Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 1

Eps 1 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 LULIANG-SAN!

Nama Pegunungan Luliang-san ini amat terkenal.

Bagi rakyat jelata hanya terkenal sebagai pegunungan yang indah dan panjang, yang mempunyai banyak puncak tinggi menembus awan dan sukar didatangi orang.

Akan tetapi bagl orang-orang di dunia kang-ouw, nama Pegunungan Luliang-san lebih terkenal lagi.

Di pegunungan ini terjadi banyak hal-hal hebat yang takkan dapat mudah terlupa oleh tokoh-tokoh dunia persilatan.

Di sebuah puncak pegunungan ini pula terdapat makam dari dua orang detuk persilatan, dua orang kakak-beradik seperguruan yang tinggi ilmu silatnya, yang padasaat terakhir sebagai dua orang kakek tua renta saling bunuh.

Di pegunungan ini pula menjadi perebutan kaum rimba persilatan kitab dan pedang warisan kakek sakti itu.

Akhir-akhir ini Luliang-san menjad.

makin terkenal karena bengcu baru yang memimpin semua partai persilatan bertempat di puncak pegunungan itu.

Bengcu itu adalah Wan Sin Hong.

seorang pendekar gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya.

Pegunungan Luliang-san berderet-deret di sepanjang perbatasan Propisi Shensi sebelah timur, memisahkan Propinsi Shensi dari Propinsi Sansi.

terus ke utara sampal di perbatasan Mongol.

Bukit-bukit indah berjajar di sepanjang Sungai Huangho atau Sungai Kuning yang terkenal itu.

Karena pegunungan ini berada di lembah Sungai Huangho, maka tanahnya amat subur penuh tetumbuhan dan pohon besar.

Diantara puncak-puncak yang tinggi terdapat sebuah puncak yang menjulang menembus awan, puncak inilah yang amat terkenal karena di situlah adanya , dua buah makam yang terkenal itu, makam dari dua orang kakek sakti kakak beradik seperguruan yang bernama Pak Hong Siansu dan suhengnya Pak Kek Siansu.

Di puncak ini pula dahulu menjadi tempat pertapaan kakek sakti Pak Kek Siansu dan di sini terdapat bagian puncak yang disebut Jeng-in-thia (Ruang-an Awan Hijau).

Indah sekali tempat ini dan jarang terinjak kaki manusia biasa.

Agak ke bawah terdapat tiga makam dari Luliang Sam-lojin (Tiga Orang Tua dari Luliang-san).

Mereka ini adalah murid-murid Pak Kek Siansu yang tewas ketika orang-orang gagah memperebutkan kitab dan pedang wasiat peninggalan Pak Kek Siansu dan kesemuanya terjatuh ke dalam tangan Pendekar Besar Wan Sin Hong yang sekarang menjadi bengcu dan dipuja serta ditaati oleh seluruh dunia kang-ouw.

(Baca PEDANG PENAKLUK IBLIS).

Waktu itu musim dingin telah tiba.

Puncak Luliang-san diliputi hawa dingin yang luar biasa sekali.

Orang-orang biasa takkan kuat menahan serangan hawa dingin ini dan awan dingin merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau mencari korban.

Matahari tak dapat menembus halimun yang amat tebalnya, hanya setelah matahari naik tinggi kabut itu mulai menipis dan orang akan dapat melihat ke depan.

Setelah matahari naik tinggi barulah burung-burung dan binatang hutan berani ke luar.

Tanpa lindungan matahari, biarpun tubuh para binatang ini diselimuti oleh bulu tebal, tetap saja kabut dingin akan menembus dan membunuh mereka.

Apalagi di bagian puncak Jeng-in-thia itu!

Dalam musim panas sekalipun puncak ini selalu diliputi awan kehijauan yang dingin.

Dalam musim dingin seperti itu, tak tertahankan lagi, baik oleh orang-orang yang sudah terlatih dan memiliki hawa dalam tubuh yung kuat sekalipun.

Akan tetapi, pada saat sedingin itu, seorang laki-laki muda belum tiga puluh tahun usianya, duiduk berslla di depan gua Jeng-in--thia begitu asyik dia dalam semadhinya dan hawa yang perlahan-lahan ke luar dari lubang hidungnya merupakan uap putih, menimbulkan pemandangan yang menyeramkan karena ia kelihatan seperti bukan rnanusia melainkan seorang penjaga gunung itu.

Apalagi setelah dari ubun-ubun kepalanya juga mengepul uap putih ke atas!

Orang ini bukan lain adalah Wan Sin Hong, bengcu daripada sekalian partai persilatan, semuda ini sudah menjadi bencu dan dianggap sebagai pemimpin oleh tokoh-tokoh seluruh dunia persilatan benar-benar merupakan hal luar biasa sekali dan menjadi bukti betapa tingginya ilmu kepandaian laki-iaki muda ini Pada saat seperti itu, bengcu ini ternyata sedang berlatih Iweekang!

Semenjak pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam terjatuh di dalam tangannya dari seorang yang jahat seperti iblis bernama Liok Kong Ji (baca Pedang Penakluk Iblis), Wan Sin Hong memperdalam ilmu kepandaiannya berdasarkan pelajaran dalam kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang telah dibakarnya namun yang isinya telah pindah dalam ingatannya.

Kitab wasiat itu me-mang mengandung sari pelajaran ilmu silat yang hebat.

Juga di situ te dapat pelajaran ilmu Iweekang dan lain ilmukesaktian tinggi.

Wan Sin Hong sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang dan dalam hal ilmu pedang, kiranya sukar dicari kedua-nya yang memiliki tingkat setinggi ting-katnya pada masa itu.

Akan tetapi ia masih muda dan dalam hal ilmu Iweekang dan kesaktian lainnya, memerlukan latih-an yang tekun dan lama di samping pe-lajaran yang tepat dan baik.

Pelajaran ilmu Iweekang yang terdapat dalam kitab warisan Pak Kek Siansu bukan hanya luar biasa, bahkan ajaib sehingga dalam usia muda Sin Hong sudah menriiliki sinkang (hawa sakti dalam tubuh) yang luar biasa.

Apalagi selama empat lima tahun ini Wan Sin Hong melatih diri di Jeng-in-thia, puncak dari Luliang-san.

Lweekang yang ia pelajari terdiri dari dua bagian, yaitu bagian Yang (panas/aktip).

Melatih-nya harus di bawah panas terik matahari, atau di dekat api unggun, di tempat yang sepanas-panasnya.

Untuk melatih ini Sin Hong sengaja pergi ke daerah Mongol di.

hrtara dan berlatih di tengah gurun pasir yang panas Jnar biasa.

Dan sekarang bengcu ini tengah berlatih Iweekang bagian ke dua, yaitu bagian Im (dingin/ pasip) yang biasanya dilatih di tengah malam di puncakgunung pada saat "hawa sedingin-dinginnya.

Sekarang musin dingin telah tiba, maka puncak Jeng-in-thia itu merupakan tempat yang amat/ baik sekali untuk melatih Im-kang (tenaga Im).

Setelah matahari naik tinggi dan uap putih dari kepala dan hidungnya menipis tanda bahwa di iuar tidak begitu dingin lagi, Sin Hong menyudahi latihannya.

Selagi ia menggerakkan tubuh hendak bangkit, telinganya yang tajam itu men-dengar sesuatu dan matanya berkilat ke arah suara.

Dllihatnya bayangan, orang sedang mendatangi dari bawah puncak.

Setelah tiba di puncak, sekali meng-gerakkan kaki bayangan itu telah tiba di hadapannya.

Jarak yang dicapai oleh sekali lompatan ini tidak kurang dari lima tombak.

Melihat betapa kaki dan tangan orang itu hampir tidak kelihatan bergerak, dapat dibayangkan betapa ing-gi ilmu ginkang (meringankan tubuh) dari orang itu.

Sin Hong memandang tajam dan me-lihat seorang wanita muda dan cantik jelita berdiri di depannya.

Wanita ini merias wajahnya secara sederhana sekali.

Rambut yang hitam dan panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera kecil.

Akan tetapi pakaiannya cukup indah dan mewah.

Bajunya ber-kembang, di dadanya terdapat lukisan burung garuda.

Celananya terbuat dari-pada sutera halus berkembang pula.

Pa-kaian yang ringkas ini mencetak tubuh-nya dan membuat bentuk tubuhnya yang bagus nampak nyata.

Di pinggangnya tergantung pedang yang indah gagangnya, membuat ia ke-lihatan gagah sekali.

Wajahnya yang cantik nampak kemerahan, bibirnya ter-senyum akan tetapi sepasang alis di atas mata bintang itu terangkat tanda bahwa ia sedang tak senang hati.

"Wan Sin Hong, kau manusia sombong...!"

Inilah kata-kata pertama yang keluar dari bibir merah itu membuat Wan Sin Hong tersenyum.

"Hui-eng Niocu, kau masih belum berubah. Sama benar dengan beberapa tahun yang lalu!"

Wanita itu adalah Siok Li Hwa yang berjuluk Hui-eng Nipcu (Nona Garuda Terbang) dan menjadi ketua dari Per-kumpulan Hui-eng-pai yang berada di Go-bi-san.

Dia masih gadis, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun.

Li Hwa ada-lah seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi karena dia adalah ahli waris "

Tunggal dari Put-jiu Nio-nio, seorang nenek tokoh kang-ouw yang namanya pernah menggemparkan empat penjuru jagat. Bibir yang merah dan indah bentuknya itu tersenyum mengejek.

""Orang gagah memang tidak seharusnya berubah-ubah, tanda bahwa kulit sama dengan isi. Tidak seperti engkau, setelah menjadi bengcu, kau berubah sama sekali. Hai, Wan-bengcu (Ketua Wan), apa namanya orang yang tidak memegang teguh janjinya?"

Melihat gadis itu makin naik darah. Sin Hong memperlebar senyumnya.

"Namanya tentu saja orang pelupa atau seorang yang tidak boleh dipercaya."

"Sin Hong, kau termasuk golongan pertama atau ke dua?"

Kata-kata gadis ini dikeluarkan dengan suara penuh penjelasan.

"Ini..... hemmmm, entahlah, Niocu, Mungkin kedua-duanya."* ;

"Kau memang berubah banyak sekali semenjak menjadi bengcu. Kau pertapa muda yang pikun, mengapa menyebut Niocu kepadaku? Apa kau sudah lupa lagi siapa namaku? Kalau lupa, kuingatkan. Namaku Siok Li Hwa dan dahulu kau menyebutku cukup memanggil namaku saja. Atau kau sengaja mengubah sikap!"

"Aaah, aku lupa. Maafkahlah, karena sudah lama, aku lupa dan tentu saja aku? tadi tidak berani sembarangan menyebut namamu. Sekarang aku ingat, maafkan aku, Li Hwa."

"Sedikitnya kau masih mau mengubah kesalahan,"

Li Hwa mengomel dan tampak agak senang.

"Kau tadi mengaku mungkin kau pelupa dan tak boleh dipercaya. Memang kau pelupa dan pikun ini sudah terang. Akan tetapi apakah kau tak boleh dipercaya?"

"Agaknya begitulah, Li Hwa. Orang pelupa mana boleh dipercaya?"

Li Hwa membanting-banting kakinya.

"Sin Hong, apakah kau sengaja hendak mempermainkan aku? Lupakah akan janjimu dahulu bahwa kau pasti datang ke Go-bi-san mengunjungi aku? Mengapa sampai sekarang kau belum pernah datang? Dahulu aku memberi waktu setahun, dan aku telah menanti-nanti sampai bertahun-tahun. Sin Hong, kau benar-benar tak punya hati dan menyiksa aku "

Secara kejam sekali....."

Gadis ini tiba-tiba menjadi merah matanya, tanda bahwa air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.

Tentu saja Wan Sin Hong ingat akan semua itu, ingat bahwa dahulu memang ia berjanji hendak mengunjungi gadis itu di Go-bi-san.

Masih ingat ia betapa empat lima tahun yang lalu berjumpa untuk pertama kalinya dengan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa ini di puncak Ngo-heng-san di mana sedang diadakan pe-rebutan bengcu (baca Pedang Penakluk Iblis).

Di puncak itu Li Hwa selain menyatakan hendak menanti kunjungannya dan hendak mencari kalau selama setahun dia tidak juga datang mengunjungi, juga gadis ini dengan terus terang menyatakan cinta kasihnya!

Inilah sebetulnya yang memberatkan hatinya.

Kalau dahuJu Li Hwa tidak menyatakan cinta kasihnya, agaknya ia sudah mengunjungi gadis itu di Go-bi-san.

Akan tetapi pe-rasaan gadis itu terhadapnya membuat Sin Hong merasa bingung dan serba salah.

"Jangan kau marah, Li Hwa. Selama ini aku sibuk, banyak terjadi kekacauan di dunia kang-ouw dan aku sebagai bengcu tentu saja berkewajiban untuk membereskan semua ini."

"Aku pun tahu akan hal itu, Sin Hong, kau kira aku tidak tahu akan segala gerak-gerikmu selama ini? Kau t6lah meredakan pertikaian yang timbul antara Teng-san-pai dan Kong-thong-pai di An-wei, kau telah membantu Siauw-lim-pai menangkap muridnya yang murtad di daerah Shantung, kau telah memulihkan keamanan di sekitar Ta-pa-san, dan kau telah membantu membereskan keributan di Kun-lun-pai karena pemilihan Ketua. Akan tetapi aku juga tahu bahwa kau telah berjasa besar dalam menindih penyelewengan kaum liok-lim yang berpusat di kaki Go-bi-san. Kau sudah sampai da sana, sudah dekat tempat tinggalku, mengapa tidak juga berkunjung? Pendeknya, kau ini menjadi sombong, atau me mang sudah lupa kepadaku, atau barang kali sengaja kau menjauhkan diri karena kau..... benci kepadaku!"

Sekarang air mata itu tak dapat ditahan lagi, menitik turun ke pipi bertitik-titik.

Sin Hong melongo.

Bagaimana gadis ini benar-benar mengetahui segala sepak terjangnya selama ini?

Behar-benar seorang gadis luar biasa sekali!

"Bukan itu saja, Li Hwa.

Terus terang saja, selebihnya waktu selama ini kupergunakan untuk melatih Iweekang dan....."

"Tak perlu menjual omongan seperti tukang obat! Kau kira aku pun tidak tahu? Kau pergi ke daerah Mongol, berjemur di tengah gurun pasir. Ah, kukira kau sudah gila, tidak tahunya kau melatih Yang-kang yang luar biasa. Kau ingat untuk melakukan hal-hal baik, akan tetapi lupa untuk mengunjungi aku. Sin Hong, kau tahu bahwa aku cinta kepadamu. Di dunia ini hanya kau seorang yang kucinta, dan hanya satu kali saja dalam hidupku aku mencinta orang. Akan tetapi kau betul-betul tidak pnempunyai hati, kau kejam."

Kembali Sin Hong melengak.

Kalau gadis itu mengetahui akan semua yang ia lakukan selama ini, tidak bisa lain tentu gadis ini melakukan pengintaian, atau mungkin juga anggauta-anggauta Hui-eng-pai yang melakukan.

Demikian besar perhatian gadis ini terhadap dirinya sampai bertahun-tahun masih saja ingat dan mengejar-ngejar, membuktikan bahwa Cinta kasihnya bukan main-main!

Selagi Sin Hong berpikir-pikir untuk mencari alasan dan untuk memberi jawaban yang tepat dan tidak menyakitkan hati, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki orang mendatangi dari bawah puncak.

Biarpun yang berjalan itu memiliki kepandaian tinggi, namun Sin Hong yang sudah terlatih baik itu dapat mendengar datangnya tiga orang yang naik ke pun-cak, Sin Hong menjadi bingung.

Biasanya yang datang mengunjungi tentu tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama.

Kalau sampai mereka melihat dia sedang bercakap-cakap dengan Li Hwa, seorang gadis muda yang cantik, tentu mereka akan salah sangka dan mengira yang bukan-bukan.

"Li Hwa, ada orang datang. Harap kau masuk ke gua dulu."

"Aku tahu ada orang datang. Biar saja, aku tidak takut kepada mereka!"

Katanya gagah sambil meraba gagang pedangnya.

"Kalau yang datang orang jahat masih tidak mengapa, akan tetapi kalau mereka itu sahabat-sahabat kang-ouw, bukankah akan..... akan tidak baik.....?" -.

"Sin Hong, orang muda canggung se-perti engkau ini masih menjadi bengcu? Hemm, sungguh lucu. Kau takut apakah? Seorang gagah tidak akan rnundur se-tapak, tidak akan takut menghadapi apa pun juga asal dia berdiri di atas tee-benaran, Kita berdua tidak melakukan pelanggaran apa-apa mengapa kau takut-takut dan malu-malu?"

Sin Hong terpukul.

Memang ucapan gadis ini tepat sekali.

Diam-diam ia pun merasa aneh.

Kalau dia sudah tidak am-bil pusing tentang gadis ini, tidak mem-punyai perasaan apa-apa terhadap gadis ini, mengapa kehadirannya membikin dia merasa malu kepada orang lain?

Sementara itu, dari bawah puncak berkelebat tiga bayangan orang dan di lain saat, tiga orang aneh telah berdiri menghadapi Sin Hong dan Li Hwa.

Sin Hong kaget bukan main melihat orang-orang ini.

Melihat cara mereka naik ke puncak membuktikan kelihaian mereka.

Akan tetapi bukan ini yang mengejutkan Sin Hong, melainkan wajah dan keadaan tubuh mereka itu.

Orang pertama ber-tubuh jangkung kurus dengan jari-jari tangan panjang berkuku seperti cakar setan, nampaknya kuat bukan main.

Ke-i palanya gundul pelontos tidak kelihatan t akar rambut sehelai pun, agaknya kulit kepala itu sudah mati.

Tidak saja gundul bahkan kepala itu potongannya lonjong ke atas pletat-pletot seperti buah waluh.

Orang ke tiga lebih lucu lagi.

Tubuhnya kurus kering seperti cecak mati, apalagi sepasang lengannya hanya kulit, membungkus tulang seperti rangka jerangkong.

Dilihat dari depan, kepalanya seperti gundul akan tetapi kalau orang melihat dari samping atau belakang, kepalanya ada rambutnya lurus ke bela-kang seperti duri binatang landak.

Mata-nya lebar hidungnya pesek dan mulutnya lebar.

Potongan mukanya tajam hingga kalau dilihat dari samping,persis kepala burung siluman!

Seperti juga si kepala gundul, si botak ini potongannya tidak karuan ma-camnya.

Bedanya kalau si gundul itu me-makai selendang pada dadanya yang me-ngalungi pundaknya, adalah si botak ini setengah telanjang karena bajunya ter-buka dan awut-awutan!

Orang ke tiga paling menyeramkan.

Tubuhnya besar dan kuat.

Mukanya seperti singa dan rambutnya memenuhi kepala, kasar dan panjang riap-riapan, pakaiannya seperti yang biasa dipakai oleh pertapa, longgar dan sederhana.

"liihh, kalian inl manusia atau silu-;, man?"

Li Hwa bertanya sambil melangkah mundur dan mencabut pedangnya. Akan tetapi Sin Hong menegurnya dengan pandangan mata, kemudian ia melangkah maju dan menjura dengan penuh hormat.

"Kedatangan Sam-wi Locianpwe yang terhormat, di puncak Jeng-in-thia dari Luliang-san ini, aku yang muda meng-ucapkan selamat datang. Tidak tahu Sam-wi Locianpwe datang dari mana dan ada keperluan apakah?"

Tiga orang itu saling pandang, ke-mudian bagaikan mendapat komando, ke-tiganya tertawa terbahak-bahak.

Suara ketawa mereka nyaring, aneh dan me-nyeramkan sehingga terdehgar seperti ringkik kuda dan suara burung hantu.

Mendengar suara ketawa ini, bulu teng-kuk Li Hwa sampai meremang semua.

Cadis ini maklum bahwa di dalam suara ketawa ini terkandung pengerahan khi-kang yang kuat, maka cepat ia menge-rahkan tenaga dalam untuk melindungi bagian-bagian lemah dari tubuhnya agar jangan terpengaruh oleh suara ketawa itu.

Si Jangkung Gundul melangkan maju.

"Apakah kau Wan-bengcu?"

Suaranya serak dan kasar seperti burung gagak.

"Aku yang muda memang betul Wan Sin Hong yang mendapat kehormatan dipilih sebagai bengcu."

Kembali tiga orang itu saling pan-dang dan tertawa bergelak.

Kakek ke tiga yang rambutnya riap-riapan dan mu-kanya seperti Singa itu menoleh ke arah Li Hwa sambil menyeringai, kemudian tanyanya dengan suara yang besar dan dalam sekali.

"Si manis itu binimu?"

Sebelum Sin Hong menjawab, Li Hwa sudah membentak marah.

"Siluman busuk jangan asal buka mulut saja! Aku Hui-eng Niocu Siok Li Hwa kalau sudah me-rasa terhina, tidak akan menjanin ke-palamu tinggal utuh lagi!"

"Aduh galaknya""

Kata Si Jangkung Gundul yang menyambut kata-katanya dengan suaranya yang parau menyakitkan telinga.

"Wan-bengcu, ketahuilah bahwa aku bernama Ci Kui, mereka berdua ini adalah sute-suteku."

"Aku Ang Bouw,"

Kata Si Botak.

"Aku Ang Louw,"

Kata Si Rambut Riap-riapan. Li Hwa mengeluarkan suara menyindir lalu berkata nyaring.

"Sudah lama aku mendengar bahwa raja besar di utara makin berkuasa dan pemerintahnya makin maju berkat bantuan orang-orang pandai dari barat dan dari utara. Di antara mereka itu ada yang disebut Pak-kek Sam-kui (Tiga Siluman dari Kutub Utara) tidak tahu apakah kalian ini yang disebut Pak-kek Sam-kui?"

Tiga orang kakek aneh ItU saling pandang, kemudian tertawa besar.

"Tidak kusangka Nona mengenal nama besar kami. Memang betul, kami bertiga yang dimaksudkan dengan sebutan Pak-kek Sam-kui itu. Aku berjuluk Giam-lo-ong (Raja Maut), Sute Ang Bouw ini Liok-te Mo-ko (Iblis Bumi), Sute Ang Louw disebut Sin-sai-kong (Pendeta Singa Sakti)."

"Setelah kami mengenal Sam-wi, apa-kah selanjutnya yang Sam-wi kehendaki dengan kunjungan ini?"

Tanya Sin Hong yang merasa tidak senang mendengar bah-wa mereka ini adalah pembantu-p^mbantu dari Temu Cin, raja baru di Mongol yang makin lama makin berkuasa dan merupa-kan ancaman bagi pedalaman Tiongkok.

Dengan mulut terkekeh Giam-lo-ong Ci Kui Si Kepala Gundul menjawab.

"Wan-bengcu, kami datang bukan dengan maksud buruk. Kami adalah utusan raja besar kami, disuruh mencarimu meng-undangmu ke Mongol. Khan (Raja) kami ingin berjumpa dengan Wan-bengcu, oleh karena itu Wan-bengcu diperlntahkan untuk segera menghadap ke sana bersama kami."

Terang bahwa tiga orang kakek aneh yang menjadi utusan Raja Mongo!

itu memandang rendah kepada bengcu yang rpasih muda ini, buktinya undangan itu mereka ubah menjadi perintah rneng-hadap.

Akan tetapi Sin Hong masih ber-sikap sabar.

Dengan senyum lebar ia berkata.

"Apakah Sam-wi tidak salah? Mungkin bukan aku yang diperintahkan menghadap oleh karena selanna hktupku belui-n pernah aku bertemu dengan rajamu. Aku dan dia tidak pernah berkenalan, bagaimana bisa tahu tentang diriku dan minta menghadap?"

"Wan-bengcu jangan salah mengerti. Sudah tentu Khan kami mendengar ten-tang diri bengcu maka bengcu dipanggil menghadap. Khan kami mengenal bengcu dari keterangan Thian-te Bu-tek Taihiap."

Sin Hong dan Li Hwa heran men-dengar sebutan ini.

Thian-te Bu-tek Tai-hiap berarti Pendekar Besar Tanpa Tan-dingan di Seluruh Dunia!

Siapa orangnya yang sudah begitu nekad dan berani mati menggunakan julukan macam itu?

"Harap Sam-wi sampaikan terima ka-sihku kepada rajamu atas undangan itu, juga maafkan bahwa aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaannya.

Aku pun tidak pernah kenal dengan orang yang mengaku sebagai Thian-te Bu-tek Taihiap itu.

Kalau rajamu ada kepentingan se-suatu boleh disampaikan melalui utusan saja, tak usah.

aku datang menghadap kesana "Wan-bengcu, jangan sekali-kali kau berani memandang rendah kepada tai-hiap!"

Kata Sin-sai-kong Ang Louw dengan suaranya seperti singa mengaum.

"Wan-bengcu harap jangan menolak. Raja kami sudah berlaku sabar dan baik terhadapmu sehingga tahun ialu ketika bengcu melanggar wilayah Mongol di gurun pasir, kami tidak berbuat sesuatu "

Kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw.

Kaget hati Sin Hong mendengar ini.

Jelas bahwa Temu Cin Raja Mongol itu benar-benar mempunyai pembantu-pem-bantu yang hebat sehingga ketika ia berlatih Iweekang di gurun pasir, mereka juga.mengetahui "Maafkan, terpaksa aku membikin kecewa Sam-wi Locianpwe.

Sungguh aku tidak dapat memenuhi kehendak rajamu 8 untuk menghadap."

Tiga orang kakek itu nampak marah. Sayang,"

Kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw dengan suaranya yang tinggi kecil.

"sayang sekali tai-hiap melarang kita turun tangan. Kalau tidak ingin aku mencoba-coba kelihaian bengcu yang muda ini. Hi hi hi...". Kalau Wan Sin Hong mendengarkan dengan sabar dan tenang, adalah Li Hwa yang menjadi panas hatinya. Digerak-gerakkan pedangnya di depan dada dan ia membentak.

"Kalian ini tiga siluman macam apakah? Bukan begitu menjadi utusan raja. Kalian sudah menyampaikan undangan, yang diundang sudah menolaknya, kau tinggal melapor kepada yang mengutus. Habis perkara. Mengapa banyak cerewet dan ngoceh di sini? Mau coba-coba mengapa mesti ada perkenan dari segala ma-cam taihiap? Kalau sudah bosan hidup dan mau coba-coba, majulah. Tak usah dengan bengcu, dengan aku pun kaiian ber-tiga siluman-siJuman jelek boleh maju terima binasa!"

"Li Hwa, jangan kasar terhadap tamu....."

Sin Hong mencegah. Sin-sai-kong Ang Louw yang wataknya mata keranjang, mendengar tantangan Li Hwa ini, segera melompat maju dan berkata kepada suhengnya.

"Suheng, kita belum boleh mengganggu Wan-bengcu, akan tetapi tiada jeleknya main-main sebentar dengan Nona manis ini."

Sebelum Giam-lo-ong Ci Kui menjawab, Li Hwa dengan pedang hijaunya menyerang Ang Louw.

Pedang di tangan nona ini lenyap berubah men;adi sinar hijau yang menyilaukan mata.

Ini tidak mengherankan oleh karena yang dipegang-nya itu adalah Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau), pedang pusaka peninggalan mendiang Pat-jiu Nio-nio gurunya.

Apa-lagi yang memainkan adalah Li Hwa yang memiliki kiamsut ilmu pedang) tinggi dan gerakannya cepat bagaikan kilat menyambar.

"Pedang bagus!"

Pendeta bermuka singa itu menggeram.

Suaranya meng-getar seperti auman singa.

Kalau Li Hwa tidak memiliki sinkang yang tinggi tentu akan lumpuh mendengar geraman.

Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga, tetap saja jantungnya berdebar dan kedua kakinya agak gemetar karena pengaruh geraman jini sehingga ia terkejut bukan main dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Pedangnya membuat gerakan memutar, lalu meluncur maju dengan ieerakan berlenggok seperti ular merayap, mengarah tubuh lawan bagian dada, sukar diketahui lebih dulu ke mana pedang hendak menusuk, ke tenggorokan atau ke ulu hati.

Inilah gerak tipu ilmu pedang-nya yang disebut Hui-eng-tok-cia (Garuda Terbang Mematuk Ular), sebuah )urus lihai dari ilmu pedangnya Hui-eng-kiam-sut.

Akan tetapi, Sin-sai-kong Ang Louw ternyata bukan orang sembarangan.

Melihat hebatnya tusukan pedang yang meng-arah dua jurusan ini, ia berlaku tenang dan otomatis kedua lengannya diangkat, sepuluh jari tangannya yang berkuku singa menjaga di depan dada, yang kin menjaga ulu hati, yang kanan menjaga dekat leher.

Pedang sinar hijau datang menusuk, secepat kilat menerobos hendak menusuk ulu hati.

"Cringgg.....!"

Pedang terpental akan tetapi terus meluncur agak ke atas, kini menusuk tenggorokan.

Kembali Ang Louw menggerakkan tangan dan sekarang jari tangan kiri melakukan gerakan menyentil.

Sin Hong kagum sekali.

Menangkis pedang setajam pedang pusaka Cheng-liong-kiam hanya dengan sentilan kuku jari, benar-benar hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sudah tinggi ting-kat kepandaiannya.

la maklum oahwa kakek bermuka singa ini merupakan la-wan berbahaya dan tangguh sekali bagi Ll Hwa, maka ia segera berseru.

"Li Hwa, cukuplah main-main ini""

Akan tetapi gadis seperti Siok Li Hwa ini mana mau mengalah dan puas begitu saja? la memang berwatak aneh dan tidak pernah kenal apa artinya takut.

"Aku harus memberi hajaran kepada singa kaki dua ini!"

Serunya dengan pena-saran karena pedangnya ditangkis iawan dua kali hanya dengan sentilan kuku Jari.

Cepat ia mengerahkan tenaga pada dua kakinya dan tahu-tahu tubuh yang lang-sing itu melesat ke atas bagaikan seekor burung garuda dan ketika lawannys me-mandang ke atas, secepat garuda me-nyarnbar Li Hwa melayang turun dengan pedang bergulung merupakan sinar hijau menyambar-nyambar ke arah lawannya dari atas.

Serangan ini lebih hebat dari tadi dan inilah ilmu serangan yang di-sebut Hui-eng-lo-thian (Garuda Terbang Mengacau Langit).

"Lihai sekaii.....!"

Sin-sai-kong Ang Louw berseru kaget.

la tidak dapat me-nangkis seperti tadi karena kini pedang pusaka itu bukan menusuk, melainkan menyambar dengan bacokan hebat.

Juga untuk mengelak sukar sekali karena se-rangan datang daci atas secara bertubi-tubi.

Terpaksa Si Muka Singa ini menggulingkan dirinya ke atas tanah.

Sambil bergulingan kedua tangannya bergerak-gerak ke atas melindungi tubuh sehingga ketika Li Hwa turun menusuknya berkali-kaii, kembaii terdengar suara nyaring "cring, cring, cring.....!"

Dan kini per-temuan antara pedang pusaka dan kuku jari tangan itu bahkan menimbulkan bu-nga api berpijar! "Hebat.....!"

Sin Hong berkata perlahan menahan napas menyaksikan kelihaian Si Muka Singa ini.

Li Hwa menjadi marah, dan ketika melihat kesempatan baik, kaki kirinya bergerak dan sebuah tendangan tepat mengenai pundak lawannya yang masih bergulingan sehingga tubuh lawannya itu terlempar tiga tombak lebih!

Hebatnya begitu tiba di tanah, si Muka Singa me-lompat berdiri, sama sekali tidak ke-lihatan sakit atau terluka, padahal tendangan Li Hwa tadi dapat membunuh lawan lain dengan mudah.

"Hui-eng Niocu lihai sekali!"

Kata Sin-sai-kong Ang Louw sambil menyeringai dengan muka mengandung ejekan.

"Cukup, Sute. Jangan-jangan W& mendapat marah dari taihiap kalau sampai, salah tangan,"

Kata Glam-lo-ong Ci Kui.

"Kita sudah menguji kelihaian ilmu silat dan Hui-eng Niocu, juga kelihaian ilmu pengobatan dari Wan-bengcu. Nah, Wan-bengcu, sampai jumpa kembaii da-lam waktu dekat."

Setelah berkata de-mikian, Giam-lo-ong Ci Kui meiompat sambil menyambar tangan Liok-te Mo-ko Ang Bouw, di lain fihak Ang Bouw juga menyambar tangan Sin-sai-Kong Ang Louw adiknya dan di lain saat tiga orang kakek itu sambil bergandengan tangan 4 melayang turun dari puncak Jeng-in-thia.

"Sungguh mereka itu lihai......"

Kata Sin Hong sambil mengheia napas.

"Kalau orang-orang seperti itu datang memusuhi dunta kang-ouw, tugasku makin berat saja."

"Sin Hong, mengapa kaupusingkan semua itu? Lihat, jauh-jauh dari Mongol orang datang mencari kau yang menjadi bengcu. Mari kautinggalkan tempat ini dan ikut aku ke Go-bi-san saja, di mana kita bisa hidup tenteram. Aku yang men-jamin bahwa hidupmu akan bahagia dan tidak terganggu, Sin Hong."

Kata-kata ini diucapkan penuh perasaan oleh Li Hwa sehingga suaranya menggetar. Tangan kanan yang memegang pedang tergantung di samping, ujung pedangnya roenyentuh tanah. Sin Hong tersenyum.

"Terima kasih, Li Hwa. Kau baik sekali. Akan tetapi aku tak dapat memenuhi ajakanmu itu. Tak mungkin aku meninggalkan kawan-kawan, apalagi kalau keadaan mereka terancam oleh orang-orang Mongol itu."

"Sin Hong, mengapa kau begitu keras hati? Kau tahu aku mencintannu, dan hasrat hidupku .satu-satunya hanya ingin membahagiakan kau, ingin hidup di sam-pingmu menghabiskan usia yang tidak berapa banyak lagi ini. Sin Hong, kita sudah sama-sama bertambah tua, mau tunggu kapan lagi kalau kita tidak lekas-lekas berumah tangga? Sin Hong, apakah sedikit pun kau tidak dapat membaias cinta kasihku yang setulusnya?"

Suara gadis itu kini merayu penuh keharuan.

Sin Hong merasa susah sekali.

Dengan bingung ia menggosok-gosok dagunya dan kemudian ia mengeraskan hati mengambil keputusan untuk memberi jawaban yang sebenamya.

"Li Hwa, kau tadi bilang bahwa kau hanya dapat mencinta seorang saja di dunia ini. Demikian pun aku, Li Hwa. Aku pernah mencintai seorang gadis dan biarpun aku gagal dalam percintaan itu, akan tetap setia kepadanya dan tidak mungkin aku menerima cinta kasih gadis lain."

Muka Li Hwa menjadi pucat sekali kemudian berubah merah. Matanya memancarkan cahaya berapi penuh cemburu dan kecewa.

"Kau mencinta Gak Soan Li?"

Tanyanya sambil melintangkan pedangnya di dada, tangan kirinya menuding ke dada Sin Hong.

Disebutnya nama Gak Soan Li mengingatkan Sin Hong akan semua pengalamannya yang dulu.

Pengalaman yang menyedihkan.

Gak Soan Li adalah se-orang gadis cantik jelita dan gagah perkasa, murid Hwa 1 Enghiong yang masih terhitung suhengnya sendiri.

Gak Soan Li mencinta kepadanya, cinta kasih yang murni dan suci, mencinta kepadanya dengan sepenuh jiwa biarpun gadis itu mengira dia seorang pemuda tani biasa saja, karena daJam pertemuannya dengan Gak Soan Li dia mengaku sebagai seorang pemuda dusun.

Sampai gadis itu menjadi gila oleh karena perbuatan keji dari manusia iblis Liok Kong 3i, gadis itu masih terus mencintanya sepenuh hati.

Sekarang gadis itu telah menjadi isteri muda dari Pangeran Wanyen Ci Lun yang wajahnya sama benar dengan dia karena memang Wanyen Ci Lun itu masih terhitung saudara misannya dan dia sendiri adalah keturunan Pangeran Wanyen juga.

Semua ini terbayang kembali di depan matanya membuat ia termenung (baca Pedang Penakluk Iblis).

"Sin Hong, kau betul-betul mencinta Gak Soan Li yang sudah menjadi isteri Pangeran Wanyen Ci Lun?"

Tanya lagi Li Hwa dengan suara sayu.

Sin Hong menggeleng kepalanya dengan ragu-ragu.

Memang sejak dahulu ia pun ragu-ragu, entah Soan Li entah Hui Lian yang teiah merampas hati dan cinta kasihnya.

Terhadap dua orang wanita ini ia mempunyai kenangan mesra.

"Kalau begitu, tak saiah lagi, kau tentu mencinta Go Hui Lan""

Kata pula Li Hwa yang mulai menangis.

"Cih, laki-laki tak tahu malu. Sin Hong, di manakah kegagahanmu? Ke mana perginya semangatmu? Go Hui Lian sudah menjadi isteri orang, mungkin sekali sudah menjadi ibu, dan kau masih setia dan tetap mencinta kepadanya? Bukankah perasaan yang demikian itu rendah dan hina?"

Sin Hong hanya menundukkan kepala, keningnya berkerut, pandang matanya muram, nampaknya bersedih sekali. Melihat ini, Li Hwa menjadi kasihan lagi. la melangkah maju, ditariknya lengan Sin Hong.

"Sin Hong, lupakanlah kenangan lama. Marilah kau Ikut aku ke Go-bi-san. Biarpun kau tidak menyintaku, biarlah. Aku cukup bahagia kalau melihat kau hidup tenteram dan aku dapat melayanimu, dapat selalu berada di sampingmu....."

Sin Hong memandang kepada gadis itu, hatinya terharu.

Alangkah akan ba-hagianya hidup bersama seorang isteri seperti Li Hwa ini.

Kalau saja ia dulu bertemu dengan Li Hwa sebelum ia berjumpa dengan Soan Li dan Hui Lian.

Kini tak dapat ia berlaku rendah, tak mau ia menuruti maksud gadis itu hanya untuk menghibur hatinya.

Tidak tega ia mem-permainkan cinta kasih yang begitu men-dalam dari gadis ini.

"Tidak, Li Hwa. Aku akan berbuat keliru dan berdosa kalau aku ikut dengan engkau. Aku tidak berharga untukmu. Pula, tugasku masih berat, dan aku harus memenuhi tugas dan kewajibanku sebagai bengcu yang sudah mendapat kepercayaan semua saudara di dunia kang-ouw."

Li Hwa menjadi lemas.

"Kau..... kau dulu berjanji hendak datang ke Go-bi san..... aku selama ini menanti-nanti..... ternyata sia-sia..... Sin Hong, kau menyakiti hatiku. Kalau aku bersaing dalam cinta kasih dengan seorang gadis lain, aku akan mengalah. Akan tetapi, sainganku adalah isteri orang, mungkin ibu anak-anak. Kau terlalu..... menghinaku!"

Li Hwa membanting-banting kakinya.

Tiba-tiba ia menjerit dan roboh pingsan.

Tubuhnya tentu akan terbanting di atas tanah kalau saja Sin Hong tidak cepat-cepat memeluknya.

Wajah gadis itu men-jadi kebiruan, matanya mendelik dan mulutnya berbusa.

Sin Hong kaget sekali.

Dia adalah ahli waris dari Tabib Dewa Kwa Siucai, sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis itu telah menjadi korban racun yang amat berbahaya.

la tidak melihat datangnya senjata gelap dan tidak me-lihat seekor pun binatang berbisa yang| menggigit gadis itu.

Mengapa begItuH membanting-banting kaki kinnya gadis itu lalu menjerit roboh pingsan?

Sin Hong membaringkan Li Hwa di atas rumput, lalu ia cepat melepaskan sepatu kiri gadis itu dan memeriksa.

Ternyata di dekat ibu jari di telapak kaki kin itu terdapat sebuah bisul merah kecil sekali.

"Kurang ajar, ini tentulah perbuatan Sin-saikong Ang Louw."

Gerutunya dan tahulah ia kini apa artinya kata-kata Giam-lo-ong Cl Kui yang menyatakan bahwa mereka telah menguji ilmu pengobatan dari Wan-bengcu.

Tidak ia sangka sama sekali bahwa di waktu Li Hwa menendang tubuh Sin-sai-ong Ang Louw sampai terguling-guling tadi, Si Muka Singa ini telah berhasil melukai kaki gadis itu, luka yang dilakukan dengan sebuah jarum halus berbisa!

"Benar-benar mereka lihai.

Berbahaya sekali orang-orang seperti itu menjadi lawan,"

Katanya sambil memeriksa luka di kaki Li Hwa yang membengkak.

Dengan jarum peraknya, Sin Hong menusuk beberapa jalan darah di kaki kiri, kemudian membelek sedikit kuht kaki dekat luka itu, mengeluarkan jarum yang halus berbisa, mengeluarkan pula "darah kehijauan yang berada di sekitar luka.

Setelah itu, ia menempelkan te-lapak tangannya di pinggang gadis itu, mengerahkan hawa sinkang untuk me-munahkan racun di tubuh Li Hwa.

Per-lahan-lahan muka yang kebiruan itu mu-lai menjadi merah lagi.

Setelah yakin bahwa gadis ini telah terhindar dari pengaruh racun, Sin Hong menarik kembali tangannya, mengatur pernapasannya supaya pulih kembali, kemudian ia mengobati luka bekas belek-an dengan obat tempel yang luar biasa manjurnya sehingga dalam sekejap saja, kulit yang dibelek telah rapat kembali.

Setelah bahaya lewat dan hati pe-muda ini merasa tenteram, baru ternyata olehnya betapa mungil dan bagus bentuk-nya kaki kiri Li Hwa yang dipegang-pegangnya itu.

Teringatlah ia akan pe-ngalamannya dahulu ketika ia menolong Gak Soan ti dan menyambung tulang tulang kedua paha gadis itu yang remuk dipukul oleh seorang penjahat keji bernama Giok Seng Cu (baca Pedang Pe-nakluk Iblis).

Wajahnya menjadi merah dan hatinya berdebar.

Cepat-cepat ia mengenakan kembali kaus kaki dan sepatu di kaki gadis itu.

Li Hwa membuka matanya.

Cepat ia meloncat berdiri dan menyambar pedang Cheng-liong-kiam yang tadi terletak di atas tanah.

la memandang kepada Sin Hong dan mulutnya meringis sedikit me-nahan sakit ketika kaki kirinya dipakai berdiri.

Ada rasa perih sedikit karena luka bekas belekan belum sembuh benar.

"Li Hwa, kau tadi pingsan karena pengaruh racun jarum gelap yang dilepaskan oleh Sin-sai-kong Ang Louw pada kakimu ketika kau menendangnya tadi. Aku telah melepaskannya dan mengobatinya, kau akan sembuh....."

Li Hwa nampak tercengang. Hal im tidak pernah diduganya dan kini ia ber-kata dengan suara cemas.

"Sin Hong, mereka begitu lihai.....! Kalau mereka datang lagi dan mengeroyokmu..... Marilah kau ikut aku saja ke Go-bi-san, di sana aman dan mereka tak mungkin dapat memasuki daerahku."

Sin Hong terharu.

Gadis ini yang baru saja teriepas dari bahaya maut, tidak memikirkan keadaan diri sendiri, sebalik-nya begitu siuman dan mendengar tentang kelihaian musuh, malah merasa cemas untuk keselamatannya.

Dari sini saja dapat dilihat nyata betapa besar cinta kasih gadis ini terhadap dirinya.

"Aku akan melawan mereka, Li Hwa. Kau pulanglah dan rawat dirimu baik-baik."

Air mata bercucuran dari sepasang mata yang jelita itu. Dengan terisak-isak gadis im berkata.

"Merawat diri baik-baik? Untuk apa-kah? Kau..... kau menolak dan mencinta seorang wanita yang sudah menjadi isteri orang lain. Kau terlalu menyakiti hati-ku, kau terlalu menghinaku....."

Dengan isak tertahan gadis ini melompat, tidak mempedulikan lagi telapak kaki kirinya yang sakit, lalu lari cepat turun dari puncak Jeng-in-thia.

Sin Wong menahan napas, meriyilang-kan lengan di depan dada dan menunduk-kan kepala, kedua matanya dipejamkan.

Sampai lama ia berada dalam keadaan demikian, kemudian terdengar la menarik napas panjang berkali-kali.

Kim-bun-to (Pulau Pihtu Emas) adalah sebuah pulau kecil yang indah di dekat pantai timur.

Pulau ini dekat saja de-ngan pantai, hanya terpisah oleh air laut sejauh dua li.

Rumah-rumah di atas pu-lau itu kelihatan jelas dari pantai.

Oleh karena air laut yang memisahkan pulau dan daratan Tiongkok ini airnya selalu tenang, jernih, dan banyak ikannya, maka tempat ini menjadi tempat pesiar dan terkenal di seluruh Tiongkok.

Selain men-jadi tempat menghibur hati, juga pantai-nya menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Rumah di Kim-bun-to bagus-bagus dan kelihatan semua masih baru.

Memang, lima tahun yang lalu, rumah-rumah di atas pulau ini telah dibakar habis oleh barisan Pemerintah Kin yang ditipu oleh penjahat siluman Liok Kong Ji.

Akhirnya, berkat bantuan Pangeran Wanyen Ci Lun, kaisar insyaf akan kekeliruannya dan memerintahkan supaya semua ru-mah yang terbakar diganti dengan rumah baru!

Pulau ini menjadi makin tersohor semenjak terjadi peristiwa serbuan oleh tentara Pemerintah Kin itu.

Di atas pulau itu terjadi geger besar yang meng-guncangkan dunia kang-ouw.

Terjadi pertempuran hebat antara tokoh-tokoh persilatan yang terkenal menjagoi dunia kang-ouw di masa itu.

Dalam pertempur-an inilah jago-jago silat berguguran, di antaranya Cam-kauw Sin-kai, sepasang suami isteri Pendekar Go Ciang Le yang berjuluk Hwa 1 Enghiong dan isterinya Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan, dan masih banyak orang-orang gagah lain yang ke-betulan menjadi tamu di waktu serbuan terjadi.

Di fihak para penyerbu, tewas pula See-thian Tok-ong dan isterinya, Kwan Ji Nio.

Sepasang suami isteri inl bukan orang-orang sembarang, melainkan tokoh-tokoh besar dari barat yang sudah meng-goncangkan dunia persilatan di Tiongkok.

Semua ini terjadi pada saat dilangsungkan pernikahan antara puteri Hwa I Eng-hiong Go Ciang Le yang bernama Go Hui Lian dengan Coa Hong Kin, pemuda tampan dan gagah murid dari Cam-kauw Sin-kai (baca Pedang Penakluk Iblis).

Di antara sekian banyak rumah-rumah baru di atas Pulau Kim-bun-to, terdapat sebuah rumah besar di tengah-tengah, yang menonjol karena paling tinggi di antara semua bangunan di situ.

Inilah rumah yang menjadi tempat tinggal Coa Hong Kin dan isterinya.

Pangeran Wan-yen Ci Lun yang membangun rurr.ah ini untuk membalas budi Coa Hong Kin yang dulu menjadi tangan kanannya yang setia.

Keluarga Coa ini disegani dan di-hormati oleh semua crang baik penduduk Pulau Kim-bun-to maupun orang-orang yang datang dari daratan Tiongkok.

Siapakah yang berani mengganggu mereka dan bagaimana semua orang tidak menghormati keluarga ini?

Coa Hong Kin terkenal gagah perkasa di samping sikap-nya yang halus dan lemah lembut seperti seorang terpelajar yang rainah tamah.

Akan tetapi di dalam pertempuran ia akan berubah menjadi seorang yang lihai bukan main dengan senptanya yang isti-mewa, yaitu sebatang twigkat pendek berkepala ular yang disebut Coa-thouw-tung, ia dapat mainkan Ilmu Silat Cam-kauw-tung-hoat (Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing) dan kiranya tidak banyak orang yang dapat mengalahkan dia dengan ilmu tongkatnya ini.

Di samping dia, masih ada isterinya yang tidak kalah lihainya, kalau tidak boleh dibilang lebih lihai malah!

Isterinya ini Go Hui Lian, adalah anak tunggal dari mendiang Hwa 1 Enghiong Go Ciang Le yang kepandaiannya sudah dikenal oleh semua tokoh kang-ouw.

Sudah tentu saja Go Hui Lian ini mewarisi kepandaian dari ayahnya dan juga dari ibunya yang memiliki kepandaian sangat tinggi pula.

Kelihaian Hui Lian adalah permainan pedang, akan tetapi di samping ini, ia pandai pula memainkan delapan belas macam senjata dan ilmu silat tangan kosongnya Juga sudah berada di tingkatan tinggi.

Suami isteri ini mempunyai dua orang anak, seorang anak laki-laki berusia em-pat tahun lebih, yang ke dua seorang anak berusia dua tahun.

Sebetulnya, anak pertama yang laki-laki itu bukan anak mereka sendiri, melainkan anak angkat.

Anak ini mereka pelihara semenJak kecil-,nya dan mereka beri nama Coa Tiane Bu.

Rahasia bahwa anak Jaki-laki ini bukan anak mereka yang sesungguhnya, mereka simpan rapat sekali sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Hal mi adalah untuk menjaga nama baik ibu yang aseli daripada anak itu.

Ibunya bukan lain adalah Gak Soan Li, suci dari Hui Lian.

Dalam cerita Pedang Penakluk Ibiis telah diceritekan betapa Gak Soan Li ketika masih gadis terjatuh ke dalam tangan penjahat siluman Liok Kong Ji dan dalam keadaan tidak sadar dan setengah gila, Soan Li menjadi korban kekejian Liok Kong Ji.

Oleh karena itu, ketika Gak Soan Li mengandung dan melahirkan anak, anak ini dianggap sebagai anak yang tidak berayah.

Diam-diam anak yang hendak dibunuh Gak Soan Li inl, dipelihara baik-baik oleh Hui Lian yang mengaku sebagai puteranya sendiri.

Anak ke dua, yaitu puteri yang se-sungguhnya dari Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, diberi nama Coa Lee Goat.

Semenjak kecil Coa Tiang Bu nampak sayang sekali kepada Lee Goat.

Setiap kali ia makan sesuatu tentu ia ingat kepada adiknya ini dan memberinya.

Kalau Lee Goat yang baru dua tahun usianya itu menangis, Tiang Bu meng-hiburnya sedapat mungkin sehingga nam-pak lucu sekali.

Bahkan kalau Lee Goat sedang rewel dan menangis tidak mau diam-diam, saking binguhg dan ikut se-dih Tiang Bu juga ikut-ikutan menangis!

Tiang Bu nampak cerdik sekali sejak ia masih kecil.

Sayangnya, bocah ini tidak bisa dikatakan tampan.

Mukanya berbentuk segi empat, kulit mukanya agak kemerahan tanda sehat, jidatnya lebar sekali sampai hampir setengah kepala; seperti botak, rambutnya hitam kaku seperti bulu kuda, sepasang alisnya berbentuk golok tebal dan hitam, mata-nya tajam sekali kelihatan seperti mata penjahat kejam, hidungnya pesek dan bibirnya tebal sekali.

Dari kecil sudah dapat dilihat bahwa bentuk tubuhnya padat dan kuat.

Sering kali di waktu malam apabila anak itu sudah tidur, Hui Lian dan Hong Kin memandang muka Tiang Bu ini dan Hui Lian berkata menyatakan keheranannya.

"Benar-benar aneh sekali, Enci Soan Li cantik manis, juga Kong Ji orangnya tampan, mengapa dia ini begitu jelek?"

Suaminya menarik napas panjang.

"Dapat dimengerti. Bocah Ini tercipta dalam keadaan yang tidak sewajarnya, ibunya dalam keadaan sengsara lahir-batin, ayahnya dikuasai oleh iblis, tidak mengherankan apabila keturunan yang keluar bermuka buruk. Akan tetapi kita harap saja biarpun mukanya buruk, wataknya jangan seburuk rupanya, dan semoga iblis yang menguasai ayahnya jangan menurun kepadanya."

Hong Kin dan Hui Lian memang berhati mulia. Melihat keburukan Tiang Bu, mereka sama sekali tidak membenci, bahkan merasa kasihan kepada anak yang tidak diakui oleh ayah bundanya ini,"

Yang kini telah menjadi putera mereka sendiri. Apalagi melihat Tiang Bu begitu sayang kepada Lee Goat, mereka makin suka kepada Tiang Bu.

"Kita jangan memberi pelaj"aran ilmu silat kepadanya siapa tahu kalau-kalau sifat keturunan ayahnya ada padanya. Tanpa memiliki kepandaian silat, ia tidak mempunyai andalan untuk menyeleweng di kemudian hari,"

Kata Hong Kin.

Isteri-nya merasa setuju sekali sungguhpun agak kecewa mengapa Tiang Bu bukan putera mereka sendiri yang boleh diberi pelajaran ilrnu silat mereka yang tinggi tanpa ragu-ragu lagi.

Berbeda dengan sepasang suami isteri yang baik hati ini, anehnya hampir se-mua orang yang melihat Tiang Bu merasa tak senang kalau tak boleh dikata-kan benci.

Entah mengapa wajah anak ini segala gerak-geriknya menimbulkan kebencian dan kegemasan.

Semua pelayan yang berada di dalam rumah besar itu, benci belaka kepada Tiang Bu.

Memang para pelayan inilah yang mengetahui bahwa Tiang Bu bukanlah putera aseli dari majikan mereka, bahkan mereka mendengar dari para pelayan tua yang semenjak dahulu telah menjadi pelayan dari keluarga Go dan sekarang ikut pula bekerja di rumah Go Hui Lian, bahwa bocah itu adalah putera suci dari nyonya majikan mereka dan tidak karuan ayahnya!

Inllah agaknya yang menimbulkan rasa tak senang dan benci.

Baiknya Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti atau merasa akan hal ini.

Di depan Hong Kin atau Hui Lian, tidak ada orang berani mengganggu Tiang Bu, akan tetapi di belakang dua orang ini, para pelayan suka menggodanya dan mentertawakannya.

Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tiang Bu yang berusia lima tahun itu sudah berada di dalam kebun bunga luas.

Anak ini mencari-cari dengan pandang mata-nya, kemudian dengan girang ia melihat yang dicarinya, yaitu kembang berwarna merah yang mekar di dalam pohonnya yang agak besar.

Cepat anak ini menghampiri batang pohon itu dan tanpa ragu-ragu ia mulai memanjat ke atas.

"Eh, bocah bengal, pagi-pagi kau sudah mau main panjat-panjatan. Kalau kau jatuh dan kepalamu pecah, aku yang dimaki, tahu?"

Tiba-tiba terdengar bentakan dan tukang kebun menarik turun anak itu.

"Aku tidak mau turun!"

Tiang Bu merengek dan kedua tangannya memeluk batang pohon erat-erat.

"Jangan tarik-tarik kakiku."

"Tidak boleh naik, turun kau!"

Bentak tukang kebun gemas, ditambahnya makian perlahan.

"Dasar anak haram!"

"Tidak, aku tidak mau turun. Aku hendak mencarikan bunga merah yang diminta Adik Lee Goat!"

Melihat tukang kebun itu masih saja menarik-narik kakinya, ia mengancam.

"Lepaskan kalau tidak kau kukencingi!"

Tukang kebun itu sesungguhnya bukan takut melihat anak ini jatuh, karena memang sudah sering Tiang Bu main panjat-panjatan, melainkan ia lebih cepat disebut menggoda anak itu supaya ke-hilangan kegembiraannya.

Maka ia membetot-betot terus sambil tertawa-tawafi menggoda.

Tiba-tiba ia melepaskan pegangannya dan melompat mundur sambil menyumpah-nyumpah.

Mukanya menjadi basah oleh air kencing yang betul-betul dikeluarkan oleh anak itu.

"Bangsat kecil, bocah haram..... Makinya perlahan, karena biarpun ia merasa marah dan mendongkol, ia tidak berani memaki anak itu keras-keras.

"Apa kaubilang, Sam-lopek?"

Ana-; itu menunda panjatannya ketika mendengar sebutan terakhir yang tidak dimengerti-nya, Akan tetapi tukang kebun itu tidak menjawab dan Tiang Bu melanjutkan usahanya memetik bunga merah yang hendak diberikan kepada Lee Goat.

Tiba-tiba mata tukang kebun melihat seekor kumbang besar beterbangan di sekitar pohon kembang itu, agaknya hen-dak mencari madu kembang.

Untuk me-lampiaskan marahnya, juga dengan hati setengah mengharap agar kumbang itu menyengat Tiang Bu, ia mengambil batu kecil dan melempari kumbang yang sedang inenghisap madu.

Lemparan itu tepat sekali mengenai kumbang itu dan si kumbang terlempar, akan tetapi tidak mati.

Kumbang menjadi marah sekaJi dan dl laln saat, kumbang itu terbang me-nyambar ke arah pohon dan menyerang Tiang Bul Tukang kebun menyeringai kegirangan.

Terdengar pekik kesakitan dan tubuh anak itu terguling jatuh dari atas pohon.

Malang baginya, di bawah pohon terdapat batu besar.

Jatuhnya menimpa batu dan anak itu tidak berkutik lagi, mertngkuk pingsan.

Barulah tukang kebun men}adi pucat dan panik.

"Bangsat keji!"

Bentakan nyaring-ini mengejutkan tukang kebun yang tidak jadi lari masuk. la menengok "dan me-lihat seorang wanita cantik tahu-tahu telah berdiri di depannya.

"Kau memaki siapa?"

Tukang kebun yang berangasan ini bertanya marah.

"Siapa lagi kalau bukan kau! Kau yang menyebabkan anak itu jatuh, orang macam kau harus dipukul mampus". Tukang kebun itu menjadi marah, marah karena ia takut kalau-kalau dakwaan ini terdengar oteh majikannya.

"Apa kau gila? Dia itu putera majikanku, bagaimana aku berani membuatnya jatuh? Kau perempuan gila sembarangan memaki orang. Kutampar mukamu!"

Wanita itu tersenyum mengejek.

"Kau? Macam engkau bisa memukul orang? Hah, seekor sernut pun akan mentertawa-kanmu kalau mendengar obrolanmu ini!"

Diejek seperti itu, tukang kebur ini menerjang maju dan tangan kanannya diayun untuk menampar pipi wariita can-tik itu.

Akan tetapi, sungguh luar biasa.

Sebelum tangan itu mengenai pipi yang halus kemerahan, tiba-tiba tukang kebun itu menjerit, tubuhnya terpental, jatuh dan napasnya empas-empis.

Dengan tenang wanita itu menghampiri bawah pohon, menyambar tubuh Tiang Bu yang masih pingsan.

la meman-dang muka yang jeiek itu, tersenyum mengejek dan berkata lirih.

"Macam ini putera Hdi Lian? Hah, menyebalkan!"

Pada saat itu, terdengar desiran angin dan dua orang berkelebat dari dalam rumah.

Mereka ini bukan lain adalah Hui Lian dan Hong Kin.

Melihat datangnya kedua orang majikannya itu, tukang kebun yang sudah siuman kembali menuding ke arah wanita itu sannbil berkata, suaranya lemah terengah-engah.

"Dia..... dia hendak menculik Kong-cu....."

Dan ia roboh pingsan lagi karena dadanya sesak seperti dipukul oleh benda keras yang berat.

Hui Lian dan Hong Kin me-lompat ke depan wanita yang memondong Tiang Bu itu dan melihat wajjah yang cantik itu tersenyum mengejek.

"Kau..... bukankah kau Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.....?"

Tanya Hui Lian kaget. Li Hwa tersenyum.

"Kalian tidak patut menjadi ayah bunda bocah ini. Aku hendak membawanya dan biarpun di sana ada Wan Sin Hong bengcu yang akan membela kalian mati-matian, aku tidak takut."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Li Hwa telah berada di atas tembok taman.

"Lepaskan anakku"

Hui Lian membentak dan sekali berkelebat ia pun.

telah mengejar dan kembali dua orang wanita yang sama cantik dan sama gagahnya ini telah saling berhadapan di luar tembok taman, diikuti oleh Hong Kin yang hampir berbareng menyusul .

"Hui-eng Niocu, di antara kita tidak ada permusuhan, nw.gapa kau hendak menculik-anakku?"

Bentak Hui Lian yang sudah mencabut pedangnya.

"Hei, Tiang Bu seperti pingsan dan tubuhnya berdarah....!"

Hong Kin berseru kaget sambil menuding ke arah Tiang Bu yang masih pingsan dalam pondongan Li Hwa."

"Memang dia jatuh dari pohon, kaki-nya patah....."

Kata Li Hwa seenaknya seakan-akan hal itu tidak berarti apa-apa.

"Kau hendak mencelakai anakku. Kembalikan!"

Hui Lian sudah tak sabar lagi dan maju menusukkan pedangnya ke arah lambung Li Hwa dan tangan kirinya menyambar tubuh Tiang Bu yang dipondong oleh Hui-eng Niocu.

"Galak seperti Ibunya.....!"

U Hwa mengejek dan cepat melompat mundur.

"Tentang jatuhnya, lebih baik kausiksa tukang kebunmu suruh dia mengaku!"

Li Hwa terus melompat jauh dan melarikan diri.

"Penculik jangan lari!"

Hong Kin berseru marah dan bersama isterinya ia pun mengejar cepat. Li Hwa memutar tubuh dan berseru.

"Awas senjata!"

Tangannya yang kiri bergerak dan belasan sinar hijau menyambar ke arah dua orang pengejamya.

Inilah senjata rahasia Cheng-chouw-ciam (Jarum Rumput Hijau) yang amat lihai.

Sampai tiga kali Li Hwa menggerakkan tangannya dan tiga kali beiasan jarum hijau ini menyambar ke arah Hui Lian dan Hong Kin.

Suami isteri ini lihai ilmu Silatnya, tentu saja mereka dapat meng-hindarkan diri dari bahaya dengan mudah akan tetapi kejaran mereka tertunda dan sebentar saja Li Hwa sudah lenyap dari situ, mereka terus mengejar, bahkan mencari sampai ke pinggir laut.

Akan tetapi karena tidak tahu arah mana yang diambiJ oleh Li Hwa untuk menyeberang ke daratan, mereka menjadi bingung.

Hui Lian mengaJ"ak suaminya terus meyeberang dengan perahu akan tetapi Li Hwa seperti lenyap ditelan ombak laut dan tidak kelihatan bayangannya lagi.

Hui Lian membanting-banting kakinya dan menangis.

Hong Kin menghiburnya.

"Kita tidak ada permusuhan dengan Li Hwa. Bu-ji (anak Bu) tentu selamat di tangannya."

"Mari kita susul perempuan siluman itu ke Go-bi-san! Perbuatan ini sungguh merupakan penghinaan (Lanjut ke

Jilid 02) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 bagi kita."

Kata .Hui Lian marah.

"Kau tidak melihat Bu-ji tadi terluka dan pingsan? Siapa tahu kalau siiuman itu mempunyai niat keji....."

"Sabar dan tenanglah, isteriku. Palirtg perlu mari kita pulang duiu dan bertanya kepada tukang keburi apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam taman bunga."

Kata-kata ini mengingatkan Hui Lian akan ucapan Li Hwa agar supaya mereka menyiksa tukang kebun dan menyuruhnya mengaku.

Cepat-cepat mereka pulang dan alangkah kecewa dan menyesal mereka ketika melihat bahwa tukang kebun itu ternyata telah tewas!

Hong Kin memeriksa dan mendapatkan beberapa batang jarum hijau menembus dadanya yang juga terkena pukulan tenaga "lweekang.

Agaknya Li Hwa marah sekali kepada tukang kebun ini dan mengirim serangan maut.

"Perempuan siluman aku harus mengejarnya dan mengadu nyawa dengan dia!"

Hui Lian berteriak-teriak. Kembali Hong Kin menyabarkannya.

"Isteriku, pikirlah baik-baik. Selain belum ada kepastian bahwa di Go-bi-san kita akan dapat berjumpa dengait dia, juga perjalanan ke Go-bi-san bukanlah perjalanan dekat, akan memakan waktu berbulan-bulan. Bagaimana kaHiii dapat meninggalkan Lee Goat untuk waktu selama itu? Ingat anak kita masih amat kecil, kaiau kita berdua pergi men-cari Hui-eng Niocu untuk merampas kem-bali Tiang Bu siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan anak kita, Lee Goat?"

Mendengar ini Hui Lian menjadi bi-ngung dan ia menangis sarnbil bersandar di dada suaminya.

la suka kepada Tiang fe Bu, akan tetapi ia sayang kepada Lee Goat.

Terhadap Tiang Bu ia tidak mem-punyai rasa sayang seorang ibu, hanya kasihan dan suka, pula disertai rasa tang-gung jawab atas keselamatan putera sucinya itu.

"Habis bagaimana baiknya.....?"

Tanya-nya perlahan.

"Kautunggu saja di rumah, biar aku yang pergi mencarinya. Memang tidak seharusnya didiamkan saja. Andaikata Li Hwa itu tidak bermaksud jahat dan ingin mengambil murid kepada Tiang Bu, tidak selayaknya ia menculik seperti seorang penjahat. Pula, kita bertanggung jawab atas keselamatan anak itu. Bagaimana kata orang-orang gagah di dunia kalau sampai anak itu celaka dalam tangan kita tanpa kita berusaha menolongnya? Biar aku besok berangkat pergi mencarinya."

Hu Lian memeluk suaminya.

"Akan tetapi..... dia amat lihai. Kukira kau atau aku bukan tandingannya. Kalau kita maju berdua kiranya baru dapat mengimbanginya."

Hong Kin mengangguk-angguk.

"Aku mengerti, oleh karena itu aku pun mempunyai maksud hendak singgah di Luiiang-san bertemu dehgan Wan-bengcu. Kebetulan jalan menuju ke Go-bi-san me-lalui Luliang-san. Pula"

Kalau aku tidak keliru sangka, agaknya Hui-eng Niocu mengharapkan supaya Wan-bengcu cam-pur tangan dalarn penculikan ini."

"Mengapa kausangka demikian!"

Hui Lian mengerutkan keningnya.

"Lupakah kau akan ucapannya ketika ia menCulik Tiang Bu? Dia menyatakan bahwa biarpun kita akan dibela oleh Wan-bengcu, dia tidak takut. Ucapan ini agaknya sengaja ia keluarkan untuk me-nentang Wan-bengcu. Kalau tidak demikian mengapa ia membawa-bawa nama Wan-bengcu dalam urusan ini. Oleh karena itu aku hendak singgah di Luliang-san dan hendak minta nasihatnya. Setelah mendapat kepastian bahwa suaminya akan minta pertolongan Wan Sin Hong, hati Hui Lian menjadi tenang. Ia merasa yakin bahwa kalau Sin Hong mendengar, tentu akan membantunya dan akan merebut kembali Tiang Bu dari tangan Hu.-eng Niocu Siok Li Hwa. Tiba-tiba Hui Lian mendapat pikiran yang baik sekali.

"Suamiku, amat tidak enak kalau begitu saja minta tolong kepada Wan-bengcu. Lebih baik kalau kita serahkan saja Tiang Bu untuk menjadi muridnya. Anak itu sudah cukup besar, pula kalau kita berkukuh tidak mau menurunkan ilmu silat kepadanya, tentu orang-orang akan bilang kita tidak suka kepada anak itu. Kalau Wan-bengcu mau menerimanya sebagai murid, kiraku ia akan menjadi orang baik-baik, dan biarlah kelak ia nienjadi seorang gagah yang berbudi mu> lia untuk menebus kejahatan orang yang menurunkannya."

Seperti juga isterinya, Hong Kin suka kepada Tiang Bu akan tetapi tidak sayang, maka usul ini diterimanya dengan baik.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong Kin berangkat meninggalkan Kim-bun-to untuk memulai dengan perjalanannya yang jauh, mungkln sainpai ke Go-bi-san, atau sedikitnya sampai ke Luliang-san.

Setelah menyeberang ke daratan"

Ia melanjutkan perjalanarmya dengan menunggang kuda.

Pada masa cerita ini terjadi, daratan Tiongkok terbagi dua antara Pemerintah Kaisar dari Kerajaan Cin dan Kaisar dari Kera|aan Sung selatan.

Sudah lima enam puluh tahun daratan Tiongkok berada dalam keadaan seperti ini.

Batas dari daerah atau wilayah kekuasaan dua kerajaan ini adalah Sungai Yangce.

Di sebelah utara Sungai Yangce terrnasuk wllayah Kerajaan Cin, sedangkan di sebelah selatan termasuk wilayah Kerajaan Sung Selatan atau disingkat Kerajaan Sung saja.

Antara dua kekuasaan ini sering kali terjadi pertentangan dan pertempuran yang senglt.

Akan tetapi pertentongan ini hanya terbatas pada kelompok kecil saja, tidak sampai merembet kepada kerajaan masing-masing.

Apalagi setelah kedua fihak melihat adanya perkembangan pada bangsa Mongol yang selalu mengincar, maka sekali saja timbul perang di antara mereka, pasti bangsa utara yang berani mati itu akan menyerbu, menggunakan kesempatan selagi dua ekor an|lng berebut tulang dan bertengkar, diam-diam mengambil tulangnya.

Yang payah adalah rakyat jeia.ta.

Untuk bagian sebelah utara Sungai Yang-ce, yaitu di wilayah Kerajaan Cin, kesengsaraan rakyat tidak mengherankan ini oleh karena memang KeraJaan Cin dianggap sebagai kerajaan penjajah yaitu terdiri dari bangsa Yu-cin yang kemudian"

Mendirikan bangsa Cin.

Akan tetapi ter-nyata bahwa di daerah selatan, di mana kerajaannya masih di tangan orang-orang "aseli", keadaannya pun sama saja, kalau tak boleh dikatakan lebih buruk.

Korupsl merajalela, hukum rimba berlaku, siapa berkuasa dia sewenang-wenang, siapa kuat dia rnenang atas yang lemah, siapa kaya dia dapat berbuat sekehendak hatinya Tidak ada pembesar yaog tidak menerima sogokan.

Pengadilan hanya namanya saja, pada hakekatnya adalah sarang sogokan dan pemerasan.

Urusan putih bisa dikatakan hitam oleh hakim yang telah menerima sogokan sampai perutnya yang gendut hampir pecah.

Rakyat petani miskin jangan sekali-kali menghadapi urusan pengadilan, karena benar maupun salah tetap kalah.

Perkara penasaran bertumpuk-tumpuk.

Tuan-tuan tanah menjadi raja-raja kecil di dusun-dusun.

Kerja sama yang kotor sekali terjadi setiap hari di kota antara para hartawan dan bangsawan berpangkat.

Bahkan, keadaan di selatan ini se-sungguhnya lebih buruk daripada keadaan di utara.

Oleh karena itu, kalau di selatan orang-orang gagah sama sekali tidak sudi membantu pemerintah Kerajaan Sung, adalah sebaliknya di utara terdapat kerja sama yang baik dalam arti kata tidak pernah ada pertentangan, sungguh-pun orang-orang gagah tidak ada yang terang-terangan membantu Kerajaan Cin.

Sebaliknya di selatan, sering kali orang-orang gagah membantu rakyat jelata yang tertindas, sering kali membasmi okpa-okpa yaitu orang-orang hartawan dan bangsawan yang memeras rakyat.

Tidak adanya pertentangan di utara, sebagian besar adalah karena di fihak kerajaan ada Pangeran Wanyen Ci Lun yang bijaksana dan dapat bersikap mulia terhadap orang-orang kang-ouw.

Di lain fihak, yaitu di fihak dunia kang-ouw, yang menjadi bengcu adalah Wan Sin Hong, yang sebagaimana telah dicerita-kan di bagian depan adalah seorang ke-turunan darah bangsa Cin pula.

Ayah Wan Sin Hong adalah seorang pangeran bernama keturunan Wanyen pula dan nnasih terhitung paman dari Pangeran Wanyen Ci Lun (baca Pedang Penakluk Iblis).

Cukup sekian sekedar mengetahui kcadaan Tiongkok pada masa itu dan mari kita kembali mengikuti perjalanan Coa Hong Kin yang menuju ke Luliang-san.

la melakukan perjalanan cepat dan i hanya berhenti untuk makan dan tidur saja.

Oleh karena maklum dan sukarnya perjalanan mendaki puncak Jeng-in-thia dl Luliang-san, maka setelah tiba di kaki Gunung Lullang-san pada senja hari, ia mehunda perjalanan dan bermalam di sebuah dusun.

Barui pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia mendaki bukit dan langsung menuju ke puncak di mana Wan-bengcu tinggal.

Perjalanan amat sukar dan melelahikan.

Baiknya Hong Kin adalah seorang gagah yang telah me-miltki kepandaian tinggi sehingga baginya tidak terlalu sukar untuk mencapai puncak.

Setelah ia tiba di dekat puncak 3eng-in-thia, tiba-tiba ia mendengar seruan-seruan seperti orang bersilat dan alang-kah kagetnya k"etika ia merasa sambdran-sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Puncak itu masih terpisah jauh, akan tetapi dan tempat ia berdiri biarpun ia tidak melihat orang-orang yang bertem"

Pur, namun ia telah merasai sambaran argin pukulan.

Benar-benar hebat sekali tenaga orang-orang yang sedang bertem-pur itul la mempercepat jalannya naik ke puncak.

Setelah tiba di Jeng-in-thia, terlihatlah olehnya dua orang kakek sedang bertempur dengan gerakan lambat-lambat sekali, akan tetapi angin pukulan me-nyambar-nyambar dari dua orang kakek ini.

Hong Kin cepat mengerahkan tenaga Iweekangnya ketika angin pukulan me-nyambar hebat sekali.

Namun tetap saja ia terhuyung ke belakang sampai tiga tindak terdorong oleh angin pukulan itu.

Padahal dua orang kakek yang bertempur itu jauhnya ada sepuluh tombak dari tempat ia berdiri!

"Hebat....."

Katanya da!am hati dan cepat-cepat Hong Kin menyelinap dan berlindung di batu karang besar sekali yang takkan roboh oleh serbuan angin taufan sekalipun.

Dari tempat berlindung yang kokoh kuat itu ia mengintai.

Dilihatnya Wan Sin Hong dengan sikap tenang, bibir tersenyum akan tetapi mata bersinar-sinar penuh ketegangan dan pe-nuh perhatian memandang ke arah dua orang kakek yang sedang bertempur, duduk bersila di atas batu rendah.

Di sebelah kanannya duduk pula tiga orang tosu tua yang sikapnya tenang akan te-tapi jelas kelihatan betapa kagum dan juga tegang menonton pertempuran itu.

Di sebelah kiri dari Sin Hong tampak pula tiga orang hwesio yang berdiri de-ngan "lengan tangan bersilang di depan dada dan kaki lebar, juga penuh perhatian menonton pertempuran.

Tiga orang tosu dan tiga orang hwe-sio ini dapat tahan berada di dekat tem-pat pertempuran tanpa bergeming, ini saja sudah menandakan bahwa ilmu ke-pandaian mereka amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmu kepandaian Coa Hong Kin yang bersembunyi dan mengintai di balik batu karang.

Kemudian Hong Kin mengalihkan pandangannya kepada dua orang yang asyik bertempur.

Mereka ini adalah seorang tosu yang sudah tua sekali dan seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian kasar serta beralis tebal dan hitam.

Melihat tosu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang sekali ini, kenallah Hong Kin.

Tosu itu adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, dan gemuk sekali dengan jenggot pendek itu tidak salah lagi tentulah Pang Soan Tojin ketua dart Teng-san-pai.

Tosu ke tiga yang kurus bongkok memegang tongkat butut ia tidak kenal.

juga tiga orang hwesio yang berdiri itu ia tidak kenal.

Kini pertempuran berjalan lebih cepat daripada tadi.

Tadi mereka bertempur lambat-lambat, tidak mengandalkan kecepatan untuk mencari kemenangan, melainkan mengandalkan sepenuhnya kepada tenaga Iweekang mereka.

Ternyata mereka seimbang dalam kekuatan Iweekang.

Hawa pukulan masing-masing tidak dapat mempengaruhi lawan, apalagi meroboh-kan.

Juga tiap kali tangan mereka ber-adu keduanya tergetar karena tenaga raksasa yang seimbang besarnya bertemu.

Setelah pertempuran dilanjutkan dengan cepat, keduanya berputaran dan saking cepatnya rnereka bergerak sampai bayangan mereka menjadi satu dan sukar membedakan mana tosu mana hwesio!

Coa Hong Kin memandang kagum.

menghadapi pertempuran yang jarang dapat disaksikan orang, pertempuran antara cabang-cabang atas, antara tokoh-tokoh besar persilatan.

Bu Kek Siansu adalah ketua Bu-tong-pai, sebuah partai persilatan besar yang sudah amat tersohor, maka tidak mengherankan apa-bila ilmu silatnya tinggl sekali.

Akan tetapi hwesio yang menjadi lawannya juga lihai bukan main.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa empat orang hwesio itu adalah tokoh-tokoh dari selatan yang menjagoi dunia kang-ouw di daerah selatan.

Sementara itu, ketika pertempuran terjadi makin hebat dan di puncak ketegangannya, Wan Sin Hong bangkit berdiri dan berseru.

"Ji-wi Locianpwe harap merhbatasi diri dan jangan membahayakan lawan!"

Mendengar seruan ini, Bu Kek Siansu melompat mundur dan kakek ini menjadi merah.

"Kepandaian Le Thong Hosiang benar-benar hebat, pinto merasa taktuk!"

Katanya sambil menjura.

"Mana bisa! Ketua Bu-tong-pai terlalti merendah. Kita masih seimbang, belum ada yang lebih tinggiatau rendah. Pinceng sudah lama mendengar tentang Bu-tong Kiam-sut yang sukar dicari tandingannya. Kalau toyu sudah membuka mata pinceng dengan sinar pedang, barulah pinceng akan merasa puas dan biar pinceng bawa sebagai oleh-oleh ke selatan. Ha-ha-ha!"

Bu Kek Siansu menjadi pucat "karena menahan marah.

Hwesio selatan ini benar-benar sombong sekali, pikirnya.

Tanpa menjawab sesuatu, melihat Le Thong Hosiang telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang toya pendek yang kelihat-an berat, Bu Kek Siansu lalu menggerak-kan tangan kirinya dan "srat.....!"

Sebatang pedang tipis telah berada di tangannya.

Gerakannya cepat sekali dan cara mencabut pedang ini saja sudah menunjukkan betapa tinggi kiam-sut dari ketua Bu-tong-pai ini.

Sin Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak sempat mencegah karena Le Thong Hosiang sambil tertawa-tawa telah memutar toyanya melakukan serangan-serangan hebat.

Ilmu toya dari hwesio ini benar-benar tangguh sekali dan beberapa jurus kemudian Sin Hong sudah mengenal ilmu toya ini sebagai Ilmu Toya Siauw-lim-pai yang sudah ba-nyak berubah.

Bu Kek Siansu juga maklum akan kelihaian toya lawan, maka ia pun tidak mau kalah, memutar pedangnya yang berubah menjadi segulungan sinar putih yang kuat.

Di lain saat dua prang kakek ini sudah lenyap dari pandangan mata, bayangan mereka terbungkus oleh sinar pedang yang putih seperti perak dan sinar toya yang agak kehitaman.

Apalagi bagi pandangan mata Hong Kin, ,ia seakan-akan melihat dua ekor naga, putih dan hitam, tengah bermain-main di tempat itu, melayang-layang dan menyambar-nyambar!

"Bukan main....."

Kembali ia memuji. Sin Hong yang melihat betapa dua orang kakek yang bertempur itu mulai "panas"

Sehingga sinar senjata mereka merupakan kuku maut, lalu menarik napas panjang, maju beberapa langkah, kemudian ia mengebut-ngebutkan kedua ujung lengan bajunya seakan-akan membuang kotoran dan debu yang menempel pada ujung lengan bajunya itu.

Padahal sebetulnya pemuda sakti ini tengah mengerahkan tenaga sinkangnya sehingga beberapa gelintir tanah kering yang me-nempel di kedua ujung lengan baju itu melayang dengan luncuran cepat ke arah dua kakek yang sedang bertempur.

"Ayaaa.....!"

Le Thong Hosiang melompat ke belakang dan wajahnya berubah pucat.

Ketika ia sedang bertempur tadi, ia melihat benda hitam kecii seperti capung menyambar mengenai tongkatnya dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan terus hawa panas menjalar ke lengannya membuat lengan itu seperti lumpuh.

Juga Bu Kek Siansu melompat mundur, menjura ke arah Sin Hong sambil berkata.

"Baiknya bengcu datang melerai, kalau tidak mungkin pinto akan tewas di bawah toya Le Thong Hosiang."

Mendengar ini, barulah Le Thong Hosiang tahu bahwa tadi adalah perbuatan bengcu muda itu, diam-diam ia kaget sekali.

"Masih begini muda sudah lihai bukan main....."

Pikirnya kagum dan gentar.

"Le Thong Hosiang, maafkan kalau aku campur tangan. Biarpun terpisah oleh Sungai Yangce dan bernaung di bawah kerajaan yang berbeda, namun pada hakekatnya, kita kedua fihak masih ter-hitung orang-orang segolongan, yakni orang-orang yang menjunjung tinggi ke-gagahan, keadilan dan bertindak di atas jalan kebenaran dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, biarpun pada saat ini di antara kita terdapat perbedaan faham dan pendapat, namun tidak semestinya kalau perbedaan faham ini dikotori dan dibikin hebat oleh pertempuran yang hanya akan memperdalam salah mengerti, mungkin akan menimbulkan permusuhan. Oleh karena itu, aku harap kau dan kawan-kawanmu suka nnempertimbangkan hal ini baik-baik."

Le Thong Hosiang mengempit toyanya dan berkata kepada tiga orang hwesio yang berdiri bagaikan patung.

"Wan-bengcu telah memperlihatkan kelihaiannya dan terus terang saja, pinceng merasa kagum dan tunduk sekali. Lepas dari darah bangsawannya, memang dilihat dari kelihaian-nya ia patut menjagoi. Hayo kita pergi."

Tiga orang itu lalu menjura ke arah Wan Sin Hong dan para tosu, setelah Sin Hong dan empat orang tosu membalas penghormatan mereka, Le Thong Hosiang dan tiga orang kawannya lalu berlari turun gunung dengan langkah lebar sekali.

Ketika lewat di dekat batu karang di belakang mana Hong Kin bersembunyi, Le Thong Hosiang berkata sambil tertawa.

"Toyaku sudah tidak ada gunanya!"

Dan dipukulnya batu kar&ng itu.

Ter-dengar suara keras dan permukaan batu kat-ang itu remuk sambil mengeluarkan 4 bunga api.

Seluruh batu karang itu tergetar hebat.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hong Kin yang mengira batu karang itu akan roboh menimpanya, cepat melompat keluar.

Empat orang hwe-sio itu tertawa-tawa sambil melanjutkan lari mereka.

Hong Kin mandi keringat.

Bukan.

main lihainya Le Thong Hosiang tadi yang ternyata dapat melihatnya dan sengaja menggertaknya keluar dari tempat persembunyian.

Karena tidak dapat bersembunyi pula, Hong Kin lalu keluar menghampiri Sin Hong, dan memberi hormat kepada Sin Hong dan para tosu itu.

Para tosu yang sedang menghadapi Sin Hong dan nampaknya ada urusan penting hanya mengangguk saja kepada Hong Kin, sedangkan Sin Hong berkata.

"Saudara Coa Hong Kin, duduklah dan tunggu sampai aku selesai bicara dengan parar Locianpwe ini."

La menuding ke arah sebuah batu hitam di dekat se-pasang makam yang terawat baik dan mewah.

Hong Kin mengangguk lalu ber-jalan cepat dan duduk di atas batu se-telah mengangguk hormat di depan se-pasang makam yang ia tahu adalah ma-kam Pak Kek Siansu dan Pak Hong Sian-su.

Setelah itu ia duduk mendengarkan percakapan rnereka.

"Wan-bengcu, pinto hendak bertanya dengan singkat saja. Tentang tuduhan kawan-kawan gundul tadi bahwa dahulu Wan Sin Hong adalah seorang penjahat besar, tak perlu dibicarakan lagi karena pinto dan kawan-kawan lain semua maklum bahwa dahulu kau difitnah oleh Liok Kong Ji yang melakukan kejahatan mem-. pergunakan namamu. Akan tetapi, ada hal yang baru yang kami dengar tadi. Betul-betulkah kau adalah keturunan dari keluarga Raja Cin dan mana ke-turunanmu Wanyen? Betulkah kau keturunan bangsa Cin yang menjajah tanah air kita di utara ini?"

Wajah Sin Hong menjadi sebentar pucat sebentar merah. la menarik napas panjang berulang-ulang, lalu melambaikan tangan dan berkata.

"Duduklah dulu, Totiang dan dengar-kan penjelasanku."

Kemudian sambil bersila di atas batu, Sin Hong berkata.

"Cuwi Locianpwe dan para Locianpwe yang dulu hadir dalam pemilihan bengcu di Ngo-heng-san, semua tahu belaka bah-wa sesungguhnya aku Wan Sin Hong tidak sekali-kali mengajukan diri dan berusaha mendapatkan kedudukan bengcu. Terus terang saja, adalah setengah terpaksa aku menerima tugas dan kedudukan bengcu, karena apa sih senangnya men-jadi bengcu? Tanggung jawab besar, se-lalu menghadapi hal-hal tak menyenang-kan untuk dipecahkan dan diselesaikan. Akan tetapi, sudahlah semua itu, aku sudah menerimanya dan aku akan men-jaga agar dapat menunaikan tugas dengan taruhan jiwa ragaku. Sekarang ini, Cuwi Locianpwe, setelah terkena tiupan dari orang-orang gagah di selatan yang berpikiran sempit, meributkan soal nama keturunan. Apakah isi hati manusia di-ukur dari keturunannya? Adakah manusia hendak disamakan dengan kuda yang selalu ditanya keturunan apa untuk ditentukan baik tidaknya? Sepanjang sejarah yang kuketahui, banyak keturunan orang biasa saja men-. jadi raja dan menjadi pembesar tinggi, juga tidak kurang banyak keturunan raja dan orang-orang besar akhirnya menjadi penjahat rendah!"

"Wan-bengcu, pinto rasa cukup semua pembelaan yang Wan-bengcu ajukan ini karena kami semua sudah mengerti akan hal itu. Yang menjadi persoalan apakah benar kau keturunan Wanyen?"

Tanya Tai Wi Siansu, kakek yang sudah amat tua itu sambil memandang tajam.

"Tai Wi Taisu, kau orang tua yang sudah jadi sahabat baik, dan penasehatku selama ini, yang kuanggap sebagai pengganti orang tua dan guru, kau juga...,.?"

"Justeru karena itulah pinto meng-hendaki kepastian, karena ini bukan hal yang remeh saja....."

Wan Sin Hong me-mandang kepada keempat orang tosu itu berganti-ganti, kemudian berkatalah ia dengan suara lantang, nadanya menantang.

"Memang benar! Aku Wan Sin Hong adalah putera tunggal dari Wan Kan yang tadinya bernama Pangeran Wanyen Kan! Ayahku seorang pangeran besar dan Ibuku seorang anak murid Hoa-san-pai. Memang betul aku keturunan seorang pangeran bernama Wanyen. Habis, apa bedanya?"

Keempat orang tosu ini seperti mendapat komando, bangkit berdiri dari tem-pat duduk masing-masing, menjura ke arah Wan Sin Hong, lalu pergi setelah Tai Wi Taisu berkata lirih.

"Wan-bengcu, urusan ini harus kami bicarakan di antara ketua partai. Sampai berjumpa kembali!"

Maka pergilah empat orang tosu ini turun dari puncak Jeng-in-thia, meninggalkan Wan Sin Hong yang tersenyum getir dan hatinya tertusuk.

la berdiri termenung memandang ke arah perginya empat orang tosu tadi dan baru tersadar ketika mendengar suara di belakangnya.

"Sungguh empat orang kakek yang hanya panjang usianya saja akan tetapi pikirannya sempit!"

Wan Sin Hong me-nengok dan memandang kepada Coa Hong Kin.

"Orang seperti engkau yang pernah bekerja sama dengan Pangeran Wanyen Ci Lun, baru tahu bahwa bukan hanya suku bangsa Han yang mempunyai orang-orang budiman. Akan tetapi pandangan orang-orang tua itu tentang kebangsaan amat kolot dan kukuh. Bagi mereka, se-lain bangsa Han tulen tidak ada orang baik. Ah, Saudara Coa, aku benar-benar mulai menyesal mengapa dulu kuterima kedudukan bengcu. Sekarang tentu akan datang hal-hal yang amat tidak enak."

"Wan-bengcu, empat orang tosu tadi agaknya ketua-ketua dari partai-partai besar yang dahulu bekerja sama meng-hadapi orang-orang jahat seperti Liok Kong 3i, See-thian Tok-ong dan lain-lain. Akan tetapi empat orang hwesio itu siapakah? Dan mengapa tadi Bu Kek Siansu bertempur melawan hwesio itu?"

Sin Hong menghela napas.

"Saudara Coa, karena kebetulan kau menyaksikan semua tni, baik kuceritakan padamu. Duduklah."

Coa Hong Kin lalu d"iduk di atas batu dan Sin Hong bercerita.

Ternyata bahwa empat orang hwesio yang lihai-lihai itu | adalah tokoh-tokoh besar dari selatan, jyaitu Le Thong Hosiang ketua Partai Taiyun-pai di Pegunungan Taiyun-san yang letaknya di pantai utara, Nam Kong Hosiang dan sutenya Nam Siong Hosiang pemimpin-pemimpin kelenteng besar di Gunung Kao-likung-san, dan yang ke empat seorang yang amat terkenal di selatan yang bernama Heng-tuan-san Lojin (Orang Tua dari Heng-tuan-san), seorang hwesio perantau yang tinggi ilmu silatnya.

Ketika empat orang hwesio ini tiba di puncak Jeng-in-thia Wan Sin Hong se-dang duduk bercakap-cakap dengan empat orang tosu yang memang betul seperti dikenal oleh Hong Kin adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai, Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai.

dan yang seorang lagi adalah Cin-lien Tojin, seorang tosu perantau dari Gunung Cin-Lien-san.

Empat orang tosu ini mengunjungi Wan-bengcu dan tengah bercakap-cakap tentang ancaman orang-orang Mongo!

yang menurut Sin Hong mulai mengirim-kan orang-orang pandai ke perbatasan untuk menjadi penyelidik dan juga agak-nya ada maksud-maksud dari orang-orang Mongol itu untuk membujuk orang-orang gagah di wilayah Kerajaan Cin agar suka bekerja sama.

Sin Hong dan empat orang tosu itu sedang berdebat.

Menurut pen-dapat Sin Hong, sudah sepatutnya kalau para orang gagah bangkit dan melawan orang-orang Mongol itu dan membasmi atau mengusir mereka, bukan sekali-kali demi Kerajaan Cin, melainkan demi keselamatan rakyat agar jangan sampai dijajah oleh orang-orang Mongol.

Akan tetapi empat orang tosu itu membaritah, menyatakan bahwa bukan menjadi ke-wajiban mereka untuk membantu raja yang bukan bangsa sendiri.

Mereka ini hendak lepas tangan dan menyatakan bahwa selama mereka tidak diganggu oleh orang-orang Mongol, mereka hendak mengambil sikap sebagai penonton saja apabila timbul perang antara Negara Cin dan Negara Mongol.

Selagi mereka berdebat, muncul empat orang hwesio dari selatan itu yang da-tang-datang memaki-maki dan mencela orang-orang kang-ouw di wilayah utara yang dikatakannya sudah lupa kebangsaan sehingga memilih bengcu seorang penjahat yang bernama Wan Sin Hong.

Bukan hanya penjahat, bahkan seorang keturunan Wan-yen.

"Sungguh tidak disangka bahwa orang-orang gagah seperti Kun-lun dan Bu-tong sampai kena dibeli oleh Kaisar Cin sehingga mau saja mempunyai bengcu se-orang anak pangeran. Hm, memalukan sekali,"

Demikian Le Thong Hosiang mengakhiri caci makinya.

Kata-katanya membuat Bu Kek Siansu marah, maka tak dapat dicegah lagi kedua orang kakek ini lalu mengadu ke-pandaian sampai Sin Hong turun tangan mencegah pertumpahan darah lebih lan-jut.

Kelihaian Sin Hong ternyata dapat mengusir empat orang hwesio itu.

Akan tetapi, kata-kata Le Thong Hosiang mengejutkan para tosu dan mereka meng-ajukan pertanyaan tentang keturunan Wanyen.

"Demikianlah, Saudara Coa. Teritu para ciangburijin (ketua) partai besar akan sependapat dan tidak setuju rnempunyai bengcu seorang Wanyen. Hal ini bagiku tidak ada artinya, biar aku tidak men-jadi bengcu tidak akan kecewa atau me-nyesal. Akan tetapi, justeru pada saat orang-orang Mongol akan bergerak, rnun-cul urusan ini dan sikap para ciang-bunjin yang tidak ambil peduli atas ge-rakan orang-orang Mongol itu benar-benar menggelisahkan hatiku. Ahh, aku membicarakan urusanku sendiri saja sampai melupakan urusanmu. Saudaraku yang baik, kau datang tentu membawa urusan penting. Ada apakah?"

Wajah Hong Kin menjadi muram.

"Agak sukar aku membuka mulut setelah mendengar betapa kau tertimbun urusan sulit. Kedatanganku berarti menambah beban dan kepusinganmu, Wan-bengcu."

Melihat kemuraman wajah Hong Km, hati Sin Hong berdebar. Betapapun juga, persangkaan bahwa Hui Lian tertimpa malapetaka membuat ia gelisah dan cemas.

"Saudara Coa, jangan kaubilang begitu. Lekas katakan; kesulitan apakah yang mengganggumu?"

Dengan singkat Hong Kin lalu menceritakan tentang penculikan atas diri Tiang Bu yang dilakukan oleh Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.

"Inilah yang menyusahkan hati kami, Wan-bengcu, karena Tiang Bu bagi Kami sama dengan putera sendiri. Tadinya kaiTu mempunyai niat untuk menyerahkan anak itu kepadamu agar dapat menerima pelajaran ilmu silat dan pendidikan dari-mu. Dan bukan sekali-kali aku hendak memanaskan hatimu atau mengadu, Wan-bengcu, akan tetapi sesungguhnya Hui-eng Niocu telah meninggalkan kata-kata bahwa biarpun kau akan membela kami, dia takkan takut menghadapimu."

Sejak tadi Sin Hong sudah tersenyum dan mendengar kata-kata terakhir ini se-nyumnya melebar dan ia mengangguk-angguk.."Tak usah kau berkata begitu, aku pun telah mengerti, Saudara Coa.

Aku!

tahu akan maksud Hui-eng Niocu.

Me-mang aku sudah menduga bahwa ia tentu akan mencari gara-gara.

Jangan kau kha-watir, biarlah aku yang akan menyusul ke Go-bi-san dan memintakan anakmu itu.

Akan tetapi tentang menjadikan aku sebagai gurunya.....

aku belum sanggup | menerima murid, saudaraku yang baik.

1 Entah kelak.

Biarlah, hal itu kita bicara-kan kelak saja.

Sekarang yang terpenting, aku akan mengejarnya dan karena aku , mempunyai sebuah urusan, harap kau suka mewakili aku pergi, dengan demikian semua urusan dapat beres."

"Tentu saja, katakanlah. Apa yang harus kulakukan?"

Tanya Hong Kin cepat-cepat.

"Sepulangwu dari sini, singgahlah di kota raja flan -berikan sepucuk suratku kepada Pangeran Wanyen Ci Lun. Dapat-kah kaulakukan hal ini untukku?"

Wajah Hong Kin berseri gembira.

"Cocok dan kebetulan sekali! Tentu saja tugas ini akan kulakukan dengan segala senang hati, Wan-bengcu, karena memang aku pun hendak singgah di kota raja, hendak mengunjungi Pangeran Wanyen Ci Lun!"

"Bagus! Kalau begitu tunggulah 18^-bentar kubuatkan suratnya dan kita be^ rangkat menjalankan tugas masing-masing."

Dengan cepat Sin Irtong masuk ke dalam gua, membuat surat untuk Pange-ran Wanyen Ci Lun yang menjadi saudara misannya, memberikan itu kepada Coa Hong Kin dan tak lama kemudian c"ua ,orang rnuda ini turun dari puncak, lalu berpisah mengambil jalan masing-maskig.

Coa Hong Kin menuju ke timur sedang-kan Sin Hong menuju ke utara.

Hui-eng-pai atau Perkumpulan Garuda Terbang mempunyai markas di sebuah hutan yang subur dan indah di atas salah sebuah puncak di Pegunungan Go-bi-san.

Puncak ini memang bertanah subur se-hingga dari kaki bukit sampai ke atas, penuh dengan dusun-dusun yang didiami oleh para petani.

Di puncak inilah tinggal Hui-eng Niocu Siok Li Hwa dengan seratus orang anak buahnya, semua terdirl dari wanita belaka.

Ada yang .sudah tua, ada yang masih remaja, akan tetapi sebagian besar ada-lah gadis-gadis yang cantik.

Biarpun tidak hidup sebagai pertapa-pertapa atau pendeta-pendeta akan tetapi keadaan mereka hampir sama dengan penghidupan para nikouw (pendeta wanita Buddha), berdisiplin dan memegang tata tertib.

Seorang anggauta yang berani melakukan penyelewengan, akan dihukum keras oleh Siok Li Hwa, akan tetapi ini bukan berarti bahwa semua anggauta tidak mempunyai kebebasan.

Banyak sudah anggauta yang mendapatkan "jodoh"

Dan mereka ini tidak dilarang untuk menikah, hanya dilarang untuk kembali ke situ dan di-haruskan keluar dan ikut suaminya!

Pen-deknya, yang diperbolehkan tinggal di situ hanyalah anggauta-anggauta yang masih gadis yang sudah janda, pendeknya orang-orang yang tidak terikat hidupnya oleh suami.

Di belakang bangunan yang besar sekali dan amat indahnya seperti istana raja-raja, terdapat sebuah taman yang luas dan indah pula.

Tarran ini penuh dengan bunga-bunga yang jarang terlihat di kota dan di sudut taman terdapat sebuah makam yang terawat baik.

Inilah?

makam dari Pat-jiu Nio-nio, pendiri Hui-eng-pai atau guru Siok Li Hwa dan se-mua anggauta Hui-eng-pai.

Makam ini terawat baik dan merupakan pujaan di samping Hui-eng Niocu Siok Li Hwa sendiri yang dipuja dan disegani oleh semua anggauta.

Siok Li Hwa masih se-lalu menghormat makam mendiang guru-nya karena menganggap makam ini sebagai pengganti guru dan orang tuanya.

Seringkali ia kelihatan duduk termenung di depan makam, atau kadang-kadang kelihatan ia tekun bersembahyang se-akan-akan minta doa restu dari gurunya itu.

Pada suatu hari Li Hwa pulang membawa seorang bocah laki-laki yang buruk mukanya.

Semua anggauta Hui-eng-pai terheran-heran.

Anggauta-anggauta yang sudah lanjut usianya dan menjadi pembantu Siok Li Hwa, memprotes.

Akan tetapi mereka ini dibentak oleh Li Hwa yang berkata lantang..

"Jangan ribut-ribut! Aku bukan mem-bawa pulang seorang pemuda! Ini adalah bocah yang masih kecil dan bersih, yang kubawa pulang untuk menjadi muridku karena aku melihat ia berbakat baik."

"Akan tetapi, Niocu. Amat tidak pan-tas..... kalau dia sudah besar, sepuluh tahun lagi saja...... dia menjadi seorang pemuda di antara kita....."

Bantah seorang anggauta yang berusla lima puluh tahun.

"Ini namanya melanggar sumpah dan larangan perkumpulan....."

Kata pula wanita tua ke dua.

"Diam! Sekali lagi bilang melanggar sumpah, kutampar mulutmu! Siapa yang melanggar larangan? Bunyi larangan ialah tidak diperbolehkan memasukkan seorang laki-laki ke tempat ini. Yang kumaksud-kan bukan orang dewasa melainkan se-orang bocah. Dia akan berbuat jahat apakah? Tentu saja ada batasnya. Paling lama tujuh tahun dia berada di sini. Setelah berusia dua belas tahun, ia harus pergi. Nah, siapa berani bilang aku me-masukkan laki-laki? Apakah bocah umur lima sampai dua belas tahun bisa men-datangkan hal-hal buruk? Hayo jawab!"

Tak seorang pun berani menjawab karena selain takut, juga mereka pikir tiada salahnya kalau di situ ada seorang bocah cilik, biar laki-laki sekalipun.

Demikianlah, Tiang Bu dirawat dan diobati oleh ahli-ahli pengobatan di situ dan ternyata setelah beberapa hari ber-ada di situ, hampir semua anggauta Hui-eng-pai, tua muda, suka kepadanya.

Hal ini tidak mengherankan karena sudah lajim kaum wanita suka kepada anak-anak, apalagi di situ tidak pernah ada anak kecil, dan laki-laki pula!

Setelah kakinya yang patah sembuh sama sekali, pada suatu pagi, Li Hwa mengajak anak itu ke taman bunga, tempat yang paling disukai oleh Tiang Bu.

Anak ini tak pernah mau bertanya tentang ayah bundanya, karena pernah ia satu kali bertanya dijawab dengan tamparan yang menyakitkan kedua pipinya oleh Siok Li Hwa.

"Kau menurut saja apa yang dikatakan oleh Niocu,"

Berkali-kali para anggauta Hui-eng-pai memberi nasihat ke-pada bocah ini sehingga Tiang Bu menjadi takut kalau berhadapan dengan Siok Li Hwa.

Li Hwa membawa ke makam yang berada di sudut taman dan menyalakan beberapa batang hio.

la memberikan hio itu kepada Tiang Bu, sebagian dipegang-nya sendiri, lalu berkata.

"Hayo kau sembahyang di depan makam Su-couw."

Tiang Bu menurut saja. la berdiri di depan miakam dan mengangkat-angkat hio ke atas kepala. Li Hwa minta hio itu dan menancapkannya di depan bongpai (batu nisan).

"Hayo berlutut dan kautsru kata-kata yang kuucapkan nanti!"

Li Hwa berlutut dan Tiang Bu berlutut di sebelahnya, hatinya berdebar penuh rasa takut. Makam itu mengenkan hatinya dan upacara yang tidak mengertinya ini menimbulkan rasa seram dan takut.

"Sucouw Pat-jiu Nio-nio, teecu Liok Tiang Bu bersumpah....."

Kata Li Hwa, lalu disambungnya perintah kepada Tiang Bu.

"Hayo tiru!"

"Sucouw Pat-jui Nio-nio, teecu..... Tiang Bu bersumpah.."

Bocah itu meniru akan tetapi meninggalkan she Liok, karena biarpun masih kecil, anak ini cerdik dan sudah tahu bahwa shenya bukan Liok, melainkan Coa.

Li Hwa marah dan menampar kepala anak itu sehingga bergulinganlah tubuh kecil itu.

Baiknya Li Hwa tidak menggunakan tenaganya sehingga Tiang Bu tidak terluka.

Dengan takut Tiang Bu berlutut lagi.

"Goblok! Aku bilang LIOK Tiang Bu, dan kau pun harus meniru begitu. Kau-kira kau ini she Coa dan kau ini anak siapakah? Coa Hong Kin dan Go Hui Lian itu bukan ayah bundamu. Ayahmu bernama Liok Kong Ji dan Ibumu bernama Gak Soan Li, tahu? Hayo, semua kata-kataku harus ditiru, tidak boleh diubahl"

Dengan sebentar-sebentar berhenti agar bocah itu mudah menglkutinya, Li Hwa ^ membuat anak itu bersumpah begini.

"Sucouw Pat-jiu Nio-nio, teecu Liok Tiang Bu bersumpah akan menjadi murid yang taat dan rajin dari Hui-eng Niocu, Siok Li Hwa. Kelak kalau teecu sudah pandai, teecu berjanji akan membalas budi Hui-eng Niocu Siok Li Hwa, membalas sakit hatinya kepada dua orang, yaitu pertama kepada Wan Sin Hong dan ke dua kepada Go Hui Lian, karena dua orang itu telah membuat guruku Siok Li Hwa kehilangan kebahagiaannya."

Baru saja sumpah atau janji ini selesai diucapkan, terdengar suara menegur.

"Li Hwa, kau benar-benar terlalu sekali""

Bayangan yang gesit sekali berkelebat dan di lain saat tubuh Tiang Bu telah disannbar dan dipondong oleh orang yang baru tiba dan menegur tadi.

"Sin Hong, manusia keji dan sombong. Kembalikan muridku!"

Li Hwa mengejar dengan pedang Cheng-liong-kiam sudah berada di tangannya. Dengan marah sekali ia menyerang Sin Hong yang cepat mengelak kareria serangan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Li Hwa, dengarlah dulu. Jangan mengganggu orang tidak berdosa....."

"Laki-laki kejami, kembalikan dla."

Li Hwa berseru lagi dan pedangnya berkele-bat amat berbahaya, bukan saja berbahaya bagi Sin Hong, bahkan juga mengancam keselamatan Tiang Bu yang berada dalam pondongan Sin Hong.

Melihat betapa serangan Li Hwa bu-kan main-main dan benar-benar mengancam keselamatan Tiang Bu, terpaksa Sin Hong mencabut pedang di pundaknya dengan tangan kanan dan sekali tangannya bergerak, pedangnya telah dapat menindih pedang Li Hwa!

Li Hwa ber-kutetan mengerahkan segenap tenaga agar pedangnya terlepas dari tindihan pedang Sin Hong, namun sia-sia belaka, pedangnya seakan-akan sudah lekat dan menjadi satu dengan pedang Pak-kek-sin-kiam di tangan Sin Hong.

Dengan mengerahkan tenaga sambil menggigit bibir saking gemasnya, Li Hwa mencoba sekali lagi untuk membetot pedangnya, supaya terlepas.

Masih saja sia-sia belaka.

Marahlah Li Hwa.

la masih mem-punyai tangan kiri yang menganggur, akan tetapi ia tahu bahwa kalau ia me-nyerang Sin Hong akan percuma saja karena pemuda itu mempunyai kepandai-an yang beberapa kali lebih tinggi tingkatnya.

Oleh karena itu, tiba-tiba tangan kirinya meluncur ke depan dan jari telunjuk tangan kirinya menotok ke arah jidat Tiang Bu yang digendong Sin Hong.

Serangan ini cepat sekali dan tidak terduga sama sekali, sehingga Sin Hong menjadi terkejut sekali.

la berseru kaget membanting tubuhnya ke belakang.

Dengan sendirinya ia menarik kernbali pedangnya dan melompat dengan cara berjungkir-balik ke belakang dengan Tiang Bu masih berada dalam pondongannya.

"Kembalikan muridku!"

Li Hwa ber-seru gemas sambil mengejar ketika melihat Sin Hong berlari dan melompat keluar dari tembok yang mengelilingi taman bunga itu.

Air matanya sudah mengalir saking gemasnya, karena gadis ini tahu betul bahwa tak mungkin ia akan dapat menyusul Sin Hong kalau laki-laki itu betul-betul hendak melarikan diri.

Ilmu lari cepatnya kalah jauh dibanding-kan dengan Sin Hong.

Akan tetapi ketika ia tiba di luar taman, ia melihat bahwa Sin Hong ter-nyata sedang bertempur hebat melawan tiga orang kakek aneh yang ketika ia perhatikan bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui!

Tiga orang aneh ini dengan bertangan kosong menyerang Sin Hong dan mengepungnya dari tiga jurusan dengan ilmu silat mereka yang aneh dan luar biasa akan tetapi hebat sekali.

Tak jauh dari situ, hampak tiga puluh enam orang berdiri teratur seperti barisan dan mereka ini kelihatan kuat-kuat.

Tiang Bu yang tadi dipondong oleh Sin Hong telah berada di pondongan seorang yang berdiri terdepan di barisan itu.

Apakah yang terjadi dalam waktu singkat tadi?

Ketika Sin Hong melompat .keluar | dari taman bunga dikejar oleh Li Hwa, begitu tiba di luar tembok, ia merasa ada angin pukulan yang dahsyat menyambarnya dari segala jurusan, ditambah pula dengan bermacam-macam sinar yang ter-nyata bukan lain adalah jarum-jarum halus yang berbisa.

Sin Hong kaget bukan main karena serangan tiba-tiba ini benar-benar amat membahayakan, ter-utama sekali berbahaya bagi Tiang Bu yang berada dalam pondongannya.

la maklum bahwa hawa-hawa pukulan itu dilakukan oleh orang-orang berkepandaian i tinggi.

Baginya hawa pukulan ini masih tertahan karena tubuhnya memiliki sin-kang yang tinggi, akan tetapi kalau hawa pukulan itu mengenai Tiang Bu tentulah bocah ini akan tewas!

Oleh karena itu sambil melesat ke samplng dan meng-gerakkan lengan kanannya untuk me-nyampok semua jarum-jarum halus itu, Sin Hong melemparkan Tiang Bu ke tempat aman dan anak itu jatuh ke atas tanah berumput yang tidak keras.

Anak itu kaget dan menangis.

Baru sekaiang ia dapat menangis sejak kekagetan hebat yang ia alami.

Tadinya jatuh dari pohon setelah disengat lebah sarnpai kakinya patah, lalu diculik Hui-eng Niocu, ke-mudian dijadikan perebutan antara Sin Hong yang tidak dikenalnya dengan Hui-eng Niocu yang ia takuti.

Sekarang ia mengalami hal yang hebat lagi.

Di lain saat tiga orang berkelebat dan menyerang Sin Hong sambil tertawa-tawa.

melihat bahwa tiga orang ini bu-kan lain adalah Pak-kek Sam-kui, Sin Hong mendongkol sekali dan cepat me-layani mereka.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bagaimana sebarisan orang tiba-tiba muncul dari balik pohon-pohon dan seorang di antara-nya yang kelihatan sebagai pemimpirnya, melompat dan menyambar tubuh Tiang Bu.

Saking takut dan kagetnya melihat barisan orang-orang berwajah galak ini, Tiang Bu menutup kembali mulutnya dan tidak berani menangis.

Hanya matanya yang lebar itu memandang ke sana ke mari dengan liar.

Melihat semua ini, Li Hwa menjadi marah dan dengan pedang di tangan ia melompat, bukan untuk merampas kem-bali Tiang Bu, melainkan untuk membantu Sin Hong.

"Pak-kek Sam-kui siluman-siluman pengecut!"

Ia memaki dan pedangnya menyerbu cepat.

Kedatangan Li Hwa ini kebetulan sekali oleh karena Sin Hong yang telah mainkan Pak-kek Sin-kiam ternyata juga terdesak oleh tiga orang aneh ini.

Padahal mereka bertiga bertangan kosong saja!

Ketiganya memiliki kepandaian tinggi dan aneh, berani mempergunakan kuku jari tangan untuk me-nyentil pedang pusaka Andaikata Li Hwa tidak datang merh-bantu, akan sukar sekali bagi Sin Hong mencapai kemenangan, atau sedikitnya ia harus mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga serta memakan waktu lama.

Akan tetapi setelah Li Hwa maju dengan pedang Cheng-liong-kiam di tangannya, keadaan segera berubah.

Dua sinar pedang putih kuning dan hijau menyambar dan bergulung-gulung seperti dua ekor naga membuat Pak-kek Sam-kui kewalahan sekali.

Akan tetapi dua orang muda itu ter-nyata hanya dapat melindungi diri dengan baik saja, sama sekali tidak dapat me-ngirim serangan yang membahayakan musuh.

Mengapa begitu?

Oleh karena Sin Hong maklum bahwa tingkat kepandaian Li Hwa masih kalah beberapa tingkat kalau dibandingkan dengan tiga orang aneh ini.

Apabila dia melakukan serangari dalam keadaan seperti itu, mungkin ia akan dapat merobohkan seorang di antara tiga lawan ini, akan tetapi sebaliknya keadaan Li Hwa juga berbahaya karena tidak terlindung oleh pedangnya.

Inilah yang menyebabkan Sin Hong mengurangi daya serangannya dan memperkuat daya tahan karena ia harus melindungi keselamatan Li Hwa.

Di lain fihak, Pak-kek Sam-kui me-j rasa seperti menghadapi dua tembok baja yang kuat sekall.

Tiga orang kakek yang sakti dan banyak pengalamannya ini maklum bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, mereka takkan menang.

Giam-lo-ong Ci Kui yang jangkung dan gundul itu tiba-tiba mengeluarkan seruan-seruan aneh yang menjadi isyarat bagi kawan-kawannya.

Sin Hong sudah merasa khawatir sekali, kalau-kalau tiga puluh enam orang itu diperintahkan maju membantu.

Akan tetapi anehnya, ketika barisan itu mulai bergerak mencabut senjata, tiga orang kakek itu bahkan melompat imundur!

Giam-lo-ong Ci Kui melompat ke depan komandan barisan, menyambar tubuh Tiang Bu, kemudian bersama dua orang sutenya ia melarikan diri.

"Penjahat-penjahat keji, tinggalkan anak itu.....!"

Sin Hong berseru dan besama Li Hwa ia mengejar.

Akan tetapi, tiba-tiba barisan itu ber-gerak cepat sekali, menghadang dua orang muda yang hendak mengejar itu!

Semua anggauta barisan memegang golok besar di tangan, sikap mereka garang sekali.

"Tikus-tikus busuk, kalian sudah bosan hidup!"

Li Hwa memaki dan pedang hijaunya menyambar-nyambar.

Sebentar saja Li Hwa dan Sin Hong terkurung rapat oleh tiga puluh enam orang itu yang bertempur secara nekat dan mati-matian.

Biarpun bagi Sin Hong dan Li Hwa kepandaian mereka ini tidak se-berapa artinya, namun kenekatan mereka membuat dua orang muda ini kewalahan dan harus berhati-hati juga.

Mereka ber-dua sama sekali tidak melihat kesempat-an untuk melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pak-kek Sam-kui.

Hebatnya tiga puluh enam orang ini seakan-akan tidak takut mati atau me-mang tolol.

Melihat kawan-kawan mereka banyak yang roboh oleh pedang dua orang yang lihai itu mereka tidak menjadi je-rih, sebaliknya bagaikan singa mencium darah, mereka makin nekad dan men-desak terus.

Benar-benar seperti rom-bongao nyamuk yang tidak takut api lilin, menyerbu terus sampai mereka roboh binasa.

Sin Hong tidak tega untuk membunuh sekian banyak orang.

Akan tetapi Li Hwa seperti berpesta, pedangnya menyambar-nyambar dan setiap kali terdengar jerit kesakitan atau golok terputus menjadi dua.

"Kalian masih tidak mau menyerah? Sin Hong membentak, marah dan heran. Sebagai jawaban, beberapa orang serdadu ini melemparkan sesuatu ke arah-nya. Melihat benda bulat hitam, Sin Hong rnengira bahwa mereka mempergunakan senjata rahasia pelor besi. Melihat cara mereka melempar dan jalannya pelor yang tldak kencang, Sin Hong tertawa mengejek. Ada lima buah benda hitam yang menyambar ke arahnya. Cepat la menyampok pelor pertama dengan pedangnya.

"Darrr.....!"

Benda itu meledak mengeluarkan api!

Sin Hong cepat menggulingkan tubuh ketika merasa hawa panas dan benda-benda kecil menyambar ke arahnya dari pecahan itu.

Akan tetapi empat buah benda lain berturut-turut jatuh ke tanah dan meledak.

Hal yang tidak disangka-sangka ini, biarpun seorang sakti seperti Siri Hong sekalipun, tak sempat menghindarkan diri lagi.

Kalau ia tahu, tentu ia akan melompat jauh-jauh dari tempat itu.

Biarpun ia sudah mengelak ke sana ke mari dan memutar pedangnya, tetap saja beberapa benda kecil mengenai tubuhnya.

Benda-benda kecil yang panas memasuki kaki dan lengannya!

Li Hwa mengalami nasib sama!

Bah-kan lebih hebat.

Sebuah benda yang menyambar kepadanya ia tendang dan benda itu meledak, isinya melukai paha kanan4 nya, membuat gadis itu roboh tak dapat bangun pula.

Melihat ini, Sin Hong menjadi marahB sekali.

Tadinya pemuda ini masih merasa enggan dan ragu-ragu untuk membunuh semua orang itu, karena ia maklum bahwa mereka ini hanyalah pasukan yang menjadi alat dan menerima komando.

Akan tetapi melihat betapa mereka mempergunakan senjata rahasia yang demikian jahat ia mengeluarkan seruan keras, pedang Pak-kek-sin-kiam berkelebat, tubuh Sin Hong lenyap terbungkus gulungan sinar pedang dan terdengar pekik susul-menyusul ketika seorang demi seorang, fihak musuh roboh menjadi korban pedang.

Yang mengagumkan, pasukan Mongol itu terus melakukan perlawanan sampai orang terakhir dan setelah orang terakhir ini roboh pula oleh pedang Sin Hong, baru pertempuran berhenti!

Di sana-sini menggeletak mayat orang dan jumlah mereka tiga puluh enam orang.

Kesemua-nya tewas.

Sin Hong menggeleng-geleng kepala melihat ini.

Benar-benar pasukan yang hebat, kalau semua barisan Mongol mempunyai semangat berperang seperti yang tiga puluh enam orang irii, tidak ada kekuasaan di dunia yang dapat me-ngalahkan mereka.

Baiknya hanya ada tiga puluh enam orang yang mengeroyok dia dan Li Hwa, kalau ada ratusan kira-nya dia takkan dapat menyelamatkan diri.

Baru tiga puluh enam orang saja, kaki dan lengannya terluka dan Li Hwa roboh pingsan.

Cepat Sin Hong menolong Li Hwa.

Dilihatnya celana yang menutupi kaki kanan gadis itu berlumur darah.

Tahulah, dia bahwa Li Hwa terluka hebat pada kakinya.

Tanpa berpikir panjang lagi, membuang segala rasa sungkan dan malu-malu, ia lalu merobek kaki celana yang kanan ini.

Nampak betis dan paha yang berkulit putih halus itu ternoda darah yang mengucur dari beberapa bagian di paha gadis itu.

Beberapa potongan besi telah memasuki paha itu dan lukanya hebat juga karena tuiang paha gadis itu ditembusi potongan besi!

Tiba-tiba Sin Hong merasa tubuhnya panas sekali, kaki dan tangannya yang terluka terasa ngilu.

la meramkan mata menggigit bibir menahan sakit, lalu cepat mengambil bungkusan obat di punggung-nya.

la harus mengobati dirinya sendiri lebih dulu sebelum memulai dengan peng-obatan kepada Li Hwa.

Dengan sebuah pisau perak, ia membelek kulit lengan dan kakinya yang kemasukan potongan besi, mengorek potongan besi panas itu keluar.

Dapat dibayangkan betapa sakitnya pembedahan ini, dan ia menahan sakit sampai keringat sebesar kacang-kacang hijau memenuhi mukanya.

Kemudian ia menempelkan bubukan obat pada luka-luka itu dan menelan tiga butir pel hijau.

Baru ia merasa enak dan panas yang menyerang tubuhnya lenyap, juga rasa ngilu tidak ada lagi.

Bubukan obat yang ia tempelkan pada luka-luka itu mendatangkan rasa dingin nyaman.

Setelah menolong diri sendiri, ia mulai memeriksa paha kaki Li Hwa yang terluka parah itu.

Tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali karena ia teringat akan pengalamannya dahulu ketika ia , mengobati paha dari Gak Soan Li yang diremuk oleh pukulan Tin-san-kang dari seorang tosu jahat bernama Giok Seng Cu (baca Pedang Penakluk Iblis).

Akan tetapi ia menenangkan pikirannya dan dengan sehelai saputangan yang dicelup air, ia mencuci paha yang penuh darah itu untuk dapat memeriksa dengan baik.

Kemudian ia mulai mengerjakan pisau peraknya setelah menotok beberapa bagi-an jalan darah yang penting untuk men-cegah darah keluar lagi dari luka-luka itu dan untuk mengurangi rasa sakit apabila ia melakukan pembedahan untuk mengeluarkan potongan-potongan besBy yang memasuki paha gadis itu.

Ketika ia mulai mengorek keluar sebuah potongan besi, Li Hwa merintih perlahan.

Gadis itu telah siuman dan merasa pahanya sakit sekali.

la membuka mata dan melihat Sin Hong sedang mengobati pahanya yang telah terluka parah, melihat betapa Sin Hong memegang ka-kinya yang tidak tertutup apa-apa, tiba-tiba rasa jengah dan malu melebihi rasa nyeri.

Rintihannya terhenti, mukanya ber-ubah merah dan Li Hwa meramkan kem-bali kedua matanya!

Sama sekali tidak berkutik dan gadis yang aneh ini diam-diam berterima kasih kepada musuh-mu-suhnya yang telah melukainya sehingga ia bisa dirawat secara demikian mesra oleh Sin Hong!

Memang cinta kasih bisa mendatangkan pikiratn yang gila-gila dalam kepala manusia.

Sin Hong bukan seorang bodoh apalagi seorang ahli pengobatan.

Jangankan tadi Li Hwa sudah merintih dan membuka mata, andaikata Li Hwa tidak me-lakukan dua hal sebagai tanda telah siuman itu, dari denyut darah yang di-dorong oleh perasaan dan yang terasa oleh jari-jari tangannya melalui kaki Li Hwa, dia akan tahu bahwa gadis itu tidak pingsan lagi.

Melihat gadis itu berpura-pura terus pingsan atau mungkin juga terlalu lemah untuk bangun, Sin Hong.

lalu berkata lirih, untuk mencegah salah pengertian gadis itu.

"Li Hwa, kau terluka. Pahamu ter-tembus pecahan-pecahan besi-besi senjata rahasia lawan, tulang pahamu patah. Untuk mencegah keracunan, aku terpaksa melakukan pembedahan sekarang juga untuk mengeluarkan besi-besi itu dan untuk menyambung tulang paha yang patah.". Diam-diam di dalam hatinya Li Hwa tersenyum geli dan memuji watak yang sopan dari Sin Hong. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan puluhan orang wa-nita anak buah Hui-eng-pai datang berlari-lari sambil membawa senjata. Mereka ini terlambat keluar membantu Li Hwa, karena memang tadinya merekatidak tahu adanya pertempuran itu yang terjadi dalam waktu cepat. Selain ini, juga mereka ini biasanya selalu hanya mematuhi perintah dari Li Hwa, sedangkan pada waktu itu Li Hwa tidak kelihatan maka semua orang ketika mulai mendengar ribut-ribut pertempuran di luar pagar tembok taman, menjadi bi-ngung tidak mempunyai komando. Setelah mendengar suara ledakan-ledakan keras dari senjata-senjata rahasia berapi, mereka mengkhawatirkan ketua mereka yang tidak kelihatan di antara mereka. Barulah mereka menyerbu ke luar. Melihat ketua mereka telentang se-perti mayat di atas tanah dan seorang laki-iaki sedang duduk di dekatnya, kemudian melihat keadaan pakaian Li Hwa yang tidak karuan, yaitu kaki kanannya tidak tertutup sampai di paha, marahlah mereka ini. Mereka mengira bahwa Sin Hong tentu telah melakukan perbuatan yang tidak patut dan melukai ketua mereka. Biarpun di antara mereka, yaitu yang dulu pernah ikut dengan Li Hwa pergi ke Ngo-heng-san, mengenal Sin Hong sebagai pemuda yang terpilih men-jadi bengcu, akan tetapi melihat keadaan Li Hwa dan Sin Hong, tidak mau berpikir panjang lagi dan mereka maju menerjang.

"Jahanam, kau berani mencelakakai Niocu"

Bentak mereka.

"Eh, eh, nanti dulu.....! Aku tidak mencelakakan dia, aku bahkan mengobatinya!"

Sin Hong cepat menggerakkan tangan kiri mengebutkan ujung lengan baju dan sekaligus empat buah pedang yang menyerangnya terlempar.

Akan tetapi ia menjadi gugup oleh karena ia sedang membedah paha Li Hwa dan kalau ia tinggalkan untuk menghadapi amukan para wanita itu, paha itu akan rnenjadi makin parah dan sukar diobati pula.

Para anggauta Hui-eng-pai terkejut melihat bagaimana dengan kebutan lengan baju kiri secara sembarangan saja, empat batang pedang telah dapat dipukul terlempar.

oleh Sin Hong.

Akan tetapi, untuk menolong ketua mereka, para wa-mta ini tidak takut dan juga kata-kata Sin Hong tadi tidak mereka percaya.

Baiknya, sebelum para wanita ini me-nyerang lagi, Li Hwa membuka matanya dan membentak.

"Mundur semua! Wan-bengcu sedang mengobati kakiku, menpapa kalian berani mengganggu? Mundur dan pergilah."

Dengan mata terbelalak heran dan kaget, semua anggauta Hui-eng-pai mun-dur, kecuali tujuh belas orang wanita yang setengah tua dan memegang pedang.

Sikap mereka heran sekali dan mereka inilah yang tidak mau mundur.

Tujuh belas orang wanita setengah tua ini terkenal di kalangan mereka sebaeai Cap-jit Hui-eng Toanio (Tujuh BeLas Nyonya Besar Garuda Terbang).

Sebutan Hui-eng Toanio ini saja menunjukkan bahwa tingkat mereka tidak berbeda jauh^ dengan Siok Li Hwa sendiri yang ber-juluk Hui-eng Niocu (Nona Garuda Ter-bang).

Memang demikianlah adanya Cap-jit Hui-eng Toanio ini adalah murid-murid utama dari mendiang Pat-jiu Nio-nio dan ketika Pat-jiu Nio-nio masih hidup, tujuh belas orang murid kepala im menjadi pembantu-pembantunya yang boleh diandalkan.

Akan tetapi, karena Li Hwa yang mewarisi kitab rahasia pe-ninggalan Pat-jiu Nio-nio dan kemudian nona ini yang menjadi ketua maka tujuh belas orang yang terhitung sucinya itu hanya menduduki tempat ke dua, men-jadi pembantu-pembantu Li Hwa.

Kini, menghadapi hal yang menyang-kut nama baik Hui-eng-pai, biarpun se-mua anggauta takut dan mundur atas seruan Li Hwa, tujuh belas orang toanio ini menghadapi ketua mereka dengan muka sungguh-sungguh.

"Niocu, harap Niocu ingat akan peraturan kita. Usir laki-iaki kurang ajar ini dan biarkan ahli-ahli kita mengobati Niocu."

Kata seorang di antara mereka Dia ini adalah Toanio yang tertua dan yang paling lihai kepandaiannya di antara kawan-kawannya, nama julukannya Pek-eng Toanio (Nyonya Garuda Putih).

"Aku tidak mau diobati orang lain! Sin Hong, mari antarkan aku kembali ke puncak dan kauobati aku sampai sembuh". Sin Hong ragu-ragu dan tidak tahu harus berkata apa. Sementara itu, Pek-eng Toanio berkata lagi, suaranya kaku.

"Niocu, betul-betul sudah lupakah kau akan aturan-aturan yang diadakan oleh Nio-mo dahulu? Tidak diperbolehkan laki-laki, hidup atau mati, beruda di tempat tinggal kita! Setiap anggauta yang berani memasukkan seorang pria, hukumannya mati dan peraturan ini; berlaku baik bagi seorang pelayan sampai ketuanya sendiri Niocu, biarpun kau sendiri, tidak boleh membawa orang ini naik ke atas. Itu pelanggaran besar namanya, dan kami tidak boleh tinggal diam saja." (Lanjut ke

Jilid 03) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Li Hwa marah.

"Pek-eng Toanio"

Kau mengandalkan apamu maka berani bicara seperti ini di depanku?

Biarpun kau dan enam beias orang Suci yang lain, takkan mampu menahan aku seorang.

Aku sekarang sedang terluka, mungkin tak berdaya.

Akan tetapi tahukah kau akan kelihaian Wan-bengcu ini yang sepuluh kali lebih lihal daripada aku?

Jangankan baru kalian tujuh belas Cap-jit Toanio, biarpun seluruh Hui-eng-pai ditambah beberapa kali lipat takkan mampu me-nahannya kalau dia membawaku ke atas."

"Apa boleh buat, Niocu. Biarpun sam-pai mati semua, kami tetap akan me-nentang siapapun juga menghina per-kumpulan kami dan. melanggar peraturan yang diadakan oleh Nio-nio!"

Jawab Pek-eng Toanio.

"Kau mau melawan?"

Tiba-tiba ta-nean Li Hwa bergerak.

Sinar hijau me-nyambar dan Pek-eng Toanio mengeluh roboh pingsan.

la telah menjadi korban Cheng-jouw-ciann (Jarum Rumput Hijau) yang lihai dari Li Hwa!

"Baru kau tahu kelihaianku,"

Gerutunya, agak menyesal bahwa ia terpaksa harus merobohkan orang sendiri. Akan tetapi enam belas orang wanita yang lain tetap berdiri tegak, bahkan mereka berkata tegas..

"Pek-eng Toanio betul, Niocu. Kami terpaksa menghalangi kehendak Niocu, biarpun kami harus berkorban nyawa untuk memegang teguh peraturan dari Nio-nio almarhum."

Li Hwa marah bukan main.

"Sin Hong, pondong aku dan bawa ke atas! Jangan kau pedulikan perawan-perawan tua ini, sapu saja siapa yang berani merintangi kita!"

Katanya kepada Sin Hong.

Akan tetapi Sin Hong tidak bergerak.

la telah selesai mengobati paha Li Hwa dan telah membalutnya.

Selama perteng-karan itu, ia tidak mencampuri, hanya melanjutkan pengobatannya.

Sekarang setelah selesai dan mendengar kata-kata Li Hwa itu, ia tidak menurut, bahkan menarik napas panjang dan berkata.

"Tidak, Li Hwa. Kau yang keliru, mereka itu benar. Pulanglah kau dan beristirahatlah. Aku harus mencari Tiang Bu dan merampasnya kembali dari tangan Pak-kek Sam-kui."

"Aku tidak mau!"

Li Hwa menjerit dan beberapa titik air mata melompat keluar dari matanya.

"Aku takkan kembali ke puncak, aku tidak sudi lagi menjadi ketua Hui-eng-pai. Aku mau ikut kau mencari Tiang Bu, karena akulah yang bertanggung jawab atas kehilangannya."

"Jangan, Li Hwa, kau masih terluka dan....."

"Kausembuhkan aku lebih dulu, atau kau boleh meninggalkan aku mampus di sini, karena kau tidak mau membawa aku, aku pun tidak sudi kernbali ke atas, aku..... biarlah kalian semua meninggal-kan aku di sini, biar mampus dimakan srigala....."

Dan ketua Hui-eng-pai yang, gagah berani dan tak kenal takut itu sekarang.....

menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, Pek-eng Toanio telah siuman kembali setelah ditolong oleh kawan-kawannya.

Melihat keadaan ketua mereka, ia menghela napas dan sebagai seorang yang sudah berpengalaman ia maklum bahwa ketuanya sampai berbuat begitu aneh bukan lain adalah karena gadis itu telah tergila-gila dan cinta kepada Wan Sin Hong.

"Wan-bengcu, terserah kepadamu apakah kau hendak "Membiarkan Niocu mati di sini ataukah hendak menolongnya. Kami tak berdaya, dan mati hidup Niocu berada di tanganmu."

Setelah berkata demikian, tujuh belas orang rombongan pemimpin Hui-eng-pai ini lalu mengajak semua anak buah mereka kembali ke puncak. Dengan air mata masih mengucur, Li Hwa berkata kepada Sin Hong.

"Wan Sin Hong, kaupergilah, kau-tinggalkanlah aku. Aku tahu, selama ini aku telah berlaku bodoh, bahkan sampai sekarang aku masih bodoh dan gila. Aku mencintamu sedangkan kau..... kau tidak peduli sama sekali kepadaku. Aku me-mang seorang gadis tidak berharga..... biarlah aku mati di sini, tak patut se-orang bengcu seperti kau dekat dengan seorang hina seperti aku....."

Sin Hong menarik napas panjang.

Benar-benar luar biasa sekali, gadis ini.

Di suatu saat bersikap keras dan galak seperti iblis wanita, di lain saat dapat berlaku lemah lembut dan mengalah, mertimbulkan kasihan.

"Li Hwa, kau memang aneh. Kalau kau mau dibawa pulang dan dirawat oleh orang-orangmu, bukankah hal ini sudah beres? Akan tetapi kau tidak mau dan kau rela mati kalau aku tidak mau mem-bawamu bersamaku. Ahh...., apakah yang harus kulakukan? Meninggalkan kau membunuh diri di sini, benar-benar aku tidak tega. Apalagi kau telah menjadi korban senjata karena membantu aku menghadapi setan-setan dari utara itu."

"Pergilah, , jangan memikirkan orang seperti aku ini....."

"Tidak mungkin. Aku tidak akan me-ninggalkan kau, Li Hwa. Biar aku mengobati lukamu sampai kau sembuh dan dapat berjalan lagi."

Wajah Li Hwa mulai berseri akan tetapi ia tetap cemberut.

"Akan tetapi aku tidak mau pergi dari sini, aku mau mati di sini."

"Aku pun akan menunggumu di sini."

"Di tempat ini siang malam? Menahan serangan angin dan hujan?"

"Mengapa tidak? Kalau kau kuat, aku pun tentu kuat menahan."

Jawab Sin Hong mendongkol juga menghadapi gadis yang aneh wataknya ini. Tanpa ia ketahui. Li Hwa kini tersenyum, penuh kemenangan.

"Sin Hong, kau benar-benar berhati muha. Kakakku yang baik, aku tidak nanti mau tinggal siang malam di tem-pat terbuka ini. Lihat, di sebelah utara sana, kurang lebih satu li dari sini, ter-dapat sebuah gua besar di bukit batu karang. Kita dapat sementara waktu tinggal di sana sampai kakiku sembuh. Di sana kita dapat berlindung dari angin dan hujan, juga dari serangan binatang buas di waktu malam". Ketika mengeluarkan ucapan ini suaranya ramah-tamah dan manis sekali. Sin Hong yang mendengar perubahan suara ini cepat menengok dan memandang, akan tetapi lebih cepat lagi Li Hwa sudah mengubah Jagi mukanya sehingga tidak kelihatan seri gembira yang tadi membayang di situ.

"Hm, akhirnya, ternyata kau bukan seorang yang sudah nekat kepingin mati."

Gerutunya sambil berdiri.

"Mari kupondong kau.ke sana."

"Kau tidak malu memondong aku?"

Li Hwa pura-pura bersungut-sungut, padahal hatinya berdebar girang.

Sin Hong tidak menjawab, melainkan membungkuk dan memondong tubuh gadis itu.

Ketika kedua lengannya merasa be-tapa hangat tubuh Li Hwa dalam pondongannya, ia berdebar dan mukanya merah.

Untuk menghilangkan perasaan dan menghibur hatinya sendiri, ia berkata, suaranya seperti orang mendongkol.

"Mengapa mesti malu msmondongmu? Dalam keadaan terpaksa seperti ini memondongmu tidak melanggar kesopanar. Apalagi rnemondong, bahkan aku telah...telah..... mengobati pahamu....."

Ingin Sln Hong menampar mulutnya sendiri, karena kata-kata ini seperti melompat saja dari mulutnya.

Kata-kata ini bukan menghibur dan menghilangkan clebar hati dan merah mukanya, bahkan menambah!

Apa-lagi ketika terasa olehnya betapa ping-gir dada Li Hwa yang menempel di le-ngannya berdebar-debar keras dan me-lihat sepasang pipi gadis itu menjadi merah sampai ke telinga sedangkar.

ke-dua matanya dipejamkan?

"Sin Hong, kau memang seorang laki-laki berhati mulia, seorang laki-laki tahan uji dan sopan, pemalu dan canggung.

Karena itulah aku cinta kepadamu,"

Kata Li Hwa dengan sepasang mata masih terpejam. Kata-kata ini membuat Sin Hong makin bingung sehingga jalan kakinya tiak tetap.

"Hush, jangan bicara tentang cinta lebih baik kaki kananmu itu jangan bergerak-gerak nanti sambungan tulangnya tidak betu! lagi."

Akan tetapi Li Hwa seperti sengaja menggerak-gerakkan kaki kananny"i, Sin Hong memandang heran dan marah, kemudlan la melepaskan tangan kiri yang memondong, dan menotok pinggang kanan gadis Itu.

Kaki kanan Li Hwa menjadi lumpuh tak dapat bergerak-gerak lagi .

"Nah, sekarang bergeraklah kalau bisa,"

Katanya, tersenyum puas dapat memberi "pelajaran"

Kepada gadis nakal Itu. Akan tetapi Li Hwa tidak menjadi marah karena totokan yang membuat ia tidak berdaya menggerakkan kakinya itu. Sebaliknya ia berkata dengan nada menggoda.

"Kautahu Sin Hong? Setiap kali kau bermaksud meninggalkan aku scorang diri, aku akan menggerak-gerakkan kakl kananku supaya lukanya pecah dan tu-langnya putus kembali. Kalau kau menotokku terus sampai kakiku sembuh akan kupukul patah sendiri supaya jerih payahmu sia-sia."

Sin Hong mengerutkan keningnya.

"Mengapa kau seaneh ini, Li Hwa? Mengapa kau hendak melakukan hal itu"

"Habis, tujuan hidupku hanya dua ma-cam. Hidup di samplngmu atau mati, habis perkara. Selama kau mau mem"

Bawaku bersamamu, aku malah takut mati. Akan tetapi kalau kau mentnggai-kan aku, aku jadi takut hldup. Mengertikan kau?"

Seluruh muka Sin Hong berkerut-kerut dan ia berpikir keras.

Akan tetapi tetap saja ia tidak mengerti watak gadis yang dianggapnya aneh ini.

Bagi orang yang sudah tahu akan racun dan madu asmara, watak atau sikap yang diperlihatkan Li Hwa ini sama sekali tidak aneh.

Akan tetapi, biarpun ia memiliki kepandaian yang sudah berada di tingkat tinggi sekali dan pengalamannya bertempur, sudah banyak sekali, namun dalam hal asmara, Sln Hong boleh dibilang masih "hijau".

Demikianlah, Sin Hong membawa Li Hwa ke gua yang ditunjuk oleh gadis itu dan tinggal di situ berdua dengan Li Hwa untuk merawat dan mengobati paha Ll Hwa yang patah tulangnya.

Sikapnya selalu sopan dan ia menjaga keras agar selalu ingat dan sadar, jangan sampai terpengaruh oleh nafsu dan jangan sampai melanggar kesusilaan.

la bersikap sopan sekali, ya, terlalu sopan sehingga kadang-kadang membikin mengkal hati Li Hwa!

Kita tinggalkan dulu dua oranp ini dan mari kita mengikuti pengalaman Tiang Bu, bocah yang dalam usia paling banyak lima tahun telah mengalami hal-hal yang hebat itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, baru saja kakinya yang patah tulangnya sembuh, ia dipaksa menjadi murid Hui-eng-pai dan bersumpah, ke-mudian mendengar cerita tentang ayfth-bundanya yang menggores dalam-dalam di hati dan plkiran anak kecil ini.

Ia menjadi bingung sekali kalau memikirkan kata-kata Hui-eng Niocu Siok Li Hwa bahwa ia bukanlah putera Coa Hong Kin dan Gu Hui Lian yang selama Ini memang la anggap ayah-bundanya, melainkan putra Liok Kong Ji dan Gak Soan Li, dua nama yang sama sekali asing baginya dan baru sekali ini didengarnya dari mulut Li Hwa.

Akan tetapi karena usurusannya menggores di hatinya, dua nama ini menempel dalam ingatannya dan tidah terlupakan lagi.

Kemudian ia mengalami perebutar"

Atas dirlnya antara seoranig laki-lakl gagah yang tak dikenalnya Siok Li Hwa, akan tetapi di dalam hati ia memihak laki-laki itu karena maklum bahwa laki-laki itu hendak menolongnya dari tangan ketua Hui-eng-pai yang tak disukanya itu.

Lebih hebat lagi muncul orang-orang aneh yang merampas dirinya dan sekarang ia dibawa lari seperti terbang cepatnya oleh tiga orang aneh itu.

Ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh) dan ilmu berlari cepat dari tiga orang kakek aneh ini memang benar-benar luar biasa sekali.

Dalam waktu pendek saja mereka telah turun dari puncak dan telah melalul dua puncak laln dan tiba di sebuah hutan.

Hutan inl berada di lereng sebuah puncak lain karena Pegunungan Gobi memang mempunyai banyak puncak yang sebagian besar tidak didiami manusia.

Setelah masuk di dalam hutan lebat Inl dan merasa bahwa mereka telah lari cukup jauh, Giam-lo-ong Ci Kui yang tinggi gundul itu tiba-tiba berhenti, diturut pula oleh dua orang sutenya Agaknya bagi Si Gundul ini teringat bahwa sejak tadi ia mengempit tubuh seorang anak kecil di bawah lengan kirinya.

Melihat ini, ia menyumpah-nyumpah dan sekali menggerakkan lengan kiri, anak itu terlempar ke dalam semak-semak di pinggir jalan.

Tiang Bu mierangkak bangun dari semak-semak yang penuh duri itu, pengalaman dilempar ke dalam semak-semak bukan apa-apa lagi baginya.

Setelah terlalu menderlta, menjerit dan menangis penderitaan kecil tidak dirasakannya lagi dan ia merasa enggan untuk menjerit maupun menangis.

"Kutu busuk! Sejak tadi kauikut, he? Setan!"

Giam-lo-ong Ci Kui memaki dan menyeringai tangan kirinya menggaruk-garuk kepala gundulnya seperti orang kehabisan akal mengapa ia sampai tidak ingat lagi bahwa sejak tadi ia mengempit seorang bocah.

"Kalau ingat tadi-tadi, kau sudah kulempar ke dalam jurang!"

"Twa-suheng, kulihat bocah ini ada nyalinya. Sayang kalau dibuang begitu saja. Hati dan otaknya akan menambah semangat,"

Kata Sin-sai-kong Ang Louw Si Muka Singa.

"Juga dia berbakat, kalau sudah tiba waktunya memilih murid, aku mau memilih dia ini,"

Kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw Si Muka Burung. Giam-lo-ong Ci . Kui mengeluarkan suara menghina dari lubang hidungnya.

"Mah, mana ada bocah Han mempunyai nyali?"

Ia mendekati Tiang Bu, meme-gang leher anak itu dan sekali menyen-dal, tubuh Tiang Bu terlempar tinggi di udara!

Dapat dibayangkan betapa rasa kaget dan takutnya hati Tiang Bu.

Akan tetapi memang betul bahwa anak ini memiliki nyali yang besar.

Pula semenjak kecil sering kali ia mendengar dongeng dari Hui Lian tentang orang-orang gagah se-hingga pikirannya terbuka dan ia dapat melihat kenyataan.

Melihat sikap orang-orang gagah ini, bocah ini sudah dapat menduga bahwa ia tidak akan dapat hi-dup iebih lama lagi.

la pernah mendengar dari ibunya tentang sikap seorang gagah yaitu biarpun menghadapi kematian bernyali seperti harimau, bukan seperti babi.

Mengingat semua ini, ketika tubuhnya dilempar ke atas dan muiai me-layang turun cepat sekali dan membuat jantungnya berhenti berdetik, ia meramkan mata dan menggigit bibir agar supaya tidak mengeluarkan jerit dan tangis.

Akan tetapi, ia tidak mati terbanting di atas tanah karena tangan Giam-lo-ong Ci Kui sekarang sudah menyarnbar-nya dan melemparkannya perlahan ke atas tanah di mana Tiang Bu jatuh terguling.

"Ha, ha, ha, apa kubilang? Dia mempunyai nyali naga."

Kata Ang Louw suara ketawanya seperti singa mengaum.

"Siapa tahu, barangkali dia diam saja saking takutnya. Ji-sute, coba kautangkap seekor kucing atau anjing untuk mencobanya,"

Kata Giam-lo-ong Ci Kui yang mulai tertarik.

Tiga orang aneh dari utara ini boleh dibuang manusia-manusia aneh yang seperti iblis, kejam, tak mengenal kasihan dan watak mereka buruk mengerikan.

Hanya satu hal yang mereka junjung tinggi dan mereka kagumi; yaitu sifat keberanian yang luar biasa.

Kalau saja Tiang Bu memperlihatkan ketakutan, tentu mereka takkan segan-segan membanting mati bocah itu, atau menurut Ang Louw, membelek dadanya memecahkan kepalanya urituk mengambil jantung otaknya sebagai "obat kuat".

Akan tetapi Tiang Bu memperlihatkan sikap yang berani sekati, maka mereka mulai menjadi tertarik.

Berani dan pendiam, sikap ini selain mengagumkan mereka, juga membuat mereka suka sekali..Ang Bouw berkelebcrt pergi bagaikan iblis menghilang, dan tak lama kemudian dia sudah kembali memanggul seekor.....

han-mau"

Inilah agaknya yang dimaksudkan kucing"

Oleh Giam-lo-ong Ci Kui tadi.

Me-nangkap seekor harimau seperti menangkap kucing saja, benar-benar dari sini sudah dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian Ang Bouw.la memanggul harimau itu, em-pat kaki harimau dipegang dengan satu tangan dan lain tangan memutar leher.

Dengan cara demikian ia memanggul harimau itu dengan enaknya tanpa si raja hutan da-pat berkutik sedikit-pun juga!

Setelah tiba di tempat itu, Liok-te Mo-ko Ang Bouw lalu menurunkan harimau itu di depan Tiang Bu yang sudah duduk di a-tas tanah dengan tenang.

Harimau itu me-ngaum dan meronta marah, akan tetapi ia tidak berdaya di dalam pegangan Ang Bouw.

Kini ia melihat seorang bocah di depan mulutnya, bocah yang merupakan makanan dan daging yang empuk, ia mencium-cium dengan hidungnya berkembang-kempis, se-perti seekor kucingyang lebih dulu mencium-cium makanan yang hendak dimakannya.

Dapat dibayangkan betapa takut rasa hati Tiang Bu.

la merasa betapa kulit hidung yang kasar dan dingin dan basah menyentuh-nyentuh seluruh mukanya, betapa kumis harimau yang kasar "tu me"

Nyikat mukanya menimbulkan rasa perih.

Apalagi sepasang mata harimau itu mendatangkan kengerian di dalam hatinya.

Bau harimau itu memuakkan perutnya dan suaranya menggereng-gereng membuat jantungnya meloncat-loncat keras.

Akan tetapi dengan seluruh kekuatan, anak ini menggigit bibir dan menghadapi, harimau itu dengan mata terbelaiak me-mandang tabah.

"Hayo, kucing terkam dia, robek-robek dadanya, cokel keluar matanya! Bikin dia menjerit-jerit minta ampun! Ha, ha, ha!"

Ci Kui berteriak-teriak menakut-nakuti Tiang Bu.

Harimau yang tadinya kebingungan itu, yang tadinya marah akan tetapi tidak berdaya, sekarang menimpakan kemarahannya kepada anak kecil yang duduk di depannya.

Ia mulai menampar dengan kaki depan yang kanan.

Tamparan ini mengenai pundak Tiang Bu merobek baju dan kulit pundaknya, dan membuat ia terguling-guling.

Air mata meloncat, kekiaudari mata anak itu, pundak-nya berdarah dan bibirnya yang tebal itu pun berdarah saking kerasnya ia menggigit bibir yang menahan sakit dan menahan keluarnya tangis atau jeritan.

Biar-pun air matanya mengucur, sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya.

Tiga orang kakek Pak-kek Sam-kui ini tertawa bergelak-gelak dan berteriak-teriak, agar harimau itu menyerang te-rus.

Mencium bau darah yang segera dijilat-jilat dari kuku kaki depannya, harimau itu menjadi buas.

la menubruk lagi, inempermainkan tubuh Tiang Bu seperti seekor kucing main-main dengan bola karet.

Akan tetapi tiap kali ia mau menggigit anak itu, ia menerima pukulan atau ekornya ditarik dari belakang oleh Ci Kui Memang bukan maksud Ci Kui untuk membunuh anak ini.

la hendak menguji ketabahan Tiang Bu.Sekali saja Tiang Bu menjerit takut atau menangis tentu ia akan mengajak dua orang sutenya pergi meninggalkan Tiang Bu untuk menjadi mangsa harimau.

Akan tetapi melihat anak itu belum juga mengeluarkan jeritan, ia selalu menahan apabila harimau hendak menggigit.

Tubuh Tiang Bu terasa sakit semua, pakaiannya robek-robek tidak karuan dait darah memenuhi pakaian dan mukanya.

Giginya tertanam dalam-dalam di.

bibirnya yang mengticurkan darah kafeni gigitannya sendiri.

Akhirnya saking terlampau banyak mengeluarkan darah dan seluruh tubuhnya lemas tak berdaya lagi ia menjadi pingsan.

Tubuhnya sepertl sudah menjadi mayat saja, tidak bergerak lagi dalam permainan harimau.

"Dia pingsan"

Kata Sin-sai-kong Ang Louw. Terdengar suara keras dar kepala harimau itu pecah berantakan terkena pukulan tangan Ang Louw yang lebihj| hebat daripada pukulan martil besi lima puluh kilo.

"Dia betul-betul bernyali besar!"

Kata Ci Kui kagum. la menghampiri tubuh anak yang sudah mandi darah itu, lalu merawat dan memberi obat dengan pan-dangan mata sayang.

"Anak baik, murid baik....."

Berkali-kali ia bicara sedangkan kedua tangannya bekerja.

la membersihkan darah dengan lidahnya sendiri yang menjilat-jilat darah itu sampai bersih.

Kemudian Ci Kui mengeluarkan bungkus-an, dibukanya dan ternyata isinya adalah obat-obat bubuk bermacam-macam.

Di-obatinya luka-luka di tubuh Tiang Bu dengan obat dan ditotoknya jalan darah anak itu di beberapa bagian sehingga Tiang Bu menjadi siuman kembali.

la merasa tubuhnya sakit-sakit semua dan lemas sekali.

Setelah luka-lukanya dijilati oleh Giam-lo-ong Ci Kui, rasanya lebih sakit dan perih daripada tadi.

la mengeri dan menahan rasa saklt sampai pingsan lagi.

Bukan main hebatnya pen-deritaan anak ini.

Ketika Tiang Bu membuka matanya perlahan-lahan, hari telah senja dan tubuhnya terasa sejuk dan nyaman sekali.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang mendengkur.

la hendak bangkit akan tetapi mendapat kenyataan bahwa tubuhnya terikat, kaki tangan dan pinggangnya terikat pada sebuah cabang pohon yang besar.

Ketika ia melirik ke kanan kiri, ia melihat tiga orang kakek itu tidur malang melintang di atas cabang-cabang pohon, tidur begitu saja di atas cabang pohon yang lebih kecil daripada tubuh mereka tanpa diikat dan mereka enak-enak mendengkur!

Tiang Bu melirik ke bawah dan wajahnya yang sudah pucat itu menjadi makin pucat ketika melihat bahwa mere-ka berempat itu berada di atas pohon yang tinggi sekali.

Akan tetapi rasa ngerinya hilang ke-tlka ia teringat bahwa tubuhnya diikat dengan kuat pada cabang pohon hingga tak mungkin ia jatuh ke bawah.

Kini ia mulai memperhatikan tiga orang kakek itu dengan heran sekali, juga geli karena cara mereka tidur dan mendengkur lucu sekali.

Si Gundul Itu tidur miring di atas cabang kecil, kepalanyirsuctah tergantung ke bawah seperti menjadi buah dari po-hon itu dan kaki kirinya menindih muka Si Muka Burung dekat sekali dengan hi-dungnya.

Si Muka Burung ini tidur telen-tang dengan kedua kaki tergantung ke bawah dari kanan kiri cabang, hidungnya kembang-kempis dan dengkurnya disertai suara dari hidung seperti orang yang merasa jijik mencium bau yang tidak enak dari kaki suhengnya.

Si Muka Singa tidur terpisah telung-kup dengan muka miring, dengkurnya keras sekali sehingga ranting pohon be-rikut daun-daunnya yang berada di depan mukanya, sebentar tertiup pergi sebentar tersedot sampai menutupi mukanya.

Geli hati Tiang Bu melihat semua ini.

Apalagi ketika ia melihat ranting dan daun-daun di depan muka Ang Louw itu seperti ir.enggelitik lubang hidung Si Muka Singa sehingga Si Muka Singa ber-bangkis beberapa kali dan dengan mata masih meram ia menggerakkan tubuh, miring ke kanan.

Hampir saja Tiang Bu berteriak ketika melihat betapa tubuh itu miring dan seperti hampir terguling dari atas dahan.

Namun, ajaib sekali, biarpun tubuh itu sudah lebih setengahnya berada di bawah dahan, tetap saja Ang Louw tidak terguling ke bawah, seakan-akan tubuhnya telah lekat pada dahan pohon itu!

"Hi, hi, hi, hi.....!"

Tiang Bu tak dapat menahan gelak ketawanya.

Suara bocah ini nyaring sekali biarpun ia berada dalam keadaan sakit.

Tiba-tiba tiga orang kakek itu serentak melornpat bangun dari tidurnya dan tentu saja karena merska melompat, tubuh mereka semua terguling ke bawah!

"Celaka.....!"

Tiang Bu berseru lirih KTneHhat hal ini.

Akan tetapi di lain saat, I bagaikan tiga ekor burung besar yang beterbangan kacau-balau terdengar suara Ikeras dan tiga orang kakek itu sudah berada di atas dahan pula; Mata mereka terbelalak dan dengan liar memandang ke kanan kiri.

"Mana siluman wanita itu?"

Liok-te Mo-ko Ang Bouw bertanya sambil memandang ke kanan kiri.

"Mana dia Ang-jiu Mo-li?"

Sin-saikong Ang Louw juga ikut bertanya, suaranya terdengar gentar. Ci Kui mendekati Tiang Bu dan memegang lengannya.

"Bocah, apakah kau tadi melihat se-orang wanita muda cantik berlengan merah di dekat sini?"

Tanyanya.

"Aku tidak melihat siapa-siapa kecuali katian bertiga."

Jawab Tiang Bu terheran-heran. Bukan hanya heran karena pertanyaan ini, terutama sekali heran melihat bahwa orang-orang seperti ini, masih mengenal takut.

"Tolol kau. Apa telingamu tuli?"

Ci Kui rmembentak sambil melotot.

"baru saja dia tertawa di dekat sini!"

Mendengar kata-kata ini, Tiang Bu mengerti bahwa tiga orang kakek ini telah salah duga.

Suara ketawanya dianggap sebagai suara ketawa seorang iblis wanita yang bernama Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Bertangan Merah)!

Meng-ingat ini, ia menjadi geli hati dan tak dapat ditahannya pula ia tertawa.

"Hi, hi, hi, hi..... lucu sekali....."

Tiga orang kakek ini melongo, saling pandang kemudian tertawa bergelak.

Ci Kui lalu melepaskan tali yang mengikat tubuh Tiang Bu dan membantu anak itu duduk di atas cabang.

Tiang Bu ber-pegang erat-erat pada ranting pohon supaya jangan terguling ke bawah.

"Anak baik, kau beinyali besar dan ketawamu seperti iblis wanita. Ha, ha, ha! Siapakah namamu?" . Tiang Bu berpikir sebentar. Teringat ia akan ucapan-ucapan Siok Li Hwa tentang orang tuanya dan ia menjadi ragu-ragu. Benarkah Coa Hong Kin dan Go Hui Lian itu bukan ayah bnndanya? Ayahnya tampan sekali ibunya cantik jelita, juga adiknya Lee Goat yang baru berusia dua tahun sudah kelihatan cantik mungil. Akan tetapi dia? Banyak pelayan menga-takan bahwa rupanya seperti setan cilik! Akan tetapi, untuk percaya omongan Hui-eng Niocu, ia pun masih ragu-ragu karena ia benci kepada Li Hwa.

"Namaku Tiang Bu,"

Akhirnya ia menjawab, tanpa menyebutkan shenya karena ia masih ragu-ragu tentang ayah bundanya.

"Kau anak siapa?"

"Aku..... yatim piatu, dan aku tidak tahu siapa ayah bundaku....."

Kata-kata ini ia ucapkan dengan sejujurnya karena memang pada saat itu ia merasa ragu-ragu dan tidak tahu siapakah sebetulnya ayah bundanya.

la masih belum mau percaya omongan Siok Li Hwa.

Pendeknya, untuk saat itu ia tidak tahu betul siapa gerangan ayah bundanya yang sesungguhnya.

"Kenapa kau bisa diperebutkan oleh Wan-bengcu dan Hui-eng Niocu?"

Tanya pula Ci Kui.

"Aku tidak tahu sebab-sebabnya. Akan tetapi Hui-eng Niocu memaksaku menjadi muridnya, lalu datang laki-laki yang tak kukenal itu merampasku dari tangan Hui-eng Niocu."

"Ah, ah, tak salah lagi. Dua orang itu sudah melihat-bakat baik dalam dirinya, Suheng. Maka mereka berebut untuk mengambil murid padanya,"

Kata Sin-saikong Ang Louw.

"Betul begitu kiranya,"

Ci Kui meng-f angguk-angguk.

"Memang bocah ini berjodoh dengan kita. Kalau kita bertiga mengajarnya, kelak dia akan membikin harum nama kita."

"Tiang Bu, mulai sekarang kau men-jadi murid Pak-kek Sam-kui, hayo kau berlutut memberi hormat,"

Kata Sin-sai-kong Ang Louw yang kegirangan sekali karena memang sejak ia melihat Tiang Bu, ia sudah ingin mengambil anak itu sebagai muridnya.

Biarpun baru berusia lima tahun, Tiang Bu memang seorang bocah yang cerdik luar biasa.

la maklum bahwa ia berada di dalam cengkeraman tiga orang yang jahat dan lihai seperti iblis, dan bahwa ia tidak berdaya sama sekaH dan tidak mempunyai pilihan lain kecuali mentaati segala kehendak tiga orang itu.

Juga ia maklum bahwa tiga orang ini tidak membunuhnya, bahkan mengambil-nya sebagai murid hanya berkat ketabah-an yang telah ia perlihatkan.

Maka, men-dengar perintah Ang Louw, ia lalu berlutut di atas dahan itu, sama sekali tidak takut tergulmg karena ia yakin bahwa tiga orang gurunya takkan membiarkan ia jatuh terguling.

Anehnya, karena SSran ini, ia memperoleh ketenangan l&kalau tadinya ia merasa sukar sekali untuk menahan dirinya agar jangan jatuh, sekarang ia merasa mudah saja berdiri atau duduk di atas dahan, bahkan la dapat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada tiga orang kakek itu tanpa kehilangan keseimbangan tubuhnya.

Demikianlah, mulai saat itu, Tiang Bu telah menjadi murid tiga orang tokoh besar dari utara yang kepandaiannya tineei sekali dan memiliki watak aneh dan jahat seperti setan.

Dengan bergihr-an mereka mulai memberi pela)aran ilmu silat kepada Tiang Bu yang ternyata benar-benar mempunyai bakat yang luar biasa dalam ilmu ini.

Pelajaran ini di-berikan sambil melakukan per)alanan, yaitu menuju ke selatan, melewati Sungai Yangce, meninggalkan daerah Cin dan memasuki daerah, Sung.

Siapakah sebetulnya Pak-kek Sam-kui dan apa tujuan mereka pergi ke daerah Kerajaan Sung?

Tiga orang kakek ini sebetulnya ada-lah tiga di antara banyak sekali orang-orang pandai yang membantu Temu Cin, raja dari bangsa Mongol yang mulai bangkit dan kuat.

Masih banyak orang-orang yang selihai mereka ini, bahkan ada yang lebih lihai lagi, yang masih berada di Mongol membantu Temu Cin menaklukkan semua suku bangsa di utara yang nnasih belum mau tunduk.

Adapun Pak-kek Sam-kui tadinya di-utus oleh Temu Cin untuk menemui Wan-bengcu di Lu-liang-san dan mengundang bengcu muda yang tersohor namanya itu.

Tentu saja maksud Temu Cin adalah hendak menarik hati bengcu ini, karena adalah menjadi cita-citanya untuk kelak menyerbu ke selatan dan paling baik ia mendekati orang-orang gagah di selatan.

Kalau sampai mereka ini mau membantu-nya, tentu kedudukannya menjadi makin kuat, Temu Cin amat cerdik dan pandai mengambil hati orang-orang gagah.

Untuk membagi hadiah ia berlaku royal sekali.

Akan tetapi sebagaimana telah di-tuturkan di bagian atas, Wan-bengcu tidak mau menerima undangan itu, bahkan mereka menjadi bentrok dengan Hui-ene Niocu yang kebetulan berada di Lu-liang-san.

Semua ini mereka laporkan kepada Temu Cin yang menyatakan ke-kecewaannya, kemudian tiga orang kakek .

ini disuruh mengadaka.n hubungan dengan orang-orang kang-ouw di daerah selatan, yaitu di wilayah Negara Sung.

Berangkatlah Pak-kek Sam-kui.

Mere-ka teringat akan hinaan yang mereka .

peroleh ketika di Lu-liang-san oleh Hui-eng Niocu, maka sambil membawa pa-sukan yang kuat, mereka singgah di Go-bi-san yang dekat dengan perbatasan negaranya untuk melakukan balas dendam, kalau perlu membasmi Hui-eng-pai.

Akan tetapi siapa kira di situ mere-ka bertemu pula dengan Wan-bengcu yang membantu Hui-eng Niocu sehingga tiga orang kakek ini mengalami kekalahan dan terpaksa melarikan diri sambil membawa Tiang Bu yang dianggap se-bagai penebus kekalahan mereka.

Dengan berhasil menculik murid Hui-eng Niocu atau bahkan calon murid Wan-bengcu, tiga orang kakek ini sudah me-rasa puas dan mereka tidak mempedulikan lagi nasib pasukan yang mereka tinggalkan.

Pada suatu hari, setelah mereka melakukan perjalanan melalui Propinsi Shen-si dan Se-cuan mereka melintasi Sungai Yang-ce dan tiba di sebuah dusun di Pro-pinsi Kwicu.

Dusun ini terkenal sebagai tempat di mana seringkali terjadi per-tempuran-pertempuran kecil antaraprang-orang di daerah selatan.

Di sebelah se-latan dusun ini terletak kota Cun-yi yang menjadi pusat perkumpulannya orang-orang gagah.

Ke kota inilah yang nien-jadi tujuan Pak-kek Sam-kui.

Akan te-tapi oleh karena hari sudah mulai geiap ketika mereka tiba di dusun Ui-cun itu, mereka lalu bermalam di sebuah keien-teng yang sudah rusak dan nampak kotor karena tidak terurus.

Ketika mereka memasuki kelenteng yang tidak berdaun pintu lagi itu, di dalam banyak terdapat sarang laba-laba.

Bau tempat itu pun tidak enak sekali, tanda bahwa selain tidak terurus, juga tempat ini kotor se-kali, berbau kencing dan kotoran tna-nusia.

Baru masuk saja Tiang Bu sudah merasa muak.

Akan tetapi Pak-kek Sam-kui dengan enaknya terus saja masuk dan melempar tubuh di atas lantai.

"Siauw-sute, coba kaucari makanan dan terutama minuman, aku merasa haus sekali,"

Kata Ci Kui kepada Ang Louw.

Si Muka Singa ini terkekeh-kekeh, ke-mudian tubuhnya berkelebat dan lenyap-lah ia.

Hanya bayangannya saja yang berkelebat cepat keluar dari pintu.

Baru saja Sin-saikong Ang Louw ke-luar, terdengar dengkur dua orang kakek yang rebah di atas lantai!

Tiang Bu du-duk bersila setelah membersihkan lantai di sudut ruangan itu, mengenangkan se-mua pengalamannya.

Biarpun ia harus hidup tidak karuan, kadang-kadang dua hari tidak makan dan ada kalanya perut-nya dipenuhi makanan lezat tiada habis-habisnya sampai kekenyangan, kadang-kadang ia disuruh berlari-lari naik turun gunung akan tetapi karena tiga orang gurunya tidak sabar melihat kelambatan-nya, ia lebih sering digendong, namun tak boleh disangkal bahwa tiga orang gurunya yang buruk watak itu memper-lakukan dengan baik.

Telah ribuan li ia melakukan perjalanan bersama Pak-kek Sam-kui dan telah berbulan-bulan ia mengikuti mereka.

Dan dia mendapal-kan sesuatu yang amat menonjol pada diri tiga orang kakek yang kasar dan jahat itu, yaitu watak setia kawan di antara mereka bertiga."

Tak lama kemudian terdengar suara terkekeh-kekeh dari Si Muka Singa.

Ke-adaan di dalam ruangan kelenteng itu sudah gelap.

Hanya Tiang Bu yang masih belum tidur, anak ini duduk mengatur pernapasannya seperti yang ia pelajari dari guru-gurunya dan menahan lapar yang menggerogoti isi perutnya.

Hanya ada angin menyambar ketika Ang Louw masuk ke dalam ruangan itu dan tak lama kemudian nampak api menyala dan tiga batang lilin dipasang oleh Si Muka Singa ini di atas meja sembahyang yang sudah bobrok.

Selain lilin menyala ini, juga di atas meja kelihatan sepanci besar mi dan di sebelahnya terlihat hiolouw (tempat abu hio) besar sekali yang ter-isi.....

arak wangi!

Dan lucunya, dua orang kakek yang tadinya tidur mendeng-kur, seperti disiram air dingin, tiba-tiba melompat bangun dan berteriak-teriak.

"Arak.....! Arak.....!"

Mereka tertawa dan menyerbu meja. Bergantian tiga orang kakek ini minum arak wangi itu dari hiolouw besar begitu saja tanpa cawan lagi.

"Enak..... enak..... eh, Sute, kau men-dapatkan arak dan mi ini dari mana?"

Kata jLiok-te Mo-ko Ang Bouw.

Adapun Giam-lo-ong Ci Kui lalu memanggil Tiang Bu untuk ikut makan mi yang ternyata memang enak sekalL Untuk minum arak dengan mengangkat hiolouw itu, tentu saja Tiang Bu tidak kuat, ma-ka ia lalu minum arak menggunakan...,.

tangannya yang dijadikan pengganti ca-wan!

Anak berusia lima tahun ini se-karang sudah biasa minum arak keras.

Setelah tertawa bergelak, Ang Louw menjawab pertanyaan ji-suhengnya.

"Di dusun seperti ini, mana ada rung arak yang baik? Mana ada masakan mi yang selezat ini? Aku sudah putar-putar dan hanya mendapatkan warung arak yang menjual arak campur air. Ba-iknya hidungku tajam, aku mencium bau arak wangi keluar dari sebuah kelenteng."

Ketika aku masuk ke dalam, kulihat lima^ orang hwesio muda menghadapi arak dar"

Masakan mi ini. Aku totok mereka, aku kumpulkan W"

Dalam panci dan karena di sana tidak ada guci besar, aku lalu mengambii hio-louw kelenteng itu, menuang-nuangkan-semua arak dari guci kecil, dan rnern-bawa semua ini ke sini setelah menyambar tiga buah lilin."

Kembali tiga orang itu tertawa, tergelak.

Sebentar saja mi yang sepanci besar banyaknya telah habis, pindah ke dalam perut empat orang ada sepuluh kati lebih dan arak sehiolouw penuh itu.

Dan tak lama kemudian terdengar dengkur mereka, dan kali ini Tiang Bu juga ikut tidur pula setelah perutnya diisi.

Di atas meja sembahyang yang bobrok itu hanya kelihatan sisa-sisa makanan, dan hiolouw bekas tempat arak telah ter-guling miring di atas meja, sedikit sisa arak mengalir keluar meryibasahi meja.

Matahari telah naik tinggi ketika Tiang Bu membuka matanya, kaget dan bangun mendengar suara ribur-ribut.

la naelihat tiga orang suhunya telah ba-ngun, bahkan Ang Louw nampak sedang ribut mulut dengan seorang hwesio yang berwajah angker.

la marah-marah dan mencaci-maki.

"Kalian ini iblis-iblis dari mana berani membikin rusuh di Ui-cun?"

Si Muka Singa Ang Louw tertawa dan bertolak pinggang.

"Badut Gundul, kau datang-datang marah mau apa? Kau seperti raja kehilangan selir saja. Apa gundulmu terbentur pintu?"

Memang Ang Louw yang mukanya seperti singa ini paling doyan berkelakar, berbeda dengan dua orang suhengnya yang bersungguh-sungguh menghadapi lain orang dan hanya tertawa bergurau dengan saudara sendiri.

Hwesio itu nampak makin marah.

la membanting kaki kanannya dan.....

lantai yang dihantam oleh kakinya menjadi Jebol, kakinya masuk ke dalam lubang sekaki lebih!

"Keparat, kau ini saikong siluman agaknya yang telah menghina murid-mundku.

Kau merampas hidangan oranR.

menurunkan tangan jahat, menotok hwesio-hwesio suci, menghina kelenteng dengan membawa pergi hiolouw yang kau isi dengan arak.

Kau benar-benar dikutuk para dewata!"

Ang Louw menyeringai dan mukanya benar-benar menyerupai singa yang hen-dak menerkam mangsanya.

"Badut GunduL orang-orang macam kau dan murid-murid-mu memang patut dihajar. Mana ada hwesio-hwesio menghadapi hidangan be-rupa arak dan mi yang penuh dengan daging? Kalian ini mempunyai pekerjaan mengemis dan minta belas kasihan orane untuk mengisi perut. Sekarang kami orang-orang asing datang dengan perut kosong, sudah sepatutnya kalian yane sudah seribu kali minta makanan dari orang lain itu sekali-kali memberi se-dekah kepadaku. Tentang hiolouw, bagaimana kaubilang aku menghina? Hiolouw biasanya buat tempat abu, aku meminjamnya untuk diisi arak dan dipakai un-j tuk minum ity tandanya malah menghormat."

Hwesio itu marah sekali.

Dengan menggeram ia memukul Ang Louw.

Gerakannya cepat pukulannya berat.

Tidak aneh, karena hwesio ini sebetulnya adalah anak murid dari Kaolikung-pai, seorang di antara para murid ketua di Kaolikung-san.

Kepandaiannya sudah tinggi dan dengan murid-muridnya ia ber-tugas mengepalai kelenteng di Ui-cun sekalian memata-matai gerakan orang-orang utara yaitu orang-orang yang datang dari daerah Cin.

Kaolikung-pai termasuk partai yang anti kepada pemerintah Cin dan ter-masuk sebagai pelopor dalam tiap per-tempuran kecil-kecilan antara orang-orang dari daerah Cin dengan orang-orang dari |31daerah Sung.

Ketika hwesio itu pulang ^dari bepergian dan melihat murid-murid-nya tertotok kaku seperti patung dan selain arak dan makanan, juga hiolouw dibawa pergi orang, ia menduga bahwa ini tentu perbuatan orang-orang dari utara.

Cepat ia melakukan penyelidikan dan pada keesokan harinya baru ia rnen-dapatkan tiga orang aneh dan seorang bocah tidur di dalam kelerrteng bobrok yang sudah tidak dipakai lagi itu.

Akan tetapi Ang Louw yang diserang itu tertawa-tawa mengejek.

"Eh, eh, kau mau berkelahi? Apo kau sudah bosan hidup?"

Hwesio itu yang beberapa kali serang-annya dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya menjadi naik darah dan serangannya makin gencar.

Sebuah ton-jokannya yang dilakukan dengan sekuat tenaga mampir di pundak Ang Louw, membuat Si Muka Singa itu meringis-ringis.

Memang ilmu siiat memiliki ke-istimewaan masing-masing dan biarpun kepandaian Ang Louw jauh lebih tinggi, namun menghadapi lawan yang meng-gunakan ilmu silat asing baginya, tidak aneh kalau ia sampai terkena pukulan.

Akan tetapi pukulan ini membuat Si Muka Singa marah sekali.

Ia mengeluarkan auman yang keras dan menyeramkan sekal).

Hwesio itu terkejut karena tiba-tiba ia merasa tubuhnya tergetar hebat oleh suara auman yang melebihi auman singa hebatnya.

Gerakan kaki tangannya menjadi lam-bat dan di lain saat Si Muka Singa me-nerkam maju dengan dahsyat, tangan kanannya menyambar dengan tenaga ra-tusan kati memukul dagu hwesio itu.

"Prakkk.....!"

Demikian kerasnya pu-kulan ini sehingga kepala hwesio yang tidak berambut itu menjadi pecah beran-takan!

Tubuhnya terlempar dan roboh terguling-guling di sudut, mati sebelum tubuhnya jatuh di tanah.

Melihat kehebatan pukulan ini, Tiang Bu diam-dlam merasa ngeri, akan tetapi juga kagum.

Akan tetapi Giam-lo-ong Ci Kui menegur Si Muka Singa.

"Siauw-sute, kau benar-benar gegabah. Kita datang untuk menghubungi orang-orang kang-ouw, akan tetapi datang-datang kau membunuh seorang hwesio. Sungguh bukan permulaan yang baik."

"Twa-suheng, hwesio macam begini saja, apa sih artinya? Tugas kita adalah rnenghubungi tokoh-tokoh besar dan ketua-ketua partai,"

Sutenya membantah.

Ci Kui tidak banyak cakap lagi lalu mengajak rombongannya segera ineianjut-kan perjalanan, menuju ke kota Cun-yi di sebelah selatan dusun itu.

Jalan menuju ke Cun-yi melalui pegunungan yang sunyi dan penuh dengan hutan yang lebat.

Oleh karena masih asing dengan daerah ini, maka biarpun jsrak ke kota itu hanya seratus li, akan tetapi Pak~ kek Sam-kui harus bertanya-tanya kepada orang-orang dusun dan perjalanan tak dapat dilakukan cepat-cepat.

Salahnya, tiga orang kakek itu me-lakukan perjalanan terburu-buru oleh karena Ci Kui hendak menghindari segala ekor yang tidak enak dari peristiwa pem-bunuhan hwesio itu, maka pada hari per-tama itu mereka telah sesat jalan!

Mere-ka tersesat ke dalam hutan yang amat besar dan liar di antara perbatasan Pro-pinsi Kwicu dan Secuan dan tanpa di-sadari mereka memasuki daerah Tai-hang-san!

Telah sehari penuh mereka berjalan cepat, Tiang Bu digendong oleh Liok-te Mo-ko Ang Bouw akan tetapi sampai matahari terbenam mereka masih belum keluar dari daerah pegunungan yang pe~ nuh hutan itu.

Terpaksa malarn hari itu mereka bermalam di hutan.

Karena se-hari peiluh tidak pernah melihat ada dusun, tentu saja mereka masih belum dapat minta keterangan kepada penduduk dan karenanya masih belum sadar bahwa mereka mengambU Jalan yang salah.

Pada keesokan harinya, mereka me-lanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian mereka berada di lereng gunung dan melihat puncak gunung menjulang tinggi di depan, Ci Kui berkata.

"Ah, kita telah salah jalan. Di depan ada gunung tinggi padahal menurut ke-terangan, jalan menuju ke Cun-yi tidak melewati puncak gunung yang tinggi."

"Sejak kemarin aku sudah bilang, Suheng. Kita menuju ke jurusan teng-gelamnya matahari berarti kita telah mengambil jalan ke barat. Padahal se-harusnya kita ke selatan,"

Kata Liok-te Mo-ko sambil menurunkan Tiang Bu dari gendongan dan rnengeringkan peluh di kepalanya yang botak menggunakan ujung bajunya.

Selagi mereka termenung memandang puncak gunung yang tidak mereka kenal Itu tiba-tiba Ci Kui berseru.

"Hai, di sana ada orang bertempur. Dan ia lari melalui lereng yang menanjak naik, diikuti oleh kedua sutenya. Tiang Bu juga berlari secepatnya untuk mengikuti guru-gurunya, akan tetapi tentu saja ia tertinggal. la tidak takut di-tinggalkan dan mengejar terus. Anak kecil ini sudah terlatih dalam hal berlari limelalui jalan-jalan pegunungan yang sukar-sukar.

"Ah, yang bertempur adalah orang-orang pandai. Ini kesempatan baik bagi kita untuk menghubungi mereka dan membantu mereka,"

Kata pula Ci Kui setelah melihat empat orang hwesio setengah tua yang berwajah keren tengah mengeroyok seorang hwesio lain yang lihai sekali llmu silatnya.

Empat orang hwesio itu dilihat dari bentuk pakaiannya saja dapat diduga bahwa rnereka adalah hwesio-hwesio yang biasa menjadi penghuni kelenteng-kelenteng di Tiongkok selatan, sedangkan hwesio yang dikeroyok dan lihai sekali itu berjubah merah da-rah, bermuka hitam dan tinggi sekali hidungnya bengkok.

Melihat ini, Pak-kek Sam-kui segera dapat menduga bahwa hwesio lihai yang berjubah merah dan ;memaki topi pendeta kuning itu tentulah seorang pendeta dari Tibet, pendeta Lama yang banyak merantau ke Tiongkok.

"Sute, pendeta Lama itu lihai sekali. Akan tetapi kita harus membantu empat orang hwesio itu,"

Kata Ci Kui kepada dua orang sutenya. Dua orang sutenya Juga maklum akan maksud suheng me-reka, maka tanpa banyak cakap lagi tiga orang ini lalu melompat ke gelanggang pertempuran.

"Lama kurang ajar, jangan banyak tingkah di sini!"

Bentak Ci Kui sambil menyerang dengan pukulan-pukulannya yang dahsyat. Juga Ang Bouw dan Ang ouw berseru keras.

"Empat sahabat jangan khawatir, kami datang membantu!"

Pendeta Lama yang mainkan sebuah tongkat pendeta panjang itu nampak terkejut sekali, karena serbuan tiga orang ini benar-benar hebat sekali.

Tadi, menghadapi sebuah toya, dua buah tom-bak dan sepasang golok yang dimainkan oleh empat orang pengeroyoknya, ia masih mendapat angin dan berada di fihak yang mendesak.

Akan tetapi begitu tiga orang kakek aneh seperti iblis itu menyerbu, biarpun mereka ini hanya bertangan kosong, sebentar saja ia men-jadi terdesak hebat.

Sebaliknya empat orang hwesio itu menjadi girang dan bertambah semangat mereka karena me-nerima bantuan tiga orang pandai yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"He, kalian ini bukankah orang-orang dari dunia utara? Mengapa mencampuri urusan kami!"

Pendeta Lama itu biarpun terdesak hebat, masih sempat menegur Pak-kek Sam-kui. Tiga orang kakek ini kagum juga akan ketajaman mata pendeta yang sudah tua itu.

"Kau ini pendeta dari barat berani kurang ajar terhadapsahabat-sahabat kami dari selatan, tentu saja kami mem-bantu!"

Kata Ci Kui yang sengaja berkata demikian untuk menarik hati empat orang hwesio itu.

la dapat menduga bahwa empat orang hwesio yang belum dikenal-nya ini tentulah tokoh-tokoh selatan yang ternama, maka dengan mengambil hati mereka, akan lebih mudah ia menghubungl tokoh-tokoh selatan.

Di lain fihak, empat orang hwesio itu khawatir kalau-kalau tiga orang kakek aneh yang membantu akan meoghentikan bantuannya, maka seorang di antara mereka berseru.

"Sam-wi Locianpwe, jangan melepas-kan penjahat berkedok Lama ini. Dia telah mencuri pusaka dari Omei-san!"

Pendeta Lama itu tertawa terbahak bahak.

"Ha, ha, ha, ada perampok-perampok berteriak maling. Sungguh lu-cu!"

Setelah berkata demikian, karena tidak tahan akan desakan tujuh orang itu, ia memutar tongkat panjangnya secara istimewa sekali, cepat dan kuat-kuat hingga angin pukulannya saja membuat tujuh orang lawannya, kecuali Giam-lo-ong Ci Kui seorang, terpaksa bergerak mundur.

Ini menandakan bahwa tenaga Iweekang dari pendeta Lama itu amat besar dan hanya Ci Kui yang mampu mertahan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pendeta Lama untuk melompat pergi dan melarikan diri.

"Jangan lari!"

Seru Sin-saikong Ang Louw sambil menubruk maju dan ketika ia bergerak dari kedua tangannya me-nyambar sinar-sinar merah yang amat lembut.

Inilah jarum-jarum rahasia dari Sin-saikong Ang Louw yang amat lihai.

Akan tetapi anehnya, pendeta Lama itu tidak mengelak dan terus saja lari.

Jarum-jarum itu ketika mengenai jubah yang lebar dan berkibar di belakang menutupi tubuh pendeta itu, menancap akan tetapi tidak menembus.

Ternyata bahwa yang dipakai oleh pendeta Lama itu bu-kanlah jubah sembarangan, melainkan jubah sutera istimewa yang di sebelah dalamnya terdapat kain benang-benang perak yang amat kuat!

"Kejar penjahat itu!"

Empat orang hwesio tadi berteriak-teriak dan lari mengejar.

Pak-kek Sam-kui juga mengejar, akan tetapi mereka ini ketika me-lihat bahwa ilmu lari cepat dari empat orang hwesio itu tidak dapat melawan ilmu lari cepat si pendeta Lama, lalu mengendurkan larinya dan tidak mengejar dengan sungguh-sungguh hendak memusuhi si pendeta Lama.

Pendeta Larha itu berlari cepat melihat tujuh orang mengejarnya terus.

Tiba-tiba di depannya ia melihat seorang bocah yang wajahnya amat menarik per-hatiannya.

Bocah ini nampak sehat kuat, jujur dan sinar matanya tajam luar biasa.

Pakaian bocah yang sederhana dan compang-camping itu menandakan bahwa ia berhadapan dengan seorang bocah gunung.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari sebelah kiri, di balik puncak.

Suara ini melengking tinggi seperti suling, ke-mudian meogalun dan lapat-lapat ter-dengar seperti suara ketawa seorang wanita, suara ketawa yang merdu.

"Celaka....."

Pendeta Lama itu men-jadi pucat.

"kalau dia ikut mengejar....."

Timbul pikiran yang amat baik.

la melompat ke dekat bocah itu yang bukan lain adalah Tiang Bu yang sedang susah payah mengejar tiga orang suhunya.

Di-keluarkannya sebuah bungkusan dari ju-bahnya, diberikan bungkusan itu kepada Tiang Bu dan pendeta itu berkata.

"Anak baik, kausimpankan ini. Ku titipkan kepadamu, kelak aku akan datang mengambilnya. Siapa namamu?"

"Namaku Tiang Bu,"

Jawab bocah itu sambil menerima bungkusan. Pada saat itu terdengar suara lengking meninggi itu! "Lekas, simpan dalam bajumu jangan kelihatan orang,"

Kata pendeta Lama sambil membantu Tiang Bu memasukkan bungkusan itu ke dalam saku baju di sebelah dalam.

Kemudian pendeta itu tiba-tiba menarik lengan Tiang Bu dan melemparkan anak itu ke dalam jurangl "

"Tinggal dulu di sana, jangan berteriak. Kalau ada orang melihatmu, kau akan mampus!"

Kata pendeta Lama itu yang cepat lari ke depan.

Akan tetapi baru belasan kali lompatan, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang wanita cantik sekali telah berdiri di depannya.

Wanita ini berpakaian serba putih, wajahnya kemerahan dan rambutnya yang halus hitam panjang itu terurai di belakang punggung-nya.

Sebatang pedang menempel pada punggung, sikapnya gagah sekali.

Ketika ia mengangkat tangan kirinya ke atas dengan isyarat menyuruh Lama itu berhenti, nampak jelas bahwa telapak tangannya kemerahan seperti berlepotan darah.

Inilah Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Tangan Merah).

"Thai Gu Cinjin, berhenti dulu"

Wani-ta itu berseru suaranya merdu dan tinggi nyaring menusuk telinga tanda bahwa di-keluarkan dengan pengerahan tenaga khikang.

Kemudian terdengar suara ketawanya yang aneh seperti lengking suling.

Pendeta Lama itu nampak gelisaN mendengar suara ketawa ini.

"Ang-jiu Mo-li, kau menghentikan pinceng ada keperluan apakah?"

Tanya-nya, suaranya digagah-gagahkan agar tidak kelihatan bahwa dia gentar meng-hadapi wanita im.

Memang sungguh lucu melihat tokoh besar seperti Thal Gu Cin-jin yang di Tibet terkenal sebagai jagoan berilmu tinggi, kelihatan gentar menghadapi seorang wanita cantik yang biarpun kelihatan muda jelita akan tetapi sudah berusia lima puluh tahun ini!

Ang-jiu Mo-li sekali lagi tertawa cekikikan, kemudian suara ketawanya ter-henti tiba-tiba dan keningnya berkerut, matanya memancarkan cahaya menakutkan.

Thai Gu Cinjin, sudah lama aku men-dengar bahwa kau adalah seorang pen-deta Lama yang paling cerdik banyak akal dan suka pura-pura.

Ternyata se-karang betul, kau masih hendak berpura-pura dan bertanya apa maksudku meng-hentikanmu, seakan-akan kau tidak ber-dosa sama sekali!

Akan tetapi aku tidak mau seperti kau, aku berterus terang saja.

Aku sengaja menghadangmu dan lekas-lekas kauberikan kitab-kitab Omei-san itu."

Mendengar ini Thai Gu Cinjin berdongak ke atas, tertawa bergelak dan memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah sehinggga batu-balu menjadi remuk.

"Ha, ha, ha, ha! Kau juga, Ang-jiu Mo-li? Benar-benar lucu. Baru saja Le Thong Hosiang, Nam Kong Hosiang, Nam Siong Hosiang dan Hengtuan Lojin empat orapg hwesio goblok itu mengeroyok pinceng dan juga minta kitab dari Omei-san. Apa kaukira mudah saja mengambil kitab dari dalam gua yang dijaga oleh dua ekor naga sakti itu? Kau boleh coba-coba mengambilnya di Omei-san! Ha, ha, ha!"

"Kalau mempergunakan tongkatmu itu aku percaya, kau. takkan mampu meng-ambll kitab dari Omei-san. Akan tetapi tipu muslihatmu mungkin membuatmu berhasil. Aku mendengar berita bahwa kau sudah berhasil menipu Tiong 3in Hwesio. Nah, sekarang jangan banyak cakap, lekas kauserahkan kitab itu ke-padaku."

"Eh, kau tidak percaya kepadaku, Ang-jiu Mo-li? Pinceng bersumpah bahwa kitab itu tidak ada pada pinceng!"

"Hmmm, siapa percaya pada sumpahmu? Perlihatkanlah isi saku bajumu."

"Ang-jiu Mo-li, kau benar-benar ter-lalu! Kau tidak saja tak percaya kepada kata-kata pinceng, bahkan sampai pin-ceng bersumpah kau tidak percaya. Ka""

Ingin menggeledah?"

"Betul, lekas buka jubahmu dan ja-i ngan banyak cerewet!"

"Ini penghinaan namanya!"

"Habis kau mau apa?"

"Ang-jiu Mo-li, sudah lama pinceng tidak merasai kelihaianmu. Kalau kau dapat merampas tongkat pinceng ini, baru pinceng mengaku kalah dan nne-nuruti kehendakmu memeriksa saku jubahku ini."

Setelah berkata begini, pendeta Lama yang bernama Thai Gu Cinjin itu lalu memegang tongkatnya lurus ke depan dada dengan tangan kanan disodor-kan ke arah Ang-jiu Mo-li.

Wanita ini kembali tertawa aneh.

"Kalau aku tidak melihat kau sudah ;ua dan sudah bersusah payah meninggalkan Tibet untuk mencari kitab Omei-san, tentu kau takkan dapat meninggalkan tempat ini dengan nyawa dalam tubuhmu. Baiklab, kaupertahankan tongkatmu!"

Ang-jw Mo-li lalu menangkap tcngkat itu dengan tangan kirinya, mengera!

ikan tenaga Iweekang disalurkan ke arah tongkat untuk membetot, Thai tiu Cinjin mempertahankan.

Ang-jiu Mo-li mengubah-ubah tenaganya, kadang-kadang membetot, kadang-kadang mendorong.

Akan tetapi Thai Gu Cinjin tak dapat diakali dan dapat mengimbangi serangan lawan.

Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan seru keras dan warna merah dari telapak , kedua tangannya menjalar perlahan-lahan sehingga tak lama kemudian tongkat di bagian yang terpegang oleh wanita ttu mulai mengeluarkan uap!

Terus saja uap itu rnenjalar menuju ke tangan Thai Gu Cinjin yang merasa terkejut sekali.

Akan tetapi mengandalkan tenaga Iweekangnya yang sudah tinggi sekali, dia tidak takut dan bersiap-siap menerima serangan hawa dari tangan merah itu.

Uap terus menjalar menyusuri tong-kat, .tanda bahwa hawa itu makin lama menjalar makin jauh mendekati lawan.

Akhirnya uap menyentuh tangan Thai Gu Cinjin yang memegang tongkat.

Pendeta Lama ini merasa seakan-akan ia memegang besi merah.

Baca Juga: Dewi Maut 4

Baca Juga: Pedang Ular Merah 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert