Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti 3

Eps 3 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.

"Andaikata orang lain mendapatkan kitab itu, apanya sih yang harus ditakuti?"

Kiu-bwe Coa-li menjadi girang sekali dan tertawa nyaring, kemudian ia melompat ke arah Sui Ceng, memegang tanagan muridnya dan sekali berkelebat saja ia dan muridnya telah lenyap dari situ.

Siangkoan Hai juga mengajak dua orang muridnya pergi, demikian pula Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, sambil tertawa-tawa dia "menggelundung"

Pergi dari situ.

"Hayo kita pergi, Kwan Cu,"

Kata Ang-bin Sin-kai acuh tak acuh.

"Nanti dulu, Suhu. Teecu meninggalkan sesuatu di dalam pondok itu."

Anak itu berlari-lari ke dalam pondok mengambil kantongnya yang penuh uang emas pemberian kakek angkatnya.

"Apa itu?"

Tanya gurunya.

"Uang emas, Suhu."

Ang-bin Sin-kai membuka kantong itu dan terbelalak matanya melihat uang emas sebanyak itu.

"Eh, darimana kau dapatkan uang ini?"

"Dari Kong-kong (Kakek)!"

Makin tertegun Ang-bin Sin-kai mendengar jawaban ini.

"Bocah aneh, siapa kong-kongmu? Bukankah nenek moyangmu hanya samudera luas saja?"

Lu Kwan Cu tersenyum.

"Ini mungkin salah Suhu sendiri. Suhu memberi she Lu kepada teecu dan sekarang Menteri Lu Pin mengangkat teecu sebagai cucunya!"

Ia lalu menceritakan pengalamannya bertemu dengan Menteri Lu Pin! Tentu saja Ang-bin Sin-kai yang sebenarnya bernama Lu Sin dan menjadi kakak dari Lu Pin, terkejut dan juga terharu sekali.

"Buang saja uang itu, untuk apa sih? Memberatkan dan mengotorkan saja."

"Mengapa dibuang, Suhu? Bukankah bisa dipakai untuk membeli makanan kita?"

Kakek itu melototkan matanya.

"Jadi kau termasuk orang-orang yang meributkan soal makan? Buang saja!"

"Sayang, Suhu."

"Eh, bocah gundul! Baru pada saat pertama kau sudah berani membantah suhumu?"

"Rakyat banyak sekali yang menderita dan sengsara. Daripada dibuang disini, kalau ditemukan orang hanya akan membuat oran itu menjadi tersesat hidupnya. Bukankah lebih baik dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya?"

Ang-bin Sin-kai menarik napas panjang.

"Kau lebih terikat dengan dunia dari padaku. Sesukamulah."

Maka berjalanlah Ang-bin Sin-kai, mula-mula lambat-lambat, akan tetapi ketika dia melihat betapa muridnya yang gundul itu dapat mengikutinya,dia mempercepat jalannya.

Dan biarpun gurunya hanya berjalan lambat-lambat saja kelihatannya, bagi Kwan Cu, dia harus mengerahkan seluruh ginkangnya untuk berlari cepat mengimbangi kecepatan suhunya!

*** Di pinggir sebuah hutan yang liar, menghadap sebuah anak gunung yang merupakan batu karang besar, nampak pemandangan yang amat aneh dan menyeramkan sekali.

Seorang ank laki-laki berkepala gundul tergantung pada cabang pohon besar, tergantung dengan kaki terikat di atas dan kepala serta kedua tangannya bergantungan di bawah!

Baju anak itu yang sudah lapuk terbuka dan ikut bergantungan sehingga nampak perutnya yang kecil, dadanya yang kurus dengan tulang-tulang iga menonjol.

Anak ini tidak bergerak dan kelihatan seperti mayat saja, kedua matanya meram, akan tetapi wajahnya kelihatan berseri!

Adapun di bawah pohon, bersandarkan batu, duduk seorang kakek pengemis berpakaian tambal-tambalan.

Pengemis itu pun kurus kering seperti orang yang menderita kelaparan.

Apalagi kalau melihat apa yang dia lakukan pada saat itu, tentu orang akan menganggapnya sudah kelaparan dan miring otaknya.

Ia memegang seekor ular hidup.

Tangan kanannya mencekik leher ular dan tangan kirinya memegang tubuh ular dekat ekornya, kemudian dia menggigit perut ular itu!

Ular itu membuka mulutnya dan dari dalam mulut keluarlah suara mendesis-desis dan menebulkan uap putih yang keruh.

Siapakah mereka ini?

Anak itu bukan lain adalah Kwan Cu, adapun kakek itu adalah Ang-bin Sin-kai!

Apakah kakek ini sudah menjadi gila, menggantung muridnya secara terbalik dan makan ular beracun pula?

Tidak demikianlah halnya.

Setelah membagi-bagi habis uang emas pemberian Menteri Lu Pin, kedua orang guru dan murid ini melanjutkan perantauan mereka.

Atas permintaan Kwan Cu, mereka menuju ke bukit Liang-san.

Bagi Ang-bin Sin-kai, ke mana saja mereka pergi, dia tidak ambil peduli, maka dia pun tidak mau banyak bertanya kepada Kwan Cu, apa perlunya muridnya itu mengajaknya ke Liang-san.

Akan tetapi dengan keras dia mulai mengajarkan ilmu silat kepada Kwan Cu.

"Dari mana kau dapat mempelajari lweekang dan ginkang yang aneh dan serba terbalik itu??"

Tanyanya.

"Teecu pertama-tama menerima pelajaran dari Pek-cilan Thio Loan Eng Toanio."

"Hm, seorang wanita yang baik dan gagah,"

Ang-bin Sin-kai memuji.

"Kemudian, teecu menurut petunjuk dari kitab palsu yang dibawa pergi oleh Hek-i Hui-mo, yakni setelah diterjemahkan oleh suhu Gui Tin."

Kali ini Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya.

"Kau sudah semua isi kitab palsu itu?"

Kwan Cu mengangguk.

"Akan tetapi hanya sebagian siulian dan pengaturan napas saja yang teecu pelajari."

"Coba kau tidur terlentang,"

Gurunya memerintah. Kwan Cu menurut dan anak ini lalu membaringkan tubuhnya telentang. Ang-bin Sin-kai menekan pusar muridnya, sambil berkata.

"Kerahkan tenagamu yang kaudapat dari pelajaran kitab palsu."

Kwan Cu mengerahkan tenaganya dengan cara pengaturan napas yang terbalik, yakni menyedot napas dengan mengembungkan perut dan mengempiskan dada!

Ia merasa dadanya sakit, maka dia lalu melepaskan tenaganya itu.

Sebaliknya, Ang-bin Sin-kai merasa betapa tenaga yang aneh tersembul keluar dari pusar anak itu.

"Sakitkah dadamu?"

Kwan Cu mengangguk.

"Celaka sekali! Latihan itu telah merusak paru-parumu sendiri! Ah, benar-benar kitab palsu, akan tetapi kalau ilmu ini dipelajari secara mendalam, benar-benar akan merupakan ilmu yang aneh dan juga dahsyat. Baru yang palsu saja begini hebat, apalagi aselinya. Kwan Cu, kau telah mempelajari ilmu yang salah, maka kau harus menurut segala petunjukku. Pertama-tama kau harus dapat mengusir tenaga yang salah itu dari dalam tubuhmu. Kau harus belajar menderita jasmani dan harus melakukan latihan napas samadhi secara terbalik."

Kemudian, semenjak hari itu, Kwan Cu diikat kedua kakinya, kemudian ikatan itu digantungkan pada cabang pohon sehingga anak itu tergantung seperti seekor kalong!

"Dengan begini, pernapasanmu selalu akan berada di paru-paru dan menyehatkan paru-parumu yang sudah terluka.

Perutmu akan selalu kempis dan kosong.

Pusatkan perhatianmu dan tutup semua panca inderamu, jangan rasakan siksaan dari perjalanan darah yang secara terbalik ini akan terasa tak enak sekali.

Kulihat kau sudah pandai menutup hawa, tutuplah hawa di bagian kepalamu agar aliran darahmu tidak merusak otak.

Hati-hati, latihan ini bisa membuat kau menjadi gila karena aliran darah yang banyak di bagian otak.

Akan tetapi kalau kau tekun dan berhasil, hanya inilah jalan satu-satunya untuk membersihkan tubuhmu dari tenaga palsu itu!"

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa sengsaranya keadaan Kwan Cu karena harus berlatih secara ini.

Lebih hebat lagi, seringkali suhunya agaknya lupa untuk memberi makan kepadanya sehingga pernah dua hari dua malam Kwan Cu tergantung saja secara terbalik tanpa makan, hanya hidup dari hawa udara saja!

Akan tetapi yang lebih aneh dan hebat lagi, anak ini tak pernah mengeluh dan tak pernah minta makan!

Akhirnya, beberapa bulan kemudian, dia telah dapat melakukan siulian (samadhi) secara tergantung kakinya ini selama tiga hari tiga malam tanpa makan!

Juga pernapasannya menjadi normal kembali, biarpun dalam keadaan tergantung, dia telah dapat bernapas dengan teratur, bahkan dia dapat mendesak isi perutnya agar jangan tergantung dan tetap tinggal di dalam perut.

Tubuhnya terasa ringan sekali dan jalan pikirannya terang.

Kini dia telah mendapatkan kepandaian yang istimewa.

Kini kalau dia hendak berlatih, tidak lagi gurunya membantu.

Ia melompat ke atas sebatang cabang pohon sambil membawa kain pengikat kakinya, mengikat kedua kakinya pada cabang itu lalu menggantung dirinya!

Pada pagi hari itu, ketika mereka tiba di pinggir hutan yang telah disebutkan di atas, seperti biasa Kwan Cu menggantungkan dirinya secara terbalik pada cabang pohon dan gurunya duduk di bawah pohon.

Sebentar saja Ang-bin Sin-kai telah tidur mendengkur dan Kwan Cu juga sebentar saja sudah dapat mempersatukan panca inderanya dan mengheningkan cipta.

Baik guru maupun murid ini sama sekali tidak tahu akan adanya bahaya yang mengintai dari atas pohon, yang merupakan seekor ular kecil panjang yang bermata dan berlidah merah!

Inilah seekor ular beracun yang jahat sekali!

Biarpun gerakan ular yang merayap di antara ranting dan cabang pohon itu perlahan sekali, namun kalau saja Ang-bin Sin-kai tidak sedang tidur dan Kwan Cu tidak sedang bersamadhi dan menutup panca indera, tubuh ular yang melanggar daun itu tentu akan terdengar oleh mereka, karena Kwan Cu sendiri pun kini telah memiliki pendengaran yang amat tajam.

Tiba-tiba terdengar Kwan Cu menjerit.

"Suhu........!"

Ang-bin Sin-kai melompat bangun dan alangkah terkejutnya ketika dia melihat seekor ular melingkar di tali pengikat kaki Kwan Cu dan mulut ular itu menggigit kaki kanan muridnya itu! "Kwan Cu.....!"

Ang-bin Sin-kai melompat ke atas dan sekali renggut, dia telah menangkap ular itu pada lehernya.

Sambil duduk di atas cabang itu, Ang-bin Sin-kai menggunakan tangan kirinya untuk meraba tubuh muridnya.

Bukan main kagetnya, karena tubuh itu panas bukan main!

Ia tahu bahwa muridnya telah terkena racun gigitan ular!

Ia tidak berani menurunkan muridnya, karena kalau Kwan Cu diturunkan, mungkin aliran darahnya akan kacau dan menyebabkan racun itu merangsang ke arah jantungnya yang berarti takkan dapat ditolong lagi anak itu.

"Mudah-mudahan tadi dia masih mengerahkan tenaga dan menyimpan hawa murni dalam pusarnya,"

Pikir kakek ini yang segera melompat turun lagi sambil membawa ular itu.

Cara satu-satunya untuk menolak hawa racun ular itu, dia harus dapat mengambil darah ular yang menggigitnya ini.

Akan tetapi di situ tidak ada mangkok atau apa saja untuk menadahi darah ular, juga sukar untuk memberi minum darah kepada Kwan Cu yang masih dalam keadaan tergantung dengan kepala di bawah.

Satu-satunya cara ialah dia harus dapat menyimpan darah ular itu didalam mulutnya, kemudian dia akan dapat menyemburkan darah itu dari mulut ke mulut Kwan Cu!

Demikianlah maka melihat pemandangan yang menyeramkan tadi.

Kwan Cu tergantung seperti mayat, dan kakek itu duduk ambil menggigit perut ular!

Ular itu berkelojotan, meronta-ronta dan Ang-bin Sin-kai tidak menggigit terlalu keras, sekedar untuk mencari lobang guna menyedot darah ular itu.

Lidahnya merasai darah yang asin manis dan amis sekali, juga terasa panas dan pedas pada lidahnya, akan tetapi dia terus menyedot sehingga darah ular itu terkumpul kedalam mulutnya.

Kedua pipinya yang kurus menggembung, karena mulutnya penuh dengan darah ular.

Beberapa tetes darah mengalir turun ke dagunya, membuat di nampak menyeramkan sekali.

Ular itu makin lama makin lemah gerakkannya dan setelah darahnya habis, dia mati lemas.

Ang-bin Sin-kai melemparkan bangkai ular, lalu melompat lagi ke atas cabang.

Ia menggantungkan kedua kakinya pada cabang seperti keadaan Kwan Cu sehingga dengan membungkukkan punggungnya, mukanya berdekatan dengan muka muridnya.

Ketika dia mengulur tangan membukakan mulut muridnya, kakek ini terheran-heran karena melihat muka muridnya itu tersenyum-senyum dan mata anak itu sudah terbuka lagi!

Akan tetapi dia tidak mau banyak membuang waktu, segera dia membuka mulut muridnya dan menempelkan sendiri ke mulut muridnya yang terbuka, kemudian dia mengerahkan hawa dalam perutnya untuk menyemburkan darah itu ke dalam perut muridnya!

Kwan Cu yang sudah siuman itu maklum akan maksud suhunya, maka dia lalu menerima darah ular itu dan menelannya.

"Lekas salurkan semua darah ke arah kaki yang luka!"

Seru Ang-bin Sin-kai setelah mulutnya kosong karena darah ular semua telah berpindah ke mulut dan perut muridnya.

"Tahan napas dan biarkan darah ular itu memerangi racun yang mengalir dari luka di kakimu!"

Kwan Cu menurut petunjuk suhunya dan sebentar saja, dia merasa panas yang menyerang tubuhnya menghilang.

Ang-bin Sin-kai menaruh telapak tangannya pada pusar muridnya dan dari telapak tangan itu dia mengalirkan hawa untuk membantu kekuatan muridnya melawan racun ular tadi.

Setengah hari guru dan murid itu berada dalam keadaan tergantung dan akhirnya setelah mendapat kenyataan bahwa tubuh muridnya tidak panas lagi, Ang-bin Sin-kai menurunkan tubuh muridnya.

"Kau selamat!"

Katanya dengan lega.

"Akan tetapi aneh sekali mengapa kau tidak muntah. Biasanya, kalau racun ular itu sudah dapat dikalahkan oleh darah ular, orang yang digigit ular tentu akan muntahkan darah ular beracun itu."

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Mohon diampunkan atas kelalaian teecu sehingga merepotkan kepada Suhu. Sungguh aneh sekali, Suhu. Sekarang teecu merasa bahwa tubuh teecu amat nyaman dan ringan. Agaknya darah dan racun ular itu ada khasiatnya yang lihai."

"Mana mungkin?"

Gurunya menggeleng kepala.

"Kecuali kalau kau sudah makan coa-ko (buah ular)."

"Teecu sudah makan coa-ko, Suhu!"

"Hush! Kau kira mudah mendapat coa-ko? Aku yang sudah tua ini pun sejak dulu mencari belum juga dapat."

"Akan tetapi teecu tidak membohong, Suhu."

Lalu Kwan Cu menuturkan betapa dia dahulu diculik oleh Tauw-cai-houw dan dijejali sebutir buah ular.

Gurunya girang sekali, akan tetapi tidak menyatakan kegirangannya itu.

Hanya diam-diam dia berpikir bahwa Kwan Cu benar-benar seorang anak ajaib yang bernasib baik sekali.

"Hm, kalau aku tahu bahwa kau sudah makan buah coa-ko, tadi aku takkan begitu kebingungan seperti orang kebakaran jenggot. Dengan buah itu di dalam tubuhmu, kau takkan dapat tewas oleh racun ular yang manapun juga!"

Maka setelah melihat betapa tubuh Kwan Cu sudah bersih daripada tenaga yang didapatnya dari latihan menurut kitab pelajaran palsu, Ang-bin Sin-kai lalu mulai melatih muridnya ini dengan ilmu-ilmu silat dari dia sendiri.

Pengemis Sakti Muka Merah ini adalah tokoh terbesar dari timur, maka tentu saja dia memiliki kepandaian silat yang luar biasa dan mempunyai keistimewaan dalam ilmu silat tangan kosong.

*** Agar pembaca tidak menjadi bingung melihat Bun Sui Ceng, anak perempuan dari Pek-cilan Thio Loan Eng itu tiba-tiba saja muncul menjadi murid dari Kiu-bwe Coa-li, baiklah kita menengok keadaan Thio Loan Eng dan mengikuti perjalanannya semenjak ia meninggalkan rumahnya karena puterinya diangkat menjadi ketua oleh para anggauta Sin-to-pang atau Perkumpulan Golok Sakti.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Thio Loan Eng meninggalkan dusun Tun-hang bersama Bun Sui Ceng, puterinya.

Nyonya muda pendekar ini merasa amat gelisah dan khawatir memikirkan nasib puterinya kelak, maka timbul didalam pikirannya untuk mengunjungi rumah seorang sahabat baiknya yang bernama Ong Kiat.

Ketika masih kecil, Ong Kiat ini adalah kawan main dari Loan Eng karena orang tua mereka menjadi tetangga dan di antara kedua orang anak kecil ini timbul rasa saling suka dan cocok.

Akan tetapi, Loan Eng oleh orang tuanya dijodohkan dengan Bun Liok Si dan berpisahlah mereka.

Dengan terharu Loan Eng mendengar betapa Ong Kiat jatuh sakit hebat sampai hampir mati ketika ia menikah dengan Bun Liok Si, dan diam-diam ia maklum bahwa pemuda she Ong itu cinta kepadanya.

Kemudian Ong Kiat yang semenjak kecil juga belajar ilmu silat, menjauhkan diri dari dunia ramai dan naik ke Pegunungan Thian-san, menjadi murid dari tokoh-tokoh Thian-san-pai.

Selama itu, mereka tak pernah saling bertemu lagi.

Baru setelah Loan Eng membunuh suaminya sendiri karena cemburu dan nyonya janda muda ini sering merantau, terjadi pertemuan antara dua orang bekas sahabat di waktu kecil ini secara kebetulan sekali.

Ketika itu, seperti biasa, Loan Eng meninggalkan puterinya yang masih kecil dalam asuhan para pelayan-pelayannya, dan ia sendiri merantau di dunia kangouw untuk melakukan tugas sebagai seorang lihiap (pendekar wanita).

Memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Loan Eng untuk merantau dan mempergunakan kepandaiannya guna menolong orang-orang yang tertindas sehingga namanya amat terkenal sebagai pendekar wanita berbudi yang berjuluk Pek-cilan (Bunga Cilan Putih).

Ia sering kali berpakaian putih dan karena kecantikannya disamakan dengan bunga cilan yang harum, maka ia mendapat julukan ini.

Selain itu, Loan Eng memang suka kepada bunga cilan dan sering kali rambutnya dihias dengan setangkai bunga cilan.

Loan Eng seorang diri menuju ke sebuah bukit kecil yang penuh dengan rimba raya.

Inilah Bukit Lek-san yang berada di selatan kota Hak-keng.

Loan Eng sengaja mendatangi bukit ini karena ia mendengar kabar bahwa di atas bukit ini bersarang sekawanan orang jahat yang baru-baru ini mengacau dusun-dusun dan kota-kota, dan bahkan sekawanan orang jahat ini lihai sekali.

Pek-cilan Thio Loan Eng memang tidak mengenal akan arti takut.

Selain lihai ilmu pedangnya, juga nyonya janda muda yang cantik ini perkasa dan bernyali besar.

Selama dalam perantauannya, entah sudah berapa banyak penjahat roboh dalam tangannya, dan biarpun ia sudah seringkali menghadapi orang-orang jahat dan bahaya maut, namun berkat kegagahannya, ia selalu terhindar dan selamat.

Setelah Loan Eng mulai naik Bukit Lek-san, mulai kelihatanlah ketidakamanan daerah ini.

Banyak dusun-dusun telah kosong, ditinggalkan begitu saja oleh para penghuninya.

Makin ke atas mendaki puncak bukit menjadi makin sunyilah kedaannya dan hutan-hutan yang berada di atas bukit menjadi makin liar dan gelap saja.

Namun, Loan Eng tetap tabah dan melanjutkan perjalanannya menuju ke atas.

Ia ingin sekali mendatangi sarang gerombolan itu dan ingin membasmi gerombolan itu sampai bersih!

Loan Eng tidak tahu bahwa banyak pasang mata manusia mulai memandang dan mengintainya dari balik pohon-pohon, mata banyak orang laki-laki yang nampak buas dan kejam.

Bibir-bibir tebal dan kotor menyeringai penuh gairah ketika mereka memandang wajah Loan Eng yang cantik jelita dan potongan tubuhnya yang langsing.

Setelah Loan Eng tiba di tempat terbuka di dalam hutan yang liar itu, tiba-tiba terdengar suitan keras sekali dan berlompatan keluarlah anggauta-anggauta gerombolan yang jumlahnya dua puluh orang lebih diketuai oleh dua orang laki-laki muda bertubuh tinggi besar dan bermata liar.

Inilah gerombolan yang belum lama ini bersarang di Bukit Lek-san, gerombolan yang amat ganas, yang sudah banyak merampok, menculik wanita, dan membakar rumah penduduk.

Dua orang muda tinggi besar itu adalah kakak beradik bernama Sin Sai (Singa Sakti) dan Sin Houw (Harimau Sakti).

"Nona yang elok dan gagah siapakah bernyali demikian besar memasuki wilayah kami?"

Tanya Sin Sai sambil memandang kagum, adapun Sin Houw adiknya juga memandang dengan mata penuh gairah.

"Tak perlu namaku diketahui oleh gerombolan-gerombolan perampok keji. Lebih baik kalian mengaku, apakah kalian ini yang suka mengganggu penduduk sekitar daerah ini? Kalau betul, berlututlah kalian semua agar menerima kematian tanpa menderita sakit lagi."

Semua orang tertegun, karena tak mereka sangka seorang wanita cantik akan berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Sin Houw berkata kepada Sin Sai.

"Sai-ko, dia ini tentu mata-mata dari keparat she Ong itu, lebih baik tangkap saja!"

Sambil berkata demikian, dia menggerakkan golok besarnya untuk mengancam Loan Eng, lalu katanya dengan mulut menyeringai.

"Nona manis, walaupunkau bersikap sombong, namun sikapmu tidak mengurangi rasa sukaku kepadamu. Marilah kau ikut saja dengan aku dan aku bersumpah bahwa kalau kau suka menjadi biniku, aku takkan mau lagi mengganggu lain wanita lagi!"

Bernyala sepasang mata Loan Eng yang jeli dan bagus. Sekali ia menggerakkan tangannya, pedangnya yang mengkilat itu telah terhunus dan berada di tangan kanan.

"Bagus sekali, kau memilih kematian yang menyiksa dirimu. Hari ini, kalau tidak dapat membasmi kalian anjing-anjing hina-dina, jangan sebut aku Pek-cilan lagi!"

Sebagai penutup kata-katanya, Loan Eng lalu melompat maju dan menyambar ke arah leher Sin Houw!

Sin Houw melihat sinar pedang yang mengkilat dan cepat ini, tidak berani memandang ringan.

Ia maklum dari gerakan ini bahwa pendekar wanita di depannya itu memiliki kepandaian tinggi, apalagi nama julukan Pek-cilan bukan tidak terkenal dan dia pernah mendengar nama ini dipuji-puji orang.

Cepat dia menangkis dan mengerahkan tenaganya, dengan maksud hendak membuat pedang orang terpental dan terlepas.

Akan tetapi ternyata bahwa pedang Loan Eng sama sekali tidak terpental, bahkan kepala rampok muda ini yang merasa telapak tangannya sakit!

Ia berseru keras dan merasa terkejut sekali, akan tetapi tidak kehilangan kesigapannya karena goloknya juga terbuat dari baja yang amat baik maka tidak rusak.

Ketika goloknya terpental oleh pedang lawan, dia lalu mengayun golok itu ke bawah dan menyerampang kedua kaki Loan Eng dengan gerak tipu Hong-sauw-pai-hio (Angin Menyapu Daun Rontok), sebuah gerak tipu serangan yang amat hebat dan berbahaya.

Diam-diam Loan Eng harus akui bahwa kepala raampok muda ini tidak jelek kepandaiannya, maka cepat ia memutar pedangnya berubah yang menjadi segundukkan sinar putih yang lihai sekali.

Kepala rampok itu juga menahan dengan mengeluarkan ilmu goloknya yang ternyata adalah ilmu golok Go-bi-pai.

Namun ilmu goloknya masih jauh untuk menandingi pedang di tangan Loan Eng dan dalam beberapa jurus saja Sin Houw terdesak hebat.

Sin Sai berseru keras dan kepala rampok nomor satu ini lalu menerjang dengan goloknya yang ternyata masih lebih tinggi dan lihai dari pada kepandaian adiknya.

Juga para perampok diberi tanda dan sebentar saja Loan Eng dikeroyok hebat.

Pendekar wanita ini tidak menjadi gentar karenanya, bahkan ia makin gembira mainkan pedangnya dan tak lama kemudian, terdengarlah pekik-pekik kesakitan dan tubuh beberapa orang anak buah perampok roboh terguling terkena sambaran pedang di tangan nyonya janda yang cantik dan gagah itu.

"Mundur.....!"

Teriak Sin Sai ketika melihat sudah lima orang anak buahnya roboh.

"Kita tangkap dia hidup-hidup!"

Seru Sin Houw pula.

Mereka lalu berkelahi sambil mundur.

Belasan batang golok merupakan perisai dan menangkis serangan-serangan pedang Loan Eng yang bergerak cepat.

Akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah yang besar sekali.

Loan Eng terheran-heran, mengapa dalam hutan yang liar itu bisa terdapat sebuah rumah gedung ini?

Tiba-tiba semua lawannya melompat masuk ke dalam rumah itu dan pintu depannya tertutup dengan mengeluarkan suara keras!

Pek-cilan Thio Loan Eng ragu-ragu.

Ia memandang bangunan di depannya yang kini nampak sunyi.

Tak salah lagi, rumah ini tentu dulunya adalah sebuah kelenteng tua, pikirnya.

Bagaimana kini bisa menjadi sarang penyamun?

Ia tidak tahu bahwa kelenteng ini memang sudah lama ditinggalkan para hwesio yang mendapat gangguan perampok-perampok ini, dan bahwa perampok lalu memperbaikinya dan mempergunakan sebagai sarang mereka.

Juga para wanita yang diculik, semua berada di dalam gedung yang besar dan berpekarangan belakang luas sekali ini.

"Hm, mereka pasti akan menjebakku,"

Pikir Pek-cilan Thio Loan Eng.

Sebagai seorang pendekar wanita yang banyak merantau dan banyak sekali menghadapi penjahat-penjahat, tentu saja ia banyak pengalaman dan berlaku hati-hati.

Akan tetapi, keberaniannya luar biasa sekali dan biarpun ia sudah bercuriga dan menyangka akan adanya perangkap yang dipasang, ia tidak merasa takut.

Dihampirinya pintu rumah gedung itu da beberapa kali bacok saja, sambil mengeluakan suara gaduh, daun pintu itu pecah dan roboh!

"Syuuuuuut-syuuuut!

Syuuut!"

Banyak sekali anak panah menyambar ke arah pintu itu dari depan kanan dan kiri.

Kalau saja Loan Eng tadi terus menerjang masuk ke dalam, tentu ia akan terancam oleh anak panah ini, akan tetapi pendekar wanita ini sudah berlaku hati-hati sekali dan setelah tadi merobohkan pintu, ia melompat kesamping sehingga semua anak panah itu mengenai tempat kosong.

Setelah semua anak panah yang terlepas dari tempat-tempat rahasia itu habis, barulah Loan Eng menerjang masuk sambil memutar pedangnya memasuki pintu yang sudah tidak berdaun lagi itu.

Ia melihat keadaan dalam rumah sunyi saja, dan tidak nampak seorangpun manusia.

Akan tetapi, baru saja ia melangkah beberapa tindak dengan amat hati-hati, tiba-tiba dari arah belakang gedung itu terdengar suara ribut-ribut dan di antara suara-suara manusia itu Loan Eng mendengar seruan-seruan.

"Tangkap penjahat! Padamkan api....!"

Loan Eng diam-diam tersenyum dan juga terheran.

Pasti ada orang lain yang menyerbu sarang gerombolan ini.

Akan tetapi ia tidak tertarik dan ingin terus menerjang masuk untuk membasmi gerombolan penjahat itu.

Tiba-tiba terdengar isak tangis dan ia dapat memastikan bahwa di sebelah kanannya di mana nampak sebuah daun pintu kamar, ada seorang wanita yang sedang menangis sedih sekali.

"Siapakah dia? Mengapa menangis? Ah, tentu seorang wanita yang diculik oleh gerombolan,"

Pikir Loan Eng.

"Aku harus menolong dia."

Setelah berpikir demikian, ia tidak jadi menuju ke ruang belakang, melainkan menghampiri daun pintu kamar itu.

Suara tangis itu makin mengeras dan tanpa banyak ragu-ragu lagi, Loan Eng membacok kedua pinggiran daun pintu sehingga terlepaslah daun pintu itu dari tiangnya.

Seperti juga tadi, Loan Eng tidak menerjang masuk, bahkan mudur dua tindak ke belakang sambil memandang tajam.

Ia tidak melihat apa-apa di dalam kamar itu, kosong melompong dan juga tidak kelihatan orang.

Suara tangis wanita yang tadi kini telah pindah ke belakang kamar itu.

Loan Eng melihat bahwa di dalam kamar itu terdapat sebuah pintu lain yang agaknya menembus ke ke ruang tengah, maka ia lalu masuk ke dalam kamar ini.

Baru saja ia melangkah lima tindak di dalam kamar ini dengan hati-hati sekali, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar sebuah toya dari belakang.

Pendekar wanita yang gagah ini tanpa menengok lalu menggerakkan pedangnya ke belakang, diayun dari kanan sambil memutar tubuhnya.

Akan tetapi anehnya, toya itu tidak terpegang oleh siapapun juga dan kini sisanya tinggal sepotong masih tergantung di atas.

Ketika Loan Eng berdongak ke atas, ia tersenyum sindir.

Ia tahu bahwa itulah sebuah senjata rahasia yang di gerakkan oleh alat-alat per dan yang otomatis bergerak memukul apabila ada orang memasuki kamar dan terkena injak alat penggeraknya.

Namun ia tidak takut dan melangkah terus!

Baru dua tindak ia melangkah, agaknya ia kena injak alat-alat penggerak lagi yang di pasang di bawah permadani, karena tiba-tiba terengar suara keras dan tiga macam senjata menyerangnya dari tiga jurusan!

Sebatang golok melayang keluar dari tembok dan menyambar ke arah kakinya dengan gerakan membabat, sebatang tombak yang runcing tiba-tiba saja keluar dari tembok sebelah depan dan menusuk kearah perutnya, dan senjata ketiga adalah sebuah ruyung besar yang menyambar kepalanya.

Jadi, sekaligus Loan Eng diserang kaki, perut dan kepalanya!

Namun, Pek-cilan tidak gentar sedikit pun juga.

"Perampok busuk, siapa takut dengan senjata-senjatamu?"

Bentaknya dan cepat ia merendahkan tubuh untuk menghindarkan kepala dari sambaran ruyung, dan golok yang menyambar ke arah kakinya itu dapat di tendangnya secara luar biasa sekali!

Memang Loan Eng memiliki ilmu tendang yang hebat sehingga nyonya muda ini berani menghadapi senjata musuh yang tajam atau runcing dengan kedua kakinya!

Adapun tombak yang menusuk ke arah perutnya dapat di babat putus dengan pedangnya.

"Gerombolan perampok, hari ini aku harus dapat membasmi kamu semua!"

Loan Eng berseru dan hendak menerjang pintu yang berada di kamar itu?

Akan tetapi, tiba-tiba saja dari langit-langit kamar menyambar turun semacam jala yang lebarnya memenuhi kamar itu, Loan Eng terkejut sekali dan hendak melompat keluar dari kamar itu, namun tidak keburu.

Sebelum ia tiba di pintu tadi, jala itu sudah menerkamnya dan ternyata bahwa itu bukanlah jala biasa melainkan jala yang terbuat daripada kawat-kawat baja yang lemas namun kuat sekali!

Untuk beberapa lamanya, Loan Eng menjadi bingung dan gelagapan.

Ia meronta-ronta ke sana ke mari di dalam jala, seperti seekor ikan emas dalam jala seorang nelayan.

Makin keras Loan Eng meronta, makin erat pula jala baja itu menekan tubuhnya!

Pendekar wanita ini lalu diam tak bergerak.

Otaknya yang cerdik bekerja keras.

Ia tidak boleh gugup menghadap bahaya ini, kemudian ia menggunakan pedangnya, digosokkan pada kawat jala seperti orang orang menggergaji.

Dengan pengerahan tenaga lweekangnya, ia berhasil dan kawat itu putus!

Loan Eng girang sekali dan bekerja terus.

Tak lama kemudian, ia telah dapat membikin putus beberapa helai kawat jala dan kini ia akan mudah saja dapat menerobos keluar dari jala yang sudah bocor itu.

Akan tetapi ia tidak mau keluar, bahkan memegangi bagian jala yang yang sudah rantas, karena ia mendengar suara orang mendatangi.

Muncullah dari pintu depan dengan seorang anggauta gerombolan yang tertawa-tawa.

"Ha, ha, ha, aku dapat menangkap seekor ikan duyung!"

Serunya girang.

"Aduh cantiknya! Manis, kalau kau berjanji mau menjadi biniku, aku akan melepaskan kau dari jala itu. Ha, ha, ha!"

Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi pucat dan selanjutnya dia takkan dapat tertawa atau menangis lagi karena pada saat dia tertawa tadi, Loan Eng sudah menerobos keluar dan sekali pedangnya berkelebat, tubuh anggauta gerombolan ini sudah putus menjadi dua bagian pinggangnya!

Dengan marah sekali Loan Eng lalu menendang pintu dalam kamar itu yang menjadi pecah dan terbuka.

Di situ ia melihat pemandangan yang bikin alisnya terangkat naik dan giginya digigitkan.

Ternyata di balik pintu itu adalah sebuah ruangan yang luas dan di seberang sana ia melihat seorang wanita yang pakaiannya cobak-cabik sedang di seret-seret oleh Sin Houw, kepala perampok ke dua.

Wanita itu masih muda sekali, mukanya pucat dan air matanya mengalir membasahi pipinya.

Rambutnya yang hitam panjang itu terurai dan kini dijambak oleh Sin Houw yang menyeretnya ke arah lain.

"Jahanam keparat!"

Loan Eng memaki dan cepat ia berlari mengejar.

Akan tetapi, celaka sekali baginya!

Tidak tahunya bahwa Sin Houw sengaja berlaku kejam kepda wanita itu, yakni seorang di antara banyak wanita yang diculik oleh gerombolan, hanya dengan maksud agar Loan Eng menjadi marah, kurang hati-hati dan mengejarnya.

Ketika pendekar wanita ini berlari mengejar sampai di tengah-tengah ruangan itu, tiba-tiba permadani yang diinjaknya menyeplos kebawah!

Di situ tidak ada lantainya sama sekali dan merupakan lobang yang besarnya ada sepuluh kaki segi empat dan dalam sekali, hanya ditutupi luarnya dengan permadani tebal.

Tentu saja kalau diinjak lalu nyeplos ke bawah berikut permadaninya!

Bukan main kagetnya hati Loan Eng, bukan karena kejatuhan itu, melainkan karena yang menerima tubuhnya di bawah adalah air yang dingin!

Ia masih berusaha berpegang pada permadani yang tebal dan lebar itu, akan tetapi permadani itu berat sekali dan setelah terkena air, terus saja tenggelam!

Loan Eng terpaksa cepat-cepat melepaskan pegangannya dan merasa betapa tubuhnya akan tenggelam terus.

Bukan main dalamnya sumur yang lebar sekali ini dan ia tidak pandai berenang!

Pada saat itu, air bergolak dan permadani tadi sudah tenggelam, kini tersembul kembali dengan cepatnya.

Air muncrat tinggi dan pucatlah muka Loan Eng ketika melihat ujung ekor ikan yang besar!

Ternyata bahwa di dalam sumur lebar itu hidup seekor ikan yang besar dan tadi menjadi marah karena permadani itu tenggelam.

Sekarang ikan itu mengamuk dan menyerang permadani tadi.

Terdengar suara kain robek dan sebentar saja permadani itu cobak-cabik.

Ketika Loan Eng merasa tubuhnya hampir tenggelam, pendekar wanita ini menendang-nendangkan kedua kakinya ke bawah dan mumbul kembalilah dia.

Cepat ia mengerahkan tenaganya menusuk dinding sumur dengan pedangnya yang tak pernah lepas dari tangannya.

Biarpun dinding sumur itu berbatu dan keras, namun pedang Loan Eng dengan mudah menancap sampai setengahnya.

Kini nyonya muda itu mempunyai pegangan, yakni gagang pedangnya dan karena tubuh di dalam air menjadi ringan sekali, maka ia dapat mengambang sambil berpegang pada pedangnya.

Akan tetapi, setelah bahaya tenggelam tertolong, kini datang bahaya yang lebih hebat lagi, yaitu ikan itu!

Beberapa kali kepala ikan tersembul dan ngeri sekali hati Loan Eng melihatnya.

Ikan itu di depan mulutnya mempunyai sebatang senjata runcing seperti tombak dan tahulah Loan Eng bahwa itu ikan cucut yang jahat dan suka makan orang!

"Celaka,"

Pikirnya dengan hati berdebar.

Kalau ia berada di darat, biarpun ada sepuluh ekor binatang macam ini, ia takkan merasa jerih.

Akan tetapi, karena ia tidak berdaya dan di dalam air kepandaiannya tiada gunanya lagi, tentu saja bahaya yang kini ia hadapi adalah bahaya maut yang sukar dielakkan lagi.

"Betapapun juga, aku harus dapat melawannya,"

Pikir Loan Eng dengan gemas.

Cepat nyonya muda ini mengerahkan tenaga lweekangnya dan dengan tangan kiri berpegang pada gagang pedang, jari-jari tangan kanannya ditusukkan kepada dinding sumur.

Hebat juga tenaga lweekang nyonya ini karena biarpun ia merasa ujung jari-jari tangannya sakit, namun ia berhasil mencengkeram dinding itu dan membuat lobang di mana ia bisa memegang atau menjadikan sebagai tempat tangannya berpegang pada lekukan lobang.

Lalu ia cepat mencabut pedang dengan tangan kanan karena ia melihat air berombak dan ikan itu muncul lagi!

Bukan main dahsyatnya ikan itu.

Panjangnya ada empat kaki dan kini ia menjadi marah sekali.

Ketika ia melihat seorang manusia terapung, ia lalu menyerang dengan tombak di depan mulutnya dengan kecepatan luar biasa!

Loan Eng sudah bersiap sedia dan cepat ia menggerakkan pedangnya menangkis tombak itu.

Ia merasa seluruh lengannya kaku tergetar saking kuatnya ikan itu menyeleweng.

Akan tetapi ia tidak mengira bahwa ikan itu benar-benar cerdik, karena berbareng dengan memutarnya tubuhnya karena tangkisan tadi, ekornya menyabet ke depan!

Sebetulnya, serangan ini bagi Loan Eng tidak hebat sekali, yang celaka adalah air yang muncrat ke arah mukanya sehingga dia sukar membuka mata!

Akan tetapi, nyonya ini masih sempat menggerakkan pedang, diputar depannya dan ketika ekor itu menyabet, terlukalah tubuh ikan itu oleh ujung pedang yang runcing tajam.

Namun, berbareng dengan tubuh ikan yang meronta kesakitan, terdengar suara kain yang memberebet dan pecahlah ujung lengan baju Loan Eng terkena sambaran ekor.

Hebat sekali karena ujung lengan baju itu membelit pada ekor sehingga ketika ikan itu meluncur pergi, terdengar suara kain terobek dan robek semuanya pakaian Loan Eng bagian atas!

Pendekar wanita ini bingung sekali.

Bajunya terlepas dan terobek dari tubuhnya, terbawa oleh ikan itu sehingga tubuhnya bagian atas hanya tertutup oleh pakaian dalam yang sempit dan tipis sehingga ia dalam keadaan setengah telanjang.

"Bedebah! Kau harus mampus!"

Seru Loan Eng dengan marah sekali, akan tetapi berbareng ia pun menjadi merah mukanya saking malu dan jengah.

Seandainya ia tertolong dan dapat keluar dari sumur ini, bagaimana ia berani bertemu dengan orang?

Ikan itu kini tidak berani menyerang, tubuhnya berputar-putar karena ekornya terasa sakit sekali.

Air sumur itu mulai menjadi kemerahan karena darahnya dan Loan Eng hampir menjadi pingsan oleh bau amis yang memuakkan perutnya.

Ia mengincar dan bersiap-siap.

Ketika ikan itu berenang berputaran dan dekat dengan dia, cepat sekali pedangnya ia gerakkan ke arah perut, menusuk kuat-kuat lalu menggerakkan pedang ke belakang tubuh ikan sehingga perut itu terbelah!

Ikan itu meronta-ronta hebat sekali, air muncrat dan tubuh Loan Eng bergerak-gerak karena gelombang air.

Akan tetapi hanya sebentar karena perut ikan itu telah terbuka dan isi perutnya berhamburan keluar.

Matilah binantang itu.

Akan tetapi, air menjadi makin merah dan bau amis tak tertahankan lagi.

Ia mengeluh dan pegangannya pada lobang di dinding sumur makin mengendur.

Ia masih ingat untuk menancapkan pedang pada dinding sekuatnya dan kini ia dapat berpegang pada gagang pedang lagi.

Demikianlah, pendekar wanita ini bergantung pada gagang pedang dalam keadaan setengah pingsan.

Ia mulai putus asa karena tidak melihat jalan keluar sama sekali.

Tubuhnya kedinginan, karena dalam keadaan setengah telanjang itu, air yang dingin bagaikan menyusup ke dalam tulang-tulangnya.

Pada saat yang amat berbahaya ini, tiba-tiba dari atas sumur terayun sehelai tambang dan terdengar suara orang.

"He, kawan yang berada di bawah. Lekas berpegang pada tambang!"

Pikiran Loan Eng sudah nanar dan pening.

Ia tidak teringat akan apa-apa lagi tidak ingat akan keadaan tubuhnya yang setengah telanjang.

Melihat tambang terayun di dekatnya, ia cepat menyambar, mencabut pedangnya dan bergantung pada tambang itu.

Bau amis membuat dia muak dan lemah sehingga ia tidak kuasa lagi untuk merayap melalui tambang.

Perlahan-lahan, tambang itu ditarik orang ke atas dan setibanya di lantai dalam ruang di mana ia tadi terjeblos, Loan Eng yang sudah pening sekali melihat wajah seorang pemuda yang tampan.

Ia mempertahankan rasa muaknya, akan tetapi tak tertahankan lagi dan ia muntah-muntah lalu tak sadarkan diri.

Akan tetapi tidak lama ia jatuh pingsan.

Ketika ia membuka mata kembali, cepat ia melompat dan pada saat ia melompat itu, terbukalah sehelai baju panjang yang tadi menutupi tubuhnya bagian atas dan dengan kaget Loan Eng melihat betapa tubuhnya bagian atas intu setengah telanjang!

Bukan main kagetnya dan cepat-cepat ia menyambar baju panjang itu dan dikerobongkan pada tubuhnya kembali.

Ia menengok dan melihat seorang lelaki berdiri tak jauh dari situ sambil memandangnya dengan senyum!

"Loan Eng, baiknya kau lekas sadar kembali.

Aku sudah khawatir karena mereka itu masih mengancam keselamatan kita."

"Ohhh........"

Loan Eng terkejut sekali dan mukanya menjadi merah seperti kepiting di rebus.

"Kau......Ong Kiat.....? Bagaimana kau bisa berada di sini.....?"

Orang muda itu tersenyum lagi, wajahnya tampan dan bagi Loan Eng, tidak ada perubahan pada wajah yang dikenalnya baik-baik semenjak masa kanak-kanak itu.

"Tiada waktu bicara sekarang, Loan Eng. Lekas kau pakai pakaian kering ini dan kita bersiap menghadapi mereka!"

Sambil berkata demikian, Ong Kiat lalu melemparkan segulung pakaian wanita kepada Loan Eng, kemudian dia membalikkan tubuhnya, membelakangi Loan Eng.

Makin merah muka Loan Eng.

Kalau bukan Ong Kiat yang sudah dipercaya penuh, ia tidak sudi berganti pakaian di dekat orang laki-laki, sungguhpun laki-laki itu telah berdiri membelakanginya.

Namun, ia harus berganti pakaian, karena kalau nanti bertempur melawan gerombolan, bagaimana ia dapat bergerak dengan baju panjang yang mengerobongi tubuhnya yang setengah telanjang itu?

Cepat-cepat ia membuka semua pakaiannya dan kalau ada perlombaan berganti pakaian pada waktu itu, pasti Loan Eng akan menjadi juaranya.

Demikian cepatnya ia berganti pakaian!

"Jadi kaukah orang yang menolongku dari sumur tadi?"

Tanyanya perlahan.

"Tiada harganya untuk disebut-sebut, Loan Eng. Kau tahu bahwa aku bersiap sedia selalu untuk membelamu dengan taruhan nyawa sekalipun!"

Berdebar jantung janda muda itu dan ia memeras rambutnya lalu di gelungnya.

"Punyamukah jubah panjang ini, Ong Kiat?"

"Ya, aku melihat kau.....kau kedinginan, maka aku kerobongkan baju luarku."

Dengan muka terasa panas biarpun masih basah oleh air, Loan Eng mengerling ke arah punggung orang muda itu.

"Dan...kau.....kau melihat....."

"Apa, Loan Eng?"

".......tidak apa-apa! Aku sudah selesai berpakaian, Ong Kiat!"

Orang muda itu memutar tubuhnya dan mereka saling pandang.

"Ah, kau tidak berubah, Loan Eng. Masih seperti dulu."

"Siapa bilang tidak berubah? Aku sekarang sudah tua."

"Kau keliru! Setiap orang akan dapat mengatakan bahwa kau tiada ubahnya seorang gadis berusia tujuh belas tahun saja. Sungguh, kau tidak berubah, Loan Eng."

"Kau pun tidak berubah, Ong Kiat, yakni.... watakmu, masih baik seperti dulu."

"Jadi keadaan jasmaniku berubah dalam pandanganmu?"

"Hanya pakaianmu!"

Ong Kiat tertawa dan biarpun usianya sudah hampir tiga puluh tahun, ketika tertawa dia nampak masih muda sekali.

"Memang aku telah menjadi piauwsu (pengantar dan pengawal barang kiriman) dan aku tinggal di kota Hak-keng, tidak jauh dari sini."

Percakapan mereka terhenti karena terdengar suara orang dan dan tindakan kaki.

"Akan kubasmi semua gerombolan anjing itu!"

Kata Loan Eng perlahan dan tanpa berjanji dulu, kedua orang ini lalu melompat menerjang ke arah pintu, keluar dari ruangan itu.

Alangkah kagetnya Sin Sai dan Sin Houw yang memimpin orang-orangnya ketika melihat dua orang itu.

Mereka tidak mengira bahwa Loan Eng sudah dapat keluar dari sumur itu.

Namuan Loan Eng dan Ong Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka untuk berheran-heran lebih lama lagi karena Loan Eng sudah lantas menggerakkan pedangnya dan menerjang dengan hebat sekali.

Juga Ong Kiat telah menerjang dengan goloknya yang terkenal karena dia adalah anak murid Thian-san-pai yang berkepandaian tinggi.

Hebat sekali sepak terjang kedua orang muda yang marah ini.

Terutama sekali Loan Eng.

Pendekar wanita ini mengarahkan serangannya khusus kepada Sin Sai dan Sin Houw yang mengeroyoknya, sedangkan Ong Kiat dengan enaknya membabati anak buah gerombolan yang segera roboh sambil menjerit kesakitan.

Hanya dalam waktu tiga puluh jurus saja, berturut-turut Sin Sai dan Sin Houw roboh dan tewas di ujung pedang Loan Eng, kemudian bersama Ong Kiat ia membasmi semua anak buah gerombolan.

Tak seorangpun dapat melarikan diri.

Ong Kiat lalu mengajak Loan Eng menyerbu ke dalam gedung itu.

Mereka membebaskan orang-orang wanita yang tadinya diculik oleh gerombolan itu dan jumlah mereka semua adalah sembilan orang, penduduk dusun-dusun dan juga ada dua orang berasal dari kota Hak-keng.

Ong Kiat mengumpulkan barang-barang kawalannya yang tadinya dirampok oleh gerombolan itu.

Ia tidak mau mengambil lain barang berharga untuk keperluannya sendiri, bahkan lalu membagi-bagikan barang-barang lainnya kepada sembilan orang wanita itu yang berlutut di depan Loan Eng dan Ong Kiat sambil menghaturkan terima kasih.

Lalu mereka membakar gudang sarang gerombolan itu dan kedua orang gagah ini mengantar sembilan orang wanita itu menuju Hak-keng.

Tak perlu kiranya diceritakan betapa dua orang muda pendekar ini disambut dengan penuh kegembiraan dan rasa terima kasih oleh keluarga para korban itu.

Terutama sekali Ong Kiat yang memang sudah terkenal di kota Hak-keng sebagai seorang pendekar yang budiman, mendapat sambutan hangat, bahkan kepala daerah di Hak-keng memberi gelar Hak-keng taihiap kepadanya.

Kemudian, di ruang tamu di rumah Ong Kiat, dua orang pendekar itu duduk menghadap arak.

Loan Eng merasa terharu melihat betapa keadaan rumah bekas kawannya ini sunyi saja, hanya ada dua orang pelayan wanita tua yang mengurus rumah tangga.

"Ong Kiat, di mana orang tuamu?"

Ong Kiat menarik napas panjang.

"Mereka telah meninggal dunia ketika di kota ini mengamuk wabah penyakit."

"Dan kau hidup sebatang kara?"

Ong Kiat mengangguk.

"Apakah kau tidak...... tidak beristri?"

Mendengar pertanyaan ini, merahlah wajah Ong Kiat dan dia menjawab agak kasar.

"Loan Eng, kaukiara aku laki-laki macam apakah? Selama hidup, aku takkan melanggar sumpahku!"

Kini Loan Eng menghela napas sambil menundukkan mukanya.

Ia masih ingat baik-baik akan sumpah Ong Kiat, bahwa pemuda ini tidak akan menikah dengan lain orang wanita kecuali denganThio Loan Eng yang sudah di jodohkan oleh orang tuanya kepada Bun Liok Si!

"Loan Eng, kau baik-baik saja selama ini?

Bahagiakah hidupmu?"

"Ah, Ong Kiat. Kau tidak tahu. Aku adalah seorang yang paling berdosa, seorang istri yang tidak baik. Aku...... aku telah membunuh suamiku sendiri."

Akan tetapi Ong Kiat tidak heran mendengar ini.

"Aku sudah tahu, Loan Eng. Aku sudah mendengar tentang semua keadaanmu."

Kemudian untuk menggembirakan suasana, dia bertanya.

"Ah, ya, bagaimana dengan puterimu? Sudah besarkah?"

Berseri wajah Loan Eng.

"Kalau tidak ada puteriku, agaknya aku takkan ada di dunia ini."

Setelah berhenti sebentar, Loan Eng lalu mengubah percakapan yang tidak enak itu.

"Ong Kiat, bagaimana kau bisa berada di sarang gerombolan itu dan kebetulan sekali menolongku keluar dari dalam sumur?"

Ong Kiat lalu bercerita.

Telah beberapa tahun dia menjadi piauwsu dan karena gagahnya dan jujurnya, maka dia dipercaya penuh oleh banyak pedagang dan bangsawan.

Pada suatu hari, pembantu-pembantunya mengantarkan barang-barang berharga dari seorang bangsawan dan barang-barang itu harus di antarkan ke kota raja.

Pada waktu itu, Ong Kiat tidak berada di Hak-keng karena piauwsu muda ini sedang mengantar seorang keluarga, yang melakukan perjalanan jauh.

Ketika dia datang di Hak-keng kembali, dia mendengar bahwa barang kiriman itu dirampok oleh gerombolan di dalam hutan itu.

Marahlah Ong Kiat dan seorang diri saja dia lalu membawa goloknya melakukan penyelidikan.

Melihat gerombolan itu terdiri dari dua puluh orang lebih, ia lalu melakukan pembakaran pada bagian belakang gedung itu, tidak tahu bahwa Loan Eng sudah menyerbu masuk ke dalam.

Ong Kiat maklum akan kelihaian gerombolan ini, karena dia tahu bahwa bekas kelenteng ini memang mempunyai banyak bagian-bagian rahasia.

Kemudian dia merobohkan beberapa orang anggauta gerombolan dan menyerbu ke dalam.

Ia datang pada saat yang tepat karena dia melihat empat orang gerombolan mengintai dari pintu sebuah ruangan besar, di mana terdapat sumur rahasia itu.

Ia merobohkan dua orang anggauta gerombolan dan yang dua lagi lari keluar.

Maka tepat sekali kedatangannya dan dia masih sempat menolong Loan Eng dari bahaya maut.

Ia tadinya tidak tahu bahwa orang yang terjebak adalah Loan Eng, wanita satu-satunya di dunia ini yang menjadi pujaan kalbunya.

Melihat keadaan Loan Eng cepat Ong Kiat mengerobongi tubuh wanita yang dikasihinya ini dengan baju luarnya, kemudian dia menyerbu ke dalam kamar belakang dan minta sesetel pakaian dari seorang wanita tawanan untuk diberikan kepada Loan Eng setelah pendekar manita ini siuman kembali.

Mendengar penuturan Ong Kiat, Loan Eng berkata kagum.

"Tak kusangka bahwa kepandaianmu telah maju demikian hebatnya, Ong Kiat."

"Ah, mana bisa di bandingkan dengan ilmu pedangmu?"

Jawab Ong Kiat merendah, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh dia berkata.

"Loan Eng, setelah kau sekarang menjadi janda, hidup berdua dengan puterimu, adakah harapan kiranya bagiku untuk membantumu mendidik puterimu itu? Aku akan menganggap sebagai anakku sendiri, Loan Eng."

Sambil berkata demikian, dia menatap wajah bekas kawannya itu dengan penuh harapan.

Loan Eng tertegun dan menundukkan mukanya yang menjadi merah!

Terus terang saja, dahulu sebelum ia di jodohkan dengan Bun Liok Si, diam-diam ia juga merasa suka kepada Ong Kiat, kawan mainnya semenjak ia kecil.

Setelah mulai dewasa rasa suka ini menjadi perasaan cinta kasih yang terpendam.

Akan tetapi, setelah menjadi istri Bun Liok Si, perasaan terhadap Ong Kiat ini diusirnya jauh-jauh, dan tidak pernah dipikirkannya lagi.

Sebagai seorang istri, ia harus mencinta suaminya dan harus bersetia lahir dan batin!

Biarpun suaminya telah meninggal dunia, namun andaikata ia tidak bertemu Ong Kiat, agaknya selama hidupnya ia pun tidak akan mengingat lagi kepada bekas kawan itu.

Akan tetapi, nasib agaknya menghendaki lain, karena dalam keadaan yang amat tidak tersangka-sangka, ia bertemu dengan pemuda ini.

Dan lebih hebat lagi, ternyata bahwa Ong Kiat masih setia dan tidak mau menikah dengan wanita lain, bahkan sekarang mengajukan pinangan kepadanya!

Dapat dibayangkan betapa gelisah dan bingungnya hati Loan Eng menghadapi pinangan pemuda ini.

Ia maklum akan kemuliaan hati dan kebaikan watak Ong Kiat, dan ia berani memastikan bahwa andaikata ia meneriman pinangan ini, ia akan dapat hidup beruntung, dan juga puterinya, Sui Ceng, pasti akan menemukan seorang ayah tiri yang jauh lebih baik adat wataknya daripada ayahnya sendiri yang sudah meninggal!

Akan tetapi.....

hatinya masih terasa berat untuk menerima pinangan ini.

Memang, di Tiongkok pada masa itu, adalah merupakan hal yang langka dan tidak mungkin bagi seorang janda, apalagi sudah mempunyai anak, untuk menikah lagi.

Melihat sampai sekian lamanya Loan Eng tidak menjawab dan menunduk saja dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Ong Kiat lalu bertanya, dengan nada mendesak.

"Loan Eng, bagaimana jawabmu? Apakah masih juga aku tidak mempunyai harapan?"

Loan Eng mengangkat mukanya memandang dan Ong Kiat melihat betapa sepasang mata yang bening itu menjadi basah.

"Ong Kiat, bagaimana aku harus menjawabmu? Aku tidak ingin menyakitimu, tidak ingin mengecewakanmu, kau begitu baik.... Sedangkan aku......"

"Hush Loan Eng, jangan ucapkan kata-kata seperti itu. Aku bukan seorang anak-anak lagi. Marilan kita bicara dengan tenang, tidak baik kalau orang-orang yang sudah banyak menderita seperti kita ini masih dapat dikuasai oleh nafsu."

Mendengar ucapan ini, legalah Loan Eng. Ia mengangkat mukanya lagi dan kini ia memandang dengan berani. Pandangan matanya penuh kekaguman.

"Loan Eng, aku dapat menduga isi hatimu. Kau tentu suka sekali menerima pinanganku, akan tetapi kau merasa tidak enak, sebagai seorang janda muda menikah lagi, bukan?"

Loan Eng mengangguk.

"Bukan cuma itu, Ong Kiat. Aku telah membunuh suamiku sendiri karena dia menyeleweng karena cemburu. Kalau sekarang aku menikah lagi dengan kau, apakah orang lain tidak akan mengatakan bahwa aku sengaja membunuh suamiku untuk dapat menikah lagi dengan orang lain?"

Ong Kiat mengerutkan keningnya, beralasan juga kata-kata wanita yang dicintainya ini.

"Akan tetapi, Loan Eng. Dalam hal pembentukan rumah tangga, suara orang luar itu hanya mendatangkan kerusakan belaka. Apa sangkut pautnya orang lain dengan kita? Pula, hendak kulihat, siapa orang-orangnya yang berani mencacimu? Pendeknya begini, Loan Eng. Kau pulanglah dan pikirkanlah masak-masak. Aku tidak terburu-buru dan masih tetap bersabar, karena beratahun-tahun aku menanti, bahkan aku telah mengambil keputusan takkan menikah dengan orang lain. Masa aku tidak dapat bersabar menanti sampai kau dapat mengambil keputusan? Ingatlah selalu, bahwa di Hak-keng, aku selalu menanti kedatanganmu dan anakmu."

Demikianlah, Loan Eng lalu pulang ke Tun-hang dengan berat hati dan ragu-ragu untuk mengambil keputusan.

Dan dalam perjalanan pulang inilah ia bertemu dan menolong Lu Kwan Cu dari tangan Tauw-cai-houw sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.

Kemudian terjadi peristiwa penculikan Sui Ceng oleh anak buah suaminya, yakni anggota-anggota Sin-to-pang.

Melihat keadaan ini, ngerilah hati Loan Eng.

Ia takut kalau-kalau puterinya yang hanya satu-satunya dan yang amat dikasihinya itu akan benar-benara menjadi ketua dari Sin-to-pang!

Maka ia lalu membawa pergi puterinya, meninggalkan Lu Kwan Cu.

Kemanakah perginya Loan Eng dan Sui Ceng.

Mudah diduga.

Kemana lagi kalau tidak ke Hak-keng, ke tempat tinggal Ong Kiat, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi harapan Loan Eng.

Bukan demi rasa cintanya kepada Ong Kiat maka ia datang kepada piauwsu muda itu, melainkan karena ia bingung bagaimana harus mendidik Sui Ceng tanpa ayah.

Ia tahu bahwa di samping Ong Kiat, ia akan merasa kuat dan tabah, dan Sui Ceng akan mendapatkan rumah tangga yang kokoh kuat dan berbahagia.

Ong Kiat menerima mereka dengan girang bukan main.

Pernikahan dilangsungkan secara sederhana sekali.

Ong Kiat hanya mengundang kawan-kawan dan kenalan-kenalan yang dekat, dan upacara pernikahan hanya cukup dengan sembahyang dan disaksikan oleh para tamu.

Akan tetapi, dalam upacara ini, terjadilah hal yang sangat hebat sekali.

Selagi para tamu bergembira-ria minum arak dan makan hidangan, sedangkan Loan Eng telah kembali ke kamarnya, tiba-tiba dari luar datang seorang tokouw (pendekar wanita) yang tua akan tetapi berwajah keren sekali.

Pendeta wanita ini memegang sebatang cambuk berbulu sembilan.

Dia bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li, tokoh besar ke dua dari selatan!

Pada waktu itu, Loan Eng sedang memeluk puterinya, sambil menangis terisak-isak.

Selama dilakukan upacara pernikahan, Sui Ceng tidak mau keluar dari kamar dan anak ini marah-marah saja dan menangis.

"Ibu, kau terlalu! Mengapa menikah dengan Paman Ong Kiat?"

Demikian berkali-kali anak kecil ini menegur ibunya dengan muka cemberut.

"Sst, anakku. Bukankah paman Ong amat baik? Dia akan menjadi ayahmu yang baik sekali."

"Ah, aku tidak suka, Ibu. Ayahku ketua dari Sin-to-pang, baik mati atau hidup dia tetap ayahku!"

Mendengar ucapan ini, Loan Eng memeluk puterinya dan menangis.

Ia tidak harus berbuat dan berkata bagaimana.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di bagian luar.

Suaminya masih melayani tamu di depan, maka mendengar suara ribut-ribut itu, Loan Eng lalu melepaskan penutup kepalanya, dan memang ia berpakaian sederhana.

Kemudian ia lalu bertindak keluar, meninggalkan puterinya yang masih berbaring menangis di atas tempat tidur.

Ketika Loan Eng tiba di luar, ia terkejut sekali.

Ia melihat seorang tokouw dikelilingi oleh banyak tamu dan suaminya menghadapi tokouw itu dengan marah-marah.

"Suthai, kau terlalu sekali! Bagaimana kau bisa minta begitu saja anak orang. Harap kau jangan mengganggu kami, Suthai. Kesalahan apakah yang telah kami lakukan sehingga kau datang-datang hendak mengacau?"

Mendengar ucapan suaminya, Loan Eng terkejut sekali dan ia berseru keras.

"Ong Kiat, jangan kurang ajar......!"

Semua orang terkejut dan lebih-lebih heran mereka ketika melihat betapa Loan Eng berlari setelah tiba di depan tokouw itu, Loan Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depannya dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Teecu mengaku salah, harap Locianpwe sudi memberi maaf kepada teecu sekalian......."

Katanya dengan suara amat menghormat. Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan lenyaplah kekakuan pada mukanya.

"Hm, Loang Eng, kau masih muda, tentu saja kau ingin berumah tangga lagi. Pinni bukan datang hendak mengganggu, hanya untuk minta anakmu, karena bukankah dia hanya mengganggu kebahagianmu saja?"

Pada saat itu, Sui Ceng sudah muncul pula, karena anak ini tadi mengejar ibunya.

Melihat tokouw itu, Sui Ceng tertegun.

Mengapa ibunya berlutut didepan tokouw aneh ini?

Sementara itu Kiu-bwe Coa-li ketika melihat Sui Ceng, lalu menggerakkan cambuknya.

Dua helai bulu cambuknya itu melayang dan tahu-tahu telah melibat tubuh Sui Ceng.

Sekali betot saja, tubuh anak itu telah melayang ke arahnya dan diterima terus di pondong oleh pendeta wanita itu.

Sui Ceng bersorak girang.

"Hebat, hebat! Kau lihai sekali, Suthai,"

Kata Sui Ceng. Kiu-bwe Coa-li tertawa.

"Mau kau ikut aku belajar silat? Di sini kau hanya mengganggu ibumu yang sedang bersenang-senang!"

Sui Ceng memandang kepada ibunya yang berlutut, kemudian memandangi Ong Kiat yang berdiri di dekat situ, lalu ia memandang kembali kepada Kiu-bwe Coa-li dan menganggukkan kepalanya.

"Aku ingin belajar silat, karena aku adalah ketua dari Sin-to-pang. Aku harus lihai!"

"Bagus, hayo ikut aku pergi!"

Sambil berkata demikian, Kiu-bwe Coa-li membawa Sui Ceng.

"Sui Ceng....!"

Loan Eng mengeluh akan tetapi tidak berani mengejar. Tokouw itu menengok dan berkata dengan suara keren.

"Loan Eng, apa kau tidak rela memberikan anakmu sebagai muridku?"

"Bukan tidak rela, hanya teecu berat berpisah dari dia....."

Jawab ibu ini. Kiu-bwe Coa-ii tertawa mengejek.

"Bukankah kau sudah mendapatkan suami baru? Dia yang akan menghiburmu dan kau akan lupa kepada anakmu!".

"Suthai, kau terlalu sekali!"

Ong Kiat membentak.

"Kembalikan Sui Ceng kepada kami!"

Piauwsu muda ini lalu melompat mengejar dan menubruk, hendak marampas Sui Ceng.

"Ong Kiat, jangan...!"

Loan Eng memberi peringatan, namun terlambat. Begitu Kiu-bwe Coa-li menggerakkan tangannya, tubuh Ong Kiat terpental ke belakang bagaikan tertiup angin puyuh.

"Hm, kalau tidak ingat kau seorang pengantin baru, tentu kau sudah menggeletak tak bernyawa pula!"

Kata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, lenyaplah bayangan bersama Sui-Ceng.

Loan Eng menangis, dipeluk dan dihibur oleh suaminya yang masih terheran-heran bagaimana dia tadi sampai terpental ke belakang, karena dia tidak dapat melihat tangkisan atau serangan wanita tua yang lihai itu.

"Sudahlah, Loan Eng. Tak perlu kita bersedih terus. Bukankah Sui Ceng berada dalam tangan orang sakti? Ia akan menerima latihan ilmu silat yang luar biasa. Guru-guruku sendiri di Thian-san tak mungkin dapat menandingi kelihaian nenek tadi. Siapakah dia itu?"

Setelah menyusut air matanya dan dapat menentramkan hatinya, Loan Eng berkata.

"Tidak tahukah kau siapa dia? Dia adalah Kiu-bwe Coa-li!"

"Ayaaa.......! Pantas saja ia demikian lihai dan aneh. Baiknya ia masih tidak berlaku kejam padaku, kalau tidak demikian, bagaimana aku masih bisa hidup?"

Kata Ong Kiat.

"Dia telah beberapa kali menolongku dan aku percaya bahwa anakku tentu akan aman di dalam pendidikannya, akan tetapi, bagaimana aku bisa senang ditinggalkan oleh anakku?"

Loan Eng mengeluh sedih.

Ong Kiat menghiburnya dengan penuh cinta kasih dan perhatian sehingga lambat-laun dapat juga Loan Eng mengatasi kedukaannya.

Demikianlah keadaan dan pengalaman Loan Eng sehingga Kiu-bwe Coa-li dapat muncul memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng bersama Bun Sui Ceng yang telah menjadi muridnya.

Sekarang baik kita mengikuti pengalaman dan perjalanan Lu Kwan Cu lebih lanjut.

Sambil melakukan perjalanan menuju ke Gunung Liang-san untuk mencari peninggalan buku-buku dari Gui Tin, Lu Kwan Cu mulai menerima pelajaran ilmu silat dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai Lu Sin.

Ang-bin Sin-kai melihat bakat yang amat baik dalam diri muridnya, maka dia tidak berlaku kepalang tanggung dalam melatih ilmu silat.

Ia melatih bhesi dan gerakan kaki dengan amat cermat, sehingga dalam beberapa bulan, dia masih belum memberi pelajaran ilmu pukulan, melainkan ilmu pelajaran pasang kuda-kuda kaki dan mengatur tenaga dalam kedudukan badan.

Selain itu, dia memberi pelajaran cara bersiulian dan mengatur napas.

Biarpun pelajaran ini menjemukan dan tidak menarik hati, namun Kwan Cu mempelajari dan melatih diri dengan amat tekun.

Tubuhnya telah kehilangan tenaga lweekang yang dilatihnya menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu, maka boleh dibilang dia mulai melatih diri dari tingkat bawah lagi.

Akan tetapi, dalam hal latihan ginkang dan ilmu lari cepat, Kwan Cu benar-benar mendapat kemajuan pesat sekali.

Hal ini adalah karena perjalanan itu sendiri merupakan latihan yang terus menerus baginya.

Tanpa memberitahukan muridnya, makin lama Ang-bin Sin-kai makin cepat menggerakkan kedua kakinya sehingga secara otomatis, ilmu lari cepat Kwan Cu maju pesat sekali.

Kadang-kadang, di waktu melompati jurang-jurang kecil, kakek ini tidak membantu Kwan Cu dalam melopati jurang-jurang makin hebat dan makin lebarlah jurang yang dapat dilompatinya.

Pada suatu hari, mereka mengaso di dalam sebuah hutan.

Ang-bin Sin-kai tidur mendengkur sambil bersandar pada sebatang pohon besar.

Kwan Cu berjalan di dalam hutan mencari bahan makan siang.

Ia tahu bahwa suhunya doyan sekali makan daging kelinci panggang, maka dia mencari-cari binatang itu untuk ditangkapnya.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya dia melihat seekor kelinci gemuk yang menggerak-gerakkan kedua telinganya dengan lucu sekali.

Kelinci itu pun mendengar kedatangannya, dan cepat sekali binatang ini melompat ke dalam semak-semak.

Kwan Cu mengejarnya dan mengambil beberapa potong batu kecil.

Di goyang-goyangnya rumpun di mana kelinci itu bersembunyi.

Binatang ini menjadi ketakutan dan melompat keluar lalu berlari cepat.

Akan tetapi Kwan Cu lebih cepat gerakannya dan tangannya menyambar.

Sebuah batu kecil meluncur ke arah binatang itu.

Kwan Cu merasa yakin bahwa sambitannya pasti akan mengenai sasaran, karena dia telah mempelajari Pek-po-coa-yang (Ilmu Timpuk Tepat Dalam Jarak Seratus Kaki).

Akan tetapi, ketika batu itu sudah menyambar dekat dengan tubuh kelinci, tiba-tiba dari lain jurusan, menyambar sebutir batu bundar yang meluncur cepat sekali dan membentur batu yang disambitkan Kwan Cu.

Kwan Cu terkejut dan juga heran sekali.

Ia menoleh ke sana ke mari namun tidak melihat orang.

Kelinci itu sudah berlari pergi dan sebentar saja lenyap.

"Binatang yang begitu lucu mengapa harus dibunuh?"

Terdengar suara nyaring menegur dan tiba-tiba melompatlah bayangan seorang anak kecil keluar dari balik sebatang pohon besar.

Ketika Kwan Cu memandang, ternyata bahwa anak itu adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai!

Kun Beng keluar sambil tersenyum-senyum ramah dan wajahnya yang tampan tampak menarik sekali.

Kwan Cu tidak menjadi marah kehilangan kelincinya.

"Maksudku bukan untuk membunuh, akan tetapi makan dagingnya,"

Bantahnya sambil tersenyum juga. Kun Beng membelalakkan kedua matanya.

"Apa bedanya? Bukankah makan dagingnya berarti membunuh juga?"

Dengan wajah sungguh-sungguh, Kwan Cu menggeleng kepalanya.

"Jauh sekali bedanya! Membunuh karena marah dan mata gelap, itu bodoh namanya. Membunuh untuk memuaskan hati dan memperlihatkan keunggulan, itu kejam namanya. Akan tetapi membunuh untuk mengisi perut karena lapar, itu lain lagi, bukan membunuh lagi namanya!"

Kun Beng tertegun.

"Ah, lidahmu lemas sekali, Kawan. Ucapanmu itu benar-benar aku tidak mengerti maksudnya. Cara kau bicara seperti suhu saja, membingungkan. Bukan bicara anak-anak dan aku tidak suka. Lebih baik kita main gundu, lebih menggembirakan."

"Main gundu?"

Kini Kwan Cu yang terheran-heran.

Anak aneh, datang-datang dan bertemu di tengah hutan mengajak main gundu!

Pula, dia tidak bisa main gundu.

Kun Beng mengeluarkan kelereng yang dipegangnya.

Semua ada tujuh butir, terbuat daripada batu-batu hitam yang keras.

"Sebetulnya harus delapan butir, akan tetapi yang sebutir tadi kupakai menolong nyawa kelinci,"

Kata Kun Beng sambil tertawa.

"Akan tetapi tidak apa, pakai tujuh butir pun sudah cukup."

"Bagaimana cara memainkannya?"

Tanya Kwan Cu yang ikut pula berjongkok seperti Kun Beng.

"Kau lihatlah baik-baik! Yang enam butir kulemparkan di atas tanah dan berpencaran, kemudian dengan sebutir ini aku membidik sehingga berganti-ganti dapat mengenai enam butir kelerang itu."

Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu membidikkan sebutir kelereng dari jarak lima kaki.

Kelereng itu meluncur dari tangannya dan menggelinding, dengan jitu sekali mengenai pertama, terus mental kepada kelereng kedua, ketiga dan seterusnya sampai enam butir kelereng itu itu terkena benturan semua!

"Bagus!"

Kata Kwan Cu memuji.

"Kau pandai sekali!"

"Nah, yang berhasil membenturkan kelereng jagonya sampai mengenai enam yang lain, boleh main terus. Kalau tidak kena, baru kau boleh dapat giliran."

Demikianlah, dua orang anak-anak ini sambil berjongkok bermain gundu di tengah hutan! Akan tetapi karena tidak terlatih, tentu saja Kwan Cu kalah selalu.

"Kau benar-benar pandai. Siapa sih namamu?"

"Namaku The Kun Beng. Aku sudah tahu namamu, Lu Kwan Cu, bukan?"

Kwan Cu mengangguk.

"Suhumu itu amat lihai dan terkenal. Suhuku sering kali memuji namanya. Dan suhengmu yang galak itu, siapa namanya?"

"Suheng bernama Gouw Swi Kiat, biarpun galak akan tetapi hatinya baik dan dia lihai mainkan sepasang kipas."

"Kau pun tentu lihai main kipas."

Kun Beng menggeleng kepalanya.

"Aku lebih suka mainkan tombak dan pedang, terutama sekali tombak. Kau sendiri belajar apakah dari suhumu?"

Kwan Cu menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Tidak belajar apa-apa, hanya belajar gerakan kaki saja. Eh, Kun Beng, kau mengapa bisa berada di tempat ini? Mana suhengmu dan suhumu?"

"Mereka masih di belakang. Aku mendahului mereka masuk ke dalam hutan. Aku paling senang berada di dalam hutan, dikelilingi pohon-pohon besar dan daun-daun. Nah, itu dia suhengku datang."

Benar saja, Swi Kiat muncul dan datang-datang ia menegur sutenya.

"Sute, kau terlalu sekali. Suhu menyuruh aku mencarimu di mana-mana hingga kucari sampai berputaran di dalam hutan ini. Eh, bukankah ini Lu Kwan Cu, bocah yang mengacaukan urusan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu?"

Tanyanya sambil memandang tajam kepada Kwan Cu.

"Suheng, Kwan Cu kalah main kelereng denganku!"

Kata Kun Beng.

"Main kelereng? Ah, kau seperti anak kecil saja. Mengapa tidak mengalahkan dalam dia main silat?"

"Kwan Cu belum belajar silat, Suheng. Bagaimana bisa minta dia pibu (mengadu kepandaian silat)?"

"Dia bohong! Mana bisa murid Ang-bin Sin-kai tidak mengerti ilmu silat? Hm, orang yang suka menyembunyikan kepandaiannya, dia mempunyai hati curang dan licik. Eh, Lu Kwan Cu, beranikah kau mengadu kepandaian dengan aku?"

Gouw Swi Kiat menantang dengan sikap sombong.

"Berani sih tentu saja berani. Takut atau tidak berani hanya bersarang dalam hati seorang bersalah, sedangkan aku tidak bersalah sesutau terhadapmu. Akan tetapi, tentang mengadu kepandaian denganmu, apanya yang harus diadu? Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa,"

Jawab Kwan Cu sejujurnya.

Memang, semenjak suhunya mengeluarkan semua tenaga yang dipelajarinya, dari kitab palsu, kini dia tidak mempunyai kepandaian silat sama sekali, kecuali ginkang dan lweekang yang masih dimiliki tanpa disadarinya.

"Mulutmu lemas sekali seperti perempuan! Kau hanya mempergunakan lidahmu untuk mencari alasan, padahal sesungguhnya kau takut padaku. Hayo bilang saja kau takut!"

Swi Kiat membentak sambil mengejek.

"Aku tidak takut!"

Jawab Kwan Cu menggelengkan kepala.

"Bagus, kalau begitu mari kita mengukur kepandaian!"

Sebelum Kwan Cu sempat menjawab, Swi Kiat sudah menyerang dengan pukulan tangan kiri ke arah dada!

Biarpun belum menerima latihan ilmu pukulan dari suhunya, namun Kwan Cu sudah mempelajari cara pergerakan kaki dan kedudukan tubuh, maka dia memiliki kegesitan dan gerakan otomatis dari seorang ahli silat tinggi.

Menghadapi pukulan ini, dia miringkan tubuh dan menarik kaki yang berada di depan sehingga pukulan itu mengenai angin!

Swi Kiat menjadi penasaran dan menyerang bertubi-tubi!

Swi Kiat adalah murid pertama yang berbakat dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Tentu saja ilmu silatnya sudah baik dan tinggi.

Seorang laki-laki dewasa saja, dalam satu dua gebrakan tentu akan roboh olehnya.

Usianya sebaya dengan Kwan Cu dan dalam hal ilmu silat, dia masih menang jauh.

Maka, setelah dapat mengelak beberapa jurus, akhirnya kepala Kwan Cu yang gundul itu terkena pukulan tangan kiri Swi Kiat.

"Buk!"

Tubuh Kwan Cu berputaran saking kerasnya pukulan itu.

Untuk sejenak kepalanya terasa pening dan seakan-akan kepalanya terasa bengkak membesar.

Akan tetapi, hanya sebentar saja karena di dalam darah Kwan Cu telah mengalir darah ular dan buah coa-ko, ditambah pula latihannya lweekang tanpa disadarinya telah mencapai tingkat tinggi juga.

"Kita tidak berkelahi, bagaimana aku bisa mengaku kalah?"

Kwan Cu berkata sambil menggelengkan kepalanya.

"Eh, gilakah kau? Bukankah baru saja kau kuserang dan kepalamu terpukul?"

"Memang kau menyerangku, akan tetapi tidak berkelahi!"

"Suheng, jangan pukul dia! Dia benar-benar tidak mempunyai kepandaian silat!"

Kwan Cu mendengar suara Kun Beng mencegah suhengnya. Akan tetapi Swi Kiat sambil bertolak pinggang, berkata kepada Kwan Cu.

"Hayo kau mengaku kalah padaku!"

"Suheng, dia benar! Dia sama sekali tidak membalas seranganmu, bagaimana disebut berkelahi?"

"Kalau begitu, sekarang aku akan memaksa dia berkelahi dengan aku!"

Seru Swi Kiat yang menyerang pula. Akan tetapi, tiba-tiba Kun Beng melompat menangkis serangan suhengnya itu.

"Eh, Kun Beng. Apa kau sudah gila?"

"Tidak segila engkau, Suheng! Seorang gagah tidak akan menyerang orang yang tidak mau membalas!"

Jawab Kun Beng.

Swi Kiat ragu-ragu.

Ia harus akui bahwa tingkat kepandaian sutenya tidak kalah olehnya, kalau tidak mau dibilang lebih tinggi dan lebih maju.

Pula, dia sayang kepada sutenya ini dan tentu saja tidak mau cekcok dengan sutenya hanya karena Kwan Cu, bocah gundul itu.

"Kau pergilah!"

Bentaknya kepada Kwan Cu, yang memandang semua itu dengan matanya yang bersinar-sinar.

Mendengar bentakan ini, sebetulnya kalau menurut wataknya yang keras dan tidak mau tunduk, Kwan Cu tidak mau mengambil perhatian.

Akan tetapi Kun Beng berkata halus, Kwan Cu, lebih baik kau tinggalkan kami saja.

Untuk apa mencari keributan?"

Kwan Cu mengangguk dan berjalanlah dia untuk kembali kepada suhunya.

Di tengah jalan, dia berhasil menimpuk mati seekor kelinci dan dengan girang dibawanya kelinci itu kepada suhunya.

Ia mendapatkan gurunya telah bangun dari tidurnya dan kini gurunya itu duduk bersandar pada pohon dan memandangnya.

"Suhu, teecu mendapatkan seekor kelinci!"

Kata anak itu girang. Akan tetapi gurunya tidak ikut bergembira, bahkan menegurnya.

"Kwan Cu, kau membikin malu padaku! Kau hanya berani menyerang seekor kelinci, akan tetapi tidak berani membalas serangan seorang lawan yang menghinamu! Kau membiarkan kepalamu yang gundul itu menjadi permainan pukulan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Bukankah itu amat memalukan dan merendahkan nama guru?"

Kwan Cu tertegun.

Gurunya tadi tidur pulas di bawah pohon, bagaimana suhunya ini tahu akan peristiwa yang terjadi antara dia dan Swi Kiat?

"Suhu, teecu tidak berniat berkelahi.

Untuk apakah berkelahi dengan orang?

Tidak ada alasannya bagi teecu untuk membalas serangannya.

Dan pula, bagaimana teecu bisa membalas?

Dia lihai sekali."

Merah muka Ang-bin Sin-kai yang memang sudah merah itu.

"Murid goblok! Kalau tiada hujan tiada angin kau mengamuk dan memukul orang, itu memang tidak baik dan tidak beralasan. Akan tetapi kau dihina dan dipukul. Itu sudah merupakan alasan kuat sekali bagimu untuk membalas memukulnya!"

"Akan tetapi, Suhu....."

"Tidak ada tapi! Lekas kau kembali dan membalas pukulannya!"

"Dia lihai, Suhu......"

"Eh, kau takut?"

Mata bocah gundul itu bersinar penasaran.

"Takut?? Siapa takut, Suhu? Biar kepada iblis sekalipun teecu tidak takut!"

"Kalau begitu, kau lekas kembali kepadanya. Tanya apakah dia masih mau memukulmu, kalau dia menyerang, balas!"

"Teecu belum pernah suhu ajari ilmu pukulan."

"Untuk apa kedua tangan dan kakimu? Belajar atau tidak, memukul dan menendang tak bisa lain harus menggunakan kaki tangan. Dan kaki tanganmu masih ada, bukan?"

Kwan Cu mengaku kalah dan segera dia kembali mencari Swi Kiat!

Di dalam hutan, dia melihat Swi Kiat dan Kun Beng duduk di bawah pohon bersama gurunya, yakni Pak-lo-sian Siangkoan Hai!

Keder juga hati Kwan Cu melihat orang tua yang bertubuh pendek kecil itu, akan tetapi memang dia memang seorang anak yang tidak mengenal arti takut.

Pendiriannya sungguh teguh, seteguh batu karang di pinggir laut, bahwa kalau tidak bersalah dia tidak boleh takut kepada siapapun juga!

"Eh, Swi Kiat.

Apakah kau masih juga mau memukulku seperti tadi?"

Tanyanya sambil menghampiri Swi Kiat yang memandangnya dengan mata terheran.

Juga Kun Beng heran sekali sehingga tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

Adapun Siangkoan Hai memandang dengan mata penuh perhatian, lalu berkata.

"Ah, bukankah bocah gundul itu murid Gui Tin?"

"Teecu sekarang murid Ang-bin Sin-kai, Locianpwe."

Jawab Kwan Cu dengan suara tenang. Siangkoan Hai tertawa bergelak.

"Bersemangat juga anak ini. Eh, Swi Kiat, dia datang menegurmu hendak apakah?"

"Tadinya teecu telah menghajar dia, agaknya dia masih kurang dan minta tambah lagi,"

Kata Swi Kiat sambil bangun berdiri.

"Kwan Cu, apakah kau datang hendak minta di gebuk kepalamu yang gundul itu lagi? Jangan kurang ajar, lekaslah pergi dari sini!"

"Aku datang hendak menyatakan bahwa kalau kau menyerangku, sekarang aku akan membalasmu!"

Swi Kiat tertawa geli, bahkan Kun Beng juga tertawa, akan tetapi murid kedua dari Siangkoan Hai ini berkata.

"Kwan Cu, jangan berlaku bodoh. Kau bukan tandingan Suheng, untuk apa mencari penyakit?"

"Aku tidak ingin menyerangnya. Akan tetapi kalau dia berani memukulku, pasti kali ini akan membalasnya,"

Kata Kwan Cu masih tetap tenang.

"Kalau begitu aku akan memukulmu!"

Kata Swi Kiat sambil bersiap-siap menyerang Kwan Cu. Bocah gundul ini tidak seperti tadi, sekarang diapun bersiap-siap dan memasang kuda-kuda. Melihat sikap Kwan Cu, Pak-lo-sian tertawa bergelak.

"Eh, bocah gundul, benar-benarkah kau murid Ang-bin Sin-kai? Kalau benar kau murid Ang-bin Sin-kai, kau biasa mempelajari ilmu senjata apa sajakah?"

Kini Kwan Cu mengerti bahwa tinggi rendahnya nama suhunya tergantung dari sikap dan sepak terjangnya, maka dia hendak menebus kesalahannya yang tadi membuat malu nama gurunya.

Ia melihat sebatang ranting pohon di depan kakinya, maka dipungutnya ranting itu dan dia menjawab.

"Apapun juga yang berada di tangan suhu, menjadi senjatanya yang ampuh. Kalau Lociapwe bertanya tentang senjata, pada waktu ini teecu memegang ranting dan inilah pula senjataku!"

"Bagus! Eh, Kun Beng kaulawan bocah gundul ini. Kau pun boleh menggunakan ranting pohon!"

Kun Beng tertegun, akan tetapi dia pikir lebih baik melawan dia daripada menghadapi suhengnya bagi Kwan Cu.

"Kwan Cu, sekarang kita mengukur kepandaian, kalau kau roboh berarti kau kalah!"

"Sesukamulah!"

Kata Kwan Cu karena baginya, bertanding dengan siapapun sama juga, asal dia telah dapat menebus nama suhunya dengan melawan.

"Siapa saja yang memukul dan menyerangku, tentu kubalas."

Kun Beng menggerakkan rantingnya seperti kalau dia bermain tombak.

Memang semenjak kecilnya, Kun Beng lebih suka mempelajari ilmu tombak dan berbeda dengan suhengnya, dia mewarisi ilmu tombak dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Awas senjata!"

Serunya dan Kwan Cu bingung sekali melihat betapa setelah ranting itu digerakkan oleh tangan Kun Beng, ujung ranting seakan-akan berubah menjadi banyak sekali yang kesemuanya menyerang tubuhnya dengan hebat!

Ia lalu menggerakkan rantingnya menangkis sejadi-jadinya, namun karena tenaga lweekangnya memang sudah boleh juga, dia berhasil menyampok ranting di tangan Kun Beng.

Akan tetapi, ilmu tombak yang dipelajari oleh Kun Beng termasuk ilmu silat tinggi yang jarang bandingannya, maka begitu terkena tangkisan, ranting itu meluncur turun dan tanpa dapat dicegah lagi, kaki Kwan Cu kena dikait dan terjungkallah bocah gundul itu!

"Ha, ha, ha!

Pukul kepalanya yang gundul, Sute, biar dia tahu rasa!"

Kata Swi Kiat tertawa gembira.

Sebaliknya, Siangkoan Hai menjadi melongo.

Bagaimana Ang-bin Sin-kai dapat mengambil seorang murid yang begini tolol?

Ia akui bahwa memang si gundul ini bertulang baik, akan tetapi agaknya otaknya tidak genap!

Kwan Cu memang bandel dan juga tubuhnya sudah kuat sekali.

Begitu terjungkal dia bangun lagi dan siap sedia bertempur lagi.

"Eh, Kwan Cu. Kau sudah kalah, mengakulah,"

Kata Kun Beng. Murid kedua Siangkoan Hai ini memang mempunyai perasaan yang halus dan dia tidak tega untuk melawan Kwan Cu lagi yang terang-terangan tidak mempunyai kepandaian silat.

"Menyerah kalah tak mungkin. Kalau kau menyerang lagi, aku tetap akan melawan!"

Kwan Cu membandel. Kun Beng tidak mau menyerang lagi, bahkan melempar rantingnya ke atas tanah.

"Suhu, dia tidak bisa ilmu silat, bagaimana teecu dapat melawannya?"

Tiba-tiba Swi Kiat melompat maju.

"Anak ini memang bandeldan dia tidak akan tahu kelihaian ilmu Suhu kalau tidak diberi hajaran. Eh, Kwan Cu, apakah kau berani menghadapiku?"

"Mengapa tidak berani?"

Jawab Kwan Cu tenang.

"Kau boleh menggunakan rantingmu, biar aku menyerangmu dengan tangan kosong!"

Kata Swi Kiat.

"Aku bukan pengecut yang menghadapi orang bertangan kosong dengan senjata,"

Kwan Cu juga membuang rantingnya. Diam-diam Siangkoan Hai memuji.

"Hm, anak gundul ini benar-benar memiliki sifat gagah, sayang sekali otaknya miring. Mana bisa dia belajar silat? Sungguh kali ini Ang-bin Sin-kai menggelikan sekali."

Swi Kiat sudah maju menyerang.

Kwan Cu mengelak dan menangkis.

Dalam hal mempertahankan diri, dia boleh juga dan beberapa jurus lewat tanpa ada pukulan dan tendangan Swi Kiat yang mengenai tubuh Kwan Cu.

Akan tetapi, Kwan Cu hanya membalas dengan pukulan-pukulan ngawur saja, asal pukul dan asal menendang.

Ketika dia menendang Swi Kiat menangkap tumitnya dan sekali mendorong ke depan, tubuh Kwan Cu terlempar ke belakang dan dengan suara keras tubuhnya mengukur tanah!

Namun dia bangkit kembali dan sebelum dia dapat memperbaiki kedudukannya kembali Swi Kiat menyerbu dengan pukulannya yang membuat Kwan Cu untuk kedua kalinya jatuh tersungkur.

"Kau masih belum mengaku kalah?"

Bentak Swi Kiat.

Kekerasan hati Kwan Cu memang luar biasa sekali.

Ia menggeleng kepala dan mencoba untuk merayap bangun pula, akan tetapi sebuah tendangan membuatnya terguling-guling.

Sampai lima kali dia mencoba bangun dan terpaksa harus mencium tanah lagi, bahkan pukulan yang kelima kalinya membuat bibirnya pecah dan berdarah.

Namun pukulan itu seperti tidak terasa olehnya karena sedikit pun dia tidak mengeluh dan begitu roboh, dia merayap bangun kembali.

"Cukup, Suheng!"

Kata Kun Beng.

"Diam kau, Sute. Di dalam pibu, yang kalah harus mengaku kalah!"

Jawab Swi Kiat yang mengejar Kwan Cu lagi.

Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai hanya tertawa-tawa saja.

Kakek ini merasa bangga sekali dan diam-diam dia pun mengakui kekuatan Kwan Cu.

Jangankan seorang anak-anak, biarpun orang dewasa menghadapi pukulan bertubi-tubi dari Swi Kiat yang sudah memiliki tenaga lweekang lumayan itu, pasti akan terluka hebat.

Bagaimana bocah gundul ini tubuhnya seakan-akan terbuat daripada baja dan tidak pernah merasa sakit?

Kalau saja dia melihat bocah gundul itu terluka, tentu dia akan mencegah Swi Kiat melanjutkan serangannya, akan tetapi karena dia tahu betul bahwa Kwan Cu tidak terluka di dalam tubuhnya, maka dia hanya menonton saja.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, disusul oleh kata-kata.

"Bagus sekali!! Memang seorang yang kalah dalam pibu harus mengakui kebodohannya. Hayo Kwan Cu, kau harus mengakui kekalahan dan kelemahanmu!". Muncullah Ang-bin Sin-kai sambil tertawa-tawa. Melihat kakek ini, Swi Kiat melompat ke belakang dan tidak melanjutkan serangannya. Adapun Kwan Cu setelah mendengar kata-kata suhunya ini, merahlah mukanya. Ingin dia menangis keras, akan tetapi semangat dan kekerasan hatinya melarang air matanya mengucur keluar. Ia amat taat kepada suhunya, maka sambil menghadapi Swi Kiat yang berdiri dengan dada terangkat, dia berkata.

"Swi Kiat, aku mengaku kalah."

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak dan berkata keras-keras.

"Kwan Cu, dengan pengakuanmu ini, kau berarti menang! Seorang yang menangkan orang lain, belum boleh disebut gagah. Hanya orang yang sudah bisa mengalahkan kesombongan dan nafsunya sendirilah yang patut disebut gagah!. Orang menangkan orang lain tidak akan kekal, akan datang masanya dia dikalahkan oleh orang lain. Akan tetapi, kau telah dapat mengakui kelemahan, kebodohan dan kekalahanmu, inilah yang penting sekali. Kelak kau akan berlaku berhati-hati dan tidak akan terkalahkan untuk kedua kalinya. Ha, ha, ha!".

"Bagus, bagus!"

Siangkoan Hai bertepuk tangan memuji dengan kagum.

"Tak kusangka bahwa jembel tua ini bener-benar pandai menjadi guru. Eh, Swi Kiat dan Kun Beng, kau perhatikan baik-baik ajaran tadi. Memang bagus dan tepat sekali!". Sambil tersenyum Ang-bin Sin-kai menghampiri Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan bertanya.

"Eh, jago tua utara! Kenapa kau bisa tersesat sampai disini?"

"Kau kira aku akan membiarkan Hek-i Hui-mo berlaku kurang ajar begitu saja? Biarpun kitab itu palsu, aku harus mengejarnya dan memberi hajaran kepadanya!"

Kata Siangkoan Hai.

"Hm, kau sudah tua akan tetapi masih berkepala batu. Kau hendak menyusulnya ke Tibet?"

"Ke neraka sekalipun pasti akan kususul! Mana bisa orang merampas sesuatu dari depan hidungku begitu saja?"

Kembali Ang-bin Sin-kai tertawa.

"Kau benar-benar orang tua sombong sekali. Pantas muridmu juga memiliki sifat tidak baik itu."

"Bukan muridku yang sombong, melainkan muridmu yang terlalu bodoh. Eh, Ang-bin Sinkai, mengapa kau memilih murid seorang bocah gendeng yang pikirannya miring?"

Siangkoan Hai memandang ke arah Kwan Cu yang diam saja mendengarkan percakapan antara dua orang tokoh besar ini, sama sekali tidak bergerak, hanya hatinya saja terasa panas sekali.

Ia tidak berdarah lagi pada bibirnya, karena luka di bibir itu telah rapat kembali.

"Biarlah dia bodoh, dan biarlah kau menganggap miring otaknya. Akan tetapi coba saja kaulihat lima tahun lagi. Kukira dua orang muridmu ini takkan mampu mempermainkannya seperti tadi."

"Begitukah? Berani kau bertaruh, Ang-bin Sin-kai?"

Tantang Siangkoan Hai.

"Lima tahun lagi kita adukan mereka, yang kalah gurunya harus memberi hadiah semacam ilmu pukulan kepada murid yang menang! Setujukah?"

Berseri muka Ang-bin Sin-kai. Ia tahu bahwa di antara para tokoh besar, Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini termasuk seorang yang baik hatinya, akan tetapi dia sombong sekali.

"Jadi kalau muridku kalah, aku harus memberi hadiah ilmu pukulan kepada murid-muridmu, sebaliknya kalau muridku menang, kau akan memberi padanya semacam ilmu pukulan?"

Tanya Ang-bin Sin-kai Lu Sin kepadanya.

"Benar, benar begitu. Bukankah adil sekali namanya?"

"Baik. Kelak, lima tahun kemudian, aku kan membawa muridku mencarimu!"

Siangkoan Hai lalu memberi tanda kepada murid-muridnya.

"Hayo kita pergi, Hek-i Hui-mo takkan jauh dari tempat ini!"

Tanpa berpamit dan tanpa menoleh lagi, Siangkoan Hai dan murid-muridnya lalu pergi dari dalam hutan itu. Ang-bin Sin-kai menoleh kepada Kwan Cu yang menundukkan mukanya.

"Suhu, apakah kekalahanku tadi membikin malu nama Suhu?"

Tanyanya perlahan.

"Bukan memalukan aku, melainkan kuharap akan dapat membuka kedua matamu bahwa ilmu silat itu bukan tidak perlu sama sekali seperti yang kau kira. Coba kau dahulu tidak membenci ilmu silat, bukankah kau sudah dapat membela diri dan belum tentu dipermainkan orang."

"Mulai sekarang, teecu akan belajar ilmu pukulan dengan baik-baik, Suhu."

"Hm, tidak mudah. Kau mempunyai watak tidak mau mempersakiti orang lain. Ini sukar sekali. Kalau kau belum mempunyai kekerasan hati dan ketegaan untuk memukul dan merobohkan orang, bagaimana kau dapat mempelajari ilmu pukulan? Kau harus berlatih ketabahan lebih dulu, baru ilmu pukulan ada gunanya. Hayo kau ikut aku!"

Ang-bin Sin-kai melompat dan berlari pergi.

Kwan Cu cepat mengejar suhunya sampai malam tiba, Ang-bin Sin-kai masih terus berlari, tanpa berhenti untuk makan, sedikitpun tidak pernah bicara.

Diam-diam Kwan Cu mengerti bahwa gurunya ini marah dan kecewa kepadanya, karena kalau dia pikir-pikir, peristiwa dengan murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai tadi, tentu saja amat memalukan gurunya!

"Aku harus belajar ilmu silat, aku harus dapat mengalahkan mereka,"demikian Kwan Cu berpikir sambil berlari di belakang suhunya.

Setelah memasuki sebuah hutan besar, hari telah malam dan Ang-bin Sin-kai berhenti lalu mengaso di bawah pohon.

"Kau lihat ini baik-baik!"

Kata kakek jembel itu dan setelah memasang kuda-kuda, dia lalu menggerakkan kedua kakinya.

Terdengar suara keras dan tahu-tahu dua batang pohon yang besarnya setubuh orang menjadi tumbang!

Semenjak tadi Kwan Cu memasang mata baik-baik dan dia mencatat dalam otaknya bagaimana tadi suhunya menggerakkan kedua tangan, bagaimana menggeser kaki dan cara memukul ke depan dan kanan kiri!

"Nah, kau latih gerakan pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) tadi!"

"Teecu sudah melihat Suhu."

"Coba kau tiru gerakan Sam-hoan-ciang."

Kwan Cu memasang kuda-kuda seperti gurunya tadi, dan sambil mengerjakan otak mengingat bagaimana tadi suhunya bergerak, dia lalu memukul dengan kedua tangan dan menggeserkan kakinya, lalu mainkan tiga jurus Sam-hoan-ciang seperti yang dimainkan oleh Ang-bin Sinkai tadi.

Dari sepasang kepalan tangannya yang kecil, menyambar angin yang membuat daun-daun pohon kecil bergoyang-goyang!

Ang-bin Sin-kai mengangguk setetlah Kwan Cu menyelesaikan gerakan tadi.

"Gerakan tangamu sudah baik, hanya tenaga pukulan jangan kaubuyarkan. Tenaga dalam pukulan Sam-hoan-ciang harus dikumpulkan, ditujukan kepada bagian tubuh yang lemah dan jalan darah yang penting, jika tangan kanan memukul, mulut harus mengeluarkan suara "hah!"

Dan jika tangan kiri memukul harus berbunyi "heh!"

Ingat, Sam-hoan-ciang dilakukan tiga jurus, jurus pertama pukulan tangan kanan, jurus kedua pukulan tangan kiri, dan jurus ke tiga pukulan kedua tangan dibarengkan, mendorong ke depan, agak jongkok dan tenaga dari pusar disalurkan kepada kedua lengan.

Mengertikah?"

Kwan Cu mengangguk.

"Mengerti, Suhu."

"Coba lagi! Sekarang anggap aku sebagai lawanmu dan tiga macam pukulan itu lakukanlah terhadap tubuhku! Mulai!"

Demikianlah, dalam keadaan yang remang-remang di dalam hutan itu, dengan perut kosong.

Ang-bin Sin-kai mulai melatih muridnya.

Kwan Cu memasang kuda-kuda, lalu mulai menggerakkan dua kakinya, dan melihat suhunya berdiri di depannya, ia lalu mulai menyerang dengan jurus pertama.

Ia menyalurkan semua tenaganya, di ujung tangan kanannya, menyerang ke arah ulu hati gurunya sambil membentak.

"Hah!"

Ang-bin Sin-kai dengan gerakan sedikit saja dapat mengelak dari pukulan muridnya.

Kwan Cu menyusul dengan jurus serangan kedua.

Tangan kirinya yang telah diisi dengan tenaga lweekang yang dipindahkan dari tangan kanan, menyambar dengan pukulan dahsyat kearah lambung suhunya dan mulutnya berbunyi.

"Heh!"

Kembali Ang-bin Sin-kai mengelak, lalu kakek jembel ini sengaja berdiri tegak untuk menanti datangnya pukulan ketiga dari muridnya.

Kwan Cu lalu menyerangnya dengan jurus ketiga dari ilmu Sam-hoan-ciang.

Anak ini sekarang memukul dengan kedua tangannya, mengerahkan tenaga dan mendorong ke arah tubuh suhunya bagian bawah.

Kali ini Ang-bin Sin-kai tidak mengelak, melainkan mengulur kedua tangan pula menyambut dorongan muridnya.

Dua pasang tangan bertemu dan Kwan Cu terlempar ke belakang, bergulingan sampai beberapa kaki jauhnya!

Ia menjadi agak nanar, akan tetapi cepat bangkit kembali dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Mohon Suhu memberi petunjuk tentang bagian yang salah dari gerakan teecu,"

Katanya.

"Kakimu yang salah, kalau tidak masa kau akan jatuh berguling-guling? Kau menghabiskan seluruh tenagamu pada lengan, sama sekali tidak mempedulikan kedudukan kaki. Kalau kau bertemu dengan lawan yang tenaganya kecil, itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau kau menyerang orang yang tenaganya lebih besar, tentu kedua kakimu tidak kuasa menahan pertemuan tenaga dan kau akan terpelanting seperti tadi! Lupakah kau mengapa aku selama ini mengajarmu dengan gerakan kaki dan pemasangan kuda-kuda? Karena ilmu silat, pokok dasarnya terletak pada keteguhan pemasangan kuda-kuda, seperti bangunan berdasar kepada tiang-tiang yang kuat. Nah, berlatihlah lagi, dan kini perhatikan gerakan kaki, aku hanya akan memberi contoh sekali lagi."

Ang-bin Sin-kai kembali melakukan gerakan Sam-hoan-ciang.

Kwan Cu memperhatikan dengan mata tak pernah berkedip.

Setelah kakek jembel ini melakukan gerakannya, kembali dua batang pohon besar menjadi tumbang!

Kwan Cu merasa kagum bukan main.

Setelah memberi contoh untuk kedua kalinya, Ang-bin Sin-kai lalu duduk menyandar pohon dan sebentar saja dia telah tidur pulas!

Sudah dua malam kakek ini tidak makan, namun dia dapat tidur begitu mudah, sungguh membuktikan adatnya aneh.

Akan tetapi, Kwan Cu lebih aneh lagi dan kekerasan hatinya serta ketekunan hatinya boleh dipuji.

Sebetulnya dia merasa lapar sekali, akan tetapi pelajaran baru ini membuat dia lupa akan keperihan perutnya.

Ia terus berlatih ilmu pukulan Sam-hoan-ciang.

Ia ulangi dan ulangi lagi dan mempergunakan batang pohon sebagai lawan!

Makin lama, tenaganya bukan makin lemah, bahkan karena menghadapi kekuatan pohon, dia makin dapat mengatur tenaganya sedemikain rupa sehingga lambat-laun dapatlah dia mengerahkan tenaga sampai pada titik yang tepat!

Kalau tadinya pukulannya pada pohon membuat kulit kepalan tangannya merah-merah sampai akhirnya lecet-lecet, menjelang fajar, dia telah dapat memukul pohon itu sampai menjadi doyong!

Ketika Ang-bin Sin-kai pada keesokan harinya membuka matanya kakek ini girang dan kagum melihat muridnya masih berlatih diri dan melihat betapa gerakan Kwan Cu kini tidak kaku lagi!

"Cukup!

Jangan menghabiskan tenagamu!"

Serunya.

Kwan Cu berhenti bersilat dan barulah dia merasa letih bukan main sehingga untuk berdiri saja kedua kakinya gemetar dan terpaksa dia menjatuhkan diri duduk di atas tanah.

Akan tetapi kepalanya yang gundul dan mukanya yang berkilau karena peluh itu berseri-seri ketika suhunya memujinya.

"Bagus, Kwan Cu, kau telah maju banyak sekali."

"Masih jauh, Suhu. Suhu tanpa menyentuh pohon, sudah dapat merobohkan pohon-pohon dalam jarak lima kaki lebih. Sedangkan teecu, sampai rusak kulit tangan, tetap saja tidak dapat merobohkan sebatang pohon juga."

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

"Bocah bodoh. Kau lihat pohon ini, bukankah biarpun luarnya lecet kulitnya, akan tetapi dalamnya telah menderita pukulanmu yang bertubi-tubi itu? Kaulihat!"

Sehabis berkata demikian, kakek ini mendorong pohon tadi dan sambil mengeluarkan suara keras, pohon itu tumbang.

Ternyata bahwa di bagian dalamnya telah banyak yang remuk menjadi bubuk seperti dimakan kutu.

Kwan Cu meleletkan lidahnya melihat kehebatan akibat pukulan-pukulannya yang telah membuat tangan-tanganynya lecet-lecet malam tadi!

"Harus kau ketahui bahwa ilmu pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) mengandalkan tenaga lweekang.

Kalau malam tadi memukul dengan tenaga gwakang dan mengandalkan kekerasan kulit tangan, kulitmu tidak akan lecet dan pohon ini pun hanya akan rusak luarnya saja.

Akan tetapi karena kau menggunakan tenga lweekang, kulit tanganmu yang tak terjaga oleh tenaga gwakang menjadi rusak, sebaliknya pohon ini terluka di bagian dalamnya!

Oleh Karena itu, penggunaan tenaga lweekang tidak boleh dilakukan secara membabi buta, harus sekali pukul dengan tepat seperti contoh ini.

Lihat!"

Ang-bin Sin-kai melakukan pukulan jurus kedua dari Sam-hoan-ciang dengan tangan kirinya, diarahkan kepada pohon yang terpisah beberapa kaki dari tempat dia berdiri dan "krakkk.....!!"

Pohon itu roboh! Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut.

"Terima kasih atas petunjuk yang amat berharga dari Suhu."

"Bangunlah,"

Kata Ang-bin Sin-kai sambil tertawa.

"Kau seperti anak kecil yang mendapatkan permainan baru. Ketahuilah, ilmu pukulan Sam-hoan-ciang ini hanya merupakan pukulan pertama saja, dan kalau sudah mempelajari ilmu-ilmu silat dari aku, maka pukulan Sam-hoan-ciang ini belum ada seperseratusnya! Apa artinya mempunyai ilmu menyerang jika tidak mempertahankan diri? Di dalam ilmu silat, kepandaian harus dibagi dua. Mempertahankan diri dan menyerang, dan seorang ahli silat yang baik, mengisi dirinya dengan enam puluh bagian ilmu menjaga diri dan hanya empat puluh bagian ilmu menyerang lawan. Di dalam setiap gerakan menjaga diri, tersembunyi gerakan menyerang, sebaliknya kalau kau menyerang, berarti kau membuka kesempatan bagi lawan untuk membobolkan pertahananmu. Maka berlatihlah yang giat, karena ilmu silat bukanlah ilmu yang semudah orang kira!"

Demikianlah, Ang-bin Sin-kai mulai membuka rahasia ilmu silat kepada muridnya dan semua kata-kata suhunya itu masuk kedalam kepala yang gundul itu.

"Apa kau tidak merasa lapar?"

Tiba-tiba Ang-bin Sin-kai bertanya.

Mendengar ini, berkeruyuklah perut Kwan Cu, mendahului mulutnya menjawab pertanyaan suhunya.

Merahlah wajah Kwan Cu mengharap mudah-mudahan suara perutnya itu tidak terdengar oleh suhunya.

Akan tetapi, Ang-bin Sin-kai memiliki pendengaran yang amat tajam, jangankan suara perut, berkeruyuk, biar sehelai daun yang jatuh ke tanah saja dia akan mendengarnya.

Maka tertawalah kakek itu.

"Setelah latihan yang menggunakan banyak tenaga lweekang, tidak ada daging yang lebih baik melebihi daging ular besar. Hayo kita mencari daging ular. Di hutan depan banyak ular-ular besar!"

Kakek ini lalu berlari ke hutan yang nampak kehijau-hijauan, dan Kwan Cu cepat menyusul gurunya.

Ang-bin Sin-kai memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar sekali sehingga Kwan Cu yang berjalan di belakang gurunya itu merasa betapa dirinya amat kecil tak berarti di bawah pohon-pohon raksasa itu.

Ketika mereka sudah tiba di tengah hutan, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke depan dan berkata.

"Nah, itu dia calon daging untuk perut kita. Kau tangkap yang paling gemuk!"

Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai lalu duduk bersandar pada sebatang pohon.

Kwan Cu berdiri terpaku untuk beberapa lama.

Di tempat itu, dia melihat beberapa ekor ular yang besar sekali.

Yang paling kecil saja ukuran perutnya sama dengan pahanya dan panjangnya ada tujuh atau delapan kaki!

Tubuh ular itu kekuning-kuningan, lidahnya panjang berwarna merah, demikianpun matanya, adapun mulutnya lebar sekali.

Berdebar juga hati Kwan Cu saking ngerinya sungguhpun dia tidak merasa takut sama sekali.

Untuk menangkap yang paling kecil saja, agaknya amat sukar dan mengerikan, apalagi suhunya minta dia menangkap yang paling gemuk yang berarti ular yang paling besar!

Namun Kwan Cu tidak merasa jerih.

Apalagi ada gurunya di situ, apakah yang perlu di takutkan lagi?

Ular-ular itu sebagian besar membelitkan tubuh mereka pads cabang-cabang pohon, dengan kepala bergantung, atau kepala mereka tersembunyi dalam lilitan tubuh.

Ketika Kwan Cu mencari-cari dengan matanya untuk memilih, dia melihat seekor di antara ular-ular itu yang melingkar di bawah pohon.

Ular ini besar sekali lagi gemuk.

Agaknya lebih mudah menangkap yang melingkar di bawah ini sedang tidur, sedikit pun tidak bergerak, seakan-akan ular mati yang tidak bernapas sama sekali.

"Suhu, teecu akan menangkap yang itu!"

Katanya sambil menunjuk ke arah ular terbesar yang melingkar di bawah pohon.

"Bagus, tangkaplah, hitung-hitung latihan bagimu. Jangan takut, ular itu tidak berbisa. Makin besar, makin tidak berbahaya. Hanya dia kuat sekali, dan kalau sampai tergigit, sukar untuk melepaskan diri dari gigi-giginya yang doyong ke sebelah dalam itu,"

Kata Ang-bin Sin-kai dengan suara tenang.

Suara suhunya ini mendatangkan semangat dan keberanian dalam hati Kwan Cu, maka anak ini dengan hati-hati lalu mendekati ular besar itu.

Biarpun tadinya kelihatan seperti mati atau tidur, namun ketika Kwan Cu sudah sangat dekat, ular itu mulai hidup.

Ia mengangkat kepalanya dan sepasang matanya yang merah itu ditujukan kepada Kwan Cu dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis.

Mengebullah uap putih dari mulutnya yang terbuka lebar-lebar.

Kini kelihatan betapa lebar mulutnya dan betapa mengerikan gigi-gigi yang runcing dan doyong ke dalam itu.

Lidahnya yang panjang menjulur keluar dan bergerak-gerak keluar masuk cepat sekali.

Kwan Cu tidak mau membuang waktu lagi.

Melihat ular itu sudah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia lalu melangkah maju dan melakukan serangan dengan ilmu pukulan Sam-hoan-ciang, karena untuk bergerak dengan ilmu silat lain dia tidak bisa.

Ia melakukan jurus kedua, yakni tangan kiri bergerak maju, hanya mengubah sedikit.

Kalau biasanya gerakan ini dilakukan dengan tangan terkepal untuk memukul, dia membuka jari tangannya dan kini menggunakan tangan kirinya untuk menerkam leher ular!

Ular itu gesit sekali.

Melihat tangan bocah gundul ini bergerak ke arah leher, dia cepat mengelak ke kiri.

Namun Kwan Cu adalah anak yang amat cerdik.

Biarpun dia baru mempelajari Sam-hoan-ciang, namun kecerdikannya membuat dia dapat memecah gerakan-gerakan ini sehingga jurus ke dua yang dia pergunakan tadi sebenarnya adalah semacam pancingan belaka!

Ia tidak melanjutkan serangan bahkan cepat menarik kembali serangannya dan kini disusul cepat dengan jurus ketiga, yakni kedua tangannya maju bareng an tubuhnya agak berjongkok.

Dan gerakannya ini berhasil.

Ia berhasil menangkap leher ular itu dengan kedua tangannya dan mencekiknya sekuat tenaganya.

Ular itu marah sekali.

Beberapa kali ia menggerakkan kepala dan menggoyangkan lehernya, meronta-ronta untuk melepaskan diri.

Akan tetapi Kwan Cu mencengkeram makin keras karena merasa betapa ular itu licin sekali.

Tiba-tiba ular itu berganti siasat dam seluruh tubuhnya bergerak, terus melilit tubuh Kwan Cu dengan ekornya.

Sebentar saja tubuh bocah gundul ini telah dililit sedemikian rupa sehingga dari paha sampai dada tidak kelihatan lagi.

Kwan Cu terkejut sekali dan sedapat mungkin dia mempertahankan kedua kakinya.

Namun aneh sekali, tenaga ular itu makin lama makin hebat dan lilitannya makin lama makin erat.

Ketika ular itu menggoyang-goyang tubuhnya, dia tidak dapat bertahan lebih lama dan tergulunglah Kwan Cu!

Betapapun juga, dia masih dapat mengatur jatuhnya dan dia hanya jatuh duduk dengan tubuh masih dibelit-belit ular yang licin, dingin dan kuat.

Ia memperkuat cekikannya, mengerahkan seluruh tenaga yang disalurkan kepada lengan tangannya.

Akan tetapi, tiba-tiba Kwan Cu merasa betapa perut dan dadanya terhimpit keras sekali sehingga dia sukar untuk bernapas!

Dengan menekan napas ke arah perut, dia membuat perut dan dadanya mengembung dan dapat menahan himpitan ular, akan tetapi oleh karena itu, tenaga pada dua lengannya berkurang.

Sementara itu, ular tadi makin penasaran dan marah.

Biasanya, kalau ia sudah mengerahkan tenaga dalam lilitannya, seekor kijang pun akan remuk-remuk tulangnya!

Mengapa bocah gundul ini dari perut dan dadanya keluar hawa panas sekali?

Apalagi, cekikan pada lehernya itu pun mendatangkan rasa sakit.

Sambil mendesis hebat, ular itu membuka lebar-lebar mulutnya yang bergerak di depan muka Kwan Cu dan bergerak hendak menggigit kepala gundul itu.

Kalau gigitannya ini berhasil, agaknya kepala Kwan Cu yang gundul itu akan masuk ke dalam mulutnya!

Kwan Cu terkejut dan menahan dengan kedua tanganya, akan tetapi tiba-tiba dia merasa kepalanya yang gundul itu gatal-gatal.

Ia mengerti bahwa ini tentulah akibat daripada semburan uap yang keluar dari mulut ular itu.

Tadi ketika ular itu menyemburkan uap putih yang mengarah ke mukanya, dia menundukkan kepala untuk melindungi mukanya, maka kepalanya yang gundul itulah yang terkena uap putih dan kini gatal-gatal.

Rasa gatalnya tidak tertahankan lagi, maka terpaksa dia melepaskan tangan kanan yang mencekik leher ular untuk dipergunakan menggaruk kepala gundulnya yang gatal setengah mati itu!

Ular tadi setelah kini merasa bahwa yang mencekik lehernya hanya satu tangan saja, cepat memberontak dan cekikan tangan kiri Kwan Cu terlepas!

Ular itu lalu menggerakkan lehernya dan mulutnya yang lebar itu menyerang kepala Kwan Cu dengan kecepatan luar biasa sekali.

Akan tetapi Kwan Cu tidak berkurang waspada.

Bocah gundul ini cepat mengelak ke kiri dan mulut itu meluncur lewat di samping telinga kanannya.

Cepat Kwan Cu menggerakkan kedua tangan mencekik lagi dan pergulatan mati-matian terjadi.

Kwan Cu mencekik sekuatnya, dan ular itu melilit perut dan dada Kwan Cu sambil meronta-ronta hendak melepaskan diri dari cekikan.

Jari-jari tangan Kwan Cu tidak cukup panjang untuk mencengkeram leher ular yang besarnya seperti betis kakinya sendiri itu, maka beberapa kali, terpaksa dia melepaskan cekikannya dari kulit leher yang amat licinnya dan beberapa kali ular itu menyerang kepalanya yang dapat dihindarkan dengan elakan-elakan cepat.

Tak dapat terus-terusan begini, pikir Kwan Cu.

Dadanya terasa sesak dan tenaga kedua tangannya makin lama makin lemah.

Ia memutar otak di dalam kepalanya yang gundul itu, mencari-cari akal.

Akhirnya ia mendapat akal dan sambil mencekik leher ular dengan kedua tangan, dia menggelundung ke kiri di mana dia melihat beberapa potong batu karang.

Setelah mengambil sepotong batu karang yang besarnya seperti kepalanya dan yang tajam runcing pinggirnya, dia lalu melepaskan cekikannya.

Ular itu menyerang lagi dengan mulut terbuka dan Kwan Cu secepat kilat memasukkan batu itu ke dalam mulut ular!

Karena dia memasukkan dengan tenaga kuat dan gigi-gigi ular itu mendoyong ke dalam, maka setelah batu karang ini memasuki mulut sampai di belakang gigi-gigi ular, batu itu tak dapat keluar kembali, terganjal oleh gigi atas dan bawah!

"Bagus, Kwan Cu!"

Ang-bin Sin-kai tertawa-tawa memuji.

Mendengar pujian guru ini, besarlah hati Kwan Cu.

Ia tidak takut akan gigitan ular itu lagi, dan ular itu pun kini menjadi bingung sekali, menggerak-gerakkan kepalanya hendak melepaskan benda aneh yang mengganjal mulutnya.

Saking bingungnya, lilitan pada tubuh Kwan Cu yang untuk sesaat luar biasa eratnya, makin lama makin kendor dan akhirnya dia melepaskan tubuh yang dililitnya.

Ia menggeliat-geliat, memukul-mukulkan kepalanya pada tanah dan Kwan Cu segera bertindak.

Ia mengambil sepotong batu lagi dan sekali pukul saja pecahlah kepala ular itu!

"Hm, bagus!

Lekas bikin api dan panggang sebelum darahnya kering.

Jangan terlalu lama, biar setengah matang saja!"

Kata Ang-bin Sin-kai dengan air liur memenuhi mulutnya dan beberapa kali menelan ludah.

Setelah daging ular matang dan merasai daging itu, Kwan Cu harus mengakui kebenaran kata-kata suhunya.

Daging itu terasa manis dan gurih sekali biarpun dipanggang tanpa di beri bumbu dan garam, hanya setelah memasuki tubuh, membuat perut dan dada terasa panas dan darah mengalir lebih cepat dari biasanya.

Setelah makan kenyang.

Ang-bin Sin-kai berkata kepada Kwan Cu.

"Perkelahianmu dengan ular tadi merupakan pengalaman baik sekali. Kau sekarang tahu bahwa ular itu memiliki tenaga lemas. Kelihatannya saja ia lambat dan lemah, namun lilitannya makin lama makin kuat karena ia mempergunakan tenaga dalam yang mengalir di dalam tubuhnya. Menghadapi lawan yang memiliki tenaga lweekang (tenaga dalam), memang kita harus melayani dengan kelicikan pula. Kalau kau mempergunakan tenaga kasar, kau akan kalah. Maka baik sekali kau tadi mengerahkan ambekan (pernapasan) untuk menghadapi lilitan tubuh ular. Kalau kau mempergunakan kekerasan, tentu ada tulangmu yang patah dan uratmu tergelincir dari tempatnya. Lain kali biar kau melatih diri menghadapi binatang yang selalu mempergunakan tenaga kasar, yakni harimau. Terbelalak sepasang mata Kwan Cu memandang suhunya.

"Waaah, Suhu. Bagaimana teecu menghadapi seekor harimau? Binatang itu galak sekali dan terkenal sebagai raja hutan. Apakah teecu kiranya akan sanggup mengalahkan harimau?"

"Kau baru saja mempunyai kepandaian ilmu pukulan Sam-hoan-ciang, tentu saja masih berat. Biar sekarang aku melatihmu dengan ilmu mempertahankan diri yang di sebut Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to (Mengatur Pintu Menghadapi Ratusan Golok). Kalau kau sudah bisa mainkan ilmu silat ini, agaknya takkan mudah kau diserang lawan."

Dengan girang Kwan Cu lalu mulai mempelajari Pai-bun-tui-pek-to, yang dilakukan mengandalkan ginkang yang tinggi.

Isinya hanya ilmu-ilmu untuk mengelak dan menangkis serangan lawan dan melindungi diri mempergunakan kecepatan tubuh dan mengatur pada saat bagaimana mempergunakan tenaga lweekang dan saat bagaimana pula mempergunakan gwakang.

Terlalu panjang untuk dituturkan sejelasnya, pendeknya ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to ini amat baik untuk seorang ahli silat tangan kosong kalau menghadapi lawan-lawan yang bersenjata.

Beberapa bulan lewat tak terasa dan Kwan Cu sudah memperoleh kemajuan pesat.

Belum boleh di kata bahwa dia telah menyempurnakan ilmu Pai-bun-tui-pek-to, karena tidak seperti Sam-hoan-ciang yang mempunyai tiga jurus, ilmu mempertahankan diri ini biarpun hanya mempunyai delapan belas macam jurus, namun setiap jurus dapat dipecah-pecah menjadi puluhan bagian.

Semua tergantung daripada kedudukan lawan menyerang.

Kini Ang-bin Sin-kai menurut kehendak muridnya lagi, yakni mencari Bukit Liang-san yang masih amat jauh.

Ketika mereka tiba di kota Thiat-ang-bun, kota kecil yang berpintu gerbang besi berwarna merah, mereka berhenti selama tiga hari.

Di dalam kota kecil itu banyak terdapat pemandangan indah, bahkan di sebelah selatan kota terdapat telaga kecil yang airnya biru dan dikelilingi pohon-pohon dan kembang-kembang.

Ang-bin Sin-kai suka sekali pelesir di daerah ini, maka dia bermalas-malasan untuk meninggalkannya.

Pada hari ketiga, ketika Kwan Cu dan gurunya tengah berjalan di dekak telaga itu, mereka melihat berkelebatnya seorang Tartar yang tampan dan berpakaian perwira.

Ang-bin Sin-kai tidak mengenal orang ini, akan tetapi Kwan Cu mengenalnya baik-baik.

Apalagi, semenjak mereka memasuki kota Thiat-ang-bun, Kwan Cu yang selalu mengambil perhatian pada apa yang berada di sekitarnya, melihat orang ini beberapa kali sehingga timbul pikirannya bahwa orang ini tentu sedang menyelidiki keadaan dia dan gurunya.

Dan orang itu bukan lain adalah An Lu Kui, adik dari Panglima An Lu Shan.

Akan tetapi An Lu Kui seperti yang tidak mengenal lagi kepada Kwan Cu dan anak ini pun tidak mempedulikannya.

Ia tidak mempunyai hubungan lagi dengan perwira ini, tidak ada sangkut-pautnya lagi.

Kwan Cu tidak tahu sebetulnya, setelah bertemu dengan dia dan gurunya, An Lu Kui diam-diam melakukan penyelidikan dan selalu mengikutinya.

Siapa tahu kalau-kalau anak aneh ini hendak mengambil kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli?

Adapun kakek jembel yang bersama dengan bocah itu, Lu Kui tidak mengenalnya sama sekali.

Kalau saja dia tahu bahwa kakek itu adalah Ang-bin Sin-kai, agaknya siang-siang dia sudah angkat kaki dan kabur.

"Suhu, ada orang mengikuti kita,"

Kata Kwan Cu perlahan kepada suhunya.

"Mana dia?"

"Entah, dia sudah pergi lagi, Suhu. Akan tetapi, beberapa kali teecu melihatnya dan agaknya dia memperhatikan kita."

"Siapa sih orangnya?"

"Dia adalah penculik yang dahulu membawa teecu dan Gui-siucai ke markas Panglima An Lu Shan, yaitu adik dari panglima itu sendiri yang bernama An Lu Kui."

"Hm, dia mau apa?"

"Entahlah, Suhu. Akan tetapi, lebih baik kalau Suhu mengetahuinya, karena dia lihai. Dulu pernah teecu melihat dia mendorong roboh sebatang pohon besar, sungguhpun dia tidak berdaya menghadang Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan dua orang muridnya."

Kwan Cu lalu menuturkan pengalamannya ketika diculik oleh An Kui dahulu. Gurunya tersenyum dan berkata gembira.

"Bagus, kalu begitu, biarlah dia menjadi pengujimu."

"Penguji bagaimana, Suhu?"

"Kau sudah mempelajari ilmu mempertahankan diri Pai-bun-tui-pek-to, coba kau menghadapi dia, hitung-hitung untuk berlatih. Kalau dia muncul lagi, kau pancing dia ke luar kota, ke tempat sunyi."

Kwan Cu mengangguk, dan hatinya berdebar.

Ia tahu bahwa An Lu Kui murid mendiang Li Kong Hoat-ong itu tidak boleh dibuat main-main.

Ia adalah seorang perwira yang pandai dan gagah perkasa, bagaimana dia yang baru melatih ilmu silat beberapa bulan saja sanggup menghadapinya?

Akan tetapi karena dia bersama suhunya perlawanannya adalah atas perintah suhunya, hatinya menjadi besar.

Tak lama kemudian, benar saja dia melihat An Lu Kui muncul lagi, berjalan di sebelah belakang.

Kwan Cu menengok dan sengaja memperlihatkan muka ketakutan, lalu menggandeng tangan suhunya dibawa berjalan menuju ke pegunungan kecil yang tidak jauh dari situ letaknya.

Pancingannya berhasil karena An Lu Kui melihat wajah Kwan Cu nampak ketakutan dan bergesa-gesa ke bukit kecil, lalu mengejar!

Setelah berada di tempat yang sunyi di bukit kecil itu, Kwan Cu berhenti dan bersama suhunya menengok ke belakang.

An Lu Kui cepat berlari menghampiri mereka dan setelah berhadapan, dia menegur.

"Eh, tidak tahunya kau Kwan Cu bocah itu! Kau hendak pergi kemanakah?"

Kwan Cu memang sudah mendapat perintah dari gurunya untuk mencoba kepandaiannya dengan perwira ini, maka dia memancaing keributan dengan meniru jawaban Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu ketika dahulu bertemu dengan dia di pintu gerbang kota raja, maka dia menjawab.

"Aku datang dari belakang dan menuju ke depan. Ada urusan apakah kau menyusulku, An-sianseng?"

Tentu saja An Lu Kui mendelikkan matanya mendengar jawaban yang kurang ajar ini.

"Bocah gundul! Ketika dulu mejadi murid Gui-suicai, kau masih mengerti aturan dan bersikap sopan, sekarang kau telah menjadi seorang berandalan. Jawab yang betul, kau hendak pergi kemana?"

"Kemana pun aku pergi, tiada sangkut-pautnya dengan kau!"

Kata Kwan Cu dengan sengaja agar perwira ini marah dan menyerangnya sehingga dia dapat mempraktekkan ilmu silatnya Pai-bun-tui-pek-to.

"Setan cilik! Bukankah kau pergi ke tempat disembunyikan Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Hayo jawab yang betul, kalau tidak, akan kukemplang kepalamu yang gundul itu sampai pecah!"

Tiba-tiba terdengar suara meledak dari Ang-bin Sin-kai.

"Ha, ha, ha! Agaknya semua orang sudah tergila-gila kepada kitab tiada guna itu! Eh, Kwan Cu, kenapa kau meladeni badut ini? Kait saja kakinya, biar dia menggelundung ke bawah!"

Bukan main marahnya An Lu Kui mendengar ejekan ini.

"Bangsat tua bangka! Apakah matamu buta dan tidak mengenal orang? Kau berhadapan dengan An Lu Kui, adik dari panglima besar An Lu Shan! Berlutut kau!"

Kwan Cu melangkah maju.

"Orang she An, jangan kau menghina guruku!"

"Kau setan gundul mau apa?"

Bentak An Lu Kui yang cepat menampar dengan tangan kanannya ke arah kepala Kwan Cu yang gundul.

Akan tetapi dengan sedikit menundukkan kepala saja, Kwan Cu sudah dapat mengelak dari pukulan ini.

An Lu Kui penasaran dan marah sekali.

Sambil menggereng seperti seekor harimau buas, dia menubruk maju dan mengirim pukulan bertubi-tubi, diselingi dengan tendangan kakinya!

Akan tetapi, sebentar saja dia menjadi tertegun ketika melihat betapa dengan gerakan amat lincah, Kwan Cu dapat mengelak dari semua pukulan dan tendangannya itu.

Bukan main!

Baru beberapa bulan berselang, bocah gundul ini masih belum memiliki gerakan demikian lincah.

Ah, jangan-jangan gurunya yang seperti pengemis jembel itu berkepandaian tinggi pula, pikirnya.

Maka dia mempercepat serangannya dan kini dia menggunakan ilmu silatnya disertai pengerahan tenaga lweekang!

Kwan Cu baru saja belajar beberapa bulan.

Adapun An Lu Kui telah memiliki kepandaian tinggi, maka tentu saja menghadapi serangan-serangan hebat ini, Kwan Cu menjadi repot sekali.

Memang betul bahwa dengan Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to, dia masih dapat mengelak dan menangkis, akan tetapi dia tidak dapat membalas sama sekali dan seakan-akan untuk bernapas pun tiada kesempatan!

"Kau menyia-nyiakan banyak kesempatan baik!"

Kata Ang-bin Sin-kai mencela muridnya.

"Campur Pai-bun-tui-pek-to dengan Sam-hoan-ciang!"

Kwan Cu maklum akan maksud suhunya namun karena kurang pengalaman tetap saja dia tidak dapat membalas serangan-serangan An Lu Kui yang mengamuk makin hebat itu.

An Lu Kui kali ini benar-benar penasaran dan marah sekali.

Sudah dua puluh jurus lebih dia menyerang, namun tetap saja belum pernah dia dapat menempiling kepala lawannya si bocah gundul ini.

Kini mendengar ucapan kakek itu, mengertilah dia bahwa kakek ini memang benar-benar lihai dan terang bahwa si bocah gundul mendapat latihan dari dia.

Celaka, keluh An Lu Kui, kalau aku tidak lekas-lekas mengalahkan setan cilik ini, aku bisa di permainkan oleh setan besar itu.

Maka dia lalu mencabut sepasang siang-kek (senjata tombak bercagak) dari punggungnya dan memutar dua senjata ini bagaikan kitiran cepatnya.

"Kwan Cu kau melompatlah ke punggungku dan lihat baik-baik aku mainkan Pai-bun-tui-pek-to dan Sam-hoan-ciang!"

Kata Ang-binSin-kai.

Kwan Cu tertawa girang dan sekali dia mengenjotkan kedua kakinya, bagaikan seekor monyet dia telah melompat ke atas punggung suhunya.

An Lu Kui merasa kepalang dan dia sudah merasa malu dan marah dipermainkan oleh Kwan Cu, maka kini dia menyerang kakek jembel itu dengan ilmu silatnya yang lihai dan berbahaya.

Kwan Cu melihat gerakan tubuh suhunya dengan penuh perhatian.

Dengan digendong di punggung suhunya, dia merasa seakan-akan dia sendiri yang menghadapi An Lu Kui dan dia mengintai dari balik punggung gurunya itu kepada semua gerakan An Lu Kui dan gerakan suhunya.

Benar saja, gurunya menghadapi sepasang tombak cagak An Lu Kui dengan ilmu mempertahankan diri Pai-bun-tui-pek-to!

Melihat betapa gerakan gurunya amat sederhana, namun dapat dengan tepat dan tenang menghindarkan semua serangan sepasang tombak cagak di tangan An Lu Kui.

Kwan Cu menjadi kagum sekali.

Kini terbukalah matanya dan tahulah dia bahwa tadi di waktu menghadapi serangan An Lu Kui dia terlalu gugup dan terlalu membuang gerakan sendiri.

Sebetulnya kalau dia bisa tenang seperti suhunya, tak usah terlalu banyak bergerak dan hanya bergerak seperlunya saja, Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to sudah dapat menyelamatkan diri dari serangan lawan.

"Kaulihat lowongan-lowongan itu?"

Kata Ang-bin Sin-kai kepada muridnya.

"Buka matamu baik-baik, tiap kali dia melakukan serangan, tentu terbuka sebuah pintu! Mengertikah kau? Coba sekarang kau mencari dan menemukan pintu yang terbuka dan kaugunakan tanganmu menyerang pintu terbuka itu!"

Kwan Cu mengerti.

Yang dimaksud oleh gurunya tentang pintu terbuka adalah bagian-bagian tubuh yang terbuka atau tidak terlindung dari lawan dan kini setelah berada di punggung suhunya dan tidak gugup karena dia sendiri tidak menghadapi serangan, memang matanya terbuka dan dia dapat melihat betapa setiapkali menyerang, An Lu Kui membuka sebagian tubuhnya yang tidak terlindung sama sekali.

Mendengar perintah suhunya, mulailah Kwan Cu menyerang dengan pukulan Sam-hoan-ciang!

Tiap kali An Lu Kui menyerang, tentu terbuka sebuah pintu di dadanya, lambungnya, pundaknya, lehernya, dan lain-lain bagian tubuh lagi.

Kwan Cu tidak menyia-nyiakan waktu baik ini dan tiap kali serangan datang, suhunya mengelak dan dia menghantam dengan tangannya.

Sebentar kemudian terdenga suara "bak!

bik!

buk!"

Dan tubuh An Lu Kui selalu terpukul dengan tepat oleh tangan Kwan Cu yang kecil!

An Lu Kui menyumpah-nyumpah.

Ang-bin Sin-kai tertawa tergelak-gelak dan Kwan Cu bersorak girang.

Bocah gundul itu kini duduk di punggung gurunya dengan tangan kanan terangkat, siap untuk menempiling, menampar, dan menghantam dan menyodok ke arah "pintu terbuka"

Dari lawannya!

Adapun Ang-bin Sin-kai bagi An Lu Kui seolah-olah merupakan manusia asap saja.

Kemana pun sepasang tombaknya menyerang, selalu tidak dapat mengenai tubuh kakek aneh itu.

Ia mulai menjadi gentar dan tamparan-tamparan tangan Kwan Cu biarpun tidak dapat melukainya, namun cukup pedas dan memanaskan kulit, terutama sekali memanaskan hatinya.

"Orang Tartar, kau masih belum cukup?"

Tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru dan entah dengan gerakan apa, karena Kwan Cu sendiri tidak mengenal gerakan gurunya ini, tahu-tahu sepasang tombak cagak di tangan An Lu Kui itu telah pindah tangan.

Ang-bin Sin-kai menggerakkan kedua tombak itu dan terdengar suara "krak!"

Patahlah dua batang tombak itu menjadi empat batang!

Dengan tersenyum Ang-bin Sin-kai melemparkan potongan-potongan tombak itu ke dalam jurang, lalu berkata kepada An Lu Kui yang berdiri dengan muka merah dan terheran-heran.

"Tidak patut sekali seorang perwira seperti engkau ini menghina seorang bocah kecil. Pergilah!"

An Lu Kui menjadi malu sekali. Ia menjura dan berkata.

"Mohon banyak maaf siauwte tidak mengenal orang pandai. Siauwte An Lu Kui mohon tanya, siapakah nama Lo-enghiong yang terhormat?"

Ang-bin Sin-kai tidak mau melayaninya, bahkan lalu menggerakkan kedua kakinya dan melompatlah dia turun dari bukit.

"An-sian-seng (tuan An), suhuku itu adalah Ang-bin Sin-kai!"

Kata Kwan Cu yang cepat-cepat berlari turun gunung mengikuti suhunya.

An Lu Kui tertinggal di bukit itu, berdiri tak bergerak bagaikan patung.

Celaka tiga belas, pikirnya.

Mengapa aku selalu bertemu dengan setan-setan itu?

Ia teringat akan pengalamannya dengan Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan sebelum sakit hatinya karena terhina oleh kakek itu terbalas, sekarang dia mengalami hinaan pula dari Ang-bin Sin-kai!

Aah, orang-orang Han banyak yang hebat dan luar biasa sekali, keluhnya.

Baiknya mereka itu tidak ambil peduli tentang kedudukan dan keadaan pemerintah.

Kalau kaisar tidak begitu bodoh dan dapat menghargai orang orang seperti itu, negara manakah di dunia ini yang dapat menandingi Tiongkok?

Dengan hati mengkal sekali, An Lu Kui lalu turun dari bukit itu dan kembali ke markas besar kakaknya di mana dia melatih diri dalam ilmu silat dan ilmu perang dangan amat tekunnya.

Dalam hal ilmu perang, barisan yang dipimpin An Lu Shan benar-benar memperoleh kemajuan hebat sekali, berkat petunjuk dan pelajaran dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng palsu yang diterjemahkan Gui Tin atau Gui-siucai itu.

Adapun Kwan Cu lalu melanjutkan perjalanannya dengan Ang-bin Sin-kai, dan semenjak itu, Kwan Cu makin tekun mempelajari ilmu silat, karena kini terlihatlah olehnya kegunaan dari pada ilmu ini.

Akan tetapi, tetap saja jika dibandingkan dengan murid-murid tokoh lain, dia terhitung yang paling bodoh.

Terhitung beberapa bulan yang lalu, menghadapi kedua orang murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dia masih dipermainkan dan beberapa hari kemudian semenjak bertemu dengan An Lu Kui, terjadilah peristiwa lain yang selain menunjukkan bahwa dia masih kalah jauh oleh murid tokoh lain, juga membikin tubuh dan hatinya sakit sekali.

Hal itu terjadi ketika mereka telah tiba di kaki bukit Liang-san.

Ketika itu, Kwan Cu sedang hendak bertanya keterangan kepada penduduk dusun tentang mendiang gurunya yang di tempat ini dahulu terkenal dengan sebutan Gui-lokai (pengemis tua she Gui).

Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti gembreng dipukul dan disusul oleh suara yang keras.

"Lu Thong, lihat ini adalah saudara misanmu!"

Di depan Kwan Cu, muncullah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, hwesio gundul yang bundar seperti bal tubuhnya itu, tokoh utama dari selatan!

Dan di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki yang dikenal baik oleh Kwan Cu sebagai putera bangsawan yang dahulu menghina Gui Tin dan yang memerintah anjingnya untuk mengeroyok Gui-suicai!

Memang benar, anak itu adalah putera dari Lu Seng Hok, atau cucu dari Menteri Lu Pin!

Seperti biasa, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu melakukan perantauannya, kali ini diikuti oleh muridnya.

Semenjak menjadi murid Kak Thong Taisu, sikap Lu Thong benar-benar berubah sekali.

Ia mempelajari ilmu silat dengan amat tekunnya dan menurut segala nasihat suhunya.

Di luarnya, anak ini bersikap baik sekali, pendiam dan tidak jahat atau sombong seperti dahulu.

Bahkan pakaiannya, menurut petunjuk dari suhunya, tidak mewah seperti dulu pula, melainkan pakaian sederhana saja.

Biarpun dia dibawa merantau dan hidup sengsara, dia tidak pernah mengeluh, bahkan tidak menolak ketika suhunya menyuruh dia mengemis makanan!

Lu Thong memiliki kekerasan hati dan ketekunan luar biasa sekali sehingga segala keinginan dan nafsunya dapat dia tekan sedemikian rupa sehingga dia merupakan seorang murid yang baik sekali.

Tentu saja gurunya amat sayang kepadanya dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang tinggi sehingga sebentar saja Lu Thong memperoleh kemajuan pesat sekali.

Ketika melihat Kwan Cu dan Ang-bin Sin-kai, tentu saja Jeng-kin-jiu menjadi girang sekali dan diam-diam dia mengandung hati iri terhadap Ang-bin Sin-kai.

Sesungguhnya, adalah pengharapannya untuk menurunkan kepandaiannya bersama Ang-bin Sin-kai di tepi Laut Pohai itu.

Sebaliknya, Lu Thong mengenal Kwan Cu sebagai bocah jembel yang dulu menolong jembel tua di halaman rumahnya, maka diam-diam dia menjadi gemas sekali.

Dulu dia mudah ditakut-takuti oleh bocah gundul ini, akan tetapi sekarang, setelah dia merasa mempunyai kepandaian ilmu silat, dia tidak takut lagi bahkan ingin dia membalasnya!

Akan tetapi dia tidak kenal kepada Ang-bin Sin-kai, yang sesungguhnya masih kongkongnya sendiri, karena ayahnya adalah keponakan dari pengemis tua ini.

"Gundul bangkotan! Kau di sini?"

Ang-bin Sin-kai menegur dengan muka girang.

Di antara para tokoh persilatan, dia lebih suka hwesio gemuk ini yang selain lucu, juga mempunyai kejujuran dan berhati baik.

Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak "Lucu, lucu sekali.

Ha, ha, ha!

Sekeluarga bertemu di sini, ha, ha, ha!

Dan alangkah hebat dan lucunya keluarga ini.

Eh, pengemis kelaparan, kau tahu siapa anak yang menjadi muridku ini?"

Ang-bin Sin-kai memandang, akan tetapi dia tidak mengenal cucunya sendiri. Tadi ketika Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu memanggil Lu Thong, dia tidak memperhatikan. Maka dia lalu menggelengkan kepalanya.

"Kenalkah kau pada pengemis kelaparan ini?"

Tanya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu kepada muridnya. Juga Lu Thong menggelengkan kepalanya setelah memandang tajam.

"Teecu tidak kenal, Suhu."

"Lu Thong, inilah Kong-kongmu yang tidakmau mengajar ilmu silat padamu!"

Kata Kak Thong Taisu. Terbelalak mata Lu Thong.

"Ang-bin Sin-kai.....??"

Katanya perlahan.

"Ya, ya! Dialah Ang-bin Sin-kai Lu Sin, Twa-pek (Uwa) dari ayahmu!"

Adapun Ang-bin Sin-kai juga terkejut mendengara kata-kata ini.

"Gundul jahat! Apakah muridmu ini putera Lu Seng Hok?"

Lu Thong sekarang telah dapat mengubah sikapnya dan diapun amat cerdik.

Ia tahu bahwa Ang-bin Sin-kai ini seorang tokoh yang pandai, maka dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan pengemis tua itu.

"Kong-kong, harap maafkan cucumu yang tidak tahu adat!"

Katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Diam-diam Kwan Cu merasa heran sekali mengapa anak yang begitu jahat seperti ketika dilihatnya di depan gedung itu, kini dapat bersikap sopan santun dan baik.

Biarpun Ang-bin Sin-kai Lu Sin tidak setuju dengan pendirian adiknya Lu Pin yang bekerja membantu kaisar yang dianggapnya lemah dan tidak baik, namun melihat cucunya ini, timbul juga rasa terharu dalam hatinya.

"Bagus kau menjadi murid Jeng-kin-jiu, belajarlah baik-baik,"

Katanya sambil mengelus-elus kepala Lu Thong yang berambut hitam panjang itu.

"Kong-kong, biarpun cucumu ini menjadi murid dari Suhu Kak Thong Taisu, namun masih amat mengharapkan semacam ilmu silat dari Kong-kong sebagai warisan sehingga kelak jangan ada yang mengatakan bahwa sebagai cucu Ang-bin Sin-kai yang terkenal, cucumu ini tidak tahu sama sekali tentang kepandaian Kong-kongnya sendiri. Bukankah itu amat tidak baik bagi keluarga kita?"

Semua orang termasuk Kwan Cu, tertegun mendengar ini. Ucapan itu selain tepat, juga cerdik sekali. Jeng-kin-jiu menegur muridnya.

"Eh, Lu Thong. Apakah kau tidak puas dengan pelajaran yang kaudapat dari pinceng?"

Buru-buru Lu Thong memberi hormat kepada suhunya.

"Tidak sama sekali, Suhu. Teecu merasa girang dan puas menerima pelajaran yang amat berharga dari Suhu. Hanya saja, teecu minta tanda mata sebagai warisan dari Kong-kong, apakah ini salah?"

Terdengar Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

"Kau tidak mengecewakan menjadi cucu Lu Pin, karena kau memiliki kecerdikan. Ha, ha, ha, ha, ha! Jangan bicara tentang kekeluargaan, karena aku Lu Sin telah menjadi keluarga dari bumi dan langit. Tidak ada manusia yang bukan keluargaku, karena bukankah manusia di seluruh dunia ini bersaudara belaka? Betapapun juga, untuk kecerdikanmu itu, biarlah aku menurunkan ilmu silat keturunanku, yakni Ilmu Silat Kong-jiu-toat-beng (Dengan Tangan Kosong Merenggut Nyawa)! He, hwesio gundul, kau terimalah Kong-jiu-toat-beng untuk diajarkan kepada muridmu ini, akan tetapi bersumpahlah bahwa selama hidupmu kau takkan mempergunakan ilmu ini!"

Katanya kemudian kepada Kak Thong Taisu. Kak Thong Taisu tertawa bergelak.

"Pengemis kelaparan! Kau kira aku sudah begitu rakus untuk mengambil ilmu silatmu? Tanpa meniru akupun tak dapat kau kalahkan. Aku bersumpah!"

Ia mengangkat kedua tangan di depan dada seperti menghormat kepada Buddha.

Ang-bin Sin-kai mengangguk puas, lalu kakek ini bersilat tangan kosong.

Dalam pandangan Lu Thong dan Kwan Cu, kakek ini bergerak cepat sekali seperti orang menari-nari dengan jari-jari tangan terbuka.

Akan tetapi setelah Ang-bin Sin-kai mengulangi sampai dua kali ilmu silat tangan kosong yang terdiri dari dua puluh empat jurus itu, Jeng-kin-jiu sudah dapat menghafalnya!

"Hebat, hebat!

Pinceng sudah hafal semua,"

Kata hwesio gemuk itu. Ang-bin Sin-kai tertawa lagi.

"Eh, Thong-ji (anak Thong), sekarang coba, kau menghadapi Kwan Cu, hendak kulihat hwesio bundar ini sampai berapa jauhnya memberi pelajaran kepadamu!"

Kemudian dia menoleh kepada Kwan Cu.

"Coba kau layani Lu Thong, hitung-hitung berlatih!"

Kwan Cu baru saja mempelajari dua macam ilmu silat, yakni ilmu mempertahankan diri Pai-bun-tui-pek-to dan ilmu menyerang Sam-hoan-ciang.

Mendengar ucapan suhunya, dengan taat dia lalu berdiri menghadapi Lu Thong sambil memasang kuda-kuda.

"Lu Thong, kau hadapi dia dengan Lam-hai-kong-jiu (Tangan kosong Dari Laut Selatan)!"

Kata Jeng-kin-jiu sambil tertawa-tawa gembira. Bagi dia dan juga Ang-bin Sin-kai, tidak ada kesenangan yang lebih menggembirakan daripada tandingan silat, seperti dua orang kakek yang sudah "nyandu"

Adu ayam melihat dua jago berlaga.

Berbeda dengan Kwan Cu, Lu Thong sudah banyak mempelajari ilmu silat dari gurunya, dan dalam hal tingkat kepandaian silat, Lu Thong juga cerdik dan berbakat, terutama sekali karena baru-baru saja Kwan Cu mulai mempelajari ilmu pukulan dari Ang-bin Sin-kai dan juga baru saja anak ini mulai suka mempelajari ilmu silat yang tadinya dianggap sebagai ilmu memukul orang yang tiada gunanya.

Akan tetapi, kalau dilihat dari isinya, dasar dalam diri Kwan Cu jauh lebih kuat.

Bocah gundul ini memiliki tubuh yang kuat, di tambah pula oleh nasibnya yang baik sehingga dia tanpa sengaja telah makan coa-ko (buah ular), kemudian Ang-bin Sinkai yang memang sengaja melatihnya kuda-kuda terus-menerus sehingga berdasar kuat sekali.

Ketika Lu Thong sudah siap, cucu menteri ini serta-merta melancarkan serangan-serangan hebat dengan kedua kepalan tangannya.

Kwan Cu cepat mainkan Pai-bun-tui-pek-to, ilmu silat mempertahankan diri yang baru saja dipelajarinya.

Ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Lu Thong, dia merasa kulit lengannya pedas, maka tahulah dia bahwa Lu Thong memiliki tenaga gwakang yang lihai sekali.

Memang, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga hebat.

Semenjak belajar kepadanya, dia telah melatih kedua tangan muridnya ini dengan tekun dan menggembleng tangan Lu Thong dengan latihan-latihan memukul pasir panas.

Biarpun usianya masih delapan tahun, namun Lu Thong telah berani mempergunakan lengannya untuk menangkis serangan tongkat!

Kwan Cu berlaku hati-hati dan dalam menghadapi serangan lawannya, dia lalu mempergunakan tenaga lweekang.

Ia tidak mau mengadu kekerasan, dan hanya menolak lengan lawan dengan meminjam tenaga.

Kagetlah Lu Thong ketika dia merasa betapa kedua tangan Kwan Cu seperti karet saja, lunak dan setiap pukulannya dapat ditangkis dengan tak banyak tenaga.

Ia menjadi penasaran dan mengeluarkan ilmu silatnya, menyerang dengan Ilmu Silat Lam-hai-kong-jiu yang ganasnya seperti gelombang Laut Selatan mengamuk.

Kwan Cu terdesak hebat dan payah juga.

Biarpun ilmu silatnya Pai-bun-tui-pek-to dapat dipergunakan untuk menghindarkan semua serangan lawan., dan biarpun dia melihat adanya pintu-pintu terbuka dalam kedudukan Lu Thong, namun dia tidak sempat membalas serangan lawan.

Cara mengombinasikan Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to dan Sam-hoan-ciang belum dipahaminya benar.

Namun dengan sekuat tenaga dia melakukan perlawanan.

Beberapa kali kepalan tangan Lu Thong telah mengenai tubuhnya, namun berkat tenaga lweekang, pukulan itu tidak sampai membuat dia terjungkal.

Menarik sekali kalau dilihat sikap kedua orang kakek yang menonton murid-murid mereka bertempur.

Ang-bin Sin-kai duduk di atas tanah, bersandar kepada pohon dan menonton dengan mata merem melek, sedikit pun tidak mengeluarkan suara dan tidak pula bergerak.

Akan tetapi, sebaliknya, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tidak mau diam, seperti orang melihat ayamnya diadu.

Ia berjingkrak-jingkrak, sebentar-sebentar berseru "ah!,"

"bagus!"

Atau mencela "salah!"

Sambil memperhatikan gerakan muridnya. Kaki tangannya bergerak-gerak seakan-akan dia sendiri yang bertempur.

"Untuk apa kau mempelajari tendangan Liong-jiauw-twi (Tendangan Kaki Naga)?"

Tiba-tiba dia berkata seperti mencela muridnya.

Padahal ucapan ini merupakan petunjuk dan mendengar ini, Lu Thong lalu menambah serangannya dengan tendangan yang datangnya bertubi-tubi dan cepat sekali.

Menghadapi serangan ini, Kwan Cu tak berdaya dan dengan kerasnya sebuah tendangan mengenai pahanya sehingga tubuhnya terlempar jauh dan jatuh berduduk ke atas tanah!

"Ha, ha, ha!

Ang-bin Sin-kai, muridmu kalah!"

Kwan Cu menjadi merah mukanya dan teringat akan nasihat suhunya, dia lalu menjura kepada Lu Thong dan berkata.

"Kepandaianmu hebat. Aku mengaku kalah!"

Lu Thong mengangkat dadanya dan memandang bangga.

Gurunya menepuk-nepuk pundaknya dengan gembira.

Ang-bin Sin-kai bangkit berdiri dan pada wajahnya terbayang sinar kegembiraan pula.

Ia merasa gembira melihat jalannya pertandingan tadi, karena dia maklum bahwa dasar dari kedua orang anak itu sudah terlihat nyata.

Kwan Cu jauh lebih kuat dan kalau saja anak gundul itu sudah mempelajari ilmu menyerang yang hebat, sekali terkena pukulannya Lu Thong tentu takkan dapat bangun kembali tanpa menderita luka hebat.

Sedangkan Kwan Cu yang berkali-kali mengalami pukulan dan sekali tendangan hebat, sama sekali tidak terluka!

Pula, dia senang melihat cara muridnya mengaku kalah.

"Hwesio gendut. Yang baik-baik kau melatih Lu Thong agar kelak tidak mengecewakan. Sepuluh tahun kemudian, kita bertemu lagi dan kita mengadu murid-murid kita. Beranikah kau?"

"Ha, ha, ha! Pengemis kurus, tentu saja aku berani. Boleh, boleh! Sepuluh tahun kemudian kita bertaruh dalam pibu murid-murid kita."

"Bagus! Taruhanku begini. Kalau muridku menang kau harus memberi hadiah semacam ilmu silat, sebaliknya kalau Lu Thong menang aku akan menambah dengan semacam ilmu silat pula kepadanya. Bagaimana?"

"Ha, ha, ha! Kau memang pengemis kelaparan yang licik! Bagimu, menambah pelajaran kepada muridku tidak ada ruginya karena dia adalah cucumu sendiri. Akan tetapi bolehlah, aku pun sudah berjanji ingin menjadi guru dari bocah gundul goblok ini!"

Ang-bin Sin-kai lalu mengajak muridnya pergi, akan tetapi sebelum pergi, dia menoleh kepada Lu Thong dan memandang dengan tajam sambil berkata.

"Thong-ji, karena kau adalah cucu dari Lu Pin, maka aku hendak memberi nasihat. Hilangkanlah sifat kesombonganmu, karena kalau kau pelihara sifat itu, kelak kau tentu akan mengalami kekecewan karena kesombonganmu."

Ketika mengangkat muka memandang Lu Thong merasa terkejut sekali melihat melihat sinar mata kakek itu demikian tajam dan seakan-akan menembus sampai menjenguk ke dalam lubuk hatinya!

Ia buru-buru menundukkan mukanya dan belakang lehernya terasa dingin.

"Baik, Kong-kong,"

Katanya perlahan.

Ang-bin Sin-kai lalu pergi bersama Kwan Cu.

Bocah gundul ini merasa penasaran dan tidak hanya tubuhnya merasa sakit sekali.

Begitu bertemu, gurunya telah menurunkan ilmu silat yang hebat kepada Lu Thong seperti yang dilihatnya tadi.

Sedangkan dia hanya menerima ilmu-ilmu silat yang untuk menahan serangan Lu Thong saja masih tidak sanggup!

Akan tetapi, dasar dia memang anak yang taat dan penerima, dia tidak mau berkata apa-apa dan diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kelak dia akan mencari ilmu silat sendiri yang membuat dia tidak terkalahkan!

Hek-i Hui-mo (Iblis Tebang Baju Hitam) setelah berhasil menggondol pergi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, lalu melarikan diri secepatnya.

Ia tidak percaya akan keterangan Kwan Cu, bocah gundul itu bahwa kitab itu palsu, karena kalau palsu, mengapa Panglima An Lu Shan begitu mau bersusah payah untuk menterjemahkannya?

Hek-i Hui-mo adalah seorang pendeta Tibet yang selain berkepandaian tinggi sekali, juga dia membentuk sebuah perkumpulan agama di Tibet yang memisahkan diri dari Lama atau juga dari aliran pendeta Buddha jubah kuning.

Semua murid-muridnya atau anak buahnya mengenakan jubah hitam seperti dia pula.

Hwesio ini mempunyai cita-cita untuk menguasai daerah Tibet dan untuk keperluan ini, perlu sekali menterjemahkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, selain untuk mempertinggi ilmu silat, juga untuk melatih ilmu perang kepada murid-muridnya.

Kalau lain orang tokoh besar menganggap tidak ada gunanya lagi kitab itu yang selain di anggap palsu, juga dianggapnya tidak ada orang yang mampu menterjemahkannya, Hek-i Hui-mo beranggapan lain.

Ia tahu bahwa di Tiongkok, tidak hanya Gui Tin yang pandai tentang sastra kuno.

Ia mengenal pula nama dua orang sastrawan yang kepandaiannya mungkin tidak kalah oleh Gui Tin.

Yang seorang adalah Li Po, dan orang ke dua adalah Tu Fu.

Tidak ada harapan untuk minta bantuan Li Po karena sastrawan besar ini orangnya aneh dan keras.

Ia hendak mencoba untuk minta bantuan sastrawan besar Tu Fu karena kebetulan sekali dia tahu di mana adanya sastrawan perantau ini pada waktu itu.

Tu Fu di samping Li Po, adalah seorang sastrawan yang amat pandai dan terkenal.

(Bahkan sampai di jaman atom ini masih terkenal hasil-hasil karyanya).

Ia adalah seorang dari keluarga terpelajar dan berpangkat.

Ia masih keturunan dari Tu Yu, seorang jenderal besar yang gagah perkasa dan terkenal sekali dari Kerajaan Cin barat.

Kakeknya juga seorang sastrawan besar yang ternama, bernama Tu Shen Yan, sedangkan ayahnya, pernah menjadi seorang jaksa.

Namun Tu Fu berwatak jujur dan berjiwa patriot.

Ia amat mencinta nusa bangsanya dan melihat keadaan pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang korup, dia tidak mau menduduki pangkat dan bahkan rela hidup sebagai perantau yang miskin, seperti halnya mendiang Gui Tin yang semasa hidupnya dia kenal baik.

Hek-i Hui-mo maklum bahwa selain Gui Tin yang sudah tewas, orang-orang yang kiranya dapat menterjemahkan kitab kuno yang telah berada di tangannya, hanya Tu Fu dan Li Po, akan tetapi yang dapat dia mintai tolong hanya Tu Fu seorang.

Maka pergilah dia ke Ho-nan di mana dia tahu sastrawan muda itu berada pada waktu itu.

Memang Tu Fu telah menjadi seorang perantau yang menjelajah di propinsi-propinsi Kiang-su, Ce-king, Ho-nan, dan Shan-tung.

Di kota Kai-feng sebelah timur ibukota Ceng-cou, di dekat pintu gerbang sebelah timur, terdapat sebuah rumah bobrok, bentuknya seperti kelenteng.

Memang rumah ini adalah bekas kelenteng yang sudah rusak dan yang gentingnya sudah hampir tidak ada sehingga kalau hujan, tempat itu menjadi basah semua sedangkan di waktu panas tidak terlindung sama sekali.

Agaknya yang dapat hidup di tempat rusak dan kotor ini hanya ayam dan babi belaka.

Akan tetapi, pada waktu itu, sebelah dalam kelenteng, ada seorang manusia yang tinggal.

Orang ini belum tua benar, usianya kurang lebih tiga puluh tiga tahun atau tidak lebih dari tiga puluh lima tahun.

Melihat potongan pakainnya, biarpun kain bajunya sudah lapuk dan penuh tambalan, jelas dapat dilihat bahwa dia seorang terpelajar.

Pakaiannya seperti pakaian pendeta, panjang sampai ke kaki, dengan ikat pinggang terbuat daripada tali hitam.

Kumisnya hitam dan panjang, menggantung di kanan kiri mulitnya.

Jenggotnya sedikit saja, di tengah-tengah dagu dan tergantung sepanjang lehernya.

Kepalanya tertutup sebuah topi butut, topi sastrawan pula.

Tubuhnya kecil kurus, tulang-tulang pipinya menonjol.

Sepasang matanya lebar dan tajam sinarnya sedangkan dahinya lebar sekali.

Inilah dia Tu Fu, sastrawan yang rela hidup dalam kemiskinan karena dia tidak suka pada pemerintah yang dipimpin oleh orang-orang tidak jujur.

Ia rela menderita seperti bangsanya, yakni rakyat kecil yang banyak sekali menderita seperti dia pula.

Di dalam penghidupannya yang miskin, kelaparan.

Ia berduka sekali dan menangis, bukan hanya karena kehilangan puteranya, terutama sekali karena penderitaan keluarganya ini mengingatkan dia akan keadaan para petani miskin, rakyat kecil yang banyak juga menderita kelaparan seperti keluarganya!

Semenjak itu, dia pergi merantau, membuat sajak-sajak yang isinya selain memuji alam indah permai sebagaimana menjadi kesukaan para sastrawan, juga dia membuat sajak-sajak keluhan dan protes terhadap pemerintah yang lalim!

Betapapun miskinnya Tu Fu, kalau orang menjenguk ke dalam kelenteng bobrok itu, dia akan melihat sastrawan ini tidak pernah berpisah dari alat tulisnya, yakni pena bulu, kertas, dan tinta!

Pada waktu itu, matahari telah condong ke barat dan keadaan di dalam kelenteng sudah mulai remang-remang.

Akan tetapi, Tu Fu seperti tidak merasai ini semua dan dia masih saja duduk termenung seperti orang bersamadhi, tangkai pena di tangan kanan dan sebuah kipas bobrok di tangan kiri.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang hwesio berpakaian hitam yang tubuhnya gendut, kulit mukanya hitam dan misainya panjang.

Hwesio itu merangkapkan kedua tangan di depan dadanya dan berkata.

"Omitohud! Tu-siucai benar-benar rajin sekali. Untuk apakah kau bekerja begitu keras?"

Tanya hwesio ini yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo adanya. Bagaikan dalam mimpi, Tu Fu menjawab.

"Aku takkan berhenti bekerja sebelum berhasil menuliskan sesuatu yang berguna!"

"Tu-siucai bersusah payah menulis sajak, untuk apakah gerangan?"

Tanya pula Hek-i Hui-mo.

"Untuk siapa?"

Tu Fu mengerutkan keningnya.

"Tentu saja untuk rakyat sebagai penambah semangat dan untuk negara sebagai obat pahit yang manjur!"

Sambil berkata demikian, Tu Fu bangkit berdiri dan baru sekarang dia memandang kepada pengunjungnya dengan mata terbelalak karena dia heran sekali siapa adanya pendeta yang tak dikenalnya ini.

Namun, sebagai seorang terpelajar dan sopan, dia memberi hormat lalu bertanya.

"Siapakah Losuhu ini? Dan mengapa datang mengunjungi siauwte yang miskin? Harap dimaafkan, di sini siauwte tidak mampu mengeluarkan air teh atau arak untuk disuguhkan."

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak.

"Mengapa Siucai memikirkan keadaan lain orang? Bagi pinceng tidak membutuhkan makan minum, akan tetapi sebaliknya kaulah yang memerlukan makan dan minum. Lihat, pinceng membawa sedikit daging dan arak untukmu!"

Sambil berkata demikian, Hek-I Hui-mo mengeluarkan seguci arak wangi dan sebungkus daging panggang dari saku bajunya yang lebar. Tu Fu menerima pemberian ini dan menghela napas.

"Apa artinya haus dan lapar? Kadang-kadang sampai sepuluh hari aku tidak makan minum dan bajuku mempunya tambalan lebih seratus jumlahnya, akan tetapi, apakah artinya kalau dibandingkan dengan penderitaan rakyat kecil? Mengingat penderitaan mereka itu, perutku terasa kenyang sendiri dan bajuku sudah terlampau baik! Ah, Losuhu, agaknya hidupmu sebagai pendeta lebih bahagia daripada hidupku sebagai seorang sastrawan!"

"Keliru, keliru! Tu-siucai keliru sekali!"

Jawab Hek-i Hui-mo sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.

"Suka dan duka timbul karena hati dan pikiran sendiri. Kebahagiaan berada di dalam hati sendiri, demikian pula keadaan. Kebahagiaan dapat di usahakan dengan mudah, mengapa kau masih saja duduk merenung menyusahkan keadaan orang lain? Kalau kau suka menerima jabatan, apakah lagi yang menyusahkanmu? Kau memiliki kepandaian tinggi."

"Cukup!"

Tiba-tiba Tu Fu membentak dan suaranya keras saking marahnya.

"Siapa sudi membantu orang-orang yang hidup seperti lintah menghisap darah petani miskin? Tidak! Lebih baik mati!"

Kemudian, teringat bahwa dia bersikap kasar terhadap seorang suci, dia lalu memberi hormat dan berkata dengan sikap halus.

"Maaf, Losuhu. Kalau tadi siauwte dikuasai oleh nafsu amarah. Siapakah sebetulnya Losuhu?"

Ulangnya, karena pertanyaannya tadi belum terjawab.

"Nama pinceng Thian Seng Hwesio dan pinceng datang dari Tibet,"

Jawab Hek-i Hui-mo. Memang sebetulnya dia bernama Thian Seng Hwesio, dan di kalangan kang-ouw saja dia disebut Hek-i Hui-mo. Mendengar keterangan ini, Tu Fu memandang dengan mata lebar.

"Dari barat? Ah, Losuhu melakukan perjalanan begitu jauh menjumpai siauwte, ada keperluan apakah?"

"Tu-siucai, pinceng tidak mempedulikan perjalanan ribuan li jauhnya dengan maksud memohon sedikit pertolongan darimu, maka pinceng mengharap kemurahan hatimu dan mengharap Tu-siucai takkan menolak."

Hek-i Hui-mo biarpun terkenal kejam dan ganas, namun dia juga seorang cerdik dan banyak pengalaman.

Menghadapi seorang sastrawan seperti Tu Fu yang biarpun kepandaian tinggi tidak mau menduduki jabatan dan rela hidup menderita, maka dia tahu bahwa orang ini memiliki kekerasan hati yang luar biasa, dan seperti juga Gui Tin, tiada gunanya menghadapi orang seperti ini menggunakan kekerasan.

Andaikata dia mempergunakan kekerasan memaksa sastrawan ini membantunya menterjemahkan kitab, hati sastrawan ini hanya akan tersinggung saja dan kalau sampai terjadi demikian, maka agaknya biarpun dia akan memukul sampai mati, sastrawan muda ini takkan sudi membantunya!

Oleh karena itulah maka Hek-i Hui-mo menjalankan siasat licin dan bersikap halus dan manis budi.

Berbeda dengan Gui Tin yang lebih tua yang sudah banyak bertemu dengan orang-orang kangouw , Tu Fu tidak mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, maka dia tidak mengenal Hek-i Hui-mo dan keganasannya.

Ia memang seorang yang berhati mulia dan suka menolong, apalagi menolong seorang hwesio yang lajimnya menuntut penghidupan beribadat suci, tentu saja dia bersiap sedia untuk menolong.

"Tu-siucai tak perlu tergesa-gesa. Silakan makan lebih dulu, baru nanti kita bicara kembali,"

Kata Hek-i Hui-mo.

Tu Fu tidak berlaku sungkan-sungkan dan sastrawan muda ini lalu makan habis daging dan minum arak itu sampai setengah guci.

Setelah tu Fu selesai makan, Hek-i Hui-mo lalu mengeluarkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dari saku bajunya, dan sambil memperlihatkan kitab itu kepada Tu Fu, dia berkata.

"Pertama-tama pinceng ingin sekali mengetahui pendapat Siucai tentang kitab ini. Pinceng mendapat kitab kuno ini akan tetapi tidak dapat mengerti huruf-hurufnya yang kuno dan sukar dibaca. Dan karena kitab ini bagi pinceng penting sekali. Maka harap Siucai sudi menerangkan apakah kitab ini palsu atau bukan?"

Tu Fu menerima kitab itu seperti seorang kelaparan menerima sepotong kue. Sastrawan mana yang tidak tertarik dan penuh gairah melihat se

Jilid kitab? Ia menerima kitab itu dengan penuh khidmat, lalu mulai membuka lembaran-lembaran pertamanya.

"Hm, sebuah kitab kuno yang menarik hati sekali,"

Katanya perlahan, didengarkan oleh Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian.

"Sudah ribuan tahun usianya dan ditulis dengan bahasa dalam jaman Kerajaan Couw Timur!"

Hek-i Hui-mo tertegun.

"Pinceng mendengar bahwa kitab ini di tulis di jaman Shia!"

Tu Fu menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin! Sudah pasti sekali ditulis dalam bahasa Couw Timur, Lo-suhu, siauwte tahu betul akan hal ini."

"Kalau begitu, apakah kitab ini palsu?"

"Bagaimana orang dapat menyatakan palsu kalau tidak melihat aselinya? Orang baru dapat mengenal kejahatan kalau sudah mengenal kebaikan, maka orang pun baru bisa mengenal barang palsu kalau sudah melihat barang tulennya. Siauwte tidak bisa mengatakan bahwa kitab ini palsu atau aseli, namun kitab ini benar-benar amat menarik hati. Siauwte mengenal seorang yang benar-benar ahli dalam bahasa yang ditulis dalam kitab ini yaitu Gui-siucai."

Kembali Hek-i Hui-mo tertegun.

"Pinceng mendengar bahwa Giu-suicai sudah meninggal dunia, akan tetapi, pinceng lebih suka mohon pertolongan kepadamu, Tu-siucai. Harap kau suka menterjemahkan kitab ini untuk pinceng."

Tu Fu tidak menjawab, melainkan membuka lembaran kitab itu dan membacanya. Baru membaca dan membalik-balikkan lembaran kitab itu, berkerutlah keningnya.

"Aneh sekali! Kitab ini bernama Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebuah kitab pelajaran yang luar biasa anehnya. Akan tetapi yang lebih aneh lagi adalah kau, Lo-suhu. Kitab ini adalah pelajaran tentang ilmu silat dan ilmu perang, bagaimana seorang hwesio yang menuntut penghidupan suci seperti Losuhu ingin mempelajari isi kitab ini? Apakah gunanya untuk Lo-suhu?"

Hek-i Hui-mo merasa muaknya panas.

Kalau saja kulit mukanya tidak begitu hitam, tentu akan terlihat betapa mukanya menjadi merah.

Ia merasa mendongkol dan marah sekali.

Hm, pikirnya, kalau saja aku tidak membutuhkan pertolongan cacing buku ini, kuketok kepalanya sampai pecah!

Ia menarik muka suungguh-sungguh ketika menjawab.

"Tu-siucai, harap jangan salah mengerti. Kitab ini seperti kaukatakan tadi adalah kitab ilmu silat dan ilmu perang. Untuk pinceng pribadi memang tidak ada gunanya, sungguhpun harus pinceng akui bahwa semenjak kecil pinceng paling suka mempelajari ilmu silat. Akan tetapi tidakkah kau lihat betapa buruknya keadaan negara? Kalau pinceng dapat mempelajari ilmu silat dari dalam kitab ini yang juga belum tentu hebat, bukankah pinceng dapat menurunkan kepandaian itu kepada orang-orang gagah sehingga dapat dipergunakan untuk membela negara?"

Pada saat Tu Fu hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari luar kelenteng, disusul oleh suara seorang wanita berkata.

"Bangsat gundul menjemukan! Kaukira dapat melarikan diri dariku? Kembalikan kitab itu!"

Hek-i Hui-mo terkejut sekali dan sekali dia melompat, dia telah berada diluar kelenteng menghadapi Kiu-bwe Coa-li yang datang bersama muridnya, Sui Ceng!

Bukan main kagetnya hati Tu Fu ketika melihat betapa hwesio gendut itu seakan-akan menghilang dari depannya.

"Aduh....., setankah dia?"

Katanya perlahan.

Kemudian dia mendengar suara gaduh di luar kelenteng.

Tu Fu segera memburu keluar dan bukan main heran dan terkejutnya ketika dia melihat dua bayangan orang bertempur di halaman kelenteng seperti iblis sedang menari-nari!

Memang Hek-i Hui-mo tidak membuang waktu lagi.

Begitu dia melihat bahwa yang datang adalah Kiu-bwe Coa-li, tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengeluarkan tasbih dan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan segera menyerang dengan hebatnya.

Kiu-bwe Coa-li tertawa mengejek dan wanita sakti ini pun lalu menggerakkan pecutnya yang bernama Kiubwe-sin-pian (Ruyung Lemas Berekor Sembilan).

Pertempuran kali ini bukan main dahsyatnya.

Satu lawan satu, tanpa khawatir ada tokoh lain yang mengganggu mereka.

Bun Sui Ceng berdiri di pinggir menonton pertempuran antara gurunya dan Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian.

Mukanya yang manis dan elok itu sama sekali tidak nampak gelisah, karena anak ini selain mempunyai hati yang tabah, juga percaya penuh bahwa gurunya pasti akan menang.

"Kiu-bwe Coa-li, kau manusia usilan mengganggu saja!"

Seru Hek-i Hui-mo dan Tongkat Kepala Naga di tangan kanannya menyambar bagaikan halilintar ke arah kepala wanita itu.

"Pendeta busuk, kau pencuri tak tahu malu!"

Balas memaki Kiu-bwe Coa-li dan sedikit miringkan kepala saja, serangan lawan dapat digagalkan.

Pecut berekor sembilan di tangannya tidak tinggal menganggur, cepat melakukan serangan balasan, merupakan sembilan ekor ular yang bergerak dari segala jurusan, menyerang ke sembilan jalan darah di tubuh lawannya!

Hek-i Hui-mo terkejut sekali melihat serangan hebat ini.

Ia maklum akan kelihaian lawan dan sudah mendengar pula tentang keganasan Kiu-bwe Coa-li yang terkenal sekali turun tangan, tentu akan menewaskan lawan.Maka tanpa ayal lagi dia lalu menggerakkan tasbihnya diputar sedemikian rupa dibantu oleh Tongkat kepala Naga untuk melindungi tubuhnya.

Beberapa kali terdengar suara.

"Tar!Tar! Tar!"dari pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li, sungguh membikin hati menjadi ngeri. Makin lama, pertempuran berjalan makin seru dan gerakan mereka menjadi makin cepat.Tiga macam senjata berubah menjadi gulungan sinar yang paling menarik dan indah dipandang adalah gerakan cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li. Cambuk yang berujung sembilan itu merupakan segundukan sinar yang bertangan sembilan, seperti seekor ikan gurita yang berjari sembilan. Setiap ujung cambuk ini merupakan perenggut nyawa yang lihai sekali. Namun ilmu silat Hek-i Hui-mo juga tidak kalah hebatnya. Dia adalah seorang tokoh barat yang pernah menggemparkan Tibet, yang telah menjatuhkan jago-jago dan tokoh-tokoh dari barat dan boleh dibilang, selama melakukan perantauannya di dunia kang-ouw, Hek-i Hui-mo tak pernah terkalahkan. Entah sudah berapa ratus orang lawan terpaksa mengakui kehebatan ilmu silatnya dan sudah berapa puluh lawan binasa di tangannya! Tasbihnya berputar menjadi segundukkan sinar bundar seperti mustika naga sakti, adapun tongkatnya yang merupakan naganya sehingga sepasang senjata di tangannya itu bergerak-gerak bagaikan seekor naga mengejar mustikanya! Sukarlah untuk dikatakan siapa yang lebih lihai diantara dua orang tokoh besar ini. Masing-masing memiliki keistimewaan sendiri dan keduanya mengaku bahwa selamanya baru kali ini mereka menghadapi tandingan yang benar-benar seimbang dan berat. Agaknya pertempuran ini akan menjadi pertandingan mati hidup yang berjalan lama sekali sebelum seorang di antara mereka menggeletak tak bernyawa lagi di depan kaki lawannya. Pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar, saking kerasnya, sampai terdengar angin bersiutan, dan karena sembilan ekor bulu pecut itu menyambarnya dari berbagai jurusan dalam kecepatan yang tidak sama, maka suara angin itu terdengar aneh sekali, bagaikan sembilan buah suling ditiup berbareng. Hek-i Hui-mo menangkis dengan tongkat yang disapukan dan sehelai daripada ujung pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar dan melibat kaki meja sembahyang yang sudah berdiri miring. Hebat sekali tenaga manita sakti ini, karena meja itu melayang ke atas dan bagaikan disambitkan, meja itu menimpa tempat di mana Sui Ceng berdiri. Melihat hal itu, Tu Fu menjerit. Akan tetapi dia membelalakkan kedua matanya saking kagum dan heran melihat anak perempuan yang manis itu menampar dengan tangan kirinya yang kecil.

"Brakk!"

Meja itu pecah berkeping-keping!

Kini tongkat Liong-thouw-tung di tangan kanan Hek-i Hui-mo menyambar pinggang Kiu-bwe Coa-li.

Serangan ini dilakukan sekuat tenaga sehingga wanita sakti itu tidak berani menangkis.

Tubuhnya melompat ke atas dan mundur.

Akan tetapi Hek-i Hui-mo tidak mau memberi hati dan terus melangkah maju lalu menyapu lagi dengan tongkatnya, dibarengi memukul kepala lawan dengan tasbihnya!

Kiu-bwe Coa-li cepat mengelak dan tongkat yang kuat itu menyambar tiang kelenteng di bagian depan.

"Kraaaakk........ bruuuk......!"

Tiang itu patah dan mengeluarkan suara hiruk-pikuk!

"Aduh, tahan.....!

Tahan......!

Apa-apaan sih semua ini?

Apakah Ji-wi (Tuan Berdua) tidak malu?

Orang-orang tua bertingkah seperti anak-anak kecil berebut kembang gula.

Ada urusan dapat diurus, mohon mendengar kata-kata siauwte,"

Tu Fu berseru berkali-kali sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

Kalau saja tidak mengingat bahwa Tu Fu adalah orang yang dapat dimintai tolong menterjemahkan kitab yang tidak dapat mereka baca sendiri itu, mana dua orang tokoh lihai ini mau mendengarkan kata seorang sastrawan lemah seperti Tu Fu?

Keduanya melompat kebelakang dan saling pandang bagaikan dua ekor harimau sedang marah.

"Tu-siucai, kau menahan kami mau apakah?"

Tanya Kiu-bwe Coa-li dengan suara dingin sehingga Tu Fu merasa bulu tengkuknya berdiri.

Bukan main hebatnya wanita ini, pikirnya, sudah bukan merupakan manusia lagi!

"Harap Suthai suka bersabar, dan demikian pula Lo-suhu.

Sebetulnya, mengapa Ji-wi bertempur mati-matian seakan-akan di dunia ini tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik daripada saling gempur dan saling mencoba untuk membunuh?"

Hek-i Hui-mo menarik napas panjang.

"Tak lain karena kitab itulah. Kami berebut Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

Tu Fu masih membawa kitab itu. Kini dia mengangkat kitab itu tinggi-tinggi dan berkata.

"Memperebutkan kitab ini? Alangkah lucunya. Dan untuk dapat membaca dan mengerti isinya saja, Ji-wi tidak bisa dan sengaja datang untuk minta siauwte menterjemahkannya?"

Kiu-bwe Coa-li mengangguk dan berkata tegas.

"Orang she Tu, tak usah direntang panjang lagi. Memang kami membutuhkan isi kitab itu. Akan tetapi karena di sini kami dua orang, terpaksa kami harus melenyapkan salah seorang lebih dulu, barulah nanti kau yang bekerja, menterjemahkan kitab itu. Hayo, Hek-i Hui-mo, kita selesaikan pertempuran kita!"

"Baik, Kiu-bwe Coa-li. Awaslah kau!"

Dua orang jago tua ini sudah bersiap-siap lagi untuk bertempur mati-matian, akan tetapi Tu Fu segera mencegah mereka.

Sastrawan ini, seperti juga Gui Tin dan Li Po atau sastrawan dan seniman-seniman lainnya, tidak suka akan kekerasan dan mencinta kedamaian, maka tentu saja Tu Fu tidak mau melihat dua orang aneh itu saling gempur mati-matian seperti tadi.

"Tahan!"

Katanya keras.

"Kalau Ji-wi berkeras hendak saling bunuh, aku Tu Fu takkan mau menterjemahkan kitab ini. Biar Ji-wi memaksa dan membunuhku, aku takkan mau menterjemahkannya."

Mendengar ini, kedua orang tokoh kang-ouw itu tertegun dan saling pandang.

Mereka sudah maklum bahwa sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman sama anehnya dengan orang-orang kang-ouw bahkan mereka itu lebih hebat pula.

Biarpun mereka itu memiliki jasmani yang lemah, namun mereka berhati keras dan tidak takut mati.

Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo percaya dan tahu bahwa kata-kata yang keluar dari mulut sastrawan ini menyatakan tidak mau membantu, biar dia dibunuh atau disiksa sekalipun, tetap dia takkan mau menterjemahkan isi kitab itu.

Dan apa artinya kitab itu tanpa ada penterjemahnya?

Tiada beda dengan kertas-kertas pembungkus belaka!

"Habis, kalau di sini ada kami berdua, bagaimana Tu-siucai hendak menagturnya?"

Tanya Hek-i Hui-mo dengan suara minta pertimbangan.

Tu Fu mempersilakan mereka duduk di atas lantai di depan kelenteng.

Kemudian dia melambaikan tangan kepada Sui Ceng yang tanpa ragu-ragu datang menghampiri.

"Anak baik, kau benar-benar hidup dalah alam yang aneh,"

Kata sastrawan itu sambil mengelus-elus rambut Sui Ceng yang hitam, halus, dan panjang, kemudian sastrawan in berkata kepada dua orang tokoh kang-ouw itu.

"Harap Ji-wi dengarkan baik-baik keputusanku yang tak dapat diubah lagi. Siauwte sanggup membantu dan menterjemahkan isi kitab ini, akan tetapi hanya dengan syarat. Pertama, siauwte hanya akan menterjemahkan dengan cara membacanya saja dan Ji-wi harap mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengingatnya baik-baik. Kedua, sehabis membaca semua isi kitab, kitab ini harus dibakar di depan siauwte, agar tidak menjadi perebutan mati-matian lagi. Hanya dengan dua macam syarat ini siauwte mau menolong, kalau tidak, biar Ji-wi akan membunuh siauwte, tak nanti siauwte mau menterjemahkannya. Bagaimana?"

Kedua orang tokoh kang-ouw itu saling pandang.

Celaka, pikir mereka, bagaimana dapat menghafal isi kitab dengan sekali mendengar saja?

Akan tetapi kalau mereka tidak mau menerima, selain sastrawan aneh ini tak mungkin dipaksa, juga mereka masih saling berhadapan dan untuk mendapatkan kitab itu harus bertempur mati-matian dulu.

Andaikata menang, bagaimana pula isi kitab dapat diterjemahkan?

Apalagi kalau sampai terdengar oleh tiga orang tokoh besar yang lain dan mereka datang pula, tentu akan makin berabe saja!

"Aku setuju!"

Kata Kiu-bwe Coa-li.

"Hanya aku minta supaya pembacaan dilakukan dua kali!"

Kiu-bwe Coa-li memang cerdik.

Ia datang bersama muridnya dan dia percaya akan kecerdikan otak Sui Ceng.

Tentu muridnya akan dapat membantu dan mengingat-ingat bunyi isi kitab itu.

Hek-i Hui-mo tidak dapat mencari jalan lain.

Ia pun tahu bahwa fihak Kiu-bwe Coa-li untung dengan adanya Sui Ceng, maka dia merasa ragu-ragu, lalu berkata.

"Tidak adil sekali. Kau dibantu oleh muridmu sedangkan aku hanya seorang diri!"

"Kau boleh mencari seorang pembantu pula,"

Jawab Kiu-bwe Coa-li.

Tu Fu mengerti akan maksud pembicaraan dua orang itu, akan tetapi dia pun tidak dapat memecahkan persoalan ini.

Kebetulan sekali pada saat itu, terdengar tindakan kaki dan muncullah seorang anak laki-laki berusia kurang lebih delapan tahun.

"Tu-sianseng, hakseng (murid) datang membawa makanan,"

Kata anak itu sambil memandang kepada tamu-tamu gurunya dengan mata terheran.

"Eh, Tu-siucai, siapakah anak ini?"

Tanya Hek-i Hui-mo yang memandang tajam kepada anak laki-laki yang berwajah tampan dan jujur ini.

Biarpun anak ini bertubuh kurus dan tinggi, namun dia memiliki bakat yang baik juga untuk belajar silat.

"Dia adalah Li Siang Pok, seorang anak dari kota Kai-feng. Ayahnya seorang sastrawan pula dan dia datang di sini untuk belajar kesusastraan dari siauwte."

"Hm, jadi dia boleh dibilang muridmu?"

Tu Fu mengangguk membenarkan.

"Bagus! Pinceng mengambil dia sebagai pembantuku! Dengan adanya dia yang membantu pinceng, mengingat-ingat isi kitab Im-yang Bu-tk Cin-keng, maka keadaan pinceng dan Kiu-bwe Coa-li menjadi berimbang. Ini baru adil namanya!"

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert