Eps 4 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.
Sheila memandang puteranya dengan hati penuh iba.
Ia sendiri tidak tahu kemana harus pergi dan ia tahu benar bahwa kepergiannya meninggalkan tempat yang aman tenteram bersama Bu Beng Kwi itu berarti memulai suatu perjalanan dan petualangan yang penuh dengan kekurangan, kesengsaraan, bahkan bahaya.
"Kemana saja, anakku, asal bisa bertemu sebuah dusun. Kita akan hidup baru, aku akan bekerja dan kita hidup di dusun seperti dulu sebelum kita terpaksa lari mengungsi."
Han Le adalah seorang anak yang cerdik. Melihat betapa wajah Ibunya pucat dan lesu, sinar matanya (Lanjut ke
Jilid 08) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 layu, dia tidak mendesak karena maklum bahwa pertanyaannya hanya akan membuat hati Ibunya menjadi semakin berduka.
Mereka berjalan terus menuju ke selatan, melalui jalan setapak, jalan liar yang membawa mereka menuju ke sebuah gunung yang nampak dari jauh menjulang tinggi sehingga puncaknya tidak nampak karena tertutup oleh awan putih.
Ketika mereka mulai mendaki kaki gunung itu, dari bawah nampaklah sekelompok bangunan di lereng gunung.
Giranglah rasa hati Sheila dan dengan penuh harapan baru ia berkata kepada puteranya sambil menuding ke arah kelompok bangunan itu.
"Kita pergi kesana, Henry!"
Ketika itu matahari mulai condong ke barat dan melihat jaraknya, mungkin pada senja hari itu mereka baru akan dapat tiba di perkampungan yang berada di lereng gunung itu.
Akan tetapi baru kurang lebih satu jam mereka mendaki kaki gunung, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan muncul tiga orang laki-laki yang usianya rata-rata tiga puluh lima sampai empat puluh tahun.
Melihat pakaian mereka yang serba ringkas, mereka itu bukanlah petani, kalau bukan pemburu tentu orang-orang dari kalangan persilatan.
Apalagi melihat gagang golok nampak tersembul di balik pundak mereka.
Diam-diam Sheila merasa terkejut dan khawatir, karena selama ini ia sudah banyak bertemu dengan orang-orang dan dapat menduga bahwa tiga orang itu adalah orang yang biasa mempergunakan kekerasan.
Ia menggandeng tangan anaknya, digenggamnya erat-erat dan sambil menundukkan muka, ia berjalan terus sambil menundukkan muka, ia berjalan terus sambil mepet ke pinggir, dengan harapan agar jangan menarik perhatian tiga orang itu.
Namun usahanya itu sia-sia belaka.
Biarpun ia sudah mencoba untuk menutupi rambutnya, tetap saja nampak segumpal rambut kuning keemasan terjuntai keluar, dan kulit tangannya yang putih itu menarik perhatian tiga orang itu yang segera berhenti dan menghadang di depannya.
"Siapakah kalian dan hendak ke manakah?"
Terdengar seorang di antara mereka, yang mulutnya tersenyum genit, matanya agak juling, menegur.
Sheila mengangkat muka memandang dan ia terkejut.
Sebuah wajah yang membayangkan kekejaman, pikirnya.
Dan ketika ia mengangkat muka, tiga orang pria itu mengeluarkan seruan kagum.
Kiranya wanita yang mereka jumpai adalah seorang wanita kulit putih yang amat cantik!
Matanya kebiruan, hidungnya mancung dan bibirnya kemerahan segar.
"Kami Ibu dan anak hendak pergi ke dusun di atas sana,"
Jawab Sheila dengan suara lirih.
"Wah, ia tentu mata-mata Tai Peng yang mengadakan kontak dengan orang kulit putih!"
Kata orang kedua yang mukanya hitam.
"Atau ia mata-mata bangsa kulit putih yang mengadakan persekongkolan dengan pemberontak Tai Peng!"
Kata orang ketiga. Mendengar ucapan tiga orang itu, Han Le yang sejak tadi memandang mereka penuh perhatian, segera maju membela Ibunya.
"Ibu bukan mata-mata Tai Peng, juga bukan mata-mata pasukan kulit putih!"
"Anakku berkata benar. Kami adalah rakyat biasa yang terlunta-lunta karena perang dan kami pergi mengungsi, mencari tempat tinggal baru. Kami hendak pergi ke dusun di atas itu."
Tiga orang itu saling pandang lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, manis, siapa dapat kau tipu? Engkau seorang wanita kulit putih, mengaku rakyat? Ketahuilah, kami bertiga adalah perwira-perwira pemerintah yang melakukan penyelidikan. Kau dan anakmu kami tangkap untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Berkata demikian, si mata juling sudah menyodorkan tangannya untuk menangkap lengan tangan Sheila. Wanita itu melangkah mundur.
"Jangan ganggu kami, kami tidak bersalah apa-apa!"
Kata Sheila dengan ketus, akan tetapi diam-diam ia merasa khawatir sekali.
Baru sehari saja meninggalkan Bukit Ayam merah, sudah bertemu gangguan.
Ah, betapa aman tenteramnya tinggal di Bukit Ayam Merah!
"Eh, engkau hendak melawan perwira pasukan pemerintah?
Menyerahlah untuk kami tangkap dan kami bawa ke markas, daripada kami harus menggunakan kekerasan!"
Kata orang bermata juling, suaranya mengancam dan kini kembali dia melangkah maju untuk menangkap lengan Sheila.
"Jangan ganggu Ibuku!"
Han Le sudah meloncat ke depan Ibunya dan menjaga Ibunya dengan sikap gagah.
Biarpun baru kurang dari setahun dia belajar silat kepada Bu Beng Kwi, namun dia sudah dapat melihat gerakan si juling tadi yang jelas hendak menangkap lengan Ibunya dan sikapnya juga kurang ajar sekali.
Melihat ini, si juling tertawa.
"Ha-ha, anak setan, minggirlah engkau!"
Katanya dan diapun menampar ke arah kepala Han Le.
Akan tetapi dengan gesit, Han Le yang usianya baru hampir empat belas tahun itu mampu mengelak ke samping.
Si mata juling tidak memperdulikan lagi kepada Han Le, melainkan menubruk ke arah Sheila.
Ingin dia menangkap dan memeluk wanita kulit putih yang cantik itu, karena sejak melihatnya, sudah timbul berahinya.
Akan tetapi, tiba-tiba Han Le meloncat ke depan dan dengan gerakan cepat, kakinya menendang sekuat tenaga ke arah sambungan lutut kiri si mata juling.
"Tukk...! Aduhh...!"
Si mata juling juga terkejut dan sambungan lutut kirinya yang kena tendang itu tiba-tiba menjadi lumpuh sehingga dia jatuh berlutut dengan kaki kirinya, dan pada saat itu, tangan Han Le sudah memukul dengan jari terkepal ke arah dadanya.
"Dukk...!"
Dan tubuh si mata juling itupun terjengkang dan terbanting!
Namun, si mata juling itu termasuk seorang perwira Kerajaan Ceng yang cukup tangguh dan memang harus diakui bahwa kekuatan Han Le belum begitu besar.
Maka, pukulan itu hanya mendatangkan rasa nyeri dan pengap saja.
Si mata juling sudah meloncat bangun dan melotot marah kepada Han Le.
mata yang juling kalau dipakai melotot nampak lucu karena bukan Han Le yang dipandangnya, akan tetapi matanya itu melirik ke kanan.
"Bocah keparat, engkau kepingin mampus!"
Bentaknya.
"Bunuh dia, biar aku tangkap Ibunya!"
Katanya kepada dua orang temannya.
Karena si juling itu ternyata merupakan pimpinan, Kedua orang itupun mentaati perintahnya dan mereka berdua sudah menerjang maju dengan tangan dikepal.
Mereka menyerang Han Le dengan keyakinan bahwa sekali terjang dan sekali pukul saja, kepala dan dada anak itu akan remuk dan tewas di saat itu juga.
Akan tetapi mereke kecelik.
"Wuuutt! Wuuutt!"
Pukulan-pukulan mereka yang dilakukan amat kerasnya itu mengenai angin kosong belaka!
Han Le amat lincah dan gesit, dapat mengelak dengan geseran-geseran kaki kanan kiri.
Sementara itu si mata juling sudah menubruk Sheila dengan penuh nafsu.
Sheila menjerit melihat puteranya dikeroyok dua.
Ia lebih mengkhawatirkan anaknya daripada dirinya sendiri dan karena ia memperhatikan puteranya, dengan mudah si mata juling dapat merangkul dan memeluknya, kemudian mencoba untuk menciumnya penuh nafsu.
Sementara itu, Han Le yang dapat mengelak beberapa kali itu, berhasil pula menyelinap dan meloncat melalui bawah ketiak si muka hitam dan melihat Ibunya meronta-ronta dalam pelukan si mata juling yang belum juga berhasil menciumnya, Han Le menjadi marah sekali.
"Desss...!"
Dari belakang, Han Le memukul punggung si mata juling.
"Hekkk...!"
Si mata juling terkejut dan untuk sejenak napasnya menjadi sesak. Terpaksa dia melepaskan rangkulannya dari tubuh Sheila, membalik dan marah bukan main.
"Apakah kalian tidak mampu membunuh binatang cilik itu?"
Bentaknya kepada dua orang pembantunya. Dua orang itu menjadi malu, juga penasaran maka mereka berdua mencabut golok dan menghampiri Han Le dari kanan kiri.
"Henry, larilah...!"
Sheila menjerit ketika melihat puteranya diancam dengan golok oleh dua orang itu.
Akan tetapi, si juling sudah menubruknya lagi.
Kini Sheila dapat meloncat ke belakang dan lari ke belakang sebatang pohon, dikejar oleh si mata juling.
Pada saat dua orang yang mengepung Han Le menggerakkan golok, tiba-tiba mereka menjerit kesakitan dan golok mereka terlepas dari tangan!
Tangan kanan mereka terasa nyeri dan kaku, seperti terkena tototkan.
mereka tidak melihat datangnya batu kerikil yang tadi menyambar dan mengenai lengan mereka.
Pada saat yang hampir bersamaan, ketika si mata juling berhasil menangkap kembali lengan Sheila, Tiba-tiba diapun menjerit dan melepaskan kembali lengan itu karena tangan kanan yang menangkap itu menjadi kaku dan nyeri seperti ditotok!
Sesaat dia dan dua orang kawannya terkejut, akan tetapi karena tidak melihat sesuatu, si mata juling kembali mengulang terjangannya menubruk Sheila, sedangkan dua orang pembantunya sudah mengambil kembali golok mereka dan siap menyerang dan membunuh Han Le.
Pada saat itu, secara beruntun menyambar sinar-snar hitam kecil ke arah tiga orang itu dan merekapun berteriak kesakitan.
Topi mereka terjatuh dan di kepala mereka tiba-tiba saja muncul benjolan-benjolan sebesar telur ayam yang matang biru!
Rasa nyeri yang hebat membuat mereka memegangi kepala sambil mengaduh-aduh, tidak tahu apa yang menyebabkan kepala mereka terasa demikian nyeri sehingga benjol-benjol, tidak tahu, Saking cepatnya betapa ada batu-batu kerikil secara beruntun menyambar dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata dan mengenai kepala mereka.
Rasanya bagaikan disengat lebah besar sehingga kepala mereka berdenyut-denyut, pening dan badan menjadi panas dingin, pandang mata menjadi kabur berkunang.
Tiga orang itu maklum bahwa kalau bukan Ibu dan anak itu yang sesungguhnya merupakan orang-orang lihai, juga tentu ada orang pandai yang secara sembunyi melindungi mereka, maka tiga orang itupun lari tunggang langgang.
Mereka berada di daerah musuh, maka mereka tidak berani banyak tingkah lagi.
Melihat betapa tiga orang itu melarikan diri, Sheila dan Han Le menjadi lega dan girang.
Han Le memandang ke kanan kiri, lalu tiba-tiba berseru nyaring.
"Suhu...! Suhu!!"
Namun, hanya gema suaranya saja yang sahut menyahut, dan tidak nampak seorangpun manusia.
Keadaan sunyi, tidak ada yang bergerak kecuali rumput dan daun-daun pohon yang bergoyang tertiup angin.
Sheila Juga memandang ke kanan kiri, mengerutkan alisnya ketika ia baru sadar bahwa besar sekali kemungkinan mereka mendapat pertolongan dan perlindungan dari Bu Beng Kwi.
Benarkah orang itu yang melindungi mereka, seperti juga yang mengirim selimut dan buntalan pakaian?
Kelinci dan ayam hutan yang demikian mudah dirobohkan puteranya?
Dan garam itu?
Hatinya merasa tidak enak.
Sungguh tidak menyenangkan dilimpahi budi oleh Koan J it, musuh besarnya!
"Sudahlah, mari kita lanjutkan pergi ke dusun di sana itu, khawatir kalau keburu malam,"
Katanya sambil menggandeng tangan puteranya.
Han Le masih memandang ke kanan kiri penuh harapan, namun dia tidak membantah ketika Ibunya mengajaknya mendaki pegunungan itu, menuju ke dusun yang nampak dari bawah tadi.
Ibu dan anak ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka telah memasuki daerah perbatasan antara daerah yang dikuasai pasukan Tai Peng dan daerah yang sebelah utara masih dalam kekuasaan pemerintah Mancu.
Juga mereka tidak mengira bahwa daerah itu merupakan semacam medan laga antara tiga kelompok mata-mata, yaitu mata-mata pemerintah Mancu, mata-mata pasukan Tai Peng, bahkan mata-mata yang disebar oleh pasukan asing kulit putih!
Seringkali di sekitar daerah itu terjadi pertempuran-pertempuran, penculikan-penculikan atau pembunuhan yang penuh rahasia karena para mata-mata itu tentu saja merupakan orang-orang yang berkepandaian tinggi dan semua tindakan mereka mengandung rahasia.
Pada waktu itu, kekuasaan Tai Peng masih besar dan menguasai daerah Nan-king dan sekitarnya.
Pemerintah Ceng atau Mancu tidak kuasa untuk mengusirnya, melainkan hanya berjaga-jaga di tapal batas.
Akan tetapi sebaliknya, balatentara Tai Peng tidak dapat maju ke utara.
Sementara itu, pihak asing kulit putih masih menarik keuntungan sebesarnya dari konflik itu dengan menyelundupkan senjata gelap, dan candu.
Membantu sana-sini untuk membuat perang semakin berkobar karena dari perang saudara, Yang mendapat keuntungan terbanyak adalah orang asing kulit putih.
Perang saudara membuat bangsa itu menjadi lemah, akhirnya mereka tinggal mudah menundukkan pihak yang menang namun yang sudah penuh dengan luka parah itu.
Maka mata-mata yang dikirim oleh pasukan asing ke daerah pergolakan itu bertugas selain untuk menyelidiki keadaan kedua pihak, juga untuk mengadakan hubungan perdagangan senjata api, membantu sana-sini dan berusaha untuk memperhebat perang saudara.
Dengan tergesa-gesa, karena selain khawatir malam keburu tiba dan juga khawatir kalau-kalau ada orang jahat mengejar mereka Sheila dan Han Le mendaki gunung itu.
Senja telah mendatang ketika mereka akhirnya tiba di depan pintu gerbang perkampungan itu.
Tiba-tiba terdengar bentakan orang dari belakang mereka.
"Heii, berhenti! Siapa kalian berani berkeliaran di sini?"
Sheila dan Han Le berhenti dan memutar tubuh.
Mereka melihat dua orang berdiri tegak dengan pedang di tangan, dan sikap mereka mengancam.
Akan tetapi ketika mereka berdua itu melihat bahwa yang mereka bentak adalah seorang wanita cantik kulit putih dan seorang anak laki-laki, pedang mereka yang tadi menodong itu diturunkan dan keduanya saling pandang.
"Heii, perempuan kulit putih! Engkau mata-mata dari pasukan orang asing kulit putih, ya?"
Tanya seorang di antara mereka dengan sikap hati-hati.
Bagaimanapun juga.
dia dan kawan-kawannya belum mengenal siapa wanita kulit putih itubdan sudah sering orang kulit putih mengadakan kontak dengan kawanan mereka, untuk menjual senjata api.
Dengan sikap tenang namun ada kekhawatiran di dalam hatinya melihat bahwa dua orang ini, seperti tiga orang yang menyerangnya tadi, jelas bukanlah orang-orang dusun, bukan petani-petani sederhana yang jujur, Sheila menjawab.
"Kami adalah Ibu dan anak yang sedang perhi mengungsi karena perang, mencari tempat baru yang aman. Kami sama sekali bukanlah mata-mata, kami adalah rakyat biasa."
"Ha-ha, kami bukanlah anak-anak kecil yang mudah dibohongi. Di mana ada wanita kulit putih berkeliaran sebagai rakyat biasa? Engkau dan anak ini menyerahlah untuk kami bawa menghadap komnadan kami. hayo masuk!"
Mereka berdua kembali menodongkan pedang mereka ke arah Sheila dan Han Le dan mendorong mereka memasuki pintu gerbang.
Ibu dan anak itu tidak berdaya lagi.
Sheila menggandeng tangan puteranya, menariknya agar ikut masuk karena melawanpun tidak ada gunanya.
Ternyata ia telah salah masuk, pikirnya.
Ini bukan perkampungan orang dusun!
Rumah-rumah itu baru dan nampak sunyi, tidak ada keluarga petani, dan di sana-sini ada beberapa orang laki-laki yang sama kasarnya dengan dua orang yang menangkap mereka.
Ketika mereka digiring masuk, para pria itu bangkit dan memandang, ada yang bersuit, ada yang memuji kecantikannya secara kurang ajar.
"Heii, Cun-ko, darimana kau mendapatkan mawar putih itu? Berikan saja padaku, biar kubeli dengan satu bulan gaji!"kata seorang di antara mereka yang mukanya brewok. Teman-temannya tertawa.
"Hushh, jangan main-main. Siapa tahu ia ini mata-mata pasukan kulit putih. Biar komandan kita yang memutuskan nanti!"
Kata seorang di antara mereka yang menangkap Sheila dan Han Le.
Ibu dan anak itu digiring terus memasuki sebuah bangunan yang paling besar yang berada di situ.
Di dalam rumah itu telah dipasang lampu-lampu yang cukup terang.
Akan tetapi rumah inipun nampak kosong, perabot-perabotnya kasar dan agaknya baru saja dibuat.
Di dalam ruangan yang besar, mereka dihadapkan kepada seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, perawakannya gagah, wajahnya bengis dan matanya lebar melotot kini menatap wajah Sheila penuh perhatian.
"Hemm, darimana kalian mendapatkan wanita ini?"
Komandan itu bertanya kepada dua orang anak buahnya tanpa memandang kepada mereka.
"Lai-Ciangkun, kami melihat mereka ini berkeliaran di luar secara mencurigakan sekali, maka kami menangkap mereka dan menghadapkan mereka kepadamu,"
Jawab dua orang itu.
Orang yang disebut Lai-Ciangkun (perwira Lai) itu mengangguk-angguk senang.
Semetara itu, wajah Sheila berobah pucat.
Seorang Ciangkun?
Seorang perwira?
Kalau begitu, orang-orang ini adalah anggauta-anggauta pasukan!
Dan segera ia sadar bahwa ia dan puteranya telah jatuh ke tangan pasukan Tai Peng yang tidak mengenakan pakaian seragam!
Ia sudah pernah mendengar bahwa pasukan Tai Peng yang tidak berseragam adalah pasukan mata-mata yang lihai dan yang kejamnya melebihi pasukannya yang seragam!
Celaka, pikirnya, akan tetapi ia berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Eh, perempuan kulit putih, siapakah namamu dan siapa pula anak laki-laki ini?"
Tanya si tinggi besar yang matanya lebar.
"Namaku Sheila dan ini anakku bernama Gan Han Le. Ciangkun, harap bebaskan kami kembali karena seperti yang telah kuberitahukan kepada dua orang anak buahmu, kami adalah rakyat biasa yang sedang mencari tempat tinggal baru setelah kami lari mengungsi dari perang. Kami bukan orang jahat dan tidak mempunyai kesalahan apapun."
"Ha-ha-ha-ha,"
Komandan itu tertawa, bukan tawa ramah melainkan tawa mengejek.
"Mudah saja engkau minta dibebaskan. Engkau amat mencurigakan, seorang perempuan kulit putih berkeliaran sampai di sini. Katakan, apakah engkau utusan pasukan kulit putih yang harus menghubungi kami untuk menawarkan senjata api?"
Sheila menggeleng kepala.
"Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak mempunyai hubungan dengan pasukan kulit putih, bahkan tidak tahu siapa kalian dan pasukan apa!"
"Hemm, ketahuilah bahwa kami adalah pasukan rahasia Tai Peng yang besar dan gagah perkasa! Hayo kau mengaku saja daripada harus kami siksa, apa maksudmu berkeliaran di sini? Siapa mengutusmu? Lebih baik mengaku terus terang. Aku tidak ingin menyiksa seorang wanita cantik seperti engkau."
"Heh-heh, Lai-Ciangkun, serahkan saja perempuan ini kepadaku. Tanggung ia akan mengakui semuanya, ha-ha!"
Kata seorang di antara dua perajurit tadi.
"Tidak, kepadaku saja, Ciangkun. aku lebih pandai menjinakkan wanita!"
Kata orang kedua.
"Hemm, diam kalian, mata keranjang! Ia terlalu penting untuk diurus oleh orang-orang mata keranjang macam kalian!"
Lai-Ciangkun itu membentak dan bentakan ini melegakan hati Sheila. Kiranya si raksasa ini bukan seorang laki-laki yang suka menggagahi wanita seperti banyak pria lain di dunia yang kejam ini.
"Sesungguhnya, Ciangkun. Aku sama sekali tidak berbohong. Aku memang seorang wanita kulit putih, akan tetapi aku menikah dengan seorang laki-laki Han, dan ini anak kami. Aku hidup sebagai seorang wanita dusun biasa, dan terpaksa kami berdua melarikan diri ketika terjadi perang, Kani pengungsi-pengungsi yang tidak berdosa, Ciangkun. Harap suka bebaskan kami."
"Ha-ha, tidak begitu mudah. Engkau harus kami tahan dulu dan akan kulaporkan kepada atasanku. Terserah kepada atasan kami bagaimana keputusan mereka tentang dirimu. Engkau bukan orang biasa, engkau seorang wanita kulit putih. Hei, kalian berdua, bawa ia ke dalam kamar tahanan. Akan tetapi awas, ia tawanan penting, tak seorangpun boleh mengganggunya. Ia harus diperlakukan dengan baik sampai aku menerima keputusan dan jawaban dari atasan. mengerti?"
"Baik, Ciangkun!"
Kata dua orang itu yang tadi sudah kena dihardik sehingga mereka tidak berani bersikap sembarangan lagi. Tiba-tiba Han Le yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, berkata dengan suara lantang.
"kalian tidak boleh menawan kami! Kalian adalah orang-orang Tai Peng, bukan? Ketahuilah bahwa kami masih ada hubungan keluarga dengan pemimpin kalian! pemimpin kalian yang bernama Ong Siu Coan itu masih keluarga dekat dengan mendiang Ayahku!"
Sheila hendak mencegah anaknya bicara namun sudah terlambat, maka iapun hanya dapat menanti dengan jantung berdebar sambil memandang kepada raksasa itu dengan mata terbelalak.
"Tunggu dulu perwira Lai yang tinggi besar itu membentak dua orang anak buahnya yang hendak menangkap lengan Ibu dan anak itu, dan mereka berdua mundur lagi karena merekapun terkejut mendengar ucapan anak itu tadi.
"Eh, bocah, apa artinya kata-katamu tadi?"
Dia membentak sambil melotot kepada Han Le. Anak ini sama sekali tidak merasa takut.
"Bukankah pemimpin pasukan Tai Peng bernama Ong Siu Coan? Nah, dia itu adalah uwa seperguruanku! Karena itu, jangan kalian menganggu aku dan Ibuku, karena pemimpin kalian tentu akan marah dan menghukum kalian kalau mendengarnya."
Perwira raksasa itu menoleh kepada Sheila.
"Benarkah apa yang dikatakan oleh anakmu ini? Coba jelaskan kepadaku."
Karena sudah terlanjur, terpaksa Sheila mengaku, dan iapun mengharapkan bahwa nama Ong Siu Coan akan membuat mereka takut untuk mengganggu ia dan anaknya.
"Memang benar apa yang dikatakannya. Mendiang suamiku bernama Gan Seng Bu, seorang pejuang besar yang pernah menentang pemerintah penjajah Mancu sampai dia tewas. Tentu kalian pernah mendengar nama Gan Seng Bu, kalau belum ketahuilah bahwa mendiang suamiku itu adalah adik seperguruan dari pemimpin kalian, yaitu Ong Siu Coan. Laporkan saja kepadanya dan dia akan tahu."
Mendengar keterangan yang dilakukan dengan sikap tenang ini, si raksasa tertegun.
Memang dia pernah mendengar nama besar Gan Seng Bu, seorang pejuang walaupun tidak pernah bekerja sama dengan Tai Peng.
Keluarga seperguruan dari pemimpinnya yang kini menjadi Maharaja di Nan-king!
Perwira Lai ini bukan seorang yang haus wanita, tidak memiliki kebiasaan memperkosa wanita.
Akan tetapi menengar bahwa Ibu dan anak ini keluarga dekat dengan pemimpinnya, timbul suatu keinginan yang amat baik menurut anggapannya.
Kalau dia dapat memperisteri wanita ini, berarti dia memiliki hubungan dekat dengan pemimpin yang kini menjadi raja besar itu dan tentu pangkatnya akan naik dengan cepat dan mudah!
Dia lalu memberi isyarat kepada kedua orang anak buahnya.
"Kalian keluarlah dulu, biar aku menangani sendiri urusan Ibu dan anak ini."
Dua orang anak buahnya saling pandang, akan tetapi tidak berani membantah dan merekapun keluarlah.
Setelah daun pintu ditutup dan dia berada bertiga saja dengan Sheila dan Han Le, si komandan tinggi besar merubah sikap.
Dia bangkit dari tempat duduknya dan dengan mempersilahkan Ibu dan anak itu duduk diatas bangku di depannya.
"Maaf, karena tidak tahu bahwa engkau adalah Gan-Toanio, maka kami bersikap kurang hormat dan anak buah kami menangkap Toanio dan anakmu."
Lega dan girang rasa hati Sheila.
Bagaimanapun juga, pengakuan Han le itu telah untuk sementara menolong mereka.
walaupun ia tidak dapat membayangkan bagaimana sikap Ong Siu Coan kalau sampai bertemu dengan mereka.
Iapun sudah mendengar bahwa Suheng dari mendiang suaminya itu kini telah menjadi seorang raja besar.
Ia mengajak puteranya duduk menghadapi raksasa itu yang kii tidak lagi nampak menakutkan, melainkan ramah dan mendatangkan harapan "Nyonya, aku merasa kasihan sekali kepadamu.
Aku sudah mendengar akan kebesaran nama Gan Seng Bu sebagai seorang pendekar dan pejuang yang amat gagah perkasa.
Dan betapa nyonya telah menderita sejak dia tewas.
Dapat kubayangkan betapa banyak bahaya yang mengancam diri nyonya sebagai seorang janda muda yang cantik.
Bahkan sekarangpun nyonya masih belum terbebas dari ancaman bahaya.
Siapa dapat menjamin bahwa di dalam hati para anak buahku tidak terdapat niat yang buruk terhadap diri nyonya yang cantik?"
"Kami percaya akan ketulusan dan kebaikan hati Ciangkun yang tentu akan melarang anak buahnya untuk berbuat jahat terhadap kami,"
Kata Sheila. Komandan itu tersenyum. Dia berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya yang besar itu membuat dia nampak gagah walaupun berpakaian preman.
"Nyonya tidak tahu. Mereka adalah pria-pria yang sudah terbiasa hidup dalam kesukaran, kekerasan dan bahaya. Semua itu membuat mereka menjadi keras. Mereka meninggalkan keluarga dan siapapun tidak akan dapat menyalahkan mereka kalau mereka menjadi haus dan buas kalau melihat wanita, apalagi wanita cantik."
Sheila mengerutkan alisnya.
Teringat ia betapa setahun yang lalu, sepasukan orang Tai Peng membasmi serombongan pengungsi dan kalau saja tidak muncul Bu Beng Kwi, iapun tentu sudah menjadi korban kebuasan mereka terhadap wanita itu.
"Ah, kami hanya dapat mengharapkan pertolongan Ciangkun."
Perwira itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang besar-besar, lalu dia menatap wajah yang cantik itu.
"Kiranya tidak mungkin kalau di antara kita tidak ada hubungan apapun, Toanio. Mereka tentu bahkan akan mencurigai aku, menganggap aku melindungi orang kulit putih. Satu-satunya jalan adalah kalau Toanio mau menjadi isteriku dengan sah. Nah, sebagai suamimu dan Ayah tiri anakmu ini, tentu saja tidak ada seorangpun yang akan berani menganggu isteri dan anakku."
"Ahh...!"
Sheila terbelalak dan memandang dengan wajah pucat.
Kiranya raksasa inipun bukan baik dengan sewajarnya, melainkan baik karena mengandung pamrih.
dan pamrihnya sama saja dengan laki-laki lain yang hendak mendapatkan dirinya.
hanya bedanya, Lai-Ciangkun ini menggunakan cara halus, memperisterinya!
Memperisteri dengan ancaman bahwa kalau tidak, maka sang perwira tidak dapat melindunginya.
Sheila bangkit berdiri dan menggandeng tangan puteranya.
"Terima kasih atas kebaikanmu dan maakan aku, Ciangkun. Akan tetapi terpaksa aku tidak dapat menerima usulmu itu. Biarlah kami pergi saja dari sini, karena tadinya kami datang ke sini mengira bahwa di sini merupakan sebuah dusun di mana kami dapat tinggal dan hidup sebagai petani biasa. ijinkan kami pergi dengan aman dari tempat ini."
Wajah perwira itu berubah merah. Dia merasa malu karena ditolak pinangannya dan juga merasa kecewa dan marah.Sepasang mata yang lebar itu melotot seperti hendak melompat keluar dari pelupuk matanya.
"Toanio, apakah engkau tidak tahu bahwa begitu engkau keluar dari pintu gerbang perumahan kami, engkau tentu akan disergap dan diperkosa orang? Anakmu akan dibunuh dan engkaupun akan mati akhirnya?"
"Hemm, aku tidak percaya bahwa orang-orang yang menamakan dirinya pejuang akan melakukan perbuatan terkutuk sepeti itu, dan aku yakin bahwa Ciangkun juga tidak akan membiarkannya saja. Ingat, pemimpin kalian yang kini menjadi raja itu tentu tidak akan tinggal diam karena kami adalah keluarga Sutenya!"
Sheila hendak menggunakan nama Ong Siu Coan untuk mengancam. Akan tetapi, kalau tadi nama Ong Siu Coan yang disebutnya membuat sikap perwira itu berubah, kini raksasa itu malah tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Apa artinya kalian menjadi keluarga raja kami kalau beliau tidak tahu tentang kalian di sini? Semua orang yang berada di perkampungan ini adalah anak buahku, dan kalian akan lenyap seperti ditelan bumi. dan berita tentang kalian takkan diketahui orang luar sama sekali."
Sheila merasa ngeri.
Celaka, pikirnya, ia dan puteranya terjatuh ke tangan orang-orang yang tidak kalah jahat dan buasnya dibandingkan tiga orang pasukan pemerintah yang mengganggunya tadi.
Orang-orang Tai Peng ini memang jahat dan kalau ia teringat akan gerombolan orang Tai Peng yang pernah dibasmi Bu Beng Kwi, ia bergidik.
Ia seperti terlepas dari mulut serigala memasuki guha harimau.
"Lai-Ciangkun, kasihanilah kami Ibu dan anak yang tidak berdosa. Kami hanya ingin dibebaskan dan jangan diganggu, dan kami akan mengambil jalan kami sendiri."
Ia memohon dan memandang kepada raksasa itu dengan sinar mata penuh permohonan dan harapan.
Namun, raksasa itu adalah seorang yang sudah mengeras batinnya.
Segala sepak terjangnya dalam hidup hanyalah terdorong nafsu, dan semua ini, nafsu untuk memperoleh keuntungan sebesarnya dengan adanya Sheila, menutup semua pertimbangan lain.
"Nyonya, hanya ada dua pilihan bagimu. memenuhi permintaanku, menjadi isteriku dengan sah dan kelak memperkenalkan aku kepada raja kami sebagai suamimu, atau kalau engkau menolak, engkau akan kuserahkan kepada anak buahku. Ingat, anak buahku di sini tidak kurang dari dua puluh orang, mereka semua seperti harimau-harimau kelaparan dan engkau tentu akan diperebutkan, dagingmu dirobek-robek dan engkau akan mati dalam keadaan yang menyedihkan, dan lebih dulu anakmu akan mereka bunuh di depan matamu. Bagaimana, engkau pilih yang mana?"
"Engkau... engkau manusia jahat!"
Tiba-tiba Han Le membentak marah sekali melihat Ibunya hanya terbelalak dengan muka pucat, dan anak ini sudah menerjang maju dan menggunakan kepalan tangannya untuk memukul dada perwira yang tinggi besar itu.
"Bukkk!"
Pukulan itu tidak ditangkis dan mengenai dada sang perwira, akan tetapi Han Le seperti memukul dinding yang kokoh kuat, bahkan kepalan tangannya yang terasa nyeri.
"Ha-ha-ha, engkau setan cilik, pergilah!"
Dan tangan raksasa itu menampar mengenai pundak Han Le sehingga anak itu terbanting roboh.
"Henry..."
Sheila menubruk anaknya.
"Sekali lagi, pertimbangkan baik-baik. Pilih menjadi isteriku dan hidup mulia ataukah mampus di tangan anak buahku!"
Bentak sang perwira dengan sikap galak kepada wanita yang kini berlutut sambil memeluk puteranya itu.
Sheila tidak takut mati.
kehidupan demikian pahit baginya setelah melihat kenyataan bahwa Bu Beng Kwi, pria yang dipuja dan dicintanya itu, bukan lain adalah Koan Jit, pria yang dibencinya setengah mati.
Baginya, kematian merupakan pelepasan dari derita batinnya.
Akan tetapi, biarpun ia tidak takut mati, ia takut menghadapi kematian puteranya!
Agaknya tidak ada pilihan lain baginya untuk menuruti permintaan Lai-Ciangkun.
Agaknya hanya kalau ia mau menjadi isteri Lai-Ciangkun, puteranya akan dapat diselamatkan.
Akan tetapi, betapa mungkin ia melakukan hal itu?
Baginya, lebih baik mati daripada disentuh pria lain!
Saking bingungnya, Sheila kini hanya bisa menangis sambil merangkul puteranya.
"Ibu, jangan mau, jangan sudi, aku tidak takut mati!"
Han Le berkata, agaknya mengerti akan kebingungan hati Ibunya.
Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut dan kaki kuda di luar rumah itu disusul suara kaki bersepatu yang berat dan ketika tiba di depan pintu rumah itu, terdengar suara nyaring.
"Hemm, di mana adanya Lai Hok?"
Mendengar suara ini, Lai-Ciangkun nampak terkejut dan dia terbelalak, memandang ke arah pintu.
"Saya... saya berada di sini..."
Akan tetapi daun pintu sudah didorong keras dari luar dan nampaklah seorang laki-laki yang bertubuh jangkung dan bermuka kekuningan.
Usianya kurang lebih lima puluh tahun dan orang ini mengenakan pakaian tebal dengan sepatu kulit yang berat.
Pembawaannya penuh wibawa dan melihat orang ini, Lai-Ciangkun yang tadinya bersikap garang itu kelihatan takut-takut, berdiri dengan penuh hormat.
"Lai Hok, apa saja yang kau kerjakan di sini? Kami menanti-nanti pengiriman senjata api yang telah dijanjikan itu dan sampai sekarang belum juga muncul. Dan... eh, siapa ini?"
Orang itu agaknya baru melihat Sheila yang berlutut sambil merangkul puteranya.
"Tai-Ciangkun, ia... ia adalah seorang tawanan yang sedang saya periksa."
Lai-Ciangkun lalu bertepuk tangan dan dua orang pengawal masuk.
"Bawa dua orang ini ke dalam kamar tahanan dan jaga baik-baik jangan sampai mereka lolos!"
"Baik, Ciangkun!"
Kata dua orang itu, akan tetapi sebelum mereka menyeret tubuh Sheila dan Han Le, perwira yang baru tiba itu menggerakkan tangannya.
"Nanti dulu!"
Dan dia menghampiri Sheila, memandang penuh perhatian.
"Bukankah ia... ia seorang wanita kulit putih? Bagaimana kalian menawan seorang wanita kulit putih?"
Perwira she Tang itu terkejut sekali memandang kepada Lai-Ciangkun dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Dia adalah seorang di antara tangan kanan Ong Siu Coan, bahkan dia memperoleh kepercayaan untuk mengepalai pasukan yang mengurus pembelian senjata-senjata api dari orang kulit putih, juga mengepalai barisan mata-mata yang disebar di daerah timur.
Melihat betapa tawanan anak buahnya itu seorang wanita kulit putih, tentu saja ia terkejut dan heran, maklum betapa gawatnya menawan seorang kulit putih!
"Tang-Ciangkun, kami dapatkan ia berkeliaran di luar perkampungan kita, dan anak buahku menangkapnya.
Saya sedang memeriksanya ketika Ciangkun tiba, dan kami khawatir bahwa ia adalah seorang mata-mata yang melakukan penyelidikan terhadap keadaan kita."
Dalam percakapan mereka itu, Sheila maklum bahwa orang yang baru tiba ini adalah atasan Lai-Ciangkun, maka kembali ia memperoleh harapan.
"Dia bohong!"
Katanya sambil bangkit berdiri dan menggandeng tangan anaknya.
"Aku bersama anakku adalah rakyat biasa yang melarikan diri dari perang, pergi mengungsi, kemudian ditangkapnya dan dia mengancam agar aku menjadi isterinya, kalau tidak, aku akan diserahkan kepada anak buahnya dan anakku ini akan dibunuh!"
Perwira tinggi yang baru tiba itu kini menghadapi Lai-Ciangkun dengan alis dikerutkan.
Tentu saja dia mengenal watak anak buahnya dan hal inilah yang selalu merisaukan hatinya.
Dia adalah seorang pendekar yang bersama para pendekar lain membantu perjuangan Tai Peng.
Kalau para pendekar banyak yang pergi meninggalkan Tai Peng setelah pasukan itu berhasil menguasai Nangking, karena melihat kegilaan dan kejahatan para pasukan Tai Peng yang dibiarkan oleh Ong Siu Coan, Tang Ci yang merupakan pendekar dari utara ini, tetap tinggal.
Dia memang tidak senang melihat ulah para pasukan Tai Peng, juga tidak suka melihat sikap Ong Siu Coan yang kini menjadi raja besar yang seperti orang gila, mengaku putera Tuhan dan kakak Yesus.
Akan tetapi karena dia merasa berhak memperoleh pangkat dan kemuliaan setelah ikut berjuang, dia menekan saja rasa tidak sukanya dan tetap menjadi tangan kanan Ong Siu Coan.
Apalagi karena raja baru itu bersikap baik kepadanya, melimpahkan anugerah bahkan memberi kedudukan tinggi.
Maka, mendengar teriakan Sheila yang melaporkan ulah Lai-Ciangkun itu, dia percaya dan tidak merasa heran.
Sebaliknya, dia merasa heran melihat seorang wanita kulit putih begini pandai bicara dalam bahasa daerah, dan anaknya itu jelas tidak seperti anak kulit putih, kecuali matanya yang agak biru.
"Engkau, siapakah, nyonya? Dan mengapa pula seorang wanita kulit putih seperti engkau berada di daerah ini?Ceritakan dengan jelas, dan percayalah, tak seorangpun akan kubiarkan mengganggumu dan engkau akan memperoleh perlakuan patut dan adil. Aku adalah Tang Ci yang datang dari kotaraja Nan-king dan menjadi kepercayaan Sri Baginda Kaisar di Nan-king."
Mendengar bahwa perwira tinggi yang baru datang ini adalah seorang kepercayaan Kaisar Nan-king, Han Le segera berseru.
"Ah, kebetulan sekali kalau begitu. Bukankah Kaisar itu bernama Ong Siu Coan?"
Tang Ci memandang anak itu dengan kaget.
"Benar sekali, bagaimana engkau bisa tahu?"
"Karena dia adalah supekku (uwa guruku)! Mendiang Ayahku adalah Sutenya!"
"Eh? Siapakah engkau? Siapakah kalian?"
Sheila menarik tangan puteranya lalu menghadapi perwira itu, setelah ia bangkit berdiri.
Sejenak mereka saling pandang.
Diam-diam Tang Ci harus mengakui bahwa wanita kulit putih yang rambutnya keemasan dan matanya biru ini, yang mengenakan pakaian daerah sederhana dan mukanya tanpa riasan, rambutnya juga kusut, adalah seorang wanita yang amat cantik.
Sebaliknya, Sheila juga memperhatikan pria itu.
Seorang yang berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, wajahnya lonjong dengan sepasang mata yang amat ajam.
Wajah itu cerah dan amat berwibawa, wajah seorang yang berkedudukan tinggi dan yang yakin akan kepentingan dirinya dan kekuasaannya.
Munculnya orang ini mendatangkan harapan baru, setidaknya menolongnya lepas dari cengkeraman Lai-Ciangkun dan anak buahnya, walaupun ia tidak tahu orang macam apa perwira tinggi yang baru tiba ini.
Maka iapun bercerita dengan terus terang, seperti yang dilakukannya kepada Lai-Ciangkun tadi.
"Namaku Sheila dan ini anakku Gan Han Le. mendiang suamiku adalah pendekar pejuang Gan Seng Bu..."
"Ahhh...! Aku mengenal mendiang Gan-Taihiap. Kiranya nyonya adalah isterinya? Sungguh luar biasa sekali. Aku mendengar betapa Gan-Taihiap tewas, isterinya yang sedang mengandung membawa jenazahnya ke pedusunan dan isterinya hidup di antara rakyat petani. Nyonya Gan, bagaimana engkau bisa sampai di tempat ini? Dan inikah puteramu, putera Gan-Taihiap?"
Kata Tang Ci penuh kagum dan juga girang.
Memang pernah dia bertemu dengan pejuang itu yang pernah berjuang bersama para pendekar lainnya menentang pemerintah penjajah.
Sheila menghapus dua butir air matanya.
Ia merasa terharu bertemu dengan orang yang telah mengenal suaminya.
"Kami tinggal di dusun sampai suatu hari kami terpaksa pergi mengungsi karena adanya perang. Ini hari kami tiba di sini, dari bawah gunung kami melihat perkampungan ini, mengira ini sebuah dusun para petani maka kami datang ke sini. Kami mohon kebaikan hati Ciangkun, mengingat bahwa Ciangkun pernah mengenal mendiang suamiku, agar suka membebaskan kami dan mengijinkan kami pergi dari sini."
"Akan tetapi, ke manakah engkau hendak pergi, Toanio? Daerah ini berbahaya sekali, menjadi medan pertempurn antara tiga pasukan, yaitu pasukan Tai Peng, pasukan Mancu, dan kaki tangan pasukan asing. Engkau akan menemui bahaya."
"Saya sudah usulkan...
"Diam kau!"
Bentak Tang Ci kepada raksasa itu.
"Apakah matamu sudah buta maka engkau berani sekali bersikap kurang ajar terhadap Gan-Toanio? Kalau Sri Baginda mengetahui kekurangajaranmu, engkau akan dihukum cincang tubuhmu!"
"Ampun, Tang-Ciangkun..."
Raksasa itu berkata dengan muka pucat.
"Sesungguhnya saya tadi tidak percaya akan keterangannya maka..."
"Tutup mulutmu! Untung aku mengenal watak kalian yang busuk sehingga tidak merasa heran mendengar akan perbuatan kalian yang kotor. Cepat sediakan sebuah kereta dengan empat ekor kuda terbaik untuk Gan-Toanio dan puteranya, dan persiapkan dua belas orang pasukan yang kuat untuk menjadi pengawal. Juga tukar kudaku yang sudah lelah. Aku sendiri yang akan mengawal Gan-tonio."
"Baik, Ciangkun, baik...!"
Perwira tinggi besar itu lalu pergi meninggalkan pondok itu untuk melaksanakan perintah atasannya.
"Tapi... tapi, Ciangkun... kami hendak dibawa ke manakah?"
Sheila bertanya setelah perwira raksasa itu keluar. Si tinggi kurus itu menarik napas panjang.
"Toanio, kalau aku membiarkan engkau dan puteramu pergi, belum sampai dua li jauhnya, kalian tentu sudah akan menemui bahaya. Anak buah Tai Peng amat jahat, demikian pula anak buah pasukan Mancu yang banyak berkeliaran di sini. satu-satunya tempat yang aman bagi engkau dan puteramu adalah istana di Nan-king "Ahhh...! Ke istana Kaisar baru Nan-king...?"
"Ke istana Ong-supek?"
Han Le juga berseru, kaget, girangan juga bingung, karena belum pernah dia membayangkan akan pergi berkunjung kepada supeknya yang telah menjadi Kaisar itu.
"Ya, satu-satunya tempat yang aman dan tepat bagi kalian adalah di istana Kaisar. Toanio adalah isteri Sute dari Sri Baginda, berarti masih ipar seperguruan Sri Baginda Kaisar sendiri, sudah sepatutnya kalau Toanio juga memperoleh kemuliaan di sana. Apalagi mengingat betapa mendiang Gan-Taihiap sudah banyak jasanya dalam perjuangan."
"Tapi... tapi kami tidak ingin pergi ke sana, kmi ingin menjadi rakyat biasa, hidup sebagai petani di dusun..."
"Ibu, kenpa kita tidak ke sana saja? bukankah Ibu menghendaki tempat yang aman? Dan kabarnya, ilmu kepandaian supek amat tinggi. Tentu beliau akan suka mengajarkan ilmu silat kepadaku,"
Kata Han Le yang masih merasa kehilangan Suhunya yang amat disayanginya dan yang diharapkan akan menurunkan ilmu slat tinggi kepadanya.
"Ah, Henry, supekmu itu kini bukan orang biasa, melainkan seorang Kaisar! Mana mungkin mengajar silat kepadamu? Pula, datang begitu saja ke sana tanpa diundang, aku merasa seperti orang yang mengganggu...
"Toanio, harap jangan berpendapat demikian. Ketahuilah, bahwa pernah Sri Baginda berbincang-bincang tentang diri Toanio dan mengharapkan agar kami dapat menemukan Toanio dan mengundangnya ke istana! Adapun tentang ilmu silat, kalau puteramu ingin belajar, di istana banyak terdapat jagoan-jagoan silat yang amat lihai. Dia dapat belajar sepuasnya!"
Sheila kehilangan alasan lagi untuk menolak.
Dan pula, mengapa ia harus menolak?
Apalagi yang diharapkan hidup di pegunungan, di dalam dusun?
Siapa yang dipandang dan siapa yang diharapkan?
Apakah ia akan membiarkan puteranya tumbuh menjadi seorang pemuda dusun yang bodoh?
Memang, terdapat bahaya bahwa sikap Ong Siu Coan tidak akan baik terhadap dirinya dan puteranya, akan tetapi setidaknya, ia dan puteranya terlepas lebih dahulu dari ancaman anak buah Tai Peng yang jahat-jahat ini.
Soal nanti akan dihadapinya nanti saja, dan pada saatnya ia akan menetukan sikap dan mengambil tindakan yang dianggap baik.
"Baiklah, tidak ada pilihan lain karena kami berada dalam kekuasaan Ciangkun dan pasukan Ciangkun. Aku menyerah dan suka ikut,"
Akhirnya ia berkata dan Han Le merangkul Ibunya dengan girang.
Sheila terharu.
Anak ini membutuhkan kesenangan, membutuhkan pendidikan.
Anak ini berhak memperoleh pendidikan yang baik, berhak hidup dalam kemuliaan, bukan selalu hidup serba kekurangan dan dalam kesukaran.
Tak lama kemudian, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda dikawal oleh Tang Ci sendiri bersama selosin pasukan berkuda, meninggalkan bukit itu menuju ke Nan-king.
Tak jauh dari situ, sesosok tubuh manusia yang mengintai dari balik batang pohon besar, menarik napas dalam.
Dia bukan lain adalah Bu Beng Kwi, semenjak Ibu dan anak itu pergi selalu mengikuti dan membayangi dengan diam-diam, bahkan telah menolong mereka secara diam-diam pula dari ancaman tiga orang perajurit pemerintah Mancu.
Kini, melihat Ibu dan anak itu pergi dalam sebuah kereta besar, dia menghela napas.
Dia telah menggunakan kepandaiannya mengintai dan mengikuti semua peristiwa, sejak Sheila diperiksa oleh perwira Lai yang tinggi besar, sampai munculnya Tang Ci.
Dia sudah siap untuk menolong dan membebaskan Sheila ketika diperiksa Lai-Ciangkun.
Akan tetapi mendengar penawaran Tang Ci yang akan membawa Ibu dan anak itu ke istana Kaisar dari Kerajaan Sorga, yaitu Ong Siu Coan, dan melihat kesediaan Sheila, diapun hanya berdiam diri.
Apapun yang akan diputuskan dan dilakukan oleh Sheila, dia tidak akan menghalanginya.
Dia hanya berkewajiban untuk melindungi Ibu dan anak itu, hal inipun dilakukan diam-diam dan jangan sampai kelihatan oleh mereka.
Setelah kereta pergi jauh, barulah dia menggunakan ilmunya berlari cepat, membayangi kereta itu dari jauh.
Wajahnya pucat, matanya cekung dan sayu, membayangkan kekosongan hatinya, kosong dan sunyi, kehidupan seperti sudah mati baginya setelah Ibu dan anak itu meninggalkannya.
Kini, satu-satunya keinginan yang bernyala di dalam hatinya, yang memberinya semangat untuk tinggal hidup, Hanyalah melindungi Sheila dan Han Le, menjaga mereka agar mereka itu hidup dengan aman dan selamat, agar mereka itu dapat menemukan bahagia.
Dia akan menjaga mereka dengan diam-diam, menggunakan seluruh kekuatan dan kepandaiannya, kalau perlu siap berkorban nyawa untuk mereka!
Biarpun pada waktu itu, negara sedang kacau, kehidupan rakyatpun selalu diganggu oleh keadaan perang, namun peristiwa yang terjadi di dunia persilatan itu amat menarik perhatian para tokoh persilatan, baik para pendekar maupun para tokoh kang-ouw.
Siapa orangnya tidak akan tertarik menerima undangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari seseorang yang mengundang semua tokoh persilatan untuk menjadi saksi pengangkatan diri orang itu sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap (Jago silat Nomor Satu di Kolong Langit)?
Peristiwa yang sungguh luar biasa sekali.
Belum pernah ada orang, baik dari golongan putih maupun golongan hitam, yang berani mengangkat diri sendiri menjadi jagoan nomor satu di dunia!
Dan orang itu memakai nama Lee-Kongcu!
Orangpun bertanya-tanya, siapa gerangan tokoh yang demikian sombong dan tinggi hati, yang berani mengundang tokoh-tokoh persilatan untuk menyaksikan dia mengangkat diri seperti itu?
Dia menantang seluruh tokoh persilatan yang ada, karena pengangkatan itu sama dengan pengumuman bahwa tidak ada orang di dunia ini yang akan mampu menandinginya!
Betapa takaburnya!
Dan pesta pengangkatan diri itu diadakan di sebuah bukit di lembah Yang-ce-kiang, di sebelah utara sungai itu, di sebuah dusun yang bernama Cu-sian, tak jauh dari Nan-king, hanya dibatasi Sungai Yang-ce-kiang dan beberapa belas li saja di lembah Yang-ce!
Dan tempat inipun merupakan daerah perbatasan antara wilayah yang diduduki tentara Tai Peng dan yang masih dikuasai pemerintah Mancu, dan daerah itu terkenal sebagai daerah di mana seringkali terjadi pertempuran, baik antara pasukan Tai Peng dan Mancu, maupun antara mata-mata dari kedua pihak!
Sungguh berani sekali orang yang menyebut dirinya Lee-Kongcu itu!
Lebih gila lagi, Lee-Kongcu juga mengundang pembesar-pembesar dari Kerajaan Ceng, terutama sekali pembesar militer, seolah-olah dia mengharapkan pengakuan dari pemerintah bahwa dialah jagoan nomor satu di dunia!
Apa gerangan keinginan orang itu, demikian banyak tokoh kang-ouw berpikir, merasa tertarik sekali sehingga ketika hari yang ditentukan tiba, banyaklah orang datang membanjiri lembah Yang-ce bagian utra itu.
Memang ada tokoh-tokoh besar dunia persilatan, seperti ketua-ketua partai persilatan besar, tidak sudi melayani undangan orang yang mereka anggap gila itu, dan tidak datang sendiri.
Namun, karena merekapun tertarik dan ingin mengetahui siapa gerangan orang itu, mereka mengirim juga utusan untuk sekedar meninjau dan mencatat peristiwa yang menggemparkan dunia persilatan itu.
Bermacam-macam reaksi yang timbul akibat undangan yang disebar oleh Lee-Kongcu itu.
Partai-partau persilatan besar mengadakan rapat-rapat memperbincangkan soal itu, dan ramailah nama Lee-Kongcu menjadi bahan percakaan setiap pertemuan antara orang kang-ouw menjelang pesta itu.
Dan pada saat hari itu tiba, tidak mengherankan kalau daerah lembah Sungai Yang-ce-kiang itu menjadi ramai sekali, didatangi orang bermacam bentuk, baik sikap maupun pakaian mereka.
Orang-orang aneh, bahkan pendeta-pendeta Agama To, juga hwesio-hwesio tua, orang-orang yang berpakaian compang-camping seperti pengemis, dan banyak pula orang-orang yang sikapnya bengis dan kasar, tanda bahwa mereka itu jelas sekali datang dari golongan hitam atau penjahat-penjahat.
Ada pula orang-orang yang berpakaian pendekar, halus dan bersih, yang pria tampan dan wanita cantik jelita, namun mereka itu membayangkan sikap yang gagah perkasa sehingga membuat orang merasa segan dan tidak ada yang berani mencari perkara.
Mencari perkara di tempat berkumpulnya semua orang gagah dari empat penjuru itu sama dengan mengundang penyakit untuk diri sendiri.
Peristiwa itu ada juga segi yang mendatangkan kegembiraannya, yaitu bagi mereka yang bertemu dengan wajah-wajah lama para sahabat.
Karena keadaan negara yang dilanda perang, maka banyak di antara para tokoh persilatan itu tidak saling bertemu selama bertahun-tahun.
Kini, karena sama-sama tertarik oleh ulah Lee-Kongcu, mereka dapat bertemu di tempat itu.
Maka terjadilah petemuan-pertemuan yang menggembirakan di lembah yang subur itu.
Lee-Kongcu mengundang pembesar-pembesar militer penting, juga ketua-ketua perkumpulan silat yang besar-besar dan tidak lupa mengirim undangan pribadi kepada murid para datuk sesat yang sudah tidak ada, yaitu murid-murid dari Empat Racun Dunia karena dia menganggap mereka itu sebagai wakil dari dua golongan.
Guru-guru mereka adalah orang-orang golongan sesat, akan tetapi mereka sendiri, yang menjadi murid-muridnya, terkenal sebagai orang-orang gagah dan pejuang-pejuang perkasa.
Maka tidaklah mengherankan kalau di tempat itu muncul pendekar-pendekar perkasa seperti murid dari Tee-tok (Racun Tanah) bersama suaminya yang juga seorang pendekar bernama Thio Ki putera ketua Kang-Sim-Pang.
Suami isteri pendekar ini pernah pula membantu Ong Siu Coan seperti para pendekar lain ketika tentara Tai Peng mulai bergerak, akan tetapi merekapun meninggalkan Ong Siu Coan ketika melihat kegilaan orang itu dan kejahatan pasukan Tai Peng.
Pasangan ini sudah berusia tiga puluh delapan tahun dan tiga puluh enam tahun, dan mereka mmempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia kurang lebih sebelas tahun dan bernama Thio Eng Hui.
Thio Ki kini melanjutkan pimpinan perkumpulan Kang-Sim-Pang (Hati Baja) yang cukup terkenal.
Mereka datang berdua saja, meninggalkan puteri mereka di rumah karena mereka khawatir kalau-kalau di tempat pesta itu akan terjadi hal-hal yang akan membahayakan keselamatan puteri yang baru berusia sebelas tahun itu.
Selain pasangan ini, datang pula pasangan yang dihormati banyak orang karena mereka datang dari kota raja dan kalau isterinya merupakan seorang wanita bangsawan yang lihai ilmu silatnya, suaminya juga seorang bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi.
Mereka ini bukan lain adalah Ceng Hiang, puteri seorang pangeran yang bernama Ceng Tiu Ong, juga murid keturunan keluarga Pulau Es yang ilmu silatnya tinggi sekali.Suaminya adalah Yu-kiang, seorang bangsawan tinggi di istana yang juga menerima undangan pribadi dari Lee-Kongcu yang kita ketahui bukan lain adalah Lee Song Kim.
Suami isteri yang usianya juga sudah mendekati empat puluh tahun itu mempunyai pula seorang anak perempuan yang usianya sudah sepuluh tahun, bernama Yu Bwee.
Seperti juga pasangan pertama tadi, Yu-kiang dan Ceng Hiang meninggalkan puteri mereka.
Mereka datang naik kereta dan dikawal oleh pasukan pengawal istana yang berpakaian indah sebanyak dua losin orang sehingga kedatangan mereka itu menarik perhatian.
Masih ada lagi pasangan suami isteri yang tidak kalah menariknya, karena sepasang suami isteri ini pernah menggegerkan duna persilatan dengan sepak terjang mereka yang gagah perkasa.
Mereka ini bukan lain adalah Tan Ci Kong dan isterinya, Siauw Lian Hong.
Seperti kita ketahui, mereka ini telah mempunyai pula seorang putera yang diberi nama Tan Bun Hong, berusia dua belas tahun.
Ketika Tan Ci Kong membantu perjuangan Tai Peng, isterinya, Siauw Lian Hong, tidak ikut berjuang melainkan mengajak puteranya untuk menyingkir di puncak Naga Putih karena rumah mereka telah terancam oleh pasukan pemerintah akibat kunjungan Ong Siu Coan yang menjadi buronan pemerintah.
Ketika Tan Ci Kong meninggalkan Ong Siu Coan karena melihat penyelewengan Tai Peng, dia juga menyusul isterinya ke puncak itu dan selanjutnya mereka tinggal di tempat itu, hidup sebagai petani dan pemburu.
Hidup di antara penduduk gunung yang sederhana itu mereka merasa tenteram dan semenjak meninggalkan perjuangan, baru Ci Kong turun gunung ketika dia dikunjungi oleh Thian Khi Hwesio, dimintai bantuannya untuk menyelidiki tentang pembunuhan terhadap orang-orang Kun-Lun-Pai yang didesas-desuskan dilakukan oleh orang Siauw-Lim-Pai.
Kemudian Tan Ci Kong berhasil melerai dan menggagalkan perkelahian yang hampir saja terjadi antara tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai, karena adu domba yang dilakukan oleh Lee Song Kim.
Kemudian, dia pulang ke puncak Naga Putih karena maklum bahwa dalam pelaksanaan tugasnya kali ini, dia perlu dibantu oleh isterinya yang juga lihai sekali.
Mereka berdua meninggalkan putera mereka dan berangkat turun gunung karena pada waktu Ci Kong tiba di rumah, telah lebih dulu tiba undangan dari Lee-Kongcu itu.
Suami isteri inipun tertarik sekali dan merekapun langsung saja menuju ke lembah Yang-ce-kiang dan di situ mereka bertemu dengan kawan-kawan lama sehingga terjadilah pertemuan yang amat menggembirakan.
"Siapakah sebenarnya orang yang menamakan dirinya Lee-Kongcu ini?"
Tanya Ciu Kui Eng. Mereka berenam duduk di tepi anak sungai yang airnya jernih dan yang mengalir ke arah Sungai Yang-ce-kiang yang besar.
"Akupun ingin sekali tahu siapa dia. berani sekali dia mengangkat diri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap dan agaknya dia mengundang semua orang gagah di dunia. Bahkan ada beberapa orang jenderal dia undang. Sungguh orang yang memiliki kebernian besar sekali!"
Kata Ceng Hiang. Ci Kong dan isterinya saling pandang. Mereka berdua sudah menduga siapa adanya orang yang dibicarakan itu. Ci Kong lalu bertanya.
"Agaknya kalian akan lebih heran lagi kalau tahu siapa dia. Akupun baru menduga saja, akan tetapi agaknya tidak akan meleset dugaanku ini. Dia itu tentulah Lee Song Kim!"
"Eh? Si keparat yang berhati palsu itu? Dia pernah mengkhanati para pimpinan pejuang sehingga mereka semua ditawan oleh pemerintah Ceng! Dan kini dia berani membuat ulah seperti ini? Sungguh tak tahu diri!"
Kata Thio Ki kaget dan heran.
"Hemm, kulihat kepandaiannya biasa saja, paling tinggi hanya setingkat dengan aku! Bagaimana dia berani bertingkah mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu di dunia?"
Kata pula Ciu Kui Eng merasa penasaran.
"Hemm, diapun menjadi buronan pemerintah. Kini dia berani mengundang para tokoh militer, apakah dia sudah bosan hidup?"
Yu-kiang bernata.
"Harap kalian jangan memandang rendah orang ini,"
Kata Siauw Lian Hong yang sudah mnerima keterangan dari suaminya tentang dugaan suaminya bahwa Lee Song Kim inilah orangnya yang telah mengadu domba antara Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai, bahkan membunuh tokoh-tokoh pandai dari Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai.
"Kita mengenal Lee Song Kim, murid Hai-Tok yang amat licik itu. Kita semua tahu betapa liciknya dia, sehingga mudah saja dia mengkhianati dan menjebak para pucuk pimpinan para pejuang. dan murid-murid Hai-Tok memang hebat. Lihat saja Kiki, nukankah gadis yang dulu kekanak-kanakan itu sekarang telah pula menjadi permaisuri seorang Kaisar? Kurasa, kalau Lee Song Kim sekarang berani mengangkat diri sendiri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap, tentu dia memiliki andalan yang kuat."
"Benar, kita tidak boleh memandang rendah orang bernama Lee-Kongcu yang aku yakin tentu Lee Song Kim itu. Sebelum mengangkat dirinya menjadi jagoan nomor satu di dunia dengan mengundang banyak tokoh persilatan, orang yang bernama Lee-Kongcu itu telah membuat kegemparan. Bayangkan saja, dia telah mengadu domba antara Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai sehingga hampir saja tokoh-tokoh kedua perkumpulan besar itu saling hantam sendiri karena saling menyangka lain pihak membunuh tokoh-tokoh mereka. Dan yang membunuhnya bukanlain adalah Lee-Kongcu itulah. Dia telah membunuh orang-orang terkenal Kun-Lun-Pai seperti tiong Gi Tojin, Tiong Sin Tojin, dan juga Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le, dan dia telah membunuh pula Thian Khi Hwesio wakil ketua Siauw-Lim-Pai."
"Ahhh...!"
Semua orang berseru kaget.
"Agaknya dia telah mempelajari ilmu-ilmu tinggi selama belasan tahun ni, dan siap tahu kita jauh ketinggalan dari dia,"
Kata Ceng Hiang sambil mengepal tinju. Ia pribadi mempunyai kenangan pahit dengan Lee Song Kim, dan orang itu merupakan seorang di antara musuh yang dibencinya.
"Semua itu hanya dugaan saja dari suamiku,"
Kata Lian Hong.
"walaupun dugaan itu agaknya pasti benar. sebaiknya kita tunggu saja sampai saatnya tiba."
Demikianlah, dengan hati tegang enam orang itu lalu ikut bersama rombongan tamu memasuki perkampungan baru yang dibangun oleh Lee-Kongcu untuk keperluan pesta itu.
Pesta diadakan pada pertengahan musim semi sehingga udaranya cerah dan pemandangan indah sekali, pohon-pohon penuh daun dan bunga, dan air anak sungai mengalir jernih.
Di tempat terbuka yang merupakan kebun, di bawah pohon-pohon besar, terdapat meja kursi yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga mengitari sebuah panggung di mana diatur pula meja kursi untuk tamu kehormatan.
Anak buah Lee-Kongcu yang berpakaian rapi dan seragam biru putih, menyambut para tamu dengan penuh kehormatan, dan agaknya memang sudah diatur sebelumnya oleh Lee-Kongcu.
Tanpa ragu-ragu para penyambut ini mengiringkan orang-orang penting, di antaranya para panglima dari kota besar dan kota raja, Termasuk Yu Kiang dan Ceng Hiang, dan juga para kepala perkumpulan besar dan orang-orang golongan tua yang pantas dihormati karena usia dan kedudukannya, menuju ke panggung kehormatan.
Tan Ci Kong, Siauw Lian Hong, Thio Ki dan Ciu Kui Eng yang tidak dipersilahkan ke panggung kehormatan, mengambil tempat duduk tak jauh dari panggung agar mereka dapat menyaksikan dari dekat ulah dari tuan rumah yang belum memperlihatkan diri itu.
Dua pasang pendekar ini duduk diam saja, akan tetpi mereka memasang mata dan memperhatikan siapa yang datang berkunjung.
Diam-diam mereka merasa kagum juga melihat betapa para tamu itu terdiri dari tokoh-tokoh pesilatan yang penting, ketua atau wakil partai-partai besar, bahkan banyak pula terdapat pembesar penting dari daerah dan dari kota raja!
Mereka kagum karena ternyata orang she Lee yang menamakan diri Lee-Kongcu dan mereka duga tentu Lee Song Kim itu ternyata memiliki keberanian besar dengan mengundang demikian banyak tokoh penting.
Banyak di antara para tamu yang tidak mereka kenal.
Mereka tidak tahu bahwa di antara banyak tamu yang jumlahnya kurang lebih dua ratus orang itu, terdapat beberapa orang mata-mata, baik dari pemerintah Mancu, dari Tai Peng, maupun mereka yang bekerja untuk orang (Lanjut ke
Jilid 09) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 kulit putih.
Para mata-mata itu memperoleh kesempatan baik untuk menyusup sebagai tamu.
Dengan pandang mata mereka yang tajam dan pengalaman mereka berkecimpung dalam dunia kang-ouw selama belasan tahun, dua pasang pendekar ini dapat melihat bahwa kalau dibuat perbandingan, di antara yang hadir itu jauh lebih banyak golongan sesatnya daripada golongan pendekar, sehingga diam-diam mereka waspada.
Bahkan di antara para penyambut yang mewakili Lee-Kongcu, Ci Kong melihat seorang wanita cantik yang nampak berusia tiga puluh tahun lebih, anggun dan berwibawa, Dia merasa heran sekali, karena dia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Theng Ci, tokoh dari Ang-Hong-Pai!
Pernah dia bersama gurunya, yaitu Kakek sakti Siauw-Bin-Hud, mendatangi perkumpulan Ang-Hong-Pai untuk menemui Theng Ci, tokoh perkumpulan itu.
Ketika itu gurunya, yaitu Kakek sakti Siauw-Bin-Hud, mencari perampas pedang pusaka Giok-Liong-Kiam karena dialah yang disangka perampasnya.
Theng Ci merupakan seorang di antara mereka yang memperebutkan pedang pusaka itu dan yang mengenal perampasnya.
Biarpun belasan tahun telah terlewat, ternyata wanita itu masih nampak sehat dan muda, padahal usianya sudah mendekati enam puluh tahun.
Kalau orang she Lee itu mempuyai pembantu seperti Theng Ci, tentulah dia bukan orang baik-baik, pikir Ci Kong.
Akhirnya tamu terakhir datang dan hampir semua bangku di kebun itu telah diduduki tamu yang merupakan setengah lingkaran menghadap ke arah panggung di mana duduk kurang lebih dua puluh orang tamu kehormatan.
sejak tadi, serombongan pemain musik meramaikan suasana, dan beberapa orang gadis penyanyi membuka mulut menyanyikan lagu-lagu merdu sehingga ada semacam kegembiraan seperti yang biasa terdapat dalam sebuah pesta.
Tiba-tiba suara musik dan nyanyian itu menjadi lirih dan akhirnya berhenti.
Lalu rombongan pemusik itu memukul kembali alat musik mereka, kini dengan nyaring dan di antara suara tambur dan canang itu terdengarlah teriakan orang.
"Yang terhormat Lee-Kongcu akan keluar untuk menyambut para tamu!"
Semua orang memandang dan dari lorong yang menuju ke panggung itu muncullah seorang laki-laki yang gagah perkasa dan tampan.
Laki-laki itu berusia kurang dari empat puluh tahun, wajahnya tampan dan pesolek, mulutnya dihias senyum, kumis dan jenggotnya teratur rapi, pakaiannya dari Sutera yang mahal dengan potongan seperti seorang terpelajar atau bangsawan.
Akan tetapi gagang emas sepasang belati di pinggang dan sebatang pedang di punggung menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang pelajar yang lemah.
Langkahnya tegap dan dia naik ke atas panggung sambil tersenyum dan mengangguk ke kanan kiri, lagaknya seperti seorang pembesar atau bahkan raja yang kedatangannya sudah dinanti oleh banyak orang!
Biarpun kini wajahnya yang tampan menjadi semakin gagah oleh kumis dan jenggot yang terpelihara baik, para pendekar yang hadir di situ masih mengenal bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Lee Song Kim, murid datuk sesat Hai-Tok Tang Kok Bu!
Siauw Lian Hong mengepal tinju, juga Ciu Kui Eng, karena kedua orang wanita itu membenci Lee Song Kim.
Tidak salah dugaan Ci Kong dan pendekar ini memandang tajam.
Kalau Lee Song Kim sudah berani mengangkat diri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap, maka tentu dia kini telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Hal ini sudah dibuktikan dengan pembunuhan terhadap para tokoh Kun-Lun-Pai, bahkan wakil ketua Siauw-Lim-Pai juga dibunuhnya!
Kini dia melihat bahwa Lee Song Kim yang berambisi untuk menjadi jago nomor satu di dunia itu sengaja melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan maksud mengadu domba antara Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai.
Kalau kedua partai persilatan besar itu sampai bermusuhan, maka tentu akan menjadi lemah dengan sndirinya dan dialah yang akan mendapat keuntungan, karena akan lebih lancar jalannya menuju ke arah kedudukan yang dicita-citakan yaitu sebagai bengcu (pemimpin rakyat) di antara tokoh-tokoh persilatan, menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan!
Melihat sinar mencorong keluar dari sepasang mata Lee Song Kim, Ci Kong dapat menduga bahwa orang ini sekarang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, dan tentu selama belasan tahun ini telah menggembleng dirinya.
Teringatlah dia akan kematian Hai-Tok di tangan para tokoh Siauw-Lim-Pai ketika datuk sesat itu tertangkap basah mencuri kitab-kitab Siauw-Lim-Pai, Dan diapun telah mendengar akan lenyapnya kitab-kitab pelajaran silat rahasia dari perkumpulan perkumpulan besar.
Tak salah lagi, pikirnya.
tentu Lee Song Kim dan gurunya, mendiang Hai-Tok, yang telah melakukan pencurian-pencurian itu, dan agaknya semua kitab itu telah dipelajari dan dilatih dengan baik oleh Song Kim.
Dia dapat menjadi seorang lawan yang amat berbahaya, pikirnya.
Sementara itu, Song Kim yang memandang ke sana-sini sambil tersenyum, tentu saja mengenal wajah-wajah mereka yang pernah menjadi musuhnya, akan tapi dia bersikap biasa, seolah-olah belum penah melihat mereka.
Kemudian dia melangkah ke tepi panggung, menghadapi semua tamu dan berkali-kali dia memberi hormat dengan bersoja ke kanan kiri dan depan, terutama kepada para tamu kehormatan yang duduk di atas panggung.
"Selamat datang, cuwi yang mulia! Selamat datang dan terima kasih atas kunjungan cuwi memenuhi undangan kami. Sebelum membicarakan urusan penting yang menjadi maksud undangan kami, kami persilakan cuwi menikmati hidangan sekedarnya!"
Setelah berkata demikian Lee Song Kim lalu duduk di atas kursi yang telah disediakan untuknya dan para pelayan wanita yang kesemuanya adalah anggauta Ang-Hong-Pai, segera sibuk mengeluarkan hidangan yang masih panas.
Yang oleh Lee Song Kim, dinamakan hidangan sekedarnya itu ternyata merupakan hidangan yang serba mahal dan lezat.
Sebentar saja meja-meja itu penuh hidangan, dan terciumlah di antara bau yang sedap dan gurih itu, bau arak yang keras dan harum.
Tamupun tidak sungkan-sungkan lagi, menyerbu hidangan dan mereka makan minum dengan gembira.
Bahkan para pembesar militer dari kota raja diam-diam merasa kagum melihat hidangan yang disuguhkan itu tidak kalah royalnya dibandingkan dengan hidangan yang keluar dalam pesta seorang bangsawan besar.
Memang Lee Song Kim sengaja mengadakan pesta besar untuk mendapatkan kesan baik dari para tamunya.
Setelah para tamu makan minum secukupnya, Lee Song Kim kembali bangkit berdiri di tepi panggung dan memberi hormat kepada para tamunya.
Semua tamu maklum bahwa kini tuan rumah tentu akan mengumumkan maksud undangannya, maka semua orang memandang penuh perhatian.
"Cuwi yang mulia!"
Katanya yang suaranya lantang, didorong oleh Tenaga khikang yang kuat, wajahnya serius namun senyumnya tak pernah meninggalkan mulutnya.
"sekarang tiba saatnya bagi kami untuk membicarakan urusan penting, yaitu maksud dari undangan yang kami kirimkan dan sebarkan untuk cuwi. Kita semua mengetahui bahwa dewasa ini, kehidupan rakyat terancam oleh perang yang terjadi di mana-mana. negara mempunyai banyak musuh. dalam keadaan sekacau ini, sudah sepatutnyalah kalau kita, orang-orang kaum persilatan, bangkit untuk mengamankan keadaan dan membantu pemerintah mengatasi keadaan. Bagaimana pendapat cuwi? Tidak benarkah apa yang telah saya kemukakan tadi?"
"Akur, akur!"
"Setuju sekali!"
Teriakan-teriakan menyambut ini dipelopori oleh mereka yang memang sudah tunduk kepada Song Kim, dan diturut oleh sebagian besar golongan sesat.
Dan karena apa yang diucapkan Song Kim memang tak dapat dibantah kebenarannya, para pendekar juga banyak yang mengangguk menyatakan setuju.
Song Kim dengan wajah berseri mengangkat kedua tangan ke atas memberi tanda kepada semua tamu agar tenang.
"Cuwi yang mulia. Biarpun kita kaum persilatan harus bangkit, namun kalau kebangkitan itu dilakukan secara liar dan sendiri-sendiri, tentu bahkan akan menimbulkan kekacauan dan persaingan. Oleh karena itu, perlu kiranya kalau kita bersatu dan untuk dapat terlaksananya persatuan di antara para tokoh dunia persilatan, sudah semestinya kalau perlu adanya seorang bengcu yang akan memimpin kaum kang-ouw. Tentu saja seorang pemimpin haruslah memiliki ilmu silat tertinggi. Setujukah cuwi?"
Kembali sambutan dipelopori kaki tangan Song Kim dan diturut oleh sebagian besar para tamu.
Akan tetapi banyak di antara para pendekar yang diam saja.
Kembali Song Kim mengangkat kedua tangan minta tenang.
"Cuwi tentu telah mengetahui bahwa belasan tahun yang lalu, pernah terjadi geger ketika semua orang memperebutkan pusaka Giok-Liong-Kiam dan pusaka itu dianggap sebagai lambang keunggulan. Siapa yang memiliki pusaka itu dianggap memiliki kepandaian tinggi dan pantas menjadi seorang bengcu! Pemilik Giok-Liong-Kiam boleh diangkat menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap dan dingkat menjadi bengcu, karena kalau dia sudah berhasil memiliki Giok-Liong-Kiam, maka berarti bahwa dia tentu berkepandaian tinggi! Setujukah cuwi kalau kita memilih orang yang telah memiliki Giok-Liong-Kiam menjadi bengcu?"
"Setuju...!"
Kembali anak buahnya memelopori dan diturut oleh beberapa orang golongan sesat.
"Nanti dulu...!"
Tiba-tiba Yu Kiang, suami Ceng Hiang yang duduk dikursi kehormatan, berseru. Semua orang memandang kepadanya, juga Song Kim membalik menghadapi orang itu.
"Kami mendengar bahwa Giok-Liong-Kiam berada di tangan pemimpin pemberontak Tai Peng yang kini mengangkat diri menjadi raja, yaitu Ong Siu Coan. Apakah ini berarti bahwa kita harus mengangkat pemimpin pemberontak itu menjadi bengcu sehingga kita semua akan menjadi pengkhianat dan pemberontak?"
Para pendekar juga saling pandang dengan heran.
Mereka yang pernah membantu gerakan Tai Peng sebelum mereka kemudian meninggalkan Tai Peng yang melakukan penyelewengan, tahu belaka bahwa Giok-Liong-Kiam memang berada di tangan Ong Siu Coan.
Apalagi Tan Ci Kong dan isterinya, Siauw Lian Hong.
Suami isteri pendekar ini tentu saja tahu dengan jelas tentang Giok-Liong-Kiam, karena merekalah yang memberikan Giok-Liong-Kiam kepada Ong Siu Coan yang datang berkunjung kepada mereka yang meminjamnya.
Bagimana kini Song Kim berani mengatakan bahwa para tamu harus memilih pemegang Giok-Liong-Kiam menjadi bengcu?
Bukankah hal itu berarti bahwa orang itu mengusulkan agar mereka semua memilih Ong Siu Coan menjadi pemimpin dunia persilatan?
Akan tetapi Song Kim tidak menjadi gugup mendengar semua pertanyaan itu.
Dia bahkan tersenyum cerah.
"Justeru karena Giok-Liong-Kiam pernah dimiliki oleh pemimpin besar Tai Peng, maka siapa yang mampu mengambilnya dari istananya di Nan-king, berarti memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan pantaslah kalau menjadi pimpinan atau bengcu. Saya yang tanggung bahwa Giok-Liong-Kiam bukan berada di tangan pemimpin Tai Peng itu, melainkan di tangan seorang yang ilmu kepandaiannya melebihi Ong Siu Coan! Pantaskah pemilik Giok-Liong-Kiam itu diangkat menjadi bengcu?"
"Pantas! Pantas!"
"Setuju! Setuju!"
Kembali kaki tangannya berteriak dan diikuti oleh banyak tamu dari golongan sesat.
"Akan tetapi siapakah yang kini menjadi pemilik Giok-Liong-Kiam?"
Teriak Siauw Lian Hong yang tidak sabar lagi menanti, melihat sikap Song Kim yang dianggap sombong dan menyebalkan. Lee Song Kim memandang kepadanya lalu menjura.
"Pertanyaan pendekar wanita Siauw Lian Hong itu memang tepat, dan agaknya menjadi pertanyaan dari cuwi yang hadir, maka baiklah saya jawab. Giok-Liong-Kiam kini berada di tangan Thian-He Te-It Bu-Hiap. Inilah dia!"
Dan diapun mengeluarkan pedang Giok-Liong-Kiam itu dari balik jubahnya.
Diangkatnya pedang pusaka itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Pedang kecil berukir tubuh naga dan terbuat dari batu giok (kemala) hujau kemerahan itu nampak mengkilap dan indah sekali ketika dicabut dari rangkanya.
Semua orang memandang kagum dengan mata terbelalak dan Lian Hong hendak bangkit berdiri.
Mukanya merah, matanya bernyala dan penuh kemarahan.
"Pencuri keparat...!"
Desisnya, akan tetapi suaranya tenggelam ke dalam kegaduhan yang terjadi setelah semua tamu melihat Giok-Liong-Kiam itu.
Suaminya, Tan Ci Kong segera memegang lengannya dan menariknya dengan halus agar duduk kembali.
"Tenanglah, di sini kita tidak bisa mengaku pernah membantu Ong Siu Coan,"
Bisiknya.
Lian Hong mengangguk dan biarpun mukanya masih kemerahan dan matanya bersinar marah, ia diam saja.
memang, tidak mungkin di tempat terbuka seperti itu, di mana hadir pula beberapa orang pembesar militer Kerajaan Ceng, mereka mengaku bahwa merekalah yang meminjamkna pedng Giok-Liong-Kiam kepada Ong Siu Coan, pemimpin pemberontak Tai Peng itu.
"Pedang itu palsu!"
Teriak seorang tamu.
"Semua orang tahu pedang Giok-Liong-Kiam yang aseli berada di tangan raja Tai Peng di Nan-king!"
Mendengar teriakan ini, banyak pasang mata memandang ke arah pedang itu di tangan Song Kim itu dengan penuh keraguan.
Akan tetapi, Ci Kong dan Lian Hong mengenal pedang itu dan mereka berdua merasa yakin bahwa pedang yang dipegang Song Kim itu memang Giok-Liong-Kiam aseli.
Song Kim tertawa sopan mendengar pedang itu disangka palsu.
Dia mengangkat pedang itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Cuwi, lihatlah baik-baik. Pedang Giok-Liong-Kiam ini aseli! Tanya saja kepada para pendekar yang pernah memperebutkannya belasan tahun yang lalu. Kalau palsu, tentu mereka akan menyangkalnya. Pedang ini aseli dan kalau ada Giok-Liong-Kiam lain, baik yang berada di tangan pemimpin Tai Peng sekalipun, maka pedang itu jelas palsu! Yang aseli berada di tangan Thian-He Te-It Bu-Hiap! Dan siapa yang menyangkal, berarti tidak percaya kepada Thian-He Te-It Bu-Hiap, dan tidak percaya sama dengan penghinaan. Nah, cuwi yang mulia. pemegang Giok-Liong-Kiam adalah jagoan nomor satu, dan pantas untuk menjadi bengcu. Apakah cuwi setuju?"
Sorak-sorai menyambut kata-kata ini, tentu saja yang menjadi pelopor adalah orang-orang yang sudah takluk kepada Lee Song Kim, diikuti oleh mereka yang menjadi golongan sesat dan merasa kagum kepada orang she Lee itu.
"Terima kasih, cuwi. Akan tetapi, saya kira di antara para pendekar yang hadir, ada yang tidak setuju dan siapa yang merasa lebih pandai dari Thian-He Te-It Bu-Hiap dan hendak menguji kepandaiannya agar dapat percaya, silakan maju."
Ini merupakan tantangan secara berterang!
Diam-diam Ci Kong terkejut.
Kalau Song Kim sudah berani mengajukan tantangan tanpa pandang bulu seperti itu, jelas bahwa orang ini sudah merasa bahwa dia tidak mempunyai tandingan lagi!
Betapa sombongnya!
Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi besar meloncat ke atas panggung.
Panggung itu sampai mengeluarkan bunyi dan agak bergoyang ketika tubuhnya yang berat dan kokoh kuat itu meloncat naik.
"Aku Yauw Kang mewakili Thian-He Te-It Bu-Hiap untuk menguji kelihaian orang yang berani memakai julukan Thian-He Te-It Bu-Hiap sebelum kami mengakuimu sebagai bengcu, orang she Lee!"
Katanya dan suaranya sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, karena suara ini nyaring dan besar.
Lee Song Kim menyimpan kembali Giok-Liong-Kiam di balik jubahnya, lalu melangkah maju menghadapi raksasa bernama Yauw Kang itu, senyumnya melebar dan sikapnya tenang sekali, bahkan jelas memandang rendah.
"Saudara Yauw adalah seorang tokoh Thian-He Te-It Bu-Hiap? Akan tetapi, apakah tidak ada tokoh Thian-He Te-It Bu-Hiap lain yang lebih tinggi tingkatnya untuk maju agar para tamu yang terhormat dapat mengagumi ilmu kepandaiannya? Harap saudara Yauw mundur dan biarkan tokoh Thian-He Te-It Bu-Hiap yang paling lihai maju agar tidak membuang waktu."
Ucapan itu dikeluarkan dengan suara hormat dan manis, namun sesungguhnya merupakan tamparan keras karena jelas bahwa Song Kim memandang rendah kepada laki-laki tinggi besar berusia kurang lebih empat puluh tahun itu.
"Lee-Kongcu terlalu memandang rendah Thian-He Te-It Bu-Hiap!"
Bentak Yauw Kang.
"Ketahuilah bahwa aku ditugaskan mewakili Thian-He Te-It Bu-Hiap dan aku adalah murid kepala pertama yang mewakili Suhu menggembleng para murid tingkat tinggi "Bagus sekali kalau begitu,"
Kata Song Kim tanpa melepas senyumnya.
"Saudara Yauw adalah tokoh tingkat dua dari Thian-He Te-It Bu-Hiap? Dan ingin menguji kepandaian Thian-He Te-It Bu-Hiap? Baik, majulah!"
Yauw Kang yang sudah marah itu memasang kuda-kuda. Tubuhnya nampak kokoh kuat dan otot-ototnya mengembung. Tubuh yang tertutup pakaian itu seolah-olah membesar dan matanya mengeluarkan sinar.
"Lee-Kongcu, bersiaplah dan jaga seranganku!"
Yauw Kang menyerang dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali, kedua telapak tangannya bertemu di udara mengeluarkan suara ledakan keras dan kedua tangan itu kini melancarkan pukulan, yang atas menghantam ke arah ubun-ubun kepala lawan dengan telapak tangan, sedangkan yang bawah menyodok ke arah ulu hati.
Cepat dan dahsyat serangan ini.
"Hemm, Cun-lui-tong-thian (Guntur Musim Semi Menggetarkan Langit)!"
Kata Lee Song Kim dan seperti yang sudah hafal akan jurus ini, kedua tangannya sudah menyambut dengan tangkisan perlahan.
Kedua tangan Yauw Kang yang menyerang itu terpental dan kini Song Kim mengajukan kakinya, kemudian kedua tangannya menyerang dengan jurus yang persis sama!
"Uhhh...!"
Tentu saja Yauw Kang kaget dua kali.
Pertama kali ketika dia tadi mendengar jurus serangannya disebut dan ditangkis secara tepat oleh lawan dan kedua kali ketika lawan menyerangnya dengan jurus Cun-lui-tong-thian pula, dengan gerakan yang cukup cepat, kuat dan sempurna.
Karena jurus itu amat berbahaya, sekaligus mengancam dua daerah berbahaya, yaitu ulu hati dan ubun-ubun kepala, maka cepat diapun menangkis pula seperti yang dilakukan oleh Song Kim radi.
Akan tetapi, tiba-tiba saja lutut kirinya tercium ujung sepatu kanan Song Kim dan seketika itu menjadi lumpuh dan diapun jatuh berlutut dengan sebelah kaki!
Song Kim tidak melanjutkan serangannya, melainkan membungkuk seperti membalas penghormatan orang.
"Saudara Yauw dari Thian-He Te-It Bu-Hiap tidak perlu sungkan-sungkan. berdirilah!"
Katanya, seolah-olah menolak penghormatan dengan berlutut!
Tentu saja wajah Yauw Kang menjadi merah sekali.
Dia merasa heran bukan main.
Tuan rumah ini bukan saja dapat memainkan jurus ampuh dari Thian-He Te-It Bu-Hiap, bahkan dapat menambah jurus itu dengan tendangan kaki ke arah lutut!
Maklumlah dia bahwa orang yang mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu dan menjadi bengcu ini memang amat lihai dan dia bukanlah lawannya.
Akan tetapi dia tetap merasa penasaran bagaimana orang yang bukan murid Thian-He Te-It Bu-Hiap mampu mengenal dan memainkan jurus simpanan radi.
Dia bangkit dan terpincang, menjura.
"Lee-Kongcu memang lihai. Aku mengaku kalah."
Katanya jujur.
"Akan tetapi dari mana engkau bisa mendapatkan jurus ilmu silat kami tadi?"
"Dia mencuri dari kita!"
Tiba-tiba terdengar seruan dari rombongan Kun-Lun-Pai. Song Kim tersenyum dan menoleh ke arah rombongan itu.
"Aku Lee Song Kim bukan tukang curi. Aku tidak mencuri jurus dari Thian-He Te-It Bu-Hiap, tidak pernah!"
"Hai-Tok, hurunya, yang mencuri!"
Tiba-tiba terdengar Kui Eng berteriak marah.
Seperti juga Lian Hong, sejak tadi wanita itu marah-marah dan kalau tidak disegah suaminya, tentu ia sudah maju dan menyerang Lee Song Kim.
Kembali Song Kim tersenyum.
"Itu bukan urusanku, yang penting aku tidak mencuri. Tentu saja sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap, aku harus melengkapi pengetahuanku mengenai ilmu silat. Nah, siapa yang masih merasa penasaran dan hendak menguji ilmuku, silakan maju."
Sementara itu, kaum sesat yang memang sudah merasa kagum, ditambah semangat mereka oleh adanya Giok-liong-kiam di tangan Lee-Kongcu, kini menjadi semakin kagum dan gembira melihat betapa orang yang hendak mereka angkat mejadi pimpinan itu dalam segebrakan saja mampu mengalahkan tokoh kuat dari Thian-He Te-It Bu-Hiap, bahkan dengan menggunakan jurus Thian-He Te-It Bu-Hiap pula!
Hebat!
Para ketua dan wakil partai-partai tadinya seperti Siauw-Lim-Pai, Kun-Lun-Pai dan lain-lain tidak ada yang mau maju.
Mereka menganggap bahwa tidak perlu melayani seorang yang gila kehormatan seperti Lee Song Kim itu.
Pula, mereka tidak memperebutkan sesuatu.
biarlah orang ini menjadi bengcu, mereka toh tidak akan mengakui dan hanya golongan sesat saja yang agaknya mengakuinya.
Maka,yang dinamakan "bengcu"
Ini sama sekali bukan pemimpin rakyat, bukan pemimpin para tokoh dunia persilatan, Melainkan memimpin orang-orang jahat dari golongan hitam!
Akan tetapi, karena tidak terikat oleh suatu aliran persilatan tertentu, dan karena merasa penasaran akan kesombongan orang she Lee yang mengangkat diri sendiri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap dan bengcu, masih ada dua orang ahli silat dari dunia persilatan yang bebas, berturut-turut maju dan menghadapi Lee Song Kim.
Tingkat kepandaian dua orang ini tidak lemah, bahkan masih lebih lihai dibandingkan Yauw Kang tadi.
Namun, mereka itupun bukan lawan tangguh bagi Lee Song Kim dan dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, seorang demi seorang dapat dirobohkan oleh Song Kim.
Mereka tidak menderita luka parah, karena Song Kim yang cerdik dan sedang mencari dukungan itu tidak mau membuat orang membencinya dengan membuat lawan luka parah, apalagi tewas.
"Masih adakah di antara cuwi yang merasa bahwa aku tidak pantas menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap dan menjadi bengcu? Kalau masih ada yang ragu-ragu dan ingin menguji kepandaian, silakan maju sebelum pertemuan ini dibubarkan."
"Manusia sombong!"
Kui Eng membentak.
Biarpun bentakan itu bercampur dengan kegaduhan orang-orang yang memuji-muji Song Kim yang dengan amat mudahnya telah mengalahkan tiga orang lawan yang lihai itu, namun agaknya Song Kim dapat mendengarnya dan diapun menoleh ke arah Kui Eng.
Memang terdapat perasaan suka dalam hati Song Kim terhadap Ciu Kui Eng ini.
Belasan tahun yang lalu, ketika Kui Eng masih seorang gadis cantik jelita, pernah ia bersama Lian Hong dan Ci Kong menyamar untuk melakukan penyelidikan ke kota raja.
Mereka bertemu dengan Lee Song Kim yang jatuh cinta kepada Kui Eng dan melamarnya!
Kui Eng tentu saja menolaknya dan Ci Kong yang marah-marah membuat penyamaran mereka terbuka dan mereka nyaris celaka.
Kini, melihat wanita yang pernah dicintanya itu, diam-dim Song Kim tertarik.
Dia sudah mendengar bahwa Ciu Kui Eng, murid Tee-tok itu, telah menikah dengan orang yang kini menjadi ketua Kang-Sim-Pang dan biarpun dia belum mengenalnya, namun dia dapat menduga bahwa pria yang gagah dan duduk di dekat Kui Eng itu tentulah ketua Kang-Sim-Pang yang menjadi suami Kui Eng itu.
Dia tersenyum dan sengaja memandang kepada mereka ketika mengeluarkan kata-kata yang lantang.
"Benarkah tidak ada lagi orang gagah yang meragukan keunggulanku? Tidak ada lagi yang hendak menguji kepandaianku? Apakah karena tidak berani? Kami pernah mendengar bahwa perkumpulan Kang-Sim-Pang memiliki banyak orang gagah perkasa. Apakah tidak ada wakilnya di sini? Sudah lama sekali aku ingin bertemu, berkenalan dan membuktikan apakah kaki tangan mereka sama kerasnya dengan hati mereka!"
Dengan ucapan ini Song Kim menyindir nama perkumpulan itu karena Kang-Sim-Pang berarti Perkumpulan Hati Baja!
mendengar tantangn ini, tentu saja betapapun sabarnya, wajah Thio Ki menjadi merah sekali.
Dialah yang ditantang dan dia tidak percaya apakah Lee Song Kim mengeluarkan kata-kata itu hanya kebetulan saja, agaknya memang sengaja melontarkan kata-kata itu untuk menantangnya?
Dialah orang Kang-Sim-Pang, bahkan ketuanya!
Akan tetapi ada orang yang lebih panas hatinya dan lebih marah dari[ada dia ketika mendengar ucapan Song Kim itu.
Orang itu adalah isterinya sendiri, Ciu Kui Eng!
Memang sejak tadi Ku Eng sudahmarah kepada Song Kim.
Apalagi ketika mendengar tantangan yang jelas ditujukan kepada suaminya itu.
Ia mendahului suaminya, karena melihat kelihaian Song Kim, ia masih ragu apakah suaminya akan mampu menandingi manusia sombong itu.
Song Kim adalah murid mendiang Hai-Tok, maka ialah tandingannya, ia murid Tee-tok sehingga dapat dibilang bahwa ia setingkat dengan Song Kim.
maka, melihat sikap suaminya yang menjadi marah, ia segera bangkit dan berseru nyaring.
"Lee Song Kim, manusia sombong, akulah lawanmu!"
Dan iapun hendak meloncat ke atas panggung. Akan tetapi Thio Ki sudah memegang lengan isterinya danmencegah.
"Aku yang ditantang, biarlah aku yang akan menghadapinya!"
Kata Thio Ki.
"Tidak perlu engkau maju sendiri, akupun cukup untuk menghajarnya!"
Kata Kui Eng keras dan ia melepaskan pegangan tangan suaminya.
thio Ki melepaskan tangan isterinya karena pada saat itu, banyak mata ditukukan kepada mereka.
thio ki maklum bahwa icapan isterinya tadi sengaja untuk mengangkat dirinya karena banyak orang melihat dan mendengarnya.
Isterinya sengaja mengatakan bahwa tidak perlu dia maju sendiri, biar isterinya yang maju menghajar Lee Song Kim.
dengan ucapan itu seolah-olah isterinya hendak mengakui bahwa tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkat isterinya.
Padahal, di balik itu agaknya isterinya khawatir kalau-kalau dia tidak akan mampu menandingi song Kim!
Kalau sampai dia kalah, tentu akan turun nama besar Kang-Sim-Pang!
Dia tahu benar bahwa isterinya lebih lihai darinya dan kalau sampai isterinya tidak mampu mengalahkan Song Kim, apalagi dia!
Kekalahan isteinya, andaikata sampai kalah, tidak akan mengganggu kebesaran nama Kang-Sim-Pang, tidak seperti kalau dia sendiri sebagai ketuanya yang kalah.
Maka.
dengan terharu dan khawatir, dengan kedua tangan terkepal, dia duduk kembali dan melihat saja ketika isterinya meloncat naik ke atas panggung.
Ciu Kui Eng adalah murid tunggal dari Tee-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang menjadi datuk-datuk kaum sesat.
Di antara ilmu-ilmu silatnya yang tinggi, juga Tee-tok amat terkenal oleh kehebatan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa.
Ketika Tee-tok tertarik kepada Kui Eng yang ketika itu baru berusia dua belas tahun, dan bermaksud mengambil gadis itu sebagai muridnya, Ayah Kui Eng, yaitu mendiang Ciu Lok Tai hartawan di Tung-kang, menguji Tee-tok dengan senjata api.
Diserang dengan senjata api, Tee-tok dapat menyelamatkan diri, menghindar dengan ginkangnya yang luar biasa sehingga dia seolah-olah segesit burung walet yang sukar untuk ditembak!
Karena telah mewarisi ilmu dari gurunya, ketika melompat ke atas panggung, gaya lompatan Kui Eng bagaikan seekor burung walet melayang saja, demikian ringan dan cepatnya tubuh itu melayang ke atas lalu menyambar turun ke atas panggung tanpa mengeluarkan suara seolah-olah bukan tubuh manusia melainkan seekor burung yang hinggap di atas panggung, di depan Lee Song Kim!
Semua orang terkejut dan kagum, bahkan di antara para pendekar yang sudah mengenalnya, bertepuk tangan dengan penuh harapan.
Mereka mengenal siapa Ciu Kui Eng karena gadis perkasa ini pernah menjadi pemimpin pasukan pejuang yang terdiri dari pekerja-pekerja pelabuhan.
Bahkan Thio Ki, yang kini menjadi suaminya, ketika itu menjadi pembantunya yang paling tangguh.
"Hidup Ciu-Lihiap!"
Terdengar beberapa orang berteriak gembira.
Akan tetapi Song Kim tersenyum dan sejenak menatap wajah wanita itu dengan senyum yang khas, senyum memikat, juga sinis karena diapun memandang rendah kepandaian wanita ini.
Karena dia hendak mengambil hati banyak orang, maka dia menahan diri, ridak mau mengeluarkan kata-kata kasar.
Bahkan dia cepat menjura dengan sikap sopan dan ramah.
"Maaf, nyonya. tidak kelirukah ini? Suamimu berada di sana, dan dia adalah ketua Kang-Sim-Pang, kenapa tidak dia yang maju? Apakah engkau hendak mewakili dia karena engkau takut dia terluka? Ataukah engkau maju karena sebagai murid Tee-tok engkau hendak memperlihatkan kepandaian?"
Ucapan itu dikeluarkan dengan halus dan ramah, namun bagi Kui Eng tajam bagaikan pisau menyayat perasaannya.
Mukanya menjadi semakin merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi tanda bahwa ia menjadi marah sekali.
"Lee Song Kim, sejak dahulu engkau memang seorang manusia yang sombong, besar kepala, licik, curang. Aku yang naik kesini untuk mencoba kepandaianmu, mengapa engkau menyebut-nyebut suamiku? Kalau engkau takut menghadapi aku, katakan saja, jangan memakai banyak alasan!"
Ucapan Kui Eng inipun tajam dan mengandung sindiran.
"Aku? Takut? Ha-ha-ha, Thian-He Te-It Bu-Hiap tidak perlu takut menghadapi siapapun juga, apalagi hanya seorang wanita seperti engkau, nyonya."
Kata Song Kim sambil tertawa menutupi persaan tidak enak di hatinya.
Tentu saja dia tidak takut melawan Kui Eng, akan tetapi maksudnya tadi adalah untuk mengalahkan sumai wanita ini dan untuk memamerkan kepandaiannya kepada wanita yang pernah dicintanya ini, bukan untuk bertanding melawan Kui Eng!
Dia tidak takut, sama sekali tidak.
Dulupun dia tidak takut melawan murid Tee-tok ini, apalagi sekarang!
"Tak perlu banyak membual, nah, sambutlah seranganku ini!"
Bentak Kui Eng dan iapun sudah menerjang dengan gerakan yang cepat sekali sehingga tubuhnya lenyap dan hanya nampak bayangannya saja berkelebat ketika ia melakukan serangan ke arah Lee Song Kim.
Song Kim tentu saja tahu akan lihainya wanita murid Tee-tok ini, maka diapun tidak berani main-main dan cepat dia mengelak sambil menggerakkan keua tangannya menangkis dan balas menyerang.
terjadilag serang menyerang yang seru dan sedemikain cepatnya sehingga hanya mereka yang memiliki ilmu tinggi saja dapat megikuti semua gerakan kedua orang itu.
Ci Kong dan Lian Hong, juga Ceng Hiang, dan tentu saja Thio Ki, mengikuti jalannya petandingan itu dengan penuh perhatian.
hati mereka terasa tegang karena memang perkelahian di atas panggung itu hebat sekalim berbeda sama sekali dengan ketika Song Kim melawan lawan-lawan yang tadi.
Ilmu silat Kui Eng sungguh tak boleh dipandang ringan, karena selain telah mewarisi ilmu-ilmu dari Tee-tok, juga wanita ini telah mendapatkan banyak pengalaman ketika ia aktip dalam perjuangan melawan pemerintah.
Dengan ginkangnya yang memang luar biasa, Kui Eng berusaha mendesak lawannya.
Ia mengeluarkan jurus-jurus pilihan dari Ilmu Silat Cui-beng Sin-kun yang dipelajarinya dari Tee-tok.
Ilmu silat ini merupakan ilmu silat andalan dari Tee-tok, gerakan-gerakannya amat dahsyat dan dimainkan mengandalkan kecepatan kilat disertai tenaga sinkang yang khusus dilatih untuk Ilmu Silat Cui-beng Sin-kun (Silat Sakti Pengejar Nyawa).
Namun, biar dia tidak pernah mendapat kesempatan mempelajari ilmu simpanan dari Tee-tok itu, Song Kim selalu dapat menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan.
Harus diakuinya biarpun ia sudah menggembleng diri secara hebat selama ini, namun untuk dapat mengimbangi kecepatan dan keringanan tubuh Kui Eng, dia masih kalah setingkat.
Namun, kekalahan dalam hal ginkang ini tertutup oleh kelengkapan ilmu silatnya yang beraneka ragam dan terutama tenaga sinkangnya yang lebih kuat daripada Kui Eng.
Karena itu, semua serangan Kui Eng yang betapapun cepatnya, semua kandas oleh elakan danntangkisannya, bahkan ketika Song Kim mulai merobah-robah ilmu silatnya yang aneh-aneh dan serba tinggi, Kui Eng mulai terdesak.
Wanita ini mengerahkan semua tenaga danmengeluarkan semua jurus simpanan, namun tetap saja ia sukar dapat membendung datangnya serangan yang serba aneh dan lihai itu.
"Lee Song Kim, lihat tongkatku!"
Tiba-tiba Kui Eng membentak dan nampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan sebatang tongkat seperti sepotong ranting saja yang panjangnya kurang lebih tiga kaki, dan begitunia menggerakkan ranting hitam ini, terdengar bunyi suara mengaung dan Song Kim terkejut.
Namun dia segera dapat menguasai dirinya dan mengelak ke sana sini, bahkan berusaha menangkap tongkat itu dengan tangannya yang kebal.
Dia tentu saja sudah tahu bahwa keistimewaan Tee-tok adalah ilmu tongkat hitam yang disebut Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa) dan agaknya dalam keadaan terdesak, Kui Eng kini mempergunakan ilmu tongkat itu.
Namun, Song Kim tidak menjadi gentar.
Selama ini dia telah banyak mempelajari ilmu tongkat bahkan berhasil mempelajari ilmu tongkat dari Siauw-Lim-Pai yang terkenal tangguh, maka melihat permainan Kui Eng, diapun tahu bahwa ilmu yang dimainkan oleh Kui Eng mempergunakan sebatang ranting hitam itu adalah gabungan dari ilmu pedang dan ilmu tongkat pendek.
Dan dengan tenang diapun menghadapi serangan lawan dengan kedua tangan kosong saja!
Biarpun dinpinggangnya terselip sepasang belati dan di punggungnya tergantung sebatang pedang, namun dia sengaja menghadapi lawan bersenjata ini dengan tangan kosong.
Selain dia tidak ingin melukai wanita yang pernah dicintanya ini, juga dalam kesempatan ini dia dapat memamerkan kelihaiannya!
Dan memang dia hebat sekali.
Ci Kong sampai bengong menonton perkelahian itu.
Dia tahu betapa lihainya tongkat di tangan Kui Eng, namun tenyata Song Kim mampu menghadapin Kui Eng dengan tangan kosong saja dan sama sekali tidak nampak terancam atau terdesak!
Diam-diam dia membuat ukuran dan harus diakuinya bahwa dia sendiripun belum tentu akan mampu mengalahkan Song Kim dalam keadaannya sepeti sekarang ini.
Laki-laki itu ternyata telah menggembleng diri dan memperoleh kemajuan yang hebat sekali, bahkan jauh lebih lihai dibandingkan dengan mendiang Hai-Tok sendiri.
Apa yang dikhawaturkan Ci Kong menjadi kenyataan.
Belum sampai tiga puluh jurus sejak Kui Eng mempergunakan tongkatnya menghadapi Song Kim, Tiba-tiba Song Kim mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kanan mencengkeram ke arah leher wanita itu, disusul tangan kiri merampas tongkat dan kaki kanan menendang ke arah perut.
Hebat bukan main serangan ini, dilakukan dengan cepat dan dengan tenaga sinkang yang kuat.
Kui Eng terkejut.
Kalau ia menghindarkan diri dari serangan cengkeraman dan tendangan yang beruntun, tongkatnya akan terampas.
Kalau dipertahankannya tongkatnya, ia mungkin akan terkena oleh satu di antara serangan itu.
Akan tetapi untuk melepaskan tongkatnya, merupakan pantangan baginya.
Terampas senjata tongkat yang diandalkannya sama saja dengan menyerah kalah!
Maka, ia mengelak dengan menarik tongkatnya ke belakang, tangan kirinya menangkis cengkeraman, dan agar jangan sampai terkena tendangan, terpaksa ia menyambut tendangan itu dengan kakinya pula.
"Desss...!"
Akibat adu tendangan ini, tubuh Kui Eng terlempar keluar dari atas panggung dan hanya dengan ginkangnya yang istimewa ini dapat berjungkir balik membuat salto sampai tiga kali maka ia tidak sampai terbanting dan dapat turun dengan kaki lebih dulu ke bawah panggung!
terdengar sorak sorai menyambut kemenangan Song Kim ini.
Kui Eng merasa penasaran dan hendak meloncat naik lagi, akan tetapi tiba-tiba suaminya sudah ada di dekatnya, menggandengnya dan mengajaknya kembali duduk ke tempat semula.
Lee Song Kim merasa gembira akan kemenangan itu, apalagi ketika melihat betapa makin banyak di antara tamu yang ikut menyambut kemenangannya.
Biarpun demikian, dia melihat betapa banyak pula pendekar yang memandang kepadanya dengan alis berkerut.
Juga Ceng Hiang berbisik-bisik dengan para panglima, lalu bangkit bersama suaminya.
"Karena pesta telah bubar dan kami tidak banyak waktu untuk menonton pameran kepandaian dan petandingan, kami akan pulang lebih dahulu,"
Katanya sambil menjura kepada Lee Song Kim.
Tuan rumah ini hanya tersenyum dan membalas dengan ucapan terima kasih.
Perbuatan Ceng Hiang dan suaminya ini diturut oleh panglima lainnya, juga para pendekar yang tidak suka melihat kecongkakan Lee Song Kim, kini bangkit dan berpamit.
Tak ketinggalan pula Ci Kong, Lian Hong, Kui Eng, Thio Ki, dan banyak lagi pendekar yang tidak mau mengakui orang seperti Lee Song Kim menjadi pemimpin kaum persilatan.
Akan tetapi yang masih tinggal di situ cukup banyak, lebih dari dua ratus orang tamu!
Mereka ini adalah orang-orang yang termasuk golongan hitam.
Mereka sudah lama haus akan pimpinan seorang datuk yang lihai, semenjak mundurnya Empat Racun Dunia dari dunia persilatan.
Mereka kini melihat sepak terjang Lee Song Kim, melihat betapa mudahnya Song Kim mengalahkan beberapa orang pendekar, bahkan telah mengalahkan pula pendekar Ciu Kui Eng yang terkenal amat lihai sebahai murid Tee-tok, mengalahkan dengan mudah pula, menghadapi pendekar wanita itu yang memegang senjata tongkat andalannya dengan tangan kosong saja.
Timbullah kekaguman dan harapan dalam hati golongan hitam untuk mengangkat Thian-He Te-It Bu-Hiap itu sebagai pengganti para datuk, menjadi pemimpin dari kaum sesat sehingga golongan mereka akan menjadi jaya kembali.
Melihat ini, Lee Song Kim kembali mengeluarkan Giok-Liong-Kiam dari balik jubahnya.
"Saudara-saudara, kalau kalian benar mengakui aku sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap dan menjadi bengcu yang akan memimpin kalian, maka kalian harus memandang Giok-Liong-Kiam ini sebagai lambang kedudukanku, dan menghormati Giok-Liong-Kiam seperti menghormati diriku sendiri. Apakah kalian setuju?"
Dengan suara gemuruh, semua orang yang hadir di situ berseru.
"Setujuu!!"
"Kalau kalian setuju, mulai sekarang, setiap kali Giok-Liong-Kiam ini nampak, kalian harus memberi hormat dengan berlutut!"
Kata pula Song Kim.
"Siapa yang tidak setuju, boleh pergi dari sini atau boleh menentangku dan naik ke panggung ini. Yang setuju agar cepat berlutut, dan aku akan memimpin kalian membangkitkan kembali golongan kita seperti yang belum pernah terjadi selama ini!"
Seratus orang lebih itu lalu menjatuhkan diri berlutut, menghadap kepada Lee Song Kim, yang mengangkat Giok-Liong-Kiam tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Melihat ini, Song Kim tersenyum gembira.
Tercapailah apa yang diidam-idamkannya.
Dia telah diakui menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap, bahkan diakui pula sebagai bengcu, Biarpun masih ada para pendekar yang tidak atau belum mengakuinya, namun dia tadi telah memperlihatkan kepandaiannya dan buktinya tida ada lagi pendekar yang berani menentangnya.
Andaikata kelak dia menghadapi tantangan mereka, dengan anak buah yang demikian banyak, dengan para tokoh golongan hitam di belakangnya, dia akan membasmi mereka semua!
Pada sat itu, melihat orang-orang yang berkepandaian tinggi dari golongan hitam menjatuhkan diri berlutut kepadanya, dia merasa seperti menjadi seorang raja besar yang menerima kehormatan dari semua anak buahnya!
Dengan hati penuh kebanggaan Song Kim menyompan kembali Giok-Liong-Kiam dengan hati-hati ke dalam jubahnya.
Benda itu junu merupakan lambang kekuasaannya dan dia harus menjaganya dengan hati-hati.
"Bangkitlah kalian dan duduklah kembali. Kita lanjutkan pesta ini sampai semalam suntuk."
Semua orang bangkit dan bersorak kegirangan, apalagi ketika Song Kim memerintahkan para anggauta Ang-hong-pai untuk melayani para tamu, juga mengeluarkan gadis-gadis penyanyi dan penghibur sehingga suasana pesta berbeda dari tadi.
Kini pesta itu penuh kegembiraan di mana beberapa orang tamu yang sudah mabok tidak mali-malu untuk menggoda anggauta Ang-Hong-Pai yang masih muda-muda dan berparas lumayan itu.
Para tamu dari golongan sesat itu rata-rata adalah golongan kasar dan menjadi hamba dari nafsu mereka sendiri, golongan yang suka mengejar kesenangan melalui cara apapun juga.
"Aih, kenapa engkau mencegah aku melanjutkan pertandingan itu? Biar dia memang lihai sekali, akan tetapi aku tidak takut dan aku belum roboh!"
Kui Eng menegur suaminya ketika mereka berada di kaki bukit bersama Ci Kong dan Lian Hong.
"Thio-pangcu benar,"
Kata Ci Kong kepada Kui Eng.
"Dia sengaja hendak menimbulkan kesan dan memamerkan kepandaiannya. tidak baik kalau tadi kita berkeras karena pertandingan yang diadakan hanya untuk menguji kepandaian saja, bukan untuk berkelahi mati-matian. jugaa, di sana terdapat banyak panglima dan pembesar, dan kulihat Song Kim mempunyai banyak sekali anak buah. bahkan sebagian besar para tamu adalah golongan sesat yang berpihak kepadanya."
"Akan tetapi, sudah gatal-gatal pula tanganku hendak menghajar jahanam sombong itu!"
Kaya pula Lian Hong yang sama keras jatinya dengan Kui Eng.
"Apakah kita harus pergi begitu saja membiarkan dia menjadi bengcu dan menjadi seorang yang berani berjuluk Thian-He Te-It Bu-Hiap?"
Ditegur oleh isterinya, Ci Kong tersenyum.
Dia mengenal watak isterinya yang keras dan membenci kejahatan, juga mengenal watak Ciu Kui Eng yang kini menjadi isteri Thio Ki, pangcu (ketua) dari Kang-Sim-Pang itu.
"Tentang dia mengangkat diri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap, dan menjadi bengcu, biarkanlah saja. Dia boleh berjuluk apa saja, hal itu setiap orang mempunyai kebebasan, dan semakin tinggi dia menggunakan julukan, semakin nyeri kalau dia jatuh kelak. Juga dia boleh saja menjadi bengcu, karena hanya merupakan bengcu dari golongan hitam, bukan dalam arti kata pemimpin takyat yang sebenarnya. Akan tetapi ada dua hal yang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pertama, dia telah menguasai Giok-Liong-Kiam..."
"Hemm, bukankah pedang pusaka itu dulu milik kalian?"
Kui Eng bertanya.
"Benar sejak dahulu pedang itu milik kami dan berada pada kami. Akan tetapi, pada suatu hari muncul Ong Siu Coan, beberapa tahun yang lalu. Dia meminjam pedang pusaka itu dan diberikan oleh suamiku,"
Kata Lian Hong, kini merasa menyesal mengapa pedang pusaka itu dipinjamkan kepada Ong Siu Coan.
"Kalianpun mengerti mengapa aku memberikan pedang itu kepadanya ketika dia meminjamnya,"
Kata Ci Kong kepada Thio Ki dan Kui Eng.
"Ketika itu, dia bercita-cita untuk berjuang menumbangkan kekuasaan Pemerintah Mancu. Bukan hanya pedang pusaka Giok-Liong-Kiam kami pinjamkan untuk menarik bantuan para pendekar, bahkan kita semua juga ikut pula menyumbangkan tenaga, bukan? Baru setelah kita melihat penyelewengan pasukan Tai Peng, yang dibiarkan saja oleh Ong Siu Coan yang mulai menjadi gila kekuasaan, kita mengundurkan diri. Pedang itu masih ada padanya. Maka, sungguh mengherankan bagaimana Giok-Liong-Kiam dapat berada di tangan Lee Song Kim!"
"Dia mengatakan bahwa yang berada di tangan Ong Siu Coan itu palsu! Agaknya yang berada di tangannya itulah yang palsu,"
Kata Thio Ki. Ci Kong menggeleng kepala.
"Tidak, keduanya salah. Yang berada di tangan Ong Siu Coan jelas yang aseli karena dia menerimanya dari kami sendiri. dan yang berada di tangan Song Kim tadipun bukan palsu!"
"Kalau begitu dia telah mencurinya dari Ong Siu Coan!"
Kata Kui Eng.
"Kurasa bukan begitu,"
Kata Lian Hong.
"Lebih banyak kemungkinannya bahwa Song Kim diberi pinjam oleh Ong Siu Coan..."
"Mana mungkin? Bukankah antara Song Kim dan Kiki, bekas sumoinya itu, terdapat permusuhan?"
Kui Eng membantah.
"Siapa tahu apa yang telah terjadi antara mereka? Mereka adalah orang-orang jahat dan tidak akan mengherankan kalau terjadi kerja sama antara Ong Siu Coan dan Lee Song Kim."
Jawab Lian Hong.
"Bagaimanpun juga, kita harus merampas kembali Giok-Liong-Kiam. Selain itu, ada satu hal lagi yang harus kuselesaikan. Jelaslah kini bahwa orang she Lee yang melakukan pembunuhan atas diri orang-orang Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai, yang melakukan hal itu untuk mengadu domba antara kedua perkumpulan persilatan besar itu, bukan lain adalah Lee Song Kim. Aku tidak dapat membiarkan saja kejahatannya itu"
"Kalau begitu kalian hendak menentangnya? Kami akan membantu kalian!"
Kata Kui Eng penuh semangat. Suaminya mengangguk, setuju dengan pernyataan isterinya. Ci Kong menarik napas panjang.
"Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Kalian adalah sahabat-sahabat baik kami sejak dahulu! Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Lee Song Kim sekarang bukanlah yang dahulu. Dia telah memiliki ilmu silat yang tinggi dan beraneka ragam. Melihat perkelahian tadi saja, aku sendiri meragukan apakah akan mampu menandinginya."
"Aku tidak takut!"
Lian Hong penasaran.
"Kalau kita maju berdua, apalagi berempat, tentu dia akan mampus!"
"Kita tidak boleh sembrono menurutkan perasaan marah,"
Kata pula Ci Kong.
"Ingat bahwa dia mempunyai banyak anak buah, dan aku melihat Theng Ci di sana. Dan mengingat bahwa Theng Ci adalah tokoh besar Ang-Hong-Pai, melihat pula gerak-gerik para pelayan wanita yang gesit-gesit, maka aku menduga bahwa merekapun adalah para anggauta Ang-hong-pai. Agaknya Song Kim telah bekerja sama dengan Ang-Hong-Pai, atau kalau melihat sikapnya, boleh jadi dia telah menguasai Ang-Hong-Pai Dan para anggauta itu menjadi anak buahnya. Nah, sekarang dia dibantu lagi oleh banyak orang sesat yang lihai, bagaimana kita boleh sembarangan saja? Kita harus menanti saat yang baik, untuk merampas kembali Giok-Liong-Kiam dan kalau mungkin membasminya."
Mereka lalu berunding dan mengatur siasat, akan tetapi belum juga mendapatkan cara terbaik untuk menyerbu tempat tinggal sementara Lee Song Kim yang penuh dengan orang-orang golongan hitam itu.
Mereka dapat menduga bahwa tempat itu hanya merupakan tempat sementara saja dan mereka belum tahu di mana letaknya sarang yang sesungguhnya dari Lee Song Kim.
Selagi mereka berunding nampak bayangan berkelebat.
Empat orang pendekar itu berloncatan, siap siaga menghadapi musuh.
Akan tetapi ternyata yang muncul adalah seorang wanita yang cantik sekali dan berpakaian mewah.
Wanita yang sudah mereka kenal baik karena ia adalah Ceng Hiang, puteri pangeran yang menjadi isteri Yu Kiang itu.
Mereka merasa lega dan gembira.
Biarpun ia keluarga bangsawan tinggi yang tinggal di kota raja, namun Ceng Hiang merupakan seorang kenalan lama yang mereka kagumi.
Ceng Hiang ini merupakan satu-satunya orang yang mewarisi beberapa macam ilmu keluarga Pulau Es yang mereka kenal, dan di luar pengetahuan mereka, Ayah wanita inipun telah menemukan kitab peninggalan Tat Mo Couwsu yang kemudian dipelajari dan dilatih oleh Ceng Hiang, yaitu kitab yang berisikan Ilmu Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang).
"Ah, kiranya kalian sedang berbincang-bincang di sini!"
Kata Ceng Hiang.
"Pantas aku menanti kalian di bawah sana tetap juga belum muncul. Agaknya urusan amat penting yang kalian bicarakan di sini!"
Ci Kong dan lain-lain saling pandang dan melalui pandang mata, mereka mufakat untuk membuka rahasia mereka kepada wanita yang mereka hormati ini.
"Kami sedang bicara tentang jahanam Lee Song Kim itu!"
Kata Lian Hong.
"Tentang pedang Giok-Liong-Kiam yang berada di tangannya?"
Tanya Ceng Hiang dan kini ci Kong yang menjawab.
"Bukan hanya tentang pedang itu, akan tetapi juga tentang perbuatannya membunuh orang-orang Kun-Lun-Pai dan Siauw-lim-pai untuk mengadu domba. Kami sedang mencari siasat untuk dapat menyerbu ke tempatnya, merampas kembali pedang dan membasmi manusia jahat itu."
"Aih, kalau begitu sungguh kebetulan sekali!"
Ceng Hiang berseru gembira sambil duduk di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah.
"Mari kita duduk dan berunding. Aku memang mencari kalian untuk minta bantuan kalian menghadapi Lee Song Kim!"
"Ehhh?"
Kui Eng berseru.
"Apa maksudmu?"
"Duduklah, dan dengarkan rencana kami."
Semua orang duduk dan memandang wajah yang cantik jelita itu ketika Ceng Hiang mulai bercerita.
"Tadi ketika meninggalkan tempat pesta, aku dan suamiku mengajak para panglima berunding dan kami bersepakat untuk mencurigai Lee Song Kim sebagai sekutu Tai Peng. Aku sudah mendengar bahwa Giok-Liong-Kiam terjatuh ke tangan Ong Siu Coan, dan kini melihat kenyataan bahwa pedang pusaka itu berada di tangan Lee Song Kim, maka kami merasa yakin bahwa dia tentu bersekongkol dengan Ong Siu Coan. Agaknya orang gila itu menugaskan Lee Song Kim untuk menarik para tokoh dunia persilatan agarndapat membantu gerakan Tai Peng yang kini macet sampai di selatan Sungai Yang-ce-kiang saja setelah ditinggalkan oleh para pendekar yang pernah membantunya."
Sampai di sini, Ceng Hiang memandang kepada mereka dan empat orang pendekar itu merasa tidak enak.
Bagaimanapun juga, mereka pernah juga membantu Ong Siu Coan dan ucapan Ceng Hiang itu seperti menyindir mereka.
"Aku tahu bahwa para pendekar telah tertipu oleh Ong Siu Coan,"
Sambung Ceng Hiang yang agaknya mengerti akan isi hati mereka.
"Dan karena ditinggal oleh para pendekar, Ong Siu Coan agaknya hendak mengumpulkan kekuatan dengan perantaraan Lee Song Kim."
Thio Ki mengangguk-angguk.
"Agaknya dugaan itu memang memiliki kemungkinan besar sekali."
Yang lain-lain juga mengangguk.
"Lalu apa maksudnya bantuan kami dibutuhkan?"
Tanya Ci Kong meragu.
"Kami telah bersepakat dengan para panglima bahwa Lee Song Kim harus dibasmi, agar kekuatan Tai Peng tidak bangkit kembali. Malam ini kami akan menyerbu dengan menggunakan pasukan besar, dan kuharap kalian suka membantu kami, mengingat betapa lihainya Lee Song Kim dan dia mempunyai banyak pembantu yang berilmu tinggi."
"Akan tetapi... bagaimana mungkin kami harus membantu pasukan pemerintah...?"
Kui Eng berseru.
"Maaf, engkau tentu mengerti kedudukan kami,"
Katanya sambil memandang kepada puteri yang cantik itu. Cheng Hiang tersenyum manis.
"Engkaupun tentu tahu pula bagaimana pandanganku tentang penjajahan dan perjuangan rakyat yang gagah, kalau tidak begitu, bagaimana kita dapat menjadi sahabat? Akan tetapi, aku bukan minta kalian untuk membantu pasukan pemerintah, melainkan untuk bekerja sama karena bukankah kita mempunyai kepentingan masing-masing? Kalian hendak merampas kembali Giok-Liong-Kiam dan membasmi orang jahat, sedangkan pasukan pemerintah hendak melumpuhkan Tai Peng yang kalian juga tahu bukan merupakan pasukan pejuang rakyat yang bersih. Nah, dua kepentingan yang berbeda ini, apa salahnya kalau mendekatkan kedua pihak untuk menghadapi lawan yang tangguh?"
Empat orang itu saling pandang, kemudian Ci Kong yang mengangguk.
"Kurasa ada benarnya pendapat itu. Kalau kita bergerak bersama pasukan pemerintah menyerbu malam ini, bukan berarti kita membantu pasukan pemerintah, melainkan kita menghadapi Lee Song Kim. Kita tidak bekerja sama melainkan kebetulan saja mempunyai kepentingan masing-masing untuk menentang Lee Song Kim. Aku setuju, terserah kepada yang lain."
Lian Hong, Kui Eng, dan Thio Ki akhirnya menyetujui juga.
Mereka tadi sedang kebingungan, belum mendapatkan siasat yang tepat untuk menghadapi Lee Song Kim dan anak buahnya yang banyak, dan kini tiba-tiba saja mereka seperti mendapat bantuan yang amat kuat, yaitu pasukan besar tentara, bahkan tentu saja dibantu oleh Ceng Hiang yang mereka tahu amat lihai ilmu silatnya!
"Akan tetapi kenapa harus malam nanti?
Tidakkah lebih baik sekarang saja kita menyerbu?"
Kui Eng mengajukan usul.
"Para panglima kini sedang mempersiapkan pasukan. Tanpa pasukan, kita kalah kuat karena menurut penyelidikan yang kusuruh lakukan, sekarang ini sisa para tamu, lebih dari seratus orang, masih berada di sana dan mereka itu adalah golongan hitam yang telah setuju mengangkat orang she Lee itu menjadi pemimpin mereka."
Terpaksa Kui Eng dan yang lain-lain bersabar, dengan kekuatan mereka saja, biar ditambah oleh Ceng Hiang sekalipun, mana mungkin menghadapi Lee Song Kim yang sudah mempunyai anak buah yang kuat, kini ditambah lagi orang-orang golongan hitam yang seratus orang lebih jumlahnya?
"Mengingat akan kekuatan pihak lawan, kami akan mengerahkan sedikitnya lima ratus orang.
Pasukan itu akan menyerbu, sedangkan kita akan menghadapi Lee Song Kim bersama para pembantunya,"
Kata pula Ceng Hiang.
"Nah, sekarang aku harus kembali dulu untuk membantu para panglima mengatur pasukan, dan mengabarkan bahwa kalian sudah siap untuk membantu..."
"Eh... nyonya Yu, maafkan,"
Kata Ci Kong.
"Harap jangan katakan apa-apa kepada para penglima. Kami akan menentang Lee Song Kim, akan tetapi bukan berarti membantu pasukan Ceng, maka biarlah kami bersiap-siap di dekat sarang musuh dan menanti tibanya penyerbuan, baru kami akan bertindak."
Ceng Hiang tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Kalian tidak mau dikatakan membantu pasukan pemerintah. Aku mengerti dan baiklah. Sampai jumpa malam nanti, di tempat pertempuran."
Wanita cantik itu lalu berkelebat dan lenyap di antara pohon-pohon.
Setelah Ceng Hiang pergi, dua pasang suami isteri itu lalu mendaki bukit dan menyusup-nyusup di antara semak-semak belukar dan pohon-pohon agar jangan sampai kelihatan dari atas.
"Harap ingat baik-baik, kita sama sekali tidak boleh membantu perajurit pasukan kerajaan Ceng, dan kita hanya menyerang Song Kim dan mereka yang membantunya, berusaha merampas kembali Giok-Liong-Kiam dan kalau dapat membunuh orang jahat itu. Sebelum dia mati, tentu ada saja ulahnya untuk mendatangkan kekacauan di dunia ini,"
Pesan Ci Kong kepada yang lain.
Setelah tiba di luar perkampungan itu, mereka bersembunyi sambil mengintai, menanti sampai pasukan pemerintah datang menyerbu.
Sampai lama mereka menanti, dan setelah cuaca menjadi gelap benar, pendengarn mereka yang tajam mulai menangkap pergerakan dari bawah bukit.
Gerakan itu datang dari empat penjuru dan diam-diam mereka merasa girang.
Sekali ini Lee Song Kim pasti tidak akan dapat lolos lagi karena tempat itu telah dikepung dari empat penjuru oleh pasukan yang amat besar jumlahnya, sedikitnya lima ratus orang menurut pemberitahuan Ceng Hiang tadi.
Mereka menanti dan makin mendekati pintu gerbang karena mereka ingin cepat-cepat menyerbu dan mencari Lee Song Kim.
Dari luar pintu gerbang masih terdengar suara alat musik mengiringi nyanyian suara gadis-gadis penyanyi, diseling suara ketawa dan jerit-jerit kecil suara wanita, tanda bahwa pesta itu mulai kasar dan banyak yang sudah mabok bersikap terlalu bebas dengan para pelayan wanita.
Mendengar jerit-jerit wanita dan suara ketawa-ketawa itu, Lian Hong dan Kui Eng saling pandang dengan muka merah dan mereka merasa semakin marah kepada Lee Song Kim.
Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya Lee Song Kim bukan orang sekasar itu, Bahkan tidak suka mabok-mabokan dan menggoda wanita di depan umum seperti yang dilakukan para tamu yang kini menjadi anak buahnya itu.
Namun, dia hendak menyenangkan hati orang-orang itu, maka diapun tidak melarang, hanya mengundurkan diri ke dalam kamarnya dan membiarkan mereka bersenang-senang sesuka hatinya semalam suntuk.
Selagi dia duduk termenung, menikmati keberhasilannya hari itu, tiba-tiba dia mendengar suara dari luar jendela kamarnya.
Jendela itu diketuk orang.
Diam-diam dia terkejut.
Kalau ada orang mampu mendekati jendela kamarnya tanpa dia mendengarnya sejak tadi, jelas bahwa orang itu memiliki ginkang yang cukup hebat.
Dia menghampiri jendela, akan tetapi menahan diri untuk membuka daun jendela.
Jangan-jangan seorang musuh yang datang pikirnya.
"Siapa di luar jendela?"
Tanyanya perlahan. Sejenak tidak ada jawaban, lalu terdengan suara yang parau namun terdengar jelas dari dalam kamar.
"Apakah Lee-Kongcu yang berada di dalam? Aku ingin bicara dengan Lee-Kongcu, penting sekali, karena Lee-Kongcu berada dalam bahaya maut. Song Kim terkejut, akan tetapi dia lalu mengeluarkan suara ketawa.
"Hemmm, siapa engkau? Jangan mencoba untuk menakut-nakuti aku! Hayo jawab, siapa engkau?"
"Aku she Lui, Kongcu tidak mengenalku, akan tetapi aku mengenalmu, Lee-Kongcu. Aku adalah satu di antara tangan kanan dan kepercayaan Sri Baginda Raja Yang Mahabesar di Nan-king."
"Tai Peng...??"
Song Kim bertanya heran dan kaget.
Mau apa orang Tai Peng malam-malam begini menyusup ke sini?
Dia lalu teringat akan Giok-Liong-Kiam dan otomatis tangannya meraba benda pusaka yang berada di balik jubahnya itu.
Tentu Ong Siu Coan mengutus orang pandai untuk mencoba merampas kembali pusaka itu, tentu mata-mata Tai Peng melihatnya dan kini Tai Peng mulai bertindak.
Akan tetapi dia tidak takut.
"Benar, Kongcu. Aku she Lui adalah seorang perwira tinggi Tai Peng yang memimpin pasukan mata-mata Tai Peng. Aku menjadi utusan pribadi Sri Baginda dan perlu sekali bicara denganmu, sebelum terlambat. Biarkan aku masuk!"
"Hemm, takut apa?"
Timbul kecongkakan hati Song Kim dan diapun berkata.
"Kalau engkau berkepandaian tentu dapat masuk sendiri. Aku menanti di dalam kamar ini!"
Sunyi sejenak, kemudian terdengar suara tadi berkata.
"Baiklah, Lee-Kongcu. Maafkan aku!"
Tiba-tiba saja daun pintu itu terdorong dari luar dengan amat mudah, tahu-tahu terbuka dan sesosok bayangan berkelebat loncat ke dalam kamar.
Begitu bayangan itu tiba di tengah kamar, sebatang pedang sudah menodong lambungnya dari samping.
Orang itu sama sekali tidak bergerak, juga tidak menoleh kepada Song Kim yang telah menodongkan pedangnya itu, melainkan berkata.
"Ah, aku datang untuk menyelamatkan nyawa Lee-Kongcu, akan tetapi malah disambut dengan menodongkan pedang!"
Song Kim melihat orang itu masuk tanpa memegang senjata dan tidak mencurigakan sama sekali, maka diapun menarik kembali pedangnya. Akan tetapi dia belum menyarungkan pedangnya ketika berkata.
"Maaf, aku tidak mengenalmu dan engkau datang begini mengejutkan dan tiba-tiba. Tentu saja aku menjadi curiga."
Dia lalu menuding ke arah sebuah kursi dan orang itupun duduk berhadapan dengan tuan rumah yang duduk pula di atas kursi.
Mereka berhadapan dan Song Kim melihat bahwa orang itu usianya kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya tajam bersinar-sinar, didahinya terdapat bekas luka memanjang dan melintang.
"Nah, ceritakan, engkau she Lui dan menjadi utusan Sri Baginda Raja di Nan-king, Maksudmu utusan Ong Siu Coan pemimpin balatentara Tai Peng?"
"Benar, Lee-Kongcu."
"Nah, katakan ada keperluan apa?"
"Kongcu, Sri Baginda sendiri yang memerintahkan aku untuk cepat menolong Kongcu dan semua tamunya, akan tetapi dengan syarat bahwa kalau Kongcu dan para tamu dapat diselamatkan, terutama Kongcu sendiri, Kongcu harus ikut dengan kami menghadap Sri Baginda Raja di Nan-king. Beliau ingin sekali bertemu dengan Thian-He Te-It Bu-Hiap yang menjadi bengcu baru!"
Song Kim (Lanjut ke
Jilid 10) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 tersenyum dan membayangkan wajah Ong Siu Coan.
Seorang yang hebat, dapat mengangkat diri sedemikian tingginya sampai menjadi raja besar!
Dan terbayang pula wajah Tang Ki atau Kiki, sumoinya yang manis itu, dan senyumnya melebar.
"Akan tetapi sebelum aku menerima syarat itu, perlu aku mengetahui lebih dahulu, bahaya apa yang mengancam diriku dan bagaimana engkau akan dapat menyelamatkan aku?"
Song Kim masih tidak percaya dan mengira banwa tentu Ong Siu Coan hendak menipunya! "Kongcu, tidak ada banyak waktu. Ketahuilah bahwa tempat ini telah dikepung oleh pasukan pemerintah Mancu!"
"Apa...!"
Song Kim meloncat dan mendekati jendela untuk menjenguk keluar.
"kami akan melawan...
"Jangan tergesa-gesa, Kongcu. Yang dikepung adalah bukit ini dan sebanyak paling sedikit lima ratus orang perajurit mengepung dari empat penjuru. Berapa banyaknya anak buah Kongcu? Paling banyak seratus orang lebih! Bagaimana akan mampu menahan serbuan ratusan, mungkin mendekati seribu orang pasukan yang sudah terlatih perang? Dan jangan lupa, ada pendekar-pedekar sakti yang ikut membantu, dan pasukan itu sendiri dipimpin oleh Nyonya Yu Kiang yang sudah terkenal kelihaiannya!"
"Ceng Hiang...!"
"Benar, Kongcu."
"Aku tidak percaya!"
Akan tetapi tiba-tiba terdengar lapat-lapat bunyi terompet dan wajah Song Kim berubah pucat.
"Nah, agaknya tidak banyak waktu pula untuk mengadakan pemilihan, Kongcu. Kalau Kongcu menerima syarat itu, aku akan mengerahkan pasukan mata-mata Tai Peng yang sudah siap untuk membantu sampai Kongcu dapat meloloskan diri, kalau tidak, aku akan meninggalkan Kongcu dan teman-teman dibasmi oleh pasukan Mancu, Bagaimana?"
Memang tidak ada pilihan lain bagi Song Kim.
Dia tahu benar.
Tentu saja dia merasa sungkan dan khawatir untuk dibawa menghadap Ong Siu Coan yang kini telah menjadi seorang raja besar, akan tetapi dia adalah seorang yang amat cerdik.
Kalau Ong Siu Coan sampai mau bersusah payah mengirim orang-orangnya untuk menolongnya dari ancaman bahaya ini, tidak mungkin raja itu mengandung niat jahat terhadap dirinya.
Tidak ada lain pilihan.
"Baik. aku menerima syarat itu, lalu bagaimana sekarang? Bagaimana engkau akan dapat menolongku?"
"Biarkan para tamu yang rata-rata memiliki kepandaian itu mengadakan perlawanan dari dalam. Padamkan semua api dan penerangan dan melakukan pertempuran dengan berpencar agar kekuatan musuh yang lebih besar menjadi kacau. Ingat bahwa kekuatan kamipun hanya seratus orang lebih pasukan kita melawan musuh yang tiga empat kali lebih banyak. Kami akan menyerang dari luar sehingga kita menjepit pasukan musuh. Kongcu sendiri agar menyamar dan menyusup ke arah barat. Dengan kepandaian Kongcu, hal itu tidak akan sukar kalau saja Kongcu tidak dikenal. Di bawah bukit, kami akan menyiapkan kuda untuk Kongcu pakai. Ada apalagi yang ingin Kongcu tanyakan?"
Suara pasukan musuh kini makin terdengar gemuruh dan keadaan para tamu mulai panik karena merekapun mendengar suara itu.
"Tidak ada apa-apa lagi,"
Kata Song Kim.
"Ingat, kalau Kongcu melarikan diri lalu tidak memenuhi janji, pasti Sri Baginda tidak akan berhenti sebelum dapat menangkap Kongcu dan menjatuhkan hukuman!"
Setelah berkata demikian, orang tinggi kurus itu meloncat keluar jendela dan lenyap.
Daun pintu diketuk orang dari luar, Song Kim cepat membuka daun pintu dan Theng Ci sudah berada di depan pintu bersama beberapa orang pembantunya, yaitu Tiat-pi Kim-wan, Seng-jin Sin-Touw, dan Sin-Kiam Mo-Li, juga beberapa orang tamu.
mereka nampak gelisah.
"Kongcu, menurut penyelidikan kami, kita telah dikepung oleh pasukan pemerintah Mancu yang jumlahnya besar sekali, dikepung dari empat penjuru dan mereka kini sedang mendaki, sudah sampai di lereng terakhir,"
Kata Theng Ci.
Setelah daun pintu terbuka, nampak oleh Song Kim betapa semua tamu sudah bangkit berdiri dengan wajah tegang, suara musik dan nyanyian sudah terhenti.
Para gadis penyanyi berjongkok dan berkumpul dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
Akan tetapi, para anggauta Ang-Hong-Pai nampak tetap tenang dan tabah, demikian pula para tamu walaupun wajah mereka membayangkan ketegangan.
Song Kim mengangguk.
"Tenanglah, aku sudah tahu!"
Katanya dan diapun cepat keluar, berdiri di atas meja menghadapi para tamunya dan anak buahnya.
"Pasukan pemerintah mengepung tempat ini. Jangan khawatir, walaupun jumlah mereka lebih banyak, kita tidak perlu takut. Bahkan kita akan memperlihatkan tindakan kita pertama kali sejak kalian mengangkat aku menjadi bencu! Kita tidak akan kalah, karena kita akan dibantu oleh pasukan sahabat yang akan bergerak dari luar. Kalau pertempuran sudah berlangsung, selanjutnya kalian harap bergabung dengan pasukan pembantu dan bersama mereka melawan pasukan Mancu. Dan kalian harus mentaati siasat yang diperintahkan oleh komandan pasukan pembantu. Sekarang, padamkan semua penerangan dan api, kemudian menyebarlah. bersembunyi dan menyerang secara tiba-tiba jika ada tentara musuh mendekat. Dengan demikian, mereka tidak akan dapat melakukan penyerbuan terarah. Sudah mengerti semua?"
Semua orang mengangguk.
"Akan tetapi, dalam pertempuran berpencaran, bagaimana kami dapat menghubungi Kongcu?"
Theng Ci bertanya khawatir.
"Ikuti saja petunjuk komandan pasukan pembantu dan kita akan bertemu lagi setelah lolos dari ancaman bahaya. Nah, lakukanlah perintahku sekarang juga, mereka sudah dekat!"
Theng Ci dan para pembantu lainnya, juga para tamu, cepat memadamkan api dan lampu penerangan, sedangkan Lee Song Kim cepat lari ke dalam untuk mengumpulkan barang-barang yang perlu dibawa.
Akan tetapi karena tempat itu hanya merupakan tempat sementara yang dipakainya untuk mengadakan pertemuan, tidak banyak yang dibawanya.
Pedang Giok-Liong-Kiam disembunyikan di balik jubahnya yang kini ditutup oleh jubah lain yang agak tua sehingga pakaiannya yang serba indah tertutup.
Juga dia menanggalkan hiasan rambut dari emas permata, lalu mengikat rambutnya dengan pita biasa, bahkan menyembunyikan sepasang belati dan pedangnya agar dia tidak dikenal orang.
Setelah itu, dia memadamkan lampu di dalam rumah itu dan menyelinap keluar.
Ternyata di luar sudah mulai terjadi pertempuran!
Para perajurit Kerajaan Ceng menjadi terkejut juga menghadapi penyambutan yang gigih itu.
Karena orang-orang yang mereka serbu itu berpencar dan tidak bergerombol, bahkan menyerang mereka dari tempat-tempat tersembunyi, pasukan itu terkejut dan banyak di antara mereka yang menjadi korban serangan mendadak dari tempat tersembunyi.
Apalagi keadaan amat gelap sehingga sukarlah mengenal mana kawan mana lawan.
Menghadapi perlawanan musuh, Ceng Hiang dan para panglima segera memberi aba-aba kepada para perajurit yang berada di belakang untuk menyalakan obor.
Keadaan menjadi terang dan kini mulailah terjadi pertempuran yang tidak seimbang.
Segera setiap orang dari golongan hitam yang menjadi anak buah Lee Song Kim, dikepung oleh tiga empat orang dan terjadi perkelahian mati-matian di bawah sinar ratusan buah obor.
Ci Kong, Lian Hong, Thio Ki dan Kui Eng tidak mempedulikan pertempuran antara pasukan pemerintah melawan orang-orang golongan hitam itu.
Mereka tidak mau membantu, bahkan cepat berloncatan masuk ke dalam perkampungan itu untuk mencari Song Kim.
Setelah mereka tiba di depan rumah, di taman mana tadi diadakan pesta, rumah yang gelap, Ci Kong membentak.
"Lee Song Kim, keluarlah, dan kembalikan Giok-Liong-Kiam kepadaku!"
Sunyi saja di rumah yang gelap itu. Thio Ki menyambar sebatang obor dari tangan seorang perajurit dan berkata.
"Mari kita serbu!"
Dia berada di belakang membawa obor agar tidak diserang secara mendadak dari dalam rumah.
Ci Kong menendang daun pintu depan dan mereka berempat menyerbu masuk.
Akan tetapi, rumah itu kosong.
Mereka cepat mencari keluar, di antara mereka yang berkelahi, namun tidak nampak bayangan Song Kim!
Sementara itu, pasukan pemerintah menjadi kacau ketika mendadak mereka mengalami penyerbuan dari bawah puncak bukit, dan pertempuran menjadi semakin seru.
"Ah, jahanam itu tidak ada lagi!"
Kata Ci Kong dengan heran, penasaran dan juga kecewa.
"Si licik pengecut itu tentu sudah tahu akan bahaya dan telah melarikan diri,"
Kata Lian Hong.
"Bedebah!"
Kui Eng memaki dengan kecewa.
Mereka berempat masih terus berputar-putar mencari, sama sekali tidak mau mencampuri pertempuran, akan tetapi seperti yang mereka khawatirkan, sama sekali tidak nampak bayangan Lee Song Kim.
Ketika mereka melihat bahwa dari luar datang pasukan orang-orang lihai menyerbu, dan biarpun mereka yang jumlahnya kurang lebih seratus orang itu tidak berpakaian perajurit, dari cara merela melakukan penyerangan dengan teratur menunjukkan bahwa mereka adalah sebuah pasukan yang terlatih dan teratur.
"Hemm, agaknya mereka adalah pasukan mata-mata Tai Peng,"
Kata Thio Ki dan yang lain menyetujui.
"Kita tidak perlu terlibat dalam pertempuran di antara mereka. Mari kita pergi, turun bukit dan mencari jahanam she Lee itu,"
Kata Ci Kong.
mereka lalu berlari turun gunung merobohkan siapa saja yang mencoba untuk menghalangi mereka, baik perajurit Tai Peng maupun perajurit pemerintah.
Akan tetapi, usaha mereka mencari Lee Song Kim sia-sia.
Orang itu sudah hilang entah ke mana, mereka sama sekali tidak menduganya.
Akan tetapi, Ci Kong mendekati kenyataan ketika dia berkata kepada tiga orang lainnya.
"Sungguh aneh sekali munculnya pasukan Tai Peng itu. Mereka membantu Lee Song Kim dan anak buahnya! Agaknya dugaan Ceng Hiang memang tepat. Lee Song Kim tentu telah bersekongkol atau menjadi pembantu Ong Siu Coan yang sengaja meminjamkan Giok-Liong-Kiam kepadanya untuk dapat menarik tenaga bantuan golongan hitam yang memiliki ilmu silat tinggi. Kalau begitu halnya, agaknya dia melarikan diri ke Nan-king!"
"Wah, kalau dia sudah berada di istana raja baru itu, mana mungkin kita dapat menyusulnya?"
Kata Thio Ki. Ci Kong mengepal tinju.
"Sungguh merupakan kebodohan besar bagiku yang dulu percaya kepada Ong Siu Coan dan menyerahkan Giok-Liong-Kiam untuk dipinjamnya. Bagaimanapun juga, aku harus dapat merampas kembali pedang pusaka itu, entah dengan cara bagaimana!"
"Kita tidak perlu datang ke sana, karena orang seperti dia berhati palsu. Kalau kita datang berkunjung dan meminta kembali pedang itu dari Ong Siu Coan, tentu kita akan ditangkap. Dan diistananya, kita tidak akan mampu berbuat apapun,"
Kata Lian Hong yang merasa khawatir kalau-kalau suaminya akan nekat mengejar ke Nan-king.
"Aku mendengar bahwa kini terdapat gerakan baru dari rakyat jelata yang menentang Kerajaan Tai Peng karena ternyata pasukan-pasukan Tai Peng banyak menyengsarakan rakyat dengan perbuatan mereka yang tiada ubahnya seperti para perampok biasa."
Kata Kui Eng. Ci Kong menarik napas panjang.
"Sungguh menyedihkan sekali nasib rakyat jelata. Sudah dihisap oleh pemerintah Mancu yang menjajah, dirongrong dan diracun pula orang-orang kulit putih dari barat, kini bahkan ditambah lagi dengan penindasan perampok-perampok Tai Peng. Begitu banyaknya penindasan yang diderita rakyat. Bangkit dan berjuangpun amatlah beratnya karena hanya menghadapi tiga kekuatan yang besar dan menekan itu."
Thio ki menarik napas panjang.
"memang berat sekali. Kalau rakyat bangkit berarti ada empat kekuatan yang saling serang, dan akibatnya, rakyat sendirilah yang paling menderita. Orang kulit putih yang paling beruntung, menjual senjata je kanan kiri, membiarkan bangsa kita terpecah belah dan saling bunuh. Ah, kita hanya dapat mengharapkan munculnya seorang pemimpin besar yang ditunjuk oleh Thian untuk dapat membebaskan rakyat dari kesengsaraan yang bertumpuk."
Dengan hati kecewa dan menyesal empat orang itu akhirnya saling berpisah, pulang ke tempat tinggal masing-masing setelah berjanji untuk bertemu lagi kalau tiba saatnya di mana tenaga mereka dapat disumbangkan untuk perjuangan membela rakyat.
Sementara itu pertempuran antara pasukan pemerintah Ceng melawan pasukan Tai Peng yang kini bergabung dengan anak buah Lee Song Kim, berlangsung dengan serunya.
Biarpun para pembantu Lee Song Kim rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi, Namun di pihak pasukan pemerintah terdapat Ceng Hiang yang mengamuk bagaikan seekor naga betina, dan jumlah pasukan pemerintah kurang lebih tiga empat kali lipat banyaknya, akhirnya pasukan Tai Peng bersama golongan sesat terpaksa melarikan diri meninggalkan lebih dari sepertiga bagian orang mereka yang tewas dan terluka parah.
Juga di pihak pasukan pemerintah banyak korban jatuh dalam pertempuran hampir setengah malam lamanya itu.
Pasukan Tai Peng melarikan diri ke selatan dan setelah tiba di perbatasan, pasukan Kerajaan Ceng yang melakukan pengejaran terpaksa mundur kembali karena di perbatasan terdapat penjagaan pasukan Tai Peng yang kuat.
Bagaikan seorang dusun yang baru pertama kali memasuki kota, Sheila dan Han Le yang dikawal oleh Tang Ciangkun memasuki istana di Nan-king itu.
Sheila adalah seorang wanita kulit putih yang tenu saja sudah sering melihat gedung-gedung mewah, bahkan di waktu gadisnya ia tinggal di rumah orang tuanya yang cukup mewah.
Namun, begitu memasuki istana ini, ia takjub bukan main.
segala benda yang berada di dalam istana ini demikian antik dan tentu berharga mahal sekali.
Guci-guci bergambar yang kuno dan indah, tempat-tempat bunga dan patung-patung dari batu kemala, dinding berukir dan ada pula dari marmer berkembang mengkilap, cerrnin-cermin besar, lukisan-lukisn kuno dan tulisan-tulisan sajak berpasangan yang amat indah.
Lantainya dari marmer yang dapat dipakai bercermin saking mengkilapnya, gantungan kain-kain Sutera beraneka warna dan tirai-tirai yang halus menambah semaraknya ukiran-ukiran pada jendela, pintu, bahkan langit-langit.
Para pengawal yang berjaga di situpun mengenakan pakaian seragam yang indah dan mewah, rata-rata memiliki tubuh tegap dan wajah tampan, sedangkan di bagian dalam nampak pelayan-pelayan wanita yang canti-cantik.
Sungguh merupakan sebuah istana besar yang megah, mewah dan indah.
Sheila dan Han Le harus menanti sampai beberapa lamanya di ruangan tunggu untuk para tamu sebelum akhirnya mereka di ijinkan masuk dikawal oleh Tang Ciangkun dan beberapa orang pengawal istana mengiringkan mereka memasuki ruangan besar di mana Sri Baginda Kaisar dari kerajaan Sorga sudah menanti mereka!
hal ini diumumkan oleh pengawal yang memberitahu kepada mereka di kamar tunggu tadi.
Kaisar dari Kerajaan Sorga!
Sheila tersenyum di dalam hatinya.
Betapa sombongnya orang yang pernah menjadi Suheng mendiang suaminya itu.
Ketika mereka bertiga, dikawal oleh empat orang pengawal, memasuki ruangan itu, Sheila merasa jantungnya berdebar tegang.
Bagaimana juga, suasana mewah gemerlapan di dalam ruangan itu sungguh menegangkan dan amat berwibawa.
Han Le nampak gembira sekali, memandang ke kanan kiri penuh kagum.
Melihat betapa empat orang pengawal dan Tang Ciangkun menjatuhkan diri berlutut begitu mereka melangkahi ambang pintu, Sheila yang sudah mempelajari adat istiadat dan sopan santun, cepat memegang tangan puteranya dan diajaknya berlutut pula.
Dengan suara sopan dan lantang, kepala pengawal melapor kepada raja Tai Peng itu bahwa Tang Ciangkun datang membawa dua orang tamu yang bernama Nyonya Gan Seng Bu dan puteranya, Gan Han Le.
Sheila segera mengenal pria yang duduk setengah rebah di atas kursi panjang berkasur dan berbantal itu.
Dia mengenal Ong Siu Coan, Walaupun sudah belasan tahun berpisah dan kini Ong Siu Coan telah menjadi seorang pria berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah, mengenakan pakaian raja yang gemerlapan, dan mukanya yang dulu licin kini dipenuhi cambang, jenggot dan kumis sehingga berwibawa dan menakutkan walaupun masih menarik dan tampan.
Mendengar laporan itu, Ong Siu Coan bangkit duduk dan dengan alis berkerut memandang ke arah Sheila dengan penuh perhatian, kemudian kepada Han Le hanya sekelebatan saja, dan mengangguk, memberi isyarat dengan tangan dan empat orang pengawal itupun mengundurkan diri, keluar dari ruangan itu dan menutupkan daun pintu.
Dua orang pengawal pribadi yang berdiri di sudut ruangan itu, di belakang sang raja, diam saja tak bergerak bagaikan patung, namun semua urat syaraf mereka siap siaga untuk bergerak melindungi junjungan mereka.
"Tang Ciangkun, mendekatlah dan ajak mereka, lalu ceritakan apa artinya semua ini,"
Terdengar Ong Siu Coan berkata, dan walaupun dia masih ingat kepada wanita kulit putih yang menjadi isteri Sutenya ini, namun dia merasa acuh saja.
Dia merasa terlalu tinggi untuk berurusan dengan segala macam wanita, walaupun berkulit putih dan bermata biru sekalipun!
"Ampunkan hamba, Sri Baginda.
Hamba melihat Ibu dan anak ini tertawan oleh pasukan kita dan disangka menjadi mata-mata orang asing kulit putih.
Akan tetapi mereka mengaku sebagai isteri dan putera mendiang pendekar pejuang Gan Seng Bu dan karena hamba mengetahui bahwa mendiang pendekar itu berada di bawah naungan kemuliaan Paduka, maka hamba membawa mereka untuk menghadap Paduka.
Terserah kebijaksanaan Paduka untuk memutuskan tentang diri mereka."
Hening sejenak dan Ong Siu Coan menatap ke arah wajah Sheila yang sejak tadi menundukkan mukanya saja.
Laporan Tang Ciangkun dengan suara demikian merendah menambah kewibawaan raja itu, mengingatkan Sheila bahwa yang berada di depannya bukanlah seorang Suheng dari mendiang suaminya seperti dahulu lagi, melainkan seorang raja yang berkuasa dan ia merasa menyesal telah datang ke sini karena merasa terasing dan demikian rendah diri terhadap segala kebesaran ini.
"Hemm, aku ingat sekarang. Engkau isteri Seng Bu yang bernama... bernama... eh, siapa lagi aku lupa..."
"Nama saya Sheila, Sri Baginda,"
Kata Sheila merendah.
"Oya, Sheila! Hemm, apakah tak pernah kubaca dalam Kitab Suci nama wanita seperti itu? Hemm, ada Delila, hampir sama akan tetapi berbeda. Dan ini anakmu? Anak Seng Bu?"
"Benar, Sri Baginda. Dia ini anak hamba bernama Gan Han Le? Kini Ong Siu Coan memandang kepada Han Le.
"Gan Han Le? Hemm anak muda, coba angkat mukamu agar aku dapat melihatmu."
"Baik, supek..."
"Henry...!"
Sheila berseru lirih.
"Jangan menyebut seperti itu, beliau adalah Sri Baginda Kaisar! Sebut Sri Baginda."
Ong Siu Coan mengerutkan alisnya. Di dalam hatinya, dia suka akan keberanian dan kejujuran anak itu, akan tetapi sebagai seorang Kaisar, dia harus memperlihatkan kewibawaannya.
"Gan Han Le, mukamu memang seperti muka Seng Bu, kecuali matamu yang kebiruan. Sheila, setelah engkau menghadap kami, apa yang kau kehendaki sekarang ini?"
Dalam keadaan seperti itu, ketika Kaisar berkenan menawarkan apa yang dikehendaki orang yang menghadapnya, tentu biasanya orang-orang akan mengajukan permintaan-permintaan mereka.
Akan tetapi tidak demikian dengan Sheila.
"Ampun, Sri Baginda. Bukan maksud hamba berdua anak hamba untuk mengganggu Paduka. Hamba berdua tidak mohon sesuatu, dan hamba akan merasa berbahagia kalau anak hamba ini dapat mempelajari ilmu di kotaraja ini, agar kelak dia dapat menjunjung nama mendiang Ayahnya sebagai seorang pendekar seperti Ayahnya."
Ong Siu Coan tersenyum.
Ketika berkata-kata, Sheila nampak cantik menarik, kecantikan yang aneh.
Dia sudah jemu dengan kecantikan para selir dan dayang yang tidak sah karena Kiki tidak mengijinkan dia memiliki isteri lain.
Dan kecantikan wanita ini memang luar biasa.
Mata yang biru itu, rambut yang seperti benang Sutera emas!
Pada sat itu, muncullah seorang wanita dari pintu belakang.
Seorang wanita yang usianya sebaya dengan Sheila, hanya satu dua tahun lebih tua, dan melihat pakaiannya yang demikian mewah dan penuh dengan tanda kebesaran, dapat diduga bahwa ia adalah sang permaisuri sendiri.
Berbeda dengan para puteri bangsawan yang kelihatan lemah lembut dan kalau melangkah perlahan-lahan seperti langkah tarian yang diatur, Wanita ini melangkah dengan gerakan yang gesit tegap.
Wajahnya manis, dengan tahi lalat di pipi.
Inilah Tang Ki atau yang lebih dikenal dengan nama Kiki, puteri mendiang Hai-Tok Tang Kok Bu, seorang di antara empat datuk besar, yaitu Empat Racun Dunia.
Kiki adalah pembantu paling setia dari Ong Siu Coan ketika berjuang, dan kemudian menjadi isterinya dan kini menjadi permaisuri dari Kerajaan Sorga!
Wanita itu memang Kiki, yang kini menjadi permaisuri.
Akan tetapi, sikapnya terhadap suaminya masih biasa saja, tidak seperti sikap permaisuri terhadap raja.
Tanpa banyak peraturan, ia duduk di dekat suaminya di atas kursi panjang itu, tanpa mengabaikan penghormatan Tang Ciangkun yag ditujukan kepadanya.
Ong Siu Coan juga bersikap biasa saja, bahan tersenyum memperkenalkan Sheila kepada permaisurinya.
"Lihat, ia adalah isteri mendiang Gan Seng Bu! Namanya Sheila! Cantik, ya? cantik seperti Delila! Tahukah engkau siapa Delila? Wanita cantik jelita yang sudah meruntuhkan iman dan semangat seorang laki-laki gagah perkasa seperti Samson! Ha-ha-ha!"
Kiki cemberut.
Sudah lama ia merasa jemu dan tidak suka kepara pria yang menjadi suaminya dan menjadi raja ini.
Suaminya ini sekarang jarang mendekatinya, bahkan jarang memperhatikan seolah-olah ia hanya satu di antara perabot kamar saja.
Suaminya mabok kemenangan dan mabok kedudukan, gila hormat dan berambisi, Kini melihat betapa suaminya menaruh perhatian akan kecantikan seorang wanita lain di depannya, tentu saja hatinya menjadi panas.
"Hemmm, mudah-mudahan ia tidak menjadi Delila baru dan Paduka Samsonnya!"
Kata Kiki dengan senyum mengejek.
Kalau tidak ada orang lain di situ, ia tidak pernah menyebut Paduka, hanya engkau biasa saja!
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 5
Baca Juga: Pendekar Sakti 2