Eps 2 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.
Kwan Cu memang cerdik, akan tetapi mendengar ucapan ini, dia masih ragu-ragu akan maksudnya .
"Kaumaksudkan bahwa kau hendak mengajarkan semua pengetahuan sastramu, Lopek?"
Gui tin mengangguk.
"Apa kataku? Kau memang cerdas dan hanya kaulah yang akan mewarisi pengetahuanku."
Kwan Cu merasa girang sekali. Memang dia paling senang akan kesusastraan, maka mendengar ini dia berlutut di depan kakek pengemis tadi, menyatakan kesediaan untuk "mengoper"
Semua pengetahuan dari Gui-siucai. Gui tin puas sekali. Sambil mengurut-urut kedua kakinya yang sakit-sakit, dia berkata.
"Kwan Cu, setelah sekarang kita menjadi guru dan murid, ada baiknya kalau akau berterus terang. Siapakah sebetulnya orang tuamu dan kau datang dari mana?"
Mendengar pertanyaan ini Kwan Cu menjawab sejujurnya.
"Lopek sesungguhnya aku tidak membohong ketika aku berkata bahwa aku tidak tahu siapa orang tuaku dan dari mana aku datang. Seingatku tahu-tahu aku telah berada di pantai Laut Po-hai dan melihat Ang-bin Sinkai berkelahi dengan Kak Thong Taisu, karena mereka berdua memperebutkan aku untuk menjadi muridnya! Akan tetapi aku tidak mau menjadi murid mereka."
Mendengar ini, Gui Tin membelakkan matanya.
"Aduh, aduh! Kalau tidak mendengar dari mulutnya sendiri, siapa yang sudi percaya? Tidak mau menjadi murid Ang-bin Sin-kai? Benar-benar aneh pernyataan ini. Akan tetapi sudahlah, kau memang seorang sin-tong (anak ajaib) dan agaknya kau akan lebih berhasil dari pada aku. Kita anggap saja bahwa kau memang sengaja diturunkan oleh Thian untuk menguras dan mengoper semua apa yang pernah kupelajari. Sekarang, kau dengarlah riwayatku agar kau tahu orang macam apa yang sekarang menjadi gurumu."
Sampai matahari terbenam ke kaki langit sebelah barat, pengemis itu bercerita tentang riwayat hidupnya.
Dia memang seorang terpelajar yang semenjak kecilnya hanya bergulung dengan kitab-kitab saja.
Selain ahli sastra dan telah lulus dalam ujian kota raja sehingga berhak menyandang gelar siucai, Gui Tin ini juga tekun sekali mempelajari kitab-kitab kuno sehingga dia berhasil memecahkan segala macam tulisan-tulisan kuno yang tidak dapat di baca oleh para sastrawan lain!
Ketika dia masih muda, banyak sekali kaum sastrawan datang kepadanya untuk menerima wejangan-wejangan atau menghisap sedikit ilmu dan tidak ada orang yang tidak mengenal Gui Tin yang disebut Gui-siucai.
Akan tetapi, watak dari Gui Tin amat aneh.
Ia benci akan kedudukan dan pangkat, maka ketika kaisar yang mendengar akan kepandaiannya memanggilnya untuk diberi kedudukan tinggi, Gui Tin menolak keras!
Tentu saja kaisar merasa tersinggung dan terhina, lalu menitahkn pasukan untuk menangkap Gui Tin!
Akan tetapi, para pembesar yang merasa amat kagum kepada sastrawan yang pandai ini, mencegah dan mintakan ampunan kepada kaisar sehingga hukuman kepada Gui Tin diubah, dari hukuman mati kepada hukuman buang!
Ia dilarang tinggal di kota raja dan harus keluar dari situ!
Gui Tin menjadi marah dan penghinaan ini membuat perubahan hebat dalam hidupnya.
Ia menjadi seperti gila dan sambil berteriak-teriak memaki-maki kaisar, dia lalu keluar dari kota raja!
Sudah tentu saja perbuatannya ini membikin marah orang banyak, dan Gui Tin tentu sudah terbunuh mati kalau saja dia tidak di tolong oleh dua orang gagah yang menangkap dan membawanya pergi ke utara.
Dua orang gagah ini ternyata adalah putera-putera Kaisar Mongol!
Ketika itu, pemerintahan Mongol memperluas kebudayaan mereka dengan mempelajari kitab-kitab dari Tiongkok yang dapat mereka rampas dari perpustakaan Kaisar Han.
Akan tetapi karena banyak terdapat kitab-kitab yang kuno dan sukar sekali dibaca, maka setelah melihat keadaan Gui Tin, dua orang putera kaisar yang ternyata perkasa sekali itu lalu menolong Gui-siucai dan membawanya ke Mongol!
Kaisar mendengar tentang hal ini.
Gui Tin lalu dianggap sebagai pengkhianat yang melarikan diri ke daerah asing, maka semua keluarganya lalu ditangkap dan dihukum mati!
Sampai belasan tahun Gui Tin tinggal di Mongolia, di mana dia bekerja untuk menterjemahkan kitab-kitab kuno yang sukar dibaca.
Dalan kesempatan ini Gui Tin memperdalam pengetahuannya dengan mempelajari bahasa-bahasa daerah yang puluhan macam banyaknya.
Juga dia menemukan kitab-kitab kuno yang ternyata berisi pelajaran penting sekali tentang ilmu perang, ilmu silat dan lain-lain.
Akan tetapi sebagai seorang ahli sastra, Gui Tin tidak suka mempelajari tentang ilmu silat.
Kembalilah Gui Tin menghadapi bahaya hebat ketika Kaisar Mongol minta supaya dia menterjemahkan kita-kitab ilmu perang dan ilmu silat.
Tadinya memang Gui Tin mengerjakan perintah itu, namun ketika dia mendengar bahwa bala tentara Mongol makin maju dalam ilmu perangnya, dan bahkan sekarang mempunyai niat hendak menyerang ke selatan, dia menjadi terkejut dan gelisah sekali.
Tidak, betatapun juga, dia tidak mau menjadi pengkhianat!
Betapapun kaisar memperlakukannya tidak adil, betapapun dia tidak suka kepada para pembesar-pembesar di negaranya sendiri yang amat korup dan lalim, namun dia masih mencinta tanah airnya, masih menjunjung tinggi negaranya sendiri!
Oleh karena itu, dia menghentikan segala penterjemahan kitab-kitab perang dan ilmu silat!
Biarpun demikian telah banyak ilmu perang yang di terjemahkan dan telah banyak pula ilmu silat yang tinggi-tinggi dia terjemahkan, sehingga banyak sekarang tokoh-tokoh besar di kalangan bangsa Mongol memiliki ilmu silat yang luar biasa!
Menghadapi pemogokan yang dilakukan oleh Gui Tin dalam penterjemahan ilmu silat dan ilmu perang, Kaisar Mongol menjadi marah dan hampir saja Gui Tin dibunuh kalau tidak di halangi oleh dua orang pangeran yang dulu menolongnya.
Sebaliknya, Gui Tin hanya diusir dari Mongol!
Untuk kedua kalinya satrawan ini diusir oleh kaisar dan kini dia pergi dengan penuh perasaan jemu menghadapi manusia.
Beberapa tahun kemudian, orang melihat seorang kakek pengemis yang kurus kering.
Tak seorang pun mengetahui bahwa dia ini adalah Gui Tin atau Gui-siucai yang dahulu begitu dimuliakan orang namanya, bahkan yang dikagumi oleh kaisar dan juga kaisar mongol!
Hancur hati Gui Tin ketika dia mendengar betapa keluarganya telah dimusnahkan dan semua dijatuhi hukuman mati.
Makin rusak batinnya dan dia merantau ke sana ke mari seperti seorang edan.
Kemudian dia tiba di kota raja dan teringat akan Lu Pin, seorang kawannya yang paling baik, atau boleh juga dibilang seorang bekas muridnya yang paling dia sayang.
Ia juga kagum melihat bakat luar biasa dari Lu Pin dalam hal seni ukir, maka dia ingin sekali bertemu dan mengunjungi rumah Lu Seng Hok ketika mendengar bahwa Seng Kok adalah putera dari Lu Pin.
Tidak tahunya, di halaman gedung ini, dia dihina dan hampir saja mati digigit anjing-anjing yang dikerahkan oleh Lu Thong, cucu dari Lu Pin bekas sahabatnya itu!
Tentu saja hatinya menjadi sakit sekali dan makin bencilah dia kepada manusia, kepada dunia dan kepada diri sendiri.
"Demikianlah Kwan Cu. Kalau tidak bertemu dengan kau agaknya aku tidak melihat sesuatau lagi untuk lebih lama tingal di dunia ini. Dengan adanya kau, aku ingin hidup beberapa tahun lagi untuk menumpahkan semua yang telah kupelajari kepadamu."
Kwan Cu merasa terharu sekali, dan semenjak saat itu dia memandang kepada gurunya ini dengan penuh penghormatan, penuh kasih sayang dan dia merawat Gui Tin dengan penuh kesabaran dan kesetiaan.
Ia tidak ragu-ragu untuk mengemiskan makanan untuk gurunya ini, atau menggendong tubuh gurunya yang lemah apabila perjalanan jauh membuat kaki Gui Tin pecah-pecah dan tulangnya sakit-sakit.
"Kwan Cu, aku heran sekali melihat kau. Bagaimana kau bisa berlari secepat ini dan tubuhmu begitu kuat? Bukankah kau belum mempelajai ilmu silat?"
Tanya Gui Tin ketika pada suatu hari Kwan Cu berlari cepat sambil menggendongnya.
"Belum pernah, Suhu. Sebetulnya, aku hanya mendapat petunjuk dari Pek-cilan Thio Loan Eng tentang cara bersamadhi dan mengatur napas, juga tentang menyalurkan hawa dari tian-tan keseluruh tubuh untuk menguatkan urat-urat dan melancarkan perjalanan darah. Entahlah, semenjak aku membiasakan siulian, aku merasa tubuhku kuat dan ringan sekali di waktu berlari."
"Hm, itulah pelajaran pokok dari ginkang dan lweekang! Anak yang baik, aku sendiri pun telah banyak menterjemahkan ilmu-ilmu itu, sayangnya aku tidak menaruh perhatian sehingga aku sudah lupa lagi dengan isinya dan tak pernah mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi."
"Mengapa, Gui-lopek? Bagiku mempelajari ilmu silat sama halnya dengan mendatangkan bencana terhadap diri sendiri. Aku tidak suka belajar silat!"
"Ha-ha-ha, kesukaan kita sama dan pendapat kita sama pula. Sayangnya Kwan Cu, pendapat ini salah sama sekali!"
Saking herannya Kwan Cu berhenti berlari dan gurunya minta di turunkan dari gendongan. Mereka berhenti dan duduk dipinggir jalan yang berumput.
"Mengapa begitu, Suhu?"
Gui Tin menarik napas panjang.
"Memang kita kaum sastrawan memandang dunia dari segi keindahan. Kita pencinta damai dan suka akan ketentraman, sesuai dengan kehendak alam yang suci. Akan tetapi kita lupa bahwa dalam keadaan negara kacau, justru ilmu silat jauh lebih penting dan lebih cocok untuk dipergunakan bagi kebaikan seluruh manusia! Kita lupa bahwa hidup ini memang perjuangan dan perjuangan itu tergantung dari keadaan. Kalau negara sedang dalam keadaan makmur dan damai, memang ilmu silat hanya mendatangkan kekacauan saja, dan ilmu kesusastraan dan kesenianlah yang diperlukan untuk memperkembangkan kebudayaan. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini...."
Kembali Gui Tin menarik napas panjang.
"Apakah artinya kepandaian seorang ahli sastra? Lihatlah saja Lu Pin itu biarpun dia seorang ahli sastra, namun dalam keadaan kacau ini apa yang dapat ia perbuat? Melainkan kekacauan yang keluar dari otaknya, buktinya cucunya sudah menjadi jahat karena selalu terbenam dan mabuk akan kemewahan dan kemuliaan dunia!"
"Akan tetapi, Gui-lopek. Bukankah ilmu silat itu adalah ilmu yang berdasarkan kekerasan, kasar, dan termasuk kepandaian yang jahat saja? Coba saja dipikir, untuk apa ilmu silat selain untuk dipergunakan pukulan menghantam orang lain, mempergunakan tendangan menyerang orang lain, mainkan senjata tajam untuk melukai dan membunuh? Nabi-nabi seperti Khong Cu, Lo Cu dan yang lainnya, pernahkah mereka itu mempergunakan pedang untuk mengalahkan orang?"
Memang benar, akan tetapi mereka itupun tidak dapat mendatangkan damai di dalam negeri.
Pula, kita telah lupa bahwa yang bersifat jahat itu bukanlah ilmu silatnya, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu itu.
Ilmu kepandaian apa saja, baik bun (kesusastraan) maupun bu (ilmu silat), tetap merupakan ilmu yang tidak mempunyai sifat baik maupun buruk.
Baik atau buruk tergantung dari orang yang memilikinya!
Segala apa yang sudah ada di dunia ini sudah ada, dan kekal sifatnya, hanya yang tidak kekal saja yang dipengaruhi oleh baik maupun buruk.
Seperti air tenang, baru bergerak kalau ada angin lalu atau sesuatu jatuh ke dalamnya."
Kwan Cu berpikir.
Ada persamaan dalam omongan gurunya ini dengan ucapan Kak Thong Taisu!
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak dan muncullah seorang bertubuh tinggi besar, entah dari mana datangnya.
Orang ini ternyata memiliki ginkang yang luar biasa sekali dan tahu-tahu dia berkelebat berdiri di depan Gui Tin dan Kwan Cu.
Orang ini kulitnya putih, tubuhnya tegap dan nampak kuat sekali.
Yang aneh adalah pakaiannya, karena pakaian yang menempel di tubuhnya berbeda dengan pakaian orang biasa.
Kepalanya tertutup oleh topi kain yang di depannya terdapat bentuk seperti tanduk.
Di luar bajunya yang berlengan panjang itu ditutupi oleh baju rompi lengan pendek yang indah sekali.
Di luar celananya yang panjang itu tertutup pula oleh baju rok sebatas lutut.
Benar-benar aneh sekali orang ini.
Mukanya sama saja dengan orang Han, hanya hidungnya yang agak panjang dan bengkok ke bawah.
Ia tidak berkumis namun memelihara jenggot model kambing.
Di punggungnya tergantung sepasang siang-kek ( senjata tombak bercabang) yang runcing.
Gui Tin memandang tajam.
Kakek pengemis yang sudah banyak pengalaman ini tahu dengan orang apa dia berhadapan, maka segera dia bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak di mengerti oleh Kwan Cu.
Ternyata Gui Tin telah bicara dalam bahasa Tartar.
"Siapakah tuan dan mengapa datang menjumpai kami?"
Mendengar pertanyaan ini, orang Tartar itu tertawa lagi dan kini sepasang matanya bersinar-sinar girang.
"Tidak salah lagi!"
Katanya dalam bahasa Han sehingga Kwan Cu dapat mengerti.
"Kau tentu Gui-siucai bukan? Bagus, bagus! Tadi aku merasa heran sekali dan bertanya-tanya dalam hati apakah aku bertemu dengan dewa atau setan di tempat ini, ketika mendengar kalian ini pengemis-pengemis tua dan muda bicara tentang filsafat-filsafat demikian tingginya. Sekarang aku mengerti, kau tentu Gui-siucai. Siapa lagi kalau bukan Gui Tin si ahli sastra?"
Gui Tin bangkit dan menjura seperti laku seorang yang tahu akan sopan santun.
"Memang tidak salah. Aku yang bodoh adalah Gui Tin, dan ini adalah muridku Kwan Cu. Tidak tahu siapakah Tuan?"
Orang Tartar itu tersenyum dan nampak giginya yang berbaris rapi dan putih sekali.
Kalau saja hidungnya tidak demikian bengkok, dia benar-benar tampan sekali, pikir Kwan Cu sambil memandang heran.
Ia menaksir usia orang ini antara tiga empat puluh tahun.
"Gui-siucai, melihat sepintas saja kau sudah tahu bahwa aku seorang Tartar, ini menandakan ketajaman matamu dan bahwa kau memang sudah matang dalam pengalaman. Juga bahasa Tartar yang kau ucapkan tadi, amat halus. Sungguh-sungguh aku sangat kagum sekali. Ketahuilah, aku bernama An Lu Kui, adik dari perwira An Lu Shan yang sudah banyak berjasa kepada negara."
Nama An Lu Shan pada waktu itu cukup terkenal sekali, karena panglima ini memang amat gagah perkasa dan sudah banyak membuat jasa dalam membasmi serangan kecil-kecilan dari musuh di utara dan barat.
Akan tetapi, sebagai seorang yang sudah jemu terhadap para pembesar baik sipil maupun militer, Gui Tin bersikap dingin saja.
"Ah kiranya Tuan adalah adik dari An-ciangkun yang ternama. Tidak tahu apakah keperluan Tuan menjumpai aku, seorang jembel miskin?"
"Ah, Gui-siucai terlalu merendahkan diri. Sebenarnya, aku datang sengaja untuk mengundangmu datang ke perbatasan utara atas perintah An-cingkun dan terutama sekali atas petunjuk dari Li Kong Hoat-ong yang menjadi penasihat dari An-ciangkun."
Gui Tin berpikir sebentar dan diam-diam dia terkejut.
"Kaumaksudkan Li Kong Hoat-ong bekas raja dari suku bangsa Yu-yan? Apakah kini dia menjadi penasihat dari An-ciangkun?"
"Gui-siucai benar-benar mengenal orang-orang besar. Memang tepat sekali apa yang kauduga itu."
Biarpun dia sendiri belum pernah memangku jabatan, namun Gui Tin telah banyak menterjemahkan buku-buku ilmu perang, maka kini timbullah semacam dugaan yng menggelisahkan hatinya.
Bangsa Yu-yan di bawah pimpinan Li Kong Hoat-ong, telah banyak sekali mengacau negara Tiongkok, dan setelah bangsa itu dikalahkan, sekarang Li Kong Hoat-ong menjadi penasihat dari An Lu Shan.
Benar bahwa An Lu Shan adalah seorang perwira yang banyak berjasa dan tenaganya terpakai sekali oleh pemerintah, akan tetapi tetap saja An Lu Shan adalah seorang bangsa Tartar, siapa tahu isi hati dari orang itu?
"Tidak, tidak.
Aku tidak bisa pergi ke perbatasan utara.
Aku sudah tua, tubuhku sudah lemah, tulang-tulangku sudah rapuh, tak mungkin aku dapat melakukan perjalanan sejauh itu.
Harap saja tuan tidak mengganggu lagi."
Sambil berkata demikian lalu Gui Tin menggandeng tangan Kwan Cu dan diajak pergi dari situ.
Akan tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan sekali melompat, An Lu Kui telah berada di depan mereka dan orang Tartar ini mendorong sebatang pohon besar yang mengeluarkan suara keras dan tumbang, melintang dan menghalang perjalanan Gui Tin dan Kwan Cu!
Kwan Cu meleletkan lidahnya saking kagum dan terheran.
Bagaimana orang dapat mendorong roboh sebatang pohon besar demikian mudahnya?
Adapun Gui Tin yang melihat ini, lalu memandang tajam dan bertanya.
"Hm, kau berkepandaian tinggi! Pernah apa kau dengan Li Kong Hoat-ong?"
An Lu Kui tersenyum.
"Dia adalah guruku, juga guru dari kakakku, An-ciangkun."
Makin tercekat hati Gui Tin mendengar ini.
Lebih hebat lagi kalau raja Yu-yan itu menjadi guru dari An Lu Shan!
Mengapa kaisar tidak mengetahui akan hal ini?
"Jadi kau hendak menggunakan kekerasan, tetap hendak membawaku ke utara?"
An Lu Kui menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Tidak sama sekali, kami mengundang Gui-siucai dengan hormat. Harap Gui-siucai sudi meluluskan permintaan kami."
Setelah berkata demikian, An Lu Kui bersuit keras dan tiba-tiba dari hutan kecil tak jauh dari situ muncul lima orang yang membawa delapan ekor kuda yang besar dan kuat!
Ternyata bahwa lima orang inipun orang-orang Tartar pula.
"Gui-siucai silakan naik kuda, kau juga!"
Kata An Lu Kui kepada Kwan Cu. Gui Tin hendak membantah, akan tetapi Kwan Cu berkata.
"Gui-lopek, tiada gunanya membantah. Biarlah kita ikut pergi dan menyerahkan nasib kepada Tuhan."
Mendengar ini, An Lu Kui tertawa.
"Anak baik, siapa namamu?"
"Aku lu Kwan Cu, murid dari Gui-lopek."
Seorang kawan An Lu Kui berkata.
"Ah, untuk apa membawa-bawa bocah ini? tinggalkan saja !"
"Tidak!"
Gui Tin membentak marah.
"Kalau Kwan Cu ditingggalkan biarpun kalian membunuhku, aku tak sudi pergi!". Demikianlah, Gui Tin lalu naik kuda dan Kwan Cu juga naik kuda itu di belakang gurunya, karena inilah kehendak Gui Tin yang tidak mau berpisah dari muridnya yang tercinta. Kuda-kuda lalu dikeprak dan berlarilah binatang-binatang tunggangan yang kuat ini menuju ke utara. Rombongan ini dipimpin sendiri oleh An Lu Kui yang di perjalanan bersikap ramah tamah terhadap Gui Tin. Perjalanan dilakukan cepat sekali, tak pernah mereka berhenti di satu kota atau dusun karena bekal makanan mereka ternyata cukup banyak. Bahkan anehnya, An Lu Kui memilih jalan sunyi dan menghindari tempat-tempat ramai. Mereka melewati Propinsi Shan-si dan ketika telah melalui kota Ta-tung, pada suatu pagi mereka melewati padang rumput yang sunyi. Di situ hanya nampak beberapa beberapa batang pohon yang tumbuhnya berjauhan dan keadaan benar-benar sunyi. An Lu Kui nampaknya takut-takut melewati tempat ini dan beberapa kali dia menengok ke arah barat di mana nampak pegunungan kecil.
"Hayo kita percepat kuda, karena sudah dekat!"
Katanya memberi perintah.
Kuda dilarikan makin cepat dan keadaan sunyi sekali, kecuali suara kaki kuda yang berderap-derap dan bergema di empat penjuru.
Memang aneh sekali bagi Kwan Cu yang baru pertama kali datang di tempat ini.
Tempat itu terbuka dan hanya terkurung pohon-pohon yang tumbuh di sana-sini seperti raksasa berdiri megah, akan tetapi suara kaki kuda itu bergema sehingga kalau didengar-dengar, seakan-akan ada banyak sekali kuda berlari datang dari segenap penjuru.
Tiba-tiba delapan ekor kuda, terutama seekor yang membawa perbekalan dan tidak di tunggangi orang, hanya dituntun oleh seorang anak buah An Lu Kui, meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring dan dua orang anak laki-laki tahu-tahu telah melompat dari atas pohon dan berdiri menghadang di tengah jalan!
Ketika itu, Kwan Cu yang duduk sekuda dengan gurunya, menjalankan kudanya di dekat An Lu Kui.
Melihat betapa kuda yang di tungganginya dan kuda An Lu Kui menyeruduk maju dan pasti akan menubruk dua orang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan dia itu, Kwan Cu tak terasa pula menjerit.
"Celaka...!"
Setelah berkata demikian, Kwan Cu memondong gurunya dan mengerahkan tenaganya melompat dari atas kuda yang sedang berlari cepat.
Memang dia telah memiliki ginkang di luar kesadarannya sehingga tubuhnya dapat mencelat dari atas kuda, akan tetapi oleh karena dia tidak pernah melatih ilmu melompat, dia tidak tahu cara bagaimana harus mengatur tubuhnya ketika melayang itu sehingga dia jatuh dengan kacau bersama gurunya.
Namun Kwan Cu memang berhati setia.
Melihat bahwa dia dan gurunya jatuh ke tanah, dia lalu berguling dan mengatur sedemikian rupa sehingga jatuh, dia berada di bawah dan gurunya menimpa dadanya!
Kepala anak ini membentur tanah kering dan debu mengebul, akan tetapi gurunya selamat!
Adapun An Lu Kui yang melihat kudanya menubruk seorang di antara dua orang anak laki-laki itu, membentak marah.
"Anak gila, apakah kau ingin mampus?"
Akan tetapi, terjadilah hal-hal yang luar biasa sekali.
Kuda yang tadi ditunggangi oleh Kwan Cu akan menubruk anak yang lebih kecil, akan tetapi ketika dua kaki depan kuda itu sudah terangkat akan menimpa anak itu, dia lalu menggerakkan kedua tangannya, secepat kilat menangkap dua ujung kaki dan sekali gentak saja kuda itu telah melompat ke atas melewati kepalanya sehingga dia selamat!
Anak ini tertawa-tawa geli, sama sekali tidak mempedulikan kuda tadi, melainkan menudingkan jari telunjuknya ke arah Kwan Cu yang jatuh bergulingan.
"Ha-ha-ha, Suheng, kaulihat! Bocah gundul itu main komidi, lucu sekali!"
Adapun An Lu Kui yang kudanya menubruk anak ke dua yang lebih besar, tidak keburu mencegah sehingga kudanya itu dengan kedua kakinya menendang ke arah dada anak tadi.
Akan tetapi, dengan cepat dan tenang, anak yang besar ini lalu menusuk lutut kaki depan kuda yang sebelah kanan , yakni kaki yang berada di depan.
Kuda itu mengeluarkan ringkik kesakitan dan tiba-tiba kedua kaki depannya tertekuk dan kuda itu jatuh berlutut!
Baiknya An Lu Kui adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka cepat dia dapat melayang ke atas dan berpoksai (membuat salto) beberapa kali sehingga dapat turun dengan selamat!
"Sute, kau lihat.
Bukankah kuda ini lebih lucu lagi?
Datang-datang dia berlutut dan memberi hormat kepadaku.
Bagus, bagus!"
An Lu Kui adalah seorang yang sudah lama merantau di dunia kang-ouw dan tahulah dia bahwa dua orang anak-anak yang usianya sekitar enam tujuh tahun ini tentulah murid-murid dari orang pandai.
Maka diaa tidak berani berlaku sembarangan sungguhpun dia merasa mendongkol sekali.
"Kalian ini bocah-bocah kecil murid siapakah dan mengapa menghadang perjalanan kami?"
Akan tetapi kedua orang anak kecil itu tidak menjawab dan pada saat itu terdengar suara yang membuat kuda-kuda menjadi terkejut dan gelisah.
Itulah suara ketawa yang menyeramkan sekali dan ketika An Lu Kui mendengar ini tiba-tiba dia menjadi pucat sekali.
Suara ketawa itu seperti suara harimau mengaum dan disusul dengan suara ketawa ini lalu terdengarlah kata-kata yang jauh sekali namun cukup membuat telinga merasa sakit saking nyaringnya.
"Heh, heh, heh! Swi Kiat dan Kun Beng, kalian berada di manakah?"
Anak yang lebih kecil, yaitu yang tadi melontarkan kuda tunggangan Kwan Cu di atas kepalanya, segera meruncingkan mulutnya dan keluarlah teriakan yang kecil akan tetapi cukup nyaring.
"Teecu berdua berada di sini, Suhu!"
Kembali An Lu Kui menjadi amat terkejut sekali.
Ternyata bahwa khikang dari pada anak kecil ini sudah demikian hebatnya!
Baru saja gema suara jawaban anak ini lenyap, nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang laki-laki berusia sedikitnya enam puluh tahun yang tubuhnya membuat Kwan Cu hampir tertawa.
Orang ini pendek dan kecil, sama sekali tidak membayangkan tanda-tanda bahwa ia adalah seorang pandai.
Akan tetapi, ketika melihat orang ini, serta merta An Lu Kui lalu melangkah maju dan menjura dengan sikap hormat sekali.
"Siauwte An Lu Kui mohon maaf apabila melanggar wilayah Pak-lo-sian Cianpwe,"
Katanya. Akan tetapi kakek itu tidak menghiraukan sama sekali, sebaliknya lalu menoleh kepada Gui Tin dan terdengar dia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnnya.
"Hm, apakah si bangkotan Li Kong Hoat-ong itu telah benar-benar mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?"
Setekah berkata demikian tiba-tiba dia menoleh kepada An Lu Kui dan pandang matanya yang tadinya suram-muram itu mendadak menjadi tajam luar biasa sehingga An Lu Kui terkejut sama sekali karena pandang mata itu seakan-akan menembusi dadanya!
An Lu Kui sesungguhnya tidak mengerti tentang kitab itu, maka dengan terus terang dia berkata.
"Locianpwe (sebutan untuk orang tua yang tingkatnya jauh lebih tinggi), siauwte sama sekali tidak tahu tentang kitab itu. Mendengarpun baru sekarang. Sesungguhnya siauwte diutus oleh suhu Li Kong Hoat-ong untuk mengundang Gui-siucai karena suhu amat mengaguminya."
Pandangan mata kakek itu benar-banar mengancam sekali dan keningnya yang keriputan itu menjadi makin nyata garis-garis keriputnya.
"Eh, kau hendak mengandalkan nama An Lu Shan dan suhumu Li Kong Hoat-ong dan tidak mau mengaku? Hayo bicara terus terang!"
"Sungguh, Locianpwe, siauwte .........siauwte tidak tahu..."
An Lu Kui yang tadinya galak itu kini nampak ketakutan.
Tiba-tiba tubuh kakek itu bergerak dan tahu-tahu dia melompat ke dekat orang Tartar itu.
Pada saat lain, sebelum An Lu Kui sempat mengelak, kakek ini telah menangkap lehernya dan sekali menggentak tubuh orang Tartar ini terlempar ke atas, tinggi sekali!
Bagaikan sekarung beras tubuh An Lu Kui terlempar dan dari atas jatuh pula ke bawah tanpa berdaya sedikitpun.
Ternyata tangkapan pada lehernya tadi sekaligus telah merupakan tekanan pada jalan darahnya yang membuat dia menjadi lumpuh!
Kebetulan sekali tubuh orang Tartar itu menimpa Swi Kiat, murid terbesar dari kakek itu.
Anak ini usianya paling banyak delapan tahun, akan tetapi kepandaiannya sudah hebat.
Ia menerima tubuh orang Tartar itu dengan kedua tangannya, lalu sambil tertawa lebar dia melemparkan tubuh itu kepada adik seperguruannya, yaitu yang bernama Kun Beng.
Anak ini lebih muda dari Kwan Cu, paling banyak enam tahun, dan wajahnya tampan serta periang.
Sambil tertawa geli anak ini lalu menggunakan tangan kanan menahan punggung An Lu Kui yang terlempar ke arahnya, sekali tangan kirinya menepik tubuh belakang orang Tartar itu, An Lu Kui mencelat lagi ke atas dan kini melayang ke arah kakek tadi.
Kakek itu lalu menerimanya dengan menotok pundak An Lu Kui yang jatuh berdebuk di depan kakinya, akan tetapi orang Tartar itu kini telah terbebas dari totokan dan dapat bergerak.
Ia menjatuhkan diri berlutut dengan muka pucat sekali.
"Locianpwe, biarpun siauwte dibunuh memang benar-benar siauwte tidak tahu tentang kitab itu,"
Katanya dengan suara gemetar.
Kwan Cu paling tidak suka kalau orang menggunakan kekerasan, apalagi melihat kakek dan dua orang muridnya itu mempermainkan An Lu Kui yang tidak berdaya sama sekali, timbulah rasa penasaran dalam dadanya.
"Mempergunakan kepandaian untuk menghina orang, sungguh tak patut sekali. Menangkan orang lain hanya memiliki tenaga besar, menangkan diri sendiri barulah betul-betul patut disebut kuat!"
"Hush, Kwan Cu..."
Gurunya mencegah dan memandang khawatir. Kakek itu cepat menengok dan ketika melihat Kwan Cu, nampak kekaguman membayang di dalam sinar matanya.
"Hm, kau murid Gui-siucai? Tidak patut, tidak patut!"
"Suhu, segala kutu buku macam ini apa gunanya? Biar teecu menghajar sedikit adat sedikit padanya!"
Berkata Kun Beng dengan marah, akan tetapi Swi Kiat mencegahnya.
"Kalau kau katakan dia kutu buku, untuk apa melawan segala kutu buku, Sute? Tulang-tulangnya terlalu lemah, jangan-jangan dia akan mati dalam tanganmu!"
"Diamlah kalian berdua. Kulihat ada apa-apanya dalam diri anak ini."
Kakek ini lalu berpaling kepada An Lu Kui.
"Biarlah, memandang ucapan anak ini aku percaya padamu. Pergilah!"
Dengan tergesa-gesa dan juga lega sekali, An Lu Kui lalu mengajak kawan-kawannya, juga Kwan Cu dan Gui Tin, untuk pergi dari situ cepat-cepat.
Ketika mereka telah membalapkan kuda dan pergi jauh sehingga kakek dan dua orang muridnya tidak nampak lagi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu.
Biarpun orangnya tidak kelihatan, namun suaranya terdengar dekat sekali.
"Gui Tin, lain kali pada waktunya, akulah yang benar-benar akan membutuhkan bantuanmu. Selamat jalan!"
Kwan Cu terheran-heran dan semenjak pertemuan tadi, berubahlah pandangannya terhadap ilmu silat.
Sebetulnya sejak Gui Tin bicara tentang ilmu silat dan kegunaannya, dia telah tertarik sekali, akan tetapi tetap saja hasrat untuk belajar ilmu silat masih amat lemah dalam hatinya.
Kini, menyaksikan keliahaian dua orang anak kecil itu, dia menjadi tertarik dan ingin sekali memiliki kepandaian seperti mereka!
Inilah sifat anak-nak yang betapapun juga masih melekat dalam hatinya.
"An-sianseng (Tuan An), sebetulnya siapakah kakek yang luar biasa sekali itu?"
Diam-diam Kwan Cu membandingkan kakek tadi dengan dua orang luar biasa yang pernah dijumpainya, yakni Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
Melihat keadaan, keanehan dan kelihaian mereka, agaknya tiga orang itu mempunyai tingkat yang sudah tinggi sekali.
Sebetulnya An Lu Kui sedang marah, mendongkol dan penasaran sekali.
Oleh seluruh barisan di bawah kakaknya, dia dianggap sebagai orang gagah yang disegani dan dihormati.
Tidak tahunya, di sini dia telah mengalami penghinaan dari seorang kakek dan dua orang anak-anak.
Akan tetapi oleh karena menganggap Kwan Cu telah berjasa di hadapan kakek tadi, dia menjawab juga.
"Dia adalah seorang sakti bernama Siangkoan Hai yang berjuluk Pak-lo-sian (Dewa Tua dari Utara). Untuk daerah utara boleh dibilang dia menjadi tokoh terbesar. Biasanya biarpun orang menduga bahwa dia berada di daerah utara, dia tidak pernah muncul kecuali terjadi perkara-perkara besar dan biasanya dia tidak mau mencampuri segala urusan dunia. Kita benar-benar sial sekali bertemu dengan dia."
Akan tetapi, Gui Tin berkata perlahan kepada Kwan Cu.
"Kita benar-benar beruntung bertemu dengan dia. Aku pun baru kali ini melihat wajahnya, biarpun namanya sudah lama kudengar. Kwan Cu, perhatikanlah, di dalam duania persilatan, terdapat lima orang yang paling terkenal. Mereka itu adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang merajai daerah utara, ke dua adalah Ang-bin Sin-kai yang menjagoi di pantai timur, ke tiga hwesio tibet bernama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Jubah Hitam) yang menjadi tokoh terbesar bagian barat. Adapun orang ke empat dan ke lima merajai daerah selatan, yakni yang seorang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang sudah kau kenal dan orang ke dua adalah seorang wanita tua yang terkenal dengan nama julukan Kiu-bwe Coa-li (Ular Betina Buntut Sembilan)! Menurut berita yang kudengar, mereka berlima ini kepandaiannya seimbang dan kini mereka sedang berusaha untuk memperebutkan sebuah kitab ilmu perang dan ilmu silat yang bernama Im-yang Bu-tek Cin-keng. Tadi kuanggap ini hanya kabar angin belaka, akan tetapi setelah sikap Dewa Tua Utara tadi, agaknya betul juga kabar itu."
"Gui-lopek, apakah sesungguhnya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang di perebutkan oleh orang-orang luar biasa itu? Dan apakah selain lima orang tokoh itu, di dunia ini tidak ada orang-orang pandai ilmu silat yang lain lagi?"
Pada saat itu An Lu Kui mendekatkan kudanya. Gui Tin memberi tanda dengan matanya agar Kwan Cu tidak banyak bicara lagi, kemudian kakek pengemis itu berkata seakan-akan menjawab pertanyaan Kwan Cu.
"Kau tanyakan tentang nama-nama tokoh besar? Ah, menyebut yang lain-lain tidak ada artinya. Kalau Pek-cilan Thio Loan Eng barulah seorang wanita pendekar berilmu tinggi!"
Mendengar ini, An Lu Kui mengejek dan tersenyum.
"Gui-siucai, kau orang bun mana tahu tentang tokoh-tokoh besar dalam ilmu persilatan? Kepandaian Pek-cilan biarpun aku belum tentu dapat menandinginya, namun kalau dibandingkan dengan suhu Li Kong Hoat-ong, bukankah itu sama dengan membandingkan sebuah bukit anakan dengan Gunung Thai-san?"
Akhirnya perjalanan mereka tiba di benteng penjagaan di mana An Lu Shan memimpin barisannya untuk menjaga tapal batas utara.
Benteng ini besar sekali, merupakan perkampungan tersendiri, dan dikelilingi dusun-dusun yang penduduknya campur aduk, ada orang Mongol, ada suku bangsa Uigur, Cou, dan lain-lain.
Ketika Gui Tin ditinggalkan di ruang tamu berdua dengan Kwan Cu, kakek ini berkata.
"Kwan Cu, tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tokoh-tokoh persilatan yang kau tanyakan itu, nanti saja kalau kita sudah dapat meninggalkan tempat ini, kau kuberi tahu. Sebetulnya, di dalam tangankulah rahasia untuk mendapatkan kitab kuno itu!"
Kwan Cu terkejut, akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Gui Tin memberi tanda dengan telunjuk di depan mulut, dan dari dalam terdengar tindakan kaki mendatangi.
Setelah pintu terbuka, ternyata yang masuk adalah An Lu Kui sendiri bersama dua orang lain.
Seorang adalah seorang berpakaian perwira yang bertubuh gagah, sedangkan yang lain adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan sikapnya agung sekali.
Ia berjalan dengan tubuh tegak dan dada terangkat, seperti sikap seorang raja besar.
Inilah Li Kong Hoat-ong, bekas raja bangsa Yu-yan, yang kini menjadi guru dari An Lu Shan dan An Lu Kui!.
An Lu Shan, panglima yang telah banyak membuat jasa bagi negara itu, berlaku hormat kepada Gui Tin.
Ia menjura lalu berkata.
"Kami berharap saja Gui-siuahi tidak mendapat banyak kaget dan mengalami banyak kesukaran karena undangan kami ini. Telah lama kami mendengar nama besar Gui-siucai, dan biarpun selama ini pemerintah tidak memperhatikanmu, namun karena akupun seorang panglima negara, maka biarlah kauanggap aku sekarang mewakili pemerintah dan menebus kelalaian pemerintah. Gui-siucai akan hidup kecukupan di tempat kami ini."
Gui Tin adalah seorang terpelajar tinggi, banyak pengalaman, dan mempunyai kecerdikan luar biasa.
Akan tetapi dia adalah seorang jujur dan tidak suka memutarbalikkan omongan.
Maka mendengar ucapan yang dia tahu hanya merupakan siasat untuk membela hatinya belaka ini , dia menjawab.
"An-ciangkun, aku dan muridku telah dibawa ke sini dengan paksa, lebih baik sekarang lekas katakan, pekerjaan apakah yang harus kami lakukan? Kami ingin lekas-lekas membereskan urusan ini, karena kami ibarat burung-burung yang terbang bebas di udara. Pernahkah kau mendengar akan burung-burung yang merasa suka di kurung, biar dalam kurung emas sekalipun?"
Kini Li Kong Hoat-ong yang tertawa bergelak mendengar kata-kata sastrawan terpelajar tinggi itu.
Ketika ketawa, Li kong Hoat-ong menutup mulutnya dengan tangan kanan, agaknya dia hendak menjaga peraturan dan kesopanan dirinya, untuk memperlihatkan bahwa dia adalah lain dari pada orang lain, memiliki keistimewaan khusus, karena bukankah dia bekas raja?
"Gui-siucai, inilah yang dibilang bahwa makin tinggi pengertian orang, makin poloslah wataknya!"
Bekas raja bangsa Yu-yan ini lalu berpaling kepada An Lu Shan dan berkata.
"Muridku, terhadap seorang terpelajar tinggi seperti Gui-siucai ini, tak perlukah kita bicarakan yang lain lagi. Kau lebih baik menerangkan saja maksud kita."
Merahlah wajah An Lu Shan saking jengahnya dan malu.
Benar-benar seorang yang luar biasa sekali Gui Tin ini, pikirnya.
Pakaiannya seperti pengemis, akan tetapi sikapnya agung-agungan seperti seorang pembesar tinggi saja!
Akan tetapi oleh karena dia amat membutuhkan tenaga bantuan Gui-siucai, An Lu Shan menahan sabar.
Komandan ini memberi perintah agar semua penjaga pergi dari ruangan itu, lalu Gui Tin bersama muridnya diajak masuk ke dalam sebuah kamar.
Yang berada di kamar itu hanya An Lu Shan, An Lu Kui, Li Kong Hoat-ong dan Gui Tin bersama Kwan Cu saja.
"Gui-siucai, sebelumnya harap kau suka bersumpah bahwa kau takkan bercerita kepada lain orang tentang hal yang akan kita bicarakan ini."
Kata An Lu Shan. Gui Tin tersenyum.
"Aku tak pernah bersumpah, dan tidak mau bersumpah. Kalau orang tidak percaya padaku , mengapa aku dibawa ke sini? An-ciangkun, bicaralah. Aku Gui Tin bukanlah orang yang biasa berpanjang mulut."
"Gui-siucai, kami hanya minta kepadamu untuk menterjemahkan sebuah kitab untuk kami. Kitab itu kitab kuno sekali dan hanya kaulah orang yang akan dapat menterjemahkannya. Kami takkan mau memeras tenaga orang dengan sia-sia, maka kau boleh tetapkan sendiri biayanya, asal kau suka mengerjakannya cepat-cepat, lebih cepat lebih baik."
Gui Tin mengerling ke arah An Lu Kui dan berkata perlahan.
"Hm, agaknya benar dugaan kakek pendek kecil dulu itu?"
Sebenarnya, di dalam hatinya Gui Tin terkejut sekali mendengar ucapan An Lu Shan tadi, akan tetapi secara pandai sekali dia dapat menguasai debar jantungnya. An Lu Kui menjawab.
"Memang betul Gui-siucai. Kitab itulah yang berada di tangan kami. Oleh karena itulah kau tidak boleh membocorkan rahasia ini agar jangan sampai ada orang jahat datang merampasnya."
Gui Tin mengangguk angguk.
Hatinya berdebar-debar.
Sudah belasan tahun dia ingin sekali melihat kitab ini, kitab yang diperebutkan oleh semua orang gagah di dunia, karena di dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng ini selain terdapat ilmu-ilmu silat yang tinggi, juga di situ terdapat ilmu perang, ilmu pengobatan, dan perbintangan!
"Akan kucoba menterjemahkan, sungguhpun aku tidak berani memastikan apakah aku bisa melakukan hal itu.
Bolehkah aku melihat kitabnya sekarang juga?"
Li Kong Hoat-ong bertukar pandang dengan An Lu Shan.
"Mari ikut dengan aku mengambilnya,"
Kata komandan ini, dan beramai-ramai mereka lalu memasuki kamar komandan ini yang berada di tengah-tengah benteng.
Kamar ini terjaga kuat-kuat dan agaknya takkan mudah bagi siapapun juga untuk menyerbu masuk ke dalam kamar An Lu Shan.
Setelah tiba di kamar, An Lu Shan merapatkan daun pintu, bahkan menguncinya dari dalam.
Kemudian dia menghampiri pembaringannya dan ketika dia menarik gantungan kelambu tiga kali, terdengar suara keras dan pembaringan itu terangkat naik!
Di bawahnya terdapat lubang yang terbuka sendiri di lantai yang tadinya berada di kolong pembaringan, dan di dalam lubang ini terdapat sebuah peti kecil.
An Lu Shan mengambil peti itu dan berkata kepada Gui Tin sambil tersenyum.
"Kitab yang banyak diinginkan oleh banyak orang jahat, kalau tidak disimpan baik-baik, tentu akan mudah hilang."
Gui Tin mengangguk-angguk dan sambil memandang ke arah peti itu dengan penuh gairah, dia berkata memuji.
"An-ciangkun benar-benar teliti. Setan pun agaknya akan sukar mendapatkan kitab itu di sini!"
An Lu Shan tertawa, kemudian setelah menutup kembali pembaringan, dia menghampiri meja dan menaruh peti kecil berwarna hitam itu ke atas meja.
Ketika dia membukanya, nampak sebuah kitab yang sudah tua sekali dan kertasnya kekuning-kuningan, terbungkus oleh sutera putih yang bersih.
Debar jantung Gui Tin makin menghebat dan sastrawan ini bagaikan orang kelaparan melihat paha babi panggang.
Tak terasa pula dia maju mendekat.
An Lu Shan tertawa lagi lalu lalu mengambil kitab itu.
"Kau lihat sebentar, dan coba kenali kitab apa ini!"
Gui Tin menerima bungkusan sutera putih itu, lalu membukanya.
Ia tidak cepat-cepat membuka kitab itu, akan tetapi memandang sampulnya dulu dengan penuh perhatian, lalu menimbang-nimbang berat kitab itu diatas tangannya.
Kemudian dia....mencium kitab itu dengan hidungnya yang dikembang-kempiskan.
Setelah dia memandang agak ragu-ragu ke arah kitab itu.
Dibacanya beberapa baris tulisan kuno yang tidak karuan bentuknya, dan menurut penglihatan Kwan Cu yang selalu berada di sisi gurunya, itu bukanlah tulisan, melainkan gambaran-gambaran yang buruk sekali!
Tiba-tiba Gui Tin tertawa geli.
"Aah, orang telah main-main, An-ciangkun! Orang mau meniru, akan tetapi alangkah bodohnya! Kertas ini biarpun sudah kuno namun tulisan-tulisan dan gambaran-gambaranya dilakukan dengan penggunaan tinta baru! Ini adalah kitab palsu sama sekali!"
Untuk sesaat hening kamar itu, kemudian terdengar Li Kong Hoat-ong memuji.
"Gui-siucai benar-benar bermata tajam. Sungguh mengagumkan sekali!"
An Lu Shan juga merasa kagum maka dia lalu menjura kepada Gui Tin.
"Gui siucai sekali melihat saja tahu perbedaan, sungguh lihai. Sekarang aku percaya benar-benar bahwa kitab itu takkan dapat diterjemahkan orang melainkan Gui-siucai seorang. Tunggulah, aku akan mengambil aselinya!"
Setelah berkata demikian An Lu Shan menekan sesuatu di tembok dan terbukalah dinding itu, memperlihatkan pintu rahasia.
Kali ini dia sendiri yang memasuki pintu rahasia itu, bahkan guru dan adiknya sendiri tidak ikut masuk!
Setelah dia keluar kembali, dia telah membawa keluar sebuah peti yang lebih kecil dari pada peti yang palsu tadi.
Juga peti ini berwarna hitam, akan tetapi kelihatannya berat sekali.
Ia menaruh peti ini di atas meja, kemudian menyimpan kembali kitab dan peti palsu yang tadi.
An Lu Kui sendiri baru pertama kali ini melihat kitab yang asli, karena yang pernah melihatnya hanya An Lu Shan dan Li Kong Hoat-ong.
Oleh karena itu dengan suara memohon dia berkata kepada kakaknya.
"Shan-heng, bolehkah aku membukanya?"
Sambil berkata demikian, dia mengulurkan tangan kanannya hendak membuka tutup peti. Akan tetapi cepat sekali An Lu Shan menampar tangan adiknya sambil berkata.
"Hati-hati! Jangan sembarangan menjamah peti ini, Kui-te!"
Lalu dia melanjutkan dalam bahasa Tartar.
"Peti ini telah dilaburi racun yang berbahaya sekali!"
Tentu saja Kwan Cu tidak mengerti, akan tetapi Gui Tin mengerti baik kata-kata ini.
An Lu Shan lalu meminta semua orang mundur, kemudian dengan tangan kirinya, dia mengambil sebuah bantal dari pembaringannya, dipegang di atas peti, antara dia dan peti itu sebagai perisai.
Kemudian dengan tangan kanannya dia membuka tutup peti.
Terdengar suara "ser!
ser!
ser!"
Dan dari dalam peti itu dengan cepat dan tak terduga sekali menyambar tujuh batang anak panah kecil yang ujungnya kehitaman karena telah direndam racun ular berbisa!
tujuh anak panah ini kesemuanya menancap pada bantal yang dipegang oleh An Lu Shan.
An Lu Kui menjadi pucat.
Kalau dia yang membukanya, tentu akan celakalah dia!
Tidak saja tangannya akan terkena racun yang dipulaskan di luar peti , juga anak-anak panah itu tak mungkin dielakkan oleh orang yang membuka peti, kalau tidak mengetahui lebih dulu!
"Lihai sekali kau, An-ciangkun!"Gui Tin juga memuji sedangkan Kwan Cu meleletkan lidahnya saking ngeri.
An Lu Shan hanya tersenyum.
"Untuk menjaga tangan jahil,"
Katanya sambil mengeluarkan kitab itu.
Kitab yang ini lebih kecil bentuknya, akan tetapi amat berat dan ternyata kertasnya tipis-tipis sehingga isinya banyak sekali.
Ketika Gui Tin membuka kitab itu dia tertegun.
Benar saja, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sebagaimana yang pernah dibacanya dalam buku-buku sejarah kuno.
Inilah kitab yang semenjak ribuan tahun dipakai berebut dan siapa yang memegang kitab ini, kalau perorangan merupakan jago terlihai di permukaan bumi, kalau negara menjadi negara yang kuat sekali.
Inilah kitab yang selama ini diimpi-impikan oleh semua orang gagah, oleh tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, oleh negara-negara di seluruh dunia.
Dan sekarang kitab ini berada di tangan An Lu Shan, seorang komandan militer yang bersemangat dan gagah!
Gui Tin merasa betapa tangannya tergetar.
Berbahaya kalau sampai isi kitab ini di ketahui oleh An Lu Shan.
Dan dia percaya bahwa yang dapat menterjemahkan kitab ini hanya dia seorang!
Kitab ini ditulis di jaman kerajaan Shia, ribuan tahun yang lalu.
Tiba-tiba Gui Tin teringat dan dia meraba-rabakan jari-jari tangannya di atas kitab itu.
Hm, aneh, pikirnya!
Pada masa itu, belum ada kertas!
Lalu dia mengerutkan keningnya untuk mengingat-ingat kembali tentang apa yang sudah dibacanya mengenai kitab rahasia ini.
Kalau tidak salah ingat, kitab aselinya ditulis di atas sutera!
Dan dia membaca sudah beribu kali orang memalsukan kitab itu agar aselinya tidak mudah dicuri orang.
Hm, apakah yang dipegangnya ini pun sebuah dari pada kitab tiruan dan palsunya?
Melihat Gui Tin mengerutkan kening dan diam seperti patung, An Lu Shan lalu berkata.
"Gui-siucai, apa yang kaupikirkan? Sanggupkah kau menterjemahkannya?"
Semua mata memandang kepada Gui Tin dengan sinar tajam mengancam.
Sastrawan ini maklum kalau dia mengatakan dia tidak sanggup, dia takkan diampuni.
Sebaliknya kalu dia sampai menterjemahkan kitab ini, juga tidak ada harapan baginya untuk bisa pergi dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!
Dia yang telah menterjemahkan, kelak tentu akan dianggap berbahaya oleh An Lu Shan, dan tentu akan dibinasakan agar jangan sampai membuka rahasia isi kitab itu kepada orang lain.
Gui Tin mengelus-elus kepala Kwan Cu di dekatnya sebelum menjawab, lalu dia menatap wajah An Lu Shan sambil berkata.
"Biarpun kitab ini sukar sekali di terjemahkan, akan tetapi aku sanggup mengerjakan asalkan ciangkun bersabar menanti. Akan tetapi, hanya satu saja permintaanku sebagai biaya penterjemaha, yaitu, kaulepaskan dan bebaskan muridku ini untuk pergi dari sini dan jangan mengganggu padanya!"
"Tidak Gui-lopek! Aku tidak mau meninggalkan kau orang tua. Siapa yang akan merawatmu, siapa yang akan menggosokkan bak untukmu, dan siapa yang akan kau suruh-suruh dalam mengerjakan semua ini? Gui-lopek, jangan suruh aku pergi meninggalkanmu!"
Tiba-tiba Kwan Cu berkata. Sementara itu, An Lu Shan yang cerdik sekali ketika melihat betapa Gui Tin amat sayang kepada muridnya, timbullah sebuah pikiran yang amat cerdik.
"Gui-siucai, aku berjanji takkan mengganggu muridmu. Akan tetapi, dia baru kubiarkan pergi kalau kau sudah selesai menterjemahkan kitab ini. Ingat, makin cepat kau menterjemahkannya, makin cepat pula aku melepaskan anak ini. Sementara itu, siapa lagi yang akan melayanimu selain anak ini? Orang lain tidak boleh melihat kitab ini. Kau tentu mengerti maksudku, bukan?"
Gui Tin mengerti baik sekali.
Siapa saja yang sudah melihat kitab ini harus mati, temasuk pula Kwan Cu!
Maka sastrawan ini menjadi gelisah dan berduka sekali, akan tetapi dia dapat menindas perasaanya dan menyatakan kesanggupannya.
"Baik, akan kukerjakan mulai hari ini juga. Akan tetapi aku tidak mau diganggu dan biarkan aku dilayani oleh muridku di dalam kamar tertutup."
An Lu Shan mengangguk.
"Baik, Gui-Siucai. Kau akan bekerja di dalam kamarku ini dari pagi sampai petang. Setiap pagi kau masuk ke sini dan setelah petang kau keluar dari kamar ini, meninggalkan terjemahan dan kitab aselinya."
Demikianlah, mulai hari itu Gui Tin mengerjakan terjemahan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dilayani oleh Kwan Cu.
Karena maklum dia dan muridnya diintai dari luar dan diawasi, Gui Tin tidak berani bicara sembarangan terhadap Kwan Cu, dan dia melakukan terjemahan itu selambat mungkin.
Isi kitab ini benar-benar hebat.
Di situ terdapat aturan-aturan dan cara-cara melatih tentara, membentuk barisan, dan mengatur penyerangan secara lihai sekali.
Di samping itu, terdapat pula latihan-latihan ilmu silat yang aneh-aneh, cara bersamadhi dalam bentuk yang paling istimewa, kemudian ada pula ilmu pukulan yang hebat-hebat sehingga membaca sebentar saja Gui Tin sudah merasa pening kepala dan juga ngeri.
Ia pikir bahwa kalau dia menterjemahkan ilmu silat itu, apabila sampai dipelajari oleh orang jahat, maka orang itu akan merupakan manusia berkepandaian iblis yang sukar ditekan.
Sebaliknya , kalau dia menterjemahkan ilmu perang, tidak ada jahatnya.
Bukankah An Lu Shan seorang perwira dari kerajaan yang sudah terbukti membela negara.
Kalau perwira itu mendapatkan pelajaran ilmu perang ini, bukankah hal ini baik sekali, tidak merugikan rakyat dan tidak merugikan negara?
Oleh karena inilah, maka Gui Tin lalu mulai dengan terjemahannya.
Ia sengaja mendahulukan terjemahan ilmu perang yang aneh-aneh dan lihai itu, yang dilakukan sedikit demi sedikit.
Adapun terhadap Kwan Cu, dia memiliki sebuah cita-cita yang baik sekali.
Kitab ini adalah kitab tiruan atau kitab palsu, ini Gui Tin yakin betul.
Sayang dia sudah banyak lupa tentang sejarah yang pernah dibacanya mengenai kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Akan tetapi kitab sejarah itu masih bertumpuk di suatu tempat di mana dia menyimpan kitab-kitab kunonya.
Kalau kelak kitab aselinya terdapat, mungkin dia telah tewas, dan muridnya inilah yang menjadi orang satu-satunya yang dapat membacanya!.
Oleh karena itu, maka Gui Tin lalu memberi pelajaran tentang bahasa tulisan kuno itu kepada Kwan Cu.
Ia mengajar sedikit demi sedikit, secara lisan, karena kalau tertulis, ia khawatir akan terlihat oleh orang lain.
Ia minta kepada Kwan Cu supaya mencatat dan menghafal di dalam otaknya.
Anak ini memang cerdik sekali.
Apa yang sekali terdengar olehnya, seakan-akan menempel di otaknya dan tak mudah terlupa kembali.
Oleh karena itu, semua yang dipelajarinya, dapat dihafalnya dengan mudah.
Pada keesokan harinya, ketika An Lu Shan melihat hasil terjemahan Gui Tin, bukan main girangnya.
Ia membaca siasat-siasat kemiliteran yang rumit-rumit dan hebat-hebat, cara mengatur barisan, mengatur penyerangan dan mengatur penjagaan.
Hebat!
Inilah yang dicari-cari, inilah yang diimpi-impikan!
Maka serentak mulailah dia mempraktekkan semua siasat dan peraturan melatih tentara yang dibacanya dari terjemahan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu.
Tiga bulan terlewat cepat sekali dan selama empat tahun ini, Gui Tin baru menterjemahkan setengah dari pada ilmu perang itu!
Akan tetapi hasilnya bagi An Lu Shan bukan main besarnya!
Kini bala tentara yang dipegangnya, merupakan barisan yang kuat dan memiliki pendidikan militer yang lain dari pada yang lain!
Semua ini berkat pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tentu saja An Lu Shan merasa bangga dan puas sekali.
Adapun dalam waktu tiga bulan itu, Kwan Cu dengan penuh ketekunan mencurahkan segenap tenaga, otak, dan perhatiannya untuk menghafal dan mempelajari bahasa tulisan kuno yang dipergunakan untuk menuliskan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu.
Dan ketika tanpa di sengaja dia melirik ke arah kitab yang sedang di terjemahkan oleh gurunya, dia hampir berseru girang karena dia dapat membacanya dengan mudah!
"Gui-lopek!
Bukankah baris atas berbunyi; Barisan Kwan-im Pouwsat menyebar biji teratai...?
"Sstttt!"
Gui Tin cepat menutup mulut Kwan Cu, lalu berkejap mata.
Kwan Cu cerdik, dia tahu bahwa sesungguhnya bukan karena terjemahan itu sukar bagi gurunya, melainkan karena gurunya sengaja memperlambat terjemahan itu!
"Lopek, mengapa tidak cepat-cepat menyelesaikan saja agar kita dapat segera pergi dari sini?"
Gui Tin menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
Sukar baginya untuk bicara karena dia tahu bahwa selalu ada penjaga yang menjaga di luar kamar dan mendengarkan percakapan mereka, maka dia sengaja berkata keras-keras sambil memberi kedipan mata kepada muridnya itu.
"Enak saja kau bicara! Apa kau kira menterjemahkan kitab seperti ini sama mudahnya dengan makan bakso?"
Demikianlah, kedua orang guru dan murid ini main sandiwara.
Diam-diam Gui Tin menunjuk ke arah kitab bagian pelajaran ilmu silat dan minta Kwan Cu membacanya!
Anak ini menurut saja dan ketika dia mulai membaca pelajaran itu, dia merasa kepalanya sampai berdenyutan saking merasa aneh dan terheran-heran!
Ia pernah menerima pelajaran siulian (samadhi) dari Pek-cilan Thio Loan Eng, juga pernah menerima pelajaran melatih napas.
Akan tetapi apa yang dia baca di kitab ini benar-benar luar biasa sekali!
Dulu ketika dia belajar siulian dari Loan Eng, dia diharuskan duduk dengan sikap tegak, kedua kaki bersila, dengan mata diarahkan ke ujung hidung sendiri sambil mengatur pernapasan dan mengosongkan pikiran.
Sekarang apa yang dibacanya?
Bermacam-macam aturan tentang samadhi terdapat dalam kitab ini.
Ada samadhi dengan berdiri jungkir balik, yaitu kepala di atas lantai dan kedua kaki diangkat ke atas, ada pula yang menggantung di atas pohon, dan berbagai macam cara aneh-aneh lagi!
Dan latihannya bernapas juga luar biasa anehnya!
Menurut pelajaran yang di terima dari Loan Eng dahulu, menyedot dan mengeluarkan napas harus selambat-lambatnya dan sepanjang-panjangnya, di waktu meyedot hawa harus dikumpulkan di dada sehingga dada mengembung dan perut menipis, kemudian di waktu mengeluarkan napas, dada harus dikosongkan dan hawa murni dari dada harus ditarik ke dalam perut untuk memperkuat tian-tan sehingga dada mengempis dan perut mengembung.
Akan tetapi di dalam Im-yang Bu-tek Cin-keng ini bahkan sebaliknya!
Kwan Cu benar-benar tidak mengerti.
Akan tetapi dasar dia berbakat baik sekali dalam ilmu silat, maka ketika dia membaca ini, malam harinya ketika Gui Tin sudah mendengkur, anak ini bersamadhi yang tadi dibacanya di dalam kitab itu, juga melatih pernapasan seperti yang dibacanya siang tadi!
Hasilnya bukan main!
Kwan Cu hampir gila karenanya!
Kalau saja dia tidak memiliki tulang yang baik dan bahan bersih dalam dirinya, mungkin otaknya sudah menjadi miring.
Ketika dia bersamadhi menurut kedudukan yang dipelajari dalam kitab, yakni denga kepalanya yang gundul di atas lantai dan kedua kakinya di atas bersandar tembok, dia merasa kepanya berdenyut-denyut karena semua darah mengalir ke bawah dengan cepat.
Kemudian, ketika dia hendak mengosongkan pikiran dan mengheningkan panca inderanya, bermacam-macam bayangan setan terbayang di depan matanya, dan berbagai macam hal yang ngeri-ngeri teringat olehnya.
Juga latihan pernapasan itu membuat perutnya merasa muak dan dadanya sakit.
Akan tetapi karena dia memang keras hati, dia melanjutkan latihannya sampai beberapa hari.
Terjadilah hal yang aneh dalam dirinya.
Ia merasa ada tenaga saling tarik-menarik di dalam dadanya dan perjalanan darahnya mengalir sebentar cepat sebentar lambat.
Ketika dia telah melatih selama sebulan, dia telah dapat membiasakan diri dengan cara baru ini dan pada suatu tengah malam, dia mendengar buku-buku tulang diseluruh tubuhnya berbunyi keletak-keletuk!
Ia tidak tahu bahwa karena latihannya ini, dia telah melenyapkan hasil latihannya yang dahulu.
Perasaan tidak enak dan tarik menarik tenaga di dalam dadanya adalah pertempuran antara tenaga latihan yang berlawanan, dan ternyata bahwa cara latihan menurut kitab rahasia itu lebih kuat sehingga dalam waktu beberapa hari saja tenaga latihan cara baru ini dapat mengalahkan tenaga latihan yang dahulu!
Karena tiada waktu untuk melatih diri dengan ilmu silat seperti yang diuraikan di dalam kitab itu, maka Kwan Cu lalu membaca saja kitab itu seperti orang membaca buku cerita!
Akan tetapi dia membaca tidak sembarang membaca, melainkan menghafal isi kitab itu sedikit demi sedikit.
Enam bulan telah lewat dan kini Gui Tin telah menyelesaikan pekerjaannya menterjemahkan ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!
Terjemahan itu diambil oleh An Lu Shan untuk dipraktekkan, adapun kitab aselinya masih berada di dalam kamar, karena Gui Tin harus menterjemahkan ilmu-ilmu yang lain!
Dan pada petang hari itu terjadilah hal yang hebat!
Baru saja Gui Tin menutup kitab itu setelah mulai menterjemahkan bagian pertama dari ilmu silat, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar kamar dan tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka lebar.
Seornag laki-laki bertubuh gemuk dengan baju terbuka bagian dada sehingga nampak dadanya itu brewok, juga mukanya penuh brewok, meloncat masuk!
Gui Tin dan Kwan Cu melihat betapa beberapa orang penjaga yang tadinya menjaga di luar pintu kamar itu kini menggeletak malang -melintang dalam keadaan tidak bernyawa pula!
Laki-laki brewok ini melihat kitab yang sudah di masukkan ke dalam peti hitam dan ditaruh di atas meja.
Tanpa banyak cakap, dia melompat ke dekat meja, memegang peti hitam itu dan berpaling kepada Gui Tin.
-siucai, inikah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang kau terjemahkan?"
Tanyanya kepada Gui Tin dan suaranya parau dan kasar sekali.
Gui Tin mengangguk dengan wajah pucat.
Orang itu menyambar peti dan juga tangan kanannya menyambar Gui Tin yang terus dikempitnya dan hendak pergi dari situ.
"Jangan kau culik guruku!"
Tiba-tiba orang itu merasa ada sambaran keras dari belakang menuju ke arah pundak kanannya!
Sambaran ini adalah angin pukulan yang hebat, maka dia terkejut sekali.
Terpaksa dia melepaskan tubuh Gui Tin dan mengangkat tangan menangkis.
Ternyata yang menyerang adalah Kwan Cu!
Anak ini yang melihat gurunya hendak dibawa, menjadi nekad dan memukul ke arah pundak orang itu dengan maksud merampas gurunya.
Tidak tahunya bahwa pukulan itu mengandung tenaga lweekang yang didapat dalam melakukan latihan siulian itu, maka juga hebat sekali datangnya.
Akan tetapi, orang itu lihai sekali.
Dengan keras lengannya menangkis dan tubuh Kwan Cu terpental membentur tembok!
Orang itu tertawa dan hendak menyambar tubuh Gui Tin, akan tetapi pada saat itu , dari luar terdengar suara teriakan berkali-kali.
"Tangkap penjahat!"
Orang yang mencuri kitab itu melompat keluar dan disambut oleh An Lu Shan, An Lu Kui dan Li Kong Hoat-ong sendiri dan di belakang mereka ini masih terdapat puluhan orang perwira!.
Ketika melihat orang brewokan ini, Li Kong Hoat-ong, An Lu Shan dan An Lu Kui menjadi terkejut sekali, sebaliknya si brewok ini hanya tertawa saja menghina, sama sekali tidak merasa gentar dan bahkan suara ketawanya menyatakan bahwa dia memandang rendah semua orang itu.
"Ah, tidak tahunya Hek-mo-ong Lo-taihiap yang datang berkunjung,"
Kata An Lu Shan sambil menjura.
"An-ciangkun, kau seorang perwira untuk apakah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Apalagi Gui-siucai telah menterjemahkan bagian ilmu perangnya, yang lain-lain kau tidak perlu lagi. Oleh karena itu aku datang untuk mengambilnya, sekalian membawa Gui-siucai pergi bersamaku."
An Lu Shan tidak berani membantah dan terlalu banyak bicara.
Ia sudah kenal akan kelihaian Hek-mo-ong (Raja Iblis Hitam) ini yang di daerah utara namanya hanya sebelah bawah Pak-lo-sian Siangkoan Hai saja.
Akan tetapi, Li Kong Hoat-ong tentu saja menjadi marah melihat lagak orang.
"Hek-mo-ong, sudah lama aku mendengar namamu dan baru sekarang aku mendapat kehormatan untuk bertemu muka. tidak tahunya Hek-mo-ong yang bernama besar itu hanya seorang sombong yang tidak memandang muka orang lain dan berlaku sewenang-wenang tanpa kesopanan sedikitpun juga."
Wajah Hek-mo-ong tidak berubah, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat ketika dia berpaling kepada Li Kong Hoat-ong.
"Hm..."
Ia mengeluarkan suara dari hidunf, sikapnya menghina sekali.
"Kalau tidak salah kau adalah Li Kong Hoat-ong, raja yang sudah kehilangan mahkotanya itu? Perlu apa kau mencampuri urusanku? Kalau memang betul aku kurang sopan dan sombong habis kau mau apakah?"
"Hek-mo-ong, kau benar-benar-tidak melihat orang! Kalau tidak ada aku di sini, kau boleh berbuat sesukamu, akan tetapi setelah aku berada di sini, apakah kau masih mau banyak lagak?"
"Li Kong Hoat-ong, apa kehendakmu?"
Suara Hek-mo-ong dahsyat sekali, mengandung ancaman maut.
"Tinggalkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kalau tidak jangan harap dapat keluar dari sini!"
Kata Li Kong Hoat-ong dan bekas raja yang memiliki kepandaian tinggi ini telah meloloskan senjatanya, yakni sebatang pedang kerajaan Yu-yan di tangan kanan dan sebatang tongkat tanda pangkat di tangan kiri!
An Lu Shan hendak mencegah akan tetapi sudah terlambat, karena telah terdengar suara ketawa ngakak seperti suara burung goak dari mulut Hek-mo-ong dan terdengar suara keras, disusul oleh melayangnya daun pintu yang telah dicabut oleh Hek-mo-ong dan kini menyambar ke arah Li Kong Hoat-ong!
Li Kong Hoat-ong cepat menghantam dengan tongkat di tangan kirinya dan terdengar suara keras lain.
Daun pintu itu telah pecah menjadi beberapa potong dan pecahannya menyambar ke kanan kiri!
An Lu Shan dan An Lu Kui cepat mengelak, akan tetapi beberapa orang perwira lain yang kurang cepat telah terkena sambaran potongan dan pecahan daun pintu ini sehingga terdengar jerit mengerikan.
Pecahan-pecahan daun pintu itu menembus baju perang bagaikan pelor-pelor baja dan beberapa orang perwira tewas pada saat itu juga!
Pertempuran segera terjadi dengan hebatnya.
An Lu Shan tak berdaya dan hanya bisa menyuruh para perwira menjauhkan diri, karena setelah dua orang sakti ini bertanding, siapakah yang dapat dan berani memisahkan mereka?
Yang nampak hanyalah berkelebatnya pedang dan tongkat di kedua tangan Li Kong Hoat-ong, dan tubuh Hek-mo-ong berubah menjadi sesosok bayangan yang gesit sekali.
Sebentar saja kelihatan betapa hebatnya kepandaian Hek-mo-ong, karena biarpun dia bertangan kosong, namun tongkat dan pedang ini sama sekali tidak dapat mengenai tubuhnya.
Tiap kali kedua tangannya bergerak, menyambar angin pukulan yang dahsyat, yang tidak saja membuat kedua senjata itu terpental mundur, juga membuat bangunan di situ seakan-akan tergetar-getar!
Kwan Cu yang tadi terlempar oleh tangkisan Hek-mo-ong dan membentur tembok, berkat tubuhnya yang kuat, tidak mengalami luka hebat dan kini dia telah menolong gurunya bangun.
Gui Tin cepat menyingkir di pinggir karena gentar melihat pertempuran yang dahsyat itu, sebaliknya Kwan Cu malahan menonton dekat-dekat.
Anak ini telah menghafal isi pelajaran ilmu silat dari kitab yang diperebutkan itu, dan biarpun pengetahuannya terbatas pada teori saja, namun pengertian ini telah mendatangkan dorongan sehingga dia mulai memperhatikan gerakan-gerakan kedua tokoh besar ini!
Ia diam-diam merasa gembira sekali dapat menyaksikan pertandingan yang demikian hebatnya, dan biarpun dia merasa ngeri juga, namun dia tidak pernah melepaskan pandang matanya dari kedua orang itu.
Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Hek-mo-ong mendesak lawannya.
Raja Iblis Hitam ini mempergunakan pukulan berdasarkan lweekang yang cukup tinggi dan baginya untuk merobohkan lawan tak usah mempergunakan tenaga tangan, cukup oleh hawa pukulannya saja.
Li Kong Hoat-ong maklum akan kehebatan lawan, maka dia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi permainan lawan.
Akan tetapi sia-sia saja, pada saat dia membacok dengan pedangnya dan berbareng mengemplang dengan tongkatnya, tiba-tiba Hek-mo-ong berseru keras sekali sehingga Kwan Cu yang tadinya berdiri sampai roboh dan terlempar ke lantai saking hebatnya getaran seruan ini yang menyerang dan melumpuhkan dirinya melalui pendengarannya!
Demikian pula orang-orang yang berada di sekitar situ, semua merasa seakan-akan lumpuh!
Berbareng dengan pekik yang dahsyat ini, Hek-mo-ong tidak mengelak dari serangan lawan, bahkan menubruk maju.
Tangan kanannya mencengkeram ke arah pedang dan dia membiarkan kepalanya dipukul tongkat!
Terdengar suara keras ketika tongkat memukul kepalanya.
Tongkat itu terpental dan Hek-mo-ong merasa kepalanya agak pening, akan tetapi dia berhasil mencengkeram pedang yang menjadi patah dua!
Sebelum Li Kong Hoat-ong hilang kagetnya, Hek-mo-ong telah menyeruduk maju dan menubruk dengan kepalanya ke dada Li Kong Hoat-ong.
Terdengar pekik mengerikan dan tubuh bekas raja itu terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
Tulang-tulang dadanya telah remuk terkena benturan kepala lawannya dan dia tewas pada saat itu juga setelah tubuhnya roboh terlentang!
Keadaan menjadi sunyi, lalu dipecahkan oleh suara ketawa Hek-mo-ong.
Tak seorangpun berani bergerak.
"Ha-ha-ha! An-ciangkun, lebih baik kau mengurus bala tentaramu baik-baik dan jangan meributkan urusan kitab ini,"
Kata Hek-mo-ong.
An Lu Shan maklum bahwa tiada gunanya menyerang orang luar biasa ini, akan tetapi dia tahu bahwa apabila Gui Tin sampai dibawa pergi, amat berbahayalah bagi dirinya.
Hanya Gui Tin itu saja yang tahu bahwa dia telah mempelajari ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kalau sampai orang luar mengetahuinya ..., mungkin rencananya yang sudah terkandung di dalam hati selama bertahun-tahun akan gagal!
Oleh karena itu dia lalu menjura dan berkata.
"Lo-enghiong, kami takkan meributkan urusan ini, akan tetapi kami harap Lo-enghiong juga suka berlaku adil. Kitab itu sudah kau ambil, biarlah. Akan tetapi harap kau jangan membawa pergi Gui-siucai, karena sesungguhnya masih banyak sekali penjelasan mengenai terjemahan yang kami perlukan dari padanya? Kalau kami sudah selesai dengan dia, boleh Lo-enghiong membawanya. Hal ini penting sekali, dan kami harap saja Lo-enghiong tidak akan menggunakan kekerasan terhadap puluhan ribu anak buah barisan kami yang sudah teratur dan menjaga berlapis-lapis di benteng ini."
Hek-mo-ong terdiam sejenak.
Ia tahu bahwa An Lu Shan adalah seorang komandan yang pandai sekali mengatur barisan.
Kalau dia berkeras, dia akan menghadapi puluhan ribu tentara dan hal ini tidak boleh dibuat sembarangan.
Biarpun kepandaiannya tinggi dan dia tidak takut akan keroyokan, akan tetapi kalau harus membobolkan pertahanan puluhan ribu orang, sebelum bebas dia akan kehabisan tenaga dan akhirnya usahanya akan sia-sia belaka.
Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah berada di tangannya, mengapa dia harus tergesa-gesa?
Masih banyak waktu untuk mempelajari kitab itu, pikirnya.
Setelah berpikir demikian , dia mengangguk.
"Baiklah, An-ciangkun. Aku minta maaf karena telah kesalahan tangan membunuh gurumu, akan tetapi seperti kalian menyaksikan sendiri, gurumulah yang mulai lebih dulu."
"Tidak apa, Lo-enghiong. Mati hidup bukan di tangan kita dan sudah lajim dalam pertempuran kalau tidak menang, tentu kalah dan mati,"jawab An Lu Shan. Kembali Hek-mo-ong tertawa, kemudian dia melihat Kwan Cu masih berdiri di pinggir. kedua matanya mendelik dan dia kelihatannya akan menyerang anak ini, akan tetapi dia membatalkan niatnya, lalu tertawa sekali tubuhnya berkelebat, dia telah melompat keluar dari rumah itu. Ketika dia berlari keluar dari benteng, benar saja dia melihat betapa tempat itu telah terkurung rapat oleh lapisan-lapisan tentara yang kuat sekali. Ia merasa girang bahwa tadi dia tidak mempergunakan kekerasan. Mudah kelak menculik Gui-siucai, pikirnya. Mengapa An Lu Shan berlaku demikian lemah? Mengapa dia tidak mengeroyok dan mengerahkan pasukannya untuk membunuh Hek-mo-ong? An Lu Shan tidak demikian bodoh untuk mengorbankan anak buahnya. Ia adalah seorang yang amat cerdik. Ketika tadi dia melihat peti kitab itu tercuri oleh Hek-mo-ong, dia telah yakin bahwa Hek-mo-ong takkan dapat hidup lama di dunia ini. Selain peti itu mengandung rahasia sehingga kalau dibuka akan ada tujuh batang anak panah beracun yang menyambar, juga peti itu telah dilabur dengan racun yang amat jahat. Kalau tangan Hek-mo-ong sudah terkena racun itu, sedikit racun masuk ke dalam mulutnya, pasti Raja Iblis Hitam itu akan mampus! Perlu apa mengeroyoknya? Dia tahu ke mana harus mencari Hek-mo-ong, maka nanti saja dia akan menyuruh para penyelidik, mendatangi tempat tinggal Hek-mo-ong di dusun Thian-bun di Gunung Hek-mo-san. Kalau iblis itu sudah mati, mudah saja mengambil kembali peti itu. Dan dia sengaja menahan Gui Tin, karena selain dia sendiri, hanya sastrawan tua itu saja yang pernah membaca Im-yang Bu-tek Cin-keng. Biarpun kitab itu sekarang berada di tangan Hek-mo-ong, takkan ada gunanya kalau tidak diterjemahkan! Maka setelah Hek-mo-ong pergi, segera An Lu Shan mengumpulkan orang-orangnya yang paling cakap untuk pergi menyusul ke Hek-mo-san dan menyelidiki keadaan iblis itu, sekalian kalau iblis itu sudah mampus terkena racun, supaya mengambil kembali peti kitab tadi. Akan tetapi, berturut-turut setelah serbuan Hek-mo-ong yang mencuri kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, terjadilah hal-hal yang luar biasa dan mengerikan hati An Lu Shan. Pada keesokan harinya, baru saja dia dan yang lain-lain selesai mengubur jenazah Li Kong Hoat-ong dan sedang duduk berunding di dalam ruang tengah, tiba-tiba datang penjaga-penjaga di pintu depan yang melaporkan dengan napas tersengal-sengal bahwa ada seorang tokouw (pertapa wanita) yang amat galak memaksa masuk ke dalam benteng dan siapa saja yang menghalanginya, dirobohkan dengan amat mudah! An Lu Shan dan An Lu Kui diikuti oleh beberapa orang perwira tergesa-gesa keluar. Alangkah kaget mereka ketika melihat pemandangan yang amat aneh dan luar biasa. Seorang tokouw yang tua akan tetapi tubuhnya masih nampak sehat seperti tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun, jalan mendatangi. Tangan kiri menggandeng seorang anak perempuan berusia enam tahun yang cantik mungil, tangan kanannya memegang sebatang ranting pohon yang panjang. Ia berjalan maju terus dan tiap kali ada perajurit yang hendak menghalanginya, dia menudingkan ranting itu kepada perajurit yang menghadang dan perajurit itu roboh sambil memekik keras dan ternyata bahwa perajurit itu telah tewas! Berdiri bulu tengkuk An Lu Shan menyaksikan keganasan dan kekejaman yang luar biasa ini! Siapakah iblis wanita ini, pikirnya. Cepat dia lalu mengeluarkan aba-aba untuk melarang orang-orangnya menghalangi majunya wanita pertapa itu dan dia sendiri lalu cepat mundur dan menanti di ruang tengah, akan tetapi diam-diam dia menyuruh barisan panah mengurung tempat itu untuk bergerak apabila tokouw itu datang dengan maksud kurang baik. Sambil tersenyum-senyum mengejek, tokouw itu bersama anak perempuan tadi langsung memasuki benteng dan menuju ke ruang besar di mana An Lu Shan duduk menanti. Dengan melihat bendera yang berkibar di atas ruang itu, mudah saja bagi tokouw ini untuk mencari di mana adanya komandan benteng. Ia melangkah masuk dengan sikap tenang seperti memasuki rumahnya sendiri saja. Setelah masuk ke dalam ruangan itu tokouw ini berdiri tegak dan memandang kepada An Lu Shan. Perwira ini cepat berdiri dan menyambut dengan penghormatan. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, terdengar seruang nyaring.
"Eh, adik Ceng....! Kau di sini....?"
"Heee....! Bukankan kau Kwan Cu?"
Jawab anak perempuan yang masih digandeng tangannya oleh tokouw itu.
Kwan Cu yang kebetulan keluar bersama gurunya, melihat bahwa anak perempuan itu adalah Bun Sui Ceng, puteri dari Thio Loan Eng, segera menegur.
Juga Gui Tin yang sudah banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya, ketika melihat tokouw itu, tersaruk-saruk maju menghampiri dan menjura.
"Dunia ini ternyata sempit sekali,"
Katanya kepada tokouw itu.
"sehingga di ujung utara ini akan dapat bertemu muka dengan Kiu-bwe-coa-li Suthai dari ujung selatan!"
Tokouw itu nampak tertegun, lalu mengerutkan keningnya. Setelah memandang beberapa lama, ia lalu tersenyum dan berkata dingin.
"Hm, tubuhmu sudah reyot dan lelah, akan tetapi matamu masih tajam sekali, Gui-siucai. Kita bertemu baru satu kali ketika masih muda, namun kau betul-betul tidak melupakan muka orang."
"Siapa dapat melupakan wajah dan bentuk badan Kui-bwe-coa-li Suthai dari selatan?"
Jawab Gui Tin sambil tersenyum pula.
Sementara itu, ketika mendengar bahwa tokouw yang berada di depannya itu adalah Kiu-bwe-coa-li (Ular Betina Berekor Sembilan), yang namanya amat terkenal dan ditakuti oleh semua orang kang-ouw, An Lu Shan menjadi terkejut sekali sehingga dia merasa betapa belakang lehernya menjadi dingin.
Ia cepat maju dan menjura dan berkata.
"Ah, tidak tahunya Locianpwe yang datang mengunjungi tempatku yang bobrok ini. Mohon banyak maaf karena siauwte tidak tahu maka tidak keluar menyambut."
Tokoh itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.
"Anak buahmu sudah menyambut baik-baik mengapa kau bersungkan? Lagi pula, siapa sih yang mengharapkan sambutan? Aku bukan kaisar!"
An Lu Shan menjadi merah mukanya, akan tetapi biarpun dia disindir, toh hatinya senang juga mendengar bahwa tokouw ini tidak suka kepada kaisar.
"Maaf, maaf!"
Katanya merendah.
"Bolehkah kiranya siauwte mengetahui kedatangan Locianpwe ini membawa maksud mulia yang manakah?"
"Tidak bermaksud apa-apa, hanya minta kau menyerahkan padaku kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng."
Hm, ini hebat, pikir An Lu Shan. Jadi kitab itu sudah demikian digilai oleh orang-orang pandai di dunia. Baiknya dia telah mendahului mempelajari bagian ilmu perangnya.
"Bagaimana?"
Tiba-tiba Kiu-bwe-coa-li mendesak sambil menggerak-gerakkan ranting di tangannya.
Ternyata bahwa itu bukan ranting biasa, melainkan gagang sebatang pecut yang panjang dan halus sekali.
Pecut itu terdiri dari sembilan helai tali yang halus tapi kuat dan merupakan senjatanya yang luar biasa.
Karena tali-tali yang sembilan helai ini bergerak-gerak hidup seperti ular-ular kecil, maka dia dijuluki Ular Betina Berekor Sembilan!
Satu saja dari sembilan helai tali ini ia gerakkan untuk menotok jalan darah seperti yang diperlihatkan tadi terhadap para perajurit yang menghadangnya cukup untuk membunuh seorang manusia.
Dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya kepandaian tokouw ini!
"Locianpwe, sungguh kebetulan sekali dan kalau saja siauwte tidak kehilangan guru siauwte tidak kehilangan guru siauwte dalam urusan ini, tentu siauwte telah tertawa geli mendengar Locianpwe datang hendak minta kitab itu."
"Apa yang terjadi?"
Sepasang alis tokouw itu bergerak-gerak dan sepasang matanya demikian tajam sehingga An Lu Shan tidak kuat untuk menentang lama-lama.
"Baru terjadi kemarin, Locianpwe. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang kauminta itu telah dirampas orang dan suhuku Li Kong Hoat-ong bahkan sampai tewas melawan orang itu."
"Lekas bilang, siapa yang merampasnya?"
Seru tokouw itu yang sama sekali tidak peduli tentang kematian Li Kong Hoat-ong.
"Dia adalah Hek-mo-ong yang tinggal di Hek-mo-san...."
Secepat kilat Kiu-bwe-coa-li memutar tubuhnya menghadapi Gui Tin.
"Betulkah demikian?"
Gui Tin hanya mengangguk dan diam-diam sastrawan ini tidak suka melihat sikap tokouw ini, apalagi setelah dia melihat bahwa tokouw ini telah membunuh banyak penjaga di luar benteng!
Kiu-bwe-coa-li hendak pergi, akan tetapi ternyata Sui Ceng yang tadi masih digandeng, telah melepaskan gandengan tangannya dan anak itu kini nampak bercakap-cakap dengan seorang anak laki-laki gundul.
"Sui Ceng, mari!"
Seru tokouw ini dan sekali ia mengulur tangannya, ia mendorong Kwan Cu sehingga anak ini menggelundung seperti bal.
Akan tetapi Kwan Cu cepat melompat lagi dan menuding kepada Kiu-bwe-coa-li sambil berkata.
"Kenapa kau begitu galak? Aku tidak suka melihat adik Ceng menjadi murid seorang galak! Ketahuilah, adik Ceng sudah diserahkan kepadaku untuk kujaga dan kalau kau memperlakukan buruk padanya...."
Melihat betapa anak laki-laki gundul itu yang didorongnya tidak apa-apa bahkan kini mengeluarkan kata-kata mengancam kepadanya untuk membela Sui Ceng, Kiu-bwe-coa-li menengok dan memandang terheran-heran.
Hebat sekali anak gundul ini, pikirnya lalu ia berbisik kepada Sui Ceng.
Anak perempuan ini berkata.
"Engko Kwan Cu, guruku ini baik sekali kepadaku! Eh, aku ingin tanya, betul-betulkah penuturan mereka tentang Hek-mo-ong?"
Kwan Cu maklum bahwa tokouw ini masih tidak percaya penuh kepada An-ciangkun dan Gui-siucai, maka mempergunakan Sui Ceng untuk bertanya kepadanya.
Dengan demikian, itu berarti bahwa tokouw itu lebih percaya kepadanya!
Dalam sekejap mata saja anak yang berkepala gundul dan berotak cerdik ini dapat menghubung-hubungkan sesuatu dan menarik kesimpulannya pada saat itu juga!
"Adik Ceng, biasanya, orang yang tidak mudah percaya kepada orang lain itu mempunyai watak yang tak dapat dipercayai.
Karena hendak mengukur watak orang lain seperti wataknya sendiri, maka dia selalu merasa khawatir kalau dibohongi orang!"
Sui Ceng tentu saja tidak mengerti akan maksud jawaban yang menyimpang daripada pertanyaannya tadi, akan tetapi Kiu-bwe-coa-li merasa sekali akan sindiran yang amat tepat ini.
Anak gundul itu seakan-akan dapat membaca pikirannya!
"Keparat gundul!"
Bisiknya dan sekali ia menarik tangan muridnya, dan menggerakkan tubuhnya, berkelebatlah bayangannya dan lenyaplah tokouw ini dari hadapan mereka!
Kali ini, ketika berlari cepat keluar dari benteng, bayangannya hampir tidak dapat terlihat oleh para penjaga!
"Hebat....!"
An Lu Shan berkata.
"Celakalah Hek-mo-ong kalau bertemu dengan dia!"
Baru saja keadaan mereda setelah tokouw itu pergi, tiba-tiba terdengar suara di atas genteng, suara yang kecil tinggi.
"Omitohud! Pinceng hanya datang mengganggu saja!"
Dan tiba-tiba genteng di atas ruangan itu pecah beterbangan dan tubuh seorang hwesio yang gemuk seperti gajah menerobos turun dari lubang di atas genteng itu!
Biarpun tubuhnya besar dan gemuk, hampir sama dengan tubuh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, namun ketika kaki hwesio ini menyentuh lantai sama sekali tidak terdengar suara sesuatu, sungguhpun An Lu Shan yang masih duduk terasa betapa bangkunya tergetar dan dia terpental sedikit ke atas!
Ketika semua mata memandang, ternyata bahwa hwesio ini berkulit agak kehitaman, bermata lebar dan misalnya tergantung menutupi dagunya.
Jubahnya hitam seluruhnya, hitam arang yang membuat mukanya yang berkulit kehitaman itu agak bersih kelihatannya.
Tangan kiri hwesio gemuk ini memegang serangkaian tasbih, tangan kanan memegang sebatang tongkat berkepala naga terbuat dari logam kuning seperti emas.
"Hek-i Hui-mo...."
Terdengar Gui Tin berkata dan hwesio ini segera menjura kepada sastrawan ini.
"Gui-siucai, kau masih tetap muda. Ha-ha-ha, agaknya nasib akan menjodohkan kita sehingga tak lama lagi pinceng akan berkumpul dengan Gui-siucai, sama-sama mempelajari isi kitab!"
Setelah suaranya yang halus mengeluarkan kata-kata ini, tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya ke depan An Lu Shan dan "brakk!"
Meja di depan An Lu Shan menjadi hancur sama sekali tertimpa tongkat itu, biarpun dia hanya memukulkan perlahan saja.
An Lu Shan terkejut sekali dan mencelat ke belakang, bersiap sedia karena bahwa dia berhadapan dengan tokoh besar dari barat, yaitu hwesio Tibet yang telah menyeleweng dan yang mengadakan permusuhan besar dengan hwesio Tibet aliran jubah kuning.
Karena penyelewengan inilah maka nama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Berjubah Hitam) amat terkenal.
"An-ciangkun, pinceng tidak mau membuang banyak waktu. Lekas kauserahkan Im-yang Bu-tek Cin-keng kepada pinceng!"
Kini suaranya berbeda sekali karena terdengar amat ketus dan galak, mengandung ancaman hebat.
Akan tetapi An Lu Shan telah menjadi mendongkol sekali.
Kalau sekiranya yang datang bukanlah tokoh besar yang amat berbahaya ini, tentu dia akan menyerang mati-matian dan menyuruh keroyok oleh seluruh barisannya.
"Hm, celaka sekali,"
Katanya.
"mengapa aku sial benar-benar? Lo-suhu, ketahuilah bahwa kitab itu kemarin telah dicuri oleh Hek-mo-ong, bahkan baru tadi Kiu-bwe-coa-li juga datang menanyakan. Sekarang Kiu-bwe-coa-li telah menyusul ke Hek-mo-san."
Seperti juga Kiu-bwe-coa-li tadi kini hwesio itu berpaling kepada Gui Tin dan bertanya.
"Betulkah itu, Gui-siucai?"
"Memang betul demikian,"
Kata Gui Tin.
"Baiklah, kau beristirahat dulu baik-baik di sini, Gui-siucai. Kalau sudah terdapat kitab itu, pinceng akan menjemputmu di tempat ini!"
Setelah berkata demikian, sekali dia menggerakkan kakinya, tubuhnya yang gemuk itu telah melayang naik dan menerobos melalui lubang yang tadi!
Benar-benar hebat ginkang dari hwesio gemuk ini, maka tidak mengherankan apabila julukannya adalah Iblis Terbang!
Celaka, pikir An Lu Shan.
Benar-benar hebat sekarang ini!
Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah dikejar oleh demikian banyak orang lihai.
Tidak ada harapan sama sekali baginya untuk mendapatkan kitab itu kembali!
Sesungguhnya, yang mendapatkan kitab itu tadinya adalah suhunya, yaitu Li Kong Hoat-ong, maka setelah suhunya itu meninggal, An Lu Shan menganggap kitab itu sudah menjadi haknya.
Tidak tahunya, kalau tadinya dia masih mengandung harapan besar untuk mengambil kembali kitab itu dari tangan Hek-mo-ong yang lihai, kini muncul tokoh-tokoh yang masih jauh lebih lihai dan berbahaya daripada Hek-mo-ong sendiri!
Habislah harapannya dan diam-diam dia mengerling ke arah Gui Tin.
Untuk apa sastrawan tua ini dibiarkan hidup?
"Ia harus mati!"
Demikian An Lu Shan mengambil keputusan.
Kalau dia mati, biarpun seorang di antara tokoh-tokoh besar itu berhasil mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, apa gunanya?
Tak seorang pun selain Gui-siucai mengerti akan bahasa tulisan kitab itu.
Kalau sastrawan ini dibiarkan hidup sehingga ada orang lain yang mampu membaca kitab rahasia itu, bukankah itu berbahaya sekali?
Sekarang dia telah mempunyai barisan yang kuat dan siasat-siasat perang yang lihai, kalau sampai ada yang mengerti rahasianya dan kemudian siasat-siasatnya itu dipecahkan orang, bukankah itu akan celaka sekali?
Sementara itu, terdengar Kwan Cu mengomel.
"Benar-benar orang-orang tua itu sudah miring otaknya semua! Kitab palsu diperebutkan!"
Baru saja dia bicara demikian, Gui Tin membentaknya dan baru Kwan Cu sadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak.
Ia menyesal sekali dan mendekap mulutnya sendiri.
Akan tetapi An Lu Shan sudah bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri mereka.
"Coba katakan, apa artinya ucapan tadi, Kwan Cu? Kitab palsu, apakah maksudmu?"
Kwan Cu tak dapat menjawab, hanya berdiri memandang kepada komandan itu dengan mata terbuka lebar-lebar.
Akan tetapi An Lu Shan sudah menaruh kecurigaan dan tidak percaya akan keterangan ini, memang dia hendak mencari alasan untuk melenyapkan guru dan murid ini.
Ia memegang tangan Kwan Cu dan menekannya keras-keras.
"Hayo kau mengaku terus terang, benarkah kitab itu palsu?"
Kwan Cu merasa tangannya sakit sekali, akan tetapi ketika dia mengerahkan tenaga lweekangnya yang selama ini dilatih menurut petunjuk kitab itu, tiba-tiba An Lu Shan melepaskan pegangannya dan berteriak kesakitan, dari lengan anak itu seakan-akan menolak hawa yang panas sekali.
"Keparat! Kau malah sudah mempelajari isi kitab itu, ya? Hayo lekas katakan terus terang!"
Kwan Cu hanya tertawa, dan suara ketawanya ini mengorbankan kemarahan komandan itu.
Sekali dia mengayun tangannya, dada Kwan Cu telah dipukulnya.
Kalau menurut keadaan biasa, tentu dada anak ini akan pecah dan binasa di saat itu juga.
Akan tetapi, tubuh anak ini hanya terlempar jauh dan kembali seperti ketika dia tertangkis oleh Hek-mo-ong, tubuhnya membentur dinding.
Anehnya, dia tidak apa-apa, karena ketika dipukul dia kerahkan dan dikumpulkan di bagian dada yang terpukul sambil menahan napas sehingga tubuhnya seakan-akan terisi hawa yang kuat dan tidak terluka!
Makin yakinlah An Lu Shan melihat keanehan ini.
Ia lalu menubruk maju dan kini dia memegang lengan Gui-siucai.
"Kau berbicaralah terus terang!"
Akan tetapi Gui Tin menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak mau menjawab pertanyaan ini. An Lu Shan menggunakan tenaganya menekan dan terdengar suara "krak!"
Ternyata tulang lengan Gui Tin telah remuk! Sastrawan tua ini berjengkit kesakitan. Namun dia tetap menutup mulut.
"Jangan kausakiti guruku!"
Tiba-tiba Kwan Cu berseru keras dan sekali dia melompat, dia telah berada di depan An Lu Shan dan merenggutkan lengan An Lu Shan yang menekan lengan Gui Tin.
An Lu Shan merasakan sambaran angin datang dari serangan Kwan Cu, maka cepat dia mengelak dan kakinya menyambar.
Sekali lagi Kwan Cu terlempar jauh.
An Lu Shan sudah marah sekali.
Ia memanggil penjaga-penjaga dan berkata keras.
"Tangkap mereka, rangket sampai mereka mengaku tentang kitab itu!"
Lima orang tentara yang biasa menjalankan perintah menyiksa tawanan atau lebih tepat disebut algojo-algojo, segera menyerbu dan sebentar saja Gui Tin dan Kwan Cu sudah ditangkap, lalu diseret keluar!
Seorang diantara mereka mengeluarkan sebatang cambuk hitam dan mulailah guru dan murid ini dihajar, dicambuki seperti dua ekor binatang yang mogok kerja.
Darah mengalir dari kulit tubuh mereka yang tertimpa cambuk.
Tidak hanya pakaian mereka yang butut itu yang pecah-pecah, bahkan kulit dan muka juga pecah-pecah mengeluarkan darah.
"Kwan Cu...."
Giu-siucai mengeluh dengan tubuh lemah terkulai, menggantung di tangan seorang algojo yang memegangnya.
"Carilah kitab aselinya, pelajari baik-baik, jangan seperti aku.... lemah.... kepandaian bu penting sekali untuk menghadapi orang-orang macam ini."
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena sebuah tendangan tepat sekali mengenai ulu hatinya sehingga orang tua ini tiba-tiba merasa napasnya terhenti dan dia megap-megap seperti ikan dilempar di darat.
"Kejam! Kalian ini bukan manusia. Kejam!"
Kwan Cu meronta dan berhasil melepaskan diri lalu menubruk gurunya.
Akan tetapi sebuah ketokan dengan belakang golok membuat dia roboh terguling dan dia telah dicekal lagi tangannya, dan dicambuki sampai pakaiannya hancur dan anak ini menjadi setengah telanjang!
Gui Tin sudah payah sekali, dan juga betapapun kuat tubuh Kwan Cu, tanpa memiliki ilmu silat, dia tidak berdaya dan agaknya guru dan murid ini tentu akan menemui kematian di tangan para algojo ini yang sudah mendapat perintah dari An Lu Shan untuk membunuh mereka.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi gembreng dan tambur di luar benteng dan masuklah serombongan orang yang disambut dengan penghormatan besar oleh para penjaga.
Penyiksaan terhadap Gui Tin dan Kwan Cu otomatis dihentikan dan An Lu Shan bersama An Lui Kui nampak tergesa-gesa menyambut kedatangan tamu agung itu.
Ternyata bahwa yang datang adalah Menteri Lu Pin yang mendapat tugas dari kaisar untuk menaikkan pangkat An Lu Shan!
Dari jauh Lu Pin melihat kakek dan bocah pengemis itu dicambuki maka begitu bertemu dengan An Lu Shan yang menjalankan penghormatan, dia lalu bertanya.
"Siapakah mereka itu dan mengapa dicambuki?"
"Ah, Taijin. Mereka itu adalah dua orang penipu besar. Mereka adalah guru dan murid yang mengaku sebagai sastrawan dan yang kami perintahkan untuk menterjemahkan sebuah kitab kuno. Tiada tahunya mereka menipu kami dan menyatakan bahwa kitab itu palsu adanya."
"Kitab kuno? Apakah An-ciangkun maksudnya bahwa kitab itu adalah Im-yang Bu-tek Cin-keng?"
Pucatlah muka An Lu Shan mendengar ini.
"Ah, Taijin sudah mendengar pula tentang kitab itu? Agaknya semua orang tahu akan kitab itu."
"Tentu saja. Siapa yang tidak mendengar akan kitab yang diperebutkan oleh semua negeri ini? An-ciangkun, apakah kau benar-benar sudah menemukan kitab itu? Kalau benar begitu, mengapa tidak kauantarkan ke kota raja?"
Menteri tua ini memandang penuh curiga dan selidik.
"Itulah Lu-taijin. Kami memang telah mendapatkan kitab, akan tetapi kami masih merasa ragu-ragu apakah kitab itu kitab yang aseli, karena banyak kitab-kitab yang dipalsukan orang. Dan karena itu pula kami memerintahkan kepada sastrawan tua itu untuk menterjemahkannya. Tidak tahunya, dia menipu kami dan kitab itu dinyatakan palsu."
"Mana kitab itu?"
An Lu Shan menarik napas panjang.
Kini dia merasa puas dan lega bahwa kitab itu telah dirampas orang!
Lebih baik kitab itu jatuh ke dalam tangan para tokoh kang-ouw daripada jatuh ke dalam tangan pemerintah!
Ia lalu menuturkan bahwa kitab itu telah dirampas orang.
Menteri Lu Pin menghela napas dan menyatakan sayangnya.
Lalu dia menyuruh orang membawa datang dua orang pengemis yang disiksanya tadi.
Setelah Gui Tin dan Kwan Cu diseret di hadapan Menteri Lu Pin, kebetulan sekali Gui Tin siuman dari pingsannya.
Keadaannya payah sekali, akan tetapi begitu dia melirik dan bertemu muka dengan Menteri Lu Pin, dia segera membuang muka dan meludah ke atas tanah.
Lu Pin memandang dengan penuh perhatian.
"Ah, bukankah kau ini Gui-twako?"
Gui Tin tetap saja membuang muka dan pandang matanya penuh hinaan terhadap menteri itu.
"Benarkah kau Gui Tin....? Benarkah aku berhadapan dengan Gui-twako?"
Kembali Menteri Lu Pin bertanya dan kini dia turun dari tempat duduknya yang tadi disediakan oleh seorang pengawalnya, lalu dihampirinya Gui Tin.
"Aku tidak sudi berkenalan dengan manusia she Lu!"
Tiba-tiba Gui Tin berkata dengan suara keras dan marah sekali sehingga kembali dadanya terasa sakit dan dia roboh pingsan! "Lekas tolong dia!"
Kata Lu Pin.
"Dia adalah kenalan lama dariku. Hayo cepat tolong dan rawat dia baik-baik?"
An Lu Shan menjadi kaget sekali melihat bahwa menteri ini kenal baik dengan Gui Tin, maka dia cepat menyuruh orang-orangnya untuk menolong Gui Tin dan Kwan Cu.
Kemudian Menteri Lu Pin lalu dibawa ke rumah gedung An Lu Shan yang berada di luar benteng.
Memang komandan An ini telah membawa keluarganya dari kota raja ke tempat itu, akan tetapi karena merasa tidak enak untuk tinggal bersama keluarga dalam benteng dia lalu membuah sebuah rumah gedung di luar benteng.
Lu Pin lalu menyuruh An Lu Shan untuk membawa Gui Tin dan muridnya ke rumah itu pula untuk dirawat.
Akan tetapi keadaan Gui Tin demikian parah sehingga dia tak pernah siuman lagi, kecuali satu kali di tengah malam dan dia meninggalkan pesan kepada Kwan Cu bahwa anak ini harus mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.
"Kwan Cu."
Bisiknya di atas pembaringan.
"Untuk mendapatkan kitab itu, jalan satu-satunya hanya membaca dan mempelajari kitab sejarah yang masih kusimpan di dalam goa di hutan sion di lereng Bukit Liang-san. Di dalam dusun di lereng bukit sebelah barat, asal kautanyakan di mana tempat tinggal Gui-lokai (pengemis tua she Gui), tentu semua orang akan dapat memberi tahu. Goa itu kosong dan aku menyimpan peti besi di bawah tanah. Bukalah dan kau carilah kitab sejarah yang tulisannya sama dengan isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Pelajari sejarah itu dan kemudian kaucarilah kibat itu. Dunia kacau balau, kekerasan dan kekuatan selalu memegang peranan penting, kalau tidak dilawan oleh kekerasan dan tenaga pula, kita tidak berdaya. Taatilah pesanku ini, Kwan Cu."
Kwan Cu mengangguk-angguk sambil mencegah keluarnya air matanya.
Ia tidak mudah terharu, akan tetapi melihat keadaan gurunya yang amat dikasihinya ini, dia merasa kasihan juga.
Gui Tin meninggal dunia dan berkat pengaruh Lu Pin, dia dimakamkan dengan pantas di dusun itu.
Adapun Kwan Cu yang bersembahyan di depan makam bekas gurunya ini, merasa sunyi sekali.
Tiba-tiba dia disuruh datang menghadap Menteri Lu Pin.
Setelah dia berhadapan dengan menteri ini, Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa wajah menteri ini benar-benar amat agung dan mendatangkan rasa sayang.
Halus gerak-geriknya, seperti Gui-siucai dan amat peramah pula."
"Anak, apakah kau murid dari Gui-twako?"
Mendengar jawaban yang lancar dan melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.
"Benar, Taijin."
"Apa saja yang kaupelajari dari gurumu itu?"
"Membaca, menulis, dan mempelajari syair-syair dan ujar-ujar kuno,"
Jawab Kwan Cu terus terang. Mendengar jawaban yang lancar dan melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Nama hamba Kwan Cu."
"Nama keluargamu?"
"Hamba she Lu"
Menteri Lu Pin tercengang.
"Siapa orang tuamu?"
"Hamba tidak tahu. Nama dan she hamba juga hamba terima sebagai pemberian orang lain kepada hamba,"
Kata Kwan Cu terus terang. Mau tidak mau Lu Pin tertawa juga.
"Ah, aneh sekali. Siapakah orangnya yang memberi she Lu kepadamu?"
"Hamba menerima she Lu itu dari pemberian seorang tua yang gagah perkasa, Ang-bin Sinkai."
"Ang-bin Sin-kai??"
Benar-benar Lu Pin terkejut.
"Eh, anak baik, masih ada hubungan apakah antara kau dan dia?"
"Tidak ada hubungan apa-apa, Taijin. Hanya Ang-bin Sin-kai ingin mengambil murid kepada hamba, akan tetapi hamba tidak mau."
Lu Pin tertawa gembira.
"Dia orang aneh, akan tetapi kau seorang bocah yang lebih aneh lagi. Dan namamu itu, Kwan Cu, pemberian siapa pula?"
"Nama hamba diberi oleh seorang hwesio gemuk bernama Kak Thong Taisu."
Kembali menteri tua itu tertegun.
"Ah, benar-benar kau bocah aneh sekali. Masih sekecil ini telah mengalami hal yang tak sembarangan anak dapat mengalaminya. Diberi she oleh Ang-bin Sin-kai, diberi nama Kak Thong Taisu, menjadi murid dari Gui-siucai, kini kau bercakap-cakap dengan aku! Ah, Lu Kwan Cu, apakah kau tidak ingat lagi siapa adanya ayah bundamu?"
Kwan Cu menggeleng kepalanya.
"Ayah hamba adalah langit dan ibu hamba adalah bumi. Saudara-saudara hamba adalah semua manusia di dunia ini."
Kwan Cu menjawab sambil meniru ujar-ujar yang pernah dibacanya.
Bukan main terharunya hati Lu Pin mendengar ini.
Ia melambaikan tangannya dan ketika Kwan Cu mendekat, menteri tua ini lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya yang gundul.
Sebagaimana diketahui, Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang putera dan seorang cucunya amat tidak berkenan dalam hatinya.
Kini melihat Kwan Cu, timbul sukanya.
"Kwan Cu, marilah kau ikut dengan aku saja ke kota raja. Kau akan kudidik dengan ilmu kesusastraan, dan sungguhpun aku tidak sepandai mendiang gurumu, akan tetapi kau akan berhasil dengan cita-citamu. Kau tinggallah bersama aku, kau kuanggap sebagai cucuku sendiri, Kwan Cu."
Terharu sekali hati Kwan Cu. Belum pernah ada orang yang sikapnya demikian halus dan ramah tamah kepadanya, apalagi seorang pembesar tinggi seperti Menteri Lu Pin ini.
"Hamba boleh menyebut kong-kong kepada Taijin?"
"Tentu saja, karena dalam pandanganku, kau adalah cucuku sendiri, Kwan Cu."
Saking girangnya Kwan Cu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan menteri tua itu dan tak tertahankan pula dua titik air mata mengalir turun ke pipinya yang kurus.
"Kong-kong...."
Katanya. Lu Pin juga merasa terharu dan dipeluknya anak itu.
"Kau harus berganti pakaian, cucuku, dan besok kau ikut aku ke kota raja."
"Tidak, Kong-kong. Tidak sekarang. Biarlah kelak aku akan mencari Kong-kong. Sekarang aku mempunyai tugas lain yang lebih penting."
"Tugas....?"
Menteri Lu Pin membelalakkan matanya.
"Kau....? Tugas apa dan dari siapa, cucuku?"
"Tugas yang dipesankan oleh mendiang Gui-lopek, dan tugas itu adalah...."
Anak ini menengok ke kanan kiri, kemudian melanjutkan dengan perlahan.
"tugas mencari kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng."
Kembali untuk ke sekian kalinya menteri tua itu tertegun. Kemudian dia menghela napas.
"Memang kau seorang anak ajaib! Benar-benar kau bocah ajaib! Baiklah, aku tahu bahwa orang-orang aneh seperti Ang-bin Sin-kai dan kau takkan mudah dibantah. Kau pergilah, akan tetapi ingat bahwa aku selalu menanti kau sebagai kong-kongmu!"
Setelah berkata demikian, Menteri Lu Pin lalu memberi bekal sekantong uang emas kepada Kwan Cu, dan memberitahukan An Lu Shan agar semua anak buahnya jangan mengganggu anak ini.
Setelah berpamit dan menghaturkan terima kasihnya, Kwan Cu bersembah yang lagi di depan makam Gui Tin, lalu pergilah anak ini, menuju ke Gua Liang-san untuk mencari simpanan kitab-kitab mendiang gurunya!
Dengan girang sekali Hek-mo-ong setelah berhasil merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, berlari cepat sambil tertawa-tawa menuju ke rumahnya di puncak Hek-mo-san.
Ia tinggal bersama dua orang adiknya dan isteri serta ipar-iparnya di dalam satu rumah besar di kampung yang cukup ramai, di mana dia dianggap sebagai seorang tuan tanah yang cukup kaya-raya.
Memang semenjak bertahun-tahun yang lalu, Hek-mo-ong tidak berkelana lagi di dunia kang-ouw, melainkan hidup aman di dalam kampung ini.
Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh dua orang adiknya, juga dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kasar yang menyambutnya bersama isteri-isterinya yang cantik.
Isteri Hek-mo-ong sendiri masih muda lagi cantik dan genit sekali.
Melihat kegembiraan Hek-mo-ong, mereka beramai-ramai mengajukan pertanyaan, akan tetapi Hek-mo-ong hanya menjawab sambil tertawa-tawa.
"Lekas membikin masakan yang enak, keluarkan arak yang wangi! Kita rayakan hari besar ini, karena tak lama lagi aku Hek-mo-ong akan menjagoi di seluruh permukaan bumi! Tunggu saja kalian, Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, Pak-lo-sian, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe-coa-li! Sebentar lagi, kalian terpaksa harus bertekuk lutut dan tunduk kepadaku, mengakui keunggulan Hek-mo-ong sebagai orang yang terpandai! Ha-ha-ha-ha-ha!"
Adik-adiknya dan ipar-iparnya, juga isterinya sudah tahu akan keanehan watak Hek-mo-ong, maka mereka tidak berani bertanya lagi sebelum orang ini menceritakannya sendiri.
Maka segera makanan dan arak disediakan dan mereka makan minum dengan gembira sekali.
Setelah makan kenyang, barulah Hek-mo-ong mengeluarkan peti hitam itu dari sakunya, meletakkannya di atas meja sambil berkata bangga.
"Lihat, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"
"Twa-pek (Uwa) mengapa kitab seperti kotak kayu?"
Memotong seorang anak kecil yang menjadi putera dari saudara termuda.
"Kau tahu apa?"
Bentak ayahnya atau adik termuda dari Hek-mo-ong.
"Peti itu hanya tempat saja, tentunya."
Karena tidak sabar lagi, mereka lalu mendesak kepada Hek-mo-ong untuk membuka peti itu.
Dua orang adik Hek-mo-ong, ketika peti itu dibuka, menjenguk dari kanan kiri.
Hek-mo-ong tertawa-tawa lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka peti itu.
"Ser! Ser! Ser!"
Berturut-turut, tujuh batang anak panah yang secara pandai dipasang An Lu Shan itu menyambar ke atas cepat sekali.
Kalau bukan Hek-mo-ong, tentu orang yang membukanya akan mati saat itu juga, terpanggang oleh anak-anak panah itu.
Akan tetapi Hek-mo-ong telah memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Begitu melihat menyambarnya cahaya hitam dari dalam peti, dia berseru keras dan kedua tangannya bergerak menangkis sehingga anak-anak panah itu terpental ke kanan kiri.
Celaka sekali, kedua adiknya yang menjenguk dari kanan kiri itu tak sempat mengelak dan tepat sekali muka mereka tertembus anak-anak panah sehingga mereka roboh tak berkutik lagi.
Muka itu menjadi bengkak dan biru, amat mengerikan.
Tentu saja isteri-isteri mereka menangis dan menjerit-jerit memeluki mayat kedua orang itu.
Hek-mo-ong sendiri untuk beberapa lama berdiri bagaikan patung, akan tetapi setelah dia mengeluarkan kitab itu dan membalik-balikkan lembarannya, timbul lagi kegembiraannya.
"Sudah, jangan menangis di sini. Mereka sudah mati, sudahlah. Sudah patut kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng didapatkan dengan pengorbanan besar. Urus jenazah mereka baik-baik, dan kalian ini tak usah menangis, mulai sekarang boleh ikut aku saja sebagai pengganti suami-suamimu."
Tak seorang pun berani membantah, akan tetapi ucapan ini saja sudah cukup dipakai ukuran orang macam apa adanya Hek-mo-ong ini!
Sambil tertawa-tawa dan tidak menghiraukan perkabungan, dia lalu minum arak dan membalik-balik lembaran kitab yang baru saja dirampasnya itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dia menjadi pucat sekali dan mukanya meringis-ringis menahan sakit.
Kedua tangannya bergerak memegangi perut, dada, dan leher karena dia merasa betapa bagian-bagian tubuh itu merasa amat panas dan sakit.
"Celaka.... keparat An Lu Shan.... aduh....!"
Ia terhuyung-huyung, menubruk meja sehingga kitab itu terlempar ke atas lantai. Isterinya dan ipar-iparnya memburu dan menubruknya. Aduh...."
Hek-mo-ong menjerit-jerit dan mulutnya mulai berbusa.
"Awas.... peti itu.... jangan disentuh.... aduh, mati aku!"
Tubuhnya kaku, matanya mendelik, mulutnya berbusa dan dia tidak bernapas lagi!
Kalau orang lain, tentu sudah sejak tadi mati karena pengaruh racun.
Tadi dia memegang-megang peti, kemudian makan.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kasar seperti Hek-mo-ong, biarpun tangannya kotor, kalau mau makan terus saja makan tanpa mencuci atau membersihkan tangannya, maka sebentar saja racun di tangannya terbawa masuk ke perut.
Akan tetapi dia memang bertubuh kuat sehingga racun itu agak lama merobohkannya.
Tentu saja isteri-isteri dari tiga orang itu beserta anak-anak dan keluarganya, menangis dan sebentar saja di situ terdengar jerit tangis ramai sekali.
Ketika dua orang adik Hek-mo-ong tadi tewas, mereka tidak berani menangis karena takut kepada Hek-mo-ong.
Setelah sekarang Hek-mo-ong sendiri mati, semua orang menangis sepuasnya!
Keluarga itu dengan dibantu oleh para tetangga dan orang sedusun yang datang berlayat, lalu mengurus tiga jenazah itu.
Peti hitam itu atas perintah isteri Hek-mo-ong lalu dibakar, adapun kitabnya lalu ditaruh di atas meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.
Tiga peti mati dijajarkan dan peti mati Hek-mo-ong di tengah-tengah.
Juga meja sembahyangnya paling besar.
Pada keesokan harinya, ketika orang-orang masih ramai bersembahyang dan hio mengebulkan asapnya bergulung-gulung, datanglah seorang tokouw di tempat itu!
Tokouw itu tangan kanannya memegang pecut berbulu sembilan helai dan tangan kirinya menggandeng tangan seorang anak perempuan yang mungil dan cantik manis.
Dia bukan lain adalah Kiu-bwe Coali dan muridnya Bun Sui Ceng!
Ketika Kiu-bwe Coa-li melihat tiga peti mati itu berjajar di halaman dan semua orang menangis dan berkabung, ia mengerutkan keningnya.
Adapun keluarga Hek-mo-ong segera menyambut tokouw ini, sebagaimana layaknya menyambut seorang pertapa wanita, yang mereka anggap datang untuk memberi hiburan kepada warga yang mati.
"Silakan duduk, Suthai,"
Kata mereka. Kiu-bwe Coa-li tidak menjawab, melainkan memandang ke arah peti-peti mati, kemudian matanya mencari-cari sesuatu dengan pandangan yang tajam sekali.
"Di mana Hek-mo-ong?"
Tanyanya tiba-tiba dengan suara keren. Ditanya demikian, isteri dari Hek-mo-ong melangkah maju dan menangis.
"Suthai yang mulia, suamiku telah meninggal dunia,"
Lalu tangisnya makin menjadi. Kiu-bwe Coa-li tertegun dan memandang tajam.
"Yang mana petinya?"
Tanyanya pula. Karena tidak menyangka buruk, isteri Hek-mo-ong menunjuk ke arah peti mati di tengah-tengah sambil berkata.
"Itulah peti mati suamiku."
Dengan langkah perlahan, Kiu-bwe Coa-li menghampiri peti itu.
Sui Ceng tidak senang melihat peti mati, maka sejak tadi ia telah melepaskan tangannya dari gandengan gurunya dan kini anak ini duduk di atas sebuah bangku, memandang ke arah meja sembahyang dengan perasaan heran dan kagum melihat hiasan-hiasan dalam upacara sembahyang itu.
Kiu-bwe-coa-li mendekati peti mati Hek-mo-ong, lalu mengulur tangan kirinya dan menepuk-nepuk peti mati itu beberapa kali dengan perlahan.
Semua orang mengira bahwa pendeta wanita itu memberi berkah kepada yang mati, maka mereka menjadi terharu dan girang.
Tak seorang pun di antara mereka pernah mengira bahwa tepukan-tepukan perlahan itu merupakan serangan-serangan pukulan lweekang yang dahsyat bukan main!
Ternyata bahwa Kiu-bwe Coa-li masih tidak percaya penuh akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati itu.
Kemudian dia melirik ke arah peti mati di kanan kiri peti mati Hek-mo-ong.
"Siapa yang berada di dalam dua peti mati itu?"
Tanyanya kepada isteri Hek-mo-ong.
"Mereka adalah kedua adik suamiku, Suthai,"
Jawab nyonya itu sambil sesunggukan.
Dan kembali ramai orang-orang menangis di tempat itu.
Pada saat itu, terdengar suara ketawa keras.
Semua orang terkejut dan menengok.
Ternyata, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan peti-peti mati itu sudah berdiri seorang hwesio gemuk berpakaian serba hitam yang berkali-kali menyebut nama Buddha.
"Omitohud!"
Kemudian, sambil mengoceh seorang diri, dia berkata lagi.
"Tidak tahunya iblis neraka telah mendahului pinceng (aku) dan merenggut nyawa Hek-mo-ong."
"Hm, Hek-i Hui-mo, alat penciumanmu lebih tajam dari seekor anjing buduk!"
Kata Kiu-bwe Coa-li dengan senyum mengejek. Hwesio itu yang bukan laih adalah Hek-i Hui-mo, tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha! Kiu-bwe Coa-li, kau benar-benar cepat. Hampir saja pinceng ketinggalan!"
Setelah berkata demikian, hwesio ini lalu melakukan upacara sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.
Akan tetapi yang dipakai sembahyang bukannya hio yang dibakar, melainkan tiga batang hio hitam yang tidak dibakar.
Orang-orang merasa heran sekali akan tetapi Kiu-bwe-coa-li maklum bahwa tiga batang hio hitam itu sebenarnya bukanlah hio, melainkan tiga batang jarum hitam yang disebut Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam)!
Mulut hwesio ini berkemak-kemik membaca doa, kemudian setelah selesai sembahyang dia menggerakkan tangannya dan lenyaplah tiga batang hio hitam itu!
Orang-orang lain tidak tahu ke mana perginya benda-benda hitam itu dan mereka mengira hwesio gemuk ini main sulap.
Akan tetapi Kiu-bwe Coali tersenyum dan tahu bahwa hwesio Tibet yang lihai ini telah menyambitkan jarum-jarum itu yang meluncur laksana kilat ke arah tiga buah peti mati dan telah menembusi peti-peti itu untuk menyerang isinya!
Jadi seperti juga dia sendiri, Hek-i Hui-mo Si Iblis Terbang Baju Hitam ini tidak percaya akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati!
"Sebelum mati, suamimu membawa sebuah peti kecil terisi kitab, di manakah peti itu ditaruhnya?
Peti itu adalah milikku, sekarang harap dikeluarkan dan dikembalikan kepadaku!"
Kata Kiu-bwe Coa-li kepada isteri Hek-mo-ong.
"Peti celaka itu!"
Seru isteri Hek-mo-ong.
"Peti hitam celaka itulah yang telah membunuh suamiku dan adik-adiknya! Kami telah membakar peti siluman itu, Suthai!"
Terdengar seruan tertahan dan tahu-tahu Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo telah bergerak dan berdiri di depan nyonya itu, sikap mereka mengancam dan beringas sekali.
"Dibakar??"
Tanya Hek-i Hui-mo dengan suara parau dan keras sehingga nyonya Hek-mo-ong terkejut sekali.
"Dan isinya, kitab itu.... apakah terbakar pula?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li, pandang matanya mengancam.
Kalau nyonya itu menganggukkan kepala, tak salah lagi ia tentu akan mati dalam sekali pukul oleh dua orang tokoh kang-ouw yang mengerikan itu.
Akan tetapi nyonya itu menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.
"Itulah dia kitab setan itu, yang tadinya berada di dalam peti hitam."
Tubuh Kiu-bwe Coa-li berkelebat ke arah meja hendak mengambil kitab itu, akan tetapi tahu-tahu di dekat kibat itu, di atas meja, terdengar bunyi nyaring dan tiga batang jarum hitam telah menancap di situ!
Kiu-bwe Coa-li cepat melompat ke belakang dan menoleh pada Hek-i Hui-mo yang berdiri tersenyum-senyum!
"Aha, Hek-i Hui-mo!
Kau hendak main-main dengan pinni?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li dengan pandang mata tajam dan cambuknya digerak-gerakkan dalam tangannya.
"Kiu-bwe Coa-li, kita datang di tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Tak boleh kau mau menang sendiri saja! Aku pun membutuhkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"
Dua orang tokoh besar itu berdiri saling pandang dengan sikap mengancam, keduanya sama jauhnya dari meja sembahyang di mana keduanya maklum bahwa bergerak lebih dulu berarti bahaya maut.
Mereka saling menanti, dan sekali lawannya bergerak, tentu akan mengirim serangan.
Adapun keluarga Hek-mo-ong, ketika sadar dan tahu bahwa dua orang ini sesungguhnya sama sekali bukanlah orang-orang suci yang datang hendak menghibur mereka, bahkan sebaliknya adalah orang-orang jahat yang datang hendak mengacau, menjadi panik dan makin bersedih.
Terdengar tangisan-tangisan dan sebentar saja keadaan di situ menjadi gaduh sekali.
Tiba-tiba terdengar suara orang mencela.
"He, kalian ini apakah sudah gila? Menangis tidak karuan padahal seharusnya bersyukur! Hayo diam semua jangan menangis, kalau tidak akan kutampar mulutnya siapa yang menangis!"
Semua orang terheran dan kaget sehingga suara tangisan benar-benar lenyap.
Memang, seperti biasa di dalam sebuah kematian, sebagian besar tangisan orang hanyalah air mata buaya belaka, yakni tangis palsu asal keluar air mata saja untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar berduka!
Yang menegur itu ternyata adalah seorang kakek berpakaian seperti pengemis yang tubuhnya kurus tinggi.
Setelah semua orang berhenti menangis, kakek ini lalu bernyanyi!
Dan suara nyanyinya yang parau itu mengucapkan kata-kata yang cukup aneh!
"Ah, Hek-mo-ong!
Kau benar-benar amat berbahagia!
Kau telah kembali ke asalmu semula, tidak seperti kami yang masih menjadi manusia!
Ah, kau benar-benar berbahagia, Hek-mo-ong"
Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo yang tadinya saling pandang dan telah bersiap-siap untuk memperebutkan kitab di atas meja sembahyang itu, berubah air muka mereka ketika melihat pengemis kurus kering ini.
"Ang-bin Sin-kai, kau juga datang? Kau tidak mau ketinggalan pula?"
Kiu-bwe Coa-li menyindir.
"Ha-ha-ha, tua bangka dari timur mana mau mengalah? Ada tulang baik dan daging gemuk, tentu datang anjing!"
Hek-i Hui-mo juga menyindir akan tetapi baik dia maupun Kiu-bwe Coa-li kini lebih waspada dan bersiap lagi mengawasi gerak-gerik Ang-bin Sin-kai, menjaga jangan sampai pengemis tua itu mendahului mereka mengambil kitab di atas meja!
"Kau benar, Setan Hitam!
Memang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak boleh terjatuh dalam tanganmu yang kotor!"
Ang-bin Sin-kai yang dimaki itu tersenyum-senyum saja. Tiba-tiba menyambar angin keras dan tubuh seorang lain yang gemuk bundar seperti tubuh Hek-i Hui-mo, seperti "menggelundung"
Datang! Ternyata dia adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Tiasu, tokoh pertama dari selatan.
"Omitohud, bakal ramai sekarang!"
Katanya sambil matanya yang bundar jelalatan ke kanan kiri.
"Pengemis bangkotan, kau juga sudah di sini?"
Katanya kepada Ang-bin Sin-kai.
Pembaca tentu masih ingat akan hwesio gemuk ini, karena pada permulaan cerita ini, dia sudah muncul bersama Ang-bin Sin-kai dan mengadu kepandaian di pinggir pantai Laut Po-hai, maka tak perlu kiranya dituturkan pula betapa hebat dan lihai kepandaian hwesio gemuk ini!
"Bagus, bagus!
Dengan munculnya gundul gendut ini, benar-benar menggembirakan!"
Kata Ang-bin Sin-kai yang segera menyambar sebuah bangku dan menduduki bangku itu, matanya terus mengincar ke arah kitab yang terletak di atas meja sembahyang.
Empat tokoh besar ini telah mengetahui kepandaian masing-masing dan tak seorang pun di antara mereka berani lancang bergerak mengambil kitab itu.
Sudah jelas bahwa mereka semua datang untuk memperebutkan kitab itu, akan tetapi karena kitab itu berada di atas meja dan mereka berempat sudah berada di situ, siapakah yang berani lancang turun tangan lebih dulu?
Oleh karena itu, Ang-bin Sin-kai memilih tempat duduk, karena dia tahu bahwa menanti sambil berdiri saja amat melelahkan.
Tidak tahunya, akalnya ini diketahui pula oleh yang lain-lain maka yang tiga orang lagi pun segera menyambar bangku dan duduk!
Empat orang itu kini duduk tak bergerak mengelilingi meja sembahyang dalam jarak yang sama jauhnya.
Masing-masing memutar otak mencari akal bagaimana dapat mengambil kitab itu!
Tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li berseru nyaring dan tahu-tahu pecutnya yang berbulu sembilan helai itu menyambar ke arah meja.
Ia hendak mengambil kitab itu dengan ujung cambuknya.
Akan tetapi, sebelum pecut itu mencapai kitab, sebatang tongkat berkepala naga menyambar dan menangkis pecut itu sehingga terpental kembali!
Ternyata Hek-i Hui-mo yang duduknya paling dekat dengan Kiu-bwe Coa-li telah menangkis dan menggagalkan niat wanita sakti itu!
"Eh, eh, nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li"
Kata hwesio dari Tibet ini sambil tertawa terkekeh.
Ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu juga memandangnya dengan senyum penuh arti.
Senyum yang menyatakan bahwa mereka berdua ini pun takkan tinggal diam saja kalau wanita tua itu turun tangan.
"Hem, berat nih...."
Pikir Kiu-bwe Coa-li, lalu ia duduk kembali sambil mengerling ke kanan kiri.
"Apakah kalian begitu pengecut tidak berani mendahului turun tangan mengambil kitab itu?"
Tanyanya.
Akan tetapi, tiga orang kakek itu tidak menjawab, hanya duduk saja sambil tersenyum-senyum.
Benar-benar keadaan mereka lucu sekali, kini hanya duduk diam saja, bagaikan empat orang kawan lawan yang baru bertemu dan mengobrol mengitari meja!
"Bagus, baiknya aku belum terlambat!"
Tiba-tiba terdengar suara halus dan datanglah seorang kakek bertubuh pendek kecil diikuti oleh dua orang anak laki-laki di tempat itu.
Semua orang menengok dan ternyata kakek ini adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, tokoh besar dari utara!
Adapun dua orang anak kecil itu adalah murid-muridnya, yakni Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng.
Dua orang anak-anak ini sudah sering kali mendengar dari suhu mereka tentang empat orang tokoh yang kini duduk mengelilingi meja sembahyang, maka mereka tidak berani mendekat, lalu menghampiri Ben Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li, karena melihat anak perempuan yang mungil dan cantik duduk di tempat agak jauh sambil menonton.
"Bagus, tua bangka dari utara sudah datang, kaulah yang boleh mulai mencoba mengambil kitab itu. Bukankah untuk itu kau datang?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li.
Akan tetapi Siangkoan Hai Si Dewa Dari Utara bukanlah seorang bodoh.
Melihat sekelebatan saja, dia tahu bahwa empat orang ini tidak berani mengambil kitab, karena kalau seorang mengambil, yang lain tentu akan mencegahnya.
Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka berempat itu berganti-ganti.
"Heh, heh, heh! Dunia ini ternyata tak lebih lebar daripada setapak tangan. Tidak kusangka bahwa aku di sini akan bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Jen-kin-jiu Kak Thong Taisu dari selatan! Hek-i Hui-mo dari barat dan Ang-bin Sin-kai dari timur! Hebat benar! Apakah seluruh dunia sudah terbakar oleh api neraka sehingga iblis-iblis dan setan-setan datang berkumpul di sini? Dan berkumpul mengelilingi meja kematian pula! Heh, heh, heh! Benar-benar orang yang berada dalam peti mati ini seorang yang beruntung dan terhormat. Kaisar sendiri kalau mati, tak mungkin dapat mengundang datang setan-setan dari selatan, barat dan timur!"
"Eh, tua bangka kecil, kau lupa menyebutkan iblis dari utara!"
Kata Ang-bin Sin-kai.
"Ha, ha, ha!"
Jeng-kin-jiu tertawa.
"Memaki orang lain memang mudah, mana bisa memaki diri sendiri?"
Disindir oleh dua orang kakek itu, Siangkoan Hai hanya tersenyum-senyum saja, lalu dia menghampiri peti mati di mana tersimpan jenazah Hek-mo-ong.
Empat orang lainnya memandang dengan penuh perhatian dan kecurigaan.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai memandang peti mati itu, lalu berkata lagi.
"Ingin aku melihat orang yang demikian mendapat kehormatan besar!"
Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak ke arah peti dan tiba-tiba sambil mengeluarkan suara keras, tutup peti itu telah dibukanya!
Semua keluarga yang mati berseru keras dan lari berserabutan ke belakang dan keluar, pergi dari tempat itu.
Mereka ketakutan setengah mati karena kedatangan lima orang yang seperti iblis-iblis berkeliaran itu.
Pemandangan yang nampak dalam peti memang mengerikan sekali.
Tadinya, karena pengaruh racun jahat yang memasuki perut Hek-mo-ong, muka orang ini telah menjadi hitam kebiruan.
Akan tetapi sekarang, kepalanya tetap pecah dan di ulu hatinya menancap jarum hitam!
Inilah akibat dari pukulan lweekang dari Kiu-bwe Coa-li yang meraba-raba peti dan serangan jarum hitam dari Hek-i Hui-mo!
"Siancai, siancai....!"
Pak-lo-sian menyebut sambil cepat-cepat menutupkan peti kembali.
"Benar-benar Hek-mo-ong telah mampus. Bahkan tiga kali mampus."
Bun Sui Ceng, murid Kiu-bwe Coa-li, dan kedua orang murid Pak-lo-sian, berdiri menonton semua itu.
Mereka bertiga sama sekali tidak takut melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Bahkan Sui Ceng dengan senyum yang membuat pipi kirinya dekik, melirik ke arah The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat, lalu berkata.
"Guru kalian itu bertubuh kecil, akan tetapi berhati besar. Orang sombong seperti dia mana bisa mendapatkan kitab?"
Mendengar ucapan ini, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas, menjawab.
"Kau bocah ingusan tahu apa? Lihat betapa suhu kami akan merampas kitab itu!"
"Huh! Sebelum dia menyentuh kitab, kepalanya akan hancur seperti kepala Hek-mo-ong oleh tangan guruku!"
Kata Sui Ceng sambil menjebikan bibirnya yang merah.
"Betulkah?"
Seru Swi Kiat penasaran.
"Atau kepalamu yang akan pecah dulu oleh tanganku?"
Sikapnya mengancam dan dia seakan-akan hendak menyerang nona cilik itu.
"Suheng, mengapa mencari perkara? Tiada salahnya dia ini membela dan memenangkan gurunya sendiri. Kita lihat sajalah buktinya nanti."
The Kun Beng mencegah suhengnya.
Mendengar ini, Sui Ceng melirik ke arah Kun Beng dan diam-diam di dalam hati Sui Ceng merasa jauh lebih suka kepada Kun Beng daripada Swi Kiat.
Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang tidak mau membuang banyak waktu untuk menanti sambil memandangi kitab yang amat diinginkan itu, tiba-tiba melompat dan sekali sambar saja dia sudah mengambil kitab itu.
Akibatnya hebat sekali.
Serentak empat orang tokoh yang lain bangun dan bergerak menyerang.
"Lepaskan kitab itu!"
Seru Kiu-bwe Coa-li yang lebih dulu menyerang dengan cambuknya.
Siangkoan Hai cepat mengelak, akan tetapi dia disambut oleh serangan bertubi-tubi dari Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan Ang-bin Sin-kai!
Serangan-serangan tiga orang ini tentu saja tak boleh dipandang ringan, karena kepandaian mereka setingkat dengan kepandaian Siangkoan Hai.
Dengan kaget Siangkoan Hai mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya melompat ke belakang secepatnya, namun masih saja sebuah pukulan dari jauh yang dilancarkan oleh Ang-bin Sin-kai mengenai pundaknya sehingga dia menjadi terhuyung-huyung!
Pada saat itu, Kiu-bwe Coa-li telah menubruk lagi dan sekali renggut, dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Merampas Bunga, kitab di tangan Siangkoan Hai itu telah terampas olehnya!
Kiu-bwe Coa-li yang sudah dapat merampas kitab hendak melompat ke arah muridnya dan hendak melarikan diri sambil membawa muridnya itu, akan tetapi sebelum ia tiba di depan Sui Ceng, di depannya telah menghadang Hek-i Hui-mo!
"Enak saja kau mau membawa pergi kitab itu?
Lepaskan!"
Kata Iblis Terbang Baju Hitam ini dan tasbihnya di tangan kiri menyambar ke arah dada Kiu-bwe Coa-li!
Serangan hebat ini dapat mendatangkan maut, karena biarpun hanya berupa tasbih, namun senjata aneh ini bukan main lihainya.
Merupakan segundukan sinar putih yang bulatan tasbih itu menghantam ke arah jalan darah di dada.
Kiu-bwe Coa-li cepat menggerakkan pecutnya menangkis.
Terdengar suara keras sekali dan berpijarlah bunga api ketika dua senjata aneh ini bertemu.
Keduanya tergetar mundur dan sebelum Kiu-bwe Coa-li tahu, ia hanya merasa kitab itu dibetot orang dan terlepas dari pegangannya!
Ketika ia menoleh, ternyata bahwa kitab itu telah berpindah ke dalam tangan Ang-bin Sin-kai!
Kakek pengemis ini tertawa-tawa sambil memegang kitab itu tinggi-tinggi, seperti sikap seorang kanak-kanak yang menggoda kawan-kawannya.
"Jembel tua, kauserahkan kitab itu kepadaku!"
Seru Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil mengulur tangan hendak merampas.
Tangan kirinya diulur hendak merampas, sedangkan tangan kanannya menonjok dada pengemis tua itu!
Pada saat yang sama Hek-i Hui-mo, Kiubwe Coa-li, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga tidak tinggal diam dan sebentar saja Ang-bin Sin-kai telah dikeroyok empat!
Ang-bin Sin-kai maklum bahwa dia tak mungkin dapat melawan empat orang lihai ini, dan biarpun dia melarikan diri, ilmu lari cepat mereka pun tidak kalah olehnya, maka dia cepat berseru.
"Tahan serangan!"
Berkata begini, dia melempar kitab ke atas meja sembahyang kembali.
Empat orang yang menyerangnya, tertegun dan tidak jadi menyerang, karena serangan mereka itu pun hanya berdasarkan ingin merampas kitab, sedangkan kini kitab sudah berada di atas meja lagi, untuk apa menyerang lawan yang sama lihainya itu?
"Hayo, siapa berani mengambil kitab itu, dialah jagoan betul!"
Ang-bin Sin-kai tertawa ha-ha-hi-hi-hi dan menduduki bangkunya yang tadi kembali.
Empat orang yang lain, merasa ragu-ragu dan akhirnya mereka pun menduduki bangku dan duduk mengelilingi meja sembahyang di mana terdapat kitab itu.
Semua orang maklum bahwa apabila dia memberanikan diri mengambil kitab, tentu akan diserang oleh empat orang lain dan hal ini tidak mungkin, karena bahayanya terlalu besar.
Akhirnya, tak seorangpun di antara mereka berani turun tangan mengambil kitab, dan kelima orang ini hanya saling pandang dan tertawa ha-ha-hi-hi-hi, tertawa masam!
Terdengar suara ketawa kanak-kanak dan yang tertawa adalah Sui Ceng dan Kun Beng.
Dua orang anak ini merasa geli karena pemandangan itu benar-benar lucu sekali!
Sebaliknya, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas itu merasa mendongkol sekali.
Benar suhunya tidak mampu mengambil kitab itu dan kini gurunya, seperti yang lain-lain, hanya duduk saja menghadapi meja sembahyang seperti patung.
Dari sikap ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sui Ceng dan Kun Beng memiliki sifat periang yang sama, adapun Swi Kiat mempunyai sifat pemarah dan keras.
"Suhu, apa sih sukarnya mengambil kitab? Ambil dan lawan mereka, masa Suhu akan kalah?"
Seru Swi Kiat kepada suhunya.
"Hush, diam kau. Tahu apa kau tentang ini?"
Bentak suhunya dan Swi Kiat makin mendongkol.
"Sayang kepandaianku belum sempurna. Kalau tidak, aku tidak takut menghadapi mereka!"
Ia mengomel. Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.
"Pak-lo-sian, muridmu yang itu benar-benar keras seperti batu. Tidak seperti muridmu yang ke dua itu, yang lunak seperti air!"
Katanya.
Keluarga dari Hek-mo-ong yang melihat betapa lima orang itu bertempur tidak karuan kemudian kini duduk lagi mengelilingi meja sembahyang, menjadi terheran-heran, takut, dan juga cemas.
Akhirnya, isteri Hek-mo-ong memberikan diri dan maju membungkuk-bungkuk.
"Mau apa kau?"
Kiu-bwe Coa-li membentak sehingga nyonya itu menjadi pucat.
"Kami bermaksud hendak mengubur jenazah tiga orang keluarga kami ini, apakah tidak boleh?"
Tanya nyonya itu dengan suara gemetar.
Di antara lima orang tokoh yang aneh dan menyeramkan itu, Ang-bin Sin-kai boleh dibilang memiliki watak yang paling lembut.
Ia menaruh kasih kepada nyonya ini, maka sambil menggerakkan tangan dia berkata.
"Uruslah jenazah itu baik-baik dan bawa pergi dari sini. Akan tetapi, jangan sekali-kali berani menyentuh meja sembahyang kalau kalian sayang kepada nyawa sendiri."
Setelah mendengar kata-kata ini, nyonya Hek-mo-ong lalu memberi tanda kepada keluarganya dan beramai-ramai akan tetapi hati-hati sekali agar jangan mengganggu lima orang aneh itu, mereka lalu mengangkat tiga buah peti mati itu untuk dikuburkan.
Akan tetapi, lima orang itu tetap saja duduk mengelilingi meja sembahyang tanpa berani turun tangan, akan tetapi juga tidak sudi mengalah dan tidak mau meninggalkan tempat itu!
Hari sudah mulai senja dan tiba-tiba Sui Ceng yang merasa kesal berkata kepada urunya.
"Suthai, perutku lapar, hidangan di meja sembahyang itu tidak diperlukan, bukan? Lebih baik berikan kepada teecu!"
Kiu-bwe Coa-li boleh jadi seorang wanita sakti yang berhati baja dan terkenal ganas, akan tetapi terhadap muridnya ini, ia menaruh hati kasih sayang yang besar.
Mendengar kata-kata muridnya ini, ia lalu bangkit dari tempat duduknya, menggerakkan pecutnya yang berbulu sembilan itu ke arah meja dan dengan luar biasa sekali dua helai bulu pecutnya melibat pinggir piring sebelah bawah dan mengangkat piring itu terus dilontarkan ke belakan dimana muridnya berdiri!
Hebat sekali demonstrasi tenaga lweekang ini, karena piring yang penuh kue mangkok itu melayang tanpa jatuh kuenya sama sekali!
Sui Ceng menyambut piring ini dengan kedua tangannya dan ternyata selama ikut dengan gurunya, anak perempuan ini sudah memiliki kepandaian yang lumayan juga karena ia dapat menyambut piring itu tanpa ada kue yang jatuh.
Bocah ini lalu mengambil sebuah mangkok dan makan kue dengan enaknya.
Pada saat ia makan kue, ia melirik ke arah Kun Beng da tiba-tiba ia menyodorkan piring kue mangkok itu kepada Kun Beng.
Anak laki-laki ini tersenyum dan mengambil sebuah kue mangkok, lalu dimakannya tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.
Sui Ceng menyodorkan piringnya kepada Swi Kiat, akan tetapi Swi Kiat membuang muka lalu berjalan ke dalam rumah untuk minta makanan dari tuan rumah yang segera melayaninya dengan ramah karena takut kepada gurunya.
Benar-benar keras hati anak ini, akan tetapi Sui Ceng tidak menghiraukannya, bahkan mencela kepada Kun Beng.
"Suhengmu itu kepala batu. Aku tidak suka kepadanya!"
Sebaliknya Kun Beng memuji nona kecil ini.
"Kau baik hati, aku suka kepadamu."
"Hm, memberi kue bukan berarti bahwa aku suka kepadamu!"
Jawab Sui Ceng merengut.
"Hanya karena aku tadi mendengar suara perutmu berkeruyuk!"
Ia menyodorkan lagi piringnya dan tanpa sungkan-sungkan Kun Beng lalu mengambil sebuah kue lagi.
Keduanya saling pandang dan tertawa.
Diam-diam kedua anak kecil ini telah mendapat kecocokan dalam pertemuan yang aneh ini.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa melihat ini.
"Eh, Ular Betina Buntut Sembilan (Kiu-bwe Coa-li).! Muridmu itu baik sekali, tidak seperti kau! Kelak kalau ada jodoh, aku akan menemuimu untuk membicarakan urusan mereka berdua itu!"
Akan tetapi Kiu-bwe Coa-li diam saja, bahkan memperlihatkan muka tidak senang.
"Kalian ini orang-orang lelaki sungguh menjemukan dan menggemaskan!"
Katanya sambil membanting kaki kirinya.
"Masa kita harus duduk diam saja menjadi patung di sini? Baik diatur begini saja. Aku menantang kalian maju melawan aku seorang demi seorang, jangan main keroyokan! Kalau ada yang dapat mengalahkan cambukku ini, biarlah aku mengalah dan tidak mengharapkan kitab itu lagi.Hayo, siapa berani maju lebih dulu?"
Sambil berkata demikian, wanita sakti ini lalu bangkit berdiri dan mengayun-ayun cambuknya dengan sikap menantang sekali.
"Akan kuhancurkan kepala kalian empat ornag laki-laki tolol."
Melihat sikap gurunya, Sui Ceng merasa girang dan bangga sekali. Ia menoleh kepada Kun Beng dan Swi Kiat lalu berkata.
"Lihat, guruku lebih gagah perkasa. Mana orang seperti gurumu dapat melawan dan mengalahkannya?"
Karena kata-kata ini diucapkan dengan keras-keras, maka terdengar pula oleh Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang menjadi panas perutnya juga.
Ia melompat bangun dari bangkunya menghadapi Kiu-bwe Coa-li.
Memang watak dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini sombong dan dalam hal ilmu silat, maka dia tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga.
"Kiu-bwe Coa-li, siapa sih yang takut menghadapi cambukmu sembilan ekor itu? Mari kita main-main sebentar!"
Sambil berkata demikian, orang pendek kecil ini lalu mengeluarkan sepasang kipas.
Inilah senjata yang lihai sekali dari Siangkoan Hai, yakni sepasang kipas berwarna hitam dan putih.
Ia memiliki ilmu silat kipas yang disebut Im-yang San-hwat, yang permainannya membutuhkan tenaga lweekang dan gwakang yang dimainkan berbareng.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempunyai dua macam ilmu silat yang tinggi dan lihai, yakni ilmu kipas ini dan ilmu tombak.
Selain dua macam ilmu silat dengan senjata yang amat lihai ini, juga dia memiliki ilmu silat tangan kosong yang jarang ada bandingannya di dunia ini.
Sekarang, karena dia menghadapi Kiu-bwe Coa-li yang memegang sebuah cambuk, yakni senjata yang lemas, ia merasa rugi kalau harus menghadapinya dengan tombak, maka dia memilih sepasang kipasnya untuk menghadapinya.
Dua orang sakti itu telah saling berhadapan dan agaknya tidak lama lagi mereka akan bergebrak ramai.
"Nanti dulu!"
Kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil melompat maju dan tubuhnya yang bulat itu seakan-akan menggelundung maju dan tahu-tahu telah berada di tengah, di antara kedua jago tua yang hendak bertanding.
"Harus diadakan perjanjian lebih dulu yang adil!"
"Apa maksudmu, keledai gundul?"
Kiu-bwe Coa-li memandang tajam.
"Kalau dalam pertandingan ini ada yang kalah dan sampai mampus, itu lebih baik lagi. Akan tetapi kalau tidak sampai mati dan dia sudah dirobohkan, dia harus pergi dan tidak berhak lagi menginginkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Yang menanglah yang akan menghadapi lawan ke dua!"
Ang-bin Sin-kai maklum dalam pertandingan antara orang-orang lihai ini, sukar dibilang bahwa yang kalah masih dapat hidup, maka dia lalu melompat maju juga dan sambil tertawa-tawa dia mengacung-acungkan tangannya seperti yang hendak mengusulkan sesuatu dalam rapat!
"Nanti dulu, aku pun mau mengajukan saran yang adil!
Kata-kata si gundul gendut ini ada betulnya, akan tetapi masih kurang adil."
"Cecak kering, bagaimana kau bilang masih kurang adil?"
Tanya Jeng-kin-jiu sambil tertawa lebar.
"Kalau dibiarkan dua orang berhantam, biarpun ada yang menang, tentu si pemenang itu sudah empas-empis napasnya dan sudah habis tenaganya, maka bagaimana dia harus menghadapi lawan ke dua? Ini tidak adil, karena tentu dia akan kalah oleh tenaga baru! Lebih baik kalau dalam tiap pertandingan dibatasi, yakni dengan pembakaran hio pendek yang kering. Begitu pertempuran dimulai, hio dinyalakan dan setelah hio terbakar habis, pertempuran harus dihentikan."
"Hm, hio terbakar habis setelah ilmu silat dimainkan tiga puluh jurus kurang lebih. Bagaimana kalau tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang?"
Tanya Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Ang-bin Sin-kai garuk-garuk kepalanya.
"Kalau tidak ada yang kalah, dapat diulang kembali untuk kedua kalinya."
Semua orang menyatakan setuju, maka Ang-bin Sin-kaicepat menyalakan hio dan ditancapkan di tempat hio yang berada diatas meja sembahyang.
"Mulai!"
Kata Ang-bin Sin-kai sambil mengangkat tangan ke atas seperti seorang wasit pertandingan! "Lihat senjata!"
Kiu-bwe Coa-li berseru dan menggerakkan pecut menyerang lawannya.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai menangkis dengan kipas di tangan kiri yang berwarna putih.
Inilah kipas yang dipergunakan dengan tenaga lweekang dan yang cepat sekali dipergunakan untuk menangkis.
Seperti diketahui, ujung pecut adalah benda lemas, maka biarpun digerakkan oleh pemegangnya dengan pengerahan tenaga dalam, ketika tertangkis oleh kipas yang mengebut, lalu bertolak kembali.
Akan tetapi, Siangkoan Hai tidak berani berlaku lambat, dan cepat dia membalas serangan lawan dengan kipas kanan yang berwarna hitam dengan mengerahkan tenaga gwakang.
Wanita sakti itu cepat mengelak dan ketika ia mengayun cambuknya, kembali sembilan helai bulu cambuk bergerak-gerak bagaikan sembilan ekor ular yang hidup dan mengancam nyawa lawan!
"Satu jurus!"
Seru Ang-bin Sin-kai menghitung, seakan-akan anak kecil yang bergembira melihat dua orang kawan berhantam!
Serangan Kiu-bwe Coa-li benar-benar lihai.
Cambuknya itu biarpun hanya bergagang satu, akan tetapi karena ujungnya mempunyai sembilan helai bulu panjang yang bergerak masing-masig dari segala jurusan, maka merupakan sembilan senjata yang amat lihai.
Namun Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga bukan orang sembarangan.
Sepasang kipasnya dapat di gerakkan sehingga menimbulkan angin berputar dari mana pun juga bulu-bulu cambuk itu menyerang, selalu dia dapat mengebut senjata lawan sehingga dia terhindar dari bahaya maut.
Adapun kipas hitamnya juga berkali-kali menyerang yang semuanya dapat pula dihindarkan oleh Kiu-bwe Coa-li.
"Guruku pasti menang!"
Kata Sui Ceng sambil mulutnya bergerak-gerak makan kue mangkok. Dalam ketegangannya, tak terasa pula makin cepat ia makan kue itu sehingga mulutnya yang kecil itu bergerak-gerak lucu.
"Tak mungkin! Guruku yang akan bikin mampus gurumu!"
Kata Swi Kiat. Sui Ceng mendelikkan matanya.
"Siapa bilang? Kalau gurumu sampai terkena cambukan guruku, nyawanya tentu melayang ke akhirat!"
"Ssttt......! Jangan ribut-ribut!"
Kun Beng mencela kedua orang anak itu.
"Kita lihat saja siapa yang yang akan menang."
Pertempuran itu benar-benar hebat sekali.
Bahkan Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Ang-bin Sin-kai, mau tidak mau harus memuji kelihaian dua orang itu.
Ang-bin Sin-kai yang merasa gembira sampai seperti anak kecil dan menghitung terus.
"Dua puluh delapan jurus! Dua puluh sembilan......! Ah cukup! Hio-nya sudah padam lagi. Tahan!"
Mendengar ini Kiu-bwe Coa-li dan Siangkoan Hai melompat mundur dan menahan senjata masing-masing.
Nampak bayangan kecewa di muka Kiu-bwe Coa-li dan Siangkoan Hai juga merasa penasaran sekali karena tak dapat mengalahkan lawannya.
"Kau hebar Ular Betina! Benar-benar aku kagum sekali!"
Katanya.
"Dalam babak ke dua kau pasti akan kurobohkan, Pak-lo-sian,"
Kata Kiu-bwe Coa-li dengan muka merah.
"Sekarang siapakah yang akan melawan aku?"
Tantangnya.
"He, jangan begitu bernafsu dan murka, Kiu-bwe Coa-li!"
Ang-bin Sin-kai mencela.
"Sekarang giliran orang-orang lain, jangan main borong semua."
Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sudah melompat dan saling berhadapan sehingga Kiu-bwe Coa-li terpaksa mengundurkan diri, duduk di tempatnya yang tadi.
"Eh, eh, aku dulu!"
Kata Ang-bin Sin-kai kebingungan setelah melihat dua orang yang sama gundul, sama bundar bulat itu saling berhadapan.
"Siapa nanti lawanku?"
"Cecak kurus, kau minggirlah dan nyalakan lain hio!"
Kak Thong Taisu berkata.
"Hek-i Hui-mo Si Setan Hitam patut menjadi lawanku!"
Ketika Ang-bin Sin-kai menyalakan lain hio, terdengar suara gelak terbahak yang merdu dan nyaring.
Ternyata Sui Ceng dan Kun Beng tertawa bergelak sambil menudingkan jari tangan ke arah jeng-kin-kiu dan Hek-i Hui-mo.
Memang lucu sekali dua orang ini.
Keduanya gendut sekali dan kelihatannya seperti dua ekor babi kebiri yang gemuk sedang berhadapan.
Wajah Hek-i Hui-mo kelihatan serem dan galak, sedangkan Kak Thong Taisu memang selalu kelihatan tertawa-tawa.
Mereka ini tiada ubahnya seperti dua orang pelawak yang beraksi.
Akan tetapi, ketika keduanya sudah bergerak saling serang, hebatnya luar biasa.
Meja sembahyang yang terkena sambaran pukulan mereka sampai tergerak-gerak, lantai sampai tergetar dan beberapa macam barang yang terlalu tinggi dan berada di atas meja, roboh terguling!
Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mainkan sebuah toya besar yang berat.
Memang hwesio tokoh selatan ini adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga seperti gajah, maka toya yag berat itu di tangannya hanya merupakan ranting yang ringan saja dan ketika diputarnya, merupakan segulungan sinar yang mendatangkan angin ribut!
Sebaliknya, Hek-i Hui-mo juga bertenaga besar dan Tongkat Kepala Naga (Liong-thouw-tung) di tangan kanannya, ditambah lagi dengan tasbih di tangan kiri, merupakan sepasang senjata aneh yang dapat mengimbangi ancaman toya Jeng-kin-jiu.
Berkali-kali terdengar suara "tang-tung-tang-tung"
Dibarengi bunga api berpencaran kesana ke mari kalau senjata-senjata itu bertemu dengan kerasnya.
Menghadapi pertandingan yang dilakukan dengan tenaga kasar dan nampak dahsyat sekali ini, Sui Ceng, Kun Beng, dan Swi Kiat sampai berdiri melongo saking tertarik dan juga merasa ngeri.
Mereka yang terdidik ilmu semenjak kecil dapat membayangkan kehebatan sambaran-sambaran senjata itu yang akan dapat meremukkan batu karang, apalagi kepala manusia yang gundul-gundul seperti Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo itu!
Tentu akan pecah berantakan.
"Cukup! Hio sudah padam!"
Tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru.
Pertandingan kali ini lebih cepat habisnya.
Hal ini oleh karena sambaran senjata mereka yang digerakkan tenaga luar biasa itu mendatangkan angin dan membuat nyala api hio makin membesar dan cepat menghabiskan hio itu.
Kedua orang hwesio itu "menggelundung"
Mundur dan saling menjura.
"Omitohud! Jeng-kin-jiu benar-benar bertenaga besar. Pinceng merasa kewalahan menghadapimu,"
Kata Hek-i Hui-mo.
"Omitohud! Kalau dibandingkan, tasbihmu itu benar-benar lebih lihai sepuluh kali lipat daripada tongkatku."
Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu memuji. Ang-bin Sin-kai setelah duduk kembali, nampak termenung dan diam saja, agaknya sedang memutar otaknya.
"Eh, pengemis bangkotan. Hayo maju melawan aku!"
Kata Siangkoan Hai dengan gembira.
Memang kelima orang ini adalah jago-jago tua yang berkepandaian tinggi.
Dan di dalam dunia ini tidak ada kesukaan yang melebihi kesukaan mereka bertempur dan mengadu ilmu.
Akan tetapi Ang-bin Sin-kai diam saja dan keningnya nampak berkerut tanda dia sedang berpikir keras.
Akhirnya dia mengangkat muka dan berkata dengan suara bersungguh-sungguh.
"Kita semua telah melakukan kebodohan besar! Benar-benar kita telah tolol sekali, berebut mangkok butut yang kosong. Apa artinya kitab itu? Ambillah siapa saja yang suka mengambil. Aku tidak butuh lagi."
Semua orang memandang heran.
"Eh, apa maksudmu, Ang-bin Sin-kai? Apakah kau takut menghadapi pertempuran?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li. Ang-bin Sin-kai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pertempuran adalah baik sekali untuk menambah semangat dalam kepala kita yang sudah tua. Akan tetapi untuk apa? Apa artinya kitab itu tanpa penterjemah? Di dunia ini hanya Gui Tin siucai seorang yang dapat menterjemahkan. Sekarang dia sudah mati, untuk apa kita berebut kitab itu? Kitab sekarang tiada gunanya lagi!"
Mendengar ucapan ini, bengonglah semua orang itu. Baru terbuka pikiran mereka dan mereka saling pandang dengan tertegun. Sambil tertawa bergelak Ang-bin Sin-kai menghampiri meja dan berkata.
"Nah, inilah. Kalian lihat sendiri, siapa diantara kita yang dapat membaca kitab kuno ini? Kalian tahu, aku seorang ahli sastra pula, dan aku tahu bahwa kitab ini usianya masih lebih tua dari pada usia nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu!"
Ia mengambil kitab itu dan yang lain-lain tidak bergerak untuk mencegah lagi.
Sambil membuka kitab itu Ang-bin Sin-kai memperlihatkannya kepada semua orang, dan benar saja.
Tulisan di dalam kitab itu tidak karuan macamnya dan tidak dapat dibaca sama sekali.
Hanya di halaman depan ditulis dengan huruf besar dan jelas "IM-YANG BU-TEK CIN-KENG", akan tetapi selanjutnya tak dapat sehuruf pun yang dapat mereka baca.
"Ha, ha, ha!"
Ang-bin Sin-kai tertawa lagi sambil menuding ke arah huruf pertama.
"Siapa di antara kita yang dapat membaca huruf pertama ini?"
Semua orang memandang.
"Huruf BENG!"
Kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
"Bukan gundul! Huruf BENG di depannya pakai huruf JIT, akan tetapi ini pakai huruf GO!"
Ang-bin Sin-kai membantah.
"Huruf macam ini tidak terdapat dalam kata-kata kita. Siapa yang akan dapat menterjemahkan kecuali mendiang Gui-suicai?"
Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melemparkan kitab itu ke atas meja, karena setelah membuka-buka lagi, mereka hanya melihat tulisan-tulisan yang bentuknya seperti gambar yang tidak karuan, ada gambar udang, gambar kepiting, gambar muka orang dan lain-lain yang tak dapat diartikan sama sekali.
"Aku tahu! Anak kecil itu......"
Kata Kiu-bwe Coa-li. Lalu ia menengok kepada muridnya dan berkata.
"Sui Ceng, siapa namanya anak laki-laki Gui-suicai itu?"
"Namanya Lu Kwan Cu!"
Kata Sui Ceng Muka Ang-bin Sin-kai merubah.
"Anak kecil itu mana mengerti?"
"Belum tentu!"
Kata Hek-i Hui-mo. Kita harus tangkap dia dan tanya dia, siapa tahu dia sudah mempelajari dari gurunya!"
Kembali mereka bersitegang dan kini timbul harapan, maka mereka saling pandang dengan penuh kecurigaan dan tak seorang pun berani mencoba untuk mengambil kitab itu lagi! Ang-bin Sin-kai mengangguk.
"Baik! Sekarang diatur begini saja. Disini ada tiga orang anak murid Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Biar mereka membawa meja ini dan kita berjalan di belakang, lalu kita mencari Lu Kwan Cu. Kalau dia bisa menterjemahkan, kita lanjutkan pertandingan ini."
Demikianlah The Kun Beng, Gouw Swi Kiat, dan Bun Sui Ceng lalu mengangkat meja sembahyang itu bertiga, diangkat tinggi-tinggi.
Semua barang di atas meja itu telah di lemparkan, kecuali kitab itu yang berada di tengah-tengah.
Lalu berangkatlah mereka.
Benar-benar lucu sekali rombongan ini.
Yang di depan tiga orang anak kecil.
Kun Beng dan Swi Kiat memegang kaki meja berjalan di depan.
Sui Ceng kaki meja di belakang.
Dan di belakang "meja berjalan"
Ini berjalanlah lima orang tua yang aneh! "He, mengapa menjadi berat meja ini?"
Swi Kiat berkata dan ketika menoleh, dia membentak.
"Bocah setan, jangan main-main!"
Kun Beng yang juga menengok, terdengar tertawa.
Ternyata bahwa Sui Ceng yang nakal itu, kini tidak lagi ikut memanggul meja, melainkan ia bergantung pada kaki meja yang dipegangnya itu!
Oleh karena tubuhnya paling pendek, maka ia dapat begantung sehingga boleh dibilang ia dipikul oleh Kun Beng dan Swi Kiat.
Setelah Swi Kiat membentaknya, barulah Sui Ceng menurunkan kakinya dan ikut memanggul lagi.
Benar-benar seperti tiga orang anak kecil memanggul patung toapekong dari kelenteng yang diarak!
Kita ikuti perjalanan Lu Kwan Cu, anak gundul yang hidupnya selalu dirundung malang.
Biarpun dia telah memiliki kekuatan batin yang timbul dari pembawaannya yang aneh, dan diperkuat pula oleh latihan-latihan samadhi semenjak dilatih oleh Loan Eng dan kemudian dilanjutkan menurut petunjuk dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang di terjemahkan oleh suhunya, yakni Gui Tin, namun menghadapi keadaan hidupnya, dia merasa bersedih juga.
Ia merasa amat kesunyian.
Tadinya, ketika dia bertemu dengan Pek-cilan Thio Loan Eng, dia telah merasakan kebahagiaan, dan merasa suka sekali ikut pendekar wanita itu.
Kemudian setelah dia berpisah dari Loan Eng dan bertemu dengan Gui Tin si sastrawan, dia merasakan kebahagiaan lagi karena dia merasa ada orang yang harus dijaganya, yang dapat dikasihinya dan juga mencintainya.
Maka dapat dibayangkan betapa sakit hatinya ketika dia menyaksikan kematian Gui Tin.
Ketika dia melakukan perjalanan seorang diri, pada suatu senja dia tiba di sebuah kaki gunung dan di luar sebuah dusun dia melihat sebuah rumah pondok yang reot dan kosong.
Ia merasa girang dan memasuki rumah ini.
Perutnya terasa lapar sekali dan kantong uang yang dia dapat dari kakek angkatnya, yakni Menteri Lu Pin, dia taruh di atas lantai dalam rumah itu.
Malam itu bulan purnama dan cahayanya terang sekali!
Namun bagi Kwan Cu, bulan yang bundar itu bahkan menimbulkan rasa sunyi yang hampir tak tertahankan.
Kalau saja dia tidak memiliki hati yang luar biasa kuatnya, tentu dia telah menangis tersedu-sedu.
Akan tetapi Kwan Cu tidak mau menangis, dia keluar dari rumah pondok reot itu duduk di luar rumah di atas sebuah batu.
Ketika dia memandang ke arah bulan yang bundar dan putih kekuningan, dia melihat bulan itu seakan-akan berubah menjadi wajah Loan Eng yang peramah dan sebentar lagi berubah lagi menjadi wajah Gui Tin yang sayang kepadanya.
Ia membuang muka dan tidak berani memandang lagi.
Di belakangnya terdapat sebatang pohon yang sudah rontok semua daunnya, tinggal cabang-cabangnya saja, membuat keadaan menjadi makin sunyi.
Lu Kwan Cu duduk dan tangan kirinya menunjang dagunya.
Ia duduk termenung, tak bergerak seakan-akan telah menjadi patung batu.
Kepalanya yang gundul kelimis itu tertimpa cahaya bulan sehingga mengkilap dan wajahnya yang tampan itu nampak sunyi dan sedih.
"Betul kata suhu Gui Tin,"
Pikirnya.
"ilmu silat tak dapat dibilang buruk dan jahat. Tergantung dari orang yang mempergunakannya. Thio-toanio bukanlah seorang yang jahat dan ilmu silatnya dia pergunakan untuk menolong orang. Kalau aku mengerti ilmu silat, tentu tak akan sampai begini keadaanku. Suhu Gui Tin takkan sampai tersiksa sehingga meninggal dunia. Ia pesan supaya aku dapat menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli dan mempelajari isinya. Akan tetapi dimana aku harus mencarinya? Aku harus menemukan petinya lebih dulu agar aku dapat mencari pula kitab itu di dalam buku peta dan sejarah."
Selagi dia duduk termenung, tiba-tiba dia melihat bayangan banyak orang mendatangi dari depan.
"Itu dia......!"
Ia mendengar suara seorang anak perempuan.
"Hei......Kwan Cu.....!"
Kwan Cu mengenal suara ini. Ia berdiri dan menanti datangnya rombongan itu.
"Adik Ceng....!"
Teriaknya girang.
Di dalam kesunyian seperti itu, melihat orang yang di kenalnya, tentu saja mendatangkan rasa girang.
Akan tetapi, dia segera menjadi terheran-heran karena melihat betapa Sui Ceng sedang memanggul sebuah meja bersama dua orang anak laki-laki yang segera dikenalnya pula sebagai dua orang anak laki-laki yang dahulu pernah mempermainkannya, yakni murid-murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Lebih-lebih herannya ketika dia melihat di antara rombongan itu terdapat pula Ang-bin Sinkai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dua orang kakek yang telah dikenalnya baik-baik.
"Anak baik! Kau sudah berada di tempat ini?"
Tanya Ang-bin Sin-kai dengan suara girang.
"He, Kwan Cu! Kau masih ingat kepada pinceng, bukan?"
Kata Jeng-kin jiu kak Thong Taisu dengan suara gembira pula.
Kiu-bwe Coa-li, Hek-i Hui-mo, dan Pak-lo-sian juga mendekati Kwan Cu sehingga anak ini terkurung di tengah-tengah.
Juga tiga orang tokoh ini mengeluarkan suara memuji dan manis.
Kwan Cu adalah seorang anak yang mempunyai otak cerdik sekali.
Melihat orang-orang itu bersikap manis, dia melirik ke arah meja yang kini telah diturunkan oleh tiga orang anak-anak itu dan melihat kitab di atas meja, tahulah dia bahwa tentu mereka ini membutuhkan pertolongannya untuk membaca buku itu!
"Cu-wi sekalian datang mengejar teecu apakah ingin bertanya sesuatu tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu?"
Tanyanya sambil menuding ke arah kitab di atas meja.
"Benar-benar! Kau benar-benar seorang anak yang cerdas!"
Kata lima orang itu hampir berbareng.
"Kau tentu dapat membacanya, bukan?"
Tanya Ang-bin Sin-kai.
"Kwan Cu, kau telah menjadi murid Gui Tin, tentu gurumu itu telah mengajarkan membaca huruf-huruf aneh dalam kitab itu, bukan?"
Kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu penuh gairah.
"Bagaimana isinya? Tentang ilmu silatkah?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li.
"Lekas kaubaca agar kami mendengarnya, anak baik!"
Kata Pak-lo-sian.
Hanya Hek-i Hui-mo seorang yang tidak bicara apa-apa, akan tetapi seluruh perhatiannya dicurahkan ke arah Kwan Cu dan kitab itu.
Berbeda dengan empat orang lainnya, tokoh barat dari Tibet ini tidak khawatir takkan mendapatkan membaca kitab itu tanpa bantuan Gui Tin.
Di Tibet terdapat sekumpulan buku-buku kamus di dalam gudang kesusastraan lama dan kalau perlu, dia dapat mencuri kamus atau buku-buku tentang bahasa yang di pergunakan dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu.
"Tidak ada gunanya bagi Ngo-wi (Tuan Berlima) untuk bersusah payah membaca kitab itu. Tidak tahukah Ngo-wi bahwa kitab itu adalah kitab palsu?"
Kata Kwan Cu sambil menggelengkan kepala dan memandang kepada lima orang itu dengan sinar mata menyatakan kasihan!
Terengar seruan-seruan keras dan lima orang itu melompat mengelilingi Kwan Cu lebih dekat dengan sinar mata mengancam.
"Apa katamu?"
"Jangan bohong bocah!"
"Kuhancurkan kepalamu yang gundul kalau kau menipu kami!"
Kwan Cu menggeleng-geleng kepalanya yang gundul, yang tak mau tumbuh rambut lagi semenjak dia dijejali buah coako oleh Tauw-cai-houw dahulu itu.
Biarpun menghadapi ancaman, dia tetap tenang-tenang saja.
"Apa gunanya aku membohong? Teecu mendengar dari suhu Gui Tin bahwa kitab ini betul-betul palsu, bukan Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aselinya."
Di antara lima tokoh besar itu, Ang-bin Sin-kai paling sayang kepada Kwan Cu. Pengemis Sakti Muka Merah ini mendekati Kwan Cu dan dengan suara halus dia berkata.
"Lu Kwan Cu, jangan kau bicara sembarangan. Kau tidak tahu betapa besar arti ucapanmu tadi untuk kami. Dengar, kau menghadapi lima orang ahli silat terbesar di seluruh penjuru pada saat ini, maka jangan main-main. Sekali saja seorang di antara kami timbul hati marah, nyawamu takkan dapat dipertahankan lagi. Kau bilang kitab ini palsu? Kwan Cu, buktikan. Beri alasannya yang masuk akal!"
Kwan Cu memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan sinar mata tajam.
Heran sekali hatinya, setelah pengemis tua ini bicara halus, dia melihat persamaan yang amat mengherankan antara pengemis ini dengan Menteri Lu Pin kakek angkatnya!
"Locianpwe, selain suhu Gui Tin pernah menceritakan kepada teecu, juga teecu sudah mempelajari sedikit ilmu sejarah."
Kemudian dengan sepasang matanya yang lebar dan jeli, anak ini memandang kepada lima orang tokoh besar itu seorang demi seorang, lalu katanya.
"Tentu Ngo-wi pernah mempelajari sejarah pula, bukan? Tahukah Ngo-wi, kitab ini ditulis jaman apa?"
Lima orang tua itu saling pandang.
"Aku tahu,"
Kata Ang-bin Sin-kai cepat-cepat.
"ditulis dalam jaman Kerajaan Shia, bukan begitu?"
"Pinceng pun tahu, betul-betul ditulis dalam jaman Kerajaan Shia, ribuan tahun yang lalu,"
Kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
"Tak salah lagi, pinceng juga tahu sedikit tentang sejarah,"
Menyambung Hek-i Hui-mo yang semenjak tadi berdiam diri saja.
"Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng memang ditulis jaman Kerajaan Shia."
Berseri wajah Kwan Cu.
"Eh, ternyata Ngo-wi adalah orang-orang terpelajar!"
Serunya.
"Sayangnya kurang lengkap pengetahuan Ngo-wi. Kalau Ngo-wi tahu bahwa kitab ini di tulis di dalam jaman Shia, tentu Ngo-wi akan tahu pula bahwa kitab ini palsu!"
"Mengapa demikian?"
Suara Kiu-bwe Coa-li mengguntur.
"Karena pada jaman Shia belum ada kertas! Menurut guruku Gui Tin, kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng ditulis di atas sutera. Oleh karena itulah maka teecu berani katakan bahwa kitab ini palsu!"
Lima orang tua itu saling pandang dan menarik sekali untuk melihat keadaan air muka mereka yang tiba-tiba menjadi amat kecewa. Tiba-tiba terdengar bunyi suara "tar! tar!!"
Dan pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li bergerak melayang-layang, lalu sehelai bulu pecut itu menyambar ke arah leher Kwan Cu dan membelitnya!
"Hayo katakan, pelajaran apa saja yang tertulis di dalam kitab yang dianggap palsu ini!
Katakan terus terang kalau tidak pecutku akan memanggang lehermu!"
Kwan Cu merasa bahwa bulu pecut itu melilit lehernya bagaikan ular hidup terasa dingin mencekik.
Ia cepat mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya sesuai dengan pelajaran yang dia latih dari kitab itu, dan lenyaplah rasa dingin, juga kini tidak terasa amat mencekik lagi.
"Aku tidak tahu."
Kata Kwan Cu.
"Bohong!"
Bentak Kiu-bwe Coa-li dan ia menggetarkan tangannya yang memegang cambuk sehingga lilitan makin erat, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa telapak tangannya agak kesemutan, tanda bahwa dari leher anak gundul itu keluar getaran tenaga perlawanan yang aneh!
Kekagetannya ini belum lenyap ketika tiba-tiba dia merasa bulu pecutnya mengendur dan ternyata Ang-bin Sin-kai dengan perlahan memegang bulu pecut yang melilit leher anak itu sambil berkata.
"Kiu-bwe Coa-li, kita semua memerlukan anak ini, jangan dia diganggu!"
Sambil berkata demikian, dengan pengerahan tenaga lweekang, dia memencet bulu pecut itu dan memunahkan serangan Kiu-bwe Coa-li pada Kwan Cu dan otomatis lilitan itu terlepas lagi.
Kiu-bwe Coa-li mendelikkan matanya kepada Ang-bin Sin-kai, akan tetapi dia melihat betapa tiga orang tua yang lain sudah mendekatinya dengan sikap mengancam pula seperti ketika ia hendak mengambil kitab itu dulu.
Ternyata bahwa kini anak gundul inilah yang diperebutkan!
"Di mana kitab aselinya,"
Kiu-bwe Coa-li membentak sambil memandang kepada Kwan Cu.
"Awas jangan membohong."
"Siapa perlu membohong. Kalian ini orang-orang tua benar-benar aneh sekali. Kitab lapuk itu untuk apakah?"
Kata Kwan Cu jengkel.
"Guruku Gui Tin pernah menyatakan bahwa memang ada kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng akan tetapi tidak menerangkan di mana, hanya samar dikatakan bahwa kitab itu berada di dalam sebuah pulau kosong yang amat berbahaya di luar timur Tiongkok. Nah, aku bicara terus terang, biar kalian akan membunuhku pun, aku tak dapat bicara lain dan habis perkara!"
Memang hebat sekali kalau dilihat.
Lima orang tua itu sudah aneh sekali wataknya, namun melihat ketabahan dan keberanian Kwan Cu menghadapi mereka, benar-benar luar biasa sekali.
Melihat sikap Kwan Cu, Sui Ceng menjadi kagum sekali dan anak perempuan ini mendekatinya.
"Kau hebat, Kwan Cu....."
Katanya. Kwan Cu hanya memandang dan tersenyum sedih kepadanya.
"Apanya yang hebat, adik Ceng? Aku hanya menimbulkan keributan belaka...."
Pada saat itu, bulan yang tadinya bercahaya gemilang, tiba-tiba tertutup oleh datangnya awan hitam yang terbawa angin.
Keadaan menjadi gelap gulita dan tiba-tiba menyambar bayangan Hek-i Hui-mo ke arah meja.
Disambarnya kitab itu dari atas meja lalu melompat pergi!
"Bangsat tua bangka curang!"
Teriak Kiu-bwe Coa-li dan pecutnya menyambar.
Hebat sekali serangan ini karena bulu pecut itu memang panjang kalau diulur terus ada sepuluh kaki.
Sembilan helai bulu pecut meluncur ke arah bayangan Hek-i Hui-mo dengan kecepatan luar biasa.
Namun, Hek-i Hui-mo bukanlah seorang yang lemah.
Ia masih tetap berlari pergi, namun dia telah menggerakkan tasbihnya di belakang tubuh, diputar sedemikian rupa sehingga tasbih ini merupakan segulungan sinar bundar yang menjadi perisai.
"Trang! Traaang!!"
Terdengar suara nyaring dan rantaslah tasbih itu dihantam pecut Kiu-bwe Coa-li, sehingga untaiannya terputus dan biji-biji tasbihnya berserakan ke sana ke mari.
Hal ini dapat terjadi karena dalam larinya Hek-i Hui-mo tidak dapat mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, sebaliknya Kiu-bwe Coa-li dalam marahnya melakukan serangan sepenuh tenaga.
Hek-i Hui-mo tidak mempedulikan kehilangan senjata tasbih dan terus berlari.
Tiba-tiba menyambar angin besar dan tahu-tahu sebuah batu sebesar kerbau menimpanya dari atas.
Cepat Hek-i Hui-mo mengerahkan ginkangnya dan melompat jauh ke kiri.
Terdengar suara keras dan ketika batu besar itu jatuh menimpa, dua batang pohon menjadi tumbang.
Ternyata bahwa batu besar itu tadi dilemparkan oleh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu untuk menghalangi larinya Hek-i Hui-mo.
Tentu saja Setan Terbang Baju Hitam ini mengeluarkan keringat dingin, karena biarpun dia lihai, kalau sampai tertimpa batu besar tadi, tubuhnya akan menjadi gepeng!
Baru saja dia berlari beberapa langkah lagi, belasan sinar putih menuju kepadanya sambil mengeluarkan suara mengaung-ngaung seperi belasan ekor tawon.
Inilah senjata rahasia Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang berbahaya.
Hek-i Hui-mo cepat mengelak dan berloncatan namun tetap saja sebatang paku menancap pada pundaknya.
Ia mengeluh dan menggigit bibirnya, lalu mempercepat larinya.
Ia di juluki orang Hui-mo atau Iblis Terbang, maka tentu saja ilmu lari cepatnya luar biasa sekali.
Apalagi pada saat itu, bulan tertutup awan hitam sehingga keadaan menjadi gelap sekali dan sebentar saja dia telah lenyap dari pandang mata.
Empat orang tokoh besar tidak mengejar, karena untuk apa memperebutkan kitab palsu?
Apalagi Ang-bin Sin-kai, kakek ini tertawa bergelak dan berkata.
"Biarlah dia mempelajari kitab itu sampai ubanan, dengan ilmu yang tidak aseli, aku takut apakah? Hayo Kwan Cu, kau turut aku!"
Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menarik tangan anak gundul itu.
"Ang-bin Sin-kai, nanti dulu!"
Kata Kiu-bwe Coa-li.
"Kau mau membawa kemana anak itu?"
"Dia? Dia adalah seorang anak yang sudah sejak dulu kuanggap sebagai muridku!"
Jawab Ang-bin Sin-kai.
"Kiu-bwe Coa-li, kulihat kau sudah mempunyai murid yang baik. Juga Pak-lo-sian Siangkoan Hai telah mempunyai dua orang murid yang baik. Hanya Jeng-kin-jiu saja kulihat belum mempunyai murid."
"Siapa bilang? Muridku masih kurahasiakan dan kelak murid-murid kalian akan kalah olehnya. Ha, ha, ha,!"
Kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
"Bagus!"
Kata Ang-bin Sin-kai.
"Kalau begitu, sekarang aku mengambil anak ini sebagai muridku. Kita sama-sama lihat saja sepuluh tahun lagi, siapa yang akan berhasil mengajar kepada murid masing-masing."
Ia hendak membawa pergi Kwan Cu, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li kembali mencegah dengan kata-katanya yang tajam mengancam.
"Ang-bin Sin-kai! Aku tidak sudi mencampuri urusanmu mengambil murid, dan akupun tidak butuh dengan anak gundul ini. Akan tetapi, aku masih curiga padanya. Siapa tahu kalau dia tahu di mana adanya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli? Dan siapa tahu kalau kau berpura-pura mengambil murid kepadanya akan tetapi sebenarnya hendak mencari kitab itu? Aku kenal kecurangan laki-laki macam kau!"
"Habis, kau mau apa?"
Tanya Ang-bin Sin-kai.
"Anak ini harus dibunuh! Dengan demikain, barulah adil namanya kalau kita saling berlumba mencari kitab itu, tanpa bantuan siapapun juga."
"Betul, betul!"
Kata Siangkoan Hai. Akan tetapi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tidak setuju dengan rencana ini.
"Betapapun juga, pinceng juga termasuk orang yang telah menolong nyawa anak ini, bagaimana sekarang pinceng tega hati melihat nyawanya direnggutkan orang? Apalagi pinceng yang memberi nama kepadanya. Eh, Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, kalau kalian akan berkeras membunuh anak ini, tentu aku berdiri di pihak Ang-bin Sin-kai untuk membela dan melindunginya. Baiknya diatur begini saja. Percayakah kau akan sumpah dari Ang-bin Sin-kai si bangsawan jembel ini?"
"Aku percaya!"
Kata Siangkoan Hai dengan suara tegas.
"Aku pun percaya!"
Kata Kiu-bwe Coa-li ragu-ragu.
"akan tetapi apa maksudmu?"
"Biar dia bersumpah bahwa dia takkan mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng dari kitab yang didapatkan atas pertolongan anak gundul ini,"
Kata Kak Thong Taisu.
"Bagus, kalau begitu aku setuju!"
Kata Kiu-bwe Coa-li dan Siangkoan Hai. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai menjadi makin merah mukanya.
"Aku tidak sudi bersumpah! Kalian boleh percaya kepadaku atau tidak, habis perkara. Pendeknya aku berjanji takkan mempergunakan Kwan Cu untuk mencari kitab itu."
Tiba-tiba Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut di depan Ang-bin Sin-kai.
Anak ini, dalam semua percakapan dalam pertemuan itu, dapat menarik kesimpulan bahwa dia paling cocok dan suka kepada kakek jambel yang mukanya seperti kakek angkatnya itu, maka dia telah mengambil keputusan untuk berguru kepadanya.
"Suhu, teecu pun baru mau mau menjadi muridmu kalau Suhu suka bersumpah seperti yang diminta oleh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tadi."
Ang-bin Sin-kai membelalakkan kedua matanya dan memandang kepada Kwan Cu.
"Eh, bocah aneh. Bukankah dulu kau tidak sudi mempelajari ilmu memukul orang?"
"Sekarang teecu sudah berubah pikiran. Bukankah para nabi mengajarkan bahwa orang harus setiap hari berubah pikiran-pikirannya yang tadinya tidak benar dan sesat?"
Jawab Kwan Cu. Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.
"Boleh, boleh, biar aku bersumpah bahwa kalau aku mempergunakan Kwan Cu untuk mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, biar aku si pengemis jembel akan mampus seperti seekor anjing dan kelak nyawaku dilempar ke dalam neraka jahanam!"
Kemudian disambungnya kata-katanya ini dengan suara menyindir.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 8
Baca Juga: Mutiara Hitam 4