Eps 3 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.
Dan selain menjadi kekasihnya, juga thaikam yang buruk rupa namun memiliki kedua tangan yang amat pandai dan lidah yang pandai pula merayu menjilat, menjadi orang yang paling dipercaya oleh Yehonala, menjadi tangan kanannya!
Demikianlah, keadaan pemerintah Kerajaan Ceng mengalami kerusakan luar dalam!
Perkembangan kekuasaan Tai Peng di selatan seolah-olah tidak diperdulikan oleh Kaisar yang lebih mementingkan kesenangan pribadi.
Para pendatang kulit putih merasa gembira sekali melihat perkembangan pasukan Tai Peng yang menduduki wilayah selatan itu.
Inilah keadaan yang paling menguntungkan bagi mereka.
Biarkan orang-orang pribumi itu saling hantam, itulah pendirian mereka.
Dengan saling hantam, maka mereka akan menjadi lemah dan kalau mereka lemah, maka orang kulit putih yang dapat menarik keuntungan sebesarnya.
Bermunculanlah di antara orang-orang kulit putih itu petualang-petualang yang memancing di air keruh, mempergunakan kesempatan dalam kesempitan.
Mereka kini tidak hanya menyelundupkan candu, melainan juga menyelundupkan senjata!
Senjata api yang amat dibutuhkan kedua belah pihak, baik pemerintah Mancu untuk membasmi pemberontak maupun pihak pemberontak itu sendiri.
Dan tentu saja senjata-senjata itu dijual dengan mahal sekali, beberapa kali lipat harga belinya dari pabrik senjata di barat!
Orang-orang kulit putih menyebar mata-mata yang pandai, yang tugasnya untuk mengobarkan perang saudara, untuk memperbesar pertentangan di samping meneliti keadaan.
Maka terjadilah perang sembunyi antara mata-mata ketiga pihak, yaitu para mata-mata orang kulit putih yang tidak selalu terdiri dari orang kulit putih, melainkan bayak pula mata-mata bangsa pribumi yang telah dapat dibeli oleh orang kulit putih, kemudian mata-mata pemberontak Tai Peng dan mata-mata pemerintah Mancu sendiri.
Biarpun kini pasukan Tai Peng tetap bertahan di Nan-king dan daerahnya di selatan dan tidak pernah dapat menyerbu sampai lewat tapal batas, namun pertempuran masih terus menerus terjadi antara pasukan pemeritah maupun pasukan pemberontak.
Yang celaka adalah dusun-dusun yang dilanda perang.
Setiap dusun yang dimasuki pasukan, baik pasukan pemerintah maupun pasukan pemberontak, Tentu terjadi korban perampokan, pembakaran, pembunuhan dan perkosaan.
Pasukan pemerintah mengamuk di dusun-dusun dengan dalih melakukan pembersihan dan menuduh penghuni dusun sebagai anggauta pemberontak.
Adapun pasukan pemberontak mengacau dusun-dusun itu karena memang hendak melampiaskan kebuasan mereka.
Pada suatu senja, sekelompok pengungsi lari meninggalkan perkampungan mereka karena tempat itu dilanda perang antara sekelompok pasukan pemberontak Tai Peng melawan pasukan pemerintah yang meronda.
Para penghuni dusun itu menjadi panik dan merekapun berhamburan melarikan diri megungsi, tidak sempat lagi membawa barang-barang berharga karena kalau keadaan sudah seperti itu, yang teringat hanyalah menyelamatkan nyawa.
Di antara kurang lebih tiga puluh orang itu terdapat seorang wanita yang amat menarik perhatan.
Pakaiannya biasa seperti pakaian para wanita petani lainnya, sederhana sekali.
Akan tetapi yang membuat ia nampak aneh dan menonjol adalah warna rambut dan matanya.
Rambutnya kuning keemasan dan matanya berwarna biru!
Kulit tubuhnya, walaupun banyak terbakar sinar matahari seperti wanita petani lainnya yang berada dalam rombongan pengungsi itu masih nampak putih sekali.
Jelaslah bahwa ia seorang wanita kulit putih yang tentu saja amat berbeda dari para wanita petani dalam kelompok itu.
Wanita itu, yang usianya tiga puluh tahun lebih, nampak menggandeng seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun.
Anak laki-laki yang rambutnya hitam kulitnya kekuningan seperti anak-anak biasa, akan tetapi sepasang mata anak inipun biru, dan bentuk wajahnya tampan sekali.
Siapakah wanita kulit putih ini?
Ataukah ia seorang bule?
Bukan, ia bukan bule, melainkan seorang kulit putih aseli.
Namanya adalah Sheila.
Belasan tahun yang lalu, sebelum Perang Madat terjadi, Sheila adalah puteri tunggal dari opsir Hellway, seorang opsir pembantu Kapten Elliot yang tinggal di Kanton.
Ketika terjadi pemberontakan Perang Madat, dalam usahanya untuk melarikan diri bersama keluarganya, opsir Hellway dan keluarganya tewas, kecuali Sheila.
Sheila dilarikan pemberontak dan nyaris diperkosa, ketika muncul seorang pendekar bernama Gan Seng Bu, Sute dari Ong Siu Coan yang kini menjadi raja kaum Tai Peng, dan pendekar ini menolongnya.
Akhirnya, terjadilah jalinan cinta kasih antara Sheila dan pendekar Gan Seng Bu ini.
Mereka lalu menikah dan hidup di antara para pendekar yang memberontak terhadap kerajaan Mancu, hidup sderhana di antara penduduk dusun yang menjadi petani.
Karena amat mencinta suaminya, Sheila rela merobah hidupnya, dari puteri opsir yang biasanya hidup mewah, dihormati dan dimanja, kini hidup sederhana.
Setelah kandungannya terlahir, ia memberi nama Gan Han Le atau panggilannya sehari-hari menurut lidah Inggrisnya, Henry.
Dengan penuh cinta kasih, Sheila merawat dan mendidik puteranya seorang diri saja.
Sudah kerap kali datang lamaran dari bermacam pria, ada penduduk dusun, ada pula teman seperjuangan suaminya, pendekar-pendekar perkasa.
Namun semua pinangan ditolak dengan lembut oleh Sheila.
Karena Gan Han Le atau Henry merupakan seorang anak laki-laki yang manis, banyak orang menyukainya, bahkan teman-teman seperjuangan mendiang Gan Seng Bu ada yang mengajarnya dengan ilmu silat.
Kemudian, ketika Han Le berusia tiga belas tahun, dusun itupun dilanda pertempuran dan terpaksa Sheila mengajak puteranya untuk lari mengungsi bersama para penghuni lain.
Kelompok mereka sejumlah tiga puluhan orang masuk keluar hutan dan naik turun gunung, dan pada senja hari itu, kelompok mereka yang kelelahan tiba di tepi sebuah hutan.
Mereka bersepakat untuk memasuki hutan itu dan bersembunyi di situ sambil melewatkan malam melepaskan lelah untuk melanjutkan pelarian mereka besok pagi.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka ketika tiba-tiba terdengar sorak sorai dan dari dalam hutan itu bermunculan belasan orang laki-laki yang nampak buas-buas.
Mereka mengenakan pakaian seragam dan memegang golok di tangan, dan melihat pakaian mereka, para pengungsi itu menggigil ketakutan karena tahu bahwa mereka adalah sekelompok pasukan pemberontak Tai Peng.!
Mereka sudah sering mendengar akan kekejaman pasukan ini, maka tentu saja para pengungsi itu ketakutan dan mereka berserabutan melarikan diri.
Akan tetapi, gerombolan pasukan itu tertawa dan berteriak-teriak, dan dengan gerakan cepat mereka lari mengepung sehingga kelompok pengungsi itu terkepung dan tidak dapat melarikan diri lagi, kecuali bergerombol dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
Sambil berteriak-teriak bagaikan segerombolan iblis atau binatang buas, belasan orang pasukan Tai Peng lalu menyerbu.
Golok mereka berkelebatan dibarengi suara teriakan dan ketawa mereka dan berjatuhanlah beberapa orang laki-laki, wanita tua dan kanak-kanak di antara para pengungsi.
Tentu saja keadaan menjadi geger, para pengungsi menjerit-jerit dibarengi suara ketawa orang-orang kejam itu.
Tentu saja mereka hendak melakukan pesta pora seperti biasa, merampok barang bawaan para pengungsi, membunuhi pengungsi laki-laki, wanita tua dan kanak-kanak, menawan dan memperkosa wanita-wanita mudanya.
Segera Sheila menjadi pusat perhatian dan perebutan mereka.
melihat seorang wanita berambut pirang bermata biru yang demikian cantiknya, bagaikan segerombolan harimau melihat sekor domba muda, mereka itu menyerang dan ingin menubruk.
Akan tetapi terdengar bentakan nyaring.
"Mundur semua! Yang ini untukku seorang, ha-ha-ha!"
Dan pemimpin gerombolan itu seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang bermuka hitam penuh brewok, meloncat maju.
Anak buahnya tidak berani membantah dan mereka melanjutkan pembantaian mereka sambil bersorak-sorak.
Sementara itu si brewok yang kagum melihat kecantikan Sheila, sudah menghampiri dengan muka menyeringai dan tiba-tiba saja dia menubruk wanita itu dengan kedua lengan dikembangkan seperti seekor biruang yang menyerang.
Sheila merasa ngeri sekali dan berusaha mengelak dengan loncatan kesamping, namun tangan kanan orang itu masih berhasil menangkap tepi bajunya.
"Breetttt...!"
Baju itupun robek dan terbukalah bagian dadanya. Melihat bukit dada yang membusung itu, si komandan pasukan Tai Peng terbelalak kagum dan dia menelan ludah yang masih segar.
"Ha-ha-ha-ha, cantik... cantik...!"
Kata si brewok itu yang melangkah maju menghampiri. Sheila mundur-mundur dengan muka pucat.
"Jangan ganggu Ibuku!"
Tiba-tiba Han Le yang masih kecil, baru berusia tiga belas tahun itu, meloncat ke depan dan menggunakan kedua tangannya untuk mendorong perut si brewok, menghalanginya mendekati Ibunya.
"Minggir kau, setan cilik!"
Si brewok membentak dan sekali dia menampar, pundak anak itu terpukul membuat dia terpelanting jatuh.
"Henry...!"
Sheila menjerit.
Akan tetapi Han Le bangkit lagi dan menyerang si brewok dengan marah.
biarpun masih kecil, dia pernah belajar silat dan tubuhnya kuat, semangatnya juga besar apalagi melihat Ibunya teranvam.
Namun, seorang anak berusia tiga bels tahun, mana mungkin dapat melawan komandan pasukan itu yang kuat dan pandai ilmu silat?
Si Brewok yang marah itu mengelebatkan goloknya.
Si kecil Han Le berusaha mengelak, namun kalah cepat dan robohlah dia dengan berlumuran darah karena pahanya kesabet golok sehingga celana, kulit dan dagingnya robek.
"Henry...!"
Sheila menjerit dan menubruk puteranya.
Akan tetapi tiba-tiba lengannya ditangkap orang dan tubuhnya sudah dipeluk ketat oleh si brewok yang tertawa bergelak.
Sheila meronta ketika komandan itu hendak memaksanya menerima ciuman mulut yang lebar dan basah.
"Manusia jahat!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dan tiba-tiba si brewok merasa betapa kedua lengannya yang memeluk tubuh hangat wanita kulit putih itu menjadi lemas, kemudian diapun terbanting roboh oleh sebuah tendangan.
Komandan brewok terkejut dan marah bukan main melihat ada orang berani menyerangnya dan melepaskan wanita itu.
Dia cepat bergulingan lalu memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa penyerangnya tadi adalah seorang laki-laki bertubuh jangkung yang mukanya seperti setan yang amat mengerikan!
Muka itu buruk sekali!
Kulit muka itu pletat-pletot tidak karuan lagi bentuknya, Hidungnya menyerong ke samping, mulutnya juga perot, matanya besar sebelah karena yang sebuah seperti pernah terobek, kedua telinganyapun mengeriput kecil.
Pendeknya, muka itu menyeramkan sekali, muka yang biasa digambarkan sebagai setan dan iblis dalam dongeng kanak-kanak!
Bukan hanya mukanya yang buruk, juga bentuk tubuhnya agak bongkok, jalannya pincang dan lengan kirinya bengkok.
Kini laki-laki itu menghampiri komandan brewok.
"Manusia jahat!"
Kembali terdengar suaranya.
Komandan brewok itu cepat meloncat berdiri dan goloknya dibacokkan ke arah kepala orang itu.
Si muka buruk itu tidak mengelak jauh, hanya miringkan kepala dan golok dengan kekuatan penuh menyambar ke arah lehernya!
Si brewok menyeringai girang karena goloknya tentu akan memenggal leher si muka buruk itu.
"Takkk!"
Golok itu tepat mengenai leher, akan tetapi mental kembali dan pada saat si brewok terbelalak kaget, tiba-tiba si muka buruk menggerakkan tangan kiri tangan terbuka, menyambar ke arah dada lawan.
"Trrrakkkk...!"
Tubuh si brewok terpelanting keras, dan dia roboh tak mampu bangkit kembali karena nyawanya sudah melayang ketika jari-jari tangan yang amat kuat itu membuat semua tulang iganya patah-patah dan jantungnya rontok!
Kini si muka buruk itu begerak ke sana-sini, mencegah gerombolan orang Tai Peng yang melakukan pembunuhan lebih lanjut dan ke manapun juga tubuhnya bergerak dan tangannya menyambar, tentu ada anggauta pasukan yang roboh.
Demikian cepatnya dia bergerak, tidak perduli akan serangan golok para perajurit.
Satu demi satu mereka roboh dan akhirnya belasan orang itu tewas semua terkena tamparan tangan si muka buruk yag luar biasa lihainya.
Para pengungsi memandang dengan mata terbelalak, ada pula yang menangisi suami atau anak yang telah tewas dibacok pasukan Tai Peng tadi.
Setelah semua lawan roboh dan tewas, si muka buruk lalu membalikkan tubuhnya hedak pergi meninggalkan tempat itu tanpa bicara apapun.
Akan tetapi tiba-tiba Sheila berlari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depannya.
"Taihiap, kasikanilah kami... tolonglah anakku yang terluka parah ini..."
Di antara keremangan cuaca senja, si muka buruk memandang wajah Sheila dan dia nampak terkejut sekali, sampai melangkah mundur dua kali.
Kemudian dia menghampiri Han Le yang roboh pingsan.
Melihat luka dipaha anak itu, dia cepat menekan jalan darah untuk menghentikan darah yang mengucur keluar, kemudian tanpa banyak cakap dia memanggul tubuh Han Le ke atas pundaknya, lalu melangkah pergi.
Sheila bergegas mengikutinya.
Para pengungsi lain lalu mengangkut mereka yang tewas dan terluka, lalu pergi memasuki hutan yang mulai gelap.
Dua orang itu berkelebat bagaikan setan saja cepatnya, tahu-tahu mereka telah berada di tepi hutan di mana nampak belasan orang anggauta pasukan Tai Peng berserakan.
Dua orang itu berdiri saling pandang dan nampaknya terkejut, apalagi melihat bahwa semua orang itu tewas tanpa ada tanda luka senjata tajam.
Mereka lalu cepat menghampiri dan memeriksa mayat-mayat itu.
"Hemm, bekas tangan seorang yanglihai, Sute,"
Kata orang yang mukanya merah dan bertubuh pendek besar, berusia kurang lebih empat puluh tahun dan mengenakan pakaian seorang ahli silat.
"Benar, Suheng. Akan tetapi lihat, dia itu agaknya belum tewas,"
Kata orang kedua yang sebaya, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat.
keduanya cepat mengampiri perajurit Tai Peng yang nampaknya belum tewas seperti yang lain, masih menggerak-gerakkan kaki tangannya.
Keduanya berlutut dan si muka merah lalu menotok beberapa jalan darah.
"Katakan, siapa yang melakukan pembunuhan ini?"
Tanya si muka pucat. Karena totokan itu agaknya perajurit yang sudah sekarat tadi mampu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan beberapa potong kata yang terputus-putus.
"Muka... setan... pengungsi..."
Dia menuding ke arah hutan dan terkulai, tewas.
Bagaikan kilat menyambar, kedua orang itu lalu berlompatan memasuki hutan yang sudah mulai gelap.
Dua orang ini bukan orang sembarangan, menjadi pembantu-pembantu Ong Siu Coan dan merupakan tokoh-tokoh di antara para perwira pasukan Tai Peng.
Mereka adalah kakak beradik seperguruan yang dikenal dengan julukan Tung-hai Siang-liong (sepasang Naga Lautan Timur).
Berbeda dengan para pendekar seperti Tan Ci Kong dan yang lain-lain, biarpun tadinya membantu gerakan Tai Peng menyerbu dan bahkan menjatuhkan banyak kota, akan tetapi kemudian para pendekar itu mengundurkan diri dan meninggalkan Tai Peng melihat sepak terjang Ong Siu Coan dan pasukannya yang menyeleweng ke jalan sesat, Masih banyak pedekar dan orang pandai yang tetap menjadi pembantu-pembantu setia dari Ong Siu Coan.
Mereka adalah orang-orang yang berambisi memperoleh kedudukan tinggi, dan di antara mereka, termasuk Tung-hai Siang-liong.
Mereka adalah dua orang yang memiliki ilmu silat campuran antara aliran Siauw-Lim-Pai dan Kong-thong-pai.
Keduanya terkenal dengan Ilmu Pedang Khong-thong Kiam-sut yang cepat, dan memiliki dasar tenaga sinkang aliran Siauw-Lim-Pai.
Karena kepandaian mereka yang tinggi, maka Ong Siu Coan mengangkat mereka menjadi pemimpin mata-mata yang bergerak di daerah perbatasan dan jasa mereka sudah banyak.
Tidak mengherankan kalau kini mereka cepat dapat mengetahui hancur dan tewasnya pasukan kecil Tai Peng yang berjumlah empat belas orang itu.
Mudah bagi mereka menemukan sekelompok pengungsi yang berada di tengah hutan.
Para pengungsi malam-malam itu mengubur jenazah-jenazah dan suasana di sekitar api unggun itu muram dan menyedihkan karena mereka berkabung.
Banyak wanita yang menangis.
Akan tetapi Tung-hai Siang-liong tidak perduli.
Mereka muncul di dekat api unggun seperti setan dan si muka merah telah menyambar tengkuk seorang pengungsi pria, mengangkatnya tinggi-tinggi.
Semua orang menjadi panik, terdengar jerit anak-anak dan para wanita yang masih belum kehilangan rasa takut dan ketegangan hati mereka sore tadi.
"Hayo katakan, siapa yang telah membunuh para perajurit itu? Di mana adanya si muka buruk?"
Bentak si muka merah. Pengungsi yang dicengkeram leher bajunya dan diangkat tinggi-tinggi itu menggigil ketakutan.
"Am... ampun... saya... saya tidak mengenalnya. Dia muncul... dan dia membunuhi para perajurit... kemudian bersama wanita kulit putih dan anaknya pergi ke barat sana..."
"Brukkk!"
Si muka merah membanting tubuh pengungsi itu.
Tubuh itu terbanting dan terguling ke dalam api unggun.
Tentu saja dia berteriak-teriak kesakitan dan kepanasan.
Dua orang itu sudah berkelebat lenyap dan kini para pengungsi baru berani menolong pengungsi yang kebakar pakaiannya itu sehingga dia dapat diselamatkan dari mati terbakar.
Sementara itu, si muka buruk yang bertubuh jangkung itu memanggul tubuh Han Le yang masih pingsan, melangkah menuju ke arah barat.
Sheila mengikutinya dengan wajah tegang dan gelisah melihat betapa orang aneh yang berilmu tinggi itu tidak berkata apa-apa atau berbuat apa-apa terhadap puteranya yang masih terkulai di atas pundak orang itu.
Sheila adalah seorang wanita kulit putih yang berhati tabah sekali.
Sejak gadis, ia telah mengalami banyak hal yang hebat, menghadapi ancaman-ancaman bahaya dan hidup di samping suaminya yang menjadi pejuang.
Akan tetapi, melihat puteranya dalam bahaya, ia merasa takut bukan main dan seluruh tubuhnya terasa lemas, kedua kakinya hampir tak dapat dipakai berjalan karena ia membayangkan bagaimana kalau sampai puteranya itu, satu-satunya orang yang kini dimilikinya di dunia ini, tewas!
"Taihiap...
Taihiap tunggulah dulu..."
Akhirnya, tidak tahan melihat orang aneh itu diam saja, Sheila berkata dengan suara memohon.
Laki-laki jangkung itu menghentikan langkahnya yang terpincang-pincang.
Agaknya baru sekarang dia tahu atau ingat bahwa Ibu anak yang dipanggulnya itu sejak tadi mengikutinya.
Bulan sudah mencul dan sinar bulan menimpa muka yang buruk itu.
Sepasang mata yang besar sebelah itu mencorong.
Sheila menahan rasa seramnya melihat wajah itu dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang yang mukanya seperti setan itu.
"Taihiap... tolonglah anakku... sembuhkanlah dia, aku khawatir sekali... sejak tadi dia diam saja..."
Sheila menahan isaknya. Ingin ia menjerit menangis saking gelisah hatinya melihat puteranya.
"Hemmm..."
Laki-laki muka buruk itu kini duduk di atas batu dan menurunkan tubuh Han Le dari atas pundaknya, mulai memeriksa.
Tentu saja sejak tadi diapun tahu bahwa anak itu hanya pingsan dan tidak berbahaya keadaannya.
Akan tetapi kini dia merasa kasihan melihat Sheila dan diapun mulai mengurut beberapa jalan darah di tubuh anak itu.
Dan diapun terkejut dan girang karena begitu mengurut-urut, dia mendapat kenyataan bahwa anak ini memiliki tulang yang baik sekali, tubuhnya memenuhi syarat untuk menjadi seorang calon pendekar!
Dia memberi obat bubuk pada luka di paha itu, dan membalutnya dengan robekan kain putih yang bersih.
Setelah menotok beberapa jalan darah, Han Le mengeluh, membuka matanya.
"Ibuuu..."
Keluhnya.
"Henry, anakku... Sheila cepat menghampiri dengan girang bukan main. Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan ada angin pukulan menyambar ke arah mereka. Si muka buruk cepat mendorong tubuh Sheila dan Han Le yang sedang berangkulan itu sehingga Ibu dan anak itu terlempar dan terguling-guling, sedangkan si muka buruk sediri sudah meloncat ke samping.
"Darrr... Terdengar suara keras dan batu yang diduduki si muka buruk itupun pecah berantakan terkena hantaman tangan seorang laki-laki muka merah dan seorang laki-laki muka pucat. Dapat dibayangkan betapa lihainya dua orang mata-mata pembantu Ong Siu Coan ini yang sekali pukul dapat menghancurkan batu besar! Kalau pukulan mereka tadi mengenai tubuh, dapat dibayangkan betapa hebat akibatnya, mungkin kini tubuh si muka buruk, Sheila dan puteranya sudah hancur dan tewas! Kini si muka buruk sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, menghadapi dua orang itu. Setelah dia tidak melangkah dan tidak nampak pincangnya, dan cuaca yang remang-remang agak menyembunyikan keburukan wajahnya, si muka buruk nampak gagah perkasa ketika berdiri tegak dengan kaki terpentang menghadapi lawan itu. Mereka saling pandang, seperti ayam aduan tengah berlaga. Dua orang tokoh Tai Peng itu memandang penuh perhatian dan diam-diam mereka merasa heran sekali. Melihat betapa si muka buruk tadi mampu menghindar dari serangan mereka, jelaslah bahwa dia seorang yang berilmu. Akan tetapi mengapa mereka tidak mengenal orang ini? Mereka sudah biasa malang melintang di dunia persilatan, namun belum pernah mereka melihat, bahkan mendengar tentang tokoh yang wajahnya seperti setan ini.
"Engkaukah yang telah membunuh empat belas orang tentara Tai Peng di luar hutan itu?"
Si muka pucat bertaya, suaranya dingin dan pandang matanya penuh ancaman.
karena mukanya yang pucat dan putih, dia dijuluki Tung-hai Pek-liong (Naga Putih Laut Timur), sedangkan kawannya yang menjadi Suhengnya itu dijuluki Ang-liong (Naga Merah) karena mukanya yang kemerahan.
"Benar, akulah yang melakukannya. Kiranya Tung-hai Siang-liong sekarang juga menjadi anggauta perampok-perampok Tai-Peng!"
Jawab si muka buruk.
Dua orang itu terkejut dan si muka merah melangkah maju untuk memandang lebih tajam, namun tetap saja dia tidak pernah bertemu dengan orang ini dan tak pernah mendengar tokoh kang-ouw dengan muka seperti ini.
"Kiranya engkau telah mengenal kami. Siapakah engkau?"
"Sebut saja aku Bu Beng Kwi (Setan Tanpa Nama), aku tidak terkenal seperti kalian, akan tetapi juga tidak sesat seperti kalian yang membantu pasukan pemberontak."
"Bu Beng Kwi, manusia sombong! Tai Peng adalah balatentara yang akan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah Mancu! Tai Peng adalah pasukan para pejuang yang gagah perkasa, patriot-patriot yang mulia..."
"Hemm, sudah kubuktikan kegagahan mereka ketika mereka tadi merampok, membunuh dan mengganggu para pengungsi! Tai Peng telah diselewengkan, menjadi pasukan ganas yang jahat, dipimpin oleh Ong Siu Coan yang miring otaknya."
"Keparat! Apakah engkau mata-mata pemerintah, penjilat Bangsa Mancu?"
Bentak si muka putih.
"Ataukah barangkali engkau mata-mata orang kulit putih"
Tanya si muka merah sambil melirik ke arah Sheila. (Lanjut ke
Jilid 06) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Aku tidak membantu siapa juga kecuali mereka yang lemah tertindas dan menantang mereka, yang jahat, siapapun juga adanya mereka."
"Keparat, orang macam setan ini masih berlagak menjadi pendekar! Suheng, tak perlu banyak cakap lagi, dia telah membunuh belasan orang perajurit kita, dia harus dibasmi!"
Kata Tung-hai Pek-liong. Mereka mencabut pedang dan menghampiri Bu Beng Kwi dari kanan dan kiri. Si muka setan itu berkata, suaranya lantang dan penuh wibawa.
"Tung-hai Siang-liong, aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun juga dan di antara kita tidak terdapat permusuhan. Kuperingatkan kepada kalian, mundurlah dan jangan menggangu kami sebelum terlambat."
"Keparat Bu Beng Kwi, siapa takut kepada setan tanpa nama macam engkau?"
Bentak si muka merah dan diapun sudah menyerang dengan pedangnya, disusul Sutenya yang juga menyerang dengan tusukan pedang ke arah dada, hampir bersamaan dengan datangnya bacokan pedang si muka merah ke arah leher Bu Beng Kwi.
Namun, hanya nampak bayangan berkelebat dan dua serangan itu tidak mengenai sasaran.
Tung-hai Siang-liong terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya karena lawan itu tahu-tahu telah berkelebat ke belakang mereka.
Dan merekapun menyerang lagi dengan sepenuh tenaga karena merasa penasaran.
Bu Beng Kwi membiarkan mereka berdua menyerang sampai belasan jurus, akan tetapi kedua pedang yang biasanya amat lihai dan sukar ditemukan tandingannya itu, kini seperti permainan kanak-kanak saja layaknya bagi si muka setan itu.
Dia hanya meloncat dan menyusup ke sana-sini, namun kedua pedang itu sama sekali tidak pernah dapat menyentuhnya.
"Tung-hai Siang-liong, sekali lagi dan untuk akhir kalinya kuperingatkan kalian. Pergilah dan jangan ganggu aku sebelum terlambat!"
Akan tetapi, dua orang itu tidak mau mendengarkan kata-katanya dan mereka menyerang terus, lebih ganas lagi.
"Omitohud... ampunkan aku, terpaksa aku melawan..."
Terdengar Bu Beng Kwi mengeluh dan tiba-tiba kedua lengannya dipentang dan dia menyerbu ke depan, menyambut dua orang lawan yang menyerangnya dengan pedang mereka itu.
Terdengar suara keras, dua batang pedang itu terpental, bahkan sebatang di antaranya patah-patah disusul terlemparnya tubuh Tung-hai Siang-liong sampai jauh ke belakang.
Mereka terbanting dan tidak bangkit kembali!
Bu Beng Kwi tidak memperdulikan lagi dua orang bekas musuh itu, melainkan menghadapi Sheila dan anaknya.
Wanita ini sudah menjatuhkan diri berlutut di depan penolongnya.
Juga Han Le yang tadi nonton dengan mata terbelalak dan kagum, kini berlutut dan mengangkat mukanya memandang kepadanya.
Sejenak Bu Beng Kwi menatap wajah anak itu, kemudian dia berkata.
"Anak baik, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Maukah engkau?"
"Tentu saja aku mau dan terima kasih banyak atas kebaikan locianpwe,"
Jawab anak itu dan diam-diam si muka setan kagum melihat sikap sopan dan baik dari anak itu. seorang anak yang terdidik baik, pikirnya.
"Kalau begitu, engkau ikutlah denganku."
Berkata demikian, Bu Beng Kwi membalikkan tubuhnya dan terus melangkah pergi. Sampai beberapa lamanya dia melangkah, kemudian membalik dan menatap Ibu dan anak itu.
"Aku hanya mengajak anak ini untuk menjadi muridku."
Mendengar ini Sheila dan Han Le kembali menjatuhkan diri berlutut.
"Taihiap, sampai matipun kami tidak dapat saling berpisah. Di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bagaimana mungkin Henry anakku akan dipisahkan dariku? Taihiap, kalau anakku kau ambil murid, aku berterima kasih sekali akan tetapi biarkanlah aku ikut pula..."
Wajah yang buruk sekali itu nampak semakin buruk ketika dia mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi... aku tidak membutuhkanmu..."
"Aku mengerti, Taihiap. Akan tetapi biarlah aku berdekatan dengan anakku, aku tidak akan mengganggumu, aku bahkan akan bekerja apa saja, menjadi pembantu rumah tanggamu, mengerjakan semua pekerjaan rumah... tapi jangan pisahkan aku dari anakku karena hal itu berarti membunuhku..."
"Suhu, kalau benar Suhu ingin mengambil teecu sebagai murid, teecu baru mau kalau Ibu juga diperbolehkan ikut serta. Ibu tidak mempunyai keluarga lain dan teecu sampai matipun tidak tega untuk meninggalkan ia hidup seorang diri saja."
Kata pula Han Le dengan sikap yang tegas.
Kembali sinar kekaguman terpancar keluar dari pandang mata Bu Beng Kwi.
Seorang anak yang mencinta Ibunya, berbakti dan keras hati.
diapun mengalihkan pandang matanya, menatap kepala berambut keemasan yang menunduk itu dan dia menarik napas panjang, wajahnya yang buruk itu tergores penuh penyesalan dan iba membayang di sinar matanya.
"Baiklah, asal engkau tahu saja bahwa aku adalah seorang yang hidup miskin dan mengasingkan diri dari dunia ramai. Akan tetapi, nyonya, perjalanan menuju ke tempat tinggalku terlampau jauh dan sulit kalau ditempuh dengan jalan kaki biasa. Karena itu maafkanlah kelancanganku!"
Tiba-tiba saja Sheila dan Han Le merasa betapa tubuh mereka terangkat naik kemudian meluncur dengan amat cepatnya.
Mula-mula, mereka terkejut bukan main dan terutama sekali Sheila yang merasa betapa tubuhnya dipanggul di pundak kanan orang itu.
Melihat ke bawah, ternyata orang itu membawanya berlompatan jauh dan cepat sekali sehingga ia menjadi pening dan ngeri, cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya.
Akan tetapi Han Le yang mula-mula takut, kini tidak merasa takut lagi melihat dirinya dipanggul di pundak kiri.
Dia malh membuka matanya lebar-lebar dan bersorak gembira.
"Wahhh, aku terbang! Suhu sungguh hebat, kelak harap ajarkan ilmu terbang ini kepada teecu!"
Bu Beng Kwi memnggul tubuh Ibu dan anak itu dan kedua kakinya berlari amat cepatnya seperi terbang saja.
Jurang-jurang diloncatinya dan dengan ilmu berlari cepat yang luar biasa ini, pada keesokan harinya tibalah dia di puncak sebuah bukit yang sunyi dan jauh dari dusun-dusun.
Di puncak bukit itu, di antara pohon-pohon besar, nampak sebuah pondok sederhana terbuat dari kayu-kayu besar dengan kokoh kuat dan cukup luas, dikelilingi ladang yang penuh dengan tanaman sayur-mayur dan pohon-pohon buah.
Bu Beng Kwi menurunkan Ibu dan anak itu dari pundaknya.
"Kita telah tiba di rumah."
Ibu dan anak itu menggeliat karena tubuh mereka terasa penat-penat dan kaku setelah semalam suntuk dipanggul dan dibawa lari cepat.
Akan tetapi Han Le sudah melupakan kelelahannya dan anak ini sudah berlari-lari di sekitar rumah itu, nampaknya gembira sekali.
Di lain saat dia telah memanjat pohon buah per di mana bergantungan banyak buah yang sudah tua dan masak.
Melihat ini,legalah hati Sheila dan wanita ini merasa bahwa ia dan puteranya kini berada di tempat aman, dan suasana di tempat itu tenang dan tenteram, juga indah sekali pemandangannya.
Bu Beng Kwi memandang ke arah Han Le sambil tersenyum, kemudian dia menghadapi Sheila.
"Lihat, aku hidup di sini sendirian saja dan makan dari hasil ladang dan kebun. Bagaimana seorang seperti engkau dapat hidup di tempat seperti ini?"
Sheila tersenyum, senyum yang manis sekali.
"Taihiap, aku adalah seorang wanita yang sudah banyak mengalami kehidupan yang serba pahit dan penuh dengan kekerasan dan kesulitan. Tempat ini indah, rumahmu juga cukup besar. Apalagi dengan kebun dan ladang sedemikian luasnya, apalagi yang dikehendaki? Andaikata tempat tinggalmu tidak sebaik ini sekalipun, aku akan hidup berbahagia."
Bu Beng Kwi menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata yang kebiruan dan jernih itu.
Teringat dia betapa tadi tubuh yang berkulit lembut, halus dan hangat itu dipanggulnya, betapa bau badan wanita itu semalam membuat dia harus mengerahkan tenaga batin untuk melawan rangsangan yang sudah bertahun-tahun tak pernah dirasakannya.
"Engkau... engkau seorang wanita yang tabah, dan puteramu adalah seorang anak yang baik, berbakti, mencinta Ibunya dan gagah perkasa."
"Tentu saja, Taihiap, karena mendiang Ayahnya juga seorang pendekar gagah perkasa, seorang pejuang yang berjiwa pahlawan,"
Kata Sheila dengan suara mengandung kebanggaan ketika dia teringat kepada mendiang suaminya, yaitu pendekar Gan Seng Bu.
Mendengar ini, Bu Beng Kwi memundukkan mukanya lebih dalam, lalu memutar tubuh membelakangi Sheila, agaknya hendak pergi, akan tetapi kakinya ditahannya dan dia berkata dengan suara lirih.
"Di dalam pondok terdapat dua buah kamar, kamar depan adalah kamarku, dan kamar belakang yang besar boleh kaupakai bersama puteramu. Di belakang terdapat dapur dan perabotnya yang lengkap. kau dan puteramu tentu sudah lapar, kalau hendak membuat makanan, di gudang dekat dapur terdapat semua bahan keperluannya."
"Terima kasih, Taihiap. Jangan khawatir, aku akan mengerjakan itu semua, dan aku akan membersihkan pondok ini, kelihatan agak tidak terawat,"
Kata nyonya itu sambil menyambar sebuah sapu yang bersandar pada dinding tembok depan.
"Oh.. ya, siapa nama puteramu itu?"
Tiba-tiba Bu Beng Kwi yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah itu tiba-tiba bertanya tanpa menengok, hanya menahan langkahnya.
"Namanya Han Le, Taihiap, aku sendiri menyebutnya Henry,"
"Han Le, nama yang bagus!"
Kata Bu Beng Kwi sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
"Shenya Gan, Taihiap!"
Sheila menambahkan.
"Hemmm...!"
Hanya itulah jawaban Bu Beng Kwi dan dia sudah menghilang ke dalam kamarnya.
Demikianlah, mulai hari itu, Sheila dan Han Le tinggal di dalam rumah itu, dan Sheila segera bekerja keras untuk membersihkan rumah itu, mencuci, memasak dan semua pekerjaan rumah dikerjakannya dengan baik.
Rumah itu nampak bersih semenjak Sheila tinggal di situ, dan makin lama Sheila semakin betah tinggal di situ karena Bu Beng Kwi jarang sekali mengajak dia bicara, bahkan jarang bertemu dengannya.
pendekar yang bermuka buruk itu hanya keluar untuk melatih ilmu silat kepada Han Le, dan tidak pernah mengganggu Sheila, bahkan seolah-olah Bu Beng Kwi menjauhkan diri dari Sheila, seperti orang yang takut!
Hal ini membuat Sheila menjadi heran bukan main.
setelah berbulan-bulan tinggal di rumah itu, biarpun berada di bawah satu atap, namun ia jarang sekali dapat bertemu tuan rumah.
Bahkan kalau ia sengaja menemuinya untuk melaporkan bahwa makanan siang atau malam sudah sedia, Bu Beng Kwi nampak seperti orang gugup dan membuang muka!
Sheila merasa amat kasihan kepada pria itu.
Apakah pria itu malu kepadanya karena mukanya yang demikian buruk?
Namun, betapapun buruk wajahnya, seperti setan, orang itu jelas memiliki watak yang amat baik, pikir janda ini.
Belum pernah selama hidupnya dikenalnya seorang pria seperti itu baik dan sopannya.
dan selain memberi latihan-latihan dasar ilmu silat tinggi kepada Han Le, juga Bu Beng Kwi melatih ilmu membaca dan menulis kepada anak itu, di samping gemblengan moral melalui nasihat-nasihat tentang kehidupan, tentang baik dan buruk dan tentang sifat-sifat seorang pendekar yang gagah perkasa dan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.
Waktu luangnya setelah memberi latihan kepada Han Le, masih dipergunakannya untuk bekerja di ladang dan kebun-kebun dengan amat rajinnya.
Setiap hari betapapun paginya Sheila bangun tidur untuk menyapu dan memasak air, Ia selalu melihat bahwa tuan rumah telah bangun terlebih dulu, dan telah sibuk di ladang belakang rumah!
Kadang-kadang Sheila merasa terharu sekali melihat kehidupan Bu Beng Kwi ini.
Ada rahasia yang tersembunyi di balik wajah yang buruk itu, pikirnya, rahasia yang tentu amat menyedihkan sekali.
Sinar mata yang kadang-kadang mencorong itu seringkali nampak demikian penuh kepedihan hati, Bahkan penuh penyesalan, demikian sayu dan tidak bercahaya lagi.
dan agaknya Bu Beng Kwi menanam diri dalam kesibukan sehari-hari, agaknya hendak melupakan ssuatu.
dan jelas sekali menjauhkan diri darinya, seolah-olah takut berhadapan dengan dirinya.
Semua ini merupakan teka-teki yang amat menarik bagi Sheila, membangkitkan gairahnya untuk menyelidiki rahasia apa gerangan yang tersembunyi di balik wajah yang amat buruk itu.
Ia merasa telah diselamatkan nyawanya, juga nyawa puteranya, dari ancaman maut dan bahkan mungkin lebih mengerikan daripada maut.
Bukan hanya sampai di situ ia berhutang budi, bahkan Bu Beng Kwi telah memberi kehidupan yang lebih cemerlang dan tenteram kepada ia dan puteranya.
Mendidik Han Le dengan ilmu tinggi, kesusasteraan dan pendidikan rohani.
Hal ini ia ketahui semua karena setelah malam tiba dan puteranya rebah tak jauh darinya di dalam kamar itu, ia selalu mengorek keterangan dari puteranya tentang semua pelajaran yang diterimanya dari Bu Beng Kwi.
Bahkan dari anak itu ia menanyakan semua kata-kata yang diucapkan Bu Beng Kwi pada siang harinya, dan apa saja yang ditanyakan penolong itu kepada anaknya.
Dari Han Le ia mendengar bahwa Bu Beng Kwi pernah bertanya kepada Han Le tentang semua pengalaman Han Le dan Ibunya semenjak ditinggal mati Ayahnya.
Tentu saja Han Le hanya mampu menceritakan apa yang dapat diingatnya saja, karena semenjak lahir dia sudah tidak lagi dapat melihat Ayahnya.
Ada sesuatu yang sangat menarik dalam pribadi Bu Beng Kwi bagi Sheila.
Wajah yang amat buruk itu, tubuh yang cacat itu, kini sama sekali tidak lagi mendatangkan rasa serem, takut atau jijik bagi Sheila, bahkan mendatangkan perasaan iba yang mendalam.
Ia merasa kasihan dan juga penasaran mengapa seorang manusia yang memiliki budi pekerti demikian baiknya menerima hukuman dari Tuhan dengan tubuh yang sedemikian penuh cacat dan keburukan.
Bukan itu saja, ia juga dapat merasakan betapa penolongnya itu hidup dengan batin menderita, entah apa dan mengapa.
Pada suatu malam terang bulan Sheila tak dapat tidur.
Han Le sudah sejak tadi tidur nyenyak.
Anak itu agaknya lelah sekali karena selain harus berlatih silat, juga anak itu oleh Ibunya diharuskan membantu pekerjaan Bu Beng Kwi di ladang, Sheila gelisah tak dapat tidur walaupun sudah sejak tadi ia rebah di atas pembaringannya.
Sudah setahun ia tinggal di situ bersama puteranya, namun ia masih merasa asing terhadap Bu Beng Kwi.
Selama setahun itu, hanya beberapa kali saja ia sempat berhadapan dengan penolongnya, lebih jarang lagi bercakap-cakap karena kalau ia memancing percakapan, selalu Bu Beng Kwi menghindar.
bahkan untuk makan siang atau malam pun, Bu Beng Kwi minta kepada Han Le untuk mengantar makanan ke dalam kamarnya.
Mengapa dia selalu menjauhkan diri dariku?
Apakah dia tidak suka kepadaku?
Jangan-jangan dia membenci aku karena aku seorang wanita kulit putih!
Pikiran ini terus menerus menganggu hati Sheila, membuatnya gelisah bukan main.
Ia sudah berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati Bu Beng Kwi, membersihkan pondok itu sehingga menjadi tempat yang enak ditinggali, menanam bunga-bunga indah di depan rumah dan di luar jendela kamar Bu Beng Kwi, mencuci bersih pakaian-pakaian serba putih dari orang itu, dan membuat masakan yang selezat mungkin.
Bahkan kini, dengan bantuan puteranya yang cekatan, ia berhasil menangkapi kelinci dan membuat peternakan kelinci sehingga ia mampu menghidangkan masakan daging kelinci yang sedap, bukan sekedar sayuran saja seperti sebelum ia dan puteranya datang ke situ.
Aih, apakah kesalahanku kepadanya?
Sheila merasa nelangsa dan rasanya ingin ia menangis!
Gila, mengapa pula menangis?
Ia cepat menghapus dua titik air mata yang sudah berkumpul di sudut matanya dan untuk mengusir kekesalan hatinya, ia turun dari pembaringannya lalu menghampiri jendela.
Dibukanya tirai jendela dan nampaklah sinar bulan purnama di luar kamarnya.
Betapa indahnya bulan purnama.
Hijau kekuningan dan nampak sejuk dan damai hening di luar.
Ia menutup kembali tirai jendela dan menurutkan dorongan hatinya ia melangkah keluar, menutupkan kembali pintu kamar dengan hati-hati agar Han Le jangan sampai kaget dan terbangun.
Ketika dengan langkah hati-hati ia keluar dari dalam pondok menuju ke belakang untuk memasuki kebun dan menikmati keindahan bulan purnama, tiba-tiba ia menahan langkahnya dan cepat bersembunyi di balik tiang rumah bagian belakang.
Tiang itu terbuat dari batang pohon besar dan ia bersembunyi di balik tiang.
mengintai ke dalam kebun.
Di sana, di atas bangku panjang, ia melihat Bu Beng Kwi duduk seorang diri dan ia terbelalak memandang karena melihat betapa penolongnya itu menangis!
Benar-benar menangis seperti anak kecil, dengan suara sesenggukan dan kedua pundak berguncang, kedua tangan menutupi mukanya!
Dengan mata terbelalak, dan jantung berdebar kencang Sheila mengintai dan mendengar suara Bu Beng Kwi yang diulang-ulang, suara yang mengandung isak tangis, menggetar penuh penyesalan.
"Ya Tuhan, ampunilah saya, ampunilah saya, ampunilah saya..."
Sambil menangis, orang aneh itu terus minta ampun kepada Tuhan, kadang-kadang menjambak-jambak rambutnya penuh penyesalan.
Sheila terbelalak dan hatinya dipenuhi rasa haru.
Ia tidak tahu mengapa orang sebaik itu kini menangis dan minta ampun kepada Tuhan, entah dosa apa yang penah dilakukannya, dosa yang kini membuatnya demikian penuh penyesalan.
Melihat orang yang amat dikaguminya itu, orang yang dihormatinya dan dijunjungnya tinggi karena perbuatannya, karena sikapnya itu kini menangis dan minta-minta ampun kepada Tuhan seperti itu, Sheila merasa demikian terharunya sehingga tanpa disadarinya, air matanya menetes turun di sepanjang pipinya.
Ia seperti terpukau di tempat itu, tidak mampu bergerak.
Hatinya ingin sekali menghampiri dan menanyakan, menghibur Bu Beng Kwi, namun kedua kakinya tidak dapat ia gerakkan.
Juga ada perasaan segan dan takut untuk mengganggu orang yang sedang tenggelam dalam kedukaan yang amat besar itu.
Berjam-jam Bu Beng Kwi menangis, meratap dan minta ampun kepada Tuhan.
Berjam-jam pula Sheila berdiri di balik tiang melakukan pengintaian.
Akhirnya, seperti orang kelelahan, Bu Beng Kwi menjatuhkan diri rebah di atas bangku panjang, masih menangis akan tetapi makin lama, tangisnya makin lirih dan akhirnya diapun tertidur di atas bangku panjang di dalam kebun itu!
Beberapa kali nampak tubuhnya terguncang oleh isak sebagai tangisnya, akan tetapi dari pernapasannya dapat diketahui bahwa dia benar-benar telah tidur nyenyak, agaknya terlau lelah oleh penyiksaan batinnya sendiri tadi.
Sheila melangkah perlahan-lahan menghampiri dan dalam jarak dua meter ia berdiri mengamati orang itu.
Tidur pulas dengan lengan kanan melintang di atas dahi, tangan kiri tertumpang di dada.
Napasnya penjang-panjang halus, kadang-kadang masih terisak, kedua kakinya yang panjang itu tergantung di ujung bangku.
Hawa udara dingin bukan main di malam terang bulan purnama itu.
Sheila menggigil dan ia merasa kasihan sekali melihat Bu Beng Kwi yang tidur pulas di atas bangku itu, di dalam kebun dalam hawa dingin sepeti itu.
Ia lalu kembali ke dalam rumah, Mengambil sehelai selimut tebal dan dengan hati-hati ia menghampiri tubuh yang pulas itu dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki.
Tubuh itu bergerak lemah akan tetapi tidak tergugah.
Kalau saja tidak sedang tenggelam ke dalam kedukaan dan penyesalan sehebat itu sehingga membuat seluruh tubuhnya lemas dan hatinya lelah dan kepulasan telah menelannya bulat-bulat.
Tentu Bu Beng Kwi yang memiliki tubuh terlatih itu sudah terbangun ketika diselimuti Sheila.
Namun kedukaan membuat orang menjadi lemah sekali.
tenaga yang dibuang sia-sia sewaktu berduka amatlah besarnya.
Sheila lalu kembali ke kamarnya dan ia tidak tidur, teringat akan keadaan Bu Beng Kwi dan beberapa kali, setiap kali teringat ia menitikkan air matanya karena iba dan haru.
Ah, ia mau melakukan apa saja demi untuk menghibur dan membahagiakan hati pria ini, Pria yang demikian bijaksana dan budiman, yang telah memberi segala-galanya kepada ia dan puteranya tanpa pamrih, tanpa minta imbalan apapun, bahkan yang selalu menghindar agar tidak menerima sikap manis dan berterima kasih darinya.
Pada keesokan harinya, ketika Han Le sedang sibuk bekerja di ladang, ketika Sheila sedang membawa pakaian kotor untuk dicuci di pancuran air di sebelah kanan rumah, ia berpapasan dengan Bu Beng Kwi.
Pria itu berhenti dan memandang kepadanya, sedangkan Sheila juga berhenti dan memandang penuh perhatian.
Tidak nampak lagi tanda-tanda kedukaan yang hebat itu pada wajah yang tidak pernah dapat memperlihatkan perasaan hati itu, akan tetapi pandang mata itu tetap saja sayu dan bagaikan matahari tertutup awan hitam.
Bu Beng Kwi mengeluarkan segulung selimut dan memberikannya kepada Sheila sambil berkata.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu, nyonya. Maaf, aku telah membikin repot saja. Harap lain kali jangan perdulikan diriku, karena seorang seperti aku ini tidak pantas menerima kebaikan dan penghormatan seperti itu."
Begitu Sheila menerima gulungan selimut, Bu Beng Kwi membalikkan tubuh dan pergi.
"Taihiap... tunggu dulu...!"
Sheila berlari mengejar, dan Bu Beng Kwi menghentikan langkahnya, menghadapi Sheila dengan muka ditundukkan.
Kini mereka saling berhadapan dan Sheila memandang tajam, berusaha untuk menguak tirai yang menyembunyikan rahasia di balik wajah yang cacat itu.
"Taihiap... namaku adalah Sheila dan aku adalah pelayanmu, Ibu dari muridmu, tidak perlu engkau menyebutku nyonya. Dan mengapa Taihiap kelihatan membenciku? Harap Taihiap berterus terang agar aku dapat mengerti akan kesalahanku dan dapat memperbaikinya, dan Taihiap... mengapa demikian berduka...?"
"Nyonya, engkau adalah seorang wanita yang bijaksana, terhormat dan mulia, jauh bedanya dengan aku yang hina ini, dan tentang sikapku... ah, aku tidak apa-apa, harap nyonya jangan perdulikan aku lagi..."
Dan diapun cepat melangkah pergi menuju ladang, meninggalkan Sheila yang berdiri melongo dengan hati penasaran.
Penolongnya itu demikian merendahkan diri, dan kata-katanya demikian penuh keprihatinan.
Apa saja yang membuat orang itu bersikap seperti itu?
Apakah karena wajah dan tubuhnya menjadi penuh dengan cacat seperti itu lalu merasa rendah diri?
Beberapa hari kemudian, ketika pagi-pagi sekali Sheila sedang menyapu lantai di pekarangan depan dan Bu Beng Kwi masih bersamadhi di dalam kamarnya setelah pagi-pagi tadi dia mengamati Han Le yang berlatih silat, muncul dua orang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun, berpakaian sederhana namun berwajah tampan dan bersikap gagah.
Dua orang laki-laki muda itu demikian terkejut ketika melihat seorang wanita kulit putih berambut kuning keemasan dan bermata biru, Mengenakan pakaian sederhana sedang menyapu di situ sehingga mereka berdua terbelalak dan terpukau, hampir tidak percaya kepada pandang mata mereka sendiri.
Melihat dua orang pemuda itu seperti terkejut, bingung dan heran, Sheila lalu menghampiri mereka dengan sapu di tangan, dan menegur dengan sikap halus dan bahasa yang sopan.
Dua orang muda itu saling pandang, dengan sinar mata bertanya-tanya siapa gerangan wanita kulit putih ini.
Sheila juga memperhatikan mereka.
Seorang di antara mereka bertubuh tinggi besar dengan muka gagah berbentuk persegi empat dan mukanya yang masih muda itu mulai ditumbuhi brewok yang lebat, sepasang matanya lebar dan tajam.
Orang kedua bertubuh tinggi kurus, mukanya putih seperti muka perempuan namun tampan dan sepasang alisnya tebal sekali, tebal dan hitam lebat.
"Kami adalah murid dari tuan rumah ini,"
Kata pemuda tinggi besar.
"Siapakah engkau?"
Sambung pemuda tinggi kurus.
"Aih, kiranya ji-wi adalah murid-murid Taihiap!"
Sheila berseru kaget dan girang.
"Aku bernama Sheila dan aku... aku pelayan dari Taihiap..."
"Apa? Suhu mempunyai pelayan seorang wanita kulit putih? Rasanya tidak mungkin!"
Kata pemuda tinggi besar. Pada saat itu terdengar suara nyaring dari sebelah dalam, suara yang keluar dari dalam kamar Bu Beng Kwi.
"Kok Han dan Hong Can, kalian baru datang?"
Mendengar suara ini, dua orang pemuda gagah perkasa itu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke dalam rumah dan berkata penuh hormat.
"Suhu..."
Muncullah Bu Beng Kwi , diikuti oleh Han Le yang diajak latihan samadhi di dalam kamar gurunya itu.
Sepasang mata orang aneh itu memancarkan sinar berseri ketika dia memandang kepada dua orang muda yang berlutut.
"Han Le dan kau, nyonya, ketahuilah bahwa yang baru datang ini adalah murid-muridku bernama Ceng Kok Han dan Li Hong Cang yang sudah hampir dua tahun turun gunung. Kok Han dan Hong Cang, anak ini adalah Gan Han Le, Sute kalian, dan wanita ini Ibunya, Gan Toanio (nyonya Gan).Bangkitlah dan beri hormat kepadanya,"
Kata Bu Beng Kwi memperkenalkan.
Diam-diam dua orang pemuda itu merasa heran.
Guru mereka mengambil murid anak seorang wanita kulit putih dan biarpun Sute mereka yang masih kecil itu berwajah biasa, namun sepasang matanya yang bening tajam itu kebiruan seperti mata orang kulit putih!
Mereka lalu menjura dengan hormat kepada wanita kulit putih yang pandai berbahasa daerah itu dan menyebutnya Gan Toanio.
Sheila membalas penghormatan mereka selayaknya.
Sebagai seorang anak yang terdidik baik, oleh gurunya dan oleh Ibunya, Han Le lalu menjura pula kepada mereka.
"Ji-wi Suheng (kakak seperguruan), aku Gan Han Le memberi hormat pada ji-wi dan mohon bimbingan ilmu silat."
Ceng Kok Han dan Li Hong Cang memandang gembira.
Kiranya Sute mereka itu, biar anak wanita kulit putih, biar masih kecil, namun nampak cerdik dan pandai membawa diri.
Mereka merangkul dan mengelus rambut kepala Han Le dan merasa akrab dan sayang.
Mereka semua kecuali Sheila yang merasa sungkan dan juga ia harus menyediakan minuman untuk dua orang muda yang baru tiba, segera masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian, Bu Beng Kwi sudah bercakap-cakap dengan serius bersama dua orang murid yang baru datang itu disaksikan oleh Han Le yang mendengarkan saja.
Mereka bicara tentang hal-hal yang belum dimengertinya benar, tentang perjuangan, pemberontakan, dan perang.
Kiranya dua orang muda perkasa itu, atas persetujuan guru mereka, seperti para pendekar lain, telah pergi meninggalkan tempat perguruan dan ikut membantu perjuangan Ong Siu Coan yang memimpin balatentara Tai Peng pada bulan-bulan terakhir sampai pasukan itu dapat menduduki Nan-king dan daerah selatan sungai.
Akan tetapi, akhirnya mereka berdua menjadi muak melihat betapa pasukan-pasukan Tai Peng mulai melakukan penyelewengan dan kejahatan dan agaknya tingkah laku mereka itu dibiarkan saja oleh Ong Siu Coan.
Seperti juga banyak para pendekar lainnya, dua orang murid Bu Beng Kwi ini meninggalkan Tai Peng dan pulang ke tempat tinggal guru mereka.
"Demikianlah, Suhu. Teecu berdua meninggalkan pasukan Tai Peng, melihat penyelewengan dan kejahatan yang dilakukan oleh pasukan itu. seperti para pendekar lain yang tadinya membantu pasukan Tai Peng sehingga gerakan itu berhasil, teecu berdua juga sudah berusaha untuk melakukan protes dan laporan kepada Ong-bengcu sebagai pimpinan. namun, semua laporan tidak diperhatikan, bahkan pernah Ong-bengcu mengatakan bahwa sudah sewajarnya kalau para perajurit mendapatkan sedikit kesenangan setelah semua jerih payah dan taruhan nyawa dalam perang."
Ceng Kok Han menutup ceritanya. Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.
"Sudah kuduga semua itu, Dan aku sudah mendengar desas-desus tentang sepak terjang mereka sehingga diam-diam aku mengkhawatirkan kalian. Apalagi ketika terjadi malapetaka yang menimpa para pengungsi yang diganggu oleh pasukan Tai Peng, termasuk Sutemu ini dan Ibunya, makin yakinlah aku bahwa Ong Siu Coan dan pasukannya bukanlah pejuang-pejuang yang dapat diharapkan akan mengangkat nasib rakyat jelata."
"Benar, Suhu. Para perajurit Tai Peng kemasukan banyak orang-orang jahat. Mereka memang mengaku sebagai tentara rakyat, dan mengaku bahwa mereka berjuang demi rakyat, untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Mereka mengatakan bahwa perjuangan mereka murni, namun nyatanya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat, merampok, membunuh dan memperkosa, tidak memiliki perikemanusiaan seperti binatang-binatang buas yang hanya mengenal hukum rimba. Kini jelas dapat dilihat betapa rakyat yang hidup di daerah kekuasaan Tai Peng bahkan menderita lebih hebat daripada sebelum daerah itu dibebaskan. Mereka menjadi penguasa-penguasa yang lebih kejam daripada penjajah Mancu sendiri!"
Kata pula Li Hong Cang.
Percakapan mereka terhenti ketika Sheila masuk ke ruangan itu membawa hidangan minuman bagi mereka semua.
Bu Beng Kwi sejenak memandang wanita itu dan setelah Sheila kembali ke dapur, dia berkata kepada Han Le.
"Han Le, engkau bantulah Ibumu. Kami akan membicarakan urusan penting yang tidak kau mengerti."
Han Le mengangguk dan bangkit tanpa membantah.
setelah tiba di dapur, dia dihujani pertanyaan oleh Ibunya.
Han Le memberi keterangan sebisanya dan mendengar bahwa dua orang Suheng dari puteranya itu baru saja pulang berjuang membantu balatentara Tai Peng yang kini menduduki sebagian dari daerah selatan, Sheila menarik napas panjang.
"Negara ini dilanda perang saudara tiada hentinya. Aih, Henry, mendiang Ayahmu dahulu juga seorang pejuang yang amat gagah perkasa."
Han Le mengerutkan alisnya.
"Ibu, apakah Ayah juga membantu pasukan Tai Peng menentang pasukan Mancu?"
"Ya, memang tujuan mereka sama, yaitu menghapuskan penjajah, akan tetapi Ayahmu tidak membantu Tai Peng."
"Tentu Ayah tidak seperti orang-orang Tai Peng yang jahat itu, Ibu. Kedua Suhengku itupun meninggalkan Tai Peng karena orang-orang Tai Peng berobah jahat sekali!"
"Kau benar, anakku. Engkau belajarlah baik-baik, agar kelak dapat menjadi seorang gagah perkasa, seorang pendekar yang menentang kejahatan."
"Seperti Ayah, Ibu?"
"Ya, seperti Ayahmu, seperti gurumu yang gagah perkasa dan budiman itu."
Sementara itu, Bu Beng Kwi masih bercakap-cakap secara serius dengan kedua orang muridnya..
"Perjuangan seperti yang dipimpin oleh Ong Siu Coan itu tidaklah sehat lagi,"
Kata Bu Beng Kwi.
"Perjuangan Tai Peng yang tadinya diharapkan untuk dapat membebaskan rakyat daripada cengkeraman penjajah, ternyata bahkan membuat rakyat menjadi semakin celaka, seperti terlepas dari mulut harimau masuk dalam cengkeraman serigala."
"Memang demikianlah, Suhu."
Kata Ceng Kok Han.
"Dan kini terjadi pemberontakan di selatan, Suku Bangsa Nien-fei, bahkan teecu mendengar bahwa suku Miau di Kwei-couw juga mulai bangkit dan memberontak. Kalau begini, berarti bangsa kita bahkan akan terpecah belah tidak karuan."
"Belum lagi diingat ancaman bangsa kulit putih dari pantai timur,"
Kata pula Li Hong Cang.
"Suhu, kalau dibiarkan pemerintah dihantam dari kanan kiri dan keadaan menjadi semakin kacau, maka rakyatlah yang akan menderita hebat. Terutama sekali harus dicegah penberontakan Tai Peng itu sampai dapat menaklukkan semua daerah, karena bangsa kita akan mengalami nasib lebih mengerikan lagi di bawah memuasaan orang-orang yang kini memimpin Tai Peng, yang terdiri dari penjahat-penjahat yang bersembunyi di balik agama baru dan perjuangan."
Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.
"Para pendekar sudah meninggalkan Tai Peng, berarti bahwa mereka sudah melihat kenyataan akan kejahatan orang-orang Tai Peng dan tidak mau membantu gerakannya. Kiranya hanya para pendekar yang dapat bersatu dan bangkit menentang Tai Peng."
"Teecu kira hal itupun tidak mudah dilakukan, Suhu."
Kata Ceng Kok Han.
"Tai Peng telah merupakan balatentara yang amat besar dan kuat. Kalau para pendekar bersatu, berapa besar kekuatan mereka? Pula, karena mereka datang dari berbagai aliran yang mempunyai pendapat berbeda, kiranya tidak mudah mempersatukan mereka."
"Hemm, beralasan juga kata-katamu. Lalu, bagaimana baiknya? Orang-orang muda seperti kalian, tidak mungkin akan berpangku tangan saja melihat kelaliman Tai Peng."
"Teecu berdua Sute telah bersepakat untuk minta pendapat dan perkenan Suhu. Teecu berdua ingin mengajak kawan-kawan seperjuangan, antara para pendekar untuk bersama-sama membangkitkan semangat rakyat di pedesaan, perlahan-lahan menyusun kekuatan dengan mendirikan lascar yang kuat yang bertujuan menyelamatkan tanah air dan bangsa. Kalau perlu, laskar kami akan membantu pemerintah Mancu untuk memadamkan semua pemberontakan yang sifatnya hanya pengejaran ambisi tanpa mementingkan penderitaan rakyat, karena pemberontak-pemberontak macam Tai Peng dan lain-lain itu bahkan menjadi penghambat perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah."
"Membantu pemerintah Mancu, bekerja sama dengan pemerintah penjajah?"
Bu Beng Kwi berseru kaget dan memandang dua orang muridnya itu.
"Maksud Suheng hanya untuk sementara, Suhu,"
Kata Li Hong Cang.
"Untuk dapat menghancurkan kekuatan yang berbahaya seperti Tai Peng, dibutuhkan pasukan besar dan sukarlah membentuk laskar sekuat itu untuk menentang Tai Peng. Maka, untuk sementara, sebaiknya kalau menggunakan kekuatan pasukan pemerintah untuk menghancurkan Tai Peng dan para pemberontak suku bangsa lain. Setelah itu, barulah kekuatan disusun sepenuhnya untuk menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air."
Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.
"Mungkin kalian benar. Terserah kepada kalian. Yang penting bagi kita adalah bahwa sepak terjang kalian haruslah murni, tanpa pamrih demi keuntungan pribadi, sepenuhnya ditujukan demi menyelamatkan rakyat dan bangsa kita. Akan tetapi, kalau cita-cita kalian demikian besar, kalian perlu membelaj ari ilmu memimpin pasukan, ilmu perang, bukan sekedar ilmu silat. Dan agaknya aku masih menyimpan sebuah kitab kuno tentang ilmu perang, ilmu pusaka peninggalan Jenderal Gak Hui. Boleh kalian miliki dan pelajari bersama ilmu perang melalui kitab kuno itu."
Bu Beng Kwi lalu masuk ke dalam kamarnya, mengambil sebuah kitab tebal yang sudah amat tua, menyerahkannya kepada dua orang muridnya yang menjadi gembira bukan main.
Sejenak keduanya tenggelam ke dalam kitab itu, membuka-buka lembarannya dan membaca beberapa bagian penuh kekaguman, Kemudian Ceng Kok Han menyimpannya.
"Maaf, Suhu. Teecu percaya semua tindakan Suhu tentu sudah dipertimbangkan semasaknya dan setiap perbuatan Suhu berdasarkan kebijaksanaan. Akan tetapi terus terang saja, teecu dan Sute tadi merasa terkejut dan terheran-heran melihat Suhu telah mengambil murid seorang anak dari wanita kulit putih. Teecu berdua ingin sekali mendengar sebab dan alasannya, kalau Suhu tidak keberatan."
Bu Beng Kwi mencoba untuk tersenyum, namun wajahnya yang kaku itu agaknya sudah terlalu lama tidak tersenyum maka gerakan mulutnya tidak cukup untuk menunjukkan sebuah senyuman.
"Pertanyaan kalian memang pantas dan sudah sepatutnya aku memberi penjelasan. Ibu dan anak itu adalah pengungsi-pengungsi yang ketika pegi mengungsi bersama penduduk dusun, dicegat oleh pasukan kecil Tai Peng yang mengganggu mereka. Pasukan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan, maka aku turun tangan menyelamatkan para pengungsi dan membasmi para penjahat yang berkedok pejuang itu. Anak itu terluka dan pingsan. Ketika aku hendak mengobatinya, aku melihat bakat yang baik sekali pada tubuhnya, dan aku kasihan kepadanya. Ibunya tidak mau berpisah dari anaknya dan nekat untuk ikut ke sini, bekerja menjadi pelayan walaupun aku tidak menganggapnya sebagai pelayan. Sudah hampir setahun mereka di sini dan Han Le ternyata memang cerdik dan berbakat, sedangkan Ibunya juga seorang wanita yang amat rajin. Lihat saja, bukankah pondok kita ini menjadi bersih dan taman itu penuh dengan tanaman bunga yang indah?"
Dua orang murid itu sudah cukup mengenal watak Suhu mereka.
Biasanya, Suhu mereka sama sekali tidak perduli akan keadaan rumah, apalagi bunga dalam taman.
Tentu ada sesuatu yang mendorong Suhunya menerima wanita kulit putih itu tinggal di situ.
Mereka memandang dengan sinar mata bertanya-tanya dan agaknya Bu Beng Kwi dapat menduga bahwa kedua orang muridnya ini masih meragukan kehadiran Sheila dan keterangannya tadi belum memuaskan hati mereka.
"Baiklah kalian ketahui hal lain yang mendorong aku untuk menerima Ibu dan anak itu di sini. Ketahuilah bahwa mendiang Ayah dari anak itu bernama Gan Seng Bu, seorang pendekar dan pahlawan yang pernah berjuang bersama para pendekar untuk menentang penjajah dan juga orang kulit putih yang menjual madat."
"Gan Seng Bu...?"
Li Hong Cang berseru.
"Ah, ketika teecu membantu Tai Peng bersama para pendekar, teecu pernah mendengar nama ini disebut-sebut dengan kekaguman. Kiranya Sute cilik itu puteranya? Dan wanita kulit putih..."
"Ia adalah isteri mendiang Gan Seng Bu. Pendekar itu pernah menyelamatkan wanita itu ketika ia masih gadis melarikan diri bersama orang tuanya dan diserbu oleh para pemberontak. Hampir ia menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ayah Ibunya tewas dan Gan Seng Bu menolongnya. Mereka saling jatuh cinta dan semenjak itu, ia hidup di dusun di antara para pejuang dan menikah dengan pendekar itu."
Kini kedua orang murid itu mengerti dan merekapun maklum mengapa guru mereka menerima Ibu dan anak itu.
Bahkan diam-diam merekapun merasa setuju sekali.
Bagaimanapun juga, biarpun rambutnya seperti benang emas dan matanya seperti warna lautan yang dalam, tidak seperti orang-orang kulit putih yang merusak hidup rakyat dengan penyebaran racun madat.
Bahkan wanita itu telah hidup belasan tahun lamanya di antara para pejuang, hidup seperti orang dusun dan kini bahkan bekerja keras seperti seorang pelayan saja membersihkan pondok dan memperindah suasananya.
Diam-diam mereka merasa kagum sekali.
Setelah beberapa hari tinggal di situ, dua orang muda itu segera menjadi akrab sekali dengan Han Le dan mereka memberi bimbingan kepada anak itu dalam latihan ilmu silat.
Han Le merasa girang sekali dan bangga mempunyai dua orang Suheng itu.
Bukan hanya dengan Han Le, bahkan kedua orang muda itu bersikap manis terhadap Sheila.
Janda muda ini adalah sorang kulit putih, tentu saja iapun mudah menjadi akrab dengan mereka karena baginya tidak ada pantangan dalam keakraban pergaulan antara pria dan wanita.
Apalagi melihat betapa dua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, seperti mendiang suaminya, dan mereka bersikap demikian baik terhadap puteranya.
Akan tetapi ada satu hal yang membuat Sheila merasa kurang enak hati.
belum sampai sebulan dua orang muda itu berada di situ, akhir-akhir ini sinar mata mereka terhadap dirinya terasa lain olehnya.
Biasanya hanya ada keramahan dan penghormatan, namun akhir-akhir ini ia dapat menangkap dengan naluri kewanitaannya betapa dalam sinar mata mereka terkandung kekaguman yang berlebihan dan mendekati kehangatan dan kemesraan.
Pandang mata mereka penuh arti, juga senyum mereka tidak wajar lagi!
Sheila cukup berpengalaman sebagai seorang janda muda yang sering digoda orang untuk dapat menangkap perasaan kagum dan suka dalam hati kedua orang muda itu yang terpancar melalui sinar mata mereka.
Tentu saja hal ini membuatnya merasa kurang enak, walaupun tentu saja ia tidak mau menyatakan sesuatu dan bersikap wajar saja di depan mereka.
Lebih tidak menyenangkan hatinya lagi ketika ia mendapat menyataan bahwa sejak dua orang muridnya itu pulang, Bu Beng Kwi jarang sekali keluar dari dalam kamarnya sehingga ia jarang bertemu dengan penolongnya itu.
Akan tetapi sebaliknya, ia sering bertemu dengan dua orang muda yang nampaknya kini makin suka mendekatinya.
Pada suatu sore, ketika Sheila sedang membersihkan daun-daun kering dari taman di depan rumah, tiba-tiba muncul Ceng Kok Han yang tanpa banyak cakap lalu membantu pekerjaannya memunguti dan menyapu daun-daun kering itu.
"Aih, sudahlan, Ceng-sicu. Tidak perlu kaubantu, ini pekerjaanku sehari-hari, nanti tangan dan pakaianmu menjadi kotor saja."
Kata Sheila menolak dengan lembut dan tersenyum manis.
"Tidak mengapa, Toanio, aku suka membantumu karena aku merasa kasihan kepadamu,"
Jawab Ceng Kok Han. Sheila menunda pekerjaannya dan memandang kepada pemuda itu sambil tertawa kecil.
"Engkau sungguh aneh, sicu. Kenapa kasihan kepadaku? Aku senang melakukan pekerjaan di sini."
"Toanio, orang cantik dan sepandai engkau ini sungguh tidak selayaknya hidup sederhana ini, bekerja keras seperti pelayan..."
"Harap jangan berkata demikian, sicu!"
Sheila berkata cepat memotong dan suaranya mengandung penasaran.
"Ketahuilah bahwa selama bertahun-tahun ini, baru sekarang aku merasakan hidup penuh kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan. Aku suka sekali melakukan semua pekerjaan ini, jadi, kalau engkau merasa kasihan, hal itu tidak tepat bahkan lucu sekali."
"Toanio, engkau dahulu isteri seorang pendekar perkasa yang terkenal. Sekarang, selayaknya kalau engkau menjadi seorang isteri dan Ibu rumah tangga yang terhormat dan hidup serba kecukupan. Akan tetapi sebaliknya engkau malah hidup di tempat yang amat sunyi, jauh tetangga jauh masyarakat. Toanio, kenapa sejak suamimu meninggal dunia, sudah belasan tahun lamanya, engkau tidak... tidak menikah lagi?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah yang masih cantik dan nampak jauh lebih muda dari usianya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu berubah kemerahan.
Sheila yang sudah mengenal pemuda ini karena sering bercakap-cakap, tahu bahwa Ceng Kok Han adalah seorang pemuda yang gagah perkasa yang berwatak terbuka dan jujur, suka mengeluarkan isi hatinya melalui mulut tanpa sungkan lagi.
Oleh karena itu, iapun tidak merasa tersinggung, lalu tersenyum lebar memandang pemuda itu.
"Wah, Ceng-sicu, engkau ini aneh-aneh saja. Siapakah orangnya yang suka dengan sungguh-sungguh mengawini aku? Seorang janda dengan seorang anak, perempuan kulit putih pula yang pada umumnya dianggap musuh. Kalau ada, mereka itu hanya berniat untuk mempermainkan aku saja. Karena itu aku tidak pernah menerima lamaran mereka, sicu. Aku harus menjaga kebahagiaan hidup anakku satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini."
"Engkau terlalu merendahkan diri, Toanio. Engkau seorang wanita yang biarpun berkulit putih, namun amat cantik, bijaksana dan tidak kalah dibandingkan dengan wanita pribumi yang manapun."
Wajah itu menjadi semakin merah, dan hatinya terasa tidak enak karena pujian dari pemuda yang jujur itu semakin berlebihan.
"Sudahlah, sicu, harap jangan bicara tentang itu. Buktinya, sampai sekarang aku hidup berdua saja dengan anakku dan aku tidak pernah mengeluh."
"Akan tetapi, tanio, kalau sekiranya Toanio ingin merubah kehidupan yang penuh dengan kesepian ini, kalau saja Toanio sudi menerimanya, ada seorang pria yang dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh ingin membahagiakanmu, ingin mempersuntingmu sebagai isteri tercinta, bukan sekedar main-main seperti yang kukatakan tadi."
Sepasang mata yang biru itu terbelalak memandang Ceng Kok Han penuh selidik.
"Sicu...! Apa... apa maksudmu...? Siapa siapa yang kau maksudkan itu?"
"Akulah pria itu, Toanio. Kalau sekiranya engkau sudi menerima, aku... aku meminangmu untuk menjadi isteriku."
Sapu itu terlepas dari tangan Sheila.
Matanya masih terbelalak memandang dan bibirnya yang setengah terbuka itu gemetar namun tidak dapat mengeluarkan suara.
Kemudian ia memejamkan matanya, tidak tahu harus tertawa atau menangis karena hatinya ingin melakukan keduanya.
Ia ingin tertawa karena geli hatinya bahwa seorang pemuda seperti Ceng Kok Han menyatakan cinta kepadanya melalui pinangan, dan ia ingin menangis karena merasa terharu mengetahui bahwa pemuda perkasa seperti Kok Han ini dapat dipercaya kata-katanya dan tentu sungguh-sungguh merasa suka dan kasihan kepadanya, Bukan sekedar tertarik dan bermaksud mempermainkan terdorong oleh nafsu berahi semata.
Akan tetapi ia cukup bijaksana untuk tidak melakukan keduanya, tidak menangis dan tidak tertawa, hanya memejamkan matanya sejenak dan menguatkan hatinya.
Kemudian ia membuka matanya memandang.
pemuda itu masih berdiri di depannya, tegak dan gagah, dengan sikap menanti penuh kesabaran, menanti jawabannya.
Ah, terasa benar olehnya kasih sayang yang hangat terpancar keluar melalui sinat mata pemuda itu dan iapun tahu benar bahwa hidup sebagai isteri pemuda ini tentu membawa ketenangan dan ketenteraman, terlindung dengan baik.
Akan tetapi satu hal ia tahu pasti, yaitu bahwa ia tidak memiliki cinta kasih terhadap pemuda perkasa ini, walaupun ia merasa kagum dan suka.
"Ceng-sicu, harap engkau maafkan aku. Aku adalah seorang wanita yang tidak muda lagi, usiaku sudah hampir tiga puluh lima tahun. sedangkan engkau baru berusia paling banyak dua puluh lima tahun. Bukan hanya selisih usia ini saja yang membuat aku tidak berani menerima pinanganmu, sicu, melainkan karena aku... aku..."
"Engkau telah menaruh hati kepada orang lain, mencinta orang lain?"
Sungguh seorang laki-laki yang terbuka dan terus terang, pikir Sheila.
Maka iapun mengangguk setelah mengamati hatinya sendiri.
Benar, ia telah jatuh cinta kepada orang lain.
Baru sekarang kenyataan ini nampak benar olehnya.
Ia telah jatuh cinta kepada Bu Beng Kwi, kepada penolongnya, penyelamatnya, kepada pendekar besar yang buruk rupa dan cacat tubuhnya itu!
Maka, dengan penuh keyakinan iapun mengangguk untuk menjawab pertanyaan pemuda itu.
Ceng Kok Han menerima pengakuan wanita itu dengan gagah.
Dia memang merasa hatinya tertusuk kekecewaan, namun dia menerimanya tanpa mengeluh.
"Toanio, katakanlah, dia... dia berada di sini?"
Karena ia berhadapan dengan seorang pria yang jujur dan gagah perkasa, Sheila meras tidak perlu menyembunyikan rahasianya dan iapun mengangguk.
"Apakah dia... Sute Li Hong Cang?"
Sheila tersenyum lemah dan menggeleng kepala.
Sejenak Ceng Kok Han tertegun dan terbelalak memandang wajah wanita itu, kemudian dia menundukkan mukanya dan pandang matanya berpancar kekaguman dan keharuan.
Dia lalu menjura dengan dalam dan penuh dengan hormat.
"Ah, Toanio, aku semakin kagum kepadamu. sungguh engkau seorang wanita yang berbudi luhur, seorang wanita yang akan dapat menjadi cahaya terang dalam kehidupan seseorang dengan cinta kasihmu yang suci murni. Maafkan kelancanganku tadi, Toanio."
Dia menjura lagi. Sheila membalas penghormatan itu dengan hati terharu.
"Engkaulah yang harus memaafkan aku, sicu, karena aku telah mengecewakan hatimu. Semoga engkau kelak dapat bertemu dengan jodohmu yang sepadan dengan kegagahan dan kebaikanmu."
Pemuda itu membalikkan tubuh dan meninggalkan Sheila yang masih berdiri termenung.
kemudian iapun melanjutkan pekerjaannya, diam-diam merasa kagum kepada murid tertua Bu Beng Kwi itu.
Pengalaman yang menegangkan hati Sheila terulang kembali pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali.
Ia baru saja mandi dan berganti pakaian, terus pergi membawa pakaian kotor menuju ke pancuran air di mana ia biasanya mencuci pakaian.
baru saja ia mulai mencuci, terdengar suara lirih memanggil namanya.
"Sheila...!"
Tentu saja ia merasa terkejut sekali karena selama berada di situ, belum pernah ada orang menyebut nama kecilnya begitu saja.
Ia cepat menoleh dan terbelalak melihat bahwa yang memanggilnya adalah Li Hong Cang, murid kedua dari Bu Beng Kwi.
Pemuda tinggi kurus dengan muka putih dan alis tebal itu telah berdiri di dekatnya dan memandang kepadanya dengan sinar mata memancarkan kekaguman.
"Eh, Li-sicu! Engkau mengejutkan orang saja!"
Kata Sheila sambil tersenyum cerah, memaksa diri untuk bersikap biasa dan menekan debar jantungnya.
"Engkau nakal sekali. Darimana engkau mengetahui nama kecilku, sicu?"
Akan tetapi pancingannya untuk mencairkan suasana dengan senda gurau tidak ditanggapi oleh Hong Cang yang masih saja bersikap serius dan pandang matanya yang penuh kagum itu tidak berubah.
"Aku tahu dari anakmu. Sheila, engkau sungguh cantik jelita pagi ini, seperti dewi pagi yang gemilang. Alangkah indahnya rambutmu itu, seperti benang Sutera emas... Sheila merasa bulu tengkuknya meremang mendengar pujian ini. Ia tahu akan gawatnya suasana. Pemuda ini tidak main-main dan seperti juga apa yang dilakukan Ceng Kok Han kemarin, pemuda ini berterang memujinya dan memperlihatkan perasaan kagum dan cintanya! Karena tidak tahu harus berbuat apa, Sheila tetap saja bersikap sendau gurau.
"Ih, sicu, jangan memuji berlebihan. Aku hanyalah seorang perempuan tua. Anakku yang menjadi Sutemu itu sudah hampir dewasa!"
Ucapannya ini dimaksudkan untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali Hong Cang dari maboknya.
Akan tetapi agaknya pagi itu Li Hong Cang sudah mengambil keputusan, sudah nekat untuk mengaku cintanya kepada wanita yang membuatnya tergila-gila ini.
"Sheila... aku memujimu dari lubuk hatiku, setulus cintaku. Aku cinta padamu, Sheila, dan kalau engkau sudi meneimanya, aku ingin hidup bersamamu sebagai suamimu. Akan kuajak engkau tinggal di kota, hidup yang layak dan aku akan membahagiakanmu, Sheila. Sudikah engkau menerima cintaku?, Hampir saja Sheila tak dapat menahan ketawanya. ia merasa seperti berada di panggung saja, seperti sedang bermain sandiwara. Baru saja kemarin kok Han menyatakan keinginannya hendak meminang, kini hong cang menyatakan cintanya! Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mentertawakan pemuda yang nampaknya serius sekali itu. Maka iapun mengambil keputusan untuk menolaknya dengan halus namun tegas untuk membuyarkan khayal yang membuat pemuda itu bersikap demikian romantis.
"Li-sicu, maafkan aku dan harap jangan menyesal kalau aku terpaksa mengecewakan hatimu. Aku tidak mungkin membalas cintamu, tidak mungkin dapat menerima pinanganmu, pertama karena engkau jauh lebih muda dariku, kita tidak pantas menjadi suami isteri. Dan kedua karena aku sudah mencinta laki-laki lain. Nah, maafkanlah aku, sicu."
Alis yang hitam tebal itu berkerut dan muka yang putih itu menjadi semakin pucat.
"Sheila, engkau... engkau memilih Suheng? jadi engkau mencinta Suheng Ceng Kok Han?"
Sheila menggeleng kepala.
"Tidak, bukan dia yang kucinta."
Sepasang mata pendekar itu terbelalak dan mukanya menjadi kemerahan. Tiba-tiba dia lalu menjura dengan sikap hormat.
"Toanio, maafkan kelancanganku... engkau sungguh seorang wanita yang luar biasa, Toanio."
Li Hong Cang lalu memberi hormat lagi dan pergi meninggalkan Sheila.
Dua hari kemudian semenjak dua orang pemuda itu menyatakan cintanya, mereka pergi meninggalkan pondok itu.
Mereka berpamit kepada Sheila dengan sikap hormat, seperti sikap mereka ketika pertama kali datang.
Tidak nampak lagi tanda-tanda bahwa mereka pernah mengaku cinta, Sinar mata mereka kini sungkan dan hormat, dan sikap merekapun tetap ramah ketika mereka minta diri.
Sheila pun besikap biasa dan menghaturkan selamat jalan kepada mereka.
Baru setelah mereka pergi, ia merasa kehilangan karena bagaimanapun juga, kehadiran dua orang muda itu sedikit banyak mendatangkan perubahan di tempat yang amat sunyi itu.
Setelah mereka pergi, baru ia berani bertanya kepada Han Le ke mana mereka pergi dan apa yang hendak mereka lakukan.
"Kedua orang Suhengku itu berangkat ke kota besar untuk mulai dengan perjuangan mereka menentang pemberontak Tai Peng, Ibu. Kelak kalau aku sudah besar, akupun ingin mengikuti jejak mereka."
Kata Han Le dengan sikap gagah. Dan pada sore hari itu, ketika Sheila duduk di serambi belakang seorang diri, tiba-tiba muncul Bu Beng Kwi di depannya.
"Toanio, kenapa engkau menyia-nyiakan kesempatan baik dan rela mengubur dirimu di tempat sunyi ini?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu mengejutkan hati Sheila.
"Taihiap, maafkan aku, akan tetapi apa maksud pertanyaan Taihiap ini? Aku tak mengerti..."
"Engkau telah menolak cinta kasih dua orang muda seperti Ceng Kok Han dan Li Hong Cang!"
Sheila memandang dengan mata terbelalak kaget.
"Taihiap... tahu akan hal itu?"
"Mereka mengaku kepadaku tentang cinta mereka kepadamu dan minta perkenanku untuk meminangmu. Aku memberi perkenan, akan tetapi mereka hari ini pergi dengan hati patah. Toanio, kenapa engkau tidak memilih seorang di antara mereka dan meninggalkan tempat yang sunyi ini, membangun kehidupan baru yang penuh bahagia dengan seorang di antara kedua muridku itu? Bukankah mereka itu adalah orang-orang muda yang gagah perkasa, berjiwa pendekar dan akan sanggup melindungimu selamanya?"
Baru sekali ini Sheila mendengar orang ini bicara demikian banyak, dan bicara dengan suara demikian bersemangat.
Akan tetapi kata-kata yang panjang dan bersemangat ini sama sekali tidak menyenangkan hatinya, bahkan baginya merupakan benda runcing yang menusuk perasaannya.
Tak terasa lagi Sheila yang biasanya tabah itu kini menutupi mukanya untuk menyembunyikan air mata yang bercucuran keluar dari sepasang matanya yang biru.
Namun, Bu Beng Kwi telah melihatnya dan dengan suara mengandung keheranan namun lembut dia bertanya.
"Toanio, kenapa engkau menangis?"
Sheila menghapus air matanya. Lalu ia memandang kepada laki-laki itu. Hanya sebentar mereka bertatap pandang karena Bu Beng Kwi, seperti biasanya segera menundukkan mukanya.
"Taihiap, demikian bencikah Taihiap kepadaku?"
Bu Beng Kwi terkejut, sejenak mengangkat muka, matanya mencorong memandang wajah Sheila akan tetapi lalu menunduk kembali.
"Apa maksudmu?"
"Taihiap selalu menjauhiku, dan sekarang dengan halus mengusirku. mengapa Taihiap membenciku? Apakah karena aku seorang perempuan kulit putih? Ataukah aku memberatkan penanggungan Taihiap di sini? Kalau benar demikian, katakanlah saja, Taihiap dan aku... aku akan pergi bersama anakku, aku... tidak ingin menyusahkan Taihiap yang sudah demikian baik kepada kami..."
"Aku tidak membencimu, Toanio. Jangan salah mengerti. Dua orang muridku itu tertarik dan jatuh cinta kepadamu. Mereka terus terang di depanku dan minta perkenan dariku untuk meminangmu. Tentu saja aku memperbolehkan karena aku lihat bahwa engkau cukup berharga untuk menjadi isteri orang yang bagaimanapun juga. Akan tetapi engkau menolak mereka, memilih hidup bersunyi diri di sini? Mengapa?"
Sheila merasa betapa jantungnya berdebar kencang.
Ingin mulutnya meneriakkan bahwa ia tidak mungkin dapat meninggalkan pria ini, bahwa ia tak mungkin berpisah dari tempat ini, dari Bu Beng Kwi.
Akan tetapi tentu saja ia tidak seberani itu, karena Bu Beng Kwi sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda keramahan kepadanya, bersikap dingin, bahkan selalu menjauhkan diri.
Malah orang yang diam-diam dipujanya, dijunjung tinggi dan dicintanya ini seperti menyuruh dua orang muridnya untuk meminangnya!
"Aku sudah merasa senang dan berbahagia sekali di sini, Taihiap.
Aku tidak ingin pergi ke manapun juga.
Bukankah anakku juga berada di sini?
Kami merasa suka dan merasa aman tenteram hidup di sini, dan kesunyian di sini bahkan merupakan keheningan yang menyejukkan hati."
"Benarkah yang kau katakan itu, Toanio"
Sheila memandang kepadanya dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri.
"Perlukah aku bersumpah, Taihap? Semenjak suamiku meninggal dunia, baru sekarang aku merasakan kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketenteraman, dan aku berbahagia sekali tinggal di sini, Taihiap. Kalau boleh, aku ingin tinggal di sini, selamanya, sampai aku mati."
Kembali Bu Beng Kwi mengangkat muka memandang dengan sinar mata mencorong ketika mendengar ucapan ini, akan tetapi dia lalu membalikkan tubuhnya dan berkata.
"Aku girang sekali mendengar ini, Toanio". Dan seperti orang tergesa-gesa diapun pergi meninggalkan Sheila.
"Ya Tuhan, ampunkan semua dosaku... ya Tuhan, ampunilah saya..."
Sheila tak berani bergerak dan kini kedua pipinya basah oleh air matanya yang mengalir turun.
Sejak tadi ia mengintai dan timbul dugaannya bahwa tentu Bu Beng Kwi seringkali meratap dan menangis seorang diri seperti itu di waktu malam, Walaupun baru dua kali ini ia mengintai dan melihatnya.
Sekali ini, ratap tangis Bu Beng Kwi yang minta-minta ampun kepada Tuhan akan dosa-dosanya itu diseling doa-doa dalam bahasa yang tidak dimengertinya, doa yang biasanya diucapkan oleh para hwesio.
Kiranya Bu Beng Kwi ini pandai pula berdoa seperti pendeta, pikirnya penuh keharuan.
Dosa apa gerangan yang pernah dilakukan orang ini sehingga kini dia menyesali diri sedemikian rupa?
Sukar untuk dipercaya bahwa seorang gagah perkasa dan budiman seperti Bu Beng Kwi ini pernah melakukan dosa yang membuat dia begitu menderita dalam penyesalan.
Ingin sekali Sheila meloncat dan berlari keluar untuk merangkul dan menghibur, menyusuti air mata orang itu, akan tetapi tentu saja ia tidak berani.
"Akulah yang telah membunuh... akulah yang telah merusak kehidupannya, terkutuklah perbuatanku itu... ya Tuhan, ampunilah hambamu ini... aku sudah cukup menyiksa diri, menderita, namun hukuman ini masih belum cukup untuk menebus dosa-dosaku..."
Bu Beng Kwi meratap dan menangis, bahkan menjambak rambutnya sendiri dan ketika dia menjatuhkan diri berlutut, dia membentur-benturkan kepalanya pada tanah sampai terdengar bunyi berdebukan yang mengerikan hati Sheila.
Akhirnya dengan suatu keluhan panjang, tubuh Bu Beng Kwi itu terguling roboh dan rebah terlentang tak bergerak lagi.Sheila memandang dengan bingung dan gelisah.
Tertidurlah orang itu?
Ataukah jatuh pingsan?
Jangan-jangan dia jatuh sakit, pikirnya.
Selagi ia merasa bimbang dan ragu, menghampiri ataukah tidak, dan merasa serba salah, tiba-tiba nampak bayangan dua orang berkelebat datang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang laki-laki.
Mula-mula Sheila mengira bahwa yang datang itu adalah Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, akan tetapi karena malam itu bulan hanya muncul sepotong dan cuaca remang-remang, ia tidak dapat melihat jelas.
Baru setelah dua orang itu nampak menggerakkan tangan memukul tubuh Bu Beng Kwi, ia tahu bahwa mereka bukanlah dua orang muda itu dan iapun menjerit melihat Bu Beng Kwi dipukul.
(Lanjut ke
Jilid 07) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Desss...!."
Jerit yang keluar dari mulut Sheila itulah yang menarik kembali Bu Beng Kwi ke dalam alam sadar, akan tetapi dia telah terkena pukulan yang keras sekali pada dadanya, yang membuat tubuhnya terbanting keras dan bergulingan.
Sheila menggigil dan tak kuat berdiri, berlutut dan memandang dengan mata terbelalak penuh rasa gelisah.
Akan tetapi, setelah menerima pukulan hebat pada dadanya dan disusul tendangan keras yang membuat tubuhnya terlempar, Bu Beng Kwi yang terkejut mendengar jeritan Sheila tadi, dapat meloncat bangun kembali.
Tubuhnya yang tinggi itu nampak bergoyang-goyang sedikit ketika dua orang lawannya sudah berloncatan datang mendekat.
"Ha, lihat mukanya! Tentu dia ini orangnya!"
Terdengar seorang di antara mereka, yang tubuhnya gendut, berkata dengan suara parau dan dalam.
"Benar, Toako, tentu dia orangnya. Hei, benarkah engkau yang berjuluk Bu Beng Kwi?"
Kata yang bertubuh tinggi besar dan kedua lengannya panjang sepeti lengan orang hutan.
Bu Beng Kwi menarik napas panjang, merasa betapa dadanya nyeri.
Pukulan orang berlengan panjang tadi mengandung sinkang yang kuat dan dia tahu bahwa dia telah menderita luka cukup parah di dalam dadanya.
Bahkan mulutnya sudah merasakan darag!
akan tetapi, Bu Beng Kwi bersikap tenang ketika dia melangkah maju menghampiri dua orang itu.
"Siapakah kalian ini, orang-orang pengecut yang tidak tahu malu menyerang orang yang tidak bersiaga?"
Tanyanya, suaranya tenang namun berwibawa.
"Bu Beng Kwi, ingatkah engkau ketika engkau membunuh pasukan Tai Peng dan juga Tung-hai Siang-liong? Kami adalah rekan-rekannya, kami tokoh-tokoh Tai Peng yang datang untuk menghukummu. Berlututlah agar kamu menyerah dan kami bawa menghadap pimpinan kami di Nan-king,"
Kata yang berperut gendut.
Kini Bu Beng Kwi sudah dapat memulihkan tenaganya dan pandang matanya sudah terang kembali.
Dia melihat bahwa dua orang itu ternyata mengenakan jubah pendeta, dan rambut mereka digelung seperti biasa para Tosu menggelung rambutnya.
Akan tetapi, dia melihat gambar pat-kwa di dada mereka dan tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan dua orang tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai pemberontak yang gigih dan memiliki banyak orang pandai.
"Hemm, kiranya dua orang Tosu Pat-kwa-pai!"
Katanya dengan senyum di kulum.
"Pantas Tai Peng melakukan penyelewengan, kiranya dibantu oleh orang-orang dari Pat-kwa-pai yang terkenal berkedok agama dan perjuangan untuk mengelabui rakyat jelata. Benar, aku telah membasmi pasukan kecil Tai Peng yang melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap para pengungsi, dan kemudian Tung-hai Siang-liong yang menyerangku juga roboh binasa. Lalu kalian mau apa?"
"Hemm, manusia sombong. engkau sudah terluka parah dan menghadapi maut, masih saja membuka mulut besar dan tidak cepat berlutut menyerahkan diri?"
Bentak si lengan panjang.
"Hiante, tak perlu banyak cakap, bunuh saja dia!"
Kata yang berperut gendut dan diapun cepat menerjang ke depan, mengirim tendangan ke arah perut Bu Beng Kwi.
Si gendut ini agaknya memang ahli tendang yang amat lihai.
Biarpun perutnya gendut sekali, namun kakinya dapat terangkat tinggi, cepat seperti kilat menyambar dan mengandung tenaga yang kuat sekali ketika dia menendang.
Tendangan ini tadi pernah membuat tubuh Bu Beng Kwi terlempar jauh.
Akan tetapi sekali ini Bu Beng Kwi telah siap siaga.
Kemarahan membuat darahnya seperti mendidih dan melihat datangnya tendangan, dia bukan mengelak bahkan melangkah maju menyambut tendangan itu.
Dengan kecepatan yang tak dapat diikuti dengan mata, tahu-tahu dia telah menangkap tumit kaki yang menendang itu, terus mendorong kaki itu ke atas dengan kekuatan penuh, sedangkan tangan kanannya memukul ke arah perut gendut itu dengan tangan terbuka.
"Hukkk!!"
Tubuh si gendut itu terlempar jauh ke belakang setelah perutnya dimasuki tangan itu.
Tubuh yang gendut itu terbanting keras di atas tanah dan si gendut itu tidak dapat bangun, hanya mengaduh-aduh memegangi perutnya yang terasa mulas dan kepalanya yang benjol-benjol karena ketika terbanting tadi, kepalanya bertemu dengan batu yang keras.
Si tinggi besar menyerang pada detik berikutnya, tidak mampu menolong temannya dan kedua lengannya yang panjang itu sudah menyambar, yang kiri mencengkeram ke arah kepala Bu Beng Kwi sedangkan yang kanan menghantam ke arah lambung.
Serangannya dahsyat dan kuat bukan main sampai terdengar suara angin bercuitan ketika kedua lengan panjang itu bergerak.
Akan tetapi Bu Beng Kwi yang sudah marah bukan main itu tidak memberi kesempatan kepada lawan kedua ini.
Sebetulnya, kalau saja Bu Beng Kwi tidak terluka karena serangan gelap ketika dia dalam keadaan tidak sadar tadi, mungkin dia tidak akan menurunkan tangan besi karena tingkat kepandaian dua orang itu masih jauh di bawah kalau dibandingkan dengan tingkatnya.
Begitu melihat lengan yang tadi memukulnya menyambar, dia memapaki dengan tangan kanannya, menangkap tangan yang mencengkeram ke arah kepalanya.
Dua tangan yang jari-jarinya terbuka itu saling bertemu dan saling cengkeram, sedangkan lengan kiri Bu Beng Kwi menagkis tangan yang menghantam lambung, dan meneruskan tangkisan itu dengan mendorong dada lawan dengan telapak tangan yang menangkis itu.
"Aughhhh...!"
Si tinggi besar menjerit kesakitan karena lima buah jari yangan kirinya yang saling cengkeram dengan tangan kanan lawan itu terasa nyeri dan terdengar tulang-tulang lima jarinya patah-patah, kemudian setelah pukulannya pada lambung tertangkis, tiba-tiba telapak tangan Bu Beng Kwi sudah mengenai dadanya.
"Desss... Tubuhnya terlempar dan menimpa tubuh si gendut! Dua orang tokoh Pat-kwa-pai itu adalah orang-orang yang sudah cukup tinggi tingkatnya di perkumpulan mereka, karena mereka adalah tokoh tingkat tiga. Maka dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka ketika menghadapi Bu Beng Kwi, dalam segebrakan saja mereka telah menderita luka parah. Mereka menjadi ketakutan dan sambil setengah merangkak dan saling bantu, keduanya bangkit melarikan diri tinggang langgang tanpa pamit lagi. Bu Beng Kwi tidak melakukan pengejaran, melainkan berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, gagah dan menakutkan lawan. diam-diam Sheila yang nonton semua peristiwa itu, merasa kagum. Pahlawannya, penolongnya itu memang hebat bukan main! Akan tetapi, wanita ini menjerit ketika melihat betapa tiba-tiba tubuh yang jangkung itu terkulai dan roboh di atas tanah di dalam kebun itu! Sheila melupakan semua rasa sungkan dan takut, lalu ia berlari menghampiri. Melihat Bu Beng Kwi rebah miring, ia lalu berlutut dan memeriksa. ketia dalam cuaca remang-remang itu ia melihat wajah yang pucat itu, dan darah berlepotan mengalir keluar dari mulutnya, ia menjadi panik.
"Taihiap...!"
Ia menubruk dan mengguncang-guncang pundak Bu Beng Kwi.
"Ahh, Taihiap... sadarlah...! Taihiap...!"
Melihat betapa ketika diguncang itu Bu Beng Kwi sama sekali tidak bangun, bahkan kepalanya nampak lemas terkulai seolah-olah dia sudah tidak bernyawa lagi, Sheila menjadi khawatir sekali.
Diguncang-guncang tubuh itu, didekapnya kepala itu, dipanggil-panggilnya, namun tetap saja Bu Beng Kwi tidak bergerak.
"Ibu, ada apakah, Ibu?"
"Ahh, Henry, cepat bantu aku. gurumu telah berkelahi dan dia terluka parah. Mari kita angkat tubuhnya ke dalam pondok,"
Kata Sheila ketika melihat munculnya Han Le yang terkejut dan terbangun dari tidurnya mendengar jerit Ibunya tadi.
Han Le terkejut, hampir tak dapat percaya bahwa gurunya dapat terluka patah dalam perkelahian.
namun dia tidak bertanya lebih lanjut, membantu Ibunya dan dengan sudah payah mengangkut tubuh Bu Beng Kwi yang berat itu, setengah menyeret dan setengah mendukungnya, masuk ke dalam rumah dan erus k dalam kamar Bu Beng Kwi.
Setelah tubuh itu direbahkan di atas pembaringan dan Sheila menyalakan lma batang lilin, ia semakin gelisah melihat betapa wajah yang buruk itu nampak sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda hidup.
Hanya ketika ia meraba dadanya, jantungnya masih berdetak dan napasnya, walaupun lambat, masih berjalan.
"Cepat, kau masakkan air, Henry!"
Kata Sheila.
Anaknya itu tanpa bertanya apapun cepat melaksanakan perintah Ibunya.
Sheila menyuruh Han Le karena ia sendiri tidak sampai hati meninggalkan Bu Beng Kwi.
Ia mempergunakan kain putih yang dibasahi dengan arak yang menghapus darah yang berlepotan di mulut Bu Beng Kwi.
Hati Sheila takut bukan main tajut bukan main, khawatir kalau-kalau penolongnya itu tewas.
membayangkan betapa penolongnya itu tewas, tak terasa lagi air matanya bercucuran dan iapun menangus sambil merangkul leher yang kokoh kuat itu.
Ia menyandarkan mukanya di dada yang bidang itu sambil menangis.
Ketika Han Le masuk membawa air panas, dia melihat Ibunya menangis dalam keadaan seperti itu dan diam-diam anak ini merasa heran, juga terharu.
Dia sendiri amat sayang kepada gurunya, akan tetapi tak pernah ia melihat Ibunya demikian dekat dengan gurunya.
Diapun membantu Ibunya mencuci muka, kaki dan tangan gurunya dengan air panas, terutama sekali menggunakan kain yang direndam air panas untuk memebersihkan dada dan tubuh atas yang telah ditelanjangi karena ketika Sheila memeriksa, dia melihat tanda tapak tangan menghitam pada dada yang bidang itu.
Bu Beng Kwi memang terluka parah dan kalau saja dia tidak memiliki tubuh yang terlatih dan amat kuat, tentu pukulan dahsyat yang dilakukan lawan ketika dia dalam keadaan tidak sadar itu sudah menewaskannya.
Dia belum tewas, akan tetapi luka parah itu membuat dia tidak sadar selama tiga hari tiga malam!
Dan selama itu, Sheila tak pernah meninggalkannya lama-lama.
Bahkan wanita ini hampir tidak makan, juga tidak pernah tidur walaupun puteranya membujuknya.
Sheila merawat Bu Beng Kwi, menyuapkan air bubur encer ke dalam mulut yang masih mampu menelan dalam keadaan setengah sadar namun masih selalu memejamkan mata dan tak pernah mengeluarkan suara itu.
Pada hari keempat, pagi-pagi sekali Bu Beng Kwi menggerakkan pelupuk matanya, tubuhnya tergetar sedikit, dan diapun membuka kedua matanya.
Dilihatnya Sheila tertidur sambil bersandar pada kursi di dekat pembaringan, sambil berlutut di bawah pembaringannya, Sedangkan Han Le duduk di tepi pembaringan.
Anak itu tadinya melenggut karena kantuk, akan tetapi agaknya dia merasa bahwa gurunya bergerak, maka diapun cepat mendekatkan mukanya.
"Suhu...!"
Katanya lirih.
"Ssttt..."
Bu Beng Kwi memberi tanda agar anak itu tidak berisik sambil melirik ke arah Sheila yang tidur pulas bersandarkan kursi.
"Jangan ribut, Ibumu sedang tidur."
Sambil berbisik Han Le berkata.
"Benar, kasihan Ibu. sudah tiga hari dua malam ia tidak tidur dan baru malam ini saking lelahnya ia tertidur dan teecu menggantikannya menjaga Suhu."
Bu Beng Kwi terkejut.
"Tiga hari tiga malam? Kau maksudkan aku pingsan selama itu...?"
"Benar, Suhu. Dan Ibu selama itu menjaga Suhu, menyuapkan air bubur, membersihkan tubuh Suhu..."
Katanya dengan bangga.
"Ahhh...!"
Bu Beng Kwi membuang muka agar anak itu tidak melihat betapa kedua matanya menjadi basah.
seringkali dia merasa heran mengapa semenjak bertemu dengan Sheila, seringkali dia tidak dapat menahan mengalirnya air matanya, bahkan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Padahal, dahulu dia tidak pernah mengenal tangis!
Walaupun pernah dia menyesal secara mendalam, namun baru setelah dia bertemu Sheila saja dia banyak menangis.
Hatinya diliputi keharuan yang mendalam dan iapun memejamkan matanya kembali, seperti hendak mengusir bayangan betapa wanita itu selama tiga hari tiga malam menjaganya tanpa tidur, mungkin tanpa makan, merawatnya penuh perhatian.
Bayangan ini seperti pedang berkarat yang menghunjam dan menembus jantungnya, membuat napasnya menjadi sesak dan kesehatannya yang belum pulih kembali itu tidak kuat menerimanya, membuat dia terkulai dan pingsan lagi.
Han Le mengira Suhunya tertidur, maka dengan hati lega karena Suhunya sudah sadar dan bicara, diapun duduk melenggut dan akhirnya diapun terkulai dan tertidur di tepi pembaringan.
Ketika Sheila terbangun, dilihatnya puteranya tertidur pulas di tepi pembaringan, dan Bu Beng Kwi masih seperti malam tadi, rebah seperti orang pulas atau pingsan.
Akan tetapi dengan hati agak lega dilihatnya betapa tarikan napas Bu Beng Kwi sudah panjang-panjang dan lancar, juga ketika ia menyentuhnya, kaki tangannya sudah hangat dan merah, tidak pucat dingin seperti kemarin.
"Henry, bangunlah dan cepat masak air dan masak bubur,"
Katanya menggugah puteranya. Han Le terbangun.
"Ibu, semalam Suhu telah sadar dan bicara sebentar denganku."
"Ah, benarkah? Atau engkau hanya bermimpi? Buktinya engkau tertidur pulas."
Han Le menjadi ragu sendiri.
Benarkah dia melihat Suhunya sadar?
Ataukah hanya mimpi belaka?
Diapun cepat turun dan pergi ke dapur, sementara Sheila pergi mencuci muka dan membersihkan badan.
Ia melakukan hal itu cepat-cepat karena tidak tega meninggalkan Bu Beng Kwi terlalu lama.
Ia sudah kembali berlutut di tepi pembaringan dan melihat betapa orang itu masih juga belum sadar, ia memegang tangan Bu Beng Kwi.
"Taihiap, sembuhlah, Taihiap. Kasihanilah aku, karena hanya engkau seoranglah gantungan harapanku, engkau seoranglah yang dapat membahagiakan hidupku, dapat membimbing dan mendidik puteraku. Taihiap, kasihanilah aku dan segera sembuhlah..."
Dengan girang Sheila merasa betapa ada hawa panas menjalar dari telapak tangan yang lebar itu ke dalam tangannya, dan ia merasa pula betapa jari-jari yangan itu gemetar sedikit.
ketika ia melihat perlahan-lahan Bu Beng Kwi lepaskan pegangannya, kemudian membuka matanya, Sheila girang bukan main.
"Taihiap...! Engkau telah sembuh, bukan?"
Bu Beng Kwi membuka matanya, memandang kepada wajah Sheila sampai beberapa lamanya, kemudian dia menarik napas panjang dan bangkit duduk.
Ketika Sheila hendak merangkulnya dan membantunya duduk, dengan tangannya dia menolak dan dia duduk sendiri.
"Gan, Toanio, lukaku parah juga, perlu pengobatan. Akan tetapi aku sudah mampu megobati diri sendiri sekarang, dan banyak terima kasih atas kebaikanmu selama aku sakit, Toanio. Sekarang, beristirahatlah dan biarkan muridku Han Le yang melayaniku. Keluarlah, Toanio."
Tentu saja ada perasaan kecewa di hati wanita itu yang ingin terus melayani sampai orang itu sembuh benar.
Akan tetapi, mendengar suara yang berwibawa itu, yang bersungguh-sungguh, dan sinar mata yang mulai mencorong itu, iapun tidak berani membantah.
Pula, ia harus bertukar pakaian dan membersihkan diri benar-benar karena selama beberapa hari ini ia tidak sempat.
Juga makan.
Ia harus makan kalau tidak ingin jatuh sakit.
"Baiklah, Taihiap, semoga engkau lekas sembuh."
"Terima kasih Toanio."
Setelah sekali lagi menatap wajah buruk itu dengan sinar mata penuh kebahagiaan karena kini orang itu sudah sadar, dan wajahnya juga agak pucat karena kurang makan dan tidur itu berseri, Sheila meninggalkan kamar itu.
Ia segera menuju dapur terlebih dahulu untuk membantu puteranya memasak bubur encer dan air teh, kemudian menyuruh puteranya melayani Bu Beng Kwi sebaik mungkin.
"Layanilah dia baik-baik, anakku. Dia telah sadar dan tentu akan sembuh kembali. Ingat, kalau ada apa-apa cepat beritahu aku. Aku ingin sekali melihat dia sembuh kembali seperti sediakala."
"Ibu, susah benarkah hatimu ketika Suhu sakit?"
Han Le tiba-tiba bertanya, tangan kanan memegang panci bubur dan tangan kiri cerek teh.
"Tentu saja, bukankah kasihan melihat dia menderita?"
"Ibu sangat mencinta Suhu, ya? Seperti juga aku."
"Tentu, Henry. Dia orang baik."
"Dia orang baik, Ibu. Apakah Ayah dulu juga sebaik Suhu? Suhu selalu bercerita bahwa Ayahku adalah orang yang paling baik dan paling gagah di dunia ini, dan selalu berpesan kepadaku agar aku kelak menjadi orang gagah seperti Ayahku."
Sheila menelan ludah untuk menekan keharuan hatinya.
"Ayahmu juga orang baik sekali, akan tetapi, gurumu juga tidak kalah baik. Engkau boleh menjadi seperti Ayahmu kelak, atau seperti gurumu. Sama saja. Mereka berdualah orang-orang yang paling baik di dunia ini bagiku."
"Ibu, berapakah usia Ayah ketika dia meninggal dunia?"
Sheila menatap wajah anaknya dengan alis berkerut, tidak tahu apa yang terkandung di hati puteranya dengan pertanyaan itu, namun ia menjawab juga.
"Masih muda sekali, Henry, baru dua puluh tahun lebih..."
Anak itu memandang Ibunya dengan sinar mata tajam yang mengandung penasaran dan keheranan.
"Ayah masih begitu muda kenapa meninggal? Ibu hanya mengatakan bahwa Ayah tewas sebagai pahlawan, seorang pejuang yang gagah perkasa. Akan tetapi bagaimana matinya, Ibu? Apakah dalam pertempuran?"
Ibu muda itu menggeleng kepala.
memang ia belum menceritakan tentang kematian suaminya kepada Han Le, akan tetapi diam-diam, janda ini tidak pernah dapat melupakan orang yang telah membunuh suaminya secara kejam.
Koan Jit!
Nama itu tak pernah dapat terlepas dari ingatannya, nama yang berlumuran darah suaminya, yang diingat dengan kebencian yang sedalam lautan dan setinggi langit.
Koan Jit pembunuh suaminya yang tercinta, Koan Jit manusia yang dianggapnya paling keji dan paling jahat di dunia ini.
Walaupun ia mendengar betapa kemudian Koan J it tewas dalam perjuangan sebagai seorang gagah perkasa yang mengorbankan nyawa demi keselamatan para pimpinan pejuang yang ditawan musuh, seperti yang didengarnya dibicarakan oleh para pejuang rakyat, namun kebenciannya tak pernah dapat terhapus dari dalam hatinya.
Semula memang ia bercita-cita untuk mengusahakan agar puteranya belajar ilmu silat sampai mencapai tingkat tinggi agar dapat membalaskan kematian Ayahnya dan agar puteranya itu kelak dapat membunuh Koan Jit yang jahat.
Akan tetapi setelah mendengar kematian Koan Jit, iapun merasa kecewa dan menyesal, dan mengambil keputusan untuk tidak bercerita tentang musuh besar yang sudah tewas itu kepada anaknya.
Kini cita-citanya berubah dengan sendirinya, dan ia hanya mengharapkan puteranya kelak akan menjadi seorang gagah perkasa, seorang pendekar dan pahlawan bagi rakyatnya.
Akan tetapi kini, tiba-tiba saja puteranya bertanya tentang Ayahnya.
Ia tidak mungkin menyembunyikan lagi dan memang merupakan hak mutlak puteranya untuk tahu akan keadaan mendiang Ayahnya yang belum pernah dilihatnya itu karena Ayahnya tewas selagi Henry berada dalam kandungan.
"Tidak, anakku. Ayahmu tidak tewas dalam pertempuran dan hal ini memang membuat hatiku penasaran bukan main. Kalau Ayahmu tewas dalam perjuangan, selagi bertempur dengan musuh, maka kematiannya itu akan mengharumkan namanya. Akan tetapi tidak, Ayahmu tewas karena perbuatan seorang manusia iblis yang amat jahat, seorang manusia yang berhati kejam melebihi iblis, yang dengan curang telah membunuh Ayahmu."
"Siapakah orang itu, Ibu?"
"Namanya Koan Jit, dan dia sebetulnya adalah Suheng dari Ayahmu sendiri."
"Ah! Ah, kenapa Suheng membunuh Sutenya? Di mana orang kejam itu sekarang, Ibu?"
Wanita itu menarik napas panjang, merasa menyesal sekali.
"Dia telah mati, anakku."
"Ahh! Bagaimana dia sampai membunuh Ayah, Ibu? Aku ingin sekali mendengarnya."
Sheila lalu menceritakan tentang Gan Seng Bu, Ayah puteranya yang menjadi seorang pendekar dan pejuang yang gagah perkasa.
Thian-tok, seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang terkenal dengan sebutan Empat Racun Dunia, mempunyai tiga orang murid.
Murid pertama adalah Koan Jit yang menjadi amat lihai dan mewarisi kejahatan gurunya, menjadi seorang tokoh yang ditakuti seperti iblis saking jahat, cerdik dan lihainya.
Murid kedua adalah Ong Siu Coan yang sekarang menjadi pemimpin barisan pemberontak Tai Peng yang amat terkenal dan telah menguasai seluruh Nan-king dan daerahnya itu.
Murid ketiga adalah Gan Seng Bu.
ternyata tiga orang murid itu mempunyai watak yang berbeda-beda.
Koan Jit menjadi seorang yang jahat dan palsu di samping kelihaiannya.
Ong Siu Coan menjadi seorang yang memiliki.ambisi besar ingin menjadi Kaisar.
Gan Seng Bu berwatak sederhana dan gagah perkasa.
Biarpun gurunya seorang datuk sesat, namun dia sendiri menentang kejahatan dan menjadi seorang pendekar, bahkan pejuang yang gagah perkasa.
di dalam perjuangannya ini, dia menyelamatkan Sheila yang kemudian menjadi isterinya.
Ketika Koan Jit menyusup dan mengekor kepada bangsa asing kulit putih, menjadi seorang perwira dari orang barat, dia menggunakan muslihat untuk mendatangkan Gan Seng Bu dan Sheila yang sedang mengandung ke markas pasukan barat.
Di sini Gan Seng Bu ditangkap dan dibujuk oleh orang kulit putih untuk membantu mereka seperti Koan Jit.
Namun Gan Seng Bu tidak sudi dan akhirnya dia oleh orang kulit putih diserahkan kepada Koan Jit.
Koan Jit mengajak Sutenya itu mengadu kepandaian, Gan Seng Bu melawan, namun ketika Koan J it terdesak, dia mempergunakan pistol dan tewaslah Gan Seng Bu di tangan Koan Jit yang licik itu.
"Demikianlah, anakku. Aku membawa jenazah Ayahmu ke dusun dan engkau sudah melihat kuburannya,"
Kata Sheila menghentikan ceritanya.
Han Le mengangguk-angguk.
Kuburan itu sudah dikenalnya dengan baik, Kuburan Ayahnya dan dalam benaknya, kalau dia mengingat tentang Ayahnya, yang nampak hanyalah gundukan tanah itu saja.
"Lalu bagaimana matinya Koan Jit manusia jahanam itu, Ibu?"
Tanyanya dengan suara mengandung kebencian. Sheila menarik napas panjang.
"Tuhan agaknya tidak menghendaki agar kita membalas dendam kematian Ayahmu, Henry. Entah apa sebabnya, aku mendengar berita bahwa manusia jahanam itu telah berubah sama sekali. Dia bahkan membantu para pejuang, dan demi menyelamatkan para pimpinan pejuang yang tertawan, dia rela mengorbankan nyawanya. Dia tewas dalam usahanya yang berhasil, yaitu membebaskan para pimpinan pejuang yang tertawan musuh."
"Jadi kalau begitu, di antara tiga orang murid dari Kakek Thian-tok itu, yang dua orang telah tewas dan tinggal seorang lagi yang bernama Ong Siu Coan itu, Ibu? Kalau begitu, dia adalah paman guruku. Kaukatakan tadi bahwa dia telah menjadi pemimpin pasukan besar yang berhasil?"
"Dia juga jahat sekali!"
Sheila berkata.
"Tahukah engkau siapa pasukan yang telah membuat kita lari mengungsi, bahkan yang hampir mencelakakan kita pada waktu kita lari mengungsi itu? Dan siapa pula orang-orang yang telah menyerang gurumu sehingga terluka? Mereka itu adalah pasukan Tai Peng, dan orang-orang yang menyerang gurumu itu adalah tokoh-tokoh Tai Peng, anak buah dari Ong Siu Coan itulah!"
"Ahhh...!"
Anak itu tebelalak, merasa kecewa sekali.
"Kalau begitu, dua orang Suheng dari mendiang Ayah itu jahat semua, yang baik hanya Ayah seorang, sayang dia telah meninggal dunia."
"Benar, anakku. Akan tetapi, sekarang ada Suhumu, dia seorang yang berilmu tinggi dan berwatak baik sekali, Henry. Jadikanlah dia sebagai contoh, baik dalam belajar ilmu silat maupun wataknya. Bukankah kedua orang Suhengmu itu juga menjadi pejuang-pejuang dan pendekar-pendekar yang gagah perkasa? Engkau bahkan harus dapat melebihi mereka, anakku, maka belajarlah yang giat dan taati semua perintah gurumu."
"Tentu saja, Ibu, karena di dalam dunia ini hanya ada dua orang yang kutaati dan kucinta sepenuh hatiku, yaitu Ibu sendiri dan Suhu. Bagiku, Suhu merupakan pengganti Ayah dan aku selalu mentaatinya."
Sheila diam saja akan tetapi merasa betapa ada kebahagiaan menyelinap di dalam hatinya karena penyataan anaknya ini.
Menjadi pengganti Ayahnya!
Dan iapun memejamkan kedua matanya, melamun dan membiarkan semangatnya melayang-layang.
Langit di barat itu merah sekali.
Mugkin inilah yang menyebabkan bukit di mana tinggal Bu Beng Kwi itu olehnya diberi nama Bukit Awan Merah.
Setiap senja, langit di barat menjadi merah seperti terbakar, membentuk segala macam bentuk aneh-aneh, dan warna merah itu dihias warna perak dan kebiruan di sana-sini, membat pemandangan yang luar biasa indahnya.
Bu Beng Kwi seringkali menikmati senja di puncak uang amat sunyi, dimana terdapat lapangan rumput dihias batu-batu hitam menonjol di sana-sini.
seperti biasa, dia duduk di atas sebuah batu yang halus dan datar, menghadap ke barat.
Akan tetpi sekali ini, dia tidak menikmati keindahan matahari terbenam seperti biasanya, melainkan duduk melamun.
telinganya masih berdengung dan suara Sheila dan puteranya masih bergema di dalam telinganya, yaitu percakapan yang dilakukan Ibu dan anak iru beberapa hari yang lalu.
Dan sejak mendengar percakapan itu, Bu Beng Kwi lebih banyak termenung di puncak ini, seperti orang kehilangan semangat.
dan seperti juga hari-hari kenarin, setiap kali duduk termenung seorang diri di tempat itu, dia seperti orang linglung, bicara sendiri dan kadang-kadang mengepal tinju dan memukul tanah di depannya!
"Harus, aku harus!"
Dia menggumam.
"Soalnya hanya ada dua, hidup atau mati! Hasil atau gagal! Aku tidak boleh menjadi seorang pengecut selama hidupku!"
Demikianlah, Bu Beng Kwi bicara seorang diri, tanpa memperhatikan pemandaangan yang amat indahnya di kaki langit sebelah barat saja.
Akan tetapi ketika ada bayangan orang mendaki buki menghampirinya, dia dapat melihatnya dan seketika sikapnya berobah.
Dia cepat membereskan pakaiannya, duduk di atas batu bersila dan bersikap biasa, walaupun dia merasa betapa jantungnya berdebar keras sehingga terdengar nyaring berdegup di telinganya.
"Taihiap, kenapa masih di sini? Sejak tadi makanan malam telah saya persiapkan, juga kemarin malam dan kemarin dulu malam, akan tetapi tauhiap selalu tidak menyentuh makanan itu. Sudah beberapa hari tauhiap tidak pernah makan. kenapakah, tauhiap? Apakah engkau masih sakit?"
"Tidak, nyonya. Saya sudah sembuh."
Sheila datang mendekat, dan duduk di atas batu yang lebih rendah tak jauh dari batu yang diduduki Bu Beng Kwi.
Sejenak wanita itu nampak canggung dan ragu, akan tetapi ia selalu menelan ludah dan memaksa diri menyatakan isi hatinya.
"Taihiap, maafkan kelancanganku, akan tetapi... aku merasa seolah-olah Taihiap selalu menjauhkan diri dariku. Karena itu, timbul keraguan di hatiku, timbul perasaan takut kalau-kalau aku telah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu. Taihiap, katakanlah terus terang, apakah kehadiranku di tempat ini sebetulnya tidak kaukehendaki? Apakah... apakah sebetulnya Taihiap membenci aku? Katakanlah terus terang, kebetulan kita mendapat kesempatan untuk bicara berdua di sini."
Semua ini memang sudah lama berkecamuk di dalam hati Sheila dan baru sekarang ua kemukakan karena ia merasa tidak tahan tersiksa oleh dugaan-digaan ini.
"Dijauhkan Tuhan aku dari perasaan tidak senang, apalagi benci terhadap dirimu, Gan-Toanio."
"Kalau begitu, kenapa engkau selalu menjauhkan diri dariku, seperti... seperti orang yang tidak suka bertemu denganku, Taihiap? Padahal aku... aku... selalu berusaha untuk menyenangkan hatimu..."
Bu Beng Kwi turun dari atas batu itu dan diapun duduk berhadapan dengan Sheila, di atas batu yang rendah dan lebat.
sepasang matanya yang mencorong sinarnya itu menatap wajah Sheila penuh selidik, akn tetapi Sheila juga memandang kepadanya, tanpa ragu-ragu dan tidak menundukkan pandang matanya.
sejenak mereka saling pandang dan terdengar Bu Beng Kwi berkata, suaranya gemetar.
"Gan-Toanio, harap engkau suka berterus terang kepadaku. kenapa engkau... demikian baik kepadaku? Engkau bukan saja menyerahkn anakmu dengan tulus ikhlas, akan tetapi engkaupun bekerja mati-matian di sini untuk menyenangkan hatiku. bahkan ketika aku erluka, engkau... ah, tidakkuat aku menerima semua kebaikan itu. Kenapakah, Toanio? Kenapa engkau lakukan semua kebaikan itu? Kenapa engkau begini baik terhadap diriku?"
Sheila menghadapi pertanyaan ini dengan tabah dan iapun memandang dengan senyum dan wajah berseri.
"Taihiap, mula-mula aku sendiripun tidak mengerti. Mula-mula karena aku berterima kasih kepadamu bahwa engkau telah menyelamatkan kami dari orang-orang Tai Peng itu. Kemudian, setelah berada di sini, aku merasa berterima kasih dan kagum kepadamu, dan akupun mersa amat iba kepadamu, Taihiap. Rasa iba ini yang membuat aku mau melakukan apa saja untukmu karena aku... aku sayang kepadamu, aku suka kepadamu, aku kasihan kepadamu dan aku cinta kepadamu, Taihiap."
Sebagai seorang wanita barat, walaupun merasa kikuk, Sheila tentu saja jauh lebih terbuka daripada wanita umumnya, dan dalam hal cinta mencinta, ia merasa berhak pula mengemukakan isi hatinya dengan terus terang.
Ucapan terakhir itu seperti pukulan yang menghantam kepala Bu Beng Kwi.
Dia tersentak dan kepalanya terdorong ke belakang, kedua matanya dipejamkan dan ada rintihan halus keluar dari dadanya, tertahan di kerongkongannya.
sejenak dia memejamkan mata dan tidak menjawab.
Sheila memandangnya dan wanita ini merasa terharu.
"Taihiap, aku adalah seorang wanita asing, berkulit putih dan myngkin engkau berjiwa pejuang benci kepada kulit putih. Akan tetapi, kasihanilah aku karena di tempat ini aku menemukan kebahagiaan yang selama ini tak pernah kurasakan semenjak suamiku tewas. Aku merasa bahwa di sinilah tempatku, di sisimu, dan aku ingin melayani semua kebutuhanmu selama hidupku, Taihiap. Hanya engkau seorang yang dapat kegantungi nasib kami, aku merasa aman tenteram, bahagia dan tidak kekurangan sesuatu."
Terdengar Bu Beng Kwi menarik napas panjang dan bibirnya berbisik.
"Ya Tuhan, godaan dan siksaan apalagi yang harus hamba derita sebagai hukuman dosa hamba...?"
Karena bisikannya lirih sekali dan tidak terdengar oleh Sheila, wanita ini bertanya.
"Taihiap, apa yang kau katakan?"
Inilah saatnya, pikir Bu Beng Kwi.
selama beberapa hari ini, bahkan lebih lama lagi, dia tersiksa oleh keputusan yang harus diambilnya.
memang membutuhkan keberanian yang amat besar, dan bahkan mungkin akan mengorbankan seluruh sisa hidupnya, mengorbankan harapannya, kebahagiaannya dan segala-galanya.
Ini putusan untuk membukanya sekarang juga.
"Sheila..."
Panggilan yang baru pertama kali keluar dari mulutnya itu kaku dan asing, namun terdengar merdu bagi Sheila yang memandang dengan wajah berseri.
betapa ia sudah lama mengharapkan pendekar itu akan menyebut namanya begitu saja, bukan nyonya atau Gan-Toanio seperti biasanya, dengan sikap hormat dan dingin sekali.
"Ya, Taihiap...?"
Jawabnya dengan suara gemetar pula penuh harap cemas.
"Selama hidupku, aku bergelimang dengan dosa, bahkan aku tidak pernah mengerti, tidak pernah dapat merasakan apa artinya cinta. Yang ada padaku selama itu hanyalah nafsu semata, kejahatan, kebencian dan kekejaman. Akan tetapi sekarang, setelah aku menjadi tua, setelah aku menjadi buruk, menjadi cacat, aku... aku telah jatuh cinta... kepadamu ahhh..."
Akan tetapi Sheila tersenyum dan iapun mendekat, memegang tangan pendekar itu.
"Taihiap! Betapa bahagianya hatiku mendengar itu, Taihiap! Apa salahnya kalau orang yang semulia engkau ini jatuh cinta?"
"Akan tetapi aku sudah tua, usiaku sudah setengah abad".
"Cinta tidak mengenal usia, Taihiap, cinta itu kekal dan suci "Tapi, aku yang begini buruk, seperti setan... siapapun merasa jijik melihatku, apalagi seorang wanita sehalus dan selembut engkau..."
"Tidak, Taihiap! Engkau seorang laki-laki sempurna, engkau mulia dan cacatmu hanyalah cacat lahiriah belaka, hanya sedalam kulit. Siapa jijik kepadamu? Aku tidak! Aku cinta padamu, aku kasihan kepadamu... siapa bilang jijik...?"
Dan dalam kebahagiaannya mendengar bahwa pria yang dipujanya ini ternyata juga mencintanya, hal yang sama sekali tak pernah dibayangkannya, Bahkan agak mengejutkan karena tadinya ia mengira bahwa pria itu benci kepadanya, Sheila lalu merangkul dan mencium bibir Bu Beng Kwi dengan penuh perasaan cintanya!
Sedu sedan keluar dari dalam dada Bu Beng Kwi, tertahan di tenggorokannya dan menjadi rintihan ketika dia merasakan bibir yang lembut dan hangat wanita itu menyentuh bibirnya.
Ingin dia meronta dan menolak, namun seluruh badannya seperti lumpuh dan dia tidak dapat menahan kedua lengannya yang penuh gairah merangkul dan mendekap, kemudian menekan muka wanita itu ke dadanya, seolah-olah dia ingin menyimpan tubuh wnita itu seluruhnya ke dalam hatinya.
Akan tetapi, dia sadar dan dengan cepat, namun lembut, dia melepaskan rangkulannya, bahkan melepaskan diri dari rangkulan Sheila, bangkit berdiri dan melangkah mundur lima langkah.
"Sheila, jangan... jangan lagi sentuh diriku... ah, aku mohon padamu, jangan engkau siksa hatiku lagi... lebih baik engkau bunuh aku sekarang juga, Sheila..."
Dan tiba-tiba Bu Beng Kwi menjatuhkan diri berlutut dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya, menyerahkan pedang itu kepada Sheila, mengulurkan gagangnya ke arah wanita itu.
Sheila juga bangkit berdiri dan memandang terbelalak, mukanya pucat dan iapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu.
"Taihiap, apa artinya ini...?"
Tanyanya, penuh tuntutan karena ia sama sekali tidak mengerti akan sikap pria itu.
"Sheila, aku seorang laki-laki yang buruk rupa, cacat, dan usiaku sudah lenjut, sudah setengah abad lebih dan engkau masih muda, baru tiga puluh tahun lebih, dan engkau cantik jelita. Aku tidak berhak menyeretmu ke dalam ketuaan dan keburukan. Dan engkau berbudi agung dan mulia, sebaliknya aku... ah, engkau tidak tahu orang macam apa aku ini..."
"Aku tahu, Taihiap. Engkau adalah seorang pria yang mulia, yang gagah perkasa, dan dibalik kecacatanmu itu engkau menyembunykan cinta kasih yang suci, engkau sorang berilmu tinggi, penentang kejahatan. Aku memujimu, Taihiap, aku mengagumimu dan aku mencintaimu..."
"Tidak...! Tunggu dulu, Sheila. buka matamu baik-baik dan lihatlah siapa aku...!"
Suara itu menggetar dan tidak jelas, dan tangan kiri Bu Beng Kwi meraba mukanya, kemudian jari-jari tangannya mengupas atau menarik kulit muka itu dan...
muka itu berobah.
Kiranya muka yang seperi setan itu, yang buruk sekali pletat-pletot, yang matanya besar sebelah, hidungnya nyerong dan mulutnya miring, telinganya kecil, semua itu hanyalah semacam topeng yang amat tipis, seperti kulit dan kini setelah topeng itu dilepas, nampaklah wajah yang tidak dapat dibilang buruk, tidak cacat, dengan kulit muka agak gelap.
Begitu melihat muka ini, sepasang mata yang sudah lebar dari Sheila itu terbellak menjadi semakin lebar, mukanya menjadi pucat seperti tidak ada darahnya lagi, bapasnya terhenti dan bibirnya berkemak-kemik.
"... kau... kau... Koan... Koan... Koan Jit...!"
Tiba-tiba ia menjerit nyaring sekali dan tubuhnya terkulai.
"Ibuuuu... Ibuuuu...!"
Dari jauh terdengar suara Han Le memanggil.
Karena tidak meliht Ibunya dan gurunya, anak ini mencari-cari dan akhirnya dia tiba di kaki bukit dan memanggil-manggil.
Bu Beng Kwi mengenakan lagi topengnya, lalu mengurut tengkuk dan punggung Sheila yang tadi disambarnya dengan tangan sehingga wanita itu tidak sampai jatuh terbanting ketika terkulai pingsan.
Begitu siuman, Sheila terisak dan teringat, lalu menutupi mulut yang hendak menjerit lagi, kini terbelalak melangkah mundur sambil menatap wajah yang sudah mengenakan topeng setan itu lagi.
"Mimpi... mimpikah aku...? Taihiap... kau... kau"?"
"Engkau tidak mimpi, aku bukanlah pendekar budiman seperti yang kau sangka, Sheila. Aku adalah manusia terkutuk pembunuh suamimu, perusak kebahagiaan hidupmu, akulah manusia iblis yang amat kejam dan jahat itu. Nah, tusuklah dada ini dengan pedang, terimalah pedang ini dan balaslah kematian suamimu agar lega hatimu, lega pula hatiku. Aku siap menerima hukuman di tanganmu..."
Kini tanpa ragu-ragu lagi Sheila menerima pedang itu, digenggamnya erat-erat.
Wajahnya masih pucat dan di dalam keremangan malam yang mulai tiba karena matahari sudah sejak tadi tenggelam, ia siap menusukkan pedang itu.
Ia mengangkat muka memandang wajah itu, wajah yang amat buruk, wajah yang mendatangkan rasa iba dan kasih sayangnya, dan tiba-tiba tangan yang memegang pedang itu gemetar.
Akan tetapi ia menguatkan hatinya, mengingat bahwa di balik wajah itu yang hanya sehelai topeng terdapat wajah musuh besarnya, wajah yang amat dibencinya, wajah Koan Jit pembunuh suaminya.
Tangannya menjadi kuat "Ibuuuu...!"
Tiba-tiba terdengar teriakan Han Le tak jauh di belakangnya, dan seketika tangan itu menjadi lemas kembali.
Hampir saja ia membunuh orang yang menjadi penolongnya, penolong puteranya, guru puteranya, dan laki-laki yang dicintanya!
Kembali Sheila mengeluarkan suara menjerit, suara yang melengking karena keluar dari dalam hatinya, suara lengkingan yang mengandung rasa nyeri bukan main, pedih perih dan duka, dan dibuangnya pedang itu seperti membuang seekor ular yang menjijikkan.
Kemudian, sambil terisak ia membalik.
"Ibu...! Ada apakah...?"
Han Le sudah tiba di situ dan memegang tangan Ibunya.
"Henry... Oohhh... Henry anakku...!"
Sheila merangkul anaknya dan menangis tersedu-sedu.
"Ibu, Ibu... ada apakah...?"
Han Le mengguncang tangan Ibunya dan menjadi bingung, juga penuh kekahawatiran. Dia melihat gurunya hanya berdiri sambil menundukkan mukanya, seperti patung.
"Suhu ada apakah?"
Akan tetapi Suhunya tidak menjawab.
"Henry, mari kita pergi dari sini. sekarang juga!"
Tiba-tiba Sheila, sambil masih terisak, memegang lengan anaknya dan ditariknya anaknya, diajaknya lari menuruni bukit itu.
"Bu, pergi ke mana? Ada apa? Mengapa?"
"Diam! Kau taati saja kata-kataku. Kita pergi sekarang juga!"
Dan sambil berlari-lari Sheila menarik tangan puteranya, diajak pergi dari situ, pergi meninggalkan pegunungan itu, tanpa tujuan tertentu, kemana saja asal pergi jauh meninggalkan tempat itu, meninggalkan Bu Beng Kwi.
Dan di sepanjang perjalanan yang semalam suntuk tanpa pernah mau berhenti, Sheila terus menerus menangis, membuat Han Le menjadi bingung dan khawatir sekali.
Berulang kali dia bertanya kepada Ibunya.
"Ibu, apakah yang telah terjadi? Kenapa kita harus pergi meninggalkan Suhu seperti ini? Begini tiba-tiba dan kita meninggalkan semua pakaian kita?"
Ibunya diam saja, hanya terisak sambil berjalan terus, tersaruk-saruk.
"Ibu, kita hendak pergi ke manakah?"
Kembali tidak ada jawaban.
"Apakah Ibu bertengkar dengan Suhu? Apakah Suhu melakukan sesuatu yang membuat Ibu marah? Ibu, kenapa Ibu memisahkan aku dari Suhu? Aku sayang kepadanya, aku ingin belajar silar darinya. Ibu, kenapakah, Ibu? Apa yang telah terjadi?"
Namun Ibunya diam dalam seribu bahasa, hanya menangis dan terus menarik tangannya. hal ini membuat hati kecil Han Le menjadi penasaran sekali. Dia berhenti melangkah.
"Ibu, berhentilah. Aku tidak ingin pergi, Ibu, aku tidak mau meninggalkan Suhu."
Melihat ini, Sheila berhenti dan menahan isaknya, Di malam yang diterangi bintang-bintang sejuta di langit itu, hatinya masih penuh dengan perasaan marah dan kecewa, bingung dan gelisah.
Sikap anaknya menambah perasaan marahnya.
"Henry, dengarkan baik-baik. Engkau boleh pilih, ikut aku atau gurumu. Kalau engkau berat kepada gurumu, kembalilah dan biarkan aku pergi sendiri, biarkan aku hidup atau mati sendiri..."
"Ibu...!"
Henry menubruk dan merangkul pinggang Ibunya sedangkan wanita itu menangis lagi.
"Ibu, tentu saja aku akan ikut engkau. Akan tetapi setidaknya, katakanlah mengapa kita harus pergi malam-malam begini, dengan mendadak, meninggalkan Suhu? Apakah Ibu bertengkar dengan Suhu"
"Ya..."
"Apa sebabnya?"
"Engkau... engkau anak kecil, tidak boleh tahu dan tidak mengerti. Jangan tanyakan sebabnya. Mari, kita lanjutkan perjalanan."
Melihat kenekatan Ibunya, Han Le tidak berani membantah lagi, namun diam-diam hatinya penuh dengan rasa penasaran.
Sambil melangkah, setelah mereka berdiam diri dan terus berjalan sampai lama sekali, dia akhirnya mengeluarkan isi hatinya yang ditahan-tahan sejak tadi, dengan hati-hati.
"Ibu, begitu besarkah kesalahan Suhu sehingga Ibu tidak dapat memaafkannya?"
"Aku tidak dapat memaafkannya."
"Kenapa?"
"Jangan tanyakan itu."
"Tapi, kata Ibu, Suhu adalah seorang yang paling mulia di dunia ini..."
"Henry!"
Sheila setengah menjerit.
"Jangan bicarakan akan hal itu lagi, jangan sebut-sebut dia didepanku!"
Han Le tidak berani bicara lagi dan mereka melanjutkan perjalanan, dan fajar telah mulai nampak di ufuk timur.
Sementara itu, setelah Sheila dan Han Le pergi meninggalkannya, Bu Beng Kwi merasa seolah-olah seluruh tubuhnya menjadi lumpuh.
Dia roboh berlutut dan menangis seperti anak kecil, sesenggukan dan sama sekali dia tidak mampu mengendalikan perasaannya.
Segala hal yang terjadi di masa lalu, terbayanglah dan membuat hatinya semakin tertusuk dan perih.
Sudah lama sekali dia menyesali diri, sudah lama sekali dia kembali ke jalan benar, berubah sama sekali dari jalan hidupnya yang lalu.
Namun, belum pernah kejahatannya di masa lalu membuat dia demikian menyesal seperti saat ini!
Belasan tahun yang lalu, dia terkenal sebagai Hek-eng-mo (Iblis Bayangan Hitam), ketika namanya masih Koan Jit, murid pertama dari datuk sesat Thian-tok.
Dia tidak mau kalah oleh gurunya dalam kesesatan.
kejahatannya membuat dia ditakuti dan disegani orang.
Tidak ada kejahatan yang tidak dilakukannya.
Sampai akhirnya dia menghambakan diri kepada orang kulit putih untuk mencari kedudukan.
Dia diangkat menjadi perwira dan memperoleh kepercayaan dan kamuliaan.
Kemudian dia membunuh Gan Seng Bu, Sutenya sendiri yang dianggap sebagai orang berbahaya baginya.
Dibunuhnya dengan curang ketika dia tidak mampu mengalahkannya, yaitu dalam perkelahian dan dia mempergunakan pistolnya.
Akan tetapi akhirnya, semua cita-citanya gagal.
Dia kehilangan harta bendanya yang diambil oleh gurunya sendiri bersama Ong Siu Coan, kehilangan semua pusaka termasuk Giok-Liong-Kiam.
Bahkan dia kehilangan kedudukannya, dan dalam keadaan putus asa ini, dia bertemu dengan Siauw-Bin-Hud, Kakek sakti tokoh besar Siauw-Lim-Pai, dan Kakek inilah yang menyadarkannya, memberinya sebuah ilmu silat yang berdasarkan ayat-ayat suci dari kitab suci Agama Buddha.
Dan dalam menghafal isi ayat-ayat inilah dia tersadar dan seluruh kehidupannya berubah sama sekali.
Dia menyadari semua dosanya, menyesal dan bertaubat.
bahkan dia lalu turun tangan menolong ketika para pimpinan pejuang ditawan oleh pasukan pemerintah Ceng dan pasukan kulit putih.
Dia rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan para pimpinan pejuang itu, membiarkan jalan terowongan menuju ke tempat tahanan itu runtuh menimpa dirinya untuk menutup terowongan itu sehingga pasukan musuh tidak mampu melakkan pengejaran terhadap para pimpinan pejuang yang meloloskan diri.
Dia masih teringat akan semua peristiwa itu.
Tentu orang-orang, baik dari pihak para pendekar pejuang maupun dari pasukan musuh, merasa yakin bahwa dia sudah tewas, tubuhnya hancur dan rusak teruruk terowongan yang runtuh itu.
Akan tetapi, agaknya Tuhan belum ingin mencabut nyawanya.
Ledakan alat peledak itu entah bagaimana, tidak membuat di mati, juga ketika terowongan itu runtuh, ada batu-batu besar yang runtuh terlebih dahulu dan batu-batu inilah yang menyelamatkannya karena batu-batu ini menahan semua reruntuhan dari atas.
Biarpun tubuhnya luka-luka, lengannya patah-patah sehingga menjadi bengkok dan kakinya juga patah-patah sehingga kini dia terpincang-pincang, namun akhirnya dia dapat lolos dan membuat lubang keluar dari tumpukan batu-batu itu dan membebaskan diri!
Sampai berbulan-bulan dia rebah kesakitan, menderita antara mati dan hidup.
Namun akhirnya diapun sembuh.
Lengan kirinya bengkok-bengkok, kakinya pincang sebelah dan punggungnya bongkok.
Untung bahwa mukanya tidak cacat, akan tetapi dia tidak mau lagi dunia mengetahui bahwa orang yang bernama Koan Jit masih hidup.
Diam-diam diapun merasa menyesal mengapa dia tidak mati saja.
Terpaksa dia lalu mempergunakan sebuah topeng yang tipis dan seperti kulit, untuk menutupi mukanya dan muncullah tokoh Bu Beng Kwim sedangkan tokoh Koan Jit sudah dianggap tidak ada kagi di dunia ini.
Bahkan ketika dia mengambil dua orang murid yang berbakat, yaitu Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dia adalah Bu Beng Kwi dan dua orang murid inipun tidak pernah melihat wajah Suhu mereka sebagai Koan Jit!
Dia sudah mengambil keputusan yang tetap, bahwa dia akan mati sebagai Bu Beng Kwi dan selamanya tidak akan pernah membuka kedoknya.
Namun, agaknya Tuhan menhendaki lain!
Secara kebetulan sekali, hari itu dia melihat pasukan Tai Peng menganggu para pengungsi.
Dia turun tangan dan dia dihadapkan dengan Sheila dan puteranya!
Tentu saja dia mengenal Sheila dan sudah ingin meninggalkannya.
Akan tetapi kembali Tuhan menghendaki lain.
Putera Sheila itu terluka dan wanita itu mohon kepadanya untuk mengobatinya.
Terpaksa dia tidak dapat menolaknya, mengobati Han Le dan melihat bakat baik pada diri Han Le, timbul keinginannya untuk mengambil anak itu menjadi murid.
Bagaimanapun juga, anak itu adalah keponakannya sendiri.
Bukankah anak itu putera dari Sutenya, Gan Seng Bu, yang mati di tangannya sendiri?
Biarlah dia menebus dosanya dengan mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Han Le!
Demikanlah maksudnya, dan tidak ada maksud lain.
Bahkan ketika terpaksa menerima Sheila yang tidak dapat terpisah dari puteranya, dia tidak mempunyai niat lain.
Biarkan Ibu itu menemani puteranya dan setelah tamat belajar, Han Le tentu akan pergi bersama Ibunya.
Itu kehendaknya.
Namun, Tuhan menghendaki lain!
Tanpa diduganya sama sekali, dia telah jatuh cinta kepada Sheila!
Dahulu sekali, ketika Sheila menjadi isteri dari Sutenya, yaitu Gan Seng Bu, pernah dia memandang wanita itu dengan kagum.
Namun, ketika itu, yang timbul dalam perasaannya hanyalah nafsu saja, nafsu berahi seperti kalau dia melihat wanita cantik lainnya.
Akan tetapi sekarang lain lagi!
Dia benar-benar jatuh cinta!
Dia merasa kasihan, kagum dan juga berdosa terhadap wanita itu, yang kehilangan kebahagiaannya karena dia!
Dan dia melihat betapa wanita itu sungguh memiliki watak yang amat halus, mulia dan membuat dia merasa tergila-gila.
Namun, semua ini ditahannya dan dia rela tersiksa oleh cintanya ini sampai hampir setiap malam dia menangisi dirinya, gelisah dan rindu seorang diri!
Dia berniat untuk mempertahankan diri, merahasiakan cintanya dan tidak akan mengaku, tidak akan mengganggu Sheila.
Akan tetapi, hal yang sama sekali tak pernah disangka atau diimpikannyapun terjadilah.
Sheila jatuh cinta pula kepadanya!
Sheila, wanita yang demikian cantik jelita, yang demikian halus budi pekertinya, wanita yang semulia-mulianya wanita, masih muda dan cantik, dapat jatuh cinta kepada seorang manusia berwajah setan seperti dia!
Sungguh hal ini sukar untuk dapat dipercaya, tidak dapat diterimanya.
Namun, dia melihat buktinya ketika dia dalam keadaan sakit.
Betapa Sheila menjaga dan merawatnya tanpa memperdulikan kesehatan dirinya sendiri.
tidak makan tidak tidur sampai tiga hari.
dan seringkali menangisinya, mengira dia pingsan dan tidak menduga bahwa dia mendengar semua ucapan Sheila yang jelas menyatakan harapan dan cintanya.
Hal inilah yang amat menyiksa hatinya.
Dia jatuh cinta kepada Sheila, hal ini masih belum hebat dan kiranya dia akan dapat menahan perasaannya, diam-diam membiarkan hatinya yang menderita siksaan penuh rindu dendam, penuh rasa cinta yang tak dapat disampaikannya.
Akan tetapi, sungguh merupakan hal yang luar bisa hebatnya, yang amat menyiksa hatinya ketika dia mendapat kenyataannya bahwa Sheila juga mencinta dirinya, mencinta dengan tulus ikhlas, cinta yang murni.
Cinta mereka berdua bukan sekedar cinta nafsu belaka, bukan karena dorongan berahi.
Cinta mereka digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam lagi, membuat mereka masing-masing merasa betapa mereka saling membutuhkan dan agaknya tidak akan dapat hidup bahagia kalau tidak hidup bersama.
Dia harus mengakhiri siksa keraguan ini dengan kenyataan.
Sheila amat membenci kepada Koan Jit dan menaruh dendam setinggi langit.
Akan tetapi, Sheila juga mencinta Bu Beng Kwi!
Maka, dia harus membiarkan wanita ini memilih satu di antara dua.
Benci atau cinta, walaupun hal itu berarti mati atau hidup baginya.
Dia harus membuka kedoknya, memperkenalkan diri, membuka rahasianya bahwa Bu Beng Kwi adalah Koan Jit.
Hal ini membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Belum pernah selama hidupnya dia dihadapkan dengan rasa takut dan khawatir seperti itu.
Dan dia tetap melakukannya.
Dan Sheila telah memilih.
Sheila tetap membenci Koan Jit dan karena ternyata oleh wanita itu bahwa Bu Beng Kwi adalah Koan Jit, maka Sheila telah mengambil keputusan.
Pergi meninggalkannya.
Pergi begitu saja, membawa puteranya, muridnya yang amat disayangnya!
Habislah sudah!
Bahkan Sheila masih menambahkan penderitaannya, yaitu bahwa wanita itu tidak mau membunuhnya!
Membiarkan dia hidup untuk menderita siksa batin yang lebih hebat dan lebih lama lagi.
Kalau saja Sheila tadi menusukkan pedang itu, dia tentu sudah mati dan siksaan itupun sudah habis.
Kini dia menangis seorang diri, mulai disiksa oleh perasaan sesal, kecewa, duka yang amat mendalam, merasa betapa hidupnya kosong dan sunyi, membuat dia kesepian ditinggalkan dua orang yang paling disayangnya dalam hidupnya.
Apa bedanya ini dengan mati?
Tiba-tiba Bu Beng Kwi menghentikan tangisnya, duduk bersila sambil termenung.
Perlahan-lahan mulutnya membentuk senyum, biarpun senyum yang menyedihkan, senyum mengandung duka.
Dia tidak takut mati, kenapa takut siksaan ini?
Bukankah dia selalu mengharapkan hukuman bagi dosa-dosanya?
Dan kini hukuman itu tiba, hukuman dari satu di antara kejahatannya.
Mengapa dia harus menerimanya dengan keluh kesah?
Biarlah, selamat datang hukuman, datanglah dan siksalah diriku lahir batin, biar lunas hutangku, demikian pikiran ini menenangkan batinnya.
Diapun lalu bangkit dan sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari puncak bukit itu.
Setelah berjalan dengan susah payah, semalam suntuk, pada pagi harinya, Sheila dan Han Le berhenti di tepi sebuah hutan karena sudah tidak kuat lagi bagi Sheila untuk melanjutkan gerakan kakinya.
Ia jatuh terduduk dan mengeluh sambil memijit-mijit kedua kakinya.
"Ibu lelah...?"
Han Le mendekat dan anak ini mengurut-urut betis Ibunya.
Sheila merasa terharu dan merangkul anaknya sambil menangis.
Sudah mendesak di ujung lidah Han Le untuk bertanya lagi kepada Ibunya tentang kepergian mereka, namun dia teringat bahwa Ibunya tidak suka mendengar pertanyaan itu, maka diapun diam saja.
"Aku lelah dan ingin beristirahat sebentar, anakku."
Melihat Ibunya merebahkan diri begitu saja di atas rumput, Han Le merasa kasihan sekali dan dia teringat betapa mereka tidak membawa apapun.
Andaikata ada selimut, atau setidaknya baju mantel panjang, tentu dia dapat menyelimuti tubuh Ibunya yang nampak kedinginan karena hawa udara di pagi hari itu amatlah dinginnya.
Melihat betapa sebentar saja Ibunya sudah pulas, Han Le yang juga merasa lelah itu rebah di dekat Ibunya dan tak lama kemudian diapun sudah tidur pulas.
Matahari telah naik tinggi ketika Sheila terbangun dari tidurnya, Ia merasa tubuhnya hangat dan ketika ia melihat ke bawah, ternyata tubuhnya telah tertutup selimut.
Juga tubuh Han Le yang masih pulas itu tertutup selimut tebal dan ia mengenal selimut mereka sendiri yang mereka tinggalkan di dalam kamar mereka.
"Ehh...?"
Sheila merasa terkejut dan terheran, apalagi ketika ia melihat dua buntalan pakaian berada di dekatnya.
Ketika ia memeriksanya, ternyata dua buntalan itu terisi pakaiannya dan pakaian Han Le!
"Henry...!"
Katanya mengguncang-guncang kaki Han Le. Anak itu terbangun dan cepat duduk.
"Ada apakah, Ibu?"
"Apakah semalam engkau mengambil selimut dan pakaian ini?"
Tanyanya.
Han Le memandang selimut yang telah menyelimuti dirinya dan buntalan pakaian itu, menggeleng kepala dan memandang ke kanan kiri, mencari-cari dengan matanya, mencari penuh harapan.
Sheila mengerti maksudnya dan iapun menoleh ke kanan kiri, akan tetapi keadaan di situ sunyi saja, tidak nampak seorang pun manusia.
Seperti juga Han Le, ia dapat menduga bahwa tentu yang menyelimuti mereka dan mengantar buntalan pakaian adalah Bu Beng Kwi.
Kalau bukan dia siapa lagi?
dan iapun merasa marah, menyepak selimut itu dari tubuhnya.
"Ibu, tentu Suhu yang mengantar ini semua!"
Ibunya mengangguk dengan mulut cemberut, lalu mendorong buntalan pakaiannya itu dari dekatnya.
"Ibu, ini adalah pakaian kita sendiri, dan selimut kita sendiri..."
"Hemmm..."
Sheila tetap cemberut.
Melihat Ibunya bersungut-sungut dan nampak marah, Han Le tidak mau bicara lagi tentang Suhunya dan tanpa bicara dia lalu melipat selimutnya dan selimut Ibunya, memasukkan ke dalam buntalan masing-masing.
Hatinya merasa sedih bukan main.
Semalam dia masih mengharapkan Ibunya akan mereda kemarahannya dan akan kembali ke Bukit Awan Merah.
Akan tetapi sekarang, Suhunya tidak mengharapkan mereka untuk kembali ke sana?
Bukankah pengiriman buntalan pakaian itu sama dengan mengusir secara halus?
Tak terasa lagi, dua titik air mata turun ke atas pipinya.
cepat dua butir air mata itu dihapusnya dengan ujung lengan baju, akan tetapi Sheila masih sempat melihatnya.
"Henry, engkau menangis?"
Anak itu memandang Ibunya, menggeleng kepala.
"Aku... aku lapar, Ibu, biar aku akan mencari kelinci atau ayam didalam hutan."
Setelah berkata demikian, Henry lalu lari ke dalam hutan, meninggalkan Ibunya.
Sheila duduk termenung, tidak melihat kecerahan matahari pagi yang sudah naik tinggi itu.
Hidup terasa sunyi dan tidak menyenangkan, sekelilingnya nampak buruk dan mengganggu.
Ia merasa seperti baru saja direnggutkan dari surga dan dicampakkan ke dalam neraka.
dan semua ini gara-gara Koan Jit, si jahanam itu!
Makin bencilah ia kalau teringat kepda KoanJit.
Anehnya, hatinya tidak dapat membenci Bu Beng Kwi si muka buruk itu!
Padahal, bukankah Bu Beng Kwi adalah Koan Jit pula?
Tidak, ia tidak dapat menerima hal ini, tidak dapat percaya.
Bagaikan mimpi saja semua itu!
Bagaimana mungkin Koan Jit si muka iblis itu, yang teramat jahatnya, sama orangnya dengan Bu Beng Kwi yang demikian budiman dan mulia?
"Sudahlah, aku tidak mau lagi mengingatnya."
Ia menaik napas panjang.
Habislah sudah riwayat bersama Bu Beng Kwi itu, habislah sudah harapannya, habislah sudah hidup tenang tenteram penuh damai dan bahagia di Bukit Ayam Merah.
Ia tidak perlu menceritakan hal itu kepada Henry.
Anak itu masih terlalu kecil untuk menderita kecewa dan menyesal seperti yang dideritanya.
Ia tahu betapa puteranya itu mencinta gurunya.
Akan merupakan pukulan batin yang amat hebat kalau ia memberitahu anaknya bahwa Suhunya itu sebetulnya bukan lain adalah Koan Jit, musuh besar mereka yang tadinya disangka tewas akan tetapi ternyata masih hidup itu.
Tidak, Henry tidak boleh tahu, Kelak, kalau anak itu sudah dewasa dan memiliki kepandaian tinggi, baru akan diberitahu dan kalau mungkin, biar anak itu yang akan membunuh Koan Jit, membalaskan kematian Ayah kandungnya.
Akan tetapi, harapan untuk menjadikan Henry seorang pendekar perkasa juga kini telah lenyap.
Siapa lagi yang akan mampu mendidik Henry seperti Bu Beng Kwi?
Sheila tersentak dari lamunannya ketika muncul Han Le yang membawa seekor kelinci gemuk dan seekor ayam hutan gemuk.
Kedua binatang itu telah mati!
"Lihat, Ibu!
Hanya dengan sambitan batu saja aku dapat membunuh dua ekor binatang ini.
Dagingnya tentu lunak dan sedap.
Dan lihat apa yang kudapatkan di jalan tadi.
Seguci garam!
Tentu ditinggalkan seorang pemburu.
Sungguh untung sekali.
Dengan garam ini kita dapat makan daging yang lezat!"
Anak itu tertawa gembira dan Sheila ikut pula tersenyum, menahan lidahnya yang hendak bergerak mengatakan dugaannya bahwa agaknya yang membantu anak itu mendapatkan kelinci, ayam dan garam, tentu sama orangnya dengan yang memberi selimut dan buntalan pakaian pagi tadi!
Karena tahu bahwa puteranya lapar dan perutnya sendiripun lapar, tanpa banyak cakap lagi Sheila membersihkan kelinci dan ayam itu, dibantu puteranya, dan mereka lalu memanggang daging kelinci dan ayam itu, setelah diberi garam.
Mereka makan dengan lahap dan setelah kenyang dan munum air sumber yang berada di dalam hutan, mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan.
"Ke mana kita akan pergi sekarang, Ibu?"
Kata Henry sambil menggendong dua buntalan pakaian itu di atas punggungnya.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 4
Baca Juga: Jodoh Rajawali 7