Eps 10 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
Ketawanya berubah menjadi senyum sindir ketika melihat pendekar besar ini hanya dikawani oleh Lie Bu Tek yang buntung tangannya, Liang Bi Lan, Cam-kauw Sin-kai dan seorang gadis cantik yang berwajah muram.
"See-thian Tok-ong kau dan anak isterimu datang juga, benar-benar akan ramai keadaan di sini,"
Kata Ciang Le sambil tersenyum tenang, akan tetapi kata katanya ini merupakan teguran setengah menyindir bahwa kedatangan Raja Racun ini tentu akan mengakibatkan keributan saja!
See-thian Tok-ong hanya tertawa menyeringai mendengar kata-kata ini, lalu mengundurkan diri ke dalam rombongannya sendiri.
Orang-orang yang duduknya jauh dari tempat itu hanya memandang dengan hati berdebar-debar kepada kedua orang tokoh besar itu dan di hati mereka menduga-duga sipakah yang lebih kuat di antara mereka itu.
Keduanya adalah tokoh kang-ouw yang jarang keluar dan jarang ada orang menyaksikan kepandaian mereka.
Hwa I Enghiong terkenal sebagai seorang gagah perkasa yang mewakili kebajikan dan keadilan, sebaliknya See-thian Tok ong namanya seperti iblis yang dahsyat dan jahat.
Tiba-tiba terdengar suara yang amat riuh sehingga hanya gemanya saja yang terdengar.
Semua orang kaget karena maklum bahwa ini adalah suaranya orang-orang yang memiliki lweekang tinggi dan yang dapat mengirim suara dari jarak jauh sekali dengan pengumuman Ilmu Coan-im-jib-bit.
"Tung-nam Thai-beng-cu yang menguasai semua partai orang-orang gagah di dunia selatan dan timur, Liok-bengcu yang gagah perkasa, calon bengcu besar dalam pemilihan hari ini, datang berkunjung ... !!"
See-thian Tok-ong mengeluarkan suara ketawa ha-ha-hi-hi seperti orang menghadapi hal yang amat lucu, sedangkan Hwa I Enghiong Go Ciang Le mengerutkan alis nampak marah.
Melihat sikap dua orang tokoh ini dan rombongan mereka, dapat diduga bahwa dua rombongan ini saja sudah mengenal siapa adanya bengcu itu.
Akan tetapi semua orang diam saja, hanya mengarahkan pandang mata ke arah suara tadi.
Tak lama kemudian, dari bawah puncak merayap naik lima pasukan yang teratur rapi, dengan bendera besar di bagian depan pasukan.
Membaca tulisan pada bendera-bendera itu, semua orang dapat mengetahui bahwa rombongan besar itu adalah anggauta dari partai Im-yang-bu-pai, Bu-cin-pang, Kwa-cin-pai.
Shansi Kai-pang dan Twa to Bu-pai.
"Hm, iblis itu sudah mengumpulkan partai-partai jahat untuk menjadi sekutunya,"
Kata Lie Bu Tek perlahan kepada Ciang Le, Pendekar besar ini hanya mengerutkan alis dan tidak berkata apa-apa.
Setelah lima pasukan yang masing-masing terdiri dari kurang lebih seratus orang ini tiba di kaki puncak, mereka merupakan barisan di kanan kiri jalan bersikap hormat.
Terdengar terompet ditiup dan tambur dipukul orang, terdengar amat angker seakan akan orang menghormat munculnya raja besar.
Kemudian kelihatanlah bengcu yang baru diumumkan, berjalan dengan langkah tegap dan tenang.
Pemuda berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, wajahnya tampan dan sepasang matanya bergerak-gerak tanda otaknya selalu bekerja keras dalam setiap saat, kelihatan cerdik dan licik, bibirnya tersenyum-senyum setengah mengejek, jubahnya lebar panjang berwarna kuning bersulamkan benang emas menyerupai lukisan ular naga yang melilit tubuhnya dan kepala dua ekor naga itu tiba di bagian dada yang tengah-tengahnya tergambar mustika bernyala-nyala.
Itulah gambar sepasang naga berebut mustika yang disulam secara indah sekali pada jubah itu, membuatnya nampak makin gagah.
Pemuda ini adalah Liok Kong Ji yang naik ke puncak sambil mengangkat dada, penuh kepercayaan akan diri dan sama sekali tidak gentar biarpun ia sudah tahu bahwa di situ akan berhadapa dengan tokoh-tokoh dunia!
Di sampingnya berjalan Giok Seng Cu, kakek tua yang rambutnya panjang riap-riapan.
Dengan adanya kakek buruk rupa ini di sampingnya, Liok Kong Ji kelihatan makin tampan dan gagah saja.
Di belakang dua orang ini berjalan Sin-houw Lo Bong Mo-kiam Siangkoan Bu, dan dua orang gagah lain, yakni Kwa Seng ketua Kwa to-bu-pai yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar) dan yang ke dua adalah Siang-pian Giam-ong Ma Ek, ketua dari Bu-cin-pai di Keng-sin-bun.
Kalau kita ingat bahwa putera dari Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang bernama Ma Hoat telah dibikin gila oleh Kong Ji ketika Kong Ji melakukan perjalanan dengan Hui Lian (baca
Jilid terdahulu), maka dapat dibayangkan betapa lihai dan licinnya Liok Kong Ji sehingga kini ayah dari Ma Hoat dapat menjadi sekutunya.
Memang tak seorang pun tahu apa yang telah dilakukan oleh Kong Ji pada malam hari itu di kamar suami isteri Cu terhadap diri Ma Hoat!
Memang harus dipuji ketabahan hati Kong Ji.
Kalau lain orang, melihat Ciang Le berada di situ tentu akan merasa sungkan dan malu.
Akan tetapi tidak demikian dengan pemuda ini.
Sambil tersenyum ramah ia melangkah ke tengah lapangan, menggerak-gerakkan hudtimnya dengan gaya seorang pemimpin besar, lalu berkata.
"Cuwi Locianpwe yang berkumpul di sini terlalu banyak sehingga sukarlah bagi siauwte untuk memberi hormat satu persatu. Oleh karena itu, siauwte Liok Kong ji bengcu dari selatan dan timur menghaturkan hormat dari sini saja kepada semua Locianpwe yang hadir."
Ta menjura ke empat penjuru, sengaja ditujukan ke arah rombongan See-thian Tok-ong, Go Ciang Le, Tai Wi Siansu lain lain tokoh besar.
"Siauwte yang muda dan bodoh telah diangkat menjadi bengcu di selatan dan timur, dan sekarang mendengar akan diadakannya pemilihan bengcu baru, para kawan-kawan siauwte mendesak supaya siauwte datang di sini sebagai calon. Oleh karena itu, dengan melupakan kebodohan sendiri, siauwte terpaksa menuruti kehendak kawan-kawan itu."
Ketika bicara Kong Ji sengaja menghadap ke arah rombongan Ciang Le berada.
Dia melihat Bi Lan berbisik kepada suaminya seakan-akan menanyakan sesuatu dan dilihatnya Ciang Le menjawabi isterinya sambil meraba pinggang kiri sendiri.
Diam-diam Kong Ji kagum sekali.
Melihat gerakan Ciang Le ini otaknya yang cerdik dapat menduga bahwa tadi Liang Bi Lan tentu membicarakan dia dan bertanya kepada suaminya dimana pedang Pak-kek Sin-kiam yang dulu dibawa oleh Kong Ji.
Di jawab oleh Ciang Le dengan rabaan tangan ke pinggang kiri bahwa pedang itu disembunyikan di balik jubah.
Tentu saja Kong Ji amat kagum dan terkejut akan kelihaian dan ketajaman mata Ciang Le.
Memang betul pedang Pak-kek Sin-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya tergantung di pinggang kiri.
Bagaimana Ciang Le bisa tahu?
Akan tetapi Kong Ji tidak kehilangan akal.
Ta takut kalau-kalau Hwa T Enghiong Go Ciang Le nanti akan membuka rahasia tentang pedang itu dan akan menuduhnya menuri pedang, maka ia hendak mendahuluinya.
Sambil terseyum ia melanjutkan kata-katanya.
"Cuwi Locianpwe, sudah kukatakan tadi bahwa siauwte adalah seorang muda yang bodoh dan tentu saja tidak terkenal seperti Cuwi Locianpwe yang sudah menduduki tingkat tertinggi di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, bukan melupakan kesombongan apabila siauwte memperkenalkan diri. Siauwte Liok Kong Jl tidak mempunyai guru yang sah, akan tetapi siauwte pernah digembleng oleh tokoh-tokoh seperti Suhu Liang Gi Tojin dari Hoa-san, Suhu Giok Seng Cu, Suhu See-thian Tok-ong, dan Suhu Hwa I Enghiong. Selain itu siauwte juga beruntung sekali menjadi ahli waris dari Bu Kek Siansu di puncak Luliang-san. Buktinya inilah!"
Kong Ji menggerakkan tangannya, cepat bukan main seperti orang bermain sulap saja dan tahu-tahu sebatang pedang yang gemerlapan saking tajamnya telah berada di tangannya.
"Pedang ini adalah Pak-kek Sin-kiam peninggalan dari Sucouw Pak Kek Siansu dan siapa yang memiliki pedang berarti akan menjagoi dunia kang-ou. Pedang ini memang secara kebetulan jatuh di tanganku, setelah terjadi perebutan yang ramai yang tak perlu diceritakan di sini. Pokoknya siauwte yang berjodoh memiliki Pedang Pak-kek sin-kiam dari Pak Kek Siansu."
Baru saja kalimatnya habis diucapkan, berkelebat bayangan yang amat cepat dan tahu-tahu seorang nyonya cantik sudah berdiri di hadapannya.
Nyonya ini adalah Liang Bi Lan atau Nyonya Ciang Le yang dijuluki orang Sian-I Eng-cu (Bayangan Bidadari).
Kepandaiannya yang tinggi sekali dan ginkangnya telah mencapai tingkat yang jarang ada yang dapat menandinginya, maka gerakannya tadi pun hanya sekelebatan saja dan hanya mata orang-orang pandai saja dapat mengikuti gerakannya dengan seksama.
"Orang she Liok"
Katanya dengan suara halus menekan kemarahan dan kebenciannya.
"semua omonganmu itu tak perlu bagiku karena aku sudah cukup kenal akan watak palsumu. Sekarang hayo lekas katakan di mana adanya Hui Lian anakku!"
Ciang Le agak menyesal mengapa isterinya tidak dapat bersabar menanti, akan tetapi ia pun maklum akan apa yang terasa di hati isterinya.
Hui Lian sudah pergi dari rumah bersama Liok Kong Ji dan sudah kurang lebih satu tahun setengah puteri mereka pergi tanpa ada beritanya.
Dia sendiri amat khawatir, apalagi setelah kini melihat Kong Ji muncul tanpa disertai oleh Hui Lian kalau dia saja sudah amat khawatir, apa lagi isterinya.
Liok Kong Ji yang ditanya oleh subonya dan yang tahu bahwa subonya amat marah kepadanya, hanya tersenyum.
Sikapnya senang-tenang saja dan tidak mau memberi hormat.
Ta adalah seorang bengcu yang akan dipilih tak perlu merendahkan diri.
Ta hanya membungkukkan pinggangnya ke arah Bi Lan sambil menjawab.
"Toanio, tentang Nona Go Hui Lian siauwte tidak tahu di mana adanya. Akan tetapi seorang di antara sahabat-sahabat siauwte yang amat banyak jumlahnya mengetahui. Oleh karena itu, apabila persoalan memilih bengcu ini sudah beres, siauwte sebagai bengcu baru menanggung sepenuhnya bahwa Toanio pasti akan dapat bertemu dengan Nona Hui Lian."
Bukan main mendongkolnya hati Bi Lan mendengar jawaban ini. Benar-benar kurang ajar sekali bocah ini pikirnya. Tidak saja menyebutnya "toanio"
Seakan-akan tidak mengakui sebagai subo (iste guru) lagi, akan tetapi juga sengaja menolak secara halus untuk memberi tahu di mana adanya Hui Lian dan menuntut melakukannya pemilihan bengcu lebih dulu.
Sebagai seorang yang sudah banyak melakukan perantauan di waktu mudanya dan tahu betul akan tipu muslihat para penjahat besar di dunia kang-ouw.
Bi Lan sudah mengerti bahwa keterangan tentang dimana adanya Hui Lian, akan dijadikan taruhan oleh Kong Ji, akan dijadikan bahan untuk memeras dan memaksanya memilih pemuda ini sebagai bengcu!
Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia menyerang dan memaksa Kong Ji mengaku sekarang juga di mana adanya Hui Lian.
Akan tetapi sebelum ia lakukan sesuatu, ia mendengar suara suaminya.
"Mundurlah, isteriku. Biar lihat apa yang ia lakukan selanjutnya. Mudah menurunkan tangan apabila ternyata dia mengganggu anak kita."
Kata Ciang Le ini terdengar seperti bisikan di dekat telinga Bi Lan, akan tetapi tidak terdengar oleh siapapun juga, karena Ciang Le telah mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh yang amat tinggi tingkatnya sehingga suara yang ia kirim itu hanya dapat "diterima"
Oleh telinga orang yang harus menerimanya, Bi Lan mendengar ini bahwa kelakukannya kurang patut.
Saat itu adalah saat pertemuan orang-orang gagah sedunia dan saat dilakukan pemilihan bengcu, sebuah hal yang amat pelik dan penting.
Memperlihatkan perhatian sepenuhnya hanya untuk urusan pribadi, benar-benar bukan pada tempatnya dan tidak pada saatnya yang tepat.
Maka sambil menahan amarah ia menggerakkan kaki dan berkelebatlah bayangannya dengan cepat sehingga di lain saat ia telah berdiri di sebelah suaminya lagi.
Banyak orang menahan napas menyaksikan kelihaian nyonya ini, akan tetapi yang paling kaget adalah Kong Ji.
Bukan kaget melihat ginkang luar biasa dari subonya, karena ia memang sudah tahu akan kehebatan ilmu meringankan tubuh dari Liang Bi Lan.
Yang membuat ia kaget adalah pengiriman suara dari Ciang Le.
Karena ia berdiri di depan Bi Lan dan ia pun sudah memiliki pendengaran yang lebih tajam daripada ahli-ahli silat lain, ia dapat mendengar bisikan halus itu dan hatinya terguncang.
Dahulu belum pernah gurunya ini memperlihatkan ilmu lweekang yang demikian tinggi, dan sekarang ia harus akui bahwa Hwa I Enghiong Go Ciang Le benar-benar seorang yang kosen dan akan merupakan lawan yang sukar dikalahkan!
Pada saat itu, tiba tiba-tiba terdengar pekik yang tinggi dan nyaring.
Pekik ini amat nyaring dan menyakitkan anak telinga hingga banyak orang yang lweekangnya kurang tinggi, segera mengangkat dua tangan menutupi telinganya.
Didengar sepintas lalu oleh mereka yang tidak kuat mendengar terus, terdengar seperti suara semacam burung yang aneh yang menyambar dari atas ke bawah, kadang-kadang terdengar di sebelah selatan, tiba-tiba berpindah-pindah ke jurusan lain.
Akan tetapi bagi para tokoh yang bertenaga lweekang cukup kuat untuk menerima serangan getaran suara tinggi ini, dapat mereka dengar jelas bahwa inilah pekik seorang wanita yang mempunyai Iweekang dan khikang tinggi sekali!
Tai Wi Siansu, ciangbunjin dari Kun-lun-pai yang sudah amat tua itu nampak terkejut dan terheran-heran sampai bangun berdiri dan berkata.
"Thian Yang Maha Kuasa! Apakah Pat-jiu Nio-nio sudah bangkit kembali dari kuburnya?"
Tokoh yang sudah tua dan yang hadir di saat itu semua sudah mengenal atau pernah mendengar nama Pat-jiu Nio-nio seorang wanita aneh yang mempunyai semacam istana yang indah dan luas di sebuah puncak Pegunungan Go-bi-san.
Di sana Pat-jiu Nio-nio mempunyai semacam perkumpulan yang terdiri dari wanita semua, dan yang diberi nama Perkumpulan Hui-eng-pai (Perkumpulan Elang Terbang).
Memang pekik mengerikan di adalah tanda dari Pat-jiu Nio-nio.
Akan tetapi nenek tua ini sudah meninggal dunia dan kabarnya perkumpulannya pun otomatis bubar.
Bagaimana sekarang tiba-tiba saja muncul pekik yang menyeramkan ini?
Siapa lagi kalau bukan Pat-jiu Nio-nio yang dapat mengeluarkan pekik seperti itu?
Tidak ada seorang pun yang berada di situ, juga Liang Bi Lan tidak ada yang mampu mengeluarkan pekik seperti tadi.
Pekik ini khusus dipelajari dan tanpa latihan, tak mungkin orang dapat mengeluarkan pekik yang bunyinya seperti teriakan garuda betina, akan tetapi jauh lebih nyaring dan tinggi ini.
Semua orang menoleh ke arah bawah puncak dan tak lama kemudian terjawablah semua pertanyaan di dalam hati.
Muncullah wanita yang mengeluarkan pekik tadi dan semua orang menahan napas.
Yang datang adalah serombongan orang wanita-wanita muda atau gadis-gadis cantik jelita yang pakaiannya semua sama.
Baju putih disulam burung elang di bagian dada, sedangkan pakaian sebelah bawah berwarna hijau daun.
Rombongan ini terdiri dan empat puluh empat orang, dipimpin oleh seorang gadis berusia paling banyak dua puluh tahun yang wajahnya cantik seperti bidadari.
Kalau semua orang memandang dengan kagum dan tertarik, adalah Kong Ji yang tiba-tiba menjadi pucat.
Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan dengan tenaga lweekangnya ia menormalkan kembali jalan darahnya sehingga mukanya kembali kemerahan, kemudian mengambil sikap seakan-akan ia tidak perduli.
Akan tetapi, tiba-tiba gadis yang paling depan dan yang rambutnya terdapat hiasan mutiara dironce berbentuk buru elang, tanda satu-satunya yang tidak pada rambut lain wanita yang berada dalam rombongan itu, memandang kepadanya dan berserulah gadis itu nyaring.
"Jahanam Wan Sin Hong, mampuslah kau sekarang!"
Baru saja ucapan ini dikeluarkan, tubuh gadis itu sudah melesat di udara dan turun kembali menyambar ke arah Kong Ji.
Sinar hijau berkelebat dan cepat Kong Ji mengelak ketika sebatang pedang yang bersinar kehijauan menyambar lehernya.
Hebat sekali serangan gadis ini, benar-benar seperti seekor burung elang betina yang marah menyambar korbannya.
"Eh, nanti dulu, Nona! Aku bukan Wan Sin Hong!"
Teriak Kong Ji sambil melompat jauh ke belakang.
Akan tetapi gadis itu tidak mau mendengar omonganya, dan kembali menyerang dengan gerakan laksana burung terbang menyambar.
Terpaksa Kong Ji mencabut Pak Kek Sin-kiam yang tadi sudah disimpannya untuk menangkis.
Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu.
Bukan main kagumnya Ciang Le dan Bi Lan ketika melihat bahwa pedang hijau itu tidak apa-apa!
Jarang sekali di dunia ini ada pedang yang dapat menangkis Pak-kek Sin-kiam tanpa rusak.
"Nona, kau salah lihat! Aku bukan Wan Sin Hong dan sikapmu ini berarti bahwa kau tidak menaruh hormat kepada semua orang gagah di dunia yang pada saat ini berkumpul di sini!"
Kata pula Kong Ji dengan bentakan suara keras.
Ta sama sekali tidak takut kepada gadis ini, akan tetapi pada saat itu ia sedang mencari kawan bukan memandang lawan.
Ta mencari kawan untuk merebut kedudukan bengcu.
Gadis itu nampak ragu-ragu agaknya baru ia memperhatikan bahwa di situ terdapat banyak sekali orang.
menyapu ke kanan kini dengan matanya yang tajam dan indah, kemudian menatap wajah Kong Ji lagi.
"Betulkah kau bukan Wan Sin Hong?"
Bentaknya mengancam.
"Di sini berkumpul banyak Locianpwe dan semua partai. Kalau kau masih belum percaya, kau boleh tanya kepada mereka."
Jawab Kong Ji menentang. Gadis itu menoleh ke belakang, arah kawan-kawannya yang berjumlah empat puluh orang gadis cantik itu, lalu memanggil.
"Cun Eng, ke sini kau!"
Seorang gadis cantik melompat luar dari dalam barisan itu, gerakannya juga cekatan dan Tincah sekali tanda bahwa ia pun memiliki kepandaian lumayan!
Sayangnya biarpun wajahnya cantik namun nampak muram dan pucat seperti orang kurang tidur atau orang yang sedih.
Setelah tiba di depan nona nemanggilnya, ia menjatuhkan berlutut di depan pemimpinnya itu.
"Cun Eng, kaulihat baik-baik. Inikah Si Jahat Wan Sin Hong itu?"
"Bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Ia mengaku bernama Wan Sin Hong .."
Jawab gadis yang berlutut itu dengan suara lemah, nampaknya takut-takut.
"Akan tetapi, ini atau bukan orangnya? Jawablah yang tegas, jawabmu mati hidupnya orang ini!"
Kata pula gadis itu.
Gadis yang berlutut mengangkat muka memandang wajah Kong Ji dengan tajam melalui air matanya yang hendak menitik turun, dan nampak ragu-ragu melihat Kong Ji berdiri dengan sikap agung seperti seorang pemimpin besar.
Kemudian ia menundukkan mukanya, menggeleng-geleng kepala, kemudian mengangkat muka memandang lagi sampai lama.
Akhirnya is berkata.
"Niocu, sungguh mata saya tidak dapat memastikan dengan yakin. Malam itu gelap, saya tak dapat melihat wajahnya. Hanya saja, kalau melihat bentuk wajahnya yang nampak di dalam gelap, melihat bentuk tubuh dan mendengar suaranya, mirip benar dengan dia ini. Akan tetapi kalau namanya bukan Wan Sin Hong... ah, bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Saya tidak mau menjatuhkan dosa kepada orang lain."
Kemudian gadis itu menangis. Pemimpinnya nampak marah.
"Mundur kau!"
Kakinya diangkat sedikit dan tubuh gadis yang berlutut itu terlempar ke dalam barisannya dan jatuhnya berdiri tempatnya tadi.
Kini ia berdiri tegak dengan sikap menghormat, biarpun air matanya masih berlinang dan mengalir turun di sepanjang pipinya yang pucat, namun tak sedikit pun suara tangisan keluar dari mulutnya.
Gadis yang berpedang hijau itu lalu memandang ke kanan kiri, akhirnya menjatuhkan pandang matanya kepada Gak Soan Li yang berdiri tegak di dekat Liang Bi Lan dan semenjak kedatangannya lebih banyak menundukkan muka daripada ikut bicara atau memandang ke mana-mana.
Sekali menggerak kaki, gadis itu telah berhadapan dengan Soan Li.
"Eh, sahabat yang cantik dan gagah, tolong kau yang beri tahu kepadaku, siapakah orang yang pedangnya bagus itu? Apakah dia bukan Wan Sin Hong?""
Tanyanya dan kini air muka yang tadinya nampak keren dan galak itu sekaligus berubah menjadi ramah tamah dan manis bukan main.
Mendengar ada orang bicara dengan dia, Gak Soan Li mengangkat mukanya dan memandang tajam.
Gadis berpedang hijau itu sampai kaget melihat sinar mata Soan Li yang tajam menyambar begaikan kilat!
"Aku bertanya dan bermaksud baik, jangan kau marah,"
Katanya. Begitu ditanya oleh gadis berpedang hijau itu apakah pemuda yang memegang hudtim (kebutan pendeta) itu bukan Wan Sin Hong, Soan Li menjawab.
"Dia bukan Wan Sin Hong."
Akan tetapi, biarpun mulutnya berkata demikian, matanya memandang ke arah Liok Kong Ji dengan terbelalak lebar dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat sekali, hidungnya kembang-kempis bibirnya bergerak-gerak tanpa meluarkan suara apa apa.
Sementara itu, semenjak tadi Liok Kong Ji memandang kepada gadis berpedang hijau itu dengan sinar mata tertarik kagum sekali.
Tadi ia berdiri dengan wajah tak berubah ketika gadis itu bertanya kepada Soan Li, hal yang sama sekali tak pernah diduganya atau diduga oleh orang lain.
Apa yang menyebabkan gadis itu bertatiya kepada Soan Li, benar-benar merupakan hal yang mengejutkan dan tidak ada yang mengerti.
Lebih-lebih Kong Ji, biarpun wajahnya tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, namun isi hatinya hanya dia sendiri yang tahu!
Setelah mendengar jawaban yang memastikan dari Soan Li bahwa dia bukan Wan Sin Hong yang dicari-cari oleh gadis berpedang hijau yang agaknya amat benci dan hendak membunuh Sin Hong, Kong ji tersenyum.
Seperti biasa senyumnya membayangkan ketinggian hatinya dan mengandung ejekan.
Sekali menggerakkan kedua kakinya, ia telah melompat ke dekat gadis berpedang hijau yang lihai itu, lalu menjuralah Kong Ji dengan sikap manis dan menghormat.
"Nona yang gagah perkasa, sudah kukatakan tadi bahwa aku bukan Wan Sin Hong. Banyak sekali orang mencari Wan Sin Hong, bahkan aku sendiri kalau bertemu dengan dia, masih ada beberapa hutangnya yang harus dibayar sehingga sebuah kepalanya masih belum lunas untuk membayar hutangnya. Jangan kau khawatir, Nona, kalau aku bertemu dengan bangsat itu, pasti sebelum memenggal kepalanya dia lebih dulu akan kuseret dan kuhadapkan kepadamu, asal saja kau sudi memberi tahu ke mana aku dapat mencarimu. Perkenalkan, Nona, aku adalah Liok Kong Ji, bengcu baru dari timur dan selatan, dan calon bengcu dalam pemilihan sekarang ini. Sebaliknya siapakah kau ini, Nona, dan dari partai apa?"
Gak Soan Li yang berdiri tidak jauh dari situ, mendengar nama Liok Kong Ji, mukanya menjadi makin pucat dan menatap wajah pemuda itu bagaikan orang melihat setan.
Ia menahan jerit dan tangan kanannya menekan dan kemudian ia kelihatan terhuyung-huyung dan pasti roboh kalau saja Liang Bi Lan tidak cepat-cepat memeluknya.
Ketika Bi Lan melihat bahwa muridnya itu ternyata telah pingsan ia lalu cepat mengangkatnya ke pinggir dan merebahkannya di atas lantai di bawah pohon.
Cam-kauw Sin-kai cepat menghampiri, berlutut dan memegang urat nadi Soan Li.
Selama ini memang Soan Li dirawat oleh Cam-kauw Sin-kai yang ingin sekali memulihkan ingatan gadis itu dan ingin sekali membongkar rahasia yang membuat gadis yang bernasib malang ini kehilangan ingatannya.
Cam-kauw Sin-kai maklum bahwa gadis ini terkena racun yang hebat sekali dan yang sebegitu lama belum dapat ia obati.
Sampai sebegitu jauh, Soan Li baru dapat ingat bahwa ia adalah murid Hwa I Enghiong Go Ciang-Le dan bahwa ia telah dihina oleh seseorang yang bernama Wan Sin Hong dan ditolong oleh seorang yang ia panggil Gong Lam-ko dan yang ia cinta sepenuh hati.
Akan tetapi ia tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya, tidak dapat mengatakan pula siapakah itu Wan Sin Hong dan yang mana pula yang ia panggil Gong Lam-ko.
Sekarang yang ia kenal hanyalah Cian Le sebagai suhunya, Bi Lan sebagai subonya, Cam-kauw Sin-kai yang ia panggil locianpwe dan Lie Bu Tek yang ia sebut lo-enghiong.
Yang lain-lain ia telah lupa semua.
Sekarang ketika melihat betapa Soan Li roboh pingsan, Cam-kauw Sin-kai cepat-cepat menolongnya dan setelah gadis itu siuman kembali, Cam-kauw Sin-kai cepat-cepat berbisik.
"Soan Li, siapakah laki-laki itu? Ingatkah kau akan dia dan apa yang telah ia perbuat terhadap dirimu maka kau sampai pingsan melihat dia?"
Memang semenjak merawat Soan Li pengemis sakti ini menganggap Soan Li sebagai murid atau orang sendiri sehingga ia menyebut nama gadis itu demikian saja.
Kakek ini memang sudah dapat menyelami bahwa dalam keadaan Soan Li ini terselip rahasia yang besar dan hebat, maka setiap gerakan gadis ini tentu amat ia perhatikan.
Akan tetapi Soan Li yang ditanya hanya menggeleng-geleng kepalanya dan kini ia telah duduk di atas rumpus, tangan kirinya mengurut-urut kening seperti orang pusing dan sepasang matanya yang suram itu ditujukan ke arah Kong ji berdiri.
"Kau kenal dia? Pernah kau melihat dia?"
Cam-kauw Sin-kai terus berbisik dalam usahanya mengembalikan ingatan gadis itu.
Tentu saja Cam-kauw Sin-kai sudah mendengar dari Ciang Le tentang sepak terjang Liok Kong Ji yang melarikan diri sambil membawa pedang Pak-kek Sin-kiam, juga membawa Iari bersama puteri Hwa I Enghiong, kemudian mengalahkan Soan Li yang mencoba mengejarnya.
Soan Li mengerutkan kening dan sepasang alisnya bertemu.
"Aku pernah melihatnya..."
Katanya dalam bisikan pula, matanya tak pernah berkedip memandang ke arah Kong Ji.
"Kau tadi sudah mendengar namanya Liok Kong Ji. Kenalkah kau padanya?"
"Aku... aku pernah mendengar nama itu... lupa lagi entah di mana...."
"Coba kaulihat balk-balk, apakah wajahnya menimbulkan kesan baik atau buruk padamu?"
"Buruk... dia menimbulkan muak dan aku... entah mengapa aku benci dan tidak suka kepadanya."
"Dan nama itu, Liok Kong Ji, bagaimana terdengar olehmu? Apakah juga mendatangkan perasaan tak enak?"
"Nama itu pun memuakkan, menimbulkan benci...!"
Kata Soan Li dan nampaknya gadis ini bingung sendiri mengapa ia bisa membenci wajah dan nama orang itu.
Cam-kauw Sin-kai tidak mau mendesak terus karena sebagai seorang tabib ia maklum bahwa pengembalian ingatan gadis ini harus secara sewajarnya dan dengan perlahan, kecuali kalau memang ada obat yang tepat untuk menghantam racun yang sudah mengotori kepala gadis itu.
Sementara itu, gadis berpedang hijau ketika mendengar omongan Liok Kong Ji sama sekali sikapnya tidak mengacuhkan dan tidak sudi melayani.
Ia hanya menyapu wajah pemuda itu dengan kerling matanya, kemudian berkata.
"Hemm... di sini orang mau mengadakan pemilihan bengcu? Menarik sekali! Hendak kulihat, orang macam apa yang nanti terpillh menjadi bengcu!"
Setelah berkata demikian, ia menyapu wajah semua orang yang hadir di situ dengan wajah penuh perhatian.
Pandang matanya tajam kini dapat melihat bahwa sesungguhnya tempat itu penuh oleh orang-orang yang kelihatannya pandai, maka wajahnya menjadi berseri, agaknya tertarik sekali.
Tai Wi Siansu, ketua Kun-lun-pai, adalah seorang yang dahulunya menjadi sahabat baik dari Pat-jiu Nio-nio, maka kini melihat bahwa di situ terdapat serombongan orang-orang Hui-eng-pai yang disangkanya sudah bubar semenjak nenek sakti itu meninggal, menjadi gembira dan tertarik.
Dengan lambaian lengannya, iato melompat menghadapi nona pedang hijau itu dan berkata ramah.
"Nona, kau siapakah? Pinto lihat memimpin pasukan Hui-eng pai. Apa hubunganmu dengan mendiang Pat-jiu Nio-nio?"
Nona itu menengok dan matanya yang lihai itu mengerling tajam, bulu matanya yang panjang melengkung itu mencoba untuk menyembunyikan matanya yang bagus itu.
Sikapnya dingin sekali, seakan-akan ia memandang rendah kepada semua tokoh yang berada di situ.
Sikap ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang nona berilmu tinggi yang tak pernah terjun ke dunia kang-ouw sehingga tidak mengenal dan dikenal orang, dan bagaikan seekor anak lembu yang baru pertama kali memasuki rimba raya, tidak takut bertemu dengan singa, serigala, maupun harimau!
Gadis itu memperhatikan Tai Wi Siansu dan melihat seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, sudah putih rambutnya dan sikapnya amat lemah lembut dan ramah, ia lalu tersenyum manis.
Bukan main manisnya senyum ini sehingga Tai Wi Siansu sendiri menjadi kagum.
Setelah tersenyum, benar-benar gadis di depannya ini amat cantik jelita.
Tadi tidak begitu kentara kecantikannya oleh karena sikapnya yang dingin dan mukanya yang keras.
Setelah tersenyum dan nampak sifat kewanitaannya.
Dia benar-benar seorang yang manis.
"Orang tua namaku Siok Li Hwa. Kau ini orang tua yang mengenal nama Nio-nio, siapakah kau?"
Tai Wi Siansu tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya.
Diam-diam ia kagum dan juga heran sekali karena gadis ini, terbayanglah di depan matanya Pat-jiu Nio-nio ketika masih muda.
Biarpun tidak secantik gadis ini, akan tetapi sikap mereka ini benar-benar sama.
Dahulu, Pat jiu Nio-nio juga begini sikapnya, dingin, sederhana, jujur, tegas, tidak mengenal takut di samping kepandaiannya yang amat lihai.
"Nona, sayang Pat-jiu Nio-nio sudah tidak ada lagi. Kalau dia masih ada tentu dia dapat bercerita banyak tentang pinto kepadamu."
Sejenak kakek berhenti dan matanya memandang ke atas seolah-olah ia hendak membayangkan kembali masa dahulu.
"Pinto adalah Tai Wi Siansu."
Siok Li Hwa nampak kaget dan cepat gadis ini menoleh ke arah rombongannya dan kedua tangannya diangkat ke atas dan jari-jari tangan itu menari-nari.
Seorang gadis yang berada di depan rombongan juga mengangkat tangan ke atas dengan jari-jari yang mungil dan runcing itu menari-nari seperti ular-ular kecil!
Hanya sebentar pertunjukan aneh itu karena Siok Li Hwa sudah membalikkan tubuh lagi menghadapi Tai Wi Sian sambil berkata.
"Ah, kiranya Tai WI Siansu dari Kun-lun-pai? Nio-nio dahulu pernah bilang bahwa Tai Wi Siansu dari Kun-lun pai adalah seorang gagah. Aku senang sekali bertemu dengan Siansu di sini. Melihat Siansu berada di sini, tentu kakek-kakek yang lain di sana itu pun bukan orang-orang sembarangan!"
Tai Wi Siansu tertawa.
"Mereka itu bukan orang-orang asing bagi Pat-jiu Nio-nio.
"Lihat, mereka itu adalah Ketua Thian-san-pai yang bernama Leng Hoat Taisu,"
Katanya sambil menunjuk kepada seorang kakek kecil bongkok bermuka merah dengan kepala botak dan tidak berkumis. Orang itu mengangkat tongkatnya yang hitam ke arah Siok Li Hwa sambil berkata gembira.
"Nona Garuda, Pat-jiu Nio-nio pernah dua kali bertemu dengan pinto!"
Siok LI Hwa tertawa dan merasa suka melihat kakek yang lucu itu.
"Yang itu adalah Bu Kek Siansu, Ketua Bu-tong-pai. Yang di sana itu, dia adalah Cam-kauw Sin-kai, yang terkenal di dunia kang-ouw. Adapun yang gagah perkasa itu, dialah Pendekar Budiman yang terkenal dengan sebutan Hwa l Enghiong bernama Go Ciang Le bersama isterinya Sian-Li Engcu Liang Bi Lan. Dan itu,"
Ia menuding ke arah rombongan See-thian Tok-ong.
"dia adalah See-thian Tok-ong bersama isterinya dan puteranya. Mereka ini pun merupakan orang-orang terkemuka dalam dunia silatan. Hanya mereka itulah yang patut kau kenal di antara semua yang hadir."
"Hanya itu""
Tanya Siok Li Hwa, sinar matanya menyapu orang-orang lain yang banyak hadir di situ.
"Mengapa begitu banyak orang""
"Yang lain-lain adalah pengikut-pengikut dan orang-orang biasa,"
Kata Ketua Kun-lun-pai.
"Kami semua berkumpul di sini untuk mengadakan pemilihan seorang bengcu baru. Orang-orang gagah di dunia kang-ouw perlu sekali dengan seorang bengcu baru yang bijaksana, yang akan memimpin semua partai sehingga tidak timbul perpecahan."
"Bagus sekali, alangkah ramainya nanti. Biar aku menonton dan ingin orang macam apa yang akan terpilih, kata gadis ini dengan sikap seakan-akan orang menghadapi sebuah permainan anak-anak.
"Nona, kau dari Go-bi-san datang bersama pasukan hui-eng-pai. Sudah sepatutnya kalau kau pun mengajukan usul ikut pula memilih."
Siok Li Hwa menggeleng kepalanya.
"Tidak perlu dengan segala bengcu! Aku datang bukan untuk urusan pemilihan bengcu, melainkan untuk mencari seorang penjahat bernama Wan Sin Hong."
Seteiah berkata demikian, gadis ini melompat ke dalam rombongannya sendiri yang mengambil tempat di bagian terpisah.
Di situ ia dan rombongannya berdiri sebagai penonton, akan tetapi mereka semua memasang mata tajam untuk mencari-cari orang yang mereka kejar-kejar sejak beberapa bulan yang lalu.
Mengapa rombongan Hui-eng-pai ini mengejar-ngejar Wan Sin Hong?
Seperti telah dituturkan tadi, Siok Li Hwa menyerang Kong Ji karena mengira pemuda ini Wan Sin Hong, atau setidaknya seorang di antara anggauta rombongannya yang mengira demikian.
Siok Li Hwa sendiri belum pernah bertemu dengan penjahat yang bernama Wan Sin Hong itu.
Kurang lebih dua bulan yang lalu, seorang di antara anak buahnya yang bernama Cun Eng dan yang tadi telah ditanyainya tentang Kong Ji, pada suatu malam telah disergap dan diganggu oleh seorang pemuda yang kemudian mengaku bernama Wan Sin Hong.
Pemuda ini lalu menghilang di dalam gelap malam, Cun Eng sambil menangis melaporkan hal ini kepada Hui eng Niocu (Nona Garuda Terbang), yakni nama julukan dan Siok Li Hwa.
Siok Li Hwa marah bukan main dan sambil membawa empat puluh orang kawan, ia memimpin pasukan ini melakukan pengejaran.
Penjahat itu hanya merupakan bayangan yang bergerak cepat sekali dan di dalam gelap, Cun Eng tidak dapat mengenal betul wajah orang yang menyerang dan mengganggunya, maka amatlah sukar penjahat itu ditangkap.
Yang menjadi pegangan para pengejarnya hanyalah nama penjahat itu.
Dan anehnya, setiap kali tiba di suatu dusun atau kota, mereka mendengar nama ini yang seakan-akan sengaja ditinggalkan oleh penjahat itu untuk memberi tahu mereka akan jejaknya.
Demikianlah akhirnya Siok Hwa mengejar sampai di Ngo-heng-san dan di situ kehilangan jejak penjahat yang dikejar-kejarnya.
Siapakah sebenarnya Siok Li Hwa?
Sepuluh tahun yang lalu, ketika Pat-Jiu Nio-nio meninggal dunia karena usia tua, perkumpulannya, yakni Hui-eng pai yang mempunyai seratus orang lebih anggauta terdiri wanita semua, terpaksa bubar.
Tak seorang pun yang sanggup menggantikan kedudukan Pat-Jiu Nio-nio karena semua mengerti bahwa untuk memimpin perkumpulan ini, orang itu harus memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Sedangkan Pat-Jiu Nio nio tidak mempunyai murid langsung.
Semua anggautanya memang diberi pelajaran ilmu silat, akan tetapi mereka ini tidak mewarisi semua ilmunya dan biarpun untuk anggapan umum semua anggauta Hui-eng pai rata-rata memiliki kepandaian tinggi, kalau dibandingkan dengan kepandaian Pat-Jiu Nio-nio, masih amat jauh, belum ada persepuluhnya.
Inilah yang membuat semua anggauta ragu-ragu dan akhirnya perkumpulan itu dibubarkan.
Gedung indah tempat tinggal Pat jiu Nio-nio di puncak tersembunyi di Gunung Go-bi-san menjadi sunyi dan dijadikan sebagai kuil di mana tinggal lima orang bekas anggauta Hui-eng pai yang mengambil keputusan untuk menjadi pertapa atau pendeta wanita di tempat itu!
Yang lain-lain lalu bubaran mengambil jalan hidup masing-masing setelah menerima bagian dari harta peninggalan ketua mereka.
Di antara para anggauta ini, terdapat seorang gadis cilik berusia kurang lebih sembilan tahun, Gadis ini adalah Siok Li Hwa, seorang gadis yatim piatu yang ditolong dari bahaya kelaparan di daerah selatan yang kering oleh Pat jiu Nio-nio empat tahun yang lalu.
Gadis cilik ini amat cantik manis menimbulkan rasa suka pada Pat jiu Nio-nio, maka gadis ini dijadikan pelayan pribadinya.
Makin lama Pat-itu Nio-nio makin suka kepada gadis cilik ini, sehigga di waktu malam Ketua Hui-eng pang yang tidak mempunyai keluarga ini lalu memberi pelajaran ilmu membaca dan menulis kepada Siok Li Hwa.
Bahkan ia pun mulai memberi pelajaran ilmu silat dasar seperti yang ia ajarkan pada semua anggauta Hui eng-pang.
Tentu saja ia tidak langsung mengajari sendiri, hanya menyuruh seorang anggautanya yang sudah pandai.
Akan tetapi tentang pelajaran ilmu surat dia sendiri yang mengajar.
Siok Li Hwa merasa senang sekali tinggal di situ dan gadis ini ternyata berotak tajam.
Tidak saja huruf-huruf yang sukar itu dilalapnya dengan mudah juga semua pelajaran ilmu silat dapat dipahami dalam waktu singkat.
Melihat kecerdikannya, Pat-jiu Nio-nio semakin sayang kepadanya.
Mulailah memberi pelajaran ilmu silat sendiri pada gadis cilik ini, yaitu pelajaran teori ilmu silat yang mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi.
Juga ia menceritakan tentang tata usaha dan peraturan dari perkumpulan Hui-eng-pai yang istimewa.
karena terdiri dari wanita semua.
"Kaum wanita terlalu dihina dan direndahkan oleh kaum pria, Li Hwa."
Pernah Pat-pu Nio-nio berkata.
""lihat betapa banyaknya wanita dianggap sebagai hewan peliharaan dan dianggap rendah serta tiada berguna. Orang-orang itu bangga kalau mempunyai anak laki-laki, sebaliknya kecewa kalau mempunyai anak perempuan. Banyak sekali suami yang mengambil isteri berikut bini muda pula sampai beberapa orang jumlahnya. Semua itu karena kaum wanita lemah. Oleh karena itu, perkumpulan Hui-eng-pai harus menjadi pelopor, membangkitkan semangat para wanita agar kelak jangan sampai diinjak-injak dan dijajah oleh kaum pria."
Seringkali Li Hwa mendengar kalimat-kalimat seperti ini yang membanjir keluar dari mulut Pat jiu Nio-nio.
Akan tetapi sayang, ketika Li Hwa berusia empat belas tahun, Pat-jiu Nio-nio meninggal dunia karena usia tua.
Orang yang paling berduka di antara para anggauta perkumpulan itu adalah Siok Li Hwa yang merasa seperti ditinggal ayah-bundanya sendiri.
Beberapa jam setelah Pat-jiu Nio-nio dianggap meninggal, Li Hwa menjaga jenazah Pat-jiu Nio-nio seorang diri di dalarn kamar jenazah.
Ia memeluki jenazah itu sambil menangis, dan menolak keras ketika para saudara tuanya mengajak ia keluar.
Menjelang tengah malam, kurang lebih enam jam setelah Pat-jiu Nio-nio disangka mati, tiba-tiba ia mendengar suara nenek itu perlahan.
"Siok Li Hwa...."
Li Hwa mengangkat mukanya dan pucatlah ia ketika melihat betapa nenek itu bergerak-gerak dan membuka mata.
Akan tetapi hanya sebentar saja ia kaget.
Di lain saat ia sudah girang bukan main dan cepat-cepat ia berlutut.
Pat jiu Nio-nio tidak bangkit, hanya rebah saja sambil menggerak-gerakan jari tangannya membuat tulisan di udara.
Sian Li Hwa adalah seorang anak yang cerdik sekali.
Ia memperhatikan gerak jari tangan itu dan tahulah ia bahwa nenek itu menuliskan huruf-huruf yang berbunyi.
"Ambil peti merah di sudut kamar dan bawa ke sini!"
Li Hwa cepat berdiri dan melakukan perintah itu. Ia tahu bahwa peti merah itu berisi beberapa
Jilid kitab kuning karena sudah seringkali ia melihat nenek itu tekun membaca kitab-kitab itu sampai jauh malam, bahkan kadang-kadang sampai hampir pagi.
Karena melihat nenek itu sudah lemah sekali, maka Li Hwa menaruh peti itu di pinggir pembaringan.
Ia cemas juga melihat nenek itu kini sudah rebah telentang dengan kedua mata dipejamkan tak bergerak seperti tadi ketika belum bergerak dan sudah dianggap mati.
"Nio-mo... ini petinya..."
Katanya di dekat telinga nenek itu.
Pat-jiu, Nio-nio membuka matanya yang sudah tak bersinar lagi.
Agaknya suatu yang amat menjadi pikirannya yang membuat nenek ini seakan akan hidup lagi!
Atau memang tadinya ia belum mati betul dan pikiran tentang sesuatu yang ditinggalkan itu agaknya memberi daya hidup, sungguhpun ia hanya dapat menggerakkan tangan dan hanya dapat mengeluarkan suara memanggil nama Li Hwa tadi.
Kini ia kembali menggerak-gerakkan telunjuknya di udara seperti orang menulis huruf.
Siok Li Hwa cepat memandang dan menaruh perhatian sepenuhnya.
Sambil memandang, membaca hurut-huruf yang ditulis di udara itu.
"Kau pelajari kitab-kitabku, cari Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) tanya pada Hwesio Go-bi, dan pimpin Hui-eng-pai!"
Setelah menuliskan huruf terakhir lengan yang kurus itu hilang tenaganya jatuh di atas dadanya dan kali ini Pat-jiu Nio-nio benar-benar kehilangan nyawanya!
Demikianlah, setelah perkumpulan ini bubar sendirinya dan para anggautanya, kecuali lima orang anggauta tertua mengambil keputusan menjadi pertapa di gedung seperti istana ini, pergi meninggalkan puncak sunyi itu, Li Hwa ikut tinggal di situ.
Diam-diam ia mempelajari isi peti dan ternyata di dalamnya terdapat tiga buah kitab kuno.
Sebuah kitab ilmu silat dan ilmu pedang, sebuah lagi terisi pelajaran tentang lweekang, latihan napas, samadhi dan ilmu-ilmu tinggi tentang tenaga di dalam tubuh, dan yang ke tiga adalah sebuah kitab tentang pelajaran ilmu pengobatan dan tentang peraturan-peraturan Perkumpulan Hui-eng-pai.
Dengan amat keras hati dan tekun, Li Hwa mempelajari semua ini, melatih dengan amat rajinnya sehingga ia akhirnya berhasil mewarisi ilmu silat yang tinggi dari mendiang Pat-jiu Nio-nio.
Lima orang pendeta wanita bekas anggauta Hui-eng-pai juga mengetahui hal ini dan diam-diam mereka makin sayang kepada Li Hwa yang mereka anggap sebagai orang yang mampu melanjutkan cita-cita guru besar mereka yang telah meninggal dunia.
Oleh karena itu, mereka inilah yang membantu memberi petunjuk-petunjuk, karena biarpun dalam hal ilmu silat mereka sudah kalah jauh oleh Li Hwa, namun dalam hal pengalaman mereka menang banyak.
Ketika Li Hwa menuturkan tentang Cheng-liong-kiam dan hwesio di Gobi-san seperti yang dipesankan oleh Pat-jiu Nio-nio, lima orang pendeta itu nampak terkejut sekali.
"Aduh, mengapa kau diharuskan mencari pedang itu?"
Kata seorang di antara mereka.
"Dulu Nio nio sendiri tidak berhasil mendapatkan pedang itu. Terutama hwesio Gobi yang dimaksudkan, tentulah ketua dan Go-bi-pai yang berada di puncak ke tujuh dan deretan puncak-puncak di pegunungan ini. Di sana terdapat sebuah kelenteng besar dan didiami oleh hwesio-hwesio yang tinggi silatnya. Kiranya hanya mereka itulah yang dapat menunjukkan dimana adanya Cheng-liong-kiam, karena kami sendiri pernah mendengar namun tidak tahu di mana adanya pedang pusaka itu."
"Kalau begitu, aku harus pergi mencari hwesio itu dan harus kudapatkan pedang Cheng-liong-kiain sesuai dengan pesan mendiang Nio-nio!"
Kata Li Hwa dengan suara menyatakan kebulatan tekadnya.
Gadis berusia belasan tahun dengan semangat menyala-nyala lalu pergi ke puncak di mana terdapat kelenteng Go-bi-pai yang angker dan besar.
Ia diterima oleh Kian Hok Taisu, ketua dari Go-bi-pai.
Hwesio tua ini terheran-heran melihat seorang gadis cantik jelita yang mengaku sebagai ahli waris Pat-jiu Nio nio dan mengaku hendak menyampaikan pesanan mendiang Put-jiu Nio-nio.
"Nona cilik, bagaimana kau bisa mengaku sebagai ahli waris Pat-jtu Nio-nio?"
Tanya ketua Go-bi-pai ini dengan suara sabar.
Siok Li Hwa selamanya tinggal di atas gunung dan tak pernah bergaul di dunia ramai maka sikapnya kaku, dingin dan polos, tidak pandai bersopan dan bermanis-manis.
"Tai-suhu,"
Katanya tanpa memberi hormat dan berdiri dengan tegak.
"sebelum meninggal dunia. Nio-nio menyerahkan tugas kepadaku, menurunkan kepandaiannya melalui kitab-kitab pelajaran kepadaku dan memesan supaya aku pergi menemui hwesio Go-bi pai dan tanya tentang Pedang Cheng-liong-kiam. Maka harap kau orang tua suka memenuhi keiginan Nio-nio dan katakan kepadaku dimana adanya pedang Cheng-liong-kiam itu agar dapat kuambil."
Sepasang mata Kian Hok Taisu yang besar itu terbelalak heran dan di sana-sini terdengar suara ketawa ditahan dan beberapa orang hwesio yang ikut mendengar kata-kata lantang ini.
"Kau...? Kau yang diwajibkan oleh mendiang Pat-jiu Nio-nio untuk mengambil Cheng-liong-kiam? Ah, jangan main-main, Nona. Pat-jiuw Nio-nio sendiri sudah mencoba mengambilnya sampai lima kali akan tetapi selalu ia gagal dan akhirnya ia sampai-sampai tidak mau muncul di dunia kangouw dan menyembunyikan diri. Sekarang kau yang masih begini muda, kau mau mengambil pusaka itu? Nona, mata pedang tak dapat melihat orang dan kalau kita tidak hati-hati mudah sekali kita terluka olehnya. Harap kau batalkan saja niat ini dan pulang dengan selamat. Nasihat pinceng, ini bukan main-main dan demi kebaikanmu sendiri."
"Hwesio tua baru berjumpa satu kali kau sudah memberi nasihat dan mengkhawatirkan keselamatanku. Sungguh kau baik hati. Akan tetapi aku tidak perduli akan semua nasihatmu itu. Baiknya kau lekas beri tahu di mana adanya Cheng-liong-kiam itu agar aku dapat pergi mengambilnya dan habis perkara. Jangan kau putar-putar omongan yang tidak ada gunanya bagiku."
Gadis ini tidak marah, akan tetapi oleh karena ia tidak dapat mengatur kata-katanya, maka terdengar kasar dan tidak hormat.
Baiknya Kian Hok Taisu adalah seorang pendeta Buddha yang sudah tinggi ilmunya, maka ia tidak menjadi marah, hanya tersenyum lebar dan diam-diam bahkan mengagumi semangat gadis itu.
Jarang ia melihat seorang wanita dengan semangat perlawanan yang menyala-nyala dan keberanian yang begini besar.
(Lanjut ke
Jilid 28) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28
"Omitohud!"
Ta memuja nama Buddha sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada.
"Begitukah kehendakmu, Nona. Baiklah, mari kau ikut pinceng, biar kau mencoba merampas pedang itu."
Setelah berkata demikian, hwesio tua itu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sebelah dalam kelenteng yang luas itu.
Beberapa orang hwesio lain juga berjalan masuk.
Siok Li Hwa merasa sangat heran.
Tak disangkanya tempat itu ternyata dekat saja, bahkan adanya di sebelah...
dalam kelenteng ini!
Akan tetapi tanpa banyak cakap ia pun lalu ber jalan mengikuti Kian Hok Taisu.
Ternyata bahwa Ketua Go-bi-pai membawanya ke sebuah ruangan amat lebar.
Melihat betapa ruangan kosong dan di pojok terdapat rak tempat senjata, mudah diduga bahwa tentulah Lian-bu-thia, tempat belajar silat dari Partai Go-bi-pai.
Tempat itu memang luas sekali, kiranya cukup untuk seratus orang berlatih silat dalam saat yang sama.
Kian Hok Taisu berhenti di tengah-tengah ruangan membalikkan tubuh menghadapi Li Hwa yang berdiri bengong tak mengerti.
Hwesio-hwesio lain yang kini jumlahnya bertambah, ada dua puluh orang mengundurkan diri dan duduk di atas lantai dalam keadaan berkeliling membuat ruangan yang cukup lebar di tengah-tengah seperti orang hendak nonton demonstrasi silat.
Kemudian seorang hwesio dengan sikap hormat dan langkah tegap mendatangi dari dalam, kedua tangannya menyangga sebuah bungkusan panjang.
la melangkah terus sampai di depan Kian Hok Taisu, lalu membungkuk dan menyodorkan bungkusan kain putih yang tadi dibawanya.
Hwesto tua itu menyambut bungkusan kain putih dan memberikan kain itu kepada pembawa bungkusan tadi.
Dan dalam bungkusan itu dikeluarkannya sebatang pedang yang bagus sekali, yang ketika dihunus dari sarungnya mengeluarkan cahaya hijau.
Pembawa bungkusan itu lalu mengundurkan diri dan duduk bersila di dekat kawan-kawannya yang lain, yang semua sekarang memandang penuh perhatian ke tengah lapangan di mana guru besar mereka dengan pedang hijau di tangan berhadapan dengan Siok Li Hwa.
"Nona, silakanlah,"
Kata hwesio tua itu sambil melintangkan pedang hijau di depan dada, sikap seorang yang menanti datangnya serangan lawan!
Tentu saja Siok Li Hwa mengelak dan tidak bergerak, memandang dan terheran-heran, bahkan ia ragu-ragu apakah hwesio tua ini kurang waras otaknya.
"Silakan bagaimanakah? Kau suruh aku berbuat apa, Tai suhu?"
Tanyanya sambil memandang tajam.
"Tentu saja merampas pedang ini dari tangan pinceng kalau kau dapat, habis apa lagi? Bukankah untuk keperluan kau datang ke sini?"
Biarpun Li Hwa seorang yang cerdik, akan tetapi semua ini melampaui batas kemampuannya berpikir. Ia menjadi bingung dan dengan berkerut ia menegur.
"Hwesio tua, harap kau jangan main gila. Aku tidak ada waktu untuk main-main! Apa sih maksudmu mengajak bertanding?"
Kini giliran Kian Hok Taisu yang terbelalak heran. Kemudian hwesio ini mengerti dan tertawalah dia, tertawa geli.
"Aha, jadi kau malah belum mengerti akan maksud pesanan mendiang Pat jiu Nio-nio? Benar-benar lucu. Duduk lah, Nona, biar pinto menceritakanmu sejelasnya."
Setelah berkata demikian hwesio itu lalu duduk bersila di atas lantai, di tempat ia tadi berdiri.
Biarpun dengan sikap kurang sabar, Li Hwa terpasa duduk juga untuk mendengarkan keterangan hwesio tua itu atas sikapnya tadi yang benar-benar ia tidak mengerti.
Dia datang untuk menanyakan tempat Ceng-liong-kiam, mengapa datang-datang ditantang berkelahi?
Dan pedang di tangan hwesio tua itu, pedang indah yang bercahaya hijau, apakah hubungannya dengan Cheng-liong kiam?
Apakah itu yang disebut Cheng-liong-kiam?
"Nona, semua ini dimulai dengan kelakar!
Dengan lelucon antara mendiang Pat-jiu Nio-nio dan Paman Guruku yang sudah meninggal dunia.
Pedang ini yang disebut Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dan tadinya adalah pedang Pat-jiu Nio-nio.
Ketika itu Pat jiu Nio-nio masih muda, gagah perkasa dan jenaka.
Sayang sekali ia terlalu mengagulkan kepandaian sendiri sehingga timbul sombongnya.
Di hadapan Paman Guruku.
Pat-jiu Nio-nio berani menyatakan bahwa barang siapa dapat menghadapi pedangnya dengan tangan kosong dan merampas pedang maka pedang itu akan diberikan dengan cuma-cuma."
Kian Hok Taisu menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
"Pada waktu itu, Paman Guruku juga masih muda dan berdarah panas. Mendengar kesombongan Pat-jiu Nio-nio, ia lalu menggulung lengan baju dan menantang. Maka mulailah pertempuran. Pat-jiu Nio-ruo memegang Cheng liong-kiam dan paman guruku bertangan kosong. Karena tingkat kepandaian Paman Guruku lebih tinggi, akhirnya pedang itu terampas! Paman Guruku hendak mengembalikannya dan menganggap hal itu sebagai lelucon, siapa kira bahwa Pat-jiu Nio-nio merasa terhina dan berkata dengan marah bahwa kelak akan tiba masanya ia datang mengambil kembali pedangnya itu dengan cara yang sama, yakni mengalahkan Paman Guruku yang berpedang dengan tangan kosong! Kemudian wanita yang keras hati itu memperdalam ilmu silatnya. Akan tetapi, berulang-ulang sampai tiga kali ia datang tetap saja ia tidak berhasil merampas pedang. Bahkan yang keempat kalinya ia terluka oleh Paman Guruku."
Sampai di sini Kian Hok Taisu menahan napas panjang.
"Sungguh menyedihkan sekali, perkara lelucon seperti itu mendatangkan dendam yang mendalam. Bahkan Paman Guruku yang marah melihat sikap Pat-jiu Nio-nio juga timbul panas hatinya dan bertekad tidak mau mengembalikan pedang begitu saja sebelum ia dikalahkan! Oleh karena itulah, ketika bahwa pedang ini harus pinceng simpan baik-baik dan apabila Pat-jiu Nio-nio datang hendak mengambilnya, pinceng harus pula menghadapinya dengan syarat yang sama, yakni apabila Pat-jiu Nio-nio dengan tangan kosong dapat merampasnya, baru pedang itu boleh diberikan, ditambah pernyataan maaf dari mendiang paman guruku. Dua tahun kemudian, benar saja Pat-jiu Nio-nio datang dan terpaksa pinceng melayaninya. Setelah pertandingan yang sangat melelahkan, barulah pinceng berhasil mengalahkannya dan membuatnya pergi dengan penasaran."
Kian Hok Taisu memandang kepada Siok Li Hwa, lalu berkata.
"Ketika mendengar bahwa Pat-jiu Nio-nio sudah meninggal dunia, yakni lima tahun yang lalu, hati pinceng sudah lega dan melupakan urusan ini. Pedang ini disimpan di kamar pusaka, dijadikan sebuah di antara senjata-senjata pusaka Go-bi-pai. Eh, tidak tahunya hari ini kau datang dan menyatakan sebagai wakil Pat-jiu Nio-nio hendak mengambil Cheng-liong-kiam. Bukankah hal ini benar-benar tak dapat disangka sebelumnya? Nah, demiklanlah, Nona. Setelah mendengar penuturan ini, bagaimana pendapatmu?"
"Aku tetap hendak melakukan pesan mendiang Nio-nio tetap hendak mengambil kembali pedang pusaka itu!"
Kata Li Hwa dengan suara tetap. Hwesio tua itu nampak kecewa dan berduka.
"Nona, kau tahu bahwa pinceng tak dapat memberikan pedang ini begitu saja tanpa memenuhi syarat yang sudah pinceng janjikan kepada Paman Guruku. Hanya kalau dapat merampas kembali, pedang ini dapat kembali ke dalam tanganmu. Akan tetapi kau masih begini muda, bagaimana pinceng yang tua bangka ada muka untuk melayanimu bertempur? Nona, lebih baik diatur begini saja. Kau pulanglah saja dan kautunggu kalau pinceng sudah mati, pedang ini pasti akan diantarkan ke tempat tinggalmu. Yang bertanggung jawab terhadap pedang ini dan sudah berjanji kepada mendiang Paman Guruku hanya pinceng seorang. Kalau pinceng mati, berarti janji itu pun telah mati pula dan pinceng akan memesan kepada para anak murid agar kelak sepeninggal pinceng, pedang ini akan diantarkan kembali kepadamu. Bagaimana?"
Kakek gundul itu memandang kepada Li Hwa dengan penuh harapan. Akan tetapi gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata, dengan suara nyaring.
"Kian Hok Taisu, kau bicara tentang enaknya jalan pikiranmu sendiri saja. Sudah jelas bahwa pedang itu dahulunya adalah milik Nio-nio. Mengapa sekarang kau begitu susah-susah memutar-mutar omongan? Kalau memang kau tidak menghendaki keributan serahkan saja pedang itu kepadaku, habis perkara bukan? Kalau kau menunggu sampai kau mati, baru mengembalikan, aah, tak usah mencari-cari alasan, bilang saja terus terang bahwa kau suka memiliki pedang itu tidak ingin mengembalikan!"
Kian Hok Taisu menjadi merah mukanya, akan tetapi ia tetap sabar. suaranya agak keras ketika ia berkata.
"Nona, kau masih begini muda tetapi kata-katamu keras. Agaknya seperti kau inilah dahulu Pat-jiu Nio-nio di waktu muda. Soal mengembalikan pedang adalah soal mudah. Akan tetapi adalah menyangkut soal nama dan kehormatan. Pat-jiu Nio-nio sampai lima kali berusaha mengambil pedangnya tanpa hasil. Masa sekarang begitu kau datang tanpa perlawanan pinceng harus mengembalikan pedang itu begitu saja? Akan kemanakah larinya nama dan kehormatan pinceng sebagai Ketua Go-bi-pai?"
"Hem, Hwesio Tua. Kau bicara tentang nama dan kehormatan, apakah aku yang muda juga tidak menjaga nama dan kehormatan? Aku harus menebus penghinaan yang dirasakan oleh Nio-nio di samping merampas kembali pokiam itu. Kau telah berjanji akan memenuhi pesan Paman Gurumu sampai mati apakah kau kira aku pun tidak berani memenuhi pesan Nio nio dengan taruhan nyawaku?"
"Jadi kau benar-benar hendak merampas pedang ini?"
Kian Hok Taisu berkata sambil menggerak-gerakkan pedang Cheng-liong-kiam sehingga kelihatan sinar kehijauan.
"Tentu saja."
Kembali terdengar suara ketawa dari beberapa orang hwesio yang menonton di situ karena kata-kata itu dianggap amat lucu.
Bagaimana seorang gadis cantik jelita dan muda yang nampaknya begitu halus dan lemah akan merampas pedang di tangan Ketua Go-bi-pai?
"Nona, kau masih begini muda.
Pinceng tak enak hati menghadapimu dengan pedang di tangan, sedangkan kau sendiri bertangan kosong.
Kaullhat, di pojok sana itu terdapat rak senjata.
Kaupilih senjata yang paling baik untuk menghadapi pinceng dan apabila pinceng sampai terluka sedikit saja oleh senjatamu, biarlah pinceng mengaku kalah.
Akan tetapi, kalau sampai kau yang terkalahkan harap kau jangan bantah-bantahan lagi dan menunggu sampai pinceng menutup mata untuk selamanya baru pedang ini akan diantarkan kepadamu."
Li Hwa tidak menjawab, melainkan segera menghampiri rak senjata dan memilih sebatang pedang yang cukup baik. Kemudian ia melompat menghadapi Kian Hok Taisu sambil memutar pedang berkata.
"Hwesio tua, lihat pedang""
Pedangnya digerakkan cepat dan ia telah menyerang dengan dahsyat. Melihat cara serangan ini, tak terasa lagi Kian Hok Talsu berseru.
"Omitohud, kau benar-benar ahli waris Pat-jiu Nio-nio!"
La pun tidak tinggal diam dan pedang Cheng-liong-kiam di tangannya diangkat untuk menangkis serangan nona itu.
Akan tetapi Li Hwa tidak menanti sampai pedangnya tertangkis.
Melihat bahwa serangan pertama ini gagal dan itu akan tertangkis apabila dilanjutkan, ia telah menarik kembali pedangnya dan langsung ditusukkan, merupakan serangan kedua yang tak kalah dahsyatnya dan begitu otomatis seperti serangan berantai.
Padahal yang dimainkan itu adalah jurus ke dua yang berlainan sama sekali.
Inilah sifat ilmu silat yang ia pelajari dari kitab-kitab peninggalan Pat-jiu Nio-nio.
Mengandalkan kepada kecepatan gerakan sehingga mendesak lawan dan tidak memberi kesempatan untuk lawan balas menyerang.
Akan tetapi Kian Hok Taisu adalah orang ahli silat kelas tinggi.
Dahulu ketika Pat-jiu Nio-nio sendiri datang hendak merampas pedang, wanita sakti itu dapat dikalahkannya.
Apalagi sekarang yang datang hanya murid Pat-jiu Nio-nio yang kepandaiannya belum matang.
Setelah menggagalkan serangan Li Hwa sampai dua belas jurus akhirnya pedang Cheng-liong-kiam berhasil membabat pedang di tangan gadis itu.
Terdengar suara keras dan pedang di tangan Li Hwa buntung menjadi dua.
Akan tetapi gadis itu tidak menjadi gentar, sebaliknya ia melompat ke pojok ruangan dan di lain saat ia telah kembali menghadapi Kian Hok Taisu dan menyerang dengan sebatang golok yang tadi diambilnya dari rak senjata!
Serangan-serangannya kalah hebatnya oleh serangan pertama dengan pedang yang telah buntung tadi.
Kian Hok Taisu cepat menyambut serangan ini dan sebentar kemudian dua orang ini sudah lenyap terbungkus gulungan sinar senjata, bertempur dengan hebatnya di ruangan itu, membuat para hwesio yang menonton menahan napas.
Tak mereka sangka bahwa gadis muda ini ternyata lihai sekali dan memiliki kecepatan gerakan yang membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar senjata yang di mainkan.
Kembali belasan jurus lewat dan ditutup oleh suara nyaring ketika golok di tangan Li Hwa terbabat putus lagi oleh Cheng-liong-kiam!
"Cih!
Tak malu mengandalkan kemenangan pada pedang curian!"
Li Hwa menyindir dengan hati mendongkol dan di lain saat ia telah melompat berjungkir balik dari tengah ruangan ke rak senjata lalu kembali ke tengah ruangan menghadapi lawannya dengan sebatang tombak!
Dengan tombak ini ia menyerang bagaikan gelombang menderu dan terpaksa Kian Hok Taisu melayaninya.
Ketua Go-bi-pai ini diam-diam terkejut sekali.
Gadis muda ini ternyata tidak saja mewarisi kepandaian Pat-jiu Nio-nio akan tetapi juga mewarisi wataknya yang keras dan berani dan dalam hal ini, kiranya malah lebih keras, lebih berani, dan lebih nekad daripada Pat-jiu Nio-nio sendiri!
Berkali-kali Li Hwa berganti senjata dan senjata-senjata yang buntung oleh cheng-liong-kiam dan berserakan di ruangan itu sudah amat banyak.
Pedang, golok, tombak, toya, pian, dan rantai.
Kini gadis itu memegang sebilah tombak cagak dan menyerang makin lama makin dahsyat.
Diam-diam Ketua Go-bi-pai kagum.
Gadis semuda ini sudah miliki gerakan demikian hebat dan bahkan sudah pandai mainkan delapan belas macam senjata.
Benar-benar jarang ada keduanya.
Apalagi kalau disertai keberanian sebesar itu benar-benar merupakan gadis pilihan yang pasti akan dapat menjunjung tinggi namanya di dunia kang-ouw kelak.
Akan tetapi kalau sampai tersesat jalan hidupnya, gadis ini akan menjadi penyeleweng yang tidak kepalang tanggung, dan merupakan ancaman hebat.
Tombak cagak yang dimainkan oleh Li Hwa kali ini adalah sebuah senjata yang ringan, maka gerakan gadis itu juga cepat bukan main.
Namun, tetap saja setelah dua puluh jurus lewat, tombak itu patah menjadi dua bertemu dengan Cheng liong-kiam.
Kini Kian Hok Taisu mengharapkan gadis itu mau mengalah dan pergi.
Akan tetapi ia kecele, karena sebaliknya, gadis itu lalu menarik ikat pinggangnya yang terbuat daripada sutera kuning yang panjang dan mulailah Li Hwa menyerang dengan senjata istimewa.
Kali ini Kian Hok Taisu terkejut sekali.
Semenjak tadi, ia tidak pernah mau menyerang Li Hwa, hanya menjaga diri dan tiap kali ada kesempatan, mematahkan senjata lawannya mengandalkan ketajaman pedang Cheng-liong-kiam.
Melihat tingkat kepandaian Li Hwa, hal ini tidak mungkin ia lakukan, yakni hanya menjaga diri tanpa membalas, apabila tidak memegang pedang pusaka yang ampuh.
Sekarang Li Hwa menyerangnya dengan ikat pinggang sutera dan dalam tangan seorang ahli lweekang, sabuk sutera ini dapat menjadi senjata yang amat berbahaya dan tidak dapat diputus oleh tajamnya pedang.
Di lain pihak, tadi ketika berganti-ganti senjata, diam-diam Li Hwa mengasah otaknya.
Di dalam kitab Pat-jiu Nio-nio ia memang mendapat beberapa bagian yang menarik, yang menuturkan betapa Pat-jiu Nio-nio, menggunakan tipu untuk menghadapi lawan tangguh akan tetapi selalu gagal.
Kegagalan ini ditulis terang terangan di dalam kitab, bahkan digambarkan keadaan pertempuran, tiap tipu apa yang dipergunakan oleh Pat jiu Nio-nio dan bagaimana ia mengalami gagalan.
Coretan-coretan seperti ini ada lima macam dan tadinya Li Hwa tidak mengerti maksudnya, hanya mengira bahwa itu adalah pemberitahuan tentang siasat pertempuran.
Akan tetapi sekarang baru ia mengerti bahwa setiap kali menyerang ke Go-bi-pai dan dikalahkan, Pat-jiu Nio-nio lalu menuliskan semua kegagalannya itu di dalam kitab!
Li Hwa semenjak tadi mengerahkan otaknya mengingat-ingat coretan yang lima macam itu.
Teringatlah ia bahwa usaha Pat-jiu Nio-nio gagal seperti tersebut dalam coretan-coretan itu adalah karena Pat-jiu Nio-nio selalu mempergunakan kekerasan.
Ilmu silat Go-bi-pai adalah ilmu silat yang banyak mengandalkan tenaga "yang" (kekerasan) dan karenanya tokoh-tokohnya tentu saja memiliki tenaga yang kuat.
Kalau diserang dengan tenaga kasar pula, maka banyak lawan yang harus tunduk dan kalah terhadap tokoh-tokoh Go-bi-pai.
Kemudian Li Hwa teringat bahwa di samping lima coretan tentang kegagalan Pat-jiu Nio-nio, terdapat coretan lain di bagian bawah yang menggambarkan seolah-olah Pat jiu Nio-nio mencari siasat bagaimana cara mengalahkan lawan yang sudah lima kali tidak dapat dikalahkan itu.
Sekarang, setelah mendengar riwayat Pat jiu Nio-nio dan mendengar semua keterangan Kian Hok Taisu, barulah Li Hwa menjadi jelas dan semua coretan itu kini "hidup"
Dalam ingatannya.
Ia tadi sengaja menukar-nukar senjata untuk memberi kesempatan padanya mengingat semua coretan itu.
Setelah ia paham betul, barulah ia membuang senjata-senjata yang sudah buntung dan sebagai gantinya ia mengeluarkan ikat pinggangnya dari sutera!
Baru sekarang Li Hwa benar-benar menyerang dalam arti kata sedalam-daTamnya.
Ia mengerahkan seluruh tenaga lweekang bagian "Im", yakni tenaga lemas dan mengeluarkan tipu-tipu atau jurus-jurus ilmu silat seperti yang digambarkan dalam coretan-coretan ke enam dari Pat-jiu Nio-nio.
Bukan tubuh Kian Hok Taisu yang diserangnya, melain bagian lengan yang memegang pedang atau gagang pedang.
Kadang-kadang ujung ikat pinggang sutera itu menyambar-nyambar bagai ular, menerjang dengan totokan ke arah pundak kanan atau sambungan siku pergelangan tangan atau menyerang jari tangan yang memegang gagang pedang.
Semua jalan darah di bagian lengan tak luput dan sasaran sehingga boleh dibilang sabuk sutera itu hidup mengikuti jalannya pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan.
Ke manapun juga tangan kanan Kian Hok Taisu dengan pedang hijau itu bergerak, selalu sabuk sutera mengikuti dan menyerang dengan totokan-totokan dan kepretan-kepretan lihai.
Pertempuran kali ini amat indah dipandang.
Kian Hok Taisu yang tidak membiarka lengannya tertotok, menggerakkan Cheng liong-kiam dengan cepat sehingga merupakan gulungan sinar hijau.
Kini sinar hijau itu ke manapun juga diikuti oleh segunduk sinar kuning yang seakan-akan membayangi sinar hijau.
Sinar ini adalah sinar dari sabuk sutera kuning yang digerakkan secara cepat oleh Li Hwa.
Kian Hok Taisu mulai sibuk.
Beberapa kali pedang Cheng-liong-kiam ia sabetkan ke arah sabuk sutera akan tetapi karena sabuk itu lemas dan kuat, serta dimainkan oleh Li Hwa dengan pengerahan tenaga "im"
Hasilnya sia sia saja, sabuk itu tidak mau putus.
Kini terpaksa Kian Hok Taisu melakukan serangan balasan, karena hanya dengan serangan balasan saja ia dapat menahan desakan Li Hwa.
Baru sekarang pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran, saling serang dan saling mempertahankan dan baru sekarang Li Hwa mendapat kenyataan bahwa hwesio tua itu benar-benar lihai.
Pedang yang dimainkan itu berubah menjadi gulungan sinar hijau yang amat kuat, mengurung dan menindihnya sehingga sebentar saja Li Hwa terkurung dan terdesak hebat.
Keadaan jadi sebaliknya.
Kalau tadinya Li Hwa selalu menjadi penyerang dan hwesio itu yang mempertahankan, adalah sekarang gadis itu yang diserang dan terdesak hebat oleh Kian Hok Taisu dengan pedangnya yang ampuh.
Li Hwa mulai putus asa.
Gadis maklum bahwa andalkata hwesio itu tidak memegang pusaka yang ampuh belum tentu ia dapat menang.
Apalagi sekarang hwesio itu mainkan Cheng liong-kiam yang amat tajam sedangkan senjatanya sendiri hanya sehelai sabuk sutera!
Bagaimanapun juga, tak mungkin ia menang, tak mungkin ia dapat merampas pedang.
Apakah riwayat Pat-jiu Nio-nio akan terulang lagi?
Apakah nasibnya akan seperti Pat-jiu Nio-nio, setiap kali berusaha merampas pedang dan gagal?
Tidak pikir Li Hwa dengan hati dan kepala panas, aku tidak mau seperti itu.
Sekarang juga aku harus dapat merampas pedang atau biar aku mati di bawah pukulan pedang itu!
Pikiran ini membuat Li Hwa menjadi nekat.
Kini ia menyerang dengan tangan kirinya.
Sabuk sutera dan tangan kiri dengan gerakan-gerakan nekad dan cepat menyerang ke arah lengan yang memegang pedang.
Kian Hok Taisu mengeluarkan suara terkejut.
Hampir saja pedang Cheng-liong-kiam mampir di leher nona itu kalau ia tak cepat-cepat menahan tenaganya dan menarik kembali pedangnya.
Nona itu sekarang menyerangnya dengan hebat dan nekad, sama sekali tidak memperdulikan ancaman pedang lagi, merangsek hebat ke arah lengan kanan yang memegang pedang dengan tekad bulat untuk merampasnya!
Kian Hok Taisu mengeluh di dalam hatinya.
Tak mungkin ia melukai nona ini.
Hatinya tidak tega melukai seorang gadis muda.
Bukan hanya tidak tega, juga ia merasa malu kalau harus mengundurkan gadis ini dengan melukainya, apalagi membunuhnya.
Terpaksa ia menghentikan semua serangannya karena gadis itu tidak mau menjaga diri lagi dan kini terpaksa ia mengerahkan kepandaiannya untuk menjaga agar pedang jangan sampai terampas.
Akan tetapi usahanya ini jauh lebih berat daripada tadi.
Kalau tadi Li Hwa masih memperhatikan penjagaan diri sehingga serangan-serangan tidak sepenuhnya, adalah sekarang gadis yang nekad itu sama sekali tidak perhatikan tentang penjagaan diri dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk merampas pedang, bahkan kini bukan hanya dengan tangan kanan yang memegang sabuk sutera, melainkan dibantu pula oleh tangan kirinya yang mainkan ilmu silat semacam ilmu mencengkeram.
Gerakannya cepat dan dahsyat dan diam-diam Kia Hok Taisu kagum, kakek gundul ini tahu bahwa ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) yang aseli, ciptaan dari Pat-jiu Nio-nio dan yang diajarkan kepada seluruh anggauta Hui-eng-pai.
Kian Hok Taisu hanya dapat mempertahankan pedangnya selama empat puluh jurus.
Dengan keadaan yang amat terdesak, akhirnya ujung sabuk sutera itu berhasil menotok jalan darah di pundaknya.
Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga menolak hawa totokan, namun karena jalan darahnya terkena tepat sekali, jalan darah itu masih kena digetarkan yang membuat lengannya kesemutan dan gerakannya menjadi lambat.
Kesempatan tidak disia-siakan oleh Li Hwa.
Gadis itu menggerakkan tangan kanan dengan cepat dan di lain saat pedang itu sudah pindah ke dalam tangannya!
Kian Hok Taisu menghentikan gerakannya, menarik napas dan berkata.
"Pinceng terima kalah. Kau patut sekali mewarisi pokiam (pedang pusaka) itu, Nona. Harap saja pedang itu di tanganmu akan mendatangkan kebaikan untuk dunia dan jangan sampai digunakan untuk melakukan kejahatan-kejahatan."
Li Hwa bukan seorang yang bodoh dan buta.
Ia tahu bahwa dalam hal perebutan pedang tadi, ia berhasil hanya karena hwesio tua ini mengalah.
Kalau hwesio itu menghendaki, sudah sejak tadi ia roboh terluka oleh pedang.
Maka ia lalu menjura dan berkata.
"Taisu, terima kasih bahwa kau sudah mengembalikan pedang sehingga aku dapat memenuhi pesanan Nio-nio. Pedang ini asalnya milik Nio-nio dan karena Nio-nio bukan orang jahat, bagaimanapun pedang ini akan dapat dilakukan untuk perbuatan jahat? Nah, selamat tinggal sampai berjumpa kembali, Tai-suhu."
Setelah berkata demikian, nona itu berkelebat, kelihatan sinar kehijauan dari pedang Cheng-liong-kiam yang berada di tangannya dan sebentar saja Li Hwa lenyap dari depan Kian Hok Taisu.
Kakek gundul itu menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya "Omitohud...
lihai sekali bocah itu.
Setelah pedang itu berada di tangannya, biarpun pinceng sendiri belum tentu aku dapat menundukkannya...."
Demikianlah setelah dapat merampas kembali pedang Cheng-liong-kiam, Li Hwa lalu menjalankan pesan yang ketiga dari mendiang Pat-jiu Nio-nio, yakni membangun kembali perkumpulan Hui-eng-pai.
Untuk ini ia dapat banyak bantuan dari lima pendeta perempuan bekas anggauta terpenting dari Hui-eng-pai dahulu.
Untuk memenuhi kehendaknya Li Hwa tidak ragu-ragu untuk menculik gadis-gadis kampung dan gunung untuk dijadikan anggauta perkumpulannya!
Dalam hal ini ia selalu memilih gadis yang cantik dan bersih.
Tak lama kemudian, ia telah dapat mengumpulkan seratus orang anggauta perkumpulan Hui-eng-pai, seratus orang gadis yang rata-rata memiliki kecantikan mengagumkan.
Mulailah ia mengatur anggautanya, melatih ilmu silat dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan mereka semua di puncak tersembunyi dari Go-bi-pai itu.
Sementara itu, setelah mendapatkan Cheng-liong-kiam, Li Hwa tidak membuang waktu dengan sia-sia belaka.
Ia memperdalam ilmu silatnya dan di dalam kitab memang terdapat ilmu pedang yang disebut Cheng-liong-kiam-sut, yakni Ilmu Pedang Naga Hijau yang tentu saja amat cocok dan tepat kalau untuk mainkan ilmu pedang ini digunakan pedang Cheng-liong-kiam sendiri!
Ilmu silatnya maju pesat dan demikian hebat kemajuan yang diperoleh Li Hwa sehingga kepandaiannya sudah menyusul tingkat mendiang Pat-jiu Nio-nio.
Bahkan ia kini sudah dapat meniru pekik burung elang yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh Pat-jiu Nio-nio, pekik yang menjadi tanda dari perserikatan itu.
Anggauta-anggauta lain dapat juga mengeluarkan pekik itu akan tetapi harus dibantu dengan alat tiup terbuat daripada daun bambu muda.
Hanya Li Hwa seoranglah yang dapat mengeluarkan pekik ini tanpa bantuan alat, melainkan dengan pengerahan tenaga lweekang yang tinggi.
Oleh karena ini, pekiknya adalah pekik yang lebih aseli dan yang berbeda daripada pekik para anggautanya, sehingga dapat dibedakan siapa kepalanya siapa anak buahnya.
Kurang lebih tiga bulan sebelum pertemuan di puncak Ngo-heng-san itu, terjadilah hal yang menggegerkan penghidupan para anggauta Hui-eng-pai di puncak Go-bi-san.
Penstrwa ini terjadi pada suatu malam, yang menimpa seorang di antara para anggauta yang bernama Cun Eng, seorang gadis yang manis dan menarik, memiliki potongan tubuh yang menggairahkan.
Selagi gadis ini seorang diri meronda sebagaimana tiap malam dilakukan secara bergiliran untuk menjaga keamanan gedung seperti istana itu, tiba-tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat.
Sebelum Cun Eng dapat melihat siapa bayangan itu, tahu-tahu ia telah diserang, tertotok roboh.
Bayangan itu ternyata ialah seorang laki-laki yang berkepandaian tinggi dan yang kemudian membawa Cun Eng pergi dan situ.
Gadis ini tidak berdaya lagi dan tak kuasa mempertahankan diri dari gangguan laki-laki yang tidak dikenalnya itu.
Ta hanya dapat melihat bentuk badan orang itu, dan mendengar suaranya ketika laki-laki itu hendak meninggalkannya berkata.
"Manis, kalau kelak kau merasa rindu kepadaku dan hendak mencariku, carilah di dunia kang-ouw. Namaku Wan Sin Hong sudah cukup terkenal."
Cun Eng sambil menangis lalu melaporkan penghlnaan ini kepada Li Hwa yang membuat sepasang alis Li Hwa berdiri saking marahnya.
"Keparat jahanam Wan Sin Hong, kalau belum memenggal lehermu aku tak mau pulang!"
Serunya marah.
Cepat mengumpulkan para anggauta yang sudah agak pandai sebanyak empat puluh orang kemudian ia melakukan pengejaran yang tiada henti-hentinya.
Di mana saja ia mendengar jejak Wan Sin Hong tentu akan disusulnya sampai akhirnya tiba di Puncak Ngo-heng-san!
Demikianlah sebabnya mengapa begitu melihat Liok Kong Ji, Li Hwa terus saja menerjang.
Hal ini adalah karena Cun Eng yang memberi tahu kepadanya bahwa pemuda yang memegang hudtim itu seperti orang yang telah melakukan perbuatan keji kepadanya.
Tni pula sebabnya mengapa Li Hwa menjadi marah dan menendang Cun Eng karena itu tidak berani mengambil keputusan apakah Li Kong Ji itu orang yang mereka kejar-kejar atau bukan.
Kecewa karena tidak bisa menentukan penjahat yang dikejar-kejarnya sampai berbulan-bulan, Li Hwa lalu menghibur dirinya dengan menonton pemilihan bengcu yang tanpa disengaja ia kunjungi.
Setelah melihat bahwa tempat itu sudah penuh dengan orang-orang gagah dari seluruh penjuru dan tidak ada tamu baru yang datang lagi, tiga ciangbunjin dari Thian san pai, Kum-lun-pai dan Bu-tong-pai yang dianggap sebagai pemimpin pertemuan, saling memberi tanda bahwa urusan segera dapat dimulai dan pertemuan dibuka.
Tai Wi Siansu, Ketua Kun-lun-pai yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan dianggap yang paling tua, segera berdiri dan diapit oleh Leng Hwat Taisu Ketua Thian-san-pai dan Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai, ia bicara dengan suaranya yang tenang, halus dan penuh kesabaran, akan tetapi karena diucapkan dengan tenaga lweekang, maka dapat didengar oleh semua orang yang berkumpul di situ, bahkan orang-orang yang berdiri paling pinggir dapat juga mendengar dengan jelas.
"Cuwi sekalian tentu sudah mengerti apa maksud kita bersama mengadakan pertemuan di tempat yang bebas ini."
Ia membuka kata-katanya dengan tenang.
"Yang dimaksudkan bebas adalah karena Ngo-heng-san memang tidak ada partai persilatan sehingga pertemuan diadakan di tempat ini merupakan pertemuan bebas, jadi bukan merupakan undangan dari partai atau pihak tertentu. Dengan demikian, maka tidak adalah tuan rumah atau tamu."
"Sekarang setelah kita semua berkumpul dan kelihatannya di sini sudah penuh dengan wakil-wakil dari semua golongan, marilah kita masing masing mengajukan calon bengcu agar pemilihan dapat segera dilakukan."
Demikian Tai Wi Siansu mengakhiri kata-katanya yang singkat.
Ramai suara hadirin yang hendak mengajukan calon masing-masing.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara keras, ternyata yang bicara adalah Liok Kong Ji.
Pemuda ini mengerahkan suaranya sehingga mengatasi suara orang-orang bicara.
"Nanti dulu, Tai Wi Siansu! Aku mau tahu dengan cara bagaimanakah calon-calon itu akan dipilih? Bagaimana cara untuk menetapkan bengcu yang dipilih?"
Wi Siansu memandang dengan sinar mata dingin ke arah pemuda itu.
Kakek ini yang dahulu pernah bertemu dengan Kong Ji ketika ia ikut mengejar dan mengepung penjahat Wan Sin Hong, memang kurang suka melihat pemuda ini yang biarpun berkepandaian tinggi, namun sikapnya amat tidak menyenangkan dan agak sombong.
"Tentu saja akan dipergunakan aturan lama yang sudah dipakai oleh nenek moyang kita. Di antara para calon bengcu harus kita pilih bersama dan masing-masing boleh menyatakan pendapatnya mengapa memilih bengcu itu, kemudian pertentangan pendapat diselesaikan dengan melihat keadaan calon bengcu maing-masmg. Kalau perlu boleh diukur tentang pribadi, kepandaian, keturunan dan lain-lain."
Liok Kong Ji mengeluarkan suara dingin.
"Aturan lama yang sudah usang!"
Ia lalu menghadapi semua orang dan berkata nyaring.
"Aturan lama yang sudah usang itu hanya akan memancing keributan di antara kita sendiri. Menurut pendapatku, lebih baik kalau diadakan pemilihan di antara calon bengcu berdasar suara terbanyak! Yang paling banyak dapat sokongan suara dialah yang menang,"
Kembali terdengar suara gaduh ribut menyambut usul ini. Seorang tosu tinggi kurus berjenggot putih, yakni Yang Seng Cu, murid tertua dari Tai Siansu, berdiri dan berkata keras.
"Aturan itu tidak boleh dipakai sama sekali! Kita tidak bisa meninggalkan aturan lama yang sudah disaring orang-orang gagah jaman dahulu. Memilih berdasarkan suara terbanyak amat berbahaya. Tentu saja yang menang adalah mereka yang membawa banyak konco dan kaki tangan, sedangkan mereka yang dengan jujur datang hanya membawa sedikit kawan akan kalah suara. Paling perlu dilihat buktinya apakah emas yang dipilih itu tulen atau palsu. Memilih bengcu sama dengan memilih barang berharga, harus diteliti benar-benar. Kalau sampai kita salah pilih dan mendapatkan seorang yang berwatak bejat menjadi bengcu, bukankah kita bersama diseret ke lembah kehinaan? Paling baik para calon bengcu itu memperlihatkan kepandaian masing-masing agar kita semua dapat membuka mata dan menilai."
"Akur! ini akur sekali!"
Terdengar banyak suara menyambut.
"Tidak cocok! Lebih baik menurut usul Tung-nam Tai-bengcu""
Terdengar suara di sana-sini dan jumlah suara ini banyak sekali.
Diam-diam Tai Wi Siansu terkejut dan berdebar hatinya.
Mengapa di antara orang-orang yang menyatakan setuju akan usul Liok Kong Ji itu terdapat orang-orang dari rombongan Siauwlim dan partai-partai lain?
Benar-benar aneh sekali.
Kong Ji tersenyum.
"Sudahlah, hal ini tak perlu diributkan. Kita lihat saja macam apa calon-calon bengcu yang dimajukan. Tentang mengukur kepandaian boleh saja, bahkan tentu para pemilih juga menjagoi dan membela calon masing-masing."
Kata kata ini merupakan sindiran bahwa tentu akan terjadi keributan dan pertentangan mengadu kepandaian dalam pemilihan ini dan menyatakan tidak takut sama sekali.
Hal ini memang tidak aneh.
Setiap kali orang-orang kangouw yang rata-rata mengandalkan kekerasan dan kepandaian ini melakukan pemilihan sesuatu, pasti akan terjadi bentrok dan pertempuran akan tetapi akhirnya hal itu akan beres yang dipilih didapatkan dengan tepat dan cocok, sedangkan pertempuran itu bahkan ada baiknya karena biasanya lalu siapa atau pihak mana yang betul dan pihak mana yang menyeleweng.
Oleh karena itu, semua orang gagah tidak takut menghadapi bentrok dalam pemilihan ini.
Karena mengira bahwa calon-calon bengcu yang diajukan tentu banyak sekali, Tai Wi Siansu segera minta nama-nama calon bengcu itu disebutkan.
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia hanya mendapatkan lima orang calon saja!
Pertama-tama adalah Liok Kong Ji yang disebut Tung-nam Tai-bengcu, kedua adalah dia sendiri, orang ketiga adalah Go Ciang Le yang dipilih oleh tokoh-tokoh partai lain terutama sekali oleh Tai Wi Siansu sendiri.
Ke empat adalah See-thian Tok-ong yang didukung oleh anak isterinya dan delapan orang pengiringnya, juga oleh beberapa orang kang-ouw yang sudah mendengar nama besar Raja Racun dari Barat ini.
Adapun orang kelima adalah Cam-kauw Sin-kai yang ditunjuk dan diusulkan oleh Ciang Le dan isterinya serta oleh Lie Bu Tek pendekar buntung.
"Hanya lima orang saja calon bengcu?"
Tanya Tai Wi Siansu dengan wajah terheran-heran.
"Pada pemilihan bengcu dahulu, calonnya saja mendekati lima puluh orang!"
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang anggauta Hui-eng-pai telah berdiri di depan Tai Wi Siansu. Dengan hormat dia menjura dan bertanya.
"Totiang, saya disuruh oleh Niocu untuk bertanya apakah para calon bengcu ini nanti mengukur kepandaian masing-masing?"
Tai Wi Siansu mengangguk-angguk "Memang seharusnya demikianlah."
Gadis yang manis dan bertahi lalat pada telinga kirinya ini berseri wajahnya dan berkata cepat.
"Kalau begitu harap catat ketua kami sebagai calon ke enam!"
Tat Wi Siansu mengerutkan keningnya dan mengerling ke arah rombongan Hui-eng-pai di mana ia melihat Li Hwa duduk sambil tersenyum manis dan sepasang matanya bersinar-sinar.
Ia hanya bisa mengangguk menyatakan setuju dan gadis suruhan itu melompat kembali ke tempatnya di mana dia dan kawan-kawannya berbistk dan nampaknya bergembira.
"Calon ke enam telah dipilih, yakni Hui-eng Niocu Siok Li Hwa Ketua Hui eng-pai!"
Kata Tat Wi Siansu memperkenalkan kepada orang banyak.
Terdengar orang bertepuk tangan menyambut pemberitahuan ini.
Dapat dimengerti bahwa yang bersorak ini sebagian besar adalah orang-orang muda yang mengagumi kecantikan Li Hwa.
Pula di situ hanya ada seorang saja wanita yang berani terjun menjadi calon bengcu, siapakah yang tidak menjadi kagum?
Akan tetapi diam-diam.
banyak yang tertawa geli kalau memikirkan alangkah janggalnya kalau dunia kang-ouw dikepalai oleh seorang bengcu wanita!
Hal ini memang disengaja oleh Li Hwa.
Tidak saja ia teringat akan pesan mendiang Pat-jiu Nio-nio bahwa ia harus dapat mengangkat derajat wanita dan ini memperlihatkan bahwa wanita pun tak kalah oleh pria, juga sebagai seorang muda yang berdarah panas ia sudah gatal-gatal tangan untuk menguji kepandaiannya dengan para calon bengcu!
Jarang ia bertemu dengan lawan yang tangguh dan sekaranglah saatnya baginya untuk menguji kepandaian yang sekian lamanya ia pelajari dengan rajin sekali.
Kemudian Kong Ji meloncat ke depan, mengibas-ngibaskan hudtimnya dengan lagak sombong sekali.
"Biarpun pemilihan calon bengcu itu tidak didasarkan suara terbanyak, akan tetapi setidaknya harus diumumkan dan didengar oleh semua orang siapa-siapakah yang memilih calon-calon bengcu yang sekarang ini agar tidak main gila dalam pemilihan ini dan agar diketahui oleh semua orang bahwa calon yang diajukan benar-benar dikehendaki orang banyak di dunia kang-ouw!"
Wajah Tai Wi Siansu menjadi merah.
Kata-kata ini mengandung sindiran dan pernyataan tidak percaya kepada para pemimpin pertemuan seakan-akan para pemimpin pertemuan akan berlaku curang dalam pemillhan ini!
"Sudah tentu!"
Kata Tai Wi Siansu kasar, karena memang betapapun juga permintaan ini cukup pantas dan tak dapat ditolak lagi. Tai Wi Siansu lalu berkata kepada orang banyak.
"Cuwi-enghiong yang berada di sini harap suka mengangkat tangan apabila nama calon bengcu pilihan pinto sebut. Kemudian setelah memandang ke empat penjuru ia berkata dengan suaranya yang ringan tapi halus.
"Calon pertama, Tung-nam Tai-bengcu Liok Kong Ji!"
Terdengar suara gemuruh orang-orang menyambut dengan sorakan dan banyak sekali lengan tangan kanan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.
Melihat banyaknya pendukung, Tai Wi Siansu tidak merasa aneh.
Akan tetapi ketika ia dengan perhatian ke arah para penyokong calon ia menjadi kaget sengah mati.
Demikian pun Leng Hoat Taisu Ketua Thian-san-pai dan Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai semua menahan napas agar tidak mengeluarkan seruan kaget.
Mereka hanya dapat saling pandang, penuh rahasia dan perasaan terkejut dan terheran-heran.
Kini dengan jelas terlihat oleh mereka bahwa semua wakil yang terdiri dari rombongan-rombongan kecil wakil-wakil dari partai-partai besar di dunia, Kiang san-pai ikut mengangkat lengan menyokong nama Liok Kong Ji Juga semua pemimpin dari partai-partai kecil lainnya seperti partai-partai Im-yang-bu-pai, Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shansi Kai-pang.
Twa-to Bu-pai dan lain-lain juga menyokong Liok Kong Ji.
Kalau partai-partai ini menyokong pemuda itu, masih tidak aneh karena bukankah pemuda itu juga sudah diangkat sebagai bengcu dari timur dan selatan oleh mereka ini?
Akan tetapi, kalau partai-partai Siauw-lim-pai, Go-bi-pai lain-lain ikut memilihnya, inilah hebat.
Juga tokoh-tokoh lain yang tidak ikut memilih Liok Kong Ji, saling pandang dengan hati kecut.
Dilihat begitu saja malah yang memilih Liok Kong Ji lebih dari setengah orang yang hadir di situ dan kalau sampai terjadi keributan akibat rebutan kursi bengcu, pemuda itu bersama pendukungnya yang amat banyak tentu merupakan lawan yang amat berat.
Apalagi ketika di antara para pendukung itu terdapat tokoh besar seperti Gi Seng Cu, para ketua partai dan wakil-wakil partai besar yang amat banyak pula anak buahnya.
Akan tetapi kini sudah terdengar lagi.
suara Tat Wi Siansu yang mengumumkan nama calon ke dua.
"Calon ke dua, Hwa I Enghiong Go Ciang Le!"
Nama besar Go Ciang Le murid Pak Kek Siansu, siapakah yang belum pernah mendengar?
Semua orang memandang kepada pendekar besar itu, kagum dan segan.
Akan tetapi yang mendukung pendekar besar ini tidak berapa banyak.
Hal ini disebabkan oleh karena bukan saja mereka yang hadir itu sebagian besar adalah kaki tangan Liok Kong Ji, akan tetapi juga karena selama ini Go Ciang Le menyembunyikan diri saja tidak terjun di dunia kang-ouw sehingga orang-orang hanya mengenaI nama besarnya saja akan tetapi tidak pernah menyaksikan sepak-terjangnya.
Tentu saja orang-orang masih ragu-ragu untuk memilihnya sebagai bengcu.
Akan tetapi sebaliknya, tokoh-tokoh besar seperti Tat Wi Siansu tidak ragu-ragu lagi untuk memilih Go Ciang Le sebagai bengcu.
"Calon ke tiga, Cam-kauw Sin-kai!"
Pendukung kakek pengemis sakti ini banyak juga, karena selain Ciang Le, isterinya, Lie Bu Tek dan beberapa orang tokoh perkumpulan-perkumpulan pengemis yang sudah mengenal kakek ini, juga ada orang-orang kang-ouw yang sudah lama mengagumi Cam-kauw Sin-kai memberikan suaranya dan mengangkat tangan tanda mendukung.
Cam-kauw Sin-kai sendiri hanya tertawa tawa berkata perlahan.
"Tua bangka macam aku mana pantas menjadi bengcu?"
Tai Wi Siansu sudah mengumumkan lagi.
"Calon ke empat, See-thian Tok-ong suaranya terdengar nyaring dan nama menimbulkan gelisah dan rasa ngeri dalam hati para pendengarnya. Nama Racun dari Barat ini sudah terkenal bagai tokoh berwatak iblis yang menakutkan, apalagi sekarang menyaksikan orangnya yang memang menyeramkan. Kecut-kecut hati semua orang yang memilih calon lain, karena di samping Liok Kong Ji yang banyak pengikutnya, See-thian Tok-ong inilah yang merupakan lawan berat dan juga merupakan orang yang tak disuka.
"Calon ke lima, yang sesungguhnya tak perlu diadakan, adalah pinto sendiri,"
Kata Tat Wi Siansu.
Kata kata ini disambut oleh suara ketawa banyak orang yang menganggap kakek itu berkelakar.
Memang lumayan juga kelakar ini, untuk selingan dan menghibur hati yang berdebar tegang menghadapi pemilihan bengcu dan mendengar nama See thian Tok-ong tadi.
Tiba-tiba terjadi keributan kecil di rombongan Teng-san-pai..
Semua orang memandang dan ternyata yang membikin ribut adalah Cam-kauw Sin-kai.
Kakak pengemis sakti ini entah kapan, tahu-tahu telah berada di situ dan menyerang seorang di antara rombongan Teng-san-pai itu sambil berseru.
"Kau tukang colong ayam!"
Seruan ini dibarengi oleh serangannya memukul ke dada dengan tangan kanan dan mencengkeram pusar dengan tangan kiri.
Serangan yang hebat, cepat dan kuat sekali!
Semua orang terkejut melihat ini, terutama orang yang diserangnya itu.
Orang itu adalah seorang yang berpakaian seperti tosu dan dia adalah seorang di antara para wakil Teng-san-pai, muka dan lagaknya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli silat pandai.
Menghadapi serangan yang demikian dahsyat dari Cam-kauw Sin-kai tosu ini cepat membanting tubuh ke belakang sambil berpoksai dengan cara berjungkir balik.
Akan tetapi terdengar suara ketawa bergelak dan kaki Cam-kauw Sin-kay menyentuh pantatnya sehingga tosu itu terpental dan jatuh bergulingan seperti sebuah bal karet ditendang.
Cam-kauw Sin-kay mengeluarkan suara ketawa bergelak-gelak, suara ketawanya aneh sekali dan pengemis ini lalu melompat kembali ke dekat Gak Soan Li.
Memang sejak tadi, pengemis ini nampak bicara perlahan-lahan dengan nona yang siuman dari pingsan ini.
Ciang Le, isterinya, dan Lie Bu Tek memandang kepada pengemis tua itu dengan heran.
Mereka tidak melihat sesuatu alasan mengapa Cam-kauw Sin-kai melakukan penghinaan kepada wakil Teng-san-pai itu.
Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai yang melihat pandang mata reka hanya tersenyum-senyum, wajahnya berseri-seri aneh.
Kemudian ia berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berkata kepada Tai Wi Siansu.
"Masih ada lagi calon ke tujuh, akulah orangnya yang memilihnya dan harap diumumkan!"
Semua orang mendengar ucapan yang dilakukan dengan pengerahan lweekang yang tinggi ini.
Tai Wi Siansu sudah mengenal siapa adanya Cam-kauw Sin-kai dan melihat kelakuan pengemis tua ini, Ketua Kun-lun-pai tersenyum dan menjawab sabar.
"Cam-kauw Sin-kai, kauumumkan sendiri agar kita semua mendengar, Siapakah adanya calon pilihanmu yang terhormat itu?"
Cam-kauw Sin-kai memandang ke empat penjuru memutar-mutar tubuhnya lalu berkata dengan keras sekali setelah mengumpulkan tenaga dan napasnya.
"Aku mengajukan calon bengcu kiranya paling tepat pada waktu ini menjadi pemimpin kita, dia itu bernama Wan Sin Hong!"
Untuk sedetik terdengar suara seruan kaget, lalu disusul suasana sunyi senyap.
orang-orang memandang kepada Cam-kauw Sin-kai seolah-olah pengemis itu telah berubah ingatannya.
Bahkan orang-orang yang berpihak kepadanya juga memandang dengan heran.
Ciang Le sendiri memandang dengan muka tercengang, sedangkan Lie Bu Tek memandang kepada Cam-kauw Sin-kai dengan mata menjadi basah air mata!
Ketika Cam-kauw.
Sin-kai menyebut nama bengcu yang dipilihnya, nama "Wan Sin Hong"
La sebutkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga lama setelah ia menutup mulut gema suaranya masih terdengar dari sekeliling puncak itu.
Tiba-tiba dari jauh sekali, terdengar suara ketawa yang aneh gemanya bergemuruh seperti suara geluduk dari jauh.
Semua orang terkejut sekali, bahkan Ciang Le dan tokoh-tokoh besar yang berada di situ juga kaget karena hanya orang yang memiliki khikang tinggi bukan main yang dapat mengeluarkan suara seperti itu gemanya!
Akan tetapi suara itu hanya timbul sebentar saja karena lalu lenyap tak disusul oleh suara apapun juga.
Kemudien terdengar pekik lain yang nyaring sekali, disusul oleh pekikan semacam itu yang kurang nyaring, kemudian nampak bayangan-bayangan putih berkelebatan, bayangan-bayangan putih yang cepat sekali gerakannya laksana kelompok burung garuda menyambar.
adalah pekik yang dikeluarkan oleh Siok Li Hwa, disambut oleh pekik dari para anggautanya.
Pekik ini merupakan pekik aba-aba dan sebentar saja Li Hwa dan para anggautanya sudah mengurung tempat di mana berdiri Cam-kauw Sin-kai dan rombongan Go Ciang Le!
Li Hwa sendiri lalu melangkah maju, pedang hijau berkilauan di tangannya.
Ia menghadapi Cam-kauw Sin-kai dengan wajah keren dan mata berapi-api.
Melihat ini, Bi Lan sudah naik darah dan kalau tidak dikedipi suaminya, tentu nyonya ini sudah menerjang maju mengusir Li Hwa yang bersikap demikian kurang ajar dan galak.
Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai yang di hadapi oleh Li Hwa, tersenyum-senyum saja, bahkan lalu menjura dan berkata.
"Bukankah nona calon ke enam yang tadi disebut bernama Siok Li Hwa, berjuluk Hut-eng Niocu dan menjadi ketua dari Hui-eng-pai? Apakah maksudmu terbang ke suni dan kelihatan marah kepada lohu?"
"Pengemis bangkotan tak perlu memutar omongan lagi! Kau tadi menyebut-nyebut nama penjahat besar Wan Sin Hong yang kaupilih menjadi bengcu. Bagus sekali! Hayo lekas kaukeluarkan jahanam busuk itu agar dapat kubawa kepalanya ke tempatku untuk ditaruh di meja sembahyang sehingga noda yang mencemarkan pada nama baik perkumpulan kami dapat dicuci bersih!"
"Dia tidak ada di sini pada saat ini. Entah nanti!"
Jawab Cam kauw Sin-kai dan suaranya terdengar bersungguh-sungguh.
"Jangan kau membohong!"
"Eh, eh, kau ini masih muda akan tetapi sikapmu agak galak sekali. Kalau kau tidak percaya carilah sendiri kalau becus. Aku boleh memilih calon bengcu siapa saja, adapun dia itu hadir atau tidak, bagaimana aku bisa memaksa?"
"Pengemis tua, kau sengaja hendak menyembunyikannya! Kalau begitu, kaulah yang harus kutahan untuk memancing penjahat Wan Sin Hong datang Sambil berkata demikian Li Hwa menyerang dengan pedangnya untuk membikin putus urat sambungan siku kakek itu! "Ganas kau!"
Cam-kauw Sin-kai mernbentak marah karena serangan gadis itu benar-benar dahsyat dan cepat.
Kalau sampai mengenai sasaran maka akan menjadi orang yang cacad!
Cepat ia menggerakkan tongkatnya, dengan gerakan istimewa dari ilmu tongkat Cam-kauw-tunghwat ciptaannya yakni bagian gerakan menggait"
Dan "membetot".
Terdengar bunyi keras dan tongkatnya berhasil menempel pedang nona itu, akan tetapi sebelum membetot, secara aneh sekali pedang itu telah terlepas kembali, dan ia ternyata nona itu telah dapat membebaskan pedang dengan amat mudahnya dan tenaga tempelan yang luar biasa itu.
Di lain saat pedang itu telah menjadi sinar hijau dan kini menyerang ke arah pundak untuk membikin putus tulang pundak!
Ternyata dari serangan serangannya ini bahwa nona itu tidak bermaksud mengambil nyawa, hanya untuk merobohkan dan menawan Cam-kauw Sin-kai.
Tentu saja pengemis sakti ini tidak mandah begitu saja dan cepat memutar tongkat melakukan perlawanan.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Siluman betina jangan banyak tingkah!"
Yang membentak ini adalah Liang Bi Lan isteri Hwa l Enghiong Go Ciang Le.
Melihat sikap Siok Li Hwa, Bi Lan yang berwatak keras tak dapat menahan sabar lagi.
Sekali kakinya menotol tanah, tubuhnya melayang dan menerjang Li Hwa yang sedang menyerang Cam-kauw Sin-kai.
Melihat gerakan yang luar biasa cepatinya ini, dua orang anggauta Hui-eng-pai menyambut dengan pedang dilintangkan di depan dada, mencegah nyonya ini mengganggu ketua mereka yang sedang menyerang Cam-kauw Sin-kai.
Akan tetapi, sekali mengulur kedua tangan, Bi Lan telah berhasil merampas pedang di tangan dua orang nona ini dan tendangan berantai yang ia lancarkan membuat dua orang lawannya ini cepat-cepat lari meninggalkannya!
Liang Bi Lan lalu melontarkan dua pedang rampasan itu ke arah Li Hwa yang sedang menyerang Cam-kauw Sin-kai.
Li Hwa sejak tadi melihat gerak, Bi Lan ini bukan main terkejutnya melihat nyonya cantik yang begitu lihai.
Segera ia menangkis dengan Cheng-liong-kiam di tangannya dan dua batang pedang dilontarkan itu dengan mudah terbabat putus.
Dengan adanya campur tangan dari Bi Lan ini, Cam-kauw Sin-kai bebas dari desakan dan kini Li Hwa menghadapi Bi Lan.
"Bocah siluman, kaukira dirimu ini apakah mau menjual lagak di sini?"
Li Hwa memandang kepada Bi Lan dengan matanya yang bening dan bersih.
Dua orang wanita, sama cantiknya, yang seorang gadis remaja, yang kedua telah setengah tua, berdiri berhadapan saling pandang.
Bi Lan dengan sinar mata marah, sebaliknya Li Hwa memandang kagum, karena baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi.
"Toanio mengapa marah-marah kepadaku? Aku berurusan dengan pengemis tua ini yang menyebut-nyebut nama penjahat yang kucari, apa sangkutannya dengan toanio?"
Akhirnya Li Hwa mengeluarkan suara bertanya, sikapnya sungguh-sungguh dan tidak mengandung suara bermusuhan.
Liang Bi Lan terkenal sebagai seorang wanita yang mudah gembira dan mudah marah.
Di waktu mudanya ia jenaka dan gembira, akan tetap, memiliki keberanian yang luar biasa dan kalau ia marah maka tentu akan timbul geger.
Sebetulnya dalam dadanya terdapat hati yang penuh welas asih, hati yang suka mengalah sabar, hanya wataknya yang membuat ia kadang-kadang mudah sekali tersinggung.
Kalau saja kata-katanya tadi dijawab kata kata keras pula oleh Li Hwa pasti ia akan menyerang gadis itu tak banyak cakap lagi.
Akan tetapi, mendengar ucapan Li Hwa yang lemah-lembut dan hormat, seketika itu juga api yang membakar hatinya padam.
Namun ia tak mau melayani kelemahlembutan itu, maka jawabnya mengandung teguran.
"Bocah, bagaimana aku tidak akan mencampuri? Urusanmu dengan Wan Sin Hong atau dengan siapapun juga memang tiada sangkut pautnya dengan kami dan aku Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan sekali-kali bukan orang usilan yang suka mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai adalah seorang di antara rombonganku, bahkan dia juga merupakan calon bengcu yang kami pilih. Adapun dia memillh seorang bernama Wan Sin Hong menjadi calon, itu sih haknya karena semua orang merdeka untuk memillh calon masing-masing, megapa kau begitu tak tahu aturan mengandalkan kegalakanmu? Apa kaukira di dunia ini tidak ada orang lain berani menentangmu? Kau mengganggu seorang anggauta rombongan kami, berarti kau menghina aku. Hayo, sekarang kau mundur atau hendak mengadu kepandaian dengan aku?"
Li Hwa tersenyum, matanya memandang kagum akan tetapi wajahnya berubah agak pucat.
Ia marah sekali.
Kalau saja orang lain yang bicara seperti itu, sudah dapat dipastikan pedang hijaunya akan menyerang.
Akan tetapi sikap Bi Lan amat mengesankan hatinya, membuat ia kagum dan tertarik.
Tidak tegalah hatinya untuk bermusuh dengan nyonya yang gagah ini.
Bukan sekali-kali ia tidak berani, hanya ia merasa lebih suka bersahabat daripada bermusuh dengan wanita gagah itu.
"Toanio, aku tidak ingin bermusuh denganmu. Tidak ada sebab-sebabnya harus melawanmu, sungguhpun aku sekali tidak takut. Mungkin tadi aku terlalu terburu nafsu. Asal saja kau suka memberi tahu apakah di rombonganmu ada penjahat Wan Sin Hong atau tidak aku suka mengundurkan diri dan menghabiskan urusan ini."
"Kau kira kami menyembunyikan penjahat? Setan alas! Baik yang bernama Wan Sin Hong atau siapapun juga, rombongan kami tidak ada penjahatnya. Li Hwa tersenyum dan mengerling ke arah Cam-kauw Sin-kai.
"Cam-kauw Sin-kai, maaf kalau tadi aku terburu nafsu. Akan tetapi kau telah seorang jahat yang menjadi musuhku, berarti kau pun bukan orang baik. Tunggu saja, bukankah kita berdua sama-sama calon bengcu? Tunggu sampai kita bertemu di gelanggang adu kepandaian!"
Setelah berkata demikian, Li Hwa lalu melompat kembali ke tempat yang tadi, diikuti oleh semua rombongannya.
Keadaan tenang kembali.
Akan tetap, baru saja Li Hwa mengundurkan diri, Liok Kong Ji sudah melompat maju.
Kebutan di tangannya digoyang-goyangkan dengan lagak agung serperti seorang pangeran saja.
Bibirnya tersenyum, penuh keyakinan akan ketampanan wajahnya, dadanya diangkatnya dan hanya memandang liar ke kanan kiri.
Pemuda ini sejak tadi telah mempertimbangkan siapa-siapa calon yang menjadi lawan berat.
Baginya adanya See-thian Tok-ong menjadi calon, tidak begitu dipikirkan oleh karena ia percaya bahwa orang ini dapat ia tarik menjadi kawan.
Juga ia tidak memandang sebelah mata kepada Tat Wi Siansu Ketua Kunlun-pai dan kepada Cam-kauw Sin-kai.
Kini tinggal tiga orang yang menjadi buah pikiran, yakni Go Ciang Le.
Siok Li Hwa, dan akhirnya yang amat mengejutkan hatinya adalah Wan Sin Hong yang dipilih sebagai bengcu ke tujuh oleh Cam-kauw Sin-kai.
Maka ia lalu maju ke depan dan sebelum perang adu kepandaian dimulai, ia hendak mempergunakan siasat perang lidah.
"Cuwi-enghiong yang hadir di sini sudah mendengar jelas siapa-siapa adanya tujuh orang bengcu."
Ia mulai bicara dengan layak seorang pemimpin ulung!
"Pilihan calon ketua bagi yang lain-lain aku sudah setuju sekali karena memang mereka itu adalah locianpwe-locianpwe yang patut menjadi pemimpin serta berkepandaian tinggi.
Akan tetapi aku merasa amat keberatan mendengar nama tiga orang yang dicalonkan, karena aku menganggap mereka itu tidak layak menjadi calon bengcu yang terhormat!"
Semua orang yang mendengar kata-kata ini menjadi tertarik.
Benar-benar seorang pemuda yang berani mati.
Tiga orang calon bengcu yang manakah ia berani mencela-celanya?
Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak seorang pun mau memotong ucapannya.
Setelah memandang ke kanan kiri dan merasa puas melihat wajah orang-orang itu memperhatikan kata-katanya, Kong Ji melanjutkan.
"Pertama tama, aku ingin bicara tentang calon bengcu yang ke enam, yaitu nona Siok Li Hwa ketua dari Hui-eng-pai. Bukan sekali-kali aku kurang menghargainya, bahkan aku merasa kagum sekali, akan kemajuan yang dicapa, oleh Nona Siok, biarpun wanita dan masih muda sudah menjadi Ketua Hui-eng-pai. Akan tetapi sudah berani maju sebagai calon bengcu. Akan tetapi, bengcu yang akan dipilih ini adalah ketua dari semua orang gagah di kolong langit, apakah patut kalau bengcu seorang wanita?"
Dari rombongan Hui-eng-pai terdengar suara nyaring seorang gadis anggauta rombongan itu.
"Orang she Liok, jangan kau sombong! Biarpun seorang wanita, hanya Niocu kami tidak akan kalah olehmu. Lihat saja nanti"
Kong Ji, tersenyum dan mengangkat pundak.
"Demi kesopanan dan kepantasan aku sudah bicara, kalau Nona Siok bertekad mendapatkan kedudukan bengcu, terserah. Sekarang orang ke dua. Dia ini benar benar tidak layak menjadi bengcu, lebih tidak patut lagi direndengkan para orang gagah yang terpilih hadir di sini. Dia itu adalah penjahat besar Wan Sin Hong yang tadi dipilih oleh Cam-kauw Sin-kai. Pantas saja Nona Siok marah terhadap Cam-kauw Sin-kai, karena memang perbuatannya itu amat lancang. Bagaimana seorang manusia sudah tersohor akan kejahatannya itu dijadikan calon bengcu? Apakah Cam-kai Sin-kai menghendaki kita semua dipimpin oleh seorang penjahat ? Sungguh lucu!"
"Semua orang menuduh Wan Sin Hong seorang penjahat besar. Mana buktinya?"
Suara Cam-kauw Sin-kai berkumandang ketika ia mengatakan ucapan ini.
Liok Kong Ji tertawa terbahak-bahak "Ha-ha, omongan Cam-kauw Sin-kai seperti omongan anak kecil saja!
Yang tidak dapat melihat bahwa Wan Sin Hong seorang penjahat besar, dia itu seorang buta!
Yang tidak mendengar akan kenyataan itu, dia itu seorang tuli!
Siapakah yang belum mendengar tentang kejahatan Wan Sin Hong?
Mau bukti?
Terlalu banyak!
Bukankah baru saja sudah dibukan dengan kemarahan Nona Siok Li Hwa yang mencari penjahat besar Wan Sin Hong sampai berbulan-bulan lamanya?
Apakah masih belum puas lagi?
Tanya saja Nona Cun Eng, apa yang telah diperbuat oleh Wan Sin Hong kepadanya!" (Lanjut ke
Jilid 29) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 Terdengar pekik mengerikan dan terjalilah ribut ribut di rombongan Hui-eng-pai.
Ternyata bahwa Cun Eng telah menggunakan pedang menusuk dadanya sendiri ketika mendengar kata-kata Kong Ji itu.
Aib yang menimpa dirinya dibuka begitu saja oleh Kong Ji di depan umum, maka gadis itu tidak melihat jalan lain kecuali membunuh diri!
Siok Li Hwa dengan muka merah lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengurus jenazah Cun Eng, kemudian ia berkata dengan suara nyaring.
"Untuk ini Wan Sin Hong akan membayar dengan nyawanya!"
Terdengar Liok Kong Ji tertawa bergelak, lalu memandang kepada Cam-kauw Sin-kai dengan penuh ejekan.
"Cam-kauw Sin-kai, masih kauragukan lagi dan masih hendak melihat bukti lagi? Lihat, Nona yang sekarang sudah menjadi mayat itu telah menjadi korban kejahatan Wan Sin Hong."
"Sayang, sayang kehilangan lagi orang saksi utama! Liok Kong Ji, mengapa kau begitu girang melihat kematian Nona Cun Eng?"
Tiba-tiba saja kalimat terakhir ini diucapkan oleh Cam-kauw Sin-kai sambil menatap wajah pemuda itu dengan tajam.
Akan tetapi wajah Kong Ji tidak berubah, hanya senyumnya agak berbeda dengan tadi.
Kini timbul kebengisan pada wajahnya yang tampan.
"Cam-kauw jangan kau mencoba mengacau-balau untuk menyembunyikan ketololanmu. Kau sudah memilih seorang penjahat menjadi calon bengcu dan aku hanya mengemukakan alasa-alasan disertai saksi-saksi hidup, Kau masih mau saksi lagi? Kau lihat dia itu,"
Kini telunjuk tangan kanan Kong Ji menuding ke arah Gak Soan Li!
Wajah Soan Li berubah dan matanya memandang kepada Kong ji dengan terbuka lebar-lebar.
Kasihan sekali nasib gadis yang malang ini.
Biarpun dengan penuh perhatian dan mengerahkan seluruh kepandaiannya Cam-kauw Sin-kai telah mengobatinya, namun tetap saja tidak dapat mengembalikan ingatannya.
Sampai sekarang ia masih belum dapat ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya, siapa orang yang telah berlaku keji kepadanya.
ia hanya ingat bahwa orang ini jahat dan mengganggunya bernama Wan Sin Hong sedangkan penolongnya ialah Gong Lam!
Kini melihat wajah Kong Ji dan mendengar nama ini hanya merasa muak dan benci.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena semenjak dahulu, semenjak Kong Ji masih menjadi murid Ciang Le dan masih belajar ilmu silat bersama-sama di dalam hati Soan Li sudah merasa tidak suka kepada pemuda ini.
Maka sekarang biarpun ia tidak ingat lagi siapa adanya Kong Ji ia tetap merasa tidak suka dan benci.
Sekarang, melihat Kong Ji menunjuk kepadanya untuk di jadikan saksi dan bukti kejahatan Wan Sin Hong, tahulah Soan Li apa yang hendak dimaksudkan oleh pemuda itu.
Seperti pula Cun Eng tadi, ia pun hendak dijadikan sasaran penghinaan.
Maka ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Juga Cam kauw Sin-kai menjadi pucat, demikian pula Ciang Le dan istri nya.
Tidak mereka sangka bahwa Kong Ji akan begitu kejam mencemarkan nama baik saudara seperguruannya sendiri, bahkan nama baik gurunya sendiri!
Lie Bu Tek memandang kepada Kong Ji dengan mata mengeluarkan sinar berapi.
Teringat ia betapa Kong Ji telah membuntungi lengannya dan betapa Kong Ji telah berlaku kejam sekali terhadap Wan Sin Hong.
Sekarang ini, biarpun Wan Sin Hong disohorkan orang menjadi penjahat, akan tetapi Kong Ji pulalah yang agaknya memburuk-burukkan nama Wan Sin Hong!
Kong Ji memandang kepada para hadirin dengan sinar mata penuh kesombongan dan kemenangan.
"Cuwi-enghiong, para orang yang berkumpul di sini. Perlu aku memperkenalkan Nona yang menjadi saksi dan bukti ke dua atas kejahatan Wan Sin Hong. Nona itu adalah Nona Gak Soan Li murid pertama dari Hwa I Enghiong Ciang Le."
Semua mata memandang dan di antaranya banyak yang kagum melihat Soan Li yang cantik dan agung, akan tetapi pucat wajahnya dan sinar matanya seperti bingung dan muram, bahkan ada tanda-tanda air mata mengembeng di pelupuk matanya.
"Tanyalah kepada Nona Gak Soan Li itu apa yang telah diperbuat oleh jahanam Wan Sin Hong kepadanya seperti yang telah diperbuat oleh penjahat itu kepada mendiang Nona Cun Eng tadi! Kalau ia tidak mau bicara dan kalau Cu-wi betul-betul ingin mengetahui, aku dapat memberi keterangan karena kebetulan sekali aku sendirilah orangnya yang telah menolongnya dari cengkeraman siluman Wan Sin Hong! Eh, Cam-kauw Sinkai,....... kau masih mau bukti-bukti lagi?"
Terdengar teriakan menyayat hati dan tubuh Soan Li berkelebat ketika gadis itu dengan cepat sekali pergi dari situ turun dari puncak Ngo-heng-san dengan kecepatan seperti terbang sambil mengeluarkan rintihan sepanjang jalan!
"Liok Kong Ji, tutup mulut!
Apakah kau bermaksud menghinaku?
Kalau kau bermaksud menghina, katakan terus terang agar aku dapat memutuskan untuk mengadu nyawa denganmu di sini dan sekarang juga!"
Kata-kata ini keluar dari mulut Go Ciang Le yang sudah melompat ke depan Kong Ji dengan sikap menantang, berdin tegak dengan gagahnya dan menatap wajah bekas muridnya itu dengan sinar mata berapi-api.
Gentar juga Kong Ji melihat sikap bekas gurunya ini, akan tetapi sambil tersenyum menjura dan berkata.
"Hwa I Enghiong, seorang gagah yang sudah disebut pendekar besar, bahkan yang sudah terpilih menjadi calon bengcu, apakah demikian mudah saja mencari permusuhan? Kau tahu bahwa aku tidak bermaksud menghina, melainkan mengemukakan kejahatan Wan Sin Hong yang agaknya dibela mati-matian oleh Cam-kauw Sin-kai. Sekarang Nona Gak sudah melarikan diri berarti bahwa kata-kataku semua berbukti, Cuwi-enghiong yang hadir di sini menjadi saksi."
Karena jawaban ini menyangkal bahwa Kong Ji menghina Ciang Le tidak bisa apa-apa.
la tadinya sudah marah sekali, akan tetapi bagi seorang pendekar ia tidak berani berlaku sewenang-wenang, maka sengaja memancing bekas muridnya itu.
Kalau sengaja Kong Ji berani menghinanya, ia mempunyai cukup alasan untuk menyerang pemuda itu.
Akan tetapi ternyata dengan cerdik dan Licin sekali Kong Ji mengelak sehingga terpaksa Ciang Le menahan sabar dan kembali ke tempatnya.
"Cam-kauw Sin-kai sudah banyak buktinya bahwa Wan Sin Hong seorang penjahat keji dan tidak patut dijadikan calom bengcu. Kalau kau belum puas dapat juga aku menyebutkan kejahatannya satu demi satu, misalnya pembunuhan terhadap murid Kun-tun-pai Tim Beng dan isterinya, lalu perampokan, pembunuhan-pembunuhan dan gangguan-ganguan terhadap wanita-wanita yang banyak disaksikan oleh orang-orang gagah sedunia. Tanya saja kepada para pemimpin partai-partai besar seperti Siauw lim-pai, Teng-san-pai, Go-bi-pai dan lain lain yang kini hadir, apakah mereka itu belum pula mengenal kejahatan Wan Sin Hong. Cam-kauw Sin-kai, jangan kau berpura-pura, ataukah kau betul-betul buta dan tuli maka kau memilih Sin Hong?"
Banyak tokoh yang berada di sini, biarpun mereka ini tidak memihak dalam percekcokan itu, namun mereka ini rata-rata sudah mendengar tentang kejahatan Wan Sin Hong, maka pemilihan nama ini sebagai calon bengcu tentu saja tak dapat mereka setujui.
Mendengar uraian Kong ji serentak mereka menyataka setuju.
"Penjahat Wan Sin Hong jangan dijadikan calon...!"
Pekik ini terdengar simpang-siur dan akhirnya merupakan sorak riuh rendah.Ternyata bahwa tidak saja kaki tangan atau pendukung Liok Kong Ji yang ikut bersorak-sorak, bahkan para undangan lain juga terpengaruh oleh kata-kata Kong Ji.
Melihat ini Ciang Le tak dapat menahan sabarnya lagi.
ia segera mengerahkan tenaga dan berseru keras sekali.
"Diam semua...!!"
Suara ini menggeledek dan menggelarkan jantung sehingga beberapa orang yang kurang kuat terpelanting jatuh!
Yang lain-lain menjadi pucat dan suara riuh tadi berhenti seperti seekor orong-orong terpijak.
Keadaan menjadi sunyi ketika Ciang Le dengan langkah tenang dan lebar menghampiri Kong Ji yang sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan.
"Liok Kong Ji, lebih baik tutup mulutmu yang kotor berbisa itu."
Suara Ciang Le amat keras sehingga mudah terdengar oleh semua orang yang hadir di situ.
"Semua ucapanmu hanya untuk menjelekkan orang lain, tidak ingat bahwa kau sendiri seorang manusia busuk dan kotor! Kau telah melarikan diri dari pulau, meninggalkan perguruan dan membawa minggat pedang pusakaku yang kau curi. Kedosaan di dunia kang-ouw memang banyak sekali, akan tetapi mencuri pedang guru sendiri kemudian membelakangi guru dan bersikap seolah-olah lupa kepada semua pelajaran yang pernah terima dari gurunya, itu termasuk dua macam kedosaan besar tak berampuni. Kau sudah menipu orang-orang kang-ouw, mengadukan ke sana ke mari!"
Kemudian Ciang Le menengok kepada Tai Wi Siansu dan berkata.
"Tai Wi Siansu, daripada mendengarkan obrolan kosong dari bocah ini, bukankah lebih baik melanjutkan saja pemilihan calon bengcu?"
Setelah berkata demikian, Ciang Le kembali ke dalam rombongannya. Akan tetapi dengan muka merah Kong Ji melanjutkan kata-katanya.
"Hwa I Enghiong telah bicara, akan tetapi memutarbalikkan kenyataan"
Kata-katanya juga nyaring dan dapat terdengar oleh semua orang.
Para pendengar menjadi gembira oleh karena mereka memang sudah mengerti bahwa dalam pertemuan ini tentu akan terjadi pertentangan-pertentangan.
"Memang aku pernah menjadi muridnya, akan tetapi kalau aku merasa dibeda-bedakan sehingga tidak senang dan rminggalkan perguruan, apakah salahnya? Bukan dia seorang saja guruku! tentang pedang pusaka Pak-Lek Sin-kiam, siapakah yang tidak tahu bahwa pedang ini diperebutkan oleh seluruh orang di dunia kang-ouw? Hwa I Enghiong merebutnya dan orang lain, jadi siapa yang kuat dialah yang memiliki pedang. Aku yang telah mendapatkan tempat sembunyi Pak Kek Siansu di mana beliau menyimpan kitab kitabnya, akulah yang berhak memiliki pedang itu dan siapa yang kuat boleh coba-coba, merampasnya dari tanganku!"
Bi Lan yang lebih mudah naik darah daripada suaminya, mendengar omongan ini lalu menjawab.
"Bocah she Liok, kau benar-benar tak tahu malu dan manusia durhaka! Kecil kecil kau sudah membuntungi lengan Bu Tek Suheng yang semenjak kau masih kecil menjadi suhengmu dan momeliharamu! Kemudian kau menipu sana-sini dan akhirnya menipu kami sehingga dapat mencuri ilmu silat dan pedang pusaka. Dan perbuatanmu benar-benar sudah menjadi alasan cukup kuat untuk kami bertindak memberi hukuman."
Kong Ji pura-pura tidak mendengar bahkan lalu menghadapi orang banyak. dan berkata.
"Cuwi-enghiong, tadi belum saya lanjutkan alasan-alasan yang kukemukaka mengapa tiga orang calon bengcu tidak pantas menjadi calon! Pertama-tama Ketua Hut-eng pai karena dia seorang wanita, ke dua Wan Sin Hong, karena di penjahat besar, dan ke tiga adalah Hwa I Enghiong. Dia ini biarpun menyebut diri pendekar besar, akan tetapi sudah berapa belas tahunkah dia menyembunyikan diri saja dan tidak mempedulikan urusan kang-ouw. Kalau dia pendekar besar, bagaimana sampai ada penjahat-penjahat seperti Wan Sin Hong itu berani muncul? Bahkan yang celaka sekali, murid perempuannya yang bernama Gak Soan Li tadi menjadi korban Wan Sin Hong pula tanpa Hwa I Enghiong berani berbuat apa-apa. Ha, ha, ha, coba Cuwi-enghiong bertanya, Nona Gak Soan Li melahirkan anak siapakah? Kecemaran yang luar biasa besarnya ini ditimbulkan oleh penjahat Wan Sin Hong dan Hwa I Enghiong tidak berani berbuat apa-apa. Patutkah orang seperti dia menjadi calon bengcu?"
Inilah hinaan yang hebat.
Serentak Ciang Le dan Bi Lan melompat maju menerjang Liok Kong ji dengan pedang masing-masing!
Akan tetapi dari belakang Kong Ji melompat keluar Giok Seng Cu yang menggunakan pukulan Tin-san-kang menangkis serangan Bi Lan sedangkan serangan pedang Ciang Le yang amat hebat itu ditangkis oleh Kong Ji.
Ciang Le diam-diam kaget juga karena tak disangkanya sama sekali sejurus serangan dari ilmu pedangnya Pak-kek-kiam-hwat dapat ditangkis dengan mudahnya oleh Kong Ji, bahkan kalau ia tidak berlaku hati-hati dan cepat menarik kembali pedangnya, ada bahaya pedangnya akan terbabat putus oleh Pak kek Sin kiam!
"Hwa I Erighiong, apakah kau benar-benar tidak punya malu?
Mengapa kau datang datang menyerangku?
Lebih baik kau menjawab tidak betulkah tuduhanku, semua tadi?
Kalau kau dapat membuktikan bahwa aku tadi hanya memfitnah belaka dan keteranganku tidak betul, biarlah semua enghiong yang berada di sini menghukumku sebagai penipu dan pembohong!
Akan tetapi kalau memang betul, mengapa kau tidak tahu malu bahkan menyerangku?
Dimana keadilan mu?"
Teriak Kong Ji sambil melintangkan pedangnya.
Merah muka Ciang Le.
Memang, kalau ia melanjutkan penyerangannya, tentu semua orang lalu menganggap dia keterlaluan.
Memang dalam pemilihan bengcu, calon-calon bengcu boleh saja menyerang lawannya dengan tuduhan-tuduhan yang berbukti untuk melemahkan kedudukan lawan, hal ini sudah lazim.
Dan betapapun juga kurang ajarnya Kong Ji dalam kata-katanya tadi, memang berbukti.
Memang Soan Li, menurut pengakuan gadis yang telah hilang ingatannya itu telah menjadi korban Wan Sin Hong, bahkan belum lama ini, Soan Li telah...
melahirkan seorang putera!
Hal itu benar-benar merupakan alb yang memalukan.
Merupakan noda yang mencemarkan nama baiknya.
Kalau saja Soan Li melakukan hal yang tidak patut itu dalam keadaan sadar, tentu ia akan turun tangan dan mungkin ia akan menewaskan muridnya itu.
Akan tetapi, Soan Li merupakan korban perbuatan orang jahat, dan melihat keadaan gadis yang hilang ingatannya itu, Ciang Le, Bi Lan dan yang lain-lain merasa amat kasihan.
Bersama-sama Cam kauw Sin-kai, memang berusaha menyembuhkan Soan Li, bahkan sedikit demi sedikit mereka mendapat kesimpulan bahwa di balik segala peristiwa hebat yang menimpa diri Soan Li tersembunyi rahasia besar yang aneh dan yang sukar sekali dipecahkan.
Misaknya tentang diri Wan Sin Hong.
Soan Li menyatakan dalam keadaan lupa ingatan itu bahwa dia menjadi korban keganasan Wan Sin Hong, akan tetapi ketika ia melihat Wan Sin Hong dalam keadaan yang sudah agak baik, dia menganggap Wan Sin Hong itu seorang "kekasihnya"
Bernama Gong Lam!
Sedangkan Wan Sin Hong sendiri bersumpah tidak pernah mengganggu Soan Li.
Bukankah hal itu amat aneh membingungkan?
Rahasia besar ini mereka pegang teguh, akan tetapi siapa kira, di tengah-tengah orang banyak yang datang dari segala jurusan ini, Kong Ji membuka begitu saja rahasia itu yang mendatangkan cemar pada nama Hwa I Enghiong!
Selagi Ciang Le dan Bi Lan ragu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
tiba-tiba terdengar suara orang berseru.
"Liok Kong Ji manusia sombong! Siapa bilang Nona Gak Soan Li murid Hwa I Enghiong tidak punya suami dan melahirkan anak yang tak berayah? Akulah suaminya dan akulah ayah anak itu!"
Kaget semua orang dan cepat-cepat mereka menengok ke arah orang yang bicara itu.
Orang ini baru muncul dari tengah-tengah rombongan para pengikut Liok Kong Ji sendiri, muncul bersama dua orang lain, yang seorang adalah gadis cantik dan gagah, yang ke dua adalah seorang pemuda tampan.
"Hui Lian...!"
Bi Lan berseru keras ketika melihat gadis itu.
"Hong Kin...""
Seru Cam-kauw Sin-kai girang dan terheran-heran melihat pemuda baju hijau yang mengaku menjadi suami Gak Soan Li tadi.
"Wan Sin Hong...!"
Seruan terakhir ini keluar dari banyak mulut ketika melihat pemuda ke tiga yang datang bersama Hui Lian di belakang Coa Hong Kin.
Seruan nama terakhir ini disambut oleh berkelebatnya banyak orang, yakni pertama-tama Siok Li Hwa dengan empat puluh orang pengikutnya, Liok Kong Ji, Giok Seng Cu, Tai Wi Siansu, Leng Hoat Taisu, Bu Kek Siansu, dan banyak sekali tokoh-tokoh partai besar lain!
Akan tetapi yang terdahulu adalah Siok Li Hwa disusul di belakangnya oleh Liok Kong Ji, lalu tokoh-tokoh besar yang lain.
"Wan Sin Hong manusia jahanam mampuslah teriakan-teriakan ini terdengar simpang siur dan beberapa buah senjata rahasia menyambar. Siok Li Hwa mengeluarkan Cheng-sin-ciam (Jarum Sakti Hijau), Liok Kong Ji menyambitkan Hek lok-ciam (Jarum Racun Hitam) semua senjata rahasia ini menyambar ke arah Wan Sin Hong yang berdiri tertegun dan kesima melihat begitu banyak orang menyerangnya. Kemudian melihat berkelebatnya sinar hijau dari Cheng-sin-ciam dan sinar hitam dan Hek-tok ciam ditambah susulan lain senjata rahasia, Wan Sin Hong terkejut sekali, mencabut pedang dan memutar pedang menangkis. Senjata-senjata rahasia itu runtuh akan tetap tidak semua. Beberapa buah Hek tok-ciam dan Cheng-sin-ciam menyambar dan mengenai tubuh pemuda itu yang mengeluarkan pekik kesakitan, pedangnya terlepas lalu ia terhuyung-huyung hendak roboh. Melihat betapa Wan Sin Hong roboh oleh jarum-jarum terbang itu, Siok Li Hwa mengeluarkan suara ejekan dan Liok Kong Ji mengeluarkan seruan heran. Keduanya mengejar dengan pedang di tangan, siap membacok tubuh Wan Sin Hong yang sudah roboh di atas tanah Itu. Tiba tiba dari rombongan para pengikut Kong Ji yang ribuan banyaknya itu, dan mana tiga orang muda tadi muncul, berkelebat bayangan orang yang luar biasa cepatnya. Sekali tangannya menyambar, di lain saat tubuh Wan Sin Hong sudah dikempit oleh lengan kanannya. Pada saat itu, Li Hwa dan Kong Ji menyerang dengan pedang mereka. Li Hwa dengan pedang hijaunya sedangkan Kong Ji dengan pedang emasnya. Dua barang pedang pusaka menyambar cepat ke arah Wan Sin Hong yang sudah dipondong. Orang itu mengeluarkan seruan aneh, tangan kirinya yang masih bebas itu digerakkan dengan jari-jari tangan terbuka ke arah dua batang pedang yang menyambar sambil melompat ke kanan. Siok Li Hwa dan Liok Kong Ji berteriak kaget dan mereka terhuyung ke belakang. Ternyata bahwa pedang mereka tadi kena ditolak oleh hawa pukulan yang luar biasa kuatnya sehingga kalau saja mereka sendiri tidak memiliki tenaga lweekang tinggi, pasti pedang itu terlepas dari pegangan. Tidak urung mereka masih terhuyung-huyung ke belakang, dan ketika mereka memandang, ternyata orang itu telah lenyap di antara orang banyak sambil membawa pergi tubuh Wan Sin Hong yang terluka oleh senjata-senjata rahasia! Semua orang terheran-heran. Orang yang dapat menangkis serangan Siok Li Hwa dan Liok Kong Ji sekaligus hanya dengan tolakan tenaga lweekang, dapat dibayangkan betapa hebat dan tinggi kepandaiannya! Orang itu masih muda, pakaiannya sederhana saja, akan tetapi mempunyai muka yang aneh sekali, karena mukanya seluruhnya dan leher sampai ke telinga berwarna merah yang bukan sewajarnya. Banyak orang yang bermuka merah akan tetapi orang itu mukanya seperti dilumuri darah saja saking merahnya. Tak seorang pun di antara tokoh-tokoh di sini mengenalnya apa lagi orang itu hanya sebentar saja sehingga tidak sempat ditanya namanya dan asal-usulnya. Sementara itu Hui Lian berlari-lari dan memeluk ibunya, sedangkan Coa Hong Kin berlari dan berlutut di depan suhunya, Cam-kauw Sin-kai. Dua orang ini tadinya terkejut melihat Sin Hong roboh oleh senjata rahasia tanpa mereka sempat menolong. Bagaimana Hui Lian dan Hong Kin dapat muncul di saat itu? Dan yang lebih aneh lagi. bagaimana Wan Sin Hong dapat pula muncul bersama mereka? Kita mengetahui bahwa Hui Lian dan Hong in telah tertawan oleh Liok Kong Ji dan ikut dalam rombongan sebagai orang-orang tawanan yang tidak berdaya. Ada-pun Wan Sin Hong, telah lama pemuda ini tertutup dalam dasar jurang puncak Luliang-san tak dapat keluar lagi karena jalan keluar satu-satunya telah ditutup mati oleh Liok Kong Ji! Untuk mengetahui hal ini dengan jelas, mari kita mundur dan mengikuti pengalaman Wan Sin Hong yang terkurung dan terpendam di dalam dasar jurang. Sin Hong mengamuk ketika melihat Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi lweekangnya yang sudah mencapai tingkat tak terukur lagi tingginya, ia telah menewaskan Ba Mau Hoatsu, pembunuh ayah-bundanya. Sin Hong sudah banyak mendapat petuah-petuah berharga dari ayah angkatnya, Lie Bu Tek, juga. mendapat banyak sekali nasihat-nasihat dari gurunya yang pertama, Liang Gi Tojin. Oleh karena itu, andaikata ia mendapatkan Ba Mau Hoatsu pembunuh ayah bundanya itu sebagai seorang yang sudah melakukan perbuatan-perbuatan baik, sebagai seorang baik-baik yang sudah merubah hidupnya yang sesat kiranya ia tidak akan membunuhnya. Akan tetapi melihat betapa Ba Mau Hoatsu makin jahat saja, ia lalu menewaskan pendeta Tibet itu, bukan semata-mata untuk membalas dendam ayah bundanya, juga untuk melenyapkan seorang manusia berbahaya bagi keselamatan umum dari muka bumi. Juga Giok Seng Cu telah ia robohkan dan terluka ketika dua orang pendeta ini menyusul Kong Ji dan Nalumei ke dalam terowongan rahasia. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dengan marah Sin Hong mengejar Kong ji, Nalumei, dan Giok Seng Cu yang melarikan diri melalui terowongan, akan tetapi terpaksa Sin Hong menghentikan usahanya ini dan kembali ke dalam dasar jurang karena musuh musuhnya telah menghujani batu-baru dari terowongan, membuat ia tak mungkin melakukan pengejaran lebih lanjut. Ta tahu akan kelicikan Kong Ji dan tahu pula akan kelihaian pemuda iblis itu, maka lebih baik ia mengalah dan mundur untuk perlahan lahan mencari akal keluar dari tempat itu. Setelah tidak terdengar suara tiga orang itu lagi, Sin Hong lalu berjalan melalui terowongan untuk keluar. Akan tetapi, seperti yang ia telah diduga dan dikhawatirkah, pintu keluar yang dahulu menjadi kamar Pak Kek Siansu di puncak Luliang-san, telah tertutup dan di timbuni batu-batu karang yang besar dan berat. Sin Hong mencoba untuk mendorong batu-batu karang itu, akan tetapi sia-sia. Kong Ji tidak berlaku kepalang tanggung. Timbunan batu karang itu banyak sekali sehingga menutup seluruh goa dan berat tekanan gunung batu kara itu puluhan ribu kati. Mana tenaga manusia dapat mendorongnya atau membongkarnya? Sin Hong akhirnva maklum bahwa tak mungkin ia dapat keluar melalu jalan ini, maka ia lalu kembali ke dasar jurang. Sampai beberapa hari Wan Sin Hong tidak dapat mencari akal untuk keluar dari tempat itu. Untuk melalui jalan seperti ketika ia pernah turun ke dalam jurang, tidak mungkin. Jalan itu dapat ditempuh dari atas ke bawah dengan bantuan akar-akar yang dilepas dari atas, akan tetapi dari bawah ke atas benar-benar tak mungkin. Kalau hal itu dikerjakan berarti hanya akan membuang nyawa secara sia-sia belaka. Akhirnya Sin Hong mengambil keputusan untuk mengambil jalan yang semenjak dahulu sudah sering kali ia pikirkan. Dahulu, ketika ia berada seorang diri di tempat itu, terkurung hidup-hidup dan mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan Pak Kek Siansu, seringkali ia sebagai anak-anak ingin sekali keluar dari tempat kurungan itu, akan tetapi sebelum ia mencapai tingkat tinggi dengan kepandaian silatnya, keinginan itu hanya diakhiri dengan tangisan belaka. Seringkali ia menjelajah tempat itu dan di bagian kiri di mana terdapat jurang yang amat mengerikan dalamnya, karena sebetulnya itu bukan jurang, melainkan lereng bukit yang diliputi oleh awan. Kalau melihat tempat ini, ingin sekali Sin Hong menuruni lereng itu dan memeriksa keadaan di sebelah sana. Akan tetapi tempat itu demikian sukar dilewati, selain gelap tertutup halimun, juga lereng itu menurun amat terjalnya dan tanahnya terdiri dari batu karang yang tajam runcing, dan selalu basah oleh halimun sehingga berlumut dan licinnya tak perlu dtbicarakan lagi. Oleh karena itu, biarpun dahulu ia telah memperoleh kepandaian tinggi sebelum mengambil keputusan menuruni jalan ini, ia berusaha lebih dulu mencari jalan lain sehingga akhirnya menemukan terowongan yang membawanya ke gua tempat istirahat atau bertapa mendiang Pak Kek Siansu. Kalau jalan itu tidak terdapat olehnya, tentu ia akan mengambil jalan menuruni lereng yang terjal ini, yang baginya merupakan jalan terakhir. Memang, mengambil jalan ini berarti mempertaruhkan nyawa untuk mendapat jalan keluar dari tempat kurungan itu. Sekarang karena terowongan sudah tertutup dan untuk naik ke puncak melalui jurang tak mungkin dilakukan, terpaksa ia harus mempertaruhkan nyawa, mengmbil jalan itu. Kalau saja di dunia ramai tidak banyak yang harus dikerjakan, kiranya Sin Hong akan lebih suka tinggal di tempat itu, bertapa dan menyucikan batin sampai tiba saatnya ia menyusul gurunya, Pak Kek Siansu. Akan tetapi hal itu tak dapat dilakukan sekarang. Masih terlalu banyak urusan yang harus diselesaikan di dunia ramai. Di sana ada urusan pengrusakan namanya, ada urusan Gak Soan Li yang membuat ia dihajar oleh Go Ciang Le, hal yang membuat ia merasa kasihan kepada Soan Li dan juga penasaran dan perih hati dan di sana masih banyak orang-orang jahat -yang harus ia hadapi. Demikianlah, setelah membawa banyak buah-buahan yang dahulu menjadi makanan utamanya setiap hari untuk bekal di perjalanan, Sin Hong memulai perjalananiya yang amat sukar dan berbahaya. Beberapa hari yang lalu, pemuda ini mengubur jenazah Ba Mau Hoatsu. Biarpun kakek jahat ini musuh besarnya dan tewas di dalam tangannya, akan tetapi setelah melihat mayat itu menggeletak tak terurus, ia menjadi tidak tega juga dan digalinya sebuah kuburan untuk mayat bekas musuh besarnya. Ia mendapatkan kesukaran dalam menggali tanah berbatu tanpa alat, kemudian ia melihat sepasang senjata Ba Mau Hoatsu, yakni sepasang roda yang entah sudah mengambil nyawa berapa ratus orang! Dengan senjata ini Sin Hong menggali dan mendapat kenyataan bahwa roda itu terbuat daripada baja yang luar biasa kerasnya. Maka sekarang, ketika menuruni lereng terjal itu, ia pun membawa sepasang roda itu untuk dipergunakan sebagai pembantu menuruni lereng. Dengan roda ini ia dapat mengalungi setiap batu karang bawah kakinya dan dengan bantuan roda ia mengayun tubuh ke bawah, bergantung kepada roda yang dikalungkan pada batu karang kemudian menggantungkan roda ke dua pada batu karang di bawah kakinya. Demikianlah dengan amat perlahan dan hati-hati, Sin Hong mulai perjalanannya yang penuh bahaya. Sekali saja ia terpeleset dan terlepas "
Ke bawah, batu karang-batu karang yang tajam seperti golok dan runcing seperti pedang akan menyambut tubuhnya!
Yang membikin perjalanan amat berbahaya adalah halimun atau embun gunung yang menyelimuti sepanjang lereng sehingga tidak saja di situ amat gelap, akan tetapi yang paling berbahaya adalah hawa dingin yang menggerogoti kulit dan meresap ke dalam tulang.
Makin jauh Sin Hong menuruni lereng itu, makin tebal embun yang menyelimutinya dan hawa dingin menyerang hebat sehingga ia sampai menggigil.
Terpaksa Sin Hong menunda perjalanannya, kedua kakinya menginjak ujung batu karang dan kedua tangannya memegang roda yang tergantung pada batu karang di atasnya.
Di sini ia mengerahkan sin-kangnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi hangat sekali seakan-akan ia bukan sedang berdiri di dalam selimutan embun, melainkan diselimuti oleh cahaya terik matahari!
Memang lweekang dari pemuda ini sudah hebat sekali.
Tak lama kemudian, dari atas kepalanya menguap asap putih dan tubuhnya mulai berpeluh.
Setelah mengusir hawa dingin yang membuat tulang-tulangnya kaku, ia lalu melanjutkan perjalanannya.
Perjalanan ini membutuhkan tenaga lweekang untuk menjaga agar ia jangan sampai jatuh, maka tadi ketika mengerahkan tenaga memanaskan tubuh, terpaksa ia berhenti.
Akhirnya, setelah mengalami serangan embun berkali-kali dan ia sudah berhenti sampai lima kali untuk mengusir dingin, kemudian ia telah keluar dari daerah embun dan berada di tempat yang terang.
Pemandangan dari situ amat indah, juga menakutkan sekali.
Kalau tadi ia melihat ke bawah, ia hanya melihat halimun yang gelap putih demikian pula melihat ke atas.
Akan tetapi sekarang kalau ia menundukkan kepalanya, ia melihat alam yang amat luas di bawah kakinya.
Lereng gunung itu masih amat curam, akan tetapi jauh di bawah sudah melihat tanah datar, kurang lebih seratus kaki di bawahnya.
Di depannya nampak pohon-pohon yang kelihatan dan situ amat pendek dan kecil, akan tetapi indah sekali.
Kalau ia memandang ke atas, nampak warna-warni indah dari pelangi karena sinar matahari mencoba menembus embun dan mendatangkan warna yang inilah menakjubkan.
Sin Hong kini terus menurun dengan lebih cepat dari tadi.
Sekarang ia tidak menghadapi serangan embun, juga dapat melihat dengan jelas sehingga kedua kakinya mudah saja mencari tempat berpijak, tidak seperti tadi meraba-raba untuk mendapat keyakinan bahwa batu karang berikutnya yang hendak digantungi roda benar-benar cukup kuat.
Tanpa terasa olehnya, Sin Hong telah melakukan perjalanan yang amat berbahaya ini selama setengah hari!
Akhirnya ia dapat menginjakkan kedua kakinya di atas tanah datar dan ketika ia mendongak ke atas, terlihatlah olehnya bahwa yang dituruninya tadi adalah dinding gunung yang tinggi menjulang ke atas dan puncaknya lenyap ke dalam awan.
Akan tetap, daerah yang didatangi ini aneh dan asing baginya.
Di depannya terdapat gunung-gunung kecil di ujung sekali menjulang tinggi sebuah gunung yang seakan-akan hendak menyaingi Luliang-san yang besar.
Sin Hong tidak tahu bahwa itulah puncak gunung Teng-san, yang masih termasuk daerah pegunungan Luliang-san juga.
Karena hendak segera menjumpai manusia agar ia tahu di mana ia berada dan dapat menanyakan jalan yang harus ditujunya.
Sin Hong tidak membuang waktu lagi dan cepat melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi semua jurusan nampak liar dan tak pernah didatangi manusia.
Jalan satu-satunya yang kelihatan hidup hanyalah lorong menuju ke puncak gunung di ujung itu.
Maka ia terus berlari cepat dan akhirnya menjelang senja tibalah ia di lereng Teng-san.
Ketika ia sedang berlari cepat mencari-cari dengan pandang matanya kalau-kalau di dekat situ terdapat perkampungan, tiba-tiba ia melihat tubuh dua orang manusia menggeletak dt pinggir jalan!
Sin Hong cepat lari menghampiri dan ketika ia memandang, ternyata bahwa yang menggeletak itu adalah dua orang pendeta yang sudah tak bernyawa lagi!
Dua orang tosu itu terang telah terbunuh orang karena pada tubuh mereka terdapat bekas-bekas bacokan senjata tajam.
Juga, melihat tanda-tanda darah di situ, ternyata bahwa pembunuhan ini terjadinya belum lama, belum lewat semalam.
Melihat ini, Sin Hong mengerutkan alisnya.
Bagaimana di tempat sesunyi ini terdapat manusia yang dibunuh?
Siapakah mereka ini dan siapa pula pembunuhnya?
Melihat dua orang tosu yang terbunuh, Sin Hong tidak ragu-ragu lagi bahwa di puncak gunung itu tentu terdapat pertapaan.
Maka ia lalu mendaki gunung dengan cepatnya.
Tepat seperti yang ia duga, di puncak gunung terdapat sebuah kuil yang cukup besar, sebuah kuil kuno yang biarpun tembok-temboknya sudah kelihatan tua dan buruk, namun masih tetap kokoh kuat saking tebalnya, tanda bahwa bangunan kuil itu adalah bangunan kuno yang lebih mementingkan kekuatan dari pada keindahan.
Seorang totong (kacung pertapa) menyambutnya dan membawanya ke dalam ruangan tamu.
Ruangan tamu ini lebar dan di situ terdapat jendelanya yang besar.
Sambil menanti datangnva ketua kuil, Sin Hong melihat-lihat keluar jendela yang terbuka.
Pemandangan di luar jendela amat indah, dengan gunung-gunung tinggi dihias pohon-pohon rindang.
Ia mendengar tindakan kaki perlahan, cepat ia memutar tubuh dan memandang.
Alangkah heran dan kagetnya ketika melihat seorang tosu ini bersama dengan ketua-ketua partai besar yang lain hendak menangkapnya.
Tosu tua itu bukan lain adalah Pang Soan To-jin, ketua dari Teng-san-pai!
Di lain pihak, Pang Soan To-jin juga terkejut karena tosu ini juga mengenal Wan Sin Hong.
"Hemm, kau...?"
Katanya dan di lain saat ketua Teng-san-pai sudah mengeluarkan senjatanya, yakni pian baja dan bersiap menyerang.
Sin Hong menarik napas panjang dan tersenyum pahit, lalu berkata sambil memandang ke atas, ke arah langit-langit ruangan itu.
"Ayaa... agaknya yang jutsi (menjelma) menjadi aku sekarang ini, dahulunya adalah seorang penjahat besar yang tak pernah tertangkap, maka sekaranglah aku harus menebus dosa-dosa dahulu."
Tosu itu nampak tercengang.
"Apa maksudmu?"
"Totiang, sesungguhnya selama hidup aku belum pernah bertemu dengan To-tiang juga dengan para locianpwe lain yang selalu mengejar-ngejarku, belum pernah aku bertemu. Akan tetapi mengapa setiap kali bertemu, Totiang mengarnbil sikap bermusuh?"
"Karena kau seorang penjahat keji! Sudah menjadi kewajiban kami sebagai penegak keadilan dan pelindung rakyat tertindas, kami harus membasmi orang-orang jahat seperti kau ini."
Kata pula Pang Soan Tojin.
"Itulah yang kumaksudkan. Agaknya dahulu aku seorang penjahat besar yang belum menebus dosa, maka sekaranglah hukumannya. Sekarang ini, sebaliknya dari dahulu, aku yang tidak pernah melakukan kejahatan apa-apa di sana-sini dianggap orang jahat dan dimusuhi oleh orang-orang di dunia kang-ouw. Memang sudah nasibku..". Suara Sin Hong terdengar begitu sungguh-sungguh sehingga ketua Teng-san-pai menjadi makin tertarik.
"Orang muda, memang sikapmu bukan seperti penjahat, akan tetapi banyak orang-orang jahat sikapnya kelihatan seperti orang baik-baik. Tentang kejahatanmu, siapakah yang tidak tahu? Sudah terlalu banyak saksi dan bukti-buktinya."
"Masa bodoh dan terserah kepada orang sajalah,"
Sin Hong menjadi mendongkol sekali.
"Akan tetapi setidaknya, kedatanganku ini bukan untuk bersoal jawab tentang itu. Totiang menganggap aku seorang penjahat keji, terserah hanya Thian yang mengetahui!"
"Wan Sin Hong, kata-katamu membikin pinto bingung dan ragu-ragu. Apa sih maksudmu datang di tempat pertapaan pinto ini?"
"Kedatanganku di bukit ini tidak sengaja, Totiang. Juga secara kebetulan sekali aku di lereng gunung ini dan melihat dua orang tosu yang sudah menjadi mayat di lereng...."
"Apa... Di mana...?"
Pang Soan Tojin terkejut sekali.
"Mari ikut bersamaku. Totiang, kuperlihatkan tempatnva,"
Kata Sin Hong dan di lain saat dua orang itu telah berlari-lari turun gunung dengan cepatnya.
Pang Soan Tojin sengaja mengerahkan ilmu lari cepatnya, akan tetap alangkah heran dan kagumnya ketika melihat pemuda itu tanpa banyak kesukaran dapat selalu mengimbangi kecepatan larinya!
Akhirnya mereka tiba di tempat di mana Sin Hong melihat dua mayat tosu tadi.
"Ah, benar-benar mereka telah terbunuh..."
Pang Soan Tojin berkata perlahan lalu cepat memeriksa isi saku baju mereka. Wajahnya berubah dan ia berkata seperti kepada diri-sendiri "Surat kuasa diambil orang... apa maksudnya...?"
"Totiang, bolehkah aku mengetahui, surat-surat apakah yang diambil orang?"
Pang Soan Tojin yang tadinya memeriksa mayat dua orang anak muridnya yang terbunuh di lereng Teng-san, kini berdiri dan memandang kepada Sin Hong, bimbang dan ragu mendengar pertanyaan pemuda itu.
"Apa huhungannya hal ini semua dengan engkau? Biarpun pinto belum pernah menyaksikan sendiri tentang kejahatanmu, akan tetapi semua ciangbunjin sudah menyatakan bahwa kau seorang penjahat keji. Sekarang kau datang-datang pada saat terjadi pembunuhan atas dua orang murid pinto, hemm... pinto harus selidiki betul-betul siapa pembunuh mereka ini dan mengapa dua orang muridku dibunuh."
Sin Hong mengangkat kedua lengannya ke atas dan menggerakkan pundaknya tanda putus asa.
"Ampun, Totiang...! Apakah kau juga menuduh aku melakukan pembunuhan terhadap mereka ini? Aduh, alangkah buruk nasibku. Aku yang mendapatkan mereka dan sengaja naik untuk melaporkan, bahkan dituduh. Eh, Totiang yang baik, kalau memang aku yang membunuh mereka dan telah merampas barang-barat mereka, untuk apa aku harus memberi tahu kepadamu dan masih bertanya-tanya lagi barang apa yang dirampas dari tubuh mereka? Hanya seorang gila yang akan berbuat seperti itu dan kiranya Totiang tidak akan menyangka aku pula. Betapapun jahat aku, kiranya belum miring otakku""
Pang Soan Tojin menganggap alasan ini memang kuat.
Kalau pemuda ini yang membunuh dua orang anak muridnya, mengapa pemuda ini bersikap seperti itu.
Dan pula, makin lama ia bercakap-cakap dengan pemuda ini dan memandang wajahnya, makin tipis keyakinannya bahwa pemuda ini seorang penjahat.
Sebagai seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, ia sudah ribuan kali melihat wajah penjahat dan selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan "penjahat keji"
Yang bersikap dan berbicara seperti pemuda ini! Akan tetapi untuk percaya begitu saja, ia pun masih ragu-ragu.
"Orang muda, kalau betul-betul bukan kau yang membunuh mereka, apa maksudmu bertanya tentang surat yang dirampas orang dari tubuh mereka ini?"
"Totiang maklum bahwa di mana-mana aku dituduh penjahat, dan aku sedang berdaya upaya nienangkap pemalsu namaku. Kalau Totiang memberi tahu kepadaku, kiranya aku akan dapat mencari jejak pembunuhnya. Percayalah, Totiang. Wan Sin Hong akan mencekik batang leher penjahat yang membunuh dua orang tosu ini."
"Surat itu adalah surat kuasa. Sebetulnya pinto sendiri harus datang ke Ngo-heng san untuk melakukan pemilihan bengcu baru, akan tetapi pinto sedang kurang sehat dan karenanya pinto menyuruh dua orang anak murid pinto ini dengan membawa surat kuasa. Sekarang mereka terbunuh dan surat kuasa dirampas orang, sungguh tak tahu apa artinya itu?"
Otak Sin Hong memang luar biasa cerdasnya. Mendengar ini, sebentar saja ia sudah dapat menerka apa yang kiranya mungkin dilakukan orang dengan perampasan surat kuasa.
"Terima kasih, Totiang, aku akan menyusul ke Ngo-heng san dan menangkap pembunuhnya!"
Setelah berkata demikian sekali berkelebat pemuda itu lenyap dari depan Pang Soan Tojin, membuat Ketua Teng-san-pai itu menjadi bengong, menghela napas dan mengurut urut Jenggotnya yang pendek.
"Hayaaa... luar biasa sekali pemuda itu. Kalau dia memang jahat dan bermaksud membunuhku, bagaimana dapat melayaninya? Ilmunya benar-benar tinggi... sungguh banyak terjadi hal-hal aneh di dunia ini, banyak rahasia yang membingungkan..."
Tosu itu lalu kembali ke kuil dan menyuruh anak-anak murid yang lain untuk mengurus jenazah kedua orang anak muridnya yang tewas itu.
Adapun Sin Hong dengan kecepatan luar biasa lalu berlari menuju Ngo-heng-san.
Ia teringat akan pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng-san.
Teringat pula betapa Cam-kauw Sin-kai pernah menyatakan hendak memilihnya sebagai calon bengcu.
Teringat akan ini, terbayang pula segala kejadian di Pulau Kim-ke-tho, tentang Gak Soan Li yang bernasib malang sekali, tentang Hwa I Enghiong yang telah menghajarnya, tentang ayah angkatnya, Lie Bu Tek dan Hui Lian puteri Hwa I Enghiong yang juga membencinya dan menganggapnya penjahat.
Semua kenangan ini membuat Sin Hong menjadi berduka sekali akan tetapi membuat makin marah dan gemas terhadap penjahat yang merusak namanya.
Ia memperepat larinya sehingga seolah-olah terbang di atas ujung rumput hijau.
Demikianlah secara singkat kita telah mengikuti pengalaman Sin Hong sejak terkurung di jurang sampai ia dapat mencari jalan keluar kemudian pergi ke Ngo-heng-san.
Sekarang marilah kita menengok pengalaman Hui Lian dan Coa Hong Kin yang muncul bersama Sin Hong di Puncak Ngo-heng-san itu.
Telah kita ketahui bahwa dalam perjalanan mereka bersama dari kota raja menuju ke Ngo-heng-san untuk memenuhi permintaan Pangeran Wanyen Ci Lun, Hui Lian dan Hong Kin dihadang oleh Liok Kong Ji dan kawan-kawannya bahkan kemudian setelah bertempur seru lalu roboh dan tertawan oleh Kong Ji yang lihai.
Baiknya Kong Ji masih membutuhkan dua orang muda ini, kalau tidak tentu nasib mereka tidak akan demikian baik.
Kong Ji membutuhkan Hui Lian untuk dipergunakan sebagai pemaksa Ciang Le apabila ternyata menghalangi kehendaknya menjadi Bengcu dan di samping memang ia sayang kepada bekas sumoinya yang cantik ini.
Dan dia membutuhkan Hong Kin karena ia bercita-cita untuk masuk ke dalam lingkungan istana mencari kedudukan, maka tidak baiklah kalau ia menanam permusuhan denga Pangeran Wanyen Ci Lun yang amat berpengaruh di dalam kota raja, sedangkan Hong Kin adalah orang kepercayaan dan kesayangan Pangeran Wanyen Ci Lun.
Oleh karena ini maka Hui Lian dan Hong Kin selamat dan diperlakukan baik sungguhpun mereka selalu dikurung di tengah-tengah dan kedua tangan mereka dibelenggu.
Ketika pasukan yang membawa mereka sudah tiba di puncak Ngo-heng san, Hui Lian dan Hong Kin diturunkan dari kuda dan selanjutnya dua orang muda ini dipaksa berjalan kaki di tengah-tengah pasukan yang juga berjalan kaki.
Pasukan ini adalah pasukan dari Partai Kwan-cin-pai, yang terdiri dari anggauta-angauta yang pakaiannya campur aduk tidak seragam.
Memang Kwan-cin-pai berbeda dengan partai partai lain dan tidak pernah mengenakan pakaian seragam.
Agaknya ini memang sifat sembarangan dan jorok dari ketuanya, yakin Mo-kiam Siangkoan Bu sehingga pasukannya juga tidak teratur.
Akan tetapi, sungguhpun demikian pasukan ini terdiri dari orang-orang yang pandai ilmu silat dan pula amat setia kepada ketua dan perkumpulan.
Justru karena pakaian para anggauta pasukan ini tidak seragam, maka Kong Ji menyuruh pasukan ini yang menjaga Hui Lian dan Hong Kin sehingga dari luar barisan tidak akan kentara bahwa di tengah-tengah barisan terdapat dua orang tawanan.
Dilihat sepintas lalu saja, tentu orang akan mengira bahwa dua orang itu pun termasuk anggauta pasukan.
Mereka berdua diperlakukan baik dan tidak diganggu, bahkan tidak dipisahkan melainkan diperbolehkun berjalan berdampingan di dalam barisan.
Dengan kedua tangan dibelenggu ke belakang.
Hui Lian berjalan di dekat Hong Kin.
"Apa maksud anjing Liok itu membawa kita naik ke Ngo-heng-san?"
Tanya Hui Lian perlahan. Hong Kin juga tidak mengerti.
"Kalau dia masih takut mengganggumu, masih tidak aneh. Akan tetapi mengapa aku masih dibiarkan hidup? Ini benar benar aneh."
"Kita harus berusaha membebaskan diri. Liok Kong Ji itu jahat dan berbahaya sekali. Dia membawa kita pasti ada maksudnya yang keji."
Diam-diam ia mengerahkan tenaga untuk melepaskan belenggunya, akan tetapi sia-sia belaka.
Pengikat pergelangan tangannya terbuat daripada sutera ulat hijau yang amat kuat dan ulet.
Juga Hong Kin beberapakali mengerahkan tenaga, namun sia-sia.
Mereka menjadi penasaran sekali dan diam-diam mencari jalan.
"Bagiku sendiri, aku tidak khawatir biarpun menghadapi bahaya maut, Nona. Akan tetapi kau... ah, hatiku perih kalau mengingat akan nasibmu."
Wajah Hui Lian menjadi merah dan ia mengerling ke arah pemuda itu dengan lirikan tajam.
"Mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu, Saudara Coa? Kita adalah kawan seperjalanan, kawan yang memikul tugas yang sama. Sudah seharusnya senasib sependeritaan. Kalau aku dapat bebas, kau tentu akan bebas pula. Demikian sebaliknya, kita akan menghadapi bahaya maut bersama."
"Tidak, Go-lihiap. Malapetaka boleh menimpa padaku, seorang yang malang dan tak seorang pun akan kehilangan kalau aku terkena malapetaka. Akan tetapi kau... ah, aku akan mempergunakan kesempatan dan kemungkinan untuk membantumu terbebas daripada tangan iblis Liok Kong Ji itu."
Hui Lian merasa terharu dan memberikan hadiah senyuman manis.
"Saudara Coa kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Berkali kali telah mengeluarkan tenaga dan berkorban untuk menolongku. Kebaikanmu sudah cukup banyak dan aku orang she Go amat berterima kali kepadamu. Akan tetapi jangan kaukira aku hendak selamat sendiri saja, hendak enak sendiri saja. Percayalah, sekali aku dapat bebas, kau tentu akan bebas pula. Aku bukan seorang pengecut yang suka meninggalkan kawan senasib begitu saja. Kita berangkat bersama dan memikul tugas bersama, tak mungkin aku dapat meninggalkan engkau hanya untuk mencari keselamatan sendiri."
Mendengar ucapan ini, wajah Coa Hong Kin menjadi berseri dan agaknya kata-kata itu amat menyenangkan hatinya.
Kebaikan hati gadis ini terhadapnya sedikit menjadi hiburan bahwa ia mencinta seorang gadis yang patut dicinta dan setidaknya, cinta kasihnya sudah terbalas oleh sikap manis dari gadis itu.
Kemudian rombongan itu tiba di lapangan di mana para tokoh kang-ouw sudah berkumpul.
Dari tempatnya, Hui Lian dapat melihat tokoh-tokoh besar yang dikenalnya baik-baik, bahkan ia melihat pula ayah bundanya.
Bukan main girang hatinya, akan tetapi tiba-tiba ia merasa angin menyambar lehernya dari belakang.
Sebelum gadis im sempat mengelak, ia merasa leher belakangnya sakit dan ternyata jalan darah Tiong-cu-hiat dan selanjutnya jalan darah bagian urat gagu telah kena ditotok.
Ternyata bahwa yang menotoknya adalah Giok Seng Cu.
Tosu yang cerdik ini tahu bahwa kalau melihat ayahbundanya mungkin sekali gadis ini berteriak, maka untuk menjaga agar jangan sampai terjadi hal ini, ia telah menotok jalan darah yang membuat gadis itu lemas dan gagu.
Juga Hong Kin mengalami nasib yang sama, maka biarpun dua orang muda ini dapat mendengar dan melihat segala sesuatu yang terjadi di lapangan itu, mereka sama sekali tidak berdaya!
Keributan di antara para tokoh besar yang makin memuncak apalagi ketika Liok Kong Ji maju menyerang kanan kiri dengan kata-katanya yang tajam, menimbulkan ketegangan besar sehingga para anggauta pasukan tak seorang pun tidak menonton.
Oleh karena ini perhatian kepada Hui Lian dan Hong Kin berkurang bahkan dua orang ini tidak diperhatikan lagi.
Apa gunanya?
Dua orang muda itu sudah terbelenggu dan tertotok, tak mungkin dapat melarikan diri dari tempat itu dan tak mungkin dapat menimbulkan kesulitan bagi mereka.
Akan tetapi tiba-tiba seorang di antara para anggauta Kwan-cin-pai itu, seorang pemuda yang pakaiannya sederhana, diam-diam mendekati Hui Lian dan Hong Kin.
Ketika dua orang muda itu memandang, mereka merasa terkejut, heran, dan juga girang.
Pemuda itu segera diam-diam lalu menggunakan sebatang pisau pendek yang amat tajam untuk membabat putus tali pengikat pergelangan, tangan mereka dan dalam sekejap mata bebaslah Hui Lian dan Hong Kin.
Dua orang muda yang berkepandaian tinggi ini lalu mengerahkan lweekang dan dengan jari tangan sendiri dapat membebskan totokan.
Pada saat itu, Kong Ji tengah melancarkan serangan-serangan yang amat menghina kepada Ciang Le dan menghina nama baik Gak Soan Li semau-maunya.
Mendengar dan melihat ini Hui Lian berbisik.
"Celaka, nama Ayah akan tercemar...."
"Biar aku menolongnya...."
Kata Hong Kin cepat-cepat.
Mereka bertiga lalu menggunakan kesempatan selagi semua orang menonton perang kata-kata yang menegangkan menerobos keluar dari barisan dan Hong Kin lalu mengeluarkan kata-kata pengakuan bahwa dialah suami Soan Li!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, munculnya Hui Lian, Hong Kin dan pemuda yang menolong mereka yang kemudian ternyata Wan Sin Hong menimbulkan kegemparan.
Seperti telah kita ketahui semua, Wan Sin Hong terkena serangan jarum-jarum rahasia dari Siok Li Hwa dan Liok Kong Ji sehingga roboh akan tetapi muncul manusia aneh bermuka merah darah yang menyambar tubuh wan Sin Hong dan lenyap dari situ!
Setelah berhasil melukai Wan Sin Hong dengan jarum-jarumnya, Kong Ji dan Siok Li Hwa merasa heran dan penasaran sekali.
Orang aneh muka merah tadi telah menolak serangan pedang mereka hanya dengan hawa pukulan dan kini orang aneh itu telah membawa lari tubuh Wan Sin Hong.
Kong Ji yang melihat jarum beracun Hek-tok-ciam telah mengenai tepat tubuh Wan Sin Hong dan merobohkan pemuda yang paling ditakutinya itu, menjadi lega.
Dia tadinya kaget setengah mati melihat munculnya Wan Sin Hong.
Bagaimana pemuda itu dapat muncul?
Demikian ia bertanya-tanya dengan hati ngeri karena ia maklum bahwa kepandaian Wan Sin Hong amat tinggi.
Maka melihat betapa semua orang memusuhi Sin Hong bahkan betapa Sin Hong telah roboh oleh jarum-jarumnya dan jarum-jarum yang dilepas oleh Siok Li Hwa, ia menjadi lega dan tidak mau mengejar.
Apalagi karena ia menyaksikan betapa orang aneh bermuka merah yang ia belum tahu siapa adanya itu benar-benar tangguh dan lihai, maka ia menyerahkan pengejaran kepada Siok Li Hwa.
Memang Ketua Hui-eng-pai ini merasa penasaran sekali melihat Wan Si Hong musuh besarnya dilarikan orang aneh bermuka merah.
Kalau belum membunuh Wan Sin Hong dan membawa kepalanya, hati Siok Li Hwa belum puas.
Nama baik Hui-eng-pai telah dicemarkan hal ini baru satu kali terjadi selama ia hidup, maka Wan Sin Hong harus dibunuhnya!
Sambil membentak keras Siok Li Hwa mengejar orang aneh bermuka merah yang lenyap ke jurusan barat puncak.
Para anak buahnya cepat-cepat mengejar sehingga mereka itu kelihatan seperti sekelompok garuda putih beterbangan turun gunung!
Sementara itu Hui Lian yang memeluk ibunya, secara singkat lalu menceritakan semua pengalamannya yang terakhir.
Karena tidak ada kesempatan dan waktu, Hui Lian hanya menceritakan yang paling penting saja, terutama yang berhubungan dengan keadaan di situ.
"Ibu dan Ayah, Saudara Coa Hong Kin tadi sengaja mengaku sebagai suami Suci, untuk membersihkan muka kita...."
Ciang Le menjadi girang sekali dan memandang ke arah Hong Kin yang bercakap-cakap perlahan dengan gurunya, memandang dengan penuh terima kasih.
Sementara itu atas perintah Cam-kauw sin-kai, Hong Kin lalu memberi hormat kepada Ciang Le dan Bi Lan, juga kepala Lie Bu Tek.
Adapun Cam-kauw Sin-kai sendiri dengan suara lantang tertawa dan berkata.
"Cuwi Enghiong yang hadir di sini semua menjadi saksi betapa besar kebohongan manusia she Liok! Dia tadi membuka mulut kotornya memburuk-burukkan dan menghina nama baik Hwa I Enghiong dan muridnya. Sekarang ternyata kata-katanya itu bohong belaka. Nona Gak Soan Li ada suaminya!"
Tai Wi Siansu cepat mencegah dilanjutkannya percekcokan karena sebagai pemimpin permilihan bengcu. ia berkewajiban untuk segera menyelesaikan tugasnya yang banyak terhalang oleh percekcokkan tadi.
"Saudara sekalian harap suka bersabar dan harap menghentikan segala caci maki satu kepada yang lain. Sekarang kita lanjutkan tentang pemillhan bengcu, diambil dan tujuh orang calon-calon tadi. Seperti sudah lajim dalam pemilihan bengcu, harap para calon sekarang membuktikan bahwa dia memang patut menjadi bengcu karena kepandaian silatnya. Dan oleh karena itu pinto sendiri di luar kehendak pinto telah dipilih menjadi calon bengcu, maka terpaksa pimpinan pinto serahkan kepada wakil pinto, yakni Bu Kek Siansu ciangbunjin dari Butong pai! Dan untuk mempersingkat waktu, pinto sendiri mempelopori para calon bengcu, dan pinto bersiap sedia mencoba kepandaian seorang di antara para calon."
Setelah berkata demikian, Tai Wi Siansu yang sudah tua itu lalu melompat ke tengah lapangan dan menanti datangnya seorang di antara calon bengcu yang hendak memperlihatkan kepandaian.
Sebetulnya, Ketua Kun-lun-pai yang sudah lanjut usianya ini tentu saja tidak mempunyai nafsu untuk menjadi bengcu.
Akan tetapi, untuk memperkuat pihak yang disukainya, dan pula melihat bahwa di antara para calon terdapat orang-orang seperti Liok Kong Ji dan See-thian Tok-ong, ia tentu saja tidak rela kalau sampai kedudukan bengcu dipegang oleh seorang di antara mereka ini dan daripada kedudukan bengcu dipegang oleh See-thian Tok-ong, lebih baik dia pegang sendiri!
Ta tahu pula bahwa dalam pemilihan bengcu, pasti akan terjadi adu tenaga, dengan masuknya menjadi calon bengcu, berarti ia memperkuat tenaga pihak yang disukainya.
Kalau saja ia melihat bahwa para calon itu semua memenuhi syarat dan mencocoki hatinya, tidak nanti ia mau dipilih sebagai calon!
Melihat majunya Tai Wi Siansu, tentu saja para calon seperti Cam-kauw Sin-kai dan Hwa I Enghiong Go Ciang Le tidak mau maju untuk melayani kakek itu mengukur kepandaian.
Bagi Cam-kauw Sin-kai dan Go Ciang Le, kalau kedudukan bengcu itu diserahkan kepada Tai Wi Siansu, mereka tidak akan membantah seperti halnya Tai Wi Siansu sendiri tentu tidak akan membantah kalau yang dipilih sebagai bengcu itu Cam-kauw Sin-kai atau Go Ciang Le.
Dua orang calon yang tadi disebut Siok Li Hwa dan Wan Sin Hong tidak berada di situ dan kini tmggal dua orang calon yang lain, yakni Liok Kong Ji dan See Thian Tok-ong.
See-Thian Tok-ong hendak melompat maju menghadapi Ketua Kun-lun-pai akan tetapi Kong Ji sambil tertawa mencegahnya.
"See-thian Tok-ong, mengapa terburu-buru? Tidakkah kau dapat melihat bahwa mereka itu semua bersekongkol? Lihat, aku berani bertaruh bahwa Hwa I Enghiong dan Cam-kauw Sin-kai tidak nanti mau maju menghadapi Tai Wi Siansu. Kau lihat sajalah dan jangan terburu-buru maju."
See-thian Tok-ong memang orang yang kurang pedulian, maka ia tadi tidak mempedulikan keadaan, sehingga ia tidak memikirkan sejauh itu.
Sekarang mendengar kata-kata Kong Ji, ia menunda niatnya dan benar-benar ia menanti.
Memang apa yang dikatakan oleh Kong Ji ini benar belaka.
Betapapun juga, tak nanti Ciang Le dan Cam-kauw Sin-kai mau maju menghadapi Tat Wi Siansu untuk bertanding ilmu.
Melihat ini See-thian Tok-ong sudah hilang sabar dan hendak maju pula.
Akan tetapi Kong Ji sudah mendahuluinya, menyuruh seorang pembantunya untuk maju.
Orang ini adalah seorang kakek tua yang bongkok kurus, kepalanya besar, rambutnya jarang dan putih sedang kulit mukanya kerut-merut jelek sekali.
Ia memegang sebatang tongkat bambu dan dari belakang pundaknya tersembul gagang pedang yang ujungnya berukirkan kepala setan yang menakutkan dan ronce-roncenya berwarna hitam.
Dengan langkah sembarangan orang ini telah menghadapi Tai Wi Siansu, menyeringai sambil berkata dengan suaranya yang parau seperti suara burung gagak.
"Tai Wi Siansu, sudah lama sekali aku mendengar akan nama besar Ketua Kun-lun-pai yang katanya memiliki ilmu pedang yang tinggi sekali. Kebetulan hari ini aku mendapat kehormatan bertemu muka dan siapa kira kau yang sudah begini tua masih menginginkan kedudukan bengcu. Akan tetapi malah kebetulan, karena dengan demikian aku mendapat kesempatan untuk merasai kehebatan ilmu pedangmu. Bukankah setiap orang yang hadir berhak menguji kepandalan calon bengcu?"
Setelah berkata demikian, ia tertawa terbahak-bahak.
Melihat kakek ini, Tat Wi Siansu dapat menduga bahwa dia tentu seorang yang pandai, akan tetapi karena belum mengenalnya, Tat Wi Siansu lalu memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan dan bertanya.
"Sahabat siapakah? Dari golongan mana dan siapa nama sahabat yang terhormat?"
Sebagai seorang ciangbunjin (ketua) partai besar.
Tai Wi Siansu tentu saja tidak mau mengadu kepandaian dengan seorang lawan yang tidak ternama.
tentu Tai Wi Siansu akan mundur dun menyuruh murid saja untuk melawannya.
Kakek yang buruk rupa itu mengeluarkan suara menyindir.
"Hemm, tentu saja Ketua Kun-lun-pal yang bernama besar tidak mengenal kepada seorang rendah seperti aku. Aku adalah Ketua Kwan-cin-pai dan tinggal di An-hwei."
Tat Wi Siansu terkejut.
"Aha, kiranya pinto berhadapan dengan Mo-kiam Siang koan Bu, jago nomor satu dan Propinsi An-hwei! Kau mau bermain-main dengan pinto? Marilah!"
Kakek buruk rupa itu memang Mokiam siangkoan Bu Ketua Kwan-cin-pai yang sudah menjadi pengikut Kong Ji.
Pemuda ini belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian Tai Wi Siansu, maka ia tidak mau maju sendiri.
Sebagai seorang calon bengcu atau bahkan seorang bengcu dari timur dan selatan, ia harus memegang harga diri.
Maka ia memberi tanda kepada Mokiam Siangkoan Bu untuk mencoba kepandaian kakek Kun-lun-pai itu sebelum ia sendiri turun tangan.
Memang Kong Ji adalah seorang sang amat licik dan ia telah mengatur siasat rendah.
Kawan-kawannya yang memiliki kepandaian tinggi cukup banyak, di antaranya adalah Siangkoan Bu sendiri, lalu ada di situ Siang-pian Giam-ong Ma Ek Ketua Bu cin-pai, Sin houw Lo Bong Ketua Shan si-kai-pang, Twa-to Kwa Seng Ketu Twa-to Bu pai, ada pula Giok Seng Cu tangan kanannya, dan masih ada beberapa orang gagah dan Siauw-lim-pai.
Go bi-pai, Heng-san-pai dan Hoa-san-pai.
Ta hendak menggunakan tenaga orang-orang ini untuk menghadapi para calon bengcu yang lain.
(Lanjut ke
Jilid 30) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 Kalau sampai mereka semua ini kalah dan ia sendiri kiranya takkan dapat kemenangan, masih ada jalan lain, yakni melakukan pengeroyokan!
Untuk keperluan ini di belakangnya sudah ada seribu lebih orang dari partai pendukungnya yang pada saat itu sudah berkumpul di sekitar puncak Ngo-heng-san!
Bahkan masih mengharapkan munculnya Nalumei bersama pasukannya.
Mo-kiam Siangkoan Bu yang melihat bahwa Tai Wi Siansu sudah bersikap sedia dengan sebatang pedang tipis ditangan, lalu mengeluarkan suara meringkik seperti kuda dan cepat melakukan serangan pertama dengan tongkat bambunya.
Tongkat ini ditusukkan ke arah mata Tai Wi Siansu dengan gerakan cepat.
Ketua Kun-lun-pai diam-diam marah dan mendongkol.
Kalau ia diserang dengan pedang, itu adalah hal yang wajar.
Akan tetapi diserang dengan sebatang bambu, inilah penghinaan namanya!
Pedang tipis di tangannya bergerak sedikit dan bambu di tangan Siangkoan Bu putus ujungya begitu bertemu dengan pedang, sedikit pun tidak mengeluarkan suara.
Akan tetapi, ternyata kemudian bahwa memang inilah semacam gerak tipu dari Siangkoan Bu karena begitu bambu terbabat, bambu ini terus saja langsung melakukan serangan menusuk ulu hati!
Tadi memang sengaja ia "menyerahkan"
Bambunya untuk dibabat, hanya ketika pedang lawan membabat ia miringkan bambu sehingga bambu itu kini menjadi runcing sekali dan tahu-tahu ia pergunakan untuk menusuk dada.
Senjata bambu ini tak boleh dipandang ringan, karena batang bambu yang kosong ini kalau terisi oleh hawa lweekang dari pemegangnya, bambu ini berubah menjadi senjata yang ampuh dan kuat, dan dalam penggunaan dalam serangan menusuk ini tidak kalah berbahayanya oleh senjata tajam dan runcing lain dari baja.
Hebatnya, selagi bambu ini masih menusuk, tangan kiri Siangkoan Bu sudah bergerak ke pundak dan di lain saat, sebatang pedang dengan sinar kebiruan telah meluncur cepat menyusul serangan bambu, melakukan serangan ke dua dan menusuk lambung!
"Bagus!"
Tat Wi Siansu sendiri yang juga seorang ahli pedang dan Kun lunpai, memuji gerakan lawan ini yang memang benar-benar amat cepat indah dan berbahaya.
Ketua Kun-lun-pai ini setelah menangkis bambu, cepat miringkan tubuh sehingga dua serangan sekaligus itu dapat dihindarkan.
Kemudian tanpa memberi kesempatan kepada lawan, ia lalu membalas dengan penyerangan membabat dari kiri ke kanan dengan pedangnya.
Siangkoan Bu menangkis, dua pedang bertemu dan bunga api berpijar.
Keduanya melompat mundur untuk melihat pedang masing-masing.
Mereka merasa lega melihat pedang masing-masing tidak rusak oleh pertemuan yang keras tadi tanda bahwa pedang mereka berimbang dalam kekuatannya.
Pedang di tangan Tai Siansu adalah sebatang pedang pusaka Kun-lun-pai biarpun amat tipis namun terbuat dari pada baja putih yang kuat sekali.
Besi biasa saja dapat terputus dengan mudah oleh pedangnya.
Di lain pihak, pedang di tangan Siangkoan Bu diberi nama Mo-bin-kiam (Pedang Muka Iblis), terbuat dari logam berwarna kebiruan yang amat keras dan juga pedang ini tajam sekali, cukup kuat untuk membuat putus logam-logam lain.
Dalam detik-detik selanjutnya dua orang kakek kosen ini sudah bertempur sengit.
Sepasang pedang itu bergulung-gulung merupakan sinar berwarna putih dan biru, amat indah dipandang dan mendebarkan hati karena tegangnya.
Semua orang tahu bahwa dalam permainan yang indah kelihatannya ini bersembunyi tangan-tangan maut yang setiap waktu dapat mencabut nyawa seorang di antara kedua pemainnya.
Kepandaian Siangkoan Bu memang tinggi.
Tidak saja ia memiliki tenaga lweekang yang sudah tinggi sekali, juga ilmu pedangnya amat aneh, cepat dan ganas.
Pantas saja ia diberi julukan Mo ,-kiam (Si Pedang Iblis) karena memang ia memiliki ilmu pedang yang kuat dan dahsyat.
Di lain pihak, siapakah yang tidak mendengar kelihaian Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat?
Ilmu pedang partai besar Kun-lun-pai sudah tersohor di kolong langit.
Gerakannya indah dan cepat mengandung kekuatan menyerang yang sukar dilawan, sebaliknya dalam bertahan amat kuatnya, merupakan benteng sinar pedang yang sukar ditembusi.
Maka dapat dibayangkan betapa ramainya pertandingan ini, makim lama gerakan mereka makin cepat sehingga setelah lewat lima puluh jurus, keduanya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka.
Bagi para penonton yang kurang tinggi ilmu silatnya, sukar dapat mengatakan siapakah di antara dua ahli pedang itu yang unggul dan siapa yang terdesak.
Tentu saja dalam pandangan mata para ahli yang berada di situ, di antaranya Kong Ji dan Ciang Le, mudah saja terlihat bahwa lambat laun akan tetapi tentu, Ketua Kun-lun-pai yang sudah tua itu mendesak Mo-kiam Siangkoan Bu!
Akhirnya pada jurus ke delapan puluh, terdengar Tai Wi Siansu membentak keras, diikuti suara nyaring.
Bambu di tangan Siangkoan Bu tadi putus menjadi dua sedangkan pedang birunya terlempar jauh ke belakang.
Dia sendiri terhuyung-huyung dan cepat melompat berjungkir balik ke belakang, lalu berdiri dengan muka pucat.
Darah mengucur keluar dari luka di kedua lengannya dekat siku.
Ia menjura dan berkata.
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 6
Baca Juga: Pendekar Remaja 1