Tangan Geledek 2

Eps 2 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Panasnya tak tertahankan lagi, apalagi selain hawa panas ini masih disertai hawa mendorong yang amat dahsyat.

la mempertahankan, akibatnya, telapak tangannya mulai ha-ngus dan beruap, mengeluarkan bau se-perti kulit dibakar.

"Menyerah.....""

Katanya terengah-engah karena ia menahan napas dan me-ngerahkan seluruh tenaga.

Ang-jiu Mo-1!

tertawa nyaring sekali dan menancapkan tongkat yang sudah berpindah tangan itu ke atas tanah.

Tongkat amblas sampai setengahnya.

Tanpa banyak cakap lagi, Thai Gu Cinjin membuka jubah luarnya dan melemparkan jubah di atas tanah.

la kini hanya me-makai pakaian dalam yang ringkas dan tidak bersaku.

Dengan ujung sepatunya, Ang-jiu Mo-Li meraba-raba jubah itu.

Ketika mendapat kenyataan bahwa di situ tidak tersimpan kitab, ia nampak kecewa dan marah.

Dipandangnya, wajah Thai Gu Cinjin dengan tajam.

"Thai Gu Cinjin, sekarang kau me-nang. Memang kau tidak membawa kitab, akan tetapi kalau kelak ternyata kitab itu ada padamu, ingatlah bahwa aku tidak biasa melupakan penghinaan orang kepadaku. Dan kalau saat ini kau me-s nipuku, berarti kau telah menghinaku!"

Setelah berkata demikian, sekali berkele-bat lenyaplah wanita yang mengerikan itu.

Thai Gu Cinjin mencabut tongkatnya sambil menarik napas panjang, memakai lagi jubahnya yang merah Hu, lalu tiba-tiba ia berpaling memandang ke arah tujuh orang yang baru saja muncul dari (Lanjut ke

Jilid 04) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 tempat persembunyiannya.

"Nah, apakah kalian hendak melanjut-kan pertempuran tadi sampai mati?"

Bentaknya marah.

Tujuh orang ini bukan lain adalah empat orang hwesio dan tiga kakek Pak-kek Sam-kui.

Mereka ini tadi mengejar dan melihat Thai Gu Cinjin bertengkar dengan seorang wanita "baju putih yang kedua tangannya merah, mereka berhenti.

Pak-kek Sam-kui menjadi pucat ketika mengenal bahwa wanita itu bukan lain adalah Ang-jiu Mo-li yang mereka takuti, maka buru-buru mereka mengajak empat orang hwesio itu bersembunyi di balik pohon-pohon.

Setelah Ang-jiu Mo-li pergi, barli mereka berani muncul.

Thai Gu Cinjin yang merasa terhina oleh Ang-jiu Mo-li akan tetapi tidak berdaya, me-lihat munculnya bekas Jawan ini, menimpakan kemarahannya kepada mereka dan menantang mereka melanjutkan pertempuran.

Akan tetapi ketika empat orang hwe-iio itu melihat betapa setelah digeledah ternyata pendeta Lama itu benar-benar tidak menyimpan kitab yang mereka hendak rebut, mereka bahkan menjura memberi hormat dan Le Thong Hosiang berkata.

"Mohon Taisuhu sudi memaafkan ka%i yang keliru menyangka dan telah berlaku kurang ajar."

Thai Gu Cinjin mengeluapkan suara di hidung, melirik ke arah Pak-kek Sam-kui dan berkata periaiian.

"Ang-jiu, Mo-Li Si Ratu Iblis dari utara datang untuk mencari kitab Omei-san, agaknya banyak orang-orang dari utara juga datang berramai-ramai. Hemmm, kalau yang tiga ini bukan Tiga Setan Kutub Utara, siapa lagi?". Giam-lo-ong Ci Kui menjura dan tertawa. la maklum bahwa ilmu kepandaian dari Thai Gu Cinjin tinggi sekali dan biarpun mereka bertujuh mengeroyok, kalau .dilakukan pertempuran mati-matian, andaikata mereka menang sekalipun tentu di fihak mereka akan jatuh banyak korban.

"Penglihatan Cinjin benar-benar tajam sekali. Kelak kalau ada kesempatan ke Tibet, tentu kami bertiga akan mengada-kan kunjungan penghormatan."

Kembali Thai Gu Cinjin mengeluarkan suara mengejek di hidung, kemudian me-nyeret tongkatnya dan pergi dari situ.

Tentu saja ia tidak terus pergi meninggalkan pegunungan itu, melainkan berkeliaran di sekitar situ mencari Tiang Bu.

Akan tetapi alangkah heran, kaget dan mendongkolnya ketika ia tidak dapat menemukan bocah yang ia titipi kitab-kitab itu!

Tadi ia melemparkan Tiang Bu ke dalam jurang mempergunakan ke-pandaiannya sehingga bocah itu tidak terluka ketika tiba di dasar jurang, akan.

tetapi sekarang bocah itu sudah tidak berada di dalam jurang lagi, entah ke mana perginya dan dengan cara bagai-mana.

Thai Gu Cinjin marah-marah, terus mencari, bahkan pergi ke sekitar puncak gunung itu, tetap saja sia-sia dan tidak menemukan bocah itu.

"Celaka! Bocah?etan! Kalau aku mendapatkan engkau, akan kuputar batang lehermu. Berani kau mempermainkan aku,"

Pikir pendeta Lama itu dengan marah dan terus mencari-cari, kini menuju ke selatan karena disangkanya bocah itu tentu telah lari ke selatan membawa bungkusan kitab-kitab itu.

Adapun Pak-kek Sam-kui pada saat itu sedang bercakap-cakap dengan empat orang hwesio itu.

Memang, empat orang hwesio itu bukan lain adalah Le Thong Hosiang, Nam Kong Hosiang, Nam Siong Hosiang dan Hengtuan Lojin, empat orang hwesio yang pernah datang di Lu-liangsan dan membuka rahasia Wan-bengcu sebagai keturunan dari Pangeran Wanyen yang dibenci oleh orang-orang gagah, kemudian telah dituturkan di bagian de-pan betapa Le Thong Hosiang telah mengadu kepandaian dengan Bu Kek Siansu.

Le thong Hosiang dan kawan-kawan-nya memberi hormat kepada Pak-kek Sam-kui dan memperkenalkan namanya.

Kemudian ia berkata.

"Sudah lama pinceng mendengar nama besar Sam-wi Locianpwe dan kebetulan sekali hari ini selain menyaksikan ke-lihaian Sam-wi, juga telah menerima pertolongan. Pinceng dan kawan-kawan menghaturkan banyak terima kasih.". Giam-lo-ong Ci Kui tertawa.

"Ah, Saudara-saudara terlalu sungkan. Sudah selayaknya orang-orang segolongan saling membantu dan tentang kepandaian..... ah". memalukan bicara tentang kepandaian setelah kita bertemu dengan orang-orang seperti Thai Gu Cinjin dan lebih-lebih Ang-jiu Mo-li itu. Hanya orang dengan kepandaian tinggi seperti Wan-bengcu kiranya boleh dibandingkan dengan mereka". Ci Kui sengaja menyebut Wan-bengcu untuk melihat bagaimana hubungan mereka ini dengan bengcu itu. Girang hatinya melihat betapa wajah empat orang hwesio itu menjadi muram, bahkan Heng tuan Lojin berkata tak senang.

"Orang-orang utara memang banyak yang pandai, sayang nnereka tolol, memilih bengcu keturunan Pangerah Cin dan bekas penjahat pula!"

Ci Kui tertawa girang.

"Cocok! Me-mang kami sendiri merasa benci melihat bengcu yang muda sorhbong dan keturun-iao bangsawan penindas rakyat itu! Akari tetapi, mengapa saudara-saudara dari selatan tidak mau turun tangan dan men-diamkannya saja bangsat itu merajalela?"

Le Thong Hosiang menarik napas panjang.

"Orang-orang kang-ouw di dae-rah utara itulah yang menyebabkan. Me-reka semua percaya kepada bengcu me-reka dan menyokongnya. Terus terang saja, di utara banyak terdapat orang-orang pandai dan andaikata kami turun | tangan terhadap Wan-bengcu kami tentu akan bermusuhan dengan semua orang kang-ouw di sana."

Ci Kui melanjutkan pancingannya.

"Heran sekali, bukankah di selatan ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai? Bahkan dulu aku pernah mendengar nama besar dari seorang bengcu di sini yang disebut Tung-nam Beng-cu (Ketua Persilatan Selatan dan Timur) dan bernama Liok Kong Ji!"

Le Thong Hosiang mengangguk-angguk.

"Memang betul, akan tetapi Liok-taihiap itu hanya sebentar saja berada di sini memirripin kami. Sekarang dia telah pergi menghilang dari dunia ksng-ouw, entah ke mana. Paling akhir ia berada di utara, akan tetapi di"

Sana ia dimusuhi oleh orang-orang di bawah pimpinan Wan-bengcu. Kalau masih ada di sini, kiranya kami akan lebih kuat dan mudah untuk menghadapi penghinaan orang-orang utara."

Mendengar ini, kegirangan Ci Kui memuncak. Sambil tertawa-tawa ia mengeluarkan sebuah benda darj saku bajunya, memperlihatkan benda itu kepada Le Thong Hosiang dan kawan-kawannya sambil berkata.

"Kenalkah Saudara-saudara akan benda ini?"

"Hek-tok-ciam dari Liok-taihiap.....!"

Seru Le Thong Hosiang dan Hengtuan Lojin yang mengenal baik senjata rahasia berupa jarum hitam yang terkenal sebagai senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh Liok Kong Ji atau bengcu mereka dahulu.

"Apakah Liok-taihiap masih hidup? Di mana dia dan bagairnana Hek-tok-ciam berada di tanganmu?"

Tanya hwesio ketua dari Taiyun-pai itu.

"Ketahuilah, Le Thong Hosiang, kami sebetulnya adalah utusan-utusan dari Thian-te Bu-tek Taihiap yang kini berada di luar daerah sebelah utara wilayah Cin."

"Siapa itu Thian-te Bu-tek Taihiap? tanya Nam Kong Hosiang, terkejut mendengar nama julukan yang demikian hebatnya.

"Apakah kau tidak bisa menduga? Thian-te Bu-tek Taihlap adalah Liok-taihiap yang kini menjadi tangan kanan raja.besar di Mongoiia."

Empat orang hwesio itu menjadi heran dan curiga.

"Menjadi pembantu pemimpin bangsa Mongoi yang disebut Temu Cin dan amat terkenal itu? Akan tetapi mengapa? Dan apa maksudnya mengutus Sam-wi ke selatan ini?"

"Ketahullah Saudara-saudara yang baik. Taihiap melihat keadaan yang ma-kin buruk di utara, di mana rakyat di-tindas oleh penjahat-penjahat bangsa Cln itu, bahkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw Sudah dikuasai puia oleh orang she Wan yang bukan lain adalah juga seorang keturunan Pangeran Wanyen dari suku bangsa Cin. Oleh karena itu, taihiap dengan bantuan raja besar dari bangsa Mongol, kami bermaksud memukul Kera-jaan Cin dan membebaskan rakyat dari-pada penjajahan orang-orang Cin. Makci, kami diutus untuk menyampaikan hal ini kepada saudara-saudara di selatan agar kita dapat bekerja sama dalam usaha mulia itu. Hnmm, inilah urusan besar sekali yang tidak dapat begitu saja diputuskan oleh kami berempat,"

Kata Le Thong Hosiang hati-hati sekali.

"bagi pinceng sendiri, tentu saja pinceng bersedia bekerja sama kalau kerja sama ini dimaksudkan untuk memberi hukuman kepada Wan-bengcu dan mengangkat seorang bengcu baru yang lebih tepat, juga pinceng kira semua saudara di selatan akan setuju kalau diajak menggulingkan Pemerintah Cin untuk membebaskan rakyat daripada; tindasan penjajahan."

Ia berhenti sebehtar, kemudian melanjutkan.

"Akan tetapi, bukan semestinya kalau, untuk usaha ini, kami menarik bantuan bangsa Mongol. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk bekerja dengan kekuatan sendiri."

Ci Kui mengerutkan keningnya. tak disangkanya orang-orang di selatan begini angkuh.

"Akan tetapi, Le Thong Hosiang. Kau sendiri tadi yang menyatakan bahwa di selatan kekurangan orang pandai, kalah oleh orang-orang di utara. Tanpa kerja sama, bagaimana akan berhasil cita-cita?"

Le Thong Hosiang tertawa.

"Bukan di selatan tidak ada orang pandai, hanya belum muncul orang pandai. Kalau dua Naga Sakti yang bertapa di Omei-san tidak begitu tua dan mengasingkan diri puluhan tahun lamanya, kiranya di seluruh dunia ini tidak ada yang berani memandang rendah kepada kami orang-orang selatan."

Untuk meninggikan dera-jat orang-orang selatan, Le Thong Hosiang lalu menceritakan kepada tiga orang .pen-dengarnya bahwa kitab yang diperebutkan oleh Thai Gu Cinjin dan Ang-jiu Mo-li tadi, dimaksudkan kitab dari Omei-san.

Di puncak Omei-san yang amat keramat terdapat dua orang pertapa sakti bernama Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio, dua orang kakek pertapa yang sudah mengasingkan din di tempat itu selama tiga puluh tahun lebih dan kabarnya dua orang kakek ini masing-masing telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya dari nenek moyang persilatan Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu.

Karena dua orang kakek ini tidak mau "turun"

Ke dunia ramai dan tekun bertapa, maka banyak orang yang ingin sekali mencuri kitab-kitab pelajaran ilmu silat mereka yang kabarnya mereka simpan di dalam kuil tua di mana mereka tinggal.

Inilah sebabnya maka ketika tersiar berita bahwa Thai Gu Cinjin dari Tibet berhasil mencuri kitab-kitab itu, ia dikejar-kejar oleh semua orang yang ingin merampas kitab-kitab itu Demikianlah, mengapa tadi kami berempat mengeroyoknya untuk merampas kembali kitab-kitab yang seharusnya tinggal di selatan.

Akan tetapi ternyata kilab-kitab itu tidak berada padanya.

Memang tadinya kami sudah bersangsi apakah betul-betul ada orang mampu mencuri kitab-kitab itu dari tangan dua orang kakek sakti itu,"

Le Thong Hosiang mengakhiri ceritanya.

Pak-kek Sam-kui tertarik sekali oleh cerita ini dan diam-diam mereka mencatat semua yang mereka dengar itu, karena sebagai orang-orang ahli silat, mendengar tentang ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh dua orang kakek itu, amat menarik perhatian mereka dan ingin mereka berjumpa dengan dua orang kakek itu.

"Betapapun juga, seperti telah pinceng katakan tadi, urusan yang sam-wi kemukakan bukanlah urusan kecil yang dapat pinceng putuskan sendiri. Pinceng akan menyampaikan hal itu kepada kawan-kawan lain dan minta pendapat mereka. Kemudian, sekali lagi kami menghaturkan terima kasih dan apabila kebetulan sam-wi lewat di Taiyiin-san, pinceng persilakan mampir."

Mereka berpisah di situ. Setelah empat orang liwesio itu pergi, Pak-kek Sam-kui baru teringat akan murid mereka, Tiang Bu.

"Eh, mana bocah itu?"

Kata Sin-saikong Ang Louw.

Mereka mencari-cari, akan tetapi, seperti juga Thai Gu Cinjin, mereka tidak dapat menemukan TiangBu.

Mari kita menengok apa yang dialami oleh Tiang Bu, bocah yang dicari-cari oleh Thai Gtt Cinjin dan Pak-kek Sam-kui itu.

Tiang Bu kaget bukan main ketika pendeta Lama yang memaksanya menerima titipannya oerupa bingkisan itu melemparkannya ke dalam jurang yang cukup dalam.

Anehnya, ia terlempar ke dalam jurang dalam keadaan berdiri dan agak memutar sehingga tidak laju benar jatuhnya dan ia jatuh dalam keadaan duduk.

la tidak memperdulikan lagi seruan kakek Lama itu yang menyuruhnya tinggal menunggu di situ, karena pada saat itu Tiang Bu menghadapi keanehan lain yang membuatnya melongo.

Temyata ketika a jatuh dalam keadaan duduk, ia merasa betapa tubuhnya diterima oleh sepasang tangan yang kuat dan ketika ia memandang, betul saja bahwa ia terjatuh ke dalam pangkuan seorang kakek yang kepalanya bundar botak dan tubuhnya pendek, kecil dan kurus seperti tengkorak!

Dengan sepasang mata seperti orang baru bangun tidur, kakek ini memandang bocah di pangkuannya dengan pandangan tajam menyelidik, kemudian ia fersenyum aneh, disusul suara ketawa perlahan.

"Heh, heh, heh, peruntungan manusia me-mang aneh. Yang setengah mampus mencari tidak mendapat, yang duduk diam tak tersangka-sangka menerima apa yang direbutkan orang. Bocah, tahukah kau bahwa kau telah menerima sebuah pusaka yang tak ternilai harganya dari Thai Gu Cinjin tadi?"

Tiang Bu biarpun seorang anak kecil, karena ia sudah lama mengikuti tiga orang gurunya yang juga orang-orang aneh dan sakti, dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang pandai.

Cepat la menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan locianpwe."

Orang aneh yang pakaiannya bertambal-tambal seperti pengemis kelaparan itu mengangkat alis.

"Eh.....? Terima kasih untuk apa? Siapa yang menolongmu? Memang Thai Gu Cinjin tidak mengliendaki kau binasa maka kau dilempar ke sini seperti tadi. Kau ^tahu, apa yang kau bawa di saku bajumu itu?"

Tiang Bu menggeleng kepala.

"Teecu tidak tahu."

Kembali kakek itu tertawa, hampir-hampir tidak bersuara, hanya angin dari mulutnya yang ompong saja terdengar hahaheheh.

"Lucu sekali...... lucu sekali! Kalau kedua losuhu di Omei-san mendengar akan hal ini, mereka bisa mati tertawa. Pusaka berharga berada di dalam saku, masih tidak tahu benda apa sebenarnya itu! Heh, heh, heh, bocah tolol, ketahuilah bahwa bungkusan itu berisi kitab rahasia pelajaran ilmu silat yang luar biasa dari Tiong Jin Hwesio yang dicuri oleh Thai Gu Cinjin."

Tiang Bu tetap tidak berubah air mukanya.

"Tiada gunanya bagiku, locian pwe."

"Tiada gunanya? Apa inaksudmu?"

Muka yang botak ini inenjadi merah sekali, saking mendongkol dan heran mendengar kata-kata yang baginya tak inasuk akal ini.

Bagaimana orang yang mendapatkan kita luar biasa itu berani mengatakan tiada guna?.

"Pertama-tania, benda ini hanyalah barang titipan saja dan tentu akan diambil kembali oleh pendeta berjubah merah itu. Kedua kalinya, teecu , tidak dapat membaca sebuah hurufpun."

"Bodoh! Pertama, Thai Gu Cinjin hanya akan menerima kembali kitab itu berikut nyawamu karena kau menjadi saksi utaina bahwa kitab itu berada padanya. Kedua, apa sih sukarnya belajar membaca huruf? Kau tidak tahu bahwa sebentar lagi, pendeta Lama itu tentu akan mencari-carimu untuk mengambil kembali kitab itu berikut nyawamu."

Kini Tiang Bu benar-benar kaget.

"Locianpwe, harap tolong teecu."

"Mari kau ikut keluar dari sini."Kakek pengemis ini berdiri dan temyata kakinya cacat, besar sebelah. Kaki yang kiri amat kecil sehingga jalannya terpincang-pincang. Akan tetapi, sekali ia meme-gang lengan Tiang Bu dan menggerakkan kaki kanan, tubuh mereka berdua telah melayang naik dari dalam jurang itu. Tak lama kemudian, dengan menggandeng tangan Tiang Bu, atau lebih tepat mengangkat tubuh anak itu karena kedua kaki Tiang Bu tidak menyentuh tanah, kakek aneh ini berlarr cepat sekali keluar dari tempat itu, memasuki hutan, keluar hutan dengan cekatan se-perti seekor burung walet saja. Beberapa hari kemudian, di dalam se-buah hutan yang luas, di tempat sunyi yang jarang didatangi manusia di mana-mana sekitar tempat itu hanya terdapat pohon-pohon dan batu karang menjulang tinggi bersaingan dengan pohon, kelihatan Tiang Bu membalik-balik lembaran buku, belajar membaca di bawah petunjuk ka-kek pengemis pincang. Anak ini belajar dengan tekun sekali karena hatinya berbisik bahwa inilah kesempatan baginya untuk maju setelah ia mendengar penuturan pengemis tua itu tentang kitab yang jatuh di dalam tangannya. Siapakah kakek botak ini? Dia bukanlah orang yang tidak ternama di dunia kang-ouw. Kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan ilmu sastra membuat la dahulu dianggap sebagai seorang bun-ou-cwan-jai (ahli silat dan surat). Tidak saja ia pandai membaca menulis, juga ia terkenal sebagai ahli bermain catur. Kegemaran inilah yang membuat ia akhirnya berkenalan dengan dua orang sakti yang bertapa di Omei-san. Pada suatu hari, kakek yang lihai ini ketika berjalan seorang diri, tiba-tiba ia mendengar desir angin dan tahu-tahu ia merasa dikempit dan dibawa pergi orang. Tahu-tahu ia telah berada di puncak Omei-san dan ketika ia dibebaskan dari totokan yang luar biasa lihainya itu, ia berhadapan dengan dua orang hwesio tinggi besar yang sudah tua sekali. Akhirnya ia tahu bahwa dua orang hwesio itu bukan lain adalah dua orang pertapa sakti yang ditakuti"

Semua orang karena dikabarkan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya, bernama Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio, berusia tujuh puluh tahun lebih. Tiong Jin Hwesio yang "menculiknya"

Tadi dan perbuatan ini saja sudah menjadi bukti betapa hebat dan tinggi kepandaian hwe-sio ini.

Menculik orang biasa secara de-mikian saja sudah merupakan kelihaian yang jarang dimtliki orang, apalagi men-culik orang yang ilmunya sudah tinggi seperti kakek botak ini!

Ternyata bahwa dua orang hwesio itu sengaja membawanya ke Omei-san untuk diajak bermain catur!

Kakek botak itu yang mempunyai nama julukan Bu Hok Lokai (Pengemis Tua Tidak Beruntung) menjadi girang sekali dan melayani ke-inginan dua orang kakek sakti itu dengan gembira.

Sampai sebulan lebih ia tnggal di sana dan sebagai tanda terima kasih, dua orang kakel sakti itu menurunkan semacam ilmu silat kepadanya atau lebih tepat disebut ilmu menghindarkan diri dari serangan musuh.

Ilmu ini disebut Sam-hoan-san-bu (Tiga Kali Lingkaran Tiga Kali Menari), semacam ilmu yang berdasarkan ginkang dan khusus dipergunakan untuk meng-hadapi serangan lawan, baik dengan ta-ngan kosong maupun bersenjata.

Dengan memiliki ilmu silat ini, sewaktu apabila"

Menghadapi lawan yang jauh lebih lihai sekalipun, Bu Hok Lokai tak usah takut, akan tetapi sudah pasti ia dapat menyelamatkan diri mempergunakan ilmu silat"..ini.

Dua orang kakek sakti itu menurun-kan ilmu ini mengingat bahwa Bu Hok Lokai adalah seorang yang bercacad ka-kinya.

Bu Hok Lokai setelah menerima ilmu ini mendapat kenyataan bahwa dua orang sakti itu benar-benar lihai sekali dan kalau saja ia bisa menjadi murid mereka, tidak ada apa-apa lagi di dunia ini yang ia inginkan.

Maka ia lalu men-jatuhkan dirj berlutut, minta diangkat murid.

Tak diduga sama sekali, dua orang kakek itu menjadi marah-marah, memaki-makinya sebagai orang tak tahu terima kasih, kemudian mengusirnya dengan ancaman ilmunya akan dicabut kembali kalau ia berani kembali ke situ!

Inilah yang menimbulkan sakit hati Bu Hok Lokai maka ketika ia melihat kitab rahasia Omei-san terjatuh ke dalam tangan Tiang Bu, ia mendapat pikiran, untuk mengambil bocah ini sebagai muridnya.

Dia sendiri adalah seorang bercacad, lagi sudah tua, kalau belajar sendiri takkan mungkin jadi.

Kalau dia mempunyai se-orang murid pandai, bukankah hari tua-nya akan terjamin?

Mernang nasib manusia kadang-kadang ditentukan oleh sikapnya yang dianggapnya tidak akan berakibat sesuatu.

An-daikata dua orang kakek sakti itu tidak marah ketika melihat Bu Hok Lokai mir"""

Ta diangkat menjadi murid dan menolak dengan halus saja, kiranya Bu Hok Lokai melihat kitab itu akan cepat-cepat mem-bawa kitab itu kembali ke Omei-san untuk dikembaiikan kepada pemiliknya.

Akan tetapi, kemarahan dua orang sakti yang sebetulnya tidak berarti, da-pat membalikkan sejarah, dan kitab itu tidak kembali kepada pemiliknya melainkan dipelajari oleh Tiang Bu!

Makin lama Bu Hok Lokai menjadi makin sayang kepada Tiang Bu yang ter-nyata memang luar biasa sekali ketajam-an ingatannya.

Biarpun setiap hari di-jejali puluhan huruf-huruf baru, akan tetapi sekali huruf-huruf itu menempel pada ingatannya, takkan terlupa iagi.

Di samping kepintarannya ini, ia juga amat tekun.

jarang sekali ia kelihatan menganggur dan buku pelajaran tak pernah dilepas dari tangannya!

Setahun kemudian Tiang Bu telah dapat membaca kitab dari Omei-san itu yang ternyata berisi pelajaran ilmu silat tinggi yang disebut Pat-hong Hong-i (11-s mu Pukulan Delapan Penjuru Angin Hu-jan)!

la mulai mempelajari ilmu pukylaa ini di bawah pengawasan gurunya yang baru, Bu Hok Lokai.

Bahkan Bu Hok LoNaimenurunkan pula pelajaran ilmu silat yang ia dulu terima dari dua kakek sakti Omei-san, yaitu Ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu kepada muridnya yang ia sayang.

Di lingkungan bangunan-bangunan istana kaisar di ibu kota Yen Ping (Pe-king}, yaitu istana Kerajaan Cin, ter-dapat sebuah istana yang indah dengan pekarangan depan yang lebar dan taman bunga yang penuh dengan bunga-bunga indah di bagian belakang.

Inilah istana dari Pangeran Wanyen Ci Lun, seorang pangeran yang tidak saja amat berpenga-ruh dan dipercaya oleh kaisar, akan te-tapi juga terkenal di kalangan rakyat sebagai seorang pangeran yang budiman dan tidak pernah menolak permintaan tolong orang.

Anehnya, pangeran yang hartawan, berpengaruh dan berwajah tampan ini sampai berusia tiga puluh tahun belurri juga menikah, menikah dengan sah.

Karena isterinya di luar kawin sah ada lima orang!

Atau pendeknya pangeran yang masih perjaka ini telah mempunyai lima orang selir.

Di antara selir-selirnya terdapat seorang selir yang paling dlsayangi-nya dan agaknya selir inilah yang membuat ia segan untuk menikah lagi.

Di dalam diri selir ini ia mendapat-kan seorang yang ia cinta sepenuh hati-nya, seorang yang menjadi ibu dari pu-teranya, dan seorang pelindung keselamatannya.

Oleh karena itu, biarpun seHr ini ia kawin di luar upacara yang sah, akan te-tapi agaknya selir ini menjadi pengganti dari isteri yang sah.

Selir ini yang men-jadi ratu rumah tangga dan mengepalai semua penghuni rumah.

Akan tetapi para selir lain tidak merasa iri hati, karena memang selir ini mempunyai watak yang pendiam dan tidak sombong biarpun ia amat disayang oleh Pangeran Wanyen Ci Lun.

Adanya selir inilah maka tidak ada orang yang berani sembarangan mengganggu istana ini, dan keluarga di rumah itu merasa aman dan tenteram seakan-akan di situ terdapat seorang dewi pelindung.

Orang takkan merasa heran kalau sudah mengetahui bahwa selir ini bukan lain adalah pendekar wanita yang amat gagah perkasa murid dari Hwa 1 Enghiong Go Ciang Le pendekar besar dari Kim-bun-to.

Dia inilah yang dulu dijuluki orang Kang-sim-li atau Dara Berhati Baja, karena ia keras hati dan jujur, tidak mengenal ampun menghadapi para penjahat.

Namanya Gak Soan Li dan ia adalah suci (kakak seperguruan) dari Go Hui Lian.

Di dalam cerita Pedang Penakluk iblis telah diceritakan betapa Gak Soan Li telah menjadi gila karena perbuatan keji yang dilakukan oleh penjahat besar Liok Kong J1 dan betapa kemudian Gak Soan Li telah ditolong oleh Pangeran Wanyen Ci Lun yang mencintanya.

Kemudian akhirnya Gak Soan Li tinggal di istana pangeran itu dan menjadi selir yang paling dicinta.

Apalagi karena Wanyen Ci Lun tidak mendapatkan seorang pun anak dari em-pat orang selir yang lain, sedangkan setahun setelah ia mengambil Gak Soan Li, pendekar wanita ini melahirkan se-orang anak laki-laki yang tampan sekali.

Cinta kasih dan sayangnya makin besar dan dengan tidak resmi Gak Soan Li menjadi Toanio atau Toa-hujin (Nyonya Besar)!

Anak itu diberi nama Sun, dan Wan-yen Ci Lun yang ingat akan jasa-jasa Wan Sin Hong memberi she atas nama keturuna Wan kepada puteranya, karena ia tahu bahwa she Wan itu pun asalnya adalah she Wanyen.

Demikianlah, putera-nya itu nama lengkapnya Wan Sun dan semenjak kecilnya Wan Sun sudah nampak bahwa ia akan menjadi seorarg yang cerdik dan tampan sekali Ketika Wan Sun baru berusia dua tahun, pada suatu malam yang sunyi, seorang pelayan wanita yang kebetulan pergi ke taman bunga, mendengar tangis bayi dari taman itu.

Pelayan ini ketakut-an dan lari masuk sambil berteriak-teriak.

"Siluman.....! Siluman.....!"

Mendengar ini, para pelayan lain dan selir-selir Pangeran Wanyen Ci Lun men-jadi ketakutan pula.

Hanya Gak Soan Li yang tidak takut sama sekali, bahkan dengan marah ia mengguncang-guncang-kan pundak pelayan yang menjerit-jerit ketakutan itu sambil menghardik.

"Diam! Ceritakan apa yang kau telah lihatl"

"Ampun..... Toanio..... hamba me-lihat..... eh, mendengar tangis bayi di dalam taman..... tentu siluman....."

Soan Li tidak menanti habisnya oceh-an pelayan yang ketakutan ini melainkan cepat ia berlari ke belakang sambil me-nyambar pedangpya.

Ketika tiba di ta-man bunganya yang indah itu, tiba-tiba ia tertegun dan tak terasa pula bulu tengkuknya meremang.

Benar saja, ia pun mendengar suara tangis anak kecil yang nyaring sekali, keluar dari tengah-tengah taman.

Bagaimana bisa ada bayi me-nangis di situ kalau bukan perbuatan si-luman?

Akan tetapi, dia adalah seorang wanita yang memiliki kegagahan.

Se-bentar saja ditindasnya perasaan seram ini dan di lain saat ia telah melompat ke tengah taman.

Malam itu gelap, hanya ribuan bintang yang menimbulkan cahaya remang-remang menambah keseraman keadaan di taman itu.

Setelah tiba di tempat di mana terdengar suara tangis bayi itu, kembali Soan Li tertegun dan kedua kakinya seperti terpaku pada tanah ke-tika ia melihat sebuah benda kecil ber-gerak-gerak di atas tanah di depannya.

Ketika ia memperhatikan, tak salah lagi, benda itu bukan lain adalah seorang bayi yang baru beberapa bulan usianya!

Ta-ngis bayi itu luar biasa nyaringnya, hampir senyaring tangis Wan Sun ketika ma-sih bayi.

Soan Li menyarungkan pedangnya dan cepat menyambar tubuh bocah itu yang ternyata hanya dibungkus dengan sehelai kain kuning.

Tubuh anak itu montok dan sehat sekali dan ketika Soan Li mendekap bocah itu pada dadanya ia mencium bau yang harum sekali, keharuman ^yang amat aneh seakan-akan dalam tu-buh anak itu bersembunyi ribuan tangkai kembang beraneka warna!

Wanyen Ci Lun dan yang lain-lain menjadi bengong ketika melihat Soan Li datang memondong seorang bayi perempuan yang montok dan mungil.

"Eh, eh..... anak siapakah ini.....?"

Tanya Wanyen Ci Lun.

"Entah dia ditinggalkan menangis di tengah taman. Harus diselidiki perbuatan siapa ini yang demikian kejam dan bia-dab. Orang tuanya harus diberi hukuman berat. Kurasa tentu seorang di antara pegawai kita atau dari rumah yang berdampingan, karena kalau bukan orang dalam yang berdekatan, siapa bisa me-, ninggalkan anak di tengah taman?"

Kata Soan Li marah sambil merawat anak itu penuh kasih sayang.

Melihat bocah yang begitu mungil dengan rarpbutnya yang hitam lebat, matanya bercahaya dan beiiilng, kulitnya yang putih halus, timbul rasa sayang.

Cepat ia menyuruh pelayan memanggil seorang inang pengasuh yang biasa me-nyusui anak-anak dan sebentar saja setelah mendapat minum susu, anak.

itu tidur pulas dengan bibir tersenyum manis.

Anak ini berusia paling banyak lima bulan.

Usaha Wanyen Ci Lun untuk menemii-kan orang tua anak perempuan itu sia-sia belaka.

Tidak saja ia menyelidiki para pelayan, bahkan ia telah memerin-tahkan penjaga-penjaga untuk menyelidiki siapa orang-orang yang mempunyai seorang anak perempuan berusia lima bu-lan, namun ternyata bahwa yang dicari-cari tidak dapat diketemukan.

Banyak yang mempunyai anak, akan tetapi anak-anak itu masih ada semua pada orang-orang tuanya, jadi anak perempuan itu seakan-akan jatuh dari langit ke taman bunga itu!

Soan Li mengerutkan kening dan mukanya yang cantik itu berpikir keras.

"Tidak mungkin anak ini jatuh begitu saja dari atas langit. Pasti ada orang-nya yang menaruhnya di tengah taman pada malam hari. Akan tetapi, memasuki lingkungan istana, apalagi memasuki ta-man kita tanpa diketahui oleh siapapun juga kemudian meninggalkan seorang bayi di situ, sungguh hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kepandaian silat tinggi. Entah apa maksud dan kehendak orang yang meninggalkan anak itu, aku tidak tahu. Akan tetapi, anak ini bukanlah bocah biasa, melainkan se-orang anak yang memiliki bakat baik sekali dan kelak pasti menjadi orang luar biasa. Melihat anak ini, timbul rasa suka dalam hatiku dan kalau sekiranya kau tidak keberatan, biarlah anak ini men-jadi anak kita yang ke dua, menjadi kawan bermain dari anak kita Sun-ji."

Mendengar ini, Wanyen Ci Lun tidak keberatan sama sekali oleh karena ia sendiri pun suka melihat bocah yang cantik itu.

Puteranya hanya seorang, tentu saja ia ingin anak ke dua, apalagi kalau perempuan.

Dengan demikian, ia mempunyai dua orang anak, seorang lakio-laki dan seorang lagi perempuan.

Demikianlah, bocah yang mereka da-patkan di tengah taman bunga itu men-jadi anak mereka dan mereka beri nama Bi Li (Wanita Cantik) dan selanjutnya disebut Wan Bi Li.

Bi Li semenjak kecil-nya sudah mengalami hal yang aneh-aneh.

Pertama-tama, munculnya di ke"

Luarga pangeran itu sudah merupakan teka-teki yang tidak diketahui artinya.

Kemudian, pada suatu malam, ketika Bi Li berusia satu tahun, terdengar Soan Li menjerit keras.

Wac.yen Ci Lun yang masih tidur nyenyak itu kaget bukan main dan cepat-cepat ia melompat dari tempat tidurnya untuk membiiru ke arah isterinya yang sedang berdiri di dekat tempat tidur Bi Li.

Dan alangkah kagetnya ketlka ia me-lihat isterinya itu memegang seekor ular pada kepalanya dan dengan tenaganya telah meremas kepala ular itu sampai hancur di dalam genggamannya!

Ular itu hanya dapat menggeliat-geliatkan ekornya beberapa kali sebelum diam dan mati.

Dan anehnya, Bi Li tetap tidur nyenyak seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

"Aneh....."

Kata Soan Li menjawab pertanyaan suaminya.

"Tadi aku men-dengar Bi Li tertawa-tawa dalam tidur-nya, kemudian karena mendengar ke-resekan-keresekan di dalam tempat tidur-nya, aku tucun dan menengoknya. Kau mengerti betapa kagetku melihat seekor ular hijau yang berbisa ini melingkar di dekatnya, dengan kepalanya diusap-usap-kan pada pipi Bi Li saking ngeri dan terkejut aku menjerit dan cepat me-nyambar kepala ular itu untuk kubunuh."

Wanyen Ci Lun membelalakkan mata-nya dan memandang kepada Bi Li yang tidur dengan nyenyak dan nampak begitu mungil! "Heran benar, Bi Li selalu berbau begini harum, apalagi kalau sedang ti-dur,"

Katanya.

Kata-kata.

ini seakan-akan mengingatkan Soan Li akan sesuatu.

la mendekati Bi Li dan hidungnya mencium-cium.

Ke-mudian..

ia memandang suaminya dan mengangguk-angguk, laki menarik napas panjang.

"Entah ini anak siapa dan dari mana datangnya. Bau harum ini mengingatkan aku akan cerita mendiang Suhu dahulu akan semacam bunga aneh yang harum sekali dan amat disuka oleh bangsa ular berbisa namanya Coa-ong-hwa (Bunga"

Raja Ular).

Bunga seperti ini hanya tumbuh di dekat Kutub Utara dan banyak orang-orang kang-ouw yang tinggi kepandaian-nya mempergunakan bunga ini untuk menjaga diri apabila mereka bermalam di dalam hutan liar.

Dengan bunge seperti itu di dalam saku baju, binatang-binatang berbisa takkan mau mengganggu, malah ular-ular berbisa akan melindungi orang yang membawa bunga itu!

Dan bocah ini.....

entah bagaimana tubuhnya ter-utama hawa mulutnya, berbau harunf"

Sekali seperti bunga itu!"

"Isteriku, anak ini benar-benar anak yang aneh. Kiranya kelak akan menjadi seorang gagah perkasa, atau seorang yang cerdik pandai. Oleh karena itu, bukankah ini berarti kita telah memperoleh sebuah keuntungan bagus sekall? Kita mempunyai Wan Sun yang kita sa-yang, sekarang bertambah lagi seorang anak perempuan yang begini luar biasa. Kita harus mengucap syukur kepada Thian Yang Maha Kuasa."

Akan tetapi Soan Li mengerutkan alisnyy yang bagus bentuknya itu.

"Kata-katamu memang benar, Koko. Akan tetapi kalau aku teringat akan orang yang menaruh Bi Li di dalam ta-man, hatiku tidak enak sekali. Siapa dia dan apa maksudnya? Ahh..... kalau saja aku tahu siapa orangnya itu, takkan be-gini gelisah hatiku. Kalau saja aku tahu dan yakin bahwa ,,ia memang hendak fnemberikan anak ini kepada kita, akan "lega dan puaslah hatiku....."

Wanyen Ci Lun merangkul isterinya.

Sudahlah, mari kita tidur.

Tak perlu hal itu dipikirkan terlalu dalam.

Siapapun juga orangnya, dia tidak bernnaksud bu-"iruk, dan lagi andaikata ia bermaksud buruk, kita takut .apakah?

Kau sendiri berilmu tinggi, belum lagi di sini ter-jaga kuat.

Lebih baik kita jangan beritahu kepada para pelayan tentang ular itu, supaya mencegah ^erita-berita yang tidak karuan tentang anak kita Bi Li."

Pangeran itu lalu melempar sendiri ular tadi ke dalam empang di taman, , kemudian tidur bersama isterinya setelah Soan Li membersihkan bekas-bekas darah ular dengan teliti.

Akan tetapi, keanehan ini tak dapat ditutup untuk seiamanya.

Ketika Bi Li sudah berusia dua tahun, dan Wan Sun "

Empat tahun, dua orang bocah itu selalu bermain-main dengan rukun sekali. Sering-kali mereka main-main berdua di taman "

Bunga, dikawani oleh beberapa orang pengasuh.

Pada suatu hari, ketika dua orang anak kecil itu sedang bermain-main di taman bunga tiba-tiba seorang di antara pelayan-pelayan itu menjerit.

Semua pelayan memandang dan mere-ka menjadi pucat melihat tiga ekor ular belang yang ganas melenggang-lenggok datang menuju ke arah dua orang anak yang sedang duduk bermain-main pasir di bawah pohon itu.

Seorang di antara para pelayan itu takut kalau-kalau tiga ekor ular itu akan menggigit anak-anak tadi, maka ia cepat mengambil sepotong kayu dan memukul pada ular-ular itu, dengan maksud me-ngusirnya pergi dari situ.

Akan tetapi, tiba-tiba seekor ular belang mendesis dan tubuhnya meluncur cepat ke depan.

Di lain saat pelayan itu sudah memekik dan roboh dengan muka kehitaman dan napas terhenti.

Ular yang menggigit lengannya itu merayap pergi dan bersama kawannya terus saja menghampiri Bi Li dan Wan Sun!

Dua orang pelayan wanita yang lain berdiri terpaku dengan mata terbuka lebar-lebar.

Mereka tadi kaget setengah mati melihat seorang kawan mereka roboh tergigit ular, dan sekarang se-mangat mereka seperti terbang pergi meninggalkan tubuh ketika mereka rne-lihat ular-ular itu merayap mendekati asuhan mereka.

Ketika mereka melihat seekor ular merayap ke atas pangkuan Bi Li dan lidahnya yang dijulurkan keluar itu men-jilat-jilat muka anak itu, ia menjadi se-tengah pingsan dan lari bersama kawan-nya yang sudah pucat seperti orang dikejar setan!

"Celaka.....

mati.....

ular.....

aduuhhh |....."

Ratap mereka tidak karuan.

Keduanya jatuh berdebuk di depan Soan Li dan selir-selir Pangeran Wanyen Ci Lun yang lain.

Yang seorang megap-megap seperti ikan dilempar di darat,?

mulutnya terbuka tertutup tanpa suara apa-apa.

Sedangkan pelayan ke oua malah sudah pingsan seperti orang t"dur, tertelungkup di atas lantai.

"Ada apakah? Mana Kongcu dan Siocia?"

Tanya Soan Li, hanya dia yang nampak tenang, sedangkan selir-selir yang lain sudah ikut-ikutan panik.

"Ular..... ular..... aduh celal^t" ^"09^ nio..... ular..... mati....."

"Apa? Ular mati? Kenapa takut ular mati?"

Soan Li bertanya gemas.

Gak Soan Li memang semenjak muda^ berv/atak keras sehingga ia mendapat juiukan Kang-sim-li (Wanita Berhati Baja).

Ia paling benci melihat sifat pengecut, maka paling sebal kalau melihat orang ketakutan seperti pelayan-pelayannya itu.

Dibentak-bentaknya pelayan itu sehingga menjadi makin panik.

"Toanio, ular..... ada ular di taman....Siocia dan Kongcu..... digigit ular belang-belang....."

Kata pelayan itu sambil menangis tidak karuan.

Mendengar ini, tanpa membuang wak-tu lagi Soan Li melompat dan berlari cepat ke taman sambil membawa pe-dangnya.

Sarrtbil mengeluh cemas Pangeran Wanyen Ci Lun ikut berlari ke bela-"

Kang sedang para selirnya dan pelayan-pelayan lain mengejar pula, akan tetapi dengan hatl kecut dan kedua kaki siap berlari balik apabila terdapat bahaya!

Ketika Soan Li tiba di taman di ma-na kedua orang anaknya sedang duduk di| bawah pohon, wanita gagah yang tak kenal takut itu tiba-tiba menjadi pucat mukanya dan ia berdiri tegak tak ber-gerak, hanya dua tombak dari tempat dua bocah itu duduk, ia melihat peman-dangan yahg menggetarkan jantungnya saking cemas dan khawatir.

Seekor ular mengalungi leher Bi Ci, seekor lagi merayap-rayap melingkari pinggangnya dan ular ketiga yang paling panjang ekornya melilit tangan kanan Wan Sun sedangkan kepalanya berada di pundak Bi Li dan menjilat-jilat.

Kalau Soan Li menahan napas panjang saking khawatirnya, adalah Bi Li yang berada dalam keadaan mengerikan itu tertawa-tawa.

Melihat ibunya datang, Bi Li bahkan berkata...."Ibu, ular bagus.....

ular bagus.....!"

Tak jauh dari situ menggeletak tubuh pelayan yang mukanya kehitaman dar sudah tak bergerak.

Benar-benar peman-dangan yang menyeramkan.

Yang me-ngagumkan adaiah Wan Sun.

Bocah in sudah empat tahun usianya sudah me-ngerti urusan.

la tahu bahwa pelayan iti roboh karena gigitan ular dan bahwc sekarang yang bermain-main dengan di< dan Bi Li adalah ular-ular berbisa yanj amat berbahaya.

Akan tetapi, biarpun tak mungkin dapat tertawa-tawa seperti Bi Li yang bermain-main dengan tiga ekor ular itu, namun ia tidak kelihatan takut sama sekali, hanya diam seperti patung memandang adiknya, mengeraskan hati mengusir rasa jijik dan takut ketika ular ketiga merayapi tubuhnya dan kini ekornya melilit tangannya!

Anak yang lain kiranya akan menjerit-jerit atau lari dan kalau ia lakukan hal ini, besar ke-mungkinannya ia pun akan menggeletak seperti pelayan itu.

Akan tetapi melihat kedatangan ibunya, baru Wan Suh teringat akan bahaya besar yang meng-ancam.

Maka ia memanggil ibunya dengan suara penuh harapan pertolongan.

"bu...."

Baru saja ia membuka mulut menge-luarkan suara, ular yang paling panjang dan melilit tangannya itu tiba-tiba mem-balik dan kini ia merayap pundak Wan Sun, mendesis-desis dan lidahnya men-jilat-jilat leher dan muka Wan Sun, agak-nya siap untuk menyerang!

Kalau tadi Bi Li tertawa-tawa dan bicara keras ular-ular itu jinak saja, adalah sekarang ter-hadap Wan Sun yang baru saja mengeluarkan sedikit kata-kata, ular itu sudah nampak marah.

Melihat bahaya ini, Soan Li meng-gigil.

la tidak berani bergerak secara"

Sembrono. Ular itu sudah terlampau de"

Kat dengan anaknya, kalau ia menyerang, tentu ular itu akan marah.

Sekali saja gigitan, nyawa puteranya sukar ditolong lagi.

la melihat ular-ular ini sebagai ular belang yang paling berbisa, yaitu ular belang kuning dengan leher berkalung biru.

"Wan Sun, jangan bergerak, jangan? bicara....."

Katanya, kemudian dia berkata kepada Bi Li.

"Bi Li, kau berdirilah per-lahan-lahan, ya..... ya..... begitu..... sekarang berjalan ke sini, perlahan-lahan..."

Bi Li amat sayang kepada ibunya dan segala permintaan ibunya tentu ditaatinya.

Sambil tertawa-tawa ia berdiri dan berjalan mendekati ibunya, meninggalkan Wan Sun.

Ular yang tadi melilit Wan Sun, melihat Bi Li bergerak menjauhi, lalu merayap turun dan mengejar, akan tetapi secepat kilat Soan Li menggerak-kan pedangnya dan "sratt!"

Kepala ular itu terpisah dari tubuhnya yang menggeliat-geliat.

"Ibu..... ular baik mengapa dibunuh...?"

Tanya Bi Li kaget. Dua ekor ular masih melilit tubuhnya.

"Bi Li, ular-ular itu jahat..... Awas...!"

Teriak Soan Li ketika tiba-tiba ular yang melilit pinggang anak itu qampak marah, demikian pula yang mengalungi lehernya.

Ular-ular itu mencium bau darah kawannya dan kini kepala mereka bergerak-gerak mencari.

Tiba-tiba ular yang melilit\ pinggang Bi Li menjulurkan kepala dan lehernya ke arah Soan Li dan tiba-tiba.

dengan gerakan mendadak ular itu meluncur melakukan serangan dahsyat ke leher nyonya itu.

Akan tetapi tentu saja binatang ini bukan apa-apa bagi Soan Li.

Sekali pedangnya berkelebat, tubuh ular itu putus menjadi dua.

"Jangan gigit Ibuku....."

Berkali-kali Bi li berteriak-teriak sambil memanggil ular yang mengalungi lehernya dan yang meronta-ronta hendak membela kawannya.

Anak itu kalah kuat dan ular hampir terlepas dari pegangnya, hanya tinggal ekornya yang dipegang.

"Jangan serang Ibuku, kau ular nakal!"

Teriak Bi Li lagi, Kemudian anak ini menggigit ekor ular yang dipeganginya dan.....

Soan Ll melongo melihat ular itu tiba-tiba menjadi lemas, tergantung lum-puh seperti seekor ular yang sudah mati di tangan anak itu.

Dengan suara di tenggorokan, setengah menangis dan setengah tertawa.

Soan Li melompat, merampas dan melempar ular itu ke taman dengan kuat yang membuat tubuh ular itu remuk, kemudian ia merangkul dan menciumi kedua anaknya yang selamat.

Diam-diam ia mengaku bahwa betul-betul dalam diri Bi Li terdapat sesuatu yang luar biasa, dan tidak saja ular-ular ganas\ tidak mau mengganggu anak yang ber-keringat harum ini, akan tetapi juga dengan sekali gigitan anak ini telah melumpuhkan seekor ular berbisa!

Wanyen Ci Lun dan yang lain-lain juga girang sekali melihat dua orang bocah itu selamat, akan tetapi pangeran itu mengerutkan kening melihat pelayan yang menggeletak di situ.

Soan Li yang sedang m^ngenangkan perbuatan Bi Li menggigit ular tadi, mendapat pikiran baik.

la melepaskan kedua orang anaknya dan cepat menghampiri tubuh pelayan yang tertelungkup di atas tanah.

Diperik-sanya pergelangan lengan dan ketukan jantungnya.

Tubuh pelayan itu sudah dingin akan tetapi ketukan jantungnya masih terasa sedikit, tanda bahwa pe-layan itu sesungguhnya belum tewas.

la lalu menghampiri Bi Li dan berbisik.

"Anak baik, mari ikut Ibu."

La menggendong Bi Li dan menggandeng Wan Sun kemudian mengajak suaminya memasuki rumah, setelah memesan kepada para pelayan untuk mengangkat tubuh pelayan yang digigit ular itu ke dalam kamar.

"Jangan beri obat apa-apa, aku sendiri mau mengobatinya,"

Pesan nyonya ini kepada para pelayan.

"Dan bersihkan tempat ini, babat semua tanaman yang berupa alang-alang. Juga perkuatt pagar tembok agar jangan ada ular berbisa masuk sini."

Setelah tiba di dalam kamar, ia memberi tahu kepada suaminya tentang pikirannya hendak mengobati pelayan itu.

"Kurasa sedikit darah dari Bi Li mungkin menolong nyawa pelayan itu,"

Katanya kepada suaminya.

"Setujukah kau kalau aku menghisap sedikit darah anak kita ini?"

Biarpun dalam hal-hal seperti ini Soan Li lebih pandai dan mengerti daripada suaminya, akan tetapi ia selalu i minta pendapat suaminya sebelum melakukan sesuatu hal, tanda akan kasih sayangnya dan kesetiaannya kepada suaminya ini.

"Tidak membahayakan diri Bi Li sendiri?"

Tanya Wanyen Ci Lun. Isterinya menggeleng kepala.

"Tidak ada bahayanya diambil sedikit saja darahnya. Melihat betapa sekali menggigit ekor ular dia bisa membikin ular itu tidak berdaya, kurasa di dalam darah anak ini terkan-dung khasiat melumpuhkan pengaruh oisa ular."

"Kalau tidak membahayakan jiwanya, tentu saja aku setuju. Mulia sekali orang yang dapat menolong keselamatan nyawa lain orang, biarpun yang ditoiong itu hanya seorang pelayan. Lakukanlah kehendakmu itu."

Soan Li mencium Bi Li yang merang-kul ibunya dengan manja.

"Bi Li, anakku yang manis. Kau tadi tentu melihat pe-layan yang digigit ular tadi, bukau? "Ibu maksudkan Liang Ma?"

"Ya, dia itulah. Bi Li, kita harus mengobatinya dan kalau Ibumu ini tidak salah, sedikit darahmu akan menolong nyawanya. Bi Li, kuatkanlah, aku hen-dak mengambil sedikit darahmu!"

Dengan gerakan cepat sekali agar anak itu tidak mengira dan tidak merasa ngeri, tahu-tahu Soan Li telah menancapkan sebuah jarum dan menggurat pangkal lengan Bi Li.

Darah mengucur dari luka ini dan Bi Li hanya menjerit kecil, mukanya men-jadi merah dan air matanya bertitik akan tetapi tidak menangis.

"Anak baik, siapa tahu dengan darah-mu ini kau menolong nyawa lain orang,"

Kata Soan Li sambil menggunakan.

jari-jari tangannya memencet lengan Bi Li dan menggunakan Iweekang untuk men-dorong keluar darah anak itu keluar melalui luka pangkal lengannya.

Setelah mendapatkan darah sebanyak dua puluh lima tetes, Soan Li menutup luka itu dengan koyo (obat tempel) dan mencium kedua pipi anaknya dengan pandang mata sayang dan kagum.

Se-pasang mata Bi Li yang bening itu ber-sinar-sinar, sedikit pun tidak kelihatan takut biar darahnya diambil sampai dua puluh lima tetes!

Benar-benar anak yang luar biasa mengingat bahwa usianya baru dua tahun lebih.

Wan Sun memandang semua ini dengan mata penuh kekhawa-tiran dan kasihan terhadap adiknya.

Soan Li membav."a darah itu ke kamar pelayan yang sakit, menggunakan sedikit darah dioles-oleskan kepada luka bekas gigitan ular yang sudah menggembung bengkak, kemudian sisa darah itu ia mi-numkan dengan paksa ke mulut pelayan itu.

Memang amat sukar memasukkan darah itu karena orang ini hampir tak bernapas lagi.

Akan tetapi perlahan-lahan darah itu dapat juga mengalir masuk.

Tidak seorang pun pelayan mengira bahwa yang dipergunakan sebagai obat itu adalah darah dari siocia!

Semua pe-layan dan selir melihat cara pengobatan ini dengan penuh harapan.

Tak seorang pun berani mengeluarkan suara berisik, dan semua, termasuk Soan Li dan Wan-yen Ci Lun, menjaga di situ melihat akibat darip^da obat istimewa itu.

Tak lama kemudlan terdengar suara kerurak-keruruk seperti suara ayam di tenggorokan dan perut pelayan itu,"

Ke-mudian seperti tersentak ia muntah-muntah, muntah darah, darah hitam!

Para pelayan atas perintah Soan Li lalu menolongnya.

Banyak sekali darah hitam keluar dan makin banyak yang keluar, keadaan si sakit makin baik.

Cahaya kehitaman yang menyelimuti seluruh tubuhnya berangsur-angsur hilang, ter-ganti warna pucat.

Melihat pelayan itu muntah-muntah, Wanyen Ci Lun dan Soan Li meninggal-kan kamar itu dan Soan Li memesan kepada para pelayan agar supaya si sakit itu dibersihkan, kemudian diberi obat makan bubur encer dan diberi obat pe-nafnbah darah.

Betul seperti dugaan Soan Li, dalam waktu dua pekan saja pelayan itu sudah sembuh kembali.

Semenjak saat itu, kesayangan suami isteri ini terhadap Bi Li makin dalam, akan tetapi tetap saja teka-teki tentang siapa adanya Bi Li siapa orang tuanya dan apa maksud orang yang meninggal-kannya di taman bunga, masih selalu menggelisahkan hati mereka.

Diam-diam Wanyen Ci Lun teringat kepada saudara misannya, Wan Sin Hong dan alangkah rindu hatinya untuk bertemu dengan Sin Hong karena kiranya hanya Wan Sin Hong yang akan dapat membantunya memecahkan teka-teki tentang diri Bi Li ini.

Oleh karena itu, alangkah girangnyt hati Wanyen Ci Lun ketika dua bulan setelah peristiwa di atas, tiba-tiba muncul Coa Hong Kin!

Seperti telah diketa-hui dalam cerita Pedang Penakluk Iblis, Coa Hong Kin ini dahulu adalah sahabat dan tangan kanan Wanyen Ci Lun yang amat disayang dan dipercaya penuh, seorang pembantu yang amat setia.

Dua orang sahabat yang telah lama berpisah ini saling peluk dengan tertawa-tawa terharil.

Kemudian mereka duduk bercakap-cakap melepas rindu.

Hong Kin tidak mau bercerita tentang terculiknya Tiang Bu, karena memang ia tahu bahwa tidak pada tempatnya kalau ia bercerita tentang putera Gak Soan Li yang men-jadi anak tiri pangeran ini.

Pula Pange-ran Wanyen Ci Lun juga tidak mau ba-nyak bertanya.

Apalagi Soan Li yang juga menjumpai bekas sahabat suaminya inl, sama sekali tidak bicara tentang bocah itu, karena memang ia sama sekali tidak tahu di mana adanya bocah yang dilahirkannya dengan penuh kebencian itu.

Hong Kin mertgeluarkan surat yahg ia bawa dari Luliang-san.

"Selain datang berkunjung dan me-nengok karena sudah rindu, juga hamba membawa surat dari Wan-bengcu,"

Kata-nya sambil memberikan surat itu kepada Wanyen Ci Lun.

la menanti sampai Soan Li meninggalkan mereka berdua saja sebelum memberikan surat itu, karena ia pun tahu bahwa baik Wanyen Ci Lun tidak menghendaki nyonya itu tahu akan adanya seorang Wan Sin Hong cii per-mukaan bumi ini".

Seperti telah dicerita-kan dalam cerita Pedang Penakluk Iblis, mula-mula Gak Soan Li jatuh cinta ke-pada Wan Sin Hong dan kemudian ia menjadi isteri Wanyen Ci Lun yang mu-kanya serupa benar dengan Sin Hong.

Bagi Soan Li, orang yang pertanna-tama merebut hatinya "tu disangkanya suamijb-nya yang sekarang itulah!

Setelah membaca surat dari Sin Hong, Wanyen Ci Lun duduk termenung.

Di dalam surat itu Wan Sin Hong menceri-^takan tentang keadaan bahaya dari Pe-merintah Cin berhubung dengan makin kuatnya bangsa Mongol dan betapa ia telah didatangi oleh tokoh-tokoh utusan Temu Cin.

Sin Hong selanjutnya me-nyatakan bahwa apabila kelak terjadi perang kalau tentara Mongol menyerang Kerajaan Cin, sukarlah diharapkan bantu-an orang-orang gagah di dunia kang-ouw, karena selain orang-orang gagah itu se-bagian besar tidak suka kepada Kerajaan Cin, juga bahwa mereka sekarang tahu bahwa bengcu mereka juga keturunan bangsa Cln dan agaknya hendak mem-berontak!

Selanjutnya Sin Hong memberi nasihat kepada saudara misannya itu agar supaya mengundurkan diri saja di tempat yang aman dan, tenteram.

Demikianlah, Wanyen Ci Lun merasa bingung dan gelisah.

Dengan nasihatnya itu, Sin Hong seakan-akan memberi tahu lebih dulu bahwa kalau sampai terjadi perang, Sin Hong sendiri pun takkan mau membantu Kerajaan Cin untuk ^memukul mundur musuh.

Hal ini dapat dimaklumi oleh Pangeran Wanyen Ci Lun.

Biarpun keturunan bangsawan Cin, akan tetapi seperti mendianig ayahnya, Wan Sin Hong lebih dekat dengan rakyat jelata daripada deng-an kebang.sawanannya.

Akan tetapi bagi dia sendiri, sampai m"dti Wanyen Ci Lun tidak nanti mau rnembelakangi Kerajaan Cin begitu saja.

la bukan seorang pengecut, ia telah me-ngecap kebahagiaan dengan berdirinya Kerajaan Cin, tak mungkin ia sudi me-ninggalkan lari begitu saja setelah kini menghadapi bahaya!

Akan tetapi kalau ia memikirkan dya orang anak-anaknya......

ia menjadi gelisah sekali.

Coa Hong Kin tinggal sampai satu bulan di istana Pangeran Wanyen Ci Lun.

Pangeran itu tidak menyimpan rahasia tentang anak pungutnya dan mencerita-kan tentang Bi Li kepada Hong Kin.

Tentu saja Hong Kin menjadi terheran-heran dan ia pun tidak dapat menduga siapa orangnya yang telah meninggalkan anak itu di dalam taman, dan anak siapa pula gerangan bocah itu.

Ketika Hong Kin hendak pulang, Waft-yen Ci Lun memberi banyak barang ha-diah dan Gak Soan Li juga minta di-sampaikan pesannya kepada sumoinya, Go Hui Lian, bahwa dia sudah merasa rindu sekali dan sewaktu-waktu hehdak pergi menengok ke Kim-bun-to.

"Hong Kin, kalau sudah tiba masanya, harap kau bersiap menerima kedua anak-ku bersama ibu mereka untuk tinggal di Kim-bun-to, mengungsi apabila keadaan sudah amat mendesak,"

Katanya.

Hong Kin yang diberitahu juga tentang isi surat dari Sin Hong, mengerti akan maksud hati Wanyen Ci Lun.

Ia sudah kenal baik akan watak Wanyen Ci Lun yang setia kepada negara dan bang-sanya.

la tahu bahwa kalau sampai terjadi perang, Wanyen Ci Lun tak mungkin mau lari seperfi yang diusulkan oleh Sin Hong, dan akan membela Kerajaan Cin sampai mati.

Dan agaknya pangeran itu sudah bersiap-siap, kalau terjadi sesuatu, tentu Gak Soan Li dan dua orang anak itu disuruh mengungsi ke Kim-bun-to.

Oleh karena itu Hong Kin mengangguk dan menjawab.

"Harap jangan khawatir, tentu kami akan menerima dengan segala senang hati."

Maka berangkat pulanglah Hong Kin, diantar oleh pangeran itu sampai keluar istana.

Mari kita ikuti perjalanan Tiang Bu, anak yang nasibnya amat luar biasa itu sehingga semenjak kecil sudah mengalami hal-hal yang hebat dan dia sendiri berganti-ganti jatuh ke dalam tangan orang-orang aneh berkepandaian tinggi.

Telah diceritakan di bagian depan betapa nasib telah melemparkannya ke dalam tangan Bu Hok Lokai, seorang jembel tua perantau yang berilmu tinggi dan jalannya terpincang-pincang.

Sampai setahun ia ikut merantau dengan Bu Hok Lokai ini, naik turun gunung, keluar masuk kota dan dusun dan telah menyeberangi entah berapa banyak sungai.

Pekerjaan Bu Hok Lokai tak lain hanya me"

Ngemis dan kadang-kadang kalau bertemu dengan orang-orang pandai bermain catur, ia sampai lupa diri.

Kakek pengemis pincang ini kuat ber-main catur sampai tiga hari tiga rnalam tanpa beristirahat sejenak pun, berganti-ganti lawan.

Kegemarannya bermain catur luar biasa sekali dan kalau di suatu kota terdapat banyak ahli catur, ia kadang-kadang lupa untuk melarijutkan perjalanannya.

Oleh karena gurunya setiap hari ha-nya mengemis, sebagai muridnya Tiang Bu tak berdaya dan tidak bisa berbuat lain kecuali mengemis.

Sebetulnya anak ini tidak sudi mengemis dan sebagai seorang yahg pernah hidup bersama dengan Pak-kek Sam-kui, ia pernah melakukan pencurian makanan untuk dia sendiri dan terutama untuk menyenang-kan hati Bu Hok Lokai gurunya.

Akan tetapi tak disangka-sangkanya Bu Hok Lokai menjadi marah sekali, me-maki-makinya dan mengancam hendak meninggalkannya, bahkan hendak turun tangan membunuhnya!

"Tidak sudi aku mempunyai murid maling!

Jangan menjadi muridku, dekat saja aku tidak sudi dengan segala maling dan pencuri.

Lebih baik tidak makan dan kelaparan daripada mencuri,"

Kata kakek ini marah-marah.

"Selama kau berada di sampingku, sekali lagi kau melakukan pencurian aku takkan segan-segan turun tangan membunuhmu!"

Semenjak itu, Tiang Bu merasa jera dan tidak beranl lagi untuk melakukan pencurian.

la rela menderita, bahkan kadang-kadang beberapa hari tidak ma-kan!

la sama sekali tidak tahu karena masih terlalu kecil, bahwa gurunya ini kadang-kadang sengaja membawa muridnya menderita, sengaja membiarkan muridnya kelaparan dan sengsara untuk menambah benih-benih ksatria, agar mu-i ridnya ini tahu dan merasa betapa sengsaranya orang yang miskin dan kelak"

Suka mempergunakan kepandaian untuk menolong orang yang sengsara.

Di samping hidup yang serba kurang dan sengsara ini, dengan amat tekunnya Tiang Bu berlatih silat dibawah pimpinan Bu Hok Lokai.

Atas nasihat Bu Hok Lokai, Tiang Bu menghafal isi kitab dari Omei-san itu di luar kepala, kemudian kitab itu dibakar!

Tiang Bu memang memiliki kecerdikan luar biasa rnaka tidak sukar baginya untuk menghafal.

Dalam waktu setengah tahun, semua.;?

dasar dan teori Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang termuat dalam kitab itu telah"

Hafal olehnya. (Lanjut ke

Jilid 05) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Setahun setengah telah lewat semenjak ia ikut dengan Bu Hok Lokai dan pada suatu hari ia dan gurunya tiba di kota raja.

Girang sekali hatl Tiang Bu ketika ia melihat dinding tinggi "ang mengelilingi kota raja.

Sudah lama sekali ia mendengar orang bicara tentang kota raja yang besar, indah dan ramai.

la sama sekali tidak menyangka bahwa di tempat ini ia dan gurunya akan mengalami penstiwa hebat.

"Tiang Bu, kita berhenti di sini saja. Hari sudah hampir gelap dan tidak enak memasuki kota raja di waktu pintu-pintu gerbang sudah mau ditutup, akan dicuri-gai. Besok pagi-pagi saja kita rnasuk ke kota. Lagi pula, apanya sih yang bagus dilihat di waktu malam? Kita mengaso di bawah jembatan sana itu. Dulu aku per-nah meneduh di sana."

Tiang Bu merasa kecewa karena ia ingin sekali cepat-cepat memasuki kota kaisar.

Akan tetapi ia tidak berani i-nem-bantah kehendak gurunya.

Sambil rneng-gandeng tangan gurunya, ia menuruni jalan kecil menurun dl tepi jalan "raya.

Jalan ini menuju ke kolong jembatan besar yang berada di situ.

Ketika mereka tiba di kolong jembatan, baru Tiang Bu melihat bahwa tempat itu amat luas dan memang enak dipakai mengaso.

Panas tidak kepanasan, hujan tidak kehujanan lagi pula, hawanya hangat di situ.

Di sudut seberang terdapat seorang laki-laki yang duduk dengan muka ter-sembunyi di antara lututnya yang diangkat.

Orang ini pakaiannya compang-camping dan kotor seperti seorang jem-bel yang sudah melarat betul-betul.

Akan tetapi kepala yang mukanya disembunyi-kan itu gundul pslontos.

Sukar menaksir berapa usia orang ini.

la tidak bergerak, akan tetapi terdengar ia menggumam dengan kata-kata tak jelas.

Dia cantik.....

aduh dia cantik mu-ngil.....

seperti Ibunya.....

anakku.....

cantik seperti Siu Lan.....

ah Siu Lan....

kalau saja kau bisa melihatnya.....

can-tik....."

Lalu orang itu mengeluarkan suara ham-hem-ham-hem tidak karuan.

Selagi Tiang Bu memandang kepada orang gundul itu dengan penuh perhatian, tiba-tiba ia mendengar Bu Hok Lokai menarik napas panjang dan berkata.

"Perempuan..... di mana-mana terdapat korbanmu....."

Tiang Bu memandang suhunya dengan mata .bertanya.

"Apa Suhu mengenal dia?"

Tanyanya. Gurunya menghempaskan diri di atas rumput yang tumbuh di situ, lalu me-narik napas panjang dan menggeleng kepaia.

"Aku .tidak mengenalnya, akan ."ike^api aku dapat menduga bahwa dia tentu menjadi korban wanita pula, seperti aku."

Mendengar ini, seketika perhatian Tiang Bu kepada orang itu lenyap, dan pindah kepada gurunya. la pun duduk di dekat suhunya dan bertanya.

"Kau, Suhu? Korban wanita?"

Bu Hok Lokai mengangguk-angguk dan matanya menatap air di bawah jembatan.

la termenung dan terbayanglah peristiwa lama yang kadang-kadang membikin perih hatinya, perih hati yang selalu ditahan-tahan.

Sekarang, mendapat kawan se-orang murid yang disayangnya, ia men-dapat kesempatan membuka isi hatinya, melempar ke luar semua penasaran yang meluap di dalam lubuk hati.

"Tiang Bu, sebetulnya kau masih kecil untuk mendengar penuturanku ini. Akan tetapi apa boleh buat, harus kuceritakan kepadamu karena aku tidak tahan iagi. Pula, baik sekali bagimu agar menjadi peringatan bahwa kau harus selalu ber-hati-hati dan waspada kalau kelak ber-hadapan dengan wanita, apabila wanita cantik yang rnenarik hatimu nanti. Aku sudah tua dan siapa tahu aku akan rnati sebelum menceritakan hal ini kepadamu, maka biarlah sekarang saja kuceritakan kepadamu. KauJittat keadaanku. Seorang tua bangka sudah mau mampus, tidak berada di rumah anak cucunya melainkan merantau sebatang kara, menjadi pe-ngemis dengan kaki terpincang-pincang. Ini semua gara-gara wanita cantik."

Tiang Bu melongo.

Sama sckali tidak pernah disangkanya gurunya akan bicara begini.

Akan tetapi karena ia diam-diam ingin sekali mengetahui riwayat suhunya, ia diam saja, memandang penuh perhati-an dan membuka telinga baik-baik.

Se-cara singkat, diselingi oleh tarikan napas dalam berkali-kali, Bu Hok Lokai r en-ceritakan riwayatnya seperti berikut.

Dahulu Bu Hok Lokai bukan seorang pengemis.

Dia adalah seorang keturunan bangsawan yang pandai ilmu silat dan ahli sastra sehingga ia terkenal sebagai seorang bun-bu-cwan-jai.

Hanya sedikit sayang bahwa Lai Cin, demikian nama aselinya, mempunyai wajah yang tak dapat dibilang menarik atau tampan di waktu mudanya.

Sebagai seorang bangsa-wan muda yang pandai dan beruang ia selalu menolak kehendak orang tuanya apabila hendak dijodohkan dengan alasan bahwa calon isteri itu kurang menarik, tidak memenuhi idam-idaman hatinya.

Akhirnya ia merukah juga dengan seorang gadis tercantik di kotanya, dan pernikah-an itu dirayakan dengan ramai dan me-riah.

la mencinta isterinya itu dengan sepenuh hati bahkan boleh dlbilang bahwa Lai Cin jatuh berlutut di bawah penga-ruh isterinya yang cantik jelita itu se-hingga banyak orang mentertawakannya diam-diam dan rnengabarkan bahwa Lai Cin mempergunakan sepatu isterinya untuk tempat ia makan dan minum!

Ini semua kiranya takkan mengurangi kebahagiaan hidup Lai Cin kalau saja isterinya itu mempuriyai kesetiaan.

Lai Cin sejak kecil mempunyai seorang sa-habat baik yang kemudian menjadi "su-hengnya (kakak seperguruannya).

Suheng-nya ini bernama Lauw Tek In, seorang pemuda gagah dan ganteng, terkenal sebagai seorang pemuda perantau dan pemogoran.

Seringkali Lauw Tek In datang berkunjung ke rumah Lai Cin dan ber-malam sampai beberapa pekan di rumah sutenya yang besar dan bagus itu.

Semua takkan mengganggu kebahagiaan rumah tangga Lai Cin kalau saja isterinya bu-kan seorang yang lemah iman dan saha-batnya bukan orang yang berhati anjing.

Pada suatu hari Lai Cin mendapatkan isterinya itu bermain gila dengan suhengnya!

Tidak ada peristiwa hebat di dunia ini yang akan dapat menghancurkan hati Lai Cin seperti keadaan hati dan perasaannya ketika ia menyaksikan perbuatan isteri-nya yang tercinta dan sahabatnya yang boleh dikata menjadi juga saudara tuanya yang ia sayang dan hormati itu.

la men-jadi mata gelap dan menyerang suheng-nya itu mati-matian.

Sebagai suhengnya, tentu saja kepandaian Lauw Tek In lebih tinggi daripada kepandaian Lai Cin.

Akan "

Tetapi, pada waktu itu Lai Cin adalah seorang patah hati yang nekad dan menyerang seperti orang gila, sebaliknya Lauw Tek In yang merasa berdosa, telah menjadi gentar dan gugup sehingga akhir pertempuran di dalam kamar itu, Lauw Tek In tewas dan sebaliknya Lai Cin terkena pukulan lihai dari suhengnya sehingga tulang kakinya rusak dan tak dapat diperbaiki lagi membuat ia terpincang-pincang selama hidup.

Lai Cin yang sudah hampir gila saking marah dan terpukul batinnya itu lalu mencekik sam-pai mati isterinya sendiri.

Dalam keadaan terluka dan tak dapat berjalan, ia terpaksa menyerah ketika ditangkap oleh yang berwajib.

Akan te-tapi dalam pemeriksaan, ia sama sekali tidak mau menceritakan keadaan se-benarnya, hanya menceritakan bahwa ia bertengkar mulut dengan isterinya, ke-mudian datang suhengnya yang bermalam di situ untuk melerai.

Dalam kemarahan-.

nya ia malah mengeluarkan kata-kata menghina kepada suhengnya, terjadi per-tempuran sampai suhengnya tewas.

Ke-mudian, menyesal karena suhengnya mati dan menganggap isterinya yang menjadi gara-gara, ia membunuh isterinya itu.

Alasan ini sebetulnya tak dapat diterima dan orang-orang sudah dapat.

menduga-duga sendiri akan peristiwa di kamar itu.

Akan tetpai siapakah berani banyak membuka mulut.

3uga para pem-besar tidak berani berlaku keras, karena orang tua Lai Cin mempergunakan semua harta mereka untuk menolong putera tunggal ini, Lai Cin tidak dlhukum mati, melainkan dihukum buar"g.

Di dalam penjara, lambat laun kakinya menjadi sembuh biarpun pincang, setelah sehat benar ia lalu melarikan diri dari penjara dan hidup di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar pincang yang berwatak aneh.

Kemudian, melihat betapa bebas hidup para pengemis, ia pun menjadi jembel .

sampai di hari tuanya.

Hatinya sudah menjadi dingin terhadap kemewahan du-nia, perasaannya sudah mati terhadap kecantikan wanita.

Kegembiraan hidupnya lenyap terbawa oleh isterinya yang se-benarnya amat dikasihinya itu.

"Demikianlah, muridku. Hidupku selama ini hampa dan kaulah satu-satunya orang yang kuharapkan akan dapat hidup sempurna, kuharapkan dapat menjadi se-orang gagah dan budiman. Dan aku me-rasa khawatir kalau aku teringat akan nasibku, jangan-jangan kau pun akan "menjadi korban. Banyak sekali orang gagah yang akhirnya rusak binasa hanya oleh senyum manis dan kerling memikat. Banyak sekali contohnya, termasuk orang gundul itu. Maka kau kelak harus ber-hati-hati, Tiang Bu. Jangan kauukur hati "wanita dari senyum dan kerlingnya. Jangan seperti aku..... sampai sekarang aku tidak dapat melupakan dia..... biarpun dia telah menipuku, telah menghinaku....."

Tiang Bu merasa kasihan meiihat kakek tua pincang ini, yang menunduk dan-kelihatan seperti orang mau me-nangis.

Tentu saja Tiang Bu yang baru berusia tujuh tahun lebih itu merasa asing mendengar kata-kata gurunya seperti itu.

Akan tetapi ia cukup cerdik untuk menangkap isinya, dan ia merasa kasihan kepada gurunya yang bernasib malang itu.

"Kata-kata, bohong dan berbisa, jahat sekali."

Tiba-tiha orang gundul yang tadi duduk sambil menyembunyikan muka di antara lututnya, berteriak marah sambil mengangkat muka memandang.

"Kakek sial, tidak semu-i wanita seperti binimu yang berjalan serong. Tidak semua wanita suka berzina dan menipu suaminya. Tidak semua wanita cantik berhati palsu seperti binimu. Isteriku yang manis, istenku yang cantik Jelita flnelebihi binimu, isteri-ku Sui Lan cantik lahir batin. Dia pun mati muda, dia pur"

Tidak cinta kepadaku seperti binirnu yang tidak mencintamu. Akan tetapi dia tidak berjalan serong seperti binimu. Untuk mengakhiri ke-tidakcintanya kepadaku, dia bukan ber"

Zina dengan orang lain, melainkan ber-zina dengan maut sampai maut mereng-gut nyawanya, meninggalkan seorang bayi!

Jangan bilang wanita cantik berhati palsu kakek sialan.

Isteriku Sui Lan seorang bidadari, seorang dewi berhati mulia!"

Setelah melontarkan kata-kata penuh kemarahan ini, orang gundul ini lalu menyembunyikan lagi mukanya di antara kedua lututnya dan melihat be-tapa tubuh dan pundaknya bergerak-gerak dapat diduga bahwa dia tentu sedang menangis.

Tiang Bu melongo ketika melihat orang itu.

Muka orang itu seperti muka kanak-kanak, tentu saja tidak bisa dikata tampan karena orangnya sudah dewasa, tiga puluh lima atau empat puluh tahun usianya akan tetapi berwajah kekanak-kanakan, kepalanya gundul dan matanya liar.

Terdengar Bu Hok Lokai menarik napas panjang.

"Dia lebih menderita daripada aku. Kesedihanku karena kehilangan dia dapat kuhibur dengan anggapan bahwa dia se-orang palsu dan jahat, akan tetapi orang itu, kasihan sekali..... dia selalu akan terkenang kepada isterinya yang berhati mulia. Ah, sudahlah. Tak perlu mem-bangkit-bangkitkan urusan lama yang me-nyebalkan hati,. Hayo, Tiang Bu. Kau berlatih, Pat-hong-hong-i dapat kau sem-purnakan kelak kalau Iweekangmu sudah baik. Sekarang kau harus melatih Sam-hoan Sam-bu sampai baik betul, untuk bekal penjagaan diri sebelum kau dapat menguasai Pat-hong-hong-i."

Tiang Bu segera melakukan perifttah suhunya dengan senang.

hati.

la selalu merasa girang kalau berlatih, karena setiap kali berlatih, di bawah pengawasan suhunya, ia tentu mendapat kemajuan setingkat.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ilmu Silat Pat-hong-hong-i (Delapan Penjuru Angin) adalah i!mu silat yang terdapat dalam kitab yang secara kebetulan terjatuh ke dalam ta-nean Tiang Bu dan oleh karena ilmu silat tinggi ini tidak mudah dipelajari Tiang Bu, atas nasihat gurunya, menghafal isi kitab di luar kepala sebelum melatih prakteknya.

Adapun Ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu adalah ilmu silat istimewa, ilmu penjagaan diri yang didapatkan oleh Bu Hok Lokai dari seorang sakti dari Omei-san, yakni orang sakti ke dua di Omei-san yang bernama Tiong Jin Hwesio sebagai hadiah ketika ia diajak bermain catur oleh dua orang sakti di Omei-san.

Dengan penuh semangat Tiang Bu berlatih Ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu, tubuhnya berpu.taran seperti orang me-nari, nampak gesit sekali dan kedua kaki kecil yang bergerak-gerak di atas tanah itu seakan-akan tidak menyentuh tanah saking cepat dan ringan gerakannya.

Dalam bersilat ini, berbunyi perut Tiang Bu.

Telah sehari semalam ia tidak makan apa-apa, pecutnya kosong dan cacing perutnya menggeliat-geliat.

Cepat anak yang sudah mengikuti banyak orang pandai dan sudah melatih diri dengan dasar-dasar ilmu silat dan Iweekang ting-gi ini menggunakan tenaga perut untuk menekan bunyi di perutnya sehingga tidak terdengar terlalu keras.

"Anak kecil kelaparan disuruh ber-latih silat. Benar-benar keterlaluan jembel tua sialan ini."

Kata-kata ini membuat Tiang Bu tertegun dan otomatis ia menghentikan latihannya.

Kalau gurunya yang mendengar suara yang keluar dari perutnya tadi, masih tidak mengherankan karena selain gurunya duduk tak jauh dari tempat ia berlatih, juga ia sudah tahu akan kelihaian kakek pincang ini.

Akan tetapi yang bicara itu adalah orang gundul yang duduknya jauh di sudut se-belah sana jembatan!

Ketika Tiang Bu menengok ke arah orang gundul itu tiba-tiba ia merasa bulu tengkuknya berdiri.

Orang gundul itu masih duduk seperti tadi, akan tetapi tidak lagi menyembunyikan muka dan menangis, melainkan sedang makan ular!

Ular yang masih hidup nampak meng-geliat-geliat, ekor ular dipegang oleh tangan kiri sedang kepala ular sudah masuk ke dalam mulut dan dikunyah-kunyah!

Ketika Tiang Bu melirik kepada suhunya, ia melihat kakek ini pun memandang ke arah orang gundul itu dengan pandang mata aneh dan mukanya merah.

Tiang Bu mengira bahwa suhunya merasa dibikin malu oleh kata-kata Si Gundul itu, rriaka ia hetidak membela gurunya dan berkata lantang.

"Gundul Pemakan Ular! Jangan menghina guruku, siapa bilang aku lapar?"

Orang gundul itu memandang kepadanya dengan mulut tersenyum sehingga kelihatan lidahnya yang merah karena darah ular. la menggigit putus tubuh ular itu tinggal ekornya saja, lalu berkata.

"Bocah bernyali beruang, kau lapar dan perlu makan. Terimalah hadiahku ini!"

Tangannya bergerak dan ekor ular itu melayang cepat ke arah muka Tiang Bu.

Tidak percuma Tiang Bu berlatih Sam-hoan Sam-bu selama setahun lebih.

Setiap datang serangan, tubuhnya otomatis bergerak mengelak.

Demikian pula, biarpun sambitan itu cepat sekali datangnya, ia menuruti gerak otomatis ini, kakinya bergeser, tubuhnya miring dan ekor ular itu lewat tepat di pinggir telinganya.

"Jangan menolak hadiah, Tiang Bul"

Kata Bu Hok Lokai yang cepat mengulurkan tangan menangkap ekor ular itu.

Caranya menangkap luar biasa sekali karena begitu ia mengulur tangan, seakan-akan ekor ular itu terbang ke arah tangannya.

Kakek itu memandang ekor ular di tangannya, lalu memberikan benda menjijikkan itu kepada muridnya sambil berkata.

"Sahabat itu betul. Perutmu memang lapar dan hadiah ini berharga sekali, hayo lekas makan ini dan menyatakan terima kasih!"

Tiang Bu menerima buntut ular itu dengan muka berubah pucat.

Apakah gurunya sudah menjadi gila, menyuruh ia makan buntut ular, dan bahkan menghaturkan terima kasih?

Akan tetapi, melihat wajah gurunya begitu sungguh-sungguh dan dia memang seorang anak yang taat, Tiang Bu tidak membantah.

Cepat ia menjura ke arah orang gundul yang masih memandang padanya sambil mulutnya bergerak-gerak mengunyah daging di mulutnya.

"Sahabat aneh, terima kasih atas pemberianmu,"

Katanya lalu dengan mata dipejamkan ia memasukkan ekor ular ke mulutnya, dikunyah beberapa kali lidah dan mulutnya merasa betapa ekor ular itu seakan-akan bergerak dan rtienggeliat-geliat kesakitan ketika ia menggigitnya.

Dapat dibayangkan betapa jijik dan muak rasa tenggorokan dan perutnya, namun Tiang Bu tidak ingin membikin malu suhunya di depan orang lain.

la mengerahkan tenaga dalam menolak rasa hendak muntah dan menelan bulat-bulat ekor ular itu ke dalam perutnya.

Aneh, begitu buntut ular itu memasuki perut, ia mendengar perutnya berbunyi berkeruyukan tak dapat dicegah lagi.

la berusaha mengerahkan tenaga dalam perutnya, namun luar biasa sekali, semua tenaga di dalam perutnya telah lenyap, tubuhnya terasa ringan dan hangat enak dan nyaman!

Orang gundul itu makin kagum memandang kepada Tiang Bu.

Bocah yang dapat berlatih silat demikian tahan uji, sehingga dalam keadaan kelaparan masih demikian tekun berlatih mentaati kehendak guru, kemudian berani membesa na-ma baik gurunya di depan orang lain yang dianggap menghina gurunya, yang dapat niengelak dari sambitan dengan amat cekatan, lalu mentaati perintah guru rela berkorban perasaan dan rela makan buntut ular mentah, kemudian kalau gurunya menyuruh dia makan lalu menghaturkan terima kasih bocah itu malah menghaturkan terima kasih dulu baru makan".

Benar-benar bocah yang sukar dicari bandingannya dan patut menjadi murid!

Jembel tua sialan, kautinggalkan bocah itu untuk menjadi muridku kau tidak becus mengatur murid, memberi makan saja tidak mampu, apalagi mengajar silat yang baik.

Mulai saat ini dia menjadi muridku!"

Bu Hok Lokai tersenyum dan matanya berkedip-kedip memandang orang gundul itu.

"Sahabat Gundul Pemakan Ular, kau ini siapakah yang begini lihai dapat menangkap dan rnakan ular hijau dari daerah barat?.

"Kau mengenal ular hijau tadi? Bagus matamu awas betul. Aku siapa kau tak perlu tahu, segala macam jembel tua sialan, mana harga mengenal aku? Lebih baik kau pergi dan tinggalkan bocah ini habis perkara. Daripada timbul marahku dan kau mampus di bawah jembatan ini."

Bukan main meendongkolnya hati Tiang Bu mendengar kata-kata orang gundul aneh yang ternyata berwatak sombong dan Jahat ini.

Juga Bu Hok Lokai, seorang tua yang sudah banyak makan garam dunia dan biasanya amat penyabar, sekarang menjadi merah mukanya.

"Sahabat Gundul Pemakan Ular, biar-pun hanya seorang jembel tua sialan, aku x Bu Hok Lokai tidak biasa lari seperti anjing dipukul menghadapi siapapun juga. Apa kaukira setelah kau memberi hadiah ular yang benar-benar berharga dan men-jadi obat istimewa untuk muridku, kau lalu boleh berbuat sekehendak hatimu terhadap kami?"

Tiang Bu merasa puas sekali melihat sikap gurunya dan mendengar dampratan ini, maka ia pun memandang kepada orang gundul itu dengan muka rnengejek.

Orang gundul itu mengeluarkan suara di hidungnya, memandang kepada Bu Hok Lokai dan berkata menggeleng-geleng kepala.

"Sayang, membunuh orang sialan seperti engkau memang tidak ada harganya, akan tetapi kau mencari mampus sendiri."

Kata-katanya dikeluarkan dengan lambat-lambat dan muka yang kekanak-kanakan itu tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, namun hebat sekali gerakan kedua tangannya.

Dua tangan itu ;g bertubi-tubi rnelakukan gerakan memukul ke depan dan saking cepatnya gerakan ini sampai dua buah lengan itu seakan-akan berubah menjadi delapan.

Gerakan ini mendatangkan hawa pukulan hebat yang menyerang Bu Hok Lokai, disusul oleh gerakan tubuhnya yang tiba-tiba melayang ke arah kakek pincang dengan kedua tangan terys roelakukan gerakan memukul.

"Hebat....."

Bu Hok Lokai berseru kaget dan cepat bagaikan belut kakek ini menggerak-gerakkan tubuhnya meleng-gang-lenggok.

Dalam saat yang amat berbahaya itu ia sudah berhasil mainkan Sam-hoan Sam-bu yang paling sukar akan tetapi ia berhasil membebaskan diri dari serentetan serangan hawa pukulan yang amat luar biasa.

Bu Hok Lokai tidak rnau rnenibidrkan lawan terus mendesaknya.

Tahu bahwa lawannya yang kejihatan masih sepcrti kanak-kanak mukanya ini ternyata me-miliki tlmu kepandaian yang hiar biasa dan jahat karena pukulan tadi saja sudah mengandung hawa maut, ia pun lalu ce-pat maju membalas dengan serangan-serangan kilat.

Bu Hok Lokai memper-gunakan tongkat bututnya dengan cara istimewa.

Sayang kakinya sudah pincang, kalau saja ia belum bercacat seperti dulu, kiranya orang gundul itu akan dapat ia kalahkan.

Di lain fihak Si Gundul itu benar-benar jihai sekali dan memiliki ilmu silat yang mengerikan.

Ketika pert6mpuran sudah berlangsung puluhan jurus, kedua lengan orang gundul ttu perlahan-lahan berubah menghitam seperti dibakar dan pukulan-pukulan yang ia lancarkan juga semakin hebat, kini mengandung hawa pukulan yang keluar dari sepasang iengan hitamnya.

Bu Hok Lokai bukan main kagetnya.

la pernah mendengar cerita orang ten-tang ilmu silat jahat yang disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang kabarnya diciptakan oleh seorang manusia iblis dari barat berjuluk See-thian Tok-ong (Raja Racun dari Barat).

Inilah gerangan ilmu silat keji itu?

Namun ia tidak sempat menduga-duga dan menghadapi lawan yang begini berbahayanya, Bu Hok Lokai mengubah gerakan-gerakannya.

Kedua kakinya tetap mainkan lang-kah-langkah Sam-hoan Sam-bu untuk melindungi tubuh dari serangan lawan, karena dengan langkah-langkah ini ia demikian gesit sehingga sukar diserang lawan, akan tetapi kedua tangannya me-lakukan serangan-serangan balasan yang dahsyat.

Hmu Sam-hoan Sam-bu sifatnya tidak menyerang, melainkan menghindar-kan diri dari serangan lawan, maka pe-megang peran utama hanya kedua kaki.

Bu Hok Lokai yang sudah menguasai ilmu ini dengan sempurna, kini mencampurnya dengan ilmu serangan dari ilmu silatnya sendirl.

Tangan kanan yang menyerang dengan tongkat, tangan kiri menyusul dengan totokan atau tonjokan, juga kadang-kadang dengan gerakan yang amat cepat, tong-kat itu telah berada di tangan kiri, me-nyerang diikuti tonjokan tangan kanan.

Tanpa dapat diduga-duga oleh lawan, tongkat ini berpindah-pindah sehingga lawan gundul itu benar-benar menjadi pening dibuatnya dan telah dua kali tongkat Bu Hok Lokai mengenai sasaran, sekali di pundak dan kedua kali di dada.

Akan tetapi, lawan itu ternyata lihai sekali.

Totokan di pundak hanya merobek baju dan merusak kulit sedikit, sedangkan gebukan di dada hanya membuat ia ter-huyung-huyung dan batuk-batuk beberapa kali, akan tetapi belum cukup kuat untuk merobohkannya.

Tiang Bu girang sekali melihat suhu-nya dapat melukai lawan dan ia merasa pasti bahwa suhunya akan menang.

Akan tetapi sebaliknya, Bu Hok Lokai merasa khawatir sekali.

Lain orang pasti akan roboh binasa atau sedikitnya terluka berat terkena dua kali serangannya tadi.

Akan tetapi orang ini biarpun terluka oleh tongkatnya, luka itu agaknya tidak terlampau berat sehingga ia masih dapat terus melakukan serangan.

Akan tetapi sebetulnya, gebukan tong-kat Bu Hok Lokai pada dada tadi sudah mendatangkan luka hebat di dalam dada Si Gundul.

Hanya kansna orang ini me-mang memiJiki kekuatan yang jauh me-lebihi orang lain, dan pula karena dia seorang nekad, maka dia masih belum roboh.

Begitu terkena gebukan tongkat, Si Gundul ini lalu mengeluarkan seruan ganas dan di lain saat tangan kanan dan kiri merogoh saku mengeluarkan dua ekor ular merah, seekor dli tangan kanan dan seekor di tangan kiri!

Tiang Bu menge.tuarkan seruan ter-tahan mellhat dua ekor ular ini dan me-rasa ngeri.

juga Bu Hok Lokai nampak terkejut sehingga kakek ini melompat mundur dua tombak.

"Masih ada hubungan apa kau dengan See-thian Tok-ong?"

Tanyanya.

Si Gundul aneh iitu tertawa terbahak-bahak melihat kake"k jembel pincang itu melompat mundur ketakutan.

Tanpa men-jawab ia melangkah maju dan menyerang dengan ular merah di tangan kiri.

Ular itu kecil saja dan panjangnya tiga kaki, berada di tangan Si Gundul ini merupa-kan senjata istimevva, pedang hidup yang gigitannya melebihii sepuluh kali tikaman pedang lihainya.

Ang-coa (Ular merah) macam ini memiliki bisa yang tidak ada obat penawarnya di dunia, artinya siapa pun juga yang terkena gigitannya pasti akan menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut).

Bu Hok Lokai terkejut bukan main melihat permainan ilmu silat yang rnem-pergunakan ular demikian hebatnya.

la maklum bahwa pertandingan ini adalah pertandingan maci hidup, maka ia puri tidak mau mengalah lagi.

Cepat ia mengeluarkan suara seperti harimau mengaum dan kakek pincang ini berubah men-jadi seorang yang amat tangkas dan ganas, Tongkatnya berputaran menyambar mengeluarkan angin, penuh dengan tenaga Iweekang.

la sengaja mengarah kepada dua ekor ular yang meluncur pergi datang bagaikan beterbangan itu dan akhirnya ia berhasil menangkis seekor ular di tangan kiri lawannya.

Si Gundul memekik marah ketika darah dan otak muncrat darl kepala ular merahnya yang remuk kepalanya.

Cepat bagaikan kilat ia melemparkan tubuh ular ke arah lawannya.

Bu Hok Lokai mengelak ke kiri dan tongkatnya menyambar kini mengarah lambung lawannya dengan dorongan keras.

Si Gundul yang nampaknya marah sekali, seakan-akan tidak melihat dorong-an tongkat, bahkan ia membarengi gerak-an lawan dengan melemparkan ular me-rah di tangan kanannya ke arah kakek itu!

Akibat dari adu tenaga ini hebat se-kali.

Tongkat di tangan Bu Hok Lokai berhasil "memasuki"

Lambung dan men-dorong sedemikian kerasnya sehingga tubuh Si Gundul itu terlempar dibarengi pekik kesakitan, terjerumus ke dalam air di bawah jembatan dan hebatnya, bagai-kan seekor ikan orang gundul itu be-renang ke seberang, mendarat dan lari terhuyung-huyung menghilang dari situ.

Bu Hok Lokai tidak mengeluarkan suara apa-apa, akan tetapi tarikan mukanya seperti orang menghadapi Raja Maut di depannya.

Memang, sesungguhnya kakek ini menghadapi maut karena ular merah di tangan orang gundul tadi kini telah menyantel di pundaknya.

Gigi ular yang kecil runcing berbisa itu telah menancap ke dalam daging pundaknya dan seketika itu juga Bu Hok Lokai merasa betapa hawa racun ular telah terbawa oleh aliran darah ke seluruh anggauta tubuhnya!

"Suhu.....!"

Tiang Bu berseru kaget dan melangkah maju.

Dengan berani anak ini hendak membetot ular yang meng-gigit pundak gurunya.

Akan tetapi dengan tangannya Bu Hok Lokai memberi tanda supaya Tiang Bu jangan bergerak.

Ke-mudian tangan kanannya menangkap ekor ular yang menggeliat-geliat dan me-masukkan ekor ular yang masih meng-gigit pundaknya itu ke dalam mulut, terus menggigit dan menyedot darahnya!

Hebat sekali tenaga sedotan dari Ikakek ini karena sebentar saja ular itu menjadi lemas, gigitannya terlepas dari pundak dan tubuhnya terlepas jatuh di atas ta-nah lalu mati tanpa dapat menggeiiat lagi karena darahnya sudah terhisap habis-habis oleh Bu Hok Lokai!

Akan tetapi bersama dengan matinya ular, tubuh kakek itu pun roboh pingsan.

Tiang Bu menubruk dan memeluk gurunya, diguncang-guncangnya sambil memanggil-manggil.

"Suhu.....! Suhu....."" ; Tak lama kemudian Bu Hok Lokai siuman kembali. Nyata ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membantu "obat"

Yang disedotnya dari tubuh ular tadi.

Mukanya sebentar pucat.

Racun yang amat kuat dan bertentangan berperang tanding di dalam tubuhnya, saling memperebutkan kedudukan dan kemenangan untuk menguasai nyawa kakek itu"

"Tiang Bu, aku takkan tertolong lagi. Tanpa darah ular tadi, sekarang tentu aku sudah mampus. Racun ang-coa me-mang tidak ada obatnya. Paling lama sehari semalam....."

Dan Kakek itu roboh pingsan tak dapat siuman kembali selama satu malam di bawah jembatan itu.

Tiang Bu menjadi bingung, tak dapat berbuat sesuatu memeluki tubuh gurunya.

Se-malam itu Tiang Bu tidak tidur, terus menjaga gurunya.

la mencetak wajah orang gundul itu di dalam ingatannya dan bersumpah di dalam hati bahwa kelak ia pasti akan dapat membalaskan sakit hati gurunya ini.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bu Hok Lokai siuman, membikin girang hati Tiang Bu.

Kini kakek itu nampak lebih sehat daripada tadi malam sehingga anak itu mempunyai harapan besar bahwa gurunya kiranya akan dapat sembuh.

"Tiang Bu, mari kita ke kota raja. Aku harus membawa kau ke sana dan memperlihatkan keadaan kota raja yang sudah ingin sekali kaulihat. Marilah, selagi masih ada kesempatan terakhir bagiku."

Kakek itu bangun berdiri bersandarkan tongkatnya.

"Suhu, kau masih belum sehat benar. Biarlah tidak melihat kota raja juga tidak apa asal Suhu sembuh kembali. Lebih baik Suhu beristirahat di sini, biar teecu mencari makanan untuk Suhu"

"Hush, dalam saat seperti sekarang aku tidak boleh dibantah. Hayo ikut aku ke kota raja, di sana banyak makanan, perutmu juga sudah lapar!"

Kata Bu Hok Lokai dengan suara gembira seakan-akan nyawanya tidak terancam maut.

Dengan terpincang-pincang, dibantu pleh muridnya, Bu Hok Lokai mengajak Tiang Bu memasuki pintu gerbang istana yang terjaga oleh tentara bertombak.

panyak sekali orang keluar masuk melalui pintu gerbang ini.

Bu Hok Lokai dan ynuridnya sama sekali tidak menarik per-hatian orang karena mereka ini tidak lebih hanya seorang jembel tua bersama seorang pengemis muda yang pakaiannya sudah compang-camping dan penuh tam-balan.

Yang tua terpincang-pincang dan yang muda menggandeng tangannya dengan muka memperlihatkan kekhawatiran besar.

Dengan muka yang gembira Bu Hok Lokai membawa muridnya mengelilingi kota raja, memperlihatkan bagian-bagian yang menarik, bahkan menunjukkan ge-dung-gedung besar tempat tinggal para orang berpangkat.

Tiang Bu sama sekali tidak memperlihatkan muka gembira juga tidak tertarik melihat rumah-rumah besar itu bahkan merasa benci melihat betapa di luar pekarangan gedung-gedung itu banyak sekali terdapat jembel-jembel se-tengah kelaparan berkeliaran ke sana ke mari.

Perbedaan keadaan yang amat menyolok.

Keadaan Bu Hok Lokai sebetulnya sudah payah sekali.

Makin lama makin payahlah kakek ini dan tadi pun hanya karena pengerahan tenaga yang luar biasa saja maka masih berjalan-,alan.

Dengan pengerahan tenaga dalamnya, maka racun uiar yang bekerja di tubuh-nya makin ganas.

Menjelang senja ia tak dapat menahan lagi, jalannya terhuyung-huyung dan napasnya terengah-engah.

"Suhu.....!"

Tiang Bu yang merasa betapa tangan suhunya panas seperti ter-bakar itu cepat-cepat membawa kakek itu ke pinggir jalan.

Bu Hok Lokai sudah kehabisan tenaga dan kakek ini menjatuhkan diri di atas rumput.

"Tiang Bu, saatnya sudah hampir tiba. Kau..... kau terpaksa harus hidup seorang diri..... kasihan..... yang baik-baik men-jaga diri sendiri, muridku....."

Wajah kakek itu membayangkan keharuan ketika ia memandang kepada Tiang Bu.

"Suhu..... Tiang Bu hanya dapat memegangi tangan suhunya, matanya yang lebar itu nampak sedih sekali akan tetapi ia tidak menangis. Melihat suhunya terengah-engah dan bibirnya kering sekali, ia lalu berdiri dan berkata.

"Suhu, teecu hendak mencarikan Suhu . minum."

"Ya..... minum..... arak, enak sekali....."

Kakek itu menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya nampaknya ingin sekali minum.

Tiang Bu menjadi ngeri hatinya melihat lidah gurunya su-dah menjadi hitam sekali.

Cepat ia me-lompat pergi dan berlari-lari menuju ke rumah makan yang tadi ia lewati ber-sama gurunya.

la tahu bahwa mengemis arak adalah hal yang langka dan tak mungkin ia akan bisa mendapatkan arak dengan jalan mengemis.

Mencuri?

la ter-ingat akan larangan-larangan suhunya.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tak perlu banyak ragu.

la memperguna-kan kepandaian dan kecepatannya, selagi orang-orang di dalam rumah makan sibuk dengan makan minum atau memesan masakan, ia menyelinap dan dari meja seorang tamu yang sudah setengah mabuk ia berhasil menyambar secawan araki penuh.

Tiang Bu berlari-lari ke tempat gurunya dan hatinya perih melihat guru-nya sudah melenggut seperti orang me-ngantuk, mukanya merah sekali, tanda bahwa racun ular ang-coa sudah me-nguasai keadaan.

"Suhu, minumlah....."

Katanya sambili berjongkok dan memberikan cawan arak itu kepada gurunya.

Melihat tangan kakek itu menggigil dan matanya sudah setengah tertutup, Tiang Bu lalu membawa cawan itu ke mulut gurunya.

Bu Hok Lokai minum arak itu dengan iahap, nampaknya enak dan segar sekali.

"Arak enak..... kau anak baik..... hati-hati....."

Dan lemaslah seluruh tubuh Bu Hok Lokai, tubuhnya terkulai dan nyawa-nya melayang! "Suhu.....!"

Tiang Bu melempar cawan yang masih di tangannya, kemudian ia lalu menubruk dan menneluk mayat suhu-nya sambil meiiangis.

Anak ini memang hanya dapat menangis untuk oranp lain, anehnya betapapun hebat penderitaan yang ia alami, ia takkan mau menangis.

Tangisnya menarik perhatian orang dan tak lama kemtldian jalan raya itu penuh orang yang merubung untuk melihat apa yang telah terjadi di situ.

Sudah lajim bahwa orang-orang lebih banyak tertarik dan ingin tahu daripada ingin menolong.

Di antara sekian banyaknya orang, tak seorang pun mau turun tangan menolong.

Paling banyak mereka itu ha-nya menggeleng-gelengkan kepala menyatakan kasihan.

Ini masih mending bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang begitu melihat seorang jembel mati di pinggir jalan, lalu me-ludah dan berkata menyesal.

"Dasar tak tahu diri! Ketika hidup menyusahkan orang, mengganggu orang makan dan mengotorkan pemandangan. Sesudah mati ,masih membuat susah orang rnembikin jijik. Mengapa kalau mau mam-pus saja memilih tempat di jalan raya dan tidak pergi saja ke kuburan dan menggali tanah sebelumnya?"

Pada saat itu, terdengar teriakan-teriakan.

"Minggir! Pangerah Wanyen sekeluarga dalam keretanya lewat!"

Betul saja, dari tikungan jalan muncul sebuah kendaraan yang ditarik olehempat ekor kuda.

Kendaraan ini cukup besar maka para penjaga berteriak-teriak me-nyuruh orang untuk minggir.

Ketika ken-daraan itu lewat di tempat itu, dari dalam kendaraan terdengaf perintah.

"Berhenti!"

Tak lama kemudian, beberapa orang pengawal mengusir orang-orang yang merubung jenazah Bu Hok Lokai yang di-tangisi oleh Tiang Bu.

"Minggir, minggir.....! Ongya hendak memeriksa kejadian ini!"

Orang-orang yang berada di situ sfr-gera mengundurkan diri dan menontOn dari jarak jauh.

"Untung sekali, pengemis itu."

Terdengar orang berkata.

Memang, semua orang di kota raja sudah mendengar akan kebaikan hati keluarga Pangeran Wanyen Ci Lun yang jauh berbeda dengan bang-sawan-bangsawan lain.

Bangsawan dan hartawan atau orang berpangkat lainnya mana sudi berdekatan dengan bangsa pengemis.

Jangan kata dengan kaum jembel, dengan rakyat kecil saja mereka tidak mau mempedulikan dan tidak sudi berhubungan.

Akan tetapi sebaliknya Pangeran Wanyen Ci Lun dan keluarga-nya terkenal sebagai keluarga bangsawan yang berbudi mulia, yang tak pernah menolak permintaan tolong rakyat seng-sara, yang tidak sombong bahkan men-dekati rakyat jelata.

Inilah sebabnya maka para penonton menganggap bahwa pengemis yang kematian kakeknya itu beruntung karena bertemu dengan ken-daraan keluarga Pangeran Wanyen Ci Lun pada saat kesengsaraan.

Pintu kendaraan terbuka dan turunlah Seorang laki-laki bangsawan yang ber-wajah tampan peramah, berusia tiga puluh tahun lebih dan sikapnya agung.

Inilah Pangeran Wanyeh Ci Lun, seorang pangeran yang tidak saja amat terkenal di kalangan rakyat, namun juga amat berpengaruh di dalam istana oleh karena ia terkenal cerdik dan merupakan pena-sehat kaisar dalam banyak persoalan.

"Ah, kasihan sekali....."

Suara ini ter-dengar dari dalam kereta, suara halus seorang wanita dan tak lama kernudian dari atas kereta turun pula seorang wa-nita cantik jelita dan bersikap gagah, di belakang Pangeran Wanyen Ci Lun.

Dia ini adalah isteri terkasih dari pangeran itu, bukan lain adalah Gak Soan Li, penw dekar wanita yang perkasa itu.

Di bela-kanR ibunya ini turun pula Wan Sur yang berusia enam tahun lebih dan Wan Bi Li yang berusia empat-lima tahun digandeng oleh kakaknya.

Kalau orang tua-tua lain tentu akan melarang anak-anak mereka turur dari kendaraan melihat jenazah seorang Kakek jembel, akan tetapi Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li tidak melarang dua orang anaknya itu turun, bahkan tidak melarang ketika Wan Bi Li mendekati jenazah Bu Hok Lokai dan bocah berumur lima tahun itu berseru.

"Dia mati digigit ular!"

Wanyen Ci Lun mendekati Tiang Bu dan bertanya dengan suara ramah menghibur.

"Anak sengsara, dia apamukah?"

"Dia adaJah..... guruku....."

Wan Sun tertarik sekali.

Anak ini wataknya agak keras dan tidak mau kalah, mendengar disebutnya guru, ia segera bertanya kepada Tiang Bu yang sudah mengeringkan air matanya karena malu melihat banyak orahg.

"Guru apa.....? Guru silatkah, atau menulis?"

Tiang Bu tidak mau membuka rahasianya, karena urusan persilatan mendatangkan bencana saja.

Buktinya, gurunya juga tewas karena ada orang hendak mengambilnya sebagai murid.

la menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab.

Akan tetapi Wan Sun tidak puas.

"KaJau bukan guru silat atau surat, habis ia guru apa, dan kau belajar apa?"

"Guru..... mengemis!"

Jawab Tiang Bu dan Wan Sun tersentak ke belakang oleh jawaban ini. Wajahnya yang tampan seketika itu juga memperlihatkan perasaan kasihan.

"Di mana rumahmu?"

Tanya Pangeran Wanyen Ci Lun kepada Tiang Bu.

"Aku tidak punya rumah, kata guruku, tanah ini lantaiku dan langit atapku,"

Jawab Tiang Bu, jawabannya yang kasar itu tidak membikin marah Wanyen Ci Lun, sebaliknya ia menarik napas panjang karena merasa kasihan.

Anak jembel tidak terpelajar, sampai-sampai membawa diri bersopan santun saja tidak bisa.

"Anak, jangan kau bersedih. Jenazah gurumu ini serahkan saja kepada kami untuk mengurus penguburannya dengan baik-baik. Tentang kau sendiri, kalau kau suka, kau boleh ikut dengan kami men-jadi pelayan dan bekerja di rumah kami."

Biarpun hatinya sedang berduka dan Tiang Bu berjiwa sederhana, namun ia masih tahu akan terima kasih, dan diam-diam merasa heran dan kagum mengapa di dunia yang didiami penuh orang-orang jahat ini terdapat seorang bangsawan tinggi seperti ini.

Sertamerta ia men-fatuhkan diri berlutut di depan Wanyen Ci Lun sambil berkata dan mendongakkan kepalanya menatap wajah pangeran itu.

"Tai-ya sungguh mulia dan hamba selamanya akan ingat kepada Tai-ya sebagai seorang muliawan. Hamba ber-janji akan berusaha membalas kebaikan Tai-ya, dan andaikata hamba tak dapat memenuhi janji ini, biarlah Thian yang akan membalas budi Tai-ya. Mohon tanya siapakah nama Tai-ya agar selama hidup hamba takkan lupa?"

Kalau Pangeran Wanyen Ci Lun bukan seorang pangeran yang sudah banyak melakukan perantauan di dunia kang-ouw dan menyaksikan keanehan-keanehan, tentu ia akan menganggap bocah itu lancang dan kurang ajar.

Akan tetapi ia tahu bahwa bocah ini bukanlah bocah biasa, maka sambil tersenyum ramah ia menjawab.

"Aku bernama Wanyen Ci Lun dan kau tak perlu mengingat tentang budi. Asal kau mau bekerja kepada kami, su-dah cukup baik dan....."

Kata-kata Wanyen Ci Lun terhenti karena pada saat itu terdengar suara ketawa aneh sekali, suara ketawa bermacam-macam ada yang seperti ringkik kuda, ada seperti burung hantu dan ada yang seperti auman harimau.

Kemudian tiba-tiba berkelebat bayangan orang orang dan tahu-tahu tiga orang kakek yang mengerikan telah berdiri di tengah-tengah tempat yang dikelilingi orang itu!

Tiang Bu terkejut sekali ketika mengenal mereka, karena mereka itu bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui.

Tiga Iblis Kutub Utara!

"Bocah gila, kiranya kau minggat sampai di sini!"

Seru Giam-lo-ong Ci Kui Si Jangkung Gundul dan sepasang mata-nya berputaran mengerikan.

"Dia menipu kita!"

Seru Liok-te Mo-ko Ang Bouw Si Muka Burung dengan mata dipejam-pejamkan, alisnya berkerut-kerut. Terdengar auman keras menggetarkan dan Sin-saikong Ang Louw Si Muka Singa melompat maju.

"Bocah jahanam harus mampus saja!"

La mengangkat tangan hendak memukul kepala Tiang Bu, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Siluman-siluman tak tahu sopan. Mundurlah!"

Bentakan ini dibarengi de-ngan sinar pedang yang dengan amat cepatnya menyabet ke depan tubuh Ang!

Louw sehingga kalau Si Muka Singa itu melanjutkan pukulannya kepada Tiang Bu, tentu lengannya akan terbabat pedang.

Cepat sekali Ang Louw menarik tangan-nya dan menggerakkan jari tangannya menyentii pedang itu.

"Cringgg...,.!"

Pedang terpental akan tetapi tidak terlepas dari tangan Gak Soan Li. Namun nyonya ini kaget setengah mati karena sentilan pada pedangnya itu membuat tangannya hampir lumpuh.

"Bagus, Toanio lihai juga..."

Ang Louw memuji.

Memang ia merasa kagum melihat seorang wanita bangsawan yang cantik dan masih muda ternyata memiliki kepandaian tinggi sehingga pedang iyang dipegangnya tidak terlepas oleh sentilan jarinya.

"Kami berurusan dengan murid sendiri, apakah Toanio mau mencampuri?"

Pangeran Wanyen Ci Lun membentak para pengawalnya yang sudah mencabut senjata dan mengurung tiga orang aneh itu.

Dari sentilan tadi dan melihat wajah isterinya, pangeran ini maklum bahwa tiga orang kakek aneh yang muncul secara tiba-tiba itu tentulah bukan orang-orang biasa.

la cepat menjura kepada mereka dan berkata.

"Sam-wi Lo-enghiong harap suka me-maafkan kami dan kiranya urusan ini perlu dibuat terang agar jangan terjadi hal yang tidak diinginkan. Tentu saja isteriku tidak akan mencampuri urusan orang lain, hanya tadi isteriku melihat seorang bocah mau dipukul mati, tentu saja merasa kasihan dan bermaksud menolong. Tidak tahu siapakah Sam-wi Lo-cianpwe dan ada hubungan apa dengan bocah yang kematian gurunya ini."

"Kematian gurunya? Hah, kami gurunya. Siapa yang mati, dan siapakah kau ini, bangsawan muda?"

Tanya Giam-lo-ong Ci Kui.

"Kami tadi mendapatkan anak ini menangisi jenazah seorang kakek tua di tempat ini dan menurut pengakuannya, kakek itu adalah gurunya."

"Guru mengemis!"

Wan Sun cepat menyambung kata-kata ayahnya.

Bocah ini pun cerdik.

Dari sikap dan kata-kata tiga orangkakek aneh itu, Wan Sun menduga bahwa Tiang Bu tentulah telah lari dan bertukar guru, maka ia cepat-cepat menyambung kata-kata ayahnya untuk menolong Tiang Bu.

Tiga orang kakek itu saling pandang dengan heran, lalu Ang Bouw bertanya kepada Tiang Bu yang masih berlutut.

"He, setan cilik. Benarkah kau menjadi murid orang lain untuk belajar mengemis?"

"Betul, Sam-suhu."

Tiga orang kakek itu tertawa ber-gelak dan banyak penonton menjadi ketakutan, bahkan ada yang menggigil kaki mereka mendengar suara ketawa ini.

Kemudian mereka memandang kepada Pangeran Wanyen Ci Lun dan bertanyalah Giam-lo-ong Ci Kui dengan nada terharu.

"Bagaimana seorang bangsawan besar seperti kau ini mau mengurus perkara para jembel? Siapakah kau?"

Wanyen Ci Lun tersenyum mendengar ini.

"Aku adalah Wanyen Ci Lun....."

"Pangeran Wanyen Ci Lun?"

Tiga orang kakek itu menegaskan .dengan suara hampir berbareng.

"Betul, apakah Sam-wi Locianpwe sudah mendengar namaku yang tidak berharga?"

Kembali tiga orang kakek aneh itu tertawa bergelak-gelak.."Mungkin namamu tidak berharga, akan tetapi, kepala Pangeran Wanyen Ci Lun berharga sekali"."

Kata-kata ini dikeluarkan oleh Ci Kui dan serentak mereka maju menyerang pangeran itu!

Namun Gak Soan Li sudah waspada.

Sejak tadi ia sudah siap sedia dan curiga terhadap tiga orang kakek ini maka diam-diam ia sudah memberi isarat ke-pada para pengawal.

Begitu tiga orang kakek itu bergerak, Soan Li sudah me-mutar pedangnya menerjang Giam-lo-ong Ci Kui sedangkan sepuluh orang pengawal yang berkepandaian lumayan telah menyerang pula sambil memutar senjata melindungi Pangeran Wanyen Ci Lun.

Pertempuran hebat segera terjadi di jalan raya itu.

Para penonton bubar dan lari ke sana ke mari panik.

Para pengawal itu ternyata sama sekali bukan tandingan Pak-kek Sam-kui yang ber-tempur sambil tertawa-tawa.

Sebentar saja empat orang pengawal roboh binasa dengan kepala pecah, terkena pukulan-pukulan Liok-te Mo-ko Ang Bouw dan Sin-saikong Ang Louw.

Yang lain-lain menjadi gentar juga menghadapi dua orang kakek yang lihai sekali ini.

Sementara itu, biarpun Giam-lo-ong Ci Kui paling lihai di antara tiga orang kakek ini, namun ia menemui tandingan yang tidak begitu empuk seperti dua orang adiknya.

Gak Soan Li adalah pen-dekar wanita yang ilmu pedangnya kuat dan ganas.

Sungguhpun tingkat kepandai-annya masih kaiah jauh kalau dibanding-kan dengan Giam-lo-ong Ci Kui, namun kakek gundul ini tidak dapat cepat-cepat mengalahkan nyonya pangeran ini.

Gak Soan Li terkurung dan terdesak hebat oleh Giam-lo-ong Ci Kui yang memper-gunakan kain selendangnya sebagai sen-jata.

Nyonya ini menjadi nekad dan pedangnya menyambar-nyambar seperti naga mengamuk.

Pangeran Wanyen Ci Lun maklum bahwa isterinya berada dalam bahaya.

Ia menjadi gelisah sekali.

Untuk mem-bantu isterinya, ia tahu bahwa hal itu hanya akan mengacaukan pertahanan Soan Li, karena kepandaiannya sendiri masih belum ada artinya kalau diper-gunakan untuk menghadapi seorang se-lihai kakek gundul ini.

la lalu mengeluar-kan alat memanggil dan melengkinglah suitan berkali-kali dari mulut pangeran ini, sebagai tanda kepada seluruh pe-ngawal di istana bahwa ada bahaya me-ngancam.

Tanda bahaya seperti ini akan mendatangkan seribu orang pengawal bersama puluhan orang panglima yang berkepandaian tinggi yang tersebar di seluruh kota raja, terutama sekali di lingkungan istana!

Hanya orang-orang besar seperti Pangeran Wanyen Ci Lun yang memiliki hak membunyikan tanda bahaya ini.

Akan tetapi terlambat.

Pada saat ia meniup alat itu Giam-lo-ong Ci Kui telah berhasil melibat pedang di tangan Soan Li dengan kain selendangnya dan sekah betot saja pedang itu telah berpindah tangan.

Kemudian sambil tertawa-tawa mengejek Ci Kui menggunakan pedang rampasannya untuk membabat batang leher Wanyen Ci Lun sambil berseru.

"Wanyen Ci Lun, ke sinikan kepalamui untuk kubawa!"

Akan tetapi Gak Soan Li sudah kena dirampas pedangnya, melihat bahaya besar mengancam jiwa suaminya, cepat meloncat bagaikan seekor kucing, menubruk kakek itu sambil membentak.

"Jangan bunuh suamiku!"

Giam-lo-ong Ci Kui terkejut sekali.

Gerakan nyonya ini demikian cepat dar nekad sehingga tak dapat disangsikan lag bahwa pedang di tangannya tentu akan membabat putus lengan kanan nyonya yang berusaha menyelamatkan suaminya itu juga Wanyen Ci Lun menjadi pucat sekali, Jalu meramkan matanya agar jangan menyaksikan betapa isterinya terbabat oleh pedang sendiri.

"Traaangngng..;..Pedang di tangan Giam-lo-ong Ci Kui terbentur oleh sebuah sinar terang dan aneh sekali, kakek yang tinggi kepandaiannya ini sampai terhuyung-huyung ke belakang dan pedang itu patah menjadi dua! Melihat bahwa yang membentur pedang di tangannya itu adalah sebutir pat-kwa-ci (biji segi delapan), berubah muka Ci Kui dan ia berseru kepada adik-adiknya.

"Melihat muka Ang-jiu Mo-li, kita ampunkan Wanyen Ci Lun dan mari kita pergi""

Ang Bouw dan Ang Louw Juga terkejut sekali apalagi mendengar seruan suheng mereka itu, cepat mereka me-lompat pergi melalui kepala banyak orang.

Akan tetapi Ci Kui tidak mau pergi begitu saja, tangan kirinya menyambar dan di lain saat tubuh Tiang Bu telah dikempitnya dan dibawa lari pergi bersama dua orang sutenya.

Tak seorang pun berani mengejar mereka yang cepat lenyap dari pandangan mata.

Wanyen Ci Lun memeluk isteri-nya dengan hati penuh rasa sukur bahwa isterinya terbebas dari kematian.

Juga Soan Li mengucurkan air mata melihat suaminya selamat.

Wan Sun dan Wan Bi Li mendekap baju ibu mereka karena dua orang anak ini masih merasa ketakutan.

"Sungguh beruntung ada seorang sakti menolong."

Bisik Soan Li kepada suaminya. la lalu menjura ke empat penjuru dan berkata dengan suara nyaring, mengerahkan khikangnya agar suaranya terdengar dari fempat jauh.

"Locianpwe yang telah menolong nyawa keluarga Wanyen dari bahaya maut, harap sudi memperlihatkan diri agar kami dapat menghaturkan terima kasih!"

Semua orang yang mendengar kata-kata nyonya pangeran ini menjadi terheran-heran akan tetapi mereka melongo ketika tiba-tiba terdengar suara perlahan akan tetapi jelas sekali sehingga seperti orang berbisik di dekat telinga.

"Kalian pulanglah, pinni (aku) menanti kalian di rumah."

Pangeran Wanyen Ci Lun terheran dan tidak mengerti, akan tetapi istennya lalu menarik tangannya dan mengajak dua orang anaknya cepat meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana me-reka.

Kereta dijalankan lagi, jenazah empat orang pengawal diurus oleh kawan-kawannya dan ramailah orang berbicara tentang peristiwa aneh tadi.

Banyak yang memuji akan kegagahan nyonya pangeran.

Di dalam kendaraannya, Wanyen Ci Lun berkata kepada isterinya.

"Apakah yang terjadi dengan bocah yang kematian gurunya itu, dan mengapa tiga orang iblis itu membawanya?"

Soan Li mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya.

"Entahlah, akan tetapi jangan kita pedulikan anak itu. Semenjak melihatnya aku sudah merasa tidak suka kepadanya."

"Eh, mengapakah kau ada perasaan demikian? Kita baru melihat dia untuk pertama kali dan apa salahnya?"

"Aku tidak tahu. Begitu melihatnya, aku mendapat perasaan seakan-akan bocah itu hanya mendatangkan malapetaka belaka. Dan tepat sekali perasaan itu, baru saja ia kita ajak bicara, muncul malapetaka berupa tiga orang lihai. Apalagi kalau diingat bahwa tiga orang iblis itu mengakuinya sebagai murid. Ah, anak itu tentu bukan manusia baik, dan entah siapa pula kakek jembel yang sudah menjadi mayat itu."

Wanyen Ci Lun menarik napas panjang.

"Memang dunia kang-ouw banyak sekali manusia aneh, dan makin lama makin banyak kita melihat orang-orang pandai luar biasa. Aku kira bahwa kakek jembel yang sudah mati itu pun orang luar biasa."

Pangeran ini teringat akan ucapan puterinya ketika mereka baru turun dari kendaraan.

"Bi Li, kau tadi bilang dia mati digigit ular. Betulkah itu?"

"Betul Ayah,"

Jawab Bi Li dengan kepala. tunduk dan anak ini rupanya masih kaget karena peristiwa hebat tadi.

"Siapapun juga adanya kakek jembel itu, aku sudah menyuruh pengawal rne-rawat jenazahnya baik-baik. Yang ka-herankan adalah tiga orang iblis tadi. Mereka itu belum pernah kukenal, akan tetapi mengapa begitu mendengar namaku mereka laiu berusaha membunuhku?"

Gak Soan Li nampak bergidik ngeri.

"Mereka itu lihai sekali. Seorang saja di antara mereka memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada kepandaianku. Kiranya kepandaian mereka sudah se-tingkat dengan kepandaian mendiang Suhu Hwa 1 Enghiong Go Ciang Le! Aku pun tidak dapat menduga siapa adanya mereka itu. Mereka memang lihai luar biasa. Akan tetapi kalau aku mengingat akan penolong kita yang dengan satu lemparan pat-kwa-ci telah berhasil menolong nyawa kita dan mengusir tiga orang iblis itu, sukar membayangkan betapa tingginya ilmu kepandaian pe-nolong kita itu."

Diam-diam Wanyen Ci Lun menduga bahwa orang yang menolong mereka itu bukan lain tentulah Wan Sin Hong adanya.

Akan tetapi tentu saja ia tidak mau menyebut-nyebut nama orang ini di depan isterinya dan pula ia juga masih meragukan kebenaran dugaannya.

Andaikata benar Wan Sin Hong yang menolong tadi, mengapa pendekar itu tidak mau terang-terangan, bahkan mengapa pula menyuruh mereka pulang dan suaranya berbeda dengan suara Wan Sin Hong.

Begitu kereta berhenti di depan pekarangan istananya Soan Li melompat turun dan bertanya kepada para penjaga di depan apakah tadi ada tamu datang.

Para penjaga menjawab tak melihat se-orang pun tamu datang di situ.

Wanyen Ci Lun tahu bahwa isterinya tentu mengira penolong itu mendahului datang di situ.

la merasa kasihan melihat isterinya!

nampak kecewa mendengar jawaban para penjaga.

Diam-diam makin tebal dugaan Wanyen Ci Lun bahwa penolong mereka tentulah, Wan Sin Hong yang tidak mau menemui secara berterang dan agaknya malam nanti baru akan muncul di kamarnya sendiri.

Akan tetapi, alangkah kaget dan heran hatinya ketika mereka semua tiba di ruangan dalam, di situ mereka melihat seorang wanita berpakaian seperti seorang pertapa, berwarna putih semua.

Mukanya cantik sekali dan kemerah-merahan, rambutnya hitam panjang terurai di punggung dan pundak sehingga biarpun rambut itu mendatangkan keindahan namun agak menyeramkan.

Sebuah pedang menempel di pundak dan wanita ini berdiri dengan mata bersinar-sinar, memandang ke arah Wan Sun dan Wan Bi Li.

Gak Soan Li menjadi kaget dan ka-gum sekali.

Tidak saja wanita ini dapat mendahului mereka, bahkan dapat me-masuki istana tanpa terlihat oleh seorang pun penjaga dan pengawal!

Ini saja sudah membuktikan betapa tinggi ke-pandaian wanita ini.

Soan Li merasa pasti bahwa inilah orangnya yang telah menolongnya tadi, biarpun ia kaget se-kali karena tidak mengira bahwa pe-s nolongnya seorang wanita demikian cantiknya.

Baginya mudah saja menentukan bahwa inilah orangnya, karena tadi ia mendengar iblis jangkung gundul menyebut nama Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Bertangan Merah) sedangkan wanita cantik di depannya ini mempunyai dua buah tangan yang merah seperti diwarnai gin-cu!

Karena sudah yakin bahwa inilah pe-nolongnya, Soan Li tanpa ragu-ragu iagi lalu menggandeng tangan dua orang anaknya menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu sekeluarga menghaturkan te-rima kasih atas pertolongan Locianpwe sehingga nyawa kami sekeluarga ter-pelihara,"

Kata Soan Li dengan sikap merendah sekali.

Adapun Wanyen Ci Lun yang menjadi tertegun karena sama sekali tak disangkanya bahwa wanita cantik ini yang tadi menolongnya, hanya menjura.

Sebagai seorang pangeran tentu saja ia tidak bisa berlutut di depan siapapun juga.

la memberi hormat dengan menjura dan berkata.

"Siankouw, selamat datang di rumah kami dan maafkan kalau kami terialu lama di jalan membuat Siankouw tenalu larha menanti."

Wanita itu menggerak-gerakkan ta-ngan kirinya dan terdengar jia berkata. Suaranya halus akan tetapi tajam rne-nusuk telinga.

"Tidak apa, tidak apa! Kalian ini keluarga bangsawan agung, mengapa memberi hormat kepada orang rendah seperti aku? Hujin, bangunlah!"

Sekali ia mengibaskan tangan, Soan Li merasa seperti tubuhnya diangkat oleh tangan yang kuat sekali sehingga ia bang-kit berdiri dengan tiba-tiba.

Anehnya, dua orang anaknya tidak ikut berdiri, jelas bahwa wanita aneh ini tidak me-nyuruh dua orang bocah itu berdiri.

"Locianpwe, silakan duduk....."

Kata pula Soan Li. (Lanjut ke

Jilid 06) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Tak usah, aku tidak lama di sini. Hanya ada sedikit urusan hendak di-sampaikan kepada kalian suami isteri."

Wanyen Ci Lun dan Soan Li merasa tidak enak sekali. Kalau seorang aneh dan sakti seperti wanita ini bilang ada urusan, betapapun kecilnya urusan itu pasti amat pentingnya.

"Bolehkan kami mengetahui lebih dulu siapakah sebetulnya Siankouw ini? Sung-guh tidak enak bagi kami kalau belum mengetahui nama besar penolong kami."

Kata Wanyen Ci Lun karena pangeran ini tidak berani berlaku sembrono dan lan-cang sebelum mengenal siapa wanita ini.

Kalau kawan tidak apa, akan tetapi ka-lau lawan ia dapat bersiap-siap men-datangkan bala bantuan.

"Lihat saja kedua tanganku yang merah dan kalian akan tahu siapa aku ini,"

Jawab wanita itu dengan suara di-ngin seakan-akan mengejek.

"Kalau teecu tidak -salah duga, Locianpwe ini tentulah Ang-jiu Nio-nio (Dewi Bertangan Merah), bukan?"

Kata Soan Li cepat, khawatir kalau-kalau suaminya salah bicara.

Wanita itu tertawa, wajahnya manis sekali kalau tertawa akan tetapi suara ketawanya menyeramkan, hanya patuf terdengar di tengah malam di dalam kuburan yang sunyi.

Suara ketawa siluman!

"Hujin terlalu sungkan.

Di dunia ini, tidak ada orang yang menyebut aku de-ngan sebutan Nio-nio.

Panggil saja sebutanku yang sesungguhnya, yaitu Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Bertangan Merah)."

"Mana berani teecu berlaku kurang ajar? Seorang sakti seperti Locianpwe patutnya menjadi seorang dewi. Hanya orang kurang ajar dan buta saja yang berani menyebut iblis wanita,"

Kata Soan Li penasaran. la merasa amat kagum terhadap penolongnya ini, maka tentu saja hatinya tidak mengijinkan orang menyebutkan iblis wanita.

"Sudahlah, kau boleh menyebutku apa saja."

Ang-jiu Mo-li berkata dengan wa-jah ramah dan senyum manis.

Biarpun dia ganas dan liar seperti iblis, tetap saja dia seorang wanita yang memiliki sifat-sifat kewanitaan pula, yakni paling su.ka akanpujian!

"Sekarang baik kuberi-tahukan tentang maksud kunjunganku.

Aku melihat dua orang anakmu ini ber-tulang baik sekali dan kebetulan sekali mernang aku hendak mencari murid.

Pendeknya aku datang untuk membawa me-feka bersama-sama dan menjadi murid-muridku."

Dapat dibayangkan betapa terkejut hati Wanyen Ci Lun mendengar ini.

la cepat memandang kepada isterinya untuk melihat reaksi isterinya akan maksud wanlta aneh itu, dan (intuk mempersiap-kan segala kemungkinan kalau saja isteri-nya .sependapat dengan dia yaitu tidak setuju anak mereka dibawa pergi.

Akan tetapi kekagetannya menjadi kekhawatiran juga keheranan ketika isterinya de-ngan wajah berseri lalu berkata kepada dua orang anaknya.

"Sun-ji dan Bi Li, hayo kalian lekas memberi hormat kepada Nio-nio!"

Dua orang anak itu mentaati perintah ibunya dan mereka cepat memberi hormat sam-pai jidat mereka membentur lantai.

Ada-pun Soan Li sendiri tanpa menanti suami-nya menyatakan sesuatu yang tidak se-suai dengan rencananya, cepat berkata menjawab Ang-jiu Mo-li.

"Terima kasih hanyak atas perhatian Nio-nio terhadap dua orang anakku yang bodoh. Sungguh mereka mendapat anugerah besar sekali dari Thian bahwa Nio-nio telah sudi mengambil mereka sebagai murid. Aku akan segera menyuruh pelayan menyediakan sebuah kamar bersih dan tenang untuk Nio-nio dan menyedia-kan tiga orang pelayan untuk melayai^ segala keperluan Nio-nio di sini."

Baru lega hati Wanyen Ci Lun mendengar kata-kata isterinya ini dan ia mengharap wanita aneh itu akan meneri-ma usul ini.

Bagi Wanyen Ci Lun, dua orang anaknya mendapat guru pandai tentu saja merupakan hal yang meng-gembirakan karena pangeran ini dapat merasai pentingnya ilmu silat.

Yang membuat ia menjadi merasa khawatir hanya kaJau kedua anaknya dibawa pergi oleh wanita itu.

Hal ini ia merasa berat sekali, apalagi dalam suasana seperti sekarang di waktu kerajaan menghadapi ancaman musuh-musuhnya dan ia mem-punyai rencana untuk menyuruh anak isterinya mengungsi.

Kalau dua orang anaknya dibawa pergi, habis Soan Li bagaimana, dan dia sendiri akan selalu mengkhawatirkan keadaan anak isterinya.

Beda soalnya kalau anak isterinya meng-ungsi ke Kim-bun-to di rumah Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, ia merasa yakin bahwa anak isterinya berada di tempat yang aman dan di tangan kawan-kawan sendiri yang boleh dipercaya.

Ang-jiu Mo-li tersenyum dan diam-diam ia kagum atas kecerdikan nyonya pangeran itu, yang telah mendahuluinya dengan usul supaya ia tinggal di situ dalam mengajar dua bocah itu.

"Mereka takkan maju kalau belajar di sini saja. Mereka harus melakukan perantauan, harus mengalami betapa sulitnya hidup di luar istana yang serba ada. Pinni bermaksud mengajak mereka me-"

Rantau di dunia kang-ouw dan pinni bermaksud menjadikan mereka dua orang yang kelak akan menjagoi kolong langitl"

Wanyen Ci Lun menjadi pucat, akan tetapi Soan Li dengan wajah tenang tidak berubah menjawab.

"Nio-nio, biarpun aku tidak mempunyai kepandaian yang berartl, namun dahulu aku adalah murid Hwa 1 Enghiong, maka aku pun maklum akan kebenaran kata-kata Nio-nio tadi. Memang tentu saja kami tidak akan berkeberatan kalau sewaktu-waktu Nio-nio mengajak mereka merantau. Akan tetapi tentu saja janganf sekarang di waktu mereka masih kanak-kanak, selain membutuhkan kaslh sayangp ayah ibu, juga mereka perlu mempelajari ilrnu surat. Tentusaja Nio-nio tidak akan suka kalau kelak ada orang-orang kang-ouw bilang bahwa kedua orang mund Nio-nio hanyalah orang-orang kasar yang tidak mengenal mata surat bukan? Oleh karena itulah, Nio-nio, kami mengharap dengan sangat, memohon kepadamu sudikah membagi anak-anak ini di antara kita. Maksudku, di waktu kecil Nio-nio mengajar mereka di sini dan kami ber-janji takkan mengganggu Nio-nio, dan kelak kalau sudah besar, kadang-kadang boleh saja Nio-nio ajak mereka merantau. Bukankah jalan ini paling baik dan adil dan Nio-nio tidak mengecewakan menjadi pujaan kami keluarga Wanyen?"

Ang-jiu Mo-li menatap wajah Gak Soan Li.

Tadinya ia hendak marah mendengar orang berani membantah kehendaknya, akan tetapi Ang-jiu Mo-li bukan seoranp bodoh.

la sudah tahu betapa besa kekuasaan Pangeran Wanyen Ci Lun dan bahwa kota raja bukanlah tempat di mana ia boleh sembarangan bergerak.

Sekali ia melakukan pelanggaran dan keluarga ini nekat melakukan perlawan-an, ia tentu akan menghadapi pengawal-pengawal istana yang pandai-pandai dan terutama sekali yang amat banyak jum-lahnya.

la amat suka melihat dua orang anak itu, terutama sekali Bi Li.

Sinar mata anak ini mendatangkan rasa say ng dalam hatinya karena ia maklum bahwa kalau anak ini terdidik baik, kelak akan lebih lihai daripada dirinya sendiri!

Pula tempat ini amat indah, dan menyenangkan, apa salahnya kalau dia tinggal di si-tu untuk beberapa lamanya?

Kalau sudah bosan, mudah saja baginya untuk pergi.

Kalau perlu, ia dapat juga membawa kedua muridnya minggat.

"Hujin, kau benar-benar seorang ibu yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya dan seorang wanita yang berani dan cerdik. Baiklah, pinni menerima usulmu itu dan biarlah untuk sementara ini pinni tinggal di sini mengajar kedua anakmu. Dapat dibayangkan betapa girangiiya hati suami isteri itu. Sibuk mereka nrte-nyediakan kamar yang indah dan bersih untuk Ang-jiu Mo-li, bahkan malamhya Pangeran Wanyen Ci Lun menjamu ma-kan minum kepada guru anak-anaknya. Dalam perJamuan ini mereka bertiga bicara dengan ramah dan berceritalah Ang-jiu Mo-li siapa adanya tiga orang kakek itu.

"Mereka bertiga adalah kaki tanigan Raja Mongol yang bernama Temu Cin. Tentu saja mereka hendak membunuh Wanyen Ongya, karena kalau hal itu berhasil mereka tentu akan mendapat hadiah dari raja mereka. Adapun jembel tua yang mampus di pinggir jalan itu, kalau tidak salah adalah Bu Hok Lokai, seorang kang-ouw yang tidak berdosa dan tak pernah bermusuhan dengan orang. Entah siapa yang membunuhnya. Bocah itu memang murid Pak-kek Sam-kui karena pinni pernah .melihat dia bersama tiga orang Mongol itu. Pinni juga tidak tahu bagaimana ia bisa bersama Bu Hok Lokai."

Di dalam percakapan itu, setelah banyak minum arak wangi, Ang-jiu Mo-li dengan bangga menceritakan bahwa dia adalah murid dari seorang pertapa setengah dewa di Gunung HimaJaya, dan dalam kesombongannya ia menyatakan bahwa jangankan menghadapi Pak-kek Sam-kui, biarpun orang-orang seperti See-thian Tok-ong, Ba Mau Hoatsu, atau Giok Seng Cu, kalau mereka itu masih hidup, mudah ia akan dapat mengalahkan mereka Biarpun Gak Soan Li dan suami-nya masih kurang percaya, namun suan-iE isteri ini sudah merasa girang dan ber-untung sekali bahwa kedua anak mereka tidak terpisahkan dari mereka, juga di situ sekarang tinggal seorang sakti yang selain dapat menurunkan kepandaian ke-pada Wan Sun dan Wan Bi Li juga me-rupakan pembantu dan penjaga keamanan yang boleh diandalkan.

Tanpa melihat bukti juga mereka sudah percaya, karena orang yang dapat menundukkan dengan amat mudahnya orang-orang berkepandaian tinggi seperti Pak-kek Sam-kui, tak dapat disangsikan lagi tentu memiliki kesaktian istimewa.

Dan kepercayaan mereka ini memang betul-betul tidak sia-sia.

Memang se-sungguhnya Ang-jiu Mo-li adalah seorang sakti, dan kiranya pada masa itu jarang ada orang memiliki ilmu kepandaian setinggi ilmu yang dimiliki Ang-jiu Mo-li!

Diam-diam Pangeran Wanyen Ci Lun teringat akan sahabat baik dan saudara-nya Wan Sin Hong.

Manakah yang lebih pandai, pikirnya, antara guru anak-anak-nya ini dengan Wan-bengcu?

Malam harinya ketika Wanyen Ci Lun berada di dalam kamar tidur bersama isterinya ia berkata.

"Aku makin meng-khawatirkan nasib bocah yang dibawa pergi oleh Pak-kek Sam-kui. Kalau mere-ka itu orang-orang Mongol yang kejam?dan jahat, kasihan sekali bocah itu. En-tah mengapa, sebaliknya dari perasaan-mu, aku merasa suka dan kasihan kepada anak itu."

"Aah, mengapa mesti memikirkan bocah buruk seperti dia? Melihat muka-nya saja aku sudah tidak suka dan muka itu membayangkan watak yang jahat. Murid Pak-kek Sam-kui mana bisa baik? Lebih baik kita pikirkan keadaan anak-anak kita dan mudah-mudahan saja Ang-jiu Nio-nio tidak hendak membawa mereka merantau sebelum mereka dewasa. Suamiku harap kau jangan salah sangka. Aku tadi begitu saja menerima Ang-jiu Nio-nio sebagai guru anak-anak kita, karena selain dia memang berilmu tinggi, kalau kita menolak dan dia memaksa, siapakah yang dapat menahan dia mem-bawa pergi anak-anak kita?"

Wanyen Ci Lun mengangguk-angguk dan merangkul pundak isterinya yang terkasih.

"Soan Li, kau memang seorang yang pandai sekali. Aku kagum kepadamu. Tanpa kau di sampingku tadi, entah apa yang telah terjadi atas diriku. Hanya saja..... sayang bocah bermuka buruk tadi....."

"Ah, ada-ada saja. Mari kita tidur dan lupakan bocah buruk rupa itu!"

Jawab Soan Li. Kalau saja Soan Li tahu bahwa "bocah buruk"

Itu bukan lain adalah anaknya sendiri!

Anaknya sendiri keturunan dari Liok Kong Ji si manusia jahanam!

Seandainya ia tahu, apa yang akan diperbuatnya?

Menerima bocah itu seperti anak sendiri ataukah menghunus pedang dan membunuhnya?

Entahlah, hati wanita sukar diduga isinya, apalagi isi hati seorang wanita seperti Gak Soan Li!

Sekarang kifa ikuti perjalanan Ti"ang Bu.

Bocah ini sama sekali tidak berdaya ketika Giam-lo-ong Ci Kui mengempitnya dan membawanya lari dengan cepat se-kali karena Ci Kui dan dua orang sute-nya takut setengah mati kalau sampai bertemu dengan Ang-jiu Mo-li!

Pak-kek Sam-kui adalah orang-orang utara, tentu saja mereka sudah tahu siapa adanya Ang-jiu Mo-li.

Bukan tahu saja, bahkan dahulu ketika Temu Cin mencoba mem-bujuk Ang-jiu Mo-li ; supaya membantu barisan Mongol dan ^anita itu rnenolak sehingga terjadi pertfempuran, Pak-kek Sam-kui pernah merasai kelihaian tangan wanita itu.

Mereka tentu akan tewas dalam tangan wanita sakti itu kalau saja Temu Cin tidak mengerahkan panglima-panglimanya.

Setelah para panglima Mo-ngol, dipimpin oleh Thian-te Bu-tek Taihiap Liok Kong 3i dan Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun, yaitu dua orang panglima-panglima tertinggi dari Temu Cln di waktu itu, baru Ang-jiu Mo-li melarikan diri, tidak kuat imenghadapi keroyokan sekian banyaknya orang pandai.

Maka tidak mengherankan apabila tiga kakek seperti iblis ini lari tunggang-langgang ketika melihat pat-kwa-ci, senjata raha-sia Ang-jiu Mo-li yang amat lihai.

Ilmu lari cepat dari Pak-kek Sam-kui memang luar biasa.

Dengan pengerah-an tenaga sepenuhnya dan tidak pernah berhenti, tak lama kemudian mereka telah memasuki hutan besar, puluhan!i jauhnya di sebelah utara kota raja.

Giam-lo-ong Ci Kui melemparkan Tiang Bu ke atas tanah dan tiga orang kakek itu berdiri memandang kepada Tiang Bu.

Menarik sekali kalau mempelajari tarikan suara mereka bertiga.

Ada bayangan orang marah, curiga dan lain perasaan yang sukar dilukiskan!

"Tiang Bu, mengapa kau lari dari kami.

Apa yang terjadi padamu ketika kita berada di lereng Taihang-san?"

Tiang Bu sudah mengenal watak tiga orang gurunya yang aneh dan kejam, maka ia maklum pula bahwa ia tidak boleh berterus terang apalagi tentang belajar ilmu silat dari lain guru.

Hal itu tentu akan dianggap sebagai sesuatu yang amat menghina oleh Pak-kek Sam-kui.

"Karena dulu Suhu sekalian berlari cepat ke tempat orang-orang bertempur, teecu tertinggal di belakang. Selagi teecu kebingungan mencari jalan yang amat sukar itu, tiba-tiba muncul seorang hwesio besar yang aneh, jubahnya merah-merah dan ia memegang sebuah tongkat panjang. Tiba-tiba saja munculnya entah dari mana, dan hwesio galak itu begitu bertemu dengan teecu, lalu mendorong teecu masuk ke dalam jurang di pinggir lorong kecil itu."

Pak-kek Sam-kui saling pandang dan tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Tiang Bu tentulah Thai Gu Cinjin, pendeta Lama dari Tibet yang lihai itu.

Mereka juga percaya atas keterangan Tiang Bu karena dengan menyebut pendeta Lama itu kiranya bocah ini tidak bohong.

"Kenapa dia mendorongmu masuk jurang?"

Tanya Liok-te Mo-ko Ang Bouw mata burungnya memandang penuh selidik.

"Mana teecu bisa tahu? Dia seperti orang gila sedang marah-marah, begitu bertemu di jalan kecil itu, ia berkata.

"Minggir, setan cilik"

Dan teecu didorongnya sampai terjungkal ke dalam jurang."

"Lalu apa yang terjadi?"

Tanya Ci Kui tertarik.

"Teecu tidak ingat apa-apa lagi, ketika teecu sadar ternyata teecu telah dipondong oleh seorang pengemis tua yang kakinya pincang. Kemudian menurut jembel itu, teecu terjatuh di dalam jurang dan pingsan. Pengemis itulah yang menolong teecu dari bahaya maut. Kemudian pengemis itu membawa teecu merantau sampai ke kota raja. Tadinya teecu hendak menolak ajakannya merantau dan mengemis, akan tetapi teecu tidak berdaya karena teecu masih lemah dan tidak bisa berjalan akibat jatuh itu. Terpaksa teecu ikut dengan pengemis tua itu dan sampai akhirnya bertemu dengan Suhu bertiga di kota raja."

"Mengapa kau berada di sana dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sekeluarganya, dan apa yang dikatakan oleh pangeran itu padamu?"

"Setibanya di kota raja, kakek jembel itu terserang penyakit aneh dan meninggal dunia di pinggir jalan. Teecu yang tinggal seorang dirl menjadi ke-bingungan. Lalu muncul kereta pangeran itu dan pangeran itu sendiri berjanji hendak mengurus jenazah kakek jembel. Dia tidak berkata apa-apa, hanya ber-tanya apa yang terjadi di situ."

Tiang Bu yang melihat peristiwa di kota raja, maklum bahwa tiga orang kakek ini tidak suka kepada Pangeran Wanyen Ci Lun maka ia pun tidak mau memuji-mujinya walaupun di dalam hatinya Tiang Bu amat kagum dan berterima kasih kepada keluarga Pangeran Wanyen Ci Lun itu.

"Selama kau ikut jembel busuk itu, apakah kau tidak belajar silat?"

"Jembel tua begitu mana mengerti silat? Teecu hanya belajar mengemis dan sedikit membaca menulis."

Bocah ini memang cerdik.

la tahu bahwa Bu Hok Lokai bukanlah orang tidak ternama.

Kalau kelak tiga orang gurunya ini tahu bahwa kakek jembel itu Bu Hok Lokal adanya, tentu mefeka akan menaruh curiga apabila ia bilang tidak belajar apa-apa.

Bu Hok Lokai adalah seorang bun-bu-coan-jai, maka orang seperti itu kalau tidak mengajar ilmu silat, tentu mengajar ilmu surat.

Dan ia mengaku belajar ilmu surat ini agar jangan mem-bangkitkan amarah tiga orang kakek yang galak-galak itu.

"Bocah bodoh! Lain kali biar dipukul sampai mampus Jangan kau mau secara sembarangan saja dibawa pergi orang. Kau sudah belajar dari kami, mengapa kau tidak mau membunuh mati saja jembel tua itu lalu pergi mencari kami?"

Kata Sin-saikong. Ang Louw.

"Tangan dan kaki teecu sakit-sakit semua, salah urat ketika teecu terjatuh, juga kepala amat pening. Bagaimana teecu bisa rnelawannya? Apalagi ketika teecu siuman, teecu telah dipondongnya. Jembel tua itu ternyata hatinya baik sekali maka teecu tidak tega untuk mem-bunuhnya. Pula, teecu tidak tahu kemana harus mencari Sam-wi Suhu, maka teecu mau saja ikut dengan dia sambil mencari Suhu dalam perantauan."

"Sudahlah, lain kali kalau kau lari dari kami dan ikut orang lain, akan kami bunuh. Kau menyia-nyiakan waktu. Apa kau masih ingat semua pelajaran yang kau terima dari kami?"

Tiang Bu terkejut.

Selama ini ia hanya menghafal kitab dan melatih ilmu silat Sam-hoan Sam-bu.

la tidak pernah melatih dasar-dasar ilmu silat yang ia dulu terima dari Pak-kek Sam-kui.

Cepat otak dan ingatannya bekerja, diperasnya untuk mengingat-ingat, lalu berkata.

"Teecu masih ingat, Suhu hanya selama ini tidak ada yang memberi petunjuk, tentu saja teecu tidak mendapat kemajuan."

"Haya kauperlihatkan padakul"

K"ta Ci Kui.

"Malu aku kalau orang lain melihat muridku tidak becus apa-apa"

Diam-diam Tiang Bu gembira karena dari kata-katanya ini, Glam-Lo-ong Ci Kui sudah memaafkannya.

Dengan muka riang bocah ini lalu bersilat seperti yang dulu pernah ia latih ketika masih ikut dengan tiga kakek ini.

"Waah..... waaah..... celaka! Buruk sekali!"

Seru Sin-saikong Ang Louw.

"Hah, memalukan punya murid semacam ini"

Giam-lo-ong Ci Kui melangkah maju dan berkata dengan suara sungguh-sungguh kepada Tlang Bu.

"Tiang Bu, ingatlah bahwa kau adalah murid Pak-kek Sam-kui dan bahwa kau sekarang sudah besar. Sungguh memalukan hati kami kalau ilmu silatmu seburuk Itu. Hayo kauperhatikan baik-baik dan"

Mulai latihan. Ikuti gerakan-gerakanku ini dan jangan salah."

Setelah berkata demlkian, Giam-lo-ong Ci Kui lalu bersilat tangan kosong, sepuluh jari tangannya dengan kuku panjang-panjang itu berbentuk cakar harimau dan ia bersilat secara menyeramkan sekali.

Dulu pernah Tiang Bu menerima pelajaran ini akan tetapi belum berlatih, maka ia tahu bahwa ia harus belajar ilmu silat yang oleh gurunya disebut Ilmu Silat Hu-houw-tong-tee (Harimau Terbang Menggetarkan Bumi).

la memperhatikan gerakan-gerakan suhunya secara sungguh-sungguh dan penuh perhatian, kemudian ia mulai meniru gerakan-gerakan suhunya itu.

Tiang Bu bersilat penuh semangat meniru gerakan Giam-lo-ong Ci Kui.

Ang Bouw dan Ang Louw menonton dan kadang-kadang merek"

M"mberi petunjuk kalau gerakan bocah itu ada yang keliru.

Sampal tiga jam lebih Ci Kui memberl pelajaran kepada rnuridnya tanpa mengenal lelah sampai akhirnya Tiang Bu dapat menguasai gerakan-gerakan yang sukar dan hati Si Jangkung Gundul ini puas.

"Mulai besok kau harus latlhan memukul pasir dan batu agar kedua tanganmu dapat cepat menjadi tok-ciang (tangan beracun) seperti kami,"

Kata Glaro-lo-ong dengan puas sambil menghapus peluh yang memenuhi kepala gundulnya.

Tiang Bu mengucapkan terima kasih sungguhpun di dalam hati ia tidak suka akan ilmu-ilmu silat yang aneh dan menyeramkan ini.

la lebih suka mempelajari Sam-hoan Sam-bu atau Pat-hong-hong-i dari kitab yang isinya sudah ia hafalkan itu.

Akan tetapi ia tidak dapat memilih dan terpaksa harus rncnerima pelajaran yang diberikan oleh tiga orang kek dari utara ini.

Tiang Bu yang sudah tahu betul akan watak aneh dari Pak-kek Sarn-kui, sama sekali ti-dak berani mencoba melatih Sam-hoan Sim-bu atau Pat-hong-hong-i dihadapan mereka.

Hanya sewaktn ia berada seorang diri saja, sambil mengingat-ingat tangannya bergerak-gerak melakukan gerakan-gerakan Pat-hong-hong-i yang sudah ia hafal di luar kepala.

Darl kota raja Pak-kek Sam-kui mengajak Tiang Bu melekukan perjalanan yang jauh dan lama sekall tidak tahu bahwa ia diajak oleh tiga orang kakek itu ke Mongol, di pusat bangsa MongoJ yang mulai berkembang, ke tempat dl mana Raja Beaar Temu Cin sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan penyerbuan besar-besaran sesuai dengan cita-citanya, yaitu menguasai dunia dan memperlihatkan kekuatan bangsa Mongolia!"

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan dan makin lama makin jarang bertemu dengan kota, bahkan mulai mendaki gunung dan menyeberang laut pasir yang luas dan ganas, Tiang Bu baru berani bertanya kepada guru-gurunya.

"Suhu, mengapa makin lama makin sunyi, dan makin jarang kita bertemu manusia? Kita sedang menuju ke mana-kah?"

Giam-lo-ong Ci Kui tertawa bergelak "Kita menuju pulang"

"Pulang ke rumah Sam-wl Suhu?"

Tanya Tiang Bu, yang cerdik.

"Betul, kau akan ikut dengan kaml ke sebuah negara yang besar, sebuah negara yang sebentar lagi akan menjagoi di dunia ini. Kau akan belajar ilmu epada kami dan kelak kau pun akan membantu negara itu menjadi suatu negara yang jaya dan kuat, ditakuti oleh semua negara lain."

"Suhu, melihat munculnya matahari dari sebelah kanah kita, teecu tahu bahwa kita sedang menuju kte utara. Akan tetapi, teecu belum pernah mendengar dari negara manakah asal Sam-wi, dan negara besar itu negara apakah?"

Ketiga orang kakek itu tertawa bergelak.

"Bocah bodoh, masa kau tidak mendengar tentang Mongol yang jaya dan kuat, dan tentang raja besar kami yang tlada taranya. Raja Temu Cin?"

Tentu saja Tiang Bu tidak pernah "mendengar nama negara atau raja itu, bahkan ia tidak tahu yang bagaimanakah bangsa Mongol itu. Melihat wajah ketiga orang suhunya, bangsa Mongol tentu jelek.

"Jadi di Negara Mongol itu kita akan menjumpai bangsa Mongol semua, seperti Sam-wi Suhu?"

Tanyanya dengan hati kecewa akan tetapi wajahnya tetap tidak berubah.

"Tentu saja di Negara Mongol kau akan bertemu dengan bangsa Mongol,"

Jawab Ang Louw, gemas melihat kebodoh-an muridnya. Mendengar suara Ang Louw dan tahu bahwa guru ke tiga ini gemas, Tiang berkata sambil tertawa.

"Bukan deintkian maksud teecu. Tentu saja betul seperti kata Sam-wi Suhu bahwa di Negara Mongol tentu kita akan bertemu dengan bangsa Mongol. Maksud teecu, apakah di sana tidak terdapat bangsa lain dan apakah disana tidak ada pula bangsa Han?"

"Kau tidak tahu, bangsa kami sudah menjadi bangsa besar. Hanya ada be-berapa suku bangsa saja yang belum me-naluk dan menyatukan diri di daerah utara, akan tetapi sebagian besar sudah bersatu di bawah pimpinan Khan kami yang besar dan semua suku bangsa itu kini menjadi bangsa Mongol. Tentu saja masih ada bangsa-bangsa lain seperti orang-orang Tibet dan suku-suku bangsa di pedalaman yang berada di Mongol. Mereka ini termasuk orang-orang yang membantu perjuangan kami. Bahkan yang menjadi kepala dari semua orang gagah pembantu kaisar kami adalah seorang Han yang berilmu tinggi. Dia itu ber-nama Llok Kong Ji dan berjuluk Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tiada Bandingan di Kolong Langit). Kepandaiannya hebat dan dia menjadi tangan kanan raja besar kami."

Agak terhibur hati Tiang Bu men-dengar bahwa di utara sana terdapat bangsa Han dan yang lain-lain, karena ia dapat membayangkan bahwa ia akan merasa tidak kerasan kalau harus tinggal di sebuah negara yang orang-orangnya macam Pak-kek Sam-kui ini buruknya!

Akan tetapi segera kekhawatirannya i ini lenyap.

Setelah ia bertemu dengan beberapa kelompok suku bangsa di antara pegunungan dan padang pasir, ia melihat suku bangsa yang orang-orangnya terdiri dari orang-orang yang sempurna baik bentuk muka maupun bentuk badannya.

Ada kelompok terdiri dari orang-orahg berkulit agak coklat kemerahan, akan tetapi wanita-wanitanya manis-manis dan yang laki-laki gagah tinggi besar tubuh .

ijaereka kokoh kekar.

Ada kelompok yang orang^-prangnya nnempunyai kulit putih kuning seperti orang-orang Han biasa, bahkan wanita-wanitanya memiliki kecantikan yang me-.nyendiri dan para prianya juga tampan-tampan, dengan tulang pipi menonjol, hidung mancung dan dagu meruncing kadang-kadang ada belahan di tengahnya.

Ada pula kelompok yang prianya me-melihara kumis panjang semua baik yang tua maupun yang baru remaja hingga kelihatan iucu sekali.

Bahasa mereka juga bermacam-macam, akan tetapi pada unriumnya para wanitanya tidak berwatak malu-malu seperti wanita Han, pandang mata dan senyum pada wajah yang manis-manis itu terbuka dan ramah.

Yang nnenyenangkan hati Tiang Bu, setiap kelompok yang bertemu dengan tig"a orang gurunya, bersikap menghormat.

Di mana-mana Pak-kek Sam-kui disambut seperti rakyat menyambut pembesar ting-gi, dijamu dengan hidangan-hidangan pilihan dan diadakan pesta-pesta tarian untuk menyenangkan hati Pak-kek Sam-kui.

Ketika para kelompok suku bangsa taklukan itu mendengar bahwa Tiang Bu menjadi murid Pak-kek Sam-kui, me-reka juga menghormati anak ini sehingga Tiang Bu yang dipuja-puja merasa sungkan dan malu, akan tetapi perutnya lalu kenyang.

Akhirnya mereka tiba dikaki Gunung Kangai, di mana pada waktu itu Raja Besar Temu Cin dan bala tentaranya tinggal.

Markas besar ini dikelilingi pagar tembok dan dijaga amat kuat.

Di seke-liling markas ini terdapat dusun-dusun yang ramai.

Markas besar itu sendiri merupakan sebuah kota tentara yang megah dan di dalamnya dilengkapi de-ngan tempat-tempat hiburan bagi ang-gauta pasukan yang bebas tugas dan beristirahat.

Di mana-mana nampak kelom-pok pasukan yang amat berdisiplin dan bersikap gagah perkasa sehingga diam-diann Tiang; Bu merasa gentar juga.

Pak-kek Sam-kui di tempat ini pun selalu disambut dengan hormat oleh para penjaga.

Tiga orang kakek itu membawa Tiang Bu masuk ke dalam markas dan langsung menuju ke sebuah bangunan besar di mana berkumpul banyak orang yang aneh-aneh sikapnya.

Tiang Bu me-lihat orang-orang yang berpakaian seperti hwesio, ada yang seperti pendeta tosu, acla pula yang compang-camping pakaiannya seperti pengemis.

Bahkan banyak pula terdapat wanita-wanita tua yang sikapnya menunjukkan bahwa mere-ka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggal Serdadu-serdadu Mongol dengan sikap menghormat sekali rnelayartl orang-orang ini makan minum.

Ketika Pak-kek Sam-kui tiba di tempat itu, mereka semua menyambut dan menyalam dengan gembira.

Ketika Pak-kek Sam-kui yang bercakap-cakap dengan mereka dengan sikap seperti sahabat-sahabat lama memberi tahu atau mem-perkenalkan Tiang Bu sebagai muridnya, oran"g-orang itu segera merubung Tiang Bu dan dari sana sini terdengar pujian-pujian.

Sayangnya Tiang Bu tidak mengerti bana-sa mereka karena mereka bicara dalam bahasa Mongol.

Akan tetapi banyak di antara mereka yang pandai bicara daiam bahasa Han dan segera bocah ini dihujani pertanyaan tentang nama dan sebagainya.

"Tiang Bu, mereka semua ini adalah sahabat-sahabat baik kami yang mem-bantu pergerakan bangsa Mongol yang besar, Mereka ini adalah orang-orang berilmu yang datang dari segala pelosok, kepala-kepala suku bangsa yang me-nyatukan diri dengan pasukan kami. Ka-lau kau dapat menyenangkan hati mere-Ra, dan dapat memetik pelajaran-pelajaran dari mereka, kau akan beruntung sekali. Sekarang kau tinggal dulu di sini, kami ; hendak menghadap raja,"

Kata Ci Kui kepada muridnya.

Tiang Bu mengangguk dan menelan ludah.

la merasa gelisah juga ditinggalkan seorang diri di antara orang-orang asing yang rata-rata aneh dan menyeramkan itu.

Jumlah mereka kurang lebih dua puluh orang dan ruangan yang amat luas itu masih terus kedatangan orang baru.

Juga ada yang menihggalkan ruangan itu.

Agaknya tempat ini menjadi tempat is-tirahat bagi mereka, beristirahat sambil bercakap-cakap dengan kawan yang di-jumpainya dan minum-minum arak.

Benar-benar mereka kelihatan hidup senang.

Dari percakapan beberapa orang di anta-ra mereka yang dilakukan dalam bahasa Han, Tiaog Bu mendapat kenyataan bahwa mereka ini adalah orang-orang gagah yang membantu Raja Temu Cin.

Mereka ini bercerita betapa mereka sudah ber-hasil memimpin pasukan menaklukan suku bangsa ini atau itu sehingga kedudukan bangsa Mongol bertambah lagi.

Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang politik dan tentang ke-adaan pemerintahan di masa itu.

Akan tetapi karena sudah banyak mendengar dari Pak-kek Sam-kui, ia dapat men-duga bahwa mereka ini tentulah.

orang-orang berilmu yang datang ke tempat itu untuk membantu Temu Cin karena ber-bagai alasan.

Ada yang memang ditakluk-kan, ada yang memang suka membantu secara suka rela, ada pula yang karena mengharapkan hadiah yang secara royal dikeluarkan oleh Temu Cin.

Melihat cara mereka menyambut Pak-kek Sam-kui seperti sahabat yang setingkat, diam-diam Tiang Bu kagum sekali.

Kepandaian mereka tentu tinggi se-perti kepandaian Pak-kek Sam-kui maka mereka berani bersikap seperti itu.

Dan dugaan ini memang betul.

Pergerakan bangsa Mongol yang dipimpin Temu Cin dapat berkembang dengan cepat dan ber-hasil, bukan saja karena pandainya Temu Cin memimpin bala tentaranya yang ber-disiplin dan gagah, akan tetapi juga terutama sekali karena di belakang raja ini terdapat banyak sekali orang pandai yang membantunya.

Pak-kek Sam-kui memasuki bangunan terbesar yang berada di dalam lingkungan benteng itu.

Bangunan ini selain besar juga terjaga kuat sekali.

Di sebelah da-lamnya indah dan megah.

Inilah tempat tinggal Raja Besar Temu Cin!

Raja yang berhasil memimpin bangsa yang tadinya!

awut-awutan dan terpisah-pisah menjadi satu bangsa kesatuan yang amat hebat.

Pak-kek Sam-kui diterima oleh lapisan penjaga yang tujuh lapis banyaknya dan diantar dari penjaga pertama ke pos penjaga ke dua dan selanjutnya sampai ia tiba di pos penjagaan terakhir.

Semua penjaga mengenal mereka maka mereka dapat langsung ke dalam tanpa banyak halangan.

Dari para penjaga Pak-kek Sam-kui mendapat tahu bahwa raja sedang berundlng dengan dua orang panglima besarnya.

"Kebetulan sekali, bahwa kami meng-hadap,"

Kata Giam-lo-ong Ci Kui.

Setelah seorang penjaga melapor dan mendapat perkenan dari raja, tiga orang kakek aneh itu lalu diperkenankan masuk.

Ruangan sidang yang mereka masuki besar dan berlantai mengkUap.

Di sudutt sudut delapan penjuru terlihat pengawal-pengawal berdiri tegak dengan tombak dan pedang di tangan.

Mereka itu tidak bergerak seperti patung, pandang mata tak pernah terlepas dari raja mereka dan sekelilingnya.

"Pak-kek Sam-kui Suhu datang! Selamat datang, silakan duduk dan mari minum dulu menghilangkan dahaga!"

Sambutan meriah ini adalah kebiasaan dari Raja Temu Cin setiap kali ia menyambut panglima-panglima atau utusan-utusannya dari sebuah tugas yang berat.

Dan dengan ramahnya, tangan raja besar ini sendiri yang menuangkan arak wangi ke dalam cawan untuk tiga orang kakek itu.

Pak-kek Sam-kui yang tadinya berlutut memberi hormat, lalu bangkit membung-kuk-bungkuk, menghampiri meja besar, memberi hormat lagi sebelum menerima cawan arak dan menghaturkan terima kasihnya.

Kemudian mereka dip^rsilakan duduk di bangku agak bawah.

Temu Cin adalah seorang raja muda berusia tiga puluh lima atau empat puluh tahun.

Tubuhnya tegap.

dengan dada bi-dang, mukanya berbentuk segi empat dengan daun telinga lebar panjang, alis-nya kecil cocok dengan matanya yang kecil siplt.

Kumisnya dipelihara pendek dan di bawah bibir bawah juga terdapat rambut pendek, akan tetapi jenggotnya di bawah dagu dibiarkan panjang.

Sinar matanya yang kelihatan ramah dan lem-but itu membayangkan kekerasan hati yang tiada bandingannya, hati membaja yang tak dapat dilipat.

Inilah Raja Muda Temu Cin calon raja besar di Mongol, pendiri bangsa Mongol yang kuat sekali.

Nama besarnya kelak sebagai Raja Jengis Khan akan terkenal di seluruh jagad!

Di dekat kaisar ini duduk dua orang laki-laki yang berpakaian sebagai panglima perang.

Yang sebelah kanan adalah seorang laki-laki tampan dan gagah se-kali, kulit dan bentuk mukanya jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang Han.

Inilah dia Thian-te Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji, kenalan lama dari para pembaca cerita "Pedang Penakluk Iblis".

Liok Kong Ji yang berjuluk Pendekar Besar Tiada Banriingan di Kolong Langit ini sekarang telah berhasil menduduki tempat terhormat di sebelah Raja Muda Temu Cin.

Bagi para pembaca yang tidak mendapat kesempatan membaca cerita Pedang Penakluk Iblis, baiklah kita terangkan secara singkat siapa adanya Liok Kong Ji ini.

Liok Kong Ji adalah seorang laki-laki yang sekarang berusia hampir empat puluh tahun.

Semenjak kecilnya, Liok Kong Ji memiliki kecerdikan yang ainat luar biasa.

Dia amat jahat dan berbahaya.

Kecerdikannya membuat ia lebih ber-bahaya lagi sampai-sampai ia berhasil menipu tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, di antaranya Hwa 1 Enghiong Go Ciang Le, See-thian Tok-ong, Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu dan yang lain-lain sehingga tokoh-tokoh besar ini telah tertipu oleh, Liok Kong J1 di waktu dia masih kecil dan menurunkan ilmu-ilmu mereka yang tinggi kepada bocah setan ini!

Dengan kecerdikannya yang luar biasa itu akhirnya Liok Kong Ji berhasil membuat dirinya pandai dan lihai sekali ilmu silatnya.

Bahkan dengan kepandaiannya dan kecerdikannya ia telah berhasil mencuri hati semua tokoh besar di selatan dan timur sehingga ia pernah diangkat oleh mereka ini sebagai Tung-nam-bengcu (Ketua Persilatan Daerah Selatan dan Timur).

Kejahatannya melebihi iblis.

Banyak orang menderita oleh kejahatannya, dan akhirnya karena tidak dapat menahan kejaran Wan Sin Hong yang ternyata lebih pandai daripadanya, Liok Kong Ji melarikan diri ke utara.

Sebelum melarikan diri, ia melakukan penipuan yang hebat pula dan yang hanya diketahui oJeh Wan Sin Hong seorang.

Hal ini terjadi ketika Nyonya Pangeran Wanyen Ci Lun, yaitu Gak Soan Li yang di waktu masffif gadis pernah menjadi korban kekejian Liok Kong Ji sehingga melahirkan anak di luar kehendaknya, berhasil membunuh Liok Kong Ji!

Bagi semua orang, terutama sekali Gak Soan Li sendiri, yang dibunuh itu tentu Liok Kong Ji si manusia jahanam.

Akan tetapi pada hakekatnya, dan ini hanya diketahui oleh Wan Sin Hong, Liok Kong Ji masih hidup dan yang terbunuh"

Itu hanya orang lain, yaitu orang yang dipergunakan oleh Liok Kong Ji untuk melindungi dirinya karena orang itu ke-betulan sekali memiliki bentuk muka dan tubuh yang serupa dengan dia.

Semua inl dapat anda baca dalam cerita Pedang Penakluk Iblis yang amat menarik.

Demikianlah perkenalan secara singkat dengan tokoh besar ini, yang sekarang memakai nama julukan Thian-te Bu-tek Taihiap.

Hanya kecerdikannya semata yang dapat membuat ia diterima dan.

diangkat sebagai komandan oleh Raja Temu Cin.

Raja orang-orang Mongol injl memang seorang pemimpin yang amat pandai.

Raja Temu Cih-maklum betul bahwa Liok Kong Ji bukan manusia baik, berhati palsu, berwatak keji dan dengki dan kalau menjadi musuh.

"merupakan lawan yang amat berbahaya. Akan tetapi Temu Cin tidak membutuhkan wataknya, tidak peduli apakah orang jahat atau baik, yang penting baginya adalah tenaga orang itu. Asalkan dapat membantu per-juangannya, memperkuat bala tentaranya, ia akan menutup mata terhadap kejahat-an orang itu dan akan mengangkatnya sebagai pembantu. Justeru orang semacam Liok Kong Ji ini amat dibutuhkan oleh Temu Cin. Ilmu silatnya tinggi, orangnya kejam, dan memiliki kecerdikan luar biasa dan tipu muslihat yang hebat-hebat! Oleh karena itu, ia menerima Liok Kong Ji dengan senang hati, memberi hadiah dan pangkat tinggi, dan menyenangkan hati orang she Liok ini. Raja orang Mongol ini maklum akan watak Kong Ji yang mata keran-jang, maka untuk menyenangkan hatinya, sengaja Temu Cin memberi hadiah puteri-puteri dan dara-dara cantik hasil rampasan dari berbagai suku bangsa yang ditalukkan. Makmur dan senanglah peng-hidupan Liok Kong Ji dengan belasan orang selirnya yang cantik-cantik! Namun kebahagiaan hidup seseorang tak mungkin dapat diukur dengan keada-an lahir saja, dan biasanya kebahagiaan hanyalah khayal pandangan orang-orang luar berdasarkan harta benda dan kedudukan. Akan tetapi, sesungguhnya bahagiakah hidup Liok Kong Ji? Tidak! la sudah terlalu biasa dengan kemewahan dan kecukupan sehingga pangkat tlnggi dan harta benda serta belasan orang selir itu tidak mendatangkan kebahagiaan, dan semua itu tidak terasa lagi kesenangan-nya. Sering kali ia duduk termenung me-mikirkan kekecewaarf hatinya yang kadang-kadang mengganjal isi dadanya. la sering kali murung kalau sedang demikian dan apabila selir-selirnya da-tang hendak menghlburnya, ia mengusir mereka pergi seperti orang mengusir ayam. Kadang-kadang ia memaki-maki belasan orang selirnya ini, dimakinya mereka itu bodoh, tidak sehat, tidak setia dan lain-lain makian kotor. Semua selirnya tahu belaka mengapa Liok Kong Ji bersikap seperti ini dan di belakang mereka mengomel dan berkata.

"Dia sendiri yang tidak becus, meng-apa marah-marah kepada orang lain? Kalau hanya seorang isteri saja yang tidak bisa punya anak, bolehlah dipersalahkan isteri itu, akan tetapi kalau lima belas orang selir tak seorang pun yang bisa punya anak, sudah jelas letak kesalahannya bukan pada seiir-selir itu melainkan kepada suaminya! Demikian mereka mengomel.

"Memang, ganjalan hati Liok Kong Ji yang sering membuat ia termenung dan marah-marah adalah karena ia tidak mempunyai keturunan. Inilah sebabnya mengapa ia sampai mempunyai demikian banyak selir, di samping lain sebab bahwa ia memang seorang mata keranjang. Makin tua ia merasa makin gelisah kalau mengingat bahwa ia tidak mempunyai keturunan seorang pun! Akhirnya atas nasihat Temu Cin, Liok Kong Ji me~ mungut dua orang anak, keduanya adalah anak-anak perempuan yang manis-manis berusia lima dan enam tahun. Mengapa ia memungut anak perempuan dan bukan laki-laki? Ini tentu ada sebabnya. Seperti telah diceritakan di bagian depan. Kong Ji adalah seorang yang me-miliki watak rendah dan jahat. Tak mungkin ia dapat sayang kepada orang, lain yang bukan anaknya sendiri, kalau orang itu laki-laki. Kalau perempuan lain lagi karena ia mengandung harapan bah-wa kalau kelak anak-anak itu menyenangkan hatinya, ia bisa mengambilnya se-bagai..... bukan sebagai anak, melainkan sebagai selir muda! Memang dalam batin bejat seperti ini selalu terkandung mak-sud-maksud yang kotor dan tidak suci. Karena maksud hati kotor ini"maka pengangkatan dua orang anak itu tidak memuaskan hatinya dan sering kali kalau sedang termenung seorang diri, ia ter-ingat kepada Gak Soan Li. Sama sekali bukan teringat karena ia amat mencinca wanita ini, bukan. Orang macam Kong Ji ini mana mempunyai perasaan cinta kasih yang suci? la bersifat mata keranjang dan suka akan waflita hanya berdasarkan nafsu-nafsu kotor semata. la sering kali termenung kepada Soan Lii oleh karena hanya wanita inilah yangj telah melahirkan seorang anak keturunan-i nya! Ingin sekali la tahu di mana adanyai anaknya itu, laki-laki atau perempuan? Lima belas orang selirnya selaini muda-muda dan cantik-cantik, juga kelihatan amat sayang dan cinta kepadanya. Hal ini tidak aneh oleh karena Kongl Ji pernah membunuh seorang selir yangi berani memperlihatkan sikap membenci kepadanya. la mencekik selir itu begitu saja sampai mati di depan semua selirnya sehingga mereka menjadi takut se-kali kalau-kalau mengalami nasib me-ngerikan seperti itu. Oleh karena ini i maka mereka berlumba mengambil hati Kong Ji. Hanya seorang saja di antara lima belas orang selir itu yang bersikap sewajarnya dan tidak mengambil-ambil hati. Namun Kong Ji pun tidak meng-ganggunya, oleh karena selir ini memang paling cantik dan paling disayangi, se-lain itu Kong Ji pun tidak berani menyiksanya apalagi membunuhnya. Selir ini adalah bekas isteri seorang ipanglima besar Mongol yang masih muda. melihat kecantikan isteri panglima muda itu, Kong Ji tak dapat menahan nafsunya tdan dengan kepandaiannya yang tinggi ia mendatangi kamar panglima itu untuk "mengganggu isterinya. Panglima itu melihatnya dan terjadi pertempuran, akan tetapi dia bukan lawan Kong Ji. Dalam ;belasan jurus saja panglima itu tewas idan Kong Ji menculik isteri panglima tu ke rurinahnya. Temu Cin mendengar tentang hal ini. Akan tetapi dia tidak menghukum Kong Ji, bahkan dengan sah memberikan wanita itu kepada Kong Ji sebagai selirnya dengan pesan supaya Kong Ji memperlakukan janda muda itu baik-baik, kemudian menyuruh orang mengubur jena-zah panglima mudanya. Habis perkara! Temu Cin bukan seorang hakim, melainkan seorang raja yang sedang membangun kerajaannya. Oleh karena itu segala keputusannya bukan berdasarkan keadilan melainkan berdasarkan rugi untung bagi kemajuan kerajaannya. Kong Ji adalah orang panglima yang boleh diandalkan, apakah artinya seorang panglima. Muda seperti yang telah terbunuh itu? Dan lagi, soalnya adalah perebutan perempuan. Perkara yang tidak ada artmya bagi Temu Cin. Cukuplah kiranya tentang Liok Kong Ji panglima besar yang usianya hampir empat puluh tahun, berwajah tampan, bersikap halus terpelajar, dan berkepandaian tinggi serta memilikl kecerdikan luar biasa ini. Kita kembali ke ruangan sidang di mana Raja Temu Cin sedang menyambut kedatangan Pak-kek Sam-kui. Di sebelah kiri TemuCin duduk seorang berpakaian panglima pula. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa. Mukanya penuh brewok dan hampir menutupi hidung dan mulutnya. Hanya matanya saia yang kelihatan nyata, sepasang matanya setengah keluar, menakutkan Inilah panglima besar yang usianya sudah Lima puluh tahun, bernama Bouw Gun dengan julukan Bu-tek Sin-ciang (TanganSakti Tiada Bandingan). Oleh karena julukan inilah kiranya maka Liok Kong Ji mengambil julukan yang lebih unggul, yaitu Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tanpa Bandingan di Kolong Langit). Dan ia memang berhak memakai julukan yang lebih hebat dan tinggi daripada Bouw Gun karena dalam sebuah pertandingan ketika hendak diterima oleh Temu Cin, ia telah mengalahkan Bouw Gun ini. Dua orang ini, Liok Kong Ji dan Bouw Gun, pada waktu itu merupakan pembantu-pembantu lihai. .Setelah Pak-kek Sam-kui minum arak yang disuguhkan oleh Temu Cin sendin, mereka lalu membuat laporan tentang perjalanan mereka melakukan tugas. Me-reka melaporkan bahwa Wan Sin Hong menolak undangan Temu Cin dan men-ceritakan pula tentang peristiwa yang mereka alami di puncak Luliang-san, di mana Sin-saikong Ang Louw telah men-coba kepandaian Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.

"Sayang,"

Kata Liok Kong Ji.

"Kepandaian Wan Sin Hong benar-benar ting-gi dan kalau kita berhasil menariknya, tentu ia akan dapat menghadapi orang-orang seperti Ang-jiu Mo-li."

Kemudian Pak-kek Sam-kui melanjut-kan pelaporan mereka.

Dengan menarik hati mereka menceritakan bahwa mereka telah berhasil merebut simpati dari para tokoh kang-ouw di daerah selatan.

Temu Cin girang sekali mendengar ini, sambil tertawa bergelak ia kembali menuang-kan arak ke dalam tiga cawan dan mem-persilakan Pak-kek Sam-kui minum.

Inilah penghormatan besar sekali bagi tiga orang utusan ini!

"Bagus-bagus!

Dan bagaimana penye-lidikan kalian tentang sikap suku bangsa Shia-shia yang berkepala batu itu?"

Tanya Temu Cin kepada Pak-kek Sam-kui.

"Mereka masih tetap hendak berdiri sendiri, merdeka dan terlepas dari kita maupun dari kerajaan-kerajaan di sela-tan. Bangsa Shia-shia itu biarpun hanya sekelompok saja namun merupakan rin-tangan yang besar dalam cita-cita kita menyerbu ke selatan. Akan tetapi, hamba bertiga berani memastikan bahwa mereka pun takkan sudi bersekutu dengan Kerajaan Cin,"

Kata Giam-lo-ong Ci Kui.

"Biarlah, jumlah mereka besar. Kelak dalam pergerakan kita, kalau mereka suka membantu sukur, kalau tidak kita harus mempergunakan kekerasan."

Kemudian Giam-lo-ong Ci Kui men-ceritakan pengalamannya di Go-bi-san, ketika ia dan dua orang sutenya menft-bawa pasukan menyerbu Hui-eng-pai.

"Karena hamba mendengar bahwa Hui-eng-pai di bawah pimpinan Hui-eng Niocu merupakan perkumpulan wanita yang kuat, maka hamba bermaksud me-naklukan mereka dan menarik mereka membantu kita."

"Bagus sekali! Selain tenaga mereka kita butuhkan, juga mereka terdiri dari banyak wanita-wanita cantik yang dapat menggembirakan hati anak buah kita!"

Kata Liok Kong Ji gembira mendengar penuturan Ci Kui.

"Liok-taihiap tak pernah ketinggalan kalau mendengar wanita-wanita cantik,"

Kata Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun sambil tersenyum. Juga Temu Cin tertawa lebar.

"Tentu saja, kalau kita dapat meng-gembirakan hati para pemimpm pasukan bukankah mereka akan makin bersemangat?"

Jawab Kong Ji.

"Tentu saja diberikan kepada mereka setelah dipilih dan diambil yang paling baik untuk pengisi taman bungamu ser^ diri. Bukankah begitu, Saudara Liok? kata Temu Cin menggoda. Liok Kong Ji tersenyum dan meng-angguk.

"Dengan seijin Paduka tentu saja akan terjadi demikian, karena bukankah panglima mendapat hak lebih dulu dari anak buahnya, bukan?"

Temu Crn tidak menjawab hanya tertawa bergelak lalu menyuruh Giam-lo-ong Ci Kui me-lanjutkan penuturannya.

"Sayangnya hamba tidak berhasil ka-rena di Tuar dugaan hamba bertiga di sana sudah muncul Wan Sin Hong! Temu Cin dan Liok Kong Ji tertank sekali dan mendesak supaya Ci Kui segera melan)utkan laporannya.

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Hamba sudah mengerahkan kawan-kawan dan bertempur mati-matian, akan tetapi Wan Sin Hong benar-benar lihai sekali. Akhirnya karena anak; buah hamba semuanya binasa terpaksa hamba melari-kan diri."

Terdengar Temu Cin menggebrak meja. Raja ini marah sekali. mendengar sepasukan orang-orangnya telah binasa oleh Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa. Juga Liok Kong Ji menjadi kecewa se-kali.

"Bawa pasukan yang lebih besar dan tangkap anjing Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa itu!"

Seru Kong Ji lupa diri saking marahnya.

la benci sekali kepada Sin Hong dan ini sudah sewajarnya karena ia sampai lari dari pedalaman dan tinggal di Mongol hanya karena takut menghadapi kejaran Sin Hong.

Akan tetapi Temu Cin mengangkat tangan dan memandang kepadanya dengan mata tajam.

"Saudara Liok, tenanglah. Seorang yang dapat melawan Pak-kek Sam-kui dan tidak saja mengalahkan mereka bahkan membinasakan sepasukan tentara pilihan, tidak seharusnya dibunuh. Pak-kek Sam-kui, sekarang kalian kuberi tu-gas, usahakan sedapat mungkin agar supaya Wan Sin Hong bisa menghadap ke sini dan membantu aku. Persidangan selesai!"

Dengan hati masih panas Liok Kong Ji terpaksa menjura dengan hormat bersama yang lain-lain, lalu mengundurkan diri keluar dari ruangan itu.

Sesampainya di luar, Kong Ji minta kepada Pak-kek Sain-kui supaya menceritakan lagi sejelas-jelasnya tentang pertempuran di Go-bi-san itu.

Ci Kui menuturkan dengan jelas, bahkan menceritakan pula betapa nama Liok Kong Ji masih dihormati dl selatan.

Hal ini menggirangkan hciti Kong Ji dan diam-diam la merasa rindu untuk pulang ke pedalaman hanya ia masih gentar menghadapi Wan Sin Hong.

Ketika mereka tiba di tempat peristirahatan dan melihat seorang bocah dikerumuni para perwira, Kong Ji laki bertanya.

"Siapakah bocah ini?"

Ia merasa heran melihat seorang bocah bangsa Han berada di tempat itu.

"Taihiap, dia ini murid Pak-kek. Sam-kui, apa kau belum tahu?"

Kong Ji menatap wajah bocah itu, wajah yang buruk dan tidak menyenangkan hatinya, kemudian ia berpaling kepada Ci Kui.

"Apakah kau mendapatkan murid ini di selatan?"

Ci Kui tertawa.

"Bocah ini bukan sembarangan bocah, karena dia sudah diperebutkan antara Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa!"

Kemudian ia menuturkan tentang keadaan Hui-eng-pai ketika Tiang Bu diperebutkan oleh Sin Hong dan Siok Li Hwa.

Kong Ji merasa heran sekali mendengar ini.

Kalau sampai Sin Hong dan Li Hwa memperebutkan bocah ini, tentu ada hal yang luar biasa pada anak ini.

la menjadi tertarik dan memanggil bocah itu mendekat.

Melihat seorang panglima gagah memanggilnya dengan suara dan bahasa Han, Tiang Bu segera maju menghadap dan berdiri di depan Liok Kong Ji.

Setelah dekat, Kong Ji melihat bahwa di balik kulit muka yang kotor dan pakai-an yang compang-camping itu ia me-lihat sinar mata yang tajam sekali, wa-jah yang tidak tampan namun memba-yangkan ketabahan luar biasa dan gerak-an bocah itu ketika berjalan membayang-kan bakat ilmu silat yang besar.

"Siapa namamu?"

Tanyanya.

"Nama saya Tiang Bu,"

Jawab anak itu tegas, dan sedikit pun tidak kikuk atau takut-takut.

"Siapa ayah bundamu?"

Tanya pula Kong Ji yang tertarik hatinya bukan karena bocah ini sendiri, melainkan oleh kehyataan bahwa bocah itu diperebutkan oleh Sin Hong dan Li Hwa.

"Saya tidak punya ayah bunda, entah siapa mereka saya tidak tahu."

"Kau yatim piatu dan sebatangkara?"

"Tiang Bu mengangguk dan membalas tatapan sinar mata Kong Ji tanpa takut.

"Mengapa kau diperebutkan oleh Wan Sin Hong dan Slok Li Hwa?"

"Hui-eng Niocu ingin mengambil murid padaku, lalu datang laki-laki itu yang hendak merampasku. Entah apa sebabnya saya sendiri pun tidak tahu."

Jawaban-jawaban ini tidak menarik hati Kong Ji dan ia beranggapan bahwa tentu dua orang itu melihat bakat baik dalam diri anak ini dan berebutan hendak menjadi gurunya.

Tidak aneh dan tidak menarik.

la menoleh kepada Ci Kui.

Giam-lo-ong Ci Kui tersenyum.

"Tadinya kami merampasnya hanya untuk membalas dendam kepada Wan Sin Hong dan Hui-eng Niocu. Kemudian kami tertarik melihat bakat pada bocah ins dan melihat ketabahannya. Oleh karena itu-lah"

Maka kami lalu mengambil keputusan untuk mengambilnya sebagai murid."

Kong Ji tidak berkata apa-apa lagi dan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke gedungnya sendiri.

Mendengar penirturan Pak-kek Sam-kui tentang pedalaman Tiongkok, ia menjadi rindu sekali akan tanah airnya.

Ini bukan ber-arti bahwa dalam dada Liok Kong Jt ada sedikit semangat patriotik, melainkan ia ingin menikmati segala kesenangan yang bisa didapatkan di selatan dan yang sukar dicari di daerah utara yang dingin itu.

Adapun Pak-kek Sam-kui lalu mengiajak Tiang Bu ke sebuah dusun tak jauh dari benteng itu di mana memang biasanya Pak-kek Sam-kui tinggal kalau mereka tak sedang menjalankan tugas.

Dusun ini merupakan dusun istimewa yang boleh dibilang paling baik keadaannya di antara semua dusun di sekitar pegunungan itu, di sinilah sebagian besar perwira| tinggal bersama anak isteri mereka.

Juga didusun ini berdiri gedung tempat tinggal Liok Kong Ji bersama lima belas orang selir, dua orang anak angkat dan sejumlah besar pelayan, Di gedung yang terbuat dari kayu ini Liok Kong Ji tinggal seperti seorang raja muda.

Pak-kek Sam-kui tinggal di sebuah rumah besar dan mereka mempunyai banyak pelayan laki-laki dan wa-Kita.

Tiang Bu mendapat sebuah kamar sendiri dan bocah ini merasa lega dan senang karena.

ternyata tiga orang suhunya tidak tinggal bersama banyak orang yang dijumpainya tadi.

Dengan amat tekun Tiang Bu berlatih ilmu silat di bawah pimpinan Pak-kek Sam-kui.

Biarpun bocah ini tidak suka dengan ilmu-ilmu silat mereka yang dianggapnya kasar dan penuh gerakan-gerakan curang, namun harus ia akui bahwa ilmu silat mereka itu hebat sekali, lagi sukar dipelajari.

Dengan sabar dan rajin ia berlatih terus, dan kini ia mendapat kesempatan untuk mulai melatih diri dengan gerakan-gerakan Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang sudah dihafal teorinya.

Baca Juga: Raja Pedang 1

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger