Eps 12 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
"Sin Hong, dia itu menyerang karena mendongkol tidak dapat menemukan kitab. Biarlah sekarang kau ganti kitab itu dengan pedang hijau itu, baru kau boleh pergi tanpa gangguan kami lagi."
Sin Hong tersenyum mengejek.
Ia tahu bahwa kata-kata ini pun palsu belaka.
Kalau ia memberikan pedang Cheng-liong-kiam itu, atau bahkan andalkata ia mempunyai kitab itu dan memberikannya kepada Kong Ji sekalipun, tetap saja ia takkan dibiarkan turun gunung begitu saja.
Ia sudah tahu betul akan dasar watak Kong Ji.
"Kong Ji, kau tahu bahwa pedang ini adalah pedang pusaka milik Hui-eng Nio-cu yang dititipkan kepadaku, bagaimana kau menghendakinya? Lebih baik aku kehilangan nyawa daripada kehilangan barang pusaka yang dititipkan dan dipercayakan kepadaku!"
"Ha, ha, ha, bodoh mata keranjang! Kau cinta pada gadis garuda itu, bukan?"
"Kong Ji tutup mulutmu yang kotor!"
Sin Hong membentak marah, akan tetapi jawaban Kong Ji merupakan aba-aba kepada pasukannya dan serentak lima ribu orang anak buahnya bergerak, pengurungan makin kuat!
Sin Hong mengerti bahwa ia seorang diri tak mungkin dapat membobolkan kepungan lima ribu orang lawan, maka sambil menggerak-gerakkan Pedang Cheng-liong-kiam ia berseru keras.
"Kong Ji, ingat bahwa biarpun kau berhasil membunuhku, banyak sekali anak buahmu akan tewas lebih dulu oleh tanganku. Bahkan kau sendiri takkan terlepas dari pedangku!"
"Ha, ha, ha, Sin Hong, kata-katamu seperti suara katak dalam sumur.. Bersiaplah untuk mampus!"
Kembali Kong Ji memberi aba-aba dan ratusan batang anak panah menyambar ke arah Sin Hong!
Pemuda itu memutar pedangnya yang segera berubah menenjadi segulungan sinar hijau yang menyelimuti tubuhnya.
Anak-anak panah itu runtuh semua dan patah-patah.
Kemudian pasukan golok besar menyerbu Sin Hong.
Anak buah pasukan itu rata-rata pandai Ilmu Silat Golok karena memang mereka ini terlatih baik oleh ketuanya, yakni Twa-to Kwa Seng.
Golok mereka besar dan berat, gerakan mereka cepat dan serangan, serangan mereka teratur sekali seperti sebuah barisan golok.
Akan tetapi sekarang mereka menghadapi Sin Hong yang memegang pedang pusaka ampuh.
Tentu saja mereka merupakan makanan empuk bagi Sin Hong.
Serapat-rapatnya pengurungan, untuk mengeroyok seorang lawan saja tak mungkin dapat maju bersama lebih dari dua puluh orang.
Yang aktip menyergap Sin Hong paling banyak dua puluh dari segala jurusan, sedangkan yang lain-lain hanya bersorak-sorak sambil mengamang-amangkan golok besarnya saja.
Begitu Sin Hong menggerakkan tubuh dan pedang, bagaikan batang-batang pohon ditebang para pengeroyok itu roboh.
Darah membanjir, pekik kesakitan saling susul dan tubuh bergelimpangan tumpang tindih.
Masih untung bagi mereka bahwa Sin Hong memang seorang pemuda yang memiliki hati penuh welas asih, sehingga pemuda ini tidak tega untuk menjatuhkan tangan maut.
Yang roboh itu semua hanya menderita luka-luka di kulit dan daging saja tidak sampai mati akan tetapi juga tidak mampu bangun karena di luar tahunya Sin Hong, pedang pusaka Cheng liong-kiam mengandung semacam bisa yang membuat luka terasa perih seperti dituangi cuka campur garam!
Tidak mengherankan apabila orang-orang yang terluka itu menjerit-jerit dan memekik, meraung-raung seperti babi-babi disembelih saking perih dan saking luka di tubuh mereka akibat sabetan pedang hijau itu.
Akan tetapi musuh terlampau banyak.
roboh sepuluh maju penggantinya sehingga Sin Hong terus-menerus dikeroyok oleh dua puluh orang, tak peduli setiap kali diganti mereka itu roboh.
Juga tempat menjadi penuh orang luka yang tentu saja menghalangi gerakan Sin Hong, memaksa pemuda itu setiap kali berganti gelanggang.
ia maklum bahwa kalau diteruskan, ia akan terpaksa merobohkan banyak sekali orang, mungkin sampai ratusan dan akhirnya dia sendiri akan kehabisan tenaga dan menyerah.
Hatinya menjadi gemas sekali terhadap Kong Ji yang dapat menggerakkan begini banyak orang sedangkan dia sendiri bersembunyi.
Maka sambil bertempur Sin Hong mencari-cari Kong Ji dengan sudut matanya.
Akhirnya ia melihat pemuda itu memberi aba-aba dan mengatur di barisan tengah.
Cepat bagaikan kilat Sin Hong menerjang para pengepung sebelah kiri.
Ia harus membobolkan kepungan ini untuk dapat menyerang Kong Ji.
Akan tetapi sia-sia.
Kong Ji yang melihat usahanya ini segera memberi aba-aba dan selain bagian itu diperkuat, juga Kong Ji sendiri lenyap dari tempat tadi, pindah ke lain tempat yang tidak terlihat oleh Sin Hong.
Tiba tibu terdengar suara Kong Ji memberi aba-aba.
"Mundur semua, hujani anak panah!"
Inilah yang dikhawatirkan oleh Sin Hong.
Selama ia dikepung oleh pasukan bersenjata, ia masih aman karena tentu saja ia tidak takut menghadapi serangan-serangan dari dekat dan dapat merobohkan para lawannya.
Akan tetapi kalau diserang dengan anak panah, ia tak dapat berbuat lain kecuali melindungi dirinya, tanpa dapat membalas.
Pasukan-pasukan itu sudah terlatih sekali dan mendengar aba-aba ini, mereka serentak mundur, membiarkan Sin Hong berada di tengah-tengah.
Kemudian dari seluruh jurusan hujan anak panah menycrbu Sin Hong.
Tadi Kong Ji telah mengatur sehingga barisan panah dipencar mengelilingi tempat itu sehingga kini penyerangan anak panah dapat dilakukan dari empat jurusan.
Bukan saja anak pariah yang menyambar, juga ada pisau, piauw, dan lain-lain senjata rahasia seperti jarum dan paku atau pelor besi.
Di antara semua senjata rahasia yang datang seperti ini, terdapat juga Hek-tok-ciam, yakni jarum-jarum berbisa dari Kong Ji sendiri.
Sin Hong terpaksa memutar lagi pedangnya seperti tadi dan semua senjata rahasia runtuh.
Akan tetapi Kong Ji sangat cerdik.
ia tidak melakukan serangan sekaligus, melainkan berantai, kalau rombongan pertama selesai melepaskan anak panah, rombongan ke dua menyusul, lalu rombongan selanjutnya sampai rombongan pertama siap lagi.
Dengan demikian, senjata rahasia yang menghujani Sin Hong tidak pernah berhenti!
Sin Hong mendongkol bukan main.
Sambil memutar terus pedangnya sehingga tubuhnya tidak kelihatan, terbungkus oleh sinar hijau, ia berseru.
"Kong Ji manusia jahanam, mengapa kau begini curang dan pengecut? Hayo kita bertempur seribu jurus kalau kau memang jantan!"
Akan tetapi jawabannya hanya ketawa mengejek dan tiba-tiba dari kanan kiri datang balok-balok bergulingan ke arah Sin Hong.
Sin Hong terkejut sekali.
Memang tempat ia dikeroyok ini agak rendah sehingga kalau ada balok dilempar dari kanan kiri, akan bergulingan ke tengah dan akan menyerang kakinya!
Balok itu datang dengan cepat dan menakutkan karena biarpun Sin Hong amat kuat, apabila terdorong oleh balok balok itu, sukar ia dapat mempertahankan.
Cepat ia melompat dan sambil terus melindungi tubuh bagian atas dengan gulungan sinar pedang, ia kini harus berlompat-lompatan ke atas untuk menghindarkan diri dan gilasan balok-balok itu.
Tak lama kemudian tempat itu sudah penuh dengan balok-balok yang ternyata adalah batang-batang pohon yang ditebang oleh pasukan-pasukan itu untuk dipergunakan sebagai senjata.
Sekarang bukan hanya balok-balok yang datang bergulingan, bahkan ada batu-batu besar yang mulai dipergunakan!
Sin Hong melompat dari balok ke balok, dari batu ke batu, dan kadang-kadang batu yang jatuh menimpa batu lain mendatangkan goncangan hebat sehingga gerakannya menjadi kacau dan terdapat lubang pada pertahanan pedangnya.
Tiga buah anak panah sudah menancap di pundak dan punggungnya!
Sin Hong menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dan tetap mempertahankan diri.
Sampai saat terakhir ia tidak sudi mengalah atau menyerah.
Diam-diam Kong Ji kagum bukan main.
Balok dan batu sudah penuh, sampia rata dengan tebing kanan kiri dan tak dapat orang menggulingkan sesuatu namun tetap saja Sin Hong belum mau menyerah.
Sudah tiga jam lebih pemuda itu dikeroyok, sudah seratus orang lebih yang terluka dan kini dirawat di bagian belakang karena tadi sebelum orang-orang menghujankan balok dan batu, para korban yang terluka oleh pedang Sin Hong itu disereti ke dalam pasukan.
Kalau tidak demikian, tentu mereka ini akan gepeng-gepeng tergilas dan tertindih batu-batu dan balok-balok itu.
Akan tetapi tetap pemuda perkasa itu tidak mau menyerah.
Padahal tiga batang anak panah masih menancap di tubuhnya.
Benar-benar gagah perkasa!
"Sin Hong...!
Lekas lempar Cheng-liong-klam dan berlutut minta ampun kepadaku kalau kau ingin selamat!"
Kong Ji mencoba lagi membujuk karena ia merasa ngeri menyaksikan kehebatan sepak terjang Sin Hong dan khawatir kalau-kalau Sin Hong dapat melepaskan diri dari kepungan itu.
Akan tetapi jawabannya hebat.
Bukan dengan kata-kata melainkan tiba-tiba gulungan sinar pedang hijau itu meninggalkan tempat tadi dan kini sambil terus sinar pedang bergulung-gulung melindungi tubuhnya.
Sin Hong mendesak ke arah tempat Kong Ji berdiri.
Beberapa orang anak buah Kong Ji menyambutnya dengan tombak di tangan, akan tetapi begitu terdengar suara keras, tombak-tombak itu patah dan tujuh orang sekaligus roboh dengan pinggang terbabat pedang!
Kong Ji menjadi penasaran dan marah.
Ternyata kini Sin Hong tidak berlaku kasihan lagi dan mulai membunuh anak buahnya.
Dengan gemas Kong Ji memerintahkan para pembantunya yang kepandaiannya agak tinggi untuk membantunya dan ia sendiri mencabut Pak-kek Sin-kiam lalu menyerang dengan bengisnya.
Diam diam Sin Hong terheran dan juga kagum.
Baru saja dalam pertempuran tadi di puncak ini, Kong Ji sudah terluka olehnya, akan tetapi mengapa dalam waktu singkat Kong Ji sudah pulih lagi tenaganya?
Benar-benar Kong Ji sudah memiliki kepandaian yang tinggi tingkatnya.
Sayang sekali ia tersesat dan menyeleweng.
Dengan penuh semangat Sin Hong menyambut serangan Kong Ji dengan pedang pinjamannya dan di lain saat dikeroyok hebat oleh Kong Ji dan tiga orang ketua pasukan yakni Siang-pian Giam-ong Ma Ek, Sin-houw Lo Bong dan Twa-to Kwa Seng.
Memang betul bahwa dalam pibu tadi, tiga orang ketua ini telah terlukakan tetapi luka-luka mereka ringan saja dan kini mereka sudah dapat bertempur lagi membantu Kong Ji.
Selain empat orang gagah ini, masih ada belasan orang anggauta pasukan yang paling tinggi ilmu silatnya yang mengeroyok Sin Hong.
Pada saat itu, Sin Hong sudah lelah sekali, juga darah yang mengucur keluar dari tiga tempat yang terluka oleh anak panah, membuat tubuhnya lemas dan tangan yang terluka kaku-kaku.
Baiknya tiga anak panah itu masih menancap sehingga darah yang keluar dapat tertahan dan tidak begitu banyak.
Kalau tidak demikian tentu dalam pergerakan ilmu silat, otot-otot yang bergerak dan mengejang membuat darah keluar banyak sekali!
Sin Hong mengerahkan seluruh tenaga, keuletan dan kepandaian untuk melindungi diri, juga untuk membalas serangan lawan.
Sudah beberapa orang robohkan dan pada saat-saat terakhir ini dengan serangan kilat ia telah berturut turut merobohkan Ma Ek dan Kwa Sen sehingga dua orang ini binasa dengan leher terbabat putus.
Akan tetapi di lain pihak, Kong Ji juga berhasil melukai pangkal lengan kirinya sehingga kulit dan daging pangkal lengan itu terobek sampai kelihatan tulangnya.
Bukan main sakitnya dan Sin Hong merasa lengan kirinya lumpuh saking nyerinya.
Keadaannya sudah amat berbahaya karena Kong Ji tiba-tiba melenyapkan diri dan memberi aba-aba untuk menghujani anak panah lagi.
Akan tetapi, pada saat itu, terdengar sorak sorai yang riuh dan barisan belakang dari para pengepung itu mengalami keributan hebat.
Kong Ji kaget sekali dan cepat ia lari ke barisan belakang.
Ternyata bahwa yang datang adalah pasukan yang sebagian besar terdiri dari pendeta-pendeta hwesto gundul dan tosu yang mengamuk bagaikan naga terluka.
Sambil mengamuk mereka berteriak -teriak.
"Di mana adanya, jahanam Liok Kong Ji, biar kami cincang hancur!"
Melihat bahwa yang datang itu adalah pendeta-pendeta dari partai-partai besar, yakni hwesio-hwesio dari Siauw-lim-pai, tosu-tosu dan pendeta-pendeta dari Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain-lain yang dipimpin sendiri oleh ketua-ketua mereka, bahkan ada pula di situ pasukan Hui-eng Nio-cu, diikuti pula oleh Tai Wi Siansu, Leng Hoat Taisu, Bu Kek Siansu dan lain-lain orang yang tadi hadir dan turun dari puncak.
Kong Ji merasa semangatnya terbang melayang meninggalkan raganya!
Tanpa pamit ia kepada anak buahnya, pemuda licik ini lalu diam-diam mengangkat kaki seribu dan lari minggat dari tempat itu.
Memang yang datang itu adalah rombongan-rombongan pendeta tersebut yang telah mendengar tentang wakil-wakil mereka yang terbunuh oleh orang-orang Liok Kong Ji.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketua Teng-san-pai Pang Soan Tojin, sudah bertemu dengan Sin Hong dan mendengar tentang terbunuhnya para utusannya.
Demikian pula partai-partai lain telah melihat utusan-utusan mereka terbunuh di kaki gunung, maka ketua dari masing-masing partai membawa barisan anak muridnya mendatangi Ngo-heng-san dengan cepat.
Di lereng bukit ini mereka bertemu dengan rombongan Tai Wi Siansu yang turun gunung dan mendengar semua hal ini secara singkat.
Marahlah mereka ini dan beramai ramai mereka lalu menyerbu ke puncak.
Barisan anak buah Liok Kong Ji kocar-kacir, apalagi karena mereka sudah tidak mempunyai pemimpin pula.
Sin houw Lo Bong juga sudah roboh oleh Sin Hong dan dalam keadaan kacau balau pasukan-pasukan itu mencari Kong ji untuk minta petunjuk.
Akan tetapi yang dicari sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya!
Karena keributan ini, tertolonglah nyawa Sin Hong.
Ta ditinggalkan para pengeroyoknya dan kini pemuda ini melompat ke atas tumpukan batu balok, melihat penyembelihan besar-besaran yang dilakukan oleh para hwesio Siauw-limpai dan tosu Go-bi-pai, juga oleh gadis Hui-eng-pai dan anak-anak murid partai besar lain.
Hatinya tidak tega.
Ta mengerahkan tenaga khikangnya, lalu berseru keras.
"Semua Enghiong yang bertempur, tahan senjata...!!""
Suara ini menggeledek di angkasa, bergema diempat penjuru dan selain menusuk anak telinga juga menggetarkan hati sehingga semua orang yang sedang ribut bertempur itu otomatis menghentikan gerakan mereka dan berpaling ke arah orang yang bicara ini.
Mereka melihat Si Hong berdiri dengan muka pucat, nampak gagah menyeramkan, berdiri di atas tumpukan balok dan batu, pakaiannya compang camping, bajunya bernoda darah, di pundak kiri dan di punggung kelihatan tiga batang anak panah menancap, pangkal lengan kirinya terluka hebat dan dari situ mengahr darah.
Dalam keadaan terluka sehebat itu masih dapat mengeluarkan suara demikian dahsyat.
benar-benar luar biasa sekali pemuda itu.
"Para Enghiong dari timur dan selatan, dengarlah kata-kataku! Kalian secara membuta telah ditipu oleh manusia sesat Liok Kong Ji. Kalian telah mengangkat seorang Tung-nam Tai-bengcu yang jahat! Buktinya kalian sudah melihat dan mendengar sendiri bagaimana sikapnya yang jahat tadi. Dan sekarang, setelah datang serangan dari para orang gagah yang marah kepadanya, dimanakah adanya Liok Kong Ji? Dia telah lari! Dan secara pengecut sekali meninggalkan kalian. Oleh karena itu, mengapa kalian begitu bodoh untuk membela orang dan mempertaruhkan nyawa secara sia-sia belaka? Kematian kalian bukan kematian orang gagah, melainkan kematian orang-orang bodoh yang membela Kong Ji orang yang jahat!"
Para pengikut Liok Kong Ji saling pandang, mereka mulai mencari-cari apakah pemuda yang mereka puja itu telah pergi tanpa pamit.
"Cuwi-locianpwe dari partai-partai besar, harap suka maafkan mereka ini yang karena kebodohan telah ditipu oleh Kong Ji. Yang berdosa adalah Liok Kong Ji, bukan mereka ini. Aku minta dengan sangat supaya pertempuran ini dihentikun saja!"
Karena tidak melihat adanya Liok Kong Ji yang membantah omongan ini, para anak buah Bu-cin-pai, Tm-yang-bupai, Twa-to-bu-pai, Kwan-cin-pai, Shansi Kai-pang dan lain-lain mulai kendur semangatnya dan mereka benar-benar tidak mau bertempur Mereka mulai mengumpulkan kawan-kawan sendiri yang terluka dan binasa dan sedikit demi sedikit mereka mulai mengundurkan diri.
Adapun rombongan yang baru datang, mulai bergerak naik dan memenuhi tempat pertemuan di puncak.
Nampak bayangan yang gesit berkelebat dan di lain saat Siok Li Hwa telah melompat keatas tumpukan balok dan batu, berdiri di depan Sin Hong dengan mata terpentang lebar.
"Wan Sin Hong, kau... terluka hebat...!"
Sin Hong tersenyum, pandang matanya kepada gadis ini penuh terima kasih.
"Aku masih hidup, berkat pokiam (pedang pusaka) yang kau pinjamkan kepadaku dan berkat kembalimu ke sini, Niocu. terima kasih banyak dan selamanya Wan Sin Hong takkan melupakan budi kebaikan Siok Li Hwa,"
Sin Hong mengangsurkan pedang hijau yang berlumuran darah.
Ketika Li Hwa melihat betapa tangan yang memegang pedang itu mulai menggigil, ia menjadi kasihan dan terharu sekali.
Ia sendiri merasa heran sekali karena selama hidupnya baru kali ini ia mengalami perasaan seperti ini dan lebih aneh lagi, tiba-tiba saja perasaannya naik membuat air matanya bertitik turun ketika ia menerima pedangnya itu kembali.
Akan tetapi ia segera bergerak maju dan menyambar tubuh Sin Hong karena pemuda ini sudah limbung dan tentu akan roboh terguling dari tumpukan batu dan balok kalau saja Li Hwa tidak cepat-cepat menyambarnya.
Sin Hong telah jatuh pingsan dalam pelukan Li Hwa!
Ketika Sin Hong siuman kembali, ia telah dibaringkan di atas rumput dan kelihatan muka-muka yang ramah dan terkenal.
Mereka ini adalah ketua-ketua partai yang tadi datang menolongnya.
Para tokoh besar ini duduk mengelilinginya dalam jarak dua tombak dan Tai Wi Siansu sendiri yang merawatnya.
Tiga batang anak panah sudah dicabut dan luka-lukanya sudah ditempeli obat oleh ketua Kun-lun-pai itu, rasanya nyaman dan dingin.
Ketika Sin Hong menggerakkan matanya, terlihat olehnya wajah Siok Li Hwa memandang mesra kepadanya dengan mata masih basah, lalu wajah Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai, wajah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, wajah hwesio gundul Kian Hok Taisu ketua Go-bi-pai, Pang Soan Lojin ketua Teng-san pal, Kong Hian ketua Siaw-lim-pai, Pek Kong Lojin ketua Hong-san-pai dan banyak lagi tokoh-tokoh besar dunia persilatan pada waktu itu.
Melihat dirinya dikelilingi oleh tokoh-tokoh terbesar dari seluruh dunia kangouw, Sin Hong cepat bangkit duduk.
hendak memberi hormat akan tetapi Tai Wi Siansu berkata dengan suara hormat.
"Harap bengcu jangan banyak bergerak dulu karena masih lemah. Dengan duduk saja kami sudah cukup puas mendengar kata-kata bengcu."
Kata-kata ini membuat Sin Hong kaget setengah mati.
"Eh, Locianpwe... apa artinya ini..?"
"Ketika Bengcu sedang pingsan, sambil menanti Bengcu siuman kembali, kami telah berunding dan mengambil keputusan mengangkat Bengcu sebagai bengcu baru."
"Eh, mana ada aturan ini? Di samping aku sendiri yang bodoh masih ada Hui-eng Niocu yang gagah perkasa."
Ia memandang kepada Li Hwa yang duduknya tepat di depannya. Li Hwa berkata dengan suara halus.
"Aku suka mengalah, biar kau saja yang menjadi bengcu. Kau seorang laki-laki sedangkan aku hanya seorang wanita, sepantasnya kau yang menjadi bengcu."
Mendengar kata-kata ini Sin Hong memandang tajam dan bukan main anehnya, setelah berkata demikian Li Hwa menundukkan mukanya yang menjadi kemerah-merahan, nampaknya malu-malu!
Setelah menarik napas, Sin Hong berkata kepada para ciangbunjin yang berada di situ.
"Apa boleh buat, tadinya aku hanya menjaga jangan sampai kedudukan bengcu jatuh ke dalam tangan orang jahat. Tidak tahunya aku sendiri sekarang terpilih. Aku harus bertanggung jawab dan tak dapat aku menolak begitu saja. Terima kasih atas kepercayaan para ciangbunjin yang berada di sini. Akan tetapi oleh karena aku yang muda memang tidak tahu apa apa dan kurang pengalaman. aku mengandalkan bantuan dan bimbingan Cuwi Locianpwe dalam kedudukan ini. Segala kesalahan sepak terjangku harap ditegur dan apa yang aku tidak mengerti harap dijelaskan."
"Sudah tentu demikian, harap Bengcu tak usah khawattr. Kedudukan Bengcu hanya untuk menjadi pegangan bagi kita semua bahwa dunia kang-ouw ada seorang yang dipandang, seorang yang akan memutuskan apabila terjadi kesalahpahaman di antara kawan sendiri. Seorang yang akan memutuskan dan membimbing kita sekalian apabila ada peristiwa penting di dunia. Dengan adanya seorang bengcu baru di dunia kang-ouw, kiranya antara kita akan ada persatuan yang lebih erat, memandang muka Bengcu yang bijaksana dan mulia,"
Kata Tai Wi Siansu.
"Tepat sekali kata-kata Tai Wi Siansu tadi,"
Kata Kong Hian Hwesio ketua Siauw-lim-pai.
"Dewasa ini muncul banyak orang jahat yang lihai dan ingin menduduki kedudukan bengcu agar dapat mempengaruhi dunia orang gagah. Baiknya sekarang kita telah memilih seorang yang biarpun masih muda namun dapat kita percaya kekuatan lahir batinnya. Memang amat perlu kita memperkuat persatuan karena pinceng mendengar bahwa banyak sekali orang-orang sakti dari utara dan barat hendak datang menjajah negara yang dianggap sedang berada dalam keadaan lemah. Kita harus menghadapi mereka dan kalau mereka datang, kita harus mengusir mereka agar pengaruh mereka tidak merusak kebudayaan kita. Semua ini dapat dilakukan dengan baik dan teratur kalau kita semua taat dan mendengar komando dari bengcu. Setiap orang di setiap daerah masing-masing bekerja dan semua hasil pengawasan dilaporkan kepada bengcu. Juga setiap ada peristiwa penting harus dilaporkan kepada bengcu. Akhirnya bengcu yang mengatur dan menentukan langkah selanjutnya."
"Hal ini mana dapat kulaksanakan tanpa bantuan Cuwi locianpwe?"
Kata Sin Hong yang diam-diam merasa betapa berat dan besar tanggung jawabnya sebagai bengcu.
"Bengcu jangan khawatir, sudah tentu dalam menentukan sesuatu, Bengcu merundingkan hal itu dengan para ketua yang Bengcu tunjuk dan angkat sebagai pembantu,"
Kata Bu Kek Siansu.
"Nah, kalau begitu barulah aku yang muda dan bodoh berani menghadapi tanggung jawab yang maha besar ini. Apabila Cuwi-locianpwe tidak keberatan aku menetapkan Samwi-locianpwe, tiga ketua dari Kun-lun-pai, dan Thian-san-pai dan Bu-tong-pai sebagai pembantu-pembantu atau wakil-wakilku, karena Samwi-locianpwe ini yang telah menjadi saksi tadi tentang keadaanku dan tentang pemilihan bengcu. Apakah Cuwi semua setuju?"
"Kami setuju dan taat akan perintah Bengcu,"
Kata Pek Kong Lojin ketua Hong-san-pai sehingga diam-diam Sin Hong terkejut bukan main.
Ah, kata katanya agaknya merupakan perintah dan selalu akan ditaati oleh para tokoh besar dunia persilatan ini.
Inilah kekuasaan yang amat hebat!
Pantas saja kedudukan ini begitu dikehendaki oleh Kong Ji, kiranya untuk mendapat kekuasaan yang maha besar ini.
Kalau kedudukan bengcu jatuh di tangan seorang jahat seperti Kong Ji, alangkah akan kacaunya dunia!
"Mohon tanya di manakah tempat kedudukan Bengcu agar mudah bagi kami untuk menyampaIkan sesuatu?"
Pertanyaan ini diajukan olah Pang Soan Tojin. Untuk pertanyaan ini Sin Hong sudah mempunyai jawaban. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab.
"Untuk sementara ini oleh karena aku hendak mencari dan menangkap Liok Kong Ji, maka segala sesuatu harap ditempatkan kepada Tai Wi Siansu di Kun-lun pai. Kelak apabila semua urusan sudah beres aku akan menetap di Luliang-san yakni di puncuk Jeng-in-thia."
Setelah tanya jawab selesai, di puncak Ngo-heng-san ini lalu disediakan meja sembahyang dan diatur oleh Tai Wi Siansu dan tokoh-tokoh lain yang sudah tua dan tahu akan peraturan pengangkatan atau pengesahan bengcu.
Setelah persiapan selesai, Sin Hong diminta untuk bersembahyang, bersumpah kepada Langit dan Bumi bahwa ia akan menjabat kedudukan bengcu dengan hati ikhlas dan tulus, akan memimpin dunia kang-ouw ke arah jalan kebenaran dan memberantas kejahatan tanpa pamrih untuk menguntungkan diri sendiri.
Setelah Sin Hong selesai sembahyang lalu semua orang bersembahyang dari tokoh-tokoh besar, ketua-ketua partai besar bersumpah pula bahwa mereka akan setia dan taat kepada bengcu yang mereka angkat sendiri dan takkan mempunyai hati bercabang serta akan membantu semua usaha bengcu!
Sin Hong terharu sekalt mendengar sumpah mereka itu.
Hanya Li Hwa seorang yang tidak bersumpah, akan tetapi tidak ada yang mendesak gadis ini oleh karena mereka menganggap bahwa seorang gadis muda seperti Li Hwa tidak perlu harus ikut dalam upacara ini.
Setelah upacara selesai, beramai-ramai para ketua itu memberi hadiah kepada Sin Hong.
Pemuda ini terharu, terkejut, dan girang sekali melihat hadiah-hadiah itu, karena tak disangkanya sama sekali bahwa para ketua partai itu memberi hadiah dengan barang-barang pusaka dari partai masing-masing!
Kong Hian Hwesio ketua Siauw-lim-pai memberi sebuah Kim-si-joan-pian, sebuah senjata pecut lemas yang gagangnya terbuat dari emas dan pecut itu sendiri terbuat daripada logam yang lebih lemas dan kuat daripada baja.
Pek Kong Lojin ketua Hong-san-pai memberi Pek kim-i sebuah kutang terbuat dari pada emas putih yang sudah diolah sedemiklan rupa sehingga kalau kutang ini dipakai maka tubuh bagian atas sebata pinggang sampai ke leher akan terlindung dan takkan terluka oleh bacokan senjata tajam!
Tat Wi Siansu sendiri memberikan pedang Bok-shin-kiam, sebatang pedang yang mengandung khasiat untuk mengusir hawa jahat dari siluman dan dapat dtpergunakan pula untuk menyembuhkan luka bekas gigitan binatang berbisa, pendeknya sebuah pedang kayu yang amat tinggi nilainya, bukan pedang untuk bertarung.
Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai memberi hadiah tongkat pendek berkepala burung hong yang terbuat daripada jantung batu hitam dan kerasnya melebihi baja.
Pendeknya, masih terlalu banyak barang-barang indah pusaka ampuh diberikan oleh para ketua itu sebagai hadiah kepada Sin Hong.
Li Hwa tidak mau ketinggalan.
Dengan gerakan lemah gemulal gadis ini memberikan pedangnya yang bersinar hijau, yakni pedang Chen liong-kiam kepada Sin Hong, katanya.
"Kau kehilangan Pak-kek Sin-kiam, biarlah pedang ini menjadi penggantinya""
Tai Wi Siansu dan yang tersenyum maklum bahwa gadis ini telah jatuh hati kepada bengcu mereka. Akan tetapi Kian Hok Taisu ketua Gobi-pai berkata kaget.
"Hui-eng Niocu, pokiam (pedang pusaka) itu adalah warisan Pat-jiu Nio-nio dan dahulu disayang melebihi nyawa sendiri. Sebaliknya kau memberi barang lain kepada Bengcu, jangan pedang itu!"
Siok Li jiwa memandang tak senang kepada pendeta itu.
"Kian Hok Taisu, kau orang tua peduli apakah dengan urusanku sendiri? Bukan hanya mendiang Nio-nio, aku pun sayang akan pedang itu, melebihi nyawaku sendiri""
"Kalau begitu mengapa diberikan kepada Bengcu?"
Ditanya begin!, muka Li Hwa menjadi merah sekali dan ia tahu bahwa tadi telah kesalahan bicara.
"Aku berikan kepada siapapun juga, mau peduli apakah?"
Tanyanya marah dan sepasang mata yang indah itu memandang kepada Kian Hok Taisu. Pendeta ini tersenyum sabar.
"Memang tidak ada sangkutannya dengan pinceng, hanya pinceng hendak mengingatkan bahwa kalau Pat-jiu Nio-nio masih hidup dia akan menganggap pemberian pedang ini sebagai tanda ikatan jodoh."
Mendengar kata-kata mi, muka Li Hwa menjadi pucat. Ia otomatis berpaling kepada Sin Hong yang mengangsurkan pedang Cheng liong-kiam kepadanya, mukanya menjadi merah sekali.
"Kau menolak pemberianku?"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Pedang pusaka adalah pelindung diri tak baik berpisah denganmu, Niocu,"
Kata Sin Hong tersenyum.
Dengan muka sebentar pucat sebentar marah dan tubuh sebentar panas sebentar dingin, Li Hwa menyambar pedang Cheng-liong-kiam dari tangan Sin Hong, lalu melompat bangun dan berlari cepat meninggalkan puncak itu.
Anak buahnya melihat ini lalu cepat mengikuti ketua mereka.
"Ah, dia marah...."
Kata Sin Hong suaranya menyesal sekali.
"Harap Bengcu suka memaafkan kelancangan pinceng. Pernyataan pinceng tadi memang bukan buatan pinceng sendiri melainkan dahulu memang Pat jiu Nio-nio menyatakan demikian. Di samping ini, juga pinceng kurang suka kalau sampai benar-benar pedang itu dijadikan ikatan jodoh antara Bengcu dan dia. Hui-eng Nio-cu terlalu banyak mewarisi watak Pat-jiu Nio-nio"
"Tidak apa. Locianpwe. Memang kalau pemberian pedang itu berarti ikatan jodoh, tak boleh dilakukan secara sembrono dan tentu saja aku pun tak dapat menerima begitu saja."
Setelah beramah-tamah dan semua tokoh menyatakan gembira melihat betapa bengcu baru ini dengan cepat pulih kembali kesehatannya setelah Sin Hong mempergunakan obat-obatnya sendiri, mereka lalu berpamit dan turun gunung kembali ke tempat masing-masing.
Semua jenazah yang bertumpuk di tempat itu tadi telah dikubur atas perintah Sin Hong, dan untuk pekerjaan ini dikerahkan tenaga anak murid partai besar yang bekerja secara bergotong-royong sehingga sebentar saja penguburan selesai dan keadaan menjadi bersih kembali.
Setelah semua orang turun gunung, Sin Hong lalu turun gunung pula.
Barang-barang hadiah yang diterima tadi semua dititipkan kepada Tai Wi Siansu, kecuali Kim-si-joan-pian pemberian Kong thian Hwesio dari Siauw-lim-si, pecut ini dibawa untuk senjata, karena selain pecut ini merupakan senjata ampuh.
juga amat mudah dibawa, dapat digulung dan dimasukkan saku atau dililitkan di pinggang.
Biarpun tubuhnya masih terasa lemas namun kesehatannya sudah pulih kembali.
"Aku harus mendapatkan Kong Ji dan membunuhnya. Dia terlampau berbahaya dan akan banyak terjadi kejahatan kalau dia masih hidup,"
Pikir Sin Hong sambil menuruni Gunung Ngo-heng-san.
Ketika ia tiba di sebuah lereng, mendengar suara orang memaki-maki.
Sin Hong melihat dari jauh di bawah, di atas batu-batu karang dan terpisah jauh dari tempatnya, ia melihat bayangan dua orang sedang bergerak gerak seperti bertempur.
Yang seorang memegang pedang dan orang ke dua yang diserang dan didesak adalah seorang tua tinggi bertangan kosong.
Dalam beberapa gebrakan saja, orang bertangan kosong itu tertusuk pedang yang menembus dadanya.
Jeritnya mengerikan ketika pemegang pedang mencabut pedangnya dan menendang mayat musuhnya ke dalam jurang yang amat dalam.
Sebentar saja orang berpedang itu menghilang lagi.
Sin Hong tak berdaya menolong.
Jangankan menolong, mendekat saja tak mungkin.
Jarak antara tempat dia berdiri dan tempat dua orang bertempur tadi amat jauhnya, selain ini, untuk berlari cepat menuju ke tempat itu harus mengambil jalan memutar, sedangkan tenaganya masih lemah.
Biarpun hanya melihat bayangannya saja dan tidak mengenal dua orang itu, tetapi sinar pedang itu tidak diragukannya pula.
Itulah sinar pedang Pak kek Sin-kiam dan orang yang melakukan pembunuhan itu bukan lain tentulah Liok Kong Ji orangnya!
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa tadi sebenarnya Liok Kong Ji belum turun gunung, melainkan bersembunyi di dekat situ dan bukan tidak mungkin kalau Kong Ji mendengarkan dan melihat semua peristiwa yang terjadi di puncak Ngo-heng-san.
Diam-diam Sin Hong bergidik.
Tak disangkanya bahwa Kong Ji telah berubah menjadi seorang iblis jahat!
Seorang iblis yang berkepandaian tinggi, berotak cerdik penuh siasat dan muslihat, seorang yang amat berbahaya di dunia ini.
Ia berjalan terus.
Ketika hampir tiba di kaki gunung, mendengar seruan orang.
"Wan Sin Hong...!"
Sin Hong berhenti dan tak lama kemudian Siok Li Hwa sudah berdiri di hadapann)a. Gadis ini nampak cantik sekali, sepasang pipinya kemerahan, matanya memandang mesra dan bibirnya tersenyum-senyun malu.
"Sin Hong, aku menyesal sekali tadi telah bersikap kasar. Harap kau maafkan..."
Suaranya merdu dan halus.
"Ah, tidak Niocu. Eh, mana pasukanmu dan kau mengapa masih berada di sini?"
Tanya Sin Hong untuk menyimpangkan pembicaraan tentang hal yang amat tidak enak baginya itu.
Akan tetapi usahanya sia-sia karena ternyata kemudian gadis ini memang agaknya hendak membicarakan hal itu!
"Anak buahku kusuruh berangkat lebih dulu dan aku memang sengaja menanti kau di sini.
Baiknya aku melihat kau lewat di sini, karena aku menanti di sebelah sana,"
Jari telunjuk yang mungil itu menuding ke arah kiri, dari mana tadi ia datang berlari-lari.
"Kau menanti aku? Ada apakah?"
Hati Sin Hong berdebar. Li Hwa bicara menundukkan mukanya.
"Aku... aku sengaja menanti, pertama-tama untuk minta maaf kepadamu tentang sikapku tadi. Sungguh mati aku tidak tahu akan maksud pemberian pedang seperti yang dikatakan oleh tua bangka Kian Hok Taisu tadi. Misalnya benar-benar artinya seperti itu pun, bagiku... eh, aku tidak menaruh keberatan."
Tiba-tiba ia mengangkat mukanya memandang dan kini Sin Hong yang harus menundukkan muka untuk menyembunyikan wajahnya yang menjadi pucat.
Akan tetapi Li Hwa masih dapat melihat betapa wajah Sin Hong amat pucat.
Ia mengira bahwa Sin Hong masih menderita karena sakit dan lukanya, maka ia berkata cepat-cepat.
"Eh, maafkan, Sin Hong. Tidak seharusnya kita bicarakan soal itu, kau masih menderita karena luka-lukamu. Sebetulnya, aku menantimu terutama sekali untuk mengajakmu ke Go-bi-san, marilah kau tinggal untuk beberapa lama di tempatku agar aku dapat merawatmu sampai kau sembuh betul, Sin Hong."
Sin Hong masih berdebar dan kata-kata ini membuat ia terpaksa menjawab.
"Terima kasih, Niocu. Tak usah kau repot-repot, aku tidak perlu dirawat, lukaku hanya luka di luar saja, tak lama lagi juga akan sembuh."
"Kau masih begitu pucat, Sin Hong. Marilah, biar kau... kugendong dan nanti kalau sudah dapat menyusul anak buah ku, kau dapat kusuruh carikan kuda. Aku hendak menolongmu dengan hati tulus Sin Hong, Jangan kau salah mengerti."
Bukan main terharunya hati Sin Hong, juga ia bingung sekali karena ia tahu bahwa penolakan berarti akan melukai gadis yang mudah marah dan mudah ter singgung "Sekali lagi terima kasih atas segala budimu, Niocu.
Sudah terlampau banyak aku berhutang budi kepadamu, harap jangan kautumpuki lagi agar tidak terlalu sukar bagiku untuk membalasmu kelak.
Bukan sekali-kali aku tidak suka terima tawaranmu untuk tinggal di tempatmu yang tentu nyaman dan meyenangkan.
Akan tetapi, kau tahu bahwa Liok Kong Ji masih hidup dan berkeliaran di muka bumi.
Aku akan mencarinya, aku harus dapat melenyapkan manusia iblis itu dari muka bumi baru dapat bernapas lega.
Oleh karena itu bukan aku menolak ajakanmu, hanya aku tidak mungkin dapat menunda usahaku mengejar dan mencari Liok Kong Ji.
Biarlah lain kali kalau sudah selesai tugasku ini, aku pasti akan mencari dan mengunjungimu di Go-bi-san.
Li Hwa menundukkan mukanya, nampaknya kecewa dan berduka sekali.
"Betulkah kau akan ke sana, Sin Hong?"
"Pasti aku akan ke sana kelak, Niocu."
"Kau tidak bohong?"
Sin Hong ketawa. Percakapan itu seperti percakapan anak kecil.
"Mana aku berani membohong?"
"Aku... aku akan selalu menanti kedatanganmu. Sin Hong."
Kata-kata yang diucapkan dengan jujur sekali ini membuat Sin Hong terharu dan makin perih rasa hatinya.
"Jangan khawatir, Niocu. Kalau nyawa masih berada di badanku, kelak aku pasti akan datang mengunjungimu."
Mendengar kata-kata ini, tiba tiba Li Hwa mengucurkan air mata.
"Eh, eh, kau kenapa. Niocu"..?"
"Sin Hong jangan hilang tentang mati. Baru-baru ini hampir saja kau tewas. Kalau... kalau kau tewas... hidup tidak ada artinya lagi bagiku...."
"Niocu...!"
Sin Hong benar-benar terkejut karena tak disangkanya gadis itu akan sedemikian berterus terang.
"Benar, Sin Hong! Selama ini hidupku kosong, tidak ada artinya. Aku merasa bosan hidup di puncak dan pada waktu itu, aku akan menghadapi kematian sewaktu-waktu dengan hati terbuka. Akan tetapi... semenjak pertemuan di puncak Ngo-heng-san... perasaan hatiku lain se kali. Lebih terasa ketika tadi aku meninggalkanmu... aku takkan dapat hidup seorang diri lagi. Sin Hong, aku takkan dapat hidup kalau... kalau kau jauh dariku. Karena itu, kau tahu bahwa aku akan menanti kedatanganmu di tempatku, kalau kau membohong, aku akan mencarimu, Sin Hong."
Setelah berkata demikian, ia mengangsurkan pedang Cheng-liong-kiam sambil berkata.
"Terimalah pedangku ini!"
Sin Hong merasa bingung, kemudian dengan suara sedih ia menjawab.
"Aku tak dapat menerimanya, Niocu."
Pucat wajah gadis itu.
"Kau menolak ikatan jodoh denganku? Jangan khawatir, pemberianku ini sekedar supaya kau mempunyai senjata pelindung diri. Kelak kalau berkunjung kepadaku, dapat kau bawa kembali."
Kembali Sin Hong menolak.
"Bukan demikian, Niocu...."
"Namaku Li Hwa, Siok Li Hwa, kau tak perlu menyebut Niocu!"
"Baiklah. Kuulangi, bukan demikian maksudku tadi, Li Hwa. Aku tidak memerlukan pedang, apalagi pedang yang kau pakai sebagai senjata pelindung dirimu sendiri. Aku sudah mempunyai ini!"
Ia mengeluarkan pecutnya kepada gadis itu. Li Hwa menarik napas panjang.
"Sudahlah, aku tak dapat memaksa. Asal saja kelak kau tidak melanggar janjimu. Aku selalu menantimu sampai setahun, Sin Hong. Lewat setahun, kalau kau belum juga datang menjengukku, aku akan turun gunung niencarimu!"
Setelah berkata demikian, sekali lagi Li Hwa menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata mesra sekali, kemudian ia membalikkan tubuh dan berlari bagaikan terbang cepatnya, menyusul rombongan anak buahnya.
Sin Hong berdiri bagaikan patung.
Celaka, pikirnya, gadis itu benar benar telah jatuh cinta kepadanya dan cinta seorang gadis seperti Li Hwa amat berhahaya.
Gadis itu semenjak kecil hidup menyendiri hatinya keras dan sekali mempunyai kehendak, akan dibelanya pelaksanaannya dengan nyawa.
Ia maklum bahwa kelak ia akan mengalami banyak susah dari gadis ini.
Akan tetapi, apa dayanya?
ia tidak mencinta Li Hwa.
Hanya satu kali ia mencinta orang, ialah Go Hui Lian, atau boleh jadi juga Gak Soan Li.
Ia sendiri tidak begitu yakin akan hal ini.
Sin Hong melanjutkan perjalanannya sambil melamun.
Kaisar duduk di atas singgasana di balai pertemuan, dihadap oleh para panglima dan menterinya.
Di antara panglima, tampak juga See-thian Tok-ong yang sekarang telah kembali ke istana.
Kepada Kaisar, See-thian Tok-ong menceritakan tentang pertemuan orang orang gagah di Puncak Ngo-heng-san, menceritakan bahwa di sana terjadi pertempuran besar dan delapan orang busu pengikutnya gugur dalam pertempuran itu!
Diceritakannya pula bahwa terjadi perubahan kedudukan bengcu, dan akhirnya karena pihak sana lebih kuat, kedudukan bengcu tak dapat ia rebut dan jatuh ke dalam tangan seorang penjahat dan orang yang anti kaisar bernama Wan Sin Hong!
Ta menceritakan pula bahwa Go Ciang Le berdiri di pihak penjahat Wan Sin Hong itu dan bahwa Go Hui Lian ternyata telah lari tidak kembali ke kota raja, melainkan ikut ayahnya.
Semua ini tentu hisapan jempol belaka dan See-thian Tok-ong yang diam-diam telah mengadakan persekutuan dengan Liok Kong ji.
Delapan orang busu yang ikut dengan dia telah dibunuh di tengah perjalanan pulang!
Tentu saja Kaisar amat marah mendengar ini.
"Kami akan mengirim pasukan untuk menangkap pemberontak Go Ciang Le dan mencari penjahat Wan Sin Hong!"
Kata Kaisar.
"Hal Ttu tidak demikian mudah dilakukan, Sri Baginda,"
Kata See-thian Tok-ong.
"Wan Sin Hong dan Go Ciang Le selain memiliki kepandaian tinggi, juga banyak sekali pengikutnya. Apalagi sekarang penjahat dan pemberontak Wan Sin Hong telah menjadi bengcu, pengaruhnya amat besar. Dia sedang mengumpulkan tenaga untuk memberontak dan menyerbu kota raja. Partai-partai besar kaum persilatan berdiri di belakangnya.
"Koksu, bagaimana baiknya?"
Tanya kaisar kepada Sce-thian Tok-ong dengan. nada khawatir.
"Menurut pendapat hamba, untuk menghadapi mereka harus menyusun kekuatan yang terdiri dari orang-orang gagah di dunia persilatan pula. Hamba akan mengumpulkan kawan-kawan di rimba persilatan, dan di antara mereka, bahkan kemarin hamba bertemu dengan seorang tokoh besar yang biarpun masih muda, namun telah diangkat menjadi bengcu dari kaum persilatan selatan dan timur. Dia telah berjanji hendak mengerahkan kawan-kawannya membantu apabila Paduka sudi menerima dan memberi kedudukan kepadanya."
Kaisar menjadi girang, apalagi ketika mendengar obrolan See-thian Tok-ong bahwa pemuda bernama Liok Kong Ji itu memiliki kepandaian yang setingkat dengan kepandaian See-thian Tok-ong.
"Panggil dia ke sini! Kalau dia mencocoki hati, kami akan memberi pangkat sebagai wakilmu!"
Demikianlah, pada hari itu, Liok Kong Ji dibawa masuk ke dalam istana kaisar dihadapkan kepada Kaisar.
Melihat kedatangan pemuda ini, dan mendengar dari See-thian tok-ong bahwa sekarang ini harus berlaku hati-hati dan perundingan menghancurkan Wan Sin Hong dan Go Ciang Le tidak baik kalau terdengar semua punggawa, Kaisar lalu membubarkan pertemuan itu.
dua belas pengawal pnbadinya yang masih berada di situ, menjaga kalau-kalau ada bahaya dari luar pada waktu berunding dengan "See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio, Kwan Kok Sun, dan Liok Kong Ji.
Melihat seorang pemuda tampan dan lemah lembut serta sopan santun, Kaisar gembira sekali.
ia merasa kagum melihat seorang masih demikian muda akan tetapi sudah dipuji setinggi langit oleh See-thian Tok-ong.
Apalagi setelah mereka bercakap-cakap, Kong Ji menyatakan dengan berani bahwa telah bertemu Temu Cin dan menjawab pertanyaan Kaisar ia menyatakan bahwa Temu Cin adalah seorang pemuda hutan liar yang sombong, padahal kekuatannya tidak berapa hebat, Kaisar merasa terhibur dan makin suka kepada Kong Ji.
Pada saat itu, penjaga pintu melaporkan kedatangan seorang tamu.
"Wanyen Siauw ongya mohon menghadap!"
Kaisar memandang keluar dengan muka berseri.
"Ah, dia juga baru datang? Suruh dia masuk""
Dari luar muncul seorang pemuda yang membuat wajah Liok Kong Ji menjadi pucat seketika akan tetapi ia teringat akan cerita See-thian Tok-ong bahwa di istana terdapat seorang pangeran bernama Wanyen Ci Lun yang wajahnya sama benar dengan wajah Wan Sin Hong, yaitu pangeran yang pernah datang di Puncak Ngo-heng san dan telah terluka oleh Hek-tok-ciam dari tangan Kong Ji.
Untuk menghadapi pertemuan ini Kong Ji telah berjaga-jaga dan telah diatur siasat untuk membela diri.
Bagaimana Pangeran Wanyen Ci Lun tiba-tiba bisa muncul di istana?
Bukankah dalam keadaan terluka ia dibawa lari oleh seorang gadis cantik bermuka pucat?
Di bagian depan telah diceritakan bahwa Wanyen Ci Lun ketika sedang dijaga oleh para gadis anak buah Hui-Eng-pai yang bertempur melawan para perajurit pangeran itu, telah dibawa lari oleh seorang gadis cantik yang bermuka pucat.
Siapakah gadis ini?
Kiranya tidak hegitu sukar untuk diduga.
Gadis itu bukan lain adalah Gak Soan Li, gadis bernasib malang yang patut dikasihani itu.
Ketika Liok Kong Ji dengan keji dan kejamnya membeber rahasia Gak Soan Li menceritakan di depan umum bahwa gadis itu telah menjafli korban gangguan Wan Sin Hong, Soan Li tak dapat menahan malu dan hancur perasaannya, dan gadis ini sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati lalu berlari turun gunung.
Setelah ia berjalan terus sampai napasnya hampir-hampir putus, ia menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon, bergulingan di atas rumput sambil menangis.
Semua pemandangan di atas Puncak Ngo-heng-san, ditambah lagi oleh kata kata Liok Kong Ji tadi, sedikit membuka tabir yang menutupi ingatan Gak Soan Li.
Tadi Kong Ji membuka di de pan umum bahwa dia telah menjadi korban penjahat Wan Sin Hong dan ditolong oleh Liok Kong Ji.
Melihat muka Kong Ji, ingatlah Soan Li sekarang dan kenyataan yang amat pahit mengiris jantungnya.
Saking terlalu menahan perasaan, setelah bergulingan sambil menangis, Soan Li muntahkan darah segar dari mulutnya dan jatuh pingsan.
Halimun gunung membasahi muka Soan Li yang pucat seperti mayat dan membuatnya siuman kembali dari pingsannya yang lama juga.
ia menarik napas panjang, mengeluh dan membersihkan darah yang masih berada di dagu.
Pikirannya bekerja kembali dan sekarang di dalam ingatannya terbayang wajah dua orang dan di dalam hatinya tercatat tiga nama orang.
Wajah itu adalah wajah Liok Kong Ji dan wajah Gong Lam.
Adapun tiga nama itu adalah Gong Lam, Liok Kong Ji dan Wan Sin Hong.
Kesimpulan dari ingatannya yang masih belum terang betul itu adalah bahwa ia tercemarkan oleh Wan Sin Hong yang tak pernah ia lihat mukanya, kemudian ditolong oleh Liok Kong Ji yang mengaku sebagai Gong Lam dan kemudian memperlakukannya sebagai isteri.
Adapun wajah Gong Lam memang tak pernah ia kupakan, yaitu pemuda yang pernah menolongnya, pemuda tolol yang pernah merebut hatinya, merebut cinta pertamanya.
"Aku harus membunuh Wan Sin Hong, dan aku harus bunuh Liok Kong Ji,"
Bisiknya perlahan, karena ia sekarang merasa yakin bahwa dua orang inilah yang telah merusak hidupnya.
Wan Sin Hong telah mencemarkannya dengan cara menggelap dan mempergunakan kepandaian, adapun Liok Kong Ji telah mencemarkannya dengan cara mengaku sebagai Gong Lam.
Dan ia telah maklum sekarang bahwa anak yang telah dilahirkannya, yang sekarang dirawat di Pulau Kim-bun-to, anak laki-laki yang dipelihara oleh inang pengasuh, dia itu adalah anak keturunan Liok Kong Ji.
"Aku harus bunuh dia lebih dulu... !"
Pikir Soan Li dan sakit hati yang menjadi dendam ini memulihkan tubuhnya.
Ia berdiri, termenung sebentar, menghapus darah di mulut dan air mata di depan pipinya, lalu naik lagi ke Gunung Ngo heng-san.
Ketika ia tiba di lereng, dari jauh ia sudah mendengar suara orang-orang bertempur.
Soan Li menyelinap di antara batang-batang pohon dan ia melihat serombongan gadis cantik yang dikenalnya sebagai anggauta-anggauta Hui-eng pai tengah bertempur melawan serombongan orang yang baru muncul.
Akan tetapi pertempuran ini tidak menarik hati Soan Li.
Dia sedang bengong memandang kepada tubuh seorang laki-laki yang menggeletak di bawah pohon, tubuh orang yang dikenalnya bukan lain adalah Gong Lam, kekasih hatinya!
Sebagaimana diketahui, laki-laki yang terluka itu bukan lain adalah Wanyen Ci lun dan karena muka pangeran ini sama benar dengan Wan Sin Hong sedangkan Gong Lam itu bukan lain adalah Wan Sin Hong sendiri, maka tidak mengherankan apabila Soan Li mengira pangeran itu Gong Lam.
Karena girang dapat bertemu dengan Gong Lam, dan merasa bahwa kekasihnya ini berada dalam bahaya, Soan Li melompat keluar, menyambar tubuh Gong Lam dan membawanya lari cepat sekali.
Ketika ias melihat ada orang mengejarnya, ia berlari lebih cepat lagi sehingga dapat membebaskan diri dari para pengejarnya.
Soan Li sudah amat lelah, akan tetapi sambil memondong tubuh Wanyen Ci Lun ia berlari terus, takut kalau terkejar orang, sampai akhirnya ia jatuh terguling di sebuah hutan, jauh di kaki Gunung Ngo heng--san, kakinya terpeleset di atas rumput yang licin.
Baiknya mereka jatuh di tempat rata, dan di atas rumput sehingga tidak terluka parah.
Wanyen Ci Lun yang semenjak tadi sudah terheran-heran, kini mengaduh.
"Aduh, aduh... hati-hati, Nona! Baiknya kita tidak terguling ke dalam jurang. Kau tergesa-gesa amat, hendak membawaku ke manakah?"
Karena pangeran ini memang benar-benar amat heran melihat tingkah laku gadis cantik yang membawanya lari lintang-pukang sampai jatuh bangun, juga karena amat kagum memandang wajah gadis cantik yang memondongnya sekian jauh dan lamanya, wajah pangeran ini menjadi bengong dan nampak bodoh.
Melihat wajah yang bengong dan bodoh ini, Soan Li tertawa geli kemudian menubruk dan memeluk pundak Wanyen Ci Lun sambil menangis terisak-isak.
Timbul perasaan kasihan dalam hati pangeran ini, karena ia dapat menduga bahwa tentu ada apa-apa yang tidak beres dalam ingatan gadis ini.
"Gong Lam-ko... akhirnya kita dapat bertemu kembali...."
Berkali-kali Soan Li berbisik, nampaknya amat terharu dan juga girang.
Mendengar ini, makin tebal dugaan pangeran Wanyen Ci Lun bahwa gadis cantik ini memang betul betul agak miring otaknya.
Bagaimana ia dipanggil Gong Lam (Pemuda Tolol)?
"Lam-ko, jangan tinggalkan aku lagi seorang diri.
Bawalah aku ke mana juga pergi, Lam-ko.
Aku selama hidup tidak mau berpisah darimu lagi.
Aku selalu mengalami malapetaka kalau terpisah darimu."
"Nona, malapetaka apakah yang telah menimpa dirimu?"
Tanya Wanyen Ci Lun dengan suara halus. Saking merasa kasihan, tanpa disengaja tangannya lalu mengusap-usap rambut yang hitam halus dan awut-awutan menutupi sebagian muka yang pucat itu.
"Lam-ko, maukah kau... kaumaafkan aku akan segala yang telah menimpa diriku? Apakah nanti kau tidak membenciku?"
"Tidak, Nona. Bagaimana orang bisa membenci seorang gadis seperti engkau""
Aku takkan membencimu."
"Berjanjilah dulu bahwa kau takkan menjauhkan diri lagi, bahwa kau akan menerimaku ikut denganmu selama hidupku, ke manapun kau pergi aku boleh ikut."
Pangeran Wanyen Ci Lun terharu.
Ia tak dapat menyangkal bahwa begitu melihat nona yang menarik ini, dan biarpun ia sudah mempunyai beberapa orang selir, ditambah seorang seperti ini, tak kan berarti apa apa, bahkan siapa tahu kalau perempuan inilah yang akan mendatangkan bahagia dalam hidupnya.
Berpikir demikian tanpa ragu ragu lagi pangeran ini menjawab.
"AKU berjanji takkan menjauhkan diri lagi dan menerimamu ikut dengan aku selamanya."
Dengan girang dan lega Soan Li lalu merebahkan diri saking lelahnya, rebah di atas rumput berbantal paha pemuda itu, lalu sambil menengadah memandang awan-awan putih di angkasa dengan termenung, berceritalah ia.
"Lam-ko, sejak pertemuan kita yang pertama kali, tahulah aku bahwa kau telah menempati hatiku. Biarpun kau nampak bodoh dan canggung, kaulah laki-laki yang paling baik, jujur dan boleh dipercaya. Selain itu, aku pun curiga dan ragu-ragu bahwa kau betul-betul seorang pemuda bodoh. Aku bahkan menduga kau mengerti ilmu silat. Bukankah kau pandai ilmu silat, Lam-ko?"
Wanyen Ci Lun kini tidak ragu-ragu lagi bahwa gadis cantik yang setelah bicara nampak makin manis menarik ini benar-benar seorang yang tidak normal ingatannya.
Ia menjadi makin kasihan dan untuk menghibur hati gadis yang agaknya telah mengalami pukulan batin hebat sekali ini, ia menerima saja sangkaan orang dan bahkan "mengasuh"
Pikiran yang tidak karuan itu. Maka ia mengangguk-angguk dan berkata sambil tersenyum.
"Tak salah dugaanmu, Nona. Memang biarpun hanya sejurus dua jurus, aku mengerti sedikit ilmu silat. Dan tentang kebodohan, memang aku bodoh dan pelupa. Buktinya, namamu saja aku sudah lupa lagi. Aku benar-benar bodoh, patut bernama Gong Lam!"
Soan Li tertawa geli, lalu tersenyum manis sekali.
Hidup kembali kegembiraan dan semangatnya setelah ia bertemu dengan kekasihnya.
Dengan penuh kasih sayang sehingga amat mengharukan hati Wanyen Ci Lun, gadis itu memegang dan membelai-belai tangan Wanyen Ci Lun.
"Kau tidak bodoh, Lam-ko. Aku sama sekali tidak menganggap kau bodoh, biarpun namamu Gong Lam. Mungkin kau sudah lupa akan namaku, mungkin juga memang kau belum pernah mendengarnya. Namaku Gak Soan Li, murid Hwa I Enghiong Go Ciang Le. Akan tetapi, mulai sekarang jangan kita sebut-sebut nama Suhu, agar tidak ikut terseret ke kurang kehinaan yang sudah dilontarkan orang-orang jahat kepadaku."
Kembali Soan Li mulai menangis. Wanyen Ci Lun kaget bukan main mendengar bahwa gadis yang agak "miring"
Ini ternyata adalah murid pendekar besar itu. Hatinya berdebar dan ia makin tertarik, ingin sekali mengetahui nasib apa yang telah menimpa diri gadis yang malang dan perkasa ini.
"Gak-siocia...."
"Lam-ko, jangan kau sebut aku dengan siocia segala macam, bukankah aku ini milikmu, jiwa ragaku telah kuserahkan kepadamu selama aku hidup, Lamko. Sebut saja namaku...."
Wanyen Ci Lun menarik napas panjang.
ia bukan seorang yang berperangai rendah, bukan orang yang suka menghina dan mempermainkan wanita.
Sikap Soan Li benar-benar membuat ia bingung sekali.
Ia tertarik kepada gadis ini, tertarik, kasihan dan ada rasa cinta kasih dalam hatinya.
Akan tetapi sikap Soan Li benar-benar membuatnya jengah bingung.
"Baiklah Soan Li. Sekarang lanjutkanlah ceritamu. Siapakah yang telah mengganggu dan menghinamu?"
Mendengar pertanyaan ini, tangis Soan Li makin menjadi-jadi. Akkhirnya sambil terisak-isak ia melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak ingat semua, Lam-ko. Hanya yang kuketahui, semenjak aku kautinggalkan, aku terjatuh ke (Lanjut ke
Jilid 34) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 dalam tangan orang jahat yang amat tinggi kepandaiannya akan tetapi yang tak pernah kulihat mukanya.
Malam hari itu adalah malam kiamat bagiku, aku tak melihat dia, malam gelap...
dan aku lalu pingsan...
dia itu hanya meninggalkan nama yang selalu berdengung di telingaku, namanya Wan Sin Hong!"
Wanyen Ci Lun mengerutkan keningnya.
"Aku mendengar nama itu diucapkan orang di mana-mana sebagai seorang penjahat keji yang baru muncul di dunia."
Diam-diam ia makin kasihan kepa,la gadis ini.
"Lanjutkan ceritamu, Li-moi."
Mendengar Gong Lam menyebutnya Li-moi, berseri wajah Soan Li.
"Jadi kau tidak benci kepadaku, Lam-ko? Tidak benci kepadaku setelah peristiwa itu?"
Wanyen Ci Lun menggeleng kepalanya.
"Kau tidak bersalah, Li-moi. Bagaimana orang dapat membenci kau yang bahkan harus dikasihani?"
"Terima kasih, Lam-ko. Aku tahu bahwa kau orang yang berhati mulia. Seluruh dunia boleh membenci dan menghinaku, asal kau tidak, aku cukup bahagia. Baik kuteruskan ceritaku, tapi yang masih teringat saja olehku. Setelah aku siuman dari pingsanku, aku melihat seorang yang tadinya kusangka kau, Lam-ko. Orang itu mengaku bernama Gong Lam dan entah mengapa, waktu itu aku tidak ingat lagi, aku percaya dan benar-benar menganggap dia itu kali! Dia bilang bahwa dia menolongku, bahwa telah mengusir penjahat busuk Wan Sin Hong. Aku merasa pikiranku kabur, tak dapat membedakan orang dan aku percaya, aku anggap dia kau, kuserahkan nasibku, jiwa ragaku kepadanya...."
Sampai di sini Soan Li nampak gemas sekali, wajahnya yang pucat menjadi merah, matanya berapi. Kemudian perlahan-lahan ia nampak sedih, bahk air matanya mulai berlinang-linang kembali.
"Lam-ko di luar kesadaranku, dia itu ". jahanam besar yang kusangka kau itu, telah mengambil aku sebagai isterinya atau lebih tepat lagi, sebagai kekasihnya karena dia tidak menikah dengan aku secara sah. Aku tetap mengangap dia itu kau. Aku bahkan...."
Soan Li terisak-isak.
"... telah melahirkan seorang anak, keturunan dari orang itu...."
Wanyen Ci Lun menjadi marah sekali.
"Keparat keji! Siapa iblis itu, Lan-moi?"
"Dia itu... dia adalah Liok Kong ji! Baru tadi di Puncak Ngo-heng-san aku bertemu dengan dia, dan baru tadi aku teringat akan semua itu bahkan dialah yang dahulu mengaku sebagai kau! Dan aku teringat sekarang bahwa dia itu bukan lain adalah suteku sendiri! Ah, Lamko, bagaimana dahulu aku tidak mengetahui semua itu...? Lam-ko, katakanlah, apakah aku Gak Soan Li sudah gila?"
Tangis Soan Li makin keras .
Wanyen Ci Lun memeluknya dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya."Tidak, tidak, kau tidak gila, kau hanya seorang gadis yang bernasib buruk sekali, Li-moi.
Agaknya kau dilahirkan hanya untuk mengalami penderitaan belaka.
Biarlah selanjutn)a aku yang akan mengusir semua kesengsaraanmu dan aku akan berusaha menghidupkan kebahagiaanmu."
"Lam-ko, kalau aku tidak gila, mengapa timbul segala macam perkara gila? Aku kadang-kadang menjadi bingung dan tidak mengerti. Setelah aku ikut dengan jahanam Liok Kong Ji yang kuanggap kau, pada suatu hari muncul seorang yang tinggi ilmu silatnya, yang kusangka engkau pula, bahkan yang pertama kali menyadarkan aku bahwa Kong Ji bukanah Gong Lam karena orang yang muncul itu memiliki wajah Gong Lam yang sesungguhnya. Orang ini merampasku dari tangan Kong Ji membawa aku pulang ke Pulau Kim-bun-to tempat tinggal Suhuku, dan anehnya, kemudian orang itu, yang tak salah lagi tentu kau adanya mengaku bernama Wan Sin Hong! Lan ko, mengapa kau bersikap seperti itu di Kim -bu-to?"
Kini Wanyen Ci Lun benar-benar bingung.
Kasihan, pikirnya.
Gadis ini benar-benar telah kehilangan ingatannya dan ceritanya ini ngacau tidak karuan.
Bagaimana ia harus menjawab?
ia tidak dapat membohong terus-terusan.
"Li-mom, percayalah bahwa yang mengaku Wan Sin Hong itu bukan aku. Aku mau bersumpah bahwa baru ini aku bertemu dengan engkau."
Wanyen Ci Lun tentu saja bermaksud bahwa selama hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan Soan Li.
Akan tetapi menurut anggapan Soan Li, pemuda itu bersumpah bahwa selama berpisah, baru sekarang bertemu!
"Aku percaya kepadamu, Lam-ko.
Aku percaya penuh kepadamu.
Karena itulah maka aku merasa bahwa aku telah gila.
Aku mudah saja ditipu jahanam Liok Kong Ji yang mengaku sebagai engkau kemudian orang yang mengaku Wan Sin Hong itu...
betul diakah malam-malam itu muncul dan merusak hidupku?
Akan tetapi sikapnya bukan seperti penjahat.
Ahhh...
aku bingung, Lam-ko..."
Gadis yang malang ini memijat mijat kepalanya.
"Sudah, Li-moi. Yang sudah lewat biarkanlah dahulu, tak perlu kau bersusah-payah mengingatnya. Kelak perlahan-lahan aku akan membantumu memecahkan persoalan ini. Kau kelihatan seperti terganggu kesehatanmu, wajahmu pucat, nampaknya lesu. Sedangkan aku kaulihat bahwa aku baru saja terluka hebat oleh senjata berbisa dan entah siapa yang telah menolongku ini. Kita berdua perlu beristirahat, kemudian baru melanjutkan perjalanan. Sebetulnya, bagaimanakah kau tadi membawaku ke sini. Aku sendiri pingsan tidak tahu apa yang telah terjadi."
"Aku melihatmu rebah di hutan, dibuat rebutan oleh serombongan gadis cantik dan serombongan orang laki-laki. Mereka bertempur hebat memperebutkan engkau, maka diam-diam aku lalu merampasmu dan membawamu lari sampai di sini."
Wanyen Ci Lun menggeleng-geleng kepalanya, sama sekali tidak mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi karena ia masih ingat semua.
Ta mendapatkan dirinya rebah di dalam hutan, terluka dan dikelilingi oleh serombongan "bidadari", Menurut cerita gadis-gadis itu ia ditolong oleh seorang bernama Wan Sin Hong yang mukanya sama benar dengan dia.
Hal ini sudah berkali-kali ia alami.
Dahulu Nona Go Hui Lian juga mengira dia Wan Sin Hong!
Sekarang dari mulut Gak Soan Li, kembali ia mendengar dongeng banyak-banyak tentang orang bernama Wan Sin Hong yang katanya serupa benar dengan dia.
Ta tahu bahwa rombongan bidadari itu bertempur melawan orang-orangnya sendiri.
"Lam-ko, bagaimana kau sampai bisa terluka? Dan siapa orangnya yang melukaimu?"
Kini giliran Wanyen Ci Lun yang -menggeleng-geleng kepalanya, bingung harus bercerita bagaimana.
Dia sendiri kurang tahu siapakah yang telah melukainya, karena begitu muncul, orang-orang di Puncak Ngo-heng-san lalu memaki-makinya sebagai Wan Sin Hong, tahu-tahu banyak sinar senjata melayang dan menyerangnya!
"Entahlah, Li-moi.
Aku datang di Puncak Ngo-heng-san.
Orang-orang menyerangku dan aku roboh, kemudian dibawa lari seorang aneh bermuka merah yang amat pandai ilmu silatnya.
Aku selanjutnya pingsan tidak tahu apa-apa lagi, tahu-tahu aku bangun sudah berada di hutan itu, di jaga oleh gadis-gadis itu.
Lalu datang rombongan orang laki-laki itu yang menyerang sehingga terjadi pertempuran, kemudman kau muncul."
"Sekarang, ke mana kau hendak membawaku pergi, Lam-ko? Aku ikut denganmu, ke mana pun juga kau pergi."
"Jangan khawatir, Li-moi. Mari ikut aku pulang."
"Pulang?"
"Tentu saja pulang, bukankah kembali ke rumah berarti pulang?"
"Rumah? Lam-ko apakah kau punya rumah?"
Wanyen .Cl Lun tertawa geli.
"Tentu saja aku mempunyai rumah, Li-moi, kau akan terkejut kalau melihat rumah. rumahku. Apakah kau sendiri tidak punya rumah, tidak punya keluarga?"
Wajah yang, manis itu menjadi muram, ia hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab.
Memang dia yatim piatu, tiada handai taulan, yang ada hanya keluarga suhunya.
Akan tetapi sekarang ia kehilangan keluarga Go itu bukan karena keluarga itu mengusirnya, sebaliknya ia tidak berani kembali ke Kim-bu-to, karena ia tidak mau menyeret nama keluarga yang ia muliakan itu ke dalam lembah kehinaan yang sudah ia derita.
"Marilah, Li-moi, mari kita pulang ke rumah kita."
"Di mana?"
"Di kota raja."
Untuk ke sekian kalinya Soan Li tercengang dan memandang kepada kekasihnya dengan heran dan kagum.
Terlalu banyak hal-hal aneh ia alami di dunia ini, maka sekarang ia pun tidak banyak bertanya.
Hanya ia tahu bahwa kekasihnya bernama Gong Lam ini tentulah bukan orang sembarangan, dan sejak dahulu ia tahu bahwa nama Gong Lam itu nama palsu.
Berangkatlah dua orang muda itu dengan seenaknya dan lambat-lambat ke kota raja.
Setelah tiba di sebuah kota, Wanyen Ci Lun lalu membeli obat, kemudian membeli kuda sehingga perjalanan selanjutnya dilakukan berkuda dan tidak begitu melelahkan.
Demikianlah, singkatnya Wanyen Ci Lun dan Soan Li telah tiba di kota raja dan dengan diam-diam pangeran membawa Soan Li ke istananya, memberi tahu kepada semua selir dan pelayan bahwa gadis ini adalah selirnya yang baru dan minta kepada semua orang untuk melayani Soan Li sebaik mungkin.
Tentu saja Soan Li sendiri bengong dan melongo melihat rumah kekasihnya "Lam-ko, sebenarnya kau ini siapakah?"
"Li-mom, jangan kaget. Aku sebenarnya bernama Wanyen Ci Lun, pangeran muda yang bodoh."
Mendengar jawaban ini, Soan Li menangis tersedu-sedu, tangis karena haru dan gembira.
Akhirnya ia bertemu dengan kekasihnya yang ternyata bukan saja tidak menyalahkannya dalam peristiwa memalukan yang ia alami, bahkan kelihatan mencinta kepadanya dan membawanya ke istana.
Yang amat menggembirakan hatinya adalah kenyataan bahwa kekasihnya itu ternyata seorang pangeran yang tentu akan mengangkat dirinya dan di dalam kebahagiaan ini akan mencoba melupakan segala penghinaan yang pernah dideritanya.
"Li-moi apakah kau menghendaki agar puteramu yang kau tinggalkan di Kim bun-to itu dibawa ke sini?"
Wajah yang berseri itu menjadi pucat lagi.
"Tidak! Tidak! Aku akan bunuh anak itu kalau aku melihatnya!"
Kemudian ia menangis tersedu-sedu. Wanyen Ci Lun menghiburnya.
"Sudahlah, kalau kau tidak mau, tidak apa."
Kemudian pangeran yang baik hati itu menyuruh orang mempersiapkan kamar yang indah, mewah dan menyenangkan bagi Soan Li.
Sikapnya terhadap wanita ini tetap menjaga diri dan berlaku sopan, tidak berani ia melakukan perbuatan yang melanggar susila.
Hal ini bukan karena ia terlalu alim, bukan.
Melainkan oleh karena Wanyen Ci Lun tidak berani berlaku sembrono.
Ia tahu bahwa ia menghadapi seorang gadis yang biarpun bernasib malang dan ingatannya terganggu, namun tetap seorang gadis berilmu tinggi, seorang wanita pilihan yang tak dapat disamakan dengan selir-selirnya, murid seorang pendekar besar.
Ta melakukan semua hal terhadap Soan Li itu atas dasar hendak menolong di samping rasa tertarik dan kasih sayang yang timbul terhadap gadis itu.
Setelah luka-lukanya sembuh, Wanyen Ci Lun mendengar berita tentang datangnya See-thian Tok-ong, tentang apa yang dicentakan oleh See-thian Tok-ong kepada Kaisar.
Kemudian yang membuat terkejut sekali adalah ketika mendengar betapa See-thian Tok-ong memperkenalkan Liok Kong Ji kepada Kaisar.
Ta cepat berdandan dan sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, pada saat Liok Kong Ji dan See-thian Tok-ong menghadap kaisar.
Wanyen Ci Lun datang ke istana mengunjungi Kaisar!
Seperti pernah dituturkan, Wanyen Ci Lun adalah seorang pangeran yang amat berpengaruh di istana.
dan seorang yang amat dipercaya oleh Kaisar, maka para penjaga tentu saja tidak berani melarangnya, bahkan melaporkan kepada Kaisar tentang kedatangan pangeran ini.
Kaisar girang sekali mendengar akan kedatangan Wanyen Ci Lun, maka tanpa ragu-ragu lagi Kaisar lalu mempersilakan Wanyen Ci Lun masuk ke ruangan pertemuan itu.
Setelah Pangeran itu memberi hormat kepada Kaisar dan dipersilakan duduk Kaisar serta merta menegurnya.
"Ternyata perhitunganmu kali ini meleset, Ci Lun. Orang-orang yang kaupercaya itu, yakni Go Hui Lian dan Coa Hong Kin, ternyata melanggar kepercayaan kita dan lari pergi bersama pemberontak Go Ciang Le. Oleh karena itu, kami telah mengambil keputusan untuk mengirim pasukan dan menghukum mereka, terutama sekali menghukum penjahat besar Wan Sin Hong yang telah merampas kedudukan bengcu dan berniat untuk mengerahkan orang-orang jahat memberontak terhadap kami!"
Mendengar kata--kata Kaisar ini, Wanyen Ci Lun melirik ke arah Liok Kong Ji lalu jawabnya kepada Kaisar.
"Sesungguhnya hamba tidak tahu akan semua hal itu, karena biarpun hamba juga datang di Puncak Ngo-heng-san, sungguh tidak nyana sekali datang-datang hamba diserang orang jahat, menderita luka-luka karena jarum jarum hitam sehingga hamba terus pingsan tak tahu apa-apa. Kalau saja tidak ada orang aneh menolong, kiranya hamba sudah menjadi mayat dan tidak mendapatkan sempatan menghadap Paduka lagi."
Kaisar terkejut mendengar ini.
"Begitukah? Apakah para pemberontak keji itu yang hendak membunuhmu? Benar-benar mereka jahat dan harus dibasmi!"
Liok Kong Ji berkata cepat-cepat.
"Mohon beribu ampun, sesungguhnya hambalah yang melukai Siauw-ongya dengan jarum-jarum Hek-tok-ciam!"
Kaisar dan Wanyen Ci Lun kaget.
Kaisar terkejut karena hal ini memang tak disangka-sangkanya, sedangkan Wanyen Ci Lun kaget dan heran mendengar pengakuan Liok Kong Ji.
Begitu mendengar bahwa Liok Kong Ji, orang yang dibenci oleh Soan Li dibawa oleh See thian Tok-ong menghadap Kaisar, ia sudah menaruh kecurigaan besar dan ingin sekali dia melihat sendiri orang macam apa adanya Liok Kong Ji yang menurut Soan Li telah mempergunakan nama Gong Lam untuk mempermainkan Soa Li.
Sekarang melihat pemuda yang berlutut di dekat See-thian Tok-ong ini teringatlah bahwa pemuda ini yang menyerangnya dahulu di puncak Ngo-heng-san.
Oleh karena itu, alangkah herannya mendengar pemuda itu mengaku terus terang di depan Kaisar.
Alangkah beraninya.
"Hamba mohon Siauw-ongya sudi memberi ampun atas kedosaan hamba yang dilakukan bukan dengan sengaja. Ketika Siauw-ongya muncul di puncak Ngo-heng-san, semua orang yang berada di situ mengira bahwa Siauw ongya adalah Wan Sin Hong, karena memang sesungguhnya antara Siauw-ongya dan Wan Sin Hong ada persamaan wajah yang luar biasa, serupa benar seperti saudara kembar. Oleh karena hamba juga mengira bahwa Siauw-ongya adalah penjahat besar Wan Sin Hong yang memang dikejar-kejar oleh seluruh orang gagah di dunia kang-ouw, maka hamba lalu turun tangan menyerang dengan senjata jarum Hek-tok-ciam hamba."
Kaisar terheran mendengar penuturan ini.
"Koksu, benarkah bahwa penjahat dan pemberontak Wan Sin Hong itu memiliki persamaan wajah dengan Wanyen Ci Lun?"
Tanya Kaisar kepada See thian Tok-ong.
"Memang tidak salah, Sri Baginda. Persamaan itu sedemikian luar biasa sehingga hamba sendiri juga tak mungkin dapat membedakan satu dengan yang lain."
Mendengar ini kaisar menjadi lega dan hilang kecurigaannya terhadap Kong Ji.
Adapun Wanyen Ci Lun juga tak dapat berkata apa-apa.
Di dalam hatinya pangeran ini mengaku bahwa pemuda yang bernama Liok Kong Ji ini kelihatannya amat cerdik, maka ia harus berlaku hati-hati.
Kalau betul bahwa Liok Kong Ji ini telah merusak kehidupan Soan Li sebagaimana telah ia dengar dari gadis yang dicintanya itu, ia harus membalaskan sakit hati Soan Li.
Akan tetapi ia harus berlaku hati-hati sekali, karena melihat betapa pemuda ini dengan jarum jarum hitamnya telah dapat melukai bahkan hampir membunuhnya, dapat ia ketahui bahwa Liok Kong Ji selain cerdik, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Sementara itu, kaisar sudah teguh pendiriannya.
Tanpa minta pertimbangan lagi, ia memberi perintah kepada See-thian Tok-ong agar supaya membawa pasukan pilihan, dibantu oleh Liok Kong Ji yang oleh kaisar diangkat menjadi pembantu utama dari See-thian Tok-ong, Kemudian berangkat ke Kim-bun-to untuk menangkap keluarga Go yang memberontak dan untuk mencari dan menangkap pemberontak Wan Sin Hong.
Untuk tugas ini, kaisar memberi sebuah leng-ki yakni bendera tanda bahwa si pembawa adalah utusan kaisar dan karenanya semua pembesar setempat harus melayaninya baik-baik dan segala kehendaknya diturut!
"Maafkan hamba, Sri Baginda.
Apakah titah ini tidak terlalu tergesa-gesa?
Menurut pendapat hamba yang bodoh, tentang perbuatan memberontak dari Wan Sin Hong dan keluarga Go di Kim-bun-to itu, masih belum ada buktinya.
Bagimana kalau ternyata bahwa mereka itu bukan pemberontak?
Mereka itu adalah orang-orang gagah di dunia kang-ouw, bahkan hamba mendengar bahwa Wan Sin Hong telah diangkat menjadi bengcu.
Kalau Paduka memberi lengcu dan keputusan bahwa dia harus ditangkap atau dibunuh sebagai hukuman atas pemberontakannya, kemudian ternyata bahwa dia sama sekali bukan pemberontak, bukankah negara akan menghadapi tantangan dari orang orang gagah sedunia?
Kalau Paduka mengijinkan, biarlah hamba melakukan penyelidikan lebih dahulu sebelum diambil tindakan terhadap mereka itu,"
Kaisar mengerutkan keningnya.
"Sayang kau terluka dan tidak tahu apa yang telah terjadi, Ci Lun. Sayang sekali, kali ini penyelidikanmu ke Ngo heng-san itu tidak berhasil apa-apa. Baiknya kami menyuruh koksu, kalau tidak tentu bahaya besar dan pemberontak-pemberontak itu mengancam negara tanpa kita ketahui. Ketahuilah bahwa para pengtkut koksu, di tengah jalan telah terbunuh mati semua oleh pemberontak Wan Sin Hong dan Go Ciang Le!"
Wanyen Ci Lun terkejut.
ia tahu bahwa delapan orang yang menjadi pengikut See-thian Tok-ong ke Ngo-heng-san itu adalah delapan orang pengawal kaisar yang sudah dipercaya betul.
Sekarang mereka terbunuh.
ini hebat.
Akan tetapi, apakah betul mereka itu dibunuh oleh Wan Sin Hong dan Go Ciang Le?
"Bagaimana mereka dapat terbunuh oleh Wan Sin Hong dan Go Ciang Le?"
Tanya Wanyen Ci Lun sambil menoleh "
Ke arah See-thian Tok-ong.
"Dalam perebutan kedudukan bengcu ada pertempuran. Penjahat besar Wan Sin Hong dan pemberontak Go Ciang Le ternyata tahu bahwa para pengikut hamba itu adalah busu-busu dari istana, maka dalam pertempuran itu para pemberontak sengaja menewaskan mereka untuk menyatakan kebenciannya terhadap kaisar,"
Jawab See-thian Tok-ong dengan berani sekali karena ia melihat sendiri bahwa ketika terjadi pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng-san, Pangeran Wan-yen Ci Lun tidak sempat menyaksikan.
Padahal, para bulu itu dibunuh oleh dia sendiri, takut kalau para busu ini akan membuka rahasianya kepada kaisar"
Karena merasa bahwa ia memang kalah kuat dalam pendiriannya mengenai maksud kaisar membasmi Wan Sin Hong dan keluarga Go Ciang Le, Wanyen Ci Lun akhirnya diam saja, hanya mendengarkan rencana dan penggerakan dari See-thian Tok-ong untuk mulai dengan tugasnya.
Ta mendengar bahwa See-thian Tok-ong dan Liok Kong Ji hendak membawa pasukan itu tepat pada saat Kim-bun-to mengadakan pesta pernikahan antara Go Hui Lian dengan Coa Hong Kin.
"Tni perlu sekali dilakukan untuk memancing dan mengetahui, siapa di antara orang-orang kang-ouw yang akan membela kaisar dan siapa pula yang mempunyai niat memberontak. Sudah tentu di dalam pesta pernikahan keluarga Go itu akan dihadiri oleh semua tokoh kang-ou dan ini merupakan ujian bagi mereka. Demikian Liok Kong Ji berkata. Pendapatnya ini amat dihargai oleh kaisar yang memujinya memiliki pemandangan luas dan rencana yang bagus. Pertemuan itu dibubarkan dan Wanyen Ci Lun kembali ke istananya sendiri dengan hati gelisah, ia tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Wan Sin Hong tentulah pemuda yang telah menolongnya yang tadinya bermuka merah seperti setan akan tetapi kemudian dikatakan oleh anggauta Hui eng-pai sebagai seorang pemuda yang mempunyai wajah sama benar dengan dia. Tokoh Wan Sin Hong ini baginya masih merupakan teka-teki demikian pula tokoh Gong Lam. Betulkah Wan Sin Hong telah mencemarkan Soan Li dengan kekerasan? Agaknya betul karena Wan Sin Hong terkenal sebagai seorang penjahat muda yang baru nuncul. Akan tetapi mengapa Wan Sin Hong menolongnya di puncak Ngo-heng-san? Dan siapa pula Gong Lam yang oleh Soan Li dianggap sebagai dia sendiri? Tentu wajah Gong Lam ini serupa pula dengan wajah Wan Sin. Hong. Liok Kong Ji adalah seorang pemuda palsu, yang menipu Soan Li dengan berpura-pura menjadi Gong Lam. Kalau Kong Ji dapat berlaku sekeji ini bukan tidak mungkin kalau dia pula yang mempergunakan nama Wan Sin Hong ketika malam hari menggunakan kekerasan dan mencemarkan Soan Li. Diam-diam Wanyen Ci Lun memutar otaknya dan ia merasa menghadapi sebuah teka-teki ruwet. Keputusan kaisar untuk menghukum Wan Sin Hong dan keluarga Go Ciang Le membuat hatinya tidak enak dan tak senang. Memang betul batwa dia tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan Wan Sin Hong biarpun katanya memiliki persamaan wajah dengannya, juga dia tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan keluarga Go Ciang Le. Cintanya kepada Hui Lian tidak terbalas dan setelah sekarang ia mendengar bahwa sebulan lagi Hui Lian akan menikah dengan orang kepercayaannya sendiri Coa Hong Kin, hatinya menjadi dingin terhadap Hui Lian. Akan tetapi, sebagai seorang pangeran yang amat memperhatikan keadaa negara, ia tahu bahwa kedudukan Kerajaan Kin pada waktu itu tidak sekokoh dahulu. Keputusan kaisar menghukum orang-orang penting di dunia kang-ouw, tanpa dasar kesalahan yang benar-benar patut dihukum, adalah hal yang berbahaya dan merugikan. Dunia kang-ouw akan mendengar tentang hal ini dan kepercayaan para orang gagah terhadap pemerintah akan makin menipis, akhirnya akan timbul kebencian terhadap kerajaan. Memang tidak dikhawatirkan kalau orang-orang kangouw akan memberontak, akan tetapi apabila tercetus pemberontakan atau kalau ada musuh dari luar datang menyerbu, orang-orang kang-ouw ini sudah pasti akan membantu musuh atau sedikitnya pasti tidak akan mau membantu pemerintah mengusir musuh. Dengan hati kesal Wanyen Ci Lun tidak pulang ke istana, melainkan keluar dari lingkungan istana dan berjalan-jalan ke kota raja. Karena memang sudah biasa pangeran ini suka berjalan-jalan seorang diri dalam keadaan sederhana,. tanpa pengiring dan tidak menunggang kuda maupun kereta, maka hal ini tidak menarik perhatian orang bahkan ada di antara penduduk yang tidak mengenalnya. Tentu saja mereka yang mengenal cepat-cepat memberi penghormatan dengan membungkuk dalam-dalam yang dibalas oleh Wanyen Ci Lun dengan senyum dan anggukan. Akhirnya Wanyen Ci Lun keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Ia teringat kepada sahabatnya, yaitu Hoan Ki Hosiang, hwesio yang mengurus Kuan te-bio di luar tembok kota sebelah selatan. Pangeran Wanyen Ci Lun amat suka kepada hwesio tua dan semenjak ia masih kecil dahulu, kelenteng Kwan-te-bio sudah menjadi tempat ia bermain-main dan terhadap hwesio tua Hoan Ki Hosiang, ia seakan-akan menganggap hwesio ini sebagai gurunya. Memang anggapan ini tidak salah karena semenjak kecil, Wanyen Ci Lun sering kali menerima pelajaran tentang kebatinan dan kebajikan. Dari hwesio inilah Wanyen Ci Lun tergugah semangat kegagahannya, dan dari hwesio ini ia mengenal sejarah dan riwayat orang-orang besar jaman dahulu. Oleh karena pergaulannya dengan Hoan Ki Hosiang ini maka watak Wanyen Ci Lun berbeda jauh dengan para pembesar dan bangsawan bangsa Kin. la lelah merasai keagungan kebudayaan llan dan mengaguminya, kemudian menggunakannya dalam jalan hidupnya. Selain semua ini, dari Hoan Ki Hoiang pula ia menerima pelajaran ilmu silat dasar yang kemudian ia latih terus secara diam-diam di bawah asuhan beberapa orang busu istana yang tua dan biarpun tidak secara resmi ia mengangkat guru kepada Hoan Ki Hosiang, akan tetapi ia menyebut hwesio itu "suhu"
Dan boleh dibilang segala keperluan kelenteng Kwan-te-bio yang kecil itu dijamin oleh Wanyen Ci Lun.
Melihat kedatangan pangeran ini, dua orang hwesio cilik yang bekerja sebagai pelayan kelenteng Kwan-te-bio, tergopoh-gopoh menyambut, memberi hormat, lalu melaporkan kepada Hoan Ki Hosiang.
Akan tetapi, belum juga mereka masuk ke dalam, hwesio tua ini sudah bertindak dengan muka berseri.
"Siauw-ongya, kebetulan sekali kau datang! Ada sesuatu yang amat penting hendak pinceng bicarakan dengan Siauw ongya,"
Kata Hoan Ki Hosiang sambil membalas pemberian hormat pangeran itu.
"Ada kepentingan apakah, Suhu? harap lekas beritahukan, aku ingin sekali mendengar."
"Hal ini aneh sekali, Siauw-ongya dan hampir menimbulkan salah paham. Hari kemarin pinceng kedatangan seorang tamu yang minta supaya pinceng terima bermalam di sini untuk beberapa malam, seorang yang aneh sekali."
Wanyen Ci Lun tersenyum. Sudah terlalu banyak hal aneh ia alami akhir-akhir ini sehingga berita ini diterimanya dengan senyum dingin saja.
"Siapa dia, dari mana orangnya, Suhu?"
Tanyanya.
"Dia pergi keluar tadi pagi, katanya hendak mengurus sesuatu dalam beberapa hari di kota raja. Kalau malam hari ia kembali dan minta supaya diperbolehkan menginap di sini. Siauw-ongya, pinceng bukan main-main, keadaan orang ini aneh sekali. Pada pertama kali ia datang pinceng sendiri sampai salah menegur dan mengira bahwa dia adalah Siauw-ongya sendiri yang berlaku pura-pura dan ingin main-main dengan pinceng. Akan tetapi ternyata dia bukan Siauw-ongya sungguftpun wajah dan bentuk badan serupa benar dengan Siauw-ongya...."
"Apakah dia Wan Sin Hong...?"
Wan-yen Ci Lun memotong cepat. Hoan Ki Hosiang nampak tercengang.
"Betul, Siauw-ongya. Bagaimana kau bisa tahu...?? Dia betul bernama Wan Sin Hong dan kepandaiannya luar biasa sekali. Karena tadinya, pinceng telah mencoba dan menekan pundaknya. Akan tetapi pinceng merasa seakan-akan menekan tumpukan kapas saja, sampai tenaga sendiri amblas dan lenyap. Kemudian, pundak itu berubah menjadi seperti baja panas, benar-benar lweekang seperti itu jangankan menyaksikan, mendengarpun belum pernah."
Tiba-tiba dari belakang kelenteng terdengar suara halus.
"Hoan Ki Lo-suhu, jangan kau terlalu memuji orang setinggi langit. Wanyen Siauw-ongya, aku girang dapat bertemu dengan kau di sini!"
Hwesio tua itu dan Pangeran Wanyen Ci Lun cepat menengok ke belakang dan tahu-tahu dari dalam telah keluar seorang pemuda yang serupa benar dengan Wanyen Ci Lun, hanya pakaiannya saja berbeda karena amat sederhana.
Dia ini bukan lain adalah Wan Sin Hong yang, mengejar Liok Kong Ji dan mendapat kenyataan bahwa larinya pemuda itu adalah ke kota raja.
Dua orang pemuda yang sama rupa dan bentuk badannya saling berhadapan menyelidiki watak masing-masing dengan pandang mata yang tajam menembus jantung.
Akhirnya keduanya merasa puas dan Wan Sin Hong menjura lebih dulu memberi hormat sambil berkata.
"Pangeran Wanyen CI Lun, aku girang melihat kau ternyata dalam keadaan sehat."
Ucapan Sin Hong ini tidak kasar, juga tidak terlalu menghormat seperti layaknya seorang biasa bicara terhadap seorang bangsawan agung.
Akan tetapi kesederhanaan sikap Sin Hong ini tidak menyakitkan hati Wanyen Ci Lun.
"Apakah aku berhadapan dengan Wan Sin Hong yang disohorkan sebagai penjahat muda yang baru muncul di dunia?"
Sin Hong tersenyum pahit.
"Benar, aku Wan Sin Hong dan memang seorang yang bernama Liok Kong Ji telah berusaha mati-matian untuk merusak namaku."
Wanyen Ci Lun memberi hormat sebagai balasan hormat Sin Hong tadi, ia lalu berkata.
"Kalau begitu aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu di Ngo-heng-san dahulu, sayang kau terus meninggalkan aku di bawah penjagaan bebeapa orang bidadari sehingga kita tak sempat bertemu muka dan bicara. Mari kita masuk ke dalam dan kita bicara dari hati ke hati."
Sin Hong menurut saja dan mengikuti pangeran itu masuk ke dalam kamar, diikuti pula oleh Hoan Ki Hosiang.
Akan tetapi setelah tiba di dalam kamar, hwesio tua au tidak ikut masuk, melainkan menjaga di luar pintu agar percakapan antara dua orang muda itu tidak terganggu.
"Wan Sin Hong, kau sebenarnya siapakah dan sampai di mana kebenaran tentang berita bahwa kau penjahat besar?"
Wan Sin Hong begitu bertemu dengan pangeran ini, telah timbul perasaan suka dan percaya, maka ia pun lalu berkata terus terang!
"Pangeran Wanyen Ci Lun, sesungguhnya antara kita masih ada hubungan keluarga, karena ketahuilah bahwa mendiang Ayahku adalah Wan Kan atau Wanyen Kan, seorang pangeran pula."
"Dia itu Pamanku! Kita ini masih saudara seketurunan!"
Kata Wanyen Ci Lun dengan girang.
"Jadi namamu sebenarnya Wanyen Sin Hong?" ,Sin Hong hanya tersenyum, akan tetapi ia mengangguk. Pangeran Wanyen Ci Lun, memegang kedua lengan saudaranya ini dan dua pasang mata saling pandang, terharu dan gembira.
"Betapapun juga, aku sekarang adalah Wan Sin Hong, seorang pemuda bukan keturunan keluarga istana. Harus kauketahui baik-baik akan hal ini, Pangeran Wanyen Ci Lun."
Suara Sin Hong terdengar penuh keyakinan dan tahulah Wanyen Ci Lun yang sudah mengerti akan riwayat ayah pemuda itu, bawa di dalam hatinya, Sin Hong masih menaruh dendam terhadap istana dan tidak akan suka mengaku keluarga istana.
"Sin Hong, aku girang sekali mendapat kenyataan bahwa kau masih ada hubungan darah dengan aku. Aku bangga sekali apalagi setelah mendengar bahwa kau sekarang telah menjadi bengcu. Ah, alangkah girang hatiku mempunyai saudara yang memiliki kepandaian setinggi kepandaianmu, aku kagum padamu, Saudara. Hanya sedikit yang menjadi ganjalan hatiku, benar benarkah semua berita kejahatan yang kaulakukan itu bohong belaka?"
Sin Hong menarik napas panjang.
"Memang sukar melenyapkan keraguan ini, karena Kong Ji pandai sekali mengatur semua kejahatan sehingga seaka-akan aku yang melakukannya. Akan tetapi percayalah, bahwa semua perbuatan keji itu biar sampai mati pun takkan dapat aku melakukannya. Sudahlah tentang hal ini, yang penting sekarang, aku hendak bertanya kepadamu, Pangeran, dimanakah adanya Nona Gak Soan Li. Aku mendengar bahwa kau dilarikan oleh seorang gadis cantik berwajah pucat yang tinggi ilmu larinya. Dia itu tentu Soan Li. Benarkah dugaanku? Dan di mana dia sekarang?"
Wanyen Ci Lun tiba-tiba menjadi muram mukanya, karena ia teringat akan cerita Soan Li bahwa gadis itu pernah, dicemarkan oleh Wan Sin Hong.
"Nanti dulu, Sin Hong. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, coba kau bersumpah lebih dulu, benar-benarkah kau tidak pernah melakukan kejahatan terhadap wanita yang manapun juga?"
Sambal berkata demikian, Wanyen Ci Lun memandang tajam.
Mendengar ini, Sin Hong tiba-tiba memegang kedua lengan pangeran itu yang merasa betapa kedua lengannya seakan-akan dicengkeram oleh jepitan yang kuat sekali.
"Kalau begitu Soan Li berada denganmu. Tentu dia yang bercerita tentang dirinya dicemarkan oleh Wan Sin Hong. Dengarlah, Pangeran. Tak perlu aku berpanjang cerita. Gadis itu telah menjadi korban Liok Kong ji, bahkan telah diberi makan racun yang merusak ingatannya. Aku ahli pengobatan, kau sudah tahu ini karena kau pun pernah menjadi korban racun Hek-tok-ciam dari Liok Kong Ji dan aku yang menolongnya. Mari bawa aku kepadanya, aku akan mencoba untuk mengobatinya untuk memulihkan ingatannya. Di samping itu, aku mohon bantuanmu untuk menyelidiki, apakah yang hendak dilakukan oleh iblis Liok Kong Ji di istana ini."
Melihat sikap Sin Hong, sekaligus keraguan hati Wanyen Ci Lun lenyap.
"Kalau begitu jangan menunggu lagi, mari ikut ke istanaku, Sin Hong."
Maka setelah memesan kepada Hoan Ki Hosiang agar jangan menceritakan kepada siapapun juga akan pertemuan dua orang muda itu.
Pangeran Wanyen Ci Lun lalu mengajak Sin Hong ke istananya, sekali ini ia mempergunakan kendaraan keretanya yang ia suruh orangnya menjemputnya di kelenteng itu.
Di dalam kereta, Wanyen Ci Lun dengan singkat menceritakan pertemuannya dengan Soan Li, dan bercerita pula tentang sikap Soan Li yang amat mengharukan hatinya dan juga menggemaskan hatinya kepada orang yang telah merusak hidup gadis itu.
Tanpa diketahui oleh siapapun juga karena pandainya Pangeran Wanyen Lun mengaturnya, Sin Hong dapat masuk ke dalam istana pangeran itu dan ia dijumpakan dengan Soan Li.
Wanyen Ci Lun sengaja tidak ikut menemui Soan Li karena Pangeran ini hendak menyaksikan bagaimana sikap Soan Li kalau bertemu dengan Sin Hong.
"Lam-ko, kau baru datang...."
Soan Li menyambut dengan senyum manis ketika melihat Sin Hong masuk ke dalam kamar.
"Lam-ko, mengapa kau selalu agaknya menjauhkan diri dariku?"
Apakah kau kecewa karena aku ikut dengan kau?
Apakah kiranya keadaanku yang hina ini merendahkan kedudukanmu sebagai seorang pangeran besar?
Lam-ko, bagiku, biarpun kau seorang pangeran atau bahkan seorang kaisar sekalipun, bagiku kau tetap Gong Lam, bukan Pangeran Wanyen Ci Lun atau siapapun juga."
Melihat keadaan dan mendengar kata-kata ini, hati Sin Hong seperti diremas-reemas.
Terbuka kedua matanya dan tahulah ia bahwa sebenarnya yang dicinta oleh Soan Li adalah dia sendiri!
Mengerilah ia bahwa dahulu, dalam pertemuan pertama ketika ia masih menggunakan nama Gong Lam, ternyata Gak Soan Li telah jatuh cinta kepadanya dan cinta kasihnya itu sedemikian besarnya sehingga biarpun ingatan gadis itu sudah tidak normal lagi, tetap saja gadis itu masih mencinta Gong Lam sepenuh hatinya.
Hal ini benar-benar mengharukan hati Sin Hong dan membuat ia berpikir keras.
Dengan kepandaiannya, kiranya ia akan dapat menyembuhkan Soan Li, atau setidaknya mengembalikan ingatannya.
Kalau Soan Li teringat akan semtua hal dan akhirnya mendapat kenyataan bahwa Gong Lam yang sesungguhnya tidak membalas cinta kasihnya, bukankalk gadis itu akan menjadi makin rusak hidupnya?
Sebaliknya, dalam keadaan seperti sekarang ini, Soan Li tidak dapat membedakan antara Gong Lam aseli dan Gong Lam yang sekarang menjadi nama julukan Wanyen Ci Lun dan gadis itu dapat hidup di dalam istana Wanyen Ci Lun bersama pangeran itu.
Menurut penglihatannya, Pangeran Wanyen Ci Lun juga mencinta Soan Li.
Oleh karena itu, ia lalu menjawab.
"Sama sekali aku tidak menyesal, bahkan aku girang sekali kau sudah merasa betah tinggal di sini. Percayalah bahwa kau akan berbahagia di sini Sayang aku tidak dapat terlalu lama di seni, karena banyak sekali keperluan penting yang harus kuselesaikan. Baik-baiklah kau di sini, Soan Li."
Setelah berkata demikian, Sin Hong lalu berjalan keluar dengan cepat, lalu menemui Pangeran Wanyen Ci Lun yang telah menantinya di luar.
"Bagaimana, Sin Hong, apakah dia tidak ada harapan disembuhkan sehingga ia teringat akan semua hal yang lalu?"
Sin Hong menggelengkan kepalanya.
"Tak mungkin. Penghidupan lama telah mati baginya dan sekarang ia berada dalam hidup baru. Kuharap saja ia akan berbahagia dalam hidupnya yang baru ini."
Sinar mata yang berseri dari Pangeran Wanyen Ci Lun membuat Sin Hong makin yakin bahwa memang sebaiknya bagi Soan Li sendiri dan semua pihak kalau Soan Li berada seperti sekarang ini, jangan teringat lagi akan segala apa yang sudah lalu.
"Kuharap demikian pula, akan tetapi di dalam hidupnya yang baru ini terdapat dendam dan kebencian terhadap dua orang, yakni terhadap Wan Sin Hong dan Liok Kong Ji. Yang pertama karena dianggap orang yang mencemarkannya yang ke dua karena telah menipunya selagi pikirannya masih belum sadar, menggunakan nama Gong Lam dan mempermainkannya. Bahkan putera yang ia dapatkan dari Gong Lam palsu ini dibencinya setengah mati"
Sin Hong menarik napas panjang. Tadi ia sudah mendengar semua penuturan pangeran itu dan diam-diam ia memang kasihan sekali kepada Soan Li.
"Kalau kau membantuku, Pangeran sedikit demi sedikit sadarkan dia bahwa yang mencemarkan dia dahulu sesungguhnya juga iblis Liok Kong Ji itu yang menggunakan nama Wan Sin Hong. Dan katakan kepadanya bahwa pada suatu hari ia tentu akan kuberi kesempatan melakukan balas dendam terhadap iblis Liok Kong Ji itu!"
Kemudian Sin Hong mendengar berita mengejutkan dari Pangeran Wanyen Ci Lun.
Tadinya pangeran ini belum mau bercerita sesuatu tentang keputusan kaisar menghukum Wan Sin Hong dan Go Ciang Le, karena ia hendak melihat dan meyakinkan bahwa Wan Sin Hong benar-benar bukan seorang jahat.
Kalau saja ia melihat bahwa pemuda itu benar-benar pernah menghina Soan Li, kiranya ia takkan bersikap semanis ini terhadap Sin Hong, dan besar kemungkinan ia akan mengerahkan orang-orangnya sendiri untuk menangkapnya!
Berita bahwa kaisar menyuruh See-thian Tok-ong dan Kong Ji untuk menangkap atau membunuhnya, tidak mengagetkan hati Sin Hong.
Akan tetapi mendengar bahwa See thian Tok-ong sekeluarganya dan Liok Kong Ji, disertai pasukan yang kuat menuju ke Kim-bun-to untuk melakukan penangkapan terhadap keluarga yang sedang merayakan pernikahan Go Hui Lian dan Coa Hong Kin, benar-benar amat terkejutlah hati Sin Hong.
"Keparat jahanami"
Makinya marah.
"Iblis itu meminjam tangan Kaisar untuk membalas musuh-musuhnya. Benar-benar licin dan keji sekali!"
Cepat Sin Hong bermohon diri dari Pangeran Wanyen Ci Lun untuk cepat pergi ke Kim-bun-to dan membantu kaluarga Go menghadapi serbuan ini, atau lebih tepat memperingatkan mereka agar cepat melarikan diri sebelum pasukan kaisar tiba di Kim bun-to.
Wanyen Ci Lun tidak menahannya, hanya berpesan bahwa kalau urusan itu sudah selesai supaya Sin Hong suka datang ke istananya dan tinggal di situ beberapa lamanya ia dapat puas bercakap-cakap dengan saudara misannya ini.
Sin Hong menyanggupi, kemudian berangkat dengan diam-diam dari kota raja.
Setibanya di luar tembok kota, sudah ada seorang suruhan dan kepercayaan Pangeran Wanyen Ci Lun menantinya dengan seekor kuda yang besar dan baik untuknya.
Sin Hong merasa berterima kasih sekali, lalu melanjutkan perjalanannya dengan cepat karena khawatir kalau kalau datangnya terlambat.
Pulau Kim-bun-to berada dalam suasana pesta gembira.
Semenjak pagi, banyak tamu dari daratan menggunakan petahu menyeberang ke pulau itu.
Mereka semua datang untuk menghadiri pesta pernikahan dari puteri Hwa I Enghiong, Go Hui Lian yang pada hari itu diresmikan perjodohannya dengan murid Camkauw Sin-kai yang bernama Coa Hong Kin.
Biarpun masih belum sembuh benar dari luka-lukanya, namun berkat obat dewa pemberian Hui-eng Nio-cu Siok Li Hwa, nyawa Cam-kauw Sin-kai tertolong dan pada hari itu ia sudah kuat untuk ikut menyambut para tamu.
Kakek pengemis sakti ini selain menjadi guru dari Coa Hong Kin, juga menjadi walinya.
Bersama Go Ciang Le ia menghadang di pintu depan untuk menyambut para sahabat yang membanjiri pulau itu untuk menyaksikan upacara pernikahan.
Sebagai seorang tokoh besar kang-ouw, tentu saja tamu-tamu dari Ciang Le sebagian besar juga orang-orang kang-ouw.
Bahkan partai-partai besar mengirim pula wakil-wakilnya untuk mengirim barang sumbangan.
Akan tetapi biarpun suasana amat gembira, kalau orang memperhatikan wajah dua orang gagah yang menjaga pintu, wajah Go Ciang Le dan Cam kauw Sin-kai orang akan melihat kemuraman dan kegelisahan membayangi hati mereka.
Hal ini adalah karena dua hari yang lalu, di pulau itu datang Wan Sin Hong yang menyampaikan semua yang didengarnya dari Pangeran Wanyen Ci Lun tentang keputusan Kaisar.
Sin Hong membujuk agar keluarga Go meninggalkan pulau itu.
Akan tetapi dengan tegas Ciang Le menjawab.
"Kami tidak takut! Kami bukan pemberontak dan kalau Kaisar demikian bodoh sehingga percaya akan hasutan See-thian Tok-ong dan Liok Kong Ji sehingga ia mengirim pasukan ke sini, biarlah kita akan melawan mati-matian."
Mendengar ini, diam-diam Sin Hong memuji suhengnya ini, yang benar-benar gagah berani sungguhpun di dalam hatinya mencela karena sikap suhengnya terlampau keras kepala dan kurang bijaksana.
Dalam hal ini, yang bersalah besar bukanlah Kaisar, melainkan See thian Tok-ong dan Liok Kong Ji.
Mengapa harus melakukan perlawanan terhadap pasukan Kaisar?
Hal ini hanya akan memberi kesan kepada Kaisar bahwa fitnahan yang dilontarkan oleh See-thian Tok-ong dan Liok Kong Ji kepada Hwa I Enghiong, terbukti!
Akan tetapi Sin Hong tahu orang macam apa adanya suhengnya itu, yakni orang yang memiliki kekerasan hati dan keangkuhan, orang yang akan rela mengorbankan keselamatan serumah tangga untuk menjaga namanya.
Suhengnya menghadapi pesta pernikahan dan tamu-tamu dari tempat jauh sudah mulai berdatangan, tak mungkin pesta itu dibatalkan atau diundurkan hanya karena takut akan serbuan pasukan dari kota raja.
Diam-diam Sin Hong lalu meninggalkan pulau itu dengan cepat untuk mengatur siasat.
Sebagai seorang bengcu, di mana-mana ia diterima dengan hormat oleh para orang gagah dan sebentar saja Sin Hong sudah berhasil mengumpulkan banyak orang gagah dari pelbagai perkumpulan, dibantu oleh gihunya, yakin Lie Bu Tek.
Hanya kepada Lie Bu Tek, Sin Hong bebas mengutarakan semua isi hatinya dan dengan gihunya ini ia berunding untuk mengatur siasat menghadap ancaman itu.
Akan tetapi, setelah Sin Hong dan Lie Bu Tek berhasil mengumpulkan tiga ratus lebih kawan-kawan yang siap sedia melakukan barisan pendam di tepi pantai untuk mencegah pasukan See-thian Tok-ong menyeberang dan mengganggu keluarga Go, mereka menanti sampai tengah hari belum juga terjadi sesuatu, Sin Hong dan Lie Bu Tek sudah merasa kecele sekali dan di antara para kawan yang berada di situ sudah menganggap, kekhawatiran Sin Hong tidak akan terjadi, karena siapakah yang berani mengganggu Hwa l Enghiong?
"Heran sekali, mengapa mereka tidak juga muncul?"
Lie Bu Tek bertanya kepada anak angkatnya. Sin Hong mengerutkan kening.
"Inilah yang menggelisahkan hati, Gahu. Kalau mereka segera muncul, mudah bagi kita untuk menahan mereka. Akan tetapi sekarang mereka tidak muncul, ini berbahaya sekali. See-thian Tok-ong bukan orang biasa dan sepak terjangnya selalu diliputi keanehan. Apalagi dia dibantu oleh Kong Ji manusia iblis yang mempunyai banyak tipu muslihat licik. Menghadapi musuh yang bergerak dan kelihatan tidaklah berat, akan tetapi menghadapi musuh yang diam saja dan tidak kelihatan, ini menggelisahkan."
Sementara itu, di Pulau Kim-bun-to upacara pernikahan sudah dilangsungkan dengan meriah.
Sepasang pengantin bersembahyang dan menerima ucapan selamat dan para tamu.
Pengantin pria tersenyum, mukanya berseri gembira.
Pengantin wanita tadinya menitikkan air mata, akan tetapi kemudian dapat tersenyum pula.
Para tamu makan minum sambil tertawa-tawa, semua bergembira tidak tahu akan datangnya awan hitam mengancam.
hanya Ciang Le, Bi Lan, Cam-kauw Sin-kai, dan kedua pengaintin saja yang diam-diam merasa heran mengapa Wan Sin Hong dan Lie Bu Tek tidak muncul dalam upacara pernikahan itu.
Orang-orang yang berpesta di Pulau Kim-bun-to itu sama sekali tidak tahu bahwa di pantai daratan seberang pulau terjadi pertempuran hebat.
Setelah menanti-nantikan, muncullah serombongan pasukan kaisar yang dipimpin oleh Li Kong Ji sendiri!
Pasukan ini jumlahn tidak kurang dari lima ratus orang bersenjata lengkap dan berbaris rapi.
Wan Sin Hong cepat maju menghadang bersama kawan-kawannya.
"Liok Kong Ji manusia busuk, Kau datang membawa pasukan pemerintah mempunyai maksud apakah?"
Liok Kong Jl tertawa dan berkata nyaring.
"Wan Sin Hong pemberontak hina dina! Aku datang membawa surat kuasa Kaisar untuk menangkap kau dan semua kawanmu yang ikut memberontak. Hayo lekas berlutut terhadap firman Kaisar!"
"Kong Ji, mengapa kau begitu pengecut dan tidak tahu malu? Kalau kau memang laki-laki dan kalau kau memang berani, mari kita tinggalkan semua ini dan kita mencari tempat sunyi, bertempur sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa. Mengapa dalam pertentangan kita kau membawa-bawa Kaisar dan bala tentaranya?"
Akan tetapi Liok Kong Ji tidak memperduhkannya dan cepat memberi ababa.
"Serbu dan tangkap dia, mati atau hidup ... !!"
Wan Sin Hong melompat sigap dan melakukan serangan kepada Kong Ji.
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Kong Ji menyelinap dan melenyapkan diri di dalam pasukannya.
Sejak tadi Sin Hong sudah merasa heran.
tidak hanya suara Kong Ji agak berbeda, akan tetapi juga mengapa Kong Ji sekarang menjadi demikian penakut?
Biarun Kong Ji takkan dapat menang terhadap dia akan tetapi kalau hanya beberapa puluh jurus saja belum tentu akan dapat merobohkan Liok Kong Ji, kenapa sekarang belum diserang sudah lari?
Akan tetapi Sin Hong tidak mendapat kesempatan berpikir tentang itu karena barisan istana itu telah menyerbu dan terjadilah pertempuran hebat antara barisan kota raja melawan kawan-kawan yang membela Sin Hong.
Juga Lie Bu Tek dengan tangan kirinya mengamuk dengan pedangnya sehingga gentarlah para perajurit Kaisar melihat pendekar, buntung ini.
Adapun Sin Hong sendiri, ia tidak mau merobotikan para perajurit Kaisar itu, sebaliknya ia mencari Kong Ji.
Akan tetapi heran sekali, ia tidak dapati melihat Kong Ji yang agaknya sudah lenyap ditelan bumi.
Pertempuran berjalan makin sengit dan kedua pihak sudah banyak yang roboh.
Akan tetapi tentu saja pihak perajurit Kaisar yang lebih banyak menjadi korban, karena kawan-kawan Sin Hong adalah anggauta-anggauta partai yang pandai ilmu silat.
Sin Hong lalu berlari ke arah sebuah perahu nelayan yang mempunyai tiang layar tinggi.
Ta melompat dan dengan cepat sekali melalui tali-temali layar ia dapat, mencapai puncak dan berdiri dengan sebelah kaki di situ.
Dan tempat tinggi ini dapat melihat sampai jauh, dan dari situ dicarinya di mana gerangan adanya Liok Kong Ji dan di mana pula adanya See-thian Tok-ong seanak isteri yang sejak tadi tidak dilihatnya.
Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat melihat bayangan mereka.
Tanpa disengaja Sin Hong menoleh ke belakang.
Padahal tidak semestinya kalau ia mencari musuh-musuhnya itu di belakang, karena di belakangnya adalah lautan.
Begitu ia menoleh, ia mengeluarkan seruan kaget.
Dan situ kelihatan asap bengulung-gulung naik di Pulau Kim-bun-to!
Tanda bahwa di sana terjadi kebakaran hebat dan ketika ia memandang lebih lama lagi, kelihatanlah layar perahu-perahu besar di pantai pulau itu sebelah kanan"
Cepat Sin Hong melompat turun dan berlari menghampiri Lie Bu Tek yang masih mengamuk.
"Gihu, celaka, agaknya Kim-bun-to diserbu dari lain jurusan!"
Sementara itu, para perajurit sudah terdesak hebat dan akhirnya mereka melarikan diri tunggang langgang, meninggalkan lebih dan lima puluh orang yang terluka atau tewas.
"Jangan mengejar...! Sin Hong berseru keras melihat beberapa orang kawannya yang masih penasaran hendak melakukan pengejaran.
"Tinggalkan lima puluh orang di sini untuk merawat kawan kawan yang terluka dan mengurus mayat-mayat ini, yang lain ikut kami ke Kim-bun-to!"
Serentak mereka lalu menggerakkan perahu-perahu mereka dan meminjam perahu-perahu nelayan dan tak lama kemudian dua puluh lebih perahu-perahu besar kecil meluncur ke Pulau Kim-bun-to.
Apakah yang telah terjadi di Kim-bun-to?
Memang tidak salah dugaan Sin Hong.
Pulau itu telah diserang dari dua jurusan, oleh pasukan-pasukan yang datang menggunakan perahu-perahu besar.
Perahu-perahu itu datang dari jurusan utara dan timur dan lebih dari seribu orang perajurit menyerbu ke jurusan rumah Hwa I Enghiong Go Ciang Le yang masih ramai berpesta.
Mula mula yang datang hanya beberapa orang yang disambut oleh para pelayan karena Ciang Le, Cam-kauw Sin-kai dan yang lain-lain sedang sibuk melayani tamu di sebelah dalam karena pesta sudah berjalan setengah jalan, mereka mengira takkan ada tamu lagi dan menyerahkan penyambutan di luar kepada para pelayan.
Beberapa orang tamu yang datang itu menyerahkan sebuah bungkusan besar kepada pelayan penyambut dengan pesan supaya diberikan kepada tuan rumah.
Tentu saja para pelayan itu lalu membawa bungkusan sumbangan ini kepada Ciang Le yang menerima dan membawa tulisan di luar bungkusan.
Bukan main herannya ketika melihat tulisan di luar bungkusan itu hanya menyebut nama "Keluarga Go"
Saja tanpa menulis nama pengirimnya, hanya situ terdapat tulisan merah dengan huruf-huruf besar . HARAP DIBUKA SEKARANG JUGA"
Ciang Le bukan seorang penakut.
Dengan mendongkol dan marah ia menggunakan tenaganya dan terdengar suara keras.
Tahu-tahu bungkusan itu telah hancur dan isinya berada di tangannya.
Yang melihat benda itu mengeluarkan suara tertahan.
Akan tetapi Bi Lan, Hui Lian, Coa Hong Kin dan Cam-kauw Sin-kai menjadi marah sekali.
Kebetulan mereka sedang berkumpul di kamar pengantin.
"Jahanam, siapa berani menghina kita?"
Bi Lan sudah merah telinganya dan hendak berlari keluar.
Akan tetapi Ciang Le memegang lengannya dan menarik kembali isterinya itu, minta supaya bersabar.
Kemudian Ciang Le memandang kepada benda itu dengan kening berkerut.
Orang telah menyumbang sepasang belenggu!
Ini berarti bahwa orang atau orang-orang yang menyumbang itu bermaksud menjadikan mereka sebagai tawanan.
"Biar aku sendiri menghadapi mereka,"
Katanya perlahan, dan hatinya mulai tidak enak karena teringat akan penuturan Wan Sin Hong tentang keputusan Kaisar hendak menangkap dan menghukum mereka.
Dengan langkah lobar Ciang Le lalu keluar untuk melihat siapakah mereka yang mengantar sumbangan sepasang belemggu tadi.
Tak lupa ia menyambar pedangnya dan digantungkan di punggungnya.
Setelah ia tiba di pintu luar tepat seperti yang ia duga di dalam hatinya, berhadapan dengan Liok Kong Ji, See-thian Tok-ong, Kwan Ji Nio, Kwan Kok Sun!
Ketika empat orang ini melihat munculnya Go Ciang Le, mereka terseyum mengejek dan See-thian Tok-ong mengeluarkan suara keras sebagai tanda untuk pasukannya.
Bagaikan gelombang laut pasang, terdengar derap kaki bergemuruh dan seribu orang pasukan dengan gagah berbaris dari beberapa jurusan rumah itu!
Tentu saja para tamu menjadi panik melihat hal ini.
See-thian Tok-ong mengeluarkan leng-ki (bendera utusan kaisar) dan mengangkatnya tinggi ke atas.
"Kami adalah utusan-utusan Kaisar, semua harus berlutut terhadap lengki Kaisar!"
Seru See-thian Tok-ong dengan suara nyaring.
Bendera lengki dari Kaisar memang merupakan tanda kekuasaan yang tinggi dan hal ini semua orang tahu.
Oleh karena itu, sebagian besar para tamu lalu menjatuhkan berlutut menghadapi bendera.
"Para hohan, dengarlah baik-baik!"
Tiba-tiba Liok Kong Ji berseru nyaring..
"Kami berdua, yakni See-thian Tok-ong Locianpwe ini dan aku Tung-nam Thaibengcu Liok Kong Ji, mendapat kepercayaan dari Hongsiang (Kaisar) dan menjadi utusan untuk menangkap keluarga Go Ciang Le karena dianggap memberontak terhadap kekuasaan Hongsiang yang mulia. Cuwi (Tuan-tuan Sekalian) harap tenang saja karena hanya untuk menangkap dia sekeluarga dan kaki tangannya, orang-orang lain takkan diganggu kecuali kalau mereka membela kaum pemberontak. Go Ciang Le, kedosaanmu telah nyata, hayo lekas berlutut untuk kami belenggu dan kami bawa ke kota raja dalam keadaan hidup-hidup sekeluargamu!"
Bukan main marahnya Ciang Le mendengar ucapan ini.
"Manusla berhati iblis Liok Kong Ji, hari ini kalau bukan kau tentu aku yang putus nyawa!"
Bentaknya sambil menyerang dengan pedangnya. Kong Ji melompat ke belakang dan See-thian Tok-ong memberi aba-aba.
"Hayo serbu! Yang melawan bunuh saja, bakar rumah ini!"
Kong Ji kini mencabut Pak-kek Sin-kiam dan membalas serangan Ciang Le sehingga di lain saat mereka telah bertcmpur sengit.
Dari dalam menyerbu keluar Liang Bi Lan dan Cam-kauw Sin-kai yang disambut oleh See-thia n Tok-ong, Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun.
juga Hui Lian sudah melepaskan pakaian pengantin dan bersama suaminya menyerbu keluar dengan senjata di tangan.
"Jangan bunuh calon pengantinku ini!"
Kwan Kok Sun berseru sambil menghadapi Hui Lian.
Di antara para tamu, banyak juga utusan dan partai partai persilatan besar dan banyak pula di antaranya adalah orang-orang kang-ouw yang bersemangat dan berjiwa gagah.
Melihat keadaan ini mereka lalu mencabut senjata dan mereka membela tuan rumah, tidak peduli akan ancaman Liok Kong Ji tadi.
Yang bergerak ini tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya, sedangkan yang lain diam-diam sudah lari pergi menjauhkan diri dari situ.
Sebentar saja rumah yang tadinya penuh kegembiraan itu menjadi medan pertempuran yang hebat.
Mangkok piring beterbangan, meja meja terbalik dan suara senjata memekakkan telinga.
Tak lama kemudian darah mulai mengalir dan nyawa melayang.
Pertempuran menjadi kacau balau karena ruangan itu terlalu sempit untuk tempat pertempuran orang banyak itu.
Maka sebagian pula sudah keluar dari rumah dan melanjutkan pertempuran di halaman depan.
Tiba-tiba nampak api berkobar di kanan kiri dan belakang rumah diberengi pekik sorak para perajurit yang membakar rumah itu.
Para pelayan menjerit jerit, keadaan makin panik dan ribut.
Para penduduk Kim-bun-to menjadi geger.
Toko-toko ditutup, pintu-pintu ditutup, dan mereka yang mempunyai perahu sendiri cepat-cepat membawa anak isterinya pergi dari pulau itu melarikan diri ke daratan.
Akan tetapi, banyak di antara mereka yang menjadi korban periampokan.
Saking banyaknya pasukan yang dibawa oleh See-thian Tok-ong, sebagian besar dari mereka ini tentu saja tidak dapat ikut bertempur dan mereka itu mencari musuh para penduduk Kim-bun-to, tentu saja dengan maksud hanya untuk merampas, mengganggu, dan membunuh dengan dalih membasmi kaum pemberontak, Memang di seluruh dunia beginilah macamnya serdadu penjajah.
Pertempuran antara Ciang Le dan Kong Ji hebat bukan main.
Mereka ternyata memiliki kepandaian yang seimbang.
Ilmu pedang dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le memang hebat sekali, yakni sebagian dari Pak-kek-kiam-sut.
Akan tetapi Kong Ji yang pernah mencuri ilmu ini dari Hui Lian, dasar otaknya cerdas, sudah dapat menangkap intinya dengan ditambah pula dengan ilmunya sendiri yang tinggi, ia bahkan dapat mendesak Ciang Le dengan serangan-serangan pedang dan dibarengi pukulan-pukulan Tin san-kang yang diganti-ganti dengan Pukulan Hek-tok-ciang"
Kalau saja ia tidak memegang Pak-kek-sin-kiam, kiranya belum tentu ia dapat mendesak Hwa I Enghiong.
Pedang pusaka ini memegang bagian penting dari kemenangannya karena Ciang Le yang maklum akan keampuhan pedang pusaka itu, tidak berani mengadu pedangnya secara langsung.
Akan tetapi dengan ilmu pedangnya yang tinggi, ia dapat membuat pertahanan yang kuat sekali sehingga semua desakan Kong Ji tidak mendatangkan hasil dan selalu dapat ditolaknya.
Karena dua orang ini kepandaiannya sudah tinggi sekali sehingga gerakan-gerakan ilmu silat mereka sukar diikuti dan diduga, maka orang-orang lain, baik pihak Kong Ji maupun pihak Ciang Le, tidak ada yang berani turun tangan membantu.
Bi Lan mendapat lawan See-thian Tok-ong.
Sebentar saja Bi Lan merasa betapa berat dan tangguhnya lawan ini.
Akan tetapi semenjak masih gadis dahulu, Liang Bi Lan adalah seorang yang tidak pernah mengenal takut.
ia kini menghadapi seorang yang ilmu silatnya seperti iblis dahsyat dan jahatnya, akan tetapi nyonya ini pun pernah menjadi murid seorang yang seperti iblis, maka biarpun amat terdesak, ia tidak merasa gentar dan melakukan perlawanan mati-matian dengan pedangnya.
Juga dalam pertandingan ini, tak ada yang berani membantu.
(Lanjut ke
Jilid 35 -Tamat) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 (Tamat) Hui Lian dan Hong Kin bertempur melawan Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun, dan segera terdesak hebat.
Cam-kauw Sin-kai membantu Hui Lian, akan tetapi oleh karena kakek ini masih belum sembuh benar dari luka-lukanya yang hebat, gerakannya lemah sekali dan bantuannya tidak berarti banyak.
Bahkan dua puluh jurus kemudian, Cam-kauw Sin-kai roboh terkena totokan ranting di tangan Kwan Ji Nio.
Kakek itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun roboh tak bernapas lagi.
Totokan ranting di tangan Kwan Ji Nio bukan sembarangan totokan.
Setiap serangan ranting selalu mengancam jalan darah kematian.
Hui Lian dan Hong Kin, sepasang pengantin baru ini menjadi marah dan nekad.
Bersama-sama mereka lalu mendcsak dan mengeluarkan seluruh kepandaian untuk membalas serangan-serangan lawan.
Sementara itu, puluhan orang yang membantu tuan rumah, tidak kuat mengadapi desakan ratusan orang yang menyerbu dengan ganasnya.
Biarpun pihak pasukan Kaisar juga banyak yang roboh binasa, namun seorang demi seorang, para enghiong yang membela tuan rumah ini mulai roboh.
Melihat ini, Ciang Le mulai gelisah.
ia tidak khawatir akan nasib diri sendiri, yang membikin ia gelisah adalah keadaan Hui Lian yang juga amat terdeak.
Anaknya itu baru saja merayakan hari pernikahannya dan sekarang sudah terancam bahaya maut..
"Hui Lian, Hong Kin, larilah!"
Juga Bi Lan yang amat terdesak oleh See-thian Tok-ong, tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri.
Dilihatnya beberapa orang yang tadinya menjadi tamu, sudah roboh menggeletak mandi darah di kanan kirinya.
Tiba-tiba See-thian Tok-ong mengeluarkan seruan keras sekali sambil menubruknya dengan Pukulan Hek-tok-ciang yang dahsyat.
Bi Lan tahu akan kehebatan pukulan ini, cepat mempergunakan ginkang mengelak.
Seorang tamu yang berada di belakang Bi Lan bertempur melawan para perajurit, menjadi sasaran hawa Pukulan Hek tok-ciang, menjerit ngeri dan roboh, dihujani pukulan senjata oleh para perajurit.
Bi Lan menoleh dan melihat Hong Kin terdesak hebat oleh Kwan Ji Nio.
Lebih hebat lagi, Kok Sun sudah mengeluarkan ularnya, dan kini Kok Sun mendesak Hui Lian dengan ularnya itu.
Hui Lian kelihatan pucat sekali, biarpun gadis ini pemberani seperti ibunya, namun ia ngeri dan geli menghadapi serangan ular di tangan Kok Sun.
Baiknya Kwan Kok Sun tidak bermaksud membunuh atau melukainya, melainkan hendak menangkapnya hidup-hidup.
Kalau Kok Sun mau, kiranya ular sudah dapat melukai atau menggigit Hui Lian.
Adapun Hong Kin yang bertempur dengan Kwan Ji Nio, tentu saja ia bukan lawan nyonya lihai.
Napas Hong Kin sudah terengah-engah karena ia dikocok oleh Kwan Ji Nio yang amat cepat gerakannya dan amat cepat pula rantingnya menyambar-nyambar.
Baiknya Hong Kin memiliki Ilmu Tongkat Cam-kau-tung-hwat sehingga dengan tongkatnya itu ia dapat melindungi dirinya sehingga beberapa totokan ranting yang mengenai tubuhnya melesat dan hanya merobek baju dan kulit saja.
Keadaan keluarga Go benar-benar telah terancam hebat.
"Hui Lian, ajaklah suamimu lari!"
Bi Lan menjerit pada saat nyonya yang gagah ini dapat menghindarkan diri lagi dari serangan See thian Tok-ong.
Pukulan Hek-tok-ciang dan senjata kuku setan Ngo-tok-mo-jiauw sudah mengurungnya sedemikian hebat sehingga terpaksa Bi Lan menggulingkan diri membiarkan pundaknya kena hajaran Hek-tok-ciang dan ia terus menggelundung sampai di dekat tempat Hong Kin terdesak oleh Kwan Ji Nio.
See-thian Tok-ong mengejar terus dan kembali, pukulan jarak jauh Hek-tok ciang mengenai pinggang Bi Lan.
Nyonya ini menjerit dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke depan dan di lain saat pedangnya telah menembus lambung Kwan Ji Nio.
Akan tetapi, berbareng dengan robohnya Kwan Ji Nio, Bi Lan juga roboh tak berkutik lagi.
"Ha, ha, ha, ha!"
Melihat isterinya dan Bi Lan roboh, See-thian Tok-ong yang berwatak luar biasa itu tertawa bergelak.
Akan tetapi pada saat itu menyambar sinar pedang yang cepat bagaikan kilat.
See thian Tok-ong menyampok dengan kedua Ngo-tok-mo-jiauw, akan tetapi dua cakar setan itu terbabat putus dan masih terus membabat, tepat mengenai perutnya dan merobek bagian tubuh ini sehingga isi perutnya berantakan keluar!
Sambil mengeluarkan suara ketawa yang menyeramkan sekali, See-thian Tok-ong.
terhuyung-huyung roboh.
"Hui Lian dan Hong Kin, larilah biar aku yang menahan mereka!"
Teriak Ciang Le sambil memutar pedangnya karena I.iok Kong Ji sudah menyerangnya dengan hebat.
Kong Ji marah sekali melihat See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio tewas, maka serangannya penuh dengan kemarahan dan dahsyat.
Ciang Le terpaksa menangkis dan terdengar suara nyaring ketika pedang di tangan Ciang Le tinggal sepotong, buntung terbabat Pak-kek-sin-kiam!
Akan tetapi Hwa I Enghiong yang gagah perkasa tidak menjadi gentar.
Dengan pedang sepotong ia masih lihai sekali dan Kong Ji tetap, tak dapat merobohkannya, hanya mampu mendesak makin hebat.
"Hui Lian, larilah...!"
Kembali Ciang Le berseru.
Dalam keadaan seperti itu, ia hanya ingat keselamatan anaknya.
Akan tetapi, mana Hui Lian mau melarikan diri?
ia marah sekali melihat Ibunya tewas, maka dengan penuh kegemasan ia menerjang Kwan Kok Sun, tidak peduli lagi akan bahaya ular di tangan pemuda gundul itu.
Hong Kin membantunya dan kini Kwan Kok Sun dikeroyok dua.
Akan tetapi, beberapa orang perwira busu segera maju membantu Kwan Kok Sun sehingga lagi-lagi pihak Hui Lian yang terkurung dan terdesak hebat.
Gelombang serbuan dari pasukan Kaisar yang demikian banyaknya tak tertahankan lagi.
Para tamu yang membantu Ciang Le kini tinggal dua puluh lebih, yang lain sudah tewas.
Banjir darah di rumah Hwa l Enghtong.
Ciang Le sendiri makin lama makin terdesak oleh Kong Ji yang benar-benar amat lihai itu, apa lagi sekarang pedang di tangan Ciang Le tinggal sepotong.
Tiba-tiba barisan Kaisar menjadi kacau balau.
Terjadi pertempuran hebat di luar gedung.
Ternyata bala bantuan datang, yakni Wan Sin Hong dan dua ratus orang kawannya.
Wan Sin Hong sendiri menggunakan kepandaiannya menerobos ke dalam.
"Suheng, jangan khawatir, siauwte datang membantu!"
Seru Sin Hong.
Melthat kedatangan pemuda ani, Ciang Le, Hui Lian dan Hong Kin besar semangatnya dan melakukan perlawanan lebih hebat lagi.
Akan tetapi Ciang Le berpikir lain.
Kalau perlawanan dilanjutkan tetap saja pihaknya akan kalah biarpun mendapat bantuan Sin Hong, karena kalah banyak jumlah orangnya.
"Sin Hong, tolonglah... bawa lari Hui Lian dan Hong Kin... selamatkan mereka...."
Kata-kata ini disambung dengan keluhan.
Ketika bicara, perhattan Ciang Le agak terpecah dan pedang Pak-kek-sinkiam menembus dadanya, tusukan itu dilakukan oleh Kong Ji dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi.
"Jahanam keji...!"
Sin Hong menubruk dan mengirim pukulan dahsyat.
Kong Ji cepat mengelak dan membabat dengan pedangnya.
Sin Hong tidak menghentikan pukulannya dan tangan kiranya dikibaskan ke arah pedang Pak-kek-sin-kiam.
Pedang itu terkena hawa pukulan tangan kiri ini, menyeleweng ke samping.
Bukan main kagetnya hati Kong Ji.
Cepat ia menangkis karena pukulan tangan kanan Sin Hong masih mengancamnya.
"Dukk...."
Kong Ji menjerit dan tubuhnya terlempar sampai tiga tombak lebih.
ia jatuh tunggang langgang di tengah-tengah kawan-kawannya.
Sin Hong mengejar dengan melompati kepala orang orang yang menghadang di jalan.
Akan tetapi Kong Ji sudah lenyap dari situ dan telah menyelinap di antara pasukannya yang ratusan orang itu.
Sukar mencari orang dalam keadaan seperti itu.
Sin Hong mendongkol bukan main.
Kemudian ia teringat akan keadaan Hui Lian dan Hong Kin, dan teringat akan permintaan Ciang Le tadi.
Cepat ia melompat ke arah dua orang muda yang masih sibuk menghadapi desakan-desakan Kwan Kok Sun dan beberapa orang busu istana.
Sepasang pengantin baru ini tubuhnya sudah penuh luka ringan yang mengucurkan darah.
Sambil mengeluarkan suara keras Sin Hong menyerbu.
Kaki tangannya bergerak cepat dan enam orang busu terpelanting tak dapat bangun lagi.
Me!ihat munculnya pemuda ini, Kok Sun cepat menyelinap dan melenyapkan diri di antara para perajurit.
Sin Hong mengamuk terus.
Kembali enam orang pengeroyok roboh tak berdaya.
"Hui Lian, Hong Kin, mari kita lari!"
Seru Sin Hong, karena pihak lawan yang ratusan orang jumlahnya itu benar-benar sukar dilawan.
"Tidak! Biar aku mati bersama Ayah Ibu di sini, harus kubasmi semua jahanam. Mana keparat Kong Ji...!"
Hui Lian mengamuk terus, tidak menghiraukan bujukan Sin Hong. Melihat ini, Sin Hong menggerakkan tangan kanannya dan Hui Lian roboh lemas, tertotok jalan darahnya.
"Hong Kin, bawa isterimu ini. Mari kita lari dari selatan! Biar aku membuka jalan""
Sin Hong menyerbu ke depan dilkuti oleh Hong Kin yang sudah memondong tubuh isterinya.
Semua orang gentar menghadapi Sin Hong, karena siapa saja yang berani mencoba menghalangi majunya, pasti roboh atau terlempar jauh.
Setelah merobohkan puluhan orang perajurit, akhirnya Sin Hong berhasil mencapai pantai selatan Pulau Kim-bun-to.
"Sin Hong, kesini".!"
Terdengar seruan orang dalam gelap.
Penyerbuan pasukan Kaisar itu terjadi pada sore hari dan pertempuran hebat itu terjadi sampai hari menjadi malam!
Sin Hong mengenal suara gihunya.
Memang tadi, ketika ia menyerbu dengan dua ratus orang kawan-kawannya, Bu Tek sudah berjanji untuk menyiapkan perahu-perahu di sebelah selatan pulau.
ia segera mengeluarkan pekik nyaring dan tinggi yang mengatasi semua suara ribut-ribut.
Inilah pekik yang menjadi tanda bagi kawan-kawannya untuk mengundurkan diri.
ia engulangi pekik ini berkali-kali sambil menyuruh Hong Kin dan Hui Lian memasuki perahu dan kepada Hong Kin ia berkata.
"Hong Kin, berangkatlah kau dengan isterimu. Untuk sementara waktu kau harus pandai menyembunyikan diri, mengganti nama. Ini, bawalah untuk bekal. Selamat jalan!"
Sin Hong melemparkan sekantung uang emas kepada Hong Kin yang menerima ini dengan air mata berlinang.
Dapat dibayangkan betapa duka hati pengantin pria ini karena pesta pernikahannya ternyata berubah menjadi pesta maut yang mengorbakan nyawa kedua mertuanya, juga nyawa gurunya, dan banyak lagi orang-orang gagah lain yang membantu keluarga isterinya.
Akan tetapi ia maklum bahwa saat itu bukan waktunya untuk banyak ragu-ragu.
Cepat ia mendayung perahunya yang menghilang ditelan gelap malam di atas air laut.
Hanya seratus lebih kawan-kawan Sin Hong yang masih dapat melarikan diri bersama Sin Hong dan Lie Bu Tek, yang lain-lain tewas.
Pasukan Kaisar itu mengamuk terus, kini bahkan membunuhi penduduk pulau itu dan membakar semua rumah.
Pulau Kim-bun-to menjadi lautan api berkobar-kobar!
Dari atas perahunya, Sin Hong berdiri tegak memandang pulau yang telah menjadi lautan api itu.
ia mengerutkan gigi dan mengepal tinjunya.
"Liok Kong Ji kau yang menjadi gara-gara ini. Awas, akan tiba saatnya kau terjatuh ke dalam tanganku."
Kali ini, akibat perbuatan Kong Ji beratus orang memenuhi kematiannya dalam sebuah pulau yang tadinya makmur berubah menjadi lautan api.
Di dekat Sin Hong, Lie Bu Tek duduk di dalam perahu sambil menutupi muka dengan tangan kirinya.
Kakek buntung ini tak dapat menahan kedukaan hatinya menyaksikan kehancuran sahabat karibnya Go Ciang Le dan ia telah menangis tersedu-sedu.
"Harap Gihu jangan terlampau berduka,"
Sin Hong menghiburnya.
"Suheng dan keluarganya tewas sebagai ksatria-ksatria gagah perkasa. Dan Hui Lian bersama suaminva telah dapat meloloskan diri, setidaknya keturunan Suheng masih ada yang selamat. Di samping itu, kita pun berhasil menewaskan See-thian Tok-ong dan isterinya dan banyak pula serdadu Kaisar yang lain, Kaisar yang begitu mudah ditipu oleh manusia macam Liok Kong Ji!"
Kaisar merasa girang sekali mendengar laporan Liok Kong Ji tentang berhasilnya penyerangan ke Kim-bun-to.
Saking girangnya Kaisar lalu menaikkan pangkat Liok Kong Ji.
Juga Kaisar menyatakan kecewa dan menyesalnya bahwa See-thian Tok-ong dan isterinya tewas dalam menjalankan tugas itu.
Padahal diam-diam Kaisar merasa gembira sekali.
Karena Kaisar pada hakekatnya tidak suka melihat See-thian Tok-ong.
Di belakang See-thian Tok-ong, Kaisar mengatur siasat dengan kepala busu yang semenjak dahulu menjadi orang kepercayaannya, yaknt Liok to Mo-ong Wie It.
Memang menjadi rencana Wie It dan Kaisar untuk mengadu domba semua orang-orang gagah bangsa Han agar kedudukan kaisar tidak terancam.
Memang sebaiknya kalau dapat mempergunakan tenaga orang-orang gagah ini untuk menghalau musuh yang datang menyerang, akan tetapi kalau sekiranya mereka ini tak dapat dipergunakan tenaganya, lebih baik mereka ini dibasmi agar tidak merupakan ancaman.
Memang harus diakui bahwa orang-orang gagah di dunia kang-ouw ini selalu berbahaya sekali dan tidak mudah diduga dan diketahui sepak terjangnya.
Cara terbaik untuk membasmi mereka hanyalah cara mengadu domba antara mereka sendiri.
Cara, ini selain praktis, juga murah!
"Sayang sekali bahwa hamba tidak berhasil menawan atau membunuh pemberontak besar Wan Sin Hong, karena ia keburu melarikan diri, harap Hong-siang sudi mengumumkan kepada semua pembesar supaya mengejar penjahat-penjahat itu, yakni terutama sekali Wan Sin Hong, kedua Coa Hong Kin, dan ketiga Go Hui Lan."
Kaisar merasa suka kepada Kong Ji mendengar usul yang dianggapnya tepat ini, maka ia lalu memerintahkan seorang punggawa untuk mengerjakan usul itu, yakni mengirim berita kepada seluruh pembesar di daerah-daerah untuk mengumumkan pengejaran terhadap pemberontak-pemberontak itu.
Dengan hati puas Kong Ji lalu kembali ke tempat tinggalnya, yakni bangunan indah di kompleks bangunan sebelah kiri, dekat tempat tinggal Liok to Mo-ong Wie It.
Gedung ini adalah hadiah dari Kaisar, sebuah gedung indah berikut perabot rumah lengkap dan pelayan-pelayan cantik!
Akan tetapi, Kong Ji adalah seorang yang selalu tidak pernah merasa puas akan keadaan dirinya.
Sesungguhnya, kedudukan yang sekarang ia peroleh adalah kedudukan yang tinggi, namun baginya tidak ada artinya sama sekali, bahkan menambah nafsunya untuk mencapai kedudukan yang paling tinggi.
Oleh karena itu, diam-diam ia telah mengadakan hubungan dengan orang orang yang menjadi mata-mata dari Temu Cin yang banyak berkeliaran di dalam kota raja.
Kong Ji memiliki kecerdikan luar biasa, dan ia mempunyai banyak sekali kaki tangan maka mudah baginya untuk menghubungi orang-orang kepercayaan temu Cin ini.
Ketika ia tiba di gedungnya, pelayan-pelayan menyambutnya dan seorang di antaranya melaporkan bahwa semenjak tadi ada seorang tamu telah menunggunya.
"Siapa dia?"
Tanya Kong Ji.
"Menurut pengakuannya, dia saudagar kuda dan Pak-couw yang akan menawarkan kuda yang baik, Tai-ciangkun,"
Kata pelayan itu yang menyebut Tai-ciangkun (Panglima Besar) kepada Kong Ji.
Mendengar ini, Kong Ji cepat menuju ke kamar tamu.
Seorang laki laki pendek gemuk, berpakaian mentereng, usianya setengah tua, telah menantinya di situ.
Laki-laki ini segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepadanya.
Untuk sejenak Kong Ji mernandang tajam, mengingat-ingat di mana kiranya ia pernah melihat muka ini.
Akhirnya ia teringat bahwa orang ini adalah seorang di antara panglima Temu Cin yang dahulu pernah dijumpainya.
"Hm, kau saudagar kuda yang hendak menawarkan kuda kepadaku? Bagus, kalau kudamu memang baik, kau akan kuberi hadiah. sebaliknya kalau kudamu jelek, kau mengganggu waktuku dan akan kuberi hukuman!"
Orang itu tersenyum.
"Kuda baik sekali, Tai-ciangkun!"
Kong Ji lalu membawanya ke dalam ruangan sebelah dalam untuk bercakap-cakap.
Setelah mereka berada berdua saja, sikap Kong Ji berubah.
Sekali bergerak ia sudah menangkap pundak orang itu dan kata-katanya mendesis dari bibirnya.
"Apa niatmu datang di sini? Sekali saja kau membuka mulut busuk, nyawamu akan rnelayang!"
Orang itu nampak ketakutan.
"Tidak, Talhiap. Hamba datang membawa surat dari pemimpin hamba, Khan Muda yang besar!"
Kong Ji melepaskan pegangannya.
"Apa maksudmu? Temu Cin mengutusmu?"
Orang itu meringis-ringis dan memijit-mijit pundaknya yang sakit.
"Bukankah Taihiap yang mengadakan hubungan dengan mata-mata kami? Nah, pemimpin kami telah menerima laporan tentang kedudukan Taihiap di sini, oleh karena itu Khan Muda yang besar telah mengutus hamba menyerahkan tanda persahabatan ini berikut surat pengantarnya."
Orang itu mengeluarkan dari sakunya sebuah bungkusan kuning dan dengan jari tangan penuh gairah dibukanya bungkusan ini, isinya ternyata sebuah patung kuda terbuat dari batu giok yang luarbiasa indahnya.
Tubuh patung itu terbuat dari batu giok putih dan kebiru-biruan, di bagian ekor dan kepalanya, sedangkan sepasang mata patung itu terbuat dari batu giok merah.
Indah bukan main.
Kong ji memandang kagum dan matanya yang tajam dapat menaksir harga puluhan ribu tail untuk benda ini.
Kemudian ia membawa suratnya.
Suratnya itu panjang lebar dan isinya mengajak ia bersekutu dan mengharapkan bantuannya dari dalam apabila Temu Cin bergerak menyerang Kerajaan Kin.
Tentu saja di situ dijanjikan pangkat yang tinggi bahkan Temu Cin tanpa ragu-ragu hendak mengangkat Kong Ji menjadi raja muda!
Dengan surat ini Kong Ji melihat anak tangga yang akan membawa naik dalam kedudukan yang akan mendekatkan ia pada cita-citanya yakni menduduki pangkat yang paling tinggi.
Dengan wajah berseri ia lalu masuk ke dalam, lalu memasuki sebuah kamar di mana terdapat seorang laki-laki muda yang sedang melatih diri bersilat dengan cepat.
Kong Ji memandang sebentar mengangguk-angguk.
"Bagus, kau sudah ada kemajuan, lanjutkan sebaik-baiknya,"
Katanya.
Laki-laki itu terus saja bersilat, nampaknya girang mendengar pujian ini.
Selanjutnya Kong Ji tidak mempedulikannya dan mencari alat tulis, menulis surat balasan untuk Temu Cin yang maksudnya menerima baik persekutuan minta Temu Cin bersabar dan menanti saat yang baik.
Kelak Kong Ji akan memberi kabar kalau saat baik itu sudah tiba.
Tak lama kemudian Kong Ji keluar kembali dan menutupkan pintu kamar di mana orang laki-laki itu masih terus berlatih menemui kembali tamunya dan menyerahkan surat balasan kepadanya.
"Sampaikan terima kasihku kepada Temu Cin Taijin,"
Katanya, kemudian disambungnya cepat-cepat.
"Dan hati-hatilah jangan sampai ada yang melihat surat ini."
Orang nu mengangguk-angguk dan tersenyum, kemudian keluar diantar oleh Kong Ji sampai di ruangan depan.
"Tai-ciangkun, terima kasih atas penerimaan yang baik ini. Akan hamba carikan pesanan Ciangkun,"
Kata utusan Mongol itu, kemudian sambil membongkok-bongkok ia keluar dari situ.
Para pelayan yang melihatnya pasti akan mengira bahwa benar-benar ia seorang saudagar kuda karena memang mereka semua tahu bahwa panglima muda yang baru ini sedang mencari kuda yang baik dan kuda yang sudah tersedia di situ semua dicela dan dinyatakan kurang baik.
Adapun Kong Ji setelah melihat mata-mata Mongol itu pergi, rnerasa tidak enak hati.
Orang itu membawa suratnya kepada Temu Cin.
Kalau ada orang melihat surat itu...
celakalah dia, semua cita-citanya akan hancur.
Padahal ia sedang mendapat berita dari kaki tangannya yang ia angkat menjadi pembantu-pembantunya di lingkungan istana, bahwa Gak Soan Li berada di istana Pangeran Wanyen Ci Lun.
Ia makin tidak senang kepada pangeran itu dan menganggap pangeran itu sebagai sebuah penghalang yang berbahaya dan yang harus cepat-cepat disingkirkan.
Sekarang, selagi ia belum sempat menjalankan siasatnya menyingkirkan Pangeran Wanyen Ci Lun, ia harus hati-hati, harus dapat mengambil hati Kaisar dan sedapat mungkin mencari kesalahan Pangeran Wanyen Ci Lun.
Akan tetapi tiba-tiba muncul mata-mata itu dan kalau sampai Pangeran Wanyen Ci Lun mengetahui tentang suratnya kepada Temu Cin.!
Makin tidak enak hati Kong Ji, maka ia pun lalu keluar dari gedungnya.
Maksudnya ia hendak menyusul dan mengawani mata-mata itu sampai keluar dari kota raja dengan aman.
Akan tetapi hati Kong Ji berdebar cemas ketika melihat ke depan, mata-mata itu tengah bicara dengan Pangeran Wanyen Ci Lun!
Entah bagaimana pangeran itu tiba-tiba saja muncul di satu tikungan dan menegur mata-mata itu.
"Siapakah kau? Aku belum pernah melihatmu!"
Mata-mata itu bukan seorang bodoh ia dapat melihat bahwa yang menegurnya tentu seorang bangsawan tinggi, maka cepat ia memberi hormat dan berkata.
"Hamba Tan Sam pedagang kuda, baru saja hamba mendapat pesanan kuda tunggangan dari utara yang berbulu putih dipesan olah Tai-ciangkun yang muda...."
Ia menoleh dan menuding ke arah gedung Kong Ji, kemudian ia melihat Kong Ji, maka disambungnya kata-katanya.
"Ah, kebetulan sekali. Tai-ciangkun keluar menuju ke sini. Beliau yang memesan kuda."
Pangeran Wanyen Ci Lun tersenyum ketika Kong Ji sudah tiba di situ, kata nya.
"Liok Kong Ji Sicu memesan kuda tunggangan yang baik, kebetulan sekali aku pun membutuhkan seekor. Tan Sam,"
Mari kau ikut aku ke gedungku, kaulihat-lihat semua kudaku di situ dan bicara tentang pesanan kuda.
Aku ingin mendapatkan kuda utara yang baik, akan tetapi yang lebih baik daripada semua kudaku yang berada di sini."
Mata-mata itu ragu-ragu. Kong Ji berubah air mukanya.
"Siauw-ongya, aku masih belum percaya bentul kepadanya. Kebanyakan tukang kuda suka membohong. Biar dia buktikan dulu kuda yang kupesan, kalau baik, biarlah aku mengalah dan memberikan kuda itu kepada Siauwongya!"
Kata Kong Ji.
"Liok sicu, mengapa begitu? Tak usah repot-repot, biar aku memesan sendiri kepadanya. Tan Sam, mari ikut aku. Eh, mengapa kau ragu-ragu? Bukankah kau tukang kuda dan akan melayani pesanan siapapun juga"? Aku berani membayar mahal daripada janji Liok-sicu ini kepadamu!"
"Ampunkan hamba, Siauw-ongya. Biarlah lain kali hamba akan menghadap dan membawa beberapa ekor kuda terbaik. Sekarang hamba tidak ada waktu lagi, dan harus pergi cepat untuk mencarikan kuda pesanan Liok-ciangkun."
"Kau tukang kuda berani membantah perintahku?"
Wanyen Ci Lun membentak dan mengulur tangan kanannya untuk menangkap pundak Tan Sam.
Akan tetapi Tan Sam sudah lebih dulu, menjatuhkan diri dengan gerakan yang gesit sekali selanjutnya Tan Sam hendak melarikan diri.
"Berhenti kau!"
Wanyen Ci Lun melangkah maju dan menyerang dengan tangan mencengkeram.
"Siauw-ongya, untuk apa bertengkar dengan tukang kuda yang hina!"
Kata Kong Ji dan pemuda ini diam-di am mengerahkan tenaga Tin-san-kang, memukul ke arah lengan tangan Wanyen Ci Lun yang mencengkeram pundak Tan Sam.
Akan tetapi alangkah heran hati Kong Ji ketika melihat pangeran itu masih melanjutkan cengkeramannya dan di lain saat Tan Sam sudah kena dicengkeram pundaknya sehingga mata-mata itu mengeluh kesakitan dengan muka pucat, sedangkan Pangeran Wanyen Ci Lun seakan-akan tidak merasa apa-apa dan seolah-olah Pukulan Tin-san-kang dari Kong Ji tadi sama sekali tidak pernah ada"
Wanyen Ci Lun menyeret Tan Sam menuju ke gedungnya, dan Kong Ji berdiri dengan muka pucat sekali.
Bagaimana Wanyen Ci Lun dapat menahan Pukulan Tin-san-kangnya tanpa merasa sedikitpun juga?
Kong Ji mengayun tangannya itu ke bawah dengan tenaga Tin-san-kang dan...
"Brakk!"
Sebuah batu hancur terkena Pukulan Tin-san-kang! "Apakah aku sedang mimpi...?"
Ia berbisik kepada diri sendiri lalu cepat-cepat ia berlari ke gedungnya.
Betulkah Kong Ji sedang mimpi?
sama sekali tidak.
Kejadian tadi sama sekali tidak ada keanehannya, karena Pangeran Wanyen Ci Lun yang tadi kuat menerima pukulan Tin-san-kang sebetulnya adalah pangeran palsu.
yakni Wan Sin Hong sendiri"
Dalam pengejarannya terhadap Kong Ji, Sin Hong telah menyelundup kedalam kota raja dan bersembunyi di gedung Wanyen Ci Lun.
Biarpun di mana-mana telah diumumkan pengejaran dan penangkapan baginya, namun di istana ini ia malah aman!
Dengan pakaian yang sama dengan pakaian Pageran Wanyen Ci Lun, ia bebas pula mengawasi gerak-gerik Liok Kong Ji.
Di dalam sebuah kamar besar, di mana berkumpul Pangeran Wanyen Ci Lun, Lie Bu Tek, Go Hui Lan dan Coa Hong Kin yang juga telah menyelundup mencari perlindungan dan keamanan di gedung Pangeran Wanyen Ci Lun, Sin Hong melempar tubuh pendek gemuk dari Tan Sam.
Tan Sam berlutut dan tidak berani berkutik lagi.
Sin Hong memperlihatkan surat yang sudah dirampasnya dari saku baju Tan Sam, yakni surat dari Liok Kong Ji kepada Temu Cin.
Membaca surat ini, muka Wanyen Ci Lun menjadi merah padam.
"Keparat besar Liok Kong Ji itu. Biar kubawa surat ini kepada Kaisar agar ia ditangkap dan dihukum!"
Akan tetapi Sin Hong mencegahnya.
"Nanti dulu Siauw-ongya. Tak perlu tergesa-gesa, karena hal itu akan percuma saja. Sebelum Siauw-ongya menyerahkan surat kepada Hongsiang tentu penjahat itu akan turun tangan lebih dulu. Apa lagi ia mengira hamba tadi sebagai Siauw-ongya, maka dengan pancingan mata-mata hina ini, dia pasti akan datang untuk merampas kembali suratnya. Nah, biarlah kita pancing dia datang dan kalau dia muncul, biar hamba yang akan menangkapnya. Dengan demikian, tidak saja akan aman bagi Siauw-ongya, juga mudah bagi kita untuk mendakwanya di depan Kaisar. Harus diingat bahwa mungkin sekali di dalam istana ini, kaki tangan Kong Ji sudah banyak sekali. Kita harus berlaku rahasia dan berhati-hati."
Wanyen Ci Lun menyetujui usul ini, maka mata-mata itu setelah ditotok lalu dilempar ke dalam kamar tahanan dan sambil duduk di atas kursi, Sin Hong dengan pakaian seperti Wanyen Ci Lun menjaganya.
Sengaja tidak dilakukan penjagaan di luar kamar itu, dan tubuh Tan Sam diikat pada tiang.
Malam itu sunyi, Para pengawal istana yang melakukan perondaan, selalu yang dijaga hanya sekeliling tembok istana saja, karena siapakah yang akan meronda ke dalam lingkungan istana?
Yang tinggal di situ hanya para pangeran dan pembesar yang dipercaya penuh.
Akan tetapi pada malam hari itu, beberapa belas bayangan hitam bergerak-gerak cepat sekali dan ringan laksana Iblis-Iblis malam gentayangan di atas genteng-genteng rumah yang tinggi-tinggi dan besar.
Mereka mi adalah Liok Kong Ji dan sebelas orang kawan-kawannya yang menjadi kaki tangannya yang pada siang hannya bekerja sebagai pelayan-pelayannya, bahkan ada yang menyelundup menjadi busu!
Tentu saja mereka ini dapat bekerja di sini atas petunjuk Liok Kong Ji yang sudah mendapat kedudukan dan kepercayaan dari Kaisar.
Sebelum berangkat, Kong Ji sudah mengatur siasat sehingga kini tanpa banyak suara lagi dua belas orang ini berpencar, Kong Ji bersama dua orang menuju ke istana Wanyen Ci Lun melalui belakang, delapan orang lain dipecah dua, empat orang masing-masing dari kanan kiri dan seorang yang gerakannya gesit, masih muda dan pakaiannya sama dengan Kong Ji bergerak seorang diri menyelinap di antara pohon-pohon menghampiri rumah gedung itu dari bawah.
Di dalam kamar tahanan, Tan Sam masih diikat pada tiang di pojok kamar itu.
Wan Sin Hong masih duduk di kursi, menyamar sebagai Pangeran Wanyen Ci Lun.
Biarpun gerakan Kong Ji dan dua orang kawannya amat hati-hati dan perlahan, namun mereka tidak terlepas dari pendengaran Sin Hong yang amat tajam.
"Tan Sam, kau masih juga tidak mau mengaku?"
Sin Hong tiba-tiba membentak Tan Sam sambil bangkit dari kursinya menghampiri tawanan itu.
"Ceritakan, rencana apalagi yang diatur oleh Liok Kong Ji!"
Akan tetapi, Tan Sam telah ditotok urat gagunya, mana dapat menjawab?
Memang maksud Sin Hong bukan minta jawaban, hanya untuk menipu Kong Ji agar ia benar-benar disangka Wanyen Ci Lun.
Tiba-tiba dari atas genteng terdengar sedikit suara, disusul menyambarnya sinar hitam yang membuat pelita di kamar itu bergoyang-goyang apinya dan di lain saat, leher Tan Sam menjadi lemas karena beberapa batang jarum hitam telah menembusi leher dan dadanya, membuat ia tewas seketika itu juga!
Sin Hong pura-pura kaget dan melangkah mundur sampai tiga tindak dan matanya terbelalak memandang tiga bayangan orang yang melayang turun dengan gerakan seringan burung-burung walet.
Kong Ji yang paling dulu turun sudah mencabut Pak-kek-sin-kiam dan dengan pedang ini ia menodong dada Sin Hong.
"Pangeran Wanyen Ci Lun, kembalikan suratku yang kautemukan di dalam saku Tan Sam!". ancamnya dengan suara perlahan, ujung pedang Pak-kek-sin-kiam sudah menyentuh kulit dada Sin Hong. Perbuatan ini saja sudah menjadi bukti bahwa Kong Ji sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya bukan Wanyen Ci Lun, melainkan Wan Sin Hong. Kalau ia tahu bahwa yang dthadapinya itu Sin Hong, belum tentu ia berani turun tangan. Atau kalaupun ia berani turun, sudah pasti sekali ia tidak berani menodong Sin Hong dengan Pak-kek-sin-kiam seperti itu. Perbuatan ini berbahaya sekali dan bukan merupakan pasangan ilmu silat yang baik. Sin Hong melihat kesempatan amat baik ini, mana mau menyia-nyiakannya? Dengan gerakan yang cepat sekali, tubuhnya miring sehingga ujung pedang meleset dari dadanya, tangan kiri memukul pangkal lengan kanan Kong Ji, tangan kanan merampas pedang dan kaki menendang lutut! Kong Ji kaget setengah mati. Gerakan yang dilakukan oleh Sin Hong adalah gerakan ilmu silat yang tinggi dan tidak disangkanya sama sekali pangeran yang ditodongnya itu dapat melakukan hal ini. Ta masih belum menyangka jelek, maka sambil tersenyum mengejek ia hanya mengelak dari tendangan lawan dan pukulan tangan kiri pada pangkal lengannya di biarkan saja. Akibatnya hebat sekali, terdengar bunyi "krak!"
Dan tulang lengannya telah patah-patah dan di lain saat Pak-kek-sin-kiam sudah berpindah tangan! "Celaka...!"
Kong Ji melompat ke belakang sambil meringis karena lengan kanannya sakit tak dapat digerakkan lagi.
Otomatis tangan kirinya menyambit dengan beberapa Hek-tok-ciam seperti yang tadi telah ia lakukan untuk membunuh Tan Sam.
Akan tetapi, sambil tersenyum mengejek Sin Hong menyampok jarum-jarum itu hanya dengan kebutan lengan baju tangan kiranya.
"Kong Ji apakah kau sudah buta tidak mengenal lagi padaku?"
Katanya mengejek.
"Kau... kau Sin Hong...."
Kata-kata Kong Ji ini menyatakan putus asa.
Pada saat itu, dua orang kawannya yang melihat Kong Ji dilukai, dengan berbareng lalu menerjang maju dengan golok mereka.
Sin Hong tidak mau membuang waktu melayani segala macam kaki tangan Kong Ji.
Yang ia butuhkan adalah Kong Ji, mati atau hidup.
Maka ia cepat memutar Pak-kek-sin-kiam dan golok itu menjadi putus kedua-duanya!
Akan tetapi dua orang itu bukanlah orang-orang biasa saja, melainkan anggauta-anggauta Twa-to Bu-pai yang sudah tinggi ilmu silatnya.
Mereka cepat menggulingkan diri dan sambil bergulingan mereka menyerang Sin Hong dengan golok buntung mereka!
Serangan-serangan ini berbahaya juga, terpaksa Sin Hong melayani mereka dalam lima jurus barulah ia berhasil menusuk paha mereka, membuat mereka lumpuh tak berdaya.
Akan tetapi ketika ia mengangkat muka, ternyata Liok Kong Ji sudah lenyap dari situ!
Sin Hong melompat keluar dari kamar tahanan itu, akan tetapi keadaan amat gelap.
Kong Ji ternyata telah memadamkan semua penerangan di luar gedung dan penjahat itu tidak kelihatan lagi bayangannya.
Tiba-tiba Sin Hong tertarik oleh suara orang-orang bertempur di ruangan tengah.
Cepat ia menyerbu kesitu dan melihat Lie Bu Tek, Hui Lian dan Hong Kin tengah bertepur dikeroyok oleh delapan orang yang kepandaiannya tinggi.
Sin Hong menyerbu dengan pedangnya dan sebentar saja dua orang pengeroyok telah roboh.
Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dari suara wanita di sebelah dalam gedung.
"Gihu, Hui Lian dan Hong Kin, bantu sebelah dalam, biar aku menundukkan anjing-anjing ini!"
Sin Hong berseru sambil memutar pedangnya yang segera mengurung enam orang pengeroyok itu dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk balas menyerang atau melarikan.
Seorang demi seorang roboh bagaikan rumput dibabat.
Setiap kali senjata mereka bertemu dengan Pak-keksin-kiam, tentu patah-patah dan tubuh mereka menyusul terluka oleh pedang pusaka itu.
Sementara itu, Hui Lian dan Hong Kin, dan Lie Bu Tek cepat berlari ke dalam.
Hui Lian tadi mengenal suara Soan Li yang memaki-maki, maka cepat ia lari ke kamar Soan Li yang sudah diketahui di mana letaknya.
Benar saja, dari kamar itu terdengar suara pedang berkali-kali, tanda bahwa di dalam kamar itu terdapat orang yang sedang bertempur.
"Jahanam Liok Kong Ji, mampuslah kau!"
Terdengar suara Soan Li memaki marah.
Tiga orang ini kaget sekali mendengar suara Soan Li cepat mereka menerjang pintu dan melompat masuk.
Apa yang mereka lihat?
Pemandangan yang mengherankan juga menggembirakan mereka.
Menyusul bentakannya tadi, ternyata Soan Li yang sedang bertempur melawan Liok Kong Ji, telah berhasil menusuk tenggorokan musuh besar itu sehingga pedangnya menembusi leher Liok Kong Ji yang menggeletak mandi darah dan tewas di saat itu juga.
Yang mengherankan tiga orang ini adalah bagaimana Soan Li mengalahkan Kong Ji yang terkenal pandai itu, akan tetapi yang menggembirakan adalah karena Kong Ji manusia iblis itu telah tewas.
Soan Li membanting pedangnya, menutupi mukanya dan menangis terisak-isak.
"Aku sudah dapat membunuhnya... aku sudah berhasil membunuh si jahanam... tinggal anaknya, anak durhaka itu harus kubunuh pula...!"
Hui Lian segera memeluk sucinya itu yang kemudian roboh pingsan.
Agaknya pertempuran tadi terjadi lama juga karena tubuh sucinya penuh peluh dan nampaknya lelah sekali.
Selain kelelahan tubuh, juga rupanya Soan Li menerima pukulan batin yang hebat, maka ia roboh pingsan.
Pada saat itu.
Sin Hong dan Wanyen Ci Lun muncul.
Pangeran ini memang oleh Sin Hong diminta jangan keluar sebelum orang-orang jahat itu pergi, agar kehadirannya di rumah pangeran itu tidak ketahuan orang.
Yang paling heran melihat Kong Ji menggeletak tidak bernyawa di kamar Soan Li adalah Sin Hong.
Ta melongo beberapa lama, kemudian ia menghampiri mayat Kong Ji, membungkuk dan meraba lengan kanan mayat itu.
ia berdiri lagi, menarik napas panjang dan sambil menelan ludah tiga kali ia berkata perlahan.
"Liok Kong Ji manusia jahanair telah mampus!"
Padahal di dalam hatinya, Sin Hong tahu betul, bahwa orang yang menggeletak ini, biarpun air muka dan bentuk tubuhnya sama benar dengan Kong Ji, sebetulnya bukanlah Liok Kong Ji yang sesungguhnya karena Kong Ji yang aseli telah patah tulang lengan kanannya, dan Kong Ji yang aseli biarpun telah patah lengannya, kiranya tak mungkin akan dapat dikalahkan oleh Gak Soan Li.
Akan tetapi Sin Hong maklum bahwa dengan kematian Kong Ji, Soan Li akan dapat "hidup"
Kembali, akan merasa puas dan selanjutnya dapat hidup bahagia bersarna Wanyen Ci Lun yang mencintanya.
Akan tetapi tadi ia mendengar seruan Soan Li tentang anak yang hendak dibunuhnya, maka ia mendekati Hui Lian dan bertanya.
"Bagarmanakah dengan anak itu?"
"Anak itu selamat, berhasil dibawa lari oleh inang pengasuhnya dalam sebuah perahu dan sekarang berada di tempat aman. Anak itu akan kami asuh, kami anggap sebagai anak kami sendiri,"
Kata Hui Lian dengan terharu.
"Bagus,"
Kata Wanyen Ci Lun setelah menyuruh pelayan membawa Soan Li ke dalam kamar lain yang bersih.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu itu, Go-lihiap. Tentang Soan Li, jangan khawatir, selama ia suka tinggal di sini, aku akan melindunginya dan aku akan mendatangkan bahagia dalam hidupnya. Adapun tentang kalian bertiga dengan Wan-taihiap, aku akan menghadap Kaisar dan mintakan supaya ancaman terhadap kalian dihapuskan mengingat bahwa kalian yang telah berhasil membasmi pengkhlanat Liok Kong Ji yang mempunyai mat bersekutu dengan musuh menggulingkan kerajaan."
Demikianlah sambil memperhatikan surat bukti tulisan Liok Kong Ji kepada Temu Cin, Pangeran Wanyen Ci Lun berhasil meyakinkan kebersihan hati Wan Sin Hong.
Coa Hui Lian clan Coa Hong Kin dan membebaskannya, bahkan mengirim sejumlah uang untuk membangun kembali Pulau Kim-bun-to yang telah rusak.
Hui Lian dan suaminya kembali ke pulau itu untuk membangun kembali tempat tinggal mereka dan membawa anak laki-laki dari Soan Li yang mereka anggap sebagai anak sendiri.
Adapun Sin Hong tahu bahwa sesungguhnya Liok Kong Ji masih belum meninggal, diam-diam meninggalkan kota raja, dan biarpun ia tidak secara terang-terangan mencari Kong Ji yang ia sendiri sudah mengabarkan tewas namun diam-diam ia selalu memasang telinga untuk melihat kalau-kalau manusia iblis itu muncul kembali.
Di samping itu, Sin Hong mulai aktip dengan tugas yang ia pimpin, yakni menjadi bengcu dan semua orang kung-ouw, meliputi seluruh partai di dunia persilatan.
Pemuda ini pergi ke Luliang-san dan bertempat tinggal di sana sambil memperdalam ilmu pedangnya.
Setelah Pak-kek-sin-kiam terjatuh kedalam tangannya, kini ia dapat memperdalam ilmu pedangnya, karena memang ilmu pedang yang ia warisi dari mendiang Pak Kek Siansu, hanya dapat sempuma kalau dimainkan dengan pedang Pak kek-sin-kiam.
Sementara itu, di daerah utara, nampak seorang pemuda berjalan di jalan raya yang sunyi, menuju ke utara.
Pemuda ini tinggi kurus bermuka pucat dan mukanya yang agak muram itu mencerminkan kekesalan hati.
Kadang-kadang ia mengerutkan giginya dan berbisiklah ia.
"Awas kau Sin Hong! Awas kau Kerajaan Cin! Akan datang masanya Liok Kong Ji kemball membalas dendam!"
Memang, pemuda nu bukan lain adalah Liok Kong Ji yang sebenarnya memang tidak mati.
Orang yang mati terbunuh oleh Soan Li adalah Kwee Tiong Sek seorang penjahat muda yang mempunyai muka dan bentuk tubuh sama dengan Kong Ji.
Sebenarnya bukan sama betul, hanya karena pandainya Kong Ji mencari ahli untuk merubah sedikit bentuk muka dan rambut Kwee Tiong Sek, maka memang sepintas lalu saja orang takkan dapat membedakan.
Kong Ji memang sengaja menggunakan Kwee Tiong Sek untuk menjaga-jaga kalau ia gagal dalam siasat dan rencananya, ia dapat menghilang dan meninggalkan Kwee Tiong Sek sebagai gantinya.
Memang siasatnya ini juga berhasil, karena sekarang di dunia ini, kecuali Sin Hong, tidak ada yang tahu bahwa Liok Kong Ji sebenarnya masih hidup dan sekarang sedang menuju ke utara dengan niat hendak mencari dan mengadakan hubungan dengan Temu Cin!
Dan sampai di sini tamatlah cerita PEDANG PENAKLUK IBLIS (Sin Kiam Hok Mo) ini, dan pengalaman selanjutnya dari tokoh di dalam cerita ini akan dapat dijumpai kembali dalam ceritera yang lebih hebat daripada Sin Kiam Hok Mo, ceritera yang sengaja dikarang oleh Asmaraman S.
Kho Ping Hoo sebagai lanjutan daripada Sin Kiam Hok Mo, yaitu ceritera serem indah memikat "SI TANGAN GELEDEK".
TAMAT hasil scan djvu oleh .
syauqy_arr kredit 4 him Convert & edit .
MCH Final edit & Ebook by .
Dewi KZ
Tiraikasih Website .
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pendekar Sakti 6
Baca Juga: Suling Emas 8