dan marah sekali.

"Li-li-lihat to-toya!"

Serunya dan cepat ia menggerakkan toyanya yang panjang melakukan serangan ke arah dada Hong Kin.

Benar saja, biarpun orangnya tidak seberapa, namun setelah ia menyerang, toyanya bergerak cepat dan dari pukulan senjata itu dapat diketahui bahwa ia bertenaga besar.

Hong Kin tidak berani berlaku lambat.

Cepat ia melangkah mundur sambil menggerakkan tongkatnya untuk menangkis dan di lain saat mereka sudah bertanding ramai.

Cam-kauw Sin-kai adalah seorang tokoh besar kang ouw dan ia amat terkebal dengan ilmu tongkatnya yang diciptakannya sendiri.

Ilmu Tongkat ini disebut Cam-kauw-tung-hwat (Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing) dan saking terkenalnya ilmu tongkat ini, maka ia amat disegani orang-orang kang-ouw.

Seperti pernah dituturkan di bagian depan, Cam-kauw Sin-kai mempunyai dua orang murid, yang pertama Ah Kai pengemis gagu yang telah tewas di Pulau Kim-ke-tho ketika keluarga See-thian Tok-ong ngamuk di sana.

Adapun murid kedua adalah Coa Hong Kin yang menjadi muridnya semenjak pemuda ini masih kecil.

Oleh karena itu, dibandingkan dengan Ah Kai kepandaian Hong Km lebih masak dan lebih tinggi.

Apalagi pemuda semenjak kecil sudah banyak merantau banyak mengalami pertempuran besar melawan penjahat-penjahat lihai sehingga makin bertambahlah kepandaiannya.

Menghadapi Wong Sit yang juga bukan orang lemah, Hong Kin segera mengeluarkan kepandaiannya, yakni Ilmu Tongkat Cam-kauw-tung-hoat.

Ke mana pun juga toya panjang di tangan Wong Sit bergerak dengan cepat dan kuatnya, selalu toya ini bertemu dengan tongkat kecil yang seakan-akan berubah menjadi puluhan batang banyaknya dan berada di mana-mana menghalangi majunya toya.

Juga anehnya, biarpun amat kecil, namun setiap kali toya terbentur oleh tongkat kecil ini, bukan tongkat itu terpental, sebaliknya toya yang besar panjang itulah yang terbentur dan membalik.

Dari sini saja sudah dapat diukur kepandaian dan tenaga Hong Kin jauh lebih unggul.

Pada jurus ke dua puluh, ketika Wong Sit menusukkan toyanya ke arah perut Hong Kin, pemuda ini miringkan tubuhnya dan secepat kilat ia memegang ujung toya lawan.

Karena toya itu panjang sekali, maka sukar baginya untuk membalas serangan lawan yang berada di ujung toya.

Keduanya saling betot berebut toya, Hong Kin menyelipkan tongkatnya di pinggang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan tetap memegangi ujung toya lawan.

Biarpun Wong Sit mengerahkan tenaga membetot, mendorong, memutar, tetap saja ia tak dapat merampas kembali toyanya yang bagaikan berakar di tangan kanan Hong Kin.

Setelah menyimpan tongkatnya, Hong Kin memegang toya itu dengan kedua tangan, mengerahkan tenaga, berseru.

"Naik!"

Sambil menggunakan lweekangnya dan...

tubuh Wong Sit di ujung sana terangkat ke atas!

Di lain saat Hong Kin sudah memegang toya itu dengan tubuh Wong Sit di atas toya, persis seperti orang bermain liong.

Hong Kin memutar mutar toya dan Wong Sit berteriak-teriak ketakutan.

"Le le lepaskan... kau se-se-setan.., lepaskan! Aduh... aku bis-bis-bisa jatuh...!"

Kembali Hong Kin mengerahkan tenaga dan tubuh yang bundar bentuknya melayang ke depan dan...

menyangkut ke ranting-ranting pohon yang lebat daunnya.

Di sana Si Kauw-ce-thian benar-benar menjadi monyet, akan tetapi monyet yang amat aneh karena ia berteriak-teriak minta tolong.

Mana ada monyet ketakutan berada di atas pohon.

Kawan-kawannya segera lari mendatangi untuk menolongnya.

Adapun Hong Kin lalu melemparkan toya itu ke atas tanah.

Bu Tong, busu perwira pembantu Wie It, marah bukan main melihat kelakuan pembantunya yang memalukan tadi.

Ia melompat turun dari atas kudanya dengan gerakan yang ringan sekali.

Amat mengherankan kalau melihat betapa busu yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa ini dapat bergerak sedemikian cepat dan ringan seperti seekor kucing.

Memang Bu Tong adalah busu pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Dia adalah seorang panglima bangsa Kin yang sudah banyak jasanya dalam menjaga dan melindungi istana Kaisar.

Bahkan ayahnya dahulu bersama dengan Liok-te Mo-ong Wie It merupakan panglima-panglima pilihan dalam balatentara Kin.

Tadinya memandang rendah kepada Coa Hong Kin, akan tetapi ia kecele dan bahkan ia mendapat malu besar karena orangnya dipermainkan oleh pemuda itu.

Dengan marah ia melompat dan mencabut senjatanya, sebatang golok besar yang nampaknya berat.

Akan tetapi sebelum ia bergerak, Liok-te Mo-ong Wie It juga melompat turun dan atas kudanya dan berkata.

"Bu Tong, kau boleh tahan dia, akan tetapi jangan bunuh dia. Tidak enak kau kita membunuh orangnya Pangeran Wanyen. Jaga saja supaya dia tidak rewel, kalau perlu boleh lukai dia asal tidak sampai mampus. Biar aku sendiri menangkap Nona kepala batu ini!"

Setelah berkata demikian Wie It lalu mencabut keluar suling yang tadi terselip di ikat pinggangnya, lalu menghampiri Hui Lian sambil berkata.

"Nona Go Hui Lian, kau masih begini muda sudah keras kepala dan jangan kau mengira bahwa di dunia ini tak ada orang lain yang dapat mengalahkanmu. Lebih baik sekarang kau menurut dan menyerah saja kubawa ke istana, agar aku tidak usah menurunkan tangan keras kepadamu."

Hui Lian dapat menduga bahwa orang yang aneh sekali ini tentulah mimiliki kepandaian tinggi, maka ia pun lalu menggerakkan pedang melintang di depan dada sambil berkata.

"Lo-ciangkun, Saudara Coa ini telah melakukan tugasnya sebagai orang yang dipercaya oleh Pangeran Wanyen. Kalau dia yang menerima tugas demikian taat dan setia, apakah aku yang ditolongnya mau mengecewakan hatinya? Tidak, dia adalah seorang gagah perkasa, akan tetapi aku pun bukan seorang pengecut yang takut mati. Kalau kau hendak menangkapku, kau harus mengalahkan pedangku lebih dulu!"

"Bocah sombong, kau belum mengenal kelihaianku. Robohlah!"

Terdengar suara bersiut ketika suling itu digerakan menotok ke arah pundak Hui Lian.

Akan tetapi biarpun seorang ahli silat tinggi dan tokoh besar seperti Liok-te Mo-ong Wie It kecele sekali kalau mengira akan dapat merobohkan Hui Lian dalam jurus pertama.

Dengan gerakan lincah Hui Lian dapat menggerakkan pedangnya menangkis sambil menurunkan pundaknya.

Suling di tangan Wie It terpukul membal, akan tetapi Hui Lian terkejut sekali karena merasa telapak tangannya tergetar oleh benturan itu.

Ia maklum bahwa tenaga lweekang orang aneh ini benar-benar hebat dan ia kalah setingkat.

Akan tetapi, dengan pedang di tangan.

Hui Lian merupakan naga bersayap, sebentar saja ia sudah mainkan ilmu pedangnya yang ia warisi dari ayahnya dan Liok-te Mo-ong Wie-It terpaksa menelan kembali kesombongannya.

Kini ia tidak berani memandang rendah lagi karena beberapa kali ia harus berlompatan ke sana ke mari kalau ia tidak mau tubuhnya terbabat atau tertusuk pedang.

"Kau lihai...!"

Serunya dan kini tangan kanannya memegang pedang, sedangkan tangan kirinya memegang sulingnya.

Untuk menghadapi ilmu pedang seperti dimainkan oleh gadis ini, ia tidak sanggup kalau harus menggunakan suling saja.

Adapun pertempuran antara Hong Kin dan Bu Tong juga amat ramai.

Ternyata tingkat kepandaian mereka tidak terpaut banyak.

Para busu sudah turun semua dari kuda dan kini mereka menonton pertempuran dua rombongan ini dengan tertarik.

Jarang sekali mereka menyaksikan pertandingan ilmu silat tinggi yang demikian serunya.

Bahkan baru kali ini nereka menyaksikan Liok te Mo-ong Wie-It bertempur menghadapi lawan tangguh.

Biasanya Wie It kalau maju, sekali dua kali gebrakan saja pasti lawan sudah roboh binasa atau tertawan.

Liok-te Mo-ong Wie It terkenal sebagai seorang yang malas sekali kerjanya siang malam hanya tidur dan makan saja, atau kalau tidak tidur tentu mengeram di dalam kamarnya.

Sebagai kepala busu, ia jarang bekerja dan cukup mewakilkan semua urusan kepada Bu Tong yang menjadi pembantu utamanya.

Hanya sekali-sekali kalau ada urusan besar, baru dia muncul dan turun tangan sendiri.

Kali ini, karena Go Hui Lian dianggap seorang yang lihai, dan pula karena gadis ini telah dibebaskan oleh Pangeran Wanyen, kaisar yang mendengar akan hal ini lalu menyuruh dia sendiri keluar istana untuk melakukan pengejaran dan penangkapan.

Oleh karena itu, alangkah heran dan kagumnya para busu ketika melihat betapa kepala busu itu sama sekali tidak mudah menangkap gadis itu.

Ilmu pedang yang dimainkan oleh Hui Lian terlalu tangguh.

Tadipun kalau tidak dikeroyok kalau hanya maju seorang lawan seorang kiranya Hui Lian tidak akan menemukan tandangan.

Sekarang baru ia bertemu tanding dan ia harus mengakui bahwa Ilmu silat dari Raja Iblis Bumi ini benar-benar hebat.

Betapapun juga ia tadi takut dan tidak mau mengalah, terus melakukan perlawanan hebat, kadang-kadang membalas dengan serangan yang tak kalah lihainya.

Sebaliknya, Bu Tong ternyata kalah cepat oleh Hong Kin.

Ujung tongkat pemuda itu sudah melukai pundaknya.

Baiknya Bu Tong adalah seorang ahli dalam hal ilmu kebal sehingga tongkat itu tidak melukai jalan darah, hanya merobek kulit sedikit dan mengakibatkan keluarnya darah.

Akan tetapi hal itu sudah membuat Bu Tong sibuk dan khawatir.

"Kawan-kawan, hayo bantu agar pekerjaan kita lekas selesai."

Serunya keras.

Mendengar perintah ini, semua busu mengeluarkan senjata masing-masing dan menyerbulah mereka.

Ada yang menyerang Hong Kin dan ada pula yang mengroyok Hui Lian.

Hui Liaan mengeluh.

Gadis ini sudah lelah sekali dan dalam menghadapi Wie-It saja ia sudah kewalahan.

Apalagi sekarang dikeroyok oleh enam orang busu dan yang kepandaiannya juga rata-rata tinggi tak dapat disamakan dengan pengeroyoknya siang dan sore tadi.

"Nona Go lari..,"

Hong Kin tiba-tiba berteriak keras sambil memutar tongkatnya sedemikian hebat sehingga dua batang golok lawan terkait dan terlempar.

Hui Lian maklum bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanyalah mencoba untuk lari di dalam malam yang remang-remang itu.

Ia pun lalu memutar pedangnya mainkan bagian ilmu pedang ayahnya yang paling istimewa, yakni yang disebut Tai-hung lo-hai (Angin Taufan Mengacau Lautan).

Gerakannya demikian cepat dan kuat sehingga seorang busu terluka lengannya dan yang lain terpaksa melompat mundur sambil memutar senjata melindungi diri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Hui Lian untuk melompat jauh bersama dengan Hot Kin yang juga sudah melakukan lompatan tinggi dan jauh.

"Tangkap! Tangkap!"

Para busu berteriak-teriak riuh rendah sambil mengejar.

"Jangan melepas am-gi (senjata gelap), tangkap hidup-hidup!"

Kata Liok-te ong Wie It memperingatkan kawan-kawannya.

Hal ini menguntungkan Hong Kin dan Hui Lian, karena kalau para busu yang rata-rata ahli panah tangan itu mempergunakan panah, tentu dua orang muda itu tak dapat menyelamatkan diri dan nyawa mereka terancam senjata gelap.

Selagi mereka main kejar-kejaran, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang luar biasa sekali.

Suara ketawa seperti itu tak mungkin keluar dari mulut seorang manusia, lebih patut kalau keluar dari mulut iblis yang mengerikan.

Suara itu menyeramkan sekali, apalagi terdengar di waktu malam tanpa kelihatan orangnya, benar-benar membuat para busu tertegun.

Bahkan Hui Lian sendiri yang terhitung tabah dan tidak pernah mengenal takut, mendengar suara ketawa ini meremang bulu tengkuknya.

"Apa itu?"

Tanyanya kepada Hong Kin.

"Entah, belum pernah aku mendengar yang seperti itu...."

Jawab Hong Kin yang juga kaget setengah mati.

Akan tetapi keduanya berlari terus dari kejaran para busu.

Dan tiba-tiba entah dari mana munculnya, tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang berkepala gundul, orang yang menyeramkan sekali.

Bentuk tubuhnya tinggi besar sekali sehingga saking besarnya sampai kelihatan pendek.

Kepalanya gundul kelimis seperti kepala seorang hwesio yang baru dicukur.

Kepalanya bundar, demikian tubuhnya dan hampir semua anggauta mukanya bundar bentuknya, kulitma agak kehitaman.

0rang ini berdiri menghadang sambil berolak pinggang.

Munculnya yang tiba-tiba amat mengejutkan hati Hui Lian dan Hong Kin yang sudah lelah sekali itu.

Maka kedua orang muda ini pun otomatis menyangka buruk dan keduanya berbareng menyerang orang gundul itu dengan senjata mereka.

Akan tetapi dengan sekali bergerak saja, serangan Hui Lian dan Hong Kin mengenai angin dan tiba-tiba orang menggerakkan kedua tangan menampar, Hui Lian dan Hong Kin mengelak cepat.

Hui Lian lebih cepat dari Hong Kin hingga ia hanya merasa sambaran yang amat luar biasa di dekat kupingnya, akan tetapi Hong Kin kurang cepat dan pundaknya kena ditampar.

Tamparan ini tidak amat keras, namun akibatnya hebat.

Hong Kin merasa pundaknya seperti terbakar dan ia tidak kuat menahan lagi, terhuyung-huyung lalu roboh tertelungkup di atas tanah, tongkatnya terlempar.

Hui Lian terkejut bukan main.

Cepat ia menubruk dengan pedangnya, diputar lalu menikam ulu hati orang gundul itu.

Lawannya mengeluarkan suara aneh seakan-akan kagum melihat pedangnya yang hebat, kemudian bersilat dengan gerakan-gerakan aneh pula.

Akan tetapi pedang di tangan Hui Lian tak pernah dapat menyentuh tubuhnya.

Setelah bertempur lima jurus, Hui Lian harus akui bahwa berhadapan dengan seorang yang pandai sekali.

Setiap kali orang itu mengedutkan lengan bajunya, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan.

Ia maklum bahwa dalam hal lweekang dan ginkang, ia kalah jauh oleh orang gundul ini.

Hanya ilmu pedangnya yang berdasarkan Pak-kek Sin-ciang sajalah yang masih dapat melindunginya.

Ternyata kembali ilmu pedang warisan dari ayahnya ini niemperlihatkan keunggulannya.

Beberapa kali orang gundul itu mengeluarkan seruan-seruan aneh, seakan akan mengenal ilmu pedang ini dan menjadi gentar.

Tiba-tiba tangan kirinya memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dan di lain saat ketika ia mengelak ke kiri dari tusukan pedang Hui Lian, ia membentak keras sambil menyemburkan sesuatu dari mulutnya, dibarengi dengan pukulan bertubi-tubi dengan dua tangannya!

Inilah serangan yang luar biasa hebatnya.

Hui Lian melihat benda hitam menyambar, cepat menundukkan mukanya sehingga benda cair itu lewat di atas kepalanya.

Akan tetapi tiba-tiba kepalanya menjadi pening karena benda yang lewat di atas kepalanya itu mengeluarkan bau yang amis dan menusuk hidung, sedangkan pada saat itu, kedua tangan lawannya secara bertubi-tubi telah datang menyerang!

Gadis perkasa ini memaksa diri menghadapi serangan pukulan.

Melihat berkelebatnya tangan kanan ke arah dadanya, ia cepat menggerakkan pedang untuk membabat, akan tetapi tiba-tiba tangan itu ditarik kembali dan tangan kiri orang itu secara cepat menotok lehernya.

Hui Lian masih berusaha menghindari totokan, namun, kepalanya sudah pening sekali, pandang matanya sudah berkunang-kunang dan elakannya gagal.

Ia roboh dalam keadan lemas dan pedangnya terlempar ke atas tanah"

Kembali orang gundul itu tertawa bergelak dan menghampiri tubuh Hong Kin yang masih tertelungkup.

Sekali mencongkel dengan kakinya, tubuh pemuda itu terlempar ke atas lalu disambar dengan tangan kiri dan dikempitnya.

Kemudian ia menghampiri Hui Lian.

Berbeda dengan apa yang dilakukan terhadap Hong Kin, ia kini menggunakan tangan mengangkat gadis itu dan dikempit degan tangan kanan.

Pada saat itu, para busu yang sejak tadi sudah mengejar sampai di situ dan menonton pertempuran aneh, lalu melangkah maju.

Liok-te Mo-ong Wie It menghadapi orang gundul itu, menjura sambil berkata.

"Saudara yang gagah perkasa telah berjasa besar. Aku Liok-te Mo-ong Wie It atas nama Kaisar dan semua pasukan busu dari istana mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu yang amat berharga."

Orang gundul itu mengeluarkan suara yang aneh lalu bersiul keras.

Dari arah belakangnya, jauh sekali terdengar siul yang sama menjawab, kemudian tiba-tiba melayang tubuh yang ringan sekali bagaikan terbang dan tahu-tahu di sebelahnya telah berdiri seorang wanita yang memegang sebatang ranting di tangan kanannya.

Liok-te Mo-ong dan kawan-kawannya terkejut bukan main.

Ilmu meringankan tubuh seperti ini belum pernah mereka saksikan.

Ketika siulan jawaban tadi berbunyi, terdengar masih amat jauh, akan tetapi sebelum gema siulan lenyap.

orangnya sudah berada di situ!

Sementara itu, kakek gundul itu masih tertawa-tawa, kemudian ia menjawab.

"Siapa bantu siapa? Aku tidak mengenal segala macam Liok to Mo-ong atau Thian-sang Mo-ong, tidak peduli segala macam busu yang tiada gunanya!"

Ucapan ini benar-benar memandang rendah.

Liok-te Mo-ong berarti Raja lblis Bumi sedangkan Thian-sang Mo-ong diartikan Raja Iblis Langit!

Mendengar kata-kata ini, Liok-te Mo-ong Wie It memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk bersiap sedia karena orang itu agaknya tidak mengambil sikap berkawan.

"Kahan ini orang-orang tak tahu malu, mengandalkan banyak kawan mengejar-ngejar dua orang muda, ada maksud apakah? Mengapa mereka kalian kejar-kejar?"

Tanya pula orang gundul tadi.

Liok-te Mo-ong Wie It menduga, bahwa orang gundul ini tentulah seorang luar biasa di dunia kang-ouw yang selalu menyembunyikan diri sehingga dia sendiri pun tidak mengenalnya.

Maka dengan menahan sabar ia menjawab.

"Sahabat yang baik, kami adalah busu dari istana, sedangkan gadis itu adalah puteri seorang pemberontak yang harus ditawan dibawa menghadap Kaisar untuk menerima hukuman. Pemuda itu adalah pengawalnya. Kami sejak tadi mengejar-ngejarnya dan kebetulan kau muncul dan merobohkan mereka. Karenanya kami patut menyatakan terima kasih kami dan harap kau sudi memberikan mereka kepada kami untuk dibawa ke istana."

"Ha, ha, ha, hi, hi, hi, enak saja kalian bicara"

Wanita yang baru datang itu berkata sambil mentertawakan Wie-It.

"Suamiku yang menangkap kalian yang datang minta, benar-benar tak tahu malu. Suamiku yang menangkap mereka, maka dia yang berhak menentukan apa yang akan dilakukan terhadap dua orang ini."

"Benar, Ibu. Berikan saja mereka kepadaku, Ayah. Si Siauw -liong (Naga Kecil) kelihatan lapar sekali, biar mereka diberikan kepada Siauw-liong untuk menjadi mangsanya!"

Tiba-tiba terdengar kata-kata ini dari dalam gelap dan seperti juga dengan munculnya isteri orang aneh itu, kini puteranya pun muncul secara tiba-tiba dan luar biasa.

Para busu meIthat seorang pemuda yang bertubuh tegap dari dalam gelap.

Sebetulnya pemuda ini tampan juga wajahnya, akan tetapi karena berkepala gundul dan sikapnya ketolol-tololan, maka ia seperti seorang anak kecil yang tubuhnya besar.

Yang mengerikan orang, kedua tangan pemuda gundul ini mempermainkan seekor ular yang liar, ular bersisik loreng yang lidahnya merah dan matanya bersinar-sinar.

Pada kepala ular itu kelihatan semacam tanduk dan dari mulutnya mengepul uap biru.

Benar-benar seekor ular yang berbahaya sekali dan sekali pandang saja orang akan mengerti bahwa ular ini berbisa.

Mungkin karena daging menonjol di kepala itulah yang membuat binatang ini dinamakan Siauw-liong (Naga Kecil) oleh pemiliknya.

Setelah muncul tiga orang aneh ini, kita semua dapat mengenalnya siapa mereka.

Tak lain mereka adalah keluarga See-thian Tok-ong yang lihai!

Yang muncul pertama dan menawan Hui Lian dan Hong Kin adalah See-thian Tok-ong sendiri, kemudian muncul isterinya, Kwan-Nio dan pemuda itu (Lanjut ke

Jilid 25) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 adalah Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun yang semenjak dahulu terus gundul saja.

Mendengar omongan puteranya, See-thian Tok-ong melemparkan tubuh Hui-Lian kepada Kwan Kok Sun.

Pemuda mengangkat tangan kiri dan dengan mudah ia menyambar lengan Hui Lian.

Ia harus memegang ular itu jauh-jauh dengan tangan kanannya, karena ular itu begitu melihat Hui Lian terus meronta-ronta seperti seekor anjing kelaparan daging.

"Sst, Siauw-liong jangan makan dia. Aduh......... cantiknya............ aduh......... manisnya.. Siauw-liong, yang ini bukan untukmu, Sayang kalau jadi mangsamu. Ayah, Ibu aku sudah dapat!"

"Hm, sudah dapat apa?"

Bentak ibunya.

"Sudah dapat! Dia inilah orangnya calon isteriku. Ayah, aku minta kawin. Dengan Si Jelita ini."

Kata-kata pemuda ani terdengar kacau tidak karuan.

Memang, semenjak kecilnya, Kwan Kok Sun sudah kelihatan aneh sekali, akan tetapi makim besar, bicaranya dan kelakuannya makin ngacau dan ada tanda-tanda bahwa otaknya tidak normal.

"Kok Sun, baru kemarin kau bilang minta kawin dengan puteri Kaisar!"

Tegur See-thian Tok-ong.

"Tidak, Ayah, dia inilah yang kucari-cari, yang kuimpi-impikan setiap malam. Puteri kaisar? Ah, aku tidak mau. Masih mending kalau dia seperti ibunya, tentu cantik jelita. Bagaimana kalau dia seperti ayahnya, seperti kaisar yang gendut dan kepala besar? Huh, aku tidak sudi!"

Kata-kata yang memaki kaisar "gendut"

Dan kepala besar ini bukan semata-mata makian, karena pada masa itu, makian ini berarti lain, yakna gendut adalah sindiran bagi orang yang selalu mengeduk keuntungan dengan jalan korupsi sedangkan kepala besar untuk menyindirkan orang-orang yang berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukan dan pangkatnya.

"Baiklah, kau boleh mengawini gadis itu. Akan tetapi nanti dulu, kata harus ketahui dengan jelas bahwa dia seorang gadis baik-baik, bukan gadis sembarangan. Tadi sudah kulihat ilmu pedangnya dan aku agak ragu-ragu."

See-thian "Tok-ong menghadapi Liok-te Mo-ong Wie-It dan kawan-kawannya yang mendengar semua percakapannya itu dengan mata bengong.

"Eh, mata juling, sebetulnya siapakah gadis ini dan siapa pula pemuda ini?"

Wie It mendongkol sekali.

Ingin mengerahkan kawan-kawannya untuk mengeroyok, akan tetapi dia bukan seorang goblok.

Ia dapat menduga bahwa tiga orang ayah, ibu, anak ini bukan orang-orang yang mudah dilawan.

Terpaksa ia menelan kegemasannya memberi keterangan dengan harapan si Gundul yang seperti iblis itu dapat berubah sikap.

"Harap kau jangan main-main."

Katanya dengan suara sungguh-sungguh.

"Nona itu bukan orang sembarangan, adalah puteri dari Hwa I Enghiong Ciang Le yang kelihaiannya sudah terkenal di kolong langit! Adapun pemuda adalah murid Cam-kauw Sin-kai dia orang kepercayaan dari Pangeran Wan-yen. Harap kau sudi memberikan mereka kepada kami untuk dihadapkan di istana. Mendengar ini Kwan Kok Sun berseru.

"A-ha, benar dia! Pantas sekali lihat aku tertarik. Benar, Ayah, dia benar bocah manis yang dulu menolong Kong Ji keparat! Dia benar puteri Go Ciang Le, lihat saja bentuk bibirnya ini."

See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio menghampiri puteranya dan mereka bertiga melihat-lihat Hui Lian yang masih pingsan.

Seperti pernah dituturkan di bagian depan, ketika masih kecil, ketika ia baru berusia sepuluh tahun, pernah Hui Lian bertemu dengan keluarga aneh ini, di puncak Gunung Luliang-san.

Ketika itu, See-thian Tok-ong dan anak isterinya sedang hendak membunuh Liok Kong Ji dan kebetulan sekali Hui Lian yang masih kecil datang menolong nyawa Kong Ji.

Tadi ketika menghadapi See-thian Tok-ong, Hui Lian sudah tidak ingat lagi siapa adanya kakek gundul aneh itu.

Kalau sekiranya See-thian Tok-ong muncul bertiga, mungkin sekali Hui Lian akan teringat.

Kini Kwan Kok Sun yang otaknya sudah makin tidak beres itu melihat Hui Lian, ia merasa suka dan jatuh cinta.

"Benar dia, Ayah. Benar dia kekasihku, lbu. Aku harus kawin dengan dia, dengan puteri Go Ciang Le. Ha, ha, ha. Kemudian ketika ularnya hendak menyerbu Hui Lian, ia membetot binatang itu sambil memaki.

"Hush, Siauw-liong"

Jangan kau kurang ajar. Dia itu calon isteriku, kau tahu? Kalau kau berani menjilat sedikit saja kuhancurkan kepalamu!"

"Jangan marah, Kok Sun, dia itu sedang lapar,"

Kata ibunya, yang amat manjakan putera tunggalnya itu, dan yang tidak begitu senang mellhat puteranya tergila-gila kepada Hui Lian.

Seperti juga puteranya, Kwan Ji Nio otaknya tidak beres, dan ibu ini selalu merasa iri hati dan cemburu apabila puteranya menyatakan suka kepada seorang wanita.

"Dia lapar dan perlu dibert makan paru-paru yang segar,"

Katanya lagi.

"Paru-paru gadis remaja seperti ini amat sehat, dapat menguatkan dan menambah keras bisa dalam mulut Siauw-liong."

Kwan Kok Sun membelalakkan matanya.

"Tidak!"

Bentaknya keras.

"Tidak boleh kekasihku diganggu, tidak boleh calon isteriku dibinasakan. Ayah, ke sinikan manusia tiada guna itu. Dia harus menjadi mangsa Siauw-liong!"

See-thian Tok-ong tertawa bergelak, lalu melemparkan tubuh Hong Kin ke depan Kwan Kok Sun.

Kok Sun melepaskan ularnya yang merayap turun dari lengan ke atas tanah, lalu merayap ke arah tubuh Hong Kin sambil menjulurkan lidah keluar masuk.

Pada saat itu Hong Kin siuman dari pingsannya.

Ia membuka mata dan sekejap saja ingatlah ia akan semua yang terjadi, bahwa dia telah dirobohkan oleh para busu yang mengeroyok.

Biarpun heran sekali melihat adanya See-thian Tok-ong suami isteri dan anak yang ia sama sekali tidak kenal, akan tetapi ia tidak mempedulikan karena perhatiannya terpusatkan kepada seekor ular panjang dan mengerikan yang merayap mendekatinya, jaraknya hanya tiga kaki lagi.

Sekali pandang maklumlah pemuda ini, bahwa ia berada dalam ancaman bahaya maut, dan bahwa ular itu adalah seekor binatang berbisa dan sekali gigitannya berarti maut menjangkau nyawa.

Cepat ia melompat bangun, akan tetapi tubuhnya masih lemah dan ketika pemuda gundul yang berada di dekat ular itu menggerakkan tangan, Hong Kin roboh lagi.

Jalan darah thian-hu-hiat di tubuhnya telah kena ditotok secara lihai sekali dan biarpun Hong Kin masih sadar dan dapat mengetahui segala apa yang terjadi, namun ia tak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya yang seakan-akan sudah lumpuh sama sekali.

"Ha, ha, ha, kau menangislah, berteriak-tertaklah minta tolong. Ha ha-ha. Aku senang sekali kalau kau menjerit-jerit, juga Siauw-liong senang sekali. Hayo kau menjerit-jerit. tidak takutkah kau? Ular ini akan merobek bibirmu memasuki mulut terus merayap melalui kerongkonganmu, masuk ke dalam paru-paru dan makan habis paru-parumu sepotong demi sepotong. Ha, ha, ha, menangislah,"

Kwan Kok Sun berjingkrak-jingkrak setelah meletakkan tubuh Hui Lian di atas tanah.

Keterangan dan kegembiraan hatinya melihat Siauw-liong hendak makan mangsanya membuat ia lupa sebentar kepada Hui Lian.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Hong Kin.

Akan tetapi pemuda ini memiliki ketabahan besar, tidak gentar menghadapi maut.

Ia memandang kepada ular itu, berkejap matanya pun tidak, jangan kata menangis.

Ia menghadapi maut dengan mata terbuka.

"Kau tidak takut?"

Ular menyambar ke arah muka Hong Kin yang sama sekali tidak berkedip. Tetapi Kok Sun memegang ekor ular dan menahannya.

"Kau gagah sekali... kau tabah sekali..."

Pemuda gundul itu ragu-ragu.

Memang ada suatu hal yang amat dikagumi oleh Kwan Kok Sun, yakni keberanian dan ketabahan yang luar biasa.

Kini melihat ketabahan hati Hong Kin yang tidak berkedip menghadapi maut ia tertarik dan merasa agak sayang, maka ia menahan ularnya yang sudah hendak melakukan "operasinya".

Pada saat itu Hui Lian siuman.

Gadis itu melihat betapa di situ telah banyak orang dan ia melihat kakek gundul yang merobohkannya tadi berdiri menyeringai, di sampingnya seorang nenek yang wajahnya cantik tapi kejam, kemudian ia melihat Hong Kin menggeletak lemas di atas tanah dan seekor ular merayap mendekatinya, akhirnya ia melihat Kok Sun dan pucatlah mukanya.

Ia kini tahu bahwa yang menjatuhkan tadi bukan lain adalah See-thian Tok-ong!

"Iblis keji..!"

Hui Lian menjerit dan tubuhnya melompat dengan gerakan kilat, menubruk ke depan untuk memukul Kok Sun karena ia tahu apa artinya ular Kok Sun, dan Hong Kin yang menggeletak.

Tentu pemuda gundul yang berotak miring itu mempraktekkan kekejamannya seperti dulu lagi, yakni memberi makan kepada ularnya dengan korban seseorang manusia.

Kwan Kok Sun tidak mengira bahwa dirinya akan diserang, maka pukulan tangan Hui Lian tepat mengenai dadanya.

Akan tetapi, gadis itu telah habis tenaganya, dan Kok Sun sekarang bukan Kok Sun dahulu lagi.

Kepandaiannya sudah meningkat tinggi, maka pukulan itu hanya membuatnya mundur selangkah saja.

Pada saat itu, kelihatan sinar hitam berkelebat dan Hui Lian memekik ngeri terus roboh pingsan!

Ular yang bernama Siauw-liong itu ternyata telah menyerang dan kini giginya menggigit leher Hui Lian yang berkulit putih halus.

Melihat ini, Kok Sun menjadi pucat.

"Jahanam besar, kau... kau... berani... Kau berani menggigit calon isteriku? Keparat jahanam, mampus kau!"

Tangannya bergerak dan di lain saat ular itu telah direnggutnya terlepas dari leher Hui Lian, lalu...

digigitnya leher ular itu oleh Kok Sun sampai putus!

Masih belum puas dengan ini, Kok Sun membanting hancur kepala ular, mencabik-cabik tubuh ular dengan sepasang tangannya yang kuat sehingga tubuh ular itu menjadi berkeping-keping.

Kemudian Kok Sun menubruk Hui Lian sambil menangis teredu-sedu.

"Hui Lian, kekasihku... calon isteriku sayang ". jangan mati kau... jangan kau tega meninggalkan aku, bawalah aku bersamamu...."

Dan menangislah ia melolong-lolong seperti anak kecil.

Muka Hui Lian sudah berubah menghitam dan kalau tidak segera tertolong, Pasti nyawanya akan melayang.

See-thian Tok-ong maklum akan hal ini, akan tetapi ia tidak peduli.

Sebaliknya Kwan Ji Nio bingung sekali melihat anaknya demikian.

Nyonya ini melihat Kok Sun menangis melolong-lolong, tak dapat menahan mengucurnya air matanya.

Beberapa kali ditariknya lengan Kok Sun untuk melepaskan Hui Lian dan dihiburnya.

"Sudahlah, Nak. Dia mati biar mati, masih banyak gadis yang lebih dari padanya. Nanti Ibu carikan puteri Kaisar...."

"Tidak sudi, puteri Kaisar seperti ayahnya, gendut, kepala besar dan jenggotan! Aku mau kawin dengan Hui Lian kalau dia mati aku juga mau muti!"

Kwan Ji Nio menjadi makin bingung ia menoleh kepada suaminya dan melihat See-thian Tok-ong tersenyum-senyum saja seperti orang gendeng, ia lalu lompat dan menampar pipi suaminya.

See-thian Tok-ong terkejut dan seakan-akan baru sadar dari alam mimpi.

"Ada apa?"

Tanyanya gagap.

"Hayo katakan apakah gadis ini masih dapat ditolong?"

Isterinya menuntut. See thian Tok-ong mengerutkan kening.

"Begitu matahari keluar, dia akan mati."

Tangis Kok Sun menjadi-jadi, bahkan kini ia menggulingkan tubuh di atas tanah dan bergulingan ke kanan kiri, memukul-mukul kepala dan tanah.

"Apakah ia masih bisa ditolong? Hayo katakan lekas!"

Kata Kwan Ji Nio dengan keras.

"Bisa asal ada yang menyedot racun di leher itu,"

Kata See-thian Tok-ong.

Mendadak Kwan Kok Sun melompat bangun, menubruk Hui Lian dan tanpa ragu-ragu lagi mulutnya mengecup leher yang terluka, terus disedotnya kuat-kuat!

Melihat kenekatan puteranya, kini baru See-thian Tok-ong ada perhatian.

Perbuatan puteranya ini berbahaya sekali, akan tetapi juga sekaligus menyatakan bahwa kali ini puteranya betul-betul "cinta"

Kepada gadis ini.

Biasanya setiap ia minta dikawinkan dan menyatakan suka kepada seorang gadis, kalau gadis itu sudah diculik orang tuanya, ia lalu menyatakan bosan dan tidak suka.

Kali ini begitu bertemu.

Kok Sun sudah berani membahayakan nyawanya untuk menolong gadis itu, agaknya kali ini anaknya bukan main-main lagi!

"Tiga belas kali!

Jangan lebih tiga belas kali sedotan,"

Katanya sambil mendekati Hui Lian dan Kok Sun.

"Dan semburkan keluar darah berbisa itu."

Dengan lweekangnya yang sudah tinggi, Kok Sun dapat menyedot tiga belas kali tanpa melepaskan mulutnya dari leher, akan tetapi setelah akhirnya ia melepaskan leher itu dari kecupannya, ia lalu "..

menelan darah itu dan seketika itu mukanya menjadi kehitaman!

"Kok Sun...!"

Kwan Ji Nio menjerit.

Sementara itu, melihat semua peristiwa ini, Liok-te Mo-ong Wie It habis sabarnya.

Ia seakan-akan disuruh melihat sekumpulan orang gila bermain sandiwara.

Dengan gemas ia memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka bergerak maju untuk merampas Hui Lian dan Hong Kin lalu melarikan diri.

Akan tetapi tiba-tiba lima orang menjerit dan terpental jauh termasuk Wie It sendiri!

Biarpun tadinya ribut bertiga tak karuan, akan tetapi ketika Wie It dan kawan-kawannya bergerak See-thian Tok-ong mengebutkan kedua lengan bajunya, yang kanan menyambar muka Wie It terus ke dadanya sehingga Wie It terdorong dadanya sampai terjengkang tiga kaki lebih, yang kiri menghantam pundak seorang busu sampai patah tulang pundaknya!

Juga Kwan Ji Nio menggerakkan rambutnya dua kali dan robohlah dua orang busu lain.

Kwan Kok Sun yang mukanya sudah kehitaman dan kepalanya sudah mulai pening, melihat para busu menyerbu, lalu tiba-tiba membuka mulut dan menyemburkan ludahnya yang pada saat itu juga berbisa, tepat mengenai hidung seorang busu sehingga busu itu berkaok-kaok kesakitan sambil membetot-betot hidungnya yang tiba-tiba rasa gatal-gatal dan sakit sekali.

Tak lama kemudian hidung itu menjadi hitam dan copot, dan orangnya jatuh pingsan.

Wie It terkejut setengah mati.

Biarpun sudah menyangka bahwa tiga orang ini lihai sekali, akan tetapi .tidak pernah ia mimpi akan selihai itu.

Maka ia berdiri bengong dan tidak berani sembarangan bergerak.

Adapun See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio, dan Kwan Kok Sun, seakan-akan sudah lupa lagi akan para busu itu dan mengurus persoalannya sendiri.

Kwan Ji Nio membanting-banting kakinya.

"Kok Sun mengapa kau menelan racun itu? Mengapa kau mengambil keputusan mati?"

Ia menangis. Kok Sun tiba-tiba ketawa, suara ketawanya seperti ringkik kuda.

"Ayah adalah Raja Racun dart Barat, mengapa aku takut minum racun? Ha, ha, ha, Ayah. Mari kita antar calon isteriku ini ke istana bersama pemuda yang mempunyai keberanian besar ini."

"Ke istana? Kok Sun, aku dapat menyembuhkan dia di sini, juga aku dapat menyembuhkan kau. Mengapa harus ke istana""

Tanya ayahnya.

"Orang seperti Hui Lian harus dijadikan puteri istana dulu, baru kawin dengan aku. Kita membawa mereka ke kota raja, menghadap kaisar dan bukankah Ayah pernah bilang hendak mencari kedudukan di istana? Mengapa tidak sekalian sekarang kita ke sana dan datang datang membawa jasa dengan menangkap dua orang ini? Kalau Ayah yang minta, tentu Kaisar suka mengampuni Hui Lian dan mengangkatnya menjadi puteri, kemudian kawin dengan aku."

"Hm... tapi...."

See-thian Tok-ong ragu-ragu. Memang dia bercita-cita tinggi, bahkan kalau mungkin dia mau merebut kedudukan kaisar. Akan tetapi bukan dengan cara ini.

"Ayah, kalau begitu biar aku mati bersama Hui Lian di sini. Dia jangan Ayah obati, juga aku tidak sudi menelan obat Ayah!"

Kwan Kok Sun mengambek.

"Kau mau bilang apa lagi""

Kwan Ji Nio membentak suaminya.

"Hayo kita berangkat ke kota raja."

See-thian Tok-ong mengangkat pundaknya, lalu berpaling kepada Wie It dan berkata.

"Kau masih mau membawa dua orang ini ke istana? Hayo antarkan kami."

"Baiklah Locianpwe, kami senang sekali,"

Jawab Wie It.

Lenyap sekarang kegarangan dan kesombongannya setelah ia tahu siapa adanya kakek ini.

Nama besar See-thian Tok-ong cukup membuat ia gemetar dan tahulah ia bahwa ia kini berhadapan dengan orang yang patut menjadi gurunya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menyebut locianpwe!

See-thian Tok-ong tidak segera berangkat.

Ia lebih dahulu mengobati Hui Lian dan Kwan Kok Sun.

Setelah mata-hari menyinari bumi, barulah See-thian Tok-ong mengajak semua orang berangkat.

Berkat obat yang luar biasa dari See-thian Tok-ong, Kwan Kok Sun dan Hui Lian sembuh sama sekali.

Hui Lian dan Hong Kin maklum bahwa menghadapi See-thian Tok-ong sekeluarganya mereka berdua tidak berdaya melawan.

"Biarlah kita menurut saja, Nona. Se sampainya di sana, aku percaya Wanyen Siauw-ongya takkan membiarkan kita di ancam bahaya,"

Kata Hong Kin menghibur. Hui Lian mengangguk dan gadis ini berkata kepada Kok Sun yang selalu berada dekat dengan dia.

"Kwan Kok Sun, aku mau dibawa ke istana sebagai tawanan. Akan tetapi ingat, jangan sekali kali kau bersikap kurang ajar dan menggangguku. Kalau laranganku ini dilanggar, jangan harap aku akan menyerah dengan damai sebaliknya aku akan mengamuk dan melawan sampai titik darah penghabisan."

Kok Sun tersenyum girang.

"Nona manis, siapa berani mengganggumu? Yang mengganggumu akan mampus lebih dulu di tanganku. Kau calon isteriku, bagai-mana aku mau mengganggumu? Asal kau tidak lari dari aku, kau akan bebas. Melihat mukamu yang manis saja aku sudah puas, aku sudah kenyang. Ah, kekasih hati pujaan kalbu...."

Hui Lian membuang muka dan tidak mau melayani lagi sampai Kok Sun akhirnya capai dan berhenti mengaco-belo sendiri.

Rombongan yang aneh ini berjalan kaki menuju ke kota raja.

Hui Lian dan Hong Kin dikurung di tengah-tengah dan di dalam hati Hui Lian timbul sesuatu yang hangat terhadap Hong Kin, pemuda yang ternyata membelanya mati-matian itu.

"Saudara Hong Kin, karena aku seorang, kau jadi ikut menderita dan terancam,"

Kata Hui Lian perlahan, dan mengerling lembut ke arah pemuda baju hijau itu. Hong Kin tersenyum.

"Nona, andaikan aku mati demi membelamu, aku akan mati dengan puas dan bangga!"

Hui Lian membelalakkan mata dan menatap wajah pemuda itu. Hong Kin juga memandang kepadanya dan sinar mata pemuda ini penuh pernyataan yang kalau diucapkan akan berbunyi.

"Apakah kau masih belum mengerti akan isi hatiku yang penuh cinta kasih kepadamu?"

Hui Lian tiba-tiba menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali dan aneh, pada saat seperti itu, wajah Wa Sin Hong terbayang di depan bulu matanya.

Pemuda ini demikian baik, demikian jujur, setia dan mencintanya.

Aka tetapi dia tidak "ada hati"

Kepada Coa Hong Kin, sayang.

Sayang dan kasihan pemuda ini.

Sebaliknya, orang yang selalu menjadi kenangan, yang sekaligus merampas hati dan cinta kasihnya, adalah Wan Sin Hong, pemuda yang menjadi penjahat besar!

Teringat betapa Sin Hong membawa lari Soan Li dan betapa pemuda itu mengecewakan hatinya, tak terasa lagi dua butir air mata menitik turun di pipi Hui Lian.

Tiba-tiba terdengar suara "Plok!

Plok!"

Dan Hong Kin terhuyung-huyung. Ternyata ia telah digaplok dua kali oleh Kwan Kok Sun yang tadinya seperti berjalan sambil mimpi karena pandangan matanya ditujukan ke atas ujung kedua kakinya.

"Bedebah, berani kau mengganggu isteriku sampai dia menangis? Dua butir air mata untuk dua gaplokan masih terlalu murah. Awas, kalau ada air mata keluar lagi, setiap butir harus kaubayar dengan satu gebukan. Kaulihat sajalah!"

Hui Lian terkejut sekali dan cepat ia mengeringkan matanya dengan ujung lengan baru.

Hong Kin sudah bangun lagi, menyusut bibirnya yang berdarah ujungnya, akan tetapi bibir ini tersenyum ketika ia memandang kepada Hui Lian.

Nona ini merasa terharu, Juga marah sekali, akan tetapi ia maklum bahwa menghadapi Kok Sun yang gila itu, lebih baik bersabar.

Ia tidak takut menghadapi Kok Su dan belum tentu ia kalah.

Akan tetapi di situ ada See-thian Tok-ong, ada Kwan Ji Nio, bahkan masih ada Liok-te Mo-ong Wie It dan lain-lain busu.

Pihak lawan terlalu berat dan melawan berarti membuang tenaga sia-sia belaka.

"Jangan pukul dia, dia kawan baikku. Aku takkan menangis dan kalau aku menangis juga, bukan karena dia yang menggangguku,"

Katanya kepada Kok Sun.

"Habis siapa yang mengganggumu?". tanya Kok Sun ketolol-tololan.

"Kalau aku menangis, paling-paling engkaulah yang mengganggu,"

Jawab Hui Lian mendongkol.

"Aku?"

Kok Sun memandang dengan mata melirik ke kanan kiri, kemudian kepalanya yang gundul mengangguk ketika ia berkata.

"Hm, kalau aku yang mengganggumu sampai kau menangis, aku akan memukul kepalaku sendiri. Sekali gebuk untuk sebutir air mata!"

Hampir Hui Lian tak dapat menahan gelak tawanya saking geli mendengar kata-kata ini.

Kalau pemuda gundul yang otaknya tidak beres ini tidak jahat, kiranya akan menimbulkan kasihan.

Akan tetapi sekarang sifatnya yang amat jahat itu membuat ketololannya makin menggemaskan, juga amat lucu.

Kalau saja di situ tidak ada See-thian Tok-ong dam Kwan Ji Nio yang tentu akan turun tangan, ingin Hui Lian menangis meraung-raung dan memeras semua air matanya biar Si Gila Gundul itu memukuli kepalanya sendiri sampai benjut dan pecah-pecah!

Diam-diam Hui Lian merasa cemas mengingat akan nasib sendiri.

Apakah yang akan dialaminya selanjutnya?

Betapapun juga, kalau ia melirik ke arah Hong Kin dan melihat pemuda itu tenang-tenang saja berjalan di sebelahnya, hatinya menjadi agak lega dan tenang.

Ia percaya akan kepintaran pemuda ini, percaya pula akan kebaikan hati Pangeran Wanyen, yang air mukanya seperti Wan Sin Hong itu.

Teringat sampai di sini, kembali wajah Sin Hong terbayang-bayang, membuat Hui Lian melamun dan berjalan sambil menundukkan mukanya yang kemerahan.

Biarpun Kwan Kok Sun seorang pemuda yang sejak kecilnya biasa ugal-ugalan dan hati pikirannya terbungkus hawa kejahatan, namun ia merasa keder juga ketika memasuki istana dan dihadapkan kepada kaisar.

Pribadi Kaisar amat kuatnya dan wibawanya besar.

Semua itu bukan saja disebabkan oleh karena memang Kaisar yang biasa disembah itu mempunyai pengaruh diri yang kuat, juga dibantu oleh keadaan di dalam istana yang demikian besar, demikian indah, dan demikian mewah.

Siapapun juga yang memasuki ruangan itu dan menghadap kepada Kaisar, melihat semua orang berlutut menghormat Kaisar, pasti akan tunduk dan merasa dirinya kecil.

Demikian pula Kok Sun yang segera ikut-ikut menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar dan tidak berani membuka mulut secara sembrono atau ugal-ugalan.

Adapun Kwan Ji Nio, sebelum menikah dengan See-thian Tok-ong, adalah seorang keturunan Han.

Oleh karena itu di dalam sudut hatinya, ada perasaan bangga terhadap negara dan terutama terhadap Kaisar.

Wanita ini tidak mengikuti perkembangan politik, tidak tahu akan artinya dinasti yang jatuh bangun ia hanya tahu bahwa kaisar di istana kota raja adalah kaisar di Tiongkok, adalah seorang mulia seperti yang biasa disebut orang sebagai Cin-beng Thian-cu (Putera atau Pilihan Tuhan) dan karenanya harus disembah-sembah oleh rakyat!

Inilah sebabnya maka ia pun berlutut dengan penuh penghormatan di depan kaisar bersama yang lain-lain.

Apa lagi Hui Lian yang baru pertama kali itu memasuki istana dan semenjak masuk di pintu gerbang pertama sudah bengong mengagumi keindahan bangunan dan perabot-perabot rumah, terkena juga pengaruh kebesaran kaisar dan bersama Hong Kin ia pun berlutut di atas lantai yang mengkilap dan bersih sekali itu.

Yang tidak berlutut hanyalah See-thian Tok-ong.

Tokoh ini datang dari India dan ia merasa diri-sendiri juga seorang raja, biarpun raja dalam dunia kang-ouw, yakni seperti juga orang menyebutnya, Raja Racun!

See-thian Tok-ong memberi hormat seperti seorang beragama Buddha memberi hormat, merangkap kedua tangan di depan dada sambil menjura, kemudian karena tidak enak melihat semua orang berlutut, ia lalu duduk bersila di atas lantai!

Kaisar duduk di atas kursi gading berukir emas yang berkilauan dan indah sekali, pakaian kebesarannya juga mentereng.

Di kanan kirinya terdapat enam orang siuli yang cantik-cantik menjaga segala keperluannya sehingga Sang Kaisar tak perlu bersusah-payah kalau menghendaki sesuatu.

Kegerahan?

Ada tangan halus yang menggerak-gerakkan kipas bulu burung merak dari Tanah Selatan.

Hendak minum?

Sepasang lengan yang mungil menyangga baki terisi segala macam minuman dan buah-buahan, tinggal pilih.

Kaki atau anggauta tubuh pegal-pegal?

Ada jari-jari tangan yang halus lunak dan ahli memijit-mijit bagian yang pegal untuk menghilangkan rasa lelah.

Agak jauh dari tempat duduk kaisar berbaris pengawal pribadi kaisar yang jumlahnya tiga puluh orang, lima belas kanan dan lima belas di kiri.

Di jaman dahulu pengawal pribadi hanya berjumlah enam atau paling banyak dua belas orang saja yang hadir di ruangan pertemuan itu, sebagian besar hanya menjaga di luar siap sedia kalau ada sesuatu.

Akan tetapi semenjak kota raja diperkuat, segala apa juga diperkuat sehingga kaisar dan sekeluarganya dapat tidur nyenyak.

Para pengawal pribadi ini nampak kuat-kuat dan berkepandaian tinggi, dengan senjata tajam siap di tangan.

Ada yang memegang tombak, toya, pedang, golok, ruyung dan penggada.

Sikap mereka angker sekali dan berdirinya tegak dalam sikap menghormat.

Di bagian luar ruangan, akan tetapi kelihatan dari situ, nampak sepasukan pengawal lain berdiri menjaga, jumlah mereka semua tidak kurang dari seratus orang.

Ada pasukan panah, pasukan golok, pasukan pedang, dan pasukan tombak.

Pakaian sama bentuknya, hanya berbeda warnanya.

Semua ini menambah keangkeran Kaisar dan membuat orang yang mempunyai pikiran buruk hendak berkhianat menjadi kecil hatinya!

Liok-te Mo-ong Wie It membuat laporan kepada Kaisar, menceritakan bahwa dia dan kawan-kawannya berhasil menawan Nona Go Hui Lian dan seorang pemuda yang mengawalnya bernama Coa Hong Kin.

Semua ini berhasil berkat bantuan tiga orang gagah perkasa yang kini ikut menghadap yakni See-thian Tok-ong, isterinya Kwan Ji Nio dan puteranya Kwan Kok Sun.

Kaisar nampak girang dan puas sekali mendengar laporan ini.

Ia memandang ke arah Hui Lian dengan kening berkerut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya yang dibebani mahkota berat seakan-akan menyayangkan seorang gadis remaja demikian cantik sampai tersesat menjadi pemberontak!

Kepada Hong Kin ia hanya mengirim pandang mata selirikan saja.

Kemudian ia memandang kepada See-thian Tok-ong bertiga dengan penuh perhatian.

"Kalian bertiga telah berjasa dalam menangkap dua orang buronan ini, apakah sekarang kehendak kalian menghadap ke sini? Apakah hendak minta hadiah? Biarlah kami memberi hadiah seratus tail uang emas kepada kalian bertiga,"

Kata Kaisar memperlthatkan kemurahan hatinya. See-thian Tok-ong yang tadinya besila dan meramkan mata seperti Sang Buddha bersamadhi, kini membuka matanya dan berkata dengan hormat akan tetapi tegas.

"Hamba bertiga bukanlah segolongan orang yang gila harta seperti kebanyakan pegawai Paduka! Hamba datang selain untuk menghaturkan hormat, juga untuk mengajukan permohonan-permohonan."

Kaisar mengangguk-angguk.

"Memang banyak yang menampik harta akan tetapi mengharapkan hadiah lain. Katakan apa permohonanmu? Kalau pantas dan dapat dilaksanakan, tentu kami takkan merasa keberatan."

"Permohonan hamba bertiga hanya ada dua macam. Pertama, putera hamba tergila-gila dan suka kepada Nona Go Hui Lian yang menjadi tawanan, karena itu hamba mohon Paduka suka mengijinkan Nona ini menjadi isteri putera hamba. Kedua, apabila Paduka membutuhkan dan mau menerima, hamba suka menjaga keamanan di dalam istana ini dan hamba bertiga sanggup membasmi semua musuh Paduka atau orang-orang yang mengancam keselamatan isi istana."

Semua orang tercengang mendengar permintaan yang bukan-bukan ini.

Memang permintaan itu, terutama yang ke dua, boleh saja diajukan akan tetapi bukan seperti itu cara mengajukannya, seakan-akan mengajukan permintaan kepada seorang kawan saja.

Apalagi bahasa yang dipergunakan oleh kakek gundul kasar sekali bagi pendengaran orang-orang di situ yang biasa mendengar kata-kata halus penuh kesopanan yang diajukan orang terhadap Kaisar.

Akan tetapi Kaisar tidak marah, hanya tersenyum agak masam.

Kemudian Kaisar memandang kepada Hui Lian dan berkata.

"He, kau, gadis cantik yang menjadi tawanan. Apakah kau suka diambil sebagai isteri oleh putera See thian Tok-ong yang namanya... eh, Wie It, siapa tadi namanya bocah gundul ini?"

"Namanya Ban beng Sin-tong Kwan Kok Sun, Tuanku,"

Jawab Liok-te Mo-ong Wie It. Kaisar tertawa.

"Panjang benar. Tapi pantas bagi seorang yang mempunyai nyawa selaksa. Bagaimana, Go Hui Lian, sukakah, kau?"

Hui Lian menoleh ke arah Kok Sun, memandang penuh kebencian, kemudian mengangkat muka menatap wajah Kaisar, penuh keberanian ketika ia menjawab lantang.

"Hamba tidak sudi!"

Kwan Kok Sun terkejut, lupa bahwa dia menghadap Kaisar.

"Eh, calon isteriku yang manis, kekasihku sayang, mengapa kau menjawab begitu?"

Kaisar mengangkat tangan dan kalau bukan Kok Sun yang membikin ribut, tentu sudah mendapat gaplokan dari para busu. Kaisar mengerutkan kening dan berkata.

"Hai perjodohan ini biar kami pIkir-pikir dulu. Masukkan gadis ini dalam tahanan"

Perintahnya dan Hui Lian lalu digiring keluar dari tempat itu.

Melihat Hui Lian dibawa pergi dari ruangan itu, Kwan Kok Sun hendak bangun berdiri dan hendak marah, akan tetapi tiba-tiba ayahnya membentak.

"Kok Sun, jangan bergerak kau!"

Kok Sun amat dimanja oleh orang tuanya, terutama oleh ibunya, akan tetapi terhadap ayahnya ia masih takut.

Tahu bahwa bentakan ayahnya kali ini sungguh-sungguh dan ia tidak berani membangkang, lalu duduk lagi dan berlutut seperti tadi, biarpun matanya kadang-kadang melirik ke arah lorong kemana Hui Lian dibawa pergi.

Kaisar memandang kepada Coa Hong Kin yang masih berlutut, lalu membentak marah.

"Kau... mengapa kau berani membantu seorang pemberontak? Apakah kau ada niat memberontak terhadap kami?"

Hong Kin menjawab dengan penuh hormat.

"Tidak sekali-kali hamba berniat demikian jahat. Hamba hanya menerima perintah dari Pangeran Wanyen Siauw-ongya untuk mengantarkan Nona Go Hui Lian keluar dari kota raja. lnilah tanda hamba sebagai utusan Wanyen Siauw ongya."

Coa Hong Kin mengeluarkan kancing emas pemberian Pangeran Wanyen.

Kaisar mengelus-elus jenggotnya mengerutkan keningnya.

Wanyen Ci Lun adalah keponakannya yang amat disayang dan sudah banyak jasanya terhadap negara dan amat pintar sehingga seringkali dalam menghadapi perkara-perkara besar, kaisar minta bertukar pikiran dengan Pangeran itu.

Kini Wanyen Ci Lun menyuruh orang kepercayaannya mengantar gadis Go Hui Lian keluar kota raja, apalah artinya semua ini?

Kaisar tidak mau segitu saja marah kepada keponakannya, apalagi menyangka yang bukan-bukan.

Oleh karena itu ia lalu berkata kepada penjaga.

"Masukkan dia dalam tahanan menanti pemeriksaan lebih lanjut!"

Seperti Hui Lian, Hong Kin juga digiring keluar dari tempat itu untuk dimasukkan ke dalam kamar tahanan yang tentu saja terpisah dari tempat tahanan Hui Lian.

Kaisar memandang lagi kepada See-thian Tok ong yang sabar menanti sambil tetap duduk bersila.

"See than Tok-ong, kami ulangi, urusan perjodohan dapat dibicarakan kelak setelah urusan gadis itu diperiksa teliti. Sekarang tentu usulmu atau permintaanmu yang kedua. Kau menjanjikan bantuan untuk menjaga keselamat kami, apakah alasanmu?"

Setelah berkata demikian, Kaisar menatap wajah See thian Tok-ong dengan tajam.

"Pertama mengingat bahwa hamba yang berasal dan See-thian sekarang sudah bertempat tinggal di negara ini maka sudah sepatutnya kalau hamba menyumbang tenaga dan kepandaian untuk membalas budi kepada Paduka, kedua kalinya oleh karena hamba mendengar bahwa bangsa Mongol sudah mengancam keamanan di negeri ini sedangkan hamba mempunyai permusuhan dengan orang-orang Mongol maka hamba bersiap untuk membela kerajaan paduka dari serangan mereka itu."

Kaisar menjadi girang dan tertarik.

"Bagaimana kau seorang yang datang jauh dari barat dapat bermusuhan dengan orang Mongol yang tinggal jauh di utara?"

Dengan suara tetap dan tenang See-thian Tok-ong menjawab.

"Hamba pernah merantau sampai ke Mongolia dan di sana hamba menerima penghinaan dari mereka, bahkan hampir saja hamba terbunuh kalau saja hamba tidak berkepandaian."

Kaisar mengangguk-angguk. Orang ini boleh dipakai, pikir Kaisar. Hanya yang masih meragukan, apakah benar-benar kepandaiannya tinggi dan sampai di mana kesetiaannya.

"Wie-ciangkun, apakah kau sudah melihat bagaimana kepandaian dari See-thian Tok ong ini? Sampai di manan tingkatnya dan pangkat apakah pantasnya bagi seorang berkepandaian seperti dia?"

Liok-te Mo-ong Wie It tidak saja sudah kenal baik nama besar See-thian Tok-ong seanak isteri yang sudah menggegerkan dunia kang-ouw dan bahkan sudah memhasmi partai besar dan disegani seperti Im-yang-bu-pai, akan tetapi juga sudah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu kepandaiannya tiga orang aneh dari barat itu.

Maka ia pun tahu bahwa di antara semua pengawal dt istana, tak seorang pun dapat menandingi kepandaian kakek gundul mi.

"Menurut pendapat hamba yang bodoh, kalau ada pangkat yang tepat bagi See-than Tok-ong Locianpwe, maka pangkat itu hanya kepala seluruh pengawal."

Kaisar kelihatan tercengang dan menoleh kepada See-than Tok-ong untuk memandang penuh perhatian.

Pengangkatan kepala pengawal istana apalagi kepala seluruh pengawal bukanlah hal yang remeh dan tidak mungkin pangkat tertinggi bagi pengawal Kaisar diserahkan kepada sembarang orang begitu saja tanpa mengenaI baik-baik siapa orangnya.

Pada saat itu terdengar seruan keras sekali.

"Kaisar lalim mampuslah kau!"

Seruan ini disusul oleh berkelebatnya lima bayangan orang yang gerakannya luar biasa cepatnya.

Bayangan-bayangan orang ini masuk ke dalam ruangan dari pelbagai jurusan, yang tiga masuk dari atas dengan menerobos genteng, yang seorang dari jendela dan yang seorang lagi dari pintu.

Benar-benar hal yang seperti tak masuk di akal kalau ada lima orang musuh gelap dapat memasuki istana begitu saja, bahkan dapat masuk ke dalam ruangan sidang Kaisar tanpa diketahui oleh para penjaga di luar yang berlapis-lapis dan amat kuat!

See-than Tok-ong mengeluarkan gerengan marah dan tubuhnya yang tadi bersila, kini tiba-tiba melompat ke atas dan kedua tangannya sudah memegang sepasang senjatanya yang mengerikan, yakni Ngo-tok Mo-jiauw (Cakar Setan Lima Racun) dan secepat kilat ia menerjang dua orang lawan yang sudah mengeluarkan pedang masing-masing untuk menyerang Kaisar.

Kwan Ji Nio mengeluarkan jeritan nyaring, tahu-tahu tubuhnya sudah melesat ke depan Kaisar, membelakangi kaisar dan tangan kirinya menyambar sebatang piauw yang tadinya melayang ke arah Kaisar, sedangkan tangan yang memegang ranting digerakkan cepat menyampok runtuh dua batang piauw lain.

Kemudian ia menghadapi seorang penyerbu dan segera mereka bertempur sengit.

Juga Kwan Kok Sun biarpun biasanya kelihatan tolol dan ayal-ayalan, kini nampak sekali bahwa dalam keadaan penting ia ternyata dapat bergerak luar biasa cepatnya.

Entah dari mana mengambilnya tahu-tahu kedua tangannya sudah memegang ular kecil warna hitam putih dan ia menerjang seorang penyerbu yang datang dari jendela.

Penyerbu ini mengeluarkan seruan kaget dan agaknya ngeri menyaksikan senjata aneh akan tetapi ilmu silatnya tinggi dan dapat menandingi Kwan Kok Sun.

Adapun penyerbu yang seorang lagi yang datang dari pintu, sudah disambut oleh Liok-te Mo-ong Wie It yang dibantu oleh lima orang panglima pengawal.

Mereka ini segera mengeroyok dan mengepung orang ke lima ini.

Para pengawal yang tadinya berdiri tegak dan gagah di kanan kiri Kaisar secara otomatis kini sudah mengelilingi Kaisar dan merupakan pagar hidup yang kokoh kuat melindungi yang dipertuan.

Akan tetapi Kaisar berteriak marah.

"Yang di depanku jongkok! Aku ingin menonton pertempuran!"

Para pengawal yang berada di depan Kaisar lalu memasang kuda-kuda sambil berjongkok, kaki kiri berjongkok kaki kanan dilonjorkan ke depan, senjata di tangan dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Setelah mereka ini berjongkok Kaisar nampak puas dan menonton pertempuran hebat yang terjadi di ruang ini"

Tangan kanannya otomatis meraba gagang pedangnya.

Pertempuran ini memang hebat, See-thian Tok ong yang memegang sepasang Ngo-tok Mo-jiauw dikeroyok oleh dua orang yang amat lihai ilmu silatnya.

Pengeroyoknya adalah dua orang tinggi kurus yang berjenggot panjang berpakala seperti petani dan nampaknya lemah.

Akan tetapi ternyata ilmu pedangnya amat ringan dan gesit.

Seorang di antara mereka hanya satu telinganya, yang kanan telah buntung.

Yang seorang agak lebih muda berpakaian serba kuning.

Melihat Si Telinga Buntung itu, Kaisar mengeluarkan seruan marah.

"Penjahat she Siok! Kiranya engkau."

Si Telinga Buntung itu mengeluarkan suara mengejek.

"Kaisar buto (lalim), bagus sekali kau masih mengenaI aku. Mampuslah kau!"

Tangan kirinya menyambitkan dua butir pelor baja melayang cepat ke arah Kaisar.

Seorang di antara pengawal di depan Kaisar yang berjongkok, tiba-tiba meloncat dan dengan gerakan indah sekali berhasil menangkap dua buah pelor baja itu, lalu berlutut kembali seperti tak pernah ada kejadian sesuatu.

Si Telinga Buntung nampak kaget.

Tak disangkanya bahwa Kaisar ini dilindungi oleh orang-orang pandai, bahwa pengawal-penga yang kelihatannya tak berisi itu ternyata memiliki kepandaian yang lumayan tingginya.

Kemudian ia terpaksa mengalihkan seluruh perhatiannya kepada See-thian Tok-ong yang bukan main-main itu.

Si Telinga Buntung yang oleh Kaisar dikenal sebagai orang she Siok ini sebetulnya adalah Siok Hoat yang berjuluk Thian-sin (Malaikat Langit) dan dahulu menjadi kepala pengawal dari Kaisar.

Kumudian datang Liok-te Mo-ong Wie It yang kepandaiannya tinggi dan setingkat dengan Siok Hoat.

Karena Wie It menjadi kepercayaan Kaisar dan diangkat menjadi komandan Kim-i-wi, diam-diam antara Siok Hoat dan Wie It timbul persaingan.

Siok Hoat telah beberapa lama mengadakan hubungan gelap dengan seorang siuli dan pada suatu hari ia ditangkap dan oleh Kaisar dijatuhi hukuman potong telinga dan diusir dari kota raja dengan dakwaan telah bermain gila dengan siuli dan karenanya berarti mengotori istana dan menghina Kaisar!

Setelah Siok Hoat diusir, Liok-te Mo-ong Wie It diangkat menjadi kepala pengawal.

Semenjak itu, sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, orang tidak mendengar lagi tentang nasib Siok Hoat.

Padahal diam-diam bekas komandan pengawal ini telah melatih diri dan mengadakan hubungan dengan orang-orang yang mempunyai perasaan anti Kaisar.

Dan pada hari itu, dengan empat orang kawannya yang berkepandaian tinggi, ia berhasil memasuki istana secara diam-diam untuk melakukan percobaan membunuh kepada Kaisar.

Sudah barang tentu ia mendapat bantuan dari para mata-mata yang menyelundup sebagai pengawal dan orang-orang penting di dalam istana, kalau tidak demikian, tak mungkin ia dan kawan-kawannya dapat memasuki istana tanpa diketahui para penjaga.

Yang dihadapi See-thian Tok ong adalah Thian-sin Siok Hoat sendiri dan seorang kawannya, yakni seorang tosu (pendeta penganut aliran Too yang berambu panjang) bernama Swi Tok Sai-ong.

Tosu ini adalah seorang pendeta perantau dari Pegunungan Go-bi-san dan ilmu silatnya juga berdasarkan Ilmu Silat Go-bo pai, hanya sudah banyak berubah karena sesungguhnya dia bukanlah murid aseli dan Go-bi-pai.

Swi Tok Sai-ong adalah seorang tokoh dan golongan Mo-kau atau yang lajim disebut agama sesat oleh para tokoh agama lain seperti Agama Buddha, Agama To, dan para pemua Kwan lm dan lain-lain.

Seperti Siok Hoat, tosu atau sai-kong ini pun seorang ahli bermain pedang dan bersama Thiansin Siok Hoat ia mencoba untuk mendesak See thian Tok-ong.

Namun See-thian Tok-ong bukanlah manusia sembarangan.

Ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang Iebih tinggi laripada ahli-ahli silat lainnya, bahkan dia memiliki beberapa keistimewaan yang sesuai dengan julukannya, yakni Tok-ong (Raja Rucun).

Sepasang senjatanya saja, yakin Ngo-tok Mo-jiauw sudah mengerikan.

Lima buah kuku panjang dan setiap jari tangan cakar setan ini terdiri dari lima warna dan mengandung lima macam racun yang amat berbahaya.

Sekali saja terkena cakaran dan terluka sampai mengeluarkan darah oleh sebuah dt antara lima kuku ini, orang akan tewas.

Setiap kuku mendatangkan maut yang berlainan akan tetapi sukar dikatakan mana yang paling mengerikan.

Kuku ibu jari saja kalau melukai orang, korban itu akan berkelojotan, seluruh tubuh terasa panas-panas seperti terbakar dan dalam waktu paling lama sepeminuman teh orang itu akan tewas dengan tubuh menjadi hangus menghitam!

Dan kuku kelingking sebaliknya yang terkena akan menggigil kedinginan dan dalam waktu yang sama akan tewas dalam keadaan tubuh membeku dan kaku, kulit menjadi biru menakutkan.

Biarpun dikeroyok dua oleh ahli-ahli silat tinggi yang gerakannya kuat dan cepat, See-thian Tok-ong tidak gentar.

Ia tidak terdesak, sebaliknya sepasang cakar setannya setiap saat mengincar nyawa kedua lawannya dan pertempuran itu berjalan mati-matian sampai lima puluh jurus lebih.

See-thian Tok-ong tidak terdesak akan tetapi itu pun tidak berani terlalu sembrono dan terlalu bernafsu menghadapi dua lawan itu, karena dua batang pedang itu bergerak cepat sekali dan kalau ia terlengah sedikit saja bahaya mengancam nyawa.

Oleh karena kedua pihak bertempur dengan amat hati-hati, maka pertempuran itu berjalan seru dan lama.

Setelah menandingi Se thian Tok-ong, Siok Hwat dan Swi To Sai-ong terkejut setengah mati.

Sebagai ahli-ahli berpengalaman, mencium bau yang keluar dari sepasang cakar setan itu maklumlah mereka bahwa mereka menghadapi senjata beracun yang hebat.

Pula melihat ilmu silat See-thian Tok-ong yang tinggi, mereka mengeluh sendiri.

Tak disangkanya sama sekali bahwa di dekat Kaisar terdapat manusia semacam ini!

Mereka benar-benar merasa bertemu dengan batu keras.

Memang kalau sekiranya mereka berlima ini hanya dihadapi oleh pengawal-pengawal yang tingkat kepandaiannya tidak melebihi Liok-te Mo-ong Wie It, biarpun mereka akan mati dikeroyok oleh banyak pengawal, akan tetapi kiranya mereka pun akan berhasil membunuh Kaisar.

Akan tetapi kini di situ ada See-thian Tok-ong, dan masih ada dua orang lagi yang kini juga memperlihatkan ketangkasan dan kelihaiannya, yakni Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun!

Kwan Ji Nio yang tadi menangkis serangan tiga batang piauw yang menyambar ke arah Kaisar, bertempur sengit dengan penyambit piauw, seorang gemuk pendek yang gerakannya gesit sekali.

Orang gemuk pendek, berusia empat puluh lima tahun, berkumis tipis dan berkulit muka halus ini adalah Liang Ti kepala rampok di daerah selatan.

Di selatan dia terkenal sekali, apalagi senjatanya yang berupa pacul dan senjata gelapnya berupa piauw bersayap (Hui piauw).

Dahulu di waktu mudanya.

Liang Ti Ek ini adalah petani maka senjatanya pacul.

Ketika keadaan negara kacau karena kelemahan Kaisar dan disana-sini orang-orang jahat merajalela, dusun tempat tinggal Liang Ti Ek menjadi korban serbuan perampok, Liang Ti Ek adalah seorang gagah dan berkepandaian tinggi.

Seorang diri dengan paculnya, ia berhasil membasmi perampok-perampok ini sehingga akhirnya mereka takut dan mengangkatnya menjadi kepala.

Melihat keadaan negara kacau dan para petugas negara tukang korup besar, Liang Ti Ek meninggalkan dunia sawah-ladangnya dan masuk ke dunia lok-lim, menjadi kepala rampok.

Tadinya memang yang diganggunya hanya para pedagang dan pembesar yang lewat, akan tetapi lambat laun, watak anak buahnya yang kasar dan keji rupa-rupanya menular kepadanya dan dia menjadi kepala rampok tak pandang bulu dan kejam.

Setelah Hwa I Enghiong Ciang Le tinggal di selatan, Liang Ti Ek ketakutan dan berpindah-pindah, bahkan ia membubarkan anak buahnya dan bekerja seorang diri menjadi perampok tunggal.

Kemudian ia bertemu dengan Thian-sin Siok Hoat dan bersahabat.

Demikianlah hari ini ia ikut membantu Siok Hoat untuk membunuh Kaisar.

Akan tetapi, siapa kira, baru saja memperlihatkan keahliannya menyambit dengan tiga batang piauw sekaligus ke arah Kaisar, muncul seorang nenek perkasa yang dengan mudah meruntuhkan tiga batang piauwnya dan kini bahkan menyerangnya dengan hebat.

Liang Ti Ek memutar paculnya mengerahkan tenaga lweekangnya untuk mendesak.

Namun, alangkah terkejutnya ketika matanya matanya menjadi berkunang dan ia harus membuka mata lebar-lebar karena kalau tidak demikian, ia mungkin akan kehilangan lawannya dan tahu-tahu akan menerima pukulan maut.

Demikian cepat gerakan lawannya dan alangkah ringan kakinya bergerak ke sana ke mari, tanda bahwa ia menghadapi seorang nenek tua yang memiliki ginkang luar biasa sekali.

Maka cepat ia menggerakkan paculnya dan mainkan ilmu silat yang aneh gerakannya.

Tidak sembarangan ahli silat dapat mainkan alat pertanian ini sebagai senjata.

Kalau orang tidak memiliki dasar ilmu silat tinggi, maka senjata ini hanya membikin kaku gerakannya dan tak mungkin menjadi senjata yang ampuh.

Akan tetapi, kalau yang mainkan itu sudah memiliki kepandaian tinggi, apalagi memang sudah berpuluh tahun Liang Ti Ek berlatih ilmu mainkan pacul, senjata aneh ini amat berbahaya dan merupakan senjata yang dapat mengimbangi kelihaian ranting di tangan Kwan Ji Nio.

Pertempuran yang amat ramai dan paling mengerikan hati adalah pertempuran antara Pouw Bin dan Kwan Kok Sun.

Kwan Kok Sun sebagaimana diketahui adalah seorang pemuda yang berkepala gundul dan kepandaiannya yang diwarisi dari ayah bundanya yang kosen, tentu saja amat hebat.

Di lain pihak Pouw Bin yang menjadi lawannya adalah seorang bertubuh tinggi besar dan kepalanya di tengah-tengah botak kelimis menyaingi kepala Kwan Kok Su.

Muka Pouw Bin menghitam dan mengkilap seperti pantat kwali digosok minyak.

Ia berjuluk Thiat touw kang-jiu (Kepala Besi Tangan Baja) dan kepandaiannya tinggi karena sebetulnya dia adalah sute (adik seperguruan) dari Thian-sin Siok Hoat bekas kepala itu.

Yang diandalkan adalah ilmu pukulan tangan kosong yang disebut Kang-san-jiu (Tangan Gunung Baja).

Setiap jari tangannya merupakan senjata seperti batang baja yang kokoh kuat, yang sekali ditusukkan dapat melubangi tembok.

Selain ini, juga julukannya Kepala Besi bukan tidak ada artinya.

Kepalanya yang botak itu bukan karena penyakit juga bukan sengaja botak, melainkan akibat daripada latihan lweekang dengan kepalanya.

Dari kulit kepalanya yang botak ini kalau dipergunakan keluar hawa pukulan yang dahsyat dan sudah banyak sekali lawan yang ia robohkan dengan benturan kepalanya yang lihai.

Tadinya Pouw Bin memandang rendah kepada Kwan Kok Sun, akan tetapi setelah pertandingan berlangsung beberapa belas jurus, bukan main kagetnya melihat bahwa sepasang ular hijau di tangan pemuda gundul itu benar-benar amat berbahaya.

Sepasang ular itu dimainkan oleh Kok Sun seperti orang mainkan senjata ruyung lemas (joan-pian) dan bahkan jauh melebihi joan-pian bahayanya.

Kalau orang terkena pukulan joan-pian, asal memiliki tenaga lweekang dan pernah melatih diri dengan ilmu kebal, paling banyak hanya terluka.

Akan tetapi, sekali saja kena sabetan ular hijau ini berarti terkena gigitan dan racunnya.

Betapapun kebal seseorang, betapapun lihai lweekangnya asal darah sudah dimasuki racun ular ini, celakalah dia!

Oleh karena itu Pouw Bin yang berlengan besi tidak berani mengadu lengannya dengan ular-ular itu, sebaliknya Kwan Kok Sun juga tidak berani mengadu ularnya dengan sepasang lengan yang demikian keras dan kuat.

Melihat tangan yang mengeluarkan cahaya kehitaman itu saja maklumlah Kok Sun bahwa lawannya memiliki sepasang tangan rang sudah dilatih secara hebat.

Adapun orang ke lima adalah Pouw Sin, berjuluk Siang-sin-to, atau Sepasang Golok Sakti.

Orangnya kurus kecil, dia ini adik dari Pouw Bin, juga sute dari Siok Hoat.

Sesuai dengan julukannya, sepasang goloknya jarang menemui tandingan.

Tadi, ia disambut oleh Liok-te Mo-ong Wie It.

Kalau saja Wie It maju seorang diri, kiranya ia takkan dapat menang melawan Siang-sin-to Pouw-Sin.

Baiknya ia maju dengan bantuan Bu Tong busu tinggi besar itu dan empat orang busu lain.

Dengan berenam ia mengeroyok Siang-sin-to Pouw Sin.

Pouw Sin menggerakkan sepasang goloknya lihai sekali.

Baru belasan jurus saja sudah ada dua orang busu yang terluka dan terpaksa mengundurkan diri dari kalangan pertempuran.

Melihat ini, dua orang busu lain yang lebih lihai menggantikan mereka dan kini Liok-te Mo ong Wie It yang melihat cara lawan ini bersilat golok memberi aba-aba untuk mengeroyok dari jauh, mempergunakan serangan bertubi-tubi dan bergiliran secara teratur.

Benar saja, Pouw Sin kewalahan sekali dan kini ia terdesak hebat.

Tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan tubuh Kwan Kok Sun terlempar membentur dinding di belakangnya.

Sebaliknya, lawannya Pouw Bin Si Kepala Baja terhuyung-huyung.

Dialah yang memekik tadi dan mencoba dengan tangan kirinya untuk membetot seekor ular hijau yang menggigit pergelangan tangan kanannya.

Akan tetapi sebelum ia berltasil membetot, racun ular itu telah menjalar ke dalam tubuh menyerang jantungnya dan ia roboh binasa, mukanya menjadi hijau sekalI.

Bagaimana Kwan Kok Sun sampai terlempar jauh?

Tadi ketika pemuda gundul ini menjadi gemas karena sudah tiga puluh jurus belum juga ia dapat mengalahkan lawannya, lalu menyimpan seekor ularnya di dalam saku dan sebaliknya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang segera dimasukkan ke dalam mulutnya!

Tak lama kemudian sambil mengeluarkan bentakan nyaring dari mulutnya menyambar uap hitam ke arah Pouw Bin.

Inilah obat tadi yang dikeluarkan dengan saluran hawa lweekang.

Kalau bukan Kok Sun putera Si Raja Racun, tentu saja tidak berani memasukkan bubuk racun hotam ke dalam mulutnya!

Pouw Bin terkejut dan cepat sekali ia menggerakkan tubuh mengelak, akan tetapi hawa beracun itu masih menguasainya ketika hidungnya mencium bau racun itu, membuat pandangan matanya untuk sedetik berkunang.

Ia cepat menyalurkan hawa murni untuk mengusir pengaruh ini, akan tetapi pada saat itu, Kok Sun tidak membuang kesempatan baik, menyerang dengan ularnya yang masih seekor berada di tangannya.

Ular menyambar ke arah leher Pouw Bin.

Tiat-thouw-kang-jiu Pouw Bin pada saat itu sudah sadar kembali dari pengaruh bau busuk racun hitam.

Telinganya mendengar sambaran hawa pukulan kawan.

Maklum bahwa tidak ada jalan lain untuk menangkan pertandingan itu selain mengadu nyawa, ia cepat mengulur tangan menangkap leher ular dan berbareng ia menggunakan kepalanya menyeruduk ke depan, ke arah perut Kwan Kok Sun.

Akibatnya hebat!

Kok Sun kena diseraduk sampai terpental jauh dan menubruk dinding.

Dinding itu jebol dan Kok Sun roboh akan tetapi bocah gundul ini hanya kaget saja, di dalam perut dan dadanya tidak terluka!

Sebaliknya, Pouw Bin tak dapat mengelak lagi ketika ular yang dipegang terlalu tengah itu membalikkan kepalanya dan menggigit pergelangan tangannya, mengakibatkan Si Kepala Besi Tangan Baja ini roboh binasa.

Ular itu pun hancur perutnya karena cengkeraman tangan baja Pouw Bin, berberkelojotan dan tak lama kemudian mati bersama korbannya.

Kematian Pouw Bin melemahkan hati kawan-kawannya, terutama sekali Liang Ti Ek yang sudah didesak mati-matian oleh Kwan Ji Nio.

Sebaliknya Kwan Ji Nio dan juga See-thian Tok-ong merasa penasaran dan gemas sekali kepada lawannya karena Kwan Kok Sun tertawa-tawa sambil mengejek ayah bundanya.

"Ha, ha, ha, Ayah dan Ibu sudah tua sekarang, Tidak bisa lekas merobohkan lawan. Ha, ha, ha!"

Kwan Ji Nio memekik keras dan tiba-tiba tubuhnya mumbul di atas melalui kepala lawannya dan sebelum Liang Ti Ek hilang kagetnya, ranting di tangan nyonya kosen itu telah meluncur dari atas, bukan ditusukkan melainkan disambitkan.

Inilah serangan paling lihai dari Kwan Ji Nio dan jarang ada yang dapat selamat dari serangan ini.

Liang Ti Ek menjarit, paculnya melesat ke arah Kaisar!

Seorang pengawal mengangkat toya dan memukul pacul itu runtuh di atas lantai, adapun Liang Ti Ek sendiri roboh binasa dengan kepala berlobang, di mana menancap ranting yang disambitkan oleh Kwan Ji Nio tadi!

Melihat suaminya belum juga dapat merobohkan dua orang lawannya yang memang paling lihai di antara lima orang itu, Kwan Ji Nio mencabut ranting dari kepala lawannya, lalu sekali berkelebat ia telah membantu suaminya menghadapi Swi Tok Sai-ong.

Terpaksa tosu dari Pegunungan Gobi ini meninggalkan See-thian Tok-ong menghadapi Kwan Ji Nio yang amat gesit gerakannya itu.

Setelah See-thian Tok-ong menghadapi Thian-sin Siok Hoat seorang, Raja Racun dari Barat ini mengeluarkan seruan ketawa yang menyeramkan, sepasan Ngo-tok Mo-jiauw di tangannya bergerak makin cepat dan di lain gebrakan robohlah Siok Hoat tanpa bernapas lagi.

Ngo-tok Mo-jiauw mendapat korban baru!

Melihat ini, kuncup hati Swi Tok Sai-ong sehingga tanpa malu-malu lagi ia menjatuhkan diri berlutut sambil berseru keras minta-minta ampun kepada Kaisar.

Akan tetapi dibarengi dengan suara ketawa nyaring dari Kwan Ji Nio, di lain saat ia terjengkang roboh tak bernyawa.

Dadanya berlubang ditembus ranting di tangan nenek itu!

Kini tinggal seorang lagi yang masih melawan dikeroyok oleh Liok-te Mo-ong Wie It dan kawan-kawannya.

Keadaannya juga sudah amat terdesak dan melihat betapa empat orang kawannya sudah tewas, orang terakhir ini, yaitu Siang-sin-to Pouw Sin, menjadi gentar bukan main.

Jalan keluar ke arah hidup sudah tidak ada lagi dan ia maklum bahwa ia pun sebentar lagi akan menerima nasib seperti empat orang kawannya.

Timbul sifat pengecut dalam hatinya dan sambil melompat ke luar dari kalangan, Pouw Sin melempar golok menjatuhkan diri berlutut dan minta-minta ampun!

Wie It yang sudah merasa gemas dan malu sejak tadi belum juga dapat merobohkan lawan yang dikeroyok, tidak mempedulikan permintaan ampun ini dan hendak membunuhnya dengan pedang.

Tiba-tiba terdengar suara Kaisar.

"Wie lt, jangan bunuh dia. Bawa dia ke sini!"

Terpaksa Wie It mengurungkan niatnya membunuh Pouw Sin dan menyeret tawanan itu pada rambutnya kemudian membantingnya di depan kaki Kaisar yang kini sudah tidak dikurung lagi oleh para pengawal pribadinya.

Pouw Sin tidak berani memandang muka Kaisar dan berlutut sambil membentur-benturkan jidatnya pada lantai.

"Siapa namamu?"

Tanya Kaisar.

Biar pun suara Kaisar halus dan tidak kasar seperti biasa suaranya pembesar tinggi yang memandang hina kepada kalangan rakyat kecil, namun suara ini amat berpengaruh dan membuat tubuh Pouw Sin yang berkepandaian tinggi menggigil.

"Hamba yang rendah bernama Pouw Sin."

"Apa alasanmu kau dan kawan-kawanmu datang dan berdaya untuk membunuh Kaisar?"

"Hamba... hamba hanya disuruh...."

Jawab Pouw Sin gagap.

"Hm, siapa dia yang menyuruhmu?"

Muka Pouw Sin nampak kaget dan seakan-akan ia menyesal telah bicara terus terang. Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan menjawab.

"Yang menyuruh dan mengajak hamba adalah Thian-sin Siok Hoat. Dialah yang mempunyai rencana pembunuhan ini. Hamba hanya ikut-ikutan saja, mohon Paduka sudi mengampuni hamba...."

"Bohong""

Kaisar membentak. Kaisar bukanlah seorang bodoh dan ia tahu bahwa di dalam pengakuan ini terletak kebohongan. Tahu pula bahwa Pouw Sin agaknya takut akan sesuatu kalau membuat pengakuan sebenarnya.

"Kau akuilah sejelasnya, baru kami mau memperhatikan ampunan untukmu. Kalau tidak mengaku kau akan dihukum siksa sampai mati"

Pouw Sin makin ketakutan. Ia menoleh ke kanan kiri, kemudian terpaksa mengaku juga. (Lanjut ke

Jilid 26) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26

"Sebetulnya hamba berlima... hamba berlima hanya menjalankan perintah...."

"Perintah siapa"

"Perintah dari... bengcu...."

Kaisar nampak terkejut.

Bengcu adalah kepala atau ketua perhimpunan besar, tentu yang dimaksud oleh Pouw Sin adalah ketua dari dunia kang-ouw.

Akan tetapi sepanjang Kaisar mengetahui, pemilihan bengcu belum dilakukan, bagaimana sudah ada seorang bengcu baru?

"Bengcu mu ini...

ketua apakah?"

Tanya Kaisar.

"Belum lama ini perkumpulan-perkumpulan besar persilatan, yakni Im-yang-bu-pai, Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan-si-Kaipang, dan Twa-to-bu-pai telah memilih seorang bengcu di puncak Pegunungan Tai-hang. Bengcu baru inilah yang mengutus hamba berlima.... mohon ampun, Tuanku...."

"Siapa bengcumu itu? Siapa namanya?"

"Namanya adalah Li...."

Tiba-tiba menyambar turun sinar putih ke arah Pouw Sin.

See-thian Tok-ong dan Kwan-Ji Nio cepat menggerakkan tangan mengibas sinar ini.

Empat sinar dapat di tangkis oleh See-thian Tok-ong, dua oleh Kwan Ji Nio.

Akan tetapi yang sebuah lagi terlalu cepat sehingga tahu-tahu sudah menancap di leher Pouw Sin yang menjerit keras dan roboh berkelojotan kemudian mati!

See-thian Tok-ong dan isterinya melompat memandang keluar dan melihat bayangan seorang busu muda yang tampan wajahnya melarikan diri cepat sekali.

"Pembunuh. jangan lari!"

Teriak See-thian Tok-ong akan tetapi tanpa mengeluarkan suara, Kwan Ji Nio sudah mendahului suammya mengejar bayangan itu.

Geger di ruangan persidangan.

Kaisar memberi perintah supaya para mayat diurus, tempat itu supaya dibersihkan, kemudian mengundurkan diri, terlalu lelah menghadapi peristiwa-peristiwa yang menegangkan itu dan tidak beristirahat.

Dia masuk diiringkan oleh para siuli dan semerbaklah bau harum ketika rombongan suili ini berjalan dengan lenggang-lenggok lemas dan ayu.

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati para siuli ini mendapat kesempatan mengundurkan diri karena tadi mereka sudah setengah mati takutnya menghadapi pertempuran dan pembunuhan yang mengerikan hati mereka yang lemah.

Biarpun Kwan Ji Nio memiliki gingkang luar biasa, akan tetapi ternyata orang yang dikejarnya itu pun cepat sekali gerakannya.

Kalau mereka berkejaran di tanah datar dan tempat terbuka, sudah dapat chpastikan Kwan Ji Nio akan dapat menyusulnya segera, karena jarang ada orang dapat menandingi kecepatan lari nyonya ini.

Akan tetapi, orang yang berpakaian busu ini agaknya sudah hapal dan kenal baik jalan-jalan di lingkungan istana, sedangkan bagi Kwan Ji Nio tempat ani adalah tempat asing, maka enak saja busu yang dikejar itu membelok ke sana-sini membingungkan hati Kwan Ji Nio.

See-thian Tok-ong yang dalam berlari cepat kalah oleh isterinya, tertinggal jauh.

Setelah Kwan Ji Nio akhirnya dapat juga mcnyusul dan jarak antara dia dan orang yang dikejarnya tinggal beberapa tombak lagi, tiba-tiba orang itu membalikkan tubuh dan mengayun tangannya.

Sinar putih berkeredepan menyambar ke arah Kwan Ji Nio.

Jumlah senjata rahasia yang ternyata adalah gin ciam (jarum-jarum perak) itu ada tiga belas banyaknya, menyerang tiga betas jalan darah di tubuh Kwan Ji Nio, luar biasa bahayanya!

Kwan Ji Nio sampai mengeluarkan suara keras saking kagetnya.

Ia cepat mempergunakan ginkangnya untuk mengelak sambil menyampok jarum-jarum itu, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena tusukan sebatang jarum yang mendatangkan rasa sakit dan gatal-gatal!

Kwan Ji Nio kiranya tak patut menjadi isteri See-thian Tok-ong kalau ia tak tahu apa artinya ini!

Sebagai isteri dari See-thian-Tok-ong Si Raja Rarun dari Barat tentu saja ia tahu seketika itu juga bahwa ia telah terkena jarum beracun yang jahat sekali.

Terpaksa ia mengerahkan hawa dalam tubuh, berdiri tegak, mengambil obat penawar segala racun dari dalam saku bajunya.

Pada saat itu, suaminya juga tiba di situ, maka suami ini lalu mengobati luka isterinya yang biarpun kecil saja namun amat berbahaya itu.

Ia mencabut jarumnya dan menyimpan jarum itu di kantongnya, lalu diobatinya luka itu.

tentu saja mereka tak melihat lagi bayangan orang yang mereka kejar.

"Kau kenali dia?"

Tanya suaminya. Kwan Ji Nio mengerutkan alisnya.

"Bentuk tubuhnya seperti Si Setan Kong Ji akan tetapi mukanya dirobah dengan abat bubuk, maka muka itu menjadi kedok. Siapa bisa mengenalinya?"

See-thian Tok-ong mengangguk-angguk.

"Memang mungkin sekali setan cilik itu. Kalau tidak, siapa pula orangnya yang dapat mempergunakan jarum-jarum macam ini?"

"Kalau benar dia, mengapa dia melukai aku?"

Tanya Kwan Ji Nio penasaran "Dia orang cerdik, tentu tahu bahwa kau takkan mati oleh jarumnya. Akan tetapi kalau betul dia, aku mengerti...."

"Sudahlah, dari dulu juga aku bilang tak perlu bekerja sama dengan setan cilik itu. Lebih baik kita bekerja sendiri, bukankah kita ada harapan memperoleh kedudukan tinggi di istana?"

Kata Kwan Ji Nio.

Sementara itu para pengawal yang ikut mengejar sudah tiba di tempat itu.

Kwan Ji Nio dan suaminya tentu saja tidak sudi menyatakan bahwa Kwan Ji Nio terluka, hanya menyatakan menyesal tak dapat menangkap orang itu.

"Dia berpakaian busu dan agaknya kenal baik tempat ini. Dia membelok ke sana ke mari dan kami menjadi bingung ke mana harus mengejar,"

Kata See-thian Tok-ong dan Kwan ji Nio. Beramai-ramai mereka lalu kembali ke dalam istana.

"Menurut perintah Hongsiang, Jiwi locianpwe suarni isteri dan putera dipersilakan mengaso di dalam bangunan yang sudah disediakan untuk Sam-wi (Tuan Bertiga). Kelak Hongsiang akan memanggil Sam-wi menghadap, karena sekarang Hongsiang sendiri sedang mengaso setelah nienghadapi perastiwa-peristiwa yang hebat tadi,"

Kata Liok-te Mo-ong Wie It kepada See-thian Tok-ong.

Maka diantarlah ayah ibu dan anak yang kosen itu ke dalam sebuah bangunan di antara kompleks perumahan istana.

Ternyata bangunan ini merupakan gedung kecil yang indah dan mewah sekali, lengkap dengan para pelayan laki-laki wanita!

Tentu saja Kwan Ji Nio menjadi girang bukan main, demikian pula Kwan Kok Sun.

Ibunya girang karena seperti wanita-wanita lain, ia senang tinggal di rumah yang indah dan lengkap, adapun Kok Sun girang melihat bahwa di antara para pelayan banyak terdapat gadis-gadis yang cantik.

Di lain pihak, See-thian Tok-ong menghadapi semua ini dengan sikap acuh tak acuh.

Memang dia seorang luar biasa dan aneh yang lain dari pada manusia biasa.

Baginya tidur di dalam kamar indah atau di atas padang rumput, sama saja.

Makan lima kali sehari atau lima hari sekali pun sama juga"

"Wanyen Ci Lun, tentang pemuda bernama Coa Hong Kin itu oleh karena memang dia orang kepercayaanmu, tentu saja sekarang juga boleh dikeluarkan dan dibebaskan dari tahanan. Akan tetapi, sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa kau membela seorang gadis seperti Go Hui Lian yang kau tahu adalah seorang pemberontak. Hm, kalau kau bukan keponakanku yang kupercaya penuh, tentu aku akan bercuriga kepadamu, Wanyen Ci Lun"

Demikianlah kata-kata Kaisar kepada Pangeran Wanyen Ci Lun ketika dua orang ini mengadakan pertemuan dan bercakap-cakap di dalam kamar kaisar, hanya dijaga oleh beberapa orang selir kaisar yang dapat dipercaya penuh.

Memang, begitu menerima kabar bahwa Hong Kin dan Hui Lian ditangkap, Wanyen Ci Lun terus saja mengunjungi kaisar antuk memintakan pembebasan bagi orang muda itu.

Kini mendengar kata-kata kaisar, pangeran itu menjawab.

"Bahwa Go Hui Lian seorang pemberontak ini hanyalah fitnahan belaka. Gadis itu datang ke kota raja untuk mencari Ayah Bundanya yang pergi merantau. Baru saja tiba di kota raja, ia diangkap. Apakah buktinya bahwa dia memberontak? Bahwa dia pernah bertemu dengan Temu Cin bukan alasan bahwa dia memberontak. Pada saat seperti sekarang ini, lebih baik menjadikan orang-orang gagah sebagai kawan daripada sebagai lawan. Go Hui Lian adalah seorang pendekar wanita gagah perkasa, apa pula Ayah Bundanya. Kalau kita membaiki Nona ini dan dengan perantaraan Nona ini kita dapat pula menarik tangan Ayah Bundanya, bukankah itu sama halnya dengan memperkuat kedudukan kita sendiri? Harap saja Hongsiang berpikir baik-baik sebelum menjatuhkan hukuman kepadanya."

Kaisar mengangguk-angguk dan ia cepat mengerti akan maksud keponakannya yang terkenal cerdik sekali ini.

"Akan tetapi dia diminta oleh Kwa Kok Sun dan gadis itu tidak mau, bukankah hal ini akan menimbulkan kerepotan saja?"

Tanya Kaisar. Wanyen Ci Lun mendengarkan kata-kata ini dengan hati kecut, akan tetapi ia tersenyum.

"Hal ini adalah urusan pribadi, biarlah diselesaikan di antara mereka sendiri. Bagi kita pokoknya asal semua orang gagah membantu itulah yang terbaik. Hamba mendengar bahwa tak lama lagi di Puncak Ngo-heng-san akan diadakan pemilihan bengcu baru dari seluruh partai besar di dunia kang-ouw. Hal ini amat kebetulan dan tepat dengan rencana kita memperkuat kedudukan kerajaan dan untuk membuat persiapan menghadapi serbuan dan ancaman orang orang Mongol. Hongsiang dapat memberi tugas kepada See-thian Tok-ong bertiga untuk menarik kawan-kawan yang berkumpul di sana agar suka membantu memperkuat kota raja, dan alangkah baiknya kalau saja bengcu baru yang didapat kita tarik! Dengan adanya bantuan bengcu yang berarti seluruh orang gagah di dunia membantu kita, apalagi yang kita takuti? Biarkan bangsat-bangsat Mongol datang menyerbu, kita tak usah takut!"

Girang hati Kaisar mendengar ini dan kembali mengangguk-angguk.

"Ci Lun, kau hebat. Baiklah diatur seperti yang kau usulkan itu."

"Di samping bertugas menarik kawan, juga See-thian Tok-ong sekalian bertugas mengawasi dan mengawal Nona Go Hui Lian dan Hong Kin di dalam perjalanan ke Ngo-heng-san,"

Kata pula Pangeran Wanyen Ci Lun. Kaisar nampak tercengang.

"Apa? Apakah kau hendak membebaskan Go Hui Lian dan mengirim ke Ngo-heng-san pula?"

"Kalau Hongsiang memberi ijin, demikianlah. Akan hamba atur sebaiknya hingga Nona itu percaya kepada kita dan suka membantu, dan hamba akan membujuknya agar supaya dia berusaha menarik Ayah Bundanya pula untuk memperkuat barisan pertahanan kita. Siapa pula yang lebih cepat selain Nona Go Hui Lian untuk menarik bantuan Hwa l Enghiong Go Ciang Le dan isterinya?"

"Bagaimana kalau dia berkhianat?"

"Hamba yang menanggung, Pula, hamba juga memata-matainya, yakni dengan adanya Hong Kin yang mengawalnya."

Setelah berhenti sebentar, pangeran itu berkata lagi, sinar matanya mengandung penuh rahasia.

"Bahkan ada sebuah rahasia hamba yang hendaknya jangan sampai tersiar, hamba sendiri diam-diam akan mengunjungi Ngo-heng-san."

Kaisar kaget dan memegang lengan keponakannya.

"Ci Lun, apa kau gila? Perjalanan ke Ngo-heng-san jauh sekali. Dan pula kau tahu betapa banyak orang yang membenci kita, kalau mereka itu tahu bahwa kau Pangeran Wanyen Ci Lun, bukankah itu berarti kau akan menghadapi malapetaka besar?"

"Harap Hong Siang jangan khawatir, Hamba menyamar sebagai rakyat biasa. Hamba perlu pergi sendiri untuk melihat keadaan dan juga untuk melihat apakah rencana kita berjalan baik."

Akhirnya Kaisar setuju karena bukankah semua urusan itu dilakukan untuk menyelamatkan kerajaan?

Demikianlah, di dalam kamar tahanan masing-masing ditempatkan berlainan akan tetapi pada waktu yang bersamaan, Hui Lian didatangi penjaga yang mengantarkan pedang dan buntalan pakaiannya demikian pun Coa Hong Kin.

Keduanya tentu saja terheran-heran, akan tetapi penjaga hanya memberitahu bahwa mereka ditunggu di luar ruangan tahanan oleh penolong mereka.

Ketika Hui Lian hendak keluar, tiba-tiba seorang laki-laki memasuki kamar tahanan itu dan ketika Hui Lian mengangkat muka, gadis ini hampir saja mengeluarkan seruan kaget dan hampir saja bibirnya berseru.

"Wan Sin Hong!"

Baiknya ia teringat bahwa yang dihadapinya, biarpun segalanya serupa benar dengan Sin Hong, namun mata Sin Hong tidak begitu tua birunya dan pula pakaian orang ini menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan Pangeran Wanyen Ci Lun!

Maka Hui Lian segera menjura dengan hormat, lalu berkata mendahului pangeran itu.

"Kalau hamba tidak salah duga tentu kali ini pun Siauw-ongya yang menolong hamba."

Dengan kedipan matanya, Wanyen Ci-Lun mengusir penjaga dari ruangan tahanan itu, kemudian ia menghadapi Hui Lian dengan senyum di bibir.

"Ah, Nona. Kau terlalu sungkan. Kau seorang dara perkasa yang berhati bersih gagah, mana boleh dijadikan orang tahanan? Kau jangan berkecil hati. Kaisar melakukan hal ini hanya karena mendengar laporan busu saja dan juga para busu itu salah sangka terhadapmu, Nona."

"Sesungguhnya Ongya seorang bijaksana di istana ini. Kalau tidak ada Ongya, tentu hamba mengalami banyak kesulitan,"

Kata pula Hui Lian. Wanyen Ci Lun maju selangkah, lalu berkata dengan suara agak gemetar.

"Nona Go Hui Lian, biarlah aku bicara empat mata denganmu dengan sejujurnya. Bicara dengan seorang gagah seperti engkau tak perlu menyembunyikan sesuatu, Nona. Ketahuilalt, terus terang aku mengaku bahwa aku amat kagum kepadamu. Baik melihat wajahrnu maupun melihat sikap atau watakmu, terutama sekali karena kepandaianmu yang tinggi. Aku kagum dan memujamu, Nona, dan karena aku suka main kartu terbuka, besar sekali hasratku untuk menarik diri-mu dalam istanaku dan menjadi teman hidupku untuk selamanya! Nah, aku sudah membuka isi hatiku, Nona. Harap kau tidak marah dan secara terus terang pula aku mengharapkan jawabanmul"

Seketika pucat wajah Hui Lian mendengar ini.

Benar-benar merupakan satu hal yang mengejutkan baginya, hal yang mendebarkan hati dan memalukan.

Hanya sedetik mukanya pucat kemudian terganti warna merah sampai ke leher dan telinganya.

Bukan main Pangeran ini.

Bicara begitu terbuka tanpa tedeng aling aling, sedikit pun tidak malu atau sungkan-sungkan mengutarakan isi hati seperti itu.

"Bagaimana, Nona? jawablah sebelum kita menemui Hong Kin."

Wanyen Ci Lun mendesak sambil senyumnya masih ramah menarik.

"Ini... ini". hamba tidak tahu... ah bagaimana harus hamba jawab? Hamba sedikit pun tak pernah berpikir tentang perjodohan, Siauw-ongya. Hamba... tak dapat menjawab."

Wanyen Ci Lun maklum bahwa gadis ini merasa malu-malu dan memang sukarlah bagi seorang gadis baik-baik untuk menjawab pertanyaannya yang dipandang dari sudut kesopanan, boleh juga dianggap kurang ajar itu.

Akan tetapi ia telah berterus terang, tak baik mengandung dendam asmara secara sembunyi-sembunyi.

"Baiklah, kau boleh menjawab lain waktu, Nona. Sekarang mari kita menjumpai Hong Kin di luar."

Akan tetapi baru saja mereka keluar dari kamar tahanan nu, Hong Kin telah berlutut di depan pintu kepada Pangeran Wanyen Ci Lun.

Merah muka Hui Lian dan Pangeran itu memandang kepada Hong Kin yang berlutut dengan kening berkerut.

"Hong Kin, kau... kau di sini?"

"Hamba setelah dikeluarkan oleh penjaga mendengar suara Paduka lalu menghampiri ke sini, akan tetapi melihat Ongya sedang bercakap-cakap, hamba tidak berani mengganggu,"

Jawab Hong Kin sambil melirik.

Tanpa bertanya tahulah Pangeran itu dan Hui Lian bahwa Coa Hong Kin tentu saja mendengar percakapan mereka tadi.

Mengingat akan hal ini, Pangeran itu menjadi merah mukanya.

"Hm, berdirilah dan mari kita ke istanaku untuk berunding tentang hal yang amat penting bagi kalian."

Berangkatlah tiga orang ini menuju ke gedung di mana Pangeran Wanyen Ci Lun tinggal.

Mereka duduk di ruangan dalam dan pelayan segera keluar menghidangkan makanan dan minuman serba mewah.

Sambli mempersilakan dua orang muda itu makan minum, Pangeran Wan-yen Ci Lun mulai membicarakan niatnya seperti yang tadi ia telah"

Rundingkan dengan Kaisar.

Akan tetapi pangeran yang amat cerdik ini memutarbalikkan percakapan yang dirundingkan dengan Kaisar tadi atau lebih tepat tadi di depan Kaisar ia memutarbalikkan rencananya agar jangan sampai Kaisar mendapat kesan bahwa ia lebih mempercayai Hui Lian dan Hong Kin daripada See-thian Tok-ong seanak-isteri.

"Hong Kin dan Go-lihiap,"

Katanya kepada dua orang muda itu.

"Kalian tentu belum mendengar bahwa baru tiga hari yang lalu hampir saja Kaisar dibunuh oleh lima orang penjahat."

Dua orang muda itu terkejut. Pangeran Wanyen Ci Lun lalu menceritakan peristiwa itu.

"Nah, karena sudah jelas See-thian Tok-ong dan anak isterinya berjasa telah menggagalkan mereka itu, Kaisar berkenan menerima See-thian Tok-ong bertiga menjadi pengawal di dalam istana, bahkan mengepalai semua pengawal kaisar."

"See-thian Tok-ong bukan manusia baik-baik!"

Kata Hui Lian.

"Dia berbahaya, apalagi anaknya, bocah gundul edan itu!"

Kata pula Hong Kin. Wanyen Ci Lun tersenyum.

"Memang aku pun sudah berpikir demikian, akan tetapi setelah mereka memperlihatkan jasa tentu saja Kaisar mau menerima mereka. Dan sekarang, apakah kalian suka menolongku? Jangan kira bahwa aku minta balas jasa kalian, sama sekali bukan. Hanya ketahuilah bahwa tugas yang sekarang hendak kuserahkan kepada kalian, bukan semata-mata untuk menolongku, juga bukan semata-mata untuk menolong Kaisar, melainkan untuk menolong negara dari bahaya."

"Harap Siauw-ongya sudi memberi penjelasan. Sudah tentu hamba suka menolong kalau saja tenaga mengijinkan,"

Kata Hong Kin dan Hui Lian mengangguk tanda setuju akan kata-kata Hong Kin.

"Seperti kalian ketahui, sekarang ini orang Mongol sedang bangkit hendak menggempur ke selatan."

Melihat Hui Lian mengangkat muka dan sepasang mata gadis itu dengan tajam menatapnya. Pangeran Wanyen Ci Lun maklum dan disambungnya kata-katanya cepat.

"Sudah tentu sekali banyak pula yang menaruh simpati kepada Temu Cin dan pasukan Mongolnya, mengIngat desas-desus betapa Kaisar kurang bijaksana dulu memegang tapuk pemerintahan."

Kembali ia berhenti dan memperhatikan Hui Lian yang nampak sengaja mengangguk-anggukan kepalanya.

"Memang hal ini aku harus akui. Biarpun Kaisar itu pamanku sendiri, namun beliau kurang memperhatikan urusan pemerintahan kurang memperhatikan kepentingan rakyat jelata. Akan tetapi hal ini dapat diperbaiki. Betapapun juga, lebih baik pemerintahan berada di tangan bangsa sendiri daripada terjatuh ke dalam tangan orang-orang asing!"

Memang, bangsa Kin sesungguhnya masih bangsa Tiongkok juga, merupakan suku bangsa yang hidup di sebelah utara San-si dan dahulu sebelum mendirikan Kerajaan Kin, bangsa Kin disebut bangsa Yucen.

"Nah, kalau kalian sependapat denganku maka sudah jelas bahwa negara diselamatkan, bukan saja terhadap bahaya serangan orang-orang Mongol yang belum begitu dekat. Melainkan harus diselamatkan dari orang-orang seperti See-thian Tok-ong dan lain-lain! Para penyerbu itu mengaku telah diperintah oleh seorang bengcu yang belum diketahui namanya, ini sudah merupakan ancaman dari satu pihak. Adanya See-thian Tok-ong didalam istana, juga merupakan ancaman yang amat berbahaya."

"Siauw-ongya, tugas apakah yang harus kukerjakan?"

Tanya Hui Lian karena gadis ini tidak begitu mengambil pusing tentang politik pemerintahan keadaan kerajaan Kin. Wanyen Ci Lun tersenyum sabar.

"Go-lihiap, kau tentu sudah mendengar bahwa kurang lebih dua bulan lagi, tiba masanya orang-orang gagah sedunia mengadakan pemilihan bengcu di puncak Ngo heng-san. Aku mendengar bahwa Kaisar menyuruh See-thian Tok-ong dan anak isterinya pergi ke Ngo-heng-san untuk menarik kawan-kawan dan pembantu. Hal ini tentu baik-baik saja ditinjau dari sudut maksud Kaisar, akan tetapi aku merasa khawatir kalau-kalau hal pergunakan oleh See-thian Tok-ong sebagai kesempatan mengajak orang-orang jahat memasuki istana! Oleh karena Go-lihiap, aku memohon pertolonganmu sudilah kiranya kau bersama Coa Hong Kin juga pergi ke Ngo-heng-san menghadiri pemilihan bengcu sambil melihat gerak-gerik See-thian Tok-ong. Selama ini, juga untuk menyelidiki siapa adanya bengcu yang telah menitah orang-orang untuk berusaha membunuh Kaisar."

Berseri wajah Hui Lian.

Dia memang sudah mendengar tentang hal pemilihan bengcu dan kalau ia tidak salah menduga, ayah-bundanya pasti takkan melewatkan peristiwa bersejarah di dunia persilatan ini tanpa menghadirinya.

"Baiklah, Siauw-ongya, aku menerima tugas ini karena di sana aku pasti akan bertemu dengan Ayah-bundaku!"

Kata Hui Lian girang.

"Hamba mentaati perintah Siauw-ong ya,"

Kata Hong Kin cepat-cepat dan pada wajah pemuda ini nampak jelas bahwa ia amat gembira mendapat tugas "mengawani"

Hui Lian dalam perjalanan.

Akan tetapi dalam sekejap mata kegembiraannya lenyap terganti oleh kecemasan dan kedukaan kalau teringat akan percakapan yang ia dengar antara Hui Lian dan Wanyen Ci Lun, bahwa pangeran itu mencinta Hui Lian dan ia terpaksa harus mengundurkan diri.

Terhadap pangeran ini Hong Kin memang memiliki kesetiaan yang luar biasa besarnya.

"Memang itu pun termasuk rencanaku Lihiap. Selain tugasmu yang tadi, aku pun minta dengan hormat kepadamu, sudilah kiranya kau minta bantuan Ayah-bundamu agar ikut membantu negara menghalau para pengkhianat dan penjahat yang hendak mengacaukan negara."

Mendengar ini, Hui Lian mengerutkan kening. Ia maklum betapa ayah-bundanya membenci pemerintah Kin. Hal ini pun diketallui baik oleh Pangeran Wanyen Ci Lun yang segera berkata.

"Harap kausampaikan hormatku kepada Ayah-bundamu, Nona, dan sesungguhnya sudah lama sekali aku merasa kagum sekali mendengar nama Hwa l Enghiong Go Ciang Le dan ibumu Lian Bi Lan yang namanya terkenal di seluruh kolong langit. Hendaknya kau mengingatkan sedikit kepada Ayah-bundamu bahwa bantuan mereka bukan berarti bantuan kepada pemerintah Kin semata, melainkan bantuan untuk mencegah datangnya bahaya serangan musuh lain bangsa yang akan datang menjajah dan mencekik bangsa kita!"

Diam-diam Hui Lain harus mengaku bahwa pangeran ini selain pandai bicara juga amat cerdik dan dapat membaca gerak-gerak dan isi hati orang lain.

Karena kata-kata pangeran ini semua tepat dan beralasan, bagi Hui Lian tidak ada lain jawaban selain menyatakan kesanggupannya.

Setelah membuat persiapan, berangkatlah Hui Lian dan Hong Ki pada keesokan harinva, keduanya menunggang kuda yang bagus dan kuat pemberian Pangeran Wanyen Ci Lun.

Hui Lian dan Hong Kin melakukan perjalanan dengan cepat dan gembira.

Setelah bersama menghadapi peristiwa di dalam istana, hubungan mereka makin akrab, sungguhpun di pihak Hui Lian tidak terkandung perasaan sesuatu kecuali persahabatan yang tutus ikhlas karena ia maklum bahwa pemuda baju hijau ini benar-benar seorang muda yang baik sekali dijadikan sahabat.

Adapun di pihak Hong Kin, biarpun harus ia akui bahwa ia makin dalam terjatuh di jurang asmara, makin dalam ia mencinta nona itu, akan tetapi ia tidak berani sembarangan menyatakan perasaannya.

Kalau ia teringat akan sikap Pangeran Wanyen Ci Lun yang juga cinta kepada Hui Lian, ia menjadi "mundur teratur"

Dan tidak berani bersikap sembrono. Dua hari mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang sunyi senyap. Tanah gundul membentang luas di depan mereka.

"Saudara Coa, alangkah sunyi jalan ini dan alangkah panasnya kiranya kalau tengah hari."

Kata Hui Lian yang belum mengenal daerah ini.

"Tidak jauh daerah kering ini, di sana. Hanya kurang lebih tiga puluh li. Sekarang masih pagi lebih baik kita mempercepat perjalanan agar jangan sampai dikejar matahari di waktu kita masih berada di jalan gundul ini. Selewatnya tiga puluh lie, kita akan menemui daerah yang dingin dan subur,"

Jawab Hong Kin.

Keduanya lalu menggebrak kuda binatang tunggangan mereka segera lompat dan lari cepat sekali, meninggalkan debu yang mengepul tinggi sepanjang jalan di belakang ekor mereka.

Akan tetapi, baru saja lima lie mereka tempuh, tiba-tiba mereka melihat bayangan enam orang di tengah jalan.

"Hati hatilah, Nona. Daerah ini paling tidak aman. Siapa tahu kalau-kalau mereka yang di depan itu bukan orang-orang balk."

Hui Lian meraba gagang pedangnya dan bersikap waspada.

Hatinya berdebar tegang dan gembira karena gadis ini memang selalu bergembira apabila menghadapi pengalaman hebat terutama pertempuran.

Darah pendekar mengalir sepenuhnya dalam tubuh nona ini.

"Kau lihat saja, Saudara Coa. kalau mereka itu penjahat, kita akan basmi sampai ke akar-akarnya!"

Akan tetapi Coa Hong Kin tidak segembira Hui Lian karena pemuda ini maklum bahwa penjahat-penjahat yang berani beroperasi dekat kota raja, bukanlah penjahat-penjahat kecil yang mudah dibasmi.

Karena daerah itu gundul, maka biarpun jauh enam orang itu sudah kelihatan dan kini jarak mereka sudah makin mendekat.

Tiba-tiba Hui Lian mengeluarkan seruan kaget.

"Ada apa, Nona?"

"Dia itu Liok Kong Ji...!"

"Siapa itu Liok Kong Ji?"

"Dia masih Suhengku, akan tetapi dia jahat, aku benci padanya!"

Kata Hui Lian akan tetapi hatinya berdebar tidak enak sekali.

Ia tahu betapa jahatnya pemuda itu dan juga tahu betul betapa lihainya.

Kalau muncul orang ini pasti akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.

"Yang manakah dia? Apakah yang hitam tinggi besar itu?"

Tanya Hong Ki kaget mendengar bahwa seorang di antara enam orang itu adalah suheng dari Hui Lian dan tentu saja amat lihai.

"Bukan, yang tengah itulah, yang membawa hudtim (kebutan pertapa)."

"Dia...?"

Hong Kin memandang ke arah seorang pemuda yang tampan gagah, yang membawa kebutan sebagai mana biasa dipegang oleh seorang pendeta sehingga nampak lucu berada di tangan pemuda.

Akan tetapi ia harus akui bahwa pemuda itu bertubuh tinggi tegap bersikap halus dan berwajah tampan.

Sementara itu, kuda mereka sudah tiba di tempat itu dan kini mereka telah berhadapan dengan enam orang yang menghadang di jalan.

Hui Lian menyapa mereka itu dengan pandang matanya.

Ia melihat Kong Ji kini bersikap angkuh lagaknya congkak seperti seorang bangsawan tinggi.

Lima orang yang lain adalah orang laki-laki berusia empat paluh tahunan dan yang tiga berusia enam puluh tahun lebih.

Mereka rata-rata nampak berkepandalan tinggi.

Memang lima orang ini bukanlah orang-orang sembarangan.

Mereka adalah ketua-ketua partai besar yang berpengaruh yang sudah takluk kepada Kong Ji dan yang beramai-ramai mengangkat Kong ji sebagai pemimpin atau bengcu mereka!

Di antara lima orang itu, terdapat seorang kakek tua berusia enam puluh tahun lebih yang pakaiannya tambal-tambalan dan memegang sebatang tongkat kepala harimau, yakni gagang tongkat diukir seperti kepala harimau.

Melihat kakek ini, Coa Hong Kin menegur.

"Eh, kiranya Shansi Kai-pangcu, Lo Bong Lo-enghiong yang berada di suni"

Hong Kin melompat turun dari kudanya, diturut oleh Hui Lian dan pemuda itu menjura kepada kakek itu.

Memang kakek itu adalah Sin-houw (Harimau Sakti) Lo Bong yang menjadi kai-pangcu (Ketua perkumpulan pengemis) dari Shansi Kaipang, yakni perkumpulan pengemis di Shansi.

Ketika Lo Bong memandang kepada pemuda tampan berbaju hijau yang menegurnya, ia pun lalu membalas dengan salam.

"Hm, Coa Sicu, apakah Suhumu Cam kauw Sin-kai sehat-sehat saja? Harap kausampaikan hormatku kepada orang tua gagah perkasa itu!"

"Terima kasih, Pangcu."

Sebelum Hong Kin melanjutkan kata-katanya, terdengar suara Liok Kong Ji nyaring.

"Ah, Sumoiku yang manis. Kau berada di sini? Kebetulan sekali, sudah lama aku mencari-carimu. Bukankah kau datang dari istana bersama pemuda she Coa ini dan menerima tugas dari Pangeran Wanyen Ci Lun untuk menghadiri pemilihan Bengcu di Ngo-heng-san?"

Hui Lian terkejut. Juga Hong Ki memandang dengan mata terbelalak. bagaimana setan ini bisa mengetahui hal itu? Sebelum Hui Lian menjawab, Kong Ji sudah bicara lagi, kini ditujukan kepada Hong Kin.

"Jadi kau ini murid Cam kauw Sin-kai? Bagus sekali, tentu kau lihai seperti Gurumu. Di antara orang sendiri, tak usah kita berlaku sungkan. Mari kalian berdua bersama dengan kami pergi ke Ngo-heng-san, karena ketahuilah bahwa bengcu atau calon bengcu terutama sudah terpilih."

Hui Lian masih benci kepada Kong Ji, maka dengan ketus ia menjawab.

"Aku tidak sudi melakukan perjalanan bersamamu. Minggir dan jangan ganggu aku!"

Kong Ji tertawa bergelak dan terlihat deretan gigi yang putih.

"Ha, ha, ha, kau masih galak saja, Sumoi. Akan tetapi makin galak makin manis. Benar benar kau gagah dan berani sekali, berani bersikap seperti itu di depanku."

"Orang lain boleh takut kepadamu, Akan tetapi aku tidak!"

Hui Lian meraba gagang pedangnya. Kong Ji hanya menggerak-gerakkan kebutan di tangannya sambil tertawa mengejek.

"Jangan kurang ajar""

Seorang di antara kakek yang usianya sudah lanjut melompat dengan gerakan ringan di depan Hui Lian.

Gadis ini melihat gerakan kakek rambut panjang yang wajahnya menyeramkan sepertI lblis ini maklum bahwa ia menghadapi orang yang tinggi kepandaiannya.

Ia pernah mellhat kakek ini dahulu ketika mereka bersama mengeroyok dan mengejar-ngejar Wan Sin Hong.

Memang kakek ini bukan lain adalah Giok Seng Cu.

Mendengar bahwa Hui Lian adalah puttri Go Ciang Le, siang siang Giok Seng Cu sudah merasa gemas dan kalau mungkin dan diperbolehkan oleh Kong ji, tentu ia akan mengganggu atau membunuh gadis puteri musuh besar yang dibencinya itu.

"Kau mau apa?"

Hui Lian juga menantang dengan sikap tenang tak kenal takut. Akan tetapi Hong Kin yang bermata tajam dan tahu bahwa enam orang lawan ini tak boleh dipandang ringan, berkata.

"Go-siocia, harap bersabar."

Kemudian ia bertanya kepada Lo Bong.

"Shansi Kai pangcu, siapakah bengcu yang kau sebutkan tadi?"

Lo Bong tanpa ragu-ragu menuding ke arah Kong Ji sambil berkata.

"Dialah bengcu kami, juga calon bengcu besar yang akan dipilih. Oleh karena itu, daripada ribut mulut tidak karuan, lebih baik kau dan kawanmu ini menggabungkan diri dengan kami dan kelak memillh bengcu kami. Merupakan kehormatan besar melakukan perjalanan dengan bengcu."

Hui Lian mengeluarkan suara mengejek, lalu melompat ke atas kudanya dan berkata kepada Hong Kin.

"Saudara Coa, untuk apa melayani orang-orang yang miring otaknya? Mari kita lanjutkan perjalanan!"

"Sumoi, aku melarangmu melakukan perjalanan memisahkan dengan kami. Kau harus ikut dengan kami""

Kata Kong Ji, suaranya berpengaruh.

"Aku bukan Sumoimu dan kau tidak berhak melarang. Pergilah""

"Bengcu, tangkap saja dua orang bocah ini!"

Seru Giok Seng Cu yang sudah marah sekali, kemudian tanpa banyak cakap lalu menyerbu dan menubruk Hui Lian.

Memang di antara semua orang yang sudah menjadi kaki tangan Liok Kong Ji, hanya Giok Seng Cu yang agak berani sikapnya terhadap pemuda luar biasa itu.

Hal ini karena Giok Seng Cu mengingat bahwa anak muda itu pernah menjadi muridnya.

Hui Lian terkejut sekali melihat tubrukan kakek rambut panjang yang amat berbahaya.

Desir angin serangannya menyatakan betapa besar tenaga kakek ini, maka Hui Lian tidak berani menangkis melainkan melompat dari atas kudanya berjungkir balik dan turun dua tombak dari kudanya.

Terdengar suara kuda meringkik dan kuda tunggangan yang tinggalkan Hui Lian itu kena ditampar oleh Giok Seng Cu terguling roboh!

"Kau kejam!"

Seru Hong Kin yang cepat maju menghadang melihat kakek itu hendak mengejar Hui Lian. Akan tetapi Giok Seng Cu mengibaskan tangannya ke arah dada Hong Kin sambil membentak.

"Roboh kau!"

Giok Seng Cu sudah memperhitungkan bahwa kibasan lengan bajunya yang disertai tenaga Tin-san-kang ini tentu akan dapat merobohkan Hong Kin yang kelihatannya tidak begitu kuat.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kibasannva yang cepat sekali itu mengenai angin kosong karena Hong Kin talah mengelak dan bahkan balas menyerang dengan pukulan yang jitu sekali mengenai pundak Giok Seng Cu.

"Plak!"

Giok Seng Cu terhuyung dua tindak akan tetapi Hong Kin tiba-tiba merasa tanganya panas, tanda bahwa ia terserang oleh tenaga pukulannya sendiri yang membalik ketika bertemu dengan pundak kakek itu.

Hal ini menjadi bukti bahwa tenaganya jauh kalah besar, maka dapat dibayangkan betapa gelisahnya hati Hong Kin.

Seorang kakek ini saja merupakan lawan yang amat berat, apalagi kalau enam orang itu semua maju.

"Bocah kurang ajar, apakah kau sudah bosan hidup?"

Giok Seng Cu membentak marah kepada Hong Kin.

Tadinya ia terkejut sekali melihat keanehan pukulan pemuda ini yang selain dapat mengelak dari serangannya, juga secara otomatis dapat membalas kontan dan memukul pundaknya.

Tak disangkanya bahwa Ilmu Silat Cam-kauw-kun-hoat (Ilmu Silat Pemukul Anjing) dari Cam-kauw Sin-kai sedemikian lihatnya.

Akan tetapi setelah merasa betapa pukulan pemuda ini tidak begitu kuat, hatinya lega dan amarahnya timbul.

Dengan cepat ia lalu mendesak Hong Kin dengan pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dahsyat.

"Giok Sengcu Suhu jangan bunuh utusan Pangeran Wanyen,"

Seru Kong Ji.

Seruan ini menolong nyawa Hong Kin karena kalau Giok Seng Cu tidak ditahan oleh Kong Ji, kiranya Hong Kin takka kuat menerima pukulan-pukulan Tin-san kang yang luar biasa hebatnya itu.

Sebaliknya, ketika mendengar larangan dari Kong Ji, Giok Seng Cu tidak berani melanggar, ia lalu mengurangi tenaga akan tetapi memperhebat serangan sehingga beberapa jurus kemudian Hong Kin roboh terkena totokan yang lihai pada jalan darah Kong-goan-kiat membuatnya lemah dan lumpuh.

Sementara itu, ketika Hui Lian mendengar Kong Ji menyebut nama Giok Seng Cu, gadis ini terkejut sekali.

Sebetulnya kakek berambut panjang yang lihai itu masih terhitung supeknya (uak gurunya) karena ia mendengar dari ayahnya bahwa kakek ini adalah murid dari Pak Hong Siansu.

Diam-diam gadis ini terheran-heran bagaimana tokoh besar seperti Giok Seng Cu demikian tunduk terhadap Liok Kong Ji.

Akan tetapi ia tidak sempat memikirkan hal ini karena ia sudah marah sekali melihat Hong Kin dirobohkan oleh Giok Seng Cu.

Sekali melompat ia telah menghadapi kakek itu dengan pedang di tangan dan tanpa banyak cakap ia menyerang dengan tikaman berantai.

Melihat berkelebatnya ujung pedang ke arah tenggorokan, Giok Seng Cu cepat miringkan kepalanya dan hendak menyampok pedang dengan ujung lengan bajunya.

Akan tetapi pedangnya itu telah dibalik gerakannya dan kini secara langsung melanjutkan serangannya dengan bacokan dari atas ke bawah mengarah dada.

Giok Seng Cu kaget sekali melihat kelincahan kecepatan gerakan ini.

Namun ia adalah seorang tokoh persilatan yang sudah kawakan, tidak mudah gugup oleh desakan lawan.

Sambil mengerahkan tenaga Tin-san-kang, ia menyampok pedang itu dengan lengannya.

Pedang terpental akan tetapi lengan baju kakek itu robek!

Dan hebatnya, biarpun pedangnya sudah terpental karena ditangkis oleh Giok Seng Cu, masih saja pedang itu menyerang terus dengan tusukan lain pada lambung.

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang kesemuanya merupakan cengkeraman maut ini.

Giok Seng Cu agak gentar dan sambil berseru keras ia melompat ke belakang.

"Hebat ilmu pedangmu, bocah!"

Serunya kagum.

"Akan tetapi jangan kau kurang ajar. Bapakmu adalah Suteku (Adik Seperguruan), maka kau sekarang berhadapan dengan Supekmu. Hayo lekas lepaskan pedang dan berlutut!"

Hui Lian tertawa menyindir dan menudingkan pedangnya kepada Kong Ji katanya.

"Kau kakek siluman yang terhadap dia itu bersikap seperti anjing penjilat, mau suruh aku berlutut? Hm, aku tidak pernah mempunyai Supek macam kau!"

Kata-kata ini ditutup oleh berkelebatnya tubuh Hui Lian yang sudah menyerang lagi dengan pedangnya.

Ilmu pedang yang dimainkan oleh Hui Lian adalah ilmu pedang warisan ayahnya yang menerima dart Pak Kek Siansu, maka Ilmu Pak-kek-sin kiam-hoat ini bukan main lihainya.

Giok Seng Cu sudah mendapat perintah agar supaya tidak membunuh atau melukai gadis ini maka kalau ia melawan tanpa kebebasan melukai, kiranya ia takkan menang.

Hal ini diketahui baik-baik.

Tanpa mempergunakan Tin-san-kang, tak mungkin ia dapat menang melawan gadis kosen ini, sebaliknva kalau ia mempergunakan Tin-sankang, ia takut kalau-kalau ia menjatuhkan tangan maut dan membunuh Hut Lian sehingga ia akan mendapat marah besar dari Kong ji.

Oleh karena itu, ketika gadis itu menyerangnya, Giok Seng Cu hanya mengelak ke sana ke mari sambil menyampok pedang mempergunakan tenaga yang besar.

Namun ia kalah gesit oleh Hui Lian sehingga pada jurus ke sebelas pangkal lengannya tergores pedang dan mengeluarkan darah.

"Giok Seng Cu Suhu, mundurlah seru Kong Ji dengan suara berpengaruh ia merasa malu terhadap yang lain kalau ia tidak turun tangan sendiri memperlihatkan kelihaiannya. Sudah diceritakan tadi bahwa lima orang kawan Kong Ji adalah orang-orang penting. Selain Giok Seng Cu dan Sin-houw Lo Bong ketua dari Shan-si Kai-pang, yang tiga orang lagi adalah ketua darit Bu-cin-pang, Kwan ci pai, dan Twa-to-bu-pai. Mereka ini inilah yang mengangkat Kong-Ji sebagai bengcu dan mereka bersama anak buah atau anggauta partai mereka yang banyak jumlahnya yang akan menyokong Kong Ji dalam segala usaha dan cita-citanya. Kini dengan tenang Kong it menghadapi Hui Lian, hudtim atau kebutan panjang masih terpegang di tangan kanannya.

"Sumoi...."

"Aku bukan Sumoimu,"

Bentak Hui Lian, pedangnya sudah gemetar di tangan, siap untuk menyerang. Ia sekarang benci sekali kepada pemuda ini dan sudah gatal-gatal tangannya untuk melakukan pertempuran mati-matian.

"Hui Lian, kau benar tidak adil. Marilah kita bicara baik-baik. Kalau kau ikut dengan aku dan memberi sokongan suara dan kelak aku menjadi bengcu untuk seluruh dunia kang-ouw, bukankah berarti aku menjunjung tinggi nama Suhu? Bukankah kau sebagai Sumoi juga akan terbawa naik namamu? Pikirlah baik-baik, kau tahu bahwa aku selalu sayang kepadamu."

"Tutup mulutmu yang palsu dan ingatlah akan kepalsuanmu di Mongolia dahulu"

Bentak Hui Lian yang terus saja menyerang dengan pedangnya. Kong Ji maklum betapa lihainya gadis ini bermain pedang, maka ia melompat mundur sambil berkata dengan nada menyesal.

"Terpaksa aku harus menggunakan kekerasan, Sumoi. Kau keras hati dan kepala batu."

Hudtim pindah ke tangan kiri dan diputar menangkis serangan pedang dari Hui Lian.

Terdengar suara gemerincing dan Hui Lian merasa telapak tangannya tergetar.

Kagetlah hati gadis ini karena ia tahu bahwa Kong Ji benar-benar telah memperoleh kemajuan yang hebat.

Sudah dapat menyalurkan tenaga sehingga bulu-bulu hudtim itu menjadi sekeras baja benar-benar membuktikan bahwa pemuda itu telah mencapai tingkat yang sukar dicari bandingannya.

Akan tetapi Hui Lian tidak pernah mengenal apa artinya takut.

Bagaikan seekor singa betina gadis ini menyerang terus, mengerahkan tenaga mengandalkan kegesitan tubuhnya dan mengeluarkan jurus-jurus yang terhebat dari ilmunya.

Kong Ji merasa kewalahan juga.

Pemuda ini sesungguhnya jauh kalau dibandingkan dengan dahulu ketika baru meninggalkan Kim bun-tho bersama Hui Lian.

Sekarang ilmu kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi daripada dahulu dan kalau saja ia bermaksud membunuh atau melukai Hui Lian, kiranya dengan hudtimnya saja ia akan dapat merobohkan gadis itu.

Akan tetapi ia tidak mau melukai Hui Lian, apalagi membunuhnya, karena ia mempunyai niat dan cita-cita yang lebih tinggi.

Mengalahkan gadis ini tanpa melukainya memang bukan hal yang mudah dan biarpun seorang lihai seperti Kong Ji merasa kewalahan juga.

Setelah dua puluh jurus lewat, Kong Ji menggerakkan tangan kanan dan sinar terang menyilaukan mata Hui Lian.

"Bangsat rendah, kembalikan Pak-kek Sin-kiam!"

Hui Lian makin gemas melihat pedang pusaka sucouwnya kini berada di tangan kanan pemuda itu.

Dengan nekat ia menyerang dan berusaha merobohkan Kong ji untuk merampas kembali pedang itu.

Akan tetapi, sambil tertawa mengejek Kong Ji menggunakan Pak-kek Sinkiam membabat pedang di tangan Hui Lian sambil mengerahkan tenaganya.

"Krek!"

Pedang di tangan Hui Lian terbabat patah menjadi dua dengan amat mudah oleh pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam.

Dan di lain saat, selagi Hui Lian marah dan kaget, beberapa lembar bulu hudtim yang sudah mengeras karena tenaga lweekang menyambar dan menotok beberapa bagian jalan darah.

Hui Lian mencoba mengelak, akan tetapi kekagetannya karena pedang patah tadi membuatnya kurang cepat dan Thian-hu-hiat tubuhnya terkena totokan bulu hudtim, gadis ini terhuyung dan roboh tak berdaya lagi!

Kong Ji tertawa puas dan menyimpan pedang Pak-kek Sin-kiam di balik jubah luarnya yang lebar dan panjang.

Kemudian dengan hudtimnya ia memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang berusia empat puluh tahun lebih untuk melucuti senjata-senjata yang masih ada pada pakaian dua orang muda itu, lalu Hong Kin dan Hui Lian diikat pergelangan tangannya dengan sebuah belenggu baja yang amat kuat!

"Bawa mereka ini menyingkir dari sini dan jaga baik-baik agar jangan sampai mereka terlepas.

Juga tak boleh apapun juga mengganggu mereka, perlakukan baik-baik sebagai tamu agung.

Dalam perjalanan ke Ngo-heng san, nona ini dimasukkan saja ke dalam joli dan diusung agar jangan menimbulkan keheranan di tengah perjalanan."

Hong Kin dan Hui Lian yang sudah tak berdaya lagi itu dibawa pergi oleh dua orang itu.

Kemudian Kong Ji menyuruh Lo Bong untuk mengumpulkan dan mempersiapkan barisan dari semua partai agar berkumpul di situ.

Lo Bong berkelebat pergi dengan kecepatan yang mengagumkan.

Kini di tempat itu tinggal Kong Ji, Giok Seng Cu, dan seorang kakek tua sebaya dengan Giok Seng Cu.

Kakek ini bukan orang biasa.

Tubuhnya sudah tua dan bungkuk kurus, kepalanya besar dan bundar, rambutnya jarang dan sudah banyak rontok, berwarna putih, kulit mukanya kerut merut seperti jeruk layu.

Gagang pedang tergantung di pundak kanannya dan sebatang tongkat bambu selalu membantunya berjalan.

Biarpun kelihatan begini lemah dan tua, akan tetapi orang ini adalah jago nomor satu di seluruh Prowinsi An-hwei, bernama Siangkoan Bu berjuluk Mo-kiam (Pedang Iblis).

Dia adalah ketua dari perkumpulan Kwan-cin-pai di Provinsi An-hwei, sebuah perkumpulan yang sudah terkenal dan berpengaruh sekali.

Kakek ini pernah didatangi oleh Kong Ji yang mengajak pibu dan dalam sebuah pertempuran seru hampir seratus jurus, barulah pedang Pak-kek Sin-kiam dapat menundukkan pedangnya dan kakek ini menerima kalah, takluk dan amat kagum kepada Kong Ji.

Selanjutnya ia dengan suka-rela membantu pelaksanaan cita-cita pemuda aneh yang luar biasa ini.

Kong Ji belum mau meninggalkan tempat itu dan ia selalu memandang ke timur, seakan-akan menanti datangnya sesuatu.

Memang, dia sedang menanti rombongan kedua dari kota raja yang tahu pasti akan lewat di situ tak lama lagi.

Pemuda ini benar-benar luar biasa dalam waktu pendek sudah dapat mempengaruhi banyak orang, bahkan ia telah banyak menyebar mata-mata.

Di kota raja sendiri, bahkan sampai di dalam istana, banyak terdapat pembantu-pembantunya.

Para pembantu ini semua menganggap bahwa Kong Ji adalah seorang pemuda perkasa ahli waris Pak Kek Siansu, seorang pemuda yang berjiwa patriotik dan yang hendak menggulingkan pemerintah Kin yang dianggapnya mencekik rakyat jelata.

Kong Ji pandai sekali bicara dan pandai pula berlagak, maka semua orang percaya kepadanya.

Dua orang busu yang pernah menolong Hui Lian di istana, yakni busu yang mengaku pejuang rakyat, bukan lain adalah pembantu-pembantu dan Kong Ji pula!

Oleh karena inilah maka Kong Ji dapat mengetahui segala gerak-gerak dalam istana, dan tahu pula bahwa Hui Lian dan Hong Kin akan lewat di tempat itu dalam tugas mereka yang diperintahkan oleh Wanyen Ci Lun.

Benar saja, tak lama kemudian nampak debu mengepul tinggi dari arah timur.

See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio, Kwan Kok Sun dan diiringkan oleh delapan orang perwira busu yang mengganti pakaian seperti ahli-ahli silat biasa, dengan menunggang kuda yang besar-besar.

See-thian Tok-ong menunggang kuda -paling depan dan kakek gundul ini meram melek di atas kuda, sama sekali tidak memegangi kendali kuda dan duduknya begitu enak seperti orang duduk di atas kasur yang empuk saja.

Biarpun tidak dipegangnya kendali kuda, namun sesungguhnya kuda itu sudah dikuasai sepenuhnya.

Memang See than Tok-ong seorang aneh, caranya menunggang kuda pun aneh!

Dari jauh See-thian Tok-ong sudah melihat adanya tiga orang di tengaj jalan itu dan ia segera mengenal siapa adanya mereka ini.

Tentu saja ia mengenal Kong Ji, dan juga tidak lupa kepada Giok Seng Cu, akan tetapi orang-orang ketiga ia tidak kenal.

hanya ia dapat menduga bahwa orang ke tiga itu tentulah bukan orang sembarangan.

Tokoh lain yang manapun juga kiranya takkan dapat membangkitkan perhatian See-thian Tok-ong, akan tetapi terhadap Kong Ji, Raja Racun ini memandang lain lagi.

Ia mendapatkan watak yang aneh dan sifat yang mengagumkan hatinya dalam diri Kong Ji, dan ia maklum bahwa Kong Ji merupakan seorang saingan berat, seorang lawan yang tidak saja lihai ilmu silatnya akan tetapi juga amat licin.

Orang macam Kong Ji ini lebih baik dijadikan sekutu daripada dijadikan lawan.

"Berhenti!"

Katanya kepada busu yang mengiringnya di belakang.

Di depan ada orang biar aku dan anak isteriku yang bicara dengan mereka.

Kalau tidak kuberi tanda, jangan kalian mendekat.

Mereka itu bukan orang-orang biasa."

Para busu tentu saja tidak berani membantah dan mereka melompat turun dari kuda dan duduk di atas tanah menanti sambil berteduh di dalam bayangan kuda.

Juga See thian Tok-ong, Kw Ji Nio, dan Kwan Kok Sun melompat turun dari kuda, memberikan kuda mereka kepada para busu kemudian mereka berlari menghampiri Kong Ji dan dua orang kawannya.

Kwan Kok Sun sejak tadi sudah mendongkol sekali melihat Kong Ji, apalagi melihat Giok Seng Cu berada pula di situ.

Tanpa berkata apa-apa setelah jarak mereka dekat dengan rombongan Kong Ji, Kok Sun menggerakkan tangannya dan dua buah benda hitam melayang ke arah Kong Ji dan Giok Seng Cu.

Kong Ji dengan tenang mengangkat kaki kiri, membanting kaki itu dibarengi dengan bergeraknya tangan kiri ke depan, ke arah benda hitam yang menyambar ke arahnya.

Demikian pula Glok Seng Cu menggerakkan tangan dan melakukan pukulan Tin-san-kang.

Dua benda yang disambitkan oleh Kok Sun tadi keduanya terpental kembali seakan-akan tertumbuk dengan benda keras sebelum menyentuh tangan Kong Ji dan Giok Seng Cu.

Setelah dua benda hitam itu jatuh di atas tanah, baru terlihat bahwa dua buah benda ini adalah dua ekor binatang kelabang hitam yang berbisa.

Biarpun keduanya mempergunakan Tin-san-kang untuk menangkis serangan senjata rahasia aneh itu, akan tetapi melihat betapa kelabang yang ditangkis oleh Giok Seng Cu masih berkelojotan sedangkan yang oleh Kong Ji mati tak bergerak sama sekali, dapat diambil kesimpulan bahwa pada dewasa ini Ilmu Tin-san-kang yang dimiliki bekas murid itu lebih tinggi daripada bekas gurunya sendiri.

Memang Kong Ji sang cerdik sekali telah dapat mengkombinasikan Tin-san-kang dengan Hek-tok-ciang yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, maka kalau dibuat perbandingan, dihadapkan dengan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu ia lebih menang setingkat karena pukulan Tin-san-kangnya mengandung racun dari pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam).

Sedangkan apabila ia dihadapkan dengan Hek tok-ciang dari See-thian Tok-ong, ia masth lebih hebat karena pukulannya mengandung tenaga Tin-san-kang (Pukulan Menggetarkan Gunung) yang maha dahsyat!

"Kok Sun, perlahan dulu.

Mengapa kau datang-datang mengeluarkan senjata berbisa yang jahat?"

Kata Kong Ji nienegur Kok Sun yang memandang dengan mata terbelalak melihat kelihaian Kong Ji.

Ta akui bahwa betapa pun tinggi lweekangnya, belum sanggup ia kalau harus memukul kelabang itu dari jarak jauh dan sekaligus memunahkan tenaga sambitannya sambil membunuh kelabang itu pula.

Maka ia diam saja.

Kong Ji sebaliknya menghadapi See-thian Tok ong sambil tersenyum, menggerak-gerakkan hudtimnya dengan penuh gaya, kemudian berkata nadanya menegur halus.

"See"thian Tok-ong, kau makin tua makin gagah saja. Terimalah ucapan selamat dariku bahwa kini telah menjadi orang berpangkat. Bagaimana aku harus menyebutmu? Apakah taijin (orang besar) ataukah kau sudah mempunyai pangkat tertentu? Menjadi thai-ciangkun (panglima besar)?"

"Laok Kong Ji jangan kau main-main."

See thian Tok-ong membentak dan mukanya yang hitam makin menghitam.

"Siapa main-main? Aku bengcu dari seluruh partai persilatan di selatan dan timur, calon bengcu dari seluruh dunia kang-ouw, tak perlu mengajak See-thian Tok-ong main-main. Sebaliknya, kaulah yang sudah main-main dengan kami, kau yang sudah menewaskan kawan-kawan kami di istana."

"Hm, sudah kuduga. Kau kiranya orang yang mengirim pembunuh-pembunuh itu...."

See-thian Tok-ong berkata perlahan dan kini matanya melirik tajam siap sedia untuk bertempur.

Kalau saja ia tidak tahu betul betapa lihainya bocah setan ini, tentu ia tidak sudi bercakap-cakap dengan bekas muridnya.

Biasanya, kedua tangan See-thian Tok-ong lebih banyak bergerak daripada bibirnya.

"Benar aku orangnya. Dan mengapa kau mendadak sontak melindungi kaisar. Mengapa kau seorang yang datang dari See-thian mencampuri urusan kami? Apakah kau benar-benar hendak menentang gerakan para pejuang rakyat, See-thian Tok-ong?"

"Hm, kau tidak adil. Sudah tahu aku seanak isteri berada di istana menjadi pengawal, mengapa menyuruh tikus-tikus busuk membikin kacau? Bukankah itu berarti tidak memandang mata kepada kami bertiga?"

Tiba-tiba Siangkoan Bu melompat maju dan berkata sengit.

"See-thian Tok ong, sudah lama sekali aku Mo-kiam Siangkoan Bu mendengar nama besarmu juga kesohoran tentang kekejamanmu. Kemarin dulu kau menewaskan muridku yang paling baik, sekarang marilah kita membuat perhitungan!"

Kakek ketua Partai Kwan-cin pai itu memang sedang berduka karena muridnya yang tersayang yakni Thian sin Siok Hoat, telah tewas ketika mencoba untuk membunuh kaisar dengan kawan-kawannya, tewas dalam tangan See-thian Tok-ong.

Maka begitu bertemu dengan pembunuh muridnya, tak dapat menahan sabar lagi dan segera maju menantang.

Terdengar suara haha hihi dari samping disusul kata-kata mengejek.

"Cacing perut tua bangka, kau sudah begini kurus mau mampus masih berani menantang Ayah. Kau baru patut bertanding melawan Ayah kalau sanggup meneima dua kepalan tanganku!"

Mo-kiam Siangkoan Bu adalah ketua dari sebuah partai besar, yaitu Partai Persilatan Kwan-cin-pai.

Selama puluhan tahun di An-hwei belum pernah ada orang berani menghinanya.

Sekarang ia dihina orang secara hebat, cepat ia menengok.

Kemarahannya memuncak ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang mengeluarkan kata-kata penuh hinaan hanya seorang pemuda gundul yang seperti miring otaknya.

"Bocah edan, jadi kau ini anak See-thian Tok-ong? Pantas, pantas tidak banyak bedanya. Kau mau coba-coba? Mari, mari, coba kauperlihatkan betapa empuknya dua pukulan tanganmu. Ha, ha, ha!"

Kok Sun mengeluarkan suara seperti kuda meringkik, kemudian ia menerjang maju dan kedua tangannya dipukulkan ke arah dada kakek tua itu sambil mengerahkan tenaga dan mempergunakmi Ilmu Pukulan Hek-tok-ciang yang beracun!

Mo-kiam Siangkoan Bu belum pernah mendengar akan kelihatan bocah gundul putera See-thian Tok-ong, maka ia memandang rendah dan dengan berani ia menyambar kedua tangan itu, dipapak oleh kedua telapak tangannya sendiri dengan maksud hendak mempermainkan Kwan Kok Sun.

Begitu dua pasang telapak tangan bertemu, Kok Sun merasa telapak tangannya dingin dan Iengket dengan telapak tangan lawan yang ternyata pergunakan tenaga dalam menyedot!

Ia kaget sekali karena kalau tenaganya sampai tersedot dan kalah kuat, ia akan menderita luka dalam dan untuk melepaskan kedua tangannya, sudah tak keburu lagi.

Terpaksa dengan mati-matian Kok Sun mengerahkan lweekang dan membawa hawa berbisa dari Hek-tok-ciang.

Di lain pihak, tadinya Siangkoan merasa girang dan mengeluarkan suara mengejek ketika dengan mudahnya ia dapat menempel dua tangan lawannya.

Akan tetapi segera wajahnya berubah cepat ketika ia merasa betapa telapak tangannya gatal-gatal dan sakit serta panas sekali.

Maklumlah ia bahwa ia telah terkena pukulan yang berbisa.

"Celaka""

Serunya perlahan dan cepat-cepat ia menyalurkan hawa dalam tubuh merubah tenaganya yang tadi "menyedot"

Sekarang sebaliknya mendorong untuk mencegah menjalarnya racun ke dalam lengan dan terus menyerang jantung.

Demikianlah, dua orang itu sekali gebrak saja sudah saling bertempelan dua telapak tangan tanpa dapat dipisahkan lagi, masing-masing mempertahankan diri.

Biarpun Ilmu Hek-tok-ciang amat lihai, akan tetapi oleh karena tenaga lweekang dari kakek itu masih menang setingkat, maka kini kedua pihak terancam bahaya, Siangkoan Bu terancam racun Hek-tok-ciang, sebaliknya Kwan Kok Sun terancam bahaya terluka oleh saluran tenaga lweekang yang lebih kuat!

See-thian Tok-ong yang melihat hal ini menjadi tak sabar lagi.

Ia menepuk punggung anaknya sambil mencela.

"Kok Sun, mengapa kau begitu tolol?"

Tepukan itu biarpun hanya perlahan saja dan dilakukan di atas punggung Kok Sun namun sebetulnya Raja Racun itu mengalirkan hawa pukulan atau dorongan melalui tubuh dan lengan anaknya sehingga tiba-tiba Siangkoan Bu menjadi terdorong.

Mati-matian kakek ini mempertahankan diri dan kedua kakinya sudah menggigil.

Hampir ia tidak kuat dan hawa beracun Hek-tok-ciang sudah mulai mendesak sehingga sampai di pergelangan tangannya.

Buktinya, kedua tangannya mulai menjadi hitam, dari telapak tangan sampai mundur ke pergelangan kedua tangan.

Rasa gatal dan panas makin menusuk.

Tiba-tiba merasa punggungnya di sentuh orang, sentuhan perlahan akan tetapi kuat bukan main.

"Siangkoan Lo-enghiong, tak perlu mengadu nyawa dengan orang segolongan sendiri!"

Terdengar suara Kong Ji dan tiba-tiba semacam tenaga yang dahsyat mengalir melalui punggung Siangkoan Bu terus mendesak ke sepasang lengan dan Siangkoan Bu melihat tanda hitam pada lengannya mundur terus terdesak sampai lenyap.

Akan tetapi dia mentaati kata-kata Kong Ji dan tidak mau mempergunakan kesempatan itu menyerang Kok Sun, sebaliknya ia lalu meluncurkan kedua tangannya yang menempel tadi ke bawah dan melompat mundur, Kok Sun mandi keringat.

Baiknya Si Tua itu tidak mau membalas serangannya, karena setelah mendapat bantuan dan Kong Ji, Kok Sun merasa betapa Hek-tok-ciang memukul secara membalik kepada dirinya sendiri!

"Bagus, kepandaianmu ternyata sudah meningkat luar biasa sekali!"

See thian Tok-ong memuji dengan kagum. Ta tidak marah karena melihat bahwa ternyata Kong Ji tidak bermaksud buruk dan (Lanjut ke

Jilid 27) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 kawan-kawannya juga tidak mau melanjutkan serangan dan mencelakai Kok Sun yang sudah berada di pihak terancam.

"See-thian Tok-ong, kau lihat bahwa kami bermaksud baik. Biarpun kau sudah menewaskan kawan-kawan kami, hal itu kami anggap sebagai sebuah salah paham belaka. Biarlah yang sudah lewat sudahlah, akan tetapi hendaknya lain kali kita dapat bekerja sama. Bukankah kalian bertiga hendak naik ke Ngo-heng-san?"

"Benar."

"Apakah hendak mengajukan seorang calon bengcu?"

Tanya pula Kong Ji.

"Habis untuk apa lagi kalau tidak untuk merebut kedudukan bengcu?"

Kong Ji tersenyum.

"See-thian Tok-ong kau sudah mempunyai kedudukan tinggi dan baik di istana apakah masih belum puas dan kini hendak merebut kedudukan bengcu? Ketahuilah bahwa kedudukan itu boleh dibilang sudah berada di tanganku. Bukankah lebih baik kau membantu suara dan menyokong aku saja agar kelak kita bisa saling menolong, kau sebagai kepala pengawal istana aku sebagai bengcu? Bukankah kita akan menjadi sekutu yang baik dan saling menguntungkan?"

See-thian Tok-ong mengerutkan kening.

Memang ia pikir betul juga kata-kata Kong Ji itu.

Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar mana ia mau mengalah begitu saja terhadap seorang muda?

"Bagaimana nanti sajalah, Liok-sicu.

Biar kita bertemu lagi di Puncak Ngo-heng-san dan kelak kita sama lihat saja bagaimana perkembangannya.

Hanya satu hal kujelaskan bahwa aku memang lebih suka bekerja sama denganmu daripa dengan orang lain."

Kong Ji tertawa penuh kemenangan, lalu menjura sampai dalam.

"Terima kasih banyak, Lo-enghiong, terima kasih banyak. Sampai bertemu di puncak Ngo-heng-san dan selamat jalan."

See-thian Tok-ong melambaikan tangan ke belakang dan para busu yang sudah siap segera mendatangi dengan kuda ayah, ibu dan anak itu.

Mereka segera melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Debu mengepul tinggi dan di antara kepulan debu ini terdengar suara Kong Ji tertawa, suara ketawa yang amat menyeramkan.

Tak lama kemudian dari timur, selatan dan utara datang pasukan-pasukan partai-partai yang menyokong Kong Ji, di antaranya adalah partai lm-yang-bu-pai yang anggautanya tidak begitu banyak lagi setelah dibasmi oleh See-thian Tok-ong.

Partai Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan-si Kaipang, dan Twa-to Bu-pai.

Setiap partai terdiri kurang lebih seratus orang sehingga di belakang Kong Ji sudah siap kurang lebih lima ratus orang.

Kong Ji memberi penjelasan dan siasat kepada lima orang kawannya yang masing-masing segera memberi perintah kepada pembantunya.

Tak lama kemudian semua pasukan itu pergi dari situ mengambil jalan sendiri, akan tetapi semua menuju ke Ngo-heng-san.

Adapun Kong ji bersama lima orang kawannya melanjut perjalanan dengan menunggang kuda ke Ngo-heng-san.

Ngo-heng-san adalah lima puncak bukit yang berada di Pegunungan Kin leng-san.

Pegunungan ini disebut Ngo-heng san adalah karena puncak ini mempunyai lima lereng atau daerah yang berlainan sifatnya dan pula kalau orang berdiri di puncak yang tidak berapa tinggi ini, orang akan melihat bahwa puncak ini di kelilingi oleh lima gunung besar yakni Kin-leng-san, Tapa-san, Luliang-san dan Taihang-san.

Ngo-heng-san tidak terkenal karena tingginya atau besarnya, melainkan karena indahnya pemandangan alam yang berada di tempat itu.

Apalagi kalau orang memandang tamasya alam dari puncaknya sekali, benar-benar jarang ada pemandangan alam seindah kalau dilihat dan situ.

Akan tetapi sayangnya, jalan menuju ke puncak Ngo-heng-san amat sukar dan berbahaya sehingga pernah kaisar sendiri terpaksa membatalkan keinginannya menikmati tamasya alam dari puncak Ngo-heng-san.

Bagi pelancong biasa saja jangan harap akan dapat mencapai puncak, dan sudah ada beberapa orang nekat dan jumawa, akhirnya lenyap tak meninggalkan bekas ketika mencoba-coba untuk mendaki sampai ke puncak dengan pertolongan tongkat dan tambang.

Oleh karena itu, biarpun terkenal indah, keadaan puncak Ngo heng-san selalu sunyi.

Akan tetapi, bagi orang yang berkepandaian tinggi, tentu saja tidak begitu sukar untuk mendaki sampai ke puncak, maka boleh dibilang bahwa puncak Ngo-heng-san hanya mengenal kaki orang-orang pandai, tak pernah puncak itu diinjak oleh orang-orang biasa.

Ahli-ahli silat tinggi, perantau-perantau di dunia kang-ouw dari segala jurusan, apabila berada di daerah ini, pasti takkan melewatkan kesempatan baik itu untuk megunjungi puncak Ngo-heng-san, dengan tiga macam maksud, pertama untuk menikmati keindahan alam, kedua untuk menjajal kepandaian sendiri apakah cukup tinggi untuk menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya itu, ketiga untuk mencari sahabat karena besar kemungkinan mereka akan bertemu dengan tokoh-tokoh kangouw ternama di puncak itu.

Pada hari itu bahkan semenjak beberapa hari yang lalu, keadaan di sekitar daerah Pegunungan Ngo-heng-san tidak seperti biasanya.

Tidak sunyi sepi seperti biasa, melainkan penuh dengan orang yang mendaki ke puncak.

Mereka ini terdiri dari bermacam-macam orang yang mendaki dari kaki bukit sebelah selatan, utara, timur atau dan barat.

Akan tetapi, biarpun mereka terdiri dari orang-orang dengan pakaian dan gaya bermacam-macam, ternyata mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Hal ini mudah saja dilihat dari cara mereka berjalan, dan pula bagaimana orang dapat mendaki ke puncak kalau tidak berkepandaian tinggi?

Di puncak sudah berkumpul tokoh-tokoh besar yang merupakan pelopor-pelopor daripada pemilihan bengcu baru.

Di puncak bukit itu terdapat sebuah padang rumput yang luas dan tempat inilah yang dijadikan tempat pertemuan, tempat pemilihan bengcu.

Di situ telah kelihatan kakek-kakek yang sikapnya alim duduk berunding untuk merencanakan cara pemilihan yang akan dilakukan.

Di antara mereka terdapat Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai yang bertubuh kecil bongkok kepala botak bermuka merah dan licin tak berkumis.

Ketua Thian-san-pai ini datang bersama beberapa belas orang tokoh Thian-san-pai yang terkemuka, yang pada waktu itu mengambil tempat duduk di atas rumput tak jauh dari tempat para pemimpin berkumpul.

Juga kelihatan ketua Kun-lun-pai yang sudah berusia delapan puluh tahun, yakni Tam Wi Siansu yang tubuhnya tinggi kurus, sikapnya lemah lembut dan rambutnya yang sudah putih semua itu berkibar terhembus angin gunung yang sejuk.

Orang ke tiga yang menjadi tokoh besar dan ketua partai adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong pai juga kakek itu bertubuh tinggi kurus berpakaian seperti tosu dan berjenggot panjang.

Yang mengherankan tiga orang kakek yang termasuk ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar ini, juga mengherankan semua orang yang hadir di situ, adalah utusan-utusan dari Siau-lim-si, Go-bi-pai, Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar bukan terdiri dari ketuanya sendiri atau setidaknya yang terkemuka, melainkan utusan-utusan ini adalah orang-orang yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.

Akan tetapi, oleh karena masing masing membawa surat kuasa yang ditulis oleh ketua masing-masing partai mereka ini diakui sebagai wakil dari partai-partai besar itu.

"Heran sekali, mengapa Kian Hok Taisu dan Pang Soan Tojin tidak datang sendiri?"

Berkata Tai Wi Siansu Ketua Kun-lun-pai kepada Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai. Bu Kek Siansu mengelus-elus jenggotnya yang panjang, lalu menghela napas.

"Mungkin keadaan yang buruk dari negara pada dewasa ini, tidak menyalakan semangat dalam dada orang bahkan malah melemahkan dan membuat mereka itu acuh tak acuh lagi. Untuk urusan sebesar ini, mereka tidak datang sendiri, juga tidak mengirimkan orang-orang penting, melainkan mengirim anak murid yang tidak terkenal. Benar-benar pinto juga tidak mengerti mengapa orang-orang seperti Kong Hian Hwesio dan Pek Kong Taijin yang biasanya bersemangat sekarang hanya mengirim anak-anak buah yang masih muda dan tidak ternama."

Yang dimaksudkan oleh Bu Kek Siansu, yakni Kong Hian Hwesio adalah ketua Siauw-lim-si, sedangkan Pek Kong Tojin adalah Ketua dari Hong-san-pai.

Memang tiga tokoh besar yang hadir di puncak itu sekarang merasa kecewa sekali melihat tidak munculnya ciangbunjin dari partai partai besar itu.

Mereka kecewa, juga tak enak hati.

Pada setiap pertemuan tokoh-tokoh kang-ouw, apalagi dalam menghadapi pemilihan bengcu yang diperebutkan oleh banyak orang seringkali terjadi hal-hal yang gawat, pertempuran-pertempuran yang dahsyat.

Tanpa adanya banyak kawan dan tokoh-tokoh besar terkemuka, mereka merasa kurang kuat.

Akan tetapi tiba-tiba wajah tiga orang kakek ini berseru gembira dan penuh harapan ketika mereka melihat rombongan orang berjalan mendaki puncak dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

"Hwa l Enghiong datang, bagus sekali!"

Kata Leng Hoat Taisu gembira.

"Juga Suheng Cam-kauw Sin-kai"

Memang betul yang datang adalah Go Ciang Le dan isterinya, dan di samping Ciang Le berjalan Si Pengemis Tua yang lihai, yakni Cam-kauw Sin-kai dengan tongkatnya yang tak pernah terpisah dari tangannya.

Di sebelah Bi Lan atau isteri Go Ciang Le berjalan seora nona yang berwajah cantik jelita akan tetapi berpakaian sederhana dan berwajah muram.

Dia adalah Gak Soan Li murid Go Ciang Le.

Adapun orang yang terakhir di belakang Ciang Le adalah seorang tua gagah perkasa yang buntung sebelah tangannya, yakni pendekar perkasa Lie Bu Tek, tokoh besar Hoa-san-pai.

Rombongan terdiri dari lima orang ini biarpun kelihatan tenang dan berjalan perlahan, nampak bukan seperti tokoh-tokoh penting, akan tetapi semua orang menengok ke arah mereka.

Terutama sekali nama besar Hwa I Enghiong adalah cukup terkenal dan otomatis semua diarahkan kepada punggung Go Ciang Le di mana nampak tersembul gagang pedang yang beronce kuning.

Begitu tiba di puncak itu, sepasang mata dari Liang Bi Lan yang masih tetap jernih dan tajam seperti mata burung Hong itu menyapu semua yang hadir, dan nampak kecewa.

Nyonya ini mencari puterinya, Go Hui Lian yang ternyata tidak hadir di situ, maka ia merasa kecewa dan gelisah.

Kemanakah gerangan perginya bocah nakal itu, pikirnya.

Sementara itu, Ciang Le, Lie Bu Tek dan Cam kauw Sin kai sudah sibuk membalas penghormatan atas sambutan para tokoh besar yang didahului oleh Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai.

"Go-taihiap makin tua makin nampak gagah saja,"

Kata ketua Kun-lun-pai yang mengenal Ciang Le dengan baik.

"Tai Wi Locianpwe apakah baik-baik saja?"

Ciang Le balas menyalam.

"Apakah semua orang gagah sudah berkumpul di sini?"

Tanyanya kemudian.

Mereka bercakap-cakap sebentar, kemudian Ciang Le dan rombongannya mencari tempat duduk di sebelah kiri, Bi Lan dan Soan Li duduk di atas rumput yang kering dan bersih akan tetapi Cam-kauw Sin-kai tidak mempedulikan lagi apakah rumput yang didudukinya kotor atau bersih, basah atau kering.

terus saja duduk dan kepalanya menoleh ke kanan kiri matanya menyapu semua yang hadir mencari-cari.

Rombongan demi rombongan datang memenuhi tempat itu.

Makin lama, dalam hati Tai Wi Siansu makin tidak enak.

Orang-orang yang datang membanjiri tempat itu sebagian besar adalah orang-orang baru yang tidak dikenalnya.

Dan sebagian besar adalah rombongan orang-orang yang tidak begitu penting dalam pemilihan itu.

Kemudian datang rombongan yang menarik perhatian orang pula.

Mereka itu adalah rombongan See-thian Tok-ong yang datang bersama Kwan Ji Nio.

Kwan Kok Sun, dan delapan orang laki-laki gagah perkasa yang sikapnya angker sekali.

Mereka ini berpakaian seperti guru-guru silat, akan tetapi sesungguhnya mereka ini adalah busu-busu pilihan dari istana kaisar!

Kedatangan See-thian Tok-ong ini mendatangkan rasa khawatir di dalam hati para tokoh besar.

Sudah terlalu tersohor nama See-thian Tok-ong dan sekarang menyaksikan keadaan ayah ibu dan anak itu, mereka makin cemas.

Tak salah lagi, tentu Raja Racun dari barat ini, datang membawa maksud yang tidak baik, atau setidaknya tentu akan berusaha merebut kedudukan bengcu.

See-thian Tok-ong sama sekali tidak mengacuhkan para tokoh besar yang berada di situ, mengambil sikap seolah-olah dia mempunyai kedudukan lebih tinggi.

Akan tetapi ketika ia melihat Ciang Le dan rombongannya, ia tersenyum menghampiri pendekar besar itu.

"Aha, Hwa I Enghiong! Sungguh menyenangkan sekali kita dapat bertemu lagi di tempat ini."

Sambil berkata begini matanya menyapu untuk menyelidiki siapa saja kawan-kawan Hwa I Enghiong yang ikut datang.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 14

Baca Juga: Jodoh Rajawali 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert