Ceritasilat Novel Online

Pemberontakan Taipeng 5

Eps 5 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.

Suami isteri ini memang tidak pernah merubah sikap terhadap masng-masing biarpun mereka telah menjadi raja dan permaisurinya, kecuali di depan orang lain.

Ong Siu Coan memandang isterinya dengan mata terbelalak.

"Apa? Gilakah engkau? Aku bukan Samson, melainkan putera Tuhan yang bungsu! Engkau tahu bahwa aku adalah adik Yesus yang lebih berkuasa daripada segala macam tokoh dan nabi seperti Samson!"

Kiki menarik napas panjang, merasa tidak ada gunanya dan hanya akan memalukan saja berdebat soal yang kuno itu di depan orang lain.

Suaminya selalu bersikap sungguh-sungguh dan marah-marah kalau sampai disangkal bahwa dia bukan putera Tuhan, bukan adik Yesus.

"Sudahlah, mau apa wanita ini datang ke sini?"

Tanyanya sambil lalu, jelas memandang rendah dan membayangkan sikap tidak suka kepada Sheila.

"Biar ia di sini menjadi dayang, dan anaknya diperbolehkan belajar sastera dan silat agar kelak dapat menjadi seorang yang tangguh dan berguna bagi kerajaan kita. Tang Ciangkun, bawalah Ibu dan anak ini dan serahkan kepada kepala bagian rumah tangga, sampaikan perintahku agar Sheila diajari semua pekerjaan agar ia dapat menjadi dayang dan pelayan dalam yang baik, dan Gan Han Le ini serahkan kepada bagian pendidikan agar dia dapat belajar surat dan silat."

Ketika Tang Ciangkun memberi hormat menerima perintah, raja itu menambahkan, teringat bahwa tentu bukan tanpa pamrih pembantunya yang setia dan baik ini datang menghadapkan Ibu dan anak itu kepadanya.

"Oya, dan sebagai hadiah, engkau kuangkat menjadi komandan pasukan penjaga tapal batas di utara, menggantikan panglima yang akan kutarik kembali ke kota raja dan kunaikkan pangkatmu menjadi panglima muda, Besok akan kukirim surat keputusan dan pengangkatanku itu!"

Katanya sambil melambaikan tangan mengusir mereka pergi dari hadapannya.

Tang Ciangkun tentu saja menjadi girang bukan main.

Selama ini, dia memperoleh kedudukan yang cukup tinggi, bukan hanya karena ilmu silatnya yang cukup tangguh dan kesetiannya membantu perjuangan Tai Peng sampai pemimpin itu menjadi raja, juga karena dia masih bersamaan she (nama keturunan) dengan permaisuri, walaupun tidak ada hubungan keluarga apapun.

Dan kini, mendadak dia menjadi seorang pamglima muda, seorang jenderal, komandan pasukan penjaga tapal batas utara!

Maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih, lalu dengan wajah berseri mengundurkan diri mengiringkan Sheila dan Han Le.

Akan tetapi, sikap Ong Siu Coan yang ramah dan manis terhadap Sheila, yang memuji kecantikannya, telah mendatangkan perasaan cemburu dan panas di dalam hati Kiki.

Diam-diam ia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengusahakan agar Sheila jangan diberi tugas sebagai dayang di dalam istana melayani keluarga raja, melainkan diberi tugas di dapur dan di bagian belakang yang tidak mungkin wanita berkulit putih itu memperlihatkan diri di depan Kaisar.

Tentu saja perintah rahasia ini tidak ada yang berani membantah karena semua orang tahu belaka betapa keras dan kejamnya tangan permaisuri itu.

Hal ini bahkan melegakan hati Sheila.

Baginya, yang paling penting adalah kemajuan dan pendidikan puteranya.

setelah anaknya kehilangan gurunya, guru yang paling baik di dunia ini pikirnya dengan hati duka, maka Henry perlu mendapatkan pendidikan yang baik.

Dia kelak harus menjadi seorang yang pandai.

Dirinya sendiri tidak dipikirkannya.

Biar ia dipekerjakan di dapur atau di kebun, bekerja berat sekalipun ia tidak akan mengeluh asal saja puteranya memperoleh pendidikan yang baik seperti yang diharapkan.

Dan hal ini mungkin dilakukan karena bantuan perwira Tang yang kini menjadi panglima muda dengan kedudukan komandan di perbatasan.

Tang Ciangkun itu merasa gembira sekali dengan kenaikan pangkatnya, dan ketika dia mengundurkan diri keluar dari ruangan di mana mereka diterima raja tadi, dia mendengar Sheila mengeluh.

"Tang Ciangkun, aku merasa menyesal sekali telah ikut bersamamu ke sini. Engkau melihat dan mendengar sendiri tadi, kehadiranku bahkan mendatangkan suasana tidak enak saja kepada Sri Baginda dan Permaisuri. Aku sendiri tidak perduli akan keadaan diriku, akan tetapi aku amat mengkhawatirkan keadaan puteraku. Ciangkun, aku akan berterima kasih sekali kepadamu kalau engkau suka membantu sehingga anakku akan dapat belajar bun dan bu (sastera dan silat) seperti yang kami citakan."

Tang Ciangkun yang merasa gembira dan berterima kasih karena Ibu dan anak ini mendatangkan keuntungan besar dan kenaikan pangkat kepadanya, segera berkata.

"Baik, jangan khawatir, Toanio, Kebetulan sekali kepala pengawal istana adalah sahabat baikku, Dia memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dariku, dan dia dapat mengajarkan ilmu silat kepada puteramu. Adapun tentang pelajaran sastera, dia tentu akan bisa mendapatkan seorang guru di antara para karyawan di istana ini."

Demikianlah, berkat bantuan Tang Ciangkun, kepala pengawal yang bernama Giam Ci, mencarikan guru sastera dan dia sendiri melatih ilmu silat kepada Han Le.

Melihat ini, Sheila merasa lega sekali, apalagi karena ia jarang atau hampir tidak pernah diperintah ke bagian dalam istana berhadapan dengan raja dan permaisuri seperti yang dikhawatirkan.

Sudah satu bulan ia berada di situ dan belum juga ia bertemu dengan raja dan permaisuri.

Akan tetapi, pada suatu hari, ia terkejut sekali ketika ada petugas datang ke bagian belakang dan pengawal ini menyampaikan perintah Raja bahwa ia diharuskan menghadap sekarang juga!

Dengan hati gelisah dan jantung berdebar Sheila memasuki ruangan di mana Raja Ong Siu Coan sudah menanti.

Begitu melihat Sheila, Ong Siu Coan bangkit dan menyuruh pengawal itu mundur.

Akan tetapi seperti biasa, dua orang pengawal pribadi yang seperti patung itu tetap berdiri di sudut kamar.

"Aih, kenapa sejak berada di sini, sudah satu bulan aku tidak pernah melihatmu? Aku sampai lupa bahwa engkau berada di sini!"

Sheila berlutut dan memberi hormat.

"Hamba sibuk bekerja di dapur selama ini."

"Ah, engkau mana pantas bekerja di dapur?"

Dengan hati khawatir sekali Sheila berkata.

"Akan tetapi hamba sudah merasa suka sekali dengan pekerjaan hamba dan hamba berterima kasih kepada Paduka."

"Hemm, kalau begitu bolehlah. Akan tetapi sewktu-waktu kalau kupanggil engkau harus datang. Aku butuh sekali bantuanmu, Sheila."

Kembali Sheila menahan jantungnya yang berdebar keras.

"Apakah yang dapat hamba lakukan untuk Paduka, Sri Baginda?"

"Aku ingin lebih mendalami isi Alkitab, dan karena bahasa Inggrisku masih dangkal, amat sukar aku mengerti benar isinya. Tejemahan yang ada dalam bahasa daerah juga tidak lengkap. Kau bangkitlah dan duduklah di kursi di dekatku sini. Engkau harus membantu aku memahami isi Alkitab."

Sheila tidak berani membantah, bangkit dan menghampiri kursi lalu duduk tak jauh dari Ong Siu Coan yang sudah mengeluarkn sebuah kitab, yaitu Alkitab yang sudah lusuh dan usang.

Tiba-tiba Sheila mendapat suatu kekuatan yang keluar dari dalam lubuk hatinya.

Raja ini seperti orang gila saja, menganggap dirinya sebagai putera Allah dan sebagai adik Yesus.

Jelaslah bahwa raja ini mempelajari Alkitab dengan keliru dan menyeleweng daripada kebenaran, Kalau hanya menterjemahkan dan mengajarkan isi Alkitab saja, tanpa lebih dahulu mengubah pandangannya yang menyeleweng tentang dirinya sendiri, kiranya tidak akan ada gunanya.

"Ampunkan hamba, Sri Baginda. Sebelum mempelajari Alkitab, hamba mohon bertanya, apakah Paduka ini pemeluk Agama Kristen?"

"Tentu saja! Kau pikir bagaimana? Bukan saja beragama Kristen, bahkan aku adalah utusan Tuhan untuk mengamankan dunia dan mendatangkan berkah bagi manusia, aku adalah putera Tuhan yang diturunkan terakhir, aku adik bungsu dari Yesus sendiri! Karena itu aku harus mempelajari isi Alkitab dengan sempurna!"

Kata-kata yang kacau, pikir Sheila.

Orang ini mabok dalam kemenangan dan kemuliaan, memandang diri sendiri sedemikan tingginya sehingga terdengar mengerikan!

"Akan tetapi, yang mulia Sri Baginda.

Umat Kristen dalam kepercayaannya mendasarkan isi Alkitab.

Bagaimana Paduka dapat mengharapkan agar semua orang percaya akan keadaan Paduka kalau tidak terdapat di dalam Alkitab?"

"Aha, ternyata engkau masih bodoh! Tentu saja ada di dalam Alkitab! Nanti kuperlihatkan kepadamu, sejak dahulu sudah terlihat tanda-tanda dan ramalan-ramalan bahwa aku akan turun ke dunia, walaupun tidak disebut sebagai putera Tuhan dan adik Yesus. Akulah yang akan mengubah seluruh dunia dengan kekuasaanku, membasmi yang lalim dan mengangkat yang percaya ke dalam surga!"

Sheila merasa betapa bulu tengkuknya meremang.

Ia merasa seperti berhadapan dengan seorang yang miring otaknya, seorang gila yang amat berbahaya.

Dengan sekuat keberaniannya iapun mencoba untuk menyadarkan.

"Maaf, yang mulia. Agama Kristen adalah agama yang berdasarkan Cinta Kasih, yang tidak akan mempergunakan kekerasan, apalagi membasmi..."

"Kau keliru! Yesus sendiri marah-marah melihat kelaliman. Dan kau kira Tuhan tidak akan marah melihat kelaliman manusia? Lihat saja di dalam Alkitab dan ingat akan peistiwa Nabi Nuh ketika banjir besar membasmi semua manusia yang lalim, ingat pula kota Sodom dan Gomorah yang hancur lebur dan semua orang yang lalim binasa terbasmi habis oleh kemurkaan Tuhan. Akupun menjadi putera utusan Tuhan yang menjalankan perintah Tuhan, membasmi penjajah Mancu yang lalim, dan membasmi semua orang lalim di dunia ini! Lihat betapa Tuhan marah dan menjatuhkan berbagai penyakit kepada manusia, bencana alam, kesengsaraan. Semua itu untuk menghukum orang-orang yang lalim dan jahat!"

Dia berhenti sebentar untuk mengambil napas dan memandang ke atas, seolah-olah menanti "ilham"

Yang datang dari atas dan melanjutkan.

"Tuhan pendendam dan pemarah, dan semua orang akan digilas oleh kemarahanNya dan akan dihancur-binasakan kalau tidak cepat bertaubat dan percaya kepada Tuhan melalui aku puteraNya!"

Gila, pikir Sheila. Ia mencoba lagi untuk meluruskan yang bengkok.

"Ampun beribu ampun, Sri Baginda. Bukan hamba membantah atau tidak percaya, akan tetapi karena hamba Paduka panggil untuk bicara soal agama, maka hamba berani mengajukan pendapat hamba untuk bahan pertimbangan Paduka dalam mempelajari Agama Kristen. Hamba berpendapat bahwa Tuhan bersifat Maha Pemurah, Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Pengampun. Seperti telah disebutkan di dalam kitab, demikian Maha Kasih dan Maha Pemurah sehingga Dia menurunkan puteranya ke dalam dunia untuk membimbing semua umat manusia, untuk mencuci dosa manusia dengan darahNya..."

"Memang benar! Akan tetapi sampai kini manusia tidak mau bertaubat. Karena itu, sekarang Tuhan menurunkan aku sebagai putera kedua, untuk melanjutkan perjuangan kakakku Yesus, menyelamatkan umat manusia, membasmi sumber kesengsaraan manusia, membasmi yang berdosa!"

Ong Siu Coan memotong.

Wah, semakin menjadi gilanya, pikir Sheila.

Sejak memasuki ruangan yang khas di sebelah dalam ini tadi, ia sudah merasa ngeri dan bergidik.

Ruangan itu dibuat seperti keadaan bukan di bumi lagi, seperti yang pernah ia baca digambarkan dalam kitab Wahyu.

Tempat duduk raja itu terbuat dari emas permata, dan raja sendiri mengenakan sebuah mahkota tipis dari emas yang gemerlapan dengan taburan batu permata.

Di belakangnya nampak dinding yang dilukisi awan sedemikian indah seolah-olah hidup dan bergerak, sehingga raja itu nampak seperti duduk di atas awan!

Yang hebat, singgasana raja itu diukir dengan amat indah, berbentuk seekor binatang yang berkepala tujuh.

Binatang itu menyerupai ki-lin atau semacamnya, tubuh dan kepalanya seperti seekor harimau, kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa!

Teringatlah Sheila akan bunyi sebuah nubuat atau ramalan di dalam kitab Wahyu tentang seekor binatang yang keluar dari dalam laut, keadaannya seperti yang terukir pada singgasana yang diduduki raja itu.

Betapa kemudian binatang yang disebut juga naga itu memerangi dan mengalahkan orang-orang kudus dan menjadi berkuasa disembah oleh setiap bangsa di dunia!

Teringat akan ini dan mendengar ucapan raja itu, diam-diam timbul rasa takut di dalam hati Sheila.

Apalagi ketika Ong Siu Coan mengambil sebuah pedang yang berada di atas meja sembahyang, pedang aneh bentuknya ketika dicabutnya dari sarungnya, karena pedang itu terbuat dari batu giok dan berbentuk Naga.

"Lihat ini, Sheila. Inilah pengganti sabit seperti yang disebutkan di dalam ayat suci. Bukalah Alkitab itu dan cari dalam kitab Wahyu, yaitu ramalan yang diberikan kepada Yohanes, dan carilah Wahyu 14 ayat 14 sampai dengan 16."

Dengan jari agak gemetar Sheila membuka kitab suci itu dan mencari bagian yang disebutkan Ong Siu Coan.

"Coba baca dan terjemahkan!"

Kata pula raja itu dengan nada memerintah, wajahnya berseri, sepasang matanya mencorong dan dia nampak gembira sekali.

Sheila mencoba untuk menenangkan hatinya sehingga suaranya tidak begitu gemetar walaupun ia merasa serem seperti kalau orang berhadapan dengan seorang gila yang sukar dimengerti.

Iapun membaca sambil menterjemahkan.

"Dan aku melihat dengan sesungguhnya, ada awan putih dan di atas awan putih itu duduklah seorang seperti anak manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepalanya dan sebuah sabit tajam di dalam tangannya, Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci, dan dia berseru dengan suara nyaring kepada dia yang duduk di atas awan itu . Ayunkanlah sabitmu dan tuailah, karena sudah saatnya untuk menuai, karena tuaian di bumi sudah masak. Dan dia yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan bumipun dituailah!"

Sheila berhenti membaca, mengangkat muka memandang kepada raja itu dengan mata terbelalak, tengkuknya terasa dingin. Ong Siu Coan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, dan akulah anak Allah. Akulah dia yang duduk di atas awan putih itu, dan naga berkepala tujuh itu sudah kutaklukkan, dan akulah yang akan melaksanakan perintah Bapakku, akulah yang akan membabat semua yang bersalah, dan melalui akulah semua manusia akan memperoleh keselamatan, termasuk engkau, Sheila!"

Dan kini berubahlah sikap Ong Siu Coan.

Dia sudah meletakkan kembali pedang Giok-Liong-Kiam, tentu saja yang palsu karena yang aseli telah dicuri oleh Lee Song Kim, dan dengan muka kemerahan dan mulut menyeringai dia mendekati Sheila, lalu merangkulnya.

Tentu saja Sheila terkejut bukan main karena hal ini tak disangkanya.

Iapun meronta ketika kedua tangan raja itu bergerak dengan kasar dan hendak menanggalkan pakaiannya, sedangkan muka raja itu mendekatinya hendak menciumnya.

"Ah, Sri Baginda! Ingatlah, hamba adalah isteri Sute Paduka sendiri!"

Sheila memperingatkan sambil meronta dengan sia-sia dari kedua tangan yang amat kuat kokoh itu.

"Heh-heh, karena itulah engkau harus melayaniku, Sheila. Sute telah tidak ada lagi, dan engkau begini cantik, matamu begini biru, rambutmu seperti benang emas, aahhh...!"

"Lepaskan, Sri Baginda, kalau tidak hamba akan menjerit!"

Kata pula Sheila ketika pipinya telah diciumi walaupun ia sudah berusaha untuk menjauhkan mukanya, dan kancing-kancing baju atasnya sudah terlepas.

"Ha-ha-ha, engkau telah dipilih oleh putera Tuhan sendiri, mengapa engkau menolak? Dan siapa yang akan berani menentang aku kalau aku menghendaki dirimu?"

Ong Siu Coan kini semakin nekat.

Pada saat itu muncullah sang permaisuri, Tang Ki!

Wanita ini muncul dari sebuah pintu belakang dan ia mengerutkan alisnya ketika melihat betapa suaminya sedang berusaha menggauli Sheila dengan paksa.

"Hemmm, bagus sekali!"

Katanya, suaranya lirih namun mengandung desis kemarahan.

Mendengar suara ini, Ong Siu Coan terkejut dan cepat melepaskan Sheila dan bangkit lalu undur ke belakang.

Sheila sendiri juga bangkit dan cepat membereskan pakaiannya yang sudah separuh terbuka, mengusap air matanya dengan ujung lengan baju tanpa mengeluarkan suara tangis.

"Bagaimana engkau berani masuk begitu saja menggangguku?"

Bentak Ong Siu Coan marah. Akan tetapi isterinya tidak menjawab, melainkan memandang kepada Sheila dan membentak.

"Engkau tidak lekas kembali ke dapur?"

Dan telunjuknya menuding ke arah pintu.

Sheila menjura dengan wajah penuh duka dan segera meninggalkan ruangan itu.

Setelah tiba di luar, ia cepat berlari menuju ke kamarnya di bagian belakang.

Setelah Sheila pergi, barulah Tang Ki membalikkan tubuhnya menghadapi suaminya dengan muka merah dan sikap marah.

"Hemm, begini ya kalau engkau berada di belakangku? Sudah berani menghinaku dengan bermain perempuan di tempat ini!"

Kalau mendengar dan melihat sikap permaisuri itu, tentu para menteri dan hulubalang akan menjadi terkejut dan heran sekali.

Memang Tang Ki tidak pernah bersikap hormat kepada suaminya ini kalau tidak hadir orang ketiga.

Biarpun Ong Siu Coan telah menjadi raja, namun bagi Tang Ki, dia hanyalah laki-laki yang telah dibantunya, sejak dari manusia biasa sampai kini terangkat menjadi seorang raja besar di daerah selatan Sungai Yang-ce.

Ong Siu Coan diam saja, hanya memandang kepada isterinya dengan cemberut.

Dia dapat berlagak di depan orang lain, mengaku sebagai putera Allah, adik Yesus dan sebagainya, namun di depan Kiki atau Tang Ki, dia mati kutu.

Isterinya itu telah mengetahui akan semua rahasianya, mengalami pahit getirnya semenjak mereka berjuang dan Kiki selalu menjadi isterinya, pembantu setia, dan tangan kanannya.

"Kenapa diam saja? Katakan saja bahwa engkau sudah bosan padaku!"

Tang Ki sambil menjatuhkan diri duduk di atas kursi di dekat singgasana suaminya.

Ong Siu Coan juga duduk di atas singgasana itu.

perlahan-lahan, nafsu berahi yang tadi menguasai dirinya, menjadi surut dan dia memandang kepada isterinya dengan alis berkerut.

"Aku ataukah engkau yang bosan? Yang jelas, aku merasa bosan karena sampai sekarangpun engkau belum mempunyai keturunan! Siapa kelak yang akan menggantikan aku menjadi raja kalau engkau tidak melahirkan seorang putera? Dan engkau tidak membolehkan aku mengambil isteri lain untuk menyambung keturunan!"

Seperti biasa, kalau Ong Siu Coan sudah menyinggung soal keturunan dan isteri muda, terjadilah percekcokan.

Sebetulnya, diam-diam Kiki sudah merasa jemu dan tidak suka kepada suami ini, yang dianggapnya seperti orang yang telah menjadi gila dan ingin menganggapnya sebagai hamba sahaya saja.

Akan tetapi bagaimanapun harus diakuinya bahwa kini iapun terangkat naik ke dalam kemuliaan, menjadi seorang permaisuri yang disembah-sembah oleh rakyat jelata!

"Hemm, tak perlu merengek.

Kalau memang engkau membutuhkan wanita lain agar memperoleh keturunan, akupun tidak akan menghalangi.

Akan tetapi bukan perempuan bule itu.

Aku yang akan memilihkan, berapa saja kau suka.

Akupun sudah bosan kepadamu!"

Biarpun ucapan itu amat menusuk perasaan, karena di situ tidak ada orang lain dan isterinya menjanjikan untuk membolehkan dia mengambil selir-selir, Ong Siu Coan tidak menjadi marah, bahkan merasa gembira sekali.

Akan tetapi, percakapan mereka atau lebih tepat percekcokan mereka itu terhenti seketika dengan munculnya seorang pengawal yang melaporkan bahwa Lui-Ciangkun, seorang kepercayaan Ong Siu Coan yang bertugas sebagai seorang di antara komandan-komandan pasukan mata-mata yang banyak disebarkan di perbatasan utara, mohon menghadap.

Ong Siu Coan merasa lega karena kemunculan perwira itu berarti menyudahi kedaan tidak enak itu, apalagi dia teringat bahwa Lui-Ciangkun pernah mengirim laporan tentang Lee Song Kim dan dia memerintahkan agar Lee Song Kim dihubungi dan kalau mungkin dihadapkan kepadanya karena dia ingin menarik orang lihai ini sebagai pembantunya.

Apalagi ketika mendengar dari pengawal yang datang melapor bahwa Lui-Ciangkun datang dan mohon menghadap bersama seorang yang bernama Lee Song Kim, raja itu menjadi gembira sekali.

Tang Ki yang mendengar disebutnya nama Lee Song Kim, juga menjadi tegang, gembira dan penuh perhatian.

Suhengnya datang!

Dan biarpun ia pernah bermusuhan dengan Suhengnya itu, namun ada sesuatu yang amat menarik pada diri Suhengnya, Dan hal itu sekarang semakin terasa olehnya semenjak timbul perasaan tidak suka kepada suaminya.

Raja dan permaisuri ini lalu membereskan pakaian mereka, mengatur sikap seanggun-anggun dan seagung-agungnya ketika mereka menanti munculnya Lui-Ciangkun dan Lee Song Kim.

Dengan cerdik Ong Siu Coan tidak meneima tamunya di ruangan di mana tersimpan Giok-Liong-Kiam itu, melainkan di ruangan di mana dia biasa menerima para tamu dan para menterinya.

Pedang pusaka Giok-Liong-Kiam biasanya kalau malam disimpan di meja sembahyang yang berada di kamar tidurnya, sedangkan kalau siang disimpan di ruangan yang disebutnya Ruangan Awan Putih itu.

Lee Song Kim semdiri merasa heran akan tetapi juga lega ketika melihat sikap raja dan permaisurinya itu.

Mereka nampak sama sekali tidak marah, dan tidak kelihatan seperti orang yang membencinya.

Bahkan jantungnya berdebar ketika dia melihat sinar mata Kiki yang masih cantik jelita seperti dulu, memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh baginya karena dia melihat kekaguman membayang dalam sinar mata itu!

Dan raja itupun nampak ramah dan tersenyum dengan wajah berseri ketika melihatnya.

Seperti juga Lui-Ciangkun, Song Kim menjatuhkan diri berlutut di depan raja dan permaisuri itu.

Lui-Ciangkun dengan singkat namun jelas melaporkan kepada raja tentang peristiwa pertemuan di mana Lee Song Kim mengangkat diri menjadi bengcu dengan julukan Thian-He Te-It Bu-Hiap, betapa banyak tokoh persilatan menerimanya dengan gembira.

Kemudian betapa pertemuan itu ditinggalkan sebagian para tamu yang agaknya tidak menerima Song Kim sebagai bengcu dan kemudian penyerbuan yang dilakukan oleh pasukan besar pemerintah Mancu.

"Sayang bahwa kekuatan pasukan yang hamba pimpin hanya kurang lebih seratus orang, sedangkan kekuatan musuh sedikitnya lima ratus orang, dipimpin oleh orang pandai, sehingga hamba hanya berhasil menyelamatkan sebagian saja dari anak buah Lee-Kongcu yang kini telah berada di markas."

Lui-Ciangkun menutup lapornnya. Ong Siu Coan mengangguk-angguk.

"Engkau telah melaksanakan tugasmu dengan baik, Lui-Ciangkun. sekarang mundurlah dan biarkan kami bercakap-cakp dengan Thian-He Te-It Bu-Hiap."

Lee Song Kim mengangkat muka memandang, ingin melihat apakah dalam menyebutkan julukan itu sang raja hendak mengejeknya, namun dia melihat raja itu mengedipkan sebelah matanya kepadanya.

Song Kim menunduk dan merasa lega, juga kagum karena Ong Siu Coan ternyata masih merupakan seorang yang cerdik dan berbahaya, walaupun sudah menjadi raja.

diapun cepat memutar otaknya untuk mengatur siasat, siap menghadapi segala pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang tepat sambil menduga-duga apa yang tersembunyi di balik sikap yang bersahabat dari raja ini, padahal dia pernah datang dan mencuri Giok-Liong-Kiam dari kamar raja.

Lui-Ciangkun mengundurkan diri dan raja lalu memerintahkan semua pengawal, juga para pengawal pribadinya, untuk mundur.

Akhirnya hanya dia, permaisuri dan Lee Song Kim saja yang tinggal di ruangan itu.

Pintu-pintu ruangan itu telah ditutup rapat dari luar oleh para pengawal atas perintah raja.

Setelah mereka tinggal bertiga saja, raja dan permaisuri seoah-olah baru melepaskan kedok mereka.

"Lee Song Kim, sungguh engkau berani mati sekali muncul di sini! Tahukah kau bahwa sekali aku memberi aba-aba, seratus orang pengawal akan mengepungmu dan menghancurkan seluruh tubuhmu sekarang juga?"

Permaisuri itu membentak sambil bertolak pinggang dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Song Kim.

Akan tetapi, Lee Song Kim merasa heran melihat betapa wajah yang cantik itu sama sekali tidak cocok dengan suaranya.

Suaranya seperti orang marah dan benci, akan tetapi wajah itu, sinar mata itu!

Maka diapun maklum.

Dia adalah seorang laki-laki yang berpengalaman, dan melihat sikap sang permaisuri ini, diapun tersenyum dan dalam keadaan masih berlutut diapun berkata dengan suara halus.

"Hamba telah berada di sini, dan hamba telah menyerahkan jiwa raga hamba di dalam kekuasaan Paduka. Kalau memang Paduka tega untuk membunuh hamba, silakan, hamba akan mati dengan rela dan mata terpejam di bawah tangan Paduka."

Mendengar ucapan itu, dan melihat sikap itu, sang permaisuri menjadi merah mukanya dan ia tersenyum.

"Mengingat engkau dahulu adalah Suhengku, biarlah sekali ini kuampuni kau. Akan tetapi awas kalau lain kali berani kurang ajar lagi!"

Diam-diam Song Kim tersenyum.

Bekas sumoinya itu tentu menyindir perbuatannya mengusap paha ketika malam-malam datang mencuri pedang itu.

Heran!

Kenapa bekas sumoi yang dahulu membencinya itu tidak marah dan agaknya tidak mengatakan hal itu kepada suaminya?

"Lee Song Kim, kami mengajakmu bicara tanpa dihadiri para pengawal karena aku hendak bertanya kepadamu.

Engkaukah yang malam-malam itu datang mencuri Giok-liong-kiam dari kamar kami?"

Tadi ketika berhadapan untuk pertama kali dengan raja dan permaisuri ini, Song Kim telah mempersiapkan diri untuk menjawab semua pertanyaan dan pertanyaan yang kini diajukan oleh raja termasuk pertanyaan pertama yang telah dia persiapkan jawabannya.

Maka begitu ditanya, dia tidak nampak terkejut atau khawatir, melainkan menjawab dengan suara lantang dan lancar, sedikitpun tidak kelihatan gugup.

"Sebelumnya saya harap dapatkah kiranya Paduka memberi ampun kepada hamba atas kelancangan hamba. Sesungguhnya sejak dahulu hamba merasa kagum sekali atas kemajuan yang dicapai oleh pasukan Tai Peng dan hamba bercita-cita untuk membantu gerakan yang Paduka pimpin. akan tetapi, hamba belum memperoleh kesempatan dan timbul gagasan dalam hati hamba untuk mengumpulkan orang-orang pandai di dunia persilatan. kalau hamba telah nerhasil menjadi bengcu, memimpin tokoh persilatan, maka baru hamba akan menghambakan diri kepada pasuka berikut anak buah hamba. Untuk keperluan menghimpun orang-orang di seluruh dunia persilatan dan kang-ouw, hamba membutuhkan Giok-Liong-Kiam. Kalau hamba terang-terangan minta pinjam kepada Paduka, tentu Paduka tidak akan percaya kepada hamba. Oleh karena itu, mohon ampun sebelumnya, hamba telah berani berlancang tangan mencuri Giok-Liong-Kiam untuk hamba pinjam sebentar, yaitu untuk mempengaruhi para tokoh kang-ouw. semua ini hamba lakukan secara terpaksa, semata-mata untuk dpat mengumpulkan orang-orang pandai dan kemudian menghambakan diri, membantu Paduka."

Song Kim berhenti sebentar, mencuri pandang ke arah wajah raja dan permaisuri itu.

Melihat betapa Ong Siu Coan tersenyum dan tetap tidak memperlihatkan kemaraha, bahkan wajahnya berseri cerah, dia menjadi lega dan melanjutkan.

"Sekarang hamba telah berhasil menghimpun tokoh-tokoh kang-ouw dan hamba bermaksud menghambakan diri bersama kawan-kawan ke hadapan kaki Paduka, dan hamba tidak lagi memerlukan Giok-Liong-Kiam. Oleh karena itu, hamba telah membawa Giok-Liong-Kiam bersama hamba, hendak hamba kembalikan kepada Paduka dengan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan maaf yang sebesar-besarnya."

Lee Song Kim mengeluarkan Giok-Liong-Kiam dari balik jubahnya dan menyerahkan pedang itu dengan gagang terlebih dahulu kepada Ong Siu Coan.

Raja ini sambil tersenyum menerima pedang Giok-Liong-Kiam, mencabutnya untuk memeriksa sejenak.

Dia merasa yakin bahwa iu adalah pedang yang aseli, maka disarungkannya kembali pedang itu.

"Engkau tidak tahu bahwa pusaka ini adalah pusaka yang telah dikaruniakan dan diperuntukkan aku oleh Tuhan sendiri, sebagai lambang kekuasaanku untuk menyelamatkan dunia dan manusianya, Lee Song Kim. Akan tetapi karena engkau telah mengambilnya dengan niat baik, biarlah aku memaafkanmu. dan sebagai gantinya, engkau boleh memiliki pusaka tiruannya, dan engkau boleh menyatakan kepada dunia kang-ouw bahwa itu adalah Giok-Liong-Kiam aseli agar engkau tetap menjadi bengcu. Jadilah bengcu, kumpulkan orang-orang kang-ouw dan bawa mereka kepadaku untuk membantu gerakan Tai Peng, dan engkau akan menjadi pembantuku yang paling baik. Engkau akan kuberi kedudukan tinggi dan kemuliaan. Bagaimanapun juga, engkau adalah Suheng dari permaisuri kami."

Lee Song Kim menjadi girang bukan main.

Biarpun dahulu ia menganggap Ong Siu Coan orang biasa, rekan di dunia kang-ouw, bahkan saingannya, namun kini dia tidak boleh memandangnya sebagai orang setingkat.

Ong Siu Coan telah menjadi seorang raja besar dengan kekuasaan pula, hidup bergelimang kekuasaan, kemuliaan dan kemewahan.

Tentu saja dia tidaklah begitu bodoh untuk menentang seorang seperti Ong Siu Coan, dan kalau saja dia dapat menjadi orang kepercayaannya, tentu dia akan ikut pula hidup dalam kemuliaan.

Selain itu, di situ terdapat pula Kiki yang masih demikian menggairahkan, dengan senyum manis dan lirikan mata yang demikian penuh rahasia dan tantangan!

Dengan sikap hormat dan berterima kasih, Song Kim menerima penawaran raja itu dan mulai hari itu diapun menjadi orang kepercayaan Ong Siu Coan.

Tugasnya hanyalah melanjutkan kedudukannya sebagai bengcu di antara kaum kang-ouw, lalu mengumpulkan orang-orang kang-ouw membujuk mereka agar suka menjadi para anggauta pasukan istimewa yang membantu gerakan pasukan Tai Peng yang masih berniat untuk melakukan penyerangan ke utara dan menundukkan seluruh kekuasaan Kerajaan Mancu yang mulai lemah.

Song Kim memperoleh tempat tinggal di kompleks istana yang megah itu, dan hidup sebagai seorang panglima muda atau juga pengawal pribadi raja yang memiliki kekuasaan besar.

Bahkan dia dapat keluar masuk istana, di bagian manapun, tanpa larangan dan tidak ada pengawal istana yang berani melarangnya karena dia telah memperoleh ijin dan tanda kuasa sendiri oleh raja!

Tentu saja kesempatan ini dipergunakan oleh Lee Song Kim untuk memasuki istana di bagian paling dalam, mencari dayang-dayang yang paling cantik, merayunya dan karena hal ini tidak dilarang pula oleh Ong Siu Coan yang memanjakan pembantu ini, maka banyaklah sudah dayang yang jatuh ke dalam pelukan Lee Song Kim!

Beberapa hari kemudian, ketika Lee Song Kim seperti biasa berjalan-jalan di seluruh kompleks istana, tibalah dia di dapur istana yang secara kebetulan dia melihat Sheila bekerja di sana.

Dia terkejut, terheran, lalu kagum melihat wanita kulit putih yang biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, namun masih nampak cantik jelita dan bahkan sudah masak menggairahkan.

Hatinya segera tertarik sekali dan diapun mendekati Sheila, mengajaknya bicara.

"Aih, sungguh mati, kukira di sini aku telah bertemu dengan seorang bidadari! Nona, engkau tentu seorang bidadari dari sorga, bukan?"

Demikian Song Kim menegur Sheila yang sedang berada di luar dapur.

Sheila bukan seorang wanita yang kaku atau pemalu.

Ia sudah mendengar akan munculnya seorang panglima yang tampan dan pandai merayu wanita sehingga banyak dayang yang jatuh hati kepada pria itu.

Kini di depannya berdiri pria yang disohorkan itu, dan harus diakuinya bahwa pria itu memang ganteng dan gagah dan pandai pula merayu hati wanita.

"Bagaimana Ciangkun dapat menduga bahwa aku seorang bidadari sorga?"

Tanyanya dengan suara biasa, tidak nampak genit.

"Tentu saja karena aku sudah mendengar sendiri dari Sri Baginda bahwa para bidadari itu bermata biru dan berambut kuning emas!"

"Tidak, Ciangkun. aku adalah seorang pelayan biasa yang bertugas di dalam dapur. Dan maafkan, aku bukan gadis remaja lagi, melainkan seorang Ibu dari anak yang usianya sudah belasan tahun. Maaf, banyak pekerjaan menumpuk yang harus kubereskan."

Dan iapun masuk ke dalam dapur, meninggalkan Lee Song Kim yang terlongong dan merasa hatinya copot dan keluar dari rongga dadanya, berloncatan mengikuti bayangan wanita bermata biru berambut kuning keemasan.

Song Kim tidak mau berhenti sampai di situ saja.

Dia lalu bertanya-tanya, mulai melakukan penyelidikan tentang diri wanita kulit putih yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Tentu saja dia menjadi semakin tertarik dan kagum ketika mendengar bahwa wanita itu adalah janda pendekar Gan Seng Bu, adik seperguruan Ong Siu Coan sendiri!

Bahkan wanita itu adalah janda yang selama belasan tahun dapat mempertahankan diri, hidup menjanda bersama seorang puteranya, dan akhirnya dapat ditemukan oleh seorang kepercayaan raja, dan dibawa ke istana itu.

Karena wanita kulit putih itu ternyata masih mempunyai hubungan dengan raja, yaitu merupakan adik ipar seperguruan, Song Kim bersikap hati-hati dan tidak berani lancang mempergunakan kekerasan.

Kalau dia mempergunakan kekerasan, tentu akan membuat raja merasa tersinggung.

Akan tetapi diapun dapat menduga bahwa wanita kulit putih tidak terlalu dianggap keluarga oleh raja.

Buktinya hanya dipekerjakan sebagai seorang pelayan dapur.

Kalau dia memintanya kepada raja, tentu akan diserahkan kepadanya dengan baik.

Dalam keadaan dimabok cinta, akhirnya Song Kim menyatakan isi hatinya ketika pada suatu hari dia berkesempatan menghadap raja dan permaisuri seorang diri saja.

Mendengar pernyataan Song Kim bahwa dia suka kepada dayang bernama Sheila dan mohon perkenan raja untuk dapat mengambil janda itu senagai isteri.

Ong Siu Coan terbelalak lalu tertawa bergelak.

Dia sendiri pernah tergila-gila kepada Sheila, akan tetapi bukan mencintanya, hanya sekedar terangsang berahinya melihat wanita berkulit putih bermata biru berambut emas itu.

Akan tetapi setelah Kiki mempergokinya dan marah-marah, dan melihat betapa Sheila menolaknya, berahinya memadam.

kini mendengar bahwa seorang kepercayaannya itupun tergila-gila, dia merasa geli dan juga girang.

"Bagus sekali kalau engkau hendak menikah dengan Sheila!"

Kata raja sambil tertawa.

"Dia adalah janda Suteku, kini pantaslah kalau menjadi isterimu, Lee Song Kim. Aku setuju sekali!"

"Aku tidak setuju!"

Tiba-tiba sang permaisuri berkata, suaranya ketus dan tajam sehingga Ong Siu Coan dan Lee Song Kim menengok, memandang kepada wanita cantik itu.

"Aku tidak perduli dan sama sekali bukan urusanku kalau Lee Song Kim hendak mengambil isteri wanita yang mana saja. Akan tetapi jangan Sheila! Ingatlah bahwa ia adalah seorang wanita kulit putih! Padahal, Lee Song Kim bertugas sebagai bengcu dan menarik sebanyak mungkin orang-orang dari dunia kang-ouw untuk membantu kita. Apakah hal ini tidak akan mendatangkan kesan buruk terhadap para orang kang-ouw kalau dia mengambil isteri seorang wanita bule?"

"Hamba tidak ada kesan buruk itu, bahkan membanggakan! Dan tentang bagaimana sikap orang-orang kang-ouw, hal ini hamba sanggup untuk menghadapi dan mengatasinya,"

Kata Lee Song Kim dengan alis berkerut.

Akan tetapi Ong Siu Coan sudah mengangguk-angguk, agaknya membenarkan pendapat permaisurinya, dan diapun menjadi bimbang.

Biarpun dia ingin menyenangkan hati pembantu yang amat berharga ini, namun tentu saja yang paling penting adalah memikirkan akibat yang akan menimpa kekuatan Tai Peng.

Kalau benar pendapat permaisurinya, berarti pernikahan itu hanya akan merugikan Tai Peng, merugikan kerajaannya, merugikan dia!

"Hemm, hal ini memang perlu dipikirkan dengan panjang lebar, Lee Song Kim.

Urusan jodoh bukanlah urusan sehari dua hari yang diputuskan dengan terburu dan tergesa-gesa.

Kita tunda dulu dan kita pikirkan bersama baik-buruknya, untung ruginya.

Setelah sebulan kemudian, baru kita akan bicarakan kembali."

Tentu saja Song Kim tidak berani membantah atau memperlihatkan sikap kecewa walaupun diam-diam dia merasa kecewa dan marah kepada bekas sumoinya itu.

Terpaksa dia bersikap sabar menanti sampai raja menyetujuinya, hal yang tadinya dia sudah merasa yakin sekali.

Dua hari kemudian, Sri Baginda Raja Ong Siu Coan mengadakan pertemuan mendadak dengan para penasihatnya di bidang kemiliteran, terutama sekali panglima yang menangani masalah senjata api.

Pada waktu itu, seperti juga pasukan pemerintah Mancu, pasukan Tai Peng juga melihat kegunaan senjata api dalam peperangan, Maka mereka seperti berlomba untuk mendapatkan senjata api dari orang-orang kulit putih yang menyelundupkannya, seperti halnya dengan candu.

Dengan harga mahal sekali kedua pemerintahan ini berani membeli senjata api dari orang-orang kulit putih.

Tentu saja yang menjual senjata api kepada mereka adalah penyelundup-penyelundup kulit putih, petualang-petualang yang berani melakukan pekerjaan-pekerjaan berbahaya demi memperoleh keuntungan besar.

Bahkan hal ini agaknya dilihat dengan mata setengah dipicingkan oleh pasukan orang kulit putih karena mereka ini mempunyai siasat untuk mengadu domba antara pasukan Mancu dan pasukan Tai Peng!

Sudah barang tentu hanya senjata api yang mereka anggap ringan dan kuno saja yang boleh diselundupkan dan dijual kepada kedua pihak yang bermusuhan itu.

Persidangan yang dilakukan oleh Sri Baginda Raja Ong Siu Coan itu sehubungan dengan adanya kontak antara mata-mata yang bertugas mencari dan membeli senjata gelap ini dengn seorang mata-mata kaki tangan orang kulit putih.

Mata-mata orang kulit putih ini menawarkan sebanyak dua ratus batang senjata api bedil kepada pihak Tai Peng, bukan dijual dengan harga tinggi, melainkan untuk ditukar dengan wanita kulit putih bernama Sheila yang berada di istana Nan-king itu!

Menurut mata-mata pasukan kulit putih itu, Nyonya Sheila dicari-cari oleh keluarganya yang menjadi bangsawan orang kulit putih, dan setelah pihak kulit putih mendengar dari mata-mata mereka bahwa Nyonya Sheila itu berada di istana Nan-king, maka mereka lalu menawarkan penukaran dua ratus pucuk senjata api itu dengan diri Nyonya Sheila yang harus dikirimkan kepada pihak kulit putih!

Mendengar pelaporan mata-mata ini, Raja Ong Siu Coan lalu mengadakan sidang itu untuk minta pendapat para penasihatnya.

tentu saja para penasihat itu merasa setuju sekali.

"Adanya wanita (Lanjut ke

Jilid 11) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 kulit putih di dalam istana, hamba kira tidak mendatangkan keuntungan apapun, baik kepada pasukan kita terutama sekali kepada Paduka.

Kalau Paduka memenuhi permintaan pihak orang kulit putih, terdapat dua keuntungan.

Pertama, tentu saja dua ratus pucuk senjata api itu akan memperkuat persenjataan pasukan kita, dan kedua, pihak kulit putih akan berterima kasih kepada Paduka dan selanjutnya akan lebih mudah bagi kita untuk membeli senjata api dari mereka,"

Demikian para penasihatnya berpendapat.

Bahkan permaisuri sendiripun mendesak raja sehingga akhirnya, sidang dibubarkan dengan keputusan bahwa Sheila akan diserahkan kepada mata-mata pihak kulit putih, ditukarkan dengan dua ratus pucuk senjata api!

Setelah bubaran dan berada di dalam kamar mereka sendiri, Ong Siu Coan berkata kepada isterinya.

"Satu hal yang tidak enak, yaitu Lee Song Kim. Dia tentu akan merasa kecewa sekali kalau mendengar bahwa Sheila yang dicintanya dan diharapkan menjadi isterinya itu tahu-tahu telah lenyap, ditukar dengan senjata api. Bagaimana kalau engkau sendiri yang pergi menemuinya dan membujuknya agar dia dengan rela melepaskan Sheila demi kepentingan kerajaan, dan untuk menjadi calon isterinya dia boleh memilih puteri mana yang disukainya? Bujuk dia baik-baik agar tidak berkurang kesetiannya kepada kita."

Permaisuri Tang Ki mangangguk setuju dan malam itu juga ia lalu pergi mengunjungi Lee Song Kim di gedung tempat tinggalnya yang berada di kompleks istana itu, di ujung timur.

Tentu saja Lee Song Kim tergopoh menerima kunjungan tamu agung ini yang hanya di antar oleh dua orang pelayan wanita.

Tak lama kemudian, Lee Song Kim menerima tamu agung itu di dalam ruangan tamu, dan mereka berdua duduk berhadapan di ruangan yang kosong itu, karena baik Song Kim maupun Tang Ki menyuruh pelayan-pelayan mereka untuk keluar dari dalam ruangan itu.

Sejenak mereka duduk berhadapan, saling pandang dan Song Kim yang lebih dahulu menundukkan pandang matanya.

Bagaimanapun juga, dia teringat bahwa yang dihadapinya ini adalah permaisuri, isteri dari Raja yang menjadi junjungannya, walaupun wanita ini adalah sumoinya sendiri.

"Kalau boleh hamba bertanya, kepentingan apakah yang membawa Paduka Sri Baginda ratu memberi kehormatan besar kepada hamba dengan kunjungan ini?"

Akhirnya Song Kim bertanya.

Hening sejenak tiada jawaban, dan ketika dia mengangkat muka memandang, dia melihat betapa wanita cantik di depannya itu tersenyum geli, kemudian malah melepaskan suara ketawa kecil.

"Hi-hik, Lee-Suheng. Sungguh mati, aku tak dapat menahan rasa geli hatiku melihat sikapmu yang begini menghormat kepadaku. Tahukah engkau setiap kali kita bertemu dan engkau bersikap seperti itu, aku selalu merasa bahwa seolah-olah kita sedang menjadi anak wayang dan bermain sandiwara di atas panggung, hi-hi-hik!"

Lee Song Kim juga tersenyum, akan tetapi dia masih belum berani bersikap demikian terbuka dan biasa seperti yang dilakukan oleh Tang Ki. Dia menarik napas panjang.

"Memang benar pendapat Paduka, karena sesungguhnya, hidup di atas dunia ini tiada bedanya dengan bersandiwara di atas panggung, menjadi anak wayang dan memegang peran masing-masing. Karena peran kita masing-masinglah dalam kehidupan ini maka kini Paduka menjadi seorang permaisuri dan hamba menjadi pembantu dan hamba sahaya Paduka."

"Hushh, jangan lanjutkan itu, Suheng. Di sini tidak ada orang lain, tidak enak bicara kalau engkau bersikap hormat-hormatan seperti itu!"

Song Kim menjadi heran, akan tetapi ia masih belum berani mengubah sikapnya.

Wanita ini, biarpun dahulu bermusuhan dengannya, kini adalah seorang junjungannya.

Kalau dia menuruti kemauannya dan mengubah sikap, bagaimana kalau kata-kata Tang Ki itu hanya merupakan pancingan belaka untuk menjebaknya?

Tentu dia akan celaka!

"Habis, bagaimana hamba akan bersikap?"

Tanyanya, hati-hati.

"Sudahlah, Suheng, tanggalkan saja semua topeng sopan santun yang kadang-kadang amat membosankan hatiku itu. Anggap saja aku ini masih Kiki, sumoimu sendiri. Ini merupakan permintaanku, juga perintah. Kalau kita berada berdua saja, bersikaplah biasa seperti Suheng dan sumoi."

"Baiklah... sumoi."

"Nah, begini baru enak kita bicara. Suheng, aku datang untuk bicara denganmu mengenai maksudmu untuk menikah dengan Sheila, perempuan bule itu. suamiku dan aku sudah sepakat untuk tidak menyetujui terjadinya hal itu, Suheng."

Mendengar ini, Song Kim mengerutkan alisnya dan memandang kepada wajah permaisuri itu dengan tajam penuh selidik.

"Akan tetapi... bukankah... Sri Baginda Raja memberi waktu sebulan untuk memikirkan hal itu secara mendalam? Bagaimana sekarang tiba-tiba..."

"Tenanglah, Suheng,"

Kata wanita itu sambil menyentuh punggung tangan Song Kim.

"Kami sudah mempertimbangkan untung ruginya maka berani mengambil kesimpulan dan tidak menyetujui pernikahan itu. Ingatlah bahwa engkau mempunyai kedudukan penting di sini. Kalau engkau memperisteri seorang wanita kulit putih, hal itu akan mendatangkan nama buruk dan mencemarkan kewibawaan Sri Baginda sendiri. Pula, engkau melihat apa sih pada diri Sheila sehingga engkau jatuh cinta kepada wanita bule itu? Masih banyak wanita cantik di dunia ini, dan engkau boleh memilih, asal jangan perempuan bule itu."

"Aku... aku amat tertarik kepadanya, sumoi. Ia cantik dan lembut, dan terutama mata dan rambutnya..."

"Hemm, tidak kau lihat betapa kulitnya biarpun amat putih akan tetapi tidak sehalus kulitku? Hemm, apakah... apakah ia itu kau anggap lebih cantik dari aku, Suheng? Sudahlah, kaulupakan saja Sheila dan kau boleh memilih seorang wanita cantik yang mana saja, tentu akan bisa kaudapatkan. Kami bahkan akan membantu engkau sampai wanita yang kau kehendaki dapat kau miliki."

Tiba-tiba suatu pikiran menyelinap ke dalam kepala Song Kim.

Sumoinya ini bersikap begini menantang!

Dan kalau sampai dia dapat mendekati sumoinya ini, hemmm...

siapa tahu dia akan dapat merampas singgasana dan menggantikan kedudukan Ong Siu Coan!

"Tentu saja kecantikan Sheila tidak dapat dibandingkan dengan engkau, sumoi.

Akan tetapi..., satu-satunya wanita di dunia ini yang amat kucinta, sejak dahulu, kini telah menjadi milik orang lain, dan aku hanya mampu memandangnya dengan penuh kerinduan.

Kalau aku tidak boleh menikah dengan Sheila, kiranya tidak ada wanita lain di dunia ini yang dapat kucinta, karena cintaku telah terbawa oleh wanita pertama itu.

Engkau sendiri tahu betapa sampai sekarang dalam usia hampir empat puluh tahun, aku masih belum mau menikah, sumoi."

Mendengar ucapan yang keluar dengan suara mengandung getaran mengharukan itu, Tang Ki memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, lalu ia mendekatkan tubuhnya ke arah Song Kim sambil bertanya.

"Siapakah wanita itu, Suheng? Kenapa engkau membiarkan ia dimiliki orang lain?"

Ia mengira bahwa tentu Suhengnya pernah jatuh cinta mati-matian dan gagal, maka ia ingin sekali mendengar siapa gerangan wanita yang membuat Suhengnya tidak mau menikah dengan wanita lain itu.

Song Kim mengangkat muka memandang wajah yang cantik manis itu.

Tahi lalat yang menghias pipinya itu membuat wajahnya nampak manis bukan main dan karena wanita itu duduk dekat sekali dengannya, dia dapat mencium baubsemerbak mengharum yang keluar dari tubuh dan pakaiannya.

"Sumoi, apakah engkau tidak tahu? Siapa lagi wanita yang telah kucinta sejak belasan tahun yang lalu, sejak kita bersama tinggal di Pulau Layar? Siapa lagi kalau bukan... engkau seorang...? Maafkan aku, sumoi..."

"Aihh...!"

Tang Ki memandang dengan muka berubah merah sekali, bukan karena marah melainkan karena terkejut dan juga malu dan senang!

Ia memang tahu bahwa Suhengnya pernah tergila-gila kepadanya, bahkan Suhengnya sudah pernah mencoba untuk memperkosanya dan hampir saja berhasil.

Malah akhir-akhir ini, ketika Song Kim mencuri pedang, dia telah meraba pahanya, hal ini menandakan bahwa perasaan mesra yang dahulu itu masih ada.

dan sekarang, Suhengnya malah berani mengaku terus terang.

Song Kim melihat sikap ini dan dia bukan seorang laki-laki bodoh, diapun cepat menangkap tangan yang terletak di atas meja di dekatnya itu, lalu menciumi jari-jari tangan itu dengan penuh kehangatan dan kemesraan, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tang Ki tanpa melepaskan tangan wanita itu sambil meratap.

"Sumoi... maafkan aku... sejak dahulu aku tergila-gila kepadamu. Hanya untuk dapat berdekatan dengan engkau sajalah maka aku sekarang mau menghambakan diri kepada suamimu.."

Tang Ki yang oleh suaminya diberi tugas untuk membujuk Song kim agar suka mengurungkan niatnya menikahi Sheila, kini bahkan sebaliknya jatuh oleh bujuk rayu Song Kim yang amat ahli dalam hal itu.

jantugnya berdebar-debar, mulutnya tersenyum kecil, matanya bersinar-sinar.

"Benarkah... benarkah itu, Suheng?"

Katanya dengan suara berbisik dan pandang mata sayu.

Semua ini dapat dilihat oleh Song Kim dan dapat dimengertinya dengan baik.

Diam-diam dia merasa heran mengapa kini, setelah menjadi seorang pemaisuri, sumoinya ini agaknya malah bersedia untuk melayani hasratnya!

Dia tidak tahu bahwa semua itu terjadi karena memang ada perubahan terjadi di dalam hati Tang Ki, setelah ia merasa tidak suka kepada suaminya yang dianggapnya gila dan tidak lagi mencintanya, apalagi ketika ia melihat suaminya hendak menggagahi Sheila.

Terjadi perubahan di dalam hati Tang Ki dan kini ia memandang pria yang memang lebih ganteng dibanding suaminya itu dengan gairah membayang pada sepasang matanya yang indah.

"Engkau... engkau masih belum percaya kepadaku, sumoi...?"

Kata Song Kim tanpa melepas tangan yang kecil mungil itu dari genggamannya. Tang Ki tersnyum manis.

"Mana percaya kalau hanya kata-kata saja dan tidak ada buktinya?"

Mendengar jawaban ini, Song Kim tidak ragu-ragu lagi.

Diapun bangkit dan merangkul.

Tang Ki yang bagaikan setangkai pohon bunga yang kekeringan dan haus siraman air kasih sayang seorang pria, balas memeluk dan keduanya saling rangkul, saling cium dan saling belai penuh kerinduan.

Berahi merupakan satu di antara nafsu yang amat kuat.

sekali orang berada dalam cengkeraman nafsu berahi, dia akan lupa segala.

Yang teringat hanyalah penyaluran dan pemuasannya.

Demikian pula dengan Song Kim dan Tang Ki.

Mereka lupa bahwa mereka adalah seorang permaisuri dan seorang hambanya!

Mereka bahkan lupa akan bahaya kalau sampai ketahuan orang dan terdengar oleh Sri Baginda.

Namun, keduanya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sehingga mereka dapat berkencan dan melakukan perjinahan tanpa diketahui orang lain!

Dan sejak saat itu, terjadilah hubungan gelap antara bekas Suheng dan sumoi ini dan keduanya merasa cocok sekali.

Tentu saja Sheila merasa terkejut dan khawatir ketika ia bersama puteranya pada sore hari itu dipanggil oleh pengawal untuk menghadap Sri Baginda Raja dan Ratu yang telah menanti di ruangan dalam.

Sheila cepat mengajak puteranya, Gan Han Le, menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.

"Sheila,"

Terdengar Sri Baginda Raja Ong Siu Coan berkata dengan suara ramah.

"Tahukah engkau dan puteramu mengapa saat ini kami panggil menghadap?"

Tanpa mengangkat mukanya, Sheila menjawab.

"Hamba berdua tidak tahu, Sri Baginda."

"Ketahuilah bahwa keadaanmu di istana ini telah diketahui oleh bangsamu, dan kini datang utusan mereka untuk minta agar engkau dan puteramu dikirim kepada mereka. Ada keluarga orang tuamu yang menuntut agar engkau kembali kepada mereka. Karena itu, malam ini juga kalian berdua akan kami serahkan kepada seorang mata-mata pasukan kulit putih agar dibawa dengan kereta ke pelabuhan di mana telah menanti kapal bangsamu."

Mendengar ini, Sheila merasa terkejut bukan main.

Sama sekali ia tidak pernah membayangkan akan kembali kepada bangsanya.

Pernah ia kembali bersama mendiang suaminya, belasan tahun yang lalu karena ada undangan bangsanya.

Akan tetapi kembalinya itulah yang mencelakakan suaminya.

Suaminya tewas dan hatinya menjadi demikian sakitnya segingga ia rela meninggalkan bangsanya dan rela hidup di antara rakyat di dusun-dusun bersama puteranya.

Akan tetapi, yang mengirimnya sekarang adalah raja!

Dan ia sama sekali tidak berdaya untuk menolaknya.

Dan iapun tidak akan menolak.

Memang ia sudah ingin sekali melepaskan diri dari istana raja yang pernah menjadi Suheng mendiang suaminya ini, apalagi setelah peristiwa di malam itu, setelah sang raja mencoba untuk menggaulinya dengan paksa.

Diam-diam ia bahkan merasa girang bahwa ia dan puteranya akan dapat lolos dari tempat ini.

Ia akan menghadapi komandan pasukan bangsanya, dan kelak saja kalau sudah berhadapan dengan mereka dan melihat sikap mereka, ia akan dapat mengambil keputusan apa yang selanjutnya akan dilakukannya.

"Hamba hanya mentaati perintah Paduka, Sri Baginda."

Jawabnya tenang.

Sementara itu, jauh di luar tembok kota raja Nan-king, di dalam bayangan tembok benteng yang agak gelap dan sunyi, tiga orang panglima utusan Raja Ong Siu Coan mengadakan pertemuan dengan seorang laki-laki yang bertubuh jangkung, Pakaiannya sederhana serba putih, usianya sekitar lima puluh lima tahun, mukanya buruk sekali, dengan kulit muka yang rusak seperti bekas terbakar, matanya juga besar sebelah, hidungnya menceng, mulutnya juga nyerong, telinganya mengecil, punggungnya bongkok dan lengan kirinya bengkok.

Semua keburukan ini ditambah lagi dengan jalannya yang terpincang-pincang.

Orang ini bukan lain adalah Bu Beng Kwi yang telah kita kenal!

Bagaimana secara tiba-tiba saja Bu Beng Kwi dapat muncul di luar kota raja Nan-king dan mengadakan pertemuan dengan tiga orang panglima utusan Raja Ong Siu Coan?

Seperti telah kita ketahui, ketika Sheila mengajak Han Le pergi meninggalkannya, hati Bu Beng Kwi hancur lebur.

Dia merasa seolah-olah semangatnya terbang melayang dibawa pergi Sheila, Seluruh kebahagiaannya lenyap terbawa pergi dan yang ada hanyalah sesosok tubuh yang terasa lemah dan lelah, sepi dan sunyi tanpa semangat lagi.

Ingin rasanya mati saja.

Dia tahu betapa hancur pula rasa hati Sheila, wanita yang dikasihinya itu, setelah Sheila melihat kenyataan bahwa dia adalah Koan Jit, pembunuh suami wanita itu, musuh besarnya!

Dan dia tidak menyalahkan Sheila, bahkan merasa terharu dan kasihan sekali.

Biarpun dia merasa hidupnya hampa dan tidak ada artinya lagi, namun dia sadar bahwa Sheila dan puteranya tentu akan menghadapi banyak tantangan dalam hidup, bahkan tentu akan mengalami banyak rintangan dan ancaman bahaya.

Oleh karena itulah, kekhawatiran dan keselamatan Sheila dan anaknya itu menggugahnya, menghidupkan kembali tubuhnya yang lunglai dan diapun cepat membayangi kepergian Ibu dan anak itu.

Dialah yang memberikan buntalan pakaian Ibu dan anak itu, dia pula yang menyelimuti mereka, membantu Han Le mendapatkan kelinci dan ayam hutan, bahkan memberi bungkusan garam.

Ketika ketiga orang laki-laki kurang ajar mengganggu Sheila, Bu Beng Kwi pula yang diam-diam mengusir tiga orang laki-laki itu.

Diapun terus membayangi ketika Sheila dan Han Le dibawa pergi oleh Tan-Ciangkun menuju ke Nan-king, dibawa masuk ke dalam istana raja Ong Siu Coan!

Biarpun Sheila dan Han Le telah berada di dalam istana, tetap saja Bu Beng Kwi membayangi.

Tentu saja amat sukar untuk menyelundup ke dalam istana.

Akan tetapi, berkat kesaktiannya, diapun pada malam harinya berhasil menyusup masuk kompleks istana dan bersmbunyi.

Dia melihat pula betapa Sheila diterima dengan baik oleh Ong Siu Coan, akan tetapi dia melihat bahaya mengancam diri Sheila ketika melihat betapa raja itu agaknya mulai tergila-gila kepada Sheila.

Untung ada Tang Ki yang mencegah terjadinya pemaksaan yang akan dilakukan raja itu terhadap diri Sheila sehingga pemerkosaan dapat dicegah.

Andaikata tidak muncul Tang Ki, tentu Bu Beng Kwi akan nekat muncul dan melindungi Sheila pada malam hari itu.

Semenjak terjadinya hal itu dan dia melihat bahaya yang mengancam diri Sheila, Bu Beng Kwi lalu mencari akal untuk dapat mengeluarkan Sheila dan anaknya dari istana itu.

Kebetulan sekali pada suatu hari dia melihat sebuah kereta yang memuat beberapa peti besar, dikawal oleh tiga orang berikut kusir.

karena sikap mereka bertiga itu mencurigakan, Dengan gerak-gerik mereka yang jelas membayangkan kekuatan dan kepandaian silat, diam-diam Bu Beng Kwi yang telah keluar dari istana untuk mencari jalan mengeluarkan Sheila dan anaknya, membayangi dan pada malam harinya, ketika tiga orang itu berhenti dan bermalam di sebuah rumah penginapan, menurunkan peti-peti yang jumlahnya delapan buah itu ke dalam kamar, diapun melakukan pengintaian.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, akhirnya Bu Beng Kwi dapat membuka sebuah di antara peti-peti itu di luar tahu pemiliknya dan terkejutlah dia melihat bahwa setiap peti terisi dua puluh lima pucuk senjata api!

Kemudian, pengintaiannya membuat dia maklum bahwa tiga orang itu adalah kaki tangan orang kulit putih yang menyelundupkan dua ratus buah senjata api untuk dijual kepada pihak pemerintah baru di Nan-king.

Tanpa banyak kesukaran, Bu Beng Kwi dapat menyingkirkan dan membunuh tiga orang itu, yang dianggapnya sebagai pengkhianat-penghianat yang menjual diri kepada orang kulit putih.

Dia merampas kereta berikut delapan peti berisi dua ratus pucuk senjata api itu, dan dialah yang melanjutkan perjalanan menuju keluar kota Nan-king seperti yang telah didengarnya dari percakapan antara tiga orang mata-mata itu.

Dan tepat seperti yang sudah didengarnya, kedatangannya disambut oleh mata-mata Tai Peng.

Akan tetapi, untuk dua ratus pucuk senjata api itu, dia tidak minta uang.

Menyamar sebagai mata-mata pihak kulit putih, dia mengatakan bahwa dia diperintah oleh para komandan kulit putih untuk menukar dua ratus pucuk senapan itu dengan diri nyonya Sheila, wanita kulit putih yang berada di istana Nan-king.

Demikianlah, yang menjadi mata-mata itu adalah Bu Beng Kwi, dan Raja Ong Siu Coan telah menyetujui penukaran itu.

Dan malam itu, seperti telah dijanjikan, dengan keretanya, Bu Beng Kwi menanti di tempat gelap, siap untuk menukarkan delapan peti yang masih disembunyikan dengan diri Sheila dan puteranya.

Setelah menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akhirnya yang dinanti-nantikannya datanglah.

Ibu dan anak itu datang dikawal oleh pasukan pengawal, naik kuda dan begitu tiba di situ, Sheila dan Han Le langsung saja naik ke dalam kereta tanpa bertanya lagi.

Mereka memang sudah diberitahu bahwa mereka akan dijemput oleh mata-mata orang kulit putih yang akan membawanya pergi.

Dengan pasrah, karena maklum betapa bahayanya kalau ia tetap berada di istana, Sheila menggandeng tangan puteranya dan naik ke dalam kereta, Karena cuaca di situ gelap, iapun tidak melihat siapapun juga, kecuali bayangan beberapa orang di bawah pohon tidak jauh dari kereta itu.

Belum nampak ada kusir yang duduk di depan kereta.

Setelah melihat bahwa Sheila dan Han Le memasuki kereta, barulah Bu Beng Kwi mengambil delapan peti terisi senjata api.

Para mata-mata dan pengawal memeriksa dan menghitung.

Setelah mendapat kenyataan bahwa dua ratus pucuk bedil itu lengkap jumlahnya, mereka mengangguk.

Tanpa banyak cakap lagi Bu Beng Kwi lalu naik ke tempat duduk kusir di depan dan mencambuk dua ekor kuda yang menariknya.

Keretapun berjalan meninggalkan tempat itu melalui jalan yang gelap.

"Ibu, kita hendak ke manakah?"

Beberapa kali Han Le mengajukan pertanyaan ini kepada Ibunya.

Ada sedikit kekecewaan di dalam hati anak ini.

Dia sudah dipisahkan oleh Ibunya dari gurunya yang sangat dihormati dan dikasihinya, yaitu Bu Beng Kwi.

Kemudian, dia mendapatkan guru baru di istana, dan dia mulai belajar silat dan juga ilmu baca tulis, akan tetapi kembali dia diajak pergi oleh Ibunya!

Beberapa kali Sheila hanya menjawab.

"Diam dan tenanglah, Henry, dan tidur sajalah. Besok engkau akan tahu sendiri ke mana kita pergi."

Sheila agak ragu-ragu untuk memberi tahu kepada puteranya bahwa mereka akan pergi ke bangsa kulit putih.

Ia dapat membayangkan betapa puteranya, yang hanya warna matanya saja menurun kepadanya dari darah kulit putih, akan merasa asing di antara bangsa kulit putih.

Apalagi Han Le tidak begitu lancar berbahasa Inggris walaupun sejak kecil ia sudah mengajarnya.

Han Le tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara dalam bahasa Inggris dengan orang lain kecuali dengan Ibunya.

Karena itu, maka ditangguhkannya keterangan yang sebenarnya kepada anak itu, agar anaknya tidak gelisah dan dapat tidur di dalam kereta itu.

"Ibu, kenapa Ibu tidak memberitahu sekarang saja? Aku akan gelisah dan tidak dapat tidur, menduga-duga ke mana kita akan pergi. Kemanakah kita pergi, Ibu?"

Kembali Han Le mendesak.

"Aku sendiri belum tahu, Henry."

"Belum tahu? Kalau begitu, kenapa kita pergi?"

"Sri Baginda yang memerintahkan. Kita harus pergi dari istana, malam ini juga. Kita menurut saja kepada kusir kereta ini, kemana kita akan dibawa pergi."

"Heii, pak kusir! Ke manakah kami akan kaubawa pergi? Ke mana?"

Han Le berteriak ke arah punggung kusir.

Akan tetapi, kusir itu tidak menjawab, duduk diam seperti arca yang hanya nampak punggungnya yang lebar.

Beberapa kali Han Le berteriak dan bertanya, namun tidak ada jawaban.

Akhirnya anak itu mengomel.

"Ibu, sungguh jahat sekali raja yang menjadi Suheng dari mendiang Ayah itu, ya? Dia mengusir kita tanpa memberi tahu ke mana kita akan dibawa pergi. Sungguh aku tidak senang mempunyai supek macam dia, walaupun dia telah menjadi raja"

"Husshh, Henry, tidurlah dan jangan banyak cakap lagi."

Sheila berkata dalam bahasa Inggris kepada puteranya sambil menuding ke arah punggung kusir, seperti memberi tahu agar puteranya tidak bicara lagi yang bukan-bukan karena ada kusir itu yang mendengarkan.

Han Le bersungut-sungut, akan tetapi diapun lalu merebahkan diri miring di atas tempat duduk, berusaha untuk tidur.

Sheila juga menyandarkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.

Namun, tidak mungkin ia dapat tidur menghadapi keadaan seperti itu.

Nasibnya belum dapat ditentukan akan menjadi bagaimana.

Ia tidak begitu perduli akan dirinya sendiri.

Setelah apa yang dideritanya, kehancuran hatinya melihat kenyataan bahwa pria yang dipujanya, yang bahkan dicintanya, Bu Beng Kwi, ternyata adalah musuh besar, yaitu Koan Jit orang yang paling dibencinya, iapun tidak perduli lagi akan apa yang terjadi dengan dirinya.

Bahkan rasanya kalau tidak melihat puteranya, ia ingin mati saja menyusul suaminya.

Akan tetapi di sampingnya ada Henry, puteranya.

Tidak, ia tidak ingin mati lebih dulu.

Ia harus mendidik Henry, yang penting adalah nasib Henry, bukan nasib dirinya.

Karena itu ia akan melihat bagaimana nanti keadaan di antara bangsanya sendiri.

Kalau Henry merasa tidak berbahagia berada di antara bangsa kulit putih, ia akan mengajak Henry pergi lagi, entah ke mana, asal Henry dapat hidup berbahagia.

Terbayanglah di depan matanya peristiwa pembukaan rahasia diri Bu Beng Kwi yang sudah sering terbayang olehnya.

Dan seperti biasa, tak dapat ia menahan membasahnya kedua matanya.

Ia tahu benar betapa besar rasa cintanya kepada Bu Beng Kwi.

Teringat ia betapa laki-laki itu seringkali menangis dan menyesali diri sendiri, dan iapun merasa terharu Tak mungkin ia dapat membenci Bu Beng Kwi.

Ia merasa kasihan, terharu dan juga kagum yang membangkitkan cinta kasih yang besar.

Akan tetapi kalau ia teringat akan wajah Koan Jit, setelah topeng Bu Beng Kwi dilepas, ia segera teringat kepada mendiang suaminya dan iapun merasa benci sekali kepada Koan Jit.

Dan ternyata bahwa Koan Jit adalah Bu Beng Kwi, bahwa Bu Beng Kwi adalah Koan Jit!

Ia terjepit di antara kasih sayang dan kebencian.

namun yang jelas, ia amat berduka dan merasa kehilangan, kehilangan pria yang dikasihinya, Bu Beng Kwi!

Kalau ia masih berada di dekat Bu Beng Kwi, tidak akan begini nasibnya.

Ia tentu masih hidup berbahagia di Bukit Ayam Merah, melayani segala keperluan Bu Beng Kwi.

Mencuci untuknya, memasak untuknya, membersihkan rumahnya, melakukan segala pekerjaan yang amat disukanya karena dengan pekerjaan itu ia memperlihatkan rasa cintanya kepada pria itu.

Dan kini ia merasa menyesal mengapa Bu Beng Kwi membuka rahasianya?

Kenapa Bu Beng Kwi menghidupkan lagi Koan Jit sehingga menghidupkan pula dendam dan kebenciannya?

Mengapa?

Air matanya mengalir turun di kedua pipinya.

Tiba-tiba kereta berhenti.

Han Le yang tadinya sudah pulas itu terbangun.

"Ibu, kenapa kereta berhenti? Sudah sampaikah kita?"

Tanyanya.

"Ssttt, diam saja kau,"

Kata Sheila dalam bahasa Inggris, berbisik lirih karena ia melihat bayangan orang menghadang di depan kereta dan mendengar orang membentak-bentak di depan kereta itu, agaknya ditujukan kepada kusir kereta.

"Turunlah kalau engkau mau selamat!"

Terdengan suara kasar membentak.

"Kereta ini dan seisinya untuk kami! Kalau kau membantah, kami akan menyeret dan membunuhmu lebih dulu!"

"Kalian siapakah? Tidak tahukah bahwa aku melaksanakan perintah Sri Baginda Raja di Nan-king?"

Terdengar suara berat dari kusir itu.

"Ha-ha-ha, kami pemungut pajak di jalan tidak mengenal utusan Kaisar atau utusan siapa saja. Harus tunduk kepada perintah kami. Hayo menggelinding turun kau, atau engkau sudah bosan hidup?"

Terdengar suara pertama membentak.

Terdengar suara pecut meledak-ledak dan kereta itu berguncang.

Sheila yang membayangkan bahwa kusir itu tentu dikeroyok oleh para perampok itu, memeluk puteranya dan menanti dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran.

"Tenanglah, Ibu. aku akan melindungimu..."

Terdengar Han Le berbisik dan biarpun kata-kata ini menggelikan, namun cukup mengharukan hati Sheila yang memeluk lebih keras lagi.

Terdengar teriakan-teriakan perkelahian di luar kereta.

Kusir itu bukan lain adalah Bu Beng Kwi, tadi mendengar percakapan antara Sheila dan Han Le dengan hati terharu.

Diapun kagum melihat betapa Sheila tetap tabah dalam keadaan apapun juga.

Dia tidak ingin memperlihatkan diri dan hanya akan membawa Ibu dan anak itu sejauh mungkin dari jangkauan tangan Ong Siu Coan dan anak buahnya, kemudian akan meninggalkan mereka.

Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa di tempat sunyi di luar hutan yang berada di kaki sebuah bukit itu keretanya akan dihadang oleh perampok yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang.

Bu Beng Kwi menjadi marah dan tentu saja dia tidak sudi menyerahkan kereta dan isinya.

Dia tadi menggunakan cambuknya merobohkan perampok yang mengancamnya, akan tetapi dia terkejut melihat betapa perampok itu dapat meloncat bangun kembali.

Dia lalu meloncat turun dari kereta.

Belasan orang, atau mungkin juga dua puluh itu, kini mengepungnya dan ketika mereka bergerak menyerang, tahulah Bu Beng Kwi bahwa mereka bukanlah perampok sembarangan saja.

Rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang cukup tinggi!

Dan mereka mempergunakan golok atau pedang yang baik!

Diam-diam dia terkejut sekali.

Tidak dapat dia menduga siapa yang mengirim pasukan pilihan ini untuk menghadang keretanya.

Dugaannya memang tepat.

Dua puluh empat orang itu bukanlah perampok biasa saja, melainkan dua lusin perajurit pilihan yang dikirim oleh permaisuri untuk menghadang kereta dan membunuh Sheila dan Han Le!

Melihat betapa Sheila telah membuat Ong Siu Coan, kemudian bahkan Lee Song Kim, jatuh cinta, timbul perasaan tidak senang, bahkan kebencian dan iri hati di dalam dada permaisuri itu.

Oleh karena itu, diam-diam ia mempersiapkan dua losin perajurit pengawal pilihan dan mengutus mereka untuk menghadang kereta itu dan menyamar sebagai perampok-perampok, membunuh Ibu dan anak itu, juga kusirnya yang didengarnya adalah seorang mata-mata bangsa kulit putih.

Betapapun lihai dua losin perajurit itu namun mereka terkejut bukan main menghadapi kusir itu.

Sinar bulan tua memberi penerangan yang cukup sehingga para pengeroyok itu dapat melihat wajah orang yang mereka keroyok.

Dan mereka terkejut setengah mati.

Wajah itu sepeti wajah setan!

Lebih lagi rasa kaget mereka ketika melihat betapa kusir itu berkelebat dan dalam waktu beberapa gebrakan saja, empat orang di antara mereka telah roboh tak dapat bangun kembali!

Si wajah setan ini ternyata lihai bukan main, pikir mereka.

Tadinya mereka mentertawakan perintah permaisuri.

Untuk membunuh seorang kusir, seorang wanita kulit putih dan anaknya saja permaisuri telah mengutus sebanyak dua losin perajurit pilihan!

Akan tetapi kini mereka terkejut dan mereka memperketat pengepungan, mempercepat dan memperkuat gerakan senjata mereka.

Tak mungkin seorang kusir bertangan kosong mampu mengalahkan mereka yang jumlahnya dua losin dan semua bersenjata lengkap!

Akan tetapi, kembali empat orang roboh berturut-turut dan tidak mampu bangun kembali tercium kedua tangan dan kaki kusir itu!

Delapan orang telah tewas dan kini para pengeroyok menjadi marah, penasaran, akan tetapi juga agak gentar.

Bahkan tiga orang di antara mereka, yang menjadi pemimpin pasukan dan dua orang pembantunya, diam-diam meninggalkan teman-teman yang mengeroyok dan merekapun menghampiri kereta.

Mereka, bagaimanapun juga, harus dapat melaksanakan tugas yang diperintahkan permaisuri, karena kalau sampai gagal, mereka tentu akan dihukum mati!

Ketika mereka menyingkap tirai pintu kereta, mereka melihat seorang wanita sedang berpelukan dengan anaknya, seorang laki-laki belasan tahun.

melihat munculnya tiga orang yang memegang pedang, Han Le terkejut dan marah.

Apalagi ketika seorang di antara mereka menangkap lengan Ibunya dan menyeretnya turun dari kereta.

"Jangan ganggu Ibuku!"

Bentak Han Le sambil memukul.

Akan tetapi, sebuah tamparan membuat dia terpelanting keluar kereta.

Tiga orang itu lalu menangkap Sheila, memondongnya dan merekapun melarikan diri menghilang ke dalam gelap, ke arah hutan yang berada di kaki bukit.

Han Le tidak perduli akan kepeningan kepalanya dan diapun lari mengejar.

"Lepaskan Ibuku...!"

Bentaknya sambil mengejar.

Akan tetapi tiga orang itu berlari cepat ke dalam hutan yang gelap.

Han Le nekat, terus mengejar ke dalam hutan secepat mungkin.

Sementara itu, mendengar teriakan Han Le, Bu Beng Kwi terkejut sekali.

Teriakan itu berarti bahwa Sheila telah ditangkap orang, pikirnya.

Hal ini membuat dia marah sekali.

Dari dalam dadanya keluar suara menggereng hebat.

Para pengeroyok yang kini tinggal tiga belas orang jumlahnya itu, terkejut dan gentar.

Gerengan itu seperti mengguncang jantung mereka dan di antaranya ada yang seketika menjadi lumpuh seperti anak kambing mendengar harimau mengaum.

Memang gerengan yang dikeluarkan Bu Beng Kwi itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat.

Bu Beng Kwi mengamuk.

kaki tangannya menyambar-nyambar dan demikian cepat gerakannya seolah-olah dia berkaki enam dan bertangan enam.

Dalam waktu sebentar saja, tiga belas orang itu telah roboh semua.

Di tempat itu berserakan tubuh dua puluh satu orang yang agaknya telah tewas semua!

Sekali loncat, Bu Beng Kwi telah mendekati kereta dan ketika dia menjenguk ke dalam tidak melihat Sheila dan Han Le, dia mengeluarkan keluhan dalam dan tubuhnya sudah berkelebat lenyap meninggalkan kereta itu Dan nampak bayangan putih berkelebat ke dalam hutan, ke arah dari mana dia mendengar suara Han Le tadi.

Dengan kecepatan yang luar biasa, bayangan putih itu berkelebatan ke sana-sini di dalam hutan, dan akhirnya Bu Beng Kwi yang sudah merasa gelisah sekali melakukan pengejaran ke atas bukit, keluar dari hutan itu.

Dan di luar hutan, nampaklah olehnya Han Le sedang menangis di bawah pohon, dengan pakaian robek-robek dan tubuh lecet-lecet.

Tanpa terasa waktu itu malam telah hampir lewat, fajar telah menyingsing dan kegelapan telah berobah menjadi keremangan fajar.

"Han Le, mana Ibumu?"

Bu Beng Kwi berseru sambil cepat memondong tubuh anak itu.

Bagaikan mimpi rasanya, Han Le terbelalak memandang wajah orang yang memondongnya, kemudian dengan bercampurnya tangis dan tawa dia menuding ke atas bukit.

"Ibu dilarikan mereka ke sana, Suhu..."

Tanpa membuang waktu lagi Bu Beng Kwi melompat dan mendaki bukit itu seperti terbang cepatnya sambil memondong tubuh Han Le yang masih bengong terlongong karena kaget, heran dan juga girang sekali mengatasi rasa khawatirnya akan nasib Ibunya.

Gurunya telah muncul, itu berarti bahwa Ibunya pasti dapat tertolong.

Sebuah kuil tua bobrok yang berdiri miring di lereng bukit itu menarik perhatian Bu Beng Kwi.

Apalagi ketika mendengar jerit tertahan dari tempat itu, disusul suara ketawa yang parau.

Bagaikan terbang dia lari ke arah kuil tua itu.

Ternyata sebuah kuil yang sudah tidak terpakai lagi.

Nampak pintu reyot tertutup dan sekali tendang, daun pintu itu roboh dan apa yang nampak di dalam membuat sepasang mata Bu Beng Kwi seperti mengeluarkan api.

Sheila sedang dipegangi tiga orang laki-laki dan sudah tertawa-tawa sedang menelanjanginya dan sudah berhasil merobek hampir seluruh pakaian wanita itu yang meronta-ronta.

Agaknya tadi mulut yang mendekap mulut Sheila pernah terlepas maka terdengar jeritnya yang tertahan.

"Ibuuu...!"

Han Le berteriak.

Bu Beng Kwi melepaskan tubuh Han Le di luar ruangan itu dan tubuhnya sendiri sudah menerjang ke dalam.

Tiga orang laki-laki itu tadi terkejut mendengar hiruk-pikuknya daun pintu jebol dan mereka menjadi pucat melihat bahwa yang menjebol pintu adalah si muka setan yang tadi mereka keroyok.

Akan tetapi, kekagetan mereka masih terbayang pada wajah mereka ketika nyawa mereka melayang.

Demikian cepatnya Bu Beng Kwi menerjang dan tiga kali tamparan kedua tangannya berturut-turut membuat tubuh tiga orang itu terpental dalam keadaan tidak bernyawa lagi, mati tanpa menderita luka yang kelihatan.

Sheila terbelalak memandang dan melihat bahwa yang menolong adalah Bu Beng Kwi, ia mengeluh panjang dan tubuhnya terkulai, jatuh pingsan.

Tadi, sekuat tenaga ia mempertahankan diri sehingga tidak sampai pingsan, dan sekarang, begitu terbebas dari malapetaka yang mengerikan, apalagi melihat munculnya Bu Beng Kwi yang selama ini tak pernah dapat dilupakannya sedetikpun, perasaannya terguncang hebat dan iapun roboh pingsan.

Bu Beng Kwi cepat memondong tubuh Sheila dengan penuh kasih sayang.

diselimutinya tubuh itu dengan pakaian yang sudah compang-camping, dan dibawanya keluar.

"Ibu...!"

Han Le berseru, khawatir sekali.

"Tenanglah, Han Le. Ibumu tidak apa-apa, hanya pingsan karena cemas dan lelah. Mari kau naik ke punggungku dan kita cepat kembali ke kereta kita."

Han Le mentaati perintah gurunya dan ketika Suhunya berjongkok, diapun naik ke gendongan punggung Suhunya.

Bu Beng Kwi menggendong Han Le dan memondong tubuh Sheila, lalu berlari cepat ke tempat di mana dia meninggalkan kereta tadi, di seberang hutan.

Han Le bergidik melihat mayat-mayat yang berserakan, akan tetapi gurunya segera membawa dia ke dalam kereta, lalu merebahkan tubuh Sheila ke atas bangku kereta pula.

"Kau jaga Ibumu baik-baik agar jangan sampai jatuh. Kita harus segera pergi dari tempat ini."

Katanya dan Han Le mengangguk, lalu berlutut dan merangkul tubuh Ibunya.

Keretapun bergerak, dikusiri Bu Beng Kwi, meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka meninggalkan bukit itu dan jauh dari sana, matahari sudah naik tinggi dan Bu Beng Kwi menghentikan keretanya di bawah sebatang pohon besar.

Tempat itu sunyi.

Ketika dia menjenguk ke dalam kereta, ternyata Sheila masih pingsan, dijaga puteranya yang kelihatan khawatir.

"Suhu, Ibu belum juga sadar,"

Kata Han Le dengan muka cemas.

"Tenangkan hatimu. Ibumu mendapat guncangan batin yang cukup hebat. Sekarang pergilah engkau mencari air dalam panci ini, kemudian buatlah api unggun dan masak air itu sampai mendidih."

Melihat sikap Suhunya yang tenang, giranglah hati Han Le yang tadinya amat mengkhawatirkan keadaan Ibunya.

"Baik, Suhu,"

Katanya sambil melompat turun dan membawa panci itu, mencari air.

Bu Beng Kwi naik ke dalam kereta dan memeriksa denyut jantung Sheila melalui urat nadi tangannya.

Denyut itu lemah dan tidak teratur.

Wajah wanita itu pucat sekali dan melihat wajah itu, keharuan menusuk perasaan Bu Beng Kwi.

Betapa besarnya dosa yang ditanggungnya terhadap wanita ini, pikirnya.

Dia menghela napas panjang dan mengeluh di dalam batinnya.

Mula-mula, dia sebagai Koan Jit telah membunuh suami wanita ini.

Kemudin sebagai Koan Jit pula dia telah membunuh Bu Beng Kwi, laki-laki yang dicinta olehwanita ini dengan hati murni.

"Hemm, Koan Jit, engkau harus menerima hukuman yang bagaimana beratnya untuk menebus dosa-dosamu,"

Demikian suara hatinya mengeluh.

Dan hukuman terberat yang pernah dirasakan selama dia mengubah jalan hidupnya adalah sekarang ini!

Hukuman ini jauh lebih berat daripada hukuman yang bagaimanapun juga, Bahkan dianggapnya lebih berat dari siksa yang membawa mati sekalipun.

Dia mencinta wanita ini, dan mencinta puteranya.

Dia mencinta mereka berdua dengan sepenuh jiwanya, ingin membahagiakan mereka.

Namun, wanita yang dicintanya itu membencinya, menjauhinya.

Padahal, wanita ini sesungguhnya juga mencintanya, hanya karena perbuatannya yang lalu maka cinta itu berubah menjadi kebencian yang amat mendalam.

Dan kenyataan ini amat menyiksa batinnya, mendatangkan penyesalan yang agaknya tidak akan mereda walaupun ditebus dengan nyawa sekalipun.

Ada dua macam penyesalan.

pertama adalah penyesalan karena menyadari akan dosa yang telah dilakukan, penyesalan yang dapat membuat si pelaku bertaubat dan tidak akan melakukan dosa itu untuk kedua kalinya.

Penyesalan kedua adalah penyesalan yang timbul karena akibat buruk menimpa diri sebagai akibat perbuatan dosanya itu.

Penyesalan yang kedua ini tidak akan menimbulkan kesadaran dan tidak membuat orang bertaubat.

Bu Beng Kwi menyesal karena keduanya.

Dia telah menyadari dosa-dosanya semenjak bertemu dengan pendeta sakti Siauw-Bin-Hud dan seketika kesadaran itu merobah jalan hidupnya.

Dia meninggalkan kehidupan bergelimang dosa sehingga sinar cinta kasih dan keadilan yang berada di dalam batin setiap manusia, kini bersinar terang dan tidak tertutup oleh debu-debu kekotoran.

Namun, siksa batin yang dideritanya sebagai akibat dosa-dosanya, ketika dia bertemu dengan Sheila dan puteranya, mendatangkan pula penyesalan yang amat hebat, membuat dia kehilangan gairah hidup.

Bagaimanapun macamnya, penyesalan tidak ada gunanya sama sekali.

hanya permainan pikiran saja yang mengingat-ingat masa lalu, dan ingatan akan masa lalu ini hanya membuahkan penyesalan, duka, dendam, kemarahan dan sebagainya lagi.

Kalau kita mau waspada setiap saat, sehingga setiap gerak-gerik kita lahir maupun batin selalu berada di bawah pengamatan, maka kebijaksanaan akan selalu menyertai kita sehingga kita tidak akan salah langkah.

Namun, betapapun saktinya, Bu Beng Kwi alias Koan Jit hanyalah seorang manusia biasa.

Diapun menginginkan kesenangan, antara lain kesenangan agar selalu dapat berdekatan dengan Sheila dan Han Le, dua orang yang dicintanya, keinginan agar cintanya terhadap mereka dibalas tanpa halangan apapun.

Dan keinginan, dalam bentuk apapun juga, tak terpisahkan dari suka.

Keinginan selalu melahirkan duka, karena keinginan tak ada batasnya, makin mekar dan sekali waktu pasti keinginan takkan terpenuhi dan timbullah kecewa, timbullah duka.

Lenyapnya keinginan adalah apabila kita hidup saat demi saat, menikmati yang ada karena keinginan adalah pengejaran hal yang belum ada.

Kalau kita selalu hidup di saat ini, tanpa ikatan dengan masa lalu, tanpa harapan untuk masa depan, hidup sepenuhnya saat demi saat, maka dalam keadaan apapun juga kita akan selalu waspada.

Waspada dan sadar dalam arti kata tidak tebuai masa lalu dan tidak terseret keinginan masa depan.

Hanya dengan beginilah kita dapat hidup sesungguhnya, menikmati apa yang ada hidup bahagia saat demi saat, bagaimanapun keadaan hidup kita di saat-saat itu.

Kebahagiaan hanya terdapat di saat ini, bukan kemarin atau esok, karena hidup adalah saat ini pula, saat demi saat di mana kita harus sepenuhnya sebagai seorang manusia.

Sayang, sungguh sayang.

Kita membiarkan sebagian besar kehidupan kita menjadi permainan pikiran, dikuasai sepenuhnya oleh pikiran yang selalu sibuk berceloteh sehingga batin melahirkan emosi.

Pikiran menciptakan kemarahan, kekhawatiran, rasa takut, kebencian, prasangka, iri hati.

dan sebagainya lagi.

Pikiran mejadi debu kotoran yang menutupi sehingga cahaya kebahagiaan tidak nampak lagi.

Kita dapat melihatnya dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa hidup ini hanya dipenuhi oleh permainan pikiran yang menciptakan si aku.

Aku ingin ini, aku ingin itu, aku senang lalu bosan, aku kecewa karena tak terpenuhi keinginanku, aku marah karena terganggu, karena aku dirugikan, aku takut karena aku terancam, karena ada bahaya aku dipisahkan dari orang atau benda milikku yang kusayang.

Setiap hari kita diombang-ambingkan dari saat ke saat oleh segala macam emosi.

dan semua ini timbul hanya karena kesadaran kita dirampas dan diduduki oleh pikiran yang selalu mempermainkan masa lalu, masa ini, dan masa mendatang.

Dapatkah kita hidup berbahagia?

Dapatkah kita hidup di saat ini?

Kalau pertanyaan ini timbul dari keinginan si aku pula yang mengejar kesenangan dan kenikmatan, mempergunakan cara"hidup berbahagia saat ini"

Sebagai suatu cara untuk memperoleh kenikmatan, maka kita anak terseret dalam lingkaran setan.

Itu masih ulah pikiran yang selalu mengejar kesenangan belaka.

Akan tetapi mari kia buang segala ikatan, kita buang segala kekotoran, kita buang segala gambaran-gambaran tentang diri pribadi yang diciptakan si aku dan kita akan waspada setiap saat, Dan baru ada arti dalam kehidupan ini, karena kita benar-benar HIDUP, bukan sekedar seonggok daging yang dipermainkan oleh nafsu-nafsu keinginan!

Tuhan Maha Kasih!

Segala isi mayapada, yang nampak maupun yang tidak nampak, dilimpahkan kepada kita dengan penuh kerelaan, dengan penuh kasih.

Kalau kita tidak dapat menikmatinya, tidak dapat menerimanya sebagai suatu berkah dari saat ke saat, dan kita membiarkan diri, diseret suara setan dan iblis yang selalu tidak mengenal puas, bukankah itu merupakan suatu kebodohan?

Mari kita nikmati denyut jantung kita.

Kita nikmati setiap hirupan hawa melalui napas kita.

Kita nikmati segala keindahan yang nampak oleh mata kita.

Kita nikmati segala kemerduan yang terdengar oleh telinga kita, Segala keharuman yang tercium oleh hidung kita, segala kelezatan yang termakan oleh mulut kita.

Dan kalau sudah begitu, yang memenuhi batin kita hanyalah perasaan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kasih, perasaan berbahagia yang keluar masuk dalam batin kita melalui pernapasan kita.

Kalau sudah begitu, kita bebas dari ikatan duniawi yang bagaimanapun juga.

Kalau sudah begitu segala peristiwa yang kita anggap baik maupun buruk hanya merupakan hembusan angin saja yang wajar, karena segala akibat tentu ada sebabnya walaupun sering kita tidak mengetahui adanya sebab itu, karena kita sudah buta oleh pengejaran keinginan.

Setelah memeriksa keadaan Sheila dan maklum bahwa wanita itu telah mengalami pukulan batin yang hebat, Bu Beng Kwi tidak berani menyadarkan cepat-cepat.

Keadaan pingsan ini bahkan merupakan penyelamatan diri Sheila sendiri, pekerjaan kekuasaan yang ada dalam tubuh Sheila.

Karena pingsan, maka untuk sementara ia terbebas dari rasa ngeri, kaget, marah, kemudian keharuan melihat Bu Beng Kwi, dan selamatlah ia.

Kalau tidak pingsan, hantaman batin yang mengguncangkan itu bisa saja membuatnya Sheila menjadi gila, bahkan mati.

Karena itu, Bu Beng Kwi membiarkan saja Sheila dalam keadaan pingsan, hanya menotok beberapa jalan darah untuk melapangkan pernapasannya dan membantu kekuatan jantung saja.

Ketika Han Le selesai menyediakan air mendidih, dia menggunakan kain yang dibasahi air mendidih itu untuk mencuci muka dan leher Sheila.

kemudian, melihat betapa ada tanda-tanda Sheila akan siuman, dia cepat meninggalkan kereta.

"Siapkan pakaian Ibumu, kalau ia siuman agar berganti pakaian dan kau beri minuman air hangat-hangat. Ibumu sedang marah kepadaku, aku tidak mau ia melihatku di sini kalau ia siuman."

"Tapi, Suhu, kenapakah? Mengapa Ibu marah kepada Suhu?"

Justeru hal inilah yang ingin sekali diketahui Han Le semenjak dia diajak Ibunya pergi meninggalkan Suhunya itu.

Akan tetapi, seperti juga Ibunya, Bu Beng Kwi menggeleng kepala dan tidak menjawab, melainkan pergi meninggalkan kereta.

Han Le melanjutkan pekerjaan gurunya tadi, menggunakan kain hangat basah untuk membersihkan tubuh Ibunya.

Dengan hati iba dia melihat bekas-bekas tangan tiga orang biadab tadi di lengan dan kaki Ibunya, tanda lembam kebiruan dan bekas jari tangan.

Untung Suhunya datang tepat pada saat yang amat berbahaya itu, pikir Han Le.

Sheila bergerak lemah, mengeluh panjang dan membuka kedua matanya.

Ketika membuka dan melihat Han Le, ia segera bangkit dan merangkul puteranya.

"Henry, apa yang terjadi? Kita di mana?"

Ia terbelalak memandang ke kanan kiri dan agaknya heran melihat bahwa ia berada dalam kereta bersama puteranya.

"Tenangkan hatimu, Ibu. Kita telah selamat terhindar dari pasukan jahat itu, mereka telah mati semua dan kita telah selamat. Engkau jatuh pingsan dan baru sekarang siuman, Ibu. Engkau bergantilah pakaian dan minumlah air hangat ini."

Karena masih merasa bingung dan belum sadar betul, Sheila menurut saja dan minum air hangat.

kesadarannya pulih dan kini ia memandang kepada pakaiannya yang robek-robek, kulit kaki tangannya yang terasa nyeri dan terdapat bekas-bekas tangan membiru dan teringatlah ia akan peristiwa mengerikan yang dialaminya semalam.

matanya terbelalak dan kembali ia memandang ke kanan kiri, kemudian ia menubruk puteranya sambil menangis.

"Ahhh... aku teringat sekarang... Henry... Henry, di manakah dia...?"

Sheila teringat betapa ia diseret oleh tiga orang dan ia melawan mati-matian ketika tiga orang itu hendak memperkosanya di dalam sebuah kuil tua.

Kemudian ia melihat munculnya Bu Beng Kwi yang mengamuk dan menyerang tiga orang itu.

"Siapakah yang Ibu maksudkan?"

Han Le bertanya, pura-pura tidak mengerti siapa yang dimaksudkan Ibunya.

"Dia... Suhumu, bukankah dia yang menyelamatkan kita?"

"Benar, Ibu. Akan tetapi mau apa Ibu kini mencari Suhu? Bukankah Ibu marah dan membenci Suhu?"

"Henry...!"

Sheila menangis makin mengguguk sambil merangkul anaknya.

Biarpun tadinya dia merasa tidak senang karena Ibunya marah dan membenci Suhunya yang demikian baiknya, bahkan kemudian memaksanya pergi meninggalkan gurunya itu, kini melihat Ibunya menangis demikian sedihnya, hati Han Le menjadi lunak dan merasa kasihan.

seperti menghibur adiknya saja, dia mengusap rambut di kepala Ibunya, rambut yang seperti benang Sutera emas dan yang selalu dikaguminya itu.

"Ibu, jangan menangis, Ibu. Kita telah selamat dari malapetaka berkat pertolongan Suhu. Ibu, setelah apa yang dilakukan Suhu, setelah dia bersikap demikian baiknya kepada kita, dahulu dia menyelamatkan kita dari serangan pasukan Tai Peng, sekarang dia menyelamatkan kita pula dari perampok-perampok jahat. Setelah semua itu, Ibu, betapapun marahnya engkau, apakah engkau tidak dapat memaafkan Suhu? Ibu, engkau seorang wanita yang berhati mulia, aku tidak percaya bahwa engkau tidak dapat memberi ampun kepada Suhu, apapun kesalahannya kepadamu, Ibu... Kalau perlu, biarlah aku yang memintakan ampun untuknya kepadamu, Ibu."

Dan tiba-tiba Han Le berlutut di depan kaki Ibunya, berkali-kali menyentuh kaki Ibunya dengan dahi.

Melihat ini, Sheila mengeluarkan rintihan kecil dan merangkul anaknya, diangkatnya bangun anak itu dan ia pun menangis tersedu-sedu di pundak Han le yang juga ikut menangis, bingung melihat kedukaan demikian hebat dari Ibunya.

Memang, Sheila merasa betapa hatinya seperti disayat-sayat mendengar kata-kata anaknya dan melihat betapa Han Le berlutut memohonkan ampun bagi gurunya!

Haruskah ia memberi tahu puteranya bahwa Bu Beng Kwi adalah Koan J it, pembunuh Ayah kandung anak itu?

Bahwa Bu Beng Kwi yang kini dianggap orang paling mulia oleh anaknya itu sesungguhnya adalah musuh besar mereka?

Ah, ia tidak tega memberitahukan hal itu kepada Han Le.

Ia sendiri mengalami kehancuran hati karena mengetahui rahasia itu, dan ia merasa yakin bahwa Han Le juga akan merasa kecewa dan berduka sekali.

Setelah tangisnya mereda, Sheila bertanya dengan suara lirih.

"Henry, di manakah dia sekarang?"

"Dia tadi meninggalkan kereta setelah melihat Ibu tidak apa-apa. Dia bilang... dia bilang bahwa lebih baik ketika siuman Ibu tidak melihat dia karena... dia bilang bahwa Ibu sedang marah kepadanya."

Sheila menarik napas panjang.

Ia dapat membayangkan betapa tersiksa hati Bu Beng Kwi, mungkin lebih tersiksa darinya.

Ia sendiri hanya kecewa melihat kenyataan pahit bahwa Bu Beng Kwi adalah Koan Jit, musuh besarnya.

Akan tetapi Bu Beng Kwi atau Koan Jit itu bukan hanya kecewa, melainkan menyesal setengah mati.

sebelum membuka rahasianya saja, ia sendiri melihat betapa Bu Beng Kwi menangis semalaman seperti anak kecil, dan hal ini seringkali dilakukannya.

"Dia berada di bawah?"

Tanyanya sambil berganti pakaian utuh.

"Mungkin, aku tidak tahu pasti, Ibu."

Setelah membereskan pakaiannya, Sheila lalu turun dari atas kereta, dibimbing oleh puteranya.

Ketika mereka sudah berada di bawah dan memandang ke kanan kiri, di situ sunyi saja.

Tidak nampak bayangan Bu Beng Kwi.

Dua ekor kuda penarik kereta dilepas dari kendali dan ditambatkan pada batang pohon, dan dua ekor kuda itu kini makan rumput dengan tenangnya.

Tidak ada tanda-tanda bahwa di dekat situ ada Bu Beng Kwi atau orang lain.

Hanya mereka berdua dan kuda-kuda itu, selebihnya sunyi.

"Dia... dia tidak ada..."

Kata Sheila suaranya hampa dan ringan. Han Le merasa penasaran. Baru saja Suhunya masih berada di situ. Dia lalu berteriak-teriak memanggil.

"Suhuuu...! Suhuuuuu...!"

Berulang kali Han Le memanggil, menghadap ke empat penjuru, namun tidak terdengar jawaban, juga tidak muncul orang yang dipanggilnya itu.

"Dia... sudah pergi lagi..."

Kata pula Sheila, suaranya lirih dan seperti orang kehilangan semangat atau putus asa.

Konflik yang terjadi di dalam batin Sheila membuatnya menjadi lemah sekali, seperti orang kehilangan semangat.

Kita selalu hidup dengan konflik batin yang tiada hentinya.

Konflik antara apa yang ada dengan apa yang kita inginkan.

Keadaan dan kenyataannya begini, kita ingin begitu.

Kita susah, kita ingin melenyapkan kesusahan itu, kalau kita marah, kita ingin tidak marah dan kita ingin sabar.

Kita membenci, demikian kenyataannya, namun kita ingin tidak membenci.

Kita melihat betapa kita dengki dan iri, akan tetapi kita ingin agar tidak demikian, dan masih banyak lagi pertentangan yang terjadi setiap saat di dalam batin kita.

Konflik itu menghamburkan kekuatan batin, konflik itu membuat kita lemah.

Bahkan konflik ini memperkuat hal yang buruk itu.

Kalau kita marah dan kita ingin agar tidak marah dan bersabar, maka keingian itu sendiri menjadi minyak yang akan menghidupkan terus kemarahan itu!

Kita tidak melihat bahwa marah dan keinginan sabar itu sama saja, timbul dari si aku juga, si aku yang selalu ingin enak, ingin senang.

Aku marah karena aku meresa dirugikan, dan aku melihat betapa merugikan marah itu, maka aku ingin tidak marah dan ingin sabar, tentu saja dengan pengertian bahwa sabar itu baik dan menguntungkan!

Dalam keadaan marah, mana mungkin sabar?

Kalau toh kemarahan itu mereda, hal itu hanya karena pemaksaan diri.

Pemaksaan macam ini tidak melenyapkan api kemarahan, melainkan hanya menutupinya saja untuk sementara.

Nampaknya saja lenyap, namun api kemarahan itu belum padam, seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu akan menyala lagi bahkan lebih besar dan kuat!

Kenapa kita tidak mau hidup dan menghayati apa adanya, saat demi saat?

Kalau kita marah, kenapa kita tidak membiarkannya saja sewajarnya dan kita mengamatinya, mempelajarinya, merasakannya, dengan penuh perhatian dan kewaspadaan?

Kenapa harus lari dari padanya?

Kemarahan adalah kita sendiri, betapa mungkin kita lari dari diri sendiri?

Pelarian bukanlah untuk mengatasi kemarahan.

Akan tetapi kalau ada pengamatan terhadap diri sendiri di waktu marah, maka pengamatan inilah yang akan melenyapkan api kemarahan, lenyap bukan dipaksa lenyap atau ditutupi, melainkan lenyap sama sekali.

Dan kalau sudah tidak ada lagi api kemarahan di dalam batin, apakah kita perlu untuk bersabar lagi?

Yang penting adalah lenyapnya kemarahan dari sumbernya, bukan menutupinya dengan kesabaran yang dipaksakan.

Demikanlah pula dengan duka, takut dan sebagainya.

Sumber semua perasaan itu berada di dalam diri sendiri, oleh karena itu penyembuhannya dalam diri sendiri, bukan diusahakan dari luar.

Siapakah yang menyuruh kita takut, susah, marah dan sebagainya?

Tidak ada bukan?

Jelas,rahasia sumbernya berada di dalam diri sendiri dan karena itu, untuk mempelajarinya dan mengatasinya, penyelidikan harus ditujukan ke dalam diri sendiri pula.

Kita yang susah, kita yang marah, kita yang takut, jadi kitalah yang harus diselidiki!

Dengan pengamatan setiap saat, pada saat kita marah, pada saat kita susah, pada saat kita takut dan seterusnya.

Setiap saat!

Demikianlah pula dengan keadaan Sheila.

Kenyataan adalah bahwa ia mencinta Bu Beng Kwi.

Akan tetapi ia tidak ingin mencinta, ia ingin agar ia membenci Bu Beng Kwi, karena Bu Beng Kwi adalah Koan Jit, musuh besarnya, pembunuh suaminya.

Ia harus membenci!

Ia tidak mencinta musuh itu.

Demikian, terjadilah konflik yang terus menerus antara kenyataan yang ada dan keinginan hati yang diciptakan oleh jalan pikirannya.

Teringatlah Sheila betapa begitu ia dan puteranya meninggalkan Bu Beng Kwi maka kesukaran dan ancaman bermunculan, dan semua bahaya itu baru dapat terhalau setelah Bu Beng Kwi muncul.

Agaknya,...

ia tidak akan dapat hidup aman dan bahagia lagi tanpa Bu Beng Kwi.

Dan kini pendekar itu telah pergi meninggalkannya.

Tak terasa lagi air matanya turun menetes-netes walaupun ia tidak ingin menangis kehilangan Bu Beng Kwi.

Han Le juga merasa penasaran ketika teriakan-teriakannya memanggil Suhunya tidak mendapatkan jawaban.

Tidak mungkin gurunya meninggalkan mereka begitu saja!

Dia teringat betapa Suhunya tidak berani bertemu dengan Ibunya karena Ibunya sedang marah kepadanya.

Mendadak timbul sebuah akal.

"Ibu, katakanlah, apakah Ibu mau memaafkan Suhu?"

Tiba-tiba dia bertanya dengan suara nyaring. Sheila memandang puteranya dengan linangan air mata, kemudian ia mengangguk.

"Ibu, katakanlah dengan jelas agar hatiku menjadi yakin. Apakah Ibu mau memaafkan Suhu, mengampuni semua kesalahan Suhu kepada Ibu?"

Dengan bibir gemetar Sheila berkata.

"Aku... aku maafkan dia..."

"Dan apakah Ibu tidak marah lagi kepadanya?"

Kembali Han Le bertanya, suatanya nyaring. Sambil menggeleng, Sheila menjawab.

"Aku tidak marah kepadanya lagi."

Dengan suara girang Han Le lalu berteriak, membentuk corong dengan kedua tangan di kanan kiri mulutnya.

"Suhuuu! Harap Suhu suka ke sini! Ibu tidak marah lagi kepada Suhu!"

Dan tiba-tiba saja nampak bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu Bu Beng Kwi sudah berdiri di situ, di depan mereka! "Suhu...!"

Han Le berseru dan dia segera menjatuhkan dirinya berlutut menghadap gurunya.

Akan tetapi Sheila hanya berdiri dengan tubuh terasa lunglai, dan hanya sebentar ia mengangkat muka memandang kepada Bu Beng Kwi dengan sepasang mata berlinang air mata, kemudian ia menunduk dan air matanya mengalir turun di sepanjang kedua pipinya yang agak pucat.

Bu Beng Kwi tak dapat menahan keharuan hatinya.

Dia tadi merasa seolah-olah hidup kembali ketika mendengar suara Sheila yang selain menyatakan bahwa wanita itu telah memaafkannya, juga tidak marah lagi kepadanya.

Kini, melihat wanita yang dicinta sepenuh jiwanya itu berdiri dalam keadaan demikian menyedihkan, hatinya dipenuhi rasa iba dan sayang diapun cepat melangkah maju lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Sheila!

"Benarkah engkau dapat mengampuni semua kesalahan dan dosaku, Sheila?

Ya Tuhan, betapa mulia hatimu, Sheila, dan betapa jahat dan hinanya diriku ini..."

Suara Bu Beng Kwi meng etar penuh perasaan. Bagaikan tiba-tiba lumpuh kedua lututnya, Sheila juga menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

"Taihiap..."

Mereka bertiga berlutut dan kini Bu Beng Kwi menggunakan kedua lengannya untuk merangkul Sheila dan Han Le.

Berkali-kali dia berdongak ke atas, seolah-olah hendak menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan dan berkali-kali mulutnya berkata lirih.

"Sheila... Han Le... betapa aku cinta kepada kalian. hanya kalianlah yang kumiliki di dunia ini..."

Didekapnya Ibu dan anak itu, rapat-rapat di dadanya seolah-olah dia tidak ingin berpisah lagi dan ingin memasukkan kedua orang itu ke dalam rongga dadanya.

Sampai beberapa lamanya mereka berada dalam keadaan yang amat mengharukan itu.

Akhirnya Bu Beng Kwi berkata kepada Han Le, lirih.

"Han Le, bagaimana pendapatmu kalau mulai sekarang engkau bukan hanya menjadi muridku, melainkan menjadi anakku?"

Han Le mengangkat muka memandang wajah yang buruk namun amat disayangnya itu. Ucapan itu tadi membuat dia bingung, walaupun amat menggirangkan hatinya.

"Suhu, apa... apakah maksud Suhu...?"

Akan tetapi Suhunya tidak menjawab, melainkan berkata kepada Ibunya.

"Sheila, sudikah engkau? Kita bukan anak kecil lagi, juga Han Le sudah besar, oleh karena itu biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk melamarmu, Sheila. Bolehkah aku menjadi Ayah Han Le? Maukah engkau... sudikah engkau menjadi isteriku?"

Han Le terbelalak dan wajahnya berseri gembira.

Ingin dia meneriakkan sebutan Ayah kepada gurunya, akan tetapi dia merasa malu dan juga takut kepada Ibunya yang belum menjawab.

Sampai lama Sheila hanya menunduk, kemudian menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara halus.

"Marilah kita pulang dulu, kita bicarakan urusan ini dirumah."

Bu Beng Kwi menarik mereka bangkit berdiri dan diapun tertawa.

"Ha-ha, sungguh aku orang yang kasar dan tidak memakai aturan. Meminang orang di tengah jalan! Mari kita pulang, Sheila! Han Le! Mari kita pulang!"

Betapa indahnya kata"pulang"

Itu bagi Sheila di saat itu. Betapa ia selama meninggalkan Bukit Awan Merah merasa amat rindu kepada rumah tempat tinggal mereka itu, rindu akan "pulang."

Sheila mendapatkan banyak waktu untuk merenungkan pinangan Bu Beng Kwi.

Harus diakuinya bahwa ia benar-benar mencinta Bu Beng Kwi, dan iapun melihat kenyataan bahwa orang yang bernama Koan Jit itu telah benar-benar berubah.

Bukan baru sekarang berubah, bukan berubah karena kini bertemu dengannya dan jatuh cinta.

Bukan berubah karena ingin mengambilnya sebagai isteri.

melainkan sudah lama sekali Koan Jit telah berubah menjadi seorang manusia lain yang telah mengubah jalan hidupnya.

Sebelum bertemu dengannya, jauh sebelum itu, Koan Jit telah menjadi seorang pendekar budiman yang mengorbankan nyawa demi menolong para pimpinan pejuang yang tertawan.

Dunia menganggapnya sudah tewas dan karena Koan Jit selalu merasa menyesal akan dirinya, akan dosanya, dia sendiri membiarkan dunia menganggap Koan Jit telah mati.

Dia bahkan lalu meniadakan Koan Jit, memakai topeng buruk dan menjadi Bu Beng Kwi.

Hal ini telah dilakukan jauh sebelum berjumpa dengannya.

Kemudian, setelah bertemu dengannya dan saling mencinta, barulah (Lanjut ke

Jilid 12) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Bu Beng Kwi membuka topengnya.

Hal ini menunjukkan bahwa Koan Jit adalah seorang manusia yang kini telah berubah sama sekali, memiliki kejujuran.

Kalau tidak begitu, tentu dia akan diam saja, tidak mau membuka rahasianya yang ditutupnya terhadap dunia umum.

Akan tetapi tidak, dia tidak mau menipu Sheila.

Dia memperlihatkan diri sebagai musuh besar yang dibencinya, dengan mempertaruhkan kebahagiaan dirinya, kehilangan cintanya!

Mempertimbangkan semua ini, dan bertanya kepada batin sendiri, Sheila mendapatkan jawaban.

Ia mencinta Bu Beng Kwi atau Koan Jit yang sekarang ini.

dan ia pun merasa yakin bahwa mendiang suaminya juga tidak akan dapat membenci bekas toa-Suheng ini, yang telah berubah menjadi seorang manusia yang berhati mulia.

Maka diterimalah pinangan itu!

Mereka menikah secara sederhana sekali, hanya disaksikan beberapa orang penduduk dusun yang berdekatan.

Para penduduk merasa terheran-heran melihat seorang wanita kulit putih yang demikian cantiknya mau menjadi isteri seorang laki-laki tua yang berwajah seperti setan!

Namun mereka tidak berani berkata apa-apa.

Yang paling bergembira adalah Han Le.

Dengan sepenuh hati, Bu Beng Kwi minta kepada Sheila agar keadaan dirinya sebagai Koan Jit dirahasiakan lebih dulu dari Han Le.

"Jangan mengganggu ketenangan perasaannya,"

Demikian dia berkata.

"Biarkan dia hidup tenang dan menganggap aku sebagai gurunya dan Ayahnya, agar dia belajar dengan baik. Kelak, kalau dia sudah tamat belajar dan sesudah dewasa, aku sendiri yang akan membuka rahasia ini. Aku tidak akan mengelak dari tanggung jawab, Sheila. Aku hanya menjaga agar jangan sampai terguncang perasaannya dan hal itu akan mengganggu dia belajar."

Sheila merasa semakin kagum dan hormat kepada bekas musuh besar yang kini menjadi suaminya itu.

Ternyata di balik topeng buruk itu ia menemukan seorang laki-laki yang jantan, yang lembut, yang penuh cinta kasih, bijaksana dan berhati mulia.

Dan ia tidak merasa enyesal dengan keputusannya menerima pria ini sebagai suaminya.

Ia merasa yakin benar bahwa demi kebahagaian puteranya, ia telah mengambil langkah yang benar.

Ia tahu bahwa di bawah asuhan Bu Beng Kwi, puteranya akan menjadi seorang laki-laki yang berjiwa pendekar dan menjadi seorang manusia yang berguna bagi dunia.

Keadaan negara menjadi semakin kalut.

Pemerintah Mancu menjadi semakin lemah dengan adanya pemberontkan Tai Peng.

Hanya berkat kegigihan menteri-menteri dan panglima-panglima setia saja maka gerakan Tai Peng terhenti, akan tetapi daerah yang luas di sebelah selatan Sungai Yang-ce telah dikuasai "Kerajaan Sorga", yaitu kerajaan yang didirikan oleh pemberontak Tai Peng di bawah pimpinan Ong Siu Coan itu.

Selain rongrongan dari pemberontak Tai Peng, juga pemerintah Mancu selalu dirongrong oleh pasukan orang kulit putih.

Kekalahan pemerintah Mancu dalam perang candu membuat orang-orang kulit putih menjadi semakin berani.

Mereka makin melebarkan sayap untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari negeri yang luas, Rakyatnya yang banyak akan tetapi yang lemah karena adanya perang saudara yang terus menerus di sebelah dalam.

Dari menyebaran candu, orang kulit putih mengeduk keuntungan yang luar biasa besarnya, dengan mengorbankan rakyat yang menjadi pecandu-pecandu yang tidak ketolongan lagi.

Juga orang kulit putih mengeduk keuntungan besar dari pembelian rempah-rempah, teh, Sutera dan barang-barang lain dari pedalaman.

Bahkan adanya pemberontakan Tai Peng yang menimbulkan perang saudara besar itupun menjadi sumber penghasilan dan keuntungan bagi orang kulit putih, dengan jalan menjual senjata ke kanan kiri.

Pemberontakan Tai Peng yang melemahkan pemerintah Ceng (Mancu), juga menimbulkan pemberontakan daerah-daerah lain yang tentu saja merasa tertarik dan mempergunakan kesempatan selagi pemerintahan menjadi lemah, Mereka memberontak terhadap pemerintah Mancu.

Suku bangsa Nien-fei memberontak dalam tahun 1853, juga disusul suku Miauw di Kwei-couw Barat yang memberontak dalam tahun 1854.

Payahlah pemerintah menghadapi pemberontakan-pemberontakan ini.

Mereka harus membagi-bagi pasukan untuk memadamkan pemberontakan di sana-sini dan karena kekuatan mereka terpecah, mereka menjadi semakin lemah dan sukar untuk dapat memadamkan pemberontakan-pemberontakan itu.

Dalam keadaan yang semakin lemah itu, pihak orang kulit putih menjadi semakin berani.

Pada suatu hari dalam tahun 1856, terjadilah peristiwa yang akan mengobarkan perang baru antara pemerintah Mancu dengan pasukan kulit putih.

Banyak candu diselundupkan ke dalam daerah yang masih dikuasai oleh pemerintah Mancu, Karena daerah selatan tidak aman bagi penyelundupan candu.

Pemerintah baru dari Tai Peng melarang keras perdagangan candu dan sukarlah menyelundupkan candu di daerah yang dikuasai Kerajaan Sorga itu.

Pada suatu pagi, sebuah kapal berlabuh di pantai timur.

Kapal itu memakai bendera Inggris dan bernama Kapal Arrow (Anak Panah).

Sebetulnya kapal itu milik kongsi pelayaran Cina, segolongan orang yang rela menjadi kaki tangan orang asing demi memperoleh keuntungan besar.

Anak buah kapal Arrow itu, kesemuanya orang pribumi, tidak tahu bahwa gerak-gerik kapal mereka itu diamati dengan seksama oleh para penjaga pantai.

Ketika kapal itu sudah berlabuh dan berhenti, sepasukan penjaga pantai menyerbu naik kapal.

Anak buah kapal tidak berani mengadakan perlawanan dan ketika kapal diperiksa, ternyata membawa barang selundupan, candu dan senapan!

Tentu saja anak buah kapal ditangkap dan kapal itu ditahan di pelabuhan, dan barang selundupan disita.

Peristiwa seperti ini sebetulnya biasa saja dan sudah wajar.

Kapal ditahan dan anak buahnya ditangkap, barang-barang selundupan disita karena memang perbuatan itu melanggar.

Akan tetapi, orang-orang asing kulit putih yang memang selalu menanti kesempatan itu, mempergunakan peristiwa ini sebagai alasan mereka untuk bergerak!

Orang Inggris menganggap bahwa penangkapan ini merupakan penghinaan pemerintah Mancu terhadap mereka karena kapal itu berbendera Inggris.Alasan ini cukup bagi mereka untuk"menghukum"

Pemerintah Mancu!

Tentu saja hal ini terjadi karena keadaan pemerintah Mancu yang mulai lemah.

Pasukan Inggris mengadakan persekutuan dengan orang-orang asing lainnya, yaitu terutama sekali perancis, Rusia, dan Amerika.

Mereka berempat menggabungkan pasukan mereka dan menyerbu Kan-ton.

Kota ini berhasil direbut dan diduduki.

Perang yang baru muncul semenjak Perang Madat ini tentu saja menggegerkan Kerajaan Mancu yang sudah dirongrong banyak pemberontakan.

Para pejuang rakyat menjadi gelisah dan bingung, merasa serba salah.

Mereka itu adalah kaum patriot yang hendak membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah Mancu dan berusaha menggulingkannya, akan tetapi tentu saja mereka sama sekali tidak ingin melihat tanah air mereka terjatuh ke dalam cengkeraman bangsa lain yang lebih asing lagi, yaitu orang-orang kulit putih.

Perang yang dikobarkan oleh orang kulit putih ini membuat semua perhatian dicurahkan kepada mereka karena memang kekuatan orang kulit putih yang bersenjata lengkap itu sukar dilawan.

Tai Peng tidak diperhatikan lagi.

Kalau saja pihak Tai Peng pada suatu saat itu bergerak, mempergunakan kesempatan itu untuk menyerbu ke utara, tentu dengan mudah Tai Peng akan mampu menguasai seluruh daratan Cina.

Akan tetapi, agaknya Ong Siu Coan sudah keenakan menjadi raja di selatan sehingga dia seolah-olah tidak perduli akan gerakan yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih itu.

Padahal, sepatutnya dia melihat bahaya besar berkembangnya kekuasaan kulit putih ini yang akan mencengkeram tanah air dan bangsanya.

Betapa banyaknya sudah tercatat dalam sejarah tentang perjuangan yang dipimpin oleh orang-orang yang menamakan dirinya pahlawan bangsa, patriot dan pejuang.

Selagi mereka ini memimpin perjuangan, merebut kekuasaan, mereka mempergunakan slogan-slogan yang muluk untuk membangkitkan semangat rakyat jelata yang menjadi kekuatan mereka.

Segala sepak terjang mereka selalu demi rakyat, demi negara, demi bangsa dan sebagainya.

Dan rakyat terbius oleh kata-kata muluk, terbakar semangat mereka oleh slogan-slogan sehingga rakyat dengan sepenuh hati, tanpa pamrih, bergerak mendukung dan terjun membantu gerakan yang dinamakan perjuangan itu.

Itu awalnya.

Bagaimana akhirnya?

Bagaimana kalau perjuangan itu akhirnya berhasil?

Yang pasti, para pimpinan rakyat itu setelah perjuangan berhasil, saling memperebutkan kedudukan!

Mereka menjadi penguasa-penguasa baru dan hidup bergelimang dalam kemuliaan, kehormatan dan kemewahan.

Bagaimana dengan slogan-slogan yang mereka pergunakan untuk membangkitkan rakyat?

Yang mengatakan bahwa perjuangan itu dilakukan demi rakyat, menolong rakyat dari penindasan, medatangkan kemakmuran kepada rakyat?

Begitulah!

Slogan tinggal slogan dan rakyat tetap dilupakan.

Penindasan tetap ada, walaupun kini berganti bentuk dan berganti orang yang menjadi penindasnya.

Ong Siu Coan menjadi satu di antara pemimpin-pemimpin semacam itu.

Mula-mula memang perjuangannya didengung-dengungkan sebagai perjuangan untuk rakyat.

Akan tetapi setelah dia berhasil menjadi raja?

Rakyat tetap saja sengsara.

Yang makmur jelas dia yang menjadi raja dan teman-temannya, kaki tangannya yang merupakan sekelompok penguasa baru, menggantikan yang telah mereka kalahkan dengan bantuan darah dan keringat rakyat dalam prjuangan.

Masih untunglah bagi pemerintah Mancu bahwa pada waktu itu, kekuatan pasukan Inggris terpecah karena adanya pemberontakan kaum Sepoy di India, negara besar yang mulai dicengkeram penjajah Inggris.

Karena ini, maka pasukan Inggris tidak dapat menyerbu dengan kekuatan penuh sehingga terhenti setelah menduduki Kanton dan daerahnya ke barat dan utara.

Padahal waktu itu, keadaan pmerintah Mancu sudah lemah sekali.

Di utara dan barat terdapat pemberontakan kaum Nien-fei dan suku Bangsa Miauw, dari selatan ada pemberontakan Tai Peng, dan dari timur, dari arah laut, terdapat ancaman orang kulit putih!

Kelemahan pemerintah Mancu bukan hanya karena timbulnya banyak pemberontakan, akan tetapi terutama sekali bersumber dari keadaan di dalam istana sendiri.

Kaisar yang sejak muda hanya menjadi seorang pengejar kesenangan itu tidak ada perhatian sama sekali atau acuh saja terhadap keadaan negara.

Dia seperti telah buta oleh kesenangan, dan tubuhnya menjadi semakin lemah.

Bahkan dia tidak tahu betapa diam-diam selirnya tercinta, Yehonala yang kini telah menjadi permaisuri kedua, bermain gila dengan thaikam (orang kebiri) Li Lian Ying, merupakan perhubungan jina yang tidak wajar.

Kaisar tidak tahu akan hal itu, tidak tahu pula bahwa kerajaannya mengalami ancaman akan runtuh.

Dia hanya terus mengejar kesenangan biarpun tubuhnya sudah menjadi semakin lemah, dan dia harus mempergunakan banyak obat kuat untuk membangkitkan kembali kegairahannya, tidak tahu bahwa hal ini semakin merusaknya lahir batin.

Didalam keadaan negara kacau seperti ini, biasanya menurut sejarah negara di seluruh dunia, selalu ada saja orang gagah sejati yang tampil menjadi pemimpin rakyat.

Demikian pula, dalam keadaan kacau itu, muncul dua orang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, Memimpin rakyat petani yang sudah kehilangan segala-galanya karena dusun mereka dilanda perang, membentuk pasukan-pasukan dan melatih pasukan ini dengan ilmu berperang dan bekelahi sehingga mereka berdua berhasil membentuk pasukan rakyat yang makin lama menjadi semakin kuat.

Apalagi ketika para pendekar merasa cocok dan suka melihat gerakan ini lalu mendukung dan menggabungkan diri, pasukan rakyat yang dipimpin dua orang tu menjadi semakin kuat.

Siapakah mereka itu?

Mereka bukan lain adalah Ceng kok Han dan Li Hong Cang, dua orang murid Bu Beng Kwi yang sudah kita kenal!

Akan tetapi, pasukan mereka belum bergerak karena mereka, dibantu oleh para pendekar, sedang membangun dan memperkuat pasukan mereka, dan menggembleng para anak buah pasukan.

Mereka baru akan bergerak kalau sudah memiliki pasukan besar yang kuat dan boleh diandalkan.

Sementara itu, di Kerajaan Sorga yang dipimpin oleh Ong Siu Coan, juga terjadi kemunduran.

Ong Siu Coan yang kini sudah menjadi seorang raja yang hidupnya mulia dan penuh kemewahan, agaknya menjadi semakin gila saja dengan pikiran-pikirannya yang aneh.

Dia diganggu oleh pikirannya sendiri, yang menghubungkan isi Alkitab dengan dirinya sendiri.

Dia semakin acuh, bahkan dia seperti tidak perduli lagi melihat betapa permaisurinya, Tang Ki, kini terlibat dalam hubungan gelap bersama Lee Song Kim yang menjadi orang kepercayaannya.

Satu di antara nafsu yang amat kuat dan besar kekuasaannya terhadap diri manusia adalah nafsu berahi.

Tang Ki tadinya merupakan seorang isteri yang mencinta dan setia dari Ong Siu Coan, Yang sama sekali tidak pernah mempunyai sedikitpun pikiran untuk menyeleweng dan suka menyerahkan dirinya kepada pria lain.

Akan tetapi, bagaimanapun juga ia hanyalah seorang wanita biasa saja.

Setelah memperoleh kedudukan sebagai raja, tercapainya ambisi dan cita-citanya, Ong Siu Coan mulai kurang memperhatikan isterinya.

Apalagi karena Tang Ki tidak dapat memberinya keturunan, kemesraannya terhadap Kiki atau Tang Ki berkurang bahkan hubungan di antara mereka menjadi agak renggang.

Dalam keadaan haus akan rayuan dan belaian pria inilah muncul Lee Song Kim, seorang laki-laki yang berpengalaman dan pandai sekali merayu wanita, juga tampan dan gagah.

Biarpun dahulu pernah Kiki membenci Suhengnya ini, namun pertemuannya kembali dengan Suhengnya itu membawa perubahan.

Ia sedang haus cinta kasih dan kemesraan seorang pria sebagai pengganti suaminya yang bersikap acuh dan Lee Song Kim yang ahli tentu saja dapat memenuhi kebutuhan ini.

Bahkan ternyata bahwa Suhengnya itu dapat memberinya kesenangan dan kepuasan yang jauh melampaui apa yang didapatkannya dari Ong Siu Coan.

Song Kim melimpahkan rayuan dan kemesraan pada wanita yang sedang kering kehausan itu.

Anehkah kalau Kiki lalu melekat kepadanya?

Semenjak dahulu, wanita adalah mahluk yang selalu mendambakan sanjungan, pujian dan cinta kasih pria.

Karena itulah maka pada umumnya wanita amat lemah terhadap pujian dan rayuan, dua hal yang memang amat didambakannya.

Apalagi kalau yang merayu itu pria yang berkenan di hati mereka.

Akan mudah saja jatuh dan lupa diri kalau menghadapi rayuan seorang pria yang menarik dan pandai.

Tahun 1859.

Biarpun tadinya terhalang oleh pemberontakan di India yang membuat pasukan kulit putih terhambat penyerbuan mereka dan hanya dapat menduduki Kanton dan sekitarnya, namun kurang dari dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1858, setelah berhasil memadamkan pemberontakan di India, pasukan Inggris yang bergabung dengan pasukan kulit putih Perancis, Rusia dan Amerika, untuk kedua kalinya melakukan penyerbuan kembali.

Dengan tenaga sepenuhnya, tentara kulit putih gabungan itu menyerbu lewat teluk Po-hai, menyerbu dan menduduki Tien-cin setelah terjadi perang selama berbulan-bulan.

Dan kini mereka bersiap-siap menyerbu ke Peking!

Tentu saja keadaan menjadi geger dan kacau.

Pemerintah Mancu sudah bersiap-siap mempertahankan Peking dari serbuan pasukan kulit putih.

Pada suatu hari, di sebuah kuil Agama To di luar kota Pao-ting, diadakan pertemuan antara para pendekar yang merasa perlu untuk berunding dan bergerak menyaksikan kekacauan yang timbul karena penyerbuan pasukan kulit putih itu.

Nampak di antara mereka pendekar Tan Ci Kong dan isterinya, Siauw Lian Hong.

Suami isteri pendekar itu kini tidak muda lagi.

Ci Kong sudah berusia empat puluh empat tahun sedangkan isterinya, Lian Hong sudah berusia empat puluh satu tahun.

hadir pula suami isteri thio Ki dan Ciu Kui Eng yang usianya sebaya dengan suami isteri pendekar pertama.

Tidak kurang dari dua puluh orang pendekar yang berdatangan di kuil itu, atas prakaesa dan undangan Tan Ci Kong yang merasa delisah menyaksikan keadaan yang kacau akibat penyerbuan pasukan kulit putih.

Para Tosu yang berada di kuil itu adalah sahabat Ci Kong, dan merekapun prihatin akan keadaan negara, maka mereka membantu dan memperbolehkan kuil mereka dijadikan tempat pertemuan para pendekar itu.

Berkumpullah para pendekar itu di ruangan belakang kuil, di tempat yang tersembunyi dan tidak akan terlihat atau terdengar oleh mereka yang datang berkunjung ke kuil untuk bersembahyang.

Pertemuan itu dipimpin oleh Ci Kong.

Setelah mereka semua saling memberi hormat dan mengambil tempat duduk mengelilingi meja, Tan Ci Kong lalu bangkit berdiri.

"Selamat datang, Cuwi Enghiong (para pendekar sekalian), selamat bertemu kembali. Cuwi (kalian) tentu dapat menduga mengapa kita harus berkumpul lagi di sini. Semua orang gelisah melihat perkembangan di negara kita. Pasukan kulit putih yang amat kuat menyerbu dan mengancam Peking, sedangkan pemberontak Tai Peng tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerbu pula ke utara. Bagaimana pendapat cuwi dan apa yang harus kita lakukan?"

Para pendekar itu menjadi gaduh, saling bicara sendiri dan Ci Kong terpaksa minta agar mereka tenang.

"Apabila di antara cuwi ada yang mempunyai usul, harap suka bicara seorang demi seorang agar dapat kita pertimbangkan bersama."

Seorang di antara mereka yang berpakaian tamal-tambalan, seorang tokoh dari perkumpulan Tiat-Pi Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Lengan besi) yang muncul selama beberapa tahun ini sebagai tokoh jembel yang berjiwa pendekar dan patriot, bangkit berdiri dan bicara dengan suaranya yang parau.

"Dahulu kita membantu gerakan Tai Peng, kemudian kita bersama meninggalkannya karena Tai Peng menyeleweng. Apalagi sekarang. Orang she Lee itu telah mengangkat diri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap dan menghimpun orang-orang golongan sesat untuk membantu Tai Peng. Jelas kita tidak dapat membantu Tai Peng lagi, bahkan harus menentangnya."

Semua orang mengangguk dan menyatakan setuju.

"Memang benar demikian, dan kita yang selalu memikirkan kepentingan rakyat jelata yang tertindas, sekarang menjadi serba salah. Jelas tidak dapat membantu Tai Peng, juga tidak mungkin membantu orang kulit putih, dan sejak dahulu kita bercita-cita mengusir penjajah Mancu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Kini Thio Ki yang telah menjadi ketua Kang-Sim-Pang, bangkit berdiri.

"Dengan penyerbuan orang kulit putih, keadaan menjadi kacau dan rakyat pula yang mengalami pnderitaan. Bagaimanapun juga, orang kulit putih dapat menjadi penjajah yang lebih kejam daripada orang Mancu. Oleh karena itu, untuk sementara kita harus menentang orang kulit putih..."

"Kalau begitu apakah kita harus membantu pemerintah penjajah Mancu?"

Tanya seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka merah. Dia adalah seorang murid Kun-Lun-Pai yang lihai.

"Tidak ada pilihan lain dan kita mau tidak mau harus menyetujui pendapat Thio pangcu dari Kang-Sim-Pang itu."

Ci Kong membenarkan.

"Tak mungkin dalam keadaan sekarang kita menentang keduanya. menghadapi dua orang lawan, bahkan tiga orang dengan Tai Peng, kita harus bersikap cerdik. Lebih dulu menghalau lawan yang paling berbahaya, dalam hal ini orang kulit putih dan Tai Peng. Kalau keduanya sudah tidak ada, kiranya tidak sukar merobohkan kekuasaan penjajah Mancu yang sudah semakin lemah itu."

Ciu Kui Eng yang juga terkenal di antara para pendekar sebagai seorang pendekar wanita yang pernah memimpin perjuangan, bangkit dan dengan suara lantang ia berkata.

"Kita boleh saja membantu pemerintah Mancu untuk menyelamatkan rakyat dari serbuan orang kulit putih, akan tetapi jelas bahwa kita tidak akan menjadi kaki tangan Mancu! Apakah cuwi belum mendengar akan munculnya pemimpin rakyat yang baru, yang kini telah menghimpun pasukan yang cukup kuat dan didukung oleh banyak pendekar?"

Ci Kong mengangguk-angguk.

"Kami juga sudah mendengar, akan tetapi belum jelas benar."

"Aku sudah bertemu dengan mereka dan harus kuakui bahwa dua orang pemimpin itu agaknya akan menjadi pemimpin besar yang gagah perkasa dan tanpa pamrih. Pasukan mereka kini sudah berjumlah puluhan ribu orang, dari para petani dan pengungsi, juga dibantu oleh golongan pendekar. Mereka adalah dua orang pendekar yang muncul begitu saja, entah dari perguruan mana, akan tetapi aku tahu bahwa mereka lihai sekali. Usia mereka sekitar tiga puluh tahun, yang seorang bernama Ceng Kok Han dan yang kedua bernama Li Hong Cang. Mereka telah berhasil menghimpun kekuatan dan sudah mulai merongrong pemerintah Tai Peng di selatan dan bentrokan-bentrokan sering terjadi yang merugikan pihak Tai Peng."

Semua pendekar mendengarkan dengan kagum.

Merekapun mendengar akan munculnya dua orang yang memimpin pasukan rakyat baru, akan tetapi para pendekar itu tadinya tidak mengambil perhatian karena pada waktu itu memang banyak sekali orang yang mengangkat diri menjadi"bengcu" (pemimpin rakyat) dan menggerakkan rakyat jelata untuk menjadi anak buahnya, akan tetpi sebagian besar di antara mereka hanyalah orang-orang petualang yang bermaksud memperalat kekuatan rakyat demi kepentingan diri sendiri.

banyak di antara para kelompok itu kemudian bahkan hanya menjadi perampok-perampok.

Kini mendengar cerita Ciu Kui Eng yang mereka sudah kenal baik sebagai seorang pendekar wanita yang berjiwa pahlawan.mereka merasa kagum dan tertarik.

"Kalau begitu, kiranya tidak keliru kalau kita mengumpulkan teman-teman sehaluan untuk membantu gerkan Ceng Kok Han dan Li Hong Cang itu."

Kata Ci Kong. Semua orang merasa setuju, akan tetapi Tiat-Pi Kai-Pang tadi segera berkata.

"Akan tetapi bagaimana kita dapat begitu saja membantu pasukan baru itu sebelum mengetahui benar tujuan dari gerakan mereka?"

"Aku dapat menerangkan itu, karena aku sudah bicara panjang lebar dengan kedua orang itu. Mereka tidak hanya pandai sekali ilmu silat, akan tetapi juga memiliki pemikiran yang mendalam dan pandangan yang luas,"

Kata Ciu Kui Eng.

"Mereka menjelaskan bahwa sebagai langkah pertama, pasukan mereka akan membantu pemerintah menenteramkan keadaan, menentang Tai Peng dan membantu untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di utara dan barat. Baru setelah keadaan tidak kacau lagi, ketika pemerintah penjajah sedang beristirahat dari perang yang melelahkan, selagi mereka lengah, maka pasukan kita akan menyerbu dan menggulingkan kekuasaan Mancu untuk selamanya!"

"Kalau begitu kita berarti akan membantu pemerintah penjajah Mancu!"

Teriak tokoh Tiat-Pi Kai-Pang itu.

"Hanya nampaknya saja begitu dan hanya untuk sementara saja."

Ci Kong berkata.

"Itulah satu-satunya jalan. Membantu pemerintah penjajah untuk menenteramkan keadaan, juga membantu menghadapi orang kulit putih. Setelah itu, tibalah saatnya yang tepat, selagi penjajah lengah, kita bergerak dan menjatuhkan mereka. Bukan berarti kita untuk selamanya menjadi kaki tangan mereka. Ini hanya merupakan siasat belaka. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin kita dapat berhasil kalau sekaligus kita harus menghadapi dan menentang Tai Peng, orang kulit putih, pemerintah Mancu, dan para pemberontak lain itu? Kita tidak akan kuat dan sebelum maju jauh, kita sudah akan tergencet dan dihancurkan oleh musuh yang terlalu banyak dan terlalu kuat."

Akhirnya semua orang meyatakan persetujuan mereka setelah mengerti benar akansiasat yang akan dijalankan oleh pasukan rakyat yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dua orang kakak beradik seperguruan itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar.

Semua orang bangkit berdiri dan bersiap-siaga, memandang ke luar pintu masuk ke ruangan belakang itu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ berdiri seorang pemuda yang mengempit tubuh seorang laki-laki setengah tua, kemudian pemuda itu melemparkan tubuh orang yang dikempitnya ke atas lantai.

Orang itu mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak, tanda bahwa jalan darahnya tertotok sehingga untuk sementara dia menjadi lumpuh, tak mampu menggerakkan kaki tangannya.

Semua orang memandang kepada pemuda itu dengan pandang mata penuh selidik dan kedurigaan.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah, berusia paling banyak delapan belas tahun, dengan wajah berbentuk bulat putih bersih, alisnya tebal menghitam dan sepasang mata mencorong namun lembut, pakaiannya sederhana akan tetapi bersih.

"Bun Hong, apa yang kau lakukan ini? Siapa dia?"

Tiba-tiba Siauw Lian Hong bertanya kepada pemuda itu.

"Ibu, dia ini seorang mata-mata, entah mata-mata Tai Peng atau pemerintah atau kulit putih, akan tetapi dia mata-mata!"

Jawab pemuda itu tenang. Tan Ci Kong yang juga sudah bangkit, memperkenalkan pemuda itu kepada semua orang.

"Cuwi, harap diketahui bahwa pemuda ini adalah anak tunggal kami bernama Tan Bun Hong. Harap cuwi maafkan penampilannya dan suka duduk kembali. Nah, Bun Hong, sekarang ceritakan apa yang terjadi dan siapa orang ini."

Tan Bun Hong mengangkat kedua tangan dan memberi hormat kepada semua orang yang hadir, barulah dia bercerita kepada Ayah Ibunya.

Memang pemuda ini ikut orang tuanya turun gunung dan mengadakan pertemuan di dalam kuil luar kota Pao-ting.

Baru pertama kali itulah dia turun gunung setelah kedua orang tuanya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya sudah cukup untuk dapat dipakai membela diri karena Bun Hong mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi Ayah dan Ibunya.

Bahkan ketika tiba di kuil, Ci Kong yang hendak menggembleng puteranya itu, memberinya tugas yang cukup penting, yaitu agar pemuda itu mengamati dari luar kuil kalau-kalau ada musuh tersembunyi yang hendak mencelakakan para tokoh kang-ouw yang sedang mengadakan pertemuan di dalam kuil.

Maksud Ci Kong, kalau tidak terjadi sesuatu, setelah pertemuan itu selesai, barulah dia akan memperkenalkan puteranya kepada mereka.

Ketika Bun Hong melakukan pengintaian dan pengamatan di kuar kuil, dengan penuh perhatian dia mengamati orang-orang yang berdatangan ke kuil itu untuk bersembahyang.

Tidak banyak orang yang bersembahyang.

Sejak pagi tadi, hanya ada belasan saja yang datang dan pergi lagi.

Dia melihat serombongan keluarga membawa alat-alat sembahyang memasuki kuil, diterima oleh Tosu penjaga di pintu depan.

Keluarga ini terdiri dari seorang Ayah, Ibu, nenek dan seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang pucat dan nampak baru sembuh dari sakit.

Dari percakapan antara keluarga itu dengan Tosu penjaga kuil dia tahu bahwa keluarga itu datang membayar kaul, dan menghaturkan terima kasih kepada kuil karena putera mereka yang tadinya sakit keras kini telah sembuh kembali.

Ada beberapa orang lagi memasuki kuil dan di antara mereka, yang menarik perhatian adalah seorang anak perempuan, seorang gadis remaja yang usianya paling banyak enam belas tahun.

Bun Hong memandang penuh perhatian, bukan bercuriga melainkan tertarik karena belum pernah dia melihat seorang gadis remaja yang demikian menarik seperti gadis itu.

seorang gadis yang jelita dan manis, wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu merincing yang manis sekali karena di sudut bawah dagu itu terdapat sebuah tahi lalat merah yang kecil.

Mulutnya indah dan selalu nampak tersenyum, membuat wajah itu nampak cerah selalu, dan terutama sekali sepasang mata yang bening dan taham itu juga selalu bergembira.

Pakaiannya ringkas dan rapi.

karena tidak ada lagi lain orang kecuali keluarga tadi, tiga orang laki-laki yang datang tidak berbareng, dan gadis remaja itu, Bun Hong yang merasa tertarik, keluar dari tempat dia mengintai dan memasuki kuil itu seperti seorang pelancong.

Dia melihat gadis itu bicara dengan seorang laki-laki tinggi kurus yang berusia empat puluhan tahun dan bersikap sopan.

"Apakah nona hendak bersembahyang?"

Terdengar laki-laki itu bertanya. Gadis remaja itu tersenyum dan nampak kilatan giginya yang putih dan rapi seperti mutiara dijajarkan.

"Ah, tidak, aku hanya melihat-lihat saja. Aku seorang pelancong."

"Aih, engkau seorang pelancong, nona? Kalau begitu engkau belum mengenal kuil ini, sebuah kuil yang amat keramat dan manjur sekali! Sudah banyak orang yang tertolong diobati penyakitnya, diperbesar rejekinya, memperoleh kemujuran, naik pangkat, bahkan ringan jodoh! Kenapa nona tidak mencoba-coba bersembahyang? Meramalkan nasib di Kuil Ban-hok-si (Kuil Selaksa Rejeki) inipun baik sekali!"

Kata orang itu dengan ramah.

"Kalau nona belum biasa, aku mau memberi petunjuk kepadamu."

Gadis remaja itu tetap tersenyum menatap wajah laki-laki itu.

"Terima kasih, paman. Eh, kenapa paman begini baik kepadaku? Apakah paman termasuk orang yang menjadi pengurus kuil ini?"

"Tidak, tidak, pengurusnya adalah para Tosu itu. Aku juga seorang tamu yang ingin bersembahyang. Akan tetapi ketika melihat nona masuk seorang diri ke dalam kuil, hatiku tertarik dan mengira nona tentu berada dalam kesukaran. Ketahuilah, terus terang saja, nona, engkau mirip sekali dengan keponakanku, anak enciku yang tinggal jauh di utara. Aku sudah amat rindu kepada keponakanku itu, sudah bertahun-tahun tidak jumpa dan melihat engkau begini mirip dengannya, kalau sekiranya bisa, aku akan suka sekali menolongmu dalam suatu hal..."

"Ah, begitukah? Terima kasih, engkau sungguh baik, paman. Akan tetapi, aku tidak mau bersembahyang, aku hanya mau melihat-lihat, Kalau paman mempunyai keperluan bersembahyang, silakan."

"Kalau begitu, maafkan aku,"

Orang itu lalu menjura dan meninggalkan gadis itu, masuk ke dalam kuil.

Sejenak Bun Hong mengamati dari jauh dan mendengar percakapan itu, timbul curiga dalam hatinya terhadap laki-laki tadi.

Seorang laki-laki berani menegur dan mengajak bercakap-cakap seorang gadis remaja yang tidak dikenalnya, bahkan menawarkan jasa-jasa baiknya, sungguh patut dicurigai karena biasanya, sikap baik itu tentu mengandung pamrih!

Dan diapun melihat gadis itu menyelinap masuk ke dalam kuil dengan gerakan cepat.

Hal ini mengejutkan Bun Hong.

Gerakan seperti itu cepatnya bukan gerakan orang biasa, pikirnya dan diapun cepat meloncat dan menyelinap masuk ke dalam pintu gerbang kuil.

Ketika tiba di dalam, ternyata beranda depan kuil itu luas sekali dan begitu memasuki pintu gerbang, hidungnya disambut bau dupa yang memenuhi tempat sembahyang di sebelah dalam dari beranda itu.

Dia celingukan ke sana-sini dan merasa heran.

Baik laki-laki tinggi kurus tadi maupun si gadis remaja, tidak nampak bayangannya.

Betapa cepat gerakan mereka, terutama gadis itu.

Baru saja menyelinap masuk dan diapun sudah mengejar secepatnya, Bagaimana mungkin gadis itu sudah lenyap?

Kecurigaannya makin menjadi-jadi, Akan tetapi agaknya di beranda itu tidak pernah terjadi sesuatu yang menarik perhatian orang.

Buktinya, beberapa orang yang sedang melakukan sembahyang di situ nampak tenang-tenang saja, demikian pula beberapa orang Tosu yang melayani tamu dan yang melaksanakan pekerjaan mereka.

Tidak nampak seorangpun di antara mereka itu seperti pernah melihat kejadian yang tidak wajar.

Lalu, kemana menghilangnya gadis remaja tadi, dan orang tinggi kurus tadi?

Bun Hong melakukan penyelidikan dengan cepat dan diapun dapat melihat adanya sebuah pintu kecil di samping beranda, agak jauh dan tertutup oleh tanaman bunga-bunga yang lebat daunnya.

Kalau orang menyelinap melalui pintu itu, dengan gerakan secepat yang dilakukan oleh gadis remaja tadi, tentu tidak akan nampak oleh orang lain.

Ke sanakah gerangan mereka tadi?

Jantungnya berdebar penuh keregangan.

Di belakang itu, di dalam ruangan belakang, Ayah dan Ibunya sedang mengadakan pertemuan dengan para pendekar lain untuk membicarakan urusan negara.

Jangan-jangan dua orang yang mencurigakan tadi menyelinap masuk untuk memata-matai pertemuan itu!

Sangat boleh jadi si tinggi kurus tadiseorang mata-mata, entah mata-mata Tai Peng, mata-mata orang kulit putih, atau mata-mata pemerintah Mancu.

Akantetapi gadis remaja tadi?

Tidak mungkin juga mata-mata!

Akan tetapi, kenapa gerakannya demikian cepat dan ke mana ia sekarang pergi?

Agaknya seorang mata-mata pula, akan tetapi berbeda dengan si tinggi kurus!

Dengan gerakan cepat, mempergunakan ilmunya, Bun Hong menyelinap ke samping beranda dan melihat betapa pintu pagar taman yang tidak berapa tinggi, diapun lalu meloncat ke atas pintu itu dan melihat betapa di balik pintu itu benar merupakan sebuah taman yang luas, diapun meloncat lagi turun ke sebelah dalam.

Dengan berindap-indap diapun mencari-cari.

Tempat itu sunyi.

Sebelah kiri menuju ke taman dan kebun sayur, dan sebelah kanan menuju ke ruangan terbuka dari bagian tengah kuil.

Bun Hong meloncat ke dalam ruangan ini dan menyelinap di antara pot-pot bunga, menuju ke dalam melalui sebuah pintu yang sudah terbuka daunnya.

Setelah melalui dua ruangan, tiba-tiba dia berhenti dan bersembunyi di balik tiang.

Dia melihat si tinggi kurus tadi keluar dari sebuah tikungan dan menyeret seorang Tosu tua yang agaknya sudah lemas tubuhnya, entah pingsan ataukah tertotok jalan darahnya.

Dengan cepat si kurus itu menyeret tubuh Tosu itu ke balik meja di sudut, mengikat kaki tangannya dengan pakaian Tosu itu sendiri dan mengikat pula mulutnya, lalu meninggalkan Tosu itu menggeletak di balik meja itu, tersembunyi dan tidak mudah nampak dari luar.

Kini Bun Hong tidak ragu-ragu lagi.

Jelas bahwa orang itu adalah seorang mata-mata, atau penjahat dan setidak-tidaknya tentu orang yang tidak mempuyai iktikad baik terhadap para Tosu atau para pendekar yang tengah mengadakan pertemuan di ruangan belakang kuil itu.

"Berhenti, siapa engkau?"

Bun Hong membentak sambil meloncat keluar, dan tubuhnya sudah berdiri di depan laki-laki tinggi kurus itu.

Orang itu terkejut bukan main, sama sekali tidak mengira bahwa perbuatannya diketahui orang.

Lebih lagi kagetnya melihat bahwa yang muncul bukan sorang di antara para Tosu kuil itu, melainkan pemuda remaja tampan.

Dia memandang rendah dan tersenyum mengejek.

"Bocah setan, mampuslah!"

Bentaknya dan dia menyerang dengan kecepatan kilat, jari tangan kirinya menotok ke arah jalan darah di pundak sedangkan tangan kanan mencengkeram ke arah lambung.

Serangan-serangan itu hebat bukan main dan amat berbahaya.

Namun, pada waktu itu, Bun Hong telah mewarisi ilmu kepandaian Ayah bundaya dan dia memang seorang pemuda yang berbakat baik sekali, memiliki gerakan yang tenang namun cepat.

Dengan mudah dia mengelak dengan melangkah mudur, dan cepat tubuhnya memutar ke kanan lalu mengirim serangan balasan, yaitu tendangan ke arah lutut lawan dan tangannya menyusul dengan cengkeraman ke arah pundak.

"Ehhh...?"

Orang itu nampaknya terkejut melihat betapa pemuda yang dipandang rendah itu bukan saja dapat menghindarkan diri dari serangannya, bahkan dapat membalas dengan cepat sekali sehingga hampir saja lutut kakinya terkena tendangan.

Dia meloncat ke belakang, lalu menyerang lagi, kini karena tahu bahwa lawannya lihai, dia mengerahkan tenaga dan kecepatannya untuk melumpuhkan pemuda yang telah memergokinya itu.

Namun dia kecele.

Pemuda itu mampu menangkis dan membalas dan mereka terlibat dalam perkelahian yang seru.

makin kaget dan gentarlah hati si tinggi kurus dan dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Akan tetapi betapa kagetnya melihat pemuda itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya dan dia kehilangan jalan untuk lari karena terus terdesak oleh pemuda itu.

Akhirnya, memang karena kalah tingkatnya dan bingung, jari tangan pemuda itu berhasil menotok pundaknya dan diapun roboh terkulai dalam keadaan lumpuh kaki tangannya.

Pada saat itu ada bayangan biru berkelebat dan terdengar bentakan halus.

"Engkau orang jahat!"

Tahu-tahu gadis remaja yang berbaju biru, yang tadi menarik perhatian Bun Hong, telah datang dan menyambar ke arah Bun Hong dengan cepat sekali, menyerang dengan tamparan ke arah kepala Bun Hong dan tusukan jari tangan yang lain ke arah dada.

"Ehhh...?"

Bun Hong mengelak.

Aka tetapi, serangan pertama yang luput itu disusul oleh tonjokan tangan ke arah lambung Bun Hong, cepat dan keras bukan main serangan susulan ini sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Bun Hong untuk mengelak.

Dia terpaksa menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Dukkk...!"

Dua lengan bertemu dan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan karena lengannya terasa nyeri.

Ia meloncat ke belakang dengan muka merah karena marah sedangkan Bun Hong sendiri juga harus mengakui betapa lengan yang kecil berkulit halus itu mengandung tenaga sinkang yang kuat.

Akan tetapi, Bun Hong juga merasa penasaran dan kini timbul dugaannya bahwa gadis remaja yang lihai itu tentulah seorang mata-mata pula, Agaknya sahabat dari orang yang telah dirobohkannya.

Mungkin saja percakapan antara mereka di luar kuil tadi hanya sandiwara belaka, atau dalam percakapan tadi mengandung kata-kata rahasia yang hanya diketahui mereka berdua saja.

Pikiran ini membuat Bun Hong penasaran dan ketika gadis remaja itu menyerangnya lagi, dia mengerahkan tenaga menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya sehingga gadis itu terkejut, terdorong ke belakang dan terpaksa gadis itu meloncat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan susulan.

Agaknya gadis inipun baru sekarang yakin akan kelihaian Bun Hong.

Akan tetapi serangan susulan itu tidak datang karena Bun Hong sudah menyambar tubuh orang yang dirobohkannya tadi, mengempitnya dan membawanya meloncat dan lari ke belakang "Demikianlah, Ayah."

Bun Hong mengakhiri ceritanya yang didengarkan oleh Ayah Ibunya dan para pendekar.

"Aku membawa mata-mata ini ke sini, aku yakin dia memata-matai pertemuan ini."

Pada saat itu, terdengar bentakan halus dan nampak bayangan biru berkelebat masuk.

"Penjahat busuk, engkau hendak lari ke mana?"

Dan muncullah gadis remaja yang tadi dan tanpa memperdulikan banyak orang yang berada di situ ia langsung saja menyerang Bun Hong.

Melihat gadis remaja ini Bun Hong menjadi marah.

Dia menangkis dan balas menyerang sehingga mereka berdua segera bekelahi dan saling serang dengan seru dan ternyata bahwa gadis itu memang lihai dan dapat bergerak cepat sekali.

Tiba-tiba Ciu Kui Eng sudah meloncat dan menengahi kedua orang muda yang sedang berkelahi itu sambil membentak.

"Eng Hui, kiranya engkau gadis remaja itu!"

Gadis itu terkejut ketika melihat Ibunya tahu-tahu menahan serangannya.

"Ibu...!"

Kemudian ia melihat Thio Ki hadir di antara semua orang gagah yang berada di situ.

"Ayah...!"

Suami isteri pendekar ini tentu saja merasa heran bukan main melihat puteri tunggal mereka.

tadi mereka mendengar cerita putera dari sahabat mereka Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong tentang gadis remaja yang disangkanya sahabat mata-mata, sama sekali mereka tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata adalah Thio Eng Hui, puteri mereka sendiri.

"Ayah! Ibu! Orang ini jahat sekali, membunuh orang tak berdosa!"

Teriak gadis itu.

"Nah, inilah gadis yang menjadi mata-mata itu!"

Bun Hong yang balas berteriak dan keduanya sudah saling pandang dengan mata melotot lagi.

"Eng Hui, diam kau!"

Ciu Kui Eng membentak puterinya, kemudian menghadapi para pendekar yang masih memandang bingung dan memperkenalkan.

"Cuwi, gadis ini adalah Thio Eng Hui, puteri tunggal kami. Agaknya terjadi kesalah pahaman di antara ia dan pemuda ini. Kita sudah mendengar cerita pemuda ini. Dan biarlah kini giliran anak kami yang bercerita. Eng Hui, hayo ceritakan mengapa engkau sampai datang ke sini dan tiba-tiba menyerang pemuda ini?"

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 1

Baca Juga: Bu Kek Siansu 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert