Eps 11 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
"Terima kasih, Tai Wi Siansu. Memang ilmu pedang Kun-lun-pai hebat, bukan among kosong. Aku menerima kalah."
Inilah kata-kata jujur yang mau tidak mau harus diucapkan oleh seorang jagoan kang-ouw yang telah kalah dalam sebuah pibu (adu kepandaian).
Mo-kiam Siangkoan Bu terpaksa harus mengaku ini, karena ia sudah berhutang nyawa kepada kakek Kun lun-pai itu.
Kalau dalam gebrakan tadi Tai Wi Siansu mau berlaku kejam, kiranya bukan hanya luka kecil pada kedua lengan saja yang dideritanya, melainkan jauh lebih hebat.
Kemudian ia mengambil pedangnya dan berdiri di dekat pasukannya dengan muka muram.
Ta telah menderita kekalahan dan karenanya merasa malu dan penasaran.
Di lain pihak, dengan napas agak memburu, Tai Wi Siansu berdiri tegak dengan pedang dilintangkan di depan dada.
Kakek berusia delapan puluh tahun ini kelihatan gagah sekali dan sikapnya lemah lembut.
Jenggotnya yang putih semua dan panjang itu berkibar-kibar tertiup angin dan sinar matanya penuh semangat, berapi-api.
Akan tetapi bagi siapa yang memillki pandang mata awas, dapat dilihat bahwa kakek tua renta ini sudah lelah sekali dan hanya tenaga lweekangnya yang tinggi saja yang dapat mengatur pernapasannya sehingga tidak terengah-engah, sungguhpun jalan darahnya sudah amat cepat membuat seluruh tubuh panas dan keringat keluar dari lengan dan jidat.
Tentu saja Kong Ji melihat pula dan maklum akan hal ini.
Cepat pemuda ini melompat keluar dan tahu-tahu pedang Pak-kek Sin-kiam yang bercahaya keemasan telah berada di tangannya.
"Tai Wi Siansu, kita sama-sama calon bengcu, mari kita menguji kepandaian masing-masing!"
Tanpa menanti jawaban, pemuda itu sudah menusuk dengan pedangnya ke arah tenggorokan kakek itu.
"Tidak adil...!"
Seru Leng Hoat Taisu Ketua Thian-san-pai dan sudah melompat dengan tongkat hitamnya untuk menggantikan Tai Wi Siansu.
Akan tetapi, sebagai ciangbunjin dari Kun-lun-pai, juga sebagai calon bengcu, Tai Wi Siansu merasa malu kalau harus mengaku kalah sebelum bertanding.
Ta mengelak cepat dari serangan Kong Ji dan melihat majunya Leng Hoat Taisu yang bukan seorang calon bengcu ia berseru.
"Leng Hoat Toyu, kau mundurlah. Biar aku menghadapi bocah she Liok ini. Dia benar, kami sama-sama calon harus mengukur kepandaian dan tidak mengandalkan bantuan kawan."
"Akan tetapi tadi ia juga mengajukan wakil."
Leng Hoat Taisu mencoba membantah. Sementara itu, Kong Ji hanya tersenyum dan sebelum Tai Wi Siansu yang ragu-ragu itu mendapat kesempatan menjawab, pemuda ini sudah memberi api.
"Benar, Tai Wi Siansu, kau sudah tua tentu pertempuran tadi membuat kau lelah. Kalau mau mengaso dan mengatur napas dulu, silakan, aku yang muda akan melayani Leng Hoat Taisu, kemudian baru kita main-main. Tidak apa aku mengalah menghadapi dua orang beruntun, sudah sepatutnya yang muda mengalah!"
Senyumnya demikian penuh ejekan sehingga Tai Wi Siansu tidak ada muka lagi untuk mundur. Dengan muka merah saking marahnya. Tai Wi Siansu menggerakkan pedangnya membentak.
"Bocah she Liok. Alangkah sombongmu! Kaukira pinto takut kepadamu? Majulah!"
Melihat kenekatan Tai Wi Siansu terpaksa Leng Hoat Taisu mengundurkan diri dan ia memandang kepada Bu Kek Siansu dengan kepala digeleng-gelengkan dan mukanya memperlihatkan kekhawatiran.
Kekalahan atau kemenangan dalam pibu bukanlah hal yang aneh.
bahkan kematian dalam pibu tidak pernah dibuat penasaran oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw.
Akan tetapi kettdak-adilan membuat semua orang gagah penasaran dan pertandingan pibu antara Liok Kong Ji dan Tai Wi Siansu dianggap tidak adil.
Akan tetapi oleh karena Tai Wi Siansu sendiri yang tidak kuat menghadapi ejekan Liok Kong Ji sudah menyatakan setuju.
Tak seorang pun berhak mencampuri pertandingan ini.
Mereka yang berpihak pada Tai Wi Siansu kini menonton dengan hati berdebar dan perasaan tegang.
Dengan mulut masih tersenyum Kong Ji memasang kuda-kuda, tubuhnya merendah hampir berjongkok, pedangnya disembunyikan di bawah lengan kiri, sedangkan lengan kirinya bergerak-gerak lambat ke depan dan belakang.
Kuda-kuda macam ini tidak dikenal oleh Tai Wi Siansu sungguhpun kakek ini seorang jago pedang yang kenamaan.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena Kong Ji, pemuda yang penuh akal dan amat cerdik ini ternyata telah dapat menciptakan kuda-kuda ini menurut Ilmu Pukulan Tin-san-kang dicampur dengan ilmu pedang berdasarkan Pak-kek Sin-ciang yang ia "curi"
Pelajari melalui Hui Lian!
Maka yang mengenal kuda kuda ini hanya dua orang.
Ini pun hanya setengah-setengah.
Ciang Le mengenal kuda-kuda ini dengan melihat pedang disembunyikan di bawah lengan kiri sebagai jurus yang hampir sama atau pada dasarnya sama dengan jurus Hok-te-ciong-kiam (Mendekam di Tanah Menyembunyikan Pedang) dari Ilmu Pedang Pak-kek-sin-kiam.
Hanya tangan kiri yang jari-jari tangannya dibuka dan digerak-gerakkan lambat-lambat ke depan dan ke belakang itu tidak ada dalam gerakan Hok-te-ciong-kiam, maka Ciang Le menjadi terheran-heran.
Sebaliknya Giok Seng Cu mengenal baik gerakan tangan kiri itu, yang bukan lain adalah gerakan Tin-san-kang, gerakan mengumpulkan tenaga.
Sebaliknya gerakan Hok-te-ciong-kiam tadi tidak dikenal oleh Giok Seng Cu.
Memang ilmu pedang Pak-kek-sin-kiam-sut biarpun sumbernya sama dengan ilmu silat yang dipelajari oleh Giok Seng Cu dari mendiang Pak Hong Siansu, namun ilmu pedang ini jarang ada yang mengerti sedangkan Ciang Le sendiri pun hanya mempelajari sebagian saja.
Adapun Tai Wi Siansu yang sudah marah, menghadapi pasangan kuda-kuda pemuda itu dan melihat mulut yang tersenyum-senyum mengejek, tak dapat menahan sabar lagi.
Kakek ini adalah Ketua Kun-lun-pai, ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka tentu saja ia tidak gentar menghadapi segala macam kuda-kuda yang aneh sekalipun.
Ta mengandalkan kekuatan pedangnya dan sambil berseru.
"Lihat pedang""
Ia menyerang Kong Ji yang kuda-kudanya rendah itu dengan sabetan pada kepala.
Kong Ji memang sudah menanti datangnya serangan ini.
Ta mengumpulkan tenaganya menanti datangnya pedang lawan sampai dekat, kemudian sekaligus ia melompat dengan dua macam gerakan.
Pedangnya membabat pedang lawan dengan pengerahan tenaga lweekang sedangkan tangan kirinya mendorong ke arah dada dengan tenaga Tin-san-kang sepenuhnya.
"Traanggg...!"
Pedang tipis di tangan Tai Wi Siansu menjadi buntung ujungnya ketika bertemu dengan Pak-kek Sin-kiam, dan dalam kagetnya Tat Wi Siansu sampai kurang memperhatikan datangnya hawa pukulan dari tangan kiri Kong Ji.
Tiba-tiba kakek itu berteriak dan terhuyung-huyung mundur sampai enam tindak, terkena pukulan Tin-san-kang pada dadanya!
Wajah Tat Wi Siansu menjadi pucat sekali.
Tidak hanya karena pedangnya menjadi buntung, akan tetapi terutama sekali karena hebatnya pukulan Tin san kang yang hawa pukulannya mengenai dadanya.
Baiknya ia adalah seorang ahli yang sudah memiliki hawa sinkang di tubuhnya sehingga hawa ini secara otomatis telah dapat menolak pukulan Tin-san kang.
Namun karena pukulan ini memang lihai bukan main, tenaga sinkang itu masih kalah kuat, membuat Tai Wi Siansu terhuyung-huyung dan menderita luka di dalam dadanya.
Ta merasa dadanya sakit dan napasnya sesak, akan tetapi dengan pengerahan lweekang ia dapat mempertahankan lukanya, kemudian dengan marah ia menyerbu lagi!
Para tokoh yang memihak Tai Wi Siansu menjadi pucat.
Sudah jelas bahwa kakek ini terluka dan kalau melanjutkan pertempuran, akan terancam bahaya.
Akan tetapi mereka juga maklum bahwa tentu saja Tai Wi Siansu tidak sudi mengalah begitu saja.
Dikalahkan oleh seorang begitu muda hanya dalam satu jurus, benar-benar merupakan hal yang sangat memalukan dan lebih baik putus nyawa daripada menyerah dalam sejurus!
Pedang buntung di tangan Tai Wi Siansu masih amat lihai bergerak-gerak dan menyambar-nyambar laksana naga mengamuk.
Biarpun buntung ujungnya, namun masih tajam dan masih dapat membabat leher atau pinggang lawan!
Akan tetapi, oleh luka-luka di dada itu, tenaga kakek ini makin berkurang dan Liok Kong Ji tanpa mengenal kasihan terus mendesaknya dengan pukulan-pukulan Tin-san-kang dan pedang Pak-kek Sin-kiam selalu menyambar ke arah pedang tipis buntung itu dengan maksud merusak pedang ini sampai tak dapat dipergunakan lagi.
Tentu saja amat kewalahan kakek itu mempertahankan diri.
Tidak saja ia harus mempertahankan diri dengan tangkisan-tangkisan terhadap serangan pukulan Tin-san-kang yang dahsyat juga ia harus berhati-hati agar pedangnya jangan bertemu lagi dengan pedang lawan.
Hal ini tentu saja membuat permainan pedangnya canggung karena setiap kali harus ditarik mundur dan tidak dilanjutkan dalam serangannya takut kalau terbabat oleh Pak-kek Sin-kiam, maka makin lama makin terdesaklah Ketua Kun-lun pai itu.
Betapapun juga, Tai Wi Siansu patut dikagumi.
Ta masih berhasil mempertahankan diri sampai lima puluh jurus Kong Ji menjadi marah dan penasaran kalau tadi hanya berusaha membabat putus pedang kakek ini dan hendak mengalahkan kakek ini tanpa membunuhnya adalah sekarang pedangnya berkelebatan mengarah tempat-tempat berbahava dan pukulan Tin-san-kang dilakukan oleh tangan kirinya mengarah tempat-tempat seperti lambung, ulu hati dan pusar!
Menghadapi gelombang serangan dahsyat ini Tai Wi Siansu yang napasnya sudah empas empis hanya kuat bertahan selama sepuluh jurus.
Tiba-tiba pedangnya kena dibabat putus pada tengah tengahnya dan dalam elakannya terhadap pukulan Tin-san kang di dada, ia kurang cepat sehingga pundak kanannya terkena darongan tangan kiri Kong Ji.
Kakek itu terpental seperti dilemparkan akan tetapi dapat jatuh dengan kedua kaki di atas tanah dan dalam keadaan berdiri.
Kelihatannya tidak apa-apa, hanya mukanya pucat dan pedang tinggal sepotong masih di tangannya.
Tiba-tiba menyambitkan sisa pedang itu ke arah Kong Ji.
Pemuda itu memukul pedang lengan tangan kiri sehingga pedang sepotong itu amblas ke dalam tanah tidak kelihatan lagi!
Melihat ini, Tai Wi Siansu tiba-tiba muntahkan darah merah dan tubuhnya sempoyongan.
Baiknya Leng Hoat Taisu sudah melompat dan memondong tubuhnya mundur.
Kekalahan Tai Wi Siansu sudah sah.
Dengan kekalahan ini, berarti ketua Kunlun-pai itu tidak dianggap sebagai calon bengcu lagi, sudah "gugur"
Dan harus diganti calon lain.
Cam-kauw Sin-kai mendahului Ciang Le.
Kakek pengemis ini melompat ke tengah lapangan.
Lengan bajunya yang lebar berkibar dan ia sudah berdiri menghadapi Kong Ji.
Sebelum pengemis sakti ini membuka mulut, Kong Ji sudah menoleh ke arah See-thian Tok-ong dan berkata.
"See thian Tok-ong, inginkah kau main-main dengan pengemis ini ataukah kau lebih suka nanti menghadapi Hwa I Enghiong?"
Memang Kong Ji pintar bukan main.
Ia tahu bahwa Cam-kauw Sinkai seorang yang pandai dan merupakan lawan berat.
Bukan ia gentar menghadapinya, akan tetapi baru saja ia merobohkan Tai Wi Siansu.
Kalau sekarang ia menghadapi kakek pengemis ini, biarpun ia dapat menang, akan tetapi ia harus menyerahkan tenaga seperti yang tadi lakukan dalam menghadapi Tam Wi Siansu.
Dan ini merugikan plhaknya.
Kalau ia sudah lelah betul baru menghadapi Ciang Le nanti, berbahayalah kedudukannya.
Oleh karena itu, ia hendak mengajukan See-thian Tok-ong dan dengan kata-katanya tadi berhasil memancing keluar See-thian Tok ong.
See-thian Tok-ong sudah pernah merasai kelihaian Ciang Le, maka sekarang mendengar kata-kata Kong Ji tentu saja ia lebih suka menghadapi Cam-kauw Sin-kai dan "menyerahkan"
Go Ciang Le kepada bocah she Liok bekas muridnya yang sekarang sudah menjadi seorang pemuda lihai bukan main itu.
Atas pertanyaan Kong Ji tadi, See-thian Tok-ong bertukar pandang dengan puteranya dan di lain saat, Kwan Kok Sun telah bertindak menghampiri Cam-kauw Sin-kai.
Melihat ini, Liok Kong Ji seperti seorang penjual obat berkata keras kepada para hadirin.
"Inilah dia Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun, putera tunggal dari See-thian Tok-ong! Dia tentu saja berhak maju mewakili ayahnya. Eh, pengemis bangkotan, kau berhati-hatilah menghadapi Saudara Kwan Kok Sun ini!"
Sambil tertawa, Kong Ji lalu melompat mundur ke dalam rombongannya sendiri di mana diam-diam ia mengumpulkan tenaga dan mengatur napas agar kelelahannya dalam bertanding tadi dapat diusir dan tenaganya menjadi segar kembali dalam persiapan menghadapi lawan yang lebih berat lagi.
Sementara itu, ketika Cam-kauw Sin-kai melihat bahwa lawan yang menghdapinya adalah bocah gundul putera See-thian Tok-ong yang terkenal jahat, segera maju membentak.
"Bocah setan, keluarkan senjatamu! sambil berkata demikian, Cam-kauw Sin kai menggoyang-goyang tongkatnya dengan sikap seperti orang hendak menggebuk anjing. Ini bukan gerakan biasa karena ini merupakan kuda-kuda dari Ilmu Tongkat Cam-kauw-tung-hwat yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw, terkenal sebagai Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing yang sukar dikalahkan. Kwan Kok Sun menggerakkan hidungnya.
"Jembel tua, untuk melawan orang macam engkau saja mengapa mesti mengeluarkan senjata? Kedua tanganku masih kuat untuk merobohkanmu. Majulah""
Bukan main marahnya Cam-kauw Sin-kai mendengar ejekan ini.
Ia tadinya sudah segan-segan untuk melawan bocah ini, karena biarpun sudah dewasa, aneh sekali, pemuda gundul ini masih kelihatan seperti seorang anak-anak dari sepuluh tahun.
Hanya tubuhnya saja yang besar akan tetapi kedua tangannya kecil, juga mukanya seperti muka anak-anak.
Ia segan karena menghadapi Kwan Kok sun, ia seperti hendak bertanding melawan ejekan itu, ia menancapkan tongkatnya ke dalam tanah, lalu melangkah maju membentak.
"Bocah setan, sombong amat kau. Majulah kalau mukamu sudah gatal-gatal ingin ditampar!"
Kwan Kok Sun menyerang dengan kedua kepalan tangannya yang kecil!.
Gerakannya kuat dan cepat, mendatangkan desir angin dan tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai mencium bau yang amis memuakkan.
Ia terkejut sekali dan tahu bahwa sebagai putera See-thian Tok-ong Si Raja Racun, sudah tentu sekali bocah ini pun seorang ahli racun.
Hawa pukulan kedua tangannva saja sudah membawa bau racun yang kuat dan berbahaya.
Cepat pengemis sakti ini menyembunyikan tangannya ke dalam lengan baju dan dengan ujung lengan bajunya ia mengebut dan menangkis pukulan pukulan Kwan Kok Sun.
Ilmu Silat Cam kauw Kun-hwat memang aneh.
Ilmu silat ini diciptakan untuk menghajar orang-orang seperti menghajar anjing, maka gerakan-gerakannya aneh dan anjing yang bagaimana pun galaknya, tentu akan terpukul tunggang langgang dengan ilmu silat ini.
Demikian pula kalau menghadapi lawan manusia, ilmu silat ini amat aneh dan sukar diduga gerakan-gerakannya Giok Seng Cu sendiri ketika menghadapi murid Cam-kauw Sin-kai yakni pemuda Coa Hong Kin, dalam segebrakan saja terkena tamparan di pundaknya oleh pemuda itu yang mempergunakan ilmu Silat Cam-kauw Kun-hoat.
Baru saja bertempur belasan jurus sudah dua kali Kwan Kok Sun kena disentil telinganya oleh Cam kauw Sin-kai dengan ujung lengan baju dan ditampar pundaknya yang membuat pemuda gundul itu terhuyung huyung dan merasa sakit bukan main.
Telmganya mengeluarkan darah dan pundaknya serasa retak tulangnya.
Ia mengamuk dan tiba-tiba dari jari-jari tangan kiri yang dibuka menyambar sinar hijau.
Inilah bubuk racun yang disebarkan ke arah muka Cam-kauw Sin-kai.
Kakek pengemis itu adalah seorang tokoh kang-ouw penggembara yang sudah kenyang makan garam, di samping pengalamannya banyak sekali tentu saja siang siang ia telah mengenal senjata racun ini.
Dengan ujung lengan baju dilebarkan ia menggerak-gerakkan kedua tangannya sehingga serangan-serangan racun itu dapat disampok pergi, kemudian sambil berseru keras ia menerjang dengan tendangan berantai.
Inilah tendangan That-kauw-soan-hong-twi (Menendang Angin Dengan Tendangan Berputar-putar), sebuah tipu gerakan dalam ilmu Silat Cam-kauw-kunhoat.
Kwan Kok Sun terkejut sekali dan biarpun ia juga memiliki gerakan yang gesit, akan tetapi ia hanya dapat mengelak sampai lima kali tendangan saja.
Tendangan ke enam dan ke tujuh dengan tepat mengenai pahanya, membuat tubuhnya terlempar ke belakang dan ke dua kakinya menjadi lumpuh, karena biarpun tulang-tulang pahanya tidak sampai patah, akan tetapi daging puhanya menjadi hitam biru dan jalan darahnya tertahan.
Akan tetapi Kwan Kok Sun benar-benar lihai.
Setelah terpental, ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, sehingga jatuhnva di atas tanah dalam keadaan duduk.
Ketika Cam-kauw Sin-kai mengejar, ia cepat mengangkat kedua tangannya, digerak-gerakkan bergantian ke depan.
Dilihat begitu saja, seakan-akan Kwan Kok Sun merasa takut dan hendak mencegah Cam-kauw Sin-kai turun tangan lebih lanjut atau maksudnva sudah menerima kalah.
Demikian pula tadinya disangka oleh Cam-kauw Sin-kai sehingga pengemis sakti ini tidak membuat penjagaan, bahkan hendak maju menghampiri dan menolong bocah itu berdiri.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa ada angin menyambar dari depan menyerang dadanya dengan hebat.
Itulah pukulan Hek-tok ciang yang dilancarkan dan jauh dengan mengandalkan lenaga hoat-sut (sihir) dari barat!
Cam-kauw Sin-kai tidak sempat mengelak, maka ia cepat mengerahkan tenaga ke dada menolak.
Ia berhasil menolak pukulan itu dan cepat melompat ke samping, akan tetapi pakaiannya di bagian dada menjadi hangus dan kulit dadanya terasa gatal-gatal!
"Kurang ajar!"
Serunya dan ia telah mengepal tinju hendak memberi hajaran kepada Kwan Kok Sun, akan tetapi tiba-tiba pemuda gundul itu telah lenyap.
Ternyata ibunya, Kwan Ji Nio, telah turun tangan menyambar tubuh puteranya.
Tentu saja dengan adanya kejadian ini Kwan Kok Sun dianggap kalah.
Cam-kauw Sin-kai cepat mengeluarkan sebutir pel merah dari saku bajunya dan ditelannya.
Ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau pukulan Hek-tok-ciang tadi mengakibatkan luka di dalam dada.
Kemudian ia mcncabut tongkatnya, karena melihat See thian Tok-ong sudah melompat maju untuk menggantikan puteranya yang kalah.
"Cam-kauw Sin-kai, jangan kau sombong karena dapat mengalahkan anak kecil. Inilah lawanmu!"
Sambil berkata demikian, See-thian Tok-ong mengeluarkan senjatanya yang dahsyat, yaitu sepasar Ngo-tok Mo-jiauw (Cakar Setan Lima Racun) yang amat mengerikan.
Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai sudah maklum bahwa menjadi calon bengcu berarti menghadapi lawan-lawan berat, maka ia sudah siap menghadapi segala resikonya.
Setelah berhadapan, dua orang kakek yang berilmu tinggi ini mulai saling menyerang dengan seru.
Pertempuran kali ini lebih sengit daripada tadi.
Gerakan See-thian Tok-ong benar-benar luar biasa sekali.
Sepasang cakar setan itu bergerak-gerak aneh, seperti menycrang dengan cara membabi buta, akan tetapi sebetulnya gerakan-gerakan ini menurutkan sistim silat yang aneh dan jarang terdapat di pedalaman Tiongkok.
Yang amat berbahaya adalah hawa beracun yang keluar dari sepuluh kuku-kuku panjang dan cakar itu.
Setiap cakar mempunyai lima kuku panjang dan lima warna yang mengeluarkan bau keras dan tidak enak lima macam, yang satu lebih hebat dari yang lain.
Sekali gurat saja dengan kuku cakar setan ini akan mendatangkan maut!
Baiknya Cam-kauw Sin-kai memiliki Ilmu Silat Cam-kauw-tung-hwat yang juga amat aneh gerakan-gerakannya dan sukar diduga perubahan gerakannya.
Juga tongkatnya ternyata amat berbahaya karena setiap serangan merupakan totokan atau tusukan maut.
Oleh karena itu, tidak mudah bagi See-thian Tok-ong untuk mengalahkan lawannya dalam waktu singkat.
Pertahanan Cam-kauw Sin-kai benar-benar kokoh kuat dan tongkatnya kini meupakan lingkaran yang sukar sekali diterobos.
Pertempuran kali ini berjalan sampai seratus jurus lebih, masing-masing mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, maklum bahwa lawan amat berat dan sekali terkena serangan berarti menghadapi bahaya maut.
Akan tetapi tak lama pengemis sakti itu makin terdesak.
Yang membuat ia tidak kuat adalah bau dari hawa beracun yang keluar dari Ngo tok Ma-Jiauw itu.
Biarpun ia sudah menahan napas dan menarik napas amat hati-hati, tidak urung ia terpengaruh juga oleh hawa beracun itu, yang membuat kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang.
Cam-kauw Sin-kai maklum kalau tidak cepat-cepat dapat merobohkan lawannya, ia akan kalah.
Sambil berseru keras ia lalu mainkan jurus-jurus terakhir yang paling hebat dari ilmu silatnya.
Tongkatnya melayang-layang turun naik dengan gerakan cepat dan aneh.
Biarpun See-thian Tok-ong lihai bukan main, ia menjadi terkejut dan bingung.
Tak dapat ia menghindarkan diri ketika tongkat itu menusuk dengan cara tusukan bertubi-tubi yang dimulai dari atas ke bawah.
Sebuah tusukan mengenai pangkal lengan kirinya dan untuk sedetik lengan kiri itu menjadi lumpuh sehingga sebuah senjatanya terlepas dari pegangan.
Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan, hanya dua tiga detik lebih lambat.
Ngo-tok Ngo-jiauw di tangan kanan See-thian Tok-ong berhasil menggurat pundak Cam-kauw Sin-kai!
Kakek pengemis ini merasa pundaknya gatal panas dan seperti ditusuk-tusuk jarum.
Cepat ia melompat jauh ke belakang dan begitu ia turun ke tanah, ia lalu mengambil segenggam pil penawar racun yang terus ditelannya!
Namun tetap saja ia menjadi limbung dan terpaksa ia duduk di atas tanah, bersila sambil mengerahkan tenaga lweekang untuk mengusir pengaruh racun yang hebat itu.
See-thian Tok-ong mengeluarkan suara ketawa aneh.
Tangan kirinya sudah pulih kembali dan kini sepasang Ngo-tok Mo-jiauw sudah dipegangnya dengan sikap menantang.
Ta maklum bahwa kakek pengemis itu pasti akan tewas, paling lama dalam waktu dua puluh empat jam lagi.
"Iblis dari barat rasakan pembalasanku!"
Tiba-tiba Coa Hong Kin membentak marah dan pemuda ini mencahut pedang, hendak melompat ke tengah lapangan untuk menuntut balas atas kekalahan suhunya.
Akan tetapi sebuah tangan yang amat kuat memegang pundaknya, mencegahnya dan terdengar suara Ciang Le yang tenang dan berpengaruh.
"Dia bukan lawanmu. Biar aku menghadapinya. Tangan kuat yang menahan pundaknya itu terlepas dan tahu-tahu tubuh Ciang Le sudah berada di tengah lapangan menghadapi See-thian Tok-ong. Hong Kin lalu menghampiri suhunya dan dengan bantuan muridnya. kakek pengemis ini berjalan kembali ke dalam rombongannya di mana ia lalu direbahkan d atas rumput dan dirawat oleh Hong Kin dibantu oleh Lie Bu Tek, Hui Lian dan Bi Lan. Sementara itu, See-thian Tok-ong melihat Ciang Le datang, tanpa banyak cakap lagi segera menyerang dengan Ngo tok Mo-jiauw, menyerang bertubi-tubi dengan sepasang senjata itu. Ciang Le tidak mau berlaku lambat, ia melompat jauh ke kanan untuk menghindarkan diri dan untuk mencabut pedangnya. See-thian Tok-ong sudah pernah merasai kelihatan tangan Ciang Le, maka ia berlaku hati-hati sekali dan dengan penuh perhatian serta pengerahan tenaga dan kepandaian, Raja Racun dari barat ini mulai mendesak Hwa I Enghiong. Akan tetapi sebentar saja See thian Tok-ong mengeluh di dalam hati. Ilmu pedang dari Hwa I Enghiong benar-benar hebat dan kuat luar biasa. Juga pedang yang digunakan oleh Hwa I Enghiong adalah Kim-kong kiam, pedang yang mengeluarkan sinar emas seperti pedang Pak kek Sin-kiam, akan tetapi sinar pedang Pak-kek Sin-kiam lebih putih dan lebih gemilang. Biarpun demikian pedang Kim kong-kiam termasuk pedang pusaka yang ampuh dan kuat. Dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Ciang Le, biarpun See-thian Tok-ong memegang Pak-kek Sin-kiam, masih saja ia tidak dapat merobohkan Ciang Le, yang bertangan kosong, maka tentu saja ia sudah cukup maklum akan kelihaian ilmu silat dari Hwa I Enghiong. Akan tetapi sekarang lain lagi keadaannya, See-thtan Tok-ong memegang sepasang senjatanya yang diandalkan, yaitu Ngo-tok Mo-jiauw dan dalam hal ilmu silat dengan Ngo-tok Mo-jiauw sesungguhnya Raja Racun ini jauh lebih lihai daripada kalau ia menggunakan senjata lain. Ia telah mencipta ilmu silat yang khusus untuk mainkan sepasang senjata yang mengerikan itu. Dan di samping ini, betapapun lihai Hwa I Enghiong Go Ciang Le, seperti Cam-kau Sin-kai tadi ia pun mulai terkena pengaruh bau senjata aneh Ngo-tok Mo-jiau tadi.
"Celaka,"
Pikir Ciang Le sambil memutar pedang Kim-kong-kiam lebih hebat lagi.
"aku harus cepat-cepat merobohkanya!"
Setelah mengambil keputusan ini dan melihat kesempatan, Ciang Le lalu menyerang dengan Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-hoat bagian yang paling lihai.
Pedangnya berkelebat mengancam dari atas seperti burung elang menyambar-nyambar kepala mengeluarkan angin dan suara mendesing-desing mengerikan.
See thian Tok-ong terkejut sekali, tahu bahwa serangan ini merupakan ancaman maut yang dapat memenggal leher atau memecahkan kepalanya, maka ia lalu mengerahkan dan menggunakan sepasang Ngo-tok Mo-jiauw untuk melindungi kepala dengan memutarnya seperti kitiran cepatnya.
Akan tetapi tiba-tiba Ciang Le berseru.
"Pergilah!"
Tubuh See-thian Tok ong yang besar itu terlempar seperti batang pohon dilontarkan angin kuat.
Inilah kehebatan jurus Ilmu pedang yang dimainkan oleh Ciang Le tadi.
Nampaknya hebat dan dahsyat menyerang kepala, tidak tahunya kelihaiannya terletak pada serangan lanjutan yang dilakukan oleh kaki!
Ternyata bahwa pedang yang menyambar-nyambar tadi hanya pancingan belaka agar lawan yang bagaimana kuat pun akan melindungi kepalanya dan kurang memperhatikan tubuh bagian bawah.
Oleh karena itu, dengan mudah Ciang Le dapat menendang perut See-thian Tok-ong sehingga tubuh Raja Racun itu terlempar jauh!
Akan tetapi Ciang Le juga terkena pengaruh hawa beracun sehingga mukanya agak pucat.
Baiknya tendangannya tadi kuat sekali sehingga betapapun kuat tubuh See-thian Tok-ong, tendangan itu telah mendatangkan luka di dalam perutnya dan tidak memungkinkan Raja Racun ini bertempur terus.
Maka tentu saja dianggap kalah dan gagal dalam pemilihan bengcu.
Orang-orang yang berpihak kepada Hwa I Enghiong bersorak menyambut kemenangan ini.
See-thian Tok-ong dirawat oleh delapan orang kawannya, para busu yang menyamar.
"Hwa l Enghiong jangan tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat luar biasa dan tahu-tahu Kwan Ji Nio sudah menyerangnya dengan ranting bambu, menotok matanya. Ciang Le melompat jauh ke belakang ia ragu-ragu, karena selain kepalanya masih pening akibat pengaruh hawa beracun dari Ngo-tok Mo-jiauw, juga ia merasa segan-segan untuk melayani seorang wanita.
"Mengasolah!"
Tiba-tiba ia mendengar suara bisikan isterinya yang tahu-tahu telah berada di dekatnya.
Ciang Le mundur, dan kini Bi Lan menghadapi Kwan Ji Nio.
Dua orang tokoh wanita yang berilmu tinggi saling berhadapan, bagaikan dua ekor singa betina hendak saling terkam"
"Kwan Ji Nio, benar-benar girang sekali hatiku dapat bertemu dengan engkau di sini. Akan puas hatiku dapat melanjutkan pertandingan yang dahulu."
Memang kurang lebih sembilan tahun yang lalu, dalam perebutan Pak-kek Sin-kiam, pernah Kwan ji Nio bertempur melawan Liang Bi Lan dan See-thian Tok-ong bertanding melawan Go Ciang Le, sedangkan Kok Sun bertempur menghadapi Go Hui Lian yang ketika itu, sebagaimana dapat diikuti dalam cerita bagian depan, tidak dilanjutkan karena Ciang Le, menawan Kok Sun dan memaksa suami isteri dari barat itu mengembalikan pedang unuk ditukar dengan Kok Sun.
Sekarang dua orang wanita kosen itu berhadapan lagi.
Keduanya sama usianya, kurang lebih empat puluh tahun, sama cantiknya dan sama ramping tubuhnya.
Akan tetapi sikap Bi Lan nampak jauh lebih gagah.
"Kau menggantikan suamimu untuk menjenguk neraka! Baik, bersiaplah untuk mampus!"
Bentak Kwan Ji Nio yang serentak mengirim serangan bertubi-tubi dengan rantingnya.
Gerakannya cepat !
bukan main karena nyonya ini adalah ahli ilmu meringankan tubuh yang disebut Te in-hang (Lompatan Tangga Awan) sehingga ketika ia bergerak dalam serangan-serangannya, tiada ubahnya seperti seekor burung walet menyambar-nyambar.
Kedua kakinya seperti tak pernah menyentuh tanah.
Bi Lan mengeluarkan suara ketawa mengejek dan di lain saat nyonya ini pun lenyap dari pandangan mata.
Hanya sinar pedangnya saja yang nampak, menjadi gulungan sinar yang bundar, dan kedua kaki yang kadang-kadang kelihatan menyentuh bumi menyatakan bahwa nyonya ini masih ada di dalam bungkusan gulungan sinar pedang itu!
Kali ini Kwan Ji Nio menemui batu keras!
Kali ini ia menjumpai tandingan yang juga seorang ahli ginkang luar biasa.
Bi Lan telah mendapat latihan ginkang dari orang aneh, sepasang tosu kembar bernama Thian-te Siang-mo yang memiliki ginkang luar biasa (baca Pendekar Budiman).
Dahulu ketika masih muda, Bi Lan telah dijuluki orang Sian-li Eng-cu (Bayangan Bidadari) karena memang gerakannya amat cepat sehingga kalau ia bergerak, yang kelihatan hanya bayangannya saja.
Kali ini pertempuran benar-benar hebat, mengalahkan kehebatan pertempuran yang lalu.
Hal ini memang tidak aneh, karena keduanya adalah ahli-ahli gin-kang yang kepandaiannya sudah memuncak, maka dalam pertempuran ini, orang-orang hanya melihat gulungan sinar pedang dan gulungan sinar ranting yang saling belit dan saling tindih menjadi satu sukar diketahui mana yang lebih kuat.
Delapan puluh jurus telah lewat dan pertempuran makin memuncak saking ramainya.
Hui Lian berdiri menonton sambil meremas-remas tangannya.
Ta merasa meyesal mengapa tidak dia saja yang tadi menggantikan ayahnya.
Ta khawatir kalau-kalau ibunya akan kalah, sungguhpun ia dapat melihat betapa ibunya kini medesak hebat kepada Tawannya.
Kalau dia yang maju, Hui Lian merasa pasti dapat merobohkan Kwan Ji Nio, paling lama dalam pertandingan lima puluh jurus.
Biarpun masih kalah hebat dalam ginkang oleh ibunya akan tetapi dalam ilmu pedang, kiranya ia masih lebih mahir daripada ibunya.
Tni adalah karena dia telah mempelajari Pak-kek Kiam-sut sedangkan ibunya tidak.
Akan tetapi ketika memperhatikan lagi, Hui Lian menarik napas lega.
Tbunya pasti menang, dan benar saja, terdengar jerit kesakitan, ranting terlempar jatuh dan tubuh Kwan Ji Nio melompat ke ke belakang.
Ta jatuh dengan kedua kaki di atas tanah, terhuyung huyung dan darah mengucur dari pahanya.
Cepat Kong Ji menyuruh ahli-ahli pengobatan rombongannya merawat.
Sejak tadi pun ia sudah menyuruh kawan-kawannya merawat See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun.
See-thian Tok-ong yang melihat pihaknya kalah semua, tentu saja menerima baik bantuan pemuda ini karena setelah dia dan anak isterinya kalah, paling baik sekarang menjagoi Kong Ji dan membantunya!
Demikianlah sifat orang jahat.
Mudah berubah, penjilat, dan pengecut.
Selalu memilih tempat untuk keuntungannya sendiri tanpa memperdulikan kegagahan, keadilan, dan kejujuran.
Kini dari pihak Liok Kong ji muncul Giok Seng Cu.
"Aku mewakili Tung-nam Tui-bengcu,"
Katanya dengan suara kasar.
"sekarang calon yang masih ada hanyalah Tai bengcu dan Go Ciang Le. Semenjak dahulu, Hwa I Enghiong hanya nienyembunyikan diri saja, mengapa sekarang tiba-tiba muncul hendak menduduki kursi bengcu? Apakah dia benar-benar begitu ingin menjadi bengcu?"
Ucapan Giok Seng Cu ini penuh sindiran, membuat Bi Lan marah sekali.
"Giok Seng Cu, suamiku mengingini kedudukan bengcu masih tidak begitu memalukan, tidak seperti engkau yang begitu merendahkan diri menjadi kaki tangan seorang penjahat muda yang pernah menjadi muridmu. Di manakah kulit mukamu? Ketahuilah, suamiku tidak begitu ingin menjadi bengcu, hanya karena pilihan orang lain maka terpaksa ikut dalam lomba ini. Akan tetapi bukan semata-mata untuk meramaikan pemilihan, melainkan semata-mata untuk menghadapi manusia-manusia jahat yang hendak mempergunakan kepandaian menduduki kursi bengcu!"
Giok Seng Cu tersenyum mengejek "Bi Lan, kau masih saja bermulut besar seperti dulu. Pergilah dan biarkan suamimu yang maju!"
Giok Seng Cu melakukan tantangan ini karena ia melihat Hwa I Enghiong Go Ciang Le masih bersila sambil meramkan mata mengira bahwa CiangLe masih terluka dan karenanya iato bera ni menantang.
"Untuk melayani manusia rendah macam engkau saja, cukup dengan pedangku. Majulah!"
Kata Bi Lan sambil menyerang.
Terjadi pertempuran hebat yang ke lihatannya berat sebelah karena Giok Seng Cu hamya bertangan kosong.
Akan tetapi pada hakekatnya, kakek rambut pandang inilah yang mendesak Bi Lan dengan pukulan-pukulan Tin-san-kang.
Sedangan pedang Bi Lan cukup ia layani dengan kibasan kedua lengan bajunya saja, sedangkan pukulan-pukulan Tin-san-kang dari jarak jauh membuat Bi Lan kewalahan.
Nyonya ini baiknya memiliki kegesitan luar biasa sehingga dapat mengelak ke sana ke mari, hanya hawa pukulan saja yang menyerempet dan membuat pakaiannya berkibar-kibar.
Akhirnya Bi Lan tak kuat menghadapi lawannya lebih lama lagi, ia bertempur sambil mundur.
"Ibu, kau sudah lelah. Biar aku menggantikanmu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Hui Lian sudah menyerang Seng Cu dengan pedangnya, sedangkan Bi Lan lalu melompat mundur untuk beristirahat karena ia betul betul lelah menghadapi Giok Seng Cu yang lihai.
Sebelum tertangkap oleh Kong Ji, Hui Lian sudah bertempur melawan Giok Seng Cu dan telah melukai kulit lengannya dengan ujung pedangnya.
Oleh karena inilah gadis itu menjadi berani dan besar hati menghadapi Giok Seng Cu yang dianggapnya bertenaga besar akan tetapi tidak memiliki kepandaian tinggi.
la tidak tahu bahwa ketika melawannya sampai tergores pedang kulit lengannya, Giok Seng Cu tidak melawannya dengan sungguh-sungguh.
Kakek ini tidak berani melukainya seperti yang dipesan oleh Kong Ji dan dalam pertempuran seperti itu, Giok Seng Cu hanya mengelak dan tak pernah menyerangnya.
Serangan satu-satunya yang diajukan selalu hanyalah usaha untuk menangkapnya hidup-hidup tanpa melukai dirinya.
Tentu saja dalam pertempuran seperti itu, Giok Seng Cu tidak dapat mengeluarkan semua kepandaiannya dan karena itulah ia sampai terluka oleh goresan pedang Hui Lian.
Akan tetapi sekarang lain lagi.
Mereka berada di gelanggang pertempuran yang sungguh-sungguh dan tak terdengar perintah sesuatu dari Kong Ji.
Oleh karena inilah Giok Seng Cu lalu menyerang dengan sepenuh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Hui Lian terkejut dan cepat-cepat melakukan perlawanan sengit.
Kong Ji berdiri tegak dengan hati tak enak.
Tadi ia sudah terkejut sekali melihat munculnya Hui Lian dan Coa Hong Kin yang ternyata telah ditolong oleh Wan Sin Hong.
Gagallah rencananya unmemaksa Ciang Le dengan mengancam Hui Lian yang sudah tertawan.
Sekarang ia melihat gadis itu melakukan perlawanan sengit terhadap Giok Seng Cu, benar-benar hatinya tidak enak sekali.
la dapat meramalkan bahwa nona itu pasti akan kalah oleh Giok Seng Cu.
Hal ini memang tidak apa-apa baginya, akan tetapi ia tahu betul akan silat kepandaian Giok Seng Cu.
Kakek ini mengandalkan kelihaiannya semata-mata atas kemahiran ilmu silat dan senjatanya yang ampuh adalah Pukulan Tin-san-kang.
OLeh karena setiap orang lawan dari kakek ini kalau kalah tentu akan roboh terkena pukulan Tin-san-kang dan ini berarti lima bagian tewas, tiga bagian terluka berat di dalam tubuh dan hanya dua bagian masih ada harapan hidup!
Bagi Kong Ji, kalau sampai Hui Lian tewas memang tidak apa-apa.
Akan tetapi di dalam hati kecilnya ada rasa sayang kepada bekas sumoinva ini dan ia tidak tega kalau melihat Hui Lian tewas.
Apalagi ia tahu bahwa kalau hal ini terjadi, permusuhan dengan pihak Hwa I Enghiong akan menjadi makan besar dan selamanya ia takkan merasa aman lagi.
Dengan orang seperti Go Ciang Le itu lebih aman bersahabat daripada bermusuh, lebih baik menjadi kawan daripada menjadi lawan.
Setidaknya jangan menanam rasa permusuhan besar dan dendam yang melahirkan pembalasan-pembalasan.
Diam-diam Kong it mengeluarkan suatu dari saku bajunya dan memandang ke arah pertempuran dengan penuh perhatian.
Saat yang dikhawattrkan tiba.
Ketika nona itu menyerang dengan pedangnya secara cepat sekali.
Giok Seng Cu membuang diri ke kiri, terus bergulingan di atas tanah.
Ini merupakan pancingan yang hanya dimengerti oleh Kong ji.
Akan tetapi Hui Lian mengira bahwa ia telah dapat mendesak, maka dengan hati besar ia mengejar.
Tiba-tiba Giok Seng Cu membalikkan tubuh dan selagi tubuhrnya masih mendekam, ia mengirim pukulan Tin-san kang ke arah Hui Lian!
Inilah hebatnya pancingan itu.
Pukulan Tin-san-kang memang dilakukan dengan tubuh merendah, makin rendah makin kuatlah pukulan itu, maka dalam bergulingan Giok Seng Cu selain memancing lawan datang mengejar, juga dapat mengatur kedudukan yang amat baik untuk melakukan pukulan tiba-tiba.
Hui Lian melihat ini dan mengerti namun terlambat.
Ketika ia mengelak angin pukulan Tin san-kang sudah menghantamnya biarpun ia sudah mengelak, pundaknya masih terdorong, membuat ia terguling!
Giok Seng Cu mengeluarkan seruan girang, melompat dan mengejar, bermaksud mengirim pukulan ke dua yang tentu akan mematikan gadis itu.
Terdengar Bi Lan menjerit dan Ciang Le menahan napas.
Tentu saja kalau mereka mau, mereka dapat menyerang Giok Seng Cu, akan tetapi ini bukanlah laku orang gagah.
Mereka ini lebih baik kehilangan puteri daripada harus melanggar peraturan kang-ouw.
Pada saat Giok Seng Cu memukul, kakek ani berteriak kesakitan mengurungkan pukulannya, bahkan ia sendiri terhuyung-huyung lalu berlari mendekati Kong Ji.
Di pundaknya telah menancap tiga batang Hek-tok-ciam (Jarum racun Hitam) yang dilepas oleh Kong Ji dalam usahanya menolong Hui Lian.
Dengan muka sebentar pucat sebentar merah Hui Lian kembali ke rombongannya.
Kong Ji setelah mengobati pundak Giok Seng Cu, lalu melompat ke tengah lapangan.
Ciang Le juga melompat menghadapinya dengan Hwa I Enghlong berkata singkat.
"Kami telah berhutang nyawa anak kami kepadamu."
Kong Ji menjura dengan hormat.
"Harap maafkan Giok Seng Cu Suhu yang lancang tangan. Memang tidak sedikit pun aku mempunyai maksud bermusuhan denganmu. Kalau saja kau suka mengalah dan membiarkan aku menduduki kursi bengcu, bukankah ini berarti saling menolong dan menghindarkan pertandingan pertandingan yang membahayakan nyawa?"
Ciang Le tak dapat menjawab.
ia bingung sekali.
Ia memang harus membela kedudukan bengcu agar jangan terjatuh dalam tangan orang seperti Kong Ji.
Akan tetapapi di lain pihak, sebagai seorang gagah ia harus ingat budi.
Betapapun jahatnya Kong Ji, baru saja tak dapat disangkal bahwa tanpa pertolongan Kong Ji yang mengorbankan pembantunya sendiri sampai dilukainya, sudah dapat ditentukan nyawa Hui Lian melayang di tangan Giok Seng Cu.
Budi menolong nyawa adalah budi besar, hanya dapat dilunasi dengan menolong nyawa pula.
Ciang Le berdiri bengong, kagum dan juga ngeri menyaksikan kelicikan dan kepintaran Liok Kong Ji.
Bocah ini benar-benar seorang iblis yang kelak akan membahayakan dunia.
Pada saat itu, terdengar suara orang-orang yang hadir di situ dan semua mata memandang ke satu jurusan.
Tentu saja Kong Ji dan Ciang Le juga tertarik dan mereka ikut menoleh.
Kong Ji mengeluarkan seruan marah dan kaget sedangkan Ciang Le terheran-heran ketika melihat siapa yang datang itu.
Dengan sikap gagah dan senyum yang menambah cantiknya.
Siok Li Hwa berjalan diikuti oleh pasukannya dan di sampingnya berjalan seorang pemuda membikin kaget, marah, dan heran semua orang.
Pemuda itu yang berjalan dengan sikap tenang dan sederhana, sepeti juga sederhananya pakaiannya, bukan lain adalah Wan Sin Hong.
Kong Ji kaget setengah mati hampir ia tak dapat mempercayai kedua matanya sendiri.
Wan Sin Hong sudah menjadi korban jarum Hek-tok-ciam dan jarum hijau dari Li Hwa, bagaimana sekarang datang lagi dalam keadaan segar dan sehat?
Dan mengapa sekarang berjalan dalam suasana persahabatan dengan Li Hwa?
Hatinya berdebar tidak karuan dan ia merasa tidak enak.
Sebaliknya, Ciang Le tidak heran melihat Wan Sin Hong dalam keadaan masih hidup dan sehat karena ia sudah mendengar dari Hui Lian tadi siapa adanya orang yang terkena jarum-jarum yang dilepas oleh Kong Ji dan ketua Hui-eng-pai.
Ia hanya heran melihat Wan Sin Hong berani muncul di tempat itu.
Bagaimanakah Wan Sin Hong yang tadinya sudah roboh oleh jarum rahasia dan dibawa pergi tubuhnya oleh seorang aneh yang bermuka merah dan dikejar oleh Li Hwa, kini datang dalam keadaan sehat bersama Siok Li Hwa?
Mengapa mereka tidak kelihatan bermusuhan dan kemanakah perginya Si Muka Merah yang aneh tadi?
Baiklah kita mengikuti pengalaman Hui-eng Niocu Siok Li Hwa ketika melakukan pengejaran kepada Wan Sin Hong yang dipondong pergi oleh manusia muka merah yang aneh.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang merasa penasaran karena belum dapat membunuh Wan Sin Hong yang mencemarkan nama baik perkumpulannya, ketika melihat tubuh Sin Hong dibawa lari oleh orang yang bermuka merah, lalu mengejar terus bersama rombongannya.
Belum lama ia mengejar dan tiba di sebuah hutan di lereng Bukit Ngo-heng-san itu, ia melihat orang yang dikejarnya tadi sedang berlutut.
Wan Sin Hong direbahkan di atas tanah dan orang itu kelihatan sedang merawat luka-luka yang diakibatkan oleh jarum-jarum rahasia.
Orang itu sedang asyik menusuk-nusuk bagian terluka tadi dengan jarum-jarum emas dan perak, sedangkan jarum Hek-tok-ciam dan jarum hijau yang tadi melukai Wan Sin Hong telah dicabuti dan kini diletakkan di atas sehelai kain putih.
Orang demikian asyiknya mengobati luka-luka dan duduknya membelakangi Li Hwa sehingga tidak mendengar atau melihat datangan Siok Li Hwa dan anak buahnya.
Siok Li Hwa ragu-ragu.
Pedangnya sudah siap di tangan, akan tetapi ia termangu-mangu ketika menyaksikan betapa orang yang menolong Wan Sin Hong itu tengah mengobati luka-luka yang ditimbulkan antara lain oleh jarum-jarum hijaunya.
"Serahkan penjahat Wan Sin Hong kepadaku!"
Akhirnya ia membentak dengan suara keras.
Orang yang disangkanya orang aneh bermuka merah itu menoleh dan melihat wajah orang ini, Li liwa mengeluarkan jerit ngeri dan takut demikian pula para anak buahnya mengeluarkan jerit kaget dan muka mereka pucat.
Pandang mata mereka sebentar ditujukan kepada Wan Sin Hong yang menggeletak di atas bumi, kemudian dialihkan kepada orang yang berlutut dan yang tadinya disangka orang bermuka merah.
Memang aneh sekali dan bagi para gadis ini tentu saja merupakan hal yang aneh dan mengerikan karena baik bentuk badan maupun wajah kedua orang pemuda itu, baik yang berbaring maupun yang berlutut merawat, bagaikan tangan kanan dan tangan kiri.
Serupa benar!
Saking bingung dan gugupnya, Li Hwa lalu melontarkan sebatung jarum hijau kepada pemuda yang sedang berlutut dan sedang mengobati luka-luka di tubuh pemuda yang rebah itu.
Pemuda yang berlutut itu tengah memegangi jarum emas dan perak yang dipergunakan untuk menusuk-nusuk bagian yang terkena jarum beracun, maka ia tidak keburu nienangkis atau mengelak.
Dengan tenang ia lalu melembungkan kedua pipinya dan...
sekali meniup jarum hijau itu runtuh ke tanah!
Mata Li Hwa yang tajam dan bening itu terbelalak kaget.
Mana mungkin orang meniup runtuh jarum hijaunya?
Memang benar jaram itu kecil dan ringan saja akan tetapi telah disambitkan dengan penggunaan tenaga lweekang istimewa.
Seorang dengan tenaga lweekang biasa saja jangan harap akan dapat melontarkan jarum itu demikian cepat dan kuatnya.
Akan tetapi bagaimanakah tenaga yang mendorong jarum itu menjadi punah begitu terkena angin tiupan pemuda itu?
Setankah dia?
"Nona, tenanglah dan jangan galak-galak dulu.
Tidakkah kau melihat betapa hebat luka saudara ini?
Biarkan aku mengobatinya lebih dulu baru kita bicara.
Pengaruh jarum hijaumu tidak berbahaya akan tetapi Hek-tok-ciam benar-benar merupakan senjata rahasia beracun keji sekali!"
Kembali pemuda itu tekun merawat yang luka dan sama sekali tidak mempedulikan Li Hwa.
Ketua Hui-eng-pai ini berdiri bengong dan merasa malu kepada diri sendiri.
tidak ada muka untuk menyerang lagi dan akhirnya ia malah melangkah mendekati dan dengan para anak buahnya berdiri di belakangnya, dia menonton cara pengobatan itu.
Kagum ia melihat betapa cekatan jari-jari tangan pemuda yang mengobati.
Setelah menusuk-nusuk dengan enam jarum emas dan perak, lalu menggunakan pisau tajam untuk melakukan operasi dan mengeluarkan darah yang hitam dan kehijauan dari luka-luka akibat jarum rahasia tadi.
Setelah membersihkan luka-luka, ia lalu menempelkan obat di atas bekas luka, dan dengan secawan arak ia memberi minum obat kepada Si sakit mg masih pingsan.
Akhirnya ia membereskan baju si sakit yang tadi dibukanya dan sambil tersenyum ia memandang kepada Li Hwa.
"Sudah beres, nyawanya tertolong, biarpun ia harus beristirahat sedikitnya seratus hari."
Siok Li Hwa memandang tajam dan ia merasa bulu tengkuknya berdiri melihat persamaan yang luar biasa antara dua orang pemuda itu.
"Siapa kau?"
Tanyanya, mengharap akan mendapat jawaban bahwa pemuda ini adalah saudara kembar dari Wan Sin Hong yang menggeletak pingsan di atas tanah.
Akan tetapi jawaban pemuda yang tersenyum-senyum tenang ini membuat bulu-bulu tengkuknya berdin lagi, juga para pengikutnya mengeluarkan seruan tertahan sambil menutup mulut yang berbibir merah dengan jari-jari tangan ketika pemuda itu menjawab.
"Namaku Wan Sin Hong."
"Kau... Wan Sin Hong...? Kalau begitu... siapa... siapakah orang........ itu...?"
Li Hwa menunjuk ke arah pemuda yang terluka tadi. Sin Hong tersenyum duka.
"Dia ini siapa aku sendiri pun belum tahu, akan tetapi biarpun ia agaknya serupa benar dengan aku, aku berani pastikan bahwa dia bukan Wan Sin Hong."
"Kalau begitu kaulah orangnya yang berbuat jahat kepada Cun Eng. Jahanam, bersiaplah kau untuk mampus!"
Li Hwa lalu bersikap hendak menyerang dengan pedangnya, juga tiga puluh sembilan orang gadis rombongannya mencabut pedang masing-masing sehingga terdengar suara "Sraatt!"
Yang nyaring. Sin Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, kecewa dan berduka.
"Nasibku yang buruk. Nona, sebelum kau membunuhku, maukah kau memberi tahu kepadaku apa sebabnya kau dan kawan-kawanmu ini begitu membenci Wan Sin Hong?"
"Bangsat besar jangan coba berpura-pura! Kau telah mengganggu Cun Eng dan ".."
"Nanti dulu...! Siapa itu Cun Eng...?"
Siok Li Hwa marah bukan main, pedang hijaunya berkelebat menyerang. Sin Hong tidak bergerak hanya berkata.
"Kau ini seorang nona cantik jelita yang lancang dan ceroboh!"
Pedang hijau itu terhenti di tengah udara tidak jadi menusuk dada.
"Kau".. kau setan... kau berani bilang aku lancang dan ceroboh?"
Bentak Hui eng Nio-cu Siok Li Hwa saking marahnya mendengar makian ini, sampai tadi ia menunda gerakan pedangnya dan lupa untuk menyerang lagi. Sin Hong mengangguk.
"Memang kau lancang dan ceroboh, dia inilah buktinya! Kalau kau tidak lancang dan ceroboh dan kau mau mempergunakan sedikit pertimbangan dan akal budi, masa kau sampai salah tangan melukai orang yang tidak berdosa? Sekarang tanpa penyelidikan lagi, kau sudah memastikan harus membunuhku, yakin betulkah kau bahwa aku benar-benar orang berdosa terhadap orang yang kau namakan Cun Eng? Bagaimana kalau sampai kau salah tangan lagi?"
Li Hwa nampak ragu-ragu.
"Habis kau... kau bernama Wan Sin Hong, dan kami memang mencari penjahat Wan Sin Hong""
Kini Sin Hong menarik napas panjang "Sudah terlampau banyak perbuatan-perbuatan keji dan jahat dilakukan oleh seorang bernama Wan Sin Hong.
Aku yang bernama Wan Sin Hong sama sekali tidak tahu-menahu tentang kejahatan-kejahatan itu.
Hal ini mempunyai dua kemungkinan.
Pertama, ada seorang penjahat yang namanya betul-betul sama dengan namaku dan kemungkinan kedua, ada seorang jahat yang sengaja memakai namaku dengan maksud memburukkan namaku.
Kemungkinan kedua inilah yang kurasa tepat dan sekarang sedang kuselidiki.
Sekarang, melihat wajah orang ini yang serupa betul dengan aku, dan yang juga diserang orang karena disangka Wan Sin Hong, aku sengaja merampasnya dan mengobatinya karena siapa tahu kalau-kalau benar orang ini yang selama ini memakai nama Wan Sin Hong dan membikin cemar namaku.
Kalau betul demikian, dia harus hidup dulu untuk membuka semua rahasia dan untuk mengaku mengapa ia begitu benci kepadaku dan melakukan segala macam kejahatan atas namaku.
Akan tetapi, aku masih ragu-ragu.
Orang dengan wajah seperti ini tak mungkin jadi penjahat !"
Tiba tiba muka Sin Hong menjadi merah, ketika ia melihat pandang mata Li Hwa.
Gadis ini memandang kepadanya dengan mata berseri dan mulut tersenyum.
Semua ucapan Sin Hong termakan betul oleh hatinya dan dianggap penuh cengli.
Akan tetapi kata-kata terakhir tadi mendatangkan geli pada hatinya, tak tertahan lagi gadis ini tertawa.
Karena semenjak kecil ia hidup di tempat terasing, ketawanya tidak seperti gadis-gadis lain yang selalu malu-malu dan bersopan-sopan dengan menutupi mulut dengan tangan.
Gadis ini tertawa dengan bebas, memperlihatkan gigi yang putih dan berbaris rapi.
"Kenapa kau mentertawaiku?"
Sin Hong mengerutkan alisnya.
"Kau manusia sombong, memuji-muji diri sendiri. Kiranya di dunia ini tidak pernah ada orang memujimu, maka memuji diri sendiri"
"Aku? Memuji diri sendiri? Bagaimana maksudmu?"
"Bukankah kau tadi bilang bahwa orang dengan wajah seperti dia itu tidak mungkin jadi penjahat?"
Tiba-tiba Sin Hong tertawa.
Kini mengertilah dia.
Memang, dengan mengatakan demikian, karena wajah orang itu serupa benar dengan wajahnya, sama artinya dengan menyatakan bahwa orang dengan wajah seperti wajahnya sendiri, tak mungkin jadi penjahat!
"Nona, ketahuilah.
Di dunia ini terdapat seorang iblis jahat yang sepak terjangnya selain keji sekali, juga ia licin dan berbahaya.
Salah satu di antara kecurangannya adalah penggunaan namaku untuk perbuatan-perbuatan jahatnya.
Aku sedang mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti dan sekarang tiba saatnya aku membuka kedoknya.
Nona siapakah dan coba kauceritakan perbuatan apakah yang dilakukan oleh penjahat yang mempergunakan namaku itu?"
Sekarang Siok Li Hwa mulai percaya kepada pemuda ini.
Memang ia pikir tidak mungkin pemuda yang bersikap seperti ini seorang penjahat keji.
Ia menceritakan peristiwa yang terjadi atas diri Cun Eng itu dan memperkenalkan diri.
Sin Hong mengerutkan alisnya.
"Hemm, keparat jahanam betul iblis itu. Di mana sekarang Nona Cun Eng?" (Lanjut ke
Jilid 31) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31
"Dia sudah meninggal dunia, membunuh diri."
Li Hwa lalu menuturkan bagai-mana Cun Eng telah membunuh diri di puncak Ngo-heng-san.
"Apakah dia tidak mengenal muka penjahat itu?"
"Tidak, karena di dalam gelap, hanya penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong."
"Hemmm, seperti yang sudah-sudah juga begitu. Dan di antara kalian adakah yang sudah pernah melihat si penjahat itu?"
Li Hwa menggelengkan kepala.
"Kalau begitu lebih-lebih lagi kau tidak boleh sembarangan menyerangku, Nona. Masih baik kalau benar-benar dugaanmu bahwa akulah orang jahat itu. Akan tetapi kalau keliru, bagaimana? Seorang gagah tidak berlaku sewenang-wenang, apalagi merupakan pantangan besar bagi seorang gagah untuk mencelakai orang yang tidak berdosa."
"Wan Sin Hong, kalau benar kau bernama Wan Sin Hong dan tidak merasa berdosa, kau sendiri yang harus dapat mencuci namamu yang sudah dikotori orang. Kalau memang kau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat, kau harus dapat menangkap orang yang memalsukan namamu. Setelah penjahatnya tertangkap baru aku dapat percaya bahwa kau tidak berdosa. Kalau tidak ada bukti itu, bagaimana aku bisa percaya?"
"Kau kira aku enak-enak saja? Berbulan-bulan aku sudah menyelidiki dan mengikuti jejak penjahat itu dan kiranya sekarang sudah dekat. Aku minta pertolongan beberapa orang anak buahmu untuk menjaga saudara ini di sini dan marilah kita naik ke puncak. Kiranya, kalau tidak meleset perhitunganku, di puncak itulah akan dapat kubongkar semua rahasia ini."
Demikianlah Sin Hong dan Li Hwa lari menuju ke Puncak Ngo-heng-san pada saat Liok Kong Ji sedang berhadapan dengan Go Ciang Le dan pemuda itu telah mendesak Ciang Le dengan kata-kata..
Di sepanjang jalan menuju ke puncak, Sin Hong minta keterangan dan Li Hwa tentang keadaan dipuncak.
Gadis itu yang makin lama makin tertarik dan suka kepada Sin Hong, menceritakan semua dengan jelas, betapa Cam-kauw Sin-kai terluka hebat dan lain lain.
"Kau pun dipilih oleh Cam-kauw Sin-kai menjadi seorang calon bengcu."
Katanya sebagai penutup penuturannya.
"dan aku pun masuk mencalonkan diri!"
Kata-kata ini diiringi suara ketawanya yang merdu. Sin Hong memandang kepadanya sambil tersenyum.
"Gadis ini luar biasa dan amat menarik hati", pikir Sin Hong. Akan tetapi ia merasa khawatir mendengar betapa Cum-kauw Sin-kai terluka oleh Ngo-tok Mo-jiauw, juga mendengar pengemis tua itu memilihnya sebagai calon bengcu.
"Agaknya di antara semua tokoh itu, hanya kakek pengemis ini yang masih menaruh kepercayaan padaku", pikir Sin Hong. Ia lalu mengajak Li Hwa mempercepat perjalanan ke puncak. Setelah tiba di puncak, tanpa memperdulikan semua orang yang memandang kepadanya, ada yang terheran heran, yang kaget, dan ada yang marah-marah. Ia langsung berlari mendekati Cam-kau Sinkai yang masih rebah dan dirawat oleh Hui Lian, Bi Lan dan Hong Kin. Bi Lan melompat dan memandang kepada Sin Hong dengan mata penuh selidik. Hui Lian mukanya berubah sebentar pucat sebentar merah ketika melihat pemuda, sedangkan Hong Kin menjadi bengong dan mukanya pucat sekali. Mimpikah dia Pemuda yang baru datang yang dipanggil Wan Sin Hong ini, mengapa begitu serupa dengan Pangeran Wanyen Ci Lun? Hong Kin amat setia dan mencinta Pangeran Wanyen Ci Lun, maka begitu melihat Wan Sin Hong ia bertanya.
"Di mana Wanyen Siauw-ongya?"
Sin Hong menoleh kepadanya, tak mengerti apa yang dimaksudkan.
"Siapa?"
"Pangeran Wanyen Ci Lun, yang tadi dibawa pergi oleh orang muka merah, dia"
Serupa benar dengan engkau..."
"Ah... jadi dia itu pangeran?"
Hanya ini saja yang diucapkan oleh Sin Hong dan dadanya berdebar, apalagi ia mendengar bahwa pangeran itu mempunyai nama keturunan Wanyen, yakni nama keturunan ayahnya.
"Wanyen Kan! Dia masih saudaraku"
Pikirnya. Akan tetapi pada saat itu seluruh perhatiannya dicurahkan kepada Cam-kauw Sin-kai dan tanpa mempedulian yang lain-lain, ia cepat berlutut dan memeriksa keadaan Cam-kauw Sin-kai.
"Kau...?"
Kakek itu berkata lemah. Napasnya sudah empas-empis dan mukanya tidak karuan, ada tanda tanda warna hitam, merah. hijau dan warna lain lagi. Inilah kehebatan racun dari Ngo-tok Mo-jiauw"
"Locianpwe, aku tidak berani mendahului kehendak Thian. Akan tetapi menurut pendapatku yang bodoh, lukamu tak dapat disembuhkan lagi. Racun yang mengandung hawa Im dan racun lain yang mengandung hawa Yang sudah memasuki darah. Kalau tidak kuobati, dalam waktu sehari semalam kau akan tewas. Dengan pengobatanku juga hanya dapat memperpanjang waktu sampai tiga hari tiga malam. Bagaimana? Apakah aku harus mengobatimu?"
Kakek pengemis itu menggeleng kepalanya.
"Tak usah... sehari semalam sudah cukup lama... kau bereskan saja urusan ini". jaga baik-baik jangan sampai orang lain menjadi bengcu... Wan-sicu maukah kau bersumpah bahwa penjahat Wan Sin Hong itu bukan kau orangnya?"
Sin Hong cepat mengeluarkan pisau perak kecil dan mulai memotong urat-urat yang akan menghambat perjalanan racun ke jantung.
Juga ia menotok sana sini sehingga akhirnya kakek itu tidak merasa sakit sama sekali.
Kemudian baru ia menjawab.
"Tak perlu bersumpah, Locianpwe. Apa artinya sumpah kalau tidak ada bukti-bukti? Tetap saja tidak dicaya orang. Biarlah, sekarang juga aku hendak membongkar bukti-buktinya!"
Sambil berkata begitu ia masih asyik menotok dan memijit tubuh kakek pengemis itu.
"Wan Sin Hong penjahat terkutuk. Menyerahlah untuk kubelenggu, jangan menanti aku menurunkan tenaga besi!"
Bentakan ini diucapkan oleh Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai yang sudah berada di situ bersama Leng Hoat Taisu.
Akan tetapi Wan Sin Hong yang asyik merawat Cam-kauw Sin-kai itu tidak peduli sekali atas bentakan Bu Kek Siansu, melirik pun tidak.
Bu Kek Siansu melangkah maju dan menggunakan dua jarinya menotok pundak Sin Hong, dengan maksud membuat pemuda itu tidak berdaya.
Juga Sin Hong tidak peduli, melirik pun tidak.
Pundaknya terkena totokan jago tua dari Bu tong-pai itu.
"Duk!"
"Ayaaa...!"
Bukan Sin Hong yang terguling, melainkan tosu berjenggot panjang yang bertubuh tinggi kurus itu yang melompat ke belakang dan cepat ia mengurut-urut dua batang jari tangannya yang tadi dipakai menotok karena dua jari tangan itu telah menjadi salah urat.
Bagaimana bisa begini?
Tak lain karena Bu Kek Siansu berlaku ceroboh dan tadi melihat pemuda itu tidak melakukan perlawanan, lalu berlaku sembarangan karena ia pun tidak mau melukai pemuda yang tidak melawan.
Maksudnya hanya akan membikin pemuda itu tak berdaya.
Akan tetapi siapa kira setelah dua batang jari tangannya menyentuh kulit pundak, pundak ini dari sebelah dalam mengeluarkan hawa panas dan agak di goyang sedikit sehingga jari tangan kakek itu terserang tenaga yang luar biasa membuat tenaga totokan membalik dan membuat urat-urat dalam jari tangan itu terpukul sendiri!
Inilah kelihaian hawa sinkang yang sudah tinggi sekali.
Tadinya Bu Kek Siansu dan Leng Hoat Taisu yang duduknya di bagian lain, melihat munculnya Wan Sin Hong, menjadi marah karena mengira bahwa penjahat muda yang lihai ini tentu akan membikin onar.
Maka tanpa berpikir panjang mereka lalu mendatangi tempat itu dan Bu Kek Siansu lalu menyerangnya.
Akan tetapi ketika Leng Hoat Taisu melihat bahwa pemuda yang berlutut itu sebetulnya sedang mengobati suhengnya, Cam-kauw Sin-kai, menjadi tercengang dan tidak bergerak, terpaku di situ saking herannya.
Sebaliknya Bu Kek Siansu yang merasa ia dibikin malu, tidak melihat hal ini saking malu dan marahnya.
Tangan kirinya sudah memegang pedang dan sambil membentak.
"Penjahat keji lihat pedangku!"
Ia lalu menyerang "Trangg...!"
Pedangnya tertangkis oleh sinar hijau yang ternyata adalah pedang hijau yang dipegang oleh Siok Li Hwa.
Gadis ini tadi melihat segala yang terjadi dan merasa penasaran menyaksikan kakek Ketua Bu-tong pai yang bertindak sembrono saja itu.
"Kau membela penjahat ini?"
Bentak Bu Kek Siansu marah, juga kaget dan heran karena tadi ia saksikan sendiri betapa Ketua Hui-eng-pai ini amat benci kepada Wan Sin Hong dan mencarinya untuk dibunuh.
"Sabarlah kakek tua. Kalau kau tidak sabaran dan mudah marah-marah usia tak dapat panjang!"
Jawab Li Hwa.
"Memang betul dia ini Wan Sin Hong, akan tetapi tunggu sampai dia membuktikan bahwa dia tidak berdosa dan bahwa namanya dipergunakan oleh orang lain. Aku sendiri pun sedang menunggu pembuktian ini. Selain itu, tidakkah kaulihat, bahwa dia tengah mengobati Cam-kau Sin-kai yang terluka berat""
Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai yang sudah tidak merasa sakit lagi, cepat bangkit dan duduk bersila, lalu berkata kepada Sin Hong.
"Wan-sicu, lekas kau bereskan semua ini!"
Sin Hong kini membungkus alat-alat pengobatannya, kemudian perlahan bangkit berdiri.
Matanya menyapu orang-orang yang berada di situ dan melihat Lie Bu Tek berdiri di dekat Ciang Le, ia lalu menghampiri pendekar buntung itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan Lie Bu Tek.
"Gihu, harap selama ini kau dalam sehat saja,"
Kata-katanya amat mengharukan hati Lie Bu Tek.
Ingin sekali pendekar buntung ini memeluk anak angkatnya yang amat dikasihinya akan tetapi ia menahan perasaan hatinya dan hanya kedua matanya dikejap-kejapkan menahan runtuhnya air mata.
Akhirnya ia dapat juga mengeluarkan kata-kata yang terdengar berat dan serak.
"Buktikan dulu kebersihanmu, baru kau datang kepadaku."
Wan Sin Hong memberi hormat lalu berdiri, untuk sejenak berpandangan dengan ayah angkatnya, dua pasang mata memandang penuh rindu dan akhirnya Sin Hong memeluk ayah angkatnya.
"Mohon berkahmu, Gihu...."
Ia melepaskan pelukannya dan berjalan dengan langkah tenang dan lambat ke tengah lapangan.
matanya selalu ditujukan kepada Kong Ji.
Lie Bu Tek mengikuti putera angkatnya dengan mata digenangi butir air mata, mengikutinya dengan pandang mata penuh kasih sayang.
"Benar-benarkah dia tidak berdosa?"
Kata-kata ini terlepas dan mulut Ciang Le yang terharu juga menyaksikan sikap Sin Hong terhadap Lie Bu Tek. Lie Bu Tek menggerakkan pundaknya.
"Kita sama-sama lihat saja!"
Juga Bi Lan berbisik di dekat puterinya.
"Pemuda itu aneh sekali. Benar-benarkah dia seorang penjahat besar dan keji?"
Tak terasa Hui Lian mengepal tangannya dan berkata.
"Entahlah, Ibu, akan tetapi aku pernah melihat dia mengejar dan mencoba menculik seorang gadis cantik."
Terdengar suara menggetar penuh kekecewaan dan kegetiran dalam suara ini dan terbayanglah semua pengalamannya dengan Wan Sin Hong.
Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai memanggil Go Ciang Le dan isterinya.
Tentu saja Ciang Le merasa heran dan cepat-cepat bersama Bi Lan ia mendekati kakek yang bersila itu, lalu berlutut dan duduk bersila pula.
"Go-taihiap dan Lihiap, tak lama lagi aku mati. Sebelum itu, aku hanya ingin bicara sedikit untuk penghabisan kali karena kalau pembicaraan ini selesai, aku hendak menghabiskan sisa hidupku menikmati cara bagaimana pemuda she Wan itu menyelesaikan semua perkara ini. Go-taihiap, kau dan isterimu sudah melihat muridku, Coa Hong Kin. Dia seorang yang baik dan melihat hubungannya dengan puterimu, biarpun sekarang bukan saat yang tepat dan bukan di tempat sang patut, mengingat usiaku tak panjang lagi, aku mengajukan lamaran kepada putrimu agar menjadi calon jodoh murindku Hong Kin."
Ciang Le dan istennya saling pandang, sukar untuk memutuskan perkara yang muncul tiba-tiba ini.
Sebagai suami isteri yang saling mencinta, kedua orang ini saling dapat mengerti perasaan hati masing-masing hanya dengan saling pandang saja, tadi mereka sudah menyaksikan ketulusan dan kebaikan hati Hong Kin yang tidak segan-segan mengakui Soan Li sebagai isterinya hanya untuk memberikan muka keluarga Go Ciang Le, maka di dalam hati kedua suami iste ri ini memang sudah ada perasaan suka kepada Hong Kin.
Apalagi Hong Kin adalah murid terkasih dari Cam kauw Sin-kai dan pemuda itu selain memiliki pribadi baik juga wajahnya tampan dan kepandaian silatnya lumayan.
Apalagi yang menjadi halangan?
Ciang Le dan Bi Lan saling memberi tanda dengan mata.
Mereka harus memberi keputusan sekarang karena usia kakek pengemis itu takkan lama lagi.
Ciang Le menoleh kepada Cam kau Sin-kai dan berkata.
"Pinanganmu kami terima, Lo-enghiong. Semoga muridmu dapat membahagiakan hidup puteri kami."
Cam-kauw Sin-kai berseri wajahnya dan dengan tangannya ia melambai kepada Hong Kin, pemuda ini cepat menghampiri suhunya dan alangkah kagetnya ketika suhunya berkata.
"Lekas kau memberi hormat kepada calon gakhu (ayah mertua) dan gakbo-mu mertua)!"
Karena suhunya menudingkan jari kepada Ciang Le dan Bi Lan, maka dengan hati berdebar girang Hong Kin lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Ciang Le dan Bi Lan sebagai calon-calon ayah dan ibu mertuanya!
Saking girangnya dan ingin menikmati saat yang terakhir, Cam-kauw Sin-kai timbul kegembiraannya dan dipanggilnya Hui Lian.
"Nona mantuku, lekas kau mendekat. Aku ingin memberi berkah kepadamu dalam saat terakhir ini!"
Tentu saja Hui Lian yang sejak tadi miemperhatikan Wan Sin Hong, tidak mengerti maksudnya dan mengira kakek yang menderita luka berat ini sudah berubah ingatannya.
Akan tetapi Bi Lan membantunya dan berkata.
"Mendekatlah, Lian-ji, dan lakukan permintaan Cam-kauw Lo-enghiong. Ketahuilah, bahwa telah diikat tali perjodohan antara kau dan Coa Hong Kin."
Merah sekali wajah Hut Lian mendegar ini dan ia memandang kepada Hong Kin dengan lirikan matanya, kemudian pandang matanya menyapu wajah ayah bundanya dan Cam-kauw Sin-kai.
Dan dibayangkan betapa hati dan perasaan gadis ini tergoncang hebat dan pikirannya menjadi bingung.
Seperti kilat cepatnya pikirannya melayang dan terbayanglah wajah Sin Hong wajah Pangeran Wanyen Ci Lun dan wajah Hong Ki Kemudian teringat pula akan semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Hong Kin.
Ketika matanya melirik kepada wajah ayah bundanya, ia dapat membayangkan kepastian yang tak dapat dibantah lagi.
Tak terasa lagi dua butir air mata menggenangi sepasang mata yang jeli itu dan dengan kedua kaki gemetar Hui Lian lalu berlutut di depan Cam-kauw Sin kai.
Kakek pengemis ini lalu meletakkan ke dua tangan ke atas kepala Hui Lian, mulutnya berkemak kemik membaca doa.
Sementara itu, di lereng Bukit Ngo heng-san terjadi hal lain yang hebat juga.
Orang muda yang terluka oleh jarum-jarum beracun, dan yang menggeletak di dalam hutan dan ditolong orang bermuka merah, sebetulnya adalah Pangeran Wanyen Ci Lun.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Wan-yen Ci Lun berpamit kepada kaisar untuk pergi sendiri menyelidiki keadaan pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng-san.
Dengan menyamar sebagai orang biasa, Pangeran Wanyen Ci Lun pergi ke Ngo heng-san.
Pangeran ini sebetulnya juga bukan seorang yang lemah.
Sejak kecil, di samping pelajaran ilmu sastera yang tinggi, dia juga mempelajari ilmu silat dari para busu yang tinggi kepandaiannya sehingga pangeran ini memiliki ilmu yang lumayan juga.
Karena ia melakukan perjalanan cepat ia dapat selalu mengamat-amati perajalanan See-thian Tok-ong dan juga dapat mengawasi Hui Lian dan Hong Kin.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Hui Lian dan Hong Kin tertawan oleh Kong Ji dan kawan-kawannya.
Dengan amat cerdik, Wanyen Ci Lun dapat menyelundup ke dalam rombongan orang-orang Kwan-cin -pai yang pakaiannya macam-macam itu setelah mereka tiba di puncak Ngo-heng san.
Dengan hati-hati ia lalu berusaha untuk menolong dan membebaskan Hui Lian dan Hong Kin dan seperti telah dituturkan di bagian depan, usaha ini berhasil setelah diam-diam mendapat bantuan orang yang tidak memperlihatkan diri.
Sebetulnya, seperti pembaca telah dapat menduga, penolong tersembunyi itu adalah Wan Sin Hong sendiri.
Kemudian setelah Wanyen Ci Lun keluar dari rombongan orang-orang Kwan-cin pai bersama Hui Lian dan Hong Kin, dan terkena jarum beracun, muncullah orang tersembunyi atau Wan Sin Hong itu yang ternyata telah mengenakan obat pengganti warna muka sehingga mukanya menjadi merah sekali.
Wan Sin Hong menolong Wanyen Ci Lun dan membawanya lari sampai kemudian meninggalkan pangeran itu setelah mengobatinya, di bawah penjagaan sepuluh orang anggauta Hui eng-pai.
Pangeran Wanyen Ci Lun tidak begitu sembrono dan bodoh untuk melakukan perjalanan yang berbahaya dan jauh itu seorang diri saja tanpa kawan.
Sebetulnya, diam-diam ia pun telah mengerahkan pasukan kepercayaannya yang terdiri dari tiga puluh orang, untuk menyusul perjalanannya dan menjaga di lereng Ngo-heng-san, menjaga kalau-kalau ada terjadi sesuatu yang memerlukan bantuan mereka.
Sungguh tidak tersangka sama sekali bahwa ia baru menyelundup ke dalam pasukan Kwan-cin-pai dan akhirnya terluka, maka hal ini tidak ketahuan oleh pasukan pengawalnya yang datang belakangan.
Demikianlah, setelah ia diobati oleh Wan Sin Hong dan ditinggalkan di dalam hutan, akhirnya ia siuman dan alangkah herannya ketika ia mendapatkan dirinya berbaring di atas rumput dan dijaga oleh sepuluh orang gadis yang cantik-cantik dan kelihatan gagah-gagah.
"Mimpikah aku...?"
Bisiknya, kemudian ia teringat bahwa ia telah terluka dan pundaknya terasa sakit bukan main.
"Ah... tentu aku sudah mati dan kalian ini bidadari-bidadari sorga...."
Karena Pangeran Wanyen Ci lun memang tampan wajahnya, mendengar kata-kata ini para gadis penjaga itu saling pandang dan tertawa cekikikan.
"Nona-nona manis, jangan ganggu aku. Ceritakanlah di mana aku berada. Benar-benar matikah aku?"
Seorang di antara para gadis itu menjawab.
"Belum, kau belum mati, baru hampir. Apakah namamu Wan Si Hong?"
"Bukan, namaku Wanyen Ci Lun."
Meraba pundaknya yang sakit dan melihat obat yang tertempel di situ ia segera bertanya.
"Siapakah yang menolongku? Apakah kalian yang mengobati luka-lukaku ini?"
Gadis-gadis itu menggeleng kepala mereka yang cantik.
"Kau ditolong oleh seorang bernama Wan Sin Hong, dan yang mukanya sama benar denganmu...."
"Ke mana dia sekarang"
"Ke puncak sana bersama Niocu."
"Siapakah itu Niocu?"
"Ketua kami, sudahlah, kau harus istirahat di sini dan kami ditugaskan menjagamu."
Karena memang tubuhnya masih lemas dan pundaknya masih amat sakit rasanya, Wanyen Ci Lun tidak banyak membantah. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring.
"Lepaskan Siauw-ongya...!"
Muncullah tiga puluh orang pengawal yang baru sekarang tiba di situ dan melihat pangeran itu dijaga oleh sepuluh orang gadis, mengira bahwa majikan mereka ditawan.
Sebaliknya sepuluh orang gadis itu tentu saja tidak membiarkan orang mendekati pemuda yang diserahkan penjagaan mereka.
Cepat mereka mencabut pedang dan segera meyerang!
Memang gadis-gadis ini boleh dibilang setengah liar, hidup di dalam hutan di puncak gunung, tak pernah bergaul dengan dunia ramai, maka watak mereka keras sekali.
Sebaliknya, para pengawal yang menduga bahwa gadis-gadis ini tentulah sebangsa penjahat wanita, lalu melakukan perlawanan, maka terjadilah pertempuran hebat.
Para pengawal adalah orang-orang pilihan yang berkepandaian tinggi akan tetapi di lain pihak para gadis pun merupakan orang-orang kepercayaan Siok Li Hwa, merupakan anggauta anggauta Hui-eng-pai yang sudah tinggi ilmunya, maka pertempuran itu bukan main serunya.
Tiba-tiba di antara gerombolan pohon berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang gadis cantik yang berwajah pucat menerobos masuk memandang wajah Pangeran Wanyen Ci Lun yang menggeletak di atas tanah, kemudian secepat kilat ia menyambar tubuh itu dipondongnya dan dibawa lari!
"Lepaskan Siauw-ongya...!"
Lima orang pemimpin pasukan pengawal itu membentak dan cepat mengejar, sedangkan pengawal-pengawal yang lain masih ramai bertempur melawan gadis Hui-eng-pai.
Akan tetapi gadis bermuka pucat yang membawa lari tubuh Wanyen Ci Lun itu memiliki ginkang yang luar biasa.
Biarpun ia memondong tubuh seorang muda, akan tetapi para pengejarnya ia dapat menyusulnya.
Makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan mata para pengejarnya!
Demikianlah peristiwa yang terjadi di lereng gunung dan biarlah kita meningalkan pertempuran antara gadis-gadis Hui-eng-pai melawan para pengawal pribadi Pangeran itu, dan mari kita menengok lagi ke atas, ke puncak Gunung Ngo-heng-san di mana terjadi peristiwa yang lebih hebat.
Di puncak bukit, Wan Sin Hong berjalan perlahan ke tengah lapangan.
Semua mata memandang ke arahnya.
Tiba-tiba didahului oleh Liok Kong Ji, orang-orang di situ berseru.
"Tangkap penjahat Wan Sin Hong! Bunuh penjahat Wan Sin Hong!"
"Bu Kek Siansu, kau sebagai pemimpin pertemuan ini, apakah tidak bisa menenteramkan mereka? Wan Sin Hong seorang calon, dia berhak bicara!"
Kata Cam-kauw Sin-kai. Terpaksa Bu Kek Siansu berlari ke tengah lapangan dan dengan kedua tangan diangkat ke atas ia berseru mengerahkan lweekangnya.
"Cuwa-enghiong, bukan begitu caranya membereskan perkara. Andaikata benar Wan Sin Hong seorang penjahat keji yang harus dibasmi, akan tetapi pada saat ini dia adalah calon bengcu yang di pilih oleh Cam-kauw Sin-kai. Oleh karena itu, dia berhak bicara sebagai calon bengcu untuk membela diri"
Keadaan menjadi reda dan Wan Sin Hong menjura kepada Bu Kek Siansu selaku ucapan terima kasih.
Akan tetapi Bu Kek Siansu tidak mempedulikan, bahkan lalu meninggalkan tempat itu.
Wan Sin Hong tidak merasa sakit hati karena maklum bahwa kakek Ketua Bu-tong-pai itu tentu masih menganggap ia seorang penjahat besar.
Ta tersenyum pahit, kemudian ia memandang kepada Liok Kong Ji dengan sinar mata menyala nyala.
Lalu disapunya semua hadirin dengan pandang matanya sebelum ia bicara.
Suaranya tenang dan lantang.
"Cuwi-enghiong yang mulia. Memang benar bahwa aku adalah Wan Sin Hong dan aku mengaku pula bahwa selama beberapa bulan ini, di dunia muncul seorang penjahat yang melakukan segala macam perbuatan kotor dan keji dan penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong!"
"Sudah terang dosa-dosamu, penjahat besar, masih banyak omong lagi?"
Kong Ji berteriak.
"Manusia macam kau harus dibunuh!"
Teriakan ini disambut oleh anak buahnya.
"Bunuh...! Bikin mampus penjahat Wan Sin Hong!"
Sin Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya.
"Pernahkah di antara para hadirin melihat sendiri penjahat ini? Bukankah aneh sekali bahwa setiap kali penjahat itu melakukan kejahatannya ia sengaja meninggalkan nama Wan Sin Hong tanpa berani memperlihatkan mukanya? Di antara yang hadir, tadinya ada dua saksi yang pernah bertemu muka dengan penjahat itu, yang pertama adalah Nona Cun Eng anggauta Hui-eng-pai. Sayang dia sudah membunuh diri karena tidak tidak tahan mendengar penghinaan yang diucapkan oleh seorang yang hadir di sini"
Setelah berkata demikian Sin Hong menatap wajah Kong Ji dengan tajam. Akan tetapi Kong Ji hanya menyeringai dan membalas pandangan dengan penuh ejekan.
"Orang ke dua adalah Nona Gak Soan Li murid dari pendekar besar Hwa I Enghiong. Akan tetapi sayang Nona Gak Soan Li juga sudah turun gunung, sama saja halnya, tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut busuk seorang yang hadir di sini!"
"Bohong...! Penjahat Wan Sin Hong mencari alasan kosong untuk membersihkan diri. Serbu dan bunuh saja!"
Kong Ji berteriak. Sin Hong mengangkat tangan.
"Tahan...!"
Orang-orang yang tadinya sudah siap menyerbu, tertegun karena suara itu mengandung pengaruh yang luar biasa sehingga Ciang Le sendiri diam-diam terkejut sekali.
"Semua keributan dipelopori oleh Liok Kong Ji. Eh, Kong Ji, apakah kau sekarang sudah menjadi seorang pengecut besar? Kalau kau memang berani, tunggulah, nanti akan tiba saatnya kita berhadapan satu sama lain tanpa tangan kaki-tanganmu! Cuwi enghiong, aku adalah seorang calon bengcu, aku berhak memberi keterangan sejelasnya!"
Keadaan menjadi tenang kembali dan pada wajah Kong Ji terbayang kecemasan.
"Aku ulangi lagi, kalau saja Nona Gak Soan Li tidak terpengaruh oleh racun berbahaya, tentu dia akan menjadi saksi utama akan kebinatangan seorang yang selalu menggunakan nama Wan Sin Hong untuk mengelabuhi mata orang lain dan sekalian untuk merusak namaku. Kalau saja Nona Soan Li berada di sini, kiranya aku akan dapat mencoba menyembuhkannya agar ia dapat membuat pengakuan sejujurnya. Kalau sudah terjadi demikian, dunia akan terbuka matanya dan akan mengalihkan pandangan menuntut dari aku kepada orang itu!"
Dengan telunjuknya Sin Hong menuding ke arah Liok Kong Ji yang menjadi pucat sekali.
"Bohong! Omong kosong!"
Katanya gagap. Giok Seng Cu tampil ke depan.
"Wan Sin Hong, bisa saja kau mempengaruhi orang-orang di sini dengan lidahmu yang berbisa. Aku sendiri menjadi saksi dan mau bersumpah bahwa aku pernah melihatmu bersama Nona Gak Soan Li. Kau hendak menggunakan Nona itu sebagai saksi? Ha, ha, ha, tentu saja akan membelamu. Pernah aku melihatmu betapa engkau memijat-mijat kedua pahanya. Ha, ha, ha, aku masih merasa muak dan malu sekali kalau teringat akan pemandangan itu!"
Hui Lian dan Bi Lan mengeluarkan suara tertahan.
Sebagai wanita-wanita sopan mereka merasa tertusuk sekali mendengar kata-kata ini.
Sebaliknya, Li Hwa hanya memandang kepada Wan Sin Hong saja, penuh perhatian karena hendak melihat bagaimana pemuda itu membela diri terhadap tuduhan yang amat memalukan ini.
Akan tetapi Wan Sin Hong hanya tersenyum, tetap tenang.
Hanya suaranya saja terdengar menggeledek ketika menjawab.
"Giok Seng Cu, setelah menjadi anjing dari Liok Kong Ji, kau ternyata pandai sekali bicara. Di waktu aku masih kecil kau mencoba membunuhku di puncak Luliang-san. Kemudian ketika kau bertemu dengan Nona Gak Soan Li kau telah memukul kedua pahanya dengan pukulan Tin-san-kang sehingga dua paha nona itu remuk tulang-tulangnya. Baiknya aku keburu datang dan menolong mengobati kedua pahanya yang kau katakan memijit-mijit itu. Hemm, semua orang yang mengerti ilmu pengobatan tentu akan tahu bahwa menyambung tuang patah masih mudah, akan tetapi membenarkan tulang-tulang yang remuk akibat pukulanmu tidaklah mudah. Aku memijit-mijit pahanya untuk mengobati, apakah salahnya? Kemudian kau pula menculiknya dan tentu kau telah bersekongkol dengan Liok Kong Ji. Kau ini orang tua yang sudah bejat batinmu, sungguh memalukan sekali kalau mendiang Pak Hong Siansu mendengar tentang sifat pengecut dari muridnya."
Belum habis Sin Hong bicara, Giok Seng Cu sudah mengeluarkan suara geraman seperti singa dan tiba-tiba ia menerkam dengan pukulan Tin-san-kang kearah dada Sin Hong.
Pemuda ini tidak berkisar dari tempatnya melainkan menggerakkan kedua tangan yang kiri dari atas yang kanan dari bawah.
Aneh sekali, hawa pukulan Tin-san-kang yang biasanya membunuh orang dari jauh tanpa tangan yang memukul menyentuh kulit, kini musnah kekuatannya bahkan nampak kakek itu seperti dibetot ke depan dan tahu-tahu lehernya telah dicekal oleh tangan kiri Sin Hong dan tangan kanan pemuda itu sudah memegang ikat pinggangnya.
Kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, tanpa menggerakkan kedua kaki, tubuh kakek itu sudah diangkat ke atas dibanting ke bawah.
"Brukkk...!"
Saking kerasnya bantingan dan saking kuatnya tubuh Giok Seng Cu, tubuh bagian bawah dari kaki sampai ke paha amblas ke dalam tanah! Wan Sin Hong tersenyum.
"Itu tadi adalah pukulan Tin-san-kang yang sudah mematahkan kedua paha Nona Gak Soan Li. Dan beginilah nasib orang jahat, Giok Seng Cu, aku masih belum begitu tega untuk menewaskanmu, mengingat bahwa kau masih terhitung murid keponakan dari Suhu Pak Kek Siansu. Pergilah!"
Kembali tangan kiri pemuda itu bergerak dan tahu-tahu tubuh Giok Seng Cu telah "tercabut"
Dari tanah dan kini dilemparkan ke arah Liok Kong Ji.
Kong Ji menerima tubuh Giok Seng Cu yang pingsan dan sekali melihat ia tahu bahwa kakek itu telah patah kedua tulang kakinya!
Wan Sin Hong kembali bicara kepada orang banyak seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.
"Setelah berbulan-bulan melakukan penyelidikan dengan susah payah, bahkan telah mengalami usaha-usaha membunuhku yang dilakukan oleh penjahat yang merusak namaku, di antaranya aku dicoba untuk dikubur hidup-hidup di lereng gunung Luliang-san, akhirnya berhasil jugalah usahaku dan ternyata bahwa iblis jahat yang selama ini merusak namaku bukan lain adalah Liok Kong Ji!"
"Jahanam bermulut jahat!"
Kong Ji membentak dan di lain saat pedang Pak kek Sin-kiam sudah berada di tangannya.
Akan tetapi ia didahului oleh Bu Kek Siansu yang diiringi oleh Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai dan Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai yang kini sudah dapat memulihkan kekuatannya.
Tadi Tai Wi Siansu telah terluka hebat oleh Kong Ji, akan tetapi berkat obat dari Kun-lun-pai dan tenaga lweekangnya yang tinggi, biarpun lukanya belum sembuh betul, akan tetapi tenaganya sudah pulih.
Kini mendengar ucapan Wan Sin Hong, tiga orang tua tokoh besar kang-ouw ini cepat datang karena menganggap keterangan itu amat penting dan perlu dibuktikan kebenarannya.
"Wan Sin Hong bukti-bukti bahwa kau tidak berdosa belum ada, mengapa kau bahkan menimpakan semua kesalahan kepada Liok Kong Ji. Apakah bukti dari tuduhanmu ini,"
Tanya Tai Wi Siansu.
Pertanyaan ini kalau didengar begitu saja seakan-akan Tai Wi Siansu membela Liok Kong Ji.
Akan tetupi sebetulnya dia dan dua orang kawannya cepat bertindak untuk mencegah Kong Ji menyerang Wan Sin Hong sebelum rahasia dibuka, dan untuk memberi kesempatan kepada Sin Hong menjelaskan tuduhannya.
"Sam-wi Locianpwe, apakah Samwi masih belum tahu bahwa di dalam permilihan bengcu ini pun, jahanam Kong Ji telah mempergunakan siasat busuk? Apakah di sini terdapat tokoh-tokoh semua partai? Apakah semua ketua partai belum hadir di samping Sam wi Locianpwe?"
"Semua hadir, biarpun bukan ketuanya, akan tetapi partai-partai lain mengirimkan wakil masing-masing."
"Betulkah itu? Adakah wakil dari partai Teng-san-pai di sini?"
Kong Ji yang tidak mengira bahwa Sin Hong sudah tahu akan pemalsuan wakil ini, berkata keras.
"Tentu saja ada! Mereka inilah wakilnya dengan membawa surat kuasa. Partai-partai besar, termasuk Teng-san-pai telah memilihku!"
Kong Ji berkata demikian untuk menjatuhkan Sin Hong atau untuk membuat pemuda itu kecele.
Akan tetapi, Sin Hong bergerak cepat dan sekali berkelebat ia telah dapat menangkap seorang di antara wakil-wakil Teng-san-pai itu.
Ta mengangkat orang itu tinggi-tinggi dan biarpun orang itu hendak memukul, namun ia tidak bergeming di dalam cengkeraman tangan kiri Sin Hong yang amat kuat.
"Samwi Locianpwe, lihatlah baik-baik. Dia ini bukan wakil dari Teng-san-pai Wakil dari Teng-san-pai telah dibunuh di tengah perjalanan, surat kuasanya dirampas dan diganti oleh anjing-anjing ini. Semua ini tentu pekerjaan orang she Liok si iblis jahat!"
Mendengar ini, Kong Ji menjadi makin pucat dan diam-diam ia telah memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap sedia menyerbu.
Adapun Tai Siansu dan kawan-kawannya menjadi kaget setengah mati.
Bu Kek Siansu merampas orang itu dari tangan Sin Hong, membantingnya ke bawah lalu mengancamnya.
"Betulkah itu? Hayo kau mengaku terus terang sebelum kuhancurkan kepalamu!"
Tiba-tiba orang itu menjerit dan roboh terguling dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dia telah terkena pukulan Tin-san-kang dari jauh yang dilakukan oleh Kong Ji. Sin Hong tertawa.
"Tentu orang lain tidak tahu bahwa kau yang membunuhnya, akan tetapi aku tahu bahwa orang itu terbunuh oleh pukulan Tin-san-kang, pukulan yang telah meremukkan tulang paha Nona Soan Li, yang sudah melukai Tai Wi Siansu Locianpwe!"
Tai Wi Siansu kaget sekali akan ketajaman mata Sin Hong yang sekali pandang saja sudah tahu bahwa ia terluka oleh Pukulan Tin-san-kang.
"Sam-wi sekarang tentu tahu dan dapat menduga bahwa partai-partai lain yang menyokong Kong Ji, bukanlah wakil-wakil yang sesungguhnya, melainkan orang-orang palsu yang merampas surat kuasa!"
Semua orang kini memandang kepada Kong Ji. Pemuda ini membusungkan dada dan berkata lantang.
"Kalian orang-orang bodoh, mudah saja ditipu oleh penjahat besar Wan Sin Hong. Mana buktinya semua tuduhannya kepadaku itu. Kalau aku yang menjadi penjahatnya, apa buktinya dan siapa saksinya? Kalau dia sudah banyak bukti perbuatannya yang terkutuk. Apakah kalian buta dan tidak dapat melihat bahwa hal itu menipu?"
Tai Wi Siansu, Bu Kek Siansu, Leng Hoat Taisu adalah tokoh-tokoh besar yang tidak mau bertindak sembarangan dan tidak mau mereka begitu saja percaya kepada Sin Hong.
Teringat akan pertemuan mereka dahulu dengan Sin Hong, Tai Wi Siansu berkata pada pemuda ini.
"Wan Sin Hong, tentang keadaan Liok Kong Ji bisa kami selidiki nanti, akan tetapi tentang kau sendiri yang hendak membebaskan diri dari tuduhan. Apa jawabanmu tentang gadis yang mengaku telah kau ganggu dan yang dahulu membunuh diri dengan melempar diri ke dalam jurang?"
Sin Hong tersenyum.
"Bagus, Tai Wi Siansu, memang segala apa harus secara terang-terangan, adil dan tidak berat sebelah. Tentang itu tentu saja aku sudah menyelidiki dan ketahuilah bahwa aku dapat membongkar rahasia ini, sebagian adalah karena gadis itu. Aku sudah bertemu dengan dia dan sebentar Samwi ini semua Enghiong yang berada di sini akan mendengar sendiri keterangan dari mulutnya."
Kong Ji terkejut bukan main dan pada saat itu terdengar pekik yang nyaring pekik yang sudah didengar oleh semua orang yang berada di situ, yakni pekik seperti suara burung garuda, tanda dari Hui-eng-pai.
Mendengar pekik ini dari lereng gunung, Siok Li Hwa lalu membalas dengan pekiknya yang lebih nyaring dan gadis ini lalu berlari cepat sekali.
Sin Hong mengerutkan kening dan setelah berpikir sejenak ia berkata.
"Sam-wi Locianpwe, aku harus pergi sebentar!"
Baru saja kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah berkelebat lenyap menyusul Li Hwa.
Ternyata bahwa yang mengeluarkan pekik tadi adalah para anggauta Hui-eng-pai yang sedang bertanding melawan para pengawal pribadi Pangeran Wanyen Ci Lun.
Melihat betapa seorang gadis pucat yang cantik dan cepat gerakannya, telah memondong dan melarikan Wanyen Ci Lun dan mereka sendiri tidak berdaya, mengejar, para gadis Hui-eng-pai ini lalu memberi tanda kepada ketua mereka.
Sebaliknya, para pengawal pangeran itu mengira bahwa gadis cantik yang melarikan Pangeran Wanyen Ci Lun adalah kawan dari para gadis yang bertempur dengan mereka maka mereka terus mendesak dan menyerang dengan hebat.
Para gadis Hui eng-pai itu benar-benar lihai karena sebentar saja sudah ada beberapa orang lawan yang roboh terkena pedang.
Akan tetapi mereka terdesak dan terkurung karena kalah banyak.
Ketika Li Hwa tiba di situ, ia masih marah sekali melihat anak buahnya dikeroyok.
Sekali pedang hijau berkelebat, robohlah dua orang pengawal.
Li Hwa hendak mengamuk terus, tiba-tiba lengan kanannya ada yang memegang dan terdengar suara Sin Hong.
"Nona, perlahan dulu. Lebih baik kita kita selidiki siapa mereka ini."
Li Hwa mencoba untuk mengerahkan tenaga, meronta dan melepaskan lengannya, akan tetapi sia-sia saja sehingga diam-diam ia kagum bukan main akan kelihaian pemuda ini.
Adapun Sin Hong setelah melepaskan lengan Li Hwa, lalu menghadapi orang-orang itu yang kini berdiri bengong dan memandangnya seperti orang melihat setan.
Bagaimana mereka tidak terheran-heran kalau kini tiba-tiba saja melihat Pangeran Wanyen Ci Lun yang tadi terluka dan dibawa lari gadis pucat itu kini tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka dengan pakaian berbeda?
Melihat betapa pangeran ini mempunyai hubungan baik dengan para gadis cantik, para pengawal menjadi ketakutan, takut kalau dimarahi karena penyerangan mereka tadi.
Maka cepat-cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata.
"Siauw-ong-ya mohon ampun atas kelancangan hamba sekallan karena sesungguhnya hamba tadi melihat Siauw-ongya terluka... hamba kira Siauw-ong-ya perlu bantuan...."
Sin Hong bertukar pandang dengar Li Hwa dan pemuda itu menarik napas.
"Sudah nasibku selalu ditukar dengan lain orang..."
Kemudian dengan gemas membentak orang-orang itu.
"Cukup ini semua! Aku bukan Pangeran Wanyen Ci Lun!"
Para pengawal terkejut dan seorang demi seorang berdiri. Setelah memandang tegas, baru mereka melihat perbedaan antara majikan mereka dengan pemuda ini.
"Kau... kau siapa?"
Tanya seorang pemimpin mereka.
"Aku siapa bukan soal,"
Jawab Sin Hong.
"yang penting sekali, Pangeran Wanyen Ci Lun tadi terluka dan dijaga oleh Nona-nona ini. Mengapa kalian datang menyerbu? Kalian ini siapa?"
"Kami adalah pengawal-pengawal pribadi Pangeran Wanyen, dan kami kira bahwa dia tadi...."
"Celaka, kalian ceroboh sekali! Dimana Pangeran Wanyen Ci Lun sekarang?"
Dengan suara riuh para gadis dan para pengawal itu menuturkan bagaimana seorang gadis cantik yang berwajah pucat membawa lari pangeran itu. Seorang di antara gadis Hui-eng-pai berkata kepada ketuanya.
"Kami sedang sibuk mengalami pengeoyokan orang-orang tolol ini, maka tidak sempat memperhatikan dan tidak sempat melihat siapa adanya gadis yang membawa lari pangeran itu."
"Sudahlah, kita selidiki hal itu nanti,"
Kata Sin Hong.
"Kalian para pengawal boleh mencoba untuk mengejar dan mencari majikan kalian di sekitar gunung ini. Kami hendak kembali ke puncak."
Setelah berkata demikian, Sin Hong meagajak Li Hwa dan anak buahnya kembali ke puncak di mana orang-orang sedang menantinya.
Orang-orang yang berada di puncak Gunung Ngo-heng-san sudah ramai membicarakan tentang munculnya Wan Sin Hong.
Keadaan sekarang jauh berbeda dengan tadi, kini penuh ketegangan.
Tanpa diketahui oleh orang-orang lain, secara diam-diam Liok Kong Ji sudah berunding dengan kawan-kawannya dan mengatur siasat.
Gentar juga hati pemuda yang biasanya tabah dan penuh akal ini, terutama sekali karena melihat pembantunya yang paling boleh diandalkan, yakni Giok Seng Cu, sudah tak berdaya sama sekali.
Juga See-thian Tok-ong yang tadinya diharapkan untuk menjadi kawan dan pembantu, kini sudah bersila dalam keadaan terluka oleh tendangan Hwa T Enghiong Go Ciang Le tadi.
Akan tetapi Kong Ji berbesar hati.
Pembantu-pembantunya banyak sekali jumlahnya, merupakan pasukan-pasukan besar yang akan membelanya dengan setia.
Apalagi semua tuduhan Wan Sin Hong tadi tak dapat dibuktikan sama sekali.
Ia takut apakah?
Kata-kata Sin Hong tadi seakan-akan membayangkan bahwa Sin Hong sudah bertemu dengan Nalumei.
Tak mungkin, pikirnya.
Bukankah Nalumei sedang ke utara dan mungkin waktu ini sudah berada di sekitar Ngo-heng-san bersama pasukannya?
Dia dahulu menyuruh Nalumei kembali ke utara dengan alasan mengumpulkan pasukan untuk membantunya, sebetulnya hanya mengandung maksud untuk menyingkirkan Nalumei saja.
Nalumei sudah cukup membantunya, bahkan Nalumei sekarang merupakan bahaya karena pernah menjadi saksi atas semua perbuatannya, di samping ini, sekarang Nalumei mulai rewel dan sering cemburu.
Lebih-lebih lagi, karena ia memang sudah bosan dan jemu dekat dengan wanita suku bangsa Naiman itu.
Ia mengirim Nalumei ke utara seperti menyuruh kelinci memasuki hutan sarang harimau karena ia maklum bahwa di utara, pengaruh dan kekuasaan Temu Cin sudah demikian meluas sehingga tak mungkin lagi Nalumei dapat mencari sisa suku bangsanya yang tidak takluk kepada Temu Cin.
Andaikata benar Sin Hong telah bertemu dengan wanita itu, tak mungkin Nalumei mau mengkhianatinya, demikian pikir Kong Ji.
Akan tetapi, semangatnya sudah terbang rasanya ketika ia melihat Sin Hong muncul lagi bersama Li Hwa dan anak buah Hui-eng-pai dan di sebelah kiri Sin Hong berjalan seorang perempuan cantik yang pakalannya menunjukkan bahwa dia itu bukanlah seorang wanita Han.
"Nalumei...!"
Kong Ji berseru perlahan demi melihat wanita ini dan wajahnya berubah pucat. Sin Hong tersenyum dan menghadap Tai Wi Siansu dan tokoh lain.
"Tai Wi Siansu, kenalkah Locianpwe kepada wanita ini?"
Tentu saja tokoh-tokoh besar yang berada di situ mengenalnya, yakni mereka yang dahulu mendengar pengakuan nona ini dan kemudian melihat sendiri betapa gadis itu membuang diri ke dalam jurang.
Akan tetapt bagaimana gadis ini masih hidup dan berpakaian seperti orang asing?
"Bukankah dia ini nona yang dulu menuduhmu, kemudian membuang diri ke dalam jurang?"
Kata Tat Wi Siansu. Hui Lian yang melihat gadis itu pun berbisik kepada ibunya.
"Ibu gadis itulah yang dulu kulihat diserang dan dikejar oleh Wan Sin Hong dan aku bersama Tang Hwesio membantunya sehingga ia dapat melarikan diri"
Gadis ini benar-benar merasa heran dan ingin sekali melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Benar, Loctanpwe, dia inilah nona yang dulu membuang diri dan nona ini pula yang bernama Nona Nalumei, puteri kepala suku bangsa Naiman di utara yang telah menjadi korban Liok Kong Ji, kemudian bahkan dipergunakan untuk membantunya dalam siasat memburukkan namaku."
Kong Ji melangkah maju, memandang kepada Nalumei dengan mata tajam lalu berkata.
"Nalumei apakah yang telah dilakukan oleh penjahat Wan Sin Hong ini kepadamu?"
Kong Ji sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan hebat dalam pikiran Nalumei.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, nona ini menuju ke utara untuk mengumpulkan pasukan seperti yang diminta oleh Kong Ji.
Akan tetapi setelah tiba di utara, ia melihat bahwa semua suku bangsanya telah menjadi pembantu setia dari Temu Cin.
Bahkan Nalumei bertemu dengan paman-pamannya, dan dengan seorang pemuda Naiman bekas kekasihnya sebelum menjadi kekasih paksaan dari Kong Ji, dan oleh mereka inilah Nalumei dicuci otaknya.
Baru ia merasa betapa ia selama ini menjadi permainan Kong Ji, bahwa sebetulnya Kong Ji adalah seorang manusia berhati iblis yang amat keji.
Mendengar penuturan Nalumei tentu semua pengalamannya dengan terus terang, paman paman dan bekas kekasih Nalumei, juga suku bangsanya, menjadi kecewa dan memandang rendah bekas puteri kepala ini.
Bahkan paman-paman Nalumei mengusir gadis yang mereka anggap telah mengotori nama baik bangsa Naiman sebagai bangsa yang gagah berani.
Dengan hati hancur Nalumei kembali ke selatan tanpa membawa seorang pun kawan.
Timbul marah dan sakit hatinya, kepada Kong Ji, apalagi kalau ia teringat akan kebiadaban Kong Ji terhadap gadis-gadis lain seperti Gak Soan Li dan banyak lagi gadis muda yang menjadi korbannya.
Ia akan ke Ngo-heng-san sesuai dengan kehendak dan pesan Kong Ji, akan tetapi sama sekali bukan untuk membantunya, melainkan untuk membalas dendam untuk membunuhnya!
Kebetulan sekali, ketika ia tiba dekat Gunung Ngo-heng san, ia bertemu dengan Wan Sin Hong.
Pemuda ini cepat memegang pergelangan lengannya, dan berbeda dengan dahulu, Nalumei tidak melawan, tidak memberontak, bahkan tersenyum duka sambil berkata.
"Wan Sin Hong, aku memang sudah berdosa terhadapmu. Akan tetapi kau dan aku ini hanya menjadi korban orang lain. Kau lihai, kalau kau sakit hati terhadap aku bunuhlah, aku tidak penasaran. Hanya aku tidak akan mati meram sebelum dapat membelek dada iblis Liok Kong Ji"
Setelah berkata demikian Nalumei menangis terisak-isak.
Sin Hong melepaskan pegangannya dan dari gadis ini ia mendengar semua rahasia tentang cara-cara Kong Ji merusak namanya.
Gadis itu mengaku pula betapa atas perintah Kong Ji, ia pernah mengadakan pengakuan palsu di hadapan para tokoh kang-ouw bahwa ia telah menjadi korban kekejian penjahat Wan Sin Hong.
Kemudian, atas siasat yang diatur oleh Kong Ji pula, ia melompat dan melempar diri dari atas jurang.
Tentu saja ia tidak menghadapi bahaya karena di bawah telah menanti Kong Ji yang siap membantunya.
Inilah sebabnya maka Sin Hong tidak dapat menemukan gadis itu di bawah jurang.
Sin Hong berterima kasih sekali dan berjanji akan membawa Nalumei ke atas puncak setelah selesai urusannya dengan Kong Ji.
Ketika ia kembali ke puncak bersama Li Hwa, ia sengaja menjemput Nalumei yang dibuat tak berdaya oleh sikap lemah lembut pemuda ini, dan bersama gadis Naiman itu ia kembali ke puncak seperti telah dituturkan di bagian depan.
Nalumei mengangkat muka memandang kepada Kong Ji dengan mata penuh kebencian, kemudian ia mengangkat dada mengumpulkan keberanian dan menghadapi Tat Wi Siansu dan yang lain-lain sambil berkata nyaring.
"Tidak salah apa yang dikatakan oleh Wan Sin Hong. Semua perbuatan keji yang selama ini dilakukan atas nama Wan Sin Hong, sebetulnya adalah perbuatan jahanam Liok Kong Ji yang mengunakan nama Wan Sin Hong!"
"Bohong"
Nalumei, kau sudah gila...."
Kong Ji berseru marah dan heran sambil melangkah maju.
"Memang aku telah gila semenjak aku percaya omonganmu. Aku lebih dari gila, mempercayai seorang iblis seperti engkau dan meninggalkan suku bangsaku. Kau keji dan buas menyuruh aku pura-pura membuat pengakuan telah diperkosa oleh Wan Sin Hong, padahal kau sendiri yang merusak hidupku! Biarpun aku tidak menyaksikan sendiri apa yang kau perbuat terhadap diri Gak Soan Li dan banyak pula gadis lain, aku dapat menduganya kau... kau... jahanam...."
Setelah berkata demikian tiba-tiba Nalumei melompat dan menerkam Kong Ji dalam usahanya menyerang hebat.
Sin Hong kaget sekali, namun ia terlambat.
Ia sama sekali tidak mengira bahwa Nalumei akan melakukan serangan nekad.
Sejak tadi hanya memperhatikan Kong Ji, sehingga kalau andaikata Kong Ji menyerang Nalumei biar secara menggelap sekalipun, pasti Sin Hong akan melihatnya dan dapat melindungi Nalumei.
Akan tetapi sekarang terjadi sebaliknya daripada yang ia khawatirkan, bukan Kong Ji menyerang Nalumei, bahkan gadis bangsa Naiman itu yang menyerang Kong Ji.
Ia menjadi tertegun sejenak, dan waktu yang amat singkat ini sudah cukup bagi Kong Ji untuk bertindak.
Pedang Pak-kek Sin-kiam berkelebat dan Nalumei menjerit roboh dengan mandi darah yang mengucur keluar dari dadanya yang tadi ditembus pedang Pak kek Sin-kiam"
Tai Wi Siansu dan tokoh-tokoh lain menjadi marah sekali.
Mereka sudah siap menyerbu pemuda iblis itu, akan tetapi Sin Hong mendahului mereka sambil berseru."Cuwi Locianpwe, serahkan saja jahanam ini kepadaku!"
Dengan gerakan lincah Sin Hong sudah melompat dan menghadapi Kong Ji dengan pedang di tangan.
Dua orang pemuda ini, sekarang berhadapan satu lawan satu.
Kong Ji memandang penuh kebencian kepada Sin Hong, sebaliknya Sin Hong hanya tersenyum mengejek.
Kong Ji marah bukan main, sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, giginya berkerot-kerot.
Dalam diri Kong Ji ia melihat seorang musuh besar yang menjadi penghalang cita-citanya, maka kini nafsu membunuh memenuhi dadanya.
"Sin Hong...."
Dengusnya dengan suara mendesis melalui celah bibirnya.
"Alangkah bencinya melihatmu... lihat, sebentar lagi akan kupenggal lehermu, kuminum darahmu, kucincang hancur tubuhmu!"
"Kong Ji semenjak kecil kau sudah jahat, sekarang kau menjadi iblis. Sudah menjadi tugasku membasmi seorang iblis jahat."
Dengan mata marah Kong Ji menyapu para tokoh kang-ouw yang kiranya tidak akan membantunya, lalu berkata suaranya menyeramkan.
"Aku Tung-nam Tai bengcu Liok Kong Ji, sekarang sebagai calon bengcu besar hendak mengadu kepandaian dengan seorang calon lain, siapakah ada maksud hendak mengeroyokku? Awas, kalau ada yang membantu lawanku secara sembunyi aku pun mempunyai banyak sekali kawan berkumpul di sini yang akan sanggup membasmi kalian!"
Kini semua orang tersenyum mengejek mendengar kata-kata ini bahkan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa berkata setelah tertawa nyaring.
"Wan Sin Hong, jangan bunuh dia dulu, biarkan aku yang membunuhnya! Atau, kalau kau bunuh juga, jangan diganggu lehernya ingin aku memenggal batang lehernya dan mengambil kepalanya untuk menyembahyangi roh dari Cun Eng!"
Sin Hong tersenyum, lalu menantang.
"Kong Ji, sudah cukupkah kau mengobrol ?"
Kong Ji tidak menanti sampai Sin Hong menghabiskan kata katanya.
Cepat sekali dia menyerang dengan Pak-kek Sin-kiam yang diputar cepat dan beberapa serangan secara bertubi-tubi telah menyambar ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari Sin Hong.
Sin Hong maklum bahwa ilmu silat dari Kong Ji memang amat lihai ditambah lagi dengan Pak-kek Sin-kiam di tangan, pemuda itu merupakan lawan yang amat berbahaya.
Cepat ia mengelak dan di lain saat dua orang pemuda itu sudah bertempur hebat.
Kong Ji berlaku nekad, mendesak terus sambil mengeluarkan segala kepandaiannya.
Tidak hanya pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang menyambar-nyambar sebagai tangan maut, juga tangan kirinya tiada hentinya mengirim pukulan Tin-san-kang sehingga debu berhamburan terkena sambaran hawa pukulan yang dahsyat ini.
Di lain pihak, Sin Hong dapat mengimbangi kecepatan Kong Ji dan tidak terdesak oleh lawannya.
Akan tetapi tidak berani mengadu pedang, karena maklum bahwa betapapun baik pedangnya takkan kuat bertahan menghadapi ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin kiam.
Ia selalu mempergunakan kehebatan ilmu pedangnya untuk menghindarkan bertemunya kedua pedang, dan berusaha untuk merobohkan Kong Ji dengan serangan balasan.
Namun ternyata bahwa Kong Ji juga bertempur amat hati-hati.
Pemuda ini maklum akan kehebatan yang biarpun hanya memegang pedang biasa, namun sekali terkena serangan Sin Hong berarti ia akan kalah.
Oleh karena itu, ia tidak berani memandang rendah dan berkelahi penuh perhatian dan amat teliti menjaga diri sehingga tiap kali pedang Sin Hong berkelebat membalas serangannya, ia sudah siap untuk membabat pedang lawan itu.
Tentu saja setiap kali Sin Hong menarik kembali serangannya, karena kalau dilanjutkan ada bahaya pedangnya terbabat putus.
Seratus kurus lebih telah lewat dan pertempuran ini menjadi makin seru.
Semua orang dari kedua pihak menonton dengan hati berdebar.
Beberapa kali terdengar Hui-eng Niocu Siok Li Hwa mencela Sin Hong sebagai seorang "terlalu sabar", terlalu mengalah dan sebagainya.
Tentu saja nona ini berpendapat demikian karena dia sendiri memiliki pedang pusaka Cheng-liong kiam yang tidak takut menghadapi Pak-kek Sin-kiam.
Akan tetapi Ciang Le berpendapat lain.
Pendekar besar ini maklum mengapa Sin Hong seakan-akan mengalah dalam pertempuran itu, akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa Kong Ji lihai bukan main dan merupakan lawan yang sulit dikalahkan.
Tiba-tiba terdengar suara keras disusul oleh suara ketawa menyeramkan dari Liok Kong Ji.
Gerakan dua orang muda itu terlalu cepat hingga amat sukar diikuti oleh pandangan mata.
Ketika semua orang memperhatikan, ternyata bahwa pedang di tangan Sin Hong tinggal gagangnya saja, pedang itu sendiri sudah terbabat putus oleh Pak kek Sin-kiam yang ampuh dan tajam!
"Ha, ha, ha, Wan Sin Hong!
Bersiaplah kau untuk menjadi setan neraka.
Ha, ha, ha!"
Kong Ji tertawa bergelak dan pedangnya kini makin cepat menyambar dengan serangan bertubi-tubi sehingga Sin Hong terpaksa harus melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari pedang yang tajam itu.
Sementara itu, Siok Li Hwa Ketua Hui-eng pai membanting-banting kakinya, mencabut Cheng-liong-kiam, menggerak-gerakkan pedangnya itu sambil berseru.
"Wan Sin Hong! Kalau kau tidak bisa bertempur, mundurlah, biar aku menghadapi Siauw-koai (Setan Cilik) itu!"
Sin Hong kelihatannya gugup dan bingung menghadapi desakan pedang Pak kek Sin-kiam, gerakannya kacau balau dan ia melompat ke sana ke mari tanpa berdaya membalas.
Selalu terancam oleh sinar pedang.
Akan tetapi ia masih sempat menjawab.
"Biarlah Hui-eng Niocu, aku masih penasaran!"
Kong Ji tertawa lagi, pedangnya digerak-gerakkan seperti seorang dewasa mengancam dan menakut-nakuti seorang anak kecil, sikapnya memandang rendah sekali. Kemudian ia menoleh ke arah Siok Li Hwa.
"Hui-eng Niocu, Nona manis. Kau bersabarlah. Biar aku menyembelih anjing kurus ini dulu, nanti kita bermain-main sepuasnya ha, ha, ha!"
Li Hwa mendongkol dun gemas seperti cacing terkena abu panas.
Ta membanting-banting kaki, menyabet-nyabetkan pedang di tengah udara sambil memaki-maki Sin Hong sebagai seorang tolol, bodoh dan tidak tahu bagaimana harus berkelahi.
Sebaliknya memaki-maki Kong Ji sebagai seorang sombong, kepala batu, menjemukan dan lain-lain.
tentu saja dua orang muda yang sedang bertempur mati-matian itu tidak menghiraukannya.
Tidak seorang pun tahu, juga Kong Ji sendiri tidak, bahwa Sin Hong telah mengatur siasat.
Ta maklum bahwa kepandaian Kong Ji benar-benar lihai sekali, ditambah dengan pedang Pak-kek Sin-kiam, kiranya tidak mudah baginya untuk merobohkannya.
Apalagi kalau Kong Ji bertempur demikian hati-hati menjaga dirinya dengan pedang pusaka itu.
Maka Sin Hong lalu mencari akal.
Ta harus membikin besar hati Kong Ji, menimbulkan kesombongan lawan ini sehingga memandang rendah kepadanya.
Hanya kalau dia berhasil dalam hal ini baru Kong Ji akan kurang waspada, akan kurang kuat penjagaannya dan hanya akan mengerahkan tenaga dan perhatian dalam serangan-serangannya.
Oleh karena itu, dengan gerakan indah tidak kentara seakan-akan ia terdesak dan tidak ada jalan lain untuk menghindarkan sebuah sabetan pedang Kong Ji kecuali menangkis, ia lalu menangkis yang mengakibatkan pedangnya terbabat putus.
Gerakan ini sewajarnya, membuat Kong Ji tertawa bergelak saking girangnya, dan membuat Ciang Le mengerutkan keningnya.
Biarpun pendekar ahli pedang ini sendiri pun tidak tahu akan siasat Sin Hong dan mengira bahwa Sin Hong memang kalah (Lanjut ke
Jilid 32) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32 karena Kong Ji berpedang pusaka.
Memang siasat Sin Hong berhasil baik.
Apalagi ketika ia mengambil sikap bingung dan sengaja mengacaukan gerakannya ketika ia mengelak dan berloncat-loncatan menghindarkan serangan Kong Ji seakan-akan ia sudah terdesak betul-betul.
Kong Ji makin memandang rendah kepadanya.
Kong Ji terlalu menyombongkan kepandaian sendiri dan ia memastikan bahwa kali ini Sin Hong akan mati di tangannya, maka ia memperhebat serangannya dan tak lama kemudian ia telah mengeluarkan seluruh kepandaian mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian dalam menyerang Sin Hong.
Inilah saat yang dinanti-nanti oleh Sin Hong setelah bertempur selama seratus tiga puluh jurus lebih.
Setelah yakin Bahwa seluruh perhatian Kong Ji mulai ditujukan untuk menyerang, ia memanaskan hati lawannya dengan cara berloncatan ke kanan kiri membuat pedang lawan hanya menyerempet sedikit saja ujung bajunya.
Kong Ji gemas, berseru keras dan tiba-tiba sinar hitam meluncur ke arah leher Sin Hong, disusul oleh pukulan Tin-san-kang dan dibarengi dengan sebuah tusukan pedang ke arah lambung.
Inilah serangan tiga jurusan yang hebat bukan main.
Sinar hitam itu adalah jarum-jarum Hek-tok-ciam yang dilepas oleh Kong Ji dalam saat Sin Hong sudah amat terdesak.
Jarum-jarum Hek-tok-ciam itu sudah lihai, akan tetapi pukulan tangan kirinya ke arah dada lebih berbahaya, karena pukulan Tin-san-kang ini dapat menghancurkan isi dada Sin Hong.
Akan tetapi yang paling hebat adalah tusukan pedang itu, sebuah gerak tipu dari Ilmu Pedang Pak-kek-sin-kiam-sut yang dicuri oleh Kong Ji dari Ciang Le melalui tipuannya kepada Hui Lian.
Semua orang terkejut, juga Cia Le berdebar karena ia sendiri tak dapat melihat jalan keluar dari tiga serangan sekaligus ini.
Akan tetapi Sin Hong tenang-tenang saja.
Ia hendak mencari keuntungan dari keadaan bahaya ini.
Tanpa melepaskan perhatiannya kepada kedua tangan lawan, ia hanya miringkan kepala dan leher sedikit saja agar jalan darah di lehernya jangan sampai terkena Hek-tok ciam.
Akan tetapi tetap saja pundak dan kulit lehernya tergores dua batang Hek tok-ciam yang amat berbisa itu.
Memang Sin Hong sengaja membiarkan dirinya terserang Hek-tok-ciam agar tidak membuang waktu.
Pada saat yang sama, dua tangannya bergerak cepat, yang kanan menyambut pukulan Tin-san-kang, yang kiri mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang.
Gerakan Sin Hong ini cepat bukan main dan dilakukan dengan pengorbanan pundak dan leher jadi sasaran Hek-tok-ciam sehingga Kong Ji menjadi lalai karena tidak menduga sebelumnya.
Di lain saat, dua pasang tangan telah bertemu.
Kong Ji kaget sekali dan ia mengerahkan seluruh tenaga sinkang yang disalurkan pada dua lengannya untuk melukai lawan dan terutama sekali untuk merampas kembali pedangnya.
Namun, alangkah kagetnya ketika ia merasa kedua pergelangan tangannya seperti patah-patah, sakitnya terasa sampai di ulu hatinya.
Akan tetapi Kong Ji tetap berkeras, tidak mau melepaskan Pak-kek Sin-kiam, bahkan sekali lagi ia mengerahkan tenaga berbisa, yakni Hek-tok-ciang.
Ia melihat wajah Sin Hong menjadi pucat dan lehernya kehitaman akibat serangan jarum berbisa tadi, akan tetapi tenaga yang keluar dari sepasang tangan Sin Hong makin besar saja.
lnilah kehebatan sinkang dalam tubuh Sin Hong yang dapat menampung tenaga lawan dan mengembalikannya sebagai senjata makan tuan.
Adu tenaga ini memakan waktu lama sampai keduanya kelihatan menggigil seluruh tubuhnya dan akhirnya Kong Ji tidak dapat menahan lagi dan harus mengaku bahwa Sin Hong lebih unggul dari padanya.
Sambil mengeluarkan pekik mengerikan Kong Ji terlempar tiga tombak ke belakang, jatuh berguling dan pedang Pak-kek Sin-kiam kini telah berada tangan Sin Hong!
Akan tetapi Sin Hong sendiri juga payah keadaannya karena dalam pengerahan tenaga tadi, racun Hek-tok-ciam dari lehernya menjalar ke bagian lain.
Ta tidak mengejar Kong Ji, melainkan cepat-cepat mengambil obat dari sakunya dan menelan beberapa butir pel biru, kemudian dengan jarum perak ia menusuk beberapa bagian jalan darah di leher dan pundaknya.
Barulah keadaannya tidak mengkhawatirkan dan ia memandang ke arah Kong Ji yang sementara itu sudah bangun kembali.
Kong ji menyeringai, rambutnya awut-awutan, mukanya sebentar pucat sebentar merah, matanya merah dan melotot akan tetapi agak basah.
Seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya, ia hampir menangis dan marah-marah, kemudian ia melompat lagi menghadapi Sin Hong, mengirim pukulan Tin-san-kang dengan tangan kanan dan pukulan Hek-tok-Ciang dengan tangan kiri.
Akan tetapi dengan kebutan ujung lengan baju, kedua pukulan ini dapat dipunahkan oleh Sin Hong dan sekali kaki Sin Hong bergerak kembali tubuh Kong Ji melayang sampai empat tombak jauhnya.
"Binasakan saja iblis itu""
Terdengar teriakan-teriakan dari pihak yang pernah dirugikan oleh Kong Ji dengan menggunakan nama Wan Sin Hong.
"Kong Ji, bersiaplah untuk mati oleh Pak-kek-sin-kiam!"
Sin Hong berseru dan kini dia yang mengejar.
"Wan Sin Hong, biar aku yang menamatkan riwayatnya!"
Dari lain jurusan datang Li Hwa mengejar dengan pedang pusaka Cheng liong-kiam di tangannya.
Dengan demikian dua orang mengejar dan seakan-akan berlumba untuk membunuh Kong Ji.
Liok Kong Ji melihat datangnya dua orang yang sama-sama lihainya itu dari kanan kiri dengan pedang-pedang pusaka di tangan, timbul takutnya.
Ia lalu melompat bangun dan berlari cepat menghampiri Ciang Le yang berdiri, didampingi oleh Bi Lan, Hui Lian, Lie Bu Tek, Coa Hong Kin dan Cam-kauw Sin-kai yang masih bersila di atas tanah.
"Suhu... mohon pertolongan Suhu.. tolonglah nyawa teecu!"
Ia meratap dengan wajah pucat, takut setengah mati. Ciang Le merasa muak perutnya menyaksikan sikap pengecut pemuda ini "Aku tidak mempunyai murid macam kau!"
Bentaknya marah.
"Suhu, lupakah kau bahwa tadi aku telah menyelamatkan nyawa Sumoi Go Hui Lian?"
Suara Kong Ji makin ketakutan karena Sin Hong dan Li Hwa sudah mengejar dekat.
"Apa kau bilang...?"
Ciang Le membentak lagi sambil mengerutkan kening mukanya berubah marah.
"Suhu dan Subo, apakah kalian begitu tak kenal budi? Tidak mau membayar kembali hutang nyawa anakmu?"
Kong Ji mendesak.
Ciang Le bergerak maju dan berhasil menangkis pedang di tangan Sin Hong yang menyerang Kong Ji dari belakang.
Di saat berikutnya, Bi Lan juga memutar pedangnya menangkis serangan pedang Li Hwa yang kalah dulu oleh Sin Hong.
"Kami membayar hutang nyawa. La rilah, lain kali kami akan bantu membinasakan kau!"
Cing Le membentak kepada Kong Ji yang sudah bersembunyi di belakangnya.
Pemuda ini melihat siasatnya berhasil, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu terus melarikan diri turun gunung dengan cepat sekali.
Ta tidak takut dikejar orang.
Terhadap orang lain ia tidak usah takut, sedangkan orang yang ia takuti, yakni Sin Hong dan Li Hwa, sudah dihadang oleh Ciang Le dan Bi Lan.
Sin Hong marah sekali, demikian pula Li Hwa.
"Kong Ji jangan lari"
Seru Sin Hong.
"Bangsat, kau hendak lari ke mana?"
Seru Li Hwa. Dua orang muda ini hendak mengejar, akan tetapi Ciang Le da Bi Lan dengan pedang di tangan menghadang mereka.
"Apa artinya ini? Apakah Suheng hendak melindungi iblis jahat itu?"
Tanya Sin Hong, sepasang matanya memandang tajam kepada Ciang Le.
Ciang Le tidak dapat menahan pandang mata pemuda ini, teringat betapa ia dahulu pernah menghajar pemuda yang ternyata tidak berdosa dan kini bahkan ia sendiri melindungi bekas muridnya yang jahat dari kejaran Sin Hong.
"Untuk saat ini dia berada dalam perlindungan kami."
Jawab Ciang Le tenang.
"setelah ia pergi dari gunung ini, terserah kau mau kejar dan bunuh dia."
"Dia muridnya, tentu saja dilindungi!"
Kata Li Hwa mengejek dan gadis ini mempedulikan hadangan Bi Lan, sudah hendak lari melanjutkan pengejaran.
Juga Sin Hong mendengar ini hendak melanjutkan pengejaran.
Melihat ini Ciang Le menjadi bingung.
Apakah dan isterinya harus menyerang dua orang muda itu?
Kalau sampai terjadi demikian, dia akan ditertawai oleh seluruh orang gagah di dunia ini.
Sebaliknya kalau sampai dua orang muda ini dibiarkan saja mengejar Kong Ji sampai tersusul lalu terbunuh di daerah Ngo-heng-san berarti ia tidak dapat memegang janjinya untuk membayar hutang nyawa kepada Kong Ji.
"Nanti dulu!"
Serunya dan tubuhnya sudah bergerak dan menghadang.
"Kalian berdua adalah calon-calon bengcu, demikian pula aku. Karena sekarang calon-calon bengcu hanya tinggal kita bertiga, aku tantang kalian untuk mengadu ilmu dan menentukan siapa yang berhak menjadi bengcu"
Sin Hong yang cerdik maklum bahwa ini hanya alasan untuk memberi waktu dan kesempatan kepada Kong Ji agar dapat melarikan diri.
"Aku tidak ingin menjadi bengcu, kalau Suheng mau, silakan menjadi bengcu, tak usah berpibu dengan aku."
Kembali ia hendak lari, akan tetapi tiba-tiba Ciang Le menyerangnya dan berkata.
"Apa kau menjadi takut karena harus melawanku? Pengecut, lihat pedang!"
Bagi orang gagah, biar bagaimana sabar dan mengalah sekalipun, sebutai "takut"
Adalah pantangan besar dan merupakan penghinaan, maka Sin Hong tanpa banyak bicara lalu menyambut serangan itu dan di lain saat Sin Hong sudah bertempur hebat melawan Ciang Le.
Li Hwa yang hendak melanjutkan pengejarannya kepada Kong Ji juga disambut oleh Bi Lan yang berkata.
"Biar aku mewakili suamiku mencoba kepandaianmu, Hui-eng Niocu!"
Li Hwa mengeluarkan suara ketawa mengejek dan di lain saat dua orang wanita itu pun bertempur hebat.
Pertempuran kali ini benar-benar hebat, sama seru dan tegangnya dengan pertempuran antara Sin Hong dan Kong Ji tadi.
Ciang Le yang menghadapi Sin Hong mengeluarkan pedangnya Pak-kek Sin-kiam-hwat yang luar biasa lihainya.
Tidak saja ia harus melindungi Kong Ji seperti yang sudah ia janjikan, akan tetapi juga ia harus melindungi nama besarnya.
Soal pemilihan bengcu baginya bukan soal besar, karena Ciang Le juga tidak ingin menjadi bengcu, akan tetapi sebagai seorang pendekar pedang yang sudah terkenal di seluruh dunia kangouw, tentu saja ia tidak mau menyerah kalah menghadapi bocah yang masih terhitung sutenya sendiri ini.
Pedang di tangan Ciang Le biarpun bukan pedang pusaka, akan tetapi cukup kuat dan kalau tidak terkena secara tertindih, belum tentu dapat terbabat putus oleh Pak-kek Sin-kiam.
Apalagi karena ia mengerahkan tenaga lweekangnya.
tersalurkan pada, pedang sehingga tiap serangan maupun tangkisan mengandung tenaga yang dahsyat sekali.
Akan tetapi.
segera jago pedang ini terheran-heran dan kagum bukan main.
Biarpun di tangannya terdapat pedang Pak-kek Sin-kiam sehingga kalau diumpamakan scekor harimau ia telah mendapat sepasang sayap, namun Sin Hong terang-terangan tidak mau mempergunakan keuntungan ini untuk merusak pedang Iawannya.
Semua serangan jurus Ilmu Pedang Pak-kek Sin-kiam hwat disambutnya dengan baik sekali membuat Ciang Le kadang-kadang terbelalak heran, apalagi ketika pemuda itupun menghadapinya dengan ilmu pedang yang sama, namun yang lebih Iengkap.
Percayalah Ciang Le bahwa pemuda ini tentulah ahli waris dari suhunya, Pak Kek Siansu dan diam-diam ia merasa makin kagum.
Setelah beberapa kali mengukur tenaga dan ilmu pedang, Ciang Le tahu bahwa kalau Sin Hong menghendaki, pemuda itu akan dapat merobohkannya tanpa banyak kesulitan.
Akan tetapi pemuda ini tidak mau melakukan hal ini, dan membuktikan bahwa pemuda ini menjaga nama baik suhengnya.
Teringat akan ini Ciang Le menjadi makin terharu dan suka kepada Sin Hong.
Di lain pihak, pertandingan antara Li Hwa dan Bi Lan juga hebat sekali.
Bahkan pertandingan antara wanita ini jauh lebih indah ditonton.
Orang-orang kagum bukan main melihat gerakan-gerakan Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan, yang masih tangkas dan lincah sekali tiada bedanya dengan ketika ia masih muda.
Gerakan-gerakannya cepat dan ilmu pedangnya mempunyai banyak perubahan dan banyak perkembangan sehingga kadang-kadang Li Hwa menjadi agak bingung karenanya.
Akan tetapi ternyata bahwa Li Hwa juga memiliki ilmu pedang yang lihai, sifatnya garang dan ganas, apalagi ilmu pedang ini dimainkan dengan pedang Cheng-liong-kiam, dahsyatnya bukan main, dan setelah lima puluh jurus telah lewat, Bi Lan mulai terdesak.
Sementara itu Cam-kauw Sin-kai sudah membuka matanya dan sambil bersila ia menonton pertempuran itu.
Matanya berseri gembira dan berkali-kali ia ber kata.
"Hebat! Sebelum mati menyaksikan Pak-kek Kiam-hoat dimainkan sedemikian rupa, benar-benar mati pun tidak penasaran!"
Kemudian melihat betapa Ciang Le terdesak, Lie Bu Tek lalu melompat maju dan membentak Sin Hong.
"Bocah lancang! Apakah kau tidak lekas menghentikan kekurangajaranmu terhadap Go-taihiap?"
Mendengar ini, Sin Hong melompat mundur dan Ciang Le sambil tersenyum memperlihatkan bagian bajunya di dekat dada yang bolong sambil berkata kepada Lie Bu Tek.
"Aku mengaku kalah. Kalau menghendaki apa sukarnya membunuhku?"
Sementara itu melihat suaminya berhenti bertempur. Bi Lan yang sudah terdesak pun tidak malu mengaku kalah. Ia melompat mundur dan memuji.
"Hui -eng Niocu, kepandaianmu tinggi sekali. Aku tidak kuat melawanmu!"
Melihat betapa Ciang Le dan Bi Lan mengaku kalah, Lie Bu Tek menjadi makin marah kepada Sin Hong.
"Bocah tak tahu diri! Kau begitu sombong menjatuhkan nama Go-taihiap. Kalau begitu coba kau melawanku!"
Pendekar bertangan buntung ini dengan tangan kirinya lalu mencabut pedang menghadapi Sin Hong.
Sin Hong kaget melihat sikap gihunya, tidak hanya kaget akan tetapi juga girang sekali karena dengan sikapnya ini berarti bahwa Lie Bu Tek sudah mau mengaku ia sebagai anak lagi!!
Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Li Bu Tek dan berkata.
"Gihu, anak mengaku salah dan menanti hukuman."
Ciang Le dengan muka merah lalu memegang lengan kiri Lie Bu Tek dan berkata.
"Lie-twako, sudahlah, jangan kau terlalu menekan Sin Hong."
"Sin Hong, hayo kau cepat mohon ampun kepada mereka"
Lie Bu Tek berkata lagi kepada Sin Hong sambil menunjuk ke arah Ciang Le dan Bi Lan. Sin Hong hendak berlutut kepada dua orang ini, akan tetapi Ciang Le cepat mencegahnya dan berkata.
"Lie-twako, jangan begitu, bukan dia yang harus mohon ampun, sebaliknya akulah yang harus minta maaf karena pernah memukulnva tanpa dosa. Aku merasa menyesal sekali... lebih-lebih karena muridku pernah ditolongnya...."
Setelah pendekar besar itu mengakui kesalahannya, baru legalah hati Lie Bu Tek.
Memang tadi ia berpura-pura marah kepada Sin Hong dan memperlihatkan sikap kasar menyuruh pemuda itu minta ampun kepada Ciang Le adalah suatu sikap yang mengandung sindirin kepada Hwa I Enghiong berhubung dengan perbuatannya dahulu terhadap anak angkatnya itu.
Sekarang Bu Tek menyimpan pedangnya memandang kepada putera angkatnya dengan mata basah, penuh perasaan girang, bangga, dan terlaru.
Sin Hong adalah seorang yang sangat cerdik sekali, maka yang mengerti akan maksud sikap Lie Bu Tek tadi selain Ciang Le dan Bi Lan, juga pemuda ini mengerti baik.
Maka lalu memeluk ayah angkatnya dan kedua orang ini saling peluk, penuh perasaan girang dan terharu.
"Bagus, Sin Hong, kau telah membersihkan namamu, juga sekaligus menghidupkan api hidupku, terima kasih anakku ...."
Bisik Lie Bu dekat telinga anak angkatnya yang hanya terdengar oleh Sin Hong sendiri.
Pada saat itu terdengar suara ribut ribut ternyata bahwa pasukan Kong Ji telah bergerak dengan tiba-tiba menyerang rombongan yang memusuhi Kong Ji.
Seperti diketahui, rombongan yang mendukung Kong Ji amat banyak jumlahnya.
Mereka ini adalah pasukan-pasukan dan perkumpulan-perkumpulan lm-yang bu-pai, Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan Si Kai-pang, Twa-to Bu-pai dan lain-lain.
Melihat ini, Sin Hong melompat ke depan dan dengan suara yang amat nyaring berpengaruh ia membentak.
"Kalian ini orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengapa berlaku demikian memalukan? Apa artinya semua keroyokan ini? Tahan senjata dan biar para ketua rombongan bicara dengan aku!"
Sambil berkata demikian, beberapa kali Sin Hong mendorong dengan kedua tangan ke arah gelombang manusia itu dan bagaikan terbawa angin, belasan orang yang menyerang di depan telah terlempar ke belakang menimpa kawan-kawan sendiri.
Kehebatan gerakan pemuda ini menggentarkan hati para penyerbu dan ia memperkuat teriakannya sehingga ribut-ribut itu berhenti.
Berlompatan keluarlah tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi ketua perkumpulan-perkumpulan itu, mereka yang mendukung Kong Ji, antaranya Giam-ong Ma Ek ketua Bu-cin-pang, seorang kakek tinggi kurus yang terkenal lihai karena siang-pian, yakni senjata berupa sepasang ruyung sehingga ia dijuluki Siang-plan Giam-ong (Raja Maut Bersenjata Sepasang Ruyung).
Orang kedua yang termasuk orang lihai adalah ketua Kwan-cin-pai, yakni Mo-kiam Siangkoan Bu, akan tetapi kakek ahli pedang ini, sudah terluka oleh Tai Wi Siansu sehingga ia tidak begitu menakutkan lagi ketiga adalah Sin-houw Lo Bong ketua dari perkumpulan pengemis di Shansi, yakni Shansi Kai-pang.
Lo Bong amat lihai dengan ilmu silatnya Hauw-jiauwkun-hwat (Ilmu Silat Cakar Harimau) merupakan orang terkuat di Shansi, bahkan nama besarnya setingkat dengan pengemis sakti Cam-kauw Sin-kai.
Orang keempat adalah Twa-to Kwa Seng (Si Golok Besar Kwa Seng) ketua dari Twa-to Bu-pai, yakni Perkumpulan Golok Besar yang amat ditakuti karena pasukan ini memang selain amat kuat juga pengaruhnya besar sekali.
Sin-houw Lo Bong mewakili kawan-kawannya menghadapi Sin Hong dan berkata.
"Sudah kami lihat tadi bahwa Hwa I Enghiong juga sudah kalah sehingga kini tinggal dua orang lagi calon bengcu. Kami hendak mempergunakan hak sebagai orang kang-ouw untuk menguji sampai di mana kepandaian bengcu yang terpilih. Di antara kau dan Hui eng Niocu, siapah yang terpilih?"
Nama Sin-houw Lo Bong bukan tidak terkenal.
Dia seorang ciangbunjin partai persilatan besar, sungguhpun perkumpulannya itu hanya perkumpulan pengemis, maka Sin Hong tidak mau memandang rendah, lalu menjura ia dan berkata.
"Tentu saja semua orang berhak menguji, akan tetapi tidak secara keroyokan seperti tadi! Semua pibu yang diadakan bersifat mencoba kepandaian, bukan bermusuhan. Tentang siapa yang menjadi bengcu, hal itu aku sendiri tidak tahu-menahu dan boleh ditanyakan kepada yang bertanggung jawab dalam hal ini."
Tai WI Siansu melangkah maju.
"Seperti sudah diketahui oleh semua orang, calon bengcu yang masih saling mengadu kepandaian adalah Wan Sin Hong Sicu, Lihiap Hui-eng Niocu dan ke tiga Hwa I Enghiong Go Ciang Le. Pertempuran yang tadi terjadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pibu pemilihan beng-cu...."
Tiba-tiba Ciang Le berkata nyaring.
"Tidak demikian! Biarpun tadinya pertempuran itu tidak bermaksud untuk memilih calon bengcu, akan tetapi tetap saja berlaku, Aku sudah gugur sebagai calon bengcu, dan kedudukan ini kuserahkan kepada orang yang muda-muda. Selain itu, harap Cuwi Enghiong suka maafkan, aku tidak mempunyai waktu untuk menghadiri pertemuan ini lebih lama lagi. Hanya diminta menggunakan kesempatan selagi Cuwi berkumpul, kami mengundang kepada Cuwi untuk menghadiri perayaan pernikahan puteri kami dengan Coa Hong Kin yang perjodohannya ditentukan di tempat ini oleh kami dan Cam kauw Sin-kai. Kami menanti kedatanga Cuwi di Pulau Kim-bun-tho pada hari kelima belas bulan depan."
Setelah berkata demikian, Ciang Le menjura ke empat penjuru, lalu meninggalkan Puncak Ngo-heng-san, diikuti oleh Liang Bi Lan dan Go Hui Lian dan serta mengajak Lie Bu Tek.
Lie Bu Tek nampak ragu-ragu dan memandang kepada Sin Hong, akan tetapi tahu bahwa putera angkatnya itu masih menghadapi banyak urusan, ia lalu berkata Iirih.
"Sin Hong, aku menanti kau di Kim-bu-tho. Harap tak lama lagi kita dapat bertemu di sana."
Sin Hong mengangguk seperti orang kehilangan semangat. Kemudian ia menghampiri Cam-kauw Sin-kai yang sudah dipondong oleh muridnya, Coa Hong Kin, menyerahkan sebungkus obat sambil berkata.
"Cam-kauw Sin-kai Locianpwe, harap kau sudi menggunakan obat ini untuk menahan sakit."
Pengemis tua itu tersenyum dan menerima bungkusan itu.
"Wan-sicu, biarpun aku sebentar lagi akan mampus, akan tetapi aku merasa puas dan girang bahwa hanya aku seorang yang mengangkatmu menjadi calon bengcu. Demi keselamatan persaudaraan kang-ouw, harap kau terima kedudukan itu. Sicu. Terima kasih atas usahamu menyelamatkan nyawaku, akan tetapi, andaikata kau dewa sekalipun, siapa dapat membantah kehendak Thian?"
Kakek itu lalu tertawa bergelak dan memberi isyarat kepada Hong Kin untuk berangkat menyusul rombongan Ciang Le.
Suara ketawanya masih bergema dari lereng bukit setelah rombongan itu lenyap.
Semua orang kagum melihat kakek gagah yang menghadapi maut dengan ketawa-ketawa gembira.
Ciang Le sebetulnya merasa malu sekali sehingga ia mengambil keputusan untuk segera pergi saja.
Ia malu dan merasa tidak enak hati terhadap Sin Hong.
Kekalahannya terhadap Sin Hong tidak begitu hebat baginya, sudah jamak dalam dunia persilatan orang suka kalah atau menang, juga tidak aneh karena setelah bertempur melawan pemuda itu, ia tahu bahwa Sin Hong telah mewarisi seluruh ilmu silat peninggalan Pak Kek Siansu.
Yang membuat ia merasa tidak enak hati adalah karena dahulu ia telah menuduh Sin Hong berbuat yang tidak patut, bahkan ia telah menurunkan tangan maut, menghajar Sin Hong.
Kalau pemuda itu tidak memiliki kepandaian tinggi, hajaran-hajarannya dahulu itu tentu sudah merenggut nyawa pemuda itu.
Kalau sampai terjadi demikian, berarti membunuh orang yang bukan saja tidak berdosa, bahkan yang telah berjasa dengan menolong Soan Li.
Inilah yang membuat Ciang Le merasa amat tidak enak hati dan begitu mendapat kesempatan, ia lalu meninggalkan tempat itu.
Adapun Sin Hong, ketika mendengar bahwa Hui Lian telah ditunangkan dengan Coa Hong Kin dan akan menikah sebulan lagi, tiba-tiba menjadi pucat mukanya dan bibirnya tersenyum pahit.
Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan memindahkan perhatiannya kepada Cam-kauw Sin-kai yang masih terdengar suara ketawanya.
"Kasihan orang tua itu, nyawanya hanya dapat ditolong dengan sehelai daun dewata berwarna merah. Akan tetapi di dunia ini, siapakah yang memiliki daun itu?"
Kata-kata Sin Hong ini diucapkan sebagai keluhan sebagian untuk memberi kesempatan kepada dirinya untuk mengeIuh akibat penyesalan mendengar tentang pernikahan Hum Lian, kedua kalinya untuk maksud tertentu, karena sambil berkata demikian ia memandang tajam kepada See-thian Tok-ong yang masih berada di situ pula.
See-thian Tok-ong yang sudah terluka karena tendangan Ciang Le, masih asyik duduk bersila mengobati diri sendiri.
Ia tertawa tanpa mengeluarkan suara karena tidak mau membuang-buang tenaga dalamnya ketika ia mendengar keluhan Sin Hong ini.
"Wan Sin Hong, kalau hatimu demikian penuh welas asih, bagaimana kalau kau menukar sehelai daun yang kaumaksudkan itu dengan kedudukan bengcu kepadaku."
Sin Hong tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali. ia mengerti baik akan maksud kakek gundul ini, akan tetapi ia pura-pura bertanya.
"See Chian Tok-ong, apakah kata katamu tadi?"
"Yang menjadi calon bengcu tinggal kau dan ketua Hui-eng-pai. Kalau kau mengalahkan dia, berarti kau yang menang. Aku sanggup memberi sehelai daun yang kau butuhkan tadi kalau kau mau menyerahkan kedudukan bengcu kepadaku."
"Itu tidak mungkin!"
Tai Wi Siansu membentak.
"Kedudukan bengcu tak mungkin diberikan seperti hadiah! Tak mungkin pula bengcu ditukar-tukar seperti orang menukar baju! Kalau Wan sicu yang menang, harus dia yang menjadi bengcu, bagaimana bisa diganti oleh orang lain?"
See-thian Tok-ong tersenyum mengejek.
"Tat-wi Siansu, kalau Wan Sin Hong sudah memberikan kedudukan itu kepadaku, yang penasaran boleh maju dan kalau aku kalah tentu saja aku dengan sendirinya akan mengundurkan diri""
Kata-kata ini beralasan juga, karena kalau Wan Sin Hong, Siok Li Hwa, Liok Kong Ji dan Go Ciang Le tidak menjadi bengcu, kiranya yang paling kuat diantara lain-lain calon hanyalah See-thian lok-ong seorang!
Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan merdu.
Siok Li Hwa yang tertawa ini, tertawa dengan bebasnya memperlihatkan deretan gigi yang putih berkilau seperti mutiara.
Semua orang memandang dan melihat gadis ini mengeluarkan tiga helai daun merah dari saku bajunya, memberIkan itu kepada seorang gadis anggauta perkumpulannya dan memberI perintah.
Gadis itu menganguk angguk dan di lain saat gadis itu sudah berkelebat dan cepat sekali mengejar rombongan Cam-kau Sin-kai!
Kembali Li Hwa tersenyum mengejek kepada See-thian Tok-ong.
"Setan gundul, kau kira hanya kau saja yang memiliki daun dewa? Tangan sudah melukai orang dan kau memiliki alat penawarnya, akan tetapi tidak mau menolong. Sungguh kau kejam sekali dan lebih kejam dari serigala-serigala yang berkeliaran di gunungku. Ingin aku diberi kesempatan membuntungi dua tanganmu dengan pedangku!"
Sambil berkata demikian Li Hwa mencabut pedang hijaunya dan berdiri dengan sikap menantang sekali.
Kalau saja See-thian Tok-ong dan anak isterinya belum terluka dan belum kalah di tempat itu, tentu akan bangkit dan menyambut tantangan gadis itu.
Kini ia hanya mengeluarkan suara menggereng seperti harimau kejepit, merasa kecewa dan malu dan di lain saat ia telah berlalu pergi diikuti oleh Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun.
Para pengikutrya menjadi bingung karena tidak mungkin mereka dapat menyusul tiga orang yang berlari seperti terbang menuruni puncak itu.
Terpaksa mereka lalu turun gunung pula untuk kembali ke kota raja dan membuat laporan.
Sin Hong dan Li Hwa saling pandang.
tinggal mereka berdua saja calon bengcu.
"Hui-eng Niocu, banyak terima kasih. Kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Mudah-mudahan lain kali aku akan membalas budimu tadi."
Hui-eng Niocu Siok Li Hwa memandang kepada Sin Hong dengan senyum lucu dan sepasang matanya yang tajam bersen.
"Wan Sin Hong, kau memang orang aneh. Aku memberi daun kepada Cam kauw Sin-kai, mengapa kau yang berterima kasih? Laginya, daun itu bukan aku yang menanam, hanya tumbuh sendiri di hutan dan aku cuma memetiknya maka jangan bicara tentang budi."
Dari gerak-gerik dan kata-kata Siok Li Hwa, Sin Hong mengerti bahwa gadis ini amat terbuka hatinya dan jujur serta masih bersih daripada adat istiadat sehingga nampaknya agak kasar, seakan-akan sebuah bunga mawar tumbuh di hutan, bebas dan belum tersentuh oleh siapapun juga.
Sementara itu, Sin-houw Lo Bong menjadi tidak sabar.
"Wan Sin Hong den Hui-eng Niocu. Kalian ini anak kecil, tak tahu aturan hayo sambut tantangan kami. Tai Wi Siansu, kau ini yang menjadi pemimpin pertemuan ini bagaimana?"
Tai Wi Siansu menjawabnya karena baik Sin Hong maupun Li Hwa kelihatan tidak mau mempedulikan ketua Shansi Kai-pang itu.
"Shansi Kai-pangcu, memang menurut aturan sekarang yang menjadi calon bengcu tinggal dua orang, yakni Wan sicu dan Siok-Lihiap. Untuk menentukan siapa bengcu yang menang, keduanya tentu akan menguji kepandaian. Adapun kau dan kawan-kawanmu kalau masih penasaran, tentu saja kalian boleh menguji mereka, pilih saja yang mana!"
Tai Wi Siatisu memang maklum dan percaya penuh akan kepandaian Sin Hong dan Li Hwa, maka ia tidak khawatir akan ancaman orang-orang bekas pendukung Kong Ji ini.
Yang ia khawatirkan hanya mengenai diri Hui-eng Niocu Siok-Li Hwa.
Sudah tentu saja Tai Wi Siansu, juga tokoh-tokoh lain, mengharapkan Sin Hong yang menjadi bengcu, karena sudah terbukti bahwa pemuda ini selain kepandaian yang tinggi, juga berhati bersih dan membuktikan kecerdikannya dalam hal membongkar rahasia Kong Ji.
Akan tetapi, Li Hwa seorang gadis yang kelihatan berilmu tinggi juga, apalagi kalau diingat bahwa gadis ini murid tunggal mendiang Pat-jiu Nio-nio yang dahulu terkenal ganas dan galak.
Bagaimana kalau Sin Hong kalah oleh Nona ini?
Sementaia itu Sin-houw Lo Beng yang datang ke puncak itu selaln mendukung Kong Ji, juga hendak menguji kepandaian sendiri di gelanggang pertemuan orang-orang gagah.
Tadi memang ia gentar menghadapi tokoh-tokoh besar perti Hwa l Enghiong, Cam-kauw Sin kai dan See-thian Tok-ong dan mereka ragu-ragu untuk mengajukan diri mencoba kepandaian.
Akan tetapi sekarang, melihat bahwa sisa bengcu hanya tinggal dua orang muda itu, biarpun ia tahu bahwa mereka berdua adalah orang-orang muda dengan kepandaian tinggi, namun ia merasa penasaran dan di dalam hatinya sanggup menangkan mereka.
Mustahil dia yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun, akan kalah oleh bocah yang baru muncul?
"Wan Sin Hong, mari kita main-main sebentar!"
Tantangnya sambil menghadapi pemuda itu.
Tadinya Sin Hong sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi bengcu.
Akan tetapi setelah melihat semua orang gagah mengundurkan diri dan melihat suasana di dunia kangouw, terutama sekali setelah ia mendengar pesan terakhir dari Cam-kauw Sin-kai, pikirannya berubah.
Ia melihat perlunya ia membela kedudukan bengcu agar jangan terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat.
Kalau ia masih berpendirian seperti tadi, yaknt tidak mau menerima pengangkatan bengcu, tentu ia pun tidak sudi melayani tantangan orang-orang seperti Lo Bong dan yang lain-lain.
Sekarang, ia maklum bahwa ia harus menyingkirkan orang-orang bekas pendukung Kong Ji ini, sekalian memperkenalkan diri melalui ilmu silatnya agar lain kali jangan ada orang jahat berani berbuat sewenang-wenang.
Maka dengan senang ia lalu melangkah maju menghadapi Sin-houw Lo Bong, berkata perlahan.
"Lo-enghiong ini siapakah, harap memperkenalkan diri agar aku yang muda bertambah pengetahuan."
Melihat sikap Sin Hong yang ramah dan sopan Lo Bong mengurangi kekakuan sikapnya.
"Aku adalah Shansi Kai-pangcu, Sin-houw Lo Bong dari Shansi."
"Ah kiranya ketua Shansi Kai-pangcu yang terkenal. Silahkan, Pangcu aku sudah siap menerima pelajaran."
"Lihat serangan!"
Lo Bong berseru sambil membuka serangan pertama yang dahsyat.
Kedua lengannya ditekuk, jari-jari tangan dipentang seperti kuku harimau, kemudian lengan itu bergerak cepat pergi datang, melakukan serangan bertubi-tubi dan bergantian, mencakar dada, perut, leher, dan muka.
Sin Hong cepat melangkah mundur.
Serangan itu hebat sekali.
Dari kedua tangan itu menyambar angin pukulan yang cukup kuat, menandakan bahwa serangan-serangan itu dilakukan dengan tenaga lweekang yang tinggi.
Biarpun Sin Hong berkepandaian tinggi, akan tetapi ia kurang pengalaman dan belum pernah melihat ilmu silat macam ini.
Memang ia pernah mendengar dari gihunya bahwa di dunia ini terdapat ilmu bertempur yang tak dapat dihitung banyak macamnya, dan terhadap seorang lawan yang mempergunakan Ilmu bertempur yang belum dikenalnya, ia harus berlaku hati-hati sekali.
Ia belum tahu bagaimana perubahan serangan ini dan di mana letak kelihaiannya, maka biarpun didesak terus, ia main mundur dan mengelak saja.
Dua puluh jurus terlewat dan Lo Bong menjadi marah.
ia merasa dipermainkan oleh pemuda itu yang selalu mengelak, bahkan menangkis satu kali pun belum pernah.
Padahal ia amat mengharapkan tangkisan pemuda itu agar dapat mempergunakan ilmunya, mencengkeram lengan pemuda itu!
Inilah sebuah di antara keistimewaan ilmu silatnya.
Begitu dua lengan bertemu dalam tangkisan, dengan gerakan dan kecepatan yang tak dapat diduga lawan, ia dapat membalikkan lengan dan menggunakan cengkeramannya menangkap lengan lawan dan cclakalah lawan yang dapat ia tangkap lengannya!
Karena Sin Hong tidak mau menangkis dan gerakan pemuda itu memang gesit sekali sehingga amat melelahkan bagi Lo Bong yang sudah tua, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan suara gerengan harimau dan tubuhnya lalu mencelat naik, menubruk ke arah Sin Hong seperti seekor harimau tulen!
Ini merupakan keistimewaan kedua dari ilmu silatnya Houw jiauw-kun ini.
Tubrukannya demikian cepat, kedua lengan dan kaki dipentang, bahkan kini kedua kakinya juga bergerak seperti mencakar sehingga dalam sedetik Sin Hong diancam oleh empat cakar yang berbahaya!
"Lihai sekali...!"
Sin Hong berseru kaget.
Tentu saja ia dapat menghantam lawannya ini selagi ia masih di udara menggunakan tenaga lweekang.
Akan tetapi Sin Hong tidak sekejam itu.
bahkan menggulingkan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari terkaman lawan.
Tak disangkanya bahwa gerakan Lo Bong memang luar biasa.
tubuh yang tinggi besar dan yang sedang melompat di tengah udara itu tiba-tiba bergerak dan berganti haluan, kini menyambar ke arah Sin Hong dengan dua tangan mencengkeram pundak dan leher.
Cepat sekali serangan ini sehingga bagi Sin Hong tidak terdapat kesempatan untuk mengelak lagi.
Terpaksa pemuda ini menangkis dengan kedua tangannya.
"Plak, Plak!"
Sin hong mengalami hal aneh.
Biarpun ia menangkis dengan teori ilmu silat, yakni dengan gerakan dikepretkan atau dikipatkan, tetap saja kedua lengannya dapat ditangkap oleh dua telapak tangan kakek itu, lekat tak dapat terlepas lagi seakan-akan pada telapak tangan itu perekat yang amat kuat!
"Wan Sin Hong, lebih baik mengundurkan diri dari kedudukan bengcu, kalau tidak kedua lenganmu akan patah-patah,"
Kata Lo Bong sambil tertawa.
ia merasa yakin bahwa pemuda itu akan mengaku kalah, karena siapakah dapat membebaskan diri dari kedua cengkeramannya?
Akan tetapi baru saja kata-katanya habis, ia meringis kesakitan dan terpaksa mengendurkan cengkeramannya karena kedua telapak tangan yang mencengkeram lengan tangan pemuda itu merasa panas sekali dan sakit seperti ditusuk jarum.
Di lain saat, lengan yang tadinya mengeras dan panas sekali dan bulu-bulu lengan berdiri dan keras bagaikan jarum-jarum baja yang menusuk telapak tangannya tiba-tiba menjadi lemas dan licin bagaikan tubuh seekor belut dan sekali tarik dua lengan pemuda itu telah terlepas!
Lo Bong sampai berdiri melongo.
Tak disangkanya bahwa pemuda ini memiliki lweekang yang sedemikian hebatnya.
Mengerahkan tenaga sehingga lengan menjadi panas seperti api dan bulu-bulu lengan menjadi berdiri tegak dan mengeras seperti jarum, adalah ilmu lweekang yang hanya pernah didengarnya saja akan tetapi belum pernah disaksikannya.
Tadinya Lo Bong mengira bahwa di dunia tak mungkin ada orang yang lweekangnya setinggi itu, kecuali mungkin Pak Kek Siansu yang sudah lama meninggalkan dunia.
Tak disangkanya sekarang ini bertemu dengan orangnya.
seorang yang masih begini muda.
Tiba-tiba Lo Bong mengeluarkan seruan kaget karena tanpa sebab kedua tangannya terasa sakit sekali, tulang tulang jari tangannya mengeluarkan suara kerotokan dan di lain saat Lo Bong mengeluh dengan muka pucat dan keringat mengucur, memijit-mijit pergelangan tangan berganti-ganti.
Inilah akibat pukulan membalik dari tenaga cengkeramannya yang dihantam oleh sinkang yang disalurkan melalui lengan Sin Hong yang ditangkapnya tadi.
Melihat Lo Bong tak berdaya dan seperti cacing terkena abu memijit-mijit kedua tangannya, Siang-plan Giam-ong Ma Ek Ketua Bu-cin-pang melompat maju dan memutar sepasang ruyungnya.
"Wan Sin Hong, lihat senjata!"
Ucapannya ini belum habis, ruyungnya sudah menyambar-nyambar seperti dua ekor burung garuda yang mengamuk.
Melihat gerakan ini, tahulah Sin Hong bahwa kepandaian ketua dari Bu-cin-pai ini tidak berapa hebat, hanya mengandalkan tenaga besar saja.
Ia sendiri belum mengenal siapa kakek ini, karena tidak sampai sempat bertanya nama, maka mengira bahwa yang menyerangnya bukan seorang penting.
Sin Hong cepat menggerakkan kedua tangan dan di lain saat sepasang ruyung telah dapat dirampasnya dan Ma Ek terjungkal karena lututnya kena disentuh oleh ujung kaki Sin Hong.
Dalam satu gebrakan saja Siang-pian Giam-ong Ma Ek sudah roboh, hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang mengherankan dan tak dapat dimengerti oleh para tokoh di situ.
Tak seorang pun mengenal gerakan Sin Hong tadi, semacam gerakan yang nampaknya mudah dan sederhana akan tetapi yang hasilnya demikian luar biasa.
Tidak mengherankan kalau tidak ada yang mengenalnya karena gerakan tadi adalah gerakan dari jurus llmu Silat Pak-kek sin-Ciang-hoat yang belum pernah dimainkan di muka dunia ini oleh siapapun juga.
Pak Kek Siansu yang mencipta ilmu silat ini belum pernah mempergunakan di depan umum dan selain Sin Hon belum pernah ada yang, menerima pelajaran ilmu silat ini.
Biarpun sudah terbukti kelihaian pemuda ini setelah mengalahkan dua orang tokoh besar, namun Twa-to Kwa Serg tidak menjadi gentar.
Sebagai seorang tokoh besar yang sudah amat terkenal namanya, ia tidak mundur sebelum merasai sendiri keunggulan lawan.
Sambil memutar-mutar golok di atas kepala ia berkata.
"Wan Sin Hong, kaucobalah kalahkan golok dari Twa-to Kwa Seng!"
Wan Sin Hong memandang tajam, lalu berkata tenang.
"Majulah"
Akan tetapi sebelum Twa-to Kwa-Seng mulai dengan serangannya, Li Hwa melompat ke hadapannya dan berkata kepada Sin Hong.
"lni tidak adil! Wan Sin Hong, apakah kau ingin borong semua agar kelihatan paling pandai dan dipilih menjadi bengcu? Sekarang giliranku."
Setelah berkata demikian, dengan pedang hijau di tangannya ia menantang Twa-to Kwa Seng dengan senyum sindir dan pandang matanya yang penuh ejekan.
Sin Hong tersenyum lalu mundur.
Adapun Kwa Seng melihat lagak Li Hwa menjadi marah.
Baginya memang sama saja, melawan Sin Hong atau gadis ini, karena kedua-duanya adalah calon bengcu.
"Bocah sombong, jaga dirimu baik baik,"
Serunya dan goloknya menyambar mengeluarkan angin bagaikan sampokan sayap burung garuda besar.
"Tua bangka pemotong babi! Kaulah yang harus menjaga diri baik-baik agar pisau pemotong babimu itu tidak melukai tubuhmu sendiri!"
Kata Li Hwa sambil mengelak ke samping dan membalas serangan lawan dengan pedangnya.
Cepat sekali gerakan Li Hwa sehingga Kwa Seng terkejut tidak sempat membalas ejekan nona itu.
Goloknya di ayun dan dengan tenaganya yang besar mengandalkan goloknya yang tebal dan berat ia hendak menangkis pedang agar terlepas dari pegangan gadis itu.
Akan tetapi Li Hwa terlalu lincah, namun membiarkan pedangnya yang tipis itu di hantam oleh golok besar.
Juga gadis ini tidak mau mengandalkan ketajaman pedangnya untuk membabat golok.
karena golok setebal dan seberat itu, biarpun andalkata dapat dibabat putus tenta akan merusak pedangnya, atau ada bahayanya kalau ia kalah tenaga, pedangnya akan terlepas dari pegangan.
Dengan gerakan cepat dan lincah sekali Li Hwa mulai nempermainkan lawannya.
Payah juga Kwa Seng mengikuti gadis itu yang bagaikan seekor burung walet menyerang seekor gajah yang berat tubuhnya.
Gadis itu berlompatan ke sana ke mari, kadang kadang tahu-tahu berada di belakang Kwa Seng, atau ada kalanya melompat tinggi di atas kepala dan menyerang dari atas.
Semua ini dilakukan sambil tertawa-tawa mengejek sehingga Kwa Seng merasa kepalanya pening sekali.
Akhirnya dengan gerakan indah sekali, Li Hwa berhasil menggores lengan tangan Kwa Seng dan cepat mengirim tendangan ke arah jari-jari tangan yang memegang golok.
Karena sakit lengannya tergores pedang.
pegangan pada gagang goloknya yang amat tidak begitu kuat tapi maka ketika jari-jari tangannya terkena tendangan, golok itu terlempar membalik dan melukai pahanya sendiri.
Darah mengucur dari paha dan Kwa Seng berlompat-lompatan ke belakang menahan sakit.
Li Hwa tertawa nyaring.
"Apa kata ku tadi? Tua bangka pemotong babi mulai memotong kakinya sendiri, dikira kaki babi..."
Akan tetapi kata-kata ini terputus oleh sorak-sorai dan ketika Li Hwa dan Sin Hong serta yang lain lain menengok mereka terkejut sekali karena puncak itu telah terkurung oleh pasukan yang ribuan orang banyaknya!
Inilah pasukan-pasukan dari Perkumpulan Im-yang-bu pai, Bu-cin-pang, Kwa-cin-pai, Shan-si Kaipang, Twa-to Bu-pai, dan lain-lain yang telah dikerahkan oleh Kong Ji.
Mereka itu kesemuanya telah memegang senjata lengkap dan mengurung tempat itu dengan sikap mengancam!
Ketua-ketua perkumpulan yang tadi sudah kalah cepat-cepat lari masuk ke dalam barisan masing-masing.
Di ujung barisan itu tiba-tiba muncul seorang yang tertawa bergelak, suara ketawanya menyeramkan.
Semua orang yang terkurung memandangnya dengan penuh kebencian karena orang ini ternyata bukan lain adalah Liok Kong ji!
Pemuda yang amat licik ini diam-diam telah mengatur semua pasukan pendukungnya untuk mempergunakan kesempatan selagi semua orang lengah dan memperhatikan pertempuan antara ketua-ketua pasukannya dengan calon-calon bengcu, mengatur pengepungan itu.
Kini ia berdiri sambil tertawa di dekat barisan lm-yang-bu-pai, lalu suaranya terdengar lantang.
"Wan Sin Hong manusia sombong, lihatlah baik-baik di sekelilingmu! Kau mau tahu berapa banyaknya? Lima ribu orang, sobat! Apakah kau masih mau menyombongkan kepandaianmu dan sanggupkah kau membobolkan kepungan kami?"
Kata-kata ini disusul suara ketawa bergelak, sama sekali pemuda itu tidak kelihatan malu karena kekalahannya tadi.
Di puncak gunung itu masih terdapat banyak orang.
Di samping Sin Hong dan Siok Li Hwa, di situ masih terdapat ciangbunjin dari tiga partai besar yakni Tai Wi Siansu ketua dari Kunlun-pai Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai, Bu kek Siansu ketua Bu-tong-pai, dan beberapa belas orang tokoh kang-ouw yang tidak ikut mendukung Kong Ji.
Para wakil palsu dari Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain lain yang sesungguhnya masih kaki tangan Kong Ji juga, sejak tadi sudah mengundurkan diri dan menggabungkan diri dengan para ketua pasukan pendukung Kong Ji.
Selain ketua-ketua partai besar dan tokoh-tokoh kang-ouw, masih ada anak murid Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan Hui-eng-pai yang masing-masing berjumlah kurang lebih dua puluh orang sehingga jumlah semua orang yang terkepung itu hanya ada seratus orang lebih.
Akan tetapi, begitu muncul di situ, Liok Kong Ji hanya menyebut nama Wan Sin Hong, maka dapat diduga bahwa ia memang melakukan pengepungan itu untuk mengancam Sin Hong.
"Kong Ji manusia berhati iblis, tak perlu kau memutar-mutar omongan, kata-kan saja apa maksudmu dengan perbuatan curang dan tak tahu malu ini?"
Kata Sin Hong, sedikit pun tidak takut, bahkan memperlihatkan senyum mengejek.
"Monyet rawa, kau yang sudah kalah bertanding dan dipukul Iari seperti anjing apakah sekarang hendak mengandalkan orang banyak untuk merebut kedudukan bengcu? Sungguh tak tahu malu sekali!"
Siok Li Hwa memaki Kong Ji, karena gadis ini sekarang dapat menduga dan hampir yakin bahwa yang menyebabkan matinya Cun Eng tentulah Liok Kong Ji.
Kong Ji tidak marah dimaki oleh LI Hwa, hanya tersenyum manis dan menjawab dengan suara halus, jawaban yang sekaligus menjawab pertanyaan Sin Hong dan Li Hwa.
"Sin Hong, kalau aku mau, sekarang juga aku dapat menumpas kau dan semua orang di puncak ini. Akan tetapi hatiku tidak sekejam itu. Aku menghargai persahabatan di dunia kang-ouw. Ada peribahasa bilang bahwa siapa kuat dia menjadi raja. Sekarang aku menawarkan pembebasanmu dan semua orang di puncak ini dengan hanya ditukar dua macam barang, yakni kitab warisan Pak-Kek Siansu dan pedangku Pak-kek Sin kiam kau kembalikan!"
Sin Hong maklum bahwa ancaman pemuda itu bukan main-main.
Ketika menyapu orang-orang yang mengurung tempat itu dengan kerling matanya, ia mendapat kenyataan bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong belaka.
Kalau terjadi pertempuran, kiranya seratus orang betapapun lihainya takkan mungkin dapat mengundurkan lima ribu orang!
"Kalau aku menolak"
Tanyanya memancing. Kong Ji tertawa mengejek mendengar pertanyaan ini.
"Ha, ha, ha, manusia bodoh. Kalau kau menolak, kau menderita rugi besar karena kau dan semua orang yang berada di puncak ini akan kubinasakan semua. Sebaliknya, aku untung besar karena selain kitab dan pedang pusaka tetap menjadi milikku setelah kau mampus, juga para anggauta Hut-eng-pai itu... hemmmm, mereka cantik-cantik! Tentu mereka tidak termasuk orang-orang yang harus dibinasakan, bahkan sebaliknya!"
Kembali pemuda ini tertawa terbahak-bahak.
"Jahanam Liok Kong Ji, manusia tak tahu malu! Kalau kau memang laki-laki, mari kita bertempur seribu jurus sampai semua orang di antara kita menggeletak tak bernyawa di situ!"
Li Hwa melompat dengan pedang di tangan.
Pasukannya juga bergerak dan semua gadis anak buahnya yang rata-rata menjadi merah mukanya dan marah sekali mendengar kata-kata Kong Ji tadi, telah mencabut pedang, siap sedia menanti perintah ketua mereka untuk menyerbu.
"Nona, aku tidak hendak bermusuhan dengan kau dan anak buahmu, bahkan aku ingin menjadi sahabatmu, sahabat yang baik sekali...."
Kata Kong Ji sambil memandang dengan mata penuh arti, pandang mata yang kurang ajar sekali.
"Keparat, jadilah setan tak berkepala!"
Li Hwa berseru dan tubuhnya melayang, pedangnya menyambar ke arah leher Kong Ji.
Akan tetapi, dengan mudah Kong Ji mengelak dan di lain saat ia telah lenyap ke dalam barisannya dan Li Hwa berhadapan dengan barisan golok yang terdiri dari ratusan orang.
Barisan ini teratur rapat sekali, merupakan barisan terlatth baik.
Inilah barisan dari Twa-to Bu-pai yang disebut Twa-to-tin (Barisan Golok Besar).
Barisan itu sudah mulai bergerak-gerak, dan semua barisan yang mengepung puncak itu pun sudah bergerak, di antaranya terdapat barisan anak panah yang sudah siap menarik tali busur!
"Hui-eng Niocu, tahan!"
Seru Sin Hong sambil melompat ke dekat nona itu.
"Kong Ji, aku terima syaratmu!"
Hui-eng Niocu Siok Li Hwa mengerling kepada Sin Hong.
"Apakah kau takut mati? Takut menghadapi ribuan ekor monyet rawa itu?"
Sin Hong tersenyum dan memandang kepada nona yang gagah "Orang-orang seperti kau dan aku tidak kenal takut untuk menghadapi bahava biarpun terkurung oleh mereka, akan tatapi apakah kau tidak ingat dan sayang kepada nyawa orang-orang lain yang berada di sini?
Apakah kau rela mengorbankan anak buahmu itu hanya untuk menuruti perasaan marah dan hati panas?"
Li Hwa membanting-banting kakinya.
"Anjing she Liok itu, kelak akan tiba satnya aku membelah dadanya!"
Sementara itu, tahu-tahu Kong Ji sudah muncul lagi di ujung lain sambil tersenyum-senyum.
Entah dari mana datangnya, ia kini telah memegang sebuah hudtim lagi dan lagaknya dibuat-buat seperti seorang pembesar tinggi.
"Bagus, Sin Hong. Lekas kauserahkan kitab dan pedang itu!"
Katanya penuh kegembiraan.
"Sabar dulu, Kong Ji. Jangan kauharap aku dapat mempercayai omongan seorang seperti engkau. Lebih dulu buka jalan agar para enghiong dan locianpwe yang berada di sini turun gunung, baru aku mau memberikan benda-benda itu."
Kong Ji marah, akan tetapi ia tertawa mengejek.
"Kau tidak percaya kepadaku, apakah aku juga dapat percaya kepadamu? Kalau kalian sudah turun semua, ke mana aku harus mencarimu? Ha, ha, ha, jangan kau bicara seperti anak kecil, Sin Hong."
"Kong Ji aku hanya ingin kau membuka jalan memberi kesempatan kepada para locianpwe dan juga kepada Hui-eng-pai turun gunung. Aku sendiri takkan turun gunung sebelum memberikan semua benda yang ada padaku. Aku bersumpah demi kegagahan, setelah semua orang kecuali aku turun gunung tanpa mendapat gangguanmu, aku akan memberikan semua benda yang ada padaku!"
Liok Kong Ji agaknya puas mendengar ini.
"Hem, kalau begitu sesukamulah, aku akan memberi jalan keluar. Akan tetapi awas, jangan kau ikut bergerak dari tempatmu!"
Ia lalu memberi aba aba dan pasukan pengurung itu melebar, lalu di tempat yang jauh dan situ dibukalah jalan keluar yang terjaga kuat oleh barisan anak panah!
Serombongan lain yang merupakan barisan panah mengancam Sin Hong menjaga kalau-kalau pemuda itu mengeluarkan gerakan mencurigakan tentu akan dahujani panah"
Tai Wi Siansu menghadapi Sin Hong.
"Wan-sicu mengapa begini? Kau tahu bahwa pinto dan yang lain-lain bukan pegecut dan tidak takut mati. tak perlu kau mengorbankan diri dan kehormatan untuk menyelamatkan kami!"
"Betul, Wan-sicu, aku pun ingin berkenalan dengan kepandaian iblis itu."
"Pinto juga tidak gentar menghadapi segala gentong nasi ini, Wan-taihiap,"
Kata Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai. Sin Hong tersenyum.
"Tentu saja saya yakin akan keberanian dan kelihaian Sam-wi Locianpwe, juga tidak menghina Sam-wi. Sam-wi sebagai ciangbunjin-ciangbunjin partai besar untuk apa harus mengotorkan mulut dan tangan berurusan dengan orang macam dia? Apalagi, saya mengerti bagaimana harus menghadapi orang macam dia. Harap Sam-wi suka mengalah dan silakan turun gunung lebih dulu. Lain kali kita saling bertemu pula."
Terpaksa para ketua partai besar tanpa menoleh kepada Kong Ji, dengan tindakan gagah memimpin anak-anak muridnya meninggalkan tempat itu.
Setelah semua orang gagah itu turun gunung barulah Li Hwa menghampiri Sin Hong.
Gadis ini paling sukar disuruh pergi.
"Di sini tempat bebas, aku berada di sini, siapa yang berani mati mengusirku?"
Katanya dengan mata berapi-api di tujukan kepada Sin Hong.
Niocu, jangan begitu.
Kau tahu bahwa aku tidak mengusirmu, hanya minta dengan hormat supaya kau turun gunung lebih dulu agar urusan ini dapat diselesaikan dengan damai."
"Aku tidak mau pergi, kau mau apa?"
Tantang Li Hwa. Sin Hong menjadi serba susah.
"Niocu, kalau kau nekad dan terjadi pertempuran, sudah pasti pasukanmu yang kecil jumlahnya akan binasa...."
"Tak peduli! Aku tak dapat meninggalkan kau seorang diri begitu saja, aku bukan pengecut!"
Kata-kata yang diucapkan secara kasar dan terus terang ini membuat hati Sin Hong berguncang.
"Niocu... apakah kau... rela mengorbankan nyawa semua anak buahmu hanya untuk... melindungi keselamatanku...?"
Tanyanya lirih, matanya tajam. Li Hwa menjadi merah mukanya dan gadis ini menggigit bibir dengan gemas. Ia nampak marah sekali.
"Kau bicara apa...??"
Tangan kirinya menampar dan "plok!"
Pipi kanan Sin Hong menjadi marah dan di situ nampak jalur jalur lima jari yang kecil meruncing.
Terdengar Liok Kong Ji tertawa bergelak.
Jarak antara dia dan dua orang yang bertengkar itu terlampau jauh sehingga ia tidak dapat mendengar suara mereka.
"Eh, Sin Hong, apa kau gila? Mengapa di tempat ini kau berani mampus hendak mengganggu wanita?"
Katanya penuh ejekan.
Sementara itu, Li Hwa sudah berjalan pergi diikuti oleh anak buahnya di kanan kiri.
Akan tetapi baru berjalan seratus tindak lebih, ia berhenti dan memutar tubuhnya memandang Sin Hong yang masih bengong berdiri di situ.
Tiba-tiba Li Hwa mengayun tangan kanannya dan sinar hijau melayang ke arah dada Sin Hong!
Pemuda ini cepat mengulurkan tangan dan menangkap gagang pedang Cheng-liong-kiam yang disambitkan Li Hwa.
Kelihatannya gadis itu menyerang dengan sambitan pedang, akan tetapi Sin Hong tahu bahwa gadis itu sengaja memberikan pedangnya, sungguhpun kalau orang biasa saja tentu dadanya akan tertembus pedang.
"Aku titipkan dulu pedangku!"
Kata Li Hwa dan di lain saat ia telah berlari-lari meninggalkan tempat itu, diikuti oleh anak buahnya.
Diam-diam Sin Hong berterima kasih sekali.
Sekarang ia tahu bahwa Li Hwa yang jujur itu tetap merasa curiga kepada Kong Ji dan menyangka bahwa kalau Sin Hong sudah berada di situ seorang diri pasti pemuda ini akan dikeroyok.
Begitu pedang dan kitab diserahkan dan pemuda ini bertangan kosong apakah dayanya kalau dikeroyok?
Maka dari itu ia tadi merasa tidak tega meninggalkan Sin Hong seorang diri di tengah-tengah para srigala bermuka manusia itu dan akhirnya ia sengaja meminjamkan pedangnya karena hanya Cheng-liong-kiam yang dapat menghadapi Pak-kek Sin-kiam.
Kini Sin Hong berada seorang diri di tempat itu, dikepung oleh lima ribu orang anak buah Kong Ji yang siap bergerak kalau diperintah oleh pemuda iblis itu.
Sikap Sin Hong tenang-tenang saja dan ia menanti sampai semua orang yang turun gunung tadi sudah berada di tempat aman.
Baru ia menghadapi Kong Ji dan berkata.
"Ternyata kau maslh kenal artinya memenuhi janji. Nah, sekarang tiba giliranku. Ambillah semua barang milikku yang berada padaku. Kau mau Pak-kek Sin-kiam? lni, terimalah!"
Sin Hong mengambil pedang pusaka itu dan melemparkannya ke depan Kong Ji. Pedang itu menancap di atas tanah di depan Kong Ji, gagangnya bergoyang goyang.
"Apa lagi yang kaukehendaki? Yang ada padaku hanya sedikit pakaian, obat-obat dan beberapa puluh tael perak. Yang mana kau mau ambil?"
"Sin Hong, jangan kau pura-pura bodoh dan pelupa. Aku menghendaki Pak-Kek Sin-kiam dan kitab peninggalan Pak Kek Siansu. Berikan kitab itu!"
Sin Hong tersenyum.
"Bagaimana mungkin? Kitab itu sudah lama kubakar di dasar jurang Gunung Luliang-san."
"Sin Hong, tidak malukah kau untuk melanggar janjimu tad!? Bukankah kau sudah bersumpah hendak memberikan semua itu kepadaku setelah aku melepaskan semua orang turun gunung?"
"Kong Ji, peraslah otakmu dan ingat baik-baik bagaimana bunyi sumpahku tadi. Aku tadi bersumpah akan memberikan segala benda milikku yang berada padaku, bukan? Nah. sekarang yang berada padaku hanya pedang pusaka dan lain-lain barang yang telah kasebutkan tadi. Dan aku pun sama sekali tidak membohong dengan keteranganku bahwa kitab suci itu sudah kubakar. Kau tidak percaya? Boleh kauperiksa pakaianku kalau-kalau kusembunyikan kitab itu."
Sambil berkata demikian, Sin Hong memegang pedang Cheng-liong-kiam tinggi-tinggi dengan tangan kanannya dan mengangkat dua lengan dua lengan itu ke atas.
Kong Ji mencahut pedang Pak-kek Sin-kiam dari atas tanah, lalu meyuruh seorang pembantunya untuk memeriksa tubuh Sin Hong.
Di luar tahu Sin Hong ia membisikkan sesuatu kepada pembantu ini, seorang yang pendek gemuk dan kelihatan bertenaga besar dan berkepandaian tinggi.
Orang ini lalu berjalan dengan tegapnya menghampiri Sin Hong.
"Aku diberi tugas memeriksamu,"
Katanya singkat.
"Silakan,""
Jawab Sin Hong tersenyum. (Lanjut ke
Jilid 33) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 Si Pendek Gemuk itu lalu menggunakan dua tangannya untuk menggeratak, meraba raba dan memeriksa seluruh kantong dan lipatan pakaian Sin Hong dan sepuluh buah jari tangannya seperti sepuluh ekor cecak merayap-rayap.
Satu demi satu bawaan Sin Hong dikeluarkan, dan bungkusan-bungkusan obat, jarum-jarum pengobatan, uang bekal, sampai buntalan pakaian.
Akan tetapi tetap tidak terlihat sebuah pun kitab.
Tadinya jari-jari tangan itu meraba-raba dan merayap-rayap sehingga Sin Hong terpaksa harus mengerahkan tenaga menahan kegelian.
Akan tetapi tiba-tiba jari-jari tangan itu menegang dan bagaikan kilat cepatnya orang itu menggunakan sebuah pisau tajam menusuk lambung Sin Hong!
Inilah perintah rahasia yang dibisikkan oleh Kong Ji tadi, yaitu apabila kitab tak dapat ditemukan, selagi memeriksa dan Sin Hong lengah orang ini supaya membunuh Sin Hong dengan tusukan mendadak.
Dapat dibayangkan betapa sukarnya menghindarkan diri dari serangan yang begini tiba-tiba dan dekat apa lagi dalam keadaan tidak menyangka dan kedua tangan diangkat ke atas seperti keadaan Sin Hong.
Sin Hong yang merasa terkejut juga tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak, maka ia lalu mengerahkan sinkangnya ke dada, merendahkan diri dan memutar tubuh sehingga pisau nu tidak mengenai lambungnya melainkan mengenai dadanya, kemudian hampir pada saat yang sama, tangan kirinya sudah menempeleng kepala orang itu.
Baju Sin Hong di bagian dada robek, kulit dadanya hanya tergurat sedikit karena orang itu menusuk dengan sepenuh tenaga lweekangnya.
Akan tetapi orang gemuk yang kena ditempeleng kepalanya itu, berputar-putar seperti sebuah gasing lalu terhuyung-huyung dengan mata mendelik dan di lain saat ia roboh mencium tanah tak bergerak lagi!
Sin Hong cepat mengambil barang barangnya yang tadi dikeluarkan dan di lempar di atas tanah, kemudian ia memandang kepada Kong Ji dengan mata berapi.
"Hemm, kau benar-benar seorang iblis yang palsu dan pengecut, Kong Ji. Kau-lihat sendiri bahwa kitab itu tidak ada padaku. Aku tidak biasa membohong atau menipu, sebaliknya kau benar-benar tak tahu malu menyuruh babi itu melakukan serangan menggelap. Apa sih kehendak mu?"
Kong Ji tidak merasa malu, hanya kecewa karena orangnya gagal membunuh Sin Hong.
Kalau ia sendiri yang tadi melakukan pemeriksaan dan penyerangan menggelap itu.
sudah dapat dipastikan Sin Hong akan tewas.
ia tertawa menyeringai ketika menjawab.
Baca Juga: Pendekar Buta 7
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 12